P. 1
Th. 1985-1986

Th. 1985-1986

|Views: 182|Likes:
Published by Ihsan Abdul Hakim

More info:

Published by: Ihsan Abdul Hakim on Feb 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2013

pdf

text

original

NOTA KEUANGAN DAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN 1985/1986

REPUBLIK INDONESIA

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

BAB I UMUM

Telah merupakan suatu kenyataan sejarah bahwa perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang mengarah kepada kemajuan suatu bangsa, senantiasa mensyaratkan adanya perjuangan dan membawa serta perubahan-perubahan dalam berbagai segi dan dimensi kehidupan. Sebagai suatu rangkaian pembaharuan pada berbagai tingkat perimbangannya, perjuangan yang merupakan pengejawantahan ideologi negara dan pandangan hidup bangsa selalu menuju ke suatu bentuk, dan tatanan kehidupan masyarakat yang dinamis dan lebih baik. Sejarah telah mengajarkan bahwa perjuangan untuk mencapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang makmur dan sejahtera, bukanlah suatu perjuangan tanpa pengorbanan. Mengikuti liku-liku perjalanan sejarah Indonesia akan terlihat betapa generasi demi generasi telah menyemarakkan persada nusantara dengan berbagai pengorbanan, mulai dari perjuangan untuk menghimpun rakyat Indonesia menjadi satu bangsa, bersatu padu dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjamin kelestarian eksistensinya, sampai kepada usaha besar bangsa Indonesia untuk membangun suatu masyarakat sejahtera yang berkeadilan, masyarakat Pancasila. Limabelas tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah memancangkan tonggak sejarah bagi dimulainya suatu babak baru dalam kelanjutan perjuangannya. Bagi bangsa Indonesia, babak itu merupakan garis pemisah antara kecenderungan yang serba sepihak, liberal ataupun terpimpin, dengan sikap yang mengacu kepada keseimbangan, keserasian dan keselarasan yang bersumber pada pemahaman Pancasila secara utuh dan menyeluruh. Alur perjalanan sejarah yang demikian itulah yang terus diusahakan agar menjelma menjadi kenyataan tahap demi tahap sesuai dengan rencana, dan pengutamaan yang selaras dengan perkembangan kesanggupan bangsa. Kini bangsa Indonesia tengah berada diambang pintu tahun kedua Repelita IV, suatu tahap pembangunan yang telah semakin mendekatkan rakyat Indonesia kepada cita-cita perjuangan. Repelita IV bukanlah semata merupakan kelanjutan dan peningkatan dari PelitaPelita sebelumnya, melainkan juga mempunyai posisi yang penting dan menentukan bagi terciptanya kerangka landasan pembangunan nasional. Keberhasilan Repelita IV akan memungkinkan terlaksananya tahap pemantapan kerangka landasan dalam Repelita V dan tahap tinggal landas dal3:m Repelita VI, untuk memacu pembangunan menuju masyarakat adil dan
Departemen Keuangan RI

2

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

makmur berdasarkan Pancasila. Untuk menciptakan kerangka landasan pembangunan tersebut, perlu diupayakan terciptanya kondisi nasional yang memberikan rangsangan serta peluang seluas-luasnya bagi potensi pembangunan agar dapat berperan serta dalam usaha pembangunan nasional. Dengan segenap potensi pembangunan, dana dan daya yang dapat digali dan dikerahkan dari dalam negeri akan semakin meningkatkan dan memantapkan ketahanan ekonomi terhadap pengaruh dari berbagai kemungkinan gejolak atau krisis ekonomi dunia. Pembangunan dengan asas kepercayaan pada diri sendiri, merupakan kekuatan yang tidak ternilai harganya bagi bangsa yang sedang membangun. Kepercayaan pada diri sendiri bertambah penting artinya, karena dalam tahun-tahun yang akan datang pembangunan posti bertambah berat, karena masalah yang ditangani makin besar, dan aspirasi masyarakat pun bertambah luas. Oleh sebab itu perlu dikembangkan kebijaksanaan ekonomi yang bertumpu di atas Trilogi Pembangunan, suatu kebijaksanaan yang telah dianut Pemerintah sejak pembangunan nasional dicanangkan raJa 1 April 1969. Prioritas pembangunan dalam Repelita IV, sesuai dengan Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang, tetap menempatkan sektor pertanian sebagai sektor yang akan terus dikembangkan dan ditingkatkan menuju swasembada pangan, serta pengembangan sektor industri, balk industri berat maupun industri ringan. Dalam hubungan ini, apabila dikaji dan ditelusuri kembali rangkaian kebijaksanaan ekonomi yang telah ditempuh Pemerintah selama ini hingga tahun kedua Repelita IV, maka tampak jelas kesinambungan usaha menuju kepada memperluas, meningkatkan dan sekaligus memperkuat landasan kegiatan ekonomi melalui pengembangan industri di atas sektor pertanian yang mandiri. Kebijaksanaan juga ditujukan kepada perluasan kesempatan kerja, mengutamakan penggunaan hasil produksi dalam negeri, dan peningkatan ekspor. Kesemuanya itu ditunjang oleh kebijaksanaan di bidang fiskal yang lebih mengarah pada asas keadilan, dan kebijaksanaan moneter yang diupayakan untuk merangsang kegiatan dunia usaha, dan memantapkan kestabilan. Tujuan tersebut dan kebijaksanaan penunjangnya mengisi dan menyatu secara terpadu dalam upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang memadai, pemerataan pembangunan dan hasilnya, dan pemeliharaan kestabilan. Diharapkan pada akhimya tercipta strnktur perekonomian yang lebih seimbang dan mantap, dengan tingkat kelenturan produksi yang tinggi yang dalam batasbatas tertentu, mampu meredam setiap kegoncangan ekonomi baik dalam maupun luar negeri. Dengan perkembangan yang mengarah kepada terciptanya keadaan tersebut, perekonomian Indonesia yang modern, tangguh dan demokratis berdasarkan Pancasila akan menopang terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Departemen Keuangan RI

3

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Sejalan dengan cita pembangunan tersebut, sertadengan memperhatikan perkembangan keadaan perekonomian dunia yang masih belum sepenuhnya pulih dari resesi, pada tahun pertama pelaksanaan Repelita IV oleh Pemerintah telah diambil beberapa langkah kebijaksanaan ekonomi yang penting. Langkah nyata dalam rangka menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan tampak lebih jelas dengan telah disahkannya tiga undangundang perpajakan baru yang baik semangat maupun pengaturannya lebih sesuai dengan tuntutan pembangunan yang semakin berkembang. Di bidang moneter, tanggung jawab yang diberikan kepada bank-bank Pemerintah dalam menentukan suku bunga simpanan maupun pinjaman, telah merangsang dunia perbankan untuk mengerahkan dana-dana masyarakat, terlebih karena pada saat yang sama ketentuan pagu kredit perbankan ditiadakan. Bagi masyarakat, adanya kenaikan dalam tingkat pendapatan, terpeliharanya kestabilan harga, dan terkendalinya nilai tukar devisa te1ah semakin meningkatkan hasratnya untuk menabung, yang dilakukan diantaranya melalui sektor perbankan maupun lembaga keuangan lainnya. Dengan demikian terdapat titik temu aliran dana yang menghasilkan kegunaan bagi berbagai pihak, yakni antara masyarakat penabung, sektor perbankan dan tersedianya sumber dana pembangunan. Dan dalam rangka meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, serta mengurangi tekanan yang berat terhadap neraca pembayaran, pada bulan Maret 1983 te1ah diadakan penyesuaian nilai tukar rupiah terbadap dollar Amerika Serikat. Agar supaya pengerahan dana pembangunan, baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri, memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi pembangunan, usaha pengendalian dan penghematan penggunaan dana harus terus ditingkatkan. Oleh karena itu penge1uaran rutin diusahakan dapat ditekan, dan dikendalikan tanpa mengurangi fungsi pe1ayanan kepada masyarakat, serta pemeliharaan terhadap hasil pembangunan yang telah dicapai. Namun demikian, mengingat pentingnya peningkatan pendayagunaan aparatur negara, maka dalam tahun 1985/1986 direncanakan suatu kenaikan gaji bersih pegawai negeri sebesar 20 persen dan pensiun antara 27 - 59 persen. Di lain pihak prioritas pembangunan dipertajam agar penge1uaran pembangunan dapat memberikan hasil guna dan daya guna yang lebih besar, disertai dengan pengurangan, atau penghapusan terhadap berbagai subsidi sejauh yang dapat dilakukan tanpa mengorbankan kepentingan stabilisasi, serta kebutuhan masyarakat banyak. Pemberian subsidi ditata sedemikian rupa agar terdapat alokasi sumber ekonomi secara lebih efisien, dan terhindar dari adanya distorsi harga-harga yang tidak wajar. Sejalan dengan hal tersebut, maka pengeluaran untuk subsidi bahan bakar minyak dalam tahun 1985/1986 te1ah

Departemen Keuangan RI

4

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

dapat ditekan lebih lanjut, yang terutama disebabkan karena adanya peningkatan efisiensi dalam pengolahan bahan bakar tersebut. Di lain pihak subsidi untuk pupuk diperkirakan akan meningkat lebih besar, yang berkaitan erat dengan semakin intensifnya penggunaan pupuk dalam rangka mempertahankan, dan meningkatkan kemajuan yang te1ah dicapai di bidang pengadaan pangan, dan produksi komoditi pertanian lainnya. Adapun penjadwalan kembali beberapa proyek renting dan pengendalian impor secara se1ektif, te1ah dilaksanakan dalam rangka penghematan di bidang devisa, dan upaya untuk mengurangi tekanan terhadap neraca pembayaran. Sedangkan di bidang moneter, kebijaksanaan moneter dan perkreditan tetap ditujukan kepada penggunaan dana yang terarah dan produktif. Perimbangan yang belum memadai antar berbagai sektor kegiatan dalam perekoDamian, serta sifat perekonomian terbuka yang sangat dipengaruhi oleh hambatan dalam kegiatan ekspor, dan resesi perekonomian dunia yang be1um sepenuhnya pulih, menimbulkan akibat yang tak terhindarkan terhadap perekonomian Indonesia dalam tahun-tahun terakhir Pelita III, yang masih berasa pengaruhnya hingga diambang tahun kedua Repelita IV. Agar perkembangan pembangunan waktu lalu lebih dapat dipahami dalam ruang lingkup keadaan yang melatarbelakanginya, dan terlebih renting dadpada itu, agar supaya permasalahan yang dihadapi dalam masa pembangunan yang akan datang dapat ditanggulangi dengan tanggap, serta dapat memanfaatkan peluang yang mungkin tercipta, maka keadaan ekonomi dunia perlu dan senantiasa secara cermat terus diikuti perkembangannya. Tanda-tanda perbaikan ekonomi dunia yang mulai tampak pada tahun akhir Pelita III belum sepenuhnya menunjukkan perkembangan yang diharapkan. Bahkan akhir-akhir ini diperkirakan terdapat kecenderungan gejala perlambatan kembali dari kegiatan ekonomi negara industri utama, yaitu Amerika Serikat, yang dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami kenaikan pertumbuhan ekonomi tertinggi diantara negara-negara industri lainnya, yakni sebesar 7,3 persen. Perekonomian dunia yang belum sepenuhnya bangkit ke arab pemulihan sebagaimana yang diharapkan, hanya memberikan pengaruh yang terbatas manfaatnya bagi perkembangan ekonomi negara-negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi negara-negara industri secara. keseluruhan dalam tahun 1984 diperkirakan menunjukkan kenaikan rata-rata sebesar 4,9 persen, atau 2,3 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan tahun lalu, dimana Jepang dan Kanada diperkirakan mengalami kenaikan tertinggi setelah Amerika Serikat, yakni sebesar 5,0 persen dan 4,6 persen, sedangkan negara-negara industri lainnya dalam kelompok tujuh negara industri besar diperkirakan menunjukkan kenaikan rata-rata sekitar 2,5 persen.

Departemen Keuangan RI

5

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Pertumbuhan ekonomi yang dicapai negara-negara industri utama tersebut, erat kaitannya dengan menurunnya tingkat pengangguran serta laju inflasi. di negara-negara tersebut. Tingkat pengangguran rata-rata di negara-negara industri tersebut diperkirakan telah dapat ditekan menjadi 7,6 persen dalam tahun 1984 dibandingkan 8,3 persen dalam tahun 1983, sedangkan laju inflasi diperkirakan menunjukkan sedikit penurunan dari sebesar 5,0 persen dalam tahun 1983 menjadi 4,3 persen dalam tahun 1984. Sisi lain perkembangan perekonomian dunia yang pada umumnya menunjukkan perbaikan, telah ditandai dengan makin meningkatnya suku bunga riil di Amerika Serikat yang bertahan pada tingkat yang relatif tinggi, sebagai akibat dari pelaksanaan kebijaksanaan moneter yang ketat di negara tersebut. Suku bunga untuk nasabah-nasabah utama (US Prime Rate) di Amerika Serikat mencapai tingkatan yang tinggi, sekitar 13 persen pada bulan September 1984. Perbedaan dalam tingkat produktivitas serta laju pertumbuhan perekonomian, dan tingkat inflasi antara berbagai negara di dunia, serta tingginya suku bunga riil di Amerika Serikat, telah mengakibatkan masuknya modal dari negara-negara lain ke Amerika Serikat, yang kemudian mengakibatkan naiknya nilai tukar mata uang Amerika Serikat terhadap pelbagai macam mata uang asing. Meningkatnya nilai tukar mata uang dollar Amerika selanjutnya telah mengakibatkan kegoncangan posar valuta internasional di berbagai negara, serta kemerosatan yang cukup besar pada nilai tukar mata uang - mata uang penting dunia. Ketidakstabilan nilai tukar valuta asing, kebijaksanaan moneter yang ketat, tingginya suku bunga menimbulkan rangkaian akibat berupa naiknya defisit transaksi berjalan negaranegara industri. Usaha mengatasi defisit tersebut telah menimbulkan dampak sampingan yang kurang menguntungkan, khususnya bagi perkembangan ekspor negara-negara berkembang, karena adanya langkah-langkah proteksionisme yang dilakukan oleh negara-negara industri dalam rangka melindungi hasil produksi dalam negeri mereka. Perkembangan perekonomian dunia telah dipengaruhi pula oleh ketidakstabilan dalam posar minyak dunia. Meningkatnya produksi serta peleposan cadangan minyak negara-negara di luar OPEC, dan upaya penghematan penggunaan energi minyak telah menyebabkan terganggunya keseimbangan posar, dan kecenderungan terjadinya penurunan harga minyak dunia. Menghadapi keadaan demikian, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam sidangnya bulan Oktober 1984 di Geneva memutuskan untuk tetap mempertahankan tingkat harga yang berlaku sekarang, dengan jalan mengurangi produksi dari batas tertinggi 17,5 juta barrel menjadi sebesar 16,0 juta barrel per hari, serta menetapkan kuota baru bagi negara-negara anggotanya.

Departemen Keuangan RI

6

serta pengelolaan bantuan dan pinjaman luar negeri secara lebih cermat. Oleh karena penerimaan ekspor minyak mengalami penurunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Setetah mengalami defisit dalam neraca pembayaran yang cukup besar dalam tahun 1982/1983. Selain dari itu juga meliputi penyesuaian nilai tukar mata uang dollar Amerika. pelaksanaan sistem imbal beli. serta sebagai sektor pendorong gerak perekonomian nasional yang penting. Dalam tahun 1984/1985 perkembangan neraca pembayaran diperkirakan masih akan mengalami surplus sungguhpun tidak sebesar dalam tahun 1983/1984. kebijaksanaan mendorong ekspor secara menyeluruh melalui pola pengembangan ekspor terpadu terus ditingkatkan. Ternyata negara-negara tersebut sangat membutuhkan komoditi ekspor Indonesia seperti karet. Usaha tersebut meliputi peningkatan dan diversifikasi ekspor di luar minyak dan gas bumi. kenaikan penerimaan ekspor keseluruhan dalam tahun 1983/1984 hanya sebesar 6. dalam tahun 1983/1984 neraca pembayaran Indonesia menunjukkan keadaan yang lebih baik yaitu surplus sebesar US $ 2. perbaikan mutu barang ekspor. memperlihatkan adanya perbaikan yang berarti. pengendalian impor. maka telah dikeluarkan Inpres No. dengan latar belakang perkembangan keadaan perekonomian dunia yang menunjukkan adanya sedikit perbaikan. Menghadapi situasi perekonomian internasional yang tidak menentu. Juga terlihat peluang untuk mengekspor barang-barang manufaktur ke Eropa Timur sepanjang harganya mampu bersaing di posaran internasional. Dalam rangka pengelolaan bantuan yang lebih berdaya guna. Departemen Keuangan RI 7 .070 juta. Namun demikian. agar pembayaran kembali dikemudian hari tetap dalam batas kemampuan keuangan negara.8 Tahun 1984 yang menegaskan ketentuan tentang pengendalian dalam penggunaan kredit ekspor luar negeri. meskipun transaksi berjalan masih mengalami defisit sebesar US $ 4. walaupun penurunan tersebut jauh lebih rendah dari tahun 1982/1983. timah. terus dilakukan oleh Pemerintah mengingat peranannya sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan. pengembangan ekspor barang-barang produksi hasil industri dan perluasan posaran di luar negeri ke negara-negara selain rekan dagang.151 juta. minyak kelapa sawit dan sebagainya. Dalam rangka memperluas ekspor Indonesia. Kemajuan di bidang neraca pembayaran tersebut tidak terlepos dari perkembangan ekspor bukan minyak yang menunjukkan kenaikan sebesar 36. serta guna mengurangi ketergantungan pada ekspor minyak dan gas bumi. Berbagai langkah kebijaksanaan di bidang perdagangan luar negeri. dimana dalam tahun sebelumnya mengalami penurunan. perluasan kemudahan dibidang perpajakan dan perkreditan.1 persen.6 persen. khususnya dalam rangka mendorong ekspor. maka telah dijajagi kemungkinan peningkatan perdagangan dengan negara-negara Eropa Timur. kopi. defisit tersebut apabila dibandingkan dengan defisit tahun 1982/1983. teh.

dan perdagangan. akan tetapi juga sekaligus meningkatkan penerimaannya. juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program pembangunan jangka panjang sektor industri. Pemerintah telah mengusahakan untuk sejauh mungkin tidak memberi keringanan bea masuk.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pelaksanaan berbagai kebijaksanaan di bidang ekspor tersebut tertuang antara lain dalam Peraturan Pemerintah No. Pemerintah telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meniadakan berbagai hambatan yang dapat mengurangi daya saing komoditi ekspor Indonesia di posaran internasional. memerlukan kerja keras baik dari Pemerintah maupun masyarakat. telah diadakan penyederhanaan perizinan. aluminium sheet dan fuli aluminium jenis-jenis tertentu. sejak 1 Januari 1984 pungutan MPO ekspor atas eksportir telah dihapuskan. dan untuk beberapa komoditi tertentu yang semula dikenakan pajak ekspor sebesar 10 persen diturunkan menjadi 0 persen. perhubungan. Demikian pula terhadap beberapa produk yang telah dapat dirakit di dalam negeri telah diberlakukan tarif bea masuk. pipa besi dan produk polyvinyl chloride (PVC). Dalam hubungan ini.1 bulan Januari 1982 yang menyangkut pengaturan jual beli devisa. Sejalan dengan usaha meningkatkan mutu barang-barang ekspor. Di bidang perpajakan. dan selanjutnya meningkat menuju tahapan perluasan ekspor hasil produksinya. tetapi sekaligus menyesuaikan tarif bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap impor barang-barang yang telah dapat diproduksi di dalam negeri seperti kertas untuk jenis tertentu. tata cara ekspor dan sebagainya. serta penurunan pajak ekspor tambahan atas jenis komoditi tertentu lainnya. Memantapkan ekspor. pertanian. dan barang modal dalam rangka pemenuhan kebutuhan bahan pokok yang diperlukan masyarakat. Departemen Keuangan RI 8 . sejak 10ktober 1984 pungutan langsung oleh Pemerintah Daerah terhadap beberapa komoditi ekspor penting telah pula dihapuskan. dimana dari jumlah tersebut standar mutu dari 38 jenis barang sudah dilaksanakan. serta sejalan dengan usaha peningkatan penggunaan produksi dalam negeri. suatu keterpaduan langkah yang tidak hanya mengarah kepada penghematan devisa. sampai dengan Agustus 1984 telah ditetapkan standar mutu untuk 165 jenis barang-barang perdagangan. dan pajak penjualan impor yang baru. Selain itu. Kebijaksanaan di bidang impor selain ditujukan kepada memperlancar pengadaan bahan baku/penolong. dan pemeliharaan kestabilan. Melalui kebijaksanaan impor yang mendukung pertumbuhan sektor industri. Di bidang prosedur ekspor. khususnya dunia usaha. dan penghapusan izin yang meliputi berbagai bidang antara lain bidang kehutanan. sektor tersebut didorong untuk mencapai tahap perkembangan yang efisien melalui persaingan yang sehat. Dengan berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan pada tanggal 1 Januari 1984. dan memperluas posarannya.

meningkatkan ekspor. dan belum dapat memberikan kemantapan pada struktur industri yang ada.9 persen setahun. sehingga menyebabkan lemahnya kaitan antarindustri. dan mempertinggi sikap mental pembaharuan. menunjang pembangunan daerah. pembinaan industri kecil. sektor tersebut hingga tahun-tahun pertama Pelita III telah berkembang tidak kurang dari 9 persen. untuk memantapkan dan memperkokoh struktur industri nasional. baik vertikal maupun horizontal. dalam tahun 1983 secara riil menunjukkan kenaikan sebesar 2. tidak terlepos dari adanya pengaruh resesi ekonomi dunia. peningkatan peranan bangsa Indonesia sendiri dalam Departemen Keuangan RI 9 . yang pada umumnya merupakan industri substitusi impor. Pertumbuhan sektor industri pengolahan. tahap industrialisasi yang merupakan tahap yang sulit. telah berkembang relatif lebih pesat dibanding industri hulu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pungutan MPO atas barang-barang impor dihapuskan. sedangkan pungutan baru dikenakan terhadap impor barang yang dilakukan oleh importir yang menggunakan API. Program tersebut terdiri dari rangkaian usaha berupa peningkatan keterkaitan antara berbagai jenis industri secara vertikal dan horizontal.5 persen dari nilai dasar impor (cif). APIS atau APIT yaitu sebesar 2. dilihat sebagai komponen produk domestik bruto.0 persen dan 13. Dengan demikian pembangunan industri selain diharapkan dapat mewujudkan struktur ekonomi yang seimbang antara industri dan pertanian. antara industri padat modal dan industri padat karya. setelah mengalami titik kenaikan yang terendah dalam tahun 1982. telah ditempuh kebijaksanaan program terpadu. Dengan arah kebijaksanaan tersebut. menghemat devisa. Sehubungan dengan hat tersebut. yaitu dengan mengembangkan industri yang saling menunjang dengan sektor lainnya. Sejak awal Pelita I. maka dalam Pelita III turun menjadi 8. Kelambanan yang terjadi dalam pertumbuhan sektor industri dipenghujung tahun Pelita III. juga diarahkan agar di dalam sektor industri sendiri semakin terwujud keseimbangan dan keserasian antara industri besar/sedangdan industri kecil. dikenakan pungutan sebesar 7.5 persen dari nilai dasar impor (cif). Industri hilir. antara industri hilir dan industri hulu. Terhadap impor barang yang dilakukan oleh importir yang tidak menggunakan sistem perijinan impor. bahwa pembangunan industri ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja. dan dengan Pancasila sebagai dasar perjuangan bangsa. dan memanfaatkan sumber alam dan energi serta sumber daya manusia. Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara ditetapkan.2 persen. serta adanya kekurangserasian pertumbuhan antarsektor industri. memeratakan kesempatan berusaha.7 persen. Apabila dalam Pelita I dan II sektor industri telah tumbuh rata-rata sebesar 13. serta harus mampu meningkatkan keahlian dan ketrampilan masyarakat. dan mengandung kerawanan kiranya dapat dilalui tanpa menimbulkan ketegangan sosial.

Didukung oleh besarnya peranan nilai tambah yang diciptakan oleh sektor perdagangan. dalam komoditi. produk domestik Departemen Keuangan RI 10 . serta peningkatan ekspor hasil produksinya. Dengan berbagai usaha tersebut akan tercipta keserasian yang memberi kekuatan pada keseluruhan pertumbuhan industri. akan tetapi meliputi pula usaha mengangkat kehidupan sosial. dimana peningkatan daya beli sebagian besar masyarakat beserta pemerataan pendapatan yang berlangsung di sektor ini. produksi palawija dan hortikultura telah memainkan peran yang cukup penting pula dalam pemenuhan kebutuhan bahan pangan yang meningkat.9 persen dari produk domestik bruto riil. pembangunan pertanian dilaksanakan dengan berlandaskan Trimatra Pembangunan Pertanian. lembaga keuangan dan jasa lainnya. Dengan demikian pembangunan pertanian diharapkan memberikan arti yang utuh bagi peningkatan sebagian besar kesejahteraan bangsa Indonesia. dan dinaikkan. pendidikan dan tingkat kehidupan para petani di pedesaan pada umumnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan industri. sumbangan sektor pertanian masih sebesar 46. harga dasar gabah kering giling di KUD dinaikkan menjadi Rp 175. Untuk itu pada bulan Pebruari 1985. merupakan faktor yang sangat menunjang tegak tahannya sektor industri. Agar peningkatan produksi beras dapat pula meningkatkan tarat hidup petani lebih layak.00 perkilogram. dan dengan menerapkan Panca Usaha Tani.7 persen dan 3. yaitu keterpaduan dalam usaha tani. akan tetapi sumbangannya terhadap produk domestik bruto riil terus mengecil. sementara nilai produksinya terus meningkat. Dalam Pelita III produksi beras menunjukkan pertumbuhan sebesar 6. dimana dalam Pelita I dan II pertumbuhan produksinya adalah sebesar 4. Apabila pada awal Pelita I. serta sektor-sektor lainnya. Pembangunan sektor pertanian berdasarkan Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang tidak hanya menyangkut peningkatan produksi semata. Sungguhpun pertumbuhan sektor pertanian sejak Pelita I setiap tahunnya menunjukkan tingkat kenaikan yang berbeda.5 persen pertahun. Kemajuan yang dapat dicapai oleh sektor industri pada tingkat akhir berkaitan erat dengan kemantapan pertumbuhan. Produksi tanaman pangan sebagai komponen produksi pertanian terpenting menunjukkan perkembangan yang mengesankan. Di samping produksi beras. tingkat harga dasar gabah yang diterima oleh petani setiap tahunnya selalu ditinjau kembali.8 persen pertahun. dan dalam pengembangan wilayah dengan sasaran sebagaimana yang tercakup dalam Sapta Karya Pembangunan Pertanian. dan perkembangan produktivitas sektor pertanian. Untuk mewujudkan tujuan tersebut. maka pada akhir Pelita III diperkirakan menurun menjadi hanya sekitar 29 persen.

telah berkembang menjadi hampir lima puluh lima kali dalam Departemen Keuangan RI 11 . dan prospek yang baik dari perkembangan pembangunan.2 persen dari produk domestik brutonya.5 persen. oleh Pemerintah telah diberikan berbagai rangsangan antara lain dalam bentuk penyederhanaan prosedur penanaman modal. alas dasar harga konstan 1973.2 persen.ada. fasilitas pengampunan pajak.4 milyar. dunia usaha. serta tingkat produktivitas modal. Sungguhpun kenaikan tersebut masih lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan per tahun dalam periode 1970 . Produk domestik bruto. Kegiatan penanaman modal yang dilakukan oleh dunia usaha. terus menunjukkan peningkatan.2 juta. sejalan dengan terpeliharanya kestabilan. Sebagai piranti anggaran dalam melaksanakan Repelita demi Repelita. Penanaman modal yang dilakukan melalui fasilitas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sampai dengan bulan Agustus 1984 telah disetujui sebesar Rp 20. sedangkan penanaman modal asing (PMA) dalam periode yang sama. Berbagai fasilitas tersebut diberikan agar tercipta iklim penanaman modal yang menarik. baik yang dilakukan oleh masyarakat. dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 telah meningkat rata-rata sebesar 7. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya pembentukan modal domestik bruto rata-rata sebesar 15. dalam tahun 1983 diperkirakan telah meningkat menjadi 30. Pertumbuhan ekonomi yang tercermin dari perkembangan produk domestik bruto sangat dipengaruhi.632. meskipun fasilitas bebas pajak. Pembentukan modal domestik bruto yang dalam tahun 1969. volume Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah berhasil ditingkatkan terus dalam jumlah yang cukup besar. semacam pemutihan modal masih dimungkinkan. dan ditentukan oleh perimbanganperimbangan yang terjadi di dalam tingkat pembentukan modal.7 milyar. akan tetapi masih lebih tinggi dari yang dicapai dalam tahun 1982. Hal ini tiada lain menunjukkan adanya kemajuan di dalam pembentukan atau penanaman modal. Sebagai kompensasi.2 persen pertahun dalam periode tersebut. alas dasar harga konstan tahun 1973. rencana investasinya mencapai nilai sebesar US $ 14. serta ketentuan bahwa perorangan dapat melaksanakan penanaman modal melalui fasilitas PMDN tanpa harus berbentuk badan hukum. penetapan tarip penyusutan yang lebih tinggi. sejak Pelita I.1982. Dalam rangka meningkatkan penanaman modal. Volume APBN pada awal Pelita I yang berjumlah Rp 334. yakni kenaikan sebesar 4.915. dan tenaga kerja yang .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bruto riil secara keseluruhan dalam tahun 1983 diperkirakan menunjukkan adanya kemajuan yang cukup berarti. Sumber pembentukan modal yang terpenting adalah dana-dana yang dapat dikerahkan dan disalurkan melalui APBN. baru berjumlah 11. dan pemutihan modal bagi penanam modal di Indonesia dihapuskan. yakni segala dana yang ditabung dalam deposito tidakakan diusut asal usulnya.2 persen pertahun. maupun Pemerintah.

Seperti yang telah dikemukakan perekonomian dunia yang dilanda krisis. pertumbuhan dan stabilitas memperoleh gambaran yang lebih nyata. rencana tersebut terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 18.0 milyar. dan penerimaan pembangunan sebesar Rp 4. oleh Pemerintah telah diambil berbagai langkah kebijaksanaan untuk meningkatkan ketahanan Departemen Keuangan RI 12 .1 milyar. eksploitasi dan pemeliharaan pengairan. Perkembangan APBN terus diusahakan agar tetap berimbang dan dinamis. juga diserasikan dengan pembiayaan pembangunan regional dan perluasan kesempatan kerja melalui berbagai program Inpres. utuh dan menyeluruh melalui peranan ganda dari pengeluaran pembangunan.046.0 milyar. pembangunan daerah minus serta pengembangan perkotaan.647. Dalam usaha untuk memperkecil pengaruh yang ditimbulkan resesi duma tersebut. Dengan latar belakang kebijaksanaan dan perkembangan perekonomian baik nasional maupun internasional. Resesi ekonomi dunia yang telah mempengaruhi perekoDamian Il}donesia pada gilirannya telah mempengaruhi penyusunan RAPBN 1985/1986.368. Dalam tahun 1985/1986 bantuan pembangunan Dati I adalah sebesar Rp 280. Namun demikian. perbaikan dan penyempumaan irigasi.399. Pengeluaran pembangunan selain dialokasikan untuk berbagai sektor. memberikan harapan yang besar untuk tetap berlangsungnya pembangunan nasional guna mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.677. sedangkan di sisi pengeluaran negara rencana tersebut terdiri dari pengeluaran rutin sebesar Rp 12. dan pengeluaran pembangunan sebesar Rp 10. Dengan demikian pemerataan. dan berlangsung berkepanjangan telah memberikan dampak yang tidak diinginkan terhadap perekonomian Indonesia. maka volume RAPBN tahun anggaran 1985/1986 direncanakan berimbang pada tingkat sebesar Rp 23. Di sisi penerimaan negara.0 milyar. Gambaran perkembangan volume APBN yang terus meningkat. khususnya dalam beberapa tahun terakhir ini. di balik kemajuan tersebut berbagai tantangan dan hambatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tahun terakhir Pelita III. Untuk mempedancar distribusi hasil-hasil produksi. sehingga peranannya sebagai stabilisator. serta usaha untuk tetap terpeliharanya kesinambungan pembangunan. terutama dalam mengamankan penerimaan negara melalui APBN. Bantuan tersebut dimaksudkan untuk pemeliharaan jembatan dan jalan propinsi. dalam rangka pemerataan pembangunan dan hasilnya. serta upaya pemecahannya telah pula menjadi bahagian dari pelaksanaan APBN.9 milyar. dan akselerator pembangunan tetap dapat dipertahankan. kepada Dati II juga diberikan bantuan pembangunan prasarana jalan.0 milyar. Sedangkan bantuan pembangunan bagi Dati II antara lain adalah untuk proyek-proyek prasarana dan produksi yang dapat memperluas lapangan kerja dan proyek padat karya.

Pemerintah bertekad untuk melaksanakannya pada 1 April 1985.8 Tahun 1984 telah ditangguhkan berlakunya sampai selambat-Iambatnya tanggal 1 J anuari 1986. yang merupakan perbaikan secara mendasar terhadap undang-undang perpajakan yang lama. Untuk mewujudkan kebijaksanaan yang lebih realistis dengan keadaan perekonomian nasional. serta guna meningkatkan kesadaran para wajib pajak dalam menaati pembayaran pajaknya. Sedangkan Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang sedianya berlaku pada tanggal 1 Juli 1984. yang sebagian besar masih bergantung pada penerimaan dari minyak bumi dan gas alam. Pemerintah kini tengah mempersiapkan perundang-undangan mengenai pabean.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ekonomi nasional. dana-dana yang berasal dari masyarakat yang dapat Departemen Keuangan RI 13 . Di samping Undang-Undang Perpajakan tersebut. yakni dengan diberlakukannya UndangUndang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan serta Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan sejak tanggal 1 Januari 1984. Sumber penting lainnya dari penanaman modal adalah tabungan masyarakat yang antara lain terkumpul melalui sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya.5 persen. serta menciptakan landasan yang kuat guna berlangsungnya kelancaran proses pembangunan. dan iuran pembangunan daerah. akan tetapi juga berusaha untuk meningkatkan rasa keikutsertaan masyarakat secara aktif dalam memberikan andil dan peranannya di dalam pembangunan melalui bidang perpajakan. khususnya melalui usaha peningkatan penerimaan dalam negeri di luar minyak. Dalam rangka pelaksanaan undang-undang ini. pajak kekayaan. dengan Undang-Undang No. Sejak dilaksanakannya kebijaksanaan moneter 1 Juni 1983. telah dilaksanakan ketika memasuki tahun pertama Repelita IV. Berlainan dengan undang-undang perpajakan yang lama yang mempunyai sistem. undang-undang perpajakan yang baru tersebut lebih mencerminkan kesederhanaan. prosedur dan pentaripan yang rumit. dan memberikan kepostian hukum. Langkah-Iangkah untuk menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan. Dengan kebijaksanaan tersebut Pemerintah bukan saja berupaya untuk lebih menyeimbangkan struktur penerimaan negara. maka mulai tahun anggaran 1985/ 1986 dalam penerimaan pajak pertambahan nilai. termasuk di dalamnya pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM) sebesar 10 persen. maka sejak 1 Januari 1985 tarip pajak kekayaan telah diturunkan dari 1 persen menjadi 0. Namun demikian mengingat pentingnya peranan pajak tersebut. serta lebih mendorong pemerataan. guna lebih memantapkan peningkatan penerimaan dalam negeri. Salah satu kebijaksanaan yangtelah diambil adalah dengan disahkannya beberapa undang-undang perpajakan yang baru. sedangkan batas kekayaan yang tidak kena pajak telah dinaikkan dari Rp 14 juta menjadi Rp 80 juta.

laju inflasi menunjukkan peningkatan sebesar 8. Dalam kaitan ini unsur terpenting di dalam pengembangan sumber daya manusia adalah pendidikan. diantaranya sebesar Rp 7. dan tentang Referendum. Dengan demikian manusia Indonesia yang sehat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dihimpun oleh sektor perbankan menunjukkan kenaikan yang mengesankan. diusahakan agar pengaruhnya terhadap tingkat harga senantiasa dalam batas-batas yang aman. pembangunan politik dan pendidikan politik seperti yang digariskan oleh GBHN terus menerus dilaksanakan. volume deposito berjangka telah menunjukkan kenaikan sebesar Rp 2. Sungguhpun jumlah uang beredar terus meningkat.2 milyar atau 53.905. dana perbankan telah mencapai jumlah sebesar Rp 14. peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar dalam rangka pelaksanaan wajib Departemen Keuangan RI 14 .8 milyar. dan penyederhanaan kehidupan politik. Meningkatnya dana-dana masyarakat yang terhimpun oleh sektor perbankan menunjukkan adanya kestabilan ekonomi. Perubahan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR/DPR/DPRD. Sementara itu dalam periode Juni 1983 . Dalam rangka pembaharuan.705. cerdas dan berbudi luhur merupakan modal pembangunan yang sangat menentukan. sedangkan pada tahun sebelumnya menunjukkan kenaikan sebesar 11. Pelaksanaan pembangunan nasional senantiasa diupayakan berjalan seirama dengaIi pembinaan dan pemeliharaan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.8 persen.5 persen.2 milyar.787. Sehubungan dengan itu dalam tahun pertama Repelita IV kebijaksanaan di bidang pendidikan terutama ditekankan dan diarahkan pada peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan. Tegaknya demokrasi Pancasila merupakan syarat mutlak bagi terjaminnya stabilitas nasional. Kelima RUU tersebut kini dalam pembahasan. maka kepada DPR telah diajukan lima RUU masing-masing tentang: Perubahan UU Pemilu. baik di bidang ekonomi.Juni 1984. sosial maupun politik. Sampai dengan bulan September 1984. Organisasi Kemasyarakatan. dan diharapkan pada waktunya akan mendapat persetujuan akhir dari Dewan Perwakilan Rakyat. Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Dalam tahun 1984.8 persen merupakan dana deposito dan tabungan yang merupakan sumber dana yang renting bagi pembentukan modal untuk disalurkan berupa kredit bagi kegiatan usaha. namun mendorong kegiatan pembangunan. dan iklim terse but harus dipertahankan agar upaya pembangunan dengan kekuatan sendiri secara bertahap dapat terwujud menjadi kenyataan. dan kesinambungan pembangunan. Perubahan UU tentang Parpol dan Golkar. Terpeliharanya kestabilan ekonomi mencerminkan terselenggaranya pengendalian jumlah uang beredar yang sesuai dengan kebutuhan perekonomian. Oleh sebab itu.

maka perlu terus ditingkatkan pembangunan kesehatan dan pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk. serta agar pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan baik. Guna meningkatkan mutu pendidikan. merencanakan untuk memberikan tunjangan jabatan fungsional kepada guru sekolah tingkat dasar dan menengah. Dengan penuh kepercayaan pada kemampuan sendiri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 belajar. agar tempat beranjak pembangunan bertambah kuat sehingga bangsa Indonesia dapat terus tumbuh dan berkembang. Terciptanya kerangka landasan seperti yang diamanatkan oleh GBHN harus benarbenar dapat diwujudkan. dan pembangunan nasional. baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah. dan masyarakat untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila. serta penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional. Departemen Keuangan RI 15 . Oleh karena manusia merupakan modal terpenting dan menentukan dalam pembangunan nasional. Untuk itu Pemerintah dalam tahun 1985/1986. serta pengelolaan pendidikan yang lebih berdaya guna dan berhasil guna. Pembangunan juga mengusahakan agar setiap warga negara dapat memperoleh derajat kesehatan yang tinggi menuju terbentuknya keluarga yang sehat dan sejahtera. dan tujuannya tidak tersimpangkan. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap generasi muda dalam tugasnya sebagai penerus perjuangan bangsa. telah dilaksanakan penataran guru/pembina pada berbagai tingkat pendidikan. Bersamaan dengan itu terus diusahakan pula peningkatan program keluarga berencana (KB) nasional yang pelaksanaannya ditempuh melalui pendekatan kemasyarakatan baik melalui jalur formal maupun informal. pemberantasan penyakit menular. Di samping itu juga dilaksanakan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera (NKKBS) melalui program lintas sektoral agar terwujud keluarga yang sehat. penyuluhan kesehatan. baik secara kualitatif maupun kuantitatif. sementara kesejahteraan para guru dan dosen tetap menjadi perhatian Pemerintah. pengadaan tenaga dokter dan tenaga medis. serta cita dan harapan dapat menjadi kenyataan. dan alih teknologi di bidang kesehatan dan peralatan kesehatan. agar arah dan pelaksanaan pembangunan tetap benar. yang meliputi berbagai bidang studi dan pengelolaan. dan mengarah kepada pengalihan tanggung jawab pengelolaan dari Pemerintah kepada masyarakat. dan hanya dengan persatuan yang makin kukuh segala rintangan dan tantangan yang berat dalam tahun-tahun mendatang akan teratasi. antara lain berupa pembangunan Puskesmas dan rumah sakit. makmur dan sejahtera. Maka teramat penting bagi segenap aparatur negara. Untuk itu sejak Pelita I telah dan terus dilaksanakan pembangunan di bidang kesehatan. peningkatan gizi masyarakat.

sehingga menambah kemantapan iklim perekonomian nasional secara menyeluruh dan terpadu. sebagai tujuan utama dari pembangunan merupakan babagian yang tak dapat dipisahkan dari ukuran keberhasilan pembangunan secara menyeluruh. guna mewujudkan amanat yang terkandung di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. sebagai suatu rangkaian tak terpisahkan dari Trilogi Pembangunan. Dalam memelihara pengaruh APBN terhadap perkembangan moneter. Apa yang ditetapkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara dijabarkan di dalam Repelita. tetap menjadi dasar kebijaksanaan bagi pengelolaan keuangan negara. dan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Pendahuluan Sejak pembangunan nasional dirimlai pada tahun 1969/1970. dan ditegaskan kembali di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Hal demikian merupakan salah satu upaya pemantapan stabilitas ekonomi. dan secara operasional setiap tahun diwujudkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). diarahkan kepada terwujudnya Trilogi Pemba. Hal demikian sangatlah diperlukan untuk menjamin terus berlangsungnya pembangunan nasional secara berkesinambungan.i1gunan tersebut secara optimal. tetap dipertahankan. dan berpegang teguh pada kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan tarat hidup. khususnya terhadap meningkatnya laju inflasi. keseimbangan antara penerimaan negara. Beberapa indikator seperti bertambah luasnya prasarana dan sarana seperti perhubungan. kecerdasan. pertumbuhan ekonomi yang memadai serta kestabilan nasional yang sehat dan dinamis. pendidikan. tahun pertama pelaksanaan Pelita pertama hingga memasuki tahun kedua Pelita IV.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB II ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA 2. kesehatan serta penciptaan lapangan kerja diseluruh pelosok tanah air telah ikut mendorong laju pertumbuhan. dan pengeluaran negara sebagai pelaksanaan prinsip-prinsip anggaran yang berimbang dan dinamis. Departemen Keuangan RI 16 . Dengan demikian penerimaan negara beserta pengalokasiannya kepada seluruh sektor pembangunan. Meningkatnya taraf hidup. dan memperluas usaha pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Kemajuan pembangunan nasional yang dilaksanakan sejak tahun 1969 itu tercermin tidak hanya dari terus meningkatnya volume APBN. kecerdasan serta kesejahteraan seluruh rakyat. kebijaksanaan keuangan negara tetap diarahkan.1. yang berarti pula menjaga sendi-sendi kestabilan kehidupan masyarakat.

406. Demikian pula rencana anggaran penerimaan dalam Repelita III sebesar Rp 43.7 milyar. Bila dibandingkan dengan rencana anggaran penerimaan dalam Repelita.8 milyar.463.661.8 milyar dari yang direncanakan. terutama untuk mengamankan penerimaan negara melalui APBN. Pemerintah telah mengambil berbagai kebijaksanaan antara lain berupa pembaharuan di bidang perpajakan. Adapun pengeluaran rurin dan pengeluaran pembangunan dalam lima tahun pelaksanaan Pelita III terse but dicapaijumlah sebesar Rp 32.3 milyar. dalam beberapa tahun terakhir.510.247.168. sedangkan pengeluaran negara terdiri dari pengeluaran rutin sebesar Rp 21.6 milyar ternyata dalam pelaksanaannya telah dilampaui sebesar Rp 22. realisasi penerimaan negara telah dapatn mencapai Rp 66.883. Dibalik kemajuan tersebut.4 milyar. yaitu dengan realisasi penerimaannya sebesar Rp 66. dalam realisasinya masing-masing mencapai jumlah sebesar Rp 3.586.129.5 milyar dan Rp 34.237.849.714.3 milyar dan Rp 1.1 milyar.6 milyar. Dengan demikian dibandingkan dengan rencananya. penyesuaian nilai tukar dollar Ametika terhadap rupiah.4 milyar. Adapun usaha untuk memperkecil pengaruh yang di timbulkan resesi dunia tersebut.467. berbagai tantangan dan hambatan.4 milyar. dan penerimaan pembangunan sebesar Rp 10. maka realisasinya selalu melampaui rencana dalam setiap Repelita. hila dalam tabun pertama Pelita I jumlah penerimaan baru sebesar Rp 334. masing-masing lebih besar dengan Rp 21.2 milyar dan Rp18.7 milyar. dan kebijaksanaan moneter 1 Juni 1983.1 milyar. terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 55. penjadwalan kembali proyek-proyek.5 milyar.2 milyar.393.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Perkembangan volume APBN.510. sehingga masing-masing mengalami kenaikan sebesar Rp 10. yakni dari tahun 1979/1980 sampai dengan tahun 1983/1984.019.7 milyar. Perekonomian dunia yang dilanda krisis. Di dalam pelaksanaannya selama lima tahun Pelita III. maka dalam tabun terakhir Pelita III realisasinya telah meningkat menjadi Rp 18. Oleh sebab itu upaya peningkatan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas Departemen Keuangan RI 17 . yang berarti meningkat sebesar hampir 55 kali lipat dalam jangka waktu lima betas tahun.3 milyar dan Rp 12. khususnya di bidang penerimaan negara. telah mempengaruhi perkembangan APBN.283.0 milyar dan Rp 12. Dalam Repelita I dan II anggaran penerimaan yang direncanakan berjumlah Rp 2.273.279.393.8 milyar.551. dan pengeluaran pembangunan sebesar Rp21. yang terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 34. dan penerimaan pembangunansebesar Rp 9. Dalam Repelita III anggaran yang direncanakan berimbang pada jumlah sebesar Rp43.987.1 milyar.6 milyar.2 milyar dan Rp 5. sehingga dengan demikian masing-masing melampaui rencananya sebesar Rp 820.2 milyar.315. dan berlangsung berkepanjangan telah memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi perekonomian Indonesia.

Sementara itu pengeluaran pembangunan tetap diarahkan untuk membiayai proyek-proyek yang Departemen Keuangan RI 18 . badan-badan usaha. Iklim tersebut selanjutnya akan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri. dan agar terdapat alokasi sumber-sumber ekonomi yang sehat. kebijaksanaan perpajakan diarahkan bukan saja untuk meningkatkan penerimaan negara. serta para wajib pajak pada umumnya. dan terus disempurnakan baik tata cara pengelolaannya. Dalam hubungan ini pembenahan aparatur perpajakan. Dalam melaksanakan undang-undang perpajakan yang baru. terusmenerus dilaksanakan. baik dari pengelola pajak maupun dari masyarakat wajib pajak. Sebagai peralatan fiskal. Untuk itu mulai akhir tahun anggaran 1983/1984 telah diberlakukan beberapa undang-undang perpajakan yang baru dengan perbaikan secara mendasar terhadap sistem perpajakan lama yang antara lain meliputi dasar pengenaan pajak. perluasan kesempatan kerja. maka perlu ditingkatkan pengawasan. serta penerimaan bukan pajak. Di sektor pengeluaran rutin. seperti penerimaan dari sumber-sumber perpajakan. maupun peningkatan disiplin dan pembinaan mental aparat pemungut pajak. diperlukan disiplin dari berbagai pihak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 alam. maupun ketrampilan petugas yang bersangkutan. Kebijaksanaan yang ditempuh untuk melaksanakan hal tersebut antara lain dengan meningkatkan efisiensi penggunaan dana. perdagangan. Agar pelaksanaan undang-undang pajak dapat berjalan lancar telah dan terus diadakan penyuluhan terhadap pengusaha. serta mengarahkan kegiatan pembangunan pada proyek-proyek yang berprioritas tinggi. pengendalian dan penghematan dalam menyelenggarakan kegiatan Pemerintah terus dilakukan. tanpa harus mengorbankan kebutuhan dan kesejahteraan dari sebagian besar masyarakat. serta membantu terciptanya suasana yang lebih sesuai dengan pola hidup sederhana. tarip pajak serta tata cara pembayaran pajaknya. unsur-unsur kesederhanaan.. memerlukan penanganan dan pendayagunaan yang cermat dan secara berencana terus dikembangkan agar tujuan mencapai kemandirian dalam pembiayaan pembangunan secara bertahap dapat menjadi kenyataan. seperti pemerataan pendapatan dan beban pembangunan. asosiasi-asosiasi. akan tetapi juga dimaksudkan untuk menciptakan iklim yang memungkinkan terwujudnya beberapa sasaran pembangunan nasional. serta menunjang upaya stabilisasi ekonomi nasional. telah dan akan terus dilaksanakan. yang berkembang sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. kestabilan barga. Selanjutnya agar penerimaan dan pengeluaran negara dapat diurus secara efisien dan efektif. sedikit demi sedikit telah dilaksanakan seiring dengan meningkatnya perekonomian pada umumnya. Pengurangan dan penghapusan berbagai subsidi. Adanya potensi perpajakan yang masih besar dalam masyarakat. baik yang menyangkut prosedur dan tata kerja administrasi perpajakan. Dalam undang-undang perpajakan rang baru tersebut. pemerataan atau keadilan dan kepostian mendapat pengaturan yang lebih sesuai dengan perkembangan pembangunan. bea dan cukai.

Dalam semester I 1984/1985. Dibandingkan dengan pengeluaran rutin dalam semester I 1983/1984.1. yang berarti 42.390. Kenaikan tersebut terutama disebabkan karena meningkatnya penerimaan dari sektor minyak. Adapun realisasi pengeluaran rutin dalam semester I 1984/1985 mencapai Rp 4.295.372. Departemen Keuangan RI 19 . baik sarana maupun prasarana. Ringkasan Pelaksanaan APBN dalam tahun anggaran 1984/1985 ditandai oleh perkembangan keadaan ekonomi nasional yang relatif lebih baik.6 milyar yang terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 4. terdapat peningkatan sebesar 19.9 milyar.540. baik dari masyarakat. maupun dalam rangka pemulihan perekonomian di dalam negeri. penerimaan cukai. Jumlah penerimaan dalam negeri tersebut berarti 45.4 milyar. Kebijaksanaan penge1uaran rutin dalam tahun anggaran 1984/1985 diarahkan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas yang lebih tinggi.8 milyar. 2.2.7 milyar. baik untuk memperkecil pengaruh resesi dunia.2. dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2. pada hakekatnya memerlukan penyesuaian sikap. serta merawat sarana dan prasarana hasil pembangunan. khususnya aparat penge1ola keuangan negara. yang berarti masingmasing meningkat dengan 6. Apabila dibandingkan dengan penerimaan dalam negeri dalam semester I 1983/1984 sebesar Rp 6.1 persen.418. guna menumbuhkan seluruh sektor perekonomian masyarakat.6 milyar dan Rp 8. maka te1ah terjadi kenaikan sebesar 16. Se1ama semester I tahun anggaran 1984/1985. terutama dalam memberikan pe1ayanan kepada masyarakat. realisasi penerimaan dan pengeluaran negara masing-masing dapat mencapai Rp 8. dibandingkan dengan tahun sebelumnya.6 persen dan 41. dan penerimaan bukan pajak.560.8 persen dari jumlah yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. dan kerja keras.971. realisasi penerimaan dalam negeri mencapai jumlah sebesar Rp 7.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas. khususnya dunia usaha.7 persen bila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun anggaran sebe1umnya.0 persen. maupun segenap aparat negara.8 milyar. Berbagai usaha dan langkah kebijaksanaan yang telah diambil.546.5 persen dari penge1uaran rutin yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. Pelaksanaan APBN 1984/1985 ( Semester I ) 2. Jumlah penerimaan dan pengeluaran negara dalam semester I 1984/1985 tersebut berarti masing-masing mencapai 41.5 persen dari rencana APBN 1984/1985 yang berimbang pada jumlah Rp 20.4 milyar.

244.9 milyar. 2.764. baik segi perencanaan maupun pelaksanaan operasionalnya.7 milyar. Bila dibandingkan dengan penerimaan pembangunan dalam semester I tahun sebe1umnya sebesar Rp 1. Jumlah tersebut terdiri dari realisasi pembiayaan pembangunan sektoral yang dilaksanakan oleh departemen/lembaga sebesar Rp 1.3 milyar maka terdapat peningkatan sebesar 12.5 milyar.7 milyar tersebut te1ah digunakan untuk membiayai penge1uaran pembangunan sebesar Rp 4. Dana ini dibutuhkan guna menambah dana pembiayaan pembangunan agar sasaran pembangunan dapat tercapai.2.250. Dengan demikian dari dana pembangunan sebesar Rp 4.244. Dalam semester I 1984/1985. Penerimaan dalam negeri Dalam rangka menunjang kegiatan pembangunan yang semakin meningkat dan meluas.0 milyar.094. dan penge1uaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek sebesar Rp 1. maka berarti terdapat penurunan sebesar 29.1 milyar.2. Sejalan dengan semakin ineningkatnya kebutuhan dana pembangunan yang hams disediakan. Penerimaan pembangunan bersama tabungan Pemerintah berjumlah Rp3.156. upaya untuk meningkatkan penerimaan dalam negeri dalam tahun 1984/1985 terus dilakukan seraya diarahkan untuk menunjang peningkatan produksi dan investasi. pembiayaan pembangunan regional berupa bantuan pembangunan daerah (program Inpres) dan Ipeda sebesar Rp 844.5 milyar.0 persen.7 milyar. realisasi penge1uaran pembangunan lainnya sebesar Rp 714. Realisasi penerimaan pembangunan yang bersumber dari luar negeri dalam semester I 1984/1985 menunjukkan jumlah sebesar Rp 1. membentuk dana pembangunan sebesar Rp 4.7 milyar. Dengan demikian pembangunan yang dilaksanakan untuk se1anjutnya akan dapat lebih tumbuh dan berkembang di atas kemampuan sendiri.250.5 milyar. memperluas kesempatan kerja. terlihat dari meningkatnya tabungan Pemerintah yang merupakan se1isih an tara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin. Dibandingkan dengan tabungan Pemerintah semester I 1983/1984 yang berjumlah sebesar Rp 2.634. serta lebih mengusahakan pemerataan pembangunan dan pemeliharaan kestabilan. realisasi pengeluaran pembangunan mencapai jumlah sebesar Rp 4. maka diperlukan tersedianya dana pembangunan yang semakin meningkat pula.7 milyar pada semester I 1984/1985.094.552.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Meningkatnya kemampuan sumber-sumber dana dari dalam negeri guna membiayai pembangunan nasional. Dengan berbagai kebijaksanaan dan usaha yang te1ah dijalankan.3 persen. Sehubungan dengan itu.132. maka dalam semester Departemen Keuangan RI 20 . upaya penyediaannya haruslah selalu diusahakan terutama dari sumber dalam negeri. Dalam semester I 1984/1985 telah berhasil dihimpun tabungan Pemerintah sebesar Rp 3.8 milyar.

isteri. bea masuk sebesar Rp 276. pajak penjualan impor sebesar Rp 125. pemerataan dan kepostian hukum.971.000.8 milyar atau 11.8 milyar dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2.206. dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 353.8 milyar. Langkahlangkah kebijaksanaan yang diambil dalam rangka meningkatkan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam antara lain berupa pelaksanaan undang-undang perpajakan yang baru.2 milyar.166. Peningkatan penerimaan ini antara lain disebabkan oleh adanya penyesuaian nilai tukar dollar Amerika terhadap rupiah.2 miyar. dengan senantiasa berusaha untuk menciptakan iklim perpajakan yang menjamin keadilan. serta tiga orang anak adalah sebesar Rp 1.8 persen dari jumlah seluruhnya yang direncanakan dalam APBN. yaitu 15 persen untuk penghasilan sampai dengan Rp 10 juta.971.000.050.0 persen dari yang direncanakan dalam APBN.418. dan terdiri dari tiga lapisan tarip.2 milyar. Adapun penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam terdiri dari penerimaan pajak penghasilan sebesar Rp 875.5 milyar. PTKP yang sebelumnya dikenal dengan istilah BPBP (batas pendapatan bebas pajak). penerimaan Ipeda sebesar Rp 68.kini telah ditingkatkan menjadi Rp 2.390.5 milyar. Upaya ke arah pemungutan pajak yang lebih adil dan merata tercermin dengan semakin ringannya beban pajak bagi golongan masyarakat berpendapatan rendah melalui peningkatan penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan dalam semester I tahun sebe1umnya yang sebesar Rp 4. yang semula untuk satu keluarga terdiri dari suami.. penerimaan pajak lainnya sebesar Rp 33. Realisasi penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2.0 milyar. Sedangkan lapisan kena pajak.418.1 milyar atau 18.8 milyar tersebut berarti telah mencapai 41.0 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 I tahun anggaran 1984/1985 realisasi penerimaan dalam negeri mencapai jumlah sebesar Rp7. pajak penjualan sebesar Rp 272.2 persen.-.7 persen hila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun 1983/1984 sebesar Rp 2.8 milyar tersebut adalah 48. pajak ekspor sebesar Rp 38. berarti mengalami kenaikan sebesar Rp 765. cukai sebesar Rp 375. dan penggolongan tarip lebih sederhana. serta meningkatnya volume ekspor dari gas alam. Realisasi penerimaan minyak bumi dan gas alam dalam semester I 1984/1985 sebesar Rp 4. Jumlah realisasi penerimaan dalam negeri semester I 1984/1985 tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 4. Undang-Undang Pajak Penghasilan tahun 1984 yang sudah berlaku sejak bulan Januari 1984 mengandung berbagai kebijaksanaan yang pada prinsipnya mendorong kegiatan dunia usaha dan pembangunan nasional.8 milyar.9 milyar. 25 persen untuk penghasilan di atas Rp 10 Departemen Keuangan RI 21 .7 milyar. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam tersebut telah meningkat sebesar Rp 252.6 milyar.5 milyar.880.

Sehubungan dengan itu Pemerintah tetap memberikan keringanan tarip. Dalam rangka menjamin kelancaran arus dokumen dan pengeluaran barang. dan Rp 125. atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut pajak sesuai dengan peraturan yang berlaku.7 persen dari yang direncanakan dalam APBN. Jumlah terse but adalah 35. maka terdapat kenaikan sebesar 3. yang berarti 40. kebijaksanaan di bidang bea masuk di samping dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan negara. telah pula dilaksanakan penyempurnaan tala laksana pabean di bidang impor. sehingga dengan pengampunan pajak terse but diharapkan akan dapat memperluas jumlah wajib pajak.3 milyar. Realisasi penerimaan bea masuk dalam semester I tahun 1984/1985 mencapai Rp 276. dalam semester I tahun anggaran 1984/1985 realisasi penerimaan pajak penghasilan telah mencapai Rp 875. dan 35 persen untuk penghasilan di atas Rp 50 juta.4 persen.8 persen.6 persen dari yang direncanakan dalam APBN. Pengampunan pajak diberikan atas pendapatan yang diperoleh dalam tahun 1983. serta mendorong perkembangan industri dalam negeri. Tetapi sehubungan dengan penundaan pelaksanaan Undang-Undang PPN 1984 tersebut hingga selambat-lambatnya tanggal 1 Januari 1986. penerimaan pajak penjualan dan pajak penjualan impor adalah sebesar Rp 272.2 milyar. Undang-Undang Pajak Penjualan 1951 sebenarnya tidak berlaku lagi setelah disahkannya Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang semula direncanakan untuk diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1984.5 Departemen Keuangan RI 22 . maka Undang-Undang Pajak Penjualan 1951 masih berlaku hingga tanggal berlakunya undang-undang baru tersebut. Realisasi penerimaan cukai dalam semester I 1984/1985 adalah sebesar Rp 375.5 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 juta sampai dengan Rp 50 juta.kenaikan sebesar 7.5 milyar. terlihat adanya. Adapun pengampunan pajak yang ditentukan sejak 18 April 1984 akan memberikan pengaruh positif terhadap kejujutan dan keterbukaan wajib pajak. Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan pajak penjualan dan pajak penjualan impor dalam semester I 1983/1984 yaitu masing-masing sebesar Rp 252.7 persen dan 2. Dengan berbagai kebijaksanaan dan usaha-usaha tersebut di atas. Dalam semester I 1984/1985. juga diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat banyak. dan sebelumnya yang belum pernah.7 milyar dan Rp 122. maupun beberapa pembebasan sebagian bea masuk atas sejumlah bahan baku dan barang-barang tertentu.0 milyar. yang dimaksudkan untuk memelihara dan menunjang perkembangan industri di dalam negeri. Sejalan dengan kebijaksanaan umum di bidang perpajakan. Bila dibandingkan dengan penerimaan bea masuk semester I tahun anggaran sebelumnya sebesar Rp 267.9 milyar.

7 milyar atau 71. Di samping itu timbul pula hambatan yang dikenakan negaranegara maju terhadap barang-barang ekspor negara dunia ketiga.2 milyar. berupa pembatasan (kuota) impor terbadap berbagaijenis komodiri.4 persen dari rencananya dalam APBN.6 milyar. Sejalan dengan perkembangan tersebut. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 28.5 milyar. atau 57. Pemerintah telah menurunkan tarip pajak ekspor terhadap beberapa komoditi tertentu.4 milyar.3 persen.2 milyar.2 milyar. Penerimaan Ipeda dalam semester I tahun 1984/1985 adalah sebesar Rp 68.4 persen dari yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985. Hal tersebut telab berpengaruh kepada volume maupun nilai ekspor Indonesia dalam semester I 1984/1985. Apabila dibandingkan dengan penerimaan yang sarna dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp50. realisasi penerimaan pajak ekspor untuk semester I 1984/1985 hanya mencapai sebesar Rp 38.2 persen bila dibandingkan dengan penerimaan dalam semester I tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 53. Untuk meningkatkan ekspor non migas di tengah perkembangan perekonomian dunia yang masih lamban.8 milyar atau 31. Upaya peningkatan penerimaan jenis ini selalu diusahakan dengan lebih meningkatkan kualitas petugas pelaksana melalui pendidikan dan latihan. berarti mengalami kenaikan sebesar 41.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar. antara lain bauksit dan pekatannya.3 persen.4 persen dari yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985. Keadaan perekonomian yang masih belum sepenuhnya pulih dari resesi.6 persen dari yang direncanakan dalam APBN. Penerirnaan bukan pajak terdiri dari Departemen Keuangan RI 23 . serta penyuluhan kepada masyarakat luas.5 milyar. Dalam semester I 1984/1985 penerimaan bukan pajak realisasinya mencapai Rp 353.9 persen. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp 23. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp 205. Kenaikan ini terutama berasal dari kenaikan penerimaan cukai tembakau dengan meningkatnya produksi rokok. Realisasi penerimaan pajak lainnya yang terdiri dari pajak kekayaan. berarti terdapat penurunan sebesar 23. bea meterai. termasuk Indonesia. maka terdapat kenaikan sebesar Rp 147. dan bea lelang. sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar iuran tersebut. membawa pengaruh yang kurang menguntungkan terhadap perkembangan harga barang-barang ekspor non migas di posaran dunia.9 persen. berarti mengalami kenaikan sebesar 12. yang berarti mencapai 51. Jumlah tersebut berarti 44. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun anggaran sebelumnya yang besamya Rp 334.6 milyar. dalam semester I 1984/1985 mencapai Rp 33.

4 5. serta berbagai jenis penerimaan departemen dan lembaga Pemerintah lainnya.7 1.9 9.80 11.5 125.2 875 2.3.2 28. Pajak lainnya 23.5 41.166.2 milyar dan Rp 1. seperti iuran hak pengusahaan hutan (IHPH).6 33.7 3. 2.5 3. Bea masuk 267. uang pendidikan.3 7. antara lain berupa bagian Pemerintah atas laba perusahaan negara.2 Tabel II. yaitu dalam bentuk bantuan program dan bantuan proyek.5 353. dalam semester I 1984/1985 realisasinya masing-masing sebesar Rp 23. Cukai 334. Pajak penjualan impor 122.4 375.4.2 68.80 18.7 272. Pajak ekspor 50.2 2. Penerimaan bukan pajak 205.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berbagai jenis penerimaan negara.390.372. dan sebagainya.2 8.70 7. dan bank negara.9 2.8 4.00 2.60 6.132.206.3 276.6 38.2.2 A.3 6. sewa rumah dinas.70 Penerimaan di luar minyak B.8 milyar. Ipeda 53. Oleh karena itu dana yang berasal dari luar negeri masih diperlukan sebagai pelengkap untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan.8 -23. hasil penjualan barang milik negara.2 7.0 2. SEMESTER 1 1983/1984 DAN 1984/1985 (dalam milyar rupiah) . gas alam 4. bea nikah dan akte kelahiran pada catatan sipil. semester I 1983/1984 dan 1984/1985 dapat dilihat dalam Tabel II. bumi dan gas alam 2. Pengeluaran rutin Kebijaksanaan Pemerintah di bidang pengeluaran rutin tidak terlepos dari upaya untuk Departemen Keuangan RI 24 . Penerimaan pembangunan.5 12. Perbandingan penerimaan dalam negeri.Semester I Semester 11) Kenaikan / 1983/1984 1984/1985 Penurunan (%) Jems penerimaan Penerimaan minyak bumi dan 4. Pajak penjualan 252.971. penerimaan dalam negeri senantiasa diusahakan peningkatan dan peranannya di dalam penyediaan dana pembangunan yang diperlukan.2 71. Pengelolaan sumber dana yang berasal dari luar negeri tersebut senantiasa diarahkan seefisien mungkin untuk membiayai proyek-proyek pembangunan yang produktif dan berprioritas tinggi.2. Pajak penghasilan 856. Penerimaan pembangunan Untuk memungkinkan ekonomi nasional dapat tumbuh dan berkembang di atas kemampuannya sendiri.2 PENERIMAAN DALAM NEGERI.418.9 Jumlah 6. Namun upaya memobilisasikan dana pembangunan tersebut harus diusahakan tidak melampaui kekuatan ekonomi yang ada.

dayaguna dan hasilguna serta pengamanan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa. realisasi pengeluaran rutin diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 4.1 milyar. Dalam semester I 1984/1985. Realisasi pengeluaran rutin sebesar Rp 4. serta lebih efektif dan efisien sehingga pelaksanaannya dapat lebih terarah dan terkendali. Kenaikan realisasi belanja pegawai juga disebabkan meningkatnya realisasi tunjangan beras. belanja barang sebesar Rp 406. dari Rp 137. sehingga dapat bekerja lebih baik dan dengan demikian akan meningkatkan produktivitas kerja.9 milyar tersebut merupakan 42.2 milyar dalarn semester I 1984/1985 yang berarti meningkat sebesar 85. Seiring dengan itu. sebagai upaya untuk lebih mendorong peningkatan produksi dalam negeri.3 milyar. Dalam pedoman pelaksanaan APBN yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 29 tahun 1984 dinyatakan bahwa pelaksanaan APBN diarahkan kepada penggunaan kemampuan dan hasil produksi dalam negeri sejauh mungkin. Peningkatan re'alisasi belanja pegawai ini antara lain sebagai akibat diberikannya kenaikan gaji sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan kepada pegawai negeri sipil/ ABRI dan pensiunan.2 persen dari dana yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985.3 milyar selama semester I 1984/1985 merupakan peningkatan sebesar 14. pembayaran bunga dan cicilan hutang sebesar Rp 1.9 milyar.238. Departemen Keuangan RI 25 .ster I 1984/1985 dapat diikuti dalam Tabel II. Perkembangan realisasi pengeluaran rutin dalam sem(. dan lain-lain pengeluaran rutin sebesar Rp135. dalam rangka meningkatkan kelancaran.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 meningkatkan tabungan Pemerintah. Oleh sebab itu setiap kegiatan pengeluaran harus dipertimbangkan agar selalu berlandaskan pada prinsip-prinsip hemat. subsidi daerah otonom sebesar Rp 913. tidak mewah.3 Realisasi belanja pegawai sebesar Rp 1. di samping berhubungan erat dengan pengamanan dan pemeliharaan hasilhasil pembangunan.5 persen dari rencananya dalam APBN 1984/1985 dan menunjukkan peningkatan sebesar 19.7 milyar dalarn semester I 1983/1984 menjadi Rp 255.6 milyar. Pemberian kenaikan gaji itu sendiri merupakan langkah yang ditempuh Pemerintah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri sipil/ ABRI dan pensiunan. yang merupakan sumber utama bagi pembiayaan pembangunan.602.2 persen dari realisasi dalam semester I tahun sebelumnya. yang terdiri dari belanja pegawai sebesar Rp 1.0 milyar.1 persen hila dibandingkan dengan semester I 1983/ 1984.3 persen.295. dan berarti pula telah menyerap 50.295.9 milyar. telah ditetapkan pula Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 1984 tentang Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah di Departemen/Lembaga.602.

Lain-lain bel.30 255. penggantian biaya pengiriman surat dinas bebas porto.4 722.1 -5.4 d. Subsidi pupuk 176.70 12.7 b.6 15.237.2 -37. yang antara lain menampung pengeluaran untuk subsidi bahan bakar minyak. Bunga dan cicilan hutang a.609.3 -73.295.761.8 286.8 217 24.7 641. SalaDa kesehatan / Puskesmas 9. Luar negeri 5. Belanja pegawai luar negeri 2. Agar pe1aksanaan penge1uaran rutin dapat berjalan secara hemat dan efisien. Pembiayaan bagi daerah 603. biaya giro pos dan lain-lain.2 28.8 0.7 -55.30 147.70 -3. Kenaikan realisasi subsidi daerah otonom ini disebabkan adanya kenaikan gaji pegawai daerah otonom sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan tahun sebe1umnya.5 b. Subsidi daerah otonom a. Non belanja pegawai 4.1 milyar terdiri dari pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri sebesar Rp 0.5 81. .8 84.2 4. Biaya makan (lauk pauk) d. Lain .6 126.1 194.lain 174. Se1anjutnya. pe1aksanaan be1anja barang dalam semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 406. Pembiayaan Departemen/Lembaga 1.3 29. Belanja barang a.9 2.20 3.7 1) Di luar bantuan proyek 2) Angka sementara Hal ini terutama disebabkan perhitungan harga beras untuk pegawai Degen. peg. Pengeluaran rutin untuk subsidi daerah otonom dalam semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 913. se1ama semester I 1984/1985 mencapai realisasi sebesar Rp 135. Hal ini disebabkan terutama oleh lebih rendahnya realisasi subsidi bahan bakar minyak.8 -15 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel II.4 406. Departemen/lembaga 1.7 milyar.2 3.3 PENGELUARAN RUTIN. Dengan berpedoman kepada ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 1984.6 10 1) 9. Gaji dan pensiun c. Luar negeri 3. yang semula Rp 327. yang berarti 72. Bantuan pembangunan kabupaten 30.7 23.3 913 828. Dalam negeri b.369. penge1uaran untuk belanja barang harus dilakukan secara selektif dan terkendali.-/kg sejak 1 April 1984. Bantuan pembangunan dan pemugaran 8.6 260. Subsidi BBM b.1 39.4 26.6 31.5 12. yang berarti suatu kenaikan sebesar 10 persen dan realisasi dalam periode yang sama tahun sebelumnya. dalam negeri e.9 483.40 1984/85 1) 1. Belanja pegawai a.7 203. Ipeda 53.602.5 369.-/kg dinaikkan menjadi Rp 366.70 151 41 31.238.90 Kenaikan (%) 14.5 23. Lain-lain pengeluaran rutin.3 3.9 46 19.6 99 -72.1 21.3 32.4 milyar. Bantuan pembangunan Dati I 59. Realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam semester I 1984/1985 sebesar Rp 1.7 b. H a n k a m 239. Lain -lain a. Dalam negeri b.051.1 489. Tunjangan beras b. Bantuan penghijauan dan reboisasi 51.1 Tabel II.6 6.9 milyar.10 0.3 f.402.70 135. Bantuan sekolah dasar 330 311.111. Prasarana jalan 45 57. penyesuaian harga beras ini mempengaruhi pula pembayaran uang makan/lauk pauk. dan untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri sebesar Rp 1.9 a.90 137.2 1.lain Jumlah 1) Angka sementara 1983/84 1.2 3.9 30.2 623 0.0 milyar.6 milyar.2 h.552.9 c. Lain .7 1.7 -3. Departemen Keuangan RI 26 .9 i.5 136.4 9. Pembiayaan Lain-lain 548.237.608.5 j. SEMESTER I 1983/1984 DAN 1984/1985 (dalam milyar rupiah) Jenis Pengeluaran 1.3 34.2 237. Pembangunan Timor Timur 0.Belanja pegawal b.6 714.4 PENGELUARAN PEMBANGUNAN.40 1.4 1.70 1.3 6. Bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984 terdapat kenaikan sebesar Rp 615.2 c.238.2 85.2 1.7 e.2 545.9 622. SEMESTER I 1983/1984 DAN 1984/1985 1) (dalam milyar rupiah) Kenaikan (%) Jenis pengeluaran 1983/84 1984/85 2) 1. Penyertaan modal pemerintah 197.3 persen lebih rendah dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984.123.7 42.2 844.7 98. Bantuan pembangunan desa 24 92.9 357.9 391.5 a. yang berarti meningkat sebesar 26.1 milyar.3 persen dibandingkan dengan semester I tahun sebelumnya.2 -4 33.1 26.2 68.4 g.90 -1.7 57.9 12.3 a.1 Jumlah 2.348.

intensifikasi dan extensifikasi pungutan pajak. Dengan tetap berlandaskan pada Trilogi Pembangunan.9 persen.7 milyar.9 milyar. Ipeda dan pembiayaan bagi Timor Timur. serta selalu berpedoman kepada Keputusan Presiden tersebut diatas. Jumlah tersebut meliputi pembiayaan rupiah sebesar Rp 3. telah berhasil direalisasikan bantuan sebesar Departemen Keuangan RI 27 . yang merupakan tahun pertama pelaksanaan Repelita IV.7 milyar.1 milyar. jumlah tersebut menunjukkan peningkatan sebesar Rp 330. Pengeluaran pembangunan berupa pembiayaan rupiah sebesar Rp3.094. kebijaksanaan yang dijalankan berkenaan dengan pelaksanaan anggaran telah dituangkan dalam Keputusan PresideD Nomor 29 tahun 1984 tentang Pelaksanaan APBN.8 milyar. Selama semester I 1984/1985 te1ah berhasil dihimpun tabungan Pemerintah sebesar Rp 3. dan pengeluaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek sebesar Rp 1. pelaksanaan pengeluaran pembangunan selama semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 4. Upaya peningkatan penerimaan dalarn negeri ditempuh antara lain dengan penyempurnaan perundang-undangan pajak.244. yang merupakan sumber utarna bagi pembiayaan pembangunan. Pengeluaran pembangunan Berbagai langkah dan kebijaksanaan yang telah diambil Pemerintah selama pelaksanaan Repelita I.2. Pengeluaran pembangunan bempa pembiayaan pembangunan bagi daerah merupakan bantuan yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah untuk menjalankan pembangunan yang meliputi program-program Inpres.4 milyar atau 11. telah meletakkan landasan yang lebih kuat bagi pelaksanaan Repelita IV.5. Bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984.552. 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2.132. sedang di bidang penge1uaran rutin antara lain dengan jalan menyempurnakan pedoman pe1aksanaan APBN di samping peningkatan mutu aparat pe1aksanaannya. dan sisanya berupa pengeluaran pembangunan lainnya sebesar Rp 714.2 persen dan yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. penyempurnaan administrasi serta pembenahan aparatur perpajakan. Dalam tahun anggaran 1984/1985.7 milyar tersebut terdiri dari pengeluaran pembangunan untuk proyek-proyek sektoral yang dikelola departemen/lembaga sebesar Rp 1. yang berarti telah mencapai 51.6. Selama semester I 1984/1985. Tabungan Pemerintah Usaha untuk meningkatkan tabungan Pemerintah.111.7 milyar. dilakukan dengan meningkatkan jumlah penerimaan dalam negeri bersamaaan dengan penghematan dalam pengeluaran rutin. II dan III.111. pengeluaran pembangunan bagi daerah sebesar Rp 844.2.5 milyar.

7 persen dari dana yang direncanakan dalam tahun 1984/1985. Bantuan pembangunan dan pemugaran pasar.6 milyar.2 milyar. dan bantu. yang berarti telah menyerap sebesar 55.2 persen bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I tahun sebelumnya.an pembangunan Dati I sebesar Rp 57. bantuan pembangunan kabupaten sebesar Rp 194.4 milyar.2 milyar.7 milyar yang berarti 3.9 milyar.8 milyar.2 milyar.7 persen dibandingkan dengan semester I tahun lalu. penyertaan modal Pemerintah dan lain-lain pembangunan.8 milyar dan Rp 194. dan Departemen Keuangan RI 28 . realisasinya sebesar Rp 68. bantuan pembangunan posar sebesar Rp8. prasarana jalan dan program pembangunan Timor Timur dalam semester I 1984/1985 telah menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan realisasi dalam periode yang sarna tahun sebelumnya. sarana kesehatan/Puskesmas sebesar Rp 21. realisasinya menunjukkan penurunan sebesar 5. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan masing-masing sebesar Rp 237.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp844. sedangkan bantuan penghijauan dan reboisasi yang bertujuan untuk menyelamatkan kelestarian sumber-sumber alam. Selebihnya adalah realisasi program bantuan pembangunan Timor Timur sebesar Rp 0. Demikian pula halnya dengan program pembangunan sekolah dasar. Realisasi program-program pembangunan sarana kesehatan/Puskesmas.2 milyar.2 milyar dalam semester I 1984/1985 merupakan realisasi dari anggaran yang disediakan dalam tahun anggaran 1984/1985. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan sebesar Rp 57. Begitu pula halnya dengan pengeluaran pembangunan dengan dana Ipeda.1 milyar. Rp 260. Realisasi bantuan pembangunan desa dan bantuan pembangunan kabupaten masingmasing sebesar Rp 92. yang terdiri dari subsidi pupuk.7 milyar.4 persen di bawah realisasi semester I 1983/1984.3 milyar. bantuan penghijauan dan reboisasi sebesar Rp 32. Di samping itu jumlah tersebut juga meliputi program bantuan pembangunan sekolah dasar sebesar Rp 311. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan sebesar Rp 8.5 milyar. meratakan hasil-hasil pembangunan.4 milyar. dalam waktu yang bersamaan telah direalisasikan sebesar Rp 32. Tetapi realisasi sebesar Rp 311. yang diberikan dalam rangka meningkatkan keselarasan pembangunan sektoral dan regional.1 milyar ini telah menyerap dana sebesar 53.1 milyar. Jumlah tersebut meliputi pembiayaan bagi program bantuan pembangunan desa sebesar Rp 92. serta bantuan bagi prasarana jalan sebesar Rp 57. serta meningkatkan partisiposi daerah dalam pembangunan.2 milyar dalam semester I 1984/1985 menunjukkan peningkatan sebesar 28.6 persen dari yang direneanakan dalam tahun 1984/1985.1 milyar. Pengeluaran pembangunan lainnya. yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah dalam rangka melindungi para pedagang kecil golongan ekonomi lemah. Bantuan pembangunan Dati I. dan program pembangunan dengan dana Ipeda sebesar Rp 68.

realisasi tersebut menunjukkan peningkatan masingmasing sebesar 34. pengembangan statistik. malah ditandai dengan mulai melambannya kembali pertumbuhan ekonomi negara-negara industri. Dibandingkan dengan semester I 1983/1984. landasan kebijaksanaan raneangan APBN 1985/1986 tetap bertumpu pada Trilogi Pembangunan. serta meningkatnya langkah-langkah proteksionisme dari negara-negara maju.7 persen. serta mengarahkan penggunaan Departemen Keuangan RI 29 . termasuk Indonesia. akan tetap dilaksanakan berbagai langkah kebijaksanaan untuk meningkatkan efisiensi dan penghematan. dan penurunan harga minyak dari US $ 34. Dari keadaan tersebut diperkirakan masa-masa sulit sebagai akibat dari resesi ekonomi dunia dan perkembangan harga minyak bumi masih akan dirasakan dalam tahun anggaran 1985/1986. Di bidang keuangan negara. sertifikat ekspor. Pengeluaran pembangunan dalam rangka penyertaan modal Pemerintah antara lain dipakai untuk pembiayaan PT Dok Perkapalan Tanjung Priok.1 persen.3 Rencana APBN 1985/1986 Berbagai program dan proyek pembangunan yang disusun dalam reneana APBN 1985/1986 merupakan pelaksanaan operasional tahun kedua Reneana Pembangunan Lima Tahun keempat (Repelita IV). PT GIA/Cengkareng.00 menjadi US $ 29. PT Industri Mesin Produksi Indonesia (IMPI) dan PT PAL Indonesia.3 juta barrel pada bulan April 1982. lingkungan hidup.00 pada tanggal14 Maret 1983. yakni pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 217. Perbandingan antara realisasi pengeluaran pembangunan di luar bantuan proyek dalam semester I 1984/1985 dengan semester I 1983/1984 ditunjukkan dalam Tabel II. telah mempengaruhi perkembangan perekonomian negara-negara dunia ketiga. PT PINDAD.0 milyar. Sedangkan pengeluaran pembangunan lainnya terutama digunakan untuk meningkatkan pelaksanaan program keluarga berencana. pertumbuhan ekonomi yang eukup tinggi. rendahnya permintaan akan komoditi-komoditi ekspor dari negara-negara sedang berkembang. Situasi perekonomian intemasional yang belum sepenuhnya pulih dari resesi. 2.4. Demikian pula prinsip-prinsip anggaran berimbang yang dinamis tetap pula dipertahankan dalam penyusunan rancangan APBN 1985/1986. Seperti halnya pada tahun-tahun yang lampau.9 persen dan 24. proyek sumber daya laut dan lain-lainnya. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. Demikian pula posaran dan harga minyak bumi dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan keadaan labil. 31. yaitu sejak diberlakukannya kuota produksi sebesar 1.

Di sisi pengeluaran negara.0 milyar dan Rp10. jumlah tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam. pada hakekatnya mempunyai arah dan tujuan untuk meningkatkan penerimaan dalam negeri terutama dari sumber-sumber di luar minyak bumi dan gas alam.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 keuangan negara untuk bidang-bidang yang mempunyai prioritas yang tinggi.2 milyar.23.643. dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam. jumlah tersebut terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan yang . serta bantuan pembangunan Timor Timur sebesar Rp 1.0 milyar.399. diharapkan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam akan dapat lebih ditingkatkan. Dengan demikian tabungan Pemerintah yang direncanakan adalah sebesar Rp 6.647.278. Di sisi penerimaan negara. Dalam pengeluaran pembangunan termasuk didalamnya pengeluaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek yang direncanakan 3ebesar Rp 4.0 milyar. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai berbagai jenis pengeluaran pembangunan sektoral yang dilaksanakan oleh Departemen/Lembaga Negara sebesar Rp3. Di samping itu.7 milyar dan Rp7. dan lain-lain pengeluaran yang seluruhnya direncanakan berjumlah sebesar Rp 1. pembangunan regional berupa proyek-proyek Inpres. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara direncanakan berimbang pada jumlah sebesar Rp.046.297. Dengan kebijaksanaan ini Pemerintah bukan saja berupaya untuk lebih menyeimbangkan struktur penerimaan negara yang sebagian besar masih tergantung pada penerimaan dari minyak bumi dan gas alam. serta penerimaan pembangunan yang direncanakan sebesar Rp 4.3 milyar. Penerimaan dalam negeri Kebijaksanaan untuk menciptakan landasan yang kuat guna mempercepat proses pembangunan yang selama ini dijalankan. subsidi pupuk. dana Ipeda.644.647.9 milyar.5 milyar.368. dan berbagai pembiayaan pembangunan lainnya seperti penyertaan modal Pemerintah. yang masing-masing direncanakan sebesar Rp 11. Dalam tahun 1985/1986. dengan pembaharuan-pembaharuan di bidang perpajakan.1. akan tetapi juga berusaha-untuk meningkatkan rasa keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan melalui bidang perpajakan.062.1 milyar. yakni dengan disahkannya beberapa undang-undang Departemen Keuangan RI 30 . Tabungan Pemerintah tersebut bersama-sama dengan penerimaan pembangunan akan membentuk dana pembangunan yang direncanakan akan mencapai Rp10.2 milyar.0 milyar.518.. telah dilaksanakan ketika memasuki tahun awal Pelita IV.159. LangkahIangkah umuk menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan.0 milyar. khususnya melalui usaha peningkatan penerimaan dalam negeri di luar minyak.3.masing-masing direncanakan sebesar Rp 12. 2.

prosedur dan penaripan yang rumit. Sejak berlakunya undang-undang perpajakan yang baru.2 milyar..159. baik terhadap aparat perpajakan maupun para wajib pajak.677. dan iuran pembangunan daerah. serta pemahaman tentang arti pentingnya undang-undang perpajakan tersebut dalam era pembangun. pajak kekayaan. Perkembangan penerimaan dalam negeri sejak 1969/1970 sampai dengan 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. serta pendataan dan pemberian nomor pokok wajib pajak (NPWP) sesuai dengan perundangundangan yang baru. penerimaan dalam negeri direncanakan mencapai Rp 18. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 1985/1986. maupun umuk meningkatkan disiplin serta mental aparat perpajakan.6 Departemen Keuangan RI 31 .dari seluruh wajib pajak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perpajakan baru sebagai penggami dari undang-undang perpajakan lama warisan kolonial yang dirasakan telah tidak sesuai lagi dengan alam dan gerak pembangunan sekarang ini. baik untuk meningkatkan pengetahuan teknis di lapangan.518. Akan tetapi usaha tersebut akan kurang bermanfaat tanpa keikutsertaan serta kesadaran . antara lain mengenai pabean. sedangkan Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah direncanakan akan berlaku pada tanggal 1 April 1985. yang terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 11. telah pula dilaksanakan penataran untuk seluruh aparat perpajakan. pembaharuan bemuk-bentuk formulir. Di samping undang-undang perpajakan tersebut. UndangUndang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan serta Undang-Undang temang Pajak penghasilan telah diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 1984. Sejalan dengan itu.7 milyar dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 7. Namun Pemerintah menyadari sepenuhnya bahwa pembinaan yang dilakukan. guna lebih memantapkan peningkatan penerimaan di dalam negeri. undangundang perpajakan yang baru lebih mencerminkan kesederhanaan serta lebih mendorong pemerataan dan memberikan kepostian hukum. memerlukan waktu umuk mencapai mekanisme yang diinginkan oleh undang-undang perpajakan yang baru. berbagai perubahan dalam teknis pelaksanaan pemungutan pajak telah pula dilaksanakan. terutama dalam tujuannya meningkatkan peranan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam sebagai sumber utama penerimaan negara.9 milyar. Untuk itu penyuluhan-penyuluhan juga telah diberikan kepada wajib pajak guna meningkatkan kesadaran. Hal itu meliputi perubahanperubahan prosedur dan administrasi perpajakan. kini tengah dipersiapkan beberapa rancangan undang-undang. Berlainan dengan undang-undang perpajakan yang lama yang mempunyai sistem.

9 1985/19862) 18.30 205. penerimaan dari sektor ini tidak dapat diharapkan akan mengalami lonjakan yang besar seperti yang terjadi dalam Pelita II dan permulaan Pelita III.1.00 664. Pembatasan produksi yang disepakati bersama oleh negara-negara anggota OPEC baru-baru ini diharapkan akan membawa pengaruh yang positif terhadap perkembangan tingkat harga minyak mentah di posaran dunia.masa terakhir ini menghadapi permintaan yang meningkat dengan cukup berarti. Penerimaan minyak bumi dan gas alam Dari keseluruhan penerirnaan negara yang bersurnber dari dalam negeri.6 162.8 1976/1977 2.7 1978/1979 4.90 2.696.9 PELITA II 1974/1975 1.985.906.227.40 1.7 1981/1982 12.6 38 1973/1974 967. Dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 1985/1986 penerimaan rninyak bumi dan gas alarn direncanakan sebesar Rp 11.80 2.7 1983/1984 14.4 24.70 57 1980/1981 10. Apabila Departemen Keuangan RI 32 .1.3.7 milyar.2 1972/1973 590.90 488.418.159.4 1971/1972 428 83.014.266.70 11. 6 PENERIMAAN DALAM NEGERI.7 PELITA III 1979/1980 6.1 63. melihat perkembangan harga dan permintaan minyak mentah di posaran dunia yang masih diliputi kelesuan akibat keadaan perekonomian negara-negara industri yang belum sepenuhnya bangkit dari kemelut resesi. Adapun penerimaan dari sektor gas alam (LNG) diperkirakan mengalami kenaikan.10 730.528.60 19. penerimaan yang berasal dari sektor minyak bumi dan gas alam masih tetap merupakan sumber penerimaan yang penting dalam tahun 1985/1986.432.2 27.716. Gas alam yang rnerupakan salah satu sumber energi alternatip bagi industri-industri besar sebagai pengganti minyak bumi. dalam masa.149.9 41.4 21.6 1977/1978 3.212.40 629.2 PELITA IV 1984/19851) 16.50 15.677. Namun demikian.7 1.1 29.7 377.00 3.2 1975/1976 2.6 100.241.70 786 81.7 1970/1971 344.7 1) APBN 2) RAPBN 2.60 1.535.20 52. 1969/1970 -1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Kenaikan Jumlah Persentase Tahun anggaran Jumlah PELITA I 1969/1970 243.530.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabe1 II.70 2.7 20.430.4 1982/1983 12.753.40 16.

70 2.7 230.366.5 64.4 31 19.8 63.60 8.366.9 7.2 1.8 41.20 10.1 15.948.948.259.70 2.950.4 28.6 milyar.170.249.40 9.20 Persentase Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) APBN 2) RAPBN Jumlah 33.8 65. Departemen Keuangan RI 33 .4 41.8 22.1 rnilyar atau 7.1.019.479.308.2.5 84. Perkembangan penerimaan pajak penghasilan rninyak bumi dan gas alam sejak tahun 1969/1970 sampai dengan tahun 1985/1986 dapat dilihat dalam Tabel II. Tabel II.4 793.70 4.5 8. khususnya pada tahun kedua pelaksanaan Pelita IV ini.627.6 37. merupakan suatu langkah keharusan bagi berhasilnya pembangunan yang akan dilaksanakan untuk waktu-waktu mendatang.1 milyar.680.7 .40 1.760.6 milyar.619. dan penerirnaan gas alam sebesar Rp 1. Menyadari hat tersebut.20 -457.60 7.10.349.520.259.6 -15.7 persen.248. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam Untuk membiayai pelaksanaan pembangunan yang sernakin meningkat dalam Pelita IV.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penerimaan minyak bumi dan gas alam tersebut dibandingkan dengan rencana dalam APBN tahun 1984/1985 yang berjumlah Rp 10.3 313.9 344.11.170. baik pajak langsung maupun tidak langsung.159.2 140.8 112. Pemerintah tidak lagi sepenuhnya dapat bertumpu pada penerimaan yang berasal dari minyak bumi dan gas alam.2 957.8 151.5 382.627.308.9 -5.60 8.019.6 973.40 9.00 1.2 .2 31.90 2.7.+ 18.70 Penerimaan minyak lainnya 17.1 50.3 16.7 575 290.3. 7 PENERIMAAN MINYAK BUMI DAN GAS ALAM.80 8.60 11.4 360 1.1 1. upaya peningkatan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam.4 30.608.520.70 2. berarti terdapat peningkatan sebesar Rp793.9 -1. .70 4.60 7.60 .5 89.30 1.00 1.80 846.5 30.366.159. 1969/1970 -1985/1986 ( dalam milyar rupiah ) Pajak penghasilan minyak bumi dan gas alam 48. Penerimaan rninyak bumi dan gas alam tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi yang direncanakan sebesar Rp 9.3 68.5 198.80 8.4 1.8 99.9 Kenaikan Jumlah 65.10 1.635.8 387.8 150.

melindungi golongan ekonomi lemah. meningkatkan diversifikasi ekspor. dividen. dengan nama dan dalam bentuk apapun baik yang telah maupun yang belum terdaftar sebagai wajib pajak. menciptakan suasana pola hidup sederhana. diberikan pengampunan pajak. Pengampunan ini juga diberikan terhadap pajak perseroan atas laba yang diperoleh dalam tahun 1983 dan sebelumnya. serta terhadap MPO wapu yang terhutang dalam tahun 1983 dan sebelumnya. melancarkan perdagangan dalam dan luar negeri. dan royalty (PBOR) yang terhutang atas bunga. Kebijaksanaan ini tiada lain dimaksudkan untuk menunjang dan melengkapi pelaksanaan sistem perpajakan yang baru. maka Departemen Keuangan RI 34 . sehingga dapat lebih menjamin pemerataan pendapatan. yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Upaya yang dilakukan Pemerintah di bidang penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam tersebut di samping diarahkan bagi peningkatan pendapatan negara juga diusahakan agar lebih dapat menciptakan iklim dan gairah usaha dalam negeri. dikenakan tebusan dengan tarip 1 persen dan 10 persen dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung jumlah pajak yang dimintakan pengampunan. pajak atas bunga. maka batas waktu pengampunan pajak diperpanjang dari akhir Desember 1984 menjadi 30 Juni 1985. juga diberikan pengampunan pajak. dividen. melindungi barang-barang yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri. Untuk itu atas pendapatan yang diperoleh dalam tahun 1983 dan sebelumnya dan kekayaan yang dimiliki pada 1 Januari 1984 dan sebelumnya. Sementara itu terhadap pajak pendapatan buruh yang terhutang dalam tahun pajak 1983 dan sebelumnya. serta untuk lebih meningkatkan dampak positif di bidang ekonomi dari sistem perpajakan nasional. dan laporan tentang kekayaannya tidak akan dijadikan dasar penyidikan dan penuntutan pidana dalam bentuk apapun. dan royalty yang dibayarkan atau disediakan untuk dibayarkan sampai dengan 31 Oesember 1983. sejak 18 April 1984 diambil pula kebijaksanaan untuk memberi pengampunan pajak. Pengampunan pajak ini diberikan kepada wajib pajak perorangan atau badan. Selanjutnya untuk lebih mendorong tumbuhnya industri dalam negeri. Di samping itu kepada wajib pajak yang mengajukan permintaan pengampunan pajak akan dibebaskan dari pengusutan fiskal.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai tindak lanjut ditetapkannya beberapa undang-undang perpajakan baru. Untuk memberi peluang agar wajib pajak memperoleh informasi lebih jelas dan mempunyai waktu cukup untuk mengisi laporan kekayaannya. serta terhadap pajak penjualan yang terhutang dalam tahun 1983 dan sebelumnya. dengan jalan menciptakan pangkal tolak yang bersih yang berlandaskan pada kejujutan dan keterbukaan dari masyarakat. Terhadap pajak-pajak yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut yang dimintakan pengampunan pajak.

atas dasar undang-undang perpajakan yang bam beserta kelengkapannya.4 milyar. penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. penerimaan cukai. dan penerimaan bukan pajak.4 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sejak 9 Agustus 1984 telah ditetapkan tarip penyusutan baru yang lebih tinggi. atau suatu kenaikan lebih dari 27 kali. maka penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam untuk tahun 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 7.074. Perkembangan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sejak tahun 1969/1970 sampai tahun 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. Penerimaan ini terdiri dari penerimaan pajak penghasilan sebesar Rp 3. yaitu tahun pertama Pelita I.7 milyar.0 milyar. pajak lainnya sebesar Rp 96. yaitu tahun 1984/ 1985. yaitu tahun 1983/1984. Penyusutan yang lebih tinggi tersebut diberikan antara lain kepada mesin-mesin pertanian. mesin-mesin tekstil dan lainnya. yakni pajak penghasilan perseorangan sebesar Rp797. Tarip penyusutan yang dipercepat tersebut diharapkan akan merangsang tumbuhnya investasi baru yang selanjutnya akan memperkokoh kemandirian perekonomian nasional. serta dengan memperhitungkan pengelolaan sistem perpajakan yang semakin baik. jumlah tersebut telah meningkat menjadi Rp 4. penerimaan pajak lainnya. Departemen Keuangan RI 35 .518.9 milyar: maka dalam tahun terakhir Pelita III. penerimaan Ipeda.8. penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas :rlam senantiasa menunjukkan adanya peningkatan sejalan dengansemakin baiknya pengelolaan keuangan negara. Apabila dibandingkan dengan penerimaan tahun sebelumnya. Di dalam perkembangannya. penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam terbagi atas penerimaan pajak penghasilan. Apabila dalam tahun 1969/1970.276. Di dalam RAPBN tahun 1985/1986.912.4 milyar. pajak ekspor sebesar Rp 101.3 milyar.7 milyar.4 milyar atau 30. penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp 1.9 milyar. penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah sebesar Rp 1. bea masuk sebesar Rp 717. penerimaan bea masuk. Ipeda sebesar Rp 167. Mengingat perkembangan perekonomian.735. penerimaan pajak ekspor.0 persen. serta semakin meningkatnya partisiposi masyarakat di dalam pembangunan.666. cukai sebesar Rp 963. besarnya penerimaan ini baru mencapai Rp 177.2 milyar. mesin-mesin yang mengolah produk asal binatang atau nabati.3 milyar dan pajak penghasilan badan sebesar Rp 2. dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 731.5 milyar.1 milyar.

4 276.80 4.8 316 370. terutama dengan dimasukkannya semua jenis pendapatan ke dalam dasar pengenaan pajak.9 245.8 27.4 287.247.1 25.20 3.3 62.8 24.782.518.735.3 1.6 870.7 479.1 585.2 t377.6 11.8 18.586.957.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel II.8 Tahun 1967 tentang MPO/MPS.207.40 2.912.5 41. diwajibkan kepada pegawai negeri untuk mengisi Departemen Keuangan RI 36 .6 36 24.270. diharapkan akan menciptakan iklim dan gairah usaha yang lebih baik yang akan mendorang kegiatan Junia usaha dan perekonomian nasional umumnya.5 796.4 24. Hal ini pada gilirannya akan meningkatkan penerimaan pajak sehingga memperkokoh kemandirian dalam penyediaan sumber dana yang dibutuhkan oleh pembangunan. 8 PENERIMAAN DI LUAR MINYAK BUMI DAN GAS ALAM 1969/1970 1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) APBN 2) RAPBN Jumlah 177. yang hanya terdiri atas tiga tingkat dan tarip rata-rata yang lebih rendah dari tarip rata-rata dalam undang-undang perpajakan sebelumnya.5 993.70 1.90 4.40 3.437.584.50 5. prinsip kepostian dan prinsip pemerataan. Dengan undang-undang pajak penghasilan ini diharapkan akan lebih diwujudkan prinsip kesederhanaan.4 211 197. Undang-Undang PBDR 1970 dan Un dang-Un dang No.80 7.5 15.8 225.5 31. Undang-Undang Pajak Perseroan 1925. undang-undang ini juga dimaksudkan untuk menciptakan suasana kehidupan dan berusaha yang lebih adil dan merata dalam kepostian hukum yang berlaku.7 30 Berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan sejak 1 Januari 1984 yang menggantikan Undang-Undang Pajak Pendapatan 1944. Di samping itu lebih luasnya dasar pengenaan pajak.70 1.9 72. Kesederhanaan daripada tarip pajak.9 17.8 770.9 1.1 664. yang berarti di samping ditujukan bagi penambahan pengumpulan dana sebesarbesarnya.20 Kenaikan Jumlah Persentase 67.3 360. diharapkan akan lebih merangsang para wajib pajak untuk memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak.9 23.40 37.6 17.4 663.

0 persen. 25 persen dan 35 persen. Keputusan PresideD Domer 26 tahun 1984 tentang Pengampunan Pajak diharapkan akan mempercepat proses terciptanya sikap jujur dan terbuka para pemberi kerja untuk melakukan pemotongan dan penyetoran pajaknya. Kalau dalam APBN 1984/1985 penerimaan pajak penghasilan perseorangan aclalah sebesar Rp 577. serta semakin efektifnya pemotongan oleh bendaharawan Pemerintah atas pembayaran gaji. diharapkan dapat lebih melindungi golongan ekonomi lemah dan masyarakat yang berpendapatan rendah . Di samping itu lebih tingginya batas pendapatan tidak kena pajak (PTKP) dari batas pendapatan bebas pajak (BPBP) yang dulu terdapat dalam sistem perpajakan yang lama. serta dihapuskannya segala bentuk fasilitas dan pembebasan pajak. yang berarti terdapat peningkatan sebesar Rp 219. Sebagai perwujudan dari pemerataan pendapatan dan beban pembangunan. antara Rp 10 juta sampai Rp 50 juta. masing-masing untuk penghasilan kena pajak sampai dengan Rp 10 juta. Peningkatan tersebut berlangsung sejalan dengan meningkatnya penghasilan para pegawai negeri dan karyawan swasta. Di samping hat ini akan menambah kapositas efektif pemungutan pajaknya.7 milyar atau 38.6 milyar. di samping ditekankan pula untuk memperluas dasar pengenaan pajaknya. tunjangan tetap. Menyadari pentingnya perluasan Departemen Keuangan RI 37 . upah. meningkatnya dasar pemungutan pajak dari karyawan asing. honorarium. diharapkan pula dapat lebih mendorong gairah usaha yang pada gilirannya akan memperluas tersedianya barang-barang produksi dalam negeri. sehingga untuk masa mendatang akan meningkatkan efektifitas pemungutan pajak. Penerimaan pajak penghasilan perseorangan dalam RAPBN tahun 1985/1986 direncanakan meningkat dari tahun sebelumnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 surat pemberitahuan (SPT) pajak penghasilan.3 milyar. Tarip pajak tersebut adalah sebesar 15 persen. diharapkan akan semakin memperluas potensi penerimaan pajak ini. diharapkan akan membawa pengaruh positif terhadap perluasan dan peningkatan kesempatan kerja baru. dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan dan jabatan yang dibebankan kepada keuangan negara. agar perkembangan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai selama ini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. dan lebih dari Rp 50 juta. Upaya peningkatan penerimaan pajak penghasilan badan diusahakan melalui kebijaksanaan tarip yang lebih sesuai dengan perkembangan dunia usaha. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 diharapkan bisa mencapai Rp 797. sebagai hasil nyata dari kebijaksanaan penyesuaian tarip penyusmall baru yang lebih menguntungkan para pengusaha. Adanya perluasan perusahaan dan munculnya penanaman modal baru. walaupun tarip pajak lebih rendah serta lebih sederhana. unsur progresivitas tidaklah diabaikan akan tetapi sekaligus dilaksanakan untuk pengumpulan dana bagi pembangunan.

2 milyar atau 21. maka penanam modal tersebut akan dibebaskan dari kemungkinan pengusutan perpajakannya. sedangkan bagi barang mewah dikenakan tambahan pajak sebesar 10 persen dan 20 persen. dari setinggitingginya 15 persen. maka berarti meningkat sebesar Rp 403. Namun untuk menunjang perkembangan perpajakan dalam memenuhi kebutuhan dana yang diperlukan pembangunan serta untuk membantu menciptakan suasana pola hidup sederhana.276. Sejalan dengan kebijaksanaan tersebut.873. Peningkatan kegiatan ekonomi nasional khususnya pengembangan dunia usaha senantiasa mendapat perhatian Pemerintah. Dari padanya diharapkan berlanjut akan meningkatnya kegiatan dunia usaha. Di dalam perkembangannya. Di samping itu apabila penanam modal lebih dulu menyimpan dananya melalui deposito berjangka sekurangkurangnya selama tiga bulan. Pemerintah melalui kebijaksanaan di bidang perpajakan telah memberikan kesempatan kepada para penanam modal untuk menggunakan fasilitas pengampunan pajak. Dalam undangundang tersebut hanya terdapat dua tarip yaitu 0 persen dan 10 persen. telah dilakukan penyesuaian atas tarip penyusutan yang ditetapkan lebih tinggi sehingga penyusutan dapat lebih dipercepat. yang mendorong lahirnya Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah dalam rangka menunjang perkembangan dunia usaha. Sehubungan dengan semakin pentingnya mobilisasi sumber dana dari dalam negeri. Kebijaksanaan ini diharapkan akan lebih meringankan beban pajak penghasilan yang harus dibayar oleh pengusaha. yang selanjutnya akan mendorong investasi baru dan pada gilirannya akan meningkatkan jumlah dan potensi wajib pajak.5 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dasar pengenaan pajak tersebut bagi peningkatan penerimaan pajak penghasilan. serta tarip pajak penjualan khusus atas barang mewah dapat diubah menjadi setinggi-tingginya 35 persen. Dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan pajak penghasilan badan direncanakan sebesar Rp2. serta kesadaran melaksanakan kewajiban di bidang perpajakan. Pengawasan ini dilakukan untuk lebih meningkatkan produktivitas dan efisiensinya sehingga akan meningkatkan penghasilan perusahaan negara tersebut.7 milyar. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 1. Upaya Pemerintah menciptakan peraturan perundangundangan yang lebih luas dimensi cakupannya. Dalam rangka lebih mendorong upaya peningkatan Departemen Keuangan RI 38 . Pemerintah berupaya dengan sungguhsungguh melaksanakan pengawasan terhadap perusahaan negara. untuk selanjutnya diharapkan akan meningkatkan penerimaan pajak serta ketertiban pembayaran pajaknya. lebih sederhana. tarip pajak pertambahan nilai terse but dapat diubah menjadi serendah-rendahnya 5 persen. penerimaan pajak penghasilan badan ini terus mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. dan lebih tegas menjamin kepostian hukum.5 milyar.

terutama komoditi non migas. volume maupun pengembangan diversifikasinya. Untuk lebih mendorong kepatuhan membayar pajak dengan jalan memberikan rasa aman bagi para wajib pajak. dalam undang-undang yang baru ini tarip pajak penjualan atas barang-barang ekspor adalah 0 persen. sehingga akan menciptakan kepostian bagi upaya penyeragaman beban pajaknya. khususnya komoditi non migas baik dalam hal kualitas. Sedangkan bagi pajak pertambahan nilai yang dikenakan atas bahan baku yang digunakan untuk memproduksi barang-barang ekspor secara periodik dapat dimintakan pengembaliannya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ekspor. Dalam pada itu mulai tahun anggaran 1985/1986 di dalam penerimaan pajak pertambahan nilai termasilk didalamnya pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri. Dalam hubungannya dengan perdagangan luar negeri. Di samping itu sistem baru ini juga menciptakan ik!im usaha yang lebih menarik bagi golongan ekonomi lemah. bahwa beban pajak yang telah ada Facia bahan baku yang dipakai perusahaan dapat diperhitungkan/dikurangkan dari pajak pertambahan nilai yang terhutang alas hasil produksi perusahaan itu. dalam Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai tahun 1984 ditentukan adanya sistem kredit. terutama mereka yang merasa telah membayar pajak lebih daripada yang seharusnya. serta untuk lebih menunjang upaya diversifikasi ekspor. Berdasarkan pertimbangan bahwa pelaksanaan Undang-Undang Pajak Pertambahan Departemen Keuangan RI 39 . Tarip yang lebih sederhana yang diterapkan dalam sistem baru ini akan sangat membantu pe1aksanaannya karena akan mudah dipahami baik oleh pemungut maupun pembayar pajaknya. Kebijaksanaan ini bersama-sama dengan kebijaksanaan lamnya. Di samping itu dapat dihilangkan pula kemungkinan adanya usaha-usaha untuk me1akukan integrasi vertikal antara dua perusahaan alan lebih. terutama kebijaksanaan pajak pertambahan nilai sebesar 0 persen atas barang-barang ekspor. Jumlah tarip tersebut diperbanyak lagi dengan diberikannya berbagai pembebasan sebagian atas produk-produk tertentu. Hal ini disebabkan karena adanya batasan yang jelas mengenai jenis perusahaan yang dapat digolongkan sebagai perusahaan kecil. sistem baru ini mengintegrasikan bea masuk yang dikenakan atas barang-barang impor dengan pajak pertambahan nilai yang dikenakan atas barang-barang perdagangan dalam negeri. Sistem kredit ini menetapkan. Sedangkan sebagai upaya untuk menghilangkan pengarub pajak berganda yang terdapat Facia sistem yang lama. maka dalam sistem baru ini diatur dengan je1as ketentuan mengenai pembayaran kembali daripada ke1ebihan dalam pembayaran pajak. yang semata-mata untuk menghindari pajak dengan mengorbankan efisiensi. diharapkan akan semakin mendorong ekspor. Kesederhanaan dalam tarip pajak pertambahan nilai akan lebih dapat dirasakan bila dibandingkan dengan sistem yang lama dengan tarip yang bervariasi antara delapan jenis tarip.

usaha penanggulangan penyelundupan terus ditingkatkan dengan meningkatkan ketrampilan aparat pabean serta memperlancar arus dokumen. maka penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah dalam RAPBN tahun 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 1. Untuk itu dalam mendorong pertumbuhan industri : perakitan di tanah air. Sesuai dengan kebijaksanaan yang digariskan dalam Repelita IV. Dalam rangka memberikan perlindungan dan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri. kebijaksanaan tarip senantiasa diusahakan agar dapat berjalan seirama dengan kebijaksanaan pengaturan tata niaga.serta mampu menyediakan barangbarang yang diminta konsumen baik di dalam maupun di luar negeri dengan harga yang memadai. Untuk itu. telah diberikan beberapa bentuk keringanan bea masuk atas kertas tulis dan kertas cetak serta beberapa buku ilmu pengetahuan tertentu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nilai tahun 1984 yang ditunda sampai selambat-lambatnya 1 Januari 1986 dapat dilaksanakan pada awal tahun anggaran 1985/1986. . serta menunjang peiaksanaan kebijaksanaan perdagangan luar negeri. maka kepada industri tersebut diberikan beberapa keringanan pembebanan taripnya. kebijaksanaan tarip bea masuk selalu diusahakan agar mampu memberikan perhitungan yang wajar bagi industri dalam negeri. Diharapkan kedua kebijaksanaan tersebut dapat saling mengisi dan melengkapi secara harmonis. Sedangkan untuk memberikan perlindungan bagi semakin tumbuhnya industri pengolahan di dalam negeri. dan upaya pengutamaan penggunaan barang-barang hasil produksi dalam negeri. Sebagai upaya menunjang pengembangan industri di dalam negeri. Di bidang penerimaan bea masuk. tanpa melupakan kepentingan konsumen. Sehubungan dengan hal rersebut. dilanjutkan dan ditingkatkan usaha-usaha yang diarahkan bagi penciptaan iklim dan gairah usaha yang mendorong terlaksananya pembangunan industri dalam negeri yang efisien. di dalam memberikan perlindungan bagi industri di dalam negeri. tangguh dan memiliki daya saing yang kuat.4 milyar. terutama industri yang menghasilkan nilai tambah yang tinggi. dalam rangka penyempumaa dan penertiban sistem administrasi pabean telah dilaksanakan persiapan- Departemen Keuangan RI 40 . impor terhadap produk-produk sejenis dikenakan tarip yang lebih tinggi. menyerap tenaga kerja yang banyak. baik impor maupun ekspor. menggunakan sumber daya dalam negeri. kepada sektor industri tersebut diberikan perlindungan dengan tarip I CKO yang lebih rendah dari tarip produk yang sama yang diimpor dalam keadaan built up/non-KO. Berkenaan dengan program wajib belajar. pengamanan penerimaan negara.666. telah pula ditetapkan kebijaksanaan yang memberikan keringanan pembebanan impor atas pemasukkan bahan baku/bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi. Selanjutnya untuk menunjang kebijaksanaan Pemerintah di bidang pentaripan.

Kebijaksanaan.1 milyar. guna mempertahankan harga yang lebih sesuai dengan daya beli masyarakat dan menjamin kelayakan tingkat pendapatan petani tebu. Sedangkan bagi jenis produksi sigaret buatan mesin. penerimaan cukai dipengaruhi antara lain oleh perkembangan pertumbuhan produksi. sejak 1 Mei 1984 diadakan penyesuaian harga dasar Departemen Keuangan RI 41 . Fasilitas tersebut diberikan kepada perusahaan sigaret kretek tangan (SKT). dengan ketentuan bahwa perusahaan yang produksinya lebih dari 4 milyar batang setahun dikenakan tarip 25 persen diri harga pita cukai. dan banyak menyerap tenaga kerja. yang produksinya antara 100 juta sampai 750 juta batang setahun dikenakan tarip 20 persen dari pita cukai. Terhadap impor hasil tembakau dipungut cukai sepenuhnya.5 persen dari harga pita cukai. yang produksinya antara 750 juta batang sampai 4 milyar batang setahun dikenakan ta. Penerimaan cukai ini terdiri dari cukai tembakau. serta 40 persen untuk jenis cerutu. Berdasarkan langkah-Iangkah yang telah dilaksanakan di bidang bea masuk. cukai yang se1ama ini dijalankan . cukai gula. dan cukai alkohol sulingan. maka pada 1 April 1984 telah ditetapkan pembebasan sebagian tarip cukai terhadap hasil tembakau buatan dalam negeri.rip 22. maka terlihat peningkatan sebesar Rp 35. peningkatan daya beli masyarakat konsumen. Di dalam perkembangannya. Apabila dibandingkan dengan rencana penerimaan bea masuk dalam APBN 1984/ 1985. yaitu 70 persen dari pita cukainya untuk sigaret buatan mesin dan tembakau iris. Sehubungan dengan itu. cukai bir. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan bea masuk direncanakan sebesar Rp 717.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 persiapan kearah penerapan sistem komputer di bidang operasional pabean dari pengumpulan data. baik sigaret putih mesin (SPM) maupun sigaret kretek mesin (SKM) dikenakan tarip tunggal yang besarnya 40 persen dari harga pita cukainya. serta intensifikasi dan verifikasi pemungutannya. penyesuaian harga pita dengan harga jualnya. juga dimaksudkan guna mencapai sasaran-sasaran tertentu lainnya.7 milyar. dan bagi perusahaan yang produksinya 100 juta batang atau kurang setahun dikenakan tarip 15 persen dari pita cukainya. Sebagaimana halnya dengan cukai tembakau. 50 persen untuk sigaret kretek bukan buatan mesin. di samping diarahkan kepada fungsinya sebagai penghimpun dana. Di samping itu untuk memberikan kesempatan bagi berkembangnya produksi tembakau di dalam negeri. kebijaksanaan di bidang cukai lainnya juga disempurnakan sesuai dengan perkembangan ekonomi. Dalam rangka lebih mendorong perkembangan industri rokok dan hasil tembakau dalam negeri terutama bagi produsen yang tergolong pengusaha lemah. sejak 1 April 1984 tidak lagi diberikan pembebasan sebagian cukai terhadap impor hasil tembakau.

diperkirakan produksinya akan sedikit mengalami penurunan. Segi lain dari kebijaksanaan tersebut adalah.000. yang pada pokoknya mengarah pada upaya penciptaan iklim yang lebih mendorong gairah usaha untuk rnempertahankan dan mendorong nilai maupun volume ekspor. yaitu untuk jenis SHS I. Departemen Keuangan RI 42 ..per kuintal. Demikian juga terhadap alkohol sulingan. produksi bir diperkirakan tidak akan mengalami kenaikan yang berarti. Untuk itu. prospek produksi. serta beberapa jenis kayu gergajian mewah. Berdasarkan pertimbangan atas langkah-langkah yang sedang. sejak Mei 1980 telah diadakan pembatasan ekspor terhadap kayu gelondongan. Apabila rencana penerimaan cukai tersebut dibandingkan dengan yang direncanakan dalam tahun anggaran sebelumnya. masing-masing sebesar Rp40.700.7 milyar. dan akan dilaksanakan terutama dengan semakin efektifnya pemungutan cukai. Dalam RAPBN 1985/1986 penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan tersebut direncanakan akan mencapai sebesar Rp 101. melainkan diakibatkan pula oleh adanya penurunan dan pembebasan pajak ekspor. berarti meningkat dengan Rp 235. sejak Januari 1984 telah diadakan pengenaan kembali tarip pajak ekspor tambahannya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pemungutan cukai gula. seperti minyak kelapa sawit dan hasil-hasilnya. Sehubungan dengan perlunya pengawasan terhadap minuman keras. Berdasarkan berbagai langkah kebijaksanaan yang dilaksanakan Pemerintah di bidang ekspor. dan Rp 39..850. Di samping itu sebagai upaya penyediaan bahan bagi industri pengolahan kayu dalam negeri. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan cukai direncanakan sebesar Rp 963. maka dalam RAPBN 1985/1986 penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan diperkirakan akan mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan yang tertera dalam APBN 1984/1985. baik tebu rakyat bebas.per kuintal. bahwa barangbarang yang dianggap penting bagi konsumsi dalam negeri. Rp 39. serta pajak ekspor tambahan terhadap berbagai barang-barang ekspor dalam rangka mendorong ekspor yang selama ini terus diusahakan peningkatannya. Penurunan tersebut bukan saja disebabkan karena menurunnya nilai maupun volume ekspor beberapa komoditi tertentu. Adapun penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan.8 milyar. kebijaksanaan di bidang pajak ekspor dalam tahun anggaran 1985/1986 akan tetap diarahkan agar selalu menunjang berbagai usaha dan kebijaksanaan Pemerintah dalam rangka meningkatkan daya saing komoditi ekspor Indonesia di posaran intemasional. dan penyesuaian tarip cukai terutama untuk tembakau dan gula. serta untuk menjaga kelestarian lingkungan alam. dan HS I. akhir-akhir ini mengalami sedikit penurunan di dalam realisasinya.per kuintal. Di samping itu telah pula diadakan penertiban penanaman tebu.3 milyar. SHS II.(TRB) maupun tebu rakyat intensifikasi (TRI)..

dan gerak pembangunan ekonomi daerah yang lebih merata me1alui upaya peningkatan penerimaannya. Dalam RAPBN 1985/1986.-. penetapan dan penagihannya. sedang taripnya diturunkan dari 1 persen menjadi 0.8 milyar dari yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. konosemen-konosemen.-. juga diarahkan untuk menciptakan iklim dunia usaha yang lebih sehat.baru dikenakan bea meterai..4 milyar yang berarti meningkat sebesar Rp 16. Dalam rangka meningkatkan potensi penerimaan Ipeda. yaitu pajak kekayaan. Dengan kebijaksanaan tersebut diharapkan kesadaran para wajib pajak untuk memenuhi kewajiban pajaknya akan meningkat.-..menjadi Rp 500. Tarip bea meterai yang berlaku sekarang dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Kebijaksanaan di bidang Ipeda pada dasamya tetap diarahkan bagi terciptanya sasaran pertumbuhan. Kuitansi yang memuat angka penjualan di atas Rp 50. dewasa ini sedang dibahas Rancangan Undang-Undang Pajak Kekayaan dan Ipeda. serta transaksi perekonomian yang lebih bertanggung jawab. serta untuk mempercepat proses pemerataan pendapatan guna lebih memantapkan stabilitas perekonomian nasional. terus dibina kerjasama yang lebih baik dengan Pemerintah Daerah. Sehubungan dengan semakin banyaknya kegiatan le1ang. Sedangkan untuk promes. bea meterai dan bea lelang.000. Kebijaksanaan Pemerintah di bidang penerimaan pajak lainnya untuk tahun 1985/ 1986 masih merupakan kelanjutan dan peningkatan dari kebijaksanaan yang sudah diambil pada masa sebelumnya. sedangkan sebelumnya kuitansi yang bernilai di atas Rp 5. aksep.5 persen.000. Batas kekayaan yang tidak terkena pajak mulai 1 Januari 1985 dinaikkan dari Rp 14 juta menjadi Rp 80 juta. dan semakin meningkatnya mutu para juru lelang. Hal ini menunjukkan semakin membaiknya kesadaran masyarakat dalam rangka memenuhi kewajiban pajaknya.sudah dikenakan bea meterai. yang saat ini adalah Rp 10. dan surat-surat berharga lainnya tarip meterainya juga diadakan penyesuaian dari Rp 25.. dan polis asuransi jiwa. akan dinaikkan menjadi Rp 100. Untuk itu mulai 1 Maret 1985 terhadap tarip bea meterai juga diadakan beberapa penyesuaian. Untuk mendorong perkembangan yang lebih realistis seirama dengan keadaan perekonomian nasional. penerimaan di bidang ini untuk masa-masa mendatang diharapkan akan mengalami Departemen Keuangan RI 43 . antara lain atas kuitansi atau tanda penerimaan uang. terutama terhadap kekayaan yang dimilikinya. di samping secara terus menerus diadakan pembinaan terhadap administrasi pendataannya. menunjukkan perkembangan yang memadai. penerimaan Ipeda direncanakan sebesar Rp 167. Penerimaan negara yang berasal dari penerimaan pajak lainnya. Kebijaksanaan tersebut di samping ditujukan untuk menghimpun dana pembangunan yang bersumber dari dalam negeri. serta penyuluhan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadarannya dalam membayar Ipeda.

digunakan sebagai pe1engkap. dan stabil. baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.4 milyar.3. Untuk itu langkah-Iangkah kebijaksanaan yang sudah dirintis sejak awal Pelita I akan terus dikembangkan. di satu sisi meningkatkan kesejahteraan rakyat. penerimaan kejaksaan dan pengadilan serta penerimaan lainnya.dana yang bersumber dari bantuan luar negeri barus senantiasa diarahkan bagi Departemen Keuangan RI 44 . Apabila penerimaan tersebut dibandingkan dengan APBN 1984/1985 berarti terdapat peningkatan sebesar Rp 116. Dengan demikian untuk masa-masa selanjutnya. tetapi di sisi lain menambah tanggung jawab Pemerintah dalam menyediakan dana bagi pembangunan yang terus berkembang. Oleh sebab itu. Penerimaan bukan pajak oleh Pemerintah senantiasa diusahakan pula peningkatan sumbangannya bagi penerimaan negara. Berdasarkan langkah-Iangkah yang sedang dan akan dilaksanakan Pemerintah. dalam RAPBN 1985/1986 besarnya penerimaan pajak lainnya direncanakan sebesar Rp 96. Semakin meningkatnya kegiatan pembangunan. 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan. sesuai dengan yang diamanatkan dalam GBHN. berarti meningkat sebesar Rp 21. Dalam penerimaan bukan pajak tersebut termasuk pula penerimaan dari bagian Pemerintah atas laba perusahaan negara/bank negara serta iuran hasil hutan dan royaltynya. senantiasa harus terus diupayakan terutama dengan menggalinya dari sumber-sumber dana dalam negeri. Penerimaan pembangunan Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan bangsa Indonesia sejak Pelita I hingga sekarang te1ah memberikan hasil nyata berupa semakin meningkatnya taraf hidup dan kesejahteraan se1uruh rakyat.2. seperti penerimaan pendidikan.0 milyar atau 27. Sedangkan dana bantuan yang berasal dari luar negeri yang diterima sebagai penerimaan pembangunan.9 milyar atau 19. Dalam RAPBN 1985/ 1986 penerimaan bukan pajak direncanakan sebesar Rp 731.9 persen. pembangunan yang dilaksanakan adalah pembangunan yang dilandasi oleh kemampuan bangsa Indonesia sendiri yang bertumpu kepada kepercayaan diri. penerimaan jasa.9 milyar. Penerimaan bukan pajak yang terdiri dari penerimaan berbagai departemen/lembaga non departemen. Usaha pengerahan dana pembiayaan pembangunan. terutama dengan kebijaksanaan pengampunan pajak serta dengan semakin membaiknya perekonomian di tanah air. baik jenis maupun kualitasnya dalam dimensi yang semakin me1uas. dalam perkembangannya te1ah mengalami peningkatan.0 persen. baik yang berasal dari tabungan Pemerintah maupun dari tabungan masyarakat.4 milyar. menuju perekomomian nasional yang mandiri. dinamis. Apabila penerimaan tersebut dibandingkan dengan rencana penerimaan tahun 1984/1985 yaitu sebesar Rp 75.

867.8 48.1 22.3.9 90. Pengeluaran rutin Sasaran kebijaksanaan penge1uaran rutin.00 3.368.00 1.316.50 4.3 12.3 114.5 157.2 14. dan bantuan proyek sebesar Rp 4.2 10. serta pengarahan penge1uaran rutin untuk mencapai sasaran-sasaran yang te1ah ditentukan.6 737.381.50 4.368.942. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.035.3 33.5 89.4 262.8 773.429.3 1.4 135.5 95.3 41.00 4.1 28.2 35.4 8.9 471. pembayaran bunga dan cicilan hutang. dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan memperlancar proses pemerataan pembangunan dan hasilnya.1 13.3.4 13.9 32.6 -42.5 100.8 36.1 259.8 203.4 1.2 64.70 1.2 231 1. tidak bisa dipisahkan dari sasaran kebijaksanaan anggaran secara kese1uruhan yang mencakup ketiga unsur Trilogi Pembangunan. Tabe1 II.2 13. penerimaan pembangunan direncanakan sebesar Rp 4.9 39. serta penge1uaran rutin lainnya.411.9.9 milyar.30 1.1 milyar.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) A P B N 2) RAP B N Bantuan program 65.6 112.709.1 15.1 20.80 1. yaitu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju terciptanya keadilan sosial bagi se1uruh rakyat.40 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembiayaan kegiatan-kegiatan pembangunan yang bersifat produktif dan berprioritas tinggi.6 987.2 -10.3 46. Peningkatan tabungan Pemerintah tidak mungkin dapat terlaksana hanya dengan peningkatan penerimaan negara saja. tetapi harus pula disertai tindakan penghematan.50 1. Penge1uaran rutin yang me1iputi be1anja pegawai. 9 BANTUAN LUAR NEGERI. Perkembangan penerimaan pembangunan se1ama tahun 1969/1970 hingga tahun 1985/1986 dapat dilihat dalam Tabel II.4 -1.5 16.6 783.9 232 491.1 Kenaikan Jumlah Persentase 29.882. yang terdiri dari bantuan program sebesar Rp 70.20 Jumlah 91 120.8 111.5 29. 1969/1970 .1 14.371.493. pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.9 33.924.8 64.5 45 62.6 292.1 195.9 Bantuan proyek 25.9 59.10 1. Dalam RAPBN tahun 1985/1986.90 3.90 1. Departemen Keuangan RI 45 .940.7 78.40 528. be1anja barang..4 773. subsidi daerah otonom.297.1 45.7 215.663.297.2 milyar.4 15.6 -1 2.5 70.1 345.

6 99.6 893.5 milyar.1 34 43. golongan ekonomi lemah diberi kesempatan berusaha yang lebih luas lagi.9 114. sasaran utama kebijaksanaan pengeluaran rutin adalah peningkatan dana tabungan Pemerintah.2 20.2 5.8 316.20 1.8 36.6 16.689.80 10.8 1.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/19862) 1) Angka APBN 2) Angka RAPBN Jumlah 216.10 12. Dalam APBN 1984/1985.5 56.90 2.60 1. beras pensiun 28.8 2.10 1.2 1.10 2.7 14.1 21. Demikian pula penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri makin digalakkan.2 109.7 Tahun PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977 /1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/19851) 1985/19862) 1) Angka APBN 2) Angka RAPBN Tabel II.00 1.n.6 4.10 2. yang merupakan tahun kedua pelaksanaan Repelita IV. 10 PENGELUARAN RUTIN.053.101.1 milyar.016.1 Jumlah 103. Selanjutnya juga diusahakan peningkatan peranan golongan ekonomi lemah.3 50.5 62.743.9 346.3 3.9 760.411.1 593.10 Tab e I II. Perkembangan pengeluaran rutin tersebut dapat diikuti pada Tabel II.8 672. raJa akhir tahun Pelita II meningkat menjadi Rp 2.9 31.2 302.8 24.3 1.6 313. serta meningkatkan kemampuan yang lebih besar bagi mereka untuk berperanserta dalam proses pembangunan.1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Uang Lain-lain Belanja makan bel.743.749.8 12.6 87.9 27.8 14.4 70.7 48 42.419.399.1 23. d.977.800.1 25.9 252 253.101.90 3.30 2.5 17.5 288.3 20. produksi dalam negeri.90 2.80 10.9 261.4 89.30 Dalam tahun anggaran 1985/1986.9 116.5 31.2 240.5 31.1 22.6 7. Rangkaian kebijaksanaan yang telah dijalankan Pemerintah di bidang pengeluaran rutin tersebut frat kaitannya dengan usaha-usaha peningkatan Departemen Keuangan RI 46 .9 636.3 20. dan pada akhir tahun Pelita III meningkat lagi menjadi Rp 8.1 594.5 111.8 51.3 289.996.n Tunjangan Gaji dan peg.10 1. 11 BELANJA PEGAWAI.4 43.5 78.8 33.1 61.3 14.5 45.90 1.4 268.7 400 424.8 20.5 254.2 132.2 519.00 Kenaikan Jumlah Persentase 71.30 8.2 24.189.001.148.332.9 301.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam perkembangannya te1ah menunjukkan peningkatan selaras dengan tingkat perkembangan pembangunan yang dicapai.9 31.7 25.7 66 79.1 4.061.3 0.90 1.9 89 275.411.7 60.9 420. l.7 11.7 1.7 12.482. serta perluasan kesempatan kerja seperti yang telah dijalankan dalam tahun-tahun sebelumnya.4 200.30 2.1 14.80 5.8 23.4 45. 1969/1970 .70 4.90 33.8 5.00 6.60 6.2 349.1>29.6 59.1 415.60 1.117.7 482.1 438.7 47.3 286.3 31.4 9.7 131.115.1 713.00 2.4 163.023.307.9 126.6 47.8 131.318. 1969/1970 . pengeluaran rutin direncanakan sebesar Rp 10.5 33. yaitu dalam rangka membantu dan membimbing pertumbuhan.6 173.50 4.40 1. di samping usaha-usaha untuk mengurangi secara bertahap pemberian subsidi dalam berbagai bentuknya.8 10. Dalam Keputusan Presiden Nomor 29 tersebut.5 297.757. Apabila pada tahun pertama Pelita I realisasi penge1uaran rutin baru mencapai Rp 216.50 1.60 18.7 29.418.00 3.7 milyar.6 99. Usaha-usaha tersebut diwujudkan antara lain dengan diberlakukannya Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 yang merupakan penyempurnaan lebih lanjut daripada Keputusan Presiden Nomor 14A Tahun 1980 dan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan APBN.3 1.8 179.177.738.996.415.2 79.277.8 milyar.9 193.297.660.8 42. dan ditingkatkan untuk lebih mendorong peningkatan produksi dalam negeri.

559. antara lain dalam bentuk pemberian gaji bulan ke 13 dan 14 dalam tahun 1979/1980.8 milyar karena ditetapkannya kebijaksanaan untuk meningkatkan penghasilan pegawai negeri/ABRI sebesar 20 persen.297. pemberian tunjangan perbaikan penghasilan (TPP) dalam tahun 1. 2. Belanja pegawai Kebijaksanaan belanja pegawai yang akan dijalankan Pemerintah dalam tahun 1985/1986 adalah dalam rangka meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas Pemerintah. dan lain-lain pengeluaran rutin sebesar Rp 602. Perkembangan realisasi be1anja pegawai sejak Pe1ita I menunjukkan.7 persen di atas anggaran pengeluaran rutin dalam APBN 1984/1985.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kegiatan pembangunan dan pelayanan Pemerintah kepada masyarakat.1 milyar.8 milyar. pembayaran bunga dan cicilan hutang sebesar Rp 3.529.001. belanja barang sebesar Rp 1.6 milyar.117. pembinaan dan penertiban aparatur negara.1. dan pada awal Pe1ita IV usaha perbaikan tersebut diwujudkan dengan diberikannya kenaikan sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan.980/ 1981 dan 1981/1982. Jumlah tersebut meliputi pengeluaran untuk belanja pegawai sebesar Rp 4.757.75 kali hila dibandingkan dengan realisasi pada akhir Pe1ita II. Dalam tahun anggaran 1985/1986. Langkah-langkah tersebut telah dimulai dengan usaha peningkatan kesejahteraan pegawai negeri/ ABRI dan pensiunan dalam tahun-tahun yang lalu. yang dicerminkan antara lain dalam bentuk peningkatan jumlah. dan Departemen Keuangan RI 47 . dan berupa pemberian gaji bulan ke 13 dalam tahun 1983/1984. anggaran untuk pengeluaran rutin direncanakan sebesar Rp 12. di samping dilakukan pula penyempurnaan di bidang organisasi dan administrasinya.590. serta dalam rangka mengamankan dan memelihara kekayaan negara yang diperoleh sebagai hasil kegiatan pembangunan.9 milyar. antara lain dalam bentuk kenaikan gaji. Pada akhir Pe1ita III jumlah realisasi belanja pegawai mencapai jumlah sebesar Rp 2. bahwa pada awal Pe1ita I realisasinya baru mencapai jumlah sebesar Rp 103.0 milyar.3.399. Dalam tahun 1985/1986 be1anja pegawai direncanakan meningkat sebesar Rp 927. Kenaikan ini adalah karena se1ama Pelita III te1ah beberapa kali dilakukan perbaikan penghasilan pegawai negeri/ ABRI dan pensiunan.3 milyar. Usaha perbaikan penghasilan pegawai negeri/ ABRI se1alu dilakukan dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara setiap tahunnya. yang berarti Rp 2. dan mutu aparatur negara beserta perlengkapannya.4 milyar. subsidi daerah otonom sebesar Rp 2. sedangkan pada akhir Pe1ita II mencapai jumlah sebesar Rp 1.3.0 milyar.9 milyar atau 22. yang berarti meningkat 2.3 milyar.

9 milyar.3 milyar.2. gaji dan pensiun sebesar Rp 3.11.1 milyar. dan be1anja pegawai luar negeri sebesar Rp 89. anggaran untuk belanja barang direncanakan sebesar Rp 1. lain-lain be1anja pegawai dalam negeri sebesar Rp 116.115. di samping Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 tentang Pelaksanaan APBN. yang terdiri dari tunjangan beras sebesar Rp 482.5 milyar. Dalam melaksanakan tugasnya. Belanja barang Dalam rangka menunjang kegiatan usaha golongan ekonomi lemah serta menunjang perluasan kesempatan kerja. maka kebijaksanaan 'be1anja barang dalam tahun anggaran 1985/1986 akan lebih diarahkan pada pembe1ian barang-barang dan jasa produksi dalam negeri yang kebanyakan dihasilkan oleh golongan tersebut. dan anggaran yang disediakan. Dalam Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 dinyatakan bahwa untuk pembelian/pemborongan barang dan jasa Pemerintah dengan nilai kontrak sebesar Rp200 juta ke atas harus me1alui Tim Pengendali dan Pengadaan.6 milyar. Perkembangan realisasi be1anja pegawai dapat dilihat pada Tabel II.8 milyar. uang makan/lauk pauk sebesar Rp313.117. Dengan diberlakukannya kedua Keputusan Presiden tersebut. pada akhir Pelita II meningkat menjadi Rp 419. sehingga dengan demikian dapat lebih terkendali dan terarah. Penurunan batas nilai kontrak dari Rp 500 juta dalam Keputusan Presiden Nomor 14A Tahun 1980 menjadi Rp 200 juta tersebut adalah dalam rangka penghematan dan rasionalisasi dunia usaha.3. Dalam RAPBN 1985/1986. pengadaan atau pembelian barang dan jasa yang diperlukan akan sesuai dengan prioritas.5 milyar. Untuk menjamin lebih terlaksananya kebijaksanaan dimaksud. dan pada akhir Pelita III mencapai jumlah sebesar Rp 1. kepada Tim pengendali dan Pengadaan ditekankan agar memperhatikan harga dan kualitas yang paling menguntungkan negara. dalam tahun 1984 telah dikeluarkan pula Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 1984 tentang Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah di Departemen/Lembaga.3 milyar. Pengeluaran rutin melalui belanja barang yang pada awal Pelita I baru mencapi sebesar Rp 50. yang terdiri dari belanja barang dalam Departemen Keuangan RI 48 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pensiunan sebesar 27 . di samping pengutamaan penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri.057.59 persen.529. anggaran untuk be1anja pegawai direncanakan sebesar Rp 4. ke1ancaran dan kehasilgunaan dalam pengadaan barang/peralatan dan jasa di lingkungan departemen/lembaga diharapkan dapat lebih ditingkatkan lagi. Dalam tahun anggaran 1985/1986. Selanjutnya dengan dike1uarkannya Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 1984.3. 2. serta dicapai penghematan dalam pelaksanaan anggaran belanja barang.1 milyar.3 milyar.

bahwa setiap penambahan hutang luar negeri harus sesuai dengan kemampuan pengembaliannya. Pengeluaran subsidi daerah otonom dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 2. meningkatnya kegiatan pembangunan. Di samping itu makin. untuk belanja pegawai sebesar Rp 2.349.0 milyar.3. ikut mempengaruhi besarnya subsidi daerah otonom. 2.4 milyar. karena didalamnya ditampung pula pembiayaan untuk tambahan guru-guru SD Inpres dan tenaga medis. rencana pembiayaan subsidi daerah otonom sebesar Rp 2.451.3.3: Subsidi daerah otonom Pengeluaran untuk subsidi daerah otonom erat kaitannya dengan kebijaksanaan belanja pegawai.2 persen. Bunga dan cicilan hutang Dana yang dipergunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan. pembayaran gaji lurah dan perangkatnya. tenaga paramedis dan tenaga medis Puskesmas di daerah-daerah. serta tunjangan pamong desa.590. di samping pemanfaatan bantuan luar negeri tersebut harus benar-benar untuk proyek-proyek.4 milyar. 2.4. oleh karena pemberian subsidi daerah otonom sebagian besar digunakan untuk pembayaran gaji pegawai negeri sipil dalam lingkungan daerah otonom. selain berupa dana yang dihimpun dari dalam negeri. pengembalian pinjaman yang dipergunakan untuk membiayai pembangunan proyek-proyek pada waktu jatuh tempo adalah dalam bentuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri. Departemen Keuangan RI 49 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 negeri sebesar Rp 1.3. Hal ini didasarkan pada perhitungan. yang antara lain didukung oleh hasil-hasil yang diperoleh dari proyek-proyek yang telah menghasilkan.3.590.8 milyar dan belanja barang luar negeri sebesar Rp 78. dan belanja non pegawai sebesar Rp 241. khususnya pembangunan SD Inpres dan Puskesmas.8 milyar atau 45. Selanjutnya dalam subsidi daerah otonom ditampung pula penggantian biaya akibat dihapuskannya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sekolah dasar kelas satu sampai dengan kelas enam. Dengan demikian hila dibandingkan dengan APBN 1984/1985. Dalam rangka pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan. oleh karena ditetapkannya kebijaksanaan meningkatkan penghasilan pegawai negeri dan pensiunan.1 milyar. dan kegiatan yang produktif. juga berupa dana pinjaman dari luar negeri. maka dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan pula untuk menambah jumlah guru sekolah dasar Inpres. realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri yang jatuh tempo makin meningkat pula setiap tahunnya. Seiring dengan makin meningkatnya kemampuan keuangan negara.4 milyar tersebut berarti meningkat sebesar Rp 805.

Hal ini terutama disebabkan meningkatnya pengeluaran subsidi bahan bakar minyak sehubungan dengan kenaikan-kenaikan harga minyak mentah di posaran internasional.5 milyar.4 milyar. sedangkan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 602. Rencana anggaran sebesar Rp 602. Di samping itu.3 milyar tersebut disediakan untuk subsidi bahan bakar minyak sebesar Rp 532. 2.529. Realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang pada permulaan Pelita I baru mencapai Rp 14.0 milyar. disebabkan pengeluaran untuk subsidi impor pangan terutama beras.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sehingga tidak sangat memberatkan beban keuangan negara. dan persiapan Pemilu sebesar Rp 40. Dalam APBN 1984/1985.5. gandum. realisasi lain-lain pengeluaran rutin selama Pelita III menunjukkan peningkatan yang sangat besar dibandingkan dengan Pelita I dan II. Dalam perkembangannya.0 milyar atau 32. dan penge1uaran rutin lainnya antara lain untuk biaya sural menyurat me1alui pos.6 milyar pada akhir Pelita III.0 milyar.1 milyar. Dengan demikian bila dibandingkan dengan APBN 1984/1985. rencana pembayaran tersebut mengalami kenaikan sebesar Rp 873. Di samping untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri.686.0 milyar. sedangkan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 3. Lain-lain pengeluaran rutin pembiayaan rutin yang ditampung dalam lain-lain pengeluaran rutin antara lain terdiri dari pengeluaran untuk subsidi pangan. dan pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri sebesar Rp 30.5 persen.0 milyar.3 milyar. pada akhir Pelita II meningkat menjadi Rp 534.102.3. Departemen Keuangan RI 50 . subsidi bahan bakar minyak dan Pemilu. melalui lain-lain pengeluaran rutin dibebankan pula pembiayaan yang bersifat non departemental seperti biaya sural menyurat melalui pos dan giro pos.3. terdapat pula pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri.559.3 milyar. Dalam APBN 1984/1985.1 milyar. lain-lain pengeluaran rutin dianggarkan sebesar Rp1. giro pos dan bebas porto sebesar Rp 30. yaitu untuk pembayaran tagihan jasa umum seperti bunga atas uang muka Bank Indonesia kepada Pemerintah. di samping juga.177.1 milyar. dan meningkat lagi menjadi sebesar Rp 2. yang berarti lebih rendah hila dibandingkan dengan anggaran tahun sebelumnya. dan gula dalam rangka kebijaksanaan stabilisasi harga pangan di dalam negeri. untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang direncanakan sebesar Rp 2. yang terdiri dari pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri sebesar Rp 3.

Pada APBN 1984/1985.8 1978{1979 2.6 101.40 29. tabungan Pemerintah direncanakan dapat dihimpun sebesar Rp6.903. sehingga dapat diperoieh selisih yang lebih besar antara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin untuk menambah besar tabungan Pemerintah.1985/1986 Dibiayai oleh Anggaran (milyar Tabungan Bantuan Tahun anggaran Pemerintah luar negeri (%) (%) PELITA I: 1969/1970 118.112.677. Usaha-usaha untuk meningkatkan dana pembangunan melalui tabungan Pemerintah terus dilakukan setiap tahunnya dengan jalan meningkatkan penerimaan negara.00 808 5.4 1983{1984 9.9 93.5 PELITA II : 1974{1975 969.9 1973/1974 458. 1969/1970 .060.9 152.10 65.920.2 171. Tabel II.5 73.276.3 8.635.6 9.048.362.8 73.3 135.9 23.0 mitral.944.0 5.6 11 0. menjadi Rp 1.9 milyar.2 35.8 27.1 1971{1972 214.90 64.8 189.399.3.6 Departemen Keuangan RI 51 .00 75.020.159.9 68.4 milyar pada akhir Pelita II.8 39.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. maupun dengan mencari sumber-sumber penerimaan yang baru.2 22.3 40.020.30 60.2 1972{1973 310.8 25.4 39.1 23.30 6. Perkembangan realisasi tabungan Pemerintah dapat diikuti pada Tabel II.278.3 3.8 31.3 55.8 42.016.90 598.278.4 36.4 1980{1981 5.9 milyar pada akhir Pelita III.6 34.60 4.386.522.2 1985{19863) 10.4 230. tabungan Pemerintah diharapkan dapat dihimpun sebesar Rp 6.00 62 38 1977{1978 2.2 56.9 110.4.1 68 18.90 59.3 1.459.1 1976{1977 2.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tab el II.13 Tab e I II. baik melalui peningkatan sumber-sumber penerimaan yang sudah ada.80 74.1 50.6 26.00 1.Tabungan Pemerintah Sesuai dengan kebijaksanaan anggaran berimbang yang dinamis.5 254.30 57.4 78. dan menjadi Rp 6.9 6.3 66.235.00 + 1.90 27.3 49.9 35. Selanjutnya dalam tahun anggaran 1985/1986.522.557.12.13 PERBANDINGAN TABUNGAN PEMERINTAH DAN BANTUAN LUAR NEGERI TERHADAP ANGGARAN PEMBANGUNAN 1969/1970 .5 40.5 44.4 24.2 PELITA IV : 1984{19852) 10.2 23 77 1970{1971 176.00 59 41 I) Termasuk saldo anggaran lebih 2) APBN 3) RAPBN Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 PELITA III : 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 PELITA IV: 1984{1985 1) 1985{1986 2) I) Angka APBN 2) Angka RAPBN Jumlah Kenaikan Jumlah Persentase 107.8 63. Usaha tersebut harus diikuti pula dengan tindakan penghematan dalam pengeluaran rutin.9 milyar dan pengeluaran rutin sebesar Rp 12.50 1. tabungan Pemerintah sebagai unsur utama dalam dana pembangunan tetap memegang peranan yang sangat penting dalam Pelita IV.9 1975/1976 1.2 1981{1982 6.6 909.00 73.422.5 PELITA III : 1979{1980 4.90 64. 792. Perkembangan realisasi tabungan Pemerintah selama ini menunjukkan peningkatanpeningkatan.00 187 6.5 3.647.400. yaitu dari Rp 27.3 mitral.427. yang merupakan selisih antara penerimaan dalam negeri sebesar Rp l8.2 milyar pada awal Pelita I.4 737.6 76.6 1982{1983 7.9 483.9 2.20 1. 12 TABUNGAN PEMERINTAH.7 366.048.

Pengeluaran pembangunan Dalam perjalanannya menuju suatu masyarakat arlit makmur melalui pembangunan nasional. Ditinjau secara sektoral.1 persen dan 12. yang terdiri dari pembiayaan rupiah sebesar Rp 23.2 milyar.. juga merupakan usaha untuk tercapainya keserasian laju pertumbuhan antar daerah menuju kepada pemerataan pembangunan. maka jumlah pengeluaran pembangunan sebesar Rp 34. terutama di sektor pertambangan dan energi.3. Di lain pihak pelaksanaan pembangunan regional dalam berbagai bentuk program Inpres dan bantuan pembangunan melalui Ipeda. sehingga tercapailah keadaan yang mantap untuk melanjutkan pembangunan dalam Repelita IV sebagai pelaksanaan tahap keempat dari Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang. pembagian pendapatan yang makin merata.2 milyar selama Pelita III telah menghasilkan berbagai macam program pembangunan yang ditujukan kepada usaha peningkatan kesejahteraan rakyat.129.0 milyar. penyebaran serta pemerataan pembangunan itu diselaraskan dengan pembangunan regional. Pelita III yang telah herakhir pada tahun 1983/1984 telah memberikan hasil-hasil yang positif. sektor perhubungan dan pariwisata serta sektor pertanian dan pengairan.2 persen dari yang direncanakan dalam Repelita III. bangsa Indonesia telah berhasil menyelesaikan serangkaian program pembangunan yang dituangkan dalam tiga Repelita yaitu Repelita I.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. Rp 4.175. Bila dibandingkan dengan anggaran yang direncanakan dalam Repelita III.8 milyar. Pengeluaran pembangunan lainnya yang Departemen Keuangan RI 52 .235.3. 13.2 milyar tersebut menunjukkan kenaikan sebesar Rp 12.202. dan bantuan proyek sebesar Rp 10. Dalam pelaksanaannya. pengeluaran pembangunan selama Pelita III digunakan antara lain untuk membiayai program-program pembangunan bidang ekonomi.457. dana yang telah dibelanjakan untuk pembiayaan pembangunan mencapai jumlah sebesar Rp 34.129. baik melalui pembangunan sektaral yang dilaksanakan oleh departemen/ lembaga maupun melalui pembangunan regional dalam berbagai bentuk program Inpres dan bantuan pembangunan melalui Ipeda. dan perluasan kesempatan kerja.9 milyar.2 persen. SelaI1)a Pelita III.279. Pembiayaan pembangunan sebesar Rp 34.5.4 persen dari seluruh jumlah pengeluaran pembangunan dalam Pelita III.926. milyar.2 milyar.0 milyar dan Rp 4. sehingga pembangunan sektaral yang berlangsung di daerah benar-benar sesuai dengan potensi dan permasalahan masing-masing daerah. Hal ini berarti bahwa tiap sektor pembangunan tersebut telah menyerap dana masing-masing sebesar 15. atau 56. II dan III.129. dengan jumlah pengeluaran masing-masing sebesar Rp 5. berbagai kebijaksanaan dan program pembangunan sektaral yang didasarkan kepada unsur prioritas.

peranan pendidikan dalam pembangunan.9 persen. Di samping itu juga te1ah diarahkan agar dapat menunjang pembangunan industri pertanian. sehingga penerimaan negara dari produksi ekspor pertambangan dapat bertambah. atau masingmasing telah menyerap dana sebesar 9. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.3 persen dari seluruh jumlah pengeluaran pembangunan selama Pelita III. sehingga dapat memperlancar arus barang/jasa dan manusia ke seluruh daerah. serta ditingkatkap eksplorasi dan exploitasi kekayaan alam berupa sumber mineral dan energi.5 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menyerap dana cukup besar dalam Pelita III adalah sektor pendidikan. desa. Melalui pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata ini pula telah ditingkatkan. di samping untuk memperkenalkan kebudayaan bangsa. merupakan kelanjutan dalam rangka meningkatkan produksi pangan yang diarahkan untuk memperbaiki tingkat hidup petani.397. Dengan demikian keenam sektor pembangunan bidang ekonomi yang sebagian besar dananya dikelola departemen/lembaga itu telah menyerap dana sebesar Rp 21. perluasan lapangan kerja. dengan alokasi dana masingmasing sebesar Rp 3. yang berarti pula makin memperkokoh ketahanan nasional. Sesuai dengan arab dan kebijaksanaan Pelita III.797.3 persen dari seluruh /pengeluaran pembangunan selama Pelita III. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Pelita III diarahkan kepada usaha-usaha peningkatan kecerdasan bangsa.0 milyar atau 64. dan menjamin penyediaan panganuntuk masyarakat pada tingkat harga yang layak.1 milyar. kesempatan belajar yang dikaitkan dengan aspek pemerataan. serta dapat meningkatkan ekspor non migas. dan kota. Rp 2. terutama daerah pedesaan dan daerah terpencil. serta dalam kota. terutama dalam pertambangan rakyat. Pembiayaan pembangunan sektor pendidikan. Melalui pembangunan sektor pertambangan dan energi. Dalam kegiatan ini pula peranserta swasta nasional lebih ditingkatkan. generasi muda. Selanjutnya melalui pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata.5 persen dan 5. telah dilaksanakan inventarisasi dan pemetaan. serta mempersiapkan Departemen Keuangan RI 53 . generasi muda. Kegiatan-kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. dan diperluas kepariwisataan dalam rangka meningkatkan penerimaan devisa. serta sektor tenaga kerja dan transmigrasi. Rangkaian kebijaksanaan pokok yang telah dirumuskan dalam Repelita III adalah dalam rangka tercapainya tujuan pembangunan di bidang pendidikan dan pengembangan generasi muda.894. sektor pembangunan daerah. memperluas kesempatan kerja. 8.2 milyar dan Rp 1. Pemhangunan sektor pertanian dan pengairan yang telah dilaksanakan selama Pelita III.956.pembangunan bidang ekonomi tersebut ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan yang makin merata bagi seluruh rakyat. pembangunan prasarana angkutan dan perhubungan lebih ditingkatkan. dan dengan demikian merangsang dan menunjang pencapaian sasaransasaran pembangunan. penggunaan dana di keenam sektor .

pengeluaran pembangunan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 10. yang merupakan pelaksanaan tahun kedua Pelita IV. keserasian antara pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Bila dibandingkan dengan APBN 1984/1985. Sementara itu makin meningkatnya program-program pembangunan yang akan dijalankan hams diimbangi pula dengan pengerahan dana pembangunan yang lebih besar. Untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Peranan pembangunan daerah dalam Pelita III semakin bertambah besar karena dalam melanjutkan pelaksanaan Trilogi Pembangunan. tekanan lebih diberikan kepada usaha pemerataan khususnya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah tanah air. Dengan memperhatikan hasil-hasil pembangunan yang dicapai selama Pelita III maka dalam RAPBN 1985/1986.349. Pembangunan regional dalam Pelita III yang dilaksanakan melalui sektor pembangunan daerah.8 milyar dan bantuan proyek sebesar Rp 4.0 milyar.8 milyar tersebut menunjukkan Departemen Keuangan RI 54 . yang merupakan reneana operasional tahunan daripada Repelita IV tetap berlandaskan pada Trilogi Pembangunan.297.647.2 milyar. Masalah-masalah yang menonjol dalam sektor tenaga kerja dan transmigrasi selama Pelita III di bidang ketenagakerjaan adalah pertambahan penduduk yang tinggi sehingga menimbulkan kelebihan tenaga kerja. serta adanya kekurangseimbangan antara tenaga kerja terdidik dan tak terdidik. pertumbuhan ekonomi serta stabilitas nasional akan tetap menjadi pertimbangan pokok. pembiayaan rupiah sebesar Rp 6. kekurangseimbangan dalam susunan unsur tenaga kerja dan penyebaran tenaga kerja.349. dan terpadu. kecerdasan dan kesejahteraan yang makin merata dan adil bagi seluruh rakyat dapat tereapai. Seperti halnya dengan Repelita-repelita sebelumnya. di samping juga belum tersedianya posar tenaga kerja yang menyalurkan tenaga kerja secara efektif dan efisien. Dengan berlandaskan pada arah dan sasaran serta berpedoman kepada kebijaksanaan yang telah ditetapkan. yang terdiri dari pembiayaan rupiah sebesar Rp 6. dan pada gilirannya dapat merupakan landasan yang kuat untuk tahap pembangunan berikutnya. sehingga dengan demikian dapat meningkatkan pemerataan pembagian pendapatan. Dengan demikian di dalam pengerahan dan penggunaan dana tersebut. selama Pelita III telah ditempuh berbagai langkah dan kebijaksanaan di bidang tenaga kerja yang bersifat menyeluruh.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 generasi muda sebagai penerus perjuangan dan pembangunan nasional. desa dan kota merupakan kelanjutan kegiatan yang telah dilaksanakan dalam Pelita II. arah dan kebijaksanaan pembangunan yang ditempuh selama Pelita III terus dilanjutkan dan ditingkatkan agar peningkatan tarat hidup. dengan sasaran perluasan serta pemerataan kesempatan kerja produktif dan numeratif. pengerahan dan penggunaan dana pembangunan dalam RAPBN 1985/1986.

sena pada sektor-sektor lain yang menunjang tereapainya sasaran pertumbuhan dan keseimbangan struktur perekonomian.486.9 85 56.6 38.280.3 persen lebih besar. kebudayaan.14 PENGELUARAN PEMBANGUNAN.8 1972/1973 235.087.8 1978/1979 1.697.031.80 262 4. Di samping itu diarahkan pula kepada proyek-proyek yang dapat meningkatkan laju pertumbuhan terutama sektor pertanian dalam rangka swasembada pangan.276.788.1 35.9 22.70 597 11 REPELITA IV 1984/1985 2) 6.8 100.60 72 1980/1981 4.568.434.8 17.4 1975/1976 926.3 1977/1978 1.9 1976/1977 1.80 56.40 1.5 3 1983/1984 6.1 0. sosial.419.70 158.8 17.9 1971/1972 150.5 PELITA III : 1979/1980 2.90 354.3 1) Di luar bantuan proyek 2) Angka APBN 3) Angka RAPBN Penggunaan anggaran pembangunan yang direncanakan sebesar Rp 10.9 429.647.14 Tabel II.1 10.3 10. Perkembangan pengeluaran pembangunan di luar bantuan proyek sejak pelaksanaan Repelita I hingga sekarang dapat diikuti pada Tabel II.9 1970/1971 128.9 1985/19863) 6.9 42.0 milyar alan 4.90 1.20 789. Pengarahan pengeluaran pembangunan kepada proyek-proyek yang diprioritaskan untuk pertumbuhan dan pemerataan tersebut pada gilirannya akan menunjang tereapainya sasaran kestabilan perekonomian. dengan tujuan lebih meningkatkan peranserta Departemen Keuangan RI 55 . Dalam reneana anggaran pembangunan tersebut telah termasuk pula peningkatan bantuan pembangunan daerah.349.0 milyar tersebut akan lebih dipertajam prioritasnya dalam Repelita IV.129.4 20.6 1982/1983 5. politik maupun penahanan dan keamanan. 1969/1970 -1985/1986 1) ( dalam milyar rupiah) Kenaikan Jumlah Persentase Tahun anggaran Jumlah PELITA I: 1969/1970 92.8 PELITA II 1974/1975 765.30 149.3 1973/1974 336.50 66.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp262. yaitu diarahkan kepada proyekproyek yang secara langsung alan tidak langsung meningkatkan pemerataan kegiatan pembangunan baik dalam bidang ekonomi.20 138.3 100.2 37.1 127. sektor industri yang menghasilkan mesin-mesin industri sendiri.3 1981/1982 5.

Dengan demikian keenam sektor pembangunan yang telah disebutkan masing-masing mendapat alokasi sebesar 14.4 milyar. Dengan demikian sektor pertanian akan makin kuat guna mendorong perkembangan industri dalam rangka mencapai keseimbangan ekonomi. Pembangunan sektor pertanian dan pengairan dalam tahun 1985/1986 merupakan kegiatan yang diarahkan kepada usaha untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan.2 persen.4 persen. berbagai tingkat dan jenis pendidikan ketrampilan serta latihan kejuruan yang dapat menciptakan kegiatan kerja. serta pembangunan pos dan telekomunikasi. 13. dan udara. keselamatan pelayaran dan penerbangan Departemen Keuangan RI 56 . 13. meningkatkan pendapatan petani. Berdasarkan pada kebijaksanaan yang telah digariskan. kebutuhan in du stri dalam negeri serta meningkatkan ekspor. yang diberikan dalam rangka mempercepat penuntasan keikutsertaan anak usia sekolah pada pendidikan dasar.2 persen. Selebihnya dialokasikan kepada dua belas sektor pembangunan lainnya.425.4 persen.4 persen dari anggaran yang direncanakan dalam tahun 1985/1986. 8.510. serta meningkatkan perluasan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan menengah. serta meningkatkan kegiatan transmigrasi.4 milyar. dalam RAPBN 1985/ 1986 tetap mendapatkan perhatian sesuai dengan prioritas yang telah digariskan dalam GBHN. lebih diperluas dan ditingkatkan. anggaran pembangunan sebesar Rp 10. Selanjutnya untuk anggaran sektor pertambangan dan energi direncanakan sebesar Rp 1. dan sektor perhubungan dan pariwisata sebesar Rp 1.8 milyar. Pelaksanaan wajib belajar ini dituangkan dalam program Inpres sekolah dasar.430. sektor pembangunan daerah. Termasuk didalamnya usaha peningkatan dalam pengembangan jasa meteorologi dan geofisika untuk menunjang keselamatan masyarakat pada umumnya. Pembangunan sektor pendidikan.301. 12. desa dan kota sebesar Rp 868.2 persen dan 6. memperluas kesempatan kerja.0 milyar tersebut dialokasikan pada sektor pendidikan.8 milyar. kebudayaan nasional dan kepereayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebesar Rp 1. Untuk mendukung tercapainya perluasan kesempatan kerja yang merupakan kebutuhan yang makin mendesak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 masyarakat dalam kegiatan pembangunan.7 milyar. generasi muda. terutama dititik beratkan pada peningkatan mutu dan perluasan pendidikan dasar dalam rangka mewujudkan dan memantapkan pelaksanaan wajib belajar. mendorong pemerataan kesempatan berusaha. sektor pertanian dan pengairan sebesat Rp 1. mendukung pembangunan daerah. pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata yang meliputi perhubungan darat. generasi muda.2 milyar dan sektor tenaga kerja dan transmigrasi sebesar Rp 676. lalit.647. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

2 milyar. Diberikannya berbagai program bantuan pembangunan kepada daerah selama ini. akan dilanjutkan dan diperluas. terutama sektor minyak bumi dan gas alam yang merupakan sumber penerimaan negara yang terbesar selama ini. sehingga produksi dan ekspor pertambangan serta penerimaan negara akan dapat meningkat pula. Perincian pengeluaran pembangunan secara sektoral dalam RAPBN 1985/1986 adalah sebagai berikut : Departemen Keuangan RI 57 . Oleh sebab itu kegiatan pembangunan sektor pertambangan yang meliputi inventarisasi dan pemetaan. Demikian pula dengan pembangunan tenaga listrik yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat kota dan desa. pembinaan dan pengembangan lingkungan pemukiman pedesaan dan perkotaan yang sehat. Kegiatan pembangunan dalam sektor pembangunan daerah. bantuan pembangunan yang diberikan kepada daerah berupa program-program Inpres dan bantuan pembangunan lainnya makin ditingkatkan dan disempurnakan. serta peningkatan mutu dan kelancaran pelayanan. eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam berupa sumber mineral dan energi dalam tahun 1985/1986 terus ditingkatkan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna. yang tersebar dalam delapan belas sektor pembangunan. antara lain berupa peningkatan kegiatan promosi dan pendidikan kepariwisataan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada khususnya. desa dan kota tetap diarahkan kepada perluasan kesempatan kerja. serta peningkatan kemampuan penduduk untuk memanfaatkan sumber-sumber kekayaan alam. Di sektor pertambangan dan energi. direncanakan untuk membiayai berbagai macam proyek prasarana serta sektor-sektor produktif dan bermanfaat. Selanjutnya bantuan proyek yang dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp4. serta untuk kepentingan pembangunan di berbagai sektor. serta mendorong kegiatan ekonomi khususnya industri. Demikian juga pembangunan pariwisata terus ditingkatkan melalui kebijaksanaan terpadu. Untuk terlaksananya sasaran ini. terus dilanjutkan dan ditingkatkan.297. telah memberikan kesempatan kepada daerah untuk merencanakan dan )11elaksanakan pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masing-masing daerah. usaha-usaha untuk meningkatkan produksi dan ekspor hasil pertambangan. penyediaan sarana dan prasarana.

000 676.000 1.000 655.000 238.000 2.350.092.000 900.788.430.971. DESA DAN KOTA Sub Sektor Pembangunan Daerah.000 102.301.000 1.000 868. SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi 6. SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri 3.000 Departemen Keuangan RI 58 . GENERASI MUDA.000 868.975.913.095.531. SEKTOR PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor Perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata 5.739.000 655.595.000 1. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa 1.000 621. SEKTOR PEMBANGUNAN DAERAH.000 68.365.000 98.000 274.000 529.679. SEKTOR PERTANIAN DAN PENGAIRAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan 1.000 9.818.219.830.141.580. Desa dan Kota 8.704. SEKTOR PENDIDIKAN.025. SEKTOR PERT AMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Sub Sektor Energi 4.510.425.595.000 71.363.219.000 28.000 60. SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi 7.000 275.392.361.257.141.628.000 128.000 47.000 63.126.846.012. SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama 1.658.000 190.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ( dalam ribuan rupiah) 1.000 63.000 578.

687.000 133.000 Pengeluaran pembangunan yang dibiayai dengan rupiah diperinci atas tiga bagian besar.641.189.641.962.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 10.687.000.000 437.647.000 74. PERS DAN KOMUNlKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.720.000 229. SEKTOR ILMU PENGETAHUAN.000 80. bantuan pembangunan bagi daerah. sedangkan Departemen Keuangan RI 59 .938.441. dan lain-lain pengeluaran pembangunan. TEKNOLOGI DAN PENELITIAN Sub Sektor Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sub Sektor Penelitian 16.000 67.555.000 259.000 12.000 58.000 176.092.000 259. KESEJAHTERAAN SOSIAL.000 714.308.000 714. SEKTOR KESEHATAN. Pers dan Komunikasi Sosial 15. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA 413. SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional 14.000 80.000 Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kependudukan dan Keluarga Berencana 11. SEKTOR PERUMAHAN RAKY AT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman 437.000 100. SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah 17. PERANAN W ANITA. SEKTOR PENERANGAN. SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum 13.000 207. SEKTOR SUMBER ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Sub Sektor Sumber Alam dan Lingkungan Hidup JUMLAH 10.064.147.720. SEKTOR PENGEMBANGAN DUNIA USAHA Sub Sektor Pengembangan Dunia Usaha 18.064.000 229.147. Pengeluaran pembangunan melalui departemen/lembaga merupakan pembiayaan yang disediakan untuk pembangunan sektoral dan dikelola oleh departemen/lembaga.000 176.362.441.000 254.000 67.383.189. yaitu pengeluaran pembangunan departemen/lembaga termasuk di dalamnya departemen Hankam.

serta proyek peningkatan dan pembangunan jalan yang dapat membuka daerah terisolasi sehingga dapat mengembangkan perekonomian daerah dan memperluas kesempatan berusaha.5 milyar dan Rp 87.437 buah. Sementara itu bantuan pembangunan kabupaten yang besarnya didasarkan atas jumlah penduduk.8 milyar untuk 67. sedang dalam RAPBN 1985/1986 bantuan terse but ditingkatkan menjadi Rp 98. bantuan yang diberikan baru mencapai jumlah sebesar Rp 5. bantuan pembangunan kabupaten. Dengan makin bertambahnya jumlah penduduk dan kemampuan keuangan negara. dan pada akhir Pelita III meningkat lagi menjadi Rp 91. Dalam tahun 1970/1971. serta meningkatkan partisiposi penduduk dalam pembangunan.9 milyar alas dasar perhitungan Departemen Keuangan RI 60 .6 milyar. pada awal Pelita I baru diberikan kepada 44. programprogram Inpres yang terdiri dari bantuan pemb:mgunan desa. dan pemeliharaan prasarana pedesaan. bantuan pembangunan Dati I. Bantuan pembangunan desa.350 ribu tiap desa.478 desa dengan jumlah bantuan sebesar Rp 2. Di samping itu dapat juga dipergunakan untuk membiayai proyekproyek yang bersifat meningkatkan ketrampilan penduduk pedesaan. kemudian menjadi Rp 42. bantuan pembangunan/pemugaran posar. Pada akhir Pelita II telah meningkat menjadi Rp 24. berhubung dengan bertambahnya jumlah bantuan menjadi Rp 1. menunjukkan hasil-hasil yang nyata. Dalam RAPBN 1985/1986 yang merupakan tahun kedua Pelita IV bantuan yang diberikan direncanakan sebesar Rp 215. dan bantuan pembangunan prasarana jalan. bantuan pembangunan sekolah dasar. Dalam perkembangannya. Oleh sebab itu selain bantuan berupa uang.645 buah.448 desa. bantuan Ipeda dan bantuan pembangunan Timor Timur.1 milyar masing-masing pada awal Pelita II dan Pelita III.6 milyar.6 milyar dengan jumlah desa sebanyak 66. bantuan pembangunan sarana kesehatan. dalam rangka memanfaatkan dan memelihara sumber alam.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengeluaran pembangunan berupa bantuan pembangunan bagi daerah merupakan bantuan yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan potensi dan prioritas daerah masing-masing dalam bentuk program Inpres. bantuan yang diberikan terus meningkat pula setiap tahunnya. kepada seBap kabupaten diberikan juga bantuan peralatan berupa satu buah mesin gilas jalan. Adapun proyek-proyek yang dapat dibiayai oleh dana bantuan pembangunan kabupaten meliputi proyek/kegiatan yang bersifat pemeliharaan jalan dan jembatan yang sudah ada. yang diberikan untuk mendorong dan mengarahkan usahausaha swadaya gotongroyong masyarakat dalam membangun desanya. dimaksudkan untuk menciptakan dan memperluas lapangan kerja. Dalam APBN 1984/1985. bantuan penghijauan/rebuisasi.6 milyar.0 milyar dengan jumlah desa sebanyak 60. jumlah bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 92.

bantuan pembangunan Dati I dalam RAPBN 198511986lebih ditingkatkan penggunaannya.8 milyar pada awal Pelita III.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 1. Dalam tahun 1982/1983. serta madrasah ibtidaiyah. penyediaan buku-buku pelajaran dan buku bacaan. Program Inpres Dati I ini terdiri dari bantuan yang ditetapkan penggunaannya. Selanjutnya ditingkatkan dengan pembangunan penambahan ruang kelas baru. yaitu ditambah dengan penyediaan paket peralatan olah raga untuk sekolah dasar negeri dan swasta. penyediaan bukubuku pelajaran. Adapun bantuan pembangunan sekolah dasar yang bertujuan untuk memperluas kesempatan belajar. yang merupakan permulaan Pelita IV. dan pemukiman baru.0 milyar dengan bantuan minimum untuk liar propinsi sebesar Rp 9.0 juta untuk kabupaten.0 milyar. bantuan pembangunan sekolah dasar lebih ditingkatkan lagi. terutama bagi anak-anak usia sekolah pada pendidikan dasar yang berada di pedesaan. perbaikan gedung-gedung sekolah yang sudah ada. Sedangkan bantuan yang diarahkan. perbaikan dan peningkatan irigasi.. Bantuan yang ditetapkan digunakan untuk membiayai perbaikan jalan dan jembatan. dan ditingkatkan lagi menjadi Rp 155. Dalam APBN 1984/1985. Jumlah tersebut meliputi antara lain pembangunan gedung sekolah baru.7 milyar pada awal Pelita II. pembangunan rumah guru dan kepala sekolah di daerah terpencil. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 253.2 milyar. dan untuk meningkatkan keserasian laju pertumbuhan antar daerah serta meningkatkan peranserta daerah dalam pembangunan. serta penyediaan alat-alat olah raga dalam Departemen Keuangan RI 61 .0 milyar. meratakan hasil-hasil pembangunan. dalam tahun 1985/1986 lebih ditingkatkan lagi.250. kemudian ditingkatkan menjadi Rp 19. Pada mulanya bantuan pembangunan sekolah dasar ini diberikan untuk pembangunan dan rehabilitasi gedung-gedung sekolah dasar. dan dalam RAPBN 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 617. serta biaya eksploitasi dan pemeliharaan pengairan. daerah terpencil. daerah transmigrasi.bantuan per jiwa dan bantuan minimum yang diberikan adalah sebesar Rp 170. Dalam APBN 1984/1985.0 milyar. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 280.8 milyar. dan bantuan maksimum Rp 12. dan diarahkan penggunaannya. serta buku bacaan bagi anak-anak sekolah dasar saja.0 milyar dengan bantuan minimum sebesar Rp 10. dan kemudian diperluas lagi pada tahun berikutnya dengan pembangunan rumah bagi kepala sekolah dan guru yang bertugas di daerah terpenci1. digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek yang meningkatkan taraf hidup rakyat serta untuk mengembangkan daerah-daerah minus di daerah kritis. Dalam rangka meningkatkan keselarasan pembangunan sektoral dan regional. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 580.0 milyar. Adapun jumlah bantuan yang telah diberikan dalam tahun 1973/1974 adalah sebesar Rp 17.

sasaran peningkatan pelayanan kesehatan dan perbaikan gizi dalam Pelita IV tetap diutamakan kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Untuk tahun 1985/1986 anggaran yang direncanakan untuk program Inpres ini adalah sebesar Rp 11. Sehubungan dengan itu anggaran bagi bantuan penghijauan dan reboisasi.1 milyar untuk memperbaikijalan sepanjang 7. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi Dati II dalam rangka pembangunan daerah.500 km dan jembatan sebanyak 19. Sebagaimana halnya dalam Pelita III.2 milyar. Pada awal pelaksanaannya tahun 1976/1977. Untuk keperluan itu dalam tahun 1985/ 1986 bantuan pembangunan yang diberikan melalui Inpres Sarana Kesehatan lebih ditingkatkan lagi jumlahnya. Kegiatan penghijauan meliputi penanaman tanaman tahunan. menghubungkan daerah produksi hasil pertanian dengan daerah pemasarannya.050 buah. dalam pelaksanaannya banyak melibatkan aparatur Pemerintah desa serta berbagai lembaga yang ada di desa. Dengan diberikannya bantuan penunjangan jalan kabupaten sejak 1979/1980. tanah hutan. Oleh sebab itu dalam tahun 1985/1986 bantuan yang direncanakan untuk program bantuan penunjangan jalan Departemen Keuangan RI 62 . melalui bantuan pembangunan dan pemugaran posar diberikan kesempatan kepada Pemerintah daerah untuk menyediakan tempat berjualan/posar dengan sewa semurah mungkin.7 milyar. Kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup tetap mendapat perhatian yang besar dalam Repelita IV. lebih ditingkatkan lagi.5 milyar. pembuatan bangunan pencegah erosi. selama Pelita III telah berhasil diperbaiki jalan sepanjang 33. baik di desa maupun di kota.8 milyar.6 milyar.3 milyar. pembuatan hutan rakyat. khususnya dalam membuka daerah yang masih terisolasi. anggaran yang diberikan untuk program Inpres ini baru sebesar Rp 16.021 km dan jembatan sebanyak 62. Sedangkan dalam APBN 1984/ 1985 disediakan bantuan sebesar Rp 80. dan pernmahan untuk dokter dan paramedis. Dalam tahun 1984/ 1985 disediakan anggaran sebesar Rp 39. Untuk membantu para pedagang kecil golongan ekonomi lemah.383 buah dengan jumlah biaya sebesar Rp 200. yang sebagian besar berpenghasilan rendah. percontohan pertanian terpadu.0 milyar. puskesmas pembantu. yang bertujuan untuk menyelamatkan kelestarian sumber-sumber alam. Bila dalam APBN 1984/1985 jumlah bantuan yang diberikan sebesar Rp 98. Dalam tahun 1978/1979.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bentuk paket. dan air. sedangkan dalam APBN 1984/1985 disediakan sebesar Rp 10. bantuan yang diberikan baru sebesar Rp 1. dan dalam tahun 1985/1986 anggaran untuk program Inpres ini direncanakan sebesar Rp 42.5 milyar yang direncanakan dipergunakan antara lain untuk pembangunan puskesmas baru. puskesmas keliling.4 milyar maka dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp 114.

Dalam APBN 1984/1985. diantaranya sektor pertanian. perhubungan. Pembangunan melalui sektor pengembangan dunia usaha dilakukan Pemerintah me1alui penyertaan modal Pemerintah pada perusahaanperusahaan negara yang bergerak di berbagai sektor. penyertaan modal Pemerintah sebesar Rp 255. kesehatan. pertambangan. yang direncanakan antara lain untuk pembiayaan proyek-proyek pabrik pupuk. industri. tambang batu bara.6 milyar. Bantuan yang diberikan dalam rangka memberi kesempatan kepada propinsi termuda ini agar dapat sejajar dengan tingkat kemajuan daerah-daerah lainnya di Indonesia.8 milyar.6 milyar dalam RAPBN 1985/1986. dan perkreditan. maka dalam tahun 1985/1986 direncanakan untuk ditingkatkan menjadi Rp 557. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 disediakan bantuan sebesar Rp 8. kemudian Rp 4.5 milyar.8 milyar.062. dan sektor pemerintahan.0 milyar. dan pembiayaan lain-lain pembangunan sebesar Rp 248. program pengembangan statistik/sensus. Pembiayaan pembangunan lainnya dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp1. dan se1ama Pelita III telah diberikan bantuan sebesar Rp 30. Program-program pembangunan tersebut diantaranya adalah program pembinaan keluarga berencana. Selanjutnya penge1uaran pembangunan lainnya yang dianggarkan sebesar Rp 248. Bantuan pembangunan kepada daerah Timor Timur diberikan sejak tahun 1977/1978. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp 255. Dalam tahun 1977/1978. harga pupuk akan dapat disesuaikan dengan clara beli rakyat dan petani kecil. dan proyekproyek perkebunan tanaman komoditi ekspor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ditingkatkan menjadi Rp 87.6 milyar.5 milyar. digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan. Rencana penge1uaran pembangunan dalam tahun 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. sehingga mereka dapat membe1i pupuk sesuai dengan yang diperlukan.15 dan Tabel Departemen Keuangan RI 63 . yang terdiri dari pembiayaan subsidi pupuk sebesar Rp 557.7 milyar.5 milyar dalam tahun 1978/1979. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 3. ditujukan kepada program pembangunan yang menyangkut kepentingan masyarakat umum yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan negara.5 milyar.7 milyar. bantuan pembangunan untuk daerah Timor Timur adalah sebesar Rp 8. dan lembaga Pemerintah lainnya.6 milyar. Pemberian subsidi pupuk oleh Pemerintah pada hakekatnya bertujuan untuk mendukung program swasembada pangallo Dengan diberikannya subsidi ini.8 milyar.6 milyar. Dalam APBN 1984/1985 anggaran yang disediakan adalah sebesar Rp 359. dan pengembangan program perumahan rakyat. Realisasi pengeluaran pembangunan bagi penyertaan modal Pemerintah disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara setiap tahunnya. Bila dalam APBN 1984/1985 anggaran untuk subsidi pupuk disediakan sebesar Rp 458. terutama pada sektor pendidikan.

4 731.90 11. Penerrmaan minyak bumi dan gas alam II. Bea masuk dan cukai 4.2 1.349. Lain-lain belanja pegawai dalam negeri 5. Bantuan pembangunan kabupaten 3. Penerimaan bukan pajak 1.046.6 248. Luar negeri V. DALAM NEGERI I.00 Tabel II. Gaji/pensiun 3.5 8.50 10.80 78.647.00 241.40 101.643. 15 RENCANA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA.8 201.046.647.30 1985/1986 RAPBN 3. Bantuan penghijauan 8. Bantuan pembangunan Dati I 4.516. Bantuan pembangunan desa 2.6 4.6 89.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 II.451.00 1. Timor Timur 10.459.8 98. PEMBANGUNAN I.349.40 3.30 482.061.8 80.10 70.062.90 1. Tabel II. 1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Penerimaan A.80 313. Bantuan Proyek Jumlah 4. 1985/1986 (dalam milyar rupiah) Jenis Pengeluaran 1984/1985 APBN 3.10 395. Pajak penghasilan 2. PEN.680. Bantuan proyek Jumlah Departemen Keuangan RI 64 . Dalam negeri 2.00 I. Pembiayaan lain-lain 1.10 602.6 243 4. Dalam negeri 2.518.00 3. 16 RENCANA ANGGARAN PEMBANGUNAN.4 3. Pajak lainnya 7. PEN. Pembiayaan dalam rupiah II.00 6.50 92. Pelayanan kesehatan/Puskesmas 6. RUTIN I.5 3.129.80 380.9 B. Pembiayaan Departemen/Lembaga 1. Departemen Hankam II. Penyertaan modal pemerintah 3.PENG.249.8 167.3 116.00 1. Bantuan proyek Jumlah Jumlah 12.7 359.20 Pengeluaran A. Luar negeri III. Subsidi pupuk 2. Bantuan program II. Belanja pegawai 2.20 10. pembiayaan bagi daerah 1. PENG.4 96.20 23.666.117. Pajak ekspor 5.2 1.5 11.368. Lain-lain IV. Belanja baraag 1. I P e d a III. Pembangunan prasarana jalan 9.4 10.70 7. Bantuan pembangunan posar 7.16.9 4.9 253 580.40 2.7 167.00 4.3 10.8 255.590. Ipeda 6.1 1.399.159.5 150. Tunjangan beras 2. Belanja pegawai luar negeri II.5 42.00 557.677.30 45'8.115.20 23. Belanja non pegawai IV.371.1 2. Belanja pegawai 1. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam 18. Pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah 3.4 1.529.297.559.297.529. Pembangunan SD 5. Subsidi daerah otonom 1.510.644.6 215. PEMBANGUNAN I.80 4.1 8.10 30 3.50 98.6 39. Departemen/Lembaga 2. Biaya makan (lauk-pauk) 4.074. Lain-lain B. Bunga dan cicilan hutang 1.9 280 617 114.297.6 1.30 3.3 87.

Selanjutnya peningkatan pengawasan adalah juga menggerakkan seluruh aparatur pelaksana untuk secara aktif melaksanakan pengawasan terhadap bawahannya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. Dalam Pelita IV. Oleh karenanya perlu diciptakan dan ditingkatkan mutu sistem pengendalian manajemen dalam tiap aparatur Pemerintah. maupun berupa tindakan penyempumaan kelembagaan. atau dengan kala lain peningkatan pemasyarakatan pengawasan. serta disesuaikan dengan sasaran-sasaran pembangunan yang hendak dicapai. yang biasa disebut pengawasan atasan langsung. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1983 tentang Kedudukan. baik aparatur Pemerintah maupun masyarakat umum. Pelaksanaan pengawasan di bidang anggaran dilakukan dengan cara pemeriksaan secara Departemen Keuangan RI 65 . yaitu peningkatan pelaksanaan tindak lanjut. Peningkatan organisasi tersebut meliputi peningkatan kedudukan. peningkatan tatakerja keterampilan serta keahlian. juga merupakan salah satu aspek dari peningkatan pengawasan. Tugas pokok. yang berlaku sebagai landasan operasional pengawasan. dan ketatalaksanaan. Pengawasan pembangunan Fungsi pengawasan keuangan negara memegang peranan yang makin penting. baik organisasi maupun kegiatannya. Akibat dari peningkatan pengawasan atasan langsung maka timbul kebutuhan akan peningkatan media yang akan dipergunakan dalam pengawasan tersebut. II dan III. Untuk mewujudkan integrasi secara struktural di bidang pengawasan seperti dim aksu d. dan Inpres No. Langkah-langkah yang diambil dalam usaha peningkatan pengawasan serta peningkatan penggunaan hasil-hasil pengawasan oleh seluruh aparatur yang berwenang itu hams diikuti pula dengan usaha peningk::ttan pengertian dan kesadaran akan pengawasan dari seluruh masyarakat. kepegawaian._an terhadap para pelaku. sedangkan peningkatan kegiatan berarti perluasan ruang lingkup dan luasnya jangkauan pengawasan. Peningkatan penggunaan hasilhasil pengawasan oleh seluruh aparatur yang berwenang. terutama dengan makin meningkatnya volume anggaran yang dikelola sebagai konsekuensi dari makin meluasnya kegiatan pembangunan yang dilaksanakan selama Pelita I.6. telah diterbitkan Keputusan PresideD Nomor 31 tahun 1983 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). 15 tahun 1983 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan. penyesuaian besarnya organisasi dan personil.3. baik itu berupa tinda. Peningkatan pengawasan pertama-tama mempunyai arti peningkatan aparatur pengawasan. fungsi pengawasan makin ditingkatkan dan disempumakan lagi. serta Struktur Organisasi Menko Ekuin dan Pengawasan Pembangunan. Pada akhir tahun Pelita III telah ditempuh kebijaksanaan untuk melaksanaka_ sistim pengawasan terpadu secara struktural. Fungsi dan Tatakerja.

729 dijumpai karena sasaran pemeriksaan ada1ah Kas Opname s.173 501.011 718. ditemukan hal-hat mengenai ketertiban administrasi Departemen Keuangan RI 66 .d.445 632.214 122 126 566.514 48.51% 6.939 141. Pelita II.93% 3.jumlab kejadian 106 52 78 144 78 7.19% 41.beban sementara s.703 213.333 159.123 268 361 1. Hasil pemeriksaan tersebut menggambarkan kemajuan di dalam disiplin administrasi para pelaksana proyek. dalam rangka memperoleh gambaran mutakhir mengenai jumlah pegawai Pemerintah serta permasalahannya.054.214 I. 38.639 624.94% 260 66 224 251.015 362.beban tetap s.39% -90.956 2.3) 154.171 129.599 85.512 2.098 366 410 1. Nilai DIP yang diperiksa ( jutaan rupiah) 3.956 proyek.687. Mulai tahun terakhir Pelita III.246.5402) 1.08% 828 364 969.408 70.089 27. Jumlah Proyek Pelita Yang dipcriksa 2.178 proyek dan selanjutnya pada tahun keempat Pelita III bertambah lagi menjadi 5. dan pada tahun keempat Pelita III masing-masing adalah sebanyak 0. Berita acorn yang tidak benar (jutaan RP)I) 1.04 dan 0.940 3.. Dari hasil pemeriksaan belanja pegawai tersebut..015 60.26% -71.262 4. pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.038 . Realisasi pisik yang tak sesuai dengan DIP (jumlah kejadian) 129 201 88 354 215 8. yang meliputi laporan hasil pemeriksaan penerimaan.67% 39.jumlah s.782 44.14% 273 95 234 160. 18.142 86.276 16. Sedangkan jumlah kejadian realisasi fisik yang tidak sesuai dengan DIP pada akhir Pelita I. Adapun jumlah laporan pemeriksaan terhadap realisasi APBN/APBD selama tahun keempat Pelita III adalah sebanyak 11.789 207.100 2.. 20.011 97.03 persen dari nilai yang diperiksa.772.a 51. Fenerbitan SPMU oleh KPN: (Murni) (jutaan Rp) . 1969/1970 .37% 979 173 277 369. dan pemeriksaan secara serentak pada akhir tahun anggaran terhadap proyekproyek Pelita dan proyek-proyek pembangunan daerah.540 676.46% 40. pada akhir Pelita II telah mencakup 3..590 laporan.694 350.324 38.360 58.101 1.025 846.d. Penerbitan SPMU oleh KPN : (dalam pcrsentase) .677 110.18% -42.024 491..634 .54% 1. 47 % 75% 72 % 72% 68.238 57.784 146.. disiplin administrasi proyek-proyek Pelita secara keseiuruhan bertambah baik.151 68.beban tetap s.756 138..211 proyek..851 222.233 355.499 69.104 355. yang tercermin dari perkembangan jumlah berita acara yang tidak benar dan realisasi fisik yang tidak sesuai dengan DIP.88% -93.157 97.86% 30..14 persen dan 0.398 157 282 704.3) .17.21% -88.057 80.06% 31.9192) 4.475 87.63% 36.410 145.682 406.60% -80.295 616.361 246. telah dilakukan pemeriksaan serentak terhadap belanja pegawai daerah otonom dan pegawai pusat pada 27 propinsi. Sedangkan pemeriksaan serentak terhadap proyek-proyek Pelita.d.d.06% -81. Berita acara yang tidak benar pada periode tersebut masing-masing adalah 0.178 4.1982/1983 PEL1TA I PEL ITA II PEL ITA III 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 759 992 1.759 66. yang pada akhir tahun Pelita I baru mencapai 1.8172) 3.89% -80% -79.821 5.45% -88.33% data-data tak 58.81% 3.07% 41.647.497 97.3) .740 221.421 261.221 27. 0.578 59.10% -96.791 1.08 kejadian per proyek. 53% 25% 28% 28% 31.544 834. Nilai SlAP yang dipcriksa per 1 April tahun berikutnya (jutaan Rp) 12-375 23.473.620 30.567 1.672 5.065 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rutin.92% 2.773 1.151 248 111 108 306 368 .19.370 41.683 1) Daiam Pelita I terdiri atas pcnerbitan SPMU murni SlAP: dalam Pelita II khusus penerbitan SPMU murni saja 2) Jumlab anggaran yang diperiksa 3) Mulai tabun anggaran 1979/1980 DIP berfungsi sebagai SKO Dalam tahun 1983/1984.867 647.d.17 HASIL PEMERIKSAAN KHUSUS PROYEK.33% 1.bcban sementara s.912.211 -20.l67. 0.024 4.PROYEK PELlTA.814 857.. pemeriksaan serentak atas proyek-proyek Repelita tidak lagi dilaksanakan tiap tahun tetapi akan dilakukan sewaktu-waktu bilamana dianggap perlu.162 1. Tabel II.180.116.956 .74% -89.790 64.49% .140 304.103 507.060 58.326 226.20 persen. Nilai SKO yang diperiksa 4.d.783 2.404 63. Perkembangan hasil pemeriksaan khusus proyekproyek Pelita dapat diikuti pada Tabel II. Hal ini adalah karena berdasarkan hasil-hasil pengawasan sejak Pelita I sampai dengan akhir tahun keempat Pelita III.483 1.639 137.66% -90.

dan Kontrak Karya. Pada umumnya hasil pemeriksaaan terhadap kontraktor minyak asing tersebut menguntungkan Pemerintah karena terdapat koreksi-koreksi perhitungan biaya. Usaha-usaha Pertamina di dalam mencapai accountability dan auditability di bidang tata usaha keuangannya meliputi pula anak-anak perusahaan/joint venture Pertamina. diantaranya ialah pembayaran gaji pegawai fiktif. Hal ini menunjukkan bahwa administrasi pertanggungjawaban keuangan perusahaan semakin bertambah baik. dari selurnh BUMN yang diperiksa terdapat 79 perusahaan yang memperoleh pernyataan "menyetujui tanpa syarat". Selain itu dilakukan pula pemeriksaan terhadap para kontraktor minyak asing yang mengadakan kerja sama dengan Pertamina dalam bentuk Kontrak Bagi Hasil. yang meliputi pemeriksaan atas Persero. kesalahan perhitungan yang mengakibatkan pembayaran pensiunan lebih besar dari yang seharnsnya. pembayaran rangkap kepada pegawai berupa pembayaran dari dua instansi Pemerintah. Terhadap BUMN ini pada umumnya dilakukan pemeriksaan terhadap neraca dan perkiraan rugi laba. kelebihan pembayaran tunjangan keluarga. seperti Pertamina dan bank-bank milik negara. Pemeriksaan tersebut dilakukan terhadap selurnh kontraktor minyak asing yang telah berproduksi secara komersial. Departemen Keuangan RI 67 . kesalahan perhitungan yang mengakibatkan pembayaran gaji lebih besar dari seharnsnya. Perjan. pembayaran rangkap kepada pegawai berupa pembayaran dari perusahaan dan dari Pemerintah daerah. sedang dalam tahun terakhir Pelita III terdapat kenaikan jumlah pernsahaan yang mendapat pernyataan "menyetujui tanpa syarat menjadi 230 perusahaan. yang diakhiri dengan pernyataan akuntan yang dapat dipergunakan untuk menilai kemajuan dan ketertiban perianggungjawaban keuangan. Sehubungan dengan itu telah dilakukan penelitian atas pengetrapan prinsip-prinsip perhitungan biaya BBM yang telah ditetapkan. dan sebagainya. dan perusahaan-perusahaan negara yang didirikan dengan undang-undang tersendiri. Pemeriksaan secara rutin juga dilakukan terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN). yang mengakibatkan bertambahnya bagian Pemerintah berupa pajak dan minyak mentah. pembayaran gaji kepada pegawai yang belum/tidak berhak. Pengeluaran negara yang menyangkut subsidi BBM mengalami kenaikan karena meningkatnya biaya pokok BBM dan semakin naiknya permintaan masyarakat akan BBM. Pernyataan akuntan "menyetujui tanpa syarat" (yaitu pernyataan terhadap laporan keuangan BUMN jang disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi) dari tahun ke tahun terus meningkat jumlahnya. Pada akhir Pelita II. kelebihan pembayaran kepada pegawai yang tidak patuh kepada disiplin kepegawaian (meninggalkan tugas lebih dari 2 bulan tanpa alasan). Perum.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kepegawaian maupun hal-hal yang merugikan negara.

dari hasil pemeriksaan khusus ditemukan 47 kasus yang mengandung unsur tindak pidana.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sejak tahun 1979/1980 tahap pengawasan ditingkatkan dengan pemeriksaan operasional. program pengembangan daerah rawa. program perbaikan dan peningkatan irigasi. Pemeriksaan operasional ini dilaksanakan baik terhadap kegiatan/program yang dibiayai dengan dana-d.ana yang berasal dari APBN/APBD. Dalam triwulan I tahun 1984/1985. yang berarti adanya perluasan sasaran pemeriksaan. pemeriksaan operasional dilakukan antara lain terhadap perkreditan . Pemeriksaan operasional tersebut belum dapat menjangkau seluruh bidang kegiatan pemerintahan umum dan pembangunan. Dari hasil pemeriksaan khusus tersebut ditemukan 147 kasus yang diduga mengandung unsur tindak pidana. telah ditemukan beberapa bidang yang dipandang masih dapat ditingkatkan dayaguna dan hasilgunanya. dan 41 kasus yang menyangkut BUMN/BUMD. pemeliharaan jalan dan jembatan. program peningkatan produksi tanaman pangan program pembangunan jaringan irigasi baru. maupun terhadap badan-badan usaha negara. dan apakah hasil atau manfaat yang diinginkan dari suatu kegiatan/program telah diperoleh secara efektif. pemeriksaan operasional dilakukan terhadap penerimaan pajak/lpeda serta bea dan cukai. Selanjutnya terhadap program pembangunan daerah. Di bidang penerimaan negara. kepada para pejabat yang bertanggungjawab telah disarnpaikan saran-saran penyempumaan lebih lanjut. pemeriksaan operasional dilakukan terhadap program transmigrasi termasuk program pemukiman daerah transmigrasi. dan pengawasan terhadap kelancaran pelaksanaan pembangunan. Dari hasil pemeriksaan operasional tersebut. terdiri dari 43 kasus yang menyangkut APBN/ APBD. Kalau dalam Pelita I dan Pelita II pemeriksaan hanya ditujukan terntama kepada segi keuangan saja. maka pada Pelita III sasaran diperluas sampai kepada pemeriksaan untuk melihat apakah suatu kegiatan/program dilaksanakan dengan menggunakan dana yang tersedia secara efisien. Dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan pula pemeriksaan khusus terhadap kasuskasus penyimpangan. sekolah dasar. serta reboisasi dan penghijauan. penyaluran pupuk. sarana kesehatan. program pembangunan jalan dan jembatan. serta pos dan giro. Departemen Keuangan RI 68 . melainkan baru terbatas kepada sasaran-sasaran yang diprioritaskan. Sementara itu terhadap Badan Usaha Milik Negara. Selanjutnya sebanyak 28 kasus yang menyangkut APBN/ APBD. pemeriksaan operasional dilakukan antara lain terhadap proyek-proyek Inpres pembangunan kabupaten. terdiri dari 106 kasus yang menyangkut APBN/APBD. telekomunikasi. Sedangkan untuk program pembangunan. program rehabilitasi dan. dan sebanyak 8 kasus yang menyangkut BUMN/BUMD telah disampaikan kepada Kejaksaan Agung.

yang diselenggarakan pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara telah dihasilkan tenaga-tenaga pemeriksa. atau Pemerintah Daerah.190 orang akuntan. Semua kasus yang disampaikan kepada Kejaksaan Agung telah diteruskan pula kepada Kejaksaan Tinggi di masing-masing daerah. dalam arti bahwa pengawasan atasan bukan lagi merupakan pekerjaan terpisah dari fungsi pimpinan. Dari kasus yang menyangkut APBN/APBD.473 orang ajun akuntan. jumlah tenaga pemeriksa tersebut menunjukkan adanya kenaikan. dan Inspektorat Wilayah Kabupaten/ Kotarnadya berdasarkan data sementara adalah sebanyak 7. baik yang diselenggarakan oleh BPKP maupun oleh departemen . Inspektorat Wilayah Propinsi. sedangkan terhadap 2 kasus yang menyangkut BUMN telah dilakukan tindak lanjutnya berupa tindakan administratif dan tuntutan ganti rugi kepada yang bersangkutan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan 4 kasus yang menyangkut BUMN. 1. Bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. ditambah pula dengan 267 orang tenaga-tenaga sarjana dan sarjana muda jurusan non akuntan yang dijadikan tenaga pemeriksa setelah mendapatkan pendidikan tambahan. Selanjutnya hasil-hasil pengawasan aparat pengawasan Departemen Keuangan RI 69 . sehingga dapat menghasilkan mekanisme pengawasan terhadap bawahan. dan 309 orang pembantu akuntan. pelaksanaan tugas. kepada para pengawas dibekali pula dengan tata cara pelaksanaan pemeriksaan. dilakukan pula usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknis dari tenaga-tenaga yang sudah ada melalui penataranpenataran. tetapi jumlah dan kondisi aparat pengawas yang ada saat ini masih belum memadai bila dibandingkan dengan makin kompleks dan luasnya ruang lingkup pengawasan. serta makin banyaknya objek pemeriksaan yang hams ditangani. kepada para pemeriksa dibekali norma pemeriksaan. Selanjutnya untuk menciptakan keseragaman mutu hasil pemeriksaan. Dewasa ini Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah memiliki 3.239 orang tenaga pemeriksa yang terdiri dari 1. sebanyak 14 kasus telah diteruskan ke Kejaksaan Agung. Sedangkan sebagai petunjuk pelaksanaan pengawasan secara lebih teknis. Dalam rangka meningkatkan jumlah aparat pengawasan. dan pelaporan yang harns dipenuhi. yaitu standar-standar keahlian para pelaksana. melalui pendidikan pembantu akuntan.370 orang. Di samping usaha-usaha meningkatkan jumlah aparat pengawasan. Sernentara itu jumlah tenaga pemeriksa pada aparat pengawasan fungsionallainnya seperti Inspektorat Jenderal. Di samping itu dilanjutkan usaha untuk meningkatkan mutu sistem pengendalian manajemen. Meskipun usaha-usaha peningkatan aparat pengawasan secara kualitas maupun kuantitasnya terus dijalankan. dalam tahun 1985/1986 Pemerintah terus berusaha meningkatkan serta menyempurnakan fungsi pengawasan. ajun akuntan dan akuntan. Sehubungan dengan itu agar dapat mendukung tercapainya sasaran strategis pengawasan pada masa mendatang.

di samping pelaksanaan rencana memiliki pengendalian yang menjamin tercapainya tujuan-tujuan yang ditetapkan dalam rencana. Departemen Keuangan RI 70 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 fungsional diharapkan akan menjadi bagian dari informasi untuk pengambilan keputusan dan perumusan kebijaksanaan. karena berkembangnya standar dan norma untuk mengukur efisiensi. Seluruh kebijaksanaan dan langkahIangkah di bidang pengawasan tersebut diarahkan agar pada akhir Repelita IV terbentuk sistem pengendalian manajemen yang mampu mencegah secara dini terjadinya pemborosan. kebocoran. Sejalan dengan itu pendidikan dan latihan tenaga pengawas. dan penyimpangan. Sistem pengendalian manajemen tersebut akan ikut mewujudkan aparatur Pemerintah yang berdayaguna dan berhasilguna. serta pengembangan petunjukpetunjuk tatacara pelaksanaan pemeriksaan terus dilanjutkan untuk lebih meningkatkan mutu aparat pengawasan fungsional.

Apabila diteliti barang dan jasa yang mempengaruhi tingkat kenaikan barga-barga. dan harga rata-rata tertinggi di beberapa kota adalah sekitar 2. Dari perkembangan laju inflasi selama Pelita I sampai dengan Pelita III. Perbedaan harga rata-rata terendah.1. secara umum harga beras di beberapa kota selama bulan April-Oktober 1984 telah mengalami penurunan.. laju inflasi adalah sebesar 3. sehingga dapat memperkuat landasan bagi pelaksanaan Repelita selanjutnya. laju inflasi adalah sebesar 7. Harga-harga di dalam negeri juga dipengaruhi oleh harga-harga di luar negeri.48 persen setahun. Untuk periode yang sarna tahun sebelumnya.16 persen per taboo. lada Departemen Keuangan RI 71 .38 persen sebulan. khususnya dalam hal lada putih. Oleh karena itu Pemerintah senantiasa menjaga stabilitas harganya agar tetap dalam jangkauan daya beli masyarakat.46 persen atau rata-rata 0. bahan pangan merupakan salah sarti kelompok barang yang terrenting. Dalam bulan-bulan terakhir tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember. Melalui program stabilisasi senantiasa diusahakan agar laju inflasi dapat dikendalikan.77 persen dan sebesar 13.8 persen.33 persen atau rata-rata 0. seperti misalnya dengan emas. terlihat bahwa rata-rata laju inflasi dalam Pelita I (1969/1970-1973/1974) adalah sebesar 17. komoditi ekspor dan lain-lain. Dengan produksi beras dalam tahun 1984 yang diperkirakan lebih tinggidari tahun sebelumnya. dan penyaluran yang cepat bagi masyarakat. Sementara itu perkembangan harga komoditi ekspor di pasar internasional selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember menunjukkan perkembangan yang agak baik. Namun matauang lainnya secara umum tidak mengalami gejolak harga yang cukup besar. GAJI DAN UPAH 3. dan hal itu telah mengakibatkan harga emas di pasar Jakarta mengalami penurunan pula. Pendahuluan Stabilitas ekonomi yang cukup mantap merupakan landasan yang menjamin lancarnya pembangunan tahap berikutnya. harga emas di bursa internasional cenderung mengalami penurunan. Selanjutnya selama sembilan bulan dalam tahun pertama pelaksanaan Repelita IV atau tepatnya sampai dengan bulan Desember 1984.81 persen per bulan. Oleh karena itu senantiasa diusahakan tercapainya kestabilan harga di dalam negeri melalui penyediaan bahan kebutuhan pokok yang cukup.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB III HARGA. Dilain pihak menguatnya nilai dollar Amerika telah menyebabkan kurs matauang terse but terus meningkat di posaran. sedang dalam Pelita II (1974/1975-1978/1979) dan Pelita III (1979/1980-1983/1984) laju inflasi menurun masing-masing menjadi rata-rata sebesar 14.

7 persen dan 11.9 persen.79 % + 47. industri sebesar 12. Dalam periode yang sarna.77 % + 12. Perkembangan indeks harga perdagangan besar Indonesia dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus telah meningkat sebesar 11.6 persen.3 persen. serta sektor impor dan ekspor masingmasing sebesar 10. sebagai akibat meningkatnya indeks harga pada sektor-sektor pertanian sebesar 12.1. Tabe1 III. dan perkembangan harga yang tak menentu telah terjadi pada kopra serta minyak sawit.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hitam. 1 PERSENTASE KENAlKAN INDEKS BIAYA HIDUP DI JAKARTA DAN INDEKS HARGA KONSUMEN INDONESIA 1969/1970 .08 % + 11.80 % + 8. kopi robusta eks Lampung dan timah putih.5 persen.10 % + 19.2.2. Sebaliknya penurunan harga telah terjadi pada karet jenis RSS III.81 % + 20. yang digunakan sebagai pengukur perkembangan laju inflasi. terlihat bahwa laju Departemen Keuangan RI 72 .79 % + 19.40 % + 12.46 % 3.35 % + 20.2 persen.63 % + 3.1984/1985 Tahun kenaikan REPELITA I 1) 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 REPELITA II 1) 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 REPELITA III 2) 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 REPELITA IV 1984/1985 (sampai dengan bulan Desember) 1) Repelita I dan II berlaku Indeks Biaya Hidup di Jakarta 2) Repelita III mulai diguruikan Indeks Barga Konsumen Indonesia Persentase + 10.65 % + 7.85 % + 9.78 % + 0. Perkembangan harga 3.0 persen. pertambangan dan penggalian sebesar 8.13 % + 15. indeks harga sektor perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi telah meningkat pula sebesar 7.12 % + 10. Indeks harga konsumen Indonesia Berdasarkan perkembangan indeks harga 150 macam barang dan jasa di 17 kala propinsi.

dan indeks harga sub kelompok biaya penyelenggaraan rumah tangga. masing-masing sebesar 2.76 persen.kenaikan yang cukup besar pada kelompok makanan terjadi pada bulan Desember 1984 yaitu sebesar 2.81 persen.31 persen. Bila diteliti lebih lanjut.33 persen adalah sebagai akibat meningkatnya upah pembantu di 10 dari 17 . ubi-ubian dan hasil-hasilnya sebesar 4.38 persen. Mei.16 persen.71 persen. 0. indek harga sub kelompok telur.30 persen.kota propinsi di Indonesia.04 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 inflasi selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Desember. Departemen Keuangan RI 73 . Kenaikan indeks harga kelompok makanan sebesar 2.88 persen dan 1. 0. yaitu sebesar 0.28 persen.45 persen. indeks harga sub kelompok kacang-kacangan sebesar 6.46 persen tersebut disebabkan oleh meningkatnya indeks harga kelompok makanan dan kelompok perumahan.03 persen. terlihat bahwa laju inflasi sebesar 3. Kenaikan yang cukup besar pada indeks harga sub kelompok biaya penyelenggaraan rumah tangga pada bulan April dan Nopember 1984 masing_masing sebesar 1. Juli dan Desember 1984 laju inflasi masing-masing sebesar 1.10 persen.43 persen dan 5. perkembangan yang lebih terperinci menunjukkan bahwa dalam bulan Agustus dan September 1984 telah terjadi deflasi masing-masing sebesar 0.17 persen.64 persen antara lain disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar 7. adalah sebesar 3. serta dalam bulan Oktober dan Nopember 1984laju inflasi adalah sarna. indeks harga kelompok sandang dan kelompok aneka barang dan jasa masing-masing sebesar 2. masing-masing sebesar 2.33 persen.65 persen. 0. Dalam indeks harga kelompok perumahan.15 persen dan 0. Bila dilihat faktor penyebab laju inflasi selama periode April-Desember 1984 berdasarkan kelompok maupun sub kelompok barang dan jasa. laju inflasi adalah sebesar 7. Pada periode yang sarna tahun sebelumnya. atau rata-rata 0.47 persen yang disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok padi-padian.64 persen dan 2.30 persen yang terjadi selama periode April-Desember 1984 adalah akibat meningkatnya indeks harga sub kelompok biaya tempat tinggal. Sementara itu penurunan indeks harga sub kelompok lainnya dalam kelompok makanan terjadi pada indeks harga sub kelompok lemak dan minyak yaitu sebesar 3.37 persen dan 1. sedang dalam bulan-bulan April. peningkatan sebesar 2.49 persen dan 7. indeks harga sub kelompok ikan segar sebesar 7. Juni.79 persen dan indeks harga sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 9.38 persen per bulan.03 persen.46 persen atau rata-rata 0.97 persen dan indeks harga sub kelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 6.98 persen dan indeks harga sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 5. susu dan hasil-hasilnya sebesar 5.74 persen.

57 246.03 221.58 223.93 187.55 221.90 184.98 143.40 242.19 219.58 161. 1979/1980 .90 233.53 226.58 239.83 176.21 197.70 233.14 174.24 160.73 189.46 269.68 244.14 241.61 247.88 265.08 175.20 224.16 274.51 238.78 257.54 Umum 147.25 244.60 210.H 261.82 192.29 200.82 255.45 220.34 242.52 240.82 172.67 247.50 218.42 236.08 263.46 220.19 179.55 259.79 218.47 275.77 240.35 246.51 171.02 189.59 197.08 263.01 204.20 222.1984/1985 ( 1977/1978 = 100) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 198411985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Sandang 173.37 213.49 193.35 177.02 204.46 220.46 258.18 240.21 231.40 179.04 215.95 268.60 221.23 210.29 208.76 183.94 267.33 236.82 148.27 225.31 Departemen Keuangan RI 74 .57 246.32 182.01 230.34 240.61 188.51 258.21 149.93 211.19 232.68 219.16 224.55 221.03 236.73 177.48 240.43 245.70 171.91 258.97 258.88 257. 1979/1980 -1984/1985 ( 1977/1978 = 100 ) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Yogyakarta Surabaya Denpasar 152.08 233.89 246.18 233.06 239.53 269.49 221.34 267.05 243.08 258.63 190.70 205.96 214.02 147.82 189.70 220.67 259.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel III.68 242.53 233.08 263.39 246.91 257.77 175.76 234.87 240.61 221.03 217.69 239.72 189.14 215.14 244.30 199.52 255.47 166.24 210.45 238.82 194.65 259.93 241.34 220.18 212.46 221.35 Perumahan 146.86 178.58 206.09 245.12 219.45 257.34 183.45 221.33 243.02 237.56 245.45 231.40 227.29 192.10 177.85 205.43 197.70 168.03 204.62 276.86 236.11 258.54 229.40 240.73 247.64 232.33 234.84 214.09 156.48 255.73 147.12 255.75 200.89 227.38 183.43 238.19 200..82 263.07 258.76 228.43 273.12 202.93 275.93 223.34 246.14 172.08 276.59 247.28 198.42 186.11 233.57 203.41 197.88 266.78 239.40 263.14 267.11 256.63 Tabel III.86 239.27 214.58 Makanan 144.78 238.79 239.88 163.51 221.28 214. 3 INDEKS UMUM HARGA KONSUMEN DI 17 KOTA DI INDONESIA.36 245.22 243.13 265.29 245.65 234.89 191.14 237.48 205.72 272.99 216.12 263.90 245.02 273.30 204.77 241.52 220.26 200.52 220.29 225.25 252.36 274.72 245.48 244.52 Padang Palembang Jakarta Bandung Semarang 148.28 262.48 257.77 220.48 212.17 238.08 262.72 216.62 183.33 183.73 238.09 185.93 224.98 239.56 Medan 149.60 174.18 219.22 238.27 202. 2 INDEKS HARGA KONSUMEN INDONESIA.99 139.37 215.48 238.00 258.57 177.98 223.96 209.99 194.69 237.02 238.32 210.77 219.54 221.65 238.03 246.38 179.69 262.34 247.64 265.90 226.57 217.

56 235. serta meningkatnya harga obat tanpa resep adalah merupakan faktor penyebab meningkatnya beberapa indeks harga tersebut di atas.65 228.22 233. 3.55 232.65 212.67 193. kenaikan harga alar-alar tulis dan buku tulis.23 257.66 214.45 persen.36 225.09 227.17 192.79 232. peningkatan yang cukup besar dari indeks harga ketiga jenis sandang yaitu sandang laki-Iaki.13 persen.8 219.72 224.29 175.49 persen.17 241.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel III.9 230.84 229.18 231.52 177.79 227. indeks harga sub kelompok pendidikall sebesar 8.3 212.17 253.37 227.45 180.55 161.43 236.27 235.09 232.53 209.16 persen.68 212.63 227.65 228 227.81 219. sedangkan laju penurunan harga terjadi di kota Ambon sebesar 1.95 228.52 persen dan 1.65 234.62 237.44 persen.82 232.92 259.13 224.44 231.81 205.96 192.81 241. Kenaikan yang cukup besar dari biaya angkutan umum dalam bulan April 1984.06 253.21 Kupang 150.63 238.83 226.93 157. yaitu pada saat-saat menjelang Idul Fitri.56 223. sub kelompok sandang anak-anak.46 144. 4.35 persen. Bila dilihat perkembangan per bulannya.37 191. antara lain disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok transpor sebesar 10.5 244.21 258 257.19 247. Denpasar.78 241. dan indeks harga sub kelompok kesehatan sebesar 5.49 208.6 231.4 225.97 191.31 216.02 229.74 227. Perkembangan indeks harga konsumen beserta komponennya dapat dilihat dalam Tabel III.55 228.81 246.39 217.53 214. 3 (lanjutan) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Mataram 148.55 211.73 Jayapura 128. dalam bulan Juli dan Nopember 1934.1 Laju inflasi di 17 kota selama sembilan bulan tahun anggaran 1984/1985 telah menunjukkan perkembangan yang relatif besar untuk kota Jayapura.33 246.87 231.46 260.56 216.84 Manado 149.97 persen.49 persen.13 persen. Perkembangan indeks harga konsumen di setiap kala dapat dilihat dalam Tabel III.35 242.91 218.2 179.97 243.19 241.54 228.51 193.15 persen dan 4.42 175.24 135.33 persen sampai 3.81 249.71 259.92 221.56 236.55 258.27 242.1 236. sandang wanita.25 222.65 Pontianak 148.97 259.03 Indeks harga kelompok sandang selama bulan April-Desember 1984 telah meningkat sebesar 2. dan sandang anakanak telah terjadi dalam bulan Juni dan Juli 1984.01 Ujung pandang Ambon 145.44 232. serta kenaikan indeks harga sub kelompok barang pribadi.28 201.61 persen.68 231. dan DKI Jakarta yaitu masingmasing sebesar 4.57 persen.25 200. Peningkatan terse but disebabkan oleh naiknya indeks harga sub kelompok san dang lakiIaki.19 241.72 206.15 230.9 230.52 164.84 231. sedapg dalam bulan-bulan lainnya hanya mengalami peningkatan yang relatif rendah.4 227.2 208. yang termasuk pada indeks harga sub kelompok pendidikan.9 229. 3.7 219. 4. Medan.57 244.04 223.12 242.15 232. dari sub kelompok sandang wanita masing-masing sebesar 3.47 227.95 197.05 231.42 160.95 255.7 206.17 228. Laju inflasi di kota-kota lainnya hanya berkisar antara 0.57 214.62 228.67 218.09 215.11 226.33 229.76 218. Departemen Keuangan RI 75 .62 reIsen.09 225. Indeks harga kelornpok aneka barung dan jasa yang meningkat sebesar 7.35 persen .68 210.66 236.35 180.01 223.09 Banjarmasi n 163. dan sandang lainnya sebesar 1.39 212.

-170.-230.-165.-125. Sedangkan harga yang bervariasi antara Rp 263.-125.-165. dan harga rata-rata tertinggi di beberapa kola adalah sebesar 2. GULA PASIR DAN TEKSTIL DI BEBERAPA KOTA BESAR DI INDONESIA.33 140.5 200.75 93.33 150.25 265.-125.17 100.75 135.-133.-180.67 250.84 262.-85.-190.-75.33 143.-200.-226.5 241.-193. Rp 348.62 95.-200.66 100.33 79.-80.79 170.67 125.-215.-135.18 131.67 242.75 300.-125.-120. Yogyakarta.-311.-135.1984/1985 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 Maret Maret Maret Maret Maret Maret 103.88 173.-173.-250.250.-150.2. TEPUNG TERIGU.-96.-92.44 175.-325.5 145.13 157.-176.-104.-135.-120.-125.139. dengan peningkatan terbesar terjadi di kola Ujungpandang yaitu sebesar 13.67 182.02 dan Rp 333.94 132.81 250.-225.67 235.11 125.-250.-246.54 206.per kilogram terjadi di kola Bandung.-200.-250.-130.-120.84 84.-135.06 153.-135.17 90.-200.-95.46 per kilogram.-91.-215.-120.-166.25 200.-90.67 175.-155.-120.-90.5 165.78 81. masing-masing pada tingkat harga Rp 291.190.-170.67.-125.-123.-200.per kilogram.-166.5 210.09 75.-100. Surabaya.-250. Produksi beras dalam tahun 1984 yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.-160.8 persen.-159. Ujungpandang dan Denposar.75 105.36 sampai Rp 425.-156.33 255.-235.-- Kota Bandung Yogyakarta Semarang Surabaya Medan Banjarmasm Ujungpandang Denpasar jenis barang Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil ( Rp{kg ) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg) (Rp{kg) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg) ( Rp{kg) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) Departemen Keuangan RI 76 .-245.-105.-135.-218..4 HARGA RATA-RATA BERAS MUTU MENENGAH.-185.25 150. 1973/1974 .-188.-200.-130.-125.63 165.88 244.-135.89 75.-175.-275. Sedangkan dalam bulan-bulan lainnya harga tepung terigu tidak mengalami peningkatan yang berarti.-257.-213.11 82.-155.-185.66 220.33 215.33 146. yaitu tetap pada tingkat harga Rp 275.-200.-223.33 125.-100.67 180.2.33 103..-160.33 221.-125.83 137.5 129.-262.-185.71 172.-124.39 261.-160.-200.08 273.-217.-193.-180.-176.-175. Harga beberapa barang konsumsi utama Perkembangan harga beras di beberapa kala di Indonesia selama periode April sampai dengan Oktcber 1984 secara umum relatif stabil..-125. serta penyaluran yang cukup lancar ke pasaran telah menyebabkan stabilnya harga beras dalam periode tersebut.per kilogram Tabel III.-235.89 135.-200.190.-140.33 140.sampai Rp 395.33 183.-180.96 89.8 persen.85 191.62 278.5 175.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 3.-157.-190. Harga tepung terigu di beberapa kola di Indonesia dalam periode April-Oktober 1984 berkisar antara Rp 275.5 90.-168.-250.-103. perkembangan harga beras yang relatif stabil antara lain terjadi di kola Semarang.128. Peningkatan yang cukup tinggi telah terjadi hampir di semua kola dalam bulan Agustus 1984.-115.67 159.-190.-130.-120. bahkan di kota Banjarmasin selama periode April-Oktober 1984 mengalami kestabilan.-125.75 190. Perbedaan harga rata-rata terendah.75 252.-425.25 201.-125. Medan dan Banjarmasin.34 180.-140.67 103.-165..

525.206.5 275.-267.-385.16 330.-273.-600. Kenaikan harga tepung terigu yang terjadi pada bulan Agustus 1984 telah pula mempengaruhi perkembangan harga gula pasir.-269.87 590.25 319.83 564.42 500 236.25 567.-527.-350.-500.5 327.-255.-271. Di sam ping itu dalam rangka menunjang program tebu rakyat intensifikasi.33 291.67 407.-541.34 486.75 514.67 714. Berdasarkan perkembangan harga gula posir di beberapa kota selama periode April-Oktober 1984 sebagaimana terlihat dalam Tabel III.-650.-350.-563.33 626.-425.4 415.-272.-332.-219.33 278.52 349.-510.0 persen.75 559. sehingga dalam bulan tersebut terjadi peningkatan di kota Ujungpandang.04 315.-275.-615.67 271.3 persen.-190.08 550.33 621.8 208.4.46 351.83 527.34 650.8 400.-500.25 461. kenaikan harga yang cukup tinggi terjadi dalam bulan Mei dan Agustus 1984 yang berkisar antara 0.16 195.-400.22 275.57 529.-245.55 252.67 540.-610..25 430.25 275. Produksi tekstil yang mencukupi telah menyebabkan perkembangan harga tekstil di Departemen Keuangan RI 77 .71 226.-550.36 265.-450.21 261.58 217.-550.-- 1982/1983 Maret 319.82 269.91 265.17 542.-206. masing-masing sebesar 4. 2.74 226. mulai bulan Oktober 1980'Pemerintah menjamin pemasaran seluruh gula rani baik yang merupakan bagian petani.-575.6 393.12 473.75 503.-400.206.19 216.94 252.92 327.42 260.-550.-300.51 175.38 188.88 250.3 178.-239.41 176.67 386.92 481.39 599.4 (lanjutan) 1979/1980 1980/1981 Maret Maret 219.-315.3 persen.56 633.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel 111.99 273.-285.-381.-280.-700. Semarang dan Surabaya.-425.84 528.33 321.54 225.-- K o t a / Jenis barang Bandung Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Y ogyakarta Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Semarang Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Surabaya Beras Tepung terigu Cula posir Tekstil Medan Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Banjarmasin Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Ujungpandang Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Denposar Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil 1) Sampai dengan Oktober 198 ( Rp/kg) (Rp/kg ) ( Rp/kg) (Rp/m) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp /kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp /kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg) ( Rp/kg) (Rp/m) 1981/1982 Maret 281.-516. pembangunan pabrik-pabrik baru.-525.63 571. dan konsumen terhindar dari gejolak kenaikan harga.97 326.67 542.33 500.75 555.-322.83 400.-350.75 228.-625.75 342.3 persen sampai 6.75 221.536.5 275.-740.-437.-250.46 287.75 510.2 246..34 278.07 196.-900. maupun yang merupakan bagian pabrik.33 525.48 423.65 272.08 1984/19851) s/d Oktober 315.67 214.38 210.635.97 193.58 576.-274.42 584.-288.25 289.11 224.-503.83 400.-255.89 260. Dengan demikian petani dapat menerima harga yang ditetapkan.5 236.33 518.22 281.n 377.-425.34 250. dan penyesuaian harga provenue gula pasir.-268.-230.6 persen dan 2.-375.-178.-200.-.-267.-242.5 500.63 375.5 511.5 250.-- 1983/1984 Maret 272.35 373.08 323.600.55 275.57 400.-425.68 205.-222.-500.-550.72 702.-- Kebijaksanaan Pemerintah dalam usaha meningkatkan produksi gula pasir antara lain dilaksanakan melalui rehabilitasi pabrik-pabrik gula.34 225.-475.183.43 395.-290.92 500.67 762.67 600.17 649.

perkembangan harga barang-barang konsumsi Utama dapat dilihat dalam Tabel IlI.-1.8 318.162.067.153.1.31 1.-251.2 Juni 1.167.62.50 129.-160.1976/1977 Maret 415.25 1.064.2 314.131.291.015.322.422.-1977/1978 Maret 412..443.75 302.5 308.88.1974/1975 Maret 416.6 461.25 690. Indeks harga emas dan valuta asing Fluktuasi kurs matauang dollar Amerika telah mempengaruhi perkembangan harga emas.6 4. 23 karat dan 22 karat di pasar Jakarta telah menurun masing-masing sebesar 7.75 131..8 4.5 312.205.4 1.1971/1972 Maret 413. Dalam bulan-bulan menjelang Idul Fitri.5 432.20 4.15 1.-11 7.020.sampai Rp 900.-1.6 383.-444.75 Oktober 1.-1.81 1.25 830.418.5 HARGA BEBERAPA VALUTA ASING DI JAKARTA.127.4 September 989.-Juli 1.276.-365.488.75 347.1972/1973 Maret 414.153.147.40 366. maka terlihat bahwa di pasaran Jakarta harga emas mengalami penurunan yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan penurunan yang terjadi di pasar London.011.25 920.per meter.006.75 133.-80.-173.-4.1.4 469.72.-138.25 348.50 115.per meter.041.57 1.7 persen.316.408.1970/1971 Maret 378.130.per meter. Harga terendah terjadi di kola Denpasar dengan tingkat harga Rp 500.2 461.52 1.75 1981/1982 Maret 653.8 3. bahkan di kota Semarang dalam bulan Juli 1984 harga menurun sebesar 0.8 3.75 Agustus 1.50 4.25 322.492.196.2 4.-426.16 1.1973/1974 Maret 415.75 2.2 478.145.75 372.-341.4.373.-125.46 1. 7. baik di posaran lokal maupun di posaran internasional.25 354.41 1.3.12 1. sedang harga tertinggi terjadi di kota Medan dengan harga Rp 900.6 365.527.-Mei 1.2.130.82.83. yaitu bulan Juni dan Juli 1984.4 455.123.5 2.139.13 5 .Nopember Swiss F NFL 110.345.-143.5 63. Dalam periode yang sarna di pasaran London.-980.151 .376.123.8 Maret 1.60 4. 1969/1970 -1984/1985 (hargajual/dalam rupiah per satuan) Tahun anggaran/ rata-rata bulan DM US $ Yen £ HK$ Sing $ 1969/1970 Maret 379.25 1980/1981 Maret 632.165.. harga emas 24 karat.-858.1.47 1.166.4.09 1.131.6 Desember 996.6 1979/1980 Maret 632. harga tekstil di beberapa kota berkisar antara Rp 500.75 427.153.326.25 448.8 persen. Di samping itU penurunan harga Departemen Keuangan RI 78 .8 324.21 370.362.167.75 289.40 134.-157.25 950.5 328.4 3.1975/1976 Maret 415.20 4.5 304.-323. Selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember.5 1982/1983 Maret 761.75 370.132.8 341.443.25 284.-179.139.2 312.3 persen.75 383.035.1978/1979 Maret 627.390.461.25 491.2 386.89.6 329.6 363.882.-4.431.39 1.4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa kota relatif stabil.4. Tabel III.2 125.6 370.75 133.357.365.-463.465.25 123.5 persen dan 5.75 478.28 1. harga emas menurun sebesar 15.140.-184.8 496.8 341.5 146.4 1983/1984 Juni 979..25 1.024.36 1.25 335.1984/1985 April 1.4 482.5 433.481.062.25 422.5 349.-140.6 September 1.197.6 780.302.33 1. Bila dibandingkan penurunan harga emas di pasar Jakarta dengan di pasar London.5 274.25 139.75 483. harga tekstil tidak mengalami kenaikan yang berarti. Selama periode April-Oktober 1984.8 330.80 486. Hal ini memperlihatkan bahwa minat masyarakat terhadap logam mulia emas masih cukup besar.2 persen.3.2 465.2 456.-81.-338.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

emas tersebut juga merupakan akibat bertambahnya permintaan terhadap matauang dollar Arnerika. Bila dilihat perkembangannya setiap bulan, harga emas 24 karat, 23 karat dan 22 karat selama tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember 1984 umumnya mengalami penurunan. Khususnya dalam bulan Juli 1984, masing-masing mengalami penurunan sebesar 4,6 persen, 4,5 persen dan 4,1 persen. Sedangkan selama empat bulan terakhir yaitu bulan Agustus, September, Oktober dan Nopember 1984, harga emas 24 karat, 23 karat dan 22 karat relatif stabil yaitu tetap raJa harga Rp 11.500,-, Rp 11.000,- dan Rp 10.500,- per gram. perkembangan harga emas dapat dilihat dalam Tabel III.6.
Tabel III. 6 HARGA EMAS DI PASAR JAKARTA DAN DI PASAR LONDON, 1969/1970 - 1984/1985 ( dalam rupiah per gram) London Tahun anggaran / Jakarta 24' 23 ' 22' US $/ 1 fine oz rata-rata bulan 1969/1970 Maret 490,-470,-450,-35.32 1970/1971 Maret 510,480,450,-37.38 1971/1972 Maret 620,-580,450,-48.40 1972 / Maret 1.050,1.000,950,-90.00 1973/1974 Maret 1.775,-1.675,1.575,-111.75 1974/1975 Maret 2.312,50 2.212,50 2.100,-177.50 1975 / Maret 1.837,50 1.737,50 1.637,50 129.55 1976/1977 Maret 2.050,1. 950,-1.850,149.13 1977/ 1978 Maret 2.350,-2.260,-2.150,-179.75 1978/1979 Maret 5.080,-4.880,4.680,239.75 1979/1980 Maret 10.750,9.750,-9.000,547.25 1980/ 1981 Maret 10.100,9.593,75 9.100,-576.75 1981 / Maret 7.150,-6.725,-6.375,316.25 1982/1983 Maret 9.980,9.534,9.048,413.00 1983/1984 Juni 12.580,- 11.940,-11.320,-415.00 September 12.800,-- 12.000,-11.500,-385.00 Desember 12.340,-- 11.690,-11.090,375.00 Maret 12.390,- 11.890,-11.140,393.00 1984/1985 April 12.237,50 11.662,50 11.025,-383.75 Mei 12.080,11.480,11.860,384.70 Juni 12.300,11.750,11.000,371.50 Juli 11.737,50 11.225,10.550,336.10 Agustus 11.500,-- d.OOO..10.500,347.11 September 11.500,-- 11.000,-10.500,-346.68 Oktober 11.500.11.000,10.500,336.00 Nopember 11.500,-11.000,10.500,330.80

Meningkatnya kurs matauang dollar Amerika sejak awal tahun anggaran 1984/1985 masih terus berlangsung sampai dengan bulan Nopember 1984. Selama periode AprilNopember 1984, kurs matauang tersebut meningkat sebesar 4,6 persen yaitU dari Rp 1.020,menjadi Rp 1.067,20 per dollarnya. Dari perkembangan kurs dollar setiap bulannya terlihat bahwa kurs dollar Amerika telah mengalami peningkatan tertinggi dalam bulan September 1984 yaitu sebesar 2,1 persen, sedangkan dalam bulan-bulan lainnya selama periode tersebUt
Departemen Keuangan RI

79

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

hanya meningkat antara 0,1 sampai 1,7 persen. Kurs dollar Hongkong terus meningkat dengan peningkatan terbesar terjadi dalam bulan September 1984, yaitu sebesar 2,4 persen. Secara urn urn dapat dikatakan bahwa peningkatan yang cukup besar raJa kurs dollar Amerika, maupun pada kurs dollar Hongkong dalam bulan tersebut disebabkan permintaan dalam jumlah yang relatif besar di posaran. Keadaan sebaliknya telah terjadi pada harga matauang Asia yaitu Yen, dollar Singapura dan beberapa matauang Eropa Barat, yang permintaannya tidak menentu sehingga berakibat tidak stabilnya kurs matauang tersebut di pasaran. Bila dilihat perkembangan kurs Yen setiap bulan, maka selama delapan bulan dalam tahun anggaran 1984/1985 atau dalam periode April-Nopember 1984, telah terjadi penurunan dalam bulanbulan Mei, Juni, Juli dan Oktober 1984, sedangkan sebaliknya dalam bulan-bulan lainnya terjadi peningkatan antara 1,1 sampai 1,5 persen. Pola yang hampir sarna terjadi raJa kurs dollar Singapura yang mengalami kenaikan kurs tertinggi dalam bulan Agustus 1984 yaitU sebesar 1,8 persen, sedangkan dalam bulan Juli 1984 mengalami penurunan sebesar 0,8 persen. Secara keseluruhan selama periode April-Nopember 1984, kurs Yen menurun sebesar 1,3 persen, sedang kurs dollar Singapura meningkat dengan 3,7 persen. Perkembangan beberapa matauang
Eropa Barat yaitu Poundsterling Inggris, Mark Jerman, Franc Swiss dan Guilder Belanda dalam periode yang sarna secara umum menunjukkan penurunan masingmasing sebesar 8,2 peTscH, 7,5 persen, 6,9 per:sen dan 7,2 persen. Penurunan kurs matauang Poundsterling Inggris dalam bulan Oktober 1984 sebesar 2,8 persen merupakan penurunan yang terbesar diantara penurunan yang terjadi selama kurun waktu April-Nopember 1984. Sedangkan kurs matauang Mark Jerman dan Franc Swiss mengalami penurunan terbesar dalam bulan Juli 1984 masing-masing sebesar 2,5 persen dan 3,9 persen, demikian pula kurs Guilder Belanda mengalami penurunan terbesar dalam bulan September 1984 sebesar 3,0 persen. Perkembangan kurs beberapa valuta asing di pasar Jakarta dapat dilihat dalam Tabel III.8

3.2.4. Harga barang-barang ekspor Memasuki tahun pertama Repelita IV, atau tepatnya pada tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember, harga komoditi ekspor di posar lokal Jakarta yaitu lada putih dan kopi robusta telah mengalami peningkatan masing-masing sebesar 5,6 persen dan 2,0 persen, sedangkan komoditi karet dan kopra selama periode terse bUt telah menurun sebesar 23,8 persen dan 16,7 persen. Secara umum dapat dikatakan bahwa peningkatan dan penurunan harga yang terjadi di posaran lokal adalah akibat perkembangan harga yang terjadi di pasaran internasional. Mengamati perkembangan harga di posaran internasional dalam kaitannya dengan

Departemen Keuangan RI

80

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

ekspor beberapa komoditi Indonesia, terlihat bahwa beberapa komoditi mempunyai prospek yang baik sekali dalam usaha pengembangan ekspor. Hal ini tercermin pada Tabel 111.8, dimana komoditi lada putih, lad a hiram, kopi robusta eks Lampung, dan timah putih selama tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Nopember 1984 mengalami pemasaran yang makin baik. Selama periode April-Nopember 1984, harga lada putih di posar London, dan lada biram di posar New York telah meningkat masing-masing sebesar 21,9 persen dan 21,0 persen. Menguatnya harga lada putih dan lada biram tersebut adalah akibat menurunnya persediaan, karena memburuknya panen lada dunia dalam tahun 1983/1984 yang diperkirakan masih terus berkelanjutan dalam tahun pallen 1984/1985. Harga kopi robusta eks Lamrung di posar Singapura dalam periode yang sarna naik sebesar 14,1 persen, walaupun di pasar New York sebagai pusat pemasaran kopi dunia dalam periode terse but mengalami penurunan sebesar 5,3 persen. perkembangan harga timah putih di posar London selama periode April-Nopember 1984 menunjukkan kenaikan sebesar 13,5 persen. Peningkatan tersebut bukan merupakan akibat dari meningkatnya permintaan, akan tetapi akibat menurunnya nilai Pound sterling Inggris di pasaran moneter internasional. Perkembangan yang sebaliknya telah terjadi pada harga kopra di posar Manila, dan di posar London serta minyak sawit eks Malaysia di pasar London, yang selama periode April-Nopember 1984 mengalami penurunan masing-masing sebesar 17,0 persen, 17,8 persen dan 15,7 persen. Demikian pula halnya dengan harga karet RSS III di posar New York, London dan Singapura, selama periode tersebut telah mengalami penurunan masing-masing sebesar 27,7 persen, 17,2 persen dan 28,2 persen. Penurunan harga karet sintetis, sehubungan dengan menurunnya harga minyak bumi, merupakan salah sarli sebab menurunnya harga karet tersebut. perkembangan harga komoditi di posar lokal, dan di posar internasional dapat dilihat pada Tabel III.7, Tabel III.8

Departemen Keuangan RI

81

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Tabel III. 7 HARGA BEBERAPA BARANG EKSPOR DI JAKARTA, 1969/1970 - 1984/1985 ( dalam rupiah per kilogram) Tahun anggaran/ Kopra rata-rata bulan (Sulawesi) RSS I Lada putih Kopi robusta 1969/1970 Maret 125,66 50,18 295,-126,57 1970/1971 Maret 106,1 65,4 199,25 156,1971 /1972 Maret 103,12 58,2 257,6 120,62 1972/1973 Maret 199,77 79,7 431,4 293,09 1973/1974 Maret 305,56 192,43 752,19 360,46 1974/1975 Maret 178,35 94,51 526,25 245,82 1975/1976 Maret 243,59 89,18 455,37 507,1976/1977 Maret 278,29 215,5 1.100,2.090,1977/1978 Maret 306,47 233,33 917,5 862,5 1978/1979 Maret 626,66 256,67 1.276,25 1.169,1979/1980 Maret 777,94 242,26 1.162,50 1.225,1980/1981 Maret 690,21 263,4 822,5 968,75 1981/1982 Maret 508,48 243,8 880,-783,6 1982/1983 Maret 701,09 219,8 956,-1.025,1983/1984 Juni 1.041,64 313,26 1.270,1.200,-September 992,74 363,78 1.450,1.150,Desember 1.103,43 467,32 2.510,1.250,Maret 1.006,25 535,07 2.665,1.275,1984/1985 April 939,44 560,38 2.540,1.300,Mei 889,84 540,65 2.660,1.325,-Juni 791,42 577,25 2.670,1.300,Juli 795,54 543,48 2.440,1.300,Agustus 820,36 493,15 2.600,1.325,September 853,37 432,74 2.925,1.350,Oktober 797,9 445,77 2.850,1.235,Nopember 766,78 445,77 2.815,1. 300,-

Tahun anggaran/ rata-rata bulan

Tabel III..8 HARGA BEBERAPA BARANG EKSPOR UTAMA DI PASAR INTERNASIONAL, 1969/1970 - 1984/1985 RSS III Kopra Kopi robusta Lada putih Lada hitam Timah putih Minyak US $/lt US $flt Str $1 pic us $ ct/lb Br tIlt US $ ct/!b Br £ I mt Br tIlt US $ ct/lb Brp I kg Str $ ct/kg York) (London) (Singapnra) (Manila) (London) Lampung eks Palembang (London) (New York) (London) Malaysia (Singapura) (New York) (London) 20,88 17,08 16,01 26,4 42,43 27,83 35,88 39,67 43,52 51,7 69,43 65,06 43,24 54,36 53,29 58,11 57,2 56,84 54,54 50,7 47,01 45,47 45,59 45,58 42,33 41,1 20,65 14,6 12,6 24,59 39,98 24,89 41,22 38,86 48,34 59,87 66,35 57,25 48,24 73,58 71,81 75,48 81,21 80,2 77,64 73,41 68,01 70,07 70,3 71,38 68,59 66,41 59,35 98,83 83,2 137,45 203,96 117,8 179,05 186,44 196,43 247,44 300,91 240,63 163,5 200,56 219,33 221,23 228,53 225,31 215,08 198,55 182,17 179,2 180,04 179,78 167,30' 161,87 205,-176,28 115,92 201,5 767,67 258,93 178,46 456,76 664,5 520,76 406,25 327,05 329,58 479,01 645,-655,33 747,726,83 845,-723,25 658,5 648,54 703,13 620,240,53 208,55 141,84 221,21 899,6 304,6 192,5 551,5 437,06 796,45 516,75 389,43 330,25 321,69 472,92 638,01 653,4 744,15 735,75 800,17 829,4 728,682,6 642,13 747,63 611,54 82,38 117,13 95,5 90,-165,93 118,53 215,38 815,23 280,-285,-395,-399,-356,94 292,5 332,5 362,5 480,5 487,5 487,5 487,5 551,37 551,-551,-562,25 566,556,-33,65 39,28 36,43 42,28 62,31 42,86 78,15 294,56 120,67 154,75 104,52 114,48 114,69 117,49 117,42 126,04 128,15 127,45 133,5 132,75 127,66 127,2 128,2 122,26 121,42 49,77 42,73 47,4 60,5 98,93 88,3 102,55 164,6 188,75 150,62 139,-100,-128,88 132,-126,56 135,-243,-244,8 245,-245,245,-245,241,01 274,5 317,5 298,5 57,72 55,6 45,52,25 79,92 90,-79,14 117,31 116,67 86,52 95,67 83,-73,-64,"71,63 66,84 98,7 90,07 92,45 96,8 97,6 92,5 91,88 105,1 114,8 108,94 1.578,54 1.472,20 1.477,60 1.736,50 3.524,-3.043,26 3.594,05 6.155,94 5.917,50 7.328,7.906,83 6.084,13 7.070,78 8.957,10 8.581,41 8.506,16 8.616,20 8.523,48 8.762,42 9.055,25 9.170,38 9.412,60 9.352,08 9.594,25 9.596,50 9.676,94 109,58 117,6 81,35 115,-276,87 197,85 591,74 319,5 679,61 612,602,33 505,17 376,5 400,66 648,85 705,79 739,5 767,23 905,63 817,33 590,28 566,6 616,-631,75 623,39

1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984

1984/1985

Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Juni September Oesember Maret April Mei Juni Jull Agustus September Oktober Nopember

Departemen Keuangan RI

82

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

3.2 .5 .Indeks harga perdagangan besar Indonesia Dalam tahun 1983, indeks harga perdagangan besar meningkat sebesar 18,2 persen, atau dari indeks 302 dalam tahun 1982 menjadi 357 dalam tahun 1983. Kenaikan tersebut disebabkan oleh meningkatnya indeks harga sektor pertanian sebesar 13,7 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 9,0 persen, sektor industri sebesar 17,1 persen, sektor impor sebesar 20,9 persen, dan sektor ekspor sebesar 19,5 persen. Dalam perkembangannya yang terakhir, yaitu dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus, indeks harga perdagangan besar terse but meningkat sebesar 11,5 persen, sebagai hasil dari kenaikan indeks harga sektor pertanian sebesar 12,0 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 8,6 persen, sektor industri sebesar 12,3 persen, serta indeks sektor impor dan sektor ekspor masing-masing sebesar 10,7 persen dan 11,9 persen. Peningkatan indeks harga sektor pertanian terjadi pada indeks harga masing-masing sub sektor tanaman perdagangan, bahan makanan, peternakan, perikanan, serta sub sektor perkayuan dan hasil-hasil hutan. Indeks harga sektor pertambangan dan penggalian meningkat karena peningkatan yang terjadi antara lain pada indeks harga sub sektor batubara, sub sektor penggalian, dan sub sektor garam. Pada indeks harga sektor industri, peningkatan telah terjadi pada indeks harga semua sub sektornya, yaitu antara lain sub sektor industri minyak nabati dan lemak, serta sub sektor industri pengilangan minyak dan hasilhasilnya. Di sektor impor, kenaikan terjadi pada indeks harga sub sektor hasil industri pemintalan, perajutan, tekstil dan lainnya, sub sektor hasil industri kertas dan hasil-hasilnya, serta sub sektor hasil industri pengilangan minyak. Demikian pula halnya dengan indeks harga perdagangan besar bahan ekspor, peningkatan terjadi pada indeks harga masing-masing sub sektor bahan makanan dan sejenisnya, biji logam bukan besi, serta sub sektor hasil-hasil tanaman perdagangan dan ternak. Perkembangan Indeks harga perdagangan besar Indonesia dapat dilihat dalam Tabel III.9.
Tabel III. 9 ANGKA INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR INDONESIA, 1977 -1984 ( 1975 = 100 )

S e k tor I. Pertanian 2. Pertambangan dan penggalian 3. In d u s t r i 4. Impor 5. E k s p o r Indek Umum Kenaikan indeks (%)
1) Sampai dengan buIan Agustus

1977 145 130 128 108 116 122

1978

1979 213 175 178 153 246 195
71,05

1980

1981 302 266 234 191 414 282
11,46

1982

1983 382 339 301 243 514 357
18,21

1984 1)

-

162 144 139 118 127 114 -6,56

262 218 210 174 375 253
29,74

336 311 257 201 430 302
7,09

428 368 338 269 575 398
11,48

Departemen Keuangan RI

83

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

3.2.6. Indeks harga perdagangan besar bahan bangunan/konstruksi Perkembangan indeks umum harga perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi dalam tahun 1983 telah menunjukkan peningkatan sebesar 11,8 persen. Kenaikan tersebut tercermin dati kenaikan yang terjadi pada masing-masing indeks harga jenis bangunan tempat tinggal sebesar 11,0 persen, jenis bangunan bukan tempat tinggal sebesar 12,3 persen, jenis pekerjaan umum untuk pertanian sebesar 13,0 persen, jenis pekerjaan umum untuk jalan dan jembatan sebesar 11,5 persen, jenis bangunan listrik dan transmisinya sebesar 12,2 persen, bangunan dan konstruksi lainnya sebesar 11,9 persen, sella indeks harga untuk jenis perbaikan bangunan sebesar 12,5 persen. Pada perkembangannya yang terakhir yaitu pada tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus, indeks umum harga perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi telah meningkat sebesar 7,2 persen. Peningkatan terse but disebabkan oleh peningkatan masing-masing pada indeks harga jenis bangunan pekerjaan umum untuk pertanian sebesar 8,9 persen, jenis bangunan pekerjaan uIhum untuk jalan dan jembatan sebesar 7,5 persen, serta indeks harga jenis bangunan lainnya yang berkisar antara 5,9 persen dan 7,4 persen. perkembangan angka indeks harga perdagangan besar bahan bangunan/konstruksi dapat dilihat pada Tabel III.10.
Tabel III. 10 ANGKA INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR BAHAN BANGUNAN/KONSTRUKSI DI INDONESIA MENURUT lENIS, 1977 -1984 ( 1975 = 100 ) Jenis 1. Bangunan tempat tinggal 2. Bangunan bukan temp at tinggal 3. Pekerjaan umum untuk pertanian 4. Pekerjaan umum untuk jalan dan jembatan 5. Bangunan listrik dan transmisinya 6. Bangunan dan konstruksi lainnya 7. Perbaikan bangunan Umum Persentase perubahan 1) Sampai dengan bulan Agustus 1977 114 113 109 112 106 111 113 112 1978 123 124 120 123 116 123 122 122 8,93 1979 149 152 146 151 142 154 151 150 22,95 1980 175 177 192 183 160 182 179 177 18 1981 191 193 213 205 170 200 196 194 9,6 1982 209 211 239 226 181 219 216 212 9,28 1983 232 237 270 252 203 245 243 237 11,79 1984 248 254 194 271 215 261 261 254 7,17

3.3. Gaji dan upah di berbagai sektor ekonomi Peraturan pengupahan secara regional, sektoral, maupun sub sektoral senantiasa mengalami peningkatan dati tahun ke tahun. Sampai dengan tahun _pertama pelaksanaan Repelita IV sampai dengan bulan September, secara kumulatif telah dihasilkan 16 buah peraturan pengupahan secara regional, 58 buah peraturan pengupahan secara sektoral, dan 300

Departemen Keuangan RI

84

Perkebunan 2.300 118.099 17.400 19841) 31.3 persen.665 322. Dalam hal upah maksimum. Perhubungan 8.840 219.0 persen sampai 12.270 26.799 268.211 269.035 307.826 36.760 295.932 41.036 309.5 persen.185 72.112 41.207 72.280 172.318 32.423 57. Lain-lain/pegawai negeri ( Rata-rata upah maksimum ) 1.314 158.262 25.116 30.039 89.595 174.618 415.245 50.536 275. 1975 -1984 ( rupiah per bulan) 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 8.039 70. 19.078 307. Sedangkan peningkatan upah maksimum terjadi disektor perhubungan.725 496. Pertambangan 3.6 persen.411 448.6 persen.972 33.510 46.994 231.6 persen.695 248. Sampai dengan semester I tahun 1984.720 25. Bangunan 5.187 28.262 19.280 176. sektor jasa dan sektor lainnya meningkat sekitar 4. 11 UPAH MINIMUM DAN MAKSIMUM DI BERBAGAI SEKTOR.158 14. sektor industri.424 320.1 persen dan 18.279 53. sedangkan sektor listrik tidak mengalami perubahan.4 persen dan sektor bangunan sebesar 24.647 205.178 24.914 35.209 48.754 27.101 37.5 persen. sedangkan sektor-sektor lainnya hanya meningkat antara 2. upah minimum di semua sektor mengalami peningkatan yaitu pada sektor bangunan.395 465.498 14. Bangunan 5 Listrik 6.242 117.500 191.520 656.745 712. Industri 4.166 150.114 29.400 Sektor ( Rata-rata upah minimum) 1.2 persen. kenaikan terjadi pada sektor perdagangan/bank/asuransi sebesar 43.624 359.991 125.927 32.337 409.200 712.255 26.595 189. Perdaganganlbank/asuransi 7.606 27.339 291.238 173.021 351.632 393.658 509. kecuali pada sektor pegawai negeri yang tidak mengalami perubahan dalam upah minimum maupun upah maksimum.299 29.400 262.665 14.158 16. kenaikan upah minimum terjadi terutama pada sektor bangunan dan sektor perkebunan yaitu masing-masing sebesar 38.11 dapat dilihat bahwa dalam tahun 1983 upah minimum di semua sektor telah meningkat antara 4.550 Departemen Keuangan RI 85 .778 135.528 442.485 69.956 294.5 sampai 18.179 333. sektor bangunan.928 689.278 35. Pada Tabel III.881 17.400 289.300 138.361 381. Lain-Iain/pegawal negeri 1982 25.752 241.570 36.051 29.246 287. Listrik 6. Dilain pihak penurunan terjadi pada sektor pertambangan sebesar 0.121 67.837 13.196 297.0 sampai 32.328 554.056 58.877 64.2 persen.719 361.193 35.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 buah peraturan pengupahan secara sub sektoral.752 241.975 672. Jasa-jasa 9.165 524.974 73.832 320. Perhubungan 8.718 40.517 39.025 33.030 172.025 556. dan sektor perkebllnan masing-masing sebesar 36.676 554.782 23.200 14.7 persen dan 17.405 228.500 9.494 34.662 50.681 36.408 620. Jasa-jasa 9.503 492.606 60.254 382.527 228.280 150.919 46.158 16.491 32.742 14.262 29.400 1983 27.235 84.069 42.362 72.200 12.475 56.1 persen.182 22.452 25.843 63.723 532.4 persen. 23.283 69.606 465.078 342.700 10.050 42.977 16. sektor perhubungan sebesar 28.721 550. Perkebunan 2.348 455.061 29.590 89.287 83.893 27. Bila perkembangan upah selama periode Januari-Juni 1984 dibandingkan dengan periode Januari-Juni 1983.105 21. Pertambangan 3.235 50.178 251. Tabel III.827 297.738 370.7 persen.233 241. dan sektor perdagangan/bank/asuransi masing-masing sebesar 24.530 280.181 171.200 17.146 527.5 persen sampai 18.589 20.889 645. Industri 4.128 29.5 persen dan 22.009 60. Perdaganganlbank/asuransi 7. Demikian pula halnya dengan upah maksimum dalam tahun 1983 meningkat antara 3.650 834.540 65.993 44.500 21.416 205.118 34.391 32.400 277.419 227.137 29. sedangkan sektor perkebunan.381 20.520 780.9 persen.214 209. sektor listrik.412 307.046 250.429 32.299 440.

tatacara penyelesaian transaksi effek di bursa telah disederhanakan. bertujuan untuk meneruskan usaha kearah tercapainya sa saran pembangunan sesuai dengan trilogi pembangunan. dan kredit likuiditas Bank Indonesia kepada bank-bank untuk sektor ekonomi yang bukan prioritas dihentikan. Departemen Keuangan RI 86 . senantiasa disempurnakan dengan ikut sertanya Bank Indonesia untuk menjaga perkembangan suku bunga antar bank. memelihara kestabilan perekonomian dengan menjaga kestabilan harga. yang mempunyai kaitan erat dengan kebijaksanaan fiskal dan perkembangan neraca pembayaran. Pemerintah senantiasa mendorong peningkatan produksi barang-barang kebutuhan rakyat. dan tabungan lainnya. Transaksi di pasar uang antar bank melalui kliring di Jakarta. yang pada dasarnya bertujuan untuk ineningkatkan pengerahan dana masyarakat melalui pemberian tanggung jawab yang lebih besar kepada bank-bank untuk menetapkan sendiri persyaratan-persyaratan penghimpunan dana dari dan pemberian kredit kepada masyarakat. telah diambil kebijaksanaan untuk tidak memungut atau menangguhkan pemungutan pajak penghasilan atas pendapatan bunga deposito berjangka. pagu kredit perbankan dihapuskan. serta meningkatkan efisiensi dan peranan lembaga-lembaga keuangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB IV MONETER DAN PERKREDITAN 4. dan keringanan pajak atas pendapatan bunga dividen dan royalty (PBDR) juga berlaku bagi pembelian obligasi. Sejalan dengan hal tersebut. Sedangkan untuk mengembangkan jual beli surat berharga di posar modal. dengan beberapa penyesuaian dalam ketentuan dan persyaratan. serta pengembangan usaha golongan ekonomi lemah. Dalam tahun pertama Rep. kebijaksanaan moneter telah memasuki tahun kedua penataan kembali sistem perbankan Indonesia. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan usaha pemerataan pembangunan. Beberapa tujuan pokok yang akan dicapai adalah peningkatan usaha mobilisasi tabungan masyarakat melalui bank dan lembaga keuangan bukan bank. Untuk itu fasilitas kredit likuiditas tetap disediakan untuk pinjaman yang berprioritas tinggi. Di samping itu penerbitan sertifikat deposito terus dilanjutkan. Untuk lebih menunjang usaha peningkatan dana masyarakat.dita IV.1. meningkatkan usaha pemerataan pembangunan dengan meningkatkan golongan ekonomi lemah. Pendahuluan Kebijaksanaan moneter dalam Repelita IV. sebagai salah satu pilihan bagi masyarakat untuk menanamkan kelebihan dananya.

4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai sarana pengendalian moneter. Dengan demikian secara keseluruhan sampai dengan bulan September 1984. Jumlah uang beredar dan sehab-sehab perubahannya Jumlah uang beredar selama 6 bulan pertama tahun anggaran 1984/1985 telah mengalami peningkatan sebesar Rp 38.mg dapat dibayar. Bank Indonesia menyediakan fasilitas diskonto yang merupakan upaya terakhir bagi bank-bank dalam usahanya untuk memperoleh tambahan dana. menjadi Rp 8. sejak 1 Pebruari 1984 telah diterbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).0 milyar pada akhir bulan September 1984. Sebaliknya sebagai sarana untuk menanggulangi kekurangan likuiditas. Pembinaan bank pembangunan daerah dilaksanakan melalui program pemberian bantuan teknis dan pendidikan. Terhadap bank umum swasta nasional juga diberikan keringanan dalam persyaratan pembukaan kantor cabang.563.9 milyar. Departemen Keuangan RI 87 .093. dan perasuransian. Usaha untuk meningkatkan peranan pembiayaan pembangunan dengan dana dari masyarakat. Peranan uang giral yang cukup tinggi di dalam komponen uang beredar tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat di dalam menggunakan jasa-jasa perbankan. dan meliputi pembinaan terhadap lembaga perbankan. SBI ini dapat digunakan (melalui operasi posar terbuka) untuk menanamkan kelebihan dana likuiditas dari bank yang belum dioperasikan.054. dan uang giral sebesar Rp 4.5 persen).9 milyar atau 44 persen dari jumlah uang beredar. di samping ketentuan untuk memelihara cadangan wajib minimum bank-bank yang sejak 1 Januari 1978 besarnya adalah 15 persen dari kewajiban y. Peningkatan tersebut terdiri dari peningkatan uang kartal sebesar Rp 10. baik bank Pemerintah maupun bank swasta nasional.7 milyar pada akhir bulan Maret 1984.1 milyar atau 56 persen dari jumlah uang beredar. serta perluasan jaringan kliring lokal di tempattempat yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia. dan uang giral sebesar Rp 27. serta peningkatan peranan pasar uang dan modal.2. lembaga keuangan bukan bank.4 milyar.3 milyar (0. Sementara itu peranan lembaga keuangan bukan bank (LKBB) ditingkatkan dengan diberikannya fasilitas diskonto ulang dalam perdagangan surat-surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan. Pembinaan disektor perbankan diarahkan untuk mengembangkan sistem perbankan yang sehat.529. posisi uang kanal adalah sebesar Rp 3. yaitu dari posisinya sebesar Rp8. pembinaan lembaga-lembaga keuangan senantiasa ditingkatkan.

715.6 -266 527.572.6 1.815.8 3.60 46 4.90 43 4.SEBAB PERUBAHAN JUMLAH UANG BEREDAR.2 -195 -134.4 -686.20 53 3.1 -369.7 126 210.7 Juni 241.4 -138.90 199.8 158.797.10 1.3 170 47.9 458.5 16.2 -417.553.6 -418 1.5 1975/1976 Maret -319.9 0.4 1980/1981 Maret 2.8 39 853.228.136.000.093.075.4 697.541.20 56 8.9 Lainnya bersih -32.099.5 27.7 -1.3 60 84.9 -50.7 -654.2 35.1 Kumulatif 2.40 57 7.3 46 768. 1969/1970 .1 -143.379.7 -471.70 43 2.8 387.233.5 2.5 52 488.9 3.5 -194.420.2 421.3 58 150 42 360.6 -83.5 -162.5 -146.9 2. 1 JUMLAH UANG BEREDAR.50 44 4.6 -7.8 -1.6 1974/1975 Maret 1 23.50 -374 -65 -124.40 126 1.70 45 4.90 56 7.8 -88.563.934.497.983.1984/1985 ( dalam milyar rupiah) Uang Uang Persentase kartal giral % % Jumlah Perubahan Perubahan 126.6 -72.235.2 3.8 September 671 -871 608.90 210.2 -13.70 485.7 485.1 -445.60 809.1 1972/1973 Maret 124.8 -101.70 59 7.569.501.1 4.6 54 1.4 Mei 160.505.6 48 1.9 361.4 47 962 53 1.10 1983/1984 Juni 429 -347.035.221.10 51 2.182.1 53 100.1 1970/1971 Maret -4.653.8 -180.615.4 -175 -1.5 -192.9 3.2 353 Juli 2) -35.306.30 55 7.2 210.036.9 -973.8 400.40 -596.9 538.7 79.6 1971/1972 Maret 153.719.80 49 1.5 295.30 38 4. 1969/1970 .10 2.50 -105.417.3 2.3 3.4 Desember 406.5 689 997.1 -1.2 46 784.773.605.265.5 -1.10 242.378.2 Perubahan 79.8 3.9 142.7 -650.046.563.4 40 210.50 29.410.027.5 Agustus 2) -35.20 1.20 45 4.4 472.50 57 5.3 -312.10 1976/19.3 291.8 188.1 -2.036.1 54 363.4 -395 810.4 675.77 Maret 476.417.30 -559.333.825.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.2 853.368.90 47 2.30 44 4.5 -203.2 59.835.1 55 239.00 1982/1983 Maret 16.7 2 Akhir Waktu 1969/1970 Maret 1970/1971 Maret 1971/1972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Joni September Desember Maret Kumulatif 1984/1985 April Mei Juni Juli I) Agustus 1) September 1) I) Angka sementara Tabel IV.20 -146.80 44 4.774.508.491.6 2.072.8 457 5.20 1981/1982 Maret -67.6 1977/1978 Maret 441.9 395.9 718.178.40 1984/1985 April 130.4 38 270.9 1.40 -1.1 -157.9 -146.70 1.5 1973/1974 Maret 154.1 33.633.6 -497 42.1 Maret 1.3 227.5 90.90 -1.20 51 2.3 190.40 62 6.20 51 8.9 307.60 56 7.3 2.214. 2 SEBAB .70 57 8.409.7 3.80 1979/1980 Maret 2.5 -39.30 -1.7 -16.2 -684.8 62 103.8 112.10 -146.30 -101.50 604.2 3.273.3 90.6 199.2 198 1) Termasuk tagihan pada badan/lembaga dan perusahaan Pemerintah 2) Angka sementara Akhir waktu Aktiva Luar negeri Pemerintah pusat Simpanan berjangka & Tabungan -27.5 3.2 127.3 332.110.1984/1985 (dalam milyar rupiah) Tagihan pada perusahaan & Perorangan l) 1969/1970 Maret -7 -4.7 Departemen Keuangan RI 88 .1 166.9 3.631.605.2 45 530.70 54 7.3 254 47.054.799.8 September 2) -215.4 -123.283.2 -123.5 675.60 17.5 28.90 689 32.529.560.1 170 254 242.1 1.1 3.4 -190.8 -1.3 549.985.70 41 4.8 31 659.1 151.684.296.50 43 4.2 158.90 400.836.023.90 295.70 49 4.3 9.90 44 4.302.8 -92.40 604.9 61.10 37.50 279.10 56 8.7 8.2 1.70 49 1.427.1 -277.560.90 55 8.3 1.5 6.40 387.00 158.3 17.4 -170.9 -89.00 -89.8 -220.6 -830.2 -105.8 -610.4 -25.8 -164.6 -1.7 1978/1979 Maret 985.50 1.9 59.431.10 997.

3.6 milyar. Dari jumlah tersebut. Dalam periode April-September 1984. dan Rp 638.3 persen) adalah dana giro.705. yaitu sebesar Rp 5. dana perbankan mencapai jumlah sebesar Rp 14.020.2 milyar. Peningkatan yang cukup besar pada sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan ini.4 milyar. Pengaruh menambah sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan tersebut menunjukkan suatu perkembangan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode yang sarna tahun lalu.6 milyar terse but sebagian besar berasal dari dana giro bank-bank Pemerintah.4 persen). Sampai dengan akhir bulan September 1984.4 milyar. dana perbankan senantiasa mengalami penyempurnaan sesuai dengan perkembangan. yaitu sebesar Rp 1. kecuali terhadap deposito berjangka waktu 24 bulan yang bunganya ditetapkan sekurang-kurangnya 12 persen per tahun. Di samping itu sektor aktiva luar negeri bersih.l dan Tabel IV.0 milyar. sektor tersebut memberikan pengaruh mengurang sebesar Rp 1. yaitu sebesar Rp 970.800. Dana giro sebesar Rp 6.965.800.218. dan sektor lainnya bersih juga memberikan pengaruh menambah pada jumlah uang beredar.1.3 persen).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Jika dilihat dari sektor-sektor yang mempengaruhi jumlah uang beredar.390. Dana dan Kredit Perbankan 4. serta sekaligus mengurangi ketergantungan bank-bank kepada dana likuiditas Bank Indonesia.2.3. Usaha untuk meningkatkan tabungan masyarakat yang terus dilakukan Pemerintah tercermin dari besarnya pengaruh mengurang pada jumlah uang beredar yang ditimbulkan oleh sektor simpanan berjangka dan tabungan. Bankbank Pemerintah diberi kebebasan dalam menentukan tingkat suku bunga deposito dan tabungan lainnya.034. Sektor Pemerintah pusat selama semester pertama tahun anggaran 1984/1985 menunjukkan pengaruh mengurang.8 milyar. satu dan lain adalah karena peningkatan kredit untuk pembiayaan di bidang perindustrian dan jasa-jasa. Sejak Juni 1983. 'Perkembangan jumlah uang beredar. masing-masing sebesar Rp 244.9 milyar dan Rp 238. dan sebab-sebab perubahannya secara lengkap dapat diikuti pada Tabel lV. sebesar Rp 6. sedangkan dalam periode yang sama tahun yang lalu. sedangkan dana deposito dan . sedangkan dana giro bank-bank Departemen Keuangan RI 89 .6 milyar (46.3 milyar (4. sektor Pemerintah pusat tersebut memberikan pengaruh mengurang sebesar Rp 1. Dana perbankan Kebijaksanaan di bidang mobilisasi. 4. dalam periode April-September 1984. sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan memberikan pengaruh menambah yang cukup besar. kepada bank-bank Pemerintah telah diberikan tanggung jawab yang lebih besar di dalam usaha pengerahan dana. tabungan masing-masing adalah sebesar Rp 7.266. pada jumlah uang beredar sebesar Rp 1.4 milyar.9 milyar (49.9 milyar.

8 382.471.502.543.10 1.20 1.20 0.396.4 35.3 810 0.444.3 106.756.70 0.7 303.3 224 255.818.8 milyar dan oleh cabang bank-bank asing sebesar Rp 0.259.6 milyar.267.20 1.6 Juni .6 Agust.30 106 13. dan dana giro cabang bank-bank asing adalah sebesar Rp 513.10 585 2.1 Des.8 184.00 4.180.70 1.6 68 1.156.381.40 0.1 458.3 1) Terdiri atas dana bank-bank umum.1 3.426.337.1 0.399.40 669.908.266.736.325.30 7.141.3 197.9 44. 1982 Desember Maret I.00 109.1 810.5 I.1 milyar merupakan dana yang berhasil dihimpun oleh bank-bank Pemerintah.8 3.261. Bank-bank swasta nasional Giro Deposito Tabungan III.1 0.6 756.9 1.00 103.60 1.10 103.1 1.60 3.470.559.3 10. Bank-bank Pemerintah Giro Deposito c Tabllngan II.7 2.7 153.9 April 9.034.9 581.023.4 milyar.9 8 11.003.80 1.2 114.20 954.1 231.80 3.80 583.80 1.988.7 419.632.9 55.10 1. Cahang bank-bank asing Giro Deposito Tabungan IV.8 501.70 456.009.80 1.6 672.539.867.356.10 4.70 688.10 260.6 3.9 1.4 200. Jumlah besar (I + IV ) 1) Giro Deposito 2) Tabungan 3) 1) Terdiri atas dana bank-bank umum. 18.2 44.3 4.30 559.40 3.058.106.1 1.446.599.90 4.458.80 4.2 703.074.6 14.429.4 1.252.2 13.2 5.80 688. Sedangkan dana tabungan yang berhasil dihimpun oleh bank-bank Pemerintah adalah berjumlah Rp 531.063.4 1. bank pembangunan dan bank tabungan termasuk dana milik pemerintah pusat dan bukan penduduk.2 4.525.466. Sub total (II + III ) Giro Deposito Tabungan 1) V.30 1.8 149.2 3.90 2.3 1984 Juli 9.4 1.80 516.917.80 5.451.688.287.6 16 19.5 12.40 4.8 436.40 1.10 4.756.2 187.80 2.7 345.80 544.0 1.9 0.8 590.618.3 1.086.2 4.350.133. Cabang bank-bank asing Giro Deposito Tabungan IV.981.8 1.103.80 5.00 5.058.1 132.167.20 2.695.00 64.40 87 1.113.9 8 11.6 3.471.1 0.90 28.00 1.60 103.908.932.10 186.555.378. 4) 9.3 0.787.3 986.3 1.30 6.556.194.273.111.7 145.017.20 4.80 1.40 2.9 845.6 13.5 1.802.1.4 1.6 553.00 1.20 521.50 4.40 4.7 1.230.348.924.888.70 1.90 653.1 76.30 100 1.2 980.8 372. sehingga secara keseluruhan jumlah dana tabungan mencapai Rp 638.20 1.2 421.60 1. 723. 2) Termasuk sertifikat deposito. 9.250. Rp 4.154.80 4.60 543.70 233.3 Sept.1 19.20 2.463.30 94. 8.233.80 4.181.4 1.10 1.7 281.927.028.266.097.00 5.292.30 539.781.853.80 6.941.196.6 930. Bank-bank Pemerintah G ir 0 Deposito Tabungan II.266.7 1.395.9 80.737.766.302.086.753.616.195.4 146. 4) Angka sementara.099.7 0.209.800.3 3.2 milyar oleh bank-bank swasta nasional.6 112.9 305.4 2.927.1 13.109.4 338.8 0.0 2.8 32.30 1.2 255 363 464.236.742.40 4.8 50. 2) Termasuk sertifikat deposito.010.2 11.263.3 66 89 117.6 313.6 milyaroleh cabang bank-bank asing.10 6.650.60 7.9 milyar.8 392.060.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 swasta nasional adalah sebesar Rp 1.6 462.4 Me i 9.8.131.60 4.256.660.720.624.7 20'\.035.10 104.00 3.10 2.657.30 6.00 6.2 1.6 198.60 6. oleh bank-bank swasta nasional sebesar Rp106.7 997.8 1.210.8 70 70.80 103 1.239.40 6.834.003.30 109.7 890.3 238.90 466.80 637.7 804.50 0.6 16.254.60 6.4 158.40 570.60 4.3 366.90 1.2 4.398.2 3.20 1.90 1.70 1.20 1.081.030.90 8.40 4.698. bank pembangunan dan bank tabungan termasuk dana milik pemerintah pusat dan bukan penduduk.613.6 454.50 6.20 513.168.50 568.20 3.60 1.243.5 222.084.080.10 87.9.2 242.707.543.2 302.4 1.4 769.7 44.033.20 2.80 107 14. 3 DANA PERBANKAN RUPIAH DAN V ALUTA ASING.10 3.106.590.2 760.616.9 10.1 8.151.90 4.449.40 566.689.4 1.2 1.6 3.63.2 4.6 765.1 140.40 514 2.00 74.4 52.5 225.60 6.9 4.20 1.30 6.012.483.10 531.2 4.3 '52.5 94.750.3 417.412.4 117.270.9 32.90 1.70 412.3 4.10 6.50 1.2 4.50 1.896.858.40 4. 7.9 114.244.582.70 4.976.8 858.650. 770.7 1.50 1.2 1983 Juni 7.742.398.60 4.3 milyar.2 371.40 1.20 539. 3) Termasuk tabungan pegawai dan setoran ongkos naik hajj.1 164. dan Rp 1.5 21.10 505.863.70 2.122.888.1 203.80 1.90 543.4 Sept.70 6.2 2. 718.5 240 330.7 1.7 71. Departemen Keuangan RI 90 .1 671.8 224.034.00 1.236.20 508.60 1.015.6 127.144.6 90.034.7 666.50 105.1 28.30 537.2 3.40 2.8 299.367.60 1.6 333.5 83 113 134.50 1.8 141 142.252.30 583.60 489 7.260.343.70 168.7 765.243. Jumlah besar( I + IV) Giro Deposito 2) Tabungan 3) 6.2 milyar.882.80 29.3 1.7 0.30 5. 3) Termasuk tabungan pegawai dan setoran ongkos naik haji.00 1. 7 43.4 205.30 72.190.50 1.4 362.80 1.705.1984 ( dalam milyar rupiah ) 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember.693.886.8 71.7 2.3 645.7 522.150.60 26.4 680.70 933.7 32.2 901.150.920.272.8 !i31.40 1.6 431.9 244 482.047.582. Bank-bank swasta nasional Giro Deposito Tabungan III.2 4.3 milyar.9 Maret 9.2 489.20 106.60 0.10 4.70 676.535.10 4.80 105.5 1. Dari dana yang dihimpun dalam bentuk deposito sebesar Rp7.410.173.6 740.20 1.792. Sub total (II + III) Giro Deposito Tabungan V.60 591.40 2. Rp 1.9 98.2 202 252.5 218.90 638.122.6 72.2 77.90 541.068.60 94.293.815.00 6.2 13.20 0.2 77.376.485.4 1.1 110.40 5.40 1.436.50 0.9 2.70 1.10 1.3 159.00 4.3 560.3 604.519.777.2 1. 1972 .7 2.50 1.80 2.1 2.20 2.9 559.914.2 46 73.90 869.80 552.3 48.40 68.200.1 79.4 816.70 6. 381.50 100.4 831.60 6. Tabel IV.659.170.90 2.00 1.40 3.80 2.189.50 1.80 3.2 1.163.379.4 1.526.40 1.

20 879.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV. 3) Angka sementara. Tabanas dan Taska Tabungan pembangunan nasional (Tabanas).1 milyar.8 milyar (5. dan masyarakat pada umumnya.4 476.262.1 32.723.8 572.80 679. Perkembangan deposito berjangka dapat diikuti pada Tabel IV.1 1.2 127.920.7 milyar (1.609.8 milyar (23.3 136.60 897.80 1. 1972 .3 460.693.9 104.842.90 750 1.10 1.0 milyar (32.5 11.7 32. Dengan demikian bila pada akhir tahun 1983/1984 jumlah dana perbankan secara keseluruhan baru sebesar Rp 13.1984 ( dalam milyar rupiah.10 998.540.2 306.6 234.8 580.90 418.781.031.266.90 819. berjangka waktu 12 bulan sebesar Rp 2.9 445.001.7 317 Sept 4.6 99 338.0 persen).8 199 72 37.6 88.8 1.5 59.7 357 1984 Juni 6.20 1.7 291.8 25.80 591.209.8 694.3 1.225.50 372.924.20 612.7 109.1 16.4.9 492.8 117.4 1.2 399.357.3 milyar (13.40 128 574 391 Agust 7.4 94.2 81.3 342.10 960.5 90.3 82. maka raJa akhir September 1984 dana tertersebut terdiri dari deposito berjangka waktu 1 bulan sebesar Rp 1.5 303 Juni 4.714.2 234.3 168 1) Termasuk deposito yang sudahjatuh waktu dan deposit on call 2) Termasuk deposito berjangka waktu 9 dan 18 bulan 1982 Desember Deposito berjangka 24 Bulan 12 bulan 6 bulan 3 bulan 1 bulan 1) Lainnya 2) TABANAS TASKA 2.618. dan tabungan asuransi berjangka (Taska) adalah saran a penghimpun dana masyarakat yang lebih menonjolkan segi pendidikan kepada masyarakat terutama generasi muda untuk hidup berhemat.3 483.5 1.70 684 1.461.40 1.8 29. 788.6 persen).4 359.7 244.7 persen).3 milyar (23.70 1. Sejak 1 Juni 1983.10 117.40 118.7 357 April 6.80 1.7 122 2.5 1.7 537 191.1 11.335.1 55.9 366 Des 5.5 21. pramuka.00 131.099.7 584. TABANAS DAN TASKA.081.2 531.737.8 53. Jika semula saldo Tabanas yang diberikan Departemen Keuangan RI 91 .6 2.4 47.8 153.2 372 Juli 6.668.9 370. kecuali dalam juta rupiah untuk Taska) 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Deserrtber Deposito berjangka 24 bulan 12 bulan 6 bulan 3 bulan 1 bulan 1) Lainnya 2) TABANAS TASKA 233.80 480.90 73.9 253.1. berjangka waktu 6 bulan sebesar Rp 1.40 986 1.348.697.9 74 760.5 1.6 47.489.379.723.4 DEPOSITO BERJANGKA RUPIAH DAN VALUTA ASING SELURUH BANK.650.5 120 1.668.60 685.5 141.9 136.9 19.4 522.9 74.2.60 967.8 61.5 1.7 264.7 152.80 785.194.141.60 544.80 119.6 1.60 168.3.5 413 1) Termasuk deposito yang sudah jatuh waktu dan deposit on call 2) Termasuk deposito berjangka waktu 9 dan 18 bulan.1 22.613.1 384.70 519 1.5 80. kebijaksanaan mengenai Tabanas telah memberikan kesempatan bagi para penabung untuk menikmati tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari pada sebelumnya.70 450.3 421 Sept 3) 7. pegawai.90 407.459.8 361.8 307 1983 Maret 3.669.103.4 persen).80 129.4 640.2 2.732.90 833.1 4.981.8 2.2 81.1 158 1.3 43. berjangka waktu 24 bulan sebesar Rp 407. dan deposito lainnya sebesar Rp 119.3 1.4 1.1 32.5 212.4 471.6 138 1.045.6 persen).4 106.6 1.1 28.5 844.8 1.4 70 115 980.6 41.5 84 581.2 2 191.458.401.316.33 7.40 569.90 605. 4.6 38.8 17.20 950.2 937.059.8 2.550.839.3 152.30 990.20 1.90 127.886. berjangka waktu 3 bulan sebesar Rp 990.40 111.7 persen).9 331 Maret 6.7 585.2 111.787.1 122.00 1.50 1.9 343 Mei 6.287. Jenis tabungan ini diikuti oleh para pelajar.4 195.6 112 1.5 580.7 2.40 612.357.8 575.

posisi sertifikat deposito yang diterbitkan oleh bank-bank Pemerintah. jumlah Tabanas telah mencapai sebesar Rp 585. dan sertifikat deposito cabang bank-bank asing sebesar Rp 34.000. dan cabang bank asing.5 persen dari jumlah pinjarnan yang diberikannya. Sertifikat Deposito Sertifikat deposito semula diterbitkan oleh Bank Indonesia dengan nama Sertifikat Bank Indonesia (SBI).5 milyar dengan 12. dalam rangka me intis terbentuknya pasar uang di Indonesia.9 Departemen Keuangan RI 92 .3. 4.000. Bila dibandingkan dengan posisinya pada akhir Maret 1984 sebesar Rp575.4. Jangka waktu sertifikat deposito ini ditetapkan sendiri oleh bank-bank penerbit dengan ketentuan tidak kurang dari 15 (lima belas) hari. Kenaikan jumlah penabung Tabanas pada periode April-September 1984 mencapai 613 ribu penabung. Kemudian dalam tahun 1971 program SBI tersebut diikuti oleh bank-bank Pemerintah. Sedangkan suku bunga Taska tidak mengalami perubahan. Posisi Taska sebesar Rp 413 juta pada bulan September 1984 menunjukkan adanya peningkatan sebesar Rp 56 juta (15.7 milyar.000. Bank-bank penerbit adalah bank-bank yang secara berturut-turut selama dua tahun terakhir telah memenuhi persyaratan yang ditentukan.087 ribu penabung. dan selebihnya bersuku bunga 12 persen setahun. di samping sebagai wadah penghimpun dana masyarakat. yang terdiri atas sertifikat deposito bank-bank Pemerintah sebesar Rp 189.8 persen). Untuk lebih meningkatkan peranan sertifikat deposito diperluas lagi dengan penerbitan sertifikat deposito atas unjuk dalam rupiah bagi bank-bank umum.4 persen).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bunga 15 persen setahun hanyalah sampai dengan jumlah maksimum Rp 200. Sampai dengan akhir September 1984. maka dalam kebijaksanaan yang bam saldo ini telah ditingkatkan menjadi Rp 1.7 persen). Selanjutnya perkembangan Tabanas dan Taska dapat diikuti pada Tabel IV. Sampai dengan akhir September 1984. tercatat adanya kenaikan sebesar Rp 9.7 persen) hila dibandingkan dengan posisinya pada akhir bulan Maret 1984 sebesar Rp 357 juta. kenaikan Taska mencapai Rp 63 juta (20. yaitu tetap 9 persen setahun. Selain itu bank penerbit dapat memiliki sertifikat deposito yang diterbitkan oleh bank-bank lain dalam jumlah tidak melebihi 7. sedang selebihnya diberikan bunga 6 persen setahun. sedangkan pada periode yang sarna tahun lalu kenaikan jumlah penabung adalah sebanyak 387 ribu penabung. dan selanjutnya dikenal sebagai sertifikat deposito.1. Pada periode April-September tahun sebelumnya.8 milyar (1. serta mempunyai kewajiban untuk menjamin pelunasan sertifikat deposito yang diterbitkannya sesuai dengan jangka waktunya.0 milyar.1 milyar (84.3. dan cabang bank-bank asing mencapai Rp 224. dan bankbank pembangunan.

8 224 1) Arigka sementara dalam memupuk pembiayaan pembangunan.8 196.1 202.6 persen).1 189.2 milyar.5 8.6 29.1 18.6 396.7 79.3 229.1984/1985 ( dalam milyar rupiah) Bank-bank Pemerintah 1. sedangkan sertifikat deposito cabang bank-bank asing meningkat sebesar Rp 4.8 352.8 259.1 Bank-bank Asing 0.1 21. sejak 22 Oktober 1984 program tersebut Departemen Keuangan RI 93 .2 390.3 2.9 31.5 244.9 51.8 28.1 204.9 14.8 82.3 6.2 212.2 43.6 22. Selama periode April-September 1984.8 250.4 59.7 301.5 232.4 294.8 46.8 1.7 369.5 74 70 66.7 42.9 26.7 15.6 70 70 14.3 32.2 53.5 363.9 30 35.5 346.7 329.7 28 55.8 26.7 57.3 10.7 56. Dibandingkan dengan periode yang sarna tahun lalu.4 376.5 13. para penabung kemudian memilih jenis tabungan lain yang lebih menarik.6 4.1 9.2 358.5 24.4 231 222.2 133.8 34.5 244. sertifikat deposito meningkat sebesar Rp 127.4 26.6 213.4 32.7 31.5. Tabel IV.4 29. Dengan demikian secara keseluruhan sertifikat deposito selama periode tersebut menurun sebesar Rp 152. 1970/1971 .2 24.2 48. Perkembangan sertifikat deposito dapat diikuti pada Tabel IV.2 373.5 71.4 28.4 46.1 milyar.9 415.2 330.8 16. sertifikat deposito bank-bank Pemerintah menunjukkan penurunan sebesar Rp 157.9 39.4 milyar.4 62.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar (15.1 7.1 165.7 34.5 SERTIFlKAT DEPOSITO BANK-BANK. Penurunan tersebut pada umumnya karena setelah sertifikat deposito jatuh waktu.2 426.3 91.6 102.9 milyar.1 12.5 94.7 260.9 373.1 172.8 37 41.6 385.9 Akhir waktu 1970/1971 Maret 197111972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 198111982 Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April M ei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember J anuari Pebruari Maret 1984/1985 April Me i Juni Juli Agustus September 1) J umlah 0.3 0.

705 milyar. Jika pada akhir tahun 1982/1983 posisi pemberian kredit perbankan adalah sebesar Rp 13. Bagi kredit bukan prioritas. 4. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan akhir September. Melalui kebijaksanaan 1 Juni 1983. Sebagai tindak lanjut dari kebijaksanaan pembebasan pagu kredit perbankan.135 milyar atau mengalami peningkatan sebesar Rp 2. kredit perbankan dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis. Dengan berlakunya kebijaksanaan tersebut. sehingga jangka waktu seluruhnya tidak melebihi 120 hari. yang dapat diperpanjang maksimal 30 hari untuk setiap kali perpanjangan. yaitu kredit yang berprioritas tinggi. yang dapat diperpanjang maksimal 7 hari untuk setiap kali perpanjangan. Jumlah fasilitas kredit adalah maksimal sebesar 3 persen dari jumlah dana pihak ketiga. fasilitas kredit likuiditas tetap diberikan. Jangka waktu maksimal diskonto pertama adalah 15 hari.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 4. Jumlah tersebut adalah lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatannya dalam periode yang sarna tahun 1983/1984 Departemen Keuangan RI 94 . serta produksi dalam negeri. yaitu dalam rangka tetap mendorong kegiatan pengusaha golongan ekonomi lemah.043 milyar. Jangka waktu dasar ditetapkan maksimal 60 hari.1.2. merupakan pencerminan dari semakin besarnya peranserta sektor perbankan dalam pembiayaan pembangunan.3. dan kredit yang bukan prioritas. serta untuk menjaga likuiditas bank-bank dalam melaksanakan pemberian kredit sehari-hari.2. Fasilitas diskonto kedua disediakan untuk memudahkan bank dalam mengatasi kesulitan pendanaan hila rencana penarikan dana tidak sesuai dengan reo ncana penarikan kredit jangka menengah.430 milyar (17.908 milyar (11. bank-bank didorong untuk meningkatkan kemampuannya di dalam melaksanakan pemberian kredit dengan dana yang berasal dari masyarakat.3. sedangkan untuk kredit yang berprioritas tinggi. Jumlah dasar kredit yang disediakan adalah 5 persen dari jumlah dana pihak ketiga. jumlah tersebut meningkat menjadi sebesar Rp 18. dengan jangka waktu seluruhnya tidak melebihi 29 hari.7 persen). Pemberian kredit perbankan Kebijaksanaan perkreditan dalam tahun 1983/1984 dan 1984/1985 adalah sejalan dengan kebijaksanaan moneter pada umumnya yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesempatan berusaha dengan tetap memelihara kestabilan. Pemberian kredit menurut sektor perbankan Perkembangan pemberian kredit perbankan yang senantiasa menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. dan jangka panjang. sejak Pebruari 1984 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai fasilitas diskonto. pada akhir tahun 1983/1984 posisinya telah meningkat menjadi Rp 16. sejak Agustus 1982 tidak lagi disediakan fasilitas kredit likuiditas Bank Indonesia. yang berarti dalam periode I April-$eptember 1984 teIjadi peningkatan sebesar Rp 1.8 persen).

koperasi.386 milyar (60. kredit bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 686 milyar (26. Kenaikan terse but berasal dari peningkatan kredit pada bank umum Pemerintah sebesar Rp 1.2 persen terhadap posisinya sebesar Rp 5. yayasan. tercatat bahwa jumlah pemberian kredit yang disalurkan melalui bank-bank umum Pemerintah tetap mengambil bagian yang terbesar.1 persen). kredit melalui bank-bank umum Pemerintah.538 milyar (69. dan lembaga-Iembaga bukan bank milik swasta.773 milyar atau 70. atau 2. Posisi pemberian kredit perbankan sebesar Rp 18. dan kredit yang diberikan di sektor swasta. dan sebesar Rp 906 milyar (5.269 milyar (18. Adapun kegiatan di sektor swasta yang dibiayai kredit perbankan adalah semua kegiatan yang diselenggarakan oleh perusahaan swasta. bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 5 milyar. dan di sektor swasta sebesar Rp 12. 4. dan prasarana listrik. Sedangkan posisi pemberian kredit bank umum swasta nasional. serta kegiatan perekonomian lain yang dilaksanakan oleh lembaga-Iembaga negara.043 milyar pada akhir September 1984 digunakan untuk membiayai kegiatan di sektor Pemerintah sebesar Rp 5.6 persen). Kenaikan pemberian kredit perbankan sebesar Rp 1.0 persen).8 persen dari kesduruhan ktedit perbankan.505 milyar (30.2 persen).908 milyar dalam periode April-September 1984 tersebut disebabkan oleh kenaikan kredit bank-bank umum Pemerintah sebesar Rp 2. kredit cabang bank asing.1 persen). termasuk kredit likuiditas Bank Indonesia sampai dengan akhir Sep1Jember 1984 mencapai Rp 12.5 persen).2. Rp 1. pertambangan.095 milyar (6.1 persen). Kegiatan yang dibiayai dengan kredit di sektor Pemerintah diantaranya adalah usaha di bidang perindustrian.5 persen).3. walaupun terjadi penurunan kredit langsung Bank Indonesia sebesar Rp 1.5 persen).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang berjumlah sebesar Rp 900 milyar (6.6 persen).2. Jika dilihat perkembangannya menurut kelompok bank penyelenggara. Penyaluran kredit untuk sektor Pemerintah dalam periode April-September 1984 meningkat sebesar Rp 117 milyar.490 milyar (24. dan cabang bank asing sebesar Rp 3 Departemen Keuangan RI 95 . Penyaluran.388 milyar pada akhir Maret 1984. dan kredit langsung Bank Indonesia pada saat yang sarna masing-masing mencapai Rp 3. Pemberian kredit menurut sektor Pemerintah dan sektor swasta Kredit perbankan sebagai somber pembiayaan pembangunan dapat diperinci menurut kredit yang diberikan di sektor Pemerintah. perorangan. Hal ini sejalan dengan luasnya bidang usaha yang dapat dijangkau dengan lokasi cabang bank Pemerintah yang terse bar di seluruh Indonesia sampai ketingkat kecamatan. dan kredit cabang bank-bank asing sebesar Rp 118 milyar (12.514 milyar.

6. dan dari Bank Indonesia sebesar Rp 19 milyar.532 387 Sektor Bank Indonesia 1) Sektor Pernerintah 2) Sektor Swasta Bank-bank Urnurn Pernerintah Likuiditas sendiri Sektor Pernerintah Sektor Swasta Likuiditas Bank Indonesia Sektor Pernerintah Sektor Swasta Bank-bank Urnurn Swasta Nasional Likuiditas sendiri Sektor Pernerintah Sektor Swasta Likuiditas Bank Indonesia Sektor Swasta Cabang Bankotiank asing 3) Sektor Pernerintah Sektor Swasta Jurnlah kredit perbankan 4) Sektor Pernerintah Sektor Swasta Kredit dalarn valuta aging 1).187 1.747 milyar pada akhir bulan Maret menjadi Rp 12.798 milyar (21. Dalam perkembangannya selama periode April-September 1984. yaitu sebesar Rp 976 milyar. terrnasuk kredit investasi.111 686 71 615 425 203 222 98 93 3 90 5 5 63 63 1.449 451 998 305 1975/1976 Maret 264 260 4 1.055 695 428 267 211 199 4 195 12 12 99 1 98 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar. bidang pertanian sebesar Rp Departemen Keuangan RI 96 . cabang bank asing sebesar Rp 115 milyar.293 milyar.630 1.676 813 559 254 382 347 5 342 35 35 207 2 205 5.018 milyar tersebut digunakan untuk bidang perindustrian sebesar Rp 6. pembiayaan kredit di sektor swasta mengalami peningkatan sebesar Rp 1.007 1.721 2.4 persen).883 207 1.1 persen).174 119 1. Sejak Maret 1979 terrnasuk pinjarnan valuta aging kepada Pertarnina yang dinyatakan dalarn rupiah 3).7 persen).869 1. Pemberian kredit perbankan menurut sektor ekonomi Menurut sektor ekonomi.6 KREDIT PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR PEMERINTAH DAN SEKTOR SWASTA.696 1.405 milyar.968 1.3.018 milyar (44.5 persen).538 milyar pada akhir September 1984.043 milyar pada akhir September 1984 digunakan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 8.524 894 1.948 20 2. Perkembangan kredit perbankan menurut sektor Pemerintah dan sektor swasta dapat diikuti pada Tabel IV.227 milyar (34. di sektor perdagangan sebesar Rp 6. Likuiditas sendiri 4). KIK dan KMKP 4. Jumlah pemberian kredit untuk kegiatan di sektor produksi sampai dengan bulan September 1984 sebesar Rp 8. dan untuk kegiatan di sektor lainnya sebesar Rp 3. pemberian kredit perbankan sebesar Rp 18. Kenaikan pemberian kredit di sektor swasta tersebut sebagian besar berasal dari kenaikan kredit bank-bank umum Pemerintah. 1969/1970 – 1984/1985 (dalam milyar rupiah) 1969/1970 Maret 71 69 2 163 72 7 65 91 50 41 22 21 21 1 1 4 4 260 126 134 24 4 4 11 11 373 138 235 6 1970/1971 Maret 81 78 3 253 138 21 117 115 39 76 28 24 1971/1972 Maret 86 83 3 374 221 46 175 153 57 96 35 28 28 7 7 15 15 510 184 326 24 1972/1973 Maret 126 122 4 470 302 11 291 168 59 109 55 49 2 47 6 6 34 34 685 194 491 85 1973/1974 Maret 136 132 4 815 538 38 500 277 104 173 72 67 3 64 5 5 64 64 1.516 1. Kredit langsung Bank Indonesia 2).115 1978/1979 Maret 1.008 104 904 508 312 196 149 140 4 136 9 9 76 2 74 2.791 milyar (16. Tabel IV.253 2.323 984 1976/1977 Maret 345 342 3 1.443 545 411 134 286 274 4 270 12 12 144 144 2.2.3. Kredit dalarn rupiah.087 277 810 127 1974/1975 Maret 177 174 3 1.193 1077/1978 Maret 343 339 4 2. walaupun terdapat penurunan kredit yang disalurkan melalui kredit langsung Bank Indonesia sebesar Rp 1.960 953 2.005 682 1. dari bank umum swasta nasional sebesar Rp 681 milyar.542 199 1. sehingga posisinya meningkat dari Rp 10.

165 602 420 286 82 130 74 144 75 47 22 2.696 1. Sedangkan kredit untuk sektor ekonomi lainnya dalam periode yang iama telah meningkat sebesar Rp 649 milyar.960 1. impor pupuk dan batu bara.7 KREDIT PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR EKONOMI. Pemberian kredit di sektor perdagangan sebagian besar digunakan untuk pembiayaan pengadaan pangan.227 milyar. di samping penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 292 milyar.515 1.193 343 166 165 12 2.524 1.3 persen) yang berasal dari kenaikan kredit di bidang perindustrian sebesar Rp579 milyar. Sementara itu posisi pemberian kredit untuk . 1969/1970 – 1984/1985 (dalam milyar rupiah) 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret 71 163 22 4 260 81 253 28 11 373 6 86 374 35 15 510 24 126 18 105 3 470 223 149 98 55 15 22 18 34 13 14 7 685 269 290 126 85 136 21 112 3 815 390 247 178 72 21 23 28 64 25 15 24 1. KIK dan KMKP. Tabel IV. dan di bidang pertanian sebesar Rp 42 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1.291 793 440 1.187 1.087 457 397 233 127 177 17 158 2 0.968 1.193 1.565 679 452 382 111 181 90 207 104 71 32 5. dan bidang pertambangan sebesar Rp 378 milyar. distribusi kebutuhan pokok. yaitu antara lain lsaha pengumpulan barang-barang dalam negeri. Selama periode AprilSeptember 1984 pemberian kredit untuk kegiatan produksi meningkat sebesar Rp 329 milyar (4.253 3.133 605 387 SEKTOR Bank Indonesia 1) Produksi 2) Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Pemerintah Produksi Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum SwastaNasional Produksi Perdagangan Lain-lain Cabang Bank-bank asing Produksi Perdagangan Lain-lain Jumlah kredit perbankan 3) Produksi Perdagangan Lain-lain Kredit dalam valuta asing 1) Kredit langsung Bank Indonesia 2) Sejak Maret 1979 termasukpinjaman valuta asing kepada Pertamina yang dinyatakan dalam rupiah 3) Termasuk kredit investasi.005 901 766 338 984 345 206 130 9 1.11875 468 388 255 98 29 29 40 63 22 15 26 1.449 536 590 323 305 264 104 149 11 1. sampai dengan akhir Maret 1980 adalah posisikredit dalam rupiah 4) Angka sementara Departemen Keuangan RI 97 .488 944 528 1. Di samping itu tercatat beberapa kegiatan lainnya yang dibiayai oleh kredit di sektor perdagangan.516 719 528 269 149 45 62 42 76 33 27 16 2.869 979 530 360 211 64 94 53 99 42 39 18 2.735 202 31 2. ini berarti bahwa selama periode April-September 1984 telah meningkat sebesar Rp 930 milyar.egiatan di sektor perdagangan sampai dengan bulan September 1984 adalah sebesar lp 6. dan perdagangan eceran.347 milyar.

705 6.8 persen) termasuk kredit untuk bidang jasa-jasa sebesar Rp 2.062 5.163 261 580 322 587 344 192 51 10.477 1.6 tnilyar (37.064 4.2.388 1.2 persen).801 2.4.678 1.362 930 955 477 9.5 milyar (38.927 3.708 2.1 persen).0 persen).599 901 1983/84 Des. 4) Sept.6 milyar (49.399 1.253 4.651 5.524. Di Dati I Sumatera Utara terdapat peningkatan volume kredit yang cukup besar.785 2.522 3.620 827 Maret April Me i 2.039 547 555 561 292 296 311 142 153 167 16.632 1.621 1.591 1.043 7.132 3.933 1.0 persen). 2.735 1.915 3.328 1.625 1.283 11.782 12.712 1.043 3. Kredit tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan perekonomian yang dapat diperinci sebagai berikut.542 3.216 1.728 4.583 645 718 990 1. dan sektor lain-lain sebesar Rp 1.726 450 780 496 737 412 241 84 13.081 895 521 501 301 -563 580 594 11. pemberian kredit perbankan untuk seluruh Dati I di Indonesia. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 3.860 5.971 4.737 6.888 3.177 3.353 3.353 1.131 6.115 Agost.350 1.132 5. 4) 938 906 274 273 664 633 12.768.295 2.139 4.107 12.8 milyar (68.592 813 227 6. 784 178 47 3.1 milyar (20.249 761 812 857 981 1. terlihat perkembangan yang cukup menggembir_kan.216 3.084 1.359 5.854 4.8 milyar.717 2.744 7.269 870 905 1.450 6.164 2. yaitu sebesar Rp 165. KIK dan KMKP.111 4.027 837 429 9.966 541 849 576 735 416 240 79 14. sampai dengan akhir Maret 1980 adalah posisikredit dalam rupiah 4) Angka sementara 4.297 2.902 4.7 milyar (18.605 7.065 1. Bila dilihat pemberian kredit di tiap-tiap Dati I.004 1.502 1. Dati I Kalimantan Barat dengan Rp 67.146 1) Kredit langsung Bank Indonesia 2) Sejak Maret 1979 termasuk pinjaman valuta asing kepada Pertamina yang dinyatakan dalam rupiah 3) Termasuk kredit investasi.292 720 574 1.772 2.039 827 1.726 3.292 12.993 4.620 2.689 5.9 milyar (9.626.582.356 2.114 1.8 milyar (96. Pemberian kredit perbankan menurut Dati I Pemerataan sarana dan hasil pembangunan juga diusahakan melalui pemberian fasilitas kredit perbankan untuk membiayai kegiatan perekonomian di berbagai sektor yang dialokasikan sesuai dengan kebutuhannya di masing-masing daerah tingkat I di Indonesia.773 6.4 milyar.908 6.701 2.744 5. Sept.227 3. tidak termasuk kredit langsung Bank Indonesia.496.851.0 milyar (44.644 5.325 1.356 359 1981/82 Maret 2.753 939 1984/85 Juni Juni 923 304 619 6.293 1.110 1.3 milyar.248 734 412 1980/81 Maret 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1979/80 Maret 2.784 466 785 533 661 384 212 65 13.757 1.278 16.026 1.800 6.427 908 937 1.071 3.121 973 784 178 382 224 436 273 121 42 8.593 1.4 persen).3 milyar.854 2. sektor perdagangan sebesar Rp 2.703 7. Untuk sektor perdagangan telah disalurkan sebesar Rp 6.136 1. dalam periode ]anuari-September 1984 telah terjadi peningkatan pemberian kredit di seluruh Dati I sebesar Rp 4.326 1.405 5. yang berasal dari kenaikan pemberian kredit di sektor produksi sebesar Rp 604.416 1.827 18.798 1.842 762 510 508 148 232 128 284 159 76 49 5.009 1.116 2.757 2.167.149 987 1.187 2.111.135 2.0 persen).263 1. Sampai dengan akhir bulan September 1984.139 821 428 8.835 8. telah mencapai jumlah sebesar Rp 16.0 milyar Departemen Keuangan RI 98 .542 5. Untuk membiayai kegiatan di sektor produksi telah dipergunakan kredit sebesar Rp 7.018 6.303..787 10.970 2.285 7.031 542 312 177 17.675 16. dan bidang perindustrian sebesar Rp 5.318 894 1.314 1.280 3.006 1.068 1.3 milyar.950 462 1982/83 Maret 2.7 persen).169 526 549 9. bidang pertambangan sebesar Rp 104.808 2.240 7.347.095 560 587 323 323 185 185 17.r Bank Indonesia 1) Produksi 2) Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Pemerintah Produksi Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Swasta Nasional Produksi Perdagangan Lain-lain Cabang Bank-bank asing Produksi Perdagangan Lain-lain Jumlah kredit perbankan 3) Produksi Perdagangan Lain-lain (Kredit da1am valuta asing) Juni 2.293 1.526 1.017 1.127 S e k t o.165 1. Secara keseluruhan.7 persen).299 16.127 660 738 861 977 470 543 275 289 116 145 15.750 1.735 5. 811 1.135 7.512 5. karena daerah di luar pulau Jawa telah menikmati pemberian kredit yang lebih meningkat.795 402 117 4. disusul kemudian oleh Dati I Sumatera Selatan dengan Rp 115. bidang pertanian sebesar Rp 1.958 7.051 4.917 775 780.

5 milyar (16.8 persen).0 persen).0 milyar (22.0 persen).3 milyar (23.7 milyar (27. Dengan demikian selama sembilan bulan dalam tahun 1984. dapat diikuti pada Tabel IV.8 persen).6 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 5.8 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.4 milyar (35. ke sektor perdagangan sebesar Rp1. Pertambahan tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 169.8 milyar (23.8.7 milyar (24.932. Jumlah pertambahan tersebut dipergunakan ulltuk membiayai usaha di sektor produksi sebesar Rp 38. Peningkatan tersebut tersalur ke sektor produksi sebesar Rp 278.5 persen).297 milyar.0 milyar (5. perkembangan pemberian kredit perbankan menurut Dati I sampai dengan akhir bulan Agustus 1984.3 persen).8 persen).1 persen). Dati I Jawa Timur telah menggunakan kredit sebesar Rp 1. dan di Dati I Kalimantan Timur meningkat dengan Rp 50.115. Dati I Sumatera Barat dengan Rp 51.483. dan ke sektor lain-lain sebesar Rp 972. Kenaikan kredit yang cukup tinggi di sektor produksi terutama digunakan untuk kegiatan perindustrian.9 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 1. yang berarti meningkat sebesar Rp 147. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 101. Dengan demikian sejak akhir bulan Desember 1983 telah meningkat sebesar Rp 755.2 milyar.1 milyar. kenaikan pemberian kredit sebagian besar berasal dari penggunaan kredit di sektor produksi sebesar Rp 106. di sektor perdagangan sebesar Rp 66.7 persen).3 persen).7 persen).167.0 persen).4 persen).9 milyar (53. Jumlah peningkatan terse but dipergunakan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 12.2 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.4 milyar (26. Departemen Keuangan RI 99 .9 milyar.351.7 milyar (25.2 persen).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (32.8 milyar (19.0 milyar (41.6 milyar (25.7 persen) dari posisinya sebesar Rp 831.6 persen).6 persen).2 persen). sampai dengan akhir bulan September 1984 adalah sebesar Rp 4.4 milyar (8. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 348.0 milyar (25. dan sektor lain-lain sebesar Rp 60.9 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.2 milyar (9. penggunaan kredit di DKI Jaya telah meningkat sebesar Rp 3. perdagangan sebesar Rp 300.7 persen).6 milyar.5 persen).183.5 milyar (2. atau selama sembilan bulan terse but telah meningkat sebesar Rp 185. Dati I Jawa Barat sampai dengan akhir bulan September 1984 telah menggunakan kredit sebesar Rp 1. di sektor perdagangan sebesar Rp 72. yang berarti meningkat sebesar Rp355. sektor peraagangan sebesar Rp 124.3 milyar (61.5 persen). Jumlah pemberian kredit di Dati I lainnya. Dati I Jawa Tengah telah menggunakan kredit scbesar Rp 978. Dalam periode yang sarna.4 milyar (17.839. Seperti halnya raJa Dati I-Dati I terse but di atas.2 milyar (50. Posisi penyaluran kredit di Dati I DKI Jakarta raJa akhir bulan September 1984 menunjukkan jumlah sebesar Rp8. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 42.3 milyar (82.

2 15.2 13.I.2 43. Sept.4 12. 718.9 8. 2.8 62.9 81.8 114.6 203. 1.2 111.90 1.90 611.8 116.7 59 58.2 2.7 14. Kalimantan Selatan 13.2 797. B a l i 16.8 22. Sept.60 Lain-lain Des.1 4.690.I.80 1) Termasuk Bapindo dan Bank Pembangunan Daerah 2) Angka sementara 4.7 25 25.6 211.536.1 15 10.586.9 354.8 16.351.4 54 53.3 246.8 6.9 40.5 2. 2) 8. Demikian pula bank-bank swasta nasional.9 73.5 16.5 124.5 29.1 10.30 5.7 0.2 347.052.8 51.9 44.7 3.6 13. Kalimantan Tengah 23.4 83.5 28.8 1.9 205.5 7 17.6 189. DKl Jaya 2.40 882.2 25. Sept.3 5.2 114.1 47.3 272.582. Jumlah Sept. Sulawesi Tengah 21.6 10.6 20.4 8.3 7.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.7 18. Sehubungan dengan itu.4 86.6 1.4 42. Ria u 15.6 9.2 25 25.4 238.3 135 61. Yogyakarta 17.468.8 48.7 182.8 112.483. SelanjUtnya bank-bank umum Departemen Keuangan RI 100 . Timor Timur Jumlah Produksi Des.80 1.3 6.9 0. Ace h 18.9 18.:162 61.2. 8.9 245.3. Sumatera Barat 11.3 23.90 1.7 58.1 10.7 104.SEPTEMBER 1984 (dalam milyar rupiah) D ati I 1.9 48 33.7 6. Pemerintah senantiasa menyempurnakan ketentuan-ketentuan yang menunjang pelaksanaan investasi. Jumlah maksimum pinjaman untuk setiap nasabah bank umllm swasta nasional adalah 10 persen dari modal sendiri.6 34 35 20.8 141.8 41.9 40 56.955.4 3.2 38.7 41.2 24.3 117 152. Lampung 12.1 32 30 25. Nusa Tenggara Timur 24.111.839.5 34 36.1 110.5 15.1 231.3 11.8 145.670.3 8.2 127. Pemberian kredit investasi Kegiatan investasi terus berkembang sejalan dengan kegiatan pembangunan yang semakin meningkat. Jam b i 20.6 57.5 177.20 487. Sulawesi Tenggara 26.1 35.80 3.9 13.8 27.2 52.5 315.7 21.9 20.1 53.1 279.4 9.2 24 15. D.5 7.2 0.2 11.9 233.1 136.5 35. Jawa Barat 4. KREDIT RUPIAH PERBANKAN MENURUT DATI I DAN SEKTOR EKONOMI TIDAK TERMASUK KREDIT LANGSUNG BANK INDONESIA 1) DESEMBER 1983 .297. Jawa Tengah 5.7 8.8 29.10 1.5 8. D. IrianJaya 25.9 85 106. Kalimantan Timur 10.6 13.9 112.7 351. Kalimantan Barat 9.5 32.7 40.5.698.50 978.6 261.30 598.10 3.2 42.3 48.1 85.4 30. Bengkulu 27.9 0.9 271.3 65. dan bank asing yang memenuhi persyaratan.1 14. dan sebanyak mungkin dipergunakan untuk proyek-proyek yang menggunakan hasil produksi dalam negeri.1 23.1 38. dan tidak lebih dari Rp 1 milyar.2 183. Sumatera Utara 6.6 208.5 585.4 5.6 18.167.4 125.5 126.9 83.7 2.913.1 36.6 963 349. Nusa Tenggara Barat 22.6 4. Maluku 14.7 223.00 Perdagangan Des.9 24.9 15.3 14.20 1.1" 55.4 18.00 831.5 70.2 15.8 51 59 53. alltara lain bank-bank Pemerintah dapat memberikan fasilitas kredit investasi ulltuk industri perkayuan yang berintikan kayu lapis. Sumatera Selatan 7. Sulawesi Selatan 8.3 135.4 101.6 48 17.1 2.1 66.2 193.5 118.5 69.5 522. dapat pula berperan serta memberikan kredit untuk pembiayaan investasi dengan jumlah maksimum masing-masing sebesar 20 persen dan 35 persen dari baki debet pinjaman.3 36.303.8 26.9 0.191.9 287. Jawa Timur 3.4 82.6 113.167.6 125.2 175.2 498. Sulawesi Utara 19.5 169.2 88 47.70 Des.9 589.112.5 21.9 116.60 1.6 13.3 75.60 175.7 460.3 114.

bidang perindustrian sebesar Rp 12 milyar (0. oleh bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 152 milyar.2 persen).5 persen).199 milyar tersebut dipergunakan untuk kegiatan di bidang perindustrian sebesar Rp 2. Peningkatan tersebut hemal dari kenaikan kredit di berbagai sektor ekonomi.6 persen). Dengan demikian. dan bank-bank asing diberikan kesempatan melakukan penyertaan modal dalam perusahaan-perusahaan yang potensial. perdagangan sebesar Rp 73 milyar (48.besar Rp 99 milyar (12.795 milyar. dengan jangka waktu maksimum 8 tahun. pinjaman investasi perbankan dalam rupiah dan valuta asing yang disetujui telah mencapai jumlah sebesar Rp 6. Menyusul kemudian peningkatan di bidang pertanian st. dan Rp 114 milyar (12.1 persen).8 persen). di samping penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 292 milyar (46. dan sebesar Rp 92 milyar (18.4 persen). Juga terjadi kenaikan di bidang perdagangan sebesar Rp 61 milyar (57. dan di bidang pertanian. Dibandingkan dengan posisinya pada bulan Maret 1984.2 persen).7 persen).6 persen).674 milyar. perdagangan sebesar Rp 223 milyar (3. Jumlah terse but telah disalurkan oleh bank-bank Pemerimah sebesar Rp 4.199 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 swasta nasional. Dengan demikian secara keseluruhan dalam periode April-September 1984. dan di bidang -lainlain sebesar Rp 82 milyar (19. pertambangan sebesar Rp 734 milyar (11.6 persen).8 persen). dan di. Departemen Keuangan RI 101 .5 persen).5 persen).5 persen).0 persen). oleh Bank Indonesia sebesar Rp 1.766 milyar (44.5 persen). yaitu masing-masing meningkat dcngan Rp 193 milyar (7.3 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 4.2 persen). dan di bidang lain-lain sebesar Rp 49 milyar (9. jasa-jasa sebesar Rp 1.4 persen).004 milyar (16. dalam periode AprilSeptember 1984 telah terjadi peningkatan sebesar Rp 63 milyar (1.371 milyar. dan di bidang lain-lain sebesar Rp 581. yaitu masingmasing sebesar Rp 132 milyar (17. te12h terjadi peningkatan sebesar Rp 509 milyar (8.732 milyar pada akhir bulan Maret 1984. Ada pun posisi kredit investasi yang telah direalisasikan sampai dengan akhir bulan September 1984 adalah sebesar Rp 4. dan di bidang jasa-jasa.6 persen). Dilain pihak terdapat penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 19 milyar (2. dan oleh cabang bank-bank asing sebesar Rp 2 milyar. Sampai dengan akhir bulan September 1984. Keseluruhan jumlah kredit sebesar Rp 6. pertanian sebesar Rp 891 milyar (14. Kenaikan dalam periode 1984/1985 tersebut adalah lebih baik dari yang terjadi dalam periode 1983/1984 yang mengalami penurunan sebesar Rp 306 milyar (5. dalam periode April-September 1984 telah terjadi peningkatan yang cukup berarti terutama di bidang perindustrian.9 persen) atau rata-rata perbulan sebesar Rp 85 milyar.0 milyar (9. terutama di bidang jasa-jasa.

2.648 477 2.004 569 581 4.002 84 661 155 3. di samping keringanan suku bunga.225 367 139 827 489 Sektor Yang disetujui perbankan Pertanian lndustri Pertambangan Perdagangan Jasa-jasa 2) Lain -lain Realisasi Pertanian lndustri Pertambangan Perdagangan Jasa-jasa 2) Lain .248 579 121 765 448 Mei 5. Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP).073 101 645 326 Maret 5.894 1.242 2.752 243 968 1. Kredit Bimas.793 734 2. Program kredit untuk golongan ekonomi lemah Untuk mendorong peranan pengusaha golongan ekonomi lemah dalam meningkatkan produksi dalam negeri. melalui pemberian fasilitas kredit perbankan untuk jenis usaha yang berprioritas tinggi. 9 KREDIT INVESTASI PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR EKONOMI.003 983 117 663 375 5. Beberapa jenis kredit berprioritas tinggi tersebut antara lain adalah Kredit Investasi Kecil (KIK).340 366 134 813 466 5. kebijaksanaan moDeler perbankan 1 Juni 1983 tetap memberikan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah.480 837 129 1.579 438 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV. kredit investasi sampai dengan Rp 75.054 6.304 1. te1ah mengalami beberapa penyempurnaan.806 39 361 71 1981/82 Maret 4.605 389 1.973 49 485 34 3.668 522 2.690 792 2. termasuk kredit untuk sektor perdagangan 3) Angka sementara.958 1.lain Realisasi Pertanian Industri Pertambangan Jasa . pembiayaannya tetap disediakan melalui fasilitas kredit likuiditas Bank Indonesia.6.623 67 521 139 1982/83 Maret 5. dan kemudahan-kemudahan untuk memperoleh kredit yang diperlukan. Kredit Koperasi.314 2. 2) Sampai dengan Maret 1980. Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Departemen Keuangan RI 102 .669 564 184 963 536 4.694 4. adalah posisi kredit investasi dalam rupiah pacta bank-bank Pemerintah.1984/1985 ( dalam mityar rupiah ) 1969/1970 Maret 1970/1971 Maret 1971/1972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret Yang disetujui perbankan Pertanian Industri Pertambangan Jasa-jasa 2) Lain .359 1.658 539 2.092 121 894 365 4. baik mengenai besarnya volume kredit yang diberikan maupun mengenai bagian pembiayaan pinjaman. Kredit Kecil (KK).jasa 2) Lain -lain 32 8 11 1 11 1 17 6 5 1 5 - 78 20 35 22 1 49 13 20 15 1 115 11 61 40 3 77 6 45 25 1 147 12 75 1 54 5 107 8 58 39 2 175 18 84 1 62 10 119 10 61 41 7 198 19 100 66 13 143 13 73 47 10 270 36 110 5 104 15 196 29 82 5 70 10 343 48 137 5 137 16 263 41 97 4 111 10 362 69 143 5 127 18 288 57 109 3 107 12 448 86 154 10 185 13 343 71 118 2 143 9 1) Sampai dengan Maret 1980.176 769 115 716 395 1984/1985 Juni Juli 5.579 753 158 916 534 4.311 117 917 1.670 509 2.393 617 2.573 753 150 890 532 4.681 852 2.316 632 106 752 431 April 5.650 713 2.0 juta.222 563 123 773 465 Agust 3) Sept 3) 6.304 340 340 150 167 870 884 506 513 1) Sampai dengan Maret 1980.762 831 2.630 583 2.766 736 734 177 223 975 1. dan Kredit Candak Kulak (KCK). adalah posisi kredit investasi dalam rupiah pada bank-bank Pemerintah 2) Termasuk kredit untuk sektor perdagangan 1979/80 Maret 662 114 212 6 306 24 463 78 158 2 207 18 1980/81 Maret 3.759 219 1.3.934 121 800 333 4. 1) 1969/1970 .lain Juni 5.571 355 1.199 875 891 2.795 586 587 2. Sehubungan dengan hat itu.643 562 167 925 532 4. 4.996 644 2. Pemberian fasilitas kredit melalui Kredit Investasi Kecil (KIK) dan Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP) kepada pengusaha kecil yang dilaksanakan sejak akhir tahun 1973.164 1.040 138 984 416 4. Kredit Umum Pedesaan (Kupedes).182 99 676 301 1983/1984 Sept Des 5.755 815 2.141 472 4.732 495 2. suku bunga serta jangka waktu pinjamannya.722 2.794 878 2.602 737 160 899 533 4.190 1.455 416 1.

dan jangka waktu maksimum 5 tahun.945 milyar.. dapat diberikan tambahan plafon sebesar Rp 5 juta. danjangka waktu maksimum 3 tahun. sehingga jumlah maksimum kredit menjadi Rp 15 jtita. Jumlah-jumlah tersebut terdiri dari KIK yang disetujui sebesar Rp 872 milyar (29. dan diberikan tambahan plafon sebesar Rp 5 juta. Jumlah KIK dan KMKP yang disetujui sampai dengan bulan September 1984 tercatat sebesar Rp 2. Dalam periode April-September 1984. Mulai 1 Juni 1983 jumlah kredit tersebut ditingkatkan menjadi Rp 15 juta tanpa tambahan plafon. dan KMKP yang disetujui sebesar Rp 2. Sejak tanggal 1 Juni 1983.4 persell).6 persen) dengan 238 ribu pemohon. sedangkan bagian dana dari bank pelaksana tetap 20 persen. serta plafon kredit yang dapat disesuaikan dengan kemampuan pelunasan pinjaman oleh nasabah.7 persen) dengan pyningkatan nasabah sebesar 10 ribu pemohon (4.10. Selanjutnya pada bulan Juli 1984 diadakan penyesuaian dalam kebijaksanaan KIK/ KMKP. Dengan demikian posisi KIK dan KMKP dalam 6 bulan pertama tahun anggaran 1984/1985 (April-September 1984) menunjukkan pertambahan sebesar Rp 259 milyar (9. dengan suku bunga tetap sebesar 12 persen setahun. Ketentuan jumlah maksimum KMKP pada awal diselenggarakannya program ini adalahsebesar Rp 5 juta rupiah. Departemen Keuangan RI 103 . Selanjutnya sejak September 1980 plafon KMKP te1ah menjadi Rp 10 juta. atau rata-rata setiap bulannya meningkat sebesar Rp 43. suku bunga 10. maka dalam perkembangannya hingga bulan September 1980 jumlah maksimum KIK te1ah menjadi Rp 10 juta. sedangkan KMKP meningkat sebesar Rp 212 milyar (11.956 ribu pemohon. Jangka waktu KIK adalah 8 tahun dengan masa tenggang 4 tahun. dengan peningkatan permohonan sebanyak 107 ribu pemohon. dengan suku bunga 15 persen setahun.2 milyar dengan 18 ribu pemohon. dan plafon kredit yang senantiasa disesuaikan dengan kemampuan pelunasan pinjaman oleh nasabah. jumlah maksimum KIK adalah sebesar Rp 5 juta setiap nasabah dengan suku bunga 12 persen setahun. Jumlah kredit likuiditas Bank Indonesia untuk program kredit ini yang semula ditetapkan 80 persen.0 persen). di tUrunkan menjadi 55 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Jika pada awal dilaksanakannya. Dalam bulan Juli 1984. dengan jumlah 1. dan suku bunga 12 persen setahun.718 ribu pemohon.Perkembangan KIK dan KMKP dapat dilihat pada Tabel IV.073 milyar (70.6 persen). jumlah KIK mengalami peningkatan sebesar Rp 47 milyar (5. dengan jangka waktu 3 tahun (yang setiap saat dapat diperpanjang). daD dengan suku bunga 12 persen setahun.5 persen setahun dengan jangka waktu maksimum menjadi 10 tahun. sedang sisanya sebesar 25 persen akan dibiayai dengan dana yang berasal dari Bank Dunia. jangka waktu KMKP ditetapkan 5 tahun dengan masa tenggang 1 tahun. bat as tertinggi KIK dinaikkan lagi menjadi Rp 15 juta. tanpa adanya tambahan plafon.4 persen) dengan 1.4 persen) dengan peningkatan nasabah sebesar 97 ribu pemohon (6.

dan sebagian lagi dari bank pelaksana.022 2. Kredit Midi dananya sebagian berasal dari kredit likuiditas Bank Indonesia.605 . Selanjutnya sejak Januari 1984 telah Departemen Keuangan RI 104 .062 1.679 1.378 1.300 1. 1. 761 1.542 1.454 1. Berbeda dengan Kredit Kecil yang sumber dananya berasal dari APBN.961 1.725 1.888 1.578 1.073 Pemberian Kredit Kecil (KK) yang diselenggarakan sejak tahun 1974. 10 VESTASI KECIL DAN KREDIT MODAL KERJA P YANG DISETUJUI 1973/1974 . 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.861 1.178 1.798 1. sejak tahun 1978 telah pula diselenggarakan program kredit Midi untuk pengusaha yang memerlukan kredit dalam jumlah maksimum sampai dengan Rp 500 ribu. senantiasa ditingkatkan dari waktu kewaktu sesuai dengan perkembangan.697 1.830 1.938 1. Di samping Kredit Kecil.1984/1985 (dalam milyar rupiah) Periode 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember J anuari Pebruari Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September 1) 1) Angka sementara KIK 6 19 34 55 79 113 190 366 421 477 528 571 608 648 685 723 732 741 749 756 766 778 783 790 799 805 819 825 835 847 882 857 860 872 KMKP 4 18 41 75 124 188 349 656 799 958 .814 1.627 1.998 2.657 1.

sedangkan permintaan kredit baru dialihkan ke Kupedes.5 milyar. terhadap Kredit Modal Kerja Perman en (KMKP) sebesar Rp236.4 milyar atau suatu penurunan sebesar Rp 22. maupun usaha calon nasabah baru.000.2 milyar untuk 13 ribu nasabah.5 persen ) terhadap posisinya pada akhir bulan Maret 1984 sebesar Rp 36. dan jangka waktu maksimum 2 tahun. atau rata-rata Rp 9.6 milyar. baik usaha-usaha yang sebelumnya pernah dibantu dengan fasilitas Kredit Kecil/Kredit Midi. dan 24 persen setahun untuk kredit modal kerja.000. dan jangka waktu maksimum 3 tahun. PT Askrindo dalam kegiatannya telah menyediakan jasa pertanggungan atas kredit perbankan yang diberikan. Bagi nasabah yang menunggak pengembalian pinjamannya. jumlah pertanggungan yang diberikan terhadap.2 milyar untuk 176 ribu nasabah. dan meningkatkan usaha-usaha kecil di pedesaan. posisi Kupedes yang diselenggarakan sejak Januari 1984 telah mencapai Rp 88. dan dana APBN yang telah disalurkan dalam rangka penyelenggaraan program Kredit Keci!.5 milyar.3 milyar untuk 251 Departemen Keuangan RI 105 .6 milyar. dana perbankan yang berhasil dihimpun dari masyarakat.dan maksimum sebesar Rp 1. Penurunan tersebut terdiri dari penurunan kredit untuk usaha investasi sebesar Rp 1. suku bunga_ya akan dinaikkan masing-masing menjadi 18 persen setahun untuk kredit investasi. Kredit ini dananya berasal dari kredit likuiditas Bank Indonesia. Sampal dengan akhir September 1984. Dalam hal Kupedes dipergunakan untuk modal kerja dikenakan suku bunga 18 persen setahun.8 milyar setiap bulan. Fasilitas kredit untuk pengusaha kecil ini dikenal dengan Kredit Umum Pedesaan (Kupedes). Secara keseluruhan. fasilitas Kredit Mini dan Kredit Midi masih diteruskan sampai dengan jatuh tempo kredit masing-masing. Fasilitas kredit ini dimaksudkan untuk mengembangkan. dan Kredit Midi. Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pemberian kredit kepada pengusaha kecil. Dalam tahun 1984 sampai dengan bulan September 1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 diselenggarakan program kredit baru yang merupakan pengganti dari program Kredit Kecil. juga disebabkan beralihnya nasabah Kredit Kecil ke Kredit Umum Pedesaan.1 milyar ( 60. yang disebabkan karena selain makin banyak para nasabah mengembalikan kredit dalam periode tersebut.-. Dengan dikeluarkannya fasilitas Kupedes ini. jumlah pertanggungan yang diberikan kepada KIK. KMKP.000. posisi Kredit Kecil tercatat sebesar Rp 14. Perkembangan Kredit Kecil dan Kupedes dapat dilihat pada Tabel IV.11. Sampai dengan akhir September 1984.9 milyar untuk 62 ribu nasabah. dan terhadap kredit eksploitasi biasa sebesar Rp 36. Kredit tersebut dapat digunakan untuk investasi dengan bunga 12 persen setahun. dan kredit eksploitasi biasa adalah sebesar Rp 344. Kredit Investasi Kecil (KIK) adalah sebesar Rp 71. dan untuk usaha eksploitasi sebesar Rp 20.. Jumlah pinjaman yang diberikan kepada nasabah Kupedes adalah minimum sebesar Rp 25.

PT Bahana sejak tahun 1974 telah pula memberikan bantUan dalam bentuk penyertaan modal. Pada waktu dimulainya program kredit tersebut.5 milyar untuk 122 ribu nasabah. sebesar Rp 11. Sampai dengan akhir bulan September 1984.7 milyar merupakan jumlah pertanggungan yang diberikan secara masal kepada 124 ribu nasabah. industri sebesar Rp 23. jumlah pinjaman yang dapat diberikan kepada seorang peminjam maksimum adalah Rp 15. dan sektor jasa-jasa sebesar Rp 1.9 milyar untuk 40 ribu nasabah.285. Bantuan tersebut terutama dipergunakan untuk usaha di sektor perdagangan dan industri. pemberian kredit penjembatan. Di dalam keseluruhan kredit yang dijamin PT Askrindo. dan Rp 332. Kredit ini disalurkan oleh Bank Rakyat Indonesia dengan syarat lunak. sedangkan pada akhir bulan Maret 1984 jumlahnya baru mencapai Rp 150 milyar dengan jumlah 12. Sampai .-.-. Di samping program-program kredit diatas.000.682 nasabah.0 milyar untuk 5 ribu nasabah. dengan peningkatan sebanyak 632 nasabah. Hal ini berarti bahwa dalam periode AprilSeptember 1984 perputaran KCK mengalami peningkatan sebesar Rp 12 milyar (8.9 juta. Departemen Keuangan RI 106 . Menurut sektor ekonomi.0 juta yang terdiri dari kredit penjembatan sebesar Rp 3.2 milyar untuk 5 ribu nasabah. Secara terperinci pemberian pertanggungan secara masal meliputi sektor pertanian sebesar Rp 8.1 milyar untuk 9 ribu nasabah. Guna mendorong kegiatan para pengusaha kecil. dari keseluruhan jumlah pertanggungan tersebut di atas.0 juta.2 juta untuk satU BUUD/KUD. maupun dalam bentuk penanaman lainnya. perdagangan sebesar Rp 231.612.1 juta kepada 39 buah perusahaan dan penanaman dana lainnya sebesar Rp 10.956 peminjam.4 milyar untuk 68 ribu nasabah. penyertaan modal sebesar Rp 662.964 BUUD/KUD yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. sejak tahun 1976 Pemerintah menyelenggarakan program Kredit Candak Kulak untuk para bakul/pedagang kecil di pedesaan.588 peminjam. PT Bahana telah melakukan penanaman dana sebesar Rp 4.000.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ribu nasabah. Pemberian pertanggungan secara individual terdiri dari nilai pertanggungan di sektor pertanian sebesar Rp 10. jasa-jasa sebesar Rp49.dengan bulan September 1984.0 persen). maka untuk meningkatkan pendapatan serta menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat pedesaan dan kota-kota kecamatan. perdagangan sebesar Rp 1. yang sejak bulan Juli 1982 ditingkatkan menjadi Rp 30. dan di sektor ekonomi lainnya sebesar Rp 18.6 milyar merupakan pertanggungan kredit yang diberikan secara individual kepada 127 ribu nasabah.8 milyar untuk 1.4 milyar untUk 389 nasabah. dan bunga yang rendah melalui 4. perputaran KCK telah mencapai sebesar Rp 162 milyar yang meliputi 13. termasuk kredit sebesar Rp 0.

159 723.172 30.968 60.417 unit dibangun oleh rerum Perumnas.641 62.932 62.579 71.277 2. 1974/1975 1984/1985 Kredit Kecil Kredit Umum Pedesaan Jumlah pinjaman Jumlah pinjaman peminjam rupiah ) peminjam rupiah) 61.406 224.553 498. Pemerintah sejak tahun 1976 menyediakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang disalurkan melalui Bank Tabungan Negara.824 131.058 15. selama Departemen Keuangan RI 107 .920 313.340 603.773 252.981 398.972 2.613 unit rumah yang terdiri dari 92. Bila dibandingkan dengan posisinya pada bulan Maret 1984 sebesar Rp 620 milyar. 13.601 756.229 665.416 Periode 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Januari Pebruari Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September l) 1) Angka sementara.220 .503 741.599 14.673 63.603 207.474 353.597 702.509 749. posisi pemberian KPR mencapai jumlah sebesar Rp 721 milyar.518 31.256 59.659 758.294 393.266 618.281 57.855 716.290 750.130 445.029 8.925 62.519 296.44.322 47.592 63.438 687. dan 123.662 45.246 407.162 50.741 566.250 234.708 88.404 491.088 59.879 54.934 695. yang digunakan untuk membangun 215.670 16. 11 KREDIT KECIL DAN KREDIT UMUM PEDESAAN.822 744.204 57.754 20.040 756.806 766.911 4-9.467 161.974 450.991 19.065 59.208 757.137 5.740 760.398 41.880 12.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.414 56.829 272.708 710.783 359.196 unit dibangun oleh non Perumnas.810 342.411 22.104 57.306 36.280 82. Sampai dengan akhir bulan September 1984.624 Guna membantu mengatasi kebutuhan akan perumahan.533 57.192 11.332 58.902 58.689 26.230 75.

dan pedesaan. dalam Repelita IV sasaran kebijaksanaan moDeter diarahkan untuk meningkatkan efisiensi kerja. Pembinaan yang telah dilakukan selama ini terutama diarahkan kepada usaha untuk lebih mengembangkan bank pembangunan daerah (BPD). Dalam tahun 1983/84 bantuan tersebut diberikan kepada 2 BPD.3 persen) untuk membangun 19. dengan suku bunga 13.4. bank perkreditan rakyat (BPR). dan jangka waktu satu tahun. Hal itu dimaksudkan agar lembaga-lembaga keuangan lebih efektif menjalankan fungsinya sebagai perantara keuangan dalam bentuk mobilisasi daD penyaluran dana-dana masyarakat. Lembaga-lembaga keuangan 4. dan berhasil guna dalam menunjang pembangunan nasional. sebanyak 3.1. Dari jumlah tersebut. Pemerintah telah memperlunak persyaratan pendirian kantor cabang. Lembaga-Iembaga keuangan perbankan akan dikembangkan dan diperluas agar pelayanannya dapat menjangkau ke seluruh daerah kabupaten.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 periode April-September 1984 pemberian KPR telah mengalami peningkatan sebesar Rp 101 milyar (16.5 sampai 3 kali modal sendiri. dan bank pembangunan koperasi. dan kantor cabang pembantu BPD. Kredit untuk pembangunan rumah oleh rerum Perumnas dananya berasal dari APBN. Usaha untuk meningkatkan bank perkreditan rakyat di dalam rangka membantu pengusaha golongan ekonomi lemah yang berada di pedesaan terus dilakukan dengan pemberian fasilitas kredit likuiditas yang disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI).4. Jumlah kredit yang diperoleh daTi BRI adalah antara 1. dan 15. 4. serta menyempurnakan organisasiorganisasi lembaga keuangan. Usaha memperkuat permodalan BPD serta pembinaannya dalam bentuk pemberian bantuan teknis dan pendidikan tetap dilanjutkan. Untuk tetap meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam membiayai pembangunan. sedangkan kredit untuk pembangunan rumah non Perumnas dananya berasal dari dana perbankan.5 persen per rabun.778 unit rumah.882 unit dengan nilai sebesar Rp 8 milyar dibangun oleh rerum Perumnas. kecamatan. Di samping itu. Departemen Keuangan RI 108 . Lembaga keuangan perbankan Kebijaksanaan Pemerintah untuk mengembangkan dan membina sektor perbankan dalam tahun 1984/1985 merupakan kelanjutan dari kebijaksanaan dalam tahun anggaran sebelumnya yang diarahkan untuk menumbuhkan sistem perbankan yang sehat. sehingga sampai saar ini telah dicakup 27 buah BPD yang tersebar merata di setiap ibukota propinsi.896 unit dengan nilai Rp 93 milyar dibangun oleh non Perumnas. guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan jasa perbankan terutama di daerah-daerah.

Usaha menciptakan pertumbuhan yang lebih seimbang diantara bank-bank umum swasta nasional (BUSN). sehingga jumlahnya menjadi 80 kantor pacta akhir Juli 1984. sedangkan himbauan untUk melakukan penggabungan usaha (merger) terus dilanjutkan. dan pengusaha ekonomi lemah. Jumlah kantor cabang pembantu sebagai peserta tidak langsung dari kliring lokal telah bertambah dengan 24 kantor. dan kantor cabang pembantu. sebanyak 2 bank telah melakukan penggabungan usahanya. bank-bank dan lembaga-Iembaga keuangan bukan bank masih tetap dapat menerbitkan surat jaminan bank dalam rangka memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat. disesuaikan dengan tempat dimana bank didirikan terutama mengenai besarnya modal koperasi. 4. dan jenis lainnya. sehingga BUSN yang telah mengadakan merger sampai dengan AgustUs 1984 berjumlah 94 bank. yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia terus ditingkatkan.2. Dalam tahtm terakhir ini. LKBB jenis investasi terutama melakukan usaha sebagai perantara dalam menerbitkan surat-surat berharga. dan menjamin serta menanggung terjualnya surat-surat berharga (underwriter). Dalam tahun 1983/1984. dilaksanakan melalui pemberian kemudahan untuk membuka kantor cabang. yaitu jenis yang bergerak di bidang pembiayaan pembangunan. Di samping itu Departemen Keuangan RI 109 . tugas pembinaan dan pengawasan LKBB yang semula dilaksanakan oleh Bank Indonesia. Sedangkan tugas LKBB jenis pembiayaan lainnya adalah memberikan pinjaman kepada masyarakat golongan berpenghasilan menengah untuk memiliki rumah. Tugas LKBB jenis pembiayaan pembangunan terutama adalah memberikan. 14A tahun 1980. dan semester I 1984/1985. Ada 3 macam jenis LKBB.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Demikian pula sejak Pebruari 1983 tata kerja bank-bank umum yang berbadan hukum koperasi. serta agar peranannya selaras dengan kebijaksanaan ekonomi keuangan. sejak tahun 1982 dilakukan oleh Departemen Keuangan. jumlah tempat penyelenggara kliring lokal tersebut telah bertambah dengan 3 tempat sehingga menjadi 24 tempat. perluasan kliring lokal di wilayah. jenis investasi. Berdasarkan Keppres nomor 29 tahun 1984 sebagai pengganti Keppres no. Lembaga-Iembaga keuangan bukan bank Lembaga-Iembaga keuangan bukan bank (LKBB) mempunyai peranan penting dalam menunjang pengerahan dana dari masyarakat untuk kemudian menyalurkan dana tersebut bagi kegiatan yang produktip.4. Dalam rangka memperluas dan memperlancar lalu lint as uang giral. dan melakukan penyertaan modal dalam perusahaan-perusahaan. Untuk lebih meningkatkan peranan LKBB di dalam pengembangan posar uang dan modal. kredit jangka menengah atau jangka panjang.

Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 (sampai dengan Juli 1984). Sedangkan jumlah dana LKBB jenis pembangunan berjumlah sebesar Rp 243 milyar. Adapun penanaman dana dari LKBB secara keseluruhan selama periode AprilSeptember 1984 mengalami kenaikan sebesar Rp 65.5 persen dalam periode yang sarna. Sementara itU jumlah dananya pada periode yang sarna telah meningkat sebesar Rp 58 milyar atau 5. Untuk tahap pertama. surat-surat berharga yang didiskontokan kepada Bank Indonesia berjumlah sebesar Rp 156 milyar. Kedua jenis penanaman dana tersebut. Dengan demikian posisi fasilitas diskonto ulang pada akhir Juli 1984 naik menjadi Rp 8 milyar.2 persen lebih tinggi dari posisinya sebesar Rp 882 milyar pada akhir Maret 1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pendirian LKBB tetap hanya diberikan untuk kantor perwakilannya saja. telah dijual surat-surat berharga kepada Bank Indonesia sebesar Rp 57 milyar. sehingga posisinya menjadi Rp 1. Dalam tahun 1983/1984. Demikian pula untuk lebih meningkatkan peranan LKBB dalam perdagangan surat-surat berharga. Leasing adalah kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala.2 persen. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 9. atau Departemen Keuangan RI 110 .6 persen). Dengan adanya pembelian kembali suqtt-surat berharga yang lebih besar sejumlah Rp 41 milyar. dan 9. yang secara formal mulai diperkenalkan oleh Pemerintah sejak tahun 1974. Posisi fasilitas diskonto ulang pada akhir Maret 1983 tercatat sebesar Rp 43 milyar.4 persen) dan jenis pembangunan sebesar Rp 238 milyar (20.162 milyar.155 milyar pada akhir September 1984 terse but terdiri dari penanaman dana LKBB jebis investasi sebesar Rp 917 milyar (79. berarti posisi fasilitas diskonto ulang menurun menjadi Rp 2 milyar pada akhir Maret 1984.0 persen).2 persen. jumlah obligasi yang dapat didiskonto ulangkan kepada Bank Indonesia ditetapkan sebesar 70 persen dari nilai nominalnya. Di lain pihak jumlah dana yang berhasil dihimpun oleh LKBB jenis investasi sampai dengan September 1984 berjumlah sebesar Rp 919 milyar atau 4. dalam periode April-September 1984 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 5.2 persen. Bank Indonesia telah memberikan fasilitas diskonto ulang. Surat berharga yang dapat didiskonto ulangkan kepada Bank Indonesia telah diperluas dengan obligasi. Penanaman dana dari LKBB sebesar Rp 1. maka mulai ditempuh pula cara pernbiayaan alternatip melalui leasing.155 milyar. sehingga posisinya menjadi sebesar Rp 1. Dengan berkembangnya perekonomian Indonesia.milyar (6. disertai dengan. dan dibeli kembali sebesar Rp 51 milyar. hak pilih (optie) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan. dan jumlah surat berharga yang dibeli kembali oleh LKBB adalah sebesar Rp 197 milyar.

yang berasal dari dana-dana investasi asuransi kerugian.9 persen).2 milyar. berarti telah terjadi kenaikan sebesar Rp 225. 3 buah diantaranya merupakan perusahaan milik negara. asuransijiwa sebesar Rp 169. yang pada gilirannya akan membawa kernajuan kegiatan di bidang perasuransian. jumlah perusahaan leasing telah mencapai 41 perusahaan yang terdiri dari 1 perusahaan milik negara. sebagai alar pernupukan modal. dan 12 buah milik patungan. jumlah perusahaan asuransi kerugian. dan bea siswa. antara lain menanggung resiko.8 milyar (52. dan reasuransi sebesar Rp 159. kematian. serta asuransi sosial. masingmasing sebesar Rp8. peningkatan ini disebabkan adanya peningkatan dana-dana investasi dari sektor-sektor asuransi kerugian dan reasuransi.Kegiatan usaha leasing antara lain dapat dilihat dari besarnya nilai kontrak leasingnya. yaitu asuransi kerugian dan reasuransi. dan asuransi sosial sebesar Rp 570. dan masa pensiun.5 milyar (38. Sejak diselenggarakannya sampai dengan akhir semester I 1984. asuransi jiwa. Jumlah premi bersih yang diterima selama semester f1984/1985 adalah sebesar Rp 52. Industri asuransi mempunyai beberapa fungsi.3. kesehatan tenaga kerja. yang selama April-Juni 1984 mencapai sebesar Rp 108. Dibandingkan dengan nilai kontrak leasing dalam periode yang sarna tahun lalu sebesar Rp 47. jumlah dana investasi dari sektor asuransi telah mencapai jumlah sebesar Rp 900.4 milyar. maupun sebagai penyerap tenaga kerja. Berdasarkan perkembangan sampai dengan semester I 1984/1985. Sampai saat ini jumlah perusahaan asuransi Departemen Keuangan RI 111 . pensiunan. dan 26 perusahaan leasing patungan. Perasuransian Perkembangan perekonomian dalam lahar pernbangunan yang semakin meningkat akan memperluas bidang-bidang usaha perasuransian.5 persen). Kegiatan ini di Indonesia dapat digolongkan ke dalam 3 golongan.4 persen).4. Sampai dengan tahun 1983. Bila hal ini dibandingkan dengan dana investasi dari sektor asuransi dalam tahun 1982. Kegiatan asuransi meliputi pemberian pertanggungan terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat kebakaran.1 milyar.5 milyar (33.2 milyar. 53 buah milik swasta nasional. dan Rp 158. 14 perusahaan milik swasta nasional. Asuransi jiwa bertalian dengan pemberian jaminan terhadap resiko yang timbul terhadap kematian.2 milyar (5. sebagai salah satu sumber pendapatan Pemerintah. dan asuransi sosial. dan reasuransi kerugian adalah sebanyak 68 buah. 4. maka dalam tahun 1984 terdapat peningkatan kegiatan leasing yang cukup besar. pengangkutan.9 milyar.5 milyar.9 milyar.4 persen\ Rp 58.1 milyar sedangkan jumlah tagihan bersih yang harus dibayar dalam periode yang sarna hanya berjumlah sebesar Rp 21.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersarna. asuransi jiwa.

259.7 persen setiap tahunnya. yakni dari posisinya sebesar Rp 411.1 persen pertahun.741.3 persen). dan Rp 38. Jika dalam tahun 1978 pesertanya adalah sebanyak 2.9 milyar dalam tahun 1982.4 persen.760 buah. sehingga jumlahnya menjadi sebesar Rp 2.9 persen.3 milyar.7 persen). sampai dengan tahun 1983 mencapai sebesar Rp 169. jumlah uang pertanggungan asuransi jiwa telah meningkat sebesar Rp 1. Jumlah peserta asuransi sosial sejak tahun 1978 sampai dengan 1983 naik rata-rata 21.9 persen) setiap tahunnya. Kalau dibandingkan dengan jumlah dana investasi dalam tahun 1978.7 milyar setiap tahunnya. Perkembangan usaha asuransi jiwa pada saat ini terlihat pada jumlah polis yang dalam tahun 1983 berjumlah 2. sedangkan dalam tahun 1983 saja tercatat peningkatan sebesar Rp 158.8 milyar dalam tahun 1983. Dalam tahun 1983 saja jumlah pertanggungan meningkat sebesar Rp699. Perkembangan dana investasi dari Departemen Keuangan RI 112 .1 persen). Sedangkan dalam tahun 1983 tercatat peningkatan sebesar Rp 58.4 milyar (39.8 persen setiap tahunnya. atau rata-rata Rp 28.5 persen).0 milyar (36. Selama periode 5 tahun. Perkefnbangan dana investasi yang dilakukan perusahaan asuransi sosial juga meningkat.4 milyar pada tahun 1983. Pemerintah telah memberikan kesempatan kepada pengusaha nasional untuk mendirikan perusahaan asuransi jiwa baru. Dengan demikian selama 5 tahun terse but terjadi kenaikan sebesar 24. Jumlah premi dalam periode yang sarna mengalami kenaikan dengan 59.5 milyar (38.9 milyar (484. sehingga jumlah premi untuk tahun 1983 berjumlah Rp 114. Perkembangan perusahaan asuransi so sial menunjukkan gambaran adanya pembinaan serta penyempurnaan yang dilakukan terhadap perusahaan tersebut. sehingga posisinya dalam tahun 1983 menjadi Rp 1. Jumlah nilai pertanggungannya dalam periode yang sarna juga menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 58.969 milyar. Sementara itu jumlah dana investasi asuransi jiwa yang ditanam dalam bentuk deposito. investasi perusahaan asuransi jiwa telah meningkat sebesar Rp 140. menjadi Rp 570.4 milyar diantaranya diinvestasikan dalam deposito. dana investasi meningkat sebesar Rp 95.817.2 milyar (96.633. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 4. adalah sebanyak 15 perusahaan.8 milyar (52. Dalam periode yang sarna. sedangkan pada tahun 1978 baru mencapai 1. atau rata-rata setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar Rp 348.9 milyar. termasuk Koperasi Asuransi Indonesia (KAI). pinjaman polis.9 persen). Dari jumlah tersebut Rp 80. sedangkan pengusaha asing dapat melakukan usaha patungan dengan perusahaan asuransi jiwa nasional yang ada.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jiwa yang ada di Indonesia.0 milyar diinvestasikan dalam pinjaman polis.1 persen).308 ribu orang.821 ribu orang.906 buah.8 milyar (195. dan jenis-jenis investasi lainnya. atau rata-rata setiap tahun sebesar 4.

dan badan usaha yang membeli obligasi yang telah memperoleh ijin dari Menteri Keuangan tidak dilakukan pengusutan fiskal.560 2.163 3.12.192 15.983 77.911 10.398 72.609 59. dividen dan royalty yang terhutang alas pembayaran bunga dan hadiah obligasi diberikan keringanan berupa tidak ditagihnya sebesar 50 persen.939 177.198 60.549 222.714 900.322 25. Sedangkan bagi badan hukum lainnya yang berbentuk PT.531 296.333 36.530 39.631 3.903 570. dan obligasi yang diterbitkan perusahaan atau badan usaha.103 2.475 8.542 47. sehingga tarip pengenaan efektip adalah 10 persen yang bersifat pungutan final.882 160.288 151. DANA INVESTASI DARI SEKTOR ASURANSI. Pasar Modal Dalam rangka meningkatkan peranserta masyarakat dalam pemilikan saham. Pemerintah senantiasa berusaha untuk menyempurnakan tala cara perdagangan efek di bursa.481 54.531 314.560 111. Sejak Januari 1983 telah diadakan penyempurnaan ketentuan mengenai pemberian keringanan perpajakan bagi perorangan.1983 ( dalam juta rupiah) kerugian reasuransi 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sektor asuransi dapat diikuti dalam Tabel IV.827 18.693 4. dan perorangan harus mempunyai modal disetor atau modal sendiri sekurang-kurangnya Rp 100 juta. Di samping itu guna meningkatkan kegiatan perdagangan efek.182 169.264 18.051 2.253 674.926 7.182 485.344 5.861 Asuransi jiwa 30 222 404 961 2.743 11.246 105.872 8.073 4.889 12. Sejak bulan Juli 1983 telah dipercepat tala cara penyelesaian transaksi efek di bursa dari 14 hari menjadi 4 hari. 1969 .4.756 4.391 Periode 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1) 1) Angka sementara Jumlah 2. Pajak alas bunga.247 32.4.064 40.405 83. Selanjutnya Departemen Keuangan RI 113 .004 126.198 4. Pembelian obligasi tidak dapat dipergunakan baik secara langsung maupun tidak langsung sebagai dasar pengenaan pajak mengenai masa sebelum pembelian.812 23.946 Asuransi sosial 1.629 159.267 92.709 110.405 411. Tabel IV.188 21.527 7.085 29. sejak Juni 1983 bank dan LKBB yang ingin menjadi pedagang efek diwajibkan menyisihkan modal usaha sekurang-kurangnya Rp 250 juta.

Berbagai kegiatan promosi dan penelitian telah ditingkatkan untuk menjadikan pasar modal sebagai sarana pembiayaan yang potensial. Dengan demikian. terutama yang berpenghasilan rendah. Rp 130. dan sertifikat dana yang diperdagangkan di luar bursa. Penerbitan berbagai jenis sertifikat saham PT Danareksa berkaitan erat dengan tujuan menyebarluaskan pemilikan sertifikat kepada masyarakat.7 milyar.2 juta lembar saham dengan nilai emisi .8 milyar. Dalam tahun 1983/1984 dan semester I 1984/1985. PT Danareksa telah menerbitkan dua jenis sertifikat yaitu sertifikat saham dan sertifikat dana.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tidak dilakukan lagi penagihan pajak penjualan dan pajak perseroan yang terhutang dari hasil penerimaan bunga dan hadiah obligasi. dan badan usaha itu telah menyerap dana masyarakat melalui pasar modal sebesar Rp 285.26 buah. sejak diaktipkannya kembali bursa efek di Indonesia pada bulan AgustUs 1977. dan efektif. kedua puluh enam perusahaan. Adapun perusahaan/badan usaha yang menerbitkan obligasi sampai dengan Agustus 1984 adalah PT Jasa Marga (di bidang jalan tol). Sampai dengan Agustus 1984. Jumlah sertifikat saham dan sertifikat dana yang berada di masyarakat sampai dengan akhir tahun 1983/1984 adalah sebanyak 6.5 milyar. maka sampai dengan Agustus 1984. Departemen Keuangan RI 114 .115 ribu lembar dengan nilai sebesar Rp 60. telah disetujui permohonan 8 perusahaan untuk memasarkan sahamnya. Di samping itu Pemerintah telah membebaskan pajak penghasilan alas dana pensiun yang ditanam dalam bentuk saham.3 milyar.230 lembar dengan nilai Rp 154. Bank Pembangunan Indonesia (di bidang perbankan).14.5 milyar. Perkembangan perusahaan-perusahaan/badan-badan usaha yang telah memasyarakatkan saham dan obligasi melalui posar modal dapat diikuti dalam Tabel IV. dan menengah. dan PT Papan Sejahtera (di bidang perumahan).420 ribu sertifikat dengan nilai Rp 72. berarti pasar modal di Indonesia mulai memasuki tahap lanjut dalam perluasan transaksi modalnya. dan 1 perusahaan untuk memasarkail obligasi melalui posar modal. Dengan mulai diterbitkannya obligasi. serta obligasi yang dikeluarkan oleh badan usaha milik negara.13 dan Tabel IV. jumlah perusahaan yang telah terdaftar adalah sebanyak . dan 3 buah badan usaha menerbitkan obligasi sebanyak 263. yang seluruhnya berjumlah 7. Berdasarkan harga penawaran perdana. 23 buah diantaranya menerbitkan saham sejumlah 57.

100 1.90 92.60 3.080.Emisi II 15.020.275 1.850 1. PT Panin Bank Indonesia . PT Bayer Indonesia 14.500 600. PT Richardson Vicks Indonesia 6.00 1.708 44.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.1.147.708 46.425 2.90 1.980 116.850.412.10 10. PT Sepatu Bata Indonesia 11.975.608 50.00 84.708 47.30 98.200.421. PT Pfizer Indonesia 21.200.90 117. PT Sucaco 13.096 1.500 4.108 31.90 3.30 9.000 6.90 5.750 5.834.150 1.135.000 1.00 83.500 3.096 673.618.605.400 1.639.751.500 7.475 3.660.680. 342. PT Squibb Indonesia 16.10 36.000.020.Emisi II 2.530.000 2.000 3.000 1.067.8 1.00 7.724.618.10 35.60 109. PT Unilever Indonesia 10.540 1.10 118.096 9. PT Sari Husada 18.950 1.116 214.60 47.108 31.696.005.60 52.Emisi I .10 7.20 7. PT Merck Indonesia 8. PT Delta Jakarta 22.080.096 17.000 765.10 Departemen Keuangan RI 115 .526.519.20 130.500 972.950 1.00 5. PT Unitex 12.500 3.000 347.976 6.665.600.500 5.584 57.900 1.90 120.324.608 36.096 15.237.108 29. PT Multi Bintang Indonesia 9.500.000 1.687. PT Semen Cibinong .867.317.398.550 1.800.000 523.Emisi I .096 20.10 27.226.079.857.00 1.081.541.608 38.000 360.10 43.000 584.957.562. PT Tificorp 5.100 1.096 8.210.084. PT Panin Union Insurance Ltd 19.000 2. PT Hotel Prapatan 23.952.00 1.475 1.150.00 16.716.580.00 81.192.10 116.096 7.000 1.184 10.022.467.362.924.250 3.927.481.708 48.Emisi II 3.749.250 1.716.600 342.280.800.600.667.570 3.642.Emisi I .90 89.000 733.009.100.10 115.00 879. PT BAT Indonesia 4.20 3.055. PT Asuransi Jiwa Panin Putra 17.10 119.000 1.722.8 806.40 5. PT Goodyear Indonesia 7.708 40.050 1.637.208 48. PT Centex .257.208 43.00 1.281.822.10 113.50 3.000 6.690.600.000 1.205.90 638 2.30 11. PT Regnis Indonesia 20.325 3. PT Jakarta International Hotel .00 7.024.175 1.2 855 .669.050 2.708 45.116 557.520.920.208 48.40 29.012 9. 13 PERUSAHAAN-PERUSAHAAN/BADAN USAHA YANG TELAH MEMASYARAKATKAN SAHAM MELALUI PASAR MODAL SAMPAI DENGAN AGUSTUS 1984 Jumlah Harga Nilai pasar Perusahaan emisi Kumulatif penawaran Perdana Kumulatif (lembar) (lembar) (Rp/lembar) (Juta Rp) (Juta Rp) 1.060.50 110.421.660.00 3.162.762.000 16.014.

250.943. Perkiraan jumlah uang beredar dan kredit perbankan tahun 1985/1986 Perkiraan jumlah uang beredar didasarkan pada anggapan-anggapan.000 24.800.000.0 milyar.000 10 100 500 1.000 10.000 5.000.960 960 1.00 10 50 100 840 1.00 68.000 4.0 milyar (23.000 1.000 46.000.000 50 100 500 1.800 6.000 15.00 10. Pada akhir tahun 1984/1985 jumlah uang beredar dan kredit perbankan diperkirakan sebesar Rp8.230 10 50 100 1.500 5. 300 2.125.0 milyar.00 5.000 5.080 2.000 400 200 1.000 1.000.164.408.300.500 1.000 5.00 154.718. Dalam tahun 1985/1986 jumlah uang beredar diperkirakan akan bertambah dengan Rp 1. dan kredit perbankan pada akhir tahun 1985/1986 diperkirakan mencapaijumlah Rp 10.0 milyar.000 1. dan Rp 19.000.00 2.000 10.00 2.000 1.00 65 260 1.0 milyar (13.000 10.0 persen).410.550 4.00 6.800 263.565. 14 PERUSAHAAN-PERUSAHAAN/BADAN USAHA YANG TELAH MEMASYARAKATKAN OBLIGASI MELALUI PASAR MODAL (Januari 1983 sId Agustus 1984) Jumlah emisi Pecahan Harga nominal (lembar) Harga Perdana Nilai Harga (ribu Rp) (juta Rp) 125.000 10.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.00 2.7 persen).000 6. bahwa kenaikan Darga dalam tahun 1985/1986 tidak banyak berbeda dibandingkan dengan tahun 1984/1985.00 2.000. Departemen Keuangan RI 116 .550.500. sedangkan kredit perbankan bertambah dengan Rp 4.00 4.000 10 50 100 500 1.600 2.250.500.5.680 1.960.845.650 1.00 Perusahaan PT Jasa Marga I Bank Pembangunan PT Papan Sejakhtera PT Jasa Marga II Jumlah 4.00 16.250 6.0 milyar dan Rp 24.221.00 150 600 2.00 24.00 2. Dengan demikian posisi jumlah uang beredar.

Pendahuluan Memasuki tahun pertama Repelita IV. sehingga kalau diukur dan pertambahan produk nasional bruto (GNP).7 persen. masing-masing diperkirakan sebesar 5. Afrika dan Amerika Latin juga mengalami peningkatan.4 persen.2 persen dalam tahun 1983.5 persen. produk nasional bruto negara-negara berkembang pada pelbagai belahan bumi seperti di Asia.1 persen dan nol persen dalam tahun 1983. Sebaliknya Inggris diperkirakan justru mengalami penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi menjadi 2. 3. masing-masing diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 7. Departemen Keuangan RI 117 .6 persen daiam tahun 1983. setelah dalam tahun sebelumnya mengalami perbaikan dari sebesar negatif 0. Keadaan ini menempatkan mereka sebagai negara-negara yang mempunyai laju pertumbuhan yang relatif lebih cepat di antara kelompok negara-negara industri utama. Di kawasan Asia Tenggara. Sejalan dengan pertumbuhan yang dicapai negara-negara industri.2 persen dalam tahun i982 menjadi 2.3 persen. Dengan dicapainya perluasan kegiatan tersebut.4 persen dan 2. Amerika Serikat. Sebagai akibatnya. sehingga pengaruh positifnya masih dirasakan terbatas bagi kemajuan ekonomi negara-negara berkembang. 2. 5. sementara kegiatan di negara-negara industri lainnya hanya menunjukkan sedikit perbaikan. Tanda-tanda perbaikan ekonomi yang telah mulai tampak dalam tahun terakhir Pelita III belumlah sepenuhnya berkembang seperti yang diharapkan. Sementara itu negara-negara industri lainnya seperti Jerman Barat. Italia dan Perancis diperkirakan sedikit mengalami peningkatan yaitu masingmasing sebesar 2. Kanada dan Jepang mengalami peningkatan kegiatan yang lebih tinggi.6 persen. 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB V NERACA PEMBAYARAN DAN PERDAGANGAN LUAR NEGERI 5. negara-negara ASEAN seperti Thailand. secara keseluruhan produk nasional bruto (GNP) negara-negara industri dalam tahun 1984 diperkirakan dapat meningkat kembali menjadi 4. Jepang dan Kanada dalam tahun 1984 berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan ekonominya.6 persen.1.9 persen. proses peningkatan kegiatan yang berlangsung dalam tahun 1984 belum secara merata terjadi pada semua negara industri.5 persen dan 1.1 persen dan sebesar 5. Amerika Serikat. dari sebesar 3. perkembangan ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih dan resesi yang berkepanjangan.0 persen dan 4. Dengan tingkat pertumbuhan yang dicapai oleh masing-masing negara industri tersebut.3 persen.

4.3 persen dalam tahun 1984. 9. Pertumbuhan ekonomi dunia tersebut dapat dicapai dengan adanya perluasan kegiatan investasi.8 persen. masih tetap merupakan negara dengan tingkat pengangguran terendah di antara ke1ompok negara-negara industri utama.3 persen dalam tahun 1983.8 persen. Jepang dengan penurunan angka pengangguran yang diperkirakan menjadi 2.2 persen. dan terciptanya iklim usaha yang menguntungkan hanya mungkin dicapai jika laju inflasi dapat dipertahankan pada tingkat yang terkendali. Di antara negara-negara industri tersebut. Penurunan yang sarna dialami pula oleh Amerika Serikat dan Kanada masing-masing diperkirakan menjadi 7. dan Perancis justru sedikit mengalami kenaikan dalam tingkat penganggurannya.8 persen dan 7. dan 11. Kanada.7 persen dalam tahun 1983.0 persen dan 4.3 persen dari 5.6 persen. peningkatan produksi.6 persen.6 persen dalam tahun 1984 dibandingkan dengan 8. sehingga angka pengangguran dapat lebih dikendalikan selaras dengan kemajuan ekonomi yang dicapai masing-masing negara. tingkat pengangguran rata-rata di tujuh negara industri utama diperkirakan menurun.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Malaysia dan Singapura diperkirakan berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya masing-masing dari sebesar 5. yaitu masing-masing menjadi 12. serta perkembangan aktivitas di bidang perdagangan antarnegara.4 persen dalam tahun 1983 menjadi negatif 6. merupakan negara yang paling berhasil mempertahankan tingkat stabilitas ekonominya. Peningkatan kegiatan-kegiatan tersebut se1anjutnya mendorong perluasan kesempatan kerja. dari 9. Sementara itu meskipun masih merupakan negara dengan tingkat inflasi tertinggi di antara negara-negara industri.0 persen dalam tahun sebelumnya.0 persen dalam tahun sebelumnya.5 persen. tingkat inflasi rata-rata dalam tahun 1984 di negaranegara industri secara keseluruhan diperkirakan dapat diturunkan menjadi 4.6 persen.0 persen.9 persen dan 10. Italia.9 persen dalam tahun 1983 menjadi sebesar 6. dari 2.9 persen.9 persen dari 15. Dengan arah perkembangan tersebut. Melalui kebijaksanaan pengendalian moneter. Terpeliharanya stabilitas.0 persen dalam tahun 1984. Jepang dengan laju inflasi yang diperkirakan sebesar 0. Sedangkan negara-negara lainnya seperti Jerman Barat. dengan masing-masing diperkirakan sebesar 2. Sedangkan Philipina justru diperkirakan mengalami penurunan dalam tingkat pertumbuhan ekonominya dari 1. dan 11. Sementara itu Jerman Barat be1um dapat menurunkan angka pengangguran dari tingkat 8. Sebaliknya Inggris. Italia dengan berbagai upaya diperkirakan telah berhasil menurunkan laju inflasi ke tingkat 11. 5. Dalam tahun 1984.9 persen dalam tahun sebe1umnya. 6. Sebaliknya Departemen Keuangan RI 118 .3 persen.0 persen. dan Inggris te1ah dapat menu runkan tingkat inflasinya di bawah lima persen. yaitu menjadi 7.7 persen dan 8.0 persen dalam tahun 1984.

mendorong semakin kuamya nilai tukar matauang Amerika Serikat terhadap pelbagai macam matauang asing (currency) lainnya.3 persen dalam tahun 1983. yaitu sebesar 13 persen jika dibanding dengan tingkat sebesar 11.9 persen dari 3.0 persen. masing-masing menjadi 4.1 persen dan 12. Amerika Serikat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Amerika Serikat sekalipun tingkat inflasinya masih di bawah lima persen. dan mendorong timbulnya kesenjangan yang makin lebar dengan negara-negara industri terkemuka lainnya. dari sebesar 3. terutama Amerika Serikat. maupun Singapura. Hongkong. US Prime Rate tetap bertahan pada tingkat yang cukup tinggi. laju inflasi negara-negara berkembang di Afrika. untuk menarik dana masyarakat sebagai cara menutup defisit anggaran belanjanya telah mengakibatkan bertahannya suku bunga riil pada tingkat yang cukup tinggi. Sepadan dengan hasil pengendalian yang dicapai oleh negara-negara industri. Yen Jepang. Philipina diperkirakan mempunyai angka inflasi yang paling tinggi. 7. dan tingginya tingkat suku bunga yang timbul sebagai akibat kebijaksanaan yang diambil dalam proses penyesuaian oleh beberapa negara industri di lain pihak. Guilder Belanda. Terkendalinya laju inflasi bagi terciptanya iklim usaha yang mendukung peningkatan kegiatan ekonomi tersebut diusahakan dengan pengendalian jumlah uang beredar.5 persen.8 persen dalam tahun sebe1umnya. Pound Sterling-Inggris. Asia dan Amerika Latin diperkirakan dapat dikendalikan masing-masing ke tingkat sebesar 12. Suku bunga nasabah utama di Amerika Serikat (US Prime Rate) mengalami peningkatan lebih tinggi dibanding dengan kenaikan suku bunga antar bank baik di London (LIBOR) maupun di Singapura (SIBOR). Sementara itu Thailand diperkirakan mampu mengendalikan angka inflasinya pada tingkat 3. Dollar Departemen Keuangan RI 119 .7 persen dan 1. dan Singapura diperkirakan sedikit mengalami kepaikan. Kebijaksanaan ini yang dipertajam oleh upaya pemerintah negara-negara industri. Keadaan ini menimbulkan ketidakstabilan pasar valuta internasional. seperti yang dicapai oleh LIBOR maupun SIBOR dalam bulan September tahun 1984. yaitu 45.0 persen dalam tahun 1984 dibandingkan dengan 10.5 persen. diperkirakan justru mengalami sedikit kenaikan yaitu diperkirakan menjadi 3.2 persen dalam tahun 1983. Perbedaan tingkat kegiatan ekonomi di satu pihak. Perbedaan yang terdapat pada perkembangan tingkat suku bunga ini mengakibatkan mengalirnya dana investasi masuk ke Amerika Serikat. yang pada gilirannya telah mempercepat tingkat perluasan kegiatan ekonomi negara terse but. dan mengakibatkan berbagai matauang kuat dunia seperti Mark Jerman.5 persen dan 3. baik di Eropa. Franc Perancis.0 persen. Adapun tingkat inflasi negara-negara ASEAN seperti Malaysia.0 persen. Sekalipun tidak sebesar ketika suku bunga mencapai tingkat tertinggi yaitu sekitar 20.5 persen dalam bulan Juli 1981.

9 milyar. Jepang diperkirakan mengalami kenaikan surplus.4 milyar dan US $ 1. Volume impor negara-negara industri dalam tahun 1984 diperkirakan meningkat dengan 11. Amerika Serikat diperkirakan mengalami kenaikan defisit yang cukup besar. US $ 4. Di lain pihak hal ini mengakibatkan beberapa negara yang sampai sekarang masih mendasarkan nilai tukar tetapnya terhadap dollar Amerika Serikat. yaitu menjadi US $ 52. persetujuan pembatasan ekspor. yaitu dari US $ 41.4 milyar dalam tahun sebelumnya.8 milyar dalam tahun 1983 menjadi sebesar US $ 2. makin ketatnya pengendalian moneter. daTi US $ 20.6 persen.9 persen.0 milyar dalam tahun 1984. Sementara itu. sehingga defisit neraca perdagangan mereka menjadi semakin besar. US $ 2.7 milyar. menimbulkan kecenderungan makin meningkatnya tindakan proteksionisme yang dilakukan oleh negaranegara industri sebagai upaya untuk melindungi industri dalam negeri masing-masing terhadap persaingan barang-barang sejenis daTi negara lain. Usaha mencegah semakin besarnya defisit transaksi berjalan ke arah keseimbangan neraca pembayaran. peraturan kesehatan dan lain-lain. Besamya defisit neraca perdagangan di satu pihak. dan tingginya tingkat suku bunga. dan mekanisme pembayaran dunia. terpaksa menempuh kebijaksanaan devaluasi sekaligus melakukan pengambangan atas dasar sekelompok matauang asing (currency-basket) negara-negara rekan dagangnya yang utama. sedangkan negara-negara industri lainnya seperti Jerman Barat. Inggris dan Kanada diperkirakan mengalami penurunan surplus. seperti penentuan kuota impor. di samping mewarnai ketidakpostian situasi moneter intemasional juga telah mengakibatkan terganggunya keseimbangan sistem moneter. Di lain pihak defisit transaksi berjalan Perancis diperkirakan sedikit dapat diperbaiki dari US $ 3. besarnya defisit anggaran belanja. seperti Thailand. Ketidakstabilan kurs dollar Amerika.5 milyar dari sebesar US $ 18. tindakan penyesuaian nilai tukar matauang. dan jasa-jasa di lain pihak. sedangkan volume ekspornya dalam periode terse but hanya meningkat sebesar 8. Upaya tersebut dilakukan baik dalam bentuk kenaikan tarif maupun dalam bentuk kebijaksanaan bukan tarif.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Singapura dan Dollar Kanada mengalami kemerosotan nilai (depresiasi) yang cukup besar. persyaratan mutu.4 milyar dalam tahun 1984. mengakibatkan defisit transaksi berjalan negara-negara industri secara keseluruhan dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami kenaikan. serta perkembangan yang terdapat pada lalu lintas transfer. Kecenderungan tersebut menimbulkan rangkaian akibat terhadap perkembangan perdagangan dunia dalam tahun 1984.9 milyar dalam tahun sebelumnya. masing-masing menjadi sebesar US $ 3.2 milyar dan Dol milyar dollar Amerika.5 milyar dalam tahun 1983 menjadi US $ 35. Melihat perkembangan transaksi berjalan negara-negara industri tersebut. dari sebesar US $ 3. Departemen Keuangan RI 120 .0 milyar dalam tahun 1984.6 milyar dalam tahun 1983 menjadi sebesar US $ 90.

dan nilai ekspor maupun impor negaranegara berkembang secara keseluruhan. menyebabkan menumpuknya beban hutang negara Departemen Keuangan RI 121 .5 juta barrel menjadi sebesar 16. walaupun tidak sebaik dalam tahun 1983. dan beberapa negara berkembang. namun masih lebih rendah dad harga yang dicapai oleh kelompok barang primer non minyak. dan penawaran minyak hasil produksi negaranegara di luar OPEC. dan menutup defisit neraca pembayaran. serta menetapkan ketentuan kuota baru bagi negara-negara anggotanya. sekalipun diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. dan impor di negara-negara industri.5 persen dalam tahun 1983 menjadi sebesar 0. sedangkan di lain pihak. Inggris dan Nigeria. telah mendorong harga beberapa barang primer non minyak tetap ke arab yang lebih baik. Perkembangan perdagangan dunia. Meskipun demikian. dan kecenderungan yang terjadi pada moneter internasional.1 persen dalam tahun 1984. Kesenjangan yang masih terdapat antara permintaan dan penawaran minyak dunia. dan perbandingan pertukaran serta keadaan posaran minyak seperti yang diuraikan di atas. volume. serta berhasilnya penghematan (konservasi) energi minyak. adanya sedikit peningkatan kegiatan ekonomi di pelbagai negara industri. dan sangat membatasi ekspor dari negara-negara berkembang. Kesemuanya itu telah menyebabkan terganggunya keseimbangan posar. sekalipun harga kelompok barang-barang industri mengalami perbaikan. Sebaliknya negara-negara industri diperkirakan mengalami penurunan dari sebesar 2. Dengan perkembangan ekspor. Menghadapi situasi demikian.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Proteksionisme dalam segala bentuknya ini merupakan penghambat bagi dayaguna (effisiensi) perdagangan antarnegara. maka volume perdagangan dunia dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. yang selanjutnya mengakibatkan tertekannya pertumbuhan perdagangan dunia dalam tahun 1984. dipertajam pula oleh peleposan cadangan. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam sidang daruratnya yang berlangsung dalam bulan Oktober 1984 di Jenewa.0 juta barrel per hari. memutuskan untuk tetap mempertahankan harga pada tingkat yang berlaku sekarang. serta lesunya ekspor kebanyakan negara-negara berkembang. dan mengakibatkan timbulnya penurunan harga seperti yang telah dilakukan oleh Norwegia. Perkembangan ini menjadikan posisi perbandingan pertukaran (terms of trade) negara-negara berkembang mengalami peningkatan dari negatif 3. Berdasarkan perkembangan barga.3 persen dalam tahun 1984.2 persen dalam tahun 1983 menjadi 0. dan negara-negara berkembang tersebut. dengan jalan mengurangi produksi dari batas tertinggi 17. di samping memperlangka dana yang dapat dipinjamkan. Besarnya kebutuhan dana untuk membiayai pembangunan. dalam rangka menjaga kestabilan harga minyak. tetapi masih belum seperti yang diharapkan. juga mempermahal biaya peminjaman di berbagai pusat keuangan internasional.

upaya mencari jalan keluar dari resesi ke arah pemulihan kembali ekonomi dunia secara menyeluruh. dan membahayakan operasi bank-bank pemberi pinjaman.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berkembang yang meningkat secara cepat dari US $ 478. dan kerjasama dalam berbagai forum internasional. dan tantangan yang dihadapi. serta turunnya ekspor di lain pihak telah menyebabkan debt-service-ratio (DSR) negara-negara terse but menjadi semakin tinggi. yang dirasakan sudah tidak sesuai dalam menjawab masalah. Hal tersebut disebabkan karena resesi yang timbul dewasa ini an tara lain bersumber dari kerawanan dan ketidakseimbangan struktural di semua aspek yang berakar pada tatanan lama. Persetujuan Umum ten tang Tarif dan Perdagangan (GATT). sehingga mereka lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman baru.1 milyar dalam tahun 1984. Dana Moneter Internasional (IMF). US $ 728. yang merupakan dasar untuk Departemen Keuangan RI 122 . maupun sebagai jawaban terhadap tuntutan keadilan sosial dalam hubungan ekonomi antarbangsa. Kecenderungan ini diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang. Konperensi Perserikatan Bangsa-bangsa dalam Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD). menjadi teramat penting sebagai sarana perjuangan bagi semua negara untuk menegakkan tatanan ekonomi dunia baru yang lebih adil. Kesadaran itu menempatkan masalah pemulihan kembali ekonomi dunia menjadi tanggung jawab bagi semua negara sehingga upaya pemecahannya memerlukan kerjasama yang sungguhsungguh. Forum perundingan dan kerjasama intemasional seperti dalam pertemuan Bank Dunia (IBRD). baik antarnegara industri. dan moneter internasional tersebut di atas menimbulkan kesadaran akan semakin tingginya tingkat ketergantungan timbal balik.9 milyar di antaranya merupakan hutang negara-negara berkembang bukan pengekspor minyak. Sementara itu besarnya kewajiban pengembalian bunga maupun cicilan hutang di satu pihak. maupun antara negara industri dan negara berkembang. Terciptanya Tata Ekonomi Dunia Baru (TED B) merupakan kebutuhan mendesak. dan akan merupakan salah satu penghambat ke arah pemulihan ekonomi dunia. antarnegara berkembang.6 milyar dalam tahun 1979 menjadi US $ 830. tuntas dan mantap terus diusahakan melalui perundingan-perundingan. yang berlangsung dalam bulan Juni 1984 di London. Keadaan ini mengakibatkan beberapa negara berkembang mengalami kesulitan dalam melunasi kembali hutang-hutangnya. Pelbagai indikator ekonomi. Dengan diawali oleh Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) tujuh negara industri terkemuka. Dari jumlah tersebut. maupun Dialog Utara-Selatan. dan berkembang. yang pada gilirannya telah menimbulkan masalah likuiditas perbankan internasional. baik untuk kestabilan ekonomi dunia yang lebih mantap. Namun demikian kenyataan saling ketergantungan antara negara-negara maju. serta penanganan secara tuntas melalui berbagai perundingan yang sedang berlangsung.

dan sedang berjalan bagi terwujudnya TEDB. dan lain sebagainya. KTT sepakat untuk mendesak agar bank-bank komersial. Venezuela. Peru. Hal ini mengakibatkan kelambanan terus mewarnai berbagai negosiasi yang sudah. dan defisit anggaran belanja khususnya di Amerika Serikat. Sementara itu untuk memperkuat kedudukan negara-negara berkembang dalam proses pengambilan keputusan politik tentang masalah-masalah ekonomi global. dan bertahan lama. Costarica. kelompok regional seperti ASEAN. Colombia dan Republik Dominika. Ini berarti bahwa lalu lint as perdagangan internasional sebagai salah satu syarat mendasar dalam meningkatkan. Kelompok 77. ketrampilan teknik. yang merupakan penghambat usaha mempercepat dan mempertahankan pemulihan ekonomi dunia. mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah hutang luar negeri mereka di Cartagena. Dalam hubungan ini. Di lain pihak upaya mencari jalan penyelesaian dari krisis hutang negara-negara "berkembang. kecuali komitmen politik untuk memperbaharui tekad dalam usaha mempertahankan pemulihan ekonomi agar bertambah mantap. KTT tidak menghasilkan kesepakatan mengenai tindakan penyelesaian terhadap masalah-masalah proteksionisme. belum dengan sepenuh hati diikhtiarkan oleh negaranegara maju.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dialog. dan lain sebagainya. Organisasi Konperensi Islam (OKI). pengembangan kerjasama ekonomi antarnegara berkembang (kerjasama selatan-selatan) lebih diarahkan untuk mencapai kemandirian individual. Argentina. seperti gerakan Non blok. dan kerjasama internasional. dan lembaga pemberi pinjaman agar memberikan kelonggaran waktu bagi pembayaran hutanghutang mereka melalui penjadwalan kembali (rescheduling). energi. Dalam hubungan dengan penyelesaian hutang luar negeri negara-negara berkembang. baik di dalam maupun di luar forum PBB. Usaha peningkatan kerjasama tersebut dilakukan melalui berbagai forum internasional pada tingkat bilateral dan multilateral. industri. dan menghapuskan kebijaksanaan yang bersifat protektif dan restriktif dalam perdagangan. menimbulkan dorongan kepada sebelas negara di Amerika Latin yaitu Mexico. dan mempertahankan laju pemulihan ekonomi dunia akan tetap mengalami hambatan. Equador. pengangkutan dan komunikasi. Bolivia. Colombia pada tanggal 21 sampai dengan 22 Juni 1984. Departemen Keuangan RI 123 . perdagangan. Kerjasama ekonomi ini meliputi kegiatan-kegiatan di bidang pangan dan pertanian. Chili. tingkat suku bunga yang tinggi. moneter dan keuangan. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk mendesak negara. Brasilia. ilmu pengetahuan dan teknologi. dan lembaga-Iembaga internasional memberi kelonggaran waktu bagi negara-negara peminjam untuk membayar kembali hutangnya. menurunkan tingkat suku bunga. dan kolektif sebagai strategi perjuangan untuk mewujudkan TEDB.

Sedangkan di bidang industri. melalui dana pembiayaan bersama telah dibangun proyek-proyek ASEAN. serta mengawasi pengeluaran Pemerintah ke arab penggunaan yang produktif. yang meliputi sektor-sektor pertanian. menekan defisit anggaran belanja. Pendekatan ini juga dimaksudkan sebagai usaha untuk memberikan dorongan bagi terlaksananya negosiasi global yang masih tetap mengalami kemacetan dalam Dialog Utara-Selatan. Dalam kerangka kerjasama ekonomi regional. usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke arah pemulihan. Sidang berhasil mencapai kesepakatan. perdagangan. bahwa agar pemulihan kembali ekonomi dunia dapat bersifat tetap dan pesat. masalah proteksi. keuangan dan perbankan. Di bidang perdagangan. seperti berbagai aspek pemulihan ekonomi dunia. kekurangan likuiditas. Dalam sidang tersebut diadakan pengkajian terhadap pelbagai indikator serta masalah-masalah mendasar yang masih mewarnai situasi ekonomi dan moneter internasianal. melaksanakan kebijaksanaan harga yang fleksibel dan realistis. serta meniadakan indeksasi dalam kontrak-kontrak. mempertahankan stabilitas dalam negeri. telah pula diupayakan oleh Bank Dunia (IBRD) dan Dana Moneter Internasional (IMF) melalui sidang-sidangnya yang berlangsung dalam bulan September 1984. regional dan global. dan memperkuat kerjasama antar negara-negara anggota ASEAN telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. serta gejolak kurs matauang. dan energi maupun di bidang pangan dan pertanian. program ini juga merupakan suatu pedoman bagi pembangunan ekonomi untuk dikembangkan pada tingkat sub-regional. Pelbagai kemajuan telah dapat dicapai dalam kerjasama ekonomi tersebut. Untuk memungkinkan negara-negara Departemen Keuangan RI 124 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai bagian dari strategi untuk menciptakan kemandirian individual dan kolektif dalam KTT terakhir di New Delhi. tingkat suku bunga. diserukan kepada negara-negara industri untuk terus melaksanakan strategi kebijaksanaan moneter yang tidak menimbulkan pengaruh inflatoir. perdagangan. mengurangi defisit anggaran belanja. industri. gerakan non blok telah menggariskan suatu pendekatan baru yang bertujuan untuk menanggulangi krisis ekonomi dunia dengan tindakan-tindakan darurat jangka pendek. Di samping merupakan upaya merealisasikan konsep kemandirian kolektif. melakukan usaha-usaha untuk mengatasi masalah struktural dengan cara mendorong mobilitas tenaga kerja. defisit anggaran belanja.dan didirikan proyek-proyek industri komplementer. baik di bidang keuangan dan moneter. Sedangkan negara-negara berkembang perlu pula melaksanakan penyesuaian yang efektif. dan beban hutang negara-negara berkembang. Ikhtiar politik untuk secara aktif memantapkan pemulihan ekonomi dunia yang menyeluruh dan merata. hasil kerjasama tersebut tercermin dalam perluasan jumlah barang yang tercakup dalam perjanjian perdagangan preferensial.

dan melaksanakan pembangunan ekonomi negaranya. Sehubungan dengan masalah hutang luar negeri negaranegara berkembang. karena hila hal ini tidak segera diatasi. dan mengharapkan agar IMF tetap dapat memainkan peranannya dalam pelaksanaan strategi pengelolaan hutang luar negeri secara terkoordinir. yaitu yang dapat memperkuat posisi ekonomi luar negeri mereka. Kerjasama internasional yang ditekankan oleh IMF tersebut meliputi bidang pembiayaan bersyarat lunak (concessional financing). kebijaksanaan perdagangan serta pengawasan (surveillance) efektif terhadap kebijaksanaan yang ditempuh beberapa negara untuk mencegah terjadinya gejolak kurs :matauang secara tajam. Oleh sebab itu sidang menyambut baik komitmen-komitmen kearah kebijaksanaan perdagangan terbuka. dan dikembangkan disiplin dalam sistem perdagangan intemasional kepada semua negara anggota. akan dapat membahayakan proses pemulihan kembali perekonomian. baik di bidang produksi maupun Departemen Keuangan RI 125 . menghindari kebijaksanaan yang terlalu bersifat proteksionistis. sehingga pada akhirnya dapat memulihkan kepercayaan untuk memperoleh pinjaman (credit worthiness).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berkembang dapat membayar kembali hutang-hutang luar negerinya. serta dapat menghambat kelancaran bekerjanya sistem keuangan dan perdagangan internasional. dan menghapuskan kebij aksanaan -ke bij aksanaan proteksionistis. Dalam hubungan ini sidang menyambut baik penjadwalan kembali pembayaran hutanghutang luar negeri untuk jangka waktu beberapa tahun. negara-negara industri dihimbau untuk tetap mempertahankan pertumbuhan ekonominya pada tingkat yang memadai. Sedangkan negara-negara debitur perlu melaksanakan kebijaksanaan penyesuaian yang mantap. Dalam hubungannya dengan proteksionisme yang masih terus berlangsung. seperti faktorfaktor penghambat proses penyesuaian struktural. sidang telah menghasilkan kesepakatan untUk memberikan wewenang kepada "suatu kelompok" guna mengadakan pengkajian mengenai masalah-masalah di bidang perdagangan. Dari hasil pertemuan. sidang menyatakan keprihatinannya. menjadikan pertemuan para menteri dalam GATT (Persetujuan Umum tentang Tarif dan Perdagangan) forum paling tepat dalam mengadakan perundingan terusmenerus untuk mengurangi rintangan-rintangan terhadap perdagangan. Tantangan politik untuk menghentikan dan memutar balik kecenderungan ke arah proteksionisme. dengan tindakantindakan yang nyata untuk mencegah timbulnya proteksionisme baru. sidang menegaskan sikapnya bahwa masalah hutang luar negeri negara-negara berkembang hanya dapat diselesaikan sebaik-baiknya melalui kerjasama yang frat antara negara-negara debitur dan negara-negara kreditur. serta memungkinkan seger a meningkatkan kembali pertumbuhan ekonominya. membuka posar bagi ekspor negara-negara berkembang. dan menyerukan perlunya ditingkatkan. serta perlu menurunkan tingkat suku bunga.

komitmen politik negaranegara industri terhadap hasil-hasil negosiasi global. baik di bidang perdagangan luar negeri. dengan negara-negara sosialis Eropa Timur di lain pihak. serta mencari upaya penyelesaian dari masalah-masalah yang belum terselesaikan dalam perundingan perdagangan multilateral (MTN). untUk meningkatkan aliran sumber keuangan ke negara-negara berkembang. maupun lalu lintas devisa. dan menghilangkan tindakan meayimpang dari prinsip-prinsip GATT lainnya. maka dalam rangka meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap tantangan-tantangan yang mungkin akan terjadi. terutama dalam menghadapi sikap dan kecenderungan proteksionisme negara-negara industri sebagai tindakan yang menyimpang dari prinsip multilateralisme. Kebijaksanaan di bidang perdagangan luar negeri Dalam tahun pertama Repelita IV. Dalam hubungan ini partisiposi yang lebih aktif dari negara-negara berkembang untuk menegakkan sistem perdagangan intemasional yang lebih adil dan seimbarlg dirasakan makin penting. 5. resiprositas dan non diskriminasi. non-diskriminasi. menjadikan perlunya pengamatan dan kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menghambat pelaksanaan pembangunan. Dalam hubungan ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menjadikan Generalized System of Preferences (GSP) bukan saja sebagai "hasil sementara" akan tetapi merupakan "hasil permanen" dalam sistem perdagangan internasional. Dengan menyadari keterkaitan ekonomi Indonesia dalam hubungan ekonomi internasional.2. Di samping itu usaha peningkatan kegiatan perdagangan juga dilakukan melalui pembentukan/perbaikan instrumen-instrumen perdagangan yang ada. kebijaksanaan neraca pembayaran dan perdagangan Departemen Keuangan RI 126 . Di samping itu lembaga ini juga diminta untuk meneliti pelaksanaan prinsip-prinsip GATT. perlu ditempuh langkah-langkah untuk meningkatkan penerimaan devisa. dan menghemat penggunaannya melalui pelbagai kebijaksanaan. mengurangi proteksionisme. Untuk meningkatkan kerjasama perdagangan internasional atas dasar keuntungan bersama. dalam rangka UNCTAD dikembangkan diversifikasi perdagangan antara negara-negara industri dan berkembang di satU pihak. guna membantu negara-negara berkembang dalam meningkatkan perdagangan internasionalnya dengan tidak mengabaikan prinsip "special and differential treatment".Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perdagangan. Pola perkembangan ekonomi dan moneter internasional. dan transparansi sebagai prinsip dasar sistem perdagangan intemasional. serta masih sulitnya dicapai kesepakatan dalam berbagai kerjasama antarnegara yang masih terus berlangsung dewasa ini.

2. Serangkaian tindakan Pemerintah untuk meningkatkan ekspor di luar minyak dan gas diawali dengan kebijaksanaan ekspor yang tertuang dalam PP No. Keadaan ini memaksa OPEC untuk mengadakan sidang di Jenewa pada tanggal 29 Oktober 1984 dengan keputusan untuk mengurangi produksinya dari 17. Hal ini terjadi karena meningkatnya produksi minyak dari negara-negara di luar OPEC. sehingga tersedia devisa untuk mendukung pembiayaan impor bahan baku. maka peningkatan pengembangan ekspor lebih diarahkan kepada ekspor di luar minyak dan gas alam. lebihlebih pada tahun 1984 di mana situasi minyak dunia semakin memburuk.Kebijaksanaan di bidang ekspor Usaha mengurangi ketergantungan pacta sektor minyak terus dilaksanakan. yang kemudian diikuti dengan diturunkannya harga minyak oleh Inggris.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 luar negeri ditujukan untuk meningkatkan laju perkembangan ekspor. Namun demikian sebagai akibat belum mantapnya usaha pemulihan ekonomi dunia. dan adanya berbagai hambatan dalam perdagangan internasional. pengendalian impor yang lebih diarahkan kepada pengembangan produksi dalam negeri. yang diupayakan melalui perluasan posar dan peningkatan clara saing barang-barang ekspor Indonesia di luar negeri.1 bulan Januari 1982. sesuai dengan sasaran investasi dalam sektor-sektor pembangunan. Di samping itu peranan ekspor barang-barang industri diusahakan pula peningkatannya. peningkatan daya saing barang-barang ekspor serta perluasan pasaran di luar negeri.1 tahun 1982 beserta peraturanperaturan pelaksanaannya. Mengingat situasi perminyakan yang tidak menentu tersebut. serta pemanfaalan pinjaman dan penanaman modal luar negeri. maka dalam rangka mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran telah diusahakan penghematan dalam penggunaan devisa.000 barrel per hari yang berarti penerimaan dari sektor minyak agak berkurang. Sehubungan dengan itu untuk mengurangi ketergantungan pada hasil minyak bumi. kredit ekspor. Dengan penurunan produksi tersebut. yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan devaluasi rupiah terhadap matauang dollar Amerika pada bulan Maret 1983. telah diambil kebijaksanaan untuk lebih meningkatkan penerimaan devisa dari hasil ekspor di luar minyak dan gas. bahan penolong. seperti pemberian sertifikat ekspor. pajak ekspor dan Departemen Keuangan RI 127 .5 juta barrel menjadi 16 juta barrel per hari dan tetap mempertahankan harga patokan minyaknya sebesar US $ 29 per barrel. 5. Dalam tahun pertama Pelita IV ini Pemerintah tetap melanjutkan kebijaksanaan ekspor sebagaimana yang tertuang dalam PP No. antara lain dengan melalui usaha diversifikasi. dan barang modal yang dibutuhkan.1. Norwegia dan Nigeria pada pertengahan Oktober 1984. Indonesia mendapat pengurangan kuota produksi sebesar 111.

negara yang paling besar melaksanakannya adalah Republik Federasi Jerman. disusul kemudian oleh Jepang. penyederhanaan dan penyempurnaan prosedur ekspor. dan 17 perizinan di sektor perdagangan. Di antara 21 negara tersebut. mulai t. sedangkan realisasinya mencapai US $ 465. 12 perizinan di sektor perhu bungan. Demikian juga mulai 1 Oktober 1984 dihapuskan pungutan langsung dari Pemerintah Daerah terhadap beberapa komoditi ekspor yaitu plywood. juga ditetapkan bahwa setiap eksportir barus menyerahkan bukti pembayaran iuran ekspor produk tekstil untuk mendapatkan surat keterangan asal. udang.144 jenis barang yang sudah memperoleh tasilitas sertifikat ekspor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pajak ekspor tambahan. para eksportir diharuskan menyertakan laporan surveyor yang dikeluarkan oleh PT Sucofindo. terdapat 2. di antaranya telah dicabut 16 perizinan di bidang pengusahaan hutan. tetapi juga produk-produk lainnya. Sedangkan untUk mencegah penyalahgunaan fasilitas sertifikat ekspor bagi hasil industri tekstil yang diekspor ke Hongkong. kayu gergajian. yang telah dilaksanakan sejak bulan Januari 1982 sampai 3 Oktober 1984. Dalam ekspor produk tekstil. 12 perizinan di bidang pertanian. ikan tuna. serta sistem imbal beli di mana pembelian barang-barang Pemerintah dari luar negeri yang memakai dana APBN dikaitkan dengan ekspor di luar minyak dan gas.mggal 1 Januari 1984 pungutan MPO ekspor atas eksportir telah dihapuskan. Selanjutnya tarif pajak ekspor yang dikenakan atas beberapa komoditi seperti bauksit dan pekatannya. pajak ekspor tambahannya diturunkan. Sistem imbal beli. mencakup kontrak yang sudah ditandatangani dengan 21 negara sebesar US $ 937. dan dari jumlah terse but baru 38 jenis barang yang sudah dilaksanakan. Sampai dengan bulan November 1984. dan surat persetujuan ekspor produk tekstil. rotan.0 juta. Departemen Keuangan RI 128 . serta biji nikel dan pekatannya diturunkan dari 10 persen menjadi nol persen. kopi. Malaysia dan Taiwan. kelapa sawit. gaplek. Selanjutnya untuk memperluas pemasaran pakaian jadi. sedang sistem pembayaran yang dapat digunakan hanyalah irrevocable letter of credit. lisensi ekspor. prosentasenya yang semula ditetapkan setiap 6 bulan. yang nilainya sarna dengan harga jual sebenamya. Sementara itu mum barang yang diekspor harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan dan selalu ditingkatkan. telah dilakukan penyederhanaan perizinan yang berlaku dan penghapusan izin-izin yang dapat menghambat ekspor. Singapura. Begitu pula untuk refined bleached deodorized stearin dan crude stearin. karet. Dalam pemberian fasilitas sertifikat ekspor. Mengenai prosedur ekspor. Di bidang perpajakan. mulai tanggal 1 Juli 1984 ditetapkan setiap 12 bulan. dan jagung. meliputi berbagai macam barang yang tidak terbatas pada produk tekstil saja. Untuk itu sampai dengan Agustus 1984 telah ditetapkan standar mutu untuk 165 jenis barang-barang perdagangan.6 juta.

dan peningkatan devisa negara dari hasil ekspor udang dan bandeng. Pemerintah dalam tahun ini menyesuaikan kembali ketentuan ekspor tembakau. dan mengambil manfaat sebesar-besamya dari kuota ekspor tekstil tersebut. dengan tujuan untuk lebih memantapkan peningkatan produksi udang/bandeng. dan untuk diekspor. Sementara itu untuk menghindarkan persaingan yang tidak sehat di antara eksportir kayu lapis yang dapat mempengaruhi harganya. Kemudian pada tanggal 13 September 1984 juga telah dikeluarkan ketentuan mengenai pengawasan mutu kayu lapis untuk ekspor. antara lain dengan mengadakan Proyek Tambak Inti Rakyat di atas tanah seluas 350 ha di desa Pusaka Jaya Utara. maka Pemerintah mulai bulan Maret 1984 menggalakkan pembudidayaan udang tambak. di mana kuota tersebut diberikan kepada eksportir terdaftar yang secara berkala barus melaporkan kegiatan ekspomya. ban mobil. 3 juta potong ke Swedia dan 11 juta potong ke Amerika Serikat. aspal. Swedia dan Amerika Serikat. maka Asosiasi Panel Kayu Indonesia telah membentuk 7 kelompok pemasaran kayu lapis sebagai Badan Pemasaran Bersama Ekspor Kayu Lapis. antara lain dengan mengirimkan misi-misi dagang agar memperoleh kuota yang lebih besar. kontrakkontrak penjualan untuk ekspor kayu lapis harns mendapat persetujuan daTi badan terse but. yang dimulai tanggal 4 Januari 1984. besi beton. Eksportir yang telah menerima kuota harus melaksanakan sendiri ekspomya. diawasi karena kebutuhan di dalam negeri semakin meningkat. kecuali dengan persetujuan Departemen Perdagangan untuk bisa mengalihkan sebagian atau seluruh kuotanya kepada eksportir lainnya. sidang Menteri-menteri ASEAN ke-16 bulan Mei 1984 dalam rangka ASEAN Preferential Trading Arrangement telah menyetujui pemb_rian Departemen Keuangan RI 129 . telah dilakukan beberapa pendekatan dengan negara-negara tersebut. semen. Selanjutnya untuk memantapkan pemasaran tembakau di pasaran internasional. Sementara itu kegiatan ekspor beberapa jenis komoditi meliputi pupuk. Sebagai hasilnya telah dicapai persetujuan bilateral dengan negaranegara yang tergabung dalam masyarakat ekonomi Eropa (MEE). Karawang. Dalam rangka memperlancar pelaksanaan. kertas. Dalam rangka kerjasama regional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 terutama ke negara-negara Eropa dan Amerika. minyak sawit dan inti sawit. dengan tujuan meningkatkan produksi udang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Karena udang dipandang mempunyai potensi yang besar untuk menambah penerimaan devisa hasil ekspor. dan peratUran pelaksanaannya. Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai kuota ekspor produk tekstil. yang dikukuhkan Menteri Perdagangan pada tanggal 15 Oktober 1984. pendapatan petani tambak. Dengan adanya badan ini. sehingga Indonesia memperoleh kuota ekspor sebanyak 12 juta potong ke negara MEE. Kemudian dilanjutkan dengan program intensifikasi tambak musim tanam tahun 1984/1985.

Asosiasi Negara-negara Produsen Timah (ATPC). Untuk mempermudah hubungan dagang ini. MEE juga memberikan bantuan teknis kepada negara-negara ASEAN termasuk Indonesia. telah dikirim delegasi ekonomi Indonesia ke negara-negara Uni Soviet. yang kesemuanya merupakan upaya untuk meningkatkan pemasaran barang-barang ASEAN ke negara-negara tersebut. dan Amerika Serikat di bidang tekstil. Di samping itu pada saat ini juga sedang dijajagi oleh Pemerintah kemungkinan untuk mengadakan hubungan dagang langsung dengan RRC tanpa melalui pihak ketiga. Selain kerjasama dengan negara-negara ASEAN. Perjanjian Karet Alam Internasional (INRA). dan sebagai kelanjutannya telah dibentuk team koordinasi dalam bidang kerja sarna ekonomi dan perdagangan dengan Eropa Timur. ASEAN dengan negara-negara MEE. jepang. dengan memberikan kursus-kursus untuk meningkatkan kemampuan ekspor negara-negara tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 preferensi tarif antara 20 persen sampai maksimum 50 persen. Australia dan New Zealand. dan organisasi-organisasi lainnya yang berhubungan dengan kerjasama perdagangan barangbarang di luar minyak. ASEAN juga telah mengadakan hubungan kerjasama perdagangan dengan Amerika Serikat. Dalam hubungan ini di samping telah diadakan pernndingan bilateral dengan negara-negara anggota MEE. Pemerintah mengaktifkan fungsi dari atase-atase perdagangan Indonesia di luar negeri. Dewan Timah Internasional (ITC). Selain itu telah ditunjuk pula perusahaan pelayaran swasta dan Pemerintah untuk melaksanakan keagenan umum perkapalan ke negara-negara Eropa Timur. Kanada. Swedia. serta berusaha untuk menghilangkan atau mengurangi hambatanhambatan yang sebelumnya terjadi. Hongaria. Perjanjian Timah Internasional (ITA). Sedangkan untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara Eropa Timur. juga terus ditingkatkan kerjasama dalam Organisasi Kopi Internasional (ICO). Di antara barang-barang yang mendapat preferensi tersebut Indonesia dapat mengekspor 8. Cekoslowakia dan Jerman Timur. usaha meningkatkan pemasaran komoditi di luar minyak juga terus dikembangkan baik melalui kerjasama bilateral. Selain mengadakan hubungan dengan MEE. Indonesia sebagai negara anggota ASEAN turut memperjuangkan kepentingan-kepentingan ASEAN dalam bentuk penyampaian beberapa masalah yang berkaitan dengan adanya hambatan-hambatan di bidang tarif maupun non tarif. Di samping itu.283 jenis ke negara-negala ASEAN lainnya. Selanjutnya dalam rangka lebih meningkatkan ekspor di luar minyak dan gas. antara lain dengan mengadakan pertemuan rutin antara pengusaha/eksportir-eksportir di dalam negeri Departemen Keuangan RI 130 . regional maupun multilateral. Dalam hubungan. kedutaan Republik Indonesia setempat diberi wewenang oleh Pemerintah untuk mengeluarkan visa bagi importir-importir negara-negara tersebut yang akan melakukan penjajagan ke Indonesia.

dan sekaligus menaikkan tarif bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap impor barang-barang seperti kertas untuk jenis tertentu. Pemerintah telah mencabut keringanan/pembebasan. perkakas tangan. seperti kacang kedele. serta elektro motor. serta untuk menjaga kestabilan harga beberapa bahan pokok yang diperlukan masyarakat. Dalam rangka lebih memberikan kepostian berusaha.Kebijaksanaan di bidang impor Kebijaksanaan di bidang impor ditujukan untuk menunjang pertumbuhan industri dalam negeri dengan memperlancar pengadaan beberapa bahan baku/penolong dan barang modal. Dengan demikian diharapkan barang-barang produksi Indonesia akan dapat lebih mudah masuk ke posar internasional. dalam rangka memberikan perlindungan terhadap barang-barang yang telah dapat dihasilkan. Dengan pertemuan-pertemuan tersebut para eksportir dapat menyampaikan informasi tentang produk mereka. serta memperbanyak pengiriman misi-misi dagang ke luar negeri yang dipimpin langsung oleh Menteri Perdagangan. Oleh karena sampai sekarang baru asosiasi pengusaha di bidang karet (Gapkindo) yang telah menyatakan dukungannya terhadap pemasaran karet melalui bursa. permesinan. Untuk itu dibentuk Komite Karet yang bertugas menyusun ketentuanketentuan perniagaan karet di bursa tersebut. Di lain pihak. Sementara itu kegiatan Bursa Komoditi yang diresmikan pada bulan Desember 1982 dalam waktu dekat akan dimulai. dan mendorong industri dalam negeri. Demikian pula terhadap beberapa produk yang telah dapat dirakit di dalam negeri. Sedangkan untuk menjaga kestabilan harga minyak goreng di Departemen Keuangan RI 131 . pipa besi dan produk polyvinyl chloride (PVC). Selain itu Pemerintah telah memperbanyak pusat-pusat promosi dagang di luar negeri. seperti me sin penggali (hydraulic excavator) dan wheel loader. juga telah diberlakukan tari( bea masuk dan pajak penjualan impor yang baru. 5. peralatan pertukangan. dan mencukupi kebutuhan di dalam negeri. maka Pemerintah menetapkan bahwa karet merupakan komoditi pertama yang diperniagakan di bursa. Pemerintah telah memperluas pemberian fasilitas berupa pembebasan sebagian dan/atau seluruh bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap pemasukan bahan baku/penolong serta barang modal.2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan para atase perdagangan di luar negeri. serta untuk menciptakan persaingan yang sehat dan wajar antara produksi dalam negeri dengan produksi eks impor sejalan dengan usaha peningkatan penggunaan/pemakaian produksi dalam negeri. aluminium sheet dan fuli aluminium jenis-jenis tertentu. peralatan laboratorium.2. dan sebaliknya para atase perdagangan dapat memberikan informasi kepada eksportir tentang permintaan konsumen di luar negeri.

telah dilakukan usaha-usaha untuk mengarahkan penggunaan devisa dalam rangka menggalakkan penggunaan produksi industri di dalam negeri. gulungan dan pelat yang digiling pada suhu tinggi dan rendah. gulungan dan pelat yang digiling pada suhu tinggi. Dengan pengaturan tersebut. Sehubungan dengan berlakunya UndangUndang Pajak Penghasilan 1984. Dalam rangka memanfaatkan kapositas industri. maka jenisnya diperluas lagi dengan menunjuk PT Krakatau Steel atau PT Tambang Timah sebagai importirnya. perusahaan swasta nasional dan pernsahaan dalam rangka penanaman modal. APIS atau APIT masing-masing dihitung dari nilai dasar impor (cif). dan sebagai gantinya dipungut pajak penghasilan (PPh). dan sebesar 7.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam negeri pada tingkat yang dapat dijangkau oleh masyarakat. Untuk tahap pertama pembangunan proyek ini dibatasi pada perangkat hilir yang terdiri dari pabrik Pure Terepthalic Acid (PTA) Departemen Keuangan RI 132 . maka pungutan MPO atas barang-barang impor dihentikan. barang-barang yang telah dimasukkan ke dalam kelompok produk industri hanya dapat diimpor oleh importir produsen terdaftar bagi masingmasing kelompok produksi yang diakui oleh Menteri Perdagangan. Adapun untuk mengurangi ketergantungan terhadap barang-barang impor. dan importir terdaftar. Guna menjamin kelancaran pengadaan bahan baku/penolong yang masih harns diimpor dari luar negeri untuk proses produksi industri dalam negeri. dan sekaligus sebagai importir baja lembaran dan gulungan tertentu yang digiling pada suhu rendah. Besarnya pungutan ditetapkan sebesar 2. telah diatur dalam tataniaga impor dengan menunjuk PT Tambang Timah sebagai importirnya. PT Krakatau Steel atau PT Giwang Selogam ditunjuk sebagai eksportir baja lembaran. Pemerintah telah membebaskan bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap minyak goreng segala jenis yang diimpor dalam jumlah yang diatur oleh Menteri Perdagangan. produk baja lembaran. Untuk lebih memantapkan pelaksanaan tataniaga impor produk baja lembaran dan gulungan yang digiling pada suhu rendah. proyek Aromatik Plaju di Sumatera Selatan telah dilanjutkan pembangunannya sesuai dengan rencana penjadwalan kembali (rephasing).5 persen bagi impor barang yang tidak menggunakan API. Demikian juga terhadap impor produk aluminium dan barang logam tidak inulia. Sementara itu. Sehubungan dengan itu.5 persen bagi imp or barang yang menggunakan API. APIS atau APIT. beberapa peralatan yang digunakan untuk industri perminyakan telah dapat diproduksi di dalam negeri. walaupun untuk memproduksi peralatan tersebut sekitar 30 persen bahan bakunya masih perlu diimpor. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan pelaksanaan mengenai tataniaga impor barang-barang yang termasuk kelompok produk industri. Dengan demikian. diatur dalam tataniaga ekspor dan impor secara terpadu. yang dapat terdiri dari pernsahaan negara.

Perkembangan neraca pembayaran dalam tahun 1984/1985 Walaupun berbagai hambatan telah mempengaruhi usaha pemulihan ekonomi dunia.050 juta dalam tahun 1984/1985.3.779 juta. dan ekspor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mencapai US $ 13. sedangkan jumlah penge1uaran devisa untuk membiayai imp or dan jasa-jasa bukan minyak dan gas dalam periode yang sarna diperkirakan mencapai US $ 16. Dengan dilanjutkannya pembangunan proyek ini maka diharapkan akan lebih mendorong dan memantapkan industri sandang di dalam negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan kapositas 150. yaitu jumlah pemasukan modal Pemerintah.345 juta. namun dengan adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan baik di bidang ekspor. dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 1983/1984 sebesar US $ 19. Departemen Keuangan RI 133 . Dari jumlah ekspor kese1uruhan tahun 1984/1985. 5.3. neraca pembayaran dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mengalami surplus sebesar US $ 643 juta. impor maupun lalu lintas devisa.367 juta dalam tahun 1983/1984 menjadi US $ 6. Jumlah penerimaan devisa dari hasil minyak dan gas bersih.099 juta. 5. PTA akan diproses lebih lanjut menjadi polyester oleh industri hilir.Ekspor Realisasi nilai ekspor minyak dan gas maupun bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 19. berarti terdapat penurunan sebesar US $ 37 juta. neraca pembayaran Indonesia dalam tahun 1984/1Y85 diperkirakan masih mengalami surplus walaupun tidak sebesar tahun sebe1umnya. sedangkan bahan bakunya yang berupa paraxylene masih perlu diimpor.000 ton per tahun.1. dan pemasukan modal lainnya dikurangi dengan pembayaran kembali angsuran pokok hutang luar negeri.816 juta.191 juta. yaitu dari US $ 5. nilai ekspor minyak dan gas berjumlah sebesar US $ 13. dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mencapai sebesar US $ 3.729 juta.246 juta. Sedangkan ekspor bukan minyak dan gas diperkirakan mengalami kenaikan sebesar US $ 683 juta. Sete1ah memperkirakan adanya selisih yang be1um diperhitungkan sebesar positif US $ 698 juta. Perincian perkembangan neraca pembayaran dapat dilihat dalam Tabe1 V. Dengan deniikian realisasi transaksi berjalan dalam periode terse but diperkirakan akan mengalami defisit sebesar US $ 3.l. Sedangkan lalu lintas modal bersih.

248 132 -1.6 86.6 88.7 311.4 4.2 + persentase 1973/1974 perubahan 3.386 854 3.jasa 1.8 22.9 15.684 1.8 13.266 690 4.921 -1.418 2.033 -5.8 40.2 720.8 40.4 juta.2 40.1 53.5 122.7 60.374 590 784 -1.479 -2. Ekspor.7 14.2 32. Peningkatan ini terjadi antara lain karena adanya peningkatan yang cukup besar dalarn ekspor gas alarn cairo Nilai ekspor di luar rninyak dan gas selarna periode April-Agustus 1984 tersebut berarti rneningkat sebesar US $ 357.9 201.8 juta.9 20.334.397 643 281 362 549 81 355 5 360 + + + 1974/1975 7.2 + 358. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 3.412 1.507 7.6 4.905 -3.barang don jasa.l NERACA PEMBAYARAN.822 -2.065 1.8 + 16.135 2.6 43.842 887 -1.409 930 -4.6 + + - 152.866 1.jasa 1.4 10.995 74 1.711 6.7 46.9 + + + 1975/1976 7.823 147 1.937.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel V.591 -1.9 24.992 1.6 10.075 77 11 353 364 + + + + + + + + + + + - persentase perubaban 0.9 6.6 + 24.4 149.6 35.8 + + + + + + + persentase 1977/1978 perubahan 10.9 13.4 + + - 549 + 81 + 355 5 360 1973/1974 I. Transaksi berjalan minyak dan gas tanpa minyak dan gas H.1 32.445 5.9 14 19.3 + 0.5 33.3 2.7 11.173 1.2 13 8.3 35.275 -3.155 4. Bantnan prorok dan lain-lain IV.1 24.5 + + + + + 1971/1972 1.5 juta.9 juta.4 + 15.4 67.613 1.939 965 974 -1.097 -1.9 15.490 6.5 27. Bila dibandingkan dengan realisasinya selarna periode April-Agustus 1983 sebesar US $5.9 9. Jumlah I sId V VII. S D R HI.6 65.350 2. Realisasi nilai ekspor sebesar US $ 9.1 persen dibandingkan dengan nilai ekspornya dalarn periode yang sarna tahun 1983 sebesar US $ 1. Lain lintas modallainnya V.205 -1. 708 + 1.116 574 254 320 448 204 652 30 400 286 114 190 78 94 6 100 + + + + + + + + + + + + + + + + + + persentase perubaban 14.138 -3.1 18.776 660 180 480 131 89 302 311 9 + + + + + + + + + + + + + + persentase perubahan 98.8 juta.1 33.353 3.977.1 juta atau 18.1 8.3 7.6 46. Jasa-jasa minyak dan gas tanpa minyak don gas 4.5 + 115.3 48.949 + + + + + + + + + + + + + 17.227 -1.9 32.5 0.4 518.4 22.1984/1985 ( dalam jutaan US $ ) 1969/1970 I.638 -2.6 46.146 5. Lain lintas moneter + + + 3.4 52.1 8.7 15.213 6.6 + 15.732 4.295 606 689 756 641 -1.3 58.5 98.4 juta tersebut terdiri dari nilai ekspor minyak dan gas sebesar US $ 6.6 29.153 2. Impor.374 3. Bantuan program 2.5 6.074 461 -2.2 3 13.8 0.3 77 95.6 juta rnenjadi sebesar US $9.613 -1.5 8.2 36.7 47. yaitu dari sebesar US $ 7.708 1.009 448 204 244 501 92 593 35 371 308 63 27 31 99 56 43 + + + + + + + + + + + 1970/1971 1.8 5. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 2.7 17 + + + + + + + + + + - + + + + + + + + + + + + + + + + + 15.2 60. Jasa-jasa minyak dan gas tanpa minyak don gas 4.100.2 189.295 606 689 756 641 -1.1 33.7 26. Pemasnkan modal Pemerintab 1.5 7. Impor.420 -2.8 19 43.3 13.5 51.613 + 1.273 1.4 41. Peningkatan tersebut tidak terlepos dari adanya perbaikan dalarn perekonornian dunia.1 27.9 300. Lain lintas modallainnya V.1 17.204 443 761 -1. dan nilai ekspor di luar rninyak dan gas sebesar US $ 2.074 461 -2.492 845 407 438 557 399 956 481 336 145 480 66 338 87 425 + + + + + + + + + + + + + + + + persentase pernbahan 41. Barang.8 1978/1979 + + + 11.651 159 -1.1 63.860 7.6 12.3 81.010 5.1 36.4 1.6 13. S D R HI.905 + -3.3 95.9 + 51.9 15.653 2.5 + 6.3 20.753 -5.100.8 0.7 17.676 38 166 893 108 -1.7 2. Barang.097 88 -1. Lain lintas moneter + + 1.6 6.barang don jasa. Jumlah I sId V VII.7 65. Transaksi berjalan minyak dan gas tanpa minyak dan gas H.6 59.7 7.9 32.186 5.512 1.4 9.114 + + + + + + + + + + + + + persentase perubahan 4.1 9.959.7 + + + + + + + + + + + 325. Sensih yang belum dapat diperhitungkan VIII. 1969/1970 . Sensih yang belum dapat diperhitungkan VIII.6 46.376 3.008 490 214 276 388 135 523 28 369 283 86 115 47 77 95 18 + + + + + + + + + + + persentase perubahan 15.240 987 138 2.5 + + + 1976/1977 9.3 14.5 21 9.208 94 2. Pemasnkan modal Pemerintab 1.710 -4.6 2.6 98.397 643 281 362 + + + + + + + + + + + 86. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 2.106 157 1.3 17.6 + - 176 + 761 + 831 180 651 363.1 6.765.7 6.4 + - 392 + 632 877 169 708 Realisasi nilai ekspor secara kese1uruhan dalam periode April-Agustus 1984 menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan realisasi nilai ekspor dalam periode yang sama tahun 1983.1 18.613 -1.7 15 17.044 384 660 -1. Bantnan prorok dan lain-lain IV.1 22.353 7.9 57.8 176. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 3.863 -7.955 802 3.2 66 + + + + + + + + + + 1972/1973 1.873 -5. berarti nilai ekspor rninyak dan gas tersebut rnengalami kenaikan sebesar 13.3 + 15.7 16. yang pada gilirannya Departemen Keuangan RI 134 .165 64 2.979 8.001 + + + + + + + + + + + + + persentase pernbahan 28.5 9.443 1. Bantuan program 2. Ekspor. Pembayaranhntang pokok VI.3 72 104.3 + 103.3 16.2 16. Pembayaranhntang pokok VI.8 202.6 -123.9 75.8 20 0.6 20.102 94 -1.5 persen.

rnenjadi sebesar US $ 9.9 juta.4 juta. Demikian pula nilai ekspor minyak sawit telah menurun dari sebesar US $40. karena ada penundaan dalarn pelaksanaan ekspornya. Kenaikan harga ini timbul karena adanya pembelian secara besar-besaran yang berlangsung setelah tersiar kabar kemungkinan rusaknya panen kopi Brazil tahun 1985 akibat hawa beku yang akan melanda negara tersebut. ekspor kayu dalarn periode April-Agustus 1984 rnencapai nilai sebesar US $ 438. meskipun dalarn periode tersebut harga karet rnengalarni penurunan. Sebaliknya nilai ekspor tirnah yang dalam lima bulan pertama tahun 1984/1985 berjumlah sebesar US $ 103. Penurunan ini disebabkan oleh rnenurunnya harga kayu. diantaranya ke beberapa negara Asia. Sebaliknya . Sebagai salah satu komoditi dalarn kelornpok barang utama. Sedangkan nilai ekspor biji sawit yang mencapai sebesar US $0. rneskipun pernasanin kayu lapis ke beberapa negara sernakin rneningkat. Eropa dan Arnerika Serikat.4 juta.7 juta. Kenaikan tersebut terjadi selain disebabkan oleh kenaikan harga kopi di posar internasional.nilai ekspor kopi yang pada lima bulan pertama tahun 1983/1984 mencapai US $ 203.8 juta dalarn periode yang sama tahun 1984.2 juta dalarn periode April-Agustus 1983. dalam periode yang sama tahun 1984/1985 meningkat menjadi US $ 233. menunjukkan adanya penurunan sebesar US $ 30. serta berkurangnya penawaran kopi robusta dari Departemen Keuangan RI 135 . juga disebabkan oleh naiknya kuota ekspor kopi. dan adanya penggunaan bahan-bahan lain pengganti timah.6 juta.6 juta.8 juta untuk periode April-Agustus 1983. Meningkatnya nilai ekspor ini disebabkan oleh rneningkatnya perrnintaan Amerika Serikat akan karet alam untuk rnenambah cadangan strategisnya. dan perrnintaan dari Jepang karena meningkatnya kebutuhan untuk mermnuhi pesanan dari luar negeri. dalam periode yang sarna tahun 1984 menunjukkan peningkatan rnenjadi sebesar US $ 373. terrnasuk dari Indonesia. Penurunan ini terjadi karena meskipun harga naik tetapi volume ekspornya menurun sebagai akibat pembatasan ekspor timah oleh Dewan Timah Internasional. meskipun harganya di posar internasional mulai rnembaik. dalam periode 1984 belum ada realisasinya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rneningkatkan perrnintaan negara-negara industri terhadap barang-barang ekspor negara berkernbang. Ekspor karet yang dalarn periode April-Agustus 1983 realisasinya mencapai US $ 343.8 juta bila dibandingkan dengan nilai ekspornya dalam periode yang sama tahun 1983/1984 yang berjumlah sebesar US $ 134. Tirnur Tengah.2 juta lebih rendah dari nilai ekspor pada periode yang sarna tahun sebelurnnya sebesar US $ 445. sehingga pemakaian timah berkurang. yang berarti US $ 7.4 juta.4 juta. Menurunnya ekspor minyak sawit ini disebabkan oleh karena adanya pembatasan ekspor untuk memenuhi kebutuhan dalarn negeri.

semen dan alat-alat listrik. Demikian pula nilai ekspor lain-lain meningkat dalam periode yang sarna dad sebesar US $ 378.6 juta. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya nilai ekspor komoditi lada.7 juta dan US $ 50.1 juta untuk tahun 1984. bahan makanan.3 juta.5 juta. Dilihat dari golongan barangnya. menjadi US $ 626. dan lain-Iainnya termasuk kerajinan tangan dan pakaian jadi.p.169 juta. kalau dalam lima bulan pertama tahun 1983/1984 masing-masing berjumlah sebesar US $ 17. yang berarti mengalami penurunan sebesar US $ 220 juta bila dibandingkan dengan realisasi nilai impor minyak dan gas pacta tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 3.427. 5. barang tambang.269 juta. Berkaitan dengan itu. Penurunan ini terutama disebabkan karena menurunnya impor peralatan untuk keperluan eksplorasi minyak sejalan dengan telah dapat diproduksinya beberapa perala tan pengeboran minyak oleh industri dalam negeri. barang tamba. Lebih rendahnya nilai impor tersebut terutama disebabkan karena menurunnya impor yang dilakukan dalam rangka bantuan proyek. dalam periode yang sarna tahun 1984 meningkat sebesar US $ 94. dalam jangka waktu yang sarna tahun 1984/1985 meningkat masing-masing menjadi sebesar US $ 22.6 juta dalam tahun 1983.6 juta atau US $ 320 juta (6. termasuk tekstil dan pakaian jadi.7 juta.7 persen) lebih Departemen Keuangan RI 136 .g dan lain-lain.067. lada.489 juta. Adapun barang lainnya seperti hewan dan hasilnya.815 juta.2 juta. Selanjutnya barang tambang yang dalam periode April-Agustus 1983 nilai ekspornya sebesar US $ 175. Meningkatnya nilai ekspor barang tambang ini disebabkan oleh meningkatnya ekspor aluminium dan tembaga.0 juta lebih tinggi hila dibandingkan dengan nilai ekspornya dalam periode yang sarna tahun 1983/1984 sebesar US $ 729. realisasi impor bukan minyak dan gas dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 4. Nilai ekspor lada dan bahan makanan termasuk tapioka. bungkil kopra. sehingga menjadi sebesar US $ 270.4 juta dan US $ 34.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pantai Gading.5 juta atau US $ 338.0 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan realisasi nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1983/1984 yang berjumlah sebesar US $ 12.3. Impor Rangkaian kebijaksanaan di bidang impor yang telah dan sedang dilaksanakan dalam beberapa periode ini banyak mempengaruhi perkembangan impor dalam tahun 1984/1985. Sementara itu nilai impor minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 3. yang berarti US$ 646 juta atau 5. selama lima bulan pertama 1984/1985 mencapai nilai ekspor sebesar US $ 1. nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 12.2.2 juta. yang disebabkan an tara lain oleh meningkatnya ekspor kerajinan tangan termasuk pakaian jadi. bahan makanan.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

rendah hila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun 1983 yaitu sebesar US $ 4.747,6 juta. Lebih rendahnya nilai impor tersebut terjadi alas imp or semua golongan barang, baik barang konsumsi, bahan baku/penolong maupun barang modal. Sementara nilai impor kelompok barang konsumsi dalam tahun 1984 berjumlah sebesar US $314,6 juta. Hal ini berarti terdapat penurunan sebesar US $ 60,3 juta atau sebesar 16,1 persen hila dibandingkan dengan nilai impornya dalam periode yang sarna tahun 1;183 sebesar US $374,9 juta. Penurunan nilai impor ini terjadi alas impor hampir semua jenis barang konsumsi, dan telah menyebabkan menurunnya peranan impor barang konsumsi terhadap nilai impor bukan minyak dan gas secara keseluruhan dari 7,9 persen menjadi 7,1 persen. Selanjutnya realisasi impor bahan baku/penolong dalam periode April-Agustus 1984 juga menunjukkan adanya penurunan bila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sama tahun sebelumnya. Apabila realisasi nilai impor bahan baku/penolong dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 2.168,0 juta, dalam periode yang sama tahun 1983 realisasi impornya berjumlah sebesar US $ 2.258,5 juta. Hal ini berarti lebih rendah sebesar US $ 90,5 juta, atau sebesar 4,0 persen. Lebih rendahnya nilai impor tersebut disebabkan karena menurunnya impor bahan kimia, bahan obat-obatan, pupuk, bahan-bahan kertas, bahan bangunan serta semen, kapur, dan bahan bangunan buatan pabrik lainnya. Namun demikian apabila dilihat dari peranan impor bahan baku/penolong terhadap impor bukan minyak dan gas seC(I,ra keseluruhan, persentasenya mengalami peningkatan dari 47,6 persen dalam periode April-Agustus 1983, menjadi sebesar 49,0 persen dalam periode yang sarna tahun 1984. Adapun realisasi nilai impor barang modal dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 1.945,0 juta. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun 1983 yang berjumlah sebesar US $ 2.114,2 juta, berarti telah terjadi penurunan sebesar US $ 169,2 juta atau 8,0 persen. Penurunan ini terjadi pacta impor mesin-mesin, generator listrik, peralatan listrik dan lainnya. Penurunan dalam realisasi nilai impor ini telah mengakibatkan pula menurunnya persentase impor kelompok barang modal terhadap realisasi nilai impor bukan minyak dan gas secara keseluruhan, yaitu dari sebesar 44,5 persen dalam periode April-Agustus 1983, menjadi sebesar 43,9 persen dalam periode yang sarna tahun 1984. Gambaran yang terperinci mengenai impor bukan minyak dan gas dapat diikuti dalam Tabel V.3.

Departemen Keuangan RI

137

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986
Tabel V.3 NILAI IMPOR TANPA MINY AK DAN GAS MENURUT GOLONGAN BARANG, 1969/1970 - 1984/1985 (df, dalam jutaan US $) persentase persentase persentase persentase persentase Jenis barang 1969/1970 dari 1970/1971 dari 1971/1972 dari 1972/1973 dari 1973/1974 dari jumlah jumlah jumlah jumlah jumlah I. Barang konsumsi 180,7 22,1 178,1 17,7 157 13,2 293,7 16,2 544,1 18,9 1. Beras 46,9 44,1 27,3 132,6 367,8 2. Tekstil 28,3 16 11,9 23 13,2 3. Susu, makanan, minuman dan buah - buahan 23,7 34 31,9 22,3 48,6 4. Tembakau daD olahannya 7,3 1,8 2,6 4,1 6,3 1 1,4 1,7 3,5 7,7 5. Sabun dan kosmetik 6. Alat-alat rumah tangga 10,9 12,3 15,8 6,7 24,6 7. Lainnya 62,6 68,5 65,8 101,5 75,9 ll. Bahan baku/penolong 399,7 48,8 475,6 47,3 562,3 47,3 790,4 43,7 1.257,90 43,7 1. Bahan kimia 60,3 69,6 80 115,2 171 2. Bahan obat-obatan 12,9 14,3 13,6 18,8 31,6 27,6 19,5 35,2 46,2 68,8 3. Pupuk 4. Bahan-bahan kertas 21,3 26,9 25,2 30,1 53,3 5. Benang tenun 54,3 55,3 56,5 106,2 206,5 6. Semen. kapur dan bahan bangunan buatan pabrik 11,3 13,8 18,2 25,8 46,5 7. Besi baja dan logam 61,5 72,6 113,2 186,6 351,4 1,3 1,2 1,1 19 78,3 8. Bahan-bahan karet dan plastik 9. Bahan bangunan 6,1 10,8 16,3 25,7 56 10. Alat-alat listrlk 1 1,2 ' 0,9 5,7 23 11. Lainnya 142,1 190,4 202,1 211,1 171;5 III.Barang modal 238,7 29,1 352,6 35 470,6 39,5 724,5 40,1 1.079,00 37,4 1. Mesin-mesin 115,8 183,8 247,8 373,2 588,4 5,3 7,6 10,9 31,9 87,1 2. Generator listrik 3. Alat telekomunikasi 16,9 19,2 21 32,4 46,9 7,2 11 12,3 16,4 31,3 4. Peralatan listrik 5. Alat pengangkutan 44,7 62,9 81,4 141,2 301,3 6. Lainnya 48,8 68,1 97,2 129,4 24 Jumlah 819,1 100 1.006,30 100 1.189,90 100 1.808,60 100 2.881,00 100

Jenis barang I. Barang konsumsi 1. Beras 2. Tekstil 3. SolO, makanan, minuman dan buah-buahan 4. Tembakau dan olahannya 5. Sabun dan kosmetik 6. Alat-alat rumah tangga 7. Lainnya n. Bahan bakufpenolong 1. Bahan kimia 2. Bahan obat-obatan 3. Pupuk 4. Bahan-bahan kertas 5. Benang tenon 6. Semen, kapur dan bahan bangunan buatan pabrik 7. Besi baja dan logam 8. Bahan-bahan karet dan plastik 9. Bahan bangunan 10. Alat-alat listrik 11. Lcinnya ill.Barang modal 1. Mesin-mesin 2. Generator listrik 3. Alat telekomunikasi 4. Peralatan listrik 5. Alat pengangkutan 6. Lainnya Jumlah

1974/1975

persentase persentase persentase persentase persentase dari 1975/1976 1976/1977 dari 1977/1978 dari 1978/1979 dari dari jumJah jum1ah jum1ah jumJah jum1ah 659 16,9 519 831,2 15,3 1.176,40 21,3 1.202,90 19,5 11,8 426,8 234,7 408,4 677,7 592,3 15,9 13,5 21,6 26,6 23,9 130,7 7,9 8,6 27,8 95,8 2.151,10 273,4 33 316,5 70,7 254,2 61,9 585,2 128,9 111 62,7 253,6 1.730,10 804,9 167,2 122 61,7 530,4 43,9 4.400,20 173,4 13,5 17,1 42,5 154,7 2.156,40 332,3 45,4 22,1 109,6 307,8 60,4 587,7 165,4 165,7 97,6 262,4 2.453,60 1.125,80 264,2 355,4 131,2 531,5 45,5 5.441,20 238,1 15,3 19,5 43,5 155,8 2.185,10 392,5 42,1 31,9 117,2 322,5 29,4 597,4 175,3 155,4 84,2 237,2 2.152,90 944,7 203,2 200,9 125,3 615,8 63 5.514,40 256,1 16 20,5 56,9 237,2 2.616,10 461,9 48,3 55,2 123,2 293,3 23,7 760,4 223,5 115,7 90,3 420,6 2.335,40 1.113,10 187,2 122,5 134,1 734,6 43,9 6.154,40

77,7 11,6 7,4 31,9 87,7 1.816,00 239,9 33,8 305,6 58,9 229,5 76,2 467,8 99,9 77,4 38,4 188,6 1.430,40 738,7 141 60,7 45,3 415,2 29,5 3.905,40

46,5

48,9

39,6

39,6

42,5

36,6

39,3

45,1

39,1

38

100

100

100

100

100

Berdasarkan PPUD yang diolah Biro Pusat Statistik

5.3.3.Pengeluaran jasa-jasa (netto) Usaha-usaha meningkatkan penerimaan devisa dan penghematan penggunaan devisa dalam bidang jasa-jasa terus digalakkan. Berkaitan dengan itu, fasilitas bebas visa selama dua bulan yang telah diberikan sejak 1 April 1983 kepada wisatawan dari 26 negara, mulai 1 September 1984 juga diberikan kepada para pengusaha dari negara-negara tersebut, bahkan telah ditambah dua negara lagi sehingga meliputi 28 negara. Demikian pula pembangunan
Departemen Keuangan RI

138

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

industri dan sarana pariwisata dirangsang dengan memberikan keringanan bea masuk dan pajak penjualan impor atas barang-barang tertentu yang masih dibutuhkan dan belum dihasilkan di dalam negeri. Sementara itu kebijaksanaan pengiriman tenaga kerja Indonesiake luar negeri (Timur Tengah) terus digalakkan, dengan harapan dapat menambah penerimaan devisa yang berasal dari uang kiriman para tenaga kerja ke tanah air (remittance). Pengendalian tata pelaksanaan pengerahan tenaga kerja dewasa ini mencakup juga penentuan upah terendah, dan kewajiban mentransfer paling sedikit lima puluh persen penghasilan yang diterima. Selanjutnya usaha penghematan penggunaan devisa di bidang jasa-jasa dilaksanakan dengan tetap menerapkan bea fiskal perjalanan luar negeri sebesar Rp 150.000,- bagi setiap orang yang bepergian ke luar negeri. Pengeluaran devisa untuk jasa-jasa setelah dikurangi dengan penerimaan devisa dari jasa-jasa, baik minyak dan gas maupun di luar minyak dan gas, dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 7.587 juta. Jumlah ini berarti lebih rendah sebesar US $ 76 juta hila dibandingkan dengan realisasinya dalam tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 7.663 juta. Perkiraan penge1uaran devisa untuk jasa-jasa tersebut terdiri dari pengeluaran jasa-jasa bukan minyak dan gas sebesar US $ 4.176 juta, yang berarti lebih tinggi sebesar US $ 102 juta atau 2,5 persen hila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 4.074 juta. Lebih tingginya pengeluaran jasa-jasa tersebut terutama disebabkan karena meningkatnya pembayaran bunga pinjaman luar negeri. Di lain pihak pengeluaran jasa-jasa minyak (termasuk LNG) menunjukkan penurnnan sebesar US$ 178 juta atau sebesar 5,0 persen, yaitu dari US $ 3.589 jut3 dalam tahun 1983/1984 menjadi US $ 3.411 juta dalam tahun 1984/1985. 5.3.4. Lalu lintas modal dan transfer Dengan semakin meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan terbatasnya penerimaan devisa yang dapat dihimpun, pemasukan modal baik dalam bentuk pemasukan modal Pemerintah maupun modallainnya tetap diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran, dan kelangsungan pembangunan ekonomi nasional. Namun demikian sikap berhati-hati dalam meminjam, dan selektif dalam pemilihan proyek-proyek yang dibiayai dari dana luar negeri tersebut lebih diperhatikan, sehingga penggunaannya dapat meningkatkan kemampuan pengembangan industri dalam negeri, dan mendorong perluasan lapangan kerja, serta pacta akhirnya tidak akan menyulitkan posisi neraca pembayaran dimasa yang akan datang. Sehubungan dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut, lalu lintas modal, yang merupakan hasil bersih pemasukan modal Pemerintah dan pemasukan modal lainnya setelah dikurangi dengan pembayaran angsuran pokok hutang luar negeri, dalam tahun 1984/1985
Departemen Keuangan RI

139

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

diperkirakan berjumlah sebesar US $ 3.191 juta. Jumlah tersebut terdiri dari pemasukan modal Pemerintah sebesar US $ 4.359 juta, dan pemasukan modallainnya sebesar US $ 341 juta. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 1983/1984, masing-masing menurun sebesar US $ 1.434 juta atau 24,8 persen, dan sebesar US $ 850 juta atau 71,4 persen. Sedangkan realisasi pelunasan hutang pokok luar negeri dalam tahun 1984/1985 diperkirakan meningkat dari tahun sebelumnya sehingga mencapai jumlah sebesar US $ 1.509 juta. Peningkatan terse but adalah sejalan dengan semakin bertambah besarnya kewajiban penyelesaian hutang dari tahun-tahun sebelumnya yang telah jatuh tempo. 5.4. Perkiraan neraca pembayaran dalam tahun 1985/1986 Atas dasar perkiraan realisasi dalam tahun 1984/1985, dan dengan memperhitungkan perkembangan yang diperkirakan akan terjadi baik terhadap ekspor, impor maupun lalu lintas modal dalam periode berikutnya, neraca pembayaran Indonesia dalam tahun 1985/1986 diperkirakan masih akan mengalami surplus meskipun tidak sebesar dalam tahun 1984/1985. Keadaan ini diperkirakan terjadi karena di satu pihak realisasi transaksi berjalan diperkirakan akan mengalami defisit sebesar US $ 3.409 juta, dan di lain pihak lalu lintas modal bersih, baik yang berasal. dari pemasukan modal Pemerintah maupun pemasukan modal lainnya, setelah dikurangi angsuran pokok hutang luar negeri, dalam periode tersebut mencapai US $ 3.682 juta. Dengan demikian neraca pembayaran tahun 1985/1986 diperkirakan surplus sebesar US $ 273 juta. 5.4.1. Perkiraan nilai ekspor bukan minyak dan gas Kalau dalam tahun 1984/1985 nilai ekspor di luar minyak dan gas realisasinya diperkirakan mencapai US $ 6.050 juta, maka dalam tahun 1985/1986 nilai ekspornya diperkirakan mencapai sebesar US $ 7.009 juta, yang berarti meningkat sebesar. US $ 959 juta atau 15,9 persen. Adapun perkiraan kenaikan nilai ekspor di luar minyak dan gas terse but didasarkan pacta pertimbangan-pertimbangan : (1) Mulai pulihnya perekonomian negara-negara industri dari pengaruh resesi, sehingga harga-harga komoditi di luar minyak dan gas di posaran internasional diharapkan akan meningkat, disertai dengan meningkatnya permintaan negara-negara tersebut terhadap komoditi di luar minyak dan gas; (2) (3) Penanganan ekspor komoditi di luar minyak dan gas secara terpadu dan efisien; Ditingkatkannya usaha perluasan posar antara lain dengan' mengadakan hubungan dagang dengan negara-negara Eropa Timur.
Departemen Keuangan RI

140

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

5.4.2. Perkiraan nilai impor bukan minyak dan gas Pengduaran devisa untuk impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1985/1986 diperkirakan akan berjumlah sebesar US $ 13.342 juta. Jumlah ini adalah US $ 1.173 juta atau 9,6 persen lebih besar bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 sebesar US $ 12.169 juta. Nilai impor bukan minyak dan gas tahun 1985/1986 didasarkan atas perkiraan-perkiraan sebagai berikut : (1) Kebijaksanaan kurs devisa untuk menjaga keseimbangan perdagangan luar negeri masih tetap dipertahankan. (2) Keadaan resesi ekonomi dunia yang menunjukkan pemulihan akan mempengarnhi perekonomian Indonesia khususnya di bidang produksi industri dalam negeri, sehingga untuk keperluan industri dalam negeri t_rsebut diperlukan impor bahan baku/penolong serta barang modal yang lebih tinggi. (3) Pemerintah masih tetap menjaga kestabilan harga barang-barang kebutuhan masyarakat sehingga terhadap barang yang belum mencukupi atau belum diproduksi di dalam tetap dilakukan impor. (4) (5) (6) Pemakaian produksi dalam negeri terus digalakkan. Impor dalam rangka bantuan proyek dan bantuan program masih tetap diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Kebijaksanaan penjadwalan kembali (rephasing) yang telah dilaksanakan untuk proyek proyek tertentu yang banyak menggunakan barang-barang impor masih tetap dipertahankan. 5.4.3.Perkiraan penerimaan minyak bersih termasuk LNG Situasi posaran minyak dunia sampai saat ini belum memperlihatkan tanda-tanda perbaikan seperti yang diharapkan. Situasi yang demikian ini sangat frat hubungannya dengan proses pemulihan ekonomi yang berjalan lamban, sehingga adanya kelebihan produksi minyak dunia tidak segera diikuti oleh penambahan permintaannya. Di samping itu harga minyak tunai (spot) diposaran dunia terus mengalami posang surut bersamaan dengan posang surntnya pemulihan perekonomian dunia, terntama di negara-negara industri, perubahan musim di belahan bumi non tropis, serta peleposan/penambahan cadangan (stock) minyak oleh negaranegara industri. Situasi yang demikian itu telah memaksa OPEC mengambil keputusan untuk memperbaiki situasi minyak yang ternyata sampai akhir tahun 1984 belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Bahkan sesuai dengan hasil pertemuan OPEC bulan Oktober 1984 telah diputuskan bahwa kuota produksi diturunkan dari 17,5 juta barrel menjadi 16 juta barrel per
Departemen Keuangan RI

negeri

141

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

hari, sedangkan harga patokan minyak mentah masih tetap dipertahankan sebesar US $ 29 per barrel. Dengan adanya ketentuan kuota produksi minyak tersebut, maka kuota produksi minyak Indonesia harns diturunkan sebanyak 111.000 barrel per hari selama bulan November dan Desember 1984. Sementara itu dengan telah diproduksinya beberapa peralatan pengeboran minyak oleh industri dalam negeri, maka akan mempengaruhi penghematan penggunaan devisa untuk impor di sektor minyak. Di lain pihak devisa hasil ekspor gas alam yang dicairkan (LNG) diperkirakan akan mengalami peningkatan dalam tahun 1985/1986. Atas dasar perkiraan realisasi penerimaan minyak bersih termasuk LNG dalam tahun 1984/1985, serta perkiraan situasi pasaran minyak dunia yang akan terjadi, maka dalam tahun 1985/1986 penerimaan minyak bersih (termasuk LNG) diperkirakan berjumlah sebesar US $ 7.299 juta. 5.4.4. Perkiraan pos lainnya Pengeluaran devisa untuk pembayaran jasa-jasa. dalam tahun 1985/1986 diperkirakan masih akan lebih besar dari penerimaannya, sehingga sektor jasa masih menunjukkan hasil bersih yang negatif bagi penerimaan devisa negara. Sehubungan dengan itu, usaba peningkatan penerimaan devisa, dan penghematan penggunaannya di bidang jasa-jasa akan terus dilakukan melalui pengembangan sektor kepariwisataan, pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, pembatasan perjalanan ke luar negeri, pengurangan secara bertahap penggunaan tenaga kerja asing/konsultan di Indonesia, serta peningkatan peranan armada niaga nasional dalam pengangkutan barang ekspor dan impor. Dalam tahun 1985/1986 hasil bersih untuk jasa-jasa diperkirakan berjumlah sebesar US $ 8.102 juta. Selanjutnya pemasukan modal Pemerintah dalam tahun 1985/1986 diperkirakan akan berjumlah sebesar US $ 4.974 juta, termasuk bantuan proyek sebesar US $ 4.016 juta. Sedangkan pemasukan modallainnya diperkirakan akan mencapai sebesar US $ 406 juta. Di lain pihak, pembayaran kembali hutang pokok luar negeri dalam tahun 1985/1986 diperkirakan sebesar US $ 1.698 juta.

Departemen Keuangan RI

142

serta sektor listrik.2 persen per tahun. gas dan air minum telah semakin meningkat. Keadaan tersebut merupakan suatu petunjuk terjadinya suatu proses keseimbangan yang lebih baik dalam struktur ekonomi. lembaga keuangan dan jasa lainnya.2. telah terjadi pula perubahan struJ<:. Tanpa mengabaikan usaha pemerataan dan kestabilan.2 persen per tahun.0 milyar menjadi sebesar Rp 71. maka dalarn periode tersebut telah terjadi kenaikan rata-rata sebesar 7. Di samping telah dicapainya penmgkatan produk domestik bruto dari tahun ke tahun. yang pada gilirannya memungkinkan terwujudnya peningkatan tarat hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat. pendapatan nasional sebagaimana tercermin dari perkembangan nilai produk domestik bruto dari tahun 1969 sarnpai dengan tahun 1983 telah menunjukkan jumlah yang semakin besar.214. sektor perdagangan. yaitu dari periode tahun 1969 sampai dengan tahun 1983. Hal ini berarti bahwa selama kurun waktu tersebut.718.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VI PENDAPATAN NASIONAL 6.7 milyar. Sedangkan apabila diukur atas dasar harga konstan tahun 1973. Departemen Keuangan RI 143 . yakni sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur melalui produk domestik bruto atas dasar harga yang berlaku telah berhasil ditingkatkan dengan rata-rata sebesar 26. Perkembangan pendapatan nasional menurut lapangan usaha dan kontribusinya Hasil pembangunan ekonomi antara lain dicerminkan dari pendapatan nasional yang senantiasa meningkat dalarn kurun waktu 14 tahun terakhir ini. Berdasarkan harga yang berlaku. pembangunan nasional mengusahakan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Pendahuluan Sebagai suatu negara yang sedang berkembang. Dalam kurun waktu 14 tahun. Indonesia sejak tahun 1969 dengan giat melaksanakan pembangunan nasional secara berencana dan bertahap serta berpegang teguh pada kebijaksanaan Trilogi Pembangunan. yakni dari sebssar Rp 2. produk domestik bruto atas dasar harga yang berlaku mengalami kenaikan rata-rata sebesar 26. sektor bangunan. di satu pihak peranan sektor pertanian menurun sedangkan di lain pihak peranan sektor lainnya seperti sektor industri. 6.2 persen per tahun (Tabel VI.1.tural yang penting.1). yaitu ke arab suatu perekonomian industri yang didukung oleh sektor pertanian yang tangguh.

325.60 2.842.40 2.70 3.845.10 1.908. 1969 -1983 (dalam milyar rupiah.6 114 158 1.2 4.235.00 1.00 961 685 294 307 18 128 162 1.816.247.30 1977 2.70 4.40 118.023.013. lembaga keuangan dan jasa lainnya 1969 1.659. Pengangkutan dan komunikasi 7.069. Tanaman bahan makanan b.961.5 752.70 1. maka ekonomi mulai membaik dan dalam tahun 1983 telah mencapai sebesar 4. maka terlihat bahwa upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat selama kurun waktu memperihatkan hasil yang nyata.00 21.00 1.678.2 676.50 8.290.00 1976 4.8 3.10 1983 18.6 562.90 10.5 4.441.696.9 514. lembaga keuangan dan jasa lainnya sebesar Rp 4.0 859 755 37 320 288 2.50 1970 2.90 2.40 939.10 1977 5. 1 PRODUK DOMESTIK BRUTO.80 1.3 930 46.433.437.835.50 8. Listrik.90 6. Tanaman bahan makanan b. kehutanan.415.870.40 2.669.00 1.00 1972 1.480. laju pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 7.70 3.332.6 521.031.3 384.706. Perdagangan.877.20 17.3 3.932.8 438.00 1975 2.00 551 490 24.60 4. perikanan a.2 3.60 2.30 1980 11.00 1.00 766 491 448 20 174 182 1.5 342.182. Sebagaimana terlihat pada Tabel VI.047.7 2.1 2.003.710.704.103.00 1.00 1.80 1.30 1.30 1l.707.294.20 15.970.681. atau naik rata-rata sebesar 7.573.30 842.9 5.255.900.00 5.642.90 105. juga mengalami peningkatan dari sebesar Rp 4.30 6.8 716.8 1.10 1.820.027.2 persen per tahun.235.70 105.057. antara lain sektor pertanian sebesar Rp 3.339.00 1.882.672.00 831 650 30.00 1.00 3. Pengangkutan don komunikasi 7.5 757.714.599.427.60 1982 3.8 302.5 milyar serta sektor perdagangan.6 milyar.401. Pertanian.453.30 68.9 528.00 831 650 30.892.070.738.850.657.412.00 305.169.566.6 4.00 7.2 Setelah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah dalam tahun 1982 yakni sebesar 2.9 720.90 7.2 222 229 1.00 962 613 173 293 15 100 96 986 1971 1.00 1.60 8.30 9.00 1.789.164.80 3.2 3.918.00 1.2.8 1.433. Pertambangan & penggalian 3.00 Dalam periode yang sama.90 1.80 12842.80 2.395.7 171 210 1.420.965. juga karena adanya kebangkitan kembali ekonomi dunia.80 1.8 7.821. Listrik.005.80 89.3 1.90 1978 6. Lainnya 2.2 952.60 148.70 69.646.1 88.003.833.6 1.80 1.096.067.1 812. sektor industri pengolahan sebesar Rp 1.123. kehutanan.60 77. industri pengolahan 4.9 639.424.134.412.275.70 49 463.448.70 288.117.554.00 1975 4.3.8 559.4 3.20 1.00 890 452 399 19.556.00 4.7 2.821. Bangunan 6.00 1982 15.6 4.427. Tabel VI.4 262 257 2.199.50 112.10 2.00 954 522 435 22.20 12.710.013.4 262 257 2.40 1974 2.00 1979 8.771. Perdagangan.60 5.991.8 589.575.20 1981 3.811.2 persen.40 1983 3.374.50 9.820.00 6.5 milyar menjadi Rp 12. Bangunan 6.261.353.325.245.70 1972 2.10 828.2 364.90 2.50 1.60 2.70 380.698.00 2.753.905. Dengan demikian apabila perkembangan tersebut dikaitkan dengan laju pertumbuhan penduduk yang diperkirakan sekitar 2.70 1.9 4.40 1.707.30 1.40 1.20 2.00 1.60 6.837.70 12.484.064.544.50 1.593.812.80 3.242.523.50 2.436.845.981.071.00 1.6 2.80 5.1 847.156.90 225.3 609.80 2.10 1.811.5 143 165 1.479.9 41.70 11.046.263.80 1.60 13. perikanan a.2 PRODUK DOMESTIK BRUTO.6 662.80 1.00 5.30 1.115.8 804. Pertambangan & penggalian 3.390.402.357.943.20 12.269.1 3.7' 6.00 1.540. gas.2 persen selama kurun waktu 14 tahun tersebut terutama didukung oleh sektor bangunan yang mempunyai tingkat pertumbuhan paling tinggi yaitu rata-rata sebesar 14. Pertanian.434.2 persen per tahun.60 1.9 persen per tahun.00 1971 2. produk domestik bruto yang dihitung atas dasar harga konstan tahun 1973.50 5.047. dan air minum 5.101.795.80 1981 13.346. Departemen Keuangan RI 144 .137.507.043.00 1.734.30 9.117.00 1973 2.60 4. gas.80 1976 2. Produk domestik bruto sebesar Rp 12.00 823 516 129 251 13 75 77 834 1970 1.30 956. 1969 .375.20 1.00 890 52 406 442 3.50 1979 3.310.356.573. 1embaga keuangan danjasa lainnya Jumlah 1969 2.50 11.034.942.054.755.70 1.00 1.421.287.60 1.299. Lainnya 2.414.00 1978 3.137.351.373.538. suatu pertumbuhan yang dimungkinkan di samping oleh kebijaksanaan Pemerintah dan upaya masyarakat.5 1.357.8 milyar.90 1.842.10 1.00 1.30 98.20 1.873.995.2 milyar tersebut terbentuk dari nilai tambah bruto di semua sektor.90 8.073.00 674 564 26.379.942.930.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e 1 VI. don al£ minum 5.40 2.1 30.60 56. Perkembangan secara lebih terperinci dapat diikuti pada Tabel VI.90 1980 3.048.1983 (dalam milyar rupiah atas dasar harga yang berlaku) 1974 4.80 1.630.80 1. Industri pengolahan 4.768.2 persen. Dengan demikian selama Pelita III telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 6 persen per tahun.00 6.00 3.893.70 Lapangan usaha 1.979.680.380.30 12.90 4.50 12. atas dasar harga konstan tahun 1973) Lapangan usaha 1.668.2 milyar.823.20 1973 2.50 5.

7 11.2 5 4.4 persen dan 5.6 48 9.1 26. Bangunan 6.2 45.8 27.7 7.1973 20. lndustri pengolahan 4.1 52 50.7 13.7 39.4 8.3 persen.7 22. Pertambangan & penggalian 3.1 -12. 2.8 30.6 5.9 1980 25.8 9 13 9.3 PRODUK DOMESTIK BRUTO. Pertanian.6 34.8 2.2 16. yaitu meningkat ratarata sebesar 3.1 1978 13.4 . yaitu ke arab struktur ekonomi yang lebih seimbang dengan sektor industri yang maju dan didukung oleh sektor pertanian yang tangguh.7 18.5 4.9 20.4 37.2 59.3 41 38. gas daft air minum 5.9 25 7.2 12 21.4 12.6 25.4 33.9 -1.4 .3 8. Namun peranan tersebut berangsur-angsur menurun menjadi sebesar 29. sektor bangunan serta sektor pengangkutan dan komunikasi.4 20.9 29.2 16 18 12.2 2.4 14 5. Di samping itu sektor perdagangan.7 1977 22.9 11.8 20 28 68.4 24. Pertambangan & penggalian 3.3 15 12.5 6.9 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Dihitung dengan compound rate Hal tersebut sejalan dengan makin meningkatnya kegiatan pembangunan di berbagai bidang seperti perumahan.2 45.8 19. gas dan air minum.8 5. Di samping itu sektor listrik.7 26. Pengangkutan daft komunikasi 7.7 7 1972 11.6 6.1 6. Di samping itusektor perdagangan.6 8.1983 ( persentase kenaikan ) Lapangan ulaha ( Atas dasar harga yang berlaku ) 1.2 28.4 persen dan 3.1 16.4 2.9 5.1 0.9 18.8 18.2 6.5 19.7 51.4 5. lembaga keuangan dan jasa lainnya serta sektor pertambangan dan penggalian masing-masing mengalami kenaikan ratarata sebesar 8.4 5.1 41.5 69.1 35.4 4. Departemen Keuangan RI 145 .9 27.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VI.1 persen.5 18. peranan sektor pertanian dalam tahun 1969 tampak menonjol.3 1974 29 185.2 5.6 1975 14.6 13.9 5 6.6 16.9 26.1 22 22.6 13.8 12 48.3 15.0 9.3 persen. yakni masing-masing dengan kenaikan rata-rata sebesar 13.5 1971 4.5 11.3 23.9 5. jembatan dan irigasi.5 9 14.3 34.2 Rata-rata 3) 1970 .3 14.01 12.8 25.8 persen dalam tahun 1983. perikanan 2. perikanan 2.8 33.2 15.4 18.3.2 8 7. sektor industri pengolahan serta sektor pengangkutan dan komunikasi juga cukup besar peranannya.1 9.2 7.4 58.2 36. kehutanan.9 1982 1) 1983 2) 14.6 67 45.5 11.7 19.7 22.6 27.3 33.6 41.2 3.3 1.2 17. Seperti terlihat pada Tabel VI.1 4.2 22.9 13.1 15.4 1973 47.1 12.8 13 10.7 3.4.3 15.9 persen dari seluruh nilai produk domestik bruto.9 71.5 persen per tahun. lembaga keuangan dan jasa lainnya juga meningkat yaitu dari sebesar 29.4 12.5 40.9 4.8 26. gas daft air minum 5.4 4.8 13.1 10.3 persen dan 5.9 persen dan 11.8 3.7 31.2 21.5 4.7 12.9 7. jalan.4 3. yang masing-masing meningkat dari sebesar 8.8 5.8 11. namun sumbangannya terhadap pembentukan produk domestik bruto masih tetap besar. 1embaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto 1970 17. 11.2.3 7.8 26.6 21.3 24.3 4.4 8.3 11.2 7. Dari perbedaan laju pertumbuhan antarsektor tersebut dapat dilihat bahwa telah terjadi proses perubahan di dalam komposisi produk domestik bruto.9 12.4 19.8 16. Di lain pihak. peranan sektor-sektor lainnya di luar sektor pertanian pada umumnya menunjukkan tendensi yang semakin meningkat. Bangunan 6.1 10.5 37.9 6.5 5.1 29.5 69.3 26.7 1979 34.5 7. 1embaga keuangan dan jasa 1ainnya Produk Domesdk Bruto ( Atas dasar harga konstan 1973 ) 1.9 32 12.7 36. Listrik.3 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 34.9 12.8 1. 6.9 persen dalam jangka waktu 14 tahun kemudian. Pengangkutan dan komunikasi 7.2 17. Perdagangan.9 11.8 -9.8 persen per tahun.8 19.4 22.6 9.4 19 19.6 12.3 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 15.5 persen dalam tahun 1983.1 14 17.2 42.1 10.9 3.3 10.3 13.1 33.6 22. Sementara itu walaupun laju pertumbuhan sektor pertanian lebih rendah dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.1 32.6 3.7 26. seperti halnya sektor industri pengolahan.2 1.6 29 29.7 15.5 67.1 60.1 9. lndustri pengolahan 4.2 13.2 23.3 9.7 persen per tahun. Listrik. yaitu sebesar 46.8 36.1 16.2 17. Hal ini pada gilirannya diharapkan dapat mengacu kepada perimbangan yang serasi dan sesuai dengan sasaran pembangunan ekonomi jangka panjang. 1970.1 55 72 51. Perdagangan. Pertanian.2 1981 20.7 8.2 19.1 1.2 19.3 40.7 5 1976 20. kehutanan.4 7.3 22.1 28 23.9 4.

1 3.3 0.6 5.5 0.8 29.9 100 40.9 9.4 29.1 21.4 100 36. Listrik.1 0.3 100 31 18.7 persen.7 5.7 3.5 3.2 100 31.1 11.1 5.7 0.4 19.7 3.6 5. Apabila dalam tahun 1969 peranan pembentukan modal domestik bruto atas dasar harga yang berlaku terhadap produk domestik bruto baru mencapai sebesar 11. Pertambangan & penggalian 3.8 10. dalam periode yang sarna pengeluaran konsumsi pemerintah dan pengeluaran konsumsi rumah tangga juga telah menunjukkan peningkatan.5 2. perikanan 2.3 10.1 persen. lembaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 6.5 5.5 100 45.7 100 46.8 100 40.5 4.4 30.9 100 40.5 3.4 32.2 persen per tahun selama 14 tahun tersebut terutarna berasal dari semakin tingginya kegiatan investasi. gas dan air milIum 5.9 7.8 100 32.4 8.8 4 30.7 11.8 4 31.6 12. alan suatu kenaikan sebesar rata-rata 15. kehutanan.1 9.9 6.4 100 36. Pengangkutan dan komunikasi 7.9 31.3 24 10.501.4 31.5 100 1.4 2.5 5.8 29.3 30.4 12.2 8.4 100 38. 4 PERANAN MASING-MASING LAPANGAN USAHA DALAM PROD UK DOMESTIK BRUTO. Listrik.2 persen per tahun dalarn periode tersebut.9 4.8 0.4 3.9 0.4 15.9 6. Pertanian.3 9.2 100 32.5 3. pembentukan modal domestik bruto tetap menunjukkan kenaikan yaitu dari sebesar 11.9 milyar dan Rp 11. alas dasar harga konstan tahun 1973.0 milyar dan Rp 3.6 4.7 19.5 0.2 persen dalam tahun 1969 menjadi 30.6 5.5 10. kehutanan.4 0.1 3 30. Meningkatnya produk domestik bruto.7 11-Jun 0. terutama disebabkan oleh meningkatnya pembentukan modal domestik bruto yaitu dari sebesar Rp 537.6 5. Perdagangan.1 30.3 4.7 100 44.4 0.4 0.4 29.2 10.6.3.2 29.3 15.5 milyar dalam tahun 1969 menjadi sebesar Rp 1.8 4.6 12 11.1 18.6 5.8 11 12.9 9. alan suatu kenaikan rata-rata sebesar 10.7 8.3 4.3 9 0.5 3.3 0. Terlihat bahwa peranan masing-masing jenis penggunaan produk domestik bruto dalarn periode tahun 1969 sarnpai dengan tahun 1983 telah menunjukkan perubahan dalam komposisi penggunaannya.8 4.9 100 40.3 9.2 milyar dalam tahun 1983.5 4.4 4 30.9 100 31.2 31.4 2.791.5 30.9 0.8 25.4 100 26.4 0.4 0.3 100 32 10.8 11.5 4.6 0.7 11.8 7.3 27.5 persen Departemen Keuangan RI 146 .2 4. Perkembangan pendapatan nasional menurut jenis penggunaan Perkembangan ekonomi nasional sarnpai dengan tahun 1983 selain ditunjukkan oleh kenaikan per sektor. dapat pula dilihat dari perkembangan masing-masing komponen penggunaannya seperti terlihat pada Tabel VI.5 dan Tabel VI.1983 ( persentase ) 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) Lapangan usaha (Atas dasar harga yang berlaku) 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1. Perdagangan.7 6.8 0.9 8.1 8.7 5.5 19.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TabeI VI.9 persen dan 8.8 0.7 9. Bangunan 6.5 4. lembaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto (Atas dasar harga konstan 1973) 49. lndustri pengolahan 4.5 5. Pertanian.9 0.5 3.4 100 44 9.1 12.9 3. Hal ini berarti bahwa kenaikan riil sebesar 7.7 30 100 29.6 4. Bangunan 6. Pengangkutan dan komunikasi 7.8 8.4 4.6 0.1 28.6 0.5 3.5 4.2 persen per tahun. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 24.9 34.8 100 28.5 100 30. perikanan 2.9 3.3 100 48.7 22.9 9.7 4.758.8 10.3 13.8 30. baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun oleh swasta.7 4.3 0.4 3.6 5.3 29.8 8 8.1 100 29.6 15.7 30.6 4.2 0.8 milyar dalam tahun 1969 menjadi sebesar Rp 3. 1969 .2 4.8 9.921.4 3.7 9.3 5.4 0. Industri pengolahan 4.3 0.8 2.5 5.5 5.6 5.8 30. Pertambangan & penggalian 3.5 32. Selanjutnya di samping meningkatnya pembentukan modal domestik bruto.4 30.8 29.9 100 25.7 6 5.2 100 33.9 11.9 0.6 33. gas dan air milIum 5.6 0.8 100 29. dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 dengan rata-rata sebesar 7.2 100 24.8 10.1 12.8 34.9 15.1 0. yaitu masing-masing dari sebesar Rp 414. Jika dihitung alas dasar harga konstan tahun 1973.1 milyar dalam tahun 1983.4 100 26.7 5.3 19.3 0.2 persen per tahun.2 100 29.

90 20.184.00 328 439 5.419.745.4 1.3 4.864.10 57.241.70 -3.6 -556.513.20 1.027.1 530.90 1.70 1972 4.7 persen jika dihitung alas dasar harga konstan tahun 1973.80 199 317 328.40 -652.70 351.749.50 1.308.033.20 2.30 3. Produk domestik bruto 7.40 4.60 -673.973.482.70 1.00 1.367.666.80 2.675.802.006.449.3 6.50 414 537.7 1.70 293 455 434 522. Pengeluaran konsumsi rumah tangga 3) 2.356.7 -1.60 1973 4.741.80 13.522.634.90 526.60 3.445.553.742.204.50 1.803.30 30.044.40 10.60 27.303.683.00 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam tahun 1983.3 4.5 8.1 1.90 68.70 Departemen Keuangan RI 147 .00 2.776.40 4.90 1.70 10.50 1.7 296.924.156.564.511.566.70 495.4 -498.890.2 5.00 12.60 -866.672.444.5 6.30 1971 4.20 1983 2) 11.214.621.5 persen dalam tahun 1983.508. Demikian pula halnya untuk konsumsi pemerintah.10 51.00 .066.534.10 716 1.00 6.8 576.590.4 786.035.088.782. Dikurangi: Impor barons don jasa 6.00 1974 5.187.678.325.30 8.484.269.8 5.759.10 10.50 -493.80 6.218.089.461.0 1.874.70 1981 10.007.40 10.90 430.10 5.80 13.7 871.1 persen dalam tahun 1983 bila dihitung atas dasar harga yang berlaku. sedangkan atas dasar harga konstan tahun 1973 menunjukkan suatu penurunan dari positif 1.80 370. 6 ( dalam milyar rupiah atas dasar harga konstan tahun 1973 ) Jenis penggunaan 1.50 1980 8.50 2.70 4.641.523.50 188 219 2.00 3.10 3.515.6 persen dalam tahun 1969 menjadi negatif 33.90 3.5 1983 2) 49.345. 580 857 1.40 992.2 624 7.6 persen dalarn tahun 1969 menjadi sebesar 89.90 -1.8 746 668.30 3.00 .699.9 942.90 9.10 7.00 518.983.20 835. dan dari sebesar 8.067.8 6.228.20 1.681.194.30 9.10 1.40 Jenis penggunaan 1.70 1.787.90 587.904.70 4.280.50 19.80 -389 7.8 837.629.642.30 46.1 7.399.178.229.797.00 -378.820.20 -758.6 496 6.90 10.10 4.7 11.9 2.5 3.847.4 6.48.30 1977 6.00 41.70 27.00 52.3 persen menjadi sebesar 10.2 690.572.273.00 7.332.10 625.94.9 360.0 4.672.40 12. Dikurangi: Impor barang dan jasa 6.80 6.118.746.30 341 414 716 84-1.927.731.032.3 866.957.688.20 1.752.70 3.066.481.50 1977 12.7 336.7 11. Dikurangi: Pajak tak langsung nella 10.5 1.882.8 persen dalam tahun 1983.102.169.508.70 16.9 715.728.6 7. Di lain pihak peranan konsumsi rumah tangga mengalarni penurunan yaitu dari sebesar 84.650.60 4.842. Produk nasional bruto 9.867.00 1.20 -835.791.791.20 2.842.708.10 1.238.70 -1.182. Produk nasional bruto 9.440.10 1970 3.511.34.70 .164.355.732.00 1.044.00 4.541.604.375.826.60 483.824.20 71.90 6.027.5 9.079.70 6.60 1.741.502.80 1.395.20 Tab e I VI.7 10.5 778. yaitu dari masing-masing sebesar 7.40 9.719.20 229 236 328 447 519.50 15.70 14.20 3.30 3.372.1 8.436. Ekspor barang dan jasa 5.60 1.330.297.111.30 2.887.670.90 13. Pembentukan modal domestik bruto 4.485.6 803.318.670. Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi 8.235.6 10.5 394. walaupun alas dasar harga konstan tahun 1973 peranannya menunjukkan peningkatan dari sebesar 78.293.2 10. baik alas dasar harga yang berlaku maupun atas dasar harga konstan tahun 1973 dalam periode yang sarna.218.9 10. Dikurangi: Penyusutan 11.50 1975 5.10 19.962.50 544.753.40 -2.20 15. yaitu apabila dihitung atas dasar harga yang berlaku telah menurun dari negatif 3.10 1.838.00 -420.40 -245. Pengeluaran konsumsi rumah tangga 3) 2.849.90 -649.7 472. Dikurangi: Penyusutan 11.7 439 696 821 1.349.804.356.20 -183.80 2.897.733.90 35.50 1.330.30 17.628.2 9.10 641 1.3 834 755.343.5 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 69.50 .804.209.007.304.80 38.208.6 6.189.50 896.00 1.55.10 9.2 -254.4 424 2.30 623.8 4.10 1979 7.30 5.380.544.00 32.00 2.9 persen jika dihitung alas dasar harga yang berlaku.30 2.753.010.208.70 54.085.20 1976 6.630.805.231.323.356. Pembentukan modal domestik bruto 4.00 1.964.20 1l.2 9.10 135 176 2.865.883. Pengeluaran konsumsi pemerintah 3. Tabel VI.5 3.00 -677.1 313.8 762.838.512.70 600.6 1.70 !.077.90 17.10 7.896.704.554.136.410.028.80 1.80 2.30 466.50 19.60 12.822. Produk domestik bruto 7.10 1.832.20 399.4 13.658. peran:annya narnpak semakin meningkat.20 4.40 3.50 10.765. Produk nasional netto alas dasar biaya faktor produksi 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Residual 1969 2.90 271.00 .817.7 663.8 18.535. Ekspor barang daD jasa 5".2 5.50 1978 6.50 234.3 728. Dikurangi: Pajak tak langsung netto 10.137.9 1.60 2.054.143. Dalam pada itu ekspor netto juga mengalmi perubahan. Produk nasional netto atas dasar biaya faktor produksi 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Residual 1969 3.921.636.70 13.758.30 8.632.70.10 4.90 3.253.578.40 45. Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi 8.20 7.560.5 PENGGUNAAN PRODUK DOMESTIK BRUTO.073.00 3.8 4.30 -314.50 560.30 2.70 .30 294.9 -144.5 238.8 -482.00 2.10 3.80 8.132.40 2.879.502.30 3.268.20 5.70 3.410.50 1.20 12.454.9 5.912.025. 1969 -19 ( daiam milyar rupiah atas dasar harga yang beriaku ) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 2.876.00 12.697.6 persen menjadi sebesar 13.1 persen dalam tahun 1983.467.345.67.1 12.00 59.80 251.445.269.153.2 5.20 845.10 1970 2.20 2.5 persen dalam tahun 1969 menjadi negatif 4.287.00 1.50 1. Pengeluaran konswnsi pemerintah 3.20 4.00 43.831.698.40 2.879.90 1978 1979 1980 1981 1982 1) 15.00 7.984.80 3.20 14.501.466.00 61.489.40 11.435.10 3.00 1.7 3.650.811.70 22.80 3.8 5.80 2.146.30 1982 1) 10.50 21.

Berkenaan dengan arab dan tujuan pengembangan penanaman modal yang sesuai dengan strategi pokok pembangunan. serta kependudukan dan transmigrasi. Oleh karena itu dalam Repelita IV akan terus dilakukan pembangunan ekonomi yang berlandaskan Trilogi Pembangunan. Dalam hal ini.2. Pendahuluan Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. kehutanan.1. Hal itu tercermin pada peningkatan taraf hidup. Penanaman modal Strategi dasar pembangunan nasional diarahkan pada pemanfaatan sebesar-besarnya dari seluruh potensi yang ada untuk tercapainya tujuan pembangunan. kegiatan penanaman modal baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA) antara lain diarahkan untuk meningkatkan dan memperluas kapositas produksi nasional. telekomunikasi. pekerjaan umum. pertanian. yang pelaksanaan operasionalnya senantiasa disusun dalam kerangka kebijaksanaan ekonomi secara terpadu. kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VII PERKEMBANGAN USAHA DAN HASIL-HASIL PEMBANGUNAN EKONOMI 7. Adapun hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai selama ini dapat diikuti melalui uraian daripada masingmasing bidang di bawah ini. yang pada gilirannya menjadi kerangka landasan yang kokoh untuk melanjutkan pembangunan dalam masa-masa mendatang. meningkatkan penerimaan devisa Departemen Keuangan RI 148 . pos dan pariwisata. 7. pertambangan dan energi. Oleh karena itu pengerahan dana daTi sektor swasta. perhubungan. Sehubungan dengan hal itu akan terus dilakukan upaya-upaya peningkatan hasil produksi barang dan jasa di berbagai bidang meliputi penanaman modal. industri. pembinaan dunia usaha. menciptakan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. peranan swasta dan kopeiasi akan lebih ditingkatkan guna mencapai tingkat pertumbuhan seperti yang direncanakan. berbagai kegiatan pembangunan yang telah dilaksanakan Pemerintah bersama-sama seluruh rakyat Indonesia telah mencapai hasil-hasil yang positif. sesuai dengan arab dan sasaran Repelita IV. baik nasional maupun asing dalam penanaman modal terus digairahkan melalui penciptaan prasarana dan sarana yang memungkinkan kegiatan pembangunan ekonomi dapat bergerak ke arab yang direncanakan.

serta coklat. Di samping itu juga telah dilaksanakan kebijaksanaan yang mendukung adanya kerjasama antara proyek penanaman modal. Sementara itu dalam rangka pengembangan dan pembinaan proyek prioritas sesuai dengan sasaran dalam Repelita IV. kesempatan kerja. sub-kontrak. investasi di bidang industri logam dan mesin telah digalakkan secara khusus. kesempatan berusaha serta pemerataan pembangunan di daerah-daerah dalam rangka pemanfaatan sumber kekayaan alam. Di samping itu telah banyak pula diusahakan produk lain yang berorientasi pada ekspor seperti udang. Adapun guna meningkatkan pelayanan kepada investor telah pula dikembangkan berbagai pra-studi Departemen Keuangan RI 149 . Dalam hal ini masyarakat umum telah diberikan kesempatan yang luas untuk berperanserta dalam perusahaan-perusahaan baik PMDN maupun PMA dengan memiliki saham dari perusahaan-perusahaan yang telah memasyarakatkan sahamnya. baik asing maupun dalam negeri dengan para pengusaha. ubi kayu dan kelapa sawit dari sektor perkebunan. industri tekstil dan pakaian jadi sebagai komoditi ekspor. dan ikan cakalang dari sektor perikanan. maupun penampungan hasil-hasil usahanya. Salah satu usaha yang dilakukan dalam rangka kebijaksanaan tersebut adalah mendekatkan lokasi proyek dengan bahan baku. Investasi yang telah disetujui di bidang tersebut antara lain meliputi bidang usaha pembuatan mesin automotive dan non-automotive. kepi. telah ditempuh berbagai kebijaksanaan untuk menyebar proyek-proyek ke seluruh wilayah Indonesia sejauh faktor-faktor ekonomis masih memungkinkan. Untuk proyekproyek penting tersebut disusun suatu ketentuan teknis berupa kerangka acuan yang mengikat para investor dalam pelaksanaan proyek. Penanaman modal juga diarahkan untuk meningkatkan penerimaan devisa antara lain dapat terlihat dalam perkembangan sektor perkayuan terutama kayu olahan. Dari segi pemerataan pembangunan. ikan tuna. DSP menggambarkan suatu rencana penanaman modal yang terpadu. karel. Dalam rangka perencanaan dan sebagai pedoman bagi penanaman modal telah diterbitkan daftar skala prioritas (DSP) yang penyusunannya dikaitkan dengan programprogram yang direncanakan. koperasi ataupun para petani setempat. teh. dengan sasaran pokok tercapainya peningkatan pendapatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 serta mengusahakan perluasan kesempatan kerja. sedangkan swasta asing diarahkan kepada usaha patungan yang memerlukan modal besar. pengilangan baja (cold rolling mill) dan sebagainya. kodak. baik dalam rangka partisiposi permodalan. pembuatan komponen automotive. Pada dasarnya kesempatan penanaman modal diberikan lebih banyak kepada swasta nasional dengan peran yang lebih besar kepada koperasi dan golongan ekonomi lemah. Sejalan dengan itu sektor-sektor lain seperti industri makanan telah pula diarahkan pada ekspor. teknologi tinggi dan belum dapat diusahakan oleh swasta nasional.

4 milyar atau 30.5 milyar dengan 215 proyek. dan selanjutnya mempertemukan para peminat tersebut dalam suatu temu-usaha ke arab kerjasama yang lebih konkrit. sehingga proyek-proyek dapat dipromosikan secara lebih konkrit. dan penyiapan informasi proyek yang lebih sempurna. Adapun mengenai lokasi. sampai saat ini pulau Jawa masih tetap merupakan daerah yang paling banyak menyerap proyek-proyek PMDN sebagai lokasi usahanya.248 proyek.9 milyar dengan 502 proyek.4 milyar. Departemen Keuangan RI 150 .632. Sektor industri sebagaimana dalam tahun-tahun sebelumnya masih tetap merupakan sektor yang paling banyak menarik minat para investor dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 13.178.9 milyar.645.078.259 proyek PMDN.2. baik di dalam maupun di luar negeri.3 persen dari rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984.3 milyar dengan 54 proyek (Tabel VII. 2. Dari jumlah yang telah disetujuai tersebut sampai dengan bulan Maret 1984 telah direalisasikan sebesar Rp 6. Dalam hubungan ini kegiatan promosi penanaman modal ditempuh melalui pendekatan yang optimal kepada para investor dengan cara promosi investasi langsung.540.9 persen) di antaranya berlokasi di pulau Jawa dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 13. dengan nilai rencana investasi sebesar Rp20. dari sebanyak 4. Sedangkan realisasinya sampai dengan bulan Maret 1984 mencapai Rp4.948 proyek.1. 7. yang antara lain bertujuan mengidentifikasi proyek-proyek yang diperkirakan akan menarik minat para calon investor. meliputi sebanyak 2. Untuk itu telah dibuka 3 perwakilan BKPM di luar negeri. sektor kehutanan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1. Kegiatan di sektor-sektor lain yang juga cukup menonjol adalah sektor pertanian/peternakan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1.564. serta dengan cara membantu mempertemukan berbagai unsur masyarakat yang ikut serta dalam bidang penanaman modal. serta sektor pertambangan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1.037. sebagai sarana memperlancar pemberian informasi penanaman modal ke negara-negara di Amerika Serikat dan Eropa. yakni di New York.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kelayakan.270.2 milyar. Demikian pula telah diadakan kerjasama dengan berbagai pihak. serta proyek-proyek yang beralih status dari PMA menjadi PMDN. Sampai dengan bulan Agustus 1984. tetapi tidak termasuk proyek yang mengundurkan diri atau dibatalkan. Jumlah tersebut termasuk proyek yang mengadakan perluasan/penambahan modal.1 persen dari nilai rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984. Paris dan Frankfurt.766 proyek (64.1).7 milyar atau 29. Penanaman modal dalam negeri Investasi melalui PMDN yang telah mendapat persetujuan Pemerintah sampai dengan bulan Agustus 1984 adalah sebanyak 4.

800 8.035 46 59.325 46.255 47.375 13 445.980 173 4.575 4.777 16 196.098 97 154. 1968 . Sulawesi Tenggara 23.512 838 2.950 15 63.811.334 159.202 314.991 49.434 1 52 168.579 47 10.575 122. Tab e I VII. Jawa Barat 3.736.953 10.289 4.077 1 16.190 15 78.585 20. Penanaman modal asing Keikutsertaan pihak swasta asing dalam kegiatan investasi di Indonesia diatur dengan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1967.993 4.175.575 6. Realisasi penanaman modal asing sampai dengan bulan Maret 1984 mencapai US $ 6. Kehutanan 481 1. 1968 .984 1 5. Pertanian IPeternakan 167 580. Kalimantan Barat 141.003.705 89.250 13.774 124 1.229 75 8.026 13 159.203 93.632.715 3 32.087 223 1.119 17.362 10.623 4.742 66 213.831 22.326 24. Nusa Tenggara Timur 7 15.466 276.913 234.263 249.1981/1982 1982/1983 1983/19842) 1984/1985 1) 1968 .145 7.743 3 14.347. setelah diperhitungkan dengan proyek yang mengundurkan diri atau dibatalkan dan yang melakukan pengalihan status dari proyek PMA menjadi proyek PMDN.460 4 44.807 6 316 362.117 8.954 2 1.041 93.790 517 2.905 2.980. Usaha-usaha lainnya 29 49. Ri au 79.090 9 2.068 36 730.512 1 5.666 40.432 Realisasi 3) ( Rp juta ) 693.181 530.064 18 167.995 3 716 78 855.626 7 5. Sulawesi Vtara 145. Sebagaimana dapat diikuti pada Tabel VII.656 21 144.732 31 460. Tenaga listrik 1 418.634 368 1.428 6 38.679 3 8.395 95" 128.024 45 113.027 1 1.3 persen dari seluruh rencananya.792 4 58 80.180 718.387 2 4.846.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 atau 64.101 3 77 112.645.248 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.008 14. alih status daD yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984 7.273 19.590 40 160.445 412.879 1.106 8 892. 2.236 7.517 79 393. D1 Yogyakarta 26. Modal (Rp juta) 1.163 345. Kalimantan Tengah 104 157.492.862 1. Sulawesi Tengah 24 67.2. D1 Aeeh 303.347 94 409.370 57 250.275 52 1. Perkembangan proyekproyek PMDN yang telah disetujui Pemerintah menurut lokasi usaha dapat diikuti pada Tabel VII.673 38 194.099 7 8.767 11 56. B a Ii 78.922 3.585 1 Jumlah 3.299.585 1 27 40.699 5 44.000 2 -26.148 215 2.791 20.814 1 12.663 107.796 481. Jawa Timur 446 952.932 2 26. PMA yang telah disetujui Pemerintah sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencapai sebanyak 795 buah proyek dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 14.2 juta.027 123. Jam b i 27.947 4 1.3.776 6 88.944 1 38 82.673 15 206.220 28 521.178.809 11 73.746 6 11.109 26.383 51 3.815 2 27.320 254 5 11.303 4 31 70.329 315 6.709 9. Sumalera Barat 33.692 18 296.263 2 -2.651 2.988 10 43.724 18 194.037.690 Tabel VII.899 67 263.385 1 31.662 11 81.746 491.003.332 20.179.689 9.863.037.499 87.663 68 307.259 20.857 9 54.472.994 23.836.800 112 232.350.788 6 198.262 120. DK1Jaya 885.689 9.941 329 7. perluasan.140 1.346 6 3. Nusa Tenggara Barat 3. Pertarnbangan 27 145.042 3 6.152 48 411.623 6.053 7 53.540.317 18 139.622 18.990 985 5.593.455 420.593.541 54 49.733 6.1 00 29 118.800 27 322.352 26 113. lrianJaya 333 -1 3. 1 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI YANG TELAH DlSETUJUI PEMERINTAH MENURUT BIDANG USAHA.661 1 6 44.736 35 92.274 13.432 Keterangan: 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek don investasi berasal dari proyek baru.996 102 852.358 232.847 16 829 3. M a I u k u 48.1984/1985' Realisasi 3) Jumlah Modal Jumlah Modal Modal Modal Jumlah Modal ( Rp juta) Jumlah Jumlah proyek (Rpjuta) proyek (Rpjuta) proyek (Rpjuta) proyek (Rp juta) proyek (Rp juta) 781 1.699 279 1 25.309 6.800 54 5. Jumlah tersebut sudah termasuk proyek yang mengadakan perluasan/penambahan modal.435 92.802 29 594.2.522 2 6.260 1.491 502 4.257. Perindutrian 2.795 19 81.202 53 114.523 8.261 157. Perhubungan/Pariwisata 275 404. Kalimantan Selatan 60 180. Sulawesi Selatan 34.728 3 82 234.1984/1985 1) 1968 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1968 Bidang Usaha Jum1ah Modal Jumlah Modal Jum1ah Modal Jumlah Modal Jumlah Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek 1.042 6 464.071.078 1.304 6 147.949.690 JUMLAH 6.467 31.1984/1985 1) Lokasi usaha 1968 .147 118.828 7 466.329 318 57 1.203. sektor perindustrian merupakan sektor yang Departemen Keuangan RI 151 .342 6 22. perubahan.908 3 1.665 43 655.124 10 19.435 4 1.212 3 15.645 5 63 161.752 21.868 4 21.959 869.719 202 343.149 3 14.211 4 159.257 192 3.600 1.252 13 214.923 6 85.413 33.564. Sumatera Selatan 79. Perikanan 33 48.099 26 9.736.797 10 218. Sumatera Vtara 336.904 7.305 89. Jawa Tengah 1. Bengkulu 14 18.509. Kalimantan Timur 196 854.919 9 144.337 43.017 114 433. Lampung 121.4 persen dari rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984.954 692.471 11 31.296 2 6. Prasarana 9 21.607 418.153 223 769.622 17 151.299.684 1 8 46.036 -1 -1.632. perluasan.901 65.891 1 65.161 15.968 48.perubahan.915.5 juta atau 43.794 10 44.275 4.257 195 3.948 6.394 11.078.147 16 208. Perumahan/perkantoran 44 197. alih status dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984.2 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI YANG TELAH DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT LOKASI USAHA.

Realisasi PMA yang terbesar sampai dengan bulan Maret 1984 adalah sektor perindustrian. Pertambangan 10 1. dan sektor perhubungan/pariwisata sebesar US $ 421.317 96.1981/1982 1982/1983 Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal proyek (US S ribu) proyek proyek (US S ribu) proyek proyek (US S ribu) (US S 294 178 22 2 67 5 45 4 20 6 3 13 5 14 16 5 3 2 3 5 6 6 3 16 45 788 3.597 795 14.443 160.829. Ria u 23 320.2 11.917 15.472.404 -1 -13.936 18 997.160 14.577 -1 38.1984/1985 1967 .1984/1985 1) 1983/1984 2) 1984/1985 1) 1967 .383 52.9 -1 6. Sulawesi Selatan 6 28.655 665.413.0 juta atau 59. Sumatera Utara 46 1.554.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 paling banyak menarik minat para investor.5 331.658.6 24. yaitu berjumlah US $ 3.451.8 125.4 persen dari seluruh nilai realisasinya.052 7 15.PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DlSETUJUI PEMERINTAH MENURUT BIDANG USAHA.937.658.518 368. Sulawesi Tenggara 3 29.086 -1 8. a1ih status daD yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) SampaidenganimlanMaret 1984 Departemen Keuangan RI 152 .6 25. perubahan.7 381.736 -4 *) Jasa.691 -24.000 -5.1 776. Tabel VII.4 juta meliputi 9 proyek. Bengkulu -10.3 85.924 29.551 -1 5.672 3 11.6 9. D. B a 1 i 5 47.983 6 9 4 3.7 228.394.393 9.276 70 195.654 -1 3.500 28 421.438 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek daD investasi berasal dari proyek baru.199 36.045 497 11.983 6.939.641 -2 -2 13.248 504. Jawa Tengah 21 233.915.370.433 19.893 30.932 2. Kehutanan 69 582.656 64.6 57. perumahan/perkantoran sebesar US $ 659.855 10.470 14 -9 -4 736. Kalimantan Tengah 17 125.893 -6.4 54.672 8.136 4.836 1. Nusa Tenggara Timur 2 3.001 130.383.597 1.112.373 1.5 -3 7.405 969. Kalimantan Timur 22 235.227 123.160 JUMLAH 787 10. Perindustrian 477 7.1984/1985 ReaJisasi Bidang usaha JumIah Modal Modal Modal Modal Jumlah Modal Modal Jumlah Jumlah Jumlah Proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) (US $ juta) proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) 1.422 9 1.430 247.50 JAW A 656.937 -1 -2 -1 20.50 12 2.496 -4.451. Sulawesi Utara 3 77. Konstruksi 63 93.2 1.848 57 395.740 -4 1 10. Perhubungan/Pariwisata 31 352.017 237. sektor jasa.241 6.828 1 26.4 359.385 120 -1 5.7 524.224 -10. aIih status PMA ke PMDN dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai d. D. perluasan. 1967 -1984 / 19851) 1967 .950 57.4 253.192.026 -2.944 -87.737 5.100 77. Adapun sektor-sektor lain yang juga cukup dominan adalah sektor pertambangan dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.3 -4 Jumlab 787 10.535 32.360 74.L Yogyakarta 3 8.655 21.370.874 24 162.700 491.479 6.845.1 -8 -1 -3 4.4 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT LOKASI USAHA. Jawa Timur 70 520.440 1.2 40.934 -1 -5 239.394.823 1..289.135.2 134.470 1.693 8. Jawa Barat 159 2. perluasan.865 120. Kalimantan Barat -57.030 340.8 3.5 6. Perdagangan 3 11. DKIJakarta 282 1.1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1967 .915. Peri k a n a n 24 147.771 1.472.970 3.250 54 659.630 -27.70 333.L Aceh 6 435.215 8.ngan bulan Maret 1984 Tabel VII.899 765.773 41.jasa lain + Perumahan/Perkantoran 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.7 -1 5.715 14.444.916 78.550 12. perubahan. Mal u k u 7 46.500 -1 17. Beberapa Daerah Lainnya 45 1.490 -1 2.010 1 9.499 24.625 2 34.4 juta dengan 28 proyek. Jam b i 5 28.346 -5.053 -2 14.655 20.593 29.241 Lokasi Realisasi 3) Modal (US S juta) 869.499 -1 25. Sumatera Barat 4 55.359.664.910 1 -2 7.086 250. Sulawesi Tengah 6 78.543 2.312 294.463 1 -3.9 100.249 3.392 -12.731 -74.279 652. 1967 .916 -1 23.5 0.7 65.497 -5 -3 16. Nusa Tenggara Barat 1 3. Sumatera Selatan 14 73.182 3.438 736. Pertanian 59 239.810 7 66.850 4.9 7.6 6.977 5. Jasa lainnya *) 51 362.307 22.3 PROYEK . IrianJaya 15 309. Kalimantan Selatan 18.956 -1 -9. baik dalam hal jumlah proyek maupun nilai rencana investasinya hila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.172 67.4 -3 -1 -2 3.405 1 11.483 -2 1 27.519 -14.3 5.932 843.613 63.00 15 2.627 1.449 4.845. Lampung 8 85.3 juta dengan 54 proyek.000 53 235.646 -2 LUARJAWA 420.

Sampai dengan bulan Agustus 1984.612 283. Inggris 20.073 101.460 23.5 juta meliputi 16 proyek (Tabel VII.384 45.190 28.777 362.073 15.5 22 30.470 MENURUT NEGARA ASAL.919.3 166.197 37. India 11.7 persen daTi jumlah proyek yang ada.792 79.653 2. Canada 3. DKI Jakarta dan Sumatera Utara merupakan daerah yang cukup menonjol. dan Belgia dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 926.492 - 4.963 165. Selanjutnya bila ditinjau dari segi besarnya nilai rencana investasi untuk tiap-tiap propinsi.6 219.1984/1985 1) 1) Jumlah proyek 2 Modal (US $ ribu) 17.760 266.351 48.244 614.80 93. Korea Se1atan 5.599 12. Departemen Keuangan RI 153 .698 19.800 12.178.392 442. Jepang telah membangun 210 proyek dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 4. Panama 23.593 -12.269 7.175 15.646 112.552 482.241 900 123.597 787 14.272 762 61.5 12.0 juta dan meliputi 121 proyek.4 107. Lichentein 26.160. Switzerland 21. alih status dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984 Seperti halnya dengan PMDN. Gabungan Negara 28.353 -776 802.297 146.694 16. Italia 17.727 29.300 25.004 1.455.653 -2.733 4.733 3.472 201.1 juta meliputi sebanyak 178 proyek.4 Modal (US $ ribu) 484.0 persen dari seluruh rencana investasi PMA.276 47.240 13.021.652 7.006 1. Philipina 10.635 33. Singapore 8.047 31.524 103.770 136.432 - 3 79 8 787 12 2.5 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.266.978 -5.8 107 21.694 22.919.945 143. maka sejumlah 563 proyek atau 71.4 persen daTi 788 buah proyek PMA. Perancis 16.000 5.876 897 12. Denmark 15.000 10.954 58.150 - -4 -1 -1 -2 -1 2 2 -1 - 62.364 Jumlah proyek -3 -1 -1 -5 -1 -1 -2 -1 1 -2 -1 3 5 1 -1 1 -1 1 - .2 2. Malaysia 9. 5). Nilai rencana investasi untuk ketiga wilayah tersebut masing-masing adalah sebesar US $ 4. Selain itu beberapa negara lain yang juga cukup menonjol adalah Hongkong dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.263 -15.594 667.079 17.178 174.569 -908 9.40 20.810 16. Norwegia 27.632 593. Brunei 24.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.016 2. rencana investasi berlokasi di pulau Jawa.678 Realisasi Modal ( US $ juta) 582.674 38.6 102. New Zealand 13. Netherland 18. yang berarti 26.361 3.9 juta atau 59.757 172. perubahan.892 7.095 15.602 -2.7 1.507. maka Jawa Barat.719 13. Jerman Barat 19.000 -12.832.840 76.5 2.937. Jepang 4.5 14.810 38.8 juta dengan 45 proyek.507 -1.241 6472.1 juta dengan 294 proyek.3 196.4 35.021.413.780.511 72.393 10.807 71.962 3.795 -500 25.554.977 -16.8 0. 4. perluasan.3 172.105 -3.7 8. Negara Lainnya JUMLAH Jumlah proyek 72 3 205 18 127 5 34 14 8 7 36 2 16 4 9 1 44 24 44 15 6 3 4 2 76 8 Modal (US $ ribu) 456. Hongkong 6.679 1984/1985 Jumlah proyek 71 3 210 18 121 4 29 10 6 7 35 2 16 5 9 42 27 51 18 1 6 2 1 3 Modal (US $ ribu) 1.895 1.000 -2.558 272. Taiwan 7. Amerika Serikat dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.815 414.883.855 1.4 juta meliputi 71 proyek.710 2.2 5.2 205.746. dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 8.611 45.5 677.736 -8 -4 736. Spanyol 25. Sebagaimana terlihat pada Tabel VII.550 96. US $ 3.244 130.5 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DISETUjUl PEMERINTAH 1967-1981/1982 Negara I. maka jumlah investasi PMA yang terbanyak juga berlokasi di pulau Jawa.675 2.359.230 167.674 10.958 10. dan 33.686 111. Jepang merupakan negara yang paling besar melakukan investasi di Indonesia. Demikian pula dari segi negara asal investor.8 4.883.8 juta. Be1gia 14.307 900 926.370.915.066 7. Swedia 22. dan US $ 1. Australia 12.900 139.035 139.014 352.576 4.052 5. 1967 1982/1983 1983/19842) Jumlah proyek 10 2 -2 -1 -1 -1 1 -3 2 1 1 3 Modal (US $ ribu) 62. Amerika Serikat 2.2 persen dari jumlah keseluruhan.1 3.

Hal ini diharapkan akan meningkatkan partisiposi dan kesediaan anggota antara lain untuk mengikuti rapat tahunan para anggota. manajemen dan pemasaran. mendorong pembentukan dan pengembangan unit-unit organisasi. Sementara itu agar koperasi-koperasi primer dapat memainkan peranannya dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Di samping itu juga dilakukan penyempurnaan organisasi dan tatalaksana koperasi. sektor perlistrikan desa. pengrajin yang menggunakan peralatan tradisional. antara lain diarahkan untuk meningkatkan kemampuan KUD dan koperasi primer dalam berprakarsa dan berswakarya. manajer dan pembantu manajer dalam mengelola koperasi sesuai dengan tugasnya masing-masing. baik dengan koperasi primer lainnya maupun dengan usaha-usaha bukan koperasi di wilayah atau di daerahnya masing-masing. seperti sektor perdagangan. Pembinaan dunia usaha Pelaksanaan pembangunan ekonomi antara lain diarahkan untuk menumbuhkan peranan dan tanggung jawab masyarakat pedesaan agar secara aktif ikut berperanserta dalam pembangunan desa. yang pada gilirannya akan mempertinggi kemampuan para anggota. maupun teknis. sektor perkebunan. serta meningkatkan Departemen Keuangan RI 154 . tatalaksana dan pengawasan. sektor industri. sektor perkreditan dan sektor pengangkutan.3. Hal tersebut dimaksudkan untuk memantapkan dan menumbuhkan swadaya koperasi/KUD. Dalam rangka pengembangan usaha koperasi/KUD tersebut. Dalam hubungan ini koperasi merupakan salah satu wahana utama dalam membina kemampuan golongan ekonomi lemah. serta mempertinggi kemampuan para anggota dan petugas koperasi dalam berkoperasi. khususnya yang berpendapatan rendah. Dewasa ini KUD dan koperasi primer antara lain telah mampu melayani kepentingan anggota. Untuk lebih memperkok6h kemampuan KUD dan koperasi primer maka dilakukan suatu kerjasama yang lebih erat. yang meliputi pedagang kecil. Dalam Pelita III peningkatan dan pengembangan dunia usaha pada umumnya dan koperasi khususnya. sehmgga pada gilirannya dapat memetik dan menikmati hasil pembangunan guna menaikkan taraf hidupnya. rapat pengurus dan badan pemeriksa. sekaligus memajukan usaha anggotanya di berbagai sektor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. maka selain terus ditingkatkan pembinaan. sehingga mampu menjadi pusat pelayanan kegiatan perekonomian pedesaan yang mandiri. Sehubungan dengan itu maka pembinaan kelembagaan koperasi diarahkan untuk meningkatkan penghayatan terhadap fungsi koperasi bagi setiap anggota. maka selama Pelita III telah dltingkatkan pembinaan kelembagaan koperasi yang mencakup organisasi. sektor pertanian. pengurus. pemeriksa. juga telah diberikan sarana dan prasarana antara lain berupa bantuan permodalan serta latihan keterampilan baik administratif. serta pengusaha industri rumah.

701 buah yang tersebar di seluruh propinsi kecuali DKI Jakarta.4 milyar.714. yakni 6.546 buah KUD dan 19. serta melindungi KUD daTi hal-hal yang dapat merusak citra dan kelangsungan hidupnya. serta untuk memantapkan pertumbuhan dan pengembangannya.614 ribu orang pada KUD dan 4.1 milyar dalam tahun 1982 menjadi Rp 125. Jumlah simpanan anggota koperasi juga mengalami peningkatan yaitu dan Rp 103.410 buah non KUD.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 usaha di masing-masing wilayah koperasi sesuai dengan kebutuhan para anggotanya. Dalam pada itu jumlah anggota koperasi primer dalam tahun 1983 adalah sebanyak 9.073 ribu orang pada non KUD. serta tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat membebani atau menyaingi kegiatan KUD yang bersangkutan. Sedangkan biaya pembinaan yang dilakukan oleh BPP KUD dibebankan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II yang bersangkutan.290 ribu orang pada non KUD.1 milyar menjadi Rp 2.464 buah non KUD. tidak boleh melakukan usaha sendiri.791 buah. berarti bahwa wadah koperasi telah menyebar luas ke hampir seluruh lapisan masyarakat. maka melalui Keppres Nomor 4 Tahun 1984 di setiap KUD dibentuk Badan Pembimbing dan Pelindung Koperasi Unit Desa (BPP-KUD). Dalam tahun 1983 jumlah koperasi adalah sebanyak 24. Demikian pula halnya jumlah usaha koperasi telah bertambah dari Rp 2. Dengan meningkatnya jumlah baik lembaga maupun anggota koperasi tersebut. Tugas daripada BPP KUD tersebut adalah memberikan bimbingan. yang sekaligus berarti pula bertambahnya kepercayaan masyarakat kepada Departemen Keuangan RI 155 .327 buah KUD dan 18. yang terdiri dari 6.6. sedangkan dalam tahun 1984 telah meningkat menjadi sebanyak 25. saran dan nasehat kepada pengurus KUD. Sejalan dengan itu maka dilakukan pula penyempurnaan iklim perkoperasian melalui peningkatan kesadaran masyarakat. mengenai besarnya peranan koperasi bagi para anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya. ballman.322. Perkembangan jumlah BUUD dan KUD yang menyebar di seluruh Indonesia dapat dilihat pada Tabel VII. Kenaikan jumlah simpanan anggota dan jumlah nilai usaha koperasi tersebut menunjukkan meningkatnya partisiposi masyarakat terhadap kegiatan dan kelangsungan hidup wadah koperasi. Namun BPP KUD tersebut tidak boleh mencampuri kegiatan usaha KUD.956 buah. Hasil-hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan Repelita III menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. sedangkan dalam tahun 1984 telah terjadi peningkatan yaitu menjadi sebanyak 9. Sementara itu guna meningkatkan kelancaran usaha koperasi unit desa (KUD). Adapun jumlah KUD model dalam tahun 1984 meliputi sebanyak 3.0 milyar dalam tahun 1983. yang beranggotakan tokoh-tokoh yang berada di pedesaan dan atas usul camat setempat.539 ribu orang pada KUD dan 4.

00 22.334 buah KUD dengan kredit senilai Rp 270.5 6.679 345 2.213 2.7 273.625 220. Kalimantan Timur 2 2 6 4 4 6 4 10 1 26 1 26 1 27 153 158 43 206 21. 1969 .20 532 60 19 23.315 15.623.321 6.003.844.331 1. Bengkulu 8. Kalimantan Tengah 7 4 7 19 11 19 11 19 10 39 10 39 4 64 4 64 4 64 8 133 139 19.402 1. Perkembangan jumlah dan simpanan koperasi dapat dilihat pada Tabel VII.430 200. Jambi 6 40 10 50 5 57 9 24 99 99 99 99 118 34 148 155 163 6.386.2 1. Sulawesi Tenggara 34 40 1 56 1 63 3 73 11 75 11 77 15 79 14 79 37 120 65 140 2 2 2 4 4 24 26 70 120 31 123 25.237.7 milyar.4 3.2) 1) Angka sementara Bidang perkreditan juga mengalami perkembangan.235.8 543 118 31 17. 797.131 buah KUD.741.4 1. Dalam tahun 1984 sampai derigan bulan April 1984.795 189 1. B a Ii 5 46 8 52 5 55 61 63 67 2 69 72 72 72 84 81 84 14.325 2) 2) 2) 2) 103.20 54.8 678 130 12 23. D1 Yogyakarta 45 10 3 54 57 57 57 62 62 62 61 61 62 61 62 634 13 572 91 570 113 577 116 526 189 526 189 486 231 199 538 48 695 490 731 672 736 12.019 993 9.487 3.739 701 4.90 291.9 milyar.70 624.286 buah KUD dengan perputaran kredit sebesar Rp 145.639. Propinsi BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD 1.991.1984 Jumlah koperasi (buah ) Simpanan koperasi ( Rp juta) Pusat Gabungan Induk Jumlah Induk Jumlah Primer Pusat Gabungan 548 78 8 13.797.00 532 60 19 24.683.261 18.5 215.2) .60 331.970 22.8 593 113 31 17. 1974 .313 2.4 698 105 15 16.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 koperasiJKUD dalam menyimpan dan mengelola uang anggotanya.263 185.323 Tabel VII.4 638 128 12 19.621 6.90 2.159 2.00 2831.20 802. yaitu hila dalam tahun 19811 1982 jumlah KUD penerima kredit yang dijamin oleh Perum PKK (Perusahaan Umum pengembangan Keuangan Koperasi) baru sebanyak 7. Sulawesi Tengah 6 7 12 15 9 20 18 17 69 17 69 17 91 92 90 19 126 83 127 23. Riau 5.430 156.750.652 16.394 18.6 683 127 15 19.2) 124.888 1.90 284.5 666 137 12 23. Jumlah kredit candak kulak (KCK) melalui koperasi selama pelaksanaan Repelita III menunjukkan peningkatan yang cukup berarti.1984 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1) No.7 1. Timor Timur 1 1 10 18 61 14 67 17.0 2) .788.086 3. dengan perputaran kredit senilai Departemen Keuangan RI 156 . Sumatera Utara 205 261 284 288 297 307 7 311 5 342 350 133 413 114 428 3. Nusa Tenggara Barat 9 5 9 5 2 12 24 16 25 16 25 16 25 16 9 92 57 66 115 145 144 147 15.276.200 353.8 1.180 25. Jawa Barat 10.1 1.456 22.2 634.2) .50 940. Nusa Tenggara Timur 23 45 23 51 25 55 15 71 8 84 8 84 9 92 57 66 8 116 8 101 50 110 16.6 JUMLAH BUUD DAN KUD SELURUH INDONESIA MENURUT PROPINSI.201 1.90 3.9 15. Sumatera Selatan 12 15 13 20 33 53 48 38 78 36 37 81 21 108 16 144 16 177 16 295 47 310 1 15 25 1 43 49 56 57 66 6 68 103 500 154 115 156 7.591 1.7 JUMLAH DAN SIMP ANAN KOPERASI. Sulawesi Selatan 228 69 141 172 106 229 68 288 71 302 71 302 71 302 71 302 71 301 71 399 316 417 24.30 333.8 1.714 24.775 357.067.10 4. yakni apabila dalam tahun 1982 jumlah koperasi yang ikut menyelenggarakan KCK baru sebanyak 3. D.265 486 5.678.50 6.10 4.118.40 3.791 .081.071.7 milyar.90 1628.7. jumlah koperasi yang ikut menyelenggarakan KCK adalah sebanyak 4.935 .L Aceh 27 22 31 48 27 57 7 83 12 103 12 103 12 103 12 103 843 48 296 15 298 2. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 4.139.326 4.90 571 113 44 21.941 17.104.8 522.80 519.60 883.214 365.40 12.282.50 445.7 659 119 15 18.2) . Sumatera Barat 57 100 53 133 7 185 21 185 7 232 7 232 7 232 4 235 4 234 233 276 274 281 9 11 12 11 11 22 5 57 7 47 7 47 7 48 7 47 7 47 33 170 113 178 4.344.191.50 20.933 18.50 8.445 15.542 1) Angka sementara Tahun 1969 1970 1971 1912 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1) Primer 13.136 51.2 548 99 39 19. IrianJaya 5 5 4 2 6 3 10 8 18 8 27 15 27 15 47 30 47 69 78 JUMLAH 1. Kalimantan Barat 2 32 4 44 52 78 80 80 154 154 1 26 1 203 92 204 18.20 18.7 1.10 1.766.70 9.766.892.8 1.864 22.521.60 19.949 71.60 80.977.693 16. Jawa Tengah 206 282 118 402 93 437 88 454 80 471 86 492 86 492 67 522 67 521 584 586 588 599 11. Sulawesi Utara 26 4 19 12 20 14 28 15 6 83 1 90 1 90 1 90 105 122 123 32 123 22.60 14.441 973 3.2 781.10 513.657 1.531.435 buah KUD dengan kredit sebesar Rp209.00 4.404 22.060.621 buah KUD denganjumlah perputaran kredit senilai Rp 113.80 14.344.113 3. Lampung 20 52 5 83 5 101 112 118 118 118 1 156 147 51 199 87 209 250 342 261 530 267 629 226 682 195 731 195 731 195 731 196 750 132 871 872 994 1. Jawa Timur 13.638.3 675 124 15 16.074.450 20.2) . maka dalam tahun 1982/1983 telah meningkat menjadi sebanyak 11.2) 533 60 19 25. Maluku 26.184 74. Tabel VIl.2) .80 13.5 milyar.873.097. Kalimantan Selatan 11 47 7 79 5 99 3 106 2 116 2 115 1 117 3 119 130 66 160 110 164 20.054 222.516.3 1.7 655 126 15 23.

yang meningkat dalam tahun 1983/1984 masing-masing menjadi 1.9 milyar.0 ton dan 308.237 ton pupuk. Di bidang penyaluran sarana produksi pertanian.6 milyar. serta penjualan kopra sebanyak 50. sedangkan sisanya dijual ke posaran umum.6 ribu ton.5 ribu ton.0 ton.332 buah yang menyalurkan bahan-bahan sebanyak 251. dan 2. 8 ton dan 306 tOll. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Mei 1984 masing-masing telah mencapai sebanyak 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 12. Dalam tahun 1982 telah terbentuk koperasi pengelola cengkeh sebanyak 138 buah. Sehubungan dengan itu dalam tahun 1982/ 1983 sebanyak 1.996. Kemudian dalam MT 1984 baik jumlah KUD. setiap KUD wajib membeli gabah/beras dari para petani dengan harga dasar yang berlaku.7 ribu ton. kedelai dan kacang hijau dalam tahun 1982/1983 berjumlah masing-masing sebanyak 23.054 buah KUD dan 7.9 ribu ton seharga Rp 5.519 buah KUD dan 69. 490. sedangkan jumlah kopra yang telah terjual mencapai 27.6 ribu ton beras. pembelian kopra sebanyak 54.391 buah dengan beras sebanyak 851.2 ribu ton. Sementara itu kegiatan koperasi/KUD di bidang perkebunan rakyat yang meliputi kopra.9 ribu ton. sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlah KUD adalah sebanyak 3. Dalam tahun 1982.5 milyar.5 milyar.5 milyar. pupuk maupun obat-obatan telah meningkat masing-masing menjadi sebanyak 3.5 milyar: dalam tahun 1983 masing-masing telah meningkat menjadi 184 buah KUD. jumlah KUD penyalur dalam musim tanam (MT) 1983 adalah sebanyak 3. cengkeh dan tebu rakyat nampak semakin meningkat. hasil usaha yang dilakukan oleh KUD sampai dengan akhir Pelita III telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.4 ribu ton beras.932.107 buah KUD telah menyiapkan pengadaan beras untuk posaran umum sebanyak 64.357 ton dan 3. Dalam rangka melaksanakan tugasnya.191 buah. koperasi yang ikut memasarkan kopra berjumlah 126 buah KUD.054 buah dengan jumlah beras yang tersedia sebanyak 1.9 ton seharga Rp 84. khususnya pupuk dan obat-obatan.1 ribu ton seharga Rp 8. Adapun jumlah KUD yang ikut serta dalam pengadaan beras untuk stok nasional dalam tahun 1982/1983 adalah sebanyak 3.609. dengan jumlah kopra yang dibeli sebanyak 29. Dalam tahun 1983 jumlah Departemen Keuangan RI 157 . Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Mei 1984 jumlah KUD adalah sebanyak 2. Dalam tahun 1983/1984 sampai dengan November masing-masing telah mencapai 46.4 ribu ton seharga Rp 7. Sedangkan pemasaran palawija yang meliputi jagung.550 kg/liter.419.6 ribu ton seharga Rp 5.078 kg/liter obat-obatan. Di bidang tataniaga cengkeh. dengan jumlah beras yang disediakan sebanyak 1.7 ribu ton. dan jumlah cengkeh yang dapat dibeli seluruhnya sebanyak 24. 229.699 buah. Beras/gabah yang telah dibelinya kemudian dijual kepada Sub Dolog setempat dengan harga yang telah ditetapkan.036.

292.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 koperasi telah bertambah menjadi sebanyak 264 buah KUD. sedangkan dalam tahun 1983 masing-masing telah mencapai 615 buah. Dari cengkeh yang tdah dibeli tersebut. dan 53.4 ton seharga Rp157.6 ton kedelai.5 ton seharga Rp 152. koperasi yang menampung sebanyak 651 buah.0 milyar.2 ton.2 milyar.3 milyar.414 orang dan modal senilai Rp 71. Dalam tahun 1982. dengan jumlah anggota sebanyak 120. dengan jumlah anggota sebanyak 12. terutama dalam hal perkreditan dan pemasaran gula tebu yang dihasilkannya. Kegiatan koperasi di bidang peternakan meliputi pengadaan bibit sapi unggul impor.200 ton. dengan kredit yang disalurkan kepada petani sebesar Rp 179. serta pemasaran hasil temak.277 orang. pembibitan.286 orang.802 orang dan modal senilai Rp 70. Kredit yang disalurkan KUD merupakan kredit yang diperlukan oleh petani tebu untuk penggarapan tanah.4 milyar. dengan pembelian cengkeh seluruhnya sebanyak 20.5 milyar yang disalurkan oleh 675 buah KUD.1 ton seharga Rp 150. 18. sedangkan dalam tahun 1984 sampai dengan bulan April 1984 jumlah kredit telah mencapai sebesar Rp 199. sedangkan yang terjual dalam tahun 1983 mencapai sebanyak 19.900 ton. Dalam tahun 1983/1984 jumlah gula telah mencapai sebanyak 652. yang terjual dalam tahun 1982 berjumlah sebanyak 18. Rp 1. jumlah koperasi perikanan baru sebanyak 585 buah.788.7 milyar yang disalurkan oleh 714 buah KUD. penebangan. Dalam tahun 1982 jumlah KOPTI baru mencapai sebanyak 36 buah. modal sebesar Rp 743.380. Perkembangan usaha koperasi di bidang perikanan rakyat selama Pelita III telah dapat menunjukkan hasil yang cukup baik. dengan jumlah Departemen Keuangan RI 158 . 133.9 juta. jumlah koperasi petemakan baru sebanyak 469 buah. Penggabungan industri kecil yang memproduksi tahu dan tempe ke dalam wadah koperasi tabu dan tempe Indonesia (KOPTI) telah menjadi kenyataan.4 milyar.7 milyar. dan jumlah kedelai yang dapat disalurkan sebanyak 26. Pemberian kesempatan kepada KUD untuk mengelola tebu rakyat intensifikasi (TRI) dimaksudkan untuk melayani para petani tebu. Dalam tahun 1983 jumlah kredit mencapai sebesar Rp 211.130. Dalam tahun 1982. dan biaya angkut dari areal penebangan ke pabrik gula.175. penyediaan makanan ternak. ditampung oleh 621 buah KUD.9 milyar. dan kredit yang disalurkan kepada petani sebesar Rp 241.6 milyar. Jumlah gula tani yang dapat ditampung KUD dalam tahun 1982/1983 adalah sebanyak 556. dalam tahun 1983 jumlahnya telah meningkat masing-masing menjadi sebanyak 67 buah. penyediaan obat-obatan ternak.

yang terdiri dari 5.000 ekor.6 persen dari seluruh produksi susu dalam negeri yang berjumlah 116. Dalam tahun 1982.1 milyar. Keberhasilan koperasi di dalam membantu para anggotanya telah membuat para pengrajin di daerah-daerah pedesaan terangsang untuk bergabung di dalam wahana koperasi. Pembinaan koperasi yang menangani jasa angkutan juga terus digalakkan sejak awal Pelita III.7 juta liter.969. Sehubungan dengan itu dalam tahun 1982 jumlah koperasi yang mengelola dan mengkoordinir para pengrajin adalah sebanyak 348 buah. Dalam tahun terakhir Pelita III. dan dengan nilai usaha sebesar Rp 210.383 orang. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 161.352 buah. dan memiliki kendaraan sebanyak 7.536 orang. serta 1. Keberhasilan proyek perintis perlistrikan di daerah pedesaan yang dikelola oleh koperasi.1 juta liter atau 92. koperasi angkutan sungai dan penyeberangan serta koperasi angkutan laut.000 ekor. Selanjutnya dalam tahun 1983 jumlah koperasi telah meningkat menjadi 675 buah.550 buah kendaraan angkutan darat dan sungai.201 orang. yakni mencakup koperasi angkutan darat.6 juta liter.802 buah kendaraan angkutan laut. yang dilakukan melalui pemanfaatan tenaga listrik yang dibangkitkan dan disediakan oleh PLN.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 anggota sebanyak 45.732 orang. Jawa Timur.046 juta. Demikian juga jumlah koperasi susu yang dalam tahun 1982 baru mencapai 162 buah dengan anggota sebanyak 38. Departemen Keuangan RI 159 . Beberapa koperasi telah berperan sebagai distributor listrik di pedesaan.630 peternak. Dalam tahun 1983 jumlah susu yang ditampung oleh koperasi telah meningkat menjadi 130 juta liter atau 89. dan nilai usaha sebesar Rp 61. secara bertahap telah pula merangsang masyarakat pedesaan untuk menjadi anggota koperasi perlistrikan desa. jumlah koperasi jasa angkutan adalah sebanyak 165 buah yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia. jumlah koperasi di bidang perlistrikan desa meliputi 118 buah yang tersebar di daerah Jawa Barat. Sedangkan dalam tahun 1983 jumlah tersebut telah meningkat menjadi 491 buah.362 orang.9 persen dari seluruh produksi susu dalam negeri yang berjumlah 144. Jawa Tengah. Bali dan Sumatera Barat. dengan anggota sebanyak 48.2 milyar. Adapun jumlah sapi betina yang dimiliki oleh anggota koperasi yang dalam tahun 1982 baru sebanyak 140. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 173 buah dengan jumlah anggota sebanyak 41.8 juta. Adapun jumlah susu yang dapat ditampung dan dipasarkan oleh koperasi dalam tahun 1982 adalah sebanyak 108. dan dengan usaha senilai Rp 208. Dalam tahun 1983 jumlah terse but telah meningkat menjadi 298 buah yang tersebar di 20 propinsi. dengan jumlah anggota sebanyak 65.281 orang dan nilai usaha sebesar Rp 40. beranggotakan sebanyak 59. dengan jumlah anggota sebanyak 29.

Pertanian Dalam kurun waktu antara tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 pembangunan di bidang pertanian yang diarahkan dan dilaksanakan melalui Sapta Karya Pembangunan Pertanian.079 653 470 1.260 389 267 785 429 309 58 29 778 189 1.991 13.9 2.618 1.163 3.5 1.385 11. Minyak sawit 14.133 1.221 175 62 12 17 84 922 3 1970 13.235 5.094 1.387 2.438 1.504 desa. disadari sepenuhnya bahwa masih Departemen Keuangan RI 160 .211 2.208 kepala keluarga pada 1.532 1.395 455 571 259 78 1.408 1.149 1. Ikan lout 8. Jagung 3.7 40 Bila dikaji kembali hasil pembangunan di bidang pertanian. Namun demikian.1984 (dalam ribu ton.412 13.751 2.651 14.8 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERTANIAN TERPENTING.1 2.020 701 126 1.902 13.676 2.318 424 433 389 388 393 401 414 420 430 332 366 379 403 435 449 468 475 486 68 78 81 98 112 116 131 151 164 36 38 35 57 51 58 61 62 72 804 808 845 817 782 856 838 844 898 249 270 289 348 397 431 483 532 642 -94 108 1.237 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sampai dengan bulan Maret 1984 jumlah koperasi perlistrikan desa telah mencapai 313 buah. 723 1.381 2.341 1. melayani pelanggan sebanyak 202. kecuali dalam juta liter untuk susu) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 13.724 13. Daging 10.988 11.185 15.825 10. K 0 P i 17.082 1.837 23.572 3.9 0. Karet 13.700 1.7 7.693 1.227 1.460 2.4.158 1.433 2. meningkatnya produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.509 3.812 1.702 2.478 2.140 2.9 0. Kede1ai 6.044 2.5 0.237 1. Tembakau 21.525 17.041 1.awit 15. Bera. Lad a 20. Telur 11. Susu 12.872 2.690 10.011 2. Hal ini terlihat dari meningkatnya produksi bahan makanan sehingga memantapkan usaha swasembada pangan.175 498 281 808 421 314 59 29 802 217 1.230 1. T e h 18. Selain itu sejumlah 38 buah koperasi di bidang perlistrikan desa telah mampu untuk berswadaya melayani para anggotanya.607 15.311 1.516 1.831 6 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) 22. Kacang tORah 7.606 2.010 1.606 10.194 516 518 541 589 590 522 523 617 680 284 282 290 307 380 341 409 446 424 820 836 889 949 997 1. Ubi kayu 4.582 196 214 150 149 160 194 197 223 228 71 51 67 65 70 73 76 91 125 14 13 22 15 15 20 39 21 35 24 18 29 27 23 37 43 46 47 76 79 80 77 82 89 84 81 87 1.029 3. serta meningkatnya ekspor dan berkurangnya impor produksi pertanian.186 13.249 2. Ubi ja1ar 5. 1969 . 7.066 2. K a pos 1) Angka diperbaiki 2) Angka semen tara 1969 12.107 748 884 907 1.183 14.491 1. maka akan tampak peranan cukup besar dari sektor negara dalam menggerakkan dan mendorong kegiatan yang bersifat produktif di bidang pertanian.903 2.876 17.769 10 14.607 2.286 22. telah pula bermanfaat bagi sektor-sektor sosiallainnya.301 12.254 3.726 2.143 4.488 12. serta adanya dukungan untuk pembangunan daerah yang tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam.276 15.670 506 507 520 549 596 629 671 694 275 297 316 329 86 117 143 170 963 899 1.690 3.518 1. Jenis hasil 1.469 2.200 185 64 15 17 78 873 3 T abel VII. Ikan darat 9.917 2.759 285 106 39 37 116 1.083 2. meluasnya kesempatan kerja yang mendorong tumbuhnya kesempatan untuk berusaha di bidang pertanian.961 24.015 295 281 302 309 110 93 113 116 40 33 45 56 39 34 40 41 118 106 120 121 1.4 0. Cengkeh 19.546 12.375 1.600 1.319 1.038 135 157 161 141 1.292 10. Gula tebu 22.031 12.601 2 1. Inti .095 5.227 1. hal ini berarti bahwa koperasi tersebut selain dapat membantu perekonomian masyarakat kecil di pedesaan.845 15.575 1. Perkembangan terse but juga tercermin dari adanya proyek-proyek besar di bidang pertanian yang membantu usaha pertanian rakyat dengan sistem perusahaan inti rakyat (PIR). telah menunjukkan perkembangan yang positif. 2.257 704 521 568 783 475 437 469 535 1.191 12. Kelapa/kopra 16. meningkatnya tarat hidup petani.701 4.6 1980 20.

hambatan dan gangguan terhadap eksistensi serta kelestarian sumberdaya alamnya. Pertanian yang tangguh adalah pertanian yang dinamis dan kokoh. Tanaman pangan Produksi beras selama Pelita I. Di dalam pengertian tersebut terkandung makna masyarakat petani yang mampu mengatasi tantangan.5 ton per hektar.8. modal dan teknologi serta sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani.5 persen per tahun.9 juta ton. Atas dasar itu maka produksi beras dalam tahun 1983 telah mencapai 23. Apabila selama Pelita I dan Pelita II pertumbuhan produksinya masing-masing mencapai 4. maka selama Pelita III telah meningkat menjadi 6. Tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 6. atau mengalami kenaikan sekitar 4.7 persen dan 3. yang dalam tahun sebelumnya baru mencapai rata-rata sebesar 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 banyak masalah yang dihadapi serta diperlukan hasil-hasil yang lebih mantap dan merata. 7. perluasan areal. ancaman. Tataurut kebijaksanaan dan upaya-upaya tersebut semata-mata dimaksudkan untuk tercapainya komoditi pertanian yang tangguh sesuai dengan kadar dan perimbangan yang wajar dalam struktur perekonomian nasional. yang dapat memberikan umpan batik bagi pengembangan industri dan jasa.3 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1983. Gambaran daripada hasil-hasil pembangunan di bidang pertanian sampai dengan tahun pertama Repelita IV dapat diikuti melalui Tabel VII. Pelita II dan Pelita III menunjukkan kenaikan yang mantap.9 persen di atas produksi tahun 1982 yang baru berjumlah 22.9). optimal dalam memanfaatkan sumberdaya alam. Selanjutnya produksi beras sampai dengan bulan September 1984 telah meningkat lagi menjadi sekitar 24. komoditi terpadu dan wilayah terpadu. sedangkan upaya-upaya yang dilaksanakan untuk menunjang pelaksanaan kebijaksanaan tersebut ditempuh melalui empat usaha pokok yaitu intensifikasi.1.8 juta ton (Tabel VII.4. Kebijaksanaan tersebut meliputi kebijaksanaan usaha tani terpadu. serta keberhasilan Departemen Keuangan RI 161 . Di samping itu juga tercermin pengertian rota dan struktur produksi pertanian yang mampu mengikuti dinamika perubahan permintaan industri hilir dan konsumsi akhir. insektisida dan bibit unggul secara efektif. Hasil dari kenaikan produksi beras tersebut selain disebabkan oleh adanya peningkatan luasareal pallen dalam tahun 1984. serta dapat berperan dalam pembangunan regional dan nasional yang serasi dan seimbang.7 juta ton atau sebesar 3. Sehubungan dengan itu Pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan dasar pembangunan di bidang pertanian yaitu berdasarkan Trimatra Pembangunan Pertanian.6 ton. diversifikasi dan rehabilitasi. tenaga.5 persen per tahun tersebut dimungkinkan karena didukung oleh produksi beras per hektar dalam tahun 1983 yang mencapai rata-rata sebesar 2.8 persen per tahun. juga karena tetap dilakukannya penggunaan pupuk.

Apabila dalam tahun 1982 luas areal panen yang dapat dicapai baru seluas 8.3 persen.. yang bertujuan memanfaatkan potensi setiap lahan yang memungkinkan. lusus adalah suatu bentuk intensifikasi yang dilaksanakan oleh petani secara berkelompok sehamparan. Pertambahan luas areal panen tersebut terutama disebabkan meningkatnya luas areal panen intensifikasi sebesar 4. Kerjasama kelompok petani tersebut diarahkan pada terwujudnya partisipasi dari semua petani untuk menerapkan sepenuhnya Panca Usaha Tani.401 ribu hektar dalam tahun 1983. yaitu denl!an menyelenggarakan perlombaan antarkelompok intensifikasi khusus. Sedangkan sebagai pendorong agar sebanyak mungkin kelompok tani dapat lebih berpartisiposi dan ikut serta dalam intensifikasi khusus.296 ribu hektar dalam tahun 1982 menjadi 1.343 ribu hektar dalam ta:. yaitu dari seluas 1.179 ribu hektar. maka diadakan perangsang.102 ribu hektar. dalam tahun 1983 meningkat sebesar 8. atau meningkat dengan 77 ribu hektar dibandingkan tahun sebelumnya.047 ribu hektar dalam tahun 1982 menjadi 5. Pemerintah juga melaksanakan operasi khusus (Opsus) yang merupakan penerapan intensifikasi khusus untuk daerah/lahan tadah hujan yang potensial dan dilakukan dengan lebih menggiatkan baik para petani maupun para petugas penyuluh yang ditunjang dengan penyediaan sarana produksi yang memadai. yaitu dari 5.un 1982 menjadi 6.1 persen atau seluas 105 ribu hektar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam mengatasi serangan hama/penyakit.4 persen terhadap tahun sebelumnya.I0).5 persen dari tahun sebelumnya. Departemen Keuangan RI 162 . maka dalam tahun 1983 telah bertambah menjadi seluas 9. yaitu dad 6. Luas areal panen yang dapat dicapai sampai dengan bulan September 1984 telah meningkat lagi menjadi 9.222 ribu hektar dalam tahun 1983 (Tabel VII. Di samping lusus.988 ribu hektar. Sementara itu dalam rangka meningkatkan mutu intensifikasi. suatu kenaikan sebesar 1. maka sejak tahun 1979 Pemerintah telah mengadakan pola kegiatan baru yang telah dikenal dengan intensifikasi khusus (Insus).623 ribu hektar dalam tahun 1983. maupun dalam penggunaannya melalui organisasi pemakai air yang semakin efisien. Peningkatan tersebut juga ditunjang oleh keadaan iklim dan curah hujan yang normal serta adanya perbaikan irigasi. Sedangkan pertambahan luas areal panen intensifikasi tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya luas areal panen Inmas seluas 175 ribu hektar atau sebesar 3. Selanjutnya luas areal panen Bimas yang sebagian besar bergeser ke areal Inmas. baik perbaikan terhadap saluran tersier.

63 2.819 669 1.724 1979 197 1.934 701 4.724 13. sawah yang sudah selesai dicetak meliputi 178.961 24.67 1.166 800 1.080 410 638 343 611 370 . 10 LUAS PAN EN BIMAS DAN INMAS PADI.1984 Rata-rata ( ton/ha ) 1. Selama Pelita III.788 3.250 4.219 1983 3) 63 1.988 3724 3.701 Tabel VII.163 22.38 2.153 2.343 6.34 2.988 9.8 1.369 8.929 8.607 15.623 Usaha ekstensifikasi dilakukan melalui perluasan areal tanam yaitu berupa pembukaan persawahan pasang surut atau pencetakan sawah baru.934 hektar.601 858 3.102 9.284 868 3.130 2.801 hektar.140 13.848 5.509 8.265 1982 2) 77 1. 9 AREAL PANEN DAN PRODUKSI BERAS.53 1.286 22.135 8. 797 1978 236 1.837 23.603 Jumlah 2.89 1.170 1974 474 2.249 1981 2) 119 1..186 6. yang terdiri dari lahan pekarangan Departemen Keuangan RI 163 .03 2.374 1980 125 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 .79 1.276 15.62 1. Biasa Baru 1969 926 383 1970 803 445 1971 827 569 1972 621 582 1973 662 1..613 4. 1969 .202 1975 425 2.360 8.183 14.516 6.845 15.69 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Areal panen (ribu ha) 8.076 1.338 1) Tidak termasuk Insus 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara In mas Biasa Baru 722 99 571 334 867 525 1.di samping pengkaitannya dengan usaha transmigrasi.005 9.9 1.169 3.103 1977 272 1.324 7.74 1.495 8.637 3.382 8.512 800 2. 1969 -19831) ( dalam ribu hektar ) Tahun Bimas .65 1.525 17.Tabel VII.258 1976 321 2. Di samping itu penambahan areal pertanian di daerah transmigrasi mencapai 551.185 15.179 Produksi ( ribu ton) 12.872 20.876 17.014 8.898 8.96 2.719 hektar dan areal yang sudah ditanami mencapai 153.023 5.088 851 2.803 9.346 619 4.54 2.249 13.403 8.

814 hektar. Pemerintah juga menyediakan kredit bagi petani untuk pengadaan sarana produksi.4 persen dari luas seluruh lahan yang sudah dibuka. Produksi kacang tanah dan. Di samping itu Pemerintah juga memberikan pelayanan kepada petani secara kontinyu dengan berbagai sarana produksi dan kredit.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 seluas 98. Dalam pengembangan produksi pangan. Kenaikan tersebut antara lain disebabkan adanya pengembangan produksi palawija melalui pusat pengembangan pertanian palawija. Dari luas lahan yang telah dibuka tersebut. Untuk menunjang usaha tersebut. Oleh karena peningkatan produksi pangan sangat ditentukan oleh kegiatan para petani.5 persen. seperti halnya dengan produksi padi. lahan yang sudah diusahakan penggunaannya mencapai seluas 366. Produksi ubi jalar meningkat dengan 21. yaitu dari 1. di samping adanya pembinaan bagi daerah yang telah melaksanakan Bimas palawija serta adanya penyebaran bibit unggul. pembinaan kelompok dan himpunan petani.071 orang penyuluh pertanian madya (PPM) dan 606 orang tenaga penyuluh pertanian spesialis (PPS) yang tersebar di wilayah kerja penyuluh pertanian (WKPP) di 26 propinsi. Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan Bimas palawija.3 persen dan 9. sebagaimana halnya dengan Bimas padi. juga mengalami peningkatan yang mantap apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. kedelai juga meningkat. 3.382 hektar. yaitu dari 3.235 ribu ton dalan tahun 1982 menjadi 5. baik melalui program intensifikasi maupun dengan program Bimas dan Inmas yang masih memerlukan tersedianya sarana yang cukup.095 ribu ton dalam tahun 1983.779 hektar. informasi pertanian. peragaan. sehingga petani dapat meningkatkan produksi pangallo Demikian pula terus ditingkatkan kegiatan kursus tani.900 orang dengan realisasi penyaluran kredit sebesar Rp 1. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan September 1984.11. Sementara itu produksi palawija sampai dengan bulan September tahun 1984.044 ribu ton dalam tahun 1983. atau masing-masing mengalami kenaikan sebesar 7. Sebagaimana terlihat dalam Tabel VII. dibuka dengan cara swadaya transmigrasi sendiri seluas 75.4 milyar. Selanjutnya Pemerintah juga menyediakan kredit bagi petani untuk Departemen Keuangan RI 164 .12 dapat dilihat bahwa produksi jagung meningkat sebesar 57. serta penyelenggaraan perlombaan antarhimpunan petani.676 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 2. sampai dengan tahun 1983 telah terdapat 14. lahan usaha seluas 377.605 hektar dan lahan yang.044 orang tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL). jumlah petani peserta Bimas dan Inmas telah mencapai sebanyak 43. Sehubungan dengan itu dari Tabel VII. atau 66. yaitu masing-masing dari 437 ribu ton dan 606 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 469 ribu ton dan 633 ribu ton dalam tahun 1983.9 persen.0 persen. maka Pemerintah terus memberikan penyuluhan pertanian agar mereka mampu menggunakan teknologi baru. maka kepada para petani peserta tetap disediakan bantuan kredit untuk pengadaan sarana produksi yang dibutuhkan.

651 14.751 13.10 51.90 41.676 2. dan ribu ton untuk produksi ) Tahun 1969 1910 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) Luas 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengadaan sarana produksinya.13.10 9.412 Ubi kayo Luas panen 1.509 1.417.211 2.9 Tabel VII.429 1. Oalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan September 1984.50 64.235 5.10 2.160 3.257 Kacang tanah Luas panen Produksi 372 267 380 281 376 284 354 282 416 290 411 307 475 380 414 341 507 409 506 446 473 424 506 470 1) 508 475 461 437 484 469 419 535 Kedelai Luas panen 554 695 680 697 743 768 752 646 646 733 784 732 810 606 633 666 Produksi 389 498 516 518 541 589 590 522 523 617 680 653 1) 704 521 568 783 1) Angka diperbaiki Departemen Keuangan RI 165 .433 2.488 12.735 2.633.50 48.018 1.029 3.538.846.458.381 2.435 2.467 1.573.398 1.80 42.4 milyar.364 1.492.254 3.468 1.094 1.025 2.433 2.917 10.546 12.391.548.011.011 2.600 orang.605.4 158.353.572 3.044 2.173.903 2.061 3.90 49.031 12.10 1980/1981 50.90 1984/1985 1) 1.503.991 4.330.324 1.385 11.955 2.096.383 1.406 1.626 2.071.10 1973/1974 36.726 13.288.581.902 13.194 2.40 3.794.20 3.567 3.493.353.1984 ( dalam ribu hektar untuk luas panen.301.90 563 43.20 1.353 1.50 2.740.083 2.40 1977/1978 62.702 Luas panen 369 357 357 338 379 330 311 301 326 301 287 276 275 220 261 37 Ubi jalar Produksi 2.095 2.079 2.70 1981/1982 62.445 2.066 2.460 2.469 2.186 13.50 1.966 Jagung Produksi 2.70 1983/1984 23.50 1978/1979 60.988 11.185 297 Produksi 10.825 2.1 1) Posisi 30 September 1984 Kredit lomas padi mulai berIangsung MT 1977/1978 Jumlah petani 1. 1969 .30 1979/1980 49.594 2.70 29.10 1.292 2.106.606 3.690 10.515.667 2.90 3.282.260 2. Perkembangan mengenai penyaluran kredit Bimas palawija dapat diikuti dalam Tabel VII.30 33.439 1.410 1.557.682.939 2.40 2.471 10.20 39.690 3.191 12.175 2.095 5.004.470.60 1975/1976 72.151.387 2.606 2.509 3.60 1982/1983 59. 11 PENYALURAN KREDIT BlMAS DAN INMAS PADI.30 1974/1975 53.501.80 14. dengan jumlah petani peserta sebanyak 8.90 1972/1973 15. 12 LUAS PANEN DAN PRODUKSI PALAWI]A.20 11. Tabel VII. 1971/1972 .314.115.519. realisasi penyaluran kredit telah mencapai sekitar Rp 0.1984/1985 (dalam jutarupiah dan ribu orang) Realisasi Pengembalian kredit kredit Tanun 1971/1972 9.815.301 12.90 3.40 1976/1977 71.143 4.80 1.603.30 60.584.388 1.412 1.

038 3.215.40 1984/1985 1) 390 15.204.226 5.277.30 1.348 8.5 348.832 2.927 1.030 Departemen Keuangan RI 166 .9 1) Posisi 30 September 1984 Sejak MT 1978/1979 termasuk Bimas Palawija tumpangsari Tabel VII.624 2.048.445.50 5.215.7 195 159.70 1983/1984 4.206 4.20 1980/1981 6.90 1974/1975 5.70 4.361.641 1.306.791 1.7 442.861 2.6 245.80 7.7 261.1984 (dalam ribu hektar dan ribu ton) Luas panen Tahun 1969 600 1970 641 1971 715 1972 694 1973 676 1974 647 1975 531 1976 459 1977 558 1978 642 1979 660 1980 673 1981 921 19821) 632 1983 2) 787 1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Sayuran Produksi 1.1984/1985 (dalamjuta rupiah dan ribu orang) Ta h u n Realisasi kredit Pengembalian kredit Jumlah petani 143.204.743 2.356.517 Luas panen 488 533 554 666 696 614 623 528 445 436 529 541 561 560 618 Buah-buahan Produksi 2.293 1.889 1.127 2.10 5.120 2.80 1978/1979 6.8 360.30 7.068 2.067 2.226.893.191.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.917.70 1976/1977 8.80 4.40 1. 14 LUAS PANEN DAN PRODUKSI HORTIKULTURA. 1973/1974 .30 4. 1969 .249 4.60 1982/1983 11.8 77.007.325.007.073.00 4.6 1973/1974 1.512 4.40 1981/1982 9.709 3.6 1975/1976 9.90 1979/1980 5.435 3.906 4.13 PENYALURAN KREDIT BIMAS PALAWIjA.336 4.295 2.272 3.731 3.393.833 1.6 8.725 3.10 5.117 5.7 146.7 235.788.480.332 3.058.10 1977/1978 6.

8 13.2 31.7 126.5 65. maka selain dilakukan peningkatan produksi beras dan produksi palawija.3 312 290.3 313.386.9 550.00 4.00 2.20 1.1 109.7 110.268.5 94.504.3 54.3 Tabel VII.7 11.2 Sejalan dengan usaha pengembangan tanaman pangan.943.165.3 946 1. 1981 1982 1) 1983 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara N 155.8 84 58 113 121 79 78.10 6.60 1.2 43.7 52.1 219.90 8.7 171.6 317.00 1.191.10 973.254.3 442. Hal ini mengingat bahwa hasil-hasil produksi hortikultura sangat penting artinya dalam menunjang perbaikan gizi dan pola konsumsi masyarakat.20 11.9 129.3 24.3 95.2 99.30 1.555.10 4.432. di samping berperan pula Departemen Keuangan RI 167 . digiatkan pula peningkatan produksi hortikultura.9 6.80 13.3 104.60 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.8 311.638.2 354.060.00 3.6 1 2.4 478. 15 PENGGUNAAN PUPUK UNTUK TANAMAN PANGAN.2 262.3 1.9 787.3 K20 1 3.40 Rodentisida 1) 33. 1969 -1983 ( dalam ribu ton kadar pupuk ) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 .1983 ( dalam ton) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 2) 1983 3) 1) Ekivalen Zinkphospide 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Insektisida 1. 1969 .9 14.2 162.7 17.9 210.9 299.50 4.982.075.8 1 3 9.410.464.9 43.209.4 53 53 116 46. 16 PENGGUNAAN PESTISIDA UNTUK TANAMAN PANGAN.4 P205 36.

5 milyar nilai ekspor berasal dari sektor perkebunan.4.8 ton dan 94.3 ribu ton dalam tahun 1983. perkebunan digolongkan atas perkebunan rakyat. Hal tersebut terutama disebabkan karena terjadinya peningkatan produksi sayur-sayuran sebesar 52.7 ton dalam tahun 1982 menjadi 13. yaitu dari 2. karena semakin luasnya areal panen dan meningkatnya mutu Insus.8 persen.117 ribu ton dalam tahun 1983. maka selama pelaksanaan Pelita telah dilaksanakan berbagai kebijaksanaan dan kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan produksi hasil perkebunan. Sebagaimana terlihat dalam Tabel VII. Meningkatnya penggunaan pestisida disebabkan oleh bertambahnya penggunaan pestisida dari jenis insektisida dan rodentisida. perkebunan rakyat telah Departemen Keuangan RI 168 . Tanaman perkebunan Perkebunan merupakan salah satu sektor yang terpenting dalam menunjang perekonomian Indonesia.16. Selanjutnya perkebunan negara dan perkebunan besar swasta disebut juga sebagai perkebunan besar. hasil produksi hortikultura secara keseluruhan sampai dengan tahun 1983 telah mengalami peningkatan sebesar 35. yaitu dari sebanyak 43.2. Meningkatnya hasil produksi tanaman pangan sangat erat kaitannya dengan penggunaan pupuk dan pestisida. 7.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam intensitas penggunaan tanah dan tenaga kerja.14.3 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 54. perkebunan negara dan perkebunan besar swasta.4 ton dan 171.2 persen dan 80. lebih dari US $ 1.9 persen. yaitu masing-masing dari 11. Sehubungan dengan itu maka pengembangan produksi hortikultura ditekankan pada pengembangan sayur-sayuran dan buahbuahan di sekitar kota yang pemasarannya dapat lebih cepat. Menjelang akhir tahun 1983/1984.1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.038 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 3. namun mengingat bahwa peranan sektor perkebunan yang demikian besar dalam menunjang pembangunan umumnya dan bagi peningkatan sumber pendapatan devisa atau rupiah khususnya.254.2 ton dalam tahun 1983.982. Kenaikan insektisida dan rodentisida masing-masing adalah sebesar 24. Hal ini terutama terlihat dari besarnya sumbangan devisa melalui ekspor hasil-hasil produksinya. Dalam pembahasan selanjutnya. Walaupun dalam pelaksanaanya dialami banyak tantangan.15 dan Tabel VII. Sampai dengan tahun terakhir pelaksanaan Pelita III. Kenaikan penggunaan pupuk terutama disebabkan oleh meningkatnya penggunaan pupuk jenis K20. Meningkatnya penggunaan pupuk dan pestisida tersebut secara keseluruhan dapat diikuti melalui Tabel VII.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

mendapat prioritas utama dalam pengembangan usaha perkebunan. Hal tersebut berdasarkan kenyataan bahwa sebagian besar areal dan hasil perkebunan yang ada selama ini adalah milik dan hasil produksi perkebunan rakyat, yang mutu dan produktivitasnya relatif masih rendah. Oleh karena itu penyuluhan bagi perkebunan rakyat ditujukan untuk meningkatkan pendapatan petani melalui modernisasi usaha perkebunan, pengorganisasian usahapemasaran serta pengelolaannya melalui wadah KUD. Sedangkan pengembangan dan pembinaannya tidak lagi dilakukan secara partial, akan tetapi melalui pola pembinaan terpadu. Pola pembinaan terpadu tersebut dilaksanakan secara menyeluruh, baik secara vertikal yaitu berupa kegiatan penyuluhan, penyediaan sarana produksi dan kredit, maupun secara horisontal yang dilakukan sejak mulai penanaman, pemeliharaan tan am an, pengolahan hasil produksi dan pemasaran hingga pengembangan manajemen. Realisasi daripada pembinaan terpadu diwujudkan dalam bentuk unit pelaksana proyek (UPP), yang meliputi pembinaan untuk berbagai komoditi/budidaya perkebunan, terutama tanaman karet, kelapa, kopi, cengkeh, lada, kelapa sawit dan teh. Selama Pelita III areal tanaman Y.lng telah berhasil diremajakan adalah tanaman karet, kelapa, kopi, teh, lada dan coklat yang telah mencapai areal seluas 306.626 hektar, sedangkan untuk tanaman cengkeh mencapai areal seluas 3.000 hektar. Adapun perkehunan rakyat yang telah dibina melalui UPP meliputi 880 unit dengan areal tanam seluas 2.482 ribu hektar. Sementara itu upaya lainnya untuk lebih mengembangkan perkebunan rakyat adalah dengan menerapkan pola perkebunan inti. Dalam pola tersebut perkebunan besar milik Pemerintah, yakni Perusahaan Negara Perkebunan/PT Perkebunan (PNP/PTP), berfungsi sebagai inti atau pusat pengembangan perkebunan rakyat sekitarnya. Pada gilirannya perkebunan rakyat tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi koperasi perkebunan rakyat. Pengembangan pola perkebunan inti tersebut, yang disebut proyek NES (nucleus estate smallholders) atau proyek perkebunan inti rakyat (PIR) meliputi budidaya karet, kelapa hibrida, kelapa sawit dan tebu. Perkebunan besar dalam NES/PIR tersebut berfungsi sebagai penyuluh, penyalur sarana produksi kepada perkebunan rakyat, pengolah hasil yang berasal dari rakyat/petani dan sebagai pemasar hasil produksinya. Sedangkan perkebunan rakyat hams menyediakan tanah dan tenaga kerja. Sampai dengan tahun 1983, realisasi luas areal hasil pembinaan pola NES/PIR adalah seluas 188.067 hektar untuk jenis tanaman kafer, kelapa sawit dan kelapa. Dari Tabel VII.17 dapat dilihat bahwa berhasilnya usaha pembina an perkebunan rakyat sampai dengan tahun 1983 tersebut ditandai dengan meningkatnya hasil kafer, teh dan cengkeh, masing-masing sebesar 55,6 persen, 47,1 persen dan 37,5 persen apabila dibandingkan dengan tahun 1982.

Departemen Keuangan RI

169

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Dalam waktu yang sarna hasil produksi perkebunan rakyat lainnya seperti lada, tembakau, kopi dan gula tebu juga mengalami peningkatan produksi, yaitu masing-masing sebesar 17,6 persen, 14,4 persen, 8,8 persen dan 2,1 persen. Sejalan dengan usaha dan kegiatan dalam bidang perkebunan rakyat, maka pembinaan dan pengembangan perkebunan besar swasta juga terus ditingkatkan. Hasil produksi usaha perkebunan besar swasta selama ini, khususnya sampai dengan tahun 1983, belum menunjukkan peningkatan seperti yang diharapkan. Hal ini antara lain karena berbagai jenis tanam_n seperti kafer, kelapa dan coklat yang telah diremajakan belum menunjukkan produktivitasnya, di samping masih adanya gangguan hama terhadap tanaman-tanaman terse but. Dalam tahun 1983, produksi kopi mengalami kenaikan sebesar 26,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni dari 5,7 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 7,2 ribu ton dalam tahun 1983. Sedangkan untuk produksi cengkeh dan teh, dalam tahun 1983 masing-masing telah meningkat sebesar 50,0 persen dan 5,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perkembangan selanjutnya daripada hasil produksi perkebunan besar swasta dapat diikuti dalam Tabel VII.18. Sementara itu perkebunan besar negara (PNP/PTP) dalam Pelita III juga telah banyak mendapat perhatian dari Pemerintah. Hal ini dimasudkan agar perkebunan besar negara dapat mengimbangi tuntutan perkembangan dan kemajuan teknologi moderen serta permintaan posaran intemasional. Untuk itu ditempuh serangkaian kebijaksanaan yang ditujukan terutama untuk meningkatkan budidaya pengusahaan tanaman dan bentuk usahanya. Di samping menyangkut segi pengelolaan perkebunan/perusahaan, maka aspek sosial ekonomi khususnya pemberian imbalan kepada tenaga kerja juga diperhatikan sebaik-baiknya. Berbagai kegiatan yang dilakukan di bidang perkebunan negara tersebut ditandai dengan meningkatnya produksi beberapa hasil perkebunan negara dalam tahun 1983, seperti antara lain terlihat dan meningkatnya produksi kafer, minyak sawit dan teh, masing-masing sebesar 4,2 persen, 3,7 persen dan 18,0 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hasil-hasil yang dicapai di bidang perkebunan negara dapat diikuti melalui Tabel VII.19. Dari Tabel VII.20 dapat dilihat bahwa dengan berhasil ditingkatkannya produksi perkebunan dalam tahun 1983, baik perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta maupun perkebunan negara, serta ditunjang pula oleh adanya kebangkitan kembali ekonomi dunia, maka volume ekspor hasil perkebunan telah meningkat pula. Apabila dalam tahun 1982 volume ekspor hasil utama perkebunan secara keseluruhan adalah sebesar 1.763,6 ribu ton, maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 1.990,5 ribu ton, atau suatu kenaikan sebesar 12,8 persen dibandingkan dengan tahun

Departemen Keuangan RI

170

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama didukung oleh meningkatnya volume ekspor minyak sawit, lada dan karet, masing-masing sebesar 33,3 persen, 23,9 persen dan 20,2 persen. Oi samping itu juga disebabkan oleh meningkatnya volume ekspor tembakau, teh dan kopi, masing-masing sebesar 18,3 persen, 7,7 persen dan 6,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Tabel VII. 17 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERKEBUNAN RAKYAT, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Kelapa/ Gula Tembakopra Tebu kau Teh Karet Kopi Cengkeh 220 162 22 220 75 558 11 1.198 170 21 196' 69 15 571 1.147 178 24 221 69 572 14 1.308 196 7 247 74 13 559 1.233 140 14 199 69 22 599 1.335 132 14 250 69 15 571 1.370 144 14 223 74 15 536 1.527 178 13 267 78 17 610 1.513 181 14 352 72 37 584 1.554 206 17 485 68 612 21 1.561 209 17 498 73 616 35 1.630 276 21 1.203 69 715 34 1.765 290 24 1.364 100 642 29 1.707 262 17 1.352 97 585 32 1.592 285 25 1.380 111 910 44

Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1) 1981 1) 1982 1) 1983 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara

Lada 17 17 24 18 29 27 23 37 43 46 47 37 40 34 40

Kapas 2,4 2,6 1,3 1,5 1,1 2,9 2,4 0,9 0,9 0,5 0,6 3 11 17,7 6,1

Tabel VII. 18 PRODUKSI BEBERAP A HASIL PERKEBUNAN BESAR SWASTA, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Ke1apa/ Gula Minyak Tebu sawit kopra Tahun Teh Kopi Karet 1 1969 110 5 9 72 60 2 1970 113 6 9 74 70 2 1971 114 7 10 122 79 3 1972 128 6 7 130 81 4 1973 109 4 10 118 82 6 1974 108 7 11 127 104 5 1975 109 6 10 126 126 5 1976 104 6 11 152 145 5 1977 107 6 11 162 147 21 1978 110 7 15 71 165 21 1979 112 8 16 73 168 33 19801) 120 6 18 84 221 25 1981 1) 127 9 14 116 266 11 1982 1) 125 6 16 72 285 19832) 124 7 16 72 286 11 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara

Inti sawit 13 15 18 17 18 21 24 27 29 22 23 38 41 47 47

Departemen Keuangan RI

171

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986
Tabel VII. 19 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERKEBUNAN NEGARA, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Tahun Karet 1969 110 1970 118 1971 118 1972 121 1973 137 1974 138 1975 137 1976 142 1977 147 1978 162 1979 170 19801) 186 1981 1) 193 19821) 189 19832) 197 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Minyak sawit 129 147 170 189 207 244 271 286 338 367 474 499 533 599 621 Inti sawit 28 33 39 42 46 52 57 56 64 72 85 90 100 110 115 Teh 31 34 37 37 43 40 46 49 51 59 92 68 72 61 72 Kopi 8 9 11 12 6 10 10 10 ]0 10 11 13 16 13 10 Tembakau 9 9 7 5 11 8 8 11 12 13 14 15 9 9 8 Gula tebu 630 603 708 756 293 860 878 902 924 960 1.030 273 220 195 191

Tabel VII. 20 VOLUME EKSPOR HASIL UTAMA PERKEBUNAN, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Minyak Kopra dan bungkil Tahun Teh Lada Karet sawit Inti sawit Kopi Tembakau 1969 857,5 179,1 42,7 36,1 127,1 5,7 16,7 349,1 1970 790,2 159,2 42,4 41,1 104,3 11 2,6 393,1 1971 789,3 209 48,6 44,8 74,3 18,3 24,2 322,5' 1972 774,6 236,5 51,4 44 107 26,2 25,7 327,1 1973 890,2 262,7 39,2 39,6 100,8 33,3 25,6 282 1974 840,4 281,2 28,5 55,7 111,8 33,6 15,7 252,6 2) 1975 788,3 386,2 21 45,9 128,4 19,6 15,2 329,1 1976 811,5 405,6 25,6 47,5 136,4 20,5 28,8 396,7 1977 800,2 404,6 25,2 51,3 160,4 25,9 30,9 335,9 1978 918,2 412,3 7,3 61,6 222,8 27,3 38 324,4 2) 1979 967,3 437,8 33,1 65,9 230,7 24,9 25,7 381,4 2) 1980 I)' 981 502,9 42,9 74,2 238,7 28,3 29,7 430,1 19811) 812,8 196,4 22,7 71,3 210,6 25,3 34 321,8 19821) 797,6 259,5 6,9 63,7 227 20,2 36,3 352,4 19833) 958,9 345,8 2,2 68,6 241,2 23,9 45 304,9 1) Angka diperbaiki 2) Hanya bungkil kopra 3) Angka sementara

Jenis komoditi 1969 Kare t 220,7 Kopra dan bungkil kopra 20,6 Ko p i 51,3 Tcmbakau 13,8 Minyak sawit 22,2 Inti sawlt 4 Lada 10,4 Teh 9,7 Bunga, biji pala dan ccngkch 1.6 Rcmpah-rcmpah lainnya 4) 3,5 Jumlah 357,8 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Hanya cengkeh 4) Scjak tahun 1980 tidak ada nilai ckspor

1970 260,9 35,1 65,8 11,5 36,5 5.U 2.9 17,3 2.1 4,3\ 441.4

Tabel VII. 21 NILAI EKSPOR HASIL UTAMA PERKEBUNAN, 1969 - 1983 ( dalam US $ juta ) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 222.2 195,9 395 487,3 365,U 535,1 593,8 720,5 1.002,40 1.174,20 835,8 602,1 26,2 17,6 23.6 23,2 28,9 31.2 38.1 35 41,3 52,1 32,4 38 55.4 72.4 77,4 1UI,3 101.1 250 634.0 509,7 655.4 656 345,9 341,7 19,9 30.0 44.9 35,5 37,8 39,2 61,1 59,3 60,3 58,b 53,1 38,9 46.3 42.0 72,5 Ibb,U 158,1 142 192,8 208,3 253,7 254,7 106,9 64,4 5,5 3,7 4.8 8.4 5.1 3,7 5.8 1,5 7.2 8.1 4,4 2,2 24.7 20.5 28.0 24.6 22.8 46,2 65,6 69,8 47,3 58,1 47,2 44,9 28,7 31.4 30,2 43,6 53,1 55 121.0 92,3 91,7 112,7 100.8 89,5 1.8 2.1 1.7 2,5 5.0 9,7 10,9 11.2 10,9 27,9 80,3 0,33) 4.4 3.4 6.5 6,1 3,7 5,6 7,8 9.0 0.3 435.1 419.0 684.6 898,5 78U,6 1.117,70 1.730,90 1.716,60 2.170,50 2.402,40 1.606,80 1.222,00

1983 2) 802,3 46,4 427,3 47,6 111,5 0,4 52 120,4 0,43) L608,3

Departemen Keuangan RI

172

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Meningkatnya volume ekspor beberapa hasil perkebunan tersebut disertai pula dengan kenaikan nilai ekspor hasil perkebunan dalam tahun 1983. Nilai ekspor keseluruhan dari beherapa komoditi perkehunan dalam tahun 1983, yang terdiri atas jenis komoditi karet, kelapa sawit, kopi, teh, lada dan tembakau, telah mencapai US $ 1.608,3 juta. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 dengan nilai sebesar US $ 1.222,0 juta, maka terdapat kenaikan sebesar 31,6 persen. Gambaran selanjutnya mengenai nilai ekspor beberapa hasil utama perkebunan dapat diikuti melalui Tabel VII.21.

7.4.3. Peternakan Salah satu masalah yang dihadapi di bidang peternakan sebelum Pelita berlangsung adalah rendahnya tingkat populasi ternak dengan perkembangan yang tidak merata. Hal ini antara lain disebabkan karena hampir 60 persen dari seluruh jenis ternak terkonsentrasi di pulau J awa yang justru luasnya hanya sebesar 7 persen dari luas seluruh daratan Indonesia, kecuali untuk jenis ternak babi yang sebagian besar dipelihara secara tradisional di Sumatela Utara, Sulawesi Utara, Bali dan Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu sejak dilaksanakannya pembangunan nasional, kegiatan di bidang peternakan diarahkan kepada peningkatan dan penyebaran populasi ternak, dan sekaligus juga untuk meningkatkan pendapatan para peternak dan memperluas kesempatan berusaha. Sehubungan dengan itu langkah-Iangkah telah dan terus dilakukan terutama dengan penyebaran bibit unggul ke daerah-daerah dalam usaha untuk mengatasi masalah kelahiran dan produktivitas ternak yang rendah, serta peningkatan pemotongan ternak jenis betina. Bibit unggul ternak tersebut disebarkan dari wilayah/propinsi sumber-sumber bibit ternak sapi seperti Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, ke wilayah/ propinsi lainnya yang potensial. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas bibit-bibit sapi lokal, telah dikembangkan usaha pembinaan sumber bibitnya, misainya sapi Bali dikembangkan di pulau Bali, Sumbawa, dan beberapa lokasi di Sulawesi Selatan. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap para peternak sapi Ongole di pulau Sumba dengan jalan mendatangkan sapi jenis unggul dari luar negeri, antara lain seperti sapi jenis Brahman. Sedangkan dalam rangka meningkatkan mutu bibit sapi, maka dalarn tahun 19831 1984 te1ah disebar sebanyak 28.129 ekor bibit sapi. Demikian pula untuk bibit ternak kerb au , karnbingldomba dan kuda, dalarn waktu yang sarna te1ah disebar masing-masing sebanyak 6.452 ekor, 12.910 ekor dan 2.633 ekor. Berkaitan dengan usaha Pemerintah di bidang transmigrasi, bidang peternakan telah ditingkatkan peranannya untuk mendukung usaha pengembangan lokasi baru tersebut. Dalarn rangka menunjang program
Departemen Keuangan RI

173

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

tersebut, sampai dengan Pelita III telah disebarkan sekitar 4.000 ekor dari berbagai jenis ternak, terutarna sapi dan kerbau, melalui dana transmigrasi. Di samping itu melalui dana bantuan Presiden juga telah diimpor berbagai jenis temak unggul seperti sapi jenis Brahman, Santa, Gertrudis dan Bilmon Red yang selanjutnya disebar ke daerah-daerah. Sedangkan untuk penyebaran bibit ternak jenis lainnya yaitu seperti bibit ayam DOC (day old chick) dari Pusat Pembibitan Cisarua juga terus dilaksanakan dan selanjutnya disalurkan ke seluruh propinsi Indonesia. Upaya lainnya yang telah dilakukan adalah dengan teknik inseminasi buatan (IB), yaitu suatu cara perkawinan pada hewan betina dengan alat berupa split pipet (insemination gun) yang telah diisi dengan semen dari pejantan. IB merupakan sarana untuk mengembangbiakkan ternak dengan cepat, teratur dan murah yang dapat memperkecil kemajiran serta tidak perlu memelihara pejantan, sehingga dengan demikian dapat dicegah adanya penyebaran penyakit dari satu hewan ke hewan lainnya sebagai akibat daripada perkawinan. Teknik IB di Indonesia telah dipergunakan sejak tahun 1970, namun baru dalam tahun 1973 dipergunakan semen beku, serta dalarn tahun 1975 dibangun laboratorium yang dapat memproduksi semen beku tersebut di Lembang dan Bandung. Sehubungan dengan ire dapat dikemukakan bahwa apabila se1arna Pelita II baru disalurkan sebanyak 67.000 dosis semen beku kepada 18 propinsi, maka pada akhir Pelita III telah berhasil disalurkan sebanyak 396.817 dosis semen beku untuk keperluan IB ke seluruh propinsi di Indonesia. Tenaga-tenaga untuk menangani pelaksanaan IB tersebut juga telah ditingkatkan, dan dalam rangka meningkatkan keterampilannya sudah banyak yang dikirim ke luar negeri antara lain ke New Zealand. Sebagai hasilnya, jumlah tenaga khusus untuk IB yang selama Pelita II baru berjumlah 295 orang telah berhasil ditingkatkan menjadi sebanyak 595 orang pada akhir Pelita III. Mengingat bahwa persediaan makanan ternak, baik kualitas maupun kuantitasnya, yang berasal dari hijauan makanan ternak masih dirasakan kurang terutama untuk daerahdaerah di pulau Jawa, maka telah dilaksanakan pembinaan terhadap kegiatan-kegiatan penyediaan makanan ternak. Adapun makanan ternak tersebut dapat dibedakan atas makanan hijauan yang terdiri dari rumput, leguminosa dan lain-lain, serta makanan penguat yang terdiri atas konsentrat. Sejalan dengan program penghijauan, maka kini telah dilakukan penanaman makanan hijauan ternak pada daerah/tanah-tanah kritis dan terlantar. Sedangkan dalam hal makanan temak jenis konsentrat, penyediaannya dilakukan oleh pihak swasta dengan pengawasan mutu oleh Pemerintah. Sementara itu di kebun-kebun bibit pusat di Cisarua dan Cisereuh, yang dilengkapi dengan laboratorium pemeriksaan bibit rumput dan bahan rerumputan. telah berhasil dikembangbiakkan jenis rerumputan atau makanan

Departemen Keuangan RI

174

namun tidak dapat diabaikan adanya beberapa penyakit yang berasal dari virus seperti penyakit tetelo. penyediaan tenaga penyuluh. 1. bebesiosis). Dengan demikian akan tercapai upaya dalam mendapatkan rumput alam yang bermutu tinggi di samping usaha budidaya rumput. 4. kader peternak. 2 di antaranya berada di Denposar dan Ujungpandang yang dibangun alas ban_an FAa (Food Agriculture Organisation) dan TJNDP (United Nation Development Program). Sebuah balai dibangun di Bukittinggi dengan bantuan dari pemerintah j erman Barat. penyakit jembrana di Bali dan penyakit zoonosa rabies. dewasa ini juga telah direhabilitir beberapa karantina hewan serta vaksinasi massal yang\ditangani secara khusus. Sehubungan dengan itu.obatan darijenis ND Kumarov.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hijauan temak baru serta memperbaiki jenis yang ada untuk disebarkan ke kebun-kebun bibit di berbagai propinsi. dalam tahun Departemen Keuangan RI 175 . Fowl Pox F.550 ribu dosis. Anthrax. -parasit darah (surra. Dalam hubungan ini telah selesai dibangun dan berfungsi 5 buah Balai Penyidikan Hewan. masing-masing sebanyak 50. Selanjutnya dalam rangka pencegahan penyakit ternak. Guna menanggulangi wahab yang tidak dapat diduga baik mengenai kejadian maupun waktunya.ditanggulangi penyakit asal bakteri antara lain seperti penyakit ngorok.500 ribu dosis. Walaupun selama sepuluh tahun terakhir ini serangan penyakit pada temak pada umumnya dapat diatasi dan dikendalikan. diamati daya adaptasi dan daya tumbuhnya untuk kemudian disebarkan ke tiap kabupaten. Di samping itu juga telah dibangun 3 buah Laboratorium Penyidikan Penyakit Hewan jenis A di tingkat pusat. pencegahan dan pemberantasan penyakit. Dalam tahun 1983/1984 telah dapat disediakan dan disebarkan vaksin dan obat. radang paba dan keluron menular (brucellosis).000 ribu dosis. dan laboratorium jenis B di setiap propinsi serta laboratoriumjenis C di setiap kabupaten. Apabila dalam tahun 1982/1983 jumlah tenaga penyuluh petemakan spesialis (PPS) dan tenaga penyuluh peternakan lapangan/demonstrator masing-masing baru berjumlah 368 orang dan 936 orang. penyakit mulut dan kuku pada sapi. maka Pemerintah telah mempersiapkan baik alat-alat ataupun tenaganya. Di kebun bibit ditingkat propinsi tersebut. Brucella dan Rabies. Selanjutnya dari kebun-kebun bibit tingkat kabupaten dan tingkat kecamatan disalurkan kepada peternak di kecamatan. petugas laboratorium diagnostik dan tenaga vaksinator terus ditingkatkan. sedangkan 2 buah lagi berada di Medan dan Tanjung Karang yang dibangun alas bantuan dari pemerintah jepang. Di samping itu juga telah dapat . 20 ribu dosis dan 522 ribu dosis. penyakit antrax. Selama lima tahun pelaksanaan Repelita III telah dilakukan kegiatan pengamanan ternak dengan mengaktitkan fungsi penyidikan. SE. bibit-bibit diperbanyak. penolakan. 13. dan penyakit kulit menular (scabies). desa dan kampung sampai ke padang penggembalaan.000 ribu dosis.

1 2.6 9.380 1975 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1983/1984 telah meningkat masing-masing menjadi 428 orang dan 1.1 0.1 11.189 6.432 2.079 Kuda 642 692 665 693 645 600 627 631 659 615 596 616 637 658 665 704 Ayam 62.751 1) Angka sementara Sapi perahan 52 59 66 68 78 86 90 87 91 93 94 103 113 140 162 169 Kerbau 2.902 3.183 3.4 29.447 1970 6.1 2.517 6.2 2.2 0.6 0.4 0 1.5 5.416 12.1 0.4 0.768 2.336 6.533 Kambing 7.2 18.976 2.979 2.4 193 1) 2.1 1.906 2.245 1972 6.457 3.1984 ( dalam ribu ekor) Tahun Sapi 1969 6. dalam ribu ton untuk kulit dan tulang ) Ternak Kulit Sapi Kerbau S api Kerbau Kambing Domba 38.2 4. Selanjutnya jumlah petugas laboratorium diagnostik dan petugas vaksinator yang dalam tahun 1982/1983 masing-masing baru sebanyak 312 orang dan 1.130 orang.5 1) Angka dalam ton 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 176 .6 8.155 3.426 23.316 4.5 2.947 2.640 82.7 1.493 114.382 3.2 28 3.8 0.9 0 0 0.5 2.4 0.9 31.4 2.7 54.659 7.998 3.1 1.124 13.232 8.489 2.1 0.2 7.996 3.793 6.370 10.1 8.587 3.4 0.130 1971 6.6 22.9 9. Tabel VII.286 1973 6.362 1980 6.861 25.5 0.357 184.8 Tulang 10.415 2.804 3.380 93.8 1 59.707 2.5 0 0 0.878 3.5 0.4 8 7. 1969 -1983 ( dalam ribu ekor untuk temak.3 1 0 0 2.5 0.1 9.457 2.4 0.790 7.4 0.098 Domba 2.3 0.627 84.125 15.2 1.089 21.611 4.343 Babi 2.1 2.513 2.620 14.269 7.100 98.6 0.242 1976 6.404 11.488 2.403 3.544 6.7 0 0 0.6 28 1) 3.292 2.891 8.432 2.4 2.822 2.9 4.364 3.182 16.1 2.217 1978 6.976 2.374 3.2 1.5 1.9 0.3 0.436 27.6 1.382 107.237 1977 6. 24 VOLUME EKSPOR TERNAK DAN HASIL-HASILNYA.556 197.8 9 0.330 1979 6.078 22.032 17.146 2.177 4.3 0.906 7.124 4.7 3.594 1983 1) 6.6 1.475 102.943 7.660 19841) 6.350 2.169 3.976 2.541 18.637 1974 6.362 3.312 2.7 187 1) 3 0.440 1981 6.9 0 0 1.603 3.9 24.2 9.071 4.8 0.2 5.538 2.677 4.302 232.1 0.132 211.407 orang. 22 POPULASI TERNAK.436 orang.7 45 13.8 51.687 Itik 7.4 0.4 0.476 63.3 0.6 50.051 7.6 0.014 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 19832) Tabel VII.5 1. 1969 .4 0.284 2.691 7.231 4.516 1982 6.315 6.049 8. dalam tahun 1983/1984 juga telah meningkat masing-masing menjadi 313 orang dan 5.987 121.2 97 1) 3.438 75.

193.50 25.1 626. Sementara itu sebagaimana terlihat dalam Tabel VII.80 10.3 0 1979 0 0 1980 0 0 1981 0 0 1982 0 0 19831) 0 0 1) Angka sementara Sapi 1. produksi telur 6.222.40 7.792.60 11.80 7.738.186.20 299.985. 1969 -1983 (dalam US $ ribu) T ernak Sapi Kerbau Tahun 1969 596 251 1970 1.226.30 109.2 5.658. Dalam tahun 1983.2 124.00 2.660 ribu ekor.80 16.6 1974 7.949.70 398 3.30 299.80 25.90 6.262.00 6.691.40 19.4 persen dan produksi susu 21.824.70 139 11.40 Berbagai cara telah dilaksanakan untuk meningkatkan populasi ternak. menjadi 6. Disusul kemudian kenaikan populasi ternak domba.23). 316.00 698.843. yaitu dari masing-masing sebanyak 4.316 ribu ekor.90 26. 3.00 3.677.900.60 1.704.582. 297.5 2.6 ribu ton.587 ribu ekor dan 658 ribu ekor dalam tahun 1982.7 persen.5 255.307.368.1 4. Apabila dibandingkan dengan produksi tahun 1982 yang masing-masing baru berjumlah 628.694.6 0 JumJah 4.049 ribu ekor dalam tahun 1983.9 164.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.758.083.30 3.433.6 652 1.70 22.90 712. maka produksi daging.5 590.20 3.5 persen.2 persen dan 6.20 1.421.246.974.0 ribu ton.636.272.20 813. Demikian juga populasi ternak Ryall dan itik menunjukkan kenaikan masingmasing sebesar 7.25 NILAI EKSPOR TERNAKDAN HASIL-HASILNYA.560.40 2.0 ribu ton dan 142.30 69 18.5 393.516.90 398. ketiga jenis produk tersebut masing-masing telah mencapai sebanyak 671.6 juta liter.50 15.10 7.90 147 11.883.243.822.8 195.90 26 1978 70.026. 3.80 Kulit Kerbau Kambing 170.9 524.423.8 1972 2. maka produksi daging telah meningkat sebesar 6. babi dan kuda. Dari tabel tersebut terlihat bahwa apabila dibandingkan dengan tahun 1982.981.341.00 15.00 395.523.672.926.70 1.20 2.412.50 237.998.308.30 Tulang 52. 162 ribu ekor dan 8.30 1975 5. telur dan susu juga menunjukkan peningkatan yang cukup mantap.4 9.790.843.80 7.9 juta liter (Tabel VII. Sejalan dengan meningkatnya hasil-hasil yang dicapai di bidang pengembangan populasi ternak.10 1.046.966.6 169 105. 140 ribu ekor dan 7.6 14.245.9 1.60 7.769.087.3 1.80 5.843.3 1971 1.30 23.922.24 dan Tabel VII.891 ribu ekor dalam tahun 1982.50 154.1 1977 1.1 2.30 425. Hasil-hasil yang dicapai di bidang peningkatan populasi ternak sampai dengan tahun pertama Repelita IV dapat diikuti melalui Tabel VII.20 41. maka populasi ternak jenis sapi.594 ribu ekor.90 2.2 13.50 30 14.40 4.40 1.30 3.134.1 3.800.315.471.50 485.401.25.70 1.677 ribu ekor dan 665 ribu ekor dalam tahun 1983.60 385.4 1.40 990.007. sapi perahan dan kambing dalam tahun 1983 telah menunjukkan kenaikan dari masing-masing sebanyak 6.80 1973 3.40 7.70 83.196.30 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.662.10 Domba 693. meningkatkan menjadi 4.810.6 615.22.0 ribu ton dan 117. volume dan nilai ekspor ternak dan hasil-hasilnya tidak lagi mengalami kenaikan bahkan kegiatan ekspor Departemen Keuangan RI 177 .7 24.5 172.9 1976 3.60 22.132.231 ribu ekor.752.391.3 535.248.010.30 157.

Perikanan Indonesia dikenal sebagai suatu negara maritim yang terdiri dari pulau-pulau dengan perairan yang me1iputi tiga perempat bagian dari se1uruh wilayah negara.1 juta. Sementara itu hasil-hasil yang telah dicapai di bidang perikanan dalam tahun 1983 antara lain tercermin pada produksi ikan yang telah mencapai 2. pole and line. sedangkan sisanya sebanyak 520 ribu ton adalah ikan darat. 7.3 persen. meningkatkan mutu gizi pangan dan sekaligus untuk meningkatkan ekspor. Dengan letak geografis yang ada sella ditunjang oleh iklim tropis sepanjang tahun.600 ribu ton atau 75. serta kulit dan tulang di dalam negeri sebagai akibat dari berkembangnya sektor industri. Namun mengingat bahwa penangkapan ikan memerlukan tatacara yang benar agar pelaksanaannya dapat produktif dan efisien. kerbau. penggunaan perahu tanpa motor dan alatDepartemen Keuangan RI 178 . maka selama Pelita III telah ditempuh usaha-usaha intensifikasi penangkapan sekaligus pengembangbiakan daTi berbagai jenis ikan dan udang di samping juga dilakukan usaha pengembangan perikanan darat. memperluas kesempatan berusaha. Produksi ikan sampai dengan tahun 1983 telah meningkat menjadi sekitar 2. Apabila dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 1982 yang berjumlah US $ 25.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.5 persen dari hasil keseluruhan. Dapat diketengahkan bahwa besarnya peningkatan produksi ikan taut tersebut terutama karena bertambahnya kapal-kapal perikanan bermotor dan meningkatnya penggunaan alat-alat penangkap ikan moderen seperti jaring jenis gill net.120 ribu ton. meskipun jumlah populasi ternak secara keseluruhan meningkat setiap tahunnya. Titik berat pembangunan di bidang perikanan dalam Repelita IV ditujukan pada pembinaan dan pengembangan perikanan rakyat. juga karena meningkatnya produksi ikan darat sebesar 2. yaitu sebanyak 1. mempertinggi produksi. Hasil produksi ikan dalam tahun 1983 tersebut sebagian besar merupakan produksi ikan lalit. purseseine.7 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982. Penurunan tersebut disebabkan karena meningkatnya permintaan daging dan protein hewani.1 persen lebih tinggi dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya yakni sebanyak 1. Kenaikan produksi ikan tersebut selain disebabkan peningkatan produksi ikan taut sebesar 7. dan long line. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan para nelayan. kambing dan domba dengan nilai ekspor sebesar US $ 23.4. maka nilai ekspor hasil ternak turun sebesar 4.4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ternak sapi dan kerbau telah dihentikan sejak tahun 1979.998 ribu ton. keadaan tersebut sangat menguntungkan produktivitas dan pengembangan budidaya ikan di Indonesia.4 persen. Di lain pihak. Dengan demikian dalam tahun 1983 sebagian besar ekspor hasil ternak adalah berupa kulit sapi.120 ribu ton atau sebesar 6.9 juta. atau 6.

pabrik es. Jawa Tengah. maka sejak Pelita III telah dilaksanakan rehabilitasi dan pembangunan pangkalan pendarat ikan (PPI) serta pelabuhan perikanan (PP). Jawa Timur.8 persen bila dibandingkan dengan tahun sebe1umnya.6 ribu hektar atau suatu kenaikan 1. namun produksi ikan darat juga menunjukkan jumlah yang terus meningkat. pemasaran dan pengolahan hasilhasil perikanan. produksinya te1ah meningkat lagi sehingga mencapai 279 ribu ton. kolam dan sawah. NTT. terutama yang terdiri dari hasil tambak. 2 buah PP nusantara dan sebuah PP samudera.4 persen dibandingkan dengan tahun sebe1umnya. atau suatu kenaikan sebesar 9. Tersedianya benih dan induk ikan dalam jumlah dan mutu yang memadai sangat Departemen Keuangan RI 179 . NTB. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 94.4 persen.3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.8 persen.5 ribu hektar. terutama perikanan rakyat. yang berarti peningkatan sebesar 10. Sementara itu walaupun pertumbuhan produksi ikan darat tidak secepat produksi ikan laut. Apabila luas areal budidaya tambak dalam tahun 1982 baru mencapai 400.400 buah dalam tahun 1983. telah dibangun saluran tambak di Daerah Istimewa Aceh. yang terdiri alas 21 buah PP pantai. Jawa Barat. Selanjutnya guna menunjang dan mempercepat pertumbuhan produksi perikanan lalit. Sebaliknya dalam periode yang sarna jumlah perahu tanpa motor telah menurun dari 215. Meningkatnya produksi budidaya perikanan darat tersebut terutama disebabkan intensifikasi budidaya tambak di samping adanya perluasan arealnya. Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan yang keseluruhannya mencapai sepanjang 590 km. atau suatu penurunan sebesar 1. yaitu dari 241 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 254 ribu ton dalam tahun 1983.300 buah. Dalam tahun 1983. produksi budidaya perikanan darat mengalami kenaikan sebesar 5. Dalam hubungan ini. sampai dengan tahun 1983/1984 telah dibangun 149 buah PPI yang tersebar di 25 propinsi kecuali untuk DI Yogyakarta dan Timor Timur. Sedangkan untuk mendukung pengembangan budiclara tambak dan perikanan darat lainnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 alat penangkap ikan tradisional te1ah menurun yang menunjukkan te1ah terjadinya pergeseran dan pergantian dari alat-alat penangkapan tradisional ke alat-alat penangkapan yang lebih produktif. Sumatera Utara. maka dalam tahun 1983 telah mencapai 405. Meningkatnya penggunaan perahu/kapal motor serta alat-alat penangkap ikan moderen terlihat dari jumlah perahu/kapal motor yang dalam tahun 1982 baru sebanyak 85. Bali. Di samping itu juga telah dibangun 24 buah PP.083 buah. PPI dan PP tersebut dilengkapi dengan tempat pelelangan.466 buah dalam tahun 1982 menjadi 212. gudang pendingin dan lain-lain fasilitas yang diperlukan untuk mengembangkan produksi. Sampai dengan bulan September tahun 1984.

721 84.111 1.375 8.618 249.274 17.354 75.182 1.724 2.424 68.620 161.787 57. baik volume maupun nilainya telah mengalami kenaikan. Untuk mengatasi hal tersebut.211 13. yakni masing-masing dengan rata-rata sebesar 6.395 7.8 persen per tahun. Sampai dengan tahun 1983/1984 telah direhabilitasi dan dibangun BBI sebanyak 43 unit.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menentukan berhasilnya usaha perikanan budidaya.464 236.431 1976 31.184 399 114 13.720 32.924 350 61 12.233 1978 32.810 10.851 2. Tabel VII.640 19833) 26. Selanjutnya untuk tahun 1983.060 6.953 92. Volume dan nilai ekspor hasil ikan dalam tahun 1983 tersebut belum termasuk ekspor uhliruhlir yang berjumlah 4. baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.163 2.907 7.980 5. maka berarti volume dan nilai ekspornya telah meningkat masing-masing sebesar 35.308 19.875 5. 1969 .959 30. ekspor hasil-hasil perikanan juga menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan. rata-rata konsumsi ikan segar per kapita per tahun dalam negeri dari tahun 1978 sampai dengan tahun 1983 terus menunjukkan peningkatan.571 1975 25.255 33.195 34.118 892 568 384 103 29 10.1983 (Volume dalam ton.378 21.188 4.756 18.387 1.2 persen dan 1.827 7S.768 321 92 9.286 16.187 29.838 1.496 12.300 255.868 678 2.510 163.612 4. Pada urutan Departemen Keuangan RI 180 . pemasaran hasil ikan ke luar negeri telah mencapai 83.693 1.426 2.712 31.6 persen dari seluruh volume.627 140.934 180.325 6.121 78.178 68. dan 76. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 13.585 217 98 17. Dalam waktu yang sarna telah dibangun sebanyak 3 unit balai benih udang (BBU) dan 3 unit balai benih udang galah (BBUG).156 34.705 226.827 1982 2) 25.575 181.910 19.991 1977 31.154 1.300 8. sampai dengan tahun 1983 telah menunjukkan peningkatan yang mantap.236 359 96 14.994 41.505 1.278 1971 15.389 131.050 5.180 ribu.754 473 136 13.483 1980 31.820 3.778 9. nilai dalam US $ ribu) Ikan segar Katak Ikan hias Lain-lain Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai 2. Pemasaran ikan.4 kg per kapita.553 2.639 5.332 326 28 9 42 20 13. ditingkatkan pula peranan yang lebih aktif dari balai benih ikan (BBl).697 1972 23.026 11.410 Udang 1) Volume Nilai Tahun 1969 5.648 2.955 1979 34.145 1.463 116. Dalam waktu yang sama.370 6.28.1 persen dari seluruh nilai ekspor hasil perikanan.540 21.550 ton dengan nilai sebesar US $ 247.416 88.178 225.049 5.971 162.8 persen dan 5.018 63.486 193.450 I) Segar dan awetan 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Jumlah Volume Nilai 21.247 169 652 286 104 38 12.865 471 867 749 190 37 12.333 4.904 1981 24.258 305 54 13.562 1974 32.774 286 56 14.809 1973 28.738 88.0 persen.378 3.517 3.852 45. atau mengalami kenaikan rata-rata 2.316 4. sebagaimana terlihat pada Tabel VII.657 7.420 ribu.992 3.600 Ekspor ikan selama Pelita III.387 89.355 358 65 12.943 200.380 57. selain mengandalkan benih dari sumber alam.7 persen per tahun.750 ton senilai US $ 8.160 3.373 1.805 ton senilai US $ 244.28 VOLUME DAN NILAI EKSPOR HASIL-HASIL PERIKANAN.637 878 1970 7.431 364 114 1 i .959 ribu.114 29.411 29.1 kg per kapita. Dilihat dari segi konsumsinya.344 40. Apabila dalam tahun 1978 konsumsi ikan baru mencapai 11.625 31.185 54.941 52.106 1.170 194.191 54.041 2.115 7.823 3.334 2.867 3.655 18.319 14. Ekspor hasil-hasil perikanan dalam tahun 1983 sebagian besar adalah berupa udang segar dan awetan. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 dengan volume ekspor sebesar 61.750 200 170 24. yang mencapai 29.444 22.

sehingga usaha perbaikan dan peningkatan gizi masyarakat dapat tercapai. telah dilakukan peningkatan produksi. di samping tercukupinya kebutuhan gizi yang sesuai dengan daya beli masyarakat banyak. Di samping itu. Sedangkan khusus harga dasar kacang tanah sejak tahun 1982/1983 telah dihapuskan karena harga kacang tanah di posaran sudah tinggi sehingga tidak perlu lagi ditetapkan harga dasarnya. kedelai..5. Pemerintah mengusahakan terwujudnya harga pangan yang stabil pada tingkat yang wajar. Amerika Serikat. 7.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kedua adalah ekspor ikan segar yang mencapai 38. Sedangkan negara-negara tujuan utama ekspor hasil perikanan adalah ]epang. melainkan juga untuk beberapa jenis palawija. Belgia dan Luxemburg. maka juga ditujukan untuk meningkatkan gizi masyarakat melalui penganekaragaman pola konsumsi pangan masyarakat. Sehubungan dengan kegiatan tersebut. Dalam menunjang usaha tersebut. Penentuan harga yang wajar bagi produsen terutama ditujukan untuk memberikan dorongan kepada petani produsen meningkatkan hasil produksinya. memperbaiki sarana distribusi dan pemasaran. memantapkan harga serta memperbaiki pengolahan dan penyimpanan hasil produksi pangan. Untuk itu secara berkala Pemerintah telah menetapkan harga dasar yang diterima oleh petani produsen dan harga batas tertinggi yang dibayar oleh konsumen.4 persen dari volume atau 7.4. Pangan dan gizi Pembangunan di bidang pangan dan gizi sampai dengan akhir Pelita III dititikberatkan pada peningkatan penyediaan pangan secara merata.per kilogram. Pemerintah melakukan kebijaksanaan barga. Penetapan harga dasar dan harga batas tertinggi tersebut tidak hanya berlaku terhadap bahan pangan pokok beras saja. antara lain jagung. Sejalan dengan kebijaksanaan yang berorientasi pada harga. Singapura. Negeri Belanda. Hongkong. Sehubungan dengan harga dasar gabah/beras dapat dikemukakan bahwa pada awal Pe1ita III harga dasar gabah kering giling di tingkat BUUD/KUD adalah sebesar Rp 85. maka harga dasar gabah/beras tersebut te1ah ditingkatkan sehingga sampai dengan akhir tahun Pe1ita III mencapai sebesar Rp 145. sehingga konsumsi bahan pangan bukan beras terus meningkat. peningkatan jumlah sarana penyangga. melancarkan penyaluran bahan pangan. Mulai awal Pebruari Departemen Keuangan RI 181 . serta pembangunan gudanggudang pangan di seluruh pelosok tanah air. dan kacang hiiau.per kilogram. Sedangkan penetapan harga batas tertinggi yang dibayar oleh konsumen dimaksudkan agar harga pangan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak. baik bagi kepentingan produsen maupun konsumen.. Agar petani produsen padi lebih bergairah dalam meningkatkan produksinya.7 persen dari seluruh nilai ekspor hasil perikanan.

250. Demikian pula untuk tahun 1985. Pemerintah juga terus memperbaiki sarana distribusi dan pemasaran serta pengolahan dan penyimpanan hasil pertanian pangan. Sebagai perbandingan dapat dikemukakan bahwa pengadaan gabahlberas yang berasal dari kUD dalam tahun 1983/1984. Selain mendorong perkembangan KUD. Dengan tersedianya gudanggudang penyimpanan tersebut diharapkan pengadaan pangan untuk sarana penyangga dapat berjalan lancar. Dalam tahun 1983/1984 pembelian beras (berupa gabah setara beras) yang berasal dari dalam negeri adalah sebanyak 1.8 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1983/1984.037. Hal ini antara lain terlihat dari pembangunan gudang-gudang pangan Pemerintah di se1uruh pe1osok tanah air. maka sejak tanggal 1 Juni 1983 kepada koperasi diberikan kredit dengan suku bunga rendah. te1ah mencapai sebanyak 1. sedangkan sisanya sebanyak 137.901. Jumlah gudang tersebut terdiri atas gudang Bulog baru sebanyak 599 buah dengan kapositas tampung sebanyak 1.118 buah dengan kapasitas tampung se1uruhnya sebesar 2.. dan diikutsertakan dalam penyediaan sarana lepas panen: Di samping itu untuk memperkuat daya saing dan membantu pemupukan modal bagi KUD. gudang semi permanen sebanyak 430 buah dengan kapositas tampung sebanyak 397.per kilogram (Tabel VII.0 ribu ton.6 ribu ton alan sebesar 89 persen dari se1uruh pengadaan gabahlberas dalam negeri.467.2 ribu ton.8 ribu ton. sedangkan Departemen Keuangan RI 182 . maka dalam pengadaan gabah/beras te1ah diberikan pula margin tataniaga yang lebih besar dari yang diberikan kepada pihak swasta non KUD.5 persen dilakukan melalui impor komersial. terhitung mulai tanggal1 Pebruari 1985 te1ah diputuskan untuk menaikkan lagi harga dasar gabahlberas giling di tingkat BUUD/KUD menjadi Rp 175.210.. yakni sebesar 12 persen per tahun.109. Agar persediaan beras berada dalam jumlah yang cukup. dan gudang Bulog lama sebanyak 89 buah dengan kapositas tampung sebanyak 168. sedangkan dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus jumlah terse but telah meningkat menjadi sekitar 2. atau 85.0 ribu ton atau sebesar 11 persen berasal dari non KUD.8 ribu ton.6 ribu ton.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1984 harga dasar gabah/beras telah ditingkatkan lagi menjadi Rp 165. maka pembelian gabah dan hasil palawija dari petani dilaksanakan terutama melalui koperasi unit desa (KUD). maka dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan impor beras sebanyak 1. Untuk menjamin agar para petani produsen benar-benar dapat menerima harga penjualan hasil produksinya sesuai dengan harga dasar yang telah ditetapkan. jumlah gudang Pemerintah yang te1ah selesai dibangun dan dapat berfungsi mencapai 1. Sampai dengan bulan Juli 1984.29).4 ribu ton.per kilogram.0 ribu ton. Untuk lebih meningkatkan keterkaitan kebijaksanaan pangan dengan koperasi baik di bidang pengadaan maupun penyalurannya. sebanyak 81. Dari jumlah impor beras dalam tahun 1983/1984 tersebut..

30.00 Gabah kering lumbung di desa 38.1985/1986 ( dalam rupiah per kilogram ) Tahun Padai kering Lumbung di desa 30.50 70. baik untuk memenuhi kebutuhan pegawai dan karyawan tertentu maupun untuk umum melalui operasi posar. Pengendalian harga tersebut antara lain dilakukan melalui penyaluran beras ke seluruh pelosok tanah air.00 42.00 51. 1974/1975 .00 105. beras yang disalurkan dalam tahun 1983/1984 adalah 1.50 54.50 52.50 64.00 135.00 50.00 120. 29 HARGA DASAR PADI DAN GABAH. Gambaran dari perkembangan harga beras di beberapa kola besar dari tahun 1974/1975 sampai dengan tahun 1983/1984 dapat diikuti melalui Tabel VII. maka perkembangan harga beras di posaran umum dapat dikendalikan dalam batas-batas yang wajar.50 70.00 Gabah kering giling di BUUD/KUD 42.00 57.50 54.00 95.00 75.944 ribu ton. Tabel VII.00 145.50 68.30 44.31.866 ribu ton atau 36.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sisanya dalam rangka bantuan pangallo Pengadaan beras dalam negeri dan impor dapat diikuti melalui Tabel VII.60 57.50 67.00 74.50 71.6 persen lebih rendah dibandingkan dengan penyaluran beras dalam tahun sebelumnya yang mencapai jumlah 2.00 2) 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1985/1986 I) BerIaku mulai I Pebruari 1984 s/d 31 Januari 1985 2) BerIaku mulai 1 Pebruari 1985 Departemen Keuangan RI 183 .30 58.50 Gabah kering giling di desa 40.00 54.00 85.00 1) 175.00 66.00 Padi kering giling di desa 31. Dengan adanya beras dalam jumlah yang cukup.00 165. Secara keseluruhan.

03 74.76 212.82 199.5 261.34 280.4 172.8 234.93 133.21 123.36 259.69 206.46 177.07 110.87 126.15 121.07 101.1 212.19 205.29 247.79 132.64 96.81 200 191.41 128.87 133.35 178.19 245.56 144.87 178.19 88.49 215.38 222.36 107.69 288.05 76.83 Juni 66.54 134.59 132.62 223.46 239.49 121.19 90.06 253.88 130.01 140.36 285.74 132.42 320.32 97.18 144.5 252.24 125 125.12 157.65 117.33 125 125 125 134.15 125 122.78 142.3 179.83 130 137.95 134.08 75.48 109.81 121.73 221.25 184.73 162.5 169.38 217.77 135.58 89.15 205.6 179.04 74.OO 235.46 139.68 99.64 218.88 126.56 243.6 247.57 127.2 133.5 167.OG 125 125 125 135 133.57 190.42 131.84 229.7 211.8 201.58 187.32 85.36 253.16 321.87 125.31 210 208.1 315 363.91 262.39 .35 126.53 172.33 180 180.18 91.64 225 222.6 140./6 93.06 257.71 273.6 125 145 172.88 71.15 140.31 119.64 133.17 162.35 280 315 315 310.69 268.65 68.58 73.19 112.19 121.66 212.18 125 125 126.9 125 129.86 254.8 126.1 184.96 259.72 221.1 283.02 103.22 125.71 124.42 125 124.13 236.28 125.23 140.32 129.45 120.46 167.34 124.4 93.61 175.53 128.88 72.57 245.33 189.42 171.12 247.47 90 123.96 69 83.03 213.5 226.66 128.42 286.15 128.03 216.09 116.41 156.17 230.28 257.1 212.82 186.48 129.56 185 195.38 183.58 138.76 114.68 212.23 292.85 109.9'! 193.6 153.56 125.7 310.51 77.63 186.41 172.53 252 263.43 195.34 108.80 126.28 230.98 200 210.76 85.65 84.88 82.94 91.91 159.84 133.7 132.4 167.31 216.37 231.96 275 271.42 134.72 120.52 172.11 132.74 76.56 144.97 178.3 167.68 202.53 296.8 234.43 187.99 80.2 Nopember Dcsember Januari 77.99 120.23 195.41 202.37 224.59 267.42 242.64 224.71 128.22 88.33 175 179.1 95.78 184.61 180 194.85 184.83 110.22 90.88 96.92 319.96 165.15 217.6 116.36 97.92 178.01 76.94 214.79 146.71 126.48 120.59 111.6 189.06 85.17 108.56 228.98 104.12 139.13 125.83 198.42 215.51 183.69 109.55 159.25 120.98 120 145 172.53 141.36 277.46 127.04 295.21 172.62 334.52 207.15 204.41 Mei 77.63 124.31 127.6 Bulan Agustus September Oktober Nopember 76.62 302.18 125.18 85.03 122.04 211.08 92.03 124.12 101.3 181.78 125.63 280 303.08 124 124.64 120.17 132.36 232.81 212.48 124.87 206.5 172.04 313.71 236.22 234.99 122.32 297.56 215.62 270.48 220.31 ( lanjutan) Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 YOGYAK 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 SURABAY 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 MEDAN 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982'/1983 1983/1984 1) Angka sementara Kota April 66.35 322.03 209.69 111.11 134.87 111.87 225 304.5 279.86 128.04 209.9 88. 1974/1975 .3 117.78 86.97 136.72 107.32 299.7 179.93 241.2 114.76 200.93 128.72 185.57 252.6 300.5 143.6 187.74 224.83 75.8 77.6 220 226.96 232.94 283.22 109.6 85.9 127.57 165.53 120.6 208.46 81.63 96.05 Tabel VII.83 325.83 228.92 84.25 135 134.16 264.61 124 124.02 232.02 221.53 128.08 152.16 117.85 338.6 185.1:3 171.84 125.5 102.74 85.9 90.01 130.28 279.65 109.55 128.5 141.75 101.32 90.77 334.52 274.06 180.36 120.66 137.75 75.5 229.36 128.19 123.88 115.09 73.77 Pebruari 79.81 136.5 226 227.55 141.36 135.5 283.53 289.05 125.48 230.2 212.14 125.69 117.43 128.52 11 7.65 144.46 216.72 136.56 208.17 317.12 108.31 176.64 125.15 260 261 255.25 118.68 122.99 233.88 230.66 125 146.63 118.03 313.28 90.75 127.65 285.02 215.14 131.41 200.37 75 79.18 124.55 140.42 144.9 111.68 125.91 174.13 130.95 185.11 199.4 Mei 66.36 285.25 138.54 161.91 121.71 133.17 196.59 233.6 190 223.91 189.56 213.27 140.17 109.37 195.22 212.12 144.44 107.43 228.29 185.26 150 185 213.94 154.59 196.3 153.00 148.73 318.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.25 179.8 119.35 86.08 133.98 211.93 175.96 197.69 129.9 151).54 Juni 76.17 215.55 85.54 128.66 324.72 122.83 291.69 144.46 213.1 178.97 84.36 285.98 313.9 212.25 164.87 75.82 125 127.58 126.69 148.15 123.4 128.28 234.46 243.52 225.45 288.34 120.39 203.31 245.04 80.87 75.79 146.22 181.58 186.55 183.31 212.39 141.81 211.25 116.37 125.37 67.3 115.48 180.67 120 120 127.53 231.76 75.66 221.08 198.52 145.24 184.42 232.75 121.5 225 230.73 96.88 127.76 130.33 Juli 76.5 123.96 252.48 128.13 304.15 122.59 Bulan Agustus September Oktober 68.5 197.27 178.32 140.68 312.78 Maret 99.58 123.0(1 125.59 91.41 180 182.99 185.41 213.34 213.27 90.99 255.77 202.77 206.72 257.46 199.5 123.46 86.15 250.68 124.31 HARGA BERAS KUALITAS MENENGAH DI BEBERAPA KOTA BESAR.23 208.94 244.48 132.62 112.7 180.53 286.85 125.1983/1984 ( dalam rupiah per kilogram) April 84.37 107.21 74.71 198.01 181.96 125.39 111.64 184.81 201.72 146.288.51 207.02 129.18 231.13 202.66 145.87 77.2 211.36 113.43 124.79 Kota Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 JAKARTA 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 BANDUNG 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 SEMARANG 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{19H 1) Angka sementara Desember Januari Pebruari 90.15 74.78 202.16 128.52 119.63 217.14 213.34 194.59 134.88 139.86 285.9 140.2 135.6 125.97 111.78 218.02 137.91 135.91 194.27 169.38 230.18 118.71 122.79 123.98 290.79 102.06 125.13 209.02 129.66 203.15 181.4 Maret 80.61 127.77 95.28 213.26 180.19 243.12 124 126.5 132.67 233.59 127.29 301.47 129.26 169.85 206.58 234.56 188.96 281.28 133 150 185.88 230.9 124.86 119.07 128.2 178 182.81 115.92 139.9 189.1 75.75 207.32 190.48 241.29 283.28 128.12 125.78 139.42 87.9 225.19 274.63 256.19 139.98 115.98 123.2 132.51 280 300 Departemen Keuangan RI 184 .43 156.31 Juli 69.25 297.18 114.5 199.46 268.92 180.16 114.84 179.29 93.55 199.28 230.53 318.1 183 198.25 126.03 118.1 183.39 292.11 97.42 131.41 172.31 126.67 184.07 121.81 93.81 77.54 235.16 269.72 180.4 197.5 180 199.53 186.

13 179.5 277.46 242.47 132.38 129.72 178.4 96.41 97.22 356.33 170.1 182.2 130 131.61 226.39 160.83 242.07 225 270 Maret 105.46 125 148.6 180.74 208.03 100 95.44 142.37 211.91 312.01 109.79 239.31 221.47 242.5 89.99 227.5 186.12 164.15 225 276.66 239.58 298.46 97.75 125 127.64 206.60 126.94 155. Dalam hubungan ini maka dalam tahun 1983/1984 telah diimpor gandum sebanyak 1.06 151.77 200 206.69 Juni 115.91 246.65 147.56 119.77 142.58 134.59 142.82 131.45 158.44 90 120 109 125 156.58 118.1 297 106.98 250.73 .54 180 194.7 125.1 247.32 126.69 102.36 181.77 297.51 206.31 312.81 1) Angka sementara Dalam rangka penganekaragarnan konsumsi masyarakat agar tidak hanya tergantung pada beras.5 122.31 221.92 332. Sedangkan dalam hal SKPG.31 232.2 219.75 131.4 115 126 140 185 200 255 273.19 122. khususnya masyarakat petani produsen telah diarahkan untuk meningkatkan intensifikasi tanaman palawija di tanah kering dan penganekaragaman usaha pertanian dengan cara tumpangsari antara jenis tanaman kacangkacangan dengan sayur-sayuran.08 115 120 120 120 120.95 90. usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK).5 112.82 130.69 275.62 139.76 99.16 137.41 260.06 92.27 238.79 132. Dari jumlah impor gandum dalam tahun 1983/1984 tersebut.91 312.58 125.12 297.26 216. 89.5 125 125 110 110 110.6 Mei 112.92 11 7 .11 94.46 175.29 270 270 274.54 225 270 Juli 112. serta untuk meningkatkan gizi masyarakat.23 107. usaha-usaha khusus lainnya.34 187 209. fortifikasi bahan raTIgan.2 110.26 146.28 112.43 180.55 323.26 186.6 205.31 75 92.45 120 123.6 persen.722 ribu ton atau 10.66 297.47 147.53 124.68 183.4 89.69 168. Usaha-usaha lain yang telah dilakukan dalam rangka perbaikan gizi masyarakat antara lain ditempuh melalui penyuluhan.42 303.38 185 200 225 273.64 205.12 206.09 195 196.65 333.10 198.43 131.25 131.66 133.68 221.46 187.25 133.1 297 106.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.69 195 231.39 121.8 125 130.23 142.13 121.23 105.66 230.95 205. telah dilaksanakan pula pengadaan dan penyaluran tepung terigu yang bahan bakunya berupa gandum yang diperoleh dari impor..52 298.02 106.58 131. Selanjutnya kegiatan fortifikasi bahan pangan.25 132 155 201.99 132.31 316. 31 ( lanjutan) Bu1an Oktober Nopember Desember Januari Pebruari Agustus September 112.83 173.95 220.25 87.91 312.73 142.04: 142.21 145.39 157.1 152.77 173.92 130.25 94.19 183.21 133.05 100.96 186 216. masing-masing diwujudkan melalui peningkatan jumlah produksi garam beryodium. Upaya-upaya tersebut telah mulai dilaksanakan di daerah-daerah pemanduan Departemen Keuangan RI 185 .11 189.76 157.96 185.06 85.24 297. UPGK dan usaha-usaha khusus lainnya.48 242.6 Kota PALEMBANG BANJARMASIN UJUNG Tahun 1974{1975 19750976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1977 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1970{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 April 116.52 78.98 209.95 120.32 337. serta penanggulangan kekurangan vitamin A dan zat besi.79 318.85 139.1 139.87 184.26 105.05 127.53 142.19 230 226.61 215 215 231.36 152.68 131.12 335 334.25 200 200 202 206.66 256.99 229.07 125 121.33 77.13 130.5 115 119.78 111.67 273.91 145.87 95.34 151.42 130.39 133.31 221.91 121.25 103.6 115 113.32 106.43 242.29 130.5 149.25 88.08 126.11 294.71 164.09 226.95 113.2 265.08 299.65 299.23 146.91 268.17 205. pada akhir Pelita III telah dikembangkan suatu sistem untuk mencegah terjadinya krisis pangan yang antara lain sebagai akibat daripada bencana alam dan musim kering yang berkepanjangan.65 312.44 101.86 142.83 165 165 174.4 220.61 75 79.69 90.83 229.55 214.29 90 97.5 127.83 115.8 97.4 275 285.46 185.67 265.15 200 207.12 120 115 127.5 96 107.96 11 7 .2 275.41 185. perluasan jangkauan UPGK sampai ke pelosok tanah air.648 ribu ton atau sebesar 89.2 142.31 75 88.79 101.04 152.71 228 239. telah dapat disalurkan kepada masyarakat sebanyak 1.28 142.01 197. Dalam hal penyuluhan gizi.2 133.6 164.61 239.66 266.25 147.91 308. dan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG).04 225 229 234.86 141.2 134.05 215 229.557 ribu ton.25 134.91 242.67 128.2 181 185 185 180 180 182.04 183.88 106.51 205.11 140 185 206.1 118.75 121.92 83.13 152.31 89.08 217. dan ditambah lagi dengan sebanyak 118 ribu ton dari sisa stok tahun sebelumnya.03 185 190.8 120.19 242.99 92.62 191.25 239.1 297 106.24 349.27 242.2 247.14 132.6 persen lebih banyak dibandingkan dengan impor dalam tahun 1982/1983 yang sebanyak 1.2 132.31 293.34 151.33 142.

pelindung.1. yang meliputi peningkatan produksi hutan berupa kayu dan hasil hutan ikutan. Sasaran pembangunan di bidang kehutanan diharapkan dapat terwujud melalui peningkatan inventarisasi dan tataguna bulan.060 ribu hektar. serta sebagai penunjang peningkatan so sial. perlindungan. Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur. Karang Asem di Bali dan Boyolali di Jawa Tengah.5. maka sejak Pelita I sampai dengan Pelita III telah berhasil dibuat tatabatas kawasan hutan sepanjang 31. Sementara itu dalam rangka penataan batas kawasan hutan yang terdiri alas hutan lindung.400 kilometer. Dalam Repelita IV pembangunan di bidang kehutanan ditujukan dan dilaksanakan melalui Sapta Karya Pembangunan Kehutanan. masing-masing meliputi areal kawasan hutan seluas 5. serta pengawetan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. 1.726 lembar dengan skala 1:100. antara lain meliputi survai udara. Hal tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan keseimbangan dan kelestariannya. pencegah erosi. melalui pemulihan kemampuan dan produktivitas sumberdaya bulan. hutan pendidikan dan hutan penelitian.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 seperti Lombok Tengah di NTB. 7. Di samping itu juga dilakukan peningkatan bidang-bidang lain seperti penelitian dan pengembangan. serta sarana penunjang. pengawasan dan pendayagunaan aparatur. yang ditempuh melalui berbagai kegiatan antara lain meliputi pelestarian. pengatur tata air. pendidikan dan latihan.5 ribu hektar dan 36. reboisasi. Inventarisasi dan tataguna hutan Kegiatan di bidang inventarisasi hutan yang telah dicapai selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV.000. Dalam tahun 1983/1984. perlindungan dan pelestarian alam. harus dilindungi kelestariannya. Selain itu juga ditujukan pada pengusahaan sumberdaya bulan.3 persen dari seluruh panjang batas kawasan Departemen Keuangan RI 186 . tanah dan air yang kritis sehingga dapat memenuhi fungsinya secara maksimal sebagai produsen.029 ribu hektar. daD dimanfaatkan guna meningkatkan kesejahteraan rakyat secara optimal. pekalongan. penghijauan dan rehabilitasi lahan serta pengusahaan hutan. lapangan dan penggunaan jasa satelit.5. 7. Kehutanan Hutan sebagai sumber kekayaan alam dan merupakan salah satu unsur pertahanan nasional. kegiatan SKPG telah dikembangkan lagi ke daerah Lombok Timur. sehingga akan tetap bermanfaat bagi generasi yang akan datang. pengawet dan pelestari alam.977. Dari hasil survai tersebut telah diperoleh potret kawasan hutan sebanyak 22. Untuk itu terus dilakukan kegiatan rehabilitasi sumberdaya alam. Hasil kegiatan tersebut baru sebesar 21.

8 ribu hektar dan hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 24. Dari hasil TGHK tersebut telah dapat diidentifikasikan luas areal hutan di Indonesia sekitar 147 juta hektar.891.4 ribu hektar.905. 7. yang mencakup areal seluas 260. Sampai dengan bulan Juni 1984 telah dapat disusun dan diselesaikan pola tataguna hutan kesepakatan (TGHK) di 19 propinsi di luar pulau Jawa.317. Sejalan dengan kegiatan tersebut. juru gambar dan tenaga penafsir potret udara. juga telah berhasil dicapai pengukuhan dan penatagunaan hutan lindung seluas 24. sampai dengan bulan Juni 1984 telah dapat memenuhi semua kebutuhan peta dasarnya.4 ribu hektar. peta lalit. Sedangkan untuk kegiatan pendataan kehutanan yang meliputi pengumpulan data dan pengolahannya. peta geologi. Dalam waktu yang sarna. peta daerah aliran sungai (DAS) di 27 propinsi. pengolahan. Sebagai sarana penunjang telah dibangun balai inventarisasi dan pemetaan bulan. maka dalam tahun pertama Repelita IV telah dapat diwujudkan suatu sistem informasi yang dipusatkan pada suatu basis data dan sistem informasi. peta land-use. Dalam rangka pengelolaan hutan yang meliputi peningkatan pembinaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. sejak tahun 1981 sampai dengan bulan Juni 1984 telah dilaksanakan tatabatas dalam rangka pengukuhan areal reboisasi pada bekas tanah negara bebas. pengamanan dan penyimpanan data.5 ribu hektar. melalui pendidikan tenaga ukur.5. tenaga gambar dan tenaga penafsir potret udara. hutan suaka alam dan hutan wisata seluas 15. Jenis peta dasar yang telah selesai dibuat antara lain berupa peta topografi. peta TPC (Tactical Pilotage Chart).0 ribu hektar. 87 orang dan 176 orang. peta tanah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hutan yang diperkirakan sepanjang 147.000 kilometer. masing-masing telah berjumlah 604 orang.939. berikut sub balainya.2. peta JOG Qoint Operation Graffic Ground). masing-masing sebanyak 10 balai dan 31 sub balai. hutan produksi terbatas seluas 22.569. perlindungan hutan dan pelestarian alam Pada hakekatnya perlindungan hutan dan pelestarian alam dalam rangka konservasi Departemen Keuangan RI 187 . di samping juga akan memudahkan pelayanan. jumlah tenaga juru ukur. informasi dan menjaga konsistensi data. Sejak tahun 1981 sampai dengan bulan Agustus 1984. maka diperlukan adanya tataguna hutan. sehingga diharapkan tidak terjadi tumpang tindih dalam pengumpulan. Sementara itu pemetaan yang mempunyai peranan penting di bidang kehutanan. hutan produksi bebas seluas 25. Dalam rangka peningkatan penyempurnaan aparatur dan sarana penunjang telah dilakukan peningkatan aparatur pelaksana inventarisasi dan tataguna bulan.2 ribu hektar. peta ketinggian dan peta thematic.

antara lain ditempuh melalui inventarisasi dan identifikasi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar yang populasinya diancam kepunahan.784. suaka margasatwa seluas 4.4 ribu hektar. Selama Pelita III. taman baru seluas 326. Riau dan Sumatera Utara. Sejalan dengan kegiatan tersebut.4 ribu hektar. keanekaragaman dan keunikan jenis flora dan fauna.4 ribu hektar. Sedangkan konservasi di luar kawasan bulan. melalui penetapan 11 lokasi taman baru. monitoring dampak lingkungan serta kegiatan pengamanan hutan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sumberdaya alam dan lingkungan hidup. pengelolaan hutan lindung. di samping juga melalui kegiatan yang berorientasi pada masalah botani. serta keindahan alam. ditujukan untuk menjaga keberadaan plasma nutfah dan kelestarian potensi sumberdaya alam beserta ekosistemnya dari kemungkinan bahaya kerusakan dan penurunan. di mana 50 jenis di antaranya termasuk jenis satwa yang dilindungi. yang tersebar di 5 lokasi. dengan jumlah koleksi sebanyak 500 jenis satwa.1 juta hektar. Sedangkan upaya konservasinya dilakukan melalui pembinaan dan pengembangan taman nasional. penetapan sebanyak 521 jenis satwa dan 36 jenis flora yang dilindungi peraturan perundang-undangan. dan rusa di pulau Bawean. selain sebagai obyek olah raga dan wisata. yang selama Pelita III telah berhasil mencapai 16 lokasi Departemen Keuangan RI 188 . ditingkatkan pula pembinaan dan pengembangan kebun binatang dan oceanorium di 21 lokasi. gejala alam.8 ribu hektar. maka selama Pelita III telah dilakukan penunjukan atau penetapan suaka alam dan hutan wisata yang mencapai 12. pembinaan pencinta alam. serta pengamanan terhadap daerah pengungsian dan daerah perlindungan satwa baik di darat maupun di laut. Konservasi kawasan hutan antara lain ditempuh melalui kegiatan pengalokasian. antara lain telah dilakukan studi dan inventarisasi flora dan fauna di 20 lokasi yang mencakup kawasan seluas 2. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap populasi jenis satwa langka. antara lain meliputi pengembangan taman nasional. pengelolaan dan pembinaan hutan suaka alam. dan taman laut seluas 8. gajah di pinggiran Air Sugihan (Sumatera Selatan).2 ribu hektar dan tersebar pada 306 lokasi diseluruh Indonesia. burung jalak di Bali Barat. taman wisata seluas 172. serta inventarisasi sebanyak 20 jenis kekayaan laut. Usaha perlindungan hutan dan pelestarian alam dilaksanakan melalui beberapa kelompok kegiatan. baik di daratan maupun di perairan. baik kualitas maupun kuantitasnya. maka telah ditingkatkan penertiban perburuan. sumber plasma nutfah. Suaka alam dan hutan wisata tersebut terdiri atas hutan cagar alam seluas 6.784.076. Dalam rangka menunjang pelestarian jenis-jenis satwa yang tidak dilindungi. pembinaan wisata alam.3 hektar. burung muho di Sulawesi Utara. hutan wisata dan taman nasional sebagai model ekosistem. Guna menunjang berbagai kegiatan tersebut. antara lain berupa rehabilitasi orang hutan di Tanjung Puting (Kalimantan Tengah) dan Bahorok (Sumatera Utara).

gunung Baluran dan pulau Komodo.688. gunung MeruBetiri. yang berasal dari berbagai jenis satwa liar sebanyak 1. bimbingan dan pendidikan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap wisata alam. antara lain dengan dipekerjakannya sebanyak 7. pembinaan terhadap pencinta alam juga dilaksanakan dan ditingkatkan. bertepatan dengan Kongres Taman Nasional Sedunia ke III di Bali. 5 lokasi di antaranya telah ditetapkan pada tanggal16 Maret 1980 bertepatan dengan dicanangkannya World Conservation Strategy. yaitu dari 118.934.626. Dan kegiatan yang telah dilakukan tersebut. berarti masing-masing telah meningkat sebesar 21. Ujung Kulon. serta Lore Lindu-Manusela telah ditetapkan pada tanggal14 Oktober 1982. gunung Seblat.434 hektar.884.3. Dumoga Bone.3 ribu yang berasal dari 1. Bila dibandingkan dengan tahun 1982/1983 dengan nilai ekspor sebesar US $ 4.5 persen dan 36. kebakaran hutan dan penggembalaan ternak secara liar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan luas areal seluruhnya 4.400 hektar menjadi 186. Di samping kegiatan-kegiatan tersebut. Oleh karena itu dalam tahun 1983/1984 berbagai usaha penunjang telah dilaksanakan. Kepulauan Seribu.432 orang petugas lapangan penghijauan dan reboisasi.300 hektar (Tabel VII. penghijauan dan rehabilitasi lahan Dalam rangka pelaksanaan program penyelamatan hutan. Dalam rangka pembinaan populasi satwa liar. Bali Barat. yaitu di gunung Leuser. Hal ini dimaksudkan untuk mengimbangi kerusakan kawasan hutan sebagai akibat dari perladangan berpindah.5 ribu hektar.32). Sumbangan devisa dari ekspor satwa liar dalam tahun 1983/1984 mencapai US $5. maka dalam rangka reboisasi lahan kritis juga telah dilakukan persiapan-persiapan kearah pembangunan Departemen Keuangan RI 189 .2 ribu ekor. Dalam pada itu sejalan dengan upaya-upaya dalam bidang perlindungan hutan dan pelestarian alam. selain dilakukan usaha pemanfaatan juga tetap diperhatikan kelestariannya melalui pengurangan populasi yang telah melampaui keseimbangan ekosistemnya. hasil reboisasi dalam tahun 1983/1984 telah meningkat sebesar 57. serta 169 orang petugas khusus penghijauan. yaitu di gunung Kerinci.5. Reboisasi.3 ribu. Tanjung Puling.234.8 persen. Untuk itu selama Pelita III telah diadakan penyuluhan. gunung Tengger-Semeru.3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. penghijauan dan rehabilitasi lahan. Bukit Barisan Selatan. maka setiap tahunnya terus ditingkatkan kegiatan di bidang reboisasi. daerah Kutai. tanah dan air. Dari 16lokasi tersebut. gunung Gede-Pangrango. baik untuk kepentingan konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. Sedangkan 11 lokasi lainnya. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 realisasinya telah mencapai 75.1 ribu ekor. penggarapan lahan yang keliru. 7.

Sedangkan melalui metoda vegetatif telah berhasil dibuat kebun rakyat seluas 1. dan dengan metoda vegetatif yang antara lain dilakukan melalui pembuatan kebun-kebun rakyat. maka selama Pelita III realisasi kegiatan penghijauan secara keseluruhan telah meningkat sebesar 44.262 kepala keluarga (KK). yang kemudian ditingkatkan lagi dalam tahun 1983/1984 menjadi 7. sampai dengan tahun 1982/1983 telah dilaksanakan pemukiman kembali terhadap para peladang berpindah sebanyak 6. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni I 1984 juga telah berhasil dilakukan penghijauan seluas 311. yaitu kegiatan yang dikaitkan dengan pernbangunan irigasi. pembuatan beras dan saluran air seluas 184. Selama Pelita III.753 unit yang masing-masing luasnya antara 10 sampai 20 hektar. maka dilakukan upaya pemukiman kembali bagi para peladang berpindah untuk mencegah rusaknya sumberdaya alam berupa hutan. serta penyuluhan guna peningkatan partisiposi masyarakat dalam pemeliharaan kelestarian sumberdaya alam.000 hektar.600 hektar.613. menjadi 525. Dari hasil-hasil yang telah dicapai tersebut. seperti halnya reboisasi dilakukan melalui dana Inpres bantuan penghijauan dan reboisasi.500 hektar.210 KK. melalui metoda sipil teknis telah berhasil clibangun sebanyak 2.6 ribu hektar. Sumatera Selatan. Di samping itu dilakukan juga pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu. antara lain berupa studi-studi dan penyiapan rencana pengembangannya pada areal seluas 720. Pusat Pemulihan Pohon di Yogyakarta dan Unit Pengembangan Teknologi Persemaian di Benahat. Sehubungan dengan itu. yaitu dari rata-rata seluas 364.400 hektar per tahun. Dalam rangka kegiatan rehabilitasi lahan. yang pelaksanaannya dilakukan baik di dalam maupun di luar kawasan hutan.2 persen bila dibandingkan dengan Pelita II. antara lain telah dilakukan pengembangan teknologi benih dan pemulihan jenis pohon. selama Pelita III telah dibangun somber benih seluas 4. yang sarna dengan luas kawasan penghijauan seluas 579.360 hektar per tahun. Dalam hubungan ini. Dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut dilakukan melalui metoda sipil teknis. dan untuk menunjang kegiatan tersebut telah dibangun Pusat Teknologi Benih di Bogor.576 hektar. Sejak tahun 1976/1977 kegiatan penghijauan. serta pembuatan petak percontohan penghijauan sebanyak 2.390 unit checkdam. Departemen Keuangan RI 190 . Sedangkan dalam rangka pengembangan dan pembenihan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hutan jenis kayu indah dan langka.000 hektar. yang tersebar di 15 propinsi.

219.100 501.991 578.400 558.400 186.000 179. 33 PENGUSAHAAN HUTAN SAMPAI DENGAN MARET 1984 1) Jenis dan sifat usaha 1.7 126.6 Investasi ( US$ juta) 1.5 juta (Tabel VII.434 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.315 22.578 98.9 7. sampai dengan akhir bulan Maret 1984 telah dilakukan pengusahaan hutan sebanyak 520 unit dengan areal konsesi seluas 52.5.855 104.0 52.4.219.000 311.000 Reboisasi 33.999.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. 1969 .900 378.1 2.600 610. Pengusahaan hutan Berdasarkan tataguna hutan kesepakatan luas kawasan hutan produksi di Indonesia adalah sekitar 70 juta hektar.681 102.543 204.682 89.650 53.Peruasahaah dalam rangka PMA Jumlah perusahaan yang telah memperoleh HPH 1) Angka sementara Jumlah (unit) 457 61 2 520 Luas areal (ribu ha) 45.Perusahaan patungan 3. Dalam hubungan ini.658 170.33).000 118.623 302.259 107.118 35.032.3 8. Apabila ditinjau dari status dan sumber permodalannya.Perusahaan yang merupakan usaha nasional 2.500 149.697 632.9 juta hektar dan investasi yang ditanam senilai US $ 2. yang pengusahaannya di luar Jawa selain dilakukan oleh Perum Perhutani juga dilaksanakan oleh pemegang hak pengusahaan hutan (HPH).1 240.300 1) 75.840. dari 520 Departemen Keuangan RI 191 .148 276.402 50.174 35.5 7.700 147.1984 ( dalam hektar ) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 2) Penghijauan 149. 32 AREAL PENGHIJAUAN DAN REBOISASI.971.544 213.689 665.802 70.

488 75.065 19.490 25.7 1975 595 15. serta 0.701 16.256 20.613 68. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Maret 1984.9 849. yang terdiri atas 754 ribu meterkubik kayu rimba dan 450 ribu meterkubik kayu jati.5 583.6 1983 1) 716 8. Walaupun produksi kayu da\am tahun 1983 telah menurun.660 23.738 10.015 ribu meter kubik.204 meterkubik.0 juta hektar dan investasi senilai US $ 1.70 1979 575 24.968 13.280 18.4 230.786.3 385 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 192 .980 ribu meterkubik senilai US $ 849.1 juta hektar dan US $ 8.366 22.448 79.60 1980 500 21.2 1.3 26 1970 568 11.4 persen.702 6.805. Dalam tahun 1982 volume dan nilai ekspor kayu yang terdiri atas kayu rimba dan kayu jati baru sebanyak 5.70 1981 578 15. sebanyak 457 unit di antaranya adalah perusahaan nasional dengan areal pengusahaan seluas 45.120 17.717 13. Luas areal hutan dan besarnya investasi yang ditanam oleh kedua jenis perusahaan tersebut masingmasing adalah 7. produksinya telah mencapai sebesar 1.124 25.4 1978 475 25.2 1.986 9.323 13.412 59. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 6.3 961.376 15.424 7.8 juta hektar dan US $ 240. Hal tersebut disebabkan terutama karena adanya kebijaksanaan untuk mengurangi secara bertahap ekspor kayu bulat guna lebih mendorong industri pengolahan kayu dalam negeri.986 ribu meter kubik kayu rimba.9 1.8 1.4 783.262 65.740 14.008. Jumlah tersebut apabila dibandingkan dengan tahun 1982 yang telah mencapai sebesar 13.240 21.3 168. Sedangkan selebihnya sebanyak 61 unit merupakan perusahaan patungan dan 2 unit lagi berupa penisahaan asing dalam rangka PMA. berarti mengalami penurunan sebesar 3.107 3.4 501. dan 716 ribu meterkubik kayu jati. 1969 .980 45.939 19.8 1977 573 22.3 juta. hasil produksi kayu dalam tahun 1983 berjumlah sebesar 9.2 891.1984 Produksi (ribu m3) Ekspor Volume % Nilai Kayu Kayu jati rimba Tahun J umIah (ribu m3 produksi (US$juta) 1969 520 7.1 juta.2 725.800 19.856 12.921 85.123 76.613 ribu meterkubik senilai US $ 891.313 ribu meterkubik atau sebesar 25.781 26.587 8.3 juta. Sejalan dengan pengaturan melalui HPH.6 100.6 1976 480 20.596 44.806 86.427 18.40 1982 692 12.947 21. Tabel VII.954 8.971.981 78.702 ribu meterkubik yang terdiri atas 8.296 13.425 52.015 5.9 1974 620 22.521 86. namun hasil volume dan nilai ekspornya telah meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.327 65.760 78.6 1972 597 17. 34 PRODUKSI DAN EKSPOR KAYU.204 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 unit perusahaan yang telah memperoleh HPH tersebut.3 1984 2) 450 754 1.035.6 1971 770 12.1 juta.7 1973 676 25.6 juta.610 74.

8 0. Sebagaimana terlihat Facia Tabel VII.7 5.7 1.3 1. Departemen Keuangan RI 193 .4 13.1 0.4 1. 2.9 4 2.7 2 1.9 2.2 persen menjadi 14.9 5.8 14.1 10. perkembangan volume dan nilai ekspor kayu dapat diikuti melalui Tabel VII.8 1.2 0. 1.7 1972 62.2 0.7 10.7 1973 58 1974 64.6 persen.2 0.9 persen.9 6 3 2. 35 JENIS-JENIS KAYU DALAM PERSENTASE DARIPADA VOLUME EKSPOR KAYU.6 0.5 3. 1970 .2 1. 35.8 11.6 21 19. yang sampai dengan bulan Maret 1984 jumlahnya telah mencapai 412 unit dengan kapositas produksi sebanyak 11.7 0.7 persen dan 0. Sedangkan jumlah industri kayu lapis. agatbis.5 Jumlah 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Hal ini berarti telah terjadi peningkatan volume dan nilai ekspor masing-masing sebesar 10.8 2.9 persen.s 5. pulai dan jati.9 13.6 14.4 0.8 3. sejak lima tahun terakhir jenis kayu meranti merupakan bagian terbesar dalam komposisi ekspor kayu Indonesia.5 Tahun Meranti 1970 68.7 10. dalam waktu yang sarna telah berjumiah sebanyak 162 unit dengan kapositas produksi sebanyak 8.6 21.8 5 6 6.9 10 10.9 juta meterkubik. ramin.7 13 14.9 1.4 0.9 3. agatbis dan jati peranannya telah meningkat masingmasing dari 3.2 0.1 1.2 1 2.7 Jati 0.34.3 0.2 persen dalam tahun 1983.2 14. beberapa jenis kayu dari Indonesia cukup dikenal dan mempunyai posaran yang mantap di luar negeri. Jenis kayu tersebut antara lain adalah kayu meranti.9 8. Demikian pula jenis kayu ramin.3 0.9 8. antara lain telah dilakukan diversifikasi komoditi dan pemasarannya melalui pengembangan pemasaran ekspor hasil olahan/industri dan perluasan negara tujuan ekspor.2 2.5 1977 63.6 persen dan 4.1 22. Walaupun jenis-jenis kayu tersebut pemasarannya ke luar negeri telah mantap.3 10. yaitu dari 58.6 0.8 Pulai Lain-lain 13.7 2.3 1975 68 1976 64.2 1) Angka sementara Ramin 9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.7 19831) 70.9 persen dan 0.1 1982 56.4 1978 66 1979 58. Akibat positif daripada kebijaksanaan tersebut ditandai dengan berkembangnya industri kayu gergajian dan kayu lapis di dalam negeri.8 persen.6 23.2 10.9 0.2 26.2 0.5 3. namun beberapa jenis kayu lainnya masih harus dikembangkan dan dipromosikan agar dapat memasuki posaran dunia.1983 Kapur/ keruing 1.0 juta meterkubik.1 6.1 0.4 11.7 1.5 1971 62.4 4.8 2. kruing.6 Aglutis 5.6 11.9 persen dalam tahun 1979 meningkat menjadi 70. Dilihat dari sudut permintaan.7 2.4 11.9 1.8 1981 54.3 0.9 1980 57. Oleh karena itu guna mencegah kemungkinan melemahnya ekspor kayu di posaran internasional.

6 juta barrel.9 juta barrel minyak mentah. peranan bidang pertambangan dan energi masih tetap besar dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia. maka perkembangan produksi minyak bumi menjadi kurang Departemen Keuangan RI 194 . Selama Pelita III. dan selebihnya sebanyak 39. juga ditujukan untuk penganekaragaman hasil-hasil pertambangan.1. Sampai dengan tahun terakhir Pelita III telah dapat diselesaikan perluasan kilang minyak Cilacap serta pembangunan unit hydro cracker di Dumai dan di Balikpapan dalam rangka pemehuhan BBM dalam negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. LNG dan LPG (liquified petroleum gas). Pertambangan dan energi Selama Pelita III. 7. perkembangan yang paling menonjol di sektor pertambangan antara lain ditandai oleh keberhasilan dalam meningkatkan produksi batu bara. Sehubungan dengan itu telah dilakukan upaya-upaya antara lain berupa pengembangan inventarisasi dan eksploitasi berbagai sumberdaya mineral dan energi.7 persen apabila dibandingkan dengan produksi tahun keempat Pelita III yang berjumlah 459. yang terdiri dari 477. baik untuk keperluan ekspor maupun guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri di dalam negeri.6. Perekonomian dunia yang tidak menentu bagi Indonesia merupakan hambatan utama dalam mencapai peningkatan produksi bahan-bahan tambang utama. serta pengembangan teknologi pertambangan yang mencakup pula pengolahannya. khususnya di sektor minyak dan gas bumi. Namun demikian produksi beberapa bahan tambang masih menunjukkan peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II. Dengan melemahnya posaran minyak dunia akhir-akhir ini dan pembatasan produksi yang disepakati oleh para anggota OPEC sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan tingkat harga yang kini berlaku. sebagai langkah persiapan menuju pengembangan dan pemanfaatan batU bara secara besar-besaran di masa datang.6. Dengan hasil-hasil terse but Indonesia telah dapat mengurangi ketergantungannya terhaclap impor bahan bakar minyak (BBM). di sam ping perluasan kilang LNG (liquified natural gas) Arun dan kilang LNG Badak. Minyak dan gas bumi Hasil produksi minyak bumi dalam tahun kelima Pelita III mencapai 517.0 juta barrel. Upaya-upaya tersebut selain dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan dan peningkatan produksi. yang tercermin dari pembatasan produksi minyak bumi sebagaimana telah disepakati oleh negara-negara penghasil minyak OPEC dan pernbatasan ekspor timah dari Dewan Timah Internasional terhadap anggota-anggotanya. Jumlah terse but menunjukkan peningkatan sebesar 12.7 juta barrel berupa kondensat. walaupun dalam kurun waktu tersebut hampir seluruh komoditi tambang yang diekspor mengalami kesulitan pemasaran.

Kegiatan eksplorasi yang dilaksanakan dari tahun ke tahun telah memperlihatkan hasil yang meningkat. atau 2 juta barrel lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun Departemen Keuangan RI 195 . dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan menurun hila dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II. Dengan demikian secara keseluruhan produksi pengilangan minyak bumi dalam tahun terakhir Pelita III telah mencapai 198 juta barrel. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka ditempuh kebijaksanaan untuk meningkatkan eksplorasi.9 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang baru mencapai sebanyak 336. Melawai Timur dan Sumatera Selatan. yang terdiri alas 237 juta barrel minyak mentah dan 22 juta barrel kondensat. Adapun produksi minyak bumi dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sekitar 259 juta barrel. Sedangkan volume ekspornya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sekitar 215 juta barrel. Sementara itu meningkatnya kebutUhan terhadap BBM dalam negeri telah diimbangi dengan pengadaan dan peningkatan produksi BBM yang berasal dari kilang minyak dalam negeri. Perubahan situasi posaran minyak bumi internasional yang terjadi selama Pelita III. Dengan ditingkatkannya kapositas pengilangan di dalam negeri tersebUt. Di samping itu juga dilakukan pembangunan unit hydrocracker kilang Dumai. maka dalam tahun terakhir Pelita III telah berhasil dilakukan survai seismik sepanjang 56.1 juta barrel atau sebesar 22.000 kilometer lintasan. Realisasi ekspor minyak bumi Indonesia selama Pelita III. Selanjutnya dari jumlah BBM hasil kilang dalam negeri terse but telah diposarkan untuk keperluan di dalam negeri sebanyak 161 juta barrel.1 juta barrel (Tabel VII. Dalam hubungan ini selama Pelita III khususnya dalam tahun 1983/1984 telah ditingkatkan kapositas pengilangan minyak di kilang Balikpapan dan Cilacap. Jika dalam tahun terakhir Pelita II baru dilaksanakan survai seismik sepanjang 21. Dalam tahun 1983 telah dilakukan eksplorasi terhadap 4 lokasi baru yang meliputi daerah Riau. antara lain dengan menggiatkan survai selsmik dan pemboran sumur minyak.944 kilometer lintasan dan pemboran sumur minyak sebanyak 250 sumur. Volume ekspor minyak bumi dan hasil minyak dalam tahun 1983/1984 telah mencapai sebanyak 413. Melawai Barat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menggembirakan. kecuali tahun terakhir Pelita III yang sedikit meningkat. selain berpengaruh terhadap produksi minyak bumi juga menghambat usaha peningkatan ekspor. maka produksi minyak bumi yang telah dapat diolah dalam tahun 1983/1984 mencapai 99 juta barrel atau 10 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. dan pemboran sebanyak 141 sumur minyak. yang terdiri atas 99 iuta barrel hasil kilang dalam negeri dan sebanyak 99 juta barrel dari hasil kilang luar negeri (Tabel VII. yang dapat mengolah bahan residu berkadar belerang rendah. dengan kapositas 85 ribu barrel per hari.37). masing-masing sebanyak 200 ribu barrel per hari.36).

1 198. Perkembangan produksi dan pemanfaatan gas bumi sampai dengan tahun 1983/1984 dapat diikuti melalui Tabel VII.1 Departemen Keuangan RI 196 .1 38.0 Persentase kenaikan 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/19841) 1) Angka sementara – 13.100 milyar kakikubik dan 932 milyar kakikubik.2 persen dan 76.3 – 3. Apabila dibandingkan dengan produksi dan pemanfaatan dalam tahun 1982/1983 yang masing-masing berjumlah 1.1 103.5 117. 37 VOLUME PENGILANGAN MINYAKMENTAH.2. Sedangkan apabila dibandingkan dengan produksi dan pemanfaatan gas bumi dalam tahun terakhir Pelita II yang masing-masing baru mencapai 868.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sebelumnya.1 . pembuatan pupuk urea.1 8.0 23.9 191. gas bumi tetap dapat ditingkatkan produksinya selama Pelita III.8 116. 1969/1970 -1983/1984 ( dalam juta barrel ) Tahun Minyak mentah yang diolah ( in-take) 75. maka terdapat kenaikan sebesar 47.2 milyar 'kakikubik dan 650.6 – 4.3 0.38.0 93.4 2.0 128. energi pengganti BBM bagi kilang minyak dan pabrik semen Cibinong. Peningkatan pemanfaatan gas bumi tersebut antara lain disebabkan karena adanya peningkatan pemanfaatan gas bumi untuk LNG.6 milyar kakikubik.5 8.6 25.6 persen. Produksi gas bumi dalam tahun 1983/1984 mencapai sebanyak 1.0 189. maka berarti telah terjadi peningkatan masing-masing sebesar 16.6 161.9 persen.9 115. Berbeda dengan minyak bumi. Tabel VII.2 persen dan 20.0 183.8 86.3 10. dan yang telah dimanfaatkan adalah sebanyak 1.278 milyar kakikubik.0 1. serta bagi perusahaan gas negara (PGN) di kota Jakarta dan Bogor.10.5 persen.123 milyar kakikubik atau 87.3 158.2 195.3 .

2 25.2 24. 1969/1970 -1983/1984 (dalam ribu ton) Bijih 17.0 juta ton sarna dengan sebanyak 569.4 juta ton sarna dengan 485.6 24.4 633.1 868.3 32.8 juta MMBTU.5 24.1 20.6 27.3 juta MMBTU.8 27.9 33 25.2 1.7 650.1983/1984 ( milyar kaki kubik ) Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1) 1983/1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Produksi 206.7 25 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1) 1) Angka sementara Produksi LNG di Indonesia baru mulai dilakukan sejak Pelita II.0 Pemanfaatan 78.8 23.9 25.0 1.4 17.0 .2 persen dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang berjumlah 9.5 21.8 932. maka dalam tahun Departemen Keuangan RI 197 .3 25.6 35. 1974/1975 .136. Tahun Tabe1 VII. 39 PRODUKSI DAN EKSPOR TIMAH.1 914.6 20.5 22. yakni di LNG Plant Badak dan LNG Plant Arun. Dalam tahun 1983/1984.3 28. Produksi Logam timah 14.8 15 18.2 1.7 21 23.1 23.123.2 31.2 239.100.2 33 30. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 17.2 33. jumlah produksi LNG telah mencapai 11.1 20.5 25.2 1.1 813.4 31.028.1 juta MMBTU.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.2 27.2 344.9 19.6 795.0 1.2 148. Apabila dalam tahun 1982/1983 baru diekspor sebanyak 477. Sejalan dengan meningkatnya produksi LNG tersebut.042.3 26.8 Ekspor 16.278. 38 PRODUKSI DAN PEMANFAATAN GAS BUMI.4 85.7 26.4 30.8 1.4 19.4.1 366. maka ekspor LNG yang telah dimulai sejak tahun 1977 juga terus menunjukkan peningkatan.

997 juta. yaitu apabila dalam tahun 1982/1983 berjumlah sebanyak 897.566 juta. sampai dengan tahun terakhir Pelita III terus mengalami peningkatan. volume ekspor LPG telah menurun sebesar 1. maka dalam tahun 1983/1984 menjadi sebanyak 25. Di lain pihak nilai ekspornya telah menunjukkan peningkatan.2. 7.7 ribu ton senilai US $ 15. Nikel Jumlah ekspor hasil tambang nikel selama 2 tahun terakhir Pelita III berturut-turut mengalami penurunan. Sungai Gerong.4 ribu ton bijih . Produksi LPG dalam tahun 1983/1984 meneapai sebanyak 514.timah dan 25.1 persen.2 ton dan 406.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1983/1984 telah meneapai sebanyak 555. maka dalam tahun 1983/1984 telah turun menjadi 810.952 metrik ton dalam tahun 1983/1984. Timah Hasil produksi timah dalam tahun 1982/1983 meneapai sebanyak 33.7 ribu ton senilai US $ 351. Lex Plant Union Oil Samail di Kalimantan Timur dan LPG Plant Areo di J awa Barat.870 juta. Penurunan tersebut disebabkan karena berkurangnya jumlah permintaan nikel di posaran dunia.834 metrik ton.198 metrik ton atau 5.0 p_rsen.6.8 ribu ton logam timah. Dalam waktu yang sarna. atau suatu peningkatan sebesar 25.39. 7.5 juta MMBTU yang berarti terjadi peningkatan sebesar 16.0 ribu ton bijih timah dan 30. yaitu dari US $ 86.3 persen.559 metrik ton dalarn tahun 1982/1983 menjadi sebesar 456. LPG Plant Rantau di Sumatera Utara. serta pembatasan kuota ekspor yang dikenakan oleh Dewan Timah Internasional kepada negara-negara pengekspor timah.6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang berjumlah 486. yaitu jika dalam tahun 1982/1983 meneapai sebanyak 27. Penumoan tersebut antara lain disebabkan oleh adanya kemerosotan harga timah di posaran internasional. yaitu dari sebesar 461. Perkembangan produksi dan ekspor logam timah dapat dilihat pada Tabel VII. Adapun volume ekspor tin:ah dalam 2 tahun yang sarna juga mengalami penurunan.505 juta.3. Departemen Keuangan RI 198 .2 ribu ton logam timah.6.1 ton.5 ribu ton senilai US $ 19. Dalam tahun 1983/1984 terjadi penurunan produksi menjadi sebanyak 25. Sedangkan penjualan logam timah di dalam negeri dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/ 1984 masing-masing meneapai sebanyak 464.1 juta dalarn tahun 1983/1984. kesulitan pemasaran di luar negeri. Mundu di Cirebon.0 ribu ton senilai US $ 309. Produksi LPG yang berasal dari kilang minyak Plaju.4 juta dalam tahun 1982/1983 menjadi US $ 108.

40 PRODUKSI DAN EKSPOR BIJIH NIKEL.1 176.207.316.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.4 764.9 781.6 924.9 188.7 125.5 830.8 Departemen Keuangan RI 199 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.6 167.1 184.8 187.4 1.7 211. 41 PRODUKSI DAN EKSPOR KONSENTRAT TEMBAGA.0 538.5 225.6 Ekspor 232.5 178.1983/1984 (dalam ribu ton kering) Tahun 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Produksi 9.6 202.5 989.2 707.6 924.0 853.0 887.7 1.3 223.8 220.7 737.4 853.192.1 751.3 189.3 114.3 197.0 850..7 Ekspor 8.7 1.5 1) 810. 1969/1970 -1983/1984 (dalam ribu ton) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971 /1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) Produksi 311.2 194.6 201.238.9 212.5 897.5 830.4 1.6 209.2 216.5 830.2 207.2 707.2 1.4 1) 199.177. 1972/1973 .0 689.0 887.0 971.6 1.778.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.4 12. 1970/1971 .7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1) Angka sementara Jumlah feronikel yang diekspor dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 masingmasing mencapai sebanyak 4.4 ribu.5 256 267.5 35.1 276.6 321.7 17.469 juta.2 145.5 10.7 1) 122.2 283.2 14. Perkembangan jumlah produksi dan ekspor konsentrat tembaga dapat dilihat pada Tabel VII.2 237. Dalam tahun 1982/1983 telah di ekspor nikel matte sebanyak 15.130 juta.1 ton senilai US $ 23. dari dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi sebanyak 225.7 317. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlahnya mengalami penurunan menjadi sebanyak 199.274 juta dan 4.7 276.4 196.3 105.2 78.1 ton senilai US $ 21.6 290.2 456.5 68.9 171.876 ton senilai US $100.5 614.1 35. 42 PRODUKSI DAN EKSPOR P ASIR BESI. Namun dalam tahun 1983/1984 menurun menjadi sebanyak 202.8 177.923. 7.4.3 34.8 298.2 346.41. dan kemudian dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi sebanyak 211. Perkembangan jumlah produksi dan ekspor bijih nikel dapat dilihat dalam Tabel VII. dan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 22.248.6 18.7 ribu ton.6 204 183.3 329.2 -10 -17.6. Adapun jumlah ekspornya dalam tahun 1981/1982 telah mencapai sebanyak 209.9 291.6 ribu ton senilai US $ 114.5 9.3 376.2 299.2 21.9 -10.443 ton senilai US $ 42.5 ribu. Tembaga Produksi tembaga dalam tahun 1981/1982 telah mencapai 197.4 ribu ton.40.001 juta.6 3 4.2 66. 43 PRODUKSI BATU BARA.7 349.7 ribu ton senilai US $130.536 juta.5 ribu ton.3 12 Tabel VII.624. Departemen Keuangan RI 200 .6 135.935.1 Ekspor 242.6 Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/19841) Produksi 176 175.8 ribu ton senilai US $ 130.2 120.4 23.1 25.3 248.6 348. 1969/1970 ( dalam ribu ton) Persentase kenaikan -0.1983/1984 ( dalam ribu ton) Tahun 1970/1971 1971 /1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) Produksi 53.

7 1973/1974 8. 1969/1970 . maka sebagian daripada produksi batu bara tersebut telah pula diekspor.4 3.3 288.1 ribu dan 12.2 1983/1984 1) 265.41) 1981/1982 1.7 1982/1983 262.9 1982/1983 3.5 ribu ton atau 133.3 1974/1975 6. dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi 129.4 1979/1980 1.2 398 1977/19'18 252. jumlah ekspor batu bara Indonesia mencapai sebanyak 283.1 3.4 1973/1974 327. Sedangkan pengembangan cadangan pasir besi di daerah pantai selatan Yogyakarta masih terbatas dalam studi kelayakan.2 2.3 250. sedangkan dalam tahun 1983/1984 mengalami penurunan menjadi 122. Departemen Keuangan RI 201 .5.7 persen dibandingkan dengan produksi tahun 1982/1983 yang baru mencapai 456. Pasir besi Penambangan pasir besi sejak 1 Maret 1982 hanya dilakukan di daerah Cilacap.8 7.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 7.6.5 ribu ton.42.43.5 1975/1976 321.3 ribu ton.2 1980/1981 224.1983/1984 (dalam ton) Tahun Produksi Penjualan Ekspor 1969/1970 10.9 persen bila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru mencapai 121.0 ribu ton senilai US $ 119.1 ribu ton.3 2.2 0. 45 PRODUKSI.1983/1984 (dalam kilogram) Tahun Produksi Penjualan 1969/1970 261 1970/1971 255.9 ribu ton.3 269 1978/1979 220. Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di dalam negeri.3 1 1976/1977 3.2 ribu ton atau 34. 44 PRODUKSI DAN PENJUALAN DALAM NEGERI LOGAM 1969/1970 .8 1. Tabel VII. karena daerah penambangan di daerah Pelabuhan Ratu telah habis cadangannya. PENJUALAN DALAM NEGERI DAN EKSPOR LOGAM PERAK.1 2. Hasil produksi pasir besi yang dalam tahun 1981/1982 sebanyak 105. yang berarti peningkatan sebanyak 158.8 3.1 1978/1979 2.5 290 1976/1977 349.8 1980/1981 2. dan sedang dilakukan penelitian lanjutan guna mencari metode pemrosesan lainnya dalam rangka pemanfaatan pasir besi Yogyakarta menjadi bahan baku bagi pabrik besi baja PT Krakatau Steel. yang berarti suatu kenaikan sebanyak 162.4 186. Batu bara Dalam tahun 1983/1984 produksi batu bara berjumlah 614. Dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 telah diekspor masing-masing sebanyak 10.6 ribu ton.7 1.1 1981/1982 172.2 1971/1972 8.6.9 ribu. Dalam tahun 1983.1 4 1975/1976 4.6 6.6 170.1 261 I) Angka sementara T a bel VII.9 1979/1980 197.1 2.5 1970/1971 9.4 1971/U)72 343.4 1972/1973 332.9 1.1 1972/1973 9.7 246.8 ribu ton.3 324 1974/1975 260 262.9 1977/1978 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.6.7 ribu ton.4 251.9 I) 1983/1984 1. Perkembanganjumlah produksi dan ekspor pasir besi dapat dilihat pada Tabel VII.3 ribu ton senilai US $ 123. Perkembangan produksi batu bara dapat dilihat pada Tabel VII.2 2.

Sedangkan produksi dan penjualan logam perak dalam tahun 1983/1984 masing-masing meneapai 1.2 ribu ton. sedangkan dalam tahun 1983/1984 masing-masing telah meningkat menjadi sebanyak 841. Sementara itu penambangan di pulau Angkut telah dihentikan karena cadangan bauksitnya telah habis. 7.1 kilogram dan 261.4 persen untuk penjualannya hila dibandingkan dengan tahun 1982/1983. yang terutama disebabkan karena pemasaran bauksit Indonesia hanya tertuju ke Jepang. Penambangan di pulau Koyang sejak tahun 1982 telah dihentikan.6 ribu ton. Melalui proses yang telah disempurnakan.8. atau suatu peningkatan sebesar 17 persen dan 9 persen.45. yang masing-masing dilengkapi dengan instalasi pencucian.46. Perkembangan produksi dan ekspor bauksit dapat dilihat pada Tabel VII. masing-masing bila dibandingkan dengan tahun 1982/1983.0 kilogram. sehingga kadar emas dan perak dari bijih yang dihasilkan menjadi semakin rendah. Banten Selatan. yang disebabkan karena penambangan tersebut tidak menguntungkan. sehingga menurunkan permintaan bauksit di negara tersebut.0 ribu ton dan 792.7 ton. Perkembangan produksi dan penjualan logam emas dan perak dapat dilihat pada Tabel VII. Emas dan perak Penambangan emas dan perak yang dilakukan di penambangan Cikotok.6. yaitu di pulau Tembiling.44 dan Tabel VII. Dalam tahun 1982/1983 jumlah produksi dan ekspor bauksit masing-masing berjumlah sebanyak 721. Bauksit Penambangan bauksit di Indonesia dilakukan di daerah pulau Bintan dan sekitarnya. sedangkan kadar logam timbal dan seng semakin tinggi.8 kilogram untuk penjualannya. pulau Kelong dan pulau Dendang. Dari tabel tersebut terlihat bahwa produksi dan ekspor bauksit dalam tahun terakhir Pelita III mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II. Selain itu emas dan perak juga dihasilkan oleh Freeport Indonesia Inc berupa logam ikutan dalam konsentrat tembaga.6. yang berarti telah terjadi peningkatan sebanyak 3. Jawa Barat telah semakin dalam.7 ton dan 1. masing-masing meneapai 266. Departemen Keuangan RI 202 .9 ribu ton dan 861.7. walaupun cadangan bauksitnya masih ada. selain dihasilkan konsentrat emas dan perak juga diperoleh konsentrat timbal dan seng yang dapat diekspor walaupun saat ini jumlahnya masih kecil. Selama tahun 1983/1984 hasil produksi dan penjualan emas di dalam negeri. dan oleh sejumlah pertambangan rakyat yang dilaksanakan dengan peralatan dan teknik yang sederhana serta dengan hasil produksi yang tidak teratur.7 kilogram untuk produksi dan sebanyak 9. yang berarti mengalami penurunan sebanyak 1. sedangkan di Jepang telah terjadi restrukturisasi dalam industri.2 persen untuk produksi dan sebanyak 1.2 ton atau 41.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.4 ton atau 45.

Aspal 115. K a 0 1 i n 12. 716.847 6. BeIerang 900 1. baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan.114.563 725. marmer.944 35.528 2. Feldspar 2. Bahan-bahan tambang lainnya Bahan-bahan tambang lainnya. bentonit.780 6.4 ribu ton.951 2.3 25.752 4.120.889 6. Pada umumnya bahan tambang ini diperuntukkan bagi konsumsi dalam negeri.2 5.865.078 907.3 25.811 524. fosfat.870 _2) 10.610 164. posir kuarsa.756 1. jumlah produksi dan ekspor granit mencapai 2.828 25.609 25.601 173.6.190.697 1. belerang.228 14. yodium.315 28.374.973 7.4 25.902 7.7 ribu ton dan 1. Kegiatan penambangan bahan-bahan tambang tersebut dilakukan oleh badan usaha milik negara (BUMN) dan perusahaan swasta nasional.904 75.bahan semen a.522 15. Posir kwarsa 44. yang termasuk dalam bahan galian industri atau bahan galian golongan C.266.216 33. Yodium 9.597 _2) 15. ashes. yarosit dan kalsit.909 4.753. walaupun di antaranya telah ada yang diekspor dalam jumlah relatif kecil dan secara tidak teratur.528 29.439 7.3 28.241 _2) 13.621 b.704 784 1. Marmer 9.939 12.906 29.360.647 80.893 379.441 310.323 38.066 '270.724.809 221.721 12.603 220 3.3 ribu ton atau 5 persen.639 3. peldspar. Perkembangan produksi tambang lainnya dapat dilihat pada Tabel VII.3 29.071 5.396 3.496 25.563 7. Hal ini berarti produksi granit mengalami penurunan sebanyak 116.144 3.074 155.990 138.483 1. mangaan.48 PRODUK BAHAN GALIAN 1).390.051 106.115 58. 1972 . Listrik Pembangunan di bidang kelistrikan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat.750 13.433 2.287 219. Fosfat 1.6 ribu ton. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah terjadi penurunan masing-masing menjadi 2.730 938.739 161.894 7. Bahan .979 110.192 8.631 2.575 1. pcrusahaan daerah dan lain-lain 2) Data tidak terscdia 3) Angka diperbaiki 4) Angka scmcntara 7. Riau.196 148 147 _2) 14. sedangkan ekspornya telah meningkat sebanyak 676.7633) 1803) 1973) 4973) 1.323 11.10.1 27 11.307.717 12. Gamping 411.767 1. 7.648 6.616 13.522 1.639 17.018 276.643 1.216 25.191 2.783 6.80 ribu ton atau sebesar 95 persen. Bentonit 4.170 115.196 2. G ips 290 453 855 570 _2) 1) Mcrupakan hasil usaha swasta nasional.9 7.965 18.690. Perkembangan produksi dan ekspor granit dapat dilihat pada Tabel VII. As b e s 223 283 92 50 31 15 103) 253) 74 9.529 75.349 3. Granit Dewasa ini penambangan batu granit dilaksanakan di pulau Karimun. gamping lempung.771 2.6.569 653.161 62.842 1.6.618 _2) 11.111 7.006 37.605.942 6.232 13.9 33.9.688 85.909 3. K a Is it 3. Lempung 76. maupun untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.485 2.11.48.6 19.644 3.782 332.598 7.764 1.580 95. Yarosit 274 341 1.971 30.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.520 19.152 583. Dalam tahun 1982/1983.320 819 5.266 16. terdiri alas kaolin.465 6.0 ribu ton dan 713. Tabel VII.484 9.345 11.9 25..657. serta untuk mendorong dan Departemen Keuangan RI 203 .976 995.847 5.1983 ( dalam ton kecuali marmer dalam m2 slabs) 1974 1975 1976 1977 1978 Jenis 1972 1973 1979 1980 1981 1982 19834) 1. Mangaan 7.244 260.079 1.149 75.944 3. aspal.949 8.47.295 5.626 192. Dalam pada itu penjualan batu granit dilaksanakan baik untuk keperluan ekspor khususnya ke Singapura dan Malaysia.697 104.817 80.148 64.

Selanjutnya dalam rangka diversifikasi penggunaan sumber energi dan penghematan bahan bakar minyak. pembangunan dan rehabilitasi tenaga listrik secara bertahap telah dapat meningkatkan baik clara terposang pembangkit tenaga listrik maupun jaringan listriknya. Di samping itu dengan meningkatnya pembangunan tenaga listrik. 16 persen dan 15 persen.669 KV A dan 3. 9. Selama Pelita III.800 MW. daya tersambung dan daya terpasang. yaitu sejauh mungkin memanfaatkan potensi sumber energi non minyak dan penghematan bahan bakar minyak. maka peranan listrik semakin mempunyai arti penting. Untuk itu selama Pelita III telah dilakukan pendidikan dan latihan di bidang teknis dan administratif baik di pusat pendidikan dan latihan PLN. maupun pada lembaga-lembaga pendidikan dan latihan di luar PLN.720 MW.980 MW. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 masing-masing telah berkembang menjadi sebesar 13. Dalam tahun 1982/1983 jumlah produksi tenaga listrik. 6. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi sebesar 501.410 MWH.023.072. daya tersambung dan daya terpasang tenaga listrik dapat diikuti pada Tabel VII. penjualan.619 MWH. maka telah meningkat pula kebutuhan tenaga-tenaga terampil. maka telah dibuka peluang yang lebih besar dalam pengusahaan tenaga listrik.126. masing-masing mencapai 11.924.596 MWH. Pelaksanaan pembangunan tenaga listrik tersebut didasarkan pada kebijaksanaan yang menyatukan seluruh sektor tenaga listrik dalam satu kesatuan perencanaan yang menyeluruh. lengkap dengan pembarigkit transmisi dan distribusi.41 MW. 10 persen. yang berarti terjadi peningkatan masing-masing sebesar 12 persen. gardu induk dan jaringan distribusi. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat di segala bidang. Oleh sebab itu pembangunan di bidang kelistrikan terus dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. 10. penjualan tenaga listrik. rencana dan pembangunan tenaga listrik dikaitkan dengan kebijaksanaan umum bidang energi. baik sebagai sarana kehidupan sehari-hari maupun sebagai sarana produksi.405.296. serta diarahkan pada pendekatan secara regional. Di samping itu dalam tahun yang sarna juga telah dilakukan rehabilitasi dan pembangunan jaringan transmisi. Perkembangan produksi. Dengan peningkatan rehabilitasi dan pembangunan di bidang kelistrikan tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 merangsang kegiatan ekonomi. atau suatu peningkatan sebesar 41 persen. Dalam tahun 1982/1983. Hal ini terlihat antara lain dari permintaan tenaga listrik yang semakin meningkat yang diakibatkan oleh terus bertambahnya tingkat kebutuhan masyarakat. dengan maksud agar tercapai suatu sistem interkoneksi regional.151 MWH. 5. rehabilitasi dan pembangunan yang dilakukan pada pusat pembangkit tenaga listrik mencakup kapositas sebesar 355.50. Departemen Keuangan RI 204 .251 KVA dan 3.843.269.

051 desa pada akhir Pelita III. PLTD Bukit Asam.244 desa pada akhir Pelita II menjadi sebanyak 8.410 10.269.023.16 1973/1974 3.426. PLTG Para Posir (Medan) Unit V.261.343.845.477 1.027 1.40 1976/1977 4.107 1.669 3.7 persen per tahun dalam Pelita II dan 8.554.127. PLTD Pontianak dan PLTD Ujungpandang.740.354 1) 3.286. Hal ini terlihat dari perkembangan industri LNG.294 2. 1972/1973 -1983/1984 Uraian Produksi tenaga listrik (MWH) Penjualan tenaga listrik (MWH) Daya tersambung (KVA) Daya terposang (MW) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1972/1973 2. Selama Pelita III telah dapat diselesaikan pembangunan sejumlah pusat pembangkit tenaga listrik di beberapa lokasi. Adapun jumlah desa yang mendapat aliran listrik telah meningkat dari sebanyak 2.596 5. PLTA Lodoyo.801) Sejalan dengan peningkatan permjntaaan tenaga listrik yang terus berkembang. PENjUALAN. Industri Pertumbuhan sektor industri yang telah dicapai selama ini adalah cukup tinggi.502.052 3.7.50 1977/1978 4.511 2.151 9.386 4.236 2.006. pengolahan kapur dan tanah liat untuk industri semen.081.129.50 PRODUKSI.933.862.340 ibukota kecamatan yang ada juga telah mendapat aliran listrik. PLTA Wonogiri.660 3. PLTG Padang Unit III.026 1) 2.004.92 1) 2.924. maka terus ditingkatkan pula keterpaduan antarsektor sehingga lebih memantapkan proses industrialisasi.9 persen per tahun dalam Pelita III.770.744. serta penggunaan kayu gelondongan untuk industri kayu Departemen Keuangan RI 205 .816 7.345.594.137. DAY A TERSAMBUNG DAN DAYA TERPOSANG TENAGA LISTRIK.817 1.535.98 1983/1984 13. PLTG Gresik Unit III.420. pusat listrik tenaga uap (PLTU) Semarang Unit III.609 934.617 850. pusat listrik tenaga' gas (PLTG) Semarang Unit IV.722. Sejalan dengan pembangunan yang dilakukan di sektor industri.49 1982/1983 11.921 5.264 970.473. telah ditingkatkan pula pembangunan pusat-pusat pembangkit tenaga listrik dengan tetap didasarkan pada diverifikasi energi.444.390 3.413.892.288 8. antara lain meliputi PLTU Suralaya Unit I.406 6.072. program kelistrikan desa telah ditingkatkan melalui partisiposi masyarakat setempat dan pihak Pemda.950 1.076.910 7. PLTU Belawan Unit I dan II. 7.74 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 10. Selanjutnya kini juga sedang diselesaikan pembangunan beberapa pusat pembangkit tenaga listrik. PLTG Ujungpandang. Di samping itu sekitar 2.063.788 3.116.846.459.241 2.251 3.482 1.613 1.77 1974/1975 3.466 4.000 ibukota kecamatan dari sejumlah 3.&15 1.376.405.0 persen per tahun dalam Pelita I. Dalam rangka pemerataan pembangunan. PLTG Denpasar.84 1975/1976 3.494.296. pupuk urea dan petro kimia.803.532. PLTD Tarakan.38 2. 13. antara lain pusat listrik tenaga air (PLTA) Maninjau.126.41 5. Dalam pada itu pemanfaatan kekayaan alam yang merupakan potensi u'tama bidang industri. yaitu mencapai rata-rata 13.214.669 2. PLTG Palembang Unit III. meningkatnya penggunaan dan pengolahan gas alam untuk industri baja.032.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TABELVII.376 1. Oemikian juga beberapa pusat listrik tenaga disel (PLTD) yang tersebar di kala-kola dan di daerah pedesaan.619 6. dalam Pelita III telah banyak menunjukkan peningkatan. dan PLTG Ujungpandang unit II.

8 330.7 8.2) .2) 127.8 93.5 11 3 3.1 260.1 2.8 251 300 167.2 39.6 22.1 28.4 155.7 15.6 -5. Assembling mobil (ribu buah) 4.4 17.166.3 998 1.9 31.536 733 600 420 185 100 30 300 26 16 17 37 22 30 4 114 47 1.4 379.000 135 400 144 70 30 19 115 24 9 25 20 7 8 2. Dalam Pelita III telah dimulai dengan pembangunan industri-industri dasar/hulu yang mengolah sumberdaya alam dan energi.5 194.21) 1975/76 108 35 220 1. maka terus dilakukan pengembangan industri berskala besar.9 *) Presentase perobahan 1983/84 tedtadap 2) 1969/70 1982/83 1.2 34.0 1.662. seperti angkutan semen.184.223.6 264.7 17.1 113.6 78. Cilegon.7 68.017.00 1.7 122. Lampu pijarJTL (juta buah) 30. Minyak goreng (ribu ton) 15.521.8 105.70 1.019 660 478 462 250 108 100 30 500 47 17 35 78 20 25 5 138 145 64 67 3.705.016.2 43.8 266.10 364 445.2 209.1 381.590 847 654 552 554 302 160 385 37 672 54 19 41 154 34 69 5 394 577 317 126 391 36 744 55 47 32 160 33.3 36.4 12.944. Kapal baja baru (ribu BRT) 1) 34.704.885.4 77.2 20.3 663 39.5 155.21) 342 131.8 37.4 67.2 278. Sabun cuci (ribu ton) 16.4 326.9 100.3 37. Berdirinya industri dasar/hulu tersebut telah mampu menggerakkan pembangunan wilayah.40 902.4 27. Lhok Seumawe dan Indarung. Aluminium sulfat (ribu ton) 11. Asam sulfat (ribu ton) 12.10 2.01) 442.3 13.2 17 263 27 133 19 11 269 1970/71 598.00 1.4 30. Besi beton (ribu ton) 31. Mesin dise1 (ribu boob) 37.5 16.00 1.2 26 132.1 2.00 -17.2) .8 819 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/853) 737.8 9. Tapal gigi (juta tube) Deterjen (ribu ton) Accu (ribubuab) Radio (ribubuah) Televisi (ribu buah) Assembling mesin jabit (ribu buab) 25.078.2 132. Kaca polos (ribu ton) 10. 21.651.6 61.5 265 268.873 4.2 1.2 10 33 15 105 54 38 25 6 -62.437.9 164.7 29. Cilacap.6 410 503. TabeI VII.9 213 207. pupuk.094.9 40.9 218.4 59.01) 199 30.4 7.995.Z A (ribu ton) 6.5 221.4 -0.2 32.8 17.4 83.4 85.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 gergajian dan kayu lapis.9 1.6 -0.400 16 314 .2 214.6 . Ban kendaraan bermotor (ribu buah) 8.2 264.883.7 28.080 1.6 3.1 2.247.6 33.5 30.9 -6.7 150 115.50 1. 1969/1970 .390.1984/1985 Jenis produksi 1.40 2.2 93.2 89.0 990.60 49. 24.3 13.026 69 50 12 170 36 59 101.2 14. Air conditioner (ribu buah) 32. 33.6 32.8 132 23.51) 209.5 41. clara serapnya terhadap tenaga kerja cukup besar sehingga dalam Repelita IV akan terus diusahakan peningkatan peranannya di dalam struktur industri nasional.7 110.7 16.5 736.9 369.4 21.1 387.155 1. 20.3 18.351.5 24. 22.40 2. Walaupun produksi dan nilai tambah industri kecil selama ini masih sangat rendah. yang didukung dan diperkuat oleh industri berskala menengah dan kecil.5 4.3 84.3 141. Dalam hubungan ini akan terus dilakukan peningkatan penyediaan prasarana. Tekstil (juta meter) 2.1 1. Rokokputih (milyarbatang) 18.6 -13.4 276. sampai dengan akhir Pelita II sebagian besar pembangunan industri masih berlokasi di pulau Jawa.6 296.3 83.006.000 166 520 240 145 43 21 202 23 9 22 15 8 8 3 1976/77 104 34 480 1.829 22. Korek api (juta kotak) 1) Angka diperbaiki 2) Data tidak tersedia 3) Angka sementara 1969/70 449.0 147. Cibinong.8 475.5 1.9 15.5 203.7 348 1972/73 852 262 23 100 120.10 5.10 1.878.7 28.204.816.9 47.4 13.00 4.7 102. baja.5 172.4 28.2 21. 708.6 15.6 31.5 13.7 722. Rokok kretek (milyar batang) 17.8 193.8 4.3 37.481.1 18.8 24.8 *) Untuk memantapkan struktur industri.9 678.5 1.6 258.3 1973/74 926.3 377.135 529 264 97 287 175 62 350 27 500 26 26 6 67 12 26 37.9 272.2 30.5 50.0 49. Susu kental manis (juta peti) *) Da1am ribu ton 1) Angka dipedtaiki 2) Angka smentara 1969/70 15 32 364 5 14 54 9 4 5 5 1 7 2 1970/71 25 4 56 393 5 14 55 34 6 10 5 4 15 1971/72 26 6 262 416 65 262 72 67 6 74 32 15 1972/73 30 5 130 700 60 340 72 70 15 12 75 20 6 15 1973/74 32 7 140 900 70 800 132 70 30 18 120 20 7 23 40 7 2 2 1974/75 46 7 180 1.100 210 400 420 156 85 26 296 30 9 27 20 8 24 4 1977/78 104 39 575 1.7 316.1 102 22.339.9 144.8 23.2 46.6 208.5 18.650. Assembling sepeda motor (ribu buah) 5.9 43.320.0 1.827.796.4 .4 401.2) .2 20.431 4.9 23.1 452 610 480.844.7 1. Vet sin (ribu ton) 36.60 3.7 -34. Kertas (ribu ton) 13.5 28.3 148. Dari segi penyebaranura.9 1.540. 23.7 1.672.001 14 13 12.3 319.5 55.111 730 525 527 294 143 282 34 641 74 19 40 134 26 34 6 1981/82 1982/83 1983/84 1984/852) 165 75.6 6 6 9 8 109 44 690 1.8 32.6 11.2 276.4 9.4 406.8 12. Gresik.10 1.51 BEBERAPA HASIL INDUSTRI.4 817 ( Jenis produksi 19.7 19.2 258.7 7.673.3 *) 55 39 2.00 8.70 45.9 75. dan kayu lapis.4 542 366.1 102.0 1.2 36.3 217 2.6 30.2) .9 37.071.6 175.3 3.6 23.1 5 21.1 539. Baterai keriog (juta buah) 26.9 43.00 3.027. Pup uk .00 65.5 11.00 1.80 6.41) 65 93. Besi spons (n"bu ton) 29.5 202.979.851. Oleh karena pembangunan sektor industri memerlukan mobilitas yang tinggi.4 530. Semen (ribu ton) 7. Gelas/botol (ribu ton) 9.3 837.20 7.9 50 108.2 8.2) .9 188.900 70 -26. Kawat baja (ribu ton) 28.00 1.747 1.1 52. Plat song (ribu ton) 27.4 14.0 1.3 106.5 22.332.3 209.30 2.00 1.2 664.2 232 246.6 51.898.8 195.000 460 484 442 185 98 25 240 29 13 19 15 10 25 4 j ) 1978/79 1979/80 1980/81 123 54 3.4 507.2) .971 1. yang sebagian berlokasi di luar pulau Jawa.2) .3 114 100.3 21.503 623 290 634 419 147 800 55 1.8 553 586.8 129.8 213.8 182.11) 68.370.Urea (ribu ton) .2) .9 974 1.910.629.40 1.5.5 50.9 63.6 16.6 10.9 568.7 54.3 Persentase perubahan 1983/84 terbadap 3) 1969/70 1982/83 343.6 271. Benang tenun (ribu ball 3. Kabellistrik/telekom (ribu ton) 33. baik di dalam negeri maupun untuk angkutan komoditi ekspor.576.4 662.01) 566 707 780 772 506.985. terutama di wilayah pengembangan industri seperti zona industri Cikampek.4 21.700 1.30 37. Sprayer (ribubuah) 35.00 1.2 44.60 3.9 17. baik industri hilir dan industri kecil Departemen Keuangan RI 206 .9 326.241.40 3. sedangkan untuk daerah-daerah di luar Jawa jumlahnya masih terbatas.7 27.0 828.9 108.320 1.1 25.8 681.8 26.6 29.740 -4. Minyak kelapa (ribu ton) 14.90 3. maka selama Repelita IV akan terus dilakukan pengamanan terhadap penyediaan sarana angkutan.9 39.5 -5.9 19.6 11.8 180.00 1.30 2.7 322 1971/72 732 239 16.3 857. kertas.8 813.30 2.

7.4 178. penyediaan sarana dan prasarana..7 70 120 22.5 250 99.4 46.2 45 60 15 27 180 26.51) 209.9 188.6 9.8 18.5 108 25 6.1 200 2.1 486 698 762 68.2 2 116 85 50 12 15 50 0.8 75 69.8 625 48 18. Pipa listrik .8 73. Industri logam dasar Kelompok industri mesin dan logam dasar meliputi industri logam dan produk dasar.3 84.6 58. Gambaran yang lebih terperinci tentang berbagai aspek perkembangan kegiatan industri beserta hasil-hasilnya dapat diikuti melalui uraian berikut ini. Plat seng (ribu ton) 8.8 57.4 64.6 8.1984/1985 Jenis produksi 1. Besi spons (ribu ton) 4. industri peralatan listrik dan elektronika profesional.4 25 17. baik industri berat maupun ringan.850.5 4.3 82.5 148.2 50 160.1 125 60 59.2 450 2.1 102 122.8 16 11.00 1.4 575 3. pendidikan dan latihan bagi tenaga kerja siap pakai.7 62 26.8 75.2 159.00 20. lingkungan hidup.9 66..7 15. serta pengembangan kehidupan perekonomian daerah.7 41.4 5. Assembling mobil (ribu buah) 2.065. (ribu ton) 17. Tabung gambar (ribu buah) 21. Tab e I VII.2 178.0 2.5 17.2) 2.00 1984/85 3) 39. Transformator (ribu bush) 22.00 Departemen Keuangan RI 207 .7 1.5 80 2 1974/75 65.9 884.859.00 40.279.9 120 2.9 145 202 22 475 4 48.4 280 25 1979/80 102. komponen dan peralatan mesin. Ingot baja (ribu ton) 15.6 80.215.6 75 15 200. serta industri alat angkut. berskala besar. serta berlokasi di daerah yang berdekatan dengan sumberdaya alam dan energi yang pada umumnya belum berkembang. Sedangkan dalam Repelita IV pengembangannya ditekankan pada industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri.8 66 5 52 185 55 1.9 4. Permasalahan tersebut antara lain berupa pengaturan tataruang pemukiman.9 84.1 170.6 74 15 200 1972/78 28 69.6 114.8 174. Pesawat terbang (buah) 18.2 80 1977/78 83. Pipa air/gaJI/minyak (ribu ton) 16. Kawat baja (ribu ton) 9.2) .7 7 6 67. Aluminium sheet (ribu ton) 12.8 3. terutama yang menjadi konsumen dari kelompok industri tersebut. maka timbul masalah regional baru yang memerlukan pemecahan secara konsepsional dan terpadu.1 9.4 60.9 185 240 19.4 10 15 200 .8 1.6 850 500 6.2 1970/71 2.8 1. 51). industri mesin.7 16 16 80 47. menggunakan teknologi tinggi.2 44 1978/79 108.8 877 1.7 185 300 16.5 12.4 12.6 500 85.6 70 115 25.1 1.9 860 3. . Dalam Pelita III pengembangannya mulai bergeser ke arah hulu. Besi beton (ribu ton) 5.4 8 2.7 128.8 98 25. juga disebabkan oleh dorongan sektor-sektor lainnya di samping juga melalui pembinaan terhadap industri itu sendiri (Tabel VII.5 16 16 122.820.4 4 6 888.2 7 8. Pipa bajaspiral (ribu ton) 18.4 41.00 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 172. Pesawat helikopter (buah) 14.1 8 12 17 21 15 12 12 21.5 671. Namun mengingat bahwa industri dasar/hulu mempunyai ciri padat modal.2 546 1 84.4 550 150 8.2 10. Piston (ribubuah) 20.875.5 891 800 640.7 12.7 0.5 1. Generator set (unit) 1) Angka diperbaiki 2) Data tidak tersedia 3) Angka sementara 1969/70 5 8.4 155.5 7.8 156 296.1 177 0.2 .00 192 65 116 68 8.8 748.074.7 9.3 27.00 45. Ekstrusi aluminium (ribu ton) 11.271.5 816. industri motor dan perlengkapan pabrik.7 419 281.1 69.00 1. Mesin penggilas jalan (buah) 7.8 147.6 24 2.2) 4.5 81.4 400 0. yaitu industri yang menghasilkan bahan baku.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun kegiatan ekonomi lainnya.1 1) 166.4 47. 1969/1970 .8 9. Radiator (ribu bush) 19.026.1. Kapal baja ba:ru (ribu BRT) 1) 6.8 7 100 135 25 1.8 294. Hasil produksi kelompok industri tersebut sebagian besar merupakan barang modal yang sangat diperlukan dalam kegiatan di berbagai sektor ekonomi.Mesin disel (ribu buah) 10.2 100 80. 7.8 140 81. Traktor mini (buah) 24.2 301. Traktor tangan (buah) 23.8 2.4 2. Perkembangan sektor industri yang cukup pesat selama Pelita III selain karena adanya peranserta masyarakat.4 6.1971/72 16. Oleh karena itu laju pertumbuhan kelompok industri mesin dan logam dasar senantiasa sejalan dengan perkembangan sektor-sektor ekonomi lainnya. Huller (ribu buah) 8.2 109.5 30 .01) 18 897. 52 BEBERAPA HASIL INDUSTRI LOGAM DASAR.8 30 1976/77 75.1 816 431 404 423 1.00 16.5 15 1978/74 36.5 80 8 4 8 1975/76 78.5 8 18 186 88 55 18.

6 persen per tahun. Industri kimia dasar Dalam Pelita III telah diusahakan tercapainya sa saran di bidang industri kimia dasar.7 ribu buah.9 persen per tahun.2 ribu unit.9 persen setahun.6 ribu unit. yang meliputi penguatan struktur industri dan peningkatan pertumbuhan industri nasional. saat ini industri mesin dan peralatan pabrik sudah mampu membuat komponen-komponen mesin/peralatan untuk pabrik gula.2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Perkembangan yang telah dicapai di bidang industri logam dasar dalam pelaksanaan Repelita III pada umumnya cukup menggembirakan. yang dalam tahun 1978/1979 berjumlah 9. Hal ini antara lain ditandai oleh tumbuhnya wilayah-wilayah/zona industri yang tersebar di Departemen Keuangan RI 208 . sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat dihasilkan sebanyak 500.7 ribu ton dan kemudian terus meningkat menjadi sebanyak 15. namun masih banyak dihadapi hambatan-hambatan. belum cukup berkembangnya industri hulu atau industri barang antara.7. Hal ini berarti bahwa selama periode tersebut telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 18. dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 9. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 333. Produksi industri transformator.8 ribu buah. Hal tersebut antara lain menyangkut masalah ketergantungan akan bahan baku yang sampai saar ini masih harus diimpor. mesin tenun. resesi dunia yang belum sepenuhnya pulih. atau suatu kenaikan sebesar 108. Dalam tahun 1983/1984 telah dihasilkan motor disel sebanyak 58. suatu kenaikan rata-rata sebesar 56.4 ribu ton. sedangkan dalam tahun 1978/1979 baru berjumlah 30. 7. telah diproduksi sebanyak 3. serta masih lemahnya keterkaitan industri baik secara horizontal maupun vertikal. dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 762 ribu ton.0 ribu ton.026 ribu ton. kopi.5 persen. Walaupun perkembangan beberapa hasil industri logam dasar cukup baik sebagaimana dapat dilihat pada Tabel VII. Untuk tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 4. dalam tahun 1983/ 1984 telah menurun menjadi sebanyak 8. Sebagai hasilnya. semen. Sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dihasilkan lagi sebanyak 26. kelapa sawit. Adapun produksi besi heron dalam waktu yang sarna telah meningkat dari 300 ribu ton menjadi 1.3 ribu ton. mesin plastik dan komponenkomponen pabrik lainnya. Adapun produksi ingot baja/billet yang dalam tahun 1978/1979 mencapai sebanyak 80 ribu ton. Adapun dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Namun untuk produksi aluminium sheet. kafer.4 ribu unit. yang berarti telah terjadi peningkatan ratarata sebesar 27. yang dalam tahun 1982/1983 baru mencapai 4.0 ribu ton.52. teh.1 ribu ton dalam tahun 1982/1983.3 ribu buah.

Proyek sarana distribusi pupuk Pusri IV (PSD IV). dalam tahun 1983/1984 produksinya telah mencapai sebanyak 783. maka dalam tahun 1983/1984 telah dapat meningkat menjadi sebanyak 2. asam sulfat.2 ribu ton. Kelompok industri kimia dasar. Jika dalam tahun 1982/1983 produksi pupuk urea mengalami sedikit penurunan hila dibandingkan dengan tahun 1981/1982. Di lain pihak produksi berbagai jenis ban luar kendaraan bermotor dan ban luar sepeda motor telah mengalami sedikit penurunan. maka dalam tahun 1983/1984 produksinya meningkat menjadi 369.6 ribu ton kertas.5 ribu ban sepeda Departemen Keuangan RI 209 . serta pengadaan gerbong kereta api dan pembangunan gudang-gudang pupuk. semen. namun dalam tahun 1983/1984 hanya mencapai sebanyak 3. perluasan kesempatan kerja dan lalu lintas ekonomi antarwilayah.885. Walaupun demikian hal ini tidak akan berpengaruh terhadap kapositas produksi petani pemakai pupuk. Hasil pengembangan tersebut telah terlihat pada peningkatan kegiatan sektor-sektor ekonomi . Adapun kegiatannya mencakup pengadaan kapal curah dan suku cadang. Kalimantan Timur.567. Sumatera Barat. kertas. Dalam Repelita IV akan terus ditingkatkan upaya pengembangan industri-industri yang mempunyai dampak pengembangan wilayah.0 ribu ton dalam tahun 1983/1984. Hal ini antara lain disebabkan karena makin meningkatnya permintaan masyarakat akan pupuk. maka terus dilaksanakan usahausaha untuk menunjang kelancaran distribusinya. kaca palos.6 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjacli 208. Hal ini telah menimbulkan dampak yang positif berupa pertumbuhan ekonomi.438. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. pembangunan unit pengantongan pupuk di Ujungpandang. serta peningkatan kemampuan teknologi industri. merupakan salah satu langkah yang ditempuh Pemerintah dalam memperlancar distribusi pupuk. dari 209. Sumatera bagian selatan. Di lain pihak terjacli sedikit penurunan produksi pupuk ZA.6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang baru berjumlah 577. Riau. Sementara itu jumlah produksi berbagai jenis kertas dalam tahun 1983/1984 juga telah mengalami peningkatan.4 persen di alas tahun sebelumnya.6 ribu buah dan 2. Jika dalam tahun 1982/1983 baru dihasilkan sebanyak 296. pestisida.8 ribu ton yang berarti sebesar 13. yang antara lain menghasilkan pupuk. dan serat sintetis. pemerataan pembangunan.5 persen. ban kendaraan bermotor. atau kenaikan sebesar 24.0 ribu ton. pulau Jawa.673. Demikian pula halnya dengan pupuk TSP.1 ribu buah. yang l?erupakan lanjutan daripada PSD III. atau 35.4 ribu ton.lainnya yang berkaitan dengan kelompok industri kimia dasar. Dalam tahun 1982/1983 produksinya masing-masing berjumlah 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa wilayah seperti di Aceh. dalam tahun terakhir Pelita III secara umum menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Dengan meningkatnya produksi dan kebutuhan pupuk.204.3 ribu buah ban kendaraan bermotor dan 2.

006.5 9. 53.6 persen di bandingkan dengan tahun sebelumnya.1 0. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dihasilkan sebanyak 28.2 2.5 8.8 2. atau suatu kenaikan sebesar 184.9 100.0 970 980 1.704.2 57.2 209. ZA (ribu ton) c. Bahan kimia tekstil (ton) 16.20 7.30 2.8 12.1 39.2 289.9 4.1983/1984 1969/70 1970/71 1971/72 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 3) 1.1 20.8 3. Demikian pula halnya dengan produksi kaca palos.9 1.437.4 83.7 511.4 120 115.8 2.8 8.0 1. sedangkan dalam tahun 1982/1983 baru berjumlah 30.8 3.5 10.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 motor.Acety1ene (ribu M3) 13.10 2.9 0.5 ton. Aneka industri Kelompok aneka industri (industri hilir) mempunyai peranan yang cukup besar dalam pembangunan industri secara keseluruhan.8 129.550.9 369.189.827.658.320. TSP (ribu ton) 2. Aluminium sulfat (ribu ton) 8.1 387.4 801.520.2 32.3 5.8 24.8 26.284.0 1.80 85.6 29 _2) 0.078.2 9.3 14 31 51.5 10. Ban kendaraan bermotor (ribu ton) 5.3 577.250.1 305 335 246.40 3. Asam arang (ribu ton) 12.329.3 2.0 1.0 45069.7 4.6 18. Zink oksida (ton) 17.2 3. atau suatu kenaikan sebesar 10.4 1 2.844.7 209.994.9 9.7 857.00 1. suatu penurunan masing-masing sebesar 5. Di samping itu dalam menyerap tenaga kerja.90 3.0 persen.00 1.3 819 828.6 17.8 4.070.2 14. yaitu Departemen Keuangan RI 210 .870.2 43.3 13.8 3.30 366.5 3.3 21.10 5.2 46. ke1ompok aneka industri ini lebih besar peranannya apabila dibandingkan dengan kelompok industri hulu yang re1atif lebih padat modal.00 1.4 783 22.5 155.4 67.10 2.6 11.078.7 810 7:)1.5 99.7 17.6 10.8 37.8 7.9 1.851.6 534.00 1.438.4 722. Kaca palos (ribu ton) 7.885.6 15.4 792 1.567. yang berarti telah terjadi peningkatan sebesar 5.9 6.1 102.0 0.6 48 36.319.9 19.0 persen.2 4.9 43.0 ribu ton.50 22.1 113. sehingga dapat memperkokoh struktur industri nasional.1 471.1.200.1 2. dan sekaligus mempererat keterkaitan antara industri besar dengan industri kecil.8 2.985.7 4.5 17.0 1.673.20 2.7 ribu ton menjadi 110.127.00 25.8 2.6 47.4 72.5 532.00 4.150.40 2.9 4 4.3 ton.9 89 112 113.6 29.1 ribu ton.705.0 persen.30 2. Serat sintetis (ribu ton) 1)Angka diperbaiki 2) Data tidal tersedia BEBERAPA HASIL INDUSTRI KIMIA DASAR.9 3. Aneka industri yang meliputi industri pangan.392.1 ton.4 17. Zat asam (iuta M3) 11.540.650.3 2.650.6 296.351. dalam tahun terakhir Pelita III telah berkembang dengan baik. asam sulfat dan zink oksida.629.9 ribu ton.80 1.20 2.9 0.3.2 0.9 1.8 105. alar listrik dan logam serta bahan bangunan dan umum.9 39.50 2.9 15.8 180.40 1.2 93.1 persen.6 208 114. Bahan peledak (ribu ton) 18.898.7 8.3 18.800. K e r t a s (ribu ton) 3.7 4.00 6.801.5 2.7 122. kaca palos.432.00 .1 18.4 49.241.4 465 559.5 2.7 110.2 81 _2) 509.5 2.6 8. dalam tahun terakhir Pelita III menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.2 17 568.5 600 244.Soda(ributon) 10. Demikian pula halnya dengan produksi susu kental manis.6 4.8 25.00 8.00 1.7 33.6 51.0 1) 43. dalam waktu yang sama telah meningkat dari 100.5 50.00 3.8 15.7 0.1 9. Apabila dalam tahun 1982/1983 produksi semen baru berjumlah 7.5 1. Cabang industri anorganik dan industri bahan-bahan kimia organik dasar.883.7. Asam chlorida (ribu ton) 19. Tab e I VII.2 8.10 542 401.2 232 246.460. 1969/1970 . Perkembangan beberapa hasil industri kimia dasar dapat diikuti pada Tabel VII.5 persen dan 5.9 4. tekstil.2 17.3 141 147. yang antara lain menghasilkan semen.6 1.60 3.339.816.3 6.Semen(ributon) 4.979.4 530. Synthetic resin (ribu ton) 15. Urea (ribu ton) b.00 1.204.2 527 627 4.2 123.7 15.4 406 990 1.4 2. Asam sulfat (ribu ton) 9.30 2.8 241. te1ah terjadi kenaikan sebesar 8.5 9.6 0.6 3.878.7 54.5 507.2 30.80 6.5 18.71) 1.2 8.898.5 30.2 44. kimia. maka dalam tahun 1983/1984 telah mencapai sebanyak 8.3 3) Angka sementara 7.5 11.21) 8.8 195.7 118.9 3 7.2 3.50 1.9 108.2 214.2 31. Ban sepeda motor (ribu ton) 6.8 9.557.3 11 10.154.00 718 480 614 541 0.60 3. Dalam tahun 1983/1984 produksi margarine te1ah mencapai 85. 53 Jenis produksi 1.70 2.796.2 89. Hal ini antara lain karena aneka industri dapat merupakan jembatan antara kelompok industri hulu (dasar) dengan ke1ompok industri kecil. a. Pestisida (ribu ton) 14.3 106.2 11.00 1.00 1.

Departemen Keuangan RI 211 . Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 masing-masing telah berjumlah 55.2 milyar batang dan 18. meningkat sebesar 16.0 ribu bal dalam tahun 1983/1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dari 93.2 juta buah. yakni dari 576. maka dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 165.1 juta tube dan 75.551. Industri alat listrik dan logam.9 persen.1 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjadi 381. yakni dari 1.9 persen dan 13. Adapun industri kimia seperti tapal gigi dan diterjen juga mengalamj peningkatan produksi yang cukup besar.9 persen.2 ribu ton.6 persen dan 67. yakni dari 61. yakni dari 1. radio.1 juta ]iter dalam tahun 198211983. Produksi rokok kretek dan susu cair te1ah meningkat masing-masing sebesar 11.9 ribu ton.3 juta meter. tekstil dan pakaian jadi telah menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan tahun sebe1umnya.8 persen. dan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dihasilkan sebanyak 287.6 juta buah dalam tahun 1982/1983 menjadi 633.1 milyar batang dan 11. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.995. menjadi 68.0 juta tube tapal gigi dan 66.8 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjadi 101.6 juta liter dalam tahun 1983/1984. telah dihasilkan masing-masing sebanyak 23.0 juta tube dan 39. Produksi industri tekstil seperti benang tenun. dan baterai kering.708. Jika dalam tahun 1982/1983 baru dihasilkan sebanyak 145.6 juta buah dalam tahun 1983/1984.7 persen. Dalam periode yang sarna produksi minyak ke1apa mengalami penurunan sebesar 13.6 juta liter. sepeda motor. Bersamaan dengan itu produksi benang tenun dan pakaian jadi juga te1ah menunjukkan suatu peningkatan.54.0 ribu bal dalam tahun 1982/1983 menjadi 1.9 juta meter dalam tahun 19821 1983 menjadi 1. Produksi tekstil. suatu peningkatan sebesar 13.662. yang antara lain menghasilkan televisi.5 ribu ton.7 ribu ton dalam tahun 1983/1984.1 juta meter dalam tahun 1983/1984.3 ribu ton dalam tahun 1983/1984.0 persen. secara keseluruhan menunjukkan sedikit penurunan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kemudian dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 37. Namun khusus untuk baterai kering telah terjadi peningkatan sebesar 9.8 milyar batang dan 6. yakni dari 442. Perkembangan beberapa hasil aneka industri dapat diikuti melalui Tabel VII.2 persen. yang berarti meningkat sebesar 7. sedangkan dalam tahun pertama Repe1ita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat dihasilkan sebanyak 737.8 ribu ton diterjen.

meningkatkan ekspor.8 213 199 100.9 8.9 21 26 24. 80 unit pelayanan teknis dan 13 pusat pelayanan promosi yang penyebarannya hampir merata di seluruh wilayah tanah air.50 1.2 6. Susu bubuk (ribu ton) 1.7 3.00 1.00 1.5 4.7 55.3 2. meningkatkan ekspor serta meningkatkan pengetahuan para pengusaha/pengrajin. yakni meliputi 9 pusat pengembangan industri kecil (PPIK).332.7.5 145 165.5 393.2 30.00 633 3.3 8.521.90 1.0 1) 442.6 27. Susu kenta! manis (juta peti) 1.80 1.4 31.1 27.2 93. terutama melalui penciptaan usaha industri kecil baru yang dinamis di samping optimalisasi usaha industri kecil yang telah ada.4 108.00 1.551.8 5.00 4.503.1 50 100 150 261 300 267.4 21.5 9. Tekstil (juta meter) 449.4 4.8 26. Untuk itu telah digariskan pokok-pokok kebijaksanaan di bidang pembangunan industri kecil yang antara lain bertujuan menciptakan iklim usaha melalui penetapan skala prioritas. serta produksinya berorientasikan kepada komoditi ekspor.10 737.5 22.233. Rokok kretek (milyar batang) 19 20. Korek api (juta kotak) 269 322 348 475.1 55 503.00 1. Assembling sepeda motor (ribu buah) 21.000. Dalam hubungan ini diusahakan untuk terciptanya kaitan yang erat antara industri kecil.7 31.4 2.3 17.3 21.000.9 326.10 529 15.4 531.00 1.6 271.00 1.3 12. yang tersebar di Yogyakarta.027.7 47 50 26.018. maka pengembangannya lebih dikaitkan dengan potensi setempat.5 28.00 1.5 4.9 23. terdiri dari TV hitam putih dan TV berwarna 3) Angka sementara 7.6 633.9 33.4 28.6 33.2 262 130 140 180 220 480 575 690 1.8 266.1 18. Sabun cuei (ribu ton) 133 132.5 19.7 17.3 319.2 278.1 539.6 *) Dalam ribu ton 1 ) Angka diperbaiki 2) Mu1ai tahun 1978/1979. telah berhasil diresmikan penggunaan buah lingkungan industri kecil (UK).5 7. meningkatkan pembangunan di daerah.'2 18.7 553.100.9 43.8 330.5 28.1 28 9.5 262 340 800 400 520 400 484 600 477.4 63.6 5.1 846.1 319.8 36.5 55.6 30.00 1. salah satu prioritas pengembangan wilayah dalam kelompok industri kecil berorientasi kepada pengembangan zona dan kawasan industri.6 7 34.6 104.9 40.90 1.2 659.536.5 221.5 265 268.54 BEBERAPA HASIL ANEKA INDUSTRI.7 30.1 217 239 262 316.ton) 1 4 6 9 9 9 9 12.8 22.5 3.9 33.70 3. Minyak goreng (ribu ton) 27 26 27. Semen tara itu di bidang kelembagaan telah didirikan sarana pembinaan. 7 pusat pelayanan informasi.4 73.5 35.7 10.5 44.2 664.3 37.6 287.9 66.6 175.21) 342 114 6. Industri kecil Pembangunan di bidang industri kecil ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja.20 3.6 32.1 85.3 193.90 1.5 264.8 263.3 4. menghemat devisa.1 381.154. Mengingat lokasi usaha industri kecil tersebar di seluruh wilayah tanah air bahkan sampai ke pedalaman.8 75.3 837.5 21.2 23.00 1.4 132 131.7 18.6 410 577.00 2.184. Untuk lebih mendukung terciptanya sa saran pengembangan industri kecil.576.5 54.8 20 20 24 23 30 29.3 998 1.1 10.7 974 1.1 68. mempunyai keterkaitan dengan sektor-sektor lain.4 622. Tapal gigi (juta tube) 15 25 26 30 32 46 107.5 53.1 25.3 19.7 65 60 70 135 166 210 260 733. energi dan manusia.9 9.6 61.094.4.6 576.2 364 445.9 678.000.9 164.3 26.9 218.5 202.8 553 586.5 2.8 103.1 4.3*) 37.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.2 132.4 38. Assembling mesin jahit (ribu bubo) 14 13.4 30.7 14. Departemen Keuangan RI 212 .9 653. Rokok putih (milyar batang) 11 13. Baterai kering (juta buah) 54 55.6 33.080.4 19.6 55 68.8 7.2 8.4 326.3 148. yaitu melalui pengembangan wilayah-wilayah pusat pertumbuhan industri (WPPI).6 31.4 47.6 6. Oleh karenanya.3 566 707 780 772 506.7 29.5 5.7 17.9*) 23.5 4.662.00 2.4 27.017.2 72 72 132 144 240 420 442 420 462 526.9 3.6 13.5 6 12.6 525.2 11.5 39.747.995.7 16. industri menengah dan industri besar.00 1.4 276.9 213 207.9 10. maka ditempuh beberapa kebijaksanaan sektoral.00 14. Benang tenon (ribu ba1) 182.7 127.8 598.135.4 29.60 3.2 2. 1969/1970 .8 9. Margarine (ton) 7.4 13. sehingga dapat diharapkan pembangunan industri besar dan menengah secara langsung akan merangsang pembangunan sektor industri keci!.3 5.2 28.2 96.7 13.110. DeteIjen (ribu ton) 4 5.8 9.910.4 817 272.5 7 7.3 732 852 926.7 264.3 416 700 900 1.5 4 3.708.7 28.3 11. Air Conditioner (ribu buah) 4. memeratakan kesempatan berusaha.5 50. Televisi (ribu buah) 2) 4.00 1.651.4 379.6 393. A c c u (ribu buah) 32 56.00 1.8*) 101. Minyak kelapa (ribu ton) 263 258. Kabellistrik/telekom (ribu. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.1 15.5 15. Susu cair (juta liter) 2.8 681. Lampu pijar/TL (juta buah) 3.2 260.3 37.2 46.5 5. Radio (ribubuah) 363.6 5. Magetan.9 123 137.4 23.1 19.8 20.5 113.6 23.5 194.9 26. menunjang pembangunan daerah serta memanfaatkan sumberdaya alam.30 2.7 16.5 16.4 20.50 1.5 622.319. antara lain berupa pemberian prioritas pengembangan kepada industri kecil yang hasilnya dapat memenuhi kebutuhan orang banyak.589.1 452 610 480.5 290.5 41.8 30.8 730.8 28.3 27.1 18.3 18 18.1984/1985 Jenis produksi 1969/70 19670/197 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1.247.

7. Dengan pembangunan perhubungan. Perhubungan. serta di Pare-Pare (Sulawesi Selatan). Di samping itu terus dilakukan pula pembangunan prasarana dan sarana baru sesuai dengan pertumbuhan jasa perhubungan. telah dapat diperluas jangkauan pelayanan perhubungan. dalam tahun 1982/1983 telah berjumlah 438 orang. di Gunung Sempu (Yogyakarta). maka wilayah Nusantara telah dapat dihubungkan oleh suatu sistem perhubungan yang semakin terpadu dan teratur. Usaha tersebut juga telah dapat'menembus isolasi dan mendorong laju pertumbuhan daerahdaerah terpencil serta meningkatkan perdagangan antardaerah yang lebih seimbang dan lancar. Dewasa ini peningkatan kapositas di bidang perhubungan telah mampu melayani kenaikan permintaan masyarakat dengan tingkat pertumbuhan sekitar 12 persen per'tahun.151 orang. Cilacap dan Surabaya. Dengan bertambahnya sarana pembina tersebut maka kemampuan pembinaan juga telah meningkat. Sejalan dengan itU telah dibangun pula saran a usaha industri kedl (SUlK) yang terletak di dalam kawasan-kawasan industri Pulogadung (Jakarta). Apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah TPL yang berhasil dididik baru sebanyak 93 orang. Medan. Tegal. pos dan telekomunikasi serta kepariwisataan sampai dengan tahun pertama Pelita IV ditekankan pada kegiatan rehabilitasi dan peningkatan prasarana serta sarana yang ada. Selain itu hasil-hasil yang dicapai juga telah dapat menjangkau dan memenuhi pelayanan kebutuhan masyarakat luas. yang merupakan peningkatan dari TPL. baik jumlah maupun mutunya. Di samping itu juga telah dilaksanakan pembangunan 6 buah perkampungan industri kecil (PIK) masing-masing di Jakarta yang meliputi Pulogadung. yakni apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah sentra industri kecil yang dibina baru sebanyak 281 buah. Hal ini terwujud dari meningkatnya pemerataan pembangunan Departemen Keuangan RI 213 . Bandung. yang tersebar di hampir seluruh propmsl. pos dan kepariwisataan Pelaksanaan pembangunan perhubungan. telekomunikasi. pos dan kepariwisataan yang setiap tahunnya terus meningkat. maka dalam tahun 1983/1984 telah bertambah menjadi 2. Tenaga penyuluh lapangan (TPL) terus pula ditingkatkan. Dengan adanya peningkatan pembangunan tersebut. maka dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 690 buah. arus barang dan jasa. telekomunikasi. sehingga dapat menyediakan kapositas jasa yang semakin baik bagi masyarakat. di Sukabumi (Jawa Barat).8. Tebet dan Tangerang. serta komunikasi dan mobilitas penduduk ke seluruh pelosok wilayah Nusantara. Sedangkan jumlah tenaga penyuluh lapangan spesialis (TPLS).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Semarang. Tasikmalaya dan Sukabumi. Sidoarjo.

angkutan pariwisata. ditandai dengan meningkatnya jumlah armada angkutan jalan raya yang telah mencapai 1.928.796.915 orang. serta pembinaan dan pengembangan usaha angkutan darat termasuk peningkatan pendidikan. sehingga semakin memantapkan perwujudan stabilitas nasional dalam bidang ekonomi. kereta api. khususnya angkutan jalan raya.3 juta ton barang menjadi sebanyak 5.5 persen atau sebanyak 165. angkutan sungai. yaitu masing-masing dari 3.1. politik. baik secara nasional maupun regional. serta guna mengurangi kepadatan lalu lintas dalam kola. danau dan penyeberangan telah mengalami kenaikan angkutan barang sebesar 21 persen dan angkutan penumpang sebesar 21.9 persen . pada umumnya telah dapat dilaksanakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. Dalam periode yang sarna. Pembangunan di bidang perhubungan darat tetap ditujukan untuk lebih meningkatkan pemanfaatan jalan raya. Dalam rangka mengatasi kebutuhan angkutan umum dalam kola. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru berjumlah 1. Selama Pelita III telah dilakukan peningkatan fasilitas keselamatan jalan raya berupa pembangunan rambu-rambu lalu lintas.8.7 persen.651 ton menjadi 4. 7. yaitu dari masing-masing 43.5 5 3 buah. Pelayanan angkutan kola.761 ton. Sedangkan bidang perkeretaapian dalam tahun 1983 telah mengalami kenaikan sebesar 9.748.7 persen untuk angkutan penumpang dan 1. serta angkutan sungai. Hal tersebut telah ditunjang pula dengan usaha-usaha yang dapat meningkatkan efisiensi pelayanan jasa perhubungan. pengaturan pengoperasian dan keselamatan lalu lintas.004.752.574 orang menjadi 18.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perhubungan secara menyeluruh. angkutan transmigrasi dan angkutan ke seluruh daerah terpencil yang secara ekonomis potensial. lampu pengatur lalu lintas dan pusatpusat pengujian kendaraan bermotor. dan dari sebanyak 14.520 buah (Tabel VII.2 juta orang menjadi sebanyak 47. maka jumlah angkutan armada bis bertingkat dan Departemen Keuangan RI 214 . armada angkutan jalan raya telah meningkat 10. sosial dan ketahanan nasional.073 buah dalam tahun 1983. dan dari 5. Hasil pembangunan yang telah dicapai di bidang perhubungan darat.582. dan angkutan bis perintis ke daerah terpencil juga telah ditingkatkan guna melancarkan arus penumpang. angkutan antarkota .untuk angkutan barang hila dibandingkan dengan tahun 1982. keterampilan dan latihan bagi petugas.4 juta ton barang. danau dan penyeberangan.55). Perhubungan darat Program pembangunan di bidang perhubungan darat. sampai dengan tahun pertama Repelita IV.4 juta orang.

480 220.016 980 1.073 Tab e I VII.644 1977 1978 57.425.260 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Mobil 95. 1969 . 55 ARMADA ANGKUTAN JALAN RAY A. Dalam hal ini Surabaya mempunyai bis kota sebanyak 208 buah.321 785. Bandung 144 buah.3 3.175 144.063 951.1983 Tahun J umlah Outa orang) 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 19821) 19832) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 55.4 50.034.206 5.4 Barang Ian (ton) 859 855 949 1.545 1980 86.815.534 3.080 6.022 1.466 3.464 1 722.019 869.5 3.439 1975 35.069 1.814 112.022 383.841 917. 1969 -1983 (dalam satuan) Tahun Bis 1969 20.203.2 4.751 5.488 1973 30.3 5.066 590.370 679.873 482. yang terdiri alas 85 bis bertingkat dan 519 buah bis tidak bertingkat. dan Ujungpandang 20 buah.835 1979 69.7 39.9 43.466 3. Jika dalam tahun 1982 jumlah armada bis kota di beberapa kota besar di luar Jakarta baru sebanyak 604 buah.229 6. Tanjung Karang 42 buah.940 Jumlah 328.057 1.9 40.7241) 1.428 434.4 52.9 3.609 buah.313 J umlah Outa ton) 4 3.553 1.692 268.099 531.4 Penumpang km (orang) 3.4 23.311 639.280 359.816 256. yang terdiri alas 105 buah bis bertingkat dan 575 buah bis tidak bertingkat.422 3. Solo 15 buah.016 1.371 3.3 4.8 5. Adapun jumlah armada bis kota yang ada di Jakarta dalam tahun 1983 adalah sebanyak 1.1 29.368 1974 31.082 4. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 680 buah bis.430 19832) 160.582.081 392.2 47.2 4.038 1.538 657.739 337.648 478.990 419.7 40.060 166.271 6.873 Mobil -212.2 4.166 19811) 112. Tab e I VII.623 3.900 1976 39.8 20.562 1972 26. Semarang 134 buah.352 2.6 5 4.496 603.104 717.701 377.3 4.210 307.356 189.167 535.748.6961) 1.063 1.497 1970 23.660 99.9 4.098 328.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tidak bertingkat terus ditambah.116 959 701 814 1.123 235.2 37.727 3.1 21 29.981 6.988 277.441 791.078 19821) 134.2 Departemen Keuangan RI 215 .4 25.878 131. 56 PEMAKAIAN JASA KERETA API.240 471.389 46.451 1971 22. Medan 117 buah.

pupuk dan kelapa sawit. Pengembangan pedesaan yang sekaligus berfungsi sebagai angkutan perintis dan melayani daerah-daerah terpencil. bengkel kendaraan dan tempat tunggu bis. besi beton. batu bara. Armada bis perintis tersebut terus ditingkatkan jumlahnya. Manokwari 4 bis. Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Angkutan kereta api juga sangat efektif dan efisien dalam memperlancar distribusi beberapa hasil produksi. Angkutan kereta api mempunyai peranan semakin penting. lampulampu pengatur lalu lintas dan kendaraan patroli. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 165 buah. juga lebih kecil tingkat pencemarannya dibandingkan dengan angkutan jalan raya lainnya. Hal ini disebabkan karena jenis angkutan ini selain lebih hemal dalam pemakaian bahan bakar. seperti minyak. serta untuk pengangkutan transmigrasi dan pariwisata. Sumbawa 8 bis. Kupang 6 bis. Banda Aceh 14 bis dan Palembang 10 bis. Biak 6 bis. peranan angkutan kereta api terus meningkat dalam melayani angkutan penumpang dan barang. peningkatan tersebut disebabkan oleh bertambahnya permintaan untuk jasa angkutan hasil-hasil industri. Merauke 4 bis. Bis-bis perintis terse but melayani daerahdaerah terpencil dengan perincian untuk stasiun Ujungpandang sebanyak 7 bis. tanda jalan. baik kini maupun di masa mendatang. sehingga apabila dalam tahun 1982 jumlah bis perintis baru mencapai sebanyak 142 buah. telah diusahakan dalam bentuk angkutan campuran antara barang dan penumpang. antara lain berupa terminal dan shelter. khususnya angkutan umum di kota-kota besar. Balik papan 4 bis. sehingga arus penumpang akan lebih lancar. Lubuk linggau 9 bis. Palu 8 bis. Sarong 7 bis. di samping juga melayani angkutan Departemen Keuangan RI 216 . Bengkulu 23 bis. dalam menunjang laju pembangunan nasional. telah dilakukan peningkatan penggunaan jasa kereta api kala. semen. Mataram 5 bis.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Untuk menjaga kelancaran . yang antara lain meliputi pembangunan alat pengujian. ketertiban dan keselamatan lalu lintas angkutan jalan raya telah dikembangkan pula fasilitas pengaturan dan pengawasan. Demikian pula bagi kota-kota besar yang telah mendesak keperluan jasa angkutan masalnya. Pangkal Pinang 6 bis. perkebunan dan pertanian. Dalam waktu yang sama telah dibangun pula pusat pengujian kendaraan bermotor di Bekasi. Jayapura 11 bis. rambu jalan. pagar pengaman jalan. Dilli 18 bis. Padang 10 buah bis. Jawa Barat yang bertujuan untuk menguji kendaraan laik darat. lebih cepat dan lebih teratur di samping juga dapat mengurangi kemacetan lalu lintas. pertambangan. Selain itu telah dilengkapi pula pengadaan terminal angkutan. sistem angkutan disusun secara terpadu antara angkutan bis dengan angkutan kereta api kota. Dalam rangka mengembangkan armada angkutan kota telah ditingkatkan pula sistem dan fasilitas angkutan dalam kota. Sedangkan guna memperlancar angkutan kota. Ambon 5 bis.

Hasil rehabilitasi di bidang perkeretaapian dapat diikuti pada Tabel VII. kereta penumpang dan gerbong barang. antara lain telah dilakukan peningkatan jalan kereta api serta rehabilitasi dan penambahan lok uap. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 47.063. Selain itu telah pula dilakukan penambahan lok disel sebanyak 75 buah. Untuk dapat meningkatkan kapositas angkutan dan mutu pelayanan kereta api tersebut. gerbong sebanyak 10. Sejak tahun 1981 sampai dengan tahun 1983. Perkembangan jumlah angkutan penumpang dan barang dapat diikuti melalui Tabel VII.2 ton per kilometer dalam tahun 1983.56. serta rehabilitasi/peningkatan jalan kereta api sepanjang 2. Sedangkan angkutan barang dalam ton per kilometer mengalami penurunan hila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.3 juta ton dalam tahun 1982 menjadi 5. Sebagian daripada kebutuhan prasarana dan sarana kereta api tersebut telah pula diproduksi di dalam negeri.623 buah. lok disel sebanyak 590 buah. yang menunjukkan peningkatan operasianal perusahaan sehingga mampu beroperasi secara efektif dan efisien. kereta rei listrik (KRL) sebanyak 60 buah. Sementara itu pembuatan sarana dan suku cadang kereta api terus dikembangl)an sehingga kebutuhan sarana dan prasarana kereta api dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri. kereta penumpang sebanyak 1. Di samping itu juga telah dilakukan pembangunan lintas kereta api antara Meneng-Kabat di Jawa Timur yang ditujukan untuk memperlancar distribusi pupuk di wilayah tersebut.2 juta penumpang per kilometer. kereta penumpang sebanyak 360 buah dan gerbong sebanyak 400 buah. Dalam tahun 1982. PT Inka (Industri Kereta Api) teiah merakit 400 gerbong dari bahan complete manufacturing (CM) keluaran Sumitomo Jepang. antara lain proyek pengembangan pengangkutan batu bara Bukit Asam dengan kereta api (P3Baka) dari Tanjung Enim ke Tarahan.57.2 juta orang atau 6.0 ton per kilometer dalam tahun 1982 menjadi sebesar 951.4 juta orang atau 6. jumlah angkutan penumpang kereta api adalah sebanyak 43.3 juta orang per kilometer. yaitu dari 1.4 juta ton dalam tahun 1983. Demikian pula angkutan barang dalam waktu yang sarna telah mengalami peningkatan dari 5. lok listrik. kereta rei disel (KRD) sebanyak 112 buah.070 buah. Dalam rangka mengatasi masalah angkutan masal di wilayah Jabotabek. teiah dilakukan peningkatan kapositas dan mutu pelayanan angkutan kereta api kala melalui Departemen Keuangan RI 217 . transmigrasi dan angkutan kala. lok disel. yang bertujuan untuk mengangkut batu bara sebanyak 3 ton setahun sebagai sumber energi bagi PLTU di Suralaya. Dalam pada itu Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) juga mempunyai proyekproyek pembangunan kereta api yang cukup besar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pariwisata.329 kilometer. Hasil yang teiah dicapai di bidang saran a dan prasarana kereta api selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III antara lain meliputi rehabilitasi lok uap sebanyak 38 buah.

3 326.3 1. pengadaan 15 buah kapal dan 4. a.30 7. Dalam hubungan ini.4 180. baik pelayanan angkutan jalan raya maupun angkutan sungai.7 294.40 422 762 .253 2. terutama bagi penduduk di tepi sungai dan danau yang belum dilayani oleh jenis angkutan lain.701 38 1) 58 1) 39 I) 15 1) 67 1) 115 1) 2. Kereta (buah) 9.2 298.7 565. Buah 3.385.2 207 164.583 2. Lok uap (buah) 6. Uraian 1. sampai dengan tahun pertama Repelita IV telah ditempuh beberapa kebijaksanaan antara lain mengutamakan proyek lanjutan agar segera dapat terwujud dan langsung dapat beroperasi.514 15.3 272 40.120 2. 11 buah gedung kantor.7 354.359 2. Ton Perkembangan di bidang angkutan sungai dan danau sampai dengan tahun pertama Repelita IV sangat dirasakan manfaatnya dalam memperlancar angkutan daerah pedalaman dan daerah terpencil.4 218.7 188.606 81 301 2) 190 140 42 2) 55 4) 99 79 3. Selanjutnya juga telah dilakukan penelitian terhadap penggunaan angkutan kereta api untuk angkutan petikemas serta penelitian pembangunan lintasan baru bagi pengembangan industri semen di pulau Jawa dan Sumatera.5 295.2 296. Di samping itu pembangunan angkutan penyeberangan juga telah dapat meningkatkan hubungan penyeberangan sungai dan selat. Lok listrik (buah) 8. 1969/1970 .1983/1984 1969/70 1970/71 1971/12 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 94.2 280.382. Dengan demikian. beton (buah) b.379 buah rambu-rambu. Angka diperbaiki TabelVII.055 3.272 1.5 5) 1. Bangunan operasional (m2) 5.60 4.6 124. danau dan penyeberangan. Assembling gerbong (buah) I 1.825 1. penghematan energi bahan bakar minyak melalui sistem propulsi kereta api dengan listrik dari PLN. danau dan penyeberangan telah dapat ditingkatkan menjadi satu kesatuan hubungan yang terpadu.50 191 1.223 2. Perbaikan pilar jembatan(m 3) (ton) 4.341 5) 4. 5 buah terminal.3 232. Penggantian rei (km) 2.469 15 10 23 69 68 48 31 28 7 3 13 16 40 91 103 111 111 107 118 163 128 387 15 2 2 8 20 65 62 176 390 444 635 406 256 246 328 387 92 52 58 25 680 714 2. 57 REHABILITASI DI BIDANG PERKERETAAPIAN. baja(buah) 1.8 620 968 164 732.371 3.000 meterkubik.112 301 236 455 135 130 42 20 15 15 69 196 111 93 259 34 22 42 34 56 83 38 21 389 3) 1. serta beberapa lokasi sarana angkutan jalan. Pelaksanaan pembangunan angkutan sungai. danau dan penyeberangan.136.2 397.4 349. serta penyediaan jasa angkutan sepanjang tahun secara tetap dan teratur.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penambahan sarana angkutan dan peningkatan prasarananya. Angka sementara 5.9 126.474 973 1.9 5. Hasil-hasil yang dicapai selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III antara lain meliputi pembangunan 25 buah dermaga sungai. penghematan waktu.376.960 3.6 513. penyediaan jasa angkutan diarahkan agar pihak swasta dan koperasi khususnya golongan ekonomi lemah dapat turut berperanserta.2 351.096 kilometer dan pengerukan sekitar 300. Di samping itu Departemen Keuangan RI 218 .772 2.243 7.906 3. Adapun tujuan proyek kereta api Jabotabek tersebut antara lain untuk mengurangi beban jalan raya. Penggantian bantalan(ribu bt) 3. pembersihan alur sepanjang 1. Lok disel (buah) 7.943 14. di samping dimaksudkan juga untuk memekarkan bidang usaha pelayanan tradisional. meningkatkan kapasitas angkut serta menciptakan sistem transportasi yang terpadu antara kereta api dan jalan raya.1 150.675 11. Rehabilitasi gerbong (buah) 10. Unit 2.7 578.038.

7. danau dan penyeberangan. pengembangan armada angkutan taut terse but dilakukan oleh pihak swasta nasional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 angkutan penyeberangan juga telah dapat beroperasi di 19 lintasan yang dilayari oleh 62 kapal. Untuk dapat meningkatkan jasa perhubungan taut secara keseluruhan. swasta maupun koperasi.2. 11 buah kapal inspeksi serta pengerukan sebanyak 113. Perhubungan taut pembangunan di bidang perhubungan taut ditandai dengan meningkatnya penyediaan jasa angkutan taut baik oleh sektor Pemerintah. pengembangan jasa industri maritim dan pekerjaan bawah air. armada pelayaran rakyat dan armada pelayaran perintis. dengan menciptakan iklim usaha Departemen Keuangan RI 219 . pengerukan kolam pelabuhan. 2 buah terminal sungai dan 291 buah rambu sungai. 4 buah terminal penyeberangan. alur pelayaran. Hasil-hasil yang dicapai dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni tahun 1984 adalah meliputi pembangunan 9 buah dermaga penyeberangan. Sedangkan dalam tahun pertama Repelita IV telah dilakukan peningkatan dan pembangunan sarana dan prasarana angkutan sungai. Dalam hal ini partisiposi Pemerintah dibatasi pada kegiatan pelayaran tertentu saja. danau dan penyeberangan berupa rehabilitasi dan penambahan kapal. telekomunikasi pelayaran. penambahan fasilitas keselamatan pelayaran serta pembersihan dan pengerukan alur pelayaran. serta lintas-lintas perairan dipedalaman Kalimantan. di samping juga sedang diselesaikan sebanyak 8 buah lintasan baru. dilakukan peningkatan fasilitas armada taut. Sementara itu akan terus ditingkatkan pembangunan lintas dari Sabang sampai ke Los Palos. Selain itu terus dilakukan pula peningkatan kapositas armada pelayaran dan mutu pelayanan luar negeri yang meliputi armada pelayaran samudera umum dan armada pelayaran samudera khusus.211 meterkubik. di mana setiap lintasan dilayari oleh lebih dari 2 kapal penyeberangan baik milik swasta. Hal tersebut antara lain meliputi peningkatan kapositas angkutan armada pelayaran dan mutu pelayanan dalam negeri yang terdiri atas armada pelayaran nusantara. pembangunan dermaga dan terminal. keselamatan pelayaran. lintas-lintas di kepulauan Maluku dan Irian Jaya. penyempurnaan kelembagaan serta pembinaan \ terhadap usaha masyarakat di bidang angkutan sungai. Selanjutnya telah pula dilakukan penambahan 2 buah sarana angkutan sungai dan danau. 2 buah dermaga sungai. kesyahbandaran. Selain itu juga telah dilakukan peningkatan pelayaran operasional. di samping juga usaha patungan antara pihak swasta nasional dengan swasta asing. fasilitas pengamanan taut dan pantai. serta peningkatan kapositas galangan kapal. danau dan penyeberangan di Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya. peralatan pelabuhan. lintas angkutan sungai.8. armada pelayaran lokal. koperasi maupun Pemerintah.

serta tarip jasa yang terjangkau. cepat dan teratur..423. serta penumpang sebesar 4 persen. sehingga dapat meningkatkan pelayaran antarpulau yang lebih efektif. manajemen dan diversifikasi usaha. Sejalan dengan meningkatnya angkutan transmigrasi dari tempat asal ke tempat tujuan. penyediaan jasa perintis diselenggarakan oleh Pemerintah. sedangkan pelaksanaan angkutan transmigrasi diselenggarakan oleh Pemerintah dan swasta.375 DWT. karena pada akhir Pelita III sebanyak 62 karat dengan clara muat 60'. Peranan perhubungan laut secara keseluruhan terus ditingkatkan untuk mencapai keterpaduan berbagai jenis pelayaran.58. Sebaliknya jumlah dan kapositas armada mengalami penurunan. dan diarahkan pada usaha wiraswasta bahari nasional dengan mendorong perusahaan-perusahaan kecil untuk bergabung dalam bentuk koperasi.824 DWT. Perkembangan armada niaga Nusantara dapat dilihat pada Tabel VII. Dalam tahun 1982/1983. termasuk transmigrasi. serta pembinaan perusahaan-perusahaan pelayaran. Kegiatan-kegiatan tersebut dimaksudkan agar sistem angkutan taut dapat meningkatkan kegiatan pemasaran. Selain itu juga dilakukan pembinaan pelayaran rakyat sebagai modal angkutan tradisional yang potensial. dengan memakai karat sebanyak 387 buah dengan kapositas 486. serta pembinaan sistem organisasi.690 DWT telah berusia di alas 30 rabun. maka karat-karat tersebut secara bertahap sampai dengan bulan Agustus 1984 diganti dengan karat-karat produk.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang ditujukan untuk merangsang pihak swasta dalam menunjang pengembangan armada nasional.si dalam negeri. efisien. Namun . dengan memakai karat sebanyak 397 buah dengan kapositas seluruhnya 503.896 orang. dapat menjangkau daerah-daerah terpencil dan dapat meningkatkan kegiatan ekspor. serta memperlancar arus barang dan penumpang. pengembangan daerah terutama di Indonesia bagian timur. 495.457.245 penumpang.untuk lebih meningkatkan lagi produktivitas angkman lalit. Selanjutnya pola jaringan pelayaran Nusantara telah dipadukan dengan jaringan yang dilayani kapal pelayaran lokal.463 ton barang dan 1_.927 unit petikemas. sehingga tidak dapat lagi beroperasi sepenuhnya. penyempurnaan sistem trayek pelayaran.610 ton dan 4. teratur. armada pelayaran Nusantara telah memanfaatkan prasarana dan Departemen Keuangan RI 220 . Sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlah muatan yang diangkut telah meningkat menjadi 8. Armada pelayaran Nusantara dan pelayaran lokal sebagai jaringan utama angkutan taut dalam negeri telah dan terus ditingkatkan melalui penambahan kapositas armada pelayaran. Dalam periode tersebut telah terjadi peningkatan muatan barang dan petikemas sebesar 13 persen dan 218 persen. jumlah muatan yang diangkut oleh armada pelayaran Nusantara meliputi barang sebanyak 7.376 unit petikemas penumpang sebanyak 475. sehingga terwujud suatu sistem pelayaran terpadu yang menunjang kelancaran arus barang dan penumpang dengan aman.

juga merupakan pelayaran yang sesuai dengan potensi angkutan laut tradisional sehingga terus dikembangkan dan dibina. kapositas armada pelayaran rakyat baru sebesar 180. Kalimantan Selatan.347 ton barang dan 653.747 orang.3 persen dan 6 persen.400 DWT. Sunda Kelapa. Untuk menunjang perkembangan armada pelayaran lokal tersebut.460 DWT dan 2. Di samping itu dalam tahun yang sarna juga telah dimotorisasikan sebanyak 1. sedangkan dalam tahun 1983/ 1984 masing-masing telah meningkat menjadi 195. telah berkembang adalah seperti yang diharapkan terutama dalam mengumpulkan barang-barang ke pelabuhan pengumpul. jumlah armada pelayaran lokal baru sebanyak 1. baik di daerah asal transmigrasi maupun di pelabuhan kecil yang melayani daerah-daerah pemukiman transmigrasi. Riau. Semarang. Kendari. Perkembangan jumlah armada pelayaran lokal dapat dilihat pada Tabel VII. Surabaya. Idi dan Ternate. Benoa dan Lembar ke berbagai daerah tujuan pemukiman transmigrasi di Sumatera.481. Kalimantan Tengah. serta mengangkut barang dan penumpang masing-masing seberat 2.294.049 buah karat dengan kapasitas 129. serta mengangkut 2. Departemen Keuangan RI 221 . Bidang pelayaran rakyat selain merupakan jenis angkutan laut penunjang pelayaran Nusantara yang melayari daerah-daerah terpencil.496 orang. Bitung. terus dilakukan peningkatan dan pembangunan beberapa prasarana dan sarana pelabuhan perahu layar.390 kapal melalui dana Bantuan Presiden. Kalimantan Timur. Selama ini armada pelayaran Nusantara telah melaksanakan pengangkutan transmigrasi dari beberapa pelabuhan asal yaitu Tanjung Priok. Untuk menunjang pelayaran terse but. Donggala.436 ton.138 DWT. Palembang. Sulawesi Tengah. Tegal. Dalam kaitan ini juga telah dilaksanakan peningkatan fasilitas pelabuhan. Kalimantan Barat. Maluku dan Irian Jaya. Pelayaran lokal sebagai unsur penunjang pelayaran Nusantara Regular Liner Service (RLS). Sulawesi Utara.59. terus dilakukan pembinaan melalui usaha koperasi dan motorisasi perahu layar dengan mengutamakan golongan ekonomi lemah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sarana perhubungan taut yang ada tanpa mengganggu fungsi mama kegiatan pelayarannya. Gresik. namun kapasitasnya telah meningkat menjadi 133. Semarang.677 ton dan sebanyak 610.025 buah. atau suatu kenaikan masing-masing sebesar 8. Paotere. Pem binaan pelayaran rakyat dimaksudkan untuk membantu meningkatkan kehidupan so sial ekonomi masyarakat dan sekaligus memberikan kesempatan untuk berkembang bagi golongan ekonomi lemah. Dalam tahun 1982/1983.155. usaha koperasi serta usaha swadaya masyarakat.477 DWT dengan jumlah muatan sebanyak 2. Walaupun dalam tahun 1983/1984 jumlah karat telah menurun menjadi 1.444. Cirebon. Dalam tahun 1982/1983. Jambi. Sulawesi Tenggara.600 ton. antara lain di Sibolga.

1 Muatan yang ( ribu ton) 1.6 92. Di samping itu Departemen Keuangan RI 222 .824 Tahun T abel VII.1983 Jumlah kapal Kapal 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982i) 1983 1) Angka sementara 182 273 282 282 267 300 305 340 316 322 373 390 361 397 387 DWT 184.824 Kapal-k.090 1982 1.6 163.479 1.278 1.389 1980 1.685 238.970 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e 1 VII.081 1981 1.350 267.375 4.543 1.481 Tahun Jumlah kapal 1969 803 1970 777 1971 623 1972 679 1973 980 1974 965 1975 858 1976 1.669 284.445 2. 1969 . 58 ARMADA PELAYARAN NIAGA NUSANTARA.277 1977 1.375 486.1 147.208 938 1.025 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Pembangunan di bidang pelayaran perintis juga terus ditingkatkan.278 1.2 154.378 425. 59 ARMADA DAN MUATAN PELAYARAN LOKAL. 1969 -1983 Kapositas ( ribu DWT ) 60.271 2.954 406.954 406.4 129.448 1979 1.348 1978 1.000 386.411 311.899 1. antara lain melalui perluasan hubungan angkutan laut ke daerah-daerah terpencil dan terisolir.200 2.759 321.144 1983 2) 1.8 132.950 330.000 386.931 272.931 272.419 310.822 1.411 311.669 321.41) 133. pengaturan pelayaran serta penambahan frekuensi.7 90 83 86 92.669 284.9 155.apal yang beroperasi Kapal 130 232 215 282 267 300 305 340 316 322 373 390 361 397 387 DWT 138.004 234.6 92.378 425.419 310.570 312. penambahan pe!abuhan yang disinggahi.428 503.428 503.950 330.162 1.570 312.382 1.535 321.8 161.

pantai barat Sumatera. bauksit. Jumlah dan kapositas kapal petikemas tersebut telah mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan akhir Pelita III yang berjumlah 11 buah kapal dengan kapositas seluruhnya 130.465 ribu ton. minyak kelapa sawit. Demikian pula pembinaan pelayaran diarahkan pad a sistem angkutan laut yang teratur. posir besi. oleh karena kapal petikemas konvensional tidak dioperasikan lagi. melayari 29 trayek. pupuk. bermuatan nasional seberat 6. telah terjadi penurunan yaitu jumlah armada yang dioperasikan menjadi 31 kapal.501 buah kapal dengan kapositas seluruhnya Departemen Keuangan RI 223 . Dalam tahun 1982/1983. kapositas yang tersedia telah mencapai sebesar 732.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 terus dilakukan pula pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaannya. Sedangkan dalam tahun 1983/1984. jumlah armada pelayaran khusus baru mencapai 2. Dalam tahun 1982/1983. Pelayaran khusus. murah dan aman. kayu. Di samping itu setiap tahun kaposltas dan jumlah kapalnya juga telah disesuaikan dengan pertumbuhan permintaan akan jasa angkutan laut.694. dengan sejauh mungkin memanfaatkan usaha pelayaran swasta setempat terutama pengusaha golongan ekonomi lemah. yang melayari 35 trayek dan menyinggahi sebanyak 214 pelabuhan. Perkembangan jumlah armada dan muatan pelayaran samudera dapat dilihat pada Tabel VII.500 DWT dan 61. dan 4 buah kapal semi container dengan clara angkut seluruhnya masing-masing 61.200 ton barang dan 127.964 ribu ton. Riau dan Banjarmasin. aspal. yang terdiri atas 3 buah kapal full container. yang antara lain mengangkut minyak bumi. jumlah armada pelayaran perintis yang telah dioperasikan adalah sebanyak 36 kapal. di samping telah dilakukan pula penyesuaian terhadap perkembangan teknologi. cepat. baik jumlah armada maupun daya angkutnya. Jumlah muatan yang diangkut kapal nasional dalam taliun 1982/1983 adalah sebanyak 18. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 PT Jakarta Lloyd telah memiliki serta mengoperasikan sebanyak 7 buah kapal. Adanya peningkatan penggunaan angkutan petikemas pada gilirannya teiah meningkatkan kapositas angkut disamping lebih efisien pula penggunaannya.000 ton. baik semi container (petikemas) maupun full container.387 orang. Dengan adanya usaha peningkatan angkutan petikemas. dengan muatan yang diangkut seberat 53.270. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 18. nikel. Pe1ayaran samudera telah pula meningkat karasitasnya.325 DWT.052 DWT.848 penumpang.200 DWT. tetap. Berkurangnya jumlah kapal yang digunakan dan trayek yang dilayari terse but adalah karena telah banyaknya trayek-trayek ekonomi yang dapat dilayari pelayaran lokal dan pelayaran rakyat. dan semen. menyinggahi 177 pelabuhan dengan muatan seberat 31. antara lain di pantai barat Aceh.000 ton dan bermuatan asing seberat 12. Dalam tahun 1983/1984.166 ton barang dan 161.60. sampai dengan akhir Pelita III telah meningkat.

kayu olahan. Panarukan. Keempat pelabuhan tersebut ditunjang oleh 14 pelabuhan kolektor sebagai pengumpul dan pengirim barang ekspor. Hal ini berarti telah terjadi peningkatan masing-masing sebesar 1.7 persen. yang dilakukan di pelabuhan-pelabuhan dan alur pelayaran Belawan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2.587 HP. Dalam tahun 1983/1984 telah berhasil dilakukan pengerukan lumpur sebanyak 15. fasilitas gudang dan lapangan penumpukan. Adanya peningkatan pelayaran khusus dalam negeri tersebut juga telah memperlancar distribusi bahan pangan serta bahan 'bakar minyak (BBM) ke seluruh pelosok tanah air. Ujungpandang.240. Untuk memelihara dan meningkatkan kelancaran lalu lintas kolam pelabuhan dan alur pelayaran!. serta peningkatan peralatan bongkar muat barang. serta mengangkut muatan nonmigas dan migas sebanyak 36. Sedangkan untuk kegiatan angkutan laut domestik. Kenaikan muatan tersebut antara lain disebabkan karena meningkatnya produksi di bidang industri semen.215 DWT.489 BRT dan 425.71juta meterkubik.61. Kegiatan tersebut dilakukan melalui rehabilitasi.pengerukan kolam pelabuhan dan alur pelayaran telah dan terus ditingkatkan. Gresik. terutama dengan semakin meningkatnya standar kapal dan bongkar muat barang. Semarang. bijih tambang serta minyak dan gas bumi. Sei Barito. Probolinggo. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 2. 784.542 buah kapal.772. Tanjung Petak. Tanjung Perak dan Ujungpandang. dengan kapositas 2. disediakan sebanyak 25 pelabuhan Utama yang tersebar di seluruh wilayah tanah air. pembangunan baru dan peningkatan fasilitas dermaga. Sunda Kelapa. Kendari. Hasil-hasil pengerukan pelabuhan dapat dilihat pada Tabel VII.628 liter/ton. Tanjung Priok. 649. Cirebon. Pengerukan tersebut dilakukan oleh 39 buah kapal keruk dengan kapositas 39 juta meterkubik. Palembang.981. Pengembangan fasilitas pelabuhan merupakan salah satu penunjang kegiatan pelayaran. 17. 606.489 BRT dan 361. Pulau Batam.682. Tegal. 150 persen dan 141 persen. Di samping itu dilakukan pula peningkatan operasional melalui pembentukan perusahaan umum pelabuhan dan pengelompokan pelabuhanpelabuhan dalam 4 Perum pelabuhan yang berpusat di Belawan. Selain itu juga telah dilakukan peningkatan keterampilan tenaga kerja dan buruh pelabuhan agar pengoperasiannya dapat dilaksanakan Departemen Keuangan RI 224 .041 ton/meterkubik dan 39. Jambi. serta mengangkut muatan non migas dan migas masing-masing seberat 14.6 persen.740 DWT.408 HP. Sei Kahayan. Oleh sebab itu pembangunan fasilitas pelabuhan terus ditingkatkan sesuai dengan pertumbuhan lalu limas pelayaran dan arus bongkar muat barang yang terjadi di masing-masing pelabuhan. Manado dan Bitung. pupuk.541 liter/ton. Bengkulu. Tanjung Priok. Sei Mahakam. minyak kelapa sawit.535 ton/meterkubik dan 95.267.

917 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan lebih.1 15 17.2 14.917 meter persegi. Tabel VII. 1969/1970 .7 Persentase terhadap target 145 115 106 100 100 100 104 109 103 83 100 100 100 100 100 1) Angka sementara Ketelangan : JumIah lumpur yang dikeruk dinyatakan dalam juta m 3 hopper ( lumpur bercampur air ) Departemen Keuangan RI 225 .7 17.343 1.62. pembangunan penahan gelombang seluas 8.6 16 16 16 16. Hasil-hasil yang telah dicapai dalam tahun 1983/1984. antara lain meliputi rehabilitasi dan peningkatan dermaga seluas 5.026 meterpersegi. produktivitas rata-rata dermaga pelabuhan telah mencapai 700-800 ton/meter per tahun.7 15.186 meter persegi serta pembangunan lapangan penumpukan seluas 41.095 16.2 17.964 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1) Angka sementara Tab e I VII.1983/1984 ( dalam juta m3 ) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/19831) 1983/1984 Target 11.967 5.5 16.452 12.923 9.6 16 16 16 16 16 19 20.7 Realisasi 16.406 10.0 11.636 18. Perkembangan fasilitas pelabuhan dapat diikuti melalui Tabel VII.2 17.145 meter persegi. Dengan pembangunan tersebut.120 14.5 21. 61 HASIL PENGERUKAN PELABUHAN.752 16.121 12.0 15.465 18. pembangunan dermaga baru seluas 54.913 2.7 15 17. 1969 -1983 Tahun JumIah kapal 39 48 59 53 41 45 47 50 54 52 50 58 61 62 51 Kapositas (ribu DWT) 318 386 489 467 387 339 412 450 491 513 513 668 802 827 732 Muatan yang ( ribu ton) 1.2 14.4 16.7 15. baik.650 6. 60 ARMADA DAN MUATAN PELAYARAN SAMUDERA.0 10.

Rehabilitasi (kva) . G u d a n g . Stasiun radio kelas I 2.026 8. G u d an g .473 14.270 45 3.550 33.296 31. Penahan gelombang .Rehabilitasi .810 4.310 22. Stasiun radio kelas III 4..Penambahan 3.100 11.Penambahan 2.216 17.650 2 1.100 m2 11 6 Di bidang jasa maritim. Lampu peIabuhan 6. 63 REHABILITASIIPEMBANGUNAN FASILITAS KESELAMATAN PELAY ARAN.732 230 5.025 756 pelabuhan 6 15 3 3 5 6 5 5 8 Fisik 11.700 DWT dengan produksi doking sekitar 127 juta DWT. Stasiun radio kelas II 3.878 2.800 22. Kade / dennaga .764 18.521 1.Rehabilitasi .700 3.720 11.497 2.62 REALISASI FISIK PEMBANGUNAN FASILITAS PELABUHAN.000 DWT telah dapat diperbaiki oleh galangan kapal dalam negeri.794 2.Penambahan (ton/h.kapal serta pembersihan alur dan daerah perairan dari kerangka. Pangkalan bantu sarana navigasi 10. Stasiun radio kelas IV 1) Masing-masing adalah merupakan bagian dari 2) Angka sementara 1972/73 10 13 8 1 2 1 2 1 1973/74 11 13 26 1974/75 4 9 6 2 2 1 2 1975/76 12 17 5 1 1976/77 7 5 10 2 2 4 1977/78 9 13 1978/79 11 25 7 14 2 1979/80 10 11 20 7 1980/81 12 18 1 6 10 1981/82 12 38 7 15 12 1982/83 1983/84 1) 1984/85 2) 26 39 7 5 11 23 2 27 3 6 25 23 4 5 1 1 1 . dewasa ini telah dapat ditingkatkan kemampuan perawatan.242 800 320 2.690 15.Rehabilitasi (ton/hari) .Rehabilitasi (kva) .kerangka kapal. di samping juga kemampuan dan fasilitas galangan kapal dalam negeri.257 23.Rehabilitasi .946 2 15 2 1 4 1 4 21.Rehabilitasi .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.Penambahan (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) 90 1 (ton) (ton) (hp) 59.066 1. sebanyak 60 persen dari armada pelayaran nasional yang berukuran di bawah 10. Buoy tender 7.455 135 48. Dermaga .Rehabilitasi .035 (ton) (ton) (hp) 6 25 27 17 6 1 15 9 6 3 16 4 2 1 2.942 2.218 m2 1980/1981 Jumlah Fisik 1.000 400 5 unit 40 unit 3 - 7 31.535 260 1. Ben g k e I 11.500 pe1abuhan 5 64 1 6 1 2 4 1 6 Fisik 3.070 2.465 5.255 1982/1983 Jumlah 1983/1984 Jumlah pelabuhan pelabuhan 4 31 1 1 4 5 3 35 1 2 800 1984/1985 1) J um1ah Fisik Fisik pelabuhan 0 0 0 0 8.700 299 60 3. Kapal rambu (watch boat) 9.n) 6. 1972/1973 .Rehabilitasi . AJat bongkar moat . Fasilitas air .700 2 unit 4 18 1 5 2 6 2 4 3 2.Rehabilitasi .Penambahan (ton/hari) 6.1984/1985 ( dalam satuan ) Jenis sarana L Pcrambuan daft pencrangan pantai : 1.Penambahan (kva) 5.007 10 17 3 4 6 11 5 6 10 1978/1979 Jumlah Fisik 14. Kode / dermaga .Penambahan 4. Dalam tahun 1983/1984.325 24.960 4 17 4 8 1 1 6 1 4 2 9.281 11. 1969/1970 -1984/1985 1977/1978 PELITA I 1974/1975 1975/1976 1976/1977 Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Fisik Fisik Fisik Fisik Fisik pelabuhan pelabuhan pelabuhan pelabuhan pelabuhan 1. IL Telekomunikasi: 1.Penambahan (kva) 5.368 1.750 2. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984.Penambahan 2.Rehabilitasi (ton/hari) .190 1.928 1. perbaikan dan pembangunan kapal.600 200 200 1981/1982 Jumlah pelabuhan 6 47 2 4 2 4 1 1 400 Fisik 2. Elektrifikasi menara suar 2.334 11.246 17.253 12.804 300 155.680 1.800 m2 1) 700 m2 1) 7 1 5 23 - 5 2 1 26 4 6 8 1. Supply Vessel 8. Lis t ri k . karang dan ranjau.514 54.186 - T abe I VII.075 10.206 1.Penambahan 3. ADak pelampung 5.800 53.340 1979/1980 Jumlah pelabuhan 15 3 55 360 500 3 unit 150 900! 1. Listrik . Rambu suax 3.921 6.175 2. Pelampung suar 4.Rehabilitasi .399 2.190 22. Dalam hubungan ini terus ditingkatkan perawatan dan perbaikan kapal nasional. Fasilitas air .425 3.725 8.Penambahan (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) 29.455 515 7.145 11. Penahan gelombang .500 3.Penambahan 4. AIat bongkar muat . Di samping itu juga telah dilakukan Departemen Keuangan RI 226 . jumlah kapositas galangan kapal telah mencapai 163.

Surabaya. Sehubungan dengan itu terus dilaksanakan proyek-proyek lanjutan dalam masa Pelita IV. walaupun pada tahun terakhir Pelita III tingkat pertumbuhannya tidak setinggi awal Pelita III. sarana dan angkutan udara mengalami kenaikan. Departemen Keuangan RI 227 .63. Hasil rehabilitasi fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dapat diikuti melalui Tabel VII. menara suar. Sedangkan guna meningkatkan pengawasan teknis pembangunan reparasi kapal. Selanjutnya untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dok/galangan kapal dalam negeri. barang. pcnjagaan laut dan pantai serta jasa klasifikasi. perluasan jaringan penerbangan. Ujungpandang. serta dapat menjangkau ke se1uruh tanah air. Demikian pula dalam rangka keselamatan dan keamanan pelayaran. terutama di pelabuhan Sunda Kelapa dan Cilacap. pertumbuhan prasarana. hewan. telah dapat dikembangkan sebanyak 5 buah pe1abuhan udara. Selain itu juga oleh adanya peningkatan frekuensi penerbangan. Perhubungan udara Kegiatan pembangunan sektor perhubungan udara sampai dengan tahun pertama Pelita IV ditandai antara lain oleh usaha pemenuhan kebutuhan masyarakat di bidang jasa angkutan udara yang semakin meningkat. peningkatan kesyahbandaran.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembersihan alur-alur pelayaran dan daerah pelabuhan dari kerangka kapal dan ranjau. Se1ain diusahakan pertumbuhan angkutan komersial dalam dan luar negeri. te1ah pula dilakukan peningkatan pe1ayanan angkutan perintis di daerah-daerah terpencil.8. serta peningkatan pe1ayanan angkutan transmigrasi dan pelayanan angkutan haji. Selama Pelita III. antara lain berupa pembangunan fasilitas navigasi. Di samping itu juga te1ah dilaksanakan pembangunan landasan udara baru sesuai dengan pertumbuhan lalu lintas udara. penambahan jumlah dan komposisi armada. dan Biak guna menampung pesawat berbadan lebar tipe B-747. dalam waktu yang sama telah dapat ditingkatkan kemampuan dan modernisasi sarana keselamatan dan keamanan pelayaran di perairan Indonesia. Denpasar. Sejalan dengan itu ditempuh usaha-usaha untuk menciptakan kemudahan-kemudahan bagi lalu lintas penumpang. serta peningkatan kemampuan pegawai melalui pendidikan dan latihan. yaitu di Medan. rambu suar. peningkatan kemampuan landasan udara serta penambahan peralatan keselamatan penerbangan. dilakukan pembinaan di bidang manajemen keuangan serta pembentukan usaha patungan perusahaan dok/galangan kapal dalam negeri dengan perusahaan dok/galangan kapalluar negeri. radio pantai.3. Sampai dengan tahun pertama Repe1ita IV. 7. A-300 dan DC-lO. terus dilakukan pembinaan klasifikasi Indonesia dan penambahan sarana laboratorium. termasuk di dalamnya pembangunan dan peningkatan beberapa pe1abuhan udara dan lapangan terbang. tanaman dan pos melalui udara.

Uji coba pendaratan dan lepas landas telah dilakukan. disesuaikan menjadi pelabuhan udara yang dapat dioperasikan untuk pesawat CN-235. Adapun pelabuhan udara internasional di Cengkareng sedang dalam taraf penyelesaian. 2 landasan oleh DC-lO dan A-300 serta 2 landasan yang dapat didarati oleh B-747. fasilitas dan pesawat terbang. jumlah lapangan terbang perintis telah berhasil ditambah menjadi 95 buah yang dilayani oleh 19 buah pesawat DHC-6 dan 16 buah pesawat C-212. Kegiatan penerbangan perintis terus ditingkatkan pula melalui penambahan frekuensi penerbangan dan lapangan terbang perintis. Samarinda. Sehubungan dengan akan diproduksinya pesawat CN-235. sedangkan penyelesaian pekerjaan akan dilanjutkan dengan penyempurnaan gedung terminal dan fasilitas peralatan kese1amatan penerbangan. jumlah pelabuhan udara yang beroperasi lebih dari 12 jam telah menjadi 20 buah pelabuhan udara. Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Halim Perdanakusumah di Jakarta. Ampenan. 20 landasan oleh F-28. Waingapu. Pulau Batam. Kota Baru. Demikian pula telah dilakukan pemasangan fasilitas radar di 7 pelabuhan udara. Hasanuddin di Ujungpandang dan Mokmer di Biak. hingga tahun pertama Repelita IV juga telah ditingkatkan fasilitasnya. sedangkan pada 6 pelabuhan udara lainnya sedang dalam persiapan pemasangan instalasi. Bima. Talangbetutu di Palembang. Waikabubak dan Baucau. Nabire. 3 landasan oleh pesawat Hercules tipe L-I00-300. telah dilakukan pembukaan Departemen Keuangan RI 228 . maka pelabuhan udara yang semula direncanakan menjadi pelabuhan udara yang dapat dioperasikan dengan pesawat Fokker 27 (F-27). Dalam pada itu telah pula dibangun dan ditingkatkan pe1abuhan udara perintis di 75 lokasi yang tersebar di 27 propinsi di Indonesia. fasilitas pengangkat pesawat di 3 pelabuhan udara dan fasilitas pemadam kebakaran di 48 pelabuhan udara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 antara lain di Meulaboh. Selain itu sesuai dengan sa saran yang hendak dicapai. Di bidang keselamatan penerbangan. antara lain bahwa semua pelabuhan udara yang melayani pesawat jet secara bertahap diperlengkapi dengan instalasi peralatan navigasi DVOR (Doppler Very High Omni Range). Timika. Poso. Ruteng. Di samping itu juga telah dilakukan pemasangan alat bantu pendaratan ILS (Instrumen Landing System) di 7 pelabuhan udara yaitu Polonia di Medan. dan sesuai dengan jadwal akan beroperasi penuh dalam bulan April 1985. Pangkalan Bun. Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan pelabuhan udara. fasilitas telekomunikasi di 46 pelabuhan udara. serta untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas udara dari pemakaian jasa terminal pelabuhan udara. Juanda di Surabaya. 7 landasan oleh DC-9. Hasil pembangunan yang telah dicapai dalam tahun pertama Repelita IV antara lain te1ah terdapatnya 9 landasan yang dapat didarati oleh pesawat tipe C-l60 dan CN-235. Samsudin Noor di Banjarmasin.

Surabaya. Mandala menggunakan 15 buah pesawat. Adapun dalam menunjang program transmigrasi dan pelaksanaan angkutan haji.943 orang dari 4lokasi penerbangan. Ujungpandang dan Biak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa pelabuhan udara bagi penerbangan malam. Kemayoran Jakarta. Dalam tahun pertama Repelita IV. Untuk melaksanakan angkutan transmigrasi. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 16 buah pesawat dan dipergunakan untuk melayani penerbangan perintis. yaitu Medan. Jumlah pesawat yang digunakan untuk masing-masing armada penerbangan telah pula meningkat. Dalam hubungan ini baru sepuluh buah pelabuhan udara (Pelud) yang dioperasikan secara penuh melalui perpanjangan jam operasi dan dilengkapi dengan fasilitas penerbangan malam. yaitu bila dalam tahun 1978 baru sebanyak 2 buah pesawat. Sejalan dengan pembangunan pelabuhan udara dan fasilitas keselamatan penerbangan. Di samping itu penggunaan pesawat hasil rakitan PT Nurtanio juga telah meningkat. Halim Perdanakusumah Jakarta. angkutan udara dalam negeri telah dilayani oleh sebanyak 768 buah pesawat. 250 buah pesawat untuk melayani penerbangan tidak berjadwal . Dari jumlah tersebut. usaha untuk Departemen Keuangan RI 229 . Dalam tahun 1983/1984. telah ditingkatkan pula sarana angkutan udara yaitu pesawat udara bermesin turbo-prop dan pesawat bermesin turbo-jet. Di samping itu. dengan mengusahakan agar perusahaanperusahaan penerbangan memanfaatkan fasilitas tersebut. Palembang. Bouraq menggunakan 26 buah pesawat dan Seulawah menggunakan 4 buah pesawat.921 kepala keluarga (KK). sedangkan dalam waktu yang sarna jemaah haji udara telah dapat diangkut sebanyak 49. Pelita Air Service sebagai pengelolanya telah memiliki 6 buah pesawat udara tipe Hercules (L-I00-300) dan 3 buah pesawat udara tipe Transall (C-I00). telah dapat ditingkatkan baik kapositas angkutan maupun mutu pelayanannya. PT Merpati Nusantara Airways (MNA) menggunakan 57 buah pesawat. dimana 30 buah di antaranya telah siap dengan fasilitas penerbangan malam.yang terdiri alas 231 buah pesawat yang mempunyai kapositas tinggallandas di alas 10 ton. PT Garuda Indonesian Airways (GIA) telah menggunakan 86 buah pesawat. Selanjutnya telah direncanakan pula sebanyak 42 Pelud untuk melayani penerbangan malam. Semarang. angkutan transmigrasi udara telah diangkut melalui udara adalah sebanyak 28. 353 buah pesawat dengan kapositas tinggal landas di bawah 10 ton dan 184 buah pesawat helikopter. Bali. sebanyak 188 buah di antaranya dipergunakan untuk melayani penerbangan berjadwal.dan sisanya sebanyak 330 buah lagi dipergunakan untuk melayani penerbangan umum. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang kemajuan teknologi angkutan udara agar dapat memenuhi dan melayani permintaan angkutan udara baik di dalam maupun di luar negeri. Banjarmasin. . Dalam tahun pertama Repelita IV.

yaitu masing-masing dari sebanyak 56 buah menjadi 107 buah. Bengkulu dan Nusa Tenggara Timur. Dalam periode yang sama data meteorologi dan geofisika yang dihasilkan meningkat dengan sekitar 90 persen per tahun. Kenyataan bahwa sebagian besar areal pertanian masih merupakan daerah tadah hujan. serta stasiun Klimatologi Sicincin. dan digantinya hampir semua peralatan lama dengan yang baru sesuai dengan kemajuan teknologi. yang berarti masing-masing mengalami kenaikan sebesar 43 persen dan 187 persen. sedangkan pelayanan jasanya rata-rata naik sebesar 30 persen per tahun. baik di dalam maupun di luar negeri. dari 6 buah menjadi 27 buah. Jawa Timur dan daerah ramalan cuaca. masing-masing di Sumatera Barat.884 ton barang/pos menjadi 1.65. antara lain meliputi penelitian mengenai standardisasi pengumpulan dan penyebaran data/informasi.1 persen.711. Apabila pada akhir Pelita II jumlah penumpang dalam negeri yang diangkut baru sebanyak 4. Sampai dengan bulan Juni tahun 1984.000 orang dan 45. sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1984 selalu mengalami kenaikan.320 buah menjadi 4. Di samping itu sebagian besar stasiun yang ada juga sudah mampu beroperasi selama 24 jam sehari. Sejalan dengan itu telah pula dilakukan peningkatan fasilitas terminal di beberapa pelabuhan udara guna melayani arus wisatawan yang langsung ke tempat-tempat obyek wisata. yaitu dari sebanyak 733. maka pada akhir Pelita III telah meningkat menjadi 5.64 dan Tabel VII.113 penumpang dan 28. Angkutan penerbangan sipil ke luar negeri juga mengalami peningkatan. telah selesai dibangun dan dioperasikan stasiun geofisika Tanjung Pandan di Sumatera Selatan. serta penelitian sistematika gempa dan polusi udara. atau masing-masing telah mengalami kenaikan sebesar 12 persen dan 9 persen. klimatologi dan iklim serta stasiun penguapan dan hujan. antara lain dilakukan melalui reduksi harga tiket untuk wisata remaja dan paket wisata (package tour).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menunjang keberhasilan program pariwisata.000 orang dan 49. 350 persen.292.884 ton barang/pos. Perkembangan penerbangan sipil di dalam negeri dan ke luar negeri dapat diikuti melalui Tabel VII. serta meningkatkan penerbangan borongan dari luar negeri langsung ke tempat-tempat obyek pariwisata tanpa mengganggu penerbangan berjadwal. dari 92 buah menjadi 324 buah dan dari 2. Hasil pembangunan yang telah dicapai di bidang meteorologi dan geofisika selama Pelita III antara lain ditandai dengan bertambahnya jaring-jaring stasiun.839 penumpang dan 9. stasiun geofisika Saumlaki di Maluku. Adapun hasil penelitian yang telah diterbitkan dalam publikasi.024 buah yang berani masing-masing mengalami peningkatan sebesar 91.047.366 ton barang/pos. 252 persen dan 74 persen. penelitian kartografi normal yang bertipe hujan di Jawa Tengah. Pulau Baai dan Lasiana Kupang.790 ton barang/ pos. Jumlah stasiun-stasiun meteorologi. geofisika. menunjukkan bahwa keadaan iklim Departemen Keuangan RI 230 .

162 499 4.062 114.451 1972 7.016 1978 1) 19.304 122.499 1.940 80.602 233.925 137 1977 59. Untuk itu ditempuh kebijaksanaan dengan mendirikan lebih kurang 750 stasiun hujan utama sistem telemetry di seluruh wilayah Indonesia.543 240.651 7.209 115.023 227 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.287 4. kelembaban.649 13.057 17.494 1972 26.607 17.791 37.329 531. lengkap dengan sarana telekomunikasinya.354 102.461 1975 46.459 616.377 2.302 1.272 1981 1) 24.180 5.506 109.237 85.233 373.341 923.424 733.839 9.252 264.696 169.831 47.506 1970 16.151 56.589 223 19832) 89. Di samping itu untuk setiap balai penyuluhan pertanian juga dibangun stasiun meteorologi pertanian khusus.136 748.340 1973 7.439 4.743 20.779 134.782 28.991 1.790 213.620 87.150 4.942 1. Stasiun hujan utama ini dilengkapi pula dengan sensor lain seperti suhu.427 10.562 34.217 3.326 46. Hal ini akan terpenuhi apabila data hujan yang dikumpulkan dari 4.042 34.340 97.166.250 321.371 14.884 950.366 1.268 521. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar data hujan masih mengalami keterlambatan yang disebabkan karena banyak lokasi renakar hujan yang letaknya sangat terpencil dan jauh dari sarana komunikasi. radiasi matahari dan arab angin.914 97.1983 Km pesawat Penumpang Barang Jam terbang Tonjkm Tahun (ribu) (ribu) (ton) (ribu) (ribu) 1969 12.893 1982 1) 26.925 42.240 1.448 106 1974 2.027 36.972 2.101 653.384 10.555 80.5881) 50.166 387.047.115 245.918 176 19801) 78.512 1983 2) 23. 1969 .626 5.459 279.401 164.918 29.597 374.348.824 11.834 800.840 3.560 463. Oleh karenanya informasi dari meteorologi dan geofisika bagi sektor pertanian harus dapat dipercaya dan tepat pada waktunya.741 1.142 3.804 335.570 116 1976 55.501 82.884 526.083.290 457.246 39.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang tidak menentu pada suatu periode dapat memberikan pengaruh yang besar pada produksi pertanian.412 146.113 28.323 22.269 22.519 1) 19781) 85.664 45.353 193.758 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara TonJkm (ribu) 34.574 180.963 2.624 731.125 127.635 216.167 196 19791) 70.546 5.718 34.781 378.671 TonJkm (ribu) 31.674 80.292 49.920 51.791 1976 10.65 PENERBANGAN SIPIL KE LUAR NEGERI.510 449.675 3.098 3. 1969 -1983 Tahun Km pesaat Penumpang Barang TonJkm (ribu) (orang) (ton) Jam terbang (ribu) 1969 5.480 770 4.158.135 1980 1) 24.429 1974 7.502 1973 33.985 3.378 10.073 62.549 1971 6.377 1977 14.045 68.815 10.094 125.883 79.953 369.302 1970 6.129 52.619 302.790 809.373 32.578 4.937 3.480 1979 1) 22.760 Departemen Keuangan RI 231 .458 993 7.385 98.538 56.433 212 1982 1) 87.194 1.204lokasi dapat diterima tepat pada waktunya.015 102.340 1975 8.126 19.019 84.235 11.908 151 396.185 1971 20.483 190 1981 87.318 291.451 40.175. Tabel VII 64 PENERBANGAN SIPIL DALAM NEGERI.955 196.404 545. yaitu berupa banjir atau merajalelanya hama tanaman.711 45.

070 alur dan stasiun bumi kecil (SBK) sebanyak 10 buah. pembangunan di bidang telekomunikasi ditujukan untuk menciptakan kerangka landasan bagi pembangunan tahap-tahap Pelita berikutnya.819 alur. sehingga memungkinkan hubungan telekomunikasi yang lebih luas dan cepat.4.66. Demikian pula halnya kapositas telepon manual. Melalui serangkaian pembangunan yang dilaksanakan selama ini telah berhasil dilakukan peningkatan fasilitas telepon. fasilitas telepon otomat.8. serta sentral sambungan telepon jarak jauh (STJJ) sebanyak 14 buah dengan kapositas masing-masing 50 SS. baik yang menyangkut hubungan komunikasi di dalam maupun di luar negeri.54855 dalam tahun 1984. Untuk itu terus ditingkatkan sistem jaringan transmisi. Departemen Keuangan RI 232 .000 satuan sambungan (SS). telegrap.854 SS. alur telegrap sebanyak 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. sentral transit perluasan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) 7. transmisi teresterial 11.380 SS. sirkit tandem sebanyak 1. telepon umum sebanyak 3. pos dan giro Telekomunikasi sebagai salah satu pendorong dan penggerak pembangunan nasional terus ditingkatkan kemampuannya guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat setiap tahun.947 SS. telegrap dan telex.000 SS. yaitu sebanyak 86. telepon umum. antara lain telah dapat diselesaikan pembangunan telepon otomat sebanyak 152. alur transmisi teresterial sebanyak 15. sambungan telex sebanyak 2. sambungan telepon manual sebanyak 7. Telekomunikasi. Dengan adanya kegiatan tersebut.797 SS.583 sirkit. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dapat ditingkatkan lagi menjadi 173 buah dengan kapositas seluruhnya 583. maka dalam tahun 1983 jumlah sentral telepon otomat (STO) telah mencapai 170 buah dengan kapositas seluruhnya 576. serta penambahan sejumlah stasiun bumi. Sementara itu dalam periode yang sarna telah diselesaikan pula sambungan telepon sebanyak 26. Dalam tahun pertama pelaksanaan Repelita IV.500 buah. sambungan kontener sebanyak 900 SS.579 SS dalam tahun 1983 dan bertambah lagi menjadi 91. Di bidang telekomunikasi dalam negeri.850. telex dan jaringan transmisi. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984. Kesemuanya itu dimaksudkan untuk memperluas pemanfaatan satelit Palapa dan sejumlah fasilitas penunjang lainnya.150 SS. Di samping itu telah diselesaikan pula program ekstra sebanyak 75 buah SBK.080 SS. serta STJJ sebanyak 1. Perkembangan jumlah sentral dan kapositas telepon dapat diikuti pada Tabel VII.

Di lain pihak jumlah sentral telepon otomat telah meningkat dengan pesat.762 79.054 86.320 1978 69 367.520 1982 164 557.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TabeI VII. Pada awal Pelita I. Selain itu juga telah Departemen Keuangan RI 233 . yaitu dari 26 sentral pada awal Pelita I menjadi sebanyak 173 sentral pada awal Repelita IV.840 satuan sambungan yang melayani 24 kota di Indonesia.896 107.092 99. Pada awal Repelita IV.460 1974 37 125. hubungan telepon interlokal dengan sistem manual secara bertahap juga telah diganti dengan sistem otomat dan dimasukkan ke dalam jaringan SLJJ. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985. antara lain teiepon lokal dengan sistem manual secara bertahap telah diganti dengan sistem otomat walaupun baru menjangkau di kala-kala. telah dapat dilakukan hubungan melalui SLI ini dengan sebanyak 58 negara.660 1970 28 90. Selama Pelita III. Kenyataan ini menunjukkan bahvva selama periode tersebut tidak mengalami banyak perubahan.300 1972 33 110. kapositas dalam satuan sambungan ) Otomat Sentral Kapasitas 1969 26 84.920 104.860 1973 34 121. telah dilakukan peningkatan jaringan pada 4 buah sentral tandem nasional yang berlokasi di Medan.563 104.579 89.860 1981 156 549. sedangkan pada awal Repelita IV adalah sebanyak 509 buah. jumlah kala yang sudah masuk jaringan SLJJ mencapai sebanyak 104 kala. kapositas sentral yang terposang telah mencapai 15.772 73.660 1971 33 95. Selanjutnya masing-masing sentral tandem tersebut dihubungkan dengan sentral lokal yang tersebar di beberapa kota.200 1979 101 460. Di samping itu hubungan telepon internasional dengan sistem manual dan semi otomatis secara bertahap juga telah diganti dengan sambungan langsung internasional (SLI). sedangkan yang mendapat hubungan SLJJ terbatas adalah sebanyak 20 kala.963 1983 1) 170 576.142 101.548 Sistem yang digunakan dalam bidang telekomunikasi telah mengalami banyak perkembangan.947 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tahun Manual Sentral 506 504 496 506 504 507 507 507 503 493 468 457 469 1) 503 1) 509 509 Kapasitas 122.292 108.600 1977 54 218.500 1975 39 144.100 1980 137 524.336 91. Jakarta. jumlah sentral manual adalah sebanyak 506 buah. 66 JUMLAH SENTRAL DAN KAPASITAS TELEPON.718 102.100 1976 45 160. Surabaya dan Ujungpandang. 1969 -1984 ( sentral dalam buah.797 1984 2) 173 583.253 87.782 101. Di bidang telex. Di samping itu.167 96.

403.8 7.5 3. dengan kabel kawat masa ganda (multi-pairs wire).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dilakukan peningkatan sistem telegrap teleprinter sebagai pengganti sistem morse dan digunakan untuk menghubungkan telegrap pada 400 lokasi di kota-kota besar.237.1 240.0 4.775.5 6. VHF.1 18.2 53.120.5 10. Di samping itu telah dipakai pula sistem gelombang mikro (GM) teresterial.741.376.864.730.426.9 82.9 10.4 277.926.2 23.1 7.3 4.1 1.6 6. SKKL Medan-Penang dan stasiun kabel sebanyak 480 kallal.4 5.6 4.503.786.790.579.0 11.7 368. sentral telepon di_ital di Medan sebanyak 2.868.3 12. SKKL Medan-Singapura 1.1 1982 2.431.2 51.5 19831) 3.6 .1 19842) 1.7 2. Adapun lalu lintas telepon internasional telah pula meningkat dari sebanyak 2.3 758.8.372.1 167.8 1.849.1 411.4 75.096.5 205.718.271.284.419.8 17. 1969 .663.8 257.6 3.2 307..141.7 217.5 40.0 8.889.934.876.9 48.903.684.621. ibukota kabupaten dan beberapa kota kecamatan.8 2.2 10.5 5.696.219.190.0 176.961.8 70.Banyak pennintaan (ribu) #NAME? b.094.9 563.426. 5.1 TabeI VII.402.156.864.1 104.419.574.3 1.5 50.Sambungan langsung jarak jaub: Jumlah paisa (ribu ) Jumlah call (ribu) Co Telegrap dalam negeri: .3 276.1 134.0 105.7 7.7 4.196.1 9.353.1 14.452.244.1 331.3 3.158.2 1. stasiun referensi time division multiple accses (TDMA) dan terminal TDMA di Jatiluhur sebanyak 240 kanal. kabel koaksial dan kabel optek. Sedangkan perluasan sistem gelombang radio frekuensi tinggi HF.3 4.3 2.8 1978 964.3 9.827.529.389.877. 30. Telex dalam negeri : .263.793.446.865.4 3.084.9 7.3 67.918.885.239.916. .930.6 124. mikrowave link Jakarta-Jatiluhur sebanyak Departemen Keuangan RI 234 .1 ribu dalam tahun 1983.4 493.949.8 1. Lalu lintas telepon international: .527. Peningkatan hubungan internasional dilaksanakan melalui sistem komunikasi intelsat yang mencakup dua kawasan.364.1984 1972 1973 1974 1976 1977 1975 208.894.619.297.302.3 39.3 15.169.1 74. yang merupakan salah satu unsur renting dalam peningkatan jasa telekomunikasi baik di dalam maupun di luar negeri.6 3.4 35.4 4.67.Jumlah telegrap (ribu) .51) 240.4 12.4 1981 2.120.Jumlah telegrap (ribu) .905.2 796.9 663.1 2.776.6 9.830.5 205.1 4.174.7 488.Jumlah kata (ribu) e.479.5 106.527.0 267.7 15.0 11.1 25.4 27.459.212.3 992. GM SurabayaBanjarmasin dengan 48 aluran dan GM Indonesia Timur dengan 196 aluran.315.67 PEMAKAIAN ]ASA TELEKOMUNIKASI.0 113. dengan satelit Palapa generasi kedua Bl dan B2 yang mempunyai 24 transponder.3 43.558.8 26.988.381.2 11.2 185.073.7 124.8 13.647.622.184.7 12.332.990.233.5 6.114.4 11.543.1 414. serta kawasan Samudera Posifik (Posific Ocean Region) dengan kemampuan up-link 5 aluran dan-down link 14 aluran.0 6.7 3.817.3 6.0 379.Jumlah pulsa (ribu) f.249.9 58.036.Lokal (jumlahpulsa) 1) . dan UHF telah mencapai sebanyak 197 stasiun.7 2.064.0 4.7 12.442.925.8 10.8 1971 202.. Telegrap luar negeri: .8 470.260 kallal.6 122.2 150.94 4.2 30.8 1.0 1970 151. Dalam rangka peningkatan sarana telekomunikasi internasional.480.5 6.656.3 1.427.4 400.3 13. Lalu lintas telepon dalam negeri: .9 62.6 9.6 64. Hal ini berarti bahwa dalam periode tersebut telah terjadi suatu kenaikan sebesar 19 persen.0 389.023.100 kallal.013.760.4 7.4 56.5 10.631. yaitu kawasan Samudera Hindia (Indian Ocean Region) dengan kemampuan up-link 6 aluran dan down-link 14 aluran.622.0 60.1 14.5 63.701.059.1 772.3 11.6 140.073.136.9 157.103.297.524.1 7.2 629.047.5 30. yang meliputi GM Lintas-Sumatera dengan 693 aluran.9 1979 1.3 191.532.753.3 Sementara itu telah dilakukan pula penambahan jaringan transmisi.3 1.950.027.6 7.0 72.463.776.513.038.551.0 1.7 271.1 7.206 saluran yang dirangkaikan dengan sistem transmisi hambur-tropo (tropos catter).6 2.2 16.920.247.396.294. perkembangan jasa telekomunikasi dapat diikuti melalui Tabel VII.9 2.0 351.158. 1969 .0 3.548.011.0 2.Jumlahkata (ribu) d.576.8 55.0 5.4 3.164.0 336.399.682. sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diselesaikan pembangunan sistim komunikasi kabel laut (SKKL) Asean antara Indonesia-Singapura sebanyak 480 kallal. Penggantian Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa Al yang dalam operasi pertama baru mempunyai 12 transponder telah diganti.103.1 2.7 2.Jumlah call (ribu) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 62.958.345.9 10.430.735.51) 3.070.133.807.190.9 2.632.327.321.673.0 68.6 181.083.0 391.1 231.1 1980 1.3 ribu permintaan dalam tahun 1982 menjadi 3.Telex luar negeri : .7 182. GM Jawa-Bali dengan 2.

kantor pos besar/ kantor pos ke1as I sebanyak 21 buah. sebagai sentral pos desa sekitarnya. Se1ama Pelita III hingga tahun pertama Repelita IV. Hasil-hasil yang te1ah dicapai sampai dengan bulan Mei 1984 meliputi pembangunan kantor pos pembantu/kantor pos tambahan sebanyak 485 buah.232 desa dari sejumlah 66. Jangkauan pelayanan pos dan giro ke desa-desa te1ah mencapai 60. Selain itu te1ah berhasil pula ditetapkan sistem kode pos untuk se1uruh Indonesia guna mendukung kelancaran operasi. penambahan trafo tegangan tinggi 3x250 KVA. telah dilakukan pembangunan kantor pos dan kantor pos pembantu di kecamatan-kecamatan.488 ibukota kecamatan yang ada. Demikian pula industri telekomunikasi PT Inti. kendaraan bermotor roda 4 sebanyak 48 buah serta bis sural sebanyak 1. telah berkembang dalam meningkatkan kemampuannya di bidang usaha telekomunikasi dan elektronika. baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. kantor kepala daerah pos sebanyak 3 buah. sirkit sewa suara/data sebanyak 20 kallal.103 ibukota kecamatan dari sejumlah 3. kini te1ah dioperasikan 1 buah stasiun monitor bergerak.159 desa yang ada di Indonesia. serta telah siap untuk dioperasikan sebanyak 18 buah stasiun monitoring bergerak. penambahan jaringan dan perluasan pe1ayanan. antara lain dengan memperpendek waktu tempuh surat. kini pelayanannya te1ah mampu menjangkau 3. dari segi operasi te1ah pula berhasil ditingkatkan mutu pe1ayanan pos dan giro.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 572 kanal.214 buah. Di samping itu juga te1ah dilakukan penambahan. pengadaan uninterruptible power supply (UPS) 200 KVA dan 1 unit antena track telemetry command and monitoring (TTCM) di Jatiluhur. Dari segi kuantitas. sehingga pe1ayanan pos dapat menunjang kegiatan so sial ekonomi masyarakat. Dengan peningkatan fasilitas pos dan giro tersebut.096 trunks telepon internasional dan nasional. Di samping itu. te1ah banyak kemajuan yang dapat dicapai. kantor pos sebanyak 30 buah. 3 buah stasiun tetap yakni di Cakung. sehingga dapat menjangkau kecamatan-kecamatan di wilayah Nusantara termasuk daerah-daerah pemukiman transmigrasi. serta 4. Untuk menunjang hal tersebut. Pembangunan di bidang pos dan giro sampai dengan tahun 1984/1985 dimaksudkan untuk memperluas fasilitas pos dan giro dan meningkatkan jasa pelayanannya. kantor pos besar dan kantor pos ke1as I di ibukota propinsi dan kala-kala lainnya. Hal ini berarti pelayanan pos dan giro telah dapat melayani 91. Ulan Kayu dan Samarinda.0 persen dari selruh desa di Indonesia. Selanjutnya guna menertibkan penggunaan frekuensi radio serta persiapan keanggotaan Indonesia dalam sistem monitoring radio internasional. pengadaan peralatan VFT-MUX sebanyak 48 terminal. telah berhasil diletakkan dasardasar kebijaksanaan untuk Departemen Keuangan RI 235 . sirkit sewa telegrap sebanyak 120 kanal. dan perluasan jasa pos ke1iling kala dan jasa pos ke1iling desa.3 persen dari seluruh ibukota kecamatan yang ada dan 91. serta kantor pus tambahan.

50 milyar.41 milyar serta jumlah tabungan pada BTN sebesar Rp 81.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 djadikan program pengembangan tahun-tahun berikutnya. peredaran giro dan cekpos sebesar Rp 967. dengan lebih seringnya frekuensi penerbangan dan adanya tambahan trayek baru sehingga hampir menjangkau seluruh pelosok Nusantara.90 juta. Sedangkan sampai dengan bulan Mei 1984. Sedangkan dari segi kualitas antara lain ditandai dengan berhasilnya diadakan ikatan kontrak dengan perusahaan angkutan umum. Dalam pada itu telah dilakukan pula pemasyarakatan kode pos. Demikian pula angkutan pos udara semakin lancar. yang untuk tahap pertamanya dimulai di wilayah DKI Jakarta dan kemudian disusul oleh propinsi-propinsi lairmya. Dengan adanya peningkatan kualitas tersebut.063.74 juta buah.68. yang antara lain dilakukan dengan memperbanyak unitunit pelayanan pos bergerak.569. Guna menambah fasilitas alat angkutan pos untuk pemantapan waktu tempuh. Indonesia telah banyak memperoleh manfaat dari kedua organisasi tersebut dalam mencapai kemajuan di bidang pos dan giro. peredaran giro dan cekpos sebesar Rp 2. daerah-daerah pemukiman trasmigrasi serta daerah terpencil. serta jumlah tabungan BTN sebesar Rp 23. yakni berupa perluasan jangkauan pelayanan sampai ke desa-desa. karena frekuensi dan jumlah kapal sudah semakin bertambah dan daerah yang dilintasi juga semakin luas. weselpos senilai Rp 163.70 milyar. angkutan pos me1alui darat pada umumnya lancar. Pelayanan pos dan giro selain berpedoman kepada volume lalu lintas pos dan perhitungan biaya. Dalam tahun 1983 telah disampaikan surat pos sebanyak 348 juta buah. juga ditujukan untuk meningkatkan jangkauan pelayanan ke daerah-daerah terpencil dan daerah-daerah transmigrasi. Departemen Keuangan RI 236 . weselpos senilai Rp 445. Adapun angkutan pos laut pada umumnya tidak ada hambatan. Perkembangan arus lalu lintas pos dan giro dapat diikuti melalui Tabel VIII.60 juta. sehingga dapat mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang mengganggu ke1ancaran pos dan giro.80 milyar. surat pos yang disampaikan berjumlah sebanyak 27. Di samping itu dalam kedudukannya sebagai anggota UPU (United Post Union) dan APPU (Asia Posific Post Union). telah diadakan perjanjian kerjasama angkutan pos dengan perusahaan swasta.795.

801 126. serta pengembangan mutu produk wisata Indonesia.37 20.113.59 10.80 138.00 174.48 121.81 1970 159 106.82 63.45 7.42 42.65 1974 187.5 204.5 23.81 1978 252. peningkatan pelayanan bagi wisatawan asing serta peningkatan keahlian dan keterampilan petugas-petugas yang menangani pariwisata.06 1981 1) 272.41 81.358.8 27.71 1977 236. kemudahan keimigrasian.43 4.8. juga dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan devisa.94 1980 276.05 26. Untuk lebih meningkatkan arus wisatawan dari luar negeri.90 1984 2) 163.31 183.414. Sumatera Barat.558.42 58.65 146. Jawa Tengah.569.063.2 1.29 152. Kepariwisataan Pembangunan di bidang pariwisata diarahkan selain untuk meningkatkan dan memperluas kesempatan kerja serta kesempatan berusaha. Pembinaan dan pengembangan obyek wisata sejak Pelita III hingga tahun pertama Repelita IV terutama ditujukan pada 10 daerah tujuan wisata (DTW) yaitu propinsi Sumatera Utara.933. baik yang berupa rencana induk perencanaan.795.tus tahun 1984 telah dilaksanakan studi perencanaan pengembangan.63 59.53 1972 196 157.18 81. Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.56 471.908.17 99. Selama Pelita III telah dilakukan langkah-Iangkah pembinaan dan pengembangan pariwisata. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agus. Bali.65 32.86 1.7 660. Jawa Barat.34 15. Dalam upaya mengembangkan obyek wisata yang tersebar di 10 DTW dan beberapa propinsi lainnya tersebut.850.74 967.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 7. Jawa Timur.08 1982 299.064.75 1.526. telah dilakukan berbagai usaha antara lain pembebasan visa selama 2 bulan bagi wisatawan dari 26 negara posaran wisatawan yang potensial.16 20.70 32.56 1979 265.29 840.61 2.5. Daerah Istimewa Yogyakarta. 1969 -1984 Peredaran Tabungan Surat pos Weselpos dan cekpos Bank Tahun (juta ) ( mityar ( juta ( mityar 14.208. tapak kawasan dan detil desain Departemen Keuangan RI 237 . dan wisata remaja.9 1969 147 97.042.23 2.338.84 426.705.68 ARUS LALU LINTAS POS DAN GIRO.52 1973 176.3 317.26 499. serta pengenalan alam dan kebudayaan Indonesia. antara lain berupa peningkatan dan pembangunan daerah-daerah tujuan wisata.19 1.3 1975 199.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.60 445.48 1971 181.9 124.23 325.98 45.771) 1983 348 2. DKI Jakarta.325.29 1976 200.

yang berarti mengalami kenaikan sebesar 7.000 313.282 638.6 .621 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 3) 1983 1) Data tidak tersedia 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Untuk meningkatkan arus wisatawan baik asing maupun domestik. Kegiatan dan upaya tersebut antara lain meliputi pemasangan iklan pada media internasional.100 2) 297 10.430 295 250.1) 42.393 2) 464 81.8 per malam sehingga jumlah seluruh pengeluaran wisatawan asing mencapai sekitar US $ 439.300 2) 561.6 .1) 31. dalam tahun pertama Repe1ita IV te1ah dipersiapkan pengembangan pariwisata di tiga propinsi yaitu Riau.4 48. Bengkulu dan Kalimantan Tengah.627 592.303 2) 253 40.855 436 439.925 401.972 86.046 orang. serta pemandu wisata. Dalam rangka perintisan pengembangan obyek-obyek wisata di luar 10 DTW.233 129. jasa biro perjalanan.5 113.510 270.928 38.8 1.179 242 27.7 malam per kunjungan.293 437 62.3 53. Sed:mgkan guna menunjang ke1ancaran arus wisatawan sampai ke DTW.360 34.048 4. diusahakan peningkatan prasarana. dalam tahun 1983 telah dilakukan usaha-usaha dan kegiatan pemasaran melalui koordinasi dan kerjasama terpadu guna menghadapi persaingan yang cukup ketat di pasaran pariwisata internasional.5 juta. untuk mempromosikan dan menjual produk wisata Indonesia.237 453 70.1983 Wisatawan Kamar hotel Biro Penerimaan Tenaga kerja (orang) (buah ) (juta US $) (orang) (kamar) 2.308 2) 600. dengan pengeluaran rata-rata sebesar US $ 58.319 359 16.781 2) 545 22.398 94.1) 11.278 3. penerbangan borongan yang langsung ke tempat obyek wisata.151 3) 409 309.356 433.139.1) 5. Tabel VII.69 PERKEMBANGAN DI BIDANG PARIWISATA.452 414 54.9 . 1969 . jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia baru sebanyak 592. Selain itu juga dilakukan pembuatan bahan promosi/cetakan yang bertemakan "Indonesia destination of endless diversity" (Indonesia Departemen Keuangan RI 238 .6 10.671 178. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 638.3 .156 ) 38.960 21. Dalam tahun 1982.046 426 358. Sedangkan lama tinggal di Indonesia ratarata bagi wisatawan asing dalam tahun 1983 adalah 11.2 8.178 3) 330 289.766 366.575 2) 468. Kegiatan di DTW tersebut telah menghasilkan peningkatan arus wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia.7 2) 86.855 orang.300 12.614 467 94.850 221.1) 42.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun lanjutan pembangunan fasilitas obyek-obyek wisata di DTW yang te1ah mantap pengembangannya.406 2) 501.9 persen.8 7. Perkembangan bidang kepariwisataan dapat diikuti melalui Tabe1 VII.390 3.0 2 38.69.1 112. sarana dan penunjang lainnya seperti tempat penginapan.3 .

maka berarti terdapat peningkatan usaha baru sebanyak 10 buah perusahaan atau sebesar 2.3 persen. Demikian pula dengan biro perjalanan. yang terdiri atas biro perjalanan umum (BPU) sebanyak 185 buah perusahaan. pelayanan. yaitu meliputi sejarah. program dan kegiatan yang dilakukan Pemerintah di bidang kepariwisataan. secara aktif. dilakukan peningkatan kerjasama dengan media masa guna menyebarkan informasi kepariwisataan dan hasil-hasilnya. Program tersebut ditujukan antara lain bagi kalangan pengusaha/pedagang dan wartawan dengan cara peninjauan langsung ke obyek-obyek wisata. dan agen perjalanan (AP) sebanyak 143 buah perusahaan. Untuk menunjang kegiatan tersebut. Sulawesi Tengah dan Maluku. Posisi ini tidak berbeda dengan keadaan tahun 1982. Garuda Indonesian Airways. sedangkan yang belum diklasifikasikan berjumlah sebanyak 792 buah dengan kamar sebanyak 18. yaitu Kalimantan Barat. untuk mengetahui fasilitas. oleh karena dalam tahun 1983 pelaksanaan klasifikasi hotel terpaksa ditunda yang disebabkan adanya resesi dunia.537 buah. telah diselenggarakan widya wisata. hotel-hotel dan biro perjalanan di dalam negeri. dan mengarahkan masyarakat untuk mendukung kebijaksanaan. Di samping itu perwakilan Pusat Promosi Pariwisata Indonesia (P3I) di luar negeri juga telah berperanserta. pengendalian. serta meningkatkan sadar wisata dari para pejabat. pembinaan dan pengembangan wisata remaja di empat daerah. Kegiatan bina masyarakat dimaksudkan untuk membimbing. Jawa Timur. Hal itu sekaligus merupakan kesempatan bagi industri dan perusahaanperusahaan untuk melakukan kontak dagang dengan industri pariwisata dari berbagai negara yang ikut serta. Sementara itu untuk memperkenalkan secara lebih mendalam mengenai atraksi dan fasilitas wisata Indonesia. Selain itu telah pula digalakkan wisata di kalangan para remaja melalui pengadaan bahan-bahan informasi berupa buku petunjuk perjalanan wisata remaja. dalam setiap kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia sebagai negara tujuan wisata. prosedur dan unsur-unsur lainnya yang berkaitan dengan kedatangan wisatawan asing di Indonesia. Melalui kerjasama dengan KBRI di luar negeri. Di samping itu juga dilakukan monitoring.090 buah. budaya dan alam serta wisata marina. Departemen Keuangan RI 239 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 adalah tempat tujuan yang beraneka ragam tanpa putus-putusnya). yang selalu diterbitkan setiap tahun. Dalam tahun 1983. dan pemuka-pemuka organisasi dan masyarakat. cabang biro perjalanan umum (CBPU) 108 buah perusahaan. yang memperoleh ijin usaha dalam tahun 1983 tercatat sebanyak 436 perusahaan. jumlah tempat menginap yang telah mendapatkan klasifikasi hotel mencapai sebanyak 283 buah hotel berbintang dengan kamar sebanyak 20. Bila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru mencapai 426 buah perusahaan.

Di lain pihak. Hal tersebut tercermin antara lain dari tercapainya sasaran fisik sejak tahun pertama Pelita I sampai dengan Pelita III. Selanjutnya kegiatan pemasaran dan promosi baik di dalam maupun ke luar negeri semakin ditingkatkan melalui pemasangan iklan dan penyebaran informasi mengenai atraksi dan fasilitas wisata Indonesia. Pekerjaan umum Pembangunan di bidang pekerjaan umum yang meliputi bidang pengairan. seperti pembangunan waduk serba guna yang dapat dimanfaatkan untuk Departemen Keuangan RI 240 . bila dibandingkan dengan tahun 1982. Selain itu telah pula disempurnakan koordinasi pemanfaatan obyek wisata. kebijaksanaan tersebut telah menurunkan jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Singapura sebesar 38 persen dalam tahun 1983. kini sedang dipersiapkan Rancangan Undang-undang Kepariwisataan Nasional.9. Untuk menunjang perkembangan pariwisata. antara lain berupa penambahan pintu masuk penerbangan dan pintu masuk pelabuhan laut. dan peningkatan atraksi wisata yang akan dapat meningkatkan clara saing produk wisatawan Indonesia. dan sekaligus dimaksudkan untuk memperkokoh kerangka landasan dalam pencapaian sasaran Repelita IV. Di samping itu bidang pengairan telah pula menunjang kegiatan sektor. yang antara lain disebabkan adanya kebijaksanaan Pemerintah untuk meningkatkan biaya fiskal perjalanan ke luar negeri. Pelaksanaan pembangunan yang dilakukan dalam tahun pertama Repelita IV merupakan kesinambungan dari tahap-tahap Repelita sebelumnya. Pengairan Pembangunan di bidang pengairan dititikberatkan pada peningkatan produksi pangan terutama beras. 7. 7. dilakukan peningkatan pemasaran dan promosi yang terpadu dan agresif berdasarkan penelitian yang menyeluruh. serta pelayanan telekomunikasi di tempat menginap. cipta karya dan bina marga telah menunjukkan hasil yang semakin nyata di dalam menunjang dan mendukung keberhasilan pembangunan sektor-sektor lain.1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pariwisata dalam negeri pada tahun pertama Repelita IV mengalami peningkatan yang cukup tinggi.9. Dalam rangka itu antara lain dilakukan pembukaan areal persawahan baru terutama di luar pulau J awa. Berbagai kebijaksanaan tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan arus wisatawan pada waktu yang akan datang. Sementara itu guna membantu kelancaran arus wisatawan asing clari luar negeri.sektor lainnya. yakni melalui usaha intensifikasi dan ekstensifikasi areal persawahan. sehingga dengan peningkatan produksi padi tersebut pada gilirannya pendapatan para petani juga dapat ditingkatkan.

000 hektar.500 hektar. Persyaratan dimaksud adalah se1ain lokasi yang bersangkutan sangat memerlukan pembangunan irigasi guna menunjang peningkatan produksi pertanian. Adapun hasil-hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan Pelita III meliputi perbaikan dan peningkatan irigasi seluas 386. Serayu. Dalam tahun 1982/1983 telah dilakukan perbaikan dan peningkatan areal irigasi seluas 72.271 hektar. Madiun. yang masing-masing mencakup wilayah se1uas 19.600 hektar. penyelidikan dan perancangan pengembangan sumber-sumber air. Pekalen Sampean seluas 229. dengan prioritas utama pada lokasi-lokasi yang memenuhi persyaratan yang ditentukan.000 hektar. Ciujung seluas 24.651 hektar. pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan penyediaan air industri.300 hektar. survai. Hal itu dilakukan dengan meningkatkan pelayanan produksi. Sedangkan untuk menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat. Delta Brantas seluas 32.000 hektar.bih cepat dan tepat melalui pemanfaatan sumber-sumber clara alam yang ada. dan kemudian dalam tahun 1983/1984 telah mencapai seluas 88.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan areal pertanian. sehingga mampu memberikan pelayanan yang le.000 hektar dan Tabo-tabo seluas 11.400 hektar dan 45.100 hektar. pengembangan daerah rawa seluas 437.468 hektar. Pamali Carnal seluas 30.000 hektar. Sedangkan proyek-proyek yang sampai dengan akhir Pelita III sudah atau hampir terselesaikan antara lain berupa rehabilitasi jaringan irigasi utama Cisadane seluas 40. dilakukan pula penelitian. tanah dan air. pembangunan jaringan irigasi baru dititikberatkan pada pembangunan irigasi sedang dan kecil. guna mempercepat jangkauan fungsional pelayanan produksi dalam kawasan yang telah dikembangkan. para pemilik tanahnya juga harus menunjukkan partisiposi yang tinggi dalam program irigasi dan pencetakan sawah baru. Selain itu guna melindungi kawasan pemukiman masyarakat pedesaan dan masyarakat lainnya. tanah dan air seluas 587. pembangunan jaringan irigasi baru seluas 437. serta Lombok Se1atan. serta penyelamatan hutan. Program pembangunan di bidang pengairan yang dilaksanakan dalam Pelita III mencakup masalah perbaikan dan peningkatan irigasi. Se1ain itu secara intensif juga mulai dilaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi di daerah Semarang Barat dan Simalungun. serta penyelamatan hutan. Hal ini terutama diterapkan pada areal transmigrasi. Untuk menunjang kegiatan tersebut. Jawa Timur. Gambarsari seluas 20. telah disediakan air baku yang memenuhi syarat-syarat kesehatan bagi daerah pemukiman.561 hektar. telah dilakukan pengamanan terhadap daerah yang peka terhadap bencana banjir. Sedeku seluas 30. Dalam waktu yang sarna. pengembangan daerah rawa. pembangunan jaringan irigasi baru. sehingga program pembangunan Departemen Keuangan RI 241 . Sementara itu dalam tahun pertama Repelita IV te1ah dimulai pembangunan irigasi tersier dan drainase di daerah irigasi Cirebon.000 hektar.271 hektar.

Be1itang se1uas 19. Sedangkan hasil yang dicapai selama Pelita III meliputi areal seluas 456. yaitu dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984.500 hektar. Riau. Kegiatan lain daripada program ini adalah pengembangan air tanah bagi daerahdaerah pertanian yang berlahan kering dan rawan yang langka air permukaan. Se1ain dilakukan pengembangan irigasi sedang.607 hektar dan 39. Bengkulu. Adapun proyek-proyek yang masih terus ditingkatkan pembangunannya me1iputi proyek irigasi Krueng Baro.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jaringan irigasi terse but sekaligus dapat menunjang keberhasilan program transmigrasi. Sumatera Barat. Kalimantan Barat. dan Dumoga. Selama masa Pelita III te1ah dibangun jaringan irigasi baru pada areal se1uas 437. Jambu Aye. Jawa Timur. Untuk seluruh proyek terse but sudah dapat dise1esaikan jaringan irigasi utamanya. yang sebagian besar merupakan lahan yang potensial untuk usaha tani. Sumatera Utara.400 hektar. dan dengan biaya peme1iharaan yang lebih rendah. Pemanfaatan daerah rawa selain ditujukan untuk memperluas areal pertanian yang ada. Pada Waras. Sumatera Selatan.600 hektar dan Way Pangubuan seluas 5. tanah dan air dimaksudkan guna meningkatkan pengamanan Departemen Keuangan RI 242 . Jambi. Teluk Lada. Cidurian se1uas 9. seperti daerah Yogyakarta Se1atan. Way Rarem. Hasil yang telah dicapai dalam tahun terakhir Pelita III di bidang pengembangan daerah rawa meliputi areal seluas 86. juga dilanjutkan pembangunan prasarana irigasi baru yang lebih besar. Lampung. Kedu Selatan. Penyelamatan hutan.729 hektar. sedangkan jaringan tersier dan drainasenya sedang dalam tarat penyelesaian. Ciletuh. Gumbasa seluas 7.900 hektar.500 hektar. kecil dan sederhana. Kegiatan tersebut juga mencakup proyek reklamasi rawa bukan posang surut yang terdapat di daerah Aceh. Wawotobi. Dalam hubungan ini standar prasarana reklamasi daerah rawa te1ah ditingkatkan. Bali. Kalimantan Barat. Lodoyo se1uas 12.271 hektar antara lain me1iputi proyek irigasi Krueng Jrue Kiri se1uas 2. juga dimaksudkan untuk memperluas dan memperbaiki daerah pemukiman penduduk. Jambi. Bali.000 hektar. Dalam tahun pertama Repe1ita IV pembangunan daerah rawa masih me1anjutkan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan se1ama Pe1ita III. . Kalimantan Timur. masing-masing adalah se1uas 108. Sungai Dareh Sitiung. Sumatera Selatan. dan Timor. agar dapat dilakukan pengaturan air dengan lebih baik.200 hektar. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Hasil-hasil yang te1ah dicapai di bidang pembangunan irigasi baru se1ama dua tahun terakhir pe1aksanaan Pe1ita III. Way Jepara se1uas 6.189 hektar. antara lain berupa penyempurnaan jaringan reklamasi daerah rawa serta perluasan dan penambahan areal pertanian baru.680 hektar. Batang Gadis. Lombok. te1ah dilaksanakan melalui kegiatan pengembangan pengairan posang surut di daerah Riau. dan Kalimantan Selatan. Jawa Tengah.

100 hektar. seperti pembangunan pembangkit tenaga listrik dan penyediaan air. telah dilaksanakan pula pembangunan waduk-waduk besar. kebutuhan air bersih untuk pemukiman penduduk. Perumahan rakyat dan pemukiman Salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dilakukan melalui peningkatan pembangunan di bidang perumahan rakyat dan pemukiman. yaitu berupa pengerukan dasar sungai. proyek itu juga dimaksudkan untuk menunjang sektor industri.601 hektar dan 63. pembuatan saluran banjir. gunung Agung dan gunung Galunggung. Untuk menanggulangi bencana banjir lahar sebagai akibat dari meletusnya gunung-gunung berapi seperti di sekitar daerahdaerah gunung Merapi. pembuatan tanggul. dan daerah industri terhadap gangguan bencana banjir. serta latihan penanggulangan banjir. yaitu tercapainya areal seluas 1. Proyek-proyek terse but terdiri atas proyek Bengawan Solo. Di samping itu juga ditujukan untuk mengembangkan pemanfaatan sumber-sumber air sungai yang memiliki potensi tinggi dalam memenuhi keperluan sektor pertanian. pembuatan pintu-pintu banjir. keperluan air industri untuk pembangkit tenaga listrik serta kebutuhan air di pelabuhan.573 hektar. sungai Arakundo. Pembangunan jaringan tersier dilaksanakan melalui pemanfaatan jaringan-jaringan irigasi yang telah dibangun. Cisanggarung. perlindungan dan perkuatan tebing. 7. perluasan aliran.698 hektar. dalam Pelita III telah meperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan. Selama 5 tahun Pelita III telah berhasil dilakukan penyelamatan hutan. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi pengaturan dan pengamanan sungai. pembuatan sudetan.9. dan dewasa ini secara langsung telah dapat menunjang program intensifikasi produksi pertanian. Dalam hubungan ini. sungai Ular. sungai Brantas dan pengendalian banjir Jakarta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 daerah produksi pertanian. yang dilaksanakan secara khusus melalui proyekproyek pengaturan dan pengamanan sungai besar.680. tanah dan air seluas 587. baik bagi para petugas maupun bagi penduduk setempat. Pengutamaan kegiatan pada program jaringan tersier. Selain itu program ini juga dimaksudkan untuk mengamankan sungai-sungai yang merupakan sumber-sumber air bagi jaringan irigasi yang telah ada. daerah pemukiman penduduk. Sehubungan dengan Departemen Keuangan RI 243 .2. Selain untuk pengendalian banjir. seperti waduk Wonogiri yang sudah berfungsi dan Wadas Lintang yang sedang dalam tahap penyelesaian. gunung Semeru. Citanduy. maka dilakukan pembangunan dan pengendalian kantong posir (check dam) serta tanggul. baik untuk keperluan industri maupun rumah tangga. di antaranya yang dilakukan dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 masing-masing seluas 248. gunung Kelud.

Pembangunan perumahan rakyat dan pemukiman tersebut pada dasarnya merupakan tanggung jawab masyarakat itu sendiri dengan mendapatkan bantuan dan pembinaan dari Pemerintah. gedung sekolah dasar. serta riset dan teknologi. pembuangan air limbah rumah tangga dan pengadaan air bersih. Adapun secara keseluruhan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah berhasil dilaksanakan perbaikan kampung seluas 17. Kegiatan perbaikan kampung di daerah perkotaan mencakup bina lingkungan. yang antara lain berupa perbaikan jalan lingkungan dan jalan setapak.183. keserasian pembangunan daerah. perbaikan kawasan pusat kota bagi kota-kota sedang dan kecil termasuk lingkungan kawasan posarnya. serta kegiatan-kegiatan lainnya yang ditujukan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah perkotaan. Kegiatan tersebut juga berupa pengadaan sarana fasilitas sosial lainnya seperti Puskesmas.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 itu. meliputi areal seluas 3. Sehubungan dengan itu kini sedang dikembangkan suatu sistem yang lebih terarah dan terpadu. Program perumahan rakyat mencakup perintisan pemugaran perumahan desa.220 orang penduduk kampung. Kebijaksanaan pembangunan di bidang pemukiman rakyat sangat erat kaitannya dengan kebijaksanaan di sektor lainnya seperti kependudukan.701 hektar yang dapat memberikan manfaat bagi 1. pemukiman serta tataguna tanah perkotaan dan pedesaan. pembangunan perumahan rakyat dan pengembangan pemukiman penduduk diarahkan untuk dapat tersebar ke berbagai lokasi pemukiman yang meliputi sekitar 6. perkreditan. produksi bahan bangunan lokal. dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan perbaikan kampung pada 190 kala. perintisan perbaikan lingkungan perumahan kota. terutama yang menyangkut peningkatan mutu kehidupan masyarakat banyak yang berpenghasilan rendah. terutama yang berkaitan dengan masalah pembiayaan. serta pengembangan kredit pemilikan rumah (KPR). pertanahan. perintisan peremajaan kota. Departemen Keuangan RI 244 . perluasan kesempatan kerja. kesehatan lingkungan.436. Kebijaksanaan umum yang ditempuh di bidang ini antara lain dengan melibatkan masyarakat sebanyak mungkin. penanggulangan sampah lingkungan. di samping tetap memperhatikan aspek-aspek pemerataan dan keterjangkauan khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dan menengah.600 penduduk di berbagai propinsi. pembinaan kesejahteraan ibu dan anak (PKK). yang sebagian besar penduduknya berpenghasilan rendah. bina usaha dan bina manusia. perbaikan saluran pembuangan air hujan. pemugaran perumahan desa dan pembinaan yang menunjang kegiatan tersebut. yang dapat memberikan manfaat langsung kepada 5.000 desa pada 200 kota. Pembangunan perumahan rakyat terutama ditujukan untuk meningkatkan perbaikan kampung/lingkungan pemukiman kota.980 hektar. Sehubungan dengan itu. pembangunan perumahan rakyat.

872 6. Sedangkan yang dibangun tanpa dukungan KPR masing-masing telah mencapai sebanyak 81.504 250 282 282 4 278 200 500 300 200 500 300 300 200 200 200 356 216 572 9. 17.500 3.269 unit rumah inti dan 3.596 1.953 20.212 1'49 1. sehingga keseluruhannya berjumlah 185.654 7.523 unit rumah inti dan 760 unit rumah susun.300 2.264 240 1.009 1. 2.584 3. Dalam tahun 1983/1984.518 2.480 1. 50.900 2.l.230 3.846 1.289 unit rumah dan 104.1983/1984 ( dalam unit rumah ) 1979/1980 1982/1983 1980/1981 1981/1982 Rumah Rumah3) Rumah Rumah 3) Rumah Rumahh3) Rumah inti Jumlah sederhana inti Jumlah sederhana inti inti Jumlah sederhana 388 388 388 388 388 3. 20.610 19. 11.386 1. 13.400 4. BTN juga mengadakan kerjasama dengan perusahaan pembangunan perumahan swasta. 110 unit rumah sederhana.500 6. Tab eI VII.070 Sulawesi Tenggara Maluku Irian Jaya Timor Timor 49. 9. 14. yang bertujuan untuk membangun perumahan rakyat bagi mereka yang berpenghasilan menengah dan tinggi. 71 PEMBANGUNAN PERUMAHAN RAY AT OLEH PERUMNAS.386 12.742 2.024 unit rumah susun.230 1. 19. 10.186 9.060 1.71. sehingga seluruhnya berjumlah 192.736 1.014 500 1.891 2.734 7.523 12.136 478 10 1.964 Pembangunan rumah dengan dukungan KPR dari BTN telah pula ditingkatkan dan dikembangkan hampir di seluruh ibukota propinsi dan ibukota kecamatan.510 7. Perkembangan jumlah perumahan yang dibangun oleh Perum Perumnas dapat dilihat pada Tabel VII.856 746 2.712 29.620 8.314 333 1.886 unit rumah. 5.838 134 250 - Rumah 4) Jumlah sederhana 388 13. terdiri atas 787 unit rumah inti.087 9.000 612 612 600 200 700 500 452 600 450 540 306 680 986 148 406 1.323 unit. Di samping itu terdapat pula perumahan yang dibangun oleh PT Departemen Keuangan RI 245 .078 1.479 3.504 171 278 500 92.594 1.914 12.563 unit rumah.457 500 1.190 1.046 1.250 1.963 rumah siap huni yang terdiri atas 3.563 unit rumah.730 34 64 64 1.018 4.176 8 1.030 unit rumah sederhana.032 522 300 822 522 140 58 7.323 unit rumah dan 104.412 368 500 90 23.718 3.166 3. terdiri atas 28.230 1.003 Propinsi I. 26.666 2. 3.222 768 20.216 5.200 4. 24.517 13.366 Rumah Jumlah sederhana 4.696 23. 1978/1979 .852 unit rumah. 7.234 2. 15.230 200 11.342 1.326 1. Pengadaan perumahan rakyat bagi masyarakat berpenghasilan rendah selama ini telah dilaksanakan melalui Perum Perumnas yakni berupa pemberian fasilitas KPR dari Bank Tabungan Negara (BTN).628 3. Yogyakarta Jawa TImur BaIi Nusa Tenggara Barut Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Belatan Kalimantan Timur 200 Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan 1.264 534 216 300 502 200 688 43 400 2. 12.l.946 1.764 1. Adapun selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III.441 1983/1984 1) Rumah inti Jumlah 606 606 638 787 706 727 1.988 148 935 2.500 2. 8. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 juga telah seksai dibangun sebanyak 1. Selain dengan Perum Perumnas.078 200 120 340 1. 22. 25.078 1978/1979 Rumah inti 898 12.576 4. jumlah keseluruhan rumah siap huni yang telah selesai dibangun mencapai 81.192 1. 6.704 1.580 42. 4.000 hektar.094 158 286 444 286 158 510 1. 16.8642) 522 2.uk rumah susun don RKTM Rumah sederhana 3. Selama Pelita III.537 unit.090 4.466 158 304 432 238 218 806 482 281 389 8.200 9.500 1.805 27. hasil yang telah dicapai oleh Perum Perumnas dan non Perumnas yang mendapat dukungan KPR masing-masing sebanyak 88.014 100 100 508 354 862 514 500 764 534 140 324 324 534 534 300 500 1.050 49.252 1. dan 640 unit rumah susun.166 34 4. 21.020 3. Perum Perumnas telah membangun sebanyak 12.508 830 830 4. 8. 27. 23.212 400 600 1.680 unit rumah sederhana.606 15.764 600 1. Ace h Sumatern Utara Sumatern Barat Ria u J ambi Swnatern Selatan Bengkulu Lampung DK1Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.288 Jumlah I) Angkadiperbaiki 2) Termasuk Tangerang dan Depok 3) Sejak tahun 1980/1981 pada rumah sederhana termasuk rumah susun 4) Sejak tahun 1983/1984 rumah sederhana terma.542 1. 18.948 368 11. D.078 200 216 216 216 500 500 216 216 300 502 304 806 200 32 120 656 656 32 688 340 400 400 400 134 480 480 2.098 882 1.774 2.552 5.192 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Hal ini berarti bahwa selama periode tersebut pelaksanaan program perbaikan kampung telah dapat melampaui target yang direncanakan dalam Repelita III seluas 15.299 935 24.500 444 198 21.268 400 140 1.900 194 1.212 9.

Kegiatannya selain mencakup pemugaran rumah-rumah desa. serta penelitian perumahan rakyat baik yang bersifat nasional maupun regional. pembangunan sarana MCK sebanyak 993 unit.281 unit. Pemugaran perumahan pedesaan dimaksudkan agar sebanyak mungkin rakyat desa dapat mendiami rumah dan lingkungan yang sehat. Selain itu juga dimaksudkan untuk menunjang pelaksanaan proyek perintis perbaikan lingkungan perumahan desa (P3LPD). pembuatan saluran pembuangan air kotor sepanjang 25. khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas. Kegiatan penelitian di bidang air bersih dan kesehatan lingkungan pemukiman. serta perintisan unit produksi bahan bangunan setempat. dan pengadaan peralatan penukangan sebanyak 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Papan Sejahtera atas dukungan KPR. pengetahuan. proyek perintis perbaikan lingkungan perumahan kota (P3LPK). juga meliputi perbaikan jalan lingkungan desa. Adapun unit usaha pengolahan air bersih yang menggunakan Departemen Keuangan RI 246 . serta usaha-usaha lain di bidang pemukiman. Sedangkan pembangunan jalan lingkungan desa telah diselesaikan sepanjang 990.243 unit rumah. pengadaan sarana mandi-cuci-kakus (MCK).214 meter. maka dilakukan pula kegiatan-kegiatan penunjang yang bertujuan untuk memudahkan pelaksanaan program perumahan rakyat secara keseluruhan. yang dimaksudkan untuk mencukupi keperluan air bersih di propinsi Nusa Tenggara Timur.281 unit. di samping juga telah dilakukan di 120 desa dalam rangka penanggulangan bencana alam atau penanggulangan darurat. Kegiatan terse but antara lain berupa pembinaan umum pembangunan perumahan rakyat. Selama Pelita III telah dilaksanakan pemugaran perumahan di 4. Adapun perusahaan-perusahaan pembangunan perumahan swasta yang tergabung dalam perusahaan Real Estate Indonesia (REI). dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran.444 meter. Pembinaan di bidang pembangunan perumahan rakyat tersebut telah dilaksanakan melalui Pusat Informasi Teknik Bangunan (PITB). peningkatan keterampilan. penyediaan air bersih. kemampuan dan keterampilan masyarakat luas. Selain pengadaan perumahan rakyat. yang selama Pelita III telah mencapai sebanyak 1. pengadaan sarana air bersihsebanyak 1. dan juga aparat Pemerintah daerah. Pada dasarnya kegiatan tersebut merupakan usaha gotong royong masyarakat desa yang bersangkutan dengan mendapatkan bantuan dan bimbingan dari Pemerintah. dengan mengarahkan agar dapat dilakukan secara mandiri melalui rumah percontohan dan penyuluhan yang diberikan. juga telah banyak memberikan sumbangannya dalam pembangunan perumahan. perbaikan kampung dan pemugaran perumahan desa. telah dilaksanakan dengan pembuatan model bangunan sederhana pengolah air yang disebut embung-embung.923 desa yang terse bar di 25 propinsi kecuali propinsi OKI Jakarta dan Irian Jaya. motivasi. perintisan pengadaan produksi bahan-bahan bangunan setempat.

dan 98 sisanya melalui Inpres kesehatan. sedangkan sampai dengan tahun terakhir pelaksanaan Pelita III jumlah seluruh BPAM telah mencapai 150 buah.520 jiwa di 25 propinsi kecuali Sumatera Barat dan Jawa Barat. telah dibangun di propinsi Kalimantan Selatan. 139 dengan sistem BNA (basic need approach). Kegiatan program penunjang air bersih dilakukan untuk mempersiapkan. telah mencapai 18. Sedangkan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III kapositas produksi air bersih. Dalam hubungan ini. 390 di antaranya ditangani dengan sistem IKK sepenuhnya. Peningkatan status BPAM menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (POAM).146 buah dan 2.309 buah. Sejalan dengan makin meningkatnya kebutuhan air bersih. Dalam tahun terakhir pelaksanaan Pelita III.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tanah gambut sebagai bahan pengolahannya. dalam Pelita III telah dilakukan peningkatan dan pemerataan pelayanan air bersih. Hal itu dilaksanakan melalui peningkatan penyediaan dan pemasangan hidran umum. yang dapat melayani penduduk sebanyak 4.082. Pembangunan di bidang sanitasi lingkungan meliputi kegiatan kebersihan kala. dalam tahun 1983/1984 telah dibentuk 28 badan pengelola air minum (BPAM). selama lima tahun pelaksanaan Repelita III jumlah sambungan rumah yang telah dipasang mencapai 227. telah dapat dilakukan penambahan kapositas produksi air bersih sebesar 5. sehingga dapat melayani penduduk dengan baik terutama berdasarkan kemampuannya sendiri. sedang dan kecil termasuk IKK. termasuk Departemen Keuangan RI 247 .137. Sehubungan dengan itu. tersebar di 710 kota besar. serta sambungan ke rumah-rumah guna mencapai tingkat pelayanan penduduk semaksimal mungkin.660 jiwa penduduk di 357 kota. mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan proyek air bersih di berbagai kala di seluruh propinsi. rnaupun kota-kota kecil. Kegiatan terse but ditujukan untuk meningkatkan mutu lingkungan pemukiman terutama dalam mencegah berjangkitnya penyakit. khususnya bagi penduduk yang berpenghasilan rendah. selama Pelita III telah dilaksanakan perbaikan sarana lingkungan kota termasuk persampahan di 15 kala.651 hidran umum yang mampu melayani 1. dan sejalan dengan itu dilakukan pula usaha peningkatan keterampilan tenaga-tenaga teknisi air bersih.5 liter per detik untuk kota. serta pembangunan sarana pembuangan air kotor dan saluran pembuangan air hujan. Dengan demikian. Dalam tahun 1983/1984 telah dapat diposang sambungan rumah sebanyak 69. terus dilakukan upaya pengadaan dan penyediaan air bersih yang dapat menjangkau baik kota-kota-besar. sedangkan untuk pembangunan sarana pembuangan air kotor telah selesai dibangun instalasi pengolahan air kotor. Sejalan dengan itu. dan hidran umum sebanyak 9.322 buah.254 liter per detik. terus diusahakan. termasuk ibukota kecamatan (IKK) yang terdapat di seluruh propinsi. Di samping itU selama periode tersebut juga telah berhasil dilakukan pengadaan air di 627 IKK.221.

Selama Pelita III telah disusun rencana tataruang kala sebanyak 176 kota. 7. Di sam ping itu pembinaan jaringan jalan ditujukan untuk meningkatkan pengangkutan barang dan jasa dari pusat-pusat produksi ke daerah-daerah pedesaan. Kegiatan yang telah dilakukan sampai dengan tahun pertama Repelita IV meliputi programprogram rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan. Sampai dengan tahun 1983/1984 telah dibangun saluran pembuangan air hujan di 25 kala yang tersebar di berbagai daerah. aman dari bahaya kebakaran. Untuk itu terus ditingkatkan keselamatan bangunan-bangunan umum agar tidak cepat rusak. masyarakat pemakai jalan ikut membiayai jalan-jalan baru melalui sistem tol. peraturan bangunan nasional. dalam rangka tertib bangunan telah disusun berbagai peraturan antara lain mengenai standar. Selain itu kini sedang dilakukan juga pembangunan sarana pembuangan air kotor di kota Bandung. penunjangan jalan dan jembatan. prosedur pengadaan bangunan negara. Di daerahdaerah yang telah menunjukkan perkembangan yang relatif tinggi. dan mendapatkan sinar matahari yang cukup. sehingga Departemen Keuangan RI 248 .9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jaringan pipanya di Tangerang. serta rencana tataruang daerah yang diperuntukkan bagi sebanyak 61 daerah yang tersebar di berbagai propinsi di seluruh Indonesia. baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah maupun swasta. serta program pembangunan jalan dan jembatao baru. peningkatan jalan dan penggantian jembatan. bebas dari genangan banjir. Di lain pihak. Prasarana jalan dan jembatan Pelaksanaan pembangunan jalan selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pelayanan jaringan jalan yang tersebar di seluruh Indonesia agar dapat melayani lalu lintas yang semakin berkembang. terutama arus-arus jalan yang mempunyai nilai sosial dan ekonomi yang tinggi. tidak mudah runtuh. Jakarta dan Medan.3. serta model peraturan setempat di kola kabupaten dan kotamadya. serta jalan-jalan yang membuka daerah-daerah yang potensial tetapi masih terisolir. pedoman pelaksanaan. maka diperlukan pengaturan dan pembinaannya agar pelaksanaan dan pemanfaatannya dapat berdaya guna dan berhasil guna. serta untuk mendorong mobilitas manusia sekaligus mengembangkan dan meratakan pembangunan beserta hasil-hasilnya di seluruh nusantara. Mengingat bahwa pembangunan gedung-gedung. Dengan demikian prioritas utama kegiatannya diberikan kepada perbaikan dan peningkatan jalan yang menghubungkan antara pusat-pusat produksi dengan daerah-daerah pemasaran dan pelabuhan. Bidang rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan telah dapat memperbaiki kerusakan-kerusakan setempat pacta ruas-ruas jalan arteri dan kolektor yang telah mempunyai kondisi fisik yang mantap. semakin meningkat.

dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 2. di antaranya dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984. Pembangunari jalan baru ditujukan untuk dapat melayani pertumbuhan lalu lintas baik di daerah perkotaan. Hasil yang cukup baik tersebut tampak pada kenyataan bahwa jalan kritis yang pada akhir Pelita II masih sekitar 22 persen. sedangkan secara keseluruhan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III mencapai 42. termasuk di antaranya yang dicapai dalam tahun 1982/1983 sepanjang 9.393 meter telah dilaksanakan dalam tahun 1982/1983 dan 3.971 km. Hasil yang telah dicapai selama Pelita III adalah meliputi pembangunan sepanjang 1.708 km. maupun dalam rangka pembukaan hubungan lalu lintas ke daerah yang terpencil.414 km dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jalan terse but tetap terpelihara. Sementara itu program peningkatan jalan dan penggantian jembatan telah dapat meningkatkan jumlah jaringan jalan arteri dan jalan kolektor ke dalam kondisi mantap. di antaranya dalam tahun 1982/1983 sepanjang 18. Dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 telah dilakukan penggantian jembatan sepanjang 8.768 meter dan 7.868 meter jembatan. yaitu sepanjang 4. Selama Pelita III telah dapat ditingkatkan jalan sepanjang 10.0'55 meter.488 meter dan 24. terisolir dan daerah pemukiman transmigrasi. Di lain pihak jalan mantap dan tidak mantap yang pada akhir Pelita II masing-masing adalah sebesar 13 persen dan 65 persen.412 meter. maka pada akhir Petitt III jalan mantap telah meningkat menjadi sebesar 36 persen dan jalan tidak mantap berkurang menjadi 64 persen. sehingga dapat melayani pertumbuhan lalu lintas dalam jangka pendek sebelum jalan tersebut ditingkatkan luasnya.308 meter. diantaranya dalam tahun 1982/1983 telah dilaksanakan sepanjang 3.059 meter. termasuk di antaranya yang dicapai dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 masingmasing sepanjang 8. dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 15. maka pada akhir Pelita III telah dapat diatasi seluruhnya. Sedangkan kegiatan rehabilitasi dan pemeliharaan jembatan selama Pelita III telah mencapai 41. Adapun di bidang penunjangan jembatan.384 km jalan dan 6. Kegiatan yang dilakukan di bidang penunjangan jalan dan jembatan telah dapat memperbaiki kondisi jalan yang tidak mantap dan kritis menjadi baik.749 meter.527 meter. masing-masing mencapai 36.887 meter daiam tahun 1983/1984. selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah mencapai 141. sehingga mampu memenuhi kebutuhan pertumbuhan lalu lintas yang terus meningkat pada arus-arus jalan tersebut.212 meter dan 10. Hasil yang dicapai dalam program tersebut selama Pelita III meliputi jalan sepanjang 31. Hasil yang telah dicapai selama Pelita III meliputi peningkatan jalan sepanjang 90.943 km.448 km.272 km. Apabila dalam tahun 1982/1983 Departemen Keuangan RI 249 . Sedangkan peningkatan jembatan selama Pelita III telah mencapai sepanjang 14.848 meter.381 km.841 km. sedangkan beberapa ruas jalan telah beberapa kali mengalami perbaikan.547 km.

Sementara itu penggunaan aspal Buton terus dikembangkan.418 km. Sementara itu guna memperlancar pemasaran hasil produksi pertanian. Sedangkan jumlah jalan kritis yang dalam tahun 1982/1983 mencapai sepanjang 900 km.568 meter. Di lain pihak.399. dalam tahun 1983/1984 telah dapat diperbaiki seluruhnya. Hasil penelitian yang dilakukan selama Petita III. perkebunan dan industri kecil di pedesaan.383 ton dan untuk seluruh Pelita III sebanyak 1. dan penunjangan jembatan sepanjang 51.956 km. Pembangunan di bidang jalan dan jembatan dapat dilihat pada Tabel VII. baik yang menyangkut kegiatan perdagangan dan produksi. Kegiatan tersebut ditingkatkan melalui penyediaan peralatan jalan dan peningkatan kemampuan teknis di lapangan.396 meter dan penggantian gorong-gorong sepanjang 59. maka dalam tahun 1983/1984 telah ditingkatkan menjadi 13. Hasil yang dicapai dalam tahun 1983/1984 di bidang penunjangan jalan kabupaten meliputi sepanjang 7.044 km dalam tahun 1983/1984. dengan lebar perkerasan jalan sekitar 7 meter. selain untuk meningkatkan produksi aspal dalam negeri.392 km. telah dapat digunakan untuk peningkatan jaringan jalan antara lain meliputi lapisan tipis aspal Buton murni (Latasbum) dan lapisan aspal Buton dengan batu pecah agreget (Lasbutag).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jumlah jalan mantap mencapai 12.633 ton. Departemen Keuangan RI 250 . dalam periode yang sarna jumlah jalan tidak mantap telah diturunkan dari sepanjang 25.943 ton dan 453. 72. Dengan penggunaan cara/sistem tersebut maka dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 masingmasing telah digunakan aspal Buton sebanyak 452. sistem distribusi.326 km. telah dilakukan bantuan penunjangan jalan kabupaten.000 kendaraan per hari. juga ditujukan untuk mengadakan penelitian mengenai peningkatan mUlti produksi dalam negeri. maupun dalam rangka penyebaran penduduk dan penghapusan isolasi daerah-daerah terpencil. penunjangan jembatan sepanjang 19. Kedua lapisan aspal tersebut digunakan untuk kondisi jalan dengan kepadatan lalu lintas sekitar 3. Selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah berhasil ditingkatkan penunjangan jalan kabupaten sepanjang 40. terutama untuk menghapuskan ruas-ruas jalan pada kondisi kritis dengan kepadatan lalu lintas yang relatif rendah. dan sistem pengelolaannya.781 meter.208 km dalam tahun 1982/1983 menjadi sepanjang 25. Sedangkan jalan agreget padat tahan cuaca (Japat) digunakan untuk kegiatan penunjangan jalan. Berhasilnya pembangunan jalan dan jembatan terse but pada gilirannya telah dapat meningkatkan kelancaran mobilitas antardaerah.

pertumbuhan yang cukup tinggi dan penyebaran yang kurang merata. dan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 158.029 2.5 juta.580 1.1.262 60 12.454 27. Rehabilitasi 3.787 1.165 110 8.685 221 18.825 1.745 1.560 913 4.390 3.502 2.034 1. Sementara itu dengan adanya penyebaran penduduk yang kurang merata.414 3. Penunjangan 2) Jembatan (m) 1.579 - 1981/82 7. Keadaan penduduk tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan bidang ketenagakerjaan.381 8.916 688 10.419 1.602 4.502 840 - 5. Pembangunan baru 5.074 6.393 2.502 331 1.464 3.224 1.272 400 18.894 3. antara lain melalui perluasan dan intensifikasi pelaksanaan program keluarga berencana ke seluruh wilayah dan lapisan masyarakat.583 8. pemeliharaan menjadi satu dengan rehabilitasi 2) Dalarn Pelita I dan ll.013 3. Peningkatan 4.605 920 111 18. Kependudukan dan transmigrasi 7.367 521 16.789 4. Rehabilitas! 3. Kenaikan tersebut terutama disebabkan karena masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk.749 3.526 5.928 23.482 1.128 775 1.956 1.700 - 2. Pembangunan baru 5.730 994 684 51 4. diusahakan untuk mempercepat turunnya tingkat kelahiran.397 1. Jumlah penduduk Indonesia dalam tahun 1980 adalah sebanyak 147.010 125 2.108 36. sedangkan dalam periode 1980-1990 diperkirakan menurun menjadi sekitar 2.482 4.579 1.305 8. yang setiap tahun jumlahnya diperkirakan bertambah sekitar 1.226 1. 184 juta jiwa dan 223 juta jiwa.105 25.515 3. Guna mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk tersebut.841 2.011 5.132 1. termasuk daerah-daerah pemukiman baru. Jika dalam periode 19601971 tingkat pertambahan penduduk adalah sebesar 2.982 1.887 826 24.834 115 26.10. penunjangan menjadi satu dengan peningkatan 3) Angka sementara 7.10.673 1.610 375 28.199 1) Dalam Pelita llI. Di samping itu juga oleh adanya struktur umur yang kurang seimbang serta kualitas penduduk yang relatif masih rendah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 T abe I VII.212 4. Kependudukan Masalah pokok di bidang kependudukan dalam tahun kedua Repelita IV terutama ditandai oleh besarnya jumlah penduduk. tahun 1990 dan tahun 2000 diperkirakan akan meningkat masing-masing menjildi 165 juta jiwa.488 1983/84 4.779 546 230 2.301 3.356 1.889 936 68 21.858 2.317 4. dalam periode 1971-1980 meningkat menjadi sebesar 2.1 juta.72 PEMBANGUNAN DI BIDANG PRASARANA jALAN DAN jEMBATAN.387 735 47 6.544 507 2.500 - 1970/71 10.700 3. jumlah penduduk Indonesia dalam tahun 1985.782 6.448 174 15.651 1969/70 J a I a n (km) 1.1 persen. terutama dalam mewujudkan lapangan kerja baru bagi angkatan kerja.887 829 757 145 8.055 1984/85 157 3.3 persen. Pemeliharaan 1) 2. Peningkatan 4. Pemeliharaan 1) 2.075 2. sebanyak Departemen Keuangan RI 251 .294 916 148 2.103 1982/83 9.943 10. Penunjangan 2) 920 746 27 4.928 4.399 1. Dengan pertumbuhan yang relatif masih cukup tinggi ter3ebut.1984/1985 1971/72 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 30. Oleh karena itu di dalam melaksanakan pembinaan dan penempatan tenaga kerja. 1969/1970 . dan sekaligus bertujuan untuk meningkatkan pemerataan pendapatan dan kegiatan pembangunan.154 2.514 9. telah ditetapkan kebijaksanaan yang bersifat menyeluruh dan terpadu dan dititikberatkan pada perluasan kesempatan kerja yang produktif dan renumeratif.566 8.5 juta orang selama kurun waktu tersebut.0 persen.

diperkirakan sebanyak 41. Sementara itu dengan adanya peningkatan penyediaan fasilitas pendidikan. jumlah angkatan kerja dalam kelompok umur 10-14 tahun diperkirakan akan terus menurun baik secara proposional Departemen Keuangan RI 252 . dalam tahun 1988 diperkirakan akan meningkat menjadi 71.0 persen per tahun.6 persen. 27.1 persen dari sebanyak 161. masing-masing diperkirakan akan meningkat menjadi 64. yaitu apabila dalam periode 19811985 tingkat kelahiran mencapai 33. Oleh karena itu guna memungkinkan pendayagunaan sumber daya alam secara optimal. penyebaran penduduk terutama ditujukan pada tercapainya perimbangan yang lebih serasi antara sumber daya alam dan sumber daya manusia. dan 9.6 juta dan 11.9 persen dari seluruh angkatan kerja juga berada di pulau Jawa. dalam tahun 1985. Masalah lain di bidang kependudukan adalah kurang seimbangnya struktur umur penduduk.3 juta.1 juta orang dan 76. terutama pada seko}ah dasar (SD) dan sekolah menengah tingkat pertama (SMTP). yang masing-masing luasnya sekitar 26.5 persen per tahun. berada di pulau Jawa yang luas wilayahnya hanya sekitar 7 persen dari seluruh wilayah Indonesia. Hal ini terutama disebabkan karena masih cukup tingginya tingkat kelahiran. kepadatan serta proyeksinya sampai dengan tahun 1984 dapat dilihat pada Tabel VII.2 juta jiwa atau 62. 7.72 per seribu.7 persen dari seluruh wilayah Indonesia. Demikian pula halnya dengan jumlah angkatan kerja.7 juta orang atau suatu kenaikan rata-rata sebesar 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 98. 69. yang ditandai dengan besarnya jumlah penduduk berusia muda. Dengan demikian kepadatan penduduknya hanya mencapai 67 orang. 14 orang dan 60 orang per kilometer persegi.7 juta. di samping dialaminya tekanan penduduk yang mencapai kepadatan 747 orang per kilometer persegi. Sebagai akibatnya. Dengan adanya ketimpangan penyebaran penduduk tersebut. Tingkat kenaikan tersebut berarti masih di alas pertumbuhan penduduk dalam periode 1980-1990 yang diperkirakan mencapai sekitar 2.9 juta orang. Kalimantan dan Sulawesi.73. Selain itu dalam rangka meningkatkan kesadaran serta pengetahuan di bidang kependudukan. jumlah penduduknya hanya sebanyak 31. Sebagai akibatnya apabila dalam tahun 1980 jumlah penduduk yang berumur 0-14 tahun baru mencapai sebanyak 59. maka di satu pihak sumber daya alam di daerah padat penduduk mengalami tekanan eksploitasi yang berlebihan.8 persen. tahun 1990 dan tahun 2000. dalam periode 1986-1990 dan 1990-1995 masing-masing diperkirakan sebesar 31. dikembangkan pula penelitian di bidang kependudukan yang sekaligus dimaksudkan untuk memanfaatkan sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan pembangunan. di lain pihak di daerah yang jarang penduduknya.2 juta orang.7 juta orang. di wilayah Sumatera. atau 61.7 juta orang. Di lain pihak.90 per seribu.9 juta.26 per seribu dan 28. sumber daya alam tidak dapat dikelola secara efektif. apabila dalam tahun 1983 baru mencapai 63.6 juta penduduk dalam tahun 1984. Perkembangan penduduk Indonesia.

sedangkan yang tamat perguruan tinggi hanya sebanyak 754. dalam tahun 1982/1983 melalui PPKGB dan PPKJT telah dapat diserap tenaga kerja sebanyak 21. dalam tahun 1983 diperkirakan 41.2 juta orang atau 64. Untuk itu pelaksanaan operasionalnya akan dituangkan ke dalam berbagai program. Melalui PPKGB.5 juta orang. di samping juga ditanggulangi kekurangan kesempatan kerja sebagai akibat terjadinya bencana alam di beberapa daerah. perkembangan angkatan kerja yang belum tamat SD diperkirakan masih cukup besar. dalam periode yang sarna jumlahnya diperkrakan masih cukup besar. sedangkan yang telah menamatkan perguruan tinggi hanya mencapai 657. Guna menanggulangi permasalahan tersebut. Sedangkan melalui PPKJT. program generasi muda dan program peranan wanita. Tenaga kerja tersebut dipekerjakan pada pembangunan jalan desa.5 persen dari seluruh angkatan kerja yang ada masih belum tamat SD. yaitu dari sebanyak 16. sedangkan dalam jangka panjang. penyebaran dan pemanfaatan tenaga kerja khususnya tenaga kerja usia muda.9 juta orang. produktivitas tenaga kerja.325 hari kerja.801. antara lain telah ditempuh kebijaksanaan di bidang ketenagakerjaan.000 orang. Apabila dalam tahun 1983 jumlah angkatan kerja dalam kelompok umur 10-14 tahun mencapai 2. antara lain dilakukan pembangunan jalanjalan desa dan prasarana desa lainnya. dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kerja terutama bagi penduduk yang tinggal di daerah kecamatan miskin dan padat penduduk.200 orang atau 1. Selanjutnya apabila dilihat dari tingkat pendidikannya. dalam tahun 1988 diperkirakan akan menurun menjadi 1. serta peningkatan penyaluran. meliputi program pembangunan desa. yakni meliputi peningkatan informasi posar kerja. saluran air. program latihan. yaitu akan meningkat menjadi 42. perluasan kesempatan kerja terutama dihubungkan dengan kebutuhan tenaga kerja setelah selesainya atau berfungsinya proyek tersebut. pembuatan beras dan Departemen Keuangan RI 253 .8 juta orang meningkat menjadi 17. program penyebaran tenaga kerja. Dalam jangka pendek. Dalam pelaksanaannya. program pembangunan desa dilakukan melalui proyek padat karya gaya baru (PPKGB) dan proyek padat karya jaringan tersier (PPKJT). Sehubungan dengan itu. program ini ditujukan untuk perluasan kesempatan kerja bersamaan dengan dilaksanakannya suatu proyek.6 juta orang. dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi terhadap saluran air dan jaringan tersier. Namun sebaliknya untuk angkatan kerja muda dalam kelompok umur 15-24 tahun. perluasan kesempatan kerja.0 juta orang. Program pembangunan desa terutama ditujukan untuk mengatasi masalah kekurangan kesempatan kerja bagi tenaga-tenaga penganggur atau penganggur musiman yang kurang terampil di daerah pedesaan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun secara absolut.0 persen. Dalam tahun 1985.

Dengan demikian mobilitas tenaga kerja baik antar jabatan maupun antarlokasi dapat ditingkatkan. baik tenaga kerja sarjana maupun sarjana muda. mereka diaktifkan sebagai pelopor pembaharuan dan pembangunan di daerah pedesaan yang tersebar di seluruh propinsi. program penyebaran tenaga kerja juga dilaksanakan melalui kegiatan antarkerja yang ditunjang oleh informasi posar kerja yang akurat. dalam tahun 1983/1984 dengan jumlah pencari kerja yang terdaftar sebanyak 498.antara lain dapat diketahui jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan menurut jenis pekerjaan. telah dapat ditempatkan sebanyak 84.892 hari kerja. Dengan semakin meningkatnya pembangunan.836 tenaga kerja.940. gizi dan keluarga berencana.815 orang.720. diberikan.693 kilometer dan saluran tersier sepanjang 3. Di samping itu usaha penyebaran tenaga kerja juga dilaksanakan melalui program antarkerja antar lokal (AKAL).096 buah kecamatan miskin dan padat penduduk. yang berarti telah meningkat dengan 82. di samping juga ikut membantu menyebarkan teknologi tepat guna dan sistem padat karya.941 orang dan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia sebanyak 23.635 orang.1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang baru mencapai 3. Sedangkan daJam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.221 orang. dengan jumlah pencari kerja sebanyak 104.010 orang. antarkerja antardaerah (AKAD) dan antarkerja antarnegara (AKAN). melalui pembangunan/rehabilitasi jalan desa sepanjang 3.480 orang. pelaksana program kejar paket A. Di samping melalui program TKS/BUTSI. yang terse bar di 1. tenaga kerja yang diserap telah meningkat menjadi sebanyak 26. penyuluh di bidang kesehatan. telah dapat ditempatkan sebanyak 15.302 orang dan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia seb:inyak 112. Sementara itu pelaksanaan pogram penyebaran tenaga kerja terutama ditujukan untuk menyebarkan dan memanfaatkan tenaga kerja terdidik ke daerah pedesaan. Melalui informasi pasar kerja. Dalam hubungan ini. .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 prasarana desa lainnya. Kemudian dalam tahun 1983/1984. dari pembangunan/rehabilitasi prasarana dan sarana yang tersebar di 96 kecamatan miskin dan padat penduduknya telah dapat diserap tenaga kerja sebanyak 342. Dalam lokasi baru tersebut. pelaksanaan program AKAD diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang semakin Departemen Keuangan RI 254 . serta kegiatan lain yang menunjang pembangunan.7 kilometer yang tersebar pada 1. para tenaga kerja sukarelalbadan usaha tenaga sarjana Indonesia (TKS/BUTSI) bertugas di berbagai bidang pembangunan. Melalui proyek pengerahan tenaga kerja sukarela. dalam tahun 1983/1984 jumlah TKS/ BUTSI yang dikerahkan ke daerah-daerah pedesaan di seluruh Indonesia telah mencapai 5.084 kecamatan miskin dan padat penduduk.721 hari kerja. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. Sehubungan dengan itu. antara lain sebagai tenaga penyempurna administrasi desa. keterampilan dan imbalan jasa yang.

6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang baru mencapai 82. selain melalui pembangunan/rehabilitasi balai latihan kejuruan (BLK).427 orang dan 11.346 orang. Sedangkan guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja di luar negeri. 880 orang melalui BPMP dan sebanyak 1. pengelolaannya dilaksanakan melalui program AKAN. Kenaikan ini selain disebabkan karena adanya penambahan tenaga instruktur dan perluasan clara tampung daripada BLK-BLK. dalam tahun 1983/1984 telah dapat disalurkan tenaga kerja sebanyak 135.836 orang disalurkan melalui AKAL. juga karena semakin meningkatnya minat para pencari kerja untuk mengikuti latihan. Unit Produktivitas Nasional (UPN) dan Mobile Training Unit (MTU) seluruhnya mencapai 98.120 orang melalui MTU. Balai Pengembangan Manajemen dan Produktivitas (BPMP). diberikan program latihan dan keterampilan tenaga kerja khususnya kepada tenaga kerja usia muda dan wanita pedesaan yang belum memiliki pengalaman dan keterampilan. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. Untuk menunjang kegiatan tersebut.790 orang melalui AKAN. terutama dengan terbukanya kesempatan kerja di Timur Tengah. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.583 orang melalui AKAD dan sebanyak 30. jumlah tenaga kerja yang telah dilatih melalui BLK Industri (BLKI). Hal ini berartitelah terjadi kenaikan sebanyak 16.635 orang.734 orang melalui BLKI. sedangkan melalui AKAD dan AKAN masing-masing mencapai 9. Departemen Keuangan RI 255 . BLK Pertanian (BLKP). Sementara itu guna meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Melalui program antarkerja tersebut. Dalam tahun 1983/1984.005 orang atau 19. tetapi produktivitas kerjanya masih rendah.138 orang. telah dapat dilatih tenaga kerja sebanyak 1. Di samping itu juga diberikan kepada beberapa tenagakerja yang sudah mendapatkan lapangan kerja tertentu.209 orang. penyaluran tenaga kerja melalui AKAL mencapai sebanyak 15.193 orang. terutama yang sudah mandiri. juga diberikan bimbingan kepada kursus-kursus swasta sebagai bagian dari sistem latihan nasional. 19. dengan perincian sebanyak 84.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 meningkat di luar Jawa.

28% 2.048 161. khususnya di luar pulau Jawa dan Bali. Guna melayani kegiatan.190 1977 87.962 7.269 28. serta perumahan berikut salafia air minum dan jamban keluarga. sosial-ekonomi para transmigran telah dibangun pula sarana penunjang seperti gedung sekolah. 73 PENDUDUK INDONESIA DAN KEPADATANNYA PADA TAHUN 1971 SERTA PROYEKSINYA SAMPAI DENGAN TAHUN 1984 ( dalam ribu jiwa) Pulau J awa Sumatera Kalimantan Sulawesi Lainnya Indonesia Jumlah penduduk 19711) 76. untuk membuka dan mengembangkan daerah pertanian baru.887 11. Untuk tersedianya prasarana. balai pertemuan/balai desa.079 10.128 138.78% 1) Angka sensus 7.904 25.2.315 1982 95. sarana dan fasilitas secara memadai bagi tumbuhnya kegiatan masyarakat baru.989 6.927 7. serta untuk menunjang pembangunan daerah.342 1978 88.812 9. rumah petugas dan rumah pos.799 158.579 19801) 91.072 147.340 29.103 29.155 8.579 Kepadatan / Km 2 19711) 576 44 10 45 15 62 1976 633 45 11 43 17 67 1977 650 46 11 44 18 68 1978 663 47 11 46 18 70 1980 1) 690 59 12 55 19 77 1981 706 61 12 56 19 79 1982 719 63 13 58 20 81 1983 733 65 13 59 20 83 1984 747 67 14 60 20 84 Perkembangan rata .070 10.028 6. baik bagi para transmigran maupun bagi masyarakat sekitarnya.076 24.527 8.942 10.10.112 11. rumah ibadah.1984 2.410 11.724 6. serta mendorong masyarakat agar berperanserta Departemen Keuangan RI 256 . maka di daerah pemukiman transmigrasi antara lain telah dibangun jalan penghubung.70% 2.240 10.662 1983 96. lahan pertanian.48% 3.350 11.893 30.377 141.083 1984 98. balai pengobatan.334 10.632 119.086 20. gedung koperasi/KUD. yang kesemuanya disertai dengan perlengkapan dan peralatan. jalan desa.143 10.924 9.282 5.209 1976 85.700 31.563 11.341 12. Transmigrasi Program transmigrasi terutama ditujukan untuk memperbaiki penyebaran penduduk dan tenaga kerja. Di lain pihak. pelaksanaan transmigrasi terutama ditujukan untuk pembangunan dan rehabilitasi daerah asal.929 7.490 1981 93.567 154.723 10.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.340 151.665 11. Usaha-usaha tersebut pada gilirannya diharapkan akan dapat menjamin peningkatan tarat hidup.016 6.888 135.289 24.13% 3.rata per tahun 1971 .34% 2.808 5. bagi daerah asal transmigran.

74.412 22.200 11. Dengan demikian selama 5 tahun pelaksanaan Repelita III telah dapat ditempatkan transmigran sebanyak 527.2 1971/1972 4.949 100 1978/1979 27.970 KK dan 169.055 KK.552 KK. 74 HASIL PENEMPATAN TRANSMIGRAN.338 112. yang terdiri atas 367.5 1) Angka diperbaiki.425 705.010 106 Pelita IV 1984/1985 2) 125.959 100 1974/1975 11.970 102.268 99.000 51.985 kepala keluarga (KK). dae(ah aliran sungai (DAS) yang akan dihijaukan.056 KK transmigran swakarsa murni.414 101.865 4. yang terdiri atas 29.552 100.876 KK. 127.6 1982/1983 125. Oleh karena itu penentuan daerah asal bagi para calon transmigran terutama diprioritaskan pada daerah yang terlalu padat.910 100 1977/1978 22.359 KK.959 82.1984/1985 ( kepala keluarga ) Persentase Tahun Target Realisasi realisasi Pelita I 46. Kemudian dalam tiga tahun terakhir Pelita III masing-masing telah meningkat menjadi 100.263 KK transmigran umum.000 100.9 1973/1974 22.933 87.000 11. dalam tahun 1980/1981 telah meningkat menjadi 78.055 38.910 13.100 100 1976/1977 13.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam bidang transmigrasi.7 1972/1973 11.000 527.171 90. 736 KK transmigran swakarsa berbantuan dan sebanyak 18.5 1981/1982 100.000 27.100 8.000 100 Pelita III 1) 500. Perkembangan hasil penempatan transmigran dapat diikuti dalam Tabel VII.000 127. Selama Pelita III pelaksanaan transmigrasi dari tahun ke tahun selalu menunjukkan peningkatan.985 104 1980/1981 75. Apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah transmigran yang ditempatkan baru mencapai sebanyak 51.000 48.127 KK transmigran umum dan 160. daerah yang terkena proyek-proyek pembangunan serta daerah yang perlu dilestarikan.949 22.4 1969/1970 4.000 78359 104. termasuk transmigran swakarsa 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 257 .4 1983/1984 150.4 Jumlah 754.6 1979/1980 50. TabeI VII.6 1970/1971 3.749 KK transmigran swakarsa.000 100 1975/1976 8.158 93.876 105.489 3. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984 telah dapat ditemp atkan sebanyak 48.566 46.600 4.000 159.412 100 Pelita II 82.010 KK. 1969/1970 .

sehingga membuka kemungkinan yang lebih luas bagi pengolahan hasil-hasil pertanian di daerah transmigrasi. peternakan. Di samping itu guna melancarkan angkutan bagi para transmigran. kesehatan dan makanan bagi para transmigran. Dalam pelaksanaannya. Bagi sektor industri. Dengan demikian diharapkan penyebaran potensi sumber daya manusia akan lebih seimbang dengan penyebaran potensi sumber alam.000 KK. usaha di bidang transmigrasi akan lebih menjamin tersedianya tenaga kerja dan bahan baku. yang dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan di bidang keamanan dan kesehatan para transmigran. sebagai lembaga yang diharapkan dapat mengembangkan perekonomian bagi daerah transmigrasi. perkebunan. pelaksanaan transmigrasi ditujukan untuk memperluas areal pertanian baru. belum terarahnya materi atau informasi yang disampaikan. baik di pasaran lokal maupun nasional. terutama untuk lahan pertanian.4 persen dari target yang telah ditetapkan dalam tahun 1984/1985 yaitU sebanyak 125. kegiatan transmigrasi akan memberikan kesempatan yang luas pada usaha-usaha penyalur hasil produksi dari daerah transmigrasi ke pasaran. serta meningkatkan produksi dari berbagai komoditi pertanian. seperti terlihat dari pelaksanaan dalam tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Oktober 1984 yang baru mencapai 38. program transmigrasi masih banyak mengalami hambatanhambatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sejalan dengan telah berhasilnya pelaksanaan program transmigrasi dalam Pelita III. Oleh karena itu pelaksanaan kegiatan ini langsung dikaitkan dengan pemindahan penduduk dan tenaga kerja dari daerah yang radar ke daerah yang jarang penduduknya. perikanan. khusus kepada para petugas pengawal transmigran telah diberikan berbagai penataran. maka dalam Pelita IV pelaksanaan program transmigrasi akan lebih dipadukan dengan pembangunan sektor-sektor lainnya. Di samping itu juga belum memadainya perkembangan KUD. Sedangkan untuk sektor perdagangan. Hambatan-hambatan tersebut antara lain berupa kurangnya tenaga penyuluh yang terampil. Guna mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Di sektor pertanian. seperti sektor pertanian. khususnya untuk daerah-daerah kosentrasi pengumpulan yakni di kabupaten-kabupaten. Sedangkan untuk memenuhi kecepatan waktu dan meningkatkan mutu makanan yang lebih Departemen Keuangan RI 258 . pendidikan dan kesehatan. Demikian juga sektor swasta belum memadai peranannya dalam menunjang perkembangan perekonomian daerah transmigrasi. belum memadainya sarana penerangan yang ada. telah dilakukan penambahan angkutan transite. serta masih lemahnya pelayanan dalam angkutan. perindustrian. Sebaliknya pembangunan yang dilakukan di daerah transmigrasi akan memberikan peluang bagi usaha penyalur barang dan jasa yang dibutuhkan bagi pembangunan daerah transmigrasi itu sendiri. khususnya yang menyangkut masalah pengelolaan dan perdagangan hasil-hasil pertanian.

534 penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan 660 pembina koperasi. Selain ittt juga telah dilaksanakan rehabilitasi terhadap 67 lokasi lahan usaha yang kurang berhasil. yang terdiri dari 956 tenaga medis.631 guru SO. baik yang menyangkut masalah pengurusan pelaksanaan administrasi. Departemen Keuangan RI 259 . sampai dengan bulan Oktober 1984. yaitu dengan memberikan pengapuran. maka di beberapa lokasi dan daerah asal telah diadakan dapur lapangan yang mobil. Sementara itu guna meningkatkan pengelolaan dan pemasaran hasil-hasil produksi dari daerah transmigrasi.622 guru SMTP. 55 dokter. mengadakan konservasi laban. maupun mengenai kelancaran hub_mgan antara daerah asal dan daerah penerima. telah diberikan bantuan bibit tanaman dan bantuan pangan. Guna meningkatkan dan mendorong pelaksanaan transmigrasi swakarsa. kepada para caton transmigran swakarsa telah diberikan berbagai kemudahan. telah dapat dilaksanakan pengadaan tenaga pembina sebanyak 6. Khusus kepada daerah-daerah yang terkena musim kering dan beberapa daerah yang memerlukan perawatan kesehatan. Selanjutnya usaha peningkatan transmigrasi swakarsa dilaksanakan pula dengan jalan mengikutsertakan para transmigran pada kegiatan perkebunan inti rakyat (PIR) khusus. Sejalan dengan itu dalam tahun pertama Pelita IV.458 orang. serta intensifikasi dan diversifikasi usaha tani. Demikian pula bagi lokasi-lokasi yang kurang subur telah dilaksanakan upaya penanggulangan. 1. ijin dan penyediaan fasilitas di daerah penerimaan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sempurna. telah ditingkatkan pula peranan koperasi dan usaha swasta. 2.381 KK. dan pembinaan terhadap transmigran lama sebanyak 592.

maupun dalam hubungannya dengan masyarakat dan alam sekitarnya. Selaras dengan itu. baik melalui pendidikan formal maupun non formal. Oleh karena itu walaupun prioritas pembangunan masih ditekankan pada sektor ekonomi. keserasian dan keseimbangan baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. Oengan demikian dalam proses'pembangunan selanjutnya diharapkan akan dapat tercipta suatu strata masyarakat Indonesia yang berkepribadian kokoh. serta semakin meningkatnya kesejahteraan dan mutu para pendidik. Sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia tersebut. Pendahuluan Laju pembangunan yang telah dicapai sekarang ini tidak terlepas dari peranan manusia yang berfungsi sebagai pelaksana pembangunan. serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Tersedianya gedung-gedung sekolah terutama di tingkat dasar yang menyebar di seluruh pelosok tanah air. merupakan wujud nyata dari upaya tersebut. sebagaimana telah dapat dirasakan dewasa ini. keberhasilan upaya Departemen Keuangan RI 260 . pembangunan bidang kesehatan yang merupakan salah satu kebutuhan dasar setiap manusia terus pula dilaksanakan. pembangunan di bidang agama antara lain bertujuan untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia 'yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. namun unsur manusia dan unsur-unsur lainnya tetap mendapat perhatian yang seimbang. Dalam kaitannya dengan pembangunan di bidang pendidikan. Untuk itu berbagai sarana dan fasilitas pendidikan secara bertahap dan pasti terus ditingkatkan. Pembinaan di bidang agama. yang pada gilirannya diharapkan akan menumbuhkan manusia Indonesia yang mampu membangun dirinya sendiri. Hal ini ditandai dengan makin berkembangnya berbagai fasilitas dan saran a kesehatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VIII PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN SOSIAL DAN PEMBANGUNAN DAERAH 8. Di samping itu. yang berarti pula makin banyak anggota masyarakat yang mempunyai kesempatan untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan. dan mempunyai etik moral yang kuat. jangkauannya tidak hanya terbatas pada pendidikan formal melainkan meliputi pula pendidikan luar sekolah yang menuntut peran serta aktif pihak swasta. Sasaran yang ingin dicapai di bidang ini antara lain adalah meningkatkan kecerdasan serta menumbuhkan semangat kebangsaan yang tinggi.1. terus pula dikembangkan seiring dengan bidang-bidang lainnya. serta mampu menciptakan keselarasan.

terutama bagi para penyandang perrnasalahan sosial. Dengan demikian Departemen Keuangan RI 261 . yang bertujuan membangkitkan motivasi serta kesadaran masyarakat akan arti pentingnya kesehatan dan keluarga berencana (KB). serta pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air. Hal ini pada akhirnya diharapkan akan mampu menjamin kelangsungan pembangunan yang merata di seluruh wilayah tanah air serta kemajuan yang nyata dan ternikmati oleh segenap lapisan masyarakat. agar tercipta rasa amall. di samping aparat penegak hukum yang bersih dan berwibawa. di samping penyediaan sarana dan fasilitas yang memadai. Dalam hubungannya dengan usaha untuk rnenciptakan suasana tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak terlepas pula dari kemampuan dan kesadaran masyarakat itu sendiri. Norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera sudah dapat dirasakan oleh sebagian anggota masyarakat. Agama Memasuki tahun pertarna Pelita IV. perlu ditingkatkan laju pertumbuhan daerah. demi terbentuknya suatu angkatan bersenjata yang tangguh serta mampu rnelindungi seluruh turnpah darah dan segenap bangsa Indonesia. 8. pembangunan di bidang agama terutama ditandai dengan semakin terbinanya hidup rukun di antara sesama umat beragama. terus ditingkatkan upaya guna menjabarkan asas Trilogi Pembangunan ke dalam konsepsi yang bersifat operasional. Di bidang pembangunan daerah. Berbagai langkah pembinaan telah dilakukan. terutama para peserta KB. terus digalakkan. Dalam rangka memantapkan usaha tersebut. diharapkan akan tercipta suatu kondisi sosial rnasyarakat sebagaimana diidam-idamkan. keluarga dan masyarakat. serta diiringi dengan penyediaan fasilitas yang memadai. diarahkan guna meningkatkan tarat kesejahteraan sosial masyarakat secara adil dan merata. tertib serta tenteram lahir dan batin. pembangunan di bidang hukum berasa semakin penting.2. Pembangunan bidang kesejahteraan sosial yang merupakan bagian integral daripada kesatuan sistem pembangunan nasional. Maka dari itu. Untuk itu berbagai upaya dan penyuluhan. pelayanan kepada para akseptor KB terus ditingkatkan. Selaras dengan itu. serta mampu mengikuti laju pertumbuhan-daerah. pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan juga semakin berasa sebagai suatu kebutuhan yang mutlak. Hal ini tidak terlepas dari usaha untuk mewujudkan kondisi sosial yang dinamis dalam kehidupan individu. Adanya kepastian hukum yang dapat rnenjamin hak-hak setiap warga negara. Kesemuanya itu akan terwujud apabila keutuhan bangsa serta integritas teritorial terus ditingkatkan pula. dinamis. serta ditunjang oleh kesadaran hukum masyarakat yang tinggi merupakan salah satu tujuan di bidang pembinaan hukum. Dengan bertumpu pada landasan tersebut.

dengan perincian masing-masing setiap tahunnya sebanyak 296 buah. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. serta menciptakan suasana yang mendorong ke arah berkembangnya pola berpikir secara ilmiah. khususnya di bidang pendidikan. pembangunan balai nikah telah mencapai sebanyak 587 buah atau 237 buah lebih banyak hila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk itu telah dikembangkan kehidupan keagamaan. Sedangkan untuk tahun pertama Pelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984. Dalam waktu yang sarna juga telah ditingkatkan pembangunan gedung pengadilan agarna. selama 5 tahun pelaksanaan Repelita III telah dibangun balai nikah sebanyak 1. Hal ini secara tidak langsung akan menunjang suksesnya program nasional kependudukan dan keluarga berencana.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kesatuan dan persatuan bangsa dapat diperkokoh dan peranserta umat beragama dalam pembangunan dapat ditingkatkan pula. Adapun pembinaan yang dilakukan terhadap para penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Guna mendorong para pemeluk agarna untuk mempelajari dan mendalami agamanya. telah dibangun 17 buah gedung pengadilan agama tingkat pertama dan 4 buah gedung pengadilan agama tingkat banding. 316 buah dan 350 buah. Pembinaan tata kehidupan beragama Pembinaan tata kehidupan beragama antara lain mencakup peningkatan sarana kehidupan beragarna. yakni apabila dalarn tahun 1983/1984 telah dibangun 15 buah gedung pengadilan agama tingkat pertarna. Usaha tersebut terutama ditujukan untuk meningkatkan dan menyelaraskan pembinaan antara pendidikan dan perguruan agarna dengan pendidikan umurn. 8. Salah sarti perwujudan nyata dari pada upaya tersebut adalah dilakukannya pembangunan/rehabilitasi gedung balai nikah dan gedung pengadilan agama.1. karena melalui gedung balai nikah ini kepada para calon suami istri dapat dibina dan diberikan penyuluhan mengenai kesejahteraan keluarga sesuai dengan undang-undang perkawinan. Dalam pada itu telah dilakukan pula rehabilitasi terhadap 27 buah gedung pengadilan agama tingkat pertama dan sebuah gedung pengadilan agama tingkat banding. selain ditujukan agar dalam pengembangannya tidak mengarah kepada adanya pembentukan agama baru.2. mulai dari sekolah dasar sampai dengan universitas.572 buah. juga dimaksudkan agar pelaksanaan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa benar-benar sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. penerangan dan bimbingan hidup beragama serta peningkatan pelayanan ibadah hajj. Departemen Keuangan RI 262 . 290 buah. agar tercapai tujuan pendidikan nasional yang berlandaskan Pancasila. yang dilakukan dengan cara memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum. 320 buah. Sejalan dengan itu.

suci agarna Katolik.000 buah brosur agama dan 36. 221 pura Hindu dan 58 buah wihara Budha. yang terdiri dari para karyawan instansi Pemerintah/swasta.790 kelompok pemeluk agama Islam. 267 gereja Katolik. maka pada akhir Pelita III telah meningkat menjadi 577. terutarna terhadap kelompok masyarakat yang masih lemah sosial ekonominya.183. sebagai salah satu pelaksanaan daripada program penerangan dan bimbingan hidup beragama. 132. narapidana. sarana ibadah serta buku-buku keagamaan. daerah transmigrasi. para transmigran.660 buah. yang terdiri dari 2.433 buah tempat ibadah.715 tempat ibadah. para transmigran dan kelompok khusus lainnya. serta tempat-tempat ibadah yang rusak karena bencana alam.000 buah kitab suci dari berbagai agama. Apabila dalam tahun 1983/1984 bantuan pembangunan/rehabilitasi diberikan kepada 2.834 mesjid. Bantuan tersebut pada umumnya diberikan dalam bentuk biaya pembangunan/rehabilitasi. 335 gereja Protestan. para transmigran. terutama masyarakat suku berasing. suku berasing.300 buah kitab suci agama Hindu dan 15. dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Agustus 1984.500 buah kitab suci agama Protestan.000 buah kitab . Dalam rangka meningkatkan sarana kehidupan beragama maka telah dilaksanakan bantuan pembangunan/rehabilitasi tempat-tempat ibadah. daerah pemukiman baru. Dalam periode yang sarna telah diberikan pula penyuluhan kepada para pemeluk agama Protestan dan Katolik masing-masing sebanyak 300 kelompok dan 185 kelompok yang terdiri dari suku berasing.000 buah kitab suci agama Budha. dalafu tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.000 buah kitab suci agama Islam. daerah-daerah yang mempunyai nilai sejarah dan yang terletak di daerah strategis.000 buah Departemen Keuangan RI 263 .245 buah setiap tahunnya. Sehubungan dengan itu dalam tahun pertama Repelita IV telah diberikan penyuluhan agama kepada 2. seperti terlihat dengan semakin banyaknya jumlah tempat ibadah dari tahun ke tahun. dan disertai pula dengan pengadaan 652. narapidana dan kelompok lainnya. telah diberikan kepada masyarakat dari berbagai golongan agama.384 paket penyuluhan. Apabila pada akhir Pelita II baru terdapat sebanyak 471. telah diterbitkan sebanyak 1. telah diberikan kepada 3.800 buah.228. 148.821 temp at ibadah. Pemberian penyuluhan agama. Dampak positif dari bantuan tersebut adalah terangsangnya masyarakat untuk berswadaya dalam membangun tempat ibadah sesuai dengan kebutuhannya. 89. dan kelompok khusus lainnya seperti tunasusila. Jika dalam tahun 1983/1984 telah diterbitkan sebanyak 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maka terus ditingkatkan usaha penerbitan kitab suci dari berbagai agama. disertai pula dengan penyediaan brosur agama masing-masing sebanyak 60. Di samping itu jumlah tempat ibadah yang diberikan bantuan setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. yang terdiri atas 844. atau rata-rata 21.

Sedangkan untuk tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. 3.300 orang. dan pengadaan buku pedoman kerukunan hidup beragama.1.097 orang.200 meter persegi dan 2. Peningkatan pelayanan ibadah haji terutama ditujukan untuk meningkatkan pengelolaan dan pelayanan kepada masyarakat dalam melaksanakan ibadah haji.000 buah. Sedangkan untuk agama Hindu dan Budha telah diberikan penyuluhan kepada 25 kelompok transmigran dan suku berasing dengan disertai 32. seperti Banjarmasin dan Pontianak dengan luas masing-masing 1.695 meter persegi. Sulawesi Selatan.000 buah brosur agama.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan 22.Pontianak. Di samping itu juga telah diberikan penataran. Untuk tahun 1983/1984 pembangunan asrama haji telah pula menjangkau beberapa pelabuhan transit yang jumlah jemaahnya sudah cukup banyak. seperti musyawarah intern umat beragama. sedangkan musyawarah antarumat beragama telah diikuti oleh 540 orang dan dilaksanakan pada 6 lokasi. pekan orientasi kerjasama antarumat beragama dengan Pemerintah.000 buah. Surabaya. an tara lain telah dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi asrama haji. dan Medan.615 orang dan 2. Pada awal Pelita III pembangunan asrama haji dititikberatkan pada 4 kola pelabuhan udara tempat pemberangkatan jemaah. Guna menunjang program tersebut. dengan jumlah jemaah masing-masing sebanyak 7. yaitu Jakarta.400 meter persegi.200 buah dan 22. dengan perincian 2. Jawa Timur. Sementara itu jika dilihat daerah asal daripada para jemaah.200 buah. Departemen Keuangan RI 264 .800 meter persegi untuk Banjarmasin dan 2. pembangunan asrama haji telah dapat ditingkatkan menjadi 7. baik kepada para petugas maupun jemaah. serta sarana lainnya seperti pembuatan film haji. Ujungpandang.783 orang. Perkembangan jumlah jemaah haji dapat diikuti pada Tabel VIII. 5. disediakan buku pedoman perjalanan dan ibadah haji. 3. 2. Musyawarah intern umat beragamatelah dilaksanakan pada 13 lokasi dengan peserta sebanyak 1.715 meter persegi untuk pelabuhan. antarumat beragama. Dalam periode yang sama telah dilaksanakan pekan orientasi kerjasama antarumat beragama dengan Pemerintah pada 3 lokasi dengan peserta sebanyak 360 orang.008 orang. Usaha peningkatan kerukunan hidup beragama dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan dengan berbagai kegiatan. di samping telah diberikan pula buku pedoman kerukunan hidup beragama sebanyak 17. maka dalam tahun 1984/1985 jumlah jemaah haji yang paling banyak berasal dari Jawa Barat. DKI Jakarta dan Jawa Tengah.180 meter persegi untuk pelabuhan Surabaya. serta paket penyuluhan masing-masing sebanyak 4. baik untuk pelabuhan-pelabuhan pemberangkatan maupun pelabuhan-pelabuhan transit.907 orang.

270 73.697 74.351 12.071 15.039 17.575 9.500 guru. menengah dan tingkat tinggi.079 Haji melalui udara 611 1. Sedangkan guna meningkatkan mutu pendidikan agama Departemen Keuangan RI 265 .227 2.366 18.403 54.246 48.681 12. telah dilakukan pula pembinaan terhadap madrasah ibtidaiyah swasta (MIS).978 25.238 23.317 38.292 22.697 74. Apabila dalam tahun 1983/1984 dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi terhadap 6.000 MIS.961 55.589 35.520 69.8 juta buah.845 19.449 53 .344 40. Pembinaan pendidikan agama Pembinaan pendidikan agama dalam pelaksanaannya mencakup pendidikan agama tingkat dasar.500 guru.511 6. Demikian pula dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. pembangunan/rehabilitasi gedung MIN sebanyak 83 buah.292 14.035 41. 1969/1970 -1984/1985 (orang) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 197971980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/19851) Jumlah 1) Angka sementara Haji melalui laut 8.072 22.246 48.126 692. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah meningkat menjadi 10. pemberian alat peraga dan olah raga serta penataran guru dan tenaga pembina.760 MIS.897 66. Sejalan dengan pembinaan MIN.317 38.2.035 41.897 66.126 572. Usaha ini ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan umum pada pendidikan dan perguruan agama. serta pengadaan buku pedoman bagi guru sebanyak 5.305 23.781 16. serta mutu pendidikan agama pada sekolah umum. Untuk itu telah dilaksanakan berbagai kegiatan seperti pembangunan/ rehabilitasi gedung sekolah.961 55.960 Jumlah 9. dalam tahun 1983/ 1984 telah dilaksanakan penataran terhadap 3. masing-masing telah mencapai 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e I VIII.146 73. penyempurnaan kurikulum.124 119. Dalam rangka meningkatkan mutu madrasah ibtidaiyah negeri (MIN) sebagai pendidikan agama tingkat dasar.612 7. 51 buah dan 5 juta buah.2.828 45. 1 JUMLAH JEMAAH HAJI.039 8.

030 pondok pesantren. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi gedung sebanyak 154 buah. Kegiatan pondok pesantren yang banyak mendapat perhatian. Pondok pesantren tersebut sampai saar ini telah berhasil menyantuni korban narkotika sebanyak 100 orang. serta pembangunan/rehabilitasi gedung dan bengkel kerja pada 71 pondok pesantren.200 guru dan pengadaan buku sebanyak 1.200 tenaga pembina. dan dinilai telah berhasil adalah kegiatan terapi non medis yang agamis terhadap korban narkotika. Pembinaan terhadap pendidikan agama tingkat menengah pertama terutama ditujukan untuk meningkatkan multi pendidikan umum pada madrasah tsanawiyah negeri (MTsN) dan pondok pesantren.000 set. pengadaan buku sebanyak 3. Pembinaan terhadap pendidikan agama tingkat menengah alas terutama ditujukan untuk meningkatkan pendidikan pada madrasah aliyah negeri (MAN). telah dilakukan pembinaan dan pengembangan terhadap 3:734 buah pondok pesantren yang meliputi penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan bagi 2. Sementara itu terhadap pondok pesantren telah dilaksanakan pembinaan dan pengembangan melalui penataran tenaga pembina. sehingga dapat kembali menjadi remaja yang baik.2 juta buah dan pengadaan alat peraga sebanyak 2.163 tenaga pembina. serta pendidikan agama pada sekolah menengah tingkat pertama (SMTP). Khusus kepada MTsN. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. serta pembangunan/rehabilitasi gedung dan bengkel kerja. bergairah serta mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri. juga telah diberikan bantuan kepada 534 pondok pesantren.280 orang guru agama. terdiri dari penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan kepada 397 pondok pesantren. pendidikan guru agarna Departemen Keuangan RI 266 . dalam periode yang sarna juga telah disediakan buku pelajaran dan pedoman bagi guru sebanyak 706.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada sekolah dasar. penyediaan alat-alat keterampilan dan alat-alat praktek. pemberian alar-alar keterampilan dan praktek kepada 66 pondok pesantren. penataran terhadap 6. dan diberikan penataran kepada 160 orang guru agama. penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan.250 buah. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan penataran terhadap 1. di samping telah dilaksanakan penataran terhadap 4. Sedangkan guna meningkatkan mutu pendidikan agama bagi SMTP. yang antara lain dilakukan oleh pondok pesantren Suryalaya (Jawa Barat). baik dari masyarakat maupun dari Pemerintah. penataran terhadap 1. penyediaan alar-alar keterampilan dan praktek untuk 891 pondok pesantren dan pembangunantrehabilitasi gedung dan bengkel kerja terhadap 813 pondok pesantren.2 juta buah. Dengan demilGan secara keseluruhan mulai awal Pelita III sampai dengan tahun pertama Repelita IV.

150 buah.000 buah serta pembangunan/perluasan 35 buah gedung PGAN Islam.850 buah.500 guru agama. Untuk meningkatkan mutu para pengajar dan tenaga administrasi. Dalam periode yang sama telah ditingkatkan pula mutu madrasah aliyah swasta (MAS). pengadaan buku pelajaran dan pedoman bagi guru sebanyak 650. telah dilaksanakan berbagai kegiatan. peningkatan mutu tenaga pengajar serta kegiatan penelitian. dan disediakan buku-buku ilmiah dan perpustakaan sebanyak 6. Katolik dan Hindu. maka telah diberikan kesempatan kepada 117 dosen untuk mengikuti program posca sarjana dan program doktor. dan pengadaan buku pelajaran sebanyak 239. Protestan.087 meter persegi. Dalam periode yang sarna juga telah dilaksanakan pembinaan pendidikan agama pada SMTA yang meliputi penataran guru agama dan pengadaan buku. ruang kantor dan ruang perpustakaan. serta penelitian di berbagai daerah mengenai masalah-masalab keagarnaan dan kemasyarakatan sebanyak 29 kali.000 buah. masing-masing sebanyak 160 orang dan 358. Hasil lain yang telah dicapai dalam periode yang sarna antara lain meliputi pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN) yang diikuti oleh 2.000 buah.688 mahasiswa. Dalam tahun 1983/1984.750 buah. serta peningkatan mutu pendidikan agarna pada sekolah menengah tingkat atas (SMTA). telah dilakukan pembangunan/perluasan gedung IAIN seluas 10. Untuk itu dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan penataran terhadap 7. Guna meningkatkan mutu perguruan tinggi agama. telah dilaksanakan penataran kepada 355 guru serta penyediaan buku pelajaran dan buku pedoman guru sebanyak 270. antara lain pembangunan prasarana dan penyediaan sarana pendidikan. yaitu dengan memberikan bantuan rehabilitasi terhadap 50 buah gedung MAS.440 meterpersegi. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengadaan buku sebanyak 358.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (PGA). kepada MAN telah dilakukan pengadaan buku sebanyak 462.000 buah.500 guru dan pembangunan/rehabilitasi gedung MAN sebanyak 45 buah. Adapun pembinaan terhadap PGAN terutama ditujukan agar lulusan PGAN benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai tenaga guru yang baik dan mampu. dan pembangunan/rehabilitasi gedung MAN sebanyak 67 buah. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Dalam Pelita III telah dilaksanakan pembangunan/perluasan gedung Institut Agama Islam Negeri (lAIN) seluas 56. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.800 buah. Departemen Keuangan RI 267 . Di samping itu juga dilakukan penyediaan buku-buku ilmiah dan perpustakaan sebanyak 221. penataran 7. yang terdiri dari ruang kuliah.

Di samping itu untuk tingkat SMA juga dibangun 317 ruang perpustakaan. serta untuk sekolah pendidikan guru/sekolah guru olah raga (SPG/SGO) sebanyak 7. baik secara kualitatif maupun kuantitatif. peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar dalam rangka pelaksanaan wajib belajar.000 eksemplar. serta penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional. telah dan sedang ditatar sebanyak 2. Di samping'itu juga dilakukan persiapan terhadap generasi muda dalam tugasnya sebagai penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dan sedang dilaksanakan peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan. baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah. Sejalan dengan pengadaan buku pelajaran dan buku bacaan.048.945 eksemplar.892. untuk SPG/SGO sebanyak 1. untuk sekolah menengah tingkat pertania (SMTP) kejuruan dan teknologi sebanyak 96. buku bacaan dan buku perpustakaan. pengadaan buku pelajaran. Pendidikan dan kebudayaan 8.816 ruang laboratorium untuk tingkat SMP.699. untuk sekolah menengah umum sebanyak 82.700 eksemplar. untuk SMP dan SMA sebanyak 14. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984.000 eksemplar.1.235 eksemplar. yang disertai dengan penerbitan 3.706 orang untuk pendidikan menengah kejuruan dan teknologi. peningkatan keterampilan serta penyempumaan kurikulum.3. telah disediakan pula buku perpustakaan untuk tingkat pendidikan dasar sebanyak 119. serta pengelolaan pendidikan yang lebih berdaya guna dan berhasil guna. Pembinaan pendidikan formal dan nonformal Salah satu tujuan dari kemerdekaan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.367. Di samping buku pelajaran.963 eksemplar.509 orang untuk pendidikan guru termasuk penataran dosen. Penataran guru/pembina dilaksanakan pada berbagai tingkat pendidikan.039 orang untuk pendidikan dasar.671. maka telah dibangun pula sebanyak 1.917 eksemplar.782 ruang perpustakaan dan 1. 74. untuk sekolah menengah tingkat atas (SMTA) kejuruan dan teknologi sebanyak 6.500 eksemplar buku Sistem Pengajaran Modul untuk SMP terbuka. Dalam tahun pertama Repelita IV kebijaksanaan di bidang pendidikan terutama ditekankan dan diarahkan pada peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan. Buku pelajaran yang disediakan untuk tingkat pendidikan dasar adalah sebanyak 260. yang meliputi berbagai bidang studi dan pengelolaan. yang perumusannya dilakukan melalui serangkaian kebijaksanaan pokok pembangunan di bidang pendidikan. serta 20.240 eksemplar serta untuk pendidikan tinggi sebanyak 333.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 8.291.292 eksemplar.250 orang untuk pendidikan menengah umum. pengadaan laboratorium dan peralatan belajar.3. yang antara lain dilakukan melalui penataran guru/ pembina.350. 20.700. dan 367 Departemen Keuangan RI 268 .195.

000 6 61 51 28 36 40 .505 1.884 .940 unit gedung SD.Pendidikan tinggi 2) 3.177 25.015 489 4.258 5.600 . penggerak olah raga dan pembina/pemuka pemuda.946 17. masing-masing sebanyak 56 buah dan 37 buah sanggar kegiatan belajar untuk tempat latihan tenaga teknis dan pengembangan sarana belajar.Pendidikan tinggi (dosen) 945 1.795 2.Pendidikan menengah 1. penambahan ruang kelas Departemen Keuangan RI 269 . Dalam peningkatan mutu pendidikan di luar sekolah ini termasuk juga usaha mengintegrasikan kelompok belajar (Kejar) paket A dengan pendidik.095 424 226 1.811 41.467 299.524 547. Pengadaan alat peraga/praktek/ ketarampilanflaboratorium (unit) . an mala pencaharian serta pendidikan politik dan latihan kepemimpinan/keterampilan bagi generasi muda.407 21. penambahan ruang belajar pada sekolah yang ada.600 4.544 43.513 724 6.271 65(SMP) 104(SMP) 3 39 76 50 273 270 .994 231.879 4.600 369.048 29.Pendidikan tinggi 19 35 1) Sejak tahun 1979{1980 termasuk buku PMP dan kurikulum 2) Termasuk dalam buku perpustakaan 3) Angka diperbaiki 4) Angka sementara 1983/84 1984/854) 304.468 68.000 2.500 12.084 1. Selain itu juga telah dibangun sebanyak 1.088 1.467 meter persegi ruang perpustakaan dan 237. angkatan guru baru.Pendidikan menengah 424 3. Sedangkan untuk perguruan tinggi telah dibangun )7.Pendidikan dasar 8.610. dilakukan penelitian sebanyak 7.316 7.163 meterpersegi ruang laboratorium yang masing-masing dilengkapi dengan 305.200 372. rehabilitasi gedung sekolah. 2 PEMBINAAN MUTU PENDIDIKAN DI BERBAGAI TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL. untuk mewujudkan pelaksanaan wajib belajar pada tingkat pendidikan dasar.812 3.000 88.960 105.2.531 7. monitor.053 105.Pendidikan menengah 413 979 422 1.262 417 Usaha peningkatan kesempatan belajar yang dikaitkan dengan pemerataan memperoleh pendidikan.023 2.176 6.565 .314 8.813 18.018 17.Pendidikan menengah 5.040 1.793 judul.000 1.0043) - 16.538 46 16.393 6.840 4. serta peng. Sehubungan dengan hal itu.133 105 5.400 106 11. antara lain dilaksanakan melalui pembangunan gedung sekolah baru. Tab e I VIII.Pendidikan dasar 20.140 10. Guna menunjang kegiatan. dan diberikan bantuan kepada perguruan tinggi swasta .580 110.284 2.480 6. Pengadaan buku perpustakaan ( ribu eksemplar ) 8.000 1. Penataran guru/pembinaan (orang) .161 364.420 24.157 479. Kegiatan 1974/75 1975/76 1977/78 1.200 13.Pendidikan dasar 25. telah diselenggarakan pendidikan dan latihan bagi tenaga pendidik termasuk tutor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ruang laboratorium serta 25 ruang laboratorium bahasa.675 7.744 . Pengadaan buku pelajaran ( ribu eksemplar ) 1) .855 56.936 tenaga teknis termasuk tutor. pembina dan instruktur serta diadakan buku paket A sebanyak 71.823 60.360 275.512 25.000 80. pelatih. sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dan sedang dibangun melalui program bantuan Inpres sebanyak 76.307 4. 1973/1974 -1984/1985 1973/74 1976/77 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 .150 116.Pendidikan tinggi 11 30 4.441 19.900 7.238 2.810 perangkat alat laboratorium.000 58.200 11.Pendidikan dasar 6.606 2.521 385.032 23.000 .000 30.kegiatan tersebut dalam waktu yang sama telah dibangun dan direhabilitasi.072 5.611 eksemplar buku-buku perpustakaan dan 1.840 45. Dalam rangka peningkatan mutu di bidang pendidikan luar sekolah termasuk kepemudaan dan keolahragaan. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah ditatar sebanyak 383. monitor.390 eksemplar.292 10.000 22.488 18.300 - 32.310 buah perumahan dosen.800 31. Perkembangan peningkatan pendidikan dapat diikuti pada Tabel VIII.852 2.960 .600 6.000 15.376 18.500 14.400 .717 20.

dan dilakukan rehabilitasi terhadap 1. Bersamaan dengan itu telah dikembangkan pula sebanyak 165 buah SMTP kejuruan yang tidak diintegrasikan ke dalam SMP.000 orang dalam tahun 1979/1980 menjadi 4. dan tahun pertama Pelita IV telah ditingkatkan dengan membangun TKK pembina.1 persen atau rata-rata 15.342.2 persen. Dalam waktu yang sarna telah dilaksanakan pengangkatan 439. serta dila:kukan rehabilitasi terhadap sejumlah SLB yang telah ada. juga dibangun sejumlah gedung SLB baru dengan asramanya. garaan untuk SD negeri. baik yang baru maupun lanjutan.200 orang.919 unit sekolah baru.500 sekolah termasuk SD swasta dan madrasah ibtidaiyah. dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diusahakan pula peningkatan daya tampungnya. Adapun pendidikan bagi anak-anak yang mengalami cacat fisik. Seperti diketahui. Hal ini tercermin pada kenaikan jumlah murid yang selama 5 tahun terakhir telah meningkat sebesar 79.156. Sejak tahun 1979/1980 sampai dengim bulan Agustus 1984. baik di tingkat nasional. selain disediakan buku. Sedangkan pengembangan pembinaan taman kanak-kanak (TKK) dalam Pelita III. termasuk guru agarna dan tenaga teknis.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 baru sebanyak 129. Dalam tahun 1979/ 1980 baru mencapai 83. dilakukan melalui lembaga pendidikan khusus. Apabila pada awal Pelita III jumlah murid baru sebanyak 2. pada Hari Pendidikan Nasional (Harpenas) tanggal2 Mei 1984. Perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTP tersebut telah memperlihatkan hasil yang baik.598 gedung sekolah yang telah ada.8 persen sedangkan pada awal Repelita IV sarnpai dengan bulan Agustus 1984. telah meningkat menjadi 97. tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten/kotamadya. Sejalan dengan perkembangan tingkat pendidikan dasar serta perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTP. mental dan sosial. Sebagai kelanjutannya.000 orang sampai dengan bulan Agustus 1984. Pemerintah juga telah menghapuskan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) untuk SD dan sebagai gantinya diberikan subsidi/bantuan pembiayaan penyeleng. Presiden telah mencanangkan gerakan wajib belajar untuk seluruh Indonesia. yaitu sekolah luar biasa (SLB). maka sampai dengan bulan Agustus 1984 telah meningkat menjadi sebanyak 5.800 buah. Perkembangan pendidikan dasar telah menunjukkan hasil yang nyata seperti tercermin pada kenaikan angka partisiposi pendidikan. sebagai TKK percontohan.000 orang. Hal ini disebabkan karena terjadinya kenaikan jumlah lulusan SD yang melanjutkan ke SMP yakni dari sebanyak 1.983.054 ruang kelas baru. serta rehabilitasi sebanyak 134. Selanjutnya guna menunjang Departemen Keuangan RI 270 . Untuk itu telah dibangun 2. 18.8 persen per tahun. maka selmna Pelita III.580 guru.732. alat peraga dan penataran guru/pembina.

sekolah menengah kesejahteraan keluarga (SMKK).6 persen selama periode tersebut atau rata-rata sebesar 14. Hal ini berarti suatu peningkatan sebesar 70. Dalam tahun 1979/1980 jumlah mahasiswa baru adalah sebanyak 424. sekolah menengah tehnologi kerumahtanggaan (SMTK). dan sekolah menengah musik (SMM).400 siswa SD.700 orang. antara lain me1alui penataan dan pemberian bantuan prasarana serta sarana. Hal ini berarti peningkatan sebesar 89. atau rata-rata sebesar 22.424 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.373 siswa SMTA. Kegiatan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTA telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. telah dapat meningkatkan daya tampung bagi lulusan SLTA yang akan me1anjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.3 persen dalam periode tersebut. Usaha perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan tinggi. sekolah menengah pekerjaan sosial (SMPS). Perkembangan kesempatan belajar diberbagai tingkat pendidikan formal dapat dilihat Departemen Keuangan RI 271 . 160 putra Nusa Tenggara Timur. Pembinaan perguruan tinggi swasta juga terus ditingkatkan. sekolah menengah industri kerajinan (SMIK).776 orang dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.3 persen per tahun.000 orang. Bersamaan dengan itu pada SMTA kejuruan telah direhabilitasi/dikembangkan pula sebanyak 145 buah STM 3 tahun. sekolah menengah seni rupa (SMSR).574. 5. telah dilakukan pembangunan gedung baru.200 orang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perkembangan kegiatan belajar pada tingkat SMTP. Sedangkan untuk pendidikan guru. Guna menghadapi meningkatnya jumlah mahasiswa yang ingin melanjutkan pelajaran pada perguruan tinggi. Untuk memperlrias kesempatan belajar kepada siswa dan mahasiswa yang berbakat dan berprestasi. 22. 44 buah SMT pertanian/khusus. SMEA. yang meningkat menjadi 803. 37. juga telah diberikan sejumlah bea siswa.733.547 meterpersegi ruang kuliah dan kantor. Hal ini tercermin dari meningkatnya daya tampung SMTA yang dalam tahun 1979/1980 baru berjumlah 1. 130 putra Irian Jaya dan 320 putra Timor Timur. SGO dan SGPLB. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencapai 2. Untuk itu telah dibangun sebanyak 517 unit gedung SMA baru.7 persen per tahun. serta merehabilitasi gedung seluas 233. serta pembangunan ruang kelas dan rehabilitasi sejumlah SPG. Se1ama Pe1ita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diberikan bea siswa kepada 63.085 ruang kelas baru. 39. sekolah menengah karawitan indonesia (SMKI).085 meterpesegi. dan dilakukan rehabilitasi terhadap 460 sekolah yang telah ada. 289 buah STM 3 tahun. serta dilakukan pembangunan/pembinaan terhadap 8 STM Pembangunan.927 siswa SLTP. maka selama Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dibangun 765. maka dalarn waktu yang sarna juga telah dilakukan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTA.

000 2.404.100 5.000 - 10.000 923 67.547 warga pe1ajar selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984.000 1.420 123. o Kegiatan 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada Tabel VIII.000 390 11 22.300 30.000 35. yang telah diikuti oleh 7.207 15. 725 52.003 103.Pendidikan tinggi (dosen) T abel VIII. patriotisme dan idealisme.000 7.946 25.Pendidikan menengah .202 50. kesadaran berbangsa dan bernegara.000 135 15.629 50.480 32. Pengangkatan/penempatan guru (orang) .000 286 24.000 1.Pendidikan dasar 2) .105 50. Usaha ini dilakukan melalui Kejar pendidikan dasar (Paket A).790 21.000 246 10 20.750 20.202 89.000 125 1.Pendidikan tinggi (m 2) 3. dan perluasan sekolah kejuruan. Guna memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga kejuruan/teknik yang terdidik dan terampil.000 1. Departemen Keuangan RI 272 .Pendidikan menengah .830 19.200 16. Penyempurnaan kurikulum dilaksanakan melalui perbaikan kurikulum lama (1975) menjadi kurikulum baru (1984) yang merupakan bagian penting dari perkembangan sistem pendidikan nasional guna memenuhi tuntutan pembangunan nasional. Untuk meningkatkan sistem pendidikan agar lebih sesuai dengan kebutuhan pembangunan. dan menampung sebanyak 1.150 11 13.225 15.151 18. tennasuk ruang laboratorium. Meliputi SD Negeri.338.610 18.400 orang mahasiswa.000 155 10.320 21.000 - 6. jumlahnya te1ah mencapai 8.075 36(SPG) - 1. kesegaran jasmani dan daya kreasi.390 10.000 1.020 121.600 1. MI Swasta 3.000 608 29.Pendidikan dasar (ruang) . ruang ketrampilan dan ruang perpustakaan 2.085 23. dan sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mempunyai 7.900 54.000 92 24.154 48.672 36.Pendidikan menengah (ruang) 1) .500 14.000 179 9.500 784 14. 3 PENYEDIAAN SARAN A GEDUNG DAN GURU BAGI PENDIDIKAN FORMAL.000 5.000 - 14.Pendidikan tinggi 2.300 28.219 7.140 878 11 2.380 75.100 12.000 1. Sedangkan dalam rangka penyempurnaan sistem pendidikan nasional.261 4.000 162 6 15.000 103 27.334 15.184 91. penyempurnaan sistem pendidikan nasional.051 1. Pembangunan gedung (unit) . 1973/1974 -1984/1985 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/85 4) 6.3.600 33. Terdiri dari SMP & SMA.683 25.000 - 10. Se1anjutnya dalam rangka meningkatkan pendidikan masyarakat te1ah pula ditingkatkan kegiatan pendidikan di luar sekolah.192 10.000 15. Termasuk guru agama daD tenaga teknis lainnya 4.000 15.700 6.000 60.000 16. Kegiatankegiatan tersebut diarahkan pada pengembangan kepemimpinan dan keterampilan. selain dilakukan melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi juga dilaksanakan melalui berbagai kegiatan yang bersifat informal.500 175.435 50.Pendidikan dasar 3) . telah dilakukan berbagai kegiatan seperti penyempurnaan kurikulum tingkat pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah alas.845 23. Angka sementara. telah disiapkan RUU sistem pendidikan nasional yang kini telah mencapai tahap penyelesaian terakhir.Pendidikan tinggi (m 2) 4.460 25.500 15.000 8. Pembinaan dan pengembangan generasi muda sebagai kader-kader penerus perjuangan dan pembangunan nasional.000 - 15. dewasa ini te1ah dikembangkan sekolah menengah kejuruan tingkat atas (SMTA-AKT) yang meliputi berbagai bidang dan 7 politeknik.200 610 11 19.350 10.000 1.000 1.000 orang.080 103.144 60.194 15.000 buah.347 218.488 36. Rehabilitasi/pengembangan (sekolah) . SD Swasta.Pendidikan menengah .Pendidikan dasar (a 3 ruang kelas) .767 28.205 37.000 4. Pembangunan ruang kelas baru .614 6. Adapun lembaga pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat (PLSM).000 703 8.

260 orang. Penataran tenaga non edukatif telah dilakukan melalui sekolah star dan pimpinan administrasi (Sespa).330 orang. sekolah pimpinan administrasi tingkat madya (Sepadya) dan sekolah pimpinan administrasi tingkat lanjutan (Sepala). perkemahan kerja pemuda yang diikuti oleh 3. Sementara itu dalam rangka pembinaan serta pengembangan keterampilan dan daya kreasi generasi muda antara lain dilakukan pertukaran pemuda dengan luar negeri dan antarpropinsi. pemantapan organisasi. pembinaan dan peningkatan perencanaan serta penyempurnaan pengawasan. yang masing-masing diikuti oleh 2.480 orang dan latihan pendamping pembina pemuda yang diikuti oleh 210 orang. Bantuan kepada pramuka dilakukan dengan menyelenggarakan latihan terhadap 30.855 orang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kepribadian dan budi pekerti luhur. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan penataran P4.795 orang. lomba kreativitas pemuda.519 orang serta penataran tenaga teknis kebudayaan yang diikuti 2.718 meterpersegi serta pengadaan buku pramuka sebanyak 310. penataran pengelola gelanggang. yang masing-masing diikuti 3. yang antara lain meliputi penataran tenaga nonedukatif.556 orang. pembinaan terhadap 8. penataran pemuda tingkat perintis.204 orang serta pembinaan terhadap 5. serta lomba desa binaan keluarga sehat dan sejahtera di 26 propinsi.185 eksemplar. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan. pendidikan dan latihan kegrafikaan yang diikuti 6. Selain itu juga telah dilakukan latihan pemuda tingkat pemuka yang diikuti oleh 6.799 orang. latihan instruktur terhadap 3. penyelenggaraan festival pemuda yang mengikutsertakan 44. fungsi. Sehubungan dengan itu. serta latihan kepemimpinan manajemen yang mengikutsertakan 1. Untuk peningkatan pengelolaan pendidikan agar lebih berdaya guna dan berhasil guna. 150 orang.825 orang. serta partisipasi generasi muda dalam pembangunan.192 orang. mutu.955 orang.057 orang.360 orang. Untuk itu telah dilakukan pengembangan desa pemuda di beberapa daerah/propinsi. yang masing-masing diikuti 300 orang.970 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Poskibraka) dan Caraka Muda tingkat propinsi.576 orang dan 4.400 orang satuan tugas sukarela pemuda. pembangunan gedung Cadika seluas 16. Selain itu bantuan kepada KNPI juga telah dimanfaatkan guna meningkatkan aktivitas. dan penataran tenaga teknis penilik generasi muda. serta pengadaan prasarana dan sarana. penataran tingkat menengah nasional dan regional terhadap 600 orang. Selanjutnya dalam rangka peningkatan/pengembangan wanita telah dilakukan latihan pengembangan belajar wanita yang diikuti 24. 22. pembinaan unit kerja produktif terhadap 1.270 orang.280 orang. Adapun pembinaan dan Departemen Keuangan RI 273 . penataran tingkat pelaksana terhadap 1. dan 805 orang. 325 orang dan 2.

antara lain penyempurnaan teknik dan metodologi perencanaan. Pembinaan di bidang olah raga ditujukan untuk mengolahragakan masyarakat. serta memperkokoh jiwa persatuan. nilai-nilai dan norma budaya yang dinamis. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pembangunan/rehabilitasi gedung kantor pusat dan kantor wilayah. penyelenggaraan pemasalan olahraga yang mengikutsertakan 1. Guna menunjang berbagai kegiatan tersebut.360 orang.573 orang pelajar. masyarakat dan penyandang cacat.3. Adapun peningkatan pengawasan dilakukan melalui penyempumaan sistem dan prosedur pengawasan terpadu. serta peningkatan mutu aparat perencanaan baik di pusat maupun di daerah melalui penataran perencanaan P2 dan P1 tertulis yang masing-masing diikuti oleh 60 orang dan 1. 8. antara lain bidang ekonomi. masing-masing seluas 9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan perencanaan dilaksanakan melalui berbagai kegiatan. mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional. dan permuseuman.658 orang.000 eksemplar.2 Pembinaan kebudayaan Usaha pembinaan dan pengembangan budaya bangsa senantiasa ditujukan untuk menunjang pembangunan nasional. kesejarahan. Untuk itu telah dilakukan survai dan perencanaan koleksi di 92 lokasi yang tersebar di 26 Departemen Keuangan RI 274 . Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan berbagai program yang antara lain berupa program kepurbakalaan. mahasiswa. masing-masing seluas 25.175 meter persegi dan 6.982 meterpersegi. dan memasyarakatkan olah raga. pengadaan peralatan olah raga sebanyak 52. penyempurnaan sistem pelaporan. serta pembinaan olahraga berbakat terhadap 18. dan pembina. serta mempercepat alih teknologi yang semakin tinggi. teknologi dan ilmu pengetahuan. gedung kotamadya/kabupaten sebanyak 117 unit. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi dan menjawab tantangan zaman dalam berbagai bidang.243 orang guru. pelatih. selaras dgn memberi arah pacta pembangunan harus dibina dan dikembangkan guna memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila.583 paket.657 meter persegi. rumah dinas sebanyak 37 buah. serta peningkatan mutu aparat pengawasan. memperkuat kepribadian bangsa. serta pengadaan peralatan kantor kecamatan dan sarana mobilitas.054 meterpersegi dan 30. pemantapan sistem dan mekanisme perencanaan terpadu. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 antara lain telah diwujudkan pembangunan gedung olahraga dan kolam renang. serta pengadaan buku-buku olah raga sebanyak 143. Berkaitan dengan itu juga telah dilaksanakan penataran terhadap 8.065. gedung kantor kecamatan sebanyak 8 unit. Untuk itu.

maka sejak Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengembangan bahasa serta sastra Indonesia dan daerah. Untuk pengembangan kebahasaan. sayembara mengarang. Selain itu dalam bidang perpustakaan nasional juga telah dilaksanakan rekatalogisasi koleksi pustaka Indonesia dan asing. melanjutkan pemeliharaan Candi Borobudur serta rehabilitasi Monumen Nasional (Monas). perpustakaan umum. dan daerah transmigrasi. serta pembinaan bahasa Indonesia melalui TVRI dan RRI. serta pengadaan buku sebanyak 1. Kegiatan inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan nasional ditujukan untuk membina Wawasan Nusantara. penyusunan naskah kebudayaan daerah Departemen Keuangan RI 275 . peningkatan apresiasi sastralseni. pengembangan media kebahasaan sebanyak 30 naskah. serta pengembangan perpustakaan nasional. kesusastraan. dan lebih memperkaya kesenian Indonesia yang beraneka ragam.636 eksemplar untuk perpustakaan wilayah. Untuk itu telah dilakukan berbagai kegiatan. pameran dalam rangka pemantapan fungsi eksistensi museum dengan segenap aspeknya sebanyak 183 kali di 26 propinsi.500 eksemplar. Sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diadakan penilaian. pengadaan koleksi sebanyak 6 jenis di 26 propinsi. serta sayembara mengarang bacaan populer sebanyak 56 judul. perpustakaan keliling.351. terjemahan 16 naskah. penerbitan majalah. antara lain meliputi pembinaan sosio drama. Dalam waktu yang sama juga telah dilakukan pemugaran peninggalan sejarah dan purbakala di 379 lokasi. pemeliharaan dan penyelamatan 1.museum sebanyak 549 unit. pengadaan peralatan kantor. serta pemberian bantuan peralatan kesenian pada kabupaten/kodya. pengadaan peralatan teknis. studi kelayakan di 133 lokasi. penyempumaan. Di samping itu juga dilakukan peningkatan penghayatan seni oleh masyarakat yang mencakup 4 bidang seni. pengembangan organisasi kesenian dan penyebarluasan kesenian. serta pengadaan peralatan kantor museum sebanyak 872 unit. Pengembangan dalam bidang seni budaya ditujukan untuk meningkatkan kreativitas seniman yang sehat. penerbitan pedoman penyuluhan perpustakaan sebanyak 6 naskah. Demikian pula dilaksanakan penambahan tenaga. yang tersebar di seluruh nusantara. perbukuan. penyuluhan teknis kesenian. serta studi kelayakan di daerah tingkat II di 127 lokasi. dan editing dari 800 naskah. pemberian bantuan kepada 60 museum daerah.564 situs. kecamatan. perpustakaan desa dan perpustakaan perintis sekolah. Kemudian dilakukan juga penanggulangan terhadap pengaruh kebudayaan yang negatif. dan perpustakaan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 propinsi. Sejalan dengan itu telah dilakukan pula penulisan dan penerbitan naskah buku bacaan populer sebanyak 720. penyelesaian rencana induk Wisma Seni Nasional. Kegiatan tersebut antara lain berupa penyusunan/penerbitan perkamusan sebanyak 29 naskah.

Selanjutnya juga diarahkan pada pengurangan kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh penyakit yang banyak diderita rakyat banyak. terutama yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota. Sejalan dengan usaha inventarisasi dan dokumentasi sejarah nasional. 8. pelayanan kesehatan gigi dan jiwa. sejarah pahlawan sebanyak 26 judul serta biografi nasional sebanyak 17 judul. Kesehatan dan keluarga berencana Sebagai kelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya. dan penyusunan naskah dad 117 penelitian. serta peningkatan pelayanan laboratorium kesehatan. Pelayanan kesehatan Kegiatan yang dilakukan di bidang pelayanan kesehatan ditujukan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara lebih merata dan lebih dekat kepada masyarakat.4. Selain itu telah dilakukan peningkatan pelayanan rumah Departemen Keuangan RI 276 . tokoh nasional sebanyak 120 judul. Selain itu juga ditujukan pada peningkatan kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar guna perbaikan mutu lingkungan. pembangunan di bidang kesehatan dilakukan secara terpadu dengan bidang-bidang lainnya ke dalam suatu sistem kesehatan nasional. Usaha lain yang dilakukan adalah meliputi penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah sebanyak 665 naskah.1.4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam 5 aspek dengan ps:nerbitan sebanyak 372 judul. pembangunan di bidang kesehatan dalarn tahun pertama Repelita IV diarahkan pada peningkatan kemarnpuan masyarakat untuk hidup sehat dan mengatasi sendiri masalah kesehatan yang sederhana. serta peningkatan pendidikan. terutama penyakit menular. latihan dan pengelolaan tenaga kesehatan masyarakat. Peningkatan dan pemerataan pelayanan kesehatan tersebut antara lain dilakukan melalui puskesmas. pemerataan kesehatan masyarakat. Selain itu juga telah diselenggarakan penataran tenaga teknis dokumentasi dan informasi kebudayaan yang diikuti 130 orang. terutama melalui pencegahan dan penyembuhan. serta penyakit yang disebabkan oleh pengaruh buruk dari bahan yang berbahaya bagi kesehatan. penulisan. penelitian purbakala sebanyak 5 aspek serta penerbitan majalah arkeologi. Kegiatan ini ditunjang dengan pengadaan obat yang cukup dan terjangkau oleh masyarakat. serta pembinaan bimbingan teknis operasional penelitian yang mengikutsertakan 457 orang. penyakit yang hanya dapat dicegah dengan imunisasi. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. 8. dan penyusunan naskah biografi pahlawan nasional yang meliputi caton pahlawan sebanyak 36 judul. maka dilakukan penelitian. usaha kesehatan sekolah (UKS).

4.928 3. Sedangkan dalam rangka memenuhi kekurangan tenaga di puskesmas. dan diperlengkapi dengan 167 set peralatan kesehatan mata dan obat-obatan mata. sehingga sarnpai dengan bulan Agustus 1984 jumlahnya telah mencapai 5. 1973/1974 -1984/1985 1) 1984/855) 1. telah diadakan latihan cepat bagi pembantu paramedis sebanyak 1.787 tenaga kesehatan melalui program Inpres.979 1). telah dilaksanakan penataran tenaga kesehatan terhadap 2. Sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah puskesmas. dalam waktu yang sarna telah dibangun pula puskesmas pembantu dan puskesmas keliling. pengobatan mala telah dikembangkan di 250 puskesmas yang tersebar di 24 propinsi. Untuk mendukung tugas puskesmas tersebut. Tabel VIII.753 8. Selanjutnya agar pelayanan kesehatan kepada rakyat dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan merata.180 2.893 4. Puskesmas 2.602 2.479 5. Dalam rangka pencegahan Departemen Keuangan RI 277 . telah disediakan pula 19.353 12.416 orang.479 5.801 3.153 5.136 buah dan 2.342 729 4. puskesmas dan rumah sakit di semua tingkat. pembangunan kesehatan masyarakat desa. Untuk itu.053 4. BaJai Pengobatan 3) 5.670 kader/pemuka masyarakat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sakit. penarnbahan persediaan bahan-bahan dan obat-obatan. 4 JUMLAH SARAN A PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT.453 buah.180 2. maka jumlah dan fungsi puskesmas terus ditingkatkan. Puskesmas Ke1iling 4.124 6. Angka kumuIatif 2).6364) 1. Puskesmas Pembantu 2) 3.136 2.979 2. serta latihan klinis bagi 155 orang dokter dan 185 orang paramedis yang bekerja di puskesmas.979 buah.412 4. Selanjutnya di bidang kesehatan olah raga telah dikembangkan pusat kesehatan olah raga di 8 propinsi.113 7. Sedangkan bagi daerah-daerah terpencil yang jauh dari pelayanan rumah sakit.600 dokter puskesmas. yang dilakukan melalui sistem rujukan antara masyarakat. seluruh sarana kesehatan diusahakan berada dalarn suatu sistem jaringan hubungan yang serasi dan efektif. Di samping itu telah diselenggarakan pula latihan kesehatan mala bagi 221 paramedis dan 1.826 puskesmas dan penggantian peralatan medis sebanyak 2.342 1.443 4. Selain pembangunan puskesmas. masing-masing sebanyak 15. serta daerah perbatasan atau daerah yang angka kecelakaan lalu lintasnya tinggi.953 10.076 tenaga laboratorium dan 3.180 2.691 tenaga record and report (RR) terpadu.744 3.342 13.124 6. telah dilakukan pula perbaikan 5.342 979 4. Sejak 1975/1976 berkurangnya jumlah BKIA dan Balai Pengobatan karena diintegrasikan 4).412 4.702 set. Untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tenaga kesehatan di puskesmas.343 7. Angka sementara Sampai dengan bulan Agustus 1984.412 4. Merupakan peningkatan dari BKlA dan Ba1ai Pengobatan 3). Angka diperbaiki 5). telah dibangun puskesmas perawatan sebanyak 158 unit.828 staf puskesmas. 5. Perkembangan sarana pelayanan kesehatan masyarakat dapat diikuti pada Tabel VIII.453 15. yang masing-masing dilengkapi 10 tempat tidur. B K I A 3) 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/85 2. serta peningkatan pelayanan instalasi kesehatan.353 604 4.553 7. 3.

standarisasil metodologi terhadap' 10 daerah pelayanan. Program perawatan kesehatan masyarakat sampai dengan bulan Agustus tahun 1984.250 orang tenaga perawat gigi di 402 puskesmas. ditingkatkan pula pelayanan kesehatan gigi kepadamasyarakat. Selain dilakukan pemeriksaan guna menemukan kelainan-kelainan kesehatan yang ada sedini mungkin.224 guru SLTP dan 2. Untuk itu fungsi rumah sakit jiwa sebagai pusat rujukan pelayanan kesehatan jiwa semakin ditingkatkan. Di samping itu juga dilakukan survai epidemiologi terhadap 11. dan pengembangan pelayanan kesehatan gigi integrasi terhadap 258 SD di 139 daerah tingkat II. survai pengumpulan data kadar flour dalam posta gigi.620 guru SD. telah dilaksanakan di 2. Selanjutnya dalam upaya kesehatan gigi sekolah telah dilakukan penempatan sebanyak 62 set klinik gigi lapangan (KGL). Adapun pelaksanaannya dilakukan melalui rumah soot jiwa (RS jiwa). gelandangan dan posung. telah dilakukan juga pelayanan kesehatan jiwa yang dititikberatkan pada upaya pencegahan.dan di 30 rumah sakit yang dilengkapi dengan peralatan rehabilitasi gigi (unit teknik gigi). Departemen Keuangan RI 278 .500 orang. serta pembinaan kesehatan lingkungan. Selama Pelita III telah dapat dicakup sebanyak 95. sejak tahun 1980/1981 sampai dengan akhir Pelita III. juga diberikan penyuluhan kesehatan kepada anakanak sekolah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan pengobatan penyakit pada anak-anak sekolah. rehabilitasi mental. Di samping itu dalam rangka UKS juga telah dilakukan penataran terhadap105. serta penanggulangan penderita mental khususnya psikotik. serta pemantapan standarisasi pelayanan di rumah sakit. Selama Pelita III telah dilakukan integrasi kesehatan jiwa ke 560 puskesmas. serta integrasi kesehatan jiwa ke puskesmas dan rumah sakit umum (RS umum).426 keluarga.254 puskesmas dengan membina 82.191 guru yang terdiri dati 97. Sedangkan melalui RSU. Dalam Pelita III. di 40 RSU kelas C yang dilengkapi dengan peralatan bedah mulut sederhana. telah diintegrasikan kesehatan jiwa ke 90 RSU. imunisasi. serta peningkatan pelayanan gigi di 104 RSU kelas D yang dilengkapi dengan 104 unit klinik gigi basis. Sedangkan dalam rangka kesehatan gigi masyarakat desa. telah dilakukan usaha kesehatan sekolah (UKS) melalui kunjungan berkala petugas puskesmas ke sekolah-sekolah. penyembuhan. 5.347 guru SLTA.280 SLP dan 3891 SLA.404 SD. dan UKGS di puskesmas-puskesmas.000 per tahun. telah ditempatkan sebanyak 1. Dalam Pelita III. dan pengobatan pertama bagi yang memerlukan. di samping juga terhadap golongan khusus yang berada di 52 panti dan tersebar di 24 propinsi. melalui usaha kesehatan gigi sekolah (UKGS) telah dilaksanakan pemanduan UKGS selektif bagi 108 SD. dengan jumlah kunjungan posien mental sekitar 40. Bersamaan dengan itu. 9.

yakni melalui pemeriksaan laboratorium baik secara kualitatif maupun kuantitatif. 20 buah RSU di ibukota propinsi. Dalam hubungan ini selama Pelita III telah dilaksanakan pembangunan gedung dan penambahan ruang pemeriksaan di 27 balai laboratorium kesehatan.076 tenaga laboratorium puskesmas. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah ditatar sekitar 3. terutama di daerahdaerah terpencil semakin ditingkatkan. serta penambahan alat-alat laboratorium di 26 balai laboratorium dan 137 laboratorium kabupaten rumah sakit C. Sedangkan untuk meningkatkan pelayanan laboratorium di puskesmas.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sementara itu guna menunjang peningkatan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. 5 buah RS khusus vertikal dan sebuah Palang Merah Indonesia (PMI). dokter-dokter ahli dari rumah rumah sakit yang tingkatannya lebih tinggi telah dikirim ke tingkatan yang lebih rendah. Dalamwaktu yang sarna telah dilakukan pula rehabilitasi terhadap 192 buah RSU kabupaten/kotamadya. Sejalan Departemen Keuangan RI 279 . terus ditingkatkan pula pelayanan laboratorium kesehatan. baik antarberbagai tingkat rumah sakit maupun antara puskesmas dengan rumah sakit. Selain itu pengiriman penderita dari puskesmas ke rumah sakit kabupaten dan rumah sakit yang lebih tinggi semakin ditingkatkan. di bidang mikrobiologi. 13 buah RS vertikal. Guna meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. patologi. Untuk itu baik sarana maupun peralatan laboratorium. pelayanan melalui rumah sakit juga terus ditingkatkan dengan penyempurnaan sistem rujukan. Untuk itu selama Pelita III telah ditingkatkan pula baik sarana fisik maupun tenaga kesehatannya melalui pemban_nan 11 RSU baru sebagai pengganti RSU yang telah ada. Untuk lebih meningkatkan fungsi rujukan tersebut. kimia dan imunologi.

yang memiliki keahlian dasar bedah. kebidanan dan kandungan serta penyakit dalam.577 1979/80 11.977 28. dan 5 RS khusus vertikal.720 ) 28. dengan pemutusan matarantai penularan penyakit. Penjenang kesehatan 1973/74 6. Sampai dengan akhir Pelita III. Tabel VIII.678 kecamatan.693 desa meliputi sebanyak 1.985 desa. 5 JUMLAH BEBERAPAjENIS TENAGA KESEHATAN. sebanyak 5.931 35. dan 269 Dati II yang tersebar di seluruh propinsi.805 27.854 35.061 35.456 31.221 7. Perkembangan tenaga kesehatan dapat diikuti pada Tabel VIII. kesehatan anak. Peningkatan pembangunan sarana pelayanan kesehatan tersebut telah diikuti pula dengan peningkat an jumlah tenaga kesehatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan meningkatnya sarana fisik tersebut. 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Sementara itu guna memenuhi kebutuhan obat dalam masyarakat. penanggulangan bencana alam.279 9. D okter 2.679 1) Sejak tahun 1976/1977 perawat dan bidan ditetapkan menjadi tenaga perawat kesehatan.237 1978/79 10.711 33.644 8.400 37.693 35.707 1976/77 8. Untuk itu selama Pelita III telah ditempatkan di 133 RS sebanyak 263 tenaga dokter. selama Pelita III telah disediakan obat-obatan dan bahan-bahan obat antara lain untuk RSU khusus pusat.678 16.5.736 8. Per a w a t 1) 3.681 32.323 24. yang dikembangkan melalui bantuan Pemerintah meliputi sebanyak 1. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah diberikan bantuan obatobatan kepada 40 RS propinsi.679 1983/84 3) 17.2. Pemberantasan penyakit menular Pemberantasan penyakit menular mempunyai peran yang cukup penting dalam menunjang pembangunan. dibentuk Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD). 8. di 1.160 26.972 1977/78 9. Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan daripada upaya-upaya yang telah dilakukan dalam tahun sebelumnya dan didasarkan atas ketentuan Departemen Keuangan RI 280 .000 40. Dari jumlah tersebut. PKMD tersebut telah dikembangkan di 7. dan 168 Dati II merupakan hasil swadaya masyarakat.926 30.856 ) 10.4.113 35. Bid ani) 4.698 desa.698 1981/82 1982/83 2) 15. sedangkan sisanya. diberikan pula bantuan berupa peralatan medis dan non medis kepada 135 RSU propinsi/kabupaten.268 kecamatan.262 1975/76 8. AMD (ABRI Masuk Desa) serta kegiatan sosial lainnya. di 410 kecamatan dan 101 Dati II. 1973/1974 -1983/1984 J enis Tenaga 1.000 35.361 1980/81 12.520 35.066 9.647 44. Adapun untuk menggerakkan partisipasi masyarakat dalam peningkatan derajat kesehatannya. yang disebut promotor kesehatan desa (Prokesa). Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit menular ditujukan khususnya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular. melalui latihan dan bimbingan tenaga sukarelawan kesehatan desa.248 1974/75 7.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

prioritas jenis penyakit yang telah ditetapkan. Sehubungan dengan itu, pemberantasannya diprioritaskan pada penyakit malaria melalui penurunan jumlah penderita, dan penanggulangan wabah yang terjadi di Jawa dan Bali, melindungi penduduk yang telah kebal dan berpindah dari Jawa dan Bali, serta menurunkan jumlah penderita di daerah yang keadaan sosial ekonominya rendah termasuk pemukiman transmigran dan pemukiman baru. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap sekitar 749 ribu sediaan darah penderita, pemberian obat kepada sekitar 798 ribu orang penderita, dan penyemprotan terhadap sekitar 75 ribu buah rumah. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 48,3 juta sediaan darah, pengobatan alas 45 juta orang dan penyemprotan 17 juta buah rumah. Pemberantasan penyakit demam berdarah (arbovirosis) dalam tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984, dilakukan melalui pemberantasan jentik nyamuk pada sekitar 200 ribu rumah dan penanggulangan fokus pada 800 lokasi. Dengan demikian selama Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemberantasan jentik nyamuk terhadap 528.516 buah rumah dan penanggulangan 11.632 fokus. Pemberantasan penyakit kaki gajah (filariasis) dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 dilakukan melalui pemeriksaan terhadap 146.778 sediaan darah malam dan pengobatan terhadap 200.557 orang penderita. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diperiksa sebanyak 737.702 sediaan darah malam, dan diobati sebanyak 1.136.573 orang penderita. Dalam waktu yang sama untuk pemberantasan penyakit rabies dan pes telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 200 sediaan darah tersangka rabies dan pengobatan terhadap 1.700 orang yang digigit oleh hewan tersangka rabies. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984, telah dikumpulkan dan diperiksa sebanyak 8.970 sediaan darah tersangka rabies, dan diobati sebanyak 66.408 orang penderita gigitan hewan tersangka rabies. Adapun dalam rangka pemberantasan penyakit pes, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diobati sebanyak 70 orang tersangka pes, sehingga sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diobati sebanyak 1.424 orang tersangka penderita pes. Pemberantasan penyakit demam keong (scbistosomiasis) dilakukan melalui survai terhadap tikus, keong dan specimen tinja, sella pengobatan selektif terhadap penderita di daerah endemis, yaitu di sekitar danau Lindu (Sulawesi Tengah). Selama Pelita III telah dilaksanakan survai di 15 lokasi dan pengobatan terbatas terhadap 12.799 orang penderita. Di samping itu dilakukan juga pemberantasan terhadap penyakit anthrax, yakni penyakit menularyang bersumberdari binatang. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan buIan Agustus 1984 tdah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 10 sediaan dan
Departemen Keuangan RI

281

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

pengobatan terhadap 30 orang tersangka penderita anthrax. Pemberantasan penyakit tersebut dilakukan di daerah endemis yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat dan Timor Timur, sehingga sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 361 sediaan dan pengobatan terhadap 844 orang penderita tersangka anthrax. Selain pemberantasan terhadap penyakit menular yang bersumber dari binatang, telah dilakukan pula pemberantasan penyakit yang menular secara langsung. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, pemberantasan terhadap TBC paru dilakukan melalui pemeriksaan dahak dari 19.000 orang penduduk dan pengobatan kepada 2.000 orang penderita, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah. diadakan pemeriksaan dahak terhadap 1.255.846 orang tersangka TBC, dan diobati sebanyak 141. 300 orang penderita, baik dengan streptomycin maupun rifampisin. Jumlah penderita yang diobati tersebut belum termasuk penderita yang diobati oleh BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru) dan dirumah-rumah sakit. Untuk pemberantasan penyakit frambosia juga te1ah dilakukan pemeriksaan terhadap sekitar 231.000 orangpendudukdan pengobatan terhadap 4.500 orang penderita, sehingga sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diperiksa sebanyak 37.268.231 orang penduduk dan diobati sebanyak 534.903 orang..penderita. Untuk pemberantasan penyakit ke1amin, dalam tahun pertama Repe1ita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan darah terhadap sekitar 20.500 orang, pemeriksaan gonorhoe terhadap 800 orang, dan pengobatan terhadap 17.500 orang penderita. Secara keseluruhan, sejak Pe1ita III sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan pemeriksaan darah terhadap 916.940 orang, pemeriksaan gonorhoe terhadap 271.079 orang, dan pengobatan terhadap 287.893 orang penderita. Se1anjutnya untuk pemberantasan penyakit kusta yang mempunyai angka kesakitan tinggi, antara lain di daerah Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya, dalam tahun 1984 te1ah diperiksa sekitar 25 ribu anak sekolah, dan 24.900 orang kontak (orang yang mempunyai hubungan dengan penderita). Dari hasil pemeriksaan tersebut, te1ah diobati secara teratur sebanyak 15.200 orang penderita, sehingga dengan demikian secara kese1uruhan sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 te1ah diperiksa sebanyak 20.608.702 anak sekolah dan 2.134.183 orang kontak, serta pengobatan terhadap 467.510 orang penderita. Dalam tahun yang sarna juga te1ah dilakukan pemberantasan terhadap penyakit cacing tambang dan parasit lainnya, melalui pemeriksaan sediaan darah dan sediaan tinja dari 105.153 orang, serta pengobatan terhadap sekitar 5.200 orang penduduk. Dengan demikian sejak tahun 1979/1980

Departemen Keuangan RI

282

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dilakukan pemeriksaan sediaan darah dan tinja terhadap 105.153 orang, dan pengobatan terhadap 646.722 orang penduduk, Berkaitan dengan pemberantasan penyakit kholera, te1ah dikembangkan 482 puskesmas menjadi pusat rehidrasi, serta te1ah ditemukan dan diobati sebanyak 246.000 orang penderita diare dan 4.100 orang penderita tersangka kholera. Sehubungan dengan itu, sejak awal Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 te1ah dikembangkan sebanyak 811 puskesmas menjadi pusat rehidrasi, serta telah diobati penderita diare dan kholera masing-masing sebanyak 4.006.583 orang dan 1.205.192 orang. Dalam program pemberantasan penyakit menular te1ah dikembangkan pula berbagai konsep pengembangan kesehatan, antara lain kegiatan imunisasi dan epidemiologi. Berkaitan dengan kegiatan imunisasi, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan vaksinasi BCG pertama kepada 299.000 anak, vaksinasi TT (tetanus toxoid) kepada 282.000 ibu hamil dan anak, vaksinasi DPT (deptherina pertusis tetanus) kepada 282.000 anak, vaksinasi DT (depthelina tetanus) kepada 233.000 anak, vaksinasi polio kepada 97.000 anak, serta vaksinasi pencegahan penyakit campak (morbili) kepada 57.000 anak. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diberikan vaksinasi BCG pertama kepada 5.298.918 anak, vaksinasi IT kepada 282.000 ibu hamil dan anak, vaksinasi DPT kepada 6.32L529 anak, vaksinasi DT kepada 2.064.482, anak, vaksinasi polio kepada 1.103.652 anak serta vaksinasi pencegahan penyakit campak kepada sebanyak 470.612 anak. Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyakit menular termasuk penyebaran penyakit dari satu tempat ke tempat lainnya, telah dilakukan peningkatan kesehatan terhadap pelabuhan karantina haji, pengamanan kesehatan dalam perpindahan penduduk serta isolasi penderita penyakit menular. Guna menunjang kegiatan tersebut, maka fasilitas sarana kerja dan keterampilan petugasnya terus ditingkatkan. Dalam waktu yang sarna juga telah diadakan persiapan pengamanan terhadap terjangkitnya penyakit menular di 10 lokasi transmigrasi baru, terutama penyakit malaria. Dengan demikian selama Pelita III dan tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, kegiatan tersebut secara keseluruhan telah mencakup 203 lokasi transmigrasi baru, di samping telah dilakukan pengamatan kesehatan bagi seluruh jemaah haji. Selain itu dalam tahun 1984 teiah dikembangkan pula isolasi penderita penyakit menular terhadap 11 rumah sakit di beberapa daerah, yang selain ditujukan pada penyakit yang nyatanyata menimbulkan masalah, juga terhadap penyakit menular yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan masalah. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakail pengamatan (surveillance) penyakit menular melalui survai terhadap 500

Departemen Keuangan RI

283

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

kejadian luar biasa (KLB), survai penyakit-penyakit tertentu di 255 rumah sakit, pengambilan 900 sampel, penyebaran data dalam bentuk bulletin epidemologi sebanyak 4.400 eksemplar, serta pelaksanaan survai entomologis serangga penular penyakit pada 200 lokasi. Sejak Pelita III dan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, secara keseluruhan telah dilaksanakan penyelidikan terhadap 21.520 KLB, survai beberapa penyakit menular di 2.418 rumah sakit, pengambilan 741.495 sampel, dan penyebaran data dalam bentuk bulletin epidemiologi sebanyak 217.214 eksemplar. Untuk menunjang penurunan angka kematian anak balita dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, terutama bagi golongan rawan dan masyarakat yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota, telah dilaksanakan usaha perbaikan gizi. Kegiatan ini diarahkan untuk melanjutkan dan meningkatkan status gizi masyarakat, serta pencegahan dan penanggulangan masalah gizi khususnya terhadap penderita kurang kalori protein (KKP), kurang vitamin A, anemia gizi besi serta gondok endemik melalui peranserta aktif masyarakat. Pencegahan dan penanggulangan KKP terutama ditujukan pada anak pra-sekolah, wan ita hamil, wanita menyusui serta penduduk di daerah rawan pangan dan bencana alam. Untuk menurunkan jumlah anak yang menderita KKP, baik dalam tingkat ringan maupun sedang, telah dilakukan peningkatan dan perluasan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK). Sehubungan dengan usaha peningkatan pelayanan kesehatan bagi anak-anak penderita gizi buruk, kaitan antara UPGK dengan puskesmas juga semakin ditingkatkan. Kegiatan UPGK yang dilaksanakan secara terpadu di sektor kesehatan, pertanian, agama dan keluarga berencana, serta swadaya masyarakat tersebut antara lain mencakup penimbangan anak balita, penyuluhan gizi, pemberian paket pertolongan gizi, pemanfaatan tanaman pekarangan dan pemberian makanan tambahan. Dalam tahun pertama Repelita IV selain dilanjutkan pembinaan pada desa UPGK lama, juga te1ah dikembangkan UPGK pada 3.000 desa baru, sehingga sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 kegiatan tersebut te1ah mencakup sebanyak 43.085 desa. Penanggulangan dan pencegahan kekurangan vitamin A pada aDak balita dalam tahun 1984/1985 sampai dengan Agustus 1984, telah dilaksanakan khusus untuk 15 propinsi rawan vitamin A yang desa-desanya belum terjangkau oleh UPGK melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi terhadap 1.550 orang anak balita. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 melalui kegiatan tersebut telah dicapai sebanyak 15.017.061 orang anak balita. Se1anjutnya guna menanggulangi dan mencegah gondok endemik, dalam waktu yang sarna telah dilakukan penyuntikan larutan radium dalam minyak terhadap daerah endemik berat meliputi 1.663.000 orang, sehingga dengan demikian

Departemen Keuangan RI

284

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sejak Pelita III hingga bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan penyuntikan terhadap 6.279.815 orang penduduk yang tinggal di daerah-daerah pegunungan. Sedangkan untuk menanggulangi dan mencegah anemia gizi besi telah dilakukan pemberian pil zat besi, penyuluhan gizi dan pemanfaatan tanaman pekarangan, yang pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam UPGK, sehingga me1alui paket tersebut se1ama Pelita III telah dicukupi kebutuhan zat besi terhadap 1.790.650 orang ibu hamil Adapun sistem kewaspadaan pangan dan gizi yang se1ama Pelita III baru dilaksanakan di beberapa daerah pemanduan di 5 propinsi, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diperluas ke 2 propinsi baru yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Salah satu syarat penting untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal dalam masyarakat adalah tersedianya air bersih yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan, terutama bagi penduduk yang berpenghasilan rendah baik di daerah pedesaan maupun di daerah perkotaan. Untuk itu se1ain disediakan sarana dan teknologi sederhana, terus dilakukan pula penyuluhan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memelihara sarana air bersih, serta pengawasan kualitas air minum dan pencemaran lingkungan. Adapun penentuan lokasi sarana air tersebut diprioritaskan pada daerah-daerah yang sulit memperoleh air bersih dan daerah yang tinggi angka kesakitan terhadap penyakit kholera dan penyakit perut lainnya. Sehubungan dengan itu, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dibangun berbagai jenis sarana air minum meliputi 3 buah penampungan mata air dengan perpipaan (PP), 7 buah sumur artesis (SA), 16 buah sumur gali (SGL), 1.277 buah sumur pompa tangan dangkal (SPT DK) dan 431 buah sumur pompa tangan dalam (SPT DL). Selanjutnya dalam waktu yang sama telah dibangun pula saringan pasir sederhana sebanyak 3 buah, sarana pengolahan Fe dan Mn sebanyak 7 buah dan kran umum sebanyak 40 buah. Selain telah dibangun berbagai sarana fisik tersebut, dilakukan pula pelaksanaan survai di 146 lokasi. Dengan demikian sejak Pelita III sarnpai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dibangun sebanyak 628 buah PP, 250 buah SA, 13.741 buah SGL, 244.411 buah SPT DK dan 27.160 buah SPT DL. Sejalan dengan itu, telah dibangun pula saringan posir sederhana, sarana pengolahan Fe dan Mn serta kran umum, masing-masing sebanyak 3 buah, 26 buah dan 40 buah, dan juga dilakukan survai di 800 lokasi. Untuk menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat terutama bagi masyarakat kota dan masyarakat desa yang berpenghasilan rendah, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan umum di 129lokasi, pembangunan multiple latrine sebanyak 10 buah, peningkatan sanitasi perumahan dan lingkungan di 93 lokasi, pengamatan

Departemen Keuangan RI

285

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida di 1.660 lokasi, serta grading tempat pembuatan dan penyimpanan makanan (TP2M) sebanyak 1.180 buah. Dengan demikian sejak Pelita III sarnpai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan umum, peningkatan sanitasi perumahan dan lingkungan, serta pengarnatan pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida, masing-masing di 77.271lokasi, 413 lokasi dan 1.660 lokasi, di samping juga pembangunan multiple latrine dan grading TP2M, masing-masing sebanyak 428 buah dan 5.977 buah.

8.4.3. Pengadaan dan pengawasan obat, makanan dan minuman Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam tahun terakhir Pelita III di bidang pengadaan dan pengawasan obat, makanan serta minuman pada dasarnya merupakan kelanjutan dan peningkatan dari kegiatan yang dilakukan dalam tahun sebelumnya. Upaya ini meliputi pengawasan dalam produksi, distribusi dan penggunaan obat, termasuk obat tradisional, makanan dan minuman, kosmetika dan alat-alat kesehatan, serta pengawasan terhadap penyalahgunaan narkotika dan bahan obat.berbahaya lainnya. Untuk menunjang kegiatan tersebut telah ditetapkan daftar obat esensial (DOE) yang dipakai oleh semua unit kerja kesehatan dalam pengadaan obat di sektor Pemerintah. Obat yang dihasilkan di sektor Pemerintah besamya sekitar 5 persen dari seluruh obat yang beredar, sedangkan sisanya merupakan produksi sektor swasta. Selanjutnya untuk memperlancar distribusi obat, dilakukan penataan kembali pola distribusi obat, baik terhadap sektor Pemerintah maupun sektor swasta. Sejalan dengan peningkatan produksi obat, selama Pelita III telah dibangun sebanyak 134 buah gudang farmasi di seluruh kabupaten dan kotamadya, di sarnping juga telah tersedia sebanyak 283 buah pabrik farmasi. Adapun jumlah pedagang besar farmasi dan jumlah apotik masingmasing telah mencapai 912 buah dan 1.717 buah. Dalam rangka pembinaan di bidang produksi dan distribusi obat, dilakukan pengambilan 76.305 sample obat untuk seluruh propinsi dan 47.430 sample obat untuk tingkat pusat. Untuk melestarikan dan mengembangkan obat-obatan tradisional, dilakukan pengawasan melalui pendaftaran, pemberian informasi dan penyuluhan, serta evaluasi terhadap kegunaannya. Berkaitan dengan itu selama Pelita III telah terdaftar sebanyak 2.3 88 buah produk obat tradisional dari 370 buah perusahaan. Selain itu telah pula diterbitkan buku-buku dan pedoman penyuluhan yang bersifat teknis terutama mengenai jamu gendong, pemanfaatan tanaman obat tradisional dan obat keluarga serta pertemuan-pertemuan ilmiah dalam bentuk seminar dan lain-lain. Selanjutnya untuk mendapatkan keposrian mengenai keamanan, khasiat, nilai gizi,
Departemen Keuangan RI

286

516 macam dan 48 macam. usaha percepatan program KB nasional ditempuh melalui pendekatan kemasyarakatan baik melalui jalur formal maupun informal. selama Pelita III antara lain telah diterbitkan dan diundangkan peraturan tentang bahan berbahaya. agar pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan cepat. maka perlu adanya pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk. tujuan secara kuantitatif demografis semakin dipercepat. serta alat-alat kesehatan produksi dalam dan luar negeri masing-masing sebanyak 1. Berkaitan dengan itu selama Pelita III telah terdaftar produksi obat dalam dan luar negeri masing-masing sebanyak 4. penandaan obat. Penurunan fertilitas sebesar 50 persen dari keadaan tahun 1971. Sejalan dengan perkembangan waktu dan pertimbangan hasil-hasil yang telah dicapai selama ini. dipercepat untuk dapat dicapai dalam jangka waktu 10 tahun lebih awal yaitu dalam tahun 1990. Keluarga berencana Faktor penduduk merupakan salah satu modal dasar dan sekaligus sebagai faktor dominan dalam pembangunan nasional. makanan dan lainnya.4. standar mutu dan persyaratan lain yang telah ditetapkan. kriteria obat jadi. pengawasannya dilakukan melalui pengaturan izin impor bagi apotik atau badan usaha yang akan mengimpor dan mengedarkannya.146 macam. Selain itu telah dilakukan pula pendaftaran terhadap produk kosmetika dalam dan luar negeri sebanyak 3.467 macam dan 1. yang ditempuh atas dasar sukarela. alat kesehatan dan sebagainya semakin ditingkatkan. kegiatan pendaftaran obat.4. Sementara itu untuk mendukung kegiatan pengujian obat dan makanan. Untuk itu sejak Pelita I sampai dengan Pelita III telah dilaksanakan program keluarga berencana (KB) nasional.425 macam dan 2. sampai dengan akhir Pelita III telah dilakukan perluasan dan pembangunan gedung laboratorium pengujian obat dan makanan di 26 propinsi. yang terdiri dari laboratorium tipe B di 8 propinsi dan laboratorium tipe C di 18 propinsi. yang semula direncanakan dapat dicapai dalam tahun 2000. makanan. 8. Dalam hal narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya.195 macam dan 3. di samping melalui wajib daftar dan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya yang telah beredar. Sedangkan untuk menjamin keselamatan pemakaian obat. Oleh karena itu dalam memasuki tahun kedua Repelita IV ini. dan mengarah kepada pengalihan tanggung jawab pengelolaan dari Pemerintah kepada masyarakat. serta produksi makanan dalam dan luar negeri sebanyak 8. serta kadaluwarsa makanan yang berasal dari susu dan makanan-makanan bayi. Namun demikian. Selain itu guna melaksanakan norma keluarga kecil yang bahagia dan Departemen Keuangan RI 287 .256 macam.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kegunaan.054 macam.

Atas dasar penggarapan tersebut. dan dari kebupaten/kotamadya selanjutnya diteruskan pula ke tingkat kecamatan yang potensial tanpa meninggalkan kecamatan lainnya. Sulawesi Selatan. Dalam tahun terakhir Pelita III telah diperoleh peserta KB baru sebanyak 5. pada akhir Pelita III dan awal Pelita IV telah menurun sampai di bawah 50 persen. Lampung. Penggunaan alat kontrasepsi diarahkan pada alat kontrasepsi yang selain lebih murah juga mempunyai clara lindung yang efektif. Dengan caracara penggarapan yang taktis menurut spesifikasi propinsi tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sejahtera (NKKBS). Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jumlah penduduknya banyak. Safari Catur Warga dan terakhir dikenal pula Safari KB Senyum (sungguh enak dan nyaman untuk masyarakat) Terpadu. Pelaksanaan program KB ini apabila dilihat dari dimensi perluasan jangkauan kuantitatifnya yaitu jumlah peserta KB baru. maka setiap propinsi meneruskan cara-cara tersebut kepada daerah-daerah tingkat kabupaten/kotamadya yang strategis potensial. DKI Jakarta. pada saat ini telah mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air Indonesia. telah memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Bali dan Sulawesi Utara ditetapkan sebagai pengembang program kependudukan. Sedangkan propinsi DI Yogyakarta. Jika dalam tahun-tahun sebelumnya lebih dari 50 persen peserta KB baru menggunakan kontrasepsi pil. Program KB yang sebelumnya baru meliputi 16 propinsi. Propinsi Kalimantan Timur. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang pasangan usia suburnya besar. Di lain pihak. Sumatera Barat. Bengkulu. juga telah diusahakan percepatan peningkatan kesejahteraan peserta KB yang dilakukan melalui program lintas sektoral dan pembangunan daerah. Demikian pula halnya dengan peserta KB baru yang menggunakan metode suntikan telah meningkat dari sekitar 3 Departemen Keuangan RI 288 . Maluku. Sumatera Selatan. antara lain Safari Spiral. Sulawesi Tengah. jumlah peserta KB baru yang menggunakan kontrasepsi IUD memperlihatkan kecenderungan meningkat yaitu dari sekitar 16 persen dalam tahun 1980/1981 menjadi sekitar 27 persen pada akhir Pelita III dan awal Pelita IV. seperti spiral atau IUD. dijadikan sebagai propinsi penyangga utama. Propinsi Aceh. Pelaksanaan program KB atas dasar hasil sensus penduduk Indonesia tahun 1980. Kemudian propinsi Sumatera Utara. Kalimantan Selatan. sehingga jumlah seluruhnya dari awal Pelita III sampai dengan bulan Juli 1984 telah mencapai sebanyak 18.2 juta.4 juta peserta KB baru. Sulawesi Utara. Untuk itu telah dilakukan berbagai kegiatan program KB. dikategorikan sebagai propinsi penyangga. propinsi Jawa Barat. Irian J aya dan Timor Timur ditetapkan sebagai propinsi penerima transmigran. Jambi. penggarapannya dilakukan menurut pembagian wilayah yang didasarkan pada klasifikasi propinsi sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah. Riau dan Kalimantan Barat yang mempunyai dampak politis psikologis dinyatakan sebagai propinsi khusus.

50 2.966. yaitu sebagian besar peserta KB baru tersebut berumur di bawah 30 tahun dan berasal dari keluarga petani.424.al ini selain didukung oleh kegiatan para petugas KB dan kesadaran masyarakat.911 buah klinik milik Departemen Kesehatan.9 Lain -lain 9.20 2.246.2 317.5 405.481.20 382.80 1.90 1. Selain melalui klinik KB.90 2.50 1.550.40 335 Jumlah 53.9 286.70 1.524.8 596. dan merupakan mayoritas daripada masyarakat yang berasal dari kalangan berpenghasilan rendah.6 1.592. 480 buah klinik milik ABRI.5 24. Di daerah perkotaan. Hal ini berarti bahwa penggarapan program KB telah dapat diarahkan kepada sasaran yang mempunyai potensi melahirkan yang tinggi.966.60 2.5 1) Angka sementara sampai dengan bulan Juli 1984 Keberhasilan pelaksanaan program KB nasior.80 3.6 79.229.60 2.1 285.10 1.212.9 24.9 384.7 380.908.3 330.6 IUD 29 76. Sejalan dengan meningkatnya kegiatan KB.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 persen pada awal Pelita III menjadi sekitar 28 persen pada awal Pelita IV.6. sehingga sampai dengan bulan Juli 1984 telah mencapai 7.7 1.90 1.10 983.8 607 857.505. ditunjang pula oleh penyediaan sarana pelayanan yang memadai.4 1. Menurut statusnya. Perkembangan jumlah peserta dan metode kontrasepsi yang digunakan dapat diikuti pada Tabel VIII.215.087.4 1. 6 JUMLAH AKSEPTOR BARU Y Al'TG DICAPAI MENURUT METODE KONTRASEPSI.30 1.051.5 461. Di samping terjadi peningkatan dalam jumlah peserta KB baru.10 2.80 2.8 892.4 937.70 3.593.5 433.246.885.8 281.80 1. baik berupa klinik KB maupun tenaga medis dan administrasinya. 1969/1970 .1 181.316.2 252 400.7 280.2 366.7 398. 246 buah klinik milik instansi lainnya dan 583 buah klinik milik swasta.330. klinik tersebut terdiri dari 5.20 5. selain juga dari dukungan pelayanan dan penanggulangan efek sampingan yang dilakukan di klinik dan di rumah sakit Departemen Keuangan RI 289 .6 218.4 212. dari segi kualitas pun menunjukkan kenaikan. jumlah klinik KB selama ini juga terus bertambah.3 293.120.369.90 1.220 buah klinik yang tersebar sampai ke kecamatan-kecamatan dan desa-desa. pelayanan KB kepada masyarakat didukung oleh meningkatnya partisiposi para dokter dan bidan praktek swasta. Tabel VIII.1 519.1984/1985 ( ribu orang) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1) Pil 14.2 496.078. untuk menjangkau pelayanan KB yang lebih luas kepada masyarakat dikembangkan juga kegiatan pelayanan KB melalui till KB keliling.2 187.90 2.9 91.50 265.055.

964 11.3 persen memakai IUD. dan yang tetap setia menggunakan kontrasepsi secara berlanjut.1984/1985 ( dalam jumlah orang. Sedangkan untuk daerah pedesaan.8 persen dari peserta KB aktif tersebut memakai kontrasepsi pil.198 orang pembantu bidan. Sedangkan jumlah tenaga medis yang mendukung pelayanan KB sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sebanyak 16.041 12. 9.343 3.445 6.609 2.646 1. Sampai dengan bulan Juli 1984.707 5.678 1. Departemen Keuangan RI 290 .974 6.018 3.9Q.959 2.584 Pembantu bidan 75 580 605 1.653 orang dokter.601 4.791 4.999 7.213 4.465 1.392 3.1 juta peserta KB aktif atau sebesar 57.141 5.275 1.143 1.861 2.220 Dokter 421 556 791 883 1. pelayanan kegiatan KB ini dilakukan melalui pembantu pembina keluarga berencana desa (PPKBD) dan sub-PPKBD.657 3.2) . Hal ini dapat diukur melalui indikator kuantitatif.722 orang dan 12. 28.064 7.568 5.1 persen dari seluruh posangan usia subur. yang terdiri dari 4.425 12. yang dilakukan sampai ke desa-desa di seluruh wilayah Indonesia. baik terhadap peserta KB aktif maupun peserta KB yang diaktifkan kembali setelah beristirahat menggunakan kontrasepsinya.435 orang.578 6.232 3. Tab el VIII.569 2.000 7.609 6.774 q.9 6.586 7.532 3. pembinaannya pun menunjukkan kemajuan.239 6.235 3.129 6.242 4.316 2. kecuali untuk klinik KB dalam satuan ) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/19854) Jumlah klinik 727 1.882 3. 6.722 Petugas lapangao .137 2.098 3.808 3. Perkembangan KB dan tenaga pendukungnya dapat diikuti pada Tabel VIII.476 5. jumlah peserta KB yang telah dibina mencapai 14.584 orang bidan dan 5.653 Bidan 855 1.919 4.198 Tenaga administtasi klinik . 7 JUMLAH KLINIK.930 3.3 persen memakai suntikan dan sisanya memakai alat kontrasepsi lainnya.436 4.096 4.544 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang menjadi pusat rujukan. Adapun jumlah tenaga administrasi klinik dan petugas lapangan masing-masing adalah sebanyak 4.995 3.000 9.134 5.041 orang.349 3.970 2.303 4.594 3.041 1) Pekerjaan administrasi dirangkap pembantu bidan 2) Belum ada tenaga PLKB (Petugas Lapangan KB ) 3) Angka diperbaiki 4) Angka sementara sid bulanJuli 1984 Sejalan dengan perluasan jangkauan program KB.975 4. 1969/1970 .7.421 3.1) 322 1. PERSONALIA DAN PETUGAS LAPANGAN KELUARGA BERENCANA.241 3.639 6.2) 1.667 4.956 2. 776 2.620 3.682 6.478 4. Adapun menurut metode kontrasepsi yang dipakai.750 2.661 4.118 5.504 3.319 4525 4.920 3) 5.927 4.186 1.715 4.758 1. Peningkatan jumlah peserta KB aktif telah diikuti pula dengan peningkatan usaha pembinaan melalui program integrasi gizi. 54.

maka peranan dan status wan ita akan lebih potensial baik sosial maupun ekonomis. keberhasilan program KB ditandai dengan makin berkembangnya partisiposi. Sedangkan untuk lebih memberikan dukungan psikologis bagi peserta KB.191 buah. Sub PPKBD atau paguyuban-paguyuban akseptor. saling menunjang dan saling mengisi dengan bidang-bidang pembangunan lainnya.138 kelompok akseptor KB. Melalui lembaga masyarakat ini selain dilakukan kegiatan pemberian kontrasepsi. baik dari masyarakat maupun instansi Pemerintah yang semula belum turut menjadi pelaksana. Di samping itu telah dilakukan pula program peningkatan pendapatan keluarga yang pada saat ini telah dilaksanakan di 8. telah pula dilaksanakan kegiatan-kegiatan lain yang berada dalam naungan program-program kependudukan yang sifatnya mendukung program kependudukan dan keluarga berencana (KKB). jumlah PPKBD dan paguyuban telah mencapai 184.5. 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Selain itu. dan pelaksanaannya dilakukan searah. Proses pelembagaan di dalam masyarakat ditandai dengan terus meningkatnya lembaga-Iembaga masyarakat seperti PPKBD. yang salah satu kegiatannya adalah berupa penimbangan terhadap anak berumur di bawah lima tahun (balita).022 desa yang tersebar di seluruh wilayah tanah air dan telah memiliki 63. dan pengelola program KB. Maka dari itu dikembangkan suatu usaha bersama dalam program peningkatan pendapatan yang dilakukan melalui kelompok-kelompok peserta KB. Setiap tahap pembangunan di bidang kesejahteraan sosial diarahkan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat' Departemen Keuangan RI 291 . Program gizi yang dilakukan melalui jalur program KKB ini dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencakup 27. telah dilakukan pemberian piagam penghargaan bagi peserta KB lestari 5 tahun. dengan mengikuti program KB. Sementara itu dalam rangka program peningkatan usia perkawinan dan program pendidikan kependudukan. dan penyuluhan makanan sehat. Kegiatan-kegiatan ini antara lain mencakup peningkatan gizi keluarga. pelajar dan mahasiswa. telah dilakukan pendekatan kepada para pemuda. Selain itu keterlibatan perusahaan-perusahaan untuk memberikan dukungan yang positif terhadap pelaksanaan program KB bagi buruh dan karyawannya juga semakin meningkat.731 buah pos penimbangan balita. Kesejahteraan sosial Pembangunan di bidang kesejahteraan sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan nasional. Sampai dengan bulan Agustus 1984. 10 tahun dan 16 tahun serta kepada lembaga masyarakat pengelola program KB di tingkat pedesaan. serta pemberian bib it kelapa hybrida kepada 500 ribu peserta KB lestari. Apabila dilihat dari dimensi pelembagaan/pembudayaan.

Sehubungan dengan itu. yang bertujuan memberikan bimbingan kepada para keluarga yang kondisi sosial dan ekonominya berada di batas rawan. Untuk menunjang kegiatan-kegiatan terse but. pembangunan di bidang kesejahteraan sosial di samping diarahkan pada kelanjutan perbaikan dan perluasan segala kegiatan yang berfungsi pelayanan. swakarsa dan swasembada dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya semaksimal mungkin. Selain itu para remaja juga dibimbing dalam berbagai kegiatan yang meliputi keterampilan ekonomis produktif. Melalui wadah ini telah dilakukan pembinaan terhadap remaja. Melalui wadah Karang Taruna dimaksudkan pula untuk terwujudnya penghayatan dan pengamalan Pancasiladi kalangan remaja.800 remaja. Kegiatan ini meliputi bimbingan dan penyuluhan sosial.5. Sejak awal Departemen Keuangan RI 292 . Kegiatan ini dimaksudkan sebagai penanaman rasa tanggung jawab sosial yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan rasa kebersamaan masyarakat dalam kesetiakawanan sosial.1. serta pengadaan pusat-pusat latihan kerja sebagai tempat kegiatan kerja produktif.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 secara adil dan merata. telah dilakukan pembinaan dalam bidang kepemimpinan sosial. Pembinaan kesejahteraan sosial Pelaksanaan pembangunan bidang kesejahteraan sosial dilakukan melalui berbagai program pembinaan. partisipasi sosial masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan sosial semakin dikembangkan. salah satu daripadanya adalah pembinaan generasi muda yang kegiatannya meliputi pembinaan Karang Taruna. yang pada gilirannya akan mampu mengatasi atau menanggulangi berbagai permasalahan sosial di kalangan pemuda dan masyarakat. yang tujuannya untuk memberikan bimbingan agar dapat menyadari peranan dan tanggung jawabnya dalam menyongsong hari depan. terutama bagi para penyandang permasalahan sosial. latihan usaha swadaya sosial masyarakat. 8. pemberian bantuan stimulan berupa modal dan bahan usaha produktif. agar dapat mencegah dan membatasi timbulnya masalah kenakalan atau kelainan tingkah laku remaja. pembinaan jasmani dan rohani serta kegiatan yang bersifat rekreatif. sampai dengan bulan Oktober 1984 telah berhasil dibina sebanyak 13. Program lainnya adalah pembinaan kesejahteraan sosial. juga lebih diutamakan pada kegiatan yang berfungsi pencegahan dan pengembangan. penyuluhan dan bimbingan sosial. serta yang tinggal di daerah perkotaan yang padat dan miskin. Dengan bantuan ini diharapkan dapat tumbuh dan berkembang kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial. yang bertempat tinggal di daerah minus. sehingga pada gilirannya mereka akan mampu berusaha secara swaclara. Sejak tahun pertama Repelita IV.450 karang taruna dan 14. Dalam hubungan ini.

pe1estarian sumber-sumber alam lainnya. pengembangan peranserta fungsi lingkungan bagi kesejahteraan sosial masyarakat. Kegiatan tersebut berupa pembinaan dan bimbingan agar mereka memiliki kern au an dan kemarnpuan untuk mengembangkan kondisi sosial dan budayanya ke Departemen Keuangan RI 293 . terbelakang dan berpindah-pindah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pelita III sampai dengan akhir 1983/1984. Usaha peningkatan peranan dan fungsi wanita ditujukan untuk mengembangkan kesejahteraan sosial wanita. agar dapat berperan serta dalam proses pembangunan tanpa mengurangi peranannya dalam pembinaan keluarga sejahtera. serta melalui stimulan peralatan bangunan lokal sebanyak 697 unit yang me1ibatkan 6.160 KK.935 Dalam bina swadaya. Sarnpai dengan tahun 1983/1984 telah berhasil dibina 35. Selain itu juga berupa penanaman pengetahuan dan keterampilan dalam memelihara.970 KK. penggalakan penghijauan. dalam waktu yang sarna juga te1ah diadakan pembinaan swadaya masyarakat di bidang perumahan dan lingkungan. dan 5. khususnya dalam pemantapan kemampuan dan keterarnpilan. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984.399 KK. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. serta pemberian stimulan bahan bangunan bukan lokal dan peralatan kerja. me1alui stimulan perbaikan lingkungan sebanyak 716 unit yang me1ibatkan 7. Kegiatan ini antara lain meliputi penye1enggaraan latihan bagi ke1uarga miskin di bidang pembangunan perumahan secara gotong royong dengan semaksimal mungkin menggunakan potensi manusia dan alam yang ada.908 unit stimulan dana kesejahteraan sosial yang te1ah melibatkan 79. Se1ain bimbingan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat. telah dapat dibina me1alui stimulan bahan bukan lokal sebanyak 24.384 perumahan warga binaan yang meliputi 17 desa.160 wanita dalam kepemimpinan.709 keluarga bina swadaya. Usaha-usaha tersebut terutarna diarahkan pada wanita yang kondisi kehidupannya tergolong miskin. melalui stimulan bahan bukan lokal sebanyak 18 unit telah berhasil dibina 6. Di samping itu dalam waktu yang sama te1ah diberikan pula 7. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984.567 wanita dalam bina swadaya. pengaturan saluran air. telah berhasil dibina sebanyak 1. melalui stimulan sarana produksi telah berhasil dibina dan ditingkatkan taraf hidup para keluarga yang berpenghasilan rendah sebanyak 242. telah berhasil dilakukan pembinaan me1alui potensi kesejahteraan sosial terhadap sebanyak 28. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pembinaan kesejahteraan masyarakat berasing ditujukan pada peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat yang hidup terpencil. Sedangkan dalam rangka pembinaan swadaya masyarakat di bidang perumahan dan lingkungan.080 kepala keluarga (KK).114 orang. khususnya yang bertempat tinggal di daerah pedesaan.

350 orang kader keserasian sosial.347 orang. Selain itu diberikan pula bimbingan mental. Untuk itu kepada para pengurus dan anggota organ isasi sosial diberikan latihan keterampilan dalam bidang manajemen dan prinsip-prinsip tehnik pendekatan sosial menurut bidang sasaran organisasi sosial. baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. Sedangkan dalam rangka memantapkan keserasian dan kesetiakawanan masyarakat dalam mengatasi berbagai masalah. Sarana lain untuk membina masyarakat berasing adalah melalui pemukiman di suatu lokasi yang terletak pada jalur komunikasi dan ekonomi.490 orang. Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan dan bimbingan sosial. Dalarn rangka mcngembangkan. melalui latihan dan praktek lapangan di bidang kesejahteraan sosial te1ah dibina pekerja sosial masyarakat (PSM). Sedangkan untuk menunjang kelancaran kegiatan di bidang kesejahteraan sosial. menyebarluaskan dan melembagakan partisiposi sosial masyarakat dalam pembangunan di bidang kesejahteraan sosial. yang dilengkapi dengan sarana umum seperti tempat ibadah. telah dapat dibina sebanyak 164 organisasi sosial. dan tanah seluas 2 hektar sehingga diharapkan taraf hidup mereka akan dapat lebih ditingkatkan. sehingga Departemen Keuangan RI 294 . yang terdiri atas para tokoh masyarakat dari berbagai profesi. Sejalan dengan itu. serta latihan keterampilan dalam penanganan dan penanggulangan permasalahan sosial dalam masyarakat. telah dilakukan peningkatan mutu dan kemarnpuan operasional organisasi sosial. Tenaga yang dipilih dari anggota masyarakat setempat. Melalui kegiatan ini sarnpai dengan bulan Oktober 1984. telah diadakan penyuluhan sosial terhadap 5. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. balai sosial dan sekolah sederhana. Sementara itu telah dilakukan pula pembinaan terhadap keluarga dan remaja yang mengalami permasalahan sosial psikologis. Sampai dengan akhir bulan Oktober 1984 melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 13. kepada setiap keluarga diberikan bantuan rumah sederhana. Kemudian untuk tercapainya hasil-hasil pembangunan kesejahteraan sosial secara luas dan merata.449 KK.088 orang PSM yang tersebar di seluruh propinsi. yang sekaligus sebagai pendorong kegiatan yang semakin meluas secara swadaya di kalangan masyarakat. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. dalam waktu yang sarna telah dibina pula sebanyak 8. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 14. telah dibentuk tenaga kesejahteraan sosial sukarela (TKSS). telah berhasil dibina 70. yang sampai dengan akhir tahun 1983/1984 telah mencapai 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 arah kehidupan sosial yang selaras dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. ditugaskan sebagai penggerak dan pelaksana dari peningkatan kesejahteraan sosial di lingkungan tempat tinggalnya. sosial dan berbagai keterampilan dalam bidang-bidang usaha kesejahteraan sosial.115 orang.

baik melalui sistem panti maupun sistem luar panti. para gelandangan dan pengemis itu disalurkan melalui kegiatan transmigrasi sosial. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan so sial terhadap 2. Setelah mendapatkan bimbingan dan keterampilan tersebut. Selama Pelita III.010 orang dan 105.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 melalui kegiatan ini sampai dengan akhir tahun 1983/1984 telah dibina sebanyak 8. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan kepada 561 orang dan 41 KK fakir miskin. telah dilakukan pula pemberian bantuan dan penyantunan kepada para penyandang cacat. sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan sosial terhadap 4. 8. telah dilakukan berbagai kegiatan yang bertujuan agar mereka mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri.2.873 anak. mental dan agama. melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 13. sedangkan melalui Loka Bina Karya (LBK) telah dibina sebanyak 300 orang. Selain itu kepada mereka diberikan pula keterampilan yang bersifat ekonomis produktif.222 anak. kepada mereka telah diberikan bimbingan sosial. Dalam tahun.597 orang cacat. Terhadap anak terlantar.835 KK. pemukiman lokal. anak-anak putus sekolah dan anak-anak dari keluarga miskin yang terhambat perkembangan sosialnya. yaitu melalui swakarya sebanyak 4. sedangkan melalui sistem luar panti sebanyak 221. yang meliputi anak-anak yatim piatu terlantar. melalui sistem rami telah dapat dibina sebanyak 15. telah diberikan bantuan dan penyantunan.900 orang. melalui sistem panti dan luar panti telah berhasil dibina masing-masing sebanyak 29.5. baik melalui sistem paoli maupun sistem luar panti. melalui transmigrasi sosial sebanyak 5.822 remaja putus sekolah. Sampai dengan akhir 1983/1984.745 KK. melalui pemukiman lokal sebanyak 2. Selain kepada anak terlantar. 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984.545 KK serta melalui pondok sosial sebanyak 600 KK.765 KK. pola swakarya dan pola pondok so sial. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. Untuk memulihkan kembali rasa harga diri.833 KK dan 14.220 anak. Departemen Keuangan RI 295 . Bantuan dan penyantunan sosial Dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesejahteraan sosial bagi para penyandang masalah kesejahteraan sosial. tidak menggantungkan pada bantuan orang lain dan dapat ikut serta dalam proses pembangunan. Sampai dengan Pelita III. serta membangkitkan minat dan kecintaan bekerja bagi para gelandangan dan pengemis.

telah dilakukan pula rehabilitasi bagi para bekas tahanan. telah dibangun 43 buah wisma. Dalam kegiatan ini kepada WTS tersebut diberikan pendidikan budi pekerti dan berbagai keterampilan agar dalam kehidupan bermasyarakat kelak mereka dapat berdiri sendiri dengan menjunjung harga dirinya.757 bekas narapidana.720 orang. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. telah berhasil dibina sebanyak 6. terhadap arti dan nilai-nilai kepahlawanan. telah dilakukan penyebarluasan gambar-garnbar dan buku-buku sejarah serta penulisan autobiografi para pahlawan dan perintis kemerdekaan. yang pelaksanaannya dilakukan melalui sistem panti dan luar panti. dengan perincian melalui sistem panti sebanyak 3.177 orang tuna sosial.600 orang dan melalui sistem luar panti sebanyak 3. Untuk itu telah dibangun panti rehabilitasi sosial korban narkotika di Jakarla. kemasyarakatan dan rekreasi. sedangkan untuk rehabilitasi anak nakal telah dibangun panti rehabilitasi di Jakarta. telah diberikan penyantunan dan pengentasan kepada 1.010 orang. melalui kegiatan ini telah berhasil dibina sebanyak 1. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. selanjutnya dapat disalurkan ke pasaran kerja sesuai dengan bakat dan jenis keterampilannya.350 orang dan 2. dan 32 wisma tingkat kabupaten. Selain itu telah dilakukan pula pembinaan terhadap para lanjut usia/jompo melalui sistem luar panti dan Sasana Tresna Wredha. telah dilakukan usaha rehabilitasi. Surabaya dan Medan. keperintisan para pahlawan dan perintis kemerdekaan. guna melayani sebanyak 430 orang lanjut usia. telah dilaksanakan pembangunan panti baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten.765 orang lanjut usia. serta kegiatan yang produktif bagi yang masih potensial. Di samping itu untuk maksud yang sama telah Departemen Keuangan RI 296 .411 anak korban narkotika dan anak nakal. yang terdiri dari 11 wisma tingkat propinsi. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. Selain usaha rehabilitasi para WTS. sampai dengan Oktober tahun 1984 telah berhasil dibina sebanyak 4. Sampai dengan akhir Pelita III. telah diberikan penyantunan dan pembinaan terhadap 4. Melalui panti-panti tersebut. Palembang dan Semarang. masing-masing sebanyak 242. Melalui panti tersebut diberikan pembinaan dan pengembangan yang bersifat spiritual. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. Dalam hal ini kegiatan yang dilakukan melalui LBK bertujuan agar setelah mereka dianggap mampu untuk terjun ke dalam masyarakat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Selanjutnya untuk menanggulangi kehidupan yang sesat dari kelompok wanita tunasusila (WTS). baik melalui sistem panti maupun sistem luar paoli. khususnya generasi muda. Untuk menimbulkan kesadaran masyarakat. Selanjutnya telah dilakukan pula usaha rehabilitasi bagi para remaja yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika. Dalam hal pemberian bantuan dan penyantunan bagi para lanjut usia/jompo yang terlantar atau kurang terurus.610 orang.

Sejak awal Pelita III sampai dengan bulan Oktober 1984.6.840 KK dan yang ditempatkan pada pemukiman lokal di luar pulau Jawa dan Bali adalah sebanyak 3.525 orang dan 4. Dengan demikian dapat diciptakan ketertiban dan kepostian hukum yang pada gilirannya dapat memperlancar Departemen Keuangan RI 297 .macam latihan keterampilan yang ekonomis produktif. Sulawesi Utara. seperti propinsi Aceh. Sampai kini jumlah perintis/pejuang kemerdekaan yang masih hidup dan yang jandanya telah mendapat pengakuan. Pembinaan dan pembaharuan hukum Pembinaan hukum merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembangunan yang tengah berlangsung. bantuan perbaikan rumah kepada 165 orang.292 orang.075 KK. kebijaksanaan pokok dalam pembangunan dan pembinaan hukum diarahkan agar hukum mampu memenuhi kebutuhan sesuai dengan tingkat dan perkembangan pembangunan di berbagai bidang.6. obat-obatan dan pakaian. 8. antara lain berupa bantuan usaha produktif kepada 1.1. Hukum dan perundang-undangan 8. serta penyediaan panti persinggahan sebanyak 28 buah. Sedangkan selama Pelita III telah dilakukan pemberian bantuan bahan bangunan rumah kepada 2. motivasi dan berbagai . dan merupakan rehabilitasi agar kondisi sosial ekonomi para korban dapat menjadi lebih baik. Selama Pelita III telah dibangun dan dipugar sebanyak 157 buah TMP dan 9 buah makam pahlawan nasional serta penulisan buku perjuangan sebanyak 10. dan bantuan pemugaran makam sebanyak 280 buah. para korban telah dipindahkan pula ke temp at lain. Bersamaan dengan itu diusahakan pula peningkatan tarat hidup melalui bimbingan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dilakukan pemeliharaan dan pemugaran makarn perintis kemerdekaan.165 orang. di samping juga dilaksanakan melalui pemberian bantuan berupa beras. Selain itu melalui pemukiman lokal dan transmigrasi sosial. masing-masing adalah sebanyak 2. Sehubungan dengan itu. latihan pembimbing dan petugas lapangan sebanyak 540 orang. Usaha yang berkaitan dengan pemberian bantuan dan penyantunan kepada para korban bencana alam pada dasarnya bersifat darurat. Adapun jumlah para korban bencana alam yang ditransmigrasikan ke luar pulau Jawa dan Bali mencapai 3. serta pembangunan monumen kepahlawanan. telah dilakukan rehabilitasi sosial korban bencana alam sebanyak 35. Kegiatan ini antara lain dilakukan melalui pengadaan panti persinggahan pada daerah-daerah rawan bencana.388 KK. makam pahlawan dan taman makam pahlawan (TMP). Riau.000 eksemplar. Maluku dan Bali.606 KK. Selain itu juga telah diberikan bantuan dan penyantunan perintis/pejuang kemerdekaan.

Koordinasi Usaha Kesejahteraan Sosial Bagi Penderita Cacat. Perbendaharaan Negara. Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. Pendaftaran. Penjadwalan Kembali Proyek-proyek Pembangunan yang Pembiayaannya Menggunakan Devisa Negara atau Kredit Komersial Luar Negeri. Badan Administrasi Kepegawaian Negara. Hukum Perdata Internasional. Selain itu juga telah dihasilkan Peraturan Pemerintah ten tang Dewan Pers. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Pelaksanaan KUHP. Untuk itu telah dilaksanakan pembaharuan dan pembentukan perangkat hukum nasional. Pemberian Tunjangan Perbaikan Penghasilan Pensiun Bagi Penerima Pensiun/Tunjangan Yang Bersifat Pensiun. Undang-Undang tentang Perhitungan Anggaran Negara Tahun 1979/1980. Dalam tahun 1983/1984 telah dihasilkan 7 buah undang-undang. Sedangkan yang berupa Instruksi Presiden. Selanjutnya dalam tahun 1983/1984 telah dibahas pula sejumlah rancangan undang-undang. Pemberian Nomor Wajib Pajak. serta Peraturan Pemerintah tentang Pajak Atas Bunga Deposito Berjangka dan Tabungantabungan lainnya. dan Persyaratan Pengajuan Keberatan. antara lain Inpres tentang Pelaksanaan Penjadwalan Kembali Proyek-proyek di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi. antara lain meliputi Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Hukum Pidana.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan. Penangguhan Pajak Penghasilan Atas Bunga Pinjaman Yang Diterima Pemerintah Dalam Rangka Pinjaman Luar Negeri. Un dang-Un dang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai 1984. serta RUU tentang Pelimpahan Teknologi. Dalam rangka menunjang perancangan perundang-undangan. Undang-Undang ten tang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. serta Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Masyarakat. serta Keppres ten tang Dewan Standardisasi Nasional. serta Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 1984/1985. Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Penyampaian Surat Pemberitahuan. yang terdiri dari Undang-Undang tentang Tambahan dan Perubahan Atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1982/1983. Jam Krida Olah Raga. Sementara itu telah pula dihasilkan sejumlah Keputusan Presiden antara lain Keppres tentang Rencana pembangilnan Lima Tahun Keempat (Repelita IV) tahun 1984/1985-1988/1989. Daftar Skala Prioritas Bidang Usaha Penanaman Modal Tahun 1983/ 1984. Kerjasama ini Departemen Keuangan RI 298 . telah dilakukan kerjasama antara berbagai instansi yang ada hubungannya dengan bidang hukum. Sementara itu dalam waktu yang sarna juga telah disahkan sebanyak 44 buah peraturan Pemerintah. antara lain Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984. Asuransi Sosial Tenaga Kerja. serta Inpres tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan. Koordinasi Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. Grasi.

dalam tahun 1983/1984 telah dilaksanakan berbagai penelitian antara lain atas pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Putusibau.2. Kotacane. (KUHAP). Sungai Liat. Di samping itu dalam waktu yang sarna juga telah dihasilkan penulisan karya ilmiah dengan judul Perlindungan hak-hak azasi manusia dalam KUHAP serta Politik hukum baru mengenai kedudukan dan Peranan hukum adat dan hukum Islam dalam pembinaan hukum. Penegakan hukum Kegiatan yang dilakukan dalam penegakan hukum pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan ketertiban dan kepostian hukum dalam masyarakat. di Departemen Keuangan RI 299 . antara lain berupa penelitian hukum. Selanjutnya untuk menunjang peningkatan dan penyempurnaan penegakan hukum. dan 26 pengadilan tinggi yang terdapat pacta setiap propinsi kecuali Propinsi Timor Timur. 8. khususnya dalam' pembinaan peradilan. Selain itu guna meningkatkan pemerataan kesempatan dalam memperoleh keadilan. Dengan demikian sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 telah dibangun 291 pengadilan negeri yang tersebar di hampir setiap kabupaten/kotamadya. Pacitan. Untuk itu telah dilakukan pemantapan kedudukan dan wewenang badan-badan penegakan hukum. Sedangkan pertemuan ilmiah yang diselenggarakan antara lain meliputi evaluasi terhadap pembangunan hukum Pelita III menjelang Pelita IV. Gorontalo dan Watampone.6. penanggulangan kejahatan dan pembinaan narapidana. serta penyempurnaan koordinasi dan kerjasama fungsional. pertemuan ilmiah dalam bentuk lokakarya. seminar dan simposium serta penulisan karya ilmiah dalam berbagai bidang hukum. jujur dan dengan biaya yang terjangkau oleh pencari keadilan dalam berbagai lapisan masyarakat. masalah yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan RUU Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. aspek hukum dalam praktek pertanggungan perbankan umuk usaha pemborongan bangunan. terus diusahakan agar proses peradilan lebih sederhana. aspek hukum perlindungan berkenaan dengan perluasan lokasi industri. Sehubungan dengan itu. telah diadakan tempattempat sidang pengadilan sehingga pelaksanaan tugas hakim keliling dapat berjalan lancar. serta hukum kedokreran. Dalam hubungan ini. harmonisasi hukum di negaranegara ASEAN. di daerah-daerah yang wilayah pengadilan negerinya sangat luas dan sulit komunikasinya. serta kejahatan akibat teknologi modem. baik antarsesama aparatur penegak hukum maupun dengan instansi-instansi lain. dalam tahun 1983/1984 telah dibentuk 7 pengadilan negeri yang terletak di Garut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berbentuk kegiatan ilmiah. cepat. pemantapan sikap. perilaku dan kemampuan para penegak hukum. peningkatan operasi yustisi untuk pengamanan hasil-hasil dan pelaksanaan pembangunan yang sedang berjalan. perlindungan hukum terhadap konsumen jasa angkutan.

telah dilakukan peningkatan dalam penyediaan prasarana dan sarana hukum. antara lain melalui brosur-brosur yang disebarluaskan ke daerah-daerah. Dalam rangka peningkatan pemerataan kesempatan untuk memperoleh keadilan bagi masyarakat. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 jumlah hakim telah mencapai 2. Sementara itu guna meningkatkan pelaksanaan penegakan hukum. Di samping itu. 12 gedung baru pengadilan tinggi dan 373 buah tempat sidang. Di samping itu juga telah dilakukan rehabilitasi dan perluasan/penyempurnaan 19 gedung pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. yang tersebar di 26 pengadilan tinggi. Sehubungan dengan itu.496 perkara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 samping telah dipercepatnya proses penyelesaian perkara di temp at kasus/sengketa. terus dilakukan pemberian bantuan hukum. telah disediakan pula sebanyak 111 kendaraan yang terdiri atas berbagai jenis. baik yang bersifat pidana maupun perdata. Kegiatan tersebut dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan di 2. terutama bagi golongan yang kurang atau tidak mampu. dalam tahun 1983/1984 telah diberikan bantuan hukum terhadap 4. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 telah menjangkau 9. wawancara di TVRI/RRI.238 orang. 45 tempat sidang dan 11 gedung kejaksaan negeri/tinggi. yang dilaksanakan dengan pemutasian hakim. radio swasta serta tempat.880 perkara yang ada di Departemen Keuangan RI 300 . dalam tahun 1983/1984 telah dibangun 7 gedung pengadilan negeri. serta 79 gedung kejaksaan negeri/tinggi.450 perkara bantuan hukum. telah dilaksanakan pula berbagai kegiatan penyuluhan hukum.tempat umum dan publikasi media cetak lainnya. telah ditingkatkan juga penyelesaian perkara. untuk menunjang pembinaan dan pelaksanaan tugas-tugas penegak hukum. sampai dengan tahun terakhir Pelita III telah dilakukan pembangunan 127 gedung baru pengadilan negeri.527 desa. dari 766. sehingga sampai dengan akhir Pelita III telah diberikan bantuan hukum bagi pencari keadilan yang kurang mampu sebanyak 17. penyuluhan pacta masyarakat dalam bentuk ceramah. Sehubungan dengan itu. Dalam tahun 1983/1984. berupa penerangan tentang fungsi dan tugas pengadilan. Dengan demikian.440 kasus konsultasi hukum dan 2. serta rehabilitasi/penyempurnaan/perluasan 160 gedung pengadilan negeri daD gedung pengadilan tinggi serta 244 gedung kejaksaan tinggi/negeri. Kegiatan tersebut sampai dengan tahun 1983/1984 telah meliputi sebanyak 45. Di samping itu. Sementara itu dalam waktu yang sarna juga telah diadakan pembinaan personal peradilan. sejak tahun 1981/1982 telah dilakukan pula konsultasilbantuan hukum melalui 24 fakultas hukum negeri yang tersebar di seluruh Indonesia.915 desa. baik secara regional maupun nasional. Guna meningkatkan kesadaran hukum dalam masyarakat. Sedangkan penyuluhan hukum yang dilaksanakan melalui program jaksa masuk desa. Dalam rangka menunjang pembinaan peradilan.858 kasus pidana.

telah dilaksanakan pembangunan. baik baru maupun lanjutan. Dalam tahun 1983/1984 dan tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. perluasan/rehabilitasi masingmasing 24 dan 25 gedung LP. beternak dan berwiraswasta. pendidikan keammaan.184 perkara atau sekitar 71 persen. Untuk menunjang sistem tersebut maka ditingkatkan pula pembangunan sarana penunjangnya.816 orang. serta renovasi LP menjadi rumah tahanan (Rutan) masing-masing 73 dan 79 gedung. Sedangkan dari 7. sistem pemasyarakatan yang ada diarahkan agar narapidana dan anak didik setelah selesai menjalani hukumannya.336 perkara atau sekitar 99 persen. pendidikan calon hakim sebanyak 210 orang. Berkaitan dengan pembinaan pemasyarakatan. latihan dan penataran. telah dilaksanakan pembangunan prasarana fisik berupa pembangunan baru/lanjutan masing-masing 22 dan 51 gedung lembaga pemasyarakatan (LP). pendidikan umum. serta guna pemantapan sikap dan kepekaannya terhadap perkembangan kesadaran hukum dan rasa keadilan masyarakat. serta program rekreasi/olahraga. telah dapat diselesaikan sebanyak 7.729 perkara at au sekitar 52 persen.746 perkara yang ada di mahkamah agung. serta perluasan/rehabilitasi gedung LP masingmasing sebanyak 162 gedung dan 224 gedung. bimbingan sosial. dan dari 703.042 perkara yang ada di kejaksaan telah dapat diselesaikan 698. Selain itu dalam periode yang sarna juga telah Departemen Keuangan RI 301 . mampu melanjutkan kehidupannya dengan wajar dan layak dalam masyarakat. keamanan dan ketertiban. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilanaparat penegak hukum. Di samping itu dalam waktu yang sarna juga telah dilakukan pembangunan balai bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak (Bispa) masingmasing 5 dan 9 gedung. telah diadakan pendidikan di sekolah. keterampilan perawatan dan pelayanan masyarakat. Sementara itu guna meningkatkan bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak. Kegiatan ini dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah diikuti oleh 3. telah dapat diselesaikan 5. Adapun pembinaan narapidana dan anak didik dilakukan melalui pembinaan spiritual. taat serta menghormati hukum dan norma-norma pergaulan hidup yang berlakudalam masyarakat.705 perkara atau sekitar 97 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengadilan negeri. Selain itu dari 14. telah diselenggarakan berbagai kegiatan pendidikan.297 perkara yang ada pada pengadilan tinggi. pembinaan pramuka. penataran panitera/panitera pengganti sebanyak 150 orang. pendidikan tenaga peneliti hukum sebanyak 30 orang. serta pendidikan perancang perundang-undangan sebanyak 70 orang. produktif. keuangan dan perlengkapan sebanyak 570 orang. telah dapat diselesaikan 747. yang meliputi penataran administrasi kepegawaian. dan agar dapat menjadi warga negara yang kreatif. serta keterampilan bertani.

047 orang asing. baik masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Banda Aceh. sehingga pembangunan ABRI akan selalu selaras dengan tingkat kemajuan pembangunan nasional. 8.034. Pertahanan dan keamanan Pembangunan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sampai dengan Pelita III telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kokoh dalam menuju angkatan bersenjata yang modern. Dalam rangka menanggulangi subversi.666 orang Indonesia dan 711.379 orang. Surakarta. Liku. 8. pengawasan orang asing dan lalu lintas ke dan dati luar negeri terus ditingkatkan.349 orang asing. orang yang masuk ke Indonesia adalah sebanyak 1. Dalam tahun 1983/1984 telah dilaksanakan pembangunan 8 gedung kantor imigrasi yang terletak di pelabuhan-pelabuhan Cengkareng. Berkaitan dengan itu penanganan bidang keimigrasian diarahkan untuk menunjang perkembangan yang terjadi di bidang-bidang tersebut. Jambi dan Banjarmasin. Pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan telah berkembang terus. maka baik frekuensi maupun volume lalu lintas orang dari dan ke luar negeri dari tahun ke tahun terus mengalarni peningkatan. Untuk mewujudkan usaha tersebut diperlukan prasarana dan sarana yang dati tahun ke tahun terus meningkat. terdiri dari 323. ketenagakerjaan. Siding. sehingga dapat menjadi kerangka landasan yang dapat diandalkan dan tahan uji. Demikian juga telah dilakukan rehabilitasi dan perluasan kantor imigrasi dan asrama tahanan imigrasi. di mana tiap-tiap warga negara berhak dan wajib Departemen Keuangan RI 302 . Sentani dan Kabil.713 orang. pengembangan pariwisata. terdiri 286.3. Sebatik.7.011. Senggih. Jagoi Babang. Dalam waktu yang sarna telah dibangun pula 11 pos imigrasi yang terletak di Sinabi. masing-masing sebanyak 12 gedung dan 1 gedung. tanpa mengabaikan segi pengawasannya agar tidak mengganggu stabilitas nasional. Keimigrasian Sejalan dengan perkembangan ekonomi dan hubungan antar negara. Ubruk. Di samping itu ABRI juga telah mampu mengamankan pembangunan nasional dan kedaulatan Negara RI. serta pelaksanaan ibadah keagamaan (haji dan umroh). Tanjung Priok.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dibangun 38 gedung Bispa dan renovasi LP menjadi Rutan sebanyak 152 gedung. Kerangka landasan tersebut mempunyai pengertian yang seluas-luasnya.6. Aruk. Dalam tahun 1983/1984. Padang. Sedangkan yang berangkat ke luar negeri berjumlah sebanyak 1.030 orang Indonesia dan 725. Tanjung Petak. Bupul.

termasuk di dalamnya sebagai kekuatan yang menjaga dan sekaligus menyegarkan demokrasi Pancasila. Dwi fungsi ABRI harus dilaksanakan sebaik-baiknya. komando dan pengendalian. kekuatan yang dibangun tetap dikonsentrasikan pada kekuatan kewilayahan yang lebih mempertegas dan memantapkan prinsip kesatuan wilayah Nusantara. yaitu dengan telah disahkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia. Sesuai dengan doktrin dasar nasional Wawasan Nusantara. dengan inti kekuatan darat yang didukung kekuatan laut dan kekuatan udara. Selama Pelita III telah berhasil dicapai tonggak baru dalam sejarah perkembangan ABRI. Politik pertahanan dan keamanan dimaksudkan untuk menjamin keamanan negara serta turut memelihara perdamaian dunia pada umumnya dan keamanan di kawasan Asia Tenggara khususnya. sekaligus sebagai pengayom dan pencipta rasa tenteram dan aman bagi lingkungan masyarakat. sedangkan strategi pertahanan dan keamanan ditujukan untuk mencegah dan menangkal gangguan keamanan dalam negeri. yang disertai dengan penyebaran kekuatan penangkal dan penempatan perbekalan dalam upaya menyesuaikan luas wilayah ke dalam strategi pagelaran kekuatan. Konsep pertahanan yang dikembangkan menyangkut pertahanan dan konsentrasi selektif sesuai dengan perkiraan keadaan. serta penyempumaan sistem dan manajemen. Di samping itu dalam rangka ketertiban masyarakat dan penegakan hukum. Dalam hubungan ini masalah utama yang telah mendapat perhatian semua pihak adalah pendayagunaan sumber daya nasional bagi upaya pertahanan keamanan negara. Implementasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 dalam bidang organisasi telah dilaksanakan melalui Keputusan Presiden Nomor 46 Tahun 1983 tentang Pokok-Pokok dan Susunan Organisasi Departemen Pertahanan dan Keputusan Presiden Nomor 60 Tahun 1983 tentang Pokok-Pokok Susunan Organisasi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. yang memerlukan koordinasi yang terus menerus antara semua pihak yang berkepentingan. yakni mencakup usaha untuk mendapatkan prajurit ABRI yang Departemen Keuangan RI 303 . pembangunan ABRI masih dipusatkan pada pembangunan personalnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ikut serta dalam usaha pembelaan negara. Selama dua Pelita yang lalu. ABRI menjadi seinakin mantap dalam mengemban tugas pokoknya. yaitu menjamin tetap tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. peralatan. agar ABRI dapat terus memikul tugas sejarahnya sebagai stabilisator dan dinamisator. Adapun pembangunan kekuatan pertahanan dan keamanan yang telah dilaksanakan adalah berupa peningkatan mutu personal. maka telah ditingkatkan mutu aparat kepolisian agar mampu hadir secara fisik. Dengan adanya undangundang tersebut. yang memberikan landasan hukum yang bersumber pada Undang-Undang Dasar 1945.

namun mampu melaksanakan tugas-tugas yang menjadi kewajibannya. Pembangunan kekuatan ABRI tersebut dilaksanakan untuk mewujudkan ABRI sebagai kekuatan yang kecil tetapi efektif. 82 Yonif. 6 Yonif Mar dan 10 Yonban Mar untuk TNI-AL. mulai dari pendidikan tamtama hingga pendidikan tinggi perwira. agar mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air. serta 102 Pesud. sehingga tingkat teknologi maju yang terus berkembang hams dapat dikuasai. yaitu kecil dalam jumlah dan sederhana dalam organisasi. 16 Kodam. serta Pabrik Roket Menang TNI-AU menjadi bagian dari divisi senjata PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. serta penyempurnaan fasilitas perawatan personal melalui pembangunan sistem pangkalan. Selanjutnya dilakukan juga penyempurnaan sistem pendidikan dan latihan ABRI. 47 Heli.838 orang Polri. Untuk menunjang usaha tersebut. sehingga pada akhirnya mampu berswasembada secara keseluruhan. 3. yang terdiri dari 216. dan yang memiliki kemampuan profesional yang cukup tinggi dalam bidangnya. 281 Kores.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 mewarisi jiwa dan semangat pejuang. Untuk menunjang usaha tersebut telah dilakukan kegiatan-kegiatan pokok. Penataran TNI-AL Surabaya menjadi PT Pabrik Kapal Indonesia. Usaha-usaha tersebut meliputi pengembangan Unit Industri Bahan Peledak TNI-AU menjadi Perum Dahana. Perindustrian TNI-AD (Pindad) menjadi PT Pindad. 41 Korem.833 orang. 2 Grup Sandha. Unit Survai dan Pemetaan TNI-AU menjadi Perum Penas. 33 Kowil. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. 25. 2 Grup Parako. Hal ini memerlukan daya pukul dan kecepatan bergerak yang tinggi. Di samping itu koordinasi antardepartemen. yang antara lain meliputi penyempurnaan sistem penerimaan anggota baru ABRI. yang sangat penting bagi pengembangan Departemen Keuangan RI 304 .944 orang TNI-AL. maka secara bertahap beberapa peralatan utama ABRI telah mulai diganti dengan yang lebih maju tingkat teknologinya. 53 Yonban. Sedangkan untuk Polri adalah mencakup 17 Kodak. Hal tersebut dimaksudkan agar mampu mengemban tugas pokok ABRI dalam lingkungan yang terus bergerak dinamis guna mengikuti gerak pertumbuhan pembangunan nasional. Untuk mengurangi ketergantungan peralatan ABRI pada luar negeri. Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio TNI-AU menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. dan 133. 58 kapal. dan 1 Yon Posgat untuk TNI-AU. 25 pesawat udara (Pesud).Angkatan 1945. Adapun kekuatan operasi tersebut meliputi 2 Brigif Linud.098 orang TNI-AU.003 orang TNI-AD .233 Kosek dan 56 Sat Brimob. 36. 292 Kodim dan 3215 Koramil untuk TN I-AD . maka telah digalakkan industri nasional dalam pembuatan komponen atau suku cadang peralatan utama ABRI. 14 Heli. Adapun kekuatan personal militer yang telah dimiliki sampai dengan triwulan IV tahun 1983/1984 adalah sebanyak 411. telah dilakukan peningkatan kekuatan operasi untuk masing-masing angkatan dan Polri.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 industri pertahanan keamanan. melakukan kontrol sosial yang konstruktif. Sejalan dengan itu. Guna meningkatkan peranan pers dalam pembangunan. dengan lebih meningkatkan pendayagunaan sarana penerangan seperti radio. memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional. serta meningkatkan pemeliharaan kesehatan bagi lingkungan. 8. Dengan adanya kegiatan tersebut. Penerangan Pembangunan di bidang penerangan terutama ditujukan untuk meningkatkan penerangan sampai ke desa-desa. Hal ini secara tidak langsung akan mendidik masyarakat pedesaan agar tidak mudah terpengaruh pada keinginan untuk melakukan urbanisasi. memasyarakatkan kebudayaan dan kepribadian Indonesia serta menggairahkan partisiposi masyarakat dalam pembangunan. Operasional penerangan Pembangunan operasional bidang penerangan dalam pelaksanaannya mencakup peningkatan peranan pusat penerangan masyarakat (Puspenmas). dan peningkatan jumlah frekuensi dari berbagai jenis kegiatan penerangan umum. film. mengembangkan sistem perekonomian yang lebih baik dengan mengutamakan asas gotong royong. yang dilakukan melalui penambahan sarana dan prasarana penerangan. Untuk itu melalui Puspenmas diberikan penerangan dan bimbingan.1. pameran dan media tradisional. yang pada gilirannya akan meningkatkan pula pendapatan atau kesejahteraannya. Untuk itu telah dilaksanakan berbagai kegiatan penerangan terutama yang bersifat menggelorakan semangat pengabdian dan perjuangan bangsa. pees. antara lain dengan memperkenalkan teknologi yang layak dan sesuai dengan perkembangan daerah pedesaan. baik yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan penerangan di dalam negeri maupun di luar negeri. serta memperluas komunikasi dan partisiposi masyarakat. masyarakat pedesaan diharapkan akan dapat menggali dan memanfaatkan sumber-sumber kekayaan yang ada di daerahnya. Guna Departemen Keuangan RI 305 . telah ditingkatkan pula peranserta masyarakat pedesaan dalam pembangunan. sehingga dapat menjalankan fungsinya dalam menyebarkan informasi yang obyektif.8. mengembangkan usaha bersama melalui sistem koperasi. 8. menyalurkan aspirasi rakyat. terus ditingkatkan pengembangan pers yang sehat. bebas dan bertanggung jawab.8. juga telah dimantapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 1983 tentang Pembentukan Dewan Pembina dan Pengelola Industri-industri Strategis dan Industri Pertahanan Keamanan. televisi.

dalam pembangunan gedung Puspenmas selalu dilengkapi dengan ruang aula. terutarna dalam rangka meningkatkan peranserta wanita dalam pembangunan. Sumatera Selatan. Timor Timur. baik melalui pameran di tingkat pusat. Jawa Tengah.135 unit dan 300 unit. Dengan demikian sampai dengan tahun pertama repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 pembangunan gedung Puspenmas telah mencapai 275 buah yang mencakup 27 ibu kota propinsi. Jambi. Bali dan Sulawesi Utara. serta mobil unit visual mini yang terdiri alas muviani darat dan muviani air. Sebagaimana halnya dengan Puspenmas. Di samping itu guna menunjang kelancaran pelaksanaan penerangan sampai ke desa-desa. Selain itu kegiatan tersebut juga berfungsi sebagai salah satu promosi hasil-hasil industri. yang untuk selanjutnya dapat menyebarluaskan materi siaran tersebut kepada masyarakat sebelum diterima dokumen lengkapnya. yaitu bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional. maupun di daerah-daerah sampai dengan tingkat kecarnatan yang dilaksanakan dengan pameran keliling. Sarnpai dengan akhir Pelita III. hiburan dan sarasehan/pentaloka. Pameran pembangunan di tingkat pusat dilakukan pada setiap tanggal 20 Mei. mobil unit panggung. Sampai dengan bulan Agustus 1984 tahun pertama Repelita IV. Nusa Tenggara Barat. Hal ini dimaksudkan agar para Jupen tersebut dapat memonitor siaran-siaran Pemerintah. Sulawesi Selatan. dalam meningkatkan mutu dan peranan juru penerang (Jupen) yang bertugas di kecamatan. mobil unit suara. yaitu meliputi mobil unit penerangan. Sehubungan dengan itu apabila dalam tahun 1983/1984 pembangunan gedung Puspenmas baru mencapai sebanyak 11 buah. dalarn tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Agustus 1984 telah menjadi sebanyak 25 buah yang tersebar pada 11 ibukota propinsi meliputi propinsi Jawa Timur. Riau. Jawa Barat. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 sebanyak 110 orang. jumlah Jupen wanita yang secara aktif ikut memberikan penerangan kepada kaum wanita di daerah-daerah pedesaan mencapai 380 orang. alat-alat duplikasi dan sarana mobilitas penerangan. terutama industri kecil.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menunjang usaha tersebut. yang dalarn penyelenggaraannya terutarna disesuaikan dengan momentum hari-hari bersejarah. Hal ini merupakan suatu kegiatan terpadu antara Pemerintah dengan unsur-unsur swasta. dan pada periode antara tanggal 21 Juni sarnpai dengan tanggal 21 Juli Departemen Keuangan RI 306 . yang antara lain meliputi peragaan visual. ruang perpustakaan. telah ditingkatkan pula penyediaan sarana mobilitas bagi para Jupen. Dalam waktu yang sama juga telah dilaksanakan usaha peningkatan mutu dan peranan daripada Jupen wanita. Salah satu kegiatan penerangan yang dilaksanakan secara langsung adalah pameran pembangunan. juga dilengkapi dengan berbagai sarana penerangan antara lain berupa radio kaset. penyediaan muviani darat dan muviani air masing-masing telah berjumlah sebanyak 3.

8. terutama yang mempunyai pengaruh langsung terhadap pembangunan di Indonesia. Indonesia Elyoum sebanyak 18. guna meningkatkan peranserta masyarakat dalam pembangunan maka dalam waktu yang sama telah diberikan 48. dan dunia internasional pada umumnya. Demikian pula halnya kepada masyarakat Indonesia di luar negeri. Sedangkan khusus untuk Timor Timur.000 eksemplar. telah diberikan pembinaan. Guna menunjang kebijaksanaan tersebut.000 eksemplar. perekaman. perlombaan bintang radio dan televisi.2. jumlah serta frekuensi paket penerangan ke luar negeri yang disalurkan melalui perwakilan-perwakilan Indonesia yang berada di luar negeri. Di sarnping itu juga telah diadakan kompetisi siaran pedesaan. bersamaan dengan peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. 8.8. OB Van dan gedung studio/pemancar. dewasa ini telah dilaksanakan pengudaraan pemancar gelombang pendek dengan kekuatan 250 kilowatt. serta penyelenggaraan siaran wanita dalam pembangunan. pameran pembangunan dilaksanakan pada setiap tanggal 17 Agustus. dalam tahun pertama Pelita IV antara lain telah dilaksanakan peningkatan sarana penyiaran. dan masyarakat asing yang tinggal di Indonesia. Sedangkan untuk tingkat propinsi. terutama yang ditujukan ke daerah-daerah Indonesia bagian timur dan Posifik Selatan. terus diusahakan peningkatan mutu.000 eksemplar brosur/ majalah yang terdiri atas 25 judul. isi. Selanjutnya guna meningkatkan kekuatan pemancar RRI. Dalam rangka meningkatkan citra Indonesia di luar negeri. Dengan demikian minat luar negeri terhadap pelaksanaan pembangunan di Indonesia diharapkan akan semakin meningkat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berupa Pekan Raya Jakarta. dalarn tahun 1983/1984 antara lain telah diterbitkan majalah Indonesia Today sebanyak 48. yang bersamaan dengan dilakukannya peringatan hari Kesaktian Pancasila. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama dan persahabatan bagi bangsa-bangsa di kawasan ASEAN khususnya.2. yang meliputi alat-alat studio/pemancar. baik melalui forum pertemuan/sarasehan maupun dengan pengadaan buku/brosur tentang pelaksanaan/perkembangan pembangunan di Indonesia. Pengembangan sarana penerangan 8. dilakukan pula pameran pembangunan untuk tingkat kabupaten/kotamadya. Dengan demikian sampai dengan bulan Agustus 1984.1. Selanjutnya pada setiap tanggal 1 Oktober. Radio Dalarn rangka meningkatkan frekuensi dan mutu siaran RRI. penyebaran kaset penerangan dan penyuluhan ke daerah-daerah.000 eksemplar dan Indonesia Spotlight On Event sebanyak 72. RRI telah memiliki 301 buah pemancar yang Departemen Keuangan RI 307 .

325 orang dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. baik mengenai mutu. Dengan demikian dalam pembinaan selanjutnya akan terus diusahakan agar di setiap desa di seluruh Indonesia terdapat sekurang-kurangnya 1 kelompok pendengar yang tergabung dalam Kelompencapir. terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. terutama dalam rangka menggali potensi seni budaya bangsa yang tersebar di berbagai daerah. isi maupun persentase siarannya. sampai dengan akhir Pelita III telah dapat diselesaikan pengembangan tahap pertama studio produksi TVRI di Jakarta. telah dibangun lagi 10 buah stasiun pemancar. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. Untuk meningkatkan peranserta masyarakat pedesaan dalam pembangunan. apabila dalam tahun 1983/1984 luas daerah jangkauannya baru mencapai 495. dilakukan secara terpadu dengan kelompok pembaca dan pemirsa (Kelompencapir).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tersebar pada 49 stasiun di seluruh Indonesia dengan kekuatan terpasang sekitar 2. Dari jumlah tersebut. Dalam pada itu jumlah pendengar siaran pedesaan juga telah meningkat sebesar 5. Sehubungan dengan perluasan jangkauan siaran TVRI.2. terdiri dari 244 jam per minggu yang disiarkan melalui 48 buah Radio Republik Indonesia (RRI) dan 240 jam per minggu yang disiarkan melalui 108 buah Radio Pemerintah Daerah (RPD). kemudian diikuti oleh kelompok pemuda dan kelompok wanita yang masing-masing mencapai 6. Medan dan Palembang.814 orang dan 5. Di samping itu juga telah dilaksanakan intensifikasi penggunaan stasiun produksi keliling dalam bentuk mobil unit. Dengan demikian secara keseluruhan jumlah stasiun pemancar TVRI yang berhasil dibangun sampai dengan periode tersebut telah mencapai 199 buah.8. Televisi Dalam rangka meningkatkan daya jangkau penerangan dan pengembangan siaran di seluruh pelosok tanah air melalui televisi. 8. yaitu dari 39. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. Kegiatan pembinaan kelompok pendengar siaran pedesaan.2.609 orang. Selanjutnya untuk meningkatkan sarana produksi dan jangkauan siaran TVRI. pengadaan 10 unit stasiun produksi keliling. jumlah jam siaran pedesaan telah ditingkatkan sehingga mencapai 484 jam dalam satu minggu.997 kilowatt.4 persen. serta pembangunan 189 stasiun pemancar.902 orang. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah meningkat menjadi Departemen Keuangan RI 308 .000 orang dalam tahun 1983/1984 menjadi 41. kelompok dewasa merupakan kelompok pendengar yang paling banyak yakni 28. sehingga pada gilirannya RRI akan dapat menyatu dan akrab dengan khalayak pendengarnya.609 kilometer. terus ditingkatkan siaran pedesaan baik mengenai mutu maupun isinya. pembangunan studio warna di Ujungpandang.

680 560 6.433.600 95.026 2.700 470 4.980 1976/77 4.100 1977/78 3. Selanjutnya dalam rangka peningkatan produksi film.020 2. yang sekaligus terkandung penertiban judulnya.030 650 12. TabeI VIII. yang berarti telah meningkat dengan 90.8 dan Tabel VIII.965 7.2 juta orang. Luas dalam jangkauan (Km2) 18.827 427. terus diusahakan terciptanya mekanisme kerjasama.740 4.000 82 1978/79 9 82 1.011 18. Sehubungan dengan itu.470 72.432 buah atau sebesar 1.906 18. mutu.261 514 25.420 7.000 34.000 1973/74 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 534. sedangkan film/rekaman video impor hanya berfungsi sebagai pelengkap. Guna mewujudkan iklim yang sehat bagi perkembangan industri perfilman dan rekaman video.461 731 15. Sedangkan jumlah pesawat televisi yang terdaftar pada kantor pos dan giro dalam tahun yang sama telah mencapai 5. Departemen Keuangan RI 309 .232 2.5 juta orang menjadi 115.011 18.719 1982/83 6.100 40.5 9 199 5.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.000 22.500 40 1973/74 6 22 351.600 73 1976/77 6 34 632. Kartini. Nopember 1828.5 1983/84 1984/85 2) 9 189 5. baik dalam memenuhi kebutuhan di dalam negeri maupun di luar negeri.965 Tabel VIII.9 1977/78 9 70 895.3.000 87 1981/82 9 124 2.126. Pesawat televisi (buah) 4.5 1971/72 4 8 190.940 174.000 36. 8 JUMLAH JAM SIARAN TELEVESI MENU RUT JENIS SIARAN.000 400.430 75.610 1.000 82 1979/80 9 89 1. dalam periode yang sama telah meningkat dari 95.405. 9 JUMLAH STUDIO. Jaka Sembung. 1969/1970 .500 26.100 80.500 90 1982/83 9 186 2.970 1972/73 930 800 270 2. STASI_N PEMANCAR.435 519 25. agar film/rekaman video produksi nasional dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.308 495.410 600 6.572 25.500 5.100.740 buah.000 419.740 534.9.600 95. PESAWAT TELEVISI.808 kilometer.160 512 25.500 36. komedi.900 1971/72 900 800 270 1. Perfilman nasional Peningkatan dan pembinaan bidang perfilman nasional terutama ditujukan untuk meningkatkan citra. Studio (buah) 2. 1969/1970 .433.508 17.000 85 1980/81 9 107 2. di Pusat Produksi Film Negara (PPFN) pada saat ini telah dan sedang di produksi film-film sejarah seperti Serangan Fajar.5 1974/75 6 23 410.439 11.578 1983/84 1984/85 1) 7.038 1979/80 5. seperti film drama.323 1981/82 6.631 1978/79 5.971.000 24. rasa persatuan dan tanggung jawab di antara organisasi profesi.1984/1985 Uraian 1.740 1970/71 800 800 300 1.030 1975/76 1.5 1972/73 4 10 220. Sehubungan dengan usaha regenerasi pewarisan nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa.8. Lebak Membara.519 17. action serta film khusus untuk anak-anak dan remaja.000 72. saling pengertian.915 17. Penduduk dalam daerah pancaran (juta orang) 1 ) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1969/70 2 4 80.890 495. Demikian pula jumlah penduduk yang telah terjangkau oleh siaran TVRI.504 25.343.944 18. jumlah produksi serta kelancaran peredaran dan pemasaran fIlm Indonesia.900 42 1975/76 6 26 542.435 519 25.719 1980/81 5.599.000 406. LUAS DAERAH DAN JUML_H PENDUDUK DALAM DAERAHPANCARAN TVRI.5 1970/71 3 4 135. Perkembangan sarana dan jumlah jam siaran TVRI menurut jenis siaran dapat diikuti pada Tabel VIII. maka kemampuan mekanisme tata peredaran film/rekaman video nasional terus ditingkatkan.808 115.2 8.lain Jumlah 1) Angka sementara 1969/70 680 800 260 1.232 2.180 229. Stasion pemancar (buah) 3.780 1974/75 3.2.1984/1985 Jam siaran Hiburan Berita/penerangan/ pendidikan /kebudayaan Lain .572 25. pelaksanaannya diarahkan pada tercapainya suatu keseimbangan di antara tema-tema fIlm yang diproduksi.

Selanjutnya untuk lebih memperkenalkan budaya bangsa Indonesia di luar negeri. selama Pelita III telah diikuti festival dan pekan film internasional di Manila.8. Sedangkan dalam tahun 1984 antara lain telah diselenggarakan Festival Film Indonesia (FFI) di Yogyakarta dan Festival Film ASEAN XIV di Jakarta. yaitu ke Malaysia. yaitu suatu film yang dalam penyajiannya menggunakan layar lebar dan membentuk 180?. sehingga dapat menampung penonton sebanyak 3 kali lebih besar dibandingkan dengan pertunjukan film yang dalam penyajiannya menggunakan teknik biasa. Sedangkan untuk peredaran di luar negeri me1alui 59 kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) telah disediakan 60 copy. 76 judul dan 40 judul. Cannes. Los Angeles dan Milano. di samping setiap tahun juga diikutsertakan dalam Festival Film Asia dan Festival Film ASEAN secara rutin. jumlah ekspor film Indonesia ke luar negeri telah mencapai sebanyak 22 judul. Dengan te1ah dilaksanakannya peningkatan di bidang pertunjukan. yang merupakan perubahan alas Un dangUndang No. 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Departemen Keuangan RI 310 . sejak tahun 1983/1984 PPFN telah diperkenalkan film Cinerama. Hongkong.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Kamp Tawanan Wanita. Selama Pelita III. terus ditingkatkan usaha menghidupkan film produksi nasional. di sampingjuga telah diproduksi film iklan. te1ah diproduksi film ceritera nasional sebanyak 337 judul yang berarti rata-rata dapat diproduksi sebanyak 67 judul per tahun. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah dihasilkan 46 judul. di samping juga sebagai film pendidikan bagi generasi muda. Berlin.2. Sementara itu guna meningkatkan usaha promosi dan pemasaran film Indonesia ke luar negeri.4. Kereta Api Terakhir dan Sejarah Orde Baru. disediakan 30 copy dengan perincian 27 copy untuk Daerah Tingkat I dan 3 copy untuk arsip nasional. Adapun film Sejarah Orde Baru dimaksudkan untuk meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap bahaya laten PKI. London. Selama Pelita III. 8. Se1anjutnya dalam rangka meningkatkan mutu penyajian film. Singapura dan Brunai. Selanjutnya agar film tersebut dapat mencapai peredaran di dalam negeri selama dua tahun. film-film Indonesia telah diikutsertakan dalam festival dan pekan film internasional. Pers Peningkatan pembinaan di bidang pers terutama ditandai dengan telah ditetapkannya Undang-Undang No. 21 Tahun 1982. masing-masing sebanyak 16 judul. Dalam hubungan ini. film dokumenter nasional dan film dokumenter/iklan yang dibuat orang asing. sejak tahun 1984/1985 diproduksikan fIlm dengan menggunakan sistem Imax yaitu suatu teknologi perfilman yang menggunakan sistem proyektor 70 mm/6 sound track.

Sehubungan dengan itu. Sementara itu guna meningkatkan pemerataan informasi ke daerah-daerah pedesaan. terus ditingkatkan penyelenggaraan forumforum dialog antara Pemerintah. 44 Tahun 1967. Selanjutnya sebagai pelaksanaannya telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No.9. Pembangunan desa. yaitu sebuah lembaga yang akan mendampingi Pemerintah dalam membina dan mengembangkan pers nasional. daerah tingkat I dan daerah tingkat II Kebijaksanaan yang ditempuh di bidang pembangunan daerah dalam tahun 1983/ 1984 merupakan kelanjutan dan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. secara bertahap telah ditingkatkan pelaksanaan program koran masuk desa (KMD) baik kualitas maupun kuantitas.675. sedangkan dari segi kuantitas peningkatannya nampak dari penambahan jumlah oplag. serta dalam rangka pelaksanaan interaksi positif. yang kemudian ditingkatkan melalui kegiatan kerjasama dengan berbagai lembaga. Sedangkan guna mengembangkan kebutuhan informasi. Sesuai dengan arab pembangunan daerah tersebut. maka dalam Pdita IV pembangunan pedesaan ditujukan untuk Departemen Keuangan RI 311 . sehingga dengan adanya KMD tersebut benar-benar akan dapat memberikan motivasi kepada masyarakat pedesaan untuk ikut berpatisiposi dalam pembangunan. Dari segi kualitas dicerminkan dalam peningkatan kemampuan mengelola KMD melalui penataran-penataran.9. Sejalan dengan Trilogi Pembangunan. 8. Selain itu sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No. serta peningkatan laju pertumbuhan setiap daerah.000 eksemplar melalui 16 penerbit.1 Tahun 1984 tentang Dewan Pers. dalam tahun 1983/1984 melalui program KMD telah dapat diedarkan koran sebanyak 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Undang-Undang No. Di samping itu guna meningkatkan pelaksanaan KMD telah dibentuk pula kelompokkelompok pembaca di daerah pedesaan.000 eksemplar dari 50 penerbit dan tersebar pada 26 propinsi. khususnya yang mempunyai hubungan secara langsung dengan tugas di bidang pembangunan desa.1. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah dapat diedarkan sebanyak 397. kegiatan tersebut antara lain ditujukan pada pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh tanah air. 21 Tahun 1982. terutama dalam mewujudkan adanya pers yang bebas dan bertanggung jawab. Bantuan pembangunan daerah 8. di samping itu juga untuk mempertebal semangat dan gairah partisiposi masyarakat dalam meningkatkan hasil guna dan clara guna kegiatan pembangunan di daerah. saat ini sedang dilaksanakan pembahasan rancangan perubahan mengenai Sural Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) oleh Dewan Pers. pers dan masyarakat.

Sedangkan untuk mendorong desa-desa agar lebih giat melaksanakan pembangunan desanya. berjumlah 11. antara lain penataran terhadap 1. telah diselenggarakan perlombaan desa. Sejalan dengan pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah tanah air. terbelakang.093 orang camat UDKP. dilakukan juga pembangunan desa melalui sistem Unit Daerah Kerja Pembangunan (UDKP). jumlah desa yang telah menjadi pemenang perlombaan desa. Sebagai hasilnya. serta rapat koordinasi pembangunan. Kepada desadesa yang mencapai prestasi tinggi dan menjadi pemenang perlombaan diberikan penghargaan dan hadiah dalam bentuk proyek. sedangkan pada Departemen Keuangan RI 312 . Selain itu di wilayah kecarnatan UDKP telah dilaksanakan pula berbagai kegiatan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan yang positif bagi desa-desa lainnya agar lebih giat melaksanakan pembangunan. yang merupakan satu sistem terkecil dalam administrasi pemerintahan dan ekonomi. diskusi UDKP dan temu karya LKMD di tingkat ke carnatan . rawan. baik di tingkat kabupaten/kotamadya maupun di tingkat propinsi.183 TKS-BUTSI. serta kursus bagi 3.429 kepala urusan pembangunan.385 desa yang telah menjadi desa swasembada. yang pada gilirannya akan dapat memantapkan ketahanan nasional. Sampai dengan tahun 1983/1984. Sejalan dengan itu telah dilaksanakan pula penempatan 1.045 kecamatan yang tersebar di 27 propinsi daerah tingkat I. Untuk itu telah dilakukan evaluasi terhadap tingkat perkembangan desa. sistem UDKP ini telah dilaksanakan pada 2. Dengan demikian kedudukan desa sebagai obyek pembangunan berubah menjadi subyek pembangunan yang berketahanan di semua bidang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 mempercepat pertumbuhan desa. desa-desa di 27 propinsi yang telah menjadi pemenang perlombaan desa kini dapat mengembangkan desanya secara lebih cepat dan baik. kecamatan UDKP rata-rata meningkat 6. menjadi desa swasembada.5 persen per tahun. yang disesuaikan dengan kebutuhan dasar masyarakat desa yang berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. atau suatu peningkatan rata-rata sebesar 3. agar kecamalan-kecamatan tersebut dapat berkembang sesuai dengan kecamatan lainnya. Melalui sistem UDKP. musyawarah LKMD. Usaha ini merupakan penerapan sistem penyusunan rencana daTi bawah. Hasil evaluasi dan monitoring di bidang perkembangan desa sampai dengan tahun 1984/1985 menunjukkan adanya 16.757 desa. pembangunan di wilayah kecamatan melalui sistem UDKP tersebut diutamakan pada kecamatan yang tergolong miskin. baik di tingkat kabupaten/kotamadya daerah tingkat II maupun di tingkat propinsi daerah tingkat I. minus. desa tingkat kecamatan dari 27 propinsi. karena dalam jangka panjang desa-desa di seluruh Indonesia akan dikembangkan menjadi desa swasembada.7 persen per tahun. jumlah desa swasembada pada. Sampai dengan tahun 1983/1984. serta berada di wilayah perbatasan/kepulauan dan radar penduduk.

pangan. Berkaitan dengan itu telah dilakukan survai pendahuluan tatadesa pada 1. dan bagi kader LKMD-KPD yang diikuti 57.237 orang. pemukiman kembali penduduk dan penciptaan lapangan kerja.876 kecamatan. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk latihan sosio drama yang diikuti oleh 9. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan fungsi LKMD. telah dilaksanakan pula penyuluhan dan peningkatan motivasi. Inpres. Sedangkan guna penerapan dan pengembangan teknologi pedesaan telah dilakukan identifikasi spesifik terhadap 46 jenis teknologi pedesaan yang telah berhasil diterapkan dan dikembangkan.297 LKMD dan kategori aktif berfungsi sebanyak 28. di samping juga penetapan dan pemilihan 63 orang perugas teknologi pedesaan (PL TP) dan 345 orang kader teknologi pedesaan. Dalam sistem UDKP tersebut.380 kelompok pendengar. terutama untuk desa-desa yang terbelakang. siaran pedesaan melalui RRI dengan 41. Selain kegiatan tersebut. telah diikuti oleh 42. Sampai dengan tahun 1983/1984.315 orang.488 orang. juga terkait kegiatan penerapan pola tatadesa dan pengembangan teknologi pedesaan. yaitu kategori posif sebanyak 10.207 LKMD. pertanian. Jumlah tersebut menurut tingkat perkembangannya dapat dike1ompokkan ke dalam 3 kategori. konstruksi dan material.755 LKMD percontohan yang diharapkan akan menjadi LKMD teladan. telah dibentuk pula lembaga ketahanan masyarakat desa (LKMD). sedangkan latihan guna meningkatkan keterampilan dalam pembangunan/pemugaran perumahan desa.ertambah dengan sebesar 3.2 persen per tahun. regional. telah dibentuk sebanyak 63. yakni meliputi bidang energi. dan swadaya masyarakat yang mengisi kecarnatan dengan sistem UDFY terse but rata-rata adalah sebanyak 25 proyek.040 kecamatan.698 LKMD atau sekitar 94.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kecamatan non UDKP rata-rata hanya b. telah dilaksanakan latihan bagi pelatih/instruktur PL-LKMD yang diikuti 6. Dalam pada itu peningkatan jumlah proyek/program sektoral. penerapan pola tatadesa di 672 desa. Melalui inpres bantuan pembangunan desa.4 persen dari 66. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan peranserta aktif swadaya masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan hidup dan pembangunan desanya. sampai dengan tahun 1983/1984 telah diberikan dana paket UDKP kepada 1. Selain itu guna mempercepat terwujudnya LKMD yang aktif berfungsi dalam pelaksanaan pembangunan. pementasan kegiatan LKMD melalui TVRI.194 LKMD. Adapun untuk pengembangan teknologi desa telah diberikan latihan kepada 734 orang anggota masyarakat.575 peserta dan kelompok kesenian rakyat. serta melalui penerbitan dan Departemen Keuangan RI 313 .448 desa yang ada di Indonesia. survai/pengkajian identifikasi masalah tatadesa di 6 kecarnatan yang meliputi 90 desa dan penyuluhan mengenai teknis pola tatadesa terhadap 216 tokoh masyarakat desa. kategori berkembang sebanyak 25. telah dikembangkan pula sebanyak 4.

terus ditingkatkan jumlah bantuan yang diberikan kepada setiap desa. Pemerintah daerah dan swadaya masyarakat.669 KK pada 5'Ollokasi di 21 propinsi. gorong-gorong. Dalam waktu yang sarna hasil pelaksanaan Inpres pembangunan desa telah mencakup 106.4 persen. pemasaran dan sosial. yang sampai dengan tahun 1983/1984 telah diikuti oleh 290.437 desa telah memperoleh bantuan sebesar Rp 91. bantuan diarahkan pada pembangunan baik prasarana fisik. sejak tahun 1972/1973 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dimukimkan kembali penduduk sebanyak 29.092 buah. Kegiatan lain yang erat kaitannya dengan pembinaan LKMD adalah pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan' bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan latihan/kursus bagi tim penggerak PKK tingkat propinsi dan kabupaten/kotamadya. yang terdiri atas prasarana produksi. 0. Bantuan tersebut ditujukan untuk penciptaan dan perluasan lapangan kerja di daerah-daerah. Untuk membantu pelaksanaan pembangunan di daerah tingkat II.3 persen. 3. Untuk itu dibentuk kaderkader PKK melalui penyelenggaraan kursus-kursus PKK. Di samping itu guna meningkatkan peranan masyarakat dalam menunjang program dasawarsa air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman. yakni melalui usaha perbaikan. telah dilakukan pula penyuluhan dan latihan bagi 21 orang petugas lapangan di Tangerang.583 buah dan 54. peningkatan dan pembangunan berbagai jenis prasarana fisiko perekonomian dan lingkungan. yakni dalam tahun 1976/1977 sampai dengan bulan Agustus 1984. masing-masing sebanyak 30.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penyebaran folder/poster/brosur-brosur penyuluhan.890 rumah yang tersebar pada 1. telah diberikan bantuan yang besarnya didasarkan atas jumlah penduduk. 'yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di daerah-daerah bersangkutan. yang diikuti oleh 2. jembatan. sehingga dalam tahun 1983/1984 sebanyak 66. Untuk meningkatkan taraf hidupdan kesejahteraan penduduk di pedesaan serta guna mempercepat pembangunan pedesaan. masing-masing sebesar 61. penggunaan bantuan tersebut diarahkan pada proyekproyek yang dapat memperbaiki lingkungan hidup perkotaan. Berkaitan dengan pemukiman kembali penduduk desa. bendungan.3 persen dan 38. 17.441 proyek.935 buah. terutama lingkungan hidup masyarakat yang berpenghasilan Departemen Keuangan RI 314 . Jawa Barat dan 32 orang di DI Yogyakarta. Untuk daerah perkotaan. Untuk mencapai tujuan tersebut.598 orang. maupun proyek-proyek lain seperti pengembangan potensi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan.831 buah.6 milyar. telah dilaksanakan pemugaran 46. dan saluran pembawa.896 lokasi/desa di 26 propinsi.430 orang meliputi 27 propinsi dan terdiri dari 54 kabupaten/kotamadya. Sedangkan sejak dimulainya kegiatan pemugaran perumahan dan lingkungan desa. perhubungan. Proyek-proyek tersebut dibangun melalui bantuan Pemerintah pusat. seperti jalan.

serta penghijauan dan pencegahan banjir. masing-masing sepanjang 61.707 meter.728. riol sepanjang 434. saluran pembawa sepanjang 13..7 kilometer.9.487 meterkubik.225.352. Sejalan dengan itu telah dibangun pula fasilitas eksploitasi sebanyak 3.928 hektar. dalam tahun 1983/1984 telah berhasil dilaksanakan penunjangan jalan sepanjang 7.414 kilometer. jasa dan pusat pemerintahan juga semakin besar.022 meter.9 kilometer dan bangunan pengairan lainnya sebanyak 664 buah yang dapat mengairi areal seluas 44. juga dimaksudkan untuk peningkatan pelayanan umum dan perbaikan Departemen Keuangan RI 315 .748.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rendah. masing-masing sepanjang 5. pembangunan jembatan sepanjang 14.415 kilometer. selain untuk pembangunan dan pengembangan terhadap kota tersebut.741. Tatakota dan tatadaerah Sejalan dengan proses pembangunan yang terus berlangsung. serta saluran pembawa dan pembuang. yang jumlah penduduk dan tingkat produktivitasnya cukup tinggi. selain juga untuk perbaikan dan penyempurnaan irigasi yang terdiri dari bendungan sebanyak 56 buah dan saluran sepanjang 280. serta tanggul banjir dan jaringan telepon.000. 8.5 meter. mulai tahun 1979/1980 diberikan pula bantuan penunjangan jalan kabupaten.1 kilometer dan 3.393.2. Sedangkan melalui dana Inpres bantuan pembangunan daerah tingkat I sebesar Rp 253.227 meter.321.3 kilometer. Selain itu juga telah dibangun pasar seluas 77.916. penunjangan jembatan sepanjang 5. stasiun bus dan pelabuhan sungai. telah dilakukan usaha pembinaan dan pengembangan perkotaan yang bertujuan. yang ditujukan untuk membantu daerah tingkat II untuk membangun jalan yang menghubungkan daerahdaerah terpencil.juta telah dibangun sebanyak 2. politik. Sementara itu dalam rangka pemeliharaan pengairan antara lain telah dilakukan pembangunan bangunan air sebanyak 112. Dalam tahun 1983/1984 telah dibangun prasarana perhubungan meliputi jalan sepanjang 17.6 kilometer.604 buah proyek.2 kilometer.174 hektar dan 6.8 kilometer dan 8. serta prasarana pengairan bernpa bendungan sejumlah 121. kegiatan ekonomi.4 hektar. dan jembatan sepanjang 27. Dengan semakin meningkatnya bantuan kepada Dati I.315 meterpersegi.880. maka pelaksanaan pembangunan daerah lebih meningkat lagi sesuai dengan prioritas kebutuhannya. Di samping bantuan pembangunan daerah tingkat II tersebut. masing-masing sebanyak 23 buah dan 11 buah. administrasi. serta penggantian gorong-gorong sepanjang 59. sosial.907 buah. masing-masing seluas 38. masing-masing sepanjang 7.2 kilometer dan 16. Dengan bantuan tersebut.082 buah. peranan kota sebagai pusat pemukiman. Oleh schab itu. Bantuan tersebut antara lain digunakan untuk pemeliharaan jalan dan jembatan. kebudayaan.658 meter.

tertib penggunaan tanah. Kota Banjar. 75 buah Badan Pengelola Air Minum (BPAM). Metro. Bima. Di samping itu juga dilakukan peningkatan kemampuan di bidang perencanaan kota melalui kursus yang diselenggarakan oleh Badan kerjasama Antar Kota Seluruh Indonesia (BKS-AKSI). Cibinong. Langsa. dan Bekasi. pendaftaran tanah. Selanjutnya dalam rangka pengembangan perkotaan telah dilakukan pula pembinaan kerjasama antara kotakota di dalam negeri. Pangkalan Brandan. baik dengan kota-kota di luar negeri maupun dengan organisasillembaga intemasional perkotaan di luar negeri. Kuala Kapuas. serta rencana induk kota Tangerang. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah terdapat sebanyak 136 buah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Untuk mencapai tujuan tersebut. 30 buah Dinas Air Minum dan 27 buah Seksi Air Minum. Selain itu telah dilakukan penelitian tentang reneana pembentukan kota administratif Sarong. serta tertib pemeliharaan tanah dan lingkungan. Sejalan dengan itu dilakukan pula persiapan penyusunan rencana kota yang dikaitkan dengan program bantuan bagi 57 kota. yang pengembangannya disesuaikan dengan pokok-pokok kebijaksanaan pengembangan wilayah Jabotabek. Kota Baru dan Amuntai. telah dilaksanakan pengumpulan data/bahan-bahan yang meneakup masalah air minum di seluruh Indonesia. pemberian bantuan teknis dan biaya dalam jumlah terbatas kepada daerah tingkat II yang akan melakukan reneana induk kotanya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kondisi lingkunganpemukiman yang aman. tertib administrasi pertanahan. telah dilakukan pula pembentukan kota administratif sebanyak 28 buah di seluruh Indonesia. Berkaitan dengan pembinaan pemerintahan kota. Curup. Rantau Prapat. Lhokseumawe dan Pariaman. Selain itu juga telah disusun kerangka acuan kerja bantuan teknik bagi kota Semarang (Semarang Raya). penyusunan raneangan peraturan Pemerintah mengenai pembentukan kota administratif Kota Bumi. Ujungpandang (Mamimasa Ora) dan Denpasar. Bontang. Untuk itu telah dilakukan penertiban dan peningkatan pengurusan hak-hak atas tanah. Atas dasar hasil pengumpulan data tersebut.9. pembinaan pengelolaan air minum dan pembinaan pemerim:ahan kota.005.3. Tata agraria dan tataguna tanah Kegiatan program tataagraria seiring dengan program tataguna tanah ditujukan untuk meneiptakan tertib hukum pertanahan. tertib da sehat bagi seluruh warganya. Sementara itu dalam pembinaan reneana kota telah dilakukan kegiatan pengembangan kota Metropolitan Jakarta yang meliputi penyusunan rencana induk kota DKI Jakarta tahun 1985 . Sampit. Dalam rangka pembinaan pengelolaan air minum. Palopo. ditempuh kebijaksanaan yang antara lain meliputi pembinaan reneana kota.2. 8. Watampone. pengembangan landreform serta Departemen Keuangan RI 316 . Lahat.

dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah diselesaikan sebanyak 34.494 ribu hektar dan 70. pemetaan kemampuan tanah.611.833. penguasaan. Program pembangunan tataguna tanah terutama diarahkan pada daerah-daerah minus dan padat penduduknya. dan monitoring rencana tataguna tanah Dati II di 250 kabupaten/kodya. serta pemetaan penggunaan tanah pedusunan dengan skala 1:200 ribu. juga telah diselesaikan penyusunan rencana tataguna tanah Dati II di 250 kodya/kabupaten.302 surat keputusan hak tanah.-. monitoring lokasi daerah miskin.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 proyek operasi nasional agraria (Prona). perhitungan produktivitas tanah. Adapun dari hasil penertiban dan peningkatan pengurusan hak-hak atas tanah.094 hektar. penertiban perjanjian bagi hasil pada 52 kabupaten.592 ribu hektar. dan pemilikan tanah.160 ribu hektar. Hasil yang dicapai di bidang pengembangan tataguna tanah sampai dengan Pelita III meliputi pembuatan peta kerja dengan skala 1:25 ribu seluas 7. serta ditujukan untuk peningkatan pelayanan terhadap penyiapan daerah transmigrasi. Selain itu juga mencakup peningkatan inventarisasi dan evaluasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup. serta peningkatan tertib administrasi landreform terhadap 80. masing-masing seluas 11. 1: 100 ribu. Departemen Keuangan RI 317 . Dalam tahun 1983/1984. Sementara itu telah dilakukan pemetaan penggunaan tanah perkotaan pada 64 kotamadya/kota administratif. pengembangan tataguna tanah pada umumnya merupakan kelanjutan daripada kegiatan tahun sebelumnya yang meliputi pembuatan peta kerja.281. 78.053 sural keputusan hak tanah dengan penerimaan negara sebesar Rp 6. perencanaan tataguna tanah Dati II. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Juli 1984 telah diselesaikan sebanyak 171.512. pemetaan kemampuan tanah dengan skala 1: 100 ribu dan 1:50 ribu. penyediaan sarana dan cara penataan kembali. dengan jumlah pemasukan uang kepada negara sebesar Rp 1. monitoring lokasi daerah miskin di 246 kabupaten. pemetaan penggunaan tanah perkotaan. masing-masing seluas 9.264 ribu hektar. serta pengendalian penggunaannya. penggunaan.760 ribu hektar. Sedangkan hasil-hasil yang telah dicapai dalam kegiatan pengembangan land reform sampai dengan akhir Pelita III antara lain meliputi identifikasi penguasaan pemilikan tanah pertanian pedesaan di 21 desa.652. pelaksanaan redistribusi tanah seluas 665.-.716. pemetaan penggunaan tanah pedusunan. serta monitoring rencana tataguna tanah Dati II.960 ribu hektar. 14. 194 kota kabupaten dan 485 kola kecamatan. Di samping pemetaan penggunaan tanah.088 ribu hektar dan 44.078 KK. perhifungan produktivitas tanah di 199 kabupaten. 1:50 ribu dan 1:25 ribu. penyelesaian sengketa sebanyak 114 kasus.

100 -314. PENERIMAAN DALAM NEGERI I. Pajak Penghasilan Minyak Bumi 2.010.Badan usaha swasta .700 -226.680.700 9.276.Hasil potongan penghasilan Pekerjaan .200 3. Penerimaan di Luar Minyak Bumi dan Gas Alam 1.680. Bea Masuk 3.100 7. Penerimaan Bukan Pajak B.Cukai lainnya 4.300 -570.2.297.046.900 4. Pajak Lainnya 7.368.000 JUMLAH 18.Ipeda 6.677. royalty Dan sebagainya.159. Penerimaan Minyak Bumi dan Gas Alam 1.666. Pajak penghasilan perseorangan .600 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Lampiran 1 PERKIRAAN PENERIMAAN NEGARA TAHUNANGGARAN 1985/1986 (dalam jutaan rupiah) JENIS PENERIMAAN A.518.479. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah 3.900 11.400 96.Hasil potongan bunga deviden.Badan usaha milik negara . Pajak Penghasilan 1. Pajak penghasilan badan .700 -658.300 101.100 963.000 -1.2.200 23. Pajak Ekspor 5.400 1.400 -294. 2.Cukai tembakau .074.000 797.700 167.600 2.000 -98.300 -865.Cukai . Bea Masuk dan Cukai 3.100 70.Hasil pungutan kegiatan usaha . Pajak Penghasilan Gas Alam II.900 4.Usaha dan pekerjaan 1.1.1. Bantuan Program 2. Bantuan Proyek JUMLAH 717.400 731.400 Departemen Keuangan RI 318 .200 1. PENERIMAAN PEMBANGUNAN 1.

. . 1.penertiban dan perluasan wajib pajak. II.1.peningkatan mutu aparat pajak. Pajak hasil potongan penghasilan pekerjaan Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : . PENERIMAAN DALAM NEGERI I.penertiban dan perluasan wajib pajak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 DASAR PERHITUNGAN UNTUK PERKlRAAN PENERIMAAN NEGARA RAPBN 1985/1986 A.7 milyar.3 juta barrel minyak mentah sehari.peningkatan kegiatan penagihan atas tunggakan-tunggakan pajakpenghasilan.1S9. maka diperkirakan penerimaan yang berasal dari pajak hasil potongan penghasilan pekerjaan dapat mencapai Rp 570. .1. . .peningkatan penghasilan masyarakat.peningkatan verifikasi sehingga dapat ditagih pajak yang seharusnya dipungut. Pajak penghasilan 1. . Berdasarkan hal-hat tersebut.perluasan dasar pengenaan pajak. PENERIMAAN MINYAK BUMI DAN GAS ALAM Faktor-faktor yang diperhitungkan : produksi minyak diperkirakan sebesar 1.timbulnya perusahaan-perusahaan baru dan perluasan perusahaan yang ada sehingga memperluas lapangan kerja. dan 100 ribu barrel kondensat sehari harga rata-rata ekspor minyak mentah Indonesia diperkirakan sebesar US $ 29.7 milyar.50 per barrel.penagihan yang lebih intensif atas tunggakan-tunggakan pajak. . . Berdasarkan pertimbangan di atas. PENERIMAAN DI LUAR MINYAK BUMI DAN GAS ALAM 1.batas pendapatan tidak kena pajak sesuai dengan UndangUndang Pajak Penghasilan. 1.1. . .1.peningkatan kesadaran dari para wajib pajak.perluasan dasar pengenaan pajak. .2. . . Pajak penghasilan usaha dan pekerjaan Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : . maka penerimaan minyak bumi dan gas alam diperkirakan sebesar Rp'11. 319 Departemen Keuangan RI .peningkatan penghasilan dan kegiatan usaha perseorangan.berkembangnya kegiatan usaha produksi dan perdagangan.penertiban dan perluasan jumlah wajib pajak dengan intensifikasi pemungutan melalui verifikasi yang mendalam.perluasan dasar pengenaan pajak. Pajak penghasilan perseorangan Faktor-faktor umum yang diperhitungkan : .

1.naiknya penghasilan perusahaan-perusahaan. Pajak penghasilan badan usaha swasta Dalam penerimaan ini termasuk pula pajak penghasilan atas laba yang/diperoleh badan aging yang ada di Indonesia. . royalty dan sebagainya.penagihan yang lebih intensif atas tunggakan-tunggakan pajak. 1. Pajak hasil pungutan kegiatan usaha Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : .4.peningkatan keuntungan daripada perusahaan negara. .pemeriksaan pembukuan yang lebih intensif atas jumlah laba perusahaan. Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas diperkirakan pajak penghasilan badan usaha milik negara sebesar Rp 658.3. 1. Berdasarkan faktor-faktor di atas.0 milyar. Pajak penghasilan badan Faktor-faktor umum yang diperhitungkan : . diperkirakin pajak penghasilan badan usaha swasta sejumlah Rp 1.berkembangnya kegiatan ekonomildunia usaha.perusahaan negara. . .timbulnya perusahaan-perusahaan baru. Berdasarkan faktor-faktor di atas. diperkirakan penerimaan pajak penghasilan usaha dan pekerjaan dapat mencapai jumlah Rp 226. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : .kesadaran wajib pajak yang semakin baik yang mendorong perusahaan untuk lebih terbuka dalam pembukuannya. maka diperkirakan dapat diperoleh pajak hasil pungutan kegiatan usaha sebesar Rp 314. .batas PTKP sesuai dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan.berkembangnya kegiatan usaha produksi dan perdagangan.2. . . 1.1 milyar.4 milyar.2.kegiatan usaba yang memperoleh pembayaran untuk barang dan jasa dari anggaran belanja negara.2. 1. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Departemen Keuangan RI 320 . .010. . . Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : . 1.penertiban dan perluasan jumlab wajib pajak.2. . dividen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 - pemeriksaan pembukuan yang lebih intensif atas jumlah laba perusahaan.2.kegiatan usaha di bidang impor.6 milyar. Pajak penghasilan badan usaha milik negara Faktor-faktor yang diperhitungkan : .2. .perluasan dasar pengenaan pajak.penertiban administrasi dan organisasi perusahaan .penertiban dan perluasan wajib pajak.peningkatan penghasilan dari badan-badan usaha swasta.intensifikasi pemungutan pajak. Pajak hasil potongan bunga.

0 persen.peningkatan clara beli masyarakat dengan naiknya pendapatan nasional. Berdasarkan hal-hat tersebut di alas. royalty dan sebagainya diperkirakan akan mencapai sebesar Rp 294. Berdasarkan faktor-faktor di atas maka penerimaan pajak hasil potongan bunga. diharapkan dapat diterima cukai tembakau sebesar Rp 865.666. Berdasarkan hal-hat tersebut.perkembangan perekonomian khususnya pacta sektor pertanian. dividen. cukai bir dan cukai alkohol sulingan. Departemen Keuangan RI 321 . . maka penerimaan bea masuk diperkirakan dapat mencapai Rp717.4 milyar Bea Masuk dan Cukai 3. .perluasan jumlah wajib pajak dan intensifikasi pemungutan melalui verifikasi yang lebih ketat atas penyerahan barang-barang dan jasa.1.1.impor yang dapat dikenakan bea masuk diperkirakan sekitar US $ 5. 3.2. Cukai 3. industri.1 milyar.2. Cukai lainnya Cukai lainnya terdiri dari cukai gula.2.0 milyar 3.1 milyar.penyelesaian tunggakan-tunggakan cukai. . 3. pembayaran bunga dan royalty.tarip rata-rata bea masuk diperkirakan sebesar 13. .peningkatan usaha pemungutan cukai berupa penyerasian pita cukai dengan perkembangan harga jualnya. .peningkatan produksi rokok dan hasil-hasil tembakau lainnya. Bea masuk Perkiraan penerimaan bea masuk didasarkan alas hal-hat sebagai berikut: . . Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan adalah : .2 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 - verifikasi yang intensif terhadap perusahaan-perusahaan dalam hal pembagian dividen.2.pencegahan dan pemberantasan pita rokok palsu dan rokok tidak berpita cukai. perdagangan dan jasa. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah. .perkembangan tata niaga impor. . Cukai tembakau Hal-hal yang dapat mempengaruhi penerimaan cukai tembakau adalah : .verifikasi yang lebih cermat alas perusahaan-perusahaan rokok. Berdasarkan hal-hal tersebut maka penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah diperkirakan mencapai Rp 1. . 2.pengenaan pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM)..

4milyar. .peningkatan kegiatan dan transaksi ekonomi yang dapat dikenakan bea meterai. Berdasarkan hal-hal tersebut. . maka penerimaan pajak ekspor diperkirakan sebesar Rp 101. Pajak Lainnya Jenis penerimaan ini meliputi pajak kekayaan. Dengan memperhitungkan hal-hal tersebut maka penerimaan pajak lainnya diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 96.4 milyar.3 milyar. 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Hal-hal yang dapat meningkatkan penerimaan adalah : . .pengawasan yang lebih ketat atas pemakaian bea meterai. 7. .peningkatan daripada nilai obyek Ipeda sejalan dengan kegiatan pembangunan. . Penerimaan Bukan Pajak Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan adalah : . Departemen Keuangan RI 322 .penyempurnaan dan peningkatan efektivitas dalam penggunaan kantor lelang. bea meterai dan bea lelang.intensifikasi pemungutan cukai dan penyesuaian harga dasar sesuai dengan perkembangan ekonomi. Dengan faktor-faktor tersebut diperkirakan akan diterima penerimaan bukan pajak sebesar Rp731. maka cukai lainnya diperkirakan akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp 98.ekspor di luar minyak diperkirakan sebesar US $ 7. Dengan dasar perhitungan tersebut. 4.naiknya nilai kekayaan sejalan dengan naiknya penghasilan.intensifikasi pemungutan meliputi pokok pengenaan dalam tahun berjalan dan penagihan atas tunggakan hutang Ipeda tahun-tahun sebelumnya. . Pajak Ekspor Dasar perhitungan pajak ekspor adalah sebagai berikut : . Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Perkiraan penerimaannya didasarkan atas hal-hal sebagai berikut : .perluasan wajib pajak dan intensifikasi pemungutan pajak.peningkatan produksi gula. . maka penerimaan Ipeda diperkirakan akan mencapai jumlah sebesar Rp 167.9 milyar.peningkatan batas kekayaan yang tidak kena pajak. .0 milyar.verifikasi dan pengawasan yang lebih baik atas penyetoran daripada penerimaan departemen-departemen. luran Pembangunan Daerah Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : .penyesuaian tarip pajak kekayaan dan bea meterai. . .usaha intensifikasi dan ekstensifikasi daripada sumber-sumber penerimaan. .penertiban administrasi perusahaan negara dan bank milik negara dalam rangka meningkatkan penerimaan.berkembangnya kegiatan ekonomi.7 milyar. 6.

380.1 3.355.6 5 5.646.920.3 4.754.00 21.377.00 31.464.00 6.523.979.9 milyar.075.2 2 2.00 14.225.00 22.1 3 3.00 5.100.00 40.1 4.2 milyar.00 13.542.00 2.1 6.685.440. PENERIMAAN PEMBANGUNAN Perkiraan penerimaan bantuan program dan bantuan proyek adalah sebagai berikut : bantuan program dalam tahun anggaran 1985/1986 diperkirakan sebesar Rp 70.665.112.2 6 6.00 15.563.534.298.1 1.398.00 590.00 13.00 8.247.446.2 4 4.00 83. DESA DAN KOTA J umlah 50.636.952.00 15.00 Departemen Keuangan RI 323 .4 4.408.5 4.2 7 Sektor/Sub Sektor SEKTOR PERTANIAN DAN PEN GAl RAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri SEKTOR PERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Sub Sektor Energi SEKTOR PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor Perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi SEKTOR REGIONAL DAN DAERAH/PEMBANGUNAN DAERAH.00 42.550.297.00 15.160.991.990.652.754.715.368.878.00 1.602.170. Lampiran 2 ANGGARAN BELANJA RUTIN 1985/1986 DIPERINCI MENU RUT SEKTOR 1 SUB SEKTOR ( dalam ribuan rupiah) Nomor Kode 1 1. realisasi (disbursement) dalam tahun 1985/1986 dari komitmen bantuan proyek tahun-tahun yang lalu dan tahun 1985/1986 diperkirakan sebesar Rp 4.2 4.132.893.122.237.00 405.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 B.00 6.440.1 5.919.00 36.

778.943.803.596.218.00 4.636.155.464.00 642. PERANAN WANITA.510.521.634.00 1.316.1 16.196.1 8 8.1 13 13.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode 7.158.1 14 14.850.00 74.596.453.000.00 12.295.604.685.00 6.00 34.1 10.00 34.3 11 11.00 129.1 Sektor/Sub Sektor Kota SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama SEKTOR PENDIDIKAN.453. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedlinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa SEKTOR KESEHATAN.803.00 46. GENERASI MUDA.00 4.1 9.00 23.00 10 10.3 116. PERS DAN KOMUNlKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.1 15 15.00 1.2 16.928.930.649.447.00 9 9.187.392.399.074.850.1 12 12.00 50.521. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kepencluclukan dan Keluarga Berencana SEKTOR PERUMAHAN RAKY AT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional SEKTOR PENERANGAN.500.00 Departemen Keuangan RI 324 .408.00 17.00 16.470.316.889.928.618.941. Pers dan Komunikasi Sosial PENELITIAN Sub Sektor Penelitian SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah Sub Sektor Lembaga Tertinggi Tinggi Negara Sub Sektor Keuangan Negara JUMLAH Jumlah 2.154.600.1 16 16.600.943.331.2 10.000.261. KESEJAHTERAAN SOSIAL.00 6.269.662.2 9.00 6.500.500.00 129.3 665.154.662.100.00 46.848.00 9.00 50.00 618.618.392.

000 170.623.320.000 60.000 14.000 95.392.363.931.704.000 365.000 45.531.000 58.430.000 199.000 217.000 238.000 30.000 1.000 Jumlah 1.800.4 4.000 Nomor Kode 1 1.000 826.1 6.000 76.000 109.000 71.425.324.850.000 258.000 900.975.000 68.000.1 3.486.469.095.000 16.2 Departemen Keuangan RI 325 .795.301.000 28.350.000 9.000 543.000 263.903.795.230.5 4.788.025.993.623.141.536.257.1 4.000 676.000 539.2 4 4.000 111. Kredit Ekspor dan obligasi Sektor/Sub Sektor SEKTOR PERTANIAN DAN PENGAIRAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri SEKTORPERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor pertambangan Sub Sektor Energi SEKTORPERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi Rupiah 957.000 52.000 12.864.291.000 128.2 2 2.000 472.000 209.580.679.000 62.1 5.818.739.000 265.000 111.000 70.494.000 543.000 655.045.1 1.000 691.000 179.000 28.000 578.289.3 4.050.000 38.509.189.000 789.141.359.000 469.000 1.545.125.000 68.194.683.462.040.000 635.043.000 108.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Lampiran 3 ANGGARAN BELANJA PEMBANGUNAN 1985/1986 DIPERINCI MENURUT SEKTOR/SUB SEKTOR ( dalam ribuan rupiah ) Nilai Rupiah Proyek/ Teknis.971.365.212.831.658.000 136.492.518.000 1.830.000 274.531.294.000 98.000 529.000 621.913.532.000 275.6 5 5.012.000 80.195.900.000 190.518.000 1.000 256.1 3 3.2 6 6.2 4.462.000 655.

092.308.720.000 10 10.595.595.1 10.000 80.720.846.903.000 437.641.273.540.000 109.000 79.1 303.000 163.158.000 18.885.000 Departemen Keuangan RI 326 .867.000 413.006.126. Kredit Ekspor dan obligasi 25.000 237.885.000 842.000 63.000 58.001.1 9.232.000 63.000 100. PERANAN WANITA.120.092.822.321.774.000 437.000 Nilai Rupiah Proyek/ Teknis.000 1.860.903.000 63.510.3 31.845.2 10.361.000 16.595.000 1.000 Jumlah 868.867.334.000 817.987.000 2.334.000 9.000.000 189.628.774.000 868.000 47.000 65.3 11 11.1 9 SEKTORPEMBANGUNAN DAERAH.409.000 273.219.962.595.2 9.000 1. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa SEKTOR KESEHATAN.1 12 12.000 163.000 254.000 1. DESA DAN KOTA Sub Sektor Pembangunan Daerah.000 102. KESEJAHTERAAN SOSIAL.000 273.000 25.553.092.000 55.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode Sektor/Sub Sektor Rupiah 7 7.641.493.000 42.135. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGABERENCANA Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kependudukan dan Keluarga Berencana SEKTORPERUMAHAN RAKYAT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum 842.000 83.1 8 8.362.000 79.000 80. Desa dan Kota SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama SEKTOR PENDlDlKAN.000 817.000 58.000 203.219. GENERASI MUDA.000 63.

687.210.000 318.000 395.274.000 217.000 165.2 16 16.000 69. TEKNOLOGI DAN PENELITIAN Sub Sektor Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sub Sektor Penelitian SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah SEKTORPENGEMBANGAN DUNIA USAHA Sub Sektor Pegembangan Dunia Usaha SEKTOR SUMBER ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Sub Sektor Sumber Alam dan Lingkungan Hidup JUMLAH 395.000 18.189.000 174.687.000 49.572.000 217.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode Sektor/Sub Sektor Rupiah Nitai Rupiah Bantuan Proyek/ Teknis.361.297.000 176.000 93.000 176.000 35.115.361.415.064.147.000 11.000 714.114. PERS DAN KOMUNIKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.000 229.000 74.000 93.000 165.242.873. 18.281.000 259.000 6.147.327.000 Departemen Keuangan RI 327 .313.000 34.000 174.189.000.383.938.000 207. Kredit Eksgor dan obligasi 318.000 67.000 229.210.555.000 49.828.000 99.1 17 17.1 SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional SEKTOR PENERANGAN.000 2.000 2.000 67.274.102.000 4.873.349.1 15 15.441.000 39.647.000 259.000 J umlah 13 13.1 15. Pers dan Komunikasi Sosial SEKTOR ILMU PENGETAHUAN.828.441.114.000 133.1 14 14.000 18.000 138.000 10.200.064.000 11.854.115.523.572.000 714.1 18.854.327.800.

dan sekaligus untuk meletakkan landasan bagi usahausaha pembangunan selanjutnya. Pasal 5 ayat (1). Menimbang : a. bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk Tahun Anggaran 1985/1986 sebagai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun kedua dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun IV. Pasal 20 ayat (1). bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/ 1986 pada dasarnya merupakan rencana kerja Pemerintah dalam rangka pelaksanaan tahun kedua rencana tahunan Pembangunan Lima Tahun IV dan di samping itu dimaksudkan pula untuk memelihara dan meneruskan hasil-hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan pembangunan sejak Pembangunan Lima Tahun I sampai dengan tahun pertama Pembangunan Lima Tahun IV. dan untuk lebih menjaga kelangsungan jalannya pembangunan maka dalam Undang-undang tersebut diatur pula ten tang saldo-anggaran-Iebih dan sisa kredit anggaran proyek-proyek pada anggaran pembangunan Tahun Anggaran 1985/1986. 1. 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Indische Comptabiliteitswet (Staatsblad tahun 1925 Nomor 448) sebagaimana telah beberapa kali diubah. terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1968 tentang Perubahan Posal 7 Indische Comptabiliteitswet (Lembaran Negara Tahun 1968 Nomor 53). dan Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Mengingat : Departemen Keuangan RI 328 . b. tetap disusun dengan mengikuti prioritas nasional sebagaimana ditetapkan di dalam Pola Umum Pembangunan Lima Tahun IV yang tercantum dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. c. bahwa sehubungan dengan itu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 perlu diatur dengan Undang-undang.

046.368.000. Perincian pendapatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) berturut-turut dimuat dalam Lampiran I dan Lampiran II.000.000.00. Perincian pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Jan ayat (3) berturut-turut dimuat dalam Lampiran III dan Lampiran IV.000. Pasal 2 (1) Anggaran Belanja Tahun Anggaran 1985/1986 terdiri atas : a.00.00.000. b.000.000.046.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA. MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/ 1986.100. (4) (5) Departemen Keuangan RI 329 .00. Pendapatan Pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b menurut perkiraan berjumlah Rp 4.00.677.000.647.000. Anggaran Belanja Rutin.000.900. Anggaran Belanja Pembangunan. Anggaran Belanja Pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b menurut perkiraan berjumlah Rp 10.000. Sumber-sumber Anggaran Pembangunan.000.000. b. Jumlah seluruh Anggaran Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 menurut perkiraan berjumlah Rp 23. (2) (3) Pendapatan Rutin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a menurut perkiraan berjumlah Rp 18. Sumber-sumber Anggaran Rutin.000. Pasal l (1) Pendapatan Negara Tahun Anggaran 1985/1986 diperoleh dari : a. sedangkan perincian lebih lanjut sampai pada kegiatan ditentukan dengan Keputusan Presiden. Perincian dalam Lampiran III sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memuat sektor dan sub sektor. (2) (3) (4) (5) (6) Anggaran Belanja Rutin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a menurut perkiraan berjumlah Rp 12.000:000.399. Jumlah seluruh pendapatan Negara Tahun Anggaran 1985/1986 menurut perkiraan berjumlah Rp 23.00.

(3) (4) Dalam laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) disusun prognosa untuk 6 (enam) bulan berikutnya. Sisa kredit anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebelum ditambahkan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1986/1987 terlebih dahulu diperiksa dan dinyatakan kebenarannya oleh Menteri Keuangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (7) Perincian dalam Lampiran IV sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memuat sektor dan sub sektor. Perkembangan Lalu-lintas Pembayaran Luar Negeri. Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan Badan Pemeriksa Keuangan selambat-Iambatnya pada akhir triwulan I Tahun Anggaran 1986/1987. b. Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dibahas bersama oleh Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Kebijaksanaan Perkreditan. d. dengan Peraturan Pemerintah dipindahkan kepada Tahun Anggaran 1986/1987 dengan menambahkannya kepada kredit anggaran Tahun Anggaran 1986/1987. (2) (3) (4) (5) Departemen Keuangan RI 330 . Anggaran Pendapatan Pembangunan. Anggaran Pendapatan Rutin. Pasal 3 (1) Pada pertengahan Tahun Anggaran dibuat a. Penyesuaian anggaran dengan perkembangan/perubahan keadaan dibahas bersama oleh Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyatakan pula. bahwa sisa kredit anggaran yang ditambahkan itu dikurangkan dari kredit anggaran Tahun Anggaran 1985/1986. c. Pasal 4 (5) (1) Kredit anggaran proyek-proyek pada Anggaran Belanja Pembangunan Tahun Anggaran 1985/1986 yang pada akhir Tahun Anggaran menunjukkan sisa. Saldo-anggaran-Iebih Tahun Anggaran 1985/1986 ditambahkan kepada anggaran Tahun Anggaran 1986/1987 dan dipergunakan untuk membiayai Anggaran Belanja Pembangunan Tahun Anggaran 1986/1987. (2) Pada pertengahan Tahun Anggaran dibuat laporan realisasi mengenal : a. b. Anggaran Belanja Pembangunan. sedangkan perincian lebih lanjut sampai pada proyek-proyek ditentukan dengan Keputusan Presiden. Anggaran Belanja Rutin.

SR. Perhitungan Anggaran Negara sebagaimana dim. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indoneia. susunan. SUDHARMONO. Departemen Keuangan RI 331 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pasal 5 Selambat-Iambatnya pada akhir Tahun Anggaran 1985/1986 oleh Pemerintah diajukan Rancangan Undang-undang tentang Tambahan dan Perubahan alas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 berdasarkan tambahan dan perubahan sebagai hasil penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (5) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.aksud dalam ayat (1) setelah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan disampaikan oleh Pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat selambat-lambatnya 3 (tiga) tahun setelah Tahun Anggaran yang bersangkutan berakhir. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 7 Ketentuan-ketentuan dalam Indische Comptabiliteitswet (Undang-undang Perbendaharaan) yang hertentangan dengan bentuk. Pasal 8 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal l April 1985. (2) SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI/SEKRET ARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Disahkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 6 (1) Setelah Tahun Anggaran 1985/1986 berakhir dibuat perhitungan anggaran mengenai pelaksanaan anggaran yang bersangkutan. dan isi Undangundang ini dinyatakan tidak berlaku.

Adapun bantuan pembangunan kepada Desa. pertumbuhan ekonomi yang cukup ringgi. antara lain melalui penyempurnaan sistem perpajakan. dan tahun berjalan. dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri. sosial budaya. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 mengikuri prioritas nasional sebagaimana ditetapkan di dalam Pola Umum Pelita Keempat. dan Daerah Tingkat I. khususnya Pola Umum Pelita Keempat.1fat yang makin mampu dan bersih. makin diringkatkan sepadan. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. dan agar saling menunjang dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh pembangunan bidang ekonomi. Departemen Keuangan RI 332 . Sejalan dengan prioritas pembangunan di bidang ekonomi. Anggaran berimbang yang dinamis perlu disertai penyempurnaan pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara agar penerimaan negara makin meningkat. seperti pengembangan sarana kesehatan. yang akan terus dikembangkan dalam Pelitaj'elita selanjutnya. antara lain untuk terus mendayagunakan aparatur negara agar lebih mampu melaksanakan tugas yang kian meningkat sesuai dengan perkembangan pelaksanaan pembangunan. yakni pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. baik industri berat maupun industri ringan. prasarana jalan. Keriga unsur Trilogi Pembangunan tersebut saling kaitmengkait. di samping memelihara hasil-hasil pembangunan. Selanjutnya diperlukan pula pengeluaran untuk tugas umum Pemerintahan. Prioritas diletakkan pada pembangunan di bidang ekonomi dengan ririk berat pada sektor pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha memantapkan swasembada pangan. pembangunan di bidang polirik. yang disertai dengan pemungutan pajak yang lebih intensif. maka pengeluaran terutama ditujukan untuk menyelesaikan proyek-proyek. sehingga peranan Tabungan Pemerintab di dalam anggaran pembangunan dapat lebih ditingkatkan lagi. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. pertahanan keamanan. Peningkatan penerimaan negara diutamakan dari sumber-sumber di luar miIiyak bumi dan gas alam. maupun dari tahun-tahun sebelumnya. dan perlu tetap dikembangkan secara serasi agar saling memperkuat. Di bidang pengeluaran.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 RANCANGAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TEN TANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/1986 UMUM Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 adalah anggaran pendapatan dan belanja negara tahun kedua dalam rangka pelaksanaan REPELITA IV. dan ap. sedangkan pengeluaran negara makin terkendali dan terarah. Daerah Tingkat II. serta bantuan pembangunan lainnya. dan lain-lain. kebijaksanaan dalam pelaksanaan pembangunan didasarkan kepada Trilogi Pembangunan. Sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara.

sisa kredit anggaran proyekproyek pada anggaran pembangunan dan saldo-anggaran-Iebih Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 ditambahkan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1986/1987. Selanjutnya. dilakukan dengan persetujuan Presiden. serta bidangbidang lainnya. agar biaya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal sesuai dengan kebijaksanaan anggaran. bahwa kestabilan moneter. yang diharapkan dapat menambah penyediaan dan perluasan lapangan kerja. serta mengurangi tekanan pengangguran. Ayat (2) Masalah kebijaksanaan kredit dan lalu lintas pembayaran luar negeri sebagian besar berada di sektor bukan Pemerintah. maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 disusun berdasarkan asumsi-asumsi umum sebagai berikut : a. dilakukan dengan Undang-undang. dilanjutkan sehingga secara keseluruhan dapat terus menggerakkan dan meratakan pembangunan daerah. baik dalam anggaran belanja rutin. Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas. maupun dalam anggaran belanja pembangunan. . khususnya yang berasal dari sektor perdagangan internasional dapat mencapai target yang telah ditetapkan. terus pula dilaksanakan pembangunan di bidang pendidikan. sehingga untuk itu dibuat dalam bentuk prognosa. tersedianyabarang-barang kebutuhan pokok sehari-hari yang cukup tersebar merata dengan harga yang stabil dan terjangkau oleh rakyat banyak. serta antar program dan antar proyek dalam anggaran belanja pembangunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan penghutanan kembali tanah kritis. dan sektor penerimaan negara masih dipengaruhi oleh perekonomian dunia yang belum menunjukkan kepulihan yang berarti. Pasal 2 Cukup jelas. agar tercapai keserasian dan keselarasan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Departemen Keuangan RI 333 . Dalam rangka kesinambungan kegiatan pembangunan. sedangkan penggeseran antar sektor dan antar sub sektor. b. Oleh sebab itu penyusunan kebijaksanaan kredit dan devisa dalam benruk dan ani seperti anggaran rutin dan anggaran pembangunan sukar untuk dilaksanakan. dapat terus dipertahankan bahwa penerimaan negara. Di samping itu. maka penggeseran antar program dan antar kegiatan dalam anggaran belanja rutin. c. bahwa keadaan perekonomian Indonesia khususnya sektor perdagangan internasional. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas.

Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. maka pengajuannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan selambat-lambatnya pada akhir Tahun Anggaran 1985/1986.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Ayat (3) Cukup jelas. Departemen Keuangan RI 334 . Pasal 5 Pasal ini menentukan bahwa jika diperlukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tambahan dan Peru bahan. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 6 Perhitungan Anggaran Negara sebagaimana dimaksud dalam Posal ini disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dalam benruk dan susunan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan persetujuan Badan Pemeriksa Keuangan. Pasal 7 Cukup jelas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->