NOTA KEUANGAN DAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN 1985/1986

REPUBLIK INDONESIA

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

BAB I UMUM

Telah merupakan suatu kenyataan sejarah bahwa perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang mengarah kepada kemajuan suatu bangsa, senantiasa mensyaratkan adanya perjuangan dan membawa serta perubahan-perubahan dalam berbagai segi dan dimensi kehidupan. Sebagai suatu rangkaian pembaharuan pada berbagai tingkat perimbangannya, perjuangan yang merupakan pengejawantahan ideologi negara dan pandangan hidup bangsa selalu menuju ke suatu bentuk, dan tatanan kehidupan masyarakat yang dinamis dan lebih baik. Sejarah telah mengajarkan bahwa perjuangan untuk mencapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang makmur dan sejahtera, bukanlah suatu perjuangan tanpa pengorbanan. Mengikuti liku-liku perjalanan sejarah Indonesia akan terlihat betapa generasi demi generasi telah menyemarakkan persada nusantara dengan berbagai pengorbanan, mulai dari perjuangan untuk menghimpun rakyat Indonesia menjadi satu bangsa, bersatu padu dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjamin kelestarian eksistensinya, sampai kepada usaha besar bangsa Indonesia untuk membangun suatu masyarakat sejahtera yang berkeadilan, masyarakat Pancasila. Limabelas tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah memancangkan tonggak sejarah bagi dimulainya suatu babak baru dalam kelanjutan perjuangannya. Bagi bangsa Indonesia, babak itu merupakan garis pemisah antara kecenderungan yang serba sepihak, liberal ataupun terpimpin, dengan sikap yang mengacu kepada keseimbangan, keserasian dan keselarasan yang bersumber pada pemahaman Pancasila secara utuh dan menyeluruh. Alur perjalanan sejarah yang demikian itulah yang terus diusahakan agar menjelma menjadi kenyataan tahap demi tahap sesuai dengan rencana, dan pengutamaan yang selaras dengan perkembangan kesanggupan bangsa. Kini bangsa Indonesia tengah berada diambang pintu tahun kedua Repelita IV, suatu tahap pembangunan yang telah semakin mendekatkan rakyat Indonesia kepada cita-cita perjuangan. Repelita IV bukanlah semata merupakan kelanjutan dan peningkatan dari PelitaPelita sebelumnya, melainkan juga mempunyai posisi yang penting dan menentukan bagi terciptanya kerangka landasan pembangunan nasional. Keberhasilan Repelita IV akan memungkinkan terlaksananya tahap pemantapan kerangka landasan dalam Repelita V dan tahap tinggal landas dal3:m Repelita VI, untuk memacu pembangunan menuju masyarakat adil dan
Departemen Keuangan RI

2

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

makmur berdasarkan Pancasila. Untuk menciptakan kerangka landasan pembangunan tersebut, perlu diupayakan terciptanya kondisi nasional yang memberikan rangsangan serta peluang seluas-luasnya bagi potensi pembangunan agar dapat berperan serta dalam usaha pembangunan nasional. Dengan segenap potensi pembangunan, dana dan daya yang dapat digali dan dikerahkan dari dalam negeri akan semakin meningkatkan dan memantapkan ketahanan ekonomi terhadap pengaruh dari berbagai kemungkinan gejolak atau krisis ekonomi dunia. Pembangunan dengan asas kepercayaan pada diri sendiri, merupakan kekuatan yang tidak ternilai harganya bagi bangsa yang sedang membangun. Kepercayaan pada diri sendiri bertambah penting artinya, karena dalam tahun-tahun yang akan datang pembangunan posti bertambah berat, karena masalah yang ditangani makin besar, dan aspirasi masyarakat pun bertambah luas. Oleh sebab itu perlu dikembangkan kebijaksanaan ekonomi yang bertumpu di atas Trilogi Pembangunan, suatu kebijaksanaan yang telah dianut Pemerintah sejak pembangunan nasional dicanangkan raJa 1 April 1969. Prioritas pembangunan dalam Repelita IV, sesuai dengan Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang, tetap menempatkan sektor pertanian sebagai sektor yang akan terus dikembangkan dan ditingkatkan menuju swasembada pangan, serta pengembangan sektor industri, balk industri berat maupun industri ringan. Dalam hubungan ini, apabila dikaji dan ditelusuri kembali rangkaian kebijaksanaan ekonomi yang telah ditempuh Pemerintah selama ini hingga tahun kedua Repelita IV, maka tampak jelas kesinambungan usaha menuju kepada memperluas, meningkatkan dan sekaligus memperkuat landasan kegiatan ekonomi melalui pengembangan industri di atas sektor pertanian yang mandiri. Kebijaksanaan juga ditujukan kepada perluasan kesempatan kerja, mengutamakan penggunaan hasil produksi dalam negeri, dan peningkatan ekspor. Kesemuanya itu ditunjang oleh kebijaksanaan di bidang fiskal yang lebih mengarah pada asas keadilan, dan kebijaksanaan moneter yang diupayakan untuk merangsang kegiatan dunia usaha, dan memantapkan kestabilan. Tujuan tersebut dan kebijaksanaan penunjangnya mengisi dan menyatu secara terpadu dalam upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang memadai, pemerataan pembangunan dan hasilnya, dan pemeliharaan kestabilan. Diharapkan pada akhimya tercipta strnktur perekonomian yang lebih seimbang dan mantap, dengan tingkat kelenturan produksi yang tinggi yang dalam batasbatas tertentu, mampu meredam setiap kegoncangan ekonomi baik dalam maupun luar negeri. Dengan perkembangan yang mengarah kepada terciptanya keadaan tersebut, perekonomian Indonesia yang modern, tangguh dan demokratis berdasarkan Pancasila akan menopang terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Departemen Keuangan RI

3

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Sejalan dengan cita pembangunan tersebut, sertadengan memperhatikan perkembangan keadaan perekonomian dunia yang masih belum sepenuhnya pulih dari resesi, pada tahun pertama pelaksanaan Repelita IV oleh Pemerintah telah diambil beberapa langkah kebijaksanaan ekonomi yang penting. Langkah nyata dalam rangka menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan tampak lebih jelas dengan telah disahkannya tiga undangundang perpajakan baru yang baik semangat maupun pengaturannya lebih sesuai dengan tuntutan pembangunan yang semakin berkembang. Di bidang moneter, tanggung jawab yang diberikan kepada bank-bank Pemerintah dalam menentukan suku bunga simpanan maupun pinjaman, telah merangsang dunia perbankan untuk mengerahkan dana-dana masyarakat, terlebih karena pada saat yang sama ketentuan pagu kredit perbankan ditiadakan. Bagi masyarakat, adanya kenaikan dalam tingkat pendapatan, terpeliharanya kestabilan harga, dan terkendalinya nilai tukar devisa te1ah semakin meningkatkan hasratnya untuk menabung, yang dilakukan diantaranya melalui sektor perbankan maupun lembaga keuangan lainnya. Dengan demikian terdapat titik temu aliran dana yang menghasilkan kegunaan bagi berbagai pihak, yakni antara masyarakat penabung, sektor perbankan dan tersedianya sumber dana pembangunan. Dan dalam rangka meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, serta mengurangi tekanan yang berat terhadap neraca pembayaran, pada bulan Maret 1983 te1ah diadakan penyesuaian nilai tukar rupiah terbadap dollar Amerika Serikat. Agar supaya pengerahan dana pembangunan, baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri, memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi pembangunan, usaha pengendalian dan penghematan penggunaan dana harus terus ditingkatkan. Oleh karena itu penge1uaran rutin diusahakan dapat ditekan, dan dikendalikan tanpa mengurangi fungsi pe1ayanan kepada masyarakat, serta pemeliharaan terhadap hasil pembangunan yang telah dicapai. Namun demikian, mengingat pentingnya peningkatan pendayagunaan aparatur negara, maka dalam tahun 1985/1986 direncanakan suatu kenaikan gaji bersih pegawai negeri sebesar 20 persen dan pensiun antara 27 - 59 persen. Di lain pihak prioritas pembangunan dipertajam agar penge1uaran pembangunan dapat memberikan hasil guna dan daya guna yang lebih besar, disertai dengan pengurangan, atau penghapusan terhadap berbagai subsidi sejauh yang dapat dilakukan tanpa mengorbankan kepentingan stabilisasi, serta kebutuhan masyarakat banyak. Pemberian subsidi ditata sedemikian rupa agar terdapat alokasi sumber ekonomi secara lebih efisien, dan terhindar dari adanya distorsi harga-harga yang tidak wajar. Sejalan dengan hal tersebut, maka pengeluaran untuk subsidi bahan bakar minyak dalam tahun 1985/1986 te1ah

Departemen Keuangan RI

4

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

dapat ditekan lebih lanjut, yang terutama disebabkan karena adanya peningkatan efisiensi dalam pengolahan bahan bakar tersebut. Di lain pihak subsidi untuk pupuk diperkirakan akan meningkat lebih besar, yang berkaitan erat dengan semakin intensifnya penggunaan pupuk dalam rangka mempertahankan, dan meningkatkan kemajuan yang te1ah dicapai di bidang pengadaan pangan, dan produksi komoditi pertanian lainnya. Adapun penjadwalan kembali beberapa proyek renting dan pengendalian impor secara se1ektif, te1ah dilaksanakan dalam rangka penghematan di bidang devisa, dan upaya untuk mengurangi tekanan terhadap neraca pembayaran. Sedangkan di bidang moneter, kebijaksanaan moneter dan perkreditan tetap ditujukan kepada penggunaan dana yang terarah dan produktif. Perimbangan yang belum memadai antar berbagai sektor kegiatan dalam perekoDamian, serta sifat perekonomian terbuka yang sangat dipengaruhi oleh hambatan dalam kegiatan ekspor, dan resesi perekonomian dunia yang be1um sepenuhnya pulih, menimbulkan akibat yang tak terhindarkan terhadap perekonomian Indonesia dalam tahun-tahun terakhir Pelita III, yang masih berasa pengaruhnya hingga diambang tahun kedua Repelita IV. Agar perkembangan pembangunan waktu lalu lebih dapat dipahami dalam ruang lingkup keadaan yang melatarbelakanginya, dan terlebih renting dadpada itu, agar supaya permasalahan yang dihadapi dalam masa pembangunan yang akan datang dapat ditanggulangi dengan tanggap, serta dapat memanfaatkan peluang yang mungkin tercipta, maka keadaan ekonomi dunia perlu dan senantiasa secara cermat terus diikuti perkembangannya. Tanda-tanda perbaikan ekonomi dunia yang mulai tampak pada tahun akhir Pelita III belum sepenuhnya menunjukkan perkembangan yang diharapkan. Bahkan akhir-akhir ini diperkirakan terdapat kecenderungan gejala perlambatan kembali dari kegiatan ekonomi negara industri utama, yaitu Amerika Serikat, yang dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami kenaikan pertumbuhan ekonomi tertinggi diantara negara-negara industri lainnya, yakni sebesar 7,3 persen. Perekonomian dunia yang belum sepenuhnya bangkit ke arab pemulihan sebagaimana yang diharapkan, hanya memberikan pengaruh yang terbatas manfaatnya bagi perkembangan ekonomi negara-negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi negara-negara industri secara. keseluruhan dalam tahun 1984 diperkirakan menunjukkan kenaikan rata-rata sebesar 4,9 persen, atau 2,3 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan tahun lalu, dimana Jepang dan Kanada diperkirakan mengalami kenaikan tertinggi setelah Amerika Serikat, yakni sebesar 5,0 persen dan 4,6 persen, sedangkan negara-negara industri lainnya dalam kelompok tujuh negara industri besar diperkirakan menunjukkan kenaikan rata-rata sekitar 2,5 persen.

Departemen Keuangan RI

5

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Pertumbuhan ekonomi yang dicapai negara-negara industri utama tersebut, erat kaitannya dengan menurunnya tingkat pengangguran serta laju inflasi. di negara-negara tersebut. Tingkat pengangguran rata-rata di negara-negara industri tersebut diperkirakan telah dapat ditekan menjadi 7,6 persen dalam tahun 1984 dibandingkan 8,3 persen dalam tahun 1983, sedangkan laju inflasi diperkirakan menunjukkan sedikit penurunan dari sebesar 5,0 persen dalam tahun 1983 menjadi 4,3 persen dalam tahun 1984. Sisi lain perkembangan perekonomian dunia yang pada umumnya menunjukkan perbaikan, telah ditandai dengan makin meningkatnya suku bunga riil di Amerika Serikat yang bertahan pada tingkat yang relatif tinggi, sebagai akibat dari pelaksanaan kebijaksanaan moneter yang ketat di negara tersebut. Suku bunga untuk nasabah-nasabah utama (US Prime Rate) di Amerika Serikat mencapai tingkatan yang tinggi, sekitar 13 persen pada bulan September 1984. Perbedaan dalam tingkat produktivitas serta laju pertumbuhan perekonomian, dan tingkat inflasi antara berbagai negara di dunia, serta tingginya suku bunga riil di Amerika Serikat, telah mengakibatkan masuknya modal dari negara-negara lain ke Amerika Serikat, yang kemudian mengakibatkan naiknya nilai tukar mata uang Amerika Serikat terhadap pelbagai macam mata uang asing. Meningkatnya nilai tukar mata uang dollar Amerika selanjutnya telah mengakibatkan kegoncangan posar valuta internasional di berbagai negara, serta kemerosatan yang cukup besar pada nilai tukar mata uang - mata uang penting dunia. Ketidakstabilan nilai tukar valuta asing, kebijaksanaan moneter yang ketat, tingginya suku bunga menimbulkan rangkaian akibat berupa naiknya defisit transaksi berjalan negaranegara industri. Usaha mengatasi defisit tersebut telah menimbulkan dampak sampingan yang kurang menguntungkan, khususnya bagi perkembangan ekspor negara-negara berkembang, karena adanya langkah-langkah proteksionisme yang dilakukan oleh negara-negara industri dalam rangka melindungi hasil produksi dalam negeri mereka. Perkembangan perekonomian dunia telah dipengaruhi pula oleh ketidakstabilan dalam posar minyak dunia. Meningkatnya produksi serta peleposan cadangan minyak negara-negara di luar OPEC, dan upaya penghematan penggunaan energi minyak telah menyebabkan terganggunya keseimbangan posar, dan kecenderungan terjadinya penurunan harga minyak dunia. Menghadapi keadaan demikian, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam sidangnya bulan Oktober 1984 di Geneva memutuskan untuk tetap mempertahankan tingkat harga yang berlaku sekarang, dengan jalan mengurangi produksi dari batas tertinggi 17,5 juta barrel menjadi sebesar 16,0 juta barrel per hari, serta menetapkan kuota baru bagi negara-negara anggotanya.

Departemen Keuangan RI

6

serta pengelolaan bantuan dan pinjaman luar negeri secara lebih cermat. memperlihatkan adanya perbaikan yang berarti. dimana dalam tahun sebelumnya mengalami penurunan.151 juta. Dalam rangka memperluas ekspor Indonesia. pengembangan ekspor barang-barang produksi hasil industri dan perluasan posaran di luar negeri ke negara-negara selain rekan dagang. perbaikan mutu barang ekspor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Setetah mengalami defisit dalam neraca pembayaran yang cukup besar dalam tahun 1982/1983.8 Tahun 1984 yang menegaskan ketentuan tentang pengendalian dalam penggunaan kredit ekspor luar negeri. serta guna mengurangi ketergantungan pada ekspor minyak dan gas bumi. minyak kelapa sawit dan sebagainya. Oleh karena penerimaan ekspor minyak mengalami penurunan. Dalam rangka pengelolaan bantuan yang lebih berdaya guna. Menghadapi situasi perekonomian internasional yang tidak menentu. defisit tersebut apabila dibandingkan dengan defisit tahun 1982/1983. kenaikan penerimaan ekspor keseluruhan dalam tahun 1983/1984 hanya sebesar 6. kebijaksanaan mendorong ekspor secara menyeluruh melalui pola pengembangan ekspor terpadu terus ditingkatkan. Departemen Keuangan RI 7 . terus dilakukan oleh Pemerintah mengingat peranannya sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan. Namun demikian. walaupun penurunan tersebut jauh lebih rendah dari tahun 1982/1983. Ternyata negara-negara tersebut sangat membutuhkan komoditi ekspor Indonesia seperti karet. Dalam tahun 1984/1985 perkembangan neraca pembayaran diperkirakan masih akan mengalami surplus sungguhpun tidak sebesar dalam tahun 1983/1984. Kemajuan di bidang neraca pembayaran tersebut tidak terlepos dari perkembangan ekspor bukan minyak yang menunjukkan kenaikan sebesar 36. agar pembayaran kembali dikemudian hari tetap dalam batas kemampuan keuangan negara. maka telah dijajagi kemungkinan peningkatan perdagangan dengan negara-negara Eropa Timur. maka telah dikeluarkan Inpres No.6 persen. teh. Usaha tersebut meliputi peningkatan dan diversifikasi ekspor di luar minyak dan gas bumi. Juga terlihat peluang untuk mengekspor barang-barang manufaktur ke Eropa Timur sepanjang harganya mampu bersaing di posaran internasional. kopi. pengendalian impor. Selain dari itu juga meliputi penyesuaian nilai tukar mata uang dollar Amerika. timah. dengan latar belakang perkembangan keadaan perekonomian dunia yang menunjukkan adanya sedikit perbaikan. dalam tahun 1983/1984 neraca pembayaran Indonesia menunjukkan keadaan yang lebih baik yaitu surplus sebesar US $ 2. khususnya dalam rangka mendorong ekspor. pelaksanaan sistem imbal beli. serta sebagai sektor pendorong gerak perekonomian nasional yang penting. perluasan kemudahan dibidang perpajakan dan perkreditan.1 persen.070 juta. meskipun transaksi berjalan masih mengalami defisit sebesar US $ 4. Berbagai langkah kebijaksanaan di bidang perdagangan luar negeri.

dan selanjutnya meningkat menuju tahapan perluasan ekspor hasil produksinya. telah diadakan penyederhanaan perizinan.1 bulan Januari 1982 yang menyangkut pengaturan jual beli devisa. serta sejalan dengan usaha peningkatan penggunaan produksi dalam negeri. tata cara ekspor dan sebagainya. tetapi sekaligus menyesuaikan tarif bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap impor barang-barang yang telah dapat diproduksi di dalam negeri seperti kertas untuk jenis tertentu. aluminium sheet dan fuli aluminium jenis-jenis tertentu. sejak 1 Januari 1984 pungutan MPO ekspor atas eksportir telah dihapuskan. Melalui kebijaksanaan impor yang mendukung pertumbuhan sektor industri. serta penurunan pajak ekspor tambahan atas jenis komoditi tertentu lainnya. Kebijaksanaan di bidang impor selain ditujukan kepada memperlancar pengadaan bahan baku/penolong. Memantapkan ekspor. dan untuk beberapa komoditi tertentu yang semula dikenakan pajak ekspor sebesar 10 persen diturunkan menjadi 0 persen. Pemerintah telah mengusahakan untuk sejauh mungkin tidak memberi keringanan bea masuk. pertanian. Selain itu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pelaksanaan berbagai kebijaksanaan di bidang ekspor tersebut tertuang antara lain dalam Peraturan Pemerintah No. khususnya dunia usaha. Dalam hubungan ini. Sejalan dengan usaha meningkatkan mutu barang-barang ekspor. Demikian pula terhadap beberapa produk yang telah dapat dirakit di dalam negeri telah diberlakukan tarif bea masuk. dan pemeliharaan kestabilan. perhubungan. Dengan berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan pada tanggal 1 Januari 1984. juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program pembangunan jangka panjang sektor industri. sejak 10ktober 1984 pungutan langsung oleh Pemerintah Daerah terhadap beberapa komoditi ekspor penting telah pula dihapuskan. Pemerintah telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meniadakan berbagai hambatan yang dapat mengurangi daya saing komoditi ekspor Indonesia di posaran internasional. sampai dengan Agustus 1984 telah ditetapkan standar mutu untuk 165 jenis barang-barang perdagangan. sektor tersebut didorong untuk mencapai tahap perkembangan yang efisien melalui persaingan yang sehat. memerlukan kerja keras baik dari Pemerintah maupun masyarakat. suatu keterpaduan langkah yang tidak hanya mengarah kepada penghematan devisa. pipa besi dan produk polyvinyl chloride (PVC). Di bidang perpajakan. dimana dari jumlah tersebut standar mutu dari 38 jenis barang sudah dilaksanakan. Departemen Keuangan RI 8 . dan barang modal dalam rangka pemenuhan kebutuhan bahan pokok yang diperlukan masyarakat. dan perdagangan. dan penghapusan izin yang meliputi berbagai bidang antara lain bidang kehutanan. Di bidang prosedur ekspor. akan tetapi juga sekaligus meningkatkan penerimaannya. dan memperluas posarannya. dan pajak penjualan impor yang baru.

2 persen. baik vertikal maupun horizontal.9 persen setahun. antara industri padat modal dan industri padat karya. Industri hilir. Sehubungan dengan hat tersebut. juga diarahkan agar di dalam sektor industri sendiri semakin terwujud keseimbangan dan keserasian antara industri besar/sedangdan industri kecil. dalam tahun 1983 secara riil menunjukkan kenaikan sebesar 2. Kelambanan yang terjadi dalam pertumbuhan sektor industri dipenghujung tahun Pelita III. untuk memantapkan dan memperkokoh struktur industri nasional. menunjang pembangunan daerah.0 persen dan 13. Apabila dalam Pelita I dan II sektor industri telah tumbuh rata-rata sebesar 13. Sejak awal Pelita I. bahwa pembangunan industri ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja. meningkatkan ekspor. sehingga menyebabkan lemahnya kaitan antarindustri. setelah mengalami titik kenaikan yang terendah dalam tahun 1982. dan mengandung kerawanan kiranya dapat dilalui tanpa menimbulkan ketegangan sosial. Pertumbuhan sektor industri pengolahan. Program tersebut terdiri dari rangkaian usaha berupa peningkatan keterkaitan antara berbagai jenis industri secara vertikal dan horizontal. tahap industrialisasi yang merupakan tahap yang sulit. Dengan arah kebijaksanaan tersebut.5 persen dari nilai dasar impor (cif). telah ditempuh kebijaksanaan program terpadu. Terhadap impor barang yang dilakukan oleh importir yang tidak menggunakan sistem perijinan impor. antara industri hilir dan industri hulu.7 persen.5 persen dari nilai dasar impor (cif). yang pada umumnya merupakan industri substitusi impor. memeratakan kesempatan berusaha. dilihat sebagai komponen produk domestik bruto. sedangkan pungutan baru dikenakan terhadap impor barang yang dilakukan oleh importir yang menggunakan API. menghemat devisa. yaitu dengan mengembangkan industri yang saling menunjang dengan sektor lainnya. dan belum dapat memberikan kemantapan pada struktur industri yang ada. APIS atau APIT yaitu sebesar 2. pembinaan industri kecil. dan mempertinggi sikap mental pembaharuan. serta harus mampu meningkatkan keahlian dan ketrampilan masyarakat. serta adanya kekurangserasian pertumbuhan antarsektor industri. dikenakan pungutan sebesar 7. dan memanfaatkan sumber alam dan energi serta sumber daya manusia. Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara ditetapkan. maka dalam Pelita III turun menjadi 8. sektor tersebut hingga tahun-tahun pertama Pelita III telah berkembang tidak kurang dari 9 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pungutan MPO atas barang-barang impor dihapuskan. peningkatan peranan bangsa Indonesia sendiri dalam Departemen Keuangan RI 9 . dan dengan Pancasila sebagai dasar perjuangan bangsa. Dengan demikian pembangunan industri selain diharapkan dapat mewujudkan struktur ekonomi yang seimbang antara industri dan pertanian. tidak terlepos dari adanya pengaruh resesi ekonomi dunia. telah berkembang relatif lebih pesat dibanding industri hulu.

sumbangan sektor pertanian masih sebesar 46. Sungguhpun pertumbuhan sektor pertanian sejak Pelita I setiap tahunnya menunjukkan tingkat kenaikan yang berbeda. Pembangunan sektor pertanian berdasarkan Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang tidak hanya menyangkut peningkatan produksi semata. harga dasar gabah kering giling di KUD dinaikkan menjadi Rp 175. Dengan berbagai usaha tersebut akan tercipta keserasian yang memberi kekuatan pada keseluruhan pertumbuhan industri. dan dengan menerapkan Panca Usaha Tani. lembaga keuangan dan jasa lainnya. maka pada akhir Pelita III diperkirakan menurun menjadi hanya sekitar 29 persen. dan perkembangan produktivitas sektor pertanian. Didukung oleh besarnya peranan nilai tambah yang diciptakan oleh sektor perdagangan. Kemajuan yang dapat dicapai oleh sektor industri pada tingkat akhir berkaitan erat dengan kemantapan pertumbuhan. Agar peningkatan produksi beras dapat pula meningkatkan tarat hidup petani lebih layak. sementara nilai produksinya terus meningkat. dimana peningkatan daya beli sebagian besar masyarakat beserta pemerataan pendapatan yang berlangsung di sektor ini. produksi palawija dan hortikultura telah memainkan peran yang cukup penting pula dalam pemenuhan kebutuhan bahan pangan yang meningkat. Untuk mewujudkan tujuan tersebut.9 persen dari produk domestik bruto riil. Di samping produksi beras. serta sektor-sektor lainnya. Apabila pada awal Pelita I. Dengan demikian pembangunan pertanian diharapkan memberikan arti yang utuh bagi peningkatan sebagian besar kesejahteraan bangsa Indonesia.5 persen pertahun.8 persen pertahun. akan tetapi sumbangannya terhadap produk domestik bruto riil terus mengecil. pembangunan pertanian dilaksanakan dengan berlandaskan Trimatra Pembangunan Pertanian.7 persen dan 3. dan dinaikkan. dalam komoditi. tingkat harga dasar gabah yang diterima oleh petani setiap tahunnya selalu ditinjau kembali. yaitu keterpaduan dalam usaha tani. Untuk itu pada bulan Pebruari 1985. dan dalam pengembangan wilayah dengan sasaran sebagaimana yang tercakup dalam Sapta Karya Pembangunan Pertanian.00 perkilogram. dimana dalam Pelita I dan II pertumbuhan produksinya adalah sebesar 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan industri. Dalam Pelita III produksi beras menunjukkan pertumbuhan sebesar 6. merupakan faktor yang sangat menunjang tegak tahannya sektor industri. akan tetapi meliputi pula usaha mengangkat kehidupan sosial. pendidikan dan tingkat kehidupan para petani di pedesaan pada umumnya. produk domestik Departemen Keuangan RI 10 . serta peningkatan ekspor hasil produksinya. Produksi tanaman pangan sebagai komponen produksi pertanian terpenting menunjukkan perkembangan yang mengesankan.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bruto riil secara keseluruhan dalam tahun 1983 diperkirakan menunjukkan adanya kemajuan yang cukup berarti. semacam pemutihan modal masih dimungkinkan. Dalam rangka meningkatkan penanaman modal. Volume APBN pada awal Pelita I yang berjumlah Rp 334. dan ditentukan oleh perimbanganperimbangan yang terjadi di dalam tingkat pembentukan modal.2 persen dari produk domestik brutonya. Pertumbuhan ekonomi yang tercermin dari perkembangan produk domestik bruto sangat dipengaruhi. yakni segala dana yang ditabung dalam deposito tidakakan diusut asal usulnya. sedangkan penanaman modal asing (PMA) dalam periode yang sama.5 persen. Kegiatan penanaman modal yang dilakukan oleh dunia usaha. serta tingkat produktivitas modal. Berbagai fasilitas tersebut diberikan agar tercipta iklim penanaman modal yang menarik. volume Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah berhasil ditingkatkan terus dalam jumlah yang cukup besar.4 milyar. fasilitas pengampunan pajak. Produk domestik bruto. Hal ini tiada lain menunjukkan adanya kemajuan di dalam pembentukan atau penanaman modal.7 milyar. dan tenaga kerja yang . baru berjumlah 11. yakni kenaikan sebesar 4. akan tetapi masih lebih tinggi dari yang dicapai dalam tahun 1982. meskipun fasilitas bebas pajak. serta ketentuan bahwa perorangan dapat melaksanakan penanaman modal melalui fasilitas PMDN tanpa harus berbentuk badan hukum.ada. Penanaman modal yang dilakukan melalui fasilitas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sampai dengan bulan Agustus 1984 telah disetujui sebesar Rp 20. alas dasar harga konstan tahun 1973. Sumber pembentukan modal yang terpenting adalah dana-dana yang dapat dikerahkan dan disalurkan melalui APBN. dunia usaha. oleh Pemerintah telah diberikan berbagai rangsangan antara lain dalam bentuk penyederhanaan prosedur penanaman modal. Sebagai piranti anggaran dalam melaksanakan Repelita demi Repelita.2 persen. baik yang dilakukan oleh masyarakat.2 juta. telah berkembang menjadi hampir lima puluh lima kali dalam Departemen Keuangan RI 11 . Pembentukan modal domestik bruto yang dalam tahun 1969.2 persen pertahun dalam periode tersebut.632.1982. dalam tahun 1983 diperkirakan telah meningkat menjadi 30. dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 telah meningkat rata-rata sebesar 7. alas dasar harga konstan 1973.915. rencana investasinya mencapai nilai sebesar US $ 14. dan pemutihan modal bagi penanam modal di Indonesia dihapuskan. terus menunjukkan peningkatan. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya pembentukan modal domestik bruto rata-rata sebesar 15. dan prospek yang baik dari perkembangan pembangunan. Sungguhpun kenaikan tersebut masih lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan per tahun dalam periode 1970 . penetapan tarip penyusutan yang lebih tinggi.2 persen pertahun. sejak Pelita I. Sebagai kompensasi. sejalan dengan terpeliharanya kestabilan. maupun Pemerintah.

sehingga peranannya sebagai stabilisator. Resesi ekonomi dunia yang telah mempengaruhi perekoDamian Il}donesia pada gilirannya telah mempengaruhi penyusunan RAPBN 1985/1986. utuh dan menyeluruh melalui peranan ganda dari pengeluaran pembangunan. serta upaya pemecahannya telah pula menjadi bahagian dari pelaksanaan APBN. dan pengeluaran pembangunan sebesar Rp 10.0 milyar. Dengan demikian pemerataan. Namun demikian. Gambaran perkembangan volume APBN yang terus meningkat. eksploitasi dan pemeliharaan pengairan.0 milyar. dalam rangka pemerataan pembangunan dan hasilnya. dan penerimaan pembangunan sebesar Rp 4.647. kepada Dati II juga diberikan bantuan pembangunan prasarana jalan. Dalam tahun 1985/1986 bantuan pembangunan Dati I adalah sebesar Rp 280.677. Sedangkan bantuan pembangunan bagi Dati II antara lain adalah untuk proyek-proyek prasarana dan produksi yang dapat memperluas lapangan kerja dan proyek padat karya. memberikan harapan yang besar untuk tetap berlangsungnya pembangunan nasional guna mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Dalam usaha untuk memperkecil pengaruh yang ditimbulkan resesi duma tersebut. khususnya dalam beberapa tahun terakhir ini. Perkembangan APBN terus diusahakan agar tetap berimbang dan dinamis.368. di balik kemajuan tersebut berbagai tantangan dan hambatan.0 milyar. Seperti yang telah dikemukakan perekonomian dunia yang dilanda krisis. perbaikan dan penyempumaan irigasi. dan akselerator pembangunan tetap dapat dipertahankan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tahun terakhir Pelita III. Di sisi penerimaan negara. pembangunan daerah minus serta pengembangan perkotaan. terutama dalam mengamankan penerimaan negara melalui APBN.046. rencana tersebut terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 18. juga diserasikan dengan pembiayaan pembangunan regional dan perluasan kesempatan kerja melalui berbagai program Inpres. Pengeluaran pembangunan selain dialokasikan untuk berbagai sektor.9 milyar.1 milyar. maka volume RAPBN tahun anggaran 1985/1986 direncanakan berimbang pada tingkat sebesar Rp 23. pertumbuhan dan stabilitas memperoleh gambaran yang lebih nyata.399. serta usaha untuk tetap terpeliharanya kesinambungan pembangunan.0 milyar. sedangkan di sisi pengeluaran negara rencana tersebut terdiri dari pengeluaran rutin sebesar Rp 12. oleh Pemerintah telah diambil berbagai langkah kebijaksanaan untuk meningkatkan ketahanan Departemen Keuangan RI 12 . Untuk mempedancar distribusi hasil-hasil produksi. Dengan latar belakang kebijaksanaan dan perkembangan perekonomian baik nasional maupun internasional. Bantuan tersebut dimaksudkan untuk pemeliharaan jembatan dan jalan propinsi. dan berlangsung berkepanjangan telah memberikan dampak yang tidak diinginkan terhadap perekonomian Indonesia.

Berlainan dengan undang-undang perpajakan yang lama yang mempunyai sistem. Namun demikian mengingat pentingnya peranan pajak tersebut. prosedur dan pentaripan yang rumit. yang merupakan perbaikan secara mendasar terhadap undang-undang perpajakan yang lama. akan tetapi juga berusaha untuk meningkatkan rasa keikutsertaan masyarakat secara aktif dalam memberikan andil dan peranannya di dalam pembangunan melalui bidang perpajakan. Salah satu kebijaksanaan yangtelah diambil adalah dengan disahkannya beberapa undang-undang perpajakan yang baru.5 persen. yang sebagian besar masih bergantung pada penerimaan dari minyak bumi dan gas alam. khususnya melalui usaha peningkatan penerimaan dalam negeri di luar minyak. serta menciptakan landasan yang kuat guna berlangsungnya kelancaran proses pembangunan. guna lebih memantapkan peningkatan penerimaan dalam negeri. termasuk di dalamnya pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM) sebesar 10 persen. telah dilaksanakan ketika memasuki tahun pertama Repelita IV. dan memberikan kepostian hukum. Di samping Undang-Undang Perpajakan tersebut. Untuk mewujudkan kebijaksanaan yang lebih realistis dengan keadaan perekonomian nasional. maka mulai tahun anggaran 1985/ 1986 dalam penerimaan pajak pertambahan nilai. Pemerintah kini tengah mempersiapkan perundang-undangan mengenai pabean. Sedangkan Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang sedianya berlaku pada tanggal 1 Juli 1984. Langkah-Iangkah untuk menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan.8 Tahun 1984 telah ditangguhkan berlakunya sampai selambat-Iambatnya tanggal 1 J anuari 1986. Sumber penting lainnya dari penanaman modal adalah tabungan masyarakat yang antara lain terkumpul melalui sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya. maka sejak 1 Januari 1985 tarip pajak kekayaan telah diturunkan dari 1 persen menjadi 0. sedangkan batas kekayaan yang tidak kena pajak telah dinaikkan dari Rp 14 juta menjadi Rp 80 juta. serta lebih mendorong pemerataan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ekonomi nasional. Pemerintah bertekad untuk melaksanakannya pada 1 April 1985. Dalam rangka pelaksanaan undang-undang ini. undang-undang perpajakan yang baru tersebut lebih mencerminkan kesederhanaan. dengan Undang-Undang No. Dengan kebijaksanaan tersebut Pemerintah bukan saja berupaya untuk lebih menyeimbangkan struktur penerimaan negara. Sejak dilaksanakannya kebijaksanaan moneter 1 Juni 1983. serta guna meningkatkan kesadaran para wajib pajak dalam menaati pembayaran pajaknya. dan iuran pembangunan daerah. pajak kekayaan. dana-dana yang berasal dari masyarakat yang dapat Departemen Keuangan RI 13 . yakni dengan diberlakukannya UndangUndang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan serta Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan sejak tanggal 1 Januari 1984.

peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar dalam rangka pelaksanaan wajib Departemen Keuangan RI 14 . maka kepada DPR telah diajukan lima RUU masing-masing tentang: Perubahan UU Pemilu. Organisasi Kemasyarakatan.8 persen merupakan dana deposito dan tabungan yang merupakan sumber dana yang renting bagi pembentukan modal untuk disalurkan berupa kredit bagi kegiatan usaha.8 milyar.787. Sampai dengan bulan September 1984. Perubahan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR/DPR/DPRD. Sungguhpun jumlah uang beredar terus meningkat. namun mendorong kegiatan pembangunan. sosial maupun politik. Pelaksanaan pembangunan nasional senantiasa diupayakan berjalan seirama dengaIi pembinaan dan pemeliharaan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.5 persen. Kelima RUU tersebut kini dalam pembahasan. Oleh sebab itu. diantaranya sebesar Rp 7.705. Sehubungan dengan itu dalam tahun pertama Repelita IV kebijaksanaan di bidang pendidikan terutama ditekankan dan diarahkan pada peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan. dan iklim terse but harus dipertahankan agar upaya pembangunan dengan kekuatan sendiri secara bertahap dapat terwujud menjadi kenyataan.905. baik di bidang ekonomi. Sementara itu dalam periode Juni 1983 . Perubahan UU tentang Parpol dan Golkar.2 milyar atau 53. dan kesinambungan pembangunan. dan diharapkan pada waktunya akan mendapat persetujuan akhir dari Dewan Perwakilan Rakyat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dihimpun oleh sektor perbankan menunjukkan kenaikan yang mengesankan. cerdas dan berbudi luhur merupakan modal pembangunan yang sangat menentukan.2 milyar. volume deposito berjangka telah menunjukkan kenaikan sebesar Rp 2. diusahakan agar pengaruhnya terhadap tingkat harga senantiasa dalam batas-batas yang aman. Dalam rangka pembaharuan.8 persen. Dalam kaitan ini unsur terpenting di dalam pengembangan sumber daya manusia adalah pendidikan.Juni 1984. Terpeliharanya kestabilan ekonomi mencerminkan terselenggaranya pengendalian jumlah uang beredar yang sesuai dengan kebutuhan perekonomian. pembangunan politik dan pendidikan politik seperti yang digariskan oleh GBHN terus menerus dilaksanakan. laju inflasi menunjukkan peningkatan sebesar 8. Tegaknya demokrasi Pancasila merupakan syarat mutlak bagi terjaminnya stabilitas nasional. Dalam tahun 1984. sedangkan pada tahun sebelumnya menunjukkan kenaikan sebesar 11. Dengan demikian manusia Indonesia yang sehat. Meningkatnya dana-dana masyarakat yang terhimpun oleh sektor perbankan menunjukkan adanya kestabilan ekonomi. Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. dana perbankan telah mencapai jumlah sebesar Rp 14. dan penyederhanaan kehidupan politik. dan tentang Referendum.

agar tempat beranjak pembangunan bertambah kuat sehingga bangsa Indonesia dapat terus tumbuh dan berkembang. Maka teramat penting bagi segenap aparatur negara. penyuluhan kesehatan. baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah. dan mengarah kepada pengalihan tanggung jawab pengelolaan dari Pemerintah kepada masyarakat. baik secara kualitatif maupun kuantitatif. pemberantasan penyakit menular. dan pembangunan nasional. Bersamaan dengan itu terus diusahakan pula peningkatan program keluarga berencana (KB) nasional yang pelaksanaannya ditempuh melalui pendekatan kemasyarakatan baik melalui jalur formal maupun informal. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap generasi muda dalam tugasnya sebagai penerus perjuangan bangsa. merencanakan untuk memberikan tunjangan jabatan fungsional kepada guru sekolah tingkat dasar dan menengah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 belajar. maka perlu terus ditingkatkan pembangunan kesehatan dan pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk. serta cita dan harapan dapat menjadi kenyataan. Dengan penuh kepercayaan pada kemampuan sendiri. makmur dan sejahtera. serta agar pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan baik. telah dilaksanakan penataran guru/pembina pada berbagai tingkat pendidikan. Departemen Keuangan RI 15 . Guna meningkatkan mutu pendidikan. Di samping itu juga dilaksanakan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera (NKKBS) melalui program lintas sektoral agar terwujud keluarga yang sehat. pengadaan tenaga dokter dan tenaga medis. dan hanya dengan persatuan yang makin kukuh segala rintangan dan tantangan yang berat dalam tahun-tahun mendatang akan teratasi. yang meliputi berbagai bidang studi dan pengelolaan. Terciptanya kerangka landasan seperti yang diamanatkan oleh GBHN harus benarbenar dapat diwujudkan. sementara kesejahteraan para guru dan dosen tetap menjadi perhatian Pemerintah. dan masyarakat untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila. serta penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional. dan tujuannya tidak tersimpangkan. antara lain berupa pembangunan Puskesmas dan rumah sakit. peningkatan gizi masyarakat. Untuk itu sejak Pelita I telah dan terus dilaksanakan pembangunan di bidang kesehatan. agar arah dan pelaksanaan pembangunan tetap benar. dan alih teknologi di bidang kesehatan dan peralatan kesehatan. Oleh karena manusia merupakan modal terpenting dan menentukan dalam pembangunan nasional. Pembangunan juga mengusahakan agar setiap warga negara dapat memperoleh derajat kesehatan yang tinggi menuju terbentuknya keluarga yang sehat dan sejahtera. Untuk itu Pemerintah dalam tahun 1985/1986. serta pengelolaan pendidikan yang lebih berdaya guna dan berhasil guna.

dan ditegaskan kembali di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dengan demikian penerimaan negara beserta pengalokasiannya kepada seluruh sektor pembangunan.1. tetap menjadi dasar kebijaksanaan bagi pengelolaan keuangan negara. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Kemajuan pembangunan nasional yang dilaksanakan sejak tahun 1969 itu tercermin tidak hanya dari terus meningkatnya volume APBN. Hal demikian sangatlah diperlukan untuk menjamin terus berlangsungnya pembangunan nasional secara berkesinambungan. khususnya terhadap meningkatnya laju inflasi. guna mewujudkan amanat yang terkandung di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB II ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA 2. dan memperluas usaha pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. dan secara operasional setiap tahun diwujudkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). dan berpegang teguh pada kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan tarat hidup. diarahkan kepada terwujudnya Trilogi Pemba. pertumbuhan ekonomi yang memadai serta kestabilan nasional yang sehat dan dinamis. Departemen Keuangan RI 16 . kecerdasan serta kesejahteraan seluruh rakyat. yang berarti pula menjaga sendi-sendi kestabilan kehidupan masyarakat. Pendahuluan Sejak pembangunan nasional dirimlai pada tahun 1969/1970. dan pengeluaran negara sebagai pelaksanaan prinsip-prinsip anggaran yang berimbang dan dinamis. Dalam memelihara pengaruh APBN terhadap perkembangan moneter. dan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. tetap dipertahankan. sebagai suatu rangkaian tak terpisahkan dari Trilogi Pembangunan. kecerdasan. kebijaksanaan keuangan negara tetap diarahkan. kesehatan serta penciptaan lapangan kerja diseluruh pelosok tanah air telah ikut mendorong laju pertumbuhan. tahun pertama pelaksanaan Pelita pertama hingga memasuki tahun kedua Pelita IV. sehingga menambah kemantapan iklim perekonomian nasional secara menyeluruh dan terpadu. Hal demikian merupakan salah satu upaya pemantapan stabilitas ekonomi. pendidikan. keseimbangan antara penerimaan negara. Apa yang ditetapkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara dijabarkan di dalam Repelita. Meningkatnya taraf hidup.i1gunan tersebut secara optimal. sebagai tujuan utama dari pembangunan merupakan babagian yang tak dapat dipisahkan dari ukuran keberhasilan pembangunan secara menyeluruh. Beberapa indikator seperti bertambah luasnya prasarana dan sarana seperti perhubungan.

247. dan berlangsung berkepanjangan telah memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi perekonomian Indonesia.510.019.315.8 milyar. yang terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 34.279. sehingga dengan demikian masing-masing melampaui rencananya sebesar Rp 820.4 milyar. Bila dibandingkan dengan rencana anggaran penerimaan dalam Repelita. maka dalam tabun terakhir Pelita III realisasinya telah meningkat menjadi Rp 18. Dalam Repelita III anggaran yang direncanakan berimbang pada jumlah sebesar Rp43. Adapun pengeluaran rurin dan pengeluaran pembangunan dalam lima tahun pelaksanaan Pelita III terse but dicapaijumlah sebesar Rp 32.849.714. penyesuaian nilai tukar dollar Ametika terhadap rupiah. dan pengeluaran pembangunan sebesar Rp21. Perekonomian dunia yang dilanda krisis.273.393.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Perkembangan volume APBN.406. dalam beberapa tahun terakhir. khususnya di bidang penerimaan negara.2 milyar dan Rp 5. yang berarti meningkat sebesar hampir 55 kali lipat dalam jangka waktu lima betas tahun. terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 55.7 milyar.393. sedangkan pengeluaran negara terdiri dari pengeluaran rutin sebesar Rp 21.3 milyar. berbagai tantangan dan hambatan.7 milyar.1 milyar.463.0 milyar dan Rp 12. yaitu dengan realisasi penerimaannya sebesar Rp 66.2 milyar.8 milyar.510.168. Dibalik kemajuan tersebut.2 milyar.987. terutama untuk mengamankan penerimaan negara melalui APBN.6 milyar. Adapun usaha untuk memperkecil pengaruh yang di timbulkan resesi dunia tersebut. Dengan demikian dibandingkan dengan rencananya. Oleh sebab itu upaya peningkatan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas Departemen Keuangan RI 17 . dan penerimaan pembangunan sebesar Rp 10. penjadwalan kembali proyek-proyek. dan penerimaan pembangunansebesar Rp 9. maka realisasinya selalu melampaui rencana dalam setiap Repelita.2 milyar dan Rp18. dan kebijaksanaan moneter 1 Juni 1983.7 milyar.1 milyar.3 milyar dan Rp 12.237. Demikian pula rencana anggaran penerimaan dalam Repelita III sebesar Rp 43. masing-masing lebih besar dengan Rp 21.4 milyar. Di dalam pelaksanaannya selama lima tahun Pelita III. dalam realisasinya masing-masing mencapai jumlah sebesar Rp 3. realisasi penerimaan negara telah dapatn mencapai Rp 66. yakni dari tahun 1979/1980 sampai dengan tahun 1983/1984. sehingga masing-masing mengalami kenaikan sebesar Rp 10.586.4 milyar.6 milyar.1 milyar. telah mempengaruhi perkembangan APBN.5 milyar dan Rp 34.129.551.8 milyar dari yang direncanakan.883. Dalam Repelita I dan II anggaran penerimaan yang direncanakan berjumlah Rp 2. Pemerintah telah mengambil berbagai kebijaksanaan antara lain berupa pembaharuan di bidang perpajakan.3 milyar dan Rp 1. hila dalam tabun pertama Pelita I jumlah penerimaan baru sebesar Rp 334.661.467.283.5 milyar.6 milyar ternyata dalam pelaksanaannya telah dilampaui sebesar Rp 22.

unsur-unsur kesederhanaan. sedikit demi sedikit telah dilaksanakan seiring dengan meningkatnya perekonomian pada umumnya. maupun ketrampilan petugas yang bersangkutan. serta menunjang upaya stabilisasi ekonomi nasional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 alam. badan-badan usaha. baik dari pengelola pajak maupun dari masyarakat wajib pajak. maka perlu ditingkatkan pengawasan. seperti pemerataan pendapatan dan beban pembangunan. Selanjutnya agar penerimaan dan pengeluaran negara dapat diurus secara efisien dan efektif. Untuk itu mulai akhir tahun anggaran 1983/1984 telah diberlakukan beberapa undang-undang perpajakan yang baru dengan perbaikan secara mendasar terhadap sistem perpajakan lama yang antara lain meliputi dasar pengenaan pajak. pemerataan atau keadilan dan kepostian mendapat pengaturan yang lebih sesuai dengan perkembangan pembangunan. Dalam undang-undang perpajakan rang baru tersebut. tanpa harus mengorbankan kebutuhan dan kesejahteraan dari sebagian besar masyarakat.. Adanya potensi perpajakan yang masih besar dalam masyarakat. serta para wajib pajak pada umumnya. Agar pelaksanaan undang-undang pajak dapat berjalan lancar telah dan terus diadakan penyuluhan terhadap pengusaha. Iklim tersebut selanjutnya akan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri. dan agar terdapat alokasi sumber-sumber ekonomi yang sehat. perdagangan. Sebagai peralatan fiskal. maupun peningkatan disiplin dan pembinaan mental aparat pemungut pajak. baik yang menyangkut prosedur dan tata kerja administrasi perpajakan. tarip pajak serta tata cara pembayaran pajaknya. serta membantu terciptanya suasana yang lebih sesuai dengan pola hidup sederhana. pengendalian dan penghematan dalam menyelenggarakan kegiatan Pemerintah terus dilakukan. Dalam melaksanakan undang-undang perpajakan yang baru. kebijaksanaan perpajakan diarahkan bukan saja untuk meningkatkan penerimaan negara. kestabilan barga. Di sektor pengeluaran rutin. terusmenerus dilaksanakan. serta mengarahkan kegiatan pembangunan pada proyek-proyek yang berprioritas tinggi. Sementara itu pengeluaran pembangunan tetap diarahkan untuk membiayai proyek-proyek yang Departemen Keuangan RI 18 . akan tetapi juga dimaksudkan untuk menciptakan iklim yang memungkinkan terwujudnya beberapa sasaran pembangunan nasional. Pengurangan dan penghapusan berbagai subsidi. Dalam hubungan ini pembenahan aparatur perpajakan. asosiasi-asosiasi. seperti penerimaan dari sumber-sumber perpajakan. Kebijaksanaan yang ditempuh untuk melaksanakan hal tersebut antara lain dengan meningkatkan efisiensi penggunaan dana. bea dan cukai. memerlukan penanganan dan pendayagunaan yang cermat dan secara berencana terus dikembangkan agar tujuan mencapai kemandirian dalam pembiayaan pembangunan secara bertahap dapat menjadi kenyataan. diperlukan disiplin dari berbagai pihak. yang berkembang sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. perluasan kesempatan kerja. dan terus disempurnakan baik tata cara pengelolaannya. serta penerimaan bukan pajak. telah dan akan terus dilaksanakan.

baik dari masyarakat. dan kerja keras. maka te1ah terjadi kenaikan sebesar 16. realisasi penerimaan dalam negeri mencapai jumlah sebesar Rp 7. maupun segenap aparat negara. maupun dalam rangka pemulihan perekonomian di dalam negeri. baik sarana maupun prasarana. Kenaikan tersebut terutama disebabkan karena meningkatnya penerimaan dari sektor minyak. Apabila dibandingkan dengan penerimaan dalam negeri dalam semester I 1983/1984 sebesar Rp 6.6 milyar dan Rp 8. dan penerimaan bukan pajak.4 milyar. Jumlah penerimaan dalam negeri tersebut berarti 45. Dibandingkan dengan pengeluaran rutin dalam semester I 1983/1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas.560.8 milyar.4 milyar. Adapun realisasi pengeluaran rutin dalam semester I 1984/1985 mencapai Rp 4. realisasi penerimaan dan pengeluaran negara masing-masing dapat mencapai Rp 8.1.540. Departemen Keuangan RI 19 . baik untuk memperkecil pengaruh resesi dunia. Se1ama semester I tahun anggaran 1984/1985. 2. yang berarti masingmasing meningkat dengan 6.5 persen dari penge1uaran rutin yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. Berbagai usaha dan langkah kebijaksanaan yang telah diambil. dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2. terutama dalam memberikan pe1ayanan kepada masyarakat.9 milyar.295. serta merawat sarana dan prasarana hasil pembangunan.1 persen.418.390. terdapat peningkatan sebesar 19.8 persen dari jumlah yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. pada hakekatnya memerlukan penyesuaian sikap.7 persen bila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun anggaran sebe1umnya.971.0 persen. Ringkasan Pelaksanaan APBN dalam tahun anggaran 1984/1985 ditandai oleh perkembangan keadaan ekonomi nasional yang relatif lebih baik. Pelaksanaan APBN 1984/1985 ( Semester I ) 2. yang berarti 42. khususnya dunia usaha.2. khususnya aparat penge1ola keuangan negara.6 milyar yang terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 4.372.6 persen dan 41. Jumlah penerimaan dan pengeluaran negara dalam semester I 1984/1985 tersebut berarti masing-masing mencapai 41.5 persen dari rencana APBN 1984/1985 yang berimbang pada jumlah Rp 20.2. Dalam semester I 1984/1985.7 milyar. penerimaan cukai. guna menumbuhkan seluruh sektor perekonomian masyarakat. dibandingkan dengan tahun sebelumnya.546. Kebijaksanaan penge1uaran rutin dalam tahun anggaran 1984/1985 diarahkan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas yang lebih tinggi.8 milyar.

Dengan demikian dari dana pembangunan sebesar Rp 4.0 milyar.7 milyar pada semester I 1984/1985. Dengan demikian pembangunan yang dilaksanakan untuk se1anjutnya akan dapat lebih tumbuh dan berkembang di atas kemampuan sendiri.764. terlihat dari meningkatnya tabungan Pemerintah yang merupakan se1isih an tara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin. Dengan berbagai kebijaksanaan dan usaha yang te1ah dijalankan. Penerimaan dalam negeri Dalam rangka menunjang kegiatan pembangunan yang semakin meningkat dan meluas.132.094. Realisasi penerimaan pembangunan yang bersumber dari luar negeri dalam semester I 1984/1985 menunjukkan jumlah sebesar Rp 1. 2.0 persen. maka berarti terdapat penurunan sebesar 29. Dalam semester I 1984/1985 telah berhasil dihimpun tabungan Pemerintah sebesar Rp 3.5 milyar.7 milyar tersebut te1ah digunakan untuk membiayai penge1uaran pembangunan sebesar Rp 4.7 milyar.3 persen.9 milyar. dan penge1uaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek sebesar Rp 1.244. Sehubungan dengan itu. upaya untuk meningkatkan penerimaan dalam negeri dalam tahun 1984/1985 terus dilakukan seraya diarahkan untuk menunjang peningkatan produksi dan investasi.1 milyar.7 milyar.5 milyar. memperluas kesempatan kerja.2.156.250. serta lebih mengusahakan pemerataan pembangunan dan pemeliharaan kestabilan.2. Sejalan dengan semakin ineningkatnya kebutuhan dana pembangunan yang hams disediakan. Bila dibandingkan dengan penerimaan pembangunan dalam semester I tahun sebe1umnya sebesar Rp 1.634. Jumlah tersebut terdiri dari realisasi pembiayaan pembangunan sektoral yang dilaksanakan oleh departemen/lembaga sebesar Rp 1. Dalam semester I 1984/1985.094. pembiayaan pembangunan regional berupa bantuan pembangunan daerah (program Inpres) dan Ipeda sebesar Rp 844. Dana ini dibutuhkan guna menambah dana pembiayaan pembangunan agar sasaran pembangunan dapat tercapai. Dibandingkan dengan tabungan Pemerintah semester I 1983/1984 yang berjumlah sebesar Rp 2.552. maka diperlukan tersedianya dana pembangunan yang semakin meningkat pula. realisasi pengeluaran pembangunan mencapai jumlah sebesar Rp 4. Penerimaan pembangunan bersama tabungan Pemerintah berjumlah Rp3.5 milyar. membentuk dana pembangunan sebesar Rp 4. maka dalam semester Departemen Keuangan RI 20 .8 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Meningkatnya kemampuan sumber-sumber dana dari dalam negeri guna membiayai pembangunan nasional. upaya penyediaannya haruslah selalu diusahakan terutama dari sumber dalam negeri. baik segi perencanaan maupun pelaksanaan operasionalnya.244. realisasi penge1uaran pembangunan lainnya sebesar Rp 714.250.7 milyar.3 milyar maka terdapat peningkatan sebesar 12.

000.166. serta meningkatnya volume ekspor dari gas alam.8 milyar tersebut berarti telah mencapai 41. Upaya ke arah pemungutan pajak yang lebih adil dan merata tercermin dengan semakin ringannya beban pajak bagi golongan masyarakat berpendapatan rendah melalui peningkatan penghasilan tidak kena pajak (PTKP).418. Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan dalam semester I tahun sebe1umnya yang sebesar Rp 4. pajak penjualan impor sebesar Rp 125.971.8 milyar tersebut adalah 48.971.390.2 milyar. cukai sebesar Rp 375.1 milyar atau 18. Peningkatan penerimaan ini antara lain disebabkan oleh adanya penyesuaian nilai tukar dollar Amerika terhadap rupiah. dan penggolongan tarip lebih sederhana.-.418. Undang-Undang Pajak Penghasilan tahun 1984 yang sudah berlaku sejak bulan Januari 1984 mengandung berbagai kebijaksanaan yang pada prinsipnya mendorong kegiatan dunia usaha dan pembangunan nasional. dengan senantiasa berusaha untuk menciptakan iklim perpajakan yang menjamin keadilan. serta tiga orang anak adalah sebesar Rp 1.8 milyar atau 11. isteri. Adapun penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam terdiri dari penerimaan pajak penghasilan sebesar Rp 875. penerimaan pajak lainnya sebesar Rp 33.2 persen. 25 persen untuk penghasilan di atas Rp 10 Departemen Keuangan RI 21 .7 milyar.206.7 persen hila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun 1983/1984 sebesar Rp 2.8 milyar dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2. Realisasi penerimaan minyak bumi dan gas alam dalam semester I 1984/1985 sebesar Rp 4.050.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 I tahun anggaran 1984/1985 realisasi penerimaan dalam negeri mencapai jumlah sebesar Rp7. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam tersebut telah meningkat sebesar Rp 252. pajak penjualan sebesar Rp 272. pajak ekspor sebesar Rp 38.880.8 persen dari jumlah seluruhnya yang direncanakan dalam APBN.9 milyar. Realisasi penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2. Sedangkan lapisan kena pajak. dan terdiri dari tiga lapisan tarip. bea masuk sebesar Rp 276.5 milyar. yaitu 15 persen untuk penghasilan sampai dengan Rp 10 juta. berarti mengalami kenaikan sebesar Rp 765. yang semula untuk satu keluarga terdiri dari suami.5 milyar. pemerataan dan kepostian hukum. PTKP yang sebelumnya dikenal dengan istilah BPBP (batas pendapatan bebas pajak).000..kini telah ditingkatkan menjadi Rp 2.2 milyar.2 miyar. Jumlah realisasi penerimaan dalam negeri semester I 1984/1985 tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 4.0 milyar. penerimaan Ipeda sebesar Rp 68.8 milyar.8 milyar.0 persen dari yang direncanakan dalam APBN.5 milyar.6 milyar. dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 353. Langkahlangkah kebijaksanaan yang diambil dalam rangka meningkatkan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam antara lain berupa pelaksanaan undang-undang perpajakan yang baru.0 milyar.

maka Undang-Undang Pajak Penjualan 1951 masih berlaku hingga tanggal berlakunya undang-undang baru tersebut.3 milyar. dan sebelumnya yang belum pernah. serta mendorong perkembangan industri dalam negeri. Realisasi penerimaan cukai dalam semester I 1984/1985 adalah sebesar Rp 375. juga diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat banyak. maupun beberapa pembebasan sebagian bea masuk atas sejumlah bahan baku dan barang-barang tertentu.8 persen. Jumlah terse but adalah 35.7 persen dan 2.6 persen dari yang direncanakan dalam APBN. Realisasi penerimaan bea masuk dalam semester I tahun 1984/1985 mencapai Rp 276. Sejalan dengan kebijaksanaan umum di bidang perpajakan. Undang-Undang Pajak Penjualan 1951 sebenarnya tidak berlaku lagi setelah disahkannya Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang semula direncanakan untuk diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1984. telah pula dilaksanakan penyempurnaan tala laksana pabean di bidang impor.2 milyar. Tetapi sehubungan dengan penundaan pelaksanaan Undang-Undang PPN 1984 tersebut hingga selambat-lambatnya tanggal 1 Januari 1986.5 milyar.7 persen dari yang direncanakan dalam APBN. Adapun pengampunan pajak yang ditentukan sejak 18 April 1984 akan memberikan pengaruh positif terhadap kejujutan dan keterbukaan wajib pajak. dan 35 persen untuk penghasilan di atas Rp 50 juta.7 milyar dan Rp 122. maka terdapat kenaikan sebesar 3. terlihat adanya. Bila dibandingkan dengan penerimaan bea masuk semester I tahun anggaran sebelumnya sebesar Rp 267. kebijaksanaan di bidang bea masuk di samping dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan negara. penerimaan pajak penjualan dan pajak penjualan impor adalah sebesar Rp 272. dan Rp 125. Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan pajak penjualan dan pajak penjualan impor dalam semester I 1983/1984 yaitu masing-masing sebesar Rp 252.kenaikan sebesar 7.9 milyar.5 Departemen Keuangan RI 22 .5 milyar. Dengan berbagai kebijaksanaan dan usaha-usaha tersebut di atas. yang dimaksudkan untuk memelihara dan menunjang perkembangan industri di dalam negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 juta sampai dengan Rp 50 juta. Pengampunan pajak diberikan atas pendapatan yang diperoleh dalam tahun 1983. Sehubungan dengan itu Pemerintah tetap memberikan keringanan tarip. sehingga dengan pengampunan pajak terse but diharapkan akan dapat memperluas jumlah wajib pajak. yang berarti 40.4 persen.0 milyar. Dalam rangka menjamin kelancaran arus dokumen dan pengeluaran barang. Dalam semester I 1984/1985. dalam semester I tahun anggaran 1984/1985 realisasi penerimaan pajak penghasilan telah mencapai Rp 875. atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut pajak sesuai dengan peraturan yang berlaku.

termasuk Indonesia. Dalam semester I 1984/1985 penerimaan bukan pajak realisasinya mencapai Rp 353. maka terdapat kenaikan sebesar Rp 147.5 milyar. Apabila dibandingkan dengan penerimaan yang sarna dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp50.9 persen.2 milyar.4 milyar. realisasi penerimaan pajak ekspor untuk semester I 1984/1985 hanya mencapai sebesar Rp 38. Di samping itu timbul pula hambatan yang dikenakan negaranegara maju terhadap barang-barang ekspor negara dunia ketiga. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp 205. antara lain bauksit dan pekatannya. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp 23.3 persen. berarti mengalami kenaikan sebesar 12. berupa pembatasan (kuota) impor terbadap berbagaijenis komodiri. Penerirnaan bukan pajak terdiri dari Departemen Keuangan RI 23 . Pemerintah telah menurunkan tarip pajak ekspor terhadap beberapa komoditi tertentu. Jumlah tersebut berarti 44.5 milyar.6 persen dari yang direncanakan dalam APBN.6 milyar. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun anggaran sebelumnya yang besamya Rp 334. Hal tersebut telab berpengaruh kepada volume maupun nilai ekspor Indonesia dalam semester I 1984/1985. sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar iuran tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar.4 persen dari rencananya dalam APBN.9 persen. dan bea lelang.2 milyar. dalam semester I 1984/1985 mencapai Rp 33.4 persen dari yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985. yang berarti mencapai 51.6 milyar.7 milyar atau 71. atau 57. membawa pengaruh yang kurang menguntungkan terhadap perkembangan harga barang-barang ekspor non migas di posaran dunia. berarti terdapat penurunan sebesar 23. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 28.4 persen dari yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985.2 persen bila dibandingkan dengan penerimaan dalam semester I tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 53. Kenaikan ini terutama berasal dari kenaikan penerimaan cukai tembakau dengan meningkatnya produksi rokok. Keadaan perekonomian yang masih belum sepenuhnya pulih dari resesi. berarti mengalami kenaikan sebesar 41. Penerimaan Ipeda dalam semester I tahun 1984/1985 adalah sebesar Rp 68. Upaya peningkatan penerimaan jenis ini selalu diusahakan dengan lebih meningkatkan kualitas petugas pelaksana melalui pendidikan dan latihan.2 milyar. Untuk meningkatkan ekspor non migas di tengah perkembangan perekonomian dunia yang masih lamban. bea meterai. Realisasi penerimaan pajak lainnya yang terdiri dari pajak kekayaan. serta penyuluhan kepada masyarakat luas.8 milyar atau 31.3 persen. Sejalan dengan perkembangan tersebut.

sewa rumah dinas.70 Penerimaan di luar minyak B. antara lain berupa bagian Pemerintah atas laba perusahaan negara. Pajak lainnya 23. serta berbagai jenis penerimaan departemen dan lembaga Pemerintah lainnya.5 353.9 2. yaitu dalam bentuk bantuan program dan bantuan proyek. Pajak penjualan 252. dalam semester I 1984/1985 realisasinya masing-masing sebesar Rp 23. bumi dan gas alam 2. Perbandingan penerimaan dalam negeri. Penerimaan bukan pajak 205. gas alam 4.3.00 2.5 12.2 68. penerimaan dalam negeri senantiasa diusahakan peningkatan dan peranannya di dalam penyediaan dana pembangunan yang diperlukan. Pajak penjualan impor 122. Pengeluaran rutin Kebijaksanaan Pemerintah di bidang pengeluaran rutin tidak terlepos dari upaya untuk Departemen Keuangan RI 24 .0 2. Pajak penghasilan 856.3 276. Pengelolaan sumber dana yang berasal dari luar negeri tersebut senantiasa diarahkan seefisien mungkin untuk membiayai proyek-proyek pembangunan yang produktif dan berprioritas tinggi. Namun upaya memobilisasikan dana pembangunan tersebut harus diusahakan tidak melampaui kekuatan ekonomi yang ada.3 7.8 -23.80 11. Penerimaan pembangunan Untuk memungkinkan ekonomi nasional dapat tumbuh dan berkembang di atas kemampuannya sendiri.9 Jumlah 6.2 A.7 1.6 38.8 milyar.2 8.132.70 7. Pajak ekspor 50.9 9.4 5.60 6.206.2 2. Cukai 334. hasil penjualan barang milik negara.80 18. Oleh karena itu dana yang berasal dari luar negeri masih diperlukan sebagai pelengkap untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan.2 7. Bea masuk 267. dan bank negara. uang pendidikan.2.8 4. SEMESTER 1 1983/1984 DAN 1984/1985 (dalam milyar rupiah) .372.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berbagai jenis penerimaan negara.166.971. Ipeda 53.Semester I Semester 11) Kenaikan / 1983/1984 1984/1985 Penurunan (%) Jems penerimaan Penerimaan minyak bumi dan 4.7 3.5 41.5 125.2.2 875 2.6 33.2 71.7 272.3 6. seperti iuran hak pengusahaan hutan (IHPH). semester I 1983/1984 dan 1984/1985 dapat dilihat dalam Tabel II. Penerimaan pembangunan.2 milyar dan Rp 1.4.4 375.2 PENERIMAAN DALAM NEGERI.390. bea nikah dan akte kelahiran pada catatan sipil.2 Tabel II.418.2 28. 2. dan sebagainya.5 3.

3 milyar.1 milyar. Dalam semester I 1984/1985. Realisasi pengeluaran rutin sebesar Rp 4.602.3 persen. pembayaran bunga dan cicilan hutang sebesar Rp 1.295.9 milyar tersebut merupakan 42. telah ditetapkan pula Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 1984 tentang Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah di Departemen/Lembaga.6 milyar. realisasi pengeluaran rutin diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 4. sebagai upaya untuk lebih mendorong peningkatan produksi dalam negeri.2 persen dari realisasi dalam semester I tahun sebelumnya. sehingga dapat bekerja lebih baik dan dengan demikian akan meningkatkan produktivitas kerja. tidak mewah. belanja barang sebesar Rp 406.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 meningkatkan tabungan Pemerintah.3 milyar selama semester I 1984/1985 merupakan peningkatan sebesar 14. dan lain-lain pengeluaran rutin sebesar Rp135. serta lebih efektif dan efisien sehingga pelaksanaannya dapat lebih terarah dan terkendali. Seiring dengan itu.9 milyar.3 Realisasi belanja pegawai sebesar Rp 1. Peningkatan re'alisasi belanja pegawai ini antara lain sebagai akibat diberikannya kenaikan gaji sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan kepada pegawai negeri sipil/ ABRI dan pensiunan.1 persen hila dibandingkan dengan semester I 1983/ 1984. dayaguna dan hasilguna serta pengamanan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa. subsidi daerah otonom sebesar Rp 913. dari Rp 137. dan berarti pula telah menyerap 50.295. Departemen Keuangan RI 25 .0 milyar.7 milyar dalarn semester I 1983/1984 menjadi Rp 255. Dalam pedoman pelaksanaan APBN yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 29 tahun 1984 dinyatakan bahwa pelaksanaan APBN diarahkan kepada penggunaan kemampuan dan hasil produksi dalam negeri sejauh mungkin.2 persen dari dana yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985. Kenaikan realisasi belanja pegawai juga disebabkan meningkatnya realisasi tunjangan beras. di samping berhubungan erat dengan pengamanan dan pemeliharaan hasilhasil pembangunan. yang merupakan sumber utama bagi pembiayaan pembangunan.238. dalam rangka meningkatkan kelancaran. Perkembangan realisasi pengeluaran rutin dalam sem(. Pemberian kenaikan gaji itu sendiri merupakan langkah yang ditempuh Pemerintah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri sipil/ ABRI dan pensiunan.ster I 1984/1985 dapat diikuti dalam Tabel II.602. yang terdiri dari belanja pegawai sebesar Rp 1. Oleh sebab itu setiap kegiatan pengeluaran harus dipertimbangkan agar selalu berlandaskan pada prinsip-prinsip hemat.5 persen dari rencananya dalam APBN 1984/1985 dan menunjukkan peningkatan sebesar 19.9 milyar.2 milyar dalarn semester I 1984/1985 yang berarti meningkat sebesar 85.

Bantuan pembangunan dan pemugaran 8. biaya giro pos dan lain-lain.3 -73.4 26.4 d. Dalam negeri b.9 357.4 1.7 57.237.10 0. SalaDa kesehatan / Puskesmas 9.369. Bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984 terdapat kenaikan sebesar Rp 615.6 126. peg.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel II.7 -3.4 g.5 b.7 42.1 21. Luar negeri 5.9 c. yang antara lain menampung pengeluaran untuk subsidi bahan bakar minyak.70 151 41 31.8 0.7 203.237.051.1 26.5 a. Penyertaan modal pemerintah 197. Dengan berpedoman kepada ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 1984. Pembangunan Timor Timur 0.0 milyar. se1ama semester I 1984/1985 mencapai realisasi sebesar Rp 135.1 39. Lain .402.6 31.9 391.1 milyar.9 622. penggantian biaya pengiriman surat dinas bebas porto. Lain-lain pengeluaran rutin.2 85.6 10 1) 9.70 12.8 217 24.9 milyar.2 623 0.3 6.2 h. penge1uaran untuk belanja barang harus dilakukan secara selektif dan terkendali.2 4. Tunjangan beras b. Lain -lain a.552.6 milyar.30 255.90 137.3 34. Lain .4 milyar.6 260.90 Kenaikan (%) 14.3 29. Departemen/lembaga 1. Luar negeri 3.2 68.8 -15 2. Subsidi BBM b.5 81. dalam negeri e. Lain-lain bel.2 545.295. Subsidi pupuk 176.9 2.3 persen lebih rendah dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984.7 641.5 136. Pengeluaran rutin untuk subsidi daerah otonom dalam semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 913.6 15.4 406.348.2 1. yang berarti 72.30 147.3 a. Belanja pegawai a.9 30. Bantuan pembangunan kabupaten 30.6 6. Belanja barang a. Ipeda 53.2 1.7 b.238.608.2 3. Subsidi daerah otonom a.20 3.5 369.2 237.6 714. Pembiayaan bagi daerah 603.3 3.70 135.4 9.7 1) Di luar bantuan proyek 2) Angka sementara Hal ini terutama disebabkan perhitungan harga beras untuk pegawai Degen. Agar pe1aksanaan penge1uaran rutin dapat berjalan secara hemat dan efisien.1 milyar terdiri dari pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri sebesar Rp 0.9 12.3 32. H a n k a m 239. Pembiayaan Departemen/Lembaga 1. yang berarti meningkat sebesar 26.111.7 milyar. Non belanja pegawai 4.lain 174. yang berarti suatu kenaikan sebesar 10 persen dan realisasi dalam periode yang sama tahun sebelumnya.2 3.8 286.40 1984/85 1) 1. Bantuan pembangunan desa 24 92. Biaya makan (lauk pauk) d. Realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam semester I 1984/1985 sebesar Rp 1.3 persen dibandingkan dengan semester I tahun sebelumnya. Se1anjutnya.1 -5.602.5 23.9 a. Belanja pegawai luar negeri 2. Kenaikan realisasi subsidi daerah otonom ini disebabkan adanya kenaikan gaji pegawai daerah otonom sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan tahun sebe1umnya.9 i. .1 Jumlah 2.7 e.7 23.123. pe1aksanaan be1anja barang dalam semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 406.2 -4 33. yang semula Rp 327. Gaji dan pensiun c. SEMESTER I 1983/1984 DAN 1984/1985 1) (dalam milyar rupiah) Kenaikan (%) Jenis pengeluaran 1983/84 1984/85 2) 1.9 46 19.7 1.Belanja pegawal b.7 98. penyesuaian harga beras ini mempengaruhi pula pembayaran uang makan/lauk pauk.-/kg dinaikkan menjadi Rp 366.3 913 828.2 28.609.4 PENGELUARAN PEMBANGUNAN.9 483. Pembiayaan Lain-lain 548.70 1. dan untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri sebesar Rp 1.-/kg sejak 1 April 1984. Bantuan sekolah dasar 330 311.5 12. Bantuan pembangunan Dati I 59.2 -37.4 722. Bantuan penghijauan dan reboisasi 51. SEMESTER I 1983/1984 DAN 1984/1985 (dalam milyar rupiah) Jenis Pengeluaran 1.40 1.6 99 -72.3 f.90 -1.8 84.2 c.7 -55.238.7 b. Prasarana jalan 45 57.761. Dalam negeri b.2 844. Hal ini disebabkan terutama oleh lebih rendahnya realisasi subsidi bahan bakar minyak. Bunga dan cicilan hutang a.5 j.3 PENGELUARAN RUTIN.1 Tabel II.1 489. Departemen Keuangan RI 26 .lain Jumlah 1) Angka sementara 1983/84 1.70 -3.1 194.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. serta selalu berpedoman kepada Keputusan Presiden tersebut diatas. Pengeluaran pembangunan berupa pembiayaan rupiah sebesar Rp3.1 milyar.5. jumlah tersebut menunjukkan peningkatan sebesar Rp 330.244. dilakukan dengan meningkatkan jumlah penerimaan dalam negeri bersamaaan dengan penghematan dalam pengeluaran rutin.7 milyar. Upaya peningkatan penerimaan dalarn negeri ditempuh antara lain dengan penyempurnaan perundang-undangan pajak.2. Selama semester I 1984/1985.132. Ipeda dan pembiayaan bagi Timor Timur. Selama semester I 1984/1985 te1ah berhasil dihimpun tabungan Pemerintah sebesar Rp 3. kebijaksanaan yang dijalankan berkenaan dengan pelaksanaan anggaran telah dituangkan dalam Keputusan PresideD Nomor 29 tahun 1984 tentang Pelaksanaan APBN. Bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984.6. sedang di bidang penge1uaran rutin antara lain dengan jalan menyempurnakan pedoman pe1aksanaan APBN di samping peningkatan mutu aparat pe1aksanaannya. Jumlah tersebut meliputi pembiayaan rupiah sebesar Rp 3. Pengeluaran pembangunan Berbagai langkah dan kebijaksanaan yang telah diambil Pemerintah selama pelaksanaan Repelita I.094.9 persen. telah meletakkan landasan yang lebih kuat bagi pelaksanaan Repelita IV. intensifikasi dan extensifikasi pungutan pajak.9 milyar. penyempurnaan administrasi serta pembenahan aparatur perpajakan.111. yang berarti telah mencapai 51. pengeluaran pembangunan bagi daerah sebesar Rp 844. yang merupakan tahun pertama pelaksanaan Repelita IV. II dan III.7 milyar.2 persen dan yang direncanakan dalam APBN 1984/1985.2. yang merupakan sumber utarna bagi pembiayaan pembangunan. dan pengeluaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek sebesar Rp 1.552. Tabungan Pemerintah Usaha untuk meningkatkan tabungan Pemerintah.7 milyar tersebut terdiri dari pengeluaran pembangunan untuk proyek-proyek sektoral yang dikelola departemen/lembaga sebesar Rp 1.4 milyar atau 11. 2.7 milyar. Dalam tahun anggaran 1984/1985.8 milyar. Pengeluaran pembangunan bempa pembiayaan pembangunan bagi daerah merupakan bantuan yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah untuk menjalankan pembangunan yang meliputi program-program Inpres.5 milyar.111. dan sisanya berupa pengeluaran pembangunan lainnya sebesar Rp 714. Dengan tetap berlandaskan pada Trilogi Pembangunan. telah berhasil direalisasikan bantuan sebesar Departemen Keuangan RI 27 . pelaksanaan pengeluaran pembangunan selama semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 4.

7 milyar yang berarti 3. realisasinya sebesar Rp 68.2 milyar. sedangkan bantuan penghijauan dan reboisasi yang bertujuan untuk menyelamatkan kelestarian sumber-sumber alam. penyertaan modal Pemerintah dan lain-lain pembangunan. sarana kesehatan/Puskesmas sebesar Rp 21. realisasinya menunjukkan penurunan sebesar 5. dan Departemen Keuangan RI 28 .4 milyar.2 milyar.1 milyar.1 milyar ini telah menyerap dana sebesar 53. bantuan pembangunan posar sebesar Rp8.6 persen dari yang direneanakan dalam tahun 1984/1985.an pembangunan Dati I sebesar Rp 57. yang berarti telah menyerap sebesar 55.4 persen di bawah realisasi semester I 1983/1984.1 milyar. bantuan penghijauan dan reboisasi sebesar Rp 32. Rp 260.1 milyar. Demikian pula halnya dengan program pembangunan sekolah dasar.7 milyar.2 milyar dalam semester I 1984/1985 menunjukkan peningkatan sebesar 28. Tetapi realisasi sebesar Rp 311. yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah dalam rangka melindungi para pedagang kecil golongan ekonomi lemah. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan masing-masing sebesar Rp 237. dan program pembangunan dengan dana Ipeda sebesar Rp 68.7 persen dibandingkan dengan semester I tahun lalu. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan sebesar Rp 8. dan bantu.8 milyar. serta meningkatkan partisiposi daerah dalam pembangunan. Begitu pula halnya dengan pengeluaran pembangunan dengan dana Ipeda. Pengeluaran pembangunan lainnya. dalam waktu yang bersamaan telah direalisasikan sebesar Rp 32. Selebihnya adalah realisasi program bantuan pembangunan Timor Timur sebesar Rp 0. Realisasi program-program pembangunan sarana kesehatan/Puskesmas.8 milyar dan Rp 194.6 milyar. serta bantuan bagi prasarana jalan sebesar Rp 57.3 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp844. yang terdiri dari subsidi pupuk.5 milyar.2 milyar. yang diberikan dalam rangka meningkatkan keselarasan pembangunan sektoral dan regional. Realisasi bantuan pembangunan desa dan bantuan pembangunan kabupaten masingmasing sebesar Rp 92. Bantuan pembangunan Dati I.4 milyar. prasarana jalan dan program pembangunan Timor Timur dalam semester I 1984/1985 telah menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan realisasi dalam periode yang sarna tahun sebelumnya.2 milyar dalam semester I 1984/1985 merupakan realisasi dari anggaran yang disediakan dalam tahun anggaran 1984/1985. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan sebesar Rp 57.2 milyar. Di samping itu jumlah tersebut juga meliputi program bantuan pembangunan sekolah dasar sebesar Rp 311. meratakan hasil-hasil pembangunan. Jumlah tersebut meliputi pembiayaan bagi program bantuan pembangunan desa sebesar Rp 92. bantuan pembangunan kabupaten sebesar Rp 194.2 persen bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I tahun sebelumnya. Bantuan pembangunan dan pemugaran pasar.7 persen dari dana yang direncanakan dalam tahun 1984/1985.9 milyar.

Pengeluaran pembangunan dalam rangka penyertaan modal Pemerintah antara lain dipakai untuk pembiayaan PT Dok Perkapalan Tanjung Priok. PT Industri Mesin Produksi Indonesia (IMPI) dan PT PAL Indonesia. sertifikat ekspor. Di bidang keuangan negara. PT GIA/Cengkareng. pengembangan statistik. dan penurunan harga minyak dari US $ 34. rendahnya permintaan akan komoditi-komoditi ekspor dari negara-negara sedang berkembang.00 menjadi US $ 29. yakni pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. 2. Seperti halnya pada tahun-tahun yang lampau. Demikian pula prinsip-prinsip anggaran berimbang yang dinamis tetap pula dipertahankan dalam penyusunan rancangan APBN 1985/1986. lingkungan hidup.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 217.3 juta barrel pada bulan April 1982. Perbandingan antara realisasi pengeluaran pembangunan di luar bantuan proyek dalam semester I 1984/1985 dengan semester I 1983/1984 ditunjukkan dalam Tabel II. proyek sumber daya laut dan lain-lainnya. realisasi tersebut menunjukkan peningkatan masingmasing sebesar 34. serta meningkatnya langkah-langkah proteksionisme dari negara-negara maju.4.1 persen.9 persen dan 24. Situasi perekonomian intemasional yang belum sepenuhnya pulih dari resesi. 31. Demikian pula posaran dan harga minyak bumi dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan keadaan labil. Dibandingkan dengan semester I 1983/1984. akan tetap dilaksanakan berbagai langkah kebijaksanaan untuk meningkatkan efisiensi dan penghematan. telah mempengaruhi perkembangan perekonomian negara-negara dunia ketiga. yaitu sejak diberlakukannya kuota produksi sebesar 1. PT PINDAD. landasan kebijaksanaan raneangan APBN 1985/1986 tetap bertumpu pada Trilogi Pembangunan. serta mengarahkan penggunaan Departemen Keuangan RI 29 . dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. Dari keadaan tersebut diperkirakan masa-masa sulit sebagai akibat dari resesi ekonomi dunia dan perkembangan harga minyak bumi masih akan dirasakan dalam tahun anggaran 1985/1986.3 Rencana APBN 1985/1986 Berbagai program dan proyek pembangunan yang disusun dalam reneana APBN 1985/1986 merupakan pelaksanaan operasional tahun kedua Reneana Pembangunan Lima Tahun keempat (Repelita IV). pertumbuhan ekonomi yang eukup tinggi. malah ditandai dengan mulai melambannya kembali pertumbuhan ekonomi negara-negara industri.0 milyar.7 persen. Sedangkan pengeluaran pembangunan lainnya terutama digunakan untuk meningkatkan pelaksanaan program keluarga berencana. termasuk Indonesia.00 pada tanggal14 Maret 1983.

jumlah tersebut terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan yang . dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam. LangkahIangkah umuk menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan.1. akan tetapi juga berusaha-untuk meningkatkan rasa keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan melalui bidang perpajakan. dengan pembaharuan-pembaharuan di bidang perpajakan. Penerimaan dalam negeri Kebijaksanaan untuk menciptakan landasan yang kuat guna mempercepat proses pembangunan yang selama ini dijalankan. Dengan demikian tabungan Pemerintah yang direncanakan adalah sebesar Rp 6. khususnya melalui usaha peningkatan penerimaan dalam negeri di luar minyak. pada hakekatnya mempunyai arah dan tujuan untuk meningkatkan penerimaan dalam negeri terutama dari sumber-sumber di luar minyak bumi dan gas alam.9 milyar..3 milyar. Tabungan Pemerintah tersebut bersama-sama dengan penerimaan pembangunan akan membentuk dana pembangunan yang direncanakan akan mencapai Rp10.644.7 milyar dan Rp7.5 milyar. dana Ipeda.3.0 milyar.0 milyar. Dalam tahun 1985/1986. telah dilaksanakan ketika memasuki tahun awal Pelita IV. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai berbagai jenis pengeluaran pembangunan sektoral yang dilaksanakan oleh Departemen/Lembaga Negara sebesar Rp3.159. Di sisi penerimaan negara. serta bantuan pembangunan Timor Timur sebesar Rp 1.2 milyar. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara direncanakan berimbang pada jumlah sebesar Rp. Di samping itu. pembangunan regional berupa proyek-proyek Inpres.297.masing-masing direncanakan sebesar Rp 12. diharapkan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam akan dapat lebih ditingkatkan. 2. serta penerimaan pembangunan yang direncanakan sebesar Rp 4.0 milyar.643.518. Di sisi pengeluaran negara. yang masing-masing direncanakan sebesar Rp 11.0 milyar dan Rp10.647.23.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 keuangan negara untuk bidang-bidang yang mempunyai prioritas yang tinggi.062.1 milyar.647.278.368. Dengan kebijaksanaan ini Pemerintah bukan saja berupaya untuk lebih menyeimbangkan struktur penerimaan negara yang sebagian besar masih tergantung pada penerimaan dari minyak bumi dan gas alam. jumlah tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam. Dalam pengeluaran pembangunan termasuk didalamnya pengeluaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek yang direncanakan 3ebesar Rp 4. yakni dengan disahkannya beberapa undang-undang Departemen Keuangan RI 30 .046. dan berbagai pembiayaan pembangunan lainnya seperti penyertaan modal Pemerintah.0 milyar.2 milyar.399. subsidi pupuk. dan lain-lain pengeluaran yang seluruhnya direncanakan berjumlah sebesar Rp 1.

antara lain mengenai pabean. Hal itu meliputi perubahanperubahan prosedur dan administrasi perpajakan. UndangUndang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan serta Undang-Undang temang Pajak penghasilan telah diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 1984.518.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perpajakan baru sebagai penggami dari undang-undang perpajakan lama warisan kolonial yang dirasakan telah tidak sesuai lagi dengan alam dan gerak pembangunan sekarang ini.677. Untuk itu penyuluhan-penyuluhan juga telah diberikan kepada wajib pajak guna meningkatkan kesadaran. Namun Pemerintah menyadari sepenuhnya bahwa pembinaan yang dilakukan. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 1985/1986. prosedur dan penaripan yang rumit.6 Departemen Keuangan RI 31 . terutama dalam tujuannya meningkatkan peranan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam sebagai sumber utama penerimaan negara. baik untuk meningkatkan pengetahuan teknis di lapangan. serta pemahaman tentang arti pentingnya undang-undang perpajakan tersebut dalam era pembangun. penerimaan dalam negeri direncanakan mencapai Rp 18. kini tengah dipersiapkan beberapa rancangan undang-undang. pajak kekayaan.7 milyar dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 7. memerlukan waktu umuk mencapai mekanisme yang diinginkan oleh undang-undang perpajakan yang baru. telah pula dilaksanakan penataran untuk seluruh aparat perpajakan.2 milyar. Akan tetapi usaha tersebut akan kurang bermanfaat tanpa keikutsertaan serta kesadaran . sedangkan Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah direncanakan akan berlaku pada tanggal 1 April 1985. pembaharuan bemuk-bentuk formulir.dari seluruh wajib pajak. berbagai perubahan dalam teknis pelaksanaan pemungutan pajak telah pula dilaksanakan. baik terhadap aparat perpajakan maupun para wajib pajak. Perkembangan penerimaan dalam negeri sejak 1969/1970 sampai dengan 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. Sejalan dengan itu. guna lebih memantapkan peningkatan penerimaan di dalam negeri. maupun umuk meningkatkan disiplin serta mental aparat perpajakan. dan iuran pembangunan daerah.. Di samping undang-undang perpajakan tersebut. Sejak berlakunya undang-undang perpajakan yang baru.9 milyar. yang terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 11. undangundang perpajakan yang baru lebih mencerminkan kesederhanaan serta lebih mendorong pemerataan dan memberikan kepostian hukum.159. Berlainan dengan undang-undang perpajakan yang lama yang mempunyai sistem. serta pendataan dan pemberian nomor pokok wajib pajak (NPWP) sesuai dengan perundangundangan yang baru.

Apabila Departemen Keuangan RI 32 .432.4 24. 6 PENERIMAAN DALAM NEGERI.535.9 PELITA II 1974/1975 1.159.430. Dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 1985/1986 penerimaan rninyak bumi dan gas alarn direncanakan sebesar Rp 11.90 488. Gas alam yang rnerupakan salah satu sumber energi alternatip bagi industri-industri besar sebagai pengganti minyak bumi.149.60 19.70 57 1980/1981 10.212.241. dalam masa.716.6 162. 1969/1970 -1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Kenaikan Jumlah Persentase Tahun anggaran Jumlah PELITA I 1969/1970 243.2 1975/1976 2.8 1976/1977 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabe1 II.3.2 27.677.1. Adapun penerimaan dari sektor gas alam (LNG) diperkirakan mengalami kenaikan. penerimaan yang berasal dari sektor minyak bumi dan gas alam masih tetap merupakan sumber penerimaan yang penting dalam tahun 1985/1986.80 2.4 21. melihat perkembangan harga dan permintaan minyak mentah di posaran dunia yang masih diliputi kelesuan akibat keadaan perekonomian negara-negara industri yang belum sepenuhnya bangkit dari kemelut resesi. Pembatasan produksi yang disepakati bersama oleh negara-negara anggota OPEC baru-baru ini diharapkan akan membawa pengaruh yang positif terhadap perkembangan tingkat harga minyak mentah di posaran dunia.00 664.40 629.7 20.9 41. Penerimaan minyak bumi dan gas alam Dari keseluruhan penerirnaan negara yang bersurnber dari dalam negeri.1. Namun demikian.227.528.7 milyar.7 1978/1979 4.696.70 2.4 1971/1972 428 83.7 377.70 11.906.266.40 1.7 1970/1971 344.70 786 81.7 1.7 1983/1984 14.40 16.7 PELITA III 1979/1980 6.90 2.10 730.6 38 1973/1974 967.50 15.2 PELITA IV 1984/19851) 16.30 205.20 52. penerimaan dari sektor ini tidak dapat diharapkan akan mengalami lonjakan yang besar seperti yang terjadi dalam Pelita II dan permulaan Pelita III.00 3.4 1982/1983 12.6 1977/1978 3.7 1) APBN 2) RAPBN 2.985.60 1.1 29.masa terakhir ini menghadapi permintaan yang meningkat dengan cukup berarti.6 100.2 1972/1973 590.530.418.1 63.753.014.7 1981/1982 12.9 1985/19862) 18.

4 41.1 50.9 Kenaikan Jumlah 65.5 89.635. Departemen Keuangan RI 33 .948. Penerimaan rninyak bumi dan gas alam tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi yang direncanakan sebesar Rp 9.520.6 milyar. merupakan suatu langkah keharusan bagi berhasilnya pembangunan yang akan dilaksanakan untuk waktu-waktu mendatang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penerimaan minyak bumi dan gas alam tersebut dibandingkan dengan rencana dalam APBN tahun 1984/1985 yang berjumlah Rp 10. .70 4.8 112.159.366. khususnya pada tahun kedua pelaksanaan Pelita IV ini.3 68.2 . Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam Untuk membiayai pelaksanaan pembangunan yang sernakin meningkat dalam Pelita IV.608. Perkembangan penerimaan pajak penghasilan rninyak bumi dan gas alam sejak tahun 1969/1970 sampai dengan tahun 1985/1986 dapat dilihat dalam Tabel II. dan penerirnaan gas alam sebesar Rp 1. Tabel II.+ 18.9 7.70 2.619.70 4.4 1.4 793.60 .170.1 1.3 313.7.8 63.10.11.5 198.60 7.60 11.2 140.60 7. berarti terdapat peningkatan sebesar Rp793.20 -457.5 30.1 milyar.7 575 290.2 957.6 -15.30 1.40 9.5 84. 1969/1970 -1985/1986 ( dalam milyar rupiah ) Pajak penghasilan minyak bumi dan gas alam 48.10 1.2 31.1 15.7 230.1.948.2.4 360 1.9 344.627.4 30.8 387.2 1.70 2.5 382.00 1.680.7 persen.80 846.366.90 2.40 1.479.019.366.70 Penerimaan minyak lainnya 17.3.80 8.6 973.8 150. 7 PENERIMAAN MINYAK BUMI DAN GAS ALAM.170.00 1.60 8.8 22.308.80 8.248.8 99.60 8.950.5 8.8 41. baik pajak langsung maupun tidak langsung.249.4 31 19.1 rnilyar atau 7.6 milyar.5 64.760.40 9.8 65. Pemerintah tidak lagi sepenuhnya dapat bertumpu pada penerimaan yang berasal dari minyak bumi dan gas alam.20 Persentase Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) APBN 2) RAPBN Jumlah 33.9 -1.019.4 28.3 16.9 -5.627. upaya peningkatan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam.259.6 37.7 .8 151.159.70 2.259.349. Menyadari hat tersebut.308.20 10.520.

dengan jalan menciptakan pangkal tolak yang bersih yang berlandaskan pada kejujutan dan keterbukaan dari masyarakat. serta terhadap pajak penjualan yang terhutang dalam tahun 1983 dan sebelumnya. serta terhadap MPO wapu yang terhutang dalam tahun 1983 dan sebelumnya. melindungi golongan ekonomi lemah. menciptakan suasana pola hidup sederhana. dividen. juga diberikan pengampunan pajak. dan royalty (PBOR) yang terhutang atas bunga. Terhadap pajak-pajak yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut yang dimintakan pengampunan pajak. diberikan pengampunan pajak. sejak 18 April 1984 diambil pula kebijaksanaan untuk memberi pengampunan pajak. dan laporan tentang kekayaannya tidak akan dijadikan dasar penyidikan dan penuntutan pidana dalam bentuk apapun. dengan nama dan dalam bentuk apapun baik yang telah maupun yang belum terdaftar sebagai wajib pajak. Di samping itu kepada wajib pajak yang mengajukan permintaan pengampunan pajak akan dibebaskan dari pengusutan fiskal. Pengampunan ini juga diberikan terhadap pajak perseroan atas laba yang diperoleh dalam tahun 1983 dan sebelumnya. dividen. maka Departemen Keuangan RI 34 . pajak atas bunga. Kebijaksanaan ini tiada lain dimaksudkan untuk menunjang dan melengkapi pelaksanaan sistem perpajakan yang baru. meningkatkan diversifikasi ekspor. Sementara itu terhadap pajak pendapatan buruh yang terhutang dalam tahun pajak 1983 dan sebelumnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai tindak lanjut ditetapkannya beberapa undang-undang perpajakan baru. maka batas waktu pengampunan pajak diperpanjang dari akhir Desember 1984 menjadi 30 Juni 1985. dan royalty yang dibayarkan atau disediakan untuk dibayarkan sampai dengan 31 Oesember 1983. melindungi barang-barang yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri. Untuk memberi peluang agar wajib pajak memperoleh informasi lebih jelas dan mempunyai waktu cukup untuk mengisi laporan kekayaannya. Selanjutnya untuk lebih mendorong tumbuhnya industri dalam negeri. Upaya yang dilakukan Pemerintah di bidang penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam tersebut di samping diarahkan bagi peningkatan pendapatan negara juga diusahakan agar lebih dapat menciptakan iklim dan gairah usaha dalam negeri. Pengampunan pajak ini diberikan kepada wajib pajak perorangan atau badan. dikenakan tebusan dengan tarip 1 persen dan 10 persen dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung jumlah pajak yang dimintakan pengampunan. melancarkan perdagangan dalam dan luar negeri. Untuk itu atas pendapatan yang diperoleh dalam tahun 1983 dan sebelumnya dan kekayaan yang dimiliki pada 1 Januari 1984 dan sebelumnya. serta untuk lebih meningkatkan dampak positif di bidang ekonomi dari sistem perpajakan nasional. sehingga dapat lebih menjamin pemerataan pendapatan. yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

8. maka penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam untuk tahun 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 7. pajak lainnya sebesar Rp 96.9 milyar. pajak ekspor sebesar Rp 101. penerimaan cukai. Apabila dalam tahun 1969/1970. penerimaan bea masuk. penerimaan Ipeda.3 milyar. dan penerimaan bukan pajak. besarnya penerimaan ini baru mencapai Rp 177. serta semakin meningkatnya partisiposi masyarakat di dalam pembangunan.074.518. Apabila dibandingkan dengan penerimaan tahun sebelumnya.9 milyar: maka dalam tahun terakhir Pelita III.4 milyar. atau suatu kenaikan lebih dari 27 kali. serta dengan memperhitungkan pengelolaan sistem perpajakan yang semakin baik. Ipeda sebesar Rp 167.0 persen. cukai sebesar Rp 963. yaitu tahun pertama Pelita I.0 milyar. Di dalam RAPBN tahun 1985/1986. atas dasar undang-undang perpajakan yang bam beserta kelengkapannya. penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam terbagi atas penerimaan pajak penghasilan.4 milyar. yaitu tahun 1983/1984.7 milyar. Departemen Keuangan RI 35 . mesin-mesin tekstil dan lainnya. Tarip penyusutan yang dipercepat tersebut diharapkan akan merangsang tumbuhnya investasi baru yang selanjutnya akan memperkokoh kemandirian perekonomian nasional. yakni pajak penghasilan perseorangan sebesar Rp797.4 milyar. penerimaan pajak lainnya. penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas :rlam senantiasa menunjukkan adanya peningkatan sejalan dengansemakin baiknya pengelolaan keuangan negara. penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah sebesar Rp 1.912. Penyusutan yang lebih tinggi tersebut diberikan antara lain kepada mesin-mesin pertanian. Di dalam perkembangannya.1 milyar. jumlah tersebut telah meningkat menjadi Rp 4. mesin-mesin yang mengolah produk asal binatang atau nabati. penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp 1. penerimaan pajak ekspor. dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 731. Penerimaan ini terdiri dari penerimaan pajak penghasilan sebesar Rp 3. yaitu tahun 1984/ 1985.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sejak 9 Agustus 1984 telah ditetapkan tarip penyusutan baru yang lebih tinggi.735.5 milyar.7 milyar.666.4 milyar atau 30. bea masuk sebesar Rp 717. Mengingat perkembangan perekonomian.276.3 milyar dan pajak penghasilan badan sebesar Rp 2.2 milyar. Perkembangan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sejak tahun 1969/1970 sampai tahun 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II.

586.8 24.80 7.247.40 2.8 Tahun 1967 tentang MPO/MPS. Di samping itu lebih luasnya dasar pengenaan pajak. Hal ini pada gilirannya akan meningkatkan penerimaan pajak sehingga memperkokoh kemandirian dalam penyediaan sumber dana yang dibutuhkan oleh pembangunan.437.912.9 23.4 24.20 Kenaikan Jumlah Persentase 67.1 585.6 870. diwajibkan kepada pegawai negeri untuk mengisi Departemen Keuangan RI 36 . Dengan undang-undang pajak penghasilan ini diharapkan akan lebih diwujudkan prinsip kesederhanaan.5 31. diharapkan akan menciptakan iklim dan gairah usaha yang lebih baik yang akan mendorang kegiatan Junia usaha dan perekonomian nasional umumnya. prinsip kepostian dan prinsip pemerataan.40 37.3 1.9 72.9 245.9 1. terutama dengan dimasukkannya semua jenis pendapatan ke dalam dasar pengenaan pajak.90 4.8 27.9 17.8 18.6 17.8 316 370. 8 PENERIMAAN DI LUAR MINYAK BUMI DAN GAS ALAM 1969/1970 1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) APBN 2) RAPBN Jumlah 177.3 62.6 36 24.70 1. undang-undang ini juga dimaksudkan untuk menciptakan suasana kehidupan dan berusaha yang lebih adil dan merata dalam kepostian hukum yang berlaku.3 360.7 30 Berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan sejak 1 Januari 1984 yang menggantikan Undang-Undang Pajak Pendapatan 1944.80 4. Undang-Undang Pajak Perseroan 1925.50 5. diharapkan akan lebih merangsang para wajib pajak untuk memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak.8 225. yang hanya terdiri atas tiga tingkat dan tarip rata-rata yang lebih rendah dari tarip rata-rata dalam undang-undang perpajakan sebelumnya.1 664.957.270.207.2 t377.5 796.4 287.4 276.40 3.1 25. Kesederhanaan daripada tarip pajak.6 11.735.8 770.4 663.584. Undang-Undang PBDR 1970 dan Un dang-Un dang No.70 1.518.4 211 197.5 15.782.7 479.20 3.5 41. yang berarti di samping ditujukan bagi penambahan pengumpulan dana sebesarbesarnya.5 993.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel II.

diharapkan akan membawa pengaruh positif terhadap perluasan dan peningkatan kesempatan kerja baru.6 milyar. diharapkan akan semakin memperluas potensi penerimaan pajak ini. Peningkatan tersebut berlangsung sejalan dengan meningkatnya penghasilan para pegawai negeri dan karyawan swasta. antara Rp 10 juta sampai Rp 50 juta. honorarium. upah. Upaya peningkatan penerimaan pajak penghasilan badan diusahakan melalui kebijaksanaan tarip yang lebih sesuai dengan perkembangan dunia usaha. walaupun tarip pajak lebih rendah serta lebih sederhana. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 diharapkan bisa mencapai Rp 797. dan lebih dari Rp 50 juta. Menyadari pentingnya perluasan Departemen Keuangan RI 37 . serta semakin efektifnya pemotongan oleh bendaharawan Pemerintah atas pembayaran gaji. diharapkan pula dapat lebih mendorong gairah usaha yang pada gilirannya akan memperluas tersedianya barang-barang produksi dalam negeri. diharapkan dapat lebih melindungi golongan ekonomi lemah dan masyarakat yang berpendapatan rendah . meningkatnya dasar pemungutan pajak dari karyawan asing.0 persen. sehingga untuk masa mendatang akan meningkatkan efektifitas pemungutan pajak.3 milyar. agar perkembangan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai selama ini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. masing-masing untuk penghasilan kena pajak sampai dengan Rp 10 juta. dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan dan jabatan yang dibebankan kepada keuangan negara. Keputusan PresideD Domer 26 tahun 1984 tentang Pengampunan Pajak diharapkan akan mempercepat proses terciptanya sikap jujur dan terbuka para pemberi kerja untuk melakukan pemotongan dan penyetoran pajaknya. yang berarti terdapat peningkatan sebesar Rp 219. di samping ditekankan pula untuk memperluas dasar pengenaan pajaknya. Di samping itu lebih tingginya batas pendapatan tidak kena pajak (PTKP) dari batas pendapatan bebas pajak (BPBP) yang dulu terdapat dalam sistem perpajakan yang lama. Tarip pajak tersebut adalah sebesar 15 persen. Di samping hat ini akan menambah kapositas efektif pemungutan pajaknya. unsur progresivitas tidaklah diabaikan akan tetapi sekaligus dilaksanakan untuk pengumpulan dana bagi pembangunan. tunjangan tetap. Penerimaan pajak penghasilan perseorangan dalam RAPBN tahun 1985/1986 direncanakan meningkat dari tahun sebelumnya. 25 persen dan 35 persen.7 milyar atau 38. Sebagai perwujudan dari pemerataan pendapatan dan beban pembangunan. Adanya perluasan perusahaan dan munculnya penanaman modal baru. Kalau dalam APBN 1984/1985 penerimaan pajak penghasilan perseorangan aclalah sebesar Rp 577.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 surat pemberitahuan (SPT) pajak penghasilan. sebagai hasil nyata dari kebijaksanaan penyesuaian tarip penyusmall baru yang lebih menguntungkan para pengusaha. serta dihapuskannya segala bentuk fasilitas dan pembebasan pajak.

Sehubungan dengan semakin pentingnya mobilisasi sumber dana dari dalam negeri. untuk selanjutnya diharapkan akan meningkatkan penerimaan pajak serta ketertiban pembayaran pajaknya. dan lebih tegas menjamin kepostian hukum. serta tarip pajak penjualan khusus atas barang mewah dapat diubah menjadi setinggi-tingginya 35 persen. dari setinggitingginya 15 persen. sedangkan bagi barang mewah dikenakan tambahan pajak sebesar 10 persen dan 20 persen. Pemerintah berupaya dengan sungguhsungguh melaksanakan pengawasan terhadap perusahaan negara. Dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan pajak penghasilan badan direncanakan sebesar Rp2. Pengawasan ini dilakukan untuk lebih meningkatkan produktivitas dan efisiensinya sehingga akan meningkatkan penghasilan perusahaan negara tersebut.5 persen. Pemerintah melalui kebijaksanaan di bidang perpajakan telah memberikan kesempatan kepada para penanam modal untuk menggunakan fasilitas pengampunan pajak. serta kesadaran melaksanakan kewajiban di bidang perpajakan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dasar pengenaan pajak tersebut bagi peningkatan penerimaan pajak penghasilan. tarip pajak pertambahan nilai terse but dapat diubah menjadi serendah-rendahnya 5 persen. Kebijaksanaan ini diharapkan akan lebih meringankan beban pajak penghasilan yang harus dibayar oleh pengusaha. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 1. penerimaan pajak penghasilan badan ini terus mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. Dalam undangundang tersebut hanya terdapat dua tarip yaitu 0 persen dan 10 persen. telah dilakukan penyesuaian atas tarip penyusutan yang ditetapkan lebih tinggi sehingga penyusutan dapat lebih dipercepat. lebih sederhana. maka berarti meningkat sebesar Rp 403. Sejalan dengan kebijaksanaan tersebut. Dari padanya diharapkan berlanjut akan meningkatnya kegiatan dunia usaha. Upaya Pemerintah menciptakan peraturan perundangundangan yang lebih luas dimensi cakupannya.5 milyar. maka penanam modal tersebut akan dibebaskan dari kemungkinan pengusutan perpajakannya. Namun untuk menunjang perkembangan perpajakan dalam memenuhi kebutuhan dana yang diperlukan pembangunan serta untuk membantu menciptakan suasana pola hidup sederhana. yang mendorong lahirnya Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah dalam rangka menunjang perkembangan dunia usaha. Di dalam perkembangannya. Peningkatan kegiatan ekonomi nasional khususnya pengembangan dunia usaha senantiasa mendapat perhatian Pemerintah. Di samping itu apabila penanam modal lebih dulu menyimpan dananya melalui deposito berjangka sekurangkurangnya selama tiga bulan.2 milyar atau 21.7 milyar.873.276. yang selanjutnya akan mendorong investasi baru dan pada gilirannya akan meningkatkan jumlah dan potensi wajib pajak. Dalam rangka lebih mendorong upaya peningkatan Departemen Keuangan RI 38 .

terutama mereka yang merasa telah membayar pajak lebih daripada yang seharusnya. Di samping itu dapat dihilangkan pula kemungkinan adanya usaha-usaha untuk me1akukan integrasi vertikal antara dua perusahaan alan lebih. dalam Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai tahun 1984 ditentukan adanya sistem kredit. Kesederhanaan dalam tarip pajak pertambahan nilai akan lebih dapat dirasakan bila dibandingkan dengan sistem yang lama dengan tarip yang bervariasi antara delapan jenis tarip. volume maupun pengembangan diversifikasinya. yang semata-mata untuk menghindari pajak dengan mengorbankan efisiensi. Untuk lebih mendorong kepatuhan membayar pajak dengan jalan memberikan rasa aman bagi para wajib pajak. Dalam hubungannya dengan perdagangan luar negeri. terutama kebijaksanaan pajak pertambahan nilai sebesar 0 persen atas barang-barang ekspor. khususnya komoditi non migas baik dalam hal kualitas. Kebijaksanaan ini bersama-sama dengan kebijaksanaan lamnya. serta untuk lebih menunjang upaya diversifikasi ekspor. Sedangkan bagi pajak pertambahan nilai yang dikenakan atas bahan baku yang digunakan untuk memproduksi barang-barang ekspor secara periodik dapat dimintakan pengembaliannya. Sistem kredit ini menetapkan. Sedangkan sebagai upaya untuk menghilangkan pengarub pajak berganda yang terdapat Facia sistem yang lama. Jumlah tarip tersebut diperbanyak lagi dengan diberikannya berbagai pembebasan sebagian atas produk-produk tertentu. bahwa beban pajak yang telah ada Facia bahan baku yang dipakai perusahaan dapat diperhitungkan/dikurangkan dari pajak pertambahan nilai yang terhutang alas hasil produksi perusahaan itu. Di samping itu sistem baru ini juga menciptakan ik!im usaha yang lebih menarik bagi golongan ekonomi lemah. Hal ini disebabkan karena adanya batasan yang jelas mengenai jenis perusahaan yang dapat digolongkan sebagai perusahaan kecil. sehingga akan menciptakan kepostian bagi upaya penyeragaman beban pajaknya. dalam undang-undang yang baru ini tarip pajak penjualan atas barang-barang ekspor adalah 0 persen. Dalam pada itu mulai tahun anggaran 1985/1986 di dalam penerimaan pajak pertambahan nilai termasilk didalamnya pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri. diharapkan akan semakin mendorong ekspor. terutama komoditi non migas.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ekspor. maka dalam sistem baru ini diatur dengan je1as ketentuan mengenai pembayaran kembali daripada ke1ebihan dalam pembayaran pajak. Berdasarkan pertimbangan bahwa pelaksanaan Undang-Undang Pajak Pertambahan Departemen Keuangan RI 39 . sistem baru ini mengintegrasikan bea masuk yang dikenakan atas barang-barang impor dengan pajak pertambahan nilai yang dikenakan atas barang-barang perdagangan dalam negeri. Tarip yang lebih sederhana yang diterapkan dalam sistem baru ini akan sangat membantu pe1aksanaannya karena akan mudah dipahami baik oleh pemungut maupun pembayar pajaknya.

usaha penanggulangan penyelundupan terus ditingkatkan dengan meningkatkan ketrampilan aparat pabean serta memperlancar arus dokumen. dan upaya pengutamaan penggunaan barang-barang hasil produksi dalam negeri. kepada sektor industri tersebut diberikan perlindungan dengan tarip I CKO yang lebih rendah dari tarip produk yang sama yang diimpor dalam keadaan built up/non-KO.4 milyar. terutama industri yang menghasilkan nilai tambah yang tinggi. Untuk itu. maka kepada industri tersebut diberikan beberapa keringanan pembebanan taripnya. kebijaksanaan tarip bea masuk selalu diusahakan agar mampu memberikan perhitungan yang wajar bagi industri dalam negeri. Di bidang penerimaan bea masuk. dilanjutkan dan ditingkatkan usaha-usaha yang diarahkan bagi penciptaan iklim dan gairah usaha yang mendorong terlaksananya pembangunan industri dalam negeri yang efisien. dalam rangka penyempumaa dan penertiban sistem administrasi pabean telah dilaksanakan persiapan- Departemen Keuangan RI 40 . Berkenaan dengan program wajib belajar. Sesuai dengan kebijaksanaan yang digariskan dalam Repelita IV. impor terhadap produk-produk sejenis dikenakan tarip yang lebih tinggi. Untuk itu dalam mendorong pertumbuhan industri : perakitan di tanah air. menggunakan sumber daya dalam negeri.serta mampu menyediakan barangbarang yang diminta konsumen baik di dalam maupun di luar negeri dengan harga yang memadai.666. Selanjutnya untuk menunjang kebijaksanaan Pemerintah di bidang pentaripan. maka penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah dalam RAPBN tahun 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 1. telah pula ditetapkan kebijaksanaan yang memberikan keringanan pembebanan impor atas pemasukkan bahan baku/bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi. menyerap tenaga kerja yang banyak. kebijaksanaan tarip senantiasa diusahakan agar dapat berjalan seirama dengan kebijaksanaan pengaturan tata niaga. Sedangkan untuk memberikan perlindungan bagi semakin tumbuhnya industri pengolahan di dalam negeri. tangguh dan memiliki daya saing yang kuat. Sebagai upaya menunjang pengembangan industri di dalam negeri. pengamanan penerimaan negara. Diharapkan kedua kebijaksanaan tersebut dapat saling mengisi dan melengkapi secara harmonis. Sehubungan dengan hal rersebut. . di dalam memberikan perlindungan bagi industri di dalam negeri. telah diberikan beberapa bentuk keringanan bea masuk atas kertas tulis dan kertas cetak serta beberapa buku ilmu pengetahuan tertentu. baik impor maupun ekspor. Dalam rangka memberikan perlindungan dan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri. serta menunjang peiaksanaan kebijaksanaan perdagangan luar negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nilai tahun 1984 yang ditunda sampai selambat-lambatnya 1 Januari 1986 dapat dilaksanakan pada awal tahun anggaran 1985/1986. tanpa melupakan kepentingan konsumen.

guna mempertahankan harga yang lebih sesuai dengan daya beli masyarakat dan menjamin kelayakan tingkat pendapatan petani tebu. juga dimaksudkan guna mencapai sasaran-sasaran tertentu lainnya. dan cukai alkohol sulingan.5 persen dari harga pita cukai. yang produksinya antara 750 juta batang sampai 4 milyar batang setahun dikenakan ta. Sebagaimana halnya dengan cukai tembakau. penerimaan cukai dipengaruhi antara lain oleh perkembangan pertumbuhan produksi. Berdasarkan langkah-Iangkah yang telah dilaksanakan di bidang bea masuk.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 persiapan kearah penerapan sistem komputer di bidang operasional pabean dari pengumpulan data. Sedangkan bagi jenis produksi sigaret buatan mesin. kebijaksanaan di bidang cukai lainnya juga disempurnakan sesuai dengan perkembangan ekonomi. Apabila dibandingkan dengan rencana penerimaan bea masuk dalam APBN 1984/ 1985. sejak 1 April 1984 tidak lagi diberikan pembebasan sebagian cukai terhadap impor hasil tembakau.7 milyar.rip 22. sejak 1 Mei 1984 diadakan penyesuaian harga dasar Departemen Keuangan RI 41 . yang produksinya antara 100 juta sampai 750 juta batang setahun dikenakan tarip 20 persen dari pita cukai. cukai yang se1ama ini dijalankan . Fasilitas tersebut diberikan kepada perusahaan sigaret kretek tangan (SKT). cukai bir. yaitu 70 persen dari pita cukainya untuk sigaret buatan mesin dan tembakau iris. Dalam rangka lebih mendorong perkembangan industri rokok dan hasil tembakau dalam negeri terutama bagi produsen yang tergolong pengusaha lemah. 50 persen untuk sigaret kretek bukan buatan mesin. Di dalam perkembangannya. penyesuaian harga pita dengan harga jualnya. Terhadap impor hasil tembakau dipungut cukai sepenuhnya. Kebijaksanaan. dan bagi perusahaan yang produksinya 100 juta batang atau kurang setahun dikenakan tarip 15 persen dari pita cukainya. serta intensifikasi dan verifikasi pemungutannya. Di samping itu untuk memberikan kesempatan bagi berkembangnya produksi tembakau di dalam negeri. serta 40 persen untuk jenis cerutu. maka pada 1 April 1984 telah ditetapkan pembebasan sebagian tarip cukai terhadap hasil tembakau buatan dalam negeri. dan banyak menyerap tenaga kerja. di samping diarahkan kepada fungsinya sebagai penghimpun dana. peningkatan daya beli masyarakat konsumen. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan bea masuk direncanakan sebesar Rp 717. maka terlihat peningkatan sebesar Rp 35. dengan ketentuan bahwa perusahaan yang produksinya lebih dari 4 milyar batang setahun dikenakan tarip 25 persen diri harga pita cukai. Sehubungan dengan itu. Penerimaan cukai ini terdiri dari cukai tembakau.1 milyar. cukai gula. baik sigaret putih mesin (SPM) maupun sigaret kretek mesin (SKM) dikenakan tarip tunggal yang besarnya 40 persen dari harga pita cukainya.

Di samping itu sebagai upaya penyediaan bahan bagi industri pengolahan kayu dalam negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pemungutan cukai gula. Departemen Keuangan RI 42 .. akhir-akhir ini mengalami sedikit penurunan di dalam realisasinya. maka dalam RAPBN 1985/1986 penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan diperkirakan akan mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan yang tertera dalam APBN 1984/1985. Berdasarkan berbagai langkah kebijaksanaan yang dilaksanakan Pemerintah di bidang ekspor. Penurunan tersebut bukan saja disebabkan karena menurunnya nilai maupun volume ekspor beberapa komoditi tertentu.per kuintal. Berdasarkan pertimbangan atas langkah-langkah yang sedang. masing-masing sebesar Rp40. Dalam RAPBN 1985/1986 penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan tersebut direncanakan akan mencapai sebesar Rp 101. Segi lain dari kebijaksanaan tersebut adalah. yang pada pokoknya mengarah pada upaya penciptaan iklim yang lebih mendorong gairah usaha untuk rnempertahankan dan mendorong nilai maupun volume ekspor. sejak Januari 1984 telah diadakan pengenaan kembali tarip pajak ekspor tambahannya. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan cukai direncanakan sebesar Rp 963. kebijaksanaan di bidang pajak ekspor dalam tahun anggaran 1985/1986 akan tetap diarahkan agar selalu menunjang berbagai usaha dan kebijaksanaan Pemerintah dalam rangka meningkatkan daya saing komoditi ekspor Indonesia di posaran intemasional. produksi bir diperkirakan tidak akan mengalami kenaikan yang berarti. baik tebu rakyat bebas. seperti minyak kelapa sawit dan hasil-hasilnya. Adapun penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan. dan HS I.7 milyar.per kuintal. dan Rp 39. serta untuk menjaga kelestarian lingkungan alam.3 milyar.. Rp 39. Apabila rencana penerimaan cukai tersebut dibandingkan dengan yang direncanakan dalam tahun anggaran sebelumnya.700. serta beberapa jenis kayu gergajian mewah. berarti meningkat dengan Rp 235.000. Demikian juga terhadap alkohol sulingan.850. diperkirakan produksinya akan sedikit mengalami penurunan. prospek produksi. Sehubungan dengan perlunya pengawasan terhadap minuman keras. Di samping itu telah pula diadakan penertiban penanaman tebu. dan penyesuaian tarip cukai terutama untuk tembakau dan gula.(TRB) maupun tebu rakyat intensifikasi (TRI). Untuk itu. serta pajak ekspor tambahan terhadap berbagai barang-barang ekspor dalam rangka mendorong ekspor yang selama ini terus diusahakan peningkatannya.. melainkan diakibatkan pula oleh adanya penurunan dan pembebasan pajak ekspor.8 milyar. bahwa barangbarang yang dianggap penting bagi konsumsi dalam negeri. yaitu untuk jenis SHS I. SHS II. sejak Mei 1980 telah diadakan pembatasan ekspor terhadap kayu gelondongan. dan akan dilaksanakan terutama dengan semakin efektifnya pemungutan cukai.per kuintal.

sudah dikenakan bea meterai. serta transaksi perekonomian yang lebih bertanggung jawab. Kuitansi yang memuat angka penjualan di atas Rp 50. Kebijaksanaan Pemerintah di bidang penerimaan pajak lainnya untuk tahun 1985/ 1986 masih merupakan kelanjutan dan peningkatan dari kebijaksanaan yang sudah diambil pada masa sebelumnya. dan polis asuransi jiwa. Kebijaksanaan tersebut di samping ditujukan untuk menghimpun dana pembangunan yang bersumber dari dalam negeri. di samping secara terus menerus diadakan pembinaan terhadap administrasi pendataannya.baru dikenakan bea meterai.. yaitu pajak kekayaan. antara lain atas kuitansi atau tanda penerimaan uang.-. serta penyuluhan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadarannya dalam membayar Ipeda. penerimaan di bidang ini untuk masa-masa mendatang diharapkan akan mengalami Departemen Keuangan RI 43 . aksep. juga diarahkan untuk menciptakan iklim dunia usaha yang lebih sehat. akan dinaikkan menjadi Rp 100. terutama terhadap kekayaan yang dimilikinya. Batas kekayaan yang tidak terkena pajak mulai 1 Januari 1985 dinaikkan dari Rp 14 juta menjadi Rp 80 juta. konosemen-konosemen. penetapan dan penagihannya. dewasa ini sedang dibahas Rancangan Undang-Undang Pajak Kekayaan dan Ipeda. dan surat-surat berharga lainnya tarip meterainya juga diadakan penyesuaian dari Rp 25. Tarip bea meterai yang berlaku sekarang dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan. sedangkan sebelumnya kuitansi yang bernilai di atas Rp 5. Dalam RAPBN 1985/1986.5 persen.8 milyar dari yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. menunjukkan perkembangan yang memadai. Hal ini menunjukkan semakin membaiknya kesadaran masyarakat dalam rangka memenuhi kewajiban pajaknya.4 milyar yang berarti meningkat sebesar Rp 16.menjadi Rp 500. Untuk itu mulai 1 Maret 1985 terhadap tarip bea meterai juga diadakan beberapa penyesuaian. Sedangkan untuk promes.-. Sehubungan dengan semakin banyaknya kegiatan le1ang. Penerimaan negara yang berasal dari penerimaan pajak lainnya.. dan gerak pembangunan ekonomi daerah yang lebih merata me1alui upaya peningkatan penerimaannya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Kebijaksanaan di bidang Ipeda pada dasamya tetap diarahkan bagi terciptanya sasaran pertumbuhan. sedang taripnya diturunkan dari 1 persen menjadi 0.000. dan semakin meningkatnya mutu para juru lelang. terus dibina kerjasama yang lebih baik dengan Pemerintah Daerah.000. yang saat ini adalah Rp 10. serta untuk mempercepat proses pemerataan pendapatan guna lebih memantapkan stabilitas perekonomian nasional..-. penerimaan Ipeda direncanakan sebesar Rp 167. bea meterai dan bea lelang. Dengan kebijaksanaan tersebut diharapkan kesadaran para wajib pajak untuk memenuhi kewajiban pajaknya akan meningkat. Dalam rangka meningkatkan potensi penerimaan Ipeda. Untuk mendorong perkembangan yang lebih realistis seirama dengan keadaan perekonomian nasional.

dalam RAPBN 1985/1986 besarnya penerimaan pajak lainnya direncanakan sebesar Rp 96.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan. di satu sisi meningkatkan kesejahteraan rakyat.4 milyar.9 milyar atau 19.3. baik yang berasal dari tabungan Pemerintah maupun dari tabungan masyarakat. Apabila penerimaan tersebut dibandingkan dengan APBN 1984/1985 berarti terdapat peningkatan sebesar Rp 116. Usaha pengerahan dana pembiayaan pembangunan. Berdasarkan langkah-Iangkah yang sedang dan akan dilaksanakan Pemerintah. dinamis. Oleh sebab itu. penerimaan kejaksaan dan pengadilan serta penerimaan lainnya. terutama dengan kebijaksanaan pengampunan pajak serta dengan semakin membaiknya perekonomian di tanah air. Untuk itu langkah-Iangkah kebijaksanaan yang sudah dirintis sejak awal Pelita I akan terus dikembangkan. Apabila penerimaan tersebut dibandingkan dengan rencana penerimaan tahun 1984/1985 yaitu sebesar Rp 75. tetapi di sisi lain menambah tanggung jawab Pemerintah dalam menyediakan dana bagi pembangunan yang terus berkembang. 2. dan stabil. baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Penerimaan bukan pajak yang terdiri dari penerimaan berbagai departemen/lembaga non departemen. senantiasa harus terus diupayakan terutama dengan menggalinya dari sumber-sumber dana dalam negeri. baik jenis maupun kualitasnya dalam dimensi yang semakin me1uas. Dengan demikian untuk masa-masa selanjutnya. pembangunan yang dilaksanakan adalah pembangunan yang dilandasi oleh kemampuan bangsa Indonesia sendiri yang bertumpu kepada kepercayaan diri.0 milyar atau 27. Dalam penerimaan bukan pajak tersebut termasuk pula penerimaan dari bagian Pemerintah atas laba perusahaan negara/bank negara serta iuran hasil hutan dan royaltynya. seperti penerimaan pendidikan. Penerimaan bukan pajak oleh Pemerintah senantiasa diusahakan pula peningkatan sumbangannya bagi penerimaan negara.9 milyar.dana yang bersumber dari bantuan luar negeri barus senantiasa diarahkan bagi Departemen Keuangan RI 44 . sesuai dengan yang diamanatkan dalam GBHN.4 milyar. Penerimaan pembangunan Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan bangsa Indonesia sejak Pelita I hingga sekarang te1ah memberikan hasil nyata berupa semakin meningkatnya taraf hidup dan kesejahteraan se1uruh rakyat. berarti meningkat sebesar Rp 21.0 persen. Dalam RAPBN 1985/ 1986 penerimaan bukan pajak direncanakan sebesar Rp 731. Semakin meningkatnya kegiatan pembangunan. digunakan sebagai pe1engkap. dalam perkembangannya te1ah mengalami peningkatan.2.9 persen. menuju perekomomian nasional yang mandiri. penerimaan jasa. Sedangkan dana bantuan yang berasal dari luar negeri yang diterima sebagai penerimaan pembangunan.

9 59.2 64.6 783.1 milyar.5 29.8 64.3.1 28.1 45.2 -10.9 Bantuan proyek 25.30 1. Dalam RAPBN tahun 1985/1986.70 1.297.80 1.3 1.5 70.2 35.411. Pengeluaran rutin Sasaran kebijaksanaan penge1uaran rutin. 1969/1970 .5 157.5 95.40 4. pembayaran bunga dan cicilan hutang.4 15.6 112.5 16.1 195.90 3.4 -1.4 1.368.9 33.1 20.368. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.297.8 203. Penge1uaran rutin yang me1iputi be1anja pegawai. serta penge1uaran rutin lainnya.709. subsidi daerah otonom.90 1.3.2 14. tidak bisa dipisahkan dari sasaran kebijaksanaan anggaran secara kese1uruhan yang mencakup ketiga unsur Trilogi Pembangunan.940.2 milyar.6 987.316.5 100.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembiayaan kegiatan-kegiatan pembangunan yang bersifat produktif dan berprioritas tinggi.381.1 259. penerimaan pembangunan direncanakan sebesar Rp 4.00 4.1 Kenaikan Jumlah Persentase 29.2 10.8 111.4 773.9 32. Departemen Keuangan RI 45 . dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan memperlancar proses pemerataan pembangunan dan hasilnya. serta pengarahan penge1uaran rutin untuk mencapai sasaran-sasaran yang te1ah ditentukan.6 737.6 292.00 3.1 14.50 1.40 528.10 1. 9 BANTUAN LUAR NEGERI.2 13.3 41.00 1.6 -1 2.9 39. yaitu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju terciptanya keadilan sosial bagi se1uruh rakyat.1 13.8 36.942. Perkembangan penerimaan pembangunan se1ama tahun 1969/1970 hingga tahun 1985/1986 dapat dilihat dalam Tabel II.4 13.5 89.7 215.924.882. Peningkatan tabungan Pemerintah tidak mungkin dapat terlaksana hanya dengan peningkatan penerimaan negara saja.9..1 15. tetapi harus pula disertai tindakan penghematan. yang terdiri dari bantuan program sebesar Rp 70.1 22.9 90. dan bantuan proyek sebesar Rp 4. be1anja barang.3 114. pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.9 471. Tabe1 II.429.493.867.9 milyar.50 4.663.6 -42.5 45 62.035.4 8.3 46.8 48.4 135.1 345.3 33.8 773.50 4.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) A P B N 2) RAP B N Bantuan program 65.4 262.371.9 232 491.20 Jumlah 91 120.3 12.7 78.2 231 1.

4 45.6 313.8 23.1 438.8 131.996.n Tunjangan Gaji dan peg.3 31.016.8 51.6 16.8 36.4 43.117.5 111.8 42.3 0.1 14. yaitu dalam rangka membantu dan membimbing pertumbuhan. Usaha-usaha tersebut diwujudkan antara lain dengan diberlakukannya Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 yang merupakan penyempurnaan lebih lanjut daripada Keputusan Presiden Nomor 14A Tahun 1980 dan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan APBN.5 62.90 33.297.5 31.3 286.8 12.6 7.2 132. produksi dalam negeri.399.90 3.1 23.90 1. d.6 99.00 2.80 10.9 31. serta perluasan kesempatan kerja seperti yang telah dijalankan dalam tahun-tahun sebelumnya.419.2 109.1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Uang Lain-lain Belanja makan bel.996.1 594.80 5.7 milyar.8 2.660.5 33.8 1.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/19862) 1) Angka APBN 2) Angka RAPBN Jumlah 216.6 99.6 173.5 17.00 Kenaikan Jumlah Persentase 71. Demikian pula penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri makin digalakkan.053. 11 BELANJA PEGAWAI.9 193.5 288.3 20.10 2.2 24.5 milyar. serta meningkatkan kemampuan yang lebih besar bagi mereka untuk berperanserta dalam proses pembangunan. dan pada akhir tahun Pelita III meningkat lagi menjadi Rp 8.8 316.10 Tab e I II.80 10.7 12. Apabila pada tahun pertama Pelita I realisasi penge1uaran rutin baru mencapai Rp 216.30 2.30 2.101.8 33.70 4.411.101.6 893. Perkembangan pengeluaran rutin tersebut dapat diikuti pada Tabel II.2 519. yang merupakan tahun kedua pelaksanaan Repelita IV.411.482.115.415. Selanjutnya juga diusahakan peningkatan peranan golongan ekonomi lemah.3 1.1 4.277.8 20.1>29.5 31.5 78.7 11. beras pensiun 28.6 59.2 79.743.7 14.1 61.1 415.8 24.7 60.9 301.4 89.6 4.60 1. 1969/1970 . raJa akhir tahun Pelita II meningkat menjadi Rp 2.5 254. sasaran utama kebijaksanaan pengeluaran rutin adalah peningkatan dana tabungan Pemerintah.00 6.749.9 252 253.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam perkembangannya te1ah menunjukkan peningkatan selaras dengan tingkat perkembangan pembangunan yang dicapai.332.2 349.1 22.977.60 6.1 25.4 163. pengeluaran rutin direncanakan sebesar Rp 10.9 114.5 45.3 289.4 9.1 21.40 1.3 14.418.9 346.3 20.5 56.307.10 2.4 70.30 Dalam tahun anggaran 1985/1986.001.00 1.9 116.2 20.00 3.2 1.6 47.061.2 240.6 87.7 482.8 672.9 636.20 1.30 8. 1969/1970 .7 131.7 29.3 1. Dalam Keputusan Presiden Nomor 29 tersebut.7 400 424.148.4 268.8 14.7 1.1 milyar.10 1.60 1.318.8 10.1 34 43.10 1.50 4. di samping usaha-usaha untuk mengurangi secara bertahap pemberian subsidi dalam berbagai bentuknya.7 Tahun PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977 /1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/19851) 1985/19862) 1) Angka APBN 2) Angka RAPBN Tabel II.8 179.90 2.7 66 79.4 200. l.689.90 1.3 3.2 5.8 5.n.738.9 89 275.2 302.7 47.7 48 42. Dalam APBN 1984/1985. golongan ekonomi lemah diberi kesempatan berusaha yang lebih luas lagi.60 18.1 713.8 milyar.7 25.5 297.9 27. dan ditingkatkan untuk lebih mendorong peningkatan produksi dalam negeri.023.9 420.1 593.189.800.177.1 Jumlah 103. 10 PENGELUARAN RUTIN.757.90 2.50 1.10 12.9 31. Rangkaian kebijaksanaan yang telah dijalankan Pemerintah di bidang pengeluaran rutin tersebut frat kaitannya dengan usaha-usaha peningkatan Departemen Keuangan RI 46 .9 261.9 760.743.3 50.9 126.

Pada akhir Pe1ita III jumlah realisasi belanja pegawai mencapai jumlah sebesar Rp 2. pemberian tunjangan perbaikan penghasilan (TPP) dalam tahun 1. belanja barang sebesar Rp 1.75 kali hila dibandingkan dengan realisasi pada akhir Pe1ita II.757. anggaran untuk pengeluaran rutin direncanakan sebesar Rp 12.529.6 milyar. Kenaikan ini adalah karena se1ama Pelita III te1ah beberapa kali dilakukan perbaikan penghasilan pegawai negeri/ ABRI dan pensiunan. subsidi daerah otonom sebesar Rp 2.0 milyar.4 milyar.3 milyar.001. yang berarti Rp 2.3. Dalam tahun anggaran 1985/1986.7 persen di atas anggaran pengeluaran rutin dalam APBN 1984/1985. sedangkan pada akhir Pe1ita II mencapai jumlah sebesar Rp 1.559.1 milyar. antara lain dalam bentuk kenaikan gaji. Usaha perbaikan penghasilan pegawai negeri/ ABRI se1alu dilakukan dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara setiap tahunnya.1.8 milyar.117. Belanja pegawai Kebijaksanaan belanja pegawai yang akan dijalankan Pemerintah dalam tahun 1985/1986 adalah dalam rangka meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas Pemerintah. dan mutu aparatur negara beserta perlengkapannya. di samping dilakukan pula penyempurnaan di bidang organisasi dan administrasinya. Dalam tahun 1985/1986 be1anja pegawai direncanakan meningkat sebesar Rp 927.9 milyar.399. serta dalam rangka mengamankan dan memelihara kekayaan negara yang diperoleh sebagai hasil kegiatan pembangunan.0 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kegiatan pembangunan dan pelayanan Pemerintah kepada masyarakat. antara lain dalam bentuk pemberian gaji bulan ke 13 dan 14 dalam tahun 1979/1980. dan Departemen Keuangan RI 47 . yang dicerminkan antara lain dalam bentuk peningkatan jumlah.9 milyar atau 22.297.3 milyar. dan pada awal Pe1ita IV usaha perbaikan tersebut diwujudkan dengan diberikannya kenaikan sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan. Langkah-langkah tersebut telah dimulai dengan usaha peningkatan kesejahteraan pegawai negeri/ ABRI dan pensiunan dalam tahun-tahun yang lalu. dan berupa pemberian gaji bulan ke 13 dalam tahun 1983/1984. Perkembangan realisasi be1anja pegawai sejak Pe1ita I menunjukkan. bahwa pada awal Pe1ita I realisasinya baru mencapai jumlah sebesar Rp 103. dan lain-lain pengeluaran rutin sebesar Rp 602.980/ 1981 dan 1981/1982. pembayaran bunga dan cicilan hutang sebesar Rp 3. pembinaan dan penertiban aparatur negara. 2.590.8 milyar karena ditetapkannya kebijaksanaan untuk meningkatkan penghasilan pegawai negeri/ABRI sebesar 20 persen. yang berarti meningkat 2. Jumlah tersebut meliputi pengeluaran untuk belanja pegawai sebesar Rp 4.3.

3.057. Belanja barang Dalam rangka menunjang kegiatan usaha golongan ekonomi lemah serta menunjang perluasan kesempatan kerja.3 milyar.3 milyar. anggaran untuk be1anja pegawai direncanakan sebesar Rp 4. uang makan/lauk pauk sebesar Rp313. Perkembangan realisasi be1anja pegawai dapat dilihat pada Tabel II.3 milyar.59 persen. Dalam tahun anggaran 1985/1986. Dengan diberlakukannya kedua Keputusan Presiden tersebut. Penurunan batas nilai kontrak dari Rp 500 juta dalam Keputusan Presiden Nomor 14A Tahun 1980 menjadi Rp 200 juta tersebut adalah dalam rangka penghematan dan rasionalisasi dunia usaha. yang terdiri dari belanja barang dalam Departemen Keuangan RI 48 .117.11. Dalam Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 dinyatakan bahwa untuk pembelian/pemborongan barang dan jasa Pemerintah dengan nilai kontrak sebesar Rp200 juta ke atas harus me1alui Tim Pengendali dan Pengadaan.5 milyar.1 milyar. dan anggaran yang disediakan. Dalam melaksanakan tugasnya.3. lain-lain be1anja pegawai dalam negeri sebesar Rp 116. maka kebijaksanaan 'be1anja barang dalam tahun anggaran 1985/1986 akan lebih diarahkan pada pembe1ian barang-barang dan jasa produksi dalam negeri yang kebanyakan dihasilkan oleh golongan tersebut. ke1ancaran dan kehasilgunaan dalam pengadaan barang/peralatan dan jasa di lingkungan departemen/lembaga diharapkan dapat lebih ditingkatkan lagi. Pengeluaran rutin melalui belanja barang yang pada awal Pelita I baru mencapi sebesar Rp 50. pengadaan atau pembelian barang dan jasa yang diperlukan akan sesuai dengan prioritas.9 milyar. anggaran untuk belanja barang direncanakan sebesar Rp 1. dalam tahun 1984 telah dikeluarkan pula Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 1984 tentang Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah di Departemen/Lembaga. Selanjutnya dengan dike1uarkannya Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 1984. gaji dan pensiun sebesar Rp 3.2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pensiunan sebesar 27 . pada akhir Pelita II meningkat menjadi Rp 419.5 milyar. Dalam RAPBN 1985/1986. dan be1anja pegawai luar negeri sebesar Rp 89.6 milyar.8 milyar.529. 2. kepada Tim pengendali dan Pengadaan ditekankan agar memperhatikan harga dan kualitas yang paling menguntungkan negara. yang terdiri dari tunjangan beras sebesar Rp 482. sehingga dengan demikian dapat lebih terkendali dan terarah. serta dicapai penghematan dalam pelaksanaan anggaran belanja barang. di samping pengutamaan penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri. dan pada akhir Pelita III mencapai jumlah sebesar Rp 1. di samping Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 tentang Pelaksanaan APBN.115.1 milyar. Untuk menjamin lebih terlaksananya kebijaksanaan dimaksud.

Departemen Keuangan RI 49 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 negeri sebesar Rp 1. juga berupa dana pinjaman dari luar negeri. oleh karena pemberian subsidi daerah otonom sebagian besar digunakan untuk pembayaran gaji pegawai negeri sipil dalam lingkungan daerah otonom. karena didalamnya ditampung pula pembiayaan untuk tambahan guru-guru SD Inpres dan tenaga medis. dan belanja non pegawai sebesar Rp 241. serta tunjangan pamong desa.3. maka dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan pula untuk menambah jumlah guru sekolah dasar Inpres.4 milyar. untuk belanja pegawai sebesar Rp 2.3.2 persen. Bunga dan cicilan hutang Dana yang dipergunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan. Selanjutnya dalam subsidi daerah otonom ditampung pula penggantian biaya akibat dihapuskannya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sekolah dasar kelas satu sampai dengan kelas enam. realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri yang jatuh tempo makin meningkat pula setiap tahunnya. Pengeluaran subsidi daerah otonom dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 2.349. 2. rencana pembiayaan subsidi daerah otonom sebesar Rp 2. ikut mempengaruhi besarnya subsidi daerah otonom. tenaga paramedis dan tenaga medis Puskesmas di daerah-daerah. khususnya pembangunan SD Inpres dan Puskesmas. di samping pemanfaatan bantuan luar negeri tersebut harus benar-benar untuk proyek-proyek.3. 2.1 milyar. meningkatnya kegiatan pembangunan. bahwa setiap penambahan hutang luar negeri harus sesuai dengan kemampuan pengembaliannya.3: Subsidi daerah otonom Pengeluaran untuk subsidi daerah otonom erat kaitannya dengan kebijaksanaan belanja pegawai. Di samping itu makin. yang antara lain didukung oleh hasil-hasil yang diperoleh dari proyek-proyek yang telah menghasilkan. oleh karena ditetapkannya kebijaksanaan meningkatkan penghasilan pegawai negeri dan pensiunan.590.4 milyar.590.4.451. pengembalian pinjaman yang dipergunakan untuk membiayai pembangunan proyek-proyek pada waktu jatuh tempo adalah dalam bentuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri.8 milyar atau 45.8 milyar dan belanja barang luar negeri sebesar Rp 78. Hal ini didasarkan pada perhitungan. Seiring dengan makin meningkatnya kemampuan keuangan negara.0 milyar. Dengan demikian hila dibandingkan dengan APBN 1984/1985. Dalam rangka pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.4 milyar tersebut berarti meningkat sebesar Rp 805. dan kegiatan yang produktif.3. selain berupa dana yang dihimpun dari dalam negeri. pembayaran gaji lurah dan perangkatnya.

686. yang terdiri dari pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri sebesar Rp 3. untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang direncanakan sebesar Rp 2.177. Di samping untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri.3. dan pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri sebesar Rp 30. lain-lain pengeluaran rutin dianggarkan sebesar Rp1. terdapat pula pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri. Departemen Keuangan RI 50 . gandum. dan penge1uaran rutin lainnya antara lain untuk biaya sural menyurat me1alui pos. Dalam APBN 1984/1985. melalui lain-lain pengeluaran rutin dibebankan pula pembiayaan yang bersifat non departemental seperti biaya sural menyurat melalui pos dan giro pos.3 milyar tersebut disediakan untuk subsidi bahan bakar minyak sebesar Rp 532. Hal ini terutama disebabkan meningkatnya pengeluaran subsidi bahan bakar minyak sehubungan dengan kenaikan-kenaikan harga minyak mentah di posaran internasional.1 milyar.5 milyar. Lain-lain pengeluaran rutin pembiayaan rutin yang ditampung dalam lain-lain pengeluaran rutin antara lain terdiri dari pengeluaran untuk subsidi pangan. yang berarti lebih rendah hila dibandingkan dengan anggaran tahun sebelumnya.529. yaitu untuk pembayaran tagihan jasa umum seperti bunga atas uang muka Bank Indonesia kepada Pemerintah.102. Dengan demikian bila dibandingkan dengan APBN 1984/1985. giro pos dan bebas porto sebesar Rp 30. di samping juga. subsidi bahan bakar minyak dan Pemilu. 2. dan persiapan Pemilu sebesar Rp 40.3 milyar.0 milyar. Rencana anggaran sebesar Rp 602. Realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang pada permulaan Pelita I baru mencapai Rp 14. pada akhir Pelita II meningkat menjadi Rp 534. dan gula dalam rangka kebijaksanaan stabilisasi harga pangan di dalam negeri. realisasi lain-lain pengeluaran rutin selama Pelita III menunjukkan peningkatan yang sangat besar dibandingkan dengan Pelita I dan II.3. disebabkan pengeluaran untuk subsidi impor pangan terutama beras. sedangkan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 3. Dalam APBN 1984/1985.0 milyar atau 32.559. Dalam perkembangannya. Di samping itu.0 milyar. rencana pembayaran tersebut mengalami kenaikan sebesar Rp 873.5 persen. sedangkan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 602.4 milyar.6 milyar pada akhir Pelita III.0 milyar. dan meningkat lagi menjadi sebesar Rp 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sehingga tidak sangat memberatkan beban keuangan negara.0 milyar.3 milyar.1 milyar.5.1 milyar.

1 1971{1972 214.9 93.Tabungan Pemerintah Sesuai dengan kebijaksanaan anggaran berimbang yang dinamis.8 31.00 + 1.276.9 6.2 22. Selanjutnya dalam tahun anggaran 1985/1986. tabungan Pemerintah diharapkan dapat dihimpun sebesar Rp 6.4 39.9 152.6 76.9 milyar pada akhir Pelita III. Perkembangan realisasi tabungan Pemerintah dapat diikuti pada Tabel II.3 1.2 56.048.4 36.8 27. Usaha-usaha untuk meningkatkan dana pembangunan melalui tabungan Pemerintah terus dilakukan setiap tahunnya dengan jalan meningkatkan penerimaan negara.30 60.0 5.00 808 5.1 68 18.159.4 230. 1969/1970 .112.90 27.30 57.362.557.00 75.5 40.10 65.5 3.2 1981{1982 6.12.9 1973/1974 458.8 63.4 24.00 73.278.399.4.3 55.6 9.60 4.80 74.3 mitral.2 23 77 1970{1971 176.016.3.635.00 59 41 I) Termasuk saldo anggaran lebih 2) APBN 3) RAPBN Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 PELITA III : 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 PELITA IV: 1984{1985 1) 1985{1986 2) I) Angka APBN 2) Angka RAPBN Jumlah Kenaikan Jumlah Persentase 107.048.1 1976{1977 2.8 42.3 8.00 62 38 1977{1978 2.3 40.903. tabungan Pemerintah direncanakan dapat dihimpun sebesar Rp6.4 1983{1984 9.30 6.2 milyar pada awal Pelita I.3 3.90 64. dan menjadi Rp 6.647.9 1975/1976 1.8 189. maupun dengan mencari sumber-sumber penerimaan yang baru.13 Tab e I II.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. baik melalui peningkatan sumber-sumber penerimaan yang sudah ada.3 66.40 29.1 23.235.6 101.00 1.522.060.1985/1986 Dibiayai oleh Anggaran (milyar Tabungan Bantuan Tahun anggaran Pemerintah luar negeri (%) (%) PELITA I: 1969/1970 118.00 187 6.4 milyar pada akhir Pelita II.5 PELITA II : 1974{1975 969. tabungan Pemerintah sebagai unsur utama dalam dana pembangunan tetap memegang peranan yang sangat penting dalam Pelita IV.6 909.9 483.4 1980{1981 5.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tab el II.90 598.90 59. 792.1 50.020.3 49.9 2.8 1978{1979 2.400.020.9 milyar dan pengeluaran rutin sebesar Rp 12.9 35.90 64.8 25.677.6 11 0.386.0 mitral.3 135.2 171.5 73.2 PELITA IV : 1984{19852) 10. Usaha tersebut harus diikuti pula dengan tindakan penghematan dalam pengeluaran rutin.278. sehingga dapat diperoieh selisih yang lebih besar antara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin untuk menambah besar tabungan Pemerintah.13 PERBANDINGAN TABUNGAN PEMERINTAH DAN BANTUAN LUAR NEGERI TERHADAP ANGGARAN PEMBANGUNAN 1969/1970 . Pada APBN 1984/1985.9 68.8 39.427. Tabel II. yang merupakan selisih antara penerimaan dalam negeri sebesar Rp l8. menjadi Rp 1.5 254.20 1.2 35.422.2 1972{1973 310.4 78. Perkembangan realisasi tabungan Pemerintah selama ini menunjukkan peningkatanpeningkatan.9 23.522.6 Departemen Keuangan RI 51 . 12 TABUNGAN PEMERINTAH.8 73.6 26.6 34.9 110.9 milyar. yaitu dari Rp 27.5 PELITA III : 1979{1980 4.2 1985{19863) 10.7 366.6 1982{1983 7.4 737.944.920.5 44.50 1.459.

2 persen dari yang direncanakan dalam Repelita III. Rp 4. milyar. II dan III. maka jumlah pengeluaran pembangunan sebesar Rp 34. baik melalui pembangunan sektaral yang dilaksanakan oleh departemen/ lembaga maupun melalui pembangunan regional dalam berbagai bentuk program Inpres dan bantuan pembangunan melalui Ipeda. Hal ini berarti bahwa tiap sektor pembangunan tersebut telah menyerap dana masing-masing sebesar 15. Di lain pihak pelaksanaan pembangunan regional dalam berbagai bentuk program Inpres dan bantuan pembangunan melalui Ipeda.9 milyar. Pengeluaran pembangunan lainnya yang Departemen Keuangan RI 52 .0 milyar. juga merupakan usaha untuk tercapainya keserasian laju pertumbuhan antar daerah menuju kepada pemerataan pembangunan.3.2 persen.0 milyar dan Rp 4. penyebaran serta pemerataan pembangunan itu diselaraskan dengan pembangunan regional. SelaI1)a Pelita III.. 13. sehingga tercapailah keadaan yang mantap untuk melanjutkan pembangunan dalam Repelita IV sebagai pelaksanaan tahap keempat dari Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang. Pengeluaran pembangunan Dalam perjalanannya menuju suatu masyarakat arlit makmur melalui pembangunan nasional. Ditinjau secara sektoral. atau 56.3. dan bantuan proyek sebesar Rp 10.2 milyar. terutama di sektor pertambangan dan energi.279.5. dana yang telah dibelanjakan untuk pembiayaan pembangunan mencapai jumlah sebesar Rp 34.175.235. Dalam pelaksanaannya.129.926. yang terdiri dari pembiayaan rupiah sebesar Rp 23.4 persen dari seluruh jumlah pengeluaran pembangunan dalam Pelita III. bangsa Indonesia telah berhasil menyelesaikan serangkaian program pembangunan yang dituangkan dalam tiga Repelita yaitu Repelita I.1 persen dan 12. Pelita III yang telah herakhir pada tahun 1983/1984 telah memberikan hasil-hasil yang positif. Bila dibandingkan dengan anggaran yang direncanakan dalam Repelita III.2 milyar tersebut menunjukkan kenaikan sebesar Rp 12.129. dengan jumlah pengeluaran masing-masing sebesar Rp 5.457. sehingga pembangunan sektaral yang berlangsung di daerah benar-benar sesuai dengan potensi dan permasalahan masing-masing daerah.2 milyar selama Pelita III telah menghasilkan berbagai macam program pembangunan yang ditujukan kepada usaha peningkatan kesejahteraan rakyat. sektor perhubungan dan pariwisata serta sektor pertanian dan pengairan. pembagian pendapatan yang makin merata.202. dan perluasan kesempatan kerja.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. pengeluaran pembangunan selama Pelita III digunakan antara lain untuk membiayai program-program pembangunan bidang ekonomi. Pembiayaan pembangunan sebesar Rp 34.129. berbagai kebijaksanaan dan program pembangunan sektaral yang didasarkan kepada unsur prioritas.2 milyar.8 milyar.

Melalui pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata ini pula telah ditingkatkan. serta ditingkatkap eksplorasi dan exploitasi kekayaan alam berupa sumber mineral dan energi. peranan pendidikan dalam pembangunan. generasi muda. Rangkaian kebijaksanaan pokok yang telah dirumuskan dalam Repelita III adalah dalam rangka tercapainya tujuan pembangunan di bidang pendidikan dan pengembangan generasi muda. memperluas kesempatan kerja.1 milyar. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Pelita III diarahkan kepada usaha-usaha peningkatan kecerdasan bangsa.pembangunan bidang ekonomi tersebut ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan yang makin merata bagi seluruh rakyat. dengan alokasi dana masingmasing sebesar Rp 3. Kegiatan-kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan.5 persen dan 5. Pembiayaan pembangunan sektor pendidikan. desa.956. serta dalam kota. Di samping itu juga te1ah diarahkan agar dapat menunjang pembangunan industri pertanian.3 persen dari seluruh /pengeluaran pembangunan selama Pelita III.2 milyar dan Rp 1. Dalam kegiatan ini pula peranserta swasta nasional lebih ditingkatkan. serta sektor tenaga kerja dan transmigrasi. yang berarti pula makin memperkokoh ketahanan nasional. Selanjutnya melalui pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata. sektor pembangunan daerah. atau masingmasing telah menyerap dana sebesar 9. generasi muda. terutama daerah pedesaan dan daerah terpencil. serta mempersiapkan Departemen Keuangan RI 53 . Sesuai dengan arab dan kebijaksanaan Pelita III. Rp 2. dan menjamin penyediaan panganuntuk masyarakat pada tingkat harga yang layak. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. serta dapat meningkatkan ekspor non migas. dan dengan demikian merangsang dan menunjang pencapaian sasaransasaran pembangunan. Dengan demikian keenam sektor pembangunan bidang ekonomi yang sebagian besar dananya dikelola departemen/lembaga itu telah menyerap dana sebesar Rp 21. telah dilaksanakan inventarisasi dan pemetaan. sehingga dapat memperlancar arus barang/jasa dan manusia ke seluruh daerah.0 milyar atau 64. dan diperluas kepariwisataan dalam rangka meningkatkan penerimaan devisa.5 milyar. kesempatan belajar yang dikaitkan dengan aspek pemerataan. dan kota. 8. Melalui pembangunan sektor pertambangan dan energi. sehingga penerimaan negara dari produksi ekspor pertambangan dapat bertambah.397. di samping untuk memperkenalkan kebudayaan bangsa. terutama dalam pertambangan rakyat. Pemhangunan sektor pertanian dan pengairan yang telah dilaksanakan selama Pelita III. pembangunan prasarana angkutan dan perhubungan lebih ditingkatkan. perluasan lapangan kerja.894. penggunaan dana di keenam sektor .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menyerap dana cukup besar dalam Pelita III adalah sektor pendidikan. merupakan kelanjutan dalam rangka meningkatkan produksi pangan yang diarahkan untuk memperbaiki tingkat hidup petani.3 persen dari seluruh jumlah pengeluaran pembangunan selama Pelita III.797.9 persen.

Bila dibandingkan dengan APBN 1984/1985.349. Dengan demikian di dalam pengerahan dan penggunaan dana tersebut. Masalah-masalah yang menonjol dalam sektor tenaga kerja dan transmigrasi selama Pelita III di bidang ketenagakerjaan adalah pertambahan penduduk yang tinggi sehingga menimbulkan kelebihan tenaga kerja. dan pada gilirannya dapat merupakan landasan yang kuat untuk tahap pembangunan berikutnya. arah dan kebijaksanaan pembangunan yang ditempuh selama Pelita III terus dilanjutkan dan ditingkatkan agar peningkatan tarat hidup. yang terdiri dari pembiayaan rupiah sebesar Rp 6. Untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.0 milyar. pengerahan dan penggunaan dana pembangunan dalam RAPBN 1985/1986. Seperti halnya dengan Repelita-repelita sebelumnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 generasi muda sebagai penerus perjuangan dan pembangunan nasional. sehingga dengan demikian dapat meningkatkan pemerataan pembagian pendapatan. Pembangunan regional dalam Pelita III yang dilaksanakan melalui sektor pembangunan daerah.2 milyar. dan terpadu. serta adanya kekurangseimbangan antara tenaga kerja terdidik dan tak terdidik.8 milyar tersebut menunjukkan Departemen Keuangan RI 54 . desa dan kota merupakan kelanjutan kegiatan yang telah dilaksanakan dalam Pelita II. Dengan memperhatikan hasil-hasil pembangunan yang dicapai selama Pelita III maka dalam RAPBN 1985/1986.297.8 milyar dan bantuan proyek sebesar Rp 4. kecerdasan dan kesejahteraan yang makin merata dan adil bagi seluruh rakyat dapat tereapai. kekurangseimbangan dalam susunan unsur tenaga kerja dan penyebaran tenaga kerja. keserasian antara pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya.349. yang merupakan pelaksanaan tahun kedua Pelita IV.647. tekanan lebih diberikan kepada usaha pemerataan khususnya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah tanah air. Peranan pembangunan daerah dalam Pelita III semakin bertambah besar karena dalam melanjutkan pelaksanaan Trilogi Pembangunan. Dengan berlandaskan pada arah dan sasaran serta berpedoman kepada kebijaksanaan yang telah ditetapkan. pembiayaan rupiah sebesar Rp 6. yang merupakan reneana operasional tahunan daripada Repelita IV tetap berlandaskan pada Trilogi Pembangunan. dengan sasaran perluasan serta pemerataan kesempatan kerja produktif dan numeratif. selama Pelita III telah ditempuh berbagai langkah dan kebijaksanaan di bidang tenaga kerja yang bersifat menyeluruh. Sementara itu makin meningkatnya program-program pembangunan yang akan dijalankan hams diimbangi pula dengan pengerahan dana pembangunan yang lebih besar. di samping juga belum tersedianya posar tenaga kerja yang menyalurkan tenaga kerja secara efektif dan efisien. pengeluaran pembangunan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 10. pertumbuhan ekonomi serta stabilitas nasional akan tetap menjadi pertimbangan pokok.

90 1. politik maupun penahanan dan keamanan.0 milyar alan 4.30 149. Di samping itu diarahkan pula kepada proyek-proyek yang dapat meningkatkan laju pertumbuhan terutama sektor pertanian dalam rangka swasembada pangan.9 429.0 milyar tersebut akan lebih dipertajam prioritasnya dalam Repelita IV.9 1976/1977 1.70 158.80 262 4.20 789.419.3 1973/1974 336.087. Pengarahan pengeluaran pembangunan kepada proyek-proyek yang diprioritaskan untuk pertumbuhan dan pemerataan tersebut pada gilirannya akan menunjang tereapainya sasaran kestabilan perekonomian.6 1982/1983 5. Dalam reneana anggaran pembangunan tersebut telah termasuk pula peningkatan bantuan pembangunan daerah.1 0.9 1985/19863) 6.4 1975/1976 926.40 1.9 42.788.50 66.1 127. sektor industri yang menghasilkan mesin-mesin industri sendiri.3 1977/1978 1. sosial. dengan tujuan lebih meningkatkan peranserta Departemen Keuangan RI 55 .14 Tabel II.6 38.90 354.70 597 11 REPELITA IV 1984/1985 2) 6.3 1) Di luar bantuan proyek 2) Angka APBN 3) Angka RAPBN Penggunaan anggaran pembangunan yang direncanakan sebesar Rp 10.276. kebudayaan. Perkembangan pengeluaran pembangunan di luar bantuan proyek sejak pelaksanaan Repelita I hingga sekarang dapat diikuti pada Tabel II.3 persen lebih besar.4 20.5 3 1983/1984 6.60 72 1980/1981 4.8 100.3 1981/1982 5.1 35.8 17. 1969/1970 -1985/1986 1) ( dalam milyar rupiah) Kenaikan Jumlah Persentase Tahun anggaran Jumlah PELITA I: 1969/1970 92.20 138. sena pada sektor-sektor lain yang menunjang tereapainya sasaran pertumbuhan dan keseimbangan struktur perekonomian.697.9 1971/1972 150.434.280.8 17.5 PELITA III : 1979/1980 2.80 56.486.14 PENGELUARAN PEMBANGUNAN.9 22.8 PELITA II 1974/1975 765. yaitu diarahkan kepada proyekproyek yang secara langsung alan tidak langsung meningkatkan pemerataan kegiatan pembangunan baik dalam bidang ekonomi.647.031.2 37.8 1972/1973 235.349.1 10.129.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp262.8 1978/1979 1.3 10.9 1970/1971 128.9 85 56.3 100.568.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 masyarakat dalam kegiatan pembangunan. keselamatan pelayaran dan penerbangan Departemen Keuangan RI 56 . 8. 12. sektor pembangunan daerah. serta pembangunan pos dan telekomunikasi.647. Pelaksanaan wajib belajar ini dituangkan dalam program Inpres sekolah dasar. generasi muda. memperluas kesempatan kerja.7 milyar. generasi muda. lebih diperluas dan ditingkatkan. Selebihnya dialokasikan kepada dua belas sektor pembangunan lainnya. serta meningkatkan perluasan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan menengah.2 persen.8 milyar. Pembangunan sektor pertanian dan pengairan dalam tahun 1985/1986 merupakan kegiatan yang diarahkan kepada usaha untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan. Selanjutnya untuk anggaran sektor pertambangan dan energi direncanakan sebesar Rp 1.4 persen. kebudayaan nasional dan kepereayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebesar Rp 1. lalit. Pembangunan sektor pendidikan.510. serta meningkatkan kegiatan transmigrasi. Dengan demikian keenam sektor pembangunan yang telah disebutkan masing-masing mendapat alokasi sebesar 14.2 persen dan 6. Untuk mendukung tercapainya perluasan kesempatan kerja yang merupakan kebutuhan yang makin mendesak. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. dalam RAPBN 1985/ 1986 tetap mendapatkan perhatian sesuai dengan prioritas yang telah digariskan dalam GBHN. sektor pertanian dan pengairan sebesat Rp 1.425.4 persen dari anggaran yang direncanakan dalam tahun 1985/1986. mendukung pembangunan daerah.4 milyar. pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata yang meliputi perhubungan darat.301.8 milyar. terutama dititik beratkan pada peningkatan mutu dan perluasan pendidikan dasar dalam rangka mewujudkan dan memantapkan pelaksanaan wajib belajar.430. 13. Berdasarkan pada kebijaksanaan yang telah digariskan.4 persen. anggaran pembangunan sebesar Rp 10.2 persen. dan udara. yang diberikan dalam rangka mempercepat penuntasan keikutsertaan anak usia sekolah pada pendidikan dasar. desa dan kota sebesar Rp 868. 13. Termasuk didalamnya usaha peningkatan dalam pengembangan jasa meteorologi dan geofisika untuk menunjang keselamatan masyarakat pada umumnya. dan sektor perhubungan dan pariwisata sebesar Rp 1.2 milyar dan sektor tenaga kerja dan transmigrasi sebesar Rp 676. Dengan demikian sektor pertanian akan makin kuat guna mendorong perkembangan industri dalam rangka mencapai keseimbangan ekonomi. meningkatkan pendapatan petani.0 milyar tersebut dialokasikan pada sektor pendidikan. mendorong pemerataan kesempatan berusaha. berbagai tingkat dan jenis pendidikan ketrampilan serta latihan kejuruan yang dapat menciptakan kegiatan kerja. kebutuhan in du stri dalam negeri serta meningkatkan ekspor.4 milyar.

serta mendorong kegiatan ekonomi khususnya industri. Perincian pengeluaran pembangunan secara sektoral dalam RAPBN 1985/1986 adalah sebagai berikut : Departemen Keuangan RI 57 . bantuan pembangunan yang diberikan kepada daerah berupa program-program Inpres dan bantuan pembangunan lainnya makin ditingkatkan dan disempurnakan. akan dilanjutkan dan diperluas. Kegiatan pembangunan dalam sektor pembangunan daerah. Demikian pula dengan pembangunan tenaga listrik yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat kota dan desa.2 milyar. penyediaan sarana dan prasarana. serta peningkatan kemampuan penduduk untuk memanfaatkan sumber-sumber kekayaan alam. yang tersebar dalam delapan belas sektor pembangunan. telah memberikan kesempatan kepada daerah untuk merencanakan dan )11elaksanakan pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masing-masing daerah. antara lain berupa peningkatan kegiatan promosi dan pendidikan kepariwisataan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada khususnya. pembinaan dan pengembangan lingkungan pemukiman pedesaan dan perkotaan yang sehat. usaha-usaha untuk meningkatkan produksi dan ekspor hasil pertambangan. sehingga produksi dan ekspor pertambangan serta penerimaan negara akan dapat meningkat pula. Diberikannya berbagai program bantuan pembangunan kepada daerah selama ini. Demikian juga pembangunan pariwisata terus ditingkatkan melalui kebijaksanaan terpadu. Di sektor pertambangan dan energi.297. serta peningkatan mutu dan kelancaran pelayanan. Oleh sebab itu kegiatan pembangunan sektor pertambangan yang meliputi inventarisasi dan pemetaan. desa dan kota tetap diarahkan kepada perluasan kesempatan kerja. terus dilanjutkan dan ditingkatkan. Selanjutnya bantuan proyek yang dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp4. Untuk terlaksananya sasaran ini. eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam berupa sumber mineral dan energi dalam tahun 1985/1986 terus ditingkatkan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna. serta untuk kepentingan pembangunan di berbagai sektor. terutama sektor minyak bumi dan gas alam yang merupakan sumber penerimaan negara yang terbesar selama ini. direncanakan untuk membiayai berbagai macam proyek prasarana serta sektor-sektor produktif dan bermanfaat.

000 868.000 275.000 900.846.430.913.363.000 102.628.025.830.000 Departemen Keuangan RI 58 .095.679. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa 1.000 621.000 274.000 1.595. SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama 1.000 63. DESA DAN KOTA Sub Sektor Pembangunan Daerah.000 98.219.000 578.975.580.012.971.365.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ( dalam ribuan rupiah) 1.658.818.219.595. SEKTOR PERT AMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Sub Sektor Energi 4. SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri 3.739.392.000 238.000 655. SEKTOR PENDIDIKAN.000 47.000 1.092.350. Desa dan Kota 8.141.425.000 529. SEKTOR PERTANIAN DAN PENGAIRAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan 1.000 128.000 68.000 868.361.000 2. SEKTOR PEMBANGUNAN DAERAH.301. SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi 6.000 63.531.510. SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi 7.000 676.788. SEKTOR PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor Perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata 5.000 190.000 71.000 60.257. GENERASI MUDA.126.141.000 1.000 28.000 655.000 9.704.

Pers dan Komunikasi Sosial 15.000 58.000 714. bantuan pembangunan bagi daerah.064.000 176. SEKTOR PENGEMBANGAN DUNIA USAHA Sub Sektor Pengembangan Dunia Usaha 18.000 Pengeluaran pembangunan yang dibiayai dengan rupiah diperinci atas tiga bagian besar. SEKTOR PERUMAHAN RAKY AT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman 437.647.147. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA 413. SEKTOR KESEHATAN. SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional 14.441.092. KESEJAHTERAAN SOSIAL.362.720.000 176.000 229. Pengeluaran pembangunan melalui departemen/lembaga merupakan pembiayaan yang disediakan untuk pembangunan sektoral dan dikelola oleh departemen/lembaga.000 437.308.938. sedangkan Departemen Keuangan RI 59 . PERANAN W ANITA. SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum 13.147.000 74.000 714. TEKNOLOGI DAN PENELITIAN Sub Sektor Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sub Sektor Penelitian 16. SEKTOR PENERANGAN.000. yaitu pengeluaran pembangunan departemen/lembaga termasuk di dalamnya departemen Hankam.555.064. SEKTOR ILMU PENGETAHUAN.687.000 12. SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah 17.000 80.000 100.000 259.000 Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kependudukan dan Keluarga Berencana 11.000 67.189.441.000 259.000 229.962.000 207.687.000 133. PERS DAN KOMUNlKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 10.641.000 80.000 67.641.189.000 254. SEKTOR SUMBER ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Sub Sektor Sumber Alam dan Lingkungan Hidup JUMLAH 10.383.720. dan lain-lain pengeluaran pembangunan.

Pada akhir Pelita II telah meningkat menjadi Rp 24.0 milyar dengan jumlah desa sebanyak 60.5 milyar dan Rp 87. bantuan Ipeda dan bantuan pembangunan Timor Timur. Dalam RAPBN 1985/1986 yang merupakan tahun kedua Pelita IV bantuan yang diberikan direncanakan sebesar Rp 215. bantuan yang diberikan terus meningkat pula setiap tahunnya. dan pada akhir Pelita III meningkat lagi menjadi Rp 91.9 milyar alas dasar perhitungan Departemen Keuangan RI 60 . Sementara itu bantuan pembangunan kabupaten yang besarnya didasarkan atas jumlah penduduk.437 buah.6 milyar dengan jumlah desa sebanyak 66. sedang dalam RAPBN 1985/1986 bantuan terse but ditingkatkan menjadi Rp 98.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengeluaran pembangunan berupa bantuan pembangunan bagi daerah merupakan bantuan yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan potensi dan prioritas daerah masing-masing dalam bentuk program Inpres. bantuan yang diberikan baru mencapai jumlah sebesar Rp 5.448 desa. Oleh sebab itu selain bantuan berupa uang.6 milyar. Dalam perkembangannya. dan pemeliharaan prasarana pedesaan. bantuan pembangunan sekolah dasar. menunjukkan hasil-hasil yang nyata. kemudian menjadi Rp 42. serta meningkatkan partisiposi penduduk dalam pembangunan. bantuan pembangunan kabupaten. kepada seBap kabupaten diberikan juga bantuan peralatan berupa satu buah mesin gilas jalan.8 milyar untuk 67. dimaksudkan untuk menciptakan dan memperluas lapangan kerja.645 buah. jumlah bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 92. programprogram Inpres yang terdiri dari bantuan pemb:mgunan desa.478 desa dengan jumlah bantuan sebesar Rp 2. bantuan pembangunan sarana kesehatan.1 milyar masing-masing pada awal Pelita II dan Pelita III. bantuan penghijauan/rebuisasi. pada awal Pelita I baru diberikan kepada 44.6 milyar. berhubung dengan bertambahnya jumlah bantuan menjadi Rp 1.6 milyar. bantuan pembangunan Dati I. Dengan makin bertambahnya jumlah penduduk dan kemampuan keuangan negara. dalam rangka memanfaatkan dan memelihara sumber alam. dan bantuan pembangunan prasarana jalan.350 ribu tiap desa. yang diberikan untuk mendorong dan mengarahkan usahausaha swadaya gotongroyong masyarakat dalam membangun desanya. Adapun proyek-proyek yang dapat dibiayai oleh dana bantuan pembangunan kabupaten meliputi proyek/kegiatan yang bersifat pemeliharaan jalan dan jembatan yang sudah ada. Bantuan pembangunan desa. bantuan pembangunan/pemugaran posar. Dalam tahun 1970/1971. serta proyek peningkatan dan pembangunan jalan yang dapat membuka daerah terisolasi sehingga dapat mengembangkan perekonomian daerah dan memperluas kesempatan berusaha. Dalam APBN 1984/1985. Di samping itu dapat juga dipergunakan untuk membiayai proyekproyek yang bersifat meningkatkan ketrampilan penduduk pedesaan.

perbaikan dan peningkatan irigasi. bantuan pembangunan Dati I dalam RAPBN 198511986lebih ditingkatkan penggunaannya. dalam tahun 1985/1986 lebih ditingkatkan lagi. kemudian ditingkatkan menjadi Rp 19.0 milyar dengan bantuan minimum sebesar Rp 10. dan dalam RAPBN 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 617.0 milyar dengan bantuan minimum untuk liar propinsi sebesar Rp 9. Dalam tahun 1982/1983. serta madrasah ibtidaiyah.0 juta untuk kabupaten. dan kemudian diperluas lagi pada tahun berikutnya dengan pembangunan rumah bagi kepala sekolah dan guru yang bertugas di daerah terpenci1. dan untuk meningkatkan keserasian laju pertumbuhan antar daerah serta meningkatkan peranserta daerah dalam pembangunan.bantuan per jiwa dan bantuan minimum yang diberikan adalah sebesar Rp 170. Bantuan yang ditetapkan digunakan untuk membiayai perbaikan jalan dan jembatan. Dalam APBN 1984/1985. Adapun jumlah bantuan yang telah diberikan dalam tahun 1973/1974 adalah sebesar Rp 17. terutama bagi anak-anak usia sekolah pada pendidikan dasar yang berada di pedesaan. Program Inpres Dati I ini terdiri dari bantuan yang ditetapkan penggunaannya.0 milyar. yaitu ditambah dengan penyediaan paket peralatan olah raga untuk sekolah dasar negeri dan swasta. bantuan pembangunan sekolah dasar lebih ditingkatkan lagi.. daerah transmigrasi. dan pemukiman baru. Dalam APBN 1984/1985.2 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 1. pembangunan rumah guru dan kepala sekolah di daerah terpencil. Selanjutnya ditingkatkan dengan pembangunan penambahan ruang kelas baru.7 milyar pada awal Pelita II.250. Adapun bantuan pembangunan sekolah dasar yang bertujuan untuk memperluas kesempatan belajar. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 253. penyediaan buku-buku pelajaran dan buku bacaan. Pada mulanya bantuan pembangunan sekolah dasar ini diberikan untuk pembangunan dan rehabilitasi gedung-gedung sekolah dasar.8 milyar. digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek yang meningkatkan taraf hidup rakyat serta untuk mengembangkan daerah-daerah minus di daerah kritis.8 milyar pada awal Pelita III. serta penyediaan alat-alat olah raga dalam Departemen Keuangan RI 61 . dan diarahkan penggunaannya. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 580. yang merupakan permulaan Pelita IV. Jumlah tersebut meliputi antara lain pembangunan gedung sekolah baru. dan ditingkatkan lagi menjadi Rp 155. perbaikan gedung-gedung sekolah yang sudah ada. daerah terpencil. meratakan hasil-hasil pembangunan. dan bantuan maksimum Rp 12. Sedangkan bantuan yang diarahkan. Dalam rangka meningkatkan keselarasan pembangunan sektoral dan regional. serta biaya eksploitasi dan pemeliharaan pengairan.0 milyar. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 280. serta buku bacaan bagi anak-anak sekolah dasar saja.0 milyar. penyediaan bukubuku pelajaran.0 milyar.

percontohan pertanian terpadu. Bila dalam APBN 1984/1985 jumlah bantuan yang diberikan sebesar Rp 98. puskesmas pembantu. pembuatan hutan rakyat. puskesmas keliling. sasaran peningkatan pelayanan kesehatan dan perbaikan gizi dalam Pelita IV tetap diutamakan kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup tetap mendapat perhatian yang besar dalam Repelita IV. khususnya dalam membuka daerah yang masih terisolasi. lebih ditingkatkan lagi. melalui bantuan pembangunan dan pemugaran posar diberikan kesempatan kepada Pemerintah daerah untuk menyediakan tempat berjualan/posar dengan sewa semurah mungkin. Dalam tahun 1978/1979.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bentuk paket. Sebagaimana halnya dalam Pelita III. Kegiatan penghijauan meliputi penanaman tanaman tahunan. Dalam tahun 1984/ 1985 disediakan anggaran sebesar Rp 39. bantuan yang diberikan baru sebesar Rp 1. Pada awal pelaksanaannya tahun 1976/1977. yang sebagian besar berpenghasilan rendah.3 milyar. selama Pelita III telah berhasil diperbaiki jalan sepanjang 33.5 milyar yang direncanakan dipergunakan antara lain untuk pembangunan puskesmas baru. Untuk keperluan itu dalam tahun 1985/ 1986 bantuan pembangunan yang diberikan melalui Inpres Sarana Kesehatan lebih ditingkatkan lagi jumlahnya. dalam pelaksanaannya banyak melibatkan aparatur Pemerintah desa serta berbagai lembaga yang ada di desa.5 milyar. tanah hutan.1 milyar untuk memperbaikijalan sepanjang 7.500 km dan jembatan sebanyak 19. Oleh sebab itu dalam tahun 1985/1986 bantuan yang direncanakan untuk program bantuan penunjangan jalan Departemen Keuangan RI 62 .0 milyar. sedangkan dalam APBN 1984/1985 disediakan sebesar Rp 10. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi Dati II dalam rangka pembangunan daerah. baik di desa maupun di kota.4 milyar maka dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp 114.050 buah. dan air.021 km dan jembatan sebanyak 62. menghubungkan daerah produksi hasil pertanian dengan daerah pemasarannya. dan pernmahan untuk dokter dan paramedis. Sehubungan dengan itu anggaran bagi bantuan penghijauan dan reboisasi. Untuk membantu para pedagang kecil golongan ekonomi lemah.2 milyar.8 milyar. Dengan diberikannya bantuan penunjangan jalan kabupaten sejak 1979/1980. Sedangkan dalam APBN 1984/ 1985 disediakan bantuan sebesar Rp 80.7 milyar. yang bertujuan untuk menyelamatkan kelestarian sumber-sumber alam.6 milyar. pembuatan bangunan pencegah erosi. dan dalam tahun 1985/1986 anggaran untuk program Inpres ini direncanakan sebesar Rp 42.383 buah dengan jumlah biaya sebesar Rp 200. anggaran yang diberikan untuk program Inpres ini baru sebesar Rp 16. Untuk tahun 1985/1986 anggaran yang direncanakan untuk program Inpres ini adalah sebesar Rp 11.

15 dan Tabel Departemen Keuangan RI 63 . pertambangan. industri. dan proyekproyek perkebunan tanaman komoditi ekspor. digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan. dan lembaga Pemerintah lainnya.5 milyar dalam tahun 1978/1979. perhubungan.6 milyar dalam RAPBN 1985/1986. Dalam APBN 1984/1985 anggaran yang disediakan adalah sebesar Rp 359. Bantuan pembangunan kepada daerah Timor Timur diberikan sejak tahun 1977/1978. Bantuan yang diberikan dalam rangka memberi kesempatan kepada propinsi termuda ini agar dapat sejajar dengan tingkat kemajuan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Pembiayaan pembangunan lainnya dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp1. Rencana penge1uaran pembangunan dalam tahun 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II.5 milyar. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 3. kemudian Rp 4. dan sektor pemerintahan. Dalam tahun 1977/1978.8 milyar. kesehatan. tambang batu bara. program pengembangan statistik/sensus. dan pengembangan program perumahan rakyat.0 milyar. sehingga mereka dapat membe1i pupuk sesuai dengan yang diperlukan. Selanjutnya penge1uaran pembangunan lainnya yang dianggarkan sebesar Rp 248. Program-program pembangunan tersebut diantaranya adalah program pembinaan keluarga berencana.5 milyar. maka dalam tahun 1985/1986 direncanakan untuk ditingkatkan menjadi Rp 557. Pembangunan melalui sektor pengembangan dunia usaha dilakukan Pemerintah me1alui penyertaan modal Pemerintah pada perusahaanperusahaan negara yang bergerak di berbagai sektor. Dalam APBN 1984/1985. Pemberian subsidi pupuk oleh Pemerintah pada hakekatnya bertujuan untuk mendukung program swasembada pangallo Dengan diberikannya subsidi ini.8 milyar. Realisasi pengeluaran pembangunan bagi penyertaan modal Pemerintah disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara setiap tahunnya. dan perkreditan. ditujukan kepada program pembangunan yang menyangkut kepentingan masyarakat umum yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan negara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ditingkatkan menjadi Rp 87. dan se1ama Pelita III telah diberikan bantuan sebesar Rp 30.7 milyar. diantaranya sektor pertanian. penyertaan modal Pemerintah sebesar Rp 255. harga pupuk akan dapat disesuaikan dengan clara beli rakyat dan petani kecil. terutama pada sektor pendidikan. dan pembiayaan lain-lain pembangunan sebesar Rp 248. bantuan pembangunan untuk daerah Timor Timur adalah sebesar Rp 8. yang terdiri dari pembiayaan subsidi pupuk sebesar Rp 557. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp 255.6 milyar. Bila dalam APBN 1984/1985 anggaran untuk subsidi pupuk disediakan sebesar Rp 458.7 milyar.062. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 disediakan bantuan sebesar Rp 8.6 milyar. yang direncanakan antara lain untuk pembiayaan proyek-proyek pabrik pupuk.6 milyar.5 milyar.6 milyar.8 milyar.

Tabel II.9 253 580.647.2 1.559. Belanja baraag 1.50 98.590.30 482.368.8 167.4 10.5 42. Bantuan pembangunan kabupaten 3. pembiayaan bagi daerah 1.666.00 1. Bantuan proyek Jumlah Jumlah 12. Bunga dan cicilan hutang 1. Belanja non pegawai IV.4 731. Bea masuk dan cukai 4.249.1 2.510.80 313. Bantuan pembangunan Dati I 4.20 23.80 78.7 167.297.80 4.046. Pelayanan kesehatan/Puskesmas 6. Penyertaan modal pemerintah 3.8 80.129.8 201. Pajak penghasilan 2.90 11.349.20 23. PEN. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam 18.516.5 11.00 I.159. Bantuan program II.459. Bantuan Proyek Jumlah 4. Departemen Hankam II. Ipeda 6.6 4.680. Bantuan penghijauan 8.529.062. RUTIN I.3 116. PENG.80 380.3 10.8 98.9 4. Pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah 3.117.6 39. Dalam negeri 2.518.40 3.2 1.4 3. Belanja pegawai 2. PEN.00 4. Pembangunan prasarana jalan 9.644. Dalam negeri 2.297. Bantuan pembangunan posar 7.20 10.074.10 602. Luar negeri III. Gaji/pensiun 3. Pembangunan SD 5.6 89.9 B. Timor Timur 10.643. Pembiayaan dalam rupiah II.1 8.4 96.349. DALAM NEGERI I.30 1985/1986 RAPBN 3. Penerimaan bukan pajak 1.3 87.50 10.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 II.40 101.115.70 7. Pajak lainnya 7.677.297. Pajak ekspor 5.00 Tabel II. Pembiayaan lain-lain 1. Biaya makan (lauk-pauk) 4.7 359.00 557.50 92. Subsidi daerah otonom 1. Lain-lain B.6 243 4. Belanja pegawai 1.399.10 70. 1985/1986 (dalam milyar rupiah) Jenis Pengeluaran 1984/1985 APBN 3. Departemen/Lembaga 2.30 45'8. Luar negeri V.5 3.30 3.6 248.5 8.00 6. Lain-lain IV.00 1. 1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Penerimaan A.20 Pengeluaran A.8 255.PENG.371. PEMBANGUNAN I.061. Subsidi pupuk 2.6 1.046.40 2. PEMBANGUNAN I. Pembiayaan Departemen/Lembaga 1. Bantuan proyek Jumlah Departemen Keuangan RI 64 .00 3. Penerrmaan minyak bumi dan gas alam II.6 215.1 1.9 280 617 114. I P e d a III. 15 RENCANA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA. 16 RENCANA ANGGARAN PEMBANGUNAN. Belanja pegawai luar negeri II.16.4 1.10 395. Bantuan pembangunan desa 2.529.90 1. Tunjangan beras 2. Lain-lain belanja pegawai dalam negeri 5.00 241.647.10 30 3.5 150.451.

baik organisasi maupun kegiatannya. Pelaksanaan pengawasan di bidang anggaran dilakukan dengan cara pemeriksaan secara Departemen Keuangan RI 65 . yang biasa disebut pengawasan atasan langsung. dan ketatalaksanaan. dan Inpres No. kepegawaian. baik itu berupa tinda. juga merupakan salah satu aspek dari peningkatan pengawasan. II dan III.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. Peningkatan pengawasan pertama-tama mempunyai arti peningkatan aparatur pengawasan. Oleh karenanya perlu diciptakan dan ditingkatkan mutu sistem pengendalian manajemen dalam tiap aparatur Pemerintah. telah diterbitkan Keputusan PresideD Nomor 31 tahun 1983 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). baik aparatur Pemerintah maupun masyarakat umum. Peningkatan penggunaan hasilhasil pengawasan oleh seluruh aparatur yang berwenang. Akibat dari peningkatan pengawasan atasan langsung maka timbul kebutuhan akan peningkatan media yang akan dipergunakan dalam pengawasan tersebut. Tugas pokok. Pada akhir tahun Pelita III telah ditempuh kebijaksanaan untuk melaksanaka_ sistim pengawasan terpadu secara struktural. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1983 tentang Kedudukan. penyesuaian besarnya organisasi dan personil. Peningkatan organisasi tersebut meliputi peningkatan kedudukan. serta disesuaikan dengan sasaran-sasaran pembangunan yang hendak dicapai. Dalam Pelita IV. atau dengan kala lain peningkatan pemasyarakatan pengawasan. terutama dengan makin meningkatnya volume anggaran yang dikelola sebagai konsekuensi dari makin meluasnya kegiatan pembangunan yang dilaksanakan selama Pelita I. maupun berupa tindakan penyempumaan kelembagaan. yang berlaku sebagai landasan operasional pengawasan. yaitu peningkatan pelaksanaan tindak lanjut.6. peningkatan tatakerja keterampilan serta keahlian. 15 tahun 1983 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan. serta Struktur Organisasi Menko Ekuin dan Pengawasan Pembangunan. Selanjutnya peningkatan pengawasan adalah juga menggerakkan seluruh aparatur pelaksana untuk secara aktif melaksanakan pengawasan terhadap bawahannya. Pengawasan pembangunan Fungsi pengawasan keuangan negara memegang peranan yang makin penting.3. Langkah-langkah yang diambil dalam usaha peningkatan pengawasan serta peningkatan penggunaan hasil-hasil pengawasan oleh seluruh aparatur yang berwenang itu hams diikuti pula dengan usaha peningk::ttan pengertian dan kesadaran akan pengawasan dari seluruh masyarakat._an terhadap para pelaku. Untuk mewujudkan integrasi secara struktural di bidang pengawasan seperti dim aksu d. Fungsi dan Tatakerja. fungsi pengawasan makin ditingkatkan dan disempumakan lagi. sedangkan peningkatan kegiatan berarti perluasan ruang lingkup dan luasnya jangkauan pengawasan.

683 1) Daiam Pelita I terdiri atas pcnerbitan SPMU murni SlAP: dalam Pelita II khusus penerbitan SPMU murni saja 2) Jumlab anggaran yang diperiksa 3) Mulai tabun anggaran 1979/1980 DIP berfungsi sebagai SKO Dalam tahun 1983/1984.18% -42.63% 36.173 501.473..157 97. Dari hasil pemeriksaan belanja pegawai tersebut.324 38.d.687.912.d.81% 3. Nilai DIP yang diperiksa ( jutaan rupiah) 3.214 I.beban tetap s.599 85.024 491.483 1.d.37% 979 173 277 369..3) 154.94% 260 66 224 251.370 41. Tabel II.054.475 87.814 857.098 366 410 1. yang tercermin dari perkembangan jumlah berita acara yang tidak benar dan realisasi fisik yang tidak sesuai dengan DIP.514 48.421 261.178 proyek dan selanjutnya pada tahun keempat Pelita III bertambah lagi menjadi 5.634 .544 834. 18.08 kejadian per proyek. telah dilakukan pemeriksaan serentak terhadap belanja pegawai daerah otonom dan pegawai pusat pada 27 propinsi..104 355.015 60.956 proyek.361 246.404 63.1982/1983 PEL1TA I PEL ITA II PEL ITA III 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 759 992 1.057 80.03 persen dari nilai yang diperiksa. Penerbitan SPMU oleh KPN : (dalam pcrsentase) .beban sementara s.. Nilai SKO yang diperiksa 4.791 1.60% -80.694 350.86% 30.49% .221 27.17 HASIL PEMERIKSAAN KHUSUS PROYEK. 47 % 75% 72 % 72% 68.772.beban tetap s. dan pada tahun keempat Pelita III masing-masing adalah sebanyak 0.jumlab kejadian 106 52 78 144 78 7.162 1.729 dijumpai karena sasaran pemeriksaan ada1ah Kas Opname s.782 44.214 122 126 566.233 355.26% -71. ditemukan hal-hat mengenai ketertiban administrasi Departemen Keuangan RI 66 .639 137. Realisasi pisik yang tak sesuai dengan DIP (jumlah kejadian) 129 201 88 354 215 8.19. Berita acara yang tidak benar pada periode tersebut masing-masing adalah 0.101 1.740 221.295 616.639 624.790 64.d.578 59.956 2.33% data-data tak 58.142 86.867 647. Sedangkan jumlah kejadian realisasi fisik yang tidak sesuai dengan DIP pada akhir Pelita I.211 proyek. disiplin administrasi proyek-proyek Pelita secara keseiuruhan bertambah baik.93% 3.100 2.140 304. 38.408 70.499 69.10% -96.67% 39.07% 41. pada akhir Pelita II telah mencakup 3.21% -88.360 58.821 5..5402) 1.620 30.089 27.17. 0. Adapun jumlah laporan pemeriksaan terhadap realisasi APBN/APBD selama tahun keempat Pelita III adalah sebanyak 11.20 persen.956 .14 persen dan 0. yang meliputi laporan hasil pemeriksaan penerimaan.a 51.54% 1.262 4.9192) 4.PROYEK PELlTA.011 718.682 406.14% 273 95 234 160.038 .04 dan 0.103 507.783 2.. Hal ini adalah karena berdasarkan hasil-hasil pengawasan sejak Pelita I sampai dengan akhir tahun keempat Pelita III.398 157 282 704.66% -90.326 226..238 57.759 66.8172) 3.d.784 146. 1969/1970 .756 138.647.276 16. yang pada akhir tahun Pelita I baru mencapai 1. Perkembangan hasil pemeriksaan khusus proyekproyek Pelita dapat diikuti pada Tabel II. Hasil pemeriksaan tersebut menggambarkan kemajuan di dalam disiplin administrasi para pelaksana proyek.08% 828 364 969.672 5. dan pemeriksaan secara serentak pada akhir tahun anggaran terhadap proyekproyek Pelita dan proyek-proyek pembangunan daerah.jumlah s.567 1.015 362. Sedangkan pemeriksaan serentak terhadap proyek-proyek Pelita. Nilai SlAP yang dipcriksa per 1 April tahun berikutnya (jutaan Rp) 12-375 23. dalam rangka memperoleh gambaran mutakhir mengenai jumlah pegawai Pemerintah serta permasalahannya. Fenerbitan SPMU oleh KPN: (Murni) (jutaan Rp) .3) .123 268 361 1. Mulai tahun terakhir Pelita III.011 97.789 207. 20.512 2.211 -20. Berita acorn yang tidak benar (jutaan RP)I) 1.46% 40.445 632.246.74% -89.19% 41.51% 6.l67.39% -90.590 laporan.540 676. 0.171 129. Pelita II.151 68.060 58.06% -81.92% 2. 53% 25% 28% 28% 31.180.410 145.178 4.940 3..333 159. Jumlah Proyek Pelita Yang dipcriksa 2.151 248 111 108 306 368 .065 1.bcban sementara s..497 97.851 222.025 846.45% -88.88% -93.677 110.024 4.3) . pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.116.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rutin.d.89% -80% -79.06% 31.773 1.703 213.939 141.. pemeriksaan serentak atas proyek-proyek Repelita tidak lagi dilaksanakan tiap tahun tetapi akan dilakukan sewaktu-waktu bilamana dianggap perlu.33% 1.

Perum. pembayaran rangkap kepada pegawai berupa pembayaran dari dua instansi Pemerintah. dan sebagainya. diantaranya ialah pembayaran gaji pegawai fiktif. Pemeriksaan secara rutin juga dilakukan terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Terhadap BUMN ini pada umumnya dilakukan pemeriksaan terhadap neraca dan perkiraan rugi laba. Pengeluaran negara yang menyangkut subsidi BBM mengalami kenaikan karena meningkatnya biaya pokok BBM dan semakin naiknya permintaan masyarakat akan BBM. Perjan. Hal ini menunjukkan bahwa administrasi pertanggungjawaban keuangan perusahaan semakin bertambah baik. dan Kontrak Karya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kepegawaian maupun hal-hal yang merugikan negara. Pernyataan akuntan "menyetujui tanpa syarat" (yaitu pernyataan terhadap laporan keuangan BUMN jang disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi) dari tahun ke tahun terus meningkat jumlahnya. kesalahan perhitungan yang mengakibatkan pembayaran gaji lebih besar dari seharnsnya. dari selurnh BUMN yang diperiksa terdapat 79 perusahaan yang memperoleh pernyataan "menyetujui tanpa syarat". kelebihan pembayaran kepada pegawai yang tidak patuh kepada disiplin kepegawaian (meninggalkan tugas lebih dari 2 bulan tanpa alasan). pembayaran gaji kepada pegawai yang belum/tidak berhak. seperti Pertamina dan bank-bank milik negara. yang meliputi pemeriksaan atas Persero. Pada umumnya hasil pemeriksaaan terhadap kontraktor minyak asing tersebut menguntungkan Pemerintah karena terdapat koreksi-koreksi perhitungan biaya. sedang dalam tahun terakhir Pelita III terdapat kenaikan jumlah pernsahaan yang mendapat pernyataan "menyetujui tanpa syarat menjadi 230 perusahaan. Selain itu dilakukan pula pemeriksaan terhadap para kontraktor minyak asing yang mengadakan kerja sama dengan Pertamina dalam bentuk Kontrak Bagi Hasil. Pada akhir Pelita II. pembayaran rangkap kepada pegawai berupa pembayaran dari perusahaan dan dari Pemerintah daerah. Departemen Keuangan RI 67 . yang diakhiri dengan pernyataan akuntan yang dapat dipergunakan untuk menilai kemajuan dan ketertiban perianggungjawaban keuangan. kesalahan perhitungan yang mengakibatkan pembayaran pensiunan lebih besar dari yang seharnsnya. Pemeriksaan tersebut dilakukan terhadap selurnh kontraktor minyak asing yang telah berproduksi secara komersial. yang mengakibatkan bertambahnya bagian Pemerintah berupa pajak dan minyak mentah. Sehubungan dengan itu telah dilakukan penelitian atas pengetrapan prinsip-prinsip perhitungan biaya BBM yang telah ditetapkan. dan perusahaan-perusahaan negara yang didirikan dengan undang-undang tersendiri. kelebihan pembayaran tunjangan keluarga. Usaha-usaha Pertamina di dalam mencapai accountability dan auditability di bidang tata usaha keuangannya meliputi pula anak-anak perusahaan/joint venture Pertamina.

Dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan pula pemeriksaan khusus terhadap kasuskasus penyimpangan. telekomunikasi. telah ditemukan beberapa bidang yang dipandang masih dapat ditingkatkan dayaguna dan hasilgunanya. Selanjutnya sebanyak 28 kasus yang menyangkut APBN/ APBD. yang berarti adanya perluasan sasaran pemeriksaan. maka pada Pelita III sasaran diperluas sampai kepada pemeriksaan untuk melihat apakah suatu kegiatan/program dilaksanakan dengan menggunakan dana yang tersedia secara efisien. pemeliharaan jalan dan jembatan. melainkan baru terbatas kepada sasaran-sasaran yang diprioritaskan. terdiri dari 106 kasus yang menyangkut APBN/APBD. maupun terhadap badan-badan usaha negara. Selanjutnya terhadap program pembangunan daerah. dan pengawasan terhadap kelancaran pelaksanaan pembangunan. Dari hasil pemeriksaan operasional tersebut. Dalam triwulan I tahun 1984/1985. pemeriksaan operasional dilakukan terhadap program transmigrasi termasuk program pemukiman daerah transmigrasi. kepada para pejabat yang bertanggungjawab telah disarnpaikan saran-saran penyempumaan lebih lanjut. serta pos dan giro. penyaluran pupuk. terdiri dari 43 kasus yang menyangkut APBN/ APBD. sekolah dasar. sarana kesehatan. pemeriksaan operasional dilakukan antara lain terhadap proyek-proyek Inpres pembangunan kabupaten.ana yang berasal dari APBN/APBD. program peningkatan produksi tanaman pangan program pembangunan jaringan irigasi baru. pemeriksaan operasional dilakukan terhadap penerimaan pajak/lpeda serta bea dan cukai. dan sebanyak 8 kasus yang menyangkut BUMN/BUMD telah disampaikan kepada Kejaksaan Agung. program rehabilitasi dan. Dari hasil pemeriksaan khusus tersebut ditemukan 147 kasus yang diduga mengandung unsur tindak pidana. Pemeriksaan operasional ini dilaksanakan baik terhadap kegiatan/program yang dibiayai dengan dana-d. dan apakah hasil atau manfaat yang diinginkan dari suatu kegiatan/program telah diperoleh secara efektif. program pembangunan jalan dan jembatan. Sementara itu terhadap Badan Usaha Milik Negara. serta reboisasi dan penghijauan. dari hasil pemeriksaan khusus ditemukan 47 kasus yang mengandung unsur tindak pidana. Pemeriksaan operasional tersebut belum dapat menjangkau seluruh bidang kegiatan pemerintahan umum dan pembangunan. Kalau dalam Pelita I dan Pelita II pemeriksaan hanya ditujukan terntama kepada segi keuangan saja. program perbaikan dan peningkatan irigasi. Sedangkan untuk program pembangunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sejak tahun 1979/1980 tahap pengawasan ditingkatkan dengan pemeriksaan operasional. dan 41 kasus yang menyangkut BUMN/BUMD. Departemen Keuangan RI 68 . program pengembangan daerah rawa. pemeriksaan operasional dilakukan antara lain terhadap perkreditan . Di bidang penerimaan negara.

dan 309 orang pembantu akuntan.190 orang akuntan. Meskipun usaha-usaha peningkatan aparat pengawasan secara kualitas maupun kuantitasnya terus dijalankan. Dari kasus yang menyangkut APBN/APBD. yaitu standar-standar keahlian para pelaksana. Inspektorat Wilayah Propinsi. dilakukan pula usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknis dari tenaga-tenaga yang sudah ada melalui penataranpenataran. sebanyak 14 kasus telah diteruskan ke Kejaksaan Agung. yang diselenggarakan pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara telah dihasilkan tenaga-tenaga pemeriksa.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan 4 kasus yang menyangkut BUMN. Dalam rangka meningkatkan jumlah aparat pengawasan. tetapi jumlah dan kondisi aparat pengawas yang ada saat ini masih belum memadai bila dibandingkan dengan makin kompleks dan luasnya ruang lingkup pengawasan. kepada para pengawas dibekali pula dengan tata cara pelaksanaan pemeriksaan. Bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.239 orang tenaga pemeriksa yang terdiri dari 1. Sehubungan dengan itu agar dapat mendukung tercapainya sasaran strategis pengawasan pada masa mendatang. kepada para pemeriksa dibekali norma pemeriksaan. Selanjutnya hasil-hasil pengawasan aparat pengawasan Departemen Keuangan RI 69 . Sernentara itu jumlah tenaga pemeriksa pada aparat pengawasan fungsionallainnya seperti Inspektorat Jenderal. Semua kasus yang disampaikan kepada Kejaksaan Agung telah diteruskan pula kepada Kejaksaan Tinggi di masing-masing daerah. Di samping usaha-usaha meningkatkan jumlah aparat pengawasan. jumlah tenaga pemeriksa tersebut menunjukkan adanya kenaikan. dalam arti bahwa pengawasan atasan bukan lagi merupakan pekerjaan terpisah dari fungsi pimpinan. Di samping itu dilanjutkan usaha untuk meningkatkan mutu sistem pengendalian manajemen. pelaksanaan tugas. Sedangkan sebagai petunjuk pelaksanaan pengawasan secara lebih teknis. sehingga dapat menghasilkan mekanisme pengawasan terhadap bawahan. sedangkan terhadap 2 kasus yang menyangkut BUMN telah dilakukan tindak lanjutnya berupa tindakan administratif dan tuntutan ganti rugi kepada yang bersangkutan. dan Inspektorat Wilayah Kabupaten/ Kotarnadya berdasarkan data sementara adalah sebanyak 7.370 orang. dan pelaporan yang harns dipenuhi. serta makin banyaknya objek pemeriksaan yang hams ditangani. ditambah pula dengan 267 orang tenaga-tenaga sarjana dan sarjana muda jurusan non akuntan yang dijadikan tenaga pemeriksa setelah mendapatkan pendidikan tambahan.473 orang ajun akuntan. 1. baik yang diselenggarakan oleh BPKP maupun oleh departemen . melalui pendidikan pembantu akuntan. dalam tahun 1985/1986 Pemerintah terus berusaha meningkatkan serta menyempurnakan fungsi pengawasan. Dewasa ini Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah memiliki 3. ajun akuntan dan akuntan. Selanjutnya untuk menciptakan keseragaman mutu hasil pemeriksaan. atau Pemerintah Daerah.

Departemen Keuangan RI 70 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 fungsional diharapkan akan menjadi bagian dari informasi untuk pengambilan keputusan dan perumusan kebijaksanaan. dan penyimpangan. serta pengembangan petunjukpetunjuk tatacara pelaksanaan pemeriksaan terus dilanjutkan untuk lebih meningkatkan mutu aparat pengawasan fungsional. Sejalan dengan itu pendidikan dan latihan tenaga pengawas. karena berkembangnya standar dan norma untuk mengukur efisiensi. di samping pelaksanaan rencana memiliki pengendalian yang menjamin tercapainya tujuan-tujuan yang ditetapkan dalam rencana. Seluruh kebijaksanaan dan langkahIangkah di bidang pengawasan tersebut diarahkan agar pada akhir Repelita IV terbentuk sistem pengendalian manajemen yang mampu mencegah secara dini terjadinya pemborosan. kebocoran. Sistem pengendalian manajemen tersebut akan ikut mewujudkan aparatur Pemerintah yang berdayaguna dan berhasilguna.

Pendahuluan Stabilitas ekonomi yang cukup mantap merupakan landasan yang menjamin lancarnya pembangunan tahap berikutnya. Apabila diteliti barang dan jasa yang mempengaruhi tingkat kenaikan barga-barga.8 persen.33 persen atau rata-rata 0. Dari perkembangan laju inflasi selama Pelita I sampai dengan Pelita III. komoditi ekspor dan lain-lain. Dengan produksi beras dalam tahun 1984 yang diperkirakan lebih tinggidari tahun sebelumnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB III HARGA. Untuk periode yang sarna tahun sebelumnya. Namun matauang lainnya secara umum tidak mengalami gejolak harga yang cukup besar. Sementara itu perkembangan harga komoditi ekspor di pasar internasional selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember menunjukkan perkembangan yang agak baik.38 persen sebulan. terlihat bahwa rata-rata laju inflasi dalam Pelita I (1969/1970-1973/1974) adalah sebesar 17. dan harga rata-rata tertinggi di beberapa kota adalah sekitar 2. dan hal itu telah mengakibatkan harga emas di pasar Jakarta mengalami penurunan pula. dan penyaluran yang cepat bagi masyarakat. Harga-harga di dalam negeri juga dipengaruhi oleh harga-harga di luar negeri. Dilain pihak menguatnya nilai dollar Amerika telah menyebabkan kurs matauang terse but terus meningkat di posaran. khususnya dalam hal lada putih. laju inflasi adalah sebesar 7.46 persen atau rata-rata 0.1. Perbedaan harga rata-rata terendah. secara umum harga beras di beberapa kota selama bulan April-Oktober 1984 telah mengalami penurunan. Dalam bulan-bulan terakhir tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember. Selanjutnya selama sembilan bulan dalam tahun pertama pelaksanaan Repelita IV atau tepatnya sampai dengan bulan Desember 1984. lada Departemen Keuangan RI 71 . Melalui program stabilisasi senantiasa diusahakan agar laju inflasi dapat dikendalikan. GAJI DAN UPAH 3. seperti misalnya dengan emas. laju inflasi adalah sebesar 3. Oleh karena itu senantiasa diusahakan tercapainya kestabilan harga di dalam negeri melalui penyediaan bahan kebutuhan pokok yang cukup. harga emas di bursa internasional cenderung mengalami penurunan..81 persen per bulan.77 persen dan sebesar 13. sedang dalam Pelita II (1974/1975-1978/1979) dan Pelita III (1979/1980-1983/1984) laju inflasi menurun masing-masing menjadi rata-rata sebesar 14.48 persen setahun. Oleh karena itu Pemerintah senantiasa menjaga stabilitas harganya agar tetap dalam jangkauan daya beli masyarakat. sehingga dapat memperkuat landasan bagi pelaksanaan Repelita selanjutnya. bahan pangan merupakan salah sarti kelompok barang yang terrenting.16 persen per taboo.

1984/1985 Tahun kenaikan REPELITA I 1) 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 REPELITA II 1) 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 REPELITA III 2) 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 REPELITA IV 1984/1985 (sampai dengan bulan Desember) 1) Repelita I dan II berlaku Indeks Biaya Hidup di Jakarta 2) Repelita III mulai diguruikan Indeks Barga Konsumen Indonesia Persentase + 10. terlihat bahwa laju Departemen Keuangan RI 72 .0 persen.35 % + 20.79 % + 47. Indeks harga konsumen Indonesia Berdasarkan perkembangan indeks harga 150 macam barang dan jasa di 17 kala propinsi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hitam. Tabe1 III.79 % + 19. Perkembangan indeks harga perdagangan besar Indonesia dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus telah meningkat sebesar 11.1. indeks harga sektor perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi telah meningkat pula sebesar 7.08 % + 11.78 % + 0.65 % + 7.7 persen dan 11. pertambangan dan penggalian sebesar 8.77 % + 12.10 % + 19.12 % + 10. serta sektor impor dan ekspor masingmasing sebesar 10.63 % + 3.6 persen. industri sebesar 12.40 % + 12.3 persen. 1 PERSENTASE KENAlKAN INDEKS BIAYA HIDUP DI JAKARTA DAN INDEKS HARGA KONSUMEN INDONESIA 1969/1970 . Dalam periode yang sarna.9 persen.80 % + 8.2 persen. Perkembangan harga 3.81 % + 20.5 persen. kopi robusta eks Lampung dan timah putih.2.13 % + 15. Sebaliknya penurunan harga telah terjadi pada karet jenis RSS III. dan perkembangan harga yang tak menentu telah terjadi pada kopra serta minyak sawit. yang digunakan sebagai pengukur perkembangan laju inflasi. sebagai akibat meningkatnya indeks harga pada sektor-sektor pertanian sebesar 12.46 % 3.85 % + 9.2.

yaitu sebesar 0. dan indeks harga sub kelompok biaya penyelenggaraan rumah tangga. Dalam indeks harga kelompok perumahan. serta dalam bulan Oktober dan Nopember 1984laju inflasi adalah sarna. Bila diteliti lebih lanjut. Mei.81 persen. peningkatan sebesar 2.49 persen dan 7. ubi-ubian dan hasil-hasilnya sebesar 4. 0. Kenaikan yang cukup besar pada indeks harga sub kelompok biaya penyelenggaraan rumah tangga pada bulan April dan Nopember 1984 masing_masing sebesar 1.03 persen. Juli dan Desember 1984 laju inflasi masing-masing sebesar 1.64 persen antara lain disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar 7.46 persen tersebut disebabkan oleh meningkatnya indeks harga kelompok makanan dan kelompok perumahan.28 persen.38 persen.47 persen yang disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok padi-padian. laju inflasi adalah sebesar 7.31 persen.16 persen.64 persen dan 2.71 persen.10 persen.65 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 inflasi selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Desember. terlihat bahwa laju inflasi sebesar 3.97 persen dan indeks harga sub kelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 6.79 persen dan indeks harga sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 9. adalah sebesar 3. susu dan hasil-hasilnya sebesar 5.43 persen dan 5.15 persen dan 0. indeks harga sub kelompok ikan segar sebesar 7.30 persen yang terjadi selama periode April-Desember 1984 adalah akibat meningkatnya indeks harga sub kelompok biaya tempat tinggal.38 persen per bulan. 0.03 persen. Bila dilihat faktor penyebab laju inflasi selama periode April-Desember 1984 berdasarkan kelompok maupun sub kelompok barang dan jasa.88 persen dan 1.37 persen dan 1.17 persen. Pada periode yang sarna tahun sebelumnya.33 persen adalah sebagai akibat meningkatnya upah pembantu di 10 dari 17 .98 persen dan indeks harga sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 5.74 persen. Kenaikan indeks harga kelompok makanan sebesar 2.45 persen.46 persen atau rata-rata 0. perkembangan yang lebih terperinci menunjukkan bahwa dalam bulan Agustus dan September 1984 telah terjadi deflasi masing-masing sebesar 0.kota propinsi di Indonesia. Sementara itu penurunan indeks harga sub kelompok lainnya dalam kelompok makanan terjadi pada indeks harga sub kelompok lemak dan minyak yaitu sebesar 3. 0. sedang dalam bulan-bulan April.04 persen.kenaikan yang cukup besar pada kelompok makanan terjadi pada bulan Desember 1984 yaitu sebesar 2. indeks harga kelompok sandang dan kelompok aneka barang dan jasa masing-masing sebesar 2. atau rata-rata 0. indeks harga sub kelompok kacang-kacangan sebesar 6. masing-masing sebesar 2.76 persen. masing-masing sebesar 2.30 persen. indek harga sub kelompok telur.33 persen. Juni. Departemen Keuangan RI 73 .

12 219.46 220.02 237.57 177.42 186.35 Perumahan 146.70 171.27 202.88 163.96 214.08 263.89 191.65 238.35 177.08 262.58 Makanan 144.53 233.86 178.60 210.H 261.16 224.1984/1985 ( 1977/1978 = 100) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 198411985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Sandang 173.54 221.40 240.40 242.72 272.60 174.93 275.12 263.29 245. 3 INDEKS UMUM HARGA KONSUMEN DI 17 KOTA DI INDONESIA.48 257.87 240.90 233.77 175.93 187.43 197.12 202.29 225.25 244.58 206.53 226.54 229.83 176.45 231.17 238.50 218.70 205.45 238.46 258.60 221.30 199.90 226.69 239.34 267.86 239.01 230.77 240.56 245.08 175.61 188.57 217.03 204.09 156.24 160. 1979/1980 .69 262.75 200.11 233.29 200.34 246.57 246.48 255.98 223.52 220.51 258.48 240.26 200.36 245.21 149.93 224.98 239.89 246.70 168.22 238.57 246.78 238.31 Departemen Keuangan RI 74 .72 216.52 240.96 209.21 231.58 239.68 244.55 221.72 189.98 143.73 247.47 166. 1979/1980 -1984/1985 ( 1977/1978 = 100 ) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Yogyakarta Surabaya Denpasar 152.08 263.48 205.18 233.19 219.03 236.62 183.37 215.73 177.49 193.19 179.45 257.93 211.14 174.39 246.43 273.51 238.51 221. 2 INDEKS HARGA KONSUMEN INDONESIA.46 269.88 266.20 224.70 220.91 257.93 223.70 233.52 Padang Palembang Jakarta Bandung Semarang 148.27 225.02 147.13 265.84 214.49 221.34 220.18 219.63 Tabel III.08 276.14 244.48 244.69 237.61 221.08 233.21 197.18 212.48 212.82 192.59 197.61 247.03 221.51 171.14 215.11 258.06 239.77 219.52 255.73 238.65 234.20 222..14 172.02 189.93 241.67 247.94 267.00 258.78 257.52 220.40 227.32 210.14 241.18 240.08 258.02 204.10 177.89 227.95 268.07 258.01 204.02 238.59 247.90 245.56 Medan 149.67 259.24 210.79 239.99 139.33 236.33 243.73 147.55 259.36 274.99 216.64 232.33 234.11 256.27 214.34 242.34 240.46 220.82 194.28 198.22 243.38 179.41 197.33 183.88 257.34 247.40 263.58 223.19 200.28 214.73 189.32 182.04 215.43 245.90 184.78 239.62 276.82 263.03 246.14 267.53 269.43 238.29 208.09 185.76 183.35 246.14 237.88 265.40 179.16 274.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel III.82 148.82 189.23 210.54 Umum 147.82 255.46 221.76 234.79 218.63 190.48 238.91 258.03 217.77 241.05 243.34 183.09 245.08 263.45 221.55 221.68 219.45 220.30 204.77 220.29 192.64 265.76 228.58 161.02 273.97 258.28 262.57 203.68 242.25 252.42 236.37 213.38 183.12 255.86 236.47 275.99 194.65 259.19 232.72 245.85 205.82 172.

16 persen.17 241.27 242.79 227.45 persen.84 231.57 214.1 Laju inflasi di 17 kota selama sembilan bulan tahun anggaran 1984/1985 telah menunjukkan perkembangan yang relatif besar untuk kota Jayapura.04 223.23 257.42 160. 4. Perkembangan indeks harga konsumen di setiap kala dapat dilihat dalam Tabel III.7 219. Perkembangan indeks harga konsumen beserta komponennya dapat dilihat dalam Tabel III.44 persen. sub kelompok sandang anak-anak.13 224.4 225.49 208. serta meningkatnya harga obat tanpa resep adalah merupakan faktor penyebab meningkatnya beberapa indeks harga tersebut di atas.97 259.78 241.65 Pontianak 148.15 230.7 206.52 164.92 259.87 231.67 193. indeks harga sub kelompok pendidikall sebesar 8.55 161.42 175.45 180.76 218.19 247.35 persen.96 192.43 236.17 228.52 177.15 persen dan 4.62 reIsen.95 197.35 persen .81 205.19 241. dari sub kelompok sandang wanita masing-masing sebesar 3.61 persen.22 233.63 227. dalam bulan Juli dan Nopember 1934.56 223.13 persen.2 179.09 227.11 226.92 221.73 Jayapura 128.79 232.35 242.35 180.95 255.27 235. antara lain disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok transpor sebesar 10.46 260.02 229. Peningkatan terse but disebabkan oleh naiknya indeks harga sub kelompok san dang lakiIaki.9 230.3 212.55 228.67 218.66 214.55 258.62 237.24 135.95 228.33 persen sampai 3. 4. serta kenaikan indeks harga sub kelompok barang pribadi. sandang wanita.18 231. dan indeks harga sub kelompok kesehatan sebesar 5.81 241.49 persen.44 231.53 209.93 157.57 persen.65 228 227.25 222.55 211.9 229.19 241.49 persen.97 191. peningkatan yang cukup besar dari indeks harga ketiga jenis sandang yaitu sandang laki-Iaki.33 229.68 231.74 227.8 219.54 228. kenaikan harga alar-alar tulis dan buku tulis.81 249. Indeks harga kelornpok aneka barung dan jasa yang meningkat sebesar 7.65 234.53 214.37 227.68 210.47 227. dan sandang lainnya sebesar 1.51 193. Laju inflasi di kota-kota lainnya hanya berkisar antara 0. dan sandang anakanak telah terjadi dalam bulan Juni dan Juli 1984. Bila dilihat perkembangan per bulannya.39 217.09 215.01 223.63 238.46 144. sedangkan laju penurunan harga terjadi di kota Ambon sebesar 1. Denpasar.29 175. dan DKI Jakarta yaitu masingmasing sebesar 4.17 253.57 244.37 191.97 243.84 229. yaitu pada saat-saat menjelang Idul Fitri.83 226. 3.84 Manado 149.4 227.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel III.09 225.06 253.65 228.09 Banjarmasi n 163.13 persen.36 225. Departemen Keuangan RI 75 .56 216.81 219.17 192. Medan.44 232. sedapg dalam bulan-bulan lainnya hanya mengalami peningkatan yang relatif rendah.39 212.62 228.5 244.21 258 257.97 persen.6 231.52 persen dan 1.91 218.21 Kupang 150.31 216.9 230.82 232.01 Ujung pandang Ambon 145.81 246. Kenaikan yang cukup besar dari biaya angkutan umum dalam bulan April 1984.2 208.03 Indeks harga kelompok sandang selama bulan April-Desember 1984 telah meningkat sebesar 2.1 236. 3.05 231.66 236.68 212.28 201.72 224.25 200.71 259.65 212.72 206.12 242.55 232.56 236.15 232.09 232.33 246.56 235. yang termasuk pada indeks harga sub kelompok pendidikan. 3 (lanjutan) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Mataram 148.

-185.63 165.-135.-166.5 241.-325.09 75.-135.75 135.-159.-135.-226.79 170.33 140.88 173.-95.33 125.-257.-105.13 157.85 191.67 235.8 persen.-160.67 182. bahkan di kota Banjarmasin selama periode April-Oktober 1984 mengalami kestabilan. Surabaya.-125.per kilogram terjadi di kola Bandung.-190. Sedangkan harga yang bervariasi antara Rp 263.17 90.62 278.89 75.-225.-250.-200. TEPUNG TERIGU.1984/1985 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 Maret Maret Maret Maret Maret Maret 103.190.-123.-215.-215.-120.-85.-262.-125.-200.33 255.06 153. 1973/1974 .-120.-190.25 150.-133.-157.-103.-140.67 159.75 300. serta penyaluran yang cukup lancar ke pasaran telah menyebabkan stabilnya harga beras dalam periode tersebut.33 143.per kilogram Tabel III.-100.67 125. perkembangan harga beras yang relatif stabil antara lain terjadi di kola Semarang.88 244.-140..per kilogram.-- Kota Bandung Yogyakarta Semarang Surabaya Medan Banjarmasm Ujungpandang Denpasar jenis barang Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil ( Rp{kg ) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg) (Rp{kg) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg) ( Rp{kg) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) Departemen Keuangan RI 76 .-155.46 per kilogram.-250.-200.5 165.39 261.-135.83 137.33 221.11 125.11 82.-125.-200.33 103. Sedangkan dalam bulan-bulan lainnya harga tepung terigu tidak mengalami peningkatan yang berarti.75 252.94 132.-135.67 180.-120.-120. masing-masing pada tingkat harga Rp 291.-190.66 220.17 100.84 84.8 persen.5 200.-185.36 sampai Rp 425.-230.-135.250.25 200.-176. Harga tepung terigu di beberapa kola di Indonesia dalam periode April-Oktober 1984 berkisar antara Rp 275.67.-90.-180.62 95.-130.-75. Rp 348.. Harga beberapa barang konsumsi utama Perkembangan harga beras di beberapa kala di Indonesia selama periode April sampai dengan Oktcber 1984 secara umum relatif stabil.75 93.71 172.-125.-130.-91.67 103. Yogyakarta.33 150.33 215.-193.-160.-218.-213.4 HARGA RATA-RATA BERAS MUTU MENENGAH.-165.2.-170.-176.139.-120.-150.54 206..Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 3.02 dan Rp 333.96 89.2. Medan dan Banjarmasin.84 262.5 129. Ujungpandang dan Denposar. Perbedaan harga rata-rata terendah.-180.-168.-166.08 273.89 135.25 265.5 175.-165.-173.5 210. GULA PASIR DAN TEKSTIL DI BEBERAPA KOTA BESAR DI INDONESIA.-200.18 131.-311.-115.-135.-193.66 100.-185.-124.67 175.-125.-175.-104.-125.-246. dengan peningkatan terbesar terjadi di kola Ujungpandang yaitu sebesar 13.33 140.-155. Peningkatan yang cukup tinggi telah terjadi hampir di semua kola dalam bulan Agustus 1984.-250.5 145.25 201.-200.75 105.75 190.-250.-80.-250.5 90.-160.-125.-156.33 79.-125.67 250.sampai Rp 395.44 175.-235.67 242.-175.-275.-180..34 180.-125.-188.-130.-235.190.-90.-120.33 183.-200.33 146.-165.128. yaitu tetap pada tingkat harga Rp 275.78 81.-170.-125. dan harga rata-rata tertinggi di beberapa kola adalah sebesar 2. Produksi beras dalam tahun 1984 yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.-96.-100.-217.-245.-200.-200.-125.-92.-425.81 250.-223.

-255.-.-230.-267.33 626.08 1984/19851) s/d Oktober 315. Produksi tekstil yang mencukupi telah menyebabkan perkembangan harga tekstil di Departemen Keuangan RI 77 .5 500.-178.5 327.-200.75 559.34 486.74 226.75 342.57 529.3 persen.183.92 500.-290.-600.-503.4.-381.-425.8 400.25 319.-245.-- 1983/1984 Maret 272.04 315.34 278. masing-masing sebesar 4.19 216.-450.-527. Dengan demikian petani dapat menerima harga yang ditetapkan.-239.88 250.25 289.67 540.83 400.65 272. maupun yang merupakan bagian pabrik.3 persen.536.08 550.67 214.67 762.-425.-268.91 265.55 252.42 260.-400.34 250.2 246.94 252.83 400.4 (lanjutan) 1979/1980 1980/1981 Maret Maret 219.-625.-350.48 423.-285.46 351. Di sam ping itu dalam rangka menunjang program tebu rakyat intensifikasi.-322.3 178.33 500.-300.57 400.22 281.-385.600.55 275.75 555.75 221.-250.25 461.82 269.67 386.75 228.89 260.-- K o t a / Jenis barang Bandung Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Y ogyakarta Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Semarang Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Surabaya Beras Tepung terigu Cula posir Tekstil Medan Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Banjarmasin Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Ujungpandang Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Denposar Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil 1) Sampai dengan Oktober 198 ( Rp/kg) (Rp/kg ) ( Rp/kg) (Rp/m) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp /kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp /kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg) ( Rp/kg) (Rp/m) 1981/1982 Maret 281.-610.-516.38 188.67 271.-350.-272. 2.63 375.17 649.35 373.5 511. dan konsumen terhindar dari gejolak kenaikan harga.33 525.84 528. sehingga dalam bulan tersebut terjadi peningkatan di kota Ujungpandang.-332.-- Kebijaksanaan Pemerintah dalam usaha meningkatkan produksi gula pasir antara lain dilaksanakan melalui rehabilitasi pabrik-pabrik gula.75 503.43 395.75 514. Berdasarkan perkembangan harga gula posir di beberapa kota selama periode April-Oktober 1984 sebagaimana terlihat dalam Tabel III.-740.206.-437.-255.5 275.38 210.-375.n 377.33 621.87 590.6 393.51 175.-575. dan penyesuaian harga provenue gula pasir.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel 111.25 275.46 287.36 265.12 473.8 208.56 633.97 326.-550.25 567.33 518.-400.72 702.67 714.16 330.-267.63 571.42 500 236.99 273.-500.54 225.-475.67 600.-425.75 510. kenaikan harga yang cukup tinggi terjadi dalam bulan Mei dan Agustus 1984 yang berkisar antara 0.97 193.3 persen sampai 6.92 327.-- 1982/1983 Maret 319.-269.-900. Kenaikan harga tepung terigu yang terjadi pada bulan Agustus 1984 telah pula mempengaruhi perkembangan harga gula pasir.42 584.33 291.-219.-500.-222.08 323.92 481.5 236. pembangunan pabrik-pabrik baru.11 224.58 217..21 261.-500.-541.34 225.-550.-615.58 576.25 430.-350.17 542.33 278.67 407.-206. mulai bulan Oktober 1980'Pemerintah menjamin pemasaran seluruh gula rani baik yang merupakan bagian petani.-425.39 599.-242.-650.-563.-288.16 195.-550.41 176.83 527.71 226. Semarang dan Surabaya.635.33 321.-275.52 349.68 205.07 196.-271..-274.-550.0 persen.206.4 415.-700.-280.-525.22 275. 525.-190.67 542.5 250.6 persen dan 2.5 275.34 650.-315.83 564.-273.-510.

131. Indeks harga emas dan valuta asing Fluktuasi kurs matauang dollar Amerika telah mempengaruhi perkembangan harga emas.-4.4 1.72. yaitu bulan Juni dan Juli 1984.25 354.123.-1.882.62.6 4.5 304.2.-179.12 1. harga emas 24 karat.8 Maret 1.. 7. Hal ini memperlihatkan bahwa minat masyarakat terhadap logam mulia emas masih cukup besar.15 1.per meter.25 422. harga emas menurun sebesar 15.75 133.162.390.25 123.067.015.8 318.57 1.-11 7.80 486.5 63.1984/1985 April 1..4.376.4 455.-4.8 324.167.7 persen.per meter.130.5 432.75 133. Harga terendah terjadi di kola Denpasar dengan tingkat harga Rp 500.6 780.-173.443.2 Juni 1.52 1.5 2.1.2 478.1978/1979 Maret 627.408.46 1.75 427.-Mei 1.6 Desember 996.1.492.88.75 1981/1982 Maret 653.75 370.25 284.357.81 1.422.6 370.316.167.362.5 433.20 4. baik di posaran lokal maupun di posaran internasional..-323.140.5 328.25 690.8 341.1974/1975 Maret 416.4 482.1970/1971 Maret 378.302. 23 karat dan 22 karat di pasar Jakarta telah menurun masing-masing sebesar 7.5 HARGA BEBERAPA VALUTA ASING DI JAKARTA.25 139.8 3.6 1979/1980 Maret 632.25 920.47 1. maka terlihat bahwa di pasaran Jakarta harga emas mengalami penurunan yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan penurunan yang terjadi di pasar London.25 348.75 383.75 131.2 persen.196.4 3.418.83. Dalam periode yang sarna di pasaran London.-Juli 1.8 341.13 5 .25 1.4.8 3.2 4. sedang harga tertinggi terjadi di kota Medan dengan harga Rp 900.5 312.322.-463.25 950.6 September 1.006.443.431.75 Oktober 1.20 4.147.062. harga tekstil di beberapa kota berkisar antara Rp 500.36 1.75 302.-1977/1978 Maret 412.-184.139.041.165.25 1980/1981 Maret 632.16 1.-341.481.-1.132.139.25 322.25 830.365.2 461.8 496.75 347.6 461.205.488.75 289.50 115.020.345. Di samping itU penurunan harga Departemen Keuangan RI 78 .326.-143.-1. Bila dibandingkan penurunan harga emas di pasar Jakarta dengan di pasar London.153.197.33 1.035.-81.2 456.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa kota relatif stabil. harga tekstil tidak mengalami kenaikan yang berarti.5 persen dan 5.461.291.4 469.4 September 989.89.25 1.8 persen.1975/1976 Maret 415. Dalam bulan-bulan menjelang Idul Fitri.40 134.5 1982/1983 Maret 761.2 386.527.-157.-140. bahkan di kota Semarang dalam bulan Juli 1984 harga menurun sebesar 0.8 4.6 365.-80.1971/1972 Maret 413.1976/1977 Maret 415.127. Selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember.39 1.145.153.130.151 .82.75 478.4.166..sampai Rp 900.2 312.-980.-125.064.123.-426.75 2.024.per meter.011.373. perkembangan harga barang-barang konsumsi Utama dapat dilihat dalam Tabel IlI.25 491.8 330.75 Agustus 1.31 1.6 363.1972/1973 Maret 414.-338.153.75 372.28 1.41 1.2 314.75 483.3.4 1983/1984 Juni 979.21 370.276.465.2 465.25 448.6 383. 1969/1970 -1984/1985 (hargajual/dalam rupiah per satuan) Tahun anggaran/ rata-rata bulan DM US $ Yen £ HK$ Sing $ 1969/1970 Maret 379.40 366. Selama periode April-Oktober 1984.2 125.-251.-160.131.50 4.-858.50 129.5 274.09 1.3 persen. Tabel III.-444.Nopember Swiss F NFL 110.-138.4.5 146.25 335.3.1.5 308.-365.5 349.60 4.6 329.1973/1974 Maret 415.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

emas tersebut juga merupakan akibat bertambahnya permintaan terhadap matauang dollar Arnerika. Bila dilihat perkembangannya setiap bulan, harga emas 24 karat, 23 karat dan 22 karat selama tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember 1984 umumnya mengalami penurunan. Khususnya dalam bulan Juli 1984, masing-masing mengalami penurunan sebesar 4,6 persen, 4,5 persen dan 4,1 persen. Sedangkan selama empat bulan terakhir yaitu bulan Agustus, September, Oktober dan Nopember 1984, harga emas 24 karat, 23 karat dan 22 karat relatif stabil yaitu tetap raJa harga Rp 11.500,-, Rp 11.000,- dan Rp 10.500,- per gram. perkembangan harga emas dapat dilihat dalam Tabel III.6.
Tabel III. 6 HARGA EMAS DI PASAR JAKARTA DAN DI PASAR LONDON, 1969/1970 - 1984/1985 ( dalam rupiah per gram) London Tahun anggaran / Jakarta 24' 23 ' 22' US $/ 1 fine oz rata-rata bulan 1969/1970 Maret 490,-470,-450,-35.32 1970/1971 Maret 510,480,450,-37.38 1971/1972 Maret 620,-580,450,-48.40 1972 / Maret 1.050,1.000,950,-90.00 1973/1974 Maret 1.775,-1.675,1.575,-111.75 1974/1975 Maret 2.312,50 2.212,50 2.100,-177.50 1975 / Maret 1.837,50 1.737,50 1.637,50 129.55 1976/1977 Maret 2.050,1. 950,-1.850,149.13 1977/ 1978 Maret 2.350,-2.260,-2.150,-179.75 1978/1979 Maret 5.080,-4.880,4.680,239.75 1979/1980 Maret 10.750,9.750,-9.000,547.25 1980/ 1981 Maret 10.100,9.593,75 9.100,-576.75 1981 / Maret 7.150,-6.725,-6.375,316.25 1982/1983 Maret 9.980,9.534,9.048,413.00 1983/1984 Juni 12.580,- 11.940,-11.320,-415.00 September 12.800,-- 12.000,-11.500,-385.00 Desember 12.340,-- 11.690,-11.090,375.00 Maret 12.390,- 11.890,-11.140,393.00 1984/1985 April 12.237,50 11.662,50 11.025,-383.75 Mei 12.080,11.480,11.860,384.70 Juni 12.300,11.750,11.000,371.50 Juli 11.737,50 11.225,10.550,336.10 Agustus 11.500,-- d.OOO..10.500,347.11 September 11.500,-- 11.000,-10.500,-346.68 Oktober 11.500.11.000,10.500,336.00 Nopember 11.500,-11.000,10.500,330.80

Meningkatnya kurs matauang dollar Amerika sejak awal tahun anggaran 1984/1985 masih terus berlangsung sampai dengan bulan Nopember 1984. Selama periode AprilNopember 1984, kurs matauang tersebut meningkat sebesar 4,6 persen yaitU dari Rp 1.020,menjadi Rp 1.067,20 per dollarnya. Dari perkembangan kurs dollar setiap bulannya terlihat bahwa kurs dollar Amerika telah mengalami peningkatan tertinggi dalam bulan September 1984 yaitu sebesar 2,1 persen, sedangkan dalam bulan-bulan lainnya selama periode tersebUt
Departemen Keuangan RI

79

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

hanya meningkat antara 0,1 sampai 1,7 persen. Kurs dollar Hongkong terus meningkat dengan peningkatan terbesar terjadi dalam bulan September 1984, yaitu sebesar 2,4 persen. Secara urn urn dapat dikatakan bahwa peningkatan yang cukup besar raJa kurs dollar Amerika, maupun pada kurs dollar Hongkong dalam bulan tersebut disebabkan permintaan dalam jumlah yang relatif besar di posaran. Keadaan sebaliknya telah terjadi pada harga matauang Asia yaitu Yen, dollar Singapura dan beberapa matauang Eropa Barat, yang permintaannya tidak menentu sehingga berakibat tidak stabilnya kurs matauang tersebut di pasaran. Bila dilihat perkembangan kurs Yen setiap bulan, maka selama delapan bulan dalam tahun anggaran 1984/1985 atau dalam periode April-Nopember 1984, telah terjadi penurunan dalam bulanbulan Mei, Juni, Juli dan Oktober 1984, sedangkan sebaliknya dalam bulan-bulan lainnya terjadi peningkatan antara 1,1 sampai 1,5 persen. Pola yang hampir sarna terjadi raJa kurs dollar Singapura yang mengalami kenaikan kurs tertinggi dalam bulan Agustus 1984 yaitU sebesar 1,8 persen, sedangkan dalam bulan Juli 1984 mengalami penurunan sebesar 0,8 persen. Secara keseluruhan selama periode April-Nopember 1984, kurs Yen menurun sebesar 1,3 persen, sedang kurs dollar Singapura meningkat dengan 3,7 persen. Perkembangan beberapa matauang
Eropa Barat yaitu Poundsterling Inggris, Mark Jerman, Franc Swiss dan Guilder Belanda dalam periode yang sarna secara umum menunjukkan penurunan masingmasing sebesar 8,2 peTscH, 7,5 persen, 6,9 per:sen dan 7,2 persen. Penurunan kurs matauang Poundsterling Inggris dalam bulan Oktober 1984 sebesar 2,8 persen merupakan penurunan yang terbesar diantara penurunan yang terjadi selama kurun waktu April-Nopember 1984. Sedangkan kurs matauang Mark Jerman dan Franc Swiss mengalami penurunan terbesar dalam bulan Juli 1984 masing-masing sebesar 2,5 persen dan 3,9 persen, demikian pula kurs Guilder Belanda mengalami penurunan terbesar dalam bulan September 1984 sebesar 3,0 persen. Perkembangan kurs beberapa valuta asing di pasar Jakarta dapat dilihat dalam Tabel III.8

3.2.4. Harga barang-barang ekspor Memasuki tahun pertama Repelita IV, atau tepatnya pada tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember, harga komoditi ekspor di posar lokal Jakarta yaitu lada putih dan kopi robusta telah mengalami peningkatan masing-masing sebesar 5,6 persen dan 2,0 persen, sedangkan komoditi karet dan kopra selama periode terse bUt telah menurun sebesar 23,8 persen dan 16,7 persen. Secara umum dapat dikatakan bahwa peningkatan dan penurunan harga yang terjadi di posaran lokal adalah akibat perkembangan harga yang terjadi di pasaran internasional. Mengamati perkembangan harga di posaran internasional dalam kaitannya dengan

Departemen Keuangan RI

80

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

ekspor beberapa komoditi Indonesia, terlihat bahwa beberapa komoditi mempunyai prospek yang baik sekali dalam usaha pengembangan ekspor. Hal ini tercermin pada Tabel 111.8, dimana komoditi lada putih, lad a hiram, kopi robusta eks Lampung, dan timah putih selama tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Nopember 1984 mengalami pemasaran yang makin baik. Selama periode April-Nopember 1984, harga lada putih di posar London, dan lada biram di posar New York telah meningkat masing-masing sebesar 21,9 persen dan 21,0 persen. Menguatnya harga lada putih dan lada biram tersebut adalah akibat menurunnya persediaan, karena memburuknya panen lada dunia dalam tahun 1983/1984 yang diperkirakan masih terus berkelanjutan dalam tahun pallen 1984/1985. Harga kopi robusta eks Lamrung di posar Singapura dalam periode yang sarna naik sebesar 14,1 persen, walaupun di pasar New York sebagai pusat pemasaran kopi dunia dalam periode terse but mengalami penurunan sebesar 5,3 persen. perkembangan harga timah putih di posar London selama periode April-Nopember 1984 menunjukkan kenaikan sebesar 13,5 persen. Peningkatan tersebut bukan merupakan akibat dari meningkatnya permintaan, akan tetapi akibat menurunnya nilai Pound sterling Inggris di pasaran moneter internasional. Perkembangan yang sebaliknya telah terjadi pada harga kopra di posar Manila, dan di posar London serta minyak sawit eks Malaysia di pasar London, yang selama periode April-Nopember 1984 mengalami penurunan masing-masing sebesar 17,0 persen, 17,8 persen dan 15,7 persen. Demikian pula halnya dengan harga karet RSS III di posar New York, London dan Singapura, selama periode tersebut telah mengalami penurunan masing-masing sebesar 27,7 persen, 17,2 persen dan 28,2 persen. Penurunan harga karet sintetis, sehubungan dengan menurunnya harga minyak bumi, merupakan salah sarli sebab menurunnya harga karet tersebut. perkembangan harga komoditi di posar lokal, dan di posar internasional dapat dilihat pada Tabel III.7, Tabel III.8

Departemen Keuangan RI

81

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Tabel III. 7 HARGA BEBERAPA BARANG EKSPOR DI JAKARTA, 1969/1970 - 1984/1985 ( dalam rupiah per kilogram) Tahun anggaran/ Kopra rata-rata bulan (Sulawesi) RSS I Lada putih Kopi robusta 1969/1970 Maret 125,66 50,18 295,-126,57 1970/1971 Maret 106,1 65,4 199,25 156,1971 /1972 Maret 103,12 58,2 257,6 120,62 1972/1973 Maret 199,77 79,7 431,4 293,09 1973/1974 Maret 305,56 192,43 752,19 360,46 1974/1975 Maret 178,35 94,51 526,25 245,82 1975/1976 Maret 243,59 89,18 455,37 507,1976/1977 Maret 278,29 215,5 1.100,2.090,1977/1978 Maret 306,47 233,33 917,5 862,5 1978/1979 Maret 626,66 256,67 1.276,25 1.169,1979/1980 Maret 777,94 242,26 1.162,50 1.225,1980/1981 Maret 690,21 263,4 822,5 968,75 1981/1982 Maret 508,48 243,8 880,-783,6 1982/1983 Maret 701,09 219,8 956,-1.025,1983/1984 Juni 1.041,64 313,26 1.270,1.200,-September 992,74 363,78 1.450,1.150,Desember 1.103,43 467,32 2.510,1.250,Maret 1.006,25 535,07 2.665,1.275,1984/1985 April 939,44 560,38 2.540,1.300,Mei 889,84 540,65 2.660,1.325,-Juni 791,42 577,25 2.670,1.300,Juli 795,54 543,48 2.440,1.300,Agustus 820,36 493,15 2.600,1.325,September 853,37 432,74 2.925,1.350,Oktober 797,9 445,77 2.850,1.235,Nopember 766,78 445,77 2.815,1. 300,-

Tahun anggaran/ rata-rata bulan

Tabel III..8 HARGA BEBERAPA BARANG EKSPOR UTAMA DI PASAR INTERNASIONAL, 1969/1970 - 1984/1985 RSS III Kopra Kopi robusta Lada putih Lada hitam Timah putih Minyak US $/lt US $flt Str $1 pic us $ ct/lb Br tIlt US $ ct/!b Br £ I mt Br tIlt US $ ct/lb Brp I kg Str $ ct/kg York) (London) (Singapnra) (Manila) (London) Lampung eks Palembang (London) (New York) (London) Malaysia (Singapura) (New York) (London) 20,88 17,08 16,01 26,4 42,43 27,83 35,88 39,67 43,52 51,7 69,43 65,06 43,24 54,36 53,29 58,11 57,2 56,84 54,54 50,7 47,01 45,47 45,59 45,58 42,33 41,1 20,65 14,6 12,6 24,59 39,98 24,89 41,22 38,86 48,34 59,87 66,35 57,25 48,24 73,58 71,81 75,48 81,21 80,2 77,64 73,41 68,01 70,07 70,3 71,38 68,59 66,41 59,35 98,83 83,2 137,45 203,96 117,8 179,05 186,44 196,43 247,44 300,91 240,63 163,5 200,56 219,33 221,23 228,53 225,31 215,08 198,55 182,17 179,2 180,04 179,78 167,30' 161,87 205,-176,28 115,92 201,5 767,67 258,93 178,46 456,76 664,5 520,76 406,25 327,05 329,58 479,01 645,-655,33 747,726,83 845,-723,25 658,5 648,54 703,13 620,240,53 208,55 141,84 221,21 899,6 304,6 192,5 551,5 437,06 796,45 516,75 389,43 330,25 321,69 472,92 638,01 653,4 744,15 735,75 800,17 829,4 728,682,6 642,13 747,63 611,54 82,38 117,13 95,5 90,-165,93 118,53 215,38 815,23 280,-285,-395,-399,-356,94 292,5 332,5 362,5 480,5 487,5 487,5 487,5 551,37 551,-551,-562,25 566,556,-33,65 39,28 36,43 42,28 62,31 42,86 78,15 294,56 120,67 154,75 104,52 114,48 114,69 117,49 117,42 126,04 128,15 127,45 133,5 132,75 127,66 127,2 128,2 122,26 121,42 49,77 42,73 47,4 60,5 98,93 88,3 102,55 164,6 188,75 150,62 139,-100,-128,88 132,-126,56 135,-243,-244,8 245,-245,245,-245,241,01 274,5 317,5 298,5 57,72 55,6 45,52,25 79,92 90,-79,14 117,31 116,67 86,52 95,67 83,-73,-64,"71,63 66,84 98,7 90,07 92,45 96,8 97,6 92,5 91,88 105,1 114,8 108,94 1.578,54 1.472,20 1.477,60 1.736,50 3.524,-3.043,26 3.594,05 6.155,94 5.917,50 7.328,7.906,83 6.084,13 7.070,78 8.957,10 8.581,41 8.506,16 8.616,20 8.523,48 8.762,42 9.055,25 9.170,38 9.412,60 9.352,08 9.594,25 9.596,50 9.676,94 109,58 117,6 81,35 115,-276,87 197,85 591,74 319,5 679,61 612,602,33 505,17 376,5 400,66 648,85 705,79 739,5 767,23 905,63 817,33 590,28 566,6 616,-631,75 623,39

1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984

1984/1985

Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Juni September Oesember Maret April Mei Juni Jull Agustus September Oktober Nopember

Departemen Keuangan RI

82

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

3.2 .5 .Indeks harga perdagangan besar Indonesia Dalam tahun 1983, indeks harga perdagangan besar meningkat sebesar 18,2 persen, atau dari indeks 302 dalam tahun 1982 menjadi 357 dalam tahun 1983. Kenaikan tersebut disebabkan oleh meningkatnya indeks harga sektor pertanian sebesar 13,7 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 9,0 persen, sektor industri sebesar 17,1 persen, sektor impor sebesar 20,9 persen, dan sektor ekspor sebesar 19,5 persen. Dalam perkembangannya yang terakhir, yaitu dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus, indeks harga perdagangan besar terse but meningkat sebesar 11,5 persen, sebagai hasil dari kenaikan indeks harga sektor pertanian sebesar 12,0 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 8,6 persen, sektor industri sebesar 12,3 persen, serta indeks sektor impor dan sektor ekspor masing-masing sebesar 10,7 persen dan 11,9 persen. Peningkatan indeks harga sektor pertanian terjadi pada indeks harga masing-masing sub sektor tanaman perdagangan, bahan makanan, peternakan, perikanan, serta sub sektor perkayuan dan hasil-hasil hutan. Indeks harga sektor pertambangan dan penggalian meningkat karena peningkatan yang terjadi antara lain pada indeks harga sub sektor batubara, sub sektor penggalian, dan sub sektor garam. Pada indeks harga sektor industri, peningkatan telah terjadi pada indeks harga semua sub sektornya, yaitu antara lain sub sektor industri minyak nabati dan lemak, serta sub sektor industri pengilangan minyak dan hasilhasilnya. Di sektor impor, kenaikan terjadi pada indeks harga sub sektor hasil industri pemintalan, perajutan, tekstil dan lainnya, sub sektor hasil industri kertas dan hasil-hasilnya, serta sub sektor hasil industri pengilangan minyak. Demikian pula halnya dengan indeks harga perdagangan besar bahan ekspor, peningkatan terjadi pada indeks harga masing-masing sub sektor bahan makanan dan sejenisnya, biji logam bukan besi, serta sub sektor hasil-hasil tanaman perdagangan dan ternak. Perkembangan Indeks harga perdagangan besar Indonesia dapat dilihat dalam Tabel III.9.
Tabel III. 9 ANGKA INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR INDONESIA, 1977 -1984 ( 1975 = 100 )

S e k tor I. Pertanian 2. Pertambangan dan penggalian 3. In d u s t r i 4. Impor 5. E k s p o r Indek Umum Kenaikan indeks (%)
1) Sampai dengan buIan Agustus

1977 145 130 128 108 116 122

1978

1979 213 175 178 153 246 195
71,05

1980

1981 302 266 234 191 414 282
11,46

1982

1983 382 339 301 243 514 357
18,21

1984 1)

-

162 144 139 118 127 114 -6,56

262 218 210 174 375 253
29,74

336 311 257 201 430 302
7,09

428 368 338 269 575 398
11,48

Departemen Keuangan RI

83

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

3.2.6. Indeks harga perdagangan besar bahan bangunan/konstruksi Perkembangan indeks umum harga perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi dalam tahun 1983 telah menunjukkan peningkatan sebesar 11,8 persen. Kenaikan tersebut tercermin dati kenaikan yang terjadi pada masing-masing indeks harga jenis bangunan tempat tinggal sebesar 11,0 persen, jenis bangunan bukan tempat tinggal sebesar 12,3 persen, jenis pekerjaan umum untuk pertanian sebesar 13,0 persen, jenis pekerjaan umum untuk jalan dan jembatan sebesar 11,5 persen, jenis bangunan listrik dan transmisinya sebesar 12,2 persen, bangunan dan konstruksi lainnya sebesar 11,9 persen, sella indeks harga untuk jenis perbaikan bangunan sebesar 12,5 persen. Pada perkembangannya yang terakhir yaitu pada tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus, indeks umum harga perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi telah meningkat sebesar 7,2 persen. Peningkatan terse but disebabkan oleh peningkatan masing-masing pada indeks harga jenis bangunan pekerjaan umum untuk pertanian sebesar 8,9 persen, jenis bangunan pekerjaan uIhum untuk jalan dan jembatan sebesar 7,5 persen, serta indeks harga jenis bangunan lainnya yang berkisar antara 5,9 persen dan 7,4 persen. perkembangan angka indeks harga perdagangan besar bahan bangunan/konstruksi dapat dilihat pada Tabel III.10.
Tabel III. 10 ANGKA INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR BAHAN BANGUNAN/KONSTRUKSI DI INDONESIA MENURUT lENIS, 1977 -1984 ( 1975 = 100 ) Jenis 1. Bangunan tempat tinggal 2. Bangunan bukan temp at tinggal 3. Pekerjaan umum untuk pertanian 4. Pekerjaan umum untuk jalan dan jembatan 5. Bangunan listrik dan transmisinya 6. Bangunan dan konstruksi lainnya 7. Perbaikan bangunan Umum Persentase perubahan 1) Sampai dengan bulan Agustus 1977 114 113 109 112 106 111 113 112 1978 123 124 120 123 116 123 122 122 8,93 1979 149 152 146 151 142 154 151 150 22,95 1980 175 177 192 183 160 182 179 177 18 1981 191 193 213 205 170 200 196 194 9,6 1982 209 211 239 226 181 219 216 212 9,28 1983 232 237 270 252 203 245 243 237 11,79 1984 248 254 194 271 215 261 261 254 7,17

3.3. Gaji dan upah di berbagai sektor ekonomi Peraturan pengupahan secara regional, sektoral, maupun sub sektoral senantiasa mengalami peningkatan dati tahun ke tahun. Sampai dengan tahun _pertama pelaksanaan Repelita IV sampai dengan bulan September, secara kumulatif telah dihasilkan 16 buah peraturan pengupahan secara regional, 58 buah peraturan pengupahan secara sektoral, dan 300

Departemen Keuangan RI

84

1 persen. Industri 4.179 333. Lain-lain/pegawai negeri ( Rata-rata upah maksimum ) 1.0 persen sampai 12.540 65.105 21.799 268.411 448.270 26. Tabel III. Jasa-jasa 9. Perkebunan 2. Bangunan 5.589 20.606 27.166 150.165 524.4 persen dan sektor bangunan sebesar 24.400 19841) 31. Pertambangan 3.932 41.618 415.681 36.400 277.5 persen.877 64.3 persen.536 275.665 322.5 persen dan 22.196 297.826 36.214 209.590 89.039 70.974 73.527 228.235 50.719 361.754 27.827 297.7 persen.720 25.452 25. Dilain pihak penurunan terjadi pada sektor pertambangan sebesar 0.500 191.099 17.238 173.279 53.339 291.1 persen dan 18.782 23.991 125.280 150.056 58.178 24.6 persen.994 231.158 16. dan sektor perdagangan/bank/asuransi masing-masing sebesar 24.832 320.423 57.676 554.500 21. upah minimum di semua sektor mengalami peningkatan yaitu pada sektor bangunan.362 72.318 32.665 14.993 44. Sampai dengan semester I tahun 1984.146 527.200 17.137 29.178 251.116 30.595 189.624 359. Pada Tabel III.914 35.262 25.503 492.185 72.283 69.475 56. Sedangkan peningkatan upah maksimum terjadi disektor perhubungan.036 309.650 834.078 342.200 14. Industri 4.517 39. Dalam hal upah maksimum.400 262. Perkebunan 2.039 89. kenaikan terjadi pada sektor perdagangan/bank/asuransi sebesar 43.158 14.050 42.299 440.2 persen.977 16. Perdaganganlbank/asuransi 7.348 455. Perhubungan 8.840 219.128 29.7 persen dan 17.246 287.745 712.187 28.280 176.207 72.361 381.314 158.928 689.424 320.235 84.528 442.121 67. Jasa-jasa 9.956 294.972 33.200 712.658 509.5 sampai 18.009 60.061 29. sektor industri.550 Departemen Keuangan RI 85 .278 35.498 14.647 205. sedangkan sektor listrik tidak mengalami perubahan.408 620.381 20.595 174.328 554.262 19.025 33.416 205.695 248.391 32.760 295.051 29. sektor jasa dan sektor lainnya meningkat sekitar 4. 1975 -1984 ( rupiah per bulan) 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 8.520 656.6 persen.752 241.182 22.778 135. Perhubungan 8.485 69.395 465. Pertambangan 3.725 496. Lain-Iain/pegawal negeri 1982 25.242 117. Bila perkembangan upah selama periode Januari-Juni 1984 dibandingkan dengan periode Januari-Juni 1983.419 227.11 dapat dilihat bahwa dalam tahun 1983 upah minimum di semua sektor telah meningkat antara 4.5 persen sampai 18.606 465.158 16.181 171.721 550. kecuali pada sektor pegawai negeri yang tidak mengalami perubahan dalam upah minimum maupun upah maksimum. Bangunan 5 Listrik 6.030 172.069 42.9 persen.837 13.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 buah peraturan pengupahan secara sub sektoral.881 17.2 persen.718 40.500 9.742 14. sektor listrik. 23.632 393.889 645.280 172.118 34.400 Sektor ( Rata-rata upah minimum) 1.209 48.530 280.919 46. Demikian pula halnya dengan upah maksimum dalam tahun 1983 meningkat antara 3.254 382.723 532.337 409.405 228.262 29.893 27.400 289.491 32.255 26.245 50. 19.570 36.025 556.078 307.112 41. sedangkan sektor-sektor lainnya hanya meningkat antara 2.700 10.4 persen.6 persen.738 370. kenaikan upah minimum terjadi terutama pada sektor bangunan dan sektor perkebunan yaitu masing-masing sebesar 38. Listrik 6.510 46.752 241.287 83.211 269.035 307.606 60. Perdaganganlbank/asuransi 7.0 sampai 32.021 351. 11 UPAH MINIMUM DAN MAKSIMUM DI BERBAGAI SEKTOR.200 12.101 37. sedangkan sektor perkebunan.300 118.843 63.299 29.494 34.429 32.412 307.400 1983 27.233 241. sektor perhubungan sebesar 28.927 32.520 780.046 250. dan sektor perkebllnan masing-masing sebesar 36.975 672.662 50.300 138.5 persen.193 35.114 29. sektor bangunan.

pagu kredit perbankan dihapuskan. serta meningkatkan efisiensi dan peranan lembaga-lembaga keuangan. yang mempunyai kaitan erat dengan kebijaksanaan fiskal dan perkembangan neraca pembayaran. dan keringanan pajak atas pendapatan bunga dividen dan royalty (PBDR) juga berlaku bagi pembelian obligasi. dan tabungan lainnya. kebijaksanaan moneter telah memasuki tahun kedua penataan kembali sistem perbankan Indonesia. tatacara penyelesaian transaksi effek di bursa telah disederhanakan. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan usaha pemerataan pembangunan. Sejalan dengan hal tersebut. Pemerintah senantiasa mendorong peningkatan produksi barang-barang kebutuhan rakyat. yang pada dasarnya bertujuan untuk ineningkatkan pengerahan dana masyarakat melalui pemberian tanggung jawab yang lebih besar kepada bank-bank untuk menetapkan sendiri persyaratan-persyaratan penghimpunan dana dari dan pemberian kredit kepada masyarakat. Untuk itu fasilitas kredit likuiditas tetap disediakan untuk pinjaman yang berprioritas tinggi. dan kredit likuiditas Bank Indonesia kepada bank-bank untuk sektor ekonomi yang bukan prioritas dihentikan. bertujuan untuk meneruskan usaha kearah tercapainya sa saran pembangunan sesuai dengan trilogi pembangunan. Di samping itu penerbitan sertifikat deposito terus dilanjutkan. telah diambil kebijaksanaan untuk tidak memungut atau menangguhkan pemungutan pajak penghasilan atas pendapatan bunga deposito berjangka. Untuk lebih menunjang usaha peningkatan dana masyarakat. dengan beberapa penyesuaian dalam ketentuan dan persyaratan. Transaksi di pasar uang antar bank melalui kliring di Jakarta. memelihara kestabilan perekonomian dengan menjaga kestabilan harga. Pendahuluan Kebijaksanaan moneter dalam Repelita IV. meningkatkan usaha pemerataan pembangunan dengan meningkatkan golongan ekonomi lemah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB IV MONETER DAN PERKREDITAN 4. Departemen Keuangan RI 86 .dita IV. senantiasa disempurnakan dengan ikut sertanya Bank Indonesia untuk menjaga perkembangan suku bunga antar bank. Dalam tahun pertama Rep.1. sebagai salah satu pilihan bagi masyarakat untuk menanamkan kelebihan dananya. Beberapa tujuan pokok yang akan dicapai adalah peningkatan usaha mobilisasi tabungan masyarakat melalui bank dan lembaga keuangan bukan bank. Sedangkan untuk mengembangkan jual beli surat berharga di posar modal. serta pengembangan usaha golongan ekonomi lemah.

mg dapat dibayar.093.9 milyar.563.529.1 milyar atau 56 persen dari jumlah uang beredar. Jumlah uang beredar dan sehab-sehab perubahannya Jumlah uang beredar selama 6 bulan pertama tahun anggaran 1984/1985 telah mengalami peningkatan sebesar Rp 38. Dengan demikian secara keseluruhan sampai dengan bulan September 1984. Peranan uang giral yang cukup tinggi di dalam komponen uang beredar tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat di dalam menggunakan jasa-jasa perbankan. dan meliputi pembinaan terhadap lembaga perbankan. sejak 1 Pebruari 1984 telah diterbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). 4.3 milyar (0. dan perasuransian.4 milyar. baik bank Pemerintah maupun bank swasta nasional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai sarana pengendalian moneter. Pembinaan disektor perbankan diarahkan untuk mengembangkan sistem perbankan yang sehat. dan uang giral sebesar Rp 27.5 persen).9 milyar atau 44 persen dari jumlah uang beredar. serta peningkatan peranan pasar uang dan modal. Usaha untuk meningkatkan peranan pembiayaan pembangunan dengan dana dari masyarakat. Terhadap bank umum swasta nasional juga diberikan keringanan dalam persyaratan pembukaan kantor cabang. di samping ketentuan untuk memelihara cadangan wajib minimum bank-bank yang sejak 1 Januari 1978 besarnya adalah 15 persen dari kewajiban y. lembaga keuangan bukan bank.7 milyar pada akhir bulan Maret 1984. yaitu dari posisinya sebesar Rp8. Peningkatan tersebut terdiri dari peningkatan uang kartal sebesar Rp 10. serta perluasan jaringan kliring lokal di tempattempat yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia. Sebaliknya sebagai sarana untuk menanggulangi kekurangan likuiditas. posisi uang kanal adalah sebesar Rp 3. Pembinaan bank pembangunan daerah dilaksanakan melalui program pemberian bantuan teknis dan pendidikan. Bank Indonesia menyediakan fasilitas diskonto yang merupakan upaya terakhir bagi bank-bank dalam usahanya untuk memperoleh tambahan dana. dan uang giral sebesar Rp 4.0 milyar pada akhir bulan September 1984. Departemen Keuangan RI 87 . pembinaan lembaga-lembaga keuangan senantiasa ditingkatkan.2.054. menjadi Rp 8. Sementara itu peranan lembaga keuangan bukan bank (LKBB) ditingkatkan dengan diberikannya fasilitas diskonto ulang dalam perdagangan surat-surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan. SBI ini dapat digunakan (melalui operasi posar terbuka) untuk menanamkan kelebihan dana likuiditas dari bank yang belum dioperasikan.

90 210.3 -312.302. 2 SEBAB .8 400.6 -7.40 -1.7 -16.835.9 Lainnya bersih -32.90 400.136. 1969/1970 .633.378.3 3.560.3 291.110.8 457 5.054.6 -72.80 44 4.8 -92.2 158.420.40 62 6.1 1.90 199.10 51 2.10 242.265.2 210.3 17.4 -190.20 51 2.4 Mei 160.7 79.508.5 16.5 -162.6 -1.7 -654.000.9 59.417.5 28.4 47 962 53 1.1984/1985 (dalam milyar rupiah) Tagihan pada perusahaan & Perorangan l) 1969/1970 Maret -7 -4.4 -170.8 39 853.10 37.072.8 188.1 Kumulatif 2.3 58 150 42 360.7 Juni 241.7 1978/1979 Maret 985.7 -1.491.5 90.40 1984/1985 April 130.1 Maret 1.296.6 54 1.1 166.2 1.40 604.5 1975/1976 Maret -319.379.1 54 363.7 -471.5 52 488.4 -686.3 170 47.9 1.7 2 Akhir Waktu 1969/1970 Maret 1970/1971 Maret 1971/1972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Joni September Desember Maret Kumulatif 1984/1985 April Mei Juni Juli I) Agustus 1) September 1) I) Angka sementara Tabel IV.20 56 8.5 Agustus 2) -35.2 -195 -134.2 3.3 254 47.20 45 4.7 485.6 1974/1975 Maret 1 23.6 2.631.228.40 126 1.563.00 -89.5 1973/1974 Maret 154.4 -25.306.099.1 1972/1973 Maret 124.1 3.80 49 1.4 -123.5 675.560.075.7 -650.035.605.30 -559.036.529.5 -1.00 1982/1983 Maret 16.9 3.417.505.684.30 55 7.2 353 Juli 2) -35.5 -194.501.6 -266 527.2 46 784.8 -1.7 3.8 -610.4 Desember 406.30 -1.70 49 4.1 -369.2 -417.50 604.7 126 210.715. 1 JUMLAH UANG BEREDAR.10 1.1 -277. 1969/1970 .569.40 -596.90 689 32.6 1971/1972 Maret 153.2 59.6 -497 42.9 2.4 -395 810.90 -1.5 295.4 40 210.6 48 1.563.5 -39.235.2 -105.5 -146.6 -830.90 295.233.2 45 530.934.50 43 4.1 1970/1971 Maret -4.2 35.1 -1.70 49 1.836.10 -146.30 38 4.797.427.70 54 7.9 -50.77 Maret 476.SEBAB PERUBAHAN JUMLAH UANG BEREDAR.5 -203.214.1 -445.60 56 7.90 55 8.1 55 239.3 46 768.50 -105.8 -88.80 1979/1980 Maret 2.1 170 254 242.3 332.8 31 659.5 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.615.985.20 51 8.60 809.70 485.50 279.9 142.5 6.30 -101.5 27.1 -157.5 3.605.6 1977/1978 Maret 441.60 17.6 -418 1.10 1976/19.5 689 997.036.90 56 7.3 60 84.50 57 5.2 -684.983.40 57 7.8 -101.2 -13.541.409.2 Perubahan 79.9 361.90 43 4.9 -973.182.50 1.4 38 270.90 47 2.2 198 1) Termasuk tagihan pada badan/lembaga dan perusahaan Pemerintah 2) Angka sementara Akhir waktu Aktiva Luar negeri Pemerintah pusat Simpanan berjangka & Tabungan -27.9 3.2 -123.9 538.9 61.9 307.9 718.10 1983/1984 Juni 429 -347.8 158.027.6 -83.273.572.3 2.1 151.825.9 -89.20 -146.553.4 1980/1981 Maret 2.368.410.70 45 4.70 43 2.70 1.8 -164.4 675.60 46 4.8 September 2) -215.8 3.093.221.774.3 549.023.3 190.815.283.8 112.046.40 387.6 199.1 33.50 44 4.1 -2.8 62 103.9 -146.653.10 997.90 44 4.6 1.20 1981/1982 Maret -67.4 697.1984/1985 ( dalam milyar rupiah) Uang Uang Persentase kartal giral % % Jumlah Perubahan Perubahan 126.50 -374 -65 -124.9 0.70 57 8.8 -1.70 59 7.5 -192.9 458.719.30 44 4.178.3 227.8 3.2 853.20 53 3.4 472.7 Departemen Keuangan RI 88 .4 -138.20 1.70 41 4.799.431.8 -180.2 421.497.3 90.2 3.50 29.9 395.773.00 158.4 -175 -1.2 127.3 2.1 -143.10 2.3 1.333.7 8.3 9.8 387.9 3.10 56 8.1 53 100.8 September 671 -871 608.1 4.8 -220.

3 persen).266.2. dan Rp 638. kepada bank-bank Pemerintah telah diberikan tanggung jawab yang lebih besar di dalam usaha pengerahan dana.4 milyar. sebesar Rp 6.l dan Tabel IV. Dalam periode April-September 1984.9 milyar dan Rp 238.0 milyar.800. kecuali terhadap deposito berjangka waktu 24 bulan yang bunganya ditetapkan sekurang-kurangnya 12 persen per tahun. masing-masing sebesar Rp 244. sektor tersebut memberikan pengaruh mengurang sebesar Rp 1.800.9 milyar.6 milyar (46. Sampai dengan akhir bulan September 1984. Sektor Pemerintah pusat selama semester pertama tahun anggaran 1984/1985 menunjukkan pengaruh mengurang. Peningkatan yang cukup besar pada sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan ini.705. Dana dan Kredit Perbankan 4.3 persen) adalah dana giro.1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Jika dilihat dari sektor-sektor yang mempengaruhi jumlah uang beredar. Bankbank Pemerintah diberi kebebasan dalam menentukan tingkat suku bunga deposito dan tabungan lainnya. sedangkan dalam periode yang sama tahun yang lalu.3 milyar (4. dan sebab-sebab perubahannya secara lengkap dapat diikuti pada Tabel lV. Dana giro sebesar Rp 6. serta sekaligus mengurangi ketergantungan bank-bank kepada dana likuiditas Bank Indonesia.4 persen). dalam periode April-September 1984.218. sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan memberikan pengaruh menambah yang cukup besar.8 milyar. Usaha untuk meningkatkan tabungan masyarakat yang terus dilakukan Pemerintah tercermin dari besarnya pengaruh mengurang pada jumlah uang beredar yang ditimbulkan oleh sektor simpanan berjangka dan tabungan.6 milyar. Pengaruh menambah sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan tersebut menunjukkan suatu perkembangan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode yang sarna tahun lalu.4 milyar. 'Perkembangan jumlah uang beredar.3.2 milyar. yaitu sebesar Rp 5. satu dan lain adalah karena peningkatan kredit untuk pembiayaan di bidang perindustrian dan jasa-jasa.034. sedangkan dana giro bank-bank Departemen Keuangan RI 89 . tabungan masing-masing adalah sebesar Rp 7. dana perbankan mencapai jumlah sebesar Rp 14. pada jumlah uang beredar sebesar Rp 1. yaitu sebesar Rp 1.965. sedangkan dana deposito dan .6 milyar terse but sebagian besar berasal dari dana giro bank-bank Pemerintah. yaitu sebesar Rp 970. dana perbankan senantiasa mengalami penyempurnaan sesuai dengan perkembangan. Sejak Juni 1983. Dari jumlah tersebut. Di samping itu sektor aktiva luar negeri bersih.3. sektor Pemerintah pusat tersebut memberikan pengaruh mengurang sebesar Rp 1. dan sektor lainnya bersih juga memberikan pengaruh menambah pada jumlah uang beredar. 4.020. Dana perbankan Kebijaksanaan di bidang mobilisasi.390.4 milyar.9 milyar (49.

40 4.9 Maret 9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 swasta nasional adalah sebesar Rp 1.60 1.8 32.815.9 4.023.90 28.616.9 0.10 3. 2) Termasuk sertifikat deposito.034.3 986.9 8 11.9 April 9.9 114.5 225. oleh bank-bank swasta nasional sebesar Rp106.080.60 591.471.2 371.010.736.6 68 1.3 106.9 845.60 7.343.40 1.3 milyar.10 103.109.398. 3) Termasuk tabungan pegawai dan setoran ongkos naik haji.80 103 1.556.70 1.20 2.8 3.30 109.632.40 669.1 13.3 1.90 4.4 362. 7 43.20 4.40 1.4 146. 381.122.70 2.194.412.4 35.80 4.60 543.80 1.2 4.8 501.3 10.074.60 489 7.20 3.7 997.8 141 142.742.792.10 6.90 1.63.6 333.2 901. 3) Termasuk tabungan pegawai dan setoran ongkos naik hajj.2 77.90 653.2 44.287.30 559.853.10 585 2.398.163.70 6.693.9 8 11.40 6.1 671.2 242.9 305.800.781.1 203.60 0.6 112.017.00 74.1 0.766.7 1.70 412. 7.70 1.463.60 6.60 3.40 1.8 392.70 4.802.243.466.259. Dari dana yang dihimpun dalam bentuk deposito sebesar Rp7.2 milyar oleh bank-bank swasta nasional. 9.6 3.2 980.190.40 514 2.444.5 21.4 1.2 3.4 1.6 3.3 48.0 2.063.2 1.1 19.7 44.6 756.981.267.6 16.1984 ( dalam milyar rupiah ) 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember.50 568.539.20 0.10 1.2 489.60 1.7 804.5 1.10 2.5 240 330.6 milyar.1 8.858.2 4.20 508.068.40 4.7 345.381.7 0.40 68.70 456.80 688.927.60 1.9 1.867.200.2 187.170.6 3.097.181.543. Bank-bank Pemerintah Giro Deposito c Tabllngan II.243.2 4.081.015.099.502.5 222.80 6.367.80 2.1 1.173.30 7.80 516.2 13.80 5.888.90 541.2 202 252. dan Rp 1.70 168.7 303.6 milyaroleh cabang bank-bank asing.7 890.2 46 73.80 5.195.40 0.3 Sept.20 954. Cahang bank-bank asing Giro Deposito Tabungan IV.590.70 6.3 milyar.4 2.834.50 105.1 milyar merupakan dana yang berhasil dihimpun oleh bank-bank Pemerintah.6 13.30 106 13.256.131.7 145.2 760.9 80.50 1. Cabang bank-bank asing Giro Deposito Tabungan IV.3 159.410. 8.086.1 810.30 6.70 933.2 421.80 1.270.1 76.777.2 5.90 543.8 70 70.4 1.003.030.30 539.4 1.80 637. Sedangkan dana tabungan yang berhasil dihimpun oleh bank-bank Pemerintah adalah berjumlah Rp 531.7 20'\.8 224.348.927.378.00 5.2 1983 Juni 7.2 1.8 milyar dan oleh cabang bank-bank asing sebesar Rp 0.003.976.787.00 6.908.103.113.2 3.40 87 1.4 1.00 1.756.154.40 3.559. 4) 9.7 1.707.10 4.80 3.0 1.379.2 3.8 184.1 1.90 869.6 14.20 521.2 2. Rp 1.90 8.10 4.90 1.8 299.7 2.50 1.9 44.5 12.30 583.1 0.1 110.252.458.7 0.40 1.209.10 531.250.9 244 482.485.60 4. Sub total (II + III) Giro Deposito Tabungan V.657.689.40 566.086.8 590. dan dana giro cabang bank-bank asing adalah sebesar Rp 513.698.7 32.90 638.519.293.8 1.688.00 1.705.50 6.60 4.261.337.106.6 553.1.20 106.3 '52.2 114.80 1.446.1 Des.5 I.4 1.695.80 3.035.292.80 1.6 740.4 1.1 3.133.7 153.90 2.60 103.80 552.111.196.914.30 94.10 6.10 186. Departemen Keuangan RI 90 .60 1.908.4 milyar.650.40 570.20 1.90 2.00 1.20 2.70 676.896.40 4.40 2.9 32.50 0.70 688.8 858.2 milyar.526.2 77.40 4.8 50. 1982 Desember Maret I.9 581.613.70 1.2 4.30 72.254.618. 770.30 537.80 583. 3 DANA PERBANKAN RUPIAH DAN V ALUTA ASING.189.009.167.30 6.20 2.168.2 4.70 1. 718. Bank-bank swasta nasional Giro Deposito Tabungan III.60 6. Jumlah besar (I + IV ) 1) Giro Deposito 2) Tabungan 3) 1) Terdiri atas dana bank-bank umum.60 1.233.395.302.1 0.6 930.3 417.80 2. Tabel IV.50 1.9 1.3 66 89 117. sehingga secara keseluruhan jumlah dana tabungan mencapai Rp 638.6 313.00 1.3 1.80 4.060.6 Juni .737.6 16 19.659.20 2.60 6.8 0.2 11.3 224 255.1 79. Bank-bank Pemerintah G ir 0 Deposito Tabungan II.924.4 52.50 4.9.20 1.543.084.50 1.90 1.20 1.2 4.80 544.273.30 1.7 2.863.266.535.471.8 382.6 765.6 198.886.4 680.00 1.624.8.6 90.4 769.7 522.1 132.106.00 103.7 71.10 4.150.10 4.7 765.6 454.325.6 72.4 205.263. bank pembangunan dan bank tabungan termasuk dana milik pemerintah pusat dan bukan penduduk.60 4.20 0.10 1.2 255 363 464.00 6.00 4.10 505.272.3 604.1 140.60 6.742.144.90 466.00 64.470.356.6 127. 1972 .429.3 366.033.90 4.6 Agust.753.4 1.8 149.2 302.720.555. 723. Sub total (II + III ) Giro Deposito Tabungan 1) V.920.4 338.616.7 281.5 218.3 560.7 2.3 3.2 1.483.2 4.4 831.3 1.180.20 1.034.941.9 559.3 1984 Juli 9.6 431.426.525.7 1.70 233.3 1) Terdiri atas dana bank-bank umum.50 1.70 0.50 1.2 13.156.2 703.582.882.40 2.9 2.058.1 28.80 107 14.932.80 105.80 1.399. bank pembangunan dan bank tabungan termasuk dana milik pemerintah pusat dan bukan penduduk.8 71.20 539.122.350.5 94.582. Bank-bank swasta nasional Giro Deposito Tabungan III.00 109.3 197.141.4 117.151.10 1.20 513.80 2. 4) Angka sementara.7 1.5 1.396.00 4.7 666.4 1.4 816. 2) Termasuk sertifikat deposito.266.3 0.244.3 810 0.4 Me i 9.6 672.1 2.9 98.40 1.8 !i31.376.988.30 100 1.2 1.750.236.50 1.1 231.210.7 419.3 4.047.9 10.8 436.4 Sept.50 100.30 6.236.3 4.599.436.028.00 3.80 29.6 462.60 26.1 458.150.50 0.10 87.9 55. 18.30 5.888.252.451.230.00 5.40 4.266.10 260.1 164.3 238.818.260.4 158.80 4.20 1.8 1.650.012.756. Jumlah besar( I + IV) Giro Deposito 2) Tabungan 3) 6.80 1.9 milyar.40 3.4 200.40 2.20 1.8 372.917.30 1.10 104.239.5 83 113 134. Rp 4.660.20 1.40 5.60 94.3 645.034.449.10 1.058.

Sejak 1 Juni 1983.723.4 359. Jika semula saldo Tabanas yang diberikan Departemen Keuangan RI 91 .20 879.4 471.4 DEPOSITO BERJANGKA RUPIAH DAN VALUTA ASING SELURUH BANK.8 199 72 37.6 88.80 119. berjangka waktu 6 bulan sebesar Rp 1.8 milyar (5.4 522.5 59.8 1.80 480.7 264.7 317 Sept 4.723.9 445.00 131.7 357 April 6.4. dan deposito lainnya sebesar Rp 119.693.2.5 120 1.2 111.9 366 Des 5. Jenis tabungan ini diikuti oleh para pelajar.1 milyar.669.7 585.00 1.9 253. kebijaksanaan mengenai Tabanas telah memberikan kesempatan bagi para penabung untuk menikmati tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari pada sebelumnya.3 168 1) Termasuk deposito yang sudahjatuh waktu dan deposit on call 2) Termasuk deposito berjangka waktu 9 dan 18 bulan 1982 Desember Deposito berjangka 24 Bulan 12 bulan 6 bulan 3 bulan 1 bulan 1) Lainnya 2) TABANAS TASKA 2.613.50 1.045.668.40 986 1.90 127. 3) Angka sementara.141.6 persen).90 750 1.2 81.618.40 1.081.461.8 2.5 21.031.3 483.1 4.20 1.3 460.9 74.609.6 persen).732.9 343 Mei 6.5 11.90 73.9 492.5 1.2 81.2 372 Juli 6.1 32.697.8 17.10 117.6 1.8 153.33 7.8 307 1983 Maret 3.4 1.60 685.90 605.650. TABANAS DAN TASKA.924.0 persen).8 694.379.262.3 152.335.059.2 531.9 74 760.0 milyar (32.9 19.6 234.4 195.6 41.7 584.001.80 679. maka raJa akhir September 1984 dana tertersebut terdiri dari deposito berjangka waktu 1 bulan sebesar Rp 1.287.9 104.3 82.50 372.3 milyar (13.80 1.4 476.920.2 2 191.550.10 960.2 937.8 61.7 32.3 43.30 990.90 833.8 53.5 1.3 1.1.357.5 1.3 milyar (23.10 1.80 591.80 785.90 407.70 684 1.4 94.6 1.839. berjangka waktu 12 bulan sebesar Rp 2.714.348.099.6 138 1.8 575.8 117.90 418.489.886.6 112 1. Dengan demikian bila pada akhir tahun 1983/1984 jumlah dana perbankan secara keseluruhan baru sebesar Rp 13.7 persen).80 129.781.4 1.8 2.7 milyar (1.1 11.458.4 106.10 998.70 450.8 572.5 212.209.1 384.9 331 Maret 6.2 2.316.1 16.9 370.3 342.5 1. berjangka waktu 24 bulan sebesar Rp 407.1 55.7 357 1984 Juni 6.8 1.5 84 581.7 122 2.60 967. dan masyarakat pada umumnya.6 2.225.357.2 234.80 1.1 32.1 22. berjangka waktu 3 bulan sebesar Rp 990.266.8 29.40 569.3 1.8 25.1 28. dan tabungan asuransi berjangka (Taska) adalah saran a penghimpun dana masyarakat yang lebih menonjolkan segi pendidikan kepada masyarakat terutama generasi muda untuk hidup berhemat.981.70 519 1.103.8 milyar (23.1 122.7 persen).2 127.459.8 361.40 128 574 391 Agust 7.7 152.6 47.401.194.668.20 612.5 303 Juni 4.5 80.7 537 191.4 640.2 306.5 844.60 544.20 1. Tabanas dan Taska Tabungan pembangunan nasional (Tabanas).6 99 338. 788.1984 ( dalam milyar rupiah.7 109.90 819.5 580.737.5 141.8 580.20 950.4 70 115 980.5 413 1) Termasuk deposito yang sudah jatuh waktu dan deposit on call 2) Termasuk deposito berjangka waktu 9 dan 18 bulan. 4.4 47. Perkembangan deposito berjangka dapat diikuti pada Tabel IV.40 111.5 90.40 118.1 158 1.7 291.540.60 897.787.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV. kecuali dalam juta rupiah untuk Taska) 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Deserrtber Deposito berjangka 24 bulan 12 bulan 6 bulan 3 bulan 1 bulan 1) Lainnya 2) TABANAS TASKA 233.6 38.60 168.40 612.7 244. pramuka.4 persen).7 2.3 421 Sept 3) 7.1 1. pegawai.9 136.842.70 1.2 399.3 136. 1972 .3.

kenaikan Taska mencapai Rp 63 juta (20.7 persen) hila dibandingkan dengan posisinya pada akhir bulan Maret 1984 sebesar Rp 357 juta. dan selebihnya bersuku bunga 12 persen setahun. Bank-bank penerbit adalah bank-bank yang secara berturut-turut selama dua tahun terakhir telah memenuhi persyaratan yang ditentukan. dan selanjutnya dikenal sebagai sertifikat deposito.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bunga 15 persen setahun hanyalah sampai dengan jumlah maksimum Rp 200.1.4. Pada periode April-September tahun sebelumnya. dalam rangka me intis terbentuknya pasar uang di Indonesia. di samping sebagai wadah penghimpun dana masyarakat.000. tercatat adanya kenaikan sebesar Rp 9. Posisi Taska sebesar Rp 413 juta pada bulan September 1984 menunjukkan adanya peningkatan sebesar Rp 56 juta (15. Sertifikat Deposito Sertifikat deposito semula diterbitkan oleh Bank Indonesia dengan nama Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Sampai dengan akhir September 1984. Kemudian dalam tahun 1971 program SBI tersebut diikuti oleh bank-bank Pemerintah.7 milyar. dan sertifikat deposito cabang bank-bank asing sebesar Rp 34. Sampai dengan akhir September 1984. dan cabang bank asing.5 milyar dengan 12. Selain itu bank penerbit dapat memiliki sertifikat deposito yang diterbitkan oleh bank-bank lain dalam jumlah tidak melebihi 7. 4. dan bankbank pembangunan. Jangka waktu sertifikat deposito ini ditetapkan sendiri oleh bank-bank penerbit dengan ketentuan tidak kurang dari 15 (lima belas) hari.9 Departemen Keuangan RI 92 . yaitu tetap 9 persen setahun.000. maka dalam kebijaksanaan yang bam saldo ini telah ditingkatkan menjadi Rp 1.8 milyar (1. posisi sertifikat deposito yang diterbitkan oleh bank-bank Pemerintah.0 milyar.000.1 milyar (84. yang terdiri atas sertifikat deposito bank-bank Pemerintah sebesar Rp 189.8 persen). Sedangkan suku bunga Taska tidak mengalami perubahan.4 persen). Kenaikan jumlah penabung Tabanas pada periode April-September 1984 mencapai 613 ribu penabung.087 ribu penabung.3. Untuk lebih meningkatkan peranan sertifikat deposito diperluas lagi dengan penerbitan sertifikat deposito atas unjuk dalam rupiah bagi bank-bank umum. sedangkan pada periode yang sarna tahun lalu kenaikan jumlah penabung adalah sebanyak 387 ribu penabung. dan cabang bank-bank asing mencapai Rp 224.7 persen). Bila dibandingkan dengan posisinya pada akhir Maret 1984 sebesar Rp575.5 persen dari jumlah pinjarnan yang diberikannya. Selanjutnya perkembangan Tabanas dan Taska dapat diikuti pada Tabel IV. jumlah Tabanas telah mencapai sebesar Rp 585. sedang selebihnya diberikan bunga 6 persen setahun. serta mempunyai kewajiban untuk menjamin pelunasan sertifikat deposito yang diterbitkannya sesuai dengan jangka waktunya.3.

Selama periode April-September 1984.2 milyar.8 16.3 10.9 30 35.7 260.3 91.4 231 222.1 189.8 259.9 51.7 31.5 346.9 31.8 46.1 21.2 43.6 213.7 42.5 71.7 28 55.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar (15.3 2.5 363.5 8.5 74 70 66.2 390. sertifikat deposito bank-bank Pemerintah menunjukkan penurunan sebesar Rp 157.8 196.7 34.7 56.3 32.9 39. sedangkan sertifikat deposito cabang bank-bank asing meningkat sebesar Rp 4.2 373.9 26.4 milyar.1 9.6 102. Dengan demikian secara keseluruhan sertifikat deposito selama periode tersebut menurun sebesar Rp 152.7 79.5 244.8 34.6 396.9 373.4 29.4 46. Penurunan tersebut pada umumnya karena setelah sertifikat deposito jatuh waktu. Dibandingkan dengan periode yang sarna tahun lalu.8 1.5 SERTIFlKAT DEPOSITO BANK-BANK.5 24.7 57.7 15.8 224 1) Arigka sementara dalam memupuk pembiayaan pembangunan.6 persen).6 22.3 229. para penabung kemudian memilih jenis tabungan lain yang lebih menarik.2 212.2 48.4 28.8 352.3 0.1 165. Tabel IV.5 13.2 53. 1970/1971 .6 70 70 14.3 6.8 26.2 133.2 426.2 358.5 232.5 94.1 Bank-bank Asing 0.2 24.9 415.6 29.1 172.1984/1985 ( dalam milyar rupiah) Bank-bank Pemerintah 1.2 330.9 milyar.6 4.7 329.4 26. sejak 22 Oktober 1984 program tersebut Departemen Keuangan RI 93 .9 Akhir waktu 1970/1971 Maret 197111972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 198111982 Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April M ei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember J anuari Pebruari Maret 1984/1985 April Me i Juni Juli Agustus September 1) J umlah 0. Perkembangan sertifikat deposito dapat diikuti pada Tabel IV.5.1 12.4 59. sertifikat deposito meningkat sebesar Rp 127.1 18.1 milyar.7 301.8 82.6 385.8 250.4 62.4 294.1 202.5 244.9 14.4 32.8 37 41.4 376.1 7.1 204.7 369.8 28.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 4. dan kredit yang bukan prioritas. jumlah tersebut meningkat menjadi sebesar Rp 18. yaitu dalam rangka tetap mendorong kegiatan pengusaha golongan ekonomi lemah.2. Jumlah tersebut adalah lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatannya dalam periode yang sarna tahun 1983/1984 Departemen Keuangan RI 94 .705 milyar. yaitu kredit yang berprioritas tinggi. serta produksi dalam negeri. Pemberian kredit menurut sektor perbankan Perkembangan pemberian kredit perbankan yang senantiasa menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Sebagai tindak lanjut dari kebijaksanaan pembebasan pagu kredit perbankan. Jumlah fasilitas kredit adalah maksimal sebesar 3 persen dari jumlah dana pihak ketiga.3. Jangka waktu maksimal diskonto pertama adalah 15 hari. sejak Pebruari 1984 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai fasilitas diskonto.043 milyar. Jangka waktu dasar ditetapkan maksimal 60 hari. sehingga jangka waktu seluruhnya tidak melebihi 120 hari. sedangkan untuk kredit yang berprioritas tinggi. kredit perbankan dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis.135 milyar atau mengalami peningkatan sebesar Rp 2. bank-bank didorong untuk meningkatkan kemampuannya di dalam melaksanakan pemberian kredit dengan dana yang berasal dari masyarakat. Pemberian kredit perbankan Kebijaksanaan perkreditan dalam tahun 1983/1984 dan 1984/1985 adalah sejalan dengan kebijaksanaan moneter pada umumnya yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesempatan berusaha dengan tetap memelihara kestabilan. Fasilitas diskonto kedua disediakan untuk memudahkan bank dalam mengatasi kesulitan pendanaan hila rencana penarikan dana tidak sesuai dengan reo ncana penarikan kredit jangka menengah.1. yang dapat diperpanjang maksimal 7 hari untuk setiap kali perpanjangan.8 persen). serta untuk menjaga likuiditas bank-bank dalam melaksanakan pemberian kredit sehari-hari.430 milyar (17.7 persen). dengan jangka waktu seluruhnya tidak melebihi 29 hari.2. dan jangka panjang. sejak Agustus 1982 tidak lagi disediakan fasilitas kredit likuiditas Bank Indonesia. fasilitas kredit likuiditas tetap diberikan. Bagi kredit bukan prioritas. Jika pada akhir tahun 1982/1983 posisi pemberian kredit perbankan adalah sebesar Rp 13. Dengan berlakunya kebijaksanaan tersebut. 4. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan akhir September. merupakan pencerminan dari semakin besarnya peranserta sektor perbankan dalam pembiayaan pembangunan. Jumlah dasar kredit yang disediakan adalah 5 persen dari jumlah dana pihak ketiga. Melalui kebijaksanaan 1 Juni 1983.3. pada akhir tahun 1983/1984 posisinya telah meningkat menjadi Rp 16.908 milyar (11. yang berarti dalam periode I April-$eptember 1984 teIjadi peningkatan sebesar Rp 1. yang dapat diperpanjang maksimal 30 hari untuk setiap kali perpanjangan.

kredit bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 686 milyar (26. Posisi pemberian kredit perbankan sebesar Rp 18.269 milyar (18. Kenaikan pemberian kredit perbankan sebesar Rp 1.386 milyar (60. termasuk kredit likuiditas Bank Indonesia sampai dengan akhir Sep1Jember 1984 mencapai Rp 12.043 milyar pada akhir September 1984 digunakan untuk membiayai kegiatan di sektor Pemerintah sebesar Rp 5. walaupun terjadi penurunan kredit langsung Bank Indonesia sebesar Rp 1.5 persen). serta kegiatan perekonomian lain yang dilaksanakan oleh lembaga-Iembaga negara.514 milyar.0 persen).538 milyar (69. dan prasarana listrik. atau 2.6 persen). pertambangan. Penyaluran kredit untuk sektor Pemerintah dalam periode April-September 1984 meningkat sebesar Rp 117 milyar. dan kredit langsung Bank Indonesia pada saat yang sarna masing-masing mencapai Rp 3. Kenaikan terse but berasal dari peningkatan kredit pada bank umum Pemerintah sebesar Rp 1.490 milyar (24. tercatat bahwa jumlah pemberian kredit yang disalurkan melalui bank-bank umum Pemerintah tetap mengambil bagian yang terbesar. dan cabang bank asing sebesar Rp 3 Departemen Keuangan RI 95 . dan kredit yang diberikan di sektor swasta.3.1 persen). yayasan. kredit melalui bank-bank umum Pemerintah.773 milyar atau 70. dan lembaga-Iembaga bukan bank milik swasta. dan sebesar Rp 906 milyar (5. Penyaluran. Kegiatan yang dibiayai dengan kredit di sektor Pemerintah diantaranya adalah usaha di bidang perindustrian.095 milyar (6.8 persen dari kesduruhan ktedit perbankan. kredit cabang bank asing. Rp 1.1 persen).6 persen).2. dan kredit cabang bank-bank asing sebesar Rp 118 milyar (12. perorangan.1 persen). Sedangkan posisi pemberian kredit bank umum swasta nasional.2 persen).5 persen).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang berjumlah sebesar Rp 900 milyar (6.2. Pemberian kredit menurut sektor Pemerintah dan sektor swasta Kredit perbankan sebagai somber pembiayaan pembangunan dapat diperinci menurut kredit yang diberikan di sektor Pemerintah. Hal ini sejalan dengan luasnya bidang usaha yang dapat dijangkau dengan lokasi cabang bank Pemerintah yang terse bar di seluruh Indonesia sampai ketingkat kecamatan.388 milyar pada akhir Maret 1984. koperasi. dan di sektor swasta sebesar Rp 12.2 persen terhadap posisinya sebesar Rp 5.505 milyar (30. Adapun kegiatan di sektor swasta yang dibiayai kredit perbankan adalah semua kegiatan yang diselenggarakan oleh perusahaan swasta. bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 5 milyar. 4.5 persen). Jika dilihat perkembangannya menurut kelompok bank penyelenggara.908 milyar dalam periode April-September 1984 tersebut disebabkan oleh kenaikan kredit bank-bank umum Pemerintah sebesar Rp 2.

7 persen).008 104 904 508 312 196 149 140 4 136 9 9 76 2 74 2. sehingga posisinya meningkat dari Rp 10.174 119 1.516 1.747 milyar pada akhir bulan Maret menjadi Rp 12.253 2.630 1.3.323 984 1976/1977 Maret 345 342 3 1.055 695 428 267 211 199 4 195 12 12 99 1 98 2. pembiayaan kredit di sektor swasta mengalami peningkatan sebesar Rp 1.4 persen). 1969/1970 – 1984/1985 (dalam milyar rupiah) 1969/1970 Maret 71 69 2 163 72 7 65 91 50 41 22 21 21 1 1 4 4 260 126 134 24 4 4 11 11 373 138 235 6 1970/1971 Maret 81 78 3 253 138 21 117 115 39 76 28 24 1971/1972 Maret 86 83 3 374 221 46 175 153 57 96 35 28 28 7 7 15 15 510 184 326 24 1972/1973 Maret 126 122 4 470 302 11 291 168 59 109 55 49 2 47 6 6 34 34 685 194 491 85 1973/1974 Maret 136 132 4 815 538 38 500 277 104 173 72 67 3 64 5 5 64 64 1. Sejak Maret 1979 terrnasuk pinjarnan valuta aging kepada Pertarnina yang dinyatakan dalarn rupiah 3).6 KREDIT PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR PEMERINTAH DAN SEKTOR SWASTA. Pemberian kredit perbankan menurut sektor ekonomi Menurut sektor ekonomi.043 milyar pada akhir September 1984 digunakan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 8.960 953 2.5 persen). KIK dan KMKP 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar.293 milyar.405 milyar.193 1077/1978 Maret 343 339 4 2. bidang pertanian sebesar Rp Departemen Keuangan RI 96 .227 milyar (34.798 milyar (21.721 2.007 1. di sektor perdagangan sebesar Rp 6.532 387 Sektor Bank Indonesia 1) Sektor Pernerintah 2) Sektor Swasta Bank-bank Urnurn Pernerintah Likuiditas sendiri Sektor Pernerintah Sektor Swasta Likuiditas Bank Indonesia Sektor Pernerintah Sektor Swasta Bank-bank Urnurn Swasta Nasional Likuiditas sendiri Sektor Pernerintah Sektor Swasta Likuiditas Bank Indonesia Sektor Swasta Cabang Bankotiank asing 3) Sektor Pernerintah Sektor Swasta Jurnlah kredit perbankan 4) Sektor Pernerintah Sektor Swasta Kredit dalarn valuta aging 1). Kredit dalarn rupiah.1 persen). dan dari Bank Indonesia sebesar Rp 19 milyar.791 milyar (16.948 20 2. Tabel IV.2.538 milyar pada akhir September 1984.542 199 1. yaitu sebesar Rp 976 milyar.524 894 1. terrnasuk kredit investasi. dan untuk kegiatan di sektor lainnya sebesar Rp 3. pemberian kredit perbankan sebesar Rp 18. Kredit langsung Bank Indonesia 2).696 1.6.443 545 411 134 286 274 4 270 12 12 144 144 2. walaupun terdapat penurunan kredit yang disalurkan melalui kredit langsung Bank Indonesia sebesar Rp 1. Kenaikan pemberian kredit di sektor swasta tersebut sebagian besar berasal dari kenaikan kredit bank-bank umum Pemerintah.005 682 1.449 451 998 305 1975/1976 Maret 264 260 4 1.3.187 1.869 1.018 milyar tersebut digunakan untuk bidang perindustrian sebesar Rp 6.883 207 1.018 milyar (44. cabang bank asing sebesar Rp 115 milyar.087 277 810 127 1974/1975 Maret 177 174 3 1. dari bank umum swasta nasional sebesar Rp 681 milyar. Likuiditas sendiri 4). Dalam perkembangannya selama periode April-September 1984.968 1.115 1978/1979 Maret 1. Jumlah pemberian kredit untuk kegiatan di sektor produksi sampai dengan bulan September 1984 sebesar Rp 8.676 813 559 254 382 347 5 342 35 35 207 2 205 5. Perkembangan kredit perbankan menurut sektor Pemerintah dan sektor swasta dapat diikuti pada Tabel IV.111 686 71 615 425 203 222 98 93 3 90 5 5 63 63 1.

253 3. ini berarti bahwa selama periode April-September 1984 telah meningkat sebesar Rp 930 milyar.7 KREDIT PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR EKONOMI.291 793 440 1.193 343 166 165 12 2.193 1. Di samping itu tercatat beberapa kegiatan lainnya yang dibiayai oleh kredit di sektor perdagangan.187 1.449 536 590 323 305 264 104 149 11 1. KIK dan KMKP.3 persen) yang berasal dari kenaikan kredit di bidang perindustrian sebesar Rp579 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1.227 milyar. 1969/1970 – 1984/1985 (dalam milyar rupiah) 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret 71 163 22 4 260 81 253 28 11 373 6 86 374 35 15 510 24 126 18 105 3 470 223 149 98 55 15 22 18 34 13 14 7 685 269 290 126 85 136 21 112 3 815 390 247 178 72 21 23 28 64 25 15 24 1. yaitu antara lain lsaha pengumpulan barang-barang dalam negeri.735 202 31 2.565 679 452 382 111 181 90 207 104 71 32 5. Selama periode AprilSeptember 1984 pemberian kredit untuk kegiatan produksi meningkat sebesar Rp 329 milyar (4.516 719 528 269 149 45 62 42 76 33 27 16 2. Sedangkan kredit untuk sektor ekonomi lainnya dalam periode yang iama telah meningkat sebesar Rp 649 milyar.869 979 530 360 211 64 94 53 99 42 39 18 2. sampai dengan akhir Maret 1980 adalah posisikredit dalam rupiah 4) Angka sementara Departemen Keuangan RI 97 . impor pupuk dan batu bara.524 1. Sementara itu posisi pemberian kredit untuk .005 901 766 338 984 345 206 130 9 1.488 944 528 1.347 milyar.087 457 397 233 127 177 17 158 2 0.11875 468 388 255 98 29 29 40 63 22 15 26 1.960 1.696 1.515 1. di samping penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 292 milyar. dan di bidang pertanian sebesar Rp 42 milyar.133 605 387 SEKTOR Bank Indonesia 1) Produksi 2) Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Pemerintah Produksi Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum SwastaNasional Produksi Perdagangan Lain-lain Cabang Bank-bank asing Produksi Perdagangan Lain-lain Jumlah kredit perbankan 3) Produksi Perdagangan Lain-lain Kredit dalam valuta asing 1) Kredit langsung Bank Indonesia 2) Sejak Maret 1979 termasukpinjaman valuta asing kepada Pertamina yang dinyatakan dalam rupiah 3) Termasuk kredit investasi. distribusi kebutuhan pokok. Pemberian kredit di sektor perdagangan sebagian besar digunakan untuk pembiayaan pengadaan pangan. dan bidang pertambangan sebesar Rp 378 milyar.egiatan di sektor perdagangan sampai dengan bulan September 1984 adalah sebesar lp 6.968 1.165 602 420 286 82 130 74 144 75 47 22 2. Tabel IV. dan perdagangan eceran.

744 5. dan sektor lain-lain sebesar Rp 1. telah mencapai jumlah sebesar Rp 16. Sampai dengan akhir bulan September 1984.591 1. Pemberian kredit perbankan menurut Dati I Pemerataan sarana dan hasil pembangunan juga diusahakan melalui pemberian fasilitas kredit perbankan untuk membiayai kegiatan perekonomian di berbagai sektor yang dialokasikan sesuai dengan kebutuhannya di masing-masing daerah tingkat I di Indonesia.757 1. Untuk sektor perdagangan telah disalurkan sebesar Rp 6.851.0 persen).970 2.888 3.107 12.297 2.958 7.139 821 428 8.772 2. 811 1.068 1.620 827 Maret April Me i 2.542 5.081 895 521 501 301 -563 580 594 11.139 4.7 persen).737 6.8 persen) termasuk kredit untuk bidang jasa-jasa sebesar Rp 2.808 2.216 3.582.135 2.827 18.542 3.753 939 1984/85 Juni Juni 923 304 619 6.149 987 1.084 1.248 734 412 1980/81 Maret 2.114 1. dan bidang perindustrian sebesar Rp 5.712 1. 4) 938 906 274 273 664 633 12.353 3.0 persen).750 1.593 1.064 4.278 16.399 1.353 1.328 1. Sept.r Bank Indonesia 1) Produksi 2) Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Pemerintah Produksi Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Swasta Nasional Produksi Perdagangan Lain-lain Cabang Bank-bank asing Produksi Perdagangan Lain-lain Jumlah kredit perbankan 3) Produksi Perdagangan Lain-lain (Kredit da1am valuta asing) Juni 2.625 1.782 12.854 2.132 5.795 402 117 4.018 6.427 908 937 1.031 542 312 177 17. karena daerah di luar pulau Jawa telah menikmati pemberian kredit yang lebih meningkat.017 1. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 3.295 2. sektor perdagangan sebesar Rp 2.971 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1979/80 Maret 2. Untuk membiayai kegiatan di sektor produksi telah dipergunakan kredit sebesar Rp 7.2 persen).502 1.933 1.405 5.835 8.966 541 849 576 735 416 240 79 14.4.787 10.927 3. 2. 4) Sept.798 1.293 1.703 7.253 4.325 1.3 milyar.735 1.027 837 429 9.7 milyar (18.121 973 784 178 382 224 436 273 121 42 8.303.177 3. 784 178 47 3.292 720 574 1.621 1.632 1.187 2.111 4.111.6 tnilyar (37.524. Secara keseluruhan.169 526 549 9.115 Agost.0 persen).6 milyar (49. tidak termasuk kredit langsung Bank Indonesia.902 4.626.164 2.026 1.299 16.8 milyar.135 7. bidang pertanian sebesar Rp 1.359 5.620 2.263 1.917 775 780.071 3.039 827 1.350 1.009 1.689 5.110 1.326 1.705 6.240 7. sampai dengan akhir Maret 1980 adalah posisikredit dalam rupiah 4) Angka sementara 4.051 4.915 3.785 2.757 2.526 1.292 12.512 5.522 3.717 2.784 466 785 533 661 384 212 65 13.356 2.651 5.318 894 1.165 1.167. pemberian kredit perbankan untuk seluruh Dati I di Indonesia.356 359 1981/82 Maret 2.800 6.062 5.227 3.043 7.132 3.2. Bila dilihat pemberian kredit di tiap-tiap Dati I.496.678 1.583 645 718 990 1.3 milyar.726 450 780 496 737 412 241 84 13.599 901 1983/84 Des.744 7.416 1.136 1.644 5.0 milyar (44.701 2.146 1) Kredit langsung Bank Indonesia 2) Sejak Maret 1979 termasuk pinjaman valuta asing kepada Pertamina yang dinyatakan dalam rupiah 3) Termasuk kredit investasi. Dati I Kalimantan Barat dengan Rp 67.4 persen). yaitu sebesar Rp 165. terlihat perkembangan yang cukup menggembir_kan.347.8 milyar (68.592 813 227 6.131 6.1 milyar (20.801 2.283 11.842 762 510 508 148 232 128 284 159 76 49 5.065 1.269 870 905 1.043 3. dalam periode ]anuari-September 1984 telah terjadi peningkatan pemberian kredit di seluruh Dati I sebesar Rp 4.249 761 812 857 981 1. Kredit tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan perekonomian yang dapat diperinci sebagai berikut.006 1.4 milyar.8 milyar (96.993 4. disusul kemudian oleh Dati I Sumatera Selatan dengan Rp 115.728 4. KIK dan KMKP.216 1.726 3.285 7.293 1.095 560 587 323 323 185 185 17.950 462 1982/83 Maret 2.163 261 580 322 587 344 192 51 10. Di Dati I Sumatera Utara terdapat peningkatan volume kredit yang cukup besar.127 660 738 861 977 470 543 275 289 116 145 15.388 1.314 1.0 milyar Departemen Keuangan RI 98 . yang berasal dari kenaikan pemberian kredit di sektor produksi sebesar Rp 604..708 2.004 1.362 930 955 477 9.039 547 555 561 292 296 311 142 153 167 16.5 milyar (38.1 persen).450 6.3 milyar.768.127 S e k t o.773 6.116 2.675 16.477 1.860 5.605 7.908 6.854 4.735 5.9 milyar (9.280 3. bidang pertambangan sebesar Rp 104.7 persen).

dan sektor lain-lain sebesar Rp 60.6 persen).351. Jumlah pertambahan tersebut dipergunakan ulltuk membiayai usaha di sektor produksi sebesar Rp 38.3 milyar (61.0 persen).0 persen).2 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.4 milyar (17. Dengan demikian selama sembilan bulan dalam tahun 1984. Dalam periode yang sarna.4 milyar (35.1 persen). dapat diikuti pada Tabel IV. Dati I Jawa Barat sampai dengan akhir bulan September 1984 telah menggunakan kredit sebesar Rp 1.8 persen).7 milyar (25.2 milyar (9. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 348. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 42.5 milyar (16.2 milyar (50.7 milyar (27.183.7 persen). Posisi penyaluran kredit di Dati I DKI Jakarta raJa akhir bulan September 1984 menunjukkan jumlah sebesar Rp8. penggunaan kredit di DKI Jaya telah meningkat sebesar Rp 3. yang berarti meningkat sebesar Rp355.0 milyar (5. Seperti halnya raJa Dati I-Dati I terse but di atas.8.839. di sektor perdagangan sebesar Rp 72. ke sektor perdagangan sebesar Rp1.4 milyar (8. Dati I Jawa Timur telah menggunakan kredit sebesar Rp 1. kenaikan pemberian kredit sebagian besar berasal dari penggunaan kredit di sektor produksi sebesar Rp 106. perkembangan pemberian kredit perbankan menurut Dati I sampai dengan akhir bulan Agustus 1984.0 persen).9 milyar (53.6 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 5.0 milyar (22.9 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 1. Jumlah pemberian kredit di Dati I lainnya.8 persen).2 persen). Kenaikan kredit yang cukup tinggi di sektor produksi terutama digunakan untuk kegiatan perindustrian.6 milyar (25.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (32.8 persen). dan di Dati I Kalimantan Timur meningkat dengan Rp 50. yang berarti meningkat sebesar Rp 147.5 persen).5 persen).0 milyar (41.8 milyar (23.9 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.7 persen). dan di sektor lain-lain sebesar Rp 101. di sektor perdagangan sebesar Rp 66. Jumlah peningkatan terse but dipergunakan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 12.297 milyar.3 milyar (82.6 persen).1 milyar.0 milyar (25.932.7 persen).3 persen). sektor peraagangan sebesar Rp 124. atau selama sembilan bulan terse but telah meningkat sebesar Rp 185. Dati I Sumatera Barat dengan Rp 51.7 milyar (24.7 persen) dari posisinya sebesar Rp 831.4 persen).8 milyar (19. Peningkatan tersebut tersalur ke sektor produksi sebesar Rp 278.3 persen).167.3 milyar (23.9 milyar. perdagangan sebesar Rp 300.6 milyar.2 persen).5 persen).4 milyar (26. Departemen Keuangan RI 99 . sampai dengan akhir bulan September 1984 adalah sebesar Rp 4. Dengan demikian sejak akhir bulan Desember 1983 telah meningkat sebesar Rp 755. dan ke sektor lain-lain sebesar Rp 972.2 milyar. Dati I Jawa Tengah telah menggunakan kredit scbesar Rp 978. Pertambahan tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 169.483.5 milyar (2.115.8 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.

5 118.5 124.80 1) Termasuk Bapindo dan Bank Pembangunan Daerah 2) Angka sementara 4.4 125.7 18.1 38.1 66.670.4 9.8 141.5 15.90 611.3.2 15.2 42.7 351. IrianJaya 25. Sept.167.2 347.1 35.4 8. Sulawesi Tengah 21. 1.7 21.7 104.00 Perdagangan Des.5 32.70 Des. Nusa Tenggara Barat 22.10 3.1 53. Sumatera Selatan 7.8 48.5 7 17.8 51 59 53.9 73. B a l i 16.7 182.1 4.6 208.4 101.8 112.5 177.6 13.50 978.3 135. Sept.3 5. dan tidak lebih dari Rp 1 milyar.191. D.1 10.9 85 106.5 28. Sulawesi Selatan 8.6 203.5 126.8 6.7 6.8 145. dan sebanyak mungkin dipergunakan untuk proyek-proyek yang menggunakan hasil produksi dalam negeri. Sumatera Barat 11.1" 55.9 589.6 4.582.2 797.483.2 43.60 1.2 13.913.40 882.4 42.9 40 56. 2.4 5.8 1. D. Jam b i 20.7 14.3 7.7 2.3 11. Kalimantan Barat 9.1 85.2.1 279.9 13. 8.9 205.4 83.3 246. Sept. Timor Timur Jumlah Produksi Des.4 82.2 193.3 114.9 81.6 211.7 40.303.3 272. Jumlah Sept.6 9. Yogyakarta 17.9 24.3 36. Sulawesi Tenggara 26.536. Jawa Barat 4.9 83.9 18.5 2. Bengkulu 27.5 69.6 10.00 831.5 585.I.297.839. KREDIT RUPIAH PERBANKAN MENURUT DATI I DAN SEKTOR EKONOMI TIDAK TERMASUK KREDIT LANGSUNG BANK INDONESIA 1) DESEMBER 1983 .20 487.468. dan bank asing yang memenuhi persyaratan.30 5. Lampung 12.5 35.4 238. Kalimantan Timur 10.1 36.6 18.690.6 48 17.1 2.3 14.3 75.8 62.20 1.9 245. Jumlah maksimum pinjaman untuk setiap nasabah bank umllm swasta nasional adalah 10 persen dari modal sendiri.7 41.:162 61.052.9 116.8 116.I.5 8.30 598.167.4 86.9 40.7 59 58.7 0.9 15.2 183.8 114.2 175. Jawa Timur 3.5.4 30.6 189. alltara lain bank-bank Pemerintah dapat memberikan fasilitas kredit investasi ulltuk industri perkayuan yang berintikan kayu lapis.4 18.6 57.5 16.8 41.9 0.7 460.3 135 61.1 231. 2) 8.1 136.9 44.6 1.60 175.6 20.5 315.1 32 30 25.9 48 33.90 1.351.9 112.3 6.3 23.6 113.4 54 53. Ace h 18.4 3. Demikian pula bank-bank swasta nasional.80 3.2 24 15. Kalimantan Selatan 13.2 52.8 22. DKl Jaya 2. Sumatera Utara 6.1 15 10. Ria u 15.7 223.5 29. 718.5 21.9 0.586.3 48.2 24.9 233.5 70.2 38. SelanjUtnya bank-bank umum Departemen Keuangan RI 100 .9 0.2 88 47.2 11.955.6 13.6 34 35 20.3 65.2 25.5 7.90 1.9 271.4 12.80 1.9 287. Sehubungan dengan itu.2 15.2 127.111.7 58.1 110.698.7 3. dapat pula berperan serta memberikan kredit untuk pembiayaan investasi dengan jumlah maksimum masing-masing sebesar 20 persen dan 35 persen dari baki debet pinjaman.1 14.8 29.7 25 25.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.2 0. Nusa Tenggara Timur 24.5 34 36.2 111.5 169.60 Lain-lain Des. Maluku 14.SEPTEMBER 1984 (dalam milyar rupiah) D ati I 1. Jawa Tengah 5.112.1 47.8 27. Pemberian kredit investasi Kegiatan investasi terus berkembang sejalan dengan kegiatan pembangunan yang semakin meningkat.9 20.2 498.6 261.10 1.1 10.6 13.8 16. Pemerintah senantiasa menyempurnakan ketentuan-ketentuan yang menunjang pelaksanaan investasi.2 114.2 2.5 522.7 8.3 117 152.2 25 25.9 354. Kalimantan Tengah 23.6 963 349.8 26. Sulawesi Utara 19.9 8.6 125.1 23.3 8.8 51.

674 milyar.199 milyar.5 persen). Keseluruhan jumlah kredit sebesar Rp 6.004 milyar (16. te12h terjadi peningkatan sebesar Rp 509 milyar (8. oleh Bank Indonesia sebesar Rp 1. Dengan demikian secara keseluruhan dalam periode April-September 1984. di samping penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 292 milyar (46. dengan jangka waktu maksimum 8 tahun.1 persen). Jumlah terse but telah disalurkan oleh bank-bank Pemerimah sebesar Rp 4. Dilain pihak terdapat penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 19 milyar (2. dan di. Ada pun posisi kredit investasi yang telah direalisasikan sampai dengan akhir bulan September 1984 adalah sebesar Rp 4. dan di bidang jasa-jasa.732 milyar pada akhir bulan Maret 1984.besar Rp 99 milyar (12. Kenaikan dalam periode 1984/1985 tersebut adalah lebih baik dari yang terjadi dalam periode 1983/1984 yang mengalami penurunan sebesar Rp 306 milyar (5.2 persen). dan sebesar Rp 92 milyar (18.795 milyar. yaitu masing-masing meningkat dcngan Rp 193 milyar (7. dan oleh cabang bank-bank asing sebesar Rp 2 milyar. terutama di bidang jasa-jasa. dan bank-bank asing diberikan kesempatan melakukan penyertaan modal dalam perusahaan-perusahaan yang potensial. dan di bidang lain-lain sebesar Rp 49 milyar (9. dan di bidang pertanian. yaitu masingmasing sebesar Rp 132 milyar (17.5 persen). Departemen Keuangan RI 101 . Juga terjadi kenaikan di bidang perdagangan sebesar Rp 61 milyar (57. dalam periode April-September 1984 telah terjadi peningkatan yang cukup berarti terutama di bidang perindustrian. Dibandingkan dengan posisinya pada bulan Maret 1984.5 persen).3 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 4.6 persen). Menyusul kemudian peningkatan di bidang pertanian st. dan di bidang -lainlain sebesar Rp 82 milyar (19. dan Rp 114 milyar (12. Sampai dengan akhir bulan September 1984.6 persen). Dengan demikian. dalam periode AprilSeptember 1984 telah terjadi peningkatan sebesar Rp 63 milyar (1. oleh bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 152 milyar.2 persen).8 persen).8 persen).199 milyar tersebut dipergunakan untuk kegiatan di bidang perindustrian sebesar Rp 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 swasta nasional. bidang perindustrian sebesar Rp 12 milyar (0.0 milyar (9.4 persen). pertanian sebesar Rp 891 milyar (14.4 persen).2 persen).766 milyar (44.5 persen). perdagangan sebesar Rp 73 milyar (48.9 persen) atau rata-rata perbulan sebesar Rp 85 milyar.371 milyar. jasa-jasa sebesar Rp 1.7 persen).6 persen).0 persen). pinjaman investasi perbankan dalam rupiah dan valuta asing yang disetujui telah mencapai jumlah sebesar Rp 6. pertambangan sebesar Rp 734 milyar (11.6 persen). perdagangan sebesar Rp 223 milyar (3.5 persen). Peningkatan tersebut hemal dari kenaikan kredit di berbagai sektor ekonomi. dan di bidang lain-lain sebesar Rp 581.

314 2.934 121 800 333 4. pembiayaannya tetap disediakan melalui fasilitas kredit likuiditas Bank Indonesia.176 769 115 716 395 1984/1985 Juni Juli 5.304 340 340 150 167 870 884 506 513 1) Sampai dengan Maret 1980.643 562 167 925 532 4. Sehubungan dengan hat itu.605 389 1.1984/1985 ( dalam mityar rupiah ) 1969/1970 Maret 1970/1971 Maret 1971/1972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret Yang disetujui perbankan Pertanian Industri Pertambangan Jasa-jasa 2) Lain .2.199 875 891 2.894 1.571 355 1. baik mengenai besarnya volume kredit yang diberikan maupun mengenai bagian pembiayaan pinjaman. Program kredit untuk golongan ekonomi lemah Untuk mendorong peranan pengusaha golongan ekonomi lemah dalam meningkatkan produksi dalam negeri. termasuk kredit untuk sektor perdagangan 3) Angka sementara.164 1. adalah posisi kredit investasi dalam rupiah pacta bank-bank Pemerintah.602 737 160 899 533 4. Pemberian fasilitas kredit melalui Kredit Investasi Kecil (KIK) dan Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP) kepada pengusaha kecil yang dilaksanakan sejak akhir tahun 1973.092 121 894 365 4.248 579 121 765 448 Mei 5. Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP). dan Kredit Candak Kulak (KCK).003 983 117 663 375 5.755 815 2.190 1. suku bunga serta jangka waktu pinjamannya. Kredit Bimas. 4. Kredit Kecil (KK).650 713 2.359 1.573 753 150 890 532 4.752 243 968 1.579 438 2.242 2.958 1.141 472 4.jasa 2) Lain -lain 32 8 11 1 11 1 17 6 5 1 5 - 78 20 35 22 1 49 13 20 15 1 115 11 61 40 3 77 6 45 25 1 147 12 75 1 54 5 107 8 58 39 2 175 18 84 1 62 10 119 10 61 41 7 198 19 100 66 13 143 13 73 47 10 270 36 110 5 104 15 196 29 82 5 70 10 343 48 137 5 137 16 263 41 97 4 111 10 362 69 143 5 127 18 288 57 109 3 107 12 448 86 154 10 185 13 343 71 118 2 143 9 1) Sampai dengan Maret 1980.806 39 361 71 1981/82 Maret 4. 9 KREDIT INVESTASI PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR EKONOMI.311 117 917 1. adalah posisi kredit investasi dalam rupiah pada bank-bank Pemerintah 2) Termasuk kredit untuk sektor perdagangan 1979/80 Maret 662 114 212 6 306 24 463 78 158 2 207 18 1980/81 Maret 3. Kredit Umum Pedesaan (Kupedes).073 101 645 326 Maret 5.002 84 661 155 3.004 569 581 4.681 852 2.lain Juni 5.0 juta.630 583 2.480 837 129 1.668 522 2.669 564 184 963 536 4. Kredit Pemilikan Rumah (KPR).794 878 2.766 736 734 177 223 975 1.182 99 676 301 1983/1984 Sept Des 5.623 67 521 139 1982/83 Maret 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV. di samping keringanan suku bunga.658 539 2.455 416 1.040 138 984 416 4.054 6.3. kebijaksanaan moDeler perbankan 1 Juni 1983 tetap memberikan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah. kredit investasi sampai dengan Rp 75. Beberapa jenis kredit berprioritas tinggi tersebut antara lain adalah Kredit Investasi Kecil (KIK).222 563 123 773 465 Agust 3) Sept 3) 6. 2) Sampai dengan Maret 1980.340 366 134 813 466 5. melalui pemberian fasilitas kredit perbankan untuk jenis usaha yang berprioritas tinggi.393 617 2.690 792 2.973 49 485 34 3.795 586 587 2. dan kemudahan-kemudahan untuk memperoleh kredit yang diperlukan.579 753 158 916 534 4.670 509 2.225 367 139 827 489 Sektor Yang disetujui perbankan Pertanian lndustri Pertambangan Perdagangan Jasa-jasa 2) Lain -lain Realisasi Pertanian lndustri Pertambangan Perdagangan Jasa-jasa 2) Lain .732 495 2.304 1.648 477 2.6.722 2.694 4. Kredit Koperasi. te1ah mengalami beberapa penyempurnaan.316 632 106 752 431 April 5. 1) 1969/1970 .762 831 2.lain Realisasi Pertanian Industri Pertambangan Jasa .759 219 1.996 644 2. Departemen Keuangan RI 102 .793 734 2.

jangka waktu KMKP ditetapkan 5 tahun dengan masa tenggang 1 tahun. Jumlah kredit likuiditas Bank Indonesia untuk program kredit ini yang semula ditetapkan 80 persen. Jumlah-jumlah tersebut terdiri dari KIK yang disetujui sebesar Rp 872 milyar (29. Mulai 1 Juni 1983 jumlah kredit tersebut ditingkatkan menjadi Rp 15 juta tanpa tambahan plafon. sehingga jumlah maksimum kredit menjadi Rp 15 jtita. jumlah maksimum KIK adalah sebesar Rp 5 juta setiap nasabah dengan suku bunga 12 persen setahun. Jumlah KIK dan KMKP yang disetujui sampai dengan bulan September 1984 tercatat sebesar Rp 2. Dalam periode April-September 1984.7 persen) dengan pyningkatan nasabah sebesar 10 ribu pemohon (4.. atau rata-rata setiap bulannya meningkat sebesar Rp 43.6 persen) dengan 238 ribu pemohon.718 ribu pemohon. Selanjutnya sejak September 1980 plafon KMKP te1ah menjadi Rp 10 juta. dengan jumlah 1. Jangka waktu KIK adalah 8 tahun dengan masa tenggang 4 tahun. dan KMKP yang disetujui sebesar Rp 2. maka dalam perkembangannya hingga bulan September 1980 jumlah maksimum KIK te1ah menjadi Rp 10 juta. daD dengan suku bunga 12 persen setahun.956 ribu pemohon.4 persen) dengan 1. dengan peningkatan permohonan sebanyak 107 ribu pemohon. bat as tertinggi KIK dinaikkan lagi menjadi Rp 15 juta. Departemen Keuangan RI 103 .10. jumlah KIK mengalami peningkatan sebesar Rp 47 milyar (5. dan diberikan tambahan plafon sebesar Rp 5 juta. Dalam bulan Juli 1984. danjangka waktu maksimum 3 tahun. Dengan demikian posisi KIK dan KMKP dalam 6 bulan pertama tahun anggaran 1984/1985 (April-September 1984) menunjukkan pertambahan sebesar Rp 259 milyar (9. di tUrunkan menjadi 55 persen.073 milyar (70. Sejak tanggal 1 Juni 1983. tanpa adanya tambahan plafon. sedangkan KMKP meningkat sebesar Rp 212 milyar (11. sedangkan bagian dana dari bank pelaksana tetap 20 persen.945 milyar.2 milyar dengan 18 ribu pemohon.6 persen). Selanjutnya pada bulan Juli 1984 diadakan penyesuaian dalam kebijaksanaan KIK/ KMKP. serta plafon kredit yang dapat disesuaikan dengan kemampuan pelunasan pinjaman oleh nasabah. sedang sisanya sebesar 25 persen akan dibiayai dengan dana yang berasal dari Bank Dunia. dengan suku bunga 15 persen setahun.Perkembangan KIK dan KMKP dapat dilihat pada Tabel IV.4 persell).0 persen). dengan jangka waktu 3 tahun (yang setiap saat dapat diperpanjang).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Jika pada awal dilaksanakannya. dapat diberikan tambahan plafon sebesar Rp 5 juta. dan plafon kredit yang senantiasa disesuaikan dengan kemampuan pelunasan pinjaman oleh nasabah. dan jangka waktu maksimum 5 tahun. suku bunga 10.4 persen) dengan peningkatan nasabah sebesar 97 ribu pemohon (6.5 persen setahun dengan jangka waktu maksimum menjadi 10 tahun. dengan suku bunga tetap sebesar 12 persen setahun. dan suku bunga 12 persen setahun. Ketentuan jumlah maksimum KMKP pada awal diselenggarakannya program ini adalahsebesar Rp 5 juta rupiah.

679 1.022 2.073 Pemberian Kredit Kecil (KK) yang diselenggarakan sejak tahun 1974. Di samping Kredit Kecil.938 1.830 1.657 1.998 2.454 1.542 1.798 1.697 1. senantiasa ditingkatkan dari waktu kewaktu sesuai dengan perkembangan.814 1.062 1. 1. 1. sejak tahun 1978 telah pula diselenggarakan program kredit Midi untuk pengusaha yang memerlukan kredit dalam jumlah maksimum sampai dengan Rp 500 ribu.578 1.378 1.627 1. Kredit Midi dananya sebagian berasal dari kredit likuiditas Bank Indonesia.961 1.178 1. 761 1.605 . 10 VESTASI KECIL DAN KREDIT MODAL KERJA P YANG DISETUJUI 1973/1974 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.1984/1985 (dalam milyar rupiah) Periode 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember J anuari Pebruari Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September 1) 1) Angka sementara KIK 6 19 34 55 79 113 190 366 421 477 528 571 608 648 685 723 732 741 749 756 766 778 783 790 799 805 819 825 835 847 882 857 860 872 KMKP 4 18 41 75 124 188 349 656 799 958 . Selanjutnya sejak Januari 1984 telah Departemen Keuangan RI 104 .888 1. dan sebagian lagi dari bank pelaksana.725 1. Berbeda dengan Kredit Kecil yang sumber dananya berasal dari APBN.300 1.861 1.

dan meningkatkan usaha-usaha kecil di pedesaan.000. Sampal dengan akhir September 1984. jumlah pertanggungan yang diberikan terhadap.9 milyar untuk 62 ribu nasabah.2 milyar untuk 13 ribu nasabah. baik usaha-usaha yang sebelumnya pernah dibantu dengan fasilitas Kredit Kecil/Kredit Midi. Fasilitas kredit untuk pengusaha kecil ini dikenal dengan Kredit Umum Pedesaan (Kupedes).2 milyar untuk 176 ribu nasabah.5 milyar. fasilitas Kredit Mini dan Kredit Midi masih diteruskan sampai dengan jatuh tempo kredit masing-masing. dana perbankan yang berhasil dihimpun dari masyarakat.8 milyar setiap bulan. dan kredit eksploitasi biasa adalah sebesar Rp 344. Sampai dengan akhir September 1984.-. dan Kredit Midi. Kredit ini dananya berasal dari kredit likuiditas Bank Indonesia. Dengan dikeluarkannya fasilitas Kupedes ini. dan terhadap kredit eksploitasi biasa sebesar Rp 36. Perkembangan Kredit Kecil dan Kupedes dapat dilihat pada Tabel IV.6 milyar. sedangkan permintaan kredit baru dialihkan ke Kupedes. terhadap Kredit Modal Kerja Perman en (KMKP) sebesar Rp236. Dalam hal Kupedes dipergunakan untuk modal kerja dikenakan suku bunga 18 persen setahun.dan maksimum sebesar Rp 1. juga disebabkan beralihnya nasabah Kredit Kecil ke Kredit Umum Pedesaan. yang disebabkan karena selain makin banyak para nasabah mengembalikan kredit dalam periode tersebut. KMKP. Kredit Investasi Kecil (KIK) adalah sebesar Rp 71. dan dana APBN yang telah disalurkan dalam rangka penyelenggaraan program Kredit Keci!. dan 24 persen setahun untuk kredit modal kerja. Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pemberian kredit kepada pengusaha kecil. posisi Kupedes yang diselenggarakan sejak Januari 1984 telah mencapai Rp 88. Fasilitas kredit ini dimaksudkan untuk mengembangkan.5 milyar. dan jangka waktu maksimum 3 tahun. atau rata-rata Rp 9.000. posisi Kredit Kecil tercatat sebesar Rp 14.5 persen ) terhadap posisinya pada akhir bulan Maret 1984 sebesar Rp 36.3 milyar untuk 251 Departemen Keuangan RI 105 . Secara keseluruhan.1 milyar ( 60. dan untuk usaha eksploitasi sebesar Rp 20.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 diselenggarakan program kredit baru yang merupakan pengganti dari program Kredit Kecil.11. jumlah pertanggungan yang diberikan kepada KIK. maupun usaha calon nasabah baru.000. Penurunan tersebut terdiri dari penurunan kredit untuk usaha investasi sebesar Rp 1. Dalam tahun 1984 sampai dengan bulan September 1984. Bagi nasabah yang menunggak pengembalian pinjamannya. dan jangka waktu maksimum 2 tahun.4 milyar atau suatu penurunan sebesar Rp 22.. suku bunga_ya akan dinaikkan masing-masing menjadi 18 persen setahun untuk kredit investasi. Kredit tersebut dapat digunakan untuk investasi dengan bunga 12 persen setahun.6 milyar. PT Askrindo dalam kegiatannya telah menyediakan jasa pertanggungan atas kredit perbankan yang diberikan. Jumlah pinjaman yang diberikan kepada nasabah Kupedes adalah minimum sebesar Rp 25.

dari keseluruhan jumlah pertanggungan tersebut di atas.956 peminjam. Pemberian pertanggungan secara individual terdiri dari nilai pertanggungan di sektor pertanian sebesar Rp 10. dengan peningkatan sebanyak 632 nasabah.000.0 milyar untuk 5 ribu nasabah. PT Bahana sejak tahun 1974 telah pula memberikan bantUan dalam bentuk penyertaan modal. Secara terperinci pemberian pertanggungan secara masal meliputi sektor pertanian sebesar Rp 8.2 milyar untuk 5 ribu nasabah.4 milyar untUk 389 nasabah.0 juta yang terdiri dari kredit penjembatan sebesar Rp 3. perputaran KCK telah mencapai sebesar Rp 162 milyar yang meliputi 13. dan Rp 332. jumlah pinjaman yang dapat diberikan kepada seorang peminjam maksimum adalah Rp 15.-. industri sebesar Rp 23. perdagangan sebesar Rp 1. Guna mendorong kegiatan para pengusaha kecil. sedangkan pada akhir bulan Maret 1984 jumlahnya baru mencapai Rp 150 milyar dengan jumlah 12.6 milyar merupakan pertanggungan kredit yang diberikan secara individual kepada 127 ribu nasabah.7 milyar merupakan jumlah pertanggungan yang diberikan secara masal kepada 124 ribu nasabah. maka untuk meningkatkan pendapatan serta menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat pedesaan dan kota-kota kecamatan.0 juta. Di dalam keseluruhan kredit yang dijamin PT Askrindo.5 milyar untuk 122 ribu nasabah. Kredit ini disalurkan oleh Bank Rakyat Indonesia dengan syarat lunak. Sampai . Menurut sektor ekonomi. Bantuan tersebut terutama dipergunakan untuk usaha di sektor perdagangan dan industri. penyertaan modal sebesar Rp 662. dan di sektor ekonomi lainnya sebesar Rp 18.dengan bulan September 1984.285.682 nasabah.2 juta untuk satU BUUD/KUD.612.1 juta kepada 39 buah perusahaan dan penanaman dana lainnya sebesar Rp 10.000. yang sejak bulan Juli 1982 ditingkatkan menjadi Rp 30.8 milyar untuk 1. sebesar Rp 11.9 juta. Departemen Keuangan RI 106 . PT Bahana telah melakukan penanaman dana sebesar Rp 4. Di samping program-program kredit diatas. termasuk kredit sebesar Rp 0. sejak tahun 1976 Pemerintah menyelenggarakan program Kredit Candak Kulak untuk para bakul/pedagang kecil di pedesaan. jasa-jasa sebesar Rp49. Hal ini berarti bahwa dalam periode AprilSeptember 1984 perputaran KCK mengalami peningkatan sebesar Rp 12 milyar (8.4 milyar untuk 68 ribu nasabah.-.588 peminjam. dan sektor jasa-jasa sebesar Rp 1. maupun dalam bentuk penanaman lainnya.1 milyar untuk 9 ribu nasabah. Sampai dengan akhir bulan September 1984.964 BUUD/KUD yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. perdagangan sebesar Rp 231.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ribu nasabah.9 milyar untuk 40 ribu nasabah. dan bunga yang rendah melalui 4. Pada waktu dimulainya program kredit tersebut.0 persen). pemberian kredit penjembatan.

306 36.708 88. Sampai dengan akhir bulan September 1984.192 11.754 20.773 252.880 12.822 744.624 Guna membantu mengatasi kebutuhan akan perumahan.230 75.824 131.533 57.398 41.404 491.220 .518 31.829 272.250 234.040 756.503 741.934 695.406 224.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.414 56. Pemerintah sejak tahun 1976 menyediakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang disalurkan melalui Bank Tabungan Negara. selama Departemen Keuangan RI 107 .416 Periode 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Januari Pebruari Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September l) 1) Angka sementara.208 757.601 756.266 618.277 2.740 760.438 687.130 445. Bila dibandingkan dengan posisinya pada bulan Maret 1984 sebesar Rp 620 milyar.246 407.879 54.972 2.332 58.662 45.474 353.553 498.902 58.974 450.281 57.029 8.417 unit dibangun oleh rerum Perumnas.065 59.104 57.613 unit rumah yang terdiri dari 92.322 47.599 14.670 16.088 59.340 603.44.741 566.708 710.920 313.855 716.294 393.172 30.968 60. 1974/1975 1984/1985 Kredit Kecil Kredit Umum Pedesaan Jumlah pinjaman Jumlah pinjaman peminjam rupiah ) peminjam rupiah) 61.159 723.509 749.280 82.290 750. 11 KREDIT KECIL DAN KREDIT UMUM PEDESAAN.641 62.673 63.592 63.229 665.256 59.162 50.810 342.411 22.579 71.467 161.689 26.058 15.196 unit dibangun oleh non Perumnas.911 4-9.991 19.783 359.519 296. dan 123.981 398.137 5.932 62.925 62.204 57. 13.603 207.597 702. yang digunakan untuk membangun 215. posisi pemberian KPR mencapai jumlah sebesar Rp 721 milyar.806 766.659 758.

5 persen per rabun.5 sampai 3 kali modal sendiri. bank perkreditan rakyat (BPR). Lembaga-Iembaga keuangan perbankan akan dikembangkan dan diperluas agar pelayanannya dapat menjangkau ke seluruh daerah kabupaten. Usaha untuk meningkatkan bank perkreditan rakyat di dalam rangka membantu pengusaha golongan ekonomi lemah yang berada di pedesaan terus dilakukan dengan pemberian fasilitas kredit likuiditas yang disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI). Untuk tetap meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam membiayai pembangunan. Departemen Keuangan RI 108 . Usaha memperkuat permodalan BPD serta pembinaannya dalam bentuk pemberian bantuan teknis dan pendidikan tetap dilanjutkan. Di samping itu. Hal itu dimaksudkan agar lembaga-lembaga keuangan lebih efektif menjalankan fungsinya sebagai perantara keuangan dalam bentuk mobilisasi daD penyaluran dana-dana masyarakat. Dari jumlah tersebut.896 unit dengan nilai Rp 93 milyar dibangun oleh non Perumnas. dan pedesaan. dan kantor cabang pembantu BPD.1. Lembaga keuangan perbankan Kebijaksanaan Pemerintah untuk mengembangkan dan membina sektor perbankan dalam tahun 1984/1985 merupakan kelanjutan dari kebijaksanaan dalam tahun anggaran sebelumnya yang diarahkan untuk menumbuhkan sistem perbankan yang sehat. sehingga sampai saar ini telah dicakup 27 buah BPD yang tersebar merata di setiap ibukota propinsi. dengan suku bunga 13.4. Dalam tahun 1983/84 bantuan tersebut diberikan kepada 2 BPD. sebanyak 3. Jumlah kredit yang diperoleh daTi BRI adalah antara 1. guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan jasa perbankan terutama di daerah-daerah.882 unit dengan nilai sebesar Rp 8 milyar dibangun oleh rerum Perumnas. Kredit untuk pembangunan rumah oleh rerum Perumnas dananya berasal dari APBN. serta menyempurnakan organisasiorganisasi lembaga keuangan. dalam Repelita IV sasaran kebijaksanaan moDeter diarahkan untuk meningkatkan efisiensi kerja. Pembinaan yang telah dilakukan selama ini terutama diarahkan kepada usaha untuk lebih mengembangkan bank pembangunan daerah (BPD). 4. dan jangka waktu satu tahun. dan berhasil guna dalam menunjang pembangunan nasional. dan 15. Lembaga-lembaga keuangan 4. Pemerintah telah memperlunak persyaratan pendirian kantor cabang.4. sedangkan kredit untuk pembangunan rumah non Perumnas dananya berasal dari dana perbankan.778 unit rumah.3 persen) untuk membangun 19. kecamatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 periode April-September 1984 pemberian KPR telah mengalami peningkatan sebesar Rp 101 milyar (16. dan bank pembangunan koperasi.

Lembaga-Iembaga keuangan bukan bank Lembaga-Iembaga keuangan bukan bank (LKBB) mempunyai peranan penting dalam menunjang pengerahan dana dari masyarakat untuk kemudian menyalurkan dana tersebut bagi kegiatan yang produktip. dan jenis lainnya. yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia terus ditingkatkan. sebanyak 2 bank telah melakukan penggabungan usahanya. dilaksanakan melalui pemberian kemudahan untuk membuka kantor cabang. Dalam rangka memperluas dan memperlancar lalu lint as uang giral. sejak tahun 1982 dilakukan oleh Departemen Keuangan. perluasan kliring lokal di wilayah. dan melakukan penyertaan modal dalam perusahaan-perusahaan. dan pengusaha ekonomi lemah. bank-bank dan lembaga-Iembaga keuangan bukan bank masih tetap dapat menerbitkan surat jaminan bank dalam rangka memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat. Sedangkan tugas LKBB jenis pembiayaan lainnya adalah memberikan pinjaman kepada masyarakat golongan berpenghasilan menengah untuk memiliki rumah. jenis investasi. Tugas LKBB jenis pembiayaan pembangunan terutama adalah memberikan. sedangkan himbauan untUk melakukan penggabungan usaha (merger) terus dilanjutkan. Ada 3 macam jenis LKBB. 4. 14A tahun 1980. Usaha menciptakan pertumbuhan yang lebih seimbang diantara bank-bank umum swasta nasional (BUSN).4. Jumlah kantor cabang pembantu sebagai peserta tidak langsung dari kliring lokal telah bertambah dengan 24 kantor. Dalam tahun 1983/1984. serta agar peranannya selaras dengan kebijaksanaan ekonomi keuangan. disesuaikan dengan tempat dimana bank didirikan terutama mengenai besarnya modal koperasi. sehingga BUSN yang telah mengadakan merger sampai dengan AgustUs 1984 berjumlah 94 bank. sehingga jumlahnya menjadi 80 kantor pacta akhir Juli 1984. tugas pembinaan dan pengawasan LKBB yang semula dilaksanakan oleh Bank Indonesia. yaitu jenis yang bergerak di bidang pembiayaan pembangunan. jumlah tempat penyelenggara kliring lokal tersebut telah bertambah dengan 3 tempat sehingga menjadi 24 tempat. dan kantor cabang pembantu. kredit jangka menengah atau jangka panjang. Dalam tahtm terakhir ini. dan menjamin serta menanggung terjualnya surat-surat berharga (underwriter). Di samping itu Departemen Keuangan RI 109 . Berdasarkan Keppres nomor 29 tahun 1984 sebagai pengganti Keppres no. dan semester I 1984/1985.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Demikian pula sejak Pebruari 1983 tata kerja bank-bank umum yang berbadan hukum koperasi. LKBB jenis investasi terutama melakukan usaha sebagai perantara dalam menerbitkan surat-surat berharga. Untuk lebih meningkatkan peranan LKBB di dalam pengembangan posar uang dan modal.2.

Untuk tahap pertama.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pendirian LKBB tetap hanya diberikan untuk kantor perwakilannya saja. surat-surat berharga yang didiskontokan kepada Bank Indonesia berjumlah sebesar Rp 156 milyar. disertai dengan. Posisi fasilitas diskonto ulang pada akhir Maret 1983 tercatat sebesar Rp 43 milyar. dan 9.0 persen). Dengan berkembangnya perekonomian Indonesia. dan dibeli kembali sebesar Rp 51 milyar.2 persen.5 persen dalam periode yang sarna. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 (sampai dengan Juli 1984). Demikian pula untuk lebih meningkatkan peranan LKBB dalam perdagangan surat-surat berharga. Sedangkan jumlah dana LKBB jenis pembangunan berjumlah sebesar Rp 243 milyar. Penanaman dana dari LKBB sebesar Rp 1.2 persen.2 persen.155 milyar pada akhir September 1984 terse but terdiri dari penanaman dana LKBB jebis investasi sebesar Rp 917 milyar (79. Di lain pihak jumlah dana yang berhasil dihimpun oleh LKBB jenis investasi sampai dengan September 1984 berjumlah sebesar Rp 919 milyar atau 4.155 milyar. Adapun penanaman dana dari LKBB secara keseluruhan selama periode AprilSeptember 1984 mengalami kenaikan sebesar Rp 65.6 persen). yang berarti mengalami kenaikan sebesar 9. Sementara itU jumlah dananya pada periode yang sarna telah meningkat sebesar Rp 58 milyar atau 5. Kedua jenis penanaman dana tersebut.2 persen lebih tinggi dari posisinya sebesar Rp 882 milyar pada akhir Maret 1984. sehingga posisinya menjadi Rp 1. maka mulai ditempuh pula cara pernbiayaan alternatip melalui leasing. atau Departemen Keuangan RI 110 . Leasing adalah kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala. Dengan demikian posisi fasilitas diskonto ulang pada akhir Juli 1984 naik menjadi Rp 8 milyar. Bank Indonesia telah memberikan fasilitas diskonto ulang. Surat berharga yang dapat didiskonto ulangkan kepada Bank Indonesia telah diperluas dengan obligasi. yang secara formal mulai diperkenalkan oleh Pemerintah sejak tahun 1974. berarti posisi fasilitas diskonto ulang menurun menjadi Rp 2 milyar pada akhir Maret 1984.162 milyar. Dengan adanya pembelian kembali suqtt-surat berharga yang lebih besar sejumlah Rp 41 milyar. hak pilih (optie) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan. Dalam tahun 1983/1984.milyar (6.4 persen) dan jenis pembangunan sebesar Rp 238 milyar (20. sehingga posisinya menjadi sebesar Rp 1. jumlah obligasi yang dapat didiskonto ulangkan kepada Bank Indonesia ditetapkan sebesar 70 persen dari nilai nominalnya. dan jumlah surat berharga yang dibeli kembali oleh LKBB adalah sebesar Rp 197 milyar. telah dijual surat-surat berharga kepada Bank Indonesia sebesar Rp 57 milyar. dalam periode April-September 1984 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 5.

berarti telah terjadi kenaikan sebesar Rp 225. asuransi jiwa. pensiunan. peningkatan ini disebabkan adanya peningkatan dana-dana investasi dari sektor-sektor asuransi kerugian dan reasuransi. Sampai saat ini jumlah perusahaan asuransi Departemen Keuangan RI 111 .5 persen). yang selama April-Juni 1984 mencapai sebesar Rp 108. kematian.9 persen).Kegiatan usaha leasing antara lain dapat dilihat dari besarnya nilai kontrak leasingnya.2 milyar. Berdasarkan perkembangan sampai dengan semester I 1984/1985. dan Rp 158. sebagai salah satu sumber pendapatan Pemerintah. 14 perusahaan milik swasta nasional. jumlah perusahaan asuransi kerugian. masingmasing sebesar Rp8. dan masa pensiun. Sampai dengan tahun 1983. dan 26 perusahaan leasing patungan. 4. yaitu asuransi kerugian dan reasuransi. serta asuransi sosial. Kegiatan asuransi meliputi pemberian pertanggungan terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat kebakaran. dan asuransi sosial sebesar Rp 570. Perasuransian Perkembangan perekonomian dalam lahar pernbangunan yang semakin meningkat akan memperluas bidang-bidang usaha perasuransian. yang berasal dari dana-dana investasi asuransi kerugian. maka dalam tahun 1984 terdapat peningkatan kegiatan leasing yang cukup besar.5 milyar (33.8 milyar (52. sebagai alar pernupukan modal.4 persen). 3 buah diantaranya merupakan perusahaan milik negara. pengangkutan.3. Sejak diselenggarakannya sampai dengan akhir semester I 1984. dan reasuransi kerugian adalah sebanyak 68 buah. Dibandingkan dengan nilai kontrak leasing dalam periode yang sarna tahun lalu sebesar Rp 47. asuransi jiwa. Bila hal ini dibandingkan dengan dana investasi dari sektor asuransi dalam tahun 1982. kesehatan tenaga kerja. dan asuransi sosial. jumlah perusahaan leasing telah mencapai 41 perusahaan yang terdiri dari 1 perusahaan milik negara. dan bea siswa.4 milyar.2 milyar (5. jumlah dana investasi dari sektor asuransi telah mencapai jumlah sebesar Rp 900.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersarna. Industri asuransi mempunyai beberapa fungsi. antara lain menanggung resiko. maupun sebagai penyerap tenaga kerja.1 milyar sedangkan jumlah tagihan bersih yang harus dibayar dalam periode yang sarna hanya berjumlah sebesar Rp 21. Kegiatan ini di Indonesia dapat digolongkan ke dalam 3 golongan. 53 buah milik swasta nasional. dan 12 buah milik patungan.4 persen\ Rp 58. asuransijiwa sebesar Rp 169.5 milyar (38.2 milyar.1 milyar. dan reasuransi sebesar Rp 159.5 milyar. yang pada gilirannya akan membawa kernajuan kegiatan di bidang perasuransian. Jumlah premi bersih yang diterima selama semester f1984/1985 adalah sebesar Rp 52.9 milyar.9 milyar.4. Asuransi jiwa bertalian dengan pemberian jaminan terhadap resiko yang timbul terhadap kematian.

0 milyar (36. sehingga jumlah premi untuk tahun 1983 berjumlah Rp 114. atau rata-rata setiap tahun sebesar 4.1 persen). yakni dari posisinya sebesar Rp 411.3 milyar.821 ribu orang.7 persen setiap tahunnya. sampai dengan tahun 1983 mencapai sebesar Rp 169.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jiwa yang ada di Indonesia.4 milyar (39. Perkembangan perusahaan asuransi so sial menunjukkan gambaran adanya pembinaan serta penyempurnaan yang dilakukan terhadap perusahaan tersebut. sedangkan pada tahun 1978 baru mencapai 1. Jumlah premi dalam periode yang sarna mengalami kenaikan dengan 59. Kalau dibandingkan dengan jumlah dana investasi dalam tahun 1978.9 milyar.3 persen). Dengan demikian selama 5 tahun terse but terjadi kenaikan sebesar 24. sedangkan dalam tahun 1983 saja tercatat peningkatan sebesar Rp 158. dan jenis-jenis investasi lainnya.1 persen). sedangkan pengusaha asing dapat melakukan usaha patungan dengan perusahaan asuransi jiwa nasional yang ada.2 milyar (96.969 milyar. Jika dalam tahun 1978 pesertanya adalah sebanyak 2.7 persen).0 milyar diinvestasikan dalam pinjaman polis. atau rata-rata setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar Rp 348.5 milyar (38. Selama periode 5 tahun. atau rata-rata Rp 28.8 milyar (52. Perkefnbangan dana investasi yang dilakukan perusahaan asuransi sosial juga meningkat.4 persen. investasi perusahaan asuransi jiwa telah meningkat sebesar Rp 140.633. Sementara itu jumlah dana investasi asuransi jiwa yang ditanam dalam bentuk deposito.308 ribu orang. Dalam periode yang sarna.9 persen.9 milyar (484.760 buah.8 persen setiap tahunnya. Jumlah nilai pertanggungannya dalam periode yang sarna juga menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 58. dan Rp 38.741.817. termasuk Koperasi Asuransi Indonesia (KAI). sehingga posisinya dalam tahun 1983 menjadi Rp 1. Jumlah peserta asuransi sosial sejak tahun 1978 sampai dengan 1983 naik rata-rata 21.259.4 milyar pada tahun 1983.9 persen) setiap tahunnya. Sedangkan dalam tahun 1983 tercatat peningkatan sebesar Rp 58. Perkembangan usaha asuransi jiwa pada saat ini terlihat pada jumlah polis yang dalam tahun 1983 berjumlah 2. Pemerintah telah memberikan kesempatan kepada pengusaha nasional untuk mendirikan perusahaan asuransi jiwa baru.906 buah.7 milyar setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut Rp 80.4 milyar diantaranya diinvestasikan dalam deposito. Perkembangan dana investasi dari Departemen Keuangan RI 112 .8 milyar (195. pinjaman polis.8 milyar dalam tahun 1983.9 milyar dalam tahun 1982. jumlah uang pertanggungan asuransi jiwa telah meningkat sebesar Rp 1. sehingga jumlahnya menjadi sebesar Rp 2. Dalam tahun 1983 saja jumlah pertanggungan meningkat sebesar Rp699. dana investasi meningkat sebesar Rp 95. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 4.9 persen).1 persen pertahun.5 persen). adalah sebanyak 15 perusahaan. menjadi Rp 570.

714 900.4.4.073 4.085 29. sejak Juni 1983 bank dan LKBB yang ingin menjadi pedagang efek diwajibkan menyisihkan modal usaha sekurang-kurangnya Rp 250 juta.103 2.743 11.709 110. Pajak alas bunga.405 411.004 126. dan perorangan harus mempunyai modal disetor atau modal sendiri sekurang-kurangnya Rp 100 juta.344 5.946 Asuransi sosial 1.1983 ( dalam juta rupiah) kerugian reasuransi 1. sehingga tarip pengenaan efektip adalah 10 persen yang bersifat pungutan final.756 4.911 10. Di samping itu guna meningkatkan kegiatan perdagangan efek.812 23.475 8.560 2. Pasar Modal Dalam rangka meningkatkan peranserta masyarakat dalam pemilikan saham.889 12. Selanjutnya Departemen Keuangan RI 113 .253 674.163 3. dividen dan royalty yang terhutang alas pembayaran bunga dan hadiah obligasi diberikan keringanan berupa tidak ditagihnya sebesar 50 persen.531 314. Pembelian obligasi tidak dapat dipergunakan baik secara langsung maupun tidak langsung sebagai dasar pengenaan pajak mengenai masa sebelum pembelian. 1969 .926 7.288 151. Pemerintah senantiasa berusaha untuk menyempurnakan tala cara perdagangan efek di bursa. dan badan usaha yang membeli obligasi yang telah memperoleh ijin dari Menteri Keuangan tidak dilakukan pengusutan fiskal.264 18.322 25.391 Periode 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1) 1) Angka sementara Jumlah 2.542 47.246 105.198 4.333 36.693 4. Sedangkan bagi badan hukum lainnya yang berbentuk PT.405 83.560 111.527 7.531 296.983 77.903 570.051 2.267 92. DANA INVESTASI DARI SEKTOR ASURANSI.827 18.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sektor asuransi dapat diikuti dalam Tabel IV.861 Asuransi jiwa 30 222 404 961 2.188 21.530 39.398 72.182 169. Sejak Januari 1983 telah diadakan penyempurnaan ketentuan mengenai pemberian keringanan perpajakan bagi perorangan.064 40.481 54.182 485.939 177.609 59.872 8.631 3. dan obligasi yang diterbitkan perusahaan atau badan usaha. Tabel IV.629 159.198 60.12.192 15. Sejak bulan Juli 1983 telah dipercepat tala cara penyelesaian transaksi efek di bursa dari 14 hari menjadi 4 hari.549 222.882 160.247 32.

Perkembangan perusahaan-perusahaan/badan-badan usaha yang telah memasyarakatkan saham dan obligasi melalui posar modal dapat diikuti dalam Tabel IV.8 milyar. dan badan usaha itu telah menyerap dana masyarakat melalui pasar modal sebesar Rp 285. 23 buah diantaranya menerbitkan saham sejumlah 57.7 milyar. berarti pasar modal di Indonesia mulai memasuki tahap lanjut dalam perluasan transaksi modalnya. Penerbitan berbagai jenis sertifikat saham PT Danareksa berkaitan erat dengan tujuan menyebarluaskan pemilikan sertifikat kepada masyarakat. Dalam tahun 1983/1984 dan semester I 1984/1985.5 milyar. serta obligasi yang dikeluarkan oleh badan usaha milik negara. Berdasarkan harga penawaran perdana. Di samping itu Pemerintah telah membebaskan pajak penghasilan alas dana pensiun yang ditanam dalam bentuk saham. Departemen Keuangan RI 114 . maka sampai dengan Agustus 1984.5 milyar. kedua puluh enam perusahaan.2 juta lembar saham dengan nilai emisi .3 milyar.420 ribu sertifikat dengan nilai Rp 72. Rp 130.14. sejak diaktipkannya kembali bursa efek di Indonesia pada bulan AgustUs 1977. PT Danareksa telah menerbitkan dua jenis sertifikat yaitu sertifikat saham dan sertifikat dana. jumlah perusahaan yang telah terdaftar adalah sebanyak . telah disetujui permohonan 8 perusahaan untuk memasarkan sahamnya. terutama yang berpenghasilan rendah.115 ribu lembar dengan nilai sebesar Rp 60.230 lembar dengan nilai Rp 154. dan menengah.26 buah. Adapun perusahaan/badan usaha yang menerbitkan obligasi sampai dengan Agustus 1984 adalah PT Jasa Marga (di bidang jalan tol).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tidak dilakukan lagi penagihan pajak penjualan dan pajak perseroan yang terhutang dari hasil penerimaan bunga dan hadiah obligasi. dan efektif.13 dan Tabel IV. dan PT Papan Sejahtera (di bidang perumahan). yang seluruhnya berjumlah 7. Dengan demikian. dan 1 perusahaan untuk memasarkail obligasi melalui posar modal. Berbagai kegiatan promosi dan penelitian telah ditingkatkan untuk menjadikan pasar modal sebagai sarana pembiayaan yang potensial. dan 3 buah badan usaha menerbitkan obligasi sebanyak 263. Jumlah sertifikat saham dan sertifikat dana yang berada di masyarakat sampai dengan akhir tahun 1983/1984 adalah sebanyak 6. Bank Pembangunan Indonesia (di bidang perbankan). Dengan mulai diterbitkannya obligasi. Sampai dengan Agustus 1984. dan sertifikat dana yang diperdagangkan di luar bursa.

475 3.421.669.425 2.050 1. PT Semen Cibinong . PT Hotel Prapatan 23.10 119.500 7.680.250 3.10 36.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.108 29.175 1.724.50 3.40 5. PT Unitex 12. PT Panin Union Insurance Ltd 19. PT Richardson Vicks Indonesia 6.639.237. PT Sucaco 13.920.000 6.570 3.Emisi II 3.520.660.184 10. PT Sari Husada 18.096 7. PT Pfizer Indonesia 21.10 118.208 43. PT Tificorp 5.10 113.096 673.147.60 47.116 214.055.762.421.957.60 3.000 1.749. PT Merck Indonesia 8.30 98.000 3.562.526.00 7.250 1. PT Goodyear Indonesia 7.096 9.10 116.000 584.10 35.708 48.637.00 81.40 29.10 10.850. PT BAT Indonesia 4.281.00 16.020.000 1.135.481.Emisi II 15.20 7.751.600.550 1.8 806.90 1.665.000 765.584 57.Emisi I .716.952.000 1.400 1.500 3.162.822.605.022.690.000 1.00 84.660.012 9.208 48.500 4. PT Asuransi Jiwa Panin Putra 17.00 83.009.067.834.600 342.90 5.Emisi II 2.00 3.708 45.8 1.500 600.900 1.708 46.467.667.257.362.000 360.100 1.980 116.1.Emisi I .096 17.00 1.519.325 3.100.317. PT Jakarta International Hotel .10 27.927.Emisi I .275 1.540 1.000 6.000 1.096 15.90 120.060.975.000.950 1.10 7.00 1.541.000 733.080.608 36.924.475 1.116 557.050 2.020.750 5.500 3. PT Panin Bank Indonesia .618.722.005.096 20.500 5.192.150 1.950 1.30 9.20 3.90 3.800.412.90 117.857.708 40.096 1.716.00 5.976 6.200.00 7.000 347.324.90 638 2.226.000 2.600.096 8.60 52. PT Sepatu Bata Indonesia 11.10 115.000 2.50 110.084. 13 PERUSAHAAN-PERUSAHAAN/BADAN USAHA YANG TELAH MEMASYARAKATKAN SAHAM MELALUI PASAR MODAL SAMPAI DENGAN AGUSTUS 1984 Jumlah Harga Nilai pasar Perusahaan emisi Kumulatif penawaran Perdana Kumulatif (lembar) (lembar) (Rp/lembar) (Juta Rp) (Juta Rp) 1.600.60 109. 342.081.696. PT Bayer Indonesia 14.2 855 .708 47.210.398.200.850 1.150.90 89. PT Centex .608 38.014.000 1.024.500 972. PT Delta Jakarta 22.608 50.280.000 16.800.500.079. PT Multi Bintang Indonesia 9.000 523.20 130.108 31.580.10 Departemen Keuangan RI 115 .867.108 31.080.708 44.30 11.687. PT Regnis Indonesia 20. PT Unilever Indonesia 10.100 1.10 43.00 1.205.00 879. PT Squibb Indonesia 16.618.208 48.642.530.00 1.90 92.

0 milyar (23.0 milyar dan Rp 24.845.00 68.000 5. Dengan demikian posisi jumlah uang beredar.00 154.000 10.125.000 1.500.0 milyar.250.000 15.000 5.800. Departemen Keuangan RI 116 .000 1.00 Perusahaan PT Jasa Marga I Bank Pembangunan PT Papan Sejakhtera PT Jasa Marga II Jumlah 4.00 6.00 65 260 1.0 persen). 300 2.00 4. sedangkan kredit perbankan bertambah dengan Rp 4.600 2.00 2.00 2.550.650 1.960 960 1.000 24.00 150 600 2.408.00 10 50 100 840 1.7 persen).250 6. Pada akhir tahun 1984/1985 jumlah uang beredar dan kredit perbankan diperkirakan sebesar Rp8. Dalam tahun 1985/1986 jumlah uang beredar diperkirakan akan bertambah dengan Rp 1.221. dan kredit perbankan pada akhir tahun 1985/1986 diperkirakan mencapaijumlah Rp 10.500.000 50 100 500 1.000 400 200 1.000 46. 14 PERUSAHAAN-PERUSAHAAN/BADAN USAHA YANG TELAH MEMASYARAKATKAN OBLIGASI MELALUI PASAR MODAL (Januari 1983 sId Agustus 1984) Jumlah emisi Pecahan Harga nominal (lembar) Harga Perdana Nilai Harga (ribu Rp) (juta Rp) 125.000.943.00 5.0 milyar. dan Rp 19.550 4.000 1.000 10 100 500 1.960.164.230 10 50 100 1.000 10.00 2.000. bahwa kenaikan Darga dalam tahun 1985/1986 tidak banyak berbeda dibandingkan dengan tahun 1984/1985.000 10.000.00 24.000 10 50 100 500 1.718.300.800 6.5.0 milyar.000.000 4.000 6.000 10.0 milyar (13. Perkiraan jumlah uang beredar dan kredit perbankan tahun 1985/1986 Perkiraan jumlah uang beredar didasarkan pada anggapan-anggapan.00 2.500 1.00 10.000 1.000.680 1.000.410.00 2.250.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.00 16.565.080 2.000 5.500 5.800 263.

2. masing-masing diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 7.4 persen dan 2. Di kawasan Asia Tenggara.6 persen.1 persen dan nol persen dalam tahun 1983. Departemen Keuangan RI 117 .2 persen dalam tahun i982 menjadi 2.7 persen. Keadaan ini menempatkan mereka sebagai negara-negara yang mempunyai laju pertumbuhan yang relatif lebih cepat di antara kelompok negara-negara industri utama. masing-masing diperkirakan sebesar 5.9 persen. secara keseluruhan produk nasional bruto (GNP) negara-negara industri dalam tahun 1984 diperkirakan dapat meningkat kembali menjadi 4. sehingga kalau diukur dan pertambahan produk nasional bruto (GNP). Sebaliknya Inggris diperkirakan justru mengalami penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi menjadi 2. 3.4 persen. Kanada dan Jepang mengalami peningkatan kegiatan yang lebih tinggi.5 persen. Dengan dicapainya perluasan kegiatan tersebut. Dengan tingkat pertumbuhan yang dicapai oleh masing-masing negara industri tersebut. Italia dan Perancis diperkirakan sedikit mengalami peningkatan yaitu masingmasing sebesar 2. Sebagai akibatnya. Jepang dan Kanada dalam tahun 1984 berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan ekonominya.5 persen dan 1.1 persen dan sebesar 5. setelah dalam tahun sebelumnya mengalami perbaikan dari sebesar negatif 0.2 persen dalam tahun 1983. Pendahuluan Memasuki tahun pertama Repelita IV. Amerika Serikat.6 persen daiam tahun 1983. Sementara itu negara-negara industri lainnya seperti Jerman Barat.0 persen dan 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB V NERACA PEMBAYARAN DAN PERDAGANGAN LUAR NEGERI 5. proses peningkatan kegiatan yang berlangsung dalam tahun 1984 belum secara merata terjadi pada semua negara industri. Tanda-tanda perbaikan ekonomi yang telah mulai tampak dalam tahun terakhir Pelita III belumlah sepenuhnya berkembang seperti yang diharapkan. sementara kegiatan di negara-negara industri lainnya hanya menunjukkan sedikit perbaikan.3 persen. dari sebesar 3.1. produk nasional bruto negara-negara berkembang pada pelbagai belahan bumi seperti di Asia. Sejalan dengan pertumbuhan yang dicapai negara-negara industri. sehingga pengaruh positifnya masih dirasakan terbatas bagi kemajuan ekonomi negara-negara berkembang. perkembangan ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih dan resesi yang berkepanjangan. 1. negara-negara ASEAN seperti Thailand. Afrika dan Amerika Latin juga mengalami peningkatan. 5.3 persen.6 persen. Amerika Serikat.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Malaysia dan Singapura diperkirakan berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya masing-masing dari sebesar 5.4 persen dalam tahun 1983 menjadi negatif 6.6 persen. Jepang dengan laju inflasi yang diperkirakan sebesar 0.2 persen.0 persen dalam tahun 1984. Dengan arah perkembangan tersebut.9 persen. Kanada. dengan masing-masing diperkirakan sebesar 2.3 persen.0 persen dalam tahun sebelumnya.6 persen. dan 11. dan terciptanya iklim usaha yang menguntungkan hanya mungkin dicapai jika laju inflasi dapat dipertahankan pada tingkat yang terkendali.7 persen dalam tahun 1983. Peningkatan kegiatan-kegiatan tersebut se1anjutnya mendorong perluasan kesempatan kerja. tingkat inflasi rata-rata dalam tahun 1984 di negaranegara industri secara keseluruhan diperkirakan dapat diturunkan menjadi 4. Terpeliharanya stabilitas. Sementara itu Jerman Barat be1um dapat menurunkan angka pengangguran dari tingkat 8. Sebaliknya Inggris.0 persen dalam tahun 1984.9 persen dalam tahun 1983 menjadi sebesar 6. masih tetap merupakan negara dengan tingkat pengangguran terendah di antara ke1ompok negara-negara industri utama.0 persen dan 4.0 persen. peningkatan produksi. dari 9. Dalam tahun 1984.5 persen.6 persen dalam tahun 1984 dibandingkan dengan 8.6 persen.9 persen dan 10. tingkat pengangguran rata-rata di tujuh negara industri utama diperkirakan menurun.9 persen dalam tahun sebe1umnya. Pertumbuhan ekonomi dunia tersebut dapat dicapai dengan adanya perluasan kegiatan investasi. dan Perancis justru sedikit mengalami kenaikan dalam tingkat penganggurannya.3 persen dalam tahun 1984.9 persen dari 15. Jepang dengan penurunan angka pengangguran yang diperkirakan menjadi 2.8 persen dan 7.0 persen. yaitu menjadi 7.7 persen dan 8. Sedangkan negara-negara lainnya seperti Jerman Barat. serta perkembangan aktivitas di bidang perdagangan antarnegara.3 persen dari 5. Penurunan yang sarna dialami pula oleh Amerika Serikat dan Kanada masing-masing diperkirakan menjadi 7. 9. sehingga angka pengangguran dapat lebih dikendalikan selaras dengan kemajuan ekonomi yang dicapai masing-masing negara. dan Inggris te1ah dapat menu runkan tingkat inflasinya di bawah lima persen. 4.8 persen. Sebaliknya Departemen Keuangan RI 118 . dan 11.3 persen dalam tahun 1983. Melalui kebijaksanaan pengendalian moneter. Italia dengan berbagai upaya diperkirakan telah berhasil menurunkan laju inflasi ke tingkat 11. 5. Italia. Sementara itu meskipun masih merupakan negara dengan tingkat inflasi tertinggi di antara negara-negara industri. Di antara negara-negara industri tersebut. dari 2. Sedangkan Philipina justru diperkirakan mengalami penurunan dalam tingkat pertumbuhan ekonominya dari 1. yaitu masing-masing menjadi 12. 6.8 persen.0 persen dalam tahun sebelumnya. merupakan negara yang paling berhasil mempertahankan tingkat stabilitas ekonominya.

yaitu sebesar 13 persen jika dibanding dengan tingkat sebesar 11. terutama Amerika Serikat. Terkendalinya laju inflasi bagi terciptanya iklim usaha yang mendukung peningkatan kegiatan ekonomi tersebut diusahakan dengan pengendalian jumlah uang beredar. Kebijaksanaan ini yang dipertajam oleh upaya pemerintah negara-negara industri. Pound Sterling-Inggris.5 persen dan 3.5 persen. maupun Singapura. dari sebesar 3. Hongkong.8 persen dalam tahun sebe1umnya.7 persen dan 1. Asia dan Amerika Latin diperkirakan dapat dikendalikan masing-masing ke tingkat sebesar 12. yang pada gilirannya telah mempercepat tingkat perluasan kegiatan ekonomi negara terse but. Guilder Belanda.3 persen dalam tahun 1983. seperti yang dicapai oleh LIBOR maupun SIBOR dalam bulan September tahun 1984. dan tingginya tingkat suku bunga yang timbul sebagai akibat kebijaksanaan yang diambil dalam proses penyesuaian oleh beberapa negara industri di lain pihak.2 persen dalam tahun 1983. dan Singapura diperkirakan sedikit mengalami kepaikan. diperkirakan justru mengalami sedikit kenaikan yaitu diperkirakan menjadi 3. Keadaan ini menimbulkan ketidakstabilan pasar valuta internasional.5 persen. Perbedaan tingkat kegiatan ekonomi di satu pihak. Sepadan dengan hasil pengendalian yang dicapai oleh negara-negara industri. Philipina diperkirakan mempunyai angka inflasi yang paling tinggi. masing-masing menjadi 4. Adapun tingkat inflasi negara-negara ASEAN seperti Malaysia. 7.0 persen. Amerika Serikat. dan mengakibatkan berbagai matauang kuat dunia seperti Mark Jerman.5 persen dalam bulan Juli 1981. yaitu 45. dan mendorong timbulnya kesenjangan yang makin lebar dengan negara-negara industri terkemuka lainnya. baik di Eropa. Sementara itu Thailand diperkirakan mampu mengendalikan angka inflasinya pada tingkat 3.0 persen. Yen Jepang. Dollar Departemen Keuangan RI 119 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Amerika Serikat sekalipun tingkat inflasinya masih di bawah lima persen. Suku bunga nasabah utama di Amerika Serikat (US Prime Rate) mengalami peningkatan lebih tinggi dibanding dengan kenaikan suku bunga antar bank baik di London (LIBOR) maupun di Singapura (SIBOR). laju inflasi negara-negara berkembang di Afrika. Franc Perancis.0 persen. untuk menarik dana masyarakat sebagai cara menutup defisit anggaran belanjanya telah mengakibatkan bertahannya suku bunga riil pada tingkat yang cukup tinggi. mendorong semakin kuamya nilai tukar matauang Amerika Serikat terhadap pelbagai macam matauang asing (currency) lainnya. Perbedaan yang terdapat pada perkembangan tingkat suku bunga ini mengakibatkan mengalirnya dana investasi masuk ke Amerika Serikat. US Prime Rate tetap bertahan pada tingkat yang cukup tinggi.9 persen dari 3. Sekalipun tidak sebesar ketika suku bunga mencapai tingkat tertinggi yaitu sekitar 20.0 persen dalam tahun 1984 dibandingkan dengan 10.1 persen dan 12.

sedangkan negara-negara industri lainnya seperti Jerman Barat. masing-masing menjadi sebesar US $ 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Singapura dan Dollar Kanada mengalami kemerosotan nilai (depresiasi) yang cukup besar. Inggris dan Kanada diperkirakan mengalami penurunan surplus.7 milyar. dan tingginya tingkat suku bunga. dan mekanisme pembayaran dunia.4 milyar dalam tahun 1984.5 milyar dalam tahun 1983 menjadi US $ 35. Jepang diperkirakan mengalami kenaikan surplus. dari sebesar US $ 3. Sementara itu.4 milyar dan US $ 1. Kecenderungan tersebut menimbulkan rangkaian akibat terhadap perkembangan perdagangan dunia dalam tahun 1984. persetujuan pembatasan ekspor. makin ketatnya pengendalian moneter. besarnya defisit anggaran belanja. Besamya defisit neraca perdagangan di satu pihak.9 milyar. sedangkan volume ekspornya dalam periode terse but hanya meningkat sebesar 8. di samping mewarnai ketidakpostian situasi moneter intemasional juga telah mengakibatkan terganggunya keseimbangan sistem moneter. tindakan penyesuaian nilai tukar matauang. Usaha mencegah semakin besarnya defisit transaksi berjalan ke arah keseimbangan neraca pembayaran. mengakibatkan defisit transaksi berjalan negara-negara industri secara keseluruhan dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami kenaikan. US $ 4.9 milyar dalam tahun sebelumnya. yaitu menjadi US $ 52. serta perkembangan yang terdapat pada lalu lintas transfer.8 milyar dalam tahun 1983 menjadi sebesar US $ 2. daTi US $ 20.0 milyar dalam tahun 1984.9 persen.2 milyar dan Dol milyar dollar Amerika.5 milyar dari sebesar US $ 18. seperti penentuan kuota impor. dan jasa-jasa di lain pihak. Amerika Serikat diperkirakan mengalami kenaikan defisit yang cukup besar. sehingga defisit neraca perdagangan mereka menjadi semakin besar.4 milyar dalam tahun sebelumnya. Melihat perkembangan transaksi berjalan negara-negara industri tersebut. terpaksa menempuh kebijaksanaan devaluasi sekaligus melakukan pengambangan atas dasar sekelompok matauang asing (currency-basket) negara-negara rekan dagangnya yang utama. seperti Thailand. Upaya tersebut dilakukan baik dalam bentuk kenaikan tarif maupun dalam bentuk kebijaksanaan bukan tarif.0 milyar dalam tahun 1984. Ketidakstabilan kurs dollar Amerika.6 persen. Volume impor negara-negara industri dalam tahun 1984 diperkirakan meningkat dengan 11. Departemen Keuangan RI 120 .6 milyar dalam tahun 1983 menjadi sebesar US $ 90. yaitu dari US $ 41. menimbulkan kecenderungan makin meningkatnya tindakan proteksionisme yang dilakukan oleh negaranegara industri sebagai upaya untuk melindungi industri dalam negeri masing-masing terhadap persaingan barang-barang sejenis daTi negara lain. peraturan kesehatan dan lain-lain. US $ 2. persyaratan mutu. Di lain pihak hal ini mengakibatkan beberapa negara yang sampai sekarang masih mendasarkan nilai tukar tetapnya terhadap dollar Amerika Serikat. Di lain pihak defisit transaksi berjalan Perancis diperkirakan sedikit dapat diperbaiki dari US $ 3.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Proteksionisme dalam segala bentuknya ini merupakan penghambat bagi dayaguna (effisiensi) perdagangan antarnegara. Perkembangan ini menjadikan posisi perbandingan pertukaran (terms of trade) negara-negara berkembang mengalami peningkatan dari negatif 3.3 persen dalam tahun 1984. Perkembangan perdagangan dunia. di samping memperlangka dana yang dapat dipinjamkan. maka volume perdagangan dunia dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. volume. tetapi masih belum seperti yang diharapkan. dan nilai ekspor maupun impor negaranegara berkembang secara keseluruhan. juga mempermahal biaya peminjaman di berbagai pusat keuangan internasional. sekalipun harga kelompok barang-barang industri mengalami perbaikan. menyebabkan menumpuknya beban hutang negara Departemen Keuangan RI 121 . Kesenjangan yang masih terdapat antara permintaan dan penawaran minyak dunia. Besarnya kebutuhan dana untuk membiayai pembangunan. Inggris dan Nigeria. Kesemuanya itu telah menyebabkan terganggunya keseimbangan posar. dan sangat membatasi ekspor dari negara-negara berkembang.5 juta barrel menjadi sebesar 16. Menghadapi situasi demikian.5 persen dalam tahun 1983 menjadi sebesar 0. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam sidang daruratnya yang berlangsung dalam bulan Oktober 1984 di Jenewa. Dengan perkembangan ekspor. namun masih lebih rendah dad harga yang dicapai oleh kelompok barang primer non minyak. dan mengakibatkan timbulnya penurunan harga seperti yang telah dilakukan oleh Norwegia. dan negara-negara berkembang tersebut. telah mendorong harga beberapa barang primer non minyak tetap ke arab yang lebih baik. sekalipun diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. serta menetapkan ketentuan kuota baru bagi negara-negara anggotanya. serta berhasilnya penghematan (konservasi) energi minyak.2 persen dalam tahun 1983 menjadi 0. walaupun tidak sebaik dalam tahun 1983. Sebaliknya negara-negara industri diperkirakan mengalami penurunan dari sebesar 2. Meskipun demikian. dan penawaran minyak hasil produksi negaranegara di luar OPEC. dalam rangka menjaga kestabilan harga minyak. dengan jalan mengurangi produksi dari batas tertinggi 17. dan perbandingan pertukaran serta keadaan posaran minyak seperti yang diuraikan di atas.1 persen dalam tahun 1984.0 juta barrel per hari. memutuskan untuk tetap mempertahankan harga pada tingkat yang berlaku sekarang. dan beberapa negara berkembang. dan kecenderungan yang terjadi pada moneter internasional. dipertajam pula oleh peleposan cadangan. dan menutup defisit neraca pembayaran. sedangkan di lain pihak. serta lesunya ekspor kebanyakan negara-negara berkembang. adanya sedikit peningkatan kegiatan ekonomi di pelbagai negara industri. dan impor di negara-negara industri. Berdasarkan perkembangan barga. yang selanjutnya mengakibatkan tertekannya pertumbuhan perdagangan dunia dalam tahun 1984.

maupun sebagai jawaban terhadap tuntutan keadilan sosial dalam hubungan ekonomi antarbangsa. Persetujuan Umum ten tang Tarif dan Perdagangan (GATT). Kecenderungan ini diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berkembang yang meningkat secara cepat dari US $ 478. Kesadaran itu menempatkan masalah pemulihan kembali ekonomi dunia menjadi tanggung jawab bagi semua negara sehingga upaya pemecahannya memerlukan kerjasama yang sungguhsungguh.1 milyar dalam tahun 1984. yang pada gilirannya telah menimbulkan masalah likuiditas perbankan internasional. maupun antara negara industri dan negara berkembang. serta penanganan secara tuntas melalui berbagai perundingan yang sedang berlangsung. baik untuk kestabilan ekonomi dunia yang lebih mantap. maupun Dialog Utara-Selatan. dan berkembang. tuntas dan mantap terus diusahakan melalui perundingan-perundingan. Terciptanya Tata Ekonomi Dunia Baru (TED B) merupakan kebutuhan mendesak. US $ 728. Hal tersebut disebabkan karena resesi yang timbul dewasa ini an tara lain bersumber dari kerawanan dan ketidakseimbangan struktural di semua aspek yang berakar pada tatanan lama. sehingga mereka lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman baru. antarnegara berkembang. Namun demikian kenyataan saling ketergantungan antara negara-negara maju. yang berlangsung dalam bulan Juni 1984 di London. serta turunnya ekspor di lain pihak telah menyebabkan debt-service-ratio (DSR) negara-negara terse but menjadi semakin tinggi. Pelbagai indikator ekonomi. Dengan diawali oleh Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) tujuh negara industri terkemuka. dan moneter internasional tersebut di atas menimbulkan kesadaran akan semakin tingginya tingkat ketergantungan timbal balik. Dana Moneter Internasional (IMF). dan tantangan yang dihadapi. baik antarnegara industri. Forum perundingan dan kerjasama intemasional seperti dalam pertemuan Bank Dunia (IBRD). Konperensi Perserikatan Bangsa-bangsa dalam Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD). dan membahayakan operasi bank-bank pemberi pinjaman.6 milyar dalam tahun 1979 menjadi US $ 830. dan akan merupakan salah satu penghambat ke arah pemulihan ekonomi dunia. dan kerjasama dalam berbagai forum internasional. Keadaan ini mengakibatkan beberapa negara berkembang mengalami kesulitan dalam melunasi kembali hutang-hutangnya. upaya mencari jalan keluar dari resesi ke arah pemulihan kembali ekonomi dunia secara menyeluruh. menjadi teramat penting sebagai sarana perjuangan bagi semua negara untuk menegakkan tatanan ekonomi dunia baru yang lebih adil. yang dirasakan sudah tidak sesuai dalam menjawab masalah. Sementara itu besarnya kewajiban pengembalian bunga maupun cicilan hutang di satu pihak.9 milyar di antaranya merupakan hutang negara-negara berkembang bukan pengekspor minyak. Dari jumlah tersebut. yang merupakan dasar untuk Departemen Keuangan RI 122 .

Colombia dan Republik Dominika. dan sedang berjalan bagi terwujudnya TEDB. Kelompok 77. moneter dan keuangan. dan lembaga-Iembaga internasional memberi kelonggaran waktu bagi negara-negara peminjam untuk membayar kembali hutangnya. dan lain sebagainya. Usaha peningkatan kerjasama tersebut dilakukan melalui berbagai forum internasional pada tingkat bilateral dan multilateral. Hal ini mengakibatkan kelambanan terus mewarnai berbagai negosiasi yang sudah. pengembangan kerjasama ekonomi antarnegara berkembang (kerjasama selatan-selatan) lebih diarahkan untuk mencapai kemandirian individual. Departemen Keuangan RI 123 . Chili. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk mendesak negara. dan bertahan lama. dan lembaga pemberi pinjaman agar memberikan kelonggaran waktu bagi pembayaran hutanghutang mereka melalui penjadwalan kembali (rescheduling). energi. Equador. dan lain sebagainya. mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah hutang luar negeri mereka di Cartagena. Kerjasama ekonomi ini meliputi kegiatan-kegiatan di bidang pangan dan pertanian. kecuali komitmen politik untuk memperbaharui tekad dalam usaha mempertahankan pemulihan ekonomi agar bertambah mantap. dan kolektif sebagai strategi perjuangan untuk mewujudkan TEDB. menurunkan tingkat suku bunga. Costarica. menimbulkan dorongan kepada sebelas negara di Amerika Latin yaitu Mexico. Peru. Dalam hubungan dengan penyelesaian hutang luar negeri negara-negara berkembang. belum dengan sepenuh hati diikhtiarkan oleh negaranegara maju. kelompok regional seperti ASEAN. dan menghapuskan kebijaksanaan yang bersifat protektif dan restriktif dalam perdagangan. Organisasi Konperensi Islam (OKI). Ini berarti bahwa lalu lint as perdagangan internasional sebagai salah satu syarat mendasar dalam meningkatkan. dan kerjasama internasional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dialog. KTT sepakat untuk mendesak agar bank-bank komersial. Brasilia. KTT tidak menghasilkan kesepakatan mengenai tindakan penyelesaian terhadap masalah-masalah proteksionisme. pengangkutan dan komunikasi. dan defisit anggaran belanja khususnya di Amerika Serikat. Sementara itu untuk memperkuat kedudukan negara-negara berkembang dalam proses pengambilan keputusan politik tentang masalah-masalah ekonomi global. ketrampilan teknik. Di lain pihak upaya mencari jalan penyelesaian dari krisis hutang negara-negara "berkembang. seperti gerakan Non blok. tingkat suku bunga yang tinggi. Venezuela. ilmu pengetahuan dan teknologi. baik di dalam maupun di luar forum PBB. Bolivia. dan mempertahankan laju pemulihan ekonomi dunia akan tetap mengalami hambatan. yang merupakan penghambat usaha mempercepat dan mempertahankan pemulihan ekonomi dunia. Dalam hubungan ini. perdagangan. Argentina. Colombia pada tanggal 21 sampai dengan 22 Juni 1984. industri.

Dalam sidang tersebut diadakan pengkajian terhadap pelbagai indikator serta masalah-masalah mendasar yang masih mewarnai situasi ekonomi dan moneter internasianal. Di bidang perdagangan. Sedangkan negara-negara berkembang perlu pula melaksanakan penyesuaian yang efektif. seperti berbagai aspek pemulihan ekonomi dunia. gerakan non blok telah menggariskan suatu pendekatan baru yang bertujuan untuk menanggulangi krisis ekonomi dunia dengan tindakan-tindakan darurat jangka pendek. Sedangkan di bidang industri. Sidang berhasil mencapai kesepakatan. Dalam kerangka kerjasama ekonomi regional. dan energi maupun di bidang pangan dan pertanian. Di samping merupakan upaya merealisasikan konsep kemandirian kolektif. dan memperkuat kerjasama antar negara-negara anggota ASEAN telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. melalui dana pembiayaan bersama telah dibangun proyek-proyek ASEAN. melaksanakan kebijaksanaan harga yang fleksibel dan realistis. mengurangi defisit anggaran belanja. hasil kerjasama tersebut tercermin dalam perluasan jumlah barang yang tercakup dalam perjanjian perdagangan preferensial. Pelbagai kemajuan telah dapat dicapai dalam kerjasama ekonomi tersebut. industri. program ini juga merupakan suatu pedoman bagi pembangunan ekonomi untuk dikembangkan pada tingkat sub-regional. bahwa agar pemulihan kembali ekonomi dunia dapat bersifat tetap dan pesat. Ikhtiar politik untuk secara aktif memantapkan pemulihan ekonomi dunia yang menyeluruh dan merata. serta mengawasi pengeluaran Pemerintah ke arab penggunaan yang produktif. serta meniadakan indeksasi dalam kontrak-kontrak. Untuk memungkinkan negara-negara Departemen Keuangan RI 124 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai bagian dari strategi untuk menciptakan kemandirian individual dan kolektif dalam KTT terakhir di New Delhi. diserukan kepada negara-negara industri untuk terus melaksanakan strategi kebijaksanaan moneter yang tidak menimbulkan pengaruh inflatoir. perdagangan. yang meliputi sektor-sektor pertanian. serta gejolak kurs matauang.dan didirikan proyek-proyek industri komplementer. regional dan global. melakukan usaha-usaha untuk mengatasi masalah struktural dengan cara mendorong mobilitas tenaga kerja. usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke arah pemulihan. Pendekatan ini juga dimaksudkan sebagai usaha untuk memberikan dorongan bagi terlaksananya negosiasi global yang masih tetap mengalami kemacetan dalam Dialog Utara-Selatan. perdagangan. baik di bidang keuangan dan moneter. masalah proteksi. tingkat suku bunga. kekurangan likuiditas. menekan defisit anggaran belanja. keuangan dan perbankan. defisit anggaran belanja. dan beban hutang negara-negara berkembang. mempertahankan stabilitas dalam negeri. telah pula diupayakan oleh Bank Dunia (IBRD) dan Dana Moneter Internasional (IMF) melalui sidang-sidangnya yang berlangsung dalam bulan September 1984.

sidang telah menghasilkan kesepakatan untUk memberikan wewenang kepada "suatu kelompok" guna mengadakan pengkajian mengenai masalah-masalah di bidang perdagangan. baik di bidang produksi maupun Departemen Keuangan RI 125 . Dalam hubungannya dengan proteksionisme yang masih terus berlangsung. menjadikan pertemuan para menteri dalam GATT (Persetujuan Umum tentang Tarif dan Perdagangan) forum paling tepat dalam mengadakan perundingan terusmenerus untuk mengurangi rintangan-rintangan terhadap perdagangan. menghindari kebijaksanaan yang terlalu bersifat proteksionistis. akan dapat membahayakan proses pemulihan kembali perekonomian. serta memungkinkan seger a meningkatkan kembali pertumbuhan ekonominya. yaitu yang dapat memperkuat posisi ekonomi luar negeri mereka. dengan tindakantindakan yang nyata untuk mencegah timbulnya proteksionisme baru. Kerjasama internasional yang ditekankan oleh IMF tersebut meliputi bidang pembiayaan bersyarat lunak (concessional financing).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berkembang dapat membayar kembali hutang-hutang luar negerinya. dan menghapuskan kebij aksanaan -ke bij aksanaan proteksionistis. negara-negara industri dihimbau untuk tetap mempertahankan pertumbuhan ekonominya pada tingkat yang memadai. dan melaksanakan pembangunan ekonomi negaranya. dan menyerukan perlunya ditingkatkan. dan dikembangkan disiplin dalam sistem perdagangan intemasional kepada semua negara anggota. Oleh sebab itu sidang menyambut baik komitmen-komitmen kearah kebijaksanaan perdagangan terbuka. dan mengharapkan agar IMF tetap dapat memainkan peranannya dalam pelaksanaan strategi pengelolaan hutang luar negeri secara terkoordinir. sidang menyatakan keprihatinannya. serta dapat menghambat kelancaran bekerjanya sistem keuangan dan perdagangan internasional. Dalam hubungan ini sidang menyambut baik penjadwalan kembali pembayaran hutanghutang luar negeri untuk jangka waktu beberapa tahun. kebijaksanaan perdagangan serta pengawasan (surveillance) efektif terhadap kebijaksanaan yang ditempuh beberapa negara untuk mencegah terjadinya gejolak kurs :matauang secara tajam. Dari hasil pertemuan. Sedangkan negara-negara debitur perlu melaksanakan kebijaksanaan penyesuaian yang mantap. Tantangan politik untuk menghentikan dan memutar balik kecenderungan ke arah proteksionisme. sidang menegaskan sikapnya bahwa masalah hutang luar negeri negara-negara berkembang hanya dapat diselesaikan sebaik-baiknya melalui kerjasama yang frat antara negara-negara debitur dan negara-negara kreditur. Sehubungan dengan masalah hutang luar negeri negaranegara berkembang. membuka posar bagi ekspor negara-negara berkembang. serta perlu menurunkan tingkat suku bunga. sehingga pada akhirnya dapat memulihkan kepercayaan untuk memperoleh pinjaman (credit worthiness). seperti faktorfaktor penghambat proses penyesuaian struktural. karena hila hal ini tidak segera diatasi.

baik di bidang perdagangan luar negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perdagangan. Untuk meningkatkan kerjasama perdagangan internasional atas dasar keuntungan bersama. Dalam hubungan ini partisiposi yang lebih aktif dari negara-negara berkembang untuk menegakkan sistem perdagangan intemasional yang lebih adil dan seimbarlg dirasakan makin penting. mengurangi proteksionisme. Dalam hubungan ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menjadikan Generalized System of Preferences (GSP) bukan saja sebagai "hasil sementara" akan tetapi merupakan "hasil permanen" dalam sistem perdagangan internasional. resiprositas dan non diskriminasi. non-diskriminasi. Di samping itu usaha peningkatan kegiatan perdagangan juga dilakukan melalui pembentukan/perbaikan instrumen-instrumen perdagangan yang ada. 5. dan transparansi sebagai prinsip dasar sistem perdagangan intemasional. perlu ditempuh langkah-langkah untuk meningkatkan penerimaan devisa. Dengan menyadari keterkaitan ekonomi Indonesia dalam hubungan ekonomi internasional. guna membantu negara-negara berkembang dalam meningkatkan perdagangan internasionalnya dengan tidak mengabaikan prinsip "special and differential treatment". serta mencari upaya penyelesaian dari masalah-masalah yang belum terselesaikan dalam perundingan perdagangan multilateral (MTN). maupun lalu lintas devisa. dalam rangka UNCTAD dikembangkan diversifikasi perdagangan antara negara-negara industri dan berkembang di satU pihak. Kebijaksanaan di bidang perdagangan luar negeri Dalam tahun pertama Repelita IV. dengan negara-negara sosialis Eropa Timur di lain pihak. kebijaksanaan neraca pembayaran dan perdagangan Departemen Keuangan RI 126 . serta masih sulitnya dicapai kesepakatan dalam berbagai kerjasama antarnegara yang masih terus berlangsung dewasa ini. komitmen politik negaranegara industri terhadap hasil-hasil negosiasi global. terutama dalam menghadapi sikap dan kecenderungan proteksionisme negara-negara industri sebagai tindakan yang menyimpang dari prinsip multilateralisme. untUk meningkatkan aliran sumber keuangan ke negara-negara berkembang. Di samping itu lembaga ini juga diminta untuk meneliti pelaksanaan prinsip-prinsip GATT. dan menghilangkan tindakan meayimpang dari prinsip-prinsip GATT lainnya. menjadikan perlunya pengamatan dan kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menghambat pelaksanaan pembangunan. maka dalam rangka meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap tantangan-tantangan yang mungkin akan terjadi. Pola perkembangan ekonomi dan moneter internasional. dan menghemat penggunaannya melalui pelbagai kebijaksanaan.2.

seperti pemberian sertifikat ekspor. Mengingat situasi perminyakan yang tidak menentu tersebut. bahan penolong. kredit ekspor.Kebijaksanaan di bidang ekspor Usaha mengurangi ketergantungan pacta sektor minyak terus dilaksanakan.1 tahun 1982 beserta peraturanperaturan pelaksanaannya. yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan devaluasi rupiah terhadap matauang dollar Amerika pada bulan Maret 1983. yang kemudian diikuti dengan diturunkannya harga minyak oleh Inggris. 5. Namun demikian sebagai akibat belum mantapnya usaha pemulihan ekonomi dunia. Serangkaian tindakan Pemerintah untuk meningkatkan ekspor di luar minyak dan gas diawali dengan kebijaksanaan ekspor yang tertuang dalam PP No.1 bulan Januari 1982. telah diambil kebijaksanaan untuk lebih meningkatkan penerimaan devisa dari hasil ekspor di luar minyak dan gas. Keadaan ini memaksa OPEC untuk mengadakan sidang di Jenewa pada tanggal 29 Oktober 1984 dengan keputusan untuk mengurangi produksinya dari 17. Hal ini terjadi karena meningkatnya produksi minyak dari negara-negara di luar OPEC. pengendalian impor yang lebih diarahkan kepada pengembangan produksi dalam negeri.000 barrel per hari yang berarti penerimaan dari sektor minyak agak berkurang. peningkatan daya saing barang-barang ekspor serta perluasan pasaran di luar negeri. lebihlebih pada tahun 1984 di mana situasi minyak dunia semakin memburuk. Di samping itu peranan ekspor barang-barang industri diusahakan pula peningkatannya.2. Indonesia mendapat pengurangan kuota produksi sebesar 111. Norwegia dan Nigeria pada pertengahan Oktober 1984.5 juta barrel menjadi 16 juta barrel per hari dan tetap mempertahankan harga patokan minyaknya sebesar US $ 29 per barrel. Dengan penurunan produksi tersebut. maka peningkatan pengembangan ekspor lebih diarahkan kepada ekspor di luar minyak dan gas alam. Sehubungan dengan itu untuk mengurangi ketergantungan pada hasil minyak bumi. pajak ekspor dan Departemen Keuangan RI 127 . sehingga tersedia devisa untuk mendukung pembiayaan impor bahan baku. yang diupayakan melalui perluasan posar dan peningkatan clara saing barang-barang ekspor Indonesia di luar negeri. sesuai dengan sasaran investasi dalam sektor-sektor pembangunan. Dalam tahun pertama Pelita IV ini Pemerintah tetap melanjutkan kebijaksanaan ekspor sebagaimana yang tertuang dalam PP No. dan adanya berbagai hambatan dalam perdagangan internasional. dan barang modal yang dibutuhkan.1. maka dalam rangka mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran telah diusahakan penghematan dalam penggunaan devisa.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 luar negeri ditujukan untuk meningkatkan laju perkembangan ekspor. antara lain dengan melalui usaha diversifikasi. serta pemanfaalan pinjaman dan penanaman modal luar negeri.

serta sistem imbal beli di mana pembelian barang-barang Pemerintah dari luar negeri yang memakai dana APBN dikaitkan dengan ekspor di luar minyak dan gas. 12 perizinan di bidang pertanian.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pajak ekspor tambahan. lisensi ekspor. ikan tuna. yang nilainya sarna dengan harga jual sebenamya. dan jagung. terdapat 2. Selanjutnya tarif pajak ekspor yang dikenakan atas beberapa komoditi seperti bauksit dan pekatannya.0 juta. rotan. telah dilakukan penyederhanaan perizinan yang berlaku dan penghapusan izin-izin yang dapat menghambat ekspor. Sementara itu mum barang yang diekspor harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan dan selalu ditingkatkan. mulai t. para eksportir diharuskan menyertakan laporan surveyor yang dikeluarkan oleh PT Sucofindo. Untuk itu sampai dengan Agustus 1984 telah ditetapkan standar mutu untuk 165 jenis barang-barang perdagangan. penyederhanaan dan penyempurnaan prosedur ekspor. Departemen Keuangan RI 128 . negara yang paling besar melaksanakannya adalah Republik Federasi Jerman. kopi. tetapi juga produk-produk lainnya. Singapura.mggal 1 Januari 1984 pungutan MPO ekspor atas eksportir telah dihapuskan. Sedangkan untUk mencegah penyalahgunaan fasilitas sertifikat ekspor bagi hasil industri tekstil yang diekspor ke Hongkong. dan 17 perizinan di sektor perdagangan. disusul kemudian oleh Jepang. Sistem imbal beli. gaplek. mencakup kontrak yang sudah ditandatangani dengan 21 negara sebesar US $ 937. mulai tanggal 1 Juli 1984 ditetapkan setiap 12 bulan. di antaranya telah dicabut 16 perizinan di bidang pengusahaan hutan. Demikian juga mulai 1 Oktober 1984 dihapuskan pungutan langsung dari Pemerintah Daerah terhadap beberapa komoditi ekspor yaitu plywood. sedang sistem pembayaran yang dapat digunakan hanyalah irrevocable letter of credit. sedangkan realisasinya mencapai US $ 465. kayu gergajian. Di antara 21 negara tersebut. prosentasenya yang semula ditetapkan setiap 6 bulan. dan surat persetujuan ekspor produk tekstil. Selanjutnya untuk memperluas pemasaran pakaian jadi. juga ditetapkan bahwa setiap eksportir barus menyerahkan bukti pembayaran iuran ekspor produk tekstil untuk mendapatkan surat keterangan asal. Dalam ekspor produk tekstil. meliputi berbagai macam barang yang tidak terbatas pada produk tekstil saja. Malaysia dan Taiwan. Di bidang perpajakan. udang. dan dari jumlah terse but baru 38 jenis barang yang sudah dilaksanakan. yang telah dilaksanakan sejak bulan Januari 1982 sampai 3 Oktober 1984. Begitu pula untuk refined bleached deodorized stearin dan crude stearin. Dalam pemberian fasilitas sertifikat ekspor. Sampai dengan bulan November 1984. pajak ekspor tambahannya diturunkan. Mengenai prosedur ekspor.144 jenis barang yang sudah memperoleh tasilitas sertifikat ekspor. 12 perizinan di sektor perhu bungan. karet. serta biji nikel dan pekatannya diturunkan dari 10 persen menjadi nol persen. kelapa sawit.6 juta.

Sementara itu untuk menghindarkan persaingan yang tidak sehat di antara eksportir kayu lapis yang dapat mempengaruhi harganya. semen. Eksportir yang telah menerima kuota harus melaksanakan sendiri ekspomya. aspal. minyak sawit dan inti sawit. Dalam rangka memperlancar pelaksanaan. Karena udang dipandang mempunyai potensi yang besar untuk menambah penerimaan devisa hasil ekspor. antara lain dengan mengadakan Proyek Tambak Inti Rakyat di atas tanah seluas 350 ha di desa Pusaka Jaya Utara. pendapatan petani tambak. dan peningkatan devisa negara dari hasil ekspor udang dan bandeng. dengan tujuan untuk lebih memantapkan peningkatan produksi udang/bandeng. Kemudian dilanjutkan dengan program intensifikasi tambak musim tanam tahun 1984/1985. maka Asosiasi Panel Kayu Indonesia telah membentuk 7 kelompok pemasaran kayu lapis sebagai Badan Pemasaran Bersama Ekspor Kayu Lapis. Kemudian pada tanggal 13 September 1984 juga telah dikeluarkan ketentuan mengenai pengawasan mutu kayu lapis untuk ekspor. yang dimulai tanggal 4 Januari 1984. diawasi karena kebutuhan di dalam negeri semakin meningkat. Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai kuota ekspor produk tekstil. Dengan adanya badan ini. ban mobil. sidang Menteri-menteri ASEAN ke-16 bulan Mei 1984 dalam rangka ASEAN Preferential Trading Arrangement telah menyetujui pemb_rian Departemen Keuangan RI 129 . kertas. besi beton. Dalam rangka kerjasama regional. di mana kuota tersebut diberikan kepada eksportir terdaftar yang secara berkala barus melaporkan kegiatan ekspomya. yang dikukuhkan Menteri Perdagangan pada tanggal 15 Oktober 1984. Sebagai hasilnya telah dicapai persetujuan bilateral dengan negaranegara yang tergabung dalam masyarakat ekonomi Eropa (MEE). dan mengambil manfaat sebesar-besamya dari kuota ekspor tekstil tersebut. Sementara itu kegiatan ekspor beberapa jenis komoditi meliputi pupuk. antara lain dengan mengirimkan misi-misi dagang agar memperoleh kuota yang lebih besar. Swedia dan Amerika Serikat. Karawang. dengan tujuan meningkatkan produksi udang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 terutama ke negara-negara Eropa dan Amerika. Selanjutnya untuk memantapkan pemasaran tembakau di pasaran internasional. Pemerintah dalam tahun ini menyesuaikan kembali ketentuan ekspor tembakau. 3 juta potong ke Swedia dan 11 juta potong ke Amerika Serikat. dan peratUran pelaksanaannya. telah dilakukan beberapa pendekatan dengan negara-negara tersebut. kontrakkontrak penjualan untuk ekspor kayu lapis harns mendapat persetujuan daTi badan terse but. maka Pemerintah mulai bulan Maret 1984 menggalakkan pembudidayaan udang tambak. sehingga Indonesia memperoleh kuota ekspor sebanyak 12 juta potong ke negara MEE. kecuali dengan persetujuan Departemen Perdagangan untuk bisa mengalihkan sebagian atau seluruh kuotanya kepada eksportir lainnya. dan untuk diekspor.

ASEAN dengan negara-negara MEE. Di samping itu pada saat ini juga sedang dijajagi oleh Pemerintah kemungkinan untuk mengadakan hubungan dagang langsung dengan RRC tanpa melalui pihak ketiga.283 jenis ke negara-negala ASEAN lainnya. antara lain dengan mengadakan pertemuan rutin antara pengusaha/eksportir-eksportir di dalam negeri Departemen Keuangan RI 130 . dan sebagai kelanjutannya telah dibentuk team koordinasi dalam bidang kerja sarna ekonomi dan perdagangan dengan Eropa Timur. Cekoslowakia dan Jerman Timur. yang kesemuanya merupakan upaya untuk meningkatkan pemasaran barang-barang ASEAN ke negara-negara tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 preferensi tarif antara 20 persen sampai maksimum 50 persen. Asosiasi Negara-negara Produsen Timah (ATPC). Selain itu telah ditunjuk pula perusahaan pelayaran swasta dan Pemerintah untuk melaksanakan keagenan umum perkapalan ke negara-negara Eropa Timur. usaha meningkatkan pemasaran komoditi di luar minyak juga terus dikembangkan baik melalui kerjasama bilateral. Australia dan New Zealand. Dalam hubungan ini di samping telah diadakan pernndingan bilateral dengan negara-negara anggota MEE. Indonesia sebagai negara anggota ASEAN turut memperjuangkan kepentingan-kepentingan ASEAN dalam bentuk penyampaian beberapa masalah yang berkaitan dengan adanya hambatan-hambatan di bidang tarif maupun non tarif. Perjanjian Timah Internasional (ITA). Selain kerjasama dengan negara-negara ASEAN. dengan memberikan kursus-kursus untuk meningkatkan kemampuan ekspor negara-negara tersebut. Sedangkan untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara Eropa Timur. serta berusaha untuk menghilangkan atau mengurangi hambatanhambatan yang sebelumnya terjadi. Di antara barang-barang yang mendapat preferensi tersebut Indonesia dapat mengekspor 8. dan organisasi-organisasi lainnya yang berhubungan dengan kerjasama perdagangan barangbarang di luar minyak. Dewan Timah Internasional (ITC). Perjanjian Karet Alam Internasional (INRA). regional maupun multilateral. Kanada. Untuk mempermudah hubungan dagang ini. Hongaria. Swedia. Pemerintah mengaktifkan fungsi dari atase-atase perdagangan Indonesia di luar negeri. MEE juga memberikan bantuan teknis kepada negara-negara ASEAN termasuk Indonesia. dan Amerika Serikat di bidang tekstil. juga terus ditingkatkan kerjasama dalam Organisasi Kopi Internasional (ICO). Di samping itu. ASEAN juga telah mengadakan hubungan kerjasama perdagangan dengan Amerika Serikat. jepang. Selain mengadakan hubungan dengan MEE. Dalam hubungan. telah dikirim delegasi ekonomi Indonesia ke negara-negara Uni Soviet. kedutaan Republik Indonesia setempat diberi wewenang oleh Pemerintah untuk mengeluarkan visa bagi importir-importir negara-negara tersebut yang akan melakukan penjajagan ke Indonesia. Selanjutnya dalam rangka lebih meningkatkan ekspor di luar minyak dan gas.

Sementara itu kegiatan Bursa Komoditi yang diresmikan pada bulan Desember 1982 dalam waktu dekat akan dimulai. permesinan. seperti kacang kedele. dalam rangka memberikan perlindungan terhadap barang-barang yang telah dapat dihasilkan. peralatan laboratorium. serta elektro motor. maka Pemerintah menetapkan bahwa karet merupakan komoditi pertama yang diperniagakan di bursa. Untuk itu dibentuk Komite Karet yang bertugas menyusun ketentuanketentuan perniagaan karet di bursa tersebut. 5. Selain itu Pemerintah telah memperbanyak pusat-pusat promosi dagang di luar negeri. peralatan pertukangan. dan mencukupi kebutuhan di dalam negeri. perkakas tangan. Pemerintah telah mencabut keringanan/pembebasan. Demikian pula terhadap beberapa produk yang telah dapat dirakit di dalam negeri. dan sebaliknya para atase perdagangan dapat memberikan informasi kepada eksportir tentang permintaan konsumen di luar negeri. serta memperbanyak pengiriman misi-misi dagang ke luar negeri yang dipimpin langsung oleh Menteri Perdagangan. dan sekaligus menaikkan tarif bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap impor barang-barang seperti kertas untuk jenis tertentu. pipa besi dan produk polyvinyl chloride (PVC). Oleh karena sampai sekarang baru asosiasi pengusaha di bidang karet (Gapkindo) yang telah menyatakan dukungannya terhadap pemasaran karet melalui bursa. serta untuk menjaga kestabilan harga beberapa bahan pokok yang diperlukan masyarakat.2. Pemerintah telah memperluas pemberian fasilitas berupa pembebasan sebagian dan/atau seluruh bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap pemasukan bahan baku/penolong serta barang modal. seperti me sin penggali (hydraulic excavator) dan wheel loader.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan para atase perdagangan di luar negeri. serta untuk menciptakan persaingan yang sehat dan wajar antara produksi dalam negeri dengan produksi eks impor sejalan dengan usaha peningkatan penggunaan/pemakaian produksi dalam negeri. Dengan demikian diharapkan barang-barang produksi Indonesia akan dapat lebih mudah masuk ke posar internasional. Di lain pihak.2. dan mendorong industri dalam negeri. aluminium sheet dan fuli aluminium jenis-jenis tertentu. Dengan pertemuan-pertemuan tersebut para eksportir dapat menyampaikan informasi tentang produk mereka. juga telah diberlakukan tari( bea masuk dan pajak penjualan impor yang baru. Sedangkan untuk menjaga kestabilan harga minyak goreng di Departemen Keuangan RI 131 .Kebijaksanaan di bidang impor Kebijaksanaan di bidang impor ditujukan untuk menunjang pertumbuhan industri dalam negeri dengan memperlancar pengadaan beberapa bahan baku/penolong dan barang modal. Dalam rangka lebih memberikan kepostian berusaha.

Untuk lebih memantapkan pelaksanaan tataniaga impor produk baja lembaran dan gulungan yang digiling pada suhu rendah. Demikian juga terhadap impor produk aluminium dan barang logam tidak inulia. produk baja lembaran.5 persen bagi imp or barang yang menggunakan API. gulungan dan pelat yang digiling pada suhu tinggi dan rendah. telah dilakukan usaha-usaha untuk mengarahkan penggunaan devisa dalam rangka menggalakkan penggunaan produksi industri di dalam negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam negeri pada tingkat yang dapat dijangkau oleh masyarakat. dan importir terdaftar. proyek Aromatik Plaju di Sumatera Selatan telah dilanjutkan pembangunannya sesuai dengan rencana penjadwalan kembali (rephasing). Untuk tahap pertama pembangunan proyek ini dibatasi pada perangkat hilir yang terdiri dari pabrik Pure Terepthalic Acid (PTA) Departemen Keuangan RI 132 . maka jenisnya diperluas lagi dengan menunjuk PT Krakatau Steel atau PT Tambang Timah sebagai importirnya. walaupun untuk memproduksi peralatan tersebut sekitar 30 persen bahan bakunya masih perlu diimpor. gulungan dan pelat yang digiling pada suhu tinggi. Sehubungan dengan berlakunya UndangUndang Pajak Penghasilan 1984. Adapun untuk mengurangi ketergantungan terhadap barang-barang impor. Guna menjamin kelancaran pengadaan bahan baku/penolong yang masih harns diimpor dari luar negeri untuk proses produksi industri dalam negeri. Dengan pengaturan tersebut. APIS atau APIT masing-masing dihitung dari nilai dasar impor (cif). maka pungutan MPO atas barang-barang impor dihentikan. beberapa peralatan yang digunakan untuk industri perminyakan telah dapat diproduksi di dalam negeri. dan sebesar 7. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan pelaksanaan mengenai tataniaga impor barang-barang yang termasuk kelompok produk industri. barang-barang yang telah dimasukkan ke dalam kelompok produk industri hanya dapat diimpor oleh importir produsen terdaftar bagi masingmasing kelompok produksi yang diakui oleh Menteri Perdagangan. PT Krakatau Steel atau PT Giwang Selogam ditunjuk sebagai eksportir baja lembaran. Besarnya pungutan ditetapkan sebesar 2. APIS atau APIT. Sementara itu. yang dapat terdiri dari pernsahaan negara.5 persen bagi impor barang yang tidak menggunakan API. dan sebagai gantinya dipungut pajak penghasilan (PPh). perusahaan swasta nasional dan pernsahaan dalam rangka penanaman modal. Dalam rangka memanfaatkan kapositas industri. telah diatur dalam tataniaga impor dengan menunjuk PT Tambang Timah sebagai importirnya. Sehubungan dengan itu. dan sekaligus sebagai importir baja lembaran dan gulungan tertentu yang digiling pada suhu rendah. Pemerintah telah membebaskan bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap minyak goreng segala jenis yang diimpor dalam jumlah yang diatur oleh Menteri Perdagangan. Dengan demikian. diatur dalam tataniaga ekspor dan impor secara terpadu.

367 juta dalam tahun 1983/1984 menjadi US $ 6. Departemen Keuangan RI 133 .3. Sedangkan lalu lintas modal bersih. Dengan deniikian realisasi transaksi berjalan dalam periode terse but diperkirakan akan mengalami defisit sebesar US $ 3. sedangkan jumlah penge1uaran devisa untuk membiayai imp or dan jasa-jasa bukan minyak dan gas dalam periode yang sarna diperkirakan mencapai US $ 16.l.3.729 juta. dan pemasukan modal lainnya dikurangi dengan pembayaran kembali angsuran pokok hutang luar negeri. neraca pembayaran Indonesia dalam tahun 1984/1Y85 diperkirakan masih mengalami surplus walaupun tidak sebesar tahun sebe1umnya. Dengan dilanjutkannya pembangunan proyek ini maka diharapkan akan lebih mendorong dan memantapkan industri sandang di dalam negeri. sedangkan bahan bakunya yang berupa paraxylene masih perlu diimpor. impor maupun lalu lintas devisa. Jumlah penerimaan devisa dari hasil minyak dan gas bersih. yaitu dari US $ 5. Perkembangan neraca pembayaran dalam tahun 1984/1985 Walaupun berbagai hambatan telah mempengaruhi usaha pemulihan ekonomi dunia. Perincian perkembangan neraca pembayaran dapat dilihat dalam Tabe1 V. 5. neraca pembayaran dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mengalami surplus sebesar US $ 643 juta. nilai ekspor minyak dan gas berjumlah sebesar US $ 13. dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mencapai sebesar US $ 3.816 juta.Ekspor Realisasi nilai ekspor minyak dan gas maupun bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 19.1.779 juta. namun dengan adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan baik di bidang ekspor.345 juta.099 juta. Sedangkan ekspor bukan minyak dan gas diperkirakan mengalami kenaikan sebesar US $ 683 juta.191 juta.050 juta dalam tahun 1984/1985. 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan kapositas 150. dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 1983/1984 sebesar US $ 19. berarti terdapat penurunan sebesar US $ 37 juta. yaitu jumlah pemasukan modal Pemerintah. Sete1ah memperkirakan adanya selisih yang be1um diperhitungkan sebesar positif US $ 698 juta.246 juta. Dari jumlah ekspor kese1uruhan tahun 1984/1985. PTA akan diproses lebih lanjut menjadi polyester oleh industri hilir.000 ton per tahun. dan ekspor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mencapai US $ 13.

Jumlah I sId V VII.353 3.3 35. Lain lintas modallainnya V.3 7.266 690 4.173 1.8 0.4 juta.4 52.barang don jasa. 708 + 1.5 8.116 574 254 320 448 204 652 30 400 286 114 190 78 94 6 100 + + + + + + + + + + + + + + + + + + persentase perubaban 14.5 juta. yang pada gilirannya Departemen Keuangan RI 134 .135 2.155 4.7 46. Ekspor.5 51.4 + + - 549 + 81 + 355 5 360 1973/1974 I.barang don jasa.992 1.8 19 43.7 47.3 + 0.921 -1.905 -3.4 149. Lain lintas modallainnya V.863 -7.1 32.959. Lain lintas moneter + + + 3.102 94 -1.044 384 660 -1.6 + - 176 + 761 + 831 180 651 363.7 311.097 -1.5 21 9.1 9. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 2.443 1.776 660 180 480 131 89 302 311 9 + + + + + + + + + + + + + + persentase perubahan 98.386 854 3.3 + 103.1 24.273 1.5 33. Realisasi nilai ekspor sebesar US $ 9.374 590 784 -1.5 122.5 9.114 + + + + + + + + + + + + + persentase perubahan 4.205 -1.9 201.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel V.6 46.9 24.3 48.3 13.9 + 51.9 14 19.4 518.4 1.4 10.1 53.9 9.208 94 2. yaitu dari sebesar US $ 7.138 -3. Pembayaranhntang pokok VI.1 33. Pemasnkan modal Pemerintab 1.9 32.6 -123.7 17.7 65.353 7.2 66 + + + + + + + + + + 1972/1973 1. berarti nilai ekspor rninyak dan gas tersebut rnengalami kenaikan sebesar 13.7 15 17.823 147 1.6 juta rnenjadi sebesar US $9. Jasa-jasa minyak dan gas tanpa minyak don gas 4.638 -2.7 16.074 461 -2.008 490 214 276 388 135 523 28 369 283 86 115 47 77 95 18 + + + + + + + + + + + persentase perubahan 15.8 13.3 2.6 2.6 88. Transaksi berjalan minyak dan gas tanpa minyak dan gas H.6 46.7 6.3 81.9 15.860 7.397 643 281 362 549 81 355 5 360 + + + 1974/1975 7.1 36.9 15.5 6.3 16. Bantuan program 2. S D R HI.4 41. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 3.613 -1.5 + + + 1976/1977 9.3 72 104.6 + + - 152.6 + 15.445 5.3 20. Bantnan prorok dan lain-lain IV.3 77 95.7 + + + + + + + + + + + 325. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 3.074 461 -2.1 8.5 27.227 -1.613 -1. Bila dibandingkan dengan realisasinya selarna periode April-Agustus 1983 sebesar US $5.097 88 -1.1 persen dibandingkan dengan nilai ekspornya dalarn periode yang sarna tahun 1983 sebesar US $ 1.653 2. Pembayaranhntang pokok VI.8 22.350 2.490 6. Barang.9 6.995 74 1.7 17 + + + + + + + + + + - + + + + + + + + + + + + + + + + + 15. Bantnan prorok dan lain-lain IV.2 + 358.146 5.822 -2.905 + -3.676 38 166 893 108 -1.9 juta.5 + + + + + 1971/1972 1.753 -5.153 2.1 18.732 4.409 930 -4.3 14.7 7.9 20. dan nilai ekspor di luar rninyak dan gas sebesar US $ 2. Sensih yang belum dapat diperhitungkan VIII.6 29.613 + 1.8 + 16.jasa 1.9 300.613 1.8 0. Impor.033 -5.939 965 974 -1. Pemasnkan modal Pemerintab 1.1 63.479 -2.2 36.100.106 157 1.9 57.6 65.4 9.512 1.9 15.2 3 13. S D R HI.710 -4.7 14.6 59.5 + 6.873 -5.5 persen.7 60.4 4.8 20 0.2 16.6 12.979 8. 1969/1970 .6 4. Impor.6 35. Lain lintas moneter + + 1.3 58.9 32.6 13.866 1.2 60.jasa 1.5 98.275 -3.l NERACA PEMBAYARAN.165 64 2. Jasa-jasa minyak dan gas tanpa minyak don gas 4.295 606 689 756 641 -1.397 643 281 362 + + + + + + + + + + + 86.8 40.3 17.065 1.2 189. Peningkatan ini terjadi antara lain karena adanya peningkatan yang cukup besar dalarn ekspor gas alarn cairo Nilai ekspor di luar rninyak dan gas selarna periode April-Agustus 1984 tersebut berarti rneningkat sebesar US $ 357.6 86.7 26.186 5.651 159 -1. Sensih yang belum dapat diperhitungkan VIII.5 + 115.100.8 176. Transaksi berjalan minyak dan gas tanpa minyak dan gas H. Jumlah I sId V VII.2 13 8.8 + + + + + + + persentase 1977/1978 perubahan 10.955 802 3.6 20. Ekspor.8 5.1 17.1 6.334. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 2.5 0.3 + 15.9 + + + 1975/1976 7.1 22.492 845 407 438 557 399 956 481 336 145 480 66 338 87 425 + + + + + + + + + + + + + + + + persentase pernbahan 41. Bantuan program 2.001 + + + + + + + + + + + + + persentase pernbahan 28.6 + 24.7 11.4 + 15.009 448 204 244 501 92 593 35 371 308 63 27 31 99 56 43 + + + + + + + + + + + 1970/1971 1.7 15.2 40.937.6 6.507 7.010 5.412 1.248 132 -1. Barang.9 13.2 720.376 3.374 3.6 10.684 1.4 22.295 606 689 756 641 -1.6 43.765.204 443 761 -1.8 202.2 + persentase 1973/1974 perubahan 3.1 33.1984/1985 ( dalam jutaan US $ ) 1969/1970 I.977.2 32.213 6.5 7.708 1.8 juta.711 6.418 2.9 75.4 juta tersebut terdiri dari nilai ekspor minyak dan gas sebesar US $ 6.4 67.4 + - 392 + 632 877 169 708 Realisasi nilai ekspor secara kese1uruhan dalam periode April-Agustus 1984 menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan realisasi nilai ekspor dalam periode yang sama tahun 1983. Peningkatan tersebut tidak terlepos dari adanya perbaikan dalarn perekonornian dunia.591 -1.3 95.6 46.7 2.842 887 -1.8 40.1 juta atau 18.075 77 11 353 364 + + + + + + + + + + + - persentase perubaban 0.240 987 138 2.420 -2.1 27.8 juta.8 1978/1979 + + + 11.1 8.949 + + + + + + + + + + + + + 17.6 98.1 18.

6 juta. dalam periode 1984 belum ada realisasinya.7 juta. sehingga pemakaian timah berkurang. meskipun dalarn periode tersebut harga karet rnengalarni penurunan. dan adanya penggunaan bahan-bahan lain pengganti timah. diantaranya ke beberapa negara Asia. Eropa dan Arnerika Serikat.4 juta. Tirnur Tengah. dalam periode yang sarna tahun 1984 menunjukkan peningkatan rnenjadi sebesar US $ 373. juga disebabkan oleh naiknya kuota ekspor kopi. Sedangkan nilai ekspor biji sawit yang mencapai sebesar US $0.4 juta. serta berkurangnya penawaran kopi robusta dari Departemen Keuangan RI 135 . Sebaliknya . Penurunan ini disebabkan oleh rnenurunnya harga kayu. Menurunnya ekspor minyak sawit ini disebabkan oleh karena adanya pembatasan ekspor untuk memenuhi kebutuhan dalarn negeri.4 juta. rneskipun pernasanin kayu lapis ke beberapa negara sernakin rneningkat. ekspor kayu dalarn periode April-Agustus 1984 rnencapai nilai sebesar US $ 438. Sebagai salah satu komoditi dalarn kelornpok barang utama.9 juta. dalam periode yang sama tahun 1984/1985 meningkat menjadi US $ 233. menunjukkan adanya penurunan sebesar US $ 30.nilai ekspor kopi yang pada lima bulan pertama tahun 1983/1984 mencapai US $ 203.6 juta. Demikian pula nilai ekspor minyak sawit telah menurun dari sebesar US $40. rnenjadi sebesar US $ 9. meskipun harganya di posar internasional mulai rnembaik. Kenaikan tersebut terjadi selain disebabkan oleh kenaikan harga kopi di posar internasional. Ekspor karet yang dalarn periode April-Agustus 1983 realisasinya mencapai US $ 343.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rneningkatkan perrnintaan negara-negara industri terhadap barang-barang ekspor negara berkernbang. terrnasuk dari Indonesia. Meningkatnya nilai ekspor ini disebabkan oleh rneningkatnya perrnintaan Amerika Serikat akan karet alam untuk rnenambah cadangan strategisnya. dan perrnintaan dari Jepang karena meningkatnya kebutuhan untuk mermnuhi pesanan dari luar negeri.8 juta dalarn periode yang sama tahun 1984. karena ada penundaan dalarn pelaksanaan ekspornya. Penurunan ini terjadi karena meskipun harga naik tetapi volume ekspornya menurun sebagai akibat pembatasan ekspor timah oleh Dewan Timah Internasional. Kenaikan harga ini timbul karena adanya pembelian secara besar-besaran yang berlangsung setelah tersiar kabar kemungkinan rusaknya panen kopi Brazil tahun 1985 akibat hawa beku yang akan melanda negara tersebut. Sebaliknya nilai ekspor tirnah yang dalam lima bulan pertama tahun 1984/1985 berjumlah sebesar US $ 103.2 juta lebih rendah dari nilai ekspor pada periode yang sarna tahun sebelurnnya sebesar US $ 445.8 juta untuk periode April-Agustus 1983.2 juta dalarn periode April-Agustus 1983.4 juta.8 juta bila dibandingkan dengan nilai ekspornya dalam periode yang sama tahun 1983/1984 yang berjumlah sebesar US $ 134. yang berarti US $ 7.

Adapun barang lainnya seperti hewan dan hasilnya. bahan makanan.2 juta. 5. Demikian pula nilai ekspor lain-lain meningkat dalam periode yang sarna dad sebesar US $ 378.1 juta untuk tahun 1984.0 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan realisasi nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1983/1984 yang berjumlah sebesar US $ 12.427.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pantai Gading. termasuk tekstil dan pakaian jadi. menjadi US $ 626.2 juta. barang tambang. Selanjutnya barang tambang yang dalam periode April-Agustus 1983 nilai ekspornya sebesar US $ 175. yang berarti mengalami penurunan sebesar US $ 220 juta bila dibandingkan dengan realisasi nilai impor minyak dan gas pacta tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 3.269 juta. Nilai ekspor lada dan bahan makanan termasuk tapioka. dalam jangka waktu yang sarna tahun 1984/1985 meningkat masing-masing menjadi sebesar US $ 22. lada.5 juta atau US $ 338. Impor Rangkaian kebijaksanaan di bidang impor yang telah dan sedang dilaksanakan dalam beberapa periode ini banyak mempengaruhi perkembangan impor dalam tahun 1984/1985. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya nilai ekspor komoditi lada. bahan makanan.p.489 juta. semen dan alat-alat listrik.169 juta.0 juta lebih tinggi hila dibandingkan dengan nilai ekspornya dalam periode yang sarna tahun 1983/1984 sebesar US $ 729. realisasi impor bukan minyak dan gas dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 4.2. nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 12. Dilihat dari golongan barangnya.6 juta. selama lima bulan pertama 1984/1985 mencapai nilai ekspor sebesar US $ 1.4 juta dan US $ 34. barang tamba.6 juta dalam tahun 1983.7 persen) lebih Departemen Keuangan RI 136 . sehingga menjadi sebesar US $ 270.6 juta atau US $ 320 juta (6.7 juta. yang disebabkan an tara lain oleh meningkatnya ekspor kerajinan tangan termasuk pakaian jadi.7 juta dan US $ 50.5 juta. bungkil kopra.3.3 juta.067. Meningkatnya nilai ekspor barang tambang ini disebabkan oleh meningkatnya ekspor aluminium dan tembaga. Berkaitan dengan itu. dalam periode yang sarna tahun 1984 meningkat sebesar US $ 94. yang berarti US$ 646 juta atau 5. kalau dalam lima bulan pertama tahun 1983/1984 masing-masing berjumlah sebesar US $ 17. Sementara itu nilai impor minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 3. Lebih rendahnya nilai impor tersebut terutama disebabkan karena menurunnya impor yang dilakukan dalam rangka bantuan proyek.g dan lain-lain. dan lain-Iainnya termasuk kerajinan tangan dan pakaian jadi. Penurunan ini terutama disebabkan karena menurunnya impor peralatan untuk keperluan eksplorasi minyak sejalan dengan telah dapat diproduksinya beberapa perala tan pengeboran minyak oleh industri dalam negeri.815 juta.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

rendah hila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun 1983 yaitu sebesar US $ 4.747,6 juta. Lebih rendahnya nilai impor tersebut terjadi alas imp or semua golongan barang, baik barang konsumsi, bahan baku/penolong maupun barang modal. Sementara nilai impor kelompok barang konsumsi dalam tahun 1984 berjumlah sebesar US $314,6 juta. Hal ini berarti terdapat penurunan sebesar US $ 60,3 juta atau sebesar 16,1 persen hila dibandingkan dengan nilai impornya dalam periode yang sarna tahun 1;183 sebesar US $374,9 juta. Penurunan nilai impor ini terjadi alas impor hampir semua jenis barang konsumsi, dan telah menyebabkan menurunnya peranan impor barang konsumsi terhadap nilai impor bukan minyak dan gas secara keseluruhan dari 7,9 persen menjadi 7,1 persen. Selanjutnya realisasi impor bahan baku/penolong dalam periode April-Agustus 1984 juga menunjukkan adanya penurunan bila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sama tahun sebelumnya. Apabila realisasi nilai impor bahan baku/penolong dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 2.168,0 juta, dalam periode yang sama tahun 1983 realisasi impornya berjumlah sebesar US $ 2.258,5 juta. Hal ini berarti lebih rendah sebesar US $ 90,5 juta, atau sebesar 4,0 persen. Lebih rendahnya nilai impor tersebut disebabkan karena menurunnya impor bahan kimia, bahan obat-obatan, pupuk, bahan-bahan kertas, bahan bangunan serta semen, kapur, dan bahan bangunan buatan pabrik lainnya. Namun demikian apabila dilihat dari peranan impor bahan baku/penolong terhadap impor bukan minyak dan gas seC(I,ra keseluruhan, persentasenya mengalami peningkatan dari 47,6 persen dalam periode April-Agustus 1983, menjadi sebesar 49,0 persen dalam periode yang sarna tahun 1984. Adapun realisasi nilai impor barang modal dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 1.945,0 juta. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun 1983 yang berjumlah sebesar US $ 2.114,2 juta, berarti telah terjadi penurunan sebesar US $ 169,2 juta atau 8,0 persen. Penurunan ini terjadi pacta impor mesin-mesin, generator listrik, peralatan listrik dan lainnya. Penurunan dalam realisasi nilai impor ini telah mengakibatkan pula menurunnya persentase impor kelompok barang modal terhadap realisasi nilai impor bukan minyak dan gas secara keseluruhan, yaitu dari sebesar 44,5 persen dalam periode April-Agustus 1983, menjadi sebesar 43,9 persen dalam periode yang sarna tahun 1984. Gambaran yang terperinci mengenai impor bukan minyak dan gas dapat diikuti dalam Tabel V.3.

Departemen Keuangan RI

137

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986
Tabel V.3 NILAI IMPOR TANPA MINY AK DAN GAS MENURUT GOLONGAN BARANG, 1969/1970 - 1984/1985 (df, dalam jutaan US $) persentase persentase persentase persentase persentase Jenis barang 1969/1970 dari 1970/1971 dari 1971/1972 dari 1972/1973 dari 1973/1974 dari jumlah jumlah jumlah jumlah jumlah I. Barang konsumsi 180,7 22,1 178,1 17,7 157 13,2 293,7 16,2 544,1 18,9 1. Beras 46,9 44,1 27,3 132,6 367,8 2. Tekstil 28,3 16 11,9 23 13,2 3. Susu, makanan, minuman dan buah - buahan 23,7 34 31,9 22,3 48,6 4. Tembakau daD olahannya 7,3 1,8 2,6 4,1 6,3 1 1,4 1,7 3,5 7,7 5. Sabun dan kosmetik 6. Alat-alat rumah tangga 10,9 12,3 15,8 6,7 24,6 7. Lainnya 62,6 68,5 65,8 101,5 75,9 ll. Bahan baku/penolong 399,7 48,8 475,6 47,3 562,3 47,3 790,4 43,7 1.257,90 43,7 1. Bahan kimia 60,3 69,6 80 115,2 171 2. Bahan obat-obatan 12,9 14,3 13,6 18,8 31,6 27,6 19,5 35,2 46,2 68,8 3. Pupuk 4. Bahan-bahan kertas 21,3 26,9 25,2 30,1 53,3 5. Benang tenun 54,3 55,3 56,5 106,2 206,5 6. Semen. kapur dan bahan bangunan buatan pabrik 11,3 13,8 18,2 25,8 46,5 7. Besi baja dan logam 61,5 72,6 113,2 186,6 351,4 1,3 1,2 1,1 19 78,3 8. Bahan-bahan karet dan plastik 9. Bahan bangunan 6,1 10,8 16,3 25,7 56 10. Alat-alat listrlk 1 1,2 ' 0,9 5,7 23 11. Lainnya 142,1 190,4 202,1 211,1 171;5 III.Barang modal 238,7 29,1 352,6 35 470,6 39,5 724,5 40,1 1.079,00 37,4 1. Mesin-mesin 115,8 183,8 247,8 373,2 588,4 5,3 7,6 10,9 31,9 87,1 2. Generator listrik 3. Alat telekomunikasi 16,9 19,2 21 32,4 46,9 7,2 11 12,3 16,4 31,3 4. Peralatan listrik 5. Alat pengangkutan 44,7 62,9 81,4 141,2 301,3 6. Lainnya 48,8 68,1 97,2 129,4 24 Jumlah 819,1 100 1.006,30 100 1.189,90 100 1.808,60 100 2.881,00 100

Jenis barang I. Barang konsumsi 1. Beras 2. Tekstil 3. SolO, makanan, minuman dan buah-buahan 4. Tembakau dan olahannya 5. Sabun dan kosmetik 6. Alat-alat rumah tangga 7. Lainnya n. Bahan bakufpenolong 1. Bahan kimia 2. Bahan obat-obatan 3. Pupuk 4. Bahan-bahan kertas 5. Benang tenon 6. Semen, kapur dan bahan bangunan buatan pabrik 7. Besi baja dan logam 8. Bahan-bahan karet dan plastik 9. Bahan bangunan 10. Alat-alat listrik 11. Lcinnya ill.Barang modal 1. Mesin-mesin 2. Generator listrik 3. Alat telekomunikasi 4. Peralatan listrik 5. Alat pengangkutan 6. Lainnya Jumlah

1974/1975

persentase persentase persentase persentase persentase dari 1975/1976 1976/1977 dari 1977/1978 dari 1978/1979 dari dari jumJah jum1ah jum1ah jumJah jum1ah 659 16,9 519 831,2 15,3 1.176,40 21,3 1.202,90 19,5 11,8 426,8 234,7 408,4 677,7 592,3 15,9 13,5 21,6 26,6 23,9 130,7 7,9 8,6 27,8 95,8 2.151,10 273,4 33 316,5 70,7 254,2 61,9 585,2 128,9 111 62,7 253,6 1.730,10 804,9 167,2 122 61,7 530,4 43,9 4.400,20 173,4 13,5 17,1 42,5 154,7 2.156,40 332,3 45,4 22,1 109,6 307,8 60,4 587,7 165,4 165,7 97,6 262,4 2.453,60 1.125,80 264,2 355,4 131,2 531,5 45,5 5.441,20 238,1 15,3 19,5 43,5 155,8 2.185,10 392,5 42,1 31,9 117,2 322,5 29,4 597,4 175,3 155,4 84,2 237,2 2.152,90 944,7 203,2 200,9 125,3 615,8 63 5.514,40 256,1 16 20,5 56,9 237,2 2.616,10 461,9 48,3 55,2 123,2 293,3 23,7 760,4 223,5 115,7 90,3 420,6 2.335,40 1.113,10 187,2 122,5 134,1 734,6 43,9 6.154,40

77,7 11,6 7,4 31,9 87,7 1.816,00 239,9 33,8 305,6 58,9 229,5 76,2 467,8 99,9 77,4 38,4 188,6 1.430,40 738,7 141 60,7 45,3 415,2 29,5 3.905,40

46,5

48,9

39,6

39,6

42,5

36,6

39,3

45,1

39,1

38

100

100

100

100

100

Berdasarkan PPUD yang diolah Biro Pusat Statistik

5.3.3.Pengeluaran jasa-jasa (netto) Usaha-usaha meningkatkan penerimaan devisa dan penghematan penggunaan devisa dalam bidang jasa-jasa terus digalakkan. Berkaitan dengan itu, fasilitas bebas visa selama dua bulan yang telah diberikan sejak 1 April 1983 kepada wisatawan dari 26 negara, mulai 1 September 1984 juga diberikan kepada para pengusaha dari negara-negara tersebut, bahkan telah ditambah dua negara lagi sehingga meliputi 28 negara. Demikian pula pembangunan
Departemen Keuangan RI

138

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

industri dan sarana pariwisata dirangsang dengan memberikan keringanan bea masuk dan pajak penjualan impor atas barang-barang tertentu yang masih dibutuhkan dan belum dihasilkan di dalam negeri. Sementara itu kebijaksanaan pengiriman tenaga kerja Indonesiake luar negeri (Timur Tengah) terus digalakkan, dengan harapan dapat menambah penerimaan devisa yang berasal dari uang kiriman para tenaga kerja ke tanah air (remittance). Pengendalian tata pelaksanaan pengerahan tenaga kerja dewasa ini mencakup juga penentuan upah terendah, dan kewajiban mentransfer paling sedikit lima puluh persen penghasilan yang diterima. Selanjutnya usaha penghematan penggunaan devisa di bidang jasa-jasa dilaksanakan dengan tetap menerapkan bea fiskal perjalanan luar negeri sebesar Rp 150.000,- bagi setiap orang yang bepergian ke luar negeri. Pengeluaran devisa untuk jasa-jasa setelah dikurangi dengan penerimaan devisa dari jasa-jasa, baik minyak dan gas maupun di luar minyak dan gas, dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 7.587 juta. Jumlah ini berarti lebih rendah sebesar US $ 76 juta hila dibandingkan dengan realisasinya dalam tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 7.663 juta. Perkiraan penge1uaran devisa untuk jasa-jasa tersebut terdiri dari pengeluaran jasa-jasa bukan minyak dan gas sebesar US $ 4.176 juta, yang berarti lebih tinggi sebesar US $ 102 juta atau 2,5 persen hila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 4.074 juta. Lebih tingginya pengeluaran jasa-jasa tersebut terutama disebabkan karena meningkatnya pembayaran bunga pinjaman luar negeri. Di lain pihak pengeluaran jasa-jasa minyak (termasuk LNG) menunjukkan penurnnan sebesar US$ 178 juta atau sebesar 5,0 persen, yaitu dari US $ 3.589 jut3 dalam tahun 1983/1984 menjadi US $ 3.411 juta dalam tahun 1984/1985. 5.3.4. Lalu lintas modal dan transfer Dengan semakin meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan terbatasnya penerimaan devisa yang dapat dihimpun, pemasukan modal baik dalam bentuk pemasukan modal Pemerintah maupun modallainnya tetap diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran, dan kelangsungan pembangunan ekonomi nasional. Namun demikian sikap berhati-hati dalam meminjam, dan selektif dalam pemilihan proyek-proyek yang dibiayai dari dana luar negeri tersebut lebih diperhatikan, sehingga penggunaannya dapat meningkatkan kemampuan pengembangan industri dalam negeri, dan mendorong perluasan lapangan kerja, serta pacta akhirnya tidak akan menyulitkan posisi neraca pembayaran dimasa yang akan datang. Sehubungan dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut, lalu lintas modal, yang merupakan hasil bersih pemasukan modal Pemerintah dan pemasukan modal lainnya setelah dikurangi dengan pembayaran angsuran pokok hutang luar negeri, dalam tahun 1984/1985
Departemen Keuangan RI

139

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

diperkirakan berjumlah sebesar US $ 3.191 juta. Jumlah tersebut terdiri dari pemasukan modal Pemerintah sebesar US $ 4.359 juta, dan pemasukan modallainnya sebesar US $ 341 juta. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 1983/1984, masing-masing menurun sebesar US $ 1.434 juta atau 24,8 persen, dan sebesar US $ 850 juta atau 71,4 persen. Sedangkan realisasi pelunasan hutang pokok luar negeri dalam tahun 1984/1985 diperkirakan meningkat dari tahun sebelumnya sehingga mencapai jumlah sebesar US $ 1.509 juta. Peningkatan terse but adalah sejalan dengan semakin bertambah besarnya kewajiban penyelesaian hutang dari tahun-tahun sebelumnya yang telah jatuh tempo. 5.4. Perkiraan neraca pembayaran dalam tahun 1985/1986 Atas dasar perkiraan realisasi dalam tahun 1984/1985, dan dengan memperhitungkan perkembangan yang diperkirakan akan terjadi baik terhadap ekspor, impor maupun lalu lintas modal dalam periode berikutnya, neraca pembayaran Indonesia dalam tahun 1985/1986 diperkirakan masih akan mengalami surplus meskipun tidak sebesar dalam tahun 1984/1985. Keadaan ini diperkirakan terjadi karena di satu pihak realisasi transaksi berjalan diperkirakan akan mengalami defisit sebesar US $ 3.409 juta, dan di lain pihak lalu lintas modal bersih, baik yang berasal. dari pemasukan modal Pemerintah maupun pemasukan modal lainnya, setelah dikurangi angsuran pokok hutang luar negeri, dalam periode tersebut mencapai US $ 3.682 juta. Dengan demikian neraca pembayaran tahun 1985/1986 diperkirakan surplus sebesar US $ 273 juta. 5.4.1. Perkiraan nilai ekspor bukan minyak dan gas Kalau dalam tahun 1984/1985 nilai ekspor di luar minyak dan gas realisasinya diperkirakan mencapai US $ 6.050 juta, maka dalam tahun 1985/1986 nilai ekspornya diperkirakan mencapai sebesar US $ 7.009 juta, yang berarti meningkat sebesar. US $ 959 juta atau 15,9 persen. Adapun perkiraan kenaikan nilai ekspor di luar minyak dan gas terse but didasarkan pacta pertimbangan-pertimbangan : (1) Mulai pulihnya perekonomian negara-negara industri dari pengaruh resesi, sehingga harga-harga komoditi di luar minyak dan gas di posaran internasional diharapkan akan meningkat, disertai dengan meningkatnya permintaan negara-negara tersebut terhadap komoditi di luar minyak dan gas; (2) (3) Penanganan ekspor komoditi di luar minyak dan gas secara terpadu dan efisien; Ditingkatkannya usaha perluasan posar antara lain dengan' mengadakan hubungan dagang dengan negara-negara Eropa Timur.
Departemen Keuangan RI

140

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

5.4.2. Perkiraan nilai impor bukan minyak dan gas Pengduaran devisa untuk impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1985/1986 diperkirakan akan berjumlah sebesar US $ 13.342 juta. Jumlah ini adalah US $ 1.173 juta atau 9,6 persen lebih besar bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 sebesar US $ 12.169 juta. Nilai impor bukan minyak dan gas tahun 1985/1986 didasarkan atas perkiraan-perkiraan sebagai berikut : (1) Kebijaksanaan kurs devisa untuk menjaga keseimbangan perdagangan luar negeri masih tetap dipertahankan. (2) Keadaan resesi ekonomi dunia yang menunjukkan pemulihan akan mempengarnhi perekonomian Indonesia khususnya di bidang produksi industri dalam negeri, sehingga untuk keperluan industri dalam negeri t_rsebut diperlukan impor bahan baku/penolong serta barang modal yang lebih tinggi. (3) Pemerintah masih tetap menjaga kestabilan harga barang-barang kebutuhan masyarakat sehingga terhadap barang yang belum mencukupi atau belum diproduksi di dalam tetap dilakukan impor. (4) (5) (6) Pemakaian produksi dalam negeri terus digalakkan. Impor dalam rangka bantuan proyek dan bantuan program masih tetap diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Kebijaksanaan penjadwalan kembali (rephasing) yang telah dilaksanakan untuk proyek proyek tertentu yang banyak menggunakan barang-barang impor masih tetap dipertahankan. 5.4.3.Perkiraan penerimaan minyak bersih termasuk LNG Situasi posaran minyak dunia sampai saat ini belum memperlihatkan tanda-tanda perbaikan seperti yang diharapkan. Situasi yang demikian ini sangat frat hubungannya dengan proses pemulihan ekonomi yang berjalan lamban, sehingga adanya kelebihan produksi minyak dunia tidak segera diikuti oleh penambahan permintaannya. Di samping itu harga minyak tunai (spot) diposaran dunia terus mengalami posang surut bersamaan dengan posang surntnya pemulihan perekonomian dunia, terntama di negara-negara industri, perubahan musim di belahan bumi non tropis, serta peleposan/penambahan cadangan (stock) minyak oleh negaranegara industri. Situasi yang demikian itu telah memaksa OPEC mengambil keputusan untuk memperbaiki situasi minyak yang ternyata sampai akhir tahun 1984 belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Bahkan sesuai dengan hasil pertemuan OPEC bulan Oktober 1984 telah diputuskan bahwa kuota produksi diturunkan dari 17,5 juta barrel menjadi 16 juta barrel per
Departemen Keuangan RI

negeri

141

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

hari, sedangkan harga patokan minyak mentah masih tetap dipertahankan sebesar US $ 29 per barrel. Dengan adanya ketentuan kuota produksi minyak tersebut, maka kuota produksi minyak Indonesia harns diturunkan sebanyak 111.000 barrel per hari selama bulan November dan Desember 1984. Sementara itu dengan telah diproduksinya beberapa peralatan pengeboran minyak oleh industri dalam negeri, maka akan mempengaruhi penghematan penggunaan devisa untuk impor di sektor minyak. Di lain pihak devisa hasil ekspor gas alam yang dicairkan (LNG) diperkirakan akan mengalami peningkatan dalam tahun 1985/1986. Atas dasar perkiraan realisasi penerimaan minyak bersih termasuk LNG dalam tahun 1984/1985, serta perkiraan situasi pasaran minyak dunia yang akan terjadi, maka dalam tahun 1985/1986 penerimaan minyak bersih (termasuk LNG) diperkirakan berjumlah sebesar US $ 7.299 juta. 5.4.4. Perkiraan pos lainnya Pengeluaran devisa untuk pembayaran jasa-jasa. dalam tahun 1985/1986 diperkirakan masih akan lebih besar dari penerimaannya, sehingga sektor jasa masih menunjukkan hasil bersih yang negatif bagi penerimaan devisa negara. Sehubungan dengan itu, usaba peningkatan penerimaan devisa, dan penghematan penggunaannya di bidang jasa-jasa akan terus dilakukan melalui pengembangan sektor kepariwisataan, pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, pembatasan perjalanan ke luar negeri, pengurangan secara bertahap penggunaan tenaga kerja asing/konsultan di Indonesia, serta peningkatan peranan armada niaga nasional dalam pengangkutan barang ekspor dan impor. Dalam tahun 1985/1986 hasil bersih untuk jasa-jasa diperkirakan berjumlah sebesar US $ 8.102 juta. Selanjutnya pemasukan modal Pemerintah dalam tahun 1985/1986 diperkirakan akan berjumlah sebesar US $ 4.974 juta, termasuk bantuan proyek sebesar US $ 4.016 juta. Sedangkan pemasukan modallainnya diperkirakan akan mencapai sebesar US $ 406 juta. Di lain pihak, pembayaran kembali hutang pokok luar negeri dalam tahun 1985/1986 diperkirakan sebesar US $ 1.698 juta.

Departemen Keuangan RI

142

telah terjadi pula perubahan struJ<:. 6. yaitu ke arab suatu perekonomian industri yang didukung oleh sektor pertanian yang tangguh.2.2 persen per tahun. yang pada gilirannya memungkinkan terwujudnya peningkatan tarat hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat. maka dalarn periode tersebut telah terjadi kenaikan rata-rata sebesar 7. yaitu dari periode tahun 1969 sampai dengan tahun 1983. pendapatan nasional sebagaimana tercermin dari perkembangan nilai produk domestik bruto dari tahun 1969 sarnpai dengan tahun 1983 telah menunjukkan jumlah yang semakin besar. Pendahuluan Sebagai suatu negara yang sedang berkembang. Indonesia sejak tahun 1969 dengan giat melaksanakan pembangunan nasional secara berencana dan bertahap serta berpegang teguh pada kebijaksanaan Trilogi Pembangunan.214.2 persen per tahun.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VI PENDAPATAN NASIONAL 6.7 milyar. Keadaan tersebut merupakan suatu petunjuk terjadinya suatu proses keseimbangan yang lebih baik dalam struktur ekonomi. Sedangkan apabila diukur atas dasar harga konstan tahun 1973. gas dan air minum telah semakin meningkat.718. Hal ini berarti bahwa selama kurun waktu tersebut. yakni sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur melalui produk domestik bruto atas dasar harga yang berlaku telah berhasil ditingkatkan dengan rata-rata sebesar 26.0 milyar menjadi sebesar Rp 71.1). yakni dari sebssar Rp 2. produk domestik bruto atas dasar harga yang berlaku mengalami kenaikan rata-rata sebesar 26.1. Departemen Keuangan RI 143 . Dalam kurun waktu 14 tahun. Perkembangan pendapatan nasional menurut lapangan usaha dan kontribusinya Hasil pembangunan ekonomi antara lain dicerminkan dari pendapatan nasional yang senantiasa meningkat dalarn kurun waktu 14 tahun terakhir ini. sektor perdagangan. Di samping telah dicapainya penmgkatan produk domestik bruto dari tahun ke tahun.2 persen per tahun (Tabel VI. pembangunan nasional mengusahakan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Berdasarkan harga yang berlaku. sektor bangunan. lembaga keuangan dan jasa lainnya. di satu pihak peranan sektor pertanian menurun sedangkan di lain pihak peranan sektor lainnya seperti sektor industri. serta sektor listrik.tural yang penting. Tanpa mengabaikan usaha pemerataan dan kestabilan.

2 persen. Listrik.00 1978 3.70 69. Pengangkutan dan komunikasi 7.1 847.507.930.00 1.003.70 4.070.80 3.2 persen selama kurun waktu 14 tahun tersebut terutama didukung oleh sektor bangunan yang mempunyai tingkat pertumbuhan paling tinggi yaitu rata-rata sebesar 14.70 380.680.2 PRODUK DOMESTIK BRUTO.247.60 6.50 9.013. Sebagaimana terlihat pada Tabel VI.353.714.70 1.30 9. Pertambangan & penggalian 3.156.80 1. Industri pengolahan 4.00 1973 2. Tanaman bahan makanan b.8 804.057.80 1.3 3.1 30.50 1979 3.401.575.10 828.1 2.374.10 2. Bangunan 6.795.882.00 1.00 1979 8. lembaga keuangan dan jasa lainnya sebesar Rp 4.2 3.873.6 562.117.60 56. maka ekonomi mulai membaik dan dalam tahun 1983 telah mencapai sebesar 4. Listrik.235.00 1.9 persen per tahun.538. gas.390. antara lain sektor pertanian sebesar Rp 3.981.00 1972 1.421.8 milyar. suatu pertumbuhan yang dimungkinkan di samping oleh kebijaksanaan Pemerintah dan upaya masyarakat.325.60 2.50 5.905.755.261.8 589.70 12.375.20 12.255.402.2 Setelah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah dalam tahun 1982 yakni sebesar 2.479.30 6.10 1983 18.5 1.90 10.00 1. Pertanian.427.4 262 257 2.593.80 1. kehutanan.842.420.80 1.356.8 3.6 4.554.20 15.30 956.812.069.60 8.453.2 milyar.811.00 1976 4.60 4.80 2.9 528.031.9 4.115.681.00 1.290.023.90 6.00 1.2 3.3 384.6 662.1 812.3 609.893. juga karena adanya kebangkitan kembali ekonomi dunia.00 1. perikanan a.892.5 752.6 1.00 1982 15.540.00 1975 4.103.245.60 4. maka terlihat bahwa upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat selama kurun waktu memperihatkan hasil yang nyata.2 952.269. 1969 .182.5 milyar serta sektor perdagangan.669.965.00 1.60 77.850.00 1.970.30 12.8 438.80 2.9 41.00 1.70 11.40 1974 2.484.10 1.10 1.310.50 1.00 890 52 406 442 3. Tabel VI.5 milyar menjadi Rp 12. Pertambangan & penggalian 3.668.20 1.047.979.2 persen per tahun.753.2 persen per tahun.0 859 755 37 320 288 2.90 8.40 2.294.90 2.7' 6.034.00 1.573.00 962 613 173 293 15 100 96 986 1971 1.90 105.50 2.169.1 3. 1embaga keuangan danjasa lainnya Jumlah 1969 2.707.6 114 158 1.70 288.60 1982 3.2 4.00 890 452 399 19.8 1.20 12.738.005.067.50 112.00 5.642. laju pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 7.908.4 3.164.599.351.734.242.811.698. Pengangkutan don komunikasi 7.877.395.00 7.60 2.995.30 1l.047.434.00 21.80 1.096.00 1. industri pengolahan 4.00 766 491 448 20 174 182 1.60 1.90 1980 3.101.80 1976 2. perikanan a.5 143 165 1.8 7.00 831 650 30.346.816.820.9 720.10 1. Lainnya 2.379.117.287. lembaga keuangan dan jasa lainnya 1969 1. Pertanian.20 1.823.123.9 639.6 2.60 2.659. Perdagangan.80 1.064.771.414.50 8.8 716.630.380.013.90 1.870.40 2.40 1.00 4.2 persen.00 6.942.9 5.60 148.40 1.40 118.9 514. Bangunan 6.2 364.40 2.820.90 4.437.50 11.00 1971 2.60 1.821. sektor industri pengolahan sebesar Rp 1. atas dasar harga konstan tahun 1973) Lapangan usaha 1.2.1983 (dalam milyar rupiah atas dasar harga yang berlaku) 1974 4. don al£ minum 5.90 225.70 3.50 1970 2.90 2.821.7 2. Tanaman bahan makanan b.00 961 685 294 307 18 128 162 1.00 1.961.942.10 1.50 1.90 1978 6.433.5 342.556.566. produk domestik bruto yang dihitung atas dasar harga konstan tahun 1973.20 17.835.8 1.544.60 5.6 milyar.7 171 210 1.00 831 650 30. kehutanan.00 3.30 68.199.706.415.672.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e 1 VI.943.90 1.00 Dalam periode yang sama. 1969 -1983 (dalam milyar rupiah.991.10 1977 5.235.480.30 98.00 674 564 26.373.00 823 516 129 251 13 75 77 834 1970 1.80 89.80 12842.00 2.90 7.70 49 463.80 1.657.2 milyar tersebut terbentuk dari nilai tambah bruto di semua sektor.40 939.003.70 Lapangan usaha 1.80 3.043.357. juga mengalami peningkatan dari sebesar Rp 4.768.00 1.70 1972 2.30 1980 11.054.20 2. Departemen Keuangan RI 144 .30 842.30 1977 2. Perdagangan.412.412.30 9.427.70 1.00 1.7 2.332.00 5.441.20 1.646.325.263. Lainnya 2.833.433.2 676.048.00 1.40 1983 3.2 222 229 1.50 12.00 1.424.357. Dengan demikian apabila perkembangan tersebut dikaitkan dengan laju pertumbuhan penduduk yang diperkirakan sekitar 2.70 105.046.00 551 490 24.80 1981 13. gas.837. 1 PRODUK DOMESTIK BRUTO.573.20 1973 2.8 559.4 262 257 2.3 1.339.696.842.50 5. Produk domestik bruto sebesar Rp 12.678.00 954 522 435 22. atau naik rata-rata sebesar 7.3 930 46.5 757.134.1 88.523.918.448.900.073.00 305.20 1981 3.845.50 8.6 521.436.845. Dengan demikian selama Pelita III telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 6 persen per tahun.027.70 3. Perkembangan secara lebih terperinci dapat diikuti pada Tabel VI.5 4.137.6 4.00 1975 2.932.704.60 13.071.8 302.3.30 1.70 1.137.710. dan air minum 5.789.707.00 6.710.80 5.80 1.299.30 1.00 3.30 1.275.

2 2.2 3.4 5.2 16 18 12.1 41.9 32 12.7 11.7 26.3 9.1 6. Perdagangan.6 41.6 67 45.8 30.4 14 5.1 52 50.8 12 48. seperti halnya sektor industri pengolahan.4 12.4 33. kehutanan.2 23.4 5.2 6. sektor bangunan serta sektor pengangkutan dan komunikasi.7 persen per tahun.2 16.4 18. Di samping itu sektor perdagangan.7 26.3 15 12.1973 20. 1embaga keuangan dan jasa 1ainnya Produk Domesdk Bruto ( Atas dasar harga konstan 1973 ) 1.2 59.1 -12.9 4.8 11.5 9 14.1 16.8 5.6 9. peranan sektor-sektor lainnya di luar sektor pertanian pada umumnya menunjukkan tendensi yang semakin meningkat.3 33.2 22.4 19 19.3 8. namun sumbangannya terhadap pembentukan produk domestik bruto masih tetap besar. Perdagangan.1 28 23.7 39.1 35.9 20.8 9 13 9.7 51.9 persen dalam jangka waktu 14 tahun kemudian.3 41 38.2 28.8 26.9 29.4 22. 2.7 13.9 26.01 12.3 22.1 1978 13.2 45.2 19. gas daft air minum 5.9 13.6 27.2 15.4 4.5 69. jalan.9 5.1 0.1 persen. Bangunan 6.9 5 6.2.5 18.3 persen dan 5.3 1974 29 185.4 19.1 4.3 40.7 31. Bangunan 6. lembaga keuangan dan jasa lainnya juga meningkat yaitu dari sebesar 29.9 3.8 persen dalam tahun 1983.1 9.4 7.9 persen dari seluruh nilai produk domestik bruto.1 33.3 15. perikanan 2.8 -9.4 2.7 18.2 12 21. Sementara itu walaupun laju pertumbuhan sektor pertanian lebih rendah dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.3 13.7 5 1976 20. perikanan 2.7 36.9 11.1 10.9 18.9 12.7 22.1 32.8 25.2 19.2 17.2 17.8 18.6 21.8 36.5 11. Di samping itusektor perdagangan.8 persen per tahun.6 12.8 13 10.7 15.8 16.8 27.3 26.1 22 22. Di samping itu sektor listrik.3 4.2 21.9 4.1 12.4 58.3 1.7 1977 22.4.3 persen.1983 ( persentase kenaikan ) Lapangan ulaha ( Atas dasar harga yang berlaku ) 1.8 1.4 4.8 19. kehutanan.1 14 17.5 37.5 1971 4.2 1981 20.3 23.6 13.8 13.4 8.5 4.4 .3 24.1 10. 1970.9 6.3 15. Seperti terlihat pada Tabel VI.3.9 7. yaitu ke arab struktur ekonomi yang lebih seimbang dengan sektor industri yang maju dan didukung oleh sektor pertanian yang tangguh.1 9. Listrik.5 11.9 11.2 5 4.3 11.1 55 72 51.6 6. lndustri pengolahan 4. Namun peranan tersebut berangsur-angsur menurun menjadi sebesar 29. yaitu sebesar 46. jembatan dan irigasi. Hal ini pada gilirannya diharapkan dapat mengacu kepada perimbangan yang serasi dan sesuai dengan sasaran pembangunan ekonomi jangka panjang. 1embaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto 1970 17.6 48 9. Pengangkutan dan komunikasi 7.2 36.7 12.5 67.8 3.8 5. gas dan air minum.7 7 1972 11.1 29.3 7.3 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 34.7 19.7 22.6 34.5 persen dalam tahun 1983. Dari perbedaan laju pertumbuhan antarsektor tersebut dapat dilihat bahwa telah terjadi proses perubahan di dalam komposisi produk domestik bruto.5 6.6 13.4 1973 47.8 20 28 68. Departemen Keuangan RI 145 .6 16. Pertambangan & penggalian 3. lndustri pengolahan 4.9 71.0 9.4 24.7 8.2 42. yaitu meningkat ratarata sebesar 3.4 12. Pengangkutan daft komunikasi 7.8 2.7 1979 34.2 7.2 5.8 33. 6.6 29 29.6 3.1 60.4 persen dan 5.3 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 15.6 22.2 8 7.9 12.5 4.4 8. sektor industri pengolahan serta sektor pengangkutan dan komunikasi juga cukup besar peranannya.5 19.3 persen. Pertambangan & penggalian 3.9 1980 25.6 25.9 27.2 1.4 .7 3.2 Rata-rata 3) 1970 . Pertanian.3 10.5 persen per tahun.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VI.9 1982 1) 1983 2) 14.5 69. yakni masing-masing dengan kenaikan rata-rata sebesar 13.5 7.8 19.1 15.8 26.2 45.9 persen dan 11. lembaga keuangan dan jasa lainnya serta sektor pertambangan dan penggalian masing-masing mengalami kenaikan ratarata sebesar 8. peranan sektor pertanian dalam tahun 1969 tampak menonjol.4 20.6 8.3 14.6 5.4 persen dan 3.6 1975 14. 11.2 13.1 1.2 7.9 5.3 PRODUK DOMESTIK BRUTO.4 37.5 40.1 16. gas daft air minum 5.9 25 7.4 3.1 10. Listrik. yang masing-masing meningkat dari sebesar 8.1 26.9 -1.7 7.2 17.5 5.3 34. Pertanian.9 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Dihitung dengan compound rate Hal tersebut sejalan dengan makin meningkatnya kegiatan pembangunan di berbagai bidang seperti perumahan. Di lain pihak.

5 persen Departemen Keuangan RI 146 . kehutanan. Apabila dalam tahun 1969 peranan pembentukan modal domestik bruto atas dasar harga yang berlaku terhadap produk domestik bruto baru mencapai sebesar 11.1 5.4 8.2 8.2 persen dalam tahun 1969 menjadi 30. Industri pengolahan 4.9 4.9 31.4 0.8 0.8 11 12.9 0.7 5.3 5.9 milyar dan Rp 11. dapat pula dilihat dari perkembangan masing-masing komponen penggunaannya seperti terlihat pada Tabel VI.6 5.8 10.7 100 46.7 4.4 100 36.7 11. dalam periode yang sarna pengeluaran konsumsi pemerintah dan pengeluaran konsumsi rumah tangga juga telah menunjukkan peningkatan.8 4 31.3 4. terutama disebabkan oleh meningkatnya pembentukan modal domestik bruto yaitu dari sebesar Rp 537.6 15. Perkembangan pendapatan nasional menurut jenis penggunaan Perkembangan ekonomi nasional sarnpai dengan tahun 1983 selain ditunjukkan oleh kenaikan per sektor.4 4.2 persen per tahun.7 0.9 persen dan 8.3 9. Listrik.9 100 40.4 30.758.2 10.9 100 31.5 5.8 100 40.7 9.6 0.3 9 0.4 29.3 4. Pertambangan & penggalian 3.6 5. perikanan 2.6 12.5 3. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 24.3 100 48.4 32.3.6 12 11.1 persen.1 0. Pengangkutan dan komunikasi 7.2 31.1 18.4 31. perikanan 2.4 29.921.5 2.5 10. Pertanian.4 2.5 3.5 0.8 29.3 0.4 3. lndustri pengolahan 4.8 29.7 3.6 5.8 25.5 30.5 4. Hal ini berarti bahwa kenaikan riil sebesar 7.5 5.8 100 28.8 34. gas dan air milIum 5.9 11.7 3. baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun oleh swasta.1 3 30.7 6.3 24 10.1 3.3 27.2 4.5 3.5 5.9 100 40.3 100 31 18.0 milyar dan Rp 3.8 29. Bangunan 6.8 4.5 4.7 4.3 9.1 30.4 3.9 0.791.8 2.7 19.2 persen per tahun dalarn periode tersebut.1 milyar dalam tahun 1983.8 4. Perdagangan.6 4.8 0.9 6. yaitu masing-masing dari sebesar Rp 414.9 9.1 0.6 5.7 30.7 100 44. 1969 .7 5.3 100 32 10.5 32.1 11.6 5.3 30.2 0.9 0.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TabeI VI.7 22.1 12.5 5. pembentukan modal domestik bruto tetap menunjukkan kenaikan yaitu dari sebesar 11.5 0.4 100 36.3 19.5 4.6 0.5 dan Tabel VI.1 21.9 0.2 100 29.3 10.2 100 33. Selanjutnya di samping meningkatnya pembentukan modal domestik bruto.5 100 30. alas dasar harga konstan tahun 1973.3 0.501.2 milyar dalam tahun 1983.4 30.5 19.6 4.4 0.4 12.1 12.6 0.7 30 100 29.8 100 32. Pengangkutan dan komunikasi 7.8 8.4 0. Jika dihitung alas dasar harga konstan tahun 1973.9 100 25.2 persen per tahun.9 9.6 5.8 30.6 33.4 15.8 10.4 4 30.4 100 38. Terlihat bahwa peranan masing-masing jenis penggunaan produk domestik bruto dalarn periode tahun 1969 sarnpai dengan tahun 1983 telah menunjukkan perubahan dalam komposisi penggunaannya.7 5.9 8.9 100 40.4 0.5 3.9 3.1983 ( persentase ) 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) Lapangan usaha (Atas dasar harga yang berlaku) 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1.5 milyar dalam tahun 1969 menjadi sebesar Rp 1.4 19.7 persen.8 0.8 8 8. gas dan air milIum 5.6.1 100 29.8 4 30. alan suatu kenaikan sebesar rata-rata 15.8 10.3 15.5 100 45.8 9.6 5.2 29.9 15.3 0.4 0. Pertanian.4 100 26.5 5.5 100 1.5 4. kehutanan.2 persen per tahun selama 14 tahun tersebut terutarna berasal dari semakin tingginya kegiatan investasi.5 3. Listrik.7 8. Perdagangan.9 3.1 8.9 34.2 4.4 100 26.7 11. lembaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 6.8 7.7 6 5.6 0.3 0. alan suatu kenaikan rata-rata sebesar 10.3 0.9 7.1 28.6 4. Bangunan 6.1 9.9 9.5 3.3 29.2 100 24. lembaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto (Atas dasar harga konstan 1973) 49.8 100 29.8 milyar dalam tahun 1969 menjadi sebesar Rp 3.4 3.4 2.2 100 32.8 11.7 11-Jun 0.7 9. Meningkatnya produk domestik bruto.9 6. dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 dengan rata-rata sebesar 7.3 13. Pertambangan & penggalian 3.8 30.4 0.5 4. 4 PERANAN MASING-MASING LAPANGAN USAHA DALAM PROD UK DOMESTIK BRUTO.2 100 31.4 100 44 9.

5 3.80 1.467.102.10 5.8 5.40 2.20 1l.60 483.1 8.50 1.4 424 2. peran:annya narnpak semakin meningkat. Produk domestik bruto 7.70 27.20 4.40 45.50 1.60 3.20 7.60 -866.419.70 4. dan dari sebesar 8.927.90 1.553. Produk nasional bruto 9.280.375.7 11.70 16.10 135 176 2.156.5 394.2 5.1 7.077. Dikurangi: Impor barang dan jasa 6.2 10.20 229 236 328 447 519.642.658.70 -3.30 294.70 600.6 803.194.482.40 Jenis penggunaan 1.035.984.513.7 439 696 821 1.8 18.4 1.50 1980 8.30 5.489.732.5 8.00 -420.6 7.741.50 -493. Ekspor barang dan jasa 5.70 3.80 199 317 328.90 35.00 .2 5.30 -314.80 -389 7.5 6.435.80 2.8 746 668.560.445.5 1983 2) 49.879.146. Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi 8.60 27.30 3.745.831. 580 857 1.00 2.0 4.512.8 6.253.20 1.864.90 587.879.636.6 -556.70 351.80 3.60 1973 4.5 1. Pengeluaran konsumsi pemerintah 3.2 -254.345.672.484.10 3.7 -1.00 7.90 430.5 238.883.10 3.80 2.355.6 496 6.6 6.208.30 466. yaitu apabila dihitung atas dasar harga yang berlaku telah menurun dari negatif 3.70 13.088.10 3.67.028.502.332.187.228.8 -482.30 2.132.822.80 370.1 313.4 -498.70 1972 4.8 576.803.70 3.10 1. Dalam pada itu ekspor netto juga mengalmi perubahan.00 32.40 11.6 persen dalam tahun 1969 menjadi negatif 33.704.90 3.054.7 3.1 12.40 -652.511.675.753. Demikian pula halnya untuk konsumsi pemerintah.90 68.3 4.30 30.797.5 PENGGUNAAN PRODUK DOMESTIK BRUTO.209.791.522.60 1.80 13.50 19.231.287.303.9 2.10 19.842.3 6.48.238.502. sedangkan atas dasar harga konstan tahun 1973 menunjukkan suatu penurunan dari positif 1.30 8.578.00 5.182.564.20 4.20 71.10 1.535.9 360.4 786.367.10 1.440.40 9.811.466.60 12.5 778.00 1.343.90 1.50 188 219 2.032. Produk nasional netto atas dasar biaya faktor produksi 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Residual 1969 3.189.20 399.30 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam tahun 1983.6 persen menjadi sebesar 13.90 6.50 560.957.890.40 4.399.650.641.229.867.027.650. Di lain pihak peranan konsumsi rumah tangga mengalarni penurunan yaitu dari sebesar 84.80 6.40 3.00 328 439 5. Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi 8.708.4 13.6 10.70 22.00 2.534.044.60 1.208.10 1.40 12.80 13.630.80 2.2 5.007.70 14.30 9.7 persen jika dihitung alas dasar harga konstan tahun 1973.178.842.10 1970 3.70 .164.776.00 61.7 871.8 persen dalam tahun 1983.7 663.00 3.40 10.688.293.90 17.00 4.50 544.50 .184.10 10. Pengeluaran konsumsi rumah tangga 3) 2.40 992.40 4.9 5.9 persen jika dihitung alas dasar harga yang berlaku.449.924.00 . Dikurangi: Penyusutan 11.876.30 2.00 1.30 623.410.964.2 9.80 6.30 2.50 15.485.269.90 271.566.268.218.70 -1.508.214.20 15.90 9.50 1.7 296.541.308.044.345.6 persen dalarn tahun 1969 menjadi sebesar 89.9 1.395.50 2.3 persen menjadi sebesar 10.3 866.50 10.356.00 43.2 624 7.00 1. Dikurangi: Pajak tak langsung netto 10.699.3 728. Pengeluaran konsumsi rumah tangga 3) 2.5 persen dalam tahun 1983. Dikurangi: Pajak tak langsung nella 10.90 -649.70 54.10 625. Dikurangi: Penyusutan 11.90 -1.006.80 251.20 845.00 3.20 -835.2 9.904.356.7 336.20 2.9 -144.678.90 526.50 896.70 .00 12.20 -183.672.20 5.00 7.20 835.70 1.10 7.508.752.741.010.9 715.805.10 4.50 1. Pembentukan modal domestik bruto 4.847.50 1978 6.218. Dikurangi: Impor barons don jasa 6.330.204.00 2.9 10.758.832.3 4.753.791.90 1978 1979 1980 1981 1982 1) 15.10 641 1.20 -758.20 3.731.7 11.728.60 2.787.30 46. Pengeluaran konswnsi pemerintah 3.10 716 1.30 1977 6.079.40 -2.983.817.80 3.70 Departemen Keuangan RI 147 .00 -378.410.40 2.445.912. Produk domestik bruto 7.5 9.20 14.1 persen dalam tahun 1983.70.00 1.80 1.7 472.10 1979 7.2 690.137.896.269.118.444.323.00 1.70 293 455 434 522.742.50 1975 5.7 10.8 5.749.60 -673.698.34.066.349.666.874.94.50 1.20 12.4 6. Pembentukan modal domestik bruto 4.20 1983 2) 11.20 2. Ekspor barang daD jasa 5".683.304.80 2.297.00 -677.719.00 12.90 10.90 13. Tabel VI.00 41.554.70 !.70 4.632.007.30 341 414 716 84-1.20 Tab e I VI. walaupun alas dasar harga konstan tahun 1973 peranannya menunjukkan peningkatan dari sebesar 78.20 1976 6.604.849.235.380.3 834 755.481.804.025.544.865.30 3.802.759.30 1982 1) 10.136.00 1.241.70 6.824.6 1.356.621.00 59.634.00 518.111.670.820.089.50 1.628.590.629.1 persen dalam tahun 1983 bila dihitung atas dasar harga yang berlaku.00 1974 5.511.085.330.70 495.70 10.20 1.5 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 69.0 1.436.8 837.7 1.10 9.00 .00 52.153.8 4.501.10 57.033.40 10.804.60 4.826.454.169. yaitu dari masing-masing sebesar 7.50 1977 12.318.962.838.30 8.50 19.515.00 6.067.9 942.523.1 1.372. Produk nasional bruto 9.30 3.90 3.20 2. Produk nasional netto alas dasar biaya faktor produksi 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Residual 1969 2.887.973.70 1981 10.838.80 38.073.461.921. 6 ( dalam milyar rupiah atas dasar harga konstan tahun 1973 ) Jenis penggunaan 1.10 51.5 3.20 1.55.325.746.572.10 4.50 21.733.697.40 -245.10 1970 2. 1969 -19 ( daiam milyar rupiah atas dasar harga yang beriaku ) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 2.143.782. baik alas dasar harga yang berlaku maupun atas dasar harga konstan tahun 1973 dalam periode yang sarna.00 1.882.8 762.1 530.765.8 4.027.30 1971 4.670.10 7.50 414 537.681.5 persen dalam tahun 1969 menjadi negatif 4.30 17.066.273.70 1.80 8.50 234.897.90 20.

7. kegiatan penanaman modal baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA) antara lain diarahkan untuk meningkatkan dan memperluas kapositas produksi nasional. kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat. pembinaan dunia usaha. kehutanan.2. sesuai dengan arab dan sasaran Repelita IV. Hal itu tercermin pada peningkatan taraf hidup. Oleh karena itu dalam Repelita IV akan terus dilakukan pembangunan ekonomi yang berlandaskan Trilogi Pembangunan.1. Pendahuluan Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. yang pelaksanaan operasionalnya senantiasa disusun dalam kerangka kebijaksanaan ekonomi secara terpadu. industri. telekomunikasi. pos dan pariwisata. Berkenaan dengan arab dan tujuan pengembangan penanaman modal yang sesuai dengan strategi pokok pembangunan. menciptakan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Dalam hal ini. Penanaman modal Strategi dasar pembangunan nasional diarahkan pada pemanfaatan sebesar-besarnya dari seluruh potensi yang ada untuk tercapainya tujuan pembangunan. pertambangan dan energi. berbagai kegiatan pembangunan yang telah dilaksanakan Pemerintah bersama-sama seluruh rakyat Indonesia telah mencapai hasil-hasil yang positif. serta kependudukan dan transmigrasi. yang pada gilirannya menjadi kerangka landasan yang kokoh untuk melanjutkan pembangunan dalam masa-masa mendatang. peranan swasta dan kopeiasi akan lebih ditingkatkan guna mencapai tingkat pertumbuhan seperti yang direncanakan. perhubungan. baik nasional maupun asing dalam penanaman modal terus digairahkan melalui penciptaan prasarana dan sarana yang memungkinkan kegiatan pembangunan ekonomi dapat bergerak ke arab yang direncanakan. Sehubungan dengan hal itu akan terus dilakukan upaya-upaya peningkatan hasil produksi barang dan jasa di berbagai bidang meliputi penanaman modal. meningkatkan penerimaan devisa Departemen Keuangan RI 148 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VII PERKEMBANGAN USAHA DAN HASIL-HASIL PEMBANGUNAN EKONOMI 7. Oleh karena itu pengerahan dana daTi sektor swasta. Adapun hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai selama ini dapat diikuti melalui uraian daripada masingmasing bidang di bawah ini. pekerjaan umum. pertanian.

sub-kontrak. baik dalam rangka partisiposi permodalan. kesempatan kerja. baik asing maupun dalam negeri dengan para pengusaha. Salah satu usaha yang dilakukan dalam rangka kebijaksanaan tersebut adalah mendekatkan lokasi proyek dengan bahan baku. dan ikan cakalang dari sektor perikanan. Pada dasarnya kesempatan penanaman modal diberikan lebih banyak kepada swasta nasional dengan peran yang lebih besar kepada koperasi dan golongan ekonomi lemah. kepi. Untuk proyekproyek penting tersebut disusun suatu ketentuan teknis berupa kerangka acuan yang mengikat para investor dalam pelaksanaan proyek. investasi di bidang industri logam dan mesin telah digalakkan secara khusus. kodak. Dalam hal ini masyarakat umum telah diberikan kesempatan yang luas untuk berperanserta dalam perusahaan-perusahaan baik PMDN maupun PMA dengan memiliki saham dari perusahaan-perusahaan yang telah memasyarakatkan sahamnya. Dalam rangka perencanaan dan sebagai pedoman bagi penanaman modal telah diterbitkan daftar skala prioritas (DSP) yang penyusunannya dikaitkan dengan programprogram yang direncanakan. dengan sasaran pokok tercapainya peningkatan pendapatan. teknologi tinggi dan belum dapat diusahakan oleh swasta nasional. serta coklat. Adapun guna meningkatkan pelayanan kepada investor telah pula dikembangkan berbagai pra-studi Departemen Keuangan RI 149 . Sejalan dengan itu sektor-sektor lain seperti industri makanan telah pula diarahkan pada ekspor. DSP menggambarkan suatu rencana penanaman modal yang terpadu. koperasi ataupun para petani setempat. Dari segi pemerataan pembangunan. teh. Sementara itu dalam rangka pengembangan dan pembinaan proyek prioritas sesuai dengan sasaran dalam Repelita IV. karel. ubi kayu dan kelapa sawit dari sektor perkebunan. Investasi yang telah disetujui di bidang tersebut antara lain meliputi bidang usaha pembuatan mesin automotive dan non-automotive. Penanaman modal juga diarahkan untuk meningkatkan penerimaan devisa antara lain dapat terlihat dalam perkembangan sektor perkayuan terutama kayu olahan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 serta mengusahakan perluasan kesempatan kerja. pengilangan baja (cold rolling mill) dan sebagainya. sedangkan swasta asing diarahkan kepada usaha patungan yang memerlukan modal besar. pembuatan komponen automotive. Di samping itu juga telah dilaksanakan kebijaksanaan yang mendukung adanya kerjasama antara proyek penanaman modal. industri tekstil dan pakaian jadi sebagai komoditi ekspor. maupun penampungan hasil-hasil usahanya. telah ditempuh berbagai kebijaksanaan untuk menyebar proyek-proyek ke seluruh wilayah Indonesia sejauh faktor-faktor ekonomis masih memungkinkan. kesempatan berusaha serta pemerataan pembangunan di daerah-daerah dalam rangka pemanfaatan sumber kekayaan alam. ikan tuna. Di samping itu telah banyak pula diusahakan produk lain yang berorientasi pada ekspor seperti udang.

sampai saat ini pulau Jawa masih tetap merupakan daerah yang paling banyak menyerap proyek-proyek PMDN sebagai lokasi usahanya. Untuk itu telah dibuka 3 perwakilan BKPM di luar negeri.078. Dari jumlah yang telah disetujuai tersebut sampai dengan bulan Maret 1984 telah direalisasikan sebesar Rp 6.1.948 proyek.7 milyar atau 29.3 milyar dengan 54 proyek (Tabel VII. Dalam hubungan ini kegiatan promosi penanaman modal ditempuh melalui pendekatan yang optimal kepada para investor dengan cara promosi investasi langsung.259 proyek PMDN. Penanaman modal dalam negeri Investasi melalui PMDN yang telah mendapat persetujuan Pemerintah sampai dengan bulan Agustus 1984 adalah sebanyak 4. Paris dan Frankfurt.248 proyek.4 milyar.5 milyar dengan 215 proyek.632.178. baik di dalam maupun di luar negeri.2 milyar. dan selanjutnya mempertemukan para peminat tersebut dalam suatu temu-usaha ke arab kerjasama yang lebih konkrit. sebagai sarana memperlancar pemberian informasi penanaman modal ke negara-negara di Amerika Serikat dan Eropa. tetapi tidak termasuk proyek yang mengundurkan diri atau dibatalkan. Sampai dengan bulan Agustus 1984. meliputi sebanyak 2. dari sebanyak 4.037. dan penyiapan informasi proyek yang lebih sempurna. serta sektor pertambangan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1. sektor kehutanan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1.270. Departemen Keuangan RI 150 . yang antara lain bertujuan mengidentifikasi proyek-proyek yang diperkirakan akan menarik minat para calon investor. Sedangkan realisasinya sampai dengan bulan Maret 1984 mencapai Rp4.1). serta dengan cara membantu mempertemukan berbagai unsur masyarakat yang ikut serta dalam bidang penanaman modal.9 milyar dengan 502 proyek.645. Adapun mengenai lokasi.2. yakni di New York.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kelayakan. serta proyek-proyek yang beralih status dari PMA menjadi PMDN.9 milyar.540.564. Sektor industri sebagaimana dalam tahun-tahun sebelumnya masih tetap merupakan sektor yang paling banyak menarik minat para investor dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 13. 2.1 persen dari nilai rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984. sehingga proyek-proyek dapat dipromosikan secara lebih konkrit. dengan nilai rencana investasi sebesar Rp20. Demikian pula telah diadakan kerjasama dengan berbagai pihak. Kegiatan di sektor-sektor lain yang juga cukup menonjol adalah sektor pertanian/peternakan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1.3 persen dari rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984. 7. Jumlah tersebut termasuk proyek yang mengadakan perluasan/penambahan modal.9 persen) di antaranya berlokasi di pulau Jawa dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 13.4 milyar atau 30.766 proyek (64.

666 40. Realisasi penanaman modal asing sampai dengan bulan Maret 1984 mencapai US $ 6.perubahan.774 124 1.690 Tabel VII. alih status dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984.445 412.656 21 144.042 6 464.575 6.736 35 92.337 43.541 54 49.794 10 44.434 1 52 168.329 315 6.347 94 409.394 11.623 6.919 9 144.347.791 20.767 11 56.263 249.203 93. Tenaga listrik 1 418.078 1.024 45 113.435 4 1. Modal (Rp juta) 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 atau 64.632.1981/1982 1982/1983 1983/19842) 1984/1985 1) 1968 .593. Perumahan/perkantoran 44 197.3 persen dari seluruh rencananya.149 3 14.098 97 154.623 4.147 16 208. Sulawesi Vtara 145.831 22. Ri au 79.590 40 160.904 7. perluasan. Penanaman modal asing Keikutsertaan pihak swasta asing dalam kegiatan investasi di Indonesia diatur dengan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1967.492.106 8 892.148 215 2.796 481.575 4.2 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI YANG TELAH DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT LOKASI USAHA.994 23.000 2 -26.980.959 869.383 51 3. Usaha-usaha lainnya 29 49.124 10 19.250 13.395 95" 128. Perhubungan/Pariwisata 275 404.736.719 202 343.715 3 32.432 Realisasi 3) ( Rp juta ) 693.003.607 418.593.273 19.334 159.836. Jam b i 27. Pertanian IPeternakan 167 580.4 persen dari rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984.068 36 730.663 107.008 14.260 1. lrianJaya 333 -1 3.733 6.689 9. setelah diperhitungkan dengan proyek yang mengundurkan diri atau dibatalkan dan yang melakukan pengalihan status dari proyek PMA menjadi proyek PMDN.3.026 13 159.522 2 6.262 120.325 46.752 21. perubahan.259 20.941 329 7.828 7 466.661 1 6 44.350.984 1 5.846.027 123.329 318 57 1.042 3 6.948 6.346 6 3. Sulawesi Tenggara 23.665 43 655.634 368 1.790 517 2.064 18 167.995 3 716 78 855.632.800 112 232.257. Kalimantan Timur 196 854.523 8.332 20.891 1 65.090 9 2.626 7 5.385 1 31.455 420.913 234. D1 Yogyakarta 26.263 2 -2.078. Bengkulu 14 18.800 54 5.777 16 196.788 6 198.651 2.181 530.923 6 85.375 13 445.175.037.699 279 1 25.467 31.802 29 594.690 JUMLAH 6.509.342 6 22.980 173 4.320 254 5 11.147 118.899 67 263.274 13.915.811. Kalimantan Tengah 104 157. Jumlah tersebut sudah termasuk proyek yang mengadakan perluasan/penambahan modal.152 48 411.662 11 81.1984/1985' Realisasi 3) Jumlah Modal Jumlah Modal Modal Modal Jumlah Modal ( Rp juta) Jumlah Jumlah proyek (Rpjuta) proyek (Rpjuta) proyek (Rpjuta) proyek (Rp juta) proyek (Rp juta) 781 1.2 juta. Sumatera Selatan 79.993 4.950 15 63.261 157. Jawa Timur 446 952.035 46 59.178.180 718.289 4.800 8.220 28 521. Nusa Tenggara Barat 3.257 192 3.947 4 1.1 00 29 118.352 26 113.709 9.499 87.990 985 5.809 11 73. 1968 .299. Jawa Barat 3. alih status daD yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984 7.863. Sulawesi Tengah 24 67.117 8.257 195 3.988 10 43.673 15 206.705 89.161 15.776 6 88.797 10 218.600 1.303 4 31 70.585 1 27 40.053 7 53.252 13 214. Perkembangan proyekproyek PMDN yang telah disetujui Pemerintah menurut lokasi usaha dapat diikuti pada Tabel VII.140 1.645. Perindutrian 2.879 1.512 1 5.077 1 16.460 4 44.305 89. 2.954 692.317 18 139.575 122.746 6 11.684 1 8 46.145 7. Pertarnbangan 27 145.663 68 307.491 502 4.922 3.202 314. Sebagaimana dapat diikuti pada Tabel VII.466 276.743 3 14.517 79 393.119 17.579 47 10. Tab e I VII.585 20.163 345.304 6 147.248 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.299. 1 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI YANG TELAH DlSETUJUI PEMERINTAH MENURUT BIDANG USAHA.255 47.699 5 44.071.203.847 16 829 3. Perikanan 33 48.087 223 1. 1968 .949.432 Keterangan: 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek don investasi berasal dari proyek baru.472.099 26 9.585 1 Jumlah 3.968 48.1984/1985 1) 1968 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1968 Bidang Usaha Jum1ah Modal Jumlah Modal Jum1ah Modal Jumlah Modal Jumlah Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek 1.814 1 12.512 838 2.622 18.932 2 26.387 2 4.229 75 8.358 232.202 53 114. Sumatera Vtara 336.309 6. perluasan.037.795 19 81. Kehutanan 481 1.296 2 6.027 1 1.622 17 151.471 11 31.179.645 5 63 161. B a Ii 78.540. Kalimantan Selatan 60 180.991 49.1984/1985 1) Lokasi usaha 1968 .211 4 159. D1 Aeeh 303. PMA yang telah disetujui Pemerintah sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencapai sebanyak 795 buah proyek dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 14.564.692 18 296. DK1Jaya 885.428 6 38.792 4 58 80.5 juta atau 43.236 7. M a I u k u 48.857 9 54.413 33.728 3 82 234.275 4.742 66 213.953 10.275 52 1.901 65.944 1 38 82.101 3 77 112.736. Nusa Tenggara Timur 7 15.996 102 852.362 10.868 4 21.041 93.732 31 460.003.673 38 194.954 2 1. Jawa Tengah 1.435 92.908 3 1.2.800 27 322.746 491.326 24.679 3 8.036 -1 -1.153 223 769. Prasarana 9 21.370 57 250. Sumalera Barat 33.017 114 433. Lampung 121.109 26.862 1.190 15 78.905 2. sektor perindustrian merupakan sektor yang Departemen Keuangan RI 151 .807 6 316 362.212 3 15.815 2 27.724 18 194.2. Sulawesi Selatan 34.689 9.099 7 8. Kalimantan Barat 141.

4 54.625 2 34.932 843.496 -4.70 333.438 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek daD investasi berasal dari proyek baru.199 36.715 14.936 18 997.215 8.630 -27.4 juta meliputi 9 proyek.112.823 1.850 4. Lampung 8 85.613 63.500 -1 17.373 1.160 JUMLAH 787 10.227 123. Perindustrian 477 7.597 795 14.451. Kehutanan 69 582. perubahan.248 504.828 1 26.449 4.899 765. dan sektor perhubungan/pariwisata sebesar US $ 421.241 Lokasi Realisasi 3) Modal (US S juta) 869.5 -3 7. B a 1 i 5 47.470 1.4 359.577 -1 38.370.026 -2.865 120.9 7.924 29.5 6. yaitu berjumlah US $ 3.551 -1 5.700 491.9 100.3 5.9 -1 6.L Aceh 6 435. perluasan. Pertambangan 10 1. aIih status PMA ke PMDN dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai d.518 368. Sumatera Utara 46 1.893 30.053 -2 14. a1ih status daD yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) SampaidenganimlanMaret 1984 Departemen Keuangan RI 152 . Konstruksi 63 93.916 78.731 -74.6 9.6 6.845.182 3.1984/1985 ReaJisasi Bidang usaha JumIah Modal Modal Modal Modal Jumlah Modal Modal Jumlah Jumlah Jumlah Proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) (US $ juta) proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) 1. Beberapa Daerah Lainnya 45 1.359.192. Jawa Timur 70 520.2 11..017 237.100 77.1 776. Mal u k u 7 46.312 294.160 14. Sulawesi Tenggara 3 29.383 52.655 21.7 228.393 9.771 1.910 1 -2 7.472. 1967 .405 1 11.4 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT LOKASI USAHA.917 15.433 19.483 -2 1 27.001 130.554.656 64.848 57 395. Kalimantan Timur 22 235.394.655 20.6 24.672 3 11.497 -5 -3 16. Adapun sektor-sektor lain yang juga cukup dominan adalah sektor pertambangan dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.855 10. Nusa Tenggara Barat 1 3.136 4.8 3.2 40.470 14 -9 -4 736. Realisasi PMA yang terbesar sampai dengan bulan Maret 1984 adalah sektor perindustrian.000 53 235.249 3.ngan bulan Maret 1984 Tabel VII.950 57.052 7 15.383.7 381.658.519 -14. Pertanian 59 239. Sulawesi Utara 3 77.500 28 421. Nusa Tenggara Timur 2 3. Bengkulu -10. Sumatera Selatan 14 73.810 7 66.6 25.250 54 659.440 1.224 -10.279 652.916 -1 23.829.289.664.317 96.8 125.3 -4 Jumlab 787 10. Tabel VII.874 24 162.7 -1 5.045 497 11.1 -8 -1 -3 4.4 253. baik dalam hal jumlah proyek maupun nilai rencana investasinya hila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. perluasan.672 8.2 134.499 24.655 665. sektor jasa. Peri k a n a n 24 147.934 -1 -5 239.4 juta dengan 28 proyek.7 65.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 paling banyak menarik minat para investor.385 120 -1 5.463 1 -3. D.jasa lain + Perumahan/Perkantoran 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.010 1 9.405 969.370.5 0.937 -1 -2 -1 20.641 -2 -2 13.646 -2 LUARJAWA 420.276 70 195. Sulawesi Selatan 6 28.627 1. DKIJakarta 282 1.241 6.983 6.7 524. Perhubungan/Pariwisata 31 352.086 250.956 -1 -9.394. Jawa Tengah 21 233.845.597 1.499 -1 25.413.915.1984/1985 1967 .937.00 15 2.740 -4 1 10.654 -1 3.490 -1 2. Ria u 23 320. 1967 -1984 / 19851) 1967 .737 5.1981/1982 1982/1983 Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal proyek (US S ribu) proyek proyek (US S ribu) proyek proyek (US S ribu) (US S 294 178 22 2 67 5 45 4 20 6 3 13 5 14 16 5 3 2 3 5 6 6 3 16 45 788 3.593 29. Jam b i 5 28.4 -3 -1 -2 3.893 -6.1984/1985 1) 1983/1984 2) 1984/1985 1) 1967 .983 6 9 4 3.970 3.030 340.691 -24.2 1.5 331.977 5.392 -12. Jawa Barat 159 2.404 -1 -13. Kalimantan Barat -57.658. Sulawesi Tengah 6 78.430 247.939.915.346 -5.4 persen dari seluruh nilai realisasinya.135. Kalimantan Selatan 18. perubahan.3 juta dengan 54 proyek.086 -1 8.472.438 736.736 -4 *) Jasa.479 6.000 -5. Jasa lainnya *) 51 362.3 PROYEK .451.172 67. Perdagangan 3 11.422 9 1.932 2. Sumatera Barat 4 55. Kalimantan Tengah 17 125.PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DlSETUJUI PEMERINTAH MENURUT BIDANG USAHA.307 22.L Yogyakarta 3 8.550 12.6 57. perumahan/perkantoran sebesar US $ 659.773 41.693 8.836 1. D. IrianJaya 15 309.535 32.360 74.944 -87.1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1967 .543 2.444.3 85.0 juta atau 59.443 160.50 12 2.50 JAW A 656.

197 37.021.472 201.160.073 15.3 166.792 79.694 16.052 5.594 667.000 -2.8 juta dengan 45 proyek.8 juta.5 677.178 174.698 19.919.679 1984/1985 Jumlah proyek 71 3 210 18 121 4 29 10 6 7 35 2 16 5 9 42 27 51 18 1 6 2 1 3 Modal (US $ ribu) 1.470 MENURUT NEGARA ASAL.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. Panama 23.016 2. Korea Se1atan 5.2 205. Departemen Keuangan RI 153 .524 103.4 107. maka sejumlah 563 proyek atau 71.760 266.653 2. Jerman Barat 19.5 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DISETUjUl PEMERINTAH 1967-1981/1982 Negara I.632 593.014 352.392 442.757 172.599 12. 5).460 23.066 7.807 71. Jepang merupakan negara yang paling besar melakukan investasi di Indonesia. Canada 3. Sampai dengan bulan Agustus 1984.977 -16. Switzerland 21.915.678 Realisasi Modal ( US $ juta) 582.3 172. Jepang 4. rencana investasi berlokasi di pulau Jawa.178.507 -1. Selain itu beberapa negara lain yang juga cukup menonjol adalah Hongkong dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.4 Modal (US $ ribu) 484.6 219.021.0 persen dari seluruh rencana investasi PMA. Jepang telah membangun 210 proyek dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 4.558 272.3 196.175 15. alih status dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984 Seperti halnya dengan PMDN.150 - -4 -1 -1 -2 -1 2 2 -1 - 62. Be1gia 14.272 762 61.810 38. dan 33.364 Jumlah proyek -3 -1 -1 -5 -1 -1 -2 -1 1 -2 -1 3 5 1 -1 1 -1 1 - .674 38.719 13.361 3.0 juta dan meliputi 121 proyek.954 58.351 48.675 2.733 4. maka jumlah investasi PMA yang terbanyak juga berlokasi di pulau Jawa.095 15. Lichentein 26.602 -2.611 45.895 1. 1967 1982/1983 1983/19842) Jumlah proyek 10 2 -2 -1 -1 -1 1 -3 2 1 1 3 Modal (US $ ribu) 62.5 14. Negara Lainnya JUMLAH Jumlah proyek 72 3 205 18 127 5 34 14 8 7 36 2 16 4 9 1 44 24 44 15 6 3 4 2 76 8 Modal (US $ ribu) 456.1 3. Amerika Serikat 2.1984/1985 1) 1) Jumlah proyek 2 Modal (US $ ribu) 17.8 0.297 146.800 12.244 614.492 - 4.736 -8 -4 736. US $ 3.269 7.883. perubahan.507.359.8 107 21.230 167.576 4. Demikian pula dari segi negara asal investor. Italia 17.593 -12.770 136.597 787 14.5 12.694 22.047 31.550 96.963 165. DKI Jakarta dan Sumatera Utara merupakan daerah yang cukup menonjol.569 -908 9.370. Sebagaimana terlihat pada Tabel VII.7 persen daTi jumlah proyek yang ada.2 persen dari jumlah keseluruhan.900 139.384 45. maka Jawa Barat.945 143. yang berarti 26.80 93.652 7. Spanyol 25.815 414. Denmark 15.710 2.307 900 926. Philipina 10. Singapore 8. dan Belgia dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 926.919. Swedia 22. 4. perluasan.962 3.552 482.795 -500 25.892 7. Hongkong 6.5 22 30.777 362.653 -2.4 juta meliputi 71 proyek.6 102.432 - 3 79 8 787 12 2.7 1.353 -776 802. dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 8.035 139. Nilai rencana investasi untuk ketiga wilayah tersebut masing-masing adalah sebesar US $ 4.2 2.4 35.7 8. Malaysia 9.876 897 12.413.5 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.266.937.079 17.733 3. Taiwan 7. Norwegia 27.883.2 5.554.105 -3.393 10.240 13.646 112.40 20.1 juta meliputi sebanyak 178 proyek.612 283.635 33.455.958 10.674 10.1 juta dengan 294 proyek. India 11. Gabungan Negara 28.832.073 101. New Zealand 13.5 2. Brunei 24.686 111. Amerika Serikat dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.8 4. Netherland 18.810 16.006 1. Australia 12.9 juta atau 59.263 -15.300 25.241 6472.241 900 123. Selanjutnya bila ditinjau dari segi besarnya nilai rencana investasi untuk tiap-tiap propinsi. dan US $ 1. Perancis 16.000 10.000 -12.727 29.746.978 -5.244 130.190 28.4 persen daTi 788 buah proyek PMA.780.5 juta meliputi 16 proyek (Tabel VII.000 5.840 76.004 1.855 1. Inggris 20.511 72.276 47.

Hal ini diharapkan akan meningkatkan partisiposi dan kesediaan anggota antara lain untuk mengikuti rapat tahunan para anggota. Dalam rangka pengembangan usaha koperasi/KUD tersebut. Untuk lebih memperkok6h kemampuan KUD dan koperasi primer maka dilakukan suatu kerjasama yang lebih erat. tatalaksana dan pengawasan. mendorong pembentukan dan pengembangan unit-unit organisasi. maka selain terus ditingkatkan pembinaan. Pembinaan dunia usaha Pelaksanaan pembangunan ekonomi antara lain diarahkan untuk menumbuhkan peranan dan tanggung jawab masyarakat pedesaan agar secara aktif ikut berperanserta dalam pembangunan desa. pengurus.3. pengrajin yang menggunakan peralatan tradisional. sektor pertanian. maupun teknis. Dewasa ini KUD dan koperasi primer antara lain telah mampu melayani kepentingan anggota. serta meningkatkan Departemen Keuangan RI 154 . baik dengan koperasi primer lainnya maupun dengan usaha-usaha bukan koperasi di wilayah atau di daerahnya masing-masing. Dalam Pelita III peningkatan dan pengembangan dunia usaha pada umumnya dan koperasi khususnya. sektor perkreditan dan sektor pengangkutan. serta mempertinggi kemampuan para anggota dan petugas koperasi dalam berkoperasi. seperti sektor perdagangan. sehmgga pada gilirannya dapat memetik dan menikmati hasil pembangunan guna menaikkan taraf hidupnya. antara lain diarahkan untuk meningkatkan kemampuan KUD dan koperasi primer dalam berprakarsa dan berswakarya. manajemen dan pemasaran. khususnya yang berpendapatan rendah. Dalam hubungan ini koperasi merupakan salah satu wahana utama dalam membina kemampuan golongan ekonomi lemah. pemeriksa. Sehubungan dengan itu maka pembinaan kelembagaan koperasi diarahkan untuk meningkatkan penghayatan terhadap fungsi koperasi bagi setiap anggota. manajer dan pembantu manajer dalam mengelola koperasi sesuai dengan tugasnya masing-masing. juga telah diberikan sarana dan prasarana antara lain berupa bantuan permodalan serta latihan keterampilan baik administratif. rapat pengurus dan badan pemeriksa. Sementara itu agar koperasi-koperasi primer dapat memainkan peranannya dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. serta pengusaha industri rumah. yang meliputi pedagang kecil. sektor perlistrikan desa. Di samping itu juga dilakukan penyempurnaan organisasi dan tatalaksana koperasi. Hal tersebut dimaksudkan untuk memantapkan dan menumbuhkan swadaya koperasi/KUD. yang pada gilirannya akan mempertinggi kemampuan para anggota. sektor industri. maka selama Pelita III telah dltingkatkan pembinaan kelembagaan koperasi yang mencakup organisasi. sektor perkebunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. sehingga mampu menjadi pusat pelayanan kegiatan perekonomian pedesaan yang mandiri. sekaligus memajukan usaha anggotanya di berbagai sektor.

290 ribu orang pada non KUD.6.464 buah non KUD.539 ribu orang pada KUD dan 4. tidak boleh melakukan usaha sendiri.322. yang sekaligus berarti pula bertambahnya kepercayaan masyarakat kepada Departemen Keuangan RI 155 . sedangkan dalam tahun 1984 telah meningkat menjadi sebanyak 25.714. berarti bahwa wadah koperasi telah menyebar luas ke hampir seluruh lapisan masyarakat. Namun BPP KUD tersebut tidak boleh mencampuri kegiatan usaha KUD.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 usaha di masing-masing wilayah koperasi sesuai dengan kebutuhan para anggotanya. Dalam pada itu jumlah anggota koperasi primer dalam tahun 1983 adalah sebanyak 9.0 milyar dalam tahun 1983.1 milyar dalam tahun 1982 menjadi Rp 125. Sementara itu guna meningkatkan kelancaran usaha koperasi unit desa (KUD). Sejalan dengan itu maka dilakukan pula penyempurnaan iklim perkoperasian melalui peningkatan kesadaran masyarakat. saran dan nasehat kepada pengurus KUD.701 buah yang tersebar di seluruh propinsi kecuali DKI Jakarta. Demikian pula halnya jumlah usaha koperasi telah bertambah dari Rp 2. Jumlah simpanan anggota koperasi juga mengalami peningkatan yaitu dan Rp 103. yang terdiri dari 6. Kenaikan jumlah simpanan anggota dan jumlah nilai usaha koperasi tersebut menunjukkan meningkatnya partisiposi masyarakat terhadap kegiatan dan kelangsungan hidup wadah koperasi.1 milyar menjadi Rp 2.614 ribu orang pada KUD dan 4. serta untuk memantapkan pertumbuhan dan pengembangannya. serta melindungi KUD daTi hal-hal yang dapat merusak citra dan kelangsungan hidupnya. Tugas daripada BPP KUD tersebut adalah memberikan bimbingan. yang beranggotakan tokoh-tokoh yang berada di pedesaan dan atas usul camat setempat.410 buah non KUD. serta tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat membebani atau menyaingi kegiatan KUD yang bersangkutan.073 ribu orang pada non KUD.791 buah. sedangkan dalam tahun 1984 telah terjadi peningkatan yaitu menjadi sebanyak 9. Perkembangan jumlah BUUD dan KUD yang menyebar di seluruh Indonesia dapat dilihat pada Tabel VII. ballman. Dalam tahun 1983 jumlah koperasi adalah sebanyak 24. maka melalui Keppres Nomor 4 Tahun 1984 di setiap KUD dibentuk Badan Pembimbing dan Pelindung Koperasi Unit Desa (BPP-KUD). Dengan meningkatnya jumlah baik lembaga maupun anggota koperasi tersebut. mengenai besarnya peranan koperasi bagi para anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya.4 milyar. yakni 6. Sedangkan biaya pembinaan yang dilakukan oleh BPP KUD dibebankan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II yang bersangkutan.327 buah KUD dan 18. Hasil-hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan Repelita III menunjukkan peningkatan yang menggembirakan.956 buah.546 buah KUD dan 19. Adapun jumlah KUD model dalam tahun 1984 meliputi sebanyak 3.

00 2831.50 445.7 1.2) .00 22.237.516.386.L Aceh 27 22 31 48 27 57 7 83 12 103 12 103 12 103 12 103 843 48 296 15 298 2.394 18.714 24.321 6.591 1.131 buah KUD.086 3.7 1.2 1. B a Ii 5 46 8 52 5 55 61 63 67 2 69 72 72 72 84 81 84 14.791 .071. D1 Yogyakarta 45 10 3 54 57 57 57 62 62 62 61 61 62 61 62 634 13 572 91 570 113 577 116 526 189 526 189 486 231 199 538 48 695 490 731 672 736 12. Kalimantan Barat 2 32 4 44 52 78 80 80 154 154 1 26 1 203 92 204 18.949 71. Perkembangan jumlah dan simpanan koperasi dapat dilihat pada Tabel VII.678.741.10 4.097.683.766.1 1. Kalimantan Tengah 7 4 7 19 11 19 11 19 10 39 10 39 4 64 4 64 4 64 8 133 139 19. Timor Timur 1 1 10 18 61 14 67 17. Maluku 26.521.2 781.873.286 buah KUD dengan perputaran kredit sebesar Rp 145.7 659 119 15 18.5 215.344. Nusa Tenggara Timur 23 45 23 51 25 55 15 71 8 84 8 84 9 92 57 66 8 116 8 101 50 110 16.2) .4 3.430 156.7 273.639. IrianJaya 5 5 4 2 6 3 10 8 18 8 27 15 27 15 47 30 47 69 78 JUMLAH 1.200 353.201 1.40 3. 797.3 1. Lampung 20 52 5 83 5 101 112 118 118 118 1 156 147 51 199 87 209 250 342 261 530 267 629 226 682 195 731 195 731 195 731 196 750 132 871 872 994 1.20 532 60 19 23.90 291. Jambi 6 40 10 50 5 57 9 24 99 99 99 99 118 34 148 155 163 6.263 185.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 koperasiJKUD dalam menyimpan dan mengelola uang anggotanya.70 9. Propinsi BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD 1.2) .90 1628.739 701 4.8 593 113 31 17. D.435 buah KUD dengan kredit sebesar Rp209.750.445 15.621 6.6 JUMLAH BUUD DAN KUD SELURUH INDONESIA MENURUT PROPINSI.766.60 80.970 22.325 2) 2) 2) 2) 103.344.775 357. Tabel VIl.892.334 buah KUD dengan kredit senilai Rp 270.10 4.90 284.10 513.2) 1) Angka sementara Bidang perkreditan juga mengalami perkembangan.118.652 16.404 22.323 Tabel VII. Sulawesi Utara 26 4 19 12 20 14 28 15 6 83 1 90 1 90 1 90 105 122 123 32 123 22.693 16.5 6.941 17.450 20.70 624.90 2.2) .191.8 543 118 31 17.315 15. 1969 . Kalimantan Timur 2 2 6 4 4 6 4 10 1 26 1 26 1 27 153 158 43 206 21.90 571 113 44 21.326 4.888 1.1984 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1) No.844.282.933 18.4 638 128 12 19.081. yaitu hila dalam tahun 19811 1982 jumlah KUD penerima kredit yang dijamin oleh Perum PKK (Perusahaan Umum pengembangan Keuangan Koperasi) baru sebanyak 7.441 973 3.402 1.5 666 137 12 23. dengan perputaran kredit senilai Departemen Keuangan RI 156 .00 532 60 19 24.80 13.60 19. Kalimantan Selatan 11 47 7 79 5 99 3 106 2 116 2 115 1 117 3 119 130 66 160 110 164 20.6 683 127 15 19.991.2) .9 milyar. Dalam tahun 1984 sampai derigan bulan April 1984.679 345 2.184 74. Jawa Tengah 206 282 118 402 93 437 88 454 80 471 86 492 86 492 67 522 67 521 584 586 588 599 11.50 6.531.2) 533 60 19 25.4 698 105 15 16.2) 124.430 200.136 51.795 189 1.213 2.235.621 buah KUD denganjumlah perputaran kredit senilai Rp 113. jumlah koperasi yang ikut menyelenggarakan KCK adalah sebanyak 4.7 milyar.10 1. Jawa Timur 13.542 1) Angka sementara Tahun 1969 1970 1971 1912 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1) Primer 13.067.3 675 124 15 16.30 333.935 . Sumatera Selatan 12 15 13 20 33 53 48 38 78 36 37 81 21 108 16 144 16 177 16 295 47 310 1 15 25 1 43 49 56 57 66 6 68 103 500 154 115 156 7.019 993 9.5 milyar.074. Sulawesi Tenggara 34 40 1 56 1 63 3 73 11 75 11 77 15 79 14 79 37 120 65 140 2 2 2 4 4 24 26 70 120 31 123 25.977.0 2) .054 222.60 331.159 2.638.003.8 1.80 519.104. yakni apabila dalam tahun 1982 jumlah koperasi yang ikut menyelenggarakan KCK baru sebanyak 3.265 486 5.60 14.788. 1974 .20 18.261 18.00 4.1984 Jumlah koperasi (buah ) Simpanan koperasi ( Rp juta) Pusat Gabungan Induk Jumlah Induk Jumlah Primer Pusat Gabungan 548 78 8 13.657 1.2 548 99 39 19. Sulawesi Selatan 228 69 141 172 106 229 68 288 71 302 71 302 71 302 71 302 71 301 71 399 316 417 24. maka dalam tahun 1982/1983 telah meningkat menjadi sebanyak 11.20 54.7 milyar. Sumatera Barat 57 100 53 133 7 185 21 185 7 232 7 232 7 232 4 235 4 234 233 276 274 281 9 11 12 11 11 22 5 57 7 47 7 47 7 48 7 47 7 47 33 170 113 178 4. Riau 5.50 20.8 1.864 22.50 8.7 655 126 15 23.80 14.90 3.8 522.8 678 130 12 23. Jawa Barat 10. Sulawesi Tengah 6 7 12 15 9 20 18 17 69 17 69 17 91 92 90 19 126 83 127 23.2 634. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 4.50 940.7 JUMLAH DAN SIMP ANAN KOPERASI.180 25.8 1.4 1.139.60 883.456 22.113 3.331 1.625 220. Bengkulu 8.276.487 3.060.40 12.20 802. Nusa Tenggara Barat 9 5 9 5 2 12 24 16 25 16 25 16 25 16 9 92 57 66 115 145 144 147 15.9 15.313 2.214 365.623. Sumatera Utara 205 261 284 288 297 307 7 311 5 342 350 133 413 114 428 3.7.797. Jumlah kredit candak kulak (KCK) melalui koperasi selama pelaksanaan Repelita III menunjukkan peningkatan yang cukup berarti.

9 ribu ton seharga Rp 5.6 ribu ton beras. Dalam tahun 1983 jumlah Departemen Keuangan RI 157 .419. jumlah KUD penyalur dalam musim tanam (MT) 1983 adalah sebanyak 3. pupuk maupun obat-obatan telah meningkat masing-masing menjadi sebanyak 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 12.2 ribu ton. Dalam tahun 1983/1984 sampai dengan November masing-masing telah mencapai 46. Dalam tahun 1982 telah terbentuk koperasi pengelola cengkeh sebanyak 138 buah.609. sedangkan jumlah kopra yang telah terjual mencapai 27.191 buah.5 milyar. Sedangkan pemasaran palawija yang meliputi jagung. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Mei 1984 jumlah KUD adalah sebanyak 2.5 milyar: dalam tahun 1983 masing-masing telah meningkat menjadi 184 buah KUD.107 buah KUD telah menyiapkan pengadaan beras untuk posaran umum sebanyak 64. dengan jumlah beras yang disediakan sebanyak 1. Di bidang penyaluran sarana produksi pertanian.5 milyar. yang meningkat dalam tahun 1983/1984 masing-masing menjadi 1. serta penjualan kopra sebanyak 50.6 milyar. cengkeh dan tebu rakyat nampak semakin meningkat.6 ribu ton.078 kg/liter obat-obatan.996.0 ton dan 308. khususnya pupuk dan obat-obatan.036.7 ribu ton.1 ribu ton seharga Rp 8.357 ton dan 3. 8 ton dan 306 tOll. Di bidang tataniaga cengkeh. Dalam rangka melaksanakan tugasnya. Beras/gabah yang telah dibelinya kemudian dijual kepada Sub Dolog setempat dengan harga yang telah ditetapkan.9 ribu ton.9 ton seharga Rp 84.932. Kemudian dalam MT 1984 baik jumlah KUD.332 buah yang menyalurkan bahan-bahan sebanyak 251. 490.550 kg/liter.519 buah KUD dan 69. kedelai dan kacang hijau dalam tahun 1982/1983 berjumlah masing-masing sebanyak 23. koperasi yang ikut memasarkan kopra berjumlah 126 buah KUD.7 ribu ton.5 milyar.054 buah KUD dan 7.391 buah dengan beras sebanyak 851. dan jumlah cengkeh yang dapat dibeli seluruhnya sebanyak 24. Sehubungan dengan itu dalam tahun 1982/ 1983 sebanyak 1.4 ribu ton beras. setiap KUD wajib membeli gabah/beras dari para petani dengan harga dasar yang berlaku. pembelian kopra sebanyak 54.237 ton pupuk. Sementara itu kegiatan koperasi/KUD di bidang perkebunan rakyat yang meliputi kopra. 229. dan 2.054 buah dengan jumlah beras yang tersedia sebanyak 1. sedangkan sisanya dijual ke posaran umum.6 ribu ton seharga Rp 5. Adapun jumlah KUD yang ikut serta dalam pengadaan beras untuk stok nasional dalam tahun 1982/1983 adalah sebanyak 3. sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlah KUD adalah sebanyak 3.699 buah.9 milyar. Dalam tahun 1982. hasil usaha yang dilakukan oleh KUD sampai dengan akhir Pelita III telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.0 ton. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Mei 1984 masing-masing telah mencapai sebanyak 2.4 ribu ton seharga Rp 7.5 ribu ton. dengan jumlah kopra yang dibeli sebanyak 29.

Perkembangan usaha koperasi di bidang perikanan rakyat selama Pelita III telah dapat menunjukkan hasil yang cukup baik. dengan kredit yang disalurkan kepada petani sebesar Rp 179. sedangkan yang terjual dalam tahun 1983 mencapai sebanyak 19. penyediaan makanan ternak. penebangan.3 milyar. dan biaya angkut dari areal penebangan ke pabrik gula. sedangkan dalam tahun 1983 masing-masing telah mencapai 615 buah.5 milyar yang disalurkan oleh 675 buah KUD.9 milyar.7 milyar yang disalurkan oleh 714 buah KUD.286 orang. Kredit yang disalurkan KUD merupakan kredit yang diperlukan oleh petani tebu untuk penggarapan tanah. jumlah koperasi perikanan baru sebanyak 585 buah. koperasi yang menampung sebanyak 651 buah. dan 53. dengan jumlah anggota sebanyak 120.802 orang dan modal senilai Rp 70. Rp 1.900 ton. dengan jumlah Departemen Keuangan RI 158 . dengan pembelian cengkeh seluruhnya sebanyak 20. Dalam tahun 1983/1984 jumlah gula telah mencapai sebanyak 652.7 milyar. 133. modal sebesar Rp 743. dalam tahun 1983 jumlahnya telah meningkat masing-masing menjadi sebanyak 67 buah. Dalam tahun 1982. serta pemasaran hasil temak. dan kredit yang disalurkan kepada petani sebesar Rp 241. terutama dalam hal perkreditan dan pemasaran gula tebu yang dihasilkannya.1 ton seharga Rp 150. 18.175. Kegiatan koperasi di bidang peternakan meliputi pengadaan bibit sapi unggul impor. Dalam tahun 1982.2 ton.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 koperasi telah bertambah menjadi sebanyak 264 buah KUD.130. pembibitan.292.5 ton seharga Rp 152. sedangkan dalam tahun 1984 sampai dengan bulan April 1984 jumlah kredit telah mencapai sebesar Rp 199.414 orang dan modal senilai Rp 71.4 milyar.4 ton seharga Rp157.4 milyar.277 orang. jumlah koperasi petemakan baru sebanyak 469 buah. Dalam tahun 1982 jumlah KOPTI baru mencapai sebanyak 36 buah. Dalam tahun 1983 jumlah kredit mencapai sebesar Rp 211. Penggabungan industri kecil yang memproduksi tahu dan tempe ke dalam wadah koperasi tabu dan tempe Indonesia (KOPTI) telah menjadi kenyataan.0 milyar. yang terjual dalam tahun 1982 berjumlah sebanyak 18.2 milyar.9 juta. Jumlah gula tani yang dapat ditampung KUD dalam tahun 1982/1983 adalah sebanyak 556. ditampung oleh 621 buah KUD. dan jumlah kedelai yang dapat disalurkan sebanyak 26.6 milyar. dengan jumlah anggota sebanyak 12.380.788. Dari cengkeh yang tdah dibeli tersebut.200 ton. penyediaan obat-obatan ternak. Pemberian kesempatan kepada KUD untuk mengelola tebu rakyat intensifikasi (TRI) dimaksudkan untuk melayani para petani tebu.6 ton kedelai.

jumlah koperasi jasa angkutan adalah sebanyak 165 buah yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia. Pembinaan koperasi yang menangani jasa angkutan juga terus digalakkan sejak awal Pelita III. Demikian juga jumlah koperasi susu yang dalam tahun 1982 baru mencapai 162 buah dengan anggota sebanyak 38. Departemen Keuangan RI 159 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 anggota sebanyak 45. yang terdiri dari 5.536 orang.201 orang. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 173 buah dengan jumlah anggota sebanyak 41. Jawa Timur. dan nilai usaha sebesar Rp 61. dan dengan nilai usaha sebesar Rp 210.352 buah. Keberhasilan proyek perintis perlistrikan di daerah pedesaan yang dikelola oleh koperasi. dengan jumlah anggota sebanyak 29.732 orang. Bali dan Sumatera Barat. Selanjutnya dalam tahun 1983 jumlah koperasi telah meningkat menjadi 675 buah.281 orang dan nilai usaha sebesar Rp 40.9 persen dari seluruh produksi susu dalam negeri yang berjumlah 144.550 buah kendaraan angkutan darat dan sungai. Adapun jumlah sapi betina yang dimiliki oleh anggota koperasi yang dalam tahun 1982 baru sebanyak 140. Keberhasilan koperasi di dalam membantu para anggotanya telah membuat para pengrajin di daerah-daerah pedesaan terangsang untuk bergabung di dalam wahana koperasi. dengan jumlah anggota sebanyak 65.383 orang. koperasi angkutan sungai dan penyeberangan serta koperasi angkutan laut. Dalam tahun 1982. dan memiliki kendaraan sebanyak 7. Dalam tahun 1983 jumlah terse but telah meningkat menjadi 298 buah yang tersebar di 20 propinsi. beranggotakan sebanyak 59.1 milyar.2 milyar.000 ekor. secara bertahap telah pula merangsang masyarakat pedesaan untuk menjadi anggota koperasi perlistrikan desa. Dalam tahun 1983 jumlah susu yang ditampung oleh koperasi telah meningkat menjadi 130 juta liter atau 89. yakni mencakup koperasi angkutan darat.6 juta liter. Dalam tahun terakhir Pelita III. Sehubungan dengan itu dalam tahun 1982 jumlah koperasi yang mengelola dan mengkoordinir para pengrajin adalah sebanyak 348 buah.8 juta.630 peternak. dan dengan usaha senilai Rp 208.969.7 juta liter.1 juta liter atau 92.362 orang. serta 1. Sedangkan dalam tahun 1983 jumlah tersebut telah meningkat menjadi 491 buah.000 ekor. jumlah koperasi di bidang perlistrikan desa meliputi 118 buah yang tersebar di daerah Jawa Barat.802 buah kendaraan angkutan laut.6 persen dari seluruh produksi susu dalam negeri yang berjumlah 116. Beberapa koperasi telah berperan sebagai distributor listrik di pedesaan. Adapun jumlah susu yang dapat ditampung dan dipasarkan oleh koperasi dalam tahun 1982 adalah sebanyak 108. yang dilakukan melalui pemanfaatan tenaga listrik yang dibangkitkan dan disediakan oleh PLN. Jawa Tengah. dengan anggota sebanyak 48. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 161.046 juta.

690 10.961 24.066 2.011 2. Gula tebu 22. melayani pelanggan sebanyak 202.831 6 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) 22. telah pula bermanfaat bagi sektor-sektor sosiallainnya. Cengkeh 19. Namun demikian.341 1.751 2. Selain itu sejumlah 38 buah koperasi di bidang perlistrikan desa telah mampu untuk berswadaya melayani para anggotanya. Ubi ja1ar 5.651 14.9 2.375 1.408 1.311 1.7 40 Bila dikaji kembali hasil pembangunan di bidang pertanian.249 2.460 2.319 1. maka akan tampak peranan cukup besar dari sektor negara dalam menggerakkan dan mendorong kegiatan yang bersifat produktif di bidang pertanian. serta adanya dukungan untuk pembangunan daerah yang tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam.991 13.988 11.837 23. K a pos 1) Angka diperbaiki 2) Angka semen tara 1969 12. Telur 11. Lad a 20.158 1. Ikan lout 8.211 2. Kelapa/kopra 16.509 3.582 196 214 150 149 160 194 197 223 228 71 51 67 65 70 73 76 91 125 14 13 22 15 15 20 39 21 35 24 18 29 27 23 37 43 46 47 76 79 80 77 82 89 84 81 87 1.286 22.1 2.029 3. Ikan darat 9.140 2.143 4.876 17. 2.awit 15. meluasnya kesempatan kerja yang mendorong tumbuhnya kesempatan untuk berusaha di bidang pertanian.469 2.769 10 14.200 185 64 15 17 78 873 3 T abel VII.175 498 281 808 421 314 59 29 802 217 1. Kacang tORah 7. Bera. T e h 18.618 1.412 13.318 424 433 389 388 393 401 414 420 430 332 366 379 403 435 449 468 475 486 68 78 81 98 112 116 131 151 164 36 38 35 57 51 58 61 62 72 804 808 845 817 782 856 838 844 898 249 270 289 348 397 431 483 532 642 -94 108 1.237 1.235 5.186 13.670 506 507 520 549 596 629 671 694 275 297 316 329 86 117 143 170 963 899 1.607 15. 1969 .693 1. kecuali dalam juta liter untuk susu) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 13.504 desa. Inti .133 1. Pertanian Dalam kurun waktu antara tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 pembangunan di bidang pertanian yang diarahkan dan dilaksanakan melalui Sapta Karya Pembangunan Pertanian.385 11.532 1. Jenis hasil 1. 7.902 13.095 5.546 12. disadari sepenuhnya bahwa masih Departemen Keuangan RI 160 . Kede1ai 6.491 1.079 653 470 1.381 2.8 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERTANIAN TERPENTING.5 1.208 kepala keluarga pada 1.237 1. Susu 12.606 10. Jagung 3.260 389 267 785 429 309 58 29 778 189 1.724 13. Perkembangan terse but juga tercermin dari adanya proyek-proyek besar di bidang pertanian yang membantu usaha pertanian rakyat dengan sistem perusahaan inti rakyat (PIR). hal ini berarti bahwa koperasi tersebut selain dapat membantu perekonomian masyarakat kecil di pedesaan.903 2.183 14.600 1.185 15.7 7.606 2.194 516 518 541 589 590 522 523 617 680 284 282 290 307 380 341 409 446 424 820 836 889 949 997 1.825 10.020 701 126 1.9 0.572 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sampai dengan bulan Maret 1984 jumlah koperasi perlistrikan desa telah mencapai 313 buah.149 1.301 12. telah menunjukkan perkembangan yang positif.601 2 1.5 0.726 2.9 0.094 1.227 1.607 2.917 2.163 3.031 12.872 2.488 12. meningkatnya produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.759 285 106 39 37 116 1.701 4.292 10.690 3. Tembakau 21.257 704 521 568 783 475 437 469 535 1.438 1. serta meningkatnya ekspor dan berkurangnya impor produksi pertanian.082 1.041 1.702 2.518 1. Daging 10.230 1.387 2.4 0. 723 1.010 1. Ubi kayu 4.038 135 157 161 141 1.395 455 571 259 78 1.845 15.6 1980 20. K 0 P i 17.044 2.227 1.276 15.221 175 62 12 17 84 922 3 1970 13.015 295 281 302 309 110 93 113 116 40 33 45 56 39 34 40 41 118 106 120 121 1.083 2.575 1. Minyak sawit 14. Karet 13.1984 (dalam ribu ton.254 3.812 1.4.107 748 884 907 1. meningkatnya tarat hidup petani.676 2.525 17.700 1.433 2.478 2.191 12.516 1. Hal ini terlihat dari meningkatnya produksi bahan makanan sehingga memantapkan usaha swasembada pangan.

serta keberhasilan Departemen Keuangan RI 161 . Atas dasar itu maka produksi beras dalam tahun 1983 telah mencapai 23. Pertanian yang tangguh adalah pertanian yang dinamis dan kokoh.5 ton per hektar. Sehubungan dengan itu Pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan dasar pembangunan di bidang pertanian yaitu berdasarkan Trimatra Pembangunan Pertanian. juga karena tetap dilakukannya penggunaan pupuk. Di dalam pengertian tersebut terkandung makna masyarakat petani yang mampu mengatasi tantangan. Kebijaksanaan tersebut meliputi kebijaksanaan usaha tani terpadu. perluasan areal.8 persen per tahun. serta dapat berperan dalam pembangunan regional dan nasional yang serasi dan seimbang. optimal dalam memanfaatkan sumberdaya alam. insektisida dan bibit unggul secara efektif.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 banyak masalah yang dihadapi serta diperlukan hasil-hasil yang lebih mantap dan merata.5 persen per tahun tersebut dimungkinkan karena didukung oleh produksi beras per hektar dalam tahun 1983 yang mencapai rata-rata sebesar 2.7 juta ton atau sebesar 3. ancaman. Pelita II dan Pelita III menunjukkan kenaikan yang mantap. diversifikasi dan rehabilitasi. tenaga. maka selama Pelita III telah meningkat menjadi 6. yang dalam tahun sebelumnya baru mencapai rata-rata sebesar 2.4. Tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 6.8 juta ton (Tabel VII.3 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1983.8. Gambaran daripada hasil-hasil pembangunan di bidang pertanian sampai dengan tahun pertama Repelita IV dapat diikuti melalui Tabel VII. atau mengalami kenaikan sekitar 4. hambatan dan gangguan terhadap eksistensi serta kelestarian sumberdaya alamnya. Tataurut kebijaksanaan dan upaya-upaya tersebut semata-mata dimaksudkan untuk tercapainya komoditi pertanian yang tangguh sesuai dengan kadar dan perimbangan yang wajar dalam struktur perekonomian nasional. modal dan teknologi serta sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani.5 persen per tahun. Di samping itu juga tercermin pengertian rota dan struktur produksi pertanian yang mampu mengikuti dinamika perubahan permintaan industri hilir dan konsumsi akhir.6 ton. 7. Apabila selama Pelita I dan Pelita II pertumbuhan produksinya masing-masing mencapai 4.9). Hasil dari kenaikan produksi beras tersebut selain disebabkan oleh adanya peningkatan luasareal pallen dalam tahun 1984. yang dapat memberikan umpan batik bagi pengembangan industri dan jasa.1.9 persen di atas produksi tahun 1982 yang baru berjumlah 22. Selanjutnya produksi beras sampai dengan bulan September 1984 telah meningkat lagi menjadi sekitar 24. Tanaman pangan Produksi beras selama Pelita I. komoditi terpadu dan wilayah terpadu. sedangkan upaya-upaya yang dilaksanakan untuk menunjang pelaksanaan kebijaksanaan tersebut ditempuh melalui empat usaha pokok yaitu intensifikasi.9 juta ton.7 persen dan 3.

Departemen Keuangan RI 162 . yang bertujuan memanfaatkan potensi setiap lahan yang memungkinkan.047 ribu hektar dalam tahun 1982 menjadi 5.I0). Peningkatan tersebut juga ditunjang oleh keadaan iklim dan curah hujan yang normal serta adanya perbaikan irigasi. Apabila dalam tahun 1982 luas areal panen yang dapat dicapai baru seluas 8. Selanjutnya luas areal panen Bimas yang sebagian besar bergeser ke areal Inmas.401 ribu hektar dalam tahun 1983.un 1982 menjadi 6. Sedangkan pertambahan luas areal panen intensifikasi tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya luas areal panen Inmas seluas 175 ribu hektar atau sebesar 3. baik perbaikan terhadap saluran tersier. Pertambahan luas areal panen tersebut terutama disebabkan meningkatnya luas areal panen intensifikasi sebesar 4. Di samping lusus. Sementara itu dalam rangka meningkatkan mutu intensifikasi. atau meningkat dengan 77 ribu hektar dibandingkan tahun sebelumnya. maka sejak tahun 1979 Pemerintah telah mengadakan pola kegiatan baru yang telah dikenal dengan intensifikasi khusus (Insus). lusus adalah suatu bentuk intensifikasi yang dilaksanakan oleh petani secara berkelompok sehamparan.988 ribu hektar.. maupun dalam penggunaannya melalui organisasi pemakai air yang semakin efisien.179 ribu hektar.4 persen terhadap tahun sebelumnya.343 ribu hektar dalam ta:.102 ribu hektar. yaitu dari 5.222 ribu hektar dalam tahun 1983 (Tabel VII.3 persen.296 ribu hektar dalam tahun 1982 menjadi 1. Luas areal panen yang dapat dicapai sampai dengan bulan September 1984 telah meningkat lagi menjadi 9.5 persen dari tahun sebelumnya. yaitu denl!an menyelenggarakan perlombaan antarkelompok intensifikasi khusus. yaitu dari seluas 1. yaitu dad 6. Kerjasama kelompok petani tersebut diarahkan pada terwujudnya partisipasi dari semua petani untuk menerapkan sepenuhnya Panca Usaha Tani. maka dalam tahun 1983 telah bertambah menjadi seluas 9. Pemerintah juga melaksanakan operasi khusus (Opsus) yang merupakan penerapan intensifikasi khusus untuk daerah/lahan tadah hujan yang potensial dan dilakukan dengan lebih menggiatkan baik para petani maupun para petugas penyuluh yang ditunjang dengan penyediaan sarana produksi yang memadai.1 persen atau seluas 105 ribu hektar.623 ribu hektar dalam tahun 1983. Sedangkan sebagai pendorong agar sebanyak mungkin kelompok tani dapat lebih berpartisiposi dan ikut serta dalam intensifikasi khusus. dalam tahun 1983 meningkat sebesar 8. maka diadakan perangsang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam mengatasi serangan hama/penyakit. suatu kenaikan sebesar 1.

54 2. 9 AREAL PANEN DAN PRODUKSI BERAS.96 2.607 15.382 8.153 2.62 1.014 8.286 22.801 hektar.69 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Areal panen (ribu ha) 8. Selama Pelita III.623 Usaha ekstensifikasi dilakukan melalui perluasan areal tanam yaitu berupa pembukaan persawahan pasang surut atau pencetakan sawah baru. 797 1978 236 1.38 2.898 8.8 1. yang terdiri dari lahan pekarangan Departemen Keuangan RI 163 .076 1.179 Produksi ( ribu ton) 12.701 Tabel VII.135 8.934 701 4.338 1) Tidak termasuk Insus 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara In mas Biasa Baru 722 99 571 334 867 525 1.130 2.603 Jumlah 2.249 13.163 22. 10 LUAS PAN EN BIMAS DAN INMAS PADI.613 4.988 3724 3.324 7.53 1.343 6.276 15.202 1975 425 2.525 17.719 hektar dan areal yang sudah ditanami mencapai 153.509 8. sawah yang sudah selesai dicetak meliputi 178.185 15.819 669 1.103 1977 272 1.34 2.258 1976 321 2.724 1979 197 1.637 3.. 1969 -19831) ( dalam ribu hektar ) Tahun Bimas .374 1980 125 1.601 858 3.250 4.89 1.724 13.Tabel VII.169 3.876 17.845 15. Biasa Baru 1969 926 383 1970 803 445 1971 827 569 1972 621 582 1973 662 1.516 6.512 800 2. Di samping itu penambahan areal pertanian di daerah transmigrasi mencapai 551.360 8.249 1981 2) 119 1.369 8.988 9.872 20.495 8.186 6.080 410 638 343 611 370 .183 14.403 8.934 hektar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 .848 5.65 1.219 1983 3) 63 1.1984 Rata-rata ( ton/ha ) 1.63 2.74 1.9 1..803 9.346 619 4.03 2.005 9.140 13.088 851 2.166 800 1.di samping pengkaitannya dengan usaha transmigrasi.023 5.961 24. 1969 .170 1974 474 2.284 868 3.788 3.67 1.265 1982 2) 77 1.837 23.102 9.79 1.929 8.

sehingga petani dapat meningkatkan produksi pangallo Demikian pula terus ditingkatkan kegiatan kursus tani. Produksi ubi jalar meningkat dengan 21. yaitu masing-masing dari 437 ribu ton dan 606 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 469 ribu ton dan 633 ribu ton dalam tahun 1983. Selanjutnya Pemerintah juga menyediakan kredit bagi petani untuk Departemen Keuangan RI 164 . maka Pemerintah terus memberikan penyuluhan pertanian agar mereka mampu menggunakan teknologi baru. peragaan. Kenaikan tersebut antara lain disebabkan adanya pengembangan produksi palawija melalui pusat pengembangan pertanian palawija.044 ribu ton dalam tahun 1983. serta penyelenggaraan perlombaan antarhimpunan petani. dibuka dengan cara swadaya transmigrasi sendiri seluas 75. sampai dengan tahun 1983 telah terdapat 14. sebagaimana halnya dengan Bimas padi.12 dapat dilihat bahwa produksi jagung meningkat sebesar 57. pembinaan kelompok dan himpunan petani.3 persen dan 9. Pemerintah juga menyediakan kredit bagi petani untuk pengadaan sarana produksi. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan September 1984.9 persen.071 orang penyuluh pertanian madya (PPM) dan 606 orang tenaga penyuluh pertanian spesialis (PPS) yang tersebar di wilayah kerja penyuluh pertanian (WKPP) di 26 propinsi.235 ribu ton dalan tahun 1982 menjadi 5. baik melalui program intensifikasi maupun dengan program Bimas dan Inmas yang masih memerlukan tersedianya sarana yang cukup. Sementara itu produksi palawija sampai dengan bulan September tahun 1984.676 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 2. Di samping itu Pemerintah juga memberikan pelayanan kepada petani secara kontinyu dengan berbagai sarana produksi dan kredit. maka kepada para petani peserta tetap disediakan bantuan kredit untuk pengadaan sarana produksi yang dibutuhkan.814 hektar. Produksi kacang tanah dan. Dari luas lahan yang telah dibuka tersebut. atau masing-masing mengalami kenaikan sebesar 7. atau 66.5 persen.095 ribu ton dalam tahun 1983. yaitu dari 1. Sehubungan dengan itu dari Tabel VII.044 orang tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL). yaitu dari 3.900 orang dengan realisasi penyaluran kredit sebesar Rp 1. lahan yang sudah diusahakan penggunaannya mencapai seluas 366. juga mengalami peningkatan yang mantap apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan Bimas palawija. Sebagaimana terlihat dalam Tabel VII.605 hektar dan lahan yang. di samping adanya pembinaan bagi daerah yang telah melaksanakan Bimas palawija serta adanya penyebaran bibit unggul. 3.11.4 milyar. lahan usaha seluas 377.382 hektar. seperti halnya dengan produksi padi. informasi pertanian.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 seluas 98.4 persen dari luas seluruh lahan yang sudah dibuka. kedelai juga meningkat. jumlah petani peserta Bimas dan Inmas telah mencapai sebanyak 43. Dalam pengembangan produksi pangan.779 hektar. Untuk menunjang usaha tersebut.0 persen. Oleh karena peningkatan produksi pangan sangat ditentukan oleh kegiatan para petani.

917 10.173.385 11.071.10 1980/1981 50.011 2.903 2.939 2.1 1) Posisi 30 September 1984 Kredit lomas padi mulai berIangsung MT 1977/1978 Jumlah petani 1.60 1982/1983 59.469 2.50 1.470.094 1.471 10.029 3.676 2.606 3.90 41.096.50 48.364 1.80 42.651 14.185 297 Produksi 10.095 5.175 2.488 12.815.353.417.1984 ( dalam ribu hektar untuk luas panen.4 158.353. Oalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan September 1984.20 3.4 milyar.433 2.605.467 1.573.468 1.90 1972/1973 15.50 1978/1979 60.13.1984/1985 (dalam jutarupiah dan ribu orang) Realisasi Pengembalian kredit kredit Tanun 1971/1972 9.412 Ubi kayo Luas panen 1.435 2.70 29.160 3.387 2.988 11.546 12.083 2.509 1.194 2.282.633.30 33.398 1.40 2.30 1974/1975 53. realisasi penyaluran kredit telah mencapai sekitar Rp 0.031 12.726 13.460 2.9 Tabel VII.70 1983/1984 23.90 3.80 1.20 39.106.044 2.991 4.211 2.191 12.515.493.314.10 1.10 2.254 3.794. 1969 . Perkembangan mengenai penyaluran kredit Bimas palawija dapat diikuti dalam Tabel VII.90 1984/1985 1) 1.572 3.846.702 Luas panen 369 357 357 338 379 330 311 301 326 301 287 276 275 220 261 37 Ubi jalar Produksi 2.406 1.330.740.503.735 2.90 49.257 Kacang tanah Luas panen Produksi 372 267 380 281 376 284 354 282 416 290 411 307 475 380 414 341 507 409 506 446 473 424 506 470 1) 508 475 461 437 484 469 419 535 Kedelai Luas panen 554 695 680 697 743 768 752 646 646 733 784 732 810 606 633 666 Produksi 389 498 516 518 541 589 590 522 523 617 680 653 1) 704 521 568 783 1) Angka diperbaiki Departemen Keuangan RI 165 .391. dan ribu ton untuk produksi ) Tahun 1969 1910 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) Luas 2.509 3.30 60.90 563 43.30 1979/1980 49.40 3.388 1.667 2.10 51.501.445 2.353 1. 1971/1972 . 12 LUAS PANEN DAN PRODUKSI PALAWI]A.606 2.584.260 2.025 2.066 2.548.690 3.966 Jagung Produksi 2.690 10.825 2.292 2.186 13.519.095 2.20 11.439 1.410 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengadaan sarana produksinya.061 3.288.433 2.381 2.143 4.603.383 1.412 1.301.90 3.004.567 3.600 orang.10 9.429 1.626 2.751 13.235 5.40 1977/1978 62.581.50 2. 11 PENYALURAN KREDIT BlMAS DAN INMAS PADI.011.492.301 12.079 2. Tabel VII.151.20 1.50 64.458.902 13.018 1.10 1973/1974 36.80 14. dengan jumlah petani peserta sebanyak 8.682.538.594 2.70 1981/1982 62.40 1976/1977 71.955 2.557.115.324 1.60 1975/1976 72.

512 4.277.889 1.306.743 2.332 3.058.70 4.90 1979/1980 5.249 4.30 7.927 1.10 1977/1978 6.8 77.480.336 4.007.7 261.325.1984/1985 (dalamjuta rupiah dan ribu orang) Ta h u n Realisasi kredit Pengembalian kredit Jumlah petani 143.80 7.445.13 PENYALURAN KREDIT BIMAS PALAWIjA.204.731 3.007.40 1981/1982 9.435 3.517 Luas panen 488 533 554 666 696 614 623 528 445 436 529 541 561 560 618 Buah-buahan Produksi 2.832 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.7 146.40 1984/1985 1) 390 15.893.068 2.293 1.70 1983/1984 4.7 235.80 4.206 4.6 1973/1974 1.067 2.50 5.40 1.348 8.272 3.725 3.117 5.641 1.7 195 159.127 2.10 5.30 4.709 3.361.791 1.7 442.295 2.00 4.215.624 2.10 5.833 1.191.048.90 1974/1975 5.917.30 1.70 1976/1977 8.215.038 3.1984 (dalam ribu hektar dan ribu ton) Luas panen Tahun 1969 600 1970 641 1971 715 1972 694 1973 676 1974 647 1975 531 1976 459 1977 558 1978 642 1979 660 1980 673 1981 921 19821) 632 1983 2) 787 1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Sayuran Produksi 1.120 2.861 2. 1969 .6 245.6 1975/1976 9.226 5.906 4.80 1978/1979 6.393.030 Departemen Keuangan RI 166 .6 8.356. 1973/1974 .60 1982/1983 11.226. 14 LUAS PANEN DAN PRODUKSI HORTIKULTURA.788.8 360.073.9 1) Posisi 30 September 1984 Sejak MT 1978/1979 termasuk Bimas Palawija tumpangsari Tabel VII.204.20 1980/1981 6.5 348.

2 43. di samping berperan pula Departemen Keuangan RI 167 .943.3 K20 1 3.1 109.9 14.1983 ( dalam ton) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 2) 1983 3) 1) Ekivalen Zinkphospide 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Insektisida 1.00 1.075.165.3 95.80 13.3 946 1.4 53 53 116 46.90 8.7 171.6 1 2.1 219.9 210.2 Sejalan dengan usaha pengembangan tanaman pangan.10 973. Hal ini mengingat bahwa hasil-hasil produksi hortikultura sangat penting artinya dalam menunjang perbaikan gizi dan pola konsumsi masyarakat.50 4.3 1.2 31.40 Rodentisida 1) 33.7 110.2 262.30 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.4 478.3 313.9 787.3 312 290.8 84 58 113 121 79 78.5 94. 1969 -1983 ( dalam ribu ton kadar pupuk ) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 .20 11.3 54. 16 PENGGUNAAN PESTISIDA UNTUK TANAMAN PANGAN.3 442.5 65.7 126.191.410.254.3 104. 1981 1982 1) 1983 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara N 155. 15 PENGGUNAAN PUPUK UNTUK TANAMAN PANGAN.3 Tabel VII.7 52.9 550.2 354.00 4.432.638.4 P205 36.10 6. maka selain dilakukan peningkatan produksi beras dan produksi palawija.9 43.555.8 1 3 9.060.7 17.00 3.6 317.8 13. digiatkan pula peningkatan produksi hortikultura.2 99.386.2 162.464.9 6.60 1.7 11.504.10 4.982.9 129.8 311.209.9 299.00 2.268. 1969 .60 1.20 1.3 24.

2. Hal ini terutama terlihat dari besarnya sumbangan devisa melalui ekspor hasil-hasil produksinya. Meningkatnya penggunaan pestisida disebabkan oleh bertambahnya penggunaan pestisida dari jenis insektisida dan rodentisida.5 milyar nilai ekspor berasal dari sektor perkebunan.15 dan Tabel VII. Hal tersebut terutama disebabkan karena terjadinya peningkatan produksi sayur-sayuran sebesar 52. Sampai dengan tahun terakhir pelaksanaan Pelita III.4 ton dan 171. yaitu dari sebanyak 43.4.2 persen dan 80. karena semakin luasnya areal panen dan meningkatnya mutu Insus.8 persen. Selanjutnya perkebunan negara dan perkebunan besar swasta disebut juga sebagai perkebunan besar. Sehubungan dengan itu maka pengembangan produksi hortikultura ditekankan pada pengembangan sayur-sayuran dan buahbuahan di sekitar kota yang pemasarannya dapat lebih cepat.1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tanaman perkebunan Perkebunan merupakan salah satu sektor yang terpenting dalam menunjang perekonomian Indonesia.982.16.038 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 3. Kenaikan insektisida dan rodentisida masing-masing adalah sebesar 24.14. lebih dari US $ 1. hasil produksi hortikultura secara keseluruhan sampai dengan tahun 1983 telah mengalami peningkatan sebesar 35. Meningkatnya penggunaan pupuk dan pestisida tersebut secara keseluruhan dapat diikuti melalui Tabel VII.254.117 ribu ton dalam tahun 1983. yaitu dari 2.8 ton dan 94. Meningkatnya hasil produksi tanaman pangan sangat erat kaitannya dengan penggunaan pupuk dan pestisida. Dalam pembahasan selanjutnya. perkebunan rakyat telah Departemen Keuangan RI 168 . perkebunan digolongkan atas perkebunan rakyat.3 ribu ton dalam tahun 1983. namun mengingat bahwa peranan sektor perkebunan yang demikian besar dalam menunjang pembangunan umumnya dan bagi peningkatan sumber pendapatan devisa atau rupiah khususnya.7 ton dalam tahun 1982 menjadi 13.2 ton dalam tahun 1983. Sebagaimana terlihat dalam Tabel VII. yaitu masing-masing dari 11.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam intensitas penggunaan tanah dan tenaga kerja.3 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 54. Walaupun dalam pelaksanaanya dialami banyak tantangan. Kenaikan penggunaan pupuk terutama disebabkan oleh meningkatnya penggunaan pupuk jenis K20.9 persen. maka selama pelaksanaan Pelita telah dilaksanakan berbagai kebijaksanaan dan kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan produksi hasil perkebunan. perkebunan negara dan perkebunan besar swasta. Menjelang akhir tahun 1983/1984. 7.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

mendapat prioritas utama dalam pengembangan usaha perkebunan. Hal tersebut berdasarkan kenyataan bahwa sebagian besar areal dan hasil perkebunan yang ada selama ini adalah milik dan hasil produksi perkebunan rakyat, yang mutu dan produktivitasnya relatif masih rendah. Oleh karena itu penyuluhan bagi perkebunan rakyat ditujukan untuk meningkatkan pendapatan petani melalui modernisasi usaha perkebunan, pengorganisasian usahapemasaran serta pengelolaannya melalui wadah KUD. Sedangkan pengembangan dan pembinaannya tidak lagi dilakukan secara partial, akan tetapi melalui pola pembinaan terpadu. Pola pembinaan terpadu tersebut dilaksanakan secara menyeluruh, baik secara vertikal yaitu berupa kegiatan penyuluhan, penyediaan sarana produksi dan kredit, maupun secara horisontal yang dilakukan sejak mulai penanaman, pemeliharaan tan am an, pengolahan hasil produksi dan pemasaran hingga pengembangan manajemen. Realisasi daripada pembinaan terpadu diwujudkan dalam bentuk unit pelaksana proyek (UPP), yang meliputi pembinaan untuk berbagai komoditi/budidaya perkebunan, terutama tanaman karet, kelapa, kopi, cengkeh, lada, kelapa sawit dan teh. Selama Pelita III areal tanaman Y.lng telah berhasil diremajakan adalah tanaman karet, kelapa, kopi, teh, lada dan coklat yang telah mencapai areal seluas 306.626 hektar, sedangkan untuk tanaman cengkeh mencapai areal seluas 3.000 hektar. Adapun perkehunan rakyat yang telah dibina melalui UPP meliputi 880 unit dengan areal tanam seluas 2.482 ribu hektar. Sementara itu upaya lainnya untuk lebih mengembangkan perkebunan rakyat adalah dengan menerapkan pola perkebunan inti. Dalam pola tersebut perkebunan besar milik Pemerintah, yakni Perusahaan Negara Perkebunan/PT Perkebunan (PNP/PTP), berfungsi sebagai inti atau pusat pengembangan perkebunan rakyat sekitarnya. Pada gilirannya perkebunan rakyat tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi koperasi perkebunan rakyat. Pengembangan pola perkebunan inti tersebut, yang disebut proyek NES (nucleus estate smallholders) atau proyek perkebunan inti rakyat (PIR) meliputi budidaya karet, kelapa hibrida, kelapa sawit dan tebu. Perkebunan besar dalam NES/PIR tersebut berfungsi sebagai penyuluh, penyalur sarana produksi kepada perkebunan rakyat, pengolah hasil yang berasal dari rakyat/petani dan sebagai pemasar hasil produksinya. Sedangkan perkebunan rakyat hams menyediakan tanah dan tenaga kerja. Sampai dengan tahun 1983, realisasi luas areal hasil pembinaan pola NES/PIR adalah seluas 188.067 hektar untuk jenis tanaman kafer, kelapa sawit dan kelapa. Dari Tabel VII.17 dapat dilihat bahwa berhasilnya usaha pembina an perkebunan rakyat sampai dengan tahun 1983 tersebut ditandai dengan meningkatnya hasil kafer, teh dan cengkeh, masing-masing sebesar 55,6 persen, 47,1 persen dan 37,5 persen apabila dibandingkan dengan tahun 1982.

Departemen Keuangan RI

169

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Dalam waktu yang sarna hasil produksi perkebunan rakyat lainnya seperti lada, tembakau, kopi dan gula tebu juga mengalami peningkatan produksi, yaitu masing-masing sebesar 17,6 persen, 14,4 persen, 8,8 persen dan 2,1 persen. Sejalan dengan usaha dan kegiatan dalam bidang perkebunan rakyat, maka pembinaan dan pengembangan perkebunan besar swasta juga terus ditingkatkan. Hasil produksi usaha perkebunan besar swasta selama ini, khususnya sampai dengan tahun 1983, belum menunjukkan peningkatan seperti yang diharapkan. Hal ini antara lain karena berbagai jenis tanam_n seperti kafer, kelapa dan coklat yang telah diremajakan belum menunjukkan produktivitasnya, di samping masih adanya gangguan hama terhadap tanaman-tanaman terse but. Dalam tahun 1983, produksi kopi mengalami kenaikan sebesar 26,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni dari 5,7 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 7,2 ribu ton dalam tahun 1983. Sedangkan untuk produksi cengkeh dan teh, dalam tahun 1983 masing-masing telah meningkat sebesar 50,0 persen dan 5,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perkembangan selanjutnya daripada hasil produksi perkebunan besar swasta dapat diikuti dalam Tabel VII.18. Sementara itu perkebunan besar negara (PNP/PTP) dalam Pelita III juga telah banyak mendapat perhatian dari Pemerintah. Hal ini dimasudkan agar perkebunan besar negara dapat mengimbangi tuntutan perkembangan dan kemajuan teknologi moderen serta permintaan posaran intemasional. Untuk itu ditempuh serangkaian kebijaksanaan yang ditujukan terutama untuk meningkatkan budidaya pengusahaan tanaman dan bentuk usahanya. Di samping menyangkut segi pengelolaan perkebunan/perusahaan, maka aspek sosial ekonomi khususnya pemberian imbalan kepada tenaga kerja juga diperhatikan sebaik-baiknya. Berbagai kegiatan yang dilakukan di bidang perkebunan negara tersebut ditandai dengan meningkatnya produksi beberapa hasil perkebunan negara dalam tahun 1983, seperti antara lain terlihat dan meningkatnya produksi kafer, minyak sawit dan teh, masing-masing sebesar 4,2 persen, 3,7 persen dan 18,0 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hasil-hasil yang dicapai di bidang perkebunan negara dapat diikuti melalui Tabel VII.19. Dari Tabel VII.20 dapat dilihat bahwa dengan berhasil ditingkatkannya produksi perkebunan dalam tahun 1983, baik perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta maupun perkebunan negara, serta ditunjang pula oleh adanya kebangkitan kembali ekonomi dunia, maka volume ekspor hasil perkebunan telah meningkat pula. Apabila dalam tahun 1982 volume ekspor hasil utama perkebunan secara keseluruhan adalah sebesar 1.763,6 ribu ton, maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 1.990,5 ribu ton, atau suatu kenaikan sebesar 12,8 persen dibandingkan dengan tahun

Departemen Keuangan RI

170

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama didukung oleh meningkatnya volume ekspor minyak sawit, lada dan karet, masing-masing sebesar 33,3 persen, 23,9 persen dan 20,2 persen. Oi samping itu juga disebabkan oleh meningkatnya volume ekspor tembakau, teh dan kopi, masing-masing sebesar 18,3 persen, 7,7 persen dan 6,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Tabel VII. 17 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERKEBUNAN RAKYAT, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Kelapa/ Gula Tembakopra Tebu kau Teh Karet Kopi Cengkeh 220 162 22 220 75 558 11 1.198 170 21 196' 69 15 571 1.147 178 24 221 69 572 14 1.308 196 7 247 74 13 559 1.233 140 14 199 69 22 599 1.335 132 14 250 69 15 571 1.370 144 14 223 74 15 536 1.527 178 13 267 78 17 610 1.513 181 14 352 72 37 584 1.554 206 17 485 68 612 21 1.561 209 17 498 73 616 35 1.630 276 21 1.203 69 715 34 1.765 290 24 1.364 100 642 29 1.707 262 17 1.352 97 585 32 1.592 285 25 1.380 111 910 44

Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1) 1981 1) 1982 1) 1983 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara

Lada 17 17 24 18 29 27 23 37 43 46 47 37 40 34 40

Kapas 2,4 2,6 1,3 1,5 1,1 2,9 2,4 0,9 0,9 0,5 0,6 3 11 17,7 6,1

Tabel VII. 18 PRODUKSI BEBERAP A HASIL PERKEBUNAN BESAR SWASTA, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Ke1apa/ Gula Minyak Tebu sawit kopra Tahun Teh Kopi Karet 1 1969 110 5 9 72 60 2 1970 113 6 9 74 70 2 1971 114 7 10 122 79 3 1972 128 6 7 130 81 4 1973 109 4 10 118 82 6 1974 108 7 11 127 104 5 1975 109 6 10 126 126 5 1976 104 6 11 152 145 5 1977 107 6 11 162 147 21 1978 110 7 15 71 165 21 1979 112 8 16 73 168 33 19801) 120 6 18 84 221 25 1981 1) 127 9 14 116 266 11 1982 1) 125 6 16 72 285 19832) 124 7 16 72 286 11 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara

Inti sawit 13 15 18 17 18 21 24 27 29 22 23 38 41 47 47

Departemen Keuangan RI

171

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986
Tabel VII. 19 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERKEBUNAN NEGARA, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Tahun Karet 1969 110 1970 118 1971 118 1972 121 1973 137 1974 138 1975 137 1976 142 1977 147 1978 162 1979 170 19801) 186 1981 1) 193 19821) 189 19832) 197 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Minyak sawit 129 147 170 189 207 244 271 286 338 367 474 499 533 599 621 Inti sawit 28 33 39 42 46 52 57 56 64 72 85 90 100 110 115 Teh 31 34 37 37 43 40 46 49 51 59 92 68 72 61 72 Kopi 8 9 11 12 6 10 10 10 ]0 10 11 13 16 13 10 Tembakau 9 9 7 5 11 8 8 11 12 13 14 15 9 9 8 Gula tebu 630 603 708 756 293 860 878 902 924 960 1.030 273 220 195 191

Tabel VII. 20 VOLUME EKSPOR HASIL UTAMA PERKEBUNAN, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Minyak Kopra dan bungkil Tahun Teh Lada Karet sawit Inti sawit Kopi Tembakau 1969 857,5 179,1 42,7 36,1 127,1 5,7 16,7 349,1 1970 790,2 159,2 42,4 41,1 104,3 11 2,6 393,1 1971 789,3 209 48,6 44,8 74,3 18,3 24,2 322,5' 1972 774,6 236,5 51,4 44 107 26,2 25,7 327,1 1973 890,2 262,7 39,2 39,6 100,8 33,3 25,6 282 1974 840,4 281,2 28,5 55,7 111,8 33,6 15,7 252,6 2) 1975 788,3 386,2 21 45,9 128,4 19,6 15,2 329,1 1976 811,5 405,6 25,6 47,5 136,4 20,5 28,8 396,7 1977 800,2 404,6 25,2 51,3 160,4 25,9 30,9 335,9 1978 918,2 412,3 7,3 61,6 222,8 27,3 38 324,4 2) 1979 967,3 437,8 33,1 65,9 230,7 24,9 25,7 381,4 2) 1980 I)' 981 502,9 42,9 74,2 238,7 28,3 29,7 430,1 19811) 812,8 196,4 22,7 71,3 210,6 25,3 34 321,8 19821) 797,6 259,5 6,9 63,7 227 20,2 36,3 352,4 19833) 958,9 345,8 2,2 68,6 241,2 23,9 45 304,9 1) Angka diperbaiki 2) Hanya bungkil kopra 3) Angka sementara

Jenis komoditi 1969 Kare t 220,7 Kopra dan bungkil kopra 20,6 Ko p i 51,3 Tcmbakau 13,8 Minyak sawit 22,2 Inti sawlt 4 Lada 10,4 Teh 9,7 Bunga, biji pala dan ccngkch 1.6 Rcmpah-rcmpah lainnya 4) 3,5 Jumlah 357,8 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Hanya cengkeh 4) Scjak tahun 1980 tidak ada nilai ckspor

1970 260,9 35,1 65,8 11,5 36,5 5.U 2.9 17,3 2.1 4,3\ 441.4

Tabel VII. 21 NILAI EKSPOR HASIL UTAMA PERKEBUNAN, 1969 - 1983 ( dalam US $ juta ) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 222.2 195,9 395 487,3 365,U 535,1 593,8 720,5 1.002,40 1.174,20 835,8 602,1 26,2 17,6 23.6 23,2 28,9 31.2 38.1 35 41,3 52,1 32,4 38 55.4 72.4 77,4 1UI,3 101.1 250 634.0 509,7 655.4 656 345,9 341,7 19,9 30.0 44.9 35,5 37,8 39,2 61,1 59,3 60,3 58,b 53,1 38,9 46.3 42.0 72,5 Ibb,U 158,1 142 192,8 208,3 253,7 254,7 106,9 64,4 5,5 3,7 4.8 8.4 5.1 3,7 5.8 1,5 7.2 8.1 4,4 2,2 24.7 20.5 28.0 24.6 22.8 46,2 65,6 69,8 47,3 58,1 47,2 44,9 28,7 31.4 30,2 43,6 53,1 55 121.0 92,3 91,7 112,7 100.8 89,5 1.8 2.1 1.7 2,5 5.0 9,7 10,9 11.2 10,9 27,9 80,3 0,33) 4.4 3.4 6.5 6,1 3,7 5,6 7,8 9.0 0.3 435.1 419.0 684.6 898,5 78U,6 1.117,70 1.730,90 1.716,60 2.170,50 2.402,40 1.606,80 1.222,00

1983 2) 802,3 46,4 427,3 47,6 111,5 0,4 52 120,4 0,43) L608,3

Departemen Keuangan RI

172

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Meningkatnya volume ekspor beberapa hasil perkebunan tersebut disertai pula dengan kenaikan nilai ekspor hasil perkebunan dalam tahun 1983. Nilai ekspor keseluruhan dari beherapa komoditi perkehunan dalam tahun 1983, yang terdiri atas jenis komoditi karet, kelapa sawit, kopi, teh, lada dan tembakau, telah mencapai US $ 1.608,3 juta. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 dengan nilai sebesar US $ 1.222,0 juta, maka terdapat kenaikan sebesar 31,6 persen. Gambaran selanjutnya mengenai nilai ekspor beberapa hasil utama perkebunan dapat diikuti melalui Tabel VII.21.

7.4.3. Peternakan Salah satu masalah yang dihadapi di bidang peternakan sebelum Pelita berlangsung adalah rendahnya tingkat populasi ternak dengan perkembangan yang tidak merata. Hal ini antara lain disebabkan karena hampir 60 persen dari seluruh jenis ternak terkonsentrasi di pulau J awa yang justru luasnya hanya sebesar 7 persen dari luas seluruh daratan Indonesia, kecuali untuk jenis ternak babi yang sebagian besar dipelihara secara tradisional di Sumatela Utara, Sulawesi Utara, Bali dan Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu sejak dilaksanakannya pembangunan nasional, kegiatan di bidang peternakan diarahkan kepada peningkatan dan penyebaran populasi ternak, dan sekaligus juga untuk meningkatkan pendapatan para peternak dan memperluas kesempatan berusaha. Sehubungan dengan itu langkah-Iangkah telah dan terus dilakukan terutama dengan penyebaran bibit unggul ke daerah-daerah dalam usaha untuk mengatasi masalah kelahiran dan produktivitas ternak yang rendah, serta peningkatan pemotongan ternak jenis betina. Bibit unggul ternak tersebut disebarkan dari wilayah/propinsi sumber-sumber bibit ternak sapi seperti Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, ke wilayah/ propinsi lainnya yang potensial. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas bibit-bibit sapi lokal, telah dikembangkan usaha pembinaan sumber bibitnya, misainya sapi Bali dikembangkan di pulau Bali, Sumbawa, dan beberapa lokasi di Sulawesi Selatan. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap para peternak sapi Ongole di pulau Sumba dengan jalan mendatangkan sapi jenis unggul dari luar negeri, antara lain seperti sapi jenis Brahman. Sedangkan dalam rangka meningkatkan mutu bibit sapi, maka dalarn tahun 19831 1984 te1ah disebar sebanyak 28.129 ekor bibit sapi. Demikian pula untuk bibit ternak kerb au , karnbingldomba dan kuda, dalarn waktu yang sarna te1ah disebar masing-masing sebanyak 6.452 ekor, 12.910 ekor dan 2.633 ekor. Berkaitan dengan usaha Pemerintah di bidang transmigrasi, bidang peternakan telah ditingkatkan peranannya untuk mendukung usaha pengembangan lokasi baru tersebut. Dalarn rangka menunjang program
Departemen Keuangan RI

173

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

tersebut, sampai dengan Pelita III telah disebarkan sekitar 4.000 ekor dari berbagai jenis ternak, terutarna sapi dan kerbau, melalui dana transmigrasi. Di samping itu melalui dana bantuan Presiden juga telah diimpor berbagai jenis temak unggul seperti sapi jenis Brahman, Santa, Gertrudis dan Bilmon Red yang selanjutnya disebar ke daerah-daerah. Sedangkan untuk penyebaran bibit ternak jenis lainnya yaitu seperti bibit ayam DOC (day old chick) dari Pusat Pembibitan Cisarua juga terus dilaksanakan dan selanjutnya disalurkan ke seluruh propinsi Indonesia. Upaya lainnya yang telah dilakukan adalah dengan teknik inseminasi buatan (IB), yaitu suatu cara perkawinan pada hewan betina dengan alat berupa split pipet (insemination gun) yang telah diisi dengan semen dari pejantan. IB merupakan sarana untuk mengembangbiakkan ternak dengan cepat, teratur dan murah yang dapat memperkecil kemajiran serta tidak perlu memelihara pejantan, sehingga dengan demikian dapat dicegah adanya penyebaran penyakit dari satu hewan ke hewan lainnya sebagai akibat daripada perkawinan. Teknik IB di Indonesia telah dipergunakan sejak tahun 1970, namun baru dalam tahun 1973 dipergunakan semen beku, serta dalarn tahun 1975 dibangun laboratorium yang dapat memproduksi semen beku tersebut di Lembang dan Bandung. Sehubungan dengan ire dapat dikemukakan bahwa apabila se1arna Pelita II baru disalurkan sebanyak 67.000 dosis semen beku kepada 18 propinsi, maka pada akhir Pelita III telah berhasil disalurkan sebanyak 396.817 dosis semen beku untuk keperluan IB ke seluruh propinsi di Indonesia. Tenaga-tenaga untuk menangani pelaksanaan IB tersebut juga telah ditingkatkan, dan dalam rangka meningkatkan keterampilannya sudah banyak yang dikirim ke luar negeri antara lain ke New Zealand. Sebagai hasilnya, jumlah tenaga khusus untuk IB yang selama Pelita II baru berjumlah 295 orang telah berhasil ditingkatkan menjadi sebanyak 595 orang pada akhir Pelita III. Mengingat bahwa persediaan makanan ternak, baik kualitas maupun kuantitasnya, yang berasal dari hijauan makanan ternak masih dirasakan kurang terutama untuk daerahdaerah di pulau Jawa, maka telah dilaksanakan pembinaan terhadap kegiatan-kegiatan penyediaan makanan ternak. Adapun makanan ternak tersebut dapat dibedakan atas makanan hijauan yang terdiri dari rumput, leguminosa dan lain-lain, serta makanan penguat yang terdiri atas konsentrat. Sejalan dengan program penghijauan, maka kini telah dilakukan penanaman makanan hijauan ternak pada daerah/tanah-tanah kritis dan terlantar. Sedangkan dalam hal makanan temak jenis konsentrat, penyediaannya dilakukan oleh pihak swasta dengan pengawasan mutu oleh Pemerintah. Sementara itu di kebun-kebun bibit pusat di Cisarua dan Cisereuh, yang dilengkapi dengan laboratorium pemeriksaan bibit rumput dan bahan rerumputan. telah berhasil dikembangbiakkan jenis rerumputan atau makanan

Departemen Keuangan RI

174

Anthrax. penyakit mulut dan kuku pada sapi. penyakit jembrana di Bali dan penyakit zoonosa rabies. Di samping itu juga telah dapat .500 ribu dosis. Selanjutnya dari kebun-kebun bibit tingkat kabupaten dan tingkat kecamatan disalurkan kepada peternak di kecamatan. penolakan. dan penyakit kulit menular (scabies). Fowl Pox F.obatan darijenis ND Kumarov. bibit-bibit diperbanyak.550 ribu dosis. Apabila dalam tahun 1982/1983 jumlah tenaga penyuluh petemakan spesialis (PPS) dan tenaga penyuluh peternakan lapangan/demonstrator masing-masing baru berjumlah 368 orang dan 936 orang. Dengan demikian akan tercapai upaya dalam mendapatkan rumput alam yang bermutu tinggi di samping usaha budidaya rumput. 1. desa dan kampung sampai ke padang penggembalaan. Di kebun bibit ditingkat propinsi tersebut. Brucella dan Rabies. SE. radang paba dan keluron menular (brucellosis).ditanggulangi penyakit asal bakteri antara lain seperti penyakit ngorok. 4. masing-masing sebanyak 50. 2 di antaranya berada di Denposar dan Ujungpandang yang dibangun alas ban_an FAa (Food Agriculture Organisation) dan TJNDP (United Nation Development Program). Selanjutnya dalam rangka pencegahan penyakit ternak. 13. namun tidak dapat diabaikan adanya beberapa penyakit yang berasal dari virus seperti penyakit tetelo. Selama lima tahun pelaksanaan Repelita III telah dilakukan kegiatan pengamanan ternak dengan mengaktitkan fungsi penyidikan. sedangkan 2 buah lagi berada di Medan dan Tanjung Karang yang dibangun alas bantuan dari pemerintah jepang. pencegahan dan pemberantasan penyakit. kader peternak. Guna menanggulangi wahab yang tidak dapat diduga baik mengenai kejadian maupun waktunya. Walaupun selama sepuluh tahun terakhir ini serangan penyakit pada temak pada umumnya dapat diatasi dan dikendalikan. Sebuah balai dibangun di Bukittinggi dengan bantuan dari pemerintah j erman Barat. maka Pemerintah telah mempersiapkan baik alat-alat ataupun tenaganya. dewasa ini juga telah direhabilitir beberapa karantina hewan serta vaksinasi massal yang\ditangani secara khusus. Dalam tahun 1983/1984 telah dapat disediakan dan disebarkan vaksin dan obat. 20 ribu dosis dan 522 ribu dosis. dalam tahun Departemen Keuangan RI 175 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hijauan temak baru serta memperbaiki jenis yang ada untuk disebarkan ke kebun-kebun bibit di berbagai propinsi. -parasit darah (surra.000 ribu dosis. petugas laboratorium diagnostik dan tenaga vaksinator terus ditingkatkan.000 ribu dosis. dan laboratorium jenis B di setiap propinsi serta laboratoriumjenis C di setiap kabupaten. Sehubungan dengan itu. penyediaan tenaga penyuluh. Dalam hubungan ini telah selesai dibangun dan berfungsi 5 buah Balai Penyidikan Hewan. penyakit antrax. bebesiosis). Di samping itu juga telah dibangun 3 buah Laboratorium Penyidikan Penyakit Hewan jenis A di tingkat pusat. diamati daya adaptasi dan daya tumbuhnya untuk kemudian disebarkan ke tiap kabupaten.

2 97 1) 3.8 Tulang 10.861 25.286 1973 6.098 Domba 2.1 2.891 8.976 2.691 7.177 4.1 9.1 2. 22 POPULASI TERNAK.130 orang.976 2.6 9.1 0.1984 ( dalam ribu ekor) Tahun Sapi 1969 6.9 4.2 1.014 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 19832) Tabel VII.2 7.804 3.660 19841) 6.382 107. dalam ribu ton untuk kulit dan tulang ) Ternak Kulit Sapi Kerbau S api Kerbau Kambing Domba 38.4 0.426 23.357 184.2 18.5 2.627 84.330 1979 6.051 7.6 28 1) 3.3 0.7 187 1) 3 0.436 orang.183 3.457 2.155 3.374 3.1 11.245 1972 6.556 197.493 114. 1969 .998 3.457 3.2 4.768 2.447 1970 6.751 1) Angka sementara Sapi perahan 52 59 66 68 78 86 90 87 91 93 94 103 113 140 162 169 Kerbau 2.620 14.4 0.343 Babi 2.5 0.9 0 0 0.8 51.987 121.902 3.4 0.996 3.4 0.5 1) Angka dalam ton 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 176 .533 Kambing 7.7 0 0 0.637 1974 6.1 0.6 8.2 0.1 8.438 75.517 6.071 4.9 9.316 4.878 3.432 2.5 5.4 8 7.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1983/1984 telah meningkat masing-masing menjadi 428 orang dan 1.415 2.687 Itik 7.4 0.370 10.4 0 1.790 7.8 0.8 0.336 6.513 2.541 18.793 6. Selanjutnya jumlah petugas laboratorium diagnostik dan petugas vaksinator yang dalam tahun 1982/1983 masing-masing baru sebanyak 312 orang dan 1.4 0.5 0.6 22.7 45 13.1 2.476 63.979 2. 24 VOLUME EKSPOR TERNAK DAN HASIL-HASILNYA.516 1982 6.362 3.677 4.4 193 1) 2.416 12. 1969 -1983 ( dalam ribu ekor untuk temak.5 1. Tabel VII.4 2.488 2.6 50.707 2.594 1983 1) 6.1 1.146 2.6 0.242 1976 6.2 28 3.976 2.8 9 0.217 1978 6.1 0.312 2.6 1.125 15.943 7.407 orang.284 2.659 7.5 2.906 2.5 0 0 0.640 82. dalam tahun 1983/1984 juga telah meningkat masing-masing menjadi 313 orang dan 5.124 4.9 31.350 2.822 2.4 0.947 2.7 54.7 1.8 1 59.440 1981 6.2 5.2 2.403 3.231 4.237 1977 6.5 1.4 29.9 0.7 3.382 3.049 8.100 98.436 27.544 6.9 0 0 1.169 3.364 3.182 16.232 8.538 2.1 0.489 2.132 211.362 1980 6.302 232.380 93.032 17.380 1975 6.4 0.1 2.124 13.3 0.611 4.603 3.404 11.2 9.089 21.315 6.3 0.906 7.475 102.6 0.079 Kuda 642 692 665 693 645 600 627 631 659 615 596 616 637 658 665 704 Ayam 62.292 2.130 1971 6.6 0.1 1.2 1.4 2.078 22.3 1 0 0 2.432 2.269 7.3 0.9 24.189 6.587 3.5 0.6 1.

046.25 NILAI EKSPOR TERNAKDAN HASIL-HASILNYA.186.40 Berbagai cara telah dilaksanakan untuk meningkatkan populasi ternak.60 11.0 ribu ton dan 142.900. ketiga jenis produk tersebut masing-masing telah mencapai sebanyak 671.658.966.226.6 ribu ton. 1969 -1983 (dalam US $ ribu) T ernak Sapi Kerbau Tahun 1969 596 251 1970 1.80 5.691.6 14.70 83.010.90 398.50 15. maka produksi daging.243. maka produksi daging telah meningkat sebesar 6.5 590.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.083.90 147 11.245.70 139 11.1 1977 1.822.90 2. 3.4 persen dan produksi susu 21.00 698.0 ribu ton. 297.60 7.30 157.231 ribu ekor. meningkatkan menjadi 4.40 2.25. menjadi 6.5 393.843.769.391.368.5 persen.1 4.315.810.6 652 1.60 22.421.7 24.981.20 2.516.196.246.20 41.30 23.738.636.80 7. maka populasi ternak jenis sapi.1 626.50 237.262. Hasil-hasil yang dicapai di bidang peningkatan populasi ternak sampai dengan tahun pertama Repelita IV dapat diikuti melalui Tabel VII.049 ribu ekor dalam tahun 1983.30 109.423.9 524.307.90 26.752.758.660 ribu ekor. yaitu dari masing-masing sebanyak 4.2 124.8 195. babi dan kuda.401.9 juta liter (Tabel VII.308.60 385.40 19.4 1.193.30 Tulang 52.6 0 JumJah 4.949.40 990.70 1.883.5 255.70 398 3.6 615.704.24 dan Tabel VII.248.70 22.00 6.00 3.00 395.316 ribu ekor.40 4.40 1.433.582.843.60 1.50 30 14.672.662. 140 ribu ekor dan 7.00 15. Sementara itu sebagaimana terlihat dalam Tabel VII.40 7. 162 ribu ekor dan 8.70 1.50 25.800. 3.00 2.132.20 3.3 0 1979 0 0 1980 0 0 1981 0 0 1982 0 0 19831) 0 0 1) Angka sementara Sapi 1.40 7.30 69 18. Dari tabel tersebut terlihat bahwa apabila dibandingkan dengan tahun 1982.8 1972 2.10 7.90 712.90 26 1978 70.974.3 1971 1.22.4 9.20 299. telur dan susu juga menunjukkan peningkatan yang cukup mantap.90 6.587 ribu ekor dan 658 ribu ekor dalam tahun 1982.10 Domba 693.6 169 105.30 3.560.677 ribu ekor dan 665 ribu ekor dalam tahun 1983.9 164.20 1.694.3 1.341.2 persen dan 6.30 299.0 ribu ton dan 117. 316.20 813.843.9 1.272.30 425.6 1974 7.824. Sejalan dengan meningkatnya hasil-hasil yang dicapai di bidang pengembangan populasi ternak.7 persen.677.792.30 3.50 154.523.412.2 13.007.23). Dalam tahun 1983.134.1 2.3 535. Disusul kemudian kenaikan populasi ternak domba.1 3.926.222.30 1.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.594 ribu ekor.50 485. produksi telur 6.10 1.80 7. Demikian juga populasi ternak Ryall dan itik menunjukkan kenaikan masingmasing sebesar 7.5 172.80 Kulit Kerbau Kambing 170.985. volume dan nilai ekspor ternak dan hasil-hasilnya tidak lagi mengalami kenaikan bahkan kegiatan ekspor Departemen Keuangan RI 177 .6 juta liter.998.80 25.80 1973 3.891 ribu ekor dalam tahun 1982.9 1976 3.087. Apabila dibandingkan dengan produksi tahun 1982 yang masing-masing baru berjumlah 628.30 1975 5.922.80 10.80 16.2 5.5 2. sapi perahan dan kambing dalam tahun 1983 telah menunjukkan kenaikan dari masing-masing sebanyak 6.790.026.471.

purseseine. yaitu sebanyak 1.9 juta. Dengan demikian dalam tahun 1983 sebagian besar ekspor hasil ternak adalah berupa kulit sapi. sedangkan sisanya sebanyak 520 ribu ton adalah ikan darat.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. juga karena meningkatnya produksi ikan darat sebesar 2. pole and line. Dapat diketengahkan bahwa besarnya peningkatan produksi ikan taut tersebut terutama karena bertambahnya kapal-kapal perikanan bermotor dan meningkatnya penggunaan alat-alat penangkap ikan moderen seperti jaring jenis gill net. kambing dan domba dengan nilai ekspor sebesar US $ 23. penggunaan perahu tanpa motor dan alatDepartemen Keuangan RI 178 . atau 6. maka selama Pelita III telah ditempuh usaha-usaha intensifikasi penangkapan sekaligus pengembangbiakan daTi berbagai jenis ikan dan udang di samping juga dilakukan usaha pengembangan perikanan darat. Hasil produksi ikan dalam tahun 1983 tersebut sebagian besar merupakan produksi ikan lalit. dan long line.4.7 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982. Apabila dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 1982 yang berjumlah US $ 25. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan para nelayan. keadaan tersebut sangat menguntungkan produktivitas dan pengembangan budidaya ikan di Indonesia. Namun mengingat bahwa penangkapan ikan memerlukan tatacara yang benar agar pelaksanaannya dapat produktif dan efisien.1 juta. kerbau. Kenaikan produksi ikan tersebut selain disebabkan peningkatan produksi ikan taut sebesar 7. Produksi ikan sampai dengan tahun 1983 telah meningkat menjadi sekitar 2.4. Di lain pihak.998 ribu ton.5 persen dari hasil keseluruhan. mempertinggi produksi. Sementara itu hasil-hasil yang telah dicapai di bidang perikanan dalam tahun 1983 antara lain tercermin pada produksi ikan yang telah mencapai 2. Perikanan Indonesia dikenal sebagai suatu negara maritim yang terdiri dari pulau-pulau dengan perairan yang me1iputi tiga perempat bagian dari se1uruh wilayah negara. Penurunan tersebut disebabkan karena meningkatnya permintaan daging dan protein hewani.3 persen.600 ribu ton atau 75. 7. maka nilai ekspor hasil ternak turun sebesar 4. Titik berat pembangunan di bidang perikanan dalam Repelita IV ditujukan pada pembinaan dan pengembangan perikanan rakyat. meskipun jumlah populasi ternak secara keseluruhan meningkat setiap tahunnya. meningkatkan mutu gizi pangan dan sekaligus untuk meningkatkan ekspor.120 ribu ton.1 persen lebih tinggi dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya yakni sebanyak 1. Dengan letak geografis yang ada sella ditunjang oleh iklim tropis sepanjang tahun.4 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ternak sapi dan kerbau telah dihentikan sejak tahun 1979.120 ribu ton atau sebesar 6. memperluas kesempatan berusaha. serta kulit dan tulang di dalam negeri sebagai akibat dari berkembangnya sektor industri.

maka dalam tahun 1983 telah mencapai 405. telah dibangun saluran tambak di Daerah Istimewa Aceh. terutama yang terdiri dari hasil tambak. Di samping itu juga telah dibangun 24 buah PP. Selanjutnya guna menunjang dan mempercepat pertumbuhan produksi perikanan lalit. produksi budidaya perikanan darat mengalami kenaikan sebesar 5.300 buah. PPI dan PP tersebut dilengkapi dengan tempat pelelangan.5 ribu hektar. NTT. Jawa Tengah. yang berarti peningkatan sebesar 10. Sedangkan untuk mendukung pengembangan budiclara tambak dan perikanan darat lainnya. Sementara itu walaupun pertumbuhan produksi ikan darat tidak secepat produksi ikan laut. 2 buah PP nusantara dan sebuah PP samudera. Sampai dengan bulan September tahun 1984. Bali. Apabila luas areal budidaya tambak dalam tahun 1982 baru mencapai 400. kolam dan sawah.3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meningkatnya produksi budidaya perikanan darat tersebut terutama disebabkan intensifikasi budidaya tambak di samping adanya perluasan arealnya. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 94. Sumatera Utara. namun produksi ikan darat juga menunjukkan jumlah yang terus meningkat. Jawa Barat. Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan yang keseluruhannya mencapai sepanjang 590 km. atau suatu kenaikan sebesar 9. pemasaran dan pengolahan hasilhasil perikanan.4 persen. sampai dengan tahun 1983/1984 telah dibangun 149 buah PPI yang tersebar di 25 propinsi kecuali untuk DI Yogyakarta dan Timor Timur. Dalam hubungan ini. produksinya te1ah meningkat lagi sehingga mencapai 279 ribu ton. yang terdiri alas 21 buah PP pantai. terutama perikanan rakyat. Dalam tahun 1983.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 alat penangkap ikan tradisional te1ah menurun yang menunjukkan te1ah terjadinya pergeseran dan pergantian dari alat-alat penangkapan tradisional ke alat-alat penangkapan yang lebih produktif. yaitu dari 241 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 254 ribu ton dalam tahun 1983.6 ribu hektar atau suatu kenaikan 1.4 persen dibandingkan dengan tahun sebe1umnya. Jawa Timur. Tersedianya benih dan induk ikan dalam jumlah dan mutu yang memadai sangat Departemen Keuangan RI 179 . Sebaliknya dalam periode yang sarna jumlah perahu tanpa motor telah menurun dari 215. atau suatu penurunan sebesar 1. NTB. Meningkatnya penggunaan perahu/kapal motor serta alat-alat penangkap ikan moderen terlihat dari jumlah perahu/kapal motor yang dalam tahun 1982 baru sebanyak 85.466 buah dalam tahun 1982 menjadi 212. maka sejak Pelita III telah dilaksanakan rehabilitasi dan pembangunan pangkalan pendarat ikan (PPI) serta pelabuhan perikanan (PP). pabrik es.8 persen bila dibandingkan dengan tahun sebe1umnya.8 persen. gudang pendingin dan lain-lain fasilitas yang diperlukan untuk mengembangkan produksi.083 buah.400 buah dalam tahun 1983.

865 471 867 749 190 37 12.768 321 92 9.600 Ekspor ikan selama Pelita III.163 2.980 5.721 84.8 persen dan 5.28 VOLUME DAN NILAI EKSPOR HASIL-HASIL PERIKANAN.444 22.505 1.334 2.6 persen dari seluruh volume.316 4.387 1.827 7S.378 21.693 1. 1969 .992 3.810 10.705 226. Sampai dengan tahun 1983/1984 telah direhabilitasi dan dibangun BBI sebanyak 43 unit.28.637 878 1970 7.750 200 170 24.178 68.187 29.875 5. Tabel VII.050 5.375 8.724 2.145 1. Apabila dalam tahun 1978 konsumsi ikan baru mencapai 11.278 1971 15.115 7.7 persen per tahun.450 I) Segar dan awetan 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Jumlah Volume Nilai 21.308 19.191 54.182 1.247 169 652 286 104 38 12.778 9.1 persen dari seluruh nilai ekspor hasil perikanan.160 3.2 persen dan 1.907 7.625 31. Dilihat dari segi konsumsinya.904 1981 24. selain mengandalkan benih dari sumber alam.180 ribu.585 217 98 17. ditingkatkan pula peranan yang lebih aktif dari balai benih ikan (BBl). maka berarti volume dan nilai ekspornya telah meningkat masing-masing sebesar 35.934 180.170 194.319 14.333 4.188 4.657 7.420 ribu. Pemasaran ikan.411 29.026 11.851 2.370 6.483 1980 31. Selanjutnya untuk tahun 1983.344 40.648 2.106 1.211 13.823 3. Volume dan nilai ekspor hasil ikan dalam tahun 1983 tersebut belum termasuk ekspor uhliruhlir yang berjumlah 4.953 92.496 12.154 1. Pada urutan Departemen Keuangan RI 180 .410 Udang 1) Volume Nilai Tahun 1969 5. baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.300 255.612 4.910 19.575 181.627 140. pemasaran hasil ikan ke luar negeri telah mencapai 83.640 19833) 26.697 1972 23.486 193.184 399 114 13. atau mengalami kenaikan rata-rata 2.4 kg per kapita.0 persen.994 41.373 1.805 ton senilai US $ 244.827 1982 2) 25. baik volume maupun nilainya telah mengalami kenaikan.118 892 568 384 103 29 10.971 162.178 225.550 ton dengan nilai sebesar US $ 247.387 89.868 678 2.959 ribu.738 88.618 249.060 6.787 57.924 350 61 12.809 1973 28.121 78. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 dengan volume ekspor sebesar 61.233 1978 32. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 13.820 3.286 16.463 116.510 163.712 31.774 286 56 14.258 305 54 13.754 473 136 13.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menentukan berhasilnya usaha perikanan budidaya.756 18.255 33.959 30.852 45.750 ton senilai US $ 8.389 131.325 6. Ekspor hasil-hasil perikanan dalam tahun 1983 sebagian besar adalah berupa udang segar dan awetan.049 5.838 1.426 2.431 1976 31.018 63.991 1977 31.1 kg per kapita.464 236.114 29.941 52.540 21.620 161.416 88.720 32.041 2.431 364 114 1 i .378 3.571 1975 25.562 1974 32.655 18. ekspor hasil-hasil perikanan juga menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan.185 54. sampai dengan tahun 1983 telah menunjukkan peningkatan yang mantap. dan 76.156 34. nilai dalam US $ ribu) Ikan segar Katak Ikan hias Lain-lain Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai 2.639 5. Untuk mengatasi hal tersebut.955 1979 34.395 7.1983 (Volume dalam ton.300 8.943 200.517 3.355 358 65 12. yakni masing-masing dengan rata-rata sebesar 6. rata-rata konsumsi ikan segar per kapita per tahun dalam negeri dari tahun 1978 sampai dengan tahun 1983 terus menunjukkan peningkatan.195 34.236 359 96 14.380 57.867 3. Dalam waktu yang sarna telah dibangun sebanyak 3 unit balai benih udang (BBU) dan 3 unit balai benih udang galah (BBUG).8 persen per tahun.354 75.274 17.111 1.424 68. Dalam waktu yang sama.332 326 28 9 42 20 13. sebagaimana terlihat pada Tabel VII.553 2. yang mencapai 29.

Sedangkan negara-negara tujuan utama ekspor hasil perikanan adalah ]epang. Mulai awal Pebruari Departemen Keuangan RI 181 . telah dilakukan peningkatan produksi. di samping tercukupinya kebutuhan gizi yang sesuai dengan daya beli masyarakat banyak. peningkatan jumlah sarana penyangga. Amerika Serikat. Dalam menunjang usaha tersebut.. sehingga konsumsi bahan pangan bukan beras terus meningkat. Pemerintah melakukan kebijaksanaan barga. Agar petani produsen padi lebih bergairah dalam meningkatkan produksinya. Negeri Belanda. Sehubungan dengan kegiatan tersebut. memantapkan harga serta memperbaiki pengolahan dan penyimpanan hasil produksi pangan.7 persen dari seluruh nilai ekspor hasil perikanan. melancarkan penyaluran bahan pangan. sehingga usaha perbaikan dan peningkatan gizi masyarakat dapat tercapai. Pangan dan gizi Pembangunan di bidang pangan dan gizi sampai dengan akhir Pelita III dititikberatkan pada peningkatan penyediaan pangan secara merata. Sedangkan khusus harga dasar kacang tanah sejak tahun 1982/1983 telah dihapuskan karena harga kacang tanah di posaran sudah tinggi sehingga tidak perlu lagi ditetapkan harga dasarnya. baik bagi kepentingan produsen maupun konsumen. Pemerintah mengusahakan terwujudnya harga pangan yang stabil pada tingkat yang wajar. Di samping itu. Hongkong. Penentuan harga yang wajar bagi produsen terutama ditujukan untuk memberikan dorongan kepada petani produsen meningkatkan hasil produksinya. Penetapan harga dasar dan harga batas tertinggi tersebut tidak hanya berlaku terhadap bahan pangan pokok beras saja. Singapura. Untuk itu secara berkala Pemerintah telah menetapkan harga dasar yang diterima oleh petani produsen dan harga batas tertinggi yang dibayar oleh konsumen.4 persen dari volume atau 7. dan kacang hiiau. maka juga ditujukan untuk meningkatkan gizi masyarakat melalui penganekaragaman pola konsumsi pangan masyarakat.4. serta pembangunan gudanggudang pangan di seluruh pelosok tanah air..per kilogram. memperbaiki sarana distribusi dan pemasaran. Sehubungan dengan harga dasar gabah/beras dapat dikemukakan bahwa pada awal Pe1ita III harga dasar gabah kering giling di tingkat BUUD/KUD adalah sebesar Rp 85. antara lain jagung. maka harga dasar gabah/beras tersebut te1ah ditingkatkan sehingga sampai dengan akhir tahun Pe1ita III mencapai sebesar Rp 145. Sejalan dengan kebijaksanaan yang berorientasi pada harga. Belgia dan Luxemburg.5. kedelai.per kilogram.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kedua adalah ekspor ikan segar yang mencapai 38. 7. Sedangkan penetapan harga batas tertinggi yang dibayar oleh konsumen dimaksudkan agar harga pangan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak. melainkan juga untuk beberapa jenis palawija.

atau 85.8 ribu ton. Hal ini antara lain terlihat dari pembangunan gudang-gudang pangan Pemerintah di se1uruh pe1osok tanah air..per kilogram (Tabel VII.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1984 harga dasar gabah/beras telah ditingkatkan lagi menjadi Rp 165. Untuk menjamin agar para petani produsen benar-benar dapat menerima harga penjualan hasil produksinya sesuai dengan harga dasar yang telah ditetapkan. te1ah mencapai sebanyak 1.8 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1983/1984. dan gudang Bulog lama sebanyak 89 buah dengan kapositas tampung sebanyak 168. Demikian pula untuk tahun 1985.5 persen dilakukan melalui impor komersial. Dengan tersedianya gudanggudang penyimpanan tersebut diharapkan pengadaan pangan untuk sarana penyangga dapat berjalan lancar. Selain mendorong perkembangan KUD.109.. maka dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan impor beras sebanyak 1. gudang semi permanen sebanyak 430 buah dengan kapositas tampung sebanyak 397. terhitung mulai tanggal1 Pebruari 1985 te1ah diputuskan untuk menaikkan lagi harga dasar gabahlberas giling di tingkat BUUD/KUD menjadi Rp 175.29).037.250. jumlah gudang Pemerintah yang te1ah selesai dibangun dan dapat berfungsi mencapai 1. Untuk lebih meningkatkan keterkaitan kebijaksanaan pangan dengan koperasi baik di bidang pengadaan maupun penyalurannya.. dan diikutsertakan dalam penyediaan sarana lepas panen: Di samping itu untuk memperkuat daya saing dan membantu pemupukan modal bagi KUD. sedangkan sisanya sebanyak 137. sebanyak 81. Sebagai perbandingan dapat dikemukakan bahwa pengadaan gabahlberas yang berasal dari kUD dalam tahun 1983/1984. yakni sebesar 12 persen per tahun. maka pembelian gabah dan hasil palawija dari petani dilaksanakan terutama melalui koperasi unit desa (KUD). sedangkan Departemen Keuangan RI 182 .6 ribu ton alan sebesar 89 persen dari se1uruh pengadaan gabahlberas dalam negeri.0 ribu ton atau sebesar 11 persen berasal dari non KUD. Pemerintah juga terus memperbaiki sarana distribusi dan pemasaran serta pengolahan dan penyimpanan hasil pertanian pangan.118 buah dengan kapasitas tampung se1uruhnya sebesar 2.0 ribu ton. sedangkan dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus jumlah terse but telah meningkat menjadi sekitar 2.6 ribu ton.210.0 ribu ton. Sampai dengan bulan Juli 1984. Dalam tahun 1983/1984 pembelian beras (berupa gabah setara beras) yang berasal dari dalam negeri adalah sebanyak 1.467.901.8 ribu ton. maka dalam pengadaan gabah/beras te1ah diberikan pula margin tataniaga yang lebih besar dari yang diberikan kepada pihak swasta non KUD.2 ribu ton. Dari jumlah impor beras dalam tahun 1983/1984 tersebut. Agar persediaan beras berada dalam jumlah yang cukup.4 ribu ton.per kilogram. maka sejak tanggal 1 Juni 1983 kepada koperasi diberikan kredit dengan suku bunga rendah. Jumlah gudang tersebut terdiri atas gudang Bulog baru sebanyak 599 buah dengan kapositas tampung sebanyak 1.

29 HARGA DASAR PADI DAN GABAH.50 67.00 Gabah kering lumbung di desa 38.50 54. 1974/1975 .00 135.6 persen lebih rendah dibandingkan dengan penyaluran beras dalam tahun sebelumnya yang mencapai jumlah 2.944 ribu ton. Pengendalian harga tersebut antara lain dilakukan melalui penyaluran beras ke seluruh pelosok tanah air.00 57.50 52.00 1) 175.50 54.60 57. Dengan adanya beras dalam jumlah yang cukup.00 95.00 145.00 Gabah kering giling di BUUD/KUD 42. baik untuk memenuhi kebutuhan pegawai dan karyawan tertentu maupun untuk umum melalui operasi posar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sisanya dalam rangka bantuan pangallo Pengadaan beras dalam negeri dan impor dapat diikuti melalui Tabel VII.00 51.50 71.00 Padi kering giling di desa 31.00 74. Tabel VII.31.50 64. beras yang disalurkan dalam tahun 1983/1984 adalah 1.00 165.00 85.00 2) 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1985/1986 I) BerIaku mulai I Pebruari 1984 s/d 31 Januari 1985 2) BerIaku mulai 1 Pebruari 1985 Departemen Keuangan RI 183 .00 75.00 120.30 58. Gambaran dari perkembangan harga beras di beberapa kola besar dari tahun 1974/1975 sampai dengan tahun 1983/1984 dapat diikuti melalui Tabel VII.50 Gabah kering giling di desa 40.50 70.1985/1986 ( dalam rupiah per kilogram ) Tahun Padai kering Lumbung di desa 30.866 ribu ton atau 36. Secara keseluruhan. maka perkembangan harga beras di posaran umum dapat dikendalikan dalam batas-batas yang wajar.00 105.00 66.00 50.50 68.50 70.00 54.30.00 42.30 44.

06 180.18 231.32 97.5 132.04 313.6 153.34 213.29 93.96 281.52 119.OG 125 125 125 135 133.09 73.08 198.31 216.31 245.34 108.09 116.4 Maret 80.48 124.23 140.5 226.1 183 198.28 128.63 280 303.87 133.74 224.56 144.38 217.18 125.9 90.6 187.5 197.17 162.6 140.19 88.51 183.06 253.98 115.12 124 126.33 125 125 125 134.81 115.92 319.9 88.58 89.15 260 261 255.59 132.87 178.08 124 124.37 67.04 74.8 234.33 180 180.25 116.87 125.46 177.42 171.78 184.2 Nopember Dcsember Januari 77.11 132.54 161.1 75.58 123.71 273.0(1 125.18 91.07 110.53 172.81 93.68 124.9 125 129.9 140.31 210 208.13 202.36 259.14 213.82 186.78 218.4 Mei 66.98 200 210.69 111.15 204.62 112.22 90.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.19 243.48 128.79 146.15 140.91 189.48 109.19 121.6 247.72 180.43 195.15 181.18 124.28 125.64 224.32 129.65 68.52 145.06 125.42 242.77 Pebruari 79.92 84.25 138.97 111.81 121.19 245.55 140.35 280 315 315 310.24 184.6 116.4 128.46 239.83 198.28 213.87 75.99 80.99 255.59 196.87 126.04 209.42 131.39 203.85 338.25 120.52 172.01 181.7 211.48 180.18 85.54 235.1 183.12 125.98 123.47 90 123.36 277.87 225 304.51 77.53 296.86 119.8 77.6 185.64 125.36 253.91 174.41 128.15 217.88 127.2 211.53 128.5 252.79 123.15 121.83 Juni 66.84 179.96 165.58 126.02 137.75 101.98 120 145 172.14 131.46 139.57 127.71 198.1 212.62 270.95 134.21 172.28 90.59 127.41 213.37 231.78 125.85 206.32 140.73 318.2 135.03 74.72 136.25 126.88 126.61 180 194.08 133.41 202.46 216.03 209.1 212.74 76.57 245.91 159.28 230.7 132.36 107.48 132.79 Kota Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 JAKARTA 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 BANDUNG 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 SEMARANG 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{19H 1) Angka sementara Desember Januari Pebruari 90.42 286.4 93.31 119.5 102.35 178.59 111.36 97.74 132.22 181.27 140.51 207.53 231.56 144.4 167.44 107.25 184.92 180.7 180.3 117.71 236.96 125.02 129.1 178.32 299.71 122.91 121.69 109.4 172.56 185 195.81 201.32 90.8 234.76 75.13 236.71 133.59 91.48 129.66 324.56 208.52 274.61 127.49 215.OO 235.81 200 191.91 194.66 145.84 125.92 139.72 146.45 288.56 213.83 110.75 127.54 Juni 76.17 215.41 172.13 209.98 211.57 165.35 322.96 232.9 127.66 212.73 162.5 172.6 220 226.76 85.54 128.16 321.85 109.288.65 109.62 302.41 172.21 123.77 202.66 221.02 103.56 125.12 157.05 Tabel VII.53 186.59 267.88 71.19 90.55 159.14 125.78 142.55 128.1983/1984 ( dalam rupiah per kilogram) April 84.16 117.83 291.36 135.04 295.17 132.55 141.12 101.1 95.15 250.51 280 300 Departemen Keuangan RI 184 .11 97.28 133 150 185.02 215.83 325.03 313.88 230.48 241.18 118.48 230.31 Juli 69.16 269.65 285.66 137.2 114.57 190.22 212.35 126.5 261.96 252.46 167.69 148.75 121.57 252.36 285.64 120.02 129.15 205.46 243.66 125 146.22 109.1 184.22 125.96 275 271. 1974/1975 .06 257.8 126.83 130 137.52 11 7.64 133.15 125 122.46 86.3 181.15 123.11 199.36 128.3 153.18 144.25 118.07 128.97 84.6 190 223.34 120.34 280.28 234.46 127.23 195.9 225.47 129.6 208.69 117.8 119.77 135.63 96.6 300.77 334.42 131.41 200.2 133.68 99.12 108.48 120.43 124.1 315 363.01 76.16 264.42 215.19 123.85 125.36 120.11 134.32 297.42 125 124.55 199.9 111.16 114.17 230.98 104.03 213.75 207.67 120 120 127.6 179.71 128.95 185.81 77.68 202.74 85.67 233.58 138.00 148.63 217.71 124.18 125 125 126.42 232.77 206.62 334.5 279.9 151).3 115.58 186.05 125.61 124 124.88 230.39 .98 290.29 185.88 82.82 125 127.16 128.56 215.42 134.34 194.5 283.39 292.67 184.53 286.36 285.96 197.04 211.15 74.02 232.63 256.56 243.37 125.65 144.91 135.68 125.5 123.43 156.19 274.37 195.22 234.12 247.26 150 185 213.17 109.41 Mei 77.7 179.34 124.71 126.31 176.91 262.88 115.15 122.07 101.42 144.64 184.02 221.6 85.2 212.46 199.43 128.69 144.93 241.55 85.81 211.68 312.79 102.79 132.5 225 230.12 144.86 254.24 125 125.38 230.37 224.46 268.48 220.07 121.8 201.58 73.69 268.41 180 182.01 140.63 118.19 139.66 128.68 122.12 139.94 283.54 134.33 175 179.6 189.92 178.99 185.82 199.21 74.73 221.78 139.5 141.81 136.9'! 193.32 190.72 185.06 85.5 143.55 183.23 208.59 134.81 212.94 154.62 223.28 257.23 292.31 126.96 259.72 107.98 313.64 218.31 HARGA BERAS KUALITAS MENENGAH DI BEBERAPA KOTA BESAR.9 212.13 125.6 125.88 130.9 124.26 180.03 122.46 81.49 121.76 200.5 229.83 228.78 202.37 75 79.80 126.87 111.13 304.65 84.39 111.38 222.08 75.78 Maret 99.08 152.01 130.84 229.72 120.2 178 182.58 187.94 214.08 92.42 320.56 188.27 178.15 128./6 93.5 180 199.88 72.31 ( lanjutan) Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 YOGYAK 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 SURABAY 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 MEDAN 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982'/1983 1983/1984 1) Angka sementara Kota April 66.36 285.88 96.63 186.28 230.33 Juli 76.65 117.69 288.04 80.25 297.76 212.32 85.72 221.45 120.75 75.77 95.72 257.36 232.39 141.87 206.72 122.4 197.41 156.18 114.7 310.97 136.13 130.43 228.05 76.99 120.26 169.38 183.19 112.17 196.35 86.5 169.99 233.43 187.53 289.96 69 83.25 179.59 Bulan Agustus September Oktober 68.69 129.79 146.29 247.9 189.53 141.6 Bulan Agustus September Oktober Nopember 76.3 167.87 75.93 133.25 135 134.84 133.94 91.78 86.61 175.73 96.52 225.59 233.94 244.2 132.17 108.53 318.53 128.86 128.27 169.29 301.5 226 227.22 88.46 213.76 114.19 205.93 175.29 283.5 123.56 228.1:3 171.28 279.53 120.93 128.33 189.64 96.53 252 263.1 283.03 118.03 124.36 113.17 317.27 90.37 107.58 234.3 179.69 206.76 130.68 212.83 75.31 127.25 164.64 225 222.5 199.87 77.63 124.03 216.5 167.86 285.88 139.42 87.97 178.85 184.31 212.6 125 145 172.52 207.66 203.99 122.

4 115 126 140 185 200 255 273.31 89.91 312.78 111.15 225 276.95 220.6 115 113.41 97.19 183.31 221.4 220.05 127.6 180.5 127.26 186.94 155.648 ribu ton atau sebesar 89.6 Mei 112.99 229.55 214.39 157.28 112.69 168.83 165 165 174.34 187 209. Dalam hal penyuluhan gizi.68 221.96 186 216.62 191.11 94. dan ditambah lagi dengan sebanyak 118 ribu ton dari sisa stok tahun sebelumnya.83 115.77 200 206.61 226.25 103.77 142.31 221.77 173.04: 142.2 247.22 356. usaha-usaha khusus lainnya.66 266.65 333.01 197.06 85.79 132.66 239. pada akhir Pelita III telah dikembangkan suatu sistem untuk mencegah terjadinya krisis pangan yang antara lain sebagai akibat daripada bencana alam dan musim kering yang berkepanjangan.05 100.05 215 229.43 131.13 130.1 297 106.09 226.25 133.04 225 229 234.14 132.2 110.92 11 7 .64 206.19 230 226.25 147.34 151.2 134.41 260.21 133.92 83.31 75 92.79 101.36 181.83 229.13 179.69 90.39 160.23 146.61 75 79.31 75 88.46 175.96 185.1 182. Dari jumlah impor gandum dalam tahun 1983/1984 tersebut.32 126.51 206.95 90.4 275 285. Dalam hubungan ini maka dalam tahun 1983/1984 telah diimpor gandum sebanyak 1.19 122.6 205.03 185 190.2 142.91 312.91 242.44 142.6 persen lebih banyak dibandingkan dengan impor dalam tahun 1982/1983 yang sebanyak 1.55 323.12 206.5 125 125 110 110 110.73 142.46 185.91 145.27 242.58 131.21 145.31 232.16 137.52 298.722 ribu ton atau 10.41 185.4 89.2 181 185 185 180 180 182.09 195 196.68 183.8 125 130.7 125.5 115 119.12 297.99 227. telah dapat disalurkan kepada masyarakat sebanyak 1.69 Juni 115.64 205. usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK).1 139.5 89. Sedangkan dalam hal SKPG.68 131.82 130.58 134.59 142.99 132.92 130.44 101. khususnya masyarakat petani produsen telah diarahkan untuk meningkatkan intensifikasi tanaman palawija di tanah kering dan penganekaragaman usaha pertanian dengan cara tumpangsari antara jenis tanaman kacangkacangan dengan sayur-sayuran.66 297.6 Kota PALEMBANG BANJARMASIN UJUNG Tahun 1974{1975 19750976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1977 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1970{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 April 116.81 1) Angka sementara Dalam rangka penganekaragarnan konsumsi masyarakat agar tidak hanya tergantung pada beras.54 225 270 Juli 112.34 151.83 173.60 126.46 242.24 349.2 265.25 132 155 201.79 239.26 216.12 120 115 127.72 178.2 132.56 119.39 121.5 122.2 219.91 312.58 298.95 205. serta penanggulangan kekurangan vitamin A dan zat besi.13 152.23 107.19 242.98 209.1 118.1 297 106.88 106.04 183.75 131.39 133.79 318.51 205.69 275.25 94.5 112.1 297 106.31 312.8 97.33 77..02 106.42 130. 89.6 persen.76 99.77 297.11 140 185 206.29 130.25 87.5 149.54 180 194.31 221.85 139.29 270 270 274.48 242. dan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG).29 90 97.45 158.13 121.47 147.69 195 231.82 131.47 242.96 11 7 .11 294.75 121.83 242.58 125. 31 ( lanjutan) Bu1an Oktober Nopember Desember Januari Pebruari Agustus September 112.43 180.65 147.32 337.08 126.42 303.06 151.32 106.53 124.2 133.11 189.5 96 107.12 335 334.12 164.36 152.06 92.33 170.26 146. telah dilaksanakan pula pengadaan dan penyaluran tepung terigu yang bahan bakunya berupa gandum yang diperoleh dari impor.58 118.73 .5 277.99 92.67 128.47 132.87 95.08 217.62 139.25 200 200 202 206.26 105.53 142.87 184.03 100 95.10 198.25 88.04 152.31 293.557 ribu ton.66 256.66 133.61 215 215 231.71 228 239.17 205. Usaha-usaha lain yang telah dilakukan dalam rangka perbaikan gizi masyarakat antara lain ditempuh melalui penyuluhan.38 185 200 225 273.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.1 152. fortifikasi bahan raTIgan.33 142.07 125 121. perluasan jangkauan UPGK sampai ke pelosok tanah air.38 129.61 239.2 275. masing-masing diwujudkan melalui peningkatan jumlah produksi garam beryodium.74 208.52 78.44 90 120 109 125 156.95 113.8 120.69 102.24 297.25 239.08 299.71 164.23 142.65 299.92 332.67 265.37 211.75 125 127.1 247.08 115 120 120 120 120.66 230.46 125 148.46 97.76 157. serta untuk meningkatkan gizi masyarakat.46 187.43 242.23 105.28 142.65 312.86 141. UPGK dan usaha-usaha khusus lainnya.07 225 270 Maret 105. Selanjutnya kegiatan fortifikasi bahan pangan.4 96.27 238.6 164.2 130 131.91 246.31 316.67 273. Upaya-upaya tersebut telah mulai dilaksanakan di daerah-daerah pemanduan Departemen Keuangan RI 185 .98 250.91 121.86 142.95 120.15 200 207.01 109.5 186.25 131.91 268.25 134.45 120 123.91 308.

serta sebagai penunjang peningkatan so sial. kegiatan SKPG telah dikembangkan lagi ke daerah Lombok Timur. Hasil kegiatan tersebut baru sebesar 21. Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur. perlindungan dan pelestarian alam. pekalongan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 seperti Lombok Tengah di NTB. harus dilindungi kelestariannya.060 ribu hektar. pengawet dan pelestari alam.5 ribu hektar dan 36. Inventarisasi dan tataguna hutan Kegiatan di bidang inventarisasi hutan yang telah dicapai selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV. sehingga akan tetap bermanfaat bagi generasi yang akan datang. perlindungan. Dari hasil survai tersebut telah diperoleh potret kawasan hutan sebanyak 22. Untuk itu terus dilakukan kegiatan rehabilitasi sumberdaya alam. serta pengawetan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. daD dimanfaatkan guna meningkatkan kesejahteraan rakyat secara optimal.977.000.029 ribu hektar. Hal tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan keseimbangan dan kelestariannya. Kehutanan Hutan sebagai sumber kekayaan alam dan merupakan salah satu unsur pertahanan nasional. 7. pengatur tata air. pencegah erosi. melalui pemulihan kemampuan dan produktivitas sumberdaya bulan. Dalam Repelita IV pembangunan di bidang kehutanan ditujukan dan dilaksanakan melalui Sapta Karya Pembangunan Kehutanan. tanah dan air yang kritis sehingga dapat memenuhi fungsinya secara maksimal sebagai produsen. hutan pendidikan dan hutan penelitian.1. serta sarana penunjang. 1. pendidikan dan latihan. antara lain meliputi survai udara. Di samping itu juga dilakukan peningkatan bidang-bidang lain seperti penelitian dan pengembangan. yang ditempuh melalui berbagai kegiatan antara lain meliputi pelestarian. pelindung. Karang Asem di Bali dan Boyolali di Jawa Tengah. penghijauan dan rehabilitasi lahan serta pengusahaan hutan. pengawasan dan pendayagunaan aparatur. maka sejak Pelita I sampai dengan Pelita III telah berhasil dibuat tatabatas kawasan hutan sepanjang 31. yang meliputi peningkatan produksi hutan berupa kayu dan hasil hutan ikutan. Dalam tahun 1983/1984.400 kilometer. lapangan dan penggunaan jasa satelit. Selain itu juga ditujukan pada pengusahaan sumberdaya bulan. masing-masing meliputi areal kawasan hutan seluas 5.3 persen dari seluruh panjang batas kawasan Departemen Keuangan RI 186 . reboisasi.5. Sasaran pembangunan di bidang kehutanan diharapkan dapat terwujud melalui peningkatan inventarisasi dan tataguna bulan.5. Sementara itu dalam rangka penataan batas kawasan hutan yang terdiri alas hutan lindung.726 lembar dengan skala 1:100. 7.

2 ribu hektar. pengamanan dan penyimpanan data. berikut sub balainya. pengolahan. masing-masing telah berjumlah 604 orang. 7.0 ribu hektar.4 ribu hektar. jumlah tenaga juru ukur. di samping juga akan memudahkan pelayanan. hutan produksi bebas seluas 25. Sementara itu pemetaan yang mempunyai peranan penting di bidang kehutanan. Sejak tahun 1981 sampai dengan bulan Agustus 1984. maka diperlukan adanya tataguna hutan. Sebagai sarana penunjang telah dibangun balai inventarisasi dan pemetaan bulan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hutan yang diperkirakan sepanjang 147. perlindungan hutan dan pelestarian alam Pada hakekatnya perlindungan hutan dan pelestarian alam dalam rangka konservasi Departemen Keuangan RI 187 .5 ribu hektar. maka dalam tahun pertama Repelita IV telah dapat diwujudkan suatu sistem informasi yang dipusatkan pada suatu basis data dan sistem informasi. peta TPC (Tactical Pilotage Chart). peta JOG Qoint Operation Graffic Ground). tenaga gambar dan tenaga penafsir potret udara. hutan produksi terbatas seluas 22.5. peta land-use. sampai dengan bulan Juni 1984 telah dapat memenuhi semua kebutuhan peta dasarnya.891. melalui pendidikan tenaga ukur. Sampai dengan bulan Juni 1984 telah dapat disusun dan diselesaikan pola tataguna hutan kesepakatan (TGHK) di 19 propinsi di luar pulau Jawa.8 ribu hektar dan hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 24. hutan suaka alam dan hutan wisata seluas 15.000 kilometer.317. informasi dan menjaga konsistensi data. Dalam rangka pengelolaan hutan yang meliputi peningkatan pembinaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. 87 orang dan 176 orang. Jenis peta dasar yang telah selesai dibuat antara lain berupa peta topografi. Sejalan dengan kegiatan tersebut. masing-masing sebanyak 10 balai dan 31 sub balai. juga telah berhasil dicapai pengukuhan dan penatagunaan hutan lindung seluas 24. peta tanah. sejak tahun 1981 sampai dengan bulan Juni 1984 telah dilaksanakan tatabatas dalam rangka pengukuhan areal reboisasi pada bekas tanah negara bebas. sehingga diharapkan tidak terjadi tumpang tindih dalam pengumpulan. Dalam rangka peningkatan penyempurnaan aparatur dan sarana penunjang telah dilakukan peningkatan aparatur pelaksana inventarisasi dan tataguna bulan. Dalam waktu yang sarna.4 ribu hektar.569. yang mencakup areal seluas 260. peta lalit. peta ketinggian dan peta thematic. peta geologi. juru gambar dan tenaga penafsir potret udara.905. Dari hasil TGHK tersebut telah dapat diidentifikasikan luas areal hutan di Indonesia sekitar 147 juta hektar. Sedangkan untuk kegiatan pendataan kehutanan yang meliputi pengumpulan data dan pengolahannya.2. peta daerah aliran sungai (DAS) di 27 propinsi.939.

1 juta hektar.784.2 ribu hektar dan tersebar pada 306 lokasi diseluruh Indonesia. gejala alam. Konservasi kawasan hutan antara lain ditempuh melalui kegiatan pengalokasian.784. pengelolaan hutan lindung. di mana 50 jenis di antaranya termasuk jenis satwa yang dilindungi. suaka margasatwa seluas 4. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap populasi jenis satwa langka. dan taman laut seluas 8. yang selama Pelita III telah berhasil mencapai 16 lokasi Departemen Keuangan RI 188 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sumberdaya alam dan lingkungan hidup. hutan wisata dan taman nasional sebagai model ekosistem. antara lain ditempuh melalui inventarisasi dan identifikasi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar yang populasinya diancam kepunahan.3 hektar. Sedangkan upaya konservasinya dilakukan melalui pembinaan dan pengembangan taman nasional. keanekaragaman dan keunikan jenis flora dan fauna. baik kualitas maupun kuantitasnya. Selama Pelita III. pembinaan pencinta alam. Guna menunjang berbagai kegiatan tersebut.4 ribu hektar. Riau dan Sumatera Utara. Sejalan dengan kegiatan tersebut. penetapan sebanyak 521 jenis satwa dan 36 jenis flora yang dilindungi peraturan perundang-undangan. antara lain meliputi pengembangan taman nasional. antara lain berupa rehabilitasi orang hutan di Tanjung Puting (Kalimantan Tengah) dan Bahorok (Sumatera Utara). ditingkatkan pula pembinaan dan pengembangan kebun binatang dan oceanorium di 21 lokasi.076. yang tersebar di 5 lokasi. serta keindahan alam.4 ribu hektar. gajah di pinggiran Air Sugihan (Sumatera Selatan).4 ribu hektar.8 ribu hektar. Sedangkan konservasi di luar kawasan bulan. burung jalak di Bali Barat. serta pengamanan terhadap daerah pengungsian dan daerah perlindungan satwa baik di darat maupun di laut. maka telah ditingkatkan penertiban perburuan. antara lain telah dilakukan studi dan inventarisasi flora dan fauna di 20 lokasi yang mencakup kawasan seluas 2. serta inventarisasi sebanyak 20 jenis kekayaan laut. ditujukan untuk menjaga keberadaan plasma nutfah dan kelestarian potensi sumberdaya alam beserta ekosistemnya dari kemungkinan bahaya kerusakan dan penurunan. Suaka alam dan hutan wisata tersebut terdiri atas hutan cagar alam seluas 6. Dalam rangka menunjang pelestarian jenis-jenis satwa yang tidak dilindungi. taman wisata seluas 172. taman baru seluas 326. dan rusa di pulau Bawean. dengan jumlah koleksi sebanyak 500 jenis satwa. melalui penetapan 11 lokasi taman baru. pembinaan wisata alam. burung muho di Sulawesi Utara. baik di daratan maupun di perairan. pengelolaan dan pembinaan hutan suaka alam. selain sebagai obyek olah raga dan wisata. maka selama Pelita III telah dilakukan penunjukan atau penetapan suaka alam dan hutan wisata yang mencapai 12. sumber plasma nutfah. di samping juga melalui kegiatan yang berorientasi pada masalah botani. monitoring dampak lingkungan serta kegiatan pengamanan hutan. Usaha perlindungan hutan dan pelestarian alam dilaksanakan melalui beberapa kelompok kegiatan.

Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 realisasinya telah mencapai 75.234. Reboisasi. Hal ini dimaksudkan untuk mengimbangi kerusakan kawasan hutan sebagai akibat dari perladangan berpindah.3. 7.2 ribu ekor. gunung MeruBetiri. Di samping kegiatan-kegiatan tersebut. maka dalam rangka reboisasi lahan kritis juga telah dilakukan persiapan-persiapan kearah pembangunan Departemen Keuangan RI 189 . selain dilakukan usaha pemanfaatan juga tetap diperhatikan kelestariannya melalui pengurangan populasi yang telah melampaui keseimbangan ekosistemnya. Ujung Kulon.626. yang berasal dari berbagai jenis satwa liar sebanyak 1.5 ribu hektar. bertepatan dengan Kongres Taman Nasional Sedunia ke III di Bali. Dan kegiatan yang telah dilakukan tersebut. baik untuk kepentingan konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. penghijauan dan rehabilitasi lahan Dalam rangka pelaksanaan program penyelamatan hutan. Kepulauan Seribu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan luas areal seluruhnya 4.688. Dari 16lokasi tersebut. Bila dibandingkan dengan tahun 1982/1983 dengan nilai ekspor sebesar US $ 4. serta 169 orang petugas khusus penghijauan. serta Lore Lindu-Manusela telah ditetapkan pada tanggal14 Oktober 1982. yaitu di gunung Leuser. maka setiap tahunnya terus ditingkatkan kegiatan di bidang reboisasi. penggarapan lahan yang keliru. Oleh karena itu dalam tahun 1983/1984 berbagai usaha penunjang telah dilaksanakan. Bali Barat. Tanjung Puling. Dalam pada itu sejalan dengan upaya-upaya dalam bidang perlindungan hutan dan pelestarian alam. Dumoga Bone.1 ribu ekor. Dalam rangka pembinaan populasi satwa liar.300 hektar (Tabel VII. kebakaran hutan dan penggembalaan ternak secara liar.8 persen.32). yaitu di gunung Kerinci. pembinaan terhadap pencinta alam juga dilaksanakan dan ditingkatkan. Bukit Barisan Selatan. 5 lokasi di antaranya telah ditetapkan pada tanggal16 Maret 1980 bertepatan dengan dicanangkannya World Conservation Strategy.5. gunung Baluran dan pulau Komodo.934.884. tanah dan air. antara lain dengan dipekerjakannya sebanyak 7. berarti masing-masing telah meningkat sebesar 21.3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.5 persen dan 36.432 orang petugas lapangan penghijauan dan reboisasi.3 ribu yang berasal dari 1. hasil reboisasi dalam tahun 1983/1984 telah meningkat sebesar 57. Sumbangan devisa dari ekspor satwa liar dalam tahun 1983/1984 mencapai US $5.434 hektar. gunung Tengger-Semeru. penghijauan dan rehabilitasi lahan.400 hektar menjadi 186. bimbingan dan pendidikan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap wisata alam. gunung Gede-Pangrango. gunung Seblat. daerah Kutai. Untuk itu selama Pelita III telah diadakan penyuluhan. Sedangkan 11 lokasi lainnya. yaitu dari 118.3 ribu.

yang pelaksanaannya dilakukan baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. Sedangkan dalam rangka pengembangan dan pembenihan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hutan jenis kayu indah dan langka.753 unit yang masing-masing luasnya antara 10 sampai 20 hektar. Sumatera Selatan. yaitu dari rata-rata seluas 364. Sejak tahun 1976/1977 kegiatan penghijauan. antara lain telah dilakukan pengembangan teknologi benih dan pemulihan jenis pohon. Di samping itu dilakukan juga pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu. selama Pelita III telah dibangun somber benih seluas 4. yang tersebar di 15 propinsi.2 persen bila dibandingkan dengan Pelita II.390 unit checkdam.360 hektar per tahun. sampai dengan tahun 1982/1983 telah dilaksanakan pemukiman kembali terhadap para peladang berpindah sebanyak 6. Dari hasil-hasil yang telah dicapai tersebut. antara lain berupa studi-studi dan penyiapan rencana pengembangannya pada areal seluas 720. Sehubungan dengan itu. Sedangkan melalui metoda vegetatif telah berhasil dibuat kebun rakyat seluas 1. dan dengan metoda vegetatif yang antara lain dilakukan melalui pembuatan kebun-kebun rakyat. yang kemudian ditingkatkan lagi dalam tahun 1983/1984 menjadi 7. dan untuk menunjang kegiatan tersebut telah dibangun Pusat Teknologi Benih di Bogor. Pusat Pemulihan Pohon di Yogyakarta dan Unit Pengembangan Teknologi Persemaian di Benahat. Selama Pelita III.262 kepala keluarga (KK). pembuatan beras dan saluran air seluas 184. melalui metoda sipil teknis telah berhasil clibangun sebanyak 2.6 ribu hektar.600 hektar. Dalam rangka kegiatan rehabilitasi lahan. Dalam hubungan ini. maka selama Pelita III realisasi kegiatan penghijauan secara keseluruhan telah meningkat sebesar 44.000 hektar.613.400 hektar per tahun. Departemen Keuangan RI 190 . seperti halnya reboisasi dilakukan melalui dana Inpres bantuan penghijauan dan reboisasi. yang sarna dengan luas kawasan penghijauan seluas 579. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni I 1984 juga telah berhasil dilakukan penghijauan seluas 311. Dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut dilakukan melalui metoda sipil teknis. serta pembuatan petak percontohan penghijauan sebanyak 2.210 KK.500 hektar. serta penyuluhan guna peningkatan partisiposi masyarakat dalam pemeliharaan kelestarian sumberdaya alam. maka dilakukan upaya pemukiman kembali bagi para peladang berpindah untuk mencegah rusaknya sumberdaya alam berupa hutan. menjadi 525.000 hektar. yaitu kegiatan yang dikaitkan dengan pernbangunan irigasi.576 hektar.

9 7.300 1) 75. 33 PENGUSAHAAN HUTAN SAMPAI DENGAN MARET 1984 1) Jenis dan sifat usaha 1.219.315 22. 1969 .5 juta (Tabel VII. sampai dengan akhir bulan Maret 1984 telah dilakukan pengusahaan hutan sebanyak 520 unit dengan areal konsesi seluas 52.434 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.5 7.697 632.400 186.4.402 50.Perusahaan patungan 3.000 Reboisasi 33.000 179.174 35.400 558.Peruasahaah dalam rangka PMA Jumlah perusahaan yang telah memperoleh HPH 1) Angka sementara Jumlah (unit) 457 61 2 520 Luas areal (ribu ha) 45.578 98.33).600 610. Dalam hubungan ini.500 149.148 276.100 501.259 107.1984 ( dalam hektar ) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 2) Penghijauan 149.0 52. Apabila ditinjau dari status dan sumber permodalannya.219. 32 AREAL PENGHIJAUAN DAN REBOISASI.689 665.000 118.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. yang pengusahaannya di luar Jawa selain dilakukan oleh Perum Perhutani juga dilaksanakan oleh pemegang hak pengusahaan hutan (HPH).840.1 2.682 89.991 578.650 53.032.5.543 204. dari 520 Departemen Keuangan RI 191 .802 70.658 170.3 8.700 147.544 213.000 311.999.Perusahaan yang merupakan usaha nasional 2.118 35.971.6 Investasi ( US$ juta) 1.9 juta hektar dan investasi yang ditanam senilai US $ 2.7 126. Pengusahaan hutan Berdasarkan tataguna hutan kesepakatan luas kawasan hutan produksi di Indonesia adalah sekitar 70 juta hektar.681 102.900 378.1 240.623 302.855 104.

6 1976 480 20.120 17.1 juta.1 juta.448 79.1 juta hektar dan US $ 8.986 9.2 891.986 ribu meter kubik kayu rimba.256 20. serta 0.971. Tabel VII.9 1.3 961.702 ribu meterkubik yang terdiri atas 8.660 23.4 230.9 1974 620 22.3 juta.702 6.6 1972 597 17.717 13.3 juta.7 1975 595 15.2 1.327 65.740 14.412 59.240 21.488 75.781 26. Hal tersebut disebabkan terutama karena adanya kebijaksanaan untuk mengurangi secara bertahap ekspor kayu bulat guna lebih mendorong industri pengolahan kayu dalam negeri.6 1971 770 12. Sedangkan selebihnya sebanyak 61 unit merupakan perusahaan patungan dan 2 unit lagi berupa penisahaan asing dalam rangka PMA. 1969 .015 5.296 13.4 783. Luas areal hutan dan besarnya investasi yang ditanam oleh kedua jenis perusahaan tersebut masingmasing adalah 7.60 1980 500 21.4 persen.6 1983 1) 716 8. sebanyak 457 unit di antaranya adalah perusahaan nasional dengan areal pengusahaan seluas 45.981 78.6 juta.805. dan 716 ribu meterkubik kayu jati.0 juta hektar dan investasi senilai US $ 1.424 7. produksinya telah mencapai sebesar 1.3 26 1970 568 11.800 19.968 13.3 168. namun hasil volume dan nilai ekspornya telah meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.427 18. Sejalan dengan pengaturan melalui HPH.2 1. hasil produksi kayu dalam tahun 1983 berjumlah sebesar 9.313 ribu meterkubik atau sebesar 25.980 45.954 8.947 21.8 1.738 10.035.008. yang terdiri atas 754 ribu meterkubik kayu rimba dan 450 ribu meterkubik kayu jati.2 725.262 65.7 1973 676 25.8 1977 573 22.425 52.8 juta hektar dan US $ 240.596 44.939 19.521 86.323 13.5 583.921 85.610 74.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 unit perusahaan yang telah memperoleh HPH tersebut.107 3. Jumlah tersebut apabila dibandingkan dengan tahun 1982 yang telah mencapai sebesar 13.4 1978 475 25.40 1982 692 12.065 19.366 22. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Maret 1984.490 25.786.701 16.980 ribu meterkubik senilai US $ 849.806 86.3 1984 2) 450 754 1.760 78. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 6.1984 Produksi (ribu m3) Ekspor Volume % Nilai Kayu Kayu jati rimba Tahun J umIah (ribu m3 produksi (US$juta) 1969 520 7. Dalam tahun 1982 volume dan nilai ekspor kayu yang terdiri atas kayu rimba dan kayu jati baru sebanyak 5.3 385 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 192 .70 1979 575 24.613 ribu meterkubik senilai US $ 891.280 18. 34 PRODUKSI DAN EKSPOR KAYU.587 8. berarti mengalami penurunan sebesar 3.204 2.376 15.123 76.9 849.6 100.70 1981 578 15.204 meterkubik.124 25. Walaupun produksi kayu da\am tahun 1983 telah menurun.4 501.856 12.613 68.015 ribu meter kubik.

6 21 19.1 0.7 2. yang sampai dengan bulan Maret 1984 jumlahnya telah mencapai 412 unit dengan kapositas produksi sebanyak 11.5 Jumlah 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Hal ini berarti telah terjadi peningkatan volume dan nilai ekspor masing-masing sebesar 10.8 1981 54.2 0.6 persen.4 1978 66 1979 58. yaitu dari 58. antara lain telah dilakukan diversifikasi komoditi dan pemasarannya melalui pengembangan pemasaran ekspor hasil olahan/industri dan perluasan negara tujuan ekspor.9 juta meterkubik.6 Aglutis 5.6 0.3 1975 68 1976 64.3 1.7 2. agatbis dan jati peranannya telah meningkat masingmasing dari 3.7 1.8 persen. pulai dan jati. sejak lima tahun terakhir jenis kayu meranti merupakan bagian terbesar dalam komposisi ekspor kayu Indonesia.9 persen.7 19831) 70.8 Pulai Lain-lain 13. Departemen Keuangan RI 193 .3 0. Jenis kayu tersebut antara lain adalah kayu meranti.2 26.1 6.1 1982 56.7 0.2 persen dalam tahun 1983.4 11.5 3.4 13.1 0.2 0.9 4 2.3 0. 35 JENIS-JENIS KAYU DALAM PERSENTASE DARIPADA VOLUME EKSPOR KAYU.5 Tahun Meranti 1970 68.4 0.9 2.1 1. Dilihat dari sudut permintaan.9 13. kruing.6 23. agatbis.2 1.9 persen dalam tahun 1979 meningkat menjadi 70.9 persen dan 0.6 persen dan 4.9 8.8 1.9 6 3 2. dalam waktu yang sarna telah berjumiah sebanyak 162 unit dengan kapositas produksi sebanyak 8.s 5. 1.9 1.6 11.2 0.2 persen menjadi 14.7 13 14.8 2.2 0.1983 Kapur/ keruing 1.9 persen.8 5 6 6.8 2.9 1980 57.7 1. ramin.2 1) Angka sementara Ramin 9.5 1971 62. Sebagaimana terlihat Facia Tabel VII.34.9 3.7 5.3 10.4 0.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.6 14. beberapa jenis kayu dari Indonesia cukup dikenal dan mempunyai posaran yang mantap di luar negeri. Walaupun jenis-jenis kayu tersebut pemasarannya ke luar negeri telah mantap.6 21. Akibat positif daripada kebijaksanaan tersebut ditandai dengan berkembangnya industri kayu gergajian dan kayu lapis di dalam negeri.9 0.1 22. Sedangkan jumlah industri kayu lapis. namun beberapa jenis kayu lainnya masih harus dikembangkan dan dipromosikan agar dapat memasuki posaran dunia. 1970 .2 10.0 juta meterkubik.7 10.1 10.5 1977 63.8 14.7 persen dan 0.6 0.7 10.4 1.2 14. Demikian pula jenis kayu ramin.9 10 10.8 0.7 2 1.7 1973 58 1974 64.9 1.2 1 2. perkembangan volume dan nilai ekspor kayu dapat diikuti melalui Tabel VII.7 Jati 0. 2.4 11. 35.9 8. Oleh karena itu guna mencegah kemungkinan melemahnya ekspor kayu di posaran internasional.7 1972 62.8 3.2 0.8 11.2 2.9 5.5 3.3 0.4 4.

Perekonomian dunia yang tidak menentu bagi Indonesia merupakan hambatan utama dalam mencapai peningkatan produksi bahan-bahan tambang utama.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.9 juta barrel minyak mentah. Dengan melemahnya posaran minyak dunia akhir-akhir ini dan pembatasan produksi yang disepakati oleh para anggota OPEC sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan tingkat harga yang kini berlaku.0 juta barrel. Jumlah terse but menunjukkan peningkatan sebesar 12. maka perkembangan produksi minyak bumi menjadi kurang Departemen Keuangan RI 194 . Minyak dan gas bumi Hasil produksi minyak bumi dalam tahun kelima Pelita III mencapai 517.6. sebagai langkah persiapan menuju pengembangan dan pemanfaatan batU bara secara besar-besaran di masa datang. Namun demikian produksi beberapa bahan tambang masih menunjukkan peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II. dan selebihnya sebanyak 39. Dengan hasil-hasil terse but Indonesia telah dapat mengurangi ketergantungannya terhaclap impor bahan bakar minyak (BBM). LNG dan LPG (liquified petroleum gas). khususnya di sektor minyak dan gas bumi. Sampai dengan tahun terakhir Pelita III telah dapat diselesaikan perluasan kilang minyak Cilacap serta pembangunan unit hydro cracker di Dumai dan di Balikpapan dalam rangka pemehuhan BBM dalam negeri. perkembangan yang paling menonjol di sektor pertambangan antara lain ditandai oleh keberhasilan dalam meningkatkan produksi batu bara. peranan bidang pertambangan dan energi masih tetap besar dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia.7 persen apabila dibandingkan dengan produksi tahun keempat Pelita III yang berjumlah 459. walaupun dalam kurun waktu tersebut hampir seluruh komoditi tambang yang diekspor mengalami kesulitan pemasaran. baik untuk keperluan ekspor maupun guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri di dalam negeri. juga ditujukan untuk penganekaragaman hasil-hasil pertambangan.6. yang terdiri dari 477. serta pengembangan teknologi pertambangan yang mencakup pula pengolahannya. Pertambangan dan energi Selama Pelita III. yang tercermin dari pembatasan produksi minyak bumi sebagaimana telah disepakati oleh negara-negara penghasil minyak OPEC dan pernbatasan ekspor timah dari Dewan Timah Internasional terhadap anggota-anggotanya.1. 7. di sam ping perluasan kilang LNG (liquified natural gas) Arun dan kilang LNG Badak. Upaya-upaya tersebut selain dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan dan peningkatan produksi. Sehubungan dengan itu telah dilakukan upaya-upaya antara lain berupa pengembangan inventarisasi dan eksploitasi berbagai sumberdaya mineral dan energi.6 juta barrel.7 juta barrel berupa kondensat. Selama Pelita III.

Selanjutnya dari jumlah BBM hasil kilang dalam negeri terse but telah diposarkan untuk keperluan di dalam negeri sebanyak 161 juta barrel. maka dalam tahun terakhir Pelita III telah berhasil dilakukan survai seismik sepanjang 56. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka ditempuh kebijaksanaan untuk meningkatkan eksplorasi.944 kilometer lintasan dan pemboran sumur minyak sebanyak 250 sumur. Volume ekspor minyak bumi dan hasil minyak dalam tahun 1983/1984 telah mencapai sebanyak 413. maka produksi minyak bumi yang telah dapat diolah dalam tahun 1983/1984 mencapai 99 juta barrel atau 10 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Melawai Timur dan Sumatera Selatan.36).9 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang baru mencapai sebanyak 336.37). Realisasi ekspor minyak bumi Indonesia selama Pelita III. Dalam hubungan ini selama Pelita III khususnya dalam tahun 1983/1984 telah ditingkatkan kapositas pengilangan minyak di kilang Balikpapan dan Cilacap. Dengan ditingkatkannya kapositas pengilangan di dalam negeri tersebUt.1 juta barrel atau sebesar 22. yang dapat mengolah bahan residu berkadar belerang rendah. Sementara itu meningkatnya kebutUhan terhadap BBM dalam negeri telah diimbangi dengan pengadaan dan peningkatan produksi BBM yang berasal dari kilang minyak dalam negeri. Perubahan situasi posaran minyak bumi internasional yang terjadi selama Pelita III. dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan menurun hila dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menggembirakan. Di samping itu juga dilakukan pembangunan unit hydrocracker kilang Dumai. kecuali tahun terakhir Pelita III yang sedikit meningkat. Sedangkan volume ekspornya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sekitar 215 juta barrel. masing-masing sebanyak 200 ribu barrel per hari.1 juta barrel (Tabel VII. yang terdiri atas 99 iuta barrel hasil kilang dalam negeri dan sebanyak 99 juta barrel dari hasil kilang luar negeri (Tabel VII. Dalam tahun 1983 telah dilakukan eksplorasi terhadap 4 lokasi baru yang meliputi daerah Riau. dan pemboran sebanyak 141 sumur minyak. yang terdiri alas 237 juta barrel minyak mentah dan 22 juta barrel kondensat. atau 2 juta barrel lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun Departemen Keuangan RI 195 . antara lain dengan menggiatkan survai selsmik dan pemboran sumur minyak.000 kilometer lintasan. selain berpengaruh terhadap produksi minyak bumi juga menghambat usaha peningkatan ekspor. Kegiatan eksplorasi yang dilaksanakan dari tahun ke tahun telah memperlihatkan hasil yang meningkat. Dengan demikian secara keseluruhan produksi pengilangan minyak bumi dalam tahun terakhir Pelita III telah mencapai 198 juta barrel. Jika dalam tahun terakhir Pelita II baru dilaksanakan survai seismik sepanjang 21. Melawai Barat. Adapun produksi minyak bumi dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sekitar 259 juta barrel. dengan kapositas 85 ribu barrel per hari.

3 158.100 milyar kakikubik dan 932 milyar kakikubik. serta bagi perusahaan gas negara (PGN) di kota Jakarta dan Bogor.6 – 4.5 8.2 persen dan 20. pembuatan pupuk urea.1 198.0 93. Perkembangan produksi dan pemanfaatan gas bumi sampai dengan tahun 1983/1984 dapat diikuti melalui Tabel VII.6 25.2 persen dan 76.6 persen.3 10.123 milyar kakikubik atau 87.3 – 3.4 2. dan yang telah dimanfaatkan adalah sebanyak 1.0 183.0 23. Produksi gas bumi dalam tahun 1983/1984 mencapai sebanyak 1.0 189.9 191.38. gas bumi tetap dapat ditingkatkan produksinya selama Pelita III. 37 VOLUME PENGILANGAN MINYAKMENTAH. Peningkatan pemanfaatan gas bumi tersebut antara lain disebabkan karena adanya peningkatan pemanfaatan gas bumi untuk LNG.0 1.278 milyar kakikubik.8 116.1 .0 Persentase kenaikan 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/19841) 1) Angka sementara – 13.9 persen.2 milyar 'kakikubik dan 650.1 Departemen Keuangan RI 196 .6 161.9 115.6 milyar kakikubik.5 117.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sebelumnya.8 86.2 195.5 persen. maka berarti telah terjadi peningkatan masing-masing sebesar 16. Tabel VII. Sedangkan apabila dibandingkan dengan produksi dan pemanfaatan gas bumi dalam tahun terakhir Pelita II yang masing-masing baru mencapai 868.1 103. energi pengganti BBM bagi kilang minyak dan pabrik semen Cibinong. Berbeda dengan minyak bumi.1 8.10. 1969/1970 -1983/1984 ( dalam juta barrel ) Tahun Minyak mentah yang diolah ( in-take) 75.3 0. Apabila dibandingkan dengan produksi dan pemanfaatan dalam tahun 1982/1983 yang masing-masing berjumlah 1. maka terdapat kenaikan sebesar 47.1 38.3 .0 128.2.

2 148.0 . maka dalam tahun Departemen Keuangan RI 197 .5 24.8 932.6 20.5 22.136.0 1.2 27. Dalam tahun 1983/1984.123.4 juta ton sarna dengan 485.1983/1984 ( milyar kaki kubik ) Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1) 1983/1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Produksi 206. Tahun Tabe1 VII. 39 PRODUKSI DAN EKSPOR TIMAH.6 27. 38 PRODUKSI DAN PEMANFAATAN GAS BUMI.0 1.3 25. 1974/1975 .9 25.8 1.278.5 21.5 25.042.3 26.1 20.2 33.6 24.2 31.2 1.8 Ekspor 16.2 25. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 17.8 27.2 239.3 32.2 344.7 650.3 juta MMBTU.4 17.2 1.7 21 23. maka ekspor LNG yang telah dimulai sejak tahun 1977 juga terus menunjukkan peningkatan.1 914.6 795. jumlah produksi LNG telah mencapai 11.100.8 23.9 33 25.3 28.2 24.7 26.4.4 85.4 30.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.4 31.2 1. yakni di LNG Plant Badak dan LNG Plant Arun.2 33 30.1 23.2 persen dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang berjumlah 9.4 633.0 Pemanfaatan 78. 1969/1970 -1983/1984 (dalam ribu ton) Bijih 17.4 19.8 juta MMBTU.9 19.7 25 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1) 1) Angka sementara Produksi LNG di Indonesia baru mulai dilakukan sejak Pelita II.1 813.028.1 juta MMBTU.0 juta ton sarna dengan sebanyak 569.1 366.1 20.8 15 18.6 35.1 868. Apabila dalam tahun 1982/1983 baru diekspor sebanyak 477. Produksi Logam timah 14. Sejalan dengan meningkatnya produksi LNG tersebut.

1 persen. Timah Hasil produksi timah dalam tahun 1982/1983 meneapai sebanyak 33. Departemen Keuangan RI 198 . Produksi LPG dalam tahun 1983/1984 meneapai sebanyak 514.505 juta.6. atau suatu peningkatan sebesar 25.5 ribu ton senilai US $ 19.5 juta MMBTU yang berarti terjadi peningkatan sebesar 16.2 ton dan 406. Adapun volume ekspor tin:ah dalam 2 tahun yang sarna juga mengalami penurunan. yaitu dari US $ 86. serta pembatasan kuota ekspor yang dikenakan oleh Dewan Timah Internasional kepada negara-negara pengekspor timah. maka dalam tahun 1983/1984 telah turun menjadi 810. Penurunan tersebut disebabkan karena berkurangnya jumlah permintaan nikel di posaran dunia. kesulitan pemasaran di luar negeri.870 juta.1 ton. yaitu dari sebesar 461. yaitu jika dalam tahun 1982/1983 meneapai sebanyak 27.3 persen.6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang berjumlah 486.566 juta. LPG Plant Rantau di Sumatera Utara. Lex Plant Union Oil Samail di Kalimantan Timur dan LPG Plant Areo di J awa Barat.952 metrik ton dalam tahun 1983/1984.timah dan 25. 7.6.0 p_rsen.7 ribu ton senilai US $ 351.4 juta dalam tahun 1982/1983 menjadi US $ 108. Mundu di Cirebon.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1983/1984 telah meneapai sebanyak 555.2 ribu ton logam timah. Dalam waktu yang sarna.997 juta. Sedangkan penjualan logam timah di dalam negeri dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/ 1984 masing-masing meneapai sebanyak 464.3.1 juta dalarn tahun 1983/1984. Sungai Gerong.2.0 ribu ton bijih timah dan 30. 7.4 ribu ton bijih .559 metrik ton dalarn tahun 1982/1983 menjadi sebesar 456.7 ribu ton senilai US $ 15.834 metrik ton. Nikel Jumlah ekspor hasil tambang nikel selama 2 tahun terakhir Pelita III berturut-turut mengalami penurunan.39.198 metrik ton atau 5.8 ribu ton logam timah. Penumoan tersebut antara lain disebabkan oleh adanya kemerosotan harga timah di posaran internasional. sampai dengan tahun terakhir Pelita III terus mengalami peningkatan. Produksi LPG yang berasal dari kilang minyak Plaju. maka dalam tahun 1983/1984 menjadi sebanyak 25. Dalam tahun 1983/1984 terjadi penurunan produksi menjadi sebanyak 25. volume ekspor LPG telah menurun sebesar 1. yaitu apabila dalam tahun 1982/1983 berjumlah sebanyak 897. Di lain pihak nilai ekspornya telah menunjukkan peningkatan. Perkembangan produksi dan ekspor logam timah dapat dilihat pada Tabel VII.0 ribu ton senilai US $ 309.

5 989.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.1983/1984 (dalam ribu ton kering) Tahun 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Produksi 9. 40 PRODUKSI DAN EKSPOR BIJIH NIKEL.4 853. 1969/1970 -1983/1984 (dalam ribu ton) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971 /1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) Produksi 311.1 184.6 209.6 1.2 207.6 202.7 1. 1972/1973 .0 971.1 751..207.5 830.9 212.6 924.5 1) 810.0 850.0 689.3 223.4 1.2 194.7 Ekspor 8.6 924.0 853.192.3 114.7 1.8 187.3 189.8 220. 41 PRODUKSI DAN EKSPOR KONSENTRAT TEMBAGA.5 830.4 1) 199.2 707.5 897.8 Departemen Keuangan RI 199 .9 781.6 Ekspor 232.9 188.0 887.5 225.4 764.2 1.7 125.1 176.5 830.238.7 211.6 201.2 707.0 538.7 737.2 216.0 887.4 1.316.778.3 197.5 178.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.177.6 167.

9 171.1 Ekspor 242.5 9.5 256 267. Perkembangan jumlah produksi dan ekspor bijih nikel dapat dilihat dalam Tabel VII.2 346.5 614.2 456.2 120.6 321.6 3 4. dan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 22. Adapun jumlah ekspornya dalam tahun 1981/1982 telah mencapai sebanyak 209.5 35.7 317.2 283.5 68.7 1) 122.7 276.2 66.7 17.1 276.4 196.3 34.6 290.4 12.7 349. Namun dalam tahun 1983/1984 menurun menjadi sebanyak 202.6 348.1983/1984 ( dalam ribu ton) Tahun 1970/1971 1971 /1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) Produksi 53. 42 PRODUKSI DAN EKSPOR P ASIR BESI.41.935.3 12 Tabel VII.2 78.5 10. Dalam tahun 1982/1983 telah di ekspor nikel matte sebanyak 15.3 105. 7.876 ton senilai US $100.8 ribu ton senilai US $ 130.3 248.2 299.2 237. dan kemudian dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi sebanyak 211.3 329.8 298. Perkembangan jumlah produksi dan ekspor konsentrat tembaga dapat dilihat pada Tabel VII.274 juta dan 4.6 Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/19841) Produksi 176 175.6 ribu ton senilai US $ 114.5 ribu.6 18. Tembaga Produksi tembaga dalam tahun 1981/1982 telah mencapai 197.2 -10 -17.2 14.9 291.7 ribu ton.8 177.1 ton senilai US $ 21.7 ribu ton senilai US $130.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1) Angka sementara Jumlah feronikel yang diekspor dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 masingmasing mencapai sebanyak 4.6 135.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. Departemen Keuangan RI 200 .6.40.1 ton senilai US $ 23.443 ton senilai US $ 42.001 juta.248.6 204 183.2 145.2 21. 1970/1971 .4 23.5 ribu ton.9 -10.1 25.536 juta.624.1 35. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlahnya mengalami penurunan menjadi sebanyak 199.4 ribu.130 juta.3 376.4 ribu ton.469 juta.4. 1969/1970 ( dalam ribu ton) Persentase kenaikan -0.923. dari dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi sebanyak 225. 43 PRODUKSI BATU BARA.

Departemen Keuangan RI 201 .8 ribu ton.4 186.8 7. Batu bara Dalam tahun 1983/1984 produksi batu bara berjumlah 614.3 2.3 269 1978/1979 220.42.1983/1984 (dalam kilogram) Tahun Produksi Penjualan 1969/1970 261 1970/1971 255. Perkembangan produksi batu bara dapat dilihat pada Tabel VII.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 7. dan sedang dilakukan penelitian lanjutan guna mencari metode pemrosesan lainnya dalam rangka pemanfaatan pasir besi Yogyakarta menjadi bahan baku bagi pabrik besi baja PT Krakatau Steel. sedangkan dalam tahun 1983/1984 mengalami penurunan menjadi 122.6.6.5 ribu ton atau 133.41) 1981/1982 1.1983/1984 (dalam ton) Tahun Produksi Penjualan Ekspor 1969/1970 10.4 1971/U)72 343.4 3.3 1974/1975 6.3 1 1976/1977 3.1 261 I) Angka sementara T a bel VII.7 1973/1974 8.5.4 1979/1980 1.5 1970/1971 9. Dalam tahun 1983.0 ribu ton senilai US $ 119. dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi 129.43.9 1982/1983 3. Tabel VII. yang berarti suatu kenaikan sebanyak 162.9 1977/1978 2. 45 PRODUKSI.8 3.8 1.1 1972/1973 9. karena daerah penambangan di daerah Pelabuhan Ratu telah habis cadangannya.1 1978/1979 2.1 2.3 ribu ton.7 ribu ton. Hasil produksi pasir besi yang dalam tahun 1981/1982 sebanyak 105.1 ribu ton.2 1983/1984 1) 265.6 6.1 1981/1982 172.9 ribu.3 250.8 1980/1981 2. jumlah ekspor batu bara Indonesia mencapai sebanyak 283.2 398 1977/19'18 252.3 324 1974/1975 260 262. Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di dalam negeri.7 1982/1983 262.6.1 ribu dan 12.9 I) 1983/1984 1. 1969/1970 .5 ribu ton.4 251. yang berarti peningkatan sebanyak 158.1 3.1 2. Sedangkan pengembangan cadangan pasir besi di daerah pantai selatan Yogyakarta masih terbatas dalam studi kelayakan.7 persen dibandingkan dengan produksi tahun 1982/1983 yang baru mencapai 456.2 0.2 1971/1972 8.2 2.2 2. Pasir besi Penambangan pasir besi sejak 1 Maret 1982 hanya dilakukan di daerah Cilacap.3 288. Dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 telah diekspor masing-masing sebanyak 10.6 170.2 1980/1981 224. maka sebagian daripada produksi batu bara tersebut telah pula diekspor.9 1979/1980 197.9 ribu ton. PENJUALAN DALAM NEGERI DAN EKSPOR LOGAM PERAK.3 ribu ton senilai US $ 123. Perkembanganjumlah produksi dan ekspor pasir besi dapat dilihat pada Tabel VII.7 1.9 1.7 246.5 1975/1976 321.2 ribu ton atau 34.4 1973/1974 327.4 1972/1973 332.6 ribu ton.1 4 1975/1976 4.5 290 1976/1977 349.9 persen bila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru mencapai 121. 44 PRODUKSI DAN PENJUALAN DALAM NEGERI LOGAM 1969/1970 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.

6 ribu ton. masing-masing bila dibandingkan dengan tahun 1982/1983. Perkembangan produksi dan penjualan logam emas dan perak dapat dilihat pada Tabel VII. Emas dan perak Penambangan emas dan perak yang dilakukan di penambangan Cikotok. atau suatu peningkatan sebesar 17 persen dan 9 persen. Perkembangan produksi dan ekspor bauksit dapat dilihat pada Tabel VII.7 ton. Departemen Keuangan RI 202 . sedangkan di Jepang telah terjadi restrukturisasi dalam industri. masing-masing meneapai 266. sedangkan kadar logam timbal dan seng semakin tinggi. selain dihasilkan konsentrat emas dan perak juga diperoleh konsentrat timbal dan seng yang dapat diekspor walaupun saat ini jumlahnya masih kecil. Sementara itu penambangan di pulau Angkut telah dihentikan karena cadangan bauksitnya telah habis. Banten Selatan. Selain itu emas dan perak juga dihasilkan oleh Freeport Indonesia Inc berupa logam ikutan dalam konsentrat tembaga. sehingga kadar emas dan perak dari bijih yang dihasilkan menjadi semakin rendah. walaupun cadangan bauksitnya masih ada. Dalam tahun 1982/1983 jumlah produksi dan ekspor bauksit masing-masing berjumlah sebanyak 721.7 kilogram untuk produksi dan sebanyak 9.9 ribu ton dan 861. Penambangan di pulau Koyang sejak tahun 1982 telah dihentikan. yang masing-masing dilengkapi dengan instalasi pencucian. Dari tabel tersebut terlihat bahwa produksi dan ekspor bauksit dalam tahun terakhir Pelita III mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II. Melalui proses yang telah disempurnakan.2 ton atau 41. sehingga menurunkan permintaan bauksit di negara tersebut.46. dan oleh sejumlah pertambangan rakyat yang dilaksanakan dengan peralatan dan teknik yang sederhana serta dengan hasil produksi yang tidak teratur.6. Sedangkan produksi dan penjualan logam perak dalam tahun 1983/1984 masing-masing meneapai 1. yang terutama disebabkan karena pemasaran bauksit Indonesia hanya tertuju ke Jepang.7.2 persen untuk produksi dan sebanyak 1.45. yang berarti telah terjadi peningkatan sebanyak 3.44 dan Tabel VII. yang disebabkan karena penambangan tersebut tidak menguntungkan.8.2 ribu ton.1 kilogram dan 261. yaitu di pulau Tembiling. sedangkan dalam tahun 1983/1984 masing-masing telah meningkat menjadi sebanyak 841. pulau Kelong dan pulau Dendang.4 ton atau 45.4 persen untuk penjualannya hila dibandingkan dengan tahun 1982/1983.0 kilogram.8 kilogram untuk penjualannya. Jawa Barat telah semakin dalam.7 ton dan 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. 7.6.0 ribu ton dan 792. yang berarti mengalami penurunan sebanyak 1. Selama tahun 1983/1984 hasil produksi dan penjualan emas di dalam negeri. Bauksit Penambangan bauksit di Indonesia dilakukan di daerah pulau Bintan dan sekitarnya.

078 907. Listrik Pembangunan di bidang kelistrikan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat.618 _2) 11.809 221.756 1. yodium.529 75.079 1. jumlah produksi dan ekspor granit mencapai 2.563 7.114.609 25. mangaan.191 2.906 29.485 2.345 11.697 104.196 148 147 _2) 14.349 3. Fosfat 1. Lempung 76.120.780 6.3 ribu ton atau 5 persen.688 85. yang termasuk dalam bahan galian industri atau bahan galian golongan C.196 2.893 379. Perkembangan produksi tambang lainnya dapat dilihat pada Tabel VII.439 7.232 13.0 ribu ton dan 713.307. Pada umumnya bahan tambang ini diperuntukkan bagi konsumsi dalam negeri. peldspar.11.730 938.6.374.648 6. Granit Dewasa ini penambangan batu granit dilaksanakan di pulau Karimun.115 58.071 5.605. yarosit dan kalsit.979 110.228 14.616 13. Mangaan 7.865.811 524.847 5. Kegiatan penambangan bahan-bahan tambang tersebut dilakukan oleh badan usaha milik negara (BUMN) dan perusahaan swasta nasional.976 995.6 ribu ton.942 6.396 3.631 2.902 7. terdiri alas kaolin.750 13.621 b.949 8.971 30.610 164.433 2. fosfat.767 1.066 '270.111 7.842 1.9 7.3 29.9 33.817 80.601 173. Bentonit 4.149 75. Perkembangan produksi dan ekspor granit dapat dilihat pada Tabel VII. BeIerang 900 1. belerang. 1972 .148 64.721 12.152 583. K a Is it 3.496 25.441 310. baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan.944 3.051 106. Dalam tahun 1982/1983.782 332.528 2.287 219.266 16.894 7.6.006 37. bentonit.939 12.320 819 5.657.643 1.580 95.639 3.647 80.752 4.944 35.484 9. G ips 290 453 855 570 _2) 1) Mcrupakan hasil usaha swasta nasional. Aspal 115. Riau.192 8. As b e s 223 283 92 50 31 15 103) 253) 74 9.323 38. pcrusahaan daerah dan lain-lain 2) Data tidak terscdia 3) Angka diperbaiki 4) Angka scmcntara 7.390.161 62. ashes.598 7.80 ribu ton atau sebesar 95 persen. sedangkan ekspornya telah meningkat sebanyak 676.266.170 115.3 28. 7.244 260.528 29.575 1.241 _2) 13. 716.465 6. Yodium 9.764 1.644 3. Tabel VII. gamping lempung.4 ribu ton.7 ribu ton dan 1.4 25.6 19.847 6.323 11.563 725. Gamping 411.870 _2) 10.216 33.190.904 75.7633) 1803) 1973) 4973) 1.520 19.48 PRODUK BAHAN GALIAN 1).753.295 5..603 220 3.965 18. Bahan-bahan tambang lainnya Bahan-bahan tambang lainnya.771 2. K a 0 1 i n 12.483 1.990 138.569 653. Hal ini berarti produksi granit mengalami penurunan sebanyak 116.144 3.724.889 6.9 25.2 5. walaupun di antaranya telah ada yang diekspor dalam jumlah relatif kecil dan secara tidak teratur.9. Posir kwarsa 44.074 155.697 1. marmer.3 25.704 784 1.48.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.1 27 11.522 1.315 28.1983 ( dalam ton kecuali marmer dalam m2 slabs) 1974 1975 1976 1977 1978 Jenis 1972 1973 1979 1980 1981 1982 19834) 1.10.3 25. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah terjadi penurunan masing-masing menjadi 2.522 15.828 25.973 7.909 4.626 192.bahan semen a. Marmer 9. aspal.216 25.47. Yarosit 274 341 1.360.717 12. Feldspar 2.909 3.951 2.783 6.6. posir kuarsa.597 _2) 15. serta untuk mendorong dan Departemen Keuangan RI 203 .739 161. Bahan . Dalam pada itu penjualan batu granit dilaksanakan baik untuk keperluan ekspor khususnya ke Singapura dan Malaysia.018 276. maupun untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.639 17.690.

serta diarahkan pada pendekatan secara regional. Dalam tahun 1982/1983 jumlah produksi tenaga listrik.023. Di samping itu dengan meningkatnya pembangunan tenaga listrik.924.669 KV A dan 3. rencana dan pembangunan tenaga listrik dikaitkan dengan kebijaksanaan umum bidang energi.269. Untuk itu selama Pelita III telah dilakukan pendidikan dan latihan di bidang teknis dan administratif baik di pusat pendidikan dan latihan PLN.405. gardu induk dan jaringan distribusi.619 MWH. penjualan tenaga listrik.151 MWH. 10 persen. Oleh sebab itu pembangunan di bidang kelistrikan terus dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif.596 MWH. maupun pada lembaga-lembaga pendidikan dan latihan di luar PLN.41 MW. yang berarti terjadi peningkatan masing-masing sebesar 12 persen. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat di segala bidang. Departemen Keuangan RI 204 . penjualan. Dengan peningkatan rehabilitasi dan pembangunan di bidang kelistrikan tersebut. maka peranan listrik semakin mempunyai arti penting.980 MW. dengan maksud agar tercapai suatu sistem interkoneksi regional. Di samping itu dalam tahun yang sarna juga telah dilakukan rehabilitasi dan pembangunan jaringan transmisi. daya tersambung dan daya terpasang.126. 9. maka telah dibuka peluang yang lebih besar dalam pengusahaan tenaga listrik. Perkembangan produksi. masing-masing mencapai 11. atau suatu peningkatan sebesar 41 persen. 6. Dalam tahun 1982/1983.720 MW.843.50. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi sebesar 501. yaitu sejauh mungkin memanfaatkan potensi sumber energi non minyak dan penghematan bahan bakar minyak. Hal ini terlihat antara lain dari permintaan tenaga listrik yang semakin meningkat yang diakibatkan oleh terus bertambahnya tingkat kebutuhan masyarakat.410 MWH.296. lengkap dengan pembarigkit transmisi dan distribusi. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 masing-masing telah berkembang menjadi sebesar 13. pembangunan dan rehabilitasi tenaga listrik secara bertahap telah dapat meningkatkan baik clara terposang pembangkit tenaga listrik maupun jaringan listriknya. rehabilitasi dan pembangunan yang dilakukan pada pusat pembangkit tenaga listrik mencakup kapositas sebesar 355.072. daya tersambung dan daya terpasang tenaga listrik dapat diikuti pada Tabel VII.800 MW. baik sebagai sarana kehidupan sehari-hari maupun sebagai sarana produksi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 merangsang kegiatan ekonomi. 10. 16 persen dan 15 persen. Pelaksanaan pembangunan tenaga listrik tersebut didasarkan pada kebijaksanaan yang menyatukan seluruh sektor tenaga listrik dalam satu kesatuan perencanaan yang menyeluruh.251 KVA dan 3. Selama Pelita III. maka telah meningkat pula kebutuhan tenaga-tenaga terampil. Selanjutnya dalam rangka diversifikasi penggunaan sumber energi dan penghematan bahan bakar minyak. 5.

744.426.92 1) 2.000 ibukota kecamatan dari sejumlah 3. telah ditingkatkan pula pembangunan pusat-pusat pembangkit tenaga listrik dengan tetap didasarkan pada diverifikasi energi.910 7.38 2.862.063.072.933.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TABELVII.609 934.535.137. Oemikian juga beberapa pusat listrik tenaga disel (PLTD) yang tersebar di kala-kola dan di daerah pedesaan.613 1.892. yaitu mencapai rata-rata 13.345.269.023.617 850. meningkatnya penggunaan dan pengolahan gas alam untuk industri baja.477 1.376.405.770. PLTA Wonogiri.294 2.296.74 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 10.845.288 8.16 1973/1974 3.151 9.214.076. PLTG Denpasar.420. dalam Pelita III telah banyak menunjukkan peningkatan.98 1983/1984 13. 1972/1973 -1983/1984 Uraian Produksi tenaga listrik (MWH) Penjualan tenaga listrik (MWH) Daya tersambung (KVA) Daya terposang (MW) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1972/1973 2.127.494. PLTA Lodoyo.619 6. Dalam pada itu pemanfaatan kekayaan alam yang merupakan potensi u'tama bidang industri.081. pusat listrik tenaga uap (PLTU) Semarang Unit III.0 persen per tahun dalam Pelita I.788 3.846.052 3. Sejalan dengan pembangunan yang dilakukan di sektor industri.722. PLTG Para Posir (Medan) Unit V.006. serta penggunaan kayu gelondongan untuk industri kayu Departemen Keuangan RI 205 .594.924.244 desa pada akhir Pelita II menjadi sebanyak 8.343. DAY A TERSAMBUNG DAN DAYA TERPOSANG TENAGA LISTRIK.026 1) 2. maka terus ditingkatkan pula keterpaduan antarsektor sehingga lebih memantapkan proses industrialisasi. antara lain meliputi PLTU Suralaya Unit I.&15 1.41 5.511 2. PENjUALAN. Hal ini terlihat dari perkembangan industri LNG.482 1. antara lain pusat listrik tenaga air (PLTA) Maninjau.386 4.410 10. 13.261. Adapun jumlah desa yang mendapat aliran listrik telah meningkat dari sebanyak 2. pusat listrik tenaga' gas (PLTG) Semarang Unit IV.9 persen per tahun dalam Pelita III. dan PLTG Ujungpandang unit II.816 7.354 1) 3.554.921 5.413.803.444.116.596 5.950 1.7 persen per tahun dalam Pelita II dan 8.340 ibukota kecamatan yang ada juga telah mendapat aliran listrik.406 6.241 2.84 1975/1976 3. PLTG Palembang Unit III. PLTD Pontianak dan PLTD Ujungpandang.004. 7.49 1982/1983 11. PLTD Tarakan. PLTD Bukit Asam. pengolahan kapur dan tanah liat untuk industri semen.502. Selanjutnya kini juga sedang diselesaikan pembangunan beberapa pusat pembangkit tenaga listrik.50 PRODUKSI.236 2.50 1977/1978 4.817 1.027 1.669 2.466 4.669 3.532.77 1974/1975 3.7. pupuk urea dan petro kimia.40 1976/1977 4. program kelistrikan desa telah ditingkatkan melalui partisiposi masyarakat setempat dan pihak Pemda. PLTG Ujungpandang.286. Dalam rangka pemerataan pembangunan.660 3.473. PLTG Padang Unit III.126.801) Sejalan dengan peningkatan permjntaaan tenaga listrik yang terus berkembang.376 1.264 970. PLTG Gresik Unit III.390 3.107 1. Industri Pertumbuhan sektor industri yang telah dicapai selama ini adalah cukup tinggi. Di samping itu sekitar 2.032.051 desa pada akhir Pelita III.740.459.129. PLTU Belawan Unit I dan II.251 3. Selama Pelita III telah dapat diselesaikan pembangunan sejumlah pusat pembangkit tenaga listrik di beberapa lokasi.

7 15.883.8 26.2) .1 260.8 681.521.985.705.1 18.4 13.7 322 1971/72 732 239 16.1 113.8 24.5 4.4 12. Cilacap.8 12.6 6 6 9 8 109 44 690 1. 708.6 208.41) 65 93.70 45.8 330. Rokok kretek (milyar batang) 17.026 69 50 12 170 36 59 101.6 271.5 50. 23.673.2 276.6 29. pupuk. terutama di wilayah pengembangan industri seperti zona industri Cikampek.2 43.885. dan kayu lapis.071.2 264. 24.6 11.7 122. 33. sedangkan untuk daerah-daerah di luar Jawa jumlahnya masih terbatas.00 -17.0 1.662.111 730 525 527 294 143 282 34 641 74 19 40 134 26 34 6 1981/82 1982/83 1983/84 1984/852) 165 75.00 1.2 214.2 46.7 28. 1969/1970 .0 828.2) .7 348 1972/73 852 262 23 100 120.00 1.00 4. Minyak goreng (ribu ton) 15.4 27. Korek api (juta kotak) 1) Angka diperbaiki 2) Data tidak tersedia 3) Angka sementara 1969/70 449.5 1.1 2.21) 1975/76 108 35 220 1.4 .3 18. Kertas (ribu ton) 13.1 387.4 14.4 85.10 1. Sabun cuci (ribu ton) 16.4 9.816.9 369.3 857.8 195.4 7.4 817 ( Jenis produksi 19.7 1.204.1 2. Kabellistrik/telekom (ribu ton) 33.2) .3 Persentase perubahan 1983/84 terbadap 3) 1969/70 1982/83 343.5 172.9 39.5 202.2 32.21) 342 131.9 974 1.006.8 32.9 1.5 11.3 36.9 272.8 *) Untuk memantapkan struktur industri.8 132 23. 22.4 21.2 21.3 84.00 1.5 16.000 460 484 442 185 98 25 240 29 13 19 15 10 25 4 j ) 1978/79 1979/80 1980/81 123 54 3.019 660 478 462 250 108 100 30 500 47 17 35 78 20 25 5 138 145 64 67 3. kertas.40 3.7 68.00 65.8 37.2 278.4 406.8 813.2 232 246.9 -6.0 1.4 379. Asam sulfat (ribu ton) 12.351.5 203.8 17.00 1.2) .6 78.3 13. clara serapnya terhadap tenaga kerja cukup besar sehingga dalam Repelita IV akan terus diusahakan peningkatan peranannya di dalam struktur industri nasional.5 55.8 819 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/853) 737.6 33.9 19.7 54.7 150 115.629.9 *) Presentase perobahan 1983/84 tedtadap 2) 1969/70 1982/83 1.5 13.1 102. Minyak kelapa (ribu ton) 14.1 1.8 193.7 28.390.7 1. Kapal baja baru (ribu BRT) 1) 34.827. 21.9 100.3 37.155 1.6 22. Rokokputih (milyarbatang) 18.9 31.30 2.971 1.0 49.6 296.2 132.8 23. Dari segi penyebaranura.2) 127.2 17 263 27 133 19 11 269 1970/71 598.3 148.4 530.829 22.651.995.10 364 445.9 218.7 27. Tekstil (juta meter) 2.4 67. Berdirinya industri dasar/hulu tersebut telah mampu menggerakkan pembangunan wilayah.7 19.503 623 290 634 419 147 800 55 1.0 147. 20.5 18. yang sebagian berlokasi di luar pulau Jawa.4 77.536 733 600 420 185 100 30 300 26 16 17 37 22 30 4 114 47 1.3 106. Susu kental manis (juta peti) *) Da1am ribu ton 1) Angka dipedtaiki 2) Angka smentara 1969/70 15 32 364 5 14 54 9 4 5 5 1 7 2 1970/71 25 4 56 393 5 14 55 34 6 10 5 4 15 1971/72 26 6 262 416 65 262 72 67 6 74 32 15 1972/73 30 5 130 700 60 340 72 70 15 12 75 20 6 15 1973/74 32 7 140 900 70 800 132 70 30 18 120 20 7 23 40 7 2 2 1974/75 46 7 180 1.1 539.9 213 207.Z A (ribu ton) 6. sampai dengan akhir Pelita II sebagian besar pembangunan industri masih berlokasi di pulau Jawa.8 475.6 31.6 16.016.9 43.4 28.6 15.5 -5.3 998 1.3 377.8 129.51) 209.2 10 33 15 105 54 38 25 6 -62.2) .5 41.01) 199 30. baik industri hilir dan industri kecil Departemen Keuangan RI 206 .8 213.4 30.40 1. Kaca polos (ribu ton) 10.2 258. baja.1 25.4 276.6 258.5 1.184.2 93.540. Pup uk .1 52.40 2.241.60 3.2 8.8 9. Baterai keriog (juta buah) 26.9 75.017.3 13.6 175. Cilegon.2) .873 4.8 105.00 3. Walaupun produksi dan nilai tambah industri kecil selama ini masih sangat rendah.700 1.9 15.094.7 102. Besi beton (ribu ton) 31.51 BEBERAPA HASIL INDUSTRI.6 30.1 452 610 480.027.3 837.400 16 314 .910.7 16.001 14 13 12.437.878.3 83.4 401.2 26 132.223.1 102 22.1 381.01) 566 707 780 772 506.7 316.3 1973/74 926.3 3. Aluminium sulfat (ribu ton) 11.0 990.4 17. Besi spons (n"bu ton) 29.4 542 366. Cibinong.6 -13.30 2.6 264.9 43. Oleh karena pembangunan sektor industri memerlukan mobilitas yang tinggi. maka selama Repelita IV akan terus dilakukan pengamanan terhadap penyediaan sarana angkutan. Dalam Pelita III telah dimulai dengan pembangunan industri-industri dasar/hulu yang mengolah sumberdaya alam dan energi.704.672.9 108.851.50 1.8 93.9 50 108.740 -4.370.4 59.2 1.1 5 21.Urea (ribu ton) .5 265 268.4 326.40 902.7 722. Sprayer (ribubuah) 35.2 20. maka terus dilakukan pengembangan industri berskala besar.3 209.320 1.5 155.9 17. Gresik.8 553 586. Mesin dise1 (ribu boob) 37.590 847 654 552 554 302 160 385 37 672 54 19 41 154 34 69 5 394 577 317 126 391 36 744 55 47 32 160 33.3 *) 55 39 2.6 10.6 23.1984/1985 Jenis produksi 1.40 2.5 22.2 89.6 410 503.01) 442.60 49.5 221.135 529 264 97 287 175 62 350 27 500 26 26 6 67 12 26 37.1 28.1 2.6 32. baik di dalam negeri maupun untuk angkutan komoditi ekspor.7 8.10 5.2 36.9 164.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 gergajian dan kayu lapis.9 47.4 155.9 1.00 1.00 1. TabeI VII. Semen (ribu ton) 7.70 1.3 319.9 40. Kawat baja (ribu ton) 28.00 8.9 37.080 1.7 29.5 11 3 3.481.3 37. Air conditioner (ribu buah) 32.3 114 100.2 30.8 251 300 167. Dalam hubungan ini akan terus dilakukan peningkatan penyediaan prasarana.20 7.0 1.4 21.6 3.6 61.9 23.6 -5.320. Lampu pijarJTL (juta buah) 30.979.100 210 400 420 156 85 26 296 30 9 27 20 8 24 4 1977/78 104 39 575 1.747 1.9 326.2 664.5 50.6 .9 568.8 4. Vet sin (ribu ton) 36.7 17.3 141.2 34.8 182.5 30.944.5. Gelas/botol (ribu ton) 9. seperti angkutan semen.4 507.431 4.2 14.00 1. Ban kendaraan bermotor (ribu buah) 8.7 -34.2 44.650.2 209.80 6.576.6 11.5 736. Lhok Seumawe dan Indarung.11) 68.6 51.3 21.000 135 400 144 70 30 19 115 24 9 25 20 7 8 2.898.5 28.8 266.5 194.339.900 70 -26.2) .7 110.0 1.2 20. Plat song (ribu ton) 27.796.332. Assembling mobil (ribu buah) 4.844.6 -0.4 662.90 3.10 2.00 1.9 188.078.166.8 180.30 2.4 83.5 24. Assembling sepeda motor (ribu buah) 5.4 -0.000 166 520 240 145 43 21 202 23 9 22 15 8 8 3 1976/77 104 34 480 1.3 217 2.9 63.9 144.247.9 678.10 1.7 7.2 39.60 3. Tapal gigi (juta tube) Deterjen (ribu ton) Accu (ribubuab) Radio (ribubuah) Televisi (ribu buah) Assembling mesin jabit (ribu buab) 25.3 663 39. Benang tenun (ribu ball 3.30 37.2) . yang didukung dan diperkuat oleh industri berskala menengah dan kecil.

00 192 65 116 68 8.4 6.5 108 25 6.026.2) 4.6 75 15 200. Ekstrusi aluminium (ribu ton) 11.8 98 25.00 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 172. Aluminium sheet (ribu ton) 12.8 57. Traktor mini (buah) 24. Sedangkan dalam Repelita IV pengembangannya ditekankan pada industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri.8 1.1971/72 16.4 25 17.9 185 240 19. Tabung gambar (ribu buah) 21.5 30 .2 10.1 486 698 762 68.00 20. Oleh karena itu laju pertumbuhan kelompok industri mesin dan logam dasar senantiasa sejalan dengan perkembangan sektor-sektor ekonomi lainnya. penyediaan sarana dan prasarana.5 250 99.074. Gambaran yang lebih terperinci tentang berbagai aspek perkembangan kegiatan industri beserta hasil-hasilnya dapat diikuti melalui uraian berikut ini.7 41.4 10 15 200 . Mesin penggilas jalan (buah) 7.820.4 60.6 70 115 25. yaitu industri yang menghasilkan bahan baku..8 2.4 5.8 66 5 52 185 55 1.7 419 281. 1969/1970 . serta pengembangan kehidupan perekonomian daerah. terutama yang menjadi konsumen dari kelompok industri tersebut.4 2.7 0.4 12.8 140 81. komponen dan peralatan mesin.6 114.2 546 1 84.8 75. serta industri alat angkut.7 185 300 16.8 30 1976/77 75.6 24 2. industri motor dan perlengkapan pabrik.8 748.8 18.4 550 150 8. Pipa listrik .8 294.859.850.8 73.5 8 18 186 88 55 18. Permasalahan tersebut antara lain berupa pengaturan tataruang pemukiman.. baik industri berat maupun ringan.9 66.0 2.9 4.4 178.8 75 69.1 170. Transformator (ribu bush) 22. Hasil produksi kelompok industri tersebut sebagian besar merupakan barang modal yang sangat diperlukan dalam kegiatan di berbagai sektor ekonomi.4 4 6 888.2 159.1 8 12 17 21 15 12 12 21.5 891 800 640. Dalam Pelita III pengembangannya mulai bergeser ke arah hulu.5 1.1 102 122.2 1970/71 2. 7.271.875.4 41.00 Departemen Keuangan RI 207 .7 9.8 9.5 15 1978/74 36.9 860 3.8 174.4 155.8 877 1.215.6 500 85.1984/1985 Jenis produksi 1.7 16 16 80 47.6 8.51) 209. menggunakan teknologi tinggi.2 2 116 85 50 12 15 50 0. Assembling mobil (ribu buah) 2.7 1. 51).4 47. Kapal baja ba:ru (ribu BRT) 1) 6. industri mesin.7 128.065.8 16 11.7.9 884.9 84. juga disebabkan oleh dorongan sektor-sektor lainnya di samping juga melalui pembinaan terhadap industri itu sendiri (Tabel VII.8 3. Tab e I VII.4 46.00 1. Radiator (ribu bush) 19.8 625 48 18.4 64.00 45.00 16.2 109.1 177 0.00 40.2 450 2.2 301.6 74 15 200 1972/78 28 69.8 147.2 . 52 BEBERAPA HASIL INDUSTRI LOGAM DASAR.2 178.2) 2.1 9.5 148. Traktor tangan (buah) 23.7 70 120 22. berskala besar. Industri logam dasar Kelompok industri mesin dan logam dasar meliputi industri logam dan produk dasar. Perkembangan sektor industri yang cukup pesat selama Pelita III selain karena adanya peranserta masyarakat.5 80 8 4 8 1975/76 78.5 80 2 1974/75 65. Pipa bajaspiral (ribu ton) 18.6 58.9 145 202 22 475 4 48.7 7 6 67.1. (ribu ton) 17.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun kegiatan ekonomi lainnya. . serta berlokasi di daerah yang berdekatan dengan sumberdaya alam dan energi yang pada umumnya belum berkembang.01) 18 897.5 81.5 7.2 44 1978/79 108.9 120 2.6 80.Mesin disel (ribu buah) 10.5 671.8 7 100 135 25 1. Besi beton (ribu ton) 5.7 12.7 15.4 400 0. maka timbul masalah regional baru yang memerlukan pemecahan secara konsepsional dan terpadu.7 62 26.4 575 3.2 45 60 15 27 180 26.4 8 2.1 200 2.8 1.5 4.5 16 16 122. Pesawat terbang (buah) 18.3 27.3 84.00 1984/85 3) 39. Plat seng (ribu ton) 8. Pesawat helikopter (buah) 14.00 1.1 1) 166. Ingot baja (ribu ton) 15. pendidikan dan latihan bagi tenaga kerja siap pakai.279.2 80 1977/78 83.3 82.2 100 80.1 125 60 59. Namun mengingat bahwa industri dasar/hulu mempunyai ciri padat modal.6 850 500 6.8 156 296.5 12.9 188.5 17.1 816 431 404 423 1.2) .2 7 8.4 280 25 1979/80 102. lingkungan hidup.1 1. industri peralatan listrik dan elektronika profesional. Pipa air/gaJI/minyak (ribu ton) 16.5 816. Piston (ribubuah) 20.1 69. Huller (ribu buah) 8.2 50 160. Generator set (unit) 1) Angka diperbaiki 2) Data tidak tersedia 3) Angka sementara 1969/70 5 8. Kawat baja (ribu ton) 9. Besi spons (ribu ton) 4.6 9.

dalam tahun 1983/ 1984 telah menurun menjadi sebanyak 8.7 ribu buah. telah diproduksi sebanyak 3. dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 9.9 persen per tahun.8 ribu buah.6 persen per tahun. Hal ini berarti bahwa selama periode tersebut telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 18.0 ribu ton. Hal tersebut antara lain menyangkut masalah ketergantungan akan bahan baku yang sampai saar ini masih harus diimpor. yang berarti telah terjadi peningkatan ratarata sebesar 27. Produksi industri transformator. belum cukup berkembangnya industri hulu atau industri barang antara. Sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dihasilkan lagi sebanyak 26. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 333.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Perkembangan yang telah dicapai di bidang industri logam dasar dalam pelaksanaan Repelita III pada umumnya cukup menggembirakan. Adapun produksi besi heron dalam waktu yang sarna telah meningkat dari 300 ribu ton menjadi 1. Walaupun perkembangan beberapa hasil industri logam dasar cukup baik sebagaimana dapat dilihat pada Tabel VII. Adapun produksi ingot baja/billet yang dalam tahun 1978/1979 mencapai sebanyak 80 ribu ton. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat dihasilkan sebanyak 500.1 ribu ton dalam tahun 1982/1983. yang dalam tahun 1978/1979 berjumlah 9. mesin plastik dan komponenkomponen pabrik lainnya.0 ribu ton. namun masih banyak dihadapi hambatan-hambatan. teh. semen. Namun untuk produksi aluminium sheet. Hal ini antara lain ditandai oleh tumbuhnya wilayah-wilayah/zona industri yang tersebar di Departemen Keuangan RI 208 . Sebagai hasilnya.2 ribu unit.026 ribu ton.5 persen. Industri kimia dasar Dalam Pelita III telah diusahakan tercapainya sa saran di bidang industri kimia dasar.3 ribu buah. Untuk tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 4.7 ribu ton dan kemudian terus meningkat menjadi sebanyak 15.52.6 ribu unit. dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 762 ribu ton. suatu kenaikan rata-rata sebesar 56.4 ribu ton. yang dalam tahun 1982/1983 baru mencapai 4. serta masih lemahnya keterkaitan industri baik secara horizontal maupun vertikal. kopi. atau suatu kenaikan sebesar 108. kelapa sawit. sedangkan dalam tahun 1978/1979 baru berjumlah 30.4 ribu unit.3 ribu ton. Dalam tahun 1983/1984 telah dihasilkan motor disel sebanyak 58. yang meliputi penguatan struktur industri dan peningkatan pertumbuhan industri nasional. 7.7. Adapun dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. resesi dunia yang belum sepenuhnya pulih. mesin tenun.2.9 persen setahun. kafer. saat ini industri mesin dan peralatan pabrik sudah mampu membuat komponen-komponen mesin/peralatan untuk pabrik gula.

8 ribu ton yang berarti sebesar 13. yang l?erupakan lanjutan daripada PSD III.0 ribu ton dalam tahun 1983/1984. Sumatera Barat.5 ribu ban sepeda Departemen Keuangan RI 209 . asam sulfat. namun dalam tahun 1983/1984 hanya mencapai sebanyak 3. Hasil pengembangan tersebut telah terlihat pada peningkatan kegiatan sektor-sektor ekonomi . Kelompok industri kimia dasar. yang antara lain menghasilkan pupuk. maka terus dilaksanakan usahausaha untuk menunjang kelancaran distribusinya.6 ribu buah dan 2. ban kendaraan bermotor.4 persen di alas tahun sebelumnya.2 ribu ton. Hal ini telah menimbulkan dampak yang positif berupa pertumbuhan ekonomi. Sumatera bagian selatan. dalam tahun terakhir Pelita III secara umum menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Demikian pula halnya dengan pupuk TSP. atau 35.204. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.438. Dengan meningkatnya produksi dan kebutuhan pupuk. Kalimantan Timur. Adapun kegiatannya mencakup pengadaan kapal curah dan suku cadang.673.0 ribu ton. maka dalam tahun 1983/1984 produksinya meningkat menjadi 369. Proyek sarana distribusi pupuk Pusri IV (PSD IV).4 ribu ton. Dalam tahun 1982/1983 produksinya masing-masing berjumlah 3.lainnya yang berkaitan dengan kelompok industri kimia dasar. Hal ini antara lain disebabkan karena makin meningkatnya permintaan masyarakat akan pupuk. kaca palos. Di lain pihak produksi berbagai jenis ban luar kendaraan bermotor dan ban luar sepeda motor telah mengalami sedikit penurunan. perluasan kesempatan kerja dan lalu lintas ekonomi antarwilayah.6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang baru berjumlah 577. dalam tahun 1983/1984 produksinya telah mencapai sebanyak 783. serta peningkatan kemampuan teknologi industri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa wilayah seperti di Aceh. pembangunan unit pengantongan pupuk di Ujungpandang. pestisida. Walaupun demikian hal ini tidak akan berpengaruh terhadap kapositas produksi petani pemakai pupuk.6 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjacli 208.1 ribu buah. Di lain pihak terjacli sedikit penurunan produksi pupuk ZA. dari 209. atau kenaikan sebesar 24. Sementara itu jumlah produksi berbagai jenis kertas dalam tahun 1983/1984 juga telah mengalami peningkatan. maka dalam tahun 1983/1984 telah dapat meningkat menjadi sebanyak 2. serta pengadaan gerbong kereta api dan pembangunan gudang-gudang pupuk. pemerataan pembangunan.6 ribu ton kertas.567. Riau.5 persen. Dalam Repelita IV akan terus ditingkatkan upaya pengembangan industri-industri yang mempunyai dampak pengembangan wilayah. Jika dalam tahun 1982/1983 baru dihasilkan sebanyak 296. Jika dalam tahun 1982/1983 produksi pupuk urea mengalami sedikit penurunan hila dibandingkan dengan tahun 1981/1982. dan serat sintetis. merupakan salah satu langkah yang ditempuh Pemerintah dalam memperlancar distribusi pupuk.885.3 ribu buah ban kendaraan bermotor dan 2. pulau Jawa. semen. kertas.

5 2.00 1. yaitu Departemen Keuangan RI 210 .0 45069.9 108. 53.40 2.9 1.8 12.844.30 2.5 18.2 32.1 305 335 246.2 209. Aluminium sulfat (ribu ton) 8.00 .5 9.898. sehingga dapat memperkokoh struktur industri nasional.2 89.80 6. ZA (ribu ton) c.437.20 7.1 18.2 46.00 718 480 614 541 0.7 4. te1ah terjadi kenaikan sebesar 8.6 0. Demikian pula halnya dengan produksi kaca palos.1.5 2.5 600 244.3. Ban sepeda motor (ribu ton) 6.00 1.8 24.250.0 1. Zat asam (iuta M3) 11.00 1. dalam tahun terakhir Pelita III telah berkembang dengan baik.2 11. Ban kendaraan bermotor (ribu ton) 5.10 542 401.4 2.351.6 11.7 122.6 534.1 0.1 20.460.2 214.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 motor.7 810 7:)1.673.00 1.50 22.3 21.3 141 147.4 801.658.0 ribu ton.9 89 112 113.3 577. dalam waktu yang sama telah meningkat dari 100.339.4 72.2 3.20 2.438.5 30.00 6. Apabila dalam tahun 1982/1983 produksi semen baru berjumlah 7.898.3 3) Angka sementara 7.0 persen.1983/1984 1969/70 1970/71 1971/72 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 3) 1.7 15.979.4 530.6 10.2 57.4 792 1.629.8 2.878.4 49.6 3.2 4.329.2 81 _2) 509.7.4 783 22.2 43.8 2. alar listrik dan logam serta bahan bangunan dan umum.Acety1ene (ribu M3) 13. dan sekaligus mempererat keterkaitan antara industri besar dengan industri kecil.2 17 568.8 7.9 15.6 208 114.9 6.6 296.189.9 0.2 93.5 10.284.8 2.550. Dalam tahun 1983/1984 produksi margarine te1ah mencapai 85.320.2 31.00 3.8 3.0 0. atau suatu kenaikan sebesar 10.3 819 828. Di samping itu dalam menyerap tenaga kerja.7 511.2 9.8 195.6 29 _2) 0.5 99.4 1 2.9 100. Kaca palos (ribu ton) 7.00 4.3 2.Soda(ributon) 10.5 ton.9 1.567.650.2 123.9 4.6 persen di bandingkan dengan tahun sebelumnya.8 9.1 persen.6 29.204.0 970 980 1.3 6.1 102.520.154.800. TSP (ribu ton) 2.7 4.3 18. Bahan peledak (ribu ton) 18. Bahan kimia tekstil (ton) 16.7 33.801. kimia. Aneka industri Kelompok aneka industri (industri hilir) mempunyai peranan yang cukup besar dalam pembangunan industri secara keseluruhan.9 1.00 1.432.827.9 39.60 3.80 1.5 2.8 180.8 8. Hal ini antara lain karena aneka industri dapat merupakan jembatan antara kelompok industri hulu (dasar) dengan ke1ompok industri kecil.9 9.90 3.0 1.7 4.1 471. Aneka industri yang meliputi industri pangan.80 85.7 857.4 406 990 1.9 ribu ton.5 3.9 0.1 387.078.150. sedangkan dalam tahun 1982/1983 baru berjumlah 30.0 persen.5 8.7 209.5 10.8 15.2 527 627 4. Cabang industri anorganik dan industri bahan-bahan kimia organik dasar.30 2. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dihasilkan sebanyak 28.8 3.2 44.650. dalam tahun terakhir Pelita III menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. 1969/1970 .8 3.078.5 11.00 1.070.30 2.4 67.3 2. Perkembangan beberapa hasil industri kimia dasar dapat diikuti pada Tabel VII. Asam sulfat (ribu ton) 9.6 8.Semen(ributon) 4.5 9. Serat sintetis (ribu ton) 1)Angka diperbaiki 2) Data tidal tersedia BEBERAPA HASIL INDUSTRI KIMIA DASAR.2 8. tekstil.7 8.241.8 129.319. yang berarti telah terjadi peningkatan sebesar 5.5 532.5 17. ke1ompok aneka industri ini lebih besar peranannya apabila dibandingkan dengan kelompok industri hulu yang re1atif lebih padat modal.200.705.870.1 ribu ton.50 1.883.9 4 4.3 11 10.0 1. Zink oksida (ton) 17.704. yang antara lain menghasilkan semen.4 722.127.00 8.7 17.8 2.40 1. kaca palos.6 1.4 83.392.5 persen dan 5.3 13.21) 8. Urea (ribu ton) b.10 2.885. asam sulfat dan zink oksida. 53 Jenis produksi 1.9 3 7.7 0.2 30.8 25.994.20 2.2 289.557.2 8.71) 1.5 155.10 5.8 105.70 2.9 3.3 14 31 51.1 39. Asam arang (ribu ton) 12.4 120 115. Pestisida (ribu ton) 14.8 26. suatu penurunan masing-masing sebesar 5.2 3.985.3 ton.1 2.2 14.1 113.3 5.6 51.0 persen.30 366.00 25.7 118.9 369.10 2. K e r t a s (ribu ton) 3.1 9.6 15.2 17. atau suatu kenaikan sebesar 184. maka dalam tahun 1983/1984 telah mencapai sebanyak 8.796.8 4.006. Asam chlorida (ribu ton) 19.6 48 36.7 ribu ton menjadi 110.6 4.5 1.8 37. Synthetic resin (ribu ton) 15.540.7 54.6 17.4 17.40 3.9 4.1 ton.5 507.9 19.50 2.2 2. Tab e I VII.8 241.816. Demikian pula halnya dengan produksi susu kental manis.60 3.6 47.0 1) 43.9 43.6 18.5 50.00 1.3 106. a.4 465 559.851.00 1.0 1.7 110.2 232 246.2 0.

Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. meningkat sebesar 16. suatu peningkatan sebesar 13.9 persen.662. dan baterai kering.1 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjadi 381. Namun khusus untuk baterai kering telah terjadi peningkatan sebesar 9.0 persen. secara keseluruhan menunjukkan sedikit penurunan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.54. dan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dihasilkan sebanyak 287. sepeda motor. Produksi rokok kretek dan susu cair te1ah meningkat masing-masing sebesar 11. yakni dari 1. Jika dalam tahun 1982/1983 baru dihasilkan sebanyak 145.2 juta buah.8 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjadi 101.6 persen dan 67.6 juta buah dalam tahun 1982/1983 menjadi 633.1 juta ]iter dalam tahun 198211983.9 juta meter dalam tahun 19821 1983 menjadi 1.6 juta buah dalam tahun 1983/1984.3 juta meter. yakni dari 576. Produksi industri tekstil seperti benang tenun. yang antara lain menghasilkan televisi. maka dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 165. menjadi 68.995.8 milyar batang dan 6.0 ribu bal dalam tahun 1983/1984. Departemen Keuangan RI 211 .2 persen. Dalam periode yang sarna produksi minyak ke1apa mengalami penurunan sebesar 13.5 ribu ton. sedangkan dalam tahun pertama Repe1ita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat dihasilkan sebanyak 737.6 juta liter. telah dihasilkan masing-masing sebanyak 23.7 persen.0 juta tube dan 39.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dari 93.0 juta tube tapal gigi dan 66.6 juta liter dalam tahun 1983/1984. radio. yakni dari 1.1 juta meter dalam tahun 1983/1984. Perkembangan beberapa hasil aneka industri dapat diikuti melalui Tabel VII.8 ribu ton diterjen.8 persen. Bersamaan dengan itu produksi benang tenun dan pakaian jadi juga te1ah menunjukkan suatu peningkatan.1 milyar batang dan 11.9 persen dan 13. yang berarti meningkat sebesar 7.9 persen.0 ribu bal dalam tahun 1982/1983 menjadi 1.3 ribu ton dalam tahun 1983/1984. Adapun industri kimia seperti tapal gigi dan diterjen juga mengalamj peningkatan produksi yang cukup besar. yakni dari 61. yakni dari 442.708. Industri alat listrik dan logam.551. tekstil dan pakaian jadi telah menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan tahun sebe1umnya.7 ribu ton dalam tahun 1983/1984.9 ribu ton. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 masing-masing telah berjumlah 55.1 juta tube dan 75.2 ribu ton. Produksi tekstil.2 milyar batang dan 18. Kemudian dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 37.

8 30.2 664.247.00 1.00 2.6 633. meningkatkan ekspor serta meningkatkan pengetahuan para pengusaha/pengrajin.5 28.8 20 20 24 23 30 29.00 1.8 598. Margarine (ton) 7. Industri kecil Pembangunan di bidang industri kecil ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja.3 11.551.5 5.3 837. Sabun cuei (ribu ton) 133 132. maka pengembangannya lebih dikaitkan dengan potensi setempat. Minyak goreng (ribu ton) 27 26 27.5 2.54 BEBERAPA HASIL ANEKA INDUSTRI.7 3.1 18.9 218. Dalam hubungan ini diusahakan untuk terciptanya kaitan yang erat antara industri kecil. terutama melalui penciptaan usaha industri kecil baru yang dinamis di samping optimalisasi usaha industri kecil yang telah ada. 80 unit pelayanan teknis dan 13 pusat pelayanan promosi yang penyebarannya hampir merata di seluruh wilayah tanah air.2 262 130 140 180 220 480 575 690 1. memeratakan kesempatan berusaha.00 1.8 263.1 319. Air Conditioner (ribu buah) 4.80 1. Rokok kretek (milyar batang) 19 20.4 30.7 17.7 553.1 55 503.000.8 266.332. Radio (ribubuah) 363. serta produksinya berorientasikan kepada komoditi ekspor.3 21.5 7 7.9 123 137. Untuk itu telah digariskan pokok-pokok kebijaksanaan di bidang pembangunan industri kecil yang antara lain bertujuan menciptakan iklim usaha melalui penetapan skala prioritas.2 11.7 17.2 659.90 1.00 1.00 1.5 4.7 10. Susu kenta! manis (juta peti) 1. menunjang pembangunan daerah serta memanfaatkan sumberdaya alam.1 18. yang tersebar di Yogyakarta.1 217 239 262 316.2 96. Mengingat lokasi usaha industri kecil tersebar di seluruh wilayah tanah air bahkan sampai ke pedalaman.5 4.2 278. Benang tenon (ribu ba1) 182.8 5.9 26. Susu bubuk (ribu ton) 1.5 15.6 410 577.8 36.154.10 529 15. Kabellistrik/telekom (ribu.5 16.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.1984/1985 Jenis produksi 1969/70 19670/197 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1.8 330.4 379.8 9. Minyak kelapa (ribu ton) 263 258.'2 18.8 26.6 *) Dalam ribu ton 1 ) Angka diperbaiki 2) Mu1ai tahun 1978/1979.8 22.1 28 9.6 7 34.3 193. Semen tara itu di bidang kelembagaan telah didirikan sarana pembinaan.8 28.1 381.3 37.1 4.233.5 194.576. telah berhasil diresmikan penggunaan buah lingkungan industri kecil (UK).9 33.6 5.6 33. Televisi (ribu buah) 2) 4.5 28.8 7.651.20 3.5 265 268.5 50.2 6.2 364 445.4 38.5 202. Rokok putih (milyar batang) 11 13.4 27. Assembling sepeda motor (ribu buah) 21.10 737.8 553 586.135.5 21. energi dan manusia.995.3 12.3 319.6 104.7 13.4 29.ton) 1 4 6 9 9 9 9 12.5 113. Tapal gigi (juta tube) 15 25 26 30 32 46 107.5 22.90 1.747.9 8.6 23.7. A c c u (ribu buah) 32 56.50 1.4 28.7 29.6 271.4 19.3 18 18. Untuk lebih mendukung terciptanya sa saran pengembangan industri kecil.5 622.3 27.3 26.3 5.2 46.9 653.6 287.6 175.5 393.2 30.0 1) 442.7 16.5 5.1 85. Lampu pijar/TL (juta buah) 3.00 14.7 30.9 40.4 31.3 2.018.5 3. antara lain berupa pemberian prioritas pengembangan kepada industri kecil yang hasilnya dapat memenuhi kebutuhan orang banyak.589.00 1.3 19.4 531.8 730.5 41.4 23.319.7 127.2 93.4 21.521.5 262 340 800 400 520 400 484 600 477.00 2.1 50 100 150 261 300 267.2 72 72 132 144 240 420 442 420 462 526. maka ditempuh beberapa kebijaksanaan sektoral.2 8.8*) 101.2 260.9 10.9 23.3*) 37.1 539.6 576.5 6 12.70 3.7 16.2 132.9 3.4 817 272. Assembling mesin jahit (ribu bubo) 14 13. industri menengah dan industri besar.4 276.4 73.00 633 3.6 393.00 1.7 47 50 26.5 290.5 9.6 61.8 9.8 213 199 100.2 28.00 1.4 63. meningkatkan pembangunan di daerah.5 44.4 47.1 452 610 480.2 23.4 326.7 264.00 1.6 525.7 55. Magetan.8 75.2 2.3 416 700 900 1.7 31. Tekstil (juta meter) 449. salah satu prioritas pengembangan wilayah dalam kelompok industri kecil berorientasi kepada pengembangan zona dan kawasan industri.6 30.30 2. yakni meliputi 9 pusat pengembangan industri kecil (PPIK).4 132 131. Korek api (juta kotak) 269 322 348 475.5 264.3 566 707 780 772 506.4 4.3 4.9 43.080.9 66. sehingga dapat diharapkan pembangunan industri besar dan menengah secara langsung akan merangsang pembangunan sektor industri keci!. 7 pusat pelayanan informasi.6 33.6 55 68.1 10.9 33.21) 342 114 6.5 39.3 732 852 926.184.027.5 145 165.017.9 213 207.00 4.5 54.90 1.3 8. terdiri dari TV hitam putih dan TV berwarna 3) Angka sementara 7. Baterai kering (juta buah) 54 55.6 6.6 27.5 55.910.5 4. meningkatkan ekspor.1 27.1 25.3 17.00 1. 1969/1970 .7 28. DeteIjen (ribu ton) 4 5.110.5 53.6 31. yaitu melalui pengembangan wilayah-wilayah pusat pertumbuhan industri (WPPI).7 65 60 70 135 166 210 260 733.3 37.4.9 164.9 326.1 19. Oleh karenanya.3 998 1.4 2.5 4 3.50 1.9*) 23.662.60 3.7 18.5 7.6 5.9 21 26 24.708.4 20.00 1. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.4 108.00 1.8 20.536.8 103.094.000.9 678.4 13. Departemen Keuangan RI 212 .5 221.1 846.1 15.8 681.7 14. Susu cair (juta liter) 2.4 622.5 19.6 13.100.7 974 1.000.6 32.1 68.5 35.503. mempunyai keterkaitan dengan sektor-sektor lain. menghemat devisa.9 9.3 148.

Hal ini terwujud dari meningkatnya pemerataan pembangunan Departemen Keuangan RI 213 . di Gunung Sempu (Yogyakarta). Dengan pembangunan perhubungan. Sedangkan jumlah tenaga penyuluh lapangan spesialis (TPLS). Usaha tersebut juga telah dapat'menembus isolasi dan mendorong laju pertumbuhan daerahdaerah terpencil serta meningkatkan perdagangan antardaerah yang lebih seimbang dan lancar. Tasikmalaya dan Sukabumi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Semarang. Tegal. Perhubungan. Tebet dan Tangerang. Bandung. Medan. Tenaga penyuluh lapangan (TPL) terus pula ditingkatkan. serta komunikasi dan mobilitas penduduk ke seluruh pelosok wilayah Nusantara. maka dalam tahun 1983/1984 telah bertambah menjadi 2. sehingga dapat menyediakan kapositas jasa yang semakin baik bagi masyarakat. Selain itu hasil-hasil yang dicapai juga telah dapat menjangkau dan memenuhi pelayanan kebutuhan masyarakat luas. pos dan kepariwisataan Pelaksanaan pembangunan perhubungan.151 orang. Apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah TPL yang berhasil dididik baru sebanyak 93 orang. Dengan adanya peningkatan pembangunan tersebut.8. Sidoarjo. telekomunikasi. Di samping itu terus dilakukan pula pembangunan prasarana dan sarana baru sesuai dengan pertumbuhan jasa perhubungan. baik jumlah maupun mutunya. pos dan telekomunikasi serta kepariwisataan sampai dengan tahun pertama Pelita IV ditekankan pada kegiatan rehabilitasi dan peningkatan prasarana serta sarana yang ada. pos dan kepariwisataan yang setiap tahunnya terus meningkat. Dengan bertambahnya sarana pembina tersebut maka kemampuan pembinaan juga telah meningkat. Dewasa ini peningkatan kapositas di bidang perhubungan telah mampu melayani kenaikan permintaan masyarakat dengan tingkat pertumbuhan sekitar 12 persen per'tahun. 7. telah dapat diperluas jangkauan pelayanan perhubungan. dalam tahun 1982/1983 telah berjumlah 438 orang. serta di Pare-Pare (Sulawesi Selatan). Cilacap dan Surabaya. maka wilayah Nusantara telah dapat dihubungkan oleh suatu sistem perhubungan yang semakin terpadu dan teratur. yakni apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah sentra industri kecil yang dibina baru sebanyak 281 buah. yang tersebar di hampir seluruh propmsl. telekomunikasi. di Sukabumi (Jawa Barat). Sejalan dengan itU telah dibangun pula saran a usaha industri kedl (SUlK) yang terletak di dalam kawasan-kawasan industri Pulogadung (Jakarta). yang merupakan peningkatan dari TPL. arus barang dan jasa. maka dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 690 buah. Di samping itu juga telah dilaksanakan pembangunan 6 buah perkampungan industri kecil (PIK) masing-masing di Jakarta yang meliputi Pulogadung.

Hasil pembangunan yang telah dicapai di bidang perhubungan darat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perhubungan secara menyeluruh. 7. serta pembinaan dan pengembangan usaha angkutan darat termasuk peningkatan pendidikan. Perhubungan darat Program pembangunan di bidang perhubungan darat.5 5 3 buah. Dalam periode yang sarna.5 persen atau sebanyak 165. politik. lampu pengatur lalu lintas dan pusatpusat pengujian kendaraan bermotor.2 juta orang menjadi sebanyak 47.9 persen . sampai dengan tahun pertama Repelita IV. dan dari sebanyak 14.752. Sedangkan bidang perkeretaapian dalam tahun 1983 telah mengalami kenaikan sebesar 9.4 juta ton barang. sehingga semakin memantapkan perwujudan stabilitas nasional dalam bidang ekonomi. khususnya angkutan jalan raya.651 ton menjadi 4.7 persen.1. sosial dan ketahanan nasional. serta guna mengurangi kepadatan lalu lintas dalam kola. Dalam rangka mengatasi kebutuhan angkutan umum dalam kola.4 juta orang. Selama Pelita III telah dilakukan peningkatan fasilitas keselamatan jalan raya berupa pembangunan rambu-rambu lalu lintas. pada umumnya telah dapat dilaksanakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. angkutan pariwisata. yaitu masing-masing dari 3. ditandai dengan meningkatnya jumlah armada angkutan jalan raya yang telah mencapai 1. angkutan antarkota . dan dari 5. baik secara nasional maupun regional. danau dan penyeberangan.untuk angkutan barang hila dibandingkan dengan tahun 1982. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru berjumlah 1.004.520 buah (Tabel VII. keterampilan dan latihan bagi petugas. pengaturan pengoperasian dan keselamatan lalu lintas. kereta api. Pelayanan angkutan kola. Pembangunan di bidang perhubungan darat tetap ditujukan untuk lebih meningkatkan pemanfaatan jalan raya.7 persen untuk angkutan penumpang dan 1. angkutan transmigrasi dan angkutan ke seluruh daerah terpencil yang secara ekonomis potensial.574 orang menjadi 18. angkutan sungai.748.582. Hal tersebut telah ditunjang pula dengan usaha-usaha yang dapat meningkatkan efisiensi pelayanan jasa perhubungan.55).761 ton. armada angkutan jalan raya telah meningkat 10.8. danau dan penyeberangan telah mengalami kenaikan angkutan barang sebesar 21 persen dan angkutan penumpang sebesar 21.3 juta ton barang menjadi sebanyak 5.796. yaitu dari masing-masing 43. maka jumlah angkutan armada bis bertingkat dan Departemen Keuangan RI 214 .928. dan angkutan bis perintis ke daerah terpencil juga telah ditingkatkan guna melancarkan arus penumpang. serta angkutan sungai.073 buah dalam tahun 1983.915 orang.

Medan 117 buah.878 131.7 39. 56 PEMAKAIAN JASA KERETA API.260 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Mobil 95.816 256.6 5 4.534 3.123 235.3 3.022 1.9 3.841 917.078 19821) 134. Tab e I VII.623 3.981 6.116 959 701 814 1.203.1 21 29.057 1.8 20. yang terdiri alas 105 buah bis bertingkat dan 575 buah bis tidak bertingkat.751 5.5 3.1 29.4 25.175 144.4 Barang Ian (ton) 859 855 949 1.739 337.727 3. 1969 -1983 (dalam satuan) Tahun Bis 1969 20.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tidak bertingkat terus ditambah.7 40.352 2.538 657.063 1.271 6.389 46.466 3.1983 Tahun J umlah Outa orang) 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 19821) 19832) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 55.2 4. 55 ARMADA ANGKUTAN JALAN RAY A.3 5.814 112.990 419.488 1973 30.439 1975 35.497 1970 23. Dalam hal ini Surabaya mempunyai bis kota sebanyak 208 buah.873 Mobil -212.080 6. Semarang 134 buah.2 47.063 951.166 19811) 112.240 471.988 277.313 J umlah Outa ton) 4 3.8 5.210 307.648 478.430 19832) 160.464 1 722.441 791.3 4.356 189. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 680 buah bis.644 1977 1978 57. Tanjung Karang 42 buah.2 4.701 377.562 1972 26.2 4.368 1974 31.016 1.2 Departemen Keuangan RI 215 .069 1. Adapun jumlah armada bis kota yang ada di Jakarta dalam tahun 1983 adalah sebanyak 1.496 603. Bandung 144 buah. Solo 15 buah.748.815.066 590.660 99.553 1.099 531.582.428 434. Jika dalam tahun 1982 jumlah armada bis kota di beberapa kota besar di luar Jakarta baru sebanyak 604 buah.206 5.6961) 1.609 buah.422 3.104 717.370 679.480 220.060 166.4 50. 1969 .022 383.081 392.900 1976 39.4 52.9 4.425.167 535.016 980 1.692 268.451 1971 22.835 1979 69.280 359.038 1.545 1980 86.3 4.034.4 23.311 639.7241) 1.9 43.371 3.082 4.873 482. yang terdiri alas 85 bis bertingkat dan 519 buah bis tidak bertingkat.2 37. dan Ujungpandang 20 buah.073 Tab e I VII.940 Jumlah 328.9 40.098 328.4 Penumpang km (orang) 3.466 3.229 6.019 869.321 785.

Demikian pula bagi kota-kota besar yang telah mendesak keperluan jasa angkutan masalnya. Pangkal Pinang 6 bis. sistem angkutan disusun secara terpadu antara angkutan bis dengan angkutan kereta api kota. yang antara lain meliputi pembangunan alat pengujian. lebih cepat dan lebih teratur di samping juga dapat mengurangi kemacetan lalu lintas. bengkel kendaraan dan tempat tunggu bis. batu bara. Banda Aceh 14 bis dan Palembang 10 bis. Mataram 5 bis. lampulampu pengatur lalu lintas dan kendaraan patroli. peningkatan tersebut disebabkan oleh bertambahnya permintaan untuk jasa angkutan hasil-hasil industri. Angkutan kereta api mempunyai peranan semakin penting. Jawa Barat yang bertujuan untuk menguji kendaraan laik darat. khususnya angkutan umum di kota-kota besar. di samping juga melayani angkutan Departemen Keuangan RI 216 . sehingga arus penumpang akan lebih lancar. antara lain berupa terminal dan shelter. ketertiban dan keselamatan lalu lintas angkutan jalan raya telah dikembangkan pula fasilitas pengaturan dan pengawasan. Angkutan kereta api juga sangat efektif dan efisien dalam memperlancar distribusi beberapa hasil produksi. Kupang 6 bis. Armada bis perintis tersebut terus ditingkatkan jumlahnya. peranan angkutan kereta api terus meningkat dalam melayani angkutan penumpang dan barang. Merauke 4 bis. Padang 10 buah bis.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Untuk menjaga kelancaran . Selain itu telah dilengkapi pula pengadaan terminal angkutan. Dalam rangka mengembangkan armada angkutan kota telah ditingkatkan pula sistem dan fasilitas angkutan dalam kota. Biak 6 bis. Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Balik papan 4 bis. pertambangan. Palu 8 bis. Sedangkan guna memperlancar angkutan kota. Dalam waktu yang sama telah dibangun pula pusat pengujian kendaraan bermotor di Bekasi. Bengkulu 23 bis. Ambon 5 bis. besi beton. Lubuk linggau 9 bis. Dilli 18 bis. telah diusahakan dalam bentuk angkutan campuran antara barang dan penumpang. pupuk dan kelapa sawit. seperti minyak. baik kini maupun di masa mendatang. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 165 buah. pagar pengaman jalan. sehingga apabila dalam tahun 1982 jumlah bis perintis baru mencapai sebanyak 142 buah. dalam menunjang laju pembangunan nasional. Jayapura 11 bis. Sarong 7 bis. perkebunan dan pertanian. Pengembangan pedesaan yang sekaligus berfungsi sebagai angkutan perintis dan melayani daerah-daerah terpencil. serta untuk pengangkutan transmigrasi dan pariwisata. Hal ini disebabkan karena jenis angkutan ini selain lebih hemal dalam pemakaian bahan bakar. tanda jalan. Manokwari 4 bis. Bis-bis perintis terse but melayani daerahdaerah terpencil dengan perincian untuk stasiun Ujungpandang sebanyak 7 bis. semen. rambu jalan. Sumbawa 8 bis. juga lebih kecil tingkat pencemarannya dibandingkan dengan angkutan jalan raya lainnya. telah dilakukan peningkatan penggunaan jasa kereta api kala.

Hasil yang teiah dicapai di bidang saran a dan prasarana kereta api selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III antara lain meliputi rehabilitasi lok uap sebanyak 38 buah. jumlah angkutan penumpang kereta api adalah sebanyak 43.070 buah. antara lain telah dilakukan peningkatan jalan kereta api serta rehabilitasi dan penambahan lok uap. transmigrasi dan angkutan kala. kereta penumpang sebanyak 360 buah dan gerbong sebanyak 400 buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pariwisata.0 ton per kilometer dalam tahun 1982 menjadi sebesar 951. Perkembangan jumlah angkutan penumpang dan barang dapat diikuti melalui Tabel VII.2 juta penumpang per kilometer. yang bertujuan untuk mengangkut batu bara sebanyak 3 ton setahun sebagai sumber energi bagi PLTU di Suralaya. Dalam pada itu Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) juga mempunyai proyekproyek pembangunan kereta api yang cukup besar. Sebagian daripada kebutuhan prasarana dan sarana kereta api tersebut telah pula diproduksi di dalam negeri. yang menunjukkan peningkatan operasianal perusahaan sehingga mampu beroperasi secara efektif dan efisien. lok disel sebanyak 590 buah.3 juta ton dalam tahun 1982 menjadi 5. kereta rei disel (KRD) sebanyak 112 buah.57.3 juta orang per kilometer. gerbong sebanyak 10. lok disel. Sedangkan angkutan barang dalam ton per kilometer mengalami penurunan hila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. kereta penumpang sebanyak 1. Sejak tahun 1981 sampai dengan tahun 1983.623 buah. kereta rei listrik (KRL) sebanyak 60 buah. Dalam rangka mengatasi masalah angkutan masal di wilayah Jabotabek. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 47.2 ton per kilometer dalam tahun 1983. lok listrik. Selain itu telah pula dilakukan penambahan lok disel sebanyak 75 buah. Hasil rehabilitasi di bidang perkeretaapian dapat diikuti pada Tabel VII. teiah dilakukan peningkatan kapositas dan mutu pelayanan angkutan kereta api kala melalui Departemen Keuangan RI 217 . kereta penumpang dan gerbong barang. serta rehabilitasi/peningkatan jalan kereta api sepanjang 2. antara lain proyek pengembangan pengangkutan batu bara Bukit Asam dengan kereta api (P3Baka) dari Tanjung Enim ke Tarahan. Di samping itu juga telah dilakukan pembangunan lintas kereta api antara Meneng-Kabat di Jawa Timur yang ditujukan untuk memperlancar distribusi pupuk di wilayah tersebut.56.329 kilometer. Untuk dapat meningkatkan kapositas angkutan dan mutu pelayanan kereta api tersebut. Dalam tahun 1982. yaitu dari 1.2 juta orang atau 6. Sementara itu pembuatan sarana dan suku cadang kereta api terus dikembangl)an sehingga kebutuhan sarana dan prasarana kereta api dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri.063. PT Inka (Industri Kereta Api) teiah merakit 400 gerbong dari bahan complete manufacturing (CM) keluaran Sumitomo Jepang.4 juta ton dalam tahun 1983.4 juta orang atau 6. Demikian pula angkutan barang dalam waktu yang sarna telah mengalami peningkatan dari 5.

sampai dengan tahun pertama Repelita IV telah ditempuh beberapa kebijaksanaan antara lain mengutamakan proyek lanjutan agar segera dapat terwujud dan langsung dapat beroperasi.825 1. danau dan penyeberangan.960 3. 11 buah gedung kantor.253 2.3 232. meningkatkan kapasitas angkut serta menciptakan sistem transportasi yang terpadu antara kereta api dan jalan raya. Assembling gerbong (buah) I 1.120 2.4 218.772 2. serta penyediaan jasa angkutan sepanjang tahun secara tetap dan teratur. baik pelayanan angkutan jalan raya maupun angkutan sungai.6 124. Lok uap (buah) 6.606 81 301 2) 190 140 42 2) 55 4) 99 79 3.376.474 973 1. Di samping itu Departemen Keuangan RI 218 .943 14.7 565. penghematan energi bahan bakar minyak melalui sistem propulsi kereta api dengan listrik dari PLN. Unit 2. Bangunan operasional (m2) 5.50 191 1. terutama bagi penduduk di tepi sungai dan danau yang belum dilayani oleh jenis angkutan lain.2 298. Ton Perkembangan di bidang angkutan sungai dan danau sampai dengan tahun pertama Repelita IV sangat dirasakan manfaatnya dalam memperlancar angkutan daerah pedalaman dan daerah terpencil. pembersihan alur sepanjang 1. serta beberapa lokasi sarana angkutan jalan.379 buah rambu-rambu. penghematan waktu.7 294.359 2. Di samping itu pembangunan angkutan penyeberangan juga telah dapat meningkatkan hubungan penyeberangan sungai dan selat.2 351. Buah 3.038.906 3.9 126.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penambahan sarana angkutan dan peningkatan prasarananya.243 7. 1969/1970 . Lok disel (buah) 7.136.4 349. Perbaikan pilar jembatan(m 3) (ton) 4. beton (buah) b. penyediaan jasa angkutan diarahkan agar pihak swasta dan koperasi khususnya golongan ekonomi lemah dapat turut berperanserta.6 513. Selanjutnya juga telah dilakukan penelitian terhadap penggunaan angkutan kereta api untuk angkutan petikemas serta penelitian pembangunan lintasan baru bagi pengembangan industri semen di pulau Jawa dan Sumatera. danau dan penyeberangan.2 397. Pelaksanaan pembangunan angkutan sungai. Dengan demikian.223 2.40 422 762 .055 3.701 38 1) 58 1) 39 I) 15 1) 67 1) 115 1) 2.8 620 968 164 732. pengadaan 15 buah kapal dan 4.30 7.2 207 164. Angka diperbaiki TabelVII.272 1. Angka sementara 5.341 5) 4.7 188. Penggantian rei (km) 2. a.4 180. danau dan penyeberangan telah dapat ditingkatkan menjadi satu kesatuan hubungan yang terpadu. di samping dimaksudkan juga untuk memekarkan bidang usaha pelayanan tradisional.60 4. Dalam hubungan ini.112 301 236 455 135 130 42 20 15 15 69 196 111 93 259 34 22 42 34 56 83 38 21 389 3) 1.469 15 10 23 69 68 48 31 28 7 3 13 16 40 91 103 111 111 107 118 163 128 387 15 2 2 8 20 65 62 176 390 444 635 406 256 246 328 387 92 52 58 25 680 714 2.1 150. Rehabilitasi gerbong (buah) 10.3 1.1983/1984 1969/70 1970/71 1971/12 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 94.675 11.371 3. baja(buah) 1.5 295. 57 REHABILITASI DI BIDANG PERKERETAAPIAN.2 296. Adapun tujuan proyek kereta api Jabotabek tersebut antara lain untuk mengurangi beban jalan raya.7 578.514 15.9 5.2 280. Lok listrik (buah) 8. Hasil-hasil yang dicapai selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III antara lain meliputi pembangunan 25 buah dermaga sungai.7 354.3 326.583 2.385.096 kilometer dan pengerukan sekitar 300. Penggantian bantalan(ribu bt) 3. 5 buah terminal. Uraian 1.000 meterkubik.5 5) 1.382.3 272 40. Kereta (buah) 9.

serta peningkatan kapositas galangan kapal. danau dan penyeberangan. pengerukan kolam pelabuhan. Hal tersebut antara lain meliputi peningkatan kapositas angkutan armada pelayaran dan mutu pelayanan dalam negeri yang terdiri atas armada pelayaran nusantara. pengembangan jasa industri maritim dan pekerjaan bawah air. Selain itu juga telah dilakukan peningkatan pelayaran operasional. 4 buah terminal penyeberangan. dilakukan peningkatan fasilitas armada taut. Sementara itu akan terus ditingkatkan pembangunan lintas dari Sabang sampai ke Los Palos. kesyahbandaran. peralatan pelabuhan. Untuk dapat meningkatkan jasa perhubungan taut secara keseluruhan. dengan menciptakan iklim usaha Departemen Keuangan RI 219 . fasilitas pengamanan taut dan pantai. telekomunikasi pelayaran. koperasi maupun Pemerintah. pengembangan armada angkutan taut terse but dilakukan oleh pihak swasta nasional.211 meterkubik. 7. pembangunan dermaga dan terminal. 2 buah terminal sungai dan 291 buah rambu sungai. serta lintas-lintas perairan dipedalaman Kalimantan. lintas-lintas di kepulauan Maluku dan Irian Jaya. di mana setiap lintasan dilayari oleh lebih dari 2 kapal penyeberangan baik milik swasta. 11 buah kapal inspeksi serta pengerukan sebanyak 113. Hasil-hasil yang dicapai dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni tahun 1984 adalah meliputi pembangunan 9 buah dermaga penyeberangan. 2 buah dermaga sungai. armada pelayaran lokal. Selanjutnya telah pula dilakukan penambahan 2 buah sarana angkutan sungai dan danau. keselamatan pelayaran. penambahan fasilitas keselamatan pelayaran serta pembersihan dan pengerukan alur pelayaran. Sedangkan dalam tahun pertama Repelita IV telah dilakukan peningkatan dan pembangunan sarana dan prasarana angkutan sungai. di samping juga sedang diselesaikan sebanyak 8 buah lintasan baru. Selain itu terus dilakukan pula peningkatan kapositas armada pelayaran dan mutu pelayanan luar negeri yang meliputi armada pelayaran samudera umum dan armada pelayaran samudera khusus. penyempurnaan kelembagaan serta pembinaan \ terhadap usaha masyarakat di bidang angkutan sungai.8. di samping juga usaha patungan antara pihak swasta nasional dengan swasta asing. swasta maupun koperasi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 angkutan penyeberangan juga telah dapat beroperasi di 19 lintasan yang dilayari oleh 62 kapal. lintas angkutan sungai. alur pelayaran. Dalam hal ini partisiposi Pemerintah dibatasi pada kegiatan pelayaran tertentu saja. armada pelayaran rakyat dan armada pelayaran perintis. danau dan penyeberangan di Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya. danau dan penyeberangan berupa rehabilitasi dan penambahan kapal.2. Perhubungan taut pembangunan di bidang perhubungan taut ditandai dengan meningkatnya penyediaan jasa angkutan taut baik oleh sektor Pemerintah.

245 penumpang. Dalam tahun 1982/1983. sehingga dapat meningkatkan pelayaran antarpulau yang lebih efektif. dengan memakai karat sebanyak 397 buah dengan kapositas seluruhnya 503.690 DWT telah berusia di alas 30 rabun. Sejalan dengan meningkatnya angkutan transmigrasi dari tempat asal ke tempat tujuan.610 ton dan 4. penyempurnaan sistem trayek pelayaran. dan diarahkan pada usaha wiraswasta bahari nasional dengan mendorong perusahaan-perusahaan kecil untuk bergabung dalam bentuk koperasi. efisien. maka karat-karat tersebut secara bertahap sampai dengan bulan Agustus 1984 diganti dengan karat-karat produk. serta pembinaan sistem organisasi.58.375 DWT. Selanjutnya pola jaringan pelayaran Nusantara telah dipadukan dengan jaringan yang dilayani kapal pelayaran lokal. sehingga terwujud suatu sistem pelayaran terpadu yang menunjang kelancaran arus barang dan penumpang dengan aman.. Armada pelayaran Nusantara dan pelayaran lokal sebagai jaringan utama angkutan taut dalam negeri telah dan terus ditingkatkan melalui penambahan kapositas armada pelayaran. Selain itu juga dilakukan pembinaan pelayaran rakyat sebagai modal angkutan tradisional yang potensial. Dalam periode tersebut telah terjadi peningkatan muatan barang dan petikemas sebesar 13 persen dan 218 persen. Perkembangan armada niaga Nusantara dapat dilihat pada Tabel VII. jumlah muatan yang diangkut oleh armada pelayaran Nusantara meliputi barang sebanyak 7. sehingga tidak dapat lagi beroperasi sepenuhnya. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlah muatan yang diangkut telah meningkat menjadi 8. dapat menjangkau daerah-daerah terpencil dan dapat meningkatkan kegiatan ekspor. teratur.untuk lebih meningkatkan lagi produktivitas angkman lalit.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang ditujukan untuk merangsang pihak swasta dalam menunjang pengembangan armada nasional.463 ton barang dan 1_. Namun . Kegiatan-kegiatan tersebut dimaksudkan agar sistem angkutan taut dapat meningkatkan kegiatan pemasaran. cepat dan teratur.457.376 unit petikemas penumpang sebanyak 475. 495. penyediaan jasa perintis diselenggarakan oleh Pemerintah.824 DWT. serta pembinaan perusahaan-perusahaan pelayaran. serta tarip jasa yang terjangkau. serta memperlancar arus barang dan penumpang. dengan memakai karat sebanyak 387 buah dengan kapositas 486.si dalam negeri.927 unit petikemas. pengembangan daerah terutama di Indonesia bagian timur. Peranan perhubungan laut secara keseluruhan terus ditingkatkan untuk mencapai keterpaduan berbagai jenis pelayaran. serta penumpang sebesar 4 persen. sedangkan pelaksanaan angkutan transmigrasi diselenggarakan oleh Pemerintah dan swasta.896 orang. manajemen dan diversifikasi usaha.423. termasuk transmigrasi. armada pelayaran Nusantara telah memanfaatkan prasarana dan Departemen Keuangan RI 220 . karena pada akhir Pelita III sebanyak 62 karat dengan clara muat 60'. Sebaliknya jumlah dan kapositas armada mengalami penurunan.

serta mengangkut barang dan penumpang masing-masing seberat 2. Kendari.294. Semarang. Kalimantan Tengah. namun kapasitasnya telah meningkat menjadi 133. Donggala. terus dilakukan peningkatan dan pembangunan beberapa prasarana dan sarana pelabuhan perahu layar. Di samping itu dalam tahun yang sarna juga telah dimotorisasikan sebanyak 1.436 ton.496 orang. Dalam kaitan ini juga telah dilaksanakan peningkatan fasilitas pelabuhan.025 buah. usaha koperasi serta usaha swadaya masyarakat. Departemen Keuangan RI 221 .444. Kalimantan Barat.049 buah karat dengan kapasitas 129.59.390 kapal melalui dana Bantuan Presiden. juga merupakan pelayaran yang sesuai dengan potensi angkutan laut tradisional sehingga terus dikembangkan dan dibina. Jambi. Idi dan Ternate. Untuk menunjang perkembangan armada pelayaran lokal tersebut. Dalam tahun 1982/1983.138 DWT. atau suatu kenaikan masing-masing sebesar 8.747 orang. Perkembangan jumlah armada pelayaran lokal dapat dilihat pada Tabel VII. Walaupun dalam tahun 1983/1984 jumlah karat telah menurun menjadi 1. jumlah armada pelayaran lokal baru sebanyak 1. Pem binaan pelayaran rakyat dimaksudkan untuk membantu meningkatkan kehidupan so sial ekonomi masyarakat dan sekaligus memberikan kesempatan untuk berkembang bagi golongan ekonomi lemah.600 ton. Cirebon. antara lain di Sibolga. baik di daerah asal transmigrasi maupun di pelabuhan kecil yang melayani daerah-daerah pemukiman transmigrasi. Paotere. Sulawesi Tengah. Sunda Kelapa.477 DWT dengan jumlah muatan sebanyak 2.155. telah berkembang adalah seperti yang diharapkan terutama dalam mengumpulkan barang-barang ke pelabuhan pengumpul.400 DWT. Dalam tahun 1982/1983. Bitung.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sarana perhubungan taut yang ada tanpa mengganggu fungsi mama kegiatan pelayarannya. sedangkan dalam tahun 1983/ 1984 masing-masing telah meningkat menjadi 195. Bidang pelayaran rakyat selain merupakan jenis angkutan laut penunjang pelayaran Nusantara yang melayari daerah-daerah terpencil. Pelayaran lokal sebagai unsur penunjang pelayaran Nusantara Regular Liner Service (RLS). kapositas armada pelayaran rakyat baru sebesar 180.460 DWT dan 2.3 persen dan 6 persen. Surabaya. Gresik. Kalimantan Timur. Sulawesi Tenggara.677 ton dan sebanyak 610. Palembang. Maluku dan Irian Jaya. serta mengangkut 2. terus dilakukan pembinaan melalui usaha koperasi dan motorisasi perahu layar dengan mengutamakan golongan ekonomi lemah. Benoa dan Lembar ke berbagai daerah tujuan pemukiman transmigrasi di Sumatera. Selama ini armada pelayaran Nusantara telah melaksanakan pengangkutan transmigrasi dari beberapa pelabuhan asal yaitu Tanjung Priok. Untuk menunjang pelayaran terse but. Tegal. Riau. Semarang. Kalimantan Selatan.481.347 ton barang dan 653. Sulawesi Utara.

931 272.6 163.411 311.090 1982 1.208 938 1.822 1.535 321.411 311.8 132.278 1.1 147.759 321. 1969 .419 310.271 2.970 2.479 1.669 321.419 310.7 90 83 86 92.448 1979 1.669 284. 59 ARMADA DAN MUATAN PELAYARAN LOKAL.950 330.081 1981 1.428 503.6 92.669 284.1 Muatan yang ( ribu ton) 1.382 1.162 1.200 2.8 161.278 1.389 1980 1.2 154.899 1.348 1978 1.025 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Pembangunan di bidang pelayaran perintis juga terus ditingkatkan. Di samping itu Departemen Keuangan RI 222 .824 Kapal-k.277 1977 1.4 129.1983 Jumlah kapal Kapal 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982i) 1983 1) Angka sementara 182 273 282 282 267 300 305 340 316 322 373 390 361 397 387 DWT 184.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e 1 VII.9 155.428 503. penambahan pe!abuhan yang disinggahi. 58 ARMADA PELAYARAN NIAGA NUSANTARA.378 425.685 238.954 406.445 2.41) 133.570 312.apal yang beroperasi Kapal 130 232 215 282 267 300 305 340 316 322 373 390 361 397 387 DWT 138.000 386.931 272. antara lain melalui perluasan hubungan angkutan laut ke daerah-daerah terpencil dan terisolir.375 486.570 312.350 267.000 386.824 Tahun T abel VII.543 1.375 4.378 425.950 330.144 1983 2) 1.481 Tahun Jumlah kapal 1969 803 1970 777 1971 623 1972 679 1973 980 1974 965 1975 858 1976 1.6 92. pengaturan pelayaran serta penambahan frekuensi. 1969 -1983 Kapositas ( ribu DWT ) 60.954 406.004 234.

Adanya peningkatan penggunaan angkutan petikemas pada gilirannya teiah meningkatkan kapositas angkut disamping lebih efisien pula penggunaannya. pupuk. dan 4 buah kapal semi container dengan clara angkut seluruhnya masing-masing 61. Jumlah muatan yang diangkut kapal nasional dalam taliun 1982/1983 adalah sebanyak 18. Pelayaran khusus. Dalam tahun 1983/1984. Berkurangnya jumlah kapal yang digunakan dan trayek yang dilayari terse but adalah karena telah banyaknya trayek-trayek ekonomi yang dapat dilayari pelayaran lokal dan pelayaran rakyat. pantai barat Sumatera. melayari 29 trayek.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 terus dilakukan pula pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaannya.387 orang. posir besi. dengan muatan yang diangkut seberat 53. sampai dengan akhir Pelita III telah meningkat.500 DWT dan 61.000 ton. jumlah armada pelayaran khusus baru mencapai 2.000 ton dan bermuatan asing seberat 12. murah dan aman. dengan sejauh mungkin memanfaatkan usaha pelayaran swasta setempat terutama pengusaha golongan ekonomi lemah. jumlah armada pelayaran perintis yang telah dioperasikan adalah sebanyak 36 kapal.501 buah kapal dengan kapositas seluruhnya Departemen Keuangan RI 223 .964 ribu ton. menyinggahi 177 pelabuhan dengan muatan seberat 31. baik jumlah armada maupun daya angkutnya. nikel. antara lain di pantai barat Aceh.465 ribu ton. di samping telah dilakukan pula penyesuaian terhadap perkembangan teknologi.200 DWT. bauksit. Pe1ayaran samudera telah pula meningkat karasitasnya.325 DWT. yang antara lain mengangkut minyak bumi. Jumlah dan kapositas kapal petikemas tersebut telah mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan akhir Pelita III yang berjumlah 11 buah kapal dengan kapositas seluruhnya 130.200 ton barang dan 127.848 penumpang.60. kayu. telah terjadi penurunan yaitu jumlah armada yang dioperasikan menjadi 31 kapal. Perkembangan jumlah armada dan muatan pelayaran samudera dapat dilihat pada Tabel VII. Sedangkan dalam tahun 1983/1984. aspal. Riau dan Banjarmasin. oleh karena kapal petikemas konvensional tidak dioperasikan lagi. kapositas yang tersedia telah mencapai sebesar 732. bermuatan nasional seberat 6.270. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 PT Jakarta Lloyd telah memiliki serta mengoperasikan sebanyak 7 buah kapal.052 DWT. Dengan adanya usaha peningkatan angkutan petikemas. minyak kelapa sawit.694. tetap. yang terdiri atas 3 buah kapal full container. yang melayari 35 trayek dan menyinggahi sebanyak 214 pelabuhan. Dalam tahun 1982/1983. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 18. Di samping itu setiap tahun kaposltas dan jumlah kapalnya juga telah disesuaikan dengan pertumbuhan permintaan akan jasa angkutan laut. cepat. Demikian pula pembinaan pelayaran diarahkan pad a sistem angkutan laut yang teratur.166 ton barang dan 161. Dalam tahun 1982/1983. dan semen. baik semi container (petikemas) maupun full container.

Sunda Kelapa. Bengkulu.740 DWT. kayu olahan. Sei Barito. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 2.pengerukan kolam pelabuhan dan alur pelayaran telah dan terus ditingkatkan. Manado dan Bitung. 17. Hasil-hasil pengerukan pelabuhan dapat dilihat pada Tabel VII. Untuk memelihara dan meningkatkan kelancaran lalu lintas kolam pelabuhan dan alur pelayaran!.535 ton/meterkubik dan 95. Tegal.981. serta peningkatan peralatan bongkar muat barang.587 HP.541 liter/ton. 649. Semarang. serta mengangkut muatan non migas dan migas masing-masing seberat 14. Gresik. Palembang. yang dilakukan di pelabuhan-pelabuhan dan alur pelayaran Belawan. Kenaikan muatan tersebut antara lain disebabkan karena meningkatnya produksi di bidang industri semen. Tanjung Perak dan Ujungpandang.61. Adanya peningkatan pelayaran khusus dalam negeri tersebut juga telah memperlancar distribusi bahan pangan serta bahan 'bakar minyak (BBM) ke seluruh pelosok tanah air.267.682. Kegiatan tersebut dilakukan melalui rehabilitasi.7 persen.240. Keempat pelabuhan tersebut ditunjang oleh 14 pelabuhan kolektor sebagai pengumpul dan pengirim barang ekspor. Sei Kahayan. Di samping itu dilakukan pula peningkatan operasional melalui pembentukan perusahaan umum pelabuhan dan pengelompokan pelabuhanpelabuhan dalam 4 Perum pelabuhan yang berpusat di Belawan. fasilitas gudang dan lapangan penumpukan.215 DWT. Kendari. serta mengangkut muatan nonmigas dan migas sebanyak 36. Hal ini berarti telah terjadi peningkatan masing-masing sebesar 1. 784. Probolinggo.489 BRT dan 425. Sei Mahakam. dengan kapositas 2.408 HP. bijih tambang serta minyak dan gas bumi. 150 persen dan 141 persen. terutama dengan semakin meningkatnya standar kapal dan bongkar muat barang. pupuk. 606. Dalam tahun 1983/1984 telah berhasil dilakukan pengerukan lumpur sebanyak 15. Jambi.6 persen. Pengerukan tersebut dilakukan oleh 39 buah kapal keruk dengan kapositas 39 juta meterkubik.628 liter/ton. Cirebon. pembangunan baru dan peningkatan fasilitas dermaga.542 buah kapal.772. Oleh sebab itu pembangunan fasilitas pelabuhan terus ditingkatkan sesuai dengan pertumbuhan lalu limas pelayaran dan arus bongkar muat barang yang terjadi di masing-masing pelabuhan. Sedangkan untuk kegiatan angkutan laut domestik. disediakan sebanyak 25 pelabuhan Utama yang tersebar di seluruh wilayah tanah air.71juta meterkubik. Tanjung Priok. Ujungpandang. Tanjung Priok. Pengembangan fasilitas pelabuhan merupakan salah satu penunjang kegiatan pelayaran. minyak kelapa sawit.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. Pulau Batam. Panarukan.489 BRT dan 361.041 ton/meterkubik dan 39. Selain itu juga telah dilakukan peningkatan keterampilan tenaga kerja dan buruh pelabuhan agar pengoperasiannya dapat dilaksanakan Departemen Keuangan RI 224 . Tanjung Petak.

baik.2 17.5 16. pembangunan penahan gelombang seluas 8.6 16 16 16 16.7 17.6 16 16 16 16 16 19 20. 1969/1970 .452 12.1983/1984 ( dalam juta m3 ) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/19831) 1983/1984 Target 11.923 9.145 meter persegi.026 meterpersegi.913 2. Tabel VII. pembangunan dermaga baru seluas 54.406 10.120 14.7 Persentase terhadap target 145 115 106 100 100 100 104 109 103 83 100 100 100 100 100 1) Angka sementara Ketelangan : JumIah lumpur yang dikeruk dinyatakan dalam juta m 3 hopper ( lumpur bercampur air ) Departemen Keuangan RI 225 .0 15.636 18.465 18. Perkembangan fasilitas pelabuhan dapat diikuti melalui Tabel VII. 1969 -1983 Tahun JumIah kapal 39 48 59 53 41 45 47 50 54 52 50 58 61 62 51 Kapositas (ribu DWT) 318 386 489 467 387 339 412 450 491 513 513 668 802 827 732 Muatan yang ( ribu ton) 1.121 12. 61 HASIL PENGERUKAN PELABUHAN.7 15 17.095 16.2 14.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan lebih.343 1.917 5. produktivitas rata-rata dermaga pelabuhan telah mencapai 700-800 ton/meter per tahun.62.2 14.0 11. 60 ARMADA DAN MUATAN PELAYARAN SAMUDERA.186 meter persegi serta pembangunan lapangan penumpukan seluas 41.7 15.650 6. Hasil-hasil yang telah dicapai dalam tahun 1983/1984.967 5.7 Realisasi 16.964 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1) Angka sementara Tab e I VII.917 meter persegi.4 16.0 10.752 16.5 21. Dengan pembangunan tersebut.1 15 17. antara lain meliputi rehabilitasi dan peningkatan dermaga seluas 5.2 17.7 15.

Pelampung suar 4.500 pe1abuhan 5 64 1 6 1 2 4 1 6 Fisik 3. Penahan gelombang .216 17.794 2.325 24.800 53.070 2.255 1982/1983 Jumlah 1983/1984 Jumlah pelabuhan pelabuhan 4 31 1 1 4 5 3 35 1 2 800 1984/1985 1) J um1ah Fisik Fisik pelabuhan 0 0 0 0 8. G u d an g .550 33.800 22.497 2.186 - T abe I VII. dewasa ini telah dapat ditingkatkan kemampuan perawatan.145 11.. AIat bongkar muat .270 45 3. AJat bongkar moat .kerangka kapal. Stasiun radio kelas I 2.334 11. sebanyak 60 persen dari armada pelayaran nasional yang berukuran di bawah 10. Dalam tahun 1983/1984.455 135 48.281 11.700 299 60 3. Stasiun radio kelas II 3.007 10 17 3 4 6 11 5 6 10 1978/1979 Jumlah Fisik 14.Rehabilitasi .732 230 5.928 1.000 DWT telah dapat diperbaiki oleh galangan kapal dalam negeri.650 2 1.680 1.175 2. Fasilitas air .720 11.521 1.500 3. Elektrifikasi menara suar 2.Rehabilitasi .296 31.066 1.960 4 17 4 8 1 1 6 1 4 2 9.253 12.Rehabilitasi . 1972/1973 .100 11. Kode / dermaga .Penambahan (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) 29.340 1979/1980 Jumlah pelabuhan 15 3 55 360 500 3 unit 150 900! 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.Penambahan (kva) 5.026 8.Penambahan 3.Rehabilitasi .Penambahan (ton/hari) 6.Penambahan 2.242 800 320 2. Dermaga .Penambahan (kva) 5.725 8. perbaikan dan pembangunan kapal.Rehabilitasi (ton/hari) .800 m2 1) 700 m2 1) 7 1 5 23 - 5 2 1 26 4 6 8 1.310 22.368 1. 63 REHABILITASIIPEMBANGUNAN FASILITAS KESELAMATAN PELAY ARAN.Penambahan (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) 90 1 (ton) (ton) (hp) 59.100 m2 11 6 Di bidang jasa maritim. ADak pelampung 5.804 300 155. Stasiun radio kelas III 4.Rehabilitasi .465 5. Buoy tender 7.000 400 5 unit 40 unit 3 - 7 31. Fasilitas air . Kade / dennaga .Penambahan 2. Lis t ri k .942 2. di samping juga kemampuan dan fasilitas galangan kapal dalam negeri. Rambu suax 3.Penambahan 3.399 2. Kapal rambu (watch boat) 9.425 3.Rehabilitasi (kva) .075 10.218 m2 1980/1981 Jumlah Fisik 1.257 23.700 3. IL Telekomunikasi: 1. Di samping itu juga telah dilakukan Departemen Keuangan RI 226 . Stasiun radio kelas IV 1) Masing-masing adalah merupakan bagian dari 2) Angka sementara 1972/73 10 13 8 1 2 1 2 1 1973/74 11 13 26 1974/75 4 9 6 2 2 1 2 1975/76 12 17 5 1 1976/77 7 5 10 2 2 4 1977/78 9 13 1978/79 11 25 7 14 2 1979/80 10 11 20 7 1980/81 12 18 1 6 10 1981/82 12 38 7 15 12 1982/83 1983/84 1) 1984/85 2) 26 39 7 5 11 23 2 27 3 6 25 23 4 5 1 1 1 . jumlah kapositas galangan kapal telah mencapai 163. Lampu peIabuhan 6. Dalam hubungan ini terus ditingkatkan perawatan dan perbaikan kapal nasional.Rehabilitasi (kva) .764 18.Penambahan 4. Ben g k e I 11.Rehabilitasi .Penambahan 4. 1969/1970 -1984/1985 1977/1978 PELITA I 1974/1975 1975/1976 1976/1977 Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Fisik Fisik Fisik Fisik Fisik pelabuhan pelabuhan pelabuhan pelabuhan pelabuhan 1.n) 6.946 2 15 2 1 4 1 4 21.Rehabilitasi .Rehabilitasi . Listrik . Supply Vessel 8.190 1.62 REALISASI FISIK PEMBANGUNAN FASILITAS PELABUHAN.600 200 200 1981/1982 Jumlah pelabuhan 6 47 2 4 2 4 1 1 400 Fisik 2.750 2.921 6.810 4.Rehabilitasi (ton/hari) .246 17. Pangkalan bantu sarana navigasi 10. Penahan gelombang . Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984.690 15. G u d a n g . karang dan ranjau.700 DWT dengan produksi doking sekitar 127 juta DWT.1984/1985 ( dalam satuan ) Jenis sarana L Pcrambuan daft pencrangan pantai : 1.878 2.190 22.514 54.700 2 unit 4 18 1 5 2 6 2 4 3 2.035 (ton) (ton) (hp) 6 25 27 17 6 1 15 9 6 3 16 4 2 1 2.025 756 pelabuhan 6 15 3 3 5 6 5 5 8 Fisik 11.kapal serta pembersihan alur dan daerah perairan dari kerangka.Penambahan (ton/h.535 260 1.473 14.455 515 7.206 1.

yaitu di Medan. Departemen Keuangan RI 227 . A-300 dan DC-lO. pcnjagaan laut dan pantai serta jasa klasifikasi. pertumbuhan prasarana.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembersihan alur-alur pelayaran dan daerah pelabuhan dari kerangka kapal dan ranjau. Selain itu juga oleh adanya peningkatan frekuensi penerbangan. Sejalan dengan itu ditempuh usaha-usaha untuk menciptakan kemudahan-kemudahan bagi lalu lintas penumpang. serta dapat menjangkau ke se1uruh tanah air. peningkatan kesyahbandaran. Se1ain diusahakan pertumbuhan angkutan komersial dalam dan luar negeri. penambahan jumlah dan komposisi armada. Selanjutnya untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dok/galangan kapal dalam negeri. dilakukan pembinaan di bidang manajemen keuangan serta pembentukan usaha patungan perusahaan dok/galangan kapal dalam negeri dengan perusahaan dok/galangan kapalluar negeri. Ujungpandang. barang. termasuk di dalamnya pembangunan dan peningkatan beberapa pe1abuhan udara dan lapangan terbang. Demikian pula dalam rangka keselamatan dan keamanan pelayaran. Perhubungan udara Kegiatan pembangunan sektor perhubungan udara sampai dengan tahun pertama Pelita IV ditandai antara lain oleh usaha pemenuhan kebutuhan masyarakat di bidang jasa angkutan udara yang semakin meningkat.8. te1ah pula dilakukan peningkatan pe1ayanan angkutan perintis di daerah-daerah terpencil.63. terutama di pelabuhan Sunda Kelapa dan Cilacap. Selama Pelita III. Surabaya.3. terus dilakukan pembinaan klasifikasi Indonesia dan penambahan sarana laboratorium. serta peningkatan kemampuan pegawai melalui pendidikan dan latihan. Hasil rehabilitasi fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dapat diikuti melalui Tabel VII. radio pantai. Di samping itu juga te1ah dilaksanakan pembangunan landasan udara baru sesuai dengan pertumbuhan lalu lintas udara. walaupun pada tahun terakhir Pelita III tingkat pertumbuhannya tidak setinggi awal Pelita III. antara lain berupa pembangunan fasilitas navigasi. perluasan jaringan penerbangan. Sampai dengan tahun pertama Repe1ita IV. hewan. telah dapat dikembangkan sebanyak 5 buah pe1abuhan udara. Sehubungan dengan itu terus dilaksanakan proyek-proyek lanjutan dalam masa Pelita IV. tanaman dan pos melalui udara. 7. menara suar. serta peningkatan pe1ayanan angkutan transmigrasi dan pelayanan angkutan haji. Denpasar. Sedangkan guna meningkatkan pengawasan teknis pembangunan reparasi kapal. rambu suar. peningkatan kemampuan landasan udara serta penambahan peralatan keselamatan penerbangan. dalam waktu yang sama telah dapat ditingkatkan kemampuan dan modernisasi sarana keselamatan dan keamanan pelayaran di perairan Indonesia. sarana dan angkutan udara mengalami kenaikan. dan Biak guna menampung pesawat berbadan lebar tipe B-747.

maka pelabuhan udara yang semula direncanakan menjadi pelabuhan udara yang dapat dioperasikan dengan pesawat Fokker 27 (F-27). jumlah lapangan terbang perintis telah berhasil ditambah menjadi 95 buah yang dilayani oleh 19 buah pesawat DHC-6 dan 16 buah pesawat C-212. Selain itu sesuai dengan sa saran yang hendak dicapai. 2 landasan oleh DC-lO dan A-300 serta 2 landasan yang dapat didarati oleh B-747. Sehubungan dengan akan diproduksinya pesawat CN-235. Samarinda. Uji coba pendaratan dan lepas landas telah dilakukan. Hasanuddin di Ujungpandang dan Mokmer di Biak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 antara lain di Meulaboh. 3 landasan oleh pesawat Hercules tipe L-I00-300. fasilitas telekomunikasi di 46 pelabuhan udara. Pangkalan Bun. Timika. 7 landasan oleh DC-9. Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan pelabuhan udara. fasilitas pengangkat pesawat di 3 pelabuhan udara dan fasilitas pemadam kebakaran di 48 pelabuhan udara. telah dilakukan pembukaan Departemen Keuangan RI 228 . Dalam pada itu telah pula dibangun dan ditingkatkan pe1abuhan udara perintis di 75 lokasi yang tersebar di 27 propinsi di Indonesia. Bima. sedangkan penyelesaian pekerjaan akan dilanjutkan dengan penyempurnaan gedung terminal dan fasilitas peralatan kese1amatan penerbangan. 20 landasan oleh F-28. antara lain bahwa semua pelabuhan udara yang melayani pesawat jet secara bertahap diperlengkapi dengan instalasi peralatan navigasi DVOR (Doppler Very High Omni Range). dan sesuai dengan jadwal akan beroperasi penuh dalam bulan April 1985. jumlah pelabuhan udara yang beroperasi lebih dari 12 jam telah menjadi 20 buah pelabuhan udara. Di samping itu juga telah dilakukan pemasangan alat bantu pendaratan ILS (Instrumen Landing System) di 7 pelabuhan udara yaitu Polonia di Medan. Adapun pelabuhan udara internasional di Cengkareng sedang dalam taraf penyelesaian. Kota Baru. disesuaikan menjadi pelabuhan udara yang dapat dioperasikan untuk pesawat CN-235. Ruteng. hingga tahun pertama Repelita IV juga telah ditingkatkan fasilitasnya. Kegiatan penerbangan perintis terus ditingkatkan pula melalui penambahan frekuensi penerbangan dan lapangan terbang perintis. serta untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas udara dari pemakaian jasa terminal pelabuhan udara. Samsudin Noor di Banjarmasin. Halim Perdanakusumah di Jakarta. Nabire. sedangkan pada 6 pelabuhan udara lainnya sedang dalam persiapan pemasangan instalasi. Talangbetutu di Palembang. Waingapu. Pulau Batam. Ampenan. Demikian pula telah dilakukan pemasangan fasilitas radar di 7 pelabuhan udara. Waikabubak dan Baucau. fasilitas dan pesawat terbang. Poso. Di bidang keselamatan penerbangan. Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Hasil pembangunan yang telah dicapai dalam tahun pertama Repelita IV antara lain te1ah terdapatnya 9 landasan yang dapat didarati oleh pesawat tipe C-l60 dan CN-235. Juanda di Surabaya.

yaitu bila dalam tahun 1978 baru sebanyak 2 buah pesawat. Banjarmasin. Ujungpandang dan Biak.dan sisanya sebanyak 330 buah lagi dipergunakan untuk melayani penerbangan umum. PT Garuda Indonesian Airways (GIA) telah menggunakan 86 buah pesawat.yang terdiri alas 231 buah pesawat yang mempunyai kapositas tinggallandas di alas 10 ton.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa pelabuhan udara bagi penerbangan malam. Dalam tahun pertama Repelita IV. Halim Perdanakusumah Jakarta. angkutan udara dalam negeri telah dilayani oleh sebanyak 768 buah pesawat. Selanjutnya telah direncanakan pula sebanyak 42 Pelud untuk melayani penerbangan malam. Mandala menggunakan 15 buah pesawat. sebanyak 188 buah di antaranya dipergunakan untuk melayani penerbangan berjadwal. angkutan transmigrasi udara telah diangkut melalui udara adalah sebanyak 28. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 16 buah pesawat dan dipergunakan untuk melayani penerbangan perintis. dimana 30 buah di antaranya telah siap dengan fasilitas penerbangan malam. sedangkan dalam waktu yang sarna jemaah haji udara telah dapat diangkut sebanyak 49. 353 buah pesawat dengan kapositas tinggal landas di bawah 10 ton dan 184 buah pesawat helikopter. Palembang. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang kemajuan teknologi angkutan udara agar dapat memenuhi dan melayani permintaan angkutan udara baik di dalam maupun di luar negeri. Bouraq menggunakan 26 buah pesawat dan Seulawah menggunakan 4 buah pesawat. Dalam hubungan ini baru sepuluh buah pelabuhan udara (Pelud) yang dioperasikan secara penuh melalui perpanjangan jam operasi dan dilengkapi dengan fasilitas penerbangan malam.943 orang dari 4lokasi penerbangan. Surabaya. dengan mengusahakan agar perusahaanperusahaan penerbangan memanfaatkan fasilitas tersebut. . Di samping itu. Pelita Air Service sebagai pengelolanya telah memiliki 6 buah pesawat udara tipe Hercules (L-I00-300) dan 3 buah pesawat udara tipe Transall (C-I00). Dalam tahun 1983/1984. telah ditingkatkan pula sarana angkutan udara yaitu pesawat udara bermesin turbo-prop dan pesawat bermesin turbo-jet. Sejalan dengan pembangunan pelabuhan udara dan fasilitas keselamatan penerbangan. 250 buah pesawat untuk melayani penerbangan tidak berjadwal . Dari jumlah tersebut. PT Merpati Nusantara Airways (MNA) menggunakan 57 buah pesawat. Semarang. Untuk melaksanakan angkutan transmigrasi. Jumlah pesawat yang digunakan untuk masing-masing armada penerbangan telah pula meningkat. Di samping itu penggunaan pesawat hasil rakitan PT Nurtanio juga telah meningkat. Adapun dalam menunjang program transmigrasi dan pelaksanaan angkutan haji.921 kepala keluarga (KK). telah dapat ditingkatkan baik kapositas angkutan maupun mutu pelayanannya. Bali. yaitu Medan. Kemayoran Jakarta. Dalam tahun pertama Repelita IV. usaha untuk Departemen Keuangan RI 229 .

64 dan Tabel VII.113 penumpang dan 28. Apabila pada akhir Pelita II jumlah penumpang dalam negeri yang diangkut baru sebanyak 4. dari 92 buah menjadi 324 buah dan dari 2. yaitu dari sebanyak 733. masing-masing di Sumatera Barat. serta meningkatkan penerbangan borongan dari luar negeri langsung ke tempat-tempat obyek pariwisata tanpa mengganggu penerbangan berjadwal. Sampai dengan bulan Juni tahun 1984. antara lain meliputi penelitian mengenai standardisasi pengumpulan dan penyebaran data/informasi. Di samping itu sebagian besar stasiun yang ada juga sudah mampu beroperasi selama 24 jam sehari. Sejalan dengan itu telah pula dilakukan peningkatan fasilitas terminal di beberapa pelabuhan udara guna melayani arus wisatawan yang langsung ke tempat-tempat obyek wisata.000 orang dan 49. Kenyataan bahwa sebagian besar areal pertanian masih merupakan daerah tadah hujan. Dalam periode yang sama data meteorologi dan geofisika yang dihasilkan meningkat dengan sekitar 90 persen per tahun.884 ton barang/pos menjadi 1. stasiun geofisika Saumlaki di Maluku. sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1984 selalu mengalami kenaikan. serta penelitian sistematika gempa dan polusi udara. penelitian kartografi normal yang bertipe hujan di Jawa Tengah. Bengkulu dan Nusa Tenggara Timur.320 buah menjadi 4.839 penumpang dan 9. Pulau Baai dan Lasiana Kupang. yaitu masing-masing dari sebanyak 56 buah menjadi 107 buah.366 ton barang/pos. menunjukkan bahwa keadaan iklim Departemen Keuangan RI 230 . Adapun hasil penelitian yang telah diterbitkan dalam publikasi.1 persen.790 ton barang/ pos. serta stasiun Klimatologi Sicincin. klimatologi dan iklim serta stasiun penguapan dan hujan. telah selesai dibangun dan dioperasikan stasiun geofisika Tanjung Pandan di Sumatera Selatan.047.024 buah yang berani masing-masing mengalami peningkatan sebesar 91. dan digantinya hampir semua peralatan lama dengan yang baru sesuai dengan kemajuan teknologi.711. dari 6 buah menjadi 27 buah. Jumlah stasiun-stasiun meteorologi.884 ton barang/pos. Jawa Timur dan daerah ramalan cuaca.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menunjang keberhasilan program pariwisata. baik di dalam maupun di luar negeri. antara lain dilakukan melalui reduksi harga tiket untuk wisata remaja dan paket wisata (package tour). Perkembangan penerbangan sipil di dalam negeri dan ke luar negeri dapat diikuti melalui Tabel VII.000 orang dan 45. geofisika. maka pada akhir Pelita III telah meningkat menjadi 5. Angkutan penerbangan sipil ke luar negeri juga mengalami peningkatan. yang berarti masing-masing mengalami kenaikan sebesar 43 persen dan 187 persen. sedangkan pelayanan jasanya rata-rata naik sebesar 30 persen per tahun.292. 252 persen dan 74 persen. 350 persen.65. atau masing-masing telah mengalami kenaikan sebesar 12 persen dan 9 persen. Hasil pembangunan yang telah dicapai di bidang meteorologi dan geofisika selama Pelita III antara lain ditandai dengan bertambahnya jaring-jaring stasiun.

501 82.235 11.718 34.246 39. Di samping itu untuk setiap balai penyuluhan pertanian juga dibangun stasiun meteorologi pertanian khusus.543 240.758 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara TonJkm (ribu) 34.671 TonJkm (ribu) 31.607 17.675 3.302 1970 6.290 457.233 373. 1969 .840 3.166.955 196. lengkap dengan sarana telekomunikasinya.101 653.480 770 4.340 97.790 809.340 1973 7.098 3.378 10.366 1.354 102. 1969 -1983 Tahun Km pesaat Penumpang Barang TonJkm (ribu) (orang) (ton) Jam terbang (ribu) 1969 5.304 122.385 98.602 233.5881) 50.918 29.371 14.597 374.427 10.448 106 1974 2.991 1.696 169.918 176 19801) 78.555 80.341 923. kelembaban.292 49.884 950.578 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang tidak menentu pada suatu periode dapat memberikan pengaruh yang besar pada produksi pertanian.113 28.743 20.589 223 19832) 89.209 115. Tabel VII 64 PENERBANGAN SIPIL DALAM NEGERI.458 993 7.920 51.782 28.651 7.125 127.942 1.649 13.115 245.461 1975 46.560 463. yaitu berupa banjir atau merajalelanya hama tanaman.451 40.624 731.562 34.194 1.094 125.790 213.404 545.674 80.027 36.373 32.047.272 1981 1) 24.384 10. Stasiun hujan utama ini dilengkapi pula dengan sensor lain seperti suhu.893 1982 1) 26.779 134.711 45.150 4.512 1983 2) 23.914 97.791 37.185 1971 20.151 56.429 1974 7.377 1977 14.483 190 1981 87.136 748.023 227 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.135 1980 1) 24.635 216.804 335.985 3.781 378.424 733.329 531.180 5.175.348.499 1.502 1973 33.268 521. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar data hujan masih mengalami keterlambatan yang disebabkan karena banyak lokasi renakar hujan yang letaknya sangat terpencil dan jauh dari sarana komunikasi.433 212 1982 1) 87.269 22.570 116 1976 55.824 11. Untuk itu ditempuh kebijaksanaan dengan mendirikan lebih kurang 750 stasiun hujan utama sistem telemetry di seluruh wilayah Indonesia.083.831 47.519 1) 19781) 85.506 109.439 4.480 1979 1) 22.972 2.042 34.073 62.549 1971 6.287 4.019 84.619 302.65 PENERBANGAN SIPIL KE LUAR NEGERI.506 1970 16.908 151 396.937 3.166 387.538 56.302 1.925 137 1977 59.237 85.062 114.401 164.940 80.252 264.126 19.1983 Km pesawat Penumpang Barang Jam terbang Tonjkm Tahun (ribu) (ribu) (ton) (ribu) (ribu) 1969 12.217 3.340 1975 8.546 5.626 5.459 616.459 279.250 321.326 46.353 193.815 10.741 1.167 196 19791) 70.883 79.162 499 4. Hal ini akan terpenuhi apabila data hujan yang dikumpulkan dari 4.494 1972 26.015 102.834 800.057 17.620 87.925 42.204lokasi dapat diterima tepat pada waktunya.884 526.377 2.963 2.240 1.839 9.016 1978 1) 19.953 369. Oleh karenanya informasi dari meteorologi dan geofisika bagi sektor pertanian harus dapat dipercaya dan tepat pada waktunya.412 146.318 291.791 1976 10.045 68.760 Departemen Keuangan RI 231 .574 180.129 52.158. radiasi matahari dan arab angin.451 1972 7.323 22.664 45.142 3.510 449.

sambungan telex sebanyak 2. Sementara itu dalam periode yang sarna telah diselesaikan pula sambungan telepon sebanyak 26. telegrap.947 SS.000 satuan sambungan (SS). sambungan kontener sebanyak 900 SS. pembangunan di bidang telekomunikasi ditujukan untuk menciptakan kerangka landasan bagi pembangunan tahap-tahap Pelita berikutnya. Kesemuanya itu dimaksudkan untuk memperluas pemanfaatan satelit Palapa dan sejumlah fasilitas penunjang lainnya.000 SS. Telekomunikasi.797 SS.54855 dalam tahun 1984. sehingga memungkinkan hubungan telekomunikasi yang lebih luas dan cepat.150 SS. sambungan telepon manual sebanyak 7.8.854 SS. telex dan jaringan transmisi. serta sentral sambungan telepon jarak jauh (STJJ) sebanyak 14 buah dengan kapositas masing-masing 50 SS. serta penambahan sejumlah stasiun bumi.500 buah.080 SS.850.819 alur. alur transmisi teresterial sebanyak 15.66. pos dan giro Telekomunikasi sebagai salah satu pendorong dan penggerak pembangunan nasional terus ditingkatkan kemampuannya guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat setiap tahun. maka dalam tahun 1983 jumlah sentral telepon otomat (STO) telah mencapai 170 buah dengan kapositas seluruhnya 576. sentral transit perluasan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) 7. Dengan adanya kegiatan tersebut. fasilitas telepon otomat.4. telepon umum. Dalam tahun pertama pelaksanaan Repelita IV.579 SS dalam tahun 1983 dan bertambah lagi menjadi 91.070 alur dan stasiun bumi kecil (SBK) sebanyak 10 buah. alur telegrap sebanyak 1. telegrap dan telex.380 SS.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984. Departemen Keuangan RI 232 . sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dapat ditingkatkan lagi menjadi 173 buah dengan kapositas seluruhnya 583.583 sirkit. Untuk itu terus ditingkatkan sistem jaringan transmisi. telepon umum sebanyak 3. Demikian pula halnya kapositas telepon manual. sirkit tandem sebanyak 1. Perkembangan jumlah sentral dan kapositas telepon dapat diikuti pada Tabel VII. yaitu sebanyak 86. serta STJJ sebanyak 1. Di bidang telekomunikasi dalam negeri. transmisi teresterial 11. Melalui serangkaian pembangunan yang dilaksanakan selama ini telah berhasil dilakukan peningkatan fasilitas telepon. Di samping itu telah diselesaikan pula program ekstra sebanyak 75 buah SBK. antara lain telah dapat diselesaikan pembangunan telepon otomat sebanyak 152. baik yang menyangkut hubungan komunikasi di dalam maupun di luar negeri.

Di samping itu.660 1971 33 95. Surabaya dan Ujungpandang.860 1981 156 549. 1969 -1984 ( sentral dalam buah. telah dilakukan peningkatan jaringan pada 4 buah sentral tandem nasional yang berlokasi di Medan. sedangkan pada awal Repelita IV adalah sebanyak 509 buah. 66 JUMLAH SENTRAL DAN KAPASITAS TELEPON.253 87.092 99. Di bidang telex.320 1978 69 367.200 1979 101 460. Kenyataan ini menunjukkan bahvva selama periode tersebut tidak mengalami banyak perubahan. hubungan telepon interlokal dengan sistem manual secara bertahap juga telah diganti dengan sistem otomat dan dimasukkan ke dalam jaringan SLJJ.460 1974 37 125. jumlah sentral manual adalah sebanyak 506 buah. Selain itu juga telah Departemen Keuangan RI 233 .100 1976 45 160. Selanjutnya masing-masing sentral tandem tersebut dihubungkan dengan sentral lokal yang tersebar di beberapa kota.167 96. Selama Pelita III.579 89.947 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tahun Manual Sentral 506 504 496 506 504 507 507 507 503 493 468 457 469 1) 503 1) 509 509 Kapasitas 122.520 1982 164 557.548 Sistem yang digunakan dalam bidang telekomunikasi telah mengalami banyak perkembangan.772 73.860 1973 34 121. Pada awal Pelita I.142 101.718 102. sedangkan yang mendapat hubungan SLJJ terbatas adalah sebanyak 20 kala.600 1977 54 218. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985.920 104. antara lain teiepon lokal dengan sistem manual secara bertahap telah diganti dengan sistem otomat walaupun baru menjangkau di kala-kala.336 91.100 1980 137 524.797 1984 2) 173 583. Di lain pihak jumlah sentral telepon otomat telah meningkat dengan pesat.762 79.563 104. Jakarta. yaitu dari 26 sentral pada awal Pelita I menjadi sebanyak 173 sentral pada awal Repelita IV. Di samping itu hubungan telepon internasional dengan sistem manual dan semi otomatis secara bertahap juga telah diganti dengan sambungan langsung internasional (SLI).840 satuan sambungan yang melayani 24 kota di Indonesia. kapositas dalam satuan sambungan ) Otomat Sentral Kapasitas 1969 26 84.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TabeI VII. jumlah kala yang sudah masuk jaringan SLJJ mencapai sebanyak 104 kala.500 1975 39 144.963 1983 1) 170 576.054 86. telah dapat dilakukan hubungan melalui SLI ini dengan sebanyak 58 negara.660 1970 28 90.896 107. Pada awal Repelita IV. kapositas sentral yang terposang telah mencapai 15.292 108.782 101.300 1972 33 110.

094.239.Lokal (jumlahpulsa) 1) .164.0 391.9 10.8 470.0 4.6 124.6 .332.793.321.427.3 1.442. Di samping itu telah dipakai pula sistem gelombang mikro (GM) teresterial.479. serta kawasan Samudera Posifik (Posific Ocean Region) dengan kemampuan up-link 5 aluran dan-down link 14 aluran.5 10.3 276.6 9.7 2.2 30.8 55.1 411. VHF.5 40.916.949.419.7 182.619.244.064.426.3 ribu permintaan dalam tahun 1982 menjadi 3. dengan satelit Palapa generasi kedua Bl dan B2 yang mempunyai 24 transponder.059.926.136.133.249.047.9 2.647.2 53.94 4.184.5 6.7 217.0 72.3 4.2 10.190.67.735. SKKL Medan-Singapura 1.8.5 19831) 3.364.Jumlah kata (ribu) e.4 11.233. GM SurabayaBanjarmasin dengan 48 aluran dan GM Indonesia Timur dengan 196 aluran.4 3.426.532.3 15.247.684.013.Jumlahkata (ribu) d.903.2 1.3 Sementara itu telah dilakukan pula penambahan jaringan transmisi.Jumlah telegrap (ribu) .663.Jumlah telegrap (ribu) .297.0 4.7 124.9 62. 1969 .889.961.5 205.0 2.6 122.4 3.1 19842) 1.9 7.958.6 140.038.817.9 1979 1.0 6.389. sentral telepon di_ital di Medan sebanyak 2.8 26.696.190.294.925.8 13.3 43.1 7.1 18.0 336.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dilakukan peningkatan sistem telegrap teleprinter sebagai pengganti sistem morse dan digunakan untuk menghubungkan telegrap pada 400 lokasi di kota-kota besar.9 82.345.403. perkembangan jasa telekomunikasi dapat diikuti melalui Tabel VII. yang meliputi GM Lintas-Sumatera dengan 693 aluran.3 12.2 16.2 796.284.527.0 68. 5.1 331.2 185.5 205.894.219. Telegrap luar negeri: .548.622.327.1 TabeI VII. Lalu lintas telepon dalam negeri: .8 7.027.2 629.682.419.2 11.4 400.6 4.1 1982 2.3 4.103.631.3 2.206 saluran yang dirangkaikan dengan sistem transmisi hambur-tropo (tropos catter).701.4 5.51) 240.0 11.396.114. kabel koaksial dan kabel optek.Banyak pennintaan (ribu) #NAME? b. ibukota kabupaten dan beberapa kota kecamatan.158.315.1 7.0 5.988. . dengan kabel kawat masa ganda (multi-pairs wire).8 1.169.353.9 563.807. Sedangkan perluasan sistem gelombang radio frekuensi tinggi HF.372..1 ribu dalam tahun 1983. stasiun referensi time division multiple accses (TDMA) dan terminal TDMA di Jatiluhur sebanyak 240 kanal.260 kallal.8 2.876.4 493.7 3.4 7.1 25.1 9.3 1.885.0 379. SKKL Medan-Penang dan stasiun kabel sebanyak 480 kallal.5 106.8 17.8 257.1 1.579.120.3 3.1 104.3 13. 1969 .6 6.1 414.431.297.459.073.3 6.8 10.4 56.Jumlah call (ribu) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 62.103.868.753.5 50.463. Peningkatan hubungan internasional dilaksanakan melalui sistem komunikasi intelsat yang mencakup dua kawasan.1 240. Adapun lalu lintas telepon internasional telah pula meningkat dari sebanyak 2.918.503.7 12. Telex dalam negeri : .1 231. Penggantian Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa Al yang dalam operasi pertama baru mempunyai 12 transponder telah diganti.776.830.621.4 1981 2.Telex luar negeri : .877.096.073.212.5 3.141.9 663.7 7.0 1970 151.6 2.0 3.5 5.100 kallal.849.1 2. yang merupakan salah satu unsur renting dalam peningkatan jasa telekomunikasi baik di dalam maupun di luar negeri.865.920.6 181.9 48.263.1 14.402.4 27.7 12.574.1 74.741.158.6 3.930.0 176.446.776.430.67 PEMAKAIAN ]ASA TELEKOMUNIKASI.452.1 772.0 351.3 9.7 368.480.9 157.3 39. yaitu kawasan Samudera Hindia (Indian Ocean Region) dengan kemampuan up-link 6 aluran dan down-link 14 aluran.864.6 7.656.1 167.990.0 389.0 60.543.7 15.036.9 10.2 23.070.Sambungan langsung jarak jaub: Jumlah paisa (ribu ) Jumlah call (ribu) Co Telegrap dalam negeri: .1 7.7 271.1 1980 1.827.551.8 1978 964.5 63.8 1.237.7 2. Lalu lintas telepon international: .2 150.196.513.4 277.4 75.381.174. Dalam rangka peningkatan sarana telekomunikasi internasional.5 10.6 3.905.622.934. Hal ini berarti bahwa dalam periode tersebut telah terjadi suatu kenaikan sebesar 19 persen.8 70.3 67.7 4.864.5 30.1984 1972 1973 1974 1976 1977 1975 208.3 1.7 2.1 134.790.2 307.083.3 191.760.376.271.1 4.6 9.3 11.5 6.9 58.3 992.2 51. GM Jawa-Bali dengan 2.0 8.576.632.Jumlah pulsa (ribu) f.8 1971 202.1 2.51) 3. sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diselesaikan pembangunan sistim komunikasi kabel laut (SKKL) Asean antara Indonesia-Singapura sebanyak 480 kallal.156.011.4 35.529.399.0 1.023.3 758.775.6 64.8 1.558.524.718.4 4. dan UHF telah mencapai sebanyak 197 stasiun. mikrowave link Jakarta-Jatiluhur sebanyak Departemen Keuangan RI 234 .084.673.0 113.950.9 2.7 488.0 105.0 267.786.302. 30.4 12.730.1 14.0 11.5 6.120..527.

sirkit sewa telegrap sebanyak 120 kanal. Untuk menunjang hal tersebut. Jangkauan pelayanan pos dan giro ke desa-desa te1ah mencapai 60. Dengan peningkatan fasilitas pos dan giro tersebut. dan perluasan jasa pos ke1iling kala dan jasa pos ke1iling desa. kini pelayanannya te1ah mampu menjangkau 3. Selain itu te1ah berhasil pula ditetapkan sistem kode pos untuk se1uruh Indonesia guna mendukung kelancaran operasi. serta telah siap untuk dioperasikan sebanyak 18 buah stasiun monitoring bergerak.3 persen dari seluruh ibukota kecamatan yang ada dan 91. te1ah banyak kemajuan yang dapat dicapai.103 ibukota kecamatan dari sejumlah 3. pengadaan peralatan VFT-MUX sebanyak 48 terminal. Pembangunan di bidang pos dan giro sampai dengan tahun 1984/1985 dimaksudkan untuk memperluas fasilitas pos dan giro dan meningkatkan jasa pelayanannya. sehingga pe1ayanan pos dapat menunjang kegiatan so sial ekonomi masyarakat. kantor kepala daerah pos sebanyak 3 buah. kantor pos besar dan kantor pos ke1as I di ibukota propinsi dan kala-kala lainnya. kendaraan bermotor roda 4 sebanyak 48 buah serta bis sural sebanyak 1.0 persen dari selruh desa di Indonesia.232 desa dari sejumlah 66. sehingga dapat menjangkau kecamatan-kecamatan di wilayah Nusantara termasuk daerah-daerah pemukiman transmigrasi. serta kantor pus tambahan. telah berhasil diletakkan dasardasar kebijaksanaan untuk Departemen Keuangan RI 235 .096 trunks telepon internasional dan nasional. Selanjutnya guna menertibkan penggunaan frekuensi radio serta persiapan keanggotaan Indonesia dalam sistem monitoring radio internasional. penambahan trafo tegangan tinggi 3x250 KVA.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 572 kanal. telah dilakukan pembangunan kantor pos dan kantor pos pembantu di kecamatan-kecamatan. sebagai sentral pos desa sekitarnya. Di samping itu juga te1ah dilakukan penambahan. kini te1ah dioperasikan 1 buah stasiun monitor bergerak. dari segi operasi te1ah pula berhasil ditingkatkan mutu pe1ayanan pos dan giro. sirkit sewa suara/data sebanyak 20 kallal. penambahan jaringan dan perluasan pe1ayanan. telah berkembang dalam meningkatkan kemampuannya di bidang usaha telekomunikasi dan elektronika.488 ibukota kecamatan yang ada. baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Di samping itu. pengadaan uninterruptible power supply (UPS) 200 KVA dan 1 unit antena track telemetry command and monitoring (TTCM) di Jatiluhur. Se1ama Pelita III hingga tahun pertama Repelita IV. kantor pos sebanyak 30 buah.214 buah.159 desa yang ada di Indonesia. Hasil-hasil yang te1ah dicapai sampai dengan bulan Mei 1984 meliputi pembangunan kantor pos pembantu/kantor pos tambahan sebanyak 485 buah. serta 4. kantor pos besar/ kantor pos ke1as I sebanyak 21 buah. 3 buah stasiun tetap yakni di Cakung. Hal ini berarti pelayanan pos dan giro telah dapat melayani 91. antara lain dengan memperpendek waktu tempuh surat. Dari segi kuantitas. Ulan Kayu dan Samarinda. Demikian pula industri telekomunikasi PT Inti.

peredaran giro dan cekpos sebesar Rp 2.80 milyar. Sedangkan dari segi kualitas antara lain ditandai dengan berhasilnya diadakan ikatan kontrak dengan perusahaan angkutan umum. Perkembangan arus lalu lintas pos dan giro dapat diikuti melalui Tabel VIII. Dengan adanya peningkatan kualitas tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 djadikan program pengembangan tahun-tahun berikutnya. yang antara lain dilakukan dengan memperbanyak unitunit pelayanan pos bergerak. Di samping itu dalam kedudukannya sebagai anggota UPU (United Post Union) dan APPU (Asia Posific Post Union). Indonesia telah banyak memperoleh manfaat dari kedua organisasi tersebut dalam mencapai kemajuan di bidang pos dan giro.569. weselpos senilai Rp 163. yang untuk tahap pertamanya dimulai di wilayah DKI Jakarta dan kemudian disusul oleh propinsi-propinsi lairmya. telah diadakan perjanjian kerjasama angkutan pos dengan perusahaan swasta. Adapun angkutan pos laut pada umumnya tidak ada hambatan.70 milyar. yakni berupa perluasan jangkauan pelayanan sampai ke desa-desa. Demikian pula angkutan pos udara semakin lancar. karena frekuensi dan jumlah kapal sudah semakin bertambah dan daerah yang dilintasi juga semakin luas. Dalam pada itu telah dilakukan pula pemasyarakatan kode pos.60 juta. serta jumlah tabungan BTN sebesar Rp 23. sehingga dapat mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang mengganggu ke1ancaran pos dan giro.795. peredaran giro dan cekpos sebesar Rp 967. daerah-daerah pemukiman trasmigrasi serta daerah terpencil. Dalam tahun 1983 telah disampaikan surat pos sebanyak 348 juta buah. weselpos senilai Rp 445.90 juta.063.74 juta buah.68. dengan lebih seringnya frekuensi penerbangan dan adanya tambahan trayek baru sehingga hampir menjangkau seluruh pelosok Nusantara.41 milyar serta jumlah tabungan pada BTN sebesar Rp 81.50 milyar. Pelayanan pos dan giro selain berpedoman kepada volume lalu lintas pos dan perhitungan biaya. surat pos yang disampaikan berjumlah sebanyak 27. Departemen Keuangan RI 236 . angkutan pos me1alui darat pada umumnya lancar. Sedangkan sampai dengan bulan Mei 1984. juga ditujukan untuk meningkatkan jangkauan pelayanan ke daerah-daerah terpencil dan daerah-daerah transmigrasi. Guna menambah fasilitas alat angkutan pos untuk pemantapan waktu tempuh.

042.65 146. serta pengenalan alam dan kebudayaan Indonesia. Untuk lebih meningkatkan arus wisatawan dari luar negeri.558. peningkatan pelayanan bagi wisatawan asing serta peningkatan keahlian dan keterampilan petugas-petugas yang menangani pariwisata.18 81.59 10. Jawa Barat.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 7.338.82 63.41 81.801 126. antara lain berupa peningkatan dan pembangunan daerah-daerah tujuan wisata.70 32.00 174.3 1975 199.86 1. Dalam upaya mengembangkan obyek wisata yang tersebar di 10 DTW dan beberapa propinsi lainnya tersebut. Selama Pelita III telah dilakukan langkah-Iangkah pembinaan dan pengembangan pariwisata.68 ARUS LALU LINTAS POS DAN GIRO.16 20.771) 1983 348 2.064.60 445.tus tahun 1984 telah dilaksanakan studi perencanaan pengembangan.52 1973 176.56 471.29 152.063. baik yang berupa rencana induk perencanaan.29 1976 200. DKI Jakarta.29 840.850. Pembinaan dan pengembangan obyek wisata sejak Pelita III hingga tahun pertama Repelita IV terutama ditujukan pada 10 daerah tujuan wisata (DTW) yaitu propinsi Sumatera Utara.5 23.43 4. Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. juga dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan devisa.8 27.74 967.98 45.45 7.908.81 1978 252.5.94 1980 276.8. Daerah Istimewa Yogyakarta.3 317.90 1984 2) 163.526. Sumatera Barat.933.208.37 20.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. Jawa Tengah. telah dilakukan berbagai usaha antara lain pembebasan visa selama 2 bulan bagi wisatawan dari 26 negara posaran wisatawan yang potensial.2 1.9 1969 147 97.414.81 1970 159 106.705.65 32.08 1982 299.9 124.5 204.63 59. Jawa Timur.23 325. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agus.71 1977 236.84 426. tapak kawasan dan detil desain Departemen Keuangan RI 237 .31 183.80 138.795.48 1971 181. Kepariwisataan Pembangunan di bidang pariwisata diarahkan selain untuk meningkatkan dan memperluas kesempatan kerja serta kesempatan berusaha.65 1974 187.23 2.7 660.75 1.569. 1969 -1984 Peredaran Tabungan Surat pos Weselpos dan cekpos Bank Tahun (juta ) ( mityar ( juta ( mityar 14.05 26.26 499. dan wisata remaja. Bali. serta pengembangan mutu produk wisata Indonesia.113.48 121.61 2.34 15.42 58.19 1. kemudahan keimigrasian.17 99.06 1981 1) 272.358.53 1972 196 157.42 42.325.56 1979 265.

1) 42.046 orang.2 8.5 113.156 ) 38.8 per malam sehingga jumlah seluruh pengeluaran wisatawan asing mencapai sekitar US $ 439.7 malam per kunjungan. jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia baru sebanyak 592.1 112.282 638. Sed:mgkan guna menunjang ke1ancaran arus wisatawan sampai ke DTW.6 .960 21.000 313.233 129. Tabel VII.855 orang. untuk mempromosikan dan menjual produk wisata Indonesia.3 .4 48.300 2) 561.850 221.1) 42.360 34.452 414 54.781 2) 545 22. diusahakan peningkatan prasarana.8 7. penerbangan borongan yang langsung ke tempat obyek wisata.237 453 70. Perkembangan bidang kepariwisataan dapat diikuti melalui Tabe1 VII.7 2) 86.179 242 27.6 .575 2) 468.8 1.1) 5.855 436 439.1) 11.627 592. Dalam rangka perintisan pengembangan obyek-obyek wisata di luar 10 DTW.5 juta.393 2) 464 81.406 2) 501. dengan pengeluaran rata-rata sebesar US $ 58. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 7.1) 31.430 295 250.6 10.928 38.356 433.139.972 86. dalam tahun 1983 telah dilakukan usaha-usaha dan kegiatan pemasaran melalui koordinasi dan kerjasama terpadu guna menghadapi persaingan yang cukup ketat di pasaran pariwisata internasional.925 401.510 270.0 2 38.3 53. dalam tahun pertama Repe1ita IV te1ah dipersiapkan pengembangan pariwisata di tiga propinsi yaitu Riau. Sedangkan lama tinggal di Indonesia ratarata bagi wisatawan asing dalam tahun 1983 adalah 11.614 467 94.398 94. Dalam tahun 1982.69 PERKEMBANGAN DI BIDANG PARIWISATA.319 359 16. serta pemandu wisata.046 426 358.293 437 62.100 2) 297 10. sarana dan penunjang lainnya seperti tempat penginapan.671 178.69. Kegiatan di DTW tersebut telah menghasilkan peningkatan arus wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia.1983 Wisatawan Kamar hotel Biro Penerimaan Tenaga kerja (orang) (buah ) (juta US $) (orang) (kamar) 2.151 3) 409 309.303 2) 253 40.048 4.621 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 3) 1983 1) Data tidak tersedia 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Untuk meningkatkan arus wisatawan baik asing maupun domestik.390 3. Bengkulu dan Kalimantan Tengah.178 3) 330 289. jasa biro perjalanan. Kegiatan dan upaya tersebut antara lain meliputi pemasangan iklan pada media internasional. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 638.9 .9 persen.308 2) 600. Selain itu juga dilakukan pembuatan bahan promosi/cetakan yang bertemakan "Indonesia destination of endless diversity" (Indonesia Departemen Keuangan RI 238 . 1969 .3 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun lanjutan pembangunan fasilitas obyek-obyek wisata di DTW yang te1ah mantap pengembangannya.278 3.300 12.766 366.

Bila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru mencapai 426 buah perusahaan. jumlah tempat menginap yang telah mendapatkan klasifikasi hotel mencapai sebanyak 283 buah hotel berbintang dengan kamar sebanyak 20. Demikian pula dengan biro perjalanan. yang terdiri atas biro perjalanan umum (BPU) sebanyak 185 buah perusahaan. Jawa Timur. program dan kegiatan yang dilakukan Pemerintah di bidang kepariwisataan. pembinaan dan pengembangan wisata remaja di empat daerah. yang selalu diterbitkan setiap tahun. Sulawesi Tengah dan Maluku.090 buah. cabang biro perjalanan umum (CBPU) 108 buah perusahaan. maka berarti terdapat peningkatan usaha baru sebanyak 10 buah perusahaan atau sebesar 2. hotel-hotel dan biro perjalanan di dalam negeri. Melalui kerjasama dengan KBRI di luar negeri.3 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 adalah tempat tujuan yang beraneka ragam tanpa putus-putusnya). dalam setiap kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia sebagai negara tujuan wisata.537 buah. Di samping itu perwakilan Pusat Promosi Pariwisata Indonesia (P3I) di luar negeri juga telah berperanserta. Kegiatan bina masyarakat dimaksudkan untuk membimbing. dilakukan peningkatan kerjasama dengan media masa guna menyebarkan informasi kepariwisataan dan hasil-hasilnya. oleh karena dalam tahun 1983 pelaksanaan klasifikasi hotel terpaksa ditunda yang disebabkan adanya resesi dunia. Departemen Keuangan RI 239 . Garuda Indonesian Airways. Hal itu sekaligus merupakan kesempatan bagi industri dan perusahaanperusahaan untuk melakukan kontak dagang dengan industri pariwisata dari berbagai negara yang ikut serta. Selain itu telah pula digalakkan wisata di kalangan para remaja melalui pengadaan bahan-bahan informasi berupa buku petunjuk perjalanan wisata remaja. Program tersebut ditujukan antara lain bagi kalangan pengusaha/pedagang dan wartawan dengan cara peninjauan langsung ke obyek-obyek wisata. budaya dan alam serta wisata marina. prosedur dan unsur-unsur lainnya yang berkaitan dengan kedatangan wisatawan asing di Indonesia. sedangkan yang belum diklasifikasikan berjumlah sebanyak 792 buah dengan kamar sebanyak 18. dan agen perjalanan (AP) sebanyak 143 buah perusahaan. yaitu meliputi sejarah. pelayanan. Posisi ini tidak berbeda dengan keadaan tahun 1982. dan pemuka-pemuka organisasi dan masyarakat. pengendalian. dan mengarahkan masyarakat untuk mendukung kebijaksanaan. secara aktif. yaitu Kalimantan Barat. Dalam tahun 1983. Di samping itu juga dilakukan monitoring. yang memperoleh ijin usaha dalam tahun 1983 tercatat sebanyak 436 perusahaan. Sementara itu untuk memperkenalkan secara lebih mendalam mengenai atraksi dan fasilitas wisata Indonesia. Untuk menunjang kegiatan tersebut. untuk mengetahui fasilitas. telah diselenggarakan widya wisata. serta meningkatkan sadar wisata dari para pejabat.

Di samping itu bidang pengairan telah pula menunjang kegiatan sektor. Selanjutnya kegiatan pemasaran dan promosi baik di dalam maupun ke luar negeri semakin ditingkatkan melalui pemasangan iklan dan penyebaran informasi mengenai atraksi dan fasilitas wisata Indonesia. kini sedang dipersiapkan Rancangan Undang-undang Kepariwisataan Nasional. Untuk menunjang perkembangan pariwisata. Sementara itu guna membantu kelancaran arus wisatawan asing clari luar negeri. bila dibandingkan dengan tahun 1982. dilakukan peningkatan pemasaran dan promosi yang terpadu dan agresif berdasarkan penelitian yang menyeluruh.9. Berbagai kebijaksanaan tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan arus wisatawan pada waktu yang akan datang. dan peningkatan atraksi wisata yang akan dapat meningkatkan clara saing produk wisatawan Indonesia. yang antara lain disebabkan adanya kebijaksanaan Pemerintah untuk meningkatkan biaya fiskal perjalanan ke luar negeri. kebijaksanaan tersebut telah menurunkan jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Singapura sebesar 38 persen dalam tahun 1983.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pariwisata dalam negeri pada tahun pertama Repelita IV mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Pengairan Pembangunan di bidang pengairan dititikberatkan pada peningkatan produksi pangan terutama beras. serta pelayanan telekomunikasi di tempat menginap. cipta karya dan bina marga telah menunjukkan hasil yang semakin nyata di dalam menunjang dan mendukung keberhasilan pembangunan sektor-sektor lain.1.9. Pekerjaan umum Pembangunan di bidang pekerjaan umum yang meliputi bidang pengairan. Hal tersebut tercermin antara lain dari tercapainya sasaran fisik sejak tahun pertama Pelita I sampai dengan Pelita III. sehingga dengan peningkatan produksi padi tersebut pada gilirannya pendapatan para petani juga dapat ditingkatkan. Pelaksanaan pembangunan yang dilakukan dalam tahun pertama Repelita IV merupakan kesinambungan dari tahap-tahap Repelita sebelumnya. 7. antara lain berupa penambahan pintu masuk penerbangan dan pintu masuk pelabuhan laut.sektor lainnya. Di lain pihak. yakni melalui usaha intensifikasi dan ekstensifikasi areal persawahan. 7. Selain itu telah pula disempurnakan koordinasi pemanfaatan obyek wisata. seperti pembangunan waduk serba guna yang dapat dimanfaatkan untuk Departemen Keuangan RI 240 . Dalam rangka itu antara lain dilakukan pembukaan areal persawahan baru terutama di luar pulau J awa. dan sekaligus dimaksudkan untuk memperkokoh kerangka landasan dalam pencapaian sasaran Repelita IV.

300 hektar. Dalam tahun 1982/1983 telah dilakukan perbaikan dan peningkatan areal irigasi seluas 72. para pemilik tanahnya juga harus menunjukkan partisiposi yang tinggi dalam program irigasi dan pencetakan sawah baru.000 hektar. Sedangkan untuk menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat.561 hektar. serta penyelamatan hutan. Sedangkan proyek-proyek yang sampai dengan akhir Pelita III sudah atau hampir terselesaikan antara lain berupa rehabilitasi jaringan irigasi utama Cisadane seluas 40. serta Lombok Se1atan. Pekalen Sampean seluas 229.000 hektar. pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan penyediaan air industri. Delta Brantas seluas 32.100 hektar. Adapun hasil-hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan Pelita III meliputi perbaikan dan peningkatan irigasi seluas 386. Hal ini terutama diterapkan pada areal transmigrasi.bih cepat dan tepat melalui pemanfaatan sumber-sumber clara alam yang ada.000 hektar dan Tabo-tabo seluas 11. guna mempercepat jangkauan fungsional pelayanan produksi dalam kawasan yang telah dikembangkan.000 hektar. Selain itu guna melindungi kawasan pemukiman masyarakat pedesaan dan masyarakat lainnya.400 hektar dan 45. pembangunan jaringan irigasi baru.000 hektar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan areal pertanian. telah disediakan air baku yang memenuhi syarat-syarat kesehatan bagi daerah pemukiman. Sementara itu dalam tahun pertama Repelita IV te1ah dimulai pembangunan irigasi tersier dan drainase di daerah irigasi Cirebon. pembangunan jaringan irigasi baru dititikberatkan pada pembangunan irigasi sedang dan kecil. Sedeku seluas 30. dengan prioritas utama pada lokasi-lokasi yang memenuhi persyaratan yang ditentukan. pembangunan jaringan irigasi baru seluas 437.600 hektar.000 hektar. Hal itu dilakukan dengan meningkatkan pelayanan produksi. Madiun. Jawa Timur. Pamali Carnal seluas 30. sehingga mampu memberikan pelayanan yang le. tanah dan air seluas 587. serta penyelamatan hutan. sehingga program pembangunan Departemen Keuangan RI 241 . Serayu. Persyaratan dimaksud adalah se1ain lokasi yang bersangkutan sangat memerlukan pembangunan irigasi guna menunjang peningkatan produksi pertanian.271 hektar.500 hektar. dan kemudian dalam tahun 1983/1984 telah mencapai seluas 88.468 hektar. Ciujung seluas 24. telah dilakukan pengamanan terhadap daerah yang peka terhadap bencana banjir. Program pembangunan di bidang pengairan yang dilaksanakan dalam Pelita III mencakup masalah perbaikan dan peningkatan irigasi. dilakukan pula penelitian. tanah dan air. pengembangan daerah rawa.651 hektar. Gambarsari seluas 20. survai. Dalam waktu yang sarna.271 hektar. penyelidikan dan perancangan pengembangan sumber-sumber air. Se1ain itu secara intensif juga mulai dilaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi di daerah Semarang Barat dan Simalungun. yang masing-masing mencakup wilayah se1uas 19. pengembangan daerah rawa seluas 437. Untuk menunjang kegiatan tersebut.

Cidurian se1uas 9. dan Timor. Lampung. Lombok. Hasil yang telah dicapai dalam tahun terakhir Pelita III di bidang pengembangan daerah rawa meliputi areal seluas 86. dan Kalimantan Selatan. Way Rarem. Dalam tahun pertama Repe1ita IV pembangunan daerah rawa masih me1anjutkan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan se1ama Pe1ita III. Way Jepara se1uas 6. masing-masing adalah se1uas 108. Untuk seluruh proyek terse but sudah dapat dise1esaikan jaringan irigasi utamanya. Teluk Lada. kecil dan sederhana. Sumatera Selatan. tanah dan air dimaksudkan guna meningkatkan pengamanan Departemen Keuangan RI 242 . Sungai Dareh Sitiung.729 hektar. Kegiatan lain daripada program ini adalah pengembangan air tanah bagi daerahdaerah pertanian yang berlahan kering dan rawan yang langka air permukaan. Bali. . Jambu Aye.600 hektar dan Way Pangubuan seluas 5. Batang Gadis. Kalimantan Barat. Sedangkan hasil yang dicapai selama Pelita III meliputi areal seluas 456. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Se1ain dilakukan pengembangan irigasi sedang. Penyelamatan hutan. juga dimaksudkan untuk memperluas dan memperbaiki daerah pemukiman penduduk.189 hektar. yaitu dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984. Wawotobi. te1ah dilaksanakan melalui kegiatan pengembangan pengairan posang surut di daerah Riau. Kalimantan Barat. Dalam hubungan ini standar prasarana reklamasi daerah rawa te1ah ditingkatkan. seperti daerah Yogyakarta Se1atan.900 hektar. Jawa Tengah. Jambi. Sumatera Barat. Kegiatan tersebut juga mencakup proyek reklamasi rawa bukan posang surut yang terdapat di daerah Aceh. Ciletuh. Jawa Timur.680 hektar. dan Dumoga. Sumatera Selatan. Sumatera Utara. Bali. Lodoyo se1uas 12.400 hektar.500 hektar.000 hektar. agar dapat dilakukan pengaturan air dengan lebih baik.607 hektar dan 39. Gumbasa seluas 7. Hasil-hasil yang te1ah dicapai di bidang pembangunan irigasi baru se1ama dua tahun terakhir pe1aksanaan Pe1ita III. Selama masa Pelita III te1ah dibangun jaringan irigasi baru pada areal se1uas 437. Jambi. Pemanfaatan daerah rawa selain ditujukan untuk memperluas areal pertanian yang ada.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jaringan irigasi terse but sekaligus dapat menunjang keberhasilan program transmigrasi. dan dengan biaya peme1iharaan yang lebih rendah.271 hektar antara lain me1iputi proyek irigasi Krueng Jrue Kiri se1uas 2. Riau. Be1itang se1uas 19. Adapun proyek-proyek yang masih terus ditingkatkan pembangunannya me1iputi proyek irigasi Krueng Baro. yang sebagian besar merupakan lahan yang potensial untuk usaha tani.200 hektar.500 hektar. Bengkulu. juga dilanjutkan pembangunan prasarana irigasi baru yang lebih besar. sedangkan jaringan tersier dan drainasenya sedang dalam tarat penyelesaian. Kalimantan Timur. antara lain berupa penyempurnaan jaringan reklamasi daerah rawa serta perluasan dan penambahan areal pertanian baru. Pada Waras. Kedu Selatan.

Selama 5 tahun Pelita III telah berhasil dilakukan penyelamatan hutan. tanah dan air seluas 587. pembuatan sudetan. Selain itu program ini juga dimaksudkan untuk mengamankan sungai-sungai yang merupakan sumber-sumber air bagi jaringan irigasi yang telah ada. seperti waduk Wonogiri yang sudah berfungsi dan Wadas Lintang yang sedang dalam tahap penyelesaian. perlindungan dan perkuatan tebing. yang dilaksanakan secara khusus melalui proyekproyek pengaturan dan pengamanan sungai besar. pembuatan saluran banjir. dan daerah industri terhadap gangguan bencana banjir. gunung Semeru. keperluan air industri untuk pembangkit tenaga listrik serta kebutuhan air di pelabuhan. yaitu berupa pengerukan dasar sungai. Selain untuk pengendalian banjir. pembuatan pintu-pintu banjir. proyek itu juga dimaksudkan untuk menunjang sektor industri. gunung Kelud. dan dewasa ini secara langsung telah dapat menunjang program intensifikasi produksi pertanian. Proyek-proyek terse but terdiri atas proyek Bengawan Solo. sungai Brantas dan pengendalian banjir Jakarta. gunung Agung dan gunung Galunggung. Sehubungan dengan Departemen Keuangan RI 243 .601 hektar dan 63. Dalam hubungan ini. maka dilakukan pembangunan dan pengendalian kantong posir (check dam) serta tanggul. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi pengaturan dan pengamanan sungai. sungai Arakundo. Pembangunan jaringan tersier dilaksanakan melalui pemanfaatan jaringan-jaringan irigasi yang telah dibangun. Perumahan rakyat dan pemukiman Salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dilakukan melalui peningkatan pembangunan di bidang perumahan rakyat dan pemukiman.9.573 hektar. kebutuhan air bersih untuk pemukiman penduduk.2. daerah pemukiman penduduk. yaitu tercapainya areal seluas 1. Di samping itu juga ditujukan untuk mengembangkan pemanfaatan sumber-sumber air sungai yang memiliki potensi tinggi dalam memenuhi keperluan sektor pertanian. telah dilaksanakan pula pembangunan waduk-waduk besar. perluasan aliran. Pengutamaan kegiatan pada program jaringan tersier. sungai Ular. Citanduy. dalam Pelita III telah meperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan. 7.680.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 daerah produksi pertanian. Untuk menanggulangi bencana banjir lahar sebagai akibat dari meletusnya gunung-gunung berapi seperti di sekitar daerahdaerah gunung Merapi.698 hektar. baik bagi para petugas maupun bagi penduduk setempat. Cisanggarung. seperti pembangunan pembangkit tenaga listrik dan penyediaan air. di antaranya yang dilakukan dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 masing-masing seluas 248. baik untuk keperluan industri maupun rumah tangga. serta latihan penanggulangan banjir.100 hektar. pembuatan tanggul.

di samping tetap memperhatikan aspek-aspek pemerataan dan keterjangkauan khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dan menengah. penanggulangan sampah lingkungan. perkreditan. perbaikan kawasan pusat kota bagi kota-kota sedang dan kecil termasuk lingkungan kawasan posarnya. Kebijaksanaan pembangunan di bidang pemukiman rakyat sangat erat kaitannya dengan kebijaksanaan di sektor lainnya seperti kependudukan. dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan perbaikan kampung pada 190 kala.000 desa pada 200 kota. Departemen Keuangan RI 244 . pemugaran perumahan desa dan pembinaan yang menunjang kegiatan tersebut. terutama yang berkaitan dengan masalah pembiayaan. perluasan kesempatan kerja. produksi bahan bangunan lokal.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 itu. Sehubungan dengan itu. Program perumahan rakyat mencakup perintisan pemugaran perumahan desa. Sehubungan dengan itu kini sedang dikembangkan suatu sistem yang lebih terarah dan terpadu. Kegiatan perbaikan kampung di daerah perkotaan mencakup bina lingkungan. perintisan perbaikan lingkungan perumahan kota. yang antara lain berupa perbaikan jalan lingkungan dan jalan setapak. meliputi areal seluas 3.980 hektar. Pembangunan perumahan rakyat dan pemukiman tersebut pada dasarnya merupakan tanggung jawab masyarakat itu sendiri dengan mendapatkan bantuan dan pembinaan dari Pemerintah.600 penduduk di berbagai propinsi.220 orang penduduk kampung. serta riset dan teknologi. yang dapat memberikan manfaat langsung kepada 5. perbaikan saluran pembuangan air hujan. Pembangunan perumahan rakyat terutama ditujukan untuk meningkatkan perbaikan kampung/lingkungan pemukiman kota. serta pengembangan kredit pemilikan rumah (KPR). Adapun secara keseluruhan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah berhasil dilaksanakan perbaikan kampung seluas 17. pembangunan perumahan rakyat. perintisan peremajaan kota.701 hektar yang dapat memberikan manfaat bagi 1. serta kegiatan-kegiatan lainnya yang ditujukan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah perkotaan. pemukiman serta tataguna tanah perkotaan dan pedesaan. pembuangan air limbah rumah tangga dan pengadaan air bersih. kesehatan lingkungan. pembinaan kesejahteraan ibu dan anak (PKK). keserasian pembangunan daerah.436. pembangunan perumahan rakyat dan pengembangan pemukiman penduduk diarahkan untuk dapat tersebar ke berbagai lokasi pemukiman yang meliputi sekitar 6. Kebijaksanaan umum yang ditempuh di bidang ini antara lain dengan melibatkan masyarakat sebanyak mungkin.183. yang sebagian besar penduduknya berpenghasilan rendah. terutama yang menyangkut peningkatan mutu kehidupan masyarakat banyak yang berpenghasilan rendah. gedung sekolah dasar. Kegiatan tersebut juga berupa pengadaan sarana fasilitas sosial lainnya seperti Puskesmas. bina usaha dan bina manusia. pertanahan.

sehingga seluruhnya berjumlah 192.050 49.576 4.090 4. 27.386 12.584 3. terdiri atas 28. 50. 9. 5.523 12.018 4.680 unit rumah sederhana.030 unit rumah sederhana.628 3.479 3.504 171 278 500 92.886 unit rumah. terdiri atas 787 unit rumah inti.596 1.441 1983/1984 1) Rumah inti Jumlah 606 606 638 787 706 727 1.518 2.466 158 304 432 238 218 806 482 281 389 8. Dalam tahun 1983/1984.856 746 2.988 148 935 2. sehingga keseluruhannya berjumlah 185.230 200 11. 17.734 7.299 935 24.212 400 600 1.594 1. 22.094 158 286 444 286 158 510 1.314 333 1.366 Rumah Jumlah sederhana 4. 10.552 5.212 9. 4.200 9.508 830 830 4. Perkembangan jumlah perumahan yang dibangun oleh Perum Perumnas dapat dilihat pada Tabel VII.323 unit rumah dan 104. 24.uk rumah susun don RKTM Rumah sederhana 3.078 200 216 216 216 500 500 216 216 300 502 304 806 200 32 120 656 656 32 688 340 400 400 400 134 480 480 2.000 612 612 600 200 700 500 452 600 450 540 306 680 986 148 406 1.500 2. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 juga telah seksai dibangun sebanyak 1.8642) 522 2. yang bertujuan untuk membangun perumahan rakyat bagi mereka yang berpenghasilan menengah dan tinggi. 11.009 1.500 6. dan 640 unit rumah susun. 3.166 34 4.523 unit rumah inti dan 760 unit rumah susun.480 1. Di samping itu terdapat pula perumahan yang dibangun oleh PT Departemen Keuangan RI 245 .268 400 140 1. BTN juga mengadakan kerjasama dengan perusahaan pembangunan perumahan swasta. 8.192 1.289 unit rumah dan 104.457 500 1.234 2. 6.500 444 198 21.774 2. Perum Perumnas telah membangun sebanyak 12.704 1.696 23. 23.400 4.326 1.186 9.032 522 300 822 522 140 58 7.606 15.563 unit rumah.087 9.300 2.014 100 100 508 354 862 514 500 764 534 140 324 324 534 534 300 500 1.718 3.014 500 1.166 3. Selama Pelita III.192 1.342 1.712 29.610 19.730 34 64 64 1. Pengadaan perumahan rakyat bagi masyarakat berpenghasilan rendah selama ini telah dilaksanakan melalui Perum Perumnas yakni berupa pemberian fasilitas KPR dari Bank Tabungan Negara (BTN).948 368 11. Yogyakarta Jawa TImur BaIi Nusa Tenggara Barut Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Belatan Kalimantan Timur 200 Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan 1.872 6.l.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Hal ini berarti bahwa selama periode tersebut pelaksanaan program perbaikan kampung telah dapat melampaui target yang direncanakan dalam Repelita III seluas 15.024 unit rumah susun. 8.805 27. 16.542 1.563 unit rumah. 25.020 3.900 194 1. Selain dengan Perum Perumnas.900 2.504 250 282 282 4 278 200 500 300 200 500 300 300 200 200 200 356 216 572 9.838 134 250 - Rumah 4) Jumlah sederhana 388 13.136 478 10 1.736 1.264 240 1. 1978/1979 . Sedangkan yang dibangun tanpa dukungan KPR masing-masing telah mencapai sebanyak 81.230 3.176 8 1. Adapun selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III.003 Propinsi I. D.412 368 500 90 23. 71 PEMBANGUNAN PERUMAHAN RAY AT OLEH PERUMNAS.000 hektar.323 unit.078 1978/1979 Rumah inti 898 12.288 Jumlah I) Angkadiperbaiki 2) Termasuk Tangerang dan Depok 3) Sejak tahun 1980/1981 pada rumah sederhana termasuk rumah susun 4) Sejak tahun 1983/1984 rumah sederhana terma.046 1.1983/1984 ( dalam unit rumah ) 1979/1980 1982/1983 1980/1981 1981/1982 Rumah Rumah3) Rumah Rumah 3) Rumah Rumahh3) Rumah inti Jumlah sederhana inti Jumlah sederhana inti inti Jumlah sederhana 388 388 388 388 388 3.230 1. 12. Tab eI VII.846 1.l.852 unit rumah. 7.891 2. jumlah keseluruhan rumah siap huni yang telah selesai dibangun mencapai 81. hasil yang telah dicapai oleh Perum Perumnas dan non Perumnas yang mendapat dukungan KPR masing-masing sebanyak 88.250 1. 110 unit rumah sederhana. 19. 13. 20.580 42.666 2.070 Sulawesi Tenggara Maluku Irian Jaya Timor Timor 49.264 534 216 300 502 200 688 43 400 2.060 1.946 1.230 1. Ace h Sumatern Utara Sumatern Barat Ria u J ambi Swnatern Selatan Bengkulu Lampung DK1Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.537 unit.200 4.252 1.386 1.517 13.098 882 1. 14.190 1.742 2.216 5.269 unit rumah inti dan 3. 18.654 7.953 20.500 3.963 rumah siap huni yang terdiri atas 3.222 768 20.764 600 1.078 200 120 340 1. 2.620 8.212 1'49 1.500 1. 26. 15.914 12.764 1.078 1.71. 21.510 7.964 Pembangunan rumah dengan dukungan KPR dari BTN telah pula ditingkatkan dan dikembangkan hampir di seluruh ibukota propinsi dan ibukota kecamatan.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Papan Sejahtera atas dukungan KPR. Kegiatan penelitian di bidang air bersih dan kesehatan lingkungan pemukiman. Adapun perusahaan-perusahaan pembangunan perumahan swasta yang tergabung dalam perusahaan Real Estate Indonesia (REI). pengadaan sarana mandi-cuci-kakus (MCK). telah dilaksanakan dengan pembuatan model bangunan sederhana pengolah air yang disebut embung-embung. Kegiatannya selain mencakup pemugaran rumah-rumah desa. Selama Pelita III telah dilaksanakan pemugaran perumahan di 4. peningkatan keterampilan.923 desa yang terse bar di 25 propinsi kecuali propinsi OKI Jakarta dan Irian Jaya. yang dimaksudkan untuk mencukupi keperluan air bersih di propinsi Nusa Tenggara Timur.243 unit rumah. motivasi. di samping juga telah dilakukan di 120 desa dalam rangka penanggulangan bencana alam atau penanggulangan darurat. Kegiatan terse but antara lain berupa pembinaan umum pembangunan perumahan rakyat.281 unit. maka dilakukan pula kegiatan-kegiatan penunjang yang bertujuan untuk memudahkan pelaksanaan program perumahan rakyat secara keseluruhan. pembuatan saluran pembuangan air kotor sepanjang 25. Selain itu juga dimaksudkan untuk menunjang pelaksanaan proyek perintis perbaikan lingkungan perumahan desa (P3LPD). dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran. juga meliputi perbaikan jalan lingkungan desa. dengan mengarahkan agar dapat dilakukan secara mandiri melalui rumah percontohan dan penyuluhan yang diberikan. Pada dasarnya kegiatan tersebut merupakan usaha gotong royong masyarakat desa yang bersangkutan dengan mendapatkan bantuan dan bimbingan dari Pemerintah. juga telah banyak memberikan sumbangannya dalam pembangunan perumahan. dan pengadaan peralatan penukangan sebanyak 1.444 meter.214 meter. proyek perintis perbaikan lingkungan perumahan kota (P3LPK). perintisan pengadaan produksi bahan-bahan bangunan setempat. serta penelitian perumahan rakyat baik yang bersifat nasional maupun regional. perbaikan kampung dan pemugaran perumahan desa. serta perintisan unit produksi bahan bangunan setempat. Adapun unit usaha pengolahan air bersih yang menggunakan Departemen Keuangan RI 246 . pengetahuan. pembangunan sarana MCK sebanyak 993 unit. Pemugaran perumahan pedesaan dimaksudkan agar sebanyak mungkin rakyat desa dapat mendiami rumah dan lingkungan yang sehat. Sedangkan pembangunan jalan lingkungan desa telah diselesaikan sepanjang 990. Selain pengadaan perumahan rakyat. dan juga aparat Pemerintah daerah. serta usaha-usaha lain di bidang pemukiman.281 unit. khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas. yang selama Pelita III telah mencapai sebanyak 1. kemampuan dan keterampilan masyarakat luas. Pembinaan di bidang pembangunan perumahan rakyat tersebut telah dilaksanakan melalui Pusat Informasi Teknik Bangunan (PITB). penyediaan air bersih. pengadaan sarana air bersihsebanyak 1.

sehingga dapat melayani penduduk dengan baik terutama berdasarkan kemampuannya sendiri. Peningkatan status BPAM menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (POAM).309 buah. Dengan demikian. terus diusahakan. dalam tahun 1983/1984 telah dibentuk 28 badan pengelola air minum (BPAM). khususnya bagi penduduk yang berpenghasilan rendah. Sejalan dengan makin meningkatnya kebutuhan air bersih. Di samping itU selama periode tersebut juga telah berhasil dilakukan pengadaan air di 627 IKK.520 jiwa di 25 propinsi kecuali Sumatera Barat dan Jawa Barat. rnaupun kota-kota kecil. 390 di antaranya ditangani dengan sistem IKK sepenuhnya. sedangkan sampai dengan tahun terakhir pelaksanaan Pelita III jumlah seluruh BPAM telah mencapai 150 buah.651 hidran umum yang mampu melayani 1. telah dibangun di propinsi Kalimantan Selatan. dan 98 sisanya melalui Inpres kesehatan. sedangkan untuk pembangunan sarana pembuangan air kotor telah selesai dibangun instalasi pengolahan air kotor. Dalam tahun 1983/1984 telah dapat diposang sambungan rumah sebanyak 69. serta sambungan ke rumah-rumah guna mencapai tingkat pelayanan penduduk semaksimal mungkin.137. selama lima tahun pelaksanaan Repelita III jumlah sambungan rumah yang telah dipasang mencapai 227. serta pembangunan sarana pembuangan air kotor dan saluran pembuangan air hujan. telah dapat dilakukan penambahan kapositas produksi air bersih sebesar 5. tersebar di 710 kota besar.221. terus dilakukan upaya pengadaan dan penyediaan air bersih yang dapat menjangkau baik kota-kota-besar.5 liter per detik untuk kota.660 jiwa penduduk di 357 kota. Sehubungan dengan itu. dan sejalan dengan itu dilakukan pula usaha peningkatan keterampilan tenaga-tenaga teknisi air bersih. dan hidran umum sebanyak 9. Kegiatan program penunjang air bersih dilakukan untuk mempersiapkan. Pembangunan di bidang sanitasi lingkungan meliputi kegiatan kebersihan kala. selama Pelita III telah dilaksanakan perbaikan sarana lingkungan kota termasuk persampahan di 15 kala. yang dapat melayani penduduk sebanyak 4.254 liter per detik.082. termasuk Departemen Keuangan RI 247 .322 buah. sedang dan kecil termasuk IKK. Dalam tahun terakhir pelaksanaan Pelita III.146 buah dan 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tanah gambut sebagai bahan pengolahannya. Kegiatan terse but ditujukan untuk meningkatkan mutu lingkungan pemukiman terutama dalam mencegah berjangkitnya penyakit. Hal itu dilaksanakan melalui peningkatan penyediaan dan pemasangan hidran umum. Sejalan dengan itu. 139 dengan sistem BNA (basic need approach). mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan proyek air bersih di berbagai kala di seluruh propinsi. telah mencapai 18. dalam Pelita III telah dilakukan peningkatan dan pemerataan pelayanan air bersih. Sedangkan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III kapositas produksi air bersih. Dalam hubungan ini. termasuk ibukota kecamatan (IKK) yang terdapat di seluruh propinsi.

terutama arus-arus jalan yang mempunyai nilai sosial dan ekonomi yang tinggi. serta rencana tataruang daerah yang diperuntukkan bagi sebanyak 61 daerah yang tersebar di berbagai propinsi di seluruh Indonesia. serta program pembangunan jalan dan jembatao baru. 7. Di daerahdaerah yang telah menunjukkan perkembangan yang relatif tinggi. peraturan bangunan nasional. sehingga Departemen Keuangan RI 248 . serta model peraturan setempat di kola kabupaten dan kotamadya. Di lain pihak. masyarakat pemakai jalan ikut membiayai jalan-jalan baru melalui sistem tol. baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah maupun swasta. Dengan demikian prioritas utama kegiatannya diberikan kepada perbaikan dan peningkatan jalan yang menghubungkan antara pusat-pusat produksi dengan daerah-daerah pemasaran dan pelabuhan. dan mendapatkan sinar matahari yang cukup. maka diperlukan pengaturan dan pembinaannya agar pelaksanaan dan pemanfaatannya dapat berdaya guna dan berhasil guna. Sampai dengan tahun 1983/1984 telah dibangun saluran pembuangan air hujan di 25 kala yang tersebar di berbagai daerah. aman dari bahaya kebakaran. peningkatan jalan dan penggantian jembatan. Kegiatan yang telah dilakukan sampai dengan tahun pertama Repelita IV meliputi programprogram rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan. Bidang rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan telah dapat memperbaiki kerusakan-kerusakan setempat pacta ruas-ruas jalan arteri dan kolektor yang telah mempunyai kondisi fisik yang mantap. bebas dari genangan banjir. penunjangan jalan dan jembatan. serta untuk mendorong mobilitas manusia sekaligus mengembangkan dan meratakan pembangunan beserta hasil-hasilnya di seluruh nusantara. prosedur pengadaan bangunan negara. Di sam ping itu pembinaan jaringan jalan ditujukan untuk meningkatkan pengangkutan barang dan jasa dari pusat-pusat produksi ke daerah-daerah pedesaan. serta jalan-jalan yang membuka daerah-daerah yang potensial tetapi masih terisolir. Selain itu kini sedang dilakukan juga pembangunan sarana pembuangan air kotor di kota Bandung.3.9. Selama Pelita III telah disusun rencana tataruang kala sebanyak 176 kota. Prasarana jalan dan jembatan Pelaksanaan pembangunan jalan selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pelayanan jaringan jalan yang tersebar di seluruh Indonesia agar dapat melayani lalu lintas yang semakin berkembang. Mengingat bahwa pembangunan gedung-gedung. semakin meningkat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jaringan pipanya di Tangerang. Jakarta dan Medan. dalam rangka tertib bangunan telah disusun berbagai peraturan antara lain mengenai standar. tidak mudah runtuh. Untuk itu terus ditingkatkan keselamatan bangunan-bangunan umum agar tidak cepat rusak. pedoman pelaksanaan.

selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah mencapai 141. Kegiatan yang dilakukan di bidang penunjangan jalan dan jembatan telah dapat memperbaiki kondisi jalan yang tidak mantap dan kritis menjadi baik.059 meter.272 km. maka pada akhir Petitt III jalan mantap telah meningkat menjadi sebesar 36 persen dan jalan tidak mantap berkurang menjadi 64 persen. sedangkan secara keseluruhan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III mencapai 42. Adapun di bidang penunjangan jembatan.414 km dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 4.868 meter jembatan. Hasil yang telah dicapai selama Pelita III adalah meliputi pembangunan sepanjang 1.848 meter. sedangkan beberapa ruas jalan telah beberapa kali mengalami perbaikan. diantaranya dalam tahun 1982/1983 telah dilaksanakan sepanjang 3. dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 15. Apabila dalam tahun 1982/1983 Departemen Keuangan RI 249 .393 meter telah dilaksanakan dalam tahun 1982/1983 dan 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jalan terse but tetap terpelihara. Hasil yang telah dicapai selama Pelita III meliputi peningkatan jalan sepanjang 90. Selama Pelita III telah dapat ditingkatkan jalan sepanjang 10. sehingga dapat melayani pertumbuhan lalu lintas dalam jangka pendek sebelum jalan tersebut ditingkatkan luasnya. dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 2.212 meter dan 10.527 meter. maka pada akhir Pelita III telah dapat diatasi seluruhnya.308 meter.488 meter dan 24.381 km. Sedangkan peningkatan jembatan selama Pelita III telah mencapai sepanjang 14.384 km jalan dan 6. di antaranya dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984.971 km. Hasil yang dicapai dalam program tersebut selama Pelita III meliputi jalan sepanjang 31. terisolir dan daerah pemukiman transmigrasi.749 meter.448 km. termasuk di antaranya yang dicapai dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 masingmasing sepanjang 8. termasuk di antaranya yang dicapai dalam tahun 1982/1983 sepanjang 9. sehingga mampu memenuhi kebutuhan pertumbuhan lalu lintas yang terus meningkat pada arus-arus jalan tersebut.768 meter dan 7. masing-masing mencapai 36. Di lain pihak jalan mantap dan tidak mantap yang pada akhir Pelita II masing-masing adalah sebesar 13 persen dan 65 persen.887 meter daiam tahun 1983/1984. Dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 telah dilakukan penggantian jembatan sepanjang 8. Sementara itu program peningkatan jalan dan penggantian jembatan telah dapat meningkatkan jumlah jaringan jalan arteri dan jalan kolektor ke dalam kondisi mantap.0'55 meter.841 km. Sedangkan kegiatan rehabilitasi dan pemeliharaan jembatan selama Pelita III telah mencapai 41. yaitu sepanjang 4. di antaranya dalam tahun 1982/1983 sepanjang 18.943 km. Pembangunari jalan baru ditujukan untuk dapat melayani pertumbuhan lalu lintas baik di daerah perkotaan. maupun dalam rangka pembukaan hubungan lalu lintas ke daerah yang terpencil.547 km.708 km. Hasil yang cukup baik tersebut tampak pada kenyataan bahwa jalan kritis yang pada akhir Pelita II masih sekitar 22 persen.412 meter.

selain untuk meningkatkan produksi aspal dalam negeri.326 km. perkebunan dan industri kecil di pedesaan. Kedua lapisan aspal tersebut digunakan untuk kondisi jalan dengan kepadatan lalu lintas sekitar 3.781 meter.943 ton dan 453.568 meter.208 km dalam tahun 1982/1983 menjadi sepanjang 25. Selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah berhasil ditingkatkan penunjangan jalan kabupaten sepanjang 40. Dengan penggunaan cara/sistem tersebut maka dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 masingmasing telah digunakan aspal Buton sebanyak 452.396 meter dan penggantian gorong-gorong sepanjang 59. sistem distribusi. Departemen Keuangan RI 250 . penunjangan jembatan sepanjang 19. dan sistem pengelolaannya. telah dapat digunakan untuk peningkatan jaringan jalan antara lain meliputi lapisan tipis aspal Buton murni (Latasbum) dan lapisan aspal Buton dengan batu pecah agreget (Lasbutag). Hasil penelitian yang dilakukan selama Petita III. Sementara itu guna memperlancar pemasaran hasil produksi pertanian. 72.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jumlah jalan mantap mencapai 12. Berhasilnya pembangunan jalan dan jembatan terse but pada gilirannya telah dapat meningkatkan kelancaran mobilitas antardaerah. juga ditujukan untuk mengadakan penelitian mengenai peningkatan mUlti produksi dalam negeri. Sedangkan jalan agreget padat tahan cuaca (Japat) digunakan untuk kegiatan penunjangan jalan. terutama untuk menghapuskan ruas-ruas jalan pada kondisi kritis dengan kepadatan lalu lintas yang relatif rendah. dalam periode yang sarna jumlah jalan tidak mantap telah diturunkan dari sepanjang 25.000 kendaraan per hari. dengan lebar perkerasan jalan sekitar 7 meter.418 km.956 km.383 ton dan untuk seluruh Pelita III sebanyak 1. Pembangunan di bidang jalan dan jembatan dapat dilihat pada Tabel VII. maka dalam tahun 1983/1984 telah ditingkatkan menjadi 13.399. maupun dalam rangka penyebaran penduduk dan penghapusan isolasi daerah-daerah terpencil.633 ton. Hasil yang dicapai dalam tahun 1983/1984 di bidang penunjangan jalan kabupaten meliputi sepanjang 7. baik yang menyangkut kegiatan perdagangan dan produksi.044 km dalam tahun 1983/1984. Sedangkan jumlah jalan kritis yang dalam tahun 1982/1983 mencapai sepanjang 900 km. Di lain pihak. dalam tahun 1983/1984 telah dapat diperbaiki seluruhnya. telah dilakukan bantuan penunjangan jalan kabupaten. dan penunjangan jembatan sepanjang 51.392 km. Kegiatan tersebut ditingkatkan melalui penyediaan peralatan jalan dan peningkatan kemampuan teknis di lapangan. Sementara itu penggunaan aspal Buton terus dikembangkan.

448 174 15.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 T abe I VII.700 3.834 115 26. pemeliharaan menjadi satu dengan rehabilitasi 2) Dalarn Pelita I dan ll.482 1.956 1. Rehabilitasi 3. diusahakan untuk mempercepat turunnya tingkat kelahiran.5 juta.502 331 1.745 1.825 1.943 10.128 775 1.294 916 148 2.305 8.515 3.916 688 10.787 1.226 1.500 - 1970/71 10. Pemeliharaan 1) 2. telah ditetapkan kebijaksanaan yang bersifat menyeluruh dan terpadu dan dititikberatkan pada perluasan kesempatan kerja yang produktif dan renumeratif.580 1.982 1.103 1982/83 9.583 8. sedangkan dalam periode 1980-1990 diperkirakan menurun menjadi sekitar 2.673 1.419 1. dan sekaligus bertujuan untuk meningkatkan pemerataan pendapatan dan kegiatan pembangunan.928 23.502 840 - 5.154 2.1.3 persen.894 3.1984/1985 1971/72 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 30. yang setiap tahun jumlahnya diperkirakan bertambah sekitar 1.393 2.262 60 12. Guna mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk tersebut.610 375 28. Jumlah penduduk Indonesia dalam tahun 1980 adalah sebanyak 147.272 400 18.488 1983/84 4.887 826 24. Oleh karena itu di dalam melaksanakan pembinaan dan penempatan tenaga kerja. Penunjangan 2) 920 746 27 4.887 829 757 145 8.075 2. Rehabilitas! 3.199 1) Dalam Pelita llI.224 1.514 9.526 5.782 6. Pembangunan baru 5.356 1.074 6.685 221 18.013 3.105 25.317 4.544 507 2.414 3. penunjangan menjadi satu dengan peningkatan 3) Angka sementara 7.387 735 47 6.579 - 1981/82 7. dalam periode 1971-1980 meningkat menjadi sebesar 2.034 1.165 110 8. 1969/1970 .560 913 4.055 1984/85 157 3. Pembangunan baru 5.029 2.700 - 2. Kependudukan Masalah pokok di bidang kependudukan dalam tahun kedua Repelita IV terutama ditandai oleh besarnya jumlah penduduk.464 3.390 3. Pemeliharaan 1) 2.132 1.566 8.0 persen. Penunjangan 2) Jembatan (m) 1. pertumbuhan yang cukup tinggi dan penyebaran yang kurang merata. 184 juta jiwa dan 223 juta jiwa.454 27. Keadaan penduduk tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan bidang ketenagakerjaan.482 4.212 4.1 juta. termasuk daerah-daerah pemukiman baru.381 8. jumlah penduduk Indonesia dalam tahun 1985.10.367 521 16.301 3.502 2. Peningkatan 4.841 2. Kependudukan dan transmigrasi 7.011 5. antara lain melalui perluasan dan intensifikasi pelaksanaan program keluarga berencana ke seluruh wilayah dan lapisan masyarakat.399 1.858 2.889 936 68 21. Kenaikan tersebut terutama disebabkan karena masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk.749 3. terutama dalam mewujudkan lapangan kerja baru bagi angkatan kerja.789 4. Peningkatan 4.72 PEMBANGUNAN DI BIDANG PRASARANA jALAN DAN jEMBATAN. Jika dalam periode 19601971 tingkat pertambahan penduduk adalah sebesar 2.1 persen.10. sebanyak Departemen Keuangan RI 251 . Sementara itu dengan adanya penyebaran penduduk yang kurang merata.779 546 230 2.928 4.010 125 2. tahun 1990 dan tahun 2000 diperkirakan akan meningkat masing-masing menjildi 165 juta jiwa. dan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 158.602 4.730 994 684 51 4.397 1.5 juta orang selama kurun waktu tersebut.651 1969/70 J a I a n (km) 1.108 36. Dengan pertumbuhan yang relatif masih cukup tinggi ter3ebut.579 1. Di samping itu juga oleh adanya struktur umur yang kurang seimbang serta kualitas penduduk yang relatif masih rendah.605 920 111 18.

7.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 98.5 persen per tahun. yang masing-masing luasnya sekitar 26. 69. Dengan adanya ketimpangan penyebaran penduduk tersebut. Sebagai akibatnya apabila dalam tahun 1980 jumlah penduduk yang berumur 0-14 tahun baru mencapai sebanyak 59. Kalimantan dan Sulawesi.73. masing-masing diperkirakan akan meningkat menjadi 64.8 persen. Masalah lain di bidang kependudukan adalah kurang seimbangnya struktur umur penduduk. Sementara itu dengan adanya peningkatan penyediaan fasilitas pendidikan. dan 9. berada di pulau Jawa yang luas wilayahnya hanya sekitar 7 persen dari seluruh wilayah Indonesia. Sebagai akibatnya. jumlah angkatan kerja dalam kelompok umur 10-14 tahun diperkirakan akan terus menurun baik secara proposional Departemen Keuangan RI 252 .6 juta penduduk dalam tahun 1984. jumlah penduduknya hanya sebanyak 31.9 persen dari seluruh angkatan kerja juga berada di pulau Jawa. Perkembangan penduduk Indonesia. yaitu apabila dalam periode 19811985 tingkat kelahiran mencapai 33.1 juta orang dan 76. dalam periode 1986-1990 dan 1990-1995 masing-masing diperkirakan sebesar 31.6 juta dan 11. 27.7 juta orang.72 per seribu.7 juta orang. dalam tahun 1985. dalam tahun 1988 diperkirakan akan meningkat menjadi 71.7 persen dari seluruh wilayah Indonesia.90 per seribu. dikembangkan pula penelitian di bidang kependudukan yang sekaligus dimaksudkan untuk memanfaatkan sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan pembangunan. yang ditandai dengan besarnya jumlah penduduk berusia muda.26 per seribu dan 28.9 juta orang. Dengan demikian kepadatan penduduknya hanya mencapai 67 orang.7 juta.9 juta. di wilayah Sumatera. Oleh karena itu guna memungkinkan pendayagunaan sumber daya alam secara optimal.3 juta.2 juta orang.2 juta jiwa atau 62. Selain itu dalam rangka meningkatkan kesadaran serta pengetahuan di bidang kependudukan. 14 orang dan 60 orang per kilometer persegi. Di lain pihak. Tingkat kenaikan tersebut berarti masih di alas pertumbuhan penduduk dalam periode 1980-1990 yang diperkirakan mencapai sekitar 2. diperkirakan sebanyak 41. maka di satu pihak sumber daya alam di daerah padat penduduk mengalami tekanan eksploitasi yang berlebihan. atau 61. tahun 1990 dan tahun 2000. di samping dialaminya tekanan penduduk yang mencapai kepadatan 747 orang per kilometer persegi. apabila dalam tahun 1983 baru mencapai 63. di lain pihak di daerah yang jarang penduduknya. sumber daya alam tidak dapat dikelola secara efektif. penyebaran penduduk terutama ditujukan pada tercapainya perimbangan yang lebih serasi antara sumber daya alam dan sumber daya manusia. terutama pada seko}ah dasar (SD) dan sekolah menengah tingkat pertama (SMTP).0 persen per tahun. Hal ini terutama disebabkan karena masih cukup tingginya tingkat kelahiran.7 juta orang atau suatu kenaikan rata-rata sebesar 2. Demikian pula halnya dengan jumlah angkatan kerja. kepadatan serta proyeksinya sampai dengan tahun 1984 dapat dilihat pada Tabel VII.6 persen.1 persen dari sebanyak 161.

5 persen dari seluruh angkatan kerja yang ada masih belum tamat SD. dalam periode yang sarna jumlahnya diperkrakan masih cukup besar. sedangkan dalam jangka panjang. pembuatan beras dan Departemen Keuangan RI 253 . Apabila dalam tahun 1983 jumlah angkatan kerja dalam kelompok umur 10-14 tahun mencapai 2. program pembangunan desa dilakukan melalui proyek padat karya gaya baru (PPKGB) dan proyek padat karya jaringan tersier (PPKJT). Sehubungan dengan itu. produktivitas tenaga kerja. dalam tahun 1982/1983 melalui PPKGB dan PPKJT telah dapat diserap tenaga kerja sebanyak 21. penyebaran dan pemanfaatan tenaga kerja khususnya tenaga kerja usia muda. Dalam tahun 1985.9 juta orang. Guna menanggulangi permasalahan tersebut. Namun sebaliknya untuk angkatan kerja muda dalam kelompok umur 15-24 tahun. perkembangan angkatan kerja yang belum tamat SD diperkirakan masih cukup besar. Selanjutnya apabila dilihat dari tingkat pendidikannya.000 orang. dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi terhadap saluran air dan jaringan tersier.0 juta orang.8 juta orang meningkat menjadi 17. antara lain telah ditempuh kebijaksanaan di bidang ketenagakerjaan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun secara absolut. program ini ditujukan untuk perluasan kesempatan kerja bersamaan dengan dilaksanakannya suatu proyek. perluasan kesempatan kerja terutama dihubungkan dengan kebutuhan tenaga kerja setelah selesainya atau berfungsinya proyek tersebut. meliputi program pembangunan desa. saluran air. sedangkan yang telah menamatkan perguruan tinggi hanya mencapai 657.5 juta orang. perluasan kesempatan kerja.801.6 juta orang. yakni meliputi peningkatan informasi posar kerja. program generasi muda dan program peranan wanita. yaitu dari sebanyak 16. Tenaga kerja tersebut dipekerjakan pada pembangunan jalan desa.2 juta orang atau 64. sedangkan yang tamat perguruan tinggi hanya sebanyak 754. yaitu akan meningkat menjadi 42. Sedangkan melalui PPKJT. di samping juga ditanggulangi kekurangan kesempatan kerja sebagai akibat terjadinya bencana alam di beberapa daerah. serta peningkatan penyaluran. dalam tahun 1983 diperkirakan 41. program latihan. Melalui PPKGB. Program pembangunan desa terutama ditujukan untuk mengatasi masalah kekurangan kesempatan kerja bagi tenaga-tenaga penganggur atau penganggur musiman yang kurang terampil di daerah pedesaan. Dalam jangka pendek. dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kerja terutama bagi penduduk yang tinggal di daerah kecamatan miskin dan padat penduduk.200 orang atau 1. Dalam pelaksanaannya.325 hari kerja. dalam tahun 1988 diperkirakan akan menurun menjadi 1. program penyebaran tenaga kerja.0 persen. Untuk itu pelaksanaan operasionalnya akan dituangkan ke dalam berbagai program. antara lain dilakukan pembangunan jalanjalan desa dan prasarana desa lainnya.

dalam tahun 1983/1984 jumlah TKS/ BUTSI yang dikerahkan ke daerah-daerah pedesaan di seluruh Indonesia telah mencapai 5. Dalam lokasi baru tersebut. Sedangkan daJam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.635 orang.941 orang dan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia sebanyak 23. telah dapat ditempatkan sebanyak 84. diberikan.480 orang. antarkerja antardaerah (AKAD) dan antarkerja antarnegara (AKAN). Di samping itu usaha penyebaran tenaga kerja juga dilaksanakan melalui program antarkerja antar lokal (AKAL). Sementara itu pelaksanaan pogram penyebaran tenaga kerja terutama ditujukan untuk menyebarkan dan memanfaatkan tenaga kerja terdidik ke daerah pedesaan. Dengan demikian mobilitas tenaga kerja baik antar jabatan maupun antarlokasi dapat ditingkatkan. baik tenaga kerja sarjana maupun sarjana muda. dalam tahun 1983/1984 dengan jumlah pencari kerja yang terdaftar sebanyak 498. antara lain sebagai tenaga penyempurna administrasi desa.302 orang dan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia seb:inyak 112. program penyebaran tenaga kerja juga dilaksanakan melalui kegiatan antarkerja yang ditunjang oleh informasi posar kerja yang akurat.096 buah kecamatan miskin dan padat penduduk. pelaksanaan program AKAD diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang semakin Departemen Keuangan RI 254 . pelaksana program kejar paket A. Di samping melalui program TKS/BUTSI. Sehubungan dengan itu.892 hari kerja.720.221 orang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 prasarana desa lainnya. serta kegiatan lain yang menunjang pembangunan.1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang baru mencapai 3. tenaga kerja yang diserap telah meningkat menjadi sebanyak 26. gizi dan keluarga berencana. telah dapat ditempatkan sebanyak 15. para tenaga kerja sukarelalbadan usaha tenaga sarjana Indonesia (TKS/BUTSI) bertugas di berbagai bidang pembangunan.940. penyuluh di bidang kesehatan.721 hari kerja. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. dengan jumlah pencari kerja sebanyak 104. di samping juga ikut membantu menyebarkan teknologi tepat guna dan sistem padat karya. Dengan semakin meningkatnya pembangunan.010 orang.693 kilometer dan saluran tersier sepanjang 3. mereka diaktifkan sebagai pelopor pembaharuan dan pembangunan di daerah pedesaan yang tersebar di seluruh propinsi.7 kilometer yang tersebar pada 1. Melalui informasi pasar kerja.815 orang. yang terse bar di 1. keterampilan dan imbalan jasa yang. dari pembangunan/rehabilitasi prasarana dan sarana yang tersebar di 96 kecamatan miskin dan padat penduduknya telah dapat diserap tenaga kerja sebanyak 342.antara lain dapat diketahui jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan menurut jenis pekerjaan. melalui pembangunan/rehabilitasi jalan desa sepanjang 3. . Melalui proyek pengerahan tenaga kerja sukarela.084 kecamatan miskin dan padat penduduk. Dalam hubungan ini. Kemudian dalam tahun 1983/1984.836 tenaga kerja. yang berarti telah meningkat dengan 82.

Kenaikan ini selain disebabkan karena adanya penambahan tenaga instruktur dan perluasan clara tampung daripada BLK-BLK. Dalam tahun 1983/1984. selain melalui pembangunan/rehabilitasi balai latihan kejuruan (BLK). BLK Pertanian (BLKP). Di samping itu juga diberikan kepada beberapa tenagakerja yang sudah mendapatkan lapangan kerja tertentu. Departemen Keuangan RI 255 . Unit Produktivitas Nasional (UPN) dan Mobile Training Unit (MTU) seluruhnya mencapai 98. sedangkan melalui AKAD dan AKAN masing-masing mencapai 9. Sedangkan guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja di luar negeri. 880 orang melalui BPMP dan sebanyak 1. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. telah dapat dilatih tenaga kerja sebanyak 1. terutama yang sudah mandiri. Balai Pengembangan Manajemen dan Produktivitas (BPMP). penyaluran tenaga kerja melalui AKAL mencapai sebanyak 15. juga karena semakin meningkatnya minat para pencari kerja untuk mengikuti latihan. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.138 orang. Hal ini berartitelah terjadi kenaikan sebanyak 16.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 meningkat di luar Jawa. diberikan program latihan dan keterampilan tenaga kerja khususnya kepada tenaga kerja usia muda dan wanita pedesaan yang belum memiliki pengalaman dan keterampilan. Untuk menunjang kegiatan tersebut.734 orang melalui BLKI.583 orang melalui AKAD dan sebanyak 30. pengelolaannya dilaksanakan melalui program AKAN. 19.209 orang. dalam tahun 1983/1984 telah dapat disalurkan tenaga kerja sebanyak 135. terutama dengan terbukanya kesempatan kerja di Timur Tengah.635 orang.346 orang. dengan perincian sebanyak 84. jumlah tenaga kerja yang telah dilatih melalui BLK Industri (BLKI). Sementara itu guna meningkatkan produktivitas tenaga kerja.005 orang atau 19.193 orang. tetapi produktivitas kerjanya masih rendah.836 orang disalurkan melalui AKAL.790 orang melalui AKAN.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang baru mencapai 82. juga diberikan bimbingan kepada kursus-kursus swasta sebagai bagian dari sistem latihan nasional.427 orang dan 11. Melalui program antarkerja tersebut.120 orang melalui MTU.

079 10.128 138.048 161.989 6.103 29.812 9. jalan desa.893 30. sosial-ekonomi para transmigran telah dibangun pula sarana penunjang seperti gedung sekolah.072 147.924 9. Transmigrasi Program transmigrasi terutama ditujukan untuk memperbaiki penyebaran penduduk dan tenaga kerja.13% 3.2. rumah petugas dan rumah pos.48% 3.340 29.563 11. untuk membuka dan mengembangkan daerah pertanian baru.78% 1) Angka sensus 7.rata per tahun 1971 . serta perumahan berikut salafia air minum dan jamban keluarga. Usaha-usaha tersebut pada gilirannya diharapkan akan dapat menjamin peningkatan tarat hidup.929 7.10.340 151.904 25. serta untuk menunjang pembangunan daerah. balai pengobatan.209 1976 85.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.927 7. serta mendorong masyarakat agar berperanserta Departemen Keuangan RI 256 .490 1981 93. khususnya di luar pulau Jawa dan Bali.315 1982 95.28% 2.377 141.962 7.665 11.567 154.240 10. rumah ibadah.028 6.016 6.527 8.334 10. pelaksanaan transmigrasi terutama ditujukan untuk pembangunan dan rehabilitasi daerah asal.724 6. bagi daerah asal transmigran.1984 2.341 12.808 5. balai pertemuan/balai desa. Guna melayani kegiatan.887 11.282 5. lahan pertanian. gedung koperasi/KUD.799 158.579 19801) 91.942 10.34% 2. yang kesemuanya disertai dengan perlengkapan dan peralatan.070 10. sarana dan fasilitas secara memadai bagi tumbuhnya kegiatan masyarakat baru.350 11.888 135.342 1978 88. baik bagi para transmigran maupun bagi masyarakat sekitarnya.289 24.70% 2.269 28.700 31.086 20.410 11.155 8. Untuk tersedianya prasarana. maka di daerah pemukiman transmigrasi antara lain telah dibangun jalan penghubung. Di lain pihak.190 1977 87.143 10.723 10. 73 PENDUDUK INDONESIA DAN KEPADATANNYA PADA TAHUN 1971 SERTA PROYEKSINYA SAMPAI DENGAN TAHUN 1984 ( dalam ribu jiwa) Pulau J awa Sumatera Kalimantan Sulawesi Lainnya Indonesia Jumlah penduduk 19711) 76.076 24.579 Kepadatan / Km 2 19711) 576 44 10 45 15 62 1976 633 45 11 43 17 67 1977 650 46 11 44 18 68 1978 663 47 11 46 18 70 1980 1) 690 59 12 55 19 77 1981 706 61 12 56 19 79 1982 719 63 13 58 20 81 1983 733 65 13 59 20 83 1984 747 67 14 60 20 84 Perkembangan rata .083 1984 98.662 1983 96.112 11.632 119.

000 100 Pelita III 1) 500.970 102. Kemudian dalam tiga tahun terakhir Pelita III masing-masing telah meningkat menjadi 100.359 KK.010 106 Pelita IV 1984/1985 2) 125.000 127.985 104 1980/1981 75.985 kepala keluarga (KK). TabeI VII.000 527.959 100 1974/1975 11.489 3.2 1971/1972 4.263 KK transmigran umum.268 99. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984 telah dapat ditemp atkan sebanyak 48.876 KK.6 1982/1983 125.000 100.000 78359 104.000 100 1975/1976 8.056 KK transmigran swakarsa murni.876 105.171 90.158 93.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam bidang transmigrasi. Dengan demikian selama 5 tahun pelaksanaan Repelita III telah dapat ditempatkan transmigran sebanyak 527.970 KK dan 169.4 Jumlah 754.6 1970/1971 3.566 46. yang terdiri atas 367.4 1969/1970 4.865 4.910 13.000 11. dae(ah aliran sungai (DAS) yang akan dihijaukan.949 22. yang terdiri atas 29.9 1973/1974 22. daerah yang terkena proyek-proyek pembangunan serta daerah yang perlu dilestarikan. termasuk transmigran swakarsa 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 257 .100 8.6 1979/1980 50. Selama Pelita III pelaksanaan transmigrasi dari tahun ke tahun selalu menunjukkan peningkatan. 736 KK transmigran swakarsa berbantuan dan sebanyak 18. 127.552 100. 74 HASIL PENEMPATAN TRANSMIGRAN.600 4.000 48. Apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah transmigran yang ditempatkan baru mencapai sebanyak 51.100 100 1976/1977 13.000 159.933 87.749 KK transmigran swakarsa. Perkembangan hasil penempatan transmigran dapat diikuti dalam Tabel VII.414 101.412 100 Pelita II 82.5 1981/1982 100. Oleh karena itu penentuan daerah asal bagi para calon transmigran terutama diprioritaskan pada daerah yang terlalu padat. 1969/1970 .959 82.338 112.425 705. dalam tahun 1980/1981 telah meningkat menjadi 78.1984/1985 ( kepala keluarga ) Persentase Tahun Target Realisasi realisasi Pelita I 46.74.010 KK.910 100 1977/1978 22.949 100 1978/1979 27.412 22.552 KK.000 51.127 KK transmigran umum dan 160.200 11.055 38.4 1983/1984 150.000 27.5 1) Angka diperbaiki.7 1972/1973 11.055 KK.

000 KK. pelaksanaan transmigrasi ditujukan untuk memperluas areal pertanian baru. serta masih lemahnya pelayanan dalam angkutan. khususnya yang menyangkut masalah pengelolaan dan perdagangan hasil-hasil pertanian. sebagai lembaga yang diharapkan dapat mengembangkan perekonomian bagi daerah transmigrasi. Dalam pelaksanaannya. Sebaliknya pembangunan yang dilakukan di daerah transmigrasi akan memberikan peluang bagi usaha penyalur barang dan jasa yang dibutuhkan bagi pembangunan daerah transmigrasi itu sendiri. seperti sektor pertanian. Oleh karena itu pelaksanaan kegiatan ini langsung dikaitkan dengan pemindahan penduduk dan tenaga kerja dari daerah yang radar ke daerah yang jarang penduduknya. Sedangkan untuk sektor perdagangan. program transmigrasi masih banyak mengalami hambatanhambatan. Di samping itu juga belum memadainya perkembangan KUD. maka dalam Pelita IV pelaksanaan program transmigrasi akan lebih dipadukan dengan pembangunan sektor-sektor lainnya. Bagi sektor industri. baik di pasaran lokal maupun nasional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sejalan dengan telah berhasilnya pelaksanaan program transmigrasi dalam Pelita III. Di samping itu guna melancarkan angkutan bagi para transmigran. perindustrian. Dengan demikian diharapkan penyebaran potensi sumber daya manusia akan lebih seimbang dengan penyebaran potensi sumber alam. perkebunan. sehingga membuka kemungkinan yang lebih luas bagi pengolahan hasil-hasil pertanian di daerah transmigrasi. Sedangkan untuk memenuhi kecepatan waktu dan meningkatkan mutu makanan yang lebih Departemen Keuangan RI 258 . Guna mengatasi hambatan-hambatan tersebut. belum memadainya sarana penerangan yang ada. khususnya untuk daerah-daerah kosentrasi pengumpulan yakni di kabupaten-kabupaten. belum terarahnya materi atau informasi yang disampaikan. seperti terlihat dari pelaksanaan dalam tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Oktober 1984 yang baru mencapai 38. Hambatan-hambatan tersebut antara lain berupa kurangnya tenaga penyuluh yang terampil. khusus kepada para petugas pengawal transmigran telah diberikan berbagai penataran. perikanan.4 persen dari target yang telah ditetapkan dalam tahun 1984/1985 yaitU sebanyak 125. terutama untuk lahan pertanian. yang dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan di bidang keamanan dan kesehatan para transmigran. kesehatan dan makanan bagi para transmigran. peternakan. pendidikan dan kesehatan. usaha di bidang transmigrasi akan lebih menjamin tersedianya tenaga kerja dan bahan baku. Di sektor pertanian. Demikian juga sektor swasta belum memadai peranannya dalam menunjang perkembangan perekonomian daerah transmigrasi. kegiatan transmigrasi akan memberikan kesempatan yang luas pada usaha-usaha penyalur hasil produksi dari daerah transmigrasi ke pasaran. serta meningkatkan produksi dari berbagai komoditi pertanian. telah dilakukan penambahan angkutan transite.

maupun mengenai kelancaran hub_mgan antara daerah asal dan daerah penerima. Sejalan dengan itu dalam tahun pertama Pelita IV. Sementara itu guna meningkatkan pengelolaan dan pemasaran hasil-hasil produksi dari daerah transmigrasi. yaitu dengan memberikan pengapuran. Khusus kepada daerah-daerah yang terkena musim kering dan beberapa daerah yang memerlukan perawatan kesehatan. telah dapat dilaksanakan pengadaan tenaga pembina sebanyak 6. baik yang menyangkut masalah pengurusan pelaksanaan administrasi. kepada para caton transmigran swakarsa telah diberikan berbagai kemudahan. ijin dan penyediaan fasilitas di daerah penerimaan. Demikian pula bagi lokasi-lokasi yang kurang subur telah dilaksanakan upaya penanggulangan.458 orang. Selain ittt juga telah dilaksanakan rehabilitasi terhadap 67 lokasi lahan usaha yang kurang berhasil. yang terdiri dari 956 tenaga medis. Guna meningkatkan dan mendorong pelaksanaan transmigrasi swakarsa.622 guru SMTP. serta intensifikasi dan diversifikasi usaha tani. dan pembinaan terhadap transmigran lama sebanyak 592. maka di beberapa lokasi dan daerah asal telah diadakan dapur lapangan yang mobil.631 guru SO. mengadakan konservasi laban. sampai dengan bulan Oktober 1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sempurna. telah diberikan bantuan bibit tanaman dan bantuan pangan. 55 dokter. 2.381 KK. 1. 534 penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan 660 pembina koperasi. Departemen Keuangan RI 259 . Selanjutnya usaha peningkatan transmigrasi swakarsa dilaksanakan pula dengan jalan mengikutsertakan para transmigran pada kegiatan perkebunan inti rakyat (PIR) khusus. telah ditingkatkan pula peranan koperasi dan usaha swasta.

Oengan demikian dalam proses'pembangunan selanjutnya diharapkan akan dapat tercipta suatu strata masyarakat Indonesia yang berkepribadian kokoh. merupakan wujud nyata dari upaya tersebut. serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.1. Tersedianya gedung-gedung sekolah terutama di tingkat dasar yang menyebar di seluruh pelosok tanah air. keberhasilan upaya Departemen Keuangan RI 260 . maupun dalam hubungannya dengan masyarakat dan alam sekitarnya. serta semakin meningkatnya kesejahteraan dan mutu para pendidik. Selaras dengan itu. terus pula dikembangkan seiring dengan bidang-bidang lainnya. Hal ini ditandai dengan makin berkembangnya berbagai fasilitas dan saran a kesehatan. Oleh karena itu walaupun prioritas pembangunan masih ditekankan pada sektor ekonomi. yang berarti pula makin banyak anggota masyarakat yang mempunyai kesempatan untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan. keserasian dan keseimbangan baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. jangkauannya tidak hanya terbatas pada pendidikan formal melainkan meliputi pula pendidikan luar sekolah yang menuntut peran serta aktif pihak swasta. pembangunan di bidang agama antara lain bertujuan untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia 'yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pendahuluan Laju pembangunan yang telah dicapai sekarang ini tidak terlepas dari peranan manusia yang berfungsi sebagai pelaksana pembangunan. dan mempunyai etik moral yang kuat. Sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia tersebut. Sasaran yang ingin dicapai di bidang ini antara lain adalah meningkatkan kecerdasan serta menumbuhkan semangat kebangsaan yang tinggi. serta mampu menciptakan keselarasan. yang pada gilirannya diharapkan akan menumbuhkan manusia Indonesia yang mampu membangun dirinya sendiri. namun unsur manusia dan unsur-unsur lainnya tetap mendapat perhatian yang seimbang. Pembinaan di bidang agama. baik melalui pendidikan formal maupun non formal. Untuk itu berbagai sarana dan fasilitas pendidikan secara bertahap dan pasti terus ditingkatkan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VIII PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN SOSIAL DAN PEMBANGUNAN DAERAH 8. Di samping itu. sebagaimana telah dapat dirasakan dewasa ini. Dalam kaitannya dengan pembangunan di bidang pendidikan. pembangunan bidang kesehatan yang merupakan salah satu kebutuhan dasar setiap manusia terus pula dilaksanakan.

Di bidang pembangunan daerah. Norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera sudah dapat dirasakan oleh sebagian anggota masyarakat. agar tercipta rasa amall. yang bertujuan membangkitkan motivasi serta kesadaran masyarakat akan arti pentingnya kesehatan dan keluarga berencana (KB). serta diiringi dengan penyediaan fasilitas yang memadai. diarahkan guna meningkatkan tarat kesejahteraan sosial masyarakat secara adil dan merata. 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak terlepas pula dari kemampuan dan kesadaran masyarakat itu sendiri. Kesemuanya itu akan terwujud apabila keutuhan bangsa serta integritas teritorial terus ditingkatkan pula.2. terutama bagi para penyandang perrnasalahan sosial. terus digalakkan. pembangunan di bidang hukum berasa semakin penting. pelayanan kepada para akseptor KB terus ditingkatkan. Dengan demikian Departemen Keuangan RI 261 . terutama para peserta KB. Hal ini tidak terlepas dari usaha untuk mewujudkan kondisi sosial yang dinamis dalam kehidupan individu. serta pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air. Dengan bertumpu pada landasan tersebut. demi terbentuknya suatu angkatan bersenjata yang tangguh serta mampu rnelindungi seluruh turnpah darah dan segenap bangsa Indonesia. Selaras dengan itu. Hal ini pada akhirnya diharapkan akan mampu menjamin kelangsungan pembangunan yang merata di seluruh wilayah tanah air serta kemajuan yang nyata dan ternikmati oleh segenap lapisan masyarakat. Pembangunan bidang kesejahteraan sosial yang merupakan bagian integral daripada kesatuan sistem pembangunan nasional. di samping penyediaan sarana dan fasilitas yang memadai. keluarga dan masyarakat. tertib serta tenteram lahir dan batin. serta ditunjang oleh kesadaran hukum masyarakat yang tinggi merupakan salah satu tujuan di bidang pembinaan hukum. pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan juga semakin berasa sebagai suatu kebutuhan yang mutlak. Agama Memasuki tahun pertarna Pelita IV. di samping aparat penegak hukum yang bersih dan berwibawa. diharapkan akan tercipta suatu kondisi sosial rnasyarakat sebagaimana diidam-idamkan. dinamis. serta mampu mengikuti laju pertumbuhan-daerah. terus ditingkatkan upaya guna menjabarkan asas Trilogi Pembangunan ke dalam konsepsi yang bersifat operasional. Adanya kepastian hukum yang dapat rnenjamin hak-hak setiap warga negara. perlu ditingkatkan laju pertumbuhan daerah. Dalam hubungannya dengan usaha untuk rnenciptakan suasana tersebut. pembangunan di bidang agama terutama ditandai dengan semakin terbinanya hidup rukun di antara sesama umat beragama. Dalam rangka memantapkan usaha tersebut. Untuk itu berbagai upaya dan penyuluhan. Maka dari itu. Berbagai langkah pembinaan telah dilakukan.

penerangan dan bimbingan hidup beragama serta peningkatan pelayanan ibadah hajj.572 buah. yakni apabila dalarn tahun 1983/1984 telah dibangun 15 buah gedung pengadilan agama tingkat pertarna. Sedangkan untuk tahun pertama Pelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984. Usaha tersebut terutama ditujukan untuk meningkatkan dan menyelaraskan pembinaan antara pendidikan dan perguruan agarna dengan pendidikan umurn. telah dibangun 17 buah gedung pengadilan agama tingkat pertama dan 4 buah gedung pengadilan agama tingkat banding. Dalam waktu yang sarna juga telah ditingkatkan pembangunan gedung pengadilan agarna. Untuk itu telah dikembangkan kehidupan keagamaan. Dalam pada itu telah dilakukan pula rehabilitasi terhadap 27 buah gedung pengadilan agama tingkat pertama dan sebuah gedung pengadilan agama tingkat banding. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Pembinaan tata kehidupan beragama Pembinaan tata kehidupan beragama antara lain mencakup peningkatan sarana kehidupan beragarna. agar tercapai tujuan pendidikan nasional yang berlandaskan Pancasila. selama 5 tahun pelaksanaan Repelita III telah dibangun balai nikah sebanyak 1.1. juga dimaksudkan agar pelaksanaan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa benar-benar sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. karena melalui gedung balai nikah ini kepada para calon suami istri dapat dibina dan diberikan penyuluhan mengenai kesejahteraan keluarga sesuai dengan undang-undang perkawinan. pembangunan balai nikah telah mencapai sebanyak 587 buah atau 237 buah lebih banyak hila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Adapun pembinaan yang dilakukan terhadap para penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 290 buah. 316 buah dan 350 buah. Guna mendorong para pemeluk agarna untuk mempelajari dan mendalami agamanya. yang dilakukan dengan cara memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum. selain ditujukan agar dalam pengembangannya tidak mengarah kepada adanya pembentukan agama baru.2. Hal ini secara tidak langsung akan menunjang suksesnya program nasional kependudukan dan keluarga berencana.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kesatuan dan persatuan bangsa dapat diperkokoh dan peranserta umat beragama dalam pembangunan dapat ditingkatkan pula. Salah sarti perwujudan nyata dari pada upaya tersebut adalah dilakukannya pembangunan/rehabilitasi gedung balai nikah dan gedung pengadilan agama. 320 buah. dengan perincian masing-masing setiap tahunnya sebanyak 296 buah. serta menciptakan suasana yang mendorong ke arah berkembangnya pola berpikir secara ilmiah. 8. mulai dari sekolah dasar sampai dengan universitas. khususnya di bidang pendidikan. Departemen Keuangan RI 262 . Sejalan dengan itu.

660 buah. daerah pemukiman baru. dan kelompok khusus lainnya seperti tunasusila.000 buah kitab suci agama Islam. serta tempat-tempat ibadah yang rusak karena bencana alam. Dalam rangka meningkatkan sarana kehidupan beragama maka telah dilaksanakan bantuan pembangunan/rehabilitasi tempat-tempat ibadah.245 buah setiap tahunnya. dan disertai pula dengan pengadaan 652. sarana ibadah serta buku-buku keagamaan. para transmigran dan kelompok khusus lainnya.834 mesjid.000 buah kitab .000 buah Departemen Keuangan RI 263 . para transmigran. Di samping itu jumlah tempat ibadah yang diberikan bantuan setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. Apabila pada akhir Pelita II baru terdapat sebanyak 471. telah diterbitkan sebanyak 1.384 paket penyuluhan. sebagai salah satu pelaksanaan daripada program penerangan dan bimbingan hidup beragama. narapidana dan kelompok lainnya. Pemberian penyuluhan agama.000 buah kitab suci dari berbagai agama. 335 gereja Protestan.300 buah kitab suci agama Hindu dan 15. seperti terlihat dengan semakin banyaknya jumlah tempat ibadah dari tahun ke tahun. telah diberikan kepada 3.228.suci agarna Katolik.000 buah brosur agama dan 36. Dalam periode yang sarna telah diberikan pula penyuluhan kepada para pemeluk agama Protestan dan Katolik masing-masing sebanyak 300 kelompok dan 185 kelompok yang terdiri dari suku berasing. yang terdiri atas 844. terutarna terhadap kelompok masyarakat yang masih lemah sosial ekonominya. Jika dalam tahun 1983/1984 telah diterbitkan sebanyak 1. daerah-daerah yang mempunyai nilai sejarah dan yang terletak di daerah strategis. daerah transmigrasi. Dampak positif dari bantuan tersebut adalah terangsangnya masyarakat untuk berswadaya dalam membangun tempat ibadah sesuai dengan kebutuhannya. 221 pura Hindu dan 58 buah wihara Budha. dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Agustus 1984. Bantuan tersebut pada umumnya diberikan dalam bentuk biaya pembangunan/rehabilitasi.800 buah. yang terdiri dari 2. 89.821 temp at ibadah. atau rata-rata 21. 148.433 buah tempat ibadah. yang terdiri dari para karyawan instansi Pemerintah/swasta. 267 gereja Katolik. dalafu tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.715 tempat ibadah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maka terus ditingkatkan usaha penerbitan kitab suci dari berbagai agama. para transmigran. maka pada akhir Pelita III telah meningkat menjadi 577. Apabila dalam tahun 1983/1984 bantuan pembangunan/rehabilitasi diberikan kepada 2. 132. disertai pula dengan penyediaan brosur agama masing-masing sebanyak 60.790 kelompok pemeluk agama Islam. narapidana. suku berasing. telah diberikan kepada masyarakat dari berbagai golongan agama.000 buah kitab suci agama Budha. Sehubungan dengan itu dalam tahun pertama Repelita IV telah diberikan penyuluhan agama kepada 2.183. terutama masyarakat suku berasing.500 buah kitab suci agama Protestan.

000 buah. Sulawesi Selatan.907 orang. 3. disediakan buku pedoman perjalanan dan ibadah haji. Sedangkan untuk tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Pada awal Pelita III pembangunan asrama haji dititikberatkan pada 4 kola pelabuhan udara tempat pemberangkatan jemaah. dengan jumlah jemaah masing-masing sebanyak 7. Ujungpandang. Di samping itu juga telah diberikan penataran.300 orang. Sementara itu jika dilihat daerah asal daripada para jemaah. Peningkatan pelayanan ibadah haji terutama ditujukan untuk meningkatkan pengelolaan dan pelayanan kepada masyarakat dalam melaksanakan ibadah haji. Dalam periode yang sama telah dilaksanakan pekan orientasi kerjasama antarumat beragama dengan Pemerintah pada 3 lokasi dengan peserta sebanyak 360 orang. pembangunan asrama haji telah dapat ditingkatkan menjadi 7.800 meter persegi untuk Banjarmasin dan 2. maka dalam tahun 1984/1985 jumlah jemaah haji yang paling banyak berasal dari Jawa Barat. an tara lain telah dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi asrama haji. Departemen Keuangan RI 264 . 5. Surabaya.180 meter persegi untuk pelabuhan Surabaya.695 meter persegi. baik kepada para petugas maupun jemaah. DKI Jakarta dan Jawa Tengah.200 meter persegi dan 2. Jawa Timur. Guna menunjang program tersebut. baik untuk pelabuhan-pelabuhan pemberangkatan maupun pelabuhan-pelabuhan transit.615 orang dan 2. seperti musyawarah intern umat beragama. Musyawarah intern umat beragamatelah dilaksanakan pada 13 lokasi dengan peserta sebanyak 1. serta paket penyuluhan masing-masing sebanyak 4. pekan orientasi kerjasama antarumat beragama dengan Pemerintah. 2. Perkembangan jumlah jemaah haji dapat diikuti pada Tabel VIII.008 orang. di samping telah diberikan pula buku pedoman kerukunan hidup beragama sebanyak 17. dan pengadaan buku pedoman kerukunan hidup beragama. serta sarana lainnya seperti pembuatan film haji. Sedangkan untuk agama Hindu dan Budha telah diberikan penyuluhan kepada 25 kelompok transmigran dan suku berasing dengan disertai 32.1.715 meter persegi untuk pelabuhan. seperti Banjarmasin dan Pontianak dengan luas masing-masing 1.400 meter persegi.783 orang. Untuk tahun 1983/1984 pembangunan asrama haji telah pula menjangkau beberapa pelabuhan transit yang jumlah jemaahnya sudah cukup banyak.097 orang. Usaha peningkatan kerukunan hidup beragama dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan dengan berbagai kegiatan. dan Medan. antarumat beragama. 3.200 buah.000 buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan 22.200 buah dan 22.Pontianak.000 buah brosur agama. dengan perincian 2. yaitu Jakarta. sedangkan musyawarah antarumat beragama telah diikuti oleh 540 orang dan dilaksanakan pada 6 lokasi.

Untuk itu telah dilaksanakan berbagai kegiatan seperti pembangunan/ rehabilitasi gedung sekolah.317 38.697 74. Demikian pula dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Pembinaan pendidikan agama Pembinaan pendidikan agama dalam pelaksanaannya mencakup pendidikan agama tingkat dasar.575 9.8 juta buah.039 8.403 54.246 48.500 guru. 1969/1970 -1984/1985 (orang) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 197971980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/19851) Jumlah 1) Angka sementara Haji melalui laut 8. penyempurnaan kurikulum. menengah dan tingkat tinggi.126 572.366 18. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah meningkat menjadi 10.000 MIS.961 55. 51 buah dan 5 juta buah.238 23.2.845 19.124 119. serta mutu pendidikan agama pada sekolah umum.146 73. Dalam rangka meningkatkan mutu madrasah ibtidaiyah negeri (MIN) sebagai pendidikan agama tingkat dasar.351 12.126 692. 1 JUMLAH JEMAAH HAJI. serta pengadaan buku pedoman bagi guru sebanyak 5.2.760 MIS.035 41. pemberian alat peraga dan olah raga serta penataran guru dan tenaga pembina.079 Haji melalui udara 611 1. dalam tahun 1983/ 1984 telah dilaksanakan penataran terhadap 3.039 17.681 12.317 38.227 2.246 48. telah dilakukan pula pembinaan terhadap madrasah ibtidaiyah swasta (MIS). Sedangkan guna meningkatkan mutu pendidikan agama Departemen Keuangan RI 265 . Usaha ini ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan umum pada pendidikan dan perguruan agama. masing-masing telah mencapai 1. Apabila dalam tahun 1983/1984 dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi terhadap 6.520 69.897 66.072 22.292 22.270 73.897 66.828 45.961 55.449 53 .781 16.500 guru.305 23.511 6.071 15.978 25.960 Jumlah 9.612 7.697 74.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e I VIII. Sejalan dengan pembinaan MIN. pembangunan/rehabilitasi gedung MIN sebanyak 83 buah.344 40.035 41.292 14.589 35.

Khusus kepada MTsN. dan diberikan penataran kepada 160 orang guru agama. penataran terhadap 6. di samping telah dilaksanakan penataran terhadap 4. yang antara lain dilakukan oleh pondok pesantren Suryalaya (Jawa Barat). terdiri dari penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan kepada 397 pondok pesantren. serta pembangunan/rehabilitasi gedung dan bengkel kerja. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan penataran terhadap 1. dalam periode yang sarna juga telah disediakan buku pelajaran dan pedoman bagi guru sebanyak 706. Sementara itu terhadap pondok pesantren telah dilaksanakan pembinaan dan pengembangan melalui penataran tenaga pembina. penyediaan alar-alar keterampilan dan praktek untuk 891 pondok pesantren dan pembangunantrehabilitasi gedung dan bengkel kerja terhadap 813 pondok pesantren. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi gedung sebanyak 154 buah.2 juta buah dan pengadaan alat peraga sebanyak 2. serta pembangunan/rehabilitasi gedung dan bengkel kerja pada 71 pondok pesantren. juga telah diberikan bantuan kepada 534 pondok pesantren.200 tenaga pembina. penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan. Pondok pesantren tersebut sampai saar ini telah berhasil menyantuni korban narkotika sebanyak 100 orang.030 pondok pesantren. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Pembinaan terhadap pendidikan agama tingkat menengah alas terutama ditujukan untuk meningkatkan pendidikan pada madrasah aliyah negeri (MAN). dan dinilai telah berhasil adalah kegiatan terapi non medis yang agamis terhadap korban narkotika. pengadaan buku sebanyak 3. baik dari masyarakat maupun dari Pemerintah.163 tenaga pembina.280 orang guru agama.200 guru dan pengadaan buku sebanyak 1.2 juta buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada sekolah dasar.000 set.250 buah. telah dilakukan pembinaan dan pengembangan terhadap 3:734 buah pondok pesantren yang meliputi penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan bagi 2. sehingga dapat kembali menjadi remaja yang baik. serta pendidikan agama pada sekolah menengah tingkat pertama (SMTP). Dengan demilGan secara keseluruhan mulai awal Pelita III sampai dengan tahun pertama Repelita IV. bergairah serta mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri. Pembinaan terhadap pendidikan agama tingkat menengah pertama terutama ditujukan untuk meningkatkan multi pendidikan umum pada madrasah tsanawiyah negeri (MTsN) dan pondok pesantren. pendidikan guru agarna Departemen Keuangan RI 266 . penataran terhadap 1. pemberian alar-alar keterampilan dan praktek kepada 66 pondok pesantren. Kegiatan pondok pesantren yang banyak mendapat perhatian. penyediaan alat-alat keterampilan dan alat-alat praktek. Sedangkan guna meningkatkan mutu pendidikan agama bagi SMTP.

dan disediakan buku-buku ilmiah dan perpustakaan sebanyak 6.500 guru agama. Dalam tahun 1983/1984. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.000 buah serta pembangunan/perluasan 35 buah gedung PGAN Islam.800 buah. telah dilaksanakan penataran kepada 355 guru serta penyediaan buku pelajaran dan buku pedoman guru sebanyak 270. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.000 buah. Adapun pembinaan terhadap PGAN terutama ditujukan agar lulusan PGAN benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai tenaga guru yang baik dan mampu. Departemen Keuangan RI 267 . Dalam periode yang sarna juga telah dilaksanakan pembinaan pendidikan agama pada SMTA yang meliputi penataran guru agama dan pengadaan buku. Guna meningkatkan mutu perguruan tinggi agama. dan pengadaan buku pelajaran sebanyak 239. serta penelitian di berbagai daerah mengenai masalah-masalab keagarnaan dan kemasyarakatan sebanyak 29 kali. serta peningkatan mutu pendidikan agarna pada sekolah menengah tingkat atas (SMTA).750 buah.087 meter persegi. Untuk itu dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan penataran terhadap 7. ruang kantor dan ruang perpustakaan. dan pembangunan/rehabilitasi gedung MAN sebanyak 67 buah. kepada MAN telah dilakukan pengadaan buku sebanyak 462. penataran 7. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengadaan buku sebanyak 358. pengadaan buku pelajaran dan pedoman bagi guru sebanyak 650. telah dilaksanakan berbagai kegiatan.000 buah.688 mahasiswa. Hasil lain yang telah dicapai dalam periode yang sarna antara lain meliputi pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN) yang diikuti oleh 2. yaitu dengan memberikan bantuan rehabilitasi terhadap 50 buah gedung MAS.000 buah. maka telah diberikan kesempatan kepada 117 dosen untuk mengikuti program posca sarjana dan program doktor.440 meterpersegi. Dalam periode yang sama telah ditingkatkan pula mutu madrasah aliyah swasta (MAS). peningkatan mutu tenaga pengajar serta kegiatan penelitian. Di samping itu juga dilakukan penyediaan buku-buku ilmiah dan perpustakaan sebanyak 221. antara lain pembangunan prasarana dan penyediaan sarana pendidikan.500 guru dan pembangunan/rehabilitasi gedung MAN sebanyak 45 buah. Protestan. Dalam Pelita III telah dilaksanakan pembangunan/perluasan gedung Institut Agama Islam Negeri (lAIN) seluas 56.150 buah. telah dilakukan pembangunan/perluasan gedung IAIN seluas 10. Untuk meningkatkan mutu para pengajar dan tenaga administrasi. yang terdiri dari ruang kuliah.850 buah. masing-masing sebanyak 160 orang dan 358. Katolik dan Hindu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (PGA).

buku bacaan dan buku perpustakaan. 74.235 eksemplar.699.250 orang untuk pendidikan menengah umum.671.048. untuk SPG/SGO sebanyak 1. telah disediakan pula buku perpustakaan untuk tingkat pendidikan dasar sebanyak 119.816 ruang laboratorium untuk tingkat SMP. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984. Dalam tahun pertama Repelita IV kebijaksanaan di bidang pendidikan terutama ditekankan dan diarahkan pada peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan. telah dan sedang ditatar sebanyak 2. Di samping buku pelajaran. untuk SMP dan SMA sebanyak 14. serta untuk sekolah pendidikan guru/sekolah guru olah raga (SPG/SGO) sebanyak 7. untuk sekolah menengah tingkat pertania (SMTP) kejuruan dan teknologi sebanyak 96.706 orang untuk pendidikan menengah kejuruan dan teknologi. Di samping'itu juga dilakukan persiapan terhadap generasi muda dalam tugasnya sebagai penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional.3. 20.700. Buku pelajaran yang disediakan untuk tingkat pendidikan dasar adalah sebanyak 260.367. Pendidikan dan kebudayaan 8.1.963 eksemplar. yang perumusannya dilakukan melalui serangkaian kebijaksanaan pokok pembangunan di bidang pendidikan. Pembinaan pendidikan formal dan nonformal Salah satu tujuan dari kemerdekaan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. serta 20. dan 367 Departemen Keuangan RI 268 . serta penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional. yang meliputi berbagai bidang studi dan pengelolaan.195. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dan sedang dilaksanakan peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan.782 ruang perpustakaan dan 1.291. Di samping itu untuk tingkat SMA juga dibangun 317 ruang perpustakaan. untuk sekolah menengah tingkat atas (SMTA) kejuruan dan teknologi sebanyak 6. peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar dalam rangka pelaksanaan wajib belajar. yang disertai dengan penerbitan 3.000 eksemplar.3. untuk sekolah menengah umum sebanyak 82.240 eksemplar serta untuk pendidikan tinggi sebanyak 333. baik secara kualitatif maupun kuantitatif. pengadaan laboratorium dan peralatan belajar. serta pengelolaan pendidikan yang lebih berdaya guna dan berhasil guna.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 8. Penataran guru/pembina dilaksanakan pada berbagai tingkat pendidikan. baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah.500 eksemplar buku Sistem Pengajaran Modul untuk SMP terbuka.039 orang untuk pendidikan dasar. pengadaan buku pelajaran.892. maka telah dibangun pula sebanyak 1.292 eksemplar.350. Sejalan dengan pengadaan buku pelajaran dan buku bacaan.000 eksemplar.945 eksemplar.917 eksemplar.509 orang untuk pendidikan guru termasuk penataran dosen.700 eksemplar. yang antara lain dilakukan melalui penataran guru/ pembina. peningkatan keterampilan serta penyempumaan kurikulum.

Pendidikan dasar 6.521 385.512 25.565 .960 .310 buah perumahan dosen.Pendidikan dasar 25.606 2. Pengadaan buku perpustakaan ( ribu eksemplar ) 8.200 13.292 10.393 6.000 . Penataran guru/pembinaan (orang) .316 7.488 18.946 17.467 299.Pendidikan tinggi (dosen) 945 1.840 45. Perkembangan peningkatan pendidikan dapat diikuti pada Tabel VIII.023 2.161 364.140 10.258 5. dilakukan penelitian sebanyak 7.600 . serta peng.879 4.133 105 5.812 3.Pendidikan menengah 5.524 547.810 perangkat alat laboratorium.314 8. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah ditatar sebanyak 383.Pendidikan dasar 20.163 meterpersegi ruang laboratorium yang masing-masing dilengkapi dengan 305. pelatih.150 116.176 6. Dalam peningkatan mutu pendidikan di luar sekolah ini termasuk juga usaha mengintegrasikan kelompok belajar (Kejar) paket A dengan pendidik. Kegiatan 1974/75 1975/76 1977/78 1.940 unit gedung SD.000 30. penambahan ruang kelas Departemen Keuangan RI 269 .360 275. angkatan guru baru.600 6.611 eksemplar buku-buku perpustakaan dan 1.531 7.505 1.600 4. sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dan sedang dibangun melalui program bantuan Inpres sebanyak 76.072 5.793 judul.kegiatan tersebut dalam waktu yang sama telah dibangun dan direhabilitasi.468 68.000 15.500 14.238 2. monitor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ruang laboratorium serta 25 ruang laboratorium bahasa.480 6.544 43.300 - 32.Pendidikan tinggi 19 35 1) Sejak tahun 1979{1980 termasuk buku PMP dan kurikulum 2) Termasuk dalam buku perpustakaan 3) Angka diperbaiki 4) Angka sementara 1983/84 1984/854) 304.015 489 4.823 60.032 23.000 1.467 meter persegi ruang perpustakaan dan 237. an mala pencaharian serta pendidikan politik dan latihan kepemimpinan/keterampilan bagi generasi muda.000 22.Pendidikan tinggi 11 30 4.Pendidikan menengah 1.048 29.177 25.000 88.852 2. telah diselenggarakan pendidikan dan latihan bagi tenaga pendidik termasuk tutor.307 4.420 24.840 4.600 369.095 424 226 1.441 19.855 56. Dalam rangka peningkatan mutu di bidang pendidikan luar sekolah termasuk kepemudaan dan keolahragaan.936 tenaga teknis termasuk tutor.000 2.675 7. penggerak olah raga dan pembina/pemuka pemuda. Selain itu juga telah dibangun sebanyak 1.284 2. 1973/1974 -1984/1985 1973/74 1976/77 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 .800 31. 2 PEMBINAAN MUTU PENDIDIKAN DI BERBAGAI TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL.2.262 417 Usaha peningkatan kesempatan belajar yang dikaitkan dengan pemerataan memperoleh pendidikan. pembina dan instruktur serta diadakan buku paket A sebanyak 71. dan diberikan bantuan kepada perguruan tinggi swasta . Pengadaan alat peraga/praktek/ ketarampilanflaboratorium (unit) .513 724 6. rehabilitasi gedung sekolah.053 105. Pengadaan buku pelajaran ( ribu eksemplar ) 1) . masing-masing sebanyak 56 buah dan 37 buah sanggar kegiatan belajar untuk tempat latihan tenaga teknis dan pengembangan sarana belajar.400 106 11. untuk mewujudkan pelaksanaan wajib belajar pada tingkat pendidikan dasar.994 231.000 1.Pendidikan menengah 424 3.271 65(SMP) 104(SMP) 3 39 76 50 273 270 .900 7.200 372.200 11.084 1. Sedangkan untuk perguruan tinggi telah dibangun )7.813 18.580 110.390 eksemplar.407 21.Pendidikan dasar 8.Pendidikan tinggi 2) 3.884 .088 1.018 17.0043) - 16.040 1.000 6 61 51 28 36 40 . antara lain dilaksanakan melalui pembangunan gedung sekolah baru. monitor. Guna menunjang kegiatan.610.500 12. penambahan ruang belajar pada sekolah yang ada.717 20.744 .400 .538 46 16. Tab e I VIII.960 105.000 58.000 80.157 479.795 2. Sehubungan dengan hal itu.811 41.376 18.Pendidikan menengah 413 979 422 1.

000 orang sampai dengan bulan Agustus 1984.500 sekolah termasuk SD swasta dan madrasah ibtidaiyah. Dalam waktu yang sarna telah dilaksanakan pengangkatan 439. Sejalan dengan perkembangan tingkat pendidikan dasar serta perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTP.8 persen sedangkan pada awal Repelita IV sarnpai dengan bulan Agustus 1984.000 orang dalam tahun 1979/1980 menjadi 4. baik di tingkat nasional. yaitu sekolah luar biasa (SLB). alat peraga dan penataran guru/pembina. Pemerintah juga telah menghapuskan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) untuk SD dan sebagai gantinya diberikan subsidi/bantuan pembiayaan penyeleng.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 baru sebanyak 129. dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diusahakan pula peningkatan daya tampungnya. baik yang baru maupun lanjutan. Presiden telah mencanangkan gerakan wajib belajar untuk seluruh Indonesia. Sejak tahun 1979/1980 sampai dengim bulan Agustus 1984. Bersamaan dengan itu telah dikembangkan pula sebanyak 165 buah SMTP kejuruan yang tidak diintegrasikan ke dalam SMP. sebagai TKK percontohan. maka sampai dengan bulan Agustus 1984 telah meningkat menjadi sebanyak 5. pada Hari Pendidikan Nasional (Harpenas) tanggal2 Mei 1984. juga dibangun sejumlah gedung SLB baru dengan asramanya.732. mental dan sosial. selain disediakan buku.800 buah. maka selmna Pelita III.156.000 orang.598 gedung sekolah yang telah ada. serta rehabilitasi sebanyak 134.054 ruang kelas baru. Perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTP tersebut telah memperlihatkan hasil yang baik. dilakukan melalui lembaga pendidikan khusus. dan dilakukan rehabilitasi terhadap 1.983. 18. tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten/kotamadya. dan tahun pertama Pelita IV telah ditingkatkan dengan membangun TKK pembina. Dalam tahun 1979/ 1980 baru mencapai 83. Apabila pada awal Pelita III jumlah murid baru sebanyak 2. Untuk itu telah dibangun 2.200 orang. Seperti diketahui. Sedangkan pengembangan pembinaan taman kanak-kanak (TKK) dalam Pelita III. termasuk guru agarna dan tenaga teknis.8 persen per tahun.1 persen atau rata-rata 15. Hal ini tercermin pada kenaikan jumlah murid yang selama 5 tahun terakhir telah meningkat sebesar 79.342. Sebagai kelanjutannya. Hal ini disebabkan karena terjadinya kenaikan jumlah lulusan SD yang melanjutkan ke SMP yakni dari sebanyak 1.919 unit sekolah baru. Adapun pendidikan bagi anak-anak yang mengalami cacat fisik.2 persen. telah meningkat menjadi 97. Selanjutnya guna menunjang Departemen Keuangan RI 270 . Perkembangan pendidikan dasar telah menunjukkan hasil yang nyata seperti tercermin pada kenaikan angka partisiposi pendidikan. serta dila:kukan rehabilitasi terhadap sejumlah SLB yang telah ada. garaan untuk SD negeri.580 guru.

Hal ini berarti peningkatan sebesar 89.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perkembangan kegiatan belajar pada tingkat SMTP. maka selama Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dibangun 765. yang meningkat menjadi 803. SGO dan SGPLB. 37. Usaha perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan tinggi.700 orang. telah dapat meningkatkan daya tampung bagi lulusan SLTA yang akan me1anjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Pembinaan perguruan tinggi swasta juga terus ditingkatkan. antara lain me1alui penataan dan pemberian bantuan prasarana serta sarana.7 persen per tahun. Untuk memperlrias kesempatan belajar kepada siswa dan mahasiswa yang berbakat dan berprestasi.6 persen selama periode tersebut atau rata-rata sebesar 14. Hal ini berarti suatu peningkatan sebesar 70. telah dilakukan pembangunan gedung baru. dan sekolah menengah musik (SMM).3 persen dalam periode tersebut. 289 buah STM 3 tahun.085 ruang kelas baru.547 meterpersegi ruang kuliah dan kantor.373 siswa SMTA. sekolah menengah industri kerajinan (SMIK).574. serta dilakukan pembangunan/pembinaan terhadap 8 STM Pembangunan. 160 putra Nusa Tenggara Timur. sekolah menengah pekerjaan sosial (SMPS). SMEA. 44 buah SMT pertanian/khusus. Sedangkan untuk pendidikan guru. Untuk itu telah dibangun sebanyak 517 unit gedung SMA baru.085 meterpesegi.400 siswa SD. maka dalarn waktu yang sarna juga telah dilakukan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTA.3 persen per tahun. serta pembangunan ruang kelas dan rehabilitasi sejumlah SPG.927 siswa SLTP. 5.424 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.776 orang dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Kegiatan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTA telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencapai 2. 22. Bersamaan dengan itu pada SMTA kejuruan telah direhabilitasi/dikembangkan pula sebanyak 145 buah STM 3 tahun. 39. dan dilakukan rehabilitasi terhadap 460 sekolah yang telah ada.733. atau rata-rata sebesar 22. Dalam tahun 1979/1980 jumlah mahasiswa baru adalah sebanyak 424. Perkembangan kesempatan belajar diberbagai tingkat pendidikan formal dapat dilihat Departemen Keuangan RI 271 . sekolah menengah kesejahteraan keluarga (SMKK). juga telah diberikan sejumlah bea siswa. sekolah menengah tehnologi kerumahtanggaan (SMTK).000 orang. Hal ini tercermin dari meningkatnya daya tampung SMTA yang dalam tahun 1979/1980 baru berjumlah 1. Se1ama Pe1ita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diberikan bea siswa kepada 63. sekolah menengah seni rupa (SMSR). Guna menghadapi meningkatnya jumlah mahasiswa yang ingin melanjutkan pelajaran pada perguruan tinggi.200 orang. 130 putra Irian Jaya dan 320 putra Timor Timur. sekolah menengah karawitan indonesia (SMKI). serta merehabilitasi gedung seluas 233.

Pendidikan dasar 3) .000 1.750 20. Pembangunan gedung (unit) .151 18.085 23.460 25.051 1.207 15.000 - 10.144 60. Terdiri dari SMP & SMA.000 923 67.946 25.683 25.3.100 5. 725 52.000 286 24.200 16. Rehabilitasi/pengembangan (sekolah) .140 878 11 2.390 10.320 21.000 135 15.000 60.000 buah.000 1.000 2.338.435 50.200 610 11 19. Departemen Keuangan RI 272 .Pendidikan tinggi (m 2) 3.380 75.205 37.000 16.700 6.000 5. o Kegiatan 1.000 1.Pendidikan dasar (a 3 ruang kelas) . Termasuk guru agama daD tenaga teknis lainnya 4.000 orang. Meliputi SD Negeri.000 15.Pendidikan menengah .Pendidikan dasar 2) .404.350 10.000 4.000 - 15.000 92 24.845 23.000 1.610 18.105 50.Pendidikan tinggi 2.000 15.900 54.500 15.000 - 10.154 48.261 4. Se1anjutnya dalam rangka meningkatkan pendidikan masyarakat te1ah pula ditingkatkan kegiatan pendidikan di luar sekolah.202 50.000 1. Adapun lembaga pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat (PLSM).000 103 27.202 89. tennasuk ruang laboratorium.080 103. MI Swasta 3.000 1.480 32. penyempurnaan sistem pendidikan nasional.000 - 6. jumlahnya te1ah mencapai 8.672 36.000 155 10.000 703 8.020 121.600 33.075 36(SPG) - 1. dewasa ini te1ah dikembangkan sekolah menengah kejuruan tingkat atas (SMTA-AKT) yang meliputi berbagai bidang dan 7 politeknik. Pengangkatan/penempatan guru (orang) . Penyempurnaan kurikulum dilaksanakan melalui perbaikan kurikulum lama (1975) menjadi kurikulum baru (1984) yang merupakan bagian penting dari perkembangan sistem pendidikan nasional guna memenuhi tuntutan pembangunan nasional.000 162 6 15.300 30. Guna memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga kejuruan/teknik yang terdidik dan terampil.194 15.100 12.500 784 14.192 10.334 15. patriotisme dan idealisme. Pembinaan dan pengembangan generasi muda sebagai kader-kader penerus perjuangan dan pembangunan nasional.000 7.547 warga pe1ajar selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984. kesadaran berbangsa dan bernegara.629 50.003 103. 3 PENYEDIAAN SARAN A GEDUNG DAN GURU BAGI PENDIDIKAN FORMAL. kesegaran jasmani dan daya kreasi.000 8. Angka sementara.Pendidikan menengah (ruang) 1) .219 7.400 orang mahasiswa.600 1.347 218.Pendidikan dasar (ruang) .000 35.830 19.150 11 13.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada Tabel VIII.Pendidikan tinggi (dosen) T abel VIII.184 91.500 14. telah dilakukan berbagai kegiatan seperti penyempurnaan kurikulum tingkat pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah alas.000 179 9. yang telah diikuti oleh 7.000 1.000 - 14.767 28. dan sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mempunyai 7.000 608 29.488 36.000 390 11 22. SD Swasta.300 28. telah disiapkan RUU sistem pendidikan nasional yang kini telah mencapai tahap penyelesaian terakhir. 1973/1974 -1984/1985 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/85 4) 6.500 175. Pembangunan ruang kelas baru .790 21.614 6.000 125 1. Usaha ini dilakukan melalui Kejar pendidikan dasar (Paket A). Untuk meningkatkan sistem pendidikan agar lebih sesuai dengan kebutuhan pembangunan.Pendidikan tinggi (m 2) 4. ruang ketrampilan dan ruang perpustakaan 2.Pendidikan menengah .Pendidikan menengah . Kegiatankegiatan tersebut diarahkan pada pengembangan kepemimpinan dan keterampilan. selain dilakukan melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi juga dilaksanakan melalui berbagai kegiatan yang bersifat informal.225 15. dan menampung sebanyak 1. Sedangkan dalam rangka penyempurnaan sistem pendidikan nasional. dan perluasan sekolah kejuruan.420 123.000 246 10 20.

fungsi. pemantapan organisasi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kepribadian dan budi pekerti luhur. serta lomba desa binaan keluarga sehat dan sejahtera di 26 propinsi. dan penataran tenaga teknis penilik generasi muda.970 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Poskibraka) dan Caraka Muda tingkat propinsi.204 orang serta pembinaan terhadap 5. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan penataran P4. yang masing-masing diikuti 300 orang.556 orang. pendidikan dan latihan kegrafikaan yang diikuti 6. penataran tingkat pelaksana terhadap 1. pembinaan unit kerja produktif terhadap 1.855 orang. pembinaan dan peningkatan perencanaan serta penyempurnaan pengawasan.718 meterpersegi serta pengadaan buku pramuka sebanyak 310. perkemahan kerja pemuda yang diikuti oleh 3.280 orang. yang masing-masing diikuti 3. Untuk itu telah dilakukan pengembangan desa pemuda di beberapa daerah/propinsi. pembinaan terhadap 8.519 orang serta penataran tenaga teknis kebudayaan yang diikuti 2. Selain itu bantuan kepada KNPI juga telah dimanfaatkan guna meningkatkan aktivitas. penataran tingkat menengah nasional dan regional terhadap 600 orang. serta latihan kepemimpinan manajemen yang mengikutsertakan 1. Bantuan kepada pramuka dilakukan dengan menyelenggarakan latihan terhadap 30. 325 orang dan 2. penyelenggaraan festival pemuda yang mengikutsertakan 44.480 orang dan latihan pendamping pembina pemuda yang diikuti oleh 210 orang. serta partisipasi generasi muda dalam pembangunan. Adapun pembinaan dan Departemen Keuangan RI 273 . Selanjutnya dalam rangka peningkatan/pengembangan wanita telah dilakukan latihan pengembangan belajar wanita yang diikuti 24. yang antara lain meliputi penataran tenaga nonedukatif.795 orang. Selain itu juga telah dilakukan latihan pemuda tingkat pemuka yang diikuti oleh 6.825 orang. Penataran tenaga non edukatif telah dilakukan melalui sekolah star dan pimpinan administrasi (Sespa). serta pengadaan prasarana dan sarana. yang masing-masing diikuti oleh 2.330 orang. Untuk peningkatan pengelolaan pendidikan agar lebih berdaya guna dan berhasil guna.057 orang. latihan instruktur terhadap 3.799 orang. lomba kreativitas pemuda.270 orang.955 orang. dan 805 orang. 22.400 orang satuan tugas sukarela pemuda. pembangunan gedung Cadika seluas 16.192 orang. Sementara itu dalam rangka pembinaan serta pengembangan keterampilan dan daya kreasi generasi muda antara lain dilakukan pertukaran pemuda dengan luar negeri dan antarpropinsi. 150 orang. penataran pengelola gelanggang. mutu.360 orang. sekolah pimpinan administrasi tingkat madya (Sepadya) dan sekolah pimpinan administrasi tingkat lanjutan (Sepala). selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan.185 eksemplar. Sehubungan dengan itu. 260 orang. penataran pemuda tingkat perintis.576 orang dan 4.

mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional. pengadaan peralatan olah raga sebanyak 52. antara lain bidang ekonomi. dan memasyarakatkan olah raga.175 meter persegi dan 6. Pembinaan di bidang olah raga ditujukan untuk mengolahragakan masyarakat. serta peningkatan mutu aparat pengawasan.583 paket. dan permuseuman.573 orang pelajar. Untuk itu.054 meterpersegi dan 30. Untuk itu telah dilakukan survai dan perencanaan koleksi di 92 lokasi yang tersebar di 26 Departemen Keuangan RI 274 . antara lain penyempurnaan teknik dan metodologi perencanaan. serta mempercepat alih teknologi yang semakin tinggi. 8. nilai-nilai dan norma budaya yang dinamis. serta pengadaan peralatan kantor kecamatan dan sarana mobilitas.000 eksemplar. penyempurnaan sistem pelaporan. pemantapan sistem dan mekanisme perencanaan terpadu. serta pembinaan olahraga berbakat terhadap 18. gedung kotamadya/kabupaten sebanyak 117 unit. gedung kantor kecamatan sebanyak 8 unit. serta pengadaan buku-buku olah raga sebanyak 143.658 orang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan perencanaan dilaksanakan melalui berbagai kegiatan. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi dan menjawab tantangan zaman dalam berbagai bidang.065. rumah dinas sebanyak 37 buah. penyelenggaraan pemasalan olahraga yang mengikutsertakan 1. Berkaitan dengan itu juga telah dilaksanakan penataran terhadap 8. selaras dgn memberi arah pacta pembangunan harus dibina dan dikembangkan guna memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila. kesejarahan. teknologi dan ilmu pengetahuan. serta memperkokoh jiwa persatuan. Adapun peningkatan pengawasan dilakukan melalui penyempumaan sistem dan prosedur pengawasan terpadu. masing-masing seluas 25.657 meter persegi. masing-masing seluas 9.982 meterpersegi.3. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pembangunan/rehabilitasi gedung kantor pusat dan kantor wilayah. Guna menunjang berbagai kegiatan tersebut.360 orang. mahasiswa.243 orang guru. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan berbagai program yang antara lain berupa program kepurbakalaan.2 Pembinaan kebudayaan Usaha pembinaan dan pengembangan budaya bangsa senantiasa ditujukan untuk menunjang pembangunan nasional. dan pembina. masyarakat dan penyandang cacat. memperkuat kepribadian bangsa. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 antara lain telah diwujudkan pembangunan gedung olahraga dan kolam renang. serta peningkatan mutu aparat perencanaan baik di pusat maupun di daerah melalui penataran perencanaan P2 dan P1 tertulis yang masing-masing diikuti oleh 60 orang dan 1. pelatih.

sayembara mengarang. Selain itu dalam bidang perpustakaan nasional juga telah dilaksanakan rekatalogisasi koleksi pustaka Indonesia dan asing. serta pengadaan peralatan kantor museum sebanyak 872 unit. Untuk itu telah dilakukan berbagai kegiatan. peningkatan apresiasi sastralseni. dan daerah transmigrasi. Sejalan dengan itu telah dilakukan pula penulisan dan penerbitan naskah buku bacaan populer sebanyak 720. serta pengembangan perpustakaan nasional. Kegiatan inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan nasional ditujukan untuk membina Wawasan Nusantara. Demikian pula dilaksanakan penambahan tenaga. dan perpustakaan. pengadaan koleksi sebanyak 6 jenis di 26 propinsi. perpustakaan desa dan perpustakaan perintis sekolah. perpustakaan keliling.564 situs. terjemahan 16 naskah. serta pemberian bantuan peralatan kesenian pada kabupaten/kodya. serta pengadaan buku sebanyak 1. maka sejak Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengembangan bahasa serta sastra Indonesia dan daerah. serta pembinaan bahasa Indonesia melalui TVRI dan RRI. Dalam waktu yang sama juga telah dilakukan pemugaran peninggalan sejarah dan purbakala di 379 lokasi.500 eksemplar. pemberian bantuan kepada 60 museum daerah. perbukuan.museum sebanyak 549 unit. pemeliharaan dan penyelamatan 1. kesusastraan. pengadaan peralatan kantor. melanjutkan pemeliharaan Candi Borobudur serta rehabilitasi Monumen Nasional (Monas). serta studi kelayakan di daerah tingkat II di 127 lokasi. penyuluhan teknis kesenian. penyusunan naskah kebudayaan daerah Departemen Keuangan RI 275 . yang tersebar di seluruh nusantara. studi kelayakan di 133 lokasi. Di samping itu juga dilakukan peningkatan penghayatan seni oleh masyarakat yang mencakup 4 bidang seni. penerbitan pedoman penyuluhan perpustakaan sebanyak 6 naskah. Kegiatan tersebut antara lain berupa penyusunan/penerbitan perkamusan sebanyak 29 naskah. penyempumaan.351. penyelesaian rencana induk Wisma Seni Nasional. penerbitan majalah. dan editing dari 800 naskah. Pengembangan dalam bidang seni budaya ditujukan untuk meningkatkan kreativitas seniman yang sehat. antara lain meliputi pembinaan sosio drama. kecamatan. Sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diadakan penilaian. Kemudian dilakukan juga penanggulangan terhadap pengaruh kebudayaan yang negatif. Untuk pengembangan kebahasaan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 propinsi.636 eksemplar untuk perpustakaan wilayah. serta sayembara mengarang bacaan populer sebanyak 56 judul. perpustakaan umum. pengembangan organisasi kesenian dan penyebarluasan kesenian. pameran dalam rangka pemantapan fungsi eksistensi museum dengan segenap aspeknya sebanyak 183 kali di 26 propinsi. pengadaan peralatan teknis. dan lebih memperkaya kesenian Indonesia yang beraneka ragam. pengembangan media kebahasaan sebanyak 30 naskah.

serta pembinaan bimbingan teknis operasional penelitian yang mengikutsertakan 457 orang. Selain itu telah dilakukan peningkatan pelayanan rumah Departemen Keuangan RI 276 . Selain itu juga telah diselenggarakan penataran tenaga teknis dokumentasi dan informasi kebudayaan yang diikuti 130 orang. Pelayanan kesehatan Kegiatan yang dilakukan di bidang pelayanan kesehatan ditujukan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara lebih merata dan lebih dekat kepada masyarakat. serta penyakit yang disebabkan oleh pengaruh buruk dari bahan yang berbahaya bagi kesehatan. terutama yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota. dan penyusunan naskah biografi pahlawan nasional yang meliputi caton pahlawan sebanyak 36 judul. 8. Selain itu juga ditujukan pada peningkatan kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar guna perbaikan mutu lingkungan. pelayanan kesehatan gigi dan jiwa.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam 5 aspek dengan ps:nerbitan sebanyak 372 judul. pembangunan di bidang kesehatan dilakukan secara terpadu dengan bidang-bidang lainnya ke dalam suatu sistem kesehatan nasional. dan penyusunan naskah dad 117 penelitian. penelitian purbakala sebanyak 5 aspek serta penerbitan majalah arkeologi. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. maka dilakukan penelitian. usaha kesehatan sekolah (UKS).1. Sejalan dengan usaha inventarisasi dan dokumentasi sejarah nasional. serta peningkatan pendidikan. pemerataan kesehatan masyarakat. serta peningkatan pelayanan laboratorium kesehatan. Kesehatan dan keluarga berencana Sebagai kelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya. Selanjutnya juga diarahkan pada pengurangan kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh penyakit yang banyak diderita rakyat banyak. penulisan. latihan dan pengelolaan tenaga kesehatan masyarakat. 8. penyakit yang hanya dapat dicegah dengan imunisasi. pembangunan di bidang kesehatan dalarn tahun pertama Repelita IV diarahkan pada peningkatan kemarnpuan masyarakat untuk hidup sehat dan mengatasi sendiri masalah kesehatan yang sederhana. sejarah pahlawan sebanyak 26 judul serta biografi nasional sebanyak 17 judul. terutama penyakit menular. tokoh nasional sebanyak 120 judul.4. Peningkatan dan pemerataan pelayanan kesehatan tersebut antara lain dilakukan melalui puskesmas. Kegiatan ini ditunjang dengan pengadaan obat yang cukup dan terjangkau oleh masyarakat. Usaha lain yang dilakukan adalah meliputi penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah sebanyak 665 naskah.4. terutama melalui pencegahan dan penyembuhan.

453 buah. Puskesmas Pembantu 2) 3.153 5.353 604 4. Di samping itu telah diselenggarakan pula latihan kesehatan mala bagi 221 paramedis dan 1.670 kader/pemuka masyarakat.076 tenaga laboratorium dan 3. Angka diperbaiki 5). serta daerah perbatasan atau daerah yang angka kecelakaan lalu lintasnya tinggi. B K I A 3) 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/85 2. Sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah puskesmas. 4 JUMLAH SARAN A PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT.180 2.600 dokter puskesmas.953 10.180 2.828 staf puskesmas. serta peningkatan pelayanan instalasi kesehatan. yang masing-masing dilengkapi 10 tempat tidur. telah dilakukan pula perbaikan 5.416 orang.6364) 1. Untuk mendukung tugas puskesmas tersebut.124 6. 1973/1974 -1984/1985 1) 1984/855) 1.342 979 4.691 tenaga record and report (RR) terpadu.826 puskesmas dan penggantian peralatan medis sebanyak 2.443 4.124 6. Sedangkan bagi daerah-daerah terpencil yang jauh dari pelayanan rumah sakit.787 tenaga kesehatan melalui program Inpres. pembangunan kesehatan masyarakat desa. dalam waktu yang sarna telah dibangun pula puskesmas pembantu dan puskesmas keliling.412 4.342 729 4. Untuk itu. Puskesmas 2. sehingga sarnpai dengan bulan Agustus 1984 jumlahnya telah mencapai 5. telah diadakan latihan cepat bagi pembantu paramedis sebanyak 1.479 5.702 set. 3. BaJai Pengobatan 3) 5. telah disediakan pula 19.753 8.479 5.353 12.453 15. yang dilakukan melalui sistem rujukan antara masyarakat.412 4. Merupakan peningkatan dari BKlA dan Ba1ai Pengobatan 3).928 3. telah dilaksanakan penataran tenaga kesehatan terhadap 2.136 2. Sejak 1975/1976 berkurangnya jumlah BKIA dan Balai Pengobatan karena diintegrasikan 4). Puskesmas Ke1iling 4.893 4. Dalam rangka pencegahan Departemen Keuangan RI 277 . Selanjutnya di bidang kesehatan olah raga telah dikembangkan pusat kesehatan olah raga di 8 propinsi. dan diperlengkapi dengan 167 set peralatan kesehatan mata dan obat-obatan mata.979 2.553 7. masing-masing sebanyak 15. 5.113 7. telah dibangun puskesmas perawatan sebanyak 158 unit.4. Tabel VIII. Untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tenaga kesehatan di puskesmas.342 1.744 3.180 2.602 2.801 3. Angka kumuIatif 2).979 1). Angka sementara Sampai dengan bulan Agustus 1984. maka jumlah dan fungsi puskesmas terus ditingkatkan. puskesmas dan rumah sakit di semua tingkat. Perkembangan sarana pelayanan kesehatan masyarakat dapat diikuti pada Tabel VIII.343 7. pengobatan mala telah dikembangkan di 250 puskesmas yang tersebar di 24 propinsi.053 4. Selain pembangunan puskesmas. penarnbahan persediaan bahan-bahan dan obat-obatan. Selanjutnya agar pelayanan kesehatan kepada rakyat dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan merata.342 13.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sakit.412 4. Sedangkan dalam rangka memenuhi kekurangan tenaga di puskesmas. seluruh sarana kesehatan diusahakan berada dalarn suatu sistem jaringan hubungan yang serasi dan efektif.136 buah dan 2.979 buah. serta latihan klinis bagi 155 orang dokter dan 185 orang paramedis yang bekerja di puskesmas.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan pengobatan penyakit pada anak-anak sekolah. dan pengobatan pertama bagi yang memerlukan. di samping juga terhadap golongan khusus yang berada di 52 panti dan tersebar di 24 propinsi. Selain dilakukan pemeriksaan guna menemukan kelainan-kelainan kesehatan yang ada sedini mungkin. standarisasil metodologi terhadap' 10 daerah pelayanan. imunisasi. telah diintegrasikan kesehatan jiwa ke 90 RSU.dan di 30 rumah sakit yang dilengkapi dengan peralatan rehabilitasi gigi (unit teknik gigi). Departemen Keuangan RI 278 . serta integrasi kesehatan jiwa ke puskesmas dan rumah sakit umum (RS umum).191 guru yang terdiri dati 97. 9. Bersamaan dengan itu. Program perawatan kesehatan masyarakat sampai dengan bulan Agustus tahun 1984. Di samping itu juga dilakukan survai epidemiologi terhadap 11. survai pengumpulan data kadar flour dalam posta gigi. juga diberikan penyuluhan kesehatan kepada anakanak sekolah. telah dilaksanakan di 2. Di samping itu dalam rangka UKS juga telah dilakukan penataran terhadap105. serta pembinaan kesehatan lingkungan.000 per tahun.620 guru SD.426 keluarga. Selanjutnya dalam upaya kesehatan gigi sekolah telah dilakukan penempatan sebanyak 62 set klinik gigi lapangan (KGL). Dalam Pelita III. Sedangkan melalui RSU.280 SLP dan 3891 SLA. sejak tahun 1980/1981 sampai dengan akhir Pelita III. Dalam Pelita III. Adapun pelaksanaannya dilakukan melalui rumah soot jiwa (RS jiwa). dan UKGS di puskesmas-puskesmas. dan pengembangan pelayanan kesehatan gigi integrasi terhadap 258 SD di 139 daerah tingkat II. Selama Pelita III telah dilakukan integrasi kesehatan jiwa ke 560 puskesmas. serta peningkatan pelayanan gigi di 104 RSU kelas D yang dilengkapi dengan 104 unit klinik gigi basis. telah dilakukan usaha kesehatan sekolah (UKS) melalui kunjungan berkala petugas puskesmas ke sekolah-sekolah.347 guru SLTA. telah ditempatkan sebanyak 1. penyembuhan. ditingkatkan pula pelayanan kesehatan gigi kepadamasyarakat. gelandangan dan posung.254 puskesmas dengan membina 82. serta pemantapan standarisasi pelayanan di rumah sakit. melalui usaha kesehatan gigi sekolah (UKGS) telah dilaksanakan pemanduan UKGS selektif bagi 108 SD.250 orang tenaga perawat gigi di 402 puskesmas.500 orang.224 guru SLTP dan 2. dengan jumlah kunjungan posien mental sekitar 40.404 SD. serta penanggulangan penderita mental khususnya psikotik. Untuk itu fungsi rumah sakit jiwa sebagai pusat rujukan pelayanan kesehatan jiwa semakin ditingkatkan. telah dilakukan juga pelayanan kesehatan jiwa yang dititikberatkan pada upaya pencegahan. rehabilitasi mental. Selama Pelita III telah dapat dicakup sebanyak 95. 5. di 40 RSU kelas C yang dilengkapi dengan peralatan bedah mulut sederhana. Sedangkan dalam rangka kesehatan gigi masyarakat desa.

20 buah RSU di ibukota propinsi. Sejalan Departemen Keuangan RI 279 . Dalam hubungan ini selama Pelita III telah dilaksanakan pembangunan gedung dan penambahan ruang pemeriksaan di 27 balai laboratorium kesehatan. Untuk itu baik sarana maupun peralatan laboratorium. Sedangkan untuk meningkatkan pelayanan laboratorium di puskesmas. Untuk itu selama Pelita III telah ditingkatkan pula baik sarana fisik maupun tenaga kesehatannya melalui pemban_nan 11 RSU baru sebagai pengganti RSU yang telah ada. Guna meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.076 tenaga laboratorium puskesmas. Selain itu pengiriman penderita dari puskesmas ke rumah sakit kabupaten dan rumah sakit yang lebih tinggi semakin ditingkatkan. kimia dan imunologi. Dalamwaktu yang sarna telah dilakukan pula rehabilitasi terhadap 192 buah RSU kabupaten/kotamadya. Untuk lebih meningkatkan fungsi rujukan tersebut. terus ditingkatkan pula pelayanan laboratorium kesehatan. 13 buah RS vertikal. terutama di daerahdaerah terpencil semakin ditingkatkan. 5 buah RS khusus vertikal dan sebuah Palang Merah Indonesia (PMI). sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah ditatar sekitar 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sementara itu guna menunjang peningkatan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. baik antarberbagai tingkat rumah sakit maupun antara puskesmas dengan rumah sakit. di bidang mikrobiologi. patologi. serta penambahan alat-alat laboratorium di 26 balai laboratorium dan 137 laboratorium kabupaten rumah sakit C. yakni melalui pemeriksaan laboratorium baik secara kualitatif maupun kuantitatif. pelayanan melalui rumah sakit juga terus ditingkatkan dengan penyempurnaan sistem rujukan. dokter-dokter ahli dari rumah rumah sakit yang tingkatannya lebih tinggi telah dikirim ke tingkatan yang lebih rendah.

dengan pemutusan matarantai penularan penyakit. yang dikembangkan melalui bantuan Pemerintah meliputi sebanyak 1.736 8.323 24.931 35. melalui latihan dan bimbingan tenaga sukarelawan kesehatan desa.698 1981/82 1982/83 2) 15.805 27.221 7.720 ) 28. kesehatan anak. dan 168 Dati II merupakan hasil swadaya masyarakat.972 1977/78 9. Dari jumlah tersebut. dibentuk Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD). Tabel VIII.647 44.693 desa meliputi sebanyak 1. sebanyak 5. Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit menular ditujukan khususnya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular.2. Penjenang kesehatan 1973/74 6. Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan daripada upaya-upaya yang telah dilakukan dalam tahun sebelumnya dan didasarkan atas ketentuan Departemen Keuangan RI 280 . Bid ani) 4.854 35.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan meningkatnya sarana fisik tersebut. Per a w a t 1) 3. yang disebut promotor kesehatan desa (Prokesa).693 35. Pemberantasan penyakit menular Pemberantasan penyakit menular mempunyai peran yang cukup penting dalam menunjang pembangunan.5. 5 JUMLAH BEBERAPAjENIS TENAGA KESEHATAN.698 desa. Perkembangan tenaga kesehatan dapat diikuti pada Tabel VIII.160 26. Peningkatan pembangunan sarana pelayanan kesehatan tersebut telah diikuti pula dengan peningkat an jumlah tenaga kesehatan.977 28.248 1974/75 7.644 8.000 40.279 9. Untuk itu selama Pelita III telah ditempatkan di 133 RS sebanyak 263 tenaga dokter. diberikan pula bantuan berupa peralatan medis dan non medis kepada 135 RSU propinsi/kabupaten.113 35. PKMD tersebut telah dikembangkan di 7. Sampai dengan akhir Pelita III.520 35.268 kecamatan. 8. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah diberikan bantuan obatobatan kepada 40 RS propinsi.4. 1973/1974 -1983/1984 J enis Tenaga 1.066 9. di 1. dan 269 Dati II yang tersebar di seluruh propinsi. Adapun untuk menggerakkan partisipasi masyarakat dalam peningkatan derajat kesehatannya.926 30. selama Pelita III telah disediakan obat-obatan dan bahan-bahan obat antara lain untuk RSU khusus pusat. D okter 2. di 410 kecamatan dan 101 Dati II.856 ) 10.577 1979/80 11.361 1980/81 12.678 kecamatan.456 31. sedangkan sisanya.262 1975/76 8.000 35. kebidanan dan kandungan serta penyakit dalam. 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Sementara itu guna memenuhi kebutuhan obat dalam masyarakat.400 37.707 1976/77 8.679 1) Sejak tahun 1976/1977 perawat dan bidan ditetapkan menjadi tenaga perawat kesehatan.711 33. dan 5 RS khusus vertikal. AMD (ABRI Masuk Desa) serta kegiatan sosial lainnya. yang memiliki keahlian dasar bedah.237 1978/79 10.061 35.681 32. penanggulangan bencana alam.678 16.679 1983/84 3) 17.985 desa.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

prioritas jenis penyakit yang telah ditetapkan. Sehubungan dengan itu, pemberantasannya diprioritaskan pada penyakit malaria melalui penurunan jumlah penderita, dan penanggulangan wabah yang terjadi di Jawa dan Bali, melindungi penduduk yang telah kebal dan berpindah dari Jawa dan Bali, serta menurunkan jumlah penderita di daerah yang keadaan sosial ekonominya rendah termasuk pemukiman transmigran dan pemukiman baru. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap sekitar 749 ribu sediaan darah penderita, pemberian obat kepada sekitar 798 ribu orang penderita, dan penyemprotan terhadap sekitar 75 ribu buah rumah. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 48,3 juta sediaan darah, pengobatan alas 45 juta orang dan penyemprotan 17 juta buah rumah. Pemberantasan penyakit demam berdarah (arbovirosis) dalam tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984, dilakukan melalui pemberantasan jentik nyamuk pada sekitar 200 ribu rumah dan penanggulangan fokus pada 800 lokasi. Dengan demikian selama Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemberantasan jentik nyamuk terhadap 528.516 buah rumah dan penanggulangan 11.632 fokus. Pemberantasan penyakit kaki gajah (filariasis) dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 dilakukan melalui pemeriksaan terhadap 146.778 sediaan darah malam dan pengobatan terhadap 200.557 orang penderita. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diperiksa sebanyak 737.702 sediaan darah malam, dan diobati sebanyak 1.136.573 orang penderita. Dalam waktu yang sama untuk pemberantasan penyakit rabies dan pes telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 200 sediaan darah tersangka rabies dan pengobatan terhadap 1.700 orang yang digigit oleh hewan tersangka rabies. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984, telah dikumpulkan dan diperiksa sebanyak 8.970 sediaan darah tersangka rabies, dan diobati sebanyak 66.408 orang penderita gigitan hewan tersangka rabies. Adapun dalam rangka pemberantasan penyakit pes, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diobati sebanyak 70 orang tersangka pes, sehingga sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diobati sebanyak 1.424 orang tersangka penderita pes. Pemberantasan penyakit demam keong (scbistosomiasis) dilakukan melalui survai terhadap tikus, keong dan specimen tinja, sella pengobatan selektif terhadap penderita di daerah endemis, yaitu di sekitar danau Lindu (Sulawesi Tengah). Selama Pelita III telah dilaksanakan survai di 15 lokasi dan pengobatan terbatas terhadap 12.799 orang penderita. Di samping itu dilakukan juga pemberantasan terhadap penyakit anthrax, yakni penyakit menularyang bersumberdari binatang. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan buIan Agustus 1984 tdah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 10 sediaan dan
Departemen Keuangan RI

281

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

pengobatan terhadap 30 orang tersangka penderita anthrax. Pemberantasan penyakit tersebut dilakukan di daerah endemis yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat dan Timor Timur, sehingga sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 361 sediaan dan pengobatan terhadap 844 orang penderita tersangka anthrax. Selain pemberantasan terhadap penyakit menular yang bersumber dari binatang, telah dilakukan pula pemberantasan penyakit yang menular secara langsung. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, pemberantasan terhadap TBC paru dilakukan melalui pemeriksaan dahak dari 19.000 orang penduduk dan pengobatan kepada 2.000 orang penderita, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah. diadakan pemeriksaan dahak terhadap 1.255.846 orang tersangka TBC, dan diobati sebanyak 141. 300 orang penderita, baik dengan streptomycin maupun rifampisin. Jumlah penderita yang diobati tersebut belum termasuk penderita yang diobati oleh BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru) dan dirumah-rumah sakit. Untuk pemberantasan penyakit frambosia juga te1ah dilakukan pemeriksaan terhadap sekitar 231.000 orangpendudukdan pengobatan terhadap 4.500 orang penderita, sehingga sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diperiksa sebanyak 37.268.231 orang penduduk dan diobati sebanyak 534.903 orang..penderita. Untuk pemberantasan penyakit ke1amin, dalam tahun pertama Repe1ita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan darah terhadap sekitar 20.500 orang, pemeriksaan gonorhoe terhadap 800 orang, dan pengobatan terhadap 17.500 orang penderita. Secara keseluruhan, sejak Pe1ita III sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan pemeriksaan darah terhadap 916.940 orang, pemeriksaan gonorhoe terhadap 271.079 orang, dan pengobatan terhadap 287.893 orang penderita. Se1anjutnya untuk pemberantasan penyakit kusta yang mempunyai angka kesakitan tinggi, antara lain di daerah Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya, dalam tahun 1984 te1ah diperiksa sekitar 25 ribu anak sekolah, dan 24.900 orang kontak (orang yang mempunyai hubungan dengan penderita). Dari hasil pemeriksaan tersebut, te1ah diobati secara teratur sebanyak 15.200 orang penderita, sehingga dengan demikian secara kese1uruhan sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 te1ah diperiksa sebanyak 20.608.702 anak sekolah dan 2.134.183 orang kontak, serta pengobatan terhadap 467.510 orang penderita. Dalam tahun yang sarna juga te1ah dilakukan pemberantasan terhadap penyakit cacing tambang dan parasit lainnya, melalui pemeriksaan sediaan darah dan sediaan tinja dari 105.153 orang, serta pengobatan terhadap sekitar 5.200 orang penduduk. Dengan demikian sejak tahun 1979/1980

Departemen Keuangan RI

282

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dilakukan pemeriksaan sediaan darah dan tinja terhadap 105.153 orang, dan pengobatan terhadap 646.722 orang penduduk, Berkaitan dengan pemberantasan penyakit kholera, te1ah dikembangkan 482 puskesmas menjadi pusat rehidrasi, serta te1ah ditemukan dan diobati sebanyak 246.000 orang penderita diare dan 4.100 orang penderita tersangka kholera. Sehubungan dengan itu, sejak awal Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 te1ah dikembangkan sebanyak 811 puskesmas menjadi pusat rehidrasi, serta telah diobati penderita diare dan kholera masing-masing sebanyak 4.006.583 orang dan 1.205.192 orang. Dalam program pemberantasan penyakit menular te1ah dikembangkan pula berbagai konsep pengembangan kesehatan, antara lain kegiatan imunisasi dan epidemiologi. Berkaitan dengan kegiatan imunisasi, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan vaksinasi BCG pertama kepada 299.000 anak, vaksinasi TT (tetanus toxoid) kepada 282.000 ibu hamil dan anak, vaksinasi DPT (deptherina pertusis tetanus) kepada 282.000 anak, vaksinasi DT (depthelina tetanus) kepada 233.000 anak, vaksinasi polio kepada 97.000 anak, serta vaksinasi pencegahan penyakit campak (morbili) kepada 57.000 anak. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diberikan vaksinasi BCG pertama kepada 5.298.918 anak, vaksinasi IT kepada 282.000 ibu hamil dan anak, vaksinasi DPT kepada 6.32L529 anak, vaksinasi DT kepada 2.064.482, anak, vaksinasi polio kepada 1.103.652 anak serta vaksinasi pencegahan penyakit campak kepada sebanyak 470.612 anak. Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyakit menular termasuk penyebaran penyakit dari satu tempat ke tempat lainnya, telah dilakukan peningkatan kesehatan terhadap pelabuhan karantina haji, pengamanan kesehatan dalam perpindahan penduduk serta isolasi penderita penyakit menular. Guna menunjang kegiatan tersebut, maka fasilitas sarana kerja dan keterampilan petugasnya terus ditingkatkan. Dalam waktu yang sarna juga telah diadakan persiapan pengamanan terhadap terjangkitnya penyakit menular di 10 lokasi transmigrasi baru, terutama penyakit malaria. Dengan demikian selama Pelita III dan tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, kegiatan tersebut secara keseluruhan telah mencakup 203 lokasi transmigrasi baru, di samping telah dilakukan pengamatan kesehatan bagi seluruh jemaah haji. Selain itu dalam tahun 1984 teiah dikembangkan pula isolasi penderita penyakit menular terhadap 11 rumah sakit di beberapa daerah, yang selain ditujukan pada penyakit yang nyatanyata menimbulkan masalah, juga terhadap penyakit menular yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan masalah. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakail pengamatan (surveillance) penyakit menular melalui survai terhadap 500

Departemen Keuangan RI

283

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

kejadian luar biasa (KLB), survai penyakit-penyakit tertentu di 255 rumah sakit, pengambilan 900 sampel, penyebaran data dalam bentuk bulletin epidemologi sebanyak 4.400 eksemplar, serta pelaksanaan survai entomologis serangga penular penyakit pada 200 lokasi. Sejak Pelita III dan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, secara keseluruhan telah dilaksanakan penyelidikan terhadap 21.520 KLB, survai beberapa penyakit menular di 2.418 rumah sakit, pengambilan 741.495 sampel, dan penyebaran data dalam bentuk bulletin epidemiologi sebanyak 217.214 eksemplar. Untuk menunjang penurunan angka kematian anak balita dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, terutama bagi golongan rawan dan masyarakat yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota, telah dilaksanakan usaha perbaikan gizi. Kegiatan ini diarahkan untuk melanjutkan dan meningkatkan status gizi masyarakat, serta pencegahan dan penanggulangan masalah gizi khususnya terhadap penderita kurang kalori protein (KKP), kurang vitamin A, anemia gizi besi serta gondok endemik melalui peranserta aktif masyarakat. Pencegahan dan penanggulangan KKP terutama ditujukan pada anak pra-sekolah, wan ita hamil, wanita menyusui serta penduduk di daerah rawan pangan dan bencana alam. Untuk menurunkan jumlah anak yang menderita KKP, baik dalam tingkat ringan maupun sedang, telah dilakukan peningkatan dan perluasan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK). Sehubungan dengan usaha peningkatan pelayanan kesehatan bagi anak-anak penderita gizi buruk, kaitan antara UPGK dengan puskesmas juga semakin ditingkatkan. Kegiatan UPGK yang dilaksanakan secara terpadu di sektor kesehatan, pertanian, agama dan keluarga berencana, serta swadaya masyarakat tersebut antara lain mencakup penimbangan anak balita, penyuluhan gizi, pemberian paket pertolongan gizi, pemanfaatan tanaman pekarangan dan pemberian makanan tambahan. Dalam tahun pertama Repelita IV selain dilanjutkan pembinaan pada desa UPGK lama, juga te1ah dikembangkan UPGK pada 3.000 desa baru, sehingga sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 kegiatan tersebut te1ah mencakup sebanyak 43.085 desa. Penanggulangan dan pencegahan kekurangan vitamin A pada aDak balita dalam tahun 1984/1985 sampai dengan Agustus 1984, telah dilaksanakan khusus untuk 15 propinsi rawan vitamin A yang desa-desanya belum terjangkau oleh UPGK melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi terhadap 1.550 orang anak balita. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 melalui kegiatan tersebut telah dicapai sebanyak 15.017.061 orang anak balita. Se1anjutnya guna menanggulangi dan mencegah gondok endemik, dalam waktu yang sarna telah dilakukan penyuntikan larutan radium dalam minyak terhadap daerah endemik berat meliputi 1.663.000 orang, sehingga dengan demikian

Departemen Keuangan RI

284

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sejak Pelita III hingga bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan penyuntikan terhadap 6.279.815 orang penduduk yang tinggal di daerah-daerah pegunungan. Sedangkan untuk menanggulangi dan mencegah anemia gizi besi telah dilakukan pemberian pil zat besi, penyuluhan gizi dan pemanfaatan tanaman pekarangan, yang pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam UPGK, sehingga me1alui paket tersebut se1ama Pelita III telah dicukupi kebutuhan zat besi terhadap 1.790.650 orang ibu hamil Adapun sistem kewaspadaan pangan dan gizi yang se1ama Pelita III baru dilaksanakan di beberapa daerah pemanduan di 5 propinsi, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diperluas ke 2 propinsi baru yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Salah satu syarat penting untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal dalam masyarakat adalah tersedianya air bersih yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan, terutama bagi penduduk yang berpenghasilan rendah baik di daerah pedesaan maupun di daerah perkotaan. Untuk itu se1ain disediakan sarana dan teknologi sederhana, terus dilakukan pula penyuluhan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memelihara sarana air bersih, serta pengawasan kualitas air minum dan pencemaran lingkungan. Adapun penentuan lokasi sarana air tersebut diprioritaskan pada daerah-daerah yang sulit memperoleh air bersih dan daerah yang tinggi angka kesakitan terhadap penyakit kholera dan penyakit perut lainnya. Sehubungan dengan itu, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dibangun berbagai jenis sarana air minum meliputi 3 buah penampungan mata air dengan perpipaan (PP), 7 buah sumur artesis (SA), 16 buah sumur gali (SGL), 1.277 buah sumur pompa tangan dangkal (SPT DK) dan 431 buah sumur pompa tangan dalam (SPT DL). Selanjutnya dalam waktu yang sama telah dibangun pula saringan pasir sederhana sebanyak 3 buah, sarana pengolahan Fe dan Mn sebanyak 7 buah dan kran umum sebanyak 40 buah. Selain telah dibangun berbagai sarana fisik tersebut, dilakukan pula pelaksanaan survai di 146 lokasi. Dengan demikian sejak Pelita III sarnpai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dibangun sebanyak 628 buah PP, 250 buah SA, 13.741 buah SGL, 244.411 buah SPT DK dan 27.160 buah SPT DL. Sejalan dengan itu, telah dibangun pula saringan posir sederhana, sarana pengolahan Fe dan Mn serta kran umum, masing-masing sebanyak 3 buah, 26 buah dan 40 buah, dan juga dilakukan survai di 800 lokasi. Untuk menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat terutama bagi masyarakat kota dan masyarakat desa yang berpenghasilan rendah, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan umum di 129lokasi, pembangunan multiple latrine sebanyak 10 buah, peningkatan sanitasi perumahan dan lingkungan di 93 lokasi, pengamatan

Departemen Keuangan RI

285

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida di 1.660 lokasi, serta grading tempat pembuatan dan penyimpanan makanan (TP2M) sebanyak 1.180 buah. Dengan demikian sejak Pelita III sarnpai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan umum, peningkatan sanitasi perumahan dan lingkungan, serta pengarnatan pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida, masing-masing di 77.271lokasi, 413 lokasi dan 1.660 lokasi, di samping juga pembangunan multiple latrine dan grading TP2M, masing-masing sebanyak 428 buah dan 5.977 buah.

8.4.3. Pengadaan dan pengawasan obat, makanan dan minuman Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam tahun terakhir Pelita III di bidang pengadaan dan pengawasan obat, makanan serta minuman pada dasarnya merupakan kelanjutan dan peningkatan dari kegiatan yang dilakukan dalam tahun sebelumnya. Upaya ini meliputi pengawasan dalam produksi, distribusi dan penggunaan obat, termasuk obat tradisional, makanan dan minuman, kosmetika dan alat-alat kesehatan, serta pengawasan terhadap penyalahgunaan narkotika dan bahan obat.berbahaya lainnya. Untuk menunjang kegiatan tersebut telah ditetapkan daftar obat esensial (DOE) yang dipakai oleh semua unit kerja kesehatan dalam pengadaan obat di sektor Pemerintah. Obat yang dihasilkan di sektor Pemerintah besamya sekitar 5 persen dari seluruh obat yang beredar, sedangkan sisanya merupakan produksi sektor swasta. Selanjutnya untuk memperlancar distribusi obat, dilakukan penataan kembali pola distribusi obat, baik terhadap sektor Pemerintah maupun sektor swasta. Sejalan dengan peningkatan produksi obat, selama Pelita III telah dibangun sebanyak 134 buah gudang farmasi di seluruh kabupaten dan kotamadya, di sarnping juga telah tersedia sebanyak 283 buah pabrik farmasi. Adapun jumlah pedagang besar farmasi dan jumlah apotik masingmasing telah mencapai 912 buah dan 1.717 buah. Dalam rangka pembinaan di bidang produksi dan distribusi obat, dilakukan pengambilan 76.305 sample obat untuk seluruh propinsi dan 47.430 sample obat untuk tingkat pusat. Untuk melestarikan dan mengembangkan obat-obatan tradisional, dilakukan pengawasan melalui pendaftaran, pemberian informasi dan penyuluhan, serta evaluasi terhadap kegunaannya. Berkaitan dengan itu selama Pelita III telah terdaftar sebanyak 2.3 88 buah produk obat tradisional dari 370 buah perusahaan. Selain itu telah pula diterbitkan buku-buku dan pedoman penyuluhan yang bersifat teknis terutama mengenai jamu gendong, pemanfaatan tanaman obat tradisional dan obat keluarga serta pertemuan-pertemuan ilmiah dalam bentuk seminar dan lain-lain. Selanjutnya untuk mendapatkan keposrian mengenai keamanan, khasiat, nilai gizi,
Departemen Keuangan RI

286

146 macam. Oleh karena itu dalam memasuki tahun kedua Repelita IV ini. Selain itu telah dilakukan pula pendaftaran terhadap produk kosmetika dalam dan luar negeri sebanyak 3. maka perlu adanya pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk.516 macam dan 48 macam.4. kegiatan pendaftaran obat. Untuk itu sejak Pelita I sampai dengan Pelita III telah dilaksanakan program keluarga berencana (KB) nasional. serta kadaluwarsa makanan yang berasal dari susu dan makanan-makanan bayi. yang terdiri dari laboratorium tipe B di 8 propinsi dan laboratorium tipe C di 18 propinsi. usaha percepatan program KB nasional ditempuh melalui pendekatan kemasyarakatan baik melalui jalur formal maupun informal.195 macam dan 3. tujuan secara kuantitatif demografis semakin dipercepat. Sementara itu untuk mendukung kegiatan pengujian obat dan makanan. sampai dengan akhir Pelita III telah dilakukan perluasan dan pembangunan gedung laboratorium pengujian obat dan makanan di 26 propinsi.256 macam. Namun demikian. di samping melalui wajib daftar dan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya yang telah beredar.4. serta produksi makanan dalam dan luar negeri sebanyak 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kegunaan. standar mutu dan persyaratan lain yang telah ditetapkan.467 macam dan 1. selama Pelita III antara lain telah diterbitkan dan diundangkan peraturan tentang bahan berbahaya. agar pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan cepat. Selain itu guna melaksanakan norma keluarga kecil yang bahagia dan Departemen Keuangan RI 287 . 8. makanan. kriteria obat jadi. dan mengarah kepada pengalihan tanggung jawab pengelolaan dari Pemerintah kepada masyarakat.054 macam. makanan dan lainnya.425 macam dan 2. Sejalan dengan perkembangan waktu dan pertimbangan hasil-hasil yang telah dicapai selama ini. yang semula direncanakan dapat dicapai dalam tahun 2000. serta alat-alat kesehatan produksi dalam dan luar negeri masing-masing sebanyak 1. penandaan obat. dipercepat untuk dapat dicapai dalam jangka waktu 10 tahun lebih awal yaitu dalam tahun 1990. Sedangkan untuk menjamin keselamatan pemakaian obat. yang ditempuh atas dasar sukarela. Penurunan fertilitas sebesar 50 persen dari keadaan tahun 1971. Berkaitan dengan itu selama Pelita III telah terdaftar produksi obat dalam dan luar negeri masing-masing sebanyak 4. Keluarga berencana Faktor penduduk merupakan salah satu modal dasar dan sekaligus sebagai faktor dominan dalam pembangunan nasional. Dalam hal narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya. pengawasannya dilakukan melalui pengaturan izin impor bagi apotik atau badan usaha yang akan mengimpor dan mengedarkannya. alat kesehatan dan sebagainya semakin ditingkatkan.

Kalimantan Selatan. Sumatera Barat. Jika dalam tahun-tahun sebelumnya lebih dari 50 persen peserta KB baru menggunakan kontrasepsi pil. Riau dan Kalimantan Barat yang mempunyai dampak politis psikologis dinyatakan sebagai propinsi khusus. Pelaksanaan program KB atas dasar hasil sensus penduduk Indonesia tahun 1980. Sedangkan propinsi DI Yogyakarta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sejahtera (NKKBS). Sulawesi Utara. sehingga jumlah seluruhnya dari awal Pelita III sampai dengan bulan Juli 1984 telah mencapai sebanyak 18. seperti spiral atau IUD. jumlah peserta KB baru yang menggunakan kontrasepsi IUD memperlihatkan kecenderungan meningkat yaitu dari sekitar 16 persen dalam tahun 1980/1981 menjadi sekitar 27 persen pada akhir Pelita III dan awal Pelita IV.4 juta peserta KB baru. propinsi Jawa Barat. Propinsi Aceh. pada saat ini telah mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air Indonesia. Penggunaan alat kontrasepsi diarahkan pada alat kontrasepsi yang selain lebih murah juga mempunyai clara lindung yang efektif. Kemudian propinsi Sumatera Utara. Sulawesi Tengah. Pelaksanaan program KB ini apabila dilihat dari dimensi perluasan jangkauan kuantitatifnya yaitu jumlah peserta KB baru. Jambi. Atas dasar penggarapan tersebut. Safari Catur Warga dan terakhir dikenal pula Safari KB Senyum (sungguh enak dan nyaman untuk masyarakat) Terpadu. Sulawesi Selatan. Propinsi Kalimantan Timur. maka setiap propinsi meneruskan cara-cara tersebut kepada daerah-daerah tingkat kabupaten/kotamadya yang strategis potensial. Demikian pula halnya dengan peserta KB baru yang menggunakan metode suntikan telah meningkat dari sekitar 3 Departemen Keuangan RI 288 . Irian J aya dan Timor Timur ditetapkan sebagai propinsi penerima transmigran. Dengan caracara penggarapan yang taktis menurut spesifikasi propinsi tersebut. Untuk itu telah dilakukan berbagai kegiatan program KB. juga telah diusahakan percepatan peningkatan kesejahteraan peserta KB yang dilakukan melalui program lintas sektoral dan pembangunan daerah. DKI Jakarta. Lampung. pada akhir Pelita III dan awal Pelita IV telah menurun sampai di bawah 50 persen. dan dari kebupaten/kotamadya selanjutnya diteruskan pula ke tingkat kecamatan yang potensial tanpa meninggalkan kecamatan lainnya. Di lain pihak. telah memberikan hasil yang cukup menggembirakan. dikategorikan sebagai propinsi penyangga. Bengkulu. Sumatera Selatan. dijadikan sebagai propinsi penyangga utama. Bali dan Sulawesi Utara ditetapkan sebagai pengembang program kependudukan.2 juta. Maluku. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang pasangan usia suburnya besar. penggarapannya dilakukan menurut pembagian wilayah yang didasarkan pada klasifikasi propinsi sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah. Dalam tahun terakhir Pelita III telah diperoleh peserta KB baru sebanyak 5. Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jumlah penduduknya banyak. antara lain Safari Spiral. Program KB yang sebelumnya baru meliputi 16 propinsi.

4 1.212.30 1.481.1984/1985 ( ribu orang) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1) Pil 14. Tabel VIII. ditunjang pula oleh penyediaan sarana pelayanan yang memadai.7 1. untuk menjangkau pelayanan KB yang lebih luas kepada masyarakat dikembangkan juga kegiatan pelayanan KB melalui till KB keliling.316.592.2 317. 480 buah klinik milik ABRI. yaitu sebagian besar peserta KB baru tersebut berumur di bawah 30 tahun dan berasal dari keluarga petani. selain juga dari dukungan pelayanan dan penanggulangan efek sampingan yang dilakukan di klinik dan di rumah sakit Departemen Keuangan RI 289 . jumlah klinik KB selama ini juga terus bertambah. 1969/1970 .220 buah klinik yang tersebar sampai ke kecamatan-kecamatan dan desa-desa.2 252 400. 246 buah klinik milik instansi lainnya dan 583 buah klinik milik swasta.424.20 2.550.524.80 1.7 398.885.9 24.215.90 1.80 1.330.60 2.90 2.60 2.593.3 330.6 1.7 380.087.6 IUD 29 76.908.505.5 461. Perkembangan jumlah peserta dan metode kontrasepsi yang digunakan dapat diikuti pada Tabel VIII.1 519.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 persen pada awal Pelita III menjadi sekitar 28 persen pada awal Pelita IV.9 Lain -lain 9.6.5 1) Angka sementara sampai dengan bulan Juli 1984 Keberhasilan pelaksanaan program KB nasior.70 3.7 280. sehingga sampai dengan bulan Juli 1984 telah mencapai 7.055.50 265.8 281.8 596.911 buah klinik milik Departemen Kesehatan. dari segi kualitas pun menunjukkan kenaikan.40 335 Jumlah 53. Di daerah perkotaan.1 285.90 2. Di samping terjadi peningkatan dalam jumlah peserta KB baru.3 293.966.120.4 937. Hal ini berarti bahwa penggarapan program KB telah dapat diarahkan kepada sasaran yang mempunyai potensi melahirkan yang tinggi.4 212.5 433.20 5. 6 JUMLAH AKSEPTOR BARU Y Al'TG DICAPAI MENURUT METODE KONTRASEPSI.051.70 1.6 218.2 366.8 892. Selain melalui klinik KB.2 187. Menurut statusnya.al ini selain didukung oleh kegiatan para petugas KB dan kesadaran masyarakat.10 1.966.90 1. klinik tersebut terdiri dari 5.20 382.80 2.078.6 79.50 1. pelayanan KB kepada masyarakat didukung oleh meningkatnya partisiposi para dokter dan bidan praktek swasta.10 2.90 1. baik berupa klinik KB maupun tenaga medis dan administrasinya.1 181.246.50 2.8 607 857. Sejalan dengan meningkatnya kegiatan KB.10 983.9 286.4 1.9 91.80 3.369.5 405.229.5 24. dan merupakan mayoritas daripada masyarakat yang berasal dari kalangan berpenghasilan rendah.2 496.9 384.246.

Sedangkan untuk daerah pedesaan.118 5. yang terdiri dari 4.569 2.920 3) 5. Adapun jumlah tenaga administrasi klinik dan petugas lapangan masing-masing adalah sebanyak 4.435 orang.134 5.722 Petugas lapangao .041 1) Pekerjaan administrasi dirangkap pembantu bidan 2) Belum ada tenaga PLKB (Petugas Lapangan KB ) 3) Angka diperbaiki 4) Angka sementara sid bulanJuli 1984 Sejalan dengan perluasan jangkauan program KB.975 4. Hal ini dapat diukur melalui indikator kuantitatif. Perkembangan KB dan tenaga pendukungnya dapat diikuti pada Tabel VIII.653 orang dokter.141 5.9Q.609 2.930 3. Sedangkan jumlah tenaga medis yang mendukung pelayanan KB sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sebanyak 16.3 persen memakai suntikan dan sisanya memakai alat kontrasepsi lainnya.275 1.465 1.995 3.586 7.609 6.999 7.445 6.544 6.601 4.1) 322 1.9 6.421 3.578 6.919 4.198 orang pembantu bidan.707 5.478 4.476 5.232 3.791 4.186 1.303 4.594 3. Tab el VIII.1984/1985 ( dalam jumlah orang.774 q.657 3.667 4. 9.646 1.343 3.7. kecuali untuk klinik KB dalam satuan ) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/19854) Jumlah klinik 727 1. 776 2. jumlah peserta KB yang telah dibina mencapai 14.242 4.964 11.678 1.584 orang bidan dan 5.241 3.1 juta peserta KB aktif atau sebesar 57.758 1.682 6. 1969/1970 .316 2.2) 1.096 4. baik terhadap peserta KB aktif maupun peserta KB yang diaktifkan kembali setelah beristirahat menggunakan kontrasepsinya. PERSONALIA DAN PETUGAS LAPANGAN KELUARGA BERENCANA.639 6.861 2.722 orang dan 12. Sampai dengan bulan Juli 1984.750 2. 54.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang menjadi pusat rujukan.956 2.041 orang.715 4. pelayanan kegiatan KB ini dilakukan melalui pembantu pembina keluarga berencana desa (PPKBD) dan sub-PPKBD.620 3.098 3.041 12. Peningkatan jumlah peserta KB aktif telah diikuti pula dengan peningkatan usaha pembinaan melalui program integrasi gizi.425 12.532 3.436 4.235 3.661 4. Departemen Keuangan RI 290 .392 3. yang dilakukan sampai ke desa-desa di seluruh wilayah Indonesia.882 3.064 7. pembinaannya pun menunjukkan kemajuan.220 Dokter 421 556 791 883 1.959 2.213 4.129 6.568 5.970 2.1 persen dari seluruh posangan usia subur.143 1.2) .8 persen dari peserta KB aktif tersebut memakai kontrasepsi pil. 7 JUMLAH KLINIK.000 9.974 6. 6. dan yang tetap setia menggunakan kontrasepsi secara berlanjut.319 4525 4.584 Pembantu bidan 75 580 605 1.808 3. Adapun menurut metode kontrasepsi yang dipakai.018 3.653 Bidan 855 1.198 Tenaga administtasi klinik .504 3.000 7.239 6.349 3.927 4.137 2.3 persen memakai IUD. 28.

Kesejahteraan sosial Pembangunan di bidang kesejahteraan sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan nasional.022 desa yang tersebar di seluruh wilayah tanah air dan telah memiliki 63. Apabila dilihat dari dimensi pelembagaan/pembudayaan. baik dari masyarakat maupun instansi Pemerintah yang semula belum turut menjadi pelaksana. dengan mengikuti program KB. Sub PPKBD atau paguyuban-paguyuban akseptor. Setiap tahap pembangunan di bidang kesejahteraan sosial diarahkan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat' Departemen Keuangan RI 291 . dan pelaksanaannya dilakukan searah.191 buah. Maka dari itu dikembangkan suatu usaha bersama dalam program peningkatan pendapatan yang dilakukan melalui kelompok-kelompok peserta KB. 8. telah dilakukan pemberian piagam penghargaan bagi peserta KB lestari 5 tahun. Melalui lembaga masyarakat ini selain dilakukan kegiatan pemberian kontrasepsi. Selain itu keterlibatan perusahaan-perusahaan untuk memberikan dukungan yang positif terhadap pelaksanaan program KB bagi buruh dan karyawannya juga semakin meningkat.731 buah pos penimbangan balita. dan penyuluhan makanan sehat. 10 tahun dan 16 tahun serta kepada lembaga masyarakat pengelola program KB di tingkat pedesaan. Proses pelembagaan di dalam masyarakat ditandai dengan terus meningkatnya lembaga-Iembaga masyarakat seperti PPKBD. Program gizi yang dilakukan melalui jalur program KKB ini dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencakup 27.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Selain itu.138 kelompok akseptor KB. jumlah PPKBD dan paguyuban telah mencapai 184. serta pemberian bib it kelapa hybrida kepada 500 ribu peserta KB lestari. yang salah satu kegiatannya adalah berupa penimbangan terhadap anak berumur di bawah lima tahun (balita). dan pengelola program KB. Sementara itu dalam rangka program peningkatan usia perkawinan dan program pendidikan kependudukan. Sedangkan untuk lebih memberikan dukungan psikologis bagi peserta KB. pelajar dan mahasiswa. saling menunjang dan saling mengisi dengan bidang-bidang pembangunan lainnya. telah dilakukan pendekatan kepada para pemuda. Di samping itu telah dilakukan pula program peningkatan pendapatan keluarga yang pada saat ini telah dilaksanakan di 8. telah pula dilaksanakan kegiatan-kegiatan lain yang berada dalam naungan program-program kependudukan yang sifatnya mendukung program kependudukan dan keluarga berencana (KKB). maka peranan dan status wan ita akan lebih potensial baik sosial maupun ekonomis. Kegiatan-kegiatan ini antara lain mencakup peningkatan gizi keluarga. keberhasilan program KB ditandai dengan makin berkembangnya partisiposi.5. Sampai dengan bulan Agustus 1984.

serta pengadaan pusat-pusat latihan kerja sebagai tempat kegiatan kerja produktif. Pembinaan kesejahteraan sosial Pelaksanaan pembangunan bidang kesejahteraan sosial dilakukan melalui berbagai program pembinaan. sampai dengan bulan Oktober 1984 telah berhasil dibina sebanyak 13.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 secara adil dan merata. terutama bagi para penyandang permasalahan sosial. latihan usaha swadaya sosial masyarakat. Sejak awal Departemen Keuangan RI 292 . pembangunan di bidang kesejahteraan sosial di samping diarahkan pada kelanjutan perbaikan dan perluasan segala kegiatan yang berfungsi pelayanan.450 karang taruna dan 14. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai penanaman rasa tanggung jawab sosial yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan rasa kebersamaan masyarakat dalam kesetiakawanan sosial. yang pada gilirannya akan mampu mengatasi atau menanggulangi berbagai permasalahan sosial di kalangan pemuda dan masyarakat. telah dilakukan pembinaan dalam bidang kepemimpinan sosial. serta yang tinggal di daerah perkotaan yang padat dan miskin. yang bertujuan memberikan bimbingan kepada para keluarga yang kondisi sosial dan ekonominya berada di batas rawan. Selain itu para remaja juga dibimbing dalam berbagai kegiatan yang meliputi keterampilan ekonomis produktif. Program lainnya adalah pembinaan kesejahteraan sosial. yang tujuannya untuk memberikan bimbingan agar dapat menyadari peranan dan tanggung jawabnya dalam menyongsong hari depan. Dalam hubungan ini. pemberian bantuan stimulan berupa modal dan bahan usaha produktif. swakarsa dan swasembada dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya semaksimal mungkin.5. yang bertempat tinggal di daerah minus.1. Melalui wadah Karang Taruna dimaksudkan pula untuk terwujudnya penghayatan dan pengamalan Pancasiladi kalangan remaja. partisipasi sosial masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan sosial semakin dikembangkan.800 remaja. Melalui wadah ini telah dilakukan pembinaan terhadap remaja. juga lebih diutamakan pada kegiatan yang berfungsi pencegahan dan pengembangan. Dengan bantuan ini diharapkan dapat tumbuh dan berkembang kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial. salah satu daripadanya adalah pembinaan generasi muda yang kegiatannya meliputi pembinaan Karang Taruna. agar dapat mencegah dan membatasi timbulnya masalah kenakalan atau kelainan tingkah laku remaja. Untuk menunjang kegiatan-kegiatan terse but. Sejak tahun pertama Repelita IV. pembinaan jasmani dan rohani serta kegiatan yang bersifat rekreatif. sehingga pada gilirannya mereka akan mampu berusaha secara swaclara. 8. Sehubungan dengan itu. penyuluhan dan bimbingan sosial. Kegiatan ini meliputi bimbingan dan penyuluhan sosial.

399 KK. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. melalui stimulan bahan bukan lokal sebanyak 18 unit telah berhasil dibina 6. Kegiatan ini antara lain meliputi penye1enggaraan latihan bagi ke1uarga miskin di bidang pembangunan perumahan secara gotong royong dengan semaksimal mungkin menggunakan potensi manusia dan alam yang ada. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pembinaan kesejahteraan masyarakat berasing ditujukan pada peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat yang hidup terpencil.160 KK.935 Dalam bina swadaya.160 wanita dalam kepemimpinan.709 keluarga bina swadaya. Sarnpai dengan tahun 1983/1984 telah berhasil dibina 35. dan 5. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. Usaha peningkatan peranan dan fungsi wanita ditujukan untuk mengembangkan kesejahteraan sosial wanita.114 orang. Kegiatan tersebut berupa pembinaan dan bimbingan agar mereka memiliki kern au an dan kemarnpuan untuk mengembangkan kondisi sosial dan budayanya ke Departemen Keuangan RI 293 . dalam waktu yang sarna juga te1ah diadakan pembinaan swadaya masyarakat di bidang perumahan dan lingkungan. Di samping itu dalam waktu yang sama te1ah diberikan pula 7. melalui stimulan sarana produksi telah berhasil dibina dan ditingkatkan taraf hidup para keluarga yang berpenghasilan rendah sebanyak 242.908 unit stimulan dana kesejahteraan sosial yang te1ah melibatkan 79.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pelita III sampai dengan akhir 1983/1984. me1alui stimulan perbaikan lingkungan sebanyak 716 unit yang me1ibatkan 7. telah dapat dibina me1alui stimulan bahan bukan lokal sebanyak 24. pe1estarian sumber-sumber alam lainnya. serta melalui stimulan peralatan bangunan lokal sebanyak 697 unit yang me1ibatkan 6. Selain itu juga berupa penanaman pengetahuan dan keterampilan dalam memelihara. telah berhasil dibina sebanyak 1. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. khususnya dalam pemantapan kemampuan dan keterarnpilan. Sedangkan dalam rangka pembinaan swadaya masyarakat di bidang perumahan dan lingkungan. agar dapat berperan serta dalam proses pembangunan tanpa mengurangi peranannya dalam pembinaan keluarga sejahtera. khususnya yang bertempat tinggal di daerah pedesaan.567 wanita dalam bina swadaya. pengaturan saluran air.080 kepala keluarga (KK).970 KK. serta pemberian stimulan bahan bangunan bukan lokal dan peralatan kerja. penggalakan penghijauan. Usaha-usaha tersebut terutarna diarahkan pada wanita yang kondisi kehidupannya tergolong miskin.384 perumahan warga binaan yang meliputi 17 desa. pengembangan peranserta fungsi lingkungan bagi kesejahteraan sosial masyarakat. telah berhasil dilakukan pembinaan me1alui potensi kesejahteraan sosial terhadap sebanyak 28. terbelakang dan berpindah-pindah. Se1ain bimbingan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat.

Sampai dengan akhir bulan Oktober 1984 melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 13. telah dilakukan peningkatan mutu dan kemarnpuan operasional organisasi sosial. dalam waktu yang sarna telah dibina pula sebanyak 8. melalui latihan dan praktek lapangan di bidang kesejahteraan sosial te1ah dibina pekerja sosial masyarakat (PSM).088 orang PSM yang tersebar di seluruh propinsi. Sejalan dengan itu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 arah kehidupan sosial yang selaras dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sementara itu telah dilakukan pula pembinaan terhadap keluarga dan remaja yang mengalami permasalahan sosial psikologis. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. yang dilengkapi dengan sarana umum seperti tempat ibadah. telah dibentuk tenaga kesejahteraan sosial sukarela (TKSS).490 orang.115 orang. Kemudian untuk tercapainya hasil-hasil pembangunan kesejahteraan sosial secara luas dan merata. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. dan tanah seluas 2 hektar sehingga diharapkan taraf hidup mereka akan dapat lebih ditingkatkan. Tenaga yang dipilih dari anggota masyarakat setempat. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. Selain itu diberikan pula bimbingan mental. Sedangkan dalam rangka memantapkan keserasian dan kesetiakawanan masyarakat dalam mengatasi berbagai masalah.449 KK.350 orang kader keserasian sosial. baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. Sedangkan untuk menunjang kelancaran kegiatan di bidang kesejahteraan sosial. melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 14. ditugaskan sebagai penggerak dan pelaksana dari peningkatan kesejahteraan sosial di lingkungan tempat tinggalnya. yang sampai dengan akhir tahun 1983/1984 telah mencapai 5. Untuk itu kepada para pengurus dan anggota organ isasi sosial diberikan latihan keterampilan dalam bidang manajemen dan prinsip-prinsip tehnik pendekatan sosial menurut bidang sasaran organisasi sosial. kepada setiap keluarga diberikan bantuan rumah sederhana. yang terdiri atas para tokoh masyarakat dari berbagai profesi. yang sekaligus sebagai pendorong kegiatan yang semakin meluas secara swadaya di kalangan masyarakat. serta latihan keterampilan dalam penanganan dan penanggulangan permasalahan sosial dalam masyarakat. Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan dan bimbingan sosial. menyebarluaskan dan melembagakan partisiposi sosial masyarakat dalam pembangunan di bidang kesejahteraan sosial. telah berhasil dibina 70. Melalui kegiatan ini sarnpai dengan bulan Oktober 1984. Sarana lain untuk membina masyarakat berasing adalah melalui pemukiman di suatu lokasi yang terletak pada jalur komunikasi dan ekonomi. sosial dan berbagai keterampilan dalam bidang-bidang usaha kesejahteraan sosial. telah dapat dibina sebanyak 164 organisasi sosial. sehingga Departemen Keuangan RI 294 . balai sosial dan sekolah sederhana. Dalarn rangka mcngembangkan.347 orang. telah diadakan penyuluhan sosial terhadap 5.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 melalui kegiatan ini sampai dengan akhir tahun 1983/1984 telah dibina sebanyak 8.220 anak. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984.597 orang cacat. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan sosial terhadap 4. Selama Pelita III. sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing. telah dilakukan pula pemberian bantuan dan penyantunan kepada para penyandang cacat. serta membangkitkan minat dan kecintaan bekerja bagi para gelandangan dan pengemis. 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan kepada 561 orang dan 41 KK fakir miskin. Bantuan dan penyantunan sosial Dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesejahteraan sosial bagi para penyandang masalah kesejahteraan sosial. anak-anak putus sekolah dan anak-anak dari keluarga miskin yang terhambat perkembangan sosialnya. mental dan agama. yang meliputi anak-anak yatim piatu terlantar. baik melalui sistem paoli maupun sistem luar panti. baik melalui sistem panti maupun sistem luar panti.833 KK dan 14. kepada mereka telah diberikan bimbingan sosial. para gelandangan dan pengemis itu disalurkan melalui kegiatan transmigrasi sosial. pemukiman lokal. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. Setelah mendapatkan bimbingan dan keterampilan tersebut. melalui transmigrasi sosial sebanyak 5. Dalam tahun. Sampai dengan akhir 1983/1984.822 remaja putus sekolah. Selain kepada anak terlantar. Untuk memulihkan kembali rasa harga diri.900 orang. Terhadap anak terlantar.835 KK. tidak menggantungkan pada bantuan orang lain dan dapat ikut serta dalam proses pembangunan. Departemen Keuangan RI 295 . 8.545 KK serta melalui pondok sosial sebanyak 600 KK. telah dilakukan berbagai kegiatan yang bertujuan agar mereka mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri. melalui sistem rami telah dapat dibina sebanyak 15. pola swakarya dan pola pondok so sial.222 anak. sedangkan melalui Loka Bina Karya (LBK) telah dibina sebanyak 300 orang.2.5. Selain itu kepada mereka diberikan pula keterampilan yang bersifat ekonomis produktif. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan so sial terhadap 2. telah diberikan bantuan dan penyantunan. melalui sistem panti dan luar panti telah berhasil dibina masing-masing sebanyak 29. melalui pemukiman lokal sebanyak 2. sedangkan melalui sistem luar panti sebanyak 221.010 orang dan 105.765 KK. yaitu melalui swakarya sebanyak 4. Sampai dengan Pelita III.745 KK.873 anak. melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 13.

guna melayani sebanyak 430 orang lanjut usia. keperintisan para pahlawan dan perintis kemerdekaan. Melalui panti tersebut diberikan pembinaan dan pengembangan yang bersifat spiritual. khususnya generasi muda. sampai dengan Oktober tahun 1984 telah berhasil dibina sebanyak 4. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. Selain usaha rehabilitasi para WTS. Melalui panti-panti tersebut. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. Di samping itu untuk maksud yang sama telah Departemen Keuangan RI 296 . serta kegiatan yang produktif bagi yang masih potensial. selanjutnya dapat disalurkan ke pasaran kerja sesuai dengan bakat dan jenis keterampilannya. Selain itu telah dilakukan pula pembinaan terhadap para lanjut usia/jompo melalui sistem luar panti dan Sasana Tresna Wredha.010 orang.600 orang dan melalui sistem luar panti sebanyak 3. yang terdiri dari 11 wisma tingkat propinsi. baik melalui sistem panti maupun sistem luar paoli. Selanjutnya telah dilakukan pula usaha rehabilitasi bagi para remaja yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika. melalui kegiatan ini telah berhasil dibina sebanyak 1. telah dilakukan usaha rehabilitasi. terhadap arti dan nilai-nilai kepahlawanan.610 orang. sedangkan untuk rehabilitasi anak nakal telah dibangun panti rehabilitasi di Jakarta. telah dilakukan pula rehabilitasi bagi para bekas tahanan.177 orang tuna sosial. dengan perincian melalui sistem panti sebanyak 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Selanjutnya untuk menanggulangi kehidupan yang sesat dari kelompok wanita tunasusila (WTS). Dalam kegiatan ini kepada WTS tersebut diberikan pendidikan budi pekerti dan berbagai keterampilan agar dalam kehidupan bermasyarakat kelak mereka dapat berdiri sendiri dengan menjunjung harga dirinya. kemasyarakatan dan rekreasi. telah dilakukan penyebarluasan gambar-garnbar dan buku-buku sejarah serta penulisan autobiografi para pahlawan dan perintis kemerdekaan. telah diberikan penyantunan dan pembinaan terhadap 4. telah dilaksanakan pembangunan panti baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten. Untuk menimbulkan kesadaran masyarakat. Dalam hal ini kegiatan yang dilakukan melalui LBK bertujuan agar setelah mereka dianggap mampu untuk terjun ke dalam masyarakat. telah berhasil dibina sebanyak 6. telah dibangun 43 buah wisma. masing-masing sebanyak 242. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. Sampai dengan akhir Pelita III.757 bekas narapidana. dan 32 wisma tingkat kabupaten. Untuk itu telah dibangun panti rehabilitasi sosial korban narkotika di Jakarla. Surabaya dan Medan.720 orang. yang pelaksanaannya dilakukan melalui sistem panti dan luar panti.411 anak korban narkotika dan anak nakal. Palembang dan Semarang. telah diberikan penyantunan dan pengentasan kepada 1. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. Dalam hal pemberian bantuan dan penyantunan bagi para lanjut usia/jompo yang terlantar atau kurang terurus.350 orang dan 2.765 orang lanjut usia.

Sampai kini jumlah perintis/pejuang kemerdekaan yang masih hidup dan yang jandanya telah mendapat pengakuan. Bersamaan dengan itu diusahakan pula peningkatan tarat hidup melalui bimbingan. Pembinaan dan pembaharuan hukum Pembinaan hukum merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembangunan yang tengah berlangsung. antara lain berupa bantuan usaha produktif kepada 1.606 KK. dan bantuan pemugaran makam sebanyak 280 buah.292 orang. Selain itu melalui pemukiman lokal dan transmigrasi sosial. obat-obatan dan pakaian. Kegiatan ini antara lain dilakukan melalui pengadaan panti persinggahan pada daerah-daerah rawan bencana. Sehubungan dengan itu. serta pembangunan monumen kepahlawanan. masing-masing adalah sebanyak 2. seperti propinsi Aceh. serta penyediaan panti persinggahan sebanyak 28 buah. Selain itu juga telah diberikan bantuan dan penyantunan perintis/pejuang kemerdekaan.000 eksemplar.1. 8. Sulawesi Utara. latihan pembimbing dan petugas lapangan sebanyak 540 orang.165 orang. makam pahlawan dan taman makam pahlawan (TMP).388 KK.525 orang dan 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dilakukan pemeliharaan dan pemugaran makarn perintis kemerdekaan. Riau.macam latihan keterampilan yang ekonomis produktif. Usaha yang berkaitan dengan pemberian bantuan dan penyantunan kepada para korban bencana alam pada dasarnya bersifat darurat. Adapun jumlah para korban bencana alam yang ditransmigrasikan ke luar pulau Jawa dan Bali mencapai 3. Sejak awal Pelita III sampai dengan bulan Oktober 1984. Sedangkan selama Pelita III telah dilakukan pemberian bantuan bahan bangunan rumah kepada 2. di samping juga dilaksanakan melalui pemberian bantuan berupa beras. para korban telah dipindahkan pula ke temp at lain. motivasi dan berbagai .840 KK dan yang ditempatkan pada pemukiman lokal di luar pulau Jawa dan Bali adalah sebanyak 3. Maluku dan Bali. kebijaksanaan pokok dalam pembangunan dan pembinaan hukum diarahkan agar hukum mampu memenuhi kebutuhan sesuai dengan tingkat dan perkembangan pembangunan di berbagai bidang.6.075 KK.6. Dengan demikian dapat diciptakan ketertiban dan kepostian hukum yang pada gilirannya dapat memperlancar Departemen Keuangan RI 297 . dan merupakan rehabilitasi agar kondisi sosial ekonomi para korban dapat menjadi lebih baik. Selama Pelita III telah dibangun dan dipugar sebanyak 157 buah TMP dan 9 buah makam pahlawan nasional serta penulisan buku perjuangan sebanyak 10. Hukum dan perundang-undangan 8. bantuan perbaikan rumah kepada 165 orang. telah dilakukan rehabilitasi sosial korban bencana alam sebanyak 35.

Penjadwalan Kembali Proyek-proyek Pembangunan yang Pembiayaannya Menggunakan Devisa Negara atau Kredit Komersial Luar Negeri. Dalam rangka menunjang perancangan perundang-undangan. Pendaftaran. serta Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Masyarakat. telah dilakukan kerjasama antara berbagai instansi yang ada hubungannya dengan bidang hukum. Hukum Perdata Internasional. Asuransi Sosial Tenaga Kerja. dan Persyaratan Pengajuan Keberatan. serta Peraturan Pemerintah tentang Pajak Atas Bunga Deposito Berjangka dan Tabungantabungan lainnya. Sementara itu dalam waktu yang sarna juga telah disahkan sebanyak 44 buah peraturan Pemerintah. antara lain meliputi Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Hukum Pidana. Undang-Undang ten tang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Selanjutnya dalam tahun 1983/1984 telah dibahas pula sejumlah rancangan undang-undang. serta Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 1984/1985. Pemberian Tunjangan Perbaikan Penghasilan Pensiun Bagi Penerima Pensiun/Tunjangan Yang Bersifat Pensiun. Perbendaharaan Negara. serta Keppres ten tang Dewan Standardisasi Nasional. Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Selain itu juga telah dihasilkan Peraturan Pemerintah ten tang Dewan Pers. Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai 1984. Koordinasi Usaha Kesejahteraan Sosial Bagi Penderita Cacat. yang terdiri dari Undang-Undang tentang Tambahan dan Perubahan Atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1982/1983. Grasi. Penangguhan Pajak Penghasilan Atas Bunga Pinjaman Yang Diterima Pemerintah Dalam Rangka Pinjaman Luar Negeri. antara lain Inpres tentang Pelaksanaan Penjadwalan Kembali Proyek-proyek di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi. antara lain Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984. Dalam tahun 1983/1984 telah dihasilkan 7 buah undang-undang. Pelaksanaan KUHP. Pemberian Nomor Wajib Pajak. serta RUU tentang Pelimpahan Teknologi. Daftar Skala Prioritas Bidang Usaha Penanaman Modal Tahun 1983/ 1984. Un dang-Un dang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Jam Krida Olah Raga. Kerjasama ini Departemen Keuangan RI 298 . Penyampaian Surat Pemberitahuan. Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Sedangkan yang berupa Instruksi Presiden. Koordinasi Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan. Untuk itu telah dilaksanakan pembaharuan dan pembentukan perangkat hukum nasional. Undang-Undang tentang Perhitungan Anggaran Negara Tahun 1979/1980. Badan Administrasi Kepegawaian Negara. Sementara itu telah pula dihasilkan sejumlah Keputusan Presiden antara lain Keppres tentang Rencana pembangilnan Lima Tahun Keempat (Repelita IV) tahun 1984/1985-1988/1989. serta Inpres tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan.

(KUHAP). khususnya dalam' pembinaan peradilan. dan 26 pengadilan tinggi yang terdapat pacta setiap propinsi kecuali Propinsi Timor Timur. pemantapan sikap. Dalam hubungan ini. masalah yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan RUU Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. di daerah-daerah yang wilayah pengadilan negerinya sangat luas dan sulit komunikasinya. aspek hukum dalam praktek pertanggungan perbankan umuk usaha pemborongan bangunan. serta penyempurnaan koordinasi dan kerjasama fungsional. Kotacane. Untuk itu telah dilakukan pemantapan kedudukan dan wewenang badan-badan penegakan hukum.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berbentuk kegiatan ilmiah. Di samping itu dalam waktu yang sarna juga telah dihasilkan penulisan karya ilmiah dengan judul Perlindungan hak-hak azasi manusia dalam KUHAP serta Politik hukum baru mengenai kedudukan dan Peranan hukum adat dan hukum Islam dalam pembinaan hukum. Gorontalo dan Watampone. dalam tahun 1983/1984 telah dibentuk 7 pengadilan negeri yang terletak di Garut. Sedangkan pertemuan ilmiah yang diselenggarakan antara lain meliputi evaluasi terhadap pembangunan hukum Pelita III menjelang Pelita IV. pertemuan ilmiah dalam bentuk lokakarya. di Departemen Keuangan RI 299 . peningkatan operasi yustisi untuk pengamanan hasil-hasil dan pelaksanaan pembangunan yang sedang berjalan. jujur dan dengan biaya yang terjangkau oleh pencari keadilan dalam berbagai lapisan masyarakat. antara lain berupa penelitian hukum. Penegakan hukum Kegiatan yang dilakukan dalam penegakan hukum pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan ketertiban dan kepostian hukum dalam masyarakat. Dengan demikian sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 telah dibangun 291 pengadilan negeri yang tersebar di hampir setiap kabupaten/kotamadya. baik antarsesama aparatur penegak hukum maupun dengan instansi-instansi lain. perlindungan hukum terhadap konsumen jasa angkutan. harmonisasi hukum di negaranegara ASEAN. penanggulangan kejahatan dan pembinaan narapidana. Sungai Liat. Selanjutnya untuk menunjang peningkatan dan penyempurnaan penegakan hukum.6. serta hukum kedokreran. 8. Putusibau. terus diusahakan agar proses peradilan lebih sederhana. aspek hukum perlindungan berkenaan dengan perluasan lokasi industri. cepat.2. Pacitan. serta kejahatan akibat teknologi modem. Selain itu guna meningkatkan pemerataan kesempatan dalam memperoleh keadilan. Sehubungan dengan itu. dalam tahun 1983/1984 telah dilaksanakan berbagai penelitian antara lain atas pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. perilaku dan kemampuan para penegak hukum. telah diadakan tempattempat sidang pengadilan sehingga pelaksanaan tugas hakim keliling dapat berjalan lancar. seminar dan simposium serta penulisan karya ilmiah dalam berbagai bidang hukum.

sehingga sampai dengan akhir Pelita III telah diberikan bantuan hukum bagi pencari keadilan yang kurang mampu sebanyak 17.238 orang. Sementara itu guna meningkatkan pelaksanaan penegakan hukum.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 samping telah dipercepatnya proses penyelesaian perkara di temp at kasus/sengketa.915 desa. sampai dengan tahun terakhir Pelita III telah dilakukan pembangunan 127 gedung baru pengadilan negeri. telah dilaksanakan pula berbagai kegiatan penyuluhan hukum. Sehubungan dengan itu. Kegiatan tersebut dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan di 2. yang dilaksanakan dengan pemutasian hakim. telah disediakan pula sebanyak 111 kendaraan yang terdiri atas berbagai jenis. radio swasta serta tempat. wawancara di TVRI/RRI. Di samping itu juga telah dilakukan rehabilitasi dan perluasan/penyempurnaan 19 gedung pengadilan negeri dan pengadilan tinggi.tempat umum dan publikasi media cetak lainnya. Sedangkan penyuluhan hukum yang dilaksanakan melalui program jaksa masuk desa. Sementara itu dalam waktu yang sarna juga telah diadakan pembinaan personal peradilan. baik yang bersifat pidana maupun perdata. dalam tahun 1983/1984 telah dibangun 7 gedung pengadilan negeri. terus dilakukan pemberian bantuan hukum. Dalam rangka peningkatan pemerataan kesempatan untuk memperoleh keadilan bagi masyarakat. telah ditingkatkan juga penyelesaian perkara.858 kasus pidana. telah dilakukan peningkatan dalam penyediaan prasarana dan sarana hukum. dari 766. untuk menunjang pembinaan dan pelaksanaan tugas-tugas penegak hukum.440 kasus konsultasi hukum dan 2. Dengan demikian. Guna meningkatkan kesadaran hukum dalam masyarakat. Sehubungan dengan itu. yang tersebar di 26 pengadilan tinggi. Dalam rangka menunjang pembinaan peradilan. penyuluhan pacta masyarakat dalam bentuk ceramah.496 perkara. Kegiatan tersebut sampai dengan tahun 1983/1984 telah meliputi sebanyak 45.527 desa. Di samping itu. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 jumlah hakim telah mencapai 2. 45 tempat sidang dan 11 gedung kejaksaan negeri/tinggi. dalam tahun 1983/1984 telah diberikan bantuan hukum terhadap 4. berupa penerangan tentang fungsi dan tugas pengadilan. antara lain melalui brosur-brosur yang disebarluaskan ke daerah-daerah. serta 79 gedung kejaksaan negeri/tinggi. baik secara regional maupun nasional.450 perkara bantuan hukum. serta rehabilitasi/penyempurnaan/perluasan 160 gedung pengadilan negeri daD gedung pengadilan tinggi serta 244 gedung kejaksaan tinggi/negeri. Dalam tahun 1983/1984. Di samping itu. 12 gedung baru pengadilan tinggi dan 373 buah tempat sidang. sejak tahun 1981/1982 telah dilakukan pula konsultasilbantuan hukum melalui 24 fakultas hukum negeri yang tersebar di seluruh Indonesia. terutama bagi golongan yang kurang atau tidak mampu. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 telah menjangkau 9.880 perkara yang ada di Departemen Keuangan RI 300 .

729 perkara at au sekitar 52 persen. Di samping itu dalam waktu yang sarna juga telah dilakukan pembangunan balai bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak (Bispa) masingmasing 5 dan 9 gedung. Kegiatan ini dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah diikuti oleh 3. serta pendidikan perancang perundang-undangan sebanyak 70 orang. serta guna pemantapan sikap dan kepekaannya terhadap perkembangan kesadaran hukum dan rasa keadilan masyarakat. keuangan dan perlengkapan sebanyak 570 orang.042 perkara yang ada di kejaksaan telah dapat diselesaikan 698. taat serta menghormati hukum dan norma-norma pergaulan hidup yang berlakudalam masyarakat. Sementara itu guna meningkatkan bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak. telah diadakan pendidikan di sekolah. Dalam tahun 1983/1984 dan tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Untuk menunjang sistem tersebut maka ditingkatkan pula pembangunan sarana penunjangnya. serta renovasi LP menjadi rumah tahanan (Rutan) masing-masing 73 dan 79 gedung.746 perkara yang ada di mahkamah agung. yang meliputi penataran administrasi kepegawaian. Selain itu dari 14. telah dilaksanakan pembangunan prasarana fisik berupa pembangunan baru/lanjutan masing-masing 22 dan 51 gedung lembaga pemasyarakatan (LP). beternak dan berwiraswasta. produktif.297 perkara yang ada pada pengadilan tinggi. telah dapat diselesaikan 5. serta perluasan/rehabilitasi gedung LP masingmasing sebanyak 162 gedung dan 224 gedung.816 orang. baik baru maupun lanjutan. pendidikan tenaga peneliti hukum sebanyak 30 orang. bimbingan sosial. mampu melanjutkan kehidupannya dengan wajar dan layak dalam masyarakat. Selain itu dalam periode yang sarna juga telah Departemen Keuangan RI 301 .184 perkara atau sekitar 71 persen.705 perkara atau sekitar 97 persen.336 perkara atau sekitar 99 persen. pendidikan umum. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilanaparat penegak hukum. Berkaitan dengan pembinaan pemasyarakatan. dan agar dapat menjadi warga negara yang kreatif. keterampilan perawatan dan pelayanan masyarakat. keamanan dan ketertiban. latihan dan penataran. dan dari 703. sistem pemasyarakatan yang ada diarahkan agar narapidana dan anak didik setelah selesai menjalani hukumannya. pendidikan keammaan. telah dapat diselesaikan sebanyak 7. pembinaan pramuka. perluasan/rehabilitasi masingmasing 24 dan 25 gedung LP. telah diselenggarakan berbagai kegiatan pendidikan. serta keterampilan bertani. telah dapat diselesaikan 747. pendidikan calon hakim sebanyak 210 orang. telah dilaksanakan pembangunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengadilan negeri. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984. Sedangkan dari 7. Adapun pembinaan narapidana dan anak didik dilakukan melalui pembinaan spiritual. serta program rekreasi/olahraga. penataran panitera/panitera pengganti sebanyak 150 orang.

Senggih. sehingga pembangunan ABRI akan selalu selaras dengan tingkat kemajuan pembangunan nasional. Sentani dan Kabil.034. Dalam tahun 1983/1984 telah dilaksanakan pembangunan 8 gedung kantor imigrasi yang terletak di pelabuhan-pelabuhan Cengkareng. sehingga dapat menjadi kerangka landasan yang dapat diandalkan dan tahan uji. pengawasan orang asing dan lalu lintas ke dan dati luar negeri terus ditingkatkan. 8.713 orang. Aruk.047 orang asing. maka baik frekuensi maupun volume lalu lintas orang dari dan ke luar negeri dari tahun ke tahun terus mengalarni peningkatan. serta pelaksanaan ibadah keagamaan (haji dan umroh). 8. di mana tiap-tiap warga negara berhak dan wajib Departemen Keuangan RI 302 . Liku. ketenagakerjaan.011. Sedangkan yang berangkat ke luar negeri berjumlah sebanyak 1.3. Dalam tahun 1983/1984. Banda Aceh. Bupul.666 orang Indonesia dan 711. Untuk mewujudkan usaha tersebut diperlukan prasarana dan sarana yang dati tahun ke tahun terus meningkat. Pertahanan dan keamanan Pembangunan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sampai dengan Pelita III telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kokoh dalam menuju angkatan bersenjata yang modern.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dibangun 38 gedung Bispa dan renovasi LP menjadi Rutan sebanyak 152 gedung. Dalam waktu yang sarna telah dibangun pula 11 pos imigrasi yang terletak di Sinabi. Siding. Jagoi Babang. masing-masing sebanyak 12 gedung dan 1 gedung. terdiri 286. Demikian juga telah dilakukan rehabilitasi dan perluasan kantor imigrasi dan asrama tahanan imigrasi. Kerangka landasan tersebut mempunyai pengertian yang seluas-luasnya. tanpa mengabaikan segi pengawasannya agar tidak mengganggu stabilitas nasional.379 orang. Sebatik. Berkaitan dengan itu penanganan bidang keimigrasian diarahkan untuk menunjang perkembangan yang terjadi di bidang-bidang tersebut. Jambi dan Banjarmasin.030 orang Indonesia dan 725. orang yang masuk ke Indonesia adalah sebanyak 1. Tanjung Petak. Dalam rangka menanggulangi subversi.7. Ubruk.6. baik masa sekarang maupun di masa yang akan datang.349 orang asing. terdiri dari 323. Pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan telah berkembang terus. Di samping itu ABRI juga telah mampu mengamankan pembangunan nasional dan kedaulatan Negara RI. Surakarta. Padang. Tanjung Priok. Keimigrasian Sejalan dengan perkembangan ekonomi dan hubungan antar negara. pengembangan pariwisata.

pembangunan ABRI masih dipusatkan pada pembangunan personalnya. Selama dua Pelita yang lalu. yaitu dengan telah disahkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia. maka telah ditingkatkan mutu aparat kepolisian agar mampu hadir secara fisik. kekuatan yang dibangun tetap dikonsentrasikan pada kekuatan kewilayahan yang lebih mempertegas dan memantapkan prinsip kesatuan wilayah Nusantara. Dalam hubungan ini masalah utama yang telah mendapat perhatian semua pihak adalah pendayagunaan sumber daya nasional bagi upaya pertahanan keamanan negara. yang memberikan landasan hukum yang bersumber pada Undang-Undang Dasar 1945. Dengan adanya undangundang tersebut. sekaligus sebagai pengayom dan pencipta rasa tenteram dan aman bagi lingkungan masyarakat. Dwi fungsi ABRI harus dilaksanakan sebaik-baiknya. termasuk di dalamnya sebagai kekuatan yang menjaga dan sekaligus menyegarkan demokrasi Pancasila. yaitu menjamin tetap tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Selama Pelita III telah berhasil dicapai tonggak baru dalam sejarah perkembangan ABRI. Sesuai dengan doktrin dasar nasional Wawasan Nusantara. yang disertai dengan penyebaran kekuatan penangkal dan penempatan perbekalan dalam upaya menyesuaikan luas wilayah ke dalam strategi pagelaran kekuatan. Politik pertahanan dan keamanan dimaksudkan untuk menjamin keamanan negara serta turut memelihara perdamaian dunia pada umumnya dan keamanan di kawasan Asia Tenggara khususnya. peralatan. agar ABRI dapat terus memikul tugas sejarahnya sebagai stabilisator dan dinamisator. ABRI menjadi seinakin mantap dalam mengemban tugas pokoknya. dengan inti kekuatan darat yang didukung kekuatan laut dan kekuatan udara. komando dan pengendalian. serta penyempumaan sistem dan manajemen. yakni mencakup usaha untuk mendapatkan prajurit ABRI yang Departemen Keuangan RI 303 . Adapun pembangunan kekuatan pertahanan dan keamanan yang telah dilaksanakan adalah berupa peningkatan mutu personal. Konsep pertahanan yang dikembangkan menyangkut pertahanan dan konsentrasi selektif sesuai dengan perkiraan keadaan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ikut serta dalam usaha pembelaan negara. Di samping itu dalam rangka ketertiban masyarakat dan penegakan hukum. sedangkan strategi pertahanan dan keamanan ditujukan untuk mencegah dan menangkal gangguan keamanan dalam negeri. Implementasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 dalam bidang organisasi telah dilaksanakan melalui Keputusan Presiden Nomor 46 Tahun 1983 tentang Pokok-Pokok dan Susunan Organisasi Departemen Pertahanan dan Keputusan Presiden Nomor 60 Tahun 1983 tentang Pokok-Pokok Susunan Organisasi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. yang memerlukan koordinasi yang terus menerus antara semua pihak yang berkepentingan.

25. 2 Grup Parako. dan 133. Hal tersebut dimaksudkan agar mampu mengemban tugas pokok ABRI dalam lingkungan yang terus bergerak dinamis guna mengikuti gerak pertumbuhan pembangunan nasional. yaitu kecil dalam jumlah dan sederhana dalam organisasi. 33 Kowil. Unit Survai dan Pemetaan TNI-AU menjadi Perum Penas. 58 kapal.Angkatan 1945. telah dilakukan peningkatan kekuatan operasi untuk masing-masing angkatan dan Polri. 14 Heli.003 orang TNI-AD . Penataran TNI-AL Surabaya menjadi PT Pabrik Kapal Indonesia.833 orang. Adapun kekuatan personal militer yang telah dimiliki sampai dengan triwulan IV tahun 1983/1984 adalah sebanyak 411. namun mampu melaksanakan tugas-tugas yang menjadi kewajibannya. serta penyempurnaan fasilitas perawatan personal melalui pembangunan sistem pangkalan. 82 Yonif. Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio TNI-AU menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. Usaha-usaha tersebut meliputi pengembangan Unit Industri Bahan Peledak TNI-AU menjadi Perum Dahana. 292 Kodim dan 3215 Koramil untuk TN I-AD . 3. Hal ini memerlukan daya pukul dan kecepatan bergerak yang tinggi. 41 Korem. sehingga pada akhirnya mampu berswasembada secara keseluruhan. 47 Heli. maka secara bertahap beberapa peralatan utama ABRI telah mulai diganti dengan yang lebih maju tingkat teknologinya. yang sangat penting bagi pengembangan Departemen Keuangan RI 304 .098 orang TNI-AU. agar mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air. 25 pesawat udara (Pesud). serta 102 Pesud. mulai dari pendidikan tamtama hingga pendidikan tinggi perwira. 281 Kores. yang antara lain meliputi penyempurnaan sistem penerimaan anggota baru ABRI. Untuk menunjang usaha tersebut telah dilakukan kegiatan-kegiatan pokok. 6 Yonif Mar dan 10 Yonban Mar untuk TNI-AL. Pembangunan kekuatan ABRI tersebut dilaksanakan untuk mewujudkan ABRI sebagai kekuatan yang kecil tetapi efektif. Untuk menunjang usaha tersebut. Perindustrian TNI-AD (Pindad) menjadi PT Pindad.838 orang Polri. 2 Grup Sandha.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 mewarisi jiwa dan semangat pejuang.233 Kosek dan 56 Sat Brimob. Adapun kekuatan operasi tersebut meliputi 2 Brigif Linud. 53 Yonban. Sedangkan untuk Polri adalah mencakup 17 Kodak. serta Pabrik Roket Menang TNI-AU menjadi bagian dari divisi senjata PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. sehingga tingkat teknologi maju yang terus berkembang hams dapat dikuasai. Di samping itu koordinasi antardepartemen. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. yang terdiri dari 216. Untuk mengurangi ketergantungan peralatan ABRI pada luar negeri.944 orang TNI-AL. Selanjutnya dilakukan juga penyempurnaan sistem pendidikan dan latihan ABRI. dan 1 Yon Posgat untuk TNI-AU. maka telah digalakkan industri nasional dalam pembuatan komponen atau suku cadang peralatan utama ABRI. dan yang memiliki kemampuan profesional yang cukup tinggi dalam bidangnya. 36. 16 Kodam.

antara lain dengan memperkenalkan teknologi yang layak dan sesuai dengan perkembangan daerah pedesaan. film. Operasional penerangan Pembangunan operasional bidang penerangan dalam pelaksanaannya mencakup peningkatan peranan pusat penerangan masyarakat (Puspenmas). pees. sehingga dapat menjalankan fungsinya dalam menyebarkan informasi yang obyektif. Guna Departemen Keuangan RI 305 . 8. memasyarakatkan kebudayaan dan kepribadian Indonesia serta menggairahkan partisiposi masyarakat dalam pembangunan. Hal ini secara tidak langsung akan mendidik masyarakat pedesaan agar tidak mudah terpengaruh pada keinginan untuk melakukan urbanisasi.8. Guna meningkatkan peranan pers dalam pembangunan. baik yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan penerangan di dalam negeri maupun di luar negeri. serta meningkatkan pemeliharaan kesehatan bagi lingkungan. serta memperluas komunikasi dan partisiposi masyarakat.1.8. mengembangkan usaha bersama melalui sistem koperasi. Untuk itu telah dilaksanakan berbagai kegiatan penerangan terutama yang bersifat menggelorakan semangat pengabdian dan perjuangan bangsa. yang dilakukan melalui penambahan sarana dan prasarana penerangan. pameran dan media tradisional. 8. televisi. yang pada gilirannya akan meningkatkan pula pendapatan atau kesejahteraannya. bebas dan bertanggung jawab. Penerangan Pembangunan di bidang penerangan terutama ditujukan untuk meningkatkan penerangan sampai ke desa-desa. juga telah dimantapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 1983 tentang Pembentukan Dewan Pembina dan Pengelola Industri-industri Strategis dan Industri Pertahanan Keamanan. telah ditingkatkan pula peranserta masyarakat pedesaan dalam pembangunan. dengan lebih meningkatkan pendayagunaan sarana penerangan seperti radio. mengembangkan sistem perekonomian yang lebih baik dengan mengutamakan asas gotong royong. memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional. Sejalan dengan itu. Dengan adanya kegiatan tersebut. melakukan kontrol sosial yang konstruktif.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 industri pertahanan keamanan. masyarakat pedesaan diharapkan akan dapat menggali dan memanfaatkan sumber-sumber kekayaan yang ada di daerahnya. dan peningkatan jumlah frekuensi dari berbagai jenis kegiatan penerangan umum. terus ditingkatkan pengembangan pers yang sehat. Untuk itu melalui Puspenmas diberikan penerangan dan bimbingan. menyalurkan aspirasi rakyat.

Pameran pembangunan di tingkat pusat dilakukan pada setiap tanggal 20 Mei. Sulawesi Selatan. serta mobil unit visual mini yang terdiri alas muviani darat dan muviani air. Nusa Tenggara Barat. yaitu bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional. ruang perpustakaan. yang dalarn penyelenggaraannya terutarna disesuaikan dengan momentum hari-hari bersejarah. dalam meningkatkan mutu dan peranan juru penerang (Jupen) yang bertugas di kecamatan. Hal ini dimaksudkan agar para Jupen tersebut dapat memonitor siaran-siaran Pemerintah. Sampai dengan bulan Agustus 1984 tahun pertama Repelita IV. Timor Timur.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menunjang usaha tersebut. yang antara lain meliputi peragaan visual. terutarna dalam rangka meningkatkan peranserta wanita dalam pembangunan. dalam pembangunan gedung Puspenmas selalu dilengkapi dengan ruang aula. Dalam waktu yang sama juga telah dilaksanakan usaha peningkatan mutu dan peranan daripada Jupen wanita. mobil unit suara.135 unit dan 300 unit. baik melalui pameran di tingkat pusat. Bali dan Sulawesi Utara. juga dilengkapi dengan berbagai sarana penerangan antara lain berupa radio kaset. yaitu meliputi mobil unit penerangan. Jambi. Sebagaimana halnya dengan Puspenmas. Riau. terutama industri kecil. Di samping itu guna menunjang kelancaran pelaksanaan penerangan sampai ke desa-desa. Dengan demikian sampai dengan tahun pertama repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 pembangunan gedung Puspenmas telah mencapai 275 buah yang mencakup 27 ibu kota propinsi. Jawa Barat. yang untuk selanjutnya dapat menyebarluaskan materi siaran tersebut kepada masyarakat sebelum diterima dokumen lengkapnya. Sarnpai dengan akhir Pelita III. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 sebanyak 110 orang. dan pada periode antara tanggal 21 Juni sarnpai dengan tanggal 21 Juli Departemen Keuangan RI 306 . Sumatera Selatan. Selain itu kegiatan tersebut juga berfungsi sebagai salah satu promosi hasil-hasil industri. mobil unit panggung. alat-alat duplikasi dan sarana mobilitas penerangan. Jawa Tengah. jumlah Jupen wanita yang secara aktif ikut memberikan penerangan kepada kaum wanita di daerah-daerah pedesaan mencapai 380 orang. dalarn tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Agustus 1984 telah menjadi sebanyak 25 buah yang tersebar pada 11 ibukota propinsi meliputi propinsi Jawa Timur. Hal ini merupakan suatu kegiatan terpadu antara Pemerintah dengan unsur-unsur swasta. maupun di daerah-daerah sampai dengan tingkat kecarnatan yang dilaksanakan dengan pameran keliling. telah ditingkatkan pula penyediaan sarana mobilitas bagi para Jupen. Sehubungan dengan itu apabila dalam tahun 1983/1984 pembangunan gedung Puspenmas baru mencapai sebanyak 11 buah. hiburan dan sarasehan/pentaloka. Salah satu kegiatan penerangan yang dilaksanakan secara langsung adalah pameran pembangunan. penyediaan muviani darat dan muviani air masing-masing telah berjumlah sebanyak 3.

Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama dan persahabatan bagi bangsa-bangsa di kawasan ASEAN khususnya. Radio Dalarn rangka meningkatkan frekuensi dan mutu siaran RRI. Dengan demikian sampai dengan bulan Agustus 1984. terutama yang ditujukan ke daerah-daerah Indonesia bagian timur dan Posifik Selatan. isi. yang meliputi alat-alat studio/pemancar.2.000 eksemplar dan Indonesia Spotlight On Event sebanyak 72. 8. penyebaran kaset penerangan dan penyuluhan ke daerah-daerah. terutama yang mempunyai pengaruh langsung terhadap pembangunan di Indonesia. Selanjutnya pada setiap tanggal 1 Oktober. pameran pembangunan dilaksanakan pada setiap tanggal 17 Agustus.8. Pengembangan sarana penerangan 8. guna meningkatkan peranserta masyarakat dalam pembangunan maka dalam waktu yang sama telah diberikan 48. Sedangkan untuk tingkat propinsi. Dalam rangka meningkatkan citra Indonesia di luar negeri. Dengan demikian minat luar negeri terhadap pelaksanaan pembangunan di Indonesia diharapkan akan semakin meningkat.000 eksemplar brosur/ majalah yang terdiri atas 25 judul. dilakukan pula pameran pembangunan untuk tingkat kabupaten/kotamadya. Indonesia Elyoum sebanyak 18. yang bersamaan dengan dilakukannya peringatan hari Kesaktian Pancasila. serta penyelenggaraan siaran wanita dalam pembangunan. jumlah serta frekuensi paket penerangan ke luar negeri yang disalurkan melalui perwakilan-perwakilan Indonesia yang berada di luar negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berupa Pekan Raya Jakarta. Guna menunjang kebijaksanaan tersebut. dan dunia internasional pada umumnya. Sedangkan khusus untuk Timor Timur.2. dalam tahun pertama Pelita IV antara lain telah dilaksanakan peningkatan sarana penyiaran. OB Van dan gedung studio/pemancar. Selanjutnya guna meningkatkan kekuatan pemancar RRI. baik melalui forum pertemuan/sarasehan maupun dengan pengadaan buku/brosur tentang pelaksanaan/perkembangan pembangunan di Indonesia.8. telah diberikan pembinaan.000 eksemplar. perlombaan bintang radio dan televisi. RRI telah memiliki 301 buah pemancar yang Departemen Keuangan RI 307 . terus diusahakan peningkatan mutu. dan masyarakat asing yang tinggal di Indonesia. perekaman. bersamaan dengan peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. dalarn tahun 1983/1984 antara lain telah diterbitkan majalah Indonesia Today sebanyak 48.000 eksemplar. dewasa ini telah dilaksanakan pengudaraan pemancar gelombang pendek dengan kekuatan 250 kilowatt.1. Di sarnping itu juga telah diadakan kompetisi siaran pedesaan. Demikian pula halnya kepada masyarakat Indonesia di luar negeri.

Dengan demikian secara keseluruhan jumlah stasiun pemancar TVRI yang berhasil dibangun sampai dengan periode tersebut telah mencapai 199 buah. terdiri dari 244 jam per minggu yang disiarkan melalui 48 buah Radio Republik Indonesia (RRI) dan 240 jam per minggu yang disiarkan melalui 108 buah Radio Pemerintah Daerah (RPD). terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. Televisi Dalam rangka meningkatkan daya jangkau penerangan dan pengembangan siaran di seluruh pelosok tanah air melalui televisi.2. isi maupun persentase siarannya. kemudian diikuti oleh kelompok pemuda dan kelompok wanita yang masing-masing mencapai 6.4 persen.609 kilometer. Medan dan Palembang.000 orang dalam tahun 1983/1984 menjadi 41. pengadaan 10 unit stasiun produksi keliling. Sehubungan dengan perluasan jangkauan siaran TVRI. Dalam pada itu jumlah pendengar siaran pedesaan juga telah meningkat sebesar 5. Untuk meningkatkan peranserta masyarakat pedesaan dalam pembangunan. jumlah jam siaran pedesaan telah ditingkatkan sehingga mencapai 484 jam dalam satu minggu. Kegiatan pembinaan kelompok pendengar siaran pedesaan. yaitu dari 39. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah meningkat menjadi Departemen Keuangan RI 308 .902 orang.2. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.997 kilowatt. kelompok dewasa merupakan kelompok pendengar yang paling banyak yakni 28. serta pembangunan 189 stasiun pemancar. telah dibangun lagi 10 buah stasiun pemancar. dilakukan secara terpadu dengan kelompok pembaca dan pemirsa (Kelompencapir).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tersebar pada 49 stasiun di seluruh Indonesia dengan kekuatan terpasang sekitar 2.325 orang dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. baik mengenai mutu. pembangunan studio warna di Ujungpandang. apabila dalam tahun 1983/1984 luas daerah jangkauannya baru mencapai 495. sampai dengan akhir Pelita III telah dapat diselesaikan pengembangan tahap pertama studio produksi TVRI di Jakarta. Dari jumlah tersebut. terus ditingkatkan siaran pedesaan baik mengenai mutu maupun isinya. Selanjutnya untuk meningkatkan sarana produksi dan jangkauan siaran TVRI.8. terutama dalam rangka menggali potensi seni budaya bangsa yang tersebar di berbagai daerah. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.814 orang dan 5. Di samping itu juga telah dilaksanakan intensifikasi penggunaan stasiun produksi keliling dalam bentuk mobil unit. sehingga pada gilirannya RRI akan dapat menyatu dan akrab dengan khalayak pendengarnya. 8.609 orang. Dengan demikian dalam pembinaan selanjutnya akan terus diusahakan agar di setiap desa di seluruh Indonesia terdapat sekurang-kurangnya 1 kelompok pendengar yang tergabung dalam Kelompencapir.

100. Penduduk dalam daerah pancaran (juta orang) 1 ) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1969/70 2 4 80.261 514 25.126. Nopember 1828.435 519 25. seperti film drama.1984/1985 Jam siaran Hiburan Berita/penerangan/ pendidikan /kebudayaan Lain .8 dan Tabel VIII. Jaka Sembung.740 4.500 36.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.740 1970/71 800 800 300 1.900 1971/72 900 800 270 1.5 1970/71 3 4 135.500 26. saling pengertian.308 495. Perfilman nasional Peningkatan dan pembinaan bidang perfilman nasional terutama ditujukan untuk meningkatkan citra.915 17.000 419. LUAS DAERAH DAN JUML_H PENDUDUK DALAM DAERAHPANCARAN TVRI.461 731 15. Lebak Membara.500 5.5 1974/75 6 23 410. STASI_N PEMANCAR.420 7.780 1974/75 3. terus diusahakan terciptanya mekanisme kerjasama. Sehubungan dengan usaha regenerasi pewarisan nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa.500 90 1982/83 9 186 2.740 buah. agar film/rekaman video produksi nasional dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.000 406.971.000 87 1981/82 9 124 2.8.9 1977/78 9 70 895. Kartini.808 115.180 229.000 82 1979/80 9 89 1.5 juta orang menjadi 115.000 85 1980/81 9 107 2. sedangkan film/rekaman video impor hanya berfungsi sebagai pelengkap.470 72.000 22.808 kilometer.430 75.508 17.5 1971/72 4 8 190.2 8.572 25. di Pusat Produksi Film Negara (PPFN) pada saat ini telah dan sedang di produksi film-film sejarah seperti Serangan Fajar.900 42 1975/76 6 26 542.631 1978/79 5.000 36.504 25. yang berarti telah meningkat dengan 90.000 1973/74 2. baik dalam memenuhi kebutuhan di dalam negeri maupun di luar negeri.600 95.610 1.000 72. mutu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 534.2. yang sekaligus terkandung penertiban judulnya.100 80. Perkembangan sarana dan jumlah jam siaran TVRI menurut jenis siaran dapat diikuti pada Tabel VIII. action serta film khusus untuk anak-anak dan remaja.5 1972/73 4 10 220.433. rasa persatuan dan tanggung jawab di antara organisasi profesi.940 174. 8 JUMLAH JAM SIARAN TELEVESI MENU RUT JENIS SIARAN. dalam periode yang sama telah meningkat dari 95.572 25. Sedangkan jumlah pesawat televisi yang terdaftar pada kantor pos dan giro dalam tahun yang sama telah mencapai 5.740 534.100 40. pelaksanaannya diarahkan pada tercapainya suatu keseimbangan di antara tema-tema fIlm yang diproduksi. Studio (buah) 2.020 2.719 1980/81 5.500 40 1973/74 6 22 351. Guna mewujudkan iklim yang sehat bagi perkembangan industri perfilman dan rekaman video. Luas dalam jangkauan (Km2) 18.323 1981/82 6.038 1979/80 5. Demikian pula jumlah penduduk yang telah terjangkau oleh siaran TVRI. TabeI VIII.000 24.026 2.435 519 25.5 9 199 5.890 495.232 2.578 1983/84 1984/85 1) 7.439 11.980 1976/77 4.906 18. 1969/1970 .405. Selanjutnya dalam rangka peningkatan produksi film.965 Tabel VIII.680 560 6.011 18. 1969/1970 . Departemen Keuangan RI 309 .1984/1985 Uraian 1.011 18. Pesawat televisi (buah) 4. Sehubungan dengan itu.030 650 12.160 512 25.719 1982/83 6.100 1977/78 3. Stasion pemancar (buah) 3.600 95.599.827 427.432 buah atau sebesar 1. maka kemampuan mekanisme tata peredaran film/rekaman video nasional terus ditingkatkan.965 7.700 470 4.970 1972/73 930 800 270 2.232 2.2 juta orang.lain Jumlah 1) Angka sementara 1969/70 680 800 260 1.000 34. komedi.519 17. PESAWAT TELEVISI.000 400.030 1975/76 1.9. 9 JUMLAH STUDIO.000 82 1978/79 9 82 1.5 1983/84 1984/85 2) 9 189 5.433.343.944 18.600 73 1976/77 6 34 632.3. jumlah produksi serta kelancaran peredaran dan pemasaran fIlm Indonesia.410 600 6.

4. di samping setiap tahun juga diikutsertakan dalam Festival Film Asia dan Festival Film ASEAN secara rutin.8. terus ditingkatkan usaha menghidupkan film produksi nasional. Berlin. film-film Indonesia telah diikutsertakan dalam festival dan pekan film internasional.2. 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Departemen Keuangan RI 310 . masing-masing sebanyak 16 judul. Cannes. jumlah ekspor film Indonesia ke luar negeri telah mencapai sebanyak 22 judul. Se1anjutnya dalam rangka meningkatkan mutu penyajian film. film dokumenter nasional dan film dokumenter/iklan yang dibuat orang asing. di sampingjuga telah diproduksi film iklan. te1ah diproduksi film ceritera nasional sebanyak 337 judul yang berarti rata-rata dapat diproduksi sebanyak 67 judul per tahun. selama Pelita III telah diikuti festival dan pekan film internasional di Manila. Pers Peningkatan pembinaan di bidang pers terutama ditandai dengan telah ditetapkannya Undang-Undang No. disediakan 30 copy dengan perincian 27 copy untuk Daerah Tingkat I dan 3 copy untuk arsip nasional. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah dihasilkan 46 judul. London. Sedangkan untuk peredaran di luar negeri me1alui 59 kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) telah disediakan 60 copy. Dalam hubungan ini. sejak tahun 1983/1984 PPFN telah diperkenalkan film Cinerama. Dengan te1ah dilaksanakannya peningkatan di bidang pertunjukan. Selanjutnya untuk lebih memperkenalkan budaya bangsa Indonesia di luar negeri. sehingga dapat menampung penonton sebanyak 3 kali lebih besar dibandingkan dengan pertunjukan film yang dalam penyajiannya menggunakan teknik biasa. Selanjutnya agar film tersebut dapat mencapai peredaran di dalam negeri selama dua tahun. Selama Pelita III. yaitu ke Malaysia. Sedangkan dalam tahun 1984 antara lain telah diselenggarakan Festival Film Indonesia (FFI) di Yogyakarta dan Festival Film ASEAN XIV di Jakarta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Kamp Tawanan Wanita. Kereta Api Terakhir dan Sejarah Orde Baru. Adapun film Sejarah Orde Baru dimaksudkan untuk meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap bahaya laten PKI. yang merupakan perubahan alas Un dangUndang No. Los Angeles dan Milano. 21 Tahun 1982. Sementara itu guna meningkatkan usaha promosi dan pemasaran film Indonesia ke luar negeri. Selama Pelita III. sejak tahun 1984/1985 diproduksikan fIlm dengan menggunakan sistem Imax yaitu suatu teknologi perfilman yang menggunakan sistem proyektor 70 mm/6 sound track. yaitu suatu film yang dalam penyajiannya menggunakan layar lebar dan membentuk 180?. di samping juga sebagai film pendidikan bagi generasi muda. 76 judul dan 40 judul. Singapura dan Brunai. Hongkong. 8.

khususnya yang mempunyai hubungan secara langsung dengan tugas di bidang pembangunan desa. Bantuan pembangunan daerah 8. sehingga dengan adanya KMD tersebut benar-benar akan dapat memberikan motivasi kepada masyarakat pedesaan untuk ikut berpatisiposi dalam pembangunan. saat ini sedang dilaksanakan pembahasan rancangan perubahan mengenai Sural Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) oleh Dewan Pers. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah dapat diedarkan sebanyak 397. terus ditingkatkan penyelenggaraan forumforum dialog antara Pemerintah.9. Sejalan dengan Trilogi Pembangunan. sedangkan dari segi kuantitas peningkatannya nampak dari penambahan jumlah oplag. Selain itu sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No. yaitu sebuah lembaga yang akan mendampingi Pemerintah dalam membina dan mengembangkan pers nasional. 44 Tahun 1967. daerah tingkat I dan daerah tingkat II Kebijaksanaan yang ditempuh di bidang pembangunan daerah dalam tahun 1983/ 1984 merupakan kelanjutan dan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. maka dalam Pdita IV pembangunan pedesaan ditujukan untuk Departemen Keuangan RI 311 . Selanjutnya sebagai pelaksanaannya telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. serta dalam rangka pelaksanaan interaksi positif. terutama dalam mewujudkan adanya pers yang bebas dan bertanggung jawab.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Undang-Undang No. pers dan masyarakat.1 Tahun 1984 tentang Dewan Pers. Sementara itu guna meningkatkan pemerataan informasi ke daerah-daerah pedesaan. Sedangkan guna mengembangkan kebutuhan informasi.1. Di samping itu guna meningkatkan pelaksanaan KMD telah dibentuk pula kelompokkelompok pembaca di daerah pedesaan. dalam tahun 1983/1984 melalui program KMD telah dapat diedarkan koran sebanyak 8. di samping itu juga untuk mempertebal semangat dan gairah partisiposi masyarakat dalam meningkatkan hasil guna dan clara guna kegiatan pembangunan di daerah. yang kemudian ditingkatkan melalui kegiatan kerjasama dengan berbagai lembaga. kegiatan tersebut antara lain ditujukan pada pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh tanah air.675. 8. Sesuai dengan arab pembangunan daerah tersebut. Pembangunan desa. Sehubungan dengan itu. secara bertahap telah ditingkatkan pelaksanaan program koran masuk desa (KMD) baik kualitas maupun kuantitas.000 eksemplar melalui 16 penerbit. 21 Tahun 1982.000 eksemplar dari 50 penerbit dan tersebar pada 26 propinsi. Dari segi kualitas dicerminkan dalam peningkatan kemampuan mengelola KMD melalui penataran-penataran. serta peningkatan laju pertumbuhan setiap daerah.9.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 mempercepat pertumbuhan desa. Sebagai hasilnya. serta rapat koordinasi pembangunan. pembangunan di wilayah kecamatan melalui sistem UDKP tersebut diutamakan pada kecamatan yang tergolong miskin. yang merupakan satu sistem terkecil dalam administrasi pemerintahan dan ekonomi.385 desa yang telah menjadi desa swasembada. rawan. diskusi UDKP dan temu karya LKMD di tingkat ke carnatan .757 desa. antara lain penataran terhadap 1. baik di tingkat kabupaten/kotamadya maupun di tingkat propinsi. Usaha ini merupakan penerapan sistem penyusunan rencana daTi bawah.045 kecamatan yang tersebar di 27 propinsi daerah tingkat I. karena dalam jangka panjang desa-desa di seluruh Indonesia akan dikembangkan menjadi desa swasembada.429 kepala urusan pembangunan. desa-desa di 27 propinsi yang telah menjadi pemenang perlombaan desa kini dapat mengembangkan desanya secara lebih cepat dan baik. atau suatu peningkatan rata-rata sebesar 3. minus. Kepada desadesa yang mencapai prestasi tinggi dan menjadi pemenang perlombaan diberikan penghargaan dan hadiah dalam bentuk proyek. berjumlah 11. Sampai dengan tahun 1983/1984. menjadi desa swasembada. jumlah desa yang telah menjadi pemenang perlombaan desa.5 persen per tahun. Selain itu di wilayah kecarnatan UDKP telah dilaksanakan pula berbagai kegiatan. sedangkan pada Departemen Keuangan RI 312 . Melalui sistem UDKP. kecamatan UDKP rata-rata meningkat 6. Sejalan dengan itu telah dilaksanakan pula penempatan 1. terbelakang. serta kursus bagi 3. telah diselenggarakan perlombaan desa. agar kecamalan-kecamatan tersebut dapat berkembang sesuai dengan kecamatan lainnya. Hasil evaluasi dan monitoring di bidang perkembangan desa sampai dengan tahun 1984/1985 menunjukkan adanya 16. Sampai dengan tahun 1983/1984. Sedangkan untuk mendorong desa-desa agar lebih giat melaksanakan pembangunan desanya.093 orang camat UDKP. serta berada di wilayah perbatasan/kepulauan dan radar penduduk. Dengan demikian kedudukan desa sebagai obyek pembangunan berubah menjadi subyek pembangunan yang berketahanan di semua bidang. yang pada gilirannya akan dapat memantapkan ketahanan nasional. Sejalan dengan pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah tanah air.183 TKS-BUTSI.7 persen per tahun. sistem UDKP ini telah dilaksanakan pada 2. musyawarah LKMD. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan yang positif bagi desa-desa lainnya agar lebih giat melaksanakan pembangunan. dilakukan juga pembangunan desa melalui sistem Unit Daerah Kerja Pembangunan (UDKP). baik di tingkat kabupaten/kotamadya daerah tingkat II maupun di tingkat propinsi daerah tingkat I. Untuk itu telah dilakukan evaluasi terhadap tingkat perkembangan desa. desa tingkat kecamatan dari 27 propinsi. yang disesuaikan dengan kebutuhan dasar masyarakat desa yang berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. jumlah desa swasembada pada.

telah dilaksanakan latihan bagi pelatih/instruktur PL-LKMD yang diikuti 6. telah dilaksanakan pula penyuluhan dan peningkatan motivasi. sampai dengan tahun 1983/1984 telah diberikan dana paket UDKP kepada 1. di samping juga penetapan dan pemilihan 63 orang perugas teknologi pedesaan (PL TP) dan 345 orang kader teknologi pedesaan. yaitu kategori posif sebanyak 10.4 persen dari 66. telah dikembangkan pula sebanyak 4. Dalam pada itu peningkatan jumlah proyek/program sektoral. dan bagi kader LKMD-KPD yang diikuti 57.448 desa yang ada di Indonesia. pangan.876 kecamatan. Adapun untuk pengembangan teknologi desa telah diberikan latihan kepada 734 orang anggota masyarakat. kategori berkembang sebanyak 25. dan swadaya masyarakat yang mengisi kecarnatan dengan sistem UDFY terse but rata-rata adalah sebanyak 25 proyek.2 persen per tahun.237 orang. Berkaitan dengan itu telah dilakukan survai pendahuluan tatadesa pada 1. Selain kegiatan tersebut. penerapan pola tatadesa di 672 desa. pementasan kegiatan LKMD melalui TVRI. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan fungsi LKMD. Inpres.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kecamatan non UDKP rata-rata hanya b.698 LKMD atau sekitar 94. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk latihan sosio drama yang diikuti oleh 9. juga terkait kegiatan penerapan pola tatadesa dan pengembangan teknologi pedesaan. telah diikuti oleh 42. yakni meliputi bidang energi.207 LKMD.ertambah dengan sebesar 3.315 orang. serta melalui penerbitan dan Departemen Keuangan RI 313 . Dalam sistem UDKP tersebut. Sedangkan guna penerapan dan pengembangan teknologi pedesaan telah dilakukan identifikasi spesifik terhadap 46 jenis teknologi pedesaan yang telah berhasil diterapkan dan dikembangkan. pertanian. siaran pedesaan melalui RRI dengan 41. Jumlah tersebut menurut tingkat perkembangannya dapat dike1ompokkan ke dalam 3 kategori.297 LKMD dan kategori aktif berfungsi sebanyak 28. Melalui inpres bantuan pembangunan desa. terutama untuk desa-desa yang terbelakang. sedangkan latihan guna meningkatkan keterampilan dalam pembangunan/pemugaran perumahan desa. konstruksi dan material.380 kelompok pendengar.194 LKMD.488 orang. Selain itu guna mempercepat terwujudnya LKMD yang aktif berfungsi dalam pelaksanaan pembangunan.755 LKMD percontohan yang diharapkan akan menjadi LKMD teladan. telah dibentuk sebanyak 63.575 peserta dan kelompok kesenian rakyat. telah dibentuk pula lembaga ketahanan masyarakat desa (LKMD). pemukiman kembali penduduk dan penciptaan lapangan kerja. Sampai dengan tahun 1983/1984. survai/pengkajian identifikasi masalah tatadesa di 6 kecarnatan yang meliputi 90 desa dan penyuluhan mengenai teknis pola tatadesa terhadap 216 tokoh masyarakat desa.040 kecamatan. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan peranserta aktif swadaya masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan hidup dan pembangunan desanya. regional.

gorong-gorong. 'yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di daerah-daerah bersangkutan. Proyek-proyek tersebut dibangun melalui bantuan Pemerintah pusat.441 proyek.437 desa telah memperoleh bantuan sebesar Rp 91. Sedangkan sejak dimulainya kegiatan pemugaran perumahan dan lingkungan desa. yang terdiri atas prasarana produksi. terus ditingkatkan jumlah bantuan yang diberikan kepada setiap desa. perhubungan. 3. masing-masing sebesar 61. terutama lingkungan hidup masyarakat yang berpenghasilan Departemen Keuangan RI 314 . seperti jalan. sejak tahun 1972/1973 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dimukimkan kembali penduduk sebanyak 29. Jawa Barat dan 32 orang di DI Yogyakarta.935 buah.092 buah. maupun proyek-proyek lain seperti pengembangan potensi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. Untuk meningkatkan taraf hidupdan kesejahteraan penduduk di pedesaan serta guna mempercepat pembangunan pedesaan. dan saluran pembawa. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan' bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan latihan/kursus bagi tim penggerak PKK tingkat propinsi dan kabupaten/kotamadya.890 rumah yang tersebar pada 1. pemasaran dan sosial. jembatan. Kegiatan lain yang erat kaitannya dengan pembinaan LKMD adalah pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). yang diikuti oleh 2. peningkatan dan pembangunan berbagai jenis prasarana fisiko perekonomian dan lingkungan. masing-masing sebanyak 30. yang sampai dengan tahun 1983/1984 telah diikuti oleh 290. Untuk membantu pelaksanaan pembangunan di daerah tingkat II. 0. Di samping itu guna meningkatkan peranan masyarakat dalam menunjang program dasawarsa air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman. Untuk mencapai tujuan tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penyebaran folder/poster/brosur-brosur penyuluhan. penggunaan bantuan tersebut diarahkan pada proyekproyek yang dapat memperbaiki lingkungan hidup perkotaan. telah dilakukan pula penyuluhan dan latihan bagi 21 orang petugas lapangan di Tangerang. Berkaitan dengan pemukiman kembali penduduk desa.6 milyar. sehingga dalam tahun 1983/1984 sebanyak 66. Untuk daerah perkotaan. telah diberikan bantuan yang besarnya didasarkan atas jumlah penduduk. yakni dalam tahun 1976/1977 sampai dengan bulan Agustus 1984.3 persen. 17.669 KK pada 5'Ollokasi di 21 propinsi. Untuk itu dibentuk kaderkader PKK melalui penyelenggaraan kursus-kursus PKK. Dalam waktu yang sarna hasil pelaksanaan Inpres pembangunan desa telah mencakup 106. yakni melalui usaha perbaikan. Bantuan tersebut ditujukan untuk penciptaan dan perluasan lapangan kerja di daerah-daerah. bendungan. bantuan diarahkan pada pembangunan baik prasarana fisik.583 buah dan 54.4 persen.896 lokasi/desa di 26 propinsi.831 buah.3 persen dan 38.430 orang meliputi 27 propinsi dan terdiri dari 54 kabupaten/kotamadya. Pemerintah daerah dan swadaya masyarakat. telah dilaksanakan pemugaran 46.598 orang.

Dengan semakin meningkatnya bantuan kepada Dati I.907 buah.748. Dengan bantuan tersebut.415 kilometer. serta penghijauan dan pencegahan banjir. masing-masing sebanyak 23 buah dan 11 buah.9.022 meter. dalam tahun 1983/1984 telah berhasil dilaksanakan penunjangan jalan sepanjang 7. administrasi. Bantuan tersebut antara lain digunakan untuk pemeliharaan jalan dan jembatan.7 kilometer.8 kilometer dan 8.928 hektar. Oleh schab itu.juta telah dibangun sebanyak 2.880. masing-masing sepanjang 61. selain juga untuk perbaikan dan penyempurnaan irigasi yang terdiri dari bendungan sebanyak 56 buah dan saluran sepanjang 280. kegiatan ekonomi. selain untuk pembangunan dan pengembangan terhadap kota tersebut. jasa dan pusat pemerintahan juga semakin besar. serta penggantian gorong-gorong sepanjang 59.741. masing-masing sepanjang 5.916.604 buah proyek. politik. serta prasarana pengairan bernpa bendungan sejumlah 121. masing-masing sepanjang 7.393. Sejalan dengan itu telah dibangun pula fasilitas eksploitasi sebanyak 3. Sementara itu dalam rangka pemeliharaan pengairan antara lain telah dilakukan pembangunan bangunan air sebanyak 112. maka pelaksanaan pembangunan daerah lebih meningkat lagi sesuai dengan prioritas kebutuhannya. masing-masing seluas 38.6 kilometer.174 hektar dan 6.487 meterkubik.707 meter.9 kilometer dan bangunan pengairan lainnya sebanyak 664 buah yang dapat mengairi areal seluas 44. peranan kota sebagai pusat pemukiman.. Selain itu juga telah dibangun pasar seluas 77. Tatakota dan tatadaerah Sejalan dengan proses pembangunan yang terus berlangsung. kebudayaan.3 kilometer. 8. sosial. riol sepanjang 434. serta saluran pembawa dan pembuang.315 meterpersegi. telah dilakukan usaha pembinaan dan pengembangan perkotaan yang bertujuan. penunjangan jembatan sepanjang 5. yang jumlah penduduk dan tingkat produktivitasnya cukup tinggi.5 meter. saluran pembawa sepanjang 13.082 buah.658 meter.2 kilometer dan 16. Di samping bantuan pembangunan daerah tingkat II tersebut. Sedangkan melalui dana Inpres bantuan pembangunan daerah tingkat I sebesar Rp 253.2 kilometer.414 kilometer.1 kilometer dan 3.4 hektar.227 meter. dan jembatan sepanjang 27.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rendah.2.000.352. Dalam tahun 1983/1984 telah dibangun prasarana perhubungan meliputi jalan sepanjang 17. pembangunan jembatan sepanjang 14. yang ditujukan untuk membantu daerah tingkat II untuk membangun jalan yang menghubungkan daerahdaerah terpencil.225. mulai tahun 1979/1980 diberikan pula bantuan penunjangan jalan kabupaten. juga dimaksudkan untuk peningkatan pelayanan umum dan perbaikan Departemen Keuangan RI 315 . stasiun bus dan pelabuhan sungai. serta tanggul banjir dan jaringan telepon.321.728.

serta rencana induk kota Tangerang. Sejalan dengan itu dilakukan pula persiapan penyusunan rencana kota yang dikaitkan dengan program bantuan bagi 57 kota. Rantau Prapat. Curup. Lahat. pembinaan pengelolaan air minum dan pembinaan pemerim:ahan kota. serta tertib pemeliharaan tanah dan lingkungan. Kota Baru dan Amuntai. Di samping itu juga dilakukan peningkatan kemampuan di bidang perencanaan kota melalui kursus yang diselenggarakan oleh Badan kerjasama Antar Kota Seluruh Indonesia (BKS-AKSI). Untuk itu telah dilakukan penertiban dan peningkatan pengurusan hak-hak atas tanah.3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kondisi lingkunganpemukiman yang aman. pengembangan landreform serta Departemen Keuangan RI 316 . Tata agraria dan tataguna tanah Kegiatan program tataagraria seiring dengan program tataguna tanah ditujukan untuk meneiptakan tertib hukum pertanahan. telah dilaksanakan pengumpulan data/bahan-bahan yang meneakup masalah air minum di seluruh Indonesia. 75 buah Badan Pengelola Air Minum (BPAM). Lhokseumawe dan Pariaman. Kota Banjar. Selain itu telah dilakukan penelitian tentang reneana pembentukan kota administratif Sarong. Sementara itu dalam pembinaan reneana kota telah dilakukan kegiatan pengembangan kota Metropolitan Jakarta yang meliputi penyusunan rencana induk kota DKI Jakarta tahun 1985 . Dalam rangka pembinaan pengelolaan air minum. Atas dasar hasil pengumpulan data tersebut. 30 buah Dinas Air Minum dan 27 buah Seksi Air Minum. ditempuh kebijaksanaan yang antara lain meliputi pembinaan reneana kota. tertib penggunaan tanah. Pangkalan Brandan. pemberian bantuan teknis dan biaya dalam jumlah terbatas kepada daerah tingkat II yang akan melakukan reneana induk kotanya. Berkaitan dengan pembinaan pemerintahan kota.005. Bima. pendaftaran tanah. Selanjutnya dalam rangka pengembangan perkotaan telah dilakukan pula pembinaan kerjasama antara kotakota di dalam negeri. dan Bekasi. Sampit.2.9. telah dilakukan pula pembentukan kota administratif sebanyak 28 buah di seluruh Indonesia. Selain itu juga telah disusun kerangka acuan kerja bantuan teknik bagi kota Semarang (Semarang Raya). tertib administrasi pertanahan. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah terdapat sebanyak 136 buah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). tertib da sehat bagi seluruh warganya. Untuk mencapai tujuan tersebut. Ujungpandang (Mamimasa Ora) dan Denpasar. baik dengan kota-kota di luar negeri maupun dengan organisasillembaga intemasional perkotaan di luar negeri. yang pengembangannya disesuaikan dengan pokok-pokok kebijaksanaan pengembangan wilayah Jabotabek. Langsa. Metro. Cibinong. penyusunan raneangan peraturan Pemerintah mengenai pembentukan kota administratif Kota Bumi. 8. Kuala Kapuas. Bontang. Palopo. Watampone.

pemetaan penggunaan tanah perkotaan. Di samping pemetaan penggunaan tanah. serta peningkatan tertib administrasi landreform terhadap 80. 1: 100 ribu. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Juli 1984 telah diselesaikan sebanyak 171. Selain itu juga mencakup peningkatan inventarisasi dan evaluasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup. 1:50 ribu dan 1:25 ribu. 14. dan monitoring rencana tataguna tanah Dati II di 250 kabupaten/kodya.264 ribu hektar. pelaksanaan redistribusi tanah seluas 665. Adapun dari hasil penertiban dan peningkatan pengurusan hak-hak atas tanah. penggunaan. pemetaan penggunaan tanah pedusunan. dengan jumlah pemasukan uang kepada negara sebesar Rp 1.094 hektar. serta pemetaan penggunaan tanah pedusunan dengan skala 1:200 ribu. pengembangan tataguna tanah pada umumnya merupakan kelanjutan daripada kegiatan tahun sebelumnya yang meliputi pembuatan peta kerja. Program pembangunan tataguna tanah terutama diarahkan pada daerah-daerah minus dan padat penduduknya.512. penertiban perjanjian bagi hasil pada 52 kabupaten. serta ditujukan untuk peningkatan pelayanan terhadap penyiapan daerah transmigrasi. 194 kota kabupaten dan 485 kola kecamatan. pemetaan kemampuan tanah. pemetaan kemampuan tanah dengan skala 1: 100 ribu dan 1:50 ribu.160 ribu hektar.281. Sementara itu telah dilakukan pemetaan penggunaan tanah perkotaan pada 64 kotamadya/kota administratif.652. perhitungan produktivitas tanah. Sedangkan hasil-hasil yang telah dicapai dalam kegiatan pengembangan land reform sampai dengan akhir Pelita III antara lain meliputi identifikasi penguasaan pemilikan tanah pertanian pedesaan di 21 desa.760 ribu hektar. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah diselesaikan sebanyak 34. masing-masing seluas 11.302 surat keputusan hak tanah. juga telah diselesaikan penyusunan rencana tataguna tanah Dati II di 250 kodya/kabupaten. Departemen Keuangan RI 317 . dan pemilikan tanah. monitoring lokasi daerah miskin di 246 kabupaten.716. monitoring lokasi daerah miskin. Dalam tahun 1983/1984. penyediaan sarana dan cara penataan kembali. perhifungan produktivitas tanah di 199 kabupaten. masing-masing seluas 9.053 sural keputusan hak tanah dengan penerimaan negara sebesar Rp 6. serta pengendalian penggunaannya.611.833. penyelesaian sengketa sebanyak 114 kasus.-. penguasaan. perencanaan tataguna tanah Dati II.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 proyek operasi nasional agraria (Prona). 78.960 ribu hektar.494 ribu hektar dan 70.-.078 KK. Hasil yang dicapai di bidang pengembangan tataguna tanah sampai dengan Pelita III meliputi pembuatan peta kerja dengan skala 1:25 ribu seluas 7.088 ribu hektar dan 44. serta monitoring rencana tataguna tanah Dati II.592 ribu hektar.

PENERIMAAN PEMBANGUNAN 1. Pajak penghasilan badan .Cukai .300 101. Pajak Penghasilan Gas Alam II.Ipeda 6.276.046.680.Cukai lainnya 4.Badan usaha swasta .Hasil potongan penghasilan Pekerjaan .518. PENERIMAAN DALAM NEGERI I. Penerimaan di Luar Minyak Bumi dan Gas Alam 1.2. Bea Masuk dan Cukai 3. royalty Dan sebagainya.Usaha dan pekerjaan 1. Pajak Lainnya 7.2. Penerimaan Bukan Pajak B. Bantuan Proyek JUMLAH 717.400 -294.680.100 -314.159.900 4.Hasil potongan bunga deviden.400 731. Bea Masuk 3. 2.074.Cukai tembakau .Badan usaha milik negara .400 Departemen Keuangan RI 318 .300 -865.100 7.000 -98.666.010.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Lampiran 1 PERKIRAAN PENERIMAAN NEGARA TAHUNANGGARAN 1985/1986 (dalam jutaan rupiah) JENIS PENERIMAAN A.700 9.600 2.677. Pajak Penghasilan 1.400 96.400 1. Penerimaan Minyak Bumi dan Gas Alam 1.700 -658.000 797. Pajak Penghasilan Minyak Bumi 2.300 -570.479.100 963.200 23. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah 3.600 1. Bantuan Program 2.200 3.368.1.Hasil pungutan kegiatan usaha .900 4.200 1.000 JUMLAH 18.900 11.700 167.297.700 -226. Pajak Ekspor 5. Pajak penghasilan perseorangan .100 70.1.000 -1.

. . . Berdasarkan hal-hat tersebut. Pajak hasil potongan penghasilan pekerjaan Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : .1.2.7 milyar. PENERIMAAN MINYAK BUMI DAN GAS ALAM Faktor-faktor yang diperhitungkan : produksi minyak diperkirakan sebesar 1. PENERIMAAN DI LUAR MINYAK BUMI DAN GAS ALAM 1. Pajak penghasilan perseorangan Faktor-faktor umum yang diperhitungkan : .1.perluasan dasar pengenaan pajak. . 1. . Pajak penghasilan 1.peningkatan penghasilan dan kegiatan usaha perseorangan.3 juta barrel minyak mentah sehari. .penertiban dan perluasan wajib pajak. .perluasan dasar pengenaan pajak. Berdasarkan pertimbangan di atas.1. II.peningkatan verifikasi sehingga dapat ditagih pajak yang seharusnya dipungut.1.peningkatan penghasilan masyarakat.timbulnya perusahaan-perusahaan baru dan perluasan perusahaan yang ada sehingga memperluas lapangan kerja. maka diperkirakan penerimaan yang berasal dari pajak hasil potongan penghasilan pekerjaan dapat mencapai Rp 570. .peningkatan kegiatan penagihan atas tunggakan-tunggakan pajakpenghasilan.penertiban dan perluasan jumlah wajib pajak dengan intensifikasi pemungutan melalui verifikasi yang mendalam.1S9.batas pendapatan tidak kena pajak sesuai dengan UndangUndang Pajak Penghasilan.penertiban dan perluasan wajib pajak.peningkatan kesadaran dari para wajib pajak. 319 Departemen Keuangan RI . maka penerimaan minyak bumi dan gas alam diperkirakan sebesar Rp'11. dan 100 ribu barrel kondensat sehari harga rata-rata ekspor minyak mentah Indonesia diperkirakan sebesar US $ 29. . Pajak penghasilan usaha dan pekerjaan Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : .7 milyar. 1.penagihan yang lebih intensif atas tunggakan-tunggakan pajak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 DASAR PERHITUNGAN UNTUK PERKlRAAN PENERIMAAN NEGARA RAPBN 1985/1986 A.peningkatan mutu aparat pajak. . .berkembangnya kegiatan usaha produksi dan perdagangan.50 per barrel. PENERIMAAN DALAM NEGERI I. . .perluasan dasar pengenaan pajak.

. Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : .2.intensifikasi pemungutan pajak.penertiban administrasi dan organisasi perusahaan .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 - pemeriksaan pembukuan yang lebih intensif atas jumlah laba perusahaan. Berdasarkan faktor-faktor di atas. diperkirakan penerimaan pajak penghasilan usaha dan pekerjaan dapat mencapai jumlah Rp 226. .peningkatan keuntungan daripada perusahaan negara. 1. Pajak penghasilan badan Faktor-faktor umum yang diperhitungkan : . Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas diperkirakan pajak penghasilan badan usaha milik negara sebesar Rp 658. diperkirakin pajak penghasilan badan usaha swasta sejumlah Rp 1.berkembangnya kegiatan usaha produksi dan perdagangan. . . .penertiban dan perluasan jumlab wajib pajak.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : . Pajak penghasilan badan usaha swasta Dalam penerimaan ini termasuk pula pajak penghasilan atas laba yang/diperoleh badan aging yang ada di Indonesia. . . 1. . royalty dan sebagainya.batas PTKP sesuai dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan.peningkatan penghasilan dari badan-badan usaha swasta.timbulnya perusahaan-perusahaan baru.perusahaan negara. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Pajak hasil pungutan kegiatan usaha Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : . Departemen Keuangan RI 320 . Pajak hasil potongan bunga.6 milyar.3. Berdasarkan faktor-faktor di atas. 1.perluasan dasar pengenaan pajak. dividen.2.penertiban dan perluasan wajib pajak.naiknya penghasilan perusahaan-perusahaan.2.berkembangnya kegiatan ekonomildunia usaha.2. .2.penagihan yang lebih intensif atas tunggakan-tunggakan pajak. 1.010.pemeriksaan pembukuan yang lebih intensif atas jumlah laba perusahaan.1. 1.kegiatan usaba yang memperoleh pembayaran untuk barang dan jasa dari anggaran belanja negara. . maka diperkirakan dapat diperoleh pajak hasil pungutan kegiatan usaha sebesar Rp 314. .1 milyar. .4 milyar.0 milyar.kegiatan usaha di bidang impor. Pajak penghasilan badan usaha milik negara Faktor-faktor yang diperhitungkan : .4.kesadaran wajib pajak yang semakin baik yang mendorong perusahaan untuk lebih terbuka dalam pembukuannya.

Berdasarkan hal-hal tersebut maka penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah diperkirakan mencapai Rp 1.perkembangan tata niaga impor.verifikasi yang lebih cermat alas perusahaan-perusahaan rokok.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan adalah : . Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah. .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 - verifikasi yang intensif terhadap perusahaan-perusahaan dalam hal pembagian dividen. dividen. industri.penyelesaian tunggakan-tunggakan cukai.0 milyar 3.1. . royalty dan sebagainya diperkirakan akan mencapai sebesar Rp 294. perdagangan dan jasa. 2. Cukai 3.666. . Berdasarkan faktor-faktor di atas maka penerimaan pajak hasil potongan bunga. .2.pencegahan dan pemberantasan pita rokok palsu dan rokok tidak berpita cukai. diharapkan dapat diterima cukai tembakau sebesar Rp 865. . 3.peningkatan usaha pemungutan cukai berupa penyerasian pita cukai dengan perkembangan harga jualnya. pembayaran bunga dan royalty. . Berdasarkan hal-hat tersebut.4 milyar Bea Masuk dan Cukai 3.perluasan jumlah wajib pajak dan intensifikasi pemungutan melalui verifikasi yang lebih ketat atas penyerahan barang-barang dan jasa.peningkatan produksi rokok dan hasil-hasil tembakau lainnya. 3. Bea masuk Perkiraan penerimaan bea masuk didasarkan alas hal-hat sebagai berikut: .2. .2 milyar. Cukai tembakau Hal-hal yang dapat mempengaruhi penerimaan cukai tembakau adalah : .impor yang dapat dikenakan bea masuk diperkirakan sekitar US $ 5.perkembangan perekonomian khususnya pacta sektor pertanian. . .tarip rata-rata bea masuk diperkirakan sebesar 13. Cukai lainnya Cukai lainnya terdiri dari cukai gula.pengenaan pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM).0 persen. Departemen Keuangan RI 321 .2. maka penerimaan bea masuk diperkirakan dapat mencapai Rp717.1 milyar.peningkatan clara beli masyarakat dengan naiknya pendapatan nasional.1 milyar.. Berdasarkan hal-hat tersebut di alas.1. cukai bir dan cukai alkohol sulingan.

. maka penerimaan Ipeda diperkirakan akan mencapai jumlah sebesar Rp 167.peningkatan kegiatan dan transaksi ekonomi yang dapat dikenakan bea meterai.penyesuaian tarip pajak kekayaan dan bea meterai. Penerimaan Bukan Pajak Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan adalah : . 5.0 milyar. . maka penerimaan pajak ekspor diperkirakan sebesar Rp 101.ekspor di luar minyak diperkirakan sebesar US $ 7.naiknya nilai kekayaan sejalan dengan naiknya penghasilan.usaha intensifikasi dan ekstensifikasi daripada sumber-sumber penerimaan.penyempurnaan dan peningkatan efektivitas dalam penggunaan kantor lelang. luran Pembangunan Daerah Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : .4 milyar. . .peningkatan batas kekayaan yang tidak kena pajak. Berdasarkan hal-hal tersebut. 6.perluasan wajib pajak dan intensifikasi pemungutan pajak.peningkatan produksi gula. .7 milyar. Dengan dasar perhitungan tersebut. 7. Dengan faktor-faktor tersebut diperkirakan akan diterima penerimaan bukan pajak sebesar Rp731. 4. .9 milyar.intensifikasi pemungutan meliputi pokok pengenaan dalam tahun berjalan dan penagihan atas tunggakan hutang Ipeda tahun-tahun sebelumnya. . Perkiraan penerimaannya didasarkan atas hal-hal sebagai berikut : . Pajak Lainnya Jenis penerimaan ini meliputi pajak kekayaan. . Pajak Ekspor Dasar perhitungan pajak ekspor adalah sebagai berikut : .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Hal-hal yang dapat meningkatkan penerimaan adalah : .verifikasi dan pengawasan yang lebih baik atas penyetoran daripada penerimaan departemen-departemen. .penertiban administrasi perusahaan negara dan bank milik negara dalam rangka meningkatkan penerimaan. maka cukai lainnya diperkirakan akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp 98.berkembangnya kegiatan ekonomi.peningkatan daripada nilai obyek Ipeda sejalan dengan kegiatan pembangunan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. . Departemen Keuangan RI 322 .pengawasan yang lebih ketat atas pemakaian bea meterai. Dengan memperhitungkan hal-hal tersebut maka penerimaan pajak lainnya diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 96.intensifikasi pemungutan cukai dan penyesuaian harga dasar sesuai dengan perkembangan ekonomi. bea meterai dan bea lelang.3 milyar.4milyar. .

00 36.00 405.652.00 13.464.237.563.920.952.715.6 5 5.3 4.1 3 3.646.00 14.1 1.00 21. PENERIMAAN PEMBANGUNAN Perkiraan penerimaan bantuan program dan bantuan proyek adalah sebagai berikut : bantuan program dalam tahun anggaran 1985/1986 diperkirakan sebesar Rp 70.919.170. realisasi (disbursement) dalam tahun 1985/1986 dari komitmen bantuan proyek tahun-tahun yang lalu dan tahun 1985/1986 diperkirakan sebesar Rp 4.893.523.754.00 1.00 15.00 15.00 42.1 5.991.665.00 31.00 22.550.2 6 6.00 2.225.534.247.368.542.408.377.602.1 6.4 4.00 13.122. DESA DAN KOTA J umlah 50.00 6. Lampiran 2 ANGGARAN BELANJA RUTIN 1985/1986 DIPERINCI MENU RUT SEKTOR 1 SUB SEKTOR ( dalam ribuan rupiah) Nomor Kode 1 1.00 6.00 8.9 milyar.00 590.754.297.132.2 2 2.112.00 83.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 B.990.440.5 4.00 40.298.2 4 4.440.636.075.398.380.878.2 milyar.2 7 Sektor/Sub Sektor SEKTOR PERTANIAN DAN PEN GAl RAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri SEKTOR PERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Sub Sektor Energi SEKTOR PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor Perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi SEKTOR REGIONAL DAN DAERAH/PEMBANGUNAN DAERAH.00 5.100.1 3.00 Departemen Keuangan RI 323 .979.355.685.00 15.1 4.446.160.2 4.

00 6.941.604.00 1.00 12.00 34.521.399.00 16.00 50.00 4.00 129.1 14 14.636.408.1 15 15.00 6.261.3 665.074.803.00 4.00 17. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedlinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa SEKTOR KESEHATAN.00 6.662.316.778.00 23.1 12 12.634.00 642.000.316.662.158.1 16 16.649.464.295.1 Sektor/Sub Sektor Kota SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama SEKTOR PENDIDIKAN.00 618.596.889.218.500.2 16.521.596.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode 7.331.850.600. PERS DAN KOMUNlKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.1 10.447.943.154.2 9.1 9. Pers dan Komunikasi Sosial PENELITIAN Sub Sektor Penelitian SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah Sub Sektor Lembaga Tertinggi Tinggi Negara Sub Sektor Keuangan Negara JUMLAH Jumlah 2.100.00 10 10.392.943. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kepencluclukan dan Keluarga Berencana SEKTOR PERUMAHAN RAKY AT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional SEKTOR PENERANGAN.000.00 34.618.187.00 Departemen Keuangan RI 324 .928.930.500.00 9.453.848. KESEJAHTERAAN SOSIAL.685.1 16. GENERASI MUDA.269.00 50.3 11 11.453.850.510.00 74.2 10.3 116. PERANAN WANITA.1 13 13.928.00 46.155.00 9 9.618.500.1 8 8.00 46.600.803.392.196.00 1.00 129.470.154.

230.000 58.392.000 60.623.1 3 3.931.2 4 4.2 4.000 789.000 691.000 365.494.000 1.739.831.289.658.580.000 30.000 529.000 16.830.993.430.000 28.531.913.518.000 71.900.000 263.000 676.000 28.1 5.000 275.683.975.000 179.363.788.679.000 900.545.000 1.125.000 543.350.1 3.000 38.294.462.000 98.532.000 265.425.000 256.000 274.4 4.000 472.189.000 111.000 136.045.509.795.486.518.000 199.000 111.000 62.000 543.000 12.291.141.000 14.324.359.818.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Lampiran 3 ANGGARAN BELANJA PEMBANGUNAN 1985/1986 DIPERINCI MENURUT SEKTOR/SUB SEKTOR ( dalam ribuan rupiah ) Nilai Rupiah Proyek/ Teknis. Kredit Ekspor dan obligasi Sektor/Sub Sektor SEKTOR PERTANIAN DAN PENGAIRAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri SEKTORPERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor pertambangan Sub Sektor Energi SEKTORPERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi Rupiah 957.000 655.1 6.6 5 5.2 6 6.2 2 2.000 70.195.3 4.1 1.864.000 578.462.012.025.000 Nomor Kode 1 1.000 109.050.000 95.704.320.469.365.000 52.1 4.531.623.903.000 217.000 68.194.000 9.257.043.5 4.301.492.971.000 1.095.000 469.000 826.000 635.000 Jumlah 1.000 76.800.000 1.141.850.040.000 655.536.000 108.795.000 209.000 128.000 258.000 45.000 68.000 190.000 539.000 80.000 170.000.2 Departemen Keuangan RI 325 .212.000 621.000 238.

595.000 18.595. KESEJAHTERAAN SOSIAL.885.000 413.000 817.540.000 79.006.493.000 Departemen Keuangan RI 326 .1 8 8.553.845.641.000 16.000 189.000 1.000 817.273.987.219.000 1.000 80.720. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGABERENCANA Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kependudukan dan Keluarga Berencana SEKTORPERUMAHAN RAKYAT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum 842.000 58. GENERASI MUDA.595.120.860.000 42.000 Jumlah 868.000 1.361.846.092.962.1 9 SEKTORPEMBANGUNAN DAERAH.000 55.595.000 842.867.000 203.510.232.885.903.000 65.000 80.000 1.822.000 437.000 63.628.3 11 11.000 47.000 10 10.409.000 25.000 868.000 63.362.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode Sektor/Sub Sektor Rupiah 7 7. DESA DAN KOTA Sub Sektor Pembangunan Daerah.867.308. Kredit Ekspor dan obligasi 25.000 63.126.001.720.135.2 10.774.000 83.000 100.092.000 254.334.000 109.000 Nilai Rupiah Proyek/ Teknis.1 12 12.000 58.000 163.774.158.000 273.2 9. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa SEKTOR KESEHATAN.903.000 9.000 79.1 10.3 31.000 63.1 9.219. Desa dan Kota SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama SEKTOR PENDlDlKAN.000 163.1 303.321. PERANAN WANITA.000.000 273.334.000 237.000 102.092.000 437.000 2.641.

147.102.687.281.854. Kredit Eksgor dan obligasi 318.000 217.000 165. PERS DAN KOMUNIKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.242.800.114.1 SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional SEKTOR PENERANGAN.000 6.210.147.313.000 18.000 165.572. TEKNOLOGI DAN PENELITIAN Sub Sektor Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sub Sektor Penelitian SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah SEKTORPENGEMBANGAN DUNIA USAHA Sub Sektor Pegembangan Dunia Usaha SEKTOR SUMBER ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Sub Sektor Sumber Alam dan Lingkungan Hidup JUMLAH 395.1 14 14.297.189.064.000 49.687.1 15 15.189.274.647.441.523.828.828.114.938.000 10.000 99.349.115.000 259.000 174.000 34.000 Departemen Keuangan RI 327 .441.000 11.000 176.1 15.361.327.383.000 2.000 18.854.000 714.000 4.000 35.000 217.000 J umlah 13 13.210.000 69.000 74.000 67.873.1 17 17.064.000 259.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode Sektor/Sub Sektor Rupiah Nitai Rupiah Bantuan Proyek/ Teknis.000.000 174.361.000 229.555.000 49.000 11.000 93.000 207. 18.115.274.000 93.200. Pers dan Komunikasi Sosial SEKTOR ILMU PENGETAHUAN.000 176.000 138.2 16 16.000 395.572.000 2.000 714.1 18.415.000 229.000 133.000 39.000 318.873.000 67.327.

dan sekaligus untuk meletakkan landasan bagi usahausaha pembangunan selanjutnya. 2. bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk Tahun Anggaran 1985/1986 sebagai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun kedua dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun IV. Pasal 5 ayat (1). dan untuk lebih menjaga kelangsungan jalannya pembangunan maka dalam Undang-undang tersebut diatur pula ten tang saldo-anggaran-Iebih dan sisa kredit anggaran proyek-proyek pada anggaran pembangunan Tahun Anggaran 1985/1986. Indische Comptabiliteitswet (Staatsblad tahun 1925 Nomor 448) sebagaimana telah beberapa kali diubah. bahwa sehubungan dengan itu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 perlu diatur dengan Undang-undang. tetap disusun dengan mengikuti prioritas nasional sebagaimana ditetapkan di dalam Pola Umum Pembangunan Lima Tahun IV yang tercantum dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. 1. dan Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/ 1986 pada dasarnya merupakan rencana kerja Pemerintah dalam rangka pelaksanaan tahun kedua rencana tahunan Pembangunan Lima Tahun IV dan di samping itu dimaksudkan pula untuk memelihara dan meneruskan hasil-hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan pembangunan sejak Pembangunan Lima Tahun I sampai dengan tahun pertama Pembangunan Lima Tahun IV. Menimbang : a. terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1968 tentang Perubahan Posal 7 Indische Comptabiliteitswet (Lembaran Negara Tahun 1968 Nomor 53). Pasal 20 ayat (1). b.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. c. Mengingat : Departemen Keuangan RI 328 .

000:000.368. (2) (3) (4) (5) (6) Anggaran Belanja Rutin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a menurut perkiraan berjumlah Rp 12.100. Perincian pendapatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) berturut-turut dimuat dalam Lampiran I dan Lampiran II.900. b.000. Pasal 2 (1) Anggaran Belanja Tahun Anggaran 1985/1986 terdiri atas : a. Perincian dalam Lampiran III sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memuat sektor dan sub sektor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA.00.046.000.000.000. Pasal l (1) Pendapatan Negara Tahun Anggaran 1985/1986 diperoleh dari : a.677. Anggaran Belanja Pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b menurut perkiraan berjumlah Rp 10.000.00.00.000. b. Sumber-sumber Anggaran Rutin. Jumlah seluruh pendapatan Negara Tahun Anggaran 1985/1986 menurut perkiraan berjumlah Rp 23. Jumlah seluruh Anggaran Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 menurut perkiraan berjumlah Rp 23.000.00. Anggaran Belanja Pembangunan.399.000.046.000.000. MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/ 1986. Pendapatan Pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b menurut perkiraan berjumlah Rp 4.000. (4) (5) Departemen Keuangan RI 329 . Anggaran Belanja Rutin.000.000. Sumber-sumber Anggaran Pembangunan.00.00. (2) (3) Pendapatan Rutin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a menurut perkiraan berjumlah Rp 18.647. sedangkan perincian lebih lanjut sampai pada kegiatan ditentukan dengan Keputusan Presiden.000. Perincian pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Jan ayat (3) berturut-turut dimuat dalam Lampiran III dan Lampiran IV.

Perkembangan Lalu-lintas Pembayaran Luar Negeri. bahwa sisa kredit anggaran yang ditambahkan itu dikurangkan dari kredit anggaran Tahun Anggaran 1985/1986. Penyesuaian anggaran dengan perkembangan/perubahan keadaan dibahas bersama oleh Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat. d. (2) Pada pertengahan Tahun Anggaran dibuat laporan realisasi mengenal : a. (3) (4) Dalam laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) disusun prognosa untuk 6 (enam) bulan berikutnya. Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan Badan Pemeriksa Keuangan selambat-Iambatnya pada akhir triwulan I Tahun Anggaran 1986/1987. b. Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dibahas bersama oleh Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (7) Perincian dalam Lampiran IV sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memuat sektor dan sub sektor. (2) (3) (4) (5) Departemen Keuangan RI 330 . dengan Peraturan Pemerintah dipindahkan kepada Tahun Anggaran 1986/1987 dengan menambahkannya kepada kredit anggaran Tahun Anggaran 1986/1987. Pasal 4 (5) (1) Kredit anggaran proyek-proyek pada Anggaran Belanja Pembangunan Tahun Anggaran 1985/1986 yang pada akhir Tahun Anggaran menunjukkan sisa. Anggaran Belanja Rutin. Anggaran Belanja Pembangunan. Saldo-anggaran-Iebih Tahun Anggaran 1985/1986 ditambahkan kepada anggaran Tahun Anggaran 1986/1987 dan dipergunakan untuk membiayai Anggaran Belanja Pembangunan Tahun Anggaran 1986/1987. Pasal 3 (1) Pada pertengahan Tahun Anggaran dibuat a. Sisa kredit anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebelum ditambahkan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1986/1987 terlebih dahulu diperiksa dan dinyatakan kebenarannya oleh Menteri Keuangan. c. Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyatakan pula. Anggaran Pendapatan Pembangunan. b. Kebijaksanaan Perkreditan. Anggaran Pendapatan Rutin. sedangkan perincian lebih lanjut sampai pada proyek-proyek ditentukan dengan Keputusan Presiden.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pasal 5 Selambat-Iambatnya pada akhir Tahun Anggaran 1985/1986 oleh Pemerintah diajukan Rancangan Undang-undang tentang Tambahan dan Perubahan alas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 berdasarkan tambahan dan perubahan sebagai hasil penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (5) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Disahkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 8 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal l April 1985. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indoneia. Departemen Keuangan RI 331 . susunan.aksud dalam ayat (1) setelah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan disampaikan oleh Pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat selambat-lambatnya 3 (tiga) tahun setelah Tahun Anggaran yang bersangkutan berakhir. SR. Pasal 6 (1) Setelah Tahun Anggaran 1985/1986 berakhir dibuat perhitungan anggaran mengenai pelaksanaan anggaran yang bersangkutan. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 7 Ketentuan-ketentuan dalam Indische Comptabiliteitswet (Undang-undang Perbendaharaan) yang hertentangan dengan bentuk. dan isi Undangundang ini dinyatakan tidak berlaku. Perhitungan Anggaran Negara sebagaimana dim. SUDHARMONO. (2) SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI/SEKRET ARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA.

Sejalan dengan prioritas pembangunan di bidang ekonomi. di samping memelihara hasil-hasil pembangunan. kebijaksanaan dalam pelaksanaan pembangunan didasarkan kepada Trilogi Pembangunan. antara lain untuk terus mendayagunakan aparatur negara agar lebih mampu melaksanakan tugas yang kian meningkat sesuai dengan perkembangan pelaksanaan pembangunan. dan tahun berjalan. seperti pengembangan sarana kesehatan.1fat yang makin mampu dan bersih. Daerah Tingkat II. maka pengeluaran terutama ditujukan untuk menyelesaikan proyek-proyek. Prioritas diletakkan pada pembangunan di bidang ekonomi dengan ririk berat pada sektor pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha memantapkan swasembada pangan. pertahanan keamanan. sedangkan pengeluaran negara makin terkendali dan terarah. serta bantuan pembangunan lainnya. dan ap. pembangunan di bidang polirik. dan perlu tetap dikembangkan secara serasi agar saling memperkuat. dan agar saling menunjang dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh pembangunan bidang ekonomi. Anggaran berimbang yang dinamis perlu disertai penyempurnaan pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara agar penerimaan negara makin meningkat. Peningkatan penerimaan negara diutamakan dari sumber-sumber di luar miIiyak bumi dan gas alam. yang disertai dengan pemungutan pajak yang lebih intensif. Selanjutnya diperlukan pula pengeluaran untuk tugas umum Pemerintahan. sosial budaya. Departemen Keuangan RI 332 . pertumbuhan ekonomi yang cukup ringgi. dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri. makin diringkatkan sepadan. maupun dari tahun-tahun sebelumnya. baik industri berat maupun industri ringan. khususnya Pola Umum Pelita Keempat. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. Keriga unsur Trilogi Pembangunan tersebut saling kaitmengkait. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. Di bidang pengeluaran. yakni pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 RANCANGAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TEN TANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/1986 UMUM Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 adalah anggaran pendapatan dan belanja negara tahun kedua dalam rangka pelaksanaan REPELITA IV. dan Daerah Tingkat I. prasarana jalan. yang akan terus dikembangkan dalam Pelitaj'elita selanjutnya. sehingga peranan Tabungan Pemerintab di dalam anggaran pembangunan dapat lebih ditingkatkan lagi. Sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara. antara lain melalui penyempurnaan sistem perpajakan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 mengikuri prioritas nasional sebagaimana ditetapkan di dalam Pola Umum Pelita Keempat. dan lain-lain. Adapun bantuan pembangunan kepada Desa.

khususnya yang berasal dari sektor perdagangan internasional dapat mencapai target yang telah ditetapkan. agar tercapai keserasian dan keselarasan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. c. Dalam rangka kesinambungan kegiatan pembangunan. agar biaya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal sesuai dengan kebijaksanaan anggaran. Di samping itu. maka penggeseran antar program dan antar kegiatan dalam anggaran belanja rutin. baik dalam anggaran belanja rutin. serta antar program dan antar proyek dalam anggaran belanja pembangunan. tersedianyabarang-barang kebutuhan pokok sehari-hari yang cukup tersebar merata dengan harga yang stabil dan terjangkau oleh rakyat banyak. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. . b. serta mengurangi tekanan pengangguran. Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas. Departemen Keuangan RI 333 . dilakukan dengan persetujuan Presiden. dan sektor penerimaan negara masih dipengaruhi oleh perekonomian dunia yang belum menunjukkan kepulihan yang berarti. dilakukan dengan Undang-undang. Selanjutnya. Ayat (2) Masalah kebijaksanaan kredit dan lalu lintas pembayaran luar negeri sebagian besar berada di sektor bukan Pemerintah. maupun dalam anggaran belanja pembangunan. Oleh sebab itu penyusunan kebijaksanaan kredit dan devisa dalam benruk dan ani seperti anggaran rutin dan anggaran pembangunan sukar untuk dilaksanakan. yang diharapkan dapat menambah penyediaan dan perluasan lapangan kerja. Pasal 2 Cukup jelas. bahwa kestabilan moneter. serta bidangbidang lainnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan penghutanan kembali tanah kritis. bahwa keadaan perekonomian Indonesia khususnya sektor perdagangan internasional. dilanjutkan sehingga secara keseluruhan dapat terus menggerakkan dan meratakan pembangunan daerah. maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 disusun berdasarkan asumsi-asumsi umum sebagai berikut : a. terus pula dilaksanakan pembangunan di bidang pendidikan. sisa kredit anggaran proyekproyek pada anggaran pembangunan dan saldo-anggaran-Iebih Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 ditambahkan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1986/1987. sedangkan penggeseran antar sektor dan antar sub sektor. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas. sehingga untuk itu dibuat dalam bentuk prognosa. dapat terus dipertahankan bahwa penerimaan negara.

Ayat (5) Cukup jelas. maka pengajuannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan selambat-lambatnya pada akhir Tahun Anggaran 1985/1986.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 6 Perhitungan Anggaran Negara sebagaimana dimaksud dalam Posal ini disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dalam benruk dan susunan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan persetujuan Badan Pemeriksa Keuangan. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. Departemen Keuangan RI 334 . Pasal 5 Pasal ini menentukan bahwa jika diperlukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tambahan dan Peru bahan. Ayat (4) Cukup jelas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful