NOTA KEUANGAN DAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN 1985/1986

REPUBLIK INDONESIA

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

BAB I UMUM

Telah merupakan suatu kenyataan sejarah bahwa perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang mengarah kepada kemajuan suatu bangsa, senantiasa mensyaratkan adanya perjuangan dan membawa serta perubahan-perubahan dalam berbagai segi dan dimensi kehidupan. Sebagai suatu rangkaian pembaharuan pada berbagai tingkat perimbangannya, perjuangan yang merupakan pengejawantahan ideologi negara dan pandangan hidup bangsa selalu menuju ke suatu bentuk, dan tatanan kehidupan masyarakat yang dinamis dan lebih baik. Sejarah telah mengajarkan bahwa perjuangan untuk mencapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang makmur dan sejahtera, bukanlah suatu perjuangan tanpa pengorbanan. Mengikuti liku-liku perjalanan sejarah Indonesia akan terlihat betapa generasi demi generasi telah menyemarakkan persada nusantara dengan berbagai pengorbanan, mulai dari perjuangan untuk menghimpun rakyat Indonesia menjadi satu bangsa, bersatu padu dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjamin kelestarian eksistensinya, sampai kepada usaha besar bangsa Indonesia untuk membangun suatu masyarakat sejahtera yang berkeadilan, masyarakat Pancasila. Limabelas tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah memancangkan tonggak sejarah bagi dimulainya suatu babak baru dalam kelanjutan perjuangannya. Bagi bangsa Indonesia, babak itu merupakan garis pemisah antara kecenderungan yang serba sepihak, liberal ataupun terpimpin, dengan sikap yang mengacu kepada keseimbangan, keserasian dan keselarasan yang bersumber pada pemahaman Pancasila secara utuh dan menyeluruh. Alur perjalanan sejarah yang demikian itulah yang terus diusahakan agar menjelma menjadi kenyataan tahap demi tahap sesuai dengan rencana, dan pengutamaan yang selaras dengan perkembangan kesanggupan bangsa. Kini bangsa Indonesia tengah berada diambang pintu tahun kedua Repelita IV, suatu tahap pembangunan yang telah semakin mendekatkan rakyat Indonesia kepada cita-cita perjuangan. Repelita IV bukanlah semata merupakan kelanjutan dan peningkatan dari PelitaPelita sebelumnya, melainkan juga mempunyai posisi yang penting dan menentukan bagi terciptanya kerangka landasan pembangunan nasional. Keberhasilan Repelita IV akan memungkinkan terlaksananya tahap pemantapan kerangka landasan dalam Repelita V dan tahap tinggal landas dal3:m Repelita VI, untuk memacu pembangunan menuju masyarakat adil dan
Departemen Keuangan RI

2

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

makmur berdasarkan Pancasila. Untuk menciptakan kerangka landasan pembangunan tersebut, perlu diupayakan terciptanya kondisi nasional yang memberikan rangsangan serta peluang seluas-luasnya bagi potensi pembangunan agar dapat berperan serta dalam usaha pembangunan nasional. Dengan segenap potensi pembangunan, dana dan daya yang dapat digali dan dikerahkan dari dalam negeri akan semakin meningkatkan dan memantapkan ketahanan ekonomi terhadap pengaruh dari berbagai kemungkinan gejolak atau krisis ekonomi dunia. Pembangunan dengan asas kepercayaan pada diri sendiri, merupakan kekuatan yang tidak ternilai harganya bagi bangsa yang sedang membangun. Kepercayaan pada diri sendiri bertambah penting artinya, karena dalam tahun-tahun yang akan datang pembangunan posti bertambah berat, karena masalah yang ditangani makin besar, dan aspirasi masyarakat pun bertambah luas. Oleh sebab itu perlu dikembangkan kebijaksanaan ekonomi yang bertumpu di atas Trilogi Pembangunan, suatu kebijaksanaan yang telah dianut Pemerintah sejak pembangunan nasional dicanangkan raJa 1 April 1969. Prioritas pembangunan dalam Repelita IV, sesuai dengan Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang, tetap menempatkan sektor pertanian sebagai sektor yang akan terus dikembangkan dan ditingkatkan menuju swasembada pangan, serta pengembangan sektor industri, balk industri berat maupun industri ringan. Dalam hubungan ini, apabila dikaji dan ditelusuri kembali rangkaian kebijaksanaan ekonomi yang telah ditempuh Pemerintah selama ini hingga tahun kedua Repelita IV, maka tampak jelas kesinambungan usaha menuju kepada memperluas, meningkatkan dan sekaligus memperkuat landasan kegiatan ekonomi melalui pengembangan industri di atas sektor pertanian yang mandiri. Kebijaksanaan juga ditujukan kepada perluasan kesempatan kerja, mengutamakan penggunaan hasil produksi dalam negeri, dan peningkatan ekspor. Kesemuanya itu ditunjang oleh kebijaksanaan di bidang fiskal yang lebih mengarah pada asas keadilan, dan kebijaksanaan moneter yang diupayakan untuk merangsang kegiatan dunia usaha, dan memantapkan kestabilan. Tujuan tersebut dan kebijaksanaan penunjangnya mengisi dan menyatu secara terpadu dalam upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang memadai, pemerataan pembangunan dan hasilnya, dan pemeliharaan kestabilan. Diharapkan pada akhimya tercipta strnktur perekonomian yang lebih seimbang dan mantap, dengan tingkat kelenturan produksi yang tinggi yang dalam batasbatas tertentu, mampu meredam setiap kegoncangan ekonomi baik dalam maupun luar negeri. Dengan perkembangan yang mengarah kepada terciptanya keadaan tersebut, perekonomian Indonesia yang modern, tangguh dan demokratis berdasarkan Pancasila akan menopang terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Departemen Keuangan RI

3

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Sejalan dengan cita pembangunan tersebut, sertadengan memperhatikan perkembangan keadaan perekonomian dunia yang masih belum sepenuhnya pulih dari resesi, pada tahun pertama pelaksanaan Repelita IV oleh Pemerintah telah diambil beberapa langkah kebijaksanaan ekonomi yang penting. Langkah nyata dalam rangka menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan tampak lebih jelas dengan telah disahkannya tiga undangundang perpajakan baru yang baik semangat maupun pengaturannya lebih sesuai dengan tuntutan pembangunan yang semakin berkembang. Di bidang moneter, tanggung jawab yang diberikan kepada bank-bank Pemerintah dalam menentukan suku bunga simpanan maupun pinjaman, telah merangsang dunia perbankan untuk mengerahkan dana-dana masyarakat, terlebih karena pada saat yang sama ketentuan pagu kredit perbankan ditiadakan. Bagi masyarakat, adanya kenaikan dalam tingkat pendapatan, terpeliharanya kestabilan harga, dan terkendalinya nilai tukar devisa te1ah semakin meningkatkan hasratnya untuk menabung, yang dilakukan diantaranya melalui sektor perbankan maupun lembaga keuangan lainnya. Dengan demikian terdapat titik temu aliran dana yang menghasilkan kegunaan bagi berbagai pihak, yakni antara masyarakat penabung, sektor perbankan dan tersedianya sumber dana pembangunan. Dan dalam rangka meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, serta mengurangi tekanan yang berat terhadap neraca pembayaran, pada bulan Maret 1983 te1ah diadakan penyesuaian nilai tukar rupiah terbadap dollar Amerika Serikat. Agar supaya pengerahan dana pembangunan, baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri, memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi pembangunan, usaha pengendalian dan penghematan penggunaan dana harus terus ditingkatkan. Oleh karena itu penge1uaran rutin diusahakan dapat ditekan, dan dikendalikan tanpa mengurangi fungsi pe1ayanan kepada masyarakat, serta pemeliharaan terhadap hasil pembangunan yang telah dicapai. Namun demikian, mengingat pentingnya peningkatan pendayagunaan aparatur negara, maka dalam tahun 1985/1986 direncanakan suatu kenaikan gaji bersih pegawai negeri sebesar 20 persen dan pensiun antara 27 - 59 persen. Di lain pihak prioritas pembangunan dipertajam agar penge1uaran pembangunan dapat memberikan hasil guna dan daya guna yang lebih besar, disertai dengan pengurangan, atau penghapusan terhadap berbagai subsidi sejauh yang dapat dilakukan tanpa mengorbankan kepentingan stabilisasi, serta kebutuhan masyarakat banyak. Pemberian subsidi ditata sedemikian rupa agar terdapat alokasi sumber ekonomi secara lebih efisien, dan terhindar dari adanya distorsi harga-harga yang tidak wajar. Sejalan dengan hal tersebut, maka pengeluaran untuk subsidi bahan bakar minyak dalam tahun 1985/1986 te1ah

Departemen Keuangan RI

4

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

dapat ditekan lebih lanjut, yang terutama disebabkan karena adanya peningkatan efisiensi dalam pengolahan bahan bakar tersebut. Di lain pihak subsidi untuk pupuk diperkirakan akan meningkat lebih besar, yang berkaitan erat dengan semakin intensifnya penggunaan pupuk dalam rangka mempertahankan, dan meningkatkan kemajuan yang te1ah dicapai di bidang pengadaan pangan, dan produksi komoditi pertanian lainnya. Adapun penjadwalan kembali beberapa proyek renting dan pengendalian impor secara se1ektif, te1ah dilaksanakan dalam rangka penghematan di bidang devisa, dan upaya untuk mengurangi tekanan terhadap neraca pembayaran. Sedangkan di bidang moneter, kebijaksanaan moneter dan perkreditan tetap ditujukan kepada penggunaan dana yang terarah dan produktif. Perimbangan yang belum memadai antar berbagai sektor kegiatan dalam perekoDamian, serta sifat perekonomian terbuka yang sangat dipengaruhi oleh hambatan dalam kegiatan ekspor, dan resesi perekonomian dunia yang be1um sepenuhnya pulih, menimbulkan akibat yang tak terhindarkan terhadap perekonomian Indonesia dalam tahun-tahun terakhir Pelita III, yang masih berasa pengaruhnya hingga diambang tahun kedua Repelita IV. Agar perkembangan pembangunan waktu lalu lebih dapat dipahami dalam ruang lingkup keadaan yang melatarbelakanginya, dan terlebih renting dadpada itu, agar supaya permasalahan yang dihadapi dalam masa pembangunan yang akan datang dapat ditanggulangi dengan tanggap, serta dapat memanfaatkan peluang yang mungkin tercipta, maka keadaan ekonomi dunia perlu dan senantiasa secara cermat terus diikuti perkembangannya. Tanda-tanda perbaikan ekonomi dunia yang mulai tampak pada tahun akhir Pelita III belum sepenuhnya menunjukkan perkembangan yang diharapkan. Bahkan akhir-akhir ini diperkirakan terdapat kecenderungan gejala perlambatan kembali dari kegiatan ekonomi negara industri utama, yaitu Amerika Serikat, yang dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami kenaikan pertumbuhan ekonomi tertinggi diantara negara-negara industri lainnya, yakni sebesar 7,3 persen. Perekonomian dunia yang belum sepenuhnya bangkit ke arab pemulihan sebagaimana yang diharapkan, hanya memberikan pengaruh yang terbatas manfaatnya bagi perkembangan ekonomi negara-negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi negara-negara industri secara. keseluruhan dalam tahun 1984 diperkirakan menunjukkan kenaikan rata-rata sebesar 4,9 persen, atau 2,3 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan tahun lalu, dimana Jepang dan Kanada diperkirakan mengalami kenaikan tertinggi setelah Amerika Serikat, yakni sebesar 5,0 persen dan 4,6 persen, sedangkan negara-negara industri lainnya dalam kelompok tujuh negara industri besar diperkirakan menunjukkan kenaikan rata-rata sekitar 2,5 persen.

Departemen Keuangan RI

5

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Pertumbuhan ekonomi yang dicapai negara-negara industri utama tersebut, erat kaitannya dengan menurunnya tingkat pengangguran serta laju inflasi. di negara-negara tersebut. Tingkat pengangguran rata-rata di negara-negara industri tersebut diperkirakan telah dapat ditekan menjadi 7,6 persen dalam tahun 1984 dibandingkan 8,3 persen dalam tahun 1983, sedangkan laju inflasi diperkirakan menunjukkan sedikit penurunan dari sebesar 5,0 persen dalam tahun 1983 menjadi 4,3 persen dalam tahun 1984. Sisi lain perkembangan perekonomian dunia yang pada umumnya menunjukkan perbaikan, telah ditandai dengan makin meningkatnya suku bunga riil di Amerika Serikat yang bertahan pada tingkat yang relatif tinggi, sebagai akibat dari pelaksanaan kebijaksanaan moneter yang ketat di negara tersebut. Suku bunga untuk nasabah-nasabah utama (US Prime Rate) di Amerika Serikat mencapai tingkatan yang tinggi, sekitar 13 persen pada bulan September 1984. Perbedaan dalam tingkat produktivitas serta laju pertumbuhan perekonomian, dan tingkat inflasi antara berbagai negara di dunia, serta tingginya suku bunga riil di Amerika Serikat, telah mengakibatkan masuknya modal dari negara-negara lain ke Amerika Serikat, yang kemudian mengakibatkan naiknya nilai tukar mata uang Amerika Serikat terhadap pelbagai macam mata uang asing. Meningkatnya nilai tukar mata uang dollar Amerika selanjutnya telah mengakibatkan kegoncangan posar valuta internasional di berbagai negara, serta kemerosatan yang cukup besar pada nilai tukar mata uang - mata uang penting dunia. Ketidakstabilan nilai tukar valuta asing, kebijaksanaan moneter yang ketat, tingginya suku bunga menimbulkan rangkaian akibat berupa naiknya defisit transaksi berjalan negaranegara industri. Usaha mengatasi defisit tersebut telah menimbulkan dampak sampingan yang kurang menguntungkan, khususnya bagi perkembangan ekspor negara-negara berkembang, karena adanya langkah-langkah proteksionisme yang dilakukan oleh negara-negara industri dalam rangka melindungi hasil produksi dalam negeri mereka. Perkembangan perekonomian dunia telah dipengaruhi pula oleh ketidakstabilan dalam posar minyak dunia. Meningkatnya produksi serta peleposan cadangan minyak negara-negara di luar OPEC, dan upaya penghematan penggunaan energi minyak telah menyebabkan terganggunya keseimbangan posar, dan kecenderungan terjadinya penurunan harga minyak dunia. Menghadapi keadaan demikian, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam sidangnya bulan Oktober 1984 di Geneva memutuskan untuk tetap mempertahankan tingkat harga yang berlaku sekarang, dengan jalan mengurangi produksi dari batas tertinggi 17,5 juta barrel menjadi sebesar 16,0 juta barrel per hari, serta menetapkan kuota baru bagi negara-negara anggotanya.

Departemen Keuangan RI

6

8 Tahun 1984 yang menegaskan ketentuan tentang pengendalian dalam penggunaan kredit ekspor luar negeri. Usaha tersebut meliputi peningkatan dan diversifikasi ekspor di luar minyak dan gas bumi.1 persen. Namun demikian. Selain dari itu juga meliputi penyesuaian nilai tukar mata uang dollar Amerika. defisit tersebut apabila dibandingkan dengan defisit tahun 1982/1983. kenaikan penerimaan ekspor keseluruhan dalam tahun 1983/1984 hanya sebesar 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Setetah mengalami defisit dalam neraca pembayaran yang cukup besar dalam tahun 1982/1983. pelaksanaan sistem imbal beli. meskipun transaksi berjalan masih mengalami defisit sebesar US $ 4. Berbagai langkah kebijaksanaan di bidang perdagangan luar negeri. minyak kelapa sawit dan sebagainya.151 juta. perbaikan mutu barang ekspor. terus dilakukan oleh Pemerintah mengingat peranannya sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan. serta pengelolaan bantuan dan pinjaman luar negeri secara lebih cermat. khususnya dalam rangka mendorong ekspor. teh. memperlihatkan adanya perbaikan yang berarti.070 juta. maka telah dijajagi kemungkinan peningkatan perdagangan dengan negara-negara Eropa Timur. Ternyata negara-negara tersebut sangat membutuhkan komoditi ekspor Indonesia seperti karet. Dalam rangka memperluas ekspor Indonesia. Oleh karena penerimaan ekspor minyak mengalami penurunan. maka telah dikeluarkan Inpres No. serta guna mengurangi ketergantungan pada ekspor minyak dan gas bumi. kopi. perluasan kemudahan dibidang perpajakan dan perkreditan. pengendalian impor. dimana dalam tahun sebelumnya mengalami penurunan. timah. Dalam rangka pengelolaan bantuan yang lebih berdaya guna. serta sebagai sektor pendorong gerak perekonomian nasional yang penting. walaupun penurunan tersebut jauh lebih rendah dari tahun 1982/1983. Kemajuan di bidang neraca pembayaran tersebut tidak terlepos dari perkembangan ekspor bukan minyak yang menunjukkan kenaikan sebesar 36.6 persen. kebijaksanaan mendorong ekspor secara menyeluruh melalui pola pengembangan ekspor terpadu terus ditingkatkan. Juga terlihat peluang untuk mengekspor barang-barang manufaktur ke Eropa Timur sepanjang harganya mampu bersaing di posaran internasional. agar pembayaran kembali dikemudian hari tetap dalam batas kemampuan keuangan negara. Menghadapi situasi perekonomian internasional yang tidak menentu. dalam tahun 1983/1984 neraca pembayaran Indonesia menunjukkan keadaan yang lebih baik yaitu surplus sebesar US $ 2. Dalam tahun 1984/1985 perkembangan neraca pembayaran diperkirakan masih akan mengalami surplus sungguhpun tidak sebesar dalam tahun 1983/1984. pengembangan ekspor barang-barang produksi hasil industri dan perluasan posaran di luar negeri ke negara-negara selain rekan dagang. dengan latar belakang perkembangan keadaan perekonomian dunia yang menunjukkan adanya sedikit perbaikan. Departemen Keuangan RI 7 .

serta sejalan dengan usaha peningkatan penggunaan produksi dalam negeri. Departemen Keuangan RI 8 . dan pemeliharaan kestabilan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pelaksanaan berbagai kebijaksanaan di bidang ekspor tersebut tertuang antara lain dalam Peraturan Pemerintah No. juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program pembangunan jangka panjang sektor industri. sejak 1 Januari 1984 pungutan MPO ekspor atas eksportir telah dihapuskan. dan untuk beberapa komoditi tertentu yang semula dikenakan pajak ekspor sebesar 10 persen diturunkan menjadi 0 persen. pertanian.1 bulan Januari 1982 yang menyangkut pengaturan jual beli devisa. Kebijaksanaan di bidang impor selain ditujukan kepada memperlancar pengadaan bahan baku/penolong. Melalui kebijaksanaan impor yang mendukung pertumbuhan sektor industri. khususnya dunia usaha. aluminium sheet dan fuli aluminium jenis-jenis tertentu. Dalam hubungan ini. akan tetapi juga sekaligus meningkatkan penerimaannya. serta penurunan pajak ekspor tambahan atas jenis komoditi tertentu lainnya. dan barang modal dalam rangka pemenuhan kebutuhan bahan pokok yang diperlukan masyarakat. dimana dari jumlah tersebut standar mutu dari 38 jenis barang sudah dilaksanakan. Dengan berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan pada tanggal 1 Januari 1984. dan memperluas posarannya. tetapi sekaligus menyesuaikan tarif bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap impor barang-barang yang telah dapat diproduksi di dalam negeri seperti kertas untuk jenis tertentu. dan penghapusan izin yang meliputi berbagai bidang antara lain bidang kehutanan. Pemerintah telah mengusahakan untuk sejauh mungkin tidak memberi keringanan bea masuk. memerlukan kerja keras baik dari Pemerintah maupun masyarakat. Sejalan dengan usaha meningkatkan mutu barang-barang ekspor. Pemerintah telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meniadakan berbagai hambatan yang dapat mengurangi daya saing komoditi ekspor Indonesia di posaran internasional. sampai dengan Agustus 1984 telah ditetapkan standar mutu untuk 165 jenis barang-barang perdagangan. dan selanjutnya meningkat menuju tahapan perluasan ekspor hasil produksinya. dan perdagangan. perhubungan. Di bidang perpajakan. Demikian pula terhadap beberapa produk yang telah dapat dirakit di dalam negeri telah diberlakukan tarif bea masuk. sektor tersebut didorong untuk mencapai tahap perkembangan yang efisien melalui persaingan yang sehat. tata cara ekspor dan sebagainya. Selain itu. suatu keterpaduan langkah yang tidak hanya mengarah kepada penghematan devisa. sejak 10ktober 1984 pungutan langsung oleh Pemerintah Daerah terhadap beberapa komoditi ekspor penting telah pula dihapuskan. telah diadakan penyederhanaan perizinan. pipa besi dan produk polyvinyl chloride (PVC). dan pajak penjualan impor yang baru. Memantapkan ekspor. Di bidang prosedur ekspor.

Kelambanan yang terjadi dalam pertumbuhan sektor industri dipenghujung tahun Pelita III. bahwa pembangunan industri ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pungutan MPO atas barang-barang impor dihapuskan.0 persen dan 13. dan memanfaatkan sumber alam dan energi serta sumber daya manusia. menghemat devisa. Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara ditetapkan. Dengan arah kebijaksanaan tersebut. tidak terlepos dari adanya pengaruh resesi ekonomi dunia. sehingga menyebabkan lemahnya kaitan antarindustri. maka dalam Pelita III turun menjadi 8. dan mengandung kerawanan kiranya dapat dilalui tanpa menimbulkan ketegangan sosial. antara industri padat modal dan industri padat karya. juga diarahkan agar di dalam sektor industri sendiri semakin terwujud keseimbangan dan keserasian antara industri besar/sedangdan industri kecil. yaitu dengan mengembangkan industri yang saling menunjang dengan sektor lainnya. memeratakan kesempatan berusaha. sedangkan pungutan baru dikenakan terhadap impor barang yang dilakukan oleh importir yang menggunakan API. baik vertikal maupun horizontal. pembinaan industri kecil. tahap industrialisasi yang merupakan tahap yang sulit. dikenakan pungutan sebesar 7. menunjang pembangunan daerah.9 persen setahun. Sejak awal Pelita I. dan dengan Pancasila sebagai dasar perjuangan bangsa. telah berkembang relatif lebih pesat dibanding industri hulu. Industri hilir. Program tersebut terdiri dari rangkaian usaha berupa peningkatan keterkaitan antara berbagai jenis industri secara vertikal dan horizontal. serta adanya kekurangserasian pertumbuhan antarsektor industri. dan belum dapat memberikan kemantapan pada struktur industri yang ada. yang pada umumnya merupakan industri substitusi impor. Apabila dalam Pelita I dan II sektor industri telah tumbuh rata-rata sebesar 13. dilihat sebagai komponen produk domestik bruto.5 persen dari nilai dasar impor (cif). Terhadap impor barang yang dilakukan oleh importir yang tidak menggunakan sistem perijinan impor. dalam tahun 1983 secara riil menunjukkan kenaikan sebesar 2. meningkatkan ekspor. APIS atau APIT yaitu sebesar 2. serta harus mampu meningkatkan keahlian dan ketrampilan masyarakat. setelah mengalami titik kenaikan yang terendah dalam tahun 1982. Dengan demikian pembangunan industri selain diharapkan dapat mewujudkan struktur ekonomi yang seimbang antara industri dan pertanian. peningkatan peranan bangsa Indonesia sendiri dalam Departemen Keuangan RI 9 . antara industri hilir dan industri hulu. Pertumbuhan sektor industri pengolahan. Sehubungan dengan hat tersebut.2 persen. telah ditempuh kebijaksanaan program terpadu. dan mempertinggi sikap mental pembaharuan.5 persen dari nilai dasar impor (cif).7 persen. sektor tersebut hingga tahun-tahun pertama Pelita III telah berkembang tidak kurang dari 9 persen. untuk memantapkan dan memperkokoh struktur industri nasional.

dan perkembangan produktivitas sektor pertanian. Produksi tanaman pangan sebagai komponen produksi pertanian terpenting menunjukkan perkembangan yang mengesankan. Agar peningkatan produksi beras dapat pula meningkatkan tarat hidup petani lebih layak. pendidikan dan tingkat kehidupan para petani di pedesaan pada umumnya. dalam komoditi. Sungguhpun pertumbuhan sektor pertanian sejak Pelita I setiap tahunnya menunjukkan tingkat kenaikan yang berbeda. produk domestik Departemen Keuangan RI 10 . dan dengan menerapkan Panca Usaha Tani. dan dinaikkan. akan tetapi meliputi pula usaha mengangkat kehidupan sosial. maka pada akhir Pelita III diperkirakan menurun menjadi hanya sekitar 29 persen.7 persen dan 3. Dengan berbagai usaha tersebut akan tercipta keserasian yang memberi kekuatan pada keseluruhan pertumbuhan industri. yaitu keterpaduan dalam usaha tani.8 persen pertahun. Di samping produksi beras. dan dalam pengembangan wilayah dengan sasaran sebagaimana yang tercakup dalam Sapta Karya Pembangunan Pertanian.5 persen pertahun. sementara nilai produksinya terus meningkat. tingkat harga dasar gabah yang diterima oleh petani setiap tahunnya selalu ditinjau kembali. Untuk mewujudkan tujuan tersebut. lembaga keuangan dan jasa lainnya. akan tetapi sumbangannya terhadap produk domestik bruto riil terus mengecil. dimana peningkatan daya beli sebagian besar masyarakat beserta pemerataan pendapatan yang berlangsung di sektor ini.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan industri. Didukung oleh besarnya peranan nilai tambah yang diciptakan oleh sektor perdagangan.9 persen dari produk domestik bruto riil. dimana dalam Pelita I dan II pertumbuhan produksinya adalah sebesar 4. serta sektor-sektor lainnya. serta peningkatan ekspor hasil produksinya. Apabila pada awal Pelita I. Kemajuan yang dapat dicapai oleh sektor industri pada tingkat akhir berkaitan erat dengan kemantapan pertumbuhan. harga dasar gabah kering giling di KUD dinaikkan menjadi Rp 175. Dengan demikian pembangunan pertanian diharapkan memberikan arti yang utuh bagi peningkatan sebagian besar kesejahteraan bangsa Indonesia. Pembangunan sektor pertanian berdasarkan Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang tidak hanya menyangkut peningkatan produksi semata. Dalam Pelita III produksi beras menunjukkan pertumbuhan sebesar 6. Untuk itu pada bulan Pebruari 1985. merupakan faktor yang sangat menunjang tegak tahannya sektor industri. produksi palawija dan hortikultura telah memainkan peran yang cukup penting pula dalam pemenuhan kebutuhan bahan pangan yang meningkat.00 perkilogram. pembangunan pertanian dilaksanakan dengan berlandaskan Trimatra Pembangunan Pertanian. sumbangan sektor pertanian masih sebesar 46.

Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya pembentukan modal domestik bruto rata-rata sebesar 15. dan pemutihan modal bagi penanam modal di Indonesia dihapuskan. dunia usaha. telah berkembang menjadi hampir lima puluh lima kali dalam Departemen Keuangan RI 11 . dan tenaga kerja yang . semacam pemutihan modal masih dimungkinkan.ada. alas dasar harga konstan tahun 1973. maupun Pemerintah. yakni segala dana yang ditabung dalam deposito tidakakan diusut asal usulnya. baru berjumlah 11.632.4 milyar. Produk domestik bruto. Pembentukan modal domestik bruto yang dalam tahun 1969. serta ketentuan bahwa perorangan dapat melaksanakan penanaman modal melalui fasilitas PMDN tanpa harus berbentuk badan hukum.5 persen.2 persen dari produk domestik brutonya. dalam tahun 1983 diperkirakan telah meningkat menjadi 30. baik yang dilakukan oleh masyarakat. sedangkan penanaman modal asing (PMA) dalam periode yang sama. penetapan tarip penyusutan yang lebih tinggi. Penanaman modal yang dilakukan melalui fasilitas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sampai dengan bulan Agustus 1984 telah disetujui sebesar Rp 20. Sungguhpun kenaikan tersebut masih lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan per tahun dalam periode 1970 .7 milyar. meskipun fasilitas bebas pajak. Volume APBN pada awal Pelita I yang berjumlah Rp 334.2 persen. sejak Pelita I.915.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bruto riil secara keseluruhan dalam tahun 1983 diperkirakan menunjukkan adanya kemajuan yang cukup berarti. Dalam rangka meningkatkan penanaman modal. Hal ini tiada lain menunjukkan adanya kemajuan di dalam pembentukan atau penanaman modal. oleh Pemerintah telah diberikan berbagai rangsangan antara lain dalam bentuk penyederhanaan prosedur penanaman modal. terus menunjukkan peningkatan. yakni kenaikan sebesar 4. Pertumbuhan ekonomi yang tercermin dari perkembangan produk domestik bruto sangat dipengaruhi. dan prospek yang baik dari perkembangan pembangunan. alas dasar harga konstan 1973.2 persen pertahun dalam periode tersebut. rencana investasinya mencapai nilai sebesar US $ 14. sejalan dengan terpeliharanya kestabilan. dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 telah meningkat rata-rata sebesar 7. Kegiatan penanaman modal yang dilakukan oleh dunia usaha.1982. Sumber pembentukan modal yang terpenting adalah dana-dana yang dapat dikerahkan dan disalurkan melalui APBN. fasilitas pengampunan pajak. volume Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah berhasil ditingkatkan terus dalam jumlah yang cukup besar.2 juta. Sebagai piranti anggaran dalam melaksanakan Repelita demi Repelita. Sebagai kompensasi. Berbagai fasilitas tersebut diberikan agar tercipta iklim penanaman modal yang menarik.2 persen pertahun. akan tetapi masih lebih tinggi dari yang dicapai dalam tahun 1982. dan ditentukan oleh perimbanganperimbangan yang terjadi di dalam tingkat pembentukan modal. serta tingkat produktivitas modal.

terutama dalam mengamankan penerimaan negara melalui APBN. serta upaya pemecahannya telah pula menjadi bahagian dari pelaksanaan APBN. perbaikan dan penyempumaan irigasi. Resesi ekonomi dunia yang telah mempengaruhi perekoDamian Il}donesia pada gilirannya telah mempengaruhi penyusunan RAPBN 1985/1986.0 milyar. Seperti yang telah dikemukakan perekonomian dunia yang dilanda krisis. pembangunan daerah minus serta pengembangan perkotaan.368.0 milyar. dan penerimaan pembangunan sebesar Rp 4.1 milyar. juga diserasikan dengan pembiayaan pembangunan regional dan perluasan kesempatan kerja melalui berbagai program Inpres. kepada Dati II juga diberikan bantuan pembangunan prasarana jalan. pertumbuhan dan stabilitas memperoleh gambaran yang lebih nyata. oleh Pemerintah telah diambil berbagai langkah kebijaksanaan untuk meningkatkan ketahanan Departemen Keuangan RI 12 . maka volume RAPBN tahun anggaran 1985/1986 direncanakan berimbang pada tingkat sebesar Rp 23. Perkembangan APBN terus diusahakan agar tetap berimbang dan dinamis.399. di balik kemajuan tersebut berbagai tantangan dan hambatan. utuh dan menyeluruh melalui peranan ganda dari pengeluaran pembangunan. Dalam usaha untuk memperkecil pengaruh yang ditimbulkan resesi duma tersebut. Dalam tahun 1985/1986 bantuan pembangunan Dati I adalah sebesar Rp 280. eksploitasi dan pemeliharaan pengairan. rencana tersebut terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 18. Gambaran perkembangan volume APBN yang terus meningkat. khususnya dalam beberapa tahun terakhir ini. dan berlangsung berkepanjangan telah memberikan dampak yang tidak diinginkan terhadap perekonomian Indonesia.9 milyar. sehingga peranannya sebagai stabilisator.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tahun terakhir Pelita III. Bantuan tersebut dimaksudkan untuk pemeliharaan jembatan dan jalan propinsi. Pengeluaran pembangunan selain dialokasikan untuk berbagai sektor. Dengan latar belakang kebijaksanaan dan perkembangan perekonomian baik nasional maupun internasional.046. Sedangkan bantuan pembangunan bagi Dati II antara lain adalah untuk proyek-proyek prasarana dan produksi yang dapat memperluas lapangan kerja dan proyek padat karya.0 milyar.0 milyar. serta usaha untuk tetap terpeliharanya kesinambungan pembangunan. sedangkan di sisi pengeluaran negara rencana tersebut terdiri dari pengeluaran rutin sebesar Rp 12. dalam rangka pemerataan pembangunan dan hasilnya. Dengan demikian pemerataan. Namun demikian.677. dan akselerator pembangunan tetap dapat dipertahankan. memberikan harapan yang besar untuk tetap berlangsungnya pembangunan nasional guna mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.647. Di sisi penerimaan negara. Untuk mempedancar distribusi hasil-hasil produksi. dan pengeluaran pembangunan sebesar Rp 10.

Pemerintah kini tengah mempersiapkan perundang-undangan mengenai pabean. prosedur dan pentaripan yang rumit. yang sebagian besar masih bergantung pada penerimaan dari minyak bumi dan gas alam. Untuk mewujudkan kebijaksanaan yang lebih realistis dengan keadaan perekonomian nasional. dan iuran pembangunan daerah. Langkah-Iangkah untuk menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ekonomi nasional. Berlainan dengan undang-undang perpajakan yang lama yang mempunyai sistem. sedangkan batas kekayaan yang tidak kena pajak telah dinaikkan dari Rp 14 juta menjadi Rp 80 juta. akan tetapi juga berusaha untuk meningkatkan rasa keikutsertaan masyarakat secara aktif dalam memberikan andil dan peranannya di dalam pembangunan melalui bidang perpajakan. undang-undang perpajakan yang baru tersebut lebih mencerminkan kesederhanaan.5 persen. pajak kekayaan. termasuk di dalamnya pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM) sebesar 10 persen. Dengan kebijaksanaan tersebut Pemerintah bukan saja berupaya untuk lebih menyeimbangkan struktur penerimaan negara. Namun demikian mengingat pentingnya peranan pajak tersebut. Salah satu kebijaksanaan yangtelah diambil adalah dengan disahkannya beberapa undang-undang perpajakan yang baru. Sumber penting lainnya dari penanaman modal adalah tabungan masyarakat yang antara lain terkumpul melalui sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya. telah dilaksanakan ketika memasuki tahun pertama Repelita IV. guna lebih memantapkan peningkatan penerimaan dalam negeri. yakni dengan diberlakukannya UndangUndang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan serta Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan sejak tanggal 1 Januari 1984. khususnya melalui usaha peningkatan penerimaan dalam negeri di luar minyak. serta guna meningkatkan kesadaran para wajib pajak dalam menaati pembayaran pajaknya. serta lebih mendorong pemerataan. dan memberikan kepostian hukum. maka mulai tahun anggaran 1985/ 1986 dalam penerimaan pajak pertambahan nilai. Sejak dilaksanakannya kebijaksanaan moneter 1 Juni 1983. maka sejak 1 Januari 1985 tarip pajak kekayaan telah diturunkan dari 1 persen menjadi 0. Pemerintah bertekad untuk melaksanakannya pada 1 April 1985. Di samping Undang-Undang Perpajakan tersebut.8 Tahun 1984 telah ditangguhkan berlakunya sampai selambat-Iambatnya tanggal 1 J anuari 1986. Dalam rangka pelaksanaan undang-undang ini. Sedangkan Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang sedianya berlaku pada tanggal 1 Juli 1984. yang merupakan perbaikan secara mendasar terhadap undang-undang perpajakan yang lama. serta menciptakan landasan yang kuat guna berlangsungnya kelancaran proses pembangunan. dengan Undang-Undang No. dana-dana yang berasal dari masyarakat yang dapat Departemen Keuangan RI 13 .

8 milyar. sosial maupun politik. Tegaknya demokrasi Pancasila merupakan syarat mutlak bagi terjaminnya stabilitas nasional. dan tentang Referendum. Pelaksanaan pembangunan nasional senantiasa diupayakan berjalan seirama dengaIi pembinaan dan pemeliharaan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. pembangunan politik dan pendidikan politik seperti yang digariskan oleh GBHN terus menerus dilaksanakan. dan kesinambungan pembangunan. dan diharapkan pada waktunya akan mendapat persetujuan akhir dari Dewan Perwakilan Rakyat. Dengan demikian manusia Indonesia yang sehat. namun mendorong kegiatan pembangunan. Organisasi Kemasyarakatan. Dalam tahun 1984. volume deposito berjangka telah menunjukkan kenaikan sebesar Rp 2.2 milyar. Sementara itu dalam periode Juni 1983 . baik di bidang ekonomi. Terpeliharanya kestabilan ekonomi mencerminkan terselenggaranya pengendalian jumlah uang beredar yang sesuai dengan kebutuhan perekonomian.8 persen.5 persen. diusahakan agar pengaruhnya terhadap tingkat harga senantiasa dalam batas-batas yang aman.905. Kelima RUU tersebut kini dalam pembahasan. Dalam kaitan ini unsur terpenting di dalam pengembangan sumber daya manusia adalah pendidikan. Perubahan UU tentang Parpol dan Golkar. Meningkatnya dana-dana masyarakat yang terhimpun oleh sektor perbankan menunjukkan adanya kestabilan ekonomi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dihimpun oleh sektor perbankan menunjukkan kenaikan yang mengesankan. peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar dalam rangka pelaksanaan wajib Departemen Keuangan RI 14 . cerdas dan berbudi luhur merupakan modal pembangunan yang sangat menentukan. Oleh sebab itu. sedangkan pada tahun sebelumnya menunjukkan kenaikan sebesar 11. Sampai dengan bulan September 1984. dana perbankan telah mencapai jumlah sebesar Rp 14. Sehubungan dengan itu dalam tahun pertama Repelita IV kebijaksanaan di bidang pendidikan terutama ditekankan dan diarahkan pada peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan. diantaranya sebesar Rp 7. Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Dalam rangka pembaharuan. laju inflasi menunjukkan peningkatan sebesar 8.705. dan penyederhanaan kehidupan politik.2 milyar atau 53. maka kepada DPR telah diajukan lima RUU masing-masing tentang: Perubahan UU Pemilu.Juni 1984.8 persen merupakan dana deposito dan tabungan yang merupakan sumber dana yang renting bagi pembentukan modal untuk disalurkan berupa kredit bagi kegiatan usaha.787. Perubahan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR/DPR/DPRD. Sungguhpun jumlah uang beredar terus meningkat. dan iklim terse but harus dipertahankan agar upaya pembangunan dengan kekuatan sendiri secara bertahap dapat terwujud menjadi kenyataan.

peningkatan gizi masyarakat. Guna meningkatkan mutu pendidikan. telah dilaksanakan penataran guru/pembina pada berbagai tingkat pendidikan. Pembangunan juga mengusahakan agar setiap warga negara dapat memperoleh derajat kesehatan yang tinggi menuju terbentuknya keluarga yang sehat dan sejahtera. yang meliputi berbagai bidang studi dan pengelolaan. agar arah dan pelaksanaan pembangunan tetap benar. dan mengarah kepada pengalihan tanggung jawab pengelolaan dari Pemerintah kepada masyarakat. serta pengelolaan pendidikan yang lebih berdaya guna dan berhasil guna. dan tujuannya tidak tersimpangkan. dan hanya dengan persatuan yang makin kukuh segala rintangan dan tantangan yang berat dalam tahun-tahun mendatang akan teratasi. baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah. Bersamaan dengan itu terus diusahakan pula peningkatan program keluarga berencana (KB) nasional yang pelaksanaannya ditempuh melalui pendekatan kemasyarakatan baik melalui jalur formal maupun informal. serta cita dan harapan dapat menjadi kenyataan. Untuk itu Pemerintah dalam tahun 1985/1986. Untuk itu sejak Pelita I telah dan terus dilaksanakan pembangunan di bidang kesehatan. Dengan penuh kepercayaan pada kemampuan sendiri. serta agar pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan baik. Terciptanya kerangka landasan seperti yang diamanatkan oleh GBHN harus benarbenar dapat diwujudkan. Maka teramat penting bagi segenap aparatur negara. Oleh karena manusia merupakan modal terpenting dan menentukan dalam pembangunan nasional. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap generasi muda dalam tugasnya sebagai penerus perjuangan bangsa. serta penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional. antara lain berupa pembangunan Puskesmas dan rumah sakit. sementara kesejahteraan para guru dan dosen tetap menjadi perhatian Pemerintah. pengadaan tenaga dokter dan tenaga medis. dan pembangunan nasional. Di samping itu juga dilaksanakan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera (NKKBS) melalui program lintas sektoral agar terwujud keluarga yang sehat. penyuluhan kesehatan. dan masyarakat untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila. makmur dan sejahtera. agar tempat beranjak pembangunan bertambah kuat sehingga bangsa Indonesia dapat terus tumbuh dan berkembang. maka perlu terus ditingkatkan pembangunan kesehatan dan pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk. merencanakan untuk memberikan tunjangan jabatan fungsional kepada guru sekolah tingkat dasar dan menengah. Departemen Keuangan RI 15 . dan alih teknologi di bidang kesehatan dan peralatan kesehatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 belajar. pemberantasan penyakit menular. baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Departemen Keuangan RI 16 . dan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. Dalam memelihara pengaruh APBN terhadap perkembangan moneter. dan ditegaskan kembali di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). sebagai suatu rangkaian tak terpisahkan dari Trilogi Pembangunan. Dengan demikian penerimaan negara beserta pengalokasiannya kepada seluruh sektor pembangunan. pertumbuhan ekonomi yang memadai serta kestabilan nasional yang sehat dan dinamis. diarahkan kepada terwujudnya Trilogi Pemba. kecerdasan serta kesejahteraan seluruh rakyat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB II ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA 2. kesehatan serta penciptaan lapangan kerja diseluruh pelosok tanah air telah ikut mendorong laju pertumbuhan. Apa yang ditetapkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara dijabarkan di dalam Repelita. kebijaksanaan keuangan negara tetap diarahkan. sebagai tujuan utama dari pembangunan merupakan babagian yang tak dapat dipisahkan dari ukuran keberhasilan pembangunan secara menyeluruh. dan secara operasional setiap tahun diwujudkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Beberapa indikator seperti bertambah luasnya prasarana dan sarana seperti perhubungan. dan berpegang teguh pada kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan tarat hidup. Pendahuluan Sejak pembangunan nasional dirimlai pada tahun 1969/1970. pendidikan. tetap dipertahankan. tetap menjadi dasar kebijaksanaan bagi pengelolaan keuangan negara. khususnya terhadap meningkatnya laju inflasi. sehingga menambah kemantapan iklim perekonomian nasional secara menyeluruh dan terpadu. Meningkatnya taraf hidup. keseimbangan antara penerimaan negara.1. yang berarti pula menjaga sendi-sendi kestabilan kehidupan masyarakat. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. kecerdasan.i1gunan tersebut secara optimal. guna mewujudkan amanat yang terkandung di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Hal demikian merupakan salah satu upaya pemantapan stabilitas ekonomi. Hal demikian sangatlah diperlukan untuk menjamin terus berlangsungnya pembangunan nasional secara berkesinambungan. tahun pertama pelaksanaan Pelita pertama hingga memasuki tahun kedua Pelita IV. dan memperluas usaha pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Kemajuan pembangunan nasional yang dilaksanakan sejak tahun 1969 itu tercermin tidak hanya dari terus meningkatnya volume APBN. dan pengeluaran negara sebagai pelaksanaan prinsip-prinsip anggaran yang berimbang dan dinamis.

Pemerintah telah mengambil berbagai kebijaksanaan antara lain berupa pembaharuan di bidang perpajakan. realisasi penerimaan negara telah dapatn mencapai Rp 66. Dibalik kemajuan tersebut. dan kebijaksanaan moneter 1 Juni 1983.987.5 milyar.7 milyar. hila dalam tabun pertama Pelita I jumlah penerimaan baru sebesar Rp 334.2 milyar.2 milyar. yaitu dengan realisasi penerimaannya sebesar Rp 66.3 milyar. maka realisasinya selalu melampaui rencana dalam setiap Repelita.4 milyar.586.8 milyar.467. Dengan demikian dibandingkan dengan rencananya. berbagai tantangan dan hambatan.019.6 milyar.2 milyar dan Rp18. dalam beberapa tahun terakhir.6 milyar.0 milyar dan Rp 12. khususnya di bidang penerimaan negara. dan pengeluaran pembangunan sebesar Rp21.283.1 milyar.315.7 milyar. sedangkan pengeluaran negara terdiri dari pengeluaran rutin sebesar Rp 21. Demikian pula rencana anggaran penerimaan dalam Repelita III sebesar Rp 43.247. dalam realisasinya masing-masing mencapai jumlah sebesar Rp 3. Adapun usaha untuk memperkecil pengaruh yang di timbulkan resesi dunia tersebut. terutama untuk mengamankan penerimaan negara melalui APBN.393.1 milyar.129.406.4 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Perkembangan volume APBN.6 milyar ternyata dalam pelaksanaannya telah dilampaui sebesar Rp 22.2 milyar dan Rp 5.279.4 milyar.168. terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 55.273.661.393.463. telah mempengaruhi perkembangan APBN. sehingga dengan demikian masing-masing melampaui rencananya sebesar Rp 820. Oleh sebab itu upaya peningkatan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas Departemen Keuangan RI 17 .8 milyar.237.714. dan penerimaan pembangunan sebesar Rp 10. yang berarti meningkat sebesar hampir 55 kali lipat dalam jangka waktu lima betas tahun.849. dan berlangsung berkepanjangan telah memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi perekonomian Indonesia.510.883.5 milyar dan Rp 34. Dalam Repelita I dan II anggaran penerimaan yang direncanakan berjumlah Rp 2. Adapun pengeluaran rurin dan pengeluaran pembangunan dalam lima tahun pelaksanaan Pelita III terse but dicapaijumlah sebesar Rp 32. yakni dari tahun 1979/1980 sampai dengan tahun 1983/1984. penjadwalan kembali proyek-proyek. Di dalam pelaksanaannya selama lima tahun Pelita III. yang terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 34. Dalam Repelita III anggaran yang direncanakan berimbang pada jumlah sebesar Rp43.3 milyar dan Rp 12.7 milyar. masing-masing lebih besar dengan Rp 21. Bila dibandingkan dengan rencana anggaran penerimaan dalam Repelita.510.8 milyar dari yang direncanakan.551. sehingga masing-masing mengalami kenaikan sebesar Rp 10. Perekonomian dunia yang dilanda krisis. penyesuaian nilai tukar dollar Ametika terhadap rupiah.1 milyar.3 milyar dan Rp 1. dan penerimaan pembangunansebesar Rp 9. maka dalam tabun terakhir Pelita III realisasinya telah meningkat menjadi Rp 18.

baik yang menyangkut prosedur dan tata kerja administrasi perpajakan. dan terus disempurnakan baik tata cara pengelolaannya. Pengurangan dan penghapusan berbagai subsidi. Dalam undang-undang perpajakan rang baru tersebut. Sebagai peralatan fiskal. terusmenerus dilaksanakan. serta mengarahkan kegiatan pembangunan pada proyek-proyek yang berprioritas tinggi. bea dan cukai. badan-badan usaha. Di sektor pengeluaran rutin. seperti pemerataan pendapatan dan beban pembangunan. serta membantu terciptanya suasana yang lebih sesuai dengan pola hidup sederhana. Adanya potensi perpajakan yang masih besar dalam masyarakat. tanpa harus mengorbankan kebutuhan dan kesejahteraan dari sebagian besar masyarakat. unsur-unsur kesederhanaan. tarip pajak serta tata cara pembayaran pajaknya. maka perlu ditingkatkan pengawasan.. akan tetapi juga dimaksudkan untuk menciptakan iklim yang memungkinkan terwujudnya beberapa sasaran pembangunan nasional. maupun ketrampilan petugas yang bersangkutan. diperlukan disiplin dari berbagai pihak. memerlukan penanganan dan pendayagunaan yang cermat dan secara berencana terus dikembangkan agar tujuan mencapai kemandirian dalam pembiayaan pembangunan secara bertahap dapat menjadi kenyataan. serta menunjang upaya stabilisasi ekonomi nasional. sedikit demi sedikit telah dilaksanakan seiring dengan meningkatnya perekonomian pada umumnya. pengendalian dan penghematan dalam menyelenggarakan kegiatan Pemerintah terus dilakukan. maupun peningkatan disiplin dan pembinaan mental aparat pemungut pajak. seperti penerimaan dari sumber-sumber perpajakan. Iklim tersebut selanjutnya akan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri. pemerataan atau keadilan dan kepostian mendapat pengaturan yang lebih sesuai dengan perkembangan pembangunan. Agar pelaksanaan undang-undang pajak dapat berjalan lancar telah dan terus diadakan penyuluhan terhadap pengusaha. kebijaksanaan perpajakan diarahkan bukan saja untuk meningkatkan penerimaan negara. Selanjutnya agar penerimaan dan pengeluaran negara dapat diurus secara efisien dan efektif. serta para wajib pajak pada umumnya. perluasan kesempatan kerja. kestabilan barga.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 alam. Dalam hubungan ini pembenahan aparatur perpajakan. yang berkembang sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. baik dari pengelola pajak maupun dari masyarakat wajib pajak. Kebijaksanaan yang ditempuh untuk melaksanakan hal tersebut antara lain dengan meningkatkan efisiensi penggunaan dana. dan agar terdapat alokasi sumber-sumber ekonomi yang sehat. telah dan akan terus dilaksanakan. Sementara itu pengeluaran pembangunan tetap diarahkan untuk membiayai proyek-proyek yang Departemen Keuangan RI 18 . Dalam melaksanakan undang-undang perpajakan yang baru. perdagangan. asosiasi-asosiasi. Untuk itu mulai akhir tahun anggaran 1983/1984 telah diberlakukan beberapa undang-undang perpajakan yang baru dengan perbaikan secara mendasar terhadap sistem perpajakan lama yang antara lain meliputi dasar pengenaan pajak. serta penerimaan bukan pajak.

Kenaikan tersebut terutama disebabkan karena meningkatnya penerimaan dari sektor minyak.2.6 persen dan 41.7 persen bila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun anggaran sebe1umnya.4 milyar.540.390. yang berarti masingmasing meningkat dengan 6. Ringkasan Pelaksanaan APBN dalam tahun anggaran 1984/1985 ditandai oleh perkembangan keadaan ekonomi nasional yang relatif lebih baik.1 persen.1. Pelaksanaan APBN 1984/1985 ( Semester I ) 2. Dalam semester I 1984/1985. baik dari masyarakat.7 milyar. Kebijaksanaan penge1uaran rutin dalam tahun anggaran 1984/1985 diarahkan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas yang lebih tinggi. maka te1ah terjadi kenaikan sebesar 16.6 milyar dan Rp 8. baik untuk memperkecil pengaruh resesi dunia. serta merawat sarana dan prasarana hasil pembangunan.8 persen dari jumlah yang direncanakan dalam APBN 1984/1985.8 milyar. maupun segenap aparat negara. Apabila dibandingkan dengan penerimaan dalam negeri dalam semester I 1983/1984 sebesar Rp 6. Departemen Keuangan RI 19 . Jumlah penerimaan dalam negeri tersebut berarti 45.6 milyar yang terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 4.560.9 milyar.418. maupun dalam rangka pemulihan perekonomian di dalam negeri.5 persen dari penge1uaran rutin yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. dibandingkan dengan tahun sebelumnya. khususnya aparat penge1ola keuangan negara. terdapat peningkatan sebesar 19. Berbagai usaha dan langkah kebijaksanaan yang telah diambil. yang berarti 42.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas. realisasi penerimaan dalam negeri mencapai jumlah sebesar Rp 7. dan kerja keras.2.8 milyar.971. dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2.295. Jumlah penerimaan dan pengeluaran negara dalam semester I 1984/1985 tersebut berarti masing-masing mencapai 41. penerimaan cukai. baik sarana maupun prasarana. Dibandingkan dengan pengeluaran rutin dalam semester I 1983/1984. Se1ama semester I tahun anggaran 1984/1985. guna menumbuhkan seluruh sektor perekonomian masyarakat. pada hakekatnya memerlukan penyesuaian sikap. Adapun realisasi pengeluaran rutin dalam semester I 1984/1985 mencapai Rp 4.372.5 persen dari rencana APBN 1984/1985 yang berimbang pada jumlah Rp 20. 2.546. dan penerimaan bukan pajak.0 persen.4 milyar. realisasi penerimaan dan pengeluaran negara masing-masing dapat mencapai Rp 8. terutama dalam memberikan pe1ayanan kepada masyarakat. khususnya dunia usaha.

Dalam semester I 1984/1985 telah berhasil dihimpun tabungan Pemerintah sebesar Rp 3. maka dalam semester Departemen Keuangan RI 20 .3 milyar maka terdapat peningkatan sebesar 12. upaya untuk meningkatkan penerimaan dalam negeri dalam tahun 1984/1985 terus dilakukan seraya diarahkan untuk menunjang peningkatan produksi dan investasi.3 persen. membentuk dana pembangunan sebesar Rp 4.156. memperluas kesempatan kerja. upaya penyediaannya haruslah selalu diusahakan terutama dari sumber dalam negeri. Penerimaan dalam negeri Dalam rangka menunjang kegiatan pembangunan yang semakin meningkat dan meluas. Bila dibandingkan dengan penerimaan pembangunan dalam semester I tahun sebe1umnya sebesar Rp 1. Dibandingkan dengan tabungan Pemerintah semester I 1983/1984 yang berjumlah sebesar Rp 2. realisasi pengeluaran pembangunan mencapai jumlah sebesar Rp 4. realisasi penge1uaran pembangunan lainnya sebesar Rp 714.7 milyar.764.1 milyar. terlihat dari meningkatnya tabungan Pemerintah yang merupakan se1isih an tara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin. Dengan demikian dari dana pembangunan sebesar Rp 4.9 milyar.2. serta lebih mengusahakan pemerataan pembangunan dan pemeliharaan kestabilan. 2.094.0 milyar.094.244. Penerimaan pembangunan bersama tabungan Pemerintah berjumlah Rp3. Jumlah tersebut terdiri dari realisasi pembiayaan pembangunan sektoral yang dilaksanakan oleh departemen/lembaga sebesar Rp 1.7 milyar.132.5 milyar. pembiayaan pembangunan regional berupa bantuan pembangunan daerah (program Inpres) dan Ipeda sebesar Rp 844.2. Dengan demikian pembangunan yang dilaksanakan untuk se1anjutnya akan dapat lebih tumbuh dan berkembang di atas kemampuan sendiri.7 milyar.5 milyar.7 milyar tersebut te1ah digunakan untuk membiayai penge1uaran pembangunan sebesar Rp 4. Dalam semester I 1984/1985.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Meningkatnya kemampuan sumber-sumber dana dari dalam negeri guna membiayai pembangunan nasional.244.552.634. Realisasi penerimaan pembangunan yang bersumber dari luar negeri dalam semester I 1984/1985 menunjukkan jumlah sebesar Rp 1. Sejalan dengan semakin ineningkatnya kebutuhan dana pembangunan yang hams disediakan.250.8 milyar. baik segi perencanaan maupun pelaksanaan operasionalnya. maka diperlukan tersedianya dana pembangunan yang semakin meningkat pula. Dana ini dibutuhkan guna menambah dana pembiayaan pembangunan agar sasaran pembangunan dapat tercapai.250. maka berarti terdapat penurunan sebesar 29.0 persen. dan penge1uaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek sebesar Rp 1.7 milyar pada semester I 1984/1985. Dengan berbagai kebijaksanaan dan usaha yang te1ah dijalankan. Sehubungan dengan itu.5 milyar.

Sedangkan lapisan kena pajak.166. bea masuk sebesar Rp 276.000.971.0 milyar. pajak penjualan sebesar Rp 272. serta tiga orang anak adalah sebesar Rp 1. pajak ekspor sebesar Rp 38. dan terdiri dari tiga lapisan tarip.. Peningkatan penerimaan ini antara lain disebabkan oleh adanya penyesuaian nilai tukar dollar Amerika terhadap rupiah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 I tahun anggaran 1984/1985 realisasi penerimaan dalam negeri mencapai jumlah sebesar Rp7. dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 353.kini telah ditingkatkan menjadi Rp 2.971. Adapun penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam terdiri dari penerimaan pajak penghasilan sebesar Rp 875. cukai sebesar Rp 375. Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan dalam semester I tahun sebe1umnya yang sebesar Rp 4. isteri.418.206. PTKP yang sebelumnya dikenal dengan istilah BPBP (batas pendapatan bebas pajak).418.0 milyar.7 milyar.5 milyar. Realisasi penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2.5 milyar. Undang-Undang Pajak Penghasilan tahun 1984 yang sudah berlaku sejak bulan Januari 1984 mengandung berbagai kebijaksanaan yang pada prinsipnya mendorong kegiatan dunia usaha dan pembangunan nasional.8 milyar.050.8 milyar tersebut berarti telah mencapai 41. pemerataan dan kepostian hukum.-.000. berarti mengalami kenaikan sebesar Rp 765. Langkahlangkah kebijaksanaan yang diambil dalam rangka meningkatkan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam antara lain berupa pelaksanaan undang-undang perpajakan yang baru.8 persen dari jumlah seluruhnya yang direncanakan dalam APBN.8 milyar dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2.8 milyar atau 11. dengan senantiasa berusaha untuk menciptakan iklim perpajakan yang menjamin keadilan.9 milyar.390.0 persen dari yang direncanakan dalam APBN. dan penggolongan tarip lebih sederhana. pajak penjualan impor sebesar Rp 125. yang semula untuk satu keluarga terdiri dari suami.2 miyar. Jumlah realisasi penerimaan dalam negeri semester I 1984/1985 tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 4.8 milyar. Upaya ke arah pemungutan pajak yang lebih adil dan merata tercermin dengan semakin ringannya beban pajak bagi golongan masyarakat berpendapatan rendah melalui peningkatan penghasilan tidak kena pajak (PTKP).5 milyar.8 milyar tersebut adalah 48.880.1 milyar atau 18. penerimaan pajak lainnya sebesar Rp 33. penerimaan Ipeda sebesar Rp 68.2 milyar.2 milyar. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam tersebut telah meningkat sebesar Rp 252. serta meningkatnya volume ekspor dari gas alam. Realisasi penerimaan minyak bumi dan gas alam dalam semester I 1984/1985 sebesar Rp 4. 25 persen untuk penghasilan di atas Rp 10 Departemen Keuangan RI 21 .6 milyar.7 persen hila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun 1983/1984 sebesar Rp 2.2 persen. yaitu 15 persen untuk penghasilan sampai dengan Rp 10 juta.

atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut pajak sesuai dengan peraturan yang berlaku. terlihat adanya.6 persen dari yang direncanakan dalam APBN. maupun beberapa pembebasan sebagian bea masuk atas sejumlah bahan baku dan barang-barang tertentu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 juta sampai dengan Rp 50 juta. juga diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat banyak. Bila dibandingkan dengan penerimaan bea masuk semester I tahun anggaran sebelumnya sebesar Rp 267. maka Undang-Undang Pajak Penjualan 1951 masih berlaku hingga tanggal berlakunya undang-undang baru tersebut. Realisasi penerimaan bea masuk dalam semester I tahun 1984/1985 mencapai Rp 276. dan sebelumnya yang belum pernah. telah pula dilaksanakan penyempurnaan tala laksana pabean di bidang impor.7 milyar dan Rp 122.kenaikan sebesar 7. Dengan berbagai kebijaksanaan dan usaha-usaha tersebut di atas. Sehubungan dengan itu Pemerintah tetap memberikan keringanan tarip. Tetapi sehubungan dengan penundaan pelaksanaan Undang-Undang PPN 1984 tersebut hingga selambat-lambatnya tanggal 1 Januari 1986. maka terdapat kenaikan sebesar 3. Adapun pengampunan pajak yang ditentukan sejak 18 April 1984 akan memberikan pengaruh positif terhadap kejujutan dan keterbukaan wajib pajak.8 persen. penerimaan pajak penjualan dan pajak penjualan impor adalah sebesar Rp 272. serta mendorong perkembangan industri dalam negeri.5 Departemen Keuangan RI 22 . Jumlah terse but adalah 35. Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan pajak penjualan dan pajak penjualan impor dalam semester I 1983/1984 yaitu masing-masing sebesar Rp 252.5 milyar.4 persen.0 milyar.2 milyar. yang berarti 40.5 milyar. Dalam semester I 1984/1985. dan Rp 125. kebijaksanaan di bidang bea masuk di samping dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan negara. Realisasi penerimaan cukai dalam semester I 1984/1985 adalah sebesar Rp 375. Undang-Undang Pajak Penjualan 1951 sebenarnya tidak berlaku lagi setelah disahkannya Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang semula direncanakan untuk diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1984. Dalam rangka menjamin kelancaran arus dokumen dan pengeluaran barang. Pengampunan pajak diberikan atas pendapatan yang diperoleh dalam tahun 1983.7 persen dari yang direncanakan dalam APBN. yang dimaksudkan untuk memelihara dan menunjang perkembangan industri di dalam negeri. sehingga dengan pengampunan pajak terse but diharapkan akan dapat memperluas jumlah wajib pajak.3 milyar. dalam semester I tahun anggaran 1984/1985 realisasi penerimaan pajak penghasilan telah mencapai Rp 875.7 persen dan 2. dan 35 persen untuk penghasilan di atas Rp 50 juta.9 milyar. Sejalan dengan kebijaksanaan umum di bidang perpajakan.

yang berarti mencapai 51.2 persen bila dibandingkan dengan penerimaan dalam semester I tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 53. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp 205.5 milyar. Realisasi penerimaan pajak lainnya yang terdiri dari pajak kekayaan. antara lain bauksit dan pekatannya. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun anggaran sebelumnya yang besamya Rp 334. Pemerintah telah menurunkan tarip pajak ekspor terhadap beberapa komoditi tertentu.9 persen. Apabila dibandingkan dengan penerimaan yang sarna dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp50. Penerimaan Ipeda dalam semester I tahun 1984/1985 adalah sebesar Rp 68.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar.4 milyar. Di samping itu timbul pula hambatan yang dikenakan negaranegara maju terhadap barang-barang ekspor negara dunia ketiga. Dalam semester I 1984/1985 penerimaan bukan pajak realisasinya mencapai Rp 353.6 persen dari yang direncanakan dalam APBN.2 milyar. dalam semester I 1984/1985 mencapai Rp 33.4 persen dari rencananya dalam APBN.8 milyar atau 31.2 milyar. realisasi penerimaan pajak ekspor untuk semester I 1984/1985 hanya mencapai sebesar Rp 38.4 persen dari yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985. Kenaikan ini terutama berasal dari kenaikan penerimaan cukai tembakau dengan meningkatnya produksi rokok. Upaya peningkatan penerimaan jenis ini selalu diusahakan dengan lebih meningkatkan kualitas petugas pelaksana melalui pendidikan dan latihan.9 persen. dan bea lelang. berarti terdapat penurunan sebesar 23. Sejalan dengan perkembangan tersebut. maka terdapat kenaikan sebesar Rp 147. sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar iuran tersebut. berupa pembatasan (kuota) impor terbadap berbagaijenis komodiri. bea meterai. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 28.5 milyar.3 persen. Jumlah tersebut berarti 44. Keadaan perekonomian yang masih belum sepenuhnya pulih dari resesi. berarti mengalami kenaikan sebesar 41. Untuk meningkatkan ekspor non migas di tengah perkembangan perekonomian dunia yang masih lamban.2 milyar. Hal tersebut telab berpengaruh kepada volume maupun nilai ekspor Indonesia dalam semester I 1984/1985.7 milyar atau 71. membawa pengaruh yang kurang menguntungkan terhadap perkembangan harga barang-barang ekspor non migas di posaran dunia.4 persen dari yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985. serta penyuluhan kepada masyarakat luas.3 persen. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp 23. atau 57.6 milyar. berarti mengalami kenaikan sebesar 12.6 milyar. Penerirnaan bukan pajak terdiri dari Departemen Keuangan RI 23 . termasuk Indonesia.

Pajak penjualan impor 122. Namun upaya memobilisasikan dana pembangunan tersebut harus diusahakan tidak melampaui kekuatan ekonomi yang ada. Perbandingan penerimaan dalam negeri. Pajak penghasilan 856.80 11. semester I 1983/1984 dan 1984/1985 dapat dilihat dalam Tabel II. Pajak ekspor 50.70 7. dan bank negara. SEMESTER 1 1983/1984 DAN 1984/1985 (dalam milyar rupiah) .4 5. uang pendidikan. Penerimaan pembangunan.9 Jumlah 6. dalam semester I 1984/1985 realisasinya masing-masing sebesar Rp 23.7 272. penerimaan dalam negeri senantiasa diusahakan peningkatan dan peranannya di dalam penyediaan dana pembangunan yang diperlukan.166. Penerimaan bukan pajak 205. Pajak penjualan 252.60 6.4 375.206.2 milyar dan Rp 1.3 7.2 A.80 18. bumi dan gas alam 2. Pengeluaran rutin Kebijaksanaan Pemerintah di bidang pengeluaran rutin tidak terlepos dari upaya untuk Departemen Keuangan RI 24 .8 4.2 8. serta berbagai jenis penerimaan departemen dan lembaga Pemerintah lainnya.70 Penerimaan di luar minyak B.132.2 2. Oleh karena itu dana yang berasal dari luar negeri masih diperlukan sebagai pelengkap untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan. Cukai 334.2 68.2 Tabel II.971. yaitu dalam bentuk bantuan program dan bantuan proyek.3. antara lain berupa bagian Pemerintah atas laba perusahaan negara.9 9.2 28. bea nikah dan akte kelahiran pada catatan sipil.3 276.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berbagai jenis penerimaan negara.6 38.2.5 41.8 -23. hasil penjualan barang milik negara.372.4. Pengelolaan sumber dana yang berasal dari luar negeri tersebut senantiasa diarahkan seefisien mungkin untuk membiayai proyek-proyek pembangunan yang produktif dan berprioritas tinggi.7 3.2 PENERIMAAN DALAM NEGERI.390.0 2.6 33.7 1.Semester I Semester 11) Kenaikan / 1983/1984 1984/1985 Penurunan (%) Jems penerimaan Penerimaan minyak bumi dan 4. Bea masuk 267. dan sebagainya. gas alam 4.00 2. Pajak lainnya 23.2 7.5 125.418.2 71. Ipeda 53.5 3.2.9 2.2 875 2. seperti iuran hak pengusahaan hutan (IHPH).8 milyar.5 353.5 12. sewa rumah dinas. Penerimaan pembangunan Untuk memungkinkan ekonomi nasional dapat tumbuh dan berkembang di atas kemampuannya sendiri. 2.3 6.

0 milyar.2 persen dari realisasi dalam semester I tahun sebelumnya. realisasi pengeluaran rutin diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 4. Pemberian kenaikan gaji itu sendiri merupakan langkah yang ditempuh Pemerintah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri sipil/ ABRI dan pensiunan.295.9 milyar.238. tidak mewah.2 milyar dalarn semester I 1984/1985 yang berarti meningkat sebesar 85.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 meningkatkan tabungan Pemerintah.3 persen.9 milyar.1 persen hila dibandingkan dengan semester I 1983/ 1984.295.2 persen dari dana yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985. Perkembangan realisasi pengeluaran rutin dalam sem(.602. yang merupakan sumber utama bagi pembiayaan pembangunan. Kenaikan realisasi belanja pegawai juga disebabkan meningkatnya realisasi tunjangan beras. dan berarti pula telah menyerap 50. dayaguna dan hasilguna serta pengamanan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa. Departemen Keuangan RI 25 . belanja barang sebesar Rp 406. Dalam pedoman pelaksanaan APBN yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 29 tahun 1984 dinyatakan bahwa pelaksanaan APBN diarahkan kepada penggunaan kemampuan dan hasil produksi dalam negeri sejauh mungkin. Oleh sebab itu setiap kegiatan pengeluaran harus dipertimbangkan agar selalu berlandaskan pada prinsip-prinsip hemat. dari Rp 137. dan lain-lain pengeluaran rutin sebesar Rp135. serta lebih efektif dan efisien sehingga pelaksanaannya dapat lebih terarah dan terkendali.ster I 1984/1985 dapat diikuti dalam Tabel II. Seiring dengan itu.9 milyar tersebut merupakan 42. pembayaran bunga dan cicilan hutang sebesar Rp 1.7 milyar dalarn semester I 1983/1984 menjadi Rp 255.1 milyar. Realisasi pengeluaran rutin sebesar Rp 4. dalam rangka meningkatkan kelancaran.3 milyar selama semester I 1984/1985 merupakan peningkatan sebesar 14. di samping berhubungan erat dengan pengamanan dan pemeliharaan hasilhasil pembangunan.6 milyar. sehingga dapat bekerja lebih baik dan dengan demikian akan meningkatkan produktivitas kerja. yang terdiri dari belanja pegawai sebesar Rp 1. telah ditetapkan pula Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 1984 tentang Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah di Departemen/Lembaga.3 Realisasi belanja pegawai sebesar Rp 1.602. Dalam semester I 1984/1985. Peningkatan re'alisasi belanja pegawai ini antara lain sebagai akibat diberikannya kenaikan gaji sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan kepada pegawai negeri sipil/ ABRI dan pensiunan.5 persen dari rencananya dalam APBN 1984/1985 dan menunjukkan peningkatan sebesar 19. sebagai upaya untuk lebih mendorong peningkatan produksi dalam negeri.3 milyar. subsidi daerah otonom sebesar Rp 913.

552.90 137. Bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984 terdapat kenaikan sebesar Rp 615.5 23.1 21.6 260. Luar negeri 5. SalaDa kesehatan / Puskesmas 9.lain 174. Pengeluaran rutin untuk subsidi daerah otonom dalam semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 913.70 1.Belanja pegawal b.4 722. Lain-lain pengeluaran rutin.2 1.7 203.348.-/kg dinaikkan menjadi Rp 366.111.7 98. yang semula Rp 327. Realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam semester I 1984/1985 sebesar Rp 1.2 -4 33.6 31.3 34.6 15. Bantuan pembangunan desa 24 92. Lain-lain bel. Pembiayaan bagi daerah 603. Subsidi pupuk 176. penge1uaran untuk belanja barang harus dilakukan secara selektif dan terkendali.9 c. Non belanja pegawai 4. Bunga dan cicilan hutang a. Dalam negeri b.20 3.5 136. Bantuan pembangunan Dati I 59.4 9.30 147. peg.9 2.90 Kenaikan (%) 14.5 a.3 persen dibandingkan dengan semester I tahun sebelumnya.602.7 1) Di luar bantuan proyek 2) Angka sementara Hal ini terutama disebabkan perhitungan harga beras untuk pegawai Degen. Hal ini disebabkan terutama oleh lebih rendahnya realisasi subsidi bahan bakar minyak. Lain .9 i.238. yang berarti suatu kenaikan sebesar 10 persen dan realisasi dalam periode yang sama tahun sebelumnya. Se1anjutnya.4 milyar.237.-/kg sejak 1 April 1984. Gaji dan pensiun c.2 -37.9 12.7 1. Departemen/lembaga 1.1 milyar terdiri dari pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri sebesar Rp 0.70 -3.7 42. Subsidi BBM b. penggantian biaya pengiriman surat dinas bebas porto.3 6. Subsidi daerah otonom a.761. Bantuan pembangunan kabupaten 30.lain Jumlah 1) Angka sementara 1983/84 1.5 b. H a n k a m 239.7 b.9 483.7 641.4 d.2 237. Departemen Keuangan RI 26 .237. Dengan berpedoman kepada ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 1984.2 28.70 151 41 31. Biaya makan (lauk pauk) d. Belanja barang a.609.9 30.3 -73. yang antara lain menampung pengeluaran untuk subsidi bahan bakar minyak. Kenaikan realisasi subsidi daerah otonom ini disebabkan adanya kenaikan gaji pegawai daerah otonom sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan tahun sebe1umnya.238.7 -55.9 46 19.5 369.2 844.9 622.8 84. se1ama semester I 1984/1985 mencapai realisasi sebesar Rp 135.40 1984/85 1) 1.2 1.2 623 0.6 99 -72.7 milyar.8 286.2 c.3 a. Belanja pegawai a.40 1.5 12. Prasarana jalan 45 57.6 126.1 26.6 10 1) 9.3 32. Agar pe1aksanaan penge1uaran rutin dapat berjalan secara hemat dan efisien.608.051.1 39.70 135. Lain -lain a. penyesuaian harga beras ini mempengaruhi pula pembayaran uang makan/lauk pauk.4 26.1 -5.1 Tabel II.8 217 24.2 3. Lain .9 391.90 -1.4 PENGELUARAN PEMBANGUNAN.3 913 828. Bantuan pembangunan dan pemugaran 8.2 h.3 PENGELUARAN RUTIN.0 milyar. SEMESTER I 1983/1984 DAN 1984/1985 1) (dalam milyar rupiah) Kenaikan (%) Jenis pengeluaran 1983/84 1984/85 2) 1.30 255.2 4. pe1aksanaan be1anja barang dalam semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 406.7 b.3 f.7 57. Bantuan sekolah dasar 330 311. yang berarti 72.9 milyar.6 714. Dalam negeri b. Belanja pegawai luar negeri 2.4 406.7 e. Ipeda 53.295.7 -3.3 3.8 0. Pembiayaan Lain-lain 548.123. Pembangunan Timor Timur 0.1 milyar.402. SEMESTER I 1983/1984 DAN 1984/1985 (dalam milyar rupiah) Jenis Pengeluaran 1. Bantuan penghijauan dan reboisasi 51.6 milyar.3 29.2 3.8 -15 2.9 357.4 g.4 1. dalam negeri e.2 68. Penyertaan modal pemerintah 197. biaya giro pos dan lain-lain.1 Jumlah 2.10 0.5 81.3 persen lebih rendah dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984.369.1 194. yang berarti meningkat sebesar 26. Pembiayaan Departemen/Lembaga 1.1 489. . dan untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri sebesar Rp 1.2 545.7 23.6 6.70 12. Tunjangan beras b. Luar negeri 3.9 a.2 85.5 j.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel II.

4 milyar atau 11. dilakukan dengan meningkatkan jumlah penerimaan dalam negeri bersamaaan dengan penghematan dalam pengeluaran rutin. yang merupakan tahun pertama pelaksanaan Repelita IV. Pengeluaran pembangunan Berbagai langkah dan kebijaksanaan yang telah diambil Pemerintah selama pelaksanaan Repelita I. Tabungan Pemerintah Usaha untuk meningkatkan tabungan Pemerintah.094. yang berarti telah mencapai 51. Upaya peningkatan penerimaan dalarn negeri ditempuh antara lain dengan penyempurnaan perundang-undangan pajak. kebijaksanaan yang dijalankan berkenaan dengan pelaksanaan anggaran telah dituangkan dalam Keputusan PresideD Nomor 29 tahun 1984 tentang Pelaksanaan APBN.2. 2.132.111. dan sisanya berupa pengeluaran pembangunan lainnya sebesar Rp 714.7 milyar tersebut terdiri dari pengeluaran pembangunan untuk proyek-proyek sektoral yang dikelola departemen/lembaga sebesar Rp 1.7 milyar. yang merupakan sumber utarna bagi pembiayaan pembangunan.2 persen dan yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. Ipeda dan pembiayaan bagi Timor Timur. Dengan tetap berlandaskan pada Trilogi Pembangunan. telah berhasil direalisasikan bantuan sebesar Departemen Keuangan RI 27 . telah meletakkan landasan yang lebih kuat bagi pelaksanaan Repelita IV. pelaksanaan pengeluaran pembangunan selama semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 4.5. II dan III.7 milyar.552. Selama semester I 1984/1985 te1ah berhasil dihimpun tabungan Pemerintah sebesar Rp 3.6. dan pengeluaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek sebesar Rp 1. sedang di bidang penge1uaran rutin antara lain dengan jalan menyempurnakan pedoman pe1aksanaan APBN di samping peningkatan mutu aparat pe1aksanaannya. penyempurnaan administrasi serta pembenahan aparatur perpajakan.7 milyar. Dalam tahun anggaran 1984/1985.2.9 persen.9 milyar.8 milyar. Bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984. Selama semester I 1984/1985.1 milyar. pengeluaran pembangunan bagi daerah sebesar Rp 844. Pengeluaran pembangunan bempa pembiayaan pembangunan bagi daerah merupakan bantuan yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah untuk menjalankan pembangunan yang meliputi program-program Inpres. serta selalu berpedoman kepada Keputusan Presiden tersebut diatas. Jumlah tersebut meliputi pembiayaan rupiah sebesar Rp 3. intensifikasi dan extensifikasi pungutan pajak.111. Pengeluaran pembangunan berupa pembiayaan rupiah sebesar Rp3.244.5 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. jumlah tersebut menunjukkan peningkatan sebesar Rp 330.

dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan sebesar Rp 57.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp844. Realisasi program-program pembangunan sarana kesehatan/Puskesmas. Jumlah tersebut meliputi pembiayaan bagi program bantuan pembangunan desa sebesar Rp 92. Demikian pula halnya dengan program pembangunan sekolah dasar.2 milyar.an pembangunan Dati I sebesar Rp 57. Realisasi bantuan pembangunan desa dan bantuan pembangunan kabupaten masingmasing sebesar Rp 92. sarana kesehatan/Puskesmas sebesar Rp 21.2 milyar.2 milyar.5 milyar. Bantuan pembangunan Dati I.7 milyar. realisasinya sebesar Rp 68.8 milyar. yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah dalam rangka melindungi para pedagang kecil golongan ekonomi lemah. meratakan hasil-hasil pembangunan. Bantuan pembangunan dan pemugaran pasar. yang terdiri dari subsidi pupuk.7 persen dibandingkan dengan semester I tahun lalu. dan Departemen Keuangan RI 28 . yang diberikan dalam rangka meningkatkan keselarasan pembangunan sektoral dan regional.3 milyar. bantuan penghijauan dan reboisasi sebesar Rp 32. serta bantuan bagi prasarana jalan sebesar Rp 57.1 milyar. realisasinya menunjukkan penurunan sebesar 5. Selebihnya adalah realisasi program bantuan pembangunan Timor Timur sebesar Rp 0. prasarana jalan dan program pembangunan Timor Timur dalam semester I 1984/1985 telah menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan realisasi dalam periode yang sarna tahun sebelumnya. dan program pembangunan dengan dana Ipeda sebesar Rp 68.4 milyar. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan masing-masing sebesar Rp 237.1 milyar. dan bantu.7 milyar yang berarti 3.4 milyar. Tetapi realisasi sebesar Rp 311.2 milyar dalam semester I 1984/1985 merupakan realisasi dari anggaran yang disediakan dalam tahun anggaran 1984/1985. bantuan pembangunan posar sebesar Rp8. sedangkan bantuan penghijauan dan reboisasi yang bertujuan untuk menyelamatkan kelestarian sumber-sumber alam. dalam waktu yang bersamaan telah direalisasikan sebesar Rp 32. bantuan pembangunan kabupaten sebesar Rp 194.1 milyar ini telah menyerap dana sebesar 53. penyertaan modal Pemerintah dan lain-lain pembangunan.8 milyar dan Rp 194.6 milyar.2 milyar. Di samping itu jumlah tersebut juga meliputi program bantuan pembangunan sekolah dasar sebesar Rp 311. serta meningkatkan partisiposi daerah dalam pembangunan.9 milyar. yang berarti telah menyerap sebesar 55.2 persen bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I tahun sebelumnya. Rp 260.1 milyar.2 milyar dalam semester I 1984/1985 menunjukkan peningkatan sebesar 28.7 persen dari dana yang direncanakan dalam tahun 1984/1985.4 persen di bawah realisasi semester I 1983/1984. Pengeluaran pembangunan lainnya. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan sebesar Rp 8.6 persen dari yang direneanakan dalam tahun 1984/1985. Begitu pula halnya dengan pengeluaran pembangunan dengan dana Ipeda.

2. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 217. Demikian pula prinsip-prinsip anggaran berimbang yang dinamis tetap pula dipertahankan dalam penyusunan rancangan APBN 1985/1986. serta mengarahkan penggunaan Departemen Keuangan RI 29 . sertifikat ekspor. akan tetap dilaksanakan berbagai langkah kebijaksanaan untuk meningkatkan efisiensi dan penghematan. Sedangkan pengeluaran pembangunan lainnya terutama digunakan untuk meningkatkan pelaksanaan program keluarga berencana. yaitu sejak diberlakukannya kuota produksi sebesar 1. termasuk Indonesia. Pengeluaran pembangunan dalam rangka penyertaan modal Pemerintah antara lain dipakai untuk pembiayaan PT Dok Perkapalan Tanjung Priok. telah mempengaruhi perkembangan perekonomian negara-negara dunia ketiga. lingkungan hidup. Dari keadaan tersebut diperkirakan masa-masa sulit sebagai akibat dari resesi ekonomi dunia dan perkembangan harga minyak bumi masih akan dirasakan dalam tahun anggaran 1985/1986. Situasi perekonomian intemasional yang belum sepenuhnya pulih dari resesi. Seperti halnya pada tahun-tahun yang lampau.00 menjadi US $ 29. PT GIA/Cengkareng.0 milyar. serta meningkatnya langkah-langkah proteksionisme dari negara-negara maju.3 Rencana APBN 1985/1986 Berbagai program dan proyek pembangunan yang disusun dalam reneana APBN 1985/1986 merupakan pelaksanaan operasional tahun kedua Reneana Pembangunan Lima Tahun keempat (Repelita IV). landasan kebijaksanaan raneangan APBN 1985/1986 tetap bertumpu pada Trilogi Pembangunan. realisasi tersebut menunjukkan peningkatan masingmasing sebesar 34. Dibandingkan dengan semester I 1983/1984.1 persen.00 pada tanggal14 Maret 1983. 31. Perbandingan antara realisasi pengeluaran pembangunan di luar bantuan proyek dalam semester I 1984/1985 dengan semester I 1983/1984 ditunjukkan dalam Tabel II. dan penurunan harga minyak dari US $ 34.3 juta barrel pada bulan April 1982. pertumbuhan ekonomi yang eukup tinggi. proyek sumber daya laut dan lain-lainnya. PT PINDAD. yakni pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.4.7 persen. Demikian pula posaran dan harga minyak bumi dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan keadaan labil. pengembangan statistik. PT Industri Mesin Produksi Indonesia (IMPI) dan PT PAL Indonesia. Di bidang keuangan negara. rendahnya permintaan akan komoditi-komoditi ekspor dari negara-negara sedang berkembang.9 persen dan 24. malah ditandai dengan mulai melambannya kembali pertumbuhan ekonomi negara-negara industri.

Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai berbagai jenis pengeluaran pembangunan sektoral yang dilaksanakan oleh Departemen/Lembaga Negara sebesar Rp3. dengan pembaharuan-pembaharuan di bidang perpajakan. Dalam pengeluaran pembangunan termasuk didalamnya pengeluaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek yang direncanakan 3ebesar Rp 4. dan berbagai pembiayaan pembangunan lainnya seperti penyertaan modal Pemerintah.0 milyar.masing-masing direncanakan sebesar Rp 12.368. Di samping itu. jumlah tersebut terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan yang . khususnya melalui usaha peningkatan penerimaan dalam negeri di luar minyak.643.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 keuangan negara untuk bidang-bidang yang mempunyai prioritas yang tinggi. Dengan kebijaksanaan ini Pemerintah bukan saja berupaya untuk lebih menyeimbangkan struktur penerimaan negara yang sebagian besar masih tergantung pada penerimaan dari minyak bumi dan gas alam.0 milyar. Penerimaan dalam negeri Kebijaksanaan untuk menciptakan landasan yang kuat guna mempercepat proses pembangunan yang selama ini dijalankan. diharapkan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam akan dapat lebih ditingkatkan. subsidi pupuk.1. yakni dengan disahkannya beberapa undang-undang Departemen Keuangan RI 30 . LangkahIangkah umuk menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan.278. Di sisi penerimaan negara.0 milyar.644. pembangunan regional berupa proyek-proyek Inpres.297.647. dan lain-lain pengeluaran yang seluruhnya direncanakan berjumlah sebesar Rp 1. yang masing-masing direncanakan sebesar Rp 11.0 milyar. Di sisi pengeluaran negara. Tabungan Pemerintah tersebut bersama-sama dengan penerimaan pembangunan akan membentuk dana pembangunan yang direncanakan akan mencapai Rp10. telah dilaksanakan ketika memasuki tahun awal Pelita IV.2 milyar.7 milyar dan Rp7.5 milyar.159.3 milyar. serta bantuan pembangunan Timor Timur sebesar Rp 1. dana Ipeda. Dalam tahun 1985/1986. Dengan demikian tabungan Pemerintah yang direncanakan adalah sebesar Rp 6.9 milyar.0 milyar dan Rp10. 2.2 milyar.399.3.518. jumlah tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam. dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam. pada hakekatnya mempunyai arah dan tujuan untuk meningkatkan penerimaan dalam negeri terutama dari sumber-sumber di luar minyak bumi dan gas alam.647.046. akan tetapi juga berusaha-untuk meningkatkan rasa keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan melalui bidang perpajakan. serta penerimaan pembangunan yang direncanakan sebesar Rp 4..23. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara direncanakan berimbang pada jumlah sebesar Rp.1 milyar.062.

serta pendataan dan pemberian nomor pokok wajib pajak (NPWP) sesuai dengan perundangundangan yang baru.159.dari seluruh wajib pajak. Sejalan dengan itu. Berlainan dengan undang-undang perpajakan yang lama yang mempunyai sistem.2 milyar. baik untuk meningkatkan pengetahuan teknis di lapangan. berbagai perubahan dalam teknis pelaksanaan pemungutan pajak telah pula dilaksanakan. serta pemahaman tentang arti pentingnya undang-undang perpajakan tersebut dalam era pembangun. terutama dalam tujuannya meningkatkan peranan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam sebagai sumber utama penerimaan negara.6 Departemen Keuangan RI 31 . Sejak berlakunya undang-undang perpajakan yang baru.7 milyar dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 7. Namun Pemerintah menyadari sepenuhnya bahwa pembinaan yang dilakukan. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 1985/1986.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perpajakan baru sebagai penggami dari undang-undang perpajakan lama warisan kolonial yang dirasakan telah tidak sesuai lagi dengan alam dan gerak pembangunan sekarang ini. maupun umuk meningkatkan disiplin serta mental aparat perpajakan. sedangkan Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah direncanakan akan berlaku pada tanggal 1 April 1985.. pembaharuan bemuk-bentuk formulir. Untuk itu penyuluhan-penyuluhan juga telah diberikan kepada wajib pajak guna meningkatkan kesadaran. UndangUndang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan serta Undang-Undang temang Pajak penghasilan telah diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 1984. baik terhadap aparat perpajakan maupun para wajib pajak. telah pula dilaksanakan penataran untuk seluruh aparat perpajakan.518. penerimaan dalam negeri direncanakan mencapai Rp 18. prosedur dan penaripan yang rumit. yang terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 11. antara lain mengenai pabean. kini tengah dipersiapkan beberapa rancangan undang-undang. Di samping undang-undang perpajakan tersebut. memerlukan waktu umuk mencapai mekanisme yang diinginkan oleh undang-undang perpajakan yang baru. dan iuran pembangunan daerah. undangundang perpajakan yang baru lebih mencerminkan kesederhanaan serta lebih mendorong pemerataan dan memberikan kepostian hukum. Perkembangan penerimaan dalam negeri sejak 1969/1970 sampai dengan 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. pajak kekayaan. Hal itu meliputi perubahanperubahan prosedur dan administrasi perpajakan.9 milyar.677. Akan tetapi usaha tersebut akan kurang bermanfaat tanpa keikutsertaan serta kesadaran . guna lebih memantapkan peningkatan penerimaan di dalam negeri.

00 3.60 19.149.80 2.716.7 PELITA III 1979/1980 6. Gas alam yang rnerupakan salah satu sumber energi alternatip bagi industri-industri besar sebagai pengganti minyak bumi.212.6 162.90 2. 1969/1970 -1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Kenaikan Jumlah Persentase Tahun anggaran Jumlah PELITA I 1969/1970 243.432.227.7 milyar.418. Namun demikian.6 1977/1978 3.7 1981/1982 12.530.70 786 81.00 664.1 63.4 21.40 16. Adapun penerimaan dari sektor gas alam (LNG) diperkirakan mengalami kenaikan.10 730.1.7 20.677. Dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 1985/1986 penerimaan rninyak bumi dan gas alarn direncanakan sebesar Rp 11.7 1) APBN 2) RAPBN 2. dalam masa.40 629.20 52.4 1982/1983 12.6 38 1973/1974 967.9 1985/19862) 18.014.2 1975/1976 2.159.7 1983/1984 14.3. Pembatasan produksi yang disepakati bersama oleh negara-negara anggota OPEC baru-baru ini diharapkan akan membawa pengaruh yang positif terhadap perkembangan tingkat harga minyak mentah di posaran dunia.40 1. Apabila Departemen Keuangan RI 32 .535. penerimaan dari sektor ini tidak dapat diharapkan akan mengalami lonjakan yang besar seperti yang terjadi dalam Pelita II dan permulaan Pelita III.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabe1 II.753.1 29. Penerimaan minyak bumi dan gas alam Dari keseluruhan penerirnaan negara yang bersurnber dari dalam negeri.7 1978/1979 4. 6 PENERIMAAN DALAM NEGERI.241.1.4 24.50 15.430.696.70 11.70 57 1980/1981 10.7 1970/1971 344.9 41.7 1.60 1.6 100.985.7 377.2 27. melihat perkembangan harga dan permintaan minyak mentah di posaran dunia yang masih diliputi kelesuan akibat keadaan perekonomian negara-negara industri yang belum sepenuhnya bangkit dari kemelut resesi.9 PELITA II 1974/1975 1.528.2 PELITA IV 1984/19851) 16.2 1972/1973 590.4 1971/1972 428 83.906.90 488.masa terakhir ini menghadapi permintaan yang meningkat dengan cukup berarti.8 1976/1977 2. penerimaan yang berasal dari sektor minyak bumi dan gas alam masih tetap merupakan sumber penerimaan yang penting dalam tahun 1985/1986.30 205.70 2.266.

520.8 151.5 84.60 7.1 50.8 387.259.3 68.1 15.8 150.6 milyar.+ 18. berarti terdapat peningkatan sebesar Rp793.1 rnilyar atau 7.680.259.3.2 1.9 Kenaikan Jumlah 65.5 64. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam Untuk membiayai pelaksanaan pembangunan yang sernakin meningkat dalam Pelita IV.9 344.60 7. Penerimaan rninyak bumi dan gas alam tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi yang direncanakan sebesar Rp 9.308.8 112.8 65.9 -5.8 63.479.10.5 8.170.40 9.4 28.7 persen.70 2.6 -15.366.40 9.6 37.4 41. merupakan suatu langkah keharusan bagi berhasilnya pembangunan yang akan dilaksanakan untuk waktu-waktu mendatang.00 1. Pemerintah tidak lagi sepenuhnya dapat bertumpu pada penerimaan yang berasal dari minyak bumi dan gas alam.4 30. Departemen Keuangan RI 33 .5 382.4 1.80 8. Menyadari hat tersebut.349.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penerimaan minyak bumi dan gas alam tersebut dibandingkan dengan rencana dalam APBN tahun 1984/1985 yang berjumlah Rp 10.950.6 973.019. .4 793. upaya peningkatan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam. 7 PENERIMAAN MINYAK BUMI DAN GAS ALAM.10 1.019.308. Perkembangan penerimaan pajak penghasilan rninyak bumi dan gas alam sejak tahun 1969/1970 sampai dengan tahun 1985/1986 dapat dilihat dalam Tabel II.7.635.40 1.2 140.948.2.2 31.159.366.8 41.60 .4 31 19.60 8.3 313.90 2. dan penerirnaan gas alam sebesar Rp 1.520.00 1.5 30.2 957.608.170.948.70 Penerimaan minyak lainnya 17. 1969/1970 -1985/1986 ( dalam milyar rupiah ) Pajak penghasilan minyak bumi dan gas alam 48.9 -1.627.20 10.366.2 .5 89.70 4.80 8.7 230.248.3 16.30 1.4 360 1.20 -457.8 99. baik pajak langsung maupun tidak langsung.9 7. khususnya pada tahun kedua pelaksanaan Pelita IV ini.70 2.627.70 2.7 .1 1.8 22.7 575 290.80 846.60 8.60 11.619.6 milyar. Tabel II.20 Persentase Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) APBN 2) RAPBN Jumlah 33.11.159.1 milyar.760.5 198.249.1.70 4.

sehingga dapat lebih menjamin pemerataan pendapatan. dengan nama dan dalam bentuk apapun baik yang telah maupun yang belum terdaftar sebagai wajib pajak. juga diberikan pengampunan pajak. Upaya yang dilakukan Pemerintah di bidang penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam tersebut di samping diarahkan bagi peningkatan pendapatan negara juga diusahakan agar lebih dapat menciptakan iklim dan gairah usaha dalam negeri. serta untuk lebih meningkatkan dampak positif di bidang ekonomi dari sistem perpajakan nasional. dividen. dan royalty (PBOR) yang terhutang atas bunga. sejak 18 April 1984 diambil pula kebijaksanaan untuk memberi pengampunan pajak. Terhadap pajak-pajak yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut yang dimintakan pengampunan pajak. Untuk memberi peluang agar wajib pajak memperoleh informasi lebih jelas dan mempunyai waktu cukup untuk mengisi laporan kekayaannya. dividen. dan royalty yang dibayarkan atau disediakan untuk dibayarkan sampai dengan 31 Oesember 1983. Sementara itu terhadap pajak pendapatan buruh yang terhutang dalam tahun pajak 1983 dan sebelumnya. Pengampunan pajak ini diberikan kepada wajib pajak perorangan atau badan. diberikan pengampunan pajak. maka batas waktu pengampunan pajak diperpanjang dari akhir Desember 1984 menjadi 30 Juni 1985. Di samping itu kepada wajib pajak yang mengajukan permintaan pengampunan pajak akan dibebaskan dari pengusutan fiskal. meningkatkan diversifikasi ekspor. Kebijaksanaan ini tiada lain dimaksudkan untuk menunjang dan melengkapi pelaksanaan sistem perpajakan yang baru. pajak atas bunga. menciptakan suasana pola hidup sederhana. dan laporan tentang kekayaannya tidak akan dijadikan dasar penyidikan dan penuntutan pidana dalam bentuk apapun. dengan jalan menciptakan pangkal tolak yang bersih yang berlandaskan pada kejujutan dan keterbukaan dari masyarakat. melindungi golongan ekonomi lemah. melancarkan perdagangan dalam dan luar negeri. Pengampunan ini juga diberikan terhadap pajak perseroan atas laba yang diperoleh dalam tahun 1983 dan sebelumnya. serta terhadap MPO wapu yang terhutang dalam tahun 1983 dan sebelumnya. yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. melindungi barang-barang yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri. Untuk itu atas pendapatan yang diperoleh dalam tahun 1983 dan sebelumnya dan kekayaan yang dimiliki pada 1 Januari 1984 dan sebelumnya. dikenakan tebusan dengan tarip 1 persen dan 10 persen dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung jumlah pajak yang dimintakan pengampunan. maka Departemen Keuangan RI 34 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai tindak lanjut ditetapkannya beberapa undang-undang perpajakan baru. Selanjutnya untuk lebih mendorong tumbuhnya industri dalam negeri. serta terhadap pajak penjualan yang terhutang dalam tahun 1983 dan sebelumnya.

penerimaan cukai. penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam terbagi atas penerimaan pajak penghasilan. yaitu tahun 1984/ 1985. penerimaan Ipeda.8.4 milyar atau 30.4 milyar. penerimaan pajak lainnya. penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas :rlam senantiasa menunjukkan adanya peningkatan sejalan dengansemakin baiknya pengelolaan keuangan negara. penerimaan bea masuk. pajak ekspor sebesar Rp 101.3 milyar dan pajak penghasilan badan sebesar Rp 2.7 milyar. serta semakin meningkatnya partisiposi masyarakat di dalam pembangunan. Tarip penyusutan yang dipercepat tersebut diharapkan akan merangsang tumbuhnya investasi baru yang selanjutnya akan memperkokoh kemandirian perekonomian nasional. Perkembangan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sejak tahun 1969/1970 sampai tahun 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. Di dalam RAPBN tahun 1985/1986. Apabila dalam tahun 1969/1970.276. Departemen Keuangan RI 35 . Mengingat perkembangan perekonomian. penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah.9 milyar.9 milyar: maka dalam tahun terakhir Pelita III. Penerimaan ini terdiri dari penerimaan pajak penghasilan sebesar Rp 3. Apabila dibandingkan dengan penerimaan tahun sebelumnya. Penyusutan yang lebih tinggi tersebut diberikan antara lain kepada mesin-mesin pertanian. serta dengan memperhitungkan pengelolaan sistem perpajakan yang semakin baik. Di dalam perkembangannya.4 milyar. cukai sebesar Rp 963.666. atas dasar undang-undang perpajakan yang bam beserta kelengkapannya. pajak lainnya sebesar Rp 96.912.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sejak 9 Agustus 1984 telah ditetapkan tarip penyusutan baru yang lebih tinggi. dan penerimaan bukan pajak. dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 731. bea masuk sebesar Rp 717. Ipeda sebesar Rp 167. maka penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam untuk tahun 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 7.518. penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp 1.1 milyar. jumlah tersebut telah meningkat menjadi Rp 4. atau suatu kenaikan lebih dari 27 kali. penerimaan pajak ekspor. mesin-mesin tekstil dan lainnya.0 milyar. besarnya penerimaan ini baru mencapai Rp 177. yaitu tahun pertama Pelita I. yaitu tahun 1983/1984. yakni pajak penghasilan perseorangan sebesar Rp797.735. mesin-mesin yang mengolah produk asal binatang atau nabati.3 milyar.2 milyar.074.4 milyar.0 persen. penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah sebesar Rp 1.5 milyar.7 milyar.

8 27.4 663.20 3. diharapkan akan lebih merangsang para wajib pajak untuk memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak.3 62.6 11.912.4 24. Undang-Undang PBDR 1970 dan Un dang-Un dang No.5 41.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel II.5 796.207.70 1. undang-undang ini juga dimaksudkan untuk menciptakan suasana kehidupan dan berusaha yang lebih adil dan merata dalam kepostian hukum yang berlaku.1 25. prinsip kepostian dan prinsip pemerataan.90 4.6 17.8 24.4 211 197.584.6 870.70 1.3 1.40 2.270.3 360. Dengan undang-undang pajak penghasilan ini diharapkan akan lebih diwujudkan prinsip kesederhanaan.4 287.20 Kenaikan Jumlah Persentase 67.735. diharapkan akan menciptakan iklim dan gairah usaha yang lebih baik yang akan mendorang kegiatan Junia usaha dan perekonomian nasional umumnya.9 23. yang hanya terdiri atas tiga tingkat dan tarip rata-rata yang lebih rendah dari tarip rata-rata dalam undang-undang perpajakan sebelumnya.247.8 Tahun 1967 tentang MPO/MPS.9 245.9 1. diwajibkan kepada pegawai negeri untuk mengisi Departemen Keuangan RI 36 .957. Hal ini pada gilirannya akan meningkatkan penerimaan pajak sehingga memperkokoh kemandirian dalam penyediaan sumber dana yang dibutuhkan oleh pembangunan.586. 8 PENERIMAAN DI LUAR MINYAK BUMI DAN GAS ALAM 1969/1970 1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) APBN 2) RAPBN Jumlah 177.40 37.782. Di samping itu lebih luasnya dasar pengenaan pajak.518.6 36 24.437.5 31.8 316 370.9 17.7 30 Berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan sejak 1 Januari 1984 yang menggantikan Undang-Undang Pajak Pendapatan 1944.80 4.8 225.40 3.8 18. yang berarti di samping ditujukan bagi penambahan pengumpulan dana sebesarbesarnya. Kesederhanaan daripada tarip pajak.9 72. Undang-Undang Pajak Perseroan 1925.50 5. terutama dengan dimasukkannya semua jenis pendapatan ke dalam dasar pengenaan pajak.2 t377.8 770.4 276.5 993.1 664.7 479.80 7.5 15.1 585.

sebagai hasil nyata dari kebijaksanaan penyesuaian tarip penyusmall baru yang lebih menguntungkan para pengusaha. unsur progresivitas tidaklah diabaikan akan tetapi sekaligus dilaksanakan untuk pengumpulan dana bagi pembangunan. masing-masing untuk penghasilan kena pajak sampai dengan Rp 10 juta. Sebagai perwujudan dari pemerataan pendapatan dan beban pembangunan. Di samping itu lebih tingginya batas pendapatan tidak kena pajak (PTKP) dari batas pendapatan bebas pajak (BPBP) yang dulu terdapat dalam sistem perpajakan yang lama. Di samping hat ini akan menambah kapositas efektif pemungutan pajaknya. Menyadari pentingnya perluasan Departemen Keuangan RI 37 . dan lebih dari Rp 50 juta. diharapkan akan semakin memperluas potensi penerimaan pajak ini. yang berarti terdapat peningkatan sebesar Rp 219.0 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 surat pemberitahuan (SPT) pajak penghasilan. antara Rp 10 juta sampai Rp 50 juta. Kalau dalam APBN 1984/1985 penerimaan pajak penghasilan perseorangan aclalah sebesar Rp 577. diharapkan dapat lebih melindungi golongan ekonomi lemah dan masyarakat yang berpendapatan rendah . serta dihapuskannya segala bentuk fasilitas dan pembebasan pajak. Peningkatan tersebut berlangsung sejalan dengan meningkatnya penghasilan para pegawai negeri dan karyawan swasta. tunjangan tetap. walaupun tarip pajak lebih rendah serta lebih sederhana. Adanya perluasan perusahaan dan munculnya penanaman modal baru. diharapkan pula dapat lebih mendorong gairah usaha yang pada gilirannya akan memperluas tersedianya barang-barang produksi dalam negeri. 25 persen dan 35 persen. dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan dan jabatan yang dibebankan kepada keuangan negara. Upaya peningkatan penerimaan pajak penghasilan badan diusahakan melalui kebijaksanaan tarip yang lebih sesuai dengan perkembangan dunia usaha. meningkatnya dasar pemungutan pajak dari karyawan asing. di samping ditekankan pula untuk memperluas dasar pengenaan pajaknya. honorarium. Penerimaan pajak penghasilan perseorangan dalam RAPBN tahun 1985/1986 direncanakan meningkat dari tahun sebelumnya. diharapkan akan membawa pengaruh positif terhadap perluasan dan peningkatan kesempatan kerja baru. upah. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 diharapkan bisa mencapai Rp 797. serta semakin efektifnya pemotongan oleh bendaharawan Pemerintah atas pembayaran gaji.7 milyar atau 38.3 milyar. sehingga untuk masa mendatang akan meningkatkan efektifitas pemungutan pajak. agar perkembangan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai selama ini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Keputusan PresideD Domer 26 tahun 1984 tentang Pengampunan Pajak diharapkan akan mempercepat proses terciptanya sikap jujur dan terbuka para pemberi kerja untuk melakukan pemotongan dan penyetoran pajaknya.6 milyar. Tarip pajak tersebut adalah sebesar 15 persen.

Dalam rangka lebih mendorong upaya peningkatan Departemen Keuangan RI 38 . Dalam undangundang tersebut hanya terdapat dua tarip yaitu 0 persen dan 10 persen. dari setinggitingginya 15 persen. Pemerintah berupaya dengan sungguhsungguh melaksanakan pengawasan terhadap perusahaan negara. sedangkan bagi barang mewah dikenakan tambahan pajak sebesar 10 persen dan 20 persen. maka berarti meningkat sebesar Rp 403. untuk selanjutnya diharapkan akan meningkatkan penerimaan pajak serta ketertiban pembayaran pajaknya. telah dilakukan penyesuaian atas tarip penyusutan yang ditetapkan lebih tinggi sehingga penyusutan dapat lebih dipercepat. Upaya Pemerintah menciptakan peraturan perundangundangan yang lebih luas dimensi cakupannya. serta tarip pajak penjualan khusus atas barang mewah dapat diubah menjadi setinggi-tingginya 35 persen.2 milyar atau 21. Sejalan dengan kebijaksanaan tersebut. Pengawasan ini dilakukan untuk lebih meningkatkan produktivitas dan efisiensinya sehingga akan meningkatkan penghasilan perusahaan negara tersebut.7 milyar. dan lebih tegas menjamin kepostian hukum.5 milyar. Di samping itu apabila penanam modal lebih dulu menyimpan dananya melalui deposito berjangka sekurangkurangnya selama tiga bulan. lebih sederhana. Dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan pajak penghasilan badan direncanakan sebesar Rp2. Namun untuk menunjang perkembangan perpajakan dalam memenuhi kebutuhan dana yang diperlukan pembangunan serta untuk membantu menciptakan suasana pola hidup sederhana. Kebijaksanaan ini diharapkan akan lebih meringankan beban pajak penghasilan yang harus dibayar oleh pengusaha.873.276. Sehubungan dengan semakin pentingnya mobilisasi sumber dana dari dalam negeri. Pemerintah melalui kebijaksanaan di bidang perpajakan telah memberikan kesempatan kepada para penanam modal untuk menggunakan fasilitas pengampunan pajak. tarip pajak pertambahan nilai terse but dapat diubah menjadi serendah-rendahnya 5 persen. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dasar pengenaan pajak tersebut bagi peningkatan penerimaan pajak penghasilan. Peningkatan kegiatan ekonomi nasional khususnya pengembangan dunia usaha senantiasa mendapat perhatian Pemerintah. Di dalam perkembangannya. Dari padanya diharapkan berlanjut akan meningkatnya kegiatan dunia usaha.5 persen. yang selanjutnya akan mendorong investasi baru dan pada gilirannya akan meningkatkan jumlah dan potensi wajib pajak. penerimaan pajak penghasilan badan ini terus mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. maka penanam modal tersebut akan dibebaskan dari kemungkinan pengusutan perpajakannya. yang mendorong lahirnya Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah dalam rangka menunjang perkembangan dunia usaha. serta kesadaran melaksanakan kewajiban di bidang perpajakan.

Di samping itu sistem baru ini juga menciptakan ik!im usaha yang lebih menarik bagi golongan ekonomi lemah. terutama kebijaksanaan pajak pertambahan nilai sebesar 0 persen atas barang-barang ekspor. terutama komoditi non migas. Dalam pada itu mulai tahun anggaran 1985/1986 di dalam penerimaan pajak pertambahan nilai termasilk didalamnya pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri. Untuk lebih mendorong kepatuhan membayar pajak dengan jalan memberikan rasa aman bagi para wajib pajak. Sedangkan bagi pajak pertambahan nilai yang dikenakan atas bahan baku yang digunakan untuk memproduksi barang-barang ekspor secara periodik dapat dimintakan pengembaliannya. bahwa beban pajak yang telah ada Facia bahan baku yang dipakai perusahaan dapat diperhitungkan/dikurangkan dari pajak pertambahan nilai yang terhutang alas hasil produksi perusahaan itu. sistem baru ini mengintegrasikan bea masuk yang dikenakan atas barang-barang impor dengan pajak pertambahan nilai yang dikenakan atas barang-barang perdagangan dalam negeri. volume maupun pengembangan diversifikasinya. yang semata-mata untuk menghindari pajak dengan mengorbankan efisiensi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ekspor. khususnya komoditi non migas baik dalam hal kualitas. maka dalam sistem baru ini diatur dengan je1as ketentuan mengenai pembayaran kembali daripada ke1ebihan dalam pembayaran pajak. diharapkan akan semakin mendorong ekspor. terutama mereka yang merasa telah membayar pajak lebih daripada yang seharusnya. Sedangkan sebagai upaya untuk menghilangkan pengarub pajak berganda yang terdapat Facia sistem yang lama. serta untuk lebih menunjang upaya diversifikasi ekspor. Jumlah tarip tersebut diperbanyak lagi dengan diberikannya berbagai pembebasan sebagian atas produk-produk tertentu. Sistem kredit ini menetapkan. Hal ini disebabkan karena adanya batasan yang jelas mengenai jenis perusahaan yang dapat digolongkan sebagai perusahaan kecil. sehingga akan menciptakan kepostian bagi upaya penyeragaman beban pajaknya. Kesederhanaan dalam tarip pajak pertambahan nilai akan lebih dapat dirasakan bila dibandingkan dengan sistem yang lama dengan tarip yang bervariasi antara delapan jenis tarip. Kebijaksanaan ini bersama-sama dengan kebijaksanaan lamnya. Dalam hubungannya dengan perdagangan luar negeri. Di samping itu dapat dihilangkan pula kemungkinan adanya usaha-usaha untuk me1akukan integrasi vertikal antara dua perusahaan alan lebih. Tarip yang lebih sederhana yang diterapkan dalam sistem baru ini akan sangat membantu pe1aksanaannya karena akan mudah dipahami baik oleh pemungut maupun pembayar pajaknya. dalam Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai tahun 1984 ditentukan adanya sistem kredit. Berdasarkan pertimbangan bahwa pelaksanaan Undang-Undang Pajak Pertambahan Departemen Keuangan RI 39 . dalam undang-undang yang baru ini tarip pajak penjualan atas barang-barang ekspor adalah 0 persen.

menyerap tenaga kerja yang banyak. Untuk itu dalam mendorong pertumbuhan industri : perakitan di tanah air. pengamanan penerimaan negara. kebijaksanaan tarip bea masuk selalu diusahakan agar mampu memberikan perhitungan yang wajar bagi industri dalam negeri. Sehubungan dengan hal rersebut. Untuk itu. terutama industri yang menghasilkan nilai tambah yang tinggi. usaha penanggulangan penyelundupan terus ditingkatkan dengan meningkatkan ketrampilan aparat pabean serta memperlancar arus dokumen. tanpa melupakan kepentingan konsumen. Diharapkan kedua kebijaksanaan tersebut dapat saling mengisi dan melengkapi secara harmonis. tangguh dan memiliki daya saing yang kuat. telah diberikan beberapa bentuk keringanan bea masuk atas kertas tulis dan kertas cetak serta beberapa buku ilmu pengetahuan tertentu. dan upaya pengutamaan penggunaan barang-barang hasil produksi dalam negeri. baik impor maupun ekspor. di dalam memberikan perlindungan bagi industri di dalam negeri. impor terhadap produk-produk sejenis dikenakan tarip yang lebih tinggi. Di bidang penerimaan bea masuk. telah pula ditetapkan kebijaksanaan yang memberikan keringanan pembebanan impor atas pemasukkan bahan baku/bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nilai tahun 1984 yang ditunda sampai selambat-lambatnya 1 Januari 1986 dapat dilaksanakan pada awal tahun anggaran 1985/1986. Sesuai dengan kebijaksanaan yang digariskan dalam Repelita IV. Selanjutnya untuk menunjang kebijaksanaan Pemerintah di bidang pentaripan.4 milyar. Sedangkan untuk memberikan perlindungan bagi semakin tumbuhnya industri pengolahan di dalam negeri. kebijaksanaan tarip senantiasa diusahakan agar dapat berjalan seirama dengan kebijaksanaan pengaturan tata niaga. dalam rangka penyempumaa dan penertiban sistem administrasi pabean telah dilaksanakan persiapan- Departemen Keuangan RI 40 . Sebagai upaya menunjang pengembangan industri di dalam negeri.666. dilanjutkan dan ditingkatkan usaha-usaha yang diarahkan bagi penciptaan iklim dan gairah usaha yang mendorong terlaksananya pembangunan industri dalam negeri yang efisien. maka penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah dalam RAPBN tahun 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 1. kepada sektor industri tersebut diberikan perlindungan dengan tarip I CKO yang lebih rendah dari tarip produk yang sama yang diimpor dalam keadaan built up/non-KO. serta menunjang peiaksanaan kebijaksanaan perdagangan luar negeri. maka kepada industri tersebut diberikan beberapa keringanan pembebanan taripnya.serta mampu menyediakan barangbarang yang diminta konsumen baik di dalam maupun di luar negeri dengan harga yang memadai. menggunakan sumber daya dalam negeri. Berkenaan dengan program wajib belajar. . Dalam rangka memberikan perlindungan dan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri.

Sedangkan bagi jenis produksi sigaret buatan mesin. Sehubungan dengan itu. cukai bir. 50 persen untuk sigaret kretek bukan buatan mesin.1 milyar. juga dimaksudkan guna mencapai sasaran-sasaran tertentu lainnya.5 persen dari harga pita cukai. Berdasarkan langkah-Iangkah yang telah dilaksanakan di bidang bea masuk. Fasilitas tersebut diberikan kepada perusahaan sigaret kretek tangan (SKT). guna mempertahankan harga yang lebih sesuai dengan daya beli masyarakat dan menjamin kelayakan tingkat pendapatan petani tebu.7 milyar. Dalam rangka lebih mendorong perkembangan industri rokok dan hasil tembakau dalam negeri terutama bagi produsen yang tergolong pengusaha lemah. Apabila dibandingkan dengan rencana penerimaan bea masuk dalam APBN 1984/ 1985. serta intensifikasi dan verifikasi pemungutannya. Di samping itu untuk memberikan kesempatan bagi berkembangnya produksi tembakau di dalam negeri. Terhadap impor hasil tembakau dipungut cukai sepenuhnya. Sebagaimana halnya dengan cukai tembakau. maka pada 1 April 1984 telah ditetapkan pembebasan sebagian tarip cukai terhadap hasil tembakau buatan dalam negeri. yaitu 70 persen dari pita cukainya untuk sigaret buatan mesin dan tembakau iris. yang produksinya antara 750 juta batang sampai 4 milyar batang setahun dikenakan ta. penerimaan cukai dipengaruhi antara lain oleh perkembangan pertumbuhan produksi. Kebijaksanaan. Di dalam perkembangannya. cukai yang se1ama ini dijalankan . kebijaksanaan di bidang cukai lainnya juga disempurnakan sesuai dengan perkembangan ekonomi. dengan ketentuan bahwa perusahaan yang produksinya lebih dari 4 milyar batang setahun dikenakan tarip 25 persen diri harga pita cukai. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan bea masuk direncanakan sebesar Rp 717. dan banyak menyerap tenaga kerja.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 persiapan kearah penerapan sistem komputer di bidang operasional pabean dari pengumpulan data. cukai gula. maka terlihat peningkatan sebesar Rp 35. dan cukai alkohol sulingan. Penerimaan cukai ini terdiri dari cukai tembakau. sejak 1 Mei 1984 diadakan penyesuaian harga dasar Departemen Keuangan RI 41 . di samping diarahkan kepada fungsinya sebagai penghimpun dana. baik sigaret putih mesin (SPM) maupun sigaret kretek mesin (SKM) dikenakan tarip tunggal yang besarnya 40 persen dari harga pita cukainya.rip 22. serta 40 persen untuk jenis cerutu. yang produksinya antara 100 juta sampai 750 juta batang setahun dikenakan tarip 20 persen dari pita cukai. dan bagi perusahaan yang produksinya 100 juta batang atau kurang setahun dikenakan tarip 15 persen dari pita cukainya. penyesuaian harga pita dengan harga jualnya. sejak 1 April 1984 tidak lagi diberikan pembebasan sebagian cukai terhadap impor hasil tembakau. peningkatan daya beli masyarakat konsumen.

dan penyesuaian tarip cukai terutama untuk tembakau dan gula.per kuintal. yaitu untuk jenis SHS I. masing-masing sebesar Rp40. Segi lain dari kebijaksanaan tersebut adalah.per kuintal. kebijaksanaan di bidang pajak ekspor dalam tahun anggaran 1985/1986 akan tetap diarahkan agar selalu menunjang berbagai usaha dan kebijaksanaan Pemerintah dalam rangka meningkatkan daya saing komoditi ekspor Indonesia di posaran intemasional.(TRB) maupun tebu rakyat intensifikasi (TRI). Sehubungan dengan perlunya pengawasan terhadap minuman keras. diperkirakan produksinya akan sedikit mengalami penurunan.3 milyar. Untuk itu. Rp 39. Di samping itu telah pula diadakan penertiban penanaman tebu. akhir-akhir ini mengalami sedikit penurunan di dalam realisasinya. yang pada pokoknya mengarah pada upaya penciptaan iklim yang lebih mendorong gairah usaha untuk rnempertahankan dan mendorong nilai maupun volume ekspor. Berdasarkan pertimbangan atas langkah-langkah yang sedang. maka dalam RAPBN 1985/1986 penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan diperkirakan akan mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan yang tertera dalam APBN 1984/1985. Apabila rencana penerimaan cukai tersebut dibandingkan dengan yang direncanakan dalam tahun anggaran sebelumnya. sejak Januari 1984 telah diadakan pengenaan kembali tarip pajak ekspor tambahannya. dan HS I. produksi bir diperkirakan tidak akan mengalami kenaikan yang berarti. melainkan diakibatkan pula oleh adanya penurunan dan pembebasan pajak ekspor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pemungutan cukai gula. sejak Mei 1980 telah diadakan pembatasan ekspor terhadap kayu gelondongan. prospek produksi. Penurunan tersebut bukan saja disebabkan karena menurunnya nilai maupun volume ekspor beberapa komoditi tertentu.. Berdasarkan berbagai langkah kebijaksanaan yang dilaksanakan Pemerintah di bidang ekspor.000. baik tebu rakyat bebas. berarti meningkat dengan Rp 235.. dan Rp 39.850.8 milyar. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan cukai direncanakan sebesar Rp 963. serta pajak ekspor tambahan terhadap berbagai barang-barang ekspor dalam rangka mendorong ekspor yang selama ini terus diusahakan peningkatannya. Adapun penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan.per kuintal.. dan akan dilaksanakan terutama dengan semakin efektifnya pemungutan cukai. Di samping itu sebagai upaya penyediaan bahan bagi industri pengolahan kayu dalam negeri. bahwa barangbarang yang dianggap penting bagi konsumsi dalam negeri.7 milyar. SHS II. Dalam RAPBN 1985/1986 penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan tersebut direncanakan akan mencapai sebesar Rp 101. serta untuk menjaga kelestarian lingkungan alam. seperti minyak kelapa sawit dan hasil-hasilnya.700. serta beberapa jenis kayu gergajian mewah. Departemen Keuangan RI 42 . Demikian juga terhadap alkohol sulingan.

Kuitansi yang memuat angka penjualan di atas Rp 50. yaitu pajak kekayaan. Untuk mendorong perkembangan yang lebih realistis seirama dengan keadaan perekonomian nasional. penetapan dan penagihannya.5 persen. akan dinaikkan menjadi Rp 100. dewasa ini sedang dibahas Rancangan Undang-Undang Pajak Kekayaan dan Ipeda. yang saat ini adalah Rp 10. Sehubungan dengan semakin banyaknya kegiatan le1ang. juga diarahkan untuk menciptakan iklim dunia usaha yang lebih sehat. serta transaksi perekonomian yang lebih bertanggung jawab. di samping secara terus menerus diadakan pembinaan terhadap administrasi pendataannya.000..8 milyar dari yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. Sedangkan untuk promes. penerimaan di bidang ini untuk masa-masa mendatang diharapkan akan mengalami Departemen Keuangan RI 43 . Tarip bea meterai yang berlaku sekarang dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan. bea meterai dan bea lelang. Batas kekayaan yang tidak terkena pajak mulai 1 Januari 1985 dinaikkan dari Rp 14 juta menjadi Rp 80 juta.4 milyar yang berarti meningkat sebesar Rp 16.sudah dikenakan bea meterai. sedangkan sebelumnya kuitansi yang bernilai di atas Rp 5. konosemen-konosemen. dan polis asuransi jiwa. penerimaan Ipeda direncanakan sebesar Rp 167. Dalam RAPBN 1985/1986. dan surat-surat berharga lainnya tarip meterainya juga diadakan penyesuaian dari Rp 25. serta penyuluhan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadarannya dalam membayar Ipeda..-. aksep..Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Kebijaksanaan di bidang Ipeda pada dasamya tetap diarahkan bagi terciptanya sasaran pertumbuhan. Kebijaksanaan Pemerintah di bidang penerimaan pajak lainnya untuk tahun 1985/ 1986 masih merupakan kelanjutan dan peningkatan dari kebijaksanaan yang sudah diambil pada masa sebelumnya.-. menunjukkan perkembangan yang memadai. Dalam rangka meningkatkan potensi penerimaan Ipeda. dan gerak pembangunan ekonomi daerah yang lebih merata me1alui upaya peningkatan penerimaannya. sedang taripnya diturunkan dari 1 persen menjadi 0.baru dikenakan bea meterai. Untuk itu mulai 1 Maret 1985 terhadap tarip bea meterai juga diadakan beberapa penyesuaian. antara lain atas kuitansi atau tanda penerimaan uang.-.000. serta untuk mempercepat proses pemerataan pendapatan guna lebih memantapkan stabilitas perekonomian nasional. Penerimaan negara yang berasal dari penerimaan pajak lainnya. terus dibina kerjasama yang lebih baik dengan Pemerintah Daerah. terutama terhadap kekayaan yang dimilikinya. dan semakin meningkatnya mutu para juru lelang.menjadi Rp 500. Dengan kebijaksanaan tersebut diharapkan kesadaran para wajib pajak untuk memenuhi kewajiban pajaknya akan meningkat. Kebijaksanaan tersebut di samping ditujukan untuk menghimpun dana pembangunan yang bersumber dari dalam negeri. Hal ini menunjukkan semakin membaiknya kesadaran masyarakat dalam rangka memenuhi kewajiban pajaknya.

0 persen.2.4 milyar. berarti meningkat sebesar Rp 21.9 milyar. Apabila penerimaan tersebut dibandingkan dengan rencana penerimaan tahun 1984/1985 yaitu sebesar Rp 75. baik jenis maupun kualitasnya dalam dimensi yang semakin me1uas. menuju perekomomian nasional yang mandiri. dalam perkembangannya te1ah mengalami peningkatan. dalam RAPBN 1985/1986 besarnya penerimaan pajak lainnya direncanakan sebesar Rp 96. baik yang berasal dari tabungan Pemerintah maupun dari tabungan masyarakat. pembangunan yang dilaksanakan adalah pembangunan yang dilandasi oleh kemampuan bangsa Indonesia sendiri yang bertumpu kepada kepercayaan diri. 2.3. dan stabil.9 persen. tetapi di sisi lain menambah tanggung jawab Pemerintah dalam menyediakan dana bagi pembangunan yang terus berkembang. Apabila penerimaan tersebut dibandingkan dengan APBN 1984/1985 berarti terdapat peningkatan sebesar Rp 116. penerimaan jasa.9 milyar atau 19. sesuai dengan yang diamanatkan dalam GBHN. di satu sisi meningkatkan kesejahteraan rakyat. Usaha pengerahan dana pembiayaan pembangunan. baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. seperti penerimaan pendidikan. Untuk itu langkah-Iangkah kebijaksanaan yang sudah dirintis sejak awal Pelita I akan terus dikembangkan. Oleh sebab itu. Penerimaan bukan pajak oleh Pemerintah senantiasa diusahakan pula peningkatan sumbangannya bagi penerimaan negara.4 milyar. Dengan demikian untuk masa-masa selanjutnya. Penerimaan bukan pajak yang terdiri dari penerimaan berbagai departemen/lembaga non departemen. senantiasa harus terus diupayakan terutama dengan menggalinya dari sumber-sumber dana dalam negeri. terutama dengan kebijaksanaan pengampunan pajak serta dengan semakin membaiknya perekonomian di tanah air.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan. dinamis. Semakin meningkatnya kegiatan pembangunan. penerimaan kejaksaan dan pengadilan serta penerimaan lainnya. Sedangkan dana bantuan yang berasal dari luar negeri yang diterima sebagai penerimaan pembangunan. Dalam penerimaan bukan pajak tersebut termasuk pula penerimaan dari bagian Pemerintah atas laba perusahaan negara/bank negara serta iuran hasil hutan dan royaltynya. digunakan sebagai pe1engkap. Berdasarkan langkah-Iangkah yang sedang dan akan dilaksanakan Pemerintah. Penerimaan pembangunan Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan bangsa Indonesia sejak Pelita I hingga sekarang te1ah memberikan hasil nyata berupa semakin meningkatnya taraf hidup dan kesejahteraan se1uruh rakyat.dana yang bersumber dari bantuan luar negeri barus senantiasa diarahkan bagi Departemen Keuangan RI 44 . Dalam RAPBN 1985/ 1986 penerimaan bukan pajak direncanakan sebesar Rp 731.0 milyar atau 27.

penerimaan pembangunan direncanakan sebesar Rp 4.8 48. be1anja barang.00 4.4 -1.5 95.9 59. dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan memperlancar proses pemerataan pembangunan dan hasilnya.1 259.2 milyar.20 Jumlah 91 120.6 -42.9 32.940.368.2 -10.6 292. Peningkatan tabungan Pemerintah tidak mungkin dapat terlaksana hanya dengan peningkatan penerimaan negara saja. Departemen Keuangan RI 45 .3 41.4 15.1 345.80 1.9 33.371.50 4.4 1.1 28. subsidi daerah otonom.867.4 135.4 8.9 232 491. pembayaran bunga dan cicilan hutang.3 1.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) A P B N 2) RAP B N Bantuan program 65.6 -1 2.10 1. yang terdiri dari bantuan program sebesar Rp 70.663.4 262. 1969/1970 .5 16.429.30 1. tidak bisa dipisahkan dari sasaran kebijaksanaan anggaran secara kese1uruhan yang mencakup ketiga unsur Trilogi Pembangunan.00 3.4 773.40 4.7 215.1 Kenaikan Jumlah Persentase 29. serta penge1uaran rutin lainnya.5 70..6 783.5 157.035.493.1 195.368. dan bantuan proyek sebesar Rp 4.8 773.297.9 Bantuan proyek 25.6 737.50 1.1 45.4 13.3 33.411.3.70 1.5 45 62.2 14.5 100.3.7 78.942.2 35.381.9 90. Perkembangan penerimaan pembangunan se1ama tahun 1969/1970 hingga tahun 1985/1986 dapat dilihat dalam Tabel II.9 471. Penge1uaran rutin yang me1iputi be1anja pegawai. pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.1 20.2 64.8 36.3 12.6 987.1 13.9 39.924.1 15. yaitu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju terciptanya keadilan sosial bagi se1uruh rakyat.709. Tabe1 II.8 64.316.90 1.1 milyar.2 10.8 111.1 14.5 29.2 231 1. Dalam RAPBN tahun 1985/1986.5 89.9.90 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembiayaan kegiatan-kegiatan pembangunan yang bersifat produktif dan berprioritas tinggi.50 4. Pengeluaran rutin Sasaran kebijaksanaan penge1uaran rutin.2 13.297. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. 9 BANTUAN LUAR NEGERI. serta pengarahan penge1uaran rutin untuk mencapai sasaran-sasaran yang te1ah ditentukan. tetapi harus pula disertai tindakan penghematan.3 114.8 203.1 22.9 milyar.40 528.882.00 1.6 112.3 46.

8 179.9 420. yang merupakan tahun kedua pelaksanaan Repelita IV.7 milyar.6 16. beras pensiun 28.4 89.9 760.2 132.8 51.5 17.8 2.5 56. serta meningkatkan kemampuan yang lebih besar bagi mereka untuk berperanserta dalam proses pembangunan.148. produksi dalam negeri.7 131.8 672.5 milyar.00 3. di samping usaha-usaha untuk mengurangi secara bertahap pemberian subsidi dalam berbagai bentuknya.00 6.8 23.332.60 18.4 268.6 99.5 33.40 1.2 240.2 1.4 200.4 45.00 Kenaikan Jumlah Persentase 71.20 1.2 109.1 61.061. Rangkaian kebijaksanaan yang telah dijalankan Pemerintah di bidang pengeluaran rutin tersebut frat kaitannya dengan usaha-usaha peningkatan Departemen Keuangan RI 46 .743.7 11.30 Dalam tahun anggaran 1985/1986.738.6 87.411.8 42.3 286.8 24.1 4.1 34 43. pengeluaran rutin direncanakan sebesar Rp 10.1 593.7 12.399.418.9 301.80 10. dan ditingkatkan untuk lebih mendorong peningkatan produksi dalam negeri.n.60 6.5 111.00 1.5 78.6 313.743.30 2. Perkembangan pengeluaran rutin tersebut dapat diikuti pada Tabel II.80 5.4 163.9 89 275.9 31.3 14.6 99. 1969/1970 .1 22.177. 10 PENGELUARAN RUTIN.9 636.60 1.749.1 415.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/19862) 1) Angka APBN 2) Angka RAPBN Jumlah 216.996.9 116.023.5 297.8 1.7 14.2 5.50 1.3 1.30 2.1 25.8 10.1 713.80 10.9 31.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam perkembangannya te1ah menunjukkan peningkatan selaras dengan tingkat perkembangan pembangunan yang dicapai.016.7 66 79.10 2.90 33.6 7.60 1.800.7 47.9 114.9 252 253.70 4.9 126. dan pada akhir tahun Pelita III meningkat lagi menjadi Rp 8. Usaha-usaha tersebut diwujudkan antara lain dengan diberlakukannya Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 yang merupakan penyempurnaan lebih lanjut daripada Keputusan Presiden Nomor 14A Tahun 1980 dan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan APBN.101. serta perluasan kesempatan kerja seperti yang telah dijalankan dalam tahun-tahun sebelumnya.00 2.5 31.1 milyar.7 1.8 36.001.5 31.6 893.1>29.1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Uang Lain-lain Belanja makan bel.90 2.115.7 Tahun PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977 /1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/19851) 1985/19862) 1) Angka APBN 2) Angka RAPBN Tabel II.101.3 289.7 60.1 14.8 12.3 20.689.7 48 42.1 Jumlah 103.419. yaitu dalam rangka membantu dan membimbing pertumbuhan.2 20.757.318. l.6 47.90 3.90 1.2 519. 11 BELANJA PEGAWAI.5 45.2 24. raJa akhir tahun Pelita II meningkat menjadi Rp 2.3 50.7 25.7 29.1 438.277.3 20.415. Selanjutnya juga diusahakan peningkatan peranan golongan ekonomi lemah. golongan ekonomi lemah diberi kesempatan berusaha yang lebih luas lagi.8 316.10 1.3 0.977.3 31.2 349.1 594.5 62.50 4.10 1.5 254.4 43.2 302. d. Dalam Keputusan Presiden Nomor 29 tersebut.4 70.053.8 5.10 Tab e I II.3 3. sasaran utama kebijaksanaan pengeluaran rutin adalah peningkatan dana tabungan Pemerintah.8 14.90 1.8 33.30 8.6 4.8 20.7 400 424.9 193. 1969/1970 . Demikian pula penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri makin digalakkan.4 9.117.1 23.9 27.3 1.9 346.1 21.5 288.8 milyar.2 79.411.6 59.8 131. Apabila pada tahun pertama Pelita I realisasi penge1uaran rutin baru mencapai Rp 216.307.90 2.996.297.10 2.n Tunjangan Gaji dan peg.10 12.660. Dalam APBN 1984/1985.7 482.189.482.6 173.9 261.

antara lain dalam bentuk pemberian gaji bulan ke 13 dan 14 dalam tahun 1979/1980.75 kali hila dibandingkan dengan realisasi pada akhir Pe1ita II. dan lain-lain pengeluaran rutin sebesar Rp 602.297.3 milyar.399.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kegiatan pembangunan dan pelayanan Pemerintah kepada masyarakat.117.980/ 1981 dan 1981/1982.529. Pada akhir Pe1ita III jumlah realisasi belanja pegawai mencapai jumlah sebesar Rp 2. Belanja pegawai Kebijaksanaan belanja pegawai yang akan dijalankan Pemerintah dalam tahun 1985/1986 adalah dalam rangka meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas Pemerintah.0 milyar.3.7 persen di atas anggaran pengeluaran rutin dalam APBN 1984/1985. Kenaikan ini adalah karena se1ama Pelita III te1ah beberapa kali dilakukan perbaikan penghasilan pegawai negeri/ ABRI dan pensiunan. antara lain dalam bentuk kenaikan gaji. Dalam tahun anggaran 1985/1986. dan mutu aparatur negara beserta perlengkapannya.8 milyar karena ditetapkannya kebijaksanaan untuk meningkatkan penghasilan pegawai negeri/ABRI sebesar 20 persen.559. yang berarti Rp 2. dan Departemen Keuangan RI 47 .9 milyar atau 22. bahwa pada awal Pe1ita I realisasinya baru mencapai jumlah sebesar Rp 103.757.4 milyar. anggaran untuk pengeluaran rutin direncanakan sebesar Rp 12.001. dan berupa pemberian gaji bulan ke 13 dalam tahun 1983/1984. sedangkan pada akhir Pe1ita II mencapai jumlah sebesar Rp 1.9 milyar. yang berarti meningkat 2. Dalam tahun 1985/1986 be1anja pegawai direncanakan meningkat sebesar Rp 927. Langkah-langkah tersebut telah dimulai dengan usaha peningkatan kesejahteraan pegawai negeri/ ABRI dan pensiunan dalam tahun-tahun yang lalu. 2. belanja barang sebesar Rp 1. pemberian tunjangan perbaikan penghasilan (TPP) dalam tahun 1. serta dalam rangka mengamankan dan memelihara kekayaan negara yang diperoleh sebagai hasil kegiatan pembangunan. di samping dilakukan pula penyempurnaan di bidang organisasi dan administrasinya.1 milyar.8 milyar.6 milyar.3. pembinaan dan penertiban aparatur negara.590. Usaha perbaikan penghasilan pegawai negeri/ ABRI se1alu dilakukan dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara setiap tahunnya. Perkembangan realisasi be1anja pegawai sejak Pe1ita I menunjukkan. subsidi daerah otonom sebesar Rp 2.0 milyar. Jumlah tersebut meliputi pengeluaran untuk belanja pegawai sebesar Rp 4.3 milyar. yang dicerminkan antara lain dalam bentuk peningkatan jumlah. dan pada awal Pe1ita IV usaha perbaikan tersebut diwujudkan dengan diberikannya kenaikan sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan. pembayaran bunga dan cicilan hutang sebesar Rp 3.1.

3 milyar. sehingga dengan demikian dapat lebih terkendali dan terarah. Dalam melaksanakan tugasnya.3 milyar. Dengan diberlakukannya kedua Keputusan Presiden tersebut.3 milyar. yang terdiri dari belanja barang dalam Departemen Keuangan RI 48 . Selanjutnya dengan dike1uarkannya Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 1984. Dalam tahun anggaran 1985/1986.8 milyar. gaji dan pensiun sebesar Rp 3. Untuk menjamin lebih terlaksananya kebijaksanaan dimaksud.1 milyar.6 milyar.11.3. yang terdiri dari tunjangan beras sebesar Rp 482. Dalam Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 dinyatakan bahwa untuk pembelian/pemborongan barang dan jasa Pemerintah dengan nilai kontrak sebesar Rp200 juta ke atas harus me1alui Tim Pengendali dan Pengadaan. Perkembangan realisasi be1anja pegawai dapat dilihat pada Tabel II. ke1ancaran dan kehasilgunaan dalam pengadaan barang/peralatan dan jasa di lingkungan departemen/lembaga diharapkan dapat lebih ditingkatkan lagi.529.9 milyar. serta dicapai penghematan dalam pelaksanaan anggaran belanja barang. kepada Tim pengendali dan Pengadaan ditekankan agar memperhatikan harga dan kualitas yang paling menguntungkan negara. Dalam RAPBN 1985/1986. dan be1anja pegawai luar negeri sebesar Rp 89.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pensiunan sebesar 27 . pengadaan atau pembelian barang dan jasa yang diperlukan akan sesuai dengan prioritas. Penurunan batas nilai kontrak dari Rp 500 juta dalam Keputusan Presiden Nomor 14A Tahun 1980 menjadi Rp 200 juta tersebut adalah dalam rangka penghematan dan rasionalisasi dunia usaha.115. maka kebijaksanaan 'be1anja barang dalam tahun anggaran 1985/1986 akan lebih diarahkan pada pembe1ian barang-barang dan jasa produksi dalam negeri yang kebanyakan dihasilkan oleh golongan tersebut. anggaran untuk be1anja pegawai direncanakan sebesar Rp 4. Pengeluaran rutin melalui belanja barang yang pada awal Pelita I baru mencapi sebesar Rp 50. dan anggaran yang disediakan.3. anggaran untuk belanja barang direncanakan sebesar Rp 1.5 milyar.117. 2.59 persen. lain-lain be1anja pegawai dalam negeri sebesar Rp 116. pada akhir Pelita II meningkat menjadi Rp 419.2. Belanja barang Dalam rangka menunjang kegiatan usaha golongan ekonomi lemah serta menunjang perluasan kesempatan kerja. dalam tahun 1984 telah dikeluarkan pula Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 1984 tentang Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah di Departemen/Lembaga.5 milyar. di samping pengutamaan penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri. uang makan/lauk pauk sebesar Rp313.057. di samping Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 tentang Pelaksanaan APBN. dan pada akhir Pelita III mencapai jumlah sebesar Rp 1.1 milyar.

Pengeluaran subsidi daerah otonom dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 2. dan kegiatan yang produktif.3. realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri yang jatuh tempo makin meningkat pula setiap tahunnya. Seiring dengan makin meningkatnya kemampuan keuangan negara.451. tenaga paramedis dan tenaga medis Puskesmas di daerah-daerah. yang antara lain didukung oleh hasil-hasil yang diperoleh dari proyek-proyek yang telah menghasilkan. bahwa setiap penambahan hutang luar negeri harus sesuai dengan kemampuan pengembaliannya. Dalam rangka pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.3. serta tunjangan pamong desa. rencana pembiayaan subsidi daerah otonom sebesar Rp 2.0 milyar.1 milyar. juga berupa dana pinjaman dari luar negeri.590. dan belanja non pegawai sebesar Rp 241.8 milyar atau 45. pengembalian pinjaman yang dipergunakan untuk membiayai pembangunan proyek-proyek pada waktu jatuh tempo adalah dalam bentuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri.3: Subsidi daerah otonom Pengeluaran untuk subsidi daerah otonom erat kaitannya dengan kebijaksanaan belanja pegawai. Selanjutnya dalam subsidi daerah otonom ditampung pula penggantian biaya akibat dihapuskannya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sekolah dasar kelas satu sampai dengan kelas enam. oleh karena pemberian subsidi daerah otonom sebagian besar digunakan untuk pembayaran gaji pegawai negeri sipil dalam lingkungan daerah otonom. selain berupa dana yang dihimpun dari dalam negeri. Di samping itu makin. di samping pemanfaatan bantuan luar negeri tersebut harus benar-benar untuk proyek-proyek. khususnya pembangunan SD Inpres dan Puskesmas.4 milyar.590.4 milyar. karena didalamnya ditampung pula pembiayaan untuk tambahan guru-guru SD Inpres dan tenaga medis. untuk belanja pegawai sebesar Rp 2. Hal ini didasarkan pada perhitungan.3. Bunga dan cicilan hutang Dana yang dipergunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan.349. meningkatnya kegiatan pembangunan. pembayaran gaji lurah dan perangkatnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 negeri sebesar Rp 1.4. Departemen Keuangan RI 49 . Dengan demikian hila dibandingkan dengan APBN 1984/1985. 2.8 milyar dan belanja barang luar negeri sebesar Rp 78. ikut mempengaruhi besarnya subsidi daerah otonom. oleh karena ditetapkannya kebijaksanaan meningkatkan penghasilan pegawai negeri dan pensiunan.4 milyar tersebut berarti meningkat sebesar Rp 805.3.2 persen. maka dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan pula untuk menambah jumlah guru sekolah dasar Inpres. 2.

Dalam APBN 1984/1985. sedangkan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 3. sedangkan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 602. dan gula dalam rangka kebijaksanaan stabilisasi harga pangan di dalam negeri.0 milyar. yang berarti lebih rendah hila dibandingkan dengan anggaran tahun sebelumnya. disebabkan pengeluaran untuk subsidi impor pangan terutama beras. melalui lain-lain pengeluaran rutin dibebankan pula pembiayaan yang bersifat non departemental seperti biaya sural menyurat melalui pos dan giro pos.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sehingga tidak sangat memberatkan beban keuangan negara. Dalam perkembangannya.6 milyar pada akhir Pelita III. lain-lain pengeluaran rutin dianggarkan sebesar Rp1. gandum. Departemen Keuangan RI 50 . 2. di samping juga. dan meningkat lagi menjadi sebesar Rp 2. Hal ini terutama disebabkan meningkatnya pengeluaran subsidi bahan bakar minyak sehubungan dengan kenaikan-kenaikan harga minyak mentah di posaran internasional.0 milyar.3 milyar.559.1 milyar.102. giro pos dan bebas porto sebesar Rp 30. yaitu untuk pembayaran tagihan jasa umum seperti bunga atas uang muka Bank Indonesia kepada Pemerintah.0 milyar atau 32. pada akhir Pelita II meningkat menjadi Rp 534. dan penge1uaran rutin lainnya antara lain untuk biaya sural menyurat me1alui pos. Dalam APBN 1984/1985. subsidi bahan bakar minyak dan Pemilu. yang terdiri dari pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri sebesar Rp 3.5 persen. Di samping itu.5 milyar.1 milyar.3. untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang direncanakan sebesar Rp 2. Lain-lain pengeluaran rutin pembiayaan rutin yang ditampung dalam lain-lain pengeluaran rutin antara lain terdiri dari pengeluaran untuk subsidi pangan. dan pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri sebesar Rp 30. dan persiapan Pemilu sebesar Rp 40. realisasi lain-lain pengeluaran rutin selama Pelita III menunjukkan peningkatan yang sangat besar dibandingkan dengan Pelita I dan II.3 milyar tersebut disediakan untuk subsidi bahan bakar minyak sebesar Rp 532.0 milyar.686.3 milyar. Dengan demikian bila dibandingkan dengan APBN 1984/1985. terdapat pula pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri. Rencana anggaran sebesar Rp 602. Di samping untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri.3. rencana pembayaran tersebut mengalami kenaikan sebesar Rp 873. Realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang pada permulaan Pelita I baru mencapai Rp 14.529.177.0 milyar.1 milyar.4 milyar.5.

8 1978{1979 2.399.1 23.5 73.6 Departemen Keuangan RI 51 . 12 TABUNGAN PEMERINTAH.635.4 1983{1984 9.9 1973/1974 458.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2.9 1975/1976 1.90 64.00 187 6. menjadi Rp 1.020.20 1. 1969/1970 .647.5 40.4 1980{1981 5.90 59.5 PELITA II : 1974{1975 969.7 366. yang merupakan selisih antara penerimaan dalam negeri sebesar Rp l8.944. maupun dengan mencari sumber-sumber penerimaan yang baru.3 55.9 milyar pada akhir Pelita III.9 23.9 110.9 68.1 50.80 74.10 65.8 25. tabungan Pemerintah direncanakan dapat dihimpun sebesar Rp6.3.1 1976{1977 2.362.400.0 5.9 milyar. Usaha-usaha untuk meningkatkan dana pembangunan melalui tabungan Pemerintah terus dilakukan setiap tahunnya dengan jalan meningkatkan penerimaan negara.5 PELITA III : 1979{1980 4.90 27.5 3.522. yaitu dari Rp 27.1 68 18.2 56.2 23 77 1970{1971 176.2 1972{1973 310.00 808 5.1 1971{1972 214.9 6.0 mitral.6 101.6 9.6 34.00 62 38 1977{1978 2.6 909.276.5 44.00 73. tabungan Pemerintah sebagai unsur utama dalam dana pembangunan tetap memegang peranan yang sangat penting dalam Pelita IV.4 737.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tab el II.12.40 29.8 189.278.903. dan menjadi Rp 6.4 230. baik melalui peningkatan sumber-sumber penerimaan yang sudah ada.4 36.2 milyar pada awal Pelita I.557.6 11 0.00 + 1.00 75.3 66.3 8.30 60.8 39.9 93.30 57.048.9 35.13 PERBANDINGAN TABUNGAN PEMERINTAH DAN BANTUAN LUAR NEGERI TERHADAP ANGGARAN PEMBANGUNAN 1969/1970 .459.1985/1986 Dibiayai oleh Anggaran (milyar Tabungan Bantuan Tahun anggaran Pemerintah luar negeri (%) (%) PELITA I: 1969/1970 118.00 1. 792.4 78.8 27.50 1.060.90 598.6 26.90 64.00 59 41 I) Termasuk saldo anggaran lebih 2) APBN 3) RAPBN Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 PELITA III : 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 PELITA IV: 1984{1985 1) 1985{1986 2) I) Angka APBN 2) Angka RAPBN Jumlah Kenaikan Jumlah Persentase 107.016.159. Pada APBN 1984/1985.6 76.2 22. Perkembangan realisasi tabungan Pemerintah dapat diikuti pada Tabel II.3 49.422.4 24.8 73. sehingga dapat diperoieh selisih yang lebih besar antara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin untuk menambah besar tabungan Pemerintah.020. Tabel II. Selanjutnya dalam tahun anggaran 1985/1986.2 171.4 39.9 483.386. tabungan Pemerintah diharapkan dapat dihimpun sebesar Rp 6.048.9 2.920.3 40.30 6.2 1985{19863) 10. Perkembangan realisasi tabungan Pemerintah selama ini menunjukkan peningkatanpeningkatan.112.8 63.427.2 PELITA IV : 1984{19852) 10.3 1.4 milyar pada akhir Pelita II.2 1981{1982 6.13 Tab e I II.2 35.4.60 4.3 mitral.8 42.Tabungan Pemerintah Sesuai dengan kebijaksanaan anggaran berimbang yang dinamis.9 milyar dan pengeluaran rutin sebesar Rp 12.8 31.6 1982{1983 7.5 254.677.235.3 135.522.9 152.3 3. Usaha tersebut harus diikuti pula dengan tindakan penghematan dalam pengeluaran rutin.278.

235.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. II dan III.2 milyar tersebut menunjukkan kenaikan sebesar Rp 12. sektor perhubungan dan pariwisata serta sektor pertanian dan pengairan. maka jumlah pengeluaran pembangunan sebesar Rp 34.5.926. Bila dibandingkan dengan anggaran yang direncanakan dalam Repelita III. pengeluaran pembangunan selama Pelita III digunakan antara lain untuk membiayai program-program pembangunan bidang ekonomi. atau 56.2 persen dari yang direncanakan dalam Repelita III.2 milyar. baik melalui pembangunan sektaral yang dilaksanakan oleh departemen/ lembaga maupun melalui pembangunan regional dalam berbagai bentuk program Inpres dan bantuan pembangunan melalui Ipeda.4 persen dari seluruh jumlah pengeluaran pembangunan dalam Pelita III.1 persen dan 12. juga merupakan usaha untuk tercapainya keserasian laju pertumbuhan antar daerah menuju kepada pemerataan pembangunan. dan perluasan kesempatan kerja.129.. yang terdiri dari pembiayaan rupiah sebesar Rp 23. Pengeluaran pembangunan lainnya yang Departemen Keuangan RI 52 . Rp 4. Pelita III yang telah herakhir pada tahun 1983/1984 telah memberikan hasil-hasil yang positif. dengan jumlah pengeluaran masing-masing sebesar Rp 5.279. Di lain pihak pelaksanaan pembangunan regional dalam berbagai bentuk program Inpres dan bantuan pembangunan melalui Ipeda.0 milyar.0 milyar dan Rp 4.3.8 milyar.9 milyar. Dalam pelaksanaannya. dan bantuan proyek sebesar Rp 10.175. penyebaran serta pemerataan pembangunan itu diselaraskan dengan pembangunan regional.2 milyar.2 milyar selama Pelita III telah menghasilkan berbagai macam program pembangunan yang ditujukan kepada usaha peningkatan kesejahteraan rakyat.457.2 persen. terutama di sektor pertambangan dan energi.129. berbagai kebijaksanaan dan program pembangunan sektaral yang didasarkan kepada unsur prioritas. milyar. Pembiayaan pembangunan sebesar Rp 34. Ditinjau secara sektoral. 13. bangsa Indonesia telah berhasil menyelesaikan serangkaian program pembangunan yang dituangkan dalam tiga Repelita yaitu Repelita I.202. sehingga tercapailah keadaan yang mantap untuk melanjutkan pembangunan dalam Repelita IV sebagai pelaksanaan tahap keempat dari Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang.3. Hal ini berarti bahwa tiap sektor pembangunan tersebut telah menyerap dana masing-masing sebesar 15. SelaI1)a Pelita III. pembagian pendapatan yang makin merata. sehingga pembangunan sektaral yang berlangsung di daerah benar-benar sesuai dengan potensi dan permasalahan masing-masing daerah.129. Pengeluaran pembangunan Dalam perjalanannya menuju suatu masyarakat arlit makmur melalui pembangunan nasional. dana yang telah dibelanjakan untuk pembiayaan pembangunan mencapai jumlah sebesar Rp 34.

atau masingmasing telah menyerap dana sebesar 9. Dengan demikian keenam sektor pembangunan bidang ekonomi yang sebagian besar dananya dikelola departemen/lembaga itu telah menyerap dana sebesar Rp 21. Pemhangunan sektor pertanian dan pengairan yang telah dilaksanakan selama Pelita III. sektor pembangunan daerah. Pembiayaan pembangunan sektor pendidikan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menyerap dana cukup besar dalam Pelita III adalah sektor pendidikan.797.397. Dalam kegiatan ini pula peranserta swasta nasional lebih ditingkatkan. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 8. Melalui pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata ini pula telah ditingkatkan. terutama daerah pedesaan dan daerah terpencil.9 persen. sehingga penerimaan negara dari produksi ekspor pertambangan dapat bertambah. perluasan lapangan kerja. serta dalam kota. serta dapat meningkatkan ekspor non migas. dan kota. dan menjamin penyediaan panganuntuk masyarakat pada tingkat harga yang layak. memperluas kesempatan kerja. Rangkaian kebijaksanaan pokok yang telah dirumuskan dalam Repelita III adalah dalam rangka tercapainya tujuan pembangunan di bidang pendidikan dan pengembangan generasi muda. generasi muda.894. telah dilaksanakan inventarisasi dan pemetaan.3 persen dari seluruh jumlah pengeluaran pembangunan selama Pelita III. terutama dalam pertambangan rakyat.1 milyar. generasi muda. peranan pendidikan dalam pembangunan. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Pelita III diarahkan kepada usaha-usaha peningkatan kecerdasan bangsa.5 persen dan 5. penggunaan dana di keenam sektor .956.0 milyar atau 64. merupakan kelanjutan dalam rangka meningkatkan produksi pangan yang diarahkan untuk memperbaiki tingkat hidup petani.3 persen dari seluruh /pengeluaran pembangunan selama Pelita III. yang berarti pula makin memperkokoh ketahanan nasional. dan diperluas kepariwisataan dalam rangka meningkatkan penerimaan devisa. kesempatan belajar yang dikaitkan dengan aspek pemerataan.5 milyar. serta sektor tenaga kerja dan transmigrasi. sehingga dapat memperlancar arus barang/jasa dan manusia ke seluruh daerah. di samping untuk memperkenalkan kebudayaan bangsa. serta ditingkatkap eksplorasi dan exploitasi kekayaan alam berupa sumber mineral dan energi.pembangunan bidang ekonomi tersebut ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan yang makin merata bagi seluruh rakyat. Sesuai dengan arab dan kebijaksanaan Pelita III.2 milyar dan Rp 1. Selanjutnya melalui pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata. Melalui pembangunan sektor pertambangan dan energi. serta mempersiapkan Departemen Keuangan RI 53 . pembangunan prasarana angkutan dan perhubungan lebih ditingkatkan. Kegiatan-kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. dan dengan demikian merangsang dan menunjang pencapaian sasaransasaran pembangunan. desa. Di samping itu juga te1ah diarahkan agar dapat menunjang pembangunan industri pertanian. Rp 2. dengan alokasi dana masingmasing sebesar Rp 3.

Untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.349. kekurangseimbangan dalam susunan unsur tenaga kerja dan penyebaran tenaga kerja. kecerdasan dan kesejahteraan yang makin merata dan adil bagi seluruh rakyat dapat tereapai. pembiayaan rupiah sebesar Rp 6.297. dengan sasaran perluasan serta pemerataan kesempatan kerja produktif dan numeratif. pengerahan dan penggunaan dana pembangunan dalam RAPBN 1985/1986. dan pada gilirannya dapat merupakan landasan yang kuat untuk tahap pembangunan berikutnya. Sementara itu makin meningkatnya program-program pembangunan yang akan dijalankan hams diimbangi pula dengan pengerahan dana pembangunan yang lebih besar.349. Bila dibandingkan dengan APBN 1984/1985.8 milyar dan bantuan proyek sebesar Rp 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 generasi muda sebagai penerus perjuangan dan pembangunan nasional. di samping juga belum tersedianya posar tenaga kerja yang menyalurkan tenaga kerja secara efektif dan efisien. pengeluaran pembangunan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 10. selama Pelita III telah ditempuh berbagai langkah dan kebijaksanaan di bidang tenaga kerja yang bersifat menyeluruh.8 milyar tersebut menunjukkan Departemen Keuangan RI 54 . Dengan berlandaskan pada arah dan sasaran serta berpedoman kepada kebijaksanaan yang telah ditetapkan.2 milyar. Seperti halnya dengan Repelita-repelita sebelumnya. keserasian antara pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Peranan pembangunan daerah dalam Pelita III semakin bertambah besar karena dalam melanjutkan pelaksanaan Trilogi Pembangunan. Pembangunan regional dalam Pelita III yang dilaksanakan melalui sektor pembangunan daerah. Masalah-masalah yang menonjol dalam sektor tenaga kerja dan transmigrasi selama Pelita III di bidang ketenagakerjaan adalah pertambahan penduduk yang tinggi sehingga menimbulkan kelebihan tenaga kerja.0 milyar. yang terdiri dari pembiayaan rupiah sebesar Rp 6. serta adanya kekurangseimbangan antara tenaga kerja terdidik dan tak terdidik. arah dan kebijaksanaan pembangunan yang ditempuh selama Pelita III terus dilanjutkan dan ditingkatkan agar peningkatan tarat hidup. dan terpadu. Dengan demikian di dalam pengerahan dan penggunaan dana tersebut. yang merupakan pelaksanaan tahun kedua Pelita IV. tekanan lebih diberikan kepada usaha pemerataan khususnya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah tanah air. sehingga dengan demikian dapat meningkatkan pemerataan pembagian pendapatan.647. Dengan memperhatikan hasil-hasil pembangunan yang dicapai selama Pelita III maka dalam RAPBN 1985/1986. pertumbuhan ekonomi serta stabilitas nasional akan tetap menjadi pertimbangan pokok. yang merupakan reneana operasional tahunan daripada Repelita IV tetap berlandaskan pada Trilogi Pembangunan. desa dan kota merupakan kelanjutan kegiatan yang telah dilaksanakan dalam Pelita II.

yaitu diarahkan kepada proyekproyek yang secara langsung alan tidak langsung meningkatkan pemerataan kegiatan pembangunan baik dalam bidang ekonomi.3 100. 1969/1970 -1985/1986 1) ( dalam milyar rupiah) Kenaikan Jumlah Persentase Tahun anggaran Jumlah PELITA I: 1969/1970 92.4 20.031.40 1.3 1) Di luar bantuan proyek 2) Angka APBN 3) Angka RAPBN Penggunaan anggaran pembangunan yang direncanakan sebesar Rp 10.349.129.50 66.9 42.1 127. Dalam reneana anggaran pembangunan tersebut telah termasuk pula peningkatan bantuan pembangunan daerah.8 1978/1979 1.80 262 4.30 149.14 Tabel II.1 35.20 138.5 3 1983/1984 6.280.9 1971/1972 150. Perkembangan pengeluaran pembangunan di luar bantuan proyek sejak pelaksanaan Repelita I hingga sekarang dapat diikuti pada Tabel II.20 789.3 persen lebih besar.14 PENGELUARAN PEMBANGUNAN.90 1.8 17.1 10.8 100.8 PELITA II 1974/1975 765.3 1981/1982 5.3 1977/1978 1.697.3 10.8 1972/1973 235.1 0.6 1982/1983 5.276.568.90 354.9 1976/1977 1.087.9 85 56.9 22. Pengarahan pengeluaran pembangunan kepada proyek-proyek yang diprioritaskan untuk pertumbuhan dan pemerataan tersebut pada gilirannya akan menunjang tereapainya sasaran kestabilan perekonomian. sosial.4 1975/1976 926.9 429. kebudayaan.0 milyar tersebut akan lebih dipertajam prioritasnya dalam Repelita IV.70 158.6 38. dengan tujuan lebih meningkatkan peranserta Departemen Keuangan RI 55 .2 37.70 597 11 REPELITA IV 1984/1985 2) 6. Di samping itu diarahkan pula kepada proyek-proyek yang dapat meningkatkan laju pertumbuhan terutama sektor pertanian dalam rangka swasembada pangan.419.5 PELITA III : 1979/1980 2.9 1985/19863) 6.80 56.434.0 milyar alan 4.3 1973/1974 336.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp262.647.8 17.60 72 1980/1981 4.486.9 1970/1971 128. sena pada sektor-sektor lain yang menunjang tereapainya sasaran pertumbuhan dan keseimbangan struktur perekonomian. sektor industri yang menghasilkan mesin-mesin industri sendiri. politik maupun penahanan dan keamanan.788.

anggaran pembangunan sebesar Rp 10.301. lalit. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.2 persen. yang diberikan dalam rangka mempercepat penuntasan keikutsertaan anak usia sekolah pada pendidikan dasar.7 milyar.4 milyar. terutama dititik beratkan pada peningkatan mutu dan perluasan pendidikan dasar dalam rangka mewujudkan dan memantapkan pelaksanaan wajib belajar. generasi muda. kebutuhan in du stri dalam negeri serta meningkatkan ekspor.4 persen. serta meningkatkan kegiatan transmigrasi. dan udara. Selebihnya dialokasikan kepada dua belas sektor pembangunan lainnya. Untuk mendukung tercapainya perluasan kesempatan kerja yang merupakan kebutuhan yang makin mendesak. Dengan demikian sektor pertanian akan makin kuat guna mendorong perkembangan industri dalam rangka mencapai keseimbangan ekonomi.8 milyar.2 persen dan 6. Termasuk didalamnya usaha peningkatan dalam pengembangan jasa meteorologi dan geofisika untuk menunjang keselamatan masyarakat pada umumnya. mendukung pembangunan daerah. keselamatan pelayaran dan penerbangan Departemen Keuangan RI 56 . 13. sektor pembangunan daerah.4 milyar. desa dan kota sebesar Rp 868. generasi muda.647. 13. sektor pertanian dan pengairan sebesat Rp 1. lebih diperluas dan ditingkatkan.425. serta pembangunan pos dan telekomunikasi. Selanjutnya untuk anggaran sektor pertambangan dan energi direncanakan sebesar Rp 1. pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata yang meliputi perhubungan darat. memperluas kesempatan kerja. dalam RAPBN 1985/ 1986 tetap mendapatkan perhatian sesuai dengan prioritas yang telah digariskan dalam GBHN. meningkatkan pendapatan petani. kebudayaan nasional dan kepereayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebesar Rp 1.0 milyar tersebut dialokasikan pada sektor pendidikan. dan sektor perhubungan dan pariwisata sebesar Rp 1.510. 12.2 persen. Dengan demikian keenam sektor pembangunan yang telah disebutkan masing-masing mendapat alokasi sebesar 14.430.4 persen dari anggaran yang direncanakan dalam tahun 1985/1986.2 milyar dan sektor tenaga kerja dan transmigrasi sebesar Rp 676. Pembangunan sektor pendidikan.4 persen. Pelaksanaan wajib belajar ini dituangkan dalam program Inpres sekolah dasar. Berdasarkan pada kebijaksanaan yang telah digariskan. serta meningkatkan perluasan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan menengah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 masyarakat dalam kegiatan pembangunan. berbagai tingkat dan jenis pendidikan ketrampilan serta latihan kejuruan yang dapat menciptakan kegiatan kerja.8 milyar. mendorong pemerataan kesempatan berusaha. 8. Pembangunan sektor pertanian dan pengairan dalam tahun 1985/1986 merupakan kegiatan yang diarahkan kepada usaha untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan.

2 milyar. usaha-usaha untuk meningkatkan produksi dan ekspor hasil pertambangan. desa dan kota tetap diarahkan kepada perluasan kesempatan kerja. Diberikannya berbagai program bantuan pembangunan kepada daerah selama ini. Demikian pula dengan pembangunan tenaga listrik yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat kota dan desa. Di sektor pertambangan dan energi. terus dilanjutkan dan ditingkatkan.297. terutama sektor minyak bumi dan gas alam yang merupakan sumber penerimaan negara yang terbesar selama ini. serta peningkatan kemampuan penduduk untuk memanfaatkan sumber-sumber kekayaan alam. pembinaan dan pengembangan lingkungan pemukiman pedesaan dan perkotaan yang sehat. Selanjutnya bantuan proyek yang dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp4. yang tersebar dalam delapan belas sektor pembangunan. serta peningkatan mutu dan kelancaran pelayanan. penyediaan sarana dan prasarana. bantuan pembangunan yang diberikan kepada daerah berupa program-program Inpres dan bantuan pembangunan lainnya makin ditingkatkan dan disempurnakan. telah memberikan kesempatan kepada daerah untuk merencanakan dan )11elaksanakan pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masing-masing daerah. Demikian juga pembangunan pariwisata terus ditingkatkan melalui kebijaksanaan terpadu. direncanakan untuk membiayai berbagai macam proyek prasarana serta sektor-sektor produktif dan bermanfaat. sehingga produksi dan ekspor pertambangan serta penerimaan negara akan dapat meningkat pula. Perincian pengeluaran pembangunan secara sektoral dalam RAPBN 1985/1986 adalah sebagai berikut : Departemen Keuangan RI 57 . akan dilanjutkan dan diperluas. Untuk terlaksananya sasaran ini. antara lain berupa peningkatan kegiatan promosi dan pendidikan kepariwisataan. eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam berupa sumber mineral dan energi dalam tahun 1985/1986 terus ditingkatkan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada khususnya. Oleh sebab itu kegiatan pembangunan sektor pertambangan yang meliputi inventarisasi dan pemetaan. serta mendorong kegiatan ekonomi khususnya industri. serta untuk kepentingan pembangunan di berbagai sektor. Kegiatan pembangunan dalam sektor pembangunan daerah.

000 529.628.531. Desa dan Kota 8.679.219.425.430.301.971.000 71.000 2.141. SEKTOR PERTANIAN DAN PENGAIRAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan 1.000 Departemen Keuangan RI 58 .141.000 655.219. DESA DAN KOTA Sub Sektor Pembangunan Daerah. SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri 3.000 578.000 274.000 128.350.000 621. SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama 1.000 68.658.000 102.000 63.580.000 868.000 190. SEKTOR PENDIDIKAN.095.025.739.595.363.000 238.000 63.000 1.000 60.846.000 868.126.510.000 9.818.000 1.000 676.000 275.012. SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi 6.704.000 655.365.392.361. SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi 7.000 98.595.000 28. SEKTOR PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor Perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata 5.000 900. SEKTOR PEMBANGUNAN DAERAH.830.000 47.092.975. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa 1.257.788. SEKTOR PERT AMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Sub Sektor Energi 4.000 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ( dalam ribuan rupiah) 1. GENERASI MUDA.913.

064.000 133.000 176. Pers dan Komunikasi Sosial 15.000 67.362.641. SEKTOR KESEHATAN. TEKNOLOGI DAN PENELITIAN Sub Sektor Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sub Sektor Penelitian 16.000 58.064. SEKTOR SUMBER ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Sub Sektor Sumber Alam dan Lingkungan Hidup JUMLAH 10.962. sedangkan Departemen Keuangan RI 59 . SEKTOR PENGEMBANGAN DUNIA USAHA Sub Sektor Pengembangan Dunia Usaha 18.000 207. Pengeluaran pembangunan melalui departemen/lembaga merupakan pembiayaan yang disediakan untuk pembangunan sektoral dan dikelola oleh departemen/lembaga. KESEJAHTERAAN SOSIAL.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 10.147.189.000 74. SEKTOR ILMU PENGETAHUAN.000 437.000 254.189.000 714.000 229.441.092.647.641.720.555.000 80.000 80.000. SEKTOR PENERANGAN.720.687.000 67.383.938.147.000 12. PERANAN W ANITA.000 259.308. SEKTOR PERUMAHAN RAKY AT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman 437.000 229.000 176. yaitu pengeluaran pembangunan departemen/lembaga termasuk di dalamnya departemen Hankam.000 100. SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah 17.687. PERS DAN KOMUNlKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan. bantuan pembangunan bagi daerah. SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional 14. dan lain-lain pengeluaran pembangunan. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA 413.441.000 259.000 714.000 Pengeluaran pembangunan yang dibiayai dengan rupiah diperinci atas tiga bagian besar.000 Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kependudukan dan Keluarga Berencana 11. SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum 13.

serta meningkatkan partisiposi penduduk dalam pembangunan.6 milyar dengan jumlah desa sebanyak 66. Oleh sebab itu selain bantuan berupa uang. Dalam tahun 1970/1971. menunjukkan hasil-hasil yang nyata. dan bantuan pembangunan prasarana jalan. bantuan pembangunan sarana kesehatan.6 milyar. kemudian menjadi Rp 42.437 buah. bantuan pembangunan/pemugaran posar. pada awal Pelita I baru diberikan kepada 44. bantuan penghijauan/rebuisasi. serta proyek peningkatan dan pembangunan jalan yang dapat membuka daerah terisolasi sehingga dapat mengembangkan perekonomian daerah dan memperluas kesempatan berusaha. Dengan makin bertambahnya jumlah penduduk dan kemampuan keuangan negara.5 milyar dan Rp 87.0 milyar dengan jumlah desa sebanyak 60. yang diberikan untuk mendorong dan mengarahkan usahausaha swadaya gotongroyong masyarakat dalam membangun desanya. bantuan Ipeda dan bantuan pembangunan Timor Timur. dimaksudkan untuk menciptakan dan memperluas lapangan kerja.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengeluaran pembangunan berupa bantuan pembangunan bagi daerah merupakan bantuan yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan potensi dan prioritas daerah masing-masing dalam bentuk program Inpres. Sementara itu bantuan pembangunan kabupaten yang besarnya didasarkan atas jumlah penduduk. bantuan pembangunan sekolah dasar. jumlah bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 92. berhubung dengan bertambahnya jumlah bantuan menjadi Rp 1.478 desa dengan jumlah bantuan sebesar Rp 2. dan pada akhir Pelita III meningkat lagi menjadi Rp 91. Dalam RAPBN 1985/1986 yang merupakan tahun kedua Pelita IV bantuan yang diberikan direncanakan sebesar Rp 215.1 milyar masing-masing pada awal Pelita II dan Pelita III.6 milyar. programprogram Inpres yang terdiri dari bantuan pemb:mgunan desa. dalam rangka memanfaatkan dan memelihara sumber alam. Dalam APBN 1984/1985. Adapun proyek-proyek yang dapat dibiayai oleh dana bantuan pembangunan kabupaten meliputi proyek/kegiatan yang bersifat pemeliharaan jalan dan jembatan yang sudah ada.645 buah. Dalam perkembangannya.448 desa. Bantuan pembangunan desa. Di samping itu dapat juga dipergunakan untuk membiayai proyekproyek yang bersifat meningkatkan ketrampilan penduduk pedesaan. kepada seBap kabupaten diberikan juga bantuan peralatan berupa satu buah mesin gilas jalan. bantuan yang diberikan baru mencapai jumlah sebesar Rp 5. Pada akhir Pelita II telah meningkat menjadi Rp 24.350 ribu tiap desa.9 milyar alas dasar perhitungan Departemen Keuangan RI 60 . bantuan yang diberikan terus meningkat pula setiap tahunnya.6 milyar. bantuan pembangunan Dati I. sedang dalam RAPBN 1985/1986 bantuan terse but ditingkatkan menjadi Rp 98. bantuan pembangunan kabupaten. dan pemeliharaan prasarana pedesaan.8 milyar untuk 67.

Selanjutnya ditingkatkan dengan pembangunan penambahan ruang kelas baru. penyediaan bukubuku pelajaran. Dalam APBN 1984/1985.8 milyar.0 milyar.2 milyar. serta madrasah ibtidaiyah. dan kemudian diperluas lagi pada tahun berikutnya dengan pembangunan rumah bagi kepala sekolah dan guru yang bertugas di daerah terpenci1. bantuan pembangunan Dati I dalam RAPBN 198511986lebih ditingkatkan penggunaannya. Dalam APBN 1984/1985. dan pemukiman baru. pembangunan rumah guru dan kepala sekolah di daerah terpencil.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 1.8 milyar pada awal Pelita III. Bantuan yang ditetapkan digunakan untuk membiayai perbaikan jalan dan jembatan.0 milyar..0 milyar.250. Adapun jumlah bantuan yang telah diberikan dalam tahun 1973/1974 adalah sebesar Rp 17.bantuan per jiwa dan bantuan minimum yang diberikan adalah sebesar Rp 170. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 280. dan bantuan maksimum Rp 12. dan untuk meningkatkan keserasian laju pertumbuhan antar daerah serta meningkatkan peranserta daerah dalam pembangunan. Dalam tahun 1982/1983. dalam tahun 1985/1986 lebih ditingkatkan lagi. Jumlah tersebut meliputi antara lain pembangunan gedung sekolah baru.0 juta untuk kabupaten. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 253. perbaikan gedung-gedung sekolah yang sudah ada. Pada mulanya bantuan pembangunan sekolah dasar ini diberikan untuk pembangunan dan rehabilitasi gedung-gedung sekolah dasar. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 580. bantuan pembangunan sekolah dasar lebih ditingkatkan lagi. daerah terpencil. serta penyediaan alat-alat olah raga dalam Departemen Keuangan RI 61 . yang merupakan permulaan Pelita IV. dan dalam RAPBN 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 617. Program Inpres Dati I ini terdiri dari bantuan yang ditetapkan penggunaannya.7 milyar pada awal Pelita II. digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek yang meningkatkan taraf hidup rakyat serta untuk mengembangkan daerah-daerah minus di daerah kritis. Sedangkan bantuan yang diarahkan.0 milyar dengan bantuan minimum sebesar Rp 10. dan ditingkatkan lagi menjadi Rp 155. dan diarahkan penggunaannya. Adapun bantuan pembangunan sekolah dasar yang bertujuan untuk memperluas kesempatan belajar.0 milyar dengan bantuan minimum untuk liar propinsi sebesar Rp 9. meratakan hasil-hasil pembangunan. serta biaya eksploitasi dan pemeliharaan pengairan. perbaikan dan peningkatan irigasi.0 milyar. kemudian ditingkatkan menjadi Rp 19. daerah transmigrasi. terutama bagi anak-anak usia sekolah pada pendidikan dasar yang berada di pedesaan. serta buku bacaan bagi anak-anak sekolah dasar saja. Dalam rangka meningkatkan keselarasan pembangunan sektoral dan regional. yaitu ditambah dengan penyediaan paket peralatan olah raga untuk sekolah dasar negeri dan swasta. penyediaan buku-buku pelajaran dan buku bacaan.

dan air. lebih ditingkatkan lagi. khususnya dalam membuka daerah yang masih terisolasi. baik di desa maupun di kota. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi Dati II dalam rangka pembangunan daerah.8 milyar. bantuan yang diberikan baru sebesar Rp 1. yang bertujuan untuk menyelamatkan kelestarian sumber-sumber alam.6 milyar. Kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup tetap mendapat perhatian yang besar dalam Repelita IV.383 buah dengan jumlah biaya sebesar Rp 200. Pada awal pelaksanaannya tahun 1976/1977.1 milyar untuk memperbaikijalan sepanjang 7. Dengan diberikannya bantuan penunjangan jalan kabupaten sejak 1979/1980. puskesmas pembantu. puskesmas keliling. sedangkan dalam APBN 1984/1985 disediakan sebesar Rp 10. tanah hutan. dalam pelaksanaannya banyak melibatkan aparatur Pemerintah desa serta berbagai lembaga yang ada di desa. melalui bantuan pembangunan dan pemugaran posar diberikan kesempatan kepada Pemerintah daerah untuk menyediakan tempat berjualan/posar dengan sewa semurah mungkin. Bila dalam APBN 1984/1985 jumlah bantuan yang diberikan sebesar Rp 98. menghubungkan daerah produksi hasil pertanian dengan daerah pemasarannya.050 buah. Dalam tahun 1984/ 1985 disediakan anggaran sebesar Rp 39.021 km dan jembatan sebanyak 62. percontohan pertanian terpadu.3 milyar. Untuk membantu para pedagang kecil golongan ekonomi lemah.2 milyar. Untuk tahun 1985/1986 anggaran yang direncanakan untuk program Inpres ini adalah sebesar Rp 11. yang sebagian besar berpenghasilan rendah. selama Pelita III telah berhasil diperbaiki jalan sepanjang 33. dan pernmahan untuk dokter dan paramedis. Sedangkan dalam APBN 1984/ 1985 disediakan bantuan sebesar Rp 80.7 milyar. Dalam tahun 1978/1979.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bentuk paket. Kegiatan penghijauan meliputi penanaman tanaman tahunan.5 milyar. Sebagaimana halnya dalam Pelita III. dan dalam tahun 1985/1986 anggaran untuk program Inpres ini direncanakan sebesar Rp 42.0 milyar.4 milyar maka dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp 114. pembuatan bangunan pencegah erosi. sasaran peningkatan pelayanan kesehatan dan perbaikan gizi dalam Pelita IV tetap diutamakan kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah.5 milyar yang direncanakan dipergunakan antara lain untuk pembangunan puskesmas baru. Oleh sebab itu dalam tahun 1985/1986 bantuan yang direncanakan untuk program bantuan penunjangan jalan Departemen Keuangan RI 62 . pembuatan hutan rakyat. Untuk keperluan itu dalam tahun 1985/ 1986 bantuan pembangunan yang diberikan melalui Inpres Sarana Kesehatan lebih ditingkatkan lagi jumlahnya. anggaran yang diberikan untuk program Inpres ini baru sebesar Rp 16. Sehubungan dengan itu anggaran bagi bantuan penghijauan dan reboisasi.500 km dan jembatan sebanyak 19.

6 milyar. bantuan pembangunan untuk daerah Timor Timur adalah sebesar Rp 8.062.7 milyar.0 milyar. dan proyekproyek perkebunan tanaman komoditi ekspor. tambang batu bara. yang direncanakan antara lain untuk pembiayaan proyek-proyek pabrik pupuk. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 disediakan bantuan sebesar Rp 8.6 milyar. maka dalam tahun 1985/1986 direncanakan untuk ditingkatkan menjadi Rp 557. dan pembiayaan lain-lain pembangunan sebesar Rp 248. kemudian Rp 4. perhubungan. Rencana penge1uaran pembangunan dalam tahun 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. dan pengembangan program perumahan rakyat.8 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ditingkatkan menjadi Rp 87. Pemberian subsidi pupuk oleh Pemerintah pada hakekatnya bertujuan untuk mendukung program swasembada pangallo Dengan diberikannya subsidi ini. Dalam APBN 1984/1985. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 3. kesehatan. Realisasi pengeluaran pembangunan bagi penyertaan modal Pemerintah disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara setiap tahunnya. ditujukan kepada program pembangunan yang menyangkut kepentingan masyarakat umum yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan negara. Pembiayaan pembangunan lainnya dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp1. Bantuan yang diberikan dalam rangka memberi kesempatan kepada propinsi termuda ini agar dapat sejajar dengan tingkat kemajuan daerah-daerah lainnya di Indonesia. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp 255. Dalam tahun 1977/1978.6 milyar dalam RAPBN 1985/1986. dan se1ama Pelita III telah diberikan bantuan sebesar Rp 30. penyertaan modal Pemerintah sebesar Rp 255. sehingga mereka dapat membe1i pupuk sesuai dengan yang diperlukan.6 milyar. diantaranya sektor pertanian.5 milyar. Pembangunan melalui sektor pengembangan dunia usaha dilakukan Pemerintah me1alui penyertaan modal Pemerintah pada perusahaanperusahaan negara yang bergerak di berbagai sektor. harga pupuk akan dapat disesuaikan dengan clara beli rakyat dan petani kecil. terutama pada sektor pendidikan. digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan.7 milyar.15 dan Tabel Departemen Keuangan RI 63 .5 milyar dalam tahun 1978/1979. Dalam APBN 1984/1985 anggaran yang disediakan adalah sebesar Rp 359. pertambangan. Bantuan pembangunan kepada daerah Timor Timur diberikan sejak tahun 1977/1978. dan lembaga Pemerintah lainnya. Program-program pembangunan tersebut diantaranya adalah program pembinaan keluarga berencana. dan perkreditan.5 milyar. Bila dalam APBN 1984/1985 anggaran untuk subsidi pupuk disediakan sebesar Rp 458.8 milyar. program pengembangan statistik/sensus.6 milyar.5 milyar. industri.8 milyar. dan sektor pemerintahan. yang terdiri dari pembiayaan subsidi pupuk sebesar Rp 557. Selanjutnya penge1uaran pembangunan lainnya yang dianggarkan sebesar Rp 248.

6 89. Penerrmaan minyak bumi dan gas alam II.115.5 3.00 1.30 3.9 280 617 114.00 4.7 359.9 4. 1985/1986 (dalam milyar rupiah) Jenis Pengeluaran 1984/1985 APBN 3.459.249.30 482. Lain-lain IV. Tunjangan beras 2.297.2 1.50 10.4 731. Pembiayaan lain-lain 1. Belanja pegawai 2.6 215. Tabel II.046. Departemen Hankam II.20 Pengeluaran A.5 42.349.8 255.90 1. I P e d a III.10 602.80 313.590.1 2. Pembiayaan Departemen/Lembaga 1. Gaji/pensiun 3. PENG.6 1.40 3.644. Biaya makan (lauk-pauk) 4.00 241.159.647.20 23.50 92.129. RUTIN I.6 248.40 101. Bantuan Proyek Jumlah 4. Pajak penghasilan 2. Penerimaan bukan pajak 1. Bea masuk dan cukai 4. PEMBANGUNAN I.80 380. Bantuan penghijauan 8. Bantuan pembangunan posar 7.8 201. Luar negeri III.80 4.5 150.6 39.371. Luar negeri V.368.00 3.559.3 116.30 1985/1986 RAPBN 3.062.PENG.10 30 3. DALAM NEGERI I. Timor Timur 10.6 4.061.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 II.529.510.20 10. Pembangunan SD 5.399. Pajak lainnya 7.2 1.643. Bantuan proyek Jumlah Departemen Keuangan RI 64 . Bunga dan cicilan hutang 1. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam 18. Pembiayaan dalam rupiah II. Dalam negeri 2.518. Belanja non pegawai IV.10 70.677. PEN. Ipeda 6.516.5 11.00 Tabel II.4 10.30 45'8.074.6 243 4.297. Belanja pegawai 1. Lain-lain B.00 I.680.9 B.3 87. Pelayanan kesehatan/Puskesmas 6.50 98. PEMBANGUNAN I. Bantuan proyek Jumlah Jumlah 12. Penyertaan modal pemerintah 3.20 23.00 6. Departemen/Lembaga 2.529.451.80 78. Pembangunan prasarana jalan 9. Lain-lain belanja pegawai dalam negeri 5.70 7. 1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Penerimaan A.647.7 167.1 1.40 2. Belanja baraag 1. Subsidi pupuk 2. Subsidi daerah otonom 1.666.4 96.046. pembiayaan bagi daerah 1.10 395.5 8.00 1. PEN. Bantuan program II. 15 RENCANA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA. Bantuan pembangunan Dati I 4.297.16. Belanja pegawai luar negeri II. Pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah 3. 16 RENCANA ANGGARAN PEMBANGUNAN. Dalam negeri 2.90 11.8 98.4 3.117.3 10.1 8.349. Bantuan pembangunan desa 2. Pajak ekspor 5.00 557. Bantuan pembangunan kabupaten 3.9 253 580.8 80.4 1.8 167.

dan ketatalaksanaan. yang biasa disebut pengawasan atasan langsung. Akibat dari peningkatan pengawasan atasan langsung maka timbul kebutuhan akan peningkatan media yang akan dipergunakan dalam pengawasan tersebut. juga merupakan salah satu aspek dari peningkatan pengawasan.6. baik organisasi maupun kegiatannya. II dan III. fungsi pengawasan makin ditingkatkan dan disempumakan lagi. Tugas pokok. yaitu peningkatan pelaksanaan tindak lanjut. Peningkatan organisasi tersebut meliputi peningkatan kedudukan. maupun berupa tindakan penyempumaan kelembagaan. Oleh karenanya perlu diciptakan dan ditingkatkan mutu sistem pengendalian manajemen dalam tiap aparatur Pemerintah. baik aparatur Pemerintah maupun masyarakat umum. atau dengan kala lain peningkatan pemasyarakatan pengawasan. Pengawasan pembangunan Fungsi pengawasan keuangan negara memegang peranan yang makin penting. Untuk mewujudkan integrasi secara struktural di bidang pengawasan seperti dim aksu d. baik itu berupa tinda. dan Inpres No. Dalam Pelita IV. kepegawaian. Selanjutnya peningkatan pengawasan adalah juga menggerakkan seluruh aparatur pelaksana untuk secara aktif melaksanakan pengawasan terhadap bawahannya. Langkah-langkah yang diambil dalam usaha peningkatan pengawasan serta peningkatan penggunaan hasil-hasil pengawasan oleh seluruh aparatur yang berwenang itu hams diikuti pula dengan usaha peningk::ttan pengertian dan kesadaran akan pengawasan dari seluruh masyarakat. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1983 tentang Kedudukan. Fungsi dan Tatakerja. terutama dengan makin meningkatnya volume anggaran yang dikelola sebagai konsekuensi dari makin meluasnya kegiatan pembangunan yang dilaksanakan selama Pelita I. serta Struktur Organisasi Menko Ekuin dan Pengawasan Pembangunan. 15 tahun 1983 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan. sedangkan peningkatan kegiatan berarti perluasan ruang lingkup dan luasnya jangkauan pengawasan. Pelaksanaan pengawasan di bidang anggaran dilakukan dengan cara pemeriksaan secara Departemen Keuangan RI 65 . Peningkatan pengawasan pertama-tama mempunyai arti peningkatan aparatur pengawasan. peningkatan tatakerja keterampilan serta keahlian. telah diterbitkan Keputusan PresideD Nomor 31 tahun 1983 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).3. yang berlaku sebagai landasan operasional pengawasan. Pada akhir tahun Pelita III telah ditempuh kebijaksanaan untuk melaksanaka_ sistim pengawasan terpadu secara struktural.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. serta disesuaikan dengan sasaran-sasaran pembangunan yang hendak dicapai. penyesuaian besarnya organisasi dan personil. Peningkatan penggunaan hasilhasil pengawasan oleh seluruh aparatur yang berwenang._an terhadap para pelaku.

33% data-data tak 58.9192) 4.361 246.39% -90.173 501.104 355.04 dan 0.639 624.92% 2.06% 31.94% 260 66 224 251.404 63.10% -96.37% 979 173 277 369.098 366 410 1.89% -80% -79.d.74% -89.821 5.26% -71. Realisasi pisik yang tak sesuai dengan DIP (jumlah kejadian) 129 201 88 354 215 8.18% -42.142 86.647.33% 1.789 207. Adapun jumlah laporan pemeriksaan terhadap realisasi APBN/APBD selama tahun keempat Pelita III adalah sebanyak 11.773 1. 47 % 75% 72 % 72% 68.089 27.024 4.057 80.238 57.544 834.015 60.d.PROYEK PELlTA.578 59..295 616.783 2.221 27. Tabel II. pemeriksaan serentak atas proyek-proyek Repelita tidak lagi dilaksanakan tiap tahun tetapi akan dilakukan sewaktu-waktu bilamana dianggap perlu.233 355.814 857.211 proyek.790 64.867 647..703 213. Dari hasil pemeriksaan belanja pegawai tersebut.86% 30. ditemukan hal-hat mengenai ketertiban administrasi Departemen Keuangan RI 66 . 20.60% -80.140 304.bcban sementara s.333 159.beban tetap s.3) .759 66.370 41.473. telah dilakukan pemeriksaan serentak terhadap belanja pegawai daerah otonom dan pegawai pusat pada 27 propinsi.398 157 282 704.101 1. pada akhir Pelita II telah mencakup 3.180. Nilai DIP yang diperiksa ( jutaan rupiah) 3.326 226.19% 41.81% 3.540 676..038 .956 proyek.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rutin.475 87..740 221.jumlab kejadian 106 52 78 144 78 7. Penerbitan SPMU oleh KPN : (dalam pcrsentase) .17 HASIL PEMERIKSAAN KHUSUS PROYEK.51% 6.d.214 I.683 1) Daiam Pelita I terdiri atas pcnerbitan SPMU murni SlAP: dalam Pelita II khusus penerbitan SPMU murni saja 2) Jumlab anggaran yang diperiksa 3) Mulai tabun anggaran 1979/1980 DIP berfungsi sebagai SKO Dalam tahun 1983/1984.694 350.1982/1983 PEL1TA I PEL ITA II PEL ITA III 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 759 992 1.beban sementara s. Berita acorn yang tidak benar (jutaan RP)I) 1. Sedangkan jumlah kejadian realisasi fisik yang tidak sesuai dengan DIP pada akhir Pelita I..54% 1.599 85.011 97.015 362.276 16.054.639 137.634 .211 -20..791 1.262 4.66% -90.772.17.103 507. Mulai tahun terakhir Pelita III.060 58.620 30. 0. Hasil pemeriksaan tersebut menggambarkan kemajuan di dalam disiplin administrasi para pelaksana proyek.14% 273 95 234 160.3) .14 persen dan 0.940 3. Perkembangan hasil pemeriksaan khusus proyekproyek Pelita dapat diikuti pada Tabel II.63% 36. Berita acara yang tidak benar pada periode tersebut masing-masing adalah 0.024 491. Sedangkan pemeriksaan serentak terhadap proyek-proyek Pelita. dalam rangka memperoleh gambaran mutakhir mengenai jumlah pegawai Pemerintah serta permasalahannya. Nilai SKO yang diperiksa 4.171 129.756 138.d.93% 3.19. Jumlah Proyek Pelita Yang dipcriksa 2.3) 154.d. pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Hal ini adalah karena berdasarkan hasil-hasil pengawasan sejak Pelita I sampai dengan akhir tahun keempat Pelita III. Fenerbitan SPMU oleh KPN: (Murni) (jutaan Rp) .421 261.682 406.408 70.49% .. 38.178 proyek dan selanjutnya pada tahun keempat Pelita III bertambah lagi menjadi 5.784 146.46% 40.67% 39.497 97.324 38.512 2.956 2.. yang meliputi laporan hasil pemeriksaan penerimaan.45% -88.151 68.5402) 1.939 141. dan pada tahun keempat Pelita III masing-masing adalah sebanyak 0.21% -88. Pelita II.912.025 846.672 5.151 248 111 108 306 368 .08 kejadian per proyek.123 268 361 1.514 48.06% -81.410 145.162 1.567 1.590 laporan. 18.445 632.065 1. yang pada akhir tahun Pelita I baru mencapai 1.d.360 58.08% 828 364 969.jumlah s. yang tercermin dari perkembangan jumlah berita acara yang tidak benar dan realisasi fisik yang tidak sesuai dengan DIP.88% -93. 1969/1970 .20 persen. disiplin administrasi proyek-proyek Pelita secara keseiuruhan bertambah baik.011 718. Nilai SlAP yang dipcriksa per 1 April tahun berikutnya (jutaan Rp) 12-375 23.214 122 126 566.246.782 44..729 dijumpai karena sasaran pemeriksaan ada1ah Kas Opname s.116.07% 41.l67.956 .03 persen dari nilai yang diperiksa.677 110.157 97.851 222.beban tetap s. 53% 25% 28% 28% 31..178 4.499 69.483 1.a 51.100 2. dan pemeriksaan secara serentak pada akhir tahun anggaran terhadap proyekproyek Pelita dan proyek-proyek pembangunan daerah.687. 0.8172) 3.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kepegawaian maupun hal-hal yang merugikan negara. dan perusahaan-perusahaan negara yang didirikan dengan undang-undang tersendiri. yang diakhiri dengan pernyataan akuntan yang dapat dipergunakan untuk menilai kemajuan dan ketertiban perianggungjawaban keuangan. dan sebagainya. kelebihan pembayaran kepada pegawai yang tidak patuh kepada disiplin kepegawaian (meninggalkan tugas lebih dari 2 bulan tanpa alasan). kelebihan pembayaran tunjangan keluarga. Perum. Sehubungan dengan itu telah dilakukan penelitian atas pengetrapan prinsip-prinsip perhitungan biaya BBM yang telah ditetapkan. Pemeriksaan secara rutin juga dilakukan terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN). yang mengakibatkan bertambahnya bagian Pemerintah berupa pajak dan minyak mentah. sedang dalam tahun terakhir Pelita III terdapat kenaikan jumlah pernsahaan yang mendapat pernyataan "menyetujui tanpa syarat menjadi 230 perusahaan. Pada umumnya hasil pemeriksaaan terhadap kontraktor minyak asing tersebut menguntungkan Pemerintah karena terdapat koreksi-koreksi perhitungan biaya. Usaha-usaha Pertamina di dalam mencapai accountability dan auditability di bidang tata usaha keuangannya meliputi pula anak-anak perusahaan/joint venture Pertamina. dan Kontrak Karya. Pemeriksaan tersebut dilakukan terhadap selurnh kontraktor minyak asing yang telah berproduksi secara komersial. pembayaran rangkap kepada pegawai berupa pembayaran dari perusahaan dan dari Pemerintah daerah. Terhadap BUMN ini pada umumnya dilakukan pemeriksaan terhadap neraca dan perkiraan rugi laba. Selain itu dilakukan pula pemeriksaan terhadap para kontraktor minyak asing yang mengadakan kerja sama dengan Pertamina dalam bentuk Kontrak Bagi Hasil. pembayaran rangkap kepada pegawai berupa pembayaran dari dua instansi Pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa administrasi pertanggungjawaban keuangan perusahaan semakin bertambah baik. Pernyataan akuntan "menyetujui tanpa syarat" (yaitu pernyataan terhadap laporan keuangan BUMN jang disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi) dari tahun ke tahun terus meningkat jumlahnya. kesalahan perhitungan yang mengakibatkan pembayaran gaji lebih besar dari seharnsnya. seperti Pertamina dan bank-bank milik negara. dari selurnh BUMN yang diperiksa terdapat 79 perusahaan yang memperoleh pernyataan "menyetujui tanpa syarat". Departemen Keuangan RI 67 . yang meliputi pemeriksaan atas Persero. kesalahan perhitungan yang mengakibatkan pembayaran pensiunan lebih besar dari yang seharnsnya. Pada akhir Pelita II. Perjan. pembayaran gaji kepada pegawai yang belum/tidak berhak. diantaranya ialah pembayaran gaji pegawai fiktif. Pengeluaran negara yang menyangkut subsidi BBM mengalami kenaikan karena meningkatnya biaya pokok BBM dan semakin naiknya permintaan masyarakat akan BBM.

Dari hasil pemeriksaan operasional tersebut. maupun terhadap badan-badan usaha negara. kepada para pejabat yang bertanggungjawab telah disarnpaikan saran-saran penyempumaan lebih lanjut. program peningkatan produksi tanaman pangan program pembangunan jaringan irigasi baru. sarana kesehatan. Dalam triwulan I tahun 1984/1985. Pemeriksaan operasional tersebut belum dapat menjangkau seluruh bidang kegiatan pemerintahan umum dan pembangunan. program pembangunan jalan dan jembatan. program perbaikan dan peningkatan irigasi. telah ditemukan beberapa bidang yang dipandang masih dapat ditingkatkan dayaguna dan hasilgunanya. pemeriksaan operasional dilakukan antara lain terhadap perkreditan . sekolah dasar. Departemen Keuangan RI 68 . program rehabilitasi dan. Dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan pula pemeriksaan khusus terhadap kasuskasus penyimpangan. pemeriksaan operasional dilakukan terhadap penerimaan pajak/lpeda serta bea dan cukai. pemeriksaan operasional dilakukan antara lain terhadap proyek-proyek Inpres pembangunan kabupaten. pemeriksaan operasional dilakukan terhadap program transmigrasi termasuk program pemukiman daerah transmigrasi. yang berarti adanya perluasan sasaran pemeriksaan. Di bidang penerimaan negara. pemeliharaan jalan dan jembatan. terdiri dari 106 kasus yang menyangkut APBN/APBD. Selanjutnya sebanyak 28 kasus yang menyangkut APBN/ APBD. dan apakah hasil atau manfaat yang diinginkan dari suatu kegiatan/program telah diperoleh secara efektif. serta reboisasi dan penghijauan. Sedangkan untuk program pembangunan. dari hasil pemeriksaan khusus ditemukan 47 kasus yang mengandung unsur tindak pidana. maka pada Pelita III sasaran diperluas sampai kepada pemeriksaan untuk melihat apakah suatu kegiatan/program dilaksanakan dengan menggunakan dana yang tersedia secara efisien. melainkan baru terbatas kepada sasaran-sasaran yang diprioritaskan.ana yang berasal dari APBN/APBD. dan 41 kasus yang menyangkut BUMN/BUMD. penyaluran pupuk. dan sebanyak 8 kasus yang menyangkut BUMN/BUMD telah disampaikan kepada Kejaksaan Agung. Pemeriksaan operasional ini dilaksanakan baik terhadap kegiatan/program yang dibiayai dengan dana-d. Kalau dalam Pelita I dan Pelita II pemeriksaan hanya ditujukan terntama kepada segi keuangan saja. dan pengawasan terhadap kelancaran pelaksanaan pembangunan. terdiri dari 43 kasus yang menyangkut APBN/ APBD.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sejak tahun 1979/1980 tahap pengawasan ditingkatkan dengan pemeriksaan operasional. telekomunikasi. serta pos dan giro. Selanjutnya terhadap program pembangunan daerah. Sementara itu terhadap Badan Usaha Milik Negara. program pengembangan daerah rawa. Dari hasil pemeriksaan khusus tersebut ditemukan 147 kasus yang diduga mengandung unsur tindak pidana.

melalui pendidikan pembantu akuntan. Meskipun usaha-usaha peningkatan aparat pengawasan secara kualitas maupun kuantitasnya terus dijalankan. serta makin banyaknya objek pemeriksaan yang hams ditangani. dilakukan pula usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknis dari tenaga-tenaga yang sudah ada melalui penataranpenataran. baik yang diselenggarakan oleh BPKP maupun oleh departemen . kepada para pemeriksa dibekali norma pemeriksaan. Bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. jumlah tenaga pemeriksa tersebut menunjukkan adanya kenaikan. yaitu standar-standar keahlian para pelaksana.473 orang ajun akuntan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan 4 kasus yang menyangkut BUMN. atau Pemerintah Daerah. Sedangkan sebagai petunjuk pelaksanaan pengawasan secara lebih teknis. 1. Di samping usaha-usaha meningkatkan jumlah aparat pengawasan.239 orang tenaga pemeriksa yang terdiri dari 1. Inspektorat Wilayah Propinsi. kepada para pengawas dibekali pula dengan tata cara pelaksanaan pemeriksaan. sebanyak 14 kasus telah diteruskan ke Kejaksaan Agung. dan Inspektorat Wilayah Kabupaten/ Kotarnadya berdasarkan data sementara adalah sebanyak 7. pelaksanaan tugas. yang diselenggarakan pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara telah dihasilkan tenaga-tenaga pemeriksa. sehingga dapat menghasilkan mekanisme pengawasan terhadap bawahan. ditambah pula dengan 267 orang tenaga-tenaga sarjana dan sarjana muda jurusan non akuntan yang dijadikan tenaga pemeriksa setelah mendapatkan pendidikan tambahan.190 orang akuntan. Di samping itu dilanjutkan usaha untuk meningkatkan mutu sistem pengendalian manajemen. Dalam rangka meningkatkan jumlah aparat pengawasan.370 orang. dan 309 orang pembantu akuntan. dalam arti bahwa pengawasan atasan bukan lagi merupakan pekerjaan terpisah dari fungsi pimpinan. Semua kasus yang disampaikan kepada Kejaksaan Agung telah diteruskan pula kepada Kejaksaan Tinggi di masing-masing daerah. Sehubungan dengan itu agar dapat mendukung tercapainya sasaran strategis pengawasan pada masa mendatang. Dewasa ini Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah memiliki 3. sedangkan terhadap 2 kasus yang menyangkut BUMN telah dilakukan tindak lanjutnya berupa tindakan administratif dan tuntutan ganti rugi kepada yang bersangkutan. tetapi jumlah dan kondisi aparat pengawas yang ada saat ini masih belum memadai bila dibandingkan dengan makin kompleks dan luasnya ruang lingkup pengawasan. Selanjutnya untuk menciptakan keseragaman mutu hasil pemeriksaan. ajun akuntan dan akuntan. dan pelaporan yang harns dipenuhi. Dari kasus yang menyangkut APBN/APBD. Sernentara itu jumlah tenaga pemeriksa pada aparat pengawasan fungsionallainnya seperti Inspektorat Jenderal. Selanjutnya hasil-hasil pengawasan aparat pengawasan Departemen Keuangan RI 69 . dalam tahun 1985/1986 Pemerintah terus berusaha meningkatkan serta menyempurnakan fungsi pengawasan.

serta pengembangan petunjukpetunjuk tatacara pelaksanaan pemeriksaan terus dilanjutkan untuk lebih meningkatkan mutu aparat pengawasan fungsional. Sejalan dengan itu pendidikan dan latihan tenaga pengawas. dan penyimpangan. karena berkembangnya standar dan norma untuk mengukur efisiensi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 fungsional diharapkan akan menjadi bagian dari informasi untuk pengambilan keputusan dan perumusan kebijaksanaan. di samping pelaksanaan rencana memiliki pengendalian yang menjamin tercapainya tujuan-tujuan yang ditetapkan dalam rencana. kebocoran. Departemen Keuangan RI 70 . Sistem pengendalian manajemen tersebut akan ikut mewujudkan aparatur Pemerintah yang berdayaguna dan berhasilguna. Seluruh kebijaksanaan dan langkahIangkah di bidang pengawasan tersebut diarahkan agar pada akhir Repelita IV terbentuk sistem pengendalian manajemen yang mampu mencegah secara dini terjadinya pemborosan.

Sementara itu perkembangan harga komoditi ekspor di pasar internasional selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember menunjukkan perkembangan yang agak baik.77 persen dan sebesar 13.81 persen per bulan.48 persen setahun. Dengan produksi beras dalam tahun 1984 yang diperkirakan lebih tinggidari tahun sebelumnya. komoditi ekspor dan lain-lain. Dilain pihak menguatnya nilai dollar Amerika telah menyebabkan kurs matauang terse but terus meningkat di posaran. dan harga rata-rata tertinggi di beberapa kota adalah sekitar 2. seperti misalnya dengan emas. laju inflasi adalah sebesar 7.16 persen per taboo. Perbedaan harga rata-rata terendah. GAJI DAN UPAH 3. laju inflasi adalah sebesar 3. Harga-harga di dalam negeri juga dipengaruhi oleh harga-harga di luar negeri. khususnya dalam hal lada putih.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB III HARGA.38 persen sebulan.33 persen atau rata-rata 0. terlihat bahwa rata-rata laju inflasi dalam Pelita I (1969/1970-1973/1974) adalah sebesar 17. Pendahuluan Stabilitas ekonomi yang cukup mantap merupakan landasan yang menjamin lancarnya pembangunan tahap berikutnya. Apabila diteliti barang dan jasa yang mempengaruhi tingkat kenaikan barga-barga.1. bahan pangan merupakan salah sarti kelompok barang yang terrenting. sehingga dapat memperkuat landasan bagi pelaksanaan Repelita selanjutnya. lada Departemen Keuangan RI 71 .46 persen atau rata-rata 0. Selanjutnya selama sembilan bulan dalam tahun pertama pelaksanaan Repelita IV atau tepatnya sampai dengan bulan Desember 1984. Oleh karena itu senantiasa diusahakan tercapainya kestabilan harga di dalam negeri melalui penyediaan bahan kebutuhan pokok yang cukup. Dalam bulan-bulan terakhir tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember. dan hal itu telah mengakibatkan harga emas di pasar Jakarta mengalami penurunan pula. Namun matauang lainnya secara umum tidak mengalami gejolak harga yang cukup besar. Untuk periode yang sarna tahun sebelumnya. secara umum harga beras di beberapa kota selama bulan April-Oktober 1984 telah mengalami penurunan..8 persen. sedang dalam Pelita II (1974/1975-1978/1979) dan Pelita III (1979/1980-1983/1984) laju inflasi menurun masing-masing menjadi rata-rata sebesar 14. Melalui program stabilisasi senantiasa diusahakan agar laju inflasi dapat dikendalikan. dan penyaluran yang cepat bagi masyarakat. harga emas di bursa internasional cenderung mengalami penurunan. Oleh karena itu Pemerintah senantiasa menjaga stabilitas harganya agar tetap dalam jangkauan daya beli masyarakat. Dari perkembangan laju inflasi selama Pelita I sampai dengan Pelita III.

2.10 % + 19. industri sebesar 12.5 persen.35 % + 20. Tabe1 III. terlihat bahwa laju Departemen Keuangan RI 72 .13 % + 15.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hitam.65 % + 7.46 % 3.6 persen.79 % + 19.78 % + 0.63 % + 3. kopi robusta eks Lampung dan timah putih.79 % + 47.80 % + 8.7 persen dan 11.85 % + 9.1984/1985 Tahun kenaikan REPELITA I 1) 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 REPELITA II 1) 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 REPELITA III 2) 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 REPELITA IV 1984/1985 (sampai dengan bulan Desember) 1) Repelita I dan II berlaku Indeks Biaya Hidup di Jakarta 2) Repelita III mulai diguruikan Indeks Barga Konsumen Indonesia Persentase + 10. Dalam periode yang sarna.81 % + 20. Perkembangan indeks harga perdagangan besar Indonesia dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus telah meningkat sebesar 11. dan perkembangan harga yang tak menentu telah terjadi pada kopra serta minyak sawit.0 persen. pertambangan dan penggalian sebesar 8. Sebaliknya penurunan harga telah terjadi pada karet jenis RSS III.77 % + 12.2.12 % + 10. Perkembangan harga 3. indeks harga sektor perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi telah meningkat pula sebesar 7. Indeks harga konsumen Indonesia Berdasarkan perkembangan indeks harga 150 macam barang dan jasa di 17 kala propinsi.40 % + 12.3 persen.9 persen.2 persen. sebagai akibat meningkatnya indeks harga pada sektor-sektor pertanian sebesar 12.1. yang digunakan sebagai pengukur perkembangan laju inflasi.08 % + 11. serta sektor impor dan ekspor masingmasing sebesar 10. 1 PERSENTASE KENAlKAN INDEKS BIAYA HIDUP DI JAKARTA DAN INDEKS HARGA KONSUMEN INDONESIA 1969/1970 .

04 persen.76 persen. adalah sebesar 3. perkembangan yang lebih terperinci menunjukkan bahwa dalam bulan Agustus dan September 1984 telah terjadi deflasi masing-masing sebesar 0. Juni. Kenaikan indeks harga kelompok makanan sebesar 2. peningkatan sebesar 2.15 persen dan 0.79 persen dan indeks harga sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 9.45 persen. terlihat bahwa laju inflasi sebesar 3. masing-masing sebesar 2. Bila dilihat faktor penyebab laju inflasi selama periode April-Desember 1984 berdasarkan kelompok maupun sub kelompok barang dan jasa.37 persen dan 1. Departemen Keuangan RI 73 . indeks harga kelompok sandang dan kelompok aneka barang dan jasa masing-masing sebesar 2.98 persen dan indeks harga sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 5.47 persen yang disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok padi-padian.kota propinsi di Indonesia. susu dan hasil-hasilnya sebesar 5. indeks harga sub kelompok kacang-kacangan sebesar 6. Sementara itu penurunan indeks harga sub kelompok lainnya dalam kelompok makanan terjadi pada indeks harga sub kelompok lemak dan minyak yaitu sebesar 3. ubi-ubian dan hasil-hasilnya sebesar 4.97 persen dan indeks harga sub kelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 6.28 persen.64 persen dan 2.88 persen dan 1. Pada periode yang sarna tahun sebelumnya. yaitu sebesar 0.30 persen yang terjadi selama periode April-Desember 1984 adalah akibat meningkatnya indeks harga sub kelompok biaya tempat tinggal. Dalam indeks harga kelompok perumahan.kenaikan yang cukup besar pada kelompok makanan terjadi pada bulan Desember 1984 yaitu sebesar 2. 0.03 persen.43 persen dan 5. indek harga sub kelompok telur.31 persen. 0.71 persen. Juli dan Desember 1984 laju inflasi masing-masing sebesar 1. laju inflasi adalah sebesar 7. 0. atau rata-rata 0.10 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 inflasi selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Desember. Mei. dan indeks harga sub kelompok biaya penyelenggaraan rumah tangga.46 persen tersebut disebabkan oleh meningkatnya indeks harga kelompok makanan dan kelompok perumahan.38 persen.38 persen per bulan. Bila diteliti lebih lanjut.46 persen atau rata-rata 0.03 persen.81 persen.33 persen adalah sebagai akibat meningkatnya upah pembantu di 10 dari 17 .64 persen antara lain disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar 7.17 persen. Kenaikan yang cukup besar pada indeks harga sub kelompok biaya penyelenggaraan rumah tangga pada bulan April dan Nopember 1984 masing_masing sebesar 1.65 persen.33 persen. indeks harga sub kelompok ikan segar sebesar 7.16 persen. masing-masing sebesar 2. serta dalam bulan Oktober dan Nopember 1984laju inflasi adalah sarna.30 persen.49 persen dan 7.74 persen. sedang dalam bulan-bulan April.

95 268.37 215.91 258.47 275.65 234.62 183.57 217.76 228.30 204.46 221.41 197.12 202.54 229.78 238.14 237.55 221.94 267.70 233.40 242.96 214.27 202.57 203.43 238. 2 INDEKS HARGA KONSUMEN INDONESIA.72 189.51 258.36 274.83 176.34 240.53 226. 3 INDEKS UMUM HARGA KONSUMEN DI 17 KOTA DI INDONESIA.63 190.88 257.77 219.19 179.40 227.93 223.17 238.57 177.45 257.52 220.59 247.77 241.03 221.67 247.12 255.45 238.34 220.88 163.40 240.98 239.93 187.00 258.33 234.89 227.33 243.36 245.77 240.58 Makanan 144.43 245.79 218.43 197.09 156.08 263.08 258.02 204.46 258.02 273.69 262.70 205.70 171.13 265.40 179.35 177.45 231.31 Departemen Keuangan RI 74 ..22 238.11 256.82 263.19 219.93 275.82 192.48 255.90 184.50 218.33 236.90 226.03 204.48 244.02 237.34 267.48 257.34 247.52 Padang Palembang Jakarta Bandung Semarang 148.39 246.75 200.14 172.53 269.58 206.H 261.29 208.23 210.88 266.90 233.48 238.76 234.48 205.20 224.58 239.99 194.14 244.48 212.43 273.24 160.73 238.61 247.09 245.67 259.14 267.25 244.47 166.84 214.68 219.70 168.62 276.60 221.35 Perumahan 146.52 240.09 185.82 189.42 236.86 239.98 223.49 193.18 212.11 258.08 263.55 221.51 238.87 240.19 232.64 265.89 191.73 177.37 213.38 179.96 209.88 265.03 217.99 139.34 242.73 247.07 258.28 214.72 272.12 263.45 221.70 220.69 237.82 148.19 200.35 246.54 Umum 147.02 238.86 236.14 174. 1979/1980 -1984/1985 ( 1977/1978 = 100 ) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Yogyakarta Surabaya Denpasar 152.57 246.73 147.03 246.55 259. 1979/1980 .46 220.18 233.29 225.08 262.65 259.60 174.68 242.18 240.29 245.21 149.42 186.04 215.61 221.06 239.79 239.56 245.02 189.77 220.28 262.89 246.32 210.26 200.52 220.10 177.99 216.73 189.16 224.29 200.78 257.18 219.08 263.51 171.77 175.72 216.34 246.38 183.05 243.20 222.08 276.51 221.14 241.28 198.69 239.82 194.12 219.16 274.65 238.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel III.93 241.72 245.40 263.29 192.46 220.90 245.30 199.82 172.03 236.45 220.21 197.27 214.53 233.25 252.01 230.48 240.08 175.49 221.93 211.08 233.98 143.11 233.78 239.86 178.33 183.93 224.97 258.22 243.46 269.54 221.61 188.91 257.27 225.60 210.58 161.59 197.68 244.82 255.01 204.56 Medan 149.76 183.85 205.1984/1985 ( 1977/1978 = 100) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 198411985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Sandang 173.57 246.02 147.52 255.21 231.24 210.32 182.64 232.63 Tabel III.14 215.58 223.34 183.

6 231.15 230.65 212.68 210.81 246.18 231.68 231.79 232.55 161.19 241.56 223.02 229. dan sandang lainnya sebesar 1. sedangkan laju penurunan harga terjadi di kota Ambon sebesar 1.11 226.62 237.03 Indeks harga kelompok sandang selama bulan April-Desember 1984 telah meningkat sebesar 2. sedapg dalam bulan-bulan lainnya hanya mengalami peningkatan yang relatif rendah. Perkembangan indeks harga konsumen beserta komponennya dapat dilihat dalam Tabel III.09 225.56 235.53 209.72 224.9 230.01 223.45 persen.97 191.04 223.71 259.96 192.21 Kupang 150. kenaikan harga alar-alar tulis dan buku tulis. yang termasuk pada indeks harga sub kelompok pendidikan. dalam bulan Juli dan Nopember 1934.52 177. Medan.22 233.65 234.52 164.87 231.84 Manado 149.63 238.46 144. Indeks harga kelornpok aneka barung dan jasa yang meningkat sebesar 7.51 193.2 179.74 227.81 219.61 persen.7 206.95 255.66 214.09 215.27 242.49 persen.44 persen.01 Ujung pandang Ambon 145.09 Banjarmasi n 163. dan DKI Jakarta yaitu masingmasing sebesar 4.76 218.23 257.19 241.35 180.95 228.95 197.31 216. Departemen Keuangan RI 75 .55 211.28 201.15 232.39 212.42 175.3 212.93 157.27 235.1 236.29 175.43 236.57 244.17 228.13 persen.13 224.63 227.1 Laju inflasi di 17 kota selama sembilan bulan tahun anggaran 1984/1985 telah menunjukkan perkembangan yang relatif besar untuk kota Jayapura.81 205.42 160.16 persen.91 218.68 212.47 227.55 258.8 219.21 258 257.52 persen dan 1.33 246.09 227. yaitu pada saat-saat menjelang Idul Fitri.55 232.39 217. Denpasar.82 232.25 200.19 247.7 219.65 228.65 228 227. Laju inflasi di kota-kota lainnya hanya berkisar antara 0.92 259.65 Pontianak 148.81 241.13 persen.12 242.17 192.73 Jayapura 128. peningkatan yang cukup besar dari indeks harga ketiga jenis sandang yaitu sandang laki-Iaki.72 206.55 228.9 229.25 222. Peningkatan terse but disebabkan oleh naiknya indeks harga sub kelompok san dang lakiIaki.4 225.44 232.24 135.33 229. 3.57 214.67 218. 3 (lanjutan) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Mataram 148.57 persen.9 230.06 253.44 231.84 229.2 208. dan sandang anakanak telah terjadi dalam bulan Juni dan Juli 1984.4 227. 4.67 193.35 242.35 persen .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel III.56 216.17 241.62 reIsen.78 241.37 191. 3.97 243.17 253. serta meningkatnya harga obat tanpa resep adalah merupakan faktor penyebab meningkatnya beberapa indeks harga tersebut di atas.35 persen. 4. serta kenaikan indeks harga sub kelompok barang pribadi.05 231.83 226. sub kelompok sandang anak-anak.56 236.54 228. Kenaikan yang cukup besar dari biaya angkutan umum dalam bulan April 1984.53 214.79 227.97 259. antara lain disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok transpor sebesar 10.66 236.15 persen dan 4. dari sub kelompok sandang wanita masing-masing sebesar 3.46 260.92 221. Bila dilihat perkembangan per bulannya. dan indeks harga sub kelompok kesehatan sebesar 5.45 180.37 227. Perkembangan indeks harga konsumen di setiap kala dapat dilihat dalam Tabel III.97 persen. sandang wanita.33 persen sampai 3.49 208.09 232.5 244.62 228.84 231.81 249.36 225. indeks harga sub kelompok pendidikall sebesar 8.49 persen.

-130.84 262.-120.190..-125.-170.88 173.75 93.33 140.-103.-185.-120.-135.-185.-- Kota Bandung Yogyakarta Semarang Surabaya Medan Banjarmasm Ujungpandang Denpasar jenis barang Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil ( Rp{kg ) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg) (Rp{kg) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg) ( Rp{kg) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) Departemen Keuangan RI 76 . dan harga rata-rata tertinggi di beberapa kola adalah sebesar 2.-218.-200.-246.78 81.2.per kilogram.-193. Peningkatan yang cukup tinggi telah terjadi hampir di semua kola dalam bulan Agustus 1984.-96. yaitu tetap pada tingkat harga Rp 275.-200.63 165. Rp 348.-188.11 82.85 191.-133.-275.4 HARGA RATA-RATA BERAS MUTU MENENGAH.-125.-425.-245.-175.190. TEPUNG TERIGU. Harga tepung terigu di beberapa kola di Indonesia dalam periode April-Oktober 1984 berkisar antara Rp 275. GULA PASIR DAN TEKSTIL DI BEBERAPA KOTA BESAR DI INDONESIA.5 145.67 103.94 132.67 175.-165.33 125.62 95.-190.-173.66 100.-250.-175.17 100.-135.-125.-159.-223.09 75.-140.75 300.-160.36 sampai Rp 425.-156.33 79.-226.89 75.-165.33 146.-120.67 235. dengan peningkatan terbesar terjadi di kola Ujungpandang yaitu sebesar 13.-225.33 221.-200. Medan dan Banjarmasin.79 170. Perbedaan harga rata-rata terendah.25 200.-125.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 3.8 persen.-135.-200.71 172.5 200.-155. Sedangkan harga yang bervariasi antara Rp 263. Sedangkan dalam bulan-bulan lainnya harga tepung terigu tidak mengalami peningkatan yang berarti.33 143.-325.-90.-165.-235.33 140.-92.-168.-95. 1973/1974 .-257.-215.25 265.-176.67 250.25 201..1984/1985 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 Maret Maret Maret Maret Maret Maret 103.-123.-200.-75.-250.-140.06 153.67 242. Harga beberapa barang konsumsi utama Perkembangan harga beras di beberapa kala di Indonesia selama periode April sampai dengan Oktcber 1984 secara umum relatif stabil.250.-213. masing-masing pada tingkat harga Rp 291.-176.per kilogram Tabel III.-215.66 220.-130.-125.11 125. serta penyaluran yang cukup lancar ke pasaran telah menyebabkan stabilnya harga beras dalam periode tersebut.34 180.-90.33 103..-150.-190.-185.-217.-105.-235.-80.5 90.-120. Yogyakarta.84 84.67.33 183. bahkan di kota Banjarmasin selama periode April-Oktober 1984 mengalami kestabilan.75 105.-250..-180. Surabaya.-125.67 159.-115.33 150.-230.75 135.139.8 persen.67 182.-170.-250.67 180.75 252.-91.-160.54 206.-100.17 90.-125.-200.-190.128.89 135.-200.-262.08 273.-135.-120.44 175.-157.-166.-125.02 dan Rp 333.67 125.5 165.5 129.18 131.-180. Ujungpandang dan Denposar.-135.-180.75 190.62 278.2.-124.-135.-120.33 215.-250.sampai Rp 395.-125.83 137.per kilogram terjadi di kola Bandung.-200.81 250.88 244.-193.5 175.5 210.5 241.-125.-160.13 157.-85.-311.96 89.-100.39 261. Produksi beras dalam tahun 1984 yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.-166.-155. perkembangan harga beras yang relatif stabil antara lain terjadi di kola Semarang.-135.25 150.46 per kilogram.-130.-125.-104.-200.33 255.

-541.-178.-245.83 400. 2.5 511.67 762.54 225. Kenaikan harga tepung terigu yang terjadi pada bulan Agustus 1984 telah pula mempengaruhi perkembangan harga gula pasir.5 327.58 217. Produksi tekstil yang mencukupi telah menyebabkan perkembangan harga tekstil di Departemen Keuangan RI 77 .-- 1983/1984 Maret 272.-222. Berdasarkan perkembangan harga gula posir di beberapa kota selama periode April-Oktober 1984 sebagaimana terlihat dalam Tabel III.-275.-332.19 216.92 481.92 500.-475.58 576.67 714.-267.-200. dan penyesuaian harga provenue gula pasir.-242.-400.97 326.-255.-350.97 193.75 228.25 461.183.-437.-190.-740. sehingga dalam bulan tersebut terjadi peningkatan di kota Ujungpandang.-425.4 (lanjutan) 1979/1980 1980/1981 Maret Maret 219. masing-masing sebesar 4.48 423.75 342.5 236.75 510..34 278.-575.-322.34 250.-315.-600.33 518.-500.67 214.5 500.-425.-525.2 246.89 260.33 291.67 540.16 330.43 395.36 265.-- 1982/1983 Maret 319.-288.87 590.11 224.-239.99 273.83 527.-425.-269.75 221.35 373.-272.91 265.63 571.33 621.-255.38 188.-550.-550.75 555.5 250.-503.3 178.57 400. Di sam ping itu dalam rangka menunjang program tebu rakyat intensifikasi.22 275.-527.-385.-425.56 633.17 649.71 226.34 486.-267.04 315.-350.33 500.-550.3 persen.25 275.-250.67 271.-700.08 1984/19851) s/d Oktober 315.-350.-300.4 415.8 208.67 407.-500.46 287.-615.75 559.33 525. mulai bulan Oktober 1980'Pemerintah menjamin pemasaran seluruh gula rani baik yang merupakan bagian petani.5 275.74 226.-219.8 400.94 252.3 persen sampai 6.206. Dengan demikian petani dapat menerima harga yang ditetapkan.07 196.-450.65 272.92 327.-400. dan konsumen terhindar dari gejolak kenaikan harga.33 278.3 persen.-610.08 323.-.-375.-- K o t a / Jenis barang Bandung Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Y ogyakarta Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Semarang Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Surabaya Beras Tepung terigu Cula posir Tekstil Medan Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Banjarmasin Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Ujungpandang Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Denposar Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil 1) Sampai dengan Oktober 198 ( Rp/kg) (Rp/kg ) ( Rp/kg) (Rp/m) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp /kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp /kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg) ( Rp/kg) (Rp/m) 1981/1982 Maret 281.-290.33 321.-563..0 persen.34 225.-510.72 702. maupun yang merupakan bagian pabrik.-650.67 600.-550.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel 111.42 584.75 514.83 400.-273.75 503.16 195.25 289.635.6 persen dan 2.25 319.-206.12 473.88 250.600.21 261.46 351.17 542.-- Kebijaksanaan Pemerintah dalam usaha meningkatkan produksi gula pasir antara lain dilaksanakan melalui rehabilitasi pabrik-pabrik gula.67 386.5 275.4.-230.08 550.33 626.-625.34 650.51 175.-900.84 528.82 269.39 599.-274. 525. pembangunan pabrik-pabrik baru.38 210.68 205. kenaikan harga yang cukup tinggi terjadi dalam bulan Mei dan Agustus 1984 yang berkisar antara 0.25 567.206.42 500 236.-268.-500.6 393.-280.55 252.25 430.-381.-516.55 275.536.42 260.n 377.-285.67 542.57 529. Semarang dan Surabaya.-271.83 564.52 349.63 375.22 281.41 176.

291.139.25 123.6 363.015.127.21 370.4.16 1.205.82.25 830.376.4 482.390.50 129..25 1980/1981 Maret 632.140.131.130.25 354.83.31 1.8 324.408. Hal ini memperlihatkan bahwa minat masyarakat terhadap logam mulia emas masih cukup besar.40 366.25 920. 7.39 1.197.6 365.75 Oktober 1.443.75 302. Dalam periode yang sarna di pasaran London.25 690.431.461.5 312.1973/1974 Maret 415.-157.302.-Mei 1.2 386.25 284.-426.25 1.75 289.123.75 1981/1982 Maret 653.130.1.8 496.60 4.. Indeks harga emas dan valuta asing Fluktuasi kurs matauang dollar Amerika telah mempengaruhi perkembangan harga emas.12 1.418.5 328. Harga terendah terjadi di kola Denpasar dengan tingkat harga Rp 500.162.357. harga tekstil di beberapa kota berkisar antara Rp 500.6 461.8 4.165.5 HARGA BEBERAPA VALUTA ASING DI JAKARTA.6 780.6 4.8 341.-Juli 1.8 330. Dalam bulan-bulan menjelang Idul Fitri.-4.50 4.-138.8 341.-323.1978/1979 Maret 627.75 133.443.067.4 455. Tabel III.62.5 146.25 139.882.2 461.-81.75 478.25 335.-1.72.1. Selama periode April-Oktober 1984.-160.75 383.13 5 .326. harga emas menurun sebesar 15.6 383.132.57 1.151 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa kota relatif stabil.81 1.153.-1.-184.2 125.5 308.-1. harga emas 24 karat..1976/1977 Maret 415.1984/1985 April 1.5 persen dan 5.196.145.1970/1971 Maret 378.25 448.011.4 3.488.1.25 322.2 4. yaitu bulan Juni dan Juli 1984.5 1982/1983 Maret 761.8 318.-341..035.020.28 1.062. sedang harga tertinggi terjadi di kota Medan dengan harga Rp 900.75 347.5 2.-980.-463.75 Agustus 1.-338.-11 7.4. perkembangan harga barang-barang konsumsi Utama dapat dilihat dalam Tabel IlI.80 486.322.20 4.527.2 465.5 274.153.33 1.4 1983/1984 Juni 979.123.75 131.345.006.167.365.3.2 314.75 133.8 Maret 1.5 349.2 312.2 478.-444.362.316.25 422.064.276.2 persen.6 September 1.25 491.75 427.Nopember Swiss F NFL 110. 1969/1970 -1984/1985 (hargajual/dalam rupiah per satuan) Tahun anggaran/ rata-rata bulan DM US $ Yen £ HK$ Sing $ 1969/1970 Maret 379.47 1.25 1.481.25 348.1975/1976 Maret 415.41 1.-80.-365.8 persen.492.8 3. baik di posaran lokal maupun di posaran internasional.3 persen.36 1.4 September 989.75 2.-858.09 1.6 329.8 3.-173.88.15 1.1971/1972 Maret 413. harga tekstil tidak mengalami kenaikan yang berarti.4.25 950.5 304.147.per meter.50 115.-4. Bila dibandingkan penurunan harga emas di pasar Jakarta dengan di pasar London.7 persen.167.6 1979/1980 Maret 632.1972/1973 Maret 414.041. bahkan di kota Semarang dalam bulan Juli 1984 harga menurun sebesar 0.75 370.75 483.153.2.131.-251.-143.4.89.1974/1975 Maret 416.sampai Rp 900.2 456.3.465.6 Desember 996.5 63.-140.166.-179.422. Di samping itU penurunan harga Departemen Keuangan RI 78 .373.per meter.024.6 370.52 1. Selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember.5 433.75 372.4 469.40 134.-125. 23 karat dan 22 karat di pasar Jakarta telah menurun masing-masing sebesar 7. maka terlihat bahwa di pasaran Jakarta harga emas mengalami penurunan yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan penurunan yang terjadi di pasar London.20 4.2 Juni 1.per meter.-1977/1978 Maret 412.4 1.46 1.5 432.139.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

emas tersebut juga merupakan akibat bertambahnya permintaan terhadap matauang dollar Arnerika. Bila dilihat perkembangannya setiap bulan, harga emas 24 karat, 23 karat dan 22 karat selama tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember 1984 umumnya mengalami penurunan. Khususnya dalam bulan Juli 1984, masing-masing mengalami penurunan sebesar 4,6 persen, 4,5 persen dan 4,1 persen. Sedangkan selama empat bulan terakhir yaitu bulan Agustus, September, Oktober dan Nopember 1984, harga emas 24 karat, 23 karat dan 22 karat relatif stabil yaitu tetap raJa harga Rp 11.500,-, Rp 11.000,- dan Rp 10.500,- per gram. perkembangan harga emas dapat dilihat dalam Tabel III.6.
Tabel III. 6 HARGA EMAS DI PASAR JAKARTA DAN DI PASAR LONDON, 1969/1970 - 1984/1985 ( dalam rupiah per gram) London Tahun anggaran / Jakarta 24' 23 ' 22' US $/ 1 fine oz rata-rata bulan 1969/1970 Maret 490,-470,-450,-35.32 1970/1971 Maret 510,480,450,-37.38 1971/1972 Maret 620,-580,450,-48.40 1972 / Maret 1.050,1.000,950,-90.00 1973/1974 Maret 1.775,-1.675,1.575,-111.75 1974/1975 Maret 2.312,50 2.212,50 2.100,-177.50 1975 / Maret 1.837,50 1.737,50 1.637,50 129.55 1976/1977 Maret 2.050,1. 950,-1.850,149.13 1977/ 1978 Maret 2.350,-2.260,-2.150,-179.75 1978/1979 Maret 5.080,-4.880,4.680,239.75 1979/1980 Maret 10.750,9.750,-9.000,547.25 1980/ 1981 Maret 10.100,9.593,75 9.100,-576.75 1981 / Maret 7.150,-6.725,-6.375,316.25 1982/1983 Maret 9.980,9.534,9.048,413.00 1983/1984 Juni 12.580,- 11.940,-11.320,-415.00 September 12.800,-- 12.000,-11.500,-385.00 Desember 12.340,-- 11.690,-11.090,375.00 Maret 12.390,- 11.890,-11.140,393.00 1984/1985 April 12.237,50 11.662,50 11.025,-383.75 Mei 12.080,11.480,11.860,384.70 Juni 12.300,11.750,11.000,371.50 Juli 11.737,50 11.225,10.550,336.10 Agustus 11.500,-- d.OOO..10.500,347.11 September 11.500,-- 11.000,-10.500,-346.68 Oktober 11.500.11.000,10.500,336.00 Nopember 11.500,-11.000,10.500,330.80

Meningkatnya kurs matauang dollar Amerika sejak awal tahun anggaran 1984/1985 masih terus berlangsung sampai dengan bulan Nopember 1984. Selama periode AprilNopember 1984, kurs matauang tersebut meningkat sebesar 4,6 persen yaitU dari Rp 1.020,menjadi Rp 1.067,20 per dollarnya. Dari perkembangan kurs dollar setiap bulannya terlihat bahwa kurs dollar Amerika telah mengalami peningkatan tertinggi dalam bulan September 1984 yaitu sebesar 2,1 persen, sedangkan dalam bulan-bulan lainnya selama periode tersebUt
Departemen Keuangan RI

79

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

hanya meningkat antara 0,1 sampai 1,7 persen. Kurs dollar Hongkong terus meningkat dengan peningkatan terbesar terjadi dalam bulan September 1984, yaitu sebesar 2,4 persen. Secara urn urn dapat dikatakan bahwa peningkatan yang cukup besar raJa kurs dollar Amerika, maupun pada kurs dollar Hongkong dalam bulan tersebut disebabkan permintaan dalam jumlah yang relatif besar di posaran. Keadaan sebaliknya telah terjadi pada harga matauang Asia yaitu Yen, dollar Singapura dan beberapa matauang Eropa Barat, yang permintaannya tidak menentu sehingga berakibat tidak stabilnya kurs matauang tersebut di pasaran. Bila dilihat perkembangan kurs Yen setiap bulan, maka selama delapan bulan dalam tahun anggaran 1984/1985 atau dalam periode April-Nopember 1984, telah terjadi penurunan dalam bulanbulan Mei, Juni, Juli dan Oktober 1984, sedangkan sebaliknya dalam bulan-bulan lainnya terjadi peningkatan antara 1,1 sampai 1,5 persen. Pola yang hampir sarna terjadi raJa kurs dollar Singapura yang mengalami kenaikan kurs tertinggi dalam bulan Agustus 1984 yaitU sebesar 1,8 persen, sedangkan dalam bulan Juli 1984 mengalami penurunan sebesar 0,8 persen. Secara keseluruhan selama periode April-Nopember 1984, kurs Yen menurun sebesar 1,3 persen, sedang kurs dollar Singapura meningkat dengan 3,7 persen. Perkembangan beberapa matauang
Eropa Barat yaitu Poundsterling Inggris, Mark Jerman, Franc Swiss dan Guilder Belanda dalam periode yang sarna secara umum menunjukkan penurunan masingmasing sebesar 8,2 peTscH, 7,5 persen, 6,9 per:sen dan 7,2 persen. Penurunan kurs matauang Poundsterling Inggris dalam bulan Oktober 1984 sebesar 2,8 persen merupakan penurunan yang terbesar diantara penurunan yang terjadi selama kurun waktu April-Nopember 1984. Sedangkan kurs matauang Mark Jerman dan Franc Swiss mengalami penurunan terbesar dalam bulan Juli 1984 masing-masing sebesar 2,5 persen dan 3,9 persen, demikian pula kurs Guilder Belanda mengalami penurunan terbesar dalam bulan September 1984 sebesar 3,0 persen. Perkembangan kurs beberapa valuta asing di pasar Jakarta dapat dilihat dalam Tabel III.8

3.2.4. Harga barang-barang ekspor Memasuki tahun pertama Repelita IV, atau tepatnya pada tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember, harga komoditi ekspor di posar lokal Jakarta yaitu lada putih dan kopi robusta telah mengalami peningkatan masing-masing sebesar 5,6 persen dan 2,0 persen, sedangkan komoditi karet dan kopra selama periode terse bUt telah menurun sebesar 23,8 persen dan 16,7 persen. Secara umum dapat dikatakan bahwa peningkatan dan penurunan harga yang terjadi di posaran lokal adalah akibat perkembangan harga yang terjadi di pasaran internasional. Mengamati perkembangan harga di posaran internasional dalam kaitannya dengan

Departemen Keuangan RI

80

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

ekspor beberapa komoditi Indonesia, terlihat bahwa beberapa komoditi mempunyai prospek yang baik sekali dalam usaha pengembangan ekspor. Hal ini tercermin pada Tabel 111.8, dimana komoditi lada putih, lad a hiram, kopi robusta eks Lampung, dan timah putih selama tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Nopember 1984 mengalami pemasaran yang makin baik. Selama periode April-Nopember 1984, harga lada putih di posar London, dan lada biram di posar New York telah meningkat masing-masing sebesar 21,9 persen dan 21,0 persen. Menguatnya harga lada putih dan lada biram tersebut adalah akibat menurunnya persediaan, karena memburuknya panen lada dunia dalam tahun 1983/1984 yang diperkirakan masih terus berkelanjutan dalam tahun pallen 1984/1985. Harga kopi robusta eks Lamrung di posar Singapura dalam periode yang sarna naik sebesar 14,1 persen, walaupun di pasar New York sebagai pusat pemasaran kopi dunia dalam periode terse but mengalami penurunan sebesar 5,3 persen. perkembangan harga timah putih di posar London selama periode April-Nopember 1984 menunjukkan kenaikan sebesar 13,5 persen. Peningkatan tersebut bukan merupakan akibat dari meningkatnya permintaan, akan tetapi akibat menurunnya nilai Pound sterling Inggris di pasaran moneter internasional. Perkembangan yang sebaliknya telah terjadi pada harga kopra di posar Manila, dan di posar London serta minyak sawit eks Malaysia di pasar London, yang selama periode April-Nopember 1984 mengalami penurunan masing-masing sebesar 17,0 persen, 17,8 persen dan 15,7 persen. Demikian pula halnya dengan harga karet RSS III di posar New York, London dan Singapura, selama periode tersebut telah mengalami penurunan masing-masing sebesar 27,7 persen, 17,2 persen dan 28,2 persen. Penurunan harga karet sintetis, sehubungan dengan menurunnya harga minyak bumi, merupakan salah sarli sebab menurunnya harga karet tersebut. perkembangan harga komoditi di posar lokal, dan di posar internasional dapat dilihat pada Tabel III.7, Tabel III.8

Departemen Keuangan RI

81

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Tabel III. 7 HARGA BEBERAPA BARANG EKSPOR DI JAKARTA, 1969/1970 - 1984/1985 ( dalam rupiah per kilogram) Tahun anggaran/ Kopra rata-rata bulan (Sulawesi) RSS I Lada putih Kopi robusta 1969/1970 Maret 125,66 50,18 295,-126,57 1970/1971 Maret 106,1 65,4 199,25 156,1971 /1972 Maret 103,12 58,2 257,6 120,62 1972/1973 Maret 199,77 79,7 431,4 293,09 1973/1974 Maret 305,56 192,43 752,19 360,46 1974/1975 Maret 178,35 94,51 526,25 245,82 1975/1976 Maret 243,59 89,18 455,37 507,1976/1977 Maret 278,29 215,5 1.100,2.090,1977/1978 Maret 306,47 233,33 917,5 862,5 1978/1979 Maret 626,66 256,67 1.276,25 1.169,1979/1980 Maret 777,94 242,26 1.162,50 1.225,1980/1981 Maret 690,21 263,4 822,5 968,75 1981/1982 Maret 508,48 243,8 880,-783,6 1982/1983 Maret 701,09 219,8 956,-1.025,1983/1984 Juni 1.041,64 313,26 1.270,1.200,-September 992,74 363,78 1.450,1.150,Desember 1.103,43 467,32 2.510,1.250,Maret 1.006,25 535,07 2.665,1.275,1984/1985 April 939,44 560,38 2.540,1.300,Mei 889,84 540,65 2.660,1.325,-Juni 791,42 577,25 2.670,1.300,Juli 795,54 543,48 2.440,1.300,Agustus 820,36 493,15 2.600,1.325,September 853,37 432,74 2.925,1.350,Oktober 797,9 445,77 2.850,1.235,Nopember 766,78 445,77 2.815,1. 300,-

Tahun anggaran/ rata-rata bulan

Tabel III..8 HARGA BEBERAPA BARANG EKSPOR UTAMA DI PASAR INTERNASIONAL, 1969/1970 - 1984/1985 RSS III Kopra Kopi robusta Lada putih Lada hitam Timah putih Minyak US $/lt US $flt Str $1 pic us $ ct/lb Br tIlt US $ ct/!b Br £ I mt Br tIlt US $ ct/lb Brp I kg Str $ ct/kg York) (London) (Singapnra) (Manila) (London) Lampung eks Palembang (London) (New York) (London) Malaysia (Singapura) (New York) (London) 20,88 17,08 16,01 26,4 42,43 27,83 35,88 39,67 43,52 51,7 69,43 65,06 43,24 54,36 53,29 58,11 57,2 56,84 54,54 50,7 47,01 45,47 45,59 45,58 42,33 41,1 20,65 14,6 12,6 24,59 39,98 24,89 41,22 38,86 48,34 59,87 66,35 57,25 48,24 73,58 71,81 75,48 81,21 80,2 77,64 73,41 68,01 70,07 70,3 71,38 68,59 66,41 59,35 98,83 83,2 137,45 203,96 117,8 179,05 186,44 196,43 247,44 300,91 240,63 163,5 200,56 219,33 221,23 228,53 225,31 215,08 198,55 182,17 179,2 180,04 179,78 167,30' 161,87 205,-176,28 115,92 201,5 767,67 258,93 178,46 456,76 664,5 520,76 406,25 327,05 329,58 479,01 645,-655,33 747,726,83 845,-723,25 658,5 648,54 703,13 620,240,53 208,55 141,84 221,21 899,6 304,6 192,5 551,5 437,06 796,45 516,75 389,43 330,25 321,69 472,92 638,01 653,4 744,15 735,75 800,17 829,4 728,682,6 642,13 747,63 611,54 82,38 117,13 95,5 90,-165,93 118,53 215,38 815,23 280,-285,-395,-399,-356,94 292,5 332,5 362,5 480,5 487,5 487,5 487,5 551,37 551,-551,-562,25 566,556,-33,65 39,28 36,43 42,28 62,31 42,86 78,15 294,56 120,67 154,75 104,52 114,48 114,69 117,49 117,42 126,04 128,15 127,45 133,5 132,75 127,66 127,2 128,2 122,26 121,42 49,77 42,73 47,4 60,5 98,93 88,3 102,55 164,6 188,75 150,62 139,-100,-128,88 132,-126,56 135,-243,-244,8 245,-245,245,-245,241,01 274,5 317,5 298,5 57,72 55,6 45,52,25 79,92 90,-79,14 117,31 116,67 86,52 95,67 83,-73,-64,"71,63 66,84 98,7 90,07 92,45 96,8 97,6 92,5 91,88 105,1 114,8 108,94 1.578,54 1.472,20 1.477,60 1.736,50 3.524,-3.043,26 3.594,05 6.155,94 5.917,50 7.328,7.906,83 6.084,13 7.070,78 8.957,10 8.581,41 8.506,16 8.616,20 8.523,48 8.762,42 9.055,25 9.170,38 9.412,60 9.352,08 9.594,25 9.596,50 9.676,94 109,58 117,6 81,35 115,-276,87 197,85 591,74 319,5 679,61 612,602,33 505,17 376,5 400,66 648,85 705,79 739,5 767,23 905,63 817,33 590,28 566,6 616,-631,75 623,39

1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984

1984/1985

Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Juni September Oesember Maret April Mei Juni Jull Agustus September Oktober Nopember

Departemen Keuangan RI

82

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

3.2 .5 .Indeks harga perdagangan besar Indonesia Dalam tahun 1983, indeks harga perdagangan besar meningkat sebesar 18,2 persen, atau dari indeks 302 dalam tahun 1982 menjadi 357 dalam tahun 1983. Kenaikan tersebut disebabkan oleh meningkatnya indeks harga sektor pertanian sebesar 13,7 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 9,0 persen, sektor industri sebesar 17,1 persen, sektor impor sebesar 20,9 persen, dan sektor ekspor sebesar 19,5 persen. Dalam perkembangannya yang terakhir, yaitu dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus, indeks harga perdagangan besar terse but meningkat sebesar 11,5 persen, sebagai hasil dari kenaikan indeks harga sektor pertanian sebesar 12,0 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 8,6 persen, sektor industri sebesar 12,3 persen, serta indeks sektor impor dan sektor ekspor masing-masing sebesar 10,7 persen dan 11,9 persen. Peningkatan indeks harga sektor pertanian terjadi pada indeks harga masing-masing sub sektor tanaman perdagangan, bahan makanan, peternakan, perikanan, serta sub sektor perkayuan dan hasil-hasil hutan. Indeks harga sektor pertambangan dan penggalian meningkat karena peningkatan yang terjadi antara lain pada indeks harga sub sektor batubara, sub sektor penggalian, dan sub sektor garam. Pada indeks harga sektor industri, peningkatan telah terjadi pada indeks harga semua sub sektornya, yaitu antara lain sub sektor industri minyak nabati dan lemak, serta sub sektor industri pengilangan minyak dan hasilhasilnya. Di sektor impor, kenaikan terjadi pada indeks harga sub sektor hasil industri pemintalan, perajutan, tekstil dan lainnya, sub sektor hasil industri kertas dan hasil-hasilnya, serta sub sektor hasil industri pengilangan minyak. Demikian pula halnya dengan indeks harga perdagangan besar bahan ekspor, peningkatan terjadi pada indeks harga masing-masing sub sektor bahan makanan dan sejenisnya, biji logam bukan besi, serta sub sektor hasil-hasil tanaman perdagangan dan ternak. Perkembangan Indeks harga perdagangan besar Indonesia dapat dilihat dalam Tabel III.9.
Tabel III. 9 ANGKA INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR INDONESIA, 1977 -1984 ( 1975 = 100 )

S e k tor I. Pertanian 2. Pertambangan dan penggalian 3. In d u s t r i 4. Impor 5. E k s p o r Indek Umum Kenaikan indeks (%)
1) Sampai dengan buIan Agustus

1977 145 130 128 108 116 122

1978

1979 213 175 178 153 246 195
71,05

1980

1981 302 266 234 191 414 282
11,46

1982

1983 382 339 301 243 514 357
18,21

1984 1)

-

162 144 139 118 127 114 -6,56

262 218 210 174 375 253
29,74

336 311 257 201 430 302
7,09

428 368 338 269 575 398
11,48

Departemen Keuangan RI

83

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

3.2.6. Indeks harga perdagangan besar bahan bangunan/konstruksi Perkembangan indeks umum harga perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi dalam tahun 1983 telah menunjukkan peningkatan sebesar 11,8 persen. Kenaikan tersebut tercermin dati kenaikan yang terjadi pada masing-masing indeks harga jenis bangunan tempat tinggal sebesar 11,0 persen, jenis bangunan bukan tempat tinggal sebesar 12,3 persen, jenis pekerjaan umum untuk pertanian sebesar 13,0 persen, jenis pekerjaan umum untuk jalan dan jembatan sebesar 11,5 persen, jenis bangunan listrik dan transmisinya sebesar 12,2 persen, bangunan dan konstruksi lainnya sebesar 11,9 persen, sella indeks harga untuk jenis perbaikan bangunan sebesar 12,5 persen. Pada perkembangannya yang terakhir yaitu pada tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus, indeks umum harga perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi telah meningkat sebesar 7,2 persen. Peningkatan terse but disebabkan oleh peningkatan masing-masing pada indeks harga jenis bangunan pekerjaan umum untuk pertanian sebesar 8,9 persen, jenis bangunan pekerjaan uIhum untuk jalan dan jembatan sebesar 7,5 persen, serta indeks harga jenis bangunan lainnya yang berkisar antara 5,9 persen dan 7,4 persen. perkembangan angka indeks harga perdagangan besar bahan bangunan/konstruksi dapat dilihat pada Tabel III.10.
Tabel III. 10 ANGKA INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR BAHAN BANGUNAN/KONSTRUKSI DI INDONESIA MENURUT lENIS, 1977 -1984 ( 1975 = 100 ) Jenis 1. Bangunan tempat tinggal 2. Bangunan bukan temp at tinggal 3. Pekerjaan umum untuk pertanian 4. Pekerjaan umum untuk jalan dan jembatan 5. Bangunan listrik dan transmisinya 6. Bangunan dan konstruksi lainnya 7. Perbaikan bangunan Umum Persentase perubahan 1) Sampai dengan bulan Agustus 1977 114 113 109 112 106 111 113 112 1978 123 124 120 123 116 123 122 122 8,93 1979 149 152 146 151 142 154 151 150 22,95 1980 175 177 192 183 160 182 179 177 18 1981 191 193 213 205 170 200 196 194 9,6 1982 209 211 239 226 181 219 216 212 9,28 1983 232 237 270 252 203 245 243 237 11,79 1984 248 254 194 271 215 261 261 254 7,17

3.3. Gaji dan upah di berbagai sektor ekonomi Peraturan pengupahan secara regional, sektoral, maupun sub sektoral senantiasa mengalami peningkatan dati tahun ke tahun. Sampai dengan tahun _pertama pelaksanaan Repelita IV sampai dengan bulan September, secara kumulatif telah dihasilkan 16 buah peraturan pengupahan secara regional, 58 buah peraturan pengupahan secara sektoral, dan 300

Departemen Keuangan RI

84

214 209. Pada Tabel III.235 50.676 554.279 53.105 21.889 645.527 228.5 persen sampai 18.570 36.700 10.738 370.994 231. Bila perkembangan upah selama periode Januari-Juni 1984 dibandingkan dengan periode Januari-Juni 1983. Perhubungan 8.624 359.101 37.280 150.182 22.270 26.720 25.927 32.778 135.752 241.5 persen.025 33.051 29.235 84.207 72.4 persen.116 30.128 29.137 29.5 persen dan 22.9 persen. sedangkan sektor-sektor lainnya hanya meningkat antara 2.187 28. Perdaganganlbank/asuransi 7. 11 UPAH MINIMUM DAN MAKSIMUM DI BERBAGAI SEKTOR.3 persen. Pertambangan 3.452 25. kenaikan terjadi pada sektor perdagangan/bank/asuransi sebesar 43.595 189.021 351.725 496.760 295.665 322.200 14.158 16.299 440.242 117.255 26.078 342.662 50.4 persen dan sektor bangunan sebesar 24.500 21.348 455.046 250.400 1983 27.826 36.400 Sektor ( Rata-rata upah minimum) 1.318 32. 1975 -1984 ( rupiah per bulan) 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 8.166 150.5 persen.078 307.5 sampai 18.412 307.112 41.300 118.928 689.665 14.500 191.881 17.475 56. Jasa-jasa 9.278 35.245 50.328 554.395 465.0 persen sampai 12.158 16.424 320. Perhubungan 8.280 176.193 35. Bangunan 5.405 228.919 46.030 172.181 171.211 269.039 89.233 241.400 277.840 219.974 73.025 556.6 persen.606 27.009 60. Jasa-jasa 9.647 205.991 125.185 72.146 527.262 25.1 persen. Lain-lain/pegawai negeri ( Rata-rata upah maksimum ) 1.540 65.993 44.723 532. sektor bangunan.7 persen.2 persen.606 60.6 persen.590 89. sedangkan sektor listrik tidak mengalami perubahan.300 138. sedangkan sektor perkebunan.832 320. sektor jasa dan sektor lainnya meningkat sekitar 4.039 70. Dalam hal upah maksimum.6 persen.843 63.165 524.056 58.782 23. kenaikan upah minimum terjadi terutama pada sektor bangunan dan sektor perkebunan yaitu masing-masing sebesar 38.099 17.827 297. Lain-Iain/pegawal negeri 1982 25.400 19841) 31.246 287.178 251.200 712.7 persen dan 17.742 14.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 buah peraturan pengupahan secara sub sektoral. Perdaganganlbank/asuransi 7.411 448.400 289.491 32.339 291.178 24.299 29. Perkebunan 2.718 40. kecuali pada sektor pegawai negeri yang tidak mengalami perubahan dalam upah minimum maupun upah maksimum.914 35.381 20.416 205.503 492. Perkebunan 2.956 294.517 39. Industri 4. Industri 4.11 dapat dilihat bahwa dalam tahun 1983 upah minimum di semua sektor telah meningkat antara 4.799 268.423 57.2 persen.337 409.520 780.721 550.695 248.121 67.485 69.536 275. Sampai dengan semester I tahun 1984.179 333.658 509.114 29.550 Departemen Keuangan RI 85 . Tabel III.196 297.408 620.498 14. 23.754 27.118 34.530 280.977 16. dan sektor perdagangan/bank/asuransi masing-masing sebesar 24.632 393.158 14.972 33.589 20.280 172.200 17.362 72. sektor listrik.050 42.238 173.419 227. Sedangkan peningkatan upah maksimum terjadi disektor perhubungan. Dilain pihak penurunan terjadi pada sektor pertambangan sebesar 0.877 64.061 29.719 361.520 656. sektor perhubungan sebesar 28.650 834.681 36.618 415.429 32.0 sampai 32. Listrik 6.035 307.283 69. Demikian pula halnya dengan upah maksimum dalam tahun 1983 meningkat antara 3.500 9.391 32.932 41.606 465.494 34.314 158.287 83.893 27.400 262.361 381.262 19.745 712. dan sektor perkebllnan masing-masing sebesar 36.975 672.036 309.209 48.510 46.254 382. Pertambangan 3. 19.200 12.262 29.1 persen dan 18. upah minimum di semua sektor mengalami peningkatan yaitu pada sektor bangunan.837 13. sektor industri. Bangunan 5 Listrik 6.528 442.595 174.752 241.069 42.

senantiasa disempurnakan dengan ikut sertanya Bank Indonesia untuk menjaga perkembangan suku bunga antar bank. Untuk lebih menunjang usaha peningkatan dana masyarakat. yang pada dasarnya bertujuan untuk ineningkatkan pengerahan dana masyarakat melalui pemberian tanggung jawab yang lebih besar kepada bank-bank untuk menetapkan sendiri persyaratan-persyaratan penghimpunan dana dari dan pemberian kredit kepada masyarakat. Sedangkan untuk mengembangkan jual beli surat berharga di posar modal. bertujuan untuk meneruskan usaha kearah tercapainya sa saran pembangunan sesuai dengan trilogi pembangunan. Di samping itu penerbitan sertifikat deposito terus dilanjutkan. serta meningkatkan efisiensi dan peranan lembaga-lembaga keuangan. dan kredit likuiditas Bank Indonesia kepada bank-bank untuk sektor ekonomi yang bukan prioritas dihentikan. Dalam tahun pertama Rep. dengan beberapa penyesuaian dalam ketentuan dan persyaratan. pagu kredit perbankan dihapuskan. dan keringanan pajak atas pendapatan bunga dividen dan royalty (PBDR) juga berlaku bagi pembelian obligasi. Beberapa tujuan pokok yang akan dicapai adalah peningkatan usaha mobilisasi tabungan masyarakat melalui bank dan lembaga keuangan bukan bank. serta pengembangan usaha golongan ekonomi lemah. Departemen Keuangan RI 86 . Sejalan dengan hal tersebut. meningkatkan usaha pemerataan pembangunan dengan meningkatkan golongan ekonomi lemah.1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB IV MONETER DAN PERKREDITAN 4.dita IV. Untuk itu fasilitas kredit likuiditas tetap disediakan untuk pinjaman yang berprioritas tinggi. sebagai salah satu pilihan bagi masyarakat untuk menanamkan kelebihan dananya. kebijaksanaan moneter telah memasuki tahun kedua penataan kembali sistem perbankan Indonesia. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan usaha pemerataan pembangunan. tatacara penyelesaian transaksi effek di bursa telah disederhanakan. Pendahuluan Kebijaksanaan moneter dalam Repelita IV. Transaksi di pasar uang antar bank melalui kliring di Jakarta. dan tabungan lainnya. yang mempunyai kaitan erat dengan kebijaksanaan fiskal dan perkembangan neraca pembayaran. Pemerintah senantiasa mendorong peningkatan produksi barang-barang kebutuhan rakyat. memelihara kestabilan perekonomian dengan menjaga kestabilan harga. telah diambil kebijaksanaan untuk tidak memungut atau menangguhkan pemungutan pajak penghasilan atas pendapatan bunga deposito berjangka.

yaitu dari posisinya sebesar Rp8. Peranan uang giral yang cukup tinggi di dalam komponen uang beredar tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat di dalam menggunakan jasa-jasa perbankan. dan meliputi pembinaan terhadap lembaga perbankan. Usaha untuk meningkatkan peranan pembiayaan pembangunan dengan dana dari masyarakat.9 milyar. serta peningkatan peranan pasar uang dan modal. lembaga keuangan bukan bank.mg dapat dibayar. dan uang giral sebesar Rp 27.054.563.0 milyar pada akhir bulan September 1984. Dengan demikian secara keseluruhan sampai dengan bulan September 1984.2.529. dan perasuransian.1 milyar atau 56 persen dari jumlah uang beredar.5 persen). sejak 1 Pebruari 1984 telah diterbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).7 milyar pada akhir bulan Maret 1984. Peningkatan tersebut terdiri dari peningkatan uang kartal sebesar Rp 10. di samping ketentuan untuk memelihara cadangan wajib minimum bank-bank yang sejak 1 Januari 1978 besarnya adalah 15 persen dari kewajiban y. Jumlah uang beredar dan sehab-sehab perubahannya Jumlah uang beredar selama 6 bulan pertama tahun anggaran 1984/1985 telah mengalami peningkatan sebesar Rp 38.4 milyar.093. serta perluasan jaringan kliring lokal di tempattempat yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia. 4. menjadi Rp 8. SBI ini dapat digunakan (melalui operasi posar terbuka) untuk menanamkan kelebihan dana likuiditas dari bank yang belum dioperasikan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai sarana pengendalian moneter. Bank Indonesia menyediakan fasilitas diskonto yang merupakan upaya terakhir bagi bank-bank dalam usahanya untuk memperoleh tambahan dana. pembinaan lembaga-lembaga keuangan senantiasa ditingkatkan. posisi uang kanal adalah sebesar Rp 3. Departemen Keuangan RI 87 . Sebaliknya sebagai sarana untuk menanggulangi kekurangan likuiditas. Sementara itu peranan lembaga keuangan bukan bank (LKBB) ditingkatkan dengan diberikannya fasilitas diskonto ulang dalam perdagangan surat-surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan. Terhadap bank umum swasta nasional juga diberikan keringanan dalam persyaratan pembukaan kantor cabang. dan uang giral sebesar Rp 4. Pembinaan disektor perbankan diarahkan untuk mengembangkan sistem perbankan yang sehat.3 milyar (0. Pembinaan bank pembangunan daerah dilaksanakan melalui program pemberian bantuan teknis dan pendidikan.9 milyar atau 44 persen dari jumlah uang beredar. baik bank Pemerintah maupun bank swasta nasional.

9 2.2 3.20 -146.835.1 -143.8 -92.3 17.8 387.77 Maret 476.5 -203.60 46 4.90 43 4.815.505.774.4 -190.10 -146.8 -1.4 675.5 -146.1 33.306.40 387.333.9 -973.6 1971/1972 Maret 153.5 Agustus 2) -35.036.90 47 2.2 127.615.1 55 239.2 -105.7 -650.379.50 44 4.8 112.6 1.553.90 44 4.8 September 671 -871 608.7 3.5 16.90 400.20 1.182.1 1972/1973 Maret 124.302.50 43 4.7 Departemen Keuangan RI 88 .5 1975/1976 Maret -319.6 -830.6 -497 42.136.563.3 291.1984/1985 (dalam milyar rupiah) Tagihan pada perusahaan & Perorangan l) 1969/1970 Maret -7 -4.5 27.417.3 2.420.8 3.5 2.5 -162.8 158.9 395.1 53 100.684.4 472.1984/1985 ( dalam milyar rupiah) Uang Uang Persentase kartal giral % % Jumlah Perubahan Perubahan 126.10 56 8.3 254 47.985.40 -596.715.093. 2 SEBAB .5 1973/1974 Maret 154.6 1977/1978 Maret 441.2 421.563.2 353 Juli 2) -35.30 -1.983.7 126 210.036.5 -192.50 57 5.20 51 2.631.70 41 4.30 -559.417.00 158.1 1970/1971 Maret -4.80 44 4.8 39 853.2 210.9 3.2 -123.5 675.60 56 7.40 1984/1985 April 130.90 55 8.572.50 -374 -65 -124.00 -89.6 48 1.431.4 697.30 44 4.8 -101.4 Desember 406.7 1978/1979 Maret 985.20 56 8.265.2 59.3 549.6 -266 527.541.560.797.3 3.5 90.10 2.7 485.4 -686.60 809.10 51 2.9 Lainnya bersih -32.099.10 1983/1984 Juni 429 -347.50 604.9 458.20 1981/1982 Maret -67.90 689 32.8 -220.7 -1.9 3.3 90.50 -105.605.4 -170.5 -39.70 54 7.7 8.9 -89.8 -1.2 46 784.90 -1.80 49 1.40 126 1.427.508.30 55 7.90 199.529.90 295.719.1 170 254 242.4 -175 -1.3 227.70 57 8.1 -445.1 151.560.8 400.70 1.283.6 -1.40 604.9 142.10 37.072.1 4.2 853.1 Maret 1.368.2 -417.10 1.054.8 188.6 2.110.000.4 -138. 1969/1970 .4 40 210.6 199.6 -72.825.501.50 1.50 279.633.2 158.4 47 962 53 1.40 62 6.035.8 -180.9 538.8 September 2) -215.1 -157.4 38 270.30 -101.9 718.8 3.60 17.4 -123.7 -16.653.934.799.410.90 210.8 -164.00 1982/1983 Maret 16.90 56 7.1 Kumulatif 2.605.6 -83.9 361.9 -50.6 -7.30 38 4.9 -146.7 -654.027.214.6 54 1.3 332.2 198 1) Termasuk tagihan pada badan/lembaga dan perusahaan Pemerintah 2) Angka sementara Akhir waktu Aktiva Luar negeri Pemerintah pusat Simpanan berjangka & Tabungan -27.378.SEBAB PERUBAHAN JUMLAH UANG BEREDAR.70 43 2.10 242.9 61.6 1974/1975 Maret 1 23.1 54 363.20 51 8.5 -1.3 -312.9 1.1 1.50 29.4 -395 810.023.7 Juni 241.1 -369.3 2.7 -471.1 -2. 1 JUMLAH UANG BEREDAR.5 28.2 Perubahan 79.075.3 190.70 485.1 -277.2 1.4 1980/1981 Maret 2.10 997.2 -13.5 295.6 -418 1.836.7 2 Akhir Waktu 1969/1970 Maret 1970/1971 Maret 1971/1972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Joni September Desember Maret Kumulatif 1984/1985 April Mei Juni Juli I) Agustus 1) September 1) I) Angka sementara Tabel IV.273.4 Mei 160.9 0.2 -195 -134.1 166.9 59.5 -194.70 49 4.296.5 52 488.8 457 5.2 45 530.5 689 997.80 1979/1980 Maret 2.70 49 1.3 9.3 170 47.233.10 1976/19.4 -25.1 3.1 -1.7 79.9 307.5 6.8 -88.3 46 768.70 59 7.8 62 103.70 45 4.9 3.3 60 84.178.3 58 150 42 360.221.2 -684.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.2 35.5 3.491.3 1.569.046.228.20 45 4.40 -1.2 3.409.40 57 7.773.20 53 3.497.235.8 -610. 1969/1970 .8 31 659.

4 milyar.800.800.l dan Tabel IV. masing-masing sebesar Rp 244. 'Perkembangan jumlah uang beredar. sektor Pemerintah pusat tersebut memberikan pengaruh mengurang sebesar Rp 1.4 persen).4 milyar. kecuali terhadap deposito berjangka waktu 24 bulan yang bunganya ditetapkan sekurang-kurangnya 12 persen per tahun.1.3 persen) adalah dana giro.705. dan Rp 638. Peningkatan yang cukup besar pada sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan ini. dan sektor lainnya bersih juga memberikan pengaruh menambah pada jumlah uang beredar.2. sedangkan dana deposito dan . Sektor Pemerintah pusat selama semester pertama tahun anggaran 1984/1985 menunjukkan pengaruh mengurang. dana perbankan mencapai jumlah sebesar Rp 14. pada jumlah uang beredar sebesar Rp 1. dana perbankan senantiasa mengalami penyempurnaan sesuai dengan perkembangan.0 milyar.965.6 milyar (46. Usaha untuk meningkatkan tabungan masyarakat yang terus dilakukan Pemerintah tercermin dari besarnya pengaruh mengurang pada jumlah uang beredar yang ditimbulkan oleh sektor simpanan berjangka dan tabungan. dalam periode April-September 1984. sedangkan dana giro bank-bank Departemen Keuangan RI 89 .3 milyar (4. sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan memberikan pengaruh menambah yang cukup besar.6 milyar terse but sebagian besar berasal dari dana giro bank-bank Pemerintah. sebesar Rp 6.218. sedangkan dalam periode yang sama tahun yang lalu.020. satu dan lain adalah karena peningkatan kredit untuk pembiayaan di bidang perindustrian dan jasa-jasa. Dana perbankan Kebijaksanaan di bidang mobilisasi.3 persen).6 milyar. Sampai dengan akhir bulan September 1984. tabungan masing-masing adalah sebesar Rp 7. dan sebab-sebab perubahannya secara lengkap dapat diikuti pada Tabel lV. yaitu sebesar Rp 5.2 milyar.390.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Jika dilihat dari sektor-sektor yang mempengaruhi jumlah uang beredar.8 milyar. Dana dan Kredit Perbankan 4.034. serta sekaligus mengurangi ketergantungan bank-bank kepada dana likuiditas Bank Indonesia.4 milyar.9 milyar. kepada bank-bank Pemerintah telah diberikan tanggung jawab yang lebih besar di dalam usaha pengerahan dana. Di samping itu sektor aktiva luar negeri bersih.266. Bankbank Pemerintah diberi kebebasan dalam menentukan tingkat suku bunga deposito dan tabungan lainnya. Pengaruh menambah sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan tersebut menunjukkan suatu perkembangan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode yang sarna tahun lalu. Dari jumlah tersebut. 4. Dalam periode April-September 1984. Dana giro sebesar Rp 6.9 milyar dan Rp 238.9 milyar (49.3.3. yaitu sebesar Rp 1. yaitu sebesar Rp 970. sektor tersebut memberikan pengaruh mengurang sebesar Rp 1. Sejak Juni 1983.

80 1.378.10 1.0 2.90 28.9 845.30 6.1984 ( dalam milyar rupiah ) 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember.3 197.7 1.50 0.30 1.196.1 0.20 521. 7.70 933.80 1.3 159.50 4.3 1984 Juli 9.2 4.7 44.2 13.6 431.343.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 swasta nasional adalah sebesar Rp 1.80 107 14.750.8 372. Bank-bank Pemerintah Giro Deposito c Tabllngan II.8 299.010.8 milyar dan oleh cabang bank-bank asing sebesar Rp 0.40 514 2.167.6 Agust.9 8 11.4 1.70 1.1 8.7 1.815.2 242.1 132.70 412.2 44.792.4 158.40 566.4 Me i 9.80 688.8 858.40 4.8 0.7 2.60 591.50 105.058.7 303.802. 9.80 2.40 1.777.2 2.90 1.50 1.599. Sub total (II + III) Giro Deposito Tabungan V.7 20'\.40 3.20 2.698.10 104.60 6.8 32.30 1.590.6 90.3 66 89 117.30 537.00 1.5 83 113 134.50 1.1 Des. Tabel IV.3 417.261.914.3 1.657.2 4.3 1.70 456.483.70 233.80 4.867.1 203.2 703. Sub total (II + III ) Giro Deposito Tabungan 1) V.1 458.10 4.80 552.250.9 0.350.2 980.60 489 7.60 1.70 2.086.2 760.60 103.60 3. sehingga secara keseluruhan jumlah dana tabungan mencapai Rp 638.988.20 0.4 1.3 milyar.266.60 1.20 954.924.7 345.034.302.3 0.2 901.141.7 1.4 2.917.7 666.113.273.9 244 482.1 231.7 0.084.030.519.8 141 142.30 7.1 140.40 4.818.2 3.209.20 1.1 76.20 3.086.736.244.10 585 2.20 539.5 1.63.30 72.80 516.2 202 252.3 604.981.337.543.122.2 4.10 260.4 Sept.920.705.7 1. 723.90 8.074.1 13.766.2 302.80 1.20 1.30 6.254.40 1.292.00 1.20 2.858.502. Sedangkan dana tabungan yang berhasil dihimpun oleh bank-bank Pemerintah adalah berjumlah Rp 531.081.00 3.70 1.4 831.1 110.1 0.236.50 1.80 583.133.3 224 255.00 5.4 680.20 1.8 !i31.535.8 184.4 52.4 1.632.40 68.2 13.60 7.3 4.40 4.4 338.10 1.60 1.1 671.693.6 13.80 544.30 539.50 1.111.90 1. 3) Termasuk tabungan pegawai dan setoran ongkos naik hajj.243.80 5.888.151.449.30 106 13.466.60 26.50 1.863.3 10.80 2. Rp 4. dan Rp 1. 381. 770.2 3.90 653.471.068.376.908.2 114.40 5. 18.1 79.150.033. 3) Termasuk tabungan pegawai dan setoran ongkos naik haji.293.10 4.5 240 330.9 4.260.9 44.2 255 363 464.10 4.6 16 19.6 672.8 501.70 168.556.7 153.4 1.348. Rp 1.2 5.156.888.20 4.742.40 4.689.50 1.003.80 29.613.451.047.3 238.70 1.8 3.381.70 1.195.9 10.8 1.30 5.181.932.173.5 21.20 1.060.7 804.367.6 454.6 3.7 2.50 100.40 669.2 1.5 I.6 3.6 756.742.756.90 1.10 186.90 2.2 4.154. dan dana giro cabang bank-bank asing adalah sebesar Rp 513.9 1.2 milyar oleh bank-bank swasta nasional.8 50.90 2.1 0.50 6.2 4.20 106.4 1.4 1.5 222.90 638.4 146.30 94.8 224.270.660.4 1.429.8 382.106.753.00 74.3 106.00 1.6 462.080.5 225.256.70 0.40 570.20 2.9 55.4 205.688.3 48.233.624.20 1.941.3 560.8 1.7 0.3 366.3 1.194.00 6.6 313.60 1.1 1. 7 43.6 16.252.90 869.7 145.2 1983 Juni 7.80 1.1 164.60 94.058.60 1. Bank-bank swasta nasional Giro Deposito Tabungan III.00 5.485.60 0.3 Sept.9 2.30 559.00 6.60 543.2 1.410.097.896.40 4.3 4.20 508.00 109.034.1 810.6 Juni .3 810 0. Jumlah besar (I + IV ) 1) Giro Deposito 2) Tabungan 3) 1) Terdiri atas dana bank-bank umum.3 3.150.356.10 87.559.190.109.6 930.616.1.20 0. 1972 .2 milyar.267.525.7 2. oleh bank-bank swasta nasional sebesar Rp106.6 333.00 4.436.163.3 645.9 1.9 305.886.80 103 1.2 4.6 198.10 1.9 559.659.325.40 87 1.7 281.90 466.90 4.4 milyar.70 6.9 80.1 19.6 765.103.50 568. Cabang bank-bank asing Giro Deposito Tabungan IV.9 98.063.60 4.834.6 740.017.012.6 112.266.40 6.144. Dari dana yang dihimpun dalam bentuk deposito sebesar Rp7.170.243.70 6.4 35.6 72.7 997.399.5 1.0 1.543.6 3.927.9 114.80 1.650.2 1.650.539.10 1.023.458.60 4.3 1) Terdiri atas dana bank-bank umum.80 5.7 522.180.80 105. Bank-bank swasta nasional Giro Deposito Tabungan III.70 676.1 28.90 4.00 103.4 1.4 816.2 1.6 milyaroleh cabang bank-bank asing.10 103.40 0.80 4.10 531.707.800.618.9.9 Maret 9.1 1.8 436.3 986.40 1.30 6.695.6 milyar.5 218.446.2 11.131.4 362.882.90 541.70 688.582.80 1.106.7 32.20 513.737.379.80 3.471.10 6.787.7 890.853.20 1.4 769.252.60 4.412.266.395.2 371.6 68 1.40 1.50 1.30 100 1.9 32.8 71.034.40 2.189. bank pembangunan dan bank tabungan termasuk dana milik pemerintah pusat dan bukan penduduk.908.2 46 73.756.3 '52.4 1.80 4.6 553. Jumlah besar( I + IV) Giro Deposito 2) Tabungan 3) 6.10 6. 4) Angka sementara.463.7 765.426. 1982 Desember Maret I. 3 DANA PERBANKAN RUPIAH DAN V ALUTA ASING.10 4.398.8 149.003.200.2 489. 2) Termasuk sertifikat deposito.1 3.80 6. 2) Termasuk sertifikat deposito.259.168.10 505.720.4 117.60 6.781.7 71.30 109.009.40 2.2 4.555.90 543.263.230.80 2.8 392. 8.8 70 70. 718.2 421.396.20 2.3 milyar.40 2.60 6.526.20 1.9 581.10 2. 4) 9.4 200.7 419.10 3.8.239.470.80 3. bank pembangunan dan bank tabungan termasuk dana milik pemerintah pusat dan bukan penduduk.9 April 9.00 4. Cahang bank-bank asing Giro Deposito Tabungan IV.9 milyar.80 637.444.50 0.272. Bank-bank Pemerintah G ir 0 Deposito Tabungan II.927.2 3.582.2 77.6 14.00 64.099.40 1.40 3.236.2 77.122.2 187.5 94.398.00 1.015.210.1 milyar merupakan dana yang berhasil dihimpun oleh bank-bank Pemerintah.5 12.035.028.70 4.976.60 6.6 127.30 583.616.1 2.8 590. Departemen Keuangan RI 90 .287.00 1.9 8 11.

00 1.9 19.2 531.839.90 750 1.5 11.90 73.8 572.4 640.1 4.379.781.20 612.10 117. dan tabungan asuransi berjangka (Taska) adalah saran a penghimpun dana masyarakat yang lebih menonjolkan segi pendidikan kepada masyarakat terutama generasi muda untuk hidup berhemat.1 32.9 366 Des 5. berjangka waktu 24 bulan sebesar Rp 407.9 74 760.697.10 960.8 153.80 679.045.3 483.458.8 2.194.40 128 574 391 Agust 7.8 25.540.5 59.80 785.081.4 106.6 1.9 331 Maret 6.9 370.4 94.650.10 1.7 122 2.886.668.50 372. berjangka waktu 3 bulan sebesar Rp 990.33 7.787.613.9 492.8 17.8 117.70 684 1.1 32.920.4 471.90 407.20 879.6 41.5 120 1.550.5 580.0 persen).3 82.2 81.7 357 April 6.80 1.5 84 581.2.9 445.8 milyar (5.1 28.80 480. TABANAS DAN TASKA.20 1.1984 ( dalam milyar rupiah.80 591.3 136. kebijaksanaan mengenai Tabanas telah memberikan kesempatan bagi para penabung untuk menikmati tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari pada sebelumnya.1 122. kecuali dalam juta rupiah untuk Taska) 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Deserrtber Deposito berjangka 24 bulan 12 bulan 6 bulan 3 bulan 1 bulan 1) Lainnya 2) TABANAS TASKA 233.40 1. Jenis tabungan ini diikuti oleh para pelajar.3 342.209.10 998.669.3 460.40 612.80 119. 4.4 1.5 141.1 11.2 2.20 1.60 168.80 1.723.001.4 195.5 90.20 950.459.031.7 109.5 21.8 580.668.30 990.5 303 Juni 4.3 168 1) Termasuk deposito yang sudahjatuh waktu dan deposit on call 2) Termasuk deposito berjangka waktu 9 dan 18 bulan 1982 Desember Deposito berjangka 24 Bulan 12 bulan 6 bulan 3 bulan 1 bulan 1) Lainnya 2) TABANAS TASKA 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.225.357.3 152.6 persen).6 88.5 80.1 1.693.2 2 191.099.5 212.5 1.1 22.4 476.1 158 1.737.1 milyar.357.1 16. maka raJa akhir September 1984 dana tertersebut terdiri dari deposito berjangka waktu 1 bulan sebesar Rp 1.8 61.8 1.7 291.6 2.90 605.5 844.70 450.103.7 244.618.2 306.9 104.6 persen).40 986 1.1 384.0 milyar (32.4 522.5 1.4 1.6 138 1.7 585.7 persen).3 43. berjangka waktu 12 bulan sebesar Rp 2.60 967. dan masyarakat pada umumnya.489.262.714.842.9 74.8 694.348.2 127.461.401.4 47.3 421 Sept 3) 7.8 199 72 37.6 1. dan deposito lainnya sebesar Rp 119.4 DEPOSITO BERJANGKA RUPIAH DAN VALUTA ASING SELURUH BANK.40 118.3 milyar (23.723.7 persen).732. pegawai.4 persen).40 569.90 418.2 399.8 361. Tabanas dan Taska Tabungan pembangunan nasional (Tabanas).9 136.2 81.70 1.6 112 1.5 1.8 milyar (23.70 519 1. Jika semula saldo Tabanas yang diberikan Departemen Keuangan RI 91 .8 307 1983 Maret 3.9 253.2 937.8 29. Perkembangan deposito berjangka dapat diikuti pada Tabel IV.60 897. 3) Angka sementara. Dengan demikian bila pada akhir tahun 1983/1984 jumlah dana perbankan secara keseluruhan baru sebesar Rp 13.7 317 Sept 4. 788.90 819.8 2.7 357 1984 Juni 6.7 152. berjangka waktu 6 bulan sebesar Rp 1.266.3 1.924.141.00 131.6 234.40 111.316.3 1.7 584.9 343 Mei 6. pramuka.80 129.7 milyar (1.3 milyar (13.6 47.059.8 1.2 372 Juli 6.6 38.4 70 115 980.1 55.4.5 1.6 99 338.287.60 685.3.5 413 1) Termasuk deposito yang sudah jatuh waktu dan deposit on call 2) Termasuk deposito berjangka waktu 9 dan 18 bulan.7 32.60 544.2 111.7 2. 1972 .981. Sejak 1 Juni 1983.4 359.7 264.7 537 191.50 1.609.335.8 53.90 127.90 833.8 575.1.2 234.

yang terdiri atas sertifikat deposito bank-bank Pemerintah sebesar Rp 189. kenaikan Taska mencapai Rp 63 juta (20. posisi sertifikat deposito yang diterbitkan oleh bank-bank Pemerintah.4 persen).5 milyar dengan 12. sedang selebihnya diberikan bunga 6 persen setahun. Jangka waktu sertifikat deposito ini ditetapkan sendiri oleh bank-bank penerbit dengan ketentuan tidak kurang dari 15 (lima belas) hari. Sedangkan suku bunga Taska tidak mengalami perubahan. yaitu tetap 9 persen setahun.7 persen).7 persen) hila dibandingkan dengan posisinya pada akhir bulan Maret 1984 sebesar Rp 357 juta. Untuk lebih meningkatkan peranan sertifikat deposito diperluas lagi dengan penerbitan sertifikat deposito atas unjuk dalam rupiah bagi bank-bank umum. Bank-bank penerbit adalah bank-bank yang secara berturut-turut selama dua tahun terakhir telah memenuhi persyaratan yang ditentukan. Pada periode April-September tahun sebelumnya. dan selebihnya bersuku bunga 12 persen setahun.087 ribu penabung. Sertifikat Deposito Sertifikat deposito semula diterbitkan oleh Bank Indonesia dengan nama Sertifikat Bank Indonesia (SBI). dan cabang bank asing.5 persen dari jumlah pinjarnan yang diberikannya. Selanjutnya perkembangan Tabanas dan Taska dapat diikuti pada Tabel IV. dalam rangka me intis terbentuknya pasar uang di Indonesia.000.8 persen). Kemudian dalam tahun 1971 program SBI tersebut diikuti oleh bank-bank Pemerintah. dan sertifikat deposito cabang bank-bank asing sebesar Rp 34. Kenaikan jumlah penabung Tabanas pada periode April-September 1984 mencapai 613 ribu penabung. di samping sebagai wadah penghimpun dana masyarakat.7 milyar. Sampai dengan akhir September 1984. jumlah Tabanas telah mencapai sebesar Rp 585. maka dalam kebijaksanaan yang bam saldo ini telah ditingkatkan menjadi Rp 1. Bila dibandingkan dengan posisinya pada akhir Maret 1984 sebesar Rp575. serta mempunyai kewajiban untuk menjamin pelunasan sertifikat deposito yang diterbitkannya sesuai dengan jangka waktunya. Sampai dengan akhir September 1984.000.1.3. tercatat adanya kenaikan sebesar Rp 9. Selain itu bank penerbit dapat memiliki sertifikat deposito yang diterbitkan oleh bank-bank lain dalam jumlah tidak melebihi 7. dan bankbank pembangunan.4. dan selanjutnya dikenal sebagai sertifikat deposito. dan cabang bank-bank asing mencapai Rp 224. Posisi Taska sebesar Rp 413 juta pada bulan September 1984 menunjukkan adanya peningkatan sebesar Rp 56 juta (15.8 milyar (1. sedangkan pada periode yang sarna tahun lalu kenaikan jumlah penabung adalah sebanyak 387 ribu penabung.1 milyar (84. 4.000.3.0 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bunga 15 persen setahun hanyalah sampai dengan jumlah maksimum Rp 200.9 Departemen Keuangan RI 92 .

1 12.7 15.7 34.9 373.8 259.5 71.5 SERTIFlKAT DEPOSITO BANK-BANK. Tabel IV. Dengan demikian secara keseluruhan sertifikat deposito selama periode tersebut menurun sebesar Rp 152.1 Bank-bank Asing 0.7 42.1 18.2 milyar.5 74 70 66.4 28.4 294.4 231 222.5 363.5.1 165.5 13.4 376. Perkembangan sertifikat deposito dapat diikuti pada Tabel IV.1 204.3 2.2 373.4 62.6 29.2 48.3 6.9 39.1 21.4 32.5 346.1 202.9 14.4 29.7 79. Penurunan tersebut pada umumnya karena setelah sertifikat deposito jatuh waktu.2 24.8 37 41.3 32. Dibandingkan dengan periode yang sarna tahun lalu.9 26.8 26.5 232.8 250. sertifikat deposito bank-bank Pemerintah menunjukkan penurunan sebesar Rp 157.7 31.9 milyar. sejak 22 Oktober 1984 program tersebut Departemen Keuangan RI 93 .9 Akhir waktu 1970/1971 Maret 197111972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 198111982 Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April M ei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember J anuari Pebruari Maret 1984/1985 April Me i Juni Juli Agustus September 1) J umlah 0.8 224 1) Arigka sementara dalam memupuk pembiayaan pembangunan.8 352.7 369.2 43.1984/1985 ( dalam milyar rupiah) Bank-bank Pemerintah 1.8 1. Selama periode April-September 1984.2 133. 1970/1971 .4 milyar.1 9.2 426.8 34.9 31.8 46.3 10.1 7.1 189.9 51.1 milyar.7 301.1 172.3 229.2 53.7 329.4 46.2 358.4 26.5 244.7 57.5 244.7 28 55.6 22.8 196.5 94.5 8.5 24. para penabung kemudian memilih jenis tabungan lain yang lebih menarik.7 260.2 212.6 102.9 30 35.3 0. sedangkan sertifikat deposito cabang bank-bank asing meningkat sebesar Rp 4.6 385.8 28.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar (15.9 415.8 16.6 4. sertifikat deposito meningkat sebesar Rp 127.6 396.7 56.8 82.6 persen).6 70 70 14.2 330.6 213.2 390.4 59.3 91.

kredit perbankan dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis. Jumlah fasilitas kredit adalah maksimal sebesar 3 persen dari jumlah dana pihak ketiga. sejak Agustus 1982 tidak lagi disediakan fasilitas kredit likuiditas Bank Indonesia. Sebagai tindak lanjut dari kebijaksanaan pembebasan pagu kredit perbankan. Jumlah tersebut adalah lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatannya dalam periode yang sarna tahun 1983/1984 Departemen Keuangan RI 94 . dengan jangka waktu seluruhnya tidak melebihi 29 hari. serta untuk menjaga likuiditas bank-bank dalam melaksanakan pemberian kredit sehari-hari.1.2. merupakan pencerminan dari semakin besarnya peranserta sektor perbankan dalam pembiayaan pembangunan. sejak Pebruari 1984 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai fasilitas diskonto.430 milyar (17. 4. Fasilitas diskonto kedua disediakan untuk memudahkan bank dalam mengatasi kesulitan pendanaan hila rencana penarikan dana tidak sesuai dengan reo ncana penarikan kredit jangka menengah. sehingga jangka waktu seluruhnya tidak melebihi 120 hari. Pemberian kredit menurut sektor perbankan Perkembangan pemberian kredit perbankan yang senantiasa menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. yaitu dalam rangka tetap mendorong kegiatan pengusaha golongan ekonomi lemah.2. Jumlah dasar kredit yang disediakan adalah 5 persen dari jumlah dana pihak ketiga. pada akhir tahun 1983/1984 posisinya telah meningkat menjadi Rp 16. Pemberian kredit perbankan Kebijaksanaan perkreditan dalam tahun 1983/1984 dan 1984/1985 adalah sejalan dengan kebijaksanaan moneter pada umumnya yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesempatan berusaha dengan tetap memelihara kestabilan. sedangkan untuk kredit yang berprioritas tinggi. fasilitas kredit likuiditas tetap diberikan. Jangka waktu maksimal diskonto pertama adalah 15 hari. yang berarti dalam periode I April-$eptember 1984 teIjadi peningkatan sebesar Rp 1. Melalui kebijaksanaan 1 Juni 1983.3. Bagi kredit bukan prioritas. yaitu kredit yang berprioritas tinggi. Jika pada akhir tahun 1982/1983 posisi pemberian kredit perbankan adalah sebesar Rp 13.908 milyar (11. serta produksi dalam negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 4. Jangka waktu dasar ditetapkan maksimal 60 hari.3. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan akhir September. jumlah tersebut meningkat menjadi sebesar Rp 18.7 persen). dan jangka panjang. yang dapat diperpanjang maksimal 30 hari untuk setiap kali perpanjangan. yang dapat diperpanjang maksimal 7 hari untuk setiap kali perpanjangan.135 milyar atau mengalami peningkatan sebesar Rp 2.043 milyar. bank-bank didorong untuk meningkatkan kemampuannya di dalam melaksanakan pemberian kredit dengan dana yang berasal dari masyarakat. Dengan berlakunya kebijaksanaan tersebut.8 persen). dan kredit yang bukan prioritas.705 milyar.

yayasan.388 milyar pada akhir Maret 1984. dan prasarana listrik. dan kredit yang diberikan di sektor swasta. dan kredit cabang bank-bank asing sebesar Rp 118 milyar (12. Kegiatan yang dibiayai dengan kredit di sektor Pemerintah diantaranya adalah usaha di bidang perindustrian. dan kredit langsung Bank Indonesia pada saat yang sarna masing-masing mencapai Rp 3. 4. Penyaluran kredit untuk sektor Pemerintah dalam periode April-September 1984 meningkat sebesar Rp 117 milyar.5 persen). kredit cabang bank asing.095 milyar (6.490 milyar (24.1 persen).3. dan cabang bank asing sebesar Rp 3 Departemen Keuangan RI 95 . pertambangan.6 persen). termasuk kredit likuiditas Bank Indonesia sampai dengan akhir Sep1Jember 1984 mencapai Rp 12.2. Rp 1. kredit bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 686 milyar (26.386 milyar (60.043 milyar pada akhir September 1984 digunakan untuk membiayai kegiatan di sektor Pemerintah sebesar Rp 5. atau 2. serta kegiatan perekonomian lain yang dilaksanakan oleh lembaga-Iembaga negara.1 persen). walaupun terjadi penurunan kredit langsung Bank Indonesia sebesar Rp 1. kredit melalui bank-bank umum Pemerintah. Posisi pemberian kredit perbankan sebesar Rp 18. Kenaikan pemberian kredit perbankan sebesar Rp 1. Jika dilihat perkembangannya menurut kelompok bank penyelenggara.2 persen terhadap posisinya sebesar Rp 5. Hal ini sejalan dengan luasnya bidang usaha yang dapat dijangkau dengan lokasi cabang bank Pemerintah yang terse bar di seluruh Indonesia sampai ketingkat kecamatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang berjumlah sebesar Rp 900 milyar (6. Sedangkan posisi pemberian kredit bank umum swasta nasional.1 persen). Adapun kegiatan di sektor swasta yang dibiayai kredit perbankan adalah semua kegiatan yang diselenggarakan oleh perusahaan swasta. koperasi.538 milyar (69. dan lembaga-Iembaga bukan bank milik swasta.2 persen). perorangan.773 milyar atau 70.2. dan di sektor swasta sebesar Rp 12.0 persen). Pemberian kredit menurut sektor Pemerintah dan sektor swasta Kredit perbankan sebagai somber pembiayaan pembangunan dapat diperinci menurut kredit yang diberikan di sektor Pemerintah.5 persen).5 persen).514 milyar. Penyaluran.269 milyar (18. bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 5 milyar.505 milyar (30. dan sebesar Rp 906 milyar (5. Kenaikan terse but berasal dari peningkatan kredit pada bank umum Pemerintah sebesar Rp 1.6 persen). tercatat bahwa jumlah pemberian kredit yang disalurkan melalui bank-bank umum Pemerintah tetap mengambil bagian yang terbesar.908 milyar dalam periode April-September 1984 tersebut disebabkan oleh kenaikan kredit bank-bank umum Pemerintah sebesar Rp 2.8 persen dari kesduruhan ktedit perbankan.

449 451 998 305 1975/1976 Maret 264 260 4 1. Kredit langsung Bank Indonesia 2). Kredit dalarn rupiah.516 1. walaupun terdapat penurunan kredit yang disalurkan melalui kredit langsung Bank Indonesia sebesar Rp 1.018 milyar (44.055 695 428 267 211 199 4 195 12 12 99 1 98 2.538 milyar pada akhir September 1984. pembiayaan kredit di sektor swasta mengalami peningkatan sebesar Rp 1.443 545 411 134 286 274 4 270 12 12 144 144 2.1 persen).043 milyar pada akhir September 1984 digunakan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 8.2. di sektor perdagangan sebesar Rp 6.791 milyar (16.405 milyar. dan untuk kegiatan di sektor lainnya sebesar Rp 3.4 persen).532 387 Sektor Bank Indonesia 1) Sektor Pernerintah 2) Sektor Swasta Bank-bank Urnurn Pernerintah Likuiditas sendiri Sektor Pernerintah Sektor Swasta Likuiditas Bank Indonesia Sektor Pernerintah Sektor Swasta Bank-bank Urnurn Swasta Nasional Likuiditas sendiri Sektor Pernerintah Sektor Swasta Likuiditas Bank Indonesia Sektor Swasta Cabang Bankotiank asing 3) Sektor Pernerintah Sektor Swasta Jurnlah kredit perbankan 4) Sektor Pernerintah Sektor Swasta Kredit dalarn valuta aging 1).087 277 810 127 1974/1975 Maret 177 174 3 1. Sejak Maret 1979 terrnasuk pinjarnan valuta aging kepada Pertarnina yang dinyatakan dalarn rupiah 3).524 894 1. KIK dan KMKP 4. Jumlah pemberian kredit untuk kegiatan di sektor produksi sampai dengan bulan September 1984 sebesar Rp 8. Pemberian kredit perbankan menurut sektor ekonomi Menurut sektor ekonomi. Tabel IV.115 1978/1979 Maret 1.3.883 207 1.293 milyar.227 milyar (34.3.676 813 559 254 382 347 5 342 35 35 207 2 205 5. bidang pertanian sebesar Rp Departemen Keuangan RI 96 .869 1.174 119 1.253 2.7 persen). Perkembangan kredit perbankan menurut sektor Pemerintah dan sektor swasta dapat diikuti pada Tabel IV.747 milyar pada akhir bulan Maret menjadi Rp 12.6.018 milyar tersebut digunakan untuk bidang perindustrian sebesar Rp 6.948 20 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar.798 milyar (21.6 KREDIT PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR PEMERINTAH DAN SEKTOR SWASTA. Kenaikan pemberian kredit di sektor swasta tersebut sebagian besar berasal dari kenaikan kredit bank-bank umum Pemerintah.630 1. sehingga posisinya meningkat dari Rp 10.542 199 1. pemberian kredit perbankan sebesar Rp 18. dan dari Bank Indonesia sebesar Rp 19 milyar. cabang bank asing sebesar Rp 115 milyar.968 1.696 1.005 682 1.5 persen).008 104 904 508 312 196 149 140 4 136 9 9 76 2 74 2.007 1. dari bank umum swasta nasional sebesar Rp 681 milyar. yaitu sebesar Rp 976 milyar.193 1077/1978 Maret 343 339 4 2.960 953 2.323 984 1976/1977 Maret 345 342 3 1.111 686 71 615 425 203 222 98 93 3 90 5 5 63 63 1.187 1. terrnasuk kredit investasi. 1969/1970 – 1984/1985 (dalam milyar rupiah) 1969/1970 Maret 71 69 2 163 72 7 65 91 50 41 22 21 21 1 1 4 4 260 126 134 24 4 4 11 11 373 138 235 6 1970/1971 Maret 81 78 3 253 138 21 117 115 39 76 28 24 1971/1972 Maret 86 83 3 374 221 46 175 153 57 96 35 28 28 7 7 15 15 510 184 326 24 1972/1973 Maret 126 122 4 470 302 11 291 168 59 109 55 49 2 47 6 6 34 34 685 194 491 85 1973/1974 Maret 136 132 4 815 538 38 500 277 104 173 72 67 3 64 5 5 64 64 1.721 2. Likuiditas sendiri 4). Dalam perkembangannya selama periode April-September 1984.

960 1. sampai dengan akhir Maret 1980 adalah posisikredit dalam rupiah 4) Angka sementara Departemen Keuangan RI 97 .515 1.449 536 590 323 305 264 104 149 11 1.516 719 528 269 149 45 62 42 76 33 27 16 2.133 605 387 SEKTOR Bank Indonesia 1) Produksi 2) Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Pemerintah Produksi Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum SwastaNasional Produksi Perdagangan Lain-lain Cabang Bank-bank asing Produksi Perdagangan Lain-lain Jumlah kredit perbankan 3) Produksi Perdagangan Lain-lain Kredit dalam valuta asing 1) Kredit langsung Bank Indonesia 2) Sejak Maret 1979 termasukpinjaman valuta asing kepada Pertamina yang dinyatakan dalam rupiah 3) Termasuk kredit investasi. dan bidang pertambangan sebesar Rp 378 milyar. ini berarti bahwa selama periode April-September 1984 telah meningkat sebesar Rp 930 milyar. di samping penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 292 milyar.3 persen) yang berasal dari kenaikan kredit di bidang perindustrian sebesar Rp579 milyar.968 1.227 milyar. 1969/1970 – 1984/1985 (dalam milyar rupiah) 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret 71 163 22 4 260 81 253 28 11 373 6 86 374 35 15 510 24 126 18 105 3 470 223 149 98 55 15 22 18 34 13 14 7 685 269 290 126 85 136 21 112 3 815 390 247 178 72 21 23 28 64 25 15 24 1.7 KREDIT PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR EKONOMI.005 901 766 338 984 345 206 130 9 1. yaitu antara lain lsaha pengumpulan barang-barang dalam negeri. Tabel IV.187 1.253 3.524 1. Sedangkan kredit untuk sektor ekonomi lainnya dalam periode yang iama telah meningkat sebesar Rp 649 milyar. Selama periode AprilSeptember 1984 pemberian kredit untuk kegiatan produksi meningkat sebesar Rp 329 milyar (4.egiatan di sektor perdagangan sampai dengan bulan September 1984 adalah sebesar lp 6. distribusi kebutuhan pokok.193 1.347 milyar.165 602 420 286 82 130 74 144 75 47 22 2. impor pupuk dan batu bara.087 457 397 233 127 177 17 158 2 0.735 202 31 2.291 793 440 1.193 343 166 165 12 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1.565 679 452 382 111 181 90 207 104 71 32 5. dan di bidang pertanian sebesar Rp 42 milyar.869 979 530 360 211 64 94 53 99 42 39 18 2.11875 468 388 255 98 29 29 40 63 22 15 26 1. dan perdagangan eceran.696 1. Sementara itu posisi pemberian kredit untuk . Di samping itu tercatat beberapa kegiatan lainnya yang dibiayai oleh kredit di sektor perdagangan.488 944 528 1. KIK dan KMKP. Pemberian kredit di sektor perdagangan sebagian besar digunakan untuk pembiayaan pengadaan pangan.

4) Sept.902 4.163 261 580 322 587 344 192 51 10.127 660 738 861 977 470 543 275 289 116 145 15.325 1.356 2.785 2.675 16.249 761 812 857 981 1.888 3.970 2.216 3. Secara keseluruhan. dan bidang perindustrian sebesar Rp 5.405 5.1 milyar (20.1 persen).2 persen).388 1.136 1.708 2.362 930 955 477 9.827 18.9 milyar (9. KIK dan KMKP.8 milyar (68.004 1.111 4.927 3.583 645 718 990 1.753 939 1984/85 Juni Juni 923 304 619 6. Dati I Kalimantan Barat dengan Rp 67.295 2.r Bank Indonesia 1) Produksi 2) Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Pemerintah Produksi Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Swasta Nasional Produksi Perdagangan Lain-lain Cabang Bank-bank asing Produksi Perdagangan Lain-lain Jumlah kredit perbankan 3) Produksi Perdagangan Lain-lain (Kredit da1am valuta asing) Juni 2.149 987 1.800 6.772 2.399 1.591 1. pemberian kredit perbankan untuk seluruh Dati I di Indonesia.757 2.3 milyar.006 1.278 16.524. bidang pertanian sebesar Rp 1.009 1.350 1.512 5.071 3.966 541 849 576 735 416 240 79 14.227 3.750 1.735 1.744 5.496.026 1.0 milyar (44. disusul kemudian oleh Dati I Sumatera Selatan dengan Rp 115.115 Agost.293 1.7 persen).139 821 428 8.6 tnilyar (37.116 2.292 12.4.017 1. 4) 938 906 274 273 664 633 12.299 16.283 11. Kredit tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan perekonomian yang dapat diperinci sebagai berikut.031 542 312 177 17.135 7.787 10.582.917 775 780.8 milyar (96.4 milyar. Sampai dengan akhir bulan September 1984.065 1.263 1.808 2.177 3.314 1.477 1.632 1.933 1.131 6. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 3.854 4.5 milyar (38.353 3.280 3.356 359 1981/82 Maret 2.526 1. Pemberian kredit perbankan menurut Dati I Pemerataan sarana dan hasil pembangunan juga diusahakan melalui pemberian fasilitas kredit perbankan untuk membiayai kegiatan perekonomian di berbagai sektor yang dialokasikan sesuai dengan kebutuhannya di masing-masing daerah tingkat I di Indonesia.216 1.801 2. karena daerah di luar pulau Jawa telah menikmati pemberian kredit yang lebih meningkat.605 7.958 7. 784 178 47 3.0 milyar Departemen Keuangan RI 98 .326 1.111.593 1. yang berasal dari kenaikan pemberian kredit di sektor produksi sebesar Rp 604.737 6. dan sektor lain-lain sebesar Rp 1.705 6.757 1.7 persen).851.253 4. tidak termasuk kredit langsung Bank Indonesia.132 5.620 827 Maret April Me i 2.240 7.353 1. bidang pertambangan sebesar Rp 104.908 6.269 870 905 1.347.416 1..248 734 412 1980/81 Maret 2. Sept.773 6. sampai dengan akhir Maret 1980 adalah posisikredit dalam rupiah 4) Angka sementara 4. telah mencapai jumlah sebesar Rp 16.164 2.084 1.971 4.644 5.744 7.167.950 462 1982/83 Maret 2.651 5.0 persen).798 1.2.542 5.689 5.110 1.318 894 1.427 908 937 1.359 5.621 1.293 1.784 466 785 533 661 384 212 65 13.139 4.095 560 587 323 323 185 185 17.043 7.678 1. Di Dati I Sumatera Utara terdapat peningkatan volume kredit yang cukup besar. 2.620 2.625 1. 811 1.592 813 227 6.735 5.051 4.712 1.993 4.726 3.854 2.8 persen) termasuk kredit untuk bidang jasa-jasa sebesar Rp 2. sektor perdagangan sebesar Rp 2.027 837 429 9.018 6.039 547 555 561 292 296 311 142 153 167 16.135 2.081 895 521 501 301 -563 580 594 11.450 6.842 762 510 508 148 232 128 284 159 76 49 5.187 2.3 milyar.285 7.064 4. Untuk sektor perdagangan telah disalurkan sebesar Rp 6.542 3.107 12.043 3.717 2.8 milyar.701 2. Bila dilihat pemberian kredit di tiap-tiap Dati I. Untuk membiayai kegiatan di sektor produksi telah dipergunakan kredit sebesar Rp 7.039 827 1.3 milyar.502 1.114 1. dalam periode ]anuari-September 1984 telah terjadi peningkatan pemberian kredit di seluruh Dati I sebesar Rp 4.068 1.132 3.835 8.599 901 1983/84 Des.7 milyar (18.328 1.768.728 4.169 526 549 9.127 S e k t o.522 3.0 persen). yaitu sebesar Rp 165.165 1.062 5.703 7.915 3.121 973 784 178 382 224 436 273 121 42 8.292 720 574 1.860 5.303.0 persen).626.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1979/80 Maret 2.4 persen).146 1) Kredit langsung Bank Indonesia 2) Sejak Maret 1979 termasuk pinjaman valuta asing kepada Pertamina yang dinyatakan dalam rupiah 3) Termasuk kredit investasi.297 2. terlihat perkembangan yang cukup menggembir_kan.726 450 780 496 737 412 241 84 13.6 milyar (49.782 12.795 402 117 4.

Dati I Jawa Barat sampai dengan akhir bulan September 1984 telah menggunakan kredit sebesar Rp 1. kenaikan pemberian kredit sebagian besar berasal dari penggunaan kredit di sektor produksi sebesar Rp 106.2 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.8.8 milyar (23. sampai dengan akhir bulan September 1984 adalah sebesar Rp 4.9 milyar.8 milyar (19. Dati I Jawa Tengah telah menggunakan kredit scbesar Rp 978. perdagangan sebesar Rp 300. Departemen Keuangan RI 99 .0 milyar (41.932. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 348.9 milyar (53.351.6 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 5.297 milyar. Jumlah pertambahan tersebut dipergunakan ulltuk membiayai usaha di sektor produksi sebesar Rp 38.2 persen). di sektor perdagangan sebesar Rp 66. di sektor perdagangan sebesar Rp 72.0 milyar (22.2 milyar.9 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 1.8 persen).2 persen).6 milyar (25. Dati I Jawa Timur telah menggunakan kredit sebesar Rp 1. ke sektor perdagangan sebesar Rp1.7 persen) dari posisinya sebesar Rp 831.183. Jumlah pemberian kredit di Dati I lainnya.2 milyar (9.5 milyar (2. dan di Dati I Kalimantan Timur meningkat dengan Rp 50.7 persen).3 milyar (23.3 milyar (82.0 persen). penggunaan kredit di DKI Jaya telah meningkat sebesar Rp 3.6 persen).1 milyar.4 persen).0 persen).7 milyar (25. dan sektor lain-lain sebesar Rp 60. dan ke sektor lain-lain sebesar Rp 972. dapat diikuti pada Tabel IV. Pertambahan tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 169.4 milyar (26. yang berarti meningkat sebesar Rp355.3 persen).5 persen).4 milyar (8.839. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 42.2 milyar (50.7 milyar (24.7 milyar (27.8 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.9 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.7 persen). sektor peraagangan sebesar Rp 124.8 persen). Seperti halnya raJa Dati I-Dati I terse but di atas.4 milyar (17.7 persen). Dalam periode yang sarna.5 persen).3 persen). Dati I Sumatera Barat dengan Rp 51. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 101.115.483. Jumlah peningkatan terse but dipergunakan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 12. Dengan demikian sejak akhir bulan Desember 1983 telah meningkat sebesar Rp 755.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (32.0 milyar (25. Dengan demikian selama sembilan bulan dalam tahun 1984. yang berarti meningkat sebesar Rp 147.5 persen).8 persen).1 persen). atau selama sembilan bulan terse but telah meningkat sebesar Rp 185.5 milyar (16.3 milyar (61.6 persen). Kenaikan kredit yang cukup tinggi di sektor produksi terutama digunakan untuk kegiatan perindustrian.4 milyar (35. Peningkatan tersebut tersalur ke sektor produksi sebesar Rp 278. perkembangan pemberian kredit perbankan menurut Dati I sampai dengan akhir bulan Agustus 1984.6 milyar.0 milyar (5.0 persen).167. Posisi penyaluran kredit di Dati I DKI Jakarta raJa akhir bulan September 1984 menunjukkan jumlah sebesar Rp8.

SelanjUtnya bank-bank umum Departemen Keuangan RI 100 .8 51 59 53.9 40.2 114.8 62.60 1.6 261.5 7 17. Demikian pula bank-bank swasta nasional. Kalimantan Barat 9.111.7 3.2 2. Pemerintah senantiasa menyempurnakan ketentuan-ketentuan yang menunjang pelaksanaan investasi.5 118.2 347.7 25 25.I.3 48. Sept.4 125.SEPTEMBER 1984 (dalam milyar rupiah) D ati I 1.6 9.7 8. Sulawesi Utara 19.8 27.2 498.7 59 58.8 16.4 18.2 43. KREDIT RUPIAH PERBANKAN MENURUT DATI I DAN SEKTOR EKONOMI TIDAK TERMASUK KREDIT LANGSUNG BANK INDONESIA 1) DESEMBER 1983 . Sulawesi Selatan 8. Sept.5 126.3 135 61.955.I. Bengkulu 27. 1.4 86.351.1 15 10.3 135.3 23.4 42.3 14.70 Des.5 69.5 7. Sulawesi Tengah 21.8 6.6 211.9 116.9 0.2.9 233.3 5. alltara lain bank-bank Pemerintah dapat memberikan fasilitas kredit investasi ulltuk industri perkayuan yang berintikan kayu lapis.5 177.303.3 272. Yogyakarta 17.10 3.3 246.9 83.582.1 10.2 15. Kalimantan Timur 10.1" 55. 2) 8.5 522.2 15. D. dapat pula berperan serta memberikan kredit untuk pembiayaan investasi dengan jumlah maksimum masing-masing sebesar 20 persen dan 35 persen dari baki debet pinjaman.6 1. Lampung 12.4 30.7 351.1 2.1 38.483.00 Perdagangan Des. Ace h 18.9 18.536.468.2 52. Sumatera Utara 6.5 124.2 183.6 10.2 25.7 40.5 15.839.1 231.80 3.80 1.5.6 13.8 114.8 112.50 978. 8.20 1.8 41.167.9 8.6 4.586.2 25 25.3 114.3 11.90 611.1 36.9 24.4 83.9 287.6 20.:162 61.60 Lain-lain Des.30 598. 718.6 48 17.3 8.2 797.5 2.112.1 14. Sept.3.5 28.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.20 487.90 1.2 13. dan bank asing yang memenuhi persyaratan.1 32 30 25.5 315.7 21.00 831.6 18.4 8.1 4.2 111.7 104.2 175. Kalimantan Selatan 13.2 24 15.5 169. Nusa Tenggara Barat 22.6 189.1 279. Sulawesi Tenggara 26.3 36. B a l i 16.297. Jumlah Sept.5 585.9 271. Maluku 14.4 238.9 13.4 3.60 175.6 208.8 145.3 6. D.3 7.052.8 116.7 2.9 40 56.9 48 33.1 23.8 1.9 85 106.2 88 47.9 205. Sumatera Selatan 7. dan tidak lebih dari Rp 1 milyar. Timor Timur Jumlah Produksi Des.1 47.8 48.7 6.191. Jumlah maksimum pinjaman untuk setiap nasabah bank umllm swasta nasional adalah 10 persen dari modal sendiri.5 16. DKl Jaya 2.5 34 36.4 101.2 0.5 32.1 53.3 65.1 85.6 203.9 245.9 44.2 42.7 58.2 11.4 82.6 113. Pemberian kredit investasi Kegiatan investasi terus berkembang sejalan dengan kegiatan pembangunan yang semakin meningkat.4 5.2 24.6 57.8 51.90 1. Jam b i 20.6 125.7 14.40 882.8 22. Jawa Tengah 5. 2.6 34 35 20.9 354.10 1.8 141.1 66. Nusa Tenggara Timur 24.9 81.4 12.7 41.698.9 589. Sumatera Barat 11.5 70.9 73.9 0.167. Sehubungan dengan itu.7 223.2 193.30 5.5 21.5 29. Ria u 15.7 182.690.3 117 152.1 110.9 0. dan sebanyak mungkin dipergunakan untuk proyek-proyek yang menggunakan hasil produksi dalam negeri.2 127.7 460.80 1) Termasuk Bapindo dan Bank Pembangunan Daerah 2) Angka sementara 4.5 8. Kalimantan Tengah 23.4 54 53.9 20.8 26.6 13.6 963 349.913.1 35.2 38.5 35.1 10.9 112. Jawa Barat 4. Jawa Timur 3.9 15.4 9.6 13.7 0.670.8 29. IrianJaya 25.3 75.1 136.7 18.

674 milyar. Sampai dengan akhir bulan September 1984.9 persen) atau rata-rata perbulan sebesar Rp 85 milyar.199 milyar. dengan jangka waktu maksimum 8 tahun. pertambangan sebesar Rp 734 milyar (11.2 persen).2 persen). dan bank-bank asing diberikan kesempatan melakukan penyertaan modal dalam perusahaan-perusahaan yang potensial. dan di bidang lain-lain sebesar Rp 49 milyar (9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 swasta nasional.besar Rp 99 milyar (12.6 persen).732 milyar pada akhir bulan Maret 1984.6 persen).004 milyar (16. Dengan demikian.6 persen).3 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 4. Keseluruhan jumlah kredit sebesar Rp 6. di samping penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 292 milyar (46. bidang perindustrian sebesar Rp 12 milyar (0. perdagangan sebesar Rp 73 milyar (48. oleh bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 152 milyar. Dibandingkan dengan posisinya pada bulan Maret 1984. dalam periode AprilSeptember 1984 telah terjadi peningkatan sebesar Rp 63 milyar (1.766 milyar (44. te12h terjadi peningkatan sebesar Rp 509 milyar (8.8 persen).0 persen). dan sebesar Rp 92 milyar (18. Juga terjadi kenaikan di bidang perdagangan sebesar Rp 61 milyar (57. dan di.4 persen).5 persen).5 persen). dan Rp 114 milyar (12. pinjaman investasi perbankan dalam rupiah dan valuta asing yang disetujui telah mencapai jumlah sebesar Rp 6. jasa-jasa sebesar Rp 1. Menyusul kemudian peningkatan di bidang pertanian st.5 persen). dan di bidang -lainlain sebesar Rp 82 milyar (19. oleh Bank Indonesia sebesar Rp 1. perdagangan sebesar Rp 223 milyar (3. Ada pun posisi kredit investasi yang telah direalisasikan sampai dengan akhir bulan September 1984 adalah sebesar Rp 4.6 persen).1 persen).8 persen).2 persen). pertanian sebesar Rp 891 milyar (14. Peningkatan tersebut hemal dari kenaikan kredit di berbagai sektor ekonomi.5 persen). terutama di bidang jasa-jasa. Dilain pihak terdapat penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 19 milyar (2.199 milyar tersebut dipergunakan untuk kegiatan di bidang perindustrian sebesar Rp 2.371 milyar.5 persen).4 persen). Dengan demikian secara keseluruhan dalam periode April-September 1984. dan di bidang lain-lain sebesar Rp 581. yaitu masing-masing meningkat dcngan Rp 193 milyar (7. Departemen Keuangan RI 101 .795 milyar. dan di bidang jasa-jasa. dan di bidang pertanian. yaitu masingmasing sebesar Rp 132 milyar (17. Kenaikan dalam periode 1984/1985 tersebut adalah lebih baik dari yang terjadi dalam periode 1983/1984 yang mengalami penurunan sebesar Rp 306 milyar (5. dalam periode April-September 1984 telah terjadi peningkatan yang cukup berarti terutama di bidang perindustrian.0 milyar (9. Jumlah terse but telah disalurkan oleh bank-bank Pemerimah sebesar Rp 4.7 persen). dan oleh cabang bank-bank asing sebesar Rp 2 milyar.

kebijaksanaan moDeler perbankan 1 Juni 1983 tetap memberikan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah. Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP). Kredit Bimas.571 355 1. baik mengenai besarnya volume kredit yang diberikan maupun mengenai bagian pembiayaan pinjaman.176 769 115 716 395 1984/1985 Juni Juli 5.lain Juni 5.182 99 676 301 1983/1984 Sept Des 5. Kredit Pemilikan Rumah (KPR).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV. 1) 1969/1970 .jasa 2) Lain -lain 32 8 11 1 11 1 17 6 5 1 5 - 78 20 35 22 1 49 13 20 15 1 115 11 61 40 3 77 6 45 25 1 147 12 75 1 54 5 107 8 58 39 2 175 18 84 1 62 10 119 10 61 41 7 198 19 100 66 13 143 13 73 47 10 270 36 110 5 104 15 196 29 82 5 70 10 343 48 137 5 137 16 263 41 97 4 111 10 362 69 143 5 127 18 288 57 109 3 107 12 448 86 154 10 185 13 343 71 118 2 143 9 1) Sampai dengan Maret 1980. dan kemudahan-kemudahan untuk memperoleh kredit yang diperlukan. melalui pemberian fasilitas kredit perbankan untuk jenis usaha yang berprioritas tinggi.670 509 2.648 477 2.316 632 106 752 431 April 5.222 563 123 773 465 Agust 3) Sept 3) 6.806 39 361 71 1981/82 Maret 4.759 219 1.690 792 2.092 121 894 365 4.311 117 917 1.573 753 150 890 532 4.003 983 117 663 375 5.669 564 184 963 536 4.073 101 645 326 Maret 5. Kredit Kecil (KK).304 340 340 150 167 870 884 506 513 1) Sampai dengan Maret 1980.6. adalah posisi kredit investasi dalam rupiah pada bank-bank Pemerintah 2) Termasuk kredit untuk sektor perdagangan 1979/80 Maret 662 114 212 6 306 24 463 78 158 2 207 18 1980/81 Maret 3.579 753 158 916 534 4.668 522 2.958 1.054 6.793 734 2.164 1.579 438 2.248 579 121 765 448 Mei 5.141 472 4. Kredit Umum Pedesaan (Kupedes).602 737 160 899 533 4. 2) Sampai dengan Maret 1980.755 815 2. Program kredit untuk golongan ekonomi lemah Untuk mendorong peranan pengusaha golongan ekonomi lemah dalam meningkatkan produksi dalam negeri.766 736 734 177 223 975 1.3.762 831 2.455 416 1.794 878 2. di samping keringanan suku bunga.393 617 2. Departemen Keuangan RI 102 . pembiayaannya tetap disediakan melalui fasilitas kredit likuiditas Bank Indonesia. suku bunga serta jangka waktu pinjamannya. Sehubungan dengan hat itu.2.199 875 891 2.314 2.732 495 2.630 583 2.934 121 800 333 4.681 852 2.359 1.0 juta. dan Kredit Candak Kulak (KCK).304 1. Pemberian fasilitas kredit melalui Kredit Investasi Kecil (KIK) dan Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP) kepada pengusaha kecil yang dilaksanakan sejak akhir tahun 1973.lain Realisasi Pertanian Industri Pertambangan Jasa .752 243 968 1.190 1.623 67 521 139 1982/83 Maret 5.722 2.605 389 1. Kredit Koperasi.004 569 581 4. 4.658 539 2.1984/1985 ( dalam mityar rupiah ) 1969/1970 Maret 1970/1971 Maret 1971/1972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret Yang disetujui perbankan Pertanian Industri Pertambangan Jasa-jasa 2) Lain .694 4. te1ah mengalami beberapa penyempurnaan.795 586 587 2.002 84 661 155 3.650 713 2. 9 KREDIT INVESTASI PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR EKONOMI.480 837 129 1.996 644 2.973 49 485 34 3. termasuk kredit untuk sektor perdagangan 3) Angka sementara.340 366 134 813 466 5. Beberapa jenis kredit berprioritas tinggi tersebut antara lain adalah Kredit Investasi Kecil (KIK). adalah posisi kredit investasi dalam rupiah pacta bank-bank Pemerintah.225 367 139 827 489 Sektor Yang disetujui perbankan Pertanian lndustri Pertambangan Perdagangan Jasa-jasa 2) Lain -lain Realisasi Pertanian lndustri Pertambangan Perdagangan Jasa-jasa 2) Lain .040 138 984 416 4. kredit investasi sampai dengan Rp 75.242 2.894 1.643 562 167 925 532 4.

serta plafon kredit yang dapat disesuaikan dengan kemampuan pelunasan pinjaman oleh nasabah. Mulai 1 Juni 1983 jumlah kredit tersebut ditingkatkan menjadi Rp 15 juta tanpa tambahan plafon. Ketentuan jumlah maksimum KMKP pada awal diselenggarakannya program ini adalahsebesar Rp 5 juta rupiah. Jumlah KIK dan KMKP yang disetujui sampai dengan bulan September 1984 tercatat sebesar Rp 2.956 ribu pemohon. dengan jumlah 1. Dalam bulan Juli 1984. dapat diberikan tambahan plafon sebesar Rp 5 juta.0 persen).4 persen) dengan peningkatan nasabah sebesar 97 ribu pemohon (6. Departemen Keuangan RI 103 . daD dengan suku bunga 12 persen setahun. bat as tertinggi KIK dinaikkan lagi menjadi Rp 15 juta. dan jangka waktu maksimum 5 tahun. di tUrunkan menjadi 55 persen. atau rata-rata setiap bulannya meningkat sebesar Rp 43.2 milyar dengan 18 ribu pemohon.6 persen) dengan 238 ribu pemohon. jangka waktu KMKP ditetapkan 5 tahun dengan masa tenggang 1 tahun. dan KMKP yang disetujui sebesar Rp 2.7 persen) dengan pyningkatan nasabah sebesar 10 ribu pemohon (4. dan suku bunga 12 persen setahun. sehingga jumlah maksimum kredit menjadi Rp 15 jtita..945 milyar. dengan suku bunga tetap sebesar 12 persen setahun.4 persen) dengan 1. dan plafon kredit yang senantiasa disesuaikan dengan kemampuan pelunasan pinjaman oleh nasabah. tanpa adanya tambahan plafon. dengan jangka waktu 3 tahun (yang setiap saat dapat diperpanjang). Sejak tanggal 1 Juni 1983. Selanjutnya pada bulan Juli 1984 diadakan penyesuaian dalam kebijaksanaan KIK/ KMKP.10. maka dalam perkembangannya hingga bulan September 1980 jumlah maksimum KIK te1ah menjadi Rp 10 juta. sedangkan KMKP meningkat sebesar Rp 212 milyar (11. Dengan demikian posisi KIK dan KMKP dalam 6 bulan pertama tahun anggaran 1984/1985 (April-September 1984) menunjukkan pertambahan sebesar Rp 259 milyar (9. sedang sisanya sebesar 25 persen akan dibiayai dengan dana yang berasal dari Bank Dunia. sedangkan bagian dana dari bank pelaksana tetap 20 persen.6 persen).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Jika pada awal dilaksanakannya.5 persen setahun dengan jangka waktu maksimum menjadi 10 tahun.718 ribu pemohon. Jangka waktu KIK adalah 8 tahun dengan masa tenggang 4 tahun. Jumlah kredit likuiditas Bank Indonesia untuk program kredit ini yang semula ditetapkan 80 persen.4 persell). danjangka waktu maksimum 3 tahun. Dalam periode April-September 1984. dan diberikan tambahan plafon sebesar Rp 5 juta.Perkembangan KIK dan KMKP dapat dilihat pada Tabel IV. dengan suku bunga 15 persen setahun.073 milyar (70. suku bunga 10. jumlah KIK mengalami peningkatan sebesar Rp 47 milyar (5. dengan peningkatan permohonan sebanyak 107 ribu pemohon. Jumlah-jumlah tersebut terdiri dari KIK yang disetujui sebesar Rp 872 milyar (29. jumlah maksimum KIK adalah sebesar Rp 5 juta setiap nasabah dengan suku bunga 12 persen setahun. Selanjutnya sejak September 1980 plafon KMKP te1ah menjadi Rp 10 juta.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.938 1.542 1.300 1.861 1. Berbeda dengan Kredit Kecil yang sumber dananya berasal dari APBN.062 1. Di samping Kredit Kecil. Kredit Midi dananya sebagian berasal dari kredit likuiditas Bank Indonesia. 1.627 1. 10 VESTASI KECIL DAN KREDIT MODAL KERJA P YANG DISETUJUI 1973/1974 .998 2.454 1. senantiasa ditingkatkan dari waktu kewaktu sesuai dengan perkembangan.697 1.657 1.725 1.578 1. 761 1.814 1.605 .679 1. Selanjutnya sejak Januari 1984 telah Departemen Keuangan RI 104 . dan sebagian lagi dari bank pelaksana. 1. sejak tahun 1978 telah pula diselenggarakan program kredit Midi untuk pengusaha yang memerlukan kredit dalam jumlah maksimum sampai dengan Rp 500 ribu.022 2.073 Pemberian Kredit Kecil (KK) yang diselenggarakan sejak tahun 1974.178 1.961 1.378 1.830 1.888 1.1984/1985 (dalam milyar rupiah) Periode 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember J anuari Pebruari Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September 1) 1) Angka sementara KIK 6 19 34 55 79 113 190 366 421 477 528 571 608 648 685 723 732 741 749 756 766 778 783 790 799 805 819 825 835 847 882 857 860 872 KMKP 4 18 41 75 124 188 349 656 799 958 .798 1.

dan maksimum sebesar Rp 1. terhadap Kredit Modal Kerja Perman en (KMKP) sebesar Rp236. jumlah pertanggungan yang diberikan kepada KIK. fasilitas Kredit Mini dan Kredit Midi masih diteruskan sampai dengan jatuh tempo kredit masing-masing. yang disebabkan karena selain makin banyak para nasabah mengembalikan kredit dalam periode tersebut. dan dana APBN yang telah disalurkan dalam rangka penyelenggaraan program Kredit Keci!. PT Askrindo dalam kegiatannya telah menyediakan jasa pertanggungan atas kredit perbankan yang diberikan. KMKP. Perkembangan Kredit Kecil dan Kupedes dapat dilihat pada Tabel IV. dan 24 persen setahun untuk kredit modal kerja. dan Kredit Midi. Sampai dengan akhir September 1984.. Dengan dikeluarkannya fasilitas Kupedes ini.000.3 milyar untuk 251 Departemen Keuangan RI 105 . Bagi nasabah yang menunggak pengembalian pinjamannya. sedangkan permintaan kredit baru dialihkan ke Kupedes. Penurunan tersebut terdiri dari penurunan kredit untuk usaha investasi sebesar Rp 1. dana perbankan yang berhasil dihimpun dari masyarakat. dan jangka waktu maksimum 3 tahun. dan meningkatkan usaha-usaha kecil di pedesaan. atau rata-rata Rp 9. Fasilitas kredit untuk pengusaha kecil ini dikenal dengan Kredit Umum Pedesaan (Kupedes).5 persen ) terhadap posisinya pada akhir bulan Maret 1984 sebesar Rp 36. Secara keseluruhan. dan untuk usaha eksploitasi sebesar Rp 20.6 milyar. baik usaha-usaha yang sebelumnya pernah dibantu dengan fasilitas Kredit Kecil/Kredit Midi.2 milyar untuk 176 ribu nasabah. Kredit Investasi Kecil (KIK) adalah sebesar Rp 71. Dalam tahun 1984 sampai dengan bulan September 1984. dan terhadap kredit eksploitasi biasa sebesar Rp 36. suku bunga_ya akan dinaikkan masing-masing menjadi 18 persen setahun untuk kredit investasi. juga disebabkan beralihnya nasabah Kredit Kecil ke Kredit Umum Pedesaan. Fasilitas kredit ini dimaksudkan untuk mengembangkan.5 milyar. dan jangka waktu maksimum 2 tahun.5 milyar. Sampal dengan akhir September 1984.9 milyar untuk 62 ribu nasabah. posisi Kupedes yang diselenggarakan sejak Januari 1984 telah mencapai Rp 88. Jumlah pinjaman yang diberikan kepada nasabah Kupedes adalah minimum sebesar Rp 25.6 milyar. posisi Kredit Kecil tercatat sebesar Rp 14. Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pemberian kredit kepada pengusaha kecil. Dalam hal Kupedes dipergunakan untuk modal kerja dikenakan suku bunga 18 persen setahun. Kredit ini dananya berasal dari kredit likuiditas Bank Indonesia. maupun usaha calon nasabah baru.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 diselenggarakan program kredit baru yang merupakan pengganti dari program Kredit Kecil.4 milyar atau suatu penurunan sebesar Rp 22.000. jumlah pertanggungan yang diberikan terhadap.2 milyar untuk 13 ribu nasabah.8 milyar setiap bulan.000.1 milyar ( 60. Kredit tersebut dapat digunakan untuk investasi dengan bunga 12 persen setahun.-.11. dan kredit eksploitasi biasa adalah sebesar Rp 344.

1 milyar untuk 9 ribu nasabah.0 persen). pemberian kredit penjembatan. termasuk kredit sebesar Rp 0.1 juta kepada 39 buah perusahaan dan penanaman dana lainnya sebesar Rp 10.000.956 peminjam. maka untuk meningkatkan pendapatan serta menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat pedesaan dan kota-kota kecamatan. jumlah pinjaman yang dapat diberikan kepada seorang peminjam maksimum adalah Rp 15. Hal ini berarti bahwa dalam periode AprilSeptember 1984 perputaran KCK mengalami peningkatan sebesar Rp 12 milyar (8.-.612. perputaran KCK telah mencapai sebesar Rp 162 milyar yang meliputi 13. Guna mendorong kegiatan para pengusaha kecil.0 milyar untuk 5 ribu nasabah. dan sektor jasa-jasa sebesar Rp 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ribu nasabah.4 milyar untuk 68 ribu nasabah. perdagangan sebesar Rp 1. sejak tahun 1976 Pemerintah menyelenggarakan program Kredit Candak Kulak untuk para bakul/pedagang kecil di pedesaan. Bantuan tersebut terutama dipergunakan untuk usaha di sektor perdagangan dan industri. jasa-jasa sebesar Rp49. Di dalam keseluruhan kredit yang dijamin PT Askrindo.0 juta.6 milyar merupakan pertanggungan kredit yang diberikan secara individual kepada 127 ribu nasabah. PT Bahana telah melakukan penanaman dana sebesar Rp 4. dan bunga yang rendah melalui 4.4 milyar untUk 389 nasabah. dan di sektor ekonomi lainnya sebesar Rp 18. Departemen Keuangan RI 106 .dengan bulan September 1984.9 milyar untuk 40 ribu nasabah. Pemberian pertanggungan secara individual terdiri dari nilai pertanggungan di sektor pertanian sebesar Rp 10. Sampai dengan akhir bulan September 1984. dan Rp 332.7 milyar merupakan jumlah pertanggungan yang diberikan secara masal kepada 124 ribu nasabah.285. Pada waktu dimulainya program kredit tersebut. Menurut sektor ekonomi. sebesar Rp 11. dengan peningkatan sebanyak 632 nasabah. Di samping program-program kredit diatas.682 nasabah. perdagangan sebesar Rp 231. Kredit ini disalurkan oleh Bank Rakyat Indonesia dengan syarat lunak. PT Bahana sejak tahun 1974 telah pula memberikan bantUan dalam bentuk penyertaan modal.0 juta yang terdiri dari kredit penjembatan sebesar Rp 3. dari keseluruhan jumlah pertanggungan tersebut di atas. Sampai .964 BUUD/KUD yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.-.5 milyar untuk 122 ribu nasabah. industri sebesar Rp 23.8 milyar untuk 1.588 peminjam. penyertaan modal sebesar Rp 662. yang sejak bulan Juli 1982 ditingkatkan menjadi Rp 30. Secara terperinci pemberian pertanggungan secara masal meliputi sektor pertanian sebesar Rp 8. maupun dalam bentuk penanaman lainnya. sedangkan pada akhir bulan Maret 1984 jumlahnya baru mencapai Rp 150 milyar dengan jumlah 12.2 milyar untuk 5 ribu nasabah.9 juta.000.2 juta untuk satU BUUD/KUD.

11 KREDIT KECIL DAN KREDIT UMUM PEDESAAN.250 234.902 58.822 744.740 760.438 687.088 59.932 62.810 342.294 393.322 47.741 566.058 15.553 498.773 252.196 unit dibangun oleh non Perumnas.406 224.592 63. Bila dibandingkan dengan posisinya pada bulan Maret 1984 sebesar Rp 620 milyar.040 756.613 unit rumah yang terdiri dari 92.579 71.277 2.991 19.159 723.911 4-9. dan 123.411 22.880 12.332 58.104 57.934 695.624 Guna membantu mengatasi kebutuhan akan perumahan.972 2.44.806 766.708 88.519 296.416 Periode 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Januari Pebruari Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September l) 1) Angka sementara.829 272.290 750. 13.281 57.192 11.220 .266 618.659 758.280 82.398 41. 1974/1975 1984/1985 Kredit Kecil Kredit Umum Pedesaan Jumlah pinjaman Jumlah pinjaman peminjam rupiah ) peminjam rupiah) 61.306 36.204 57.708 710. posisi pemberian KPR mencapai jumlah sebesar Rp 721 milyar. Pemerintah sejak tahun 1976 menyediakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang disalurkan melalui Bank Tabungan Negara.689 26.783 359.509 749.229 665.855 716.879 54.974 450.474 353.599 14.029 8.601 756.256 59.641 62.518 31. selama Departemen Keuangan RI 107 .230 75.503 741.172 30.130 445.597 702.246 407.670 16.920 313.404 491.137 5.065 59.673 63. yang digunakan untuk membangun 215.824 131.533 57. Sampai dengan akhir bulan September 1984.968 60.754 20.467 161.162 50.340 603.208 757.417 unit dibangun oleh rerum Perumnas.603 207.414 56.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.925 62.662 45.981 398.

Pembinaan yang telah dilakukan selama ini terutama diarahkan kepada usaha untuk lebih mengembangkan bank pembangunan daerah (BPD).3 persen) untuk membangun 19. 4. serta menyempurnakan organisasiorganisasi lembaga keuangan. dalam Repelita IV sasaran kebijaksanaan moDeter diarahkan untuk meningkatkan efisiensi kerja. dan 15.5 sampai 3 kali modal sendiri. Dari jumlah tersebut. Kredit untuk pembangunan rumah oleh rerum Perumnas dananya berasal dari APBN. guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan jasa perbankan terutama di daerah-daerah. Jumlah kredit yang diperoleh daTi BRI adalah antara 1.778 unit rumah. dan pedesaan.4. Lembaga-Iembaga keuangan perbankan akan dikembangkan dan diperluas agar pelayanannya dapat menjangkau ke seluruh daerah kabupaten. kecamatan. dan kantor cabang pembantu BPD.882 unit dengan nilai sebesar Rp 8 milyar dibangun oleh rerum Perumnas.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 periode April-September 1984 pemberian KPR telah mengalami peningkatan sebesar Rp 101 milyar (16. Hal itu dimaksudkan agar lembaga-lembaga keuangan lebih efektif menjalankan fungsinya sebagai perantara keuangan dalam bentuk mobilisasi daD penyaluran dana-dana masyarakat. dan bank pembangunan koperasi. Untuk tetap meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam membiayai pembangunan. Lembaga-lembaga keuangan 4. dengan suku bunga 13. Departemen Keuangan RI 108 . Dalam tahun 1983/84 bantuan tersebut diberikan kepada 2 BPD. dan jangka waktu satu tahun. Pemerintah telah memperlunak persyaratan pendirian kantor cabang. sedangkan kredit untuk pembangunan rumah non Perumnas dananya berasal dari dana perbankan. dan berhasil guna dalam menunjang pembangunan nasional. sebanyak 3. Di samping itu.4. sehingga sampai saar ini telah dicakup 27 buah BPD yang tersebar merata di setiap ibukota propinsi. Usaha untuk meningkatkan bank perkreditan rakyat di dalam rangka membantu pengusaha golongan ekonomi lemah yang berada di pedesaan terus dilakukan dengan pemberian fasilitas kredit likuiditas yang disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI).1. Lembaga keuangan perbankan Kebijaksanaan Pemerintah untuk mengembangkan dan membina sektor perbankan dalam tahun 1984/1985 merupakan kelanjutan dari kebijaksanaan dalam tahun anggaran sebelumnya yang diarahkan untuk menumbuhkan sistem perbankan yang sehat. Usaha memperkuat permodalan BPD serta pembinaannya dalam bentuk pemberian bantuan teknis dan pendidikan tetap dilanjutkan.896 unit dengan nilai Rp 93 milyar dibangun oleh non Perumnas. bank perkreditan rakyat (BPR).5 persen per rabun.

tugas pembinaan dan pengawasan LKBB yang semula dilaksanakan oleh Bank Indonesia. dan menjamin serta menanggung terjualnya surat-surat berharga (underwriter). dan jenis lainnya. bank-bank dan lembaga-Iembaga keuangan bukan bank masih tetap dapat menerbitkan surat jaminan bank dalam rangka memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat. disesuaikan dengan tempat dimana bank didirikan terutama mengenai besarnya modal koperasi. yaitu jenis yang bergerak di bidang pembiayaan pembangunan. jenis investasi. Di samping itu Departemen Keuangan RI 109 . Dalam tahtm terakhir ini. sehingga jumlahnya menjadi 80 kantor pacta akhir Juli 1984. dilaksanakan melalui pemberian kemudahan untuk membuka kantor cabang. sejak tahun 1982 dilakukan oleh Departemen Keuangan.2. sehingga BUSN yang telah mengadakan merger sampai dengan AgustUs 1984 berjumlah 94 bank. LKBB jenis investasi terutama melakukan usaha sebagai perantara dalam menerbitkan surat-surat berharga. Tugas LKBB jenis pembiayaan pembangunan terutama adalah memberikan. Ada 3 macam jenis LKBB. Lembaga-Iembaga keuangan bukan bank Lembaga-Iembaga keuangan bukan bank (LKBB) mempunyai peranan penting dalam menunjang pengerahan dana dari masyarakat untuk kemudian menyalurkan dana tersebut bagi kegiatan yang produktip. sedangkan himbauan untUk melakukan penggabungan usaha (merger) terus dilanjutkan. sebanyak 2 bank telah melakukan penggabungan usahanya. Jumlah kantor cabang pembantu sebagai peserta tidak langsung dari kliring lokal telah bertambah dengan 24 kantor. 4. Usaha menciptakan pertumbuhan yang lebih seimbang diantara bank-bank umum swasta nasional (BUSN). dan pengusaha ekonomi lemah. dan semester I 1984/1985.4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Demikian pula sejak Pebruari 1983 tata kerja bank-bank umum yang berbadan hukum koperasi. serta agar peranannya selaras dengan kebijaksanaan ekonomi keuangan. yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia terus ditingkatkan. Sedangkan tugas LKBB jenis pembiayaan lainnya adalah memberikan pinjaman kepada masyarakat golongan berpenghasilan menengah untuk memiliki rumah. dan kantor cabang pembantu. 14A tahun 1980. Dalam rangka memperluas dan memperlancar lalu lint as uang giral. Dalam tahun 1983/1984. perluasan kliring lokal di wilayah. dan melakukan penyertaan modal dalam perusahaan-perusahaan. Untuk lebih meningkatkan peranan LKBB di dalam pengembangan posar uang dan modal. Berdasarkan Keppres nomor 29 tahun 1984 sebagai pengganti Keppres no. kredit jangka menengah atau jangka panjang. jumlah tempat penyelenggara kliring lokal tersebut telah bertambah dengan 3 tempat sehingga menjadi 24 tempat.

telah dijual surat-surat berharga kepada Bank Indonesia sebesar Rp 57 milyar. jumlah obligasi yang dapat didiskonto ulangkan kepada Bank Indonesia ditetapkan sebesar 70 persen dari nilai nominalnya.4 persen) dan jenis pembangunan sebesar Rp 238 milyar (20. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 (sampai dengan Juli 1984). Dalam tahun 1983/1984.2 persen.162 milyar. Sementara itU jumlah dananya pada periode yang sarna telah meningkat sebesar Rp 58 milyar atau 5. Sedangkan jumlah dana LKBB jenis pembangunan berjumlah sebesar Rp 243 milyar. Bank Indonesia telah memberikan fasilitas diskonto ulang. surat-surat berharga yang didiskontokan kepada Bank Indonesia berjumlah sebesar Rp 156 milyar. Dengan berkembangnya perekonomian Indonesia. hak pilih (optie) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan. dan jumlah surat berharga yang dibeli kembali oleh LKBB adalah sebesar Rp 197 milyar. disertai dengan. Dengan adanya pembelian kembali suqtt-surat berharga yang lebih besar sejumlah Rp 41 milyar. yang secara formal mulai diperkenalkan oleh Pemerintah sejak tahun 1974. berarti posisi fasilitas diskonto ulang menurun menjadi Rp 2 milyar pada akhir Maret 1984. Penanaman dana dari LKBB sebesar Rp 1. dalam periode April-September 1984 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 5.0 persen). Adapun penanaman dana dari LKBB secara keseluruhan selama periode AprilSeptember 1984 mengalami kenaikan sebesar Rp 65.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pendirian LKBB tetap hanya diberikan untuk kantor perwakilannya saja. Surat berharga yang dapat didiskonto ulangkan kepada Bank Indonesia telah diperluas dengan obligasi. sehingga posisinya menjadi sebesar Rp 1. sehingga posisinya menjadi Rp 1.2 persen. dan dibeli kembali sebesar Rp 51 milyar.155 milyar pada akhir September 1984 terse but terdiri dari penanaman dana LKBB jebis investasi sebesar Rp 917 milyar (79. maka mulai ditempuh pula cara pernbiayaan alternatip melalui leasing. Leasing adalah kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala.5 persen dalam periode yang sarna.2 persen. dan 9. Di lain pihak jumlah dana yang berhasil dihimpun oleh LKBB jenis investasi sampai dengan September 1984 berjumlah sebesar Rp 919 milyar atau 4.155 milyar. Kedua jenis penanaman dana tersebut. Posisi fasilitas diskonto ulang pada akhir Maret 1983 tercatat sebesar Rp 43 milyar.milyar (6. atau Departemen Keuangan RI 110 . Dengan demikian posisi fasilitas diskonto ulang pada akhir Juli 1984 naik menjadi Rp 8 milyar.2 persen lebih tinggi dari posisinya sebesar Rp 882 milyar pada akhir Maret 1984.6 persen). Untuk tahap pertama. Demikian pula untuk lebih meningkatkan peranan LKBB dalam perdagangan surat-surat berharga. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 9.

masingmasing sebesar Rp8. maupun sebagai penyerap tenaga kerja.8 milyar (52. dan Rp 158.4 persen\ Rp 58.5 persen). Kegiatan asuransi meliputi pemberian pertanggungan terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat kebakaran. Berdasarkan perkembangan sampai dengan semester I 1984/1985. Sejak diselenggarakannya sampai dengan akhir semester I 1984. Perasuransian Perkembangan perekonomian dalam lahar pernbangunan yang semakin meningkat akan memperluas bidang-bidang usaha perasuransian.9 milyar.2 milyar. peningkatan ini disebabkan adanya peningkatan dana-dana investasi dari sektor-sektor asuransi kerugian dan reasuransi. maka dalam tahun 1984 terdapat peningkatan kegiatan leasing yang cukup besar.4 persen).9 persen). 4. 14 perusahaan milik swasta nasional.5 milyar (33. Asuransi jiwa bertalian dengan pemberian jaminan terhadap resiko yang timbul terhadap kematian. antara lain menanggung resiko.5 milyar.9 milyar.1 milyar. dan asuransi sosial sebesar Rp 570.Kegiatan usaha leasing antara lain dapat dilihat dari besarnya nilai kontrak leasingnya. serta asuransi sosial. yang berasal dari dana-dana investasi asuransi kerugian. asuransi jiwa. Industri asuransi mempunyai beberapa fungsi. dan asuransi sosial. Bila hal ini dibandingkan dengan dana investasi dari sektor asuransi dalam tahun 1982. dan bea siswa. 3 buah diantaranya merupakan perusahaan milik negara. sebagai alar pernupukan modal. Dibandingkan dengan nilai kontrak leasing dalam periode yang sarna tahun lalu sebesar Rp 47. yang selama April-Juni 1984 mencapai sebesar Rp 108.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersarna. jumlah dana investasi dari sektor asuransi telah mencapai jumlah sebesar Rp 900.2 milyar (5. dan reasuransi sebesar Rp 159.2 milyar. dan masa pensiun. kesehatan tenaga kerja. yaitu asuransi kerugian dan reasuransi. asuransi jiwa. Sampai saat ini jumlah perusahaan asuransi Departemen Keuangan RI 111 . Kegiatan ini di Indonesia dapat digolongkan ke dalam 3 golongan. jumlah perusahaan asuransi kerugian. Jumlah premi bersih yang diterima selama semester f1984/1985 adalah sebesar Rp 52.5 milyar (38. dan 12 buah milik patungan.1 milyar sedangkan jumlah tagihan bersih yang harus dibayar dalam periode yang sarna hanya berjumlah sebesar Rp 21. asuransijiwa sebesar Rp 169. jumlah perusahaan leasing telah mencapai 41 perusahaan yang terdiri dari 1 perusahaan milik negara. berarti telah terjadi kenaikan sebesar Rp 225.3.4 milyar. sebagai salah satu sumber pendapatan Pemerintah. dan 26 perusahaan leasing patungan. 53 buah milik swasta nasional. pengangkutan. pensiunan. yang pada gilirannya akan membawa kernajuan kegiatan di bidang perasuransian. kematian.4. dan reasuransi kerugian adalah sebanyak 68 buah. Sampai dengan tahun 1983.

4 milyar diantaranya diinvestasikan dalam deposito.821 ribu orang.1 persen pertahun. Dari jumlah tersebut Rp 80. atau rata-rata setiap tahun sebesar 4.906 buah. Perkembangan dana investasi dari Departemen Keuangan RI 112 .7 persen). sampai dengan tahun 1983 mencapai sebesar Rp 169.308 ribu orang. sehingga posisinya dalam tahun 1983 menjadi Rp 1. dan jenis-jenis investasi lainnya.9 persen).8 milyar (52. Kalau dibandingkan dengan jumlah dana investasi dalam tahun 1978. sedangkan dalam tahun 1983 saja tercatat peningkatan sebesar Rp 158.259. dana investasi meningkat sebesar Rp 95. dan Rp 38. atau rata-rata Rp 28.7 persen setiap tahunnya. Sedangkan dalam tahun 1983 tercatat peningkatan sebesar Rp 58.4 persen. Jumlah peserta asuransi sosial sejak tahun 1978 sampai dengan 1983 naik rata-rata 21. sehingga jumlah premi untuk tahun 1983 berjumlah Rp 114. yakni dari posisinya sebesar Rp 411.3 milyar.9 persen) setiap tahunnya. Jumlah nilai pertanggungannya dalam periode yang sarna juga menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 58. adalah sebanyak 15 perusahaan. Dalam periode yang sarna.5 milyar (38. Pemerintah telah memberikan kesempatan kepada pengusaha nasional untuk mendirikan perusahaan asuransi jiwa baru. Sementara itu jumlah dana investasi asuransi jiwa yang ditanam dalam bentuk deposito.1 persen). sedangkan pada tahun 1978 baru mencapai 1.4 milyar pada tahun 1983. investasi perusahaan asuransi jiwa telah meningkat sebesar Rp 140.0 milyar diinvestasikan dalam pinjaman polis.633.5 persen).9 persen. Selama periode 5 tahun.8 persen setiap tahunnya.817.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jiwa yang ada di Indonesia.1 persen). atau rata-rata setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar Rp 348. Jumlah premi dalam periode yang sarna mengalami kenaikan dengan 59.760 buah. jumlah uang pertanggungan asuransi jiwa telah meningkat sebesar Rp 1.2 milyar (96. Perkefnbangan dana investasi yang dilakukan perusahaan asuransi sosial juga meningkat.8 milyar (195.9 milyar dalam tahun 1982.9 milyar. Perkembangan perusahaan asuransi so sial menunjukkan gambaran adanya pembinaan serta penyempurnaan yang dilakukan terhadap perusahaan tersebut.0 milyar (36. Dengan demikian selama 5 tahun terse but terjadi kenaikan sebesar 24.4 milyar (39. termasuk Koperasi Asuransi Indonesia (KAI). pinjaman polis. menjadi Rp 570.3 persen). sehingga jumlahnya menjadi sebesar Rp 2. sedangkan pengusaha asing dapat melakukan usaha patungan dengan perusahaan asuransi jiwa nasional yang ada. Dalam tahun 1983 saja jumlah pertanggungan meningkat sebesar Rp699.7 milyar setiap tahunnya. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 4.8 milyar dalam tahun 1983.969 milyar.9 milyar (484. Jika dalam tahun 1978 pesertanya adalah sebanyak 2. Perkembangan usaha asuransi jiwa pada saat ini terlihat pada jumlah polis yang dalam tahun 1983 berjumlah 2.741.

103 2.475 8.530 39.889 12.560 2.405 83.861 Asuransi jiwa 30 222 404 961 2.398 72.004 126.085 29.946 Asuransi sosial 1.405 411. Sejak bulan Juli 1983 telah dipercepat tala cara penyelesaian transaksi efek di bursa dari 14 hari menjadi 4 hari.481 54.192 15. DANA INVESTASI DARI SEKTOR ASURANSI. dan obligasi yang diterbitkan perusahaan atau badan usaha.714 900. Di samping itu guna meningkatkan kegiatan perdagangan efek. Pemerintah senantiasa berusaha untuk menyempurnakan tala cara perdagangan efek di bursa.756 4.322 25.073 4.4. Sedangkan bagi badan hukum lainnya yang berbentuk PT.693 4.983 77.629 159. Pajak alas bunga.827 18.527 7.560 111.12.903 570.163 3.051 2.531 296. dividen dan royalty yang terhutang alas pembayaran bunga dan hadiah obligasi diberikan keringanan berupa tidak ditagihnya sebesar 50 persen.247 32.182 169. Selanjutnya Departemen Keuangan RI 113 .344 5.4.253 674.264 18.198 4.267 92.542 47. Pembelian obligasi tidak dapat dipergunakan baik secara langsung maupun tidak langsung sebagai dasar pengenaan pajak mengenai masa sebelum pembelian. Tabel IV. 1969 . Pasar Modal Dalam rangka meningkatkan peranserta masyarakat dalam pemilikan saham. dan perorangan harus mempunyai modal disetor atau modal sendiri sekurang-kurangnya Rp 100 juta.188 21.812 23.631 3. sejak Juni 1983 bank dan LKBB yang ingin menjadi pedagang efek diwajibkan menyisihkan modal usaha sekurang-kurangnya Rp 250 juta.939 177.911 10.182 485.064 40.609 59.198 60.709 110.743 11. Sejak Januari 1983 telah diadakan penyempurnaan ketentuan mengenai pemberian keringanan perpajakan bagi perorangan.246 105. sehingga tarip pengenaan efektip adalah 10 persen yang bersifat pungutan final.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sektor asuransi dapat diikuti dalam Tabel IV.288 151.882 160.1983 ( dalam juta rupiah) kerugian reasuransi 1.926 7.333 36. dan badan usaha yang membeli obligasi yang telah memperoleh ijin dari Menteri Keuangan tidak dilakukan pengusutan fiskal.549 222.872 8.531 314.391 Periode 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1) 1) Angka sementara Jumlah 2.

dan sertifikat dana yang diperdagangkan di luar bursa. dan PT Papan Sejahtera (di bidang perumahan).230 lembar dengan nilai Rp 154. Departemen Keuangan RI 114 . sejak diaktipkannya kembali bursa efek di Indonesia pada bulan AgustUs 1977. 23 buah diantaranya menerbitkan saham sejumlah 57.8 milyar.420 ribu sertifikat dengan nilai Rp 72. Jumlah sertifikat saham dan sertifikat dana yang berada di masyarakat sampai dengan akhir tahun 1983/1984 adalah sebanyak 6. Di samping itu Pemerintah telah membebaskan pajak penghasilan alas dana pensiun yang ditanam dalam bentuk saham. jumlah perusahaan yang telah terdaftar adalah sebanyak .7 milyar. Rp 130.115 ribu lembar dengan nilai sebesar Rp 60. Dalam tahun 1983/1984 dan semester I 1984/1985.13 dan Tabel IV. maka sampai dengan Agustus 1984. Dengan mulai diterbitkannya obligasi. yang seluruhnya berjumlah 7. serta obligasi yang dikeluarkan oleh badan usaha milik negara. Dengan demikian. dan menengah. PT Danareksa telah menerbitkan dua jenis sertifikat yaitu sertifikat saham dan sertifikat dana. kedua puluh enam perusahaan. Berdasarkan harga penawaran perdana.5 milyar.14. Sampai dengan Agustus 1984. dan 3 buah badan usaha menerbitkan obligasi sebanyak 263. berarti pasar modal di Indonesia mulai memasuki tahap lanjut dalam perluasan transaksi modalnya.3 milyar. dan efektif.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tidak dilakukan lagi penagihan pajak penjualan dan pajak perseroan yang terhutang dari hasil penerimaan bunga dan hadiah obligasi. Adapun perusahaan/badan usaha yang menerbitkan obligasi sampai dengan Agustus 1984 adalah PT Jasa Marga (di bidang jalan tol). Berbagai kegiatan promosi dan penelitian telah ditingkatkan untuk menjadikan pasar modal sebagai sarana pembiayaan yang potensial.26 buah. Perkembangan perusahaan-perusahaan/badan-badan usaha yang telah memasyarakatkan saham dan obligasi melalui posar modal dapat diikuti dalam Tabel IV. dan badan usaha itu telah menyerap dana masyarakat melalui pasar modal sebesar Rp 285.2 juta lembar saham dengan nilai emisi . Penerbitan berbagai jenis sertifikat saham PT Danareksa berkaitan erat dengan tujuan menyebarluaskan pemilikan sertifikat kepada masyarakat. dan 1 perusahaan untuk memasarkail obligasi melalui posar modal. Bank Pembangunan Indonesia (di bidang perbankan). terutama yang berpenghasilan rendah. telah disetujui permohonan 8 perusahaan untuk memasarkan sahamnya.5 milyar.

PT Panin Union Insurance Ltd 19.716.708 47.200.000 765.096 8.708 44. PT Sari Husada 18.009.000 16.90 3. PT Centex .147.317.000 1.250 1. PT Richardson Vicks Indonesia 6.952.100.10 10.10 115.00 83.10 7.000.000 2.10 119.022.096 20.116 214.867.412.421.421.541.639.096 7.116 557.10 36.000 523.281.50 110.608 50.10 Departemen Keuangan RI 115 .8 806.108 31.080.520.680.250 3.055.108 29.Emisi I .60 3.00 5.00 879.000 1.080.30 98.60 47.Emisi II 3.237.90 89. PT Tificorp 5.175 1.Emisi II 2. 342.Emisi I .275 1.208 48.500 7.162.550 1.205.00 7.135.000 360.192. PT Bayer Indonesia 14. PT Panin Bank Indonesia .500 972.722. PT Unitex 12.000 1.108 31.605.324.540 1.500 3. PT Goodyear Indonesia 7.067.850.00 81.475 3.762.079.10 113.150. PT Sucaco 13.30 11.708 40.90 117.Emisi I .10 118.00 16.20 7.096 673.562.800.060.100 1.00 1.40 29. PT BAT Indonesia 4. PT Squibb Indonesia 16.000 2.690.920.600.950 1.900 1.618.481.00 1.750 5.50 3.642.850 1.751.660.050 1.00 1.519. PT Sepatu Bata Indonesia 11.749.425 2.708 45.618.208 43.600.90 638 2.10 27.90 5.40 5.Emisi II 15.096 17.500 5. PT Semen Cibinong .924.475 1.00 7.00 1.696.005.398.100 1.10 43.60 52.8 1.096 1.1.927.30 9.526.000 584.00 84.280.210.90 92.467. PT Jakarta International Hotel .150 1.600 342.208 48.669.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.000 1.362.950 1. PT Unilever Indonesia 10.012 9. PT Delta Jakarta 22.708 46.000 1.020.081.000 3.660.708 48.20 130.200.000 1.000 6. PT Asuransi Jiwa Panin Putra 17.000 6.608 38.90 1.716.975.500.226.584 57.500 3. 13 PERUSAHAAN-PERUSAHAAN/BADAN USAHA YANG TELAH MEMASYARAKATKAN SAHAM MELALUI PASAR MODAL SAMPAI DENGAN AGUSTUS 1984 Jumlah Harga Nilai pasar Perusahaan emisi Kumulatif penawaran Perdana Kumulatif (lembar) (lembar) (Rp/lembar) (Juta Rp) (Juta Rp) 1.096 9.2 855 .10 35.687.580. PT Multi Bintang Indonesia 9.084.976 6.834.014.980 116.096 15.608 36.00 3.050 2. PT Pfizer Indonesia 21.20 3. PT Hotel Prapatan 23.000 733.60 109.257.500 600.020.184 10.10 116.957.637.90 120.024.530.665.857.724.325 3.667.600.400 1. PT Merck Indonesia 8.000 347. PT Regnis Indonesia 20.822.500 4.570 3.800.

00 6.00 68.080 2.00 4.00 154.000 15.000 24. 300 2.000 10.000 4.000. Dalam tahun 1985/1986 jumlah uang beredar diperkirakan akan bertambah dengan Rp 1.221.500 1.000 50 100 500 1.000 10.000 1.800 6. Departemen Keuangan RI 116 .0 milyar.408.000 6.0 milyar dan Rp 24.410.000 1.000. Dengan demikian posisi jumlah uang beredar.00 2.550 4.800 263.00 10.000 10.845.000 10 100 500 1.00 150 600 2.000 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.960.0 milyar.800. sedangkan kredit perbankan bertambah dengan Rp 4.000 46. dan kredit perbankan pada akhir tahun 1985/1986 diperkirakan mencapaijumlah Rp 10.7 persen).00 Perusahaan PT Jasa Marga I Bank Pembangunan PT Papan Sejakhtera PT Jasa Marga II Jumlah 4.250 6.000.00 16.000 1.300.960 960 1.5.565.00 2.000 400 200 1.718.250. Perkiraan jumlah uang beredar dan kredit perbankan tahun 1985/1986 Perkiraan jumlah uang beredar didasarkan pada anggapan-anggapan.0 milyar (23.500.0 milyar (13.000.550.00 24.500 5.000 10 50 100 500 1.00 2.600 2.000 10.250.000 5.500.0 persen). dan Rp 19.00 65 260 1.00 10 50 100 840 1.164.650 1. 14 PERUSAHAAN-PERUSAHAAN/BADAN USAHA YANG TELAH MEMASYARAKATKAN OBLIGASI MELALUI PASAR MODAL (Januari 1983 sId Agustus 1984) Jumlah emisi Pecahan Harga nominal (lembar) Harga Perdana Nilai Harga (ribu Rp) (juta Rp) 125.00 5. bahwa kenaikan Darga dalam tahun 1985/1986 tidak banyak berbeda dibandingkan dengan tahun 1984/1985.00 2.000 1.230 10 50 100 1.943.125.000.0 milyar.00 2.680 1.000 5.000. Pada akhir tahun 1984/1985 jumlah uang beredar dan kredit perbankan diperkirakan sebesar Rp8.

setelah dalam tahun sebelumnya mengalami perbaikan dari sebesar negatif 0. 1.4 persen dan 2. Pendahuluan Memasuki tahun pertama Repelita IV. Sejalan dengan pertumbuhan yang dicapai negara-negara industri. secara keseluruhan produk nasional bruto (GNP) negara-negara industri dalam tahun 1984 diperkirakan dapat meningkat kembali menjadi 4. Di kawasan Asia Tenggara. masing-masing diperkirakan sebesar 5.7 persen. Keadaan ini menempatkan mereka sebagai negara-negara yang mempunyai laju pertumbuhan yang relatif lebih cepat di antara kelompok negara-negara industri utama.0 persen dan 4.5 persen.2 persen dalam tahun i982 menjadi 2.6 persen. Sebagai akibatnya.2 persen dalam tahun 1983. 2. dari sebesar 3. Tanda-tanda perbaikan ekonomi yang telah mulai tampak dalam tahun terakhir Pelita III belumlah sepenuhnya berkembang seperti yang diharapkan. proses peningkatan kegiatan yang berlangsung dalam tahun 1984 belum secara merata terjadi pada semua negara industri. sehingga kalau diukur dan pertambahan produk nasional bruto (GNP). perkembangan ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih dan resesi yang berkepanjangan. masing-masing diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 7. Jepang dan Kanada dalam tahun 1984 berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan ekonominya.6 persen daiam tahun 1983.1. sehingga pengaruh positifnya masih dirasakan terbatas bagi kemajuan ekonomi negara-negara berkembang.6 persen.4 persen. Dengan tingkat pertumbuhan yang dicapai oleh masing-masing negara industri tersebut. negara-negara ASEAN seperti Thailand. Kanada dan Jepang mengalami peningkatan kegiatan yang lebih tinggi.1 persen dan nol persen dalam tahun 1983. Sebaliknya Inggris diperkirakan justru mengalami penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi menjadi 2.9 persen.3 persen. 3. 5.3 persen. sementara kegiatan di negara-negara industri lainnya hanya menunjukkan sedikit perbaikan. Sementara itu negara-negara industri lainnya seperti Jerman Barat.5 persen dan 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB V NERACA PEMBAYARAN DAN PERDAGANGAN LUAR NEGERI 5. produk nasional bruto negara-negara berkembang pada pelbagai belahan bumi seperti di Asia. Dengan dicapainya perluasan kegiatan tersebut. Afrika dan Amerika Latin juga mengalami peningkatan. Amerika Serikat.1 persen dan sebesar 5. Departemen Keuangan RI 117 . Amerika Serikat. Italia dan Perancis diperkirakan sedikit mengalami peningkatan yaitu masingmasing sebesar 2.

dari 9. Sebaliknya Inggris.8 persen. Penurunan yang sarna dialami pula oleh Amerika Serikat dan Kanada masing-masing diperkirakan menjadi 7. Dalam tahun 1984.9 persen. Italia dengan berbagai upaya diperkirakan telah berhasil menurunkan laju inflasi ke tingkat 11.0 persen dalam tahun sebelumnya.0 persen dalam tahun sebelumnya. 6. dan 11.2 persen.7 persen dalam tahun 1983. Terpeliharanya stabilitas.4 persen dalam tahun 1983 menjadi negatif 6. 4.0 persen dan 4. dan Inggris te1ah dapat menu runkan tingkat inflasinya di bawah lima persen. Jepang dengan laju inflasi yang diperkirakan sebesar 0. Melalui kebijaksanaan pengendalian moneter. Sebaliknya Departemen Keuangan RI 118 .6 persen. tingkat pengangguran rata-rata di tujuh negara industri utama diperkirakan menurun.9 persen dalam tahun sebe1umnya. yaitu menjadi 7. masih tetap merupakan negara dengan tingkat pengangguran terendah di antara ke1ompok negara-negara industri utama. dan terciptanya iklim usaha yang menguntungkan hanya mungkin dicapai jika laju inflasi dapat dipertahankan pada tingkat yang terkendali.0 persen.5 persen. yaitu masing-masing menjadi 12. peningkatan produksi. dan 11.9 persen dari 15. Italia. Sementara itu meskipun masih merupakan negara dengan tingkat inflasi tertinggi di antara negara-negara industri.6 persen. sehingga angka pengangguran dapat lebih dikendalikan selaras dengan kemajuan ekonomi yang dicapai masing-masing negara.3 persen dari 5.6 persen dalam tahun 1984 dibandingkan dengan 8. Kanada. Sementara itu Jerman Barat be1um dapat menurunkan angka pengangguran dari tingkat 8. Pertumbuhan ekonomi dunia tersebut dapat dicapai dengan adanya perluasan kegiatan investasi.0 persen. Sedangkan negara-negara lainnya seperti Jerman Barat. merupakan negara yang paling berhasil mempertahankan tingkat stabilitas ekonominya. dan Perancis justru sedikit mengalami kenaikan dalam tingkat penganggurannya.9 persen dan 10. tingkat inflasi rata-rata dalam tahun 1984 di negaranegara industri secara keseluruhan diperkirakan dapat diturunkan menjadi 4. dengan masing-masing diperkirakan sebesar 2.0 persen dalam tahun 1984. 5.9 persen dalam tahun 1983 menjadi sebesar 6.0 persen dalam tahun 1984. dari 2.3 persen dalam tahun 1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Malaysia dan Singapura diperkirakan berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya masing-masing dari sebesar 5.3 persen. serta perkembangan aktivitas di bidang perdagangan antarnegara.6 persen. Sedangkan Philipina justru diperkirakan mengalami penurunan dalam tingkat pertumbuhan ekonominya dari 1. Peningkatan kegiatan-kegiatan tersebut se1anjutnya mendorong perluasan kesempatan kerja. Jepang dengan penurunan angka pengangguran yang diperkirakan menjadi 2. Dengan arah perkembangan tersebut. Di antara negara-negara industri tersebut.7 persen dan 8.8 persen.8 persen dan 7.3 persen dalam tahun 1983. 9.

dan tingginya tingkat suku bunga yang timbul sebagai akibat kebijaksanaan yang diambil dalam proses penyesuaian oleh beberapa negara industri di lain pihak. yang pada gilirannya telah mempercepat tingkat perluasan kegiatan ekonomi negara terse but. yaitu 45. diperkirakan justru mengalami sedikit kenaikan yaitu diperkirakan menjadi 3. Pound Sterling-Inggris.3 persen dalam tahun 1983.0 persen dalam tahun 1984 dibandingkan dengan 10. Perbedaan yang terdapat pada perkembangan tingkat suku bunga ini mengakibatkan mengalirnya dana investasi masuk ke Amerika Serikat. dan mengakibatkan berbagai matauang kuat dunia seperti Mark Jerman. dan Singapura diperkirakan sedikit mengalami kepaikan.1 persen dan 12.9 persen dari 3. Yen Jepang.2 persen dalam tahun 1983. mendorong semakin kuamya nilai tukar matauang Amerika Serikat terhadap pelbagai macam matauang asing (currency) lainnya. US Prime Rate tetap bertahan pada tingkat yang cukup tinggi. Suku bunga nasabah utama di Amerika Serikat (US Prime Rate) mengalami peningkatan lebih tinggi dibanding dengan kenaikan suku bunga antar bank baik di London (LIBOR) maupun di Singapura (SIBOR). dan mendorong timbulnya kesenjangan yang makin lebar dengan negara-negara industri terkemuka lainnya. Guilder Belanda.0 persen. Terkendalinya laju inflasi bagi terciptanya iklim usaha yang mendukung peningkatan kegiatan ekonomi tersebut diusahakan dengan pengendalian jumlah uang beredar. Keadaan ini menimbulkan ketidakstabilan pasar valuta internasional. 7.5 persen dalam bulan Juli 1981. Perbedaan tingkat kegiatan ekonomi di satu pihak. terutama Amerika Serikat. Sekalipun tidak sebesar ketika suku bunga mencapai tingkat tertinggi yaitu sekitar 20. baik di Eropa.8 persen dalam tahun sebe1umnya. Sementara itu Thailand diperkirakan mampu mengendalikan angka inflasinya pada tingkat 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Amerika Serikat sekalipun tingkat inflasinya masih di bawah lima persen. masing-masing menjadi 4. Asia dan Amerika Latin diperkirakan dapat dikendalikan masing-masing ke tingkat sebesar 12.5 persen.5 persen. laju inflasi negara-negara berkembang di Afrika. Amerika Serikat. Hongkong. Kebijaksanaan ini yang dipertajam oleh upaya pemerintah negara-negara industri. seperti yang dicapai oleh LIBOR maupun SIBOR dalam bulan September tahun 1984. Franc Perancis.0 persen. untuk menarik dana masyarakat sebagai cara menutup defisit anggaran belanjanya telah mengakibatkan bertahannya suku bunga riil pada tingkat yang cukup tinggi.7 persen dan 1.5 persen dan 3. yaitu sebesar 13 persen jika dibanding dengan tingkat sebesar 11. dari sebesar 3. Philipina diperkirakan mempunyai angka inflasi yang paling tinggi.0 persen. maupun Singapura. Adapun tingkat inflasi negara-negara ASEAN seperti Malaysia. Sepadan dengan hasil pengendalian yang dicapai oleh negara-negara industri. Dollar Departemen Keuangan RI 119 .

dan jasa-jasa di lain pihak.6 persen. Di lain pihak defisit transaksi berjalan Perancis diperkirakan sedikit dapat diperbaiki dari US $ 3. seperti Thailand. menimbulkan kecenderungan makin meningkatnya tindakan proteksionisme yang dilakukan oleh negaranegara industri sebagai upaya untuk melindungi industri dalam negeri masing-masing terhadap persaingan barang-barang sejenis daTi negara lain. tindakan penyesuaian nilai tukar matauang. Besamya defisit neraca perdagangan di satu pihak. sedangkan negara-negara industri lainnya seperti Jerman Barat. sehingga defisit neraca perdagangan mereka menjadi semakin besar. Melihat perkembangan transaksi berjalan negara-negara industri tersebut.8 milyar dalam tahun 1983 menjadi sebesar US $ 2. peraturan kesehatan dan lain-lain.9 milyar dalam tahun sebelumnya. seperti penentuan kuota impor. US $ 2. makin ketatnya pengendalian moneter. masing-masing menjadi sebesar US $ 3. di samping mewarnai ketidakpostian situasi moneter intemasional juga telah mengakibatkan terganggunya keseimbangan sistem moneter. dari sebesar US $ 3. Di lain pihak hal ini mengakibatkan beberapa negara yang sampai sekarang masih mendasarkan nilai tukar tetapnya terhadap dollar Amerika Serikat.4 milyar dalam tahun 1984. Kecenderungan tersebut menimbulkan rangkaian akibat terhadap perkembangan perdagangan dunia dalam tahun 1984.6 milyar dalam tahun 1983 menjadi sebesar US $ 90. Volume impor negara-negara industri dalam tahun 1984 diperkirakan meningkat dengan 11. mengakibatkan defisit transaksi berjalan negara-negara industri secara keseluruhan dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami kenaikan. serta perkembangan yang terdapat pada lalu lintas transfer. persetujuan pembatasan ekspor. Sementara itu. yaitu menjadi US $ 52.9 milyar. Usaha mencegah semakin besarnya defisit transaksi berjalan ke arah keseimbangan neraca pembayaran. Inggris dan Kanada diperkirakan mengalami penurunan surplus. Ketidakstabilan kurs dollar Amerika. daTi US $ 20.0 milyar dalam tahun 1984. yaitu dari US $ 41. terpaksa menempuh kebijaksanaan devaluasi sekaligus melakukan pengambangan atas dasar sekelompok matauang asing (currency-basket) negara-negara rekan dagangnya yang utama. Upaya tersebut dilakukan baik dalam bentuk kenaikan tarif maupun dalam bentuk kebijaksanaan bukan tarif.7 milyar. dan tingginya tingkat suku bunga. Departemen Keuangan RI 120 .9 persen. Amerika Serikat diperkirakan mengalami kenaikan defisit yang cukup besar. dan mekanisme pembayaran dunia. persyaratan mutu. besarnya defisit anggaran belanja. sedangkan volume ekspornya dalam periode terse but hanya meningkat sebesar 8.4 milyar dan US $ 1. Jepang diperkirakan mengalami kenaikan surplus.2 milyar dan Dol milyar dollar Amerika.5 milyar dalam tahun 1983 menjadi US $ 35.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Singapura dan Dollar Kanada mengalami kemerosotan nilai (depresiasi) yang cukup besar.5 milyar dari sebesar US $ 18.0 milyar dalam tahun 1984. US $ 4.4 milyar dalam tahun sebelumnya.

sedangkan di lain pihak. memutuskan untuk tetap mempertahankan harga pada tingkat yang berlaku sekarang. Menghadapi situasi demikian. dipertajam pula oleh peleposan cadangan. maka volume perdagangan dunia dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. Kesemuanya itu telah menyebabkan terganggunya keseimbangan posar. dan kecenderungan yang terjadi pada moneter internasional. Kesenjangan yang masih terdapat antara permintaan dan penawaran minyak dunia. sekalipun diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. di samping memperlangka dana yang dapat dipinjamkan. Dengan perkembangan ekspor. volume. dan impor di negara-negara industri. dalam rangka menjaga kestabilan harga minyak. tetapi masih belum seperti yang diharapkan. menyebabkan menumpuknya beban hutang negara Departemen Keuangan RI 121 . dan penawaran minyak hasil produksi negaranegara di luar OPEC. dan beberapa negara berkembang. Besarnya kebutuhan dana untuk membiayai pembangunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Proteksionisme dalam segala bentuknya ini merupakan penghambat bagi dayaguna (effisiensi) perdagangan antarnegara. dengan jalan mengurangi produksi dari batas tertinggi 17. dan perbandingan pertukaran serta keadaan posaran minyak seperti yang diuraikan di atas. sekalipun harga kelompok barang-barang industri mengalami perbaikan. walaupun tidak sebaik dalam tahun 1983. Perkembangan perdagangan dunia. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam sidang daruratnya yang berlangsung dalam bulan Oktober 1984 di Jenewa.0 juta barrel per hari. Inggris dan Nigeria. Meskipun demikian. juga mempermahal biaya peminjaman di berbagai pusat keuangan internasional.1 persen dalam tahun 1984. dan nilai ekspor maupun impor negaranegara berkembang secara keseluruhan. telah mendorong harga beberapa barang primer non minyak tetap ke arab yang lebih baik. dan menutup defisit neraca pembayaran.5 juta barrel menjadi sebesar 16. Perkembangan ini menjadikan posisi perbandingan pertukaran (terms of trade) negara-negara berkembang mengalami peningkatan dari negatif 3.3 persen dalam tahun 1984. dan negara-negara berkembang tersebut. serta lesunya ekspor kebanyakan negara-negara berkembang. serta berhasilnya penghematan (konservasi) energi minyak.5 persen dalam tahun 1983 menjadi sebesar 0.2 persen dalam tahun 1983 menjadi 0. adanya sedikit peningkatan kegiatan ekonomi di pelbagai negara industri. namun masih lebih rendah dad harga yang dicapai oleh kelompok barang primer non minyak. Sebaliknya negara-negara industri diperkirakan mengalami penurunan dari sebesar 2. dan mengakibatkan timbulnya penurunan harga seperti yang telah dilakukan oleh Norwegia. Berdasarkan perkembangan barga. serta menetapkan ketentuan kuota baru bagi negara-negara anggotanya. yang selanjutnya mengakibatkan tertekannya pertumbuhan perdagangan dunia dalam tahun 1984. dan sangat membatasi ekspor dari negara-negara berkembang.

dan tantangan yang dihadapi.6 milyar dalam tahun 1979 menjadi US $ 830. Persetujuan Umum ten tang Tarif dan Perdagangan (GATT). Kesadaran itu menempatkan masalah pemulihan kembali ekonomi dunia menjadi tanggung jawab bagi semua negara sehingga upaya pemecahannya memerlukan kerjasama yang sungguhsungguh. dan berkembang. yang berlangsung dalam bulan Juni 1984 di London. Kecenderungan ini diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang. dan membahayakan operasi bank-bank pemberi pinjaman. serta penanganan secara tuntas melalui berbagai perundingan yang sedang berlangsung. yang merupakan dasar untuk Departemen Keuangan RI 122 . Dari jumlah tersebut. Sementara itu besarnya kewajiban pengembalian bunga maupun cicilan hutang di satu pihak. yang pada gilirannya telah menimbulkan masalah likuiditas perbankan internasional. maupun Dialog Utara-Selatan. Dengan diawali oleh Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) tujuh negara industri terkemuka. serta turunnya ekspor di lain pihak telah menyebabkan debt-service-ratio (DSR) negara-negara terse but menjadi semakin tinggi. Pelbagai indikator ekonomi. dan akan merupakan salah satu penghambat ke arah pemulihan ekonomi dunia. Keadaan ini mengakibatkan beberapa negara berkembang mengalami kesulitan dalam melunasi kembali hutang-hutangnya.9 milyar di antaranya merupakan hutang negara-negara berkembang bukan pengekspor minyak. dan kerjasama dalam berbagai forum internasional. Dana Moneter Internasional (IMF). yang dirasakan sudah tidak sesuai dalam menjawab masalah. baik antarnegara industri. Namun demikian kenyataan saling ketergantungan antara negara-negara maju. menjadi teramat penting sebagai sarana perjuangan bagi semua negara untuk menegakkan tatanan ekonomi dunia baru yang lebih adil. tuntas dan mantap terus diusahakan melalui perundingan-perundingan. sehingga mereka lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman baru.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berkembang yang meningkat secara cepat dari US $ 478. antarnegara berkembang. upaya mencari jalan keluar dari resesi ke arah pemulihan kembali ekonomi dunia secara menyeluruh. maupun sebagai jawaban terhadap tuntutan keadilan sosial dalam hubungan ekonomi antarbangsa. US $ 728. Konperensi Perserikatan Bangsa-bangsa dalam Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD). dan moneter internasional tersebut di atas menimbulkan kesadaran akan semakin tingginya tingkat ketergantungan timbal balik.1 milyar dalam tahun 1984. Hal tersebut disebabkan karena resesi yang timbul dewasa ini an tara lain bersumber dari kerawanan dan ketidakseimbangan struktural di semua aspek yang berakar pada tatanan lama. Terciptanya Tata Ekonomi Dunia Baru (TED B) merupakan kebutuhan mendesak. maupun antara negara industri dan negara berkembang. Forum perundingan dan kerjasama intemasional seperti dalam pertemuan Bank Dunia (IBRD). baik untuk kestabilan ekonomi dunia yang lebih mantap.

dan lain sebagainya. Organisasi Konperensi Islam (OKI). dan defisit anggaran belanja khususnya di Amerika Serikat. Chili. Colombia dan Republik Dominika. Kerjasama ekonomi ini meliputi kegiatan-kegiatan di bidang pangan dan pertanian. industri. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk mendesak negara. Sementara itu untuk memperkuat kedudukan negara-negara berkembang dalam proses pengambilan keputusan politik tentang masalah-masalah ekonomi global. dan sedang berjalan bagi terwujudnya TEDB. yang merupakan penghambat usaha mempercepat dan mempertahankan pemulihan ekonomi dunia. kecuali komitmen politik untuk memperbaharui tekad dalam usaha mempertahankan pemulihan ekonomi agar bertambah mantap. moneter dan keuangan. Kelompok 77. Hal ini mengakibatkan kelambanan terus mewarnai berbagai negosiasi yang sudah. dan mempertahankan laju pemulihan ekonomi dunia akan tetap mengalami hambatan. Peru. Venezuela. Usaha peningkatan kerjasama tersebut dilakukan melalui berbagai forum internasional pada tingkat bilateral dan multilateral. Ini berarti bahwa lalu lint as perdagangan internasional sebagai salah satu syarat mendasar dalam meningkatkan. dan bertahan lama. ilmu pengetahuan dan teknologi. pengangkutan dan komunikasi. Dalam hubungan dengan penyelesaian hutang luar negeri negara-negara berkembang. Argentina. Bolivia. dan menghapuskan kebijaksanaan yang bersifat protektif dan restriktif dalam perdagangan. baik di dalam maupun di luar forum PBB. dan lain sebagainya. Colombia pada tanggal 21 sampai dengan 22 Juni 1984. dan kerjasama internasional. ketrampilan teknik. Di lain pihak upaya mencari jalan penyelesaian dari krisis hutang negara-negara "berkembang. menimbulkan dorongan kepada sebelas negara di Amerika Latin yaitu Mexico. energi. perdagangan. seperti gerakan Non blok. Costarica. menurunkan tingkat suku bunga. KTT tidak menghasilkan kesepakatan mengenai tindakan penyelesaian terhadap masalah-masalah proteksionisme. KTT sepakat untuk mendesak agar bank-bank komersial. Brasilia.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dialog. pengembangan kerjasama ekonomi antarnegara berkembang (kerjasama selatan-selatan) lebih diarahkan untuk mencapai kemandirian individual. belum dengan sepenuh hati diikhtiarkan oleh negaranegara maju. tingkat suku bunga yang tinggi. Dalam hubungan ini. Departemen Keuangan RI 123 . dan lembaga-Iembaga internasional memberi kelonggaran waktu bagi negara-negara peminjam untuk membayar kembali hutangnya. Equador. mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah hutang luar negeri mereka di Cartagena. kelompok regional seperti ASEAN. dan kolektif sebagai strategi perjuangan untuk mewujudkan TEDB. dan lembaga pemberi pinjaman agar memberikan kelonggaran waktu bagi pembayaran hutanghutang mereka melalui penjadwalan kembali (rescheduling).

dan memperkuat kerjasama antar negara-negara anggota ASEAN telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. dan energi maupun di bidang pangan dan pertanian. Di samping merupakan upaya merealisasikan konsep kemandirian kolektif. Dalam sidang tersebut diadakan pengkajian terhadap pelbagai indikator serta masalah-masalah mendasar yang masih mewarnai situasi ekonomi dan moneter internasianal. serta mengawasi pengeluaran Pemerintah ke arab penggunaan yang produktif. mempertahankan stabilitas dalam negeri. Dalam kerangka kerjasama ekonomi regional. kekurangan likuiditas. mengurangi defisit anggaran belanja. perdagangan. serta meniadakan indeksasi dalam kontrak-kontrak. industri. telah pula diupayakan oleh Bank Dunia (IBRD) dan Dana Moneter Internasional (IMF) melalui sidang-sidangnya yang berlangsung dalam bulan September 1984. gerakan non blok telah menggariskan suatu pendekatan baru yang bertujuan untuk menanggulangi krisis ekonomi dunia dengan tindakan-tindakan darurat jangka pendek. Ikhtiar politik untuk secara aktif memantapkan pemulihan ekonomi dunia yang menyeluruh dan merata.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai bagian dari strategi untuk menciptakan kemandirian individual dan kolektif dalam KTT terakhir di New Delhi. diserukan kepada negara-negara industri untuk terus melaksanakan strategi kebijaksanaan moneter yang tidak menimbulkan pengaruh inflatoir. tingkat suku bunga. Sedangkan di bidang industri. regional dan global. seperti berbagai aspek pemulihan ekonomi dunia. serta gejolak kurs matauang. melakukan usaha-usaha untuk mengatasi masalah struktural dengan cara mendorong mobilitas tenaga kerja. baik di bidang keuangan dan moneter. program ini juga merupakan suatu pedoman bagi pembangunan ekonomi untuk dikembangkan pada tingkat sub-regional. keuangan dan perbankan. Sedangkan negara-negara berkembang perlu pula melaksanakan penyesuaian yang efektif. dan beban hutang negara-negara berkembang. melalui dana pembiayaan bersama telah dibangun proyek-proyek ASEAN. defisit anggaran belanja. yang meliputi sektor-sektor pertanian. Untuk memungkinkan negara-negara Departemen Keuangan RI 124 . Pendekatan ini juga dimaksudkan sebagai usaha untuk memberikan dorongan bagi terlaksananya negosiasi global yang masih tetap mengalami kemacetan dalam Dialog Utara-Selatan. menekan defisit anggaran belanja. Di bidang perdagangan. perdagangan. bahwa agar pemulihan kembali ekonomi dunia dapat bersifat tetap dan pesat. masalah proteksi. hasil kerjasama tersebut tercermin dalam perluasan jumlah barang yang tercakup dalam perjanjian perdagangan preferensial. Sidang berhasil mencapai kesepakatan.dan didirikan proyek-proyek industri komplementer. Pelbagai kemajuan telah dapat dicapai dalam kerjasama ekonomi tersebut. melaksanakan kebijaksanaan harga yang fleksibel dan realistis. usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke arah pemulihan.

dengan tindakantindakan yang nyata untuk mencegah timbulnya proteksionisme baru. dan mengharapkan agar IMF tetap dapat memainkan peranannya dalam pelaksanaan strategi pengelolaan hutang luar negeri secara terkoordinir. karena hila hal ini tidak segera diatasi. baik di bidang produksi maupun Departemen Keuangan RI 125 . Dalam hubungannya dengan proteksionisme yang masih terus berlangsung. seperti faktorfaktor penghambat proses penyesuaian struktural. dan melaksanakan pembangunan ekonomi negaranya. Sedangkan negara-negara debitur perlu melaksanakan kebijaksanaan penyesuaian yang mantap. serta perlu menurunkan tingkat suku bunga. sehingga pada akhirnya dapat memulihkan kepercayaan untuk memperoleh pinjaman (credit worthiness). Dari hasil pertemuan. sidang menyatakan keprihatinannya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berkembang dapat membayar kembali hutang-hutang luar negerinya. serta dapat menghambat kelancaran bekerjanya sistem keuangan dan perdagangan internasional. Sehubungan dengan masalah hutang luar negeri negaranegara berkembang. Dalam hubungan ini sidang menyambut baik penjadwalan kembali pembayaran hutanghutang luar negeri untuk jangka waktu beberapa tahun. sidang telah menghasilkan kesepakatan untUk memberikan wewenang kepada "suatu kelompok" guna mengadakan pengkajian mengenai masalah-masalah di bidang perdagangan. yaitu yang dapat memperkuat posisi ekonomi luar negeri mereka. Oleh sebab itu sidang menyambut baik komitmen-komitmen kearah kebijaksanaan perdagangan terbuka. negara-negara industri dihimbau untuk tetap mempertahankan pertumbuhan ekonominya pada tingkat yang memadai. Kerjasama internasional yang ditekankan oleh IMF tersebut meliputi bidang pembiayaan bersyarat lunak (concessional financing). dan menghapuskan kebij aksanaan -ke bij aksanaan proteksionistis. serta memungkinkan seger a meningkatkan kembali pertumbuhan ekonominya. akan dapat membahayakan proses pemulihan kembali perekonomian. Tantangan politik untuk menghentikan dan memutar balik kecenderungan ke arah proteksionisme. dan menyerukan perlunya ditingkatkan. dan dikembangkan disiplin dalam sistem perdagangan intemasional kepada semua negara anggota. menjadikan pertemuan para menteri dalam GATT (Persetujuan Umum tentang Tarif dan Perdagangan) forum paling tepat dalam mengadakan perundingan terusmenerus untuk mengurangi rintangan-rintangan terhadap perdagangan. sidang menegaskan sikapnya bahwa masalah hutang luar negeri negara-negara berkembang hanya dapat diselesaikan sebaik-baiknya melalui kerjasama yang frat antara negara-negara debitur dan negara-negara kreditur. menghindari kebijaksanaan yang terlalu bersifat proteksionistis. membuka posar bagi ekspor negara-negara berkembang. kebijaksanaan perdagangan serta pengawasan (surveillance) efektif terhadap kebijaksanaan yang ditempuh beberapa negara untuk mencegah terjadinya gejolak kurs :matauang secara tajam.

komitmen politik negaranegara industri terhadap hasil-hasil negosiasi global. Untuk meningkatkan kerjasama perdagangan internasional atas dasar keuntungan bersama. resiprositas dan non diskriminasi. Dengan menyadari keterkaitan ekonomi Indonesia dalam hubungan ekonomi internasional. Di samping itu usaha peningkatan kegiatan perdagangan juga dilakukan melalui pembentukan/perbaikan instrumen-instrumen perdagangan yang ada.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perdagangan. maupun lalu lintas devisa. serta mencari upaya penyelesaian dari masalah-masalah yang belum terselesaikan dalam perundingan perdagangan multilateral (MTN). Dalam hubungan ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menjadikan Generalized System of Preferences (GSP) bukan saja sebagai "hasil sementara" akan tetapi merupakan "hasil permanen" dalam sistem perdagangan internasional. dan menghemat penggunaannya melalui pelbagai kebijaksanaan. dengan negara-negara sosialis Eropa Timur di lain pihak. menjadikan perlunya pengamatan dan kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menghambat pelaksanaan pembangunan. 5. serta masih sulitnya dicapai kesepakatan dalam berbagai kerjasama antarnegara yang masih terus berlangsung dewasa ini. dan menghilangkan tindakan meayimpang dari prinsip-prinsip GATT lainnya. dan transparansi sebagai prinsip dasar sistem perdagangan intemasional. kebijaksanaan neraca pembayaran dan perdagangan Departemen Keuangan RI 126 . Di samping itu lembaga ini juga diminta untuk meneliti pelaksanaan prinsip-prinsip GATT. Pola perkembangan ekonomi dan moneter internasional. Dalam hubungan ini partisiposi yang lebih aktif dari negara-negara berkembang untuk menegakkan sistem perdagangan intemasional yang lebih adil dan seimbarlg dirasakan makin penting.2. terutama dalam menghadapi sikap dan kecenderungan proteksionisme negara-negara industri sebagai tindakan yang menyimpang dari prinsip multilateralisme. guna membantu negara-negara berkembang dalam meningkatkan perdagangan internasionalnya dengan tidak mengabaikan prinsip "special and differential treatment". dalam rangka UNCTAD dikembangkan diversifikasi perdagangan antara negara-negara industri dan berkembang di satU pihak. non-diskriminasi. Kebijaksanaan di bidang perdagangan luar negeri Dalam tahun pertama Repelita IV. mengurangi proteksionisme. perlu ditempuh langkah-langkah untuk meningkatkan penerimaan devisa. baik di bidang perdagangan luar negeri. maka dalam rangka meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap tantangan-tantangan yang mungkin akan terjadi. untUk meningkatkan aliran sumber keuangan ke negara-negara berkembang.

yang kemudian diikuti dengan diturunkannya harga minyak oleh Inggris. sehingga tersedia devisa untuk mendukung pembiayaan impor bahan baku. maka dalam rangka mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran telah diusahakan penghematan dalam penggunaan devisa. peningkatan daya saing barang-barang ekspor serta perluasan pasaran di luar negeri.000 barrel per hari yang berarti penerimaan dari sektor minyak agak berkurang. telah diambil kebijaksanaan untuk lebih meningkatkan penerimaan devisa dari hasil ekspor di luar minyak dan gas. Mengingat situasi perminyakan yang tidak menentu tersebut. Serangkaian tindakan Pemerintah untuk meningkatkan ekspor di luar minyak dan gas diawali dengan kebijaksanaan ekspor yang tertuang dalam PP No.1. Namun demikian sebagai akibat belum mantapnya usaha pemulihan ekonomi dunia.5 juta barrel menjadi 16 juta barrel per hari dan tetap mempertahankan harga patokan minyaknya sebesar US $ 29 per barrel. Indonesia mendapat pengurangan kuota produksi sebesar 111. Dengan penurunan produksi tersebut. serta pemanfaalan pinjaman dan penanaman modal luar negeri. Hal ini terjadi karena meningkatnya produksi minyak dari negara-negara di luar OPEC.1 tahun 1982 beserta peraturanperaturan pelaksanaannya. Sehubungan dengan itu untuk mengurangi ketergantungan pada hasil minyak bumi. Di samping itu peranan ekspor barang-barang industri diusahakan pula peningkatannya. dan barang modal yang dibutuhkan. pengendalian impor yang lebih diarahkan kepada pengembangan produksi dalam negeri.Kebijaksanaan di bidang ekspor Usaha mengurangi ketergantungan pacta sektor minyak terus dilaksanakan.1 bulan Januari 1982. yang diupayakan melalui perluasan posar dan peningkatan clara saing barang-barang ekspor Indonesia di luar negeri. lebihlebih pada tahun 1984 di mana situasi minyak dunia semakin memburuk. dan adanya berbagai hambatan dalam perdagangan internasional. kredit ekspor. sesuai dengan sasaran investasi dalam sektor-sektor pembangunan. yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan devaluasi rupiah terhadap matauang dollar Amerika pada bulan Maret 1983. Keadaan ini memaksa OPEC untuk mengadakan sidang di Jenewa pada tanggal 29 Oktober 1984 dengan keputusan untuk mengurangi produksinya dari 17. seperti pemberian sertifikat ekspor. antara lain dengan melalui usaha diversifikasi. bahan penolong. maka peningkatan pengembangan ekspor lebih diarahkan kepada ekspor di luar minyak dan gas alam. pajak ekspor dan Departemen Keuangan RI 127 . Norwegia dan Nigeria pada pertengahan Oktober 1984.2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 luar negeri ditujukan untuk meningkatkan laju perkembangan ekspor. 5. Dalam tahun pertama Pelita IV ini Pemerintah tetap melanjutkan kebijaksanaan ekspor sebagaimana yang tertuang dalam PP No.

tetapi juga produk-produk lainnya. kopi. dan 17 perizinan di sektor perdagangan. mulai t. Selanjutnya untuk memperluas pemasaran pakaian jadi.144 jenis barang yang sudah memperoleh tasilitas sertifikat ekspor. Demikian juga mulai 1 Oktober 1984 dihapuskan pungutan langsung dari Pemerintah Daerah terhadap beberapa komoditi ekspor yaitu plywood.0 juta. serta biji nikel dan pekatannya diturunkan dari 10 persen menjadi nol persen. sedang sistem pembayaran yang dapat digunakan hanyalah irrevocable letter of credit. sedangkan realisasinya mencapai US $ 465. Sampai dengan bulan November 1984. karet. Mengenai prosedur ekspor. penyederhanaan dan penyempurnaan prosedur ekspor. mulai tanggal 1 Juli 1984 ditetapkan setiap 12 bulan. yang nilainya sarna dengan harga jual sebenamya. negara yang paling besar melaksanakannya adalah Republik Federasi Jerman. Singapura. di antaranya telah dicabut 16 perizinan di bidang pengusahaan hutan. pajak ekspor tambahannya diturunkan. disusul kemudian oleh Jepang. prosentasenya yang semula ditetapkan setiap 6 bulan. Dalam ekspor produk tekstil. dan dari jumlah terse but baru 38 jenis barang yang sudah dilaksanakan. terdapat 2. kayu gergajian. gaplek. Begitu pula untuk refined bleached deodorized stearin dan crude stearin. Malaysia dan Taiwan. serta sistem imbal beli di mana pembelian barang-barang Pemerintah dari luar negeri yang memakai dana APBN dikaitkan dengan ekspor di luar minyak dan gas. ikan tuna. Sistem imbal beli. Sementara itu mum barang yang diekspor harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan dan selalu ditingkatkan. dan jagung. rotan. para eksportir diharuskan menyertakan laporan surveyor yang dikeluarkan oleh PT Sucofindo.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pajak ekspor tambahan. lisensi ekspor. kelapa sawit. dan surat persetujuan ekspor produk tekstil. Sedangkan untUk mencegah penyalahgunaan fasilitas sertifikat ekspor bagi hasil industri tekstil yang diekspor ke Hongkong. udang. yang telah dilaksanakan sejak bulan Januari 1982 sampai 3 Oktober 1984. 12 perizinan di sektor perhu bungan. Di antara 21 negara tersebut. telah dilakukan penyederhanaan perizinan yang berlaku dan penghapusan izin-izin yang dapat menghambat ekspor. Di bidang perpajakan. juga ditetapkan bahwa setiap eksportir barus menyerahkan bukti pembayaran iuran ekspor produk tekstil untuk mendapatkan surat keterangan asal. Selanjutnya tarif pajak ekspor yang dikenakan atas beberapa komoditi seperti bauksit dan pekatannya. meliputi berbagai macam barang yang tidak terbatas pada produk tekstil saja. Untuk itu sampai dengan Agustus 1984 telah ditetapkan standar mutu untuk 165 jenis barang-barang perdagangan.6 juta. Departemen Keuangan RI 128 . 12 perizinan di bidang pertanian. mencakup kontrak yang sudah ditandatangani dengan 21 negara sebesar US $ 937. Dalam pemberian fasilitas sertifikat ekspor.mggal 1 Januari 1984 pungutan MPO ekspor atas eksportir telah dihapuskan.

dan peningkatan devisa negara dari hasil ekspor udang dan bandeng. Sementara itu untuk menghindarkan persaingan yang tidak sehat di antara eksportir kayu lapis yang dapat mempengaruhi harganya. 3 juta potong ke Swedia dan 11 juta potong ke Amerika Serikat. sidang Menteri-menteri ASEAN ke-16 bulan Mei 1984 dalam rangka ASEAN Preferential Trading Arrangement telah menyetujui pemb_rian Departemen Keuangan RI 129 . Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai kuota ekspor produk tekstil. Selanjutnya untuk memantapkan pemasaran tembakau di pasaran internasional. pendapatan petani tambak. Karena udang dipandang mempunyai potensi yang besar untuk menambah penerimaan devisa hasil ekspor. dan untuk diekspor. Dalam rangka memperlancar pelaksanaan. ban mobil. besi beton. kecuali dengan persetujuan Departemen Perdagangan untuk bisa mengalihkan sebagian atau seluruh kuotanya kepada eksportir lainnya. Dengan adanya badan ini. kertas. aspal. Karawang. Sementara itu kegiatan ekspor beberapa jenis komoditi meliputi pupuk. Eksportir yang telah menerima kuota harus melaksanakan sendiri ekspomya. yang dimulai tanggal 4 Januari 1984. Sebagai hasilnya telah dicapai persetujuan bilateral dengan negaranegara yang tergabung dalam masyarakat ekonomi Eropa (MEE). dan peratUran pelaksanaannya. Kemudian pada tanggal 13 September 1984 juga telah dikeluarkan ketentuan mengenai pengawasan mutu kayu lapis untuk ekspor. kontrakkontrak penjualan untuk ekspor kayu lapis harns mendapat persetujuan daTi badan terse but. dengan tujuan meningkatkan produksi udang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. dengan tujuan untuk lebih memantapkan peningkatan produksi udang/bandeng. yang dikukuhkan Menteri Perdagangan pada tanggal 15 Oktober 1984. minyak sawit dan inti sawit. telah dilakukan beberapa pendekatan dengan negara-negara tersebut. di mana kuota tersebut diberikan kepada eksportir terdaftar yang secara berkala barus melaporkan kegiatan ekspomya. sehingga Indonesia memperoleh kuota ekspor sebanyak 12 juta potong ke negara MEE. maka Pemerintah mulai bulan Maret 1984 menggalakkan pembudidayaan udang tambak. Swedia dan Amerika Serikat. maka Asosiasi Panel Kayu Indonesia telah membentuk 7 kelompok pemasaran kayu lapis sebagai Badan Pemasaran Bersama Ekspor Kayu Lapis. Pemerintah dalam tahun ini menyesuaikan kembali ketentuan ekspor tembakau. Dalam rangka kerjasama regional. antara lain dengan mengirimkan misi-misi dagang agar memperoleh kuota yang lebih besar. antara lain dengan mengadakan Proyek Tambak Inti Rakyat di atas tanah seluas 350 ha di desa Pusaka Jaya Utara. Kemudian dilanjutkan dengan program intensifikasi tambak musim tanam tahun 1984/1985. diawasi karena kebutuhan di dalam negeri semakin meningkat. semen. dan mengambil manfaat sebesar-besamya dari kuota ekspor tekstil tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 terutama ke negara-negara Eropa dan Amerika.

Kanada. Perjanjian Karet Alam Internasional (INRA). Selain kerjasama dengan negara-negara ASEAN. Di samping itu pada saat ini juga sedang dijajagi oleh Pemerintah kemungkinan untuk mengadakan hubungan dagang langsung dengan RRC tanpa melalui pihak ketiga.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 preferensi tarif antara 20 persen sampai maksimum 50 persen. Hongaria. Indonesia sebagai negara anggota ASEAN turut memperjuangkan kepentingan-kepentingan ASEAN dalam bentuk penyampaian beberapa masalah yang berkaitan dengan adanya hambatan-hambatan di bidang tarif maupun non tarif. MEE juga memberikan bantuan teknis kepada negara-negara ASEAN termasuk Indonesia. Untuk mempermudah hubungan dagang ini. Di samping itu. Selanjutnya dalam rangka lebih meningkatkan ekspor di luar minyak dan gas. Selain itu telah ditunjuk pula perusahaan pelayaran swasta dan Pemerintah untuk melaksanakan keagenan umum perkapalan ke negara-negara Eropa Timur. regional maupun multilateral.283 jenis ke negara-negala ASEAN lainnya. Swedia. Australia dan New Zealand. Asosiasi Negara-negara Produsen Timah (ATPC). ASEAN dengan negara-negara MEE. Cekoslowakia dan Jerman Timur. Dewan Timah Internasional (ITC). Dalam hubungan. serta berusaha untuk menghilangkan atau mengurangi hambatanhambatan yang sebelumnya terjadi. Di antara barang-barang yang mendapat preferensi tersebut Indonesia dapat mengekspor 8. kedutaan Republik Indonesia setempat diberi wewenang oleh Pemerintah untuk mengeluarkan visa bagi importir-importir negara-negara tersebut yang akan melakukan penjajagan ke Indonesia. Perjanjian Timah Internasional (ITA). telah dikirim delegasi ekonomi Indonesia ke negara-negara Uni Soviet. dengan memberikan kursus-kursus untuk meningkatkan kemampuan ekspor negara-negara tersebut. ASEAN juga telah mengadakan hubungan kerjasama perdagangan dengan Amerika Serikat. dan Amerika Serikat di bidang tekstil. juga terus ditingkatkan kerjasama dalam Organisasi Kopi Internasional (ICO). Pemerintah mengaktifkan fungsi dari atase-atase perdagangan Indonesia di luar negeri. Dalam hubungan ini di samping telah diadakan pernndingan bilateral dengan negara-negara anggota MEE. Sedangkan untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara Eropa Timur. usaha meningkatkan pemasaran komoditi di luar minyak juga terus dikembangkan baik melalui kerjasama bilateral. yang kesemuanya merupakan upaya untuk meningkatkan pemasaran barang-barang ASEAN ke negara-negara tersebut. Selain mengadakan hubungan dengan MEE. antara lain dengan mengadakan pertemuan rutin antara pengusaha/eksportir-eksportir di dalam negeri Departemen Keuangan RI 130 . dan organisasi-organisasi lainnya yang berhubungan dengan kerjasama perdagangan barangbarang di luar minyak. jepang. dan sebagai kelanjutannya telah dibentuk team koordinasi dalam bidang kerja sarna ekonomi dan perdagangan dengan Eropa Timur.

Kebijaksanaan di bidang impor Kebijaksanaan di bidang impor ditujukan untuk menunjang pertumbuhan industri dalam negeri dengan memperlancar pengadaan beberapa bahan baku/penolong dan barang modal.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan para atase perdagangan di luar negeri. Di lain pihak. dan mendorong industri dalam negeri. serta elektro motor. Untuk itu dibentuk Komite Karet yang bertugas menyusun ketentuanketentuan perniagaan karet di bursa tersebut. Dengan demikian diharapkan barang-barang produksi Indonesia akan dapat lebih mudah masuk ke posar internasional. pipa besi dan produk polyvinyl chloride (PVC).2. seperti me sin penggali (hydraulic excavator) dan wheel loader. Demikian pula terhadap beberapa produk yang telah dapat dirakit di dalam negeri. dan mencukupi kebutuhan di dalam negeri. Pemerintah telah memperluas pemberian fasilitas berupa pembebasan sebagian dan/atau seluruh bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap pemasukan bahan baku/penolong serta barang modal. seperti kacang kedele. dalam rangka memberikan perlindungan terhadap barang-barang yang telah dapat dihasilkan. peralatan pertukangan. maka Pemerintah menetapkan bahwa karet merupakan komoditi pertama yang diperniagakan di bursa. Sedangkan untuk menjaga kestabilan harga minyak goreng di Departemen Keuangan RI 131 . Selain itu Pemerintah telah memperbanyak pusat-pusat promosi dagang di luar negeri. serta memperbanyak pengiriman misi-misi dagang ke luar negeri yang dipimpin langsung oleh Menteri Perdagangan. permesinan. serta untuk menjaga kestabilan harga beberapa bahan pokok yang diperlukan masyarakat. perkakas tangan.2. Oleh karena sampai sekarang baru asosiasi pengusaha di bidang karet (Gapkindo) yang telah menyatakan dukungannya terhadap pemasaran karet melalui bursa. Pemerintah telah mencabut keringanan/pembebasan. dan sekaligus menaikkan tarif bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap impor barang-barang seperti kertas untuk jenis tertentu. peralatan laboratorium. Sementara itu kegiatan Bursa Komoditi yang diresmikan pada bulan Desember 1982 dalam waktu dekat akan dimulai. 5. aluminium sheet dan fuli aluminium jenis-jenis tertentu. juga telah diberlakukan tari( bea masuk dan pajak penjualan impor yang baru. serta untuk menciptakan persaingan yang sehat dan wajar antara produksi dalam negeri dengan produksi eks impor sejalan dengan usaha peningkatan penggunaan/pemakaian produksi dalam negeri. dan sebaliknya para atase perdagangan dapat memberikan informasi kepada eksportir tentang permintaan konsumen di luar negeri. Dengan pertemuan-pertemuan tersebut para eksportir dapat menyampaikan informasi tentang produk mereka. Dalam rangka lebih memberikan kepostian berusaha.

Sehubungan dengan itu. yang dapat terdiri dari pernsahaan negara. diatur dalam tataniaga ekspor dan impor secara terpadu.5 persen bagi imp or barang yang menggunakan API. Dalam rangka memanfaatkan kapositas industri. Untuk lebih memantapkan pelaksanaan tataniaga impor produk baja lembaran dan gulungan yang digiling pada suhu rendah. dan sekaligus sebagai importir baja lembaran dan gulungan tertentu yang digiling pada suhu rendah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam negeri pada tingkat yang dapat dijangkau oleh masyarakat. Demikian juga terhadap impor produk aluminium dan barang logam tidak inulia. perusahaan swasta nasional dan pernsahaan dalam rangka penanaman modal. dan sebesar 7. Guna menjamin kelancaran pengadaan bahan baku/penolong yang masih harns diimpor dari luar negeri untuk proses produksi industri dalam negeri. Besarnya pungutan ditetapkan sebesar 2.5 persen bagi impor barang yang tidak menggunakan API. Dengan demikian. dan sebagai gantinya dipungut pajak penghasilan (PPh). APIS atau APIT. walaupun untuk memproduksi peralatan tersebut sekitar 30 persen bahan bakunya masih perlu diimpor. Untuk tahap pertama pembangunan proyek ini dibatasi pada perangkat hilir yang terdiri dari pabrik Pure Terepthalic Acid (PTA) Departemen Keuangan RI 132 . maka jenisnya diperluas lagi dengan menunjuk PT Krakatau Steel atau PT Tambang Timah sebagai importirnya. PT Krakatau Steel atau PT Giwang Selogam ditunjuk sebagai eksportir baja lembaran. telah dilakukan usaha-usaha untuk mengarahkan penggunaan devisa dalam rangka menggalakkan penggunaan produksi industri di dalam negeri. gulungan dan pelat yang digiling pada suhu tinggi. beberapa peralatan yang digunakan untuk industri perminyakan telah dapat diproduksi di dalam negeri. telah diatur dalam tataniaga impor dengan menunjuk PT Tambang Timah sebagai importirnya. Dengan pengaturan tersebut. gulungan dan pelat yang digiling pada suhu tinggi dan rendah. maka pungutan MPO atas barang-barang impor dihentikan. proyek Aromatik Plaju di Sumatera Selatan telah dilanjutkan pembangunannya sesuai dengan rencana penjadwalan kembali (rephasing). Pemerintah telah membebaskan bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap minyak goreng segala jenis yang diimpor dalam jumlah yang diatur oleh Menteri Perdagangan. Sementara itu. APIS atau APIT masing-masing dihitung dari nilai dasar impor (cif). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan pelaksanaan mengenai tataniaga impor barang-barang yang termasuk kelompok produk industri. Sehubungan dengan berlakunya UndangUndang Pajak Penghasilan 1984. dan importir terdaftar. Adapun untuk mengurangi ketergantungan terhadap barang-barang impor. produk baja lembaran. barang-barang yang telah dimasukkan ke dalam kelompok produk industri hanya dapat diimpor oleh importir produsen terdaftar bagi masingmasing kelompok produksi yang diakui oleh Menteri Perdagangan.

namun dengan adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan baik di bidang ekspor.3.1.729 juta. Sedangkan ekspor bukan minyak dan gas diperkirakan mengalami kenaikan sebesar US $ 683 juta. Dengan deniikian realisasi transaksi berjalan dalam periode terse but diperkirakan akan mengalami defisit sebesar US $ 3. neraca pembayaran dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mengalami surplus sebesar US $ 643 juta. PTA akan diproses lebih lanjut menjadi polyester oleh industri hilir.191 juta.l. nilai ekspor minyak dan gas berjumlah sebesar US $ 13. Dengan dilanjutkannya pembangunan proyek ini maka diharapkan akan lebih mendorong dan memantapkan industri sandang di dalam negeri. dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 1983/1984 sebesar US $ 19.246 juta.345 juta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan kapositas 150. sedangkan bahan bakunya yang berupa paraxylene masih perlu diimpor. Perincian perkembangan neraca pembayaran dapat dilihat dalam Tabe1 V.816 juta.099 juta. yaitu jumlah pemasukan modal Pemerintah.367 juta dalam tahun 1983/1984 menjadi US $ 6. yaitu dari US $ 5.Ekspor Realisasi nilai ekspor minyak dan gas maupun bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 19. 5. dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mencapai sebesar US $ 3. Departemen Keuangan RI 133 . dan ekspor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mencapai US $ 13. 5. neraca pembayaran Indonesia dalam tahun 1984/1Y85 diperkirakan masih mengalami surplus walaupun tidak sebesar tahun sebe1umnya. Perkembangan neraca pembayaran dalam tahun 1984/1985 Walaupun berbagai hambatan telah mempengaruhi usaha pemulihan ekonomi dunia.779 juta.3. Jumlah penerimaan devisa dari hasil minyak dan gas bersih. sedangkan jumlah penge1uaran devisa untuk membiayai imp or dan jasa-jasa bukan minyak dan gas dalam periode yang sarna diperkirakan mencapai US $ 16. Sete1ah memperkirakan adanya selisih yang be1um diperhitungkan sebesar positif US $ 698 juta. Dari jumlah ekspor kese1uruhan tahun 1984/1985.050 juta dalam tahun 1984/1985. Sedangkan lalu lintas modal bersih. dan pemasukan modal lainnya dikurangi dengan pembayaran kembali angsuran pokok hutang luar negeri.000 ton per tahun. impor maupun lalu lintas devisa. berarti terdapat penurunan sebesar US $ 37 juta.

3 + 103.613 -1.155 4.205 -1.1 33.753 -5.7 2.4 + - 392 + 632 877 169 708 Realisasi nilai ekspor secara kese1uruhan dalam periode April-Agustus 1984 menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan realisasi nilai ekspor dalam periode yang sama tahun 1983. Pembayaranhntang pokok VI.653 2.6 98.5 persen.7 17.1 8.5 98.1 27.jasa 1.9 15.4 9. Bantuan program 2.1 32.227 -1.866 1.266 690 4.6 + 24.2 720.2 66 + + + + + + + + + + 1972/1973 1.8 13. Realisasi nilai ekspor sebesar US $ 9.8 19 43.5 7.1 53.100.001 + + + + + + + + + + + + + persentase pernbahan 28.842 887 -1.5 21 9.8 40.9 + 51.9 14 19.1 24.955 802 3.barang don jasa.6 59.097 -1. Peningkatan tersebut tidak terlepos dari adanya perbaikan dalarn perekonornian dunia.074 461 -2.1 juta atau 18. S D R HI.8 + 16.7 16.240 987 138 2.6 juta rnenjadi sebesar US $9.6 35.376 3. Impor.2 16.295 606 689 756 641 -1.9 20.9 15.2 3 13. Sensih yang belum dapat diperhitungkan VIII.3 58.6 + + - 152.5 122. Lain lintas moneter + + 1.5 + + + 1976/1977 9. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 3.3 2.3 13.204 443 761 -1.7 6.1 36. Ekspor.418 2. S D R HI.106 157 1.5 27.5 0.6 4.995 74 1. Jumlah I sId V VII.5 8.3 81.873 -5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel V.6 12. Bantnan prorok dan lain-lain IV.3 17.4 + + - 549 + 81 + 355 5 360 1973/1974 I.213 6.5 9.6 13. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 3.822 -2.6 86. Lain lintas modallainnya V.173 1.jasa 1.1 8. 708 + 1.613 -1.5 + 115. 1969/1970 .765.7 26. Pemasnkan modal Pemerintab 1.905 + -3.5 6.135 2.9 32.7 47.492 845 407 438 557 399 956 481 336 145 480 66 338 87 425 + + + + + + + + + + + + + + + + persentase pernbahan 41.6 -123.5 juta.386 854 3.4 149.8 40.6 + 15.2 40.6 46.374 590 784 -1.1 63.1 22.097 88 -1.409 930 -4.7 60.5 + + + + + 1971/1972 1.barang don jasa.8 1978/1979 + + + 11.065 1. Peningkatan ini terjadi antara lain karena adanya peningkatan yang cukup besar dalarn ekspor gas alarn cairo Nilai ekspor di luar rninyak dan gas selarna periode April-Agustus 1984 tersebut berarti rneningkat sebesar US $ 357.676 38 166 893 108 -1.2 36. Lain lintas modallainnya V.2 + 358.295 606 689 756 641 -1.443 1.4 1.937.353 3.3 35.1 33.3 77 95.9 300.7 15 17.9 15.9 75.4 22. dan nilai ekspor di luar rninyak dan gas sebesar US $ 2.186 5.4 518.7 65. Bantnan prorok dan lain-lain IV.1 persen dibandingkan dengan nilai ekspornya dalarn periode yang sarna tahun 1983 sebesar US $ 1.949 + + + + + + + + + + + + + 17.334.4 52.6 10.4 juta tersebut terdiri dari nilai ekspor minyak dan gas sebesar US $ 6.412 1.3 + 15.992 1.732 4.1 17.3 48.7 11.074 461 -2.710 -4.009 448 204 244 501 92 593 35 371 308 63 27 31 99 56 43 + + + + + + + + + + + 1970/1971 1. Pembayaranhntang pokok VI.613 1.8 juta.9 9.7 14.146 5.4 + 15.7 17 + + + + + + + + + + - + + + + + + + + + + + + + + + + + 15.5 + 6.420 -2.1 18.905 -3. Bila dibandingkan dengan realisasinya selarna periode April-Agustus 1983 sebesar US $5.6 43.2 189.776 660 180 480 131 89 302 311 9 + + + + + + + + + + + + + + persentase perubahan 98.6 + - 176 + 761 + 831 180 651 363.165 64 2. Jasa-jasa minyak dan gas tanpa minyak don gas 4. Ekspor.7 7.4 41.374 3.3 7.651 159 -1.7 46.010 5.638 -2.3 72 104. Sensih yang belum dapat diperhitungkan VIII.613 + 1.591 -1.2 32.350 2. Transaksi berjalan minyak dan gas tanpa minyak dan gas H.4 67. Pemasnkan modal Pemerintab 1.114 + + + + + + + + + + + + + persentase perubahan 4.8 juta.7 + + + + + + + + + + + 325.8 20 0.6 88.033 -5.3 16.977.100.708 1.9 juta.2 13 8.7 15.1 6.6 6.1 9.512 1.273 1. Bantuan program 2.3 14. Impor.5 33.138 -3. Barang. Lain lintas moneter + + + 3.4 4.2 60.275 -3. berarti nilai ekspor rninyak dan gas tersebut rnengalami kenaikan sebesar 13. yang pada gilirannya Departemen Keuangan RI 134 .9 13.9 57.6 20.153 2.921 -1.102 94 -1.860 7.6 46.2 + persentase 1973/1974 perubahan 3.9 6. Jumlah I sId V VII.397 643 281 362 549 81 355 5 360 + + + 1974/1975 7.684 1. Jasa-jasa minyak dan gas tanpa minyak don gas 4.208 94 2.1984/1985 ( dalam jutaan US $ ) 1969/1970 I.3 20.959. Barang.9 201.116 574 254 320 448 204 652 30 400 286 114 190 78 94 6 100 + + + + + + + + + + + + + + + + + + persentase perubaban 14.1 18.979 8.8 0.8 202.8 176.4 10.479 -2.397 643 281 362 + + + + + + + + + + + 86.3 + 0.711 6.8 0.075 77 11 353 364 + + + + + + + + + + + - persentase perubaban 0.939 965 974 -1.3 95.6 46.248 132 -1. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 2.863 -7.507 7. yaitu dari sebesar US $ 7.9 32.490 6.8 + + + + + + + persentase 1977/1978 perubahan 10.4 juta.445 5.008 490 214 276 388 135 523 28 369 283 86 115 47 77 95 18 + + + + + + + + + + + persentase perubahan 15.7 311.353 7.8 22.6 2. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 2.9 24.8 5.6 29. Transaksi berjalan minyak dan gas tanpa minyak dan gas H.9 + + + 1975/1976 7.823 147 1.5 51.044 384 660 -1.6 65.l NERACA PEMBAYARAN.

4 juta. Kenaikan harga ini timbul karena adanya pembelian secara besar-besaran yang berlangsung setelah tersiar kabar kemungkinan rusaknya panen kopi Brazil tahun 1985 akibat hawa beku yang akan melanda negara tersebut. dalam periode yang sama tahun 1984/1985 meningkat menjadi US $ 233.8 juta dalarn periode yang sama tahun 1984.7 juta. rneskipun pernasanin kayu lapis ke beberapa negara sernakin rneningkat. meskipun dalarn periode tersebut harga karet rnengalarni penurunan.6 juta. dalam periode yang sarna tahun 1984 menunjukkan peningkatan rnenjadi sebesar US $ 373. Sebaliknya . ekspor kayu dalarn periode April-Agustus 1984 rnencapai nilai sebesar US $ 438.9 juta.4 juta. rnenjadi sebesar US $ 9. Eropa dan Arnerika Serikat. sehingga pemakaian timah berkurang. serta berkurangnya penawaran kopi robusta dari Departemen Keuangan RI 135 . meskipun harganya di posar internasional mulai rnembaik.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rneningkatkan perrnintaan negara-negara industri terhadap barang-barang ekspor negara berkernbang. Penurunan ini terjadi karena meskipun harga naik tetapi volume ekspornya menurun sebagai akibat pembatasan ekspor timah oleh Dewan Timah Internasional. terrnasuk dari Indonesia. menunjukkan adanya penurunan sebesar US $ 30. Kenaikan tersebut terjadi selain disebabkan oleh kenaikan harga kopi di posar internasional. diantaranya ke beberapa negara Asia.nilai ekspor kopi yang pada lima bulan pertama tahun 1983/1984 mencapai US $ 203. Sedangkan nilai ekspor biji sawit yang mencapai sebesar US $0. Meningkatnya nilai ekspor ini disebabkan oleh rneningkatnya perrnintaan Amerika Serikat akan karet alam untuk rnenambah cadangan strategisnya.8 juta bila dibandingkan dengan nilai ekspornya dalam periode yang sama tahun 1983/1984 yang berjumlah sebesar US $ 134. Tirnur Tengah. Penurunan ini disebabkan oleh rnenurunnya harga kayu. dan perrnintaan dari Jepang karena meningkatnya kebutuhan untuk mermnuhi pesanan dari luar negeri.4 juta. Ekspor karet yang dalarn periode April-Agustus 1983 realisasinya mencapai US $ 343. dalam periode 1984 belum ada realisasinya. Menurunnya ekspor minyak sawit ini disebabkan oleh karena adanya pembatasan ekspor untuk memenuhi kebutuhan dalarn negeri. Demikian pula nilai ekspor minyak sawit telah menurun dari sebesar US $40.8 juta untuk periode April-Agustus 1983. Sebaliknya nilai ekspor tirnah yang dalam lima bulan pertama tahun 1984/1985 berjumlah sebesar US $ 103. yang berarti US $ 7.6 juta. dan adanya penggunaan bahan-bahan lain pengganti timah.2 juta dalarn periode April-Agustus 1983. Sebagai salah satu komoditi dalarn kelornpok barang utama. karena ada penundaan dalarn pelaksanaan ekspornya.4 juta.2 juta lebih rendah dari nilai ekspor pada periode yang sarna tahun sebelurnnya sebesar US $ 445. juga disebabkan oleh naiknya kuota ekspor kopi.

bungkil kopra. bahan makanan. Lebih rendahnya nilai impor tersebut terutama disebabkan karena menurunnya impor yang dilakukan dalam rangka bantuan proyek. yang disebabkan an tara lain oleh meningkatnya ekspor kerajinan tangan termasuk pakaian jadi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pantai Gading.815 juta. Meningkatnya nilai ekspor barang tambang ini disebabkan oleh meningkatnya ekspor aluminium dan tembaga. Penurunan ini terutama disebabkan karena menurunnya impor peralatan untuk keperluan eksplorasi minyak sejalan dengan telah dapat diproduksinya beberapa perala tan pengeboran minyak oleh industri dalam negeri.169 juta. Berkaitan dengan itu.269 juta. selama lima bulan pertama 1984/1985 mencapai nilai ekspor sebesar US $ 1. sehingga menjadi sebesar US $ 270.7 juta.427. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya nilai ekspor komoditi lada.5 juta atau US $ 338.3 juta.1 juta untuk tahun 1984.4 juta dan US $ 34. Adapun barang lainnya seperti hewan dan hasilnya. Demikian pula nilai ekspor lain-lain meningkat dalam periode yang sarna dad sebesar US $ 378. 5.7 persen) lebih Departemen Keuangan RI 136 . barang tamba.p.0 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan realisasi nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1983/1984 yang berjumlah sebesar US $ 12.3. kalau dalam lima bulan pertama tahun 1983/1984 masing-masing berjumlah sebesar US $ 17. barang tambang.6 juta. dalam jangka waktu yang sarna tahun 1984/1985 meningkat masing-masing menjadi sebesar US $ 22. nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 12. yang berarti US$ 646 juta atau 5. dalam periode yang sarna tahun 1984 meningkat sebesar US $ 94. lada. termasuk tekstil dan pakaian jadi. semen dan alat-alat listrik. realisasi impor bukan minyak dan gas dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 4. Dilihat dari golongan barangnya.2.g dan lain-lain.489 juta. Sementara itu nilai impor minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 3. bahan makanan.2 juta.2 juta.6 juta atau US $ 320 juta (6. menjadi US $ 626. yang berarti mengalami penurunan sebesar US $ 220 juta bila dibandingkan dengan realisasi nilai impor minyak dan gas pacta tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 3.6 juta dalam tahun 1983. dan lain-Iainnya termasuk kerajinan tangan dan pakaian jadi. Selanjutnya barang tambang yang dalam periode April-Agustus 1983 nilai ekspornya sebesar US $ 175. Nilai ekspor lada dan bahan makanan termasuk tapioka.067.7 juta dan US $ 50.5 juta. Impor Rangkaian kebijaksanaan di bidang impor yang telah dan sedang dilaksanakan dalam beberapa periode ini banyak mempengaruhi perkembangan impor dalam tahun 1984/1985.0 juta lebih tinggi hila dibandingkan dengan nilai ekspornya dalam periode yang sarna tahun 1983/1984 sebesar US $ 729.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

rendah hila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun 1983 yaitu sebesar US $ 4.747,6 juta. Lebih rendahnya nilai impor tersebut terjadi alas imp or semua golongan barang, baik barang konsumsi, bahan baku/penolong maupun barang modal. Sementara nilai impor kelompok barang konsumsi dalam tahun 1984 berjumlah sebesar US $314,6 juta. Hal ini berarti terdapat penurunan sebesar US $ 60,3 juta atau sebesar 16,1 persen hila dibandingkan dengan nilai impornya dalam periode yang sarna tahun 1;183 sebesar US $374,9 juta. Penurunan nilai impor ini terjadi alas impor hampir semua jenis barang konsumsi, dan telah menyebabkan menurunnya peranan impor barang konsumsi terhadap nilai impor bukan minyak dan gas secara keseluruhan dari 7,9 persen menjadi 7,1 persen. Selanjutnya realisasi impor bahan baku/penolong dalam periode April-Agustus 1984 juga menunjukkan adanya penurunan bila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sama tahun sebelumnya. Apabila realisasi nilai impor bahan baku/penolong dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 2.168,0 juta, dalam periode yang sama tahun 1983 realisasi impornya berjumlah sebesar US $ 2.258,5 juta. Hal ini berarti lebih rendah sebesar US $ 90,5 juta, atau sebesar 4,0 persen. Lebih rendahnya nilai impor tersebut disebabkan karena menurunnya impor bahan kimia, bahan obat-obatan, pupuk, bahan-bahan kertas, bahan bangunan serta semen, kapur, dan bahan bangunan buatan pabrik lainnya. Namun demikian apabila dilihat dari peranan impor bahan baku/penolong terhadap impor bukan minyak dan gas seC(I,ra keseluruhan, persentasenya mengalami peningkatan dari 47,6 persen dalam periode April-Agustus 1983, menjadi sebesar 49,0 persen dalam periode yang sarna tahun 1984. Adapun realisasi nilai impor barang modal dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 1.945,0 juta. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun 1983 yang berjumlah sebesar US $ 2.114,2 juta, berarti telah terjadi penurunan sebesar US $ 169,2 juta atau 8,0 persen. Penurunan ini terjadi pacta impor mesin-mesin, generator listrik, peralatan listrik dan lainnya. Penurunan dalam realisasi nilai impor ini telah mengakibatkan pula menurunnya persentase impor kelompok barang modal terhadap realisasi nilai impor bukan minyak dan gas secara keseluruhan, yaitu dari sebesar 44,5 persen dalam periode April-Agustus 1983, menjadi sebesar 43,9 persen dalam periode yang sarna tahun 1984. Gambaran yang terperinci mengenai impor bukan minyak dan gas dapat diikuti dalam Tabel V.3.

Departemen Keuangan RI

137

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986
Tabel V.3 NILAI IMPOR TANPA MINY AK DAN GAS MENURUT GOLONGAN BARANG, 1969/1970 - 1984/1985 (df, dalam jutaan US $) persentase persentase persentase persentase persentase Jenis barang 1969/1970 dari 1970/1971 dari 1971/1972 dari 1972/1973 dari 1973/1974 dari jumlah jumlah jumlah jumlah jumlah I. Barang konsumsi 180,7 22,1 178,1 17,7 157 13,2 293,7 16,2 544,1 18,9 1. Beras 46,9 44,1 27,3 132,6 367,8 2. Tekstil 28,3 16 11,9 23 13,2 3. Susu, makanan, minuman dan buah - buahan 23,7 34 31,9 22,3 48,6 4. Tembakau daD olahannya 7,3 1,8 2,6 4,1 6,3 1 1,4 1,7 3,5 7,7 5. Sabun dan kosmetik 6. Alat-alat rumah tangga 10,9 12,3 15,8 6,7 24,6 7. Lainnya 62,6 68,5 65,8 101,5 75,9 ll. Bahan baku/penolong 399,7 48,8 475,6 47,3 562,3 47,3 790,4 43,7 1.257,90 43,7 1. Bahan kimia 60,3 69,6 80 115,2 171 2. Bahan obat-obatan 12,9 14,3 13,6 18,8 31,6 27,6 19,5 35,2 46,2 68,8 3. Pupuk 4. Bahan-bahan kertas 21,3 26,9 25,2 30,1 53,3 5. Benang tenun 54,3 55,3 56,5 106,2 206,5 6. Semen. kapur dan bahan bangunan buatan pabrik 11,3 13,8 18,2 25,8 46,5 7. Besi baja dan logam 61,5 72,6 113,2 186,6 351,4 1,3 1,2 1,1 19 78,3 8. Bahan-bahan karet dan plastik 9. Bahan bangunan 6,1 10,8 16,3 25,7 56 10. Alat-alat listrlk 1 1,2 ' 0,9 5,7 23 11. Lainnya 142,1 190,4 202,1 211,1 171;5 III.Barang modal 238,7 29,1 352,6 35 470,6 39,5 724,5 40,1 1.079,00 37,4 1. Mesin-mesin 115,8 183,8 247,8 373,2 588,4 5,3 7,6 10,9 31,9 87,1 2. Generator listrik 3. Alat telekomunikasi 16,9 19,2 21 32,4 46,9 7,2 11 12,3 16,4 31,3 4. Peralatan listrik 5. Alat pengangkutan 44,7 62,9 81,4 141,2 301,3 6. Lainnya 48,8 68,1 97,2 129,4 24 Jumlah 819,1 100 1.006,30 100 1.189,90 100 1.808,60 100 2.881,00 100

Jenis barang I. Barang konsumsi 1. Beras 2. Tekstil 3. SolO, makanan, minuman dan buah-buahan 4. Tembakau dan olahannya 5. Sabun dan kosmetik 6. Alat-alat rumah tangga 7. Lainnya n. Bahan bakufpenolong 1. Bahan kimia 2. Bahan obat-obatan 3. Pupuk 4. Bahan-bahan kertas 5. Benang tenon 6. Semen, kapur dan bahan bangunan buatan pabrik 7. Besi baja dan logam 8. Bahan-bahan karet dan plastik 9. Bahan bangunan 10. Alat-alat listrik 11. Lcinnya ill.Barang modal 1. Mesin-mesin 2. Generator listrik 3. Alat telekomunikasi 4. Peralatan listrik 5. Alat pengangkutan 6. Lainnya Jumlah

1974/1975

persentase persentase persentase persentase persentase dari 1975/1976 1976/1977 dari 1977/1978 dari 1978/1979 dari dari jumJah jum1ah jum1ah jumJah jum1ah 659 16,9 519 831,2 15,3 1.176,40 21,3 1.202,90 19,5 11,8 426,8 234,7 408,4 677,7 592,3 15,9 13,5 21,6 26,6 23,9 130,7 7,9 8,6 27,8 95,8 2.151,10 273,4 33 316,5 70,7 254,2 61,9 585,2 128,9 111 62,7 253,6 1.730,10 804,9 167,2 122 61,7 530,4 43,9 4.400,20 173,4 13,5 17,1 42,5 154,7 2.156,40 332,3 45,4 22,1 109,6 307,8 60,4 587,7 165,4 165,7 97,6 262,4 2.453,60 1.125,80 264,2 355,4 131,2 531,5 45,5 5.441,20 238,1 15,3 19,5 43,5 155,8 2.185,10 392,5 42,1 31,9 117,2 322,5 29,4 597,4 175,3 155,4 84,2 237,2 2.152,90 944,7 203,2 200,9 125,3 615,8 63 5.514,40 256,1 16 20,5 56,9 237,2 2.616,10 461,9 48,3 55,2 123,2 293,3 23,7 760,4 223,5 115,7 90,3 420,6 2.335,40 1.113,10 187,2 122,5 134,1 734,6 43,9 6.154,40

77,7 11,6 7,4 31,9 87,7 1.816,00 239,9 33,8 305,6 58,9 229,5 76,2 467,8 99,9 77,4 38,4 188,6 1.430,40 738,7 141 60,7 45,3 415,2 29,5 3.905,40

46,5

48,9

39,6

39,6

42,5

36,6

39,3

45,1

39,1

38

100

100

100

100

100

Berdasarkan PPUD yang diolah Biro Pusat Statistik

5.3.3.Pengeluaran jasa-jasa (netto) Usaha-usaha meningkatkan penerimaan devisa dan penghematan penggunaan devisa dalam bidang jasa-jasa terus digalakkan. Berkaitan dengan itu, fasilitas bebas visa selama dua bulan yang telah diberikan sejak 1 April 1983 kepada wisatawan dari 26 negara, mulai 1 September 1984 juga diberikan kepada para pengusaha dari negara-negara tersebut, bahkan telah ditambah dua negara lagi sehingga meliputi 28 negara. Demikian pula pembangunan
Departemen Keuangan RI

138

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

industri dan sarana pariwisata dirangsang dengan memberikan keringanan bea masuk dan pajak penjualan impor atas barang-barang tertentu yang masih dibutuhkan dan belum dihasilkan di dalam negeri. Sementara itu kebijaksanaan pengiriman tenaga kerja Indonesiake luar negeri (Timur Tengah) terus digalakkan, dengan harapan dapat menambah penerimaan devisa yang berasal dari uang kiriman para tenaga kerja ke tanah air (remittance). Pengendalian tata pelaksanaan pengerahan tenaga kerja dewasa ini mencakup juga penentuan upah terendah, dan kewajiban mentransfer paling sedikit lima puluh persen penghasilan yang diterima. Selanjutnya usaha penghematan penggunaan devisa di bidang jasa-jasa dilaksanakan dengan tetap menerapkan bea fiskal perjalanan luar negeri sebesar Rp 150.000,- bagi setiap orang yang bepergian ke luar negeri. Pengeluaran devisa untuk jasa-jasa setelah dikurangi dengan penerimaan devisa dari jasa-jasa, baik minyak dan gas maupun di luar minyak dan gas, dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 7.587 juta. Jumlah ini berarti lebih rendah sebesar US $ 76 juta hila dibandingkan dengan realisasinya dalam tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 7.663 juta. Perkiraan penge1uaran devisa untuk jasa-jasa tersebut terdiri dari pengeluaran jasa-jasa bukan minyak dan gas sebesar US $ 4.176 juta, yang berarti lebih tinggi sebesar US $ 102 juta atau 2,5 persen hila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 4.074 juta. Lebih tingginya pengeluaran jasa-jasa tersebut terutama disebabkan karena meningkatnya pembayaran bunga pinjaman luar negeri. Di lain pihak pengeluaran jasa-jasa minyak (termasuk LNG) menunjukkan penurnnan sebesar US$ 178 juta atau sebesar 5,0 persen, yaitu dari US $ 3.589 jut3 dalam tahun 1983/1984 menjadi US $ 3.411 juta dalam tahun 1984/1985. 5.3.4. Lalu lintas modal dan transfer Dengan semakin meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan terbatasnya penerimaan devisa yang dapat dihimpun, pemasukan modal baik dalam bentuk pemasukan modal Pemerintah maupun modallainnya tetap diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran, dan kelangsungan pembangunan ekonomi nasional. Namun demikian sikap berhati-hati dalam meminjam, dan selektif dalam pemilihan proyek-proyek yang dibiayai dari dana luar negeri tersebut lebih diperhatikan, sehingga penggunaannya dapat meningkatkan kemampuan pengembangan industri dalam negeri, dan mendorong perluasan lapangan kerja, serta pacta akhirnya tidak akan menyulitkan posisi neraca pembayaran dimasa yang akan datang. Sehubungan dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut, lalu lintas modal, yang merupakan hasil bersih pemasukan modal Pemerintah dan pemasukan modal lainnya setelah dikurangi dengan pembayaran angsuran pokok hutang luar negeri, dalam tahun 1984/1985
Departemen Keuangan RI

139

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

diperkirakan berjumlah sebesar US $ 3.191 juta. Jumlah tersebut terdiri dari pemasukan modal Pemerintah sebesar US $ 4.359 juta, dan pemasukan modallainnya sebesar US $ 341 juta. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 1983/1984, masing-masing menurun sebesar US $ 1.434 juta atau 24,8 persen, dan sebesar US $ 850 juta atau 71,4 persen. Sedangkan realisasi pelunasan hutang pokok luar negeri dalam tahun 1984/1985 diperkirakan meningkat dari tahun sebelumnya sehingga mencapai jumlah sebesar US $ 1.509 juta. Peningkatan terse but adalah sejalan dengan semakin bertambah besarnya kewajiban penyelesaian hutang dari tahun-tahun sebelumnya yang telah jatuh tempo. 5.4. Perkiraan neraca pembayaran dalam tahun 1985/1986 Atas dasar perkiraan realisasi dalam tahun 1984/1985, dan dengan memperhitungkan perkembangan yang diperkirakan akan terjadi baik terhadap ekspor, impor maupun lalu lintas modal dalam periode berikutnya, neraca pembayaran Indonesia dalam tahun 1985/1986 diperkirakan masih akan mengalami surplus meskipun tidak sebesar dalam tahun 1984/1985. Keadaan ini diperkirakan terjadi karena di satu pihak realisasi transaksi berjalan diperkirakan akan mengalami defisit sebesar US $ 3.409 juta, dan di lain pihak lalu lintas modal bersih, baik yang berasal. dari pemasukan modal Pemerintah maupun pemasukan modal lainnya, setelah dikurangi angsuran pokok hutang luar negeri, dalam periode tersebut mencapai US $ 3.682 juta. Dengan demikian neraca pembayaran tahun 1985/1986 diperkirakan surplus sebesar US $ 273 juta. 5.4.1. Perkiraan nilai ekspor bukan minyak dan gas Kalau dalam tahun 1984/1985 nilai ekspor di luar minyak dan gas realisasinya diperkirakan mencapai US $ 6.050 juta, maka dalam tahun 1985/1986 nilai ekspornya diperkirakan mencapai sebesar US $ 7.009 juta, yang berarti meningkat sebesar. US $ 959 juta atau 15,9 persen. Adapun perkiraan kenaikan nilai ekspor di luar minyak dan gas terse but didasarkan pacta pertimbangan-pertimbangan : (1) Mulai pulihnya perekonomian negara-negara industri dari pengaruh resesi, sehingga harga-harga komoditi di luar minyak dan gas di posaran internasional diharapkan akan meningkat, disertai dengan meningkatnya permintaan negara-negara tersebut terhadap komoditi di luar minyak dan gas; (2) (3) Penanganan ekspor komoditi di luar minyak dan gas secara terpadu dan efisien; Ditingkatkannya usaha perluasan posar antara lain dengan' mengadakan hubungan dagang dengan negara-negara Eropa Timur.
Departemen Keuangan RI

140

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

5.4.2. Perkiraan nilai impor bukan minyak dan gas Pengduaran devisa untuk impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1985/1986 diperkirakan akan berjumlah sebesar US $ 13.342 juta. Jumlah ini adalah US $ 1.173 juta atau 9,6 persen lebih besar bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 sebesar US $ 12.169 juta. Nilai impor bukan minyak dan gas tahun 1985/1986 didasarkan atas perkiraan-perkiraan sebagai berikut : (1) Kebijaksanaan kurs devisa untuk menjaga keseimbangan perdagangan luar negeri masih tetap dipertahankan. (2) Keadaan resesi ekonomi dunia yang menunjukkan pemulihan akan mempengarnhi perekonomian Indonesia khususnya di bidang produksi industri dalam negeri, sehingga untuk keperluan industri dalam negeri t_rsebut diperlukan impor bahan baku/penolong serta barang modal yang lebih tinggi. (3) Pemerintah masih tetap menjaga kestabilan harga barang-barang kebutuhan masyarakat sehingga terhadap barang yang belum mencukupi atau belum diproduksi di dalam tetap dilakukan impor. (4) (5) (6) Pemakaian produksi dalam negeri terus digalakkan. Impor dalam rangka bantuan proyek dan bantuan program masih tetap diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Kebijaksanaan penjadwalan kembali (rephasing) yang telah dilaksanakan untuk proyek proyek tertentu yang banyak menggunakan barang-barang impor masih tetap dipertahankan. 5.4.3.Perkiraan penerimaan minyak bersih termasuk LNG Situasi posaran minyak dunia sampai saat ini belum memperlihatkan tanda-tanda perbaikan seperti yang diharapkan. Situasi yang demikian ini sangat frat hubungannya dengan proses pemulihan ekonomi yang berjalan lamban, sehingga adanya kelebihan produksi minyak dunia tidak segera diikuti oleh penambahan permintaannya. Di samping itu harga minyak tunai (spot) diposaran dunia terus mengalami posang surut bersamaan dengan posang surntnya pemulihan perekonomian dunia, terntama di negara-negara industri, perubahan musim di belahan bumi non tropis, serta peleposan/penambahan cadangan (stock) minyak oleh negaranegara industri. Situasi yang demikian itu telah memaksa OPEC mengambil keputusan untuk memperbaiki situasi minyak yang ternyata sampai akhir tahun 1984 belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Bahkan sesuai dengan hasil pertemuan OPEC bulan Oktober 1984 telah diputuskan bahwa kuota produksi diturunkan dari 17,5 juta barrel menjadi 16 juta barrel per
Departemen Keuangan RI

negeri

141

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

hari, sedangkan harga patokan minyak mentah masih tetap dipertahankan sebesar US $ 29 per barrel. Dengan adanya ketentuan kuota produksi minyak tersebut, maka kuota produksi minyak Indonesia harns diturunkan sebanyak 111.000 barrel per hari selama bulan November dan Desember 1984. Sementara itu dengan telah diproduksinya beberapa peralatan pengeboran minyak oleh industri dalam negeri, maka akan mempengaruhi penghematan penggunaan devisa untuk impor di sektor minyak. Di lain pihak devisa hasil ekspor gas alam yang dicairkan (LNG) diperkirakan akan mengalami peningkatan dalam tahun 1985/1986. Atas dasar perkiraan realisasi penerimaan minyak bersih termasuk LNG dalam tahun 1984/1985, serta perkiraan situasi pasaran minyak dunia yang akan terjadi, maka dalam tahun 1985/1986 penerimaan minyak bersih (termasuk LNG) diperkirakan berjumlah sebesar US $ 7.299 juta. 5.4.4. Perkiraan pos lainnya Pengeluaran devisa untuk pembayaran jasa-jasa. dalam tahun 1985/1986 diperkirakan masih akan lebih besar dari penerimaannya, sehingga sektor jasa masih menunjukkan hasil bersih yang negatif bagi penerimaan devisa negara. Sehubungan dengan itu, usaba peningkatan penerimaan devisa, dan penghematan penggunaannya di bidang jasa-jasa akan terus dilakukan melalui pengembangan sektor kepariwisataan, pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, pembatasan perjalanan ke luar negeri, pengurangan secara bertahap penggunaan tenaga kerja asing/konsultan di Indonesia, serta peningkatan peranan armada niaga nasional dalam pengangkutan barang ekspor dan impor. Dalam tahun 1985/1986 hasil bersih untuk jasa-jasa diperkirakan berjumlah sebesar US $ 8.102 juta. Selanjutnya pemasukan modal Pemerintah dalam tahun 1985/1986 diperkirakan akan berjumlah sebesar US $ 4.974 juta, termasuk bantuan proyek sebesar US $ 4.016 juta. Sedangkan pemasukan modallainnya diperkirakan akan mencapai sebesar US $ 406 juta. Di lain pihak, pembayaran kembali hutang pokok luar negeri dalam tahun 1985/1986 diperkirakan sebesar US $ 1.698 juta.

Departemen Keuangan RI

142

2 persen per tahun. yaitu dari periode tahun 1969 sampai dengan tahun 1983. di satu pihak peranan sektor pertanian menurun sedangkan di lain pihak peranan sektor lainnya seperti sektor industri. Dalam kurun waktu 14 tahun. Di samping telah dicapainya penmgkatan produk domestik bruto dari tahun ke tahun. lembaga keuangan dan jasa lainnya.2 persen per tahun (Tabel VI. pembangunan nasional mengusahakan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.214. Departemen Keuangan RI 143 .0 milyar menjadi sebesar Rp 71.718.2 persen per tahun.1.7 milyar. Hal ini berarti bahwa selama kurun waktu tersebut. Perkembangan pendapatan nasional menurut lapangan usaha dan kontribusinya Hasil pembangunan ekonomi antara lain dicerminkan dari pendapatan nasional yang senantiasa meningkat dalarn kurun waktu 14 tahun terakhir ini. maka dalarn periode tersebut telah terjadi kenaikan rata-rata sebesar 7. yang pada gilirannya memungkinkan terwujudnya peningkatan tarat hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat. Tanpa mengabaikan usaha pemerataan dan kestabilan. Indonesia sejak tahun 1969 dengan giat melaksanakan pembangunan nasional secara berencana dan bertahap serta berpegang teguh pada kebijaksanaan Trilogi Pembangunan. Berdasarkan harga yang berlaku.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VI PENDAPATAN NASIONAL 6. gas dan air minum telah semakin meningkat. Pendahuluan Sebagai suatu negara yang sedang berkembang. produk domestik bruto atas dasar harga yang berlaku mengalami kenaikan rata-rata sebesar 26. 6. telah terjadi pula perubahan struJ<:. pendapatan nasional sebagaimana tercermin dari perkembangan nilai produk domestik bruto dari tahun 1969 sarnpai dengan tahun 1983 telah menunjukkan jumlah yang semakin besar. sektor perdagangan. Keadaan tersebut merupakan suatu petunjuk terjadinya suatu proses keseimbangan yang lebih baik dalam struktur ekonomi. yakni dari sebssar Rp 2. yakni sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur melalui produk domestik bruto atas dasar harga yang berlaku telah berhasil ditingkatkan dengan rata-rata sebesar 26. serta sektor listrik.2.1). yaitu ke arab suatu perekonomian industri yang didukung oleh sektor pertanian yang tangguh. Sedangkan apabila diukur atas dasar harga konstan tahun 1973.tural yang penting. sektor bangunan.

738.2 persen per tahun.6 114 158 1.433.10 828.421.961.50 1970 2.115.50 5.965. gas.1 2.850.00 831 650 30.90 1980 3.00 1.00 890 52 406 442 3.046.9 5.80 3.842.820.00 1973 2.882. Dengan demikian apabila perkembangan tersebut dikaitkan dengan laju pertumbuhan penduduk yang diperkirakan sekitar 2.681.8 1.073.353.842.047.5 milyar menjadi Rp 12.00 831 650 30.8 3.696.900.00 1.80 1.480.013.325.930.2 PRODUK DOMESTIK BRUTO.20 12.433.484.2 milyar.4 262 257 2.401.30 68.40 939.599.60 4.9 720.199.00 2.80 1981 13.6 521. produk domestik bruto yang dihitung atas dasar harga konstan tahun 1973.00 4. 1969 .5 1.70 288.698.1 88.373.981.00 1. Pengangkutan dan komunikasi 7. sektor industri pengolahan sebesar Rp 1.070.1983 (dalam milyar rupiah atas dasar harga yang berlaku) 1974 4.7 2.70 49 463.80 12842.40 1. don al£ minum 5.103.905.50 5. Pertambangan & penggalian 3. 1 PRODUK DOMESTIK BRUTO.00 1976 4.672.50 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e 1 VI. Perdagangan.30 1.287.2.434.3.60 1. lembaga keuangan dan jasa lainnya 1969 1.80 1. Departemen Keuangan RI 144 .034.991.2 milyar tersebut terbentuk dari nilai tambah bruto di semua sektor.182.7 171 210 1.3 609.263.734.835.00 1.00 5.90 1.9 639.80 1.00 1.60 1982 3.00 305.6 4.5 757. Tanaman bahan makanan b.057. dan air minum 5.821.137.40 1983 3.027.064.8 589.40 2.753.003.80 1.970.70 12.6 milyar.50 2.642.00 Dalam periode yang sama.942.60 13.80 5.00 3.412.5 milyar serta sektor perdagangan.351.048.415. suatu pertumbuhan yang dimungkinkan di samping oleh kebijaksanaan Pemerintah dan upaya masyarakat.357.60 1.20 1.453.70 380.823. Pertanian.00 890 452 399 19.30 1l.00 1.00 1975 2.310.995.255. Industri pengolahan 4.6 562.90 2.816.893.420.630.2 222 229 1. kehutanan.918.00 6.30 956.554.30 1980 11.820.70 11.00 674 564 26.0 859 755 37 320 288 2.6 662.339.768.479.932.979.414.5 342.50 1979 3.90 1978 6.669.00 1972 1.50 12.70 3.325.395.346.00 1.706. perikanan a. Pengangkutan don komunikasi 7.380.00 7.00 6.20 17.2 4.137.704.50 8.123.00 21.235.40 118.707.70 69. Produk domestik bruto sebesar Rp 12.169.680.4 262 257 2.20 1.10 1. industri pengolahan 4. juga karena adanya kebangkitan kembali ekonomi dunia. maka terlihat bahwa upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat selama kurun waktu memperihatkan hasil yang nyata.60 5. juga mengalami peningkatan dari sebesar Rp 4.269.556.00 1.20 1973 2.427.2 persen.235.707.811.013.156.5 752.2 676. 1embaga keuangan danjasa lainnya Jumlah 1969 2.00 1.069.3 3.60 148.247.00 823 516 129 251 13 75 77 834 1970 1.30 1977 2.2 persen.80 89.5 143 165 1.374.20 1.6 2.40 1.30 12.873.2 3.10 1983 18.332.80 1.356.290.245.523.003.40 1974 2.50 112.00 1. Perkembangan secara lebih terperinci dapat diikuti pada Tabel VI.00 1971 2.00 954 522 435 22.00 1.30 6.00 1.821.507.424.30 98.299.275.771.20 12.164.90 2.00 1. kehutanan. Lainnya 2.031.5 4.9 528.30 9. Dengan demikian selama Pelita III telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 6 persen per tahun.544.70 1.9 514.375.80 1976 2.00 5.80 1.117. Bangunan 6. Perdagangan.70 1.90 4.071.10 1.390. maka ekonomi mulai membaik dan dalam tahun 1983 telah mencapai sebesar 4.10 1. Bangunan 6.10 1977 5.3 1.2 persen selama kurun waktu 14 tahun tersebut terutama didukung oleh sektor bangunan yang mempunyai tingkat pertumbuhan paling tinggi yaitu rata-rata sebesar 14.877. Pertanian.00 1975 4.00 1982 15.80 3.90 225.789.7 2.3 384.10 2.043.90 8.573.80 2.659.357.30 1.2 Setelah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah dalam tahun 1982 yakni sebesar 2.60 6.6 4.9 persen per tahun. antara lain sektor pertanian sebesar Rp 3.4 3.710.575.755.60 8.812.60 2.30 842. Tabel VI.540.943.096. gas.870.1 812.8 716.30 1.00 1.657.60 2.8 438.1 847. Listrik.3 930 46.50 1.908.90 1.710.90 105.412.117.40 2.00 1.60 4.242.10 1. Pertambangan & penggalian 3.845.60 2.50 1.8 1.90 6.00 961 685 294 307 18 128 162 1.845.00 1979 8.593.134.00 1.8 804.9 4.427. laju pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 7.379.80 2.30 9.70 105.20 15. Sebagaimana terlihat pada Tabel VI.795.261.668.90 10.80 1.054.60 77. lembaga keuangan dan jasa lainnya sebesar Rp 4.70 4.2 364.402.90 7.1 3.892.005. Lainnya 2.80 1.00 1.023.437.678.101.8 302.40 2.7' 6.448.00 1978 3.6 1. 1969 -1983 (dalam milyar rupiah.833.20 1981 3.714.294.837.00 766 491 448 20 174 182 1.1 30. atau naik rata-rata sebesar 7.00 3. Listrik. Tanaman bahan makanan b.8 559. atas dasar harga konstan tahun 1973) Lapangan usaha 1.573.067.60 56. perikanan a.9 41.646.2 3.8 7.70 1972 2.50 9.8 milyar.436.2 persen per tahun.2 952.70 3.566.70 Lapangan usaha 1.047.00 962 613 173 293 15 100 96 986 1971 1.20 2.50 11.70 1.811.538.942.441.00 551 490 24.

1 persen.9 4.2 1.3 1974 29 185. jalan.8 27.3 14.6 8.8 9 13 9. yang masing-masing meningkat dari sebesar 8.2 7.4 persen dan 3.6 12.3 7.1 1978 13.1 10.4 . lndustri pengolahan 4.5 69.7 11.9 32 12. sektor bangunan serta sektor pengangkutan dan komunikasi.4 4. Dari perbedaan laju pertumbuhan antarsektor tersebut dapat dilihat bahwa telah terjadi proses perubahan di dalam komposisi produk domestik bruto.8 1.3 1.1 28 23.2 16 18 12. yaitu ke arab struktur ekonomi yang lebih seimbang dengan sektor industri yang maju dan didukung oleh sektor pertanian yang tangguh.2 13.5 67.9 12. lembaga keuangan dan jasa lainnya juga meningkat yaitu dari sebesar 29.6 34.5 7.7 5 1976 20.1983 ( persentase kenaikan ) Lapangan ulaha ( Atas dasar harga yang berlaku ) 1.6 41.0 9. Pertanian.7 26. Listrik. gas dan air minum.9 5 6.2 12 21.7 persen per tahun.6 3.8 36.2.2 2.1 32.1 12.1 9.4 4.6 22.3 PRODUK DOMESTIK BRUTO.8 19.7 51.9 4.4 12. lembaga keuangan dan jasa lainnya serta sektor pertambangan dan penggalian masing-masing mengalami kenaikan ratarata sebesar 8.3 24. Perdagangan. 11.1 60.2 7.9 5. Namun peranan tersebut berangsur-angsur menurun menjadi sebesar 29.2 23.2 22.5 persen per tahun.2 19.3 33.1 15.3 10.7 7 1972 11.6 5. lndustri pengolahan 4.4 5.8 13.3 15.5 40.4 33.8 -9.7 22.1 0.9 persen dalam jangka waktu 14 tahun kemudian.5 6.1 29. Listrik. Di samping itu sektor listrik.2 59.4 5.4 2. kehutanan.1 41.1 16.1 9.9 11.1 1.6 21.3 26.5 4.9 20.4 12.2 21.5 persen dalam tahun 1983.4 24.5 9 14.8 25.1 10.1 10.3 persen.1 26.8 18. 2.7 3.9 12.4 37. yaitu meningkat ratarata sebesar 3. Seperti terlihat pada Tabel VI.6 25.8 persen dalam tahun 1983.7 13.9 18.9 27.2 6.6 9.6 13.4 8. Pengangkutan daft komunikasi 7.8 3.2 1981 20.1973 20. Bangunan 6.8 12 48.1 22 22.7 15. gas daft air minum 5. sektor industri pengolahan serta sektor pengangkutan dan komunikasi juga cukup besar peranannya.2 5 4. Pertambangan & penggalian 3. kehutanan.7 31.3 22.8 26. Departemen Keuangan RI 145 .4 19.7 8.7 36.2 16.2 15.2 17. peranan sektor-sektor lainnya di luar sektor pertanian pada umumnya menunjukkan tendensi yang semakin meningkat.1 16. Pengangkutan dan komunikasi 7.5 19.3.8 11.6 67 45. seperti halnya sektor industri pengolahan.3 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 34.3 persen dan 5. Di samping itusektor perdagangan.4 20.4 1973 47.8 persen per tahun.3 11.3 15. 1970.9 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Dihitung dengan compound rate Hal tersebut sejalan dengan makin meningkatnya kegiatan pembangunan di berbagai bidang seperti perumahan.9 11.4 persen dan 5.4 18.2 5.4 7.1 55 72 51.5 11.9 25 7. Hal ini pada gilirannya diharapkan dapat mengacu kepada perimbangan yang serasi dan sesuai dengan sasaran pembangunan ekonomi jangka panjang.8 5.8 2.6 29 29.2 45. Pertanian. yaitu sebesar 46.7 7.5 69.5 4.7 18.2 36.9 71. gas daft air minum 5.3 40.9 3.8 16.9 persen dan 11.8 26. 1embaga keuangan dan jasa 1ainnya Produk Domesdk Bruto ( Atas dasar harga konstan 1973 ) 1. Pertambangan & penggalian 3.8 20 28 68.8 5.9 13.2 28.9 5.6 48 9.2 17.2 45.01 12.8 19.9 1980 25. peranan sektor pertanian dalam tahun 1969 tampak menonjol.5 5. perikanan 2.1 52 50.3 15 12.6 6.1 4.7 1977 22.6 13. Bangunan 6.6 1975 14. namun sumbangannya terhadap pembentukan produk domestik bruto masih tetap besar.4 3.5 37.1 35.3 13.3 4.7 19.3 9.5 18.6 16.3 persen.7 39.5 11.9 26.6 27.1 14 17.2 17. Di samping itu sektor perdagangan.9 persen dari seluruh nilai produk domestik bruto. yakni masing-masing dengan kenaikan rata-rata sebesar 13. perikanan 2. 6.5 1971 4.3 8.4 19 19.8 13 10.3 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 15.4 .4.8 33.9 -1.4 58.8 30.2 3.2 19.1 -12.7 1979 34. jembatan dan irigasi.9 7.2 8 7.9 6.9 1982 1) 1983 2) 14.4 14 5.3 41 38.2 42.1 33. Perdagangan.7 26.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VI.1 6.9 29.3 23.4 22.4 8. Sementara itu walaupun laju pertumbuhan sektor pertanian lebih rendah dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.7 22. 1embaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto 1970 17.2 Rata-rata 3) 1970 . Di lain pihak.7 12.3 34.

Pertambangan & penggalian 3.7 4. Perdagangan.8 11 12.5 0.5 10. dalam periode yang sarna pengeluaran konsumsi pemerintah dan pengeluaran konsumsi rumah tangga juga telah menunjukkan peningkatan. Listrik.1 5.9 31.8 milyar dalam tahun 1969 menjadi sebesar Rp 3.6 0.9 15.4 0.9 100 40.9 6.8 10. kehutanan. perikanan 2.5 30. lndustri pengolahan 4.1 21.4 0. pembentukan modal domestik bruto tetap menunjukkan kenaikan yaitu dari sebesar 11.4 100 44 9.758.4 15.6 5.8 4.3 0.8 100 32.5 dan Tabel VI.6 0.3 4.8 0.2 8.5 5.5 persen Departemen Keuangan RI 146 .3 0.7 19.8 10.7 100 44.6 33.7 6.1 8.9 3.2 persen per tahun. alan suatu kenaikan rata-rata sebesar 10.2 4.4 32.4 100 38.9 9.7 30.6 5.9 0. gas dan air milIum 5.4 31.1 9.4 2.2 100 29. Hal ini berarti bahwa kenaikan riil sebesar 7.9 9.7 persen.6 12.501.2 31.3 10.4 12.2 100 33.0 milyar dan Rp 3.5 4.3 0.4 30.1 18.4 0.5 5. Pertanian.9 7.5 0.4 3.3 24 10.9 4.9 milyar dan Rp 11.4 2.2 100 24.9 3.1983 ( persentase ) 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) Lapangan usaha (Atas dasar harga yang berlaku) 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1.4 8.5 32.6 4.4 4.3 100 32 10.4 0.9 8.1 30.5 4.3.7 5.8 30.1 0.7 11-Jun 0. Pengangkutan dan komunikasi 7.1 28. Terlihat bahwa peranan masing-masing jenis penggunaan produk domestik bruto dalarn periode tahun 1969 sarnpai dengan tahun 1983 telah menunjukkan perubahan dalam komposisi penggunaannya.5 3.6 5. lembaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 6. 1969 .4 100 26.4 29.9 0.9 persen dan 8. dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 dengan rata-rata sebesar 7.5 100 1.7 100 46.7 11.8 100 28.4 0.6 5.8 29. Pertanian.4 19.3 9.7 3. lembaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto (Atas dasar harga konstan 1973) 49.8 4.1 3.1 12.9 100 31.8 4 30.3 4. Selanjutnya di samping meningkatnya pembentukan modal domestik bruto.8 8 8.1 persen.8 2. alan suatu kenaikan sebesar rata-rata 15.7 11.9 100 25.1 3 30.5 5. alas dasar harga konstan tahun 1973.9 100 40.8 11.5 5.9 0.8 34.7 5. kehutanan.6 4.6.9 100 40.6 15.4 30.3 29.2 persen dalam tahun 1969 menjadi 30. Perdagangan.8 7.4 100 36.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TabeI VI.2 4.2 29.3 19.8 30.7 4.5 100 45. perikanan 2.9 0.1 12. 4 PERANAN MASING-MASING LAPANGAN USAHA DALAM PROD UK DOMESTIK BRUTO.6 5. Pertambangan & penggalian 3.5 2.2 10.8 29.2 0.3 0.7 6 5.8 0.8 10.3 9.7 5.4 4 30.1 milyar dalam tahun 1983.6 5.1 100 29.8 4 31.5 3. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 24.5 5. terutama disebabkan oleh meningkatnya pembentukan modal domestik bruto yaitu dari sebesar Rp 537. Bangunan 6.4 0.6 4. Bangunan 6.2 milyar dalam tahun 1983.3 27.9 6.3 9 0.5 3.8 100 29. Jika dihitung alas dasar harga konstan tahun 1973.8 25.1 0.8 0.6 5.4 100 36.5 3.3 5.5 19.7 8.5 3.6 0.6 0.3 15.7 0.5 4.7 30 100 29.2 persen per tahun.8 29.3 13. Industri pengolahan 4.7 22.5 4.791.8 8.5 3.3 0.7 9. dapat pula dilihat dari perkembangan masing-masing komponen penggunaannya seperti terlihat pada Tabel VI.4 100 26. Pengangkutan dan komunikasi 7.8 9. baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun oleh swasta.2 persen per tahun selama 14 tahun tersebut terutarna berasal dari semakin tingginya kegiatan investasi. Meningkatnya produk domestik bruto. Listrik.2 persen per tahun dalarn periode tersebut. yaitu masing-masing dari sebesar Rp 414.7 3.7 9.9 9.2 100 32.4 3.3 30.3 100 31 18.4 3.8 100 40. gas dan air milIum 5.5 milyar dalam tahun 1969 menjadi sebesar Rp 1.1 11.4 29.6 12 11.921.5 4.9 34.2 100 31.3 100 48. Apabila dalam tahun 1969 peranan pembentukan modal domestik bruto atas dasar harga yang berlaku terhadap produk domestik bruto baru mencapai sebesar 11. Perkembangan pendapatan nasional menurut jenis penggunaan Perkembangan ekonomi nasional sarnpai dengan tahun 1983 selain ditunjukkan oleh kenaikan per sektor.9 11.5 100 30.

50 1.30 341 414 716 84-1.90 -649.30 30.50 1980 8.523.10 7.485. Dikurangi: Impor barons don jasa 6.10 4.50 1.704.9 5.7 336.00 61.879.6 496 6.60 1.658.904.80 -389 7.6 803.752.30 2.395.6 persen dalam tahun 1969 menjadi negatif 33.318.20 1983 2) 11.817.10 625.9 360.10 716 1.30 1982 1) 10.964.00 32.522.178.00 1.088.80 1.2 690.235.957.231.838.146.70 .20 Tab e I VI.410.6 -556.753.5 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 69.10 57.90 587.962.90 1.5 3.229.70 3.838.40 3.511.489.7 1.50 .5 8.897.80 199 317 328.40 -2.8 6.927.70 4.194.444.80 6.6 1.741.535.70.2 624 7.70 1981 10.791.5 6.20 -835.00 1.136. Produk domestik bruto 7.7 10.865.40 2.70 .672.269.34.00 1.066.032.534. Produk nasional bruto 9.218.641.132. Dikurangi: Pajak tak langsung netto 10.0 4.067.00 .006.208.00 7.20 2.50 -493.879.30 3.55.9 1.325.30 623.90 20.2 5.10 1. sedangkan atas dasar harga konstan tahun 1973 menunjukkan suatu penurunan dari positif 1.20 -758.4 -498.00 6. Ekspor barang dan jasa 5.731.184.00 12.8 -482.00 1.30 2.00 2.00 52.502. yaitu dari masing-masing sebesar 7.9 942.153.50 19.811.560.733.40 10.085.80 1.502.297.269.753.719.804.791.50 896. dan dari sebesar 8.7 663.035.20 15.375.50 1975 5.688.356.749.666.5 persen dalam tahun 1969 menjadi negatif 4.00 1.00 2.454.330.90 3.10 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam tahun 1983.20 845.00 518.461.9 2.697.70 54.864.80 3.204.741. Produk nasional netto atas dasar biaya faktor produksi 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Residual 1969 3.50 1.356.20 5.436.80 2.50 544.5 persen dalam tahun 1983. Tabel VI.636.40 992.50 234.8 576.3 persen menjadi sebesar 10.40 -652.00 5.681.678.50 1977 12.847. yaitu apabila dihitung atas dasar harga yang berlaku telah menurun dari negatif 3.80 370.164.00 -420.8 762.293.912.40 12.007.482.00 41.00 12.8 persen dalam tahun 1983.508.30 -314.5 1.7 11. Pembentukan modal domestik bruto 4.629.40 10.30 8.732.367.00 2.419.30 466.20 4.513.1 persen dalam tahun 1983.80 3.7 persen jika dihitung alas dasar harga konstan tahun 1973.70 13.30 3.089.228.842.3 834 755.670.50 15.70 Departemen Keuangan RI 147 .742.20 -183.634.70 1972 4.00 .5 PENGGUNAAN PRODUK DOMESTIK BRUTO.10 5.804.94.10 1.345.00 328 439 5.708.156.50 10.10 3.9 -144.00 7. peran:annya narnpak semakin meningkat. Pengeluaran konswnsi pemerintah 3.00 -378.924.90 1978 1979 1980 1981 1982 1) 15.10 641 1. Dikurangi: Penyusutan 11.044.50 188 219 2.3 866.00 43.7 3.9 715. 6 ( dalam milyar rupiah atas dasar harga konstan tahun 1973 ) Jenis penggunaan 1. Demikian pula halnya untuk konsumsi pemerintah.10 10.983.8 18.80 251.2 9.2 9.2 -254.8 5.70 600.4 786.10 1.40 Jenis penggunaan 1.90 271.40 4.10 135 176 2.803.578.60 483.802.70 3.3 4.208.30 17.303.273.70 6.787.70 4.30 3.728.2 5.304.50 19.776.70 -1.90 1.765.355.4 1.973.7 472.9 persen jika dihitung alas dasar harga yang berlaku.60 12.867.187.5 778.323.343.48.30 2.20 1l.466.670.50 21.044.544.5 238.00 59.280.90 68.30 1971 4. Pengeluaran konsumsi rumah tangga 3) 2.00 1974 5.797. Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi 8.182.238.80 2.675.10 9.50 560.5 9.70 10.805.6 persen dalarn tahun 1969 menjadi sebesar 89.380.027. Di lain pihak peranan konsumsi rumah tangga mengalarni penurunan yaitu dari sebesar 84.650.80 38.90 13.621.90 35. Produk nasional bruto 9.4 424 2.70 !.604.010.30 46.241.745.10 51.80 13.079.054.515.80 13.590. Dikurangi: Penyusutan 11.332. Dikurangi: Impor barang dan jasa 6.553. Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi 8.782.90 6.20 835.6 persen menjadi sebesar 13.650.746.698.399.50 1.1 12.00 1.90 430. Ekspor barang daD jasa 5".40 11.70 -3.70 16.7 439 696 821 1.20 1.5 394.50 1978 6.033.445.896.20 14.642.066.218. Produk nasional netto alas dasar biaya faktor produksi 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Residual 1969 2.30 9.1 persen dalam tahun 1983 bila dihitung atas dasar harga yang berlaku.40 4.40 9.10 1970 3.890.984.467. 580 857 1.80 2.10 1979 7.10 7.40 45.30 294.50 1.20 71.90 -1. Pembentukan modal domestik bruto 4.330.214.1 1.876.60 -673.1 313.30 5.3 6.169.501.883.50 1.882.00 4.143.007.820.10 3.6 7.70 293 455 434 522.90 17.70 1.60 27.758.20 399.253.50 414 537.410.70 27.80 2.50 2.3 728.345.842.20 2.00 3.308. baik alas dasar harga yang berlaku maupun atas dasar harga konstan tahun 1973 dalam periode yang sarna.90 526.025.2 10.5 3.60 1.564.4 6.20 1976 6.10 3.887.7 871.90 10.70 351.189.826.4 13. Dikurangi: Pajak tak langsung nella 10.628.449.6 10.10 1970 2.484.70 22.349.831.102.921.832.554.566.3 4. Dalam pada itu ekspor netto juga mengalmi perubahan.8 5.824.70 14.822.20 7.20 1.137.508.111.60 3.440.287.00 3. walaupun alas dasar harga konstan tahun 1973 peranannya menunjukkan peningkatan dari sebesar 78.20 4.30 1977 6.90 9.70 495.0 1.077.80 6.10 19.10 4.1 7.699.8 746 668. Produk domestik bruto 7.20 3.9 10.67.481.2 5.849.7 -1.60 1973 4.511. Pengeluaran konsumsi rumah tangga 3) 2.672.1 530.20 1.683.073.60 -866.5 1983 2) 49.632.60 2.20 12.118.60 4.874. 1969 -19 ( daiam milyar rupiah atas dasar harga yang beriaku ) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 2.572.759.40 2.7 11.80 8.512.435. Pengeluaran konsumsi pemerintah 3.00 1.20 2.90 3.00 -677.541.40 -245.372.630.8 837.00 .8 4.70 1.356.7 296.8 4.30 3.1 8.445.268.30 8.20 229 236 328 447 519.028.6 6.027.209.

Oleh karena itu pengerahan dana daTi sektor swasta. sesuai dengan arab dan sasaran Repelita IV.2. berbagai kegiatan pembangunan yang telah dilaksanakan Pemerintah bersama-sama seluruh rakyat Indonesia telah mencapai hasil-hasil yang positif. Adapun hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai selama ini dapat diikuti melalui uraian daripada masingmasing bidang di bawah ini. meningkatkan penerimaan devisa Departemen Keuangan RI 148 . Berkenaan dengan arab dan tujuan pengembangan penanaman modal yang sesuai dengan strategi pokok pembangunan. Hal itu tercermin pada peningkatan taraf hidup. yang pelaksanaan operasionalnya senantiasa disusun dalam kerangka kebijaksanaan ekonomi secara terpadu. kegiatan penanaman modal baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA) antara lain diarahkan untuk meningkatkan dan memperluas kapositas produksi nasional. telekomunikasi. baik nasional maupun asing dalam penanaman modal terus digairahkan melalui penciptaan prasarana dan sarana yang memungkinkan kegiatan pembangunan ekonomi dapat bergerak ke arab yang direncanakan. 7. pekerjaan umum. industri. perhubungan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VII PERKEMBANGAN USAHA DAN HASIL-HASIL PEMBANGUNAN EKONOMI 7. pertambangan dan energi. Sehubungan dengan hal itu akan terus dilakukan upaya-upaya peningkatan hasil produksi barang dan jasa di berbagai bidang meliputi penanaman modal.1. pembinaan dunia usaha. serta kependudukan dan transmigrasi. kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat. kehutanan. Penanaman modal Strategi dasar pembangunan nasional diarahkan pada pemanfaatan sebesar-besarnya dari seluruh potensi yang ada untuk tercapainya tujuan pembangunan. Dalam hal ini. pertanian. Pendahuluan Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Oleh karena itu dalam Repelita IV akan terus dilakukan pembangunan ekonomi yang berlandaskan Trilogi Pembangunan. pos dan pariwisata. menciptakan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. yang pada gilirannya menjadi kerangka landasan yang kokoh untuk melanjutkan pembangunan dalam masa-masa mendatang. peranan swasta dan kopeiasi akan lebih ditingkatkan guna mencapai tingkat pertumbuhan seperti yang direncanakan.

Sementara itu dalam rangka pengembangan dan pembinaan proyek prioritas sesuai dengan sasaran dalam Repelita IV. baik asing maupun dalam negeri dengan para pengusaha. teh. Adapun guna meningkatkan pelayanan kepada investor telah pula dikembangkan berbagai pra-studi Departemen Keuangan RI 149 . telah ditempuh berbagai kebijaksanaan untuk menyebar proyek-proyek ke seluruh wilayah Indonesia sejauh faktor-faktor ekonomis masih memungkinkan. Dari segi pemerataan pembangunan. kepi. teknologi tinggi dan belum dapat diusahakan oleh swasta nasional. Di samping itu telah banyak pula diusahakan produk lain yang berorientasi pada ekspor seperti udang. kesempatan kerja. dengan sasaran pokok tercapainya peningkatan pendapatan. kesempatan berusaha serta pemerataan pembangunan di daerah-daerah dalam rangka pemanfaatan sumber kekayaan alam. kodak. Investasi yang telah disetujui di bidang tersebut antara lain meliputi bidang usaha pembuatan mesin automotive dan non-automotive. ubi kayu dan kelapa sawit dari sektor perkebunan. maupun penampungan hasil-hasil usahanya. Salah satu usaha yang dilakukan dalam rangka kebijaksanaan tersebut adalah mendekatkan lokasi proyek dengan bahan baku. sub-kontrak. Pada dasarnya kesempatan penanaman modal diberikan lebih banyak kepada swasta nasional dengan peran yang lebih besar kepada koperasi dan golongan ekonomi lemah. karel. pengilangan baja (cold rolling mill) dan sebagainya. Sejalan dengan itu sektor-sektor lain seperti industri makanan telah pula diarahkan pada ekspor. Untuk proyekproyek penting tersebut disusun suatu ketentuan teknis berupa kerangka acuan yang mengikat para investor dalam pelaksanaan proyek. industri tekstil dan pakaian jadi sebagai komoditi ekspor. koperasi ataupun para petani setempat. ikan tuna. Dalam rangka perencanaan dan sebagai pedoman bagi penanaman modal telah diterbitkan daftar skala prioritas (DSP) yang penyusunannya dikaitkan dengan programprogram yang direncanakan. sedangkan swasta asing diarahkan kepada usaha patungan yang memerlukan modal besar. baik dalam rangka partisiposi permodalan. Dalam hal ini masyarakat umum telah diberikan kesempatan yang luas untuk berperanserta dalam perusahaan-perusahaan baik PMDN maupun PMA dengan memiliki saham dari perusahaan-perusahaan yang telah memasyarakatkan sahamnya. DSP menggambarkan suatu rencana penanaman modal yang terpadu. dan ikan cakalang dari sektor perikanan. Di samping itu juga telah dilaksanakan kebijaksanaan yang mendukung adanya kerjasama antara proyek penanaman modal. pembuatan komponen automotive. serta coklat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 serta mengusahakan perluasan kesempatan kerja. investasi di bidang industri logam dan mesin telah digalakkan secara khusus. Penanaman modal juga diarahkan untuk meningkatkan penerimaan devisa antara lain dapat terlihat dalam perkembangan sektor perkayuan terutama kayu olahan.

Demikian pula telah diadakan kerjasama dengan berbagai pihak.2.037.9 milyar dengan 502 proyek.3 persen dari rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984. sampai saat ini pulau Jawa masih tetap merupakan daerah yang paling banyak menyerap proyek-proyek PMDN sebagai lokasi usahanya. Paris dan Frankfurt. Dari jumlah yang telah disetujuai tersebut sampai dengan bulan Maret 1984 telah direalisasikan sebesar Rp 6. 2. Jumlah tersebut termasuk proyek yang mengadakan perluasan/penambahan modal. Departemen Keuangan RI 150 . serta dengan cara membantu mempertemukan berbagai unsur masyarakat yang ikut serta dalam bidang penanaman modal. dengan nilai rencana investasi sebesar Rp20.4 milyar atau 30. Penanaman modal dalam negeri Investasi melalui PMDN yang telah mendapat persetujuan Pemerintah sampai dengan bulan Agustus 1984 adalah sebanyak 4.766 proyek (64. 7.259 proyek PMDN. dari sebanyak 4. tetapi tidak termasuk proyek yang mengundurkan diri atau dibatalkan. sektor kehutanan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1. serta proyek-proyek yang beralih status dari PMA menjadi PMDN.7 milyar atau 29.178.9 milyar. sehingga proyek-proyek dapat dipromosikan secara lebih konkrit. yang antara lain bertujuan mengidentifikasi proyek-proyek yang diperkirakan akan menarik minat para calon investor.078. Sampai dengan bulan Agustus 1984. dan selanjutnya mempertemukan para peminat tersebut dalam suatu temu-usaha ke arab kerjasama yang lebih konkrit.1).1 persen dari nilai rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984.1.248 proyek. Dalam hubungan ini kegiatan promosi penanaman modal ditempuh melalui pendekatan yang optimal kepada para investor dengan cara promosi investasi langsung.9 persen) di antaranya berlokasi di pulau Jawa dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 13. sebagai sarana memperlancar pemberian informasi penanaman modal ke negara-negara di Amerika Serikat dan Eropa.540. Untuk itu telah dibuka 3 perwakilan BKPM di luar negeri.2 milyar. dan penyiapan informasi proyek yang lebih sempurna. Kegiatan di sektor-sektor lain yang juga cukup menonjol adalah sektor pertanian/peternakan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1.645. baik di dalam maupun di luar negeri. yakni di New York.3 milyar dengan 54 proyek (Tabel VII.948 proyek. meliputi sebanyak 2.564.270. Sedangkan realisasinya sampai dengan bulan Maret 1984 mencapai Rp4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kelayakan.4 milyar. serta sektor pertambangan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1. Sektor industri sebagaimana dalam tahun-tahun sebelumnya masih tetap merupakan sektor yang paling banyak menarik minat para investor dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 13.632. Adapun mengenai lokasi.5 milyar dengan 215 proyek.

252 13 214.879 1. perluasan.733 6.736.190 15 78.607 418.161 15.932 2 26.299.732 31 460.950 15 63.623 6. Kehutanan 481 1.996 102 852.993 4.289 4.690 JUMLAH 6.087 223 1.622 17 151.800 112 232. Lampung 121.795 19 81.078 1.352 26 113.512 838 2.445 412.944 1 38 82.098 97 154.273 19.995 3 716 78 855.523 8.776 6 88.250 13.665 43 655.394 11.255 47. 2.337 43.689 9.435 4 1.656 21 144.2 juta. Jam b i 27.147 118.814 1 12.673 38 194.836.037.788 6 198.202 53 114.212 3 15.651 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 atau 64. perluasan.868 4 21.299.257 192 3.512 1 5.259 20. DK1Jaya 885. Jawa Timur 446 952.540.692 18 296.705 89.1984/1985 1) 1968 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1968 Bidang Usaha Jum1ah Modal Jumlah Modal Jum1ah Modal Jumlah Modal Jumlah Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek 1.036 -1 -1. Kalimantan Timur 196 854.320 254 5 11. Perumahan/perkantoran 44 197. Perikanan 33 48.499 87.148 215 2.954 692.229 75 8. Sebagaimana dapat diikuti pada Tabel VII.181 530.106 8 892.699 279 1 25.109 26. Nusa Tenggara Barat 3.163 345.347 94 409. Jumlah tersebut sudah termasuk proyek yang mengadakan perluasan/penambahan modal.026 13 159.728 3 82 234.666 40.689 9.1981/1982 1982/1983 1983/19842) 1984/1985 1) 1968 .3. D1 Aeeh 303.915.802 29 594.585 20.068 36 730.777 16 196.901 65.774 124 1.891 1 65. Nusa Tenggara Timur 7 15.180 718.663 68 307.634 368 1.303 4 31 70.434 1 52 168.147 16 208.800 8. D1 Yogyakarta 26.953 10.471 11 31.719 202 343.153 223 769.575 6.1 00 29 118.746 491.724 18 194. 1968 . Sumalera Barat 33.263 249.027 1 1.690 Tabel VII. Sumatera Vtara 336.175. Usaha-usaha lainnya 29 49.329 315 6.752 21.178.1984/1985 1) Lokasi usaha 1968 .428 6 38.435 92.847 16 829 3.202 314.645 5 63 161.017 114 433.600 1.236 7.984 1 5.099 7 8.262 120.203 93.064 18 167.334 159.994 23.041 93.941 329 7.980 173 4.828 7 466.919 9 144. Tenaga listrik 1 418.149 3 14.042 3 6.862 1. Prasarana 9 21.071.perubahan.274 13.275 4.699 5 44.980.2.342 6 22.275 52 1. Sulawesi Tengah 24 67.797 10 218.541 54 49.347.679 3 8.575 4. Realisasi penanaman modal asing sampai dengan bulan Maret 1984 mencapai US $ 6.794 10 44.387 2 4.517 79 393.863.413 33.684 1 8 46. Kalimantan Selatan 60 180.203. 1968 .857 9 54.119 17.5 juta atau 43.152 48 411.003.811.008 14.370 57 250.673 15 206.395 95" 128.257.329 318 57 1.000 2 -26.358 232.077 1 16.432 Realisasi 3) ( Rp juta ) 693.385 1 31.623 4.145 7.4 persen dari rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984.037.922 3.305 89.809 11 73.990 985 5.564.346 6 3.632.663 107.923 6 85.815 2 27.248 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.522 2 6.304 6 147.124 10 19.791 20.053 7 53.908 3 1.790 517 2.220 28 521.2 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI YANG TELAH DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT LOKASI USAHA.140 1.947 4 1.590 40 160.466 276. Ri au 79.904 7. sektor perindustrian merupakan sektor yang Departemen Keuangan RI 151 . Perhubungan/Pariwisata 275 404.455 420.375 13 445.948 6.090 9 2.309 6.715 3 32. PMA yang telah disetujui Pemerintah sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencapai sebanyak 795 buah proyek dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 14.593.003.661 1 6 44. perubahan.509.383 51 3.3 persen dari seluruh rencananya.736 35 92.325 46.432 Keterangan: 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek don investasi berasal dari proyek baru.709 9.263 2 -2.035 46 59. Perindutrian 2.954 2 1. Perkembangan proyekproyek PMDN yang telah disetujui Pemerintah menurut lokasi usaha dapat diikuti pada Tabel VII.991 49.362 10.472.593. Tab e I VII.767 11 56. Kalimantan Tengah 104 157. Pertarnbangan 27 145. 1 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI YANG TELAH DlSETUJUI PEMERINTAH MENURUT BIDANG USAHA. Kalimantan Barat 141.632. Sumatera Selatan 79.296 2 6.1984/1985' Realisasi 3) Jumlah Modal Jumlah Modal Modal Modal Jumlah Modal ( Rp juta) Jumlah Jumlah proyek (Rpjuta) proyek (Rpjuta) proyek (Rpjuta) proyek (Rp juta) proyek (Rp juta) 781 1.078.117 8. Sulawesi Selatan 34.742 66 213.260 1.913 234.042 6 464. Bengkulu 14 18. setelah diperhitungkan dengan proyek yang mengundurkan diri atau dibatalkan dan yang melakukan pengalihan status dari proyek PMA menjadi proyek PMDN.179.211 4 159.332 20.626 7 5.959 869.949.988 10 43. Pertanian IPeternakan 167 580.585 1 27 40.326 24. alih status dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984.2.585 1 Jumlah 3.905 2.622 18.736. Sulawesi Tenggara 23.027 123.101 3 77 112. M a I u k u 48.350.796 481.261 157.491 502 4. lrianJaya 333 -1 3.467 31.099 26 9.743 3 14. alih status daD yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984 7.968 48.846.831 22.317 18 139. B a Ii 78.662 11 81. Modal (Rp juta) 1.579 47 10.492.792 4 58 80. Penanaman modal asing Keikutsertaan pihak swasta asing dalam kegiatan investasi di Indonesia diatur dengan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1967.645.575 122. Jawa Tengah 1.024 45 113.807 6 316 362.899 67 263.460 4 44.800 54 5. Sulawesi Vtara 145.800 27 322. Jawa Barat 3.257 195 3.746 6 11.

654 -1 3. dan sektor perhubungan/pariwisata sebesar US $ 421.845.932 2.451.394.248 504.577 -1 38.4 253. perluasan. Jam b i 5 28. baik dalam hal jumlah proyek maupun nilai rencana investasinya hila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.224 -10.970 3.160 JUMLAH 787 10.370. Konstruksi 63 93.1984/1985 1) 1983/1984 2) 1984/1985 1) 1967 .444.4 359.936 18 997.405 969.359.227 123. Sumatera Selatan 14 73.983 6 9 4 3.000 53 235.440 1.672 3 11.PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DlSETUJUI PEMERINTAH MENURUT BIDANG USAHA.550 12. Kalimantan Timur 22 235.672 8.413.893 30. Pertanian 59 239.8 125.438 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek daD investasi berasal dari proyek baru. perumahan/perkantoran sebesar US $ 659.950 57. Kalimantan Tengah 17 125.630 -27. Nusa Tenggara Timur 2 3.3 PROYEK .279 652.010 1 9. D.9 100.910 1 -2 7. perubahan.430 247.404 -1 -13. Realisasi PMA yang terbesar sampai dengan bulan Maret 1984 adalah sektor perindustrian.1984/1985 ReaJisasi Bidang usaha JumIah Modal Modal Modal Modal Jumlah Modal Modal Jumlah Jumlah Jumlah Proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) (US $ juta) proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) 1.443 160.874 24 162. Pertambangan 10 1.519 -14.4 -3 -1 -2 3.472. Perindustrian 477 7.593 29.658.5 -3 7. Jawa Timur 70 520.2 134. Kehutanan 69 582.944 -87.026 -2.731 -74.250 54 659.70 333. perluasan.917 15.1984/1985 1967 .172 67. Mal u k u 7 46. Nusa Tenggara Barat 1 3.597 1.3 -4 Jumlab 787 10.3 5.7 381. Sulawesi Tengah 6 78.6 25. aIih status PMA ke PMDN dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai d.4 juta dengan 28 proyek.4 persen dari seluruh nilai realisasinya.135.4 54.ngan bulan Maret 1984 Tabel VII.932 843. 1967 .383 52.112.017 237.655 20.045 497 11.383. D.551 -1 5.736 -4 *) Jasa.535 32. Jasa lainnya *) 51 362.192. Sumatera Barat 4 55.052 7 15.00 15 2.977 5.249 3. Beberapa Daerah Lainnya 45 1.199 36.346 -5.100 77.655 21. Peri k a n a n 24 147.850 4.899 765.823 1.597 795 14.848 57 395.L Aceh 6 435.0 juta atau 59.9 -1 6.518 368. a1ih status daD yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) SampaidenganimlanMaret 1984 Departemen Keuangan RI 152 .641 -2 -2 13.136 4.3 85.370.50 12 2.655 665.627 1.937.693 8.1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1967 . Sulawesi Utara 3 77.543 2. Adapun sektor-sektor lain yang juga cukup dominan adalah sektor pertambangan dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.656 64.3 juta dengan 54 proyek.855 10.086 250.L Yogyakarta 3 8.737 5.2 40.470 14 -9 -4 736.405 1 11. Ria u 23 320. DKIJakarta 282 1. B a 1 i 5 47.160 14.865 120.433 19.983 6.373 1. Kalimantan Selatan 18.030 340.276 70 195.715 14.307 22.50 JAW A 656.915. 1967 -1984 / 19851) 1967 .1 -8 -1 -3 4.496 -4.916 78.845.700 491.5 0. yaitu berjumlah US $ 3.937 -1 -2 -1 20.472.7 65.893 -6. perubahan. Kalimantan Barat -57.691 -24. Perhubungan/Pariwisata 31 352.500 -1 17.499 -1 25. Jawa Tengah 21 233.393 9.4 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT LOKASI USAHA.9 7.5 331.740 -4 1 10.939.182 3.829.828 1 26.7 524.438 736. Sumatera Utara 46 1.2 11.6 9.2 1.449 4.385 120 -1 5.554.241 Lokasi Realisasi 3) Modal (US S juta) 869.6 24.483 -2 1 27.771 1.500 28 421.053 -2 14.451.394.463 1 -3.490 -1 2.664. IrianJaya 15 309.916 -1 23.7 -1 5. Sulawesi Selatan 6 28.625 2 34.613 63.317 96.479 6.497 -5 -3 16.086 -1 8.360 74.924 29.312 294.470 1.810 7 66.934 -1 -5 239. Jawa Barat 159 2.392 -12. sektor jasa.646 -2 LUARJAWA 420. Bengkulu -10.4 juta meliputi 9 proyek.956 -1 -9.658.5 6.836 1.499 24.6 57.7 228.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 paling banyak menarik minat para investor. Tabel VII.001 130.1 776.915. Lampung 8 85. Sulawesi Tenggara 3 29.241 6.422 9 1. Perdagangan 3 11.215 8.jasa lain + Perumahan/Perkantoran 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.773 41.1981/1982 1982/1983 Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal proyek (US S ribu) proyek proyek (US S ribu) proyek proyek (US S ribu) (US S 294 178 22 2 67 5 45 4 20 6 3 13 5 14 16 5 3 2 3 5 6 6 3 16 45 788 3.8 3.289..6 6.000 -5.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. Denmark 15.9 juta atau 59. perluasan.746.095 15.006 1.919.266. Amerika Serikat dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.694 22.795 -500 25.5 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DISETUjUl PEMERINTAH 1967-1981/1982 Negara I.276 47. Singapore 8.5 juta meliputi 16 proyek (Tabel VII. Sebagaimana terlihat pada Tabel VII.297 146.832.792 79.5 22 30.413.550 96.269 7. Sampai dengan bulan Agustus 1984.611 45.047 31.263 -15.733 4.150 - -4 -1 -1 -2 -1 2 2 -1 - 62.8 0.014 352.507 -1.646 112.5 2.000 10.073 15. yang berarti 26.855 1.4 107.777 362.300 25.035 139.760 266. rencana investasi berlokasi di pulau Jawa. Negara Lainnya JUMLAH Jumlah proyek 72 3 205 18 127 5 34 14 8 7 36 2 16 4 9 1 44 24 44 15 6 3 4 2 76 8 Modal (US $ ribu) 456.4 juta meliputi 71 proyek. dan US $ 1.2 205.678 Realisasi Modal ( US $ juta) 582.4 persen daTi 788 buah proyek PMA.460 23. Jepang merupakan negara yang paling besar melakukan investasi di Indonesia. Norwegia 27. Nilai rencana investasi untuk ketiga wilayah tersebut masing-masing adalah sebesar US $ 4.524 103.594 667. Departemen Keuangan RI 153 .178.7 8.000 5.364 Jumlah proyek -3 -1 -1 -5 -1 -1 -2 -1 1 -2 -1 3 5 1 -1 1 -1 1 - .272 762 61.5 12.000 -12.178 174.8 juta dengan 45 proyek.632 593. dan Belgia dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 926. US $ 3.963 165.719 13.593 -12.1 juta meliputi sebanyak 178 proyek.052 5.021. maka sejumlah 563 proyek atau 71.599 12.004 1. Lichentein 26.361 3. Jerman Barat 19.392 442.105 -3. Jepang telah membangun 210 proyek dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 4.6 102.241 900 123. Demikian pula dari segi negara asal investor.016 2. Italia 17.1 3.351 48.073 101.900 139.230 167.698 19.079 17.840 76.160. dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 8. Be1gia 14.558 272.1984/1985 1) 1) Jumlah proyek 2 Modal (US $ ribu) 17.7 1. New Zealand 13.945 143.612 283. Hongkong 6.1 juta dengan 294 proyek. 1967 1982/1983 1983/19842) Jumlah proyek 10 2 -2 -1 -1 -1 1 -3 2 1 1 3 Modal (US $ ribu) 62.883.190 28.0 juta dan meliputi 121 proyek. Swedia 22.4 Modal (US $ ribu) 484. Australia 12.432 - 3 79 8 787 12 2.2 5.653 -2.635 33.883. Netherland 18.602 -2.2 persen dari jumlah keseluruhan. Inggris 20.710 2.80 93. DKI Jakarta dan Sumatera Utara merupakan daerah yang cukup menonjol.470 MENURUT NEGARA ASAL.40 20. Gabungan Negara 28. maka jumlah investasi PMA yang terbanyak juga berlokasi di pulau Jawa.962 3.686 111. Switzerland 21.554.652 7.780. Jepang 4.384 45.244 130.937.511 72.353 -776 802.3 172.492 - 4.895 1.674 10.244 614.757 172. Selanjutnya bila ditinjau dari segi besarnya nilai rencana investasi untuk tiap-tiap propinsi. India 11.977 -16.876 897 12.915.810 16.2 2.066 7.021.810 38. maka Jawa Barat. Panama 23.472 201. Selain itu beberapa negara lain yang juga cukup menonjol adalah Hongkong dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.807 71.978 -5.653 2.307 900 926.674 38.733 3.455. 4.241 6472.736 -8 -4 736.6 219. Taiwan 7. Amerika Serikat 2.197 37.552 482.675 2. alih status dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984 Seperti halnya dengan PMDN. Brunei 24.507.370. perubahan.576 4. 5).4 35.597 787 14. Spanyol 25.359.8 107 21.5 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.7 persen daTi jumlah proyek yang ada.000 -2.679 1984/1985 Jumlah proyek 71 3 210 18 121 4 29 10 6 7 35 2 16 5 9 42 27 51 18 1 6 2 1 3 Modal (US $ ribu) 1.3 166.0 persen dari seluruh rencana investasi PMA.958 10.727 29. Perancis 16.815 414. Korea Se1atan 5.393 10.694 16.5 14.954 58.8 juta. Philipina 10.569 -908 9.770 136.175 15.919. Malaysia 9.800 12. Canada 3.8 4. dan 33.5 677.3 196.240 13.892 7.

seperti sektor perdagangan. Sementara itu agar koperasi-koperasi primer dapat memainkan peranannya dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. maupun teknis. Dalam rangka pengembangan usaha koperasi/KUD tersebut. sektor industri. pemeriksa. sektor perkreditan dan sektor pengangkutan. Dewasa ini KUD dan koperasi primer antara lain telah mampu melayani kepentingan anggota. juga telah diberikan sarana dan prasarana antara lain berupa bantuan permodalan serta latihan keterampilan baik administratif. khususnya yang berpendapatan rendah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. sekaligus memajukan usaha anggotanya di berbagai sektor. rapat pengurus dan badan pemeriksa. sektor perkebunan. sehmgga pada gilirannya dapat memetik dan menikmati hasil pembangunan guna menaikkan taraf hidupnya. pengurus. maka selain terus ditingkatkan pembinaan. serta meningkatkan Departemen Keuangan RI 154 . yang pada gilirannya akan mempertinggi kemampuan para anggota. sehingga mampu menjadi pusat pelayanan kegiatan perekonomian pedesaan yang mandiri. serta mempertinggi kemampuan para anggota dan petugas koperasi dalam berkoperasi. sektor perlistrikan desa. yang meliputi pedagang kecil. tatalaksana dan pengawasan. Di samping itu juga dilakukan penyempurnaan organisasi dan tatalaksana koperasi. Dalam Pelita III peningkatan dan pengembangan dunia usaha pada umumnya dan koperasi khususnya. serta pengusaha industri rumah. pengrajin yang menggunakan peralatan tradisional. Sehubungan dengan itu maka pembinaan kelembagaan koperasi diarahkan untuk meningkatkan penghayatan terhadap fungsi koperasi bagi setiap anggota. Hal ini diharapkan akan meningkatkan partisiposi dan kesediaan anggota antara lain untuk mengikuti rapat tahunan para anggota. Untuk lebih memperkok6h kemampuan KUD dan koperasi primer maka dilakukan suatu kerjasama yang lebih erat. maka selama Pelita III telah dltingkatkan pembinaan kelembagaan koperasi yang mencakup organisasi. Pembinaan dunia usaha Pelaksanaan pembangunan ekonomi antara lain diarahkan untuk menumbuhkan peranan dan tanggung jawab masyarakat pedesaan agar secara aktif ikut berperanserta dalam pembangunan desa. Dalam hubungan ini koperasi merupakan salah satu wahana utama dalam membina kemampuan golongan ekonomi lemah. Hal tersebut dimaksudkan untuk memantapkan dan menumbuhkan swadaya koperasi/KUD. mendorong pembentukan dan pengembangan unit-unit organisasi. baik dengan koperasi primer lainnya maupun dengan usaha-usaha bukan koperasi di wilayah atau di daerahnya masing-masing. manajer dan pembantu manajer dalam mengelola koperasi sesuai dengan tugasnya masing-masing.3. sektor pertanian. antara lain diarahkan untuk meningkatkan kemampuan KUD dan koperasi primer dalam berprakarsa dan berswakarya. manajemen dan pemasaran.

yang terdiri dari 6. tidak boleh melakukan usaha sendiri. Adapun jumlah KUD model dalam tahun 1984 meliputi sebanyak 3. Tugas daripada BPP KUD tersebut adalah memberikan bimbingan.1 milyar menjadi Rp 2.322. sedangkan dalam tahun 1984 telah terjadi peningkatan yaitu menjadi sebanyak 9. Jumlah simpanan anggota koperasi juga mengalami peningkatan yaitu dan Rp 103.701 buah yang tersebar di seluruh propinsi kecuali DKI Jakarta. Dalam pada itu jumlah anggota koperasi primer dalam tahun 1983 adalah sebanyak 9.290 ribu orang pada non KUD.0 milyar dalam tahun 1983. berarti bahwa wadah koperasi telah menyebar luas ke hampir seluruh lapisan masyarakat.410 buah non KUD.4 milyar. Kenaikan jumlah simpanan anggota dan jumlah nilai usaha koperasi tersebut menunjukkan meningkatnya partisiposi masyarakat terhadap kegiatan dan kelangsungan hidup wadah koperasi.791 buah.073 ribu orang pada non KUD. Sejalan dengan itu maka dilakukan pula penyempurnaan iklim perkoperasian melalui peningkatan kesadaran masyarakat. mengenai besarnya peranan koperasi bagi para anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya.714.1 milyar dalam tahun 1982 menjadi Rp 125.546 buah KUD dan 19.464 buah non KUD. Dengan meningkatnya jumlah baik lembaga maupun anggota koperasi tersebut. saran dan nasehat kepada pengurus KUD. Namun BPP KUD tersebut tidak boleh mencampuri kegiatan usaha KUD. Demikian pula halnya jumlah usaha koperasi telah bertambah dari Rp 2. serta tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat membebani atau menyaingi kegiatan KUD yang bersangkutan. Sementara itu guna meningkatkan kelancaran usaha koperasi unit desa (KUD). serta melindungi KUD daTi hal-hal yang dapat merusak citra dan kelangsungan hidupnya. Hasil-hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan Repelita III menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Perkembangan jumlah BUUD dan KUD yang menyebar di seluruh Indonesia dapat dilihat pada Tabel VII.956 buah.327 buah KUD dan 18. yang beranggotakan tokoh-tokoh yang berada di pedesaan dan atas usul camat setempat. ballman. serta untuk memantapkan pertumbuhan dan pengembangannya.539 ribu orang pada KUD dan 4. yakni 6. Dalam tahun 1983 jumlah koperasi adalah sebanyak 24. Sedangkan biaya pembinaan yang dilakukan oleh BPP KUD dibebankan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II yang bersangkutan. sedangkan dalam tahun 1984 telah meningkat menjadi sebanyak 25.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 usaha di masing-masing wilayah koperasi sesuai dengan kebutuhan para anggotanya.614 ribu orang pada KUD dan 4. yang sekaligus berarti pula bertambahnya kepercayaan masyarakat kepada Departemen Keuangan RI 155 .6. maka melalui Keppres Nomor 4 Tahun 1984 di setiap KUD dibentuk Badan Pembimbing dan Pelindung Koperasi Unit Desa (BPP-KUD).

003.90 291.941 17.10 4.80 519.8 1. jumlah koperasi yang ikut menyelenggarakan KCK adalah sebanyak 4. Bengkulu 8.8 543 118 31 17.714 24.8 1.2 781. Jawa Barat 10.2 548 99 39 19. 1974 .00 4. Lampung 20 52 5 83 5 101 112 118 118 118 1 156 147 51 199 87 209 250 342 261 530 267 629 226 682 195 731 195 731 195 731 196 750 132 871 872 994 1.286 buah KUD dengan perputaran kredit sebesar Rp 145. Propinsi BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD 1.2) 1) Angka sementara Bidang perkreditan juga mengalami perkembangan.6 JUMLAH BUUD DAN KUD SELURUH INDONESIA MENURUT PROPINSI. Jumlah kredit candak kulak (KCK) melalui koperasi selama pelaksanaan Repelita III menunjukkan peningkatan yang cukup berarti.081.2) .60 331.8 522.184 74.652 16.766.435 buah KUD dengan kredit sebesar Rp209.888 1.276.4 698 105 15 16.516.3 1.20 54.235.542 1) Angka sementara Tahun 1969 1970 1971 1912 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1) Primer 13.623.797.450 20.7 659 119 15 18.7 milyar.L Aceh 27 22 31 48 27 57 7 83 12 103 12 103 12 103 12 103 843 48 296 15 298 2.139.326 4.8 678 130 12 23.864 22.90 571 113 44 21. Sulawesi Selatan 228 69 141 172 106 229 68 288 71 302 71 302 71 302 71 302 71 301 71 399 316 417 24.766.7.086 3.8 1.40 3.791 .90 2.7 1.159 2.060.60 19.191.2) . Kalimantan Timur 2 2 6 4 4 6 4 10 1 26 1 26 1 27 153 158 43 206 21.621 buah KUD denganjumlah perputaran kredit senilai Rp 113.097.638.775 357.334 buah KUD dengan kredit senilai Rp 270.977.323 Tabel VII.402 1. 797. D1 Yogyakarta 45 10 3 54 57 57 57 62 62 62 61 61 62 61 62 634 13 572 91 570 113 577 116 526 189 526 189 486 231 199 538 48 695 490 731 672 736 12.9 15.261 18.531.591 1.019 993 9.8 593 113 31 17.313 2.131 buah KUD.113 3.40 12. B a Ii 5 46 8 52 5 55 61 63 67 2 69 72 72 72 84 81 84 14.873.7 JUMLAH DAN SIMP ANAN KOPERASI.50 20.5 215. Sumatera Utara 205 261 284 288 297 307 7 311 5 342 350 133 413 114 428 3.282.104.795 189 1.639. IrianJaya 5 5 4 2 6 3 10 8 18 8 27 15 27 15 47 30 47 69 78 JUMLAH 1.2) 533 60 19 25.621 6. Maluku 26.2 1.657 1.00 2831.263 185.892.933 18. Sumatera Barat 57 100 53 133 7 185 21 185 7 232 7 232 7 232 4 235 4 234 233 276 274 281 9 11 12 11 11 22 5 57 7 47 7 47 7 48 7 47 7 47 33 170 113 178 4.50 940.20 802.60 883.20 18.7 655 126 15 23.118.237.430 200.10 513.430 156.5 666 137 12 23.70 624.00 532 60 19 24.200 353.80 13. Dalam tahun 1984 sampai derigan bulan April 1984. Perkembangan jumlah dan simpanan koperasi dapat dilihat pada Tabel VII.074.90 1628. Sumatera Selatan 12 15 13 20 33 53 48 38 78 36 37 81 21 108 16 144 16 177 16 295 47 310 1 15 25 1 43 49 56 57 66 6 68 103 500 154 115 156 7. maka dalam tahun 1982/1983 telah meningkat menjadi sebanyak 11.404 22.344.10 1.60 80.071.521.50 6.80 14.683.693 16.50 8.315 15. Sulawesi Tenggara 34 40 1 56 1 63 3 73 11 75 11 77 15 79 14 79 37 120 65 140 2 2 2 4 4 24 26 70 120 31 123 25.265 486 5.1984 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1) No.394 18.0 2) . Tabel VIl.456 22.970 22.50 445.3 675 124 15 16.441 973 3.180 25.60 14. Jawa Timur 13.136 51.949 71.201 1. Kalimantan Tengah 7 4 7 19 11 19 11 19 10 39 10 39 4 64 4 64 4 64 8 133 139 19.344.214 365. Jawa Tengah 206 282 118 402 93 437 88 454 80 471 86 492 86 492 67 522 67 521 584 586 588 599 11.7 1. Timor Timur 1 1 10 18 61 14 67 17.30 333.325 2) 2) 2) 2) 103.2) .750.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 koperasiJKUD dalam menyimpan dan mengelola uang anggotanya.70 9. 1969 .2) . yakni apabila dalam tahun 1982 jumlah koperasi yang ikut menyelenggarakan KCK baru sebanyak 3.331 1.679 345 2.625 220.788.054 222.386.487 3. yaitu hila dalam tahun 19811 1982 jumlah KUD penerima kredit yang dijamin oleh Perum PKK (Perusahaan Umum pengembangan Keuangan Koperasi) baru sebanyak 7.321 6.9 milyar.2 634.2) 124.678.741. Nusa Tenggara Barat 9 5 9 5 2 12 24 16 25 16 25 16 25 16 9 92 57 66 115 145 144 147 15. dengan perputaran kredit senilai Departemen Keuangan RI 156 .7 milyar. Kalimantan Selatan 11 47 7 79 5 99 3 106 2 116 2 115 1 117 3 119 130 66 160 110 164 20.1984 Jumlah koperasi (buah ) Simpanan koperasi ( Rp juta) Pusat Gabungan Induk Jumlah Induk Jumlah Primer Pusat Gabungan 548 78 8 13. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 4.5 6.844.1 1. Kalimantan Barat 2 32 4 44 52 78 80 80 154 154 1 26 1 203 92 204 18.739 701 4.213 2.4 1. Sulawesi Utara 26 4 19 12 20 14 28 15 6 83 1 90 1 90 1 90 105 122 123 32 123 22.7 273. D.2) .20 532 60 19 23. Sulawesi Tengah 6 7 12 15 9 20 18 17 69 17 69 17 91 92 90 19 126 83 127 23.5 milyar.4 638 128 12 19.6 683 127 15 19.90 3.067. Riau 5. Nusa Tenggara Timur 23 45 23 51 25 55 15 71 8 84 8 84 9 92 57 66 8 116 8 101 50 110 16.445 15.935 .4 3.991.00 22. Jambi 6 40 10 50 5 57 9 24 99 99 99 99 118 34 148 155 163 6.10 4.90 284.

519 buah KUD dan 69.036. Beras/gabah yang telah dibelinya kemudian dijual kepada Sub Dolog setempat dengan harga yang telah ditetapkan.6 ribu ton beras. Dalam tahun 1983 jumlah Departemen Keuangan RI 157 . jumlah KUD penyalur dalam musim tanam (MT) 1983 adalah sebanyak 3.5 milyar. pembelian kopra sebanyak 54.6 milyar. sedangkan sisanya dijual ke posaran umum.332 buah yang menyalurkan bahan-bahan sebanyak 251.5 ribu ton.5 milyar: dalam tahun 1983 masing-masing telah meningkat menjadi 184 buah KUD. dengan jumlah beras yang disediakan sebanyak 1. 490.7 ribu ton. Dalam tahun 1983/1984 sampai dengan November masing-masing telah mencapai 46. Di bidang tataniaga cengkeh.107 buah KUD telah menyiapkan pengadaan beras untuk posaran umum sebanyak 64.5 milyar. Dalam rangka melaksanakan tugasnya. kedelai dan kacang hijau dalam tahun 1982/1983 berjumlah masing-masing sebanyak 23. sedangkan jumlah kopra yang telah terjual mencapai 27. 8 ton dan 306 tOll. Kemudian dalam MT 1984 baik jumlah KUD. koperasi yang ikut memasarkan kopra berjumlah 126 buah KUD.609.9 ribu ton. serta penjualan kopra sebanyak 50.0 ton dan 308.054 buah dengan jumlah beras yang tersedia sebanyak 1.550 kg/liter.391 buah dengan beras sebanyak 851. Sementara itu kegiatan koperasi/KUD di bidang perkebunan rakyat yang meliputi kopra.6 ribu ton seharga Rp 5.357 ton dan 3.699 buah. setiap KUD wajib membeli gabah/beras dari para petani dengan harga dasar yang berlaku. Sedangkan pemasaran palawija yang meliputi jagung.1 ribu ton seharga Rp 8.4 ribu ton seharga Rp 7. cengkeh dan tebu rakyat nampak semakin meningkat. Di bidang penyaluran sarana produksi pertanian. yang meningkat dalam tahun 1983/1984 masing-masing menjadi 1. Sehubungan dengan itu dalam tahun 1982/ 1983 sebanyak 1.2 ribu ton. Dalam tahun 1982.0 ton.9 ton seharga Rp 84.237 ton pupuk.4 ribu ton beras.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 12.191 buah.996. Dalam tahun 1982 telah terbentuk koperasi pengelola cengkeh sebanyak 138 buah.5 milyar. dan 2. dengan jumlah kopra yang dibeli sebanyak 29. 229. dan jumlah cengkeh yang dapat dibeli seluruhnya sebanyak 24.9 ribu ton seharga Rp 5. khususnya pupuk dan obat-obatan. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Mei 1984 masing-masing telah mencapai sebanyak 2.932.9 milyar. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Mei 1984 jumlah KUD adalah sebanyak 2.054 buah KUD dan 7. hasil usaha yang dilakukan oleh KUD sampai dengan akhir Pelita III telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.6 ribu ton.7 ribu ton. sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlah KUD adalah sebanyak 3.078 kg/liter obat-obatan. pupuk maupun obat-obatan telah meningkat masing-masing menjadi sebanyak 3. Adapun jumlah KUD yang ikut serta dalam pengadaan beras untuk stok nasional dalam tahun 1982/1983 adalah sebanyak 3.419.

9 milyar.130. dengan jumlah anggota sebanyak 12. Rp 1. sedangkan dalam tahun 1984 sampai dengan bulan April 1984 jumlah kredit telah mencapai sebesar Rp 199. Jumlah gula tani yang dapat ditampung KUD dalam tahun 1982/1983 adalah sebanyak 556. ditampung oleh 621 buah KUD.2 ton.4 ton seharga Rp157.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 koperasi telah bertambah menjadi sebanyak 264 buah KUD. koperasi yang menampung sebanyak 651 buah. yang terjual dalam tahun 1982 berjumlah sebanyak 18. Perkembangan usaha koperasi di bidang perikanan rakyat selama Pelita III telah dapat menunjukkan hasil yang cukup baik. penebangan. 18. dan jumlah kedelai yang dapat disalurkan sebanyak 26. terutama dalam hal perkreditan dan pemasaran gula tebu yang dihasilkannya.1 ton seharga Rp 150. dan 53.4 milyar.5 milyar yang disalurkan oleh 675 buah KUD.802 orang dan modal senilai Rp 70. sedangkan yang terjual dalam tahun 1983 mencapai sebanyak 19.277 orang.175.7 milyar. Dalam tahun 1982.0 milyar.6 milyar. dalam tahun 1983 jumlahnya telah meningkat masing-masing menjadi sebanyak 67 buah.900 ton. penyediaan obat-obatan ternak.6 ton kedelai.292. penyediaan makanan ternak. dengan jumlah Departemen Keuangan RI 158 . Dalam tahun 1983 jumlah kredit mencapai sebesar Rp 211.3 milyar. Penggabungan industri kecil yang memproduksi tahu dan tempe ke dalam wadah koperasi tabu dan tempe Indonesia (KOPTI) telah menjadi kenyataan. dan kredit yang disalurkan kepada petani sebesar Rp 241.5 ton seharga Rp 152. dan biaya angkut dari areal penebangan ke pabrik gula.414 orang dan modal senilai Rp 71.2 milyar. jumlah koperasi petemakan baru sebanyak 469 buah.788.380. modal sebesar Rp 743. Dalam tahun 1983/1984 jumlah gula telah mencapai sebanyak 652. dengan kredit yang disalurkan kepada petani sebesar Rp 179.4 milyar. Pemberian kesempatan kepada KUD untuk mengelola tebu rakyat intensifikasi (TRI) dimaksudkan untuk melayani para petani tebu. dengan jumlah anggota sebanyak 120. Kredit yang disalurkan KUD merupakan kredit yang diperlukan oleh petani tebu untuk penggarapan tanah. Dari cengkeh yang tdah dibeli tersebut. dengan pembelian cengkeh seluruhnya sebanyak 20. sedangkan dalam tahun 1983 masing-masing telah mencapai 615 buah. 133. Dalam tahun 1982.286 orang. pembibitan. Dalam tahun 1982 jumlah KOPTI baru mencapai sebanyak 36 buah. jumlah koperasi perikanan baru sebanyak 585 buah.7 milyar yang disalurkan oleh 714 buah KUD. serta pemasaran hasil temak.200 ton. Kegiatan koperasi di bidang peternakan meliputi pengadaan bibit sapi unggul impor.9 juta.

Keberhasilan koperasi di dalam membantu para anggotanya telah membuat para pengrajin di daerah-daerah pedesaan terangsang untuk bergabung di dalam wahana koperasi. Sedangkan dalam tahun 1983 jumlah tersebut telah meningkat menjadi 491 buah. yakni mencakup koperasi angkutan darat. Beberapa koperasi telah berperan sebagai distributor listrik di pedesaan. beranggotakan sebanyak 59.6 juta liter. dan dengan usaha senilai Rp 208. Jawa Tengah. Demikian juga jumlah koperasi susu yang dalam tahun 1982 baru mencapai 162 buah dengan anggota sebanyak 38. dengan jumlah anggota sebanyak 29. jumlah koperasi jasa angkutan adalah sebanyak 165 buah yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia.536 orang. Pembinaan koperasi yang menangani jasa angkutan juga terus digalakkan sejak awal Pelita III.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 anggota sebanyak 45.362 orang.550 buah kendaraan angkutan darat dan sungai. secara bertahap telah pula merangsang masyarakat pedesaan untuk menjadi anggota koperasi perlistrikan desa.352 buah.281 orang dan nilai usaha sebesar Rp 40. dengan anggota sebanyak 48.046 juta. yang terdiri dari 5. yang dilakukan melalui pemanfaatan tenaga listrik yang dibangkitkan dan disediakan oleh PLN. Jawa Timur.8 juta. dan memiliki kendaraan sebanyak 7.201 orang.6 persen dari seluruh produksi susu dalam negeri yang berjumlah 116. Adapun jumlah sapi betina yang dimiliki oleh anggota koperasi yang dalam tahun 1982 baru sebanyak 140.7 juta liter. koperasi angkutan sungai dan penyeberangan serta koperasi angkutan laut. Keberhasilan proyek perintis perlistrikan di daerah pedesaan yang dikelola oleh koperasi.630 peternak.1 juta liter atau 92.383 orang. dan dengan nilai usaha sebesar Rp 210.000 ekor. dan nilai usaha sebesar Rp 61. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 173 buah dengan jumlah anggota sebanyak 41. Dalam tahun terakhir Pelita III.969. Departemen Keuangan RI 159 . jumlah koperasi di bidang perlistrikan desa meliputi 118 buah yang tersebar di daerah Jawa Barat.1 milyar. Dalam tahun 1983 jumlah terse but telah meningkat menjadi 298 buah yang tersebar di 20 propinsi.9 persen dari seluruh produksi susu dalam negeri yang berjumlah 144.732 orang. serta 1. Dalam tahun 1982.2 milyar.802 buah kendaraan angkutan laut. Bali dan Sumatera Barat. Dalam tahun 1983 jumlah susu yang ditampung oleh koperasi telah meningkat menjadi 130 juta liter atau 89. dengan jumlah anggota sebanyak 65. Selanjutnya dalam tahun 1983 jumlah koperasi telah meningkat menjadi 675 buah. Sehubungan dengan itu dalam tahun 1982 jumlah koperasi yang mengelola dan mengkoordinir para pengrajin adalah sebanyak 348 buah. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 161. Adapun jumlah susu yang dapat ditampung dan dipasarkan oleh koperasi dalam tahun 1982 adalah sebanyak 108.000 ekor.

1 2.845 15. Ubi kayu 4. Cengkeh 19.876 17.254 3.185 15.606 10.301 12.488 12.227 1.235 5. Perkembangan terse but juga tercermin dari adanya proyek-proyek besar di bidang pertanian yang membantu usaha pertanian rakyat dengan sistem perusahaan inti rakyat (PIR).988 11. Kede1ai 6.726 2. hal ini berarti bahwa koperasi tersebut selain dapat membantu perekonomian masyarakat kecil di pedesaan.9 2. 7.311 1.582 196 214 150 149 160 194 197 223 228 71 51 67 65 70 73 76 91 125 14 13 22 15 15 20 39 21 35 24 18 29 27 23 37 43 46 47 76 79 80 77 82 89 84 81 87 1. 1969 .038 135 157 161 141 1.438 1.237 1. Tembakau 21. Hal ini terlihat dari meningkatnya produksi bahan makanan sehingga memantapkan usaha swasembada pangan. Jenis hasil 1.618 1.902 13. Ubi ja1ar 5.6 1980 20. maka akan tampak peranan cukup besar dari sektor negara dalam menggerakkan dan mendorong kegiatan yang bersifat produktif di bidang pertanian.158 1.690 3.433 2.237 1. serta adanya dukungan untuk pembangunan daerah yang tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam.044 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sampai dengan bulan Maret 1984 jumlah koperasi perlistrikan desa telah mencapai 313 buah.385 11.7 40 Bila dikaji kembali hasil pembangunan di bidang pertanian.375 1. kecuali dalam juta liter untuk susu) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 13.651 14.575 1.702 2.991 13.140 2. Telur 11.607 15.149 1.1984 (dalam ribu ton.015 295 281 302 309 110 93 113 116 40 33 45 56 39 34 40 41 118 106 120 121 1.837 23. meluasnya kesempatan kerja yang mendorong tumbuhnya kesempatan untuk berusaha di bidang pertanian.408 1.395 455 571 259 78 1.4 0.011 2.083 2. Pertanian Dalam kurun waktu antara tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 pembangunan di bidang pertanian yang diarahkan dan dilaksanakan melalui Sapta Karya Pembangunan Pertanian.230 1.9 0. disadari sepenuhnya bahwa masih Departemen Keuangan RI 160 .469 2.9 0. meningkatnya tarat hidup petani. Jagung 3.107 748 884 907 1.572 3. serta meningkatnya ekspor dan berkurangnya impor produksi pertanian. 2.961 24.769 10 14. Daging 10.690 10.831 6 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) 22. Inti .020 701 126 1.381 2.249 2.606 2.491 1.516 1.825 10. Kacang tORah 7. telah pula bermanfaat bagi sektor-sektor sosiallainnya.478 2.759 285 106 39 37 116 1.awit 15.460 2.257 704 521 568 783 475 437 469 535 1.525 17.693 1. Minyak sawit 14.082 1. Susu 12. Namun demikian.194 516 518 541 589 590 522 523 617 680 284 282 290 307 380 341 409 446 424 820 836 889 949 997 1.701 4.509 3.412 13.751 2.724 13.676 2.5 1.5 0.183 14. Bera.286 22.010 1.607 2. meningkatnya produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.221 175 62 12 17 84 922 3 1970 13.031 12.8 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERTANIAN TERPENTING.200 185 64 15 17 78 873 3 T abel VII.041 1.292 10.079 653 470 1.917 2. K 0 P i 17.532 1. Selain itu sejumlah 38 buah koperasi di bidang perlistrikan desa telah mampu untuk berswadaya melayani para anggotanya.175 498 281 808 421 314 59 29 802 217 1.186 13. Kelapa/kopra 16.700 1.260 389 267 785 429 309 58 29 778 189 1.029 3.872 2. Gula tebu 22. telah menunjukkan perkembangan yang positif.211 2.7 7. Lad a 20.546 12. 723 1. Karet 13. melayani pelanggan sebanyak 202. T e h 18.276 15.387 2.227 1.812 1. K a pos 1) Angka diperbaiki 2) Angka semen tara 1969 12.066 2.504 desa.094 1.4.095 5.341 1. Ikan darat 9.133 1.319 1.191 12.670 506 507 520 549 596 629 671 694 275 297 316 329 86 117 143 170 963 899 1.601 2 1. Ikan lout 8.318 424 433 389 388 393 401 414 420 430 332 366 379 403 435 449 468 475 486 68 78 81 98 112 116 131 151 164 36 38 35 57 51 58 61 62 72 804 808 845 817 782 856 838 844 898 249 270 289 348 397 431 483 532 642 -94 108 1.208 kepala keluarga pada 1.903 2.163 3.600 1.518 1.143 4.

Selanjutnya produksi beras sampai dengan bulan September 1984 telah meningkat lagi menjadi sekitar 24. Di samping itu juga tercermin pengertian rota dan struktur produksi pertanian yang mampu mengikuti dinamika perubahan permintaan industri hilir dan konsumsi akhir. ancaman. Apabila selama Pelita I dan Pelita II pertumbuhan produksinya masing-masing mencapai 4.6 ton.7 persen dan 3. Pertanian yang tangguh adalah pertanian yang dinamis dan kokoh.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 banyak masalah yang dihadapi serta diperlukan hasil-hasil yang lebih mantap dan merata.1. serta keberhasilan Departemen Keuangan RI 161 . yang dapat memberikan umpan batik bagi pengembangan industri dan jasa. Hasil dari kenaikan produksi beras tersebut selain disebabkan oleh adanya peningkatan luasareal pallen dalam tahun 1984. yang dalam tahun sebelumnya baru mencapai rata-rata sebesar 2. Gambaran daripada hasil-hasil pembangunan di bidang pertanian sampai dengan tahun pertama Repelita IV dapat diikuti melalui Tabel VII. Pelita II dan Pelita III menunjukkan kenaikan yang mantap. serta dapat berperan dalam pembangunan regional dan nasional yang serasi dan seimbang.8 persen per tahun. Atas dasar itu maka produksi beras dalam tahun 1983 telah mencapai 23. optimal dalam memanfaatkan sumberdaya alam. insektisida dan bibit unggul secara efektif.8. perluasan areal. 7.5 persen per tahun tersebut dimungkinkan karena didukung oleh produksi beras per hektar dalam tahun 1983 yang mencapai rata-rata sebesar 2. hambatan dan gangguan terhadap eksistensi serta kelestarian sumberdaya alamnya. tenaga. modal dan teknologi serta sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani.5 persen per tahun. atau mengalami kenaikan sekitar 4. maka selama Pelita III telah meningkat menjadi 6. sedangkan upaya-upaya yang dilaksanakan untuk menunjang pelaksanaan kebijaksanaan tersebut ditempuh melalui empat usaha pokok yaitu intensifikasi.4. Sehubungan dengan itu Pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan dasar pembangunan di bidang pertanian yaitu berdasarkan Trimatra Pembangunan Pertanian.3 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1983. Tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 6.5 ton per hektar.9). komoditi terpadu dan wilayah terpadu.9 persen di atas produksi tahun 1982 yang baru berjumlah 22. Tataurut kebijaksanaan dan upaya-upaya tersebut semata-mata dimaksudkan untuk tercapainya komoditi pertanian yang tangguh sesuai dengan kadar dan perimbangan yang wajar dalam struktur perekonomian nasional. juga karena tetap dilakukannya penggunaan pupuk. Kebijaksanaan tersebut meliputi kebijaksanaan usaha tani terpadu. Di dalam pengertian tersebut terkandung makna masyarakat petani yang mampu mengatasi tantangan. diversifikasi dan rehabilitasi.7 juta ton atau sebesar 3. Tanaman pangan Produksi beras selama Pelita I.9 juta ton.8 juta ton (Tabel VII.

343 ribu hektar dalam ta:. yang bertujuan memanfaatkan potensi setiap lahan yang memungkinkan.102 ribu hektar.296 ribu hektar dalam tahun 1982 menjadi 1. atau meningkat dengan 77 ribu hektar dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah juga melaksanakan operasi khusus (Opsus) yang merupakan penerapan intensifikasi khusus untuk daerah/lahan tadah hujan yang potensial dan dilakukan dengan lebih menggiatkan baik para petani maupun para petugas penyuluh yang ditunjang dengan penyediaan sarana produksi yang memadai. Sedangkan pertambahan luas areal panen intensifikasi tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya luas areal panen Inmas seluas 175 ribu hektar atau sebesar 3. Pertambahan luas areal panen tersebut terutama disebabkan meningkatnya luas areal panen intensifikasi sebesar 4..3 persen. yaitu dad 6.4 persen terhadap tahun sebelumnya.988 ribu hektar.179 ribu hektar.623 ribu hektar dalam tahun 1983. yaitu dari seluas 1. yaitu dari 5. dalam tahun 1983 meningkat sebesar 8. maka sejak tahun 1979 Pemerintah telah mengadakan pola kegiatan baru yang telah dikenal dengan intensifikasi khusus (Insus). lusus adalah suatu bentuk intensifikasi yang dilaksanakan oleh petani secara berkelompok sehamparan. Kerjasama kelompok petani tersebut diarahkan pada terwujudnya partisipasi dari semua petani untuk menerapkan sepenuhnya Panca Usaha Tani. Luas areal panen yang dapat dicapai sampai dengan bulan September 1984 telah meningkat lagi menjadi 9. Sementara itu dalam rangka meningkatkan mutu intensifikasi. Selanjutnya luas areal panen Bimas yang sebagian besar bergeser ke areal Inmas. baik perbaikan terhadap saluran tersier. maka diadakan perangsang. maka dalam tahun 1983 telah bertambah menjadi seluas 9. maupun dalam penggunaannya melalui organisasi pemakai air yang semakin efisien. yaitu denl!an menyelenggarakan perlombaan antarkelompok intensifikasi khusus. Sedangkan sebagai pendorong agar sebanyak mungkin kelompok tani dapat lebih berpartisiposi dan ikut serta dalam intensifikasi khusus.I0).5 persen dari tahun sebelumnya. Di samping lusus.047 ribu hektar dalam tahun 1982 menjadi 5.1 persen atau seluas 105 ribu hektar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam mengatasi serangan hama/penyakit.222 ribu hektar dalam tahun 1983 (Tabel VII. Peningkatan tersebut juga ditunjang oleh keadaan iklim dan curah hujan yang normal serta adanya perbaikan irigasi. Apabila dalam tahun 1982 luas areal panen yang dapat dicapai baru seluas 8. suatu kenaikan sebesar 1.401 ribu hektar dalam tahun 1983.un 1982 menjadi 6. Departemen Keuangan RI 162 .

185 15.38 2.249 13.403 8.9 1.516 6.382 8. 9 AREAL PANEN DAN PRODUKSI BERAS.525 17.088 851 2. 10 LUAS PAN EN BIMAS DAN INMAS PADI.265 1982 2) 77 1.170 1974 474 2.186 6.250 4.014 8.898 8.819 669 1.324 7.130 2.601 858 3.701 Tabel VII.988 3724 3. 1969 .369 8.53 1.153 2. Biasa Baru 1969 926 383 1970 803 445 1971 827 569 1972 621 582 1973 662 1.140 13.135 8.934 701 4.179 Produksi ( ribu ton) 12.276 15.374 1980 125 1.724 13.202 1975 425 2.613 4.69 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Areal panen (ribu ha) 8.005 9. Di samping itu penambahan areal pertanian di daerah transmigrasi mencapai 551.801 hektar.512 800 2.286 22.845 15.96 2.169 3.338 1) Tidak termasuk Insus 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara In mas Biasa Baru 722 99 571 334 867 525 1.934 hektar.848 5.803 9. yang terdiri dari lahan pekarangan Departemen Keuangan RI 163 .1984 Rata-rata ( ton/ha ) 1.103 1977 272 1.34 2.961 24. 1969 -19831) ( dalam ribu hektar ) Tahun Bimas .872 20.di samping pengkaitannya dengan usaha transmigrasi.360 8.607 15.102 9.249 1981 2) 119 1.67 1.637 3.346 619 4..837 23.509 8.876 17.79 1.183 14. Selama Pelita III.719 hektar dan areal yang sudah ditanami mencapai 153.74 1.988 9.62 1.724 1979 197 1.023 5.343 6..495 8.284 868 3.54 2.63 2.603 Jumlah 2.788 3.219 1983 3) 63 1.623 Usaha ekstensifikasi dilakukan melalui perluasan areal tanam yaitu berupa pembukaan persawahan pasang surut atau pencetakan sawah baru.Tabel VII.89 1. 797 1978 236 1.929 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 .258 1976 321 2.163 22.076 1.8 1. sawah yang sudah selesai dicetak meliputi 178.166 800 1.03 2.080 410 638 343 611 370 .65 1.

Sehubungan dengan itu dari Tabel VII. Di samping itu Pemerintah juga memberikan pelayanan kepada petani secara kontinyu dengan berbagai sarana produksi dan kredit.605 hektar dan lahan yang. Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan Bimas palawija. Dalam pengembangan produksi pangan. peragaan. pembinaan kelompok dan himpunan petani. Kenaikan tersebut antara lain disebabkan adanya pengembangan produksi palawija melalui pusat pengembangan pertanian palawija.9 persen.676 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 2.0 persen. seperti halnya dengan produksi padi.779 hektar. Oleh karena peningkatan produksi pangan sangat ditentukan oleh kegiatan para petani. yaitu dari 3. Selanjutnya Pemerintah juga menyediakan kredit bagi petani untuk Departemen Keuangan RI 164 . atau masing-masing mengalami kenaikan sebesar 7.071 orang penyuluh pertanian madya (PPM) dan 606 orang tenaga penyuluh pertanian spesialis (PPS) yang tersebar di wilayah kerja penyuluh pertanian (WKPP) di 26 propinsi. sampai dengan tahun 1983 telah terdapat 14. Pemerintah juga menyediakan kredit bagi petani untuk pengadaan sarana produksi.235 ribu ton dalan tahun 1982 menjadi 5.900 orang dengan realisasi penyaluran kredit sebesar Rp 1.11. 3. juga mengalami peningkatan yang mantap apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. baik melalui program intensifikasi maupun dengan program Bimas dan Inmas yang masih memerlukan tersedianya sarana yang cukup. di samping adanya pembinaan bagi daerah yang telah melaksanakan Bimas palawija serta adanya penyebaran bibit unggul. yaitu dari 1. Produksi ubi jalar meningkat dengan 21.5 persen. kedelai juga meningkat. informasi pertanian. lahan yang sudah diusahakan penggunaannya mencapai seluas 366. Untuk menunjang usaha tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 seluas 98.095 ribu ton dalam tahun 1983. jumlah petani peserta Bimas dan Inmas telah mencapai sebanyak 43. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan September 1984. Dari luas lahan yang telah dibuka tersebut.044 orang tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL). sebagaimana halnya dengan Bimas padi. lahan usaha seluas 377.044 ribu ton dalam tahun 1983.814 hektar.382 hektar.4 persen dari luas seluruh lahan yang sudah dibuka.3 persen dan 9. sehingga petani dapat meningkatkan produksi pangallo Demikian pula terus ditingkatkan kegiatan kursus tani. Sementara itu produksi palawija sampai dengan bulan September tahun 1984. maka Pemerintah terus memberikan penyuluhan pertanian agar mereka mampu menggunakan teknologi baru. maka kepada para petani peserta tetap disediakan bantuan kredit untuk pengadaan sarana produksi yang dibutuhkan.12 dapat dilihat bahwa produksi jagung meningkat sebesar 57. Produksi kacang tanah dan. dibuka dengan cara swadaya transmigrasi sendiri seluas 75. yaitu masing-masing dari 437 ribu ton dan 606 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 469 ribu ton dan 633 ribu ton dalam tahun 1983. Sebagaimana terlihat dalam Tabel VII.4 milyar. serta penyelenggaraan perlombaan antarhimpunan petani. atau 66.

10 1973/1974 36.30 1979/1980 49.260 2.13.90 49.488 12.445 2.412 Ubi kayo Luas panen 1.606 3.815. 11 PENYALURAN KREDIT BlMAS DAN INMAS PADI.50 48.044 2.726 13.433 2.794.573.412 1.175 2.917 10.018 1.9 Tabel VII.353 1.458. 1971/1972 .4 milyar.061 3.106.031 12.406 1.509 3.548.690 3.429 1.20 39.330.30 1974/1975 53.966 Jagung Produksi 2. realisasi penyaluran kredit telah mencapai sekitar Rp 0.90 41.902 13.70 29.011.071.735 2.066 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengadaan sarana produksinya.469 2.40 1976/1977 71. 1969 .70 1981/1982 62.387 2.194 2.557.467 1.257 Kacang tanah Luas panen Produksi 372 267 380 281 376 284 354 282 416 290 411 307 475 380 414 341 507 409 506 446 473 424 506 470 1) 508 475 461 437 484 469 419 535 Kedelai Luas panen 554 695 680 697 743 768 752 646 646 733 784 732 810 606 633 666 Produksi 389 498 516 518 541 589 590 522 523 617 680 653 1) 704 521 568 783 1) Angka diperbaiki Departemen Keuangan RI 165 .314.10 9.004.185 297 Produksi 10.988 11.90 3.603.211 2.50 64.605.433 2.538.80 42.410 1.388 1.846.095 5.40 2.094 1.186 13.50 2.30 33.519.301. dengan jumlah petani peserta sebanyak 8. 12 LUAS PANEN DAN PRODUKSI PALAWI]A.417.70 1983/1984 23.600 orang.10 1.60 1975/1976 72.80 14.191 12.20 11.676 2.50 1978/1979 60.254 3. Perkembangan mengenai penyaluran kredit Bimas palawija dapat diikuti dalam Tabel VII.468 1. Tabel VII.682.470.509 1.40 1977/1978 62.10 2.1984/1985 (dalam jutarupiah dan ribu orang) Realisasi Pengembalian kredit kredit Tanun 1971/1972 9.083 2.10 1980/1981 50.381 2.301 12.115.581.160 3.398 1.151.173.30 60.1984 ( dalam ribu hektar untuk luas panen.584.626 2.80 1.667 2.991 4.095 2.353.391.606 2.288.460 2.955 2.383 1.011 2.20 3.10 51.633.435 2.20 1.282.651 14.594 2. dan ribu ton untuk produksi ) Tahun 1969 1910 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) Luas 2.546 12. Oalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan September 1984.492.079 2.572 3.493.567 3.60 1982/1983 59.90 3.1 1) Posisi 30 September 1984 Kredit lomas padi mulai berIangsung MT 1977/1978 Jumlah petani 1.471 10.90 1972/1973 15.025 2.825 2.235 5.40 3.740.4 158.90 563 43.292 2.903 2.143 4.90 1984/1985 1) 1.501.385 11.702 Luas panen 369 357 357 338 379 330 311 301 326 301 287 276 275 220 261 37 Ubi jalar Produksi 2.029 3.503.515.50 1.364 1.751 13.690 10.096.324 1.439 1.353.939 2.

073.306.007.10 5.861 2.5 348.13 PENYALURAN KREDIT BIMAS PALAWIjA.889 1.348 8.393.7 235.7 442.325.8 77.295 2.272 3.50 5.791 1.70 1983/1984 4.927 1.068 2.90 1979/1980 5.6 8.336 4.206 4.10 5.058.120 2.191.7 146.204.038 3.70 1976/1977 8.204.788.731 3.20 1980/1981 6.30 4.6 1975/1976 9.067 2.6 245.1984 (dalam ribu hektar dan ribu ton) Luas panen Tahun 1969 600 1970 641 1971 715 1972 694 1973 676 1974 647 1975 531 1976 459 1977 558 1978 642 1979 660 1980 673 1981 921 19821) 632 1983 2) 787 1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Sayuran Produksi 1.249 4.435 3.30 7.40 1.832 2.7 261.00 4. 14 LUAS PANEN DAN PRODUKSI HORTIKULTURA.030 Departemen Keuangan RI 166 .743 2.127 2.361.80 1978/1979 6.277.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.80 7.215.725 3.833 1.906 4.226 5.1984/1985 (dalamjuta rupiah dan ribu orang) Ta h u n Realisasi kredit Pengembalian kredit Jumlah petani 143.226.048.007.332 3.7 195 159.517 Luas panen 488 533 554 666 696 614 623 528 445 436 529 541 561 560 618 Buah-buahan Produksi 2.117 5.445.624 2.6 1973/1974 1.40 1984/1985 1) 390 15.893.40 1981/1982 9.10 1977/1978 6.709 3.80 4.917.215.8 360.30 1.60 1982/1983 11.90 1974/1975 5.512 4.293 1.356.70 4. 1973/1974 . 1969 .641 1.9 1) Posisi 30 September 1984 Sejak MT 1978/1979 termasuk Bimas Palawija tumpangsari Tabel VII.480.

20 1.1983 ( dalam ton) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 2) 1983 3) 1) Ekivalen Zinkphospide 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Insektisida 1.4 P205 36.982.432.9 299.3 54.60 1.464.2 31.90 8.9 6.8 1 3 9.8 13.10 973. 16 PENGGUNAAN PESTISIDA UNTUK TANAMAN PANGAN.3 95.9 129.2 354.1 219.4 53 53 116 46.7 52.3 946 1.254.8 84 58 113 121 79 78. 1969 .30 1.60 1.7 126.2 Sejalan dengan usaha pengembangan tanaman pangan. digiatkan pula peningkatan produksi hortikultura.00 2.5 65.410.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.10 6.3 313.4 478.7 17.2 262.1 109.3 442.20 11.060.9 43.3 24.2 162.00 3.638.9 787.9 14.555.3 104.3 Tabel VII.40 Rodentisida 1) 33.80 13.504.8 311.191. di samping berperan pula Departemen Keuangan RI 167 .268.075.3 K20 1 3.6 1 2.3 1.7 171. maka selain dilakukan peningkatan produksi beras dan produksi palawija.5 94.7 11.00 4.2 43.6 317.10 4.165. 15 PENGGUNAAN PUPUK UNTUK TANAMAN PANGAN. Hal ini mengingat bahwa hasil-hasil produksi hortikultura sangat penting artinya dalam menunjang perbaikan gizi dan pola konsumsi masyarakat.9 550.386.209.943.7 110.3 312 290.50 4. 1981 1982 1) 1983 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara N 155.2 99.00 1.9 210. 1969 -1983 ( dalam ribu ton kadar pupuk ) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 .

Walaupun dalam pelaksanaanya dialami banyak tantangan. Selanjutnya perkebunan negara dan perkebunan besar swasta disebut juga sebagai perkebunan besar.5 milyar nilai ekspor berasal dari sektor perkebunan.254. Meningkatnya penggunaan pestisida disebabkan oleh bertambahnya penggunaan pestisida dari jenis insektisida dan rodentisida. hasil produksi hortikultura secara keseluruhan sampai dengan tahun 1983 telah mengalami peningkatan sebesar 35. Sehubungan dengan itu maka pengembangan produksi hortikultura ditekankan pada pengembangan sayur-sayuran dan buahbuahan di sekitar kota yang pemasarannya dapat lebih cepat.9 persen.3 ribu ton dalam tahun 1983.1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.7 ton dalam tahun 1982 menjadi 13.15 dan Tabel VII.14. namun mengingat bahwa peranan sektor perkebunan yang demikian besar dalam menunjang pembangunan umumnya dan bagi peningkatan sumber pendapatan devisa atau rupiah khususnya. Dalam pembahasan selanjutnya.16. Kenaikan penggunaan pupuk terutama disebabkan oleh meningkatnya penggunaan pupuk jenis K20.3 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 54.117 ribu ton dalam tahun 1983. yaitu dari sebanyak 43. Meningkatnya penggunaan pupuk dan pestisida tersebut secara keseluruhan dapat diikuti melalui Tabel VII.2 ton dalam tahun 1983. Meningkatnya hasil produksi tanaman pangan sangat erat kaitannya dengan penggunaan pupuk dan pestisida. Kenaikan insektisida dan rodentisida masing-masing adalah sebesar 24. Sebagaimana terlihat dalam Tabel VII.038 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 3. yaitu masing-masing dari 11. perkebunan digolongkan atas perkebunan rakyat.4 ton dan 171. perkebunan negara dan perkebunan besar swasta.2 persen dan 80.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam intensitas penggunaan tanah dan tenaga kerja.4.2. Tanaman perkebunan Perkebunan merupakan salah satu sektor yang terpenting dalam menunjang perekonomian Indonesia. maka selama pelaksanaan Pelita telah dilaksanakan berbagai kebijaksanaan dan kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan produksi hasil perkebunan. karena semakin luasnya areal panen dan meningkatnya mutu Insus. Hal ini terutama terlihat dari besarnya sumbangan devisa melalui ekspor hasil-hasil produksinya.8 ton dan 94. yaitu dari 2. Sampai dengan tahun terakhir pelaksanaan Pelita III. Menjelang akhir tahun 1983/1984. Hal tersebut terutama disebabkan karena terjadinya peningkatan produksi sayur-sayuran sebesar 52. perkebunan rakyat telah Departemen Keuangan RI 168 . 7. lebih dari US $ 1.8 persen.982.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

mendapat prioritas utama dalam pengembangan usaha perkebunan. Hal tersebut berdasarkan kenyataan bahwa sebagian besar areal dan hasil perkebunan yang ada selama ini adalah milik dan hasil produksi perkebunan rakyat, yang mutu dan produktivitasnya relatif masih rendah. Oleh karena itu penyuluhan bagi perkebunan rakyat ditujukan untuk meningkatkan pendapatan petani melalui modernisasi usaha perkebunan, pengorganisasian usahapemasaran serta pengelolaannya melalui wadah KUD. Sedangkan pengembangan dan pembinaannya tidak lagi dilakukan secara partial, akan tetapi melalui pola pembinaan terpadu. Pola pembinaan terpadu tersebut dilaksanakan secara menyeluruh, baik secara vertikal yaitu berupa kegiatan penyuluhan, penyediaan sarana produksi dan kredit, maupun secara horisontal yang dilakukan sejak mulai penanaman, pemeliharaan tan am an, pengolahan hasil produksi dan pemasaran hingga pengembangan manajemen. Realisasi daripada pembinaan terpadu diwujudkan dalam bentuk unit pelaksana proyek (UPP), yang meliputi pembinaan untuk berbagai komoditi/budidaya perkebunan, terutama tanaman karet, kelapa, kopi, cengkeh, lada, kelapa sawit dan teh. Selama Pelita III areal tanaman Y.lng telah berhasil diremajakan adalah tanaman karet, kelapa, kopi, teh, lada dan coklat yang telah mencapai areal seluas 306.626 hektar, sedangkan untuk tanaman cengkeh mencapai areal seluas 3.000 hektar. Adapun perkehunan rakyat yang telah dibina melalui UPP meliputi 880 unit dengan areal tanam seluas 2.482 ribu hektar. Sementara itu upaya lainnya untuk lebih mengembangkan perkebunan rakyat adalah dengan menerapkan pola perkebunan inti. Dalam pola tersebut perkebunan besar milik Pemerintah, yakni Perusahaan Negara Perkebunan/PT Perkebunan (PNP/PTP), berfungsi sebagai inti atau pusat pengembangan perkebunan rakyat sekitarnya. Pada gilirannya perkebunan rakyat tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi koperasi perkebunan rakyat. Pengembangan pola perkebunan inti tersebut, yang disebut proyek NES (nucleus estate smallholders) atau proyek perkebunan inti rakyat (PIR) meliputi budidaya karet, kelapa hibrida, kelapa sawit dan tebu. Perkebunan besar dalam NES/PIR tersebut berfungsi sebagai penyuluh, penyalur sarana produksi kepada perkebunan rakyat, pengolah hasil yang berasal dari rakyat/petani dan sebagai pemasar hasil produksinya. Sedangkan perkebunan rakyat hams menyediakan tanah dan tenaga kerja. Sampai dengan tahun 1983, realisasi luas areal hasil pembinaan pola NES/PIR adalah seluas 188.067 hektar untuk jenis tanaman kafer, kelapa sawit dan kelapa. Dari Tabel VII.17 dapat dilihat bahwa berhasilnya usaha pembina an perkebunan rakyat sampai dengan tahun 1983 tersebut ditandai dengan meningkatnya hasil kafer, teh dan cengkeh, masing-masing sebesar 55,6 persen, 47,1 persen dan 37,5 persen apabila dibandingkan dengan tahun 1982.

Departemen Keuangan RI

169

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Dalam waktu yang sarna hasil produksi perkebunan rakyat lainnya seperti lada, tembakau, kopi dan gula tebu juga mengalami peningkatan produksi, yaitu masing-masing sebesar 17,6 persen, 14,4 persen, 8,8 persen dan 2,1 persen. Sejalan dengan usaha dan kegiatan dalam bidang perkebunan rakyat, maka pembinaan dan pengembangan perkebunan besar swasta juga terus ditingkatkan. Hasil produksi usaha perkebunan besar swasta selama ini, khususnya sampai dengan tahun 1983, belum menunjukkan peningkatan seperti yang diharapkan. Hal ini antara lain karena berbagai jenis tanam_n seperti kafer, kelapa dan coklat yang telah diremajakan belum menunjukkan produktivitasnya, di samping masih adanya gangguan hama terhadap tanaman-tanaman terse but. Dalam tahun 1983, produksi kopi mengalami kenaikan sebesar 26,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni dari 5,7 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 7,2 ribu ton dalam tahun 1983. Sedangkan untuk produksi cengkeh dan teh, dalam tahun 1983 masing-masing telah meningkat sebesar 50,0 persen dan 5,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perkembangan selanjutnya daripada hasil produksi perkebunan besar swasta dapat diikuti dalam Tabel VII.18. Sementara itu perkebunan besar negara (PNP/PTP) dalam Pelita III juga telah banyak mendapat perhatian dari Pemerintah. Hal ini dimasudkan agar perkebunan besar negara dapat mengimbangi tuntutan perkembangan dan kemajuan teknologi moderen serta permintaan posaran intemasional. Untuk itu ditempuh serangkaian kebijaksanaan yang ditujukan terutama untuk meningkatkan budidaya pengusahaan tanaman dan bentuk usahanya. Di samping menyangkut segi pengelolaan perkebunan/perusahaan, maka aspek sosial ekonomi khususnya pemberian imbalan kepada tenaga kerja juga diperhatikan sebaik-baiknya. Berbagai kegiatan yang dilakukan di bidang perkebunan negara tersebut ditandai dengan meningkatnya produksi beberapa hasil perkebunan negara dalam tahun 1983, seperti antara lain terlihat dan meningkatnya produksi kafer, minyak sawit dan teh, masing-masing sebesar 4,2 persen, 3,7 persen dan 18,0 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hasil-hasil yang dicapai di bidang perkebunan negara dapat diikuti melalui Tabel VII.19. Dari Tabel VII.20 dapat dilihat bahwa dengan berhasil ditingkatkannya produksi perkebunan dalam tahun 1983, baik perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta maupun perkebunan negara, serta ditunjang pula oleh adanya kebangkitan kembali ekonomi dunia, maka volume ekspor hasil perkebunan telah meningkat pula. Apabila dalam tahun 1982 volume ekspor hasil utama perkebunan secara keseluruhan adalah sebesar 1.763,6 ribu ton, maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 1.990,5 ribu ton, atau suatu kenaikan sebesar 12,8 persen dibandingkan dengan tahun

Departemen Keuangan RI

170

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama didukung oleh meningkatnya volume ekspor minyak sawit, lada dan karet, masing-masing sebesar 33,3 persen, 23,9 persen dan 20,2 persen. Oi samping itu juga disebabkan oleh meningkatnya volume ekspor tembakau, teh dan kopi, masing-masing sebesar 18,3 persen, 7,7 persen dan 6,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Tabel VII. 17 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERKEBUNAN RAKYAT, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Kelapa/ Gula Tembakopra Tebu kau Teh Karet Kopi Cengkeh 220 162 22 220 75 558 11 1.198 170 21 196' 69 15 571 1.147 178 24 221 69 572 14 1.308 196 7 247 74 13 559 1.233 140 14 199 69 22 599 1.335 132 14 250 69 15 571 1.370 144 14 223 74 15 536 1.527 178 13 267 78 17 610 1.513 181 14 352 72 37 584 1.554 206 17 485 68 612 21 1.561 209 17 498 73 616 35 1.630 276 21 1.203 69 715 34 1.765 290 24 1.364 100 642 29 1.707 262 17 1.352 97 585 32 1.592 285 25 1.380 111 910 44

Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1) 1981 1) 1982 1) 1983 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara

Lada 17 17 24 18 29 27 23 37 43 46 47 37 40 34 40

Kapas 2,4 2,6 1,3 1,5 1,1 2,9 2,4 0,9 0,9 0,5 0,6 3 11 17,7 6,1

Tabel VII. 18 PRODUKSI BEBERAP A HASIL PERKEBUNAN BESAR SWASTA, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Ke1apa/ Gula Minyak Tebu sawit kopra Tahun Teh Kopi Karet 1 1969 110 5 9 72 60 2 1970 113 6 9 74 70 2 1971 114 7 10 122 79 3 1972 128 6 7 130 81 4 1973 109 4 10 118 82 6 1974 108 7 11 127 104 5 1975 109 6 10 126 126 5 1976 104 6 11 152 145 5 1977 107 6 11 162 147 21 1978 110 7 15 71 165 21 1979 112 8 16 73 168 33 19801) 120 6 18 84 221 25 1981 1) 127 9 14 116 266 11 1982 1) 125 6 16 72 285 19832) 124 7 16 72 286 11 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara

Inti sawit 13 15 18 17 18 21 24 27 29 22 23 38 41 47 47

Departemen Keuangan RI

171

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986
Tabel VII. 19 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERKEBUNAN NEGARA, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Tahun Karet 1969 110 1970 118 1971 118 1972 121 1973 137 1974 138 1975 137 1976 142 1977 147 1978 162 1979 170 19801) 186 1981 1) 193 19821) 189 19832) 197 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Minyak sawit 129 147 170 189 207 244 271 286 338 367 474 499 533 599 621 Inti sawit 28 33 39 42 46 52 57 56 64 72 85 90 100 110 115 Teh 31 34 37 37 43 40 46 49 51 59 92 68 72 61 72 Kopi 8 9 11 12 6 10 10 10 ]0 10 11 13 16 13 10 Tembakau 9 9 7 5 11 8 8 11 12 13 14 15 9 9 8 Gula tebu 630 603 708 756 293 860 878 902 924 960 1.030 273 220 195 191

Tabel VII. 20 VOLUME EKSPOR HASIL UTAMA PERKEBUNAN, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Minyak Kopra dan bungkil Tahun Teh Lada Karet sawit Inti sawit Kopi Tembakau 1969 857,5 179,1 42,7 36,1 127,1 5,7 16,7 349,1 1970 790,2 159,2 42,4 41,1 104,3 11 2,6 393,1 1971 789,3 209 48,6 44,8 74,3 18,3 24,2 322,5' 1972 774,6 236,5 51,4 44 107 26,2 25,7 327,1 1973 890,2 262,7 39,2 39,6 100,8 33,3 25,6 282 1974 840,4 281,2 28,5 55,7 111,8 33,6 15,7 252,6 2) 1975 788,3 386,2 21 45,9 128,4 19,6 15,2 329,1 1976 811,5 405,6 25,6 47,5 136,4 20,5 28,8 396,7 1977 800,2 404,6 25,2 51,3 160,4 25,9 30,9 335,9 1978 918,2 412,3 7,3 61,6 222,8 27,3 38 324,4 2) 1979 967,3 437,8 33,1 65,9 230,7 24,9 25,7 381,4 2) 1980 I)' 981 502,9 42,9 74,2 238,7 28,3 29,7 430,1 19811) 812,8 196,4 22,7 71,3 210,6 25,3 34 321,8 19821) 797,6 259,5 6,9 63,7 227 20,2 36,3 352,4 19833) 958,9 345,8 2,2 68,6 241,2 23,9 45 304,9 1) Angka diperbaiki 2) Hanya bungkil kopra 3) Angka sementara

Jenis komoditi 1969 Kare t 220,7 Kopra dan bungkil kopra 20,6 Ko p i 51,3 Tcmbakau 13,8 Minyak sawit 22,2 Inti sawlt 4 Lada 10,4 Teh 9,7 Bunga, biji pala dan ccngkch 1.6 Rcmpah-rcmpah lainnya 4) 3,5 Jumlah 357,8 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Hanya cengkeh 4) Scjak tahun 1980 tidak ada nilai ckspor

1970 260,9 35,1 65,8 11,5 36,5 5.U 2.9 17,3 2.1 4,3\ 441.4

Tabel VII. 21 NILAI EKSPOR HASIL UTAMA PERKEBUNAN, 1969 - 1983 ( dalam US $ juta ) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 222.2 195,9 395 487,3 365,U 535,1 593,8 720,5 1.002,40 1.174,20 835,8 602,1 26,2 17,6 23.6 23,2 28,9 31.2 38.1 35 41,3 52,1 32,4 38 55.4 72.4 77,4 1UI,3 101.1 250 634.0 509,7 655.4 656 345,9 341,7 19,9 30.0 44.9 35,5 37,8 39,2 61,1 59,3 60,3 58,b 53,1 38,9 46.3 42.0 72,5 Ibb,U 158,1 142 192,8 208,3 253,7 254,7 106,9 64,4 5,5 3,7 4.8 8.4 5.1 3,7 5.8 1,5 7.2 8.1 4,4 2,2 24.7 20.5 28.0 24.6 22.8 46,2 65,6 69,8 47,3 58,1 47,2 44,9 28,7 31.4 30,2 43,6 53,1 55 121.0 92,3 91,7 112,7 100.8 89,5 1.8 2.1 1.7 2,5 5.0 9,7 10,9 11.2 10,9 27,9 80,3 0,33) 4.4 3.4 6.5 6,1 3,7 5,6 7,8 9.0 0.3 435.1 419.0 684.6 898,5 78U,6 1.117,70 1.730,90 1.716,60 2.170,50 2.402,40 1.606,80 1.222,00

1983 2) 802,3 46,4 427,3 47,6 111,5 0,4 52 120,4 0,43) L608,3

Departemen Keuangan RI

172

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Meningkatnya volume ekspor beberapa hasil perkebunan tersebut disertai pula dengan kenaikan nilai ekspor hasil perkebunan dalam tahun 1983. Nilai ekspor keseluruhan dari beherapa komoditi perkehunan dalam tahun 1983, yang terdiri atas jenis komoditi karet, kelapa sawit, kopi, teh, lada dan tembakau, telah mencapai US $ 1.608,3 juta. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 dengan nilai sebesar US $ 1.222,0 juta, maka terdapat kenaikan sebesar 31,6 persen. Gambaran selanjutnya mengenai nilai ekspor beberapa hasil utama perkebunan dapat diikuti melalui Tabel VII.21.

7.4.3. Peternakan Salah satu masalah yang dihadapi di bidang peternakan sebelum Pelita berlangsung adalah rendahnya tingkat populasi ternak dengan perkembangan yang tidak merata. Hal ini antara lain disebabkan karena hampir 60 persen dari seluruh jenis ternak terkonsentrasi di pulau J awa yang justru luasnya hanya sebesar 7 persen dari luas seluruh daratan Indonesia, kecuali untuk jenis ternak babi yang sebagian besar dipelihara secara tradisional di Sumatela Utara, Sulawesi Utara, Bali dan Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu sejak dilaksanakannya pembangunan nasional, kegiatan di bidang peternakan diarahkan kepada peningkatan dan penyebaran populasi ternak, dan sekaligus juga untuk meningkatkan pendapatan para peternak dan memperluas kesempatan berusaha. Sehubungan dengan itu langkah-Iangkah telah dan terus dilakukan terutama dengan penyebaran bibit unggul ke daerah-daerah dalam usaha untuk mengatasi masalah kelahiran dan produktivitas ternak yang rendah, serta peningkatan pemotongan ternak jenis betina. Bibit unggul ternak tersebut disebarkan dari wilayah/propinsi sumber-sumber bibit ternak sapi seperti Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, ke wilayah/ propinsi lainnya yang potensial. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas bibit-bibit sapi lokal, telah dikembangkan usaha pembinaan sumber bibitnya, misainya sapi Bali dikembangkan di pulau Bali, Sumbawa, dan beberapa lokasi di Sulawesi Selatan. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap para peternak sapi Ongole di pulau Sumba dengan jalan mendatangkan sapi jenis unggul dari luar negeri, antara lain seperti sapi jenis Brahman. Sedangkan dalam rangka meningkatkan mutu bibit sapi, maka dalarn tahun 19831 1984 te1ah disebar sebanyak 28.129 ekor bibit sapi. Demikian pula untuk bibit ternak kerb au , karnbingldomba dan kuda, dalarn waktu yang sarna te1ah disebar masing-masing sebanyak 6.452 ekor, 12.910 ekor dan 2.633 ekor. Berkaitan dengan usaha Pemerintah di bidang transmigrasi, bidang peternakan telah ditingkatkan peranannya untuk mendukung usaha pengembangan lokasi baru tersebut. Dalarn rangka menunjang program
Departemen Keuangan RI

173

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

tersebut, sampai dengan Pelita III telah disebarkan sekitar 4.000 ekor dari berbagai jenis ternak, terutarna sapi dan kerbau, melalui dana transmigrasi. Di samping itu melalui dana bantuan Presiden juga telah diimpor berbagai jenis temak unggul seperti sapi jenis Brahman, Santa, Gertrudis dan Bilmon Red yang selanjutnya disebar ke daerah-daerah. Sedangkan untuk penyebaran bibit ternak jenis lainnya yaitu seperti bibit ayam DOC (day old chick) dari Pusat Pembibitan Cisarua juga terus dilaksanakan dan selanjutnya disalurkan ke seluruh propinsi Indonesia. Upaya lainnya yang telah dilakukan adalah dengan teknik inseminasi buatan (IB), yaitu suatu cara perkawinan pada hewan betina dengan alat berupa split pipet (insemination gun) yang telah diisi dengan semen dari pejantan. IB merupakan sarana untuk mengembangbiakkan ternak dengan cepat, teratur dan murah yang dapat memperkecil kemajiran serta tidak perlu memelihara pejantan, sehingga dengan demikian dapat dicegah adanya penyebaran penyakit dari satu hewan ke hewan lainnya sebagai akibat daripada perkawinan. Teknik IB di Indonesia telah dipergunakan sejak tahun 1970, namun baru dalam tahun 1973 dipergunakan semen beku, serta dalarn tahun 1975 dibangun laboratorium yang dapat memproduksi semen beku tersebut di Lembang dan Bandung. Sehubungan dengan ire dapat dikemukakan bahwa apabila se1arna Pelita II baru disalurkan sebanyak 67.000 dosis semen beku kepada 18 propinsi, maka pada akhir Pelita III telah berhasil disalurkan sebanyak 396.817 dosis semen beku untuk keperluan IB ke seluruh propinsi di Indonesia. Tenaga-tenaga untuk menangani pelaksanaan IB tersebut juga telah ditingkatkan, dan dalam rangka meningkatkan keterampilannya sudah banyak yang dikirim ke luar negeri antara lain ke New Zealand. Sebagai hasilnya, jumlah tenaga khusus untuk IB yang selama Pelita II baru berjumlah 295 orang telah berhasil ditingkatkan menjadi sebanyak 595 orang pada akhir Pelita III. Mengingat bahwa persediaan makanan ternak, baik kualitas maupun kuantitasnya, yang berasal dari hijauan makanan ternak masih dirasakan kurang terutama untuk daerahdaerah di pulau Jawa, maka telah dilaksanakan pembinaan terhadap kegiatan-kegiatan penyediaan makanan ternak. Adapun makanan ternak tersebut dapat dibedakan atas makanan hijauan yang terdiri dari rumput, leguminosa dan lain-lain, serta makanan penguat yang terdiri atas konsentrat. Sejalan dengan program penghijauan, maka kini telah dilakukan penanaman makanan hijauan ternak pada daerah/tanah-tanah kritis dan terlantar. Sedangkan dalam hal makanan temak jenis konsentrat, penyediaannya dilakukan oleh pihak swasta dengan pengawasan mutu oleh Pemerintah. Sementara itu di kebun-kebun bibit pusat di Cisarua dan Cisereuh, yang dilengkapi dengan laboratorium pemeriksaan bibit rumput dan bahan rerumputan. telah berhasil dikembangbiakkan jenis rerumputan atau makanan

Departemen Keuangan RI

174

Dalam tahun 1983/1984 telah dapat disediakan dan disebarkan vaksin dan obat. kader peternak. Guna menanggulangi wahab yang tidak dapat diduga baik mengenai kejadian maupun waktunya. penyakit jembrana di Bali dan penyakit zoonosa rabies.500 ribu dosis. Brucella dan Rabies. dewasa ini juga telah direhabilitir beberapa karantina hewan serta vaksinasi massal yang\ditangani secara khusus. Sebuah balai dibangun di Bukittinggi dengan bantuan dari pemerintah j erman Barat. penyakit mulut dan kuku pada sapi. dalam tahun Departemen Keuangan RI 175 . penolakan. penyakit antrax. Di samping itu juga telah dapat . bebesiosis). maka Pemerintah telah mempersiapkan baik alat-alat ataupun tenaganya. SE. Fowl Pox F. Selanjutnya dalam rangka pencegahan penyakit ternak. Selama lima tahun pelaksanaan Repelita III telah dilakukan kegiatan pengamanan ternak dengan mengaktitkan fungsi penyidikan. Walaupun selama sepuluh tahun terakhir ini serangan penyakit pada temak pada umumnya dapat diatasi dan dikendalikan. Apabila dalam tahun 1982/1983 jumlah tenaga penyuluh petemakan spesialis (PPS) dan tenaga penyuluh peternakan lapangan/demonstrator masing-masing baru berjumlah 368 orang dan 936 orang. Di samping itu juga telah dibangun 3 buah Laboratorium Penyidikan Penyakit Hewan jenis A di tingkat pusat. Sehubungan dengan itu. diamati daya adaptasi dan daya tumbuhnya untuk kemudian disebarkan ke tiap kabupaten. sedangkan 2 buah lagi berada di Medan dan Tanjung Karang yang dibangun alas bantuan dari pemerintah jepang.000 ribu dosis. Selanjutnya dari kebun-kebun bibit tingkat kabupaten dan tingkat kecamatan disalurkan kepada peternak di kecamatan. namun tidak dapat diabaikan adanya beberapa penyakit yang berasal dari virus seperti penyakit tetelo.ditanggulangi penyakit asal bakteri antara lain seperti penyakit ngorok. desa dan kampung sampai ke padang penggembalaan. dan penyakit kulit menular (scabies). petugas laboratorium diagnostik dan tenaga vaksinator terus ditingkatkan. 1. -parasit darah (surra.550 ribu dosis. masing-masing sebanyak 50. Dengan demikian akan tercapai upaya dalam mendapatkan rumput alam yang bermutu tinggi di samping usaha budidaya rumput.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hijauan temak baru serta memperbaiki jenis yang ada untuk disebarkan ke kebun-kebun bibit di berbagai propinsi. Dalam hubungan ini telah selesai dibangun dan berfungsi 5 buah Balai Penyidikan Hewan. Anthrax. 13. Di kebun bibit ditingkat propinsi tersebut.000 ribu dosis.obatan darijenis ND Kumarov. penyediaan tenaga penyuluh. 4. pencegahan dan pemberantasan penyakit. bibit-bibit diperbanyak. dan laboratorium jenis B di setiap propinsi serta laboratoriumjenis C di setiap kabupaten. 2 di antaranya berada di Denposar dan Ujungpandang yang dibangun alas ban_an FAa (Food Agriculture Organisation) dan TJNDP (United Nation Development Program). radang paba dan keluron menular (brucellosis). 20 ribu dosis dan 522 ribu dosis.

447 1970 6.2 7.051 7.132 211.707 2.3 0.541 18.169 3.7 187 1) 3 0.2 1.146 2.5 0.6 50.687 Itik 7.336 6.906 7.182 16.343 Babi 2.627 84.130 orang.380 1975 6.217 1978 6.302 232.1 2.9 24.232 8.2 18.049 8.4 0.3 0. dalam tahun 1983/1984 juga telah meningkat masing-masing menjadi 313 orang dan 5.407 orang.5 5.382 107.6 28 1) 3.976 2.436 orang.691 7.1 0.284 2.374 3.457 3.177 4.6 1. 1969 -1983 ( dalam ribu ekor untuk temak.380 93.538 2.861 25.5 0.998 3.9 31.5 2.2 28 3.751 1) Angka sementara Sapi perahan 52 59 66 68 78 86 90 87 91 93 94 103 113 140 162 169 Kerbau 2.7 3.475 102.1984 ( dalam ribu ekor) Tahun Sapi 1969 6.1 1.269 7.350 2.5 1) Angka dalam ton 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 176 .976 2.6 0.996 3.4 2.079 Kuda 642 692 665 693 645 600 627 631 659 615 596 616 637 658 665 704 Ayam 62.4 0.362 1980 6.078 22.2 4.9 0 0 1.9 0 0 0.2 2.611 4.1 0.415 2.357 184.533 Kambing 7.124 13.432 2.098 Domba 2.312 2.089 21.155 3.4 0.5 1.6 1.432 2.790 7.620 14.979 2.1 2.1 0.1 11.364 3.292 2.902 3.436 27.513 2.183 3.9 0.130 1971 6.403 3.976 2.4 193 1) 2. 1969 .6 9.4 0.659 7.404 11.362 3.7 54.6 0.4 0.1 2.7 1.6 0.4 0 1.1 8.4 0.4 0.2 1.544 6.4 0.1 2.516 1982 6.237 1977 6.1 9.382 3.2 5.793 6.476 63.8 0.330 1979 6.3 0.315 6.8 9 0. 24 VOLUME EKSPOR TERNAK DAN HASIL-HASILNYA.8 51.245 1972 6.4 2.438 75.7 0 0 0.014 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 19832) Tabel VII.370 10.768 2.637 1974 6.8 1 59.6 22.3 1 0 0 2.316 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1983/1984 telah meningkat masing-masing menjadi 428 orang dan 1.878 3.189 6.7 45 13. Selanjutnya jumlah petugas laboratorium diagnostik dan petugas vaksinator yang dalam tahun 1982/1983 masing-masing baru sebanyak 312 orang dan 1.426 23.489 2.804 3.4 29.1 1.947 2. 22 POPULASI TERNAK.100 98.5 1.032 17.906 2.2 97 1) 3.488 2.5 2.242 1976 6.987 121.517 6. dalam ribu ton untuk kulit dan tulang ) Ternak Kulit Sapi Kerbau S api Kerbau Kambing Domba 38.5 0.071 4.6 8.640 82.677 4.822 2.2 0. Tabel VII.493 114.286 1973 6.231 4.457 2.1 0.125 15.660 19841) 6.556 197.891 8.9 4.4 8 7.8 Tulang 10.416 12.3 0.603 3.124 4.594 1983 1) 6.9 9.943 7.587 3.8 0.2 9.5 0 0 0.440 1981 6.

246.758. 1969 -1983 (dalam US $ ribu) T ernak Sapi Kerbau Tahun 1969 596 251 1970 1.80 7.926. Hasil-hasil yang dicapai di bidang peningkatan populasi ternak sampai dengan tahun pertama Repelita IV dapat diikuti melalui Tabel VII.6 ribu ton.981.00 15.307.010.316 ribu ekor.50 25.822.401.2 13.587 ribu ekor dan 658 ribu ekor dalam tahun 1982.694.0 ribu ton dan 117.00 6.6 14.4 persen dan produksi susu 21.40 2.471.30 Tulang 52.30 109.1 3.134.433.5 172.5 590.891 ribu ekor dalam tahun 1982.226.00 698.90 398.843.636.007.00 2. telur dan susu juga menunjukkan peningkatan yang cukup mantap.60 385.90 26.2 5. Sementara itu sebagaimana terlihat dalam Tabel VII.60 1.20 3.30 425.70 1.8 195.1 2.5 2.272.245.40 990.50 30 14.368.30 3.672.421.6 169 105.243.1 4.40 7.423.985. Demikian juga populasi ternak Ryall dan itik menunjukkan kenaikan masingmasing sebesar 7.6 1974 7.24 dan Tabel VII.70 139 11.3 0 1979 0 0 1980 0 0 1981 0 0 1982 0 0 19831) 0 0 1) Angka sementara Sapi 1. 140 ribu ekor dan 7. meningkatkan menjadi 4.23).0 ribu ton dan 142.949.90 26 1978 70.80 7. yaitu dari masing-masing sebanyak 4. maka produksi daging telah meningkat sebesar 6.7 24.4 9.3 1971 1.262.594 ribu ekor.0 ribu ton.70 398 3.843.70 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.20 299.30 3.80 10.5 393.70 22.248. ketiga jenis produk tersebut masing-masing telah mencapai sebanyak 671.50 154.4 1. produksi telur 6.10 7.40 1.40 19.087.691.3 535. Apabila dibandingkan dengan produksi tahun 1982 yang masing-masing baru berjumlah 628.315.824. 316.20 813.738.800.80 5.2 124.6 652 1.132. Dari tabel tersebut terlihat bahwa apabila dibandingkan dengan tahun 1982.90 712.516.90 6.883.5 255.00 3. menjadi 6.752.20 41. 3. 162 ribu ekor dan 8.90 2.90 147 11.660 ribu ekor.9 524.30 1975 5.523.10 Domba 693.60 7.50 15.6 615.810.582.046.1 626.30 69 18.974.25 NILAI EKSPOR TERNAKDAN HASIL-HASILNYA.80 25.998. babi dan kuda.704.9 1.6 0 JumJah 4.026.658.790.5 persen.10 1.50 485. maka populasi ternak jenis sapi.412.922.308.40 4.80 16.22. maka produksi daging.80 1973 3.6 juta liter.3 1.677.341.049 ribu ekor dalam tahun 1983.40 7.193.40 Berbagai cara telah dilaksanakan untuk meningkatkan populasi ternak.9 1976 3.30 299.9 juta liter (Tabel VII.966. Dalam tahun 1983.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.70 83. Sejalan dengan meningkatnya hasil-hasil yang dicapai di bidang pengembangan populasi ternak. Disusul kemudian kenaikan populasi ternak domba. 297.9 164.50 237.30 23.20 1. 3.843.900.083.30 1.00 395.8 1972 2.80 Kulit Kerbau Kambing 170.231 ribu ekor.560.662.222.60 11.677 ribu ekor dan 665 ribu ekor dalam tahun 1983. volume dan nilai ekspor ternak dan hasil-hasilnya tidak lagi mengalami kenaikan bahkan kegiatan ekspor Departemen Keuangan RI 177 .2 persen dan 6.60 22.25. sapi perahan dan kambing dalam tahun 1983 telah menunjukkan kenaikan dari masing-masing sebanyak 6.196.1 1977 1.769.20 2.7 persen.792.391.30 157.186.

Apabila dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 1982 yang berjumlah US $ 25. Dengan demikian dalam tahun 1983 sebagian besar ekspor hasil ternak adalah berupa kulit sapi. maka selama Pelita III telah ditempuh usaha-usaha intensifikasi penangkapan sekaligus pengembangbiakan daTi berbagai jenis ikan dan udang di samping juga dilakukan usaha pengembangan perikanan darat. keadaan tersebut sangat menguntungkan produktivitas dan pengembangan budidaya ikan di Indonesia. atau 6.4. Titik berat pembangunan di bidang perikanan dalam Repelita IV ditujukan pada pembinaan dan pengembangan perikanan rakyat. Kenaikan produksi ikan tersebut selain disebabkan peningkatan produksi ikan taut sebesar 7. serta kulit dan tulang di dalam negeri sebagai akibat dari berkembangnya sektor industri. pole and line. yaitu sebanyak 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ternak sapi dan kerbau telah dihentikan sejak tahun 1979. Hasil produksi ikan dalam tahun 1983 tersebut sebagian besar merupakan produksi ikan lalit.5 persen dari hasil keseluruhan.9 juta. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan para nelayan.120 ribu ton atau sebesar 6.120 ribu ton. Dapat diketengahkan bahwa besarnya peningkatan produksi ikan taut tersebut terutama karena bertambahnya kapal-kapal perikanan bermotor dan meningkatnya penggunaan alat-alat penangkap ikan moderen seperti jaring jenis gill net. kerbau.3 persen. Namun mengingat bahwa penangkapan ikan memerlukan tatacara yang benar agar pelaksanaannya dapat produktif dan efisien. sedangkan sisanya sebanyak 520 ribu ton adalah ikan darat.4. Penurunan tersebut disebabkan karena meningkatnya permintaan daging dan protein hewani. memperluas kesempatan berusaha. purseseine. 7. penggunaan perahu tanpa motor dan alatDepartemen Keuangan RI 178 . dan long line.1 persen lebih tinggi dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya yakni sebanyak 1. meskipun jumlah populasi ternak secara keseluruhan meningkat setiap tahunnya.7 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982. Produksi ikan sampai dengan tahun 1983 telah meningkat menjadi sekitar 2. Dengan letak geografis yang ada sella ditunjang oleh iklim tropis sepanjang tahun.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.4 persen. juga karena meningkatnya produksi ikan darat sebesar 2. Di lain pihak. Perikanan Indonesia dikenal sebagai suatu negara maritim yang terdiri dari pulau-pulau dengan perairan yang me1iputi tiga perempat bagian dari se1uruh wilayah negara.600 ribu ton atau 75.998 ribu ton. Sementara itu hasil-hasil yang telah dicapai di bidang perikanan dalam tahun 1983 antara lain tercermin pada produksi ikan yang telah mencapai 2. mempertinggi produksi. meningkatkan mutu gizi pangan dan sekaligus untuk meningkatkan ekspor. kambing dan domba dengan nilai ekspor sebesar US $ 23. maka nilai ekspor hasil ternak turun sebesar 4.1 juta.

Di samping itu juga telah dibangun 24 buah PP. Jawa Barat. yaitu dari 241 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 254 ribu ton dalam tahun 1983. Sebaliknya dalam periode yang sarna jumlah perahu tanpa motor telah menurun dari 215.8 persen.8 persen bila dibandingkan dengan tahun sebe1umnya. produksinya te1ah meningkat lagi sehingga mencapai 279 ribu ton. terutama perikanan rakyat. atau suatu penurunan sebesar 1. NTB. pemasaran dan pengolahan hasilhasil perikanan. Meningkatnya penggunaan perahu/kapal motor serta alat-alat penangkap ikan moderen terlihat dari jumlah perahu/kapal motor yang dalam tahun 1982 baru sebanyak 85. yang terdiri alas 21 buah PP pantai.083 buah. atau suatu kenaikan sebesar 9. yang berarti peningkatan sebesar 10. Sedangkan untuk mendukung pengembangan budiclara tambak dan perikanan darat lainnya. Tersedianya benih dan induk ikan dalam jumlah dan mutu yang memadai sangat Departemen Keuangan RI 179 .400 buah dalam tahun 1983. Jawa Tengah. Jawa Timur.5 ribu hektar. Sementara itu walaupun pertumbuhan produksi ikan darat tidak secepat produksi ikan laut. Sampai dengan bulan September tahun 1984.3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. gudang pendingin dan lain-lain fasilitas yang diperlukan untuk mengembangkan produksi. namun produksi ikan darat juga menunjukkan jumlah yang terus meningkat. PPI dan PP tersebut dilengkapi dengan tempat pelelangan. Selanjutnya guna menunjang dan mempercepat pertumbuhan produksi perikanan lalit. Apabila luas areal budidaya tambak dalam tahun 1982 baru mencapai 400. Sumatera Utara. Dalam tahun 1983. maka sejak Pelita III telah dilaksanakan rehabilitasi dan pembangunan pangkalan pendarat ikan (PPI) serta pelabuhan perikanan (PP).466 buah dalam tahun 1982 menjadi 212. kolam dan sawah. maka dalam tahun 1983 telah mencapai 405. Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan yang keseluruhannya mencapai sepanjang 590 km. produksi budidaya perikanan darat mengalami kenaikan sebesar 5. sampai dengan tahun 1983/1984 telah dibangun 149 buah PPI yang tersebar di 25 propinsi kecuali untuk DI Yogyakarta dan Timor Timur. pabrik es. NTT.4 persen. 2 buah PP nusantara dan sebuah PP samudera. terutama yang terdiri dari hasil tambak. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 94. Dalam hubungan ini. Meningkatnya produksi budidaya perikanan darat tersebut terutama disebabkan intensifikasi budidaya tambak di samping adanya perluasan arealnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 alat penangkap ikan tradisional te1ah menurun yang menunjukkan te1ah terjadinya pergeseran dan pergantian dari alat-alat penangkapan tradisional ke alat-alat penangkapan yang lebih produktif.300 buah.6 ribu hektar atau suatu kenaikan 1. Bali. telah dibangun saluran tambak di Daerah Istimewa Aceh.4 persen dibandingkan dengan tahun sebe1umnya.

115 7. atau mengalami kenaikan rata-rata 2. 1969 .28.943 200. ekspor hasil-hasil perikanan juga menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan.308 19.373 1.562 1974 32.738 88. ditingkatkan pula peranan yang lebih aktif dari balai benih ikan (BBl).805 ton senilai US $ 244.255 33.875 5.236 359 96 14.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menentukan berhasilnya usaha perikanan budidaya.904 1981 24.754 473 136 13.8 persen per tahun.178 225.867 3. Untuk mengatasi hal tersebut.334 2.1 kg per kapita. Volume dan nilai ekspor hasil ikan dalam tahun 1983 tersebut belum termasuk ekspor uhliruhlir yang berjumlah 4. selain mengandalkan benih dari sumber alam. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 dengan volume ekspor sebesar 61.145 1.750 ton senilai US $ 8.274 17.333 4.6 persen dari seluruh volume. Dalam waktu yang sarna telah dibangun sebanyak 3 unit balai benih udang (BBU) dan 3 unit balai benih udang galah (BBUG). nilai dalam US $ ribu) Ikan segar Katak Ikan hias Lain-lain Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai 2.953 92.355 358 65 12.971 162.387 89.180 ribu.378 3.639 5.768 321 92 9.018 63.934 180.380 57.941 52.389 131.211 13. Dalam waktu yang sama.575 181. maka berarti volume dan nilai ekspornya telah meningkat masing-masing sebesar 35. Dilihat dari segi konsumsinya.640 19833) 26.354 75.705 226.496 12.959 30.378 21.907 7. Selanjutnya untuk tahun 1983.395 7.411 29.809 1973 28.550 ton dengan nilai sebesar US $ 247.154 1.612 4.585 217 98 17.483 1980 31.2 persen dan 1. yang mencapai 29.258 305 54 13.111 1.450 I) Segar dan awetan 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Jumlah Volume Nilai 21.300 255.431 364 114 1 i .827 7S.416 88.156 34.838 1.637 878 1970 7.787 57. Sampai dengan tahun 1983/1984 telah direhabilitasi dan dibangun BBI sebanyak 43 unit.191 54.720 32.387 1.1983 (Volume dalam ton.955 1979 34.121 78.571 1975 25. baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.182 1.721 84.851 2.712 31.106 1.247 169 652 286 104 38 12.827 1982 2) 25.233 1978 32.959 ribu.517 3.778 9.278 1971 15.332 326 28 9 42 20 13.118 892 568 384 103 29 10.188 4.170 194.195 34.868 678 2.980 5. pemasaran hasil ikan ke luar negeri telah mencapai 83.994 41.431 1976 31. Tabel VII. sebagaimana terlihat pada Tabel VII.178 68.187 29.697 1972 23.820 3.510 163.184 399 114 13.655 18.618 249. rata-rata konsumsi ikan segar per kapita per tahun dalam negeri dari tahun 1978 sampai dengan tahun 1983 terus menunjukkan peningkatan. Pada urutan Departemen Keuangan RI 180 . Pemasaran ikan.319 14.026 11.657 7.463 116.325 6.924 350 61 12.774 286 56 14.992 3.505 1.185 54.7 persen per tahun.060 6. Ekspor hasil-hasil perikanan dalam tahun 1983 sebagian besar adalah berupa udang segar dan awetan.4 kg per kapita.823 3.8 persen dan 5.28 VOLUME DAN NILAI EKSPOR HASIL-HASIL PERIKANAN.627 140. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 13.114 29. baik volume maupun nilainya telah mengalami kenaikan.693 1.625 31.991 1977 31.375 8.410 Udang 1) Volume Nilai Tahun 1969 5.344 40.049 5.540 21.050 5.620 161.486 193. sampai dengan tahun 1983 telah menunjukkan peningkatan yang mantap.424 68. yakni masing-masing dengan rata-rata sebesar 6.865 471 867 749 190 37 12.724 2.370 6.648 2.426 2.1 persen dari seluruh nilai ekspor hasil perikanan.750 200 170 24.756 18.0 persen.163 2.316 4.041 2.444 22.286 16. dan 76.600 Ekspor ikan selama Pelita III. Apabila dalam tahun 1978 konsumsi ikan baru mencapai 11.553 2.464 236.420 ribu.852 45.160 3.910 19.810 10.300 8.

Pemerintah melakukan kebijaksanaan barga. Sedangkan penetapan harga batas tertinggi yang dibayar oleh konsumen dimaksudkan agar harga pangan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kedua adalah ekspor ikan segar yang mencapai 38. Penentuan harga yang wajar bagi produsen terutama ditujukan untuk memberikan dorongan kepada petani produsen meningkatkan hasil produksinya. dan kacang hiiau.per kilogram. peningkatan jumlah sarana penyangga. 7. Di samping itu. Sejalan dengan kebijaksanaan yang berorientasi pada harga.. Sehubungan dengan harga dasar gabah/beras dapat dikemukakan bahwa pada awal Pe1ita III harga dasar gabah kering giling di tingkat BUUD/KUD adalah sebesar Rp 85. maka juga ditujukan untuk meningkatkan gizi masyarakat melalui penganekaragaman pola konsumsi pangan masyarakat. Amerika Serikat. Sedangkan khusus harga dasar kacang tanah sejak tahun 1982/1983 telah dihapuskan karena harga kacang tanah di posaran sudah tinggi sehingga tidak perlu lagi ditetapkan harga dasarnya.7 persen dari seluruh nilai ekspor hasil perikanan. Sedangkan negara-negara tujuan utama ekspor hasil perikanan adalah ]epang. Penetapan harga dasar dan harga batas tertinggi tersebut tidak hanya berlaku terhadap bahan pangan pokok beras saja. kedelai. Singapura. antara lain jagung. Negeri Belanda. memperbaiki sarana distribusi dan pemasaran. sehingga konsumsi bahan pangan bukan beras terus meningkat. maka harga dasar gabah/beras tersebut te1ah ditingkatkan sehingga sampai dengan akhir tahun Pe1ita III mencapai sebesar Rp 145. di samping tercukupinya kebutuhan gizi yang sesuai dengan daya beli masyarakat banyak. melainkan juga untuk beberapa jenis palawija. Belgia dan Luxemburg. Untuk itu secara berkala Pemerintah telah menetapkan harga dasar yang diterima oleh petani produsen dan harga batas tertinggi yang dibayar oleh konsumen.4 persen dari volume atau 7. melancarkan penyaluran bahan pangan.5. serta pembangunan gudanggudang pangan di seluruh pelosok tanah air.per kilogram. Hongkong. Pangan dan gizi Pembangunan di bidang pangan dan gizi sampai dengan akhir Pelita III dititikberatkan pada peningkatan penyediaan pangan secara merata. baik bagi kepentingan produsen maupun konsumen. sehingga usaha perbaikan dan peningkatan gizi masyarakat dapat tercapai. memantapkan harga serta memperbaiki pengolahan dan penyimpanan hasil produksi pangan.. Agar petani produsen padi lebih bergairah dalam meningkatkan produksinya. Pemerintah mengusahakan terwujudnya harga pangan yang stabil pada tingkat yang wajar.4. Sehubungan dengan kegiatan tersebut. telah dilakukan peningkatan produksi. Dalam menunjang usaha tersebut. Mulai awal Pebruari Departemen Keuangan RI 181 .

037. terhitung mulai tanggal1 Pebruari 1985 te1ah diputuskan untuk menaikkan lagi harga dasar gabahlberas giling di tingkat BUUD/KUD menjadi Rp 175. Untuk menjamin agar para petani produsen benar-benar dapat menerima harga penjualan hasil produksinya sesuai dengan harga dasar yang telah ditetapkan. jumlah gudang Pemerintah yang te1ah selesai dibangun dan dapat berfungsi mencapai 1.109.. sedangkan sisanya sebanyak 137. atau 85. Dalam tahun 1983/1984 pembelian beras (berupa gabah setara beras) yang berasal dari dalam negeri adalah sebanyak 1.118 buah dengan kapasitas tampung se1uruhnya sebesar 2.8 ribu ton. maka dalam pengadaan gabah/beras te1ah diberikan pula margin tataniaga yang lebih besar dari yang diberikan kepada pihak swasta non KUD. maka sejak tanggal 1 Juni 1983 kepada koperasi diberikan kredit dengan suku bunga rendah. sedangkan Departemen Keuangan RI 182 . Untuk lebih meningkatkan keterkaitan kebijaksanaan pangan dengan koperasi baik di bidang pengadaan maupun penyalurannya. Dari jumlah impor beras dalam tahun 1983/1984 tersebut.2 ribu ton.8 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1983/1984.5 persen dilakukan melalui impor komersial.0 ribu ton atau sebesar 11 persen berasal dari non KUD. Dengan tersedianya gudanggudang penyimpanan tersebut diharapkan pengadaan pangan untuk sarana penyangga dapat berjalan lancar. sedangkan dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus jumlah terse but telah meningkat menjadi sekitar 2. Sampai dengan bulan Juli 1984.0 ribu ton.8 ribu ton.250.4 ribu ton.per kilogram.467.6 ribu ton. te1ah mencapai sebanyak 1.. Selain mendorong perkembangan KUD. Agar persediaan beras berada dalam jumlah yang cukup. yakni sebesar 12 persen per tahun.29).. Jumlah gudang tersebut terdiri atas gudang Bulog baru sebanyak 599 buah dengan kapositas tampung sebanyak 1. Hal ini antara lain terlihat dari pembangunan gudang-gudang pangan Pemerintah di se1uruh pe1osok tanah air. gudang semi permanen sebanyak 430 buah dengan kapositas tampung sebanyak 397.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1984 harga dasar gabah/beras telah ditingkatkan lagi menjadi Rp 165. dan diikutsertakan dalam penyediaan sarana lepas panen: Di samping itu untuk memperkuat daya saing dan membantu pemupukan modal bagi KUD. Demikian pula untuk tahun 1985. maka dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan impor beras sebanyak 1. sebanyak 81. Sebagai perbandingan dapat dikemukakan bahwa pengadaan gabahlberas yang berasal dari kUD dalam tahun 1983/1984.901.210. Pemerintah juga terus memperbaiki sarana distribusi dan pemasaran serta pengolahan dan penyimpanan hasil pertanian pangan.0 ribu ton.per kilogram (Tabel VII. maka pembelian gabah dan hasil palawija dari petani dilaksanakan terutama melalui koperasi unit desa (KUD). dan gudang Bulog lama sebanyak 89 buah dengan kapositas tampung sebanyak 168.6 ribu ton alan sebesar 89 persen dari se1uruh pengadaan gabahlberas dalam negeri.

50 Gabah kering giling di desa 40. Gambaran dari perkembangan harga beras di beberapa kola besar dari tahun 1974/1975 sampai dengan tahun 1983/1984 dapat diikuti melalui Tabel VII.00 1) 175.1985/1986 ( dalam rupiah per kilogram ) Tahun Padai kering Lumbung di desa 30.00 145. Tabel VII.50 64.50 68. maka perkembangan harga beras di posaran umum dapat dikendalikan dalam batas-batas yang wajar.00 85. baik untuk memenuhi kebutuhan pegawai dan karyawan tertentu maupun untuk umum melalui operasi posar.31.60 57.50 52.00 57.00 75.00 51.50 67.00 165.00 66.00 2) 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1985/1986 I) BerIaku mulai I Pebruari 1984 s/d 31 Januari 1985 2) BerIaku mulai 1 Pebruari 1985 Departemen Keuangan RI 183 .30 44.50 54.00 54. Pengendalian harga tersebut antara lain dilakukan melalui penyaluran beras ke seluruh pelosok tanah air. 29 HARGA DASAR PADI DAN GABAH.6 persen lebih rendah dibandingkan dengan penyaluran beras dalam tahun sebelumnya yang mencapai jumlah 2.30.50 70. Secara keseluruhan.00 105. Dengan adanya beras dalam jumlah yang cukup.50 70.00 50.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sisanya dalam rangka bantuan pangallo Pengadaan beras dalam negeri dan impor dapat diikuti melalui Tabel VII.00 Gabah kering lumbung di desa 38.00 74.50 54.30 58.944 ribu ton.00 135. 1974/1975 .00 Padi kering giling di desa 31.00 Gabah kering giling di BUUD/KUD 42.00 42. beras yang disalurkan dalam tahun 1983/1984 adalah 1.00 95.866 ribu ton atau 36.50 71.00 120.

36 113.5 225 230.73 162.6 179.55 85.25 179.53 252 263.2 114.53 128.6 Bulan Agustus September Oktober Nopember 76.57 127.42 242.19 123.68 212.29 301.12 101.77 206.46 81.87 225 304.43 195.55 140.15 121.42 125 124.01 140.34 213.87 75.27 140.64 120.9 125 129.92 84.47 129.3 179.48 241.82 186.67 184.6 247.23 140.58 186.15 260 261 255.1 283.78 184.08 198.53 128.06 257.83 228.57 165.81 77.65 285.15 217.1 95.79 102.09 73.25 164.22 212.75 75.0(1 125.23 208.52 145.03 74.29 247.42 232.9 212.27 178.15 74.63 186.28 128.5 229.45 120.81 201.08 133.7 310.31 HARGA BERAS KUALITAS MENENGAH DI BEBERAPA KOTA BESAR.39 111.03 213.07 110.12 157.51 207.98 123.93 133.43 187.37 107.75 207.41 Mei 77.55 141.75 127.17 215.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII./6 93.19 205.05 76.6 190 223.41 128.15 122.4 197.91 159.84 179.79 Kota Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 JAKARTA 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 BANDUNG 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 SEMARANG 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{19H 1) Angka sementara Desember Januari Pebruari 90.36 285.52 172.37 75 79.26 169.16 128.48 109.36 97.18 91.37 125.49 215.29 185.14 213.13 209.41 200.3 117.99 80.2 133.32 129.45 288.18 231.26 150 185 213.41 156.1 178.58 234.31 210 208.98 115.5 172.5 141.58 123.4 167.19 243.68 202.46 127.6 220 226.28 213.46 213.48 124.7 132.25 184.65 84.02 232.63 280 303.35 126.3 167.66 137.37 231.16 114.13 304.39 203.28 279.71 273.17 230.62 302.44 107.1 212.26 180.73 96.38 222.31 126.05 Tabel VII.03 122.42 87.71 236.01 76.69 109.15 128.6 140.99 120.83 325.82 199.01 181.6 185.42 286.17 132.42 134.7 180.06 180.4 Mei 66.41 180 182.71 133.53 231.6 300.34 120.95 185.13 202.69 117.22 234.68 99.79 146.31 Juli 69.85 206.42 131.59 Bulan Agustus September Oktober 68.88 230.72 257.2 211.98 104.72 146.19 90.51 280 300 Departemen Keuangan RI 184 .32 85.16 264.5 180 199.11 134.17 196.06 125.83 291.48 120.56 228.59 267.41 213.56 213.33 Juli 76.55 199.99 122.28 257.87 126.76 212.11 199.62 223.12 124 126.78 Maret 99.43 124.29 283.77 135.5 169.9 189.1 183 198.08 124 124.54 235.43 156.1983/1984 ( dalam rupiah per kilogram) April 84.5 167.98 211.5 226 227.16 117.5 226.57 252.62 112.54 Juni 76.41 172.84 133.32 90.OO 235.25 135 134.69 288.6 125 145 172.9 124.08 75.53 186.69 268.49 121.8 234.19 245.64 225 222.59 127.77 Pebruari 79.55 128.93 128.69 148.42 131.29 93.61 127.25 297.32 297.15 250.2 178 182.56 144.27 90.46 239.81 115.58 126.41 202.94 214.51 183.48 132.66 221.28 133 150 185.65 117.9 88.01 130.97 136.87 178.88 72.52 225.15 205.48 128.1 183.04 313.12 144.15 140.99 255.8 119.46 199.36 107.27 169.69 111. 1974/1975 .8 201.61 124 124.7 179.97 111.03 216.56 215.52 119.87 77.54 134.2 212.42 320.65 144.02 215.5 123.22 90.6 153.69 206.31 176.16 269.03 118.58 187.5 252.86 285.5 283.39 292.9 127.85 338.72 221.46 86.8 126.66 324.67 120 120 127.66 145.9 225.18 118.00 148.82 125 127.83 198.6 116.94 154.07 128.18 124.31 119.94 283.5 261.3 115.41 172.46 268.36 277.6 85.91 135.14 125.71 122.87 111.3 153.58 138.35 178.72 120.42 215.88 130.86 128.31 216.88 115.08 152.68 124.33 180 180.8 77.9 151).32 299.11 97.04 295.80 126.94 91.06 253.07 101.39 141.31 212.34 124.25 138.69 144.81 212.25 120.36 253.68 125.91 174.71 198.59 91.75 101.97 178.04 80.98 200 210.03 209.4 Maret 80.75 121.38 230.72 180.36 135.62 334.33 175 179.31 127.86 254.33 189.35 322.4 128.78 202.21 74.76 85.96 125.07 121.38 217.61 175.23 292.92 178.59 132.53 318.6 125.59 196.58 89.52 11 7.56 188.03 124.08 92.64 96.35 86.96 275 271.24 184.1:3 171.17 109.69 129.36 120.22 125.36 259.68 122.48 180.77 334.1 315 363.9'! 193.28 234.14 131.34 108.81 93.23 195.43 228.66 128.18 125 125 126.96 197.02 129.52 207.63 124.31 ( lanjutan) Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 YOGYAK 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 SURABAY 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 MEDAN 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982'/1983 1983/1984 1) Angka sementara Kota April 66.88 71.77 202.18 144.83 Juni 66.02 221.9 140.53 141.54 128.18 85.48 230.74 132.66 203.96 259.92 180.85 109.98 290.46 167.64 218.63 256.53 286.5 199.1 212.32 97.94 244.59 111.58 73.53 289.65 68.78 125.16 321.76 130.05 125.55 183.18 114.66 212.17 162.02 103.2 132.54 161.47 90 123.15 204.288.88 139.5 123.42 144.34 280.96 281.81 136.71 124.04 209.96 165.48 220.02 129.57 245.19 88.03 313.79 132.76 200.36 128.99 233.52 274.53 296.91 121.43 128.91 189.15 125 122.73 221.72 136.88 96.55 159.81 200 191.85 125.64 125.78 139.74 85.25 118.88 82.53 172.84 229.88 127.21 172.63 217.37 67.73 318.38 183.3 181.9 111.56 125.79 123.59 233.33 125 125 125 134.25 126.99 185.04 211.72 185.19 112.92 139.22 109.46 216.OG 125 125 125 135 133.62 270.17 108.64 224.88 126.12 139.12 125.64 184.61 180 194.2 Nopember Dcsember Januari 77.66 125 146.46 139.81 211.85 184.28 230.36 285.96 69 83.86 119.83 130 137.64 133.53 120.24 125 125.7 211.56 208.42 171.96 252.37 195.48 129.63 96.34 194.88 230.51 77.83 75.67 233.46 177.15 123.35 280 315 315 310.32 190.72 122.9 90.97 84.59 134.98 120 145 172.72 107.5 143.1 184.6 208.02 137.12 247.1 75.06 85.39 .19 274.13 236.93 175.25 116.15 181.28 230.84 125.65 109.56 144.12 108.13 130.11 132.28 125.46 243.74 76.78 142.17 317.04 74.6 187.22 88.78 218.76 114.5 102.57 190.31 245.4 172.71 126.79 146.77 95.4 93.87 125.2 135.21 123.78 86.36 232.22 181.56 243.6 189.13 125.18 125.96 232.5 132.95 134.8 234.5 279.5 197.87 75.83 110.91 262.93 241.19 139.74 224.98 313.87 206.32 140.63 118.56 185 195.28 90.36 285.37 224.91 194.19 121.68 312.87 133.81 121.92 319.71 128.09 116.76 75.

1 182.08 126.2 265.28 142.12 120 115 127.69 102.47 147.31 75 88.54 180 194.83 229.91 145.43 131. Dari jumlah impor gandum dalam tahun 1983/1984 tersebut.24 349.8 97.78 111.43 180.54 225 270 Juli 112.23 142.5 186.4 220.5 115 119.5 149.88 106.11 140 185 206.28 112.75 131.31 232.51 206.19 122.68 131.45 120 123.67 128.29 270 270 274.66 297.31 312.46 125 148.11 94.5 127.2 134.58 125. Dalam hal penyuluhan gizi.43 242.39 157.6 persen lebih banyak dibandingkan dengan impor dalam tahun 1982/1983 yang sebanyak 1.17 205.34 151.1 297 106.42 303.65 312.58 298.31 316.46 175.60 126.33 170.19 242.39 121.25 88.66 256.44 90 120 109 125 156.1 118.1 297 106.65 147.04: 142.59 142.46 185.86 142.4 89.21 145.87 184. 89.52 298.79 132.67 265.25 132 155 201.09 195 196.53 142.79 239.91 246.26 146.13 179.01 197.83 242.94 155.08 299.66 239.74 208.64 206.1 297 106.05 127.31 221.19 230 226. serta penanggulangan kekurangan vitamin A dan zat besi.64 205.25 103.07 225 270 Maret 105.33 77.4 115 126 140 185 200 255 273.32 126.6 164.85 139.41 260.68 221.11 294.95 220.34 187 209.69 275.23 105.37 211. perluasan jangkauan UPGK sampai ke pelosok tanah air.61 239.2 247.25 131.16 137.72 178.5 125 125 110 110 110.19 183.29 130.69 90.69 Juni 115.98 250.66 230.91 121.53 124.82 130.27 242.11 189.29 90 97.51 205.65 299.648 ribu ton atau sebesar 89.31 75 92.2 132.26 105.31 221.58 118.91 312. Selanjutnya kegiatan fortifikasi bahan pangan. Upaya-upaya tersebut telah mulai dilaksanakan di daerah-daerah pemanduan Departemen Keuangan RI 185 .52 78.86 141.08 115 120 120 120 120.04 225 229 234.31 293. UPGK dan usaha-usaha khusus lainnya.2 275. masing-masing diwujudkan melalui peningkatan jumlah produksi garam beryodium.04 152.79 318.69 168.77 173.76 99.25 133.58 131.07 125 121.34 151.95 205.13 130.5 122.96 11 7 .7 125.6 Kota PALEMBANG BANJARMASIN UJUNG Tahun 1974{1975 19750976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1977 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1970{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 April 116.1 152.15 200 207.25 134.2 110.62 191.38 129. Usaha-usaha lain yang telah dilakukan dalam rangka perbaikan gizi masyarakat antara lain ditempuh melalui penyuluhan.46 97.4 96.25 87.56 119. dan ditambah lagi dengan sebanyak 118 ribu ton dari sisa stok tahun sebelumnya.08 217.61 215 215 231. dan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG).23 107.05 215 229.83 115.96 186 216.8 120..58 134.6 115 113.38 185 200 225 273.04 183.99 227.10 198.99 92.55 323.73 .2 181 185 185 180 180 182.95 113.03 100 95. Sedangkan dalam hal SKPG.98 209.722 ribu ton atau 10.66 266.13 121.12 206.44 101.03 185 190.8 125 130.6 Mei 112.15 225 276.25 200 200 202 206.76 157.66 133.99 229.5 277.81 1) Angka sementara Dalam rangka penganekaragarnan konsumsi masyarakat agar tidak hanya tergantung pada beras.24 297.82 131.06 92. usaha-usaha khusus lainnya.71 164.61 75 79.1 139.5 89.31 89.95 120.48 242.26 216.47 242. Dalam hubungan ini maka dalam tahun 1983/1984 telah diimpor gandum sebanyak 1.39 133.21 133.6 persen.2 142.4 275 285.23 146.2 219.36 152.36 181.33 142.26 186. usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK).44 142.06 151.91 308.32 337.14 132.77 297.09 226.79 101.92 83.47 132.27 238.92 332.25 94.91 312.61 226.71 228 239.83 165 165 174. serta untuk meningkatkan gizi masyarakat.65 333.83 173.99 132.5 96 107.12 164.68 183.77 142.46 187.46 242.87 95.39 160.6 205.92 130.12 335 334.42 130.5 112. pada akhir Pelita III telah dikembangkan suatu sistem untuk mencegah terjadinya krisis pangan yang antara lain sebagai akibat daripada bencana alam dan musim kering yang berkepanjangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.91 242. 31 ( lanjutan) Bu1an Oktober Nopember Desember Januari Pebruari Agustus September 112.96 185.45 158.2 130 131.32 106. fortifikasi bahan raTIgan.22 356.13 152.6 180.1 247.31 221.69 195 231.41 185.62 139. telah dilaksanakan pula pengadaan dan penyaluran tepung terigu yang bahan bakunya berupa gandum yang diperoleh dari impor.06 85.25 147.41 97. telah dapat disalurkan kepada masyarakat sebanyak 1.91 268.75 125 127.91 312.75 121.01 109.05 100.02 106.67 273.2 133. khususnya masyarakat petani produsen telah diarahkan untuk meningkatkan intensifikasi tanaman palawija di tanah kering dan penganekaragaman usaha pertanian dengan cara tumpangsari antara jenis tanaman kacangkacangan dengan sayur-sayuran.92 11 7 .557 ribu ton.55 214.25 239.95 90.73 142.12 297.77 200 206.

1. serta sarana penunjang.5 ribu hektar dan 36. pendidikan dan latihan. Inventarisasi dan tataguna hutan Kegiatan di bidang inventarisasi hutan yang telah dicapai selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV.5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 seperti Lombok Tengah di NTB. Dari hasil survai tersebut telah diperoleh potret kawasan hutan sebanyak 22. reboisasi.000. serta pengawetan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.400 kilometer. Selain itu juga ditujukan pada pengusahaan sumberdaya bulan. pekalongan. hutan pendidikan dan hutan penelitian. antara lain meliputi survai udara. Dalam tahun 1983/1984.726 lembar dengan skala 1:100. Hasil kegiatan tersebut baru sebesar 21. daD dimanfaatkan guna meningkatkan kesejahteraan rakyat secara optimal.3 persen dari seluruh panjang batas kawasan Departemen Keuangan RI 186 . 7. pencegah erosi. 7. pengawet dan pelestari alam.1. sehingga akan tetap bermanfaat bagi generasi yang akan datang. lapangan dan penggunaan jasa satelit. Dalam Repelita IV pembangunan di bidang kehutanan ditujukan dan dilaksanakan melalui Sapta Karya Pembangunan Kehutanan.060 ribu hektar. pelindung. yang ditempuh melalui berbagai kegiatan antara lain meliputi pelestarian.5. maka sejak Pelita I sampai dengan Pelita III telah berhasil dibuat tatabatas kawasan hutan sepanjang 31. Sasaran pembangunan di bidang kehutanan diharapkan dapat terwujud melalui peningkatan inventarisasi dan tataguna bulan. tanah dan air yang kritis sehingga dapat memenuhi fungsinya secara maksimal sebagai produsen. kegiatan SKPG telah dikembangkan lagi ke daerah Lombok Timur. yang meliputi peningkatan produksi hutan berupa kayu dan hasil hutan ikutan. Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur. Karang Asem di Bali dan Boyolali di Jawa Tengah. pengawasan dan pendayagunaan aparatur. masing-masing meliputi areal kawasan hutan seluas 5. penghijauan dan rehabilitasi lahan serta pengusahaan hutan.977. serta sebagai penunjang peningkatan so sial. harus dilindungi kelestariannya. perlindungan. melalui pemulihan kemampuan dan produktivitas sumberdaya bulan. pengatur tata air.029 ribu hektar. Hal tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan keseimbangan dan kelestariannya. Kehutanan Hutan sebagai sumber kekayaan alam dan merupakan salah satu unsur pertahanan nasional. Untuk itu terus dilakukan kegiatan rehabilitasi sumberdaya alam. Sementara itu dalam rangka penataan batas kawasan hutan yang terdiri alas hutan lindung. perlindungan dan pelestarian alam. Di samping itu juga dilakukan peningkatan bidang-bidang lain seperti penelitian dan pengembangan.

peta lalit. Sementara itu pemetaan yang mempunyai peranan penting di bidang kehutanan. Sedangkan untuk kegiatan pendataan kehutanan yang meliputi pengumpulan data dan pengolahannya. Jenis peta dasar yang telah selesai dibuat antara lain berupa peta topografi. Dalam waktu yang sarna. Sebagai sarana penunjang telah dibangun balai inventarisasi dan pemetaan bulan. Sejak tahun 1981 sampai dengan bulan Agustus 1984.5. sejak tahun 1981 sampai dengan bulan Juni 1984 telah dilaksanakan tatabatas dalam rangka pengukuhan areal reboisasi pada bekas tanah negara bebas.317. hutan produksi bebas seluas 25. peta ketinggian dan peta thematic. informasi dan menjaga konsistensi data. maka dalam tahun pertama Repelita IV telah dapat diwujudkan suatu sistem informasi yang dipusatkan pada suatu basis data dan sistem informasi. peta geologi.891. di samping juga akan memudahkan pelayanan. melalui pendidikan tenaga ukur. pengamanan dan penyimpanan data. 87 orang dan 176 orang. sampai dengan bulan Juni 1984 telah dapat memenuhi semua kebutuhan peta dasarnya. peta JOG Qoint Operation Graffic Ground). Sampai dengan bulan Juni 1984 telah dapat disusun dan diselesaikan pola tataguna hutan kesepakatan (TGHK) di 19 propinsi di luar pulau Jawa.2 ribu hektar.0 ribu hektar.000 kilometer. masing-masing sebanyak 10 balai dan 31 sub balai. hutan suaka alam dan hutan wisata seluas 15.2. yang mencakup areal seluas 260.905. Sejalan dengan kegiatan tersebut. berikut sub balainya. 7. Dari hasil TGHK tersebut telah dapat diidentifikasikan luas areal hutan di Indonesia sekitar 147 juta hektar.4 ribu hektar.5 ribu hektar. sehingga diharapkan tidak terjadi tumpang tindih dalam pengumpulan. Dalam rangka peningkatan penyempurnaan aparatur dan sarana penunjang telah dilakukan peningkatan aparatur pelaksana inventarisasi dan tataguna bulan. peta TPC (Tactical Pilotage Chart). jumlah tenaga juru ukur.8 ribu hektar dan hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 24. juga telah berhasil dicapai pengukuhan dan penatagunaan hutan lindung seluas 24. pengolahan. masing-masing telah berjumlah 604 orang. peta land-use. tenaga gambar dan tenaga penafsir potret udara. peta daerah aliran sungai (DAS) di 27 propinsi. Dalam rangka pengelolaan hutan yang meliputi peningkatan pembinaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.939. maka diperlukan adanya tataguna hutan. perlindungan hutan dan pelestarian alam Pada hakekatnya perlindungan hutan dan pelestarian alam dalam rangka konservasi Departemen Keuangan RI 187 . hutan produksi terbatas seluas 22.569.4 ribu hektar. peta tanah. juru gambar dan tenaga penafsir potret udara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hutan yang diperkirakan sepanjang 147.

Selama Pelita III. pengelolaan hutan lindung. Guna menunjang berbagai kegiatan tersebut. Dalam rangka menunjang pelestarian jenis-jenis satwa yang tidak dilindungi. selain sebagai obyek olah raga dan wisata. Sejalan dengan kegiatan tersebut. serta pengamanan terhadap daerah pengungsian dan daerah perlindungan satwa baik di darat maupun di laut. taman baru seluas 326. keanekaragaman dan keunikan jenis flora dan fauna. pembinaan wisata alam.784.4 ribu hektar. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap populasi jenis satwa langka. dengan jumlah koleksi sebanyak 500 jenis satwa.3 hektar. dan taman laut seluas 8. burung muho di Sulawesi Utara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Sedangkan konservasi di luar kawasan bulan. gejala alam. maka selama Pelita III telah dilakukan penunjukan atau penetapan suaka alam dan hutan wisata yang mencapai 12. sumber plasma nutfah. antara lain berupa rehabilitasi orang hutan di Tanjung Puting (Kalimantan Tengah) dan Bahorok (Sumatera Utara).076. hutan wisata dan taman nasional sebagai model ekosistem. penetapan sebanyak 521 jenis satwa dan 36 jenis flora yang dilindungi peraturan perundang-undangan. monitoring dampak lingkungan serta kegiatan pengamanan hutan. antara lain telah dilakukan studi dan inventarisasi flora dan fauna di 20 lokasi yang mencakup kawasan seluas 2. ditingkatkan pula pembinaan dan pengembangan kebun binatang dan oceanorium di 21 lokasi.8 ribu hektar. baik kualitas maupun kuantitasnya. suaka margasatwa seluas 4. Sedangkan upaya konservasinya dilakukan melalui pembinaan dan pengembangan taman nasional.2 ribu hektar dan tersebar pada 306 lokasi diseluruh Indonesia. antara lain meliputi pengembangan taman nasional. Suaka alam dan hutan wisata tersebut terdiri atas hutan cagar alam seluas 6. serta keindahan alam. taman wisata seluas 172.1 juta hektar. serta inventarisasi sebanyak 20 jenis kekayaan laut.4 ribu hektar. baik di daratan maupun di perairan. ditujukan untuk menjaga keberadaan plasma nutfah dan kelestarian potensi sumberdaya alam beserta ekosistemnya dari kemungkinan bahaya kerusakan dan penurunan. burung jalak di Bali Barat. melalui penetapan 11 lokasi taman baru. gajah di pinggiran Air Sugihan (Sumatera Selatan).4 ribu hektar. dan rusa di pulau Bawean. Usaha perlindungan hutan dan pelestarian alam dilaksanakan melalui beberapa kelompok kegiatan. Konservasi kawasan hutan antara lain ditempuh melalui kegiatan pengalokasian. di samping juga melalui kegiatan yang berorientasi pada masalah botani. yang tersebar di 5 lokasi. pembinaan pencinta alam. yang selama Pelita III telah berhasil mencapai 16 lokasi Departemen Keuangan RI 188 .784. pengelolaan dan pembinaan hutan suaka alam. di mana 50 jenis di antaranya termasuk jenis satwa yang dilindungi. Riau dan Sumatera Utara. antara lain ditempuh melalui inventarisasi dan identifikasi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar yang populasinya diancam kepunahan. maka telah ditingkatkan penertiban perburuan.

tanah dan air.400 hektar menjadi 186.626.1 ribu ekor. serta 169 orang petugas khusus penghijauan. bimbingan dan pendidikan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap wisata alam.8 persen.432 orang petugas lapangan penghijauan dan reboisasi. Reboisasi. baik untuk kepentingan konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. Bila dibandingkan dengan tahun 1982/1983 dengan nilai ekspor sebesar US $ 4.5 ribu hektar. antara lain dengan dipekerjakannya sebanyak 7. Dalam pada itu sejalan dengan upaya-upaya dalam bidang perlindungan hutan dan pelestarian alam. berarti masing-masing telah meningkat sebesar 21. gunung Tengger-Semeru.434 hektar. Ujung Kulon. yaitu di gunung Kerinci. Dalam rangka pembinaan populasi satwa liar. selain dilakukan usaha pemanfaatan juga tetap diperhatikan kelestariannya melalui pengurangan populasi yang telah melampaui keseimbangan ekosistemnya.3. Hal ini dimaksudkan untuk mengimbangi kerusakan kawasan hutan sebagai akibat dari perladangan berpindah.2 ribu ekor. maka dalam rangka reboisasi lahan kritis juga telah dilakukan persiapan-persiapan kearah pembangunan Departemen Keuangan RI 189 . Untuk itu selama Pelita III telah diadakan penyuluhan. gunung Baluran dan pulau Komodo. maka setiap tahunnya terus ditingkatkan kegiatan di bidang reboisasi. 5 lokasi di antaranya telah ditetapkan pada tanggal16 Maret 1980 bertepatan dengan dicanangkannya World Conservation Strategy.688. gunung Gede-Pangrango. yaitu dari 118. Kepulauan Seribu. serta Lore Lindu-Manusela telah ditetapkan pada tanggal14 Oktober 1982. gunung Seblat. hasil reboisasi dalam tahun 1983/1984 telah meningkat sebesar 57.884. Dan kegiatan yang telah dilakukan tersebut. Bukit Barisan Selatan. Dumoga Bone. yang berasal dari berbagai jenis satwa liar sebanyak 1. daerah Kutai. bertepatan dengan Kongres Taman Nasional Sedunia ke III di Bali. penghijauan dan rehabilitasi lahan Dalam rangka pelaksanaan program penyelamatan hutan.5 persen dan 36. kebakaran hutan dan penggembalaan ternak secara liar.3 ribu. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 realisasinya telah mencapai 75. yaitu di gunung Leuser.934. gunung MeruBetiri. Sedangkan 11 lokasi lainnya.3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bali Barat. Oleh karena itu dalam tahun 1983/1984 berbagai usaha penunjang telah dilaksanakan. penggarapan lahan yang keliru. Dari 16lokasi tersebut.32).300 hektar (Tabel VII.3 ribu yang berasal dari 1. Tanjung Puling.5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan luas areal seluruhnya 4. Sumbangan devisa dari ekspor satwa liar dalam tahun 1983/1984 mencapai US $5. Di samping kegiatan-kegiatan tersebut. penghijauan dan rehabilitasi lahan. 7.234. pembinaan terhadap pencinta alam juga dilaksanakan dan ditingkatkan.

576 hektar. maka dilakukan upaya pemukiman kembali bagi para peladang berpindah untuk mencegah rusaknya sumberdaya alam berupa hutan. seperti halnya reboisasi dilakukan melalui dana Inpres bantuan penghijauan dan reboisasi. maka selama Pelita III realisasi kegiatan penghijauan secara keseluruhan telah meningkat sebesar 44. Sedangkan dalam rangka pengembangan dan pembenihan. menjadi 525.360 hektar per tahun. serta pembuatan petak percontohan penghijauan sebanyak 2. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni I 1984 juga telah berhasil dilakukan penghijauan seluas 311. Di samping itu dilakukan juga pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu. yaitu dari rata-rata seluas 364. sampai dengan tahun 1982/1983 telah dilaksanakan pemukiman kembali terhadap para peladang berpindah sebanyak 6. melalui metoda sipil teknis telah berhasil clibangun sebanyak 2. Pusat Pemulihan Pohon di Yogyakarta dan Unit Pengembangan Teknologi Persemaian di Benahat. yang sarna dengan luas kawasan penghijauan seluas 579.753 unit yang masing-masing luasnya antara 10 sampai 20 hektar.400 hektar per tahun. yang pelaksanaannya dilakukan baik di dalam maupun di luar kawasan hutan.390 unit checkdam.2 persen bila dibandingkan dengan Pelita II. Sedangkan melalui metoda vegetatif telah berhasil dibuat kebun rakyat seluas 1. selama Pelita III telah dibangun somber benih seluas 4. Dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut dilakukan melalui metoda sipil teknis. antara lain berupa studi-studi dan penyiapan rencana pengembangannya pada areal seluas 720. antara lain telah dilakukan pengembangan teknologi benih dan pemulihan jenis pohon.600 hektar. Sejak tahun 1976/1977 kegiatan penghijauan.500 hektar.210 KK. Sumatera Selatan. yang tersebar di 15 propinsi. Dalam hubungan ini.000 hektar. serta penyuluhan guna peningkatan partisiposi masyarakat dalam pemeliharaan kelestarian sumberdaya alam. Departemen Keuangan RI 190 . pembuatan beras dan saluran air seluas 184. Dari hasil-hasil yang telah dicapai tersebut.262 kepala keluarga (KK). yang kemudian ditingkatkan lagi dalam tahun 1983/1984 menjadi 7.613. yaitu kegiatan yang dikaitkan dengan pernbangunan irigasi.6 ribu hektar. dan untuk menunjang kegiatan tersebut telah dibangun Pusat Teknologi Benih di Bogor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hutan jenis kayu indah dan langka. dan dengan metoda vegetatif yang antara lain dilakukan melalui pembuatan kebun-kebun rakyat. Selama Pelita III. Dalam rangka kegiatan rehabilitasi lahan. Sehubungan dengan itu.000 hektar.

5. sampai dengan akhir bulan Maret 1984 telah dilakukan pengusahaan hutan sebanyak 520 unit dengan areal konsesi seluas 52.000 118.148 276.4.802 70.999. 32 AREAL PENGHIJAUAN DAN REBOISASI.434 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.219.Perusahaan yang merupakan usaha nasional 2.400 558.1984 ( dalam hektar ) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 2) Penghijauan 149.544 213.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. 1969 . yang pengusahaannya di luar Jawa selain dilakukan oleh Perum Perhutani juga dilaksanakan oleh pemegang hak pengusahaan hutan (HPH).681 102.5 7.5 juta (Tabel VII.7 126.3 8.855 104.500 149.578 98.000 311.700 147.174 35.600 610.Peruasahaah dalam rangka PMA Jumlah perusahaan yang telah memperoleh HPH 1) Angka sementara Jumlah (unit) 457 61 2 520 Luas areal (ribu ha) 45.1 240.100 501. dari 520 Departemen Keuangan RI 191 . 33 PENGUSAHAAN HUTAN SAMPAI DENGAN MARET 1984 1) Jenis dan sifat usaha 1.900 378.991 578.259 107.Perusahaan patungan 3.000 Reboisasi 33.300 1) 75.000 179.650 53.682 89.118 35.315 22.689 665.658 170.402 50.0 52. Apabila ditinjau dari status dan sumber permodalannya.543 204.9 7.33).032.219.400 186.9 juta hektar dan investasi yang ditanam senilai US $ 2. Pengusahaan hutan Berdasarkan tataguna hutan kesepakatan luas kawasan hutan produksi di Indonesia adalah sekitar 70 juta hektar.623 302.971.1 2.697 632. Dalam hubungan ini.840.6 Investasi ( US$ juta) 1.

240 21.3 961.2 725.424 7.986 9.5 583.3 juta.204 meterkubik.980 45.313 ribu meterkubik atau sebesar 25.120 17.427 18.3 26 1970 568 11.981 78.968 13.3 juta.323 13.521 86.596 44.1 juta.1 juta.065 19.6 1972 597 17.035.6 1976 480 20. produksinya telah mencapai sebesar 1.701 16.3 385 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 192 .6 1971 770 12. Walaupun produksi kayu da\am tahun 1983 telah menurun.660 23.425 52.8 1.6 juta. Jumlah tersebut apabila dibandingkan dengan tahun 1982 yang telah mencapai sebesar 13.971.800 19.781 26. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Maret 1984.740 14.4 1978 475 25. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 6.123 76. Sedangkan selebihnya sebanyak 61 unit merupakan perusahaan patungan dan 2 unit lagi berupa penisahaan asing dalam rangka PMA.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 unit perusahaan yang telah memperoleh HPH tersebut.4 230.7 1975 595 15. yang terdiri atas 754 ribu meterkubik kayu rimba dan 450 ribu meterkubik kayu jati.856 12.1984 Produksi (ribu m3) Ekspor Volume % Nilai Kayu Kayu jati rimba Tahun J umIah (ribu m3 produksi (US$juta) 1969 520 7.015 5. Tabel VII. namun hasil volume dan nilai ekspornya telah meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal tersebut disebabkan terutama karena adanya kebijaksanaan untuk mengurangi secara bertahap ekspor kayu bulat guna lebih mendorong industri pengolahan kayu dalam negeri.786.921 85.613 ribu meterkubik senilai US $ 891.008.4 501.954 8.806 86. dan 716 ribu meterkubik kayu jati.717 13.2 891.613 68. sebanyak 457 unit di antaranya adalah perusahaan nasional dengan areal pengusahaan seluas 45.327 65.760 78.124 25.1 juta hektar dan US $ 8.490 25.488 75.256 20.107 3.8 juta hektar dan US $ 240.939 19.204 2.980 ribu meterkubik senilai US $ 849.70 1979 575 24.60 1980 500 21.2 1.9 849.4 783. hasil produksi kayu dalam tahun 1983 berjumlah sebesar 9.986 ribu meter kubik kayu rimba.412 59.0 juta hektar dan investasi senilai US $ 1. 1969 . Sejalan dengan pengaturan melalui HPH.262 65.6 100.610 74.6 1983 1) 716 8. Dalam tahun 1982 volume dan nilai ekspor kayu yang terdiri atas kayu rimba dan kayu jati baru sebanyak 5. serta 0.9 1974 620 22.448 79. Luas areal hutan dan besarnya investasi yang ditanam oleh kedua jenis perusahaan tersebut masingmasing adalah 7. 34 PRODUKSI DAN EKSPOR KAYU.702 ribu meterkubik yang terdiri atas 8.280 18.4 persen.7 1973 676 25.587 8.296 13.8 1977 573 22.9 1.702 6.376 15.366 22.805.3 168.015 ribu meter kubik.947 21. berarti mengalami penurunan sebesar 3.40 1982 692 12.2 1.738 10.70 1981 578 15.3 1984 2) 450 754 1.

35. Jenis kayu tersebut antara lain adalah kayu meranti.9 4 2.7 19831) 70.9 13.3 0.5 Tahun Meranti 1970 68.2 persen dalam tahun 1983. Dilihat dari sudut permintaan.3 1.0 juta meterkubik.1983 Kapur/ keruing 1. Oleh karena itu guna mencegah kemungkinan melemahnya ekspor kayu di posaran internasional. yaitu dari 58.4 11.7 2.4 1.6 0.9 8.4 1978 66 1979 58. yang sampai dengan bulan Maret 1984 jumlahnya telah mencapai 412 unit dengan kapositas produksi sebanyak 11.6 persen dan 4. 2. agatbis.2 26.2 1.5 3.6 21.5 1977 63.6 11.7 1.9 6 3 2.7 2 1.2 10.1 10.2 1) Angka sementara Ramin 9.2 2.7 5.7 13 14.3 1975 68 1976 64.1 1982 56.5 3. antara lain telah dilakukan diversifikasi komoditi dan pemasarannya melalui pengembangan pemasaran ekspor hasil olahan/industri dan perluasan negara tujuan ekspor.9 0.9 3.1 0.2 0.9 juta meterkubik.9 persen.8 11.9 persen dan 0.9 persen.9 5.2 0.2 1 2.7 0. agatbis dan jati peranannya telah meningkat masingmasing dari 3. perkembangan volume dan nilai ekspor kayu dapat diikuti melalui Tabel VII.3 0.1 1. 35 JENIS-JENIS KAYU DALAM PERSENTASE DARIPADA VOLUME EKSPOR KAYU.2 persen menjadi 14. 1.8 5 6 6.2 0.34.1 0.6 Aglutis 5.9 1. Departemen Keuangan RI 193 .1 6.9 1980 57. sejak lima tahun terakhir jenis kayu meranti merupakan bagian terbesar dalam komposisi ekspor kayu Indonesia. 1970 .6 14.7 Jati 0.9 10 10.6 persen.3 10.4 4.s 5.4 13.9 2. Sebagaimana terlihat Facia Tabel VII.6 21 19.9 8. dalam waktu yang sarna telah berjumiah sebanyak 162 unit dengan kapositas produksi sebanyak 8.4 0.8 2. ramin.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.8 1. pulai dan jati.9 1.8 Pulai Lain-lain 13.4 11.7 10.8 persen.8 0.5 Jumlah 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Hal ini berarti telah terjadi peningkatan volume dan nilai ekspor masing-masing sebesar 10.1 22.5 1971 62.2 0.7 10. kruing.8 2.7 1973 58 1974 64.7 1.4 0.3 0.9 persen dalam tahun 1979 meningkat menjadi 70.7 2.8 14. Sedangkan jumlah industri kayu lapis.7 1972 62.8 1981 54.7 persen dan 0.6 23. Walaupun jenis-jenis kayu tersebut pemasarannya ke luar negeri telah mantap.8 3. namun beberapa jenis kayu lainnya masih harus dikembangkan dan dipromosikan agar dapat memasuki posaran dunia. Akibat positif daripada kebijaksanaan tersebut ditandai dengan berkembangnya industri kayu gergajian dan kayu lapis di dalam negeri.2 14. beberapa jenis kayu dari Indonesia cukup dikenal dan mempunyai posaran yang mantap di luar negeri. Demikian pula jenis kayu ramin.6 0.2 0.

yang terdiri dari 477.7 juta barrel berupa kondensat. baik untuk keperluan ekspor maupun guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri di dalam negeri.0 juta barrel. khususnya di sektor minyak dan gas bumi.7 persen apabila dibandingkan dengan produksi tahun keempat Pelita III yang berjumlah 459. Dengan hasil-hasil terse but Indonesia telah dapat mengurangi ketergantungannya terhaclap impor bahan bakar minyak (BBM). Namun demikian produksi beberapa bahan tambang masih menunjukkan peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II. dan selebihnya sebanyak 39. maka perkembangan produksi minyak bumi menjadi kurang Departemen Keuangan RI 194 . yang tercermin dari pembatasan produksi minyak bumi sebagaimana telah disepakati oleh negara-negara penghasil minyak OPEC dan pernbatasan ekspor timah dari Dewan Timah Internasional terhadap anggota-anggotanya. LNG dan LPG (liquified petroleum gas).1. Jumlah terse but menunjukkan peningkatan sebesar 12. 7. serta pengembangan teknologi pertambangan yang mencakup pula pengolahannya. Minyak dan gas bumi Hasil produksi minyak bumi dalam tahun kelima Pelita III mencapai 517.6. Sampai dengan tahun terakhir Pelita III telah dapat diselesaikan perluasan kilang minyak Cilacap serta pembangunan unit hydro cracker di Dumai dan di Balikpapan dalam rangka pemehuhan BBM dalam negeri. perkembangan yang paling menonjol di sektor pertambangan antara lain ditandai oleh keberhasilan dalam meningkatkan produksi batu bara. sebagai langkah persiapan menuju pengembangan dan pemanfaatan batU bara secara besar-besaran di masa datang. Upaya-upaya tersebut selain dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan dan peningkatan produksi.6 juta barrel. Dengan melemahnya posaran minyak dunia akhir-akhir ini dan pembatasan produksi yang disepakati oleh para anggota OPEC sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan tingkat harga yang kini berlaku. Selama Pelita III. di sam ping perluasan kilang LNG (liquified natural gas) Arun dan kilang LNG Badak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. juga ditujukan untuk penganekaragaman hasil-hasil pertambangan. walaupun dalam kurun waktu tersebut hampir seluruh komoditi tambang yang diekspor mengalami kesulitan pemasaran.9 juta barrel minyak mentah. Pertambangan dan energi Selama Pelita III. Perekonomian dunia yang tidak menentu bagi Indonesia merupakan hambatan utama dalam mencapai peningkatan produksi bahan-bahan tambang utama. Sehubungan dengan itu telah dilakukan upaya-upaya antara lain berupa pengembangan inventarisasi dan eksploitasi berbagai sumberdaya mineral dan energi. peranan bidang pertambangan dan energi masih tetap besar dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia.6.

Dalam hubungan ini selama Pelita III khususnya dalam tahun 1983/1984 telah ditingkatkan kapositas pengilangan minyak di kilang Balikpapan dan Cilacap.36). dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan menurun hila dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II. Sementara itu meningkatnya kebutUhan terhadap BBM dalam negeri telah diimbangi dengan pengadaan dan peningkatan produksi BBM yang berasal dari kilang minyak dalam negeri.1 juta barrel atau sebesar 22. Di samping itu juga dilakukan pembangunan unit hydrocracker kilang Dumai. Sedangkan volume ekspornya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sekitar 215 juta barrel.1 juta barrel (Tabel VII. Dengan ditingkatkannya kapositas pengilangan di dalam negeri tersebUt. dan pemboran sebanyak 141 sumur minyak. Realisasi ekspor minyak bumi Indonesia selama Pelita III. Perubahan situasi posaran minyak bumi internasional yang terjadi selama Pelita III.000 kilometer lintasan. Selanjutnya dari jumlah BBM hasil kilang dalam negeri terse but telah diposarkan untuk keperluan di dalam negeri sebanyak 161 juta barrel.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menggembirakan. yang terdiri alas 237 juta barrel minyak mentah dan 22 juta barrel kondensat. Melawai Timur dan Sumatera Selatan. dengan kapositas 85 ribu barrel per hari. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka ditempuh kebijaksanaan untuk meningkatkan eksplorasi. Adapun produksi minyak bumi dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sekitar 259 juta barrel. Kegiatan eksplorasi yang dilaksanakan dari tahun ke tahun telah memperlihatkan hasil yang meningkat. yang terdiri atas 99 iuta barrel hasil kilang dalam negeri dan sebanyak 99 juta barrel dari hasil kilang luar negeri (Tabel VII. maka produksi minyak bumi yang telah dapat diolah dalam tahun 1983/1984 mencapai 99 juta barrel atau 10 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.944 kilometer lintasan dan pemboran sumur minyak sebanyak 250 sumur. kecuali tahun terakhir Pelita III yang sedikit meningkat. yang dapat mengolah bahan residu berkadar belerang rendah.9 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang baru mencapai sebanyak 336. atau 2 juta barrel lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun Departemen Keuangan RI 195 . Dalam tahun 1983 telah dilakukan eksplorasi terhadap 4 lokasi baru yang meliputi daerah Riau. antara lain dengan menggiatkan survai selsmik dan pemboran sumur minyak. Melawai Barat. Jika dalam tahun terakhir Pelita II baru dilaksanakan survai seismik sepanjang 21. selain berpengaruh terhadap produksi minyak bumi juga menghambat usaha peningkatan ekspor. Volume ekspor minyak bumi dan hasil minyak dalam tahun 1983/1984 telah mencapai sebanyak 413. masing-masing sebanyak 200 ribu barrel per hari. maka dalam tahun terakhir Pelita III telah berhasil dilakukan survai seismik sepanjang 56.37). Dengan demikian secara keseluruhan produksi pengilangan minyak bumi dalam tahun terakhir Pelita III telah mencapai 198 juta barrel.

123 milyar kakikubik atau 87.0 1.278 milyar kakikubik. Perkembangan produksi dan pemanfaatan gas bumi sampai dengan tahun 1983/1984 dapat diikuti melalui Tabel VII.3 0.1 8.6 161.0 23.3 158. 37 VOLUME PENGILANGAN MINYAKMENTAH. gas bumi tetap dapat ditingkatkan produksinya selama Pelita III. Sedangkan apabila dibandingkan dengan produksi dan pemanfaatan gas bumi dalam tahun terakhir Pelita II yang masing-masing baru mencapai 868.1 38. serta bagi perusahaan gas negara (PGN) di kota Jakarta dan Bogor.8 86.1 Departemen Keuangan RI 196 . Produksi gas bumi dalam tahun 1983/1984 mencapai sebanyak 1.2.38.0 183.6 milyar kakikubik.9 persen. dan yang telah dimanfaatkan adalah sebanyak 1.2 195.3 – 3.2 persen dan 20.0 189.6 25.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sebelumnya.8 116.6 – 4. maka berarti telah terjadi peningkatan masing-masing sebesar 16.5 117.0 93. 1969/1970 -1983/1984 ( dalam juta barrel ) Tahun Minyak mentah yang diolah ( in-take) 75.1 103.5 8.3 10. Apabila dibandingkan dengan produksi dan pemanfaatan dalam tahun 1982/1983 yang masing-masing berjumlah 1.10. maka terdapat kenaikan sebesar 47. Tabel VII. energi pengganti BBM bagi kilang minyak dan pabrik semen Cibinong.2 milyar 'kakikubik dan 650. Peningkatan pemanfaatan gas bumi tersebut antara lain disebabkan karena adanya peningkatan pemanfaatan gas bumi untuk LNG.0 Persentase kenaikan 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/19841) 1) Angka sementara – 13.3 .9 191.6 persen.2 persen dan 76.1 . pembuatan pupuk urea.0 128.1 198.100 milyar kakikubik dan 932 milyar kakikubik.9 115.4 2.5 persen. Berbeda dengan minyak bumi.

Tahun Tabe1 VII.0 . maka dalam tahun Departemen Keuangan RI 197 .136. Produksi Logam timah 14.8 27.1 868.4.0 1.042.0 1. Sejalan dengan meningkatnya produksi LNG tersebut. 39 PRODUKSI DAN EKSPOR TIMAH.2 1.2 1.2 1.123.5 21.1983/1984 ( milyar kaki kubik ) Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1) 1983/1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Produksi 206.0 juta ton sarna dengan sebanyak 569.2 33 30.8 932.7 21 23.1 20. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 17.3 32.4 juta ton sarna dengan 485.1 23.4 19.2 persen dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang berjumlah 9.028.8 15 18.3 juta MMBTU.3 26.4 31.6 35.2 25. yakni di LNG Plant Badak dan LNG Plant Arun.2 344.6 20.5 24. 38 PRODUKSI DAN PEMANFAATAN GAS BUMI.7 25 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1) 1) Angka sementara Produksi LNG di Indonesia baru mulai dilakukan sejak Pelita II.6 24.7 650.1 20.2 31.5 25.8 Ekspor 16. 1974/1975 .1 juta MMBTU.8 juta MMBTU.6 795. Dalam tahun 1983/1984.4 30.1 813.9 19. Apabila dalam tahun 1982/1983 baru diekspor sebanyak 477.2 148.4 633.5 22.2 27.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.2 239. 1969/1970 -1983/1984 (dalam ribu ton) Bijih 17.9 33 25.9 25. jumlah produksi LNG telah mencapai 11.4 85.3 25.2 33.0 Pemanfaatan 78.278.7 26.8 1.4 17.8 23.1 914.100. maka ekspor LNG yang telah dimulai sejak tahun 1977 juga terus menunjukkan peningkatan.6 27.1 366.2 24.3 28.

8 ribu ton logam timah.5 juta MMBTU yang berarti terjadi peningkatan sebesar 16. Perkembangan produksi dan ekspor logam timah dapat dilihat pada Tabel VII.4 ribu ton bijih . yaitu jika dalam tahun 1982/1983 meneapai sebanyak 27.39.834 metrik ton.3 persen.505 juta. Mundu di Cirebon. Lex Plant Union Oil Samail di Kalimantan Timur dan LPG Plant Areo di J awa Barat.1 ton.4 juta dalam tahun 1982/1983 menjadi US $ 108. Adapun volume ekspor tin:ah dalam 2 tahun yang sarna juga mengalami penurunan.566 juta.5 ribu ton senilai US $ 19. atau suatu peningkatan sebesar 25. Nikel Jumlah ekspor hasil tambang nikel selama 2 tahun terakhir Pelita III berturut-turut mengalami penurunan.6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang berjumlah 486. Timah Hasil produksi timah dalam tahun 1982/1983 meneapai sebanyak 33. yaitu dari US $ 86. volume ekspor LPG telah menurun sebesar 1. Penumoan tersebut antara lain disebabkan oleh adanya kemerosotan harga timah di posaran internasional.198 metrik ton atau 5.952 metrik ton dalam tahun 1983/1984.2 ribu ton logam timah.2 ton dan 406. yaitu dari sebesar 461.6.0 p_rsen.7 ribu ton senilai US $ 351. Produksi LPG yang berasal dari kilang minyak Plaju. Sedangkan penjualan logam timah di dalam negeri dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/ 1984 masing-masing meneapai sebanyak 464.1 persen.0 ribu ton senilai US $ 309. maka dalam tahun 1983/1984 menjadi sebanyak 25.7 ribu ton senilai US $ 15.2.997 juta.1 juta dalarn tahun 1983/1984.6.3. serta pembatasan kuota ekspor yang dikenakan oleh Dewan Timah Internasional kepada negara-negara pengekspor timah. Dalam waktu yang sarna. Sungai Gerong. 7. LPG Plant Rantau di Sumatera Utara. kesulitan pemasaran di luar negeri. Produksi LPG dalam tahun 1983/1984 meneapai sebanyak 514.0 ribu ton bijih timah dan 30.timah dan 25. yaitu apabila dalam tahun 1982/1983 berjumlah sebanyak 897. Penurunan tersebut disebabkan karena berkurangnya jumlah permintaan nikel di posaran dunia. sampai dengan tahun terakhir Pelita III terus mengalami peningkatan. maka dalam tahun 1983/1984 telah turun menjadi 810. 7. Dalam tahun 1983/1984 terjadi penurunan produksi menjadi sebanyak 25.870 juta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1983/1984 telah meneapai sebanyak 555. Departemen Keuangan RI 198 . Di lain pihak nilai ekspornya telah menunjukkan peningkatan.559 metrik ton dalarn tahun 1982/1983 menjadi sebesar 456.

7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.207.6 924.0 971.4 1.1 184.7 125.6 167.7 1.2 1.5 1) 810. 40 PRODUKSI DAN EKSPOR BIJIH NIKEL.4 1) 199.6 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.1 751.7 211.8 220.2 707..192.177.2 194.7 737.4 853.1983/1984 (dalam ribu ton kering) Tahun 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Produksi 9.2 216.2 707.7 Ekspor 8.3 223.5 897.6 924. 1972/1973 .316.9 781.9 212.8 Departemen Keuangan RI 199 .0 887.4 764. 1969/1970 -1983/1984 (dalam ribu ton) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971 /1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) Produksi 311. 41 PRODUKSI DAN EKSPOR KONSENTRAT TEMBAGA.2 207.0 850.0 538.5 830.0 887.778.6 Ekspor 232.5 989.3 197.9 188.7 1.0 689.4 1.5 225.6 209.6 202.1 176.8 187.5 830.0 853.3 114.238.6 201.5 178.5 830.3 189.

3 34.3 376.1 276.6 135.2 283.5 9.248.9 171.2 346.469 juta.2 456.9 -10. Namun dalam tahun 1983/1984 menurun menjadi sebanyak 202. Dalam tahun 1982/1983 telah di ekspor nikel matte sebanyak 15.5 68.7 349.9 291.6 3 4.536 juta.1 25.876 ton senilai US $100.2 -10 -17.41.935.1 ton senilai US $ 23.1 35.5 ribu.7 1) 122.7 317.1 ton senilai US $ 21.923. dari dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi sebanyak 225.5 ribu ton. 7.1 Ekspor 242.40.8 ribu ton senilai US $ 130.2 145. dan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 22.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1) Angka sementara Jumlah feronikel yang diekspor dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 masingmasing mencapai sebanyak 4. Adapun jumlah ekspornya dalam tahun 1981/1982 telah mencapai sebanyak 209.7 ribu ton.2 299.8 298.4 23.274 juta dan 4.6 290.6. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlahnya mengalami penurunan menjadi sebanyak 199.5 35.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.001 juta.624.7 276.3 248. 42 PRODUKSI DAN EKSPOR P ASIR BESI.6 348.5 10. Perkembangan jumlah produksi dan ekspor bijih nikel dapat dilihat dalam Tabel VII.5 614.8 177.2 237.4 196.5 256 267.2 21. 43 PRODUKSI BATU BARA.4.6 321.7 17. dan kemudian dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi sebanyak 211.3 12 Tabel VII. 1970/1971 .4 ribu ton.6 Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/19841) Produksi 176 175.2 120.6 18. Tembaga Produksi tembaga dalam tahun 1981/1982 telah mencapai 197.4 ribu.7 ribu ton senilai US $130.3 329. Perkembangan jumlah produksi dan ekspor konsentrat tembaga dapat dilihat pada Tabel VII.130 juta.4 12. Departemen Keuangan RI 200 .2 78.2 14.3 105.6 204 183.2 66. 1969/1970 ( dalam ribu ton) Persentase kenaikan -0.443 ton senilai US $ 42.6 ribu ton senilai US $ 114.1983/1984 ( dalam ribu ton) Tahun 1970/1971 1971 /1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) Produksi 53.

1 2.3 ribu ton.1983/1984 (dalam ton) Tahun Produksi Penjualan Ekspor 1969/1970 10. Sedangkan pengembangan cadangan pasir besi di daerah pantai selatan Yogyakarta masih terbatas dalam studi kelayakan. sedangkan dalam tahun 1983/1984 mengalami penurunan menjadi 122.8 1.2 2.5 1970/1971 9.4 186.3 1 1976/1977 3.9 ribu ton.7 1.9 1.1 261 I) Angka sementara T a bel VII. Perkembanganjumlah produksi dan ekspor pasir besi dapat dilihat pada Tabel VII.41) 1981/1982 1.0 ribu ton senilai US $ 119.7 1982/1983 262.5.6 6. Dalam tahun 1983. maka sebagian daripada produksi batu bara tersebut telah pula diekspor.6 ribu ton.9 1979/1980 197. Perkembangan produksi batu bara dapat dilihat pada Tabel VII.7 ribu ton.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 7.8 ribu ton.6.9 persen bila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru mencapai 121.4 251. 45 PRODUKSI.2 1980/1981 224.7 1973/1974 8.1983/1984 (dalam kilogram) Tahun Produksi Penjualan 1969/1970 261 1970/1971 255.1 4 1975/1976 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.2 1971/1972 8.1 ribu dan 12. Dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 telah diekspor masing-masing sebanyak 10. Hasil produksi pasir besi yang dalam tahun 1981/1982 sebanyak 105.7 246.4 1973/1974 327. dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi 129.3 324 1974/1975 260 262.5 ribu ton.2 0.1 1981/1982 172.4 1972/1973 332.1 ribu ton. Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di dalam negeri.2 ribu ton atau 34.43.3 269 1978/1979 220. yang berarti suatu kenaikan sebanyak 162.6.1 2.5 1975/1976 321.1 1972/1973 9. yang berarti peningkatan sebanyak 158. karena daerah penambangan di daerah Pelabuhan Ratu telah habis cadangannya.3 2.7 persen dibandingkan dengan produksi tahun 1982/1983 yang baru mencapai 456. Batu bara Dalam tahun 1983/1984 produksi batu bara berjumlah 614. PENJUALAN DALAM NEGERI DAN EKSPOR LOGAM PERAK. jumlah ekspor batu bara Indonesia mencapai sebanyak 283.1 1978/1979 2.8 1980/1981 2.9 ribu. Tabel VII. dan sedang dilakukan penelitian lanjutan guna mencari metode pemrosesan lainnya dalam rangka pemanfaatan pasir besi Yogyakarta menjadi bahan baku bagi pabrik besi baja PT Krakatau Steel.42.8 7.2 1983/1984 1) 265. Pasir besi Penambangan pasir besi sejak 1 Maret 1982 hanya dilakukan di daerah Cilacap.6 170. 44 PRODUKSI DAN PENJUALAN DALAM NEGERI LOGAM 1969/1970 .4 3.5 290 1976/1977 349.3 1974/1975 6.3 ribu ton senilai US $ 123.9 I) 1983/1984 1.9 1977/1978 2.4 1979/1980 1.2 2.3 288.5 ribu ton atau 133. Departemen Keuangan RI 201 .6. 1969/1970 .4 1971/U)72 343.2 398 1977/19'18 252.3 250.8 3.9 1982/1983 3.1 3.

selain dihasilkan konsentrat emas dan perak juga diperoleh konsentrat timbal dan seng yang dapat diekspor walaupun saat ini jumlahnya masih kecil. dan oleh sejumlah pertambangan rakyat yang dilaksanakan dengan peralatan dan teknik yang sederhana serta dengan hasil produksi yang tidak teratur. Selain itu emas dan perak juga dihasilkan oleh Freeport Indonesia Inc berupa logam ikutan dalam konsentrat tembaga.6. Sedangkan produksi dan penjualan logam perak dalam tahun 1983/1984 masing-masing meneapai 1. Penambangan di pulau Koyang sejak tahun 1982 telah dihentikan.46.7 ton dan 1. Dalam tahun 1982/1983 jumlah produksi dan ekspor bauksit masing-masing berjumlah sebanyak 721.2 ton atau 41. yang berarti telah terjadi peningkatan sebanyak 3.7 ton.44 dan Tabel VII. Dari tabel tersebut terlihat bahwa produksi dan ekspor bauksit dalam tahun terakhir Pelita III mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.45. Departemen Keuangan RI 202 .4 persen untuk penjualannya hila dibandingkan dengan tahun 1982/1983. Jawa Barat telah semakin dalam. Melalui proses yang telah disempurnakan. Selama tahun 1983/1984 hasil produksi dan penjualan emas di dalam negeri. yang terutama disebabkan karena pemasaran bauksit Indonesia hanya tertuju ke Jepang. pulau Kelong dan pulau Dendang. sedangkan di Jepang telah terjadi restrukturisasi dalam industri.9 ribu ton dan 861. sedangkan kadar logam timbal dan seng semakin tinggi.6 ribu ton.8 kilogram untuk penjualannya.7. atau suatu peningkatan sebesar 17 persen dan 9 persen.0 kilogram. yaitu di pulau Tembiling.8. sehingga kadar emas dan perak dari bijih yang dihasilkan menjadi semakin rendah.6. Bauksit Penambangan bauksit di Indonesia dilakukan di daerah pulau Bintan dan sekitarnya. sehingga menurunkan permintaan bauksit di negara tersebut. yang masing-masing dilengkapi dengan instalasi pencucian. walaupun cadangan bauksitnya masih ada. Sementara itu penambangan di pulau Angkut telah dihentikan karena cadangan bauksitnya telah habis.2 persen untuk produksi dan sebanyak 1. Perkembangan produksi dan ekspor bauksit dapat dilihat pada Tabel VII. Perkembangan produksi dan penjualan logam emas dan perak dapat dilihat pada Tabel VII. masing-masing bila dibandingkan dengan tahun 1982/1983. Banten Selatan.1 kilogram dan 261.2 ribu ton. masing-masing meneapai 266. 7.4 ton atau 45.0 ribu ton dan 792.7 kilogram untuk produksi dan sebanyak 9. yang disebabkan karena penambangan tersebut tidak menguntungkan. yang berarti mengalami penurunan sebanyak 1. Emas dan perak Penambangan emas dan perak yang dilakukan di penambangan Cikotok. sedangkan dalam tahun 1983/1984 masing-masing telah meningkat menjadi sebanyak 841.

sedangkan ekspornya telah meningkat sebanyak 676.006 37.192 8. bentonit.071 5.894 7.616 13.48.078 907.569 653.9 7.631 2.809 221. As b e s 223 283 92 50 31 15 103) 253) 74 9.782 332. posir kuarsa. walaupun di antaranya telah ada yang diekspor dalam jumlah relatif kecil dan secara tidak teratur.563 7.111 7. Riau. K a Is it 3.216 33.287 219.9 33.643 1.529 75.605.783 6.074 155.756 1.10. jumlah produksi dan ekspor granit mencapai 2. belerang.610 164.906 29. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah terjadi penurunan masing-masing menjadi 2.648 6.520 19.990 138.979 110.11.48 PRODUK BAHAN GALIAN 1).811 524. BeIerang 900 1.232 13.647 80.522 1.484 9.944 3. yang termasuk dalam bahan galian industri atau bahan galian golongan C.1983 ( dalam ton kecuali marmer dalam m2 slabs) 1974 1975 1976 1977 1978 Jenis 1972 1973 1979 1980 1981 1982 19834) 1.496 25.7633) 1803) 1973) 4973) 1.939 12.190.909 4.349 3.1 27 11. Posir kwarsa 44.847 5. Bentonit 4.563 725.396 3. Perkembangan produksi tambang lainnya dapat dilihat pada Tabel VII.0 ribu ton dan 713.942 6.753.3 29.609 25. Bahan-bahan tambang lainnya Bahan-bahan tambang lainnya.697 104.730 938.644 3.971 30.244 260.6.079 1. 1972 .750 13.465 6.149 75. G ips 290 453 855 570 _2) 1) Mcrupakan hasil usaha swasta nasional. Listrik Pembangunan di bidang kelistrikan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat. serta untuk mendorong dan Departemen Keuangan RI 203 .315 28.3 28.697 1.965 18.603 220 3. Aspal 115.114.3 25.976 995.522 15. Perkembangan produksi dan ekspor granit dapat dilihat pada Tabel VII.618 _2) 11.739 161.721 12. Pada umumnya bahan tambang ini diperuntukkan bagi konsumsi dalam negeri.752 4.828 25. yarosit dan kalsit. Hal ini berarti produksi granit mengalami penurunan sebanyak 116.323 38.6 ribu ton.597 _2) 15.241 _2) 13.6.528 2.717 12.485 2. Gamping 411.817 80.345 11. Fosfat 1. Mangaan 7.949 8.. terdiri alas kaolin.80 ribu ton atau sebesar 95 persen. gamping lempung.115 58.3 25.767 1.144 3.148 64.266 16.051 106.951 2.598 7.904 75.780 6. ashes. Yodium 9. Granit Dewasa ini penambangan batu granit dilaksanakan di pulau Karimun.441 310.580 95.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. maupun untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. aspal.6.483 1.170 115.152 583. yodium.191 2. 7.847 6.909 3.870 _2) 10. Yarosit 274 341 1.307.690.9. Tabel VII. fosfat.626 192. mangaan.439 7.688 85. Dalam pada itu penjualan batu granit dilaksanakan baik untuk keperluan ekspor khususnya ke Singapura dan Malaysia.7 ribu ton dan 1. marmer.771 2.018 276.161 62. baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan.266.320 819 5.120.621 b.657.865.764 1.6 19.360.066 '270.196 2. Lempung 76.196 148 147 _2) 14.323 11.639 17.902 7. Feldspar 2.944 35.9 25.842 1.295 5.216 25. peldspar. Kegiatan penambangan bahan-bahan tambang tersebut dilakukan oleh badan usaha milik negara (BUMN) dan perusahaan swasta nasional.4 25.601 173.973 7.3 ribu ton atau 5 persen.893 379.bahan semen a.47. Marmer 9.433 2.889 6.228 14. 716.374.575 1. K a 0 1 i n 12. pcrusahaan daerah dan lain-lain 2) Data tidak terscdia 3) Angka diperbaiki 4) Angka scmcntara 7. Bahan .528 29.704 784 1. Dalam tahun 1982/1983.639 3.724.390.2 5.4 ribu ton.

10 persen.405. Di samping itu dengan meningkatnya pembangunan tenaga listrik. Dengan peningkatan rehabilitasi dan pembangunan di bidang kelistrikan tersebut.126.596 MWH.023. Di samping itu dalam tahun yang sarna juga telah dilakukan rehabilitasi dan pembangunan jaringan transmisi.843. rehabilitasi dan pembangunan yang dilakukan pada pusat pembangkit tenaga listrik mencakup kapositas sebesar 355. yang berarti terjadi peningkatan masing-masing sebesar 12 persen. masing-masing mencapai 11. daya tersambung dan daya terpasang tenaga listrik dapat diikuti pada Tabel VII. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat di segala bidang.072.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 merangsang kegiatan ekonomi. Hal ini terlihat antara lain dari permintaan tenaga listrik yang semakin meningkat yang diakibatkan oleh terus bertambahnya tingkat kebutuhan masyarakat.410 MWH. dengan maksud agar tercapai suatu sistem interkoneksi regional.980 MW. Dalam tahun 1982/1983 jumlah produksi tenaga listrik. Perkembangan produksi. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 masing-masing telah berkembang menjadi sebesar 13. penjualan. 6.50. Departemen Keuangan RI 204 . rencana dan pembangunan tenaga listrik dikaitkan dengan kebijaksanaan umum bidang energi. yaitu sejauh mungkin memanfaatkan potensi sumber energi non minyak dan penghematan bahan bakar minyak. atau suatu peningkatan sebesar 41 persen.924. serta diarahkan pada pendekatan secara regional. lengkap dengan pembarigkit transmisi dan distribusi. maupun pada lembaga-lembaga pendidikan dan latihan di luar PLN. Dalam tahun 1982/1983. 5. baik sebagai sarana kehidupan sehari-hari maupun sebagai sarana produksi. 16 persen dan 15 persen. Oleh sebab itu pembangunan di bidang kelistrikan terus dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Selama Pelita III.296. daya tersambung dan daya terpasang.619 MWH. maka telah meningkat pula kebutuhan tenaga-tenaga terampil. maka peranan listrik semakin mempunyai arti penting.720 MW. Pelaksanaan pembangunan tenaga listrik tersebut didasarkan pada kebijaksanaan yang menyatukan seluruh sektor tenaga listrik dalam satu kesatuan perencanaan yang menyeluruh.151 MWH. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi sebesar 501. 10. penjualan tenaga listrik.269.41 MW.669 KV A dan 3. pembangunan dan rehabilitasi tenaga listrik secara bertahap telah dapat meningkatkan baik clara terposang pembangkit tenaga listrik maupun jaringan listriknya.251 KVA dan 3. 9. maka telah dibuka peluang yang lebih besar dalam pengusahaan tenaga listrik. Untuk itu selama Pelita III telah dilakukan pendidikan dan latihan di bidang teknis dan administratif baik di pusat pendidikan dan latihan PLN.800 MW. gardu induk dan jaringan distribusi. Selanjutnya dalam rangka diversifikasi penggunaan sumber energi dan penghematan bahan bakar minyak.

910 7.405.7.502.137.803.241 2.613 1. dalam Pelita III telah banyak menunjukkan peningkatan.921 5.846.494.127.609 934.16 1973/1974 3.535.482 1.376. 13.92 1) 2.032.619 6. PLTG Ujungpandang. Industri Pertumbuhan sektor industri yang telah dicapai selama ini adalah cukup tinggi.532.251 3.444. Selanjutnya kini juga sedang diselesaikan pembangunan beberapa pusat pembangkit tenaga listrik. 7. antara lain meliputi PLTU Suralaya Unit I.004. PLTG Palembang Unit III.41 5.386 4.000 ibukota kecamatan dari sejumlah 3.617 850.722. program kelistrikan desa telah ditingkatkan melalui partisiposi masyarakat setempat dan pihak Pemda.817 1.77 1974/1975 3.390 3.413. Hal ini terlihat dari perkembangan industri LNG. PLTA Lodoyo.892.081.052 3.345.354 1) 3.129.023.244 desa pada akhir Pelita II menjadi sebanyak 8.862.669 3.343.770. PLTG Para Posir (Medan) Unit V.006. serta penggunaan kayu gelondongan untuk industri kayu Departemen Keuangan RI 205 .072. pupuk urea dan petro kimia. yaitu mencapai rata-rata 13.924.49 1982/1983 11.214.027 1. maka terus ditingkatkan pula keterpaduan antarsektor sehingga lebih memantapkan proses industrialisasi.38 2.50 1977/1978 4.126. Dalam rangka pemerataan pembangunan.286.744.950 1.84 1975/1976 3.473.294 2.845. pusat listrik tenaga' gas (PLTG) Semarang Unit IV.511 2.051 desa pada akhir Pelita III.076.7 persen per tahun dalam Pelita II dan 8.026 1) 2.554.264 970.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TABELVII. DAY A TERSAMBUNG DAN DAYA TERPOSANG TENAGA LISTRIK.594.261.9 persen per tahun dalam Pelita III.296.410 10.376 1.740. dan PLTG Ujungpandang unit II. PENjUALAN.466 4. antara lain pusat listrik tenaga air (PLTA) Maninjau. Adapun jumlah desa yang mendapat aliran listrik telah meningkat dari sebanyak 2. PLTD Bukit Asam. Dalam pada itu pemanfaatan kekayaan alam yang merupakan potensi u'tama bidang industri.&15 1.801) Sejalan dengan peningkatan permjntaaan tenaga listrik yang terus berkembang.116.236 2.107 1. PLTG Denpasar.406 6.459.74 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 10.151 9. PLTD Tarakan. telah ditingkatkan pula pembangunan pusat-pusat pembangkit tenaga listrik dengan tetap didasarkan pada diverifikasi energi.98 1983/1984 13.340 ibukota kecamatan yang ada juga telah mendapat aliran listrik. PLTA Wonogiri.269.816 7.426. Sejalan dengan pembangunan yang dilakukan di sektor industri. meningkatnya penggunaan dan pengolahan gas alam untuk industri baja.420.50 PRODUKSI.669 2. 1972/1973 -1983/1984 Uraian Produksi tenaga listrik (MWH) Penjualan tenaga listrik (MWH) Daya tersambung (KVA) Daya terposang (MW) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1972/1973 2. pengolahan kapur dan tanah liat untuk industri semen. PLTU Belawan Unit I dan II.933. PLTG Padang Unit III.788 3. Oemikian juga beberapa pusat listrik tenaga disel (PLTD) yang tersebar di kala-kola dan di daerah pedesaan. Di samping itu sekitar 2. PLTG Gresik Unit III.660 3.288 8.0 persen per tahun dalam Pelita I.063.477 1. pusat listrik tenaga uap (PLTU) Semarang Unit III.596 5. Selama Pelita III telah dapat diselesaikan pembangunan sejumlah pusat pembangkit tenaga listrik di beberapa lokasi.40 1976/1977 4. PLTD Pontianak dan PLTD Ujungpandang.

2 232 246.2 21.70 45.5 50.1 539.4 17. baja.590 847 654 552 554 302 160 385 37 672 54 19 41 154 34 69 5 394 577 317 126 391 36 744 55 47 32 160 33.00 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 gergajian dan kayu lapis.5 30.2 278.8 12.10 2. 24.1 452 610 480. Besi spons (n"bu ton) 29.2 44.827.629.0 1.6 23.3 663 39.7 19.10 5.40 902.4 -0. baik industri hilir dan industri kecil Departemen Keuangan RI 206 .6 22.7 150 115.4 14. Rokokputih (milyarbatang) 18.9 -6.9 1. Sabun cuci (ribu ton) 16. 22.2) .3 13.2 89.6 78.2 39.4 77.650.9 40.2 20.9 23.878.521.503 623 290 634 419 147 800 55 1.00 1.2) . Minyak goreng (ribu ton) 15.6 6 6 9 8 109 44 690 1.30 2.111 730 525 527 294 143 282 34 641 74 19 40 134 26 34 6 1981/82 1982/83 1983/84 1984/852) 165 75.01) 442.5 265 268.1 260.1 18. maka selama Repelita IV akan terus dilakukan pengamanan terhadap penyediaan sarana angkutan.6 11.000 135 400 144 70 30 19 115 24 9 25 20 7 8 2.40 3.4 12.001 14 13 12.204.8 195. Assembling sepeda motor (ribu buah) 5.8 180.9 369.9 47.2 34. Lampu pijarJTL (juta buah) 30.60 3.3 998 1.6 3. seperti angkutan semen.431 4.8 251 300 167.00 1.2 46.4 401.8 193.885. Pup uk . 33.844.00 1.4 155. Gresik.6 296.2) .704.3 37.8 *) Untuk memantapkan struktur industri.7 1.7 722.071.9 272.155 1.10 364 445.1984/1985 Jenis produksi 1.995.016. Gelas/botol (ribu ton) 9.027.5 28. Walaupun produksi dan nilai tambah industri kecil selama ini masih sangat rendah.6 51.8 132 23.9 144.080 1.4 28.3 209.8 17.9 31.6 410 503. 1969/1970 .9 326.6 32.019 660 478 462 250 108 100 30 500 47 17 35 78 20 25 5 138 145 64 67 3.5 736.1 2.2) .3 837.8 266.00 1.1 102 22. Dalam hubungan ini akan terus dilakukan peningkatan penyediaan prasarana. Cilegon.3 18.740 -4.2 664.6 29.3 857.00 3.078.2 276.9 108.7 27. Kabellistrik/telekom (ribu ton) 33.5 203.4 530.7 110.2 214.5 50.5 221.2 36.9 188.2 17 263 27 133 19 11 269 1970/71 598.1 2.7 316.5.2) 127.0 990. Dari segi penyebaranura.7 15.4 85.2 258.4 542 366.7 29.6 -13.4 21.5 1. Asam sulfat (ribu ton) 12.70 1.7 348 1972/73 852 262 23 100 120.2 93.1 25.851.8 105. Tapal gigi (juta tube) Deterjen (ribu ton) Accu (ribubuab) Radio (ribubuah) Televisi (ribu buah) Assembling mesin jabit (ribu buab) 25.0 1.026 69 50 12 170 36 59 101.9 164.9 678. Kaca polos (ribu ton) 10.51) 209.9 100.9 19.4 13.2 32.971 1.9 17. dan kayu lapis.9 39.1 2. Lhok Seumawe dan Indarung.000 166 520 240 145 43 21 202 23 9 22 15 8 8 3 1976/77 104 34 480 1.9 974 1.184.6 10.7 1.100 210 400 420 156 85 26 296 30 9 27 20 8 24 4 1977/78 104 39 575 1.8 475.5 155.672.4 67.3 3.2) .8 4.30 37.6 258.7 322 1971/72 732 239 16.3 83.41) 65 93.816.0 1.8 9.3 106. terutama di wilayah pengembangan industri seperti zona industri Cikampek.3 141.1 5 21.7 28.5 -5.2 264. Semen (ribu ton) 7.7 28.4 30.8 681. Susu kental manis (juta peti) *) Da1am ribu ton 1) Angka dipedtaiki 2) Angka smentara 1969/70 15 32 364 5 14 54 9 4 5 5 1 7 2 1970/71 25 4 56 393 5 14 55 34 6 10 5 4 15 1971/72 26 6 262 416 65 262 72 67 6 74 32 15 1972/73 30 5 130 700 60 340 72 70 15 12 75 20 6 15 1973/74 32 7 140 900 70 800 132 70 30 18 120 20 7 23 40 7 2 2 1974/75 46 7 180 1.7 122. sampai dengan akhir Pelita II sebagian besar pembangunan industri masih berlokasi di pulau Jawa.8 32.8 129. Baterai keriog (juta buah) 26.6 .6 -0. Aluminium sulfat (ribu ton) 11.351.6 271.9 75.8 93.3 *) 55 39 2.9 43.2 8.00 4.2) .7 68. Vet sin (ribu ton) 36.241.370.1 102.7 102.247.9 37.2) .1 387.2 1.796.4 817 ( Jenis produksi 19.985.910.6 33.481.7 54.30 2.10 1.6 11.6 264.2 30.5 24.3 36. Cibinong.4 276.4 379. Korek api (juta kotak) 1) Angka diperbaiki 2) Data tidak tersedia 3) Angka sementara 1969/70 449. Mesin dise1 (ribu boob) 37.00 1.000 460 484 442 185 98 25 240 29 13 19 15 10 25 4 j ) 1978/79 1979/80 1980/81 123 54 3.7 16.898.7 -34.60 49.21) 1975/76 108 35 220 1.10 1.2) .400 16 314 .5 4.9 213 207.900 70 -26.540.9 568.40 1.Urea (ribu ton) .6 31. kertas.339.50 1.2 20.2 10 33 15 105 54 38 25 6 -62.006.5 194.9 218. Sprayer (ribubuah) 35.4 326.829 22.60 3.5 22.700 1. 708.5 18.4 406.536 733 600 420 185 100 30 300 26 16 17 37 22 30 4 114 47 1.3 21.9 1.3 84. sedangkan untuk daerah-daerah di luar Jawa jumlahnya masih terbatas.390.9 63.5 11 3 3.6 175.1 1. Berdirinya industri dasar/hulu tersebut telah mampu menggerakkan pembangunan wilayah.979.6 61.3 1973/74 926.8 330.705.223.30 2.1 113.7 8.0 828.00 1.0 49.5 41. Ban kendaraan bermotor (ribu buah) 8.017.4 27.20 7. Assembling mobil (ribu buah) 4.5 202.8 553 586.8 24.747 1.5 13.21) 342 131.4 21.1 28.5 172.3 13.437. 23.7 7.576.4 .8 182.3 217 2.01) 566 707 780 772 506.166.873 4.5 55. baik di dalam negeri maupun untuk angkutan komoditi ekspor. Rokok kretek (milyar batang) 17.4 59. clara serapnya terhadap tenaga kerja cukup besar sehingga dalam Repelita IV akan terus diusahakan peningkatan peranannya di dalam struktur industri nasional. Minyak kelapa (ribu ton) 14.00 8.00 1.2 43. 21.8 26.135 529 264 97 287 175 62 350 27 500 26 26 6 67 12 26 37.8 819 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/853) 737.90 3.3 114 100. 20.3 319.00 65. Air conditioner (ribu buah) 32.9 43.9 *) Presentase perobahan 1983/84 tedtadap 2) 1969/70 1982/83 1.3 377.9 50 108.651. Kertas (ribu ton) 13.662.2 14.4 7.4 83. Kawat baja (ribu ton) 28.944.80 6. maka terus dilakukan pengembangan industri berskala besar.01) 199 30. yang didukung dan diperkuat oleh industri berskala menengah dan kecil.0 1. Plat song (ribu ton) 27. Dalam Pelita III telah dimulai dengan pembangunan industri-industri dasar/hulu yang mengolah sumberdaya alam dan energi.0 147.6 30.2 26 132.094.40 2.40 2. pupuk.5 16.673.6 16.6 208.320.8 37.6 15. Oleh karena pembangunan sektor industri memerlukan mobilitas yang tinggi. Benang tenun (ribu ball 3.883.3 Persentase perubahan 1983/84 terbadap 3) 1969/70 1982/83 343.2 209.7 17.9 15.11) 68.2 132.51 BEBERAPA HASIL INDUSTRI.4 507.3 37. TabeI VII.8 23.Z A (ribu ton) 6.00 -17.5 11.6 -5.1 381.5 1. Tekstil (juta meter) 2.320 1.3 148.4 9.332.8 813.4 662. Cilacap.1 52. Kapal baja baru (ribu BRT) 1) 34. yang sebagian berlokasi di luar pulau Jawa. Besi beton (ribu ton) 31.8 213.

279. Tab e I VII. Assembling mobil (ribu buah) 2.6 500 85.5 1.7 15. Pesawat terbang (buah) 18. Huller (ribu buah) 8.2 44 1978/79 108.4 5. Radiator (ribu bush) 19.820. Kapal baja ba:ru (ribu BRT) 1) 6. (ribu ton) 17.5 16 16 122.1 1) 166.4 10 15 200 .6 114. industri mesin. Perkembangan sektor industri yang cukup pesat selama Pelita III selain karena adanya peranserta masyarakat.8 75 69.8 66 5 52 185 55 1.2 100 80. serta berlokasi di daerah yang berdekatan dengan sumberdaya alam dan energi yang pada umumnya belum berkembang.00 Departemen Keuangan RI 207 .4 178.5 80 2 1974/75 65. lingkungan hidup.4 6. Pipa air/gaJI/minyak (ribu ton) 16.5 108 25 6.2 45 60 15 27 180 26.3 84.850.8 75.5 250 99.1984/1985 Jenis produksi 1.2) .2 2 116 85 50 12 15 50 0.00 192 65 116 68 8.2 .00 45..5 671.7 70 120 22. Hasil produksi kelompok industri tersebut sebagian besar merupakan barang modal yang sangat diperlukan dalam kegiatan di berbagai sektor ekonomi. Gambaran yang lebih terperinci tentang berbagai aspek perkembangan kegiatan industri beserta hasil-hasilnya dapat diikuti melalui uraian berikut ini.9 145 202 22 475 4 48.4 64.5 8 18 186 88 55 18. komponen dan peralatan mesin.1 1.4 280 25 1979/80 102. industri peralatan listrik dan elektronika profesional.7 185 300 16.2 1970/71 2.5 148.7 0.2 10.00 40. Ekstrusi aluminium (ribu ton) 11. Namun mengingat bahwa industri dasar/hulu mempunyai ciri padat modal.00 1984/85 3) 39.8 877 1.5 4.4 60. Besi spons (ribu ton) 4.1.9 188.00 16. Generator set (unit) 1) Angka diperbaiki 2) Data tidak tersedia 3) Angka sementara 1969/70 5 8. 1969/1970 . 7.026.9 120 2.0 2. terutama yang menjadi konsumen dari kelompok industri tersebut.7 7 6 67. Traktor tangan (buah) 23. Kawat baja (ribu ton) 9.1 125 60 59.2) 2.2 159. Industri logam dasar Kelompok industri mesin dan logam dasar meliputi industri logam dan produk dasar.6 9. Transformator (ribu bush) 22. .859.8 16 11.2 546 1 84.8 1.8 7 100 135 25 1. serta industri alat angkut.00 1. Piston (ribubuah) 20.6 58.8 156 296..4 400 0.2 50 160.5 80 8 4 8 1975/76 78.7.8 9.8 73. 52 BEBERAPA HASIL INDUSTRI LOGAM DASAR.5 891 800 640.1 177 0.1971/72 16.4 41.9 84.9 66.2 7 8.4 47.2 301. baik industri berat maupun ringan.8 2. Traktor mini (buah) 24.5 81.8 30 1976/77 75. Besi beton (ribu ton) 5.6 74 15 200 1972/78 28 69.4 4 6 888.4 46.1 102 122.6 24 2.5 15 1978/74 36. maka timbul masalah regional baru yang memerlukan pemecahan secara konsepsional dan terpadu.065.6 80. penyediaan sarana dan prasarana.8 3.6 850 500 6. juga disebabkan oleh dorongan sektor-sektor lainnya di samping juga melalui pembinaan terhadap industri itu sendiri (Tabel VII.7 1. 51).215.1 8 12 17 21 15 12 12 21. Pipa bajaspiral (ribu ton) 18. industri motor dan perlengkapan pabrik.8 57.4 155.7 128. Mesin penggilas jalan (buah) 7. menggunakan teknologi tinggi.5 30 . Ingot baja (ribu ton) 15. Oleh karena itu laju pertumbuhan kelompok industri mesin dan logam dasar senantiasa sejalan dengan perkembangan sektor-sektor ekonomi lainnya.4 25 17.7 41.8 147.271.9 860 3. Tabung gambar (ribu buah) 21.7 419 281.8 98 25.5 7.2) 4.1 486 698 762 68.5 17.1 9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun kegiatan ekonomi lainnya.4 2.7 9.1 170. pendidikan dan latihan bagi tenaga kerja siap pakai.2 178.6 8. Permasalahan tersebut antara lain berupa pengaturan tataruang pemukiman.7 62 26.9 884.4 8 2. serta pengembangan kehidupan perekonomian daerah. Pipa listrik .1 69.074.8 174.875.4 550 150 8.1 200 2.8 1.8 18. berskala besar. Aluminium sheet (ribu ton) 12.9 185 240 19.7 16 16 80 47.4 575 3.1 816 431 404 423 1.01) 18 897.51) 209.4 12.6 70 115 25.6 75 15 200. Pesawat helikopter (buah) 14.5 12.2 109.00 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 172. Dalam Pelita III pengembangannya mulai bergeser ke arah hulu.00 1.00 20.2 80 1977/78 83.2 450 2.8 625 48 18.8 140 81. Plat seng (ribu ton) 8.5 816.8 294. yaitu industri yang menghasilkan bahan baku.3 27.7 12. Sedangkan dalam Repelita IV pengembangannya ditekankan pada industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri.9 4.8 748.3 82.Mesin disel (ribu buah) 10.

7.0 ribu ton. Hal tersebut antara lain menyangkut masalah ketergantungan akan bahan baku yang sampai saar ini masih harus diimpor.2. yang meliputi penguatan struktur industri dan peningkatan pertumbuhan industri nasional. Dalam tahun 1983/1984 telah dihasilkan motor disel sebanyak 58.4 ribu unit. kafer.5 persen. kopi.3 ribu ton.7. Hal ini antara lain ditandai oleh tumbuhnya wilayah-wilayah/zona industri yang tersebar di Departemen Keuangan RI 208 .026 ribu ton. suatu kenaikan rata-rata sebesar 56. namun masih banyak dihadapi hambatan-hambatan.9 persen setahun. Produksi industri transformator. kelapa sawit.6 ribu unit.6 persen per tahun.1 ribu ton dalam tahun 1982/1983. dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 762 ribu ton.52.9 persen per tahun. dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 9. yang dalam tahun 1982/1983 baru mencapai 4. dalam tahun 1983/ 1984 telah menurun menjadi sebanyak 8.4 ribu ton. Namun untuk produksi aluminium sheet. yang dalam tahun 1978/1979 berjumlah 9. semen.0 ribu ton. Walaupun perkembangan beberapa hasil industri logam dasar cukup baik sebagaimana dapat dilihat pada Tabel VII. Adapun produksi besi heron dalam waktu yang sarna telah meningkat dari 300 ribu ton menjadi 1. yang berarti telah terjadi peningkatan ratarata sebesar 27. mesin plastik dan komponenkomponen pabrik lainnya.2 ribu unit. Adapun dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. saat ini industri mesin dan peralatan pabrik sudah mampu membuat komponen-komponen mesin/peralatan untuk pabrik gula.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Perkembangan yang telah dicapai di bidang industri logam dasar dalam pelaksanaan Repelita III pada umumnya cukup menggembirakan. Hal ini berarti bahwa selama periode tersebut telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 18.8 ribu buah.7 ribu buah. Sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dihasilkan lagi sebanyak 26. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 333.7 ribu ton dan kemudian terus meningkat menjadi sebanyak 15. belum cukup berkembangnya industri hulu atau industri barang antara. telah diproduksi sebanyak 3. mesin tenun. Sebagai hasilnya. teh.3 ribu buah. Industri kimia dasar Dalam Pelita III telah diusahakan tercapainya sa saran di bidang industri kimia dasar. resesi dunia yang belum sepenuhnya pulih. serta masih lemahnya keterkaitan industri baik secara horizontal maupun vertikal. sedangkan dalam tahun 1978/1979 baru berjumlah 30. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat dihasilkan sebanyak 500. Untuk tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 4. atau suatu kenaikan sebesar 108. Adapun produksi ingot baja/billet yang dalam tahun 1978/1979 mencapai sebanyak 80 ribu ton.

4 persen di alas tahun sebelumnya.3 ribu buah ban kendaraan bermotor dan 2. Demikian pula halnya dengan pupuk TSP.2 ribu ton.6 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjacli 208. serta pengadaan gerbong kereta api dan pembangunan gudang-gudang pupuk.673.1 ribu buah. Adapun kegiatannya mencakup pengadaan kapal curah dan suku cadang. Di lain pihak terjacli sedikit penurunan produksi pupuk ZA. Kalimantan Timur. dalam tahun terakhir Pelita III secara umum menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Sumatera bagian selatan. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. yang l?erupakan lanjutan daripada PSD III.567. Hal ini telah menimbulkan dampak yang positif berupa pertumbuhan ekonomi. Dalam tahun 1982/1983 produksinya masing-masing berjumlah 3. merupakan salah satu langkah yang ditempuh Pemerintah dalam memperlancar distribusi pupuk. atau 35. asam sulfat.204. pemerataan pembangunan. ban kendaraan bermotor. Sementara itu jumlah produksi berbagai jenis kertas dalam tahun 1983/1984 juga telah mengalami peningkatan. Sumatera Barat.0 ribu ton dalam tahun 1983/1984. atau kenaikan sebesar 24. yang antara lain menghasilkan pupuk.438. dan serat sintetis. Kelompok industri kimia dasar. serta peningkatan kemampuan teknologi industri.8 ribu ton yang berarti sebesar 13. Hasil pengembangan tersebut telah terlihat pada peningkatan kegiatan sektor-sektor ekonomi . Riau. maka terus dilaksanakan usahausaha untuk menunjang kelancaran distribusinya.6 ribu ton kertas.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa wilayah seperti di Aceh. pembangunan unit pengantongan pupuk di Ujungpandang. perluasan kesempatan kerja dan lalu lintas ekonomi antarwilayah. Hal ini antara lain disebabkan karena makin meningkatnya permintaan masyarakat akan pupuk.885. kaca palos. Dengan meningkatnya produksi dan kebutuhan pupuk. Walaupun demikian hal ini tidak akan berpengaruh terhadap kapositas produksi petani pemakai pupuk. Proyek sarana distribusi pupuk Pusri IV (PSD IV).6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang baru berjumlah 577.6 ribu buah dan 2. Jika dalam tahun 1982/1983 baru dihasilkan sebanyak 296.0 ribu ton. kertas. dalam tahun 1983/1984 produksinya telah mencapai sebanyak 783.5 ribu ban sepeda Departemen Keuangan RI 209 . pestisida.5 persen. Di lain pihak produksi berbagai jenis ban luar kendaraan bermotor dan ban luar sepeda motor telah mengalami sedikit penurunan. Jika dalam tahun 1982/1983 produksi pupuk urea mengalami sedikit penurunan hila dibandingkan dengan tahun 1981/1982.4 ribu ton. maka dalam tahun 1983/1984 produksinya meningkat menjadi 369. semen. pulau Jawa.lainnya yang berkaitan dengan kelompok industri kimia dasar. dari 209. Dalam Repelita IV akan terus ditingkatkan upaya pengembangan industri-industri yang mempunyai dampak pengembangan wilayah. namun dalam tahun 1983/1984 hanya mencapai sebanyak 3. maka dalam tahun 1983/1984 telah dapat meningkat menjadi sebanyak 2.

0 45069.1 471.704.979.8 3.10 2. Aneka industri Kelompok aneka industri (industri hilir) mempunyai peranan yang cukup besar dalam pembangunan industri secara keseluruhan.2 81 _2) 509.71) 1.8 25. Perkembangan beberapa hasil industri kimia dasar dapat diikuti pada Tabel VII.2 43. yang antara lain menghasilkan semen.078.6 296. ZA (ribu ton) c.3 5. Zink oksida (ton) 17.898.2 527 627 4.3 11 10.844.898.319. alar listrik dan logam serta bahan bangunan dan umum.985.4 83.0 1.2 8.80 1.5 11.0 ribu ton. Aneka industri yang meliputi industri pangan.9 108. Apabila dalam tahun 1982/1983 produksi semen baru berjumlah 7.10 542 401.0 1.4 49.800.5 3.629.3 6.4 801.851.4 120 115.3 819 828.20 7.3 3) Angka sementara 7.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 motor.5 2.550.2 123.50 1.80 6.5 2.2 57.9 100.5 99.40 1.00 718 480 614 541 0. K e r t a s (ribu ton) 3.9 1.5 10. Kaca palos (ribu ton) 7.9 89 112 113.9 4.2 93.6 3.00 6.150.00 3. Demikian pula halnya dengan produksi susu kental manis.0 persen.567.00 1.8 241.6 4.2 31.796.6 47. Tab e I VII.1 0.1 102.20 2.8 7.5 17.9 43.00 4. yaitu Departemen Keuangan RI 210 .339.6 51.30 2. ke1ompok aneka industri ini lebih besar peranannya apabila dibandingkan dengan kelompok industri hulu yang re1atif lebih padat modal.6 1.8 2.5 155.00 1.329.4 67.204.1 2.1 persen.4 465 559.4 72.250.284. Demikian pula halnya dengan produksi kaca palos.10 2.2 89.8 8.5 30.00 1.1.5 50. 1969/1970 .673.00 .1 9.9 4 4.9 19.Semen(ributon) 4.8 105.9 369.658.9 4. sehingga dapat memperkokoh struktur industri nasional.5 persen dan 5.6 534.00 1.9 39.7 54.7.0 persen. Bahan peledak (ribu ton) 18. atau suatu kenaikan sebesar 10.00 1.5 1.4 17.3 141 147.60 3.320.80 85.557.3 18.1 ton.20 2.650.9 1.1 20. 53. Aluminium sulfat (ribu ton) 8.8 37.2 46.6 29 _2) 0. atau suatu kenaikan sebesar 184. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dihasilkan sebanyak 28.00 1.4 1 2.1 18.885. te1ah terjadi kenaikan sebesar 8.1 387.3 577.0 1.200.8 12. Asam sulfat (ribu ton) 9.8 15.4 530.5 532.801.870.6 17.816.7 0.6 10. TSP (ribu ton) 2.2 289.8 195. kimia.8 2.4 783 22.0 970 980 1. Serat sintetis (ribu ton) 1)Angka diperbaiki 2) Data tidal tersedia BEBERAPA HASIL INDUSTRI KIMIA DASAR. Zat asam (iuta M3) 11.2 17 568.7 8.3 14 31 51.6 0. dalam tahun terakhir Pelita III telah berkembang dengan baik.7 ribu ton menjadi 110.7 122.5 9.2 14.00 1.2 232 246.1983/1984 1969/70 1970/71 1971/72 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 3) 1.5 8.1 305 335 246.7 33.2 2.0 1.650.7 4.9 3.8 9. Asam chlorida (ribu ton) 19.70 2. Synthetic resin (ribu ton) 15.7 17.9 15.10 5.7 15.9 0.0 1) 43.3 106.432.9 9.5 18.460.30 2.3 21. Cabang industri anorganik dan industri bahan-bahan kimia organik dasar.705.2 4.8 4.5 ton.2 11.7 511.6 11.Acety1ene (ribu M3) 13.2 0. Di samping itu dalam menyerap tenaga kerja.50 22.189. yang berarti telah terjadi peningkatan sebesar 5.2 209.3 2.3.5 600 244. Urea (ribu ton) b.2 8.827.9 3 7.438.7 209.540.154. Hal ini antara lain karena aneka industri dapat merupakan jembatan antara kelompok industri hulu (dasar) dengan ke1ompok industri kecil. Pestisida (ribu ton) 14.6 29.8 129.4 722.4 792 1.3 2.21) 8.437. 53 Jenis produksi 1.6 48 36. asam sulfat dan zink oksida.9 ribu ton.6 15. Ban sepeda motor (ribu ton) 6.2 44. dan sekaligus mempererat keterkaitan antara industri besar dengan industri kecil.8 180.883.7 810 7:)1. kaca palos.006.3 ton.6 8.2 3.90 3. tekstil.5 10. Asam arang (ribu ton) 12.7 110.8 2.994.7 4.2 30.7 857.6 18.2 17. dalam tahun terakhir Pelita III menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.8 2. sedangkan dalam tahun 1982/1983 baru berjumlah 30.6 persen di bandingkan dengan tahun sebelumnya.5 507.2 9.4 2.1 113.241.2 214.078.Soda(ributon) 10.7 4.8 3.5 9. Dalam tahun 1983/1984 produksi margarine te1ah mencapai 85.8 24.60 3.6 208 114.520. Bahan kimia tekstil (ton) 16.8 3.40 2.9 1.2 32.3 13.351.4 406 990 1.070.40 3.878.00 25.30 2. dalam waktu yang sama telah meningkat dari 100.50 2. Ban kendaraan bermotor (ribu ton) 5.0 0.127.30 366.1 ribu ton.9 0. a.8 26.1 39.00 8. suatu penurunan masing-masing sebesar 5.00 1.7 118.392.0 persen.2 3.9 6. maka dalam tahun 1983/1984 telah mencapai sebanyak 8.5 2.

meningkat sebesar 16.2 milyar batang dan 18.0 ribu bal dalam tahun 1982/1983 menjadi 1. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.0 juta tube tapal gigi dan 66.3 juta meter.8 milyar batang dan 6.3 ribu ton dalam tahun 1983/1984.8 ribu ton diterjen.2 ribu ton.2 juta buah. dan baterai kering.662. Departemen Keuangan RI 211 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dari 93. tekstil dan pakaian jadi telah menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan tahun sebe1umnya.6 juta liter. Jika dalam tahun 1982/1983 baru dihasilkan sebanyak 145. suatu peningkatan sebesar 13. Industri alat listrik dan logam. maka dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 165.0 juta tube dan 39. telah dihasilkan masing-masing sebanyak 23.5 ribu ton.8 persen.6 juta liter dalam tahun 1983/1984.0 persen.2 persen.1 juta tube dan 75.9 ribu ton. yang antara lain menghasilkan televisi. yakni dari 1.9 persen.1 juta meter dalam tahun 1983/1984.1 juta ]iter dalam tahun 198211983. yakni dari 442.9 persen.1 milyar batang dan 11.9 juta meter dalam tahun 19821 1983 menjadi 1.7 ribu ton dalam tahun 1983/1984.1 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjadi 381. sedangkan dalam tahun pertama Repe1ita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat dihasilkan sebanyak 737.9 persen dan 13. Produksi rokok kretek dan susu cair te1ah meningkat masing-masing sebesar 11. Produksi tekstil. Perkembangan beberapa hasil aneka industri dapat diikuti melalui Tabel VII.6 persen dan 67. Namun khusus untuk baterai kering telah terjadi peningkatan sebesar 9.708. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 masing-masing telah berjumlah 55. secara keseluruhan menunjukkan sedikit penurunan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.6 juta buah dalam tahun 1982/1983 menjadi 633.995. Dalam periode yang sarna produksi minyak ke1apa mengalami penurunan sebesar 13.6 juta buah dalam tahun 1983/1984.551. Adapun industri kimia seperti tapal gigi dan diterjen juga mengalamj peningkatan produksi yang cukup besar. yakni dari 61. sepeda motor. radio. yang berarti meningkat sebesar 7.54. yakni dari 576. dan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dihasilkan sebanyak 287. yakni dari 1. Bersamaan dengan itu produksi benang tenun dan pakaian jadi juga te1ah menunjukkan suatu peningkatan. Produksi industri tekstil seperti benang tenun.8 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjadi 101. menjadi 68. Kemudian dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 37.7 persen.0 ribu bal dalam tahun 1983/1984.

4 31.8 553 586.6 7 34.5 265 268.1 15.3 566 707 780 772 506.7 13.00 1.017.5 35. Rokok kretek (milyar batang) 19 20.8 730.4.7.1 68.7 18.7 31.6 576.5 9.1 25.5 53.80 1.3 18 18. memeratakan kesempatan berusaha.00 4.2 260.90 1.6 633.332.00 2.651.6 27. Lampu pijar/TL (juta buah) 3.100.5 4. Benang tenon (ribu ba1) 182.00 1.5 15.4 13. meningkatkan ekspor. Korek api (juta kotak) 269 322 348 475.1 381. maka ditempuh beberapa kebijaksanaan sektoral. telah berhasil diresmikan penggunaan buah lingkungan industri kecil (UK).5 41. Susu kenta! manis (juta peti) 1.5 202.2 46.5 145 165. 1969/1970 .9 653.00 1.6 32. Televisi (ribu buah) 2) 4.8 103.7 14.1 18.2 664.00 633 3.1 217 239 262 316.1 10.1 4.4 4.4 622.708.00 1.5 3.2 262 130 140 180 220 480 575 690 1.5 7 7.662.2 96.00 1.9 21 26 24.6 175.233.3 148.503.3 21.4 47.3 37.000.5 22.00 1.2 11. Assembling mesin jahit (ribu bubo) 14 13.1 18.0 1) 442. Untuk lebih mendukung terciptanya sa saran pengembangan industri kecil.7 16. yakni meliputi 9 pusat pengembangan industri kecil (PPIK). meningkatkan ekspor serta meningkatkan pengetahuan para pengusaha/pengrajin.9 9.5 5.5 44.50 1.7 974 1.589.3 837. salah satu prioritas pengembangan wilayah dalam kelompok industri kecil berorientasi kepada pengembangan zona dan kawasan industri.4 2.910. terdiri dari TV hitam putih dan TV berwarna 3) Angka sementara 7.8 681.6 104.20 3.1 85.5 264.3 732 852 926.50 1.4 23.4 21.9*) 23.5 194. menunjang pembangunan daerah serta memanfaatkan sumberdaya alam.4 29.6 23.747.3 12.184.995.7 30.8 9.5 6 12. Oleh karenanya. Tapal gigi (juta tube) 15 25 26 30 32 46 107.4 38.5 4 3.10 737.7 10.5 290. industri menengah dan industri besar.8 5.7 16. Untuk itu telah digariskan pokok-pokok kebijaksanaan di bidang pembangunan industri kecil yang antara lain bertujuan menciptakan iklim usaha melalui penetapan skala prioritas. meningkatkan pembangunan di daerah.3 26. Mengingat lokasi usaha industri kecil tersebar di seluruh wilayah tanah air bahkan sampai ke pedalaman. A c c u (ribu buah) 32 56.6 33.5 221.9 23.4 28.576.3 11.9 33. Minyak kelapa (ribu ton) 263 258.1984/1985 Jenis produksi 1969/70 19670/197 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1.1 539.7 55.1 27.6 271.6 13.'2 18. 80 unit pelayanan teknis dan 13 pusat pelayanan promosi yang penyebarannya hampir merata di seluruh wilayah tanah air.7 127.5 19.6 525. Air Conditioner (ribu buah) 4.5 7.7 47 50 26.3 319. energi dan manusia.6 6. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.7 264.8*) 101.8 7.8 213 199 100.1 19.7 3.027.6 410 577. mempunyai keterkaitan dengan sektor-sektor lain.018.8 22.000.4 817 272.5 113.1 319.4 276.247.8 266.3 2.9 218.ton) 1 4 6 9 9 9 9 12.7 553.110.154.00 2.9 8.5 55. Departemen Keuangan RI 212 .7 65 60 70 135 166 210 260 733. Rokok putih (milyar batang) 11 13.3 37.8 598.4 531.4 108.6 33.9 123 137.8 20.6 287.9 164.4 20.1 846.9 40.3 998 1.7 28.8 330. Baterai kering (juta buah) 54 55.135.6 31.2 132. DeteIjen (ribu ton) 4 5.6 *) Dalam ribu ton 1 ) Angka diperbaiki 2) Mu1ai tahun 1978/1979.8 75. Tekstil (juta meter) 449.000.5 21.5 16. antara lain berupa pemberian prioritas pengembangan kepada industri kecil yang hasilnya dapat memenuhi kebutuhan orang banyak.3 17.2 278.9 43.521.1 452 610 480.5 4. Sabun cuei (ribu ton) 133 132.9 678. sehingga dapat diharapkan pembangunan industri besar dan menengah secara langsung akan merangsang pembangunan sektor industri keci!.00 1.7 17.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.70 3.5 39. maka pengembangannya lebih dikaitkan dengan potensi setempat. Magetan.5 4. menghemat devisa. Kabellistrik/telekom (ribu.6 30.54 BEBERAPA HASIL ANEKA INDUSTRI.7 17. Minyak goreng (ribu ton) 27 26 27.4 73.3 193.3 5.90 1. serta produksinya berorientasikan kepada komoditi ekspor.6 61.8 28. terutama melalui penciptaan usaha industri kecil baru yang dinamis di samping optimalisasi usaha industri kecil yang telah ada. Radio (ribubuah) 363.2 659.5 262 340 800 400 520 400 484 600 477.2 23.4 326.00 14.1 55 503. 7 pusat pelayanan informasi.319.3 8.00 1.8 263.6 5.4 30.30 2.5 622.1 28 9.536.60 3.5 2.7 29.21) 342 114 6.6 55 68. Industri kecil Pembangunan di bidang industri kecil ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja.6 393.2 2.9 213 207.5 393.9 3.5 28.8 20 20 24 23 30 29.5 54. yang tersebar di Yogyakarta. Assembling sepeda motor (ribu buah) 21. Susu bubuk (ribu ton) 1.5 28.4 27.00 1.9 10. Margarine (ton) 7.4 379.3 19.080.3*) 37.90 1.00 1.3 27.9 326.2 93.8 26.9 66.9 26.2 28.4 19.8 9.2 8.3 4.10 529 15.00 1.2 72 72 132 144 240 420 442 420 462 526.5 5. Susu cair (juta liter) 2.6 5.2 6. yaitu melalui pengembangan wilayah-wilayah pusat pertumbuhan industri (WPPI).00 1.5 50.2 30.2 364 445.4 63.8 36. Dalam hubungan ini diusahakan untuk terciptanya kaitan yang erat antara industri kecil.8 30.9 33.3 416 700 900 1.094.4 132 131.551. Semen tara itu di bidang kelembagaan telah didirikan sarana pembinaan.1 50 100 150 261 300 267.

Sidoarjo. 7. maka dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 690 buah. Hal ini terwujud dari meningkatnya pemerataan pembangunan Departemen Keuangan RI 213 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Semarang. di Gunung Sempu (Yogyakarta). Sejalan dengan itU telah dibangun pula saran a usaha industri kedl (SUlK) yang terletak di dalam kawasan-kawasan industri Pulogadung (Jakarta).8. pos dan kepariwisataan Pelaksanaan pembangunan perhubungan. maka dalam tahun 1983/1984 telah bertambah menjadi 2. serta komunikasi dan mobilitas penduduk ke seluruh pelosok wilayah Nusantara. baik jumlah maupun mutunya. Dengan bertambahnya sarana pembina tersebut maka kemampuan pembinaan juga telah meningkat. maka wilayah Nusantara telah dapat dihubungkan oleh suatu sistem perhubungan yang semakin terpadu dan teratur. yang merupakan peningkatan dari TPL. telekomunikasi. yang tersebar di hampir seluruh propmsl. Selain itu hasil-hasil yang dicapai juga telah dapat menjangkau dan memenuhi pelayanan kebutuhan masyarakat luas. telekomunikasi. telah dapat diperluas jangkauan pelayanan perhubungan. Usaha tersebut juga telah dapat'menembus isolasi dan mendorong laju pertumbuhan daerahdaerah terpencil serta meningkatkan perdagangan antardaerah yang lebih seimbang dan lancar. Sedangkan jumlah tenaga penyuluh lapangan spesialis (TPLS). Di samping itu terus dilakukan pula pembangunan prasarana dan sarana baru sesuai dengan pertumbuhan jasa perhubungan. arus barang dan jasa. di Sukabumi (Jawa Barat). Tegal. sehingga dapat menyediakan kapositas jasa yang semakin baik bagi masyarakat.151 orang. Dewasa ini peningkatan kapositas di bidang perhubungan telah mampu melayani kenaikan permintaan masyarakat dengan tingkat pertumbuhan sekitar 12 persen per'tahun. Dengan adanya peningkatan pembangunan tersebut. Cilacap dan Surabaya. yakni apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah sentra industri kecil yang dibina baru sebanyak 281 buah. dalam tahun 1982/1983 telah berjumlah 438 orang. Perhubungan. Dengan pembangunan perhubungan. Di samping itu juga telah dilaksanakan pembangunan 6 buah perkampungan industri kecil (PIK) masing-masing di Jakarta yang meliputi Pulogadung. serta di Pare-Pare (Sulawesi Selatan). Tasikmalaya dan Sukabumi. Apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah TPL yang berhasil dididik baru sebanyak 93 orang. Tebet dan Tangerang. Bandung. pos dan telekomunikasi serta kepariwisataan sampai dengan tahun pertama Pelita IV ditekankan pada kegiatan rehabilitasi dan peningkatan prasarana serta sarana yang ada. Medan. Tenaga penyuluh lapangan (TPL) terus pula ditingkatkan. pos dan kepariwisataan yang setiap tahunnya terus meningkat.

politik.574 orang menjadi 18.796. dan angkutan bis perintis ke daerah terpencil juga telah ditingkatkan guna melancarkan arus penumpang.761 ton.55). Pembangunan di bidang perhubungan darat tetap ditujukan untuk lebih meningkatkan pemanfaatan jalan raya.5 persen atau sebanyak 165. pengaturan pengoperasian dan keselamatan lalu lintas. sosial dan ketahanan nasional.7 persen. danau dan penyeberangan. serta angkutan sungai. maka jumlah angkutan armada bis bertingkat dan Departemen Keuangan RI 214 .4 juta orang. Pelayanan angkutan kola. keterampilan dan latihan bagi petugas. sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Perhubungan darat Program pembangunan di bidang perhubungan darat.073 buah dalam tahun 1983. Hasil pembangunan yang telah dicapai di bidang perhubungan darat. baik secara nasional maupun regional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perhubungan secara menyeluruh. angkutan transmigrasi dan angkutan ke seluruh daerah terpencil yang secara ekonomis potensial.915 orang. Dalam periode yang sarna.651 ton menjadi 4. angkutan sungai. dan dari sebanyak 14. kereta api. sehingga semakin memantapkan perwujudan stabilitas nasional dalam bidang ekonomi. yaitu dari masing-masing 43.8. Hal tersebut telah ditunjang pula dengan usaha-usaha yang dapat meningkatkan efisiensi pelayanan jasa perhubungan. angkutan pariwisata.untuk angkutan barang hila dibandingkan dengan tahun 1982. angkutan antarkota . danau dan penyeberangan telah mengalami kenaikan angkutan barang sebesar 21 persen dan angkutan penumpang sebesar 21. 7. Dalam rangka mengatasi kebutuhan angkutan umum dalam kola.748.7 persen untuk angkutan penumpang dan 1. dan dari 5. yaitu masing-masing dari 3.9 persen . Sedangkan bidang perkeretaapian dalam tahun 1983 telah mengalami kenaikan sebesar 9.3 juta ton barang menjadi sebanyak 5.1. serta pembinaan dan pengembangan usaha angkutan darat termasuk peningkatan pendidikan. Selama Pelita III telah dilakukan peningkatan fasilitas keselamatan jalan raya berupa pembangunan rambu-rambu lalu lintas. pada umumnya telah dapat dilaksanakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai.2 juta orang menjadi sebanyak 47. armada angkutan jalan raya telah meningkat 10.752. ditandai dengan meningkatnya jumlah armada angkutan jalan raya yang telah mencapai 1. khususnya angkutan jalan raya. lampu pengatur lalu lintas dan pusatpusat pengujian kendaraan bermotor. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru berjumlah 1.520 buah (Tabel VII.582.5 5 3 buah.928. serta guna mengurangi kepadatan lalu lintas dalam kola.4 juta ton barang.004.

496 603. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 680 buah bis.4 50.356 189.451 1971 22.116 959 701 814 1.203.488 1973 30.3 3.368 1974 31.066 590.4 52.439 1975 35.835 1979 69.370 679.428 434. 55 ARMADA ANGKUTAN JALAN RAY A. 1969 .240 471.545 1980 86.878 131.206 5.2 4.8 5.229 6.940 Jumlah 328.016 980 1.022 1.8 20.311 639.480 220.841 917.081 392. Solo 15 buah.022 383.271 6.873 Mobil -212.2 47.701 377.9 43.430 19832) 160.4 25.1 29. Jika dalam tahun 1982 jumlah armada bis kota di beberapa kota besar di luar Jakarta baru sebanyak 604 buah.748.3 5.5 3.175 144.2 4. Dalam hal ini Surabaya mempunyai bis kota sebanyak 208 buah.9 4.466 3.063 951.1 21 29.057 1. yang terdiri alas 105 buah bis bertingkat dan 575 buah bis tidak bertingkat.371 3.6 5 4.3 4.609 buah.4 Barang Ian (ton) 859 855 949 1.990 419.080 6.063 1. dan Ujungpandang 20 buah.553 1.466 3.2 Departemen Keuangan RI 215 .321 785.099 531. 1969 -1983 (dalam satuan) Tahun Bis 1969 20.497 1970 23.210 307.692 268.422 3.104 717.900 1976 39.082 4.1983 Tahun J umlah Outa orang) 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 19821) 19832) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 55.582. Bandung 144 buah. 56 PEMAKAIAN JASA KERETA API.464 1 722.7 39.073 Tab e I VII.167 535.016 1.9 3.562 1972 26.534 3.280 359.815.6961) 1.751 5.9 40.2 4.2 37.7241) 1.425.816 256.078 19821) 134.260 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Mobil 95.166 19811) 112.123 235. Semarang 134 buah. Medan 117 buah.389 46.988 277.441 791.313 J umlah Outa ton) 4 3.4 Penumpang km (orang) 3.352 2.538 657.873 482.069 1. Adapun jumlah armada bis kota yang ada di Jakarta dalam tahun 1983 adalah sebanyak 1.019 869.098 328.727 3.3 4. Tanjung Karang 42 buah. yang terdiri alas 85 bis bertingkat dan 519 buah bis tidak bertingkat.060 166.034.739 337.038 1.4 23.644 1977 1978 57.648 478. Tab e I VII.7 40.981 6.814 112.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tidak bertingkat terus ditambah.623 3.660 99.

semen. khususnya angkutan umum di kota-kota besar. Banda Aceh 14 bis dan Palembang 10 bis. peranan angkutan kereta api terus meningkat dalam melayani angkutan penumpang dan barang. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 165 buah. Manokwari 4 bis. peningkatan tersebut disebabkan oleh bertambahnya permintaan untuk jasa angkutan hasil-hasil industri. Sumbawa 8 bis. Bengkulu 23 bis. serta untuk pengangkutan transmigrasi dan pariwisata. juga lebih kecil tingkat pencemarannya dibandingkan dengan angkutan jalan raya lainnya. Ambon 5 bis. Jawa Barat yang bertujuan untuk menguji kendaraan laik darat. pertambangan. bengkel kendaraan dan tempat tunggu bis. sehingga apabila dalam tahun 1982 jumlah bis perintis baru mencapai sebanyak 142 buah. Pengembangan pedesaan yang sekaligus berfungsi sebagai angkutan perintis dan melayani daerah-daerah terpencil. sehingga arus penumpang akan lebih lancar. Lubuk linggau 9 bis. telah dilakukan peningkatan penggunaan jasa kereta api kala. Pangkal Pinang 6 bis. baik kini maupun di masa mendatang. antara lain berupa terminal dan shelter. Balik papan 4 bis. dalam menunjang laju pembangunan nasional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Untuk menjaga kelancaran . Dalam rangka mengembangkan armada angkutan kota telah ditingkatkan pula sistem dan fasilitas angkutan dalam kota. Mataram 5 bis. perkebunan dan pertanian. Selain itu telah dilengkapi pula pengadaan terminal angkutan. Hal ini disebabkan karena jenis angkutan ini selain lebih hemal dalam pemakaian bahan bakar. Dilli 18 bis. Demikian pula bagi kota-kota besar yang telah mendesak keperluan jasa angkutan masalnya. lampulampu pengatur lalu lintas dan kendaraan patroli. pupuk dan kelapa sawit. di samping juga melayani angkutan Departemen Keuangan RI 216 . Biak 6 bis. Sedangkan guna memperlancar angkutan kota. seperti minyak. batu bara. besi beton. sistem angkutan disusun secara terpadu antara angkutan bis dengan angkutan kereta api kota. tanda jalan. Palu 8 bis. yang antara lain meliputi pembangunan alat pengujian. Armada bis perintis tersebut terus ditingkatkan jumlahnya. Angkutan kereta api mempunyai peranan semakin penting. Merauke 4 bis. ketertiban dan keselamatan lalu lintas angkutan jalan raya telah dikembangkan pula fasilitas pengaturan dan pengawasan. pagar pengaman jalan. Bis-bis perintis terse but melayani daerahdaerah terpencil dengan perincian untuk stasiun Ujungpandang sebanyak 7 bis. telah diusahakan dalam bentuk angkutan campuran antara barang dan penumpang. rambu jalan. Sarong 7 bis. Kupang 6 bis. lebih cepat dan lebih teratur di samping juga dapat mengurangi kemacetan lalu lintas. Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Padang 10 buah bis. Jayapura 11 bis. Dalam waktu yang sama telah dibangun pula pusat pengujian kendaraan bermotor di Bekasi. Angkutan kereta api juga sangat efektif dan efisien dalam memperlancar distribusi beberapa hasil produksi.

yang bertujuan untuk mengangkut batu bara sebanyak 3 ton setahun sebagai sumber energi bagi PLTU di Suralaya.0 ton per kilometer dalam tahun 1982 menjadi sebesar 951.070 buah. teiah dilakukan peningkatan kapositas dan mutu pelayanan angkutan kereta api kala melalui Departemen Keuangan RI 217 .3 juta ton dalam tahun 1982 menjadi 5.2 juta orang atau 6.57.3 juta orang per kilometer. lok disel.4 juta ton dalam tahun 1983. kereta rei listrik (KRL) sebanyak 60 buah. yaitu dari 1. kereta rei disel (KRD) sebanyak 112 buah. gerbong sebanyak 10. Perkembangan jumlah angkutan penumpang dan barang dapat diikuti melalui Tabel VII. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 47.329 kilometer. Sebagian daripada kebutuhan prasarana dan sarana kereta api tersebut telah pula diproduksi di dalam negeri. PT Inka (Industri Kereta Api) teiah merakit 400 gerbong dari bahan complete manufacturing (CM) keluaran Sumitomo Jepang. Dalam tahun 1982.4 juta orang atau 6. kereta penumpang sebanyak 360 buah dan gerbong sebanyak 400 buah. Dalam rangka mengatasi masalah angkutan masal di wilayah Jabotabek.56. Di samping itu juga telah dilakukan pembangunan lintas kereta api antara Meneng-Kabat di Jawa Timur yang ditujukan untuk memperlancar distribusi pupuk di wilayah tersebut. yang menunjukkan peningkatan operasianal perusahaan sehingga mampu beroperasi secara efektif dan efisien.2 ton per kilometer dalam tahun 1983. Sementara itu pembuatan sarana dan suku cadang kereta api terus dikembangl)an sehingga kebutuhan sarana dan prasarana kereta api dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri. Hasil rehabilitasi di bidang perkeretaapian dapat diikuti pada Tabel VII. kereta penumpang sebanyak 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pariwisata. Sejak tahun 1981 sampai dengan tahun 1983. antara lain telah dilakukan peningkatan jalan kereta api serta rehabilitasi dan penambahan lok uap. transmigrasi dan angkutan kala. Hasil yang teiah dicapai di bidang saran a dan prasarana kereta api selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III antara lain meliputi rehabilitasi lok uap sebanyak 38 buah. lok listrik.623 buah. Sedangkan angkutan barang dalam ton per kilometer mengalami penurunan hila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. kereta penumpang dan gerbong barang. Dalam pada itu Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) juga mempunyai proyekproyek pembangunan kereta api yang cukup besar. Untuk dapat meningkatkan kapositas angkutan dan mutu pelayanan kereta api tersebut. serta rehabilitasi/peningkatan jalan kereta api sepanjang 2. antara lain proyek pengembangan pengangkutan batu bara Bukit Asam dengan kereta api (P3Baka) dari Tanjung Enim ke Tarahan. jumlah angkutan penumpang kereta api adalah sebanyak 43.2 juta penumpang per kilometer. Demikian pula angkutan barang dalam waktu yang sarna telah mengalami peningkatan dari 5. Selain itu telah pula dilakukan penambahan lok disel sebanyak 75 buah. lok disel sebanyak 590 buah.063.

3 272 40. Dengan demikian.3 326. di samping dimaksudkan juga untuk memekarkan bidang usaha pelayanan tradisional.243 7. 1969/1970 .1983/1984 1969/70 1970/71 1971/12 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 94.906 3.3 1.2 207 164.120 2. serta beberapa lokasi sarana angkutan jalan. pengadaan 15 buah kapal dan 4.341 5) 4.112 301 236 455 135 130 42 20 15 15 69 196 111 93 259 34 22 42 34 56 83 38 21 389 3) 1. Bangunan operasional (m2) 5. Penggantian rei (km) 2. Di samping itu Departemen Keuangan RI 218 .371 3.2 351. Buah 3.5 295.382.675 11.096 kilometer dan pengerukan sekitar 300.7 294. Penggantian bantalan(ribu bt) 3. Hasil-hasil yang dicapai selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III antara lain meliputi pembangunan 25 buah dermaga sungai.4 218. Angka diperbaiki TabelVII.514 15.9 126. baja(buah) 1.9 5.7 565.3 232.701 38 1) 58 1) 39 I) 15 1) 67 1) 115 1) 2.379 buah rambu-rambu.606 81 301 2) 190 140 42 2) 55 4) 99 79 3.1 150. 5 buah terminal.50 191 1.943 14.6 124. meningkatkan kapasitas angkut serta menciptakan sistem transportasi yang terpadu antara kereta api dan jalan raya.469 15 10 23 69 68 48 31 28 7 3 13 16 40 91 103 111 111 107 118 163 128 387 15 2 2 8 20 65 62 176 390 444 635 406 256 246 328 387 92 52 58 25 680 714 2. Angka sementara 5.376. a.038.223 2. Lok listrik (buah) 8. danau dan penyeberangan. Perbaikan pilar jembatan(m 3) (ton) 4.8 620 968 164 732.6 513.5 5) 1. 11 buah gedung kantor.960 3.7 188.583 2.272 1.60 4.055 3.2 296. Adapun tujuan proyek kereta api Jabotabek tersebut antara lain untuk mengurangi beban jalan raya.7 354.136.4 180. Selanjutnya juga telah dilakukan penelitian terhadap penggunaan angkutan kereta api untuk angkutan petikemas serta penelitian pembangunan lintasan baru bagi pengembangan industri semen di pulau Jawa dan Sumatera.2 397.2 298. Rehabilitasi gerbong (buah) 10. danau dan penyeberangan. 57 REHABILITASI DI BIDANG PERKERETAAPIAN.7 578.2 280.385. Kereta (buah) 9. serta penyediaan jasa angkutan sepanjang tahun secara tetap dan teratur. terutama bagi penduduk di tepi sungai dan danau yang belum dilayani oleh jenis angkutan lain. beton (buah) b. penghematan energi bahan bakar minyak melalui sistem propulsi kereta api dengan listrik dari PLN. Unit 2. Di samping itu pembangunan angkutan penyeberangan juga telah dapat meningkatkan hubungan penyeberangan sungai dan selat.40 422 762 .772 2. Pelaksanaan pembangunan angkutan sungai.000 meterkubik.4 349. baik pelayanan angkutan jalan raya maupun angkutan sungai. Ton Perkembangan di bidang angkutan sungai dan danau sampai dengan tahun pertama Repelita IV sangat dirasakan manfaatnya dalam memperlancar angkutan daerah pedalaman dan daerah terpencil.825 1.253 2. Lok uap (buah) 6.30 7. penghematan waktu.359 2. Dalam hubungan ini. pembersihan alur sepanjang 1. danau dan penyeberangan telah dapat ditingkatkan menjadi satu kesatuan hubungan yang terpadu. sampai dengan tahun pertama Repelita IV telah ditempuh beberapa kebijaksanaan antara lain mengutamakan proyek lanjutan agar segera dapat terwujud dan langsung dapat beroperasi.474 973 1. Uraian 1. Lok disel (buah) 7. Assembling gerbong (buah) I 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penambahan sarana angkutan dan peningkatan prasarananya. penyediaan jasa angkutan diarahkan agar pihak swasta dan koperasi khususnya golongan ekonomi lemah dapat turut berperanserta.

Perhubungan taut pembangunan di bidang perhubungan taut ditandai dengan meningkatnya penyediaan jasa angkutan taut baik oleh sektor Pemerintah. Sedangkan dalam tahun pertama Repelita IV telah dilakukan peningkatan dan pembangunan sarana dan prasarana angkutan sungai. danau dan penyeberangan di Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya. koperasi maupun Pemerintah. serta peningkatan kapositas galangan kapal. pengembangan armada angkutan taut terse but dilakukan oleh pihak swasta nasional. 2 buah dermaga sungai. 11 buah kapal inspeksi serta pengerukan sebanyak 113. Dalam hal ini partisiposi Pemerintah dibatasi pada kegiatan pelayaran tertentu saja. Selain itu juga telah dilakukan peningkatan pelayaran operasional. Hasil-hasil yang dicapai dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni tahun 1984 adalah meliputi pembangunan 9 buah dermaga penyeberangan. danau dan penyeberangan berupa rehabilitasi dan penambahan kapal. di mana setiap lintasan dilayari oleh lebih dari 2 kapal penyeberangan baik milik swasta. swasta maupun koperasi.211 meterkubik. Hal tersebut antara lain meliputi peningkatan kapositas angkutan armada pelayaran dan mutu pelayanan dalam negeri yang terdiri atas armada pelayaran nusantara. Selanjutnya telah pula dilakukan penambahan 2 buah sarana angkutan sungai dan danau. fasilitas pengamanan taut dan pantai. kesyahbandaran. 7. di samping juga sedang diselesaikan sebanyak 8 buah lintasan baru. serta lintas-lintas perairan dipedalaman Kalimantan. Sementara itu akan terus ditingkatkan pembangunan lintas dari Sabang sampai ke Los Palos. dengan menciptakan iklim usaha Departemen Keuangan RI 219 .2. armada pelayaran lokal. penambahan fasilitas keselamatan pelayaran serta pembersihan dan pengerukan alur pelayaran. peralatan pelabuhan. penyempurnaan kelembagaan serta pembinaan \ terhadap usaha masyarakat di bidang angkutan sungai. pembangunan dermaga dan terminal. danau dan penyeberangan.8. pengembangan jasa industri maritim dan pekerjaan bawah air. dilakukan peningkatan fasilitas armada taut. 4 buah terminal penyeberangan. telekomunikasi pelayaran. alur pelayaran. Selain itu terus dilakukan pula peningkatan kapositas armada pelayaran dan mutu pelayanan luar negeri yang meliputi armada pelayaran samudera umum dan armada pelayaran samudera khusus.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 angkutan penyeberangan juga telah dapat beroperasi di 19 lintasan yang dilayari oleh 62 kapal. pengerukan kolam pelabuhan. 2 buah terminal sungai dan 291 buah rambu sungai. lintas-lintas di kepulauan Maluku dan Irian Jaya. keselamatan pelayaran. di samping juga usaha patungan antara pihak swasta nasional dengan swasta asing. lintas angkutan sungai. Untuk dapat meningkatkan jasa perhubungan taut secara keseluruhan. armada pelayaran rakyat dan armada pelayaran perintis.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang ditujukan untuk merangsang pihak swasta dalam menunjang pengembangan armada nasional. dengan memakai karat sebanyak 387 buah dengan kapositas 486. sehingga terwujud suatu sistem pelayaran terpadu yang menunjang kelancaran arus barang dan penumpang dengan aman. sedangkan pelaksanaan angkutan transmigrasi diselenggarakan oleh Pemerintah dan swasta. Dalam periode tersebut telah terjadi peningkatan muatan barang dan petikemas sebesar 13 persen dan 218 persen. Selanjutnya pola jaringan pelayaran Nusantara telah dipadukan dengan jaringan yang dilayani kapal pelayaran lokal.690 DWT telah berusia di alas 30 rabun. maka karat-karat tersebut secara bertahap sampai dengan bulan Agustus 1984 diganti dengan karat-karat produk. karena pada akhir Pelita III sebanyak 62 karat dengan clara muat 60'. pengembangan daerah terutama di Indonesia bagian timur. armada pelayaran Nusantara telah memanfaatkan prasarana dan Departemen Keuangan RI 220 . cepat dan teratur. Armada pelayaran Nusantara dan pelayaran lokal sebagai jaringan utama angkutan taut dalam negeri telah dan terus ditingkatkan melalui penambahan kapositas armada pelayaran.824 DWT.423. Sejalan dengan meningkatnya angkutan transmigrasi dari tempat asal ke tempat tujuan. 495. dengan memakai karat sebanyak 397 buah dengan kapositas seluruhnya 503. serta penumpang sebesar 4 persen. Kegiatan-kegiatan tersebut dimaksudkan agar sistem angkutan taut dapat meningkatkan kegiatan pemasaran.untuk lebih meningkatkan lagi produktivitas angkman lalit. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlah muatan yang diangkut telah meningkat menjadi 8. dan diarahkan pada usaha wiraswasta bahari nasional dengan mendorong perusahaan-perusahaan kecil untuk bergabung dalam bentuk koperasi. efisien. penyempurnaan sistem trayek pelayaran.927 unit petikemas. serta pembinaan perusahaan-perusahaan pelayaran. Dalam tahun 1982/1983. dapat menjangkau daerah-daerah terpencil dan dapat meningkatkan kegiatan ekspor. Peranan perhubungan laut secara keseluruhan terus ditingkatkan untuk mencapai keterpaduan berbagai jenis pelayaran.896 orang. sehingga dapat meningkatkan pelayaran antarpulau yang lebih efektif.457. serta tarip jasa yang terjangkau..si dalam negeri. Namun . penyediaan jasa perintis diselenggarakan oleh Pemerintah.376 unit petikemas penumpang sebanyak 475. serta memperlancar arus barang dan penumpang. termasuk transmigrasi.375 DWT. sehingga tidak dapat lagi beroperasi sepenuhnya. Sebaliknya jumlah dan kapositas armada mengalami penurunan. manajemen dan diversifikasi usaha.58. Perkembangan armada niaga Nusantara dapat dilihat pada Tabel VII.245 penumpang. jumlah muatan yang diangkut oleh armada pelayaran Nusantara meliputi barang sebanyak 7.463 ton barang dan 1_. serta pembinaan sistem organisasi.610 ton dan 4. Selain itu juga dilakukan pembinaan pelayaran rakyat sebagai modal angkutan tradisional yang potensial. teratur.

436 ton. Kalimantan Selatan. Palembang. namun kapasitasnya telah meningkat menjadi 133. Maluku dan Irian Jaya.444. Cirebon. usaha koperasi serta usaha swadaya masyarakat.155. serta mengangkut barang dan penumpang masing-masing seberat 2.3 persen dan 6 persen. Departemen Keuangan RI 221 . Gresik. Bitung. Semarang. kapositas armada pelayaran rakyat baru sebesar 180. Selama ini armada pelayaran Nusantara telah melaksanakan pengangkutan transmigrasi dari beberapa pelabuhan asal yaitu Tanjung Priok. jumlah armada pelayaran lokal baru sebanyak 1. Dalam kaitan ini juga telah dilaksanakan peningkatan fasilitas pelabuhan.138 DWT. Bidang pelayaran rakyat selain merupakan jenis angkutan laut penunjang pelayaran Nusantara yang melayari daerah-daerah terpencil. Pem binaan pelayaran rakyat dimaksudkan untuk membantu meningkatkan kehidupan so sial ekonomi masyarakat dan sekaligus memberikan kesempatan untuk berkembang bagi golongan ekonomi lemah. Walaupun dalam tahun 1983/1984 jumlah karat telah menurun menjadi 1. Tegal. Sunda Kelapa. sedangkan dalam tahun 1983/ 1984 masing-masing telah meningkat menjadi 195. Perkembangan jumlah armada pelayaran lokal dapat dilihat pada Tabel VII. Untuk menunjang perkembangan armada pelayaran lokal tersebut.481. terus dilakukan pembinaan melalui usaha koperasi dan motorisasi perahu layar dengan mengutamakan golongan ekonomi lemah. Kalimantan Timur.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sarana perhubungan taut yang ada tanpa mengganggu fungsi mama kegiatan pelayarannya.747 orang. telah berkembang adalah seperti yang diharapkan terutama dalam mengumpulkan barang-barang ke pelabuhan pengumpul. Riau. Semarang. atau suatu kenaikan masing-masing sebesar 8.496 orang. Idi dan Ternate.59.477 DWT dengan jumlah muatan sebanyak 2. Benoa dan Lembar ke berbagai daerah tujuan pemukiman transmigrasi di Sumatera.400 DWT. juga merupakan pelayaran yang sesuai dengan potensi angkutan laut tradisional sehingga terus dikembangkan dan dibina. Di samping itu dalam tahun yang sarna juga telah dimotorisasikan sebanyak 1.677 ton dan sebanyak 610. Kalimantan Barat. Pelayaran lokal sebagai unsur penunjang pelayaran Nusantara Regular Liner Service (RLS). Dalam tahun 1982/1983. Kendari. serta mengangkut 2. baik di daerah asal transmigrasi maupun di pelabuhan kecil yang melayani daerah-daerah pemukiman transmigrasi. Paotere.294.460 DWT dan 2. Sulawesi Tenggara. Jambi. Kalimantan Tengah. Dalam tahun 1982/1983.600 ton. antara lain di Sibolga. Surabaya.347 ton barang dan 653.025 buah. Untuk menunjang pelayaran terse but. terus dilakukan peningkatan dan pembangunan beberapa prasarana dan sarana pelabuhan perahu layar. Sulawesi Utara.049 buah karat dengan kapasitas 129. Donggala. Sulawesi Tengah.390 kapal melalui dana Bantuan Presiden.

1983 Jumlah kapal Kapal 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982i) 1983 1) Angka sementara 182 273 282 282 267 300 305 340 316 322 373 390 361 397 387 DWT 184.759 321.931 272.375 486.9 155.481 Tahun Jumlah kapal 1969 803 1970 777 1971 623 1972 679 1973 980 1974 965 1975 858 1976 1.970 2.090 1982 1.8 161. antara lain melalui perluasan hubungan angkutan laut ke daerah-daerah terpencil dan terisolir.411 311.1 Muatan yang ( ribu ton) 1.824 Tahun T abel VII. 1969 -1983 Kapositas ( ribu DWT ) 60.389 1980 1.000 386.348 1978 1.081 1981 1.278 1.685 238.669 284.8 132.950 330.382 1.899 1.669 321. pengaturan pelayaran serta penambahan frekuensi.419 310.445 2.271 2.162 1. Di samping itu Departemen Keuangan RI 222 .004 234.375 4.570 312.200 2.025 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Pembangunan di bidang pelayaran perintis juga terus ditingkatkan.824 Kapal-k. 58 ARMADA PELAYARAN NIAGA NUSANTARA.543 1.144 1983 2) 1.2 154.428 503.208 938 1.669 284.6 163.41) 133.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e 1 VII.419 310.378 425.448 1979 1.950 330.6 92.954 406.350 267.954 406.278 1.931 272.apal yang beroperasi Kapal 130 232 215 282 267 300 305 340 316 322 373 390 361 397 387 DWT 138. 59 ARMADA DAN MUATAN PELAYARAN LOKAL.570 312.428 503.6 92.7 90 83 86 92.535 321.822 1.479 1.000 386.1 147. 1969 . penambahan pe!abuhan yang disinggahi.277 1977 1.4 129.378 425.411 311.

baik semi container (petikemas) maupun full container. pupuk. Di samping itu setiap tahun kaposltas dan jumlah kapalnya juga telah disesuaikan dengan pertumbuhan permintaan akan jasa angkutan laut. Dengan adanya usaha peningkatan angkutan petikemas.60. minyak kelapa sawit. Perkembangan jumlah armada dan muatan pelayaran samudera dapat dilihat pada Tabel VII. nikel. cepat. Jumlah dan kapositas kapal petikemas tersebut telah mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan akhir Pelita III yang berjumlah 11 buah kapal dengan kapositas seluruhnya 130.200 ton barang dan 127. baik jumlah armada maupun daya angkutnya. melayari 29 trayek. Sedangkan dalam tahun 1983/1984. Pe1ayaran samudera telah pula meningkat karasitasnya. pantai barat Sumatera. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 PT Jakarta Lloyd telah memiliki serta mengoperasikan sebanyak 7 buah kapal. kayu.387 orang. bermuatan nasional seberat 6.848 penumpang. Dalam tahun 1982/1983.501 buah kapal dengan kapositas seluruhnya Departemen Keuangan RI 223 . yang antara lain mengangkut minyak bumi. Demikian pula pembinaan pelayaran diarahkan pad a sistem angkutan laut yang teratur. oleh karena kapal petikemas konvensional tidak dioperasikan lagi. dengan muatan yang diangkut seberat 53. Berkurangnya jumlah kapal yang digunakan dan trayek yang dilayari terse but adalah karena telah banyaknya trayek-trayek ekonomi yang dapat dilayari pelayaran lokal dan pelayaran rakyat. posir besi. Jumlah muatan yang diangkut kapal nasional dalam taliun 1982/1983 adalah sebanyak 18.000 ton. yang melayari 35 trayek dan menyinggahi sebanyak 214 pelabuhan.200 DWT. antara lain di pantai barat Aceh. kapositas yang tersedia telah mencapai sebesar 732.325 DWT. dengan sejauh mungkin memanfaatkan usaha pelayaran swasta setempat terutama pengusaha golongan ekonomi lemah. Dalam tahun 1983/1984. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 18.694.052 DWT.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 terus dilakukan pula pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaannya.166 ton barang dan 161. bauksit.964 ribu ton. jumlah armada pelayaran khusus baru mencapai 2. Dalam tahun 1982/1983. sampai dengan akhir Pelita III telah meningkat. Pelayaran khusus.270. Adanya peningkatan penggunaan angkutan petikemas pada gilirannya teiah meningkatkan kapositas angkut disamping lebih efisien pula penggunaannya. yang terdiri atas 3 buah kapal full container. murah dan aman.000 ton dan bermuatan asing seberat 12. aspal. menyinggahi 177 pelabuhan dengan muatan seberat 31. Riau dan Banjarmasin. dan semen.465 ribu ton. dan 4 buah kapal semi container dengan clara angkut seluruhnya masing-masing 61. jumlah armada pelayaran perintis yang telah dioperasikan adalah sebanyak 36 kapal. tetap. di samping telah dilakukan pula penyesuaian terhadap perkembangan teknologi. telah terjadi penurunan yaitu jumlah armada yang dioperasikan menjadi 31 kapal.500 DWT dan 61.

Tanjung Petak. Kendari.041 ton/meterkubik dan 39. serta peningkatan peralatan bongkar muat barang. Oleh sebab itu pembangunan fasilitas pelabuhan terus ditingkatkan sesuai dengan pertumbuhan lalu limas pelayaran dan arus bongkar muat barang yang terjadi di masing-masing pelabuhan. Untuk memelihara dan meningkatkan kelancaran lalu lintas kolam pelabuhan dan alur pelayaran!. Hasil-hasil pengerukan pelabuhan dapat dilihat pada Tabel VII. Adanya peningkatan pelayaran khusus dalam negeri tersebut juga telah memperlancar distribusi bahan pangan serta bahan 'bakar minyak (BBM) ke seluruh pelosok tanah air. Kegiatan tersebut dilakukan melalui rehabilitasi. Tanjung Priok. Pengembangan fasilitas pelabuhan merupakan salah satu penunjang kegiatan pelayaran. Di samping itu dilakukan pula peningkatan operasional melalui pembentukan perusahaan umum pelabuhan dan pengelompokan pelabuhanpelabuhan dalam 4 Perum pelabuhan yang berpusat di Belawan. Pengerukan tersebut dilakukan oleh 39 buah kapal keruk dengan kapositas 39 juta meterkubik.587 HP. disediakan sebanyak 25 pelabuhan Utama yang tersebar di seluruh wilayah tanah air. minyak kelapa sawit.489 BRT dan 425. fasilitas gudang dan lapangan penumpukan.408 HP. 606. kayu olahan. Sei Kahayan. Ujungpandang.6 persen.682.489 BRT dan 361. Gresik. Panarukan. Manado dan Bitung. Dalam tahun 1983/1984 telah berhasil dilakukan pengerukan lumpur sebanyak 15. pembangunan baru dan peningkatan fasilitas dermaga. Tanjung Priok. Palembang. bijih tambang serta minyak dan gas bumi. Kenaikan muatan tersebut antara lain disebabkan karena meningkatnya produksi di bidang industri semen. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 2. serta mengangkut muatan non migas dan migas masing-masing seberat 14. pupuk.7 persen. Sei Barito. Hal ini berarti telah terjadi peningkatan masing-masing sebesar 1. 649. Sei Mahakam. 784. Tegal. dengan kapositas 2. Probolinggo. 17. Jambi.740 DWT.pengerukan kolam pelabuhan dan alur pelayaran telah dan terus ditingkatkan. Bengkulu. Selain itu juga telah dilakukan peningkatan keterampilan tenaga kerja dan buruh pelabuhan agar pengoperasiannya dapat dilaksanakan Departemen Keuangan RI 224 . Tanjung Perak dan Ujungpandang.61. Cirebon. Keempat pelabuhan tersebut ditunjang oleh 14 pelabuhan kolektor sebagai pengumpul dan pengirim barang ekspor.215 DWT.542 buah kapal. Semarang.981. Sedangkan untuk kegiatan angkutan laut domestik.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. 150 persen dan 141 persen.535 ton/meterkubik dan 95. terutama dengan semakin meningkatnya standar kapal dan bongkar muat barang.71juta meterkubik.628 liter/ton.267.541 liter/ton. Pulau Batam.772.240. serta mengangkut muatan nonmigas dan migas sebanyak 36. yang dilakukan di pelabuhan-pelabuhan dan alur pelayaran Belawan. Sunda Kelapa.

452 12.2 14.964 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1) Angka sementara Tab e I VII. antara lain meliputi rehabilitasi dan peningkatan dermaga seluas 5.2 14.343 1.120 14.0 10.0 11.2 17.095 16. 60 ARMADA DAN MUATAN PELAYARAN SAMUDERA.7 15. 1969 -1983 Tahun JumIah kapal 39 48 59 53 41 45 47 50 54 52 50 58 61 62 51 Kapositas (ribu DWT) 318 386 489 467 387 339 412 450 491 513 513 668 802 827 732 Muatan yang ( ribu ton) 1.7 Persentase terhadap target 145 115 106 100 100 100 104 109 103 83 100 100 100 100 100 1) Angka sementara Ketelangan : JumIah lumpur yang dikeruk dinyatakan dalam juta m 3 hopper ( lumpur bercampur air ) Departemen Keuangan RI 225 .967 5.913 2.7 15 17. produktivitas rata-rata dermaga pelabuhan telah mencapai 700-800 ton/meter per tahun. Hasil-hasil yang telah dicapai dalam tahun 1983/1984.121 12.1 15 17.5 16. pembangunan dermaga baru seluas 54.406 10. pembangunan penahan gelombang seluas 8. Dengan pembangunan tersebut.752 16.5 21. Perkembangan fasilitas pelabuhan dapat diikuti melalui Tabel VII.62.0 15.923 9.7 15. 1969/1970 . 61 HASIL PENGERUKAN PELABUHAN. Tabel VII.917 meter persegi.6 16 16 16 16 16 19 20.4 16.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan lebih.1983/1984 ( dalam juta m3 ) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/19831) 1983/1984 Target 11.7 17.465 18.2 17.636 18.026 meterpersegi.7 Realisasi 16.145 meter persegi.650 6.6 16 16 16 16.917 5.186 meter persegi serta pembangunan lapangan penumpukan seluas 41. baik.

kapal serta pembersihan alur dan daerah perairan dari kerangka. Penahan gelombang .100 11.Penambahan 2.216 17.066 1.334 11.368 1.Rehabilitasi (ton/hari) .804 300 155. Pangkalan bantu sarana navigasi 10.921 6.270 45 3. Lampu peIabuhan 6.Penambahan (ton/hari) 6.257 23. Supply Vessel 8.Rehabilitasi . Dalam hubungan ini terus ditingkatkan perawatan dan perbaikan kapal nasional.026 8.190 22. perbaikan dan pembangunan kapal.Penambahan (kva) 5.Rehabilitasi (kva) .1984/1985 ( dalam satuan ) Jenis sarana L Pcrambuan daft pencrangan pantai : 1.700 299 60 3.473 14. Stasiun radio kelas II 3.340 1979/1980 Jumlah pelabuhan 15 3 55 360 500 3 unit 150 900! 1.600 200 200 1981/1982 Jumlah pelabuhan 6 47 2 4 2 4 1 1 400 Fisik 2.794 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.Rehabilitasi . ADak pelampung 5. Di samping itu juga telah dilakukan Departemen Keuangan RI 226 . karang dan ranjau.750 2. Ben g k e I 11.942 2.514 54. Kapal rambu (watch boat) 9.465 5.253 12.100 m2 11 6 Di bidang jasa maritim.kerangka kapal. 1969/1970 -1984/1985 1977/1978 PELITA I 1974/1975 1975/1976 1976/1977 Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Fisik Fisik Fisik Fisik Fisik pelabuhan pelabuhan pelabuhan pelabuhan pelabuhan 1.928 1.62 REALISASI FISIK PEMBANGUNAN FASILITAS PELABUHAN.946 2 15 2 1 4 1 4 21. G u d an g . dewasa ini telah dapat ditingkatkan kemampuan perawatan. Dalam tahun 1983/1984.075 10.Rehabilitasi (kva) .n) 6.255 1982/1983 Jumlah 1983/1984 Jumlah pelabuhan pelabuhan 4 31 1 1 4 5 3 35 1 2 800 1984/1985 1) J um1ah Fisik Fisik pelabuhan 0 0 0 0 8.Penambahan (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) 29.218 m2 1980/1981 Jumlah Fisik 1.000 DWT telah dapat diperbaiki oleh galangan kapal dalam negeri.Penambahan (ton/h.190 1.700 2 unit 4 18 1 5 2 6 2 4 3 2.800 22.Penambahan 4. Pelampung suar 4. Buoy tender 7. Stasiun radio kelas III 4. Fasilitas air .650 2 1.500 pe1abuhan 5 64 1 6 1 2 4 1 6 Fisik 3.325 24.Penambahan 3. 63 REHABILITASIIPEMBANGUNAN FASILITAS KESELAMATAN PELAY ARAN. AIat bongkar muat .399 2.Rehabilitasi (ton/hari) .Penambahan 2.725 8.Rehabilitasi . Lis t ri k .Penambahan 4. Rambu suax 3. Fasilitas air . Elektrifikasi menara suar 2.764 18.700 3.296 31. AJat bongkar moat .025 756 pelabuhan 6 15 3 3 5 6 5 5 8 Fisik 11. Stasiun radio kelas I 2.281 11.690 15.145 11.425 3.035 (ton) (ton) (hp) 6 25 27 17 6 1 15 9 6 3 16 4 2 1 2.175 2. 1972/1973 .535 260 1.455 135 48. G u d a n g .242 800 320 2.497 2.550 33.521 1.878 2.Penambahan (kva) 5. IL Telekomunikasi: 1.720 11.Rehabilitasi .310 22. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984..007 10 17 3 4 6 11 5 6 10 1978/1979 Jumlah Fisik 14. Dermaga . Kade / dennaga .800 m2 1) 700 m2 1) 7 1 5 23 - 5 2 1 26 4 6 8 1.Rehabilitasi . di samping juga kemampuan dan fasilitas galangan kapal dalam negeri.186 - T abe I VII.810 4. sebanyak 60 persen dari armada pelayaran nasional yang berukuran di bawah 10.246 17.Rehabilitasi .455 515 7. Kode / dermaga .Rehabilitasi .000 400 5 unit 40 unit 3 - 7 31.732 230 5. Stasiun radio kelas IV 1) Masing-masing adalah merupakan bagian dari 2) Angka sementara 1972/73 10 13 8 1 2 1 2 1 1973/74 11 13 26 1974/75 4 9 6 2 2 1 2 1975/76 12 17 5 1 1976/77 7 5 10 2 2 4 1977/78 9 13 1978/79 11 25 7 14 2 1979/80 10 11 20 7 1980/81 12 18 1 6 10 1981/82 12 38 7 15 12 1982/83 1983/84 1) 1984/85 2) 26 39 7 5 11 23 2 27 3 6 25 23 4 5 1 1 1 . jumlah kapositas galangan kapal telah mencapai 163.500 3.Penambahan 3.800 53.700 DWT dengan produksi doking sekitar 127 juta DWT. Penahan gelombang .Rehabilitasi .206 1.Penambahan (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) 90 1 (ton) (ton) (hp) 59.960 4 17 4 8 1 1 6 1 4 2 9. Listrik .070 2.680 1.

walaupun pada tahun terakhir Pelita III tingkat pertumbuhannya tidak setinggi awal Pelita III. Sedangkan guna meningkatkan pengawasan teknis pembangunan reparasi kapal. pcnjagaan laut dan pantai serta jasa klasifikasi. pertumbuhan prasarana. Selain itu juga oleh adanya peningkatan frekuensi penerbangan. tanaman dan pos melalui udara. Surabaya. te1ah pula dilakukan peningkatan pe1ayanan angkutan perintis di daerah-daerah terpencil. Di samping itu juga te1ah dilaksanakan pembangunan landasan udara baru sesuai dengan pertumbuhan lalu lintas udara. telah dapat dikembangkan sebanyak 5 buah pe1abuhan udara. Ujungpandang. yaitu di Medan. serta peningkatan pe1ayanan angkutan transmigrasi dan pelayanan angkutan haji. Se1ain diusahakan pertumbuhan angkutan komersial dalam dan luar negeri. serta peningkatan kemampuan pegawai melalui pendidikan dan latihan. 7. radio pantai. Sehubungan dengan itu terus dilaksanakan proyek-proyek lanjutan dalam masa Pelita IV.3. Perhubungan udara Kegiatan pembangunan sektor perhubungan udara sampai dengan tahun pertama Pelita IV ditandai antara lain oleh usaha pemenuhan kebutuhan masyarakat di bidang jasa angkutan udara yang semakin meningkat. Demikian pula dalam rangka keselamatan dan keamanan pelayaran. hewan. dalam waktu yang sama telah dapat ditingkatkan kemampuan dan modernisasi sarana keselamatan dan keamanan pelayaran di perairan Indonesia. A-300 dan DC-lO. peningkatan kemampuan landasan udara serta penambahan peralatan keselamatan penerbangan. dan Biak guna menampung pesawat berbadan lebar tipe B-747. terutama di pelabuhan Sunda Kelapa dan Cilacap. dilakukan pembinaan di bidang manajemen keuangan serta pembentukan usaha patungan perusahaan dok/galangan kapal dalam negeri dengan perusahaan dok/galangan kapalluar negeri. Denpasar. Selanjutnya untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dok/galangan kapal dalam negeri. Sejalan dengan itu ditempuh usaha-usaha untuk menciptakan kemudahan-kemudahan bagi lalu lintas penumpang. rambu suar. sarana dan angkutan udara mengalami kenaikan. antara lain berupa pembangunan fasilitas navigasi. Selama Pelita III. peningkatan kesyahbandaran. terus dilakukan pembinaan klasifikasi Indonesia dan penambahan sarana laboratorium.63. Departemen Keuangan RI 227 . perluasan jaringan penerbangan. menara suar. Hasil rehabilitasi fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dapat diikuti melalui Tabel VII.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembersihan alur-alur pelayaran dan daerah pelabuhan dari kerangka kapal dan ranjau. penambahan jumlah dan komposisi armada. barang. termasuk di dalamnya pembangunan dan peningkatan beberapa pe1abuhan udara dan lapangan terbang. Sampai dengan tahun pertama Repe1ita IV.8. serta dapat menjangkau ke se1uruh tanah air.

Hasil pembangunan yang telah dicapai dalam tahun pertama Repelita IV antara lain te1ah terdapatnya 9 landasan yang dapat didarati oleh pesawat tipe C-l60 dan CN-235. Samarinda. Poso. Uji coba pendaratan dan lepas landas telah dilakukan. Samsudin Noor di Banjarmasin. Waikabubak dan Baucau. Bima. disesuaikan menjadi pelabuhan udara yang dapat dioperasikan untuk pesawat CN-235. 7 landasan oleh DC-9. Kota Baru. Sehubungan dengan akan diproduksinya pesawat CN-235. Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan pelabuhan udara. Talangbetutu di Palembang. Pangkalan Bun. Hasanuddin di Ujungpandang dan Mokmer di Biak. 20 landasan oleh F-28. Pulau Batam. Juanda di Surabaya. telah dilakukan pembukaan Departemen Keuangan RI 228 . antara lain bahwa semua pelabuhan udara yang melayani pesawat jet secara bertahap diperlengkapi dengan instalasi peralatan navigasi DVOR (Doppler Very High Omni Range). fasilitas telekomunikasi di 46 pelabuhan udara. sedangkan pada 6 pelabuhan udara lainnya sedang dalam persiapan pemasangan instalasi. dan sesuai dengan jadwal akan beroperasi penuh dalam bulan April 1985. 3 landasan oleh pesawat Hercules tipe L-I00-300. Halim Perdanakusumah di Jakarta. fasilitas dan pesawat terbang. Ampenan. Di bidang keselamatan penerbangan. Dalam pada itu telah pula dibangun dan ditingkatkan pe1abuhan udara perintis di 75 lokasi yang tersebar di 27 propinsi di Indonesia. fasilitas pengangkat pesawat di 3 pelabuhan udara dan fasilitas pemadam kebakaran di 48 pelabuhan udara. maka pelabuhan udara yang semula direncanakan menjadi pelabuhan udara yang dapat dioperasikan dengan pesawat Fokker 27 (F-27). Ruteng. Kegiatan penerbangan perintis terus ditingkatkan pula melalui penambahan frekuensi penerbangan dan lapangan terbang perintis. Di samping itu juga telah dilakukan pemasangan alat bantu pendaratan ILS (Instrumen Landing System) di 7 pelabuhan udara yaitu Polonia di Medan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 antara lain di Meulaboh. 2 landasan oleh DC-lO dan A-300 serta 2 landasan yang dapat didarati oleh B-747. hingga tahun pertama Repelita IV juga telah ditingkatkan fasilitasnya. Timika. Selain itu sesuai dengan sa saran yang hendak dicapai. Adapun pelabuhan udara internasional di Cengkareng sedang dalam taraf penyelesaian. serta untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas udara dari pemakaian jasa terminal pelabuhan udara. jumlah pelabuhan udara yang beroperasi lebih dari 12 jam telah menjadi 20 buah pelabuhan udara. Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. sedangkan penyelesaian pekerjaan akan dilanjutkan dengan penyempurnaan gedung terminal dan fasilitas peralatan kese1amatan penerbangan. Nabire. Demikian pula telah dilakukan pemasangan fasilitas radar di 7 pelabuhan udara. Waingapu. jumlah lapangan terbang perintis telah berhasil ditambah menjadi 95 buah yang dilayani oleh 19 buah pesawat DHC-6 dan 16 buah pesawat C-212.

Untuk melaksanakan angkutan transmigrasi. Dalam tahun pertama Repelita IV. Selanjutnya telah direncanakan pula sebanyak 42 Pelud untuk melayani penerbangan malam. sebanyak 188 buah di antaranya dipergunakan untuk melayani penerbangan berjadwal. Semarang. Mandala menggunakan 15 buah pesawat. 250 buah pesawat untuk melayani penerbangan tidak berjadwal . Pelita Air Service sebagai pengelolanya telah memiliki 6 buah pesawat udara tipe Hercules (L-I00-300) dan 3 buah pesawat udara tipe Transall (C-I00). Dari jumlah tersebut. yaitu bila dalam tahun 1978 baru sebanyak 2 buah pesawat. sedangkan dalam waktu yang sarna jemaah haji udara telah dapat diangkut sebanyak 49. Palembang. Jumlah pesawat yang digunakan untuk masing-masing armada penerbangan telah pula meningkat. .dan sisanya sebanyak 330 buah lagi dipergunakan untuk melayani penerbangan umum.yang terdiri alas 231 buah pesawat yang mempunyai kapositas tinggallandas di alas 10 ton. telah ditingkatkan pula sarana angkutan udara yaitu pesawat udara bermesin turbo-prop dan pesawat bermesin turbo-jet. Adapun dalam menunjang program transmigrasi dan pelaksanaan angkutan haji. Bali. Di samping itu penggunaan pesawat hasil rakitan PT Nurtanio juga telah meningkat. Ujungpandang dan Biak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa pelabuhan udara bagi penerbangan malam. usaha untuk Departemen Keuangan RI 229 . Dalam hubungan ini baru sepuluh buah pelabuhan udara (Pelud) yang dioperasikan secara penuh melalui perpanjangan jam operasi dan dilengkapi dengan fasilitas penerbangan malam. angkutan udara dalam negeri telah dilayani oleh sebanyak 768 buah pesawat. Halim Perdanakusumah Jakarta. Surabaya. Kemayoran Jakarta. angkutan transmigrasi udara telah diangkut melalui udara adalah sebanyak 28. dimana 30 buah di antaranya telah siap dengan fasilitas penerbangan malam. dengan mengusahakan agar perusahaanperusahaan penerbangan memanfaatkan fasilitas tersebut.943 orang dari 4lokasi penerbangan. Banjarmasin. Di samping itu. Sejalan dengan pembangunan pelabuhan udara dan fasilitas keselamatan penerbangan. 353 buah pesawat dengan kapositas tinggal landas di bawah 10 ton dan 184 buah pesawat helikopter. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 16 buah pesawat dan dipergunakan untuk melayani penerbangan perintis. Dalam tahun pertama Repelita IV. PT Merpati Nusantara Airways (MNA) menggunakan 57 buah pesawat. yaitu Medan. PT Garuda Indonesian Airways (GIA) telah menggunakan 86 buah pesawat. Bouraq menggunakan 26 buah pesawat dan Seulawah menggunakan 4 buah pesawat. telah dapat ditingkatkan baik kapositas angkutan maupun mutu pelayanannya. Dalam tahun 1983/1984. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang kemajuan teknologi angkutan udara agar dapat memenuhi dan melayani permintaan angkutan udara baik di dalam maupun di luar negeri.921 kepala keluarga (KK).

yaitu masing-masing dari sebanyak 56 buah menjadi 107 buah.711. Hasil pembangunan yang telah dicapai di bidang meteorologi dan geofisika selama Pelita III antara lain ditandai dengan bertambahnya jaring-jaring stasiun. maka pada akhir Pelita III telah meningkat menjadi 5. Sampai dengan bulan Juni tahun 1984. yang berarti masing-masing mengalami kenaikan sebesar 43 persen dan 187 persen. penelitian kartografi normal yang bertipe hujan di Jawa Tengah.000 orang dan 49. antara lain dilakukan melalui reduksi harga tiket untuk wisata remaja dan paket wisata (package tour). serta penelitian sistematika gempa dan polusi udara.64 dan Tabel VII. Angkutan penerbangan sipil ke luar negeri juga mengalami peningkatan. Jumlah stasiun-stasiun meteorologi.65. Pulau Baai dan Lasiana Kupang. 252 persen dan 74 persen. geofisika.292. Apabila pada akhir Pelita II jumlah penumpang dalam negeri yang diangkut baru sebanyak 4.366 ton barang/pos. Kenyataan bahwa sebagian besar areal pertanian masih merupakan daerah tadah hujan. menunjukkan bahwa keadaan iklim Departemen Keuangan RI 230 . Perkembangan penerbangan sipil di dalam negeri dan ke luar negeri dapat diikuti melalui Tabel VII.320 buah menjadi 4. 350 persen.884 ton barang/pos menjadi 1.047.113 penumpang dan 28.839 penumpang dan 9. dan digantinya hampir semua peralatan lama dengan yang baru sesuai dengan kemajuan teknologi. atau masing-masing telah mengalami kenaikan sebesar 12 persen dan 9 persen. yaitu dari sebanyak 733. baik di dalam maupun di luar negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menunjang keberhasilan program pariwisata. masing-masing di Sumatera Barat. serta meningkatkan penerbangan borongan dari luar negeri langsung ke tempat-tempat obyek pariwisata tanpa mengganggu penerbangan berjadwal. Adapun hasil penelitian yang telah diterbitkan dalam publikasi. telah selesai dibangun dan dioperasikan stasiun geofisika Tanjung Pandan di Sumatera Selatan. klimatologi dan iklim serta stasiun penguapan dan hujan.790 ton barang/ pos. Bengkulu dan Nusa Tenggara Timur. serta stasiun Klimatologi Sicincin. Jawa Timur dan daerah ramalan cuaca. stasiun geofisika Saumlaki di Maluku.024 buah yang berani masing-masing mengalami peningkatan sebesar 91. Sejalan dengan itu telah pula dilakukan peningkatan fasilitas terminal di beberapa pelabuhan udara guna melayani arus wisatawan yang langsung ke tempat-tempat obyek wisata. Di samping itu sebagian besar stasiun yang ada juga sudah mampu beroperasi selama 24 jam sehari.000 orang dan 45. sedangkan pelayanan jasanya rata-rata naik sebesar 30 persen per tahun. antara lain meliputi penelitian mengenai standardisasi pengumpulan dan penyebaran data/informasi. Dalam periode yang sama data meteorologi dan geofisika yang dihasilkan meningkat dengan sekitar 90 persen per tahun.1 persen. dari 92 buah menjadi 324 buah dan dari 2.884 ton barang/pos. dari 6 buah menjadi 27 buah. sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1984 selalu mengalami kenaikan.

Tabel VII 64 PENERBANGAN SIPIL DALAM NEGERI.302 1.424 733.371 14.373 32.555 80.019 84.985 3.925 42.635 216.602 233.235 11.578 4.016 1978 1) 19.671 TonJkm (ribu) 31.549 1971 6.543 240.893 1982 1) 26.354 102.136 748.506 109.65 PENERBANGAN SIPIL KE LUAR NEGERI.166 387.649 13.101 653.217 3.824 11.741 1.378 10.920 51.953 369.166.194 1.458 993 7.377 2.480 1979 1) 22.834 800.718 34. Oleh karenanya informasi dari meteorologi dan geofisika bagi sektor pertanian harus dapat dipercaya dan tepat pada waktunya.651 7. Di samping itu untuk setiap balai penyuluhan pertanian juga dibangun stasiun meteorologi pertanian khusus.348.404 545. radiasi matahari dan arab angin.461 1975 46.781 378.204lokasi dapat diterima tepat pada waktunya.589 223 19832) 89.326 46.5881) 50.512 1983 2) 23.626 5. Hal ini akan terpenuhi apabila data hujan yang dikumpulkan dari 4.942 1.560 463.451 40.760 Departemen Keuangan RI 231 .918 29.240 1.884 950.883 79.073 62.963 2.429 1974 7.562 34. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar data hujan masih mengalami keterlambatan yang disebabkan karena banyak lokasi renakar hujan yang letaknya sangat terpencil dan jauh dari sarana komunikasi.839 9.791 1976 10.501 82.292 49.340 1973 7.937 3.831 47.125 127.918 176 19801) 78.791 37.377 1977 14.451 1972 7.269 22.341 923. kelembaban.185 1971 20.135 1980 1) 24.353 193.546 5. lengkap dengan sarana telekomunikasinya.027 36.1983 Km pesawat Penumpang Barang Jam terbang Tonjkm Tahun (ribu) (ribu) (ton) (ribu) (ribu) 1969 12.180 5. 1969 -1983 Tahun Km pesaat Penumpang Barang TonJkm (ribu) (orang) (ton) Jam terbang (ribu) 1969 5.023 227 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.925 137 1977 59.519 1) 19781) 85.340 97.972 2.459 279.042 34.607 17. Untuk itu ditempuh kebijaksanaan dengan mendirikan lebih kurang 750 stasiun hujan utama sistem telemetry di seluruh wilayah Indonesia.366 1.047.499 1.268 521.914 97.624 731.782 28.304 122.955 196.483 190 1981 87.675 3.433 212 1982 1) 87.290 457.401 164.384 10.129 52.045 68.711 45.427 10.510 449.840 3.743 20.329 531.502 1973 33.237 85.151 56.908 151 396.094 125.113 28.570 116 1976 55. 1969 .142 3.620 87. yaitu berupa banjir atau merajalelanya hama tanaman.246 39.459 616.664 45.674 80.991 1.250 321.439 4.480 770 4.252 264.412 146.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang tidak menentu pada suatu periode dapat memberikan pengaruh yang besar pada produksi pertanian.098 3.175.150 4.506 1970 16.057 17.779 134.340 1975 8.538 56.126 19.209 115.062 114.287 4.804 335.302 1970 6.115 245.318 291.494 1972 26.790 809. Stasiun hujan utama ini dilengkapi pula dengan sensor lain seperti suhu.815 10.015 102.158.597 374.758 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara TonJkm (ribu) 34.162 499 4.940 80.696 169.083.233 373.448 106 1974 2.323 22.619 302.167 196 19791) 70.790 213.272 1981 1) 24.385 98.884 526.574 180.

serta sentral sambungan telepon jarak jauh (STJJ) sebanyak 14 buah dengan kapositas masing-masing 50 SS.947 SS. Sementara itu dalam periode yang sarna telah diselesaikan pula sambungan telepon sebanyak 26. telepon umum. alur transmisi teresterial sebanyak 15.500 buah.380 SS. Demikian pula halnya kapositas telepon manual. baik yang menyangkut hubungan komunikasi di dalam maupun di luar negeri. Departemen Keuangan RI 232 .8. Dalam tahun pertama pelaksanaan Repelita IV.070 alur dan stasiun bumi kecil (SBK) sebanyak 10 buah.797 SS. pembangunan di bidang telekomunikasi ditujukan untuk menciptakan kerangka landasan bagi pembangunan tahap-tahap Pelita berikutnya. Di samping itu telah diselesaikan pula program ekstra sebanyak 75 buah SBK. fasilitas telepon otomat. serta STJJ sebanyak 1.819 alur. telegrap dan telex. telegrap. sirkit tandem sebanyak 1. telepon umum sebanyak 3. Di bidang telekomunikasi dalam negeri. sambungan telepon manual sebanyak 7. Kesemuanya itu dimaksudkan untuk memperluas pemanfaatan satelit Palapa dan sejumlah fasilitas penunjang lainnya.000 SS.583 sirkit.854 SS. Melalui serangkaian pembangunan yang dilaksanakan selama ini telah berhasil dilakukan peningkatan fasilitas telepon. yaitu sebanyak 86.579 SS dalam tahun 1983 dan bertambah lagi menjadi 91. sambungan telex sebanyak 2. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dapat ditingkatkan lagi menjadi 173 buah dengan kapositas seluruhnya 583. telex dan jaringan transmisi. Dengan adanya kegiatan tersebut. sentral transit perluasan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) 7. maka dalam tahun 1983 jumlah sentral telepon otomat (STO) telah mencapai 170 buah dengan kapositas seluruhnya 576.850. serta penambahan sejumlah stasiun bumi. Untuk itu terus ditingkatkan sistem jaringan transmisi. antara lain telah dapat diselesaikan pembangunan telepon otomat sebanyak 152.000 satuan sambungan (SS). Telekomunikasi. alur telegrap sebanyak 1. pos dan giro Telekomunikasi sebagai salah satu pendorong dan penggerak pembangunan nasional terus ditingkatkan kemampuannya guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat setiap tahun. transmisi teresterial 11. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984.080 SS.54855 dalam tahun 1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. sehingga memungkinkan hubungan telekomunikasi yang lebih luas dan cepat. sambungan kontener sebanyak 900 SS.66.4.150 SS. Perkembangan jumlah sentral dan kapositas telepon dapat diikuti pada Tabel VII.

947 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tahun Manual Sentral 506 504 496 506 504 507 507 507 503 493 468 457 469 1) 503 1) 509 509 Kapasitas 122. telah dapat dilakukan hubungan melalui SLI ini dengan sebanyak 58 negara.920 104. Di samping itu hubungan telepon internasional dengan sistem manual dan semi otomatis secara bertahap juga telah diganti dengan sambungan langsung internasional (SLI).336 91. Di bidang telex. sedangkan yang mendapat hubungan SLJJ terbatas adalah sebanyak 20 kala. Selanjutnya masing-masing sentral tandem tersebut dihubungkan dengan sentral lokal yang tersebar di beberapa kota.300 1972 33 110.660 1971 33 95. Pada awal Pelita I.718 102.963 1983 1) 170 576.320 1978 69 367.460 1974 37 125. yaitu dari 26 sentral pada awal Pelita I menjadi sebanyak 173 sentral pada awal Repelita IV.142 101.660 1970 28 90. 66 JUMLAH SENTRAL DAN KAPASITAS TELEPON.840 satuan sambungan yang melayani 24 kota di Indonesia. Di samping itu.167 96.797 1984 2) 173 583. hubungan telepon interlokal dengan sistem manual secara bertahap juga telah diganti dengan sistem otomat dan dimasukkan ke dalam jaringan SLJJ. sedangkan pada awal Repelita IV adalah sebanyak 509 buah. kapositas sentral yang terposang telah mencapai 15. kapositas dalam satuan sambungan ) Otomat Sentral Kapasitas 1969 26 84. Selain itu juga telah Departemen Keuangan RI 233 .600 1977 54 218.520 1982 164 557. Pada awal Repelita IV.860 1973 34 121.200 1979 101 460. telah dilakukan peningkatan jaringan pada 4 buah sentral tandem nasional yang berlokasi di Medan.292 108.092 99.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TabeI VII.500 1975 39 144.782 101.054 86. Jakarta.772 73. Selama Pelita III. jumlah sentral manual adalah sebanyak 506 buah.579 89.563 104. antara lain teiepon lokal dengan sistem manual secara bertahap telah diganti dengan sistem otomat walaupun baru menjangkau di kala-kala.548 Sistem yang digunakan dalam bidang telekomunikasi telah mengalami banyak perkembangan.896 107. Di lain pihak jumlah sentral telepon otomat telah meningkat dengan pesat.100 1976 45 160.253 87.860 1981 156 549.100 1980 137 524. Surabaya dan Ujungpandang.762 79. 1969 -1984 ( sentral dalam buah. Kenyataan ini menunjukkan bahvva selama periode tersebut tidak mengalami banyak perubahan. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985. jumlah kala yang sudah masuk jaringan SLJJ mencapai sebanyak 104 kala.

294.958.0 105.682.442.426.4 35.1 1.3 9.4 27.8 1971 202.5 5.865.059.621.9 48.263.2 796.6 3.103. sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diselesaikan pembangunan sistim komunikasi kabel laut (SKKL) Asean antara Indonesia-Singapura sebanyak 480 kallal. 1969 . Hal ini berarti bahwa dalam periode tersebut telah terjadi suatu kenaikan sebesar 19 persen.9 62.327.67.8 470.6 6.6 4.364.480.532. sentral telepon di_ital di Medan sebanyak 2. SKKL Medan-Penang dan stasiun kabel sebanyak 480 kallal.174.345.632.100 kallal.903.426.5 30.3 992.389. Telex dalam negeri : . .7 2.4 7.0 11.1 7.576. Penggantian Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa Al yang dalam operasi pertama baru mempunyai 12 transponder telah diganti.Jumlah kata (ribu) e.446.2 53.459.244.047.868.8 13.403.0 72.631. Dalam rangka peningkatan sarana telekomunikasi internasional.950.3 1.430.3 11.381.Banyak pennintaan (ribu) #NAME? b.6 122.7 15.8 1.730.647.579.372.302.0 176.0 267.9 82.0 11.2 629.0 389.239.419.1 2.1 25.817. Sedangkan perluasan sistem gelombang radio frekuensi tinggi HF.864.4 4.2 23.663.1 104.0 351.0 5.503.807.6 7.8 26.120.760.096.8 70.9 663.Jumlah telegrap (ribu) .1 1980 1.219. GM Jawa-Bali dengan 2.103.696.1 411.7 182.4 56.6 .064.0 379.877.3 4.1 1982 2..6 64.5 40.1 7.9 1979 1.297.5 3.0 6.5 10.8 55.0 4.1 167. dengan satelit Palapa generasi kedua Bl dan B2 yang mempunyai 24 transponder.3 1.920.6 9. yang meliputi GM Lintas-Sumatera dengan 693 aluran.1 9.51) 240.9 7. stasiun referensi time division multiple accses (TDMA) dan terminal TDMA di Jatiluhur sebanyak 240 kanal.0 1970 151.5 6.7 271.7 2.353. yaitu kawasan Samudera Hindia (Indian Ocean Region) dengan kemampuan up-link 6 aluran dan down-link 14 aluran.9 157.120.1 134.9 10.452.073.4 5.9 10.427.247.790.9 2.133.0 68. dengan kabel kawat masa ganda (multi-pairs wire).4 75.1 ribu dalam tahun 1983. serta kawasan Samudera Posifik (Posific Ocean Region) dengan kemampuan up-link 5 aluran dan-down link 14 aluran.918.8 2.3 43.233. dan UHF telah mencapai sebanyak 197 stasiun.1 4.141.830.4 12.4 277.3 67.6 124.894.0 1.3 4.237.284. yang merupakan salah satu unsur renting dalam peningkatan jasa telekomunikasi baik di dalam maupun di luar negeri.419.8 17. Peningkatan hubungan internasional dilaksanakan melalui sistem komunikasi intelsat yang mencakup dua kawasan.023. mikrowave link Jakarta-Jatiluhur sebanyak Departemen Keuangan RI 234 .0 336.184.776.7 4.6 181.1 231.4 3.3 Sementara itu telah dilakukan pula penambahan jaringan transmisi.961.949.1 74.926.529.027.8.196.1 7.114.402.5 205.1 14.190.399.9 2.431.3 1.4 400.8 1.543.7 368. Di samping itu telah dipakai pula sistem gelombang mikro (GM) teresterial.249.3 2.8 10.3 13.3 ribu permintaan dalam tahun 1982 menjadi 3.1984 1972 1973 1974 1976 1977 1975 208.Lokal (jumlahpulsa) 1) . 1969 .934.7 124.3 12.775.3 15.7 2.1 772.136.4 3.Jumlah telegrap (ribu) .8 1.3 758.3 276.3 191. GM SurabayaBanjarmasin dengan 48 aluran dan GM Indonesia Timur dengan 196 aluran.656.332.Jumlah pulsa (ribu) f.2 16.1 240.156.070.527.271.169.864..1 14.622.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dilakukan peningkatan sistem telegrap teleprinter sebagai pengganti sistem morse dan digunakan untuk menghubungkan telegrap pada 400 lokasi di kota-kota besar.013.7 217.6 2.7 12.7 3.925.8 1978 964.793.673.5 6.479.3 3.619.073. 30.67 PEMAKAIAN ]ASA TELEKOMUNIKASI.396.0 3.684.376.8 7.6 3.260 kallal.1 18.849.094. Adapun lalu lintas telepon internasional telah pula meningkat dari sebanyak 2.701. ibukota kabupaten dan beberapa kota kecamatan.2 307. Lalu lintas telepon international: .5 106.011.2 10.2 150.524.885.1 TabeI VII.9 563.321.876.551. perkembangan jasa telekomunikasi dapat diikuti melalui Tabel VII.2 11.6 140.158.5 205.3 6.0 113.1 2.297.463. kabel koaksial dan kabel optek.988.158.786.4 493.5 6.1 331.741.6 9.0 60.Jumlah call (ribu) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 62.7 488.164.190.1 19842) 1.2 185. SKKL Medan-Singapura 1.Telex luar negeri : .2 51.7 12.94 4.5 50.5 63.1 414. 5. VHF.513.905.889.036.315.51) 3.2 1.9 58.7 7.5 19831) 3.0 2. Telegrap luar negeri: .3 39.083.206 saluran yang dirangkaikan dengan sistem transmisi hambur-tropo (tropos catter).574.0 4.735.5 10.212.930.776.753.084.990.8 257.548.622.0 391.Jumlahkata (ribu) d.827.4 1981 2. Lalu lintas telepon dalam negeri: .038.0 8.4 11.2 30.558.718.527.916.Sambungan langsung jarak jaub: Jumlah paisa (ribu ) Jumlah call (ribu) Co Telegrap dalam negeri: .

103 ibukota kecamatan dari sejumlah 3. Untuk menunjang hal tersebut. kini pelayanannya te1ah mampu menjangkau 3. Hasil-hasil yang te1ah dicapai sampai dengan bulan Mei 1984 meliputi pembangunan kantor pos pembantu/kantor pos tambahan sebanyak 485 buah. 3 buah stasiun tetap yakni di Cakung. telah berhasil diletakkan dasardasar kebijaksanaan untuk Departemen Keuangan RI 235 . telah berkembang dalam meningkatkan kemampuannya di bidang usaha telekomunikasi dan elektronika. te1ah banyak kemajuan yang dapat dicapai. Se1ama Pelita III hingga tahun pertama Repelita IV.159 desa yang ada di Indonesia. kendaraan bermotor roda 4 sebanyak 48 buah serta bis sural sebanyak 1. sebagai sentral pos desa sekitarnya.0 persen dari selruh desa di Indonesia. Ulan Kayu dan Samarinda. Dengan peningkatan fasilitas pos dan giro tersebut.3 persen dari seluruh ibukota kecamatan yang ada dan 91. baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Jangkauan pelayanan pos dan giro ke desa-desa te1ah mencapai 60. Pembangunan di bidang pos dan giro sampai dengan tahun 1984/1985 dimaksudkan untuk memperluas fasilitas pos dan giro dan meningkatkan jasa pelayanannya. penambahan trafo tegangan tinggi 3x250 KVA.232 desa dari sejumlah 66. Di samping itu. sehingga pe1ayanan pos dapat menunjang kegiatan so sial ekonomi masyarakat.488 ibukota kecamatan yang ada. dan perluasan jasa pos ke1iling kala dan jasa pos ke1iling desa. serta kantor pus tambahan. Selain itu te1ah berhasil pula ditetapkan sistem kode pos untuk se1uruh Indonesia guna mendukung kelancaran operasi. dari segi operasi te1ah pula berhasil ditingkatkan mutu pe1ayanan pos dan giro. Dari segi kuantitas. Di samping itu juga te1ah dilakukan penambahan.096 trunks telepon internasional dan nasional. serta 4. kantor kepala daerah pos sebanyak 3 buah. kantor pos sebanyak 30 buah. kini te1ah dioperasikan 1 buah stasiun monitor bergerak. penambahan jaringan dan perluasan pe1ayanan. Demikian pula industri telekomunikasi PT Inti. antara lain dengan memperpendek waktu tempuh surat. sehingga dapat menjangkau kecamatan-kecamatan di wilayah Nusantara termasuk daerah-daerah pemukiman transmigrasi. Selanjutnya guna menertibkan penggunaan frekuensi radio serta persiapan keanggotaan Indonesia dalam sistem monitoring radio internasional. pengadaan uninterruptible power supply (UPS) 200 KVA dan 1 unit antena track telemetry command and monitoring (TTCM) di Jatiluhur. serta telah siap untuk dioperasikan sebanyak 18 buah stasiun monitoring bergerak. kantor pos besar/ kantor pos ke1as I sebanyak 21 buah. sirkit sewa telegrap sebanyak 120 kanal. telah dilakukan pembangunan kantor pos dan kantor pos pembantu di kecamatan-kecamatan. Hal ini berarti pelayanan pos dan giro telah dapat melayani 91. sirkit sewa suara/data sebanyak 20 kallal. pengadaan peralatan VFT-MUX sebanyak 48 terminal.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 572 kanal.214 buah. kantor pos besar dan kantor pos ke1as I di ibukota propinsi dan kala-kala lainnya.

Pelayanan pos dan giro selain berpedoman kepada volume lalu lintas pos dan perhitungan biaya. serta jumlah tabungan BTN sebesar Rp 23. daerah-daerah pemukiman trasmigrasi serta daerah terpencil. Perkembangan arus lalu lintas pos dan giro dapat diikuti melalui Tabel VIII. peredaran giro dan cekpos sebesar Rp 2. weselpos senilai Rp 163. Di samping itu dalam kedudukannya sebagai anggota UPU (United Post Union) dan APPU (Asia Posific Post Union). Guna menambah fasilitas alat angkutan pos untuk pemantapan waktu tempuh. Sedangkan dari segi kualitas antara lain ditandai dengan berhasilnya diadakan ikatan kontrak dengan perusahaan angkutan umum. yakni berupa perluasan jangkauan pelayanan sampai ke desa-desa. angkutan pos me1alui darat pada umumnya lancar. Dalam tahun 1983 telah disampaikan surat pos sebanyak 348 juta buah. yang untuk tahap pertamanya dimulai di wilayah DKI Jakarta dan kemudian disusul oleh propinsi-propinsi lairmya.60 juta.063.569.795.68.80 milyar. Demikian pula angkutan pos udara semakin lancar.50 milyar.90 juta.41 milyar serta jumlah tabungan pada BTN sebesar Rp 81. Dalam pada itu telah dilakukan pula pemasyarakatan kode pos. weselpos senilai Rp 445.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 djadikan program pengembangan tahun-tahun berikutnya. Indonesia telah banyak memperoleh manfaat dari kedua organisasi tersebut dalam mencapai kemajuan di bidang pos dan giro. Departemen Keuangan RI 236 . peredaran giro dan cekpos sebesar Rp 967.74 juta buah. yang antara lain dilakukan dengan memperbanyak unitunit pelayanan pos bergerak. telah diadakan perjanjian kerjasama angkutan pos dengan perusahaan swasta. dengan lebih seringnya frekuensi penerbangan dan adanya tambahan trayek baru sehingga hampir menjangkau seluruh pelosok Nusantara. Dengan adanya peningkatan kualitas tersebut. Adapun angkutan pos laut pada umumnya tidak ada hambatan. surat pos yang disampaikan berjumlah sebanyak 27. sehingga dapat mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang mengganggu ke1ancaran pos dan giro. karena frekuensi dan jumlah kapal sudah semakin bertambah dan daerah yang dilintasi juga semakin luas. Sedangkan sampai dengan bulan Mei 1984. juga ditujukan untuk meningkatkan jangkauan pelayanan ke daerah-daerah terpencil dan daerah-daerah transmigrasi.70 milyar.

208. Pembinaan dan pengembangan obyek wisata sejak Pelita III hingga tahun pertama Repelita IV terutama ditujukan pada 10 daerah tujuan wisata (DTW) yaitu propinsi Sumatera Utara.81 1978 252.00 174.59 10.06 1981 1) 272.8 27. Selama Pelita III telah dilakukan langkah-Iangkah pembinaan dan pengembangan pariwisata. DKI Jakarta.9 124. Jawa Tengah.tus tahun 1984 telah dilaksanakan studi perencanaan pengembangan.45 7. Jawa Timur.71 1977 236. tapak kawasan dan detil desain Departemen Keuangan RI 237 .29 152.7 660.68 ARUS LALU LINTAS POS DAN GIRO.56 471.358.63 59.26 499.5.3 1975 199.042.60 445.18 81.81 1970 159 106. Sumatera Barat.5 204. Dalam upaya mengembangkan obyek wisata yang tersebar di 10 DTW dan beberapa propinsi lainnya tersebut.65 1974 187.53 1972 196 157. telah dilakukan berbagai usaha antara lain pembebasan visa selama 2 bulan bagi wisatawan dari 26 negara posaran wisatawan yang potensial. peningkatan pelayanan bagi wisatawan asing serta peningkatan keahlian dan keterampilan petugas-petugas yang menangani pariwisata.5 23.42 42. Bali.795.19 1. kemudahan keimigrasian. Jawa Barat.84 426.063.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. juga dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan devisa.98 45.933.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 7.705.74 967.90 1984 2) 163.37 20.16 20.2 1.569.8.23 325.23 2. serta pengembangan mutu produk wisata Indonesia.338.61 2. Daerah Istimewa Yogyakarta.48 1971 181. baik yang berupa rencana induk perencanaan. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agus.43 4. Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.325.65 32.771) 1983 348 2. 1969 -1984 Peredaran Tabungan Surat pos Weselpos dan cekpos Bank Tahun (juta ) ( mityar ( juta ( mityar 14.9 1969 147 97.82 63.52 1973 176.850.42 58.908.558.75 1.80 138.29 1976 200.414.17 99.56 1979 265.48 121. dan wisata remaja.31 183.29 840.526.064.70 32.41 81.65 146. Kepariwisataan Pembangunan di bidang pariwisata diarahkan selain untuk meningkatkan dan memperluas kesempatan kerja serta kesempatan berusaha.05 26.801 126.3 317.34 15. Untuk lebih meningkatkan arus wisatawan dari luar negeri.113. antara lain berupa peningkatan dan pembangunan daerah-daerah tujuan wisata.86 1.08 1982 299.94 1980 276. serta pengenalan alam dan kebudayaan Indonesia.

5 113. Tabel VII. Dalam rangka perintisan pengembangan obyek-obyek wisata di luar 10 DTW. untuk mempromosikan dan menjual produk wisata Indonesia.2 8.179 242 27. serta pemandu wisata.300 12.69.928 38. dengan pengeluaran rata-rata sebesar US $ 58. jasa biro perjalanan.3 . sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 638.766 366.627 592. sarana dan penunjang lainnya seperti tempat penginapan.1) 31.1983 Wisatawan Kamar hotel Biro Penerimaan Tenaga kerja (orang) (buah ) (juta US $) (orang) (kamar) 2. penerbangan borongan yang langsung ke tempat obyek wisata.1 112.621 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 3) 1983 1) Data tidak tersedia 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Untuk meningkatkan arus wisatawan baik asing maupun domestik.9 .046 orang.8 1.6 . dalam tahun pertama Repe1ita IV te1ah dipersiapkan pengembangan pariwisata di tiga propinsi yaitu Riau.1) 42.5 juta.1) 42.308 2) 600.000 313. Selain itu juga dilakukan pembuatan bahan promosi/cetakan yang bertemakan "Indonesia destination of endless diversity" (Indonesia Departemen Keuangan RI 238 .293 437 62.390 3.510 270.781 2) 545 22.360 34.850 221.100 2) 297 10.855 436 439.282 638.960 21. Kegiatan di DTW tersebut telah menghasilkan peningkatan arus wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia. diusahakan peningkatan prasarana.398 94.575 2) 468. Kegiatan dan upaya tersebut antara lain meliputi pemasangan iklan pada media internasional.6 .1) 11.430 295 250.139.8 7. Sedangkan lama tinggal di Indonesia ratarata bagi wisatawan asing dalam tahun 1983 adalah 11. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 7.925 401. jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia baru sebanyak 592.4 48.278 3.046 426 358.156 ) 38.452 414 54.393 2) 464 81.048 4.3 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun lanjutan pembangunan fasilitas obyek-obyek wisata di DTW yang te1ah mantap pengembangannya.237 453 70.614 467 94. dalam tahun 1983 telah dilakukan usaha-usaha dan kegiatan pemasaran melalui koordinasi dan kerjasama terpadu guna menghadapi persaingan yang cukup ketat di pasaran pariwisata internasional.300 2) 561.855 orang.7 malam per kunjungan.303 2) 253 40.151 3) 409 309.178 3) 330 289.6 10. Sed:mgkan guna menunjang ke1ancaran arus wisatawan sampai ke DTW.356 433.406 2) 501. Dalam tahun 1982.3 53. Perkembangan bidang kepariwisataan dapat diikuti melalui Tabe1 VII.319 359 16.972 86.9 persen.8 per malam sehingga jumlah seluruh pengeluaran wisatawan asing mencapai sekitar US $ 439.233 129.1) 5.7 2) 86.671 178.0 2 38. 1969 . Bengkulu dan Kalimantan Tengah.69 PERKEMBANGAN DI BIDANG PARIWISATA.

Untuk menunjang kegiatan tersebut. untuk mengetahui fasilitas. yang memperoleh ijin usaha dalam tahun 1983 tercatat sebanyak 436 perusahaan. pelayanan.537 buah. serta meningkatkan sadar wisata dari para pejabat. Bila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru mencapai 426 buah perusahaan. sedangkan yang belum diklasifikasikan berjumlah sebanyak 792 buah dengan kamar sebanyak 18. Jawa Timur. pengendalian. pembinaan dan pengembangan wisata remaja di empat daerah. oleh karena dalam tahun 1983 pelaksanaan klasifikasi hotel terpaksa ditunda yang disebabkan adanya resesi dunia. dan mengarahkan masyarakat untuk mendukung kebijaksanaan. prosedur dan unsur-unsur lainnya yang berkaitan dengan kedatangan wisatawan asing di Indonesia. Melalui kerjasama dengan KBRI di luar negeri. Di samping itu juga dilakukan monitoring. yang selalu diterbitkan setiap tahun. yang terdiri atas biro perjalanan umum (BPU) sebanyak 185 buah perusahaan. jumlah tempat menginap yang telah mendapatkan klasifikasi hotel mencapai sebanyak 283 buah hotel berbintang dengan kamar sebanyak 20. dan agen perjalanan (AP) sebanyak 143 buah perusahaan. maka berarti terdapat peningkatan usaha baru sebanyak 10 buah perusahaan atau sebesar 2. dalam setiap kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia sebagai negara tujuan wisata. hotel-hotel dan biro perjalanan di dalam negeri. yaitu Kalimantan Barat. yaitu meliputi sejarah. program dan kegiatan yang dilakukan Pemerintah di bidang kepariwisataan. Demikian pula dengan biro perjalanan. Program tersebut ditujukan antara lain bagi kalangan pengusaha/pedagang dan wartawan dengan cara peninjauan langsung ke obyek-obyek wisata. Sementara itu untuk memperkenalkan secara lebih mendalam mengenai atraksi dan fasilitas wisata Indonesia. telah diselenggarakan widya wisata. dilakukan peningkatan kerjasama dengan media masa guna menyebarkan informasi kepariwisataan dan hasil-hasilnya. Garuda Indonesian Airways. cabang biro perjalanan umum (CBPU) 108 buah perusahaan. Selain itu telah pula digalakkan wisata di kalangan para remaja melalui pengadaan bahan-bahan informasi berupa buku petunjuk perjalanan wisata remaja. Sulawesi Tengah dan Maluku.090 buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 adalah tempat tujuan yang beraneka ragam tanpa putus-putusnya). Departemen Keuangan RI 239 . secara aktif. Hal itu sekaligus merupakan kesempatan bagi industri dan perusahaanperusahaan untuk melakukan kontak dagang dengan industri pariwisata dari berbagai negara yang ikut serta. Posisi ini tidak berbeda dengan keadaan tahun 1982. dan pemuka-pemuka organisasi dan masyarakat.3 persen. Dalam tahun 1983. Di samping itu perwakilan Pusat Promosi Pariwisata Indonesia (P3I) di luar negeri juga telah berperanserta. Kegiatan bina masyarakat dimaksudkan untuk membimbing. budaya dan alam serta wisata marina.

dan sekaligus dimaksudkan untuk memperkokoh kerangka landasan dalam pencapaian sasaran Repelita IV. Dalam rangka itu antara lain dilakukan pembukaan areal persawahan baru terutama di luar pulau J awa. Di lain pihak. Untuk menunjang perkembangan pariwisata. 7. kini sedang dipersiapkan Rancangan Undang-undang Kepariwisataan Nasional. Pengairan Pembangunan di bidang pengairan dititikberatkan pada peningkatan produksi pangan terutama beras. serta pelayanan telekomunikasi di tempat menginap. Pelaksanaan pembangunan yang dilakukan dalam tahun pertama Repelita IV merupakan kesinambungan dari tahap-tahap Repelita sebelumnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pariwisata dalam negeri pada tahun pertama Repelita IV mengalami peningkatan yang cukup tinggi. sehingga dengan peningkatan produksi padi tersebut pada gilirannya pendapatan para petani juga dapat ditingkatkan. antara lain berupa penambahan pintu masuk penerbangan dan pintu masuk pelabuhan laut. Di samping itu bidang pengairan telah pula menunjang kegiatan sektor. dilakukan peningkatan pemasaran dan promosi yang terpadu dan agresif berdasarkan penelitian yang menyeluruh. Pekerjaan umum Pembangunan di bidang pekerjaan umum yang meliputi bidang pengairan.9. Selain itu telah pula disempurnakan koordinasi pemanfaatan obyek wisata. seperti pembangunan waduk serba guna yang dapat dimanfaatkan untuk Departemen Keuangan RI 240 .1. bila dibandingkan dengan tahun 1982.9. dan peningkatan atraksi wisata yang akan dapat meningkatkan clara saing produk wisatawan Indonesia. 7. Berbagai kebijaksanaan tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan arus wisatawan pada waktu yang akan datang. yakni melalui usaha intensifikasi dan ekstensifikasi areal persawahan. yang antara lain disebabkan adanya kebijaksanaan Pemerintah untuk meningkatkan biaya fiskal perjalanan ke luar negeri. cipta karya dan bina marga telah menunjukkan hasil yang semakin nyata di dalam menunjang dan mendukung keberhasilan pembangunan sektor-sektor lain. Sementara itu guna membantu kelancaran arus wisatawan asing clari luar negeri. Selanjutnya kegiatan pemasaran dan promosi baik di dalam maupun ke luar negeri semakin ditingkatkan melalui pemasangan iklan dan penyebaran informasi mengenai atraksi dan fasilitas wisata Indonesia. kebijaksanaan tersebut telah menurunkan jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Singapura sebesar 38 persen dalam tahun 1983.sektor lainnya. Hal tersebut tercermin antara lain dari tercapainya sasaran fisik sejak tahun pertama Pelita I sampai dengan Pelita III.

271 hektar. telah dilakukan pengamanan terhadap daerah yang peka terhadap bencana banjir.000 hektar.000 hektar.271 hektar. dan kemudian dalam tahun 1983/1984 telah mencapai seluas 88. survai. pengembangan daerah rawa.300 hektar.500 hektar.000 hektar.600 hektar.468 hektar. Ciujung seluas 24. pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan penyediaan air industri.651 hektar. sehingga mampu memberikan pelayanan yang le.bih cepat dan tepat melalui pemanfaatan sumber-sumber clara alam yang ada. Adapun hasil-hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan Pelita III meliputi perbaikan dan peningkatan irigasi seluas 386. dengan prioritas utama pada lokasi-lokasi yang memenuhi persyaratan yang ditentukan. Program pembangunan di bidang pengairan yang dilaksanakan dalam Pelita III mencakup masalah perbaikan dan peningkatan irigasi. Dalam waktu yang sarna. Pekalen Sampean seluas 229. pembangunan jaringan irigasi baru seluas 437. Pamali Carnal seluas 30. Selain itu guna melindungi kawasan pemukiman masyarakat pedesaan dan masyarakat lainnya. serta penyelamatan hutan. tanah dan air seluas 587. Jawa Timur. tanah dan air. Hal itu dilakukan dengan meningkatkan pelayanan produksi.561 hektar. Hal ini terutama diterapkan pada areal transmigrasi. guna mempercepat jangkauan fungsional pelayanan produksi dalam kawasan yang telah dikembangkan. sehingga program pembangunan Departemen Keuangan RI 241 . Persyaratan dimaksud adalah se1ain lokasi yang bersangkutan sangat memerlukan pembangunan irigasi guna menunjang peningkatan produksi pertanian.100 hektar. para pemilik tanahnya juga harus menunjukkan partisiposi yang tinggi dalam program irigasi dan pencetakan sawah baru.000 hektar. Untuk menunjang kegiatan tersebut. penyelidikan dan perancangan pengembangan sumber-sumber air. Madiun. serta penyelamatan hutan. Se1ain itu secara intensif juga mulai dilaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi di daerah Semarang Barat dan Simalungun.400 hektar dan 45. pembangunan jaringan irigasi baru dititikberatkan pada pembangunan irigasi sedang dan kecil.000 hektar. Sedangkan proyek-proyek yang sampai dengan akhir Pelita III sudah atau hampir terselesaikan antara lain berupa rehabilitasi jaringan irigasi utama Cisadane seluas 40. Gambarsari seluas 20. Sedangkan untuk menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat. pengembangan daerah rawa seluas 437.000 hektar dan Tabo-tabo seluas 11. Sementara itu dalam tahun pertama Repelita IV te1ah dimulai pembangunan irigasi tersier dan drainase di daerah irigasi Cirebon. telah disediakan air baku yang memenuhi syarat-syarat kesehatan bagi daerah pemukiman. dilakukan pula penelitian. Serayu. Delta Brantas seluas 32. Sedeku seluas 30. serta Lombok Se1atan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan areal pertanian. pembangunan jaringan irigasi baru. yang masing-masing mencakup wilayah se1uas 19. Dalam tahun 1982/1983 telah dilakukan perbaikan dan peningkatan areal irigasi seluas 72.

dan Timor. Kalimantan Barat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jaringan irigasi terse but sekaligus dapat menunjang keberhasilan program transmigrasi. Lampung. Hasil-hasil yang te1ah dicapai di bidang pembangunan irigasi baru se1ama dua tahun terakhir pe1aksanaan Pe1ita III. Be1itang se1uas 19.189 hektar. Way Jepara se1uas 6. Jawa Timur. Kegiatan lain daripada program ini adalah pengembangan air tanah bagi daerahdaerah pertanian yang berlahan kering dan rawan yang langka air permukaan. yaitu dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984. Penyelamatan hutan. sedangkan jaringan tersier dan drainasenya sedang dalam tarat penyelesaian. Kalimantan Timur. seperti daerah Yogyakarta Se1atan.500 hektar. Bali. Sumatera Utara.600 hektar dan Way Pangubuan seluas 5.400 hektar. Teluk Lada. Adapun proyek-proyek yang masih terus ditingkatkan pembangunannya me1iputi proyek irigasi Krueng Baro. Ciletuh. Selama masa Pelita III te1ah dibangun jaringan irigasi baru pada areal se1uas 437. Untuk seluruh proyek terse but sudah dapat dise1esaikan jaringan irigasi utamanya. Sumatera Barat. juga dimaksudkan untuk memperluas dan memperbaiki daerah pemukiman penduduk. yang sebagian besar merupakan lahan yang potensial untuk usaha tani. Kegiatan tersebut juga mencakup proyek reklamasi rawa bukan posang surut yang terdapat di daerah Aceh. Sumatera Selatan. Gumbasa seluas 7. Pemanfaatan daerah rawa selain ditujukan untuk memperluas areal pertanian yang ada. Dalam tahun pertama Repe1ita IV pembangunan daerah rawa masih me1anjutkan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan se1ama Pe1ita III. masing-masing adalah se1uas 108. Riau. dan dengan biaya peme1iharaan yang lebih rendah.607 hektar dan 39.200 hektar. Bengkulu. Sungai Dareh Sitiung. . dan Kalimantan Selatan. Sedangkan hasil yang dicapai selama Pelita III meliputi areal seluas 456.500 hektar. Sumatera Selatan. Cidurian se1uas 9. Jambi. Dalam hubungan ini standar prasarana reklamasi daerah rawa te1ah ditingkatkan. agar dapat dilakukan pengaturan air dengan lebih baik.271 hektar antara lain me1iputi proyek irigasi Krueng Jrue Kiri se1uas 2. Jambu Aye. dan Dumoga.729 hektar. te1ah dilaksanakan melalui kegiatan pengembangan pengairan posang surut di daerah Riau. Kedu Selatan. juga dilanjutkan pembangunan prasarana irigasi baru yang lebih besar. Bali. Lombok. Jawa Tengah. Lodoyo se1uas 12. tanah dan air dimaksudkan guna meningkatkan pengamanan Departemen Keuangan RI 242 . Batang Gadis. Way Rarem. Hasil yang telah dicapai dalam tahun terakhir Pelita III di bidang pengembangan daerah rawa meliputi areal seluas 86. Jambi. kecil dan sederhana.680 hektar. Wawotobi. Se1ain dilakukan pengembangan irigasi sedang.000 hektar. Pada Waras. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Kalimantan Barat.900 hektar. antara lain berupa penyempurnaan jaringan reklamasi daerah rawa serta perluasan dan penambahan areal pertanian baru.

Di samping itu juga ditujukan untuk mengembangkan pemanfaatan sumber-sumber air sungai yang memiliki potensi tinggi dalam memenuhi keperluan sektor pertanian.573 hektar. proyek itu juga dimaksudkan untuk menunjang sektor industri. Citanduy. sungai Brantas dan pengendalian banjir Jakarta. pembuatan tanggul. tanah dan air seluas 587. pembuatan pintu-pintu banjir. Pembangunan jaringan tersier dilaksanakan melalui pemanfaatan jaringan-jaringan irigasi yang telah dibangun. serta latihan penanggulangan banjir. Sehubungan dengan Departemen Keuangan RI 243 . maka dilakukan pembangunan dan pengendalian kantong posir (check dam) serta tanggul. seperti waduk Wonogiri yang sudah berfungsi dan Wadas Lintang yang sedang dalam tahap penyelesaian. Proyek-proyek terse but terdiri atas proyek Bengawan Solo. yang dilaksanakan secara khusus melalui proyekproyek pengaturan dan pengamanan sungai besar. perluasan aliran. baik bagi para petugas maupun bagi penduduk setempat. di antaranya yang dilakukan dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 masing-masing seluas 248. Selain itu program ini juga dimaksudkan untuk mengamankan sungai-sungai yang merupakan sumber-sumber air bagi jaringan irigasi yang telah ada. dalam Pelita III telah meperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan. Cisanggarung. perlindungan dan perkuatan tebing.680. Pengutamaan kegiatan pada program jaringan tersier.698 hektar. 7.601 hektar dan 63. daerah pemukiman penduduk. pembuatan saluran banjir. Perumahan rakyat dan pemukiman Salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dilakukan melalui peningkatan pembangunan di bidang perumahan rakyat dan pemukiman. pembuatan sudetan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 daerah produksi pertanian.2.100 hektar. sungai Arakundo. baik untuk keperluan industri maupun rumah tangga. Untuk menanggulangi bencana banjir lahar sebagai akibat dari meletusnya gunung-gunung berapi seperti di sekitar daerahdaerah gunung Merapi. dan dewasa ini secara langsung telah dapat menunjang program intensifikasi produksi pertanian. yaitu tercapainya areal seluas 1. Selain untuk pengendalian banjir. gunung Semeru. dan daerah industri terhadap gangguan bencana banjir. keperluan air industri untuk pembangkit tenaga listrik serta kebutuhan air di pelabuhan. kebutuhan air bersih untuk pemukiman penduduk.9. gunung Kelud. Dalam hubungan ini. Selama 5 tahun Pelita III telah berhasil dilakukan penyelamatan hutan. gunung Agung dan gunung Galunggung. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi pengaturan dan pengamanan sungai. sungai Ular. telah dilaksanakan pula pembangunan waduk-waduk besar. yaitu berupa pengerukan dasar sungai. seperti pembangunan pembangkit tenaga listrik dan penyediaan air.

serta kegiatan-kegiatan lainnya yang ditujukan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah perkotaan. kesehatan lingkungan.220 orang penduduk kampung. pemukiman serta tataguna tanah perkotaan dan pedesaan.600 penduduk di berbagai propinsi. Kebijaksanaan pembangunan di bidang pemukiman rakyat sangat erat kaitannya dengan kebijaksanaan di sektor lainnya seperti kependudukan.436. gedung sekolah dasar. Departemen Keuangan RI 244 . serta pengembangan kredit pemilikan rumah (KPR). perkreditan. penanggulangan sampah lingkungan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 itu. yang antara lain berupa perbaikan jalan lingkungan dan jalan setapak. pemugaran perumahan desa dan pembinaan yang menunjang kegiatan tersebut. meliputi areal seluas 3. pembuangan air limbah rumah tangga dan pengadaan air bersih. terutama yang menyangkut peningkatan mutu kehidupan masyarakat banyak yang berpenghasilan rendah. pembinaan kesejahteraan ibu dan anak (PKK).980 hektar. Kebijaksanaan umum yang ditempuh di bidang ini antara lain dengan melibatkan masyarakat sebanyak mungkin. Pembangunan perumahan rakyat dan pemukiman tersebut pada dasarnya merupakan tanggung jawab masyarakat itu sendiri dengan mendapatkan bantuan dan pembinaan dari Pemerintah. perbaikan kawasan pusat kota bagi kota-kota sedang dan kecil termasuk lingkungan kawasan posarnya. perintisan perbaikan lingkungan perumahan kota. produksi bahan bangunan lokal. Kegiatan perbaikan kampung di daerah perkotaan mencakup bina lingkungan. perintisan peremajaan kota. Kegiatan tersebut juga berupa pengadaan sarana fasilitas sosial lainnya seperti Puskesmas. perluasan kesempatan kerja. Adapun secara keseluruhan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah berhasil dilaksanakan perbaikan kampung seluas 17. pertanahan. serta riset dan teknologi. di samping tetap memperhatikan aspek-aspek pemerataan dan keterjangkauan khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dan menengah. perbaikan saluran pembuangan air hujan. Sehubungan dengan itu. yang sebagian besar penduduknya berpenghasilan rendah.183. pembangunan perumahan rakyat. keserasian pembangunan daerah. Program perumahan rakyat mencakup perintisan pemugaran perumahan desa. pembangunan perumahan rakyat dan pengembangan pemukiman penduduk diarahkan untuk dapat tersebar ke berbagai lokasi pemukiman yang meliputi sekitar 6. Pembangunan perumahan rakyat terutama ditujukan untuk meningkatkan perbaikan kampung/lingkungan pemukiman kota. dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan perbaikan kampung pada 190 kala. bina usaha dan bina manusia. yang dapat memberikan manfaat langsung kepada 5. Sehubungan dengan itu kini sedang dikembangkan suatu sistem yang lebih terarah dan terpadu.000 desa pada 200 kota.701 hektar yang dapat memberikan manfaat bagi 1. terutama yang berkaitan dengan masalah pembiayaan.

441 1983/1984 1) Rumah inti Jumlah 606 606 638 787 706 727 1.734 7.948 368 11. 1978/1979 .190 1.518 2. Dalam tahun 1983/1984.610 19. 17. Perum Perumnas telah membangun sebanyak 12. Yogyakarta Jawa TImur BaIi Nusa Tenggara Barut Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Belatan Kalimantan Timur 200 Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan 1.264 240 1.508 830 830 4. sehingga seluruhnya berjumlah 192.606 15. terdiri atas 787 unit rumah inti.412 368 500 90 23. 25.704 1.l.914 12. terdiri atas 28.500 2. 18.uk rumah susun don RKTM Rumah sederhana 3.020 3. Tab eI VII.838 134 250 - Rumah 4) Jumlah sederhana 388 13. 9.953 20.166 3.070 Sulawesi Tenggara Maluku Irian Jaya Timor Timor 49.094 158 286 444 286 158 510 1. 10. 6.8642) 522 2. 15.852 unit rumah. 24.872 6. 23. 7.480 1.856 746 2. 8.563 unit rumah.000 612 612 600 200 700 500 452 600 450 540 306 680 986 148 406 1. 50.500 1.024 unit rumah susun.504 250 282 282 4 278 200 500 300 200 500 300 300 200 200 200 356 216 572 9. 19.900 194 1.563 unit rumah.078 200 216 216 216 500 500 216 216 300 502 304 806 200 32 120 656 656 32 688 340 400 400 400 134 480 480 2. 2. Perkembangan jumlah perumahan yang dibangun oleh Perum Perumnas dapat dilihat pada Tabel VII. D.087 9.078 200 120 340 1.176 8 1. Selain dengan Perum Perumnas. Sedangkan yang dibangun tanpa dukungan KPR masing-masing telah mencapai sebanyak 81.230 3.230 1.216 5.366 Rumah Jumlah sederhana 4.718 3.078 1.891 2.712 29.523 12.299 935 24.504 171 278 500 92. 71 PEMBANGUNAN PERUMAHAN RAY AT OLEH PERUMNAS. dan 640 unit rumah susun.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Hal ini berarti bahwa selama periode tersebut pelaksanaan program perbaikan kampung telah dapat melampaui target yang direncanakan dalam Repelita III seluas 15.212 1'49 1.466 158 304 432 238 218 806 482 281 389 8.576 4.212 400 600 1.479 3. yang bertujuan untuk membangun perumahan rakyat bagi mereka yang berpenghasilan menengah dan tinggi.764 1.620 8.523 unit rumah inti dan 760 unit rumah susun. Ace h Sumatern Utara Sumatern Barat Ria u J ambi Swnatern Selatan Bengkulu Lampung DK1Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.252 1.510 7.596 1. jumlah keseluruhan rumah siap huni yang telah selesai dibangun mencapai 81. 27.680 unit rumah sederhana.264 534 216 300 502 200 688 43 400 2.537 unit.386 12.234 2.400 4.805 27.166 34 4.050 49.500 3.736 1.654 7.090 4.289 unit rumah dan 104.323 unit rumah dan 104. BTN juga mengadakan kerjasama dengan perusahaan pembangunan perumahan swasta.886 unit rumah. Adapun selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III.018 4. 16.032 522 300 822 522 140 58 7.192 1.386 1.742 2. 22.030 unit rumah sederhana.014 500 1.046 1.000 hektar.774 2.222 768 20.71.552 5.098 882 1.009 1.268 400 140 1.457 500 1.500 444 198 21. 26.628 3.288 Jumlah I) Angkadiperbaiki 2) Termasuk Tangerang dan Depok 3) Sejak tahun 1980/1981 pada rumah sederhana termasuk rumah susun 4) Sejak tahun 1983/1984 rumah sederhana terma.542 1. 4.342 1.003 Propinsi I.696 23.060 1. hasil yang telah dicapai oleh Perum Perumnas dan non Perumnas yang mendapat dukungan KPR masing-masing sebanyak 88. 11.846 1. 12.230 200 11.730 34 64 64 1.323 unit. Di samping itu terdapat pula perumahan yang dibangun oleh PT Departemen Keuangan RI 245 . 21.186 9. 14.594 1.078 1978/1979 Rumah inti 898 12.580 42.200 4. Pengadaan perumahan rakyat bagi masyarakat berpenghasilan rendah selama ini telah dilaksanakan melalui Perum Perumnas yakni berupa pemberian fasilitas KPR dari Bank Tabungan Negara (BTN).200 9.963 rumah siap huni yang terdiri atas 3.584 3.988 148 935 2.326 1.300 2. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 juga telah seksai dibangun sebanyak 1. 20.666 2.314 333 1. 110 unit rumah sederhana.230 1.250 1.014 100 100 508 354 862 514 500 764 534 140 324 324 534 534 300 500 1. sehingga keseluruhannya berjumlah 185. 3.500 6.764 600 1.946 1.212 9.900 2. Selama Pelita III.964 Pembangunan rumah dengan dukungan KPR dari BTN telah pula ditingkatkan dan dikembangkan hampir di seluruh ibukota propinsi dan ibukota kecamatan.269 unit rumah inti dan 3.136 478 10 1. 5.517 13.l. 8.1983/1984 ( dalam unit rumah ) 1979/1980 1982/1983 1980/1981 1981/1982 Rumah Rumah3) Rumah Rumah 3) Rumah Rumahh3) Rumah inti Jumlah sederhana inti Jumlah sederhana inti inti Jumlah sederhana 388 388 388 388 388 3.192 1. 13.

proyek perintis perbaikan lingkungan perumahan kota (P3LPK). kemampuan dan keterampilan masyarakat luas.243 unit rumah. maka dilakukan pula kegiatan-kegiatan penunjang yang bertujuan untuk memudahkan pelaksanaan program perumahan rakyat secara keseluruhan. peningkatan keterampilan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Papan Sejahtera atas dukungan KPR. dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran.281 unit. Sedangkan pembangunan jalan lingkungan desa telah diselesaikan sepanjang 990.923 desa yang terse bar di 25 propinsi kecuali propinsi OKI Jakarta dan Irian Jaya. pembuatan saluran pembuangan air kotor sepanjang 25. Adapun perusahaan-perusahaan pembangunan perumahan swasta yang tergabung dalam perusahaan Real Estate Indonesia (REI). Kegiatan terse but antara lain berupa pembinaan umum pembangunan perumahan rakyat. yang dimaksudkan untuk mencukupi keperluan air bersih di propinsi Nusa Tenggara Timur. Selain itu juga dimaksudkan untuk menunjang pelaksanaan proyek perintis perbaikan lingkungan perumahan desa (P3LPD). Adapun unit usaha pengolahan air bersih yang menggunakan Departemen Keuangan RI 246 .281 unit.214 meter. Pada dasarnya kegiatan tersebut merupakan usaha gotong royong masyarakat desa yang bersangkutan dengan mendapatkan bantuan dan bimbingan dari Pemerintah. Kegiatannya selain mencakup pemugaran rumah-rumah desa. juga telah banyak memberikan sumbangannya dalam pembangunan perumahan. telah dilaksanakan dengan pembuatan model bangunan sederhana pengolah air yang disebut embung-embung. pengadaan sarana mandi-cuci-kakus (MCK). perintisan pengadaan produksi bahan-bahan bangunan setempat. di samping juga telah dilakukan di 120 desa dalam rangka penanggulangan bencana alam atau penanggulangan darurat. serta usaha-usaha lain di bidang pemukiman. pengadaan sarana air bersihsebanyak 1. Pemugaran perumahan pedesaan dimaksudkan agar sebanyak mungkin rakyat desa dapat mendiami rumah dan lingkungan yang sehat. pembangunan sarana MCK sebanyak 993 unit. Selama Pelita III telah dilaksanakan pemugaran perumahan di 4. Kegiatan penelitian di bidang air bersih dan kesehatan lingkungan pemukiman. dan pengadaan peralatan penukangan sebanyak 1. serta perintisan unit produksi bahan bangunan setempat. dengan mengarahkan agar dapat dilakukan secara mandiri melalui rumah percontohan dan penyuluhan yang diberikan. pengetahuan. khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas. yang selama Pelita III telah mencapai sebanyak 1. serta penelitian perumahan rakyat baik yang bersifat nasional maupun regional.444 meter. penyediaan air bersih. Selain pengadaan perumahan rakyat. motivasi. juga meliputi perbaikan jalan lingkungan desa. dan juga aparat Pemerintah daerah. perbaikan kampung dan pemugaran perumahan desa. Pembinaan di bidang pembangunan perumahan rakyat tersebut telah dilaksanakan melalui Pusat Informasi Teknik Bangunan (PITB).

322 buah.309 buah. tersebar di 710 kota besar. mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan proyek air bersih di berbagai kala di seluruh propinsi. serta sambungan ke rumah-rumah guna mencapai tingkat pelayanan penduduk semaksimal mungkin. serta pembangunan sarana pembuangan air kotor dan saluran pembuangan air hujan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tanah gambut sebagai bahan pengolahannya. sedangkan untuk pembangunan sarana pembuangan air kotor telah selesai dibangun instalasi pengolahan air kotor. rnaupun kota-kota kecil. Hal itu dilaksanakan melalui peningkatan penyediaan dan pemasangan hidran umum. terus dilakukan upaya pengadaan dan penyediaan air bersih yang dapat menjangkau baik kota-kota-besar. telah dapat dilakukan penambahan kapositas produksi air bersih sebesar 5.082. telah mencapai 18. Sehubungan dengan itu.520 jiwa di 25 propinsi kecuali Sumatera Barat dan Jawa Barat. Sejalan dengan makin meningkatnya kebutuhan air bersih. Kegiatan program penunjang air bersih dilakukan untuk mempersiapkan. termasuk ibukota kecamatan (IKK) yang terdapat di seluruh propinsi. 390 di antaranya ditangani dengan sistem IKK sepenuhnya. sehingga dapat melayani penduduk dengan baik terutama berdasarkan kemampuannya sendiri. termasuk Departemen Keuangan RI 247 . terus diusahakan. selama Pelita III telah dilaksanakan perbaikan sarana lingkungan kota termasuk persampahan di 15 kala. dalam Pelita III telah dilakukan peningkatan dan pemerataan pelayanan air bersih. sedangkan sampai dengan tahun terakhir pelaksanaan Pelita III jumlah seluruh BPAM telah mencapai 150 buah.660 jiwa penduduk di 357 kota. Dalam tahun 1983/1984 telah dapat diposang sambungan rumah sebanyak 69.221. dan hidran umum sebanyak 9.5 liter per detik untuk kota. selama lima tahun pelaksanaan Repelita III jumlah sambungan rumah yang telah dipasang mencapai 227. Dalam hubungan ini. dan sejalan dengan itu dilakukan pula usaha peningkatan keterampilan tenaga-tenaga teknisi air bersih. Sejalan dengan itu. sedang dan kecil termasuk IKK. Dalam tahun terakhir pelaksanaan Pelita III.254 liter per detik. dalam tahun 1983/1984 telah dibentuk 28 badan pengelola air minum (BPAM). telah dibangun di propinsi Kalimantan Selatan. Dengan demikian. Sedangkan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III kapositas produksi air bersih. Pembangunan di bidang sanitasi lingkungan meliputi kegiatan kebersihan kala. khususnya bagi penduduk yang berpenghasilan rendah. Di samping itU selama periode tersebut juga telah berhasil dilakukan pengadaan air di 627 IKK. dan 98 sisanya melalui Inpres kesehatan. yang dapat melayani penduduk sebanyak 4. Peningkatan status BPAM menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (POAM).137. 139 dengan sistem BNA (basic need approach).651 hidran umum yang mampu melayani 1.146 buah dan 2. Kegiatan terse but ditujukan untuk meningkatkan mutu lingkungan pemukiman terutama dalam mencegah berjangkitnya penyakit.

masyarakat pemakai jalan ikut membiayai jalan-jalan baru melalui sistem tol. pedoman pelaksanaan. Sampai dengan tahun 1983/1984 telah dibangun saluran pembuangan air hujan di 25 kala yang tersebar di berbagai daerah. Untuk itu terus ditingkatkan keselamatan bangunan-bangunan umum agar tidak cepat rusak. Prasarana jalan dan jembatan Pelaksanaan pembangunan jalan selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pelayanan jaringan jalan yang tersebar di seluruh Indonesia agar dapat melayani lalu lintas yang semakin berkembang. Di lain pihak. aman dari bahaya kebakaran. dalam rangka tertib bangunan telah disusun berbagai peraturan antara lain mengenai standar. serta jalan-jalan yang membuka daerah-daerah yang potensial tetapi masih terisolir. dan mendapatkan sinar matahari yang cukup. peningkatan jalan dan penggantian jembatan. prosedur pengadaan bangunan negara. Jakarta dan Medan. bebas dari genangan banjir. Selain itu kini sedang dilakukan juga pembangunan sarana pembuangan air kotor di kota Bandung. Dengan demikian prioritas utama kegiatannya diberikan kepada perbaikan dan peningkatan jalan yang menghubungkan antara pusat-pusat produksi dengan daerah-daerah pemasaran dan pelabuhan. sehingga Departemen Keuangan RI 248 . serta program pembangunan jalan dan jembatao baru. Di sam ping itu pembinaan jaringan jalan ditujukan untuk meningkatkan pengangkutan barang dan jasa dari pusat-pusat produksi ke daerah-daerah pedesaan. Kegiatan yang telah dilakukan sampai dengan tahun pertama Repelita IV meliputi programprogram rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan.9. tidak mudah runtuh. Di daerahdaerah yang telah menunjukkan perkembangan yang relatif tinggi. semakin meningkat. peraturan bangunan nasional. serta model peraturan setempat di kola kabupaten dan kotamadya. penunjangan jalan dan jembatan. Mengingat bahwa pembangunan gedung-gedung. maka diperlukan pengaturan dan pembinaannya agar pelaksanaan dan pemanfaatannya dapat berdaya guna dan berhasil guna. terutama arus-arus jalan yang mempunyai nilai sosial dan ekonomi yang tinggi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jaringan pipanya di Tangerang. Selama Pelita III telah disusun rencana tataruang kala sebanyak 176 kota. serta rencana tataruang daerah yang diperuntukkan bagi sebanyak 61 daerah yang tersebar di berbagai propinsi di seluruh Indonesia. baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah maupun swasta. serta untuk mendorong mobilitas manusia sekaligus mengembangkan dan meratakan pembangunan beserta hasil-hasilnya di seluruh nusantara. 7.3. Bidang rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan telah dapat memperbaiki kerusakan-kerusakan setempat pacta ruas-ruas jalan arteri dan kolektor yang telah mempunyai kondisi fisik yang mantap.

maka pada akhir Petitt III jalan mantap telah meningkat menjadi sebesar 36 persen dan jalan tidak mantap berkurang menjadi 64 persen. sedangkan beberapa ruas jalan telah beberapa kali mengalami perbaikan.212 meter dan 10.547 km. masing-masing mencapai 36. di antaranya dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984.527 meter.448 km. Sedangkan kegiatan rehabilitasi dan pemeliharaan jembatan selama Pelita III telah mencapai 41.841 km. sedangkan secara keseluruhan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III mencapai 42.384 km jalan dan 6.848 meter. Sedangkan peningkatan jembatan selama Pelita III telah mencapai sepanjang 14. Dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 telah dilakukan penggantian jembatan sepanjang 8.381 km. Selama Pelita III telah dapat ditingkatkan jalan sepanjang 10.488 meter dan 24.0'55 meter.412 meter. Di lain pihak jalan mantap dan tidak mantap yang pada akhir Pelita II masing-masing adalah sebesar 13 persen dan 65 persen.708 km. yaitu sepanjang 4. sehingga dapat melayani pertumbuhan lalu lintas dalam jangka pendek sebelum jalan tersebut ditingkatkan luasnya.749 meter. maupun dalam rangka pembukaan hubungan lalu lintas ke daerah yang terpencil.308 meter.393 meter telah dilaksanakan dalam tahun 1982/1983 dan 3. Hasil yang telah dicapai selama Pelita III adalah meliputi pembangunan sepanjang 1. terisolir dan daerah pemukiman transmigrasi. dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 2. maka pada akhir Pelita III telah dapat diatasi seluruhnya.414 km dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 4.768 meter dan 7. dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 15. Hasil yang telah dicapai selama Pelita III meliputi peningkatan jalan sepanjang 90.868 meter jembatan. selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah mencapai 141.272 km. Kegiatan yang dilakukan di bidang penunjangan jalan dan jembatan telah dapat memperbaiki kondisi jalan yang tidak mantap dan kritis menjadi baik. termasuk di antaranya yang dicapai dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 masingmasing sepanjang 8.943 km.971 km. Adapun di bidang penunjangan jembatan. Hasil yang cukup baik tersebut tampak pada kenyataan bahwa jalan kritis yang pada akhir Pelita II masih sekitar 22 persen. Pembangunari jalan baru ditujukan untuk dapat melayani pertumbuhan lalu lintas baik di daerah perkotaan.887 meter daiam tahun 1983/1984. sehingga mampu memenuhi kebutuhan pertumbuhan lalu lintas yang terus meningkat pada arus-arus jalan tersebut. termasuk di antaranya yang dicapai dalam tahun 1982/1983 sepanjang 9. Apabila dalam tahun 1982/1983 Departemen Keuangan RI 249 .059 meter.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jalan terse but tetap terpelihara. Hasil yang dicapai dalam program tersebut selama Pelita III meliputi jalan sepanjang 31. Sementara itu program peningkatan jalan dan penggantian jembatan telah dapat meningkatkan jumlah jaringan jalan arteri dan jalan kolektor ke dalam kondisi mantap. di antaranya dalam tahun 1982/1983 sepanjang 18. diantaranya dalam tahun 1982/1983 telah dilaksanakan sepanjang 3.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jumlah jalan mantap mencapai 12.000 kendaraan per hari. perkebunan dan industri kecil di pedesaan.399. sistem distribusi. dan sistem pengelolaannya.956 km. maupun dalam rangka penyebaran penduduk dan penghapusan isolasi daerah-daerah terpencil. Sementara itu guna memperlancar pemasaran hasil produksi pertanian.943 ton dan 453. baik yang menyangkut kegiatan perdagangan dan produksi. Departemen Keuangan RI 250 .418 km.383 ton dan untuk seluruh Pelita III sebanyak 1. 72. dan penunjangan jembatan sepanjang 51.392 km. terutama untuk menghapuskan ruas-ruas jalan pada kondisi kritis dengan kepadatan lalu lintas yang relatif rendah. Kedua lapisan aspal tersebut digunakan untuk kondisi jalan dengan kepadatan lalu lintas sekitar 3. Hasil penelitian yang dilakukan selama Petita III. penunjangan jembatan sepanjang 19. Hasil yang dicapai dalam tahun 1983/1984 di bidang penunjangan jalan kabupaten meliputi sepanjang 7. telah dapat digunakan untuk peningkatan jaringan jalan antara lain meliputi lapisan tipis aspal Buton murni (Latasbum) dan lapisan aspal Buton dengan batu pecah agreget (Lasbutag). dengan lebar perkerasan jalan sekitar 7 meter. dalam tahun 1983/1984 telah dapat diperbaiki seluruhnya. juga ditujukan untuk mengadakan penelitian mengenai peningkatan mUlti produksi dalam negeri. Dengan penggunaan cara/sistem tersebut maka dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 masingmasing telah digunakan aspal Buton sebanyak 452.396 meter dan penggantian gorong-gorong sepanjang 59.044 km dalam tahun 1983/1984.326 km. maka dalam tahun 1983/1984 telah ditingkatkan menjadi 13.208 km dalam tahun 1982/1983 menjadi sepanjang 25. Sementara itu penggunaan aspal Buton terus dikembangkan. Kegiatan tersebut ditingkatkan melalui penyediaan peralatan jalan dan peningkatan kemampuan teknis di lapangan.781 meter. dalam periode yang sarna jumlah jalan tidak mantap telah diturunkan dari sepanjang 25. selain untuk meningkatkan produksi aspal dalam negeri. Berhasilnya pembangunan jalan dan jembatan terse but pada gilirannya telah dapat meningkatkan kelancaran mobilitas antardaerah. Sedangkan jumlah jalan kritis yang dalam tahun 1982/1983 mencapai sepanjang 900 km.568 meter. telah dilakukan bantuan penunjangan jalan kabupaten. Selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah berhasil ditingkatkan penunjangan jalan kabupaten sepanjang 40.633 ton. Di lain pihak. Pembangunan di bidang jalan dan jembatan dapat dilihat pada Tabel VII. Sedangkan jalan agreget padat tahan cuaca (Japat) digunakan untuk kegiatan penunjangan jalan.

Rehabilitasi 3. Oleh karena itu di dalam melaksanakan pembinaan dan penempatan tenaga kerja. Kependudukan dan transmigrasi 7.825 1.482 4.5 juta.3 persen.399 1.419 1.1984/1985 1971/72 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 30. 184 juta jiwa dan 223 juta jiwa.605 920 111 18.745 1.916 688 10.5 juta orang selama kurun waktu tersebut.414 3.055 1984/85 157 3.029 2. Pemeliharaan 1) 2. 1969/1970 .779 546 230 2. Penunjangan 2) Jembatan (m) 1.212 4.700 - 2.199 1) Dalam Pelita llI.956 1. Penunjangan 2) 920 746 27 4.105 25.10.500 - 1970/71 10. Peningkatan 4.305 8.502 331 1. Dengan pertumbuhan yang relatif masih cukup tinggi ter3ebut.841 2. penunjangan menjadi satu dengan peningkatan 3) Angka sementara 7. Rehabilitas! 3.787 1.515 3.154 2.454 27. Di samping itu juga oleh adanya struktur umur yang kurang seimbang serta kualitas penduduk yang relatif masih rendah.262 60 12.226 1.730 994 684 51 4. telah ditetapkan kebijaksanaan yang bersifat menyeluruh dan terpadu dan dititikberatkan pada perluasan kesempatan kerja yang produktif dan renumeratif.010 125 2. Pembangunan baru 5.579 - 1981/82 7. jumlah penduduk Indonesia dalam tahun 1985. diusahakan untuk mempercepat turunnya tingkat kelahiran.393 2. terutama dalam mewujudkan lapangan kerja baru bagi angkatan kerja. dan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 158. Pemeliharaan 1) 2.034 1. tahun 1990 dan tahun 2000 diperkirakan akan meningkat masing-masing menjildi 165 juta jiwa.566 8.165 110 8.943 10.526 5.602 4. Kenaikan tersebut terutama disebabkan karena masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk.488 1983/84 4.834 115 26.317 4.887 829 757 145 8.887 826 24.651 1969/70 J a I a n (km) 1.579 1.128 775 1. pemeliharaan menjadi satu dengan rehabilitasi 2) Dalarn Pelita I dan ll.367 521 16.448 174 15.889 936 68 21. Jumlah penduduk Indonesia dalam tahun 1980 adalah sebanyak 147. Pembangunan baru 5.502 840 - 5.0 persen.301 3. Peningkatan 4.514 9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 T abe I VII. Jika dalam periode 19601971 tingkat pertambahan penduduk adalah sebesar 2.782 6.013 3.685 221 18. pertumbuhan yang cukup tinggi dan penyebaran yang kurang merata.482 1.544 507 2.356 1.700 3. antara lain melalui perluasan dan intensifikasi pelaksanaan program keluarga berencana ke seluruh wilayah dan lapisan masyarakat.011 5.583 8. Kependudukan Masalah pokok di bidang kependudukan dalam tahun kedua Repelita IV terutama ditandai oleh besarnya jumlah penduduk. sedangkan dalam periode 1980-1990 diperkirakan menurun menjadi sekitar 2.1 persen.673 1.103 1982/83 9.464 3.749 3.580 1.610 375 28.381 8.224 1. Keadaan penduduk tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan bidang ketenagakerjaan. dan sekaligus bertujuan untuk meningkatkan pemerataan pendapatan dan kegiatan pembangunan.1 juta. sebanyak Departemen Keuangan RI 251 . dalam periode 1971-1980 meningkat menjadi sebesar 2.560 913 4.272 400 18.10. termasuk daerah-daerah pemukiman baru.72 PEMBANGUNAN DI BIDANG PRASARANA jALAN DAN jEMBATAN.294 916 148 2.1.387 735 47 6.390 3.074 6. Guna mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk tersebut.397 1.789 4. Sementara itu dengan adanya penyebaran penduduk yang kurang merata. yang setiap tahun jumlahnya diperkirakan bertambah sekitar 1.502 2.894 3.108 36.132 1.928 4.075 2.982 1.928 23.858 2.

9 juta. Sementara itu dengan adanya peningkatan penyediaan fasilitas pendidikan. 69.90 per seribu. di wilayah Sumatera. dalam tahun 1988 diperkirakan akan meningkat menjadi 71.1 persen dari sebanyak 161. Sebagai akibatnya.9 persen dari seluruh angkatan kerja juga berada di pulau Jawa. di lain pihak di daerah yang jarang penduduknya. yaitu apabila dalam periode 19811985 tingkat kelahiran mencapai 33.7 juta orang atau suatu kenaikan rata-rata sebesar 2. di samping dialaminya tekanan penduduk yang mencapai kepadatan 747 orang per kilometer persegi. yang ditandai dengan besarnya jumlah penduduk berusia muda. maka di satu pihak sumber daya alam di daerah padat penduduk mengalami tekanan eksploitasi yang berlebihan.7 juta orang. yang masing-masing luasnya sekitar 26.8 persen. sumber daya alam tidak dapat dikelola secara efektif. penyebaran penduduk terutama ditujukan pada tercapainya perimbangan yang lebih serasi antara sumber daya alam dan sumber daya manusia. Tingkat kenaikan tersebut berarti masih di alas pertumbuhan penduduk dalam periode 1980-1990 yang diperkirakan mencapai sekitar 2. dalam periode 1986-1990 dan 1990-1995 masing-masing diperkirakan sebesar 31. Di lain pihak.7 juta.9 juta orang. Dengan adanya ketimpangan penyebaran penduduk tersebut. kepadatan serta proyeksinya sampai dengan tahun 1984 dapat dilihat pada Tabel VII.7 juta orang.7 persen dari seluruh wilayah Indonesia. Hal ini terutama disebabkan karena masih cukup tingginya tingkat kelahiran.2 juta jiwa atau 62.6 persen. jumlah penduduknya hanya sebanyak 31. 27.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 98. apabila dalam tahun 1983 baru mencapai 63. 7. Selain itu dalam rangka meningkatkan kesadaran serta pengetahuan di bidang kependudukan. terutama pada seko}ah dasar (SD) dan sekolah menengah tingkat pertama (SMTP). tahun 1990 dan tahun 2000. atau 61.6 juta penduduk dalam tahun 1984.1 juta orang dan 76. Perkembangan penduduk Indonesia. 14 orang dan 60 orang per kilometer persegi.3 juta. Demikian pula halnya dengan jumlah angkatan kerja. Sebagai akibatnya apabila dalam tahun 1980 jumlah penduduk yang berumur 0-14 tahun baru mencapai sebanyak 59. dan 9. dalam tahun 1985. berada di pulau Jawa yang luas wilayahnya hanya sekitar 7 persen dari seluruh wilayah Indonesia. jumlah angkatan kerja dalam kelompok umur 10-14 tahun diperkirakan akan terus menurun baik secara proposional Departemen Keuangan RI 252 .73.72 per seribu. Masalah lain di bidang kependudukan adalah kurang seimbangnya struktur umur penduduk.26 per seribu dan 28. Dengan demikian kepadatan penduduknya hanya mencapai 67 orang. dikembangkan pula penelitian di bidang kependudukan yang sekaligus dimaksudkan untuk memanfaatkan sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan pembangunan.5 persen per tahun.6 juta dan 11. diperkirakan sebanyak 41. masing-masing diperkirakan akan meningkat menjadi 64. Oleh karena itu guna memungkinkan pendayagunaan sumber daya alam secara optimal.0 persen per tahun. Kalimantan dan Sulawesi.2 juta orang.

200 orang atau 1. penyebaran dan pemanfaatan tenaga kerja khususnya tenaga kerja usia muda. program pembangunan desa dilakukan melalui proyek padat karya gaya baru (PPKGB) dan proyek padat karya jaringan tersier (PPKJT). antara lain telah ditempuh kebijaksanaan di bidang ketenagakerjaan. perluasan kesempatan kerja. di samping juga ditanggulangi kekurangan kesempatan kerja sebagai akibat terjadinya bencana alam di beberapa daerah.801.0 persen. Program pembangunan desa terutama ditujukan untuk mengatasi masalah kekurangan kesempatan kerja bagi tenaga-tenaga penganggur atau penganggur musiman yang kurang terampil di daerah pedesaan. Untuk itu pelaksanaan operasionalnya akan dituangkan ke dalam berbagai program. Dalam jangka pendek. yakni meliputi peningkatan informasi posar kerja. meliputi program pembangunan desa. pembuatan beras dan Departemen Keuangan RI 253 . antara lain dilakukan pembangunan jalanjalan desa dan prasarana desa lainnya. Apabila dalam tahun 1983 jumlah angkatan kerja dalam kelompok umur 10-14 tahun mencapai 2. dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi terhadap saluran air dan jaringan tersier. saluran air. perkembangan angkatan kerja yang belum tamat SD diperkirakan masih cukup besar. Namun sebaliknya untuk angkatan kerja muda dalam kelompok umur 15-24 tahun. yaitu akan meningkat menjadi 42.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun secara absolut. program ini ditujukan untuk perluasan kesempatan kerja bersamaan dengan dilaksanakannya suatu proyek. dalam tahun 1988 diperkirakan akan menurun menjadi 1. Selanjutnya apabila dilihat dari tingkat pendidikannya. perluasan kesempatan kerja terutama dihubungkan dengan kebutuhan tenaga kerja setelah selesainya atau berfungsinya proyek tersebut. produktivitas tenaga kerja. Dalam tahun 1985.000 orang.6 juta orang. Melalui PPKGB. program latihan. dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kerja terutama bagi penduduk yang tinggal di daerah kecamatan miskin dan padat penduduk. Sedangkan melalui PPKJT.325 hari kerja.9 juta orang. sedangkan yang telah menamatkan perguruan tinggi hanya mencapai 657. sedangkan yang tamat perguruan tinggi hanya sebanyak 754. serta peningkatan penyaluran. yaitu dari sebanyak 16. Tenaga kerja tersebut dipekerjakan pada pembangunan jalan desa. sedangkan dalam jangka panjang. Guna menanggulangi permasalahan tersebut. dalam tahun 1983 diperkirakan 41. Sehubungan dengan itu.8 juta orang meningkat menjadi 17.0 juta orang. dalam periode yang sarna jumlahnya diperkrakan masih cukup besar. Dalam pelaksanaannya.5 persen dari seluruh angkatan kerja yang ada masih belum tamat SD. program penyebaran tenaga kerja.2 juta orang atau 64. program generasi muda dan program peranan wanita.5 juta orang. dalam tahun 1982/1983 melalui PPKGB dan PPKJT telah dapat diserap tenaga kerja sebanyak 21.

010 orang.892 hari kerja. Sehubungan dengan itu.480 orang. keterampilan dan imbalan jasa yang.1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang baru mencapai 3. serta kegiatan lain yang menunjang pembangunan. telah dapat ditempatkan sebanyak 84. Kemudian dalam tahun 1983/1984. dalam tahun 1983/1984 dengan jumlah pencari kerja yang terdaftar sebanyak 498.836 tenaga kerja.693 kilometer dan saluran tersier sepanjang 3.221 orang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 prasarana desa lainnya. Di samping melalui program TKS/BUTSI.7 kilometer yang tersebar pada 1. Dengan semakin meningkatnya pembangunan.084 kecamatan miskin dan padat penduduk. dari pembangunan/rehabilitasi prasarana dan sarana yang tersebar di 96 kecamatan miskin dan padat penduduknya telah dapat diserap tenaga kerja sebanyak 342.940. Dengan demikian mobilitas tenaga kerja baik antar jabatan maupun antarlokasi dapat ditingkatkan. telah dapat ditempatkan sebanyak 15. Sedangkan daJam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. pelaksana program kejar paket A. tenaga kerja yang diserap telah meningkat menjadi sebanyak 26. Dalam hubungan ini. Melalui informasi pasar kerja. antarkerja antardaerah (AKAD) dan antarkerja antarnegara (AKAN). Sementara itu pelaksanaan pogram penyebaran tenaga kerja terutama ditujukan untuk menyebarkan dan memanfaatkan tenaga kerja terdidik ke daerah pedesaan. program penyebaran tenaga kerja juga dilaksanakan melalui kegiatan antarkerja yang ditunjang oleh informasi posar kerja yang akurat.721 hari kerja. Di samping itu usaha penyebaran tenaga kerja juga dilaksanakan melalui program antarkerja antar lokal (AKAL). dengan jumlah pencari kerja sebanyak 104. Melalui proyek pengerahan tenaga kerja sukarela. Dalam lokasi baru tersebut. melalui pembangunan/rehabilitasi jalan desa sepanjang 3.302 orang dan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia seb:inyak 112. yang terse bar di 1. mereka diaktifkan sebagai pelopor pembaharuan dan pembangunan di daerah pedesaan yang tersebar di seluruh propinsi. yang berarti telah meningkat dengan 82.815 orang. . para tenaga kerja sukarelalbadan usaha tenaga sarjana Indonesia (TKS/BUTSI) bertugas di berbagai bidang pembangunan.941 orang dan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia sebanyak 23. penyuluh di bidang kesehatan. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.096 buah kecamatan miskin dan padat penduduk. antara lain sebagai tenaga penyempurna administrasi desa. di samping juga ikut membantu menyebarkan teknologi tepat guna dan sistem padat karya. dalam tahun 1983/1984 jumlah TKS/ BUTSI yang dikerahkan ke daerah-daerah pedesaan di seluruh Indonesia telah mencapai 5. gizi dan keluarga berencana.635 orang. pelaksanaan program AKAD diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang semakin Departemen Keuangan RI 254 .720. diberikan.antara lain dapat diketahui jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan menurut jenis pekerjaan. baik tenaga kerja sarjana maupun sarjana muda.

BLK Pertanian (BLKP). Untuk menunjang kegiatan tersebut. Departemen Keuangan RI 255 . Sementara itu guna meningkatkan produktivitas tenaga kerja.120 orang melalui MTU. Dalam tahun 1983/1984.193 orang. Kenaikan ini selain disebabkan karena adanya penambahan tenaga instruktur dan perluasan clara tampung daripada BLK-BLK. juga karena semakin meningkatnya minat para pencari kerja untuk mengikuti latihan. selain melalui pembangunan/rehabilitasi balai latihan kejuruan (BLK). tetapi produktivitas kerjanya masih rendah. 19. dengan perincian sebanyak 84.005 orang atau 19. penyaluran tenaga kerja melalui AKAL mencapai sebanyak 15.209 orang.346 orang. sedangkan melalui AKAD dan AKAN masing-masing mencapai 9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 meningkat di luar Jawa.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang baru mencapai 82. Sedangkan guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja di luar negeri. jumlah tenaga kerja yang telah dilatih melalui BLK Industri (BLKI). Melalui program antarkerja tersebut. pengelolaannya dilaksanakan melalui program AKAN. Unit Produktivitas Nasional (UPN) dan Mobile Training Unit (MTU) seluruhnya mencapai 98. dalam tahun 1983/1984 telah dapat disalurkan tenaga kerja sebanyak 135. Hal ini berartitelah terjadi kenaikan sebanyak 16. Di samping itu juga diberikan kepada beberapa tenagakerja yang sudah mendapatkan lapangan kerja tertentu. terutama yang sudah mandiri.635 orang. diberikan program latihan dan keterampilan tenaga kerja khususnya kepada tenaga kerja usia muda dan wanita pedesaan yang belum memiliki pengalaman dan keterampilan. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.583 orang melalui AKAD dan sebanyak 30.790 orang melalui AKAN. terutama dengan terbukanya kesempatan kerja di Timur Tengah. telah dapat dilatih tenaga kerja sebanyak 1.138 orang. juga diberikan bimbingan kepada kursus-kursus swasta sebagai bagian dari sistem latihan nasional. Balai Pengembangan Manajemen dan Produktivitas (BPMP). 880 orang melalui BPMP dan sebanyak 1.734 orang melalui BLKI. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.836 orang disalurkan melalui AKAL.427 orang dan 11.

bagi daerah asal transmigran.13% 3. serta mendorong masyarakat agar berperanserta Departemen Keuangan RI 256 . baik bagi para transmigran maupun bagi masyarakat sekitarnya.086 20.342 1978 88.341 12.155 8.269 28.079 10.34% 2. balai pertemuan/balai desa.700 31.28% 2. lahan pertanian. sarana dan fasilitas secara memadai bagi tumbuhnya kegiatan masyarakat baru.723 10.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.929 7.128 138. rumah petugas dan rumah pos.083 1984 98. Di lain pihak.48% 3. Untuk tersedianya prasarana.410 11. sosial-ekonomi para transmigran telah dibangun pula sarana penunjang seperti gedung sekolah.240 10.724 6.016 6.665 11. pelaksanaan transmigrasi terutama ditujukan untuk pembangunan dan rehabilitasi daerah asal.78% 1) Angka sensus 7. khususnya di luar pulau Jawa dan Bali. Transmigrasi Program transmigrasi terutama ditujukan untuk memperbaiki penyebaran penduduk dan tenaga kerja.808 5.209 1976 85.070 10.10.893 30.888 135. 73 PENDUDUK INDONESIA DAN KEPADATANNYA PADA TAHUN 1971 SERTA PROYEKSINYA SAMPAI DENGAN TAHUN 1984 ( dalam ribu jiwa) Pulau J awa Sumatera Kalimantan Sulawesi Lainnya Indonesia Jumlah penduduk 19711) 76. Usaha-usaha tersebut pada gilirannya diharapkan akan dapat menjamin peningkatan tarat hidup.350 11. Guna melayani kegiatan. gedung koperasi/KUD.962 7.340 29.563 11. rumah ibadah.103 29.2.289 24.579 Kepadatan / Km 2 19711) 576 44 10 45 15 62 1976 633 45 11 43 17 67 1977 650 46 11 44 18 68 1978 663 47 11 46 18 70 1980 1) 690 59 12 55 19 77 1981 706 61 12 56 19 79 1982 719 63 13 58 20 81 1983 733 65 13 59 20 83 1984 747 67 14 60 20 84 Perkembangan rata .076 24.1984 2.334 10.662 1983 96.579 19801) 91.799 158.377 141. serta perumahan berikut salafia air minum dan jamban keluarga. balai pengobatan. yang kesemuanya disertai dengan perlengkapan dan peralatan. jalan desa.887 11.942 10.70% 2.812 9.rata per tahun 1971 .028 6.924 9.190 1977 87.632 119.112 11.072 147. maka di daerah pemukiman transmigrasi antara lain telah dibangun jalan penghubung.904 25.315 1982 95.340 151.282 5.048 161.567 154.143 10. serta untuk menunjang pembangunan daerah.989 6.527 8. untuk membuka dan mengembangkan daerah pertanian baru.490 1981 93.927 7.

9 1973/1974 22.552 100.2 1971/1972 4.000 78359 104.4 1983/1984 150. 127.910 100 1977/1978 22. Oleh karena itu penentuan daerah asal bagi para calon transmigran terutama diprioritaskan pada daerah yang terlalu padat.000 527.000 127.949 100 1978/1979 27.000 100.6 1982/1983 125.127 KK transmigran umum dan 160. yang terdiri atas 29. Kemudian dalam tiga tahun terakhir Pelita III masing-masing telah meningkat menjadi 100.7 1972/1973 11.876 105.5 1) Angka diperbaiki.949 22.000 100 1975/1976 8.000 48.985 kepala keluarga (KK).010 KK.910 13.100 100 1976/1977 13.055 38.055 KK.5 1981/1982 100.010 106 Pelita IV 1984/1985 2) 125.000 27.74.985 104 1980/1981 75. 1969/1970 .749 KK transmigran swakarsa.268 99.263 KK transmigran umum.6 1979/1980 50.200 11.489 3.425 705.876 KK.970 KK dan 169. TabeI VII.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam bidang transmigrasi.600 4. dae(ah aliran sungai (DAS) yang akan dihijaukan.959 82.000 100 Pelita III 1) 500.412 100 Pelita II 82.970 102.412 22. 736 KK transmigran swakarsa berbantuan dan sebanyak 18.171 90.414 101.933 87.6 1970/1971 3. 74 HASIL PENEMPATAN TRANSMIGRAN.959 100 1974/1975 11.158 93. Perkembangan hasil penempatan transmigran dapat diikuti dalam Tabel VII.359 KK.000 11.000 159. Apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah transmigran yang ditempatkan baru mencapai sebanyak 51. Selama Pelita III pelaksanaan transmigrasi dari tahun ke tahun selalu menunjukkan peningkatan. daerah yang terkena proyek-proyek pembangunan serta daerah yang perlu dilestarikan.552 KK.000 51.566 46. termasuk transmigran swakarsa 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 257 .4 Jumlah 754. Dengan demikian selama 5 tahun pelaksanaan Repelita III telah dapat ditempatkan transmigran sebanyak 527. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984 telah dapat ditemp atkan sebanyak 48.1984/1985 ( kepala keluarga ) Persentase Tahun Target Realisasi realisasi Pelita I 46. yang terdiri atas 367.865 4. dalam tahun 1980/1981 telah meningkat menjadi 78.100 8.4 1969/1970 4.338 112.056 KK transmigran swakarsa murni.

belum terarahnya materi atau informasi yang disampaikan. yang dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan di bidang keamanan dan kesehatan para transmigran. peternakan. kesehatan dan makanan bagi para transmigran. Demikian juga sektor swasta belum memadai peranannya dalam menunjang perkembangan perekonomian daerah transmigrasi. Di sektor pertanian. seperti terlihat dari pelaksanaan dalam tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Oktober 1984 yang baru mencapai 38. pendidikan dan kesehatan. program transmigrasi masih banyak mengalami hambatanhambatan. sehingga membuka kemungkinan yang lebih luas bagi pengolahan hasil-hasil pertanian di daerah transmigrasi. serta meningkatkan produksi dari berbagai komoditi pertanian. Di samping itu juga belum memadainya perkembangan KUD. Sebaliknya pembangunan yang dilakukan di daerah transmigrasi akan memberikan peluang bagi usaha penyalur barang dan jasa yang dibutuhkan bagi pembangunan daerah transmigrasi itu sendiri. Dengan demikian diharapkan penyebaran potensi sumber daya manusia akan lebih seimbang dengan penyebaran potensi sumber alam. terutama untuk lahan pertanian. seperti sektor pertanian. perindustrian. telah dilakukan penambahan angkutan transite. Guna mengatasi hambatan-hambatan tersebut. khusus kepada para petugas pengawal transmigran telah diberikan berbagai penataran. Dalam pelaksanaannya. khususnya yang menyangkut masalah pengelolaan dan perdagangan hasil-hasil pertanian.4 persen dari target yang telah ditetapkan dalam tahun 1984/1985 yaitU sebanyak 125. Di samping itu guna melancarkan angkutan bagi para transmigran. maka dalam Pelita IV pelaksanaan program transmigrasi akan lebih dipadukan dengan pembangunan sektor-sektor lainnya. Sedangkan untuk memenuhi kecepatan waktu dan meningkatkan mutu makanan yang lebih Departemen Keuangan RI 258 . Oleh karena itu pelaksanaan kegiatan ini langsung dikaitkan dengan pemindahan penduduk dan tenaga kerja dari daerah yang radar ke daerah yang jarang penduduknya. sebagai lembaga yang diharapkan dapat mengembangkan perekonomian bagi daerah transmigrasi. pelaksanaan transmigrasi ditujukan untuk memperluas areal pertanian baru. khususnya untuk daerah-daerah kosentrasi pengumpulan yakni di kabupaten-kabupaten. serta masih lemahnya pelayanan dalam angkutan. baik di pasaran lokal maupun nasional.000 KK. kegiatan transmigrasi akan memberikan kesempatan yang luas pada usaha-usaha penyalur hasil produksi dari daerah transmigrasi ke pasaran. Sedangkan untuk sektor perdagangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sejalan dengan telah berhasilnya pelaksanaan program transmigrasi dalam Pelita III. perkebunan. Bagi sektor industri. Hambatan-hambatan tersebut antara lain berupa kurangnya tenaga penyuluh yang terampil. perikanan. usaha di bidang transmigrasi akan lebih menjamin tersedianya tenaga kerja dan bahan baku. belum memadainya sarana penerangan yang ada.

serta intensifikasi dan diversifikasi usaha tani.631 guru SO. kepada para caton transmigran swakarsa telah diberikan berbagai kemudahan. 55 dokter. Demikian pula bagi lokasi-lokasi yang kurang subur telah dilaksanakan upaya penanggulangan. Khusus kepada daerah-daerah yang terkena musim kering dan beberapa daerah yang memerlukan perawatan kesehatan. ijin dan penyediaan fasilitas di daerah penerimaan. Selain ittt juga telah dilaksanakan rehabilitasi terhadap 67 lokasi lahan usaha yang kurang berhasil. Guna meningkatkan dan mendorong pelaksanaan transmigrasi swakarsa. dan pembinaan terhadap transmigran lama sebanyak 592. yang terdiri dari 956 tenaga medis.381 KK. Sementara itu guna meningkatkan pengelolaan dan pemasaran hasil-hasil produksi dari daerah transmigrasi. 2.458 orang. maka di beberapa lokasi dan daerah asal telah diadakan dapur lapangan yang mobil. telah diberikan bantuan bibit tanaman dan bantuan pangan. baik yang menyangkut masalah pengurusan pelaksanaan administrasi. 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sempurna. telah ditingkatkan pula peranan koperasi dan usaha swasta. Selanjutnya usaha peningkatan transmigrasi swakarsa dilaksanakan pula dengan jalan mengikutsertakan para transmigran pada kegiatan perkebunan inti rakyat (PIR) khusus. maupun mengenai kelancaran hub_mgan antara daerah asal dan daerah penerima. sampai dengan bulan Oktober 1984. Departemen Keuangan RI 259 . Sejalan dengan itu dalam tahun pertama Pelita IV. mengadakan konservasi laban. 534 penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan 660 pembina koperasi.622 guru SMTP. telah dapat dilaksanakan pengadaan tenaga pembina sebanyak 6. yaitu dengan memberikan pengapuran.

yang pada gilirannya diharapkan akan menumbuhkan manusia Indonesia yang mampu membangun dirinya sendiri. maupun dalam hubungannya dengan masyarakat dan alam sekitarnya. Dalam kaitannya dengan pembangunan di bidang pendidikan. Pembinaan di bidang agama. Selaras dengan itu. serta semakin meningkatnya kesejahteraan dan mutu para pendidik. serta mampu menciptakan keselarasan. Untuk itu berbagai sarana dan fasilitas pendidikan secara bertahap dan pasti terus ditingkatkan. Oleh karena itu walaupun prioritas pembangunan masih ditekankan pada sektor ekonomi. keberhasilan upaya Departemen Keuangan RI 260 . Tersedianya gedung-gedung sekolah terutama di tingkat dasar yang menyebar di seluruh pelosok tanah air. keserasian dan keseimbangan baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. yang berarti pula makin banyak anggota masyarakat yang mempunyai kesempatan untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan. Hal ini ditandai dengan makin berkembangnya berbagai fasilitas dan saran a kesehatan. pembangunan di bidang agama antara lain bertujuan untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia 'yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. jangkauannya tidak hanya terbatas pada pendidikan formal melainkan meliputi pula pendidikan luar sekolah yang menuntut peran serta aktif pihak swasta. merupakan wujud nyata dari upaya tersebut. Oengan demikian dalam proses'pembangunan selanjutnya diharapkan akan dapat tercipta suatu strata masyarakat Indonesia yang berkepribadian kokoh. Sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia tersebut. baik melalui pendidikan formal maupun non formal.1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VIII PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN SOSIAL DAN PEMBANGUNAN DAERAH 8. pembangunan bidang kesehatan yang merupakan salah satu kebutuhan dasar setiap manusia terus pula dilaksanakan. dan mempunyai etik moral yang kuat. Sasaran yang ingin dicapai di bidang ini antara lain adalah meningkatkan kecerdasan serta menumbuhkan semangat kebangsaan yang tinggi. Di samping itu. serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. namun unsur manusia dan unsur-unsur lainnya tetap mendapat perhatian yang seimbang. Pendahuluan Laju pembangunan yang telah dicapai sekarang ini tidak terlepas dari peranan manusia yang berfungsi sebagai pelaksana pembangunan. terus pula dikembangkan seiring dengan bidang-bidang lainnya. sebagaimana telah dapat dirasakan dewasa ini.

Pembangunan bidang kesejahteraan sosial yang merupakan bagian integral daripada kesatuan sistem pembangunan nasional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak terlepas pula dari kemampuan dan kesadaran masyarakat itu sendiri. diarahkan guna meningkatkan tarat kesejahteraan sosial masyarakat secara adil dan merata. diharapkan akan tercipta suatu kondisi sosial rnasyarakat sebagaimana diidam-idamkan. di samping aparat penegak hukum yang bersih dan berwibawa. Adanya kepastian hukum yang dapat rnenjamin hak-hak setiap warga negara. agar tercipta rasa amall.2. serta ditunjang oleh kesadaran hukum masyarakat yang tinggi merupakan salah satu tujuan di bidang pembinaan hukum. Selaras dengan itu. pembangunan di bidang hukum berasa semakin penting. Dalam rangka memantapkan usaha tersebut. Maka dari itu. Di bidang pembangunan daerah. demi terbentuknya suatu angkatan bersenjata yang tangguh serta mampu rnelindungi seluruh turnpah darah dan segenap bangsa Indonesia. di samping penyediaan sarana dan fasilitas yang memadai. Untuk itu berbagai upaya dan penyuluhan. Dengan demikian Departemen Keuangan RI 261 . Dalam hubungannya dengan usaha untuk rnenciptakan suasana tersebut. pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan juga semakin berasa sebagai suatu kebutuhan yang mutlak. keluarga dan masyarakat. serta pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air. serta mampu mengikuti laju pertumbuhan-daerah. serta diiringi dengan penyediaan fasilitas yang memadai. Hal ini pada akhirnya diharapkan akan mampu menjamin kelangsungan pembangunan yang merata di seluruh wilayah tanah air serta kemajuan yang nyata dan ternikmati oleh segenap lapisan masyarakat. tertib serta tenteram lahir dan batin. Norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera sudah dapat dirasakan oleh sebagian anggota masyarakat. dinamis. Dengan bertumpu pada landasan tersebut. terus digalakkan. terutama bagi para penyandang perrnasalahan sosial. 8. yang bertujuan membangkitkan motivasi serta kesadaran masyarakat akan arti pentingnya kesehatan dan keluarga berencana (KB). terutama para peserta KB. pelayanan kepada para akseptor KB terus ditingkatkan. pembangunan di bidang agama terutama ditandai dengan semakin terbinanya hidup rukun di antara sesama umat beragama. terus ditingkatkan upaya guna menjabarkan asas Trilogi Pembangunan ke dalam konsepsi yang bersifat operasional. perlu ditingkatkan laju pertumbuhan daerah. Agama Memasuki tahun pertarna Pelita IV. Hal ini tidak terlepas dari usaha untuk mewujudkan kondisi sosial yang dinamis dalam kehidupan individu. Berbagai langkah pembinaan telah dilakukan. Kesemuanya itu akan terwujud apabila keutuhan bangsa serta integritas teritorial terus ditingkatkan pula.

Usaha tersebut terutama ditujukan untuk meningkatkan dan menyelaraskan pembinaan antara pendidikan dan perguruan agarna dengan pendidikan umurn. pembangunan balai nikah telah mencapai sebanyak 587 buah atau 237 buah lebih banyak hila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini secara tidak langsung akan menunjang suksesnya program nasional kependudukan dan keluarga berencana. penerangan dan bimbingan hidup beragama serta peningkatan pelayanan ibadah hajj. Departemen Keuangan RI 262 . 320 buah. yang dilakukan dengan cara memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Salah sarti perwujudan nyata dari pada upaya tersebut adalah dilakukannya pembangunan/rehabilitasi gedung balai nikah dan gedung pengadilan agama.1. Sedangkan untuk tahun pertama Pelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984. serta menciptakan suasana yang mendorong ke arah berkembangnya pola berpikir secara ilmiah. Guna mendorong para pemeluk agarna untuk mempelajari dan mendalami agamanya. dengan perincian masing-masing setiap tahunnya sebanyak 296 buah. Untuk itu telah dikembangkan kehidupan keagamaan. Dalam waktu yang sarna juga telah ditingkatkan pembangunan gedung pengadilan agarna. 290 buah. Sejalan dengan itu. agar tercapai tujuan pendidikan nasional yang berlandaskan Pancasila. Pembinaan tata kehidupan beragama Pembinaan tata kehidupan beragama antara lain mencakup peningkatan sarana kehidupan beragarna. juga dimaksudkan agar pelaksanaan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa benar-benar sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. 316 buah dan 350 buah. selama 5 tahun pelaksanaan Repelita III telah dibangun balai nikah sebanyak 1. yakni apabila dalarn tahun 1983/1984 telah dibangun 15 buah gedung pengadilan agama tingkat pertarna. mulai dari sekolah dasar sampai dengan universitas. selain ditujukan agar dalam pengembangannya tidak mengarah kepada adanya pembentukan agama baru. Adapun pembinaan yang dilakukan terhadap para penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.572 buah. khususnya di bidang pendidikan. karena melalui gedung balai nikah ini kepada para calon suami istri dapat dibina dan diberikan penyuluhan mengenai kesejahteraan keluarga sesuai dengan undang-undang perkawinan. telah dibangun 17 buah gedung pengadilan agama tingkat pertama dan 4 buah gedung pengadilan agama tingkat banding. 8. Dalam pada itu telah dilakukan pula rehabilitasi terhadap 27 buah gedung pengadilan agama tingkat pertama dan sebuah gedung pengadilan agama tingkat banding.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kesatuan dan persatuan bangsa dapat diperkokoh dan peranserta umat beragama dalam pembangunan dapat ditingkatkan pula.2.

dan kelompok khusus lainnya seperti tunasusila. dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Agustus 1984. para transmigran. dan disertai pula dengan pengadaan 652.228.800 buah.000 buah Departemen Keuangan RI 263 . 89. Apabila pada akhir Pelita II baru terdapat sebanyak 471.715 tempat ibadah. Sehubungan dengan itu dalam tahun pertama Repelita IV telah diberikan penyuluhan agama kepada 2. 335 gereja Protestan.300 buah kitab suci agama Hindu dan 15.000 buah kitab suci dari berbagai agama.834 mesjid. Dampak positif dari bantuan tersebut adalah terangsangnya masyarakat untuk berswadaya dalam membangun tempat ibadah sesuai dengan kebutuhannya. yang terdiri atas 844.500 buah kitab suci agama Protestan. daerah pemukiman baru. yang terdiri dari 2.245 buah setiap tahunnya. suku berasing. serta tempat-tempat ibadah yang rusak karena bencana alam. seperti terlihat dengan semakin banyaknya jumlah tempat ibadah dari tahun ke tahun. narapidana dan kelompok lainnya. yang terdiri dari para karyawan instansi Pemerintah/swasta.183. Pemberian penyuluhan agama. Di samping itu jumlah tempat ibadah yang diberikan bantuan setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. Dalam rangka meningkatkan sarana kehidupan beragama maka telah dilaksanakan bantuan pembangunan/rehabilitasi tempat-tempat ibadah. Dalam periode yang sarna telah diberikan pula penyuluhan kepada para pemeluk agama Protestan dan Katolik masing-masing sebanyak 300 kelompok dan 185 kelompok yang terdiri dari suku berasing. sarana ibadah serta buku-buku keagamaan. Apabila dalam tahun 1983/1984 bantuan pembangunan/rehabilitasi diberikan kepada 2. atau rata-rata 21. disertai pula dengan penyediaan brosur agama masing-masing sebanyak 60. daerah-daerah yang mempunyai nilai sejarah dan yang terletak di daerah strategis. Jika dalam tahun 1983/1984 telah diterbitkan sebanyak 1. 148. terutama masyarakat suku berasing.000 buah kitab suci agama Budha. narapidana. Bantuan tersebut pada umumnya diberikan dalam bentuk biaya pembangunan/rehabilitasi.000 buah brosur agama dan 36. telah diberikan kepada 3. telah diberikan kepada masyarakat dari berbagai golongan agama. daerah transmigrasi. 221 pura Hindu dan 58 buah wihara Budha. terutarna terhadap kelompok masyarakat yang masih lemah sosial ekonominya.790 kelompok pemeluk agama Islam.384 paket penyuluhan. para transmigran.suci agarna Katolik. para transmigran dan kelompok khusus lainnya.821 temp at ibadah.000 buah kitab suci agama Islam.000 buah kitab . 132. maka pada akhir Pelita III telah meningkat menjadi 577.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maka terus ditingkatkan usaha penerbitan kitab suci dari berbagai agama. 267 gereja Katolik.433 buah tempat ibadah. telah diterbitkan sebanyak 1. sebagai salah satu pelaksanaan daripada program penerangan dan bimbingan hidup beragama.660 buah. dalafu tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.

Sementara itu jika dilihat daerah asal daripada para jemaah. 3. maka dalam tahun 1984/1985 jumlah jemaah haji yang paling banyak berasal dari Jawa Barat.300 orang. dengan jumlah jemaah masing-masing sebanyak 7.097 orang.800 meter persegi untuk Banjarmasin dan 2. serta sarana lainnya seperti pembuatan film haji. an tara lain telah dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi asrama haji. Musyawarah intern umat beragamatelah dilaksanakan pada 13 lokasi dengan peserta sebanyak 1. Peningkatan pelayanan ibadah haji terutama ditujukan untuk meningkatkan pengelolaan dan pelayanan kepada masyarakat dalam melaksanakan ibadah haji.008 orang. pekan orientasi kerjasama antarumat beragama dengan Pemerintah. seperti musyawarah intern umat beragama. Ujungpandang.400 meter persegi. Departemen Keuangan RI 264 . baik untuk pelabuhan-pelabuhan pemberangkatan maupun pelabuhan-pelabuhan transit. 5. Guna menunjang program tersebut. Perkembangan jumlah jemaah haji dapat diikuti pada Tabel VIII.715 meter persegi untuk pelabuhan. Pada awal Pelita III pembangunan asrama haji dititikberatkan pada 4 kola pelabuhan udara tempat pemberangkatan jemaah. baik kepada para petugas maupun jemaah. disediakan buku pedoman perjalanan dan ibadah haji.000 buah. Sulawesi Selatan.000 buah.180 meter persegi untuk pelabuhan Surabaya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan 22. dan pengadaan buku pedoman kerukunan hidup beragama.783 orang. sedangkan musyawarah antarumat beragama telah diikuti oleh 540 orang dan dilaksanakan pada 6 lokasi. Jawa Timur.Pontianak.1. pembangunan asrama haji telah dapat ditingkatkan menjadi 7.907 orang. Usaha peningkatan kerukunan hidup beragama dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan dengan berbagai kegiatan.000 buah brosur agama. 3. Sedangkan untuk tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.695 meter persegi. di samping telah diberikan pula buku pedoman kerukunan hidup beragama sebanyak 17. Surabaya. Dalam periode yang sama telah dilaksanakan pekan orientasi kerjasama antarumat beragama dengan Pemerintah pada 3 lokasi dengan peserta sebanyak 360 orang. Di samping itu juga telah diberikan penataran. dengan perincian 2.200 meter persegi dan 2.200 buah. antarumat beragama. 2. seperti Banjarmasin dan Pontianak dengan luas masing-masing 1.615 orang dan 2. yaitu Jakarta. dan Medan. DKI Jakarta dan Jawa Tengah. serta paket penyuluhan masing-masing sebanyak 4. Untuk tahun 1983/1984 pembangunan asrama haji telah pula menjangkau beberapa pelabuhan transit yang jumlah jemaahnya sudah cukup banyak. Sedangkan untuk agama Hindu dan Budha telah diberikan penyuluhan kepada 25 kelompok transmigran dan suku berasing dengan disertai 32.200 buah dan 22.

897 66.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e I VIII. Dalam rangka meningkatkan mutu madrasah ibtidaiyah negeri (MIN) sebagai pendidikan agama tingkat dasar.238 23.897 66.2. Pembinaan pendidikan agama Pembinaan pendidikan agama dalam pelaksanaannya mencakup pendidikan agama tingkat dasar. 1969/1970 -1984/1985 (orang) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 197971980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/19851) Jumlah 1) Angka sementara Haji melalui laut 8.697 74. pembangunan/rehabilitasi gedung MIN sebanyak 83 buah.072 22. serta pengadaan buku pedoman bagi guru sebanyak 5.500 guru.589 35. dalam tahun 1983/ 1984 telah dilaksanakan penataran terhadap 3.403 54. Demikian pula dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. telah dilakukan pula pembinaan terhadap madrasah ibtidaiyah swasta (MIS). menengah dan tingkat tinggi.124 119.039 8.8 juta buah.305 23.960 Jumlah 9.520 69.146 73. 1 JUMLAH JEMAAH HAJI.760 MIS. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah meningkat menjadi 10.681 12.781 16. masing-masing telah mencapai 1.270 73. Apabila dalam tahun 1983/1984 dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi terhadap 6.126 692.961 55.575 9.344 40.366 18.511 6.845 19.449 53 . Untuk itu telah dilaksanakan berbagai kegiatan seperti pembangunan/ rehabilitasi gedung sekolah.292 22. Sejalan dengan pembinaan MIN.071 15.035 41.292 14.126 572. Sedangkan guna meningkatkan mutu pendidikan agama Departemen Keuangan RI 265 .079 Haji melalui udara 611 1.500 guru.039 17. serta mutu pendidikan agama pada sekolah umum.828 45. Usaha ini ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan umum pada pendidikan dan perguruan agama.317 38. pemberian alat peraga dan olah raga serta penataran guru dan tenaga pembina.697 74.351 12.2. 51 buah dan 5 juta buah.246 48.612 7.227 2.000 MIS.317 38.978 25.246 48.035 41. penyempurnaan kurikulum.961 55.

250 buah. serta pembangunan/rehabilitasi gedung dan bengkel kerja.280 orang guru agama.030 pondok pesantren. penataran terhadap 6.200 guru dan pengadaan buku sebanyak 1. yang antara lain dilakukan oleh pondok pesantren Suryalaya (Jawa Barat). penyediaan alar-alar keterampilan dan praktek untuk 891 pondok pesantren dan pembangunantrehabilitasi gedung dan bengkel kerja terhadap 813 pondok pesantren. serta pendidikan agama pada sekolah menengah tingkat pertama (SMTP). Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. dalam periode yang sarna juga telah disediakan buku pelajaran dan pedoman bagi guru sebanyak 706. juga telah diberikan bantuan kepada 534 pondok pesantren. Khusus kepada MTsN. Sementara itu terhadap pondok pesantren telah dilaksanakan pembinaan dan pengembangan melalui penataran tenaga pembina. penataran terhadap 1. Dengan demilGan secara keseluruhan mulai awal Pelita III sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Pembinaan terhadap pendidikan agama tingkat menengah pertama terutama ditujukan untuk meningkatkan multi pendidikan umum pada madrasah tsanawiyah negeri (MTsN) dan pondok pesantren. Kegiatan pondok pesantren yang banyak mendapat perhatian. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan penataran terhadap 1. di samping telah dilaksanakan penataran terhadap 4. bergairah serta mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri. serta pembangunan/rehabilitasi gedung dan bengkel kerja pada 71 pondok pesantren. penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan. dan dinilai telah berhasil adalah kegiatan terapi non medis yang agamis terhadap korban narkotika. telah dilakukan pembinaan dan pengembangan terhadap 3:734 buah pondok pesantren yang meliputi penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan bagi 2. pengadaan buku sebanyak 3. sehingga dapat kembali menjadi remaja yang baik.000 set. dan diberikan penataran kepada 160 orang guru agama. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi gedung sebanyak 154 buah.2 juta buah dan pengadaan alat peraga sebanyak 2. Pembinaan terhadap pendidikan agama tingkat menengah alas terutama ditujukan untuk meningkatkan pendidikan pada madrasah aliyah negeri (MAN).163 tenaga pembina. Sedangkan guna meningkatkan mutu pendidikan agama bagi SMTP.2 juta buah.200 tenaga pembina.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada sekolah dasar. pendidikan guru agarna Departemen Keuangan RI 266 . penyediaan alat-alat keterampilan dan alat-alat praktek. baik dari masyarakat maupun dari Pemerintah. terdiri dari penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan kepada 397 pondok pesantren. pemberian alar-alar keterampilan dan praktek kepada 66 pondok pesantren. Pondok pesantren tersebut sampai saar ini telah berhasil menyantuni korban narkotika sebanyak 100 orang.

yang terdiri dari ruang kuliah. Di samping itu juga dilakukan penyediaan buku-buku ilmiah dan perpustakaan sebanyak 221.688 mahasiswa.850 buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (PGA). Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengadaan buku sebanyak 358. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. serta peningkatan mutu pendidikan agarna pada sekolah menengah tingkat atas (SMTA). ruang kantor dan ruang perpustakaan. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Dalam periode yang sarna juga telah dilaksanakan pembinaan pendidikan agama pada SMTA yang meliputi penataran guru agama dan pengadaan buku. Dalam Pelita III telah dilaksanakan pembangunan/perluasan gedung Institut Agama Islam Negeri (lAIN) seluas 56. peningkatan mutu tenaga pengajar serta kegiatan penelitian.500 guru dan pembangunan/rehabilitasi gedung MAN sebanyak 45 buah. telah dilakukan pembangunan/perluasan gedung IAIN seluas 10. serta penelitian di berbagai daerah mengenai masalah-masalab keagarnaan dan kemasyarakatan sebanyak 29 kali. telah dilaksanakan berbagai kegiatan. Departemen Keuangan RI 267 .150 buah. Guna meningkatkan mutu perguruan tinggi agama.000 buah. Untuk meningkatkan mutu para pengajar dan tenaga administrasi.440 meterpersegi. dan pengadaan buku pelajaran sebanyak 239. Hasil lain yang telah dicapai dalam periode yang sarna antara lain meliputi pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN) yang diikuti oleh 2.087 meter persegi.800 buah.000 buah serta pembangunan/perluasan 35 buah gedung PGAN Islam. dan disediakan buku-buku ilmiah dan perpustakaan sebanyak 6.000 buah. dan pembangunan/rehabilitasi gedung MAN sebanyak 67 buah. maka telah diberikan kesempatan kepada 117 dosen untuk mengikuti program posca sarjana dan program doktor.000 buah. Dalam tahun 1983/1984. Dalam periode yang sama telah ditingkatkan pula mutu madrasah aliyah swasta (MAS). antara lain pembangunan prasarana dan penyediaan sarana pendidikan. telah dilaksanakan penataran kepada 355 guru serta penyediaan buku pelajaran dan buku pedoman guru sebanyak 270. Untuk itu dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan penataran terhadap 7. masing-masing sebanyak 160 orang dan 358. pengadaan buku pelajaran dan pedoman bagi guru sebanyak 650. Adapun pembinaan terhadap PGAN terutama ditujukan agar lulusan PGAN benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai tenaga guru yang baik dan mampu.500 guru agama. yaitu dengan memberikan bantuan rehabilitasi terhadap 50 buah gedung MAS. kepada MAN telah dilakukan pengadaan buku sebanyak 462. Katolik dan Hindu.750 buah. penataran 7. Protestan.

700. Di samping buku pelajaran.367.048.671.291.240 eksemplar serta untuk pendidikan tinggi sebanyak 333. peningkatan keterampilan serta penyempumaan kurikulum.000 eksemplar. untuk SMP dan SMA sebanyak 14. Penataran guru/pembina dilaksanakan pada berbagai tingkat pendidikan. Pendidikan dan kebudayaan 8.892. telah dan sedang ditatar sebanyak 2.3. Dalam tahun pertama Repelita IV kebijaksanaan di bidang pendidikan terutama ditekankan dan diarahkan pada peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan. untuk sekolah menengah umum sebanyak 82.963 eksemplar. maka telah dibangun pula sebanyak 1.917 eksemplar.000 eksemplar. Di samping'itu juga dilakukan persiapan terhadap generasi muda dalam tugasnya sebagai penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional. Sejalan dengan pengadaan buku pelajaran dan buku bacaan. yang disertai dengan penerbitan 3. Buku pelajaran yang disediakan untuk tingkat pendidikan dasar adalah sebanyak 260.292 eksemplar. untuk sekolah menengah tingkat pertania (SMTP) kejuruan dan teknologi sebanyak 96. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984. untuk SPG/SGO sebanyak 1.706 orang untuk pendidikan menengah kejuruan dan teknologi. buku bacaan dan buku perpustakaan.235 eksemplar. Di samping itu untuk tingkat SMA juga dibangun 317 ruang perpustakaan. Pembinaan pendidikan formal dan nonformal Salah satu tujuan dari kemerdekaan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. serta penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional. yang antara lain dilakukan melalui penataran guru/ pembina.699. yang perumusannya dilakukan melalui serangkaian kebijaksanaan pokok pembangunan di bidang pendidikan.195. telah disediakan pula buku perpustakaan untuk tingkat pendidikan dasar sebanyak 119.3. untuk sekolah menengah tingkat atas (SMTA) kejuruan dan teknologi sebanyak 6. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dan sedang dilaksanakan peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan.509 orang untuk pendidikan guru termasuk penataran dosen. serta untuk sekolah pendidikan guru/sekolah guru olah raga (SPG/SGO) sebanyak 7. 20. baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah. serta pengelolaan pendidikan yang lebih berdaya guna dan berhasil guna.816 ruang laboratorium untuk tingkat SMP. peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar dalam rangka pelaksanaan wajib belajar.500 eksemplar buku Sistem Pengajaran Modul untuk SMP terbuka.350. serta 20.1. baik secara kualitatif maupun kuantitatif. 74.700 eksemplar.039 orang untuk pendidikan dasar.945 eksemplar.782 ruang perpustakaan dan 1. yang meliputi berbagai bidang studi dan pengelolaan. dan 367 Departemen Keuangan RI 268 .250 orang untuk pendidikan menengah umum. pengadaan buku pelajaran. pengadaan laboratorium dan peralatan belajar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 8.

600 4. telah diselenggarakan pendidikan dan latihan bagi tenaga pendidik termasuk tutor.000 15.936 tenaga teknis termasuk tutor.Pendidikan menengah 1. Tab e I VIII.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ruang laboratorium serta 25 ruang laboratorium bahasa.2.015 489 4. antara lain dilaksanakan melalui pembangunan gedung sekolah baru.538 46 16. sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dan sedang dibangun melalui program bantuan Inpres sebanyak 76.600 .Pendidikan tinggi (dosen) 945 1. penambahan ruang belajar pada sekolah yang ada.360 275.310 buah perumahan dosen.258 5.023 2.000 . masing-masing sebanyak 56 buah dan 37 buah sanggar kegiatan belajar untuk tempat latihan tenaga teknis dan pengembangan sarana belajar.157 479.940 unit gedung SD.000 2.Pendidikan menengah 424 3. Sedangkan untuk perguruan tinggi telah dibangun )7.032 23. Pengadaan alat peraga/praktek/ ketarampilanflaboratorium (unit) .271 65(SMP) 104(SMP) 3 39 76 50 273 270 .084 1.840 45.565 .053 105.521 385.390 eksemplar.000 58.400 106 11.524 547.292 10.500 12.200 372.467 299.795 2.177 25. serta peng.531 7.420 24.262 417 Usaha peningkatan kesempatan belajar yang dikaitkan dengan pemerataan memperoleh pendidikan.000 6 61 51 28 36 40 .811 41.018 17. dan diberikan bantuan kepada perguruan tinggi swasta .040 1.kegiatan tersebut dalam waktu yang sama telah dibangun dan direhabilitasi.744 . penggerak olah raga dan pembina/pemuka pemuda.Pendidikan dasar 6.000 88.852 2.300 - 32.855 56.376 18.946 17.Pendidikan menengah 5.314 8. rehabilitasi gedung sekolah.900 7.544 43.163 meterpersegi ruang laboratorium yang masing-masing dilengkapi dengan 305.161 364.480 6. monitor. monitor.000 1. Perkembangan peningkatan pendidikan dapat diikuti pada Tabel VIII.Pendidikan tinggi 19 35 1) Sejak tahun 1979{1980 termasuk buku PMP dan kurikulum 2) Termasuk dalam buku perpustakaan 3) Angka diperbaiki 4) Angka sementara 1983/84 1984/854) 304.000 80.072 5. 1973/1974 -1984/1985 1973/74 1976/77 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 .307 4.512 25.Pendidikan tinggi 2) 3.0043) - 16.793 judul.316 7.717 20.150 116.000 30.467 meter persegi ruang perpustakaan dan 237.Pendidikan menengah 413 979 422 1. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah ditatar sebanyak 383.994 231.133 105 5.048 29.879 4.800 31.140 10.393 6.488 18.Pendidikan dasar 8.960 105.Pendidikan dasar 25.176 6. pembina dan instruktur serta diadakan buku paket A sebanyak 71. pelatih.200 13. Selain itu juga telah dibangun sebanyak 1. Penataran guru/pembinaan (orang) .606 2.960 . angkatan guru baru. 2 PEMBINAAN MUTU PENDIDIKAN DI BERBAGAI TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL.580 110.812 3.600 6. an mala pencaharian serta pendidikan politik dan latihan kepemimpinan/keterampilan bagi generasi muda. dilakukan penelitian sebanyak 7. penambahan ruang kelas Departemen Keuangan RI 269 . Dalam rangka peningkatan mutu di bidang pendidikan luar sekolah termasuk kepemudaan dan keolahragaan.823 60.095 424 226 1.810 perangkat alat laboratorium.284 2.Pendidikan tinggi 11 30 4. Sehubungan dengan hal itu. Pengadaan buku pelajaran ( ribu eksemplar ) 1) .611 eksemplar buku-buku perpustakaan dan 1. untuk mewujudkan pelaksanaan wajib belajar pada tingkat pendidikan dasar.000 1. Kegiatan 1974/75 1975/76 1977/78 1.840 4.441 19. Dalam peningkatan mutu pendidikan di luar sekolah ini termasuk juga usaha mengintegrasikan kelompok belajar (Kejar) paket A dengan pendidik.600 369.238 2. Guna menunjang kegiatan.505 1.468 68.Pendidikan dasar 20.000 22.200 11.400 .513 724 6.500 14.407 21.884 .675 7.088 1.610.813 18. Pengadaan buku perpustakaan ( ribu eksemplar ) 8.

maka sampai dengan bulan Agustus 1984 telah meningkat menjadi sebanyak 5.156.2 persen. termasuk guru agarna dan tenaga teknis.919 unit sekolah baru. Hal ini tercermin pada kenaikan jumlah murid yang selama 5 tahun terakhir telah meningkat sebesar 79.983.000 orang dalam tahun 1979/1980 menjadi 4.000 orang.800 buah.1 persen atau rata-rata 15.8 persen sedangkan pada awal Repelita IV sarnpai dengan bulan Agustus 1984. sebagai TKK percontohan. Pemerintah juga telah menghapuskan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) untuk SD dan sebagai gantinya diberikan subsidi/bantuan pembiayaan penyeleng. Perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTP tersebut telah memperlihatkan hasil yang baik. Hal ini disebabkan karena terjadinya kenaikan jumlah lulusan SD yang melanjutkan ke SMP yakni dari sebanyak 1. Untuk itu telah dibangun 2.500 sekolah termasuk SD swasta dan madrasah ibtidaiyah. serta rehabilitasi sebanyak 134. maka selmna Pelita III.342. Sedangkan pengembangan pembinaan taman kanak-kanak (TKK) dalam Pelita III. Sejak tahun 1979/1980 sampai dengim bulan Agustus 1984. Perkembangan pendidikan dasar telah menunjukkan hasil yang nyata seperti tercermin pada kenaikan angka partisiposi pendidikan.054 ruang kelas baru. Sebagai kelanjutannya. 18. dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diusahakan pula peningkatan daya tampungnya.200 orang. dilakukan melalui lembaga pendidikan khusus. alat peraga dan penataran guru/pembina. tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten/kotamadya. baik yang baru maupun lanjutan.732. dan tahun pertama Pelita IV telah ditingkatkan dengan membangun TKK pembina.598 gedung sekolah yang telah ada. serta dila:kukan rehabilitasi terhadap sejumlah SLB yang telah ada. telah meningkat menjadi 97. Selanjutnya guna menunjang Departemen Keuangan RI 270 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 baru sebanyak 129. Seperti diketahui.580 guru. Adapun pendidikan bagi anak-anak yang mengalami cacat fisik. dan dilakukan rehabilitasi terhadap 1. Presiden telah mencanangkan gerakan wajib belajar untuk seluruh Indonesia. pada Hari Pendidikan Nasional (Harpenas) tanggal2 Mei 1984. yaitu sekolah luar biasa (SLB). baik di tingkat nasional.8 persen per tahun. Dalam tahun 1979/ 1980 baru mencapai 83. garaan untuk SD negeri. juga dibangun sejumlah gedung SLB baru dengan asramanya. Dalam waktu yang sarna telah dilaksanakan pengangkatan 439.000 orang sampai dengan bulan Agustus 1984. Apabila pada awal Pelita III jumlah murid baru sebanyak 2. Bersamaan dengan itu telah dikembangkan pula sebanyak 165 buah SMTP kejuruan yang tidak diintegrasikan ke dalam SMP. Sejalan dengan perkembangan tingkat pendidikan dasar serta perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTP. mental dan sosial. selain disediakan buku.

000 orang. juga telah diberikan sejumlah bea siswa. 289 buah STM 3 tahun. Sedangkan untuk pendidikan guru. maka dalarn waktu yang sarna juga telah dilakukan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTA.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perkembangan kegiatan belajar pada tingkat SMTP. sekolah menengah karawitan indonesia (SMKI). Usaha perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan tinggi.733. sekolah menengah tehnologi kerumahtanggaan (SMTK). sekolah menengah kesejahteraan keluarga (SMKK).085 ruang kelas baru. Untuk itu telah dibangun sebanyak 517 unit gedung SMA baru. telah dapat meningkatkan daya tampung bagi lulusan SLTA yang akan me1anjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.3 persen dalam periode tersebut.547 meterpersegi ruang kuliah dan kantor.574. SGO dan SGPLB.424 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Pembinaan perguruan tinggi swasta juga terus ditingkatkan. SMEA. dan dilakukan rehabilitasi terhadap 460 sekolah yang telah ada. atau rata-rata sebesar 22. 160 putra Nusa Tenggara Timur.927 siswa SLTP. telah dilakukan pembangunan gedung baru.3 persen per tahun. sekolah menengah pekerjaan sosial (SMPS).085 meterpesegi. maka selama Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dibangun 765. Dalam tahun 1979/1980 jumlah mahasiswa baru adalah sebanyak 424. Kegiatan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTA telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. antara lain me1alui penataan dan pemberian bantuan prasarana serta sarana. 39. serta merehabilitasi gedung seluas 233. Untuk memperlrias kesempatan belajar kepada siswa dan mahasiswa yang berbakat dan berprestasi.7 persen per tahun. serta dilakukan pembangunan/pembinaan terhadap 8 STM Pembangunan. 130 putra Irian Jaya dan 320 putra Timor Timur. 37. serta pembangunan ruang kelas dan rehabilitasi sejumlah SPG. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencapai 2. Guna menghadapi meningkatnya jumlah mahasiswa yang ingin melanjutkan pelajaran pada perguruan tinggi.700 orang. 22.400 siswa SD. Hal ini tercermin dari meningkatnya daya tampung SMTA yang dalam tahun 1979/1980 baru berjumlah 1. 44 buah SMT pertanian/khusus.6 persen selama periode tersebut atau rata-rata sebesar 14.200 orang. dan sekolah menengah musik (SMM). 5. yang meningkat menjadi 803.373 siswa SMTA. sekolah menengah seni rupa (SMSR). Hal ini berarti suatu peningkatan sebesar 70.776 orang dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Hal ini berarti peningkatan sebesar 89. sekolah menengah industri kerajinan (SMIK). Se1ama Pe1ita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diberikan bea siswa kepada 63. Perkembangan kesempatan belajar diberbagai tingkat pendidikan formal dapat dilihat Departemen Keuangan RI 271 . Bersamaan dengan itu pada SMTA kejuruan telah direhabilitasi/dikembangkan pula sebanyak 145 buah STM 3 tahun.

200 16.Pendidikan menengah .683 25.000 923 67.900 54.225 15.830 19.105 50.Pendidikan menengah . Pembangunan gedung (unit) . 3 PENYEDIAAN SARAN A GEDUNG DAN GURU BAGI PENDIDIKAN FORMAL.100 12.000 - 10. telah disiapkan RUU sistem pendidikan nasional yang kini telah mencapai tahap penyelesaian terakhir. Pengangkatan/penempatan guru (orang) .000 7.000 286 24.000 15.600 1.750 20. Sedangkan dalam rangka penyempurnaan sistem pendidikan nasional. Terdiri dari SMP & SMA.500 15.500 14.219 7.202 50.500 175. yang telah diikuti oleh 7. Departemen Keuangan RI 272 .946 25. tennasuk ruang laboratorium.100 5.Pendidikan tinggi (m 2) 3.000 246 10 20.700 6. kesegaran jasmani dan daya kreasi.192 10. Termasuk guru agama daD tenaga teknis lainnya 4. 725 52.380 75.435 50.Pendidikan tinggi 2. kesadaran berbangsa dan bernegara.845 23.000 135 15.000 60.207 15.000 2.000 125 1.000 92 24.000 1.154 48.000 15.000 1. telah dilakukan berbagai kegiatan seperti penyempurnaan kurikulum tingkat pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah alas.320 21. dan perluasan sekolah kejuruan. Usaha ini dilakukan melalui Kejar pendidikan dasar (Paket A). Meliputi SD Negeri.Pendidikan tinggi (m 2) 4.Pendidikan menengah (ruang) 1) . Rehabilitasi/pengembangan (sekolah) . selain dilakukan melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi juga dilaksanakan melalui berbagai kegiatan yang bersifat informal.000 179 9.000 orang.051 1.000 4.261 4.000 8. 1973/1974 -1984/1985 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/85 4) 6.610 18.Pendidikan dasar 2) . Adapun lembaga pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat (PLSM). dan menampung sebanyak 1.000 5.151 18.338.000 16.390 10.Pendidikan dasar (ruang) . ruang ketrampilan dan ruang perpustakaan 2.488 36.480 32. Penyempurnaan kurikulum dilaksanakan melalui perbaikan kurikulum lama (1975) menjadi kurikulum baru (1984) yang merupakan bagian penting dari perkembangan sistem pendidikan nasional guna memenuhi tuntutan pembangunan nasional.547 warga pe1ajar selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984.000 1. dan sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mempunyai 7.000 703 8.600 33.144 60.000 155 10.000 1.Pendidikan menengah .Pendidikan dasar (a 3 ruang kelas) .000 390 11 22.000 608 29. Angka sementara.020 121. Kegiatankegiatan tersebut diarahkan pada pengembangan kepemimpinan dan keterampilan.000 - 10.300 30.000 - 14.184 91.350 10.000 103 27.300 28.400 orang mahasiswa. patriotisme dan idealisme.194 15.003 103.000 - 15. jumlahnya te1ah mencapai 8.500 784 14.080 103.614 6. Pembangunan ruang kelas baru . Guna memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga kejuruan/teknik yang terdidik dan terampil.202 89.200 610 11 19.000 1.000 1.790 21.000 - 6.085 23. SD Swasta.767 28.404.460 25.420 123.Pendidikan dasar 3) . Pembinaan dan pengembangan generasi muda sebagai kader-kader penerus perjuangan dan pembangunan nasional.140 878 11 2.672 36.000 1.000 162 6 15. Untuk meningkatkan sistem pendidikan agar lebih sesuai dengan kebutuhan pembangunan.205 37.000 35.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada Tabel VIII.000 buah. penyempurnaan sistem pendidikan nasional.075 36(SPG) - 1. MI Swasta 3. dewasa ini te1ah dikembangkan sekolah menengah kejuruan tingkat atas (SMTA-AKT) yang meliputi berbagai bidang dan 7 politeknik. Se1anjutnya dalam rangka meningkatkan pendidikan masyarakat te1ah pula ditingkatkan kegiatan pendidikan di luar sekolah.Pendidikan tinggi (dosen) T abel VIII.629 50. o Kegiatan 1.3.347 218.334 15.150 11 13.

penataran tingkat menengah nasional dan regional terhadap 600 orang.519 orang serta penataran tenaga teknis kebudayaan yang diikuti 2. sekolah pimpinan administrasi tingkat madya (Sepadya) dan sekolah pimpinan administrasi tingkat lanjutan (Sepala). Untuk itu telah dilakukan pengembangan desa pemuda di beberapa daerah/propinsi. penataran tingkat pelaksana terhadap 1.192 orang. serta lomba desa binaan keluarga sehat dan sejahtera di 26 propinsi.825 orang.400 orang satuan tugas sukarela pemuda.718 meterpersegi serta pengadaan buku pramuka sebanyak 310. latihan instruktur terhadap 3. pembinaan dan peningkatan perencanaan serta penyempurnaan pengawasan.360 orang. Adapun pembinaan dan Departemen Keuangan RI 273 .799 orang. pembinaan terhadap 8.480 orang dan latihan pendamping pembina pemuda yang diikuti oleh 210 orang.576 orang dan 4.185 eksemplar. 150 orang. pendidikan dan latihan kegrafikaan yang diikuti 6. mutu. serta latihan kepemimpinan manajemen yang mengikutsertakan 1. fungsi.057 orang. Selain itu bantuan kepada KNPI juga telah dimanfaatkan guna meningkatkan aktivitas. dan 805 orang.795 orang. yang masing-masing diikuti 3. Selain itu juga telah dilakukan latihan pemuda tingkat pemuka yang diikuti oleh 6. Untuk peningkatan pengelolaan pendidikan agar lebih berdaya guna dan berhasil guna.204 orang serta pembinaan terhadap 5. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan penataran P4. perkemahan kerja pemuda yang diikuti oleh 3. pemantapan organisasi. Penataran tenaga non edukatif telah dilakukan melalui sekolah star dan pimpinan administrasi (Sespa). serta partisipasi generasi muda dalam pembangunan. 260 orang.970 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Poskibraka) dan Caraka Muda tingkat propinsi. penyelenggaraan festival pemuda yang mengikutsertakan 44. 325 orang dan 2. Sementara itu dalam rangka pembinaan serta pengembangan keterampilan dan daya kreasi generasi muda antara lain dilakukan pertukaran pemuda dengan luar negeri dan antarpropinsi. dan penataran tenaga teknis penilik generasi muda.330 orang.855 orang.270 orang. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan. 22. pembangunan gedung Cadika seluas 16. yang antara lain meliputi penataran tenaga nonedukatif.955 orang. yang masing-masing diikuti oleh 2. lomba kreativitas pemuda. serta pengadaan prasarana dan sarana. Sehubungan dengan itu. pembinaan unit kerja produktif terhadap 1.556 orang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kepribadian dan budi pekerti luhur. Bantuan kepada pramuka dilakukan dengan menyelenggarakan latihan terhadap 30. Selanjutnya dalam rangka peningkatan/pengembangan wanita telah dilakukan latihan pengembangan belajar wanita yang diikuti 24. penataran pengelola gelanggang. penataran pemuda tingkat perintis.280 orang. yang masing-masing diikuti 300 orang.

serta memperkokoh jiwa persatuan. rumah dinas sebanyak 37 buah. serta pembinaan olahraga berbakat terhadap 18. dan permuseuman. serta pengadaan peralatan kantor kecamatan dan sarana mobilitas.175 meter persegi dan 6.000 eksemplar. 8. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 antara lain telah diwujudkan pembangunan gedung olahraga dan kolam renang. gedung kotamadya/kabupaten sebanyak 117 unit. dan memasyarakatkan olah raga. serta peningkatan mutu aparat perencanaan baik di pusat maupun di daerah melalui penataran perencanaan P2 dan P1 tertulis yang masing-masing diikuti oleh 60 orang dan 1. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pembangunan/rehabilitasi gedung kantor pusat dan kantor wilayah.583 paket. gedung kantor kecamatan sebanyak 8 unit. memperkuat kepribadian bangsa. pelatih. antara lain bidang ekonomi. Guna menunjang berbagai kegiatan tersebut. nilai-nilai dan norma budaya yang dinamis.573 orang pelajar. Untuk itu.3. Berkaitan dengan itu juga telah dilaksanakan penataran terhadap 8. masing-masing seluas 25.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan perencanaan dilaksanakan melalui berbagai kegiatan. mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional. Adapun peningkatan pengawasan dilakukan melalui penyempumaan sistem dan prosedur pengawasan terpadu. penyelenggaraan pemasalan olahraga yang mengikutsertakan 1. Pembinaan di bidang olah raga ditujukan untuk mengolahragakan masyarakat. serta peningkatan mutu aparat pengawasan. masyarakat dan penyandang cacat.2 Pembinaan kebudayaan Usaha pembinaan dan pengembangan budaya bangsa senantiasa ditujukan untuk menunjang pembangunan nasional. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan berbagai program yang antara lain berupa program kepurbakalaan. mahasiswa. antara lain penyempurnaan teknik dan metodologi perencanaan. Untuk itu telah dilakukan survai dan perencanaan koleksi di 92 lokasi yang tersebar di 26 Departemen Keuangan RI 274 . pengadaan peralatan olah raga sebanyak 52.054 meterpersegi dan 30. teknologi dan ilmu pengetahuan. dan pembina.360 orang. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi dan menjawab tantangan zaman dalam berbagai bidang. pemantapan sistem dan mekanisme perencanaan terpadu. masing-masing seluas 9.243 orang guru. serta mempercepat alih teknologi yang semakin tinggi.657 meter persegi.065. penyempurnaan sistem pelaporan.658 orang. serta pengadaan buku-buku olah raga sebanyak 143. kesejarahan. selaras dgn memberi arah pacta pembangunan harus dibina dan dikembangkan guna memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila.982 meterpersegi.

serta pembinaan bahasa Indonesia melalui TVRI dan RRI. perpustakaan keliling. penyuluhan teknis kesenian. pengembangan media kebahasaan sebanyak 30 naskah. terjemahan 16 naskah. perpustakaan umum. pameran dalam rangka pemantapan fungsi eksistensi museum dengan segenap aspeknya sebanyak 183 kali di 26 propinsi. Untuk pengembangan kebahasaan. kesusastraan. sayembara mengarang.500 eksemplar. penyelesaian rencana induk Wisma Seni Nasional. serta pengadaan buku sebanyak 1. pengadaan peralatan teknis.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 propinsi. antara lain meliputi pembinaan sosio drama. penerbitan pedoman penyuluhan perpustakaan sebanyak 6 naskah. serta pengembangan perpustakaan nasional. penerbitan majalah. Kemudian dilakukan juga penanggulangan terhadap pengaruh kebudayaan yang negatif.351. pengadaan peralatan kantor. penyempumaan. studi kelayakan di 133 lokasi. Kegiatan inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan nasional ditujukan untuk membina Wawasan Nusantara. Di samping itu juga dilakukan peningkatan penghayatan seni oleh masyarakat yang mencakup 4 bidang seni. Kegiatan tersebut antara lain berupa penyusunan/penerbitan perkamusan sebanyak 29 naskah. kecamatan. dan lebih memperkaya kesenian Indonesia yang beraneka ragam. Demikian pula dilaksanakan penambahan tenaga. melanjutkan pemeliharaan Candi Borobudur serta rehabilitasi Monumen Nasional (Monas). serta sayembara mengarang bacaan populer sebanyak 56 judul. dan editing dari 800 naskah.museum sebanyak 549 unit. Sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diadakan penilaian. serta pengadaan peralatan kantor museum sebanyak 872 unit. pengembangan organisasi kesenian dan penyebarluasan kesenian. perpustakaan desa dan perpustakaan perintis sekolah. peningkatan apresiasi sastralseni. Selain itu dalam bidang perpustakaan nasional juga telah dilaksanakan rekatalogisasi koleksi pustaka Indonesia dan asing. Dalam waktu yang sama juga telah dilakukan pemugaran peninggalan sejarah dan purbakala di 379 lokasi. penyusunan naskah kebudayaan daerah Departemen Keuangan RI 275 . Pengembangan dalam bidang seni budaya ditujukan untuk meningkatkan kreativitas seniman yang sehat. Untuk itu telah dilakukan berbagai kegiatan. perbukuan. dan perpustakaan. pemeliharaan dan penyelamatan 1. dan daerah transmigrasi. pengadaan koleksi sebanyak 6 jenis di 26 propinsi. yang tersebar di seluruh nusantara. serta pemberian bantuan peralatan kesenian pada kabupaten/kodya.564 situs. serta studi kelayakan di daerah tingkat II di 127 lokasi. pemberian bantuan kepada 60 museum daerah.636 eksemplar untuk perpustakaan wilayah. Sejalan dengan itu telah dilakukan pula penulisan dan penerbitan naskah buku bacaan populer sebanyak 720. maka sejak Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengembangan bahasa serta sastra Indonesia dan daerah.

Selanjutnya juga diarahkan pada pengurangan kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh penyakit yang banyak diderita rakyat banyak. dan penyusunan naskah dad 117 penelitian. Sejalan dengan usaha inventarisasi dan dokumentasi sejarah nasional. maka dilakukan penelitian. serta pembinaan bimbingan teknis operasional penelitian yang mengikutsertakan 457 orang. penyakit yang hanya dapat dicegah dengan imunisasi. terutama yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota. pelayanan kesehatan gigi dan jiwa.4. Selain itu juga telah diselenggarakan penataran tenaga teknis dokumentasi dan informasi kebudayaan yang diikuti 130 orang. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Pelayanan kesehatan Kegiatan yang dilakukan di bidang pelayanan kesehatan ditujukan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara lebih merata dan lebih dekat kepada masyarakat. penulisan. terutama melalui pencegahan dan penyembuhan. pembangunan di bidang kesehatan dalarn tahun pertama Repelita IV diarahkan pada peningkatan kemarnpuan masyarakat untuk hidup sehat dan mengatasi sendiri masalah kesehatan yang sederhana. tokoh nasional sebanyak 120 judul. Peningkatan dan pemerataan pelayanan kesehatan tersebut antara lain dilakukan melalui puskesmas. serta peningkatan pelayanan laboratorium kesehatan.1. dan penyusunan naskah biografi pahlawan nasional yang meliputi caton pahlawan sebanyak 36 judul. 8. pembangunan di bidang kesehatan dilakukan secara terpadu dengan bidang-bidang lainnya ke dalam suatu sistem kesehatan nasional. pemerataan kesehatan masyarakat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam 5 aspek dengan ps:nerbitan sebanyak 372 judul. usaha kesehatan sekolah (UKS). terutama penyakit menular.4. Selain itu juga ditujukan pada peningkatan kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar guna perbaikan mutu lingkungan. Kesehatan dan keluarga berencana Sebagai kelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya. serta penyakit yang disebabkan oleh pengaruh buruk dari bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Selain itu telah dilakukan peningkatan pelayanan rumah Departemen Keuangan RI 276 . Kegiatan ini ditunjang dengan pengadaan obat yang cukup dan terjangkau oleh masyarakat. serta peningkatan pendidikan. latihan dan pengelolaan tenaga kesehatan masyarakat. sejarah pahlawan sebanyak 26 judul serta biografi nasional sebanyak 17 judul. Usaha lain yang dilakukan adalah meliputi penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah sebanyak 665 naskah. 8. penelitian purbakala sebanyak 5 aspek serta penerbitan majalah arkeologi.

353 604 4.053 4. serta daerah perbatasan atau daerah yang angka kecelakaan lalu lintasnya tinggi.602 2. BaJai Pengobatan 3) 5.787 tenaga kesehatan melalui program Inpres.136 2.342 979 4.979 2.453 15.979 buah. yang dilakukan melalui sistem rujukan antara masyarakat. B K I A 3) 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/85 2. Merupakan peningkatan dari BKlA dan Ba1ai Pengobatan 3).180 2.124 6. Selain pembangunan puskesmas.342 13.670 kader/pemuka masyarakat.416 orang. Sedangkan dalam rangka memenuhi kekurangan tenaga di puskesmas. yang masing-masing dilengkapi 10 tempat tidur. telah dibangun puskesmas perawatan sebanyak 158 unit.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sakit. penarnbahan persediaan bahan-bahan dan obat-obatan.6364) 1. Angka diperbaiki 5). Perkembangan sarana pelayanan kesehatan masyarakat dapat diikuti pada Tabel VIII. 5.180 2.113 7.691 tenaga record and report (RR) terpadu.443 4.953 10. Tabel VIII.136 buah dan 2. maka jumlah dan fungsi puskesmas terus ditingkatkan. Puskesmas Ke1iling 4. 1973/1974 -1984/1985 1) 1984/855) 1. Selanjutnya agar pelayanan kesehatan kepada rakyat dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan merata. Sedangkan bagi daerah-daerah terpencil yang jauh dari pelayanan rumah sakit.702 set.479 5.928 3. seluruh sarana kesehatan diusahakan berada dalarn suatu sistem jaringan hubungan yang serasi dan efektif. sehingga sarnpai dengan bulan Agustus 1984 jumlahnya telah mencapai 5.342 1.153 5.979 1).744 3. masing-masing sebanyak 15.412 4. Sejak 1975/1976 berkurangnya jumlah BKIA dan Balai Pengobatan karena diintegrasikan 4). Untuk mendukung tugas puskesmas tersebut.600 dokter puskesmas.124 6.353 12. Puskesmas 2. serta latihan klinis bagi 155 orang dokter dan 185 orang paramedis yang bekerja di puskesmas.412 4. Untuk itu. Dalam rangka pencegahan Departemen Keuangan RI 277 .453 buah.753 8. Angka sementara Sampai dengan bulan Agustus 1984. Angka kumuIatif 2). telah dilaksanakan penataran tenaga kesehatan terhadap 2. dalam waktu yang sarna telah dibangun pula puskesmas pembantu dan puskesmas keliling.342 729 4.801 3.412 4.479 5. 4 JUMLAH SARAN A PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT.553 7. telah diadakan latihan cepat bagi pembantu paramedis sebanyak 1. Di samping itu telah diselenggarakan pula latihan kesehatan mala bagi 221 paramedis dan 1. telah disediakan pula 19.828 staf puskesmas.893 4. Untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tenaga kesehatan di puskesmas. serta peningkatan pelayanan instalasi kesehatan. puskesmas dan rumah sakit di semua tingkat. Puskesmas Pembantu 2) 3. pembangunan kesehatan masyarakat desa.343 7.4.826 puskesmas dan penggantian peralatan medis sebanyak 2. dan diperlengkapi dengan 167 set peralatan kesehatan mata dan obat-obatan mata.180 2.076 tenaga laboratorium dan 3. 3. Selanjutnya di bidang kesehatan olah raga telah dikembangkan pusat kesehatan olah raga di 8 propinsi. pengobatan mala telah dikembangkan di 250 puskesmas yang tersebar di 24 propinsi. telah dilakukan pula perbaikan 5. Sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah puskesmas.

penyembuhan. 9. dengan jumlah kunjungan posien mental sekitar 40. serta penanggulangan penderita mental khususnya psikotik. ditingkatkan pula pelayanan kesehatan gigi kepadamasyarakat.250 orang tenaga perawat gigi di 402 puskesmas. melalui usaha kesehatan gigi sekolah (UKGS) telah dilaksanakan pemanduan UKGS selektif bagi 108 SD.500 orang. standarisasil metodologi terhadap' 10 daerah pelayanan.dan di 30 rumah sakit yang dilengkapi dengan peralatan rehabilitasi gigi (unit teknik gigi).280 SLP dan 3891 SLA. dan pengobatan pertama bagi yang memerlukan. dan UKGS di puskesmas-puskesmas. di samping juga terhadap golongan khusus yang berada di 52 panti dan tersebar di 24 propinsi. Sedangkan dalam rangka kesehatan gigi masyarakat desa.254 puskesmas dengan membina 82. juga diberikan penyuluhan kesehatan kepada anakanak sekolah. telah dilakukan usaha kesehatan sekolah (UKS) melalui kunjungan berkala petugas puskesmas ke sekolah-sekolah.191 guru yang terdiri dati 97. Bersamaan dengan itu. Selama Pelita III telah dapat dicakup sebanyak 95. Untuk itu fungsi rumah sakit jiwa sebagai pusat rujukan pelayanan kesehatan jiwa semakin ditingkatkan. Sedangkan melalui RSU. Di samping itu juga dilakukan survai epidemiologi terhadap 11. serta peningkatan pelayanan gigi di 104 RSU kelas D yang dilengkapi dengan 104 unit klinik gigi basis. survai pengumpulan data kadar flour dalam posta gigi. di 40 RSU kelas C yang dilengkapi dengan peralatan bedah mulut sederhana.224 guru SLTP dan 2. Adapun pelaksanaannya dilakukan melalui rumah soot jiwa (RS jiwa). imunisasi. Selama Pelita III telah dilakukan integrasi kesehatan jiwa ke 560 puskesmas. Departemen Keuangan RI 278 .620 guru SD. Di samping itu dalam rangka UKS juga telah dilakukan penataran terhadap105. Selanjutnya dalam upaya kesehatan gigi sekolah telah dilakukan penempatan sebanyak 62 set klinik gigi lapangan (KGL).000 per tahun. Dalam Pelita III.347 guru SLTA. rehabilitasi mental. Program perawatan kesehatan masyarakat sampai dengan bulan Agustus tahun 1984. serta integrasi kesehatan jiwa ke puskesmas dan rumah sakit umum (RS umum). dan pengembangan pelayanan kesehatan gigi integrasi terhadap 258 SD di 139 daerah tingkat II.404 SD. telah diintegrasikan kesehatan jiwa ke 90 RSU. sejak tahun 1980/1981 sampai dengan akhir Pelita III. telah dilaksanakan di 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan pengobatan penyakit pada anak-anak sekolah.426 keluarga. gelandangan dan posung. serta pembinaan kesehatan lingkungan. Selain dilakukan pemeriksaan guna menemukan kelainan-kelainan kesehatan yang ada sedini mungkin. telah ditempatkan sebanyak 1. 5. Dalam Pelita III. serta pemantapan standarisasi pelayanan di rumah sakit. telah dilakukan juga pelayanan kesehatan jiwa yang dititikberatkan pada upaya pencegahan.

5 buah RS khusus vertikal dan sebuah Palang Merah Indonesia (PMI). dokter-dokter ahli dari rumah rumah sakit yang tingkatannya lebih tinggi telah dikirim ke tingkatan yang lebih rendah. Untuk itu baik sarana maupun peralatan laboratorium. serta penambahan alat-alat laboratorium di 26 balai laboratorium dan 137 laboratorium kabupaten rumah sakit C. terutama di daerahdaerah terpencil semakin ditingkatkan. Untuk itu selama Pelita III telah ditingkatkan pula baik sarana fisik maupun tenaga kesehatannya melalui pemban_nan 11 RSU baru sebagai pengganti RSU yang telah ada. Sejalan Departemen Keuangan RI 279 . di bidang mikrobiologi.076 tenaga laboratorium puskesmas. baik antarberbagai tingkat rumah sakit maupun antara puskesmas dengan rumah sakit. 20 buah RSU di ibukota propinsi. Dalam hubungan ini selama Pelita III telah dilaksanakan pembangunan gedung dan penambahan ruang pemeriksaan di 27 balai laboratorium kesehatan. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah ditatar sekitar 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sementara itu guna menunjang peningkatan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Dalamwaktu yang sarna telah dilakukan pula rehabilitasi terhadap 192 buah RSU kabupaten/kotamadya. kimia dan imunologi. Selain itu pengiriman penderita dari puskesmas ke rumah sakit kabupaten dan rumah sakit yang lebih tinggi semakin ditingkatkan. patologi. Untuk lebih meningkatkan fungsi rujukan tersebut. Sedangkan untuk meningkatkan pelayanan laboratorium di puskesmas. yakni melalui pemeriksaan laboratorium baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Guna meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. pelayanan melalui rumah sakit juga terus ditingkatkan dengan penyempurnaan sistem rujukan. terus ditingkatkan pula pelayanan laboratorium kesehatan. 13 buah RS vertikal.

279 9. Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit menular ditujukan khususnya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular. di 410 kecamatan dan 101 Dati II.361 1980/81 12. Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan daripada upaya-upaya yang telah dilakukan dalam tahun sebelumnya dan didasarkan atas ketentuan Departemen Keuangan RI 280 . Untuk itu selama Pelita III telah ditempatkan di 133 RS sebanyak 263 tenaga dokter. Per a w a t 1) 3.679 1) Sejak tahun 1976/1977 perawat dan bidan ditetapkan menjadi tenaga perawat kesehatan.985 desa.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan meningkatnya sarana fisik tersebut. Sampai dengan akhir Pelita III. dan 5 RS khusus vertikal. yang disebut promotor kesehatan desa (Prokesa).679 1983/84 3) 17.237 1978/79 10.856 ) 10.720 ) 28. Tabel VIII.644 8.698 desa.000 40. kesehatan anak.160 26. selama Pelita III telah disediakan obat-obatan dan bahan-bahan obat antara lain untuk RSU khusus pusat.972 1977/78 9.061 35.926 30.707 1976/77 8. Pemberantasan penyakit menular Pemberantasan penyakit menular mempunyai peran yang cukup penting dalam menunjang pembangunan. Penjenang kesehatan 1973/74 6. 5 JUMLAH BEBERAPAjENIS TENAGA KESEHATAN. 1973/1974 -1983/1984 J enis Tenaga 1. Adapun untuk menggerakkan partisipasi masyarakat dalam peningkatan derajat kesehatannya.2. 8.400 37. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah diberikan bantuan obatobatan kepada 40 RS propinsi. melalui latihan dan bimbingan tenaga sukarelawan kesehatan desa.113 35.678 kecamatan.647 44.066 9. yang memiliki keahlian dasar bedah.323 24. yang dikembangkan melalui bantuan Pemerintah meliputi sebanyak 1. diberikan pula bantuan berupa peralatan medis dan non medis kepada 135 RSU propinsi/kabupaten. dengan pemutusan matarantai penularan penyakit.5. penanggulangan bencana alam. dibentuk Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD).805 27. di 1.221 7. Dari jumlah tersebut.678 16.456 31. dan 269 Dati II yang tersebar di seluruh propinsi.520 35. Bid ani) 4.698 1981/82 1982/83 2) 15.262 1975/76 8.711 33. Peningkatan pembangunan sarana pelayanan kesehatan tersebut telah diikuti pula dengan peningkat an jumlah tenaga kesehatan. AMD (ABRI Masuk Desa) serta kegiatan sosial lainnya.736 8.693 desa meliputi sebanyak 1.000 35.248 1974/75 7.977 28. D okter 2. sedangkan sisanya.693 35.681 32. sebanyak 5.577 1979/80 11.4. dan 168 Dati II merupakan hasil swadaya masyarakat.268 kecamatan. PKMD tersebut telah dikembangkan di 7. Perkembangan tenaga kesehatan dapat diikuti pada Tabel VIII.854 35.931 35. kebidanan dan kandungan serta penyakit dalam. 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Sementara itu guna memenuhi kebutuhan obat dalam masyarakat.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

prioritas jenis penyakit yang telah ditetapkan. Sehubungan dengan itu, pemberantasannya diprioritaskan pada penyakit malaria melalui penurunan jumlah penderita, dan penanggulangan wabah yang terjadi di Jawa dan Bali, melindungi penduduk yang telah kebal dan berpindah dari Jawa dan Bali, serta menurunkan jumlah penderita di daerah yang keadaan sosial ekonominya rendah termasuk pemukiman transmigran dan pemukiman baru. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap sekitar 749 ribu sediaan darah penderita, pemberian obat kepada sekitar 798 ribu orang penderita, dan penyemprotan terhadap sekitar 75 ribu buah rumah. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 48,3 juta sediaan darah, pengobatan alas 45 juta orang dan penyemprotan 17 juta buah rumah. Pemberantasan penyakit demam berdarah (arbovirosis) dalam tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984, dilakukan melalui pemberantasan jentik nyamuk pada sekitar 200 ribu rumah dan penanggulangan fokus pada 800 lokasi. Dengan demikian selama Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemberantasan jentik nyamuk terhadap 528.516 buah rumah dan penanggulangan 11.632 fokus. Pemberantasan penyakit kaki gajah (filariasis) dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 dilakukan melalui pemeriksaan terhadap 146.778 sediaan darah malam dan pengobatan terhadap 200.557 orang penderita. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diperiksa sebanyak 737.702 sediaan darah malam, dan diobati sebanyak 1.136.573 orang penderita. Dalam waktu yang sama untuk pemberantasan penyakit rabies dan pes telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 200 sediaan darah tersangka rabies dan pengobatan terhadap 1.700 orang yang digigit oleh hewan tersangka rabies. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984, telah dikumpulkan dan diperiksa sebanyak 8.970 sediaan darah tersangka rabies, dan diobati sebanyak 66.408 orang penderita gigitan hewan tersangka rabies. Adapun dalam rangka pemberantasan penyakit pes, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diobati sebanyak 70 orang tersangka pes, sehingga sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diobati sebanyak 1.424 orang tersangka penderita pes. Pemberantasan penyakit demam keong (scbistosomiasis) dilakukan melalui survai terhadap tikus, keong dan specimen tinja, sella pengobatan selektif terhadap penderita di daerah endemis, yaitu di sekitar danau Lindu (Sulawesi Tengah). Selama Pelita III telah dilaksanakan survai di 15 lokasi dan pengobatan terbatas terhadap 12.799 orang penderita. Di samping itu dilakukan juga pemberantasan terhadap penyakit anthrax, yakni penyakit menularyang bersumberdari binatang. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan buIan Agustus 1984 tdah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 10 sediaan dan
Departemen Keuangan RI

281

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

pengobatan terhadap 30 orang tersangka penderita anthrax. Pemberantasan penyakit tersebut dilakukan di daerah endemis yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat dan Timor Timur, sehingga sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 361 sediaan dan pengobatan terhadap 844 orang penderita tersangka anthrax. Selain pemberantasan terhadap penyakit menular yang bersumber dari binatang, telah dilakukan pula pemberantasan penyakit yang menular secara langsung. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, pemberantasan terhadap TBC paru dilakukan melalui pemeriksaan dahak dari 19.000 orang penduduk dan pengobatan kepada 2.000 orang penderita, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah. diadakan pemeriksaan dahak terhadap 1.255.846 orang tersangka TBC, dan diobati sebanyak 141. 300 orang penderita, baik dengan streptomycin maupun rifampisin. Jumlah penderita yang diobati tersebut belum termasuk penderita yang diobati oleh BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru) dan dirumah-rumah sakit. Untuk pemberantasan penyakit frambosia juga te1ah dilakukan pemeriksaan terhadap sekitar 231.000 orangpendudukdan pengobatan terhadap 4.500 orang penderita, sehingga sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diperiksa sebanyak 37.268.231 orang penduduk dan diobati sebanyak 534.903 orang..penderita. Untuk pemberantasan penyakit ke1amin, dalam tahun pertama Repe1ita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan darah terhadap sekitar 20.500 orang, pemeriksaan gonorhoe terhadap 800 orang, dan pengobatan terhadap 17.500 orang penderita. Secara keseluruhan, sejak Pe1ita III sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan pemeriksaan darah terhadap 916.940 orang, pemeriksaan gonorhoe terhadap 271.079 orang, dan pengobatan terhadap 287.893 orang penderita. Se1anjutnya untuk pemberantasan penyakit kusta yang mempunyai angka kesakitan tinggi, antara lain di daerah Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya, dalam tahun 1984 te1ah diperiksa sekitar 25 ribu anak sekolah, dan 24.900 orang kontak (orang yang mempunyai hubungan dengan penderita). Dari hasil pemeriksaan tersebut, te1ah diobati secara teratur sebanyak 15.200 orang penderita, sehingga dengan demikian secara kese1uruhan sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 te1ah diperiksa sebanyak 20.608.702 anak sekolah dan 2.134.183 orang kontak, serta pengobatan terhadap 467.510 orang penderita. Dalam tahun yang sarna juga te1ah dilakukan pemberantasan terhadap penyakit cacing tambang dan parasit lainnya, melalui pemeriksaan sediaan darah dan sediaan tinja dari 105.153 orang, serta pengobatan terhadap sekitar 5.200 orang penduduk. Dengan demikian sejak tahun 1979/1980

Departemen Keuangan RI

282

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dilakukan pemeriksaan sediaan darah dan tinja terhadap 105.153 orang, dan pengobatan terhadap 646.722 orang penduduk, Berkaitan dengan pemberantasan penyakit kholera, te1ah dikembangkan 482 puskesmas menjadi pusat rehidrasi, serta te1ah ditemukan dan diobati sebanyak 246.000 orang penderita diare dan 4.100 orang penderita tersangka kholera. Sehubungan dengan itu, sejak awal Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 te1ah dikembangkan sebanyak 811 puskesmas menjadi pusat rehidrasi, serta telah diobati penderita diare dan kholera masing-masing sebanyak 4.006.583 orang dan 1.205.192 orang. Dalam program pemberantasan penyakit menular te1ah dikembangkan pula berbagai konsep pengembangan kesehatan, antara lain kegiatan imunisasi dan epidemiologi. Berkaitan dengan kegiatan imunisasi, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan vaksinasi BCG pertama kepada 299.000 anak, vaksinasi TT (tetanus toxoid) kepada 282.000 ibu hamil dan anak, vaksinasi DPT (deptherina pertusis tetanus) kepada 282.000 anak, vaksinasi DT (depthelina tetanus) kepada 233.000 anak, vaksinasi polio kepada 97.000 anak, serta vaksinasi pencegahan penyakit campak (morbili) kepada 57.000 anak. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diberikan vaksinasi BCG pertama kepada 5.298.918 anak, vaksinasi IT kepada 282.000 ibu hamil dan anak, vaksinasi DPT kepada 6.32L529 anak, vaksinasi DT kepada 2.064.482, anak, vaksinasi polio kepada 1.103.652 anak serta vaksinasi pencegahan penyakit campak kepada sebanyak 470.612 anak. Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyakit menular termasuk penyebaran penyakit dari satu tempat ke tempat lainnya, telah dilakukan peningkatan kesehatan terhadap pelabuhan karantina haji, pengamanan kesehatan dalam perpindahan penduduk serta isolasi penderita penyakit menular. Guna menunjang kegiatan tersebut, maka fasilitas sarana kerja dan keterampilan petugasnya terus ditingkatkan. Dalam waktu yang sarna juga telah diadakan persiapan pengamanan terhadap terjangkitnya penyakit menular di 10 lokasi transmigrasi baru, terutama penyakit malaria. Dengan demikian selama Pelita III dan tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, kegiatan tersebut secara keseluruhan telah mencakup 203 lokasi transmigrasi baru, di samping telah dilakukan pengamatan kesehatan bagi seluruh jemaah haji. Selain itu dalam tahun 1984 teiah dikembangkan pula isolasi penderita penyakit menular terhadap 11 rumah sakit di beberapa daerah, yang selain ditujukan pada penyakit yang nyatanyata menimbulkan masalah, juga terhadap penyakit menular yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan masalah. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakail pengamatan (surveillance) penyakit menular melalui survai terhadap 500

Departemen Keuangan RI

283

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

kejadian luar biasa (KLB), survai penyakit-penyakit tertentu di 255 rumah sakit, pengambilan 900 sampel, penyebaran data dalam bentuk bulletin epidemologi sebanyak 4.400 eksemplar, serta pelaksanaan survai entomologis serangga penular penyakit pada 200 lokasi. Sejak Pelita III dan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, secara keseluruhan telah dilaksanakan penyelidikan terhadap 21.520 KLB, survai beberapa penyakit menular di 2.418 rumah sakit, pengambilan 741.495 sampel, dan penyebaran data dalam bentuk bulletin epidemiologi sebanyak 217.214 eksemplar. Untuk menunjang penurunan angka kematian anak balita dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, terutama bagi golongan rawan dan masyarakat yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota, telah dilaksanakan usaha perbaikan gizi. Kegiatan ini diarahkan untuk melanjutkan dan meningkatkan status gizi masyarakat, serta pencegahan dan penanggulangan masalah gizi khususnya terhadap penderita kurang kalori protein (KKP), kurang vitamin A, anemia gizi besi serta gondok endemik melalui peranserta aktif masyarakat. Pencegahan dan penanggulangan KKP terutama ditujukan pada anak pra-sekolah, wan ita hamil, wanita menyusui serta penduduk di daerah rawan pangan dan bencana alam. Untuk menurunkan jumlah anak yang menderita KKP, baik dalam tingkat ringan maupun sedang, telah dilakukan peningkatan dan perluasan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK). Sehubungan dengan usaha peningkatan pelayanan kesehatan bagi anak-anak penderita gizi buruk, kaitan antara UPGK dengan puskesmas juga semakin ditingkatkan. Kegiatan UPGK yang dilaksanakan secara terpadu di sektor kesehatan, pertanian, agama dan keluarga berencana, serta swadaya masyarakat tersebut antara lain mencakup penimbangan anak balita, penyuluhan gizi, pemberian paket pertolongan gizi, pemanfaatan tanaman pekarangan dan pemberian makanan tambahan. Dalam tahun pertama Repelita IV selain dilanjutkan pembinaan pada desa UPGK lama, juga te1ah dikembangkan UPGK pada 3.000 desa baru, sehingga sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 kegiatan tersebut te1ah mencakup sebanyak 43.085 desa. Penanggulangan dan pencegahan kekurangan vitamin A pada aDak balita dalam tahun 1984/1985 sampai dengan Agustus 1984, telah dilaksanakan khusus untuk 15 propinsi rawan vitamin A yang desa-desanya belum terjangkau oleh UPGK melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi terhadap 1.550 orang anak balita. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 melalui kegiatan tersebut telah dicapai sebanyak 15.017.061 orang anak balita. Se1anjutnya guna menanggulangi dan mencegah gondok endemik, dalam waktu yang sarna telah dilakukan penyuntikan larutan radium dalam minyak terhadap daerah endemik berat meliputi 1.663.000 orang, sehingga dengan demikian

Departemen Keuangan RI

284

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sejak Pelita III hingga bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan penyuntikan terhadap 6.279.815 orang penduduk yang tinggal di daerah-daerah pegunungan. Sedangkan untuk menanggulangi dan mencegah anemia gizi besi telah dilakukan pemberian pil zat besi, penyuluhan gizi dan pemanfaatan tanaman pekarangan, yang pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam UPGK, sehingga me1alui paket tersebut se1ama Pelita III telah dicukupi kebutuhan zat besi terhadap 1.790.650 orang ibu hamil Adapun sistem kewaspadaan pangan dan gizi yang se1ama Pelita III baru dilaksanakan di beberapa daerah pemanduan di 5 propinsi, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diperluas ke 2 propinsi baru yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Salah satu syarat penting untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal dalam masyarakat adalah tersedianya air bersih yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan, terutama bagi penduduk yang berpenghasilan rendah baik di daerah pedesaan maupun di daerah perkotaan. Untuk itu se1ain disediakan sarana dan teknologi sederhana, terus dilakukan pula penyuluhan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memelihara sarana air bersih, serta pengawasan kualitas air minum dan pencemaran lingkungan. Adapun penentuan lokasi sarana air tersebut diprioritaskan pada daerah-daerah yang sulit memperoleh air bersih dan daerah yang tinggi angka kesakitan terhadap penyakit kholera dan penyakit perut lainnya. Sehubungan dengan itu, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dibangun berbagai jenis sarana air minum meliputi 3 buah penampungan mata air dengan perpipaan (PP), 7 buah sumur artesis (SA), 16 buah sumur gali (SGL), 1.277 buah sumur pompa tangan dangkal (SPT DK) dan 431 buah sumur pompa tangan dalam (SPT DL). Selanjutnya dalam waktu yang sama telah dibangun pula saringan pasir sederhana sebanyak 3 buah, sarana pengolahan Fe dan Mn sebanyak 7 buah dan kran umum sebanyak 40 buah. Selain telah dibangun berbagai sarana fisik tersebut, dilakukan pula pelaksanaan survai di 146 lokasi. Dengan demikian sejak Pelita III sarnpai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dibangun sebanyak 628 buah PP, 250 buah SA, 13.741 buah SGL, 244.411 buah SPT DK dan 27.160 buah SPT DL. Sejalan dengan itu, telah dibangun pula saringan posir sederhana, sarana pengolahan Fe dan Mn serta kran umum, masing-masing sebanyak 3 buah, 26 buah dan 40 buah, dan juga dilakukan survai di 800 lokasi. Untuk menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat terutama bagi masyarakat kota dan masyarakat desa yang berpenghasilan rendah, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan umum di 129lokasi, pembangunan multiple latrine sebanyak 10 buah, peningkatan sanitasi perumahan dan lingkungan di 93 lokasi, pengamatan

Departemen Keuangan RI

285

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida di 1.660 lokasi, serta grading tempat pembuatan dan penyimpanan makanan (TP2M) sebanyak 1.180 buah. Dengan demikian sejak Pelita III sarnpai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan umum, peningkatan sanitasi perumahan dan lingkungan, serta pengarnatan pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida, masing-masing di 77.271lokasi, 413 lokasi dan 1.660 lokasi, di samping juga pembangunan multiple latrine dan grading TP2M, masing-masing sebanyak 428 buah dan 5.977 buah.

8.4.3. Pengadaan dan pengawasan obat, makanan dan minuman Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam tahun terakhir Pelita III di bidang pengadaan dan pengawasan obat, makanan serta minuman pada dasarnya merupakan kelanjutan dan peningkatan dari kegiatan yang dilakukan dalam tahun sebelumnya. Upaya ini meliputi pengawasan dalam produksi, distribusi dan penggunaan obat, termasuk obat tradisional, makanan dan minuman, kosmetika dan alat-alat kesehatan, serta pengawasan terhadap penyalahgunaan narkotika dan bahan obat.berbahaya lainnya. Untuk menunjang kegiatan tersebut telah ditetapkan daftar obat esensial (DOE) yang dipakai oleh semua unit kerja kesehatan dalam pengadaan obat di sektor Pemerintah. Obat yang dihasilkan di sektor Pemerintah besamya sekitar 5 persen dari seluruh obat yang beredar, sedangkan sisanya merupakan produksi sektor swasta. Selanjutnya untuk memperlancar distribusi obat, dilakukan penataan kembali pola distribusi obat, baik terhadap sektor Pemerintah maupun sektor swasta. Sejalan dengan peningkatan produksi obat, selama Pelita III telah dibangun sebanyak 134 buah gudang farmasi di seluruh kabupaten dan kotamadya, di sarnping juga telah tersedia sebanyak 283 buah pabrik farmasi. Adapun jumlah pedagang besar farmasi dan jumlah apotik masingmasing telah mencapai 912 buah dan 1.717 buah. Dalam rangka pembinaan di bidang produksi dan distribusi obat, dilakukan pengambilan 76.305 sample obat untuk seluruh propinsi dan 47.430 sample obat untuk tingkat pusat. Untuk melestarikan dan mengembangkan obat-obatan tradisional, dilakukan pengawasan melalui pendaftaran, pemberian informasi dan penyuluhan, serta evaluasi terhadap kegunaannya. Berkaitan dengan itu selama Pelita III telah terdaftar sebanyak 2.3 88 buah produk obat tradisional dari 370 buah perusahaan. Selain itu telah pula diterbitkan buku-buku dan pedoman penyuluhan yang bersifat teknis terutama mengenai jamu gendong, pemanfaatan tanaman obat tradisional dan obat keluarga serta pertemuan-pertemuan ilmiah dalam bentuk seminar dan lain-lain. Selanjutnya untuk mendapatkan keposrian mengenai keamanan, khasiat, nilai gizi,
Departemen Keuangan RI

286

256 macam. serta alat-alat kesehatan produksi dalam dan luar negeri masing-masing sebanyak 1. pengawasannya dilakukan melalui pengaturan izin impor bagi apotik atau badan usaha yang akan mengimpor dan mengedarkannya. Penurunan fertilitas sebesar 50 persen dari keadaan tahun 1971. kriteria obat jadi. tujuan secara kuantitatif demografis semakin dipercepat. agar pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan cepat. Selain itu telah dilakukan pula pendaftaran terhadap produk kosmetika dalam dan luar negeri sebanyak 3.054 macam. Namun demikian. Oleh karena itu dalam memasuki tahun kedua Repelita IV ini. Keluarga berencana Faktor penduduk merupakan salah satu modal dasar dan sekaligus sebagai faktor dominan dalam pembangunan nasional.467 macam dan 1. makanan dan lainnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kegunaan. alat kesehatan dan sebagainya semakin ditingkatkan.425 macam dan 2. kegiatan pendaftaran obat. Sementara itu untuk mendukung kegiatan pengujian obat dan makanan. serta kadaluwarsa makanan yang berasal dari susu dan makanan-makanan bayi. Dalam hal narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya. Sejalan dengan perkembangan waktu dan pertimbangan hasil-hasil yang telah dicapai selama ini. yang terdiri dari laboratorium tipe B di 8 propinsi dan laboratorium tipe C di 18 propinsi.146 macam. sampai dengan akhir Pelita III telah dilakukan perluasan dan pembangunan gedung laboratorium pengujian obat dan makanan di 26 propinsi.4. maka perlu adanya pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk. Untuk itu sejak Pelita I sampai dengan Pelita III telah dilaksanakan program keluarga berencana (KB) nasional. Berkaitan dengan itu selama Pelita III telah terdaftar produksi obat dalam dan luar negeri masing-masing sebanyak 4. standar mutu dan persyaratan lain yang telah ditetapkan.195 macam dan 3. di samping melalui wajib daftar dan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya yang telah beredar. penandaan obat. serta produksi makanan dalam dan luar negeri sebanyak 8.4. usaha percepatan program KB nasional ditempuh melalui pendekatan kemasyarakatan baik melalui jalur formal maupun informal. dan mengarah kepada pengalihan tanggung jawab pengelolaan dari Pemerintah kepada masyarakat. yang ditempuh atas dasar sukarela.516 macam dan 48 macam. 8. dipercepat untuk dapat dicapai dalam jangka waktu 10 tahun lebih awal yaitu dalam tahun 1990. yang semula direncanakan dapat dicapai dalam tahun 2000. selama Pelita III antara lain telah diterbitkan dan diundangkan peraturan tentang bahan berbahaya. Selain itu guna melaksanakan norma keluarga kecil yang bahagia dan Departemen Keuangan RI 287 . Sedangkan untuk menjamin keselamatan pemakaian obat. makanan.

Irian J aya dan Timor Timur ditetapkan sebagai propinsi penerima transmigran. Riau dan Kalimantan Barat yang mempunyai dampak politis psikologis dinyatakan sebagai propinsi khusus. Demikian pula halnya dengan peserta KB baru yang menggunakan metode suntikan telah meningkat dari sekitar 3 Departemen Keuangan RI 288 . Propinsi Kalimantan Timur. Kemudian propinsi Sumatera Utara. Lampung. Penggunaan alat kontrasepsi diarahkan pada alat kontrasepsi yang selain lebih murah juga mempunyai clara lindung yang efektif. Sulawesi Utara. Pelaksanaan program KB ini apabila dilihat dari dimensi perluasan jangkauan kuantitatifnya yaitu jumlah peserta KB baru. juga telah diusahakan percepatan peningkatan kesejahteraan peserta KB yang dilakukan melalui program lintas sektoral dan pembangunan daerah. jumlah peserta KB baru yang menggunakan kontrasepsi IUD memperlihatkan kecenderungan meningkat yaitu dari sekitar 16 persen dalam tahun 1980/1981 menjadi sekitar 27 persen pada akhir Pelita III dan awal Pelita IV. Program KB yang sebelumnya baru meliputi 16 propinsi. Bengkulu. Di lain pihak. Propinsi Aceh. propinsi Jawa Barat. antara lain Safari Spiral. Kalimantan Selatan. Sumatera Selatan. Atas dasar penggarapan tersebut. Sumatera Barat. Dalam tahun terakhir Pelita III telah diperoleh peserta KB baru sebanyak 5. Maluku. DKI Jakarta. pada saat ini telah mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air Indonesia. dikategorikan sebagai propinsi penyangga.2 juta. Sedangkan propinsi DI Yogyakarta. Bali dan Sulawesi Utara ditetapkan sebagai pengembang program kependudukan. sehingga jumlah seluruhnya dari awal Pelita III sampai dengan bulan Juli 1984 telah mencapai sebanyak 18. Sulawesi Tengah. Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jumlah penduduknya banyak. Sulawesi Selatan. Safari Catur Warga dan terakhir dikenal pula Safari KB Senyum (sungguh enak dan nyaman untuk masyarakat) Terpadu. penggarapannya dilakukan menurut pembagian wilayah yang didasarkan pada klasifikasi propinsi sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah. Jika dalam tahun-tahun sebelumnya lebih dari 50 persen peserta KB baru menggunakan kontrasepsi pil. seperti spiral atau IUD. Untuk itu telah dilakukan berbagai kegiatan program KB. Jambi. maka setiap propinsi meneruskan cara-cara tersebut kepada daerah-daerah tingkat kabupaten/kotamadya yang strategis potensial.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sejahtera (NKKBS). Dengan caracara penggarapan yang taktis menurut spesifikasi propinsi tersebut. Pelaksanaan program KB atas dasar hasil sensus penduduk Indonesia tahun 1980. dijadikan sebagai propinsi penyangga utama. telah memberikan hasil yang cukup menggembirakan. pada akhir Pelita III dan awal Pelita IV telah menurun sampai di bawah 50 persen. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang pasangan usia suburnya besar. dan dari kebupaten/kotamadya selanjutnya diteruskan pula ke tingkat kecamatan yang potensial tanpa meninggalkan kecamatan lainnya.4 juta peserta KB baru.

8 281.80 2.9 24.911 buah klinik milik Departemen Kesehatan.6 IUD 29 76.2 187.9 91.051. 6 JUMLAH AKSEPTOR BARU Y Al'TG DICAPAI MENURUT METODE KONTRASEPSI.4 1.6 79.5 433.550. Di samping terjadi peningkatan dalam jumlah peserta KB baru.60 2.60 2.078.4 1. selain juga dari dukungan pelayanan dan penanggulangan efek sampingan yang dilakukan di klinik dan di rumah sakit Departemen Keuangan RI 289 .4 937. Perkembangan jumlah peserta dan metode kontrasepsi yang digunakan dapat diikuti pada Tabel VIII.2 496.7 398. jumlah klinik KB selama ini juga terus bertambah. dan merupakan mayoritas daripada masyarakat yang berasal dari kalangan berpenghasilan rendah.80 1.505.369.424.4 212.3 293. klinik tersebut terdiri dari 5.7 380.9 384.120.2 252 400.6 1.1 181.50 265.592.966. Selain melalui klinik KB.20 382.087.80 1.90 2.7 1.20 2.5 24.1 519.5 461.10 1.90 1.1984/1985 ( ribu orang) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1) Pil 14.50 2.212. pelayanan KB kepada masyarakat didukung oleh meningkatnya partisiposi para dokter dan bidan praktek swasta. untuk menjangkau pelayanan KB yang lebih luas kepada masyarakat dikembangkan juga kegiatan pelayanan KB melalui till KB keliling.330.90 1.70 3.10 2.90 2.al ini selain didukung oleh kegiatan para petugas KB dan kesadaran masyarakat.215.1 285.524. Hal ini berarti bahwa penggarapan program KB telah dapat diarahkan kepada sasaran yang mempunyai potensi melahirkan yang tinggi.966.8 596. ditunjang pula oleh penyediaan sarana pelayanan yang memadai.80 3.8 607 857.6 218.3 330.5 405.246. 246 buah klinik milik instansi lainnya dan 583 buah klinik milik swasta. baik berupa klinik KB maupun tenaga medis dan administrasinya.5 1) Angka sementara sampai dengan bulan Juli 1984 Keberhasilan pelaksanaan program KB nasior.7 280.229.885.30 1.593. sehingga sampai dengan bulan Juli 1984 telah mencapai 7.2 317.2 366.220 buah klinik yang tersebar sampai ke kecamatan-kecamatan dan desa-desa.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 persen pada awal Pelita III menjadi sekitar 28 persen pada awal Pelita IV. Menurut statusnya. yaitu sebagian besar peserta KB baru tersebut berumur di bawah 30 tahun dan berasal dari keluarga petani.6. Di daerah perkotaan.8 892. Tabel VIII.9 286. dari segi kualitas pun menunjukkan kenaikan.70 1.20 5.316. Sejalan dengan meningkatnya kegiatan KB.90 1.50 1.055.481.246.10 983.40 335 Jumlah 53. 480 buah klinik milik ABRI. 1969/1970 .9 Lain -lain 9.908.

kecuali untuk klinik KB dalam satuan ) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/19854) Jumlah klinik 727 1.1984/1985 ( dalam jumlah orang.343 3.667 4.653 Bidan 855 1.707 5.118 5.601 4.995 3. 6.129 6. dan yang tetap setia menggunakan kontrasepsi secara berlanjut.661 4.241 3.445 6.569 2.186 1.316 2.584 Pembantu bidan 75 580 605 1. 776 2.578 6.653 orang dokter.3 persen memakai IUD. 1969/1970 .476 5.568 5.609 2.682 6. Perkembangan KB dan tenaga pendukungnya dapat diikuti pada Tabel VIII.436 4.657 3.064 7.098 3.927 4. Departemen Keuangan RI 290 . 7 JUMLAH KLINIK.478 4.392 3.544 6.041 1) Pekerjaan administrasi dirangkap pembantu bidan 2) Belum ada tenaga PLKB (Petugas Lapangan KB ) 3) Angka diperbaiki 4) Angka sementara sid bulanJuli 1984 Sejalan dengan perluasan jangkauan program KB.722 orang dan 12.639 6.594 3.041 12.959 2.000 9.435 orang.9 6.1) 322 1.096 4. Peningkatan jumlah peserta KB aktif telah diikuti pula dengan peningkatan usaha pembinaan melalui program integrasi gizi.319 4525 4.882 3.000 7.1 persen dari seluruh posangan usia subur.421 3.7.349 3.9Q.722 Petugas lapangao . pembinaannya pun menunjukkan kemajuan.975 4. Hal ini dapat diukur melalui indikator kuantitatif.134 5.425 12.758 1.213 4.220 Dokter 421 556 791 883 1.532 3.956 2.930 3.465 1.964 11.198 Tenaga administtasi klinik .970 2. PERSONALIA DAN PETUGAS LAPANGAN KELUARGA BERENCANA.586 7.239 6. baik terhadap peserta KB aktif maupun peserta KB yang diaktifkan kembali setelah beristirahat menggunakan kontrasepsinya. Sedangkan untuk daerah pedesaan.143 1.8 persen dari peserta KB aktif tersebut memakai kontrasepsi pil.141 5.750 2.504 3.303 4.242 4. jumlah peserta KB yang telah dibina mencapai 14. Tab el VIII. 54.584 orang bidan dan 5.861 2.791 4. pelayanan kegiatan KB ini dilakukan melalui pembantu pembina keluarga berencana desa (PPKBD) dan sub-PPKBD.232 3.646 1.198 orang pembantu bidan.974 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang menjadi pusat rujukan.999 7.275 1.2) 1.235 3.609 6.1 juta peserta KB aktif atau sebesar 57. Sedangkan jumlah tenaga medis yang mendukung pelayanan KB sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sebanyak 16.041 orang. Adapun menurut metode kontrasepsi yang dipakai.678 1. yang dilakukan sampai ke desa-desa di seluruh wilayah Indonesia.808 3. Adapun jumlah tenaga administrasi klinik dan petugas lapangan masing-masing adalah sebanyak 4.137 2.774 q.2) . 9.620 3. yang terdiri dari 4.3 persen memakai suntikan dan sisanya memakai alat kontrasepsi lainnya.919 4.018 3. 28.715 4. Sampai dengan bulan Juli 1984.920 3) 5.

serta pemberian bib it kelapa hybrida kepada 500 ribu peserta KB lestari. Selain itu keterlibatan perusahaan-perusahaan untuk memberikan dukungan yang positif terhadap pelaksanaan program KB bagi buruh dan karyawannya juga semakin meningkat. Program gizi yang dilakukan melalui jalur program KKB ini dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencakup 27. Melalui lembaga masyarakat ini selain dilakukan kegiatan pemberian kontrasepsi. keberhasilan program KB ditandai dengan makin berkembangnya partisiposi. Sampai dengan bulan Agustus 1984. saling menunjang dan saling mengisi dengan bidang-bidang pembangunan lainnya. dan pelaksanaannya dilakukan searah. Di samping itu telah dilakukan pula program peningkatan pendapatan keluarga yang pada saat ini telah dilaksanakan di 8. maka peranan dan status wan ita akan lebih potensial baik sosial maupun ekonomis. Sementara itu dalam rangka program peningkatan usia perkawinan dan program pendidikan kependudukan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Selain itu. Sub PPKBD atau paguyuban-paguyuban akseptor. dan pengelola program KB.5. Sedangkan untuk lebih memberikan dukungan psikologis bagi peserta KB.022 desa yang tersebar di seluruh wilayah tanah air dan telah memiliki 63. jumlah PPKBD dan paguyuban telah mencapai 184. telah dilakukan pemberian piagam penghargaan bagi peserta KB lestari 5 tahun. 8. Setiap tahap pembangunan di bidang kesejahteraan sosial diarahkan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat' Departemen Keuangan RI 291 . Proses pelembagaan di dalam masyarakat ditandai dengan terus meningkatnya lembaga-Iembaga masyarakat seperti PPKBD. Maka dari itu dikembangkan suatu usaha bersama dalam program peningkatan pendapatan yang dilakukan melalui kelompok-kelompok peserta KB.191 buah. yang salah satu kegiatannya adalah berupa penimbangan terhadap anak berumur di bawah lima tahun (balita).138 kelompok akseptor KB. Apabila dilihat dari dimensi pelembagaan/pembudayaan. baik dari masyarakat maupun instansi Pemerintah yang semula belum turut menjadi pelaksana. pelajar dan mahasiswa. telah pula dilaksanakan kegiatan-kegiatan lain yang berada dalam naungan program-program kependudukan yang sifatnya mendukung program kependudukan dan keluarga berencana (KKB). dengan mengikuti program KB. dan penyuluhan makanan sehat. Kesejahteraan sosial Pembangunan di bidang kesejahteraan sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan nasional.731 buah pos penimbangan balita. Kegiatan-kegiatan ini antara lain mencakup peningkatan gizi keluarga. telah dilakukan pendekatan kepada para pemuda. 10 tahun dan 16 tahun serta kepada lembaga masyarakat pengelola program KB di tingkat pedesaan.

sehingga pada gilirannya mereka akan mampu berusaha secara swaclara. partisipasi sosial masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan sosial semakin dikembangkan. penyuluhan dan bimbingan sosial. Kegiatan ini meliputi bimbingan dan penyuluhan sosial. 8. sampai dengan bulan Oktober 1984 telah berhasil dibina sebanyak 13. yang tujuannya untuk memberikan bimbingan agar dapat menyadari peranan dan tanggung jawabnya dalam menyongsong hari depan. latihan usaha swadaya sosial masyarakat. Sejak tahun pertama Repelita IV. juga lebih diutamakan pada kegiatan yang berfungsi pencegahan dan pengembangan. pembangunan di bidang kesejahteraan sosial di samping diarahkan pada kelanjutan perbaikan dan perluasan segala kegiatan yang berfungsi pelayanan.1. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai penanaman rasa tanggung jawab sosial yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan rasa kebersamaan masyarakat dalam kesetiakawanan sosial. swakarsa dan swasembada dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya semaksimal mungkin. Pembinaan kesejahteraan sosial Pelaksanaan pembangunan bidang kesejahteraan sosial dilakukan melalui berbagai program pembinaan. Program lainnya adalah pembinaan kesejahteraan sosial. terutama bagi para penyandang permasalahan sosial. pembinaan jasmani dan rohani serta kegiatan yang bersifat rekreatif.450 karang taruna dan 14. Dalam hubungan ini. yang bertempat tinggal di daerah minus. Dengan bantuan ini diharapkan dapat tumbuh dan berkembang kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial. telah dilakukan pembinaan dalam bidang kepemimpinan sosial. Melalui wadah ini telah dilakukan pembinaan terhadap remaja.5. pemberian bantuan stimulan berupa modal dan bahan usaha produktif. Untuk menunjang kegiatan-kegiatan terse but. Sehubungan dengan itu.800 remaja. Sejak awal Departemen Keuangan RI 292 . yang bertujuan memberikan bimbingan kepada para keluarga yang kondisi sosial dan ekonominya berada di batas rawan. serta yang tinggal di daerah perkotaan yang padat dan miskin. Selain itu para remaja juga dibimbing dalam berbagai kegiatan yang meliputi keterampilan ekonomis produktif.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 secara adil dan merata. yang pada gilirannya akan mampu mengatasi atau menanggulangi berbagai permasalahan sosial di kalangan pemuda dan masyarakat. agar dapat mencegah dan membatasi timbulnya masalah kenakalan atau kelainan tingkah laku remaja. salah satu daripadanya adalah pembinaan generasi muda yang kegiatannya meliputi pembinaan Karang Taruna. serta pengadaan pusat-pusat latihan kerja sebagai tempat kegiatan kerja produktif. Melalui wadah Karang Taruna dimaksudkan pula untuk terwujudnya penghayatan dan pengamalan Pancasiladi kalangan remaja.

khususnya dalam pemantapan kemampuan dan keterarnpilan. dalam waktu yang sarna juga te1ah diadakan pembinaan swadaya masyarakat di bidang perumahan dan lingkungan. Usaha-usaha tersebut terutarna diarahkan pada wanita yang kondisi kehidupannya tergolong miskin. dan 5. Sedangkan dalam rangka pembinaan swadaya masyarakat di bidang perumahan dan lingkungan.399 KK. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984.160 wanita dalam kepemimpinan.160 KK. Di samping itu dalam waktu yang sama te1ah diberikan pula 7. serta melalui stimulan peralatan bangunan lokal sebanyak 697 unit yang me1ibatkan 6. Kegiatan tersebut berupa pembinaan dan bimbingan agar mereka memiliki kern au an dan kemarnpuan untuk mengembangkan kondisi sosial dan budayanya ke Departemen Keuangan RI 293 .908 unit stimulan dana kesejahteraan sosial yang te1ah melibatkan 79. terbelakang dan berpindah-pindah. agar dapat berperan serta dalam proses pembangunan tanpa mengurangi peranannya dalam pembinaan keluarga sejahtera. melalui stimulan sarana produksi telah berhasil dibina dan ditingkatkan taraf hidup para keluarga yang berpenghasilan rendah sebanyak 242. khususnya yang bertempat tinggal di daerah pedesaan. Sarnpai dengan tahun 1983/1984 telah berhasil dibina 35. pengembangan peranserta fungsi lingkungan bagi kesejahteraan sosial masyarakat. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. telah berhasil dilakukan pembinaan me1alui potensi kesejahteraan sosial terhadap sebanyak 28.080 kepala keluarga (KK). Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pembinaan kesejahteraan masyarakat berasing ditujukan pada peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat yang hidup terpencil. serta pemberian stimulan bahan bangunan bukan lokal dan peralatan kerja.709 keluarga bina swadaya.384 perumahan warga binaan yang meliputi 17 desa.935 Dalam bina swadaya. melalui stimulan bahan bukan lokal sebanyak 18 unit telah berhasil dibina 6. telah dapat dibina me1alui stimulan bahan bukan lokal sebanyak 24. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. Selain itu juga berupa penanaman pengetahuan dan keterampilan dalam memelihara.114 orang. me1alui stimulan perbaikan lingkungan sebanyak 716 unit yang me1ibatkan 7. Usaha peningkatan peranan dan fungsi wanita ditujukan untuk mengembangkan kesejahteraan sosial wanita. telah berhasil dibina sebanyak 1. penggalakan penghijauan.567 wanita dalam bina swadaya. Kegiatan ini antara lain meliputi penye1enggaraan latihan bagi ke1uarga miskin di bidang pembangunan perumahan secara gotong royong dengan semaksimal mungkin menggunakan potensi manusia dan alam yang ada. pe1estarian sumber-sumber alam lainnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pelita III sampai dengan akhir 1983/1984. pengaturan saluran air.970 KK. Se1ain bimbingan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat.

Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. yang terdiri atas para tokoh masyarakat dari berbagai profesi. Untuk itu kepada para pengurus dan anggota organ isasi sosial diberikan latihan keterampilan dalam bidang manajemen dan prinsip-prinsip tehnik pendekatan sosial menurut bidang sasaran organisasi sosial.088 orang PSM yang tersebar di seluruh propinsi.490 orang. melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 14.350 orang kader keserasian sosial. baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. menyebarluaskan dan melembagakan partisiposi sosial masyarakat dalam pembangunan di bidang kesejahteraan sosial. Melalui kegiatan ini sarnpai dengan bulan Oktober 1984. Sedangkan untuk menunjang kelancaran kegiatan di bidang kesejahteraan sosial. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. telah diadakan penyuluhan sosial terhadap 5. Dalarn rangka mcngembangkan. ditugaskan sebagai penggerak dan pelaksana dari peningkatan kesejahteraan sosial di lingkungan tempat tinggalnya.347 orang. telah dilakukan peningkatan mutu dan kemarnpuan operasional organisasi sosial. dalam waktu yang sarna telah dibina pula sebanyak 8. Sedangkan dalam rangka memantapkan keserasian dan kesetiakawanan masyarakat dalam mengatasi berbagai masalah. Sarana lain untuk membina masyarakat berasing adalah melalui pemukiman di suatu lokasi yang terletak pada jalur komunikasi dan ekonomi. sosial dan berbagai keterampilan dalam bidang-bidang usaha kesejahteraan sosial. sehingga Departemen Keuangan RI 294 . Sementara itu telah dilakukan pula pembinaan terhadap keluarga dan remaja yang mengalami permasalahan sosial psikologis. telah dapat dibina sebanyak 164 organisasi sosial. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. balai sosial dan sekolah sederhana. yang dilengkapi dengan sarana umum seperti tempat ibadah. Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan dan bimbingan sosial. Kemudian untuk tercapainya hasil-hasil pembangunan kesejahteraan sosial secara luas dan merata.449 KK. serta latihan keterampilan dalam penanganan dan penanggulangan permasalahan sosial dalam masyarakat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 arah kehidupan sosial yang selaras dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. kepada setiap keluarga diberikan bantuan rumah sederhana.115 orang. yang sekaligus sebagai pendorong kegiatan yang semakin meluas secara swadaya di kalangan masyarakat. telah dibentuk tenaga kesejahteraan sosial sukarela (TKSS). yang sampai dengan akhir tahun 1983/1984 telah mencapai 5. melalui latihan dan praktek lapangan di bidang kesejahteraan sosial te1ah dibina pekerja sosial masyarakat (PSM). Tenaga yang dipilih dari anggota masyarakat setempat. Sampai dengan akhir bulan Oktober 1984 melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 13. Sejalan dengan itu. dan tanah seluas 2 hektar sehingga diharapkan taraf hidup mereka akan dapat lebih ditingkatkan. telah berhasil dibina 70. Selain itu diberikan pula bimbingan mental.

Setelah mendapatkan bimbingan dan keterampilan tersebut. melalui sistem rami telah dapat dibina sebanyak 15. melalui pemukiman lokal sebanyak 2. sedangkan melalui Loka Bina Karya (LBK) telah dibina sebanyak 300 orang. mental dan agama. Sampai dengan akhir 1983/1984. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan kepada 561 orang dan 41 KK fakir miskin.822 remaja putus sekolah. 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. sedangkan melalui sistem luar panti sebanyak 221. melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 13. para gelandangan dan pengemis itu disalurkan melalui kegiatan transmigrasi sosial.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 melalui kegiatan ini sampai dengan akhir tahun 1983/1984 telah dibina sebanyak 8. sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing. Departemen Keuangan RI 295 . Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. baik melalui sistem paoli maupun sistem luar panti.5.545 KK serta melalui pondok sosial sebanyak 600 KK.745 KK. anak-anak putus sekolah dan anak-anak dari keluarga miskin yang terhambat perkembangan sosialnya. Selama Pelita III. serta membangkitkan minat dan kecintaan bekerja bagi para gelandangan dan pengemis. Terhadap anak terlantar. pola swakarya dan pola pondok so sial. melalui transmigrasi sosial sebanyak 5. Sampai dengan Pelita III.597 orang cacat. baik melalui sistem panti maupun sistem luar panti.835 KK. kepada mereka telah diberikan bimbingan sosial.2. telah diberikan bantuan dan penyantunan.010 orang dan 105. telah dilakukan berbagai kegiatan yang bertujuan agar mereka mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri.220 anak. melalui sistem panti dan luar panti telah berhasil dibina masing-masing sebanyak 29.222 anak.765 KK. Selain itu kepada mereka diberikan pula keterampilan yang bersifat ekonomis produktif. Untuk memulihkan kembali rasa harga diri. 8.833 KK dan 14. Dalam tahun. pemukiman lokal. Bantuan dan penyantunan sosial Dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesejahteraan sosial bagi para penyandang masalah kesejahteraan sosial. Selain kepada anak terlantar. yang meliputi anak-anak yatim piatu terlantar. telah dilakukan pula pemberian bantuan dan penyantunan kepada para penyandang cacat.873 anak. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan sosial terhadap 4. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan so sial terhadap 2.900 orang. tidak menggantungkan pada bantuan orang lain dan dapat ikut serta dalam proses pembangunan. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. yaitu melalui swakarya sebanyak 4.

Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. telah diberikan penyantunan dan pengentasan kepada 1. Dalam hal pemberian bantuan dan penyantunan bagi para lanjut usia/jompo yang terlantar atau kurang terurus.720 orang.757 bekas narapidana.600 orang dan melalui sistem luar panti sebanyak 3. Melalui panti tersebut diberikan pembinaan dan pengembangan yang bersifat spiritual. khususnya generasi muda. yang terdiri dari 11 wisma tingkat propinsi. Selain usaha rehabilitasi para WTS. Surabaya dan Medan. terhadap arti dan nilai-nilai kepahlawanan. telah berhasil dibina sebanyak 6. telah diberikan penyantunan dan pembinaan terhadap 4. baik melalui sistem panti maupun sistem luar paoli.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Selanjutnya untuk menanggulangi kehidupan yang sesat dari kelompok wanita tunasusila (WTS). Dalam hal ini kegiatan yang dilakukan melalui LBK bertujuan agar setelah mereka dianggap mampu untuk terjun ke dalam masyarakat. keperintisan para pahlawan dan perintis kemerdekaan. telah dibangun 43 buah wisma. Untuk itu telah dibangun panti rehabilitasi sosial korban narkotika di Jakarla.177 orang tuna sosial. Melalui panti-panti tersebut.010 orang.411 anak korban narkotika dan anak nakal.350 orang dan 2. Untuk menimbulkan kesadaran masyarakat. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. dengan perincian melalui sistem panti sebanyak 3. yang pelaksanaannya dilakukan melalui sistem panti dan luar panti. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. dan 32 wisma tingkat kabupaten. selanjutnya dapat disalurkan ke pasaran kerja sesuai dengan bakat dan jenis keterampilannya. kemasyarakatan dan rekreasi.610 orang. telah dilaksanakan pembangunan panti baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten. Dalam kegiatan ini kepada WTS tersebut diberikan pendidikan budi pekerti dan berbagai keterampilan agar dalam kehidupan bermasyarakat kelak mereka dapat berdiri sendiri dengan menjunjung harga dirinya. Selanjutnya telah dilakukan pula usaha rehabilitasi bagi para remaja yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika. telah dilakukan usaha rehabilitasi. serta kegiatan yang produktif bagi yang masih potensial. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. masing-masing sebanyak 242. Selain itu telah dilakukan pula pembinaan terhadap para lanjut usia/jompo melalui sistem luar panti dan Sasana Tresna Wredha.765 orang lanjut usia. melalui kegiatan ini telah berhasil dibina sebanyak 1. Palembang dan Semarang. Sampai dengan akhir Pelita III. telah dilakukan pula rehabilitasi bagi para bekas tahanan. telah dilakukan penyebarluasan gambar-garnbar dan buku-buku sejarah serta penulisan autobiografi para pahlawan dan perintis kemerdekaan. guna melayani sebanyak 430 orang lanjut usia. sedangkan untuk rehabilitasi anak nakal telah dibangun panti rehabilitasi di Jakarta. Di samping itu untuk maksud yang sama telah Departemen Keuangan RI 296 . sampai dengan Oktober tahun 1984 telah berhasil dibina sebanyak 4.

obat-obatan dan pakaian.165 orang. Dengan demikian dapat diciptakan ketertiban dan kepostian hukum yang pada gilirannya dapat memperlancar Departemen Keuangan RI 297 . Sulawesi Utara. Riau.6. Usaha yang berkaitan dengan pemberian bantuan dan penyantunan kepada para korban bencana alam pada dasarnya bersifat darurat. dan merupakan rehabilitasi agar kondisi sosial ekonomi para korban dapat menjadi lebih baik. Adapun jumlah para korban bencana alam yang ditransmigrasikan ke luar pulau Jawa dan Bali mencapai 3. Sejak awal Pelita III sampai dengan bulan Oktober 1984. telah dilakukan rehabilitasi sosial korban bencana alam sebanyak 35.1. Selama Pelita III telah dibangun dan dipugar sebanyak 157 buah TMP dan 9 buah makam pahlawan nasional serta penulisan buku perjuangan sebanyak 10. makam pahlawan dan taman makam pahlawan (TMP). Hukum dan perundang-undangan 8. bantuan perbaikan rumah kepada 165 orang.macam latihan keterampilan yang ekonomis produktif. Selain itu juga telah diberikan bantuan dan penyantunan perintis/pejuang kemerdekaan. Sampai kini jumlah perintis/pejuang kemerdekaan yang masih hidup dan yang jandanya telah mendapat pengakuan.840 KK dan yang ditempatkan pada pemukiman lokal di luar pulau Jawa dan Bali adalah sebanyak 3. antara lain berupa bantuan usaha produktif kepada 1.000 eksemplar. dan bantuan pemugaran makam sebanyak 280 buah. di samping juga dilaksanakan melalui pemberian bantuan berupa beras.606 KK.6. Pembinaan dan pembaharuan hukum Pembinaan hukum merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembangunan yang tengah berlangsung.525 orang dan 4. Bersamaan dengan itu diusahakan pula peningkatan tarat hidup melalui bimbingan. Maluku dan Bali.388 KK. kebijaksanaan pokok dalam pembangunan dan pembinaan hukum diarahkan agar hukum mampu memenuhi kebutuhan sesuai dengan tingkat dan perkembangan pembangunan di berbagai bidang. latihan pembimbing dan petugas lapangan sebanyak 540 orang. seperti propinsi Aceh. serta penyediaan panti persinggahan sebanyak 28 buah. 8. Sedangkan selama Pelita III telah dilakukan pemberian bantuan bahan bangunan rumah kepada 2. masing-masing adalah sebanyak 2. Sehubungan dengan itu.292 orang. para korban telah dipindahkan pula ke temp at lain. Kegiatan ini antara lain dilakukan melalui pengadaan panti persinggahan pada daerah-daerah rawan bencana.075 KK.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dilakukan pemeliharaan dan pemugaran makarn perintis kemerdekaan. serta pembangunan monumen kepahlawanan. Selain itu melalui pemukiman lokal dan transmigrasi sosial. motivasi dan berbagai .

Penyampaian Surat Pemberitahuan. Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai 1984. Koordinasi Usaha Kesejahteraan Sosial Bagi Penderita Cacat. Dalam tahun 1983/1984 telah dihasilkan 7 buah undang-undang. Jam Krida Olah Raga. dan Persyaratan Pengajuan Keberatan. Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. antara lain meliputi Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Hukum Pidana. Un dang-Un dang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Kerjasama ini Departemen Keuangan RI 298 . Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Asuransi Sosial Tenaga Kerja. serta Inpres tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan. antara lain Inpres tentang Pelaksanaan Penjadwalan Kembali Proyek-proyek di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi. antara lain Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984. Dalam rangka menunjang perancangan perundang-undangan. Koordinasi Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. Sementara itu dalam waktu yang sarna juga telah disahkan sebanyak 44 buah peraturan Pemerintah. serta Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 1984/1985. serta Peraturan Pemerintah tentang Pajak Atas Bunga Deposito Berjangka dan Tabungantabungan lainnya. yang terdiri dari Undang-Undang tentang Tambahan dan Perubahan Atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1982/1983. Pelaksanaan KUHP. Badan Administrasi Kepegawaian Negara. Perbendaharaan Negara. Hukum Perdata Internasional. Sedangkan yang berupa Instruksi Presiden. Pemberian Nomor Wajib Pajak. serta Keppres ten tang Dewan Standardisasi Nasional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan. Undang-Undang tentang Perhitungan Anggaran Negara Tahun 1979/1980. telah dilakukan kerjasama antara berbagai instansi yang ada hubungannya dengan bidang hukum. Pemberian Tunjangan Perbaikan Penghasilan Pensiun Bagi Penerima Pensiun/Tunjangan Yang Bersifat Pensiun. Daftar Skala Prioritas Bidang Usaha Penanaman Modal Tahun 1983/ 1984. serta Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Masyarakat. Selain itu juga telah dihasilkan Peraturan Pemerintah ten tang Dewan Pers. serta RUU tentang Pelimpahan Teknologi. Selanjutnya dalam tahun 1983/1984 telah dibahas pula sejumlah rancangan undang-undang. Grasi. Sementara itu telah pula dihasilkan sejumlah Keputusan Presiden antara lain Keppres tentang Rencana pembangilnan Lima Tahun Keempat (Repelita IV) tahun 1984/1985-1988/1989. Penangguhan Pajak Penghasilan Atas Bunga Pinjaman Yang Diterima Pemerintah Dalam Rangka Pinjaman Luar Negeri. Penjadwalan Kembali Proyek-proyek Pembangunan yang Pembiayaannya Menggunakan Devisa Negara atau Kredit Komersial Luar Negeri. Pendaftaran. Untuk itu telah dilaksanakan pembaharuan dan pembentukan perangkat hukum nasional. Undang-Undang ten tang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

Sehubungan dengan itu. cepat.6. Pacitan. Putusibau. Sedangkan pertemuan ilmiah yang diselenggarakan antara lain meliputi evaluasi terhadap pembangunan hukum Pelita III menjelang Pelita IV. Selain itu guna meningkatkan pemerataan kesempatan dalam memperoleh keadilan. 8. Di samping itu dalam waktu yang sarna juga telah dihasilkan penulisan karya ilmiah dengan judul Perlindungan hak-hak azasi manusia dalam KUHAP serta Politik hukum baru mengenai kedudukan dan Peranan hukum adat dan hukum Islam dalam pembinaan hukum. pertemuan ilmiah dalam bentuk lokakarya. di Departemen Keuangan RI 299 . aspek hukum dalam praktek pertanggungan perbankan umuk usaha pemborongan bangunan. dalam tahun 1983/1984 telah dilaksanakan berbagai penelitian antara lain atas pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. penanggulangan kejahatan dan pembinaan narapidana. aspek hukum perlindungan berkenaan dengan perluasan lokasi industri. serta kejahatan akibat teknologi modem. antara lain berupa penelitian hukum. peningkatan operasi yustisi untuk pengamanan hasil-hasil dan pelaksanaan pembangunan yang sedang berjalan. Dalam hubungan ini. Sungai Liat. Selanjutnya untuk menunjang peningkatan dan penyempurnaan penegakan hukum. perilaku dan kemampuan para penegak hukum. (KUHAP). di daerah-daerah yang wilayah pengadilan negerinya sangat luas dan sulit komunikasinya.2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berbentuk kegiatan ilmiah. serta hukum kedokreran. Kotacane. dan 26 pengadilan tinggi yang terdapat pacta setiap propinsi kecuali Propinsi Timor Timur. harmonisasi hukum di negaranegara ASEAN. baik antarsesama aparatur penegak hukum maupun dengan instansi-instansi lain. terus diusahakan agar proses peradilan lebih sederhana. dalam tahun 1983/1984 telah dibentuk 7 pengadilan negeri yang terletak di Garut. Gorontalo dan Watampone. jujur dan dengan biaya yang terjangkau oleh pencari keadilan dalam berbagai lapisan masyarakat. seminar dan simposium serta penulisan karya ilmiah dalam berbagai bidang hukum. Penegakan hukum Kegiatan yang dilakukan dalam penegakan hukum pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan ketertiban dan kepostian hukum dalam masyarakat. pemantapan sikap. telah diadakan tempattempat sidang pengadilan sehingga pelaksanaan tugas hakim keliling dapat berjalan lancar. masalah yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan RUU Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Dengan demikian sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 telah dibangun 291 pengadilan negeri yang tersebar di hampir setiap kabupaten/kotamadya. Untuk itu telah dilakukan pemantapan kedudukan dan wewenang badan-badan penegakan hukum. khususnya dalam' pembinaan peradilan. serta penyempurnaan koordinasi dan kerjasama fungsional. perlindungan hukum terhadap konsumen jasa angkutan.

Sedangkan penyuluhan hukum yang dilaksanakan melalui program jaksa masuk desa. Dalam tahun 1983/1984. Kegiatan tersebut dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan di 2. berupa penerangan tentang fungsi dan tugas pengadilan.tempat umum dan publikasi media cetak lainnya. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 telah menjangkau 9. Sementara itu dalam waktu yang sarna juga telah diadakan pembinaan personal peradilan. Di samping itu. penyuluhan pacta masyarakat dalam bentuk ceramah.238 orang. Dengan demikian. sejak tahun 1981/1982 telah dilakukan pula konsultasilbantuan hukum melalui 24 fakultas hukum negeri yang tersebar di seluruh Indonesia.527 desa. 12 gedung baru pengadilan tinggi dan 373 buah tempat sidang. sampai dengan tahun terakhir Pelita III telah dilakukan pembangunan 127 gedung baru pengadilan negeri. antara lain melalui brosur-brosur yang disebarluaskan ke daerah-daerah. terus dilakukan pemberian bantuan hukum. telah disediakan pula sebanyak 111 kendaraan yang terdiri atas berbagai jenis. yang dilaksanakan dengan pemutasian hakim.440 kasus konsultasi hukum dan 2.880 perkara yang ada di Departemen Keuangan RI 300 . Sehubungan dengan itu. Di samping itu juga telah dilakukan rehabilitasi dan perluasan/penyempurnaan 19 gedung pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. baik secara regional maupun nasional. telah ditingkatkan juga penyelesaian perkara. dalam tahun 1983/1984 telah diberikan bantuan hukum terhadap 4. terutama bagi golongan yang kurang atau tidak mampu. untuk menunjang pembinaan dan pelaksanaan tugas-tugas penegak hukum. radio swasta serta tempat. dalam tahun 1983/1984 telah dibangun 7 gedung pengadilan negeri. Guna meningkatkan kesadaran hukum dalam masyarakat.915 desa. telah dilaksanakan pula berbagai kegiatan penyuluhan hukum.496 perkara. baik yang bersifat pidana maupun perdata. serta rehabilitasi/penyempurnaan/perluasan 160 gedung pengadilan negeri daD gedung pengadilan tinggi serta 244 gedung kejaksaan tinggi/negeri.858 kasus pidana. Di samping itu.450 perkara bantuan hukum. yang tersebar di 26 pengadilan tinggi. sehingga sampai dengan akhir Pelita III telah diberikan bantuan hukum bagi pencari keadilan yang kurang mampu sebanyak 17. wawancara di TVRI/RRI. Dalam rangka peningkatan pemerataan kesempatan untuk memperoleh keadilan bagi masyarakat. Sementara itu guna meningkatkan pelaksanaan penegakan hukum. Sehubungan dengan itu. telah dilakukan peningkatan dalam penyediaan prasarana dan sarana hukum. Kegiatan tersebut sampai dengan tahun 1983/1984 telah meliputi sebanyak 45. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 jumlah hakim telah mencapai 2. Dalam rangka menunjang pembinaan peradilan. dari 766. serta 79 gedung kejaksaan negeri/tinggi. 45 tempat sidang dan 11 gedung kejaksaan negeri/tinggi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 samping telah dipercepatnya proses penyelesaian perkara di temp at kasus/sengketa.

Berkaitan dengan pembinaan pemasyarakatan. serta program rekreasi/olahraga.729 perkara at au sekitar 52 persen. telah diadakan pendidikan di sekolah. serta perluasan/rehabilitasi gedung LP masingmasing sebanyak 162 gedung dan 224 gedung.705 perkara atau sekitar 97 persen. bimbingan sosial. mampu melanjutkan kehidupannya dengan wajar dan layak dalam masyarakat.042 perkara yang ada di kejaksaan telah dapat diselesaikan 698. pendidikan umum.816 orang. pendidikan keammaan. keterampilan perawatan dan pelayanan masyarakat. Untuk menunjang sistem tersebut maka ditingkatkan pula pembangunan sarana penunjangnya. Kegiatan ini dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah diikuti oleh 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengadilan negeri. Selain itu dalam periode yang sarna juga telah Departemen Keuangan RI 301 . telah dilaksanakan pembangunan. yang meliputi penataran administrasi kepegawaian.297 perkara yang ada pada pengadilan tinggi.336 perkara atau sekitar 99 persen. telah dapat diselesaikan 747. Sementara itu guna meningkatkan bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak. dan agar dapat menjadi warga negara yang kreatif. sistem pemasyarakatan yang ada diarahkan agar narapidana dan anak didik setelah selesai menjalani hukumannya.184 perkara atau sekitar 71 persen. Adapun pembinaan narapidana dan anak didik dilakukan melalui pembinaan spiritual. telah dapat diselesaikan sebanyak 7. baik baru maupun lanjutan. keuangan dan perlengkapan sebanyak 570 orang. Dalam tahun 1983/1984 dan tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. pendidikan tenaga peneliti hukum sebanyak 30 orang. telah diselenggarakan berbagai kegiatan pendidikan. Selain itu dari 14. taat serta menghormati hukum dan norma-norma pergaulan hidup yang berlakudalam masyarakat. perluasan/rehabilitasi masingmasing 24 dan 25 gedung LP. Sedangkan dari 7. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984. serta keterampilan bertani. produktif. penataran panitera/panitera pengganti sebanyak 150 orang. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilanaparat penegak hukum. dan dari 703. serta guna pemantapan sikap dan kepekaannya terhadap perkembangan kesadaran hukum dan rasa keadilan masyarakat. Di samping itu dalam waktu yang sarna juga telah dilakukan pembangunan balai bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak (Bispa) masingmasing 5 dan 9 gedung. telah dapat diselesaikan 5.746 perkara yang ada di mahkamah agung. keamanan dan ketertiban. pendidikan calon hakim sebanyak 210 orang. beternak dan berwiraswasta. latihan dan penataran. serta renovasi LP menjadi rumah tahanan (Rutan) masing-masing 73 dan 79 gedung. pembinaan pramuka. telah dilaksanakan pembangunan prasarana fisik berupa pembangunan baru/lanjutan masing-masing 22 dan 51 gedung lembaga pemasyarakatan (LP). serta pendidikan perancang perundang-undangan sebanyak 70 orang.

Bupul. Untuk mewujudkan usaha tersebut diperlukan prasarana dan sarana yang dati tahun ke tahun terus meningkat. sehingga pembangunan ABRI akan selalu selaras dengan tingkat kemajuan pembangunan nasional. Di samping itu ABRI juga telah mampu mengamankan pembangunan nasional dan kedaulatan Negara RI. Keimigrasian Sejalan dengan perkembangan ekonomi dan hubungan antar negara. Dalam waktu yang sarna telah dibangun pula 11 pos imigrasi yang terletak di Sinabi. sehingga dapat menjadi kerangka landasan yang dapat diandalkan dan tahan uji.7.034. Tanjung Petak.3. Dalam tahun 1983/1984 telah dilaksanakan pembangunan 8 gedung kantor imigrasi yang terletak di pelabuhan-pelabuhan Cengkareng. Surakarta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dibangun 38 gedung Bispa dan renovasi LP menjadi Rutan sebanyak 152 gedung. terdiri 286.030 orang Indonesia dan 725. Banda Aceh. pengembangan pariwisata. tanpa mengabaikan segi pengawasannya agar tidak mengganggu stabilitas nasional. Aruk. baik masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Berkaitan dengan itu penanganan bidang keimigrasian diarahkan untuk menunjang perkembangan yang terjadi di bidang-bidang tersebut. Kerangka landasan tersebut mempunyai pengertian yang seluas-luasnya. Senggih. Siding. serta pelaksanaan ibadah keagamaan (haji dan umroh). Demikian juga telah dilakukan rehabilitasi dan perluasan kantor imigrasi dan asrama tahanan imigrasi. Pertahanan dan keamanan Pembangunan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sampai dengan Pelita III telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kokoh dalam menuju angkatan bersenjata yang modern. Sebatik. Dalam tahun 1983/1984. Padang. terdiri dari 323. Tanjung Priok.666 orang Indonesia dan 711. 8.713 orang. Dalam rangka menanggulangi subversi. ketenagakerjaan. 8.6. Sedangkan yang berangkat ke luar negeri berjumlah sebanyak 1.349 orang asing. maka baik frekuensi maupun volume lalu lintas orang dari dan ke luar negeri dari tahun ke tahun terus mengalarni peningkatan. Jagoi Babang. orang yang masuk ke Indonesia adalah sebanyak 1. Pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan telah berkembang terus.379 orang.047 orang asing. pengawasan orang asing dan lalu lintas ke dan dati luar negeri terus ditingkatkan. di mana tiap-tiap warga negara berhak dan wajib Departemen Keuangan RI 302 . Sentani dan Kabil.011. masing-masing sebanyak 12 gedung dan 1 gedung. Jambi dan Banjarmasin. Ubruk. Liku.

ABRI menjadi seinakin mantap dalam mengemban tugas pokoknya. Selama dua Pelita yang lalu. kekuatan yang dibangun tetap dikonsentrasikan pada kekuatan kewilayahan yang lebih mempertegas dan memantapkan prinsip kesatuan wilayah Nusantara. serta penyempumaan sistem dan manajemen. dengan inti kekuatan darat yang didukung kekuatan laut dan kekuatan udara. yaitu dengan telah disahkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia. Selama Pelita III telah berhasil dicapai tonggak baru dalam sejarah perkembangan ABRI. Implementasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 dalam bidang organisasi telah dilaksanakan melalui Keputusan Presiden Nomor 46 Tahun 1983 tentang Pokok-Pokok dan Susunan Organisasi Departemen Pertahanan dan Keputusan Presiden Nomor 60 Tahun 1983 tentang Pokok-Pokok Susunan Organisasi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Adapun pembangunan kekuatan pertahanan dan keamanan yang telah dilaksanakan adalah berupa peningkatan mutu personal. yang memberikan landasan hukum yang bersumber pada Undang-Undang Dasar 1945. pembangunan ABRI masih dipusatkan pada pembangunan personalnya. Dalam hubungan ini masalah utama yang telah mendapat perhatian semua pihak adalah pendayagunaan sumber daya nasional bagi upaya pertahanan keamanan negara. agar ABRI dapat terus memikul tugas sejarahnya sebagai stabilisator dan dinamisator. Sesuai dengan doktrin dasar nasional Wawasan Nusantara. Politik pertahanan dan keamanan dimaksudkan untuk menjamin keamanan negara serta turut memelihara perdamaian dunia pada umumnya dan keamanan di kawasan Asia Tenggara khususnya. sedangkan strategi pertahanan dan keamanan ditujukan untuk mencegah dan menangkal gangguan keamanan dalam negeri. sekaligus sebagai pengayom dan pencipta rasa tenteram dan aman bagi lingkungan masyarakat. Konsep pertahanan yang dikembangkan menyangkut pertahanan dan konsentrasi selektif sesuai dengan perkiraan keadaan. termasuk di dalamnya sebagai kekuatan yang menjaga dan sekaligus menyegarkan demokrasi Pancasila. yaitu menjamin tetap tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Di samping itu dalam rangka ketertiban masyarakat dan penegakan hukum. Dengan adanya undangundang tersebut. komando dan pengendalian.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ikut serta dalam usaha pembelaan negara. yakni mencakup usaha untuk mendapatkan prajurit ABRI yang Departemen Keuangan RI 303 . yang disertai dengan penyebaran kekuatan penangkal dan penempatan perbekalan dalam upaya menyesuaikan luas wilayah ke dalam strategi pagelaran kekuatan. yang memerlukan koordinasi yang terus menerus antara semua pihak yang berkepentingan. maka telah ditingkatkan mutu aparat kepolisian agar mampu hadir secara fisik. Dwi fungsi ABRI harus dilaksanakan sebaik-baiknya. peralatan.

16 Kodam. telah dilakukan peningkatan kekuatan operasi untuk masing-masing angkatan dan Polri. 53 Yonban.833 orang. agar mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air.098 orang TNI-AU. sehingga pada akhirnya mampu berswasembada secara keseluruhan. 47 Heli.233 Kosek dan 56 Sat Brimob.838 orang Polri. Untuk mengurangi ketergantungan peralatan ABRI pada luar negeri. 14 Heli. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. sehingga tingkat teknologi maju yang terus berkembang hams dapat dikuasai.944 orang TNI-AL. yang terdiri dari 216. Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio TNI-AU menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. dan 133. Unit Survai dan Pemetaan TNI-AU menjadi Perum Penas. 25. yaitu kecil dalam jumlah dan sederhana dalam organisasi. serta penyempurnaan fasilitas perawatan personal melalui pembangunan sistem pangkalan. dan yang memiliki kemampuan profesional yang cukup tinggi dalam bidangnya.003 orang TNI-AD . 2 Grup Sandha. mulai dari pendidikan tamtama hingga pendidikan tinggi perwira. 292 Kodim dan 3215 Koramil untuk TN I-AD . Penataran TNI-AL Surabaya menjadi PT Pabrik Kapal Indonesia. 6 Yonif Mar dan 10 Yonban Mar untuk TNI-AL. Untuk menunjang usaha tersebut telah dilakukan kegiatan-kegiatan pokok. 58 kapal. Perindustrian TNI-AD (Pindad) menjadi PT Pindad.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 mewarisi jiwa dan semangat pejuang. maka secara bertahap beberapa peralatan utama ABRI telah mulai diganti dengan yang lebih maju tingkat teknologinya. 82 Yonif. yang sangat penting bagi pengembangan Departemen Keuangan RI 304 . serta Pabrik Roket Menang TNI-AU menjadi bagian dari divisi senjata PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. Selanjutnya dilakukan juga penyempurnaan sistem pendidikan dan latihan ABRI. Untuk menunjang usaha tersebut. 281 Kores. Adapun kekuatan operasi tersebut meliputi 2 Brigif Linud. yang antara lain meliputi penyempurnaan sistem penerimaan anggota baru ABRI. 25 pesawat udara (Pesud). Sedangkan untuk Polri adalah mencakup 17 Kodak. Pembangunan kekuatan ABRI tersebut dilaksanakan untuk mewujudkan ABRI sebagai kekuatan yang kecil tetapi efektif. 41 Korem. Usaha-usaha tersebut meliputi pengembangan Unit Industri Bahan Peledak TNI-AU menjadi Perum Dahana. serta 102 Pesud. Hal ini memerlukan daya pukul dan kecepatan bergerak yang tinggi. maka telah digalakkan industri nasional dalam pembuatan komponen atau suku cadang peralatan utama ABRI. Hal tersebut dimaksudkan agar mampu mengemban tugas pokok ABRI dalam lingkungan yang terus bergerak dinamis guna mengikuti gerak pertumbuhan pembangunan nasional. dan 1 Yon Posgat untuk TNI-AU. namun mampu melaksanakan tugas-tugas yang menjadi kewajibannya. 3.Angkatan 1945. 2 Grup Parako. 33 Kowil. Adapun kekuatan personal militer yang telah dimiliki sampai dengan triwulan IV tahun 1983/1984 adalah sebanyak 411. 36. Di samping itu koordinasi antardepartemen.

memasyarakatkan kebudayaan dan kepribadian Indonesia serta menggairahkan partisiposi masyarakat dalam pembangunan. menyalurkan aspirasi rakyat. Untuk itu telah dilaksanakan berbagai kegiatan penerangan terutama yang bersifat menggelorakan semangat pengabdian dan perjuangan bangsa. memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional. pameran dan media tradisional.8. Untuk itu melalui Puspenmas diberikan penerangan dan bimbingan. dan peningkatan jumlah frekuensi dari berbagai jenis kegiatan penerangan umum. Dengan adanya kegiatan tersebut. Hal ini secara tidak langsung akan mendidik masyarakat pedesaan agar tidak mudah terpengaruh pada keinginan untuk melakukan urbanisasi. 8. terus ditingkatkan pengembangan pers yang sehat.8. televisi. film. Penerangan Pembangunan di bidang penerangan terutama ditujukan untuk meningkatkan penerangan sampai ke desa-desa. melakukan kontrol sosial yang konstruktif. 8. serta meningkatkan pemeliharaan kesehatan bagi lingkungan. dengan lebih meningkatkan pendayagunaan sarana penerangan seperti radio. bebas dan bertanggung jawab. antara lain dengan memperkenalkan teknologi yang layak dan sesuai dengan perkembangan daerah pedesaan. telah ditingkatkan pula peranserta masyarakat pedesaan dalam pembangunan. yang dilakukan melalui penambahan sarana dan prasarana penerangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 industri pertahanan keamanan. mengembangkan sistem perekonomian yang lebih baik dengan mengutamakan asas gotong royong. Guna meningkatkan peranan pers dalam pembangunan. yang pada gilirannya akan meningkatkan pula pendapatan atau kesejahteraannya. Operasional penerangan Pembangunan operasional bidang penerangan dalam pelaksanaannya mencakup peningkatan peranan pusat penerangan masyarakat (Puspenmas). serta memperluas komunikasi dan partisiposi masyarakat. mengembangkan usaha bersama melalui sistem koperasi. Sejalan dengan itu. juga telah dimantapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 1983 tentang Pembentukan Dewan Pembina dan Pengelola Industri-industri Strategis dan Industri Pertahanan Keamanan. Guna Departemen Keuangan RI 305 . masyarakat pedesaan diharapkan akan dapat menggali dan memanfaatkan sumber-sumber kekayaan yang ada di daerahnya. pees. sehingga dapat menjalankan fungsinya dalam menyebarkan informasi yang obyektif. baik yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan penerangan di dalam negeri maupun di luar negeri.1.

Di samping itu guna menunjang kelancaran pelaksanaan penerangan sampai ke desa-desa. Salah satu kegiatan penerangan yang dilaksanakan secara langsung adalah pameran pembangunan. juga dilengkapi dengan berbagai sarana penerangan antara lain berupa radio kaset. Sarnpai dengan akhir Pelita III.135 unit dan 300 unit.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menunjang usaha tersebut. yang antara lain meliputi peragaan visual. ruang perpustakaan. Hal ini dimaksudkan agar para Jupen tersebut dapat memonitor siaran-siaran Pemerintah. dalarn tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Agustus 1984 telah menjadi sebanyak 25 buah yang tersebar pada 11 ibukota propinsi meliputi propinsi Jawa Timur. penyediaan muviani darat dan muviani air masing-masing telah berjumlah sebanyak 3. serta mobil unit visual mini yang terdiri alas muviani darat dan muviani air. alat-alat duplikasi dan sarana mobilitas penerangan. jumlah Jupen wanita yang secara aktif ikut memberikan penerangan kepada kaum wanita di daerah-daerah pedesaan mencapai 380 orang. baik melalui pameran di tingkat pusat. Sulawesi Selatan. Sehubungan dengan itu apabila dalam tahun 1983/1984 pembangunan gedung Puspenmas baru mencapai sebanyak 11 buah. Sampai dengan bulan Agustus 1984 tahun pertama Repelita IV. Riau. Sumatera Selatan. Sebagaimana halnya dengan Puspenmas. Jawa Tengah. terutarna dalam rangka meningkatkan peranserta wanita dalam pembangunan. mobil unit suara. Jambi. telah ditingkatkan pula penyediaan sarana mobilitas bagi para Jupen. yang untuk selanjutnya dapat menyebarluaskan materi siaran tersebut kepada masyarakat sebelum diterima dokumen lengkapnya. dan pada periode antara tanggal 21 Juni sarnpai dengan tanggal 21 Juli Departemen Keuangan RI 306 . dalam meningkatkan mutu dan peranan juru penerang (Jupen) yang bertugas di kecamatan. yang dalarn penyelenggaraannya terutarna disesuaikan dengan momentum hari-hari bersejarah. mobil unit panggung. yaitu meliputi mobil unit penerangan. yaitu bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional. dalam pembangunan gedung Puspenmas selalu dilengkapi dengan ruang aula. Nusa Tenggara Barat. Hal ini merupakan suatu kegiatan terpadu antara Pemerintah dengan unsur-unsur swasta. Pameran pembangunan di tingkat pusat dilakukan pada setiap tanggal 20 Mei. Dengan demikian sampai dengan tahun pertama repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 pembangunan gedung Puspenmas telah mencapai 275 buah yang mencakup 27 ibu kota propinsi. Timor Timur. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 sebanyak 110 orang. terutama industri kecil. hiburan dan sarasehan/pentaloka. Dalam waktu yang sama juga telah dilaksanakan usaha peningkatan mutu dan peranan daripada Jupen wanita. Selain itu kegiatan tersebut juga berfungsi sebagai salah satu promosi hasil-hasil industri. Bali dan Sulawesi Utara. Jawa Barat. maupun di daerah-daerah sampai dengan tingkat kecarnatan yang dilaksanakan dengan pameran keliling.

perekaman. Radio Dalarn rangka meningkatkan frekuensi dan mutu siaran RRI. terutama yang mempunyai pengaruh langsung terhadap pembangunan di Indonesia.000 eksemplar. jumlah serta frekuensi paket penerangan ke luar negeri yang disalurkan melalui perwakilan-perwakilan Indonesia yang berada di luar negeri. Sedangkan untuk tingkat propinsi. dilakukan pula pameran pembangunan untuk tingkat kabupaten/kotamadya. 8. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama dan persahabatan bagi bangsa-bangsa di kawasan ASEAN khususnya. guna meningkatkan peranserta masyarakat dalam pembangunan maka dalam waktu yang sama telah diberikan 48. dalam tahun pertama Pelita IV antara lain telah dilaksanakan peningkatan sarana penyiaran. terutama yang ditujukan ke daerah-daerah Indonesia bagian timur dan Posifik Selatan. Sedangkan khusus untuk Timor Timur. Dengan demikian minat luar negeri terhadap pelaksanaan pembangunan di Indonesia diharapkan akan semakin meningkat. RRI telah memiliki 301 buah pemancar yang Departemen Keuangan RI 307 . Dalam rangka meningkatkan citra Indonesia di luar negeri. Pengembangan sarana penerangan 8. serta penyelenggaraan siaran wanita dalam pembangunan.2. baik melalui forum pertemuan/sarasehan maupun dengan pengadaan buku/brosur tentang pelaksanaan/perkembangan pembangunan di Indonesia.2. OB Van dan gedung studio/pemancar. pameran pembangunan dilaksanakan pada setiap tanggal 17 Agustus.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berupa Pekan Raya Jakarta. perlombaan bintang radio dan televisi. telah diberikan pembinaan. Selanjutnya pada setiap tanggal 1 Oktober.000 eksemplar brosur/ majalah yang terdiri atas 25 judul.1.8. dalarn tahun 1983/1984 antara lain telah diterbitkan majalah Indonesia Today sebanyak 48. Demikian pula halnya kepada masyarakat Indonesia di luar negeri. terus diusahakan peningkatan mutu. bersamaan dengan peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.000 eksemplar dan Indonesia Spotlight On Event sebanyak 72.000 eksemplar. Indonesia Elyoum sebanyak 18. Dengan demikian sampai dengan bulan Agustus 1984. yang bersamaan dengan dilakukannya peringatan hari Kesaktian Pancasila. penyebaran kaset penerangan dan penyuluhan ke daerah-daerah. dan dunia internasional pada umumnya.8. yang meliputi alat-alat studio/pemancar. dan masyarakat asing yang tinggal di Indonesia. Di sarnping itu juga telah diadakan kompetisi siaran pedesaan. dewasa ini telah dilaksanakan pengudaraan pemancar gelombang pendek dengan kekuatan 250 kilowatt. Selanjutnya guna meningkatkan kekuatan pemancar RRI. isi. Guna menunjang kebijaksanaan tersebut.

Untuk meningkatkan peranserta masyarakat pedesaan dalam pembangunan.000 orang dalam tahun 1983/1984 menjadi 41. Dengan demikian dalam pembinaan selanjutnya akan terus diusahakan agar di setiap desa di seluruh Indonesia terdapat sekurang-kurangnya 1 kelompok pendengar yang tergabung dalam Kelompencapir.2.997 kilowatt. pembangunan studio warna di Ujungpandang. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.8. Dengan demikian secara keseluruhan jumlah stasiun pemancar TVRI yang berhasil dibangun sampai dengan periode tersebut telah mencapai 199 buah. Sehubungan dengan perluasan jangkauan siaran TVRI. Di samping itu juga telah dilaksanakan intensifikasi penggunaan stasiun produksi keliling dalam bentuk mobil unit. Medan dan Palembang. baik mengenai mutu. Dalam pada itu jumlah pendengar siaran pedesaan juga telah meningkat sebesar 5. kelompok dewasa merupakan kelompok pendengar yang paling banyak yakni 28.325 orang dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. sehingga pada gilirannya RRI akan dapat menyatu dan akrab dengan khalayak pendengarnya. Selanjutnya untuk meningkatkan sarana produksi dan jangkauan siaran TVRI.609 kilometer. kemudian diikuti oleh kelompok pemuda dan kelompok wanita yang masing-masing mencapai 6. terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah meningkat menjadi Departemen Keuangan RI 308 . pengadaan 10 unit stasiun produksi keliling. Dari jumlah tersebut.902 orang. dilakukan secara terpadu dengan kelompok pembaca dan pemirsa (Kelompencapir). Televisi Dalam rangka meningkatkan daya jangkau penerangan dan pengembangan siaran di seluruh pelosok tanah air melalui televisi.609 orang. yaitu dari 39. terutama dalam rangka menggali potensi seni budaya bangsa yang tersebar di berbagai daerah.814 orang dan 5. telah dibangun lagi 10 buah stasiun pemancar. terus ditingkatkan siaran pedesaan baik mengenai mutu maupun isinya. serta pembangunan 189 stasiun pemancar. sampai dengan akhir Pelita III telah dapat diselesaikan pengembangan tahap pertama studio produksi TVRI di Jakarta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tersebar pada 49 stasiun di seluruh Indonesia dengan kekuatan terpasang sekitar 2.4 persen. Kegiatan pembinaan kelompok pendengar siaran pedesaan.2. 8. terdiri dari 244 jam per minggu yang disiarkan melalui 48 buah Radio Republik Indonesia (RRI) dan 240 jam per minggu yang disiarkan melalui 108 buah Radio Pemerintah Daerah (RPD). Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. apabila dalam tahun 1983/1984 luas daerah jangkauannya baru mencapai 495. isi maupun persentase siarannya. jumlah jam siaran pedesaan telah ditingkatkan sehingga mencapai 484 jam dalam satu minggu.

9 JUMLAH STUDIO.900 42 1975/76 6 26 542.500 90 1982/83 9 186 2.740 1970/71 800 800 300 1.600 95. Pesawat televisi (buah) 4.000 82 1978/79 9 82 1.180 229.038 1979/80 5.572 25.100 80.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 534.980 1976/77 4.000 1973/74 2. jumlah produksi serta kelancaran peredaran dan pemasaran fIlm Indonesia. rasa persatuan dan tanggung jawab di antara organisasi profesi.020 2.011 18.420 7.000 34.500 5.500 40 1973/74 6 22 351.000 419. saling pengertian.970 1972/73 930 800 270 2. dalam periode yang sama telah meningkat dari 95. Luas dalam jangkauan (Km2) 18.1984/1985 Jam siaran Hiburan Berita/penerangan/ pendidikan /kebudayaan Lain .8 dan Tabel VIII. Demikian pula jumlah penduduk yang telah terjangkau oleh siaran TVRI.2 juta orang.000 82 1979/80 9 89 1. Selanjutnya dalam rangka peningkatan produksi film.000 85 1980/81 9 107 2.323 1981/82 6.1984/1985 Uraian 1.719 1982/83 6.100.700 470 4.461 731 15.808 kilometer. yang sekaligus terkandung penertiban judulnya.600 95.030 1975/76 1.890 495. LUAS DAERAH DAN JUML_H PENDUDUK DALAM DAERAHPANCARAN TVRI.5 1974/75 6 23 410.lain Jumlah 1) Angka sementara 1969/70 680 800 260 1.000 36. Sedangkan jumlah pesawat televisi yang terdaftar pada kantor pos dan giro dalam tahun yang sama telah mencapai 5.000 72. Nopember 1828.572 25. Sehubungan dengan usaha regenerasi pewarisan nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa.405.578 1983/84 1984/85 1) 7.808 115.2 8.508 17.026 2. Jaka Sembung.2. Stasion pemancar (buah) 3. baik dalam memenuhi kebutuhan di dalam negeri maupun di luar negeri.944 18.5 1971/72 4 8 190.719 1980/81 5.435 519 25. TabeI VIII.8. action serta film khusus untuk anak-anak dan remaja.500 26. di Pusat Produksi Film Negara (PPFN) pada saat ini telah dan sedang di produksi film-film sejarah seperti Serangan Fajar.433.780 1974/75 3.9.439 11.232 2.100 40. 8 JUMLAH JAM SIARAN TELEVESI MENU RUT JENIS SIARAN.915 17.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. PESAWAT TELEVISI.600 73 1976/77 6 34 632.232 2.5 1972/73 4 10 220.126.610 1. 1969/1970 . terus diusahakan terciptanya mekanisme kerjasama. Perfilman nasional Peningkatan dan pembinaan bidang perfilman nasional terutama ditujukan untuk meningkatkan citra. mutu.900 1971/72 900 800 270 1.261 514 25.308 495.410 600 6. agar film/rekaman video produksi nasional dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Perkembangan sarana dan jumlah jam siaran TVRI menurut jenis siaran dapat diikuti pada Tabel VIII.000 24. Kartini.5 juta orang menjadi 115.827 427.432 buah atau sebesar 1. Departemen Keuangan RI 309 .965 7.504 25.011 18. Guna mewujudkan iklim yang sehat bagi perkembangan industri perfilman dan rekaman video.100 1977/78 3.433.740 4.030 650 12.000 22. STASI_N PEMANCAR.470 72. sedangkan film/rekaman video impor hanya berfungsi sebagai pelengkap.000 406.9 1977/78 9 70 895.000 87 1981/82 9 124 2.000 400.5 1970/71 3 4 135. maka kemampuan mekanisme tata peredaran film/rekaman video nasional terus ditingkatkan.631 1978/79 5.519 17.5 1983/84 1984/85 2) 9 189 5. yang berarti telah meningkat dengan 90. Penduduk dalam daerah pancaran (juta orang) 1 ) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1969/70 2 4 80.971. Sehubungan dengan itu.740 534.500 36.435 519 25.680 560 6.965 Tabel VIII. 1969/1970 .343.940 174. komedi.430 75. Lebak Membara.5 9 199 5. Studio (buah) 2.599.3. pelaksanaannya diarahkan pada tercapainya suatu keseimbangan di antara tema-tema fIlm yang diproduksi.740 buah. seperti film drama.906 18.160 512 25.

film-film Indonesia telah diikutsertakan dalam festival dan pekan film internasional. Berlin. Kereta Api Terakhir dan Sejarah Orde Baru. 21 Tahun 1982.4. Se1anjutnya dalam rangka meningkatkan mutu penyajian film. Selanjutnya untuk lebih memperkenalkan budaya bangsa Indonesia di luar negeri.8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Kamp Tawanan Wanita. 8. Selama Pelita III. 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Departemen Keuangan RI 310 . Cannes. Dengan te1ah dilaksanakannya peningkatan di bidang pertunjukan. Selama Pelita III. Hongkong. film dokumenter nasional dan film dokumenter/iklan yang dibuat orang asing. Singapura dan Brunai. di samping setiap tahun juga diikutsertakan dalam Festival Film Asia dan Festival Film ASEAN secara rutin. 76 judul dan 40 judul. sehingga dapat menampung penonton sebanyak 3 kali lebih besar dibandingkan dengan pertunjukan film yang dalam penyajiannya menggunakan teknik biasa. terus ditingkatkan usaha menghidupkan film produksi nasional. sejak tahun 1983/1984 PPFN telah diperkenalkan film Cinerama. jumlah ekspor film Indonesia ke luar negeri telah mencapai sebanyak 22 judul. Pers Peningkatan pembinaan di bidang pers terutama ditandai dengan telah ditetapkannya Undang-Undang No. yang merupakan perubahan alas Un dangUndang No. sejak tahun 1984/1985 diproduksikan fIlm dengan menggunakan sistem Imax yaitu suatu teknologi perfilman yang menggunakan sistem proyektor 70 mm/6 sound track. di sampingjuga telah diproduksi film iklan. Sementara itu guna meningkatkan usaha promosi dan pemasaran film Indonesia ke luar negeri. Dalam hubungan ini. masing-masing sebanyak 16 judul. disediakan 30 copy dengan perincian 27 copy untuk Daerah Tingkat I dan 3 copy untuk arsip nasional. Los Angeles dan Milano.2. London. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah dihasilkan 46 judul. di samping juga sebagai film pendidikan bagi generasi muda. yaitu ke Malaysia. selama Pelita III telah diikuti festival dan pekan film internasional di Manila. Selanjutnya agar film tersebut dapat mencapai peredaran di dalam negeri selama dua tahun. Sedangkan untuk peredaran di luar negeri me1alui 59 kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) telah disediakan 60 copy. yaitu suatu film yang dalam penyajiannya menggunakan layar lebar dan membentuk 180?. Sedangkan dalam tahun 1984 antara lain telah diselenggarakan Festival Film Indonesia (FFI) di Yogyakarta dan Festival Film ASEAN XIV di Jakarta. te1ah diproduksi film ceritera nasional sebanyak 337 judul yang berarti rata-rata dapat diproduksi sebanyak 67 judul per tahun. Adapun film Sejarah Orde Baru dimaksudkan untuk meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap bahaya laten PKI.

secara bertahap telah ditingkatkan pelaksanaan program koran masuk desa (KMD) baik kualitas maupun kuantitas. sehingga dengan adanya KMD tersebut benar-benar akan dapat memberikan motivasi kepada masyarakat pedesaan untuk ikut berpatisiposi dalam pembangunan.1. di samping itu juga untuk mempertebal semangat dan gairah partisiposi masyarakat dalam meningkatkan hasil guna dan clara guna kegiatan pembangunan di daerah.000 eksemplar melalui 16 penerbit. Sejalan dengan Trilogi Pembangunan.9. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah dapat diedarkan sebanyak 397.9. 44 Tahun 1967. Di samping itu guna meningkatkan pelaksanaan KMD telah dibentuk pula kelompokkelompok pembaca di daerah pedesaan. khususnya yang mempunyai hubungan secara langsung dengan tugas di bidang pembangunan desa. saat ini sedang dilaksanakan pembahasan rancangan perubahan mengenai Sural Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) oleh Dewan Pers. serta dalam rangka pelaksanaan interaksi positif. Bantuan pembangunan daerah 8. pers dan masyarakat. 8. terus ditingkatkan penyelenggaraan forumforum dialog antara Pemerintah. yang kemudian ditingkatkan melalui kegiatan kerjasama dengan berbagai lembaga. kegiatan tersebut antara lain ditujukan pada pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh tanah air.1 Tahun 1984 tentang Dewan Pers. Pembangunan desa. terutama dalam mewujudkan adanya pers yang bebas dan bertanggung jawab. Sementara itu guna meningkatkan pemerataan informasi ke daerah-daerah pedesaan. sedangkan dari segi kuantitas peningkatannya nampak dari penambahan jumlah oplag. Selain itu sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No. Sedangkan guna mengembangkan kebutuhan informasi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Undang-Undang No. Sesuai dengan arab pembangunan daerah tersebut.000 eksemplar dari 50 penerbit dan tersebar pada 26 propinsi. 21 Tahun 1982.675. Selanjutnya sebagai pelaksanaannya telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. Sehubungan dengan itu. Dari segi kualitas dicerminkan dalam peningkatan kemampuan mengelola KMD melalui penataran-penataran. serta peningkatan laju pertumbuhan setiap daerah. dalam tahun 1983/1984 melalui program KMD telah dapat diedarkan koran sebanyak 8. yaitu sebuah lembaga yang akan mendampingi Pemerintah dalam membina dan mengembangkan pers nasional. daerah tingkat I dan daerah tingkat II Kebijaksanaan yang ditempuh di bidang pembangunan daerah dalam tahun 1983/ 1984 merupakan kelanjutan dan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. maka dalam Pdita IV pembangunan pedesaan ditujukan untuk Departemen Keuangan RI 311 .

dilakukan juga pembangunan desa melalui sistem Unit Daerah Kerja Pembangunan (UDKP). jumlah desa yang telah menjadi pemenang perlombaan desa. desa tingkat kecamatan dari 27 propinsi. serta berada di wilayah perbatasan/kepulauan dan radar penduduk. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan yang positif bagi desa-desa lainnya agar lebih giat melaksanakan pembangunan. terbelakang. menjadi desa swasembada. desa-desa di 27 propinsi yang telah menjadi pemenang perlombaan desa kini dapat mengembangkan desanya secara lebih cepat dan baik. yang pada gilirannya akan dapat memantapkan ketahanan nasional. Dengan demikian kedudukan desa sebagai obyek pembangunan berubah menjadi subyek pembangunan yang berketahanan di semua bidang. Sebagai hasilnya. agar kecamalan-kecamatan tersebut dapat berkembang sesuai dengan kecamatan lainnya. sistem UDKP ini telah dilaksanakan pada 2. pembangunan di wilayah kecamatan melalui sistem UDKP tersebut diutamakan pada kecamatan yang tergolong miskin. Sejalan dengan pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah tanah air. Usaha ini merupakan penerapan sistem penyusunan rencana daTi bawah. musyawarah LKMD.385 desa yang telah menjadi desa swasembada.045 kecamatan yang tersebar di 27 propinsi daerah tingkat I. Untuk itu telah dilakukan evaluasi terhadap tingkat perkembangan desa.5 persen per tahun. minus. Sedangkan untuk mendorong desa-desa agar lebih giat melaksanakan pembangunan desanya. serta rapat koordinasi pembangunan. Selain itu di wilayah kecarnatan UDKP telah dilaksanakan pula berbagai kegiatan. karena dalam jangka panjang desa-desa di seluruh Indonesia akan dikembangkan menjadi desa swasembada.429 kepala urusan pembangunan. diskusi UDKP dan temu karya LKMD di tingkat ke carnatan . yang disesuaikan dengan kebutuhan dasar masyarakat desa yang berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. yang merupakan satu sistem terkecil dalam administrasi pemerintahan dan ekonomi. Sampai dengan tahun 1983/1984.7 persen per tahun. Kepada desadesa yang mencapai prestasi tinggi dan menjadi pemenang perlombaan diberikan penghargaan dan hadiah dalam bentuk proyek.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 mempercepat pertumbuhan desa. berjumlah 11. baik di tingkat kabupaten/kotamadya daerah tingkat II maupun di tingkat propinsi daerah tingkat I. baik di tingkat kabupaten/kotamadya maupun di tingkat propinsi. telah diselenggarakan perlombaan desa. antara lain penataran terhadap 1. rawan.757 desa. Sejalan dengan itu telah dilaksanakan pula penempatan 1. Melalui sistem UDKP. jumlah desa swasembada pada. kecamatan UDKP rata-rata meningkat 6. Hasil evaluasi dan monitoring di bidang perkembangan desa sampai dengan tahun 1984/1985 menunjukkan adanya 16. serta kursus bagi 3. Sampai dengan tahun 1983/1984.183 TKS-BUTSI. sedangkan pada Departemen Keuangan RI 312 . atau suatu peningkatan rata-rata sebesar 3.093 orang camat UDKP.

penerapan pola tatadesa di 672 desa. pemukiman kembali penduduk dan penciptaan lapangan kerja. Berkaitan dengan itu telah dilakukan survai pendahuluan tatadesa pada 1. Adapun untuk pengembangan teknologi desa telah diberikan latihan kepada 734 orang anggota masyarakat. kategori berkembang sebanyak 25.876 kecamatan. siaran pedesaan melalui RRI dengan 41.2 persen per tahun. Jumlah tersebut menurut tingkat perkembangannya dapat dike1ompokkan ke dalam 3 kategori. survai/pengkajian identifikasi masalah tatadesa di 6 kecarnatan yang meliputi 90 desa dan penyuluhan mengenai teknis pola tatadesa terhadap 216 tokoh masyarakat desa. konstruksi dan material. Dalam sistem UDKP tersebut. Selain kegiatan tersebut.ertambah dengan sebesar 3. Inpres. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan fungsi LKMD. terutama untuk desa-desa yang terbelakang. sampai dengan tahun 1983/1984 telah diberikan dana paket UDKP kepada 1. regional. pangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kecamatan non UDKP rata-rata hanya b. Melalui inpres bantuan pembangunan desa. Dalam pada itu peningkatan jumlah proyek/program sektoral. telah dilaksanakan pula penyuluhan dan peningkatan motivasi. telah dibentuk sebanyak 63. telah diikuti oleh 42.194 LKMD. sedangkan latihan guna meningkatkan keterampilan dalam pembangunan/pemugaran perumahan desa. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk latihan sosio drama yang diikuti oleh 9. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan peranserta aktif swadaya masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan hidup dan pembangunan desanya. pementasan kegiatan LKMD melalui TVRI.237 orang. Sedangkan guna penerapan dan pengembangan teknologi pedesaan telah dilakukan identifikasi spesifik terhadap 46 jenis teknologi pedesaan yang telah berhasil diterapkan dan dikembangkan.380 kelompok pendengar. telah dikembangkan pula sebanyak 4.207 LKMD. dan swadaya masyarakat yang mengisi kecarnatan dengan sistem UDFY terse but rata-rata adalah sebanyak 25 proyek. Selain itu guna mempercepat terwujudnya LKMD yang aktif berfungsi dalam pelaksanaan pembangunan.488 orang. serta melalui penerbitan dan Departemen Keuangan RI 313 .755 LKMD percontohan yang diharapkan akan menjadi LKMD teladan.4 persen dari 66.575 peserta dan kelompok kesenian rakyat.297 LKMD dan kategori aktif berfungsi sebanyak 28.698 LKMD atau sekitar 94. yaitu kategori posif sebanyak 10.040 kecamatan. juga terkait kegiatan penerapan pola tatadesa dan pengembangan teknologi pedesaan.315 orang. yakni meliputi bidang energi. Sampai dengan tahun 1983/1984. telah dibentuk pula lembaga ketahanan masyarakat desa (LKMD). pertanian. telah dilaksanakan latihan bagi pelatih/instruktur PL-LKMD yang diikuti 6. dan bagi kader LKMD-KPD yang diikuti 57.448 desa yang ada di Indonesia. di samping juga penetapan dan pemilihan 63 orang perugas teknologi pedesaan (PL TP) dan 345 orang kader teknologi pedesaan.

gorong-gorong. 'yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di daerah-daerah bersangkutan.935 buah. bendungan. penggunaan bantuan tersebut diarahkan pada proyekproyek yang dapat memperbaiki lingkungan hidup perkotaan.598 orang. sehingga dalam tahun 1983/1984 sebanyak 66. masing-masing sebesar 61.890 rumah yang tersebar pada 1. Dalam waktu yang sarna hasil pelaksanaan Inpres pembangunan desa telah mencakup 106. perhubungan. Kegiatan lain yang erat kaitannya dengan pembinaan LKMD adalah pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). yang terdiri atas prasarana produksi.4 persen.831 buah.441 proyek. bantuan diarahkan pada pembangunan baik prasarana fisik. telah diberikan bantuan yang besarnya didasarkan atas jumlah penduduk. Di samping itu guna meningkatkan peranan masyarakat dalam menunjang program dasawarsa air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman. terus ditingkatkan jumlah bantuan yang diberikan kepada setiap desa. Untuk meningkatkan taraf hidupdan kesejahteraan penduduk di pedesaan serta guna mempercepat pembangunan pedesaan. Pemerintah daerah dan swadaya masyarakat. Untuk daerah perkotaan. Sedangkan sejak dimulainya kegiatan pemugaran perumahan dan lingkungan desa. Bantuan tersebut ditujukan untuk penciptaan dan perluasan lapangan kerja di daerah-daerah. maupun proyek-proyek lain seperti pengembangan potensi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. yakni dalam tahun 1976/1977 sampai dengan bulan Agustus 1984. yang diikuti oleh 2. telah dilakukan pula penyuluhan dan latihan bagi 21 orang petugas lapangan di Tangerang. terutama lingkungan hidup masyarakat yang berpenghasilan Departemen Keuangan RI 314 .3 persen dan 38. masing-masing sebanyak 30. Untuk itu dibentuk kaderkader PKK melalui penyelenggaraan kursus-kursus PKK.430 orang meliputi 27 propinsi dan terdiri dari 54 kabupaten/kotamadya. 0. Berkaitan dengan pemukiman kembali penduduk desa. dan saluran pembawa. yang sampai dengan tahun 1983/1984 telah diikuti oleh 290. 3.896 lokasi/desa di 26 propinsi. Untuk mencapai tujuan tersebut.437 desa telah memperoleh bantuan sebesar Rp 91.6 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penyebaran folder/poster/brosur-brosur penyuluhan.669 KK pada 5'Ollokasi di 21 propinsi. Untuk membantu pelaksanaan pembangunan di daerah tingkat II. jembatan. peningkatan dan pembangunan berbagai jenis prasarana fisiko perekonomian dan lingkungan.583 buah dan 54.3 persen. yakni melalui usaha perbaikan. pemasaran dan sosial. sejak tahun 1972/1973 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dimukimkan kembali penduduk sebanyak 29. seperti jalan. 17. Proyek-proyek tersebut dibangun melalui bantuan Pemerintah pusat. telah dilaksanakan pemugaran 46.092 buah. Jawa Barat dan 32 orang di DI Yogyakarta. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan' bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan latihan/kursus bagi tim penggerak PKK tingkat propinsi dan kabupaten/kotamadya.

022 meter. politik.000.658 meter.3 kilometer. Di samping bantuan pembangunan daerah tingkat II tersebut.393.174 hektar dan 6. serta penghijauan dan pencegahan banjir. yang jumlah penduduk dan tingkat produktivitasnya cukup tinggi.415 kilometer. selain untuk pembangunan dan pengembangan terhadap kota tersebut.414 kilometer. maka pelaksanaan pembangunan daerah lebih meningkat lagi sesuai dengan prioritas kebutuhannya.9 kilometer dan bangunan pengairan lainnya sebanyak 664 buah yang dapat mengairi areal seluas 44.880.728. mulai tahun 1979/1980 diberikan pula bantuan penunjangan jalan kabupaten. administrasi.082 buah. selain juga untuk perbaikan dan penyempurnaan irigasi yang terdiri dari bendungan sebanyak 56 buah dan saluran sepanjang 280. yang ditujukan untuk membantu daerah tingkat II untuk membangun jalan yang menghubungkan daerahdaerah terpencil. masing-masing seluas 38. riol sepanjang 434.5 meter.225.juta telah dibangun sebanyak 2. serta penggantian gorong-gorong sepanjang 59.9..2 kilometer. stasiun bus dan pelabuhan sungai.6 kilometer.2 kilometer dan 16. dalam tahun 1983/1984 telah berhasil dilaksanakan penunjangan jalan sepanjang 7. masing-masing sebanyak 23 buah dan 11 buah.748. Dengan bantuan tersebut. sosial.1 kilometer dan 3. juga dimaksudkan untuk peningkatan pelayanan umum dan perbaikan Departemen Keuangan RI 315 . kebudayaan.487 meterkubik. masing-masing sepanjang 7.352. Dalam tahun 1983/1984 telah dibangun prasarana perhubungan meliputi jalan sepanjang 17.321. 8.4 hektar. Sedangkan melalui dana Inpres bantuan pembangunan daerah tingkat I sebesar Rp 253. saluran pembawa sepanjang 13.7 kilometer.707 meter.916. Sementara itu dalam rangka pemeliharaan pengairan antara lain telah dilakukan pembangunan bangunan air sebanyak 112. Sejalan dengan itu telah dibangun pula fasilitas eksploitasi sebanyak 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rendah. pembangunan jembatan sepanjang 14. jasa dan pusat pemerintahan juga semakin besar. masing-masing sepanjang 61.604 buah proyek.2. serta tanggul banjir dan jaringan telepon. dan jembatan sepanjang 27. masing-masing sepanjang 5.8 kilometer dan 8. kegiatan ekonomi. Oleh schab itu.741. peranan kota sebagai pusat pemukiman. serta saluran pembawa dan pembuang. Bantuan tersebut antara lain digunakan untuk pemeliharaan jalan dan jembatan. serta prasarana pengairan bernpa bendungan sejumlah 121.315 meterpersegi. telah dilakukan usaha pembinaan dan pengembangan perkotaan yang bertujuan.907 buah. Selain itu juga telah dibangun pasar seluas 77. Tatakota dan tatadaerah Sejalan dengan proses pembangunan yang terus berlangsung.227 meter. Dengan semakin meningkatnya bantuan kepada Dati I. penunjangan jembatan sepanjang 5.928 hektar.

Di samping itu juga dilakukan peningkatan kemampuan di bidang perencanaan kota melalui kursus yang diselenggarakan oleh Badan kerjasama Antar Kota Seluruh Indonesia (BKS-AKSI). dan Bekasi. Lahat. Kota Baru dan Amuntai. Pangkalan Brandan.2. ditempuh kebijaksanaan yang antara lain meliputi pembinaan reneana kota. Untuk mencapai tujuan tersebut. tertib penggunaan tanah. pendaftaran tanah. Watampone.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kondisi lingkunganpemukiman yang aman. Langsa. telah dilakukan pula pembentukan kota administratif sebanyak 28 buah di seluruh Indonesia. Dalam rangka pembinaan pengelolaan air minum. pengembangan landreform serta Departemen Keuangan RI 316 . Sementara itu dalam pembinaan reneana kota telah dilakukan kegiatan pengembangan kota Metropolitan Jakarta yang meliputi penyusunan rencana induk kota DKI Jakarta tahun 1985 . Sampit. Bima. Palopo. 8. Lhokseumawe dan Pariaman. Selain itu juga telah disusun kerangka acuan kerja bantuan teknik bagi kota Semarang (Semarang Raya).9. Atas dasar hasil pengumpulan data tersebut. telah dilaksanakan pengumpulan data/bahan-bahan yang meneakup masalah air minum di seluruh Indonesia. serta rencana induk kota Tangerang. yang pengembangannya disesuaikan dengan pokok-pokok kebijaksanaan pengembangan wilayah Jabotabek. Berkaitan dengan pembinaan pemerintahan kota. 75 buah Badan Pengelola Air Minum (BPAM).005. Ujungpandang (Mamimasa Ora) dan Denpasar. Cibinong. Metro. 30 buah Dinas Air Minum dan 27 buah Seksi Air Minum. pembinaan pengelolaan air minum dan pembinaan pemerim:ahan kota. tertib da sehat bagi seluruh warganya. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah terdapat sebanyak 136 buah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). baik dengan kota-kota di luar negeri maupun dengan organisasillembaga intemasional perkotaan di luar negeri. Rantau Prapat. Kuala Kapuas. pemberian bantuan teknis dan biaya dalam jumlah terbatas kepada daerah tingkat II yang akan melakukan reneana induk kotanya. Bontang. Tata agraria dan tataguna tanah Kegiatan program tataagraria seiring dengan program tataguna tanah ditujukan untuk meneiptakan tertib hukum pertanahan. Curup. tertib administrasi pertanahan. Kota Banjar. Selanjutnya dalam rangka pengembangan perkotaan telah dilakukan pula pembinaan kerjasama antara kotakota di dalam negeri. Sejalan dengan itu dilakukan pula persiapan penyusunan rencana kota yang dikaitkan dengan program bantuan bagi 57 kota. penyusunan raneangan peraturan Pemerintah mengenai pembentukan kota administratif Kota Bumi.3. Untuk itu telah dilakukan penertiban dan peningkatan pengurusan hak-hak atas tanah. serta tertib pemeliharaan tanah dan lingkungan. Selain itu telah dilakukan penelitian tentang reneana pembentukan kota administratif Sarong.

dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah diselesaikan sebanyak 34. juga telah diselesaikan penyusunan rencana tataguna tanah Dati II di 250 kodya/kabupaten. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Juli 1984 telah diselesaikan sebanyak 171.-. perhifungan produktivitas tanah di 199 kabupaten. Sedangkan hasil-hasil yang telah dicapai dalam kegiatan pengembangan land reform sampai dengan akhir Pelita III antara lain meliputi identifikasi penguasaan pemilikan tanah pertanian pedesaan di 21 desa.281.078 KK. serta peningkatan tertib administrasi landreform terhadap 80. pelaksanaan redistribusi tanah seluas 665. serta ditujukan untuk peningkatan pelayanan terhadap penyiapan daerah transmigrasi.160 ribu hektar.-.960 ribu hektar.716.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 proyek operasi nasional agraria (Prona). dengan jumlah pemasukan uang kepada negara sebesar Rp 1. Di samping pemetaan penggunaan tanah.094 hektar. pemetaan kemampuan tanah dengan skala 1: 100 ribu dan 1:50 ribu. pemetaan penggunaan tanah perkotaan. pengembangan tataguna tanah pada umumnya merupakan kelanjutan daripada kegiatan tahun sebelumnya yang meliputi pembuatan peta kerja. pemetaan penggunaan tanah pedusunan. serta monitoring rencana tataguna tanah Dati II. 78.611. monitoring lokasi daerah miskin di 246 kabupaten. Hasil yang dicapai di bidang pengembangan tataguna tanah sampai dengan Pelita III meliputi pembuatan peta kerja dengan skala 1:25 ribu seluas 7. pemetaan kemampuan tanah. 14. Selain itu juga mencakup peningkatan inventarisasi dan evaluasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup.760 ribu hektar.592 ribu hektar. Adapun dari hasil penertiban dan peningkatan pengurusan hak-hak atas tanah. 1:50 ribu dan 1:25 ribu. 1: 100 ribu. Dalam tahun 1983/1984. penguasaan. masing-masing seluas 9.088 ribu hektar dan 44. 194 kota kabupaten dan 485 kola kecamatan. penggunaan.652. dan pemilikan tanah. dan monitoring rencana tataguna tanah Dati II di 250 kabupaten/kodya. perencanaan tataguna tanah Dati II.833. penertiban perjanjian bagi hasil pada 52 kabupaten. Program pembangunan tataguna tanah terutama diarahkan pada daerah-daerah minus dan padat penduduknya.512. monitoring lokasi daerah miskin. penyelesaian sengketa sebanyak 114 kasus. serta pengendalian penggunaannya.302 surat keputusan hak tanah.264 ribu hektar. perhitungan produktivitas tanah. masing-masing seluas 11. Sementara itu telah dilakukan pemetaan penggunaan tanah perkotaan pada 64 kotamadya/kota administratif.494 ribu hektar dan 70. Departemen Keuangan RI 317 . serta pemetaan penggunaan tanah pedusunan dengan skala 1:200 ribu.053 sural keputusan hak tanah dengan penerimaan negara sebesar Rp 6. penyediaan sarana dan cara penataan kembali.

700 -658.400 Departemen Keuangan RI 318 .900 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Lampiran 1 PERKIRAAN PENERIMAAN NEGARA TAHUNANGGARAN 1985/1986 (dalam jutaan rupiah) JENIS PENERIMAAN A.479. Bantuan Proyek JUMLAH 717.100 7.074.700 9. Penerimaan Bukan Pajak B.2. Pajak Lainnya 7.200 3. Bea Masuk dan Cukai 3.2. PENERIMAAN DALAM NEGERI I. 2.200 1.Cukai tembakau . Pajak Penghasilan 1.1.010.400 731.700 -226.368.100 70.Cukai lainnya 4. Pajak penghasilan perseorangan .200 23.400 1. PENERIMAAN PEMBANGUNAN 1.046. Pajak Penghasilan Minyak Bumi 2.100 -314.600 2.Hasil potongan penghasilan Pekerjaan .Cukai .Hasil pungutan kegiatan usaha .400 -294.159. Pajak Ekspor 5.600 1.677. Penerimaan di Luar Minyak Bumi dan Gas Alam 1.276.297.000 -98.Badan usaha swasta .000 797.Badan usaha milik negara .Ipeda 6.680. Pajak penghasilan badan .518.000 JUMLAH 18. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah 3.680. royalty Dan sebagainya.300 -570.Hasil potongan bunga deviden.000 -1. Penerimaan Minyak Bumi dan Gas Alam 1.700 167.666. Pajak Penghasilan Gas Alam II.100 963.1.300 -865.300 101.Usaha dan pekerjaan 1. Bea Masuk 3.400 96. Bantuan Program 2.900 4.900 11.

penertiban dan perluasan wajib pajak.peningkatan kegiatan penagihan atas tunggakan-tunggakan pajakpenghasilan. 1. PENERIMAAN DALAM NEGERI I. PENERIMAAN MINYAK BUMI DAN GAS ALAM Faktor-faktor yang diperhitungkan : produksi minyak diperkirakan sebesar 1.penertiban dan perluasan wajib pajak.1S9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 DASAR PERHITUNGAN UNTUK PERKlRAAN PENERIMAAN NEGARA RAPBN 1985/1986 A.perluasan dasar pengenaan pajak. . .berkembangnya kegiatan usaha produksi dan perdagangan.1.1. . II. .peningkatan kesadaran dari para wajib pajak. dan 100 ribu barrel kondensat sehari harga rata-rata ekspor minyak mentah Indonesia diperkirakan sebesar US $ 29. . maka diperkirakan penerimaan yang berasal dari pajak hasil potongan penghasilan pekerjaan dapat mencapai Rp 570. Berdasarkan hal-hat tersebut.timbulnya perusahaan-perusahaan baru dan perluasan perusahaan yang ada sehingga memperluas lapangan kerja. .peningkatan penghasilan masyarakat. .1. Pajak penghasilan 1.penertiban dan perluasan jumlah wajib pajak dengan intensifikasi pemungutan melalui verifikasi yang mendalam.penagihan yang lebih intensif atas tunggakan-tunggakan pajak. maka penerimaan minyak bumi dan gas alam diperkirakan sebesar Rp'11.perluasan dasar pengenaan pajak. . 319 Departemen Keuangan RI .7 milyar. . .1. PENERIMAAN DI LUAR MINYAK BUMI DAN GAS ALAM 1.peningkatan mutu aparat pajak.3 juta barrel minyak mentah sehari.batas pendapatan tidak kena pajak sesuai dengan UndangUndang Pajak Penghasilan. .50 per barrel. . Pajak penghasilan usaha dan pekerjaan Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : .7 milyar.2.peningkatan penghasilan dan kegiatan usaha perseorangan. Pajak penghasilan perseorangan Faktor-faktor umum yang diperhitungkan : . 1. Pajak hasil potongan penghasilan pekerjaan Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : .peningkatan verifikasi sehingga dapat ditagih pajak yang seharusnya dipungut. . Berdasarkan pertimbangan di atas.perluasan dasar pengenaan pajak.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas diperkirakan pajak penghasilan badan usaha milik negara sebesar Rp 658.penagihan yang lebih intensif atas tunggakan-tunggakan pajak. . 1.6 milyar. Pajak hasil pungutan kegiatan usaha Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : . . Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : .2. 1. 1. .4. 1. . Pajak penghasilan badan usaha swasta Dalam penerimaan ini termasuk pula pajak penghasilan atas laba yang/diperoleh badan aging yang ada di Indonesia. .3.perluasan dasar pengenaan pajak. .kesadaran wajib pajak yang semakin baik yang mendorong perusahaan untuk lebih terbuka dalam pembukuannya. royalty dan sebagainya.batas PTKP sesuai dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan. dividen. 1. diperkirakan penerimaan pajak penghasilan usaha dan pekerjaan dapat mencapai jumlah Rp 226. .0 milyar. Pajak penghasilan badan Faktor-faktor umum yang diperhitungkan : .1 milyar.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 - pemeriksaan pembukuan yang lebih intensif atas jumlah laba perusahaan. Berdasarkan faktor-faktor di atas. Berdasarkan faktor-faktor di atas. . diperkirakin pajak penghasilan badan usaha swasta sejumlah Rp 1. Pajak penghasilan badan usaha milik negara Faktor-faktor yang diperhitungkan : .4 milyar.2.2. .010.intensifikasi pemungutan pajak.timbulnya perusahaan-perusahaan baru. .perusahaan negara. .pemeriksaan pembukuan yang lebih intensif atas jumlah laba perusahaan. Departemen Keuangan RI 320 .berkembangnya kegiatan usaha produksi dan perdagangan.2.peningkatan penghasilan dari badan-badan usaha swasta.berkembangnya kegiatan ekonomildunia usaha. maka diperkirakan dapat diperoleh pajak hasil pungutan kegiatan usaha sebesar Rp 314.naiknya penghasilan perusahaan-perusahaan.1.2.peningkatan keuntungan daripada perusahaan negara.kegiatan usaba yang memperoleh pembayaran untuk barang dan jasa dari anggaran belanja negara.kegiatan usaha di bidang impor. . Berdasarkan hal-hal tersebut di atas.penertiban administrasi dan organisasi perusahaan .penertiban dan perluasan jumlab wajib pajak. Pajak hasil potongan bunga.penertiban dan perluasan wajib pajak.

peningkatan clara beli masyarakat dengan naiknya pendapatan nasional. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah.1 milyar. maka penerimaan bea masuk diperkirakan dapat mencapai Rp717.pengenaan pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM). pembayaran bunga dan royalty.peningkatan usaha pemungutan cukai berupa penyerasian pita cukai dengan perkembangan harga jualnya. royalty dan sebagainya diperkirakan akan mencapai sebesar Rp 294.1 milyar.0 milyar 3.pencegahan dan pemberantasan pita rokok palsu dan rokok tidak berpita cukai. Berdasarkan faktor-faktor di atas maka penerimaan pajak hasil potongan bunga. . . Cukai tembakau Hal-hal yang dapat mempengaruhi penerimaan cukai tembakau adalah : . Cukai 3. Cukai lainnya Cukai lainnya terdiri dari cukai gula.2. Bea masuk Perkiraan penerimaan bea masuk didasarkan alas hal-hat sebagai berikut: .1.. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan adalah : . .perkembangan tata niaga impor. . . Departemen Keuangan RI 321 .perkembangan perekonomian khususnya pacta sektor pertanian. dividen. . 3.perluasan jumlah wajib pajak dan intensifikasi pemungutan melalui verifikasi yang lebih ketat atas penyerahan barang-barang dan jasa. Berdasarkan hal-hat tersebut.2.2 milyar.penyelesaian tunggakan-tunggakan cukai. 3.peningkatan produksi rokok dan hasil-hasil tembakau lainnya. perdagangan dan jasa.2.tarip rata-rata bea masuk diperkirakan sebesar 13. Berdasarkan hal-hat tersebut di alas.0 persen.4 milyar Bea Masuk dan Cukai 3. .1. . .2. cukai bir dan cukai alkohol sulingan. 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 - verifikasi yang intensif terhadap perusahaan-perusahaan dalam hal pembagian dividen. industri.impor yang dapat dikenakan bea masuk diperkirakan sekitar US $ 5. diharapkan dapat diterima cukai tembakau sebesar Rp 865. Berdasarkan hal-hal tersebut maka penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah diperkirakan mencapai Rp 1.666.verifikasi yang lebih cermat alas perusahaan-perusahaan rokok.

peningkatan daripada nilai obyek Ipeda sejalan dengan kegiatan pembangunan. . Dengan faktor-faktor tersebut diperkirakan akan diterima penerimaan bukan pajak sebesar Rp731.penyempurnaan dan peningkatan efektivitas dalam penggunaan kantor lelang. . Dengan dasar perhitungan tersebut.0 milyar. .naiknya nilai kekayaan sejalan dengan naiknya penghasilan. Dengan memperhitungkan hal-hal tersebut maka penerimaan pajak lainnya diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 96.verifikasi dan pengawasan yang lebih baik atas penyetoran daripada penerimaan departemen-departemen. Pajak Lainnya Jenis penerimaan ini meliputi pajak kekayaan. . Perkiraan penerimaannya didasarkan atas hal-hal sebagai berikut : . .penyesuaian tarip pajak kekayaan dan bea meterai. maka cukai lainnya diperkirakan akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp 98.3 milyar.peningkatan batas kekayaan yang tidak kena pajak. 5. maka penerimaan Ipeda diperkirakan akan mencapai jumlah sebesar Rp 167.berkembangnya kegiatan ekonomi.peningkatan produksi gula. .pengawasan yang lebih ketat atas pemakaian bea meterai.7 milyar.intensifikasi pemungutan cukai dan penyesuaian harga dasar sesuai dengan perkembangan ekonomi. 6. 7.penertiban administrasi perusahaan negara dan bank milik negara dalam rangka meningkatkan penerimaan.ekspor di luar minyak diperkirakan sebesar US $ 7.9 milyar. .perluasan wajib pajak dan intensifikasi pemungutan pajak. . . 4. bea meterai dan bea lelang. .peningkatan kegiatan dan transaksi ekonomi yang dapat dikenakan bea meterai.intensifikasi pemungutan meliputi pokok pengenaan dalam tahun berjalan dan penagihan atas tunggakan hutang Ipeda tahun-tahun sebelumnya. .usaha intensifikasi dan ekstensifikasi daripada sumber-sumber penerimaan. Penerimaan Bukan Pajak Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan adalah : .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Hal-hal yang dapat meningkatkan penerimaan adalah : . Berdasarkan hal-hal tersebut di atas.4milyar. Pajak Ekspor Dasar perhitungan pajak ekspor adalah sebagai berikut : . luran Pembangunan Daerah Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : . Berdasarkan hal-hal tersebut. maka penerimaan pajak ekspor diperkirakan sebesar Rp 101. Departemen Keuangan RI 322 .4 milyar.

542.408. Lampiran 2 ANGGARAN BELANJA RUTIN 1985/1986 DIPERINCI MENU RUT SEKTOR 1 SUB SEKTOR ( dalam ribuan rupiah) Nomor Kode 1 1.00 Departemen Keuangan RI 323 .446.1 1.122.297.00 1.00 83.00 42.2 4.715.636.878.00 8.602.00 21.979.990.00 40.534.380. PENERIMAAN PEMBANGUNAN Perkiraan penerimaan bantuan program dan bantuan proyek adalah sebagai berikut : bantuan program dalam tahun anggaran 1985/1986 diperkirakan sebesar Rp 70.075.3 4.2 4 4.00 15.464.2 2 2.893.1 3 3.6 5 5.00 14.237.550.00 6.2 6 6.9 milyar.377.00 405.665.440.754.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 B.368.00 15.5 4.920.132.00 36.2 7 Sektor/Sub Sektor SEKTOR PERTANIAN DAN PEN GAl RAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri SEKTOR PERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Sub Sektor Energi SEKTOR PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor Perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi SEKTOR REGIONAL DAN DAERAH/PEMBANGUNAN DAERAH.1 4.355.160.00 22.563.00 590.225. realisasi (disbursement) dalam tahun 1985/1986 dari komitmen bantuan proyek tahun-tahun yang lalu dan tahun 1985/1986 diperkirakan sebesar Rp 4.754.00 6.00 13.4 4.952.440.298.991.919.00 13.1 6.398. DESA DAN KOTA J umlah 50.00 5.646.00 2.1 5.112.247.523.685.00 31.00 15.1 3.2 milyar.100.652.170.

154.596.316.295.00 74.521.00 9 9.316.408.470.1 10.1 14 14.604.00 6.00 1.00 4.453.00 46.00 618.00 1.000.00 34.930.00 46.778.2 16.464.500. GENERASI MUDA.00 6.943.2 10.392.269.00 9.00 6.1 16. Pers dan Komunikasi Sosial PENELITIAN Sub Sektor Penelitian SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah Sub Sektor Lembaga Tertinggi Tinggi Negara Sub Sektor Keuangan Negara JUMLAH Jumlah 2.00 642.154.00 10 10.00 12.618.850.3 665.1 13 13.00 17.928.196.803. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kepencluclukan dan Keluarga Berencana SEKTOR PERUMAHAN RAKY AT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional SEKTOR PENERANGAN.187.636.399.00 34. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedlinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa SEKTOR KESEHATAN.1 16 16.2 9.943.500.510.261.600.1 8 8.596.00 50.00 4.600.392.500.850.649.685.00 129.521.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode 7.453.331.662.00 129.889.1 9. PERS DAN KOMUNlKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan. PERANAN WANITA.074.00 16.000.158.941.218.1 Sektor/Sub Sektor Kota SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama SEKTOR PENDIDIKAN.00 23.3 11 11.848.1 12 12.634.447.803.00 50.155.3 116.662.00 Departemen Keuangan RI 324 .1 15 15.928.618.100. KESEJAHTERAAN SOSIAL.

469.000 472.040.2 Departemen Keuangan RI 325 .000 45.532.492.000 691.294.000 543.000 217.000 900.000.000 469.430.000 9.000 275.1 3 3.212.000 1.291.739.000 128.000 52.195.518.000 76.000 14.831.545.000 365.1 5.000 256.000 655.141.795.359.818.5 4.125.795.350.000 Nomor Kode 1 1.1 1.580.903.000 621.000 28.658.2 4 4.000 12.1 4.2 6 6.000 98.000 16.850.000 170.000 70.365.000 111.324.189.425.000 58.141.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Lampiran 3 ANGGARAN BELANJA PEMBANGUNAN 1985/1986 DIPERINCI MENURUT SEKTOR/SUB SEKTOR ( dalam ribuan rupiah ) Nilai Rupiah Proyek/ Teknis.494.000 655.971.000 179.704.830.623.1 6.000 71.000 529.289.3 4.864.900.2 4.931.4 4.043.095.000 258.000 263.000 676.679. Kredit Ekspor dan obligasi Sektor/Sub Sektor SEKTOR PERTANIAN DAN PENGAIRAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri SEKTORPERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor pertambangan Sub Sektor Energi SEKTORPERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi Rupiah 957.301.000 108.993.975.913.518.000 109.000 62.623.000 539.000 274.257.2 2 2.230.000 68.536.000 826.788.000 789.320.012.363.6 5 5.531.509.000 28.000 199.1 3.392.462.000 1.000 578.462.000 Jumlah 1.000 1.000 238.000 80.000 111.050.025.000 265.045.000 190.486.000 543.000 38.000 60.000 68.000 30.800.000 635.194.000 209.000 1.683.000 136.000 95.531.

000 79.720. KESEJAHTERAAN SOSIAL.000 2.232.510.120.000 868.000 1.641.000 817.000 273.409.135.000 80.2 10.001.845.822.000 55.885.846.774.628.000 63.903.000 25.000 437.000 100.000 16.000 817.595.000 254.641.000.000 413.000 Departemen Keuangan RI 326 .553.000 Jumlah 868.000 80.000 Nilai Rupiah Proyek/ Teknis.334.000 83.219.092.334. DESA DAN KOTA Sub Sektor Pembangunan Daerah.720.361.000 1.092.595.126.000 42.000 842.000 163.000 63.3 31.987.219.000 102.308.867.903.885.1 9.321.000 18.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode Sektor/Sub Sektor Rupiah 7 7.860.000 47.540.000 163.1 303. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa SEKTOR KESEHATAN.000 65.158.000 203.000 437.595.2 9.1 8 8.000 58.1 12 12. GENERASI MUDA. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGABERENCANA Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kependudukan dan Keluarga Berencana SEKTORPERUMAHAN RAKYAT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum 842.774.092.867.000 1.000 58.1 10.493.3 11 11.962.006.1 9 SEKTORPEMBANGUNAN DAERAH.000 109. PERANAN WANITA.595.000 63.000 237. Kredit Ekspor dan obligasi 25.362.000 10 10.000 1.000 79.000 189. Desa dan Kota SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama SEKTOR PENDlDlKAN.000 63.273.000 9.000 273.

313.828.572.1 15 15.441.115.000 174.000 67.000 217.000 49.2 16 16.274.572.000 176.210.000 18.000 6.189.000 133.000 39.000 229.361.115.1 14 14.000 18.114.1 SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional SEKTOR PENERANGAN.415. Pers dan Komunikasi Sosial SEKTOR ILMU PENGETAHUAN.000 11.1 17 17.687.000 35.000 2.000 4.189.873.000 34.147.1 15.349.147.938.854.000 10.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode Sektor/Sub Sektor Rupiah Nitai Rupiah Bantuan Proyek/ Teknis.828.800.000 395.383.873.000 69.000 174.000 93.000.200.000 67.000 207.854.064.000 259.102. PERS DAN KOMUNIKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.000 217.361.000 165.000 176.000 Departemen Keuangan RI 327 .210.523.647.441.1 18.000 165. 18.000 138.000 714.327.000 99.000 259.274.000 714.000 74. Kredit Eksgor dan obligasi 318.000 49.000 93.242.555.114.000 J umlah 13 13. TEKNOLOGI DAN PENELITIAN Sub Sektor Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sub Sektor Penelitian SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah SEKTORPENGEMBANGAN DUNIA USAHA Sub Sektor Pegembangan Dunia Usaha SEKTOR SUMBER ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Sub Sektor Sumber Alam dan Lingkungan Hidup JUMLAH 395.000 11.000 2.687.327.000 318.000 229.281.064.297.

Pasal 20 ayat (1).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 5 ayat (1). bahwa sehubungan dengan itu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 perlu diatur dengan Undang-undang. 1. Menimbang : a. 2. dan untuk lebih menjaga kelangsungan jalannya pembangunan maka dalam Undang-undang tersebut diatur pula ten tang saldo-anggaran-Iebih dan sisa kredit anggaran proyek-proyek pada anggaran pembangunan Tahun Anggaran 1985/1986. bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/ 1986 pada dasarnya merupakan rencana kerja Pemerintah dalam rangka pelaksanaan tahun kedua rencana tahunan Pembangunan Lima Tahun IV dan di samping itu dimaksudkan pula untuk memelihara dan meneruskan hasil-hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan pembangunan sejak Pembangunan Lima Tahun I sampai dengan tahun pertama Pembangunan Lima Tahun IV. tetap disusun dengan mengikuti prioritas nasional sebagaimana ditetapkan di dalam Pola Umum Pembangunan Lima Tahun IV yang tercantum dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. dan sekaligus untuk meletakkan landasan bagi usahausaha pembangunan selanjutnya. Indische Comptabiliteitswet (Staatsblad tahun 1925 Nomor 448) sebagaimana telah beberapa kali diubah. Mengingat : Departemen Keuangan RI 328 . bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk Tahun Anggaran 1985/1986 sebagai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun kedua dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun IV. dan Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. b. c. terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1968 tentang Perubahan Posal 7 Indische Comptabiliteitswet (Lembaran Negara Tahun 1968 Nomor 53).

Pasal l (1) Pendapatan Negara Tahun Anggaran 1985/1986 diperoleh dari : a.000. Perincian pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Jan ayat (3) berturut-turut dimuat dalam Lampiran III dan Lampiran IV. b.000.000.000.000.046.046. sedangkan perincian lebih lanjut sampai pada kegiatan ditentukan dengan Keputusan Presiden. MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/ 1986.000.00.000.00.100. (2) (3) Pendapatan Rutin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a menurut perkiraan berjumlah Rp 18.000.647.399.000.00. (2) (3) (4) (5) (6) Anggaran Belanja Rutin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a menurut perkiraan berjumlah Rp 12. Anggaran Belanja Rutin. (4) (5) Departemen Keuangan RI 329 . b.000. Jumlah seluruh Anggaran Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 menurut perkiraan berjumlah Rp 23. Pendapatan Pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b menurut perkiraan berjumlah Rp 4. Pasal 2 (1) Anggaran Belanja Tahun Anggaran 1985/1986 terdiri atas : a.000. Anggaran Belanja Pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b menurut perkiraan berjumlah Rp 10.900. Sumber-sumber Anggaran Pembangunan.000. Anggaran Belanja Pembangunan. Sumber-sumber Anggaran Rutin.000.000. Perincian pendapatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) berturut-turut dimuat dalam Lampiran I dan Lampiran II.00.00.368.00. Jumlah seluruh pendapatan Negara Tahun Anggaran 1985/1986 menurut perkiraan berjumlah Rp 23. Perincian dalam Lampiran III sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memuat sektor dan sub sektor.000:000.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA.677.

Pasal 4 (5) (1) Kredit anggaran proyek-proyek pada Anggaran Belanja Pembangunan Tahun Anggaran 1985/1986 yang pada akhir Tahun Anggaran menunjukkan sisa. (2) Pada pertengahan Tahun Anggaran dibuat laporan realisasi mengenal : a. dengan Peraturan Pemerintah dipindahkan kepada Tahun Anggaran 1986/1987 dengan menambahkannya kepada kredit anggaran Tahun Anggaran 1986/1987. (2) (3) (4) (5) Departemen Keuangan RI 330 . Saldo-anggaran-Iebih Tahun Anggaran 1985/1986 ditambahkan kepada anggaran Tahun Anggaran 1986/1987 dan dipergunakan untuk membiayai Anggaran Belanja Pembangunan Tahun Anggaran 1986/1987. bahwa sisa kredit anggaran yang ditambahkan itu dikurangkan dari kredit anggaran Tahun Anggaran 1985/1986. Sisa kredit anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebelum ditambahkan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1986/1987 terlebih dahulu diperiksa dan dinyatakan kebenarannya oleh Menteri Keuangan. Penyesuaian anggaran dengan perkembangan/perubahan keadaan dibahas bersama oleh Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dibahas bersama oleh Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat. d. Perkembangan Lalu-lintas Pembayaran Luar Negeri. Anggaran Belanja Pembangunan. Anggaran Pendapatan Rutin. c. Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan Badan Pemeriksa Keuangan selambat-Iambatnya pada akhir triwulan I Tahun Anggaran 1986/1987. Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyatakan pula. (3) (4) Dalam laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) disusun prognosa untuk 6 (enam) bulan berikutnya. sedangkan perincian lebih lanjut sampai pada proyek-proyek ditentukan dengan Keputusan Presiden. b.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (7) Perincian dalam Lampiran IV sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memuat sektor dan sub sektor. Pasal 3 (1) Pada pertengahan Tahun Anggaran dibuat a. b. Kebijaksanaan Perkreditan. Anggaran Belanja Rutin. Anggaran Pendapatan Pembangunan.

dan isi Undangundang ini dinyatakan tidak berlaku. Pasal 6 (1) Setelah Tahun Anggaran 1985/1986 berakhir dibuat perhitungan anggaran mengenai pelaksanaan anggaran yang bersangkutan.aksud dalam ayat (1) setelah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan disampaikan oleh Pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat selambat-lambatnya 3 (tiga) tahun setelah Tahun Anggaran yang bersangkutan berakhir. SUDHARMONO. Pasal 8 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal l April 1985. susunan. Disahkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. SR.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pasal 5 Selambat-Iambatnya pada akhir Tahun Anggaran 1985/1986 oleh Pemerintah diajukan Rancangan Undang-undang tentang Tambahan dan Perubahan alas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 berdasarkan tambahan dan perubahan sebagai hasil penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (5) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Departemen Keuangan RI 331 . Pasal 7 Ketentuan-ketentuan dalam Indische Comptabiliteitswet (Undang-undang Perbendaharaan) yang hertentangan dengan bentuk. Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indoneia. Perhitungan Anggaran Negara sebagaimana dim. (2) SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI/SEKRET ARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA.

Selanjutnya diperlukan pula pengeluaran untuk tugas umum Pemerintahan. di samping memelihara hasil-hasil pembangunan. pertahanan keamanan. Sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara. antara lain untuk terus mendayagunakan aparatur negara agar lebih mampu melaksanakan tugas yang kian meningkat sesuai dengan perkembangan pelaksanaan pembangunan. dan perlu tetap dikembangkan secara serasi agar saling memperkuat. sedangkan pengeluaran negara makin terkendali dan terarah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 mengikuri prioritas nasional sebagaimana ditetapkan di dalam Pola Umum Pelita Keempat. pembangunan di bidang polirik. Departemen Keuangan RI 332 . dan ap. Peningkatan penerimaan negara diutamakan dari sumber-sumber di luar miIiyak bumi dan gas alam. Sejalan dengan prioritas pembangunan di bidang ekonomi. baik industri berat maupun industri ringan. maupun dari tahun-tahun sebelumnya. dan agar saling menunjang dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh pembangunan bidang ekonomi. Anggaran berimbang yang dinamis perlu disertai penyempurnaan pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara agar penerimaan negara makin meningkat. serta bantuan pembangunan lainnya. dan tahun berjalan. dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri. yakni pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. maka pengeluaran terutama ditujukan untuk menyelesaikan proyek-proyek. Di bidang pengeluaran. kebijaksanaan dalam pelaksanaan pembangunan didasarkan kepada Trilogi Pembangunan. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. makin diringkatkan sepadan. dan lain-lain. sehingga peranan Tabungan Pemerintab di dalam anggaran pembangunan dapat lebih ditingkatkan lagi. prasarana jalan. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 RANCANGAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TEN TANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/1986 UMUM Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 adalah anggaran pendapatan dan belanja negara tahun kedua dalam rangka pelaksanaan REPELITA IV. yang akan terus dikembangkan dalam Pelitaj'elita selanjutnya. Adapun bantuan pembangunan kepada Desa. antara lain melalui penyempurnaan sistem perpajakan. Prioritas diletakkan pada pembangunan di bidang ekonomi dengan ririk berat pada sektor pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha memantapkan swasembada pangan. dan Daerah Tingkat I. seperti pengembangan sarana kesehatan. yang disertai dengan pemungutan pajak yang lebih intensif. Keriga unsur Trilogi Pembangunan tersebut saling kaitmengkait.1fat yang makin mampu dan bersih. Daerah Tingkat II. khususnya Pola Umum Pelita Keempat. pertumbuhan ekonomi yang cukup ringgi. sosial budaya.

b. Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas. . Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas. maupun dalam anggaran belanja pembangunan. sedangkan penggeseran antar sektor dan antar sub sektor. maka penggeseran antar program dan antar kegiatan dalam anggaran belanja rutin. serta bidangbidang lainnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan penghutanan kembali tanah kritis. sisa kredit anggaran proyekproyek pada anggaran pembangunan dan saldo-anggaran-Iebih Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 ditambahkan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1986/1987. tersedianyabarang-barang kebutuhan pokok sehari-hari yang cukup tersebar merata dengan harga yang stabil dan terjangkau oleh rakyat banyak. dan sektor penerimaan negara masih dipengaruhi oleh perekonomian dunia yang belum menunjukkan kepulihan yang berarti. Pasal 2 Cukup jelas. serta mengurangi tekanan pengangguran. Ayat (2) Masalah kebijaksanaan kredit dan lalu lintas pembayaran luar negeri sebagian besar berada di sektor bukan Pemerintah. khususnya yang berasal dari sektor perdagangan internasional dapat mencapai target yang telah ditetapkan. maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 disusun berdasarkan asumsi-asumsi umum sebagai berikut : a. agar tercapai keserasian dan keselarasan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. bahwa kestabilan moneter. dapat terus dipertahankan bahwa penerimaan negara. dilanjutkan sehingga secara keseluruhan dapat terus menggerakkan dan meratakan pembangunan daerah. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. terus pula dilaksanakan pembangunan di bidang pendidikan. Oleh sebab itu penyusunan kebijaksanaan kredit dan devisa dalam benruk dan ani seperti anggaran rutin dan anggaran pembangunan sukar untuk dilaksanakan. Dalam rangka kesinambungan kegiatan pembangunan. Selanjutnya. yang diharapkan dapat menambah penyediaan dan perluasan lapangan kerja. c. dilakukan dengan persetujuan Presiden. baik dalam anggaran belanja rutin. Departemen Keuangan RI 333 . serta antar program dan antar proyek dalam anggaran belanja pembangunan. agar biaya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal sesuai dengan kebijaksanaan anggaran. dilakukan dengan Undang-undang. Di samping itu. bahwa keadaan perekonomian Indonesia khususnya sektor perdagangan internasional. sehingga untuk itu dibuat dalam bentuk prognosa.

maka pengajuannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan selambat-lambatnya pada akhir Tahun Anggaran 1985/1986. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 5 Pasal ini menentukan bahwa jika diperlukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tambahan dan Peru bahan. Pasal 7 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Departemen Keuangan RI 334 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 6 Perhitungan Anggaran Negara sebagaimana dimaksud dalam Posal ini disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dalam benruk dan susunan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan persetujuan Badan Pemeriksa Keuangan. Pasal 4 Cukup jelas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful