NOTA KEUANGAN DAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN 1985/1986

REPUBLIK INDONESIA

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

BAB I UMUM

Telah merupakan suatu kenyataan sejarah bahwa perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang mengarah kepada kemajuan suatu bangsa, senantiasa mensyaratkan adanya perjuangan dan membawa serta perubahan-perubahan dalam berbagai segi dan dimensi kehidupan. Sebagai suatu rangkaian pembaharuan pada berbagai tingkat perimbangannya, perjuangan yang merupakan pengejawantahan ideologi negara dan pandangan hidup bangsa selalu menuju ke suatu bentuk, dan tatanan kehidupan masyarakat yang dinamis dan lebih baik. Sejarah telah mengajarkan bahwa perjuangan untuk mencapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang makmur dan sejahtera, bukanlah suatu perjuangan tanpa pengorbanan. Mengikuti liku-liku perjalanan sejarah Indonesia akan terlihat betapa generasi demi generasi telah menyemarakkan persada nusantara dengan berbagai pengorbanan, mulai dari perjuangan untuk menghimpun rakyat Indonesia menjadi satu bangsa, bersatu padu dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjamin kelestarian eksistensinya, sampai kepada usaha besar bangsa Indonesia untuk membangun suatu masyarakat sejahtera yang berkeadilan, masyarakat Pancasila. Limabelas tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah memancangkan tonggak sejarah bagi dimulainya suatu babak baru dalam kelanjutan perjuangannya. Bagi bangsa Indonesia, babak itu merupakan garis pemisah antara kecenderungan yang serba sepihak, liberal ataupun terpimpin, dengan sikap yang mengacu kepada keseimbangan, keserasian dan keselarasan yang bersumber pada pemahaman Pancasila secara utuh dan menyeluruh. Alur perjalanan sejarah yang demikian itulah yang terus diusahakan agar menjelma menjadi kenyataan tahap demi tahap sesuai dengan rencana, dan pengutamaan yang selaras dengan perkembangan kesanggupan bangsa. Kini bangsa Indonesia tengah berada diambang pintu tahun kedua Repelita IV, suatu tahap pembangunan yang telah semakin mendekatkan rakyat Indonesia kepada cita-cita perjuangan. Repelita IV bukanlah semata merupakan kelanjutan dan peningkatan dari PelitaPelita sebelumnya, melainkan juga mempunyai posisi yang penting dan menentukan bagi terciptanya kerangka landasan pembangunan nasional. Keberhasilan Repelita IV akan memungkinkan terlaksananya tahap pemantapan kerangka landasan dalam Repelita V dan tahap tinggal landas dal3:m Repelita VI, untuk memacu pembangunan menuju masyarakat adil dan
Departemen Keuangan RI

2

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

makmur berdasarkan Pancasila. Untuk menciptakan kerangka landasan pembangunan tersebut, perlu diupayakan terciptanya kondisi nasional yang memberikan rangsangan serta peluang seluas-luasnya bagi potensi pembangunan agar dapat berperan serta dalam usaha pembangunan nasional. Dengan segenap potensi pembangunan, dana dan daya yang dapat digali dan dikerahkan dari dalam negeri akan semakin meningkatkan dan memantapkan ketahanan ekonomi terhadap pengaruh dari berbagai kemungkinan gejolak atau krisis ekonomi dunia. Pembangunan dengan asas kepercayaan pada diri sendiri, merupakan kekuatan yang tidak ternilai harganya bagi bangsa yang sedang membangun. Kepercayaan pada diri sendiri bertambah penting artinya, karena dalam tahun-tahun yang akan datang pembangunan posti bertambah berat, karena masalah yang ditangani makin besar, dan aspirasi masyarakat pun bertambah luas. Oleh sebab itu perlu dikembangkan kebijaksanaan ekonomi yang bertumpu di atas Trilogi Pembangunan, suatu kebijaksanaan yang telah dianut Pemerintah sejak pembangunan nasional dicanangkan raJa 1 April 1969. Prioritas pembangunan dalam Repelita IV, sesuai dengan Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang, tetap menempatkan sektor pertanian sebagai sektor yang akan terus dikembangkan dan ditingkatkan menuju swasembada pangan, serta pengembangan sektor industri, balk industri berat maupun industri ringan. Dalam hubungan ini, apabila dikaji dan ditelusuri kembali rangkaian kebijaksanaan ekonomi yang telah ditempuh Pemerintah selama ini hingga tahun kedua Repelita IV, maka tampak jelas kesinambungan usaha menuju kepada memperluas, meningkatkan dan sekaligus memperkuat landasan kegiatan ekonomi melalui pengembangan industri di atas sektor pertanian yang mandiri. Kebijaksanaan juga ditujukan kepada perluasan kesempatan kerja, mengutamakan penggunaan hasil produksi dalam negeri, dan peningkatan ekspor. Kesemuanya itu ditunjang oleh kebijaksanaan di bidang fiskal yang lebih mengarah pada asas keadilan, dan kebijaksanaan moneter yang diupayakan untuk merangsang kegiatan dunia usaha, dan memantapkan kestabilan. Tujuan tersebut dan kebijaksanaan penunjangnya mengisi dan menyatu secara terpadu dalam upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang memadai, pemerataan pembangunan dan hasilnya, dan pemeliharaan kestabilan. Diharapkan pada akhimya tercipta strnktur perekonomian yang lebih seimbang dan mantap, dengan tingkat kelenturan produksi yang tinggi yang dalam batasbatas tertentu, mampu meredam setiap kegoncangan ekonomi baik dalam maupun luar negeri. Dengan perkembangan yang mengarah kepada terciptanya keadaan tersebut, perekonomian Indonesia yang modern, tangguh dan demokratis berdasarkan Pancasila akan menopang terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Departemen Keuangan RI

3

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Sejalan dengan cita pembangunan tersebut, sertadengan memperhatikan perkembangan keadaan perekonomian dunia yang masih belum sepenuhnya pulih dari resesi, pada tahun pertama pelaksanaan Repelita IV oleh Pemerintah telah diambil beberapa langkah kebijaksanaan ekonomi yang penting. Langkah nyata dalam rangka menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan tampak lebih jelas dengan telah disahkannya tiga undangundang perpajakan baru yang baik semangat maupun pengaturannya lebih sesuai dengan tuntutan pembangunan yang semakin berkembang. Di bidang moneter, tanggung jawab yang diberikan kepada bank-bank Pemerintah dalam menentukan suku bunga simpanan maupun pinjaman, telah merangsang dunia perbankan untuk mengerahkan dana-dana masyarakat, terlebih karena pada saat yang sama ketentuan pagu kredit perbankan ditiadakan. Bagi masyarakat, adanya kenaikan dalam tingkat pendapatan, terpeliharanya kestabilan harga, dan terkendalinya nilai tukar devisa te1ah semakin meningkatkan hasratnya untuk menabung, yang dilakukan diantaranya melalui sektor perbankan maupun lembaga keuangan lainnya. Dengan demikian terdapat titik temu aliran dana yang menghasilkan kegunaan bagi berbagai pihak, yakni antara masyarakat penabung, sektor perbankan dan tersedianya sumber dana pembangunan. Dan dalam rangka meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, serta mengurangi tekanan yang berat terhadap neraca pembayaran, pada bulan Maret 1983 te1ah diadakan penyesuaian nilai tukar rupiah terbadap dollar Amerika Serikat. Agar supaya pengerahan dana pembangunan, baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri, memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi pembangunan, usaha pengendalian dan penghematan penggunaan dana harus terus ditingkatkan. Oleh karena itu penge1uaran rutin diusahakan dapat ditekan, dan dikendalikan tanpa mengurangi fungsi pe1ayanan kepada masyarakat, serta pemeliharaan terhadap hasil pembangunan yang telah dicapai. Namun demikian, mengingat pentingnya peningkatan pendayagunaan aparatur negara, maka dalam tahun 1985/1986 direncanakan suatu kenaikan gaji bersih pegawai negeri sebesar 20 persen dan pensiun antara 27 - 59 persen. Di lain pihak prioritas pembangunan dipertajam agar penge1uaran pembangunan dapat memberikan hasil guna dan daya guna yang lebih besar, disertai dengan pengurangan, atau penghapusan terhadap berbagai subsidi sejauh yang dapat dilakukan tanpa mengorbankan kepentingan stabilisasi, serta kebutuhan masyarakat banyak. Pemberian subsidi ditata sedemikian rupa agar terdapat alokasi sumber ekonomi secara lebih efisien, dan terhindar dari adanya distorsi harga-harga yang tidak wajar. Sejalan dengan hal tersebut, maka pengeluaran untuk subsidi bahan bakar minyak dalam tahun 1985/1986 te1ah

Departemen Keuangan RI

4

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

dapat ditekan lebih lanjut, yang terutama disebabkan karena adanya peningkatan efisiensi dalam pengolahan bahan bakar tersebut. Di lain pihak subsidi untuk pupuk diperkirakan akan meningkat lebih besar, yang berkaitan erat dengan semakin intensifnya penggunaan pupuk dalam rangka mempertahankan, dan meningkatkan kemajuan yang te1ah dicapai di bidang pengadaan pangan, dan produksi komoditi pertanian lainnya. Adapun penjadwalan kembali beberapa proyek renting dan pengendalian impor secara se1ektif, te1ah dilaksanakan dalam rangka penghematan di bidang devisa, dan upaya untuk mengurangi tekanan terhadap neraca pembayaran. Sedangkan di bidang moneter, kebijaksanaan moneter dan perkreditan tetap ditujukan kepada penggunaan dana yang terarah dan produktif. Perimbangan yang belum memadai antar berbagai sektor kegiatan dalam perekoDamian, serta sifat perekonomian terbuka yang sangat dipengaruhi oleh hambatan dalam kegiatan ekspor, dan resesi perekonomian dunia yang be1um sepenuhnya pulih, menimbulkan akibat yang tak terhindarkan terhadap perekonomian Indonesia dalam tahun-tahun terakhir Pelita III, yang masih berasa pengaruhnya hingga diambang tahun kedua Repelita IV. Agar perkembangan pembangunan waktu lalu lebih dapat dipahami dalam ruang lingkup keadaan yang melatarbelakanginya, dan terlebih renting dadpada itu, agar supaya permasalahan yang dihadapi dalam masa pembangunan yang akan datang dapat ditanggulangi dengan tanggap, serta dapat memanfaatkan peluang yang mungkin tercipta, maka keadaan ekonomi dunia perlu dan senantiasa secara cermat terus diikuti perkembangannya. Tanda-tanda perbaikan ekonomi dunia yang mulai tampak pada tahun akhir Pelita III belum sepenuhnya menunjukkan perkembangan yang diharapkan. Bahkan akhir-akhir ini diperkirakan terdapat kecenderungan gejala perlambatan kembali dari kegiatan ekonomi negara industri utama, yaitu Amerika Serikat, yang dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami kenaikan pertumbuhan ekonomi tertinggi diantara negara-negara industri lainnya, yakni sebesar 7,3 persen. Perekonomian dunia yang belum sepenuhnya bangkit ke arab pemulihan sebagaimana yang diharapkan, hanya memberikan pengaruh yang terbatas manfaatnya bagi perkembangan ekonomi negara-negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi negara-negara industri secara. keseluruhan dalam tahun 1984 diperkirakan menunjukkan kenaikan rata-rata sebesar 4,9 persen, atau 2,3 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan tahun lalu, dimana Jepang dan Kanada diperkirakan mengalami kenaikan tertinggi setelah Amerika Serikat, yakni sebesar 5,0 persen dan 4,6 persen, sedangkan negara-negara industri lainnya dalam kelompok tujuh negara industri besar diperkirakan menunjukkan kenaikan rata-rata sekitar 2,5 persen.

Departemen Keuangan RI

5

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Pertumbuhan ekonomi yang dicapai negara-negara industri utama tersebut, erat kaitannya dengan menurunnya tingkat pengangguran serta laju inflasi. di negara-negara tersebut. Tingkat pengangguran rata-rata di negara-negara industri tersebut diperkirakan telah dapat ditekan menjadi 7,6 persen dalam tahun 1984 dibandingkan 8,3 persen dalam tahun 1983, sedangkan laju inflasi diperkirakan menunjukkan sedikit penurunan dari sebesar 5,0 persen dalam tahun 1983 menjadi 4,3 persen dalam tahun 1984. Sisi lain perkembangan perekonomian dunia yang pada umumnya menunjukkan perbaikan, telah ditandai dengan makin meningkatnya suku bunga riil di Amerika Serikat yang bertahan pada tingkat yang relatif tinggi, sebagai akibat dari pelaksanaan kebijaksanaan moneter yang ketat di negara tersebut. Suku bunga untuk nasabah-nasabah utama (US Prime Rate) di Amerika Serikat mencapai tingkatan yang tinggi, sekitar 13 persen pada bulan September 1984. Perbedaan dalam tingkat produktivitas serta laju pertumbuhan perekonomian, dan tingkat inflasi antara berbagai negara di dunia, serta tingginya suku bunga riil di Amerika Serikat, telah mengakibatkan masuknya modal dari negara-negara lain ke Amerika Serikat, yang kemudian mengakibatkan naiknya nilai tukar mata uang Amerika Serikat terhadap pelbagai macam mata uang asing. Meningkatnya nilai tukar mata uang dollar Amerika selanjutnya telah mengakibatkan kegoncangan posar valuta internasional di berbagai negara, serta kemerosatan yang cukup besar pada nilai tukar mata uang - mata uang penting dunia. Ketidakstabilan nilai tukar valuta asing, kebijaksanaan moneter yang ketat, tingginya suku bunga menimbulkan rangkaian akibat berupa naiknya defisit transaksi berjalan negaranegara industri. Usaha mengatasi defisit tersebut telah menimbulkan dampak sampingan yang kurang menguntungkan, khususnya bagi perkembangan ekspor negara-negara berkembang, karena adanya langkah-langkah proteksionisme yang dilakukan oleh negara-negara industri dalam rangka melindungi hasil produksi dalam negeri mereka. Perkembangan perekonomian dunia telah dipengaruhi pula oleh ketidakstabilan dalam posar minyak dunia. Meningkatnya produksi serta peleposan cadangan minyak negara-negara di luar OPEC, dan upaya penghematan penggunaan energi minyak telah menyebabkan terganggunya keseimbangan posar, dan kecenderungan terjadinya penurunan harga minyak dunia. Menghadapi keadaan demikian, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam sidangnya bulan Oktober 1984 di Geneva memutuskan untuk tetap mempertahankan tingkat harga yang berlaku sekarang, dengan jalan mengurangi produksi dari batas tertinggi 17,5 juta barrel menjadi sebesar 16,0 juta barrel per hari, serta menetapkan kuota baru bagi negara-negara anggotanya.

Departemen Keuangan RI

6

Namun demikian. serta sebagai sektor pendorong gerak perekonomian nasional yang penting.6 persen.070 juta. Oleh karena penerimaan ekspor minyak mengalami penurunan. Kemajuan di bidang neraca pembayaran tersebut tidak terlepos dari perkembangan ekspor bukan minyak yang menunjukkan kenaikan sebesar 36. Berbagai langkah kebijaksanaan di bidang perdagangan luar negeri. Juga terlihat peluang untuk mengekspor barang-barang manufaktur ke Eropa Timur sepanjang harganya mampu bersaing di posaran internasional. kopi. maka telah dikeluarkan Inpres No. Menghadapi situasi perekonomian internasional yang tidak menentu. pengembangan ekspor barang-barang produksi hasil industri dan perluasan posaran di luar negeri ke negara-negara selain rekan dagang. serta pengelolaan bantuan dan pinjaman luar negeri secara lebih cermat. Ternyata negara-negara tersebut sangat membutuhkan komoditi ekspor Indonesia seperti karet.8 Tahun 1984 yang menegaskan ketentuan tentang pengendalian dalam penggunaan kredit ekspor luar negeri. perbaikan mutu barang ekspor. walaupun penurunan tersebut jauh lebih rendah dari tahun 1982/1983. Selain dari itu juga meliputi penyesuaian nilai tukar mata uang dollar Amerika. teh. Dalam tahun 1984/1985 perkembangan neraca pembayaran diperkirakan masih akan mengalami surplus sungguhpun tidak sebesar dalam tahun 1983/1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Setetah mengalami defisit dalam neraca pembayaran yang cukup besar dalam tahun 1982/1983. pelaksanaan sistem imbal beli.151 juta. defisit tersebut apabila dibandingkan dengan defisit tahun 1982/1983.1 persen. kenaikan penerimaan ekspor keseluruhan dalam tahun 1983/1984 hanya sebesar 6. perluasan kemudahan dibidang perpajakan dan perkreditan. meskipun transaksi berjalan masih mengalami defisit sebesar US $ 4. agar pembayaran kembali dikemudian hari tetap dalam batas kemampuan keuangan negara. Usaha tersebut meliputi peningkatan dan diversifikasi ekspor di luar minyak dan gas bumi. Dalam rangka pengelolaan bantuan yang lebih berdaya guna. Dalam rangka memperluas ekspor Indonesia. maka telah dijajagi kemungkinan peningkatan perdagangan dengan negara-negara Eropa Timur. khususnya dalam rangka mendorong ekspor. memperlihatkan adanya perbaikan yang berarti. dimana dalam tahun sebelumnya mengalami penurunan. pengendalian impor. minyak kelapa sawit dan sebagainya. dengan latar belakang perkembangan keadaan perekonomian dunia yang menunjukkan adanya sedikit perbaikan. Departemen Keuangan RI 7 . timah. kebijaksanaan mendorong ekspor secara menyeluruh melalui pola pengembangan ekspor terpadu terus ditingkatkan. dalam tahun 1983/1984 neraca pembayaran Indonesia menunjukkan keadaan yang lebih baik yaitu surplus sebesar US $ 2. terus dilakukan oleh Pemerintah mengingat peranannya sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan. serta guna mengurangi ketergantungan pada ekspor minyak dan gas bumi.

sektor tersebut didorong untuk mencapai tahap perkembangan yang efisien melalui persaingan yang sehat. Di bidang prosedur ekspor. perhubungan. Kebijaksanaan di bidang impor selain ditujukan kepada memperlancar pengadaan bahan baku/penolong. Pemerintah telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meniadakan berbagai hambatan yang dapat mengurangi daya saing komoditi ekspor Indonesia di posaran internasional. pipa besi dan produk polyvinyl chloride (PVC). Melalui kebijaksanaan impor yang mendukung pertumbuhan sektor industri. Selain itu. Di bidang perpajakan. serta penurunan pajak ekspor tambahan atas jenis komoditi tertentu lainnya. Pemerintah telah mengusahakan untuk sejauh mungkin tidak memberi keringanan bea masuk. Memantapkan ekspor. memerlukan kerja keras baik dari Pemerintah maupun masyarakat. dan penghapusan izin yang meliputi berbagai bidang antara lain bidang kehutanan. Demikian pula terhadap beberapa produk yang telah dapat dirakit di dalam negeri telah diberlakukan tarif bea masuk. dan memperluas posarannya. tata cara ekspor dan sebagainya. dimana dari jumlah tersebut standar mutu dari 38 jenis barang sudah dilaksanakan. dan pajak penjualan impor yang baru. dan perdagangan. Dalam hubungan ini. Departemen Keuangan RI 8 . sejak 10ktober 1984 pungutan langsung oleh Pemerintah Daerah terhadap beberapa komoditi ekspor penting telah pula dihapuskan. pertanian. dan untuk beberapa komoditi tertentu yang semula dikenakan pajak ekspor sebesar 10 persen diturunkan menjadi 0 persen. sejak 1 Januari 1984 pungutan MPO ekspor atas eksportir telah dihapuskan. serta sejalan dengan usaha peningkatan penggunaan produksi dalam negeri. khususnya dunia usaha. Dengan berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan pada tanggal 1 Januari 1984. sampai dengan Agustus 1984 telah ditetapkan standar mutu untuk 165 jenis barang-barang perdagangan. dan pemeliharaan kestabilan. telah diadakan penyederhanaan perizinan. Sejalan dengan usaha meningkatkan mutu barang-barang ekspor.1 bulan Januari 1982 yang menyangkut pengaturan jual beli devisa. dan barang modal dalam rangka pemenuhan kebutuhan bahan pokok yang diperlukan masyarakat. tetapi sekaligus menyesuaikan tarif bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap impor barang-barang yang telah dapat diproduksi di dalam negeri seperti kertas untuk jenis tertentu. juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program pembangunan jangka panjang sektor industri. suatu keterpaduan langkah yang tidak hanya mengarah kepada penghematan devisa. aluminium sheet dan fuli aluminium jenis-jenis tertentu. akan tetapi juga sekaligus meningkatkan penerimaannya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pelaksanaan berbagai kebijaksanaan di bidang ekspor tersebut tertuang antara lain dalam Peraturan Pemerintah No. dan selanjutnya meningkat menuju tahapan perluasan ekspor hasil produksinya.

Pertumbuhan sektor industri pengolahan. bahwa pembangunan industri ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja. Apabila dalam Pelita I dan II sektor industri telah tumbuh rata-rata sebesar 13. Program tersebut terdiri dari rangkaian usaha berupa peningkatan keterkaitan antara berbagai jenis industri secara vertikal dan horizontal. dikenakan pungutan sebesar 7. antara industri padat modal dan industri padat karya. telah ditempuh kebijaksanaan program terpadu. maka dalam Pelita III turun menjadi 8. dalam tahun 1983 secara riil menunjukkan kenaikan sebesar 2. tidak terlepos dari adanya pengaruh resesi ekonomi dunia. antara industri hilir dan industri hulu.5 persen dari nilai dasar impor (cif). dilihat sebagai komponen produk domestik bruto. juga diarahkan agar di dalam sektor industri sendiri semakin terwujud keseimbangan dan keserasian antara industri besar/sedangdan industri kecil. Terhadap impor barang yang dilakukan oleh importir yang tidak menggunakan sistem perijinan impor. setelah mengalami titik kenaikan yang terendah dalam tahun 1982. Industri hilir. yang pada umumnya merupakan industri substitusi impor. menghemat devisa. Dengan demikian pembangunan industri selain diharapkan dapat mewujudkan struktur ekonomi yang seimbang antara industri dan pertanian.0 persen dan 13. serta adanya kekurangserasian pertumbuhan antarsektor industri. pembinaan industri kecil. untuk memantapkan dan memperkokoh struktur industri nasional. sedangkan pungutan baru dikenakan terhadap impor barang yang dilakukan oleh importir yang menggunakan API.9 persen setahun.7 persen. dan memanfaatkan sumber alam dan energi serta sumber daya manusia. telah berkembang relatif lebih pesat dibanding industri hulu. dan mempertinggi sikap mental pembaharuan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pungutan MPO atas barang-barang impor dihapuskan. meningkatkan ekspor. dan mengandung kerawanan kiranya dapat dilalui tanpa menimbulkan ketegangan sosial. baik vertikal maupun horizontal.5 persen dari nilai dasar impor (cif). Kelambanan yang terjadi dalam pertumbuhan sektor industri dipenghujung tahun Pelita III. APIS atau APIT yaitu sebesar 2. sehingga menyebabkan lemahnya kaitan antarindustri. dan belum dapat memberikan kemantapan pada struktur industri yang ada. memeratakan kesempatan berusaha. tahap industrialisasi yang merupakan tahap yang sulit. serta harus mampu meningkatkan keahlian dan ketrampilan masyarakat. Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara ditetapkan. yaitu dengan mengembangkan industri yang saling menunjang dengan sektor lainnya. sektor tersebut hingga tahun-tahun pertama Pelita III telah berkembang tidak kurang dari 9 persen. Sejak awal Pelita I.2 persen. Sehubungan dengan hat tersebut. menunjang pembangunan daerah. Dengan arah kebijaksanaan tersebut. peningkatan peranan bangsa Indonesia sendiri dalam Departemen Keuangan RI 9 . dan dengan Pancasila sebagai dasar perjuangan bangsa.

dan dengan menerapkan Panca Usaha Tani. pembangunan pertanian dilaksanakan dengan berlandaskan Trimatra Pembangunan Pertanian. Kemajuan yang dapat dicapai oleh sektor industri pada tingkat akhir berkaitan erat dengan kemantapan pertumbuhan. serta sektor-sektor lainnya. akan tetapi sumbangannya terhadap produk domestik bruto riil terus mengecil. maka pada akhir Pelita III diperkirakan menurun menjadi hanya sekitar 29 persen. dalam komoditi. Di samping produksi beras.5 persen pertahun.7 persen dan 3. Didukung oleh besarnya peranan nilai tambah yang diciptakan oleh sektor perdagangan. yaitu keterpaduan dalam usaha tani. dan dinaikkan. harga dasar gabah kering giling di KUD dinaikkan menjadi Rp 175. merupakan faktor yang sangat menunjang tegak tahannya sektor industri. sumbangan sektor pertanian masih sebesar 46. lembaga keuangan dan jasa lainnya. Dengan berbagai usaha tersebut akan tercipta keserasian yang memberi kekuatan pada keseluruhan pertumbuhan industri. Pembangunan sektor pertanian berdasarkan Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang tidak hanya menyangkut peningkatan produksi semata.00 perkilogram. Produksi tanaman pangan sebagai komponen produksi pertanian terpenting menunjukkan perkembangan yang mengesankan. dan dalam pengembangan wilayah dengan sasaran sebagaimana yang tercakup dalam Sapta Karya Pembangunan Pertanian. dan perkembangan produktivitas sektor pertanian. dimana dalam Pelita I dan II pertumbuhan produksinya adalah sebesar 4. Dengan demikian pembangunan pertanian diharapkan memberikan arti yang utuh bagi peningkatan sebagian besar kesejahteraan bangsa Indonesia. tingkat harga dasar gabah yang diterima oleh petani setiap tahunnya selalu ditinjau kembali. Untuk itu pada bulan Pebruari 1985. Untuk mewujudkan tujuan tersebut.9 persen dari produk domestik bruto riil. dimana peningkatan daya beli sebagian besar masyarakat beserta pemerataan pendapatan yang berlangsung di sektor ini. pendidikan dan tingkat kehidupan para petani di pedesaan pada umumnya. Dalam Pelita III produksi beras menunjukkan pertumbuhan sebesar 6. Apabila pada awal Pelita I. Sungguhpun pertumbuhan sektor pertanian sejak Pelita I setiap tahunnya menunjukkan tingkat kenaikan yang berbeda. produksi palawija dan hortikultura telah memainkan peran yang cukup penting pula dalam pemenuhan kebutuhan bahan pangan yang meningkat.8 persen pertahun. serta peningkatan ekspor hasil produksinya. akan tetapi meliputi pula usaha mengangkat kehidupan sosial. produk domestik Departemen Keuangan RI 10 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan industri. Agar peningkatan produksi beras dapat pula meningkatkan tarat hidup petani lebih layak. sementara nilai produksinya terus meningkat.

915. sejalan dengan terpeliharanya kestabilan. meskipun fasilitas bebas pajak. yakni kenaikan sebesar 4. Berbagai fasilitas tersebut diberikan agar tercipta iklim penanaman modal yang menarik. Penanaman modal yang dilakukan melalui fasilitas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sampai dengan bulan Agustus 1984 telah disetujui sebesar Rp 20. Sebagai piranti anggaran dalam melaksanakan Repelita demi Repelita. alas dasar harga konstan tahun 1973.2 juta. Hal ini tiada lain menunjukkan adanya kemajuan di dalam pembentukan atau penanaman modal.ada. dan prospek yang baik dari perkembangan pembangunan. penetapan tarip penyusutan yang lebih tinggi. Sumber pembentukan modal yang terpenting adalah dana-dana yang dapat dikerahkan dan disalurkan melalui APBN. dalam tahun 1983 diperkirakan telah meningkat menjadi 30. sejak Pelita I. sedangkan penanaman modal asing (PMA) dalam periode yang sama. maupun Pemerintah. rencana investasinya mencapai nilai sebesar US $ 14. fasilitas pengampunan pajak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bruto riil secara keseluruhan dalam tahun 1983 diperkirakan menunjukkan adanya kemajuan yang cukup berarti.2 persen.1982. dan tenaga kerja yang . Kegiatan penanaman modal yang dilakukan oleh dunia usaha. telah berkembang menjadi hampir lima puluh lima kali dalam Departemen Keuangan RI 11 . akan tetapi masih lebih tinggi dari yang dicapai dalam tahun 1982. semacam pemutihan modal masih dimungkinkan. Pembentukan modal domestik bruto yang dalam tahun 1969. serta tingkat produktivitas modal. yakni segala dana yang ditabung dalam deposito tidakakan diusut asal usulnya.5 persen. Pertumbuhan ekonomi yang tercermin dari perkembangan produk domestik bruto sangat dipengaruhi. baik yang dilakukan oleh masyarakat. alas dasar harga konstan 1973. dan pemutihan modal bagi penanam modal di Indonesia dihapuskan. terus menunjukkan peningkatan. volume Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah berhasil ditingkatkan terus dalam jumlah yang cukup besar. oleh Pemerintah telah diberikan berbagai rangsangan antara lain dalam bentuk penyederhanaan prosedur penanaman modal. Sungguhpun kenaikan tersebut masih lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan per tahun dalam periode 1970 . baru berjumlah 11. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya pembentukan modal domestik bruto rata-rata sebesar 15. Produk domestik bruto. Volume APBN pada awal Pelita I yang berjumlah Rp 334.2 persen pertahun. dan ditentukan oleh perimbanganperimbangan yang terjadi di dalam tingkat pembentukan modal.632. Dalam rangka meningkatkan penanaman modal. Sebagai kompensasi. dunia usaha.2 persen dari produk domestik brutonya.2 persen pertahun dalam periode tersebut. dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 telah meningkat rata-rata sebesar 7.4 milyar.7 milyar. serta ketentuan bahwa perorangan dapat melaksanakan penanaman modal melalui fasilitas PMDN tanpa harus berbentuk badan hukum.

dan akselerator pembangunan tetap dapat dipertahankan. dan berlangsung berkepanjangan telah memberikan dampak yang tidak diinginkan terhadap perekonomian Indonesia.0 milyar. perbaikan dan penyempumaan irigasi. serta upaya pemecahannya telah pula menjadi bahagian dari pelaksanaan APBN. sehingga peranannya sebagai stabilisator. Dalam usaha untuk memperkecil pengaruh yang ditimbulkan resesi duma tersebut. Bantuan tersebut dimaksudkan untuk pemeliharaan jembatan dan jalan propinsi. Perkembangan APBN terus diusahakan agar tetap berimbang dan dinamis. Di sisi penerimaan negara. Namun demikian. maka volume RAPBN tahun anggaran 1985/1986 direncanakan berimbang pada tingkat sebesar Rp 23. dan pengeluaran pembangunan sebesar Rp 10. sedangkan di sisi pengeluaran negara rencana tersebut terdiri dari pengeluaran rutin sebesar Rp 12. Dengan latar belakang kebijaksanaan dan perkembangan perekonomian baik nasional maupun internasional. rencana tersebut terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 18. dalam rangka pemerataan pembangunan dan hasilnya.1 milyar. Seperti yang telah dikemukakan perekonomian dunia yang dilanda krisis. khususnya dalam beberapa tahun terakhir ini.0 milyar. dan penerimaan pembangunan sebesar Rp 4. kepada Dati II juga diberikan bantuan pembangunan prasarana jalan. serta usaha untuk tetap terpeliharanya kesinambungan pembangunan. utuh dan menyeluruh melalui peranan ganda dari pengeluaran pembangunan. terutama dalam mengamankan penerimaan negara melalui APBN.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tahun terakhir Pelita III. juga diserasikan dengan pembiayaan pembangunan regional dan perluasan kesempatan kerja melalui berbagai program Inpres. Untuk mempedancar distribusi hasil-hasil produksi. pembangunan daerah minus serta pengembangan perkotaan.0 milyar. pertumbuhan dan stabilitas memperoleh gambaran yang lebih nyata.046.9 milyar.647. Pengeluaran pembangunan selain dialokasikan untuk berbagai sektor.368.677. eksploitasi dan pemeliharaan pengairan. Gambaran perkembangan volume APBN yang terus meningkat. Dengan demikian pemerataan.0 milyar. Dalam tahun 1985/1986 bantuan pembangunan Dati I adalah sebesar Rp 280. oleh Pemerintah telah diambil berbagai langkah kebijaksanaan untuk meningkatkan ketahanan Departemen Keuangan RI 12 .399. memberikan harapan yang besar untuk tetap berlangsungnya pembangunan nasional guna mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Resesi ekonomi dunia yang telah mempengaruhi perekoDamian Il}donesia pada gilirannya telah mempengaruhi penyusunan RAPBN 1985/1986. Sedangkan bantuan pembangunan bagi Dati II antara lain adalah untuk proyek-proyek prasarana dan produksi yang dapat memperluas lapangan kerja dan proyek padat karya. di balik kemajuan tersebut berbagai tantangan dan hambatan.

Pemerintah bertekad untuk melaksanakannya pada 1 April 1985. sedangkan batas kekayaan yang tidak kena pajak telah dinaikkan dari Rp 14 juta menjadi Rp 80 juta. maka mulai tahun anggaran 1985/ 1986 dalam penerimaan pajak pertambahan nilai. pajak kekayaan. dana-dana yang berasal dari masyarakat yang dapat Departemen Keuangan RI 13 .5 persen. yang merupakan perbaikan secara mendasar terhadap undang-undang perpajakan yang lama. dengan Undang-Undang No. undang-undang perpajakan yang baru tersebut lebih mencerminkan kesederhanaan. Dengan kebijaksanaan tersebut Pemerintah bukan saja berupaya untuk lebih menyeimbangkan struktur penerimaan negara. Pemerintah kini tengah mempersiapkan perundang-undangan mengenai pabean. Namun demikian mengingat pentingnya peranan pajak tersebut. Sumber penting lainnya dari penanaman modal adalah tabungan masyarakat yang antara lain terkumpul melalui sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya. guna lebih memantapkan peningkatan penerimaan dalam negeri. termasuk di dalamnya pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM) sebesar 10 persen. dan iuran pembangunan daerah. Salah satu kebijaksanaan yangtelah diambil adalah dengan disahkannya beberapa undang-undang perpajakan yang baru. telah dilaksanakan ketika memasuki tahun pertama Repelita IV. Langkah-Iangkah untuk menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan. dan memberikan kepostian hukum.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ekonomi nasional. Sedangkan Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang sedianya berlaku pada tanggal 1 Juli 1984. Sejak dilaksanakannya kebijaksanaan moneter 1 Juni 1983. serta lebih mendorong pemerataan. serta menciptakan landasan yang kuat guna berlangsungnya kelancaran proses pembangunan. khususnya melalui usaha peningkatan penerimaan dalam negeri di luar minyak. yakni dengan diberlakukannya UndangUndang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan serta Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan sejak tanggal 1 Januari 1984. Untuk mewujudkan kebijaksanaan yang lebih realistis dengan keadaan perekonomian nasional.8 Tahun 1984 telah ditangguhkan berlakunya sampai selambat-Iambatnya tanggal 1 J anuari 1986. akan tetapi juga berusaha untuk meningkatkan rasa keikutsertaan masyarakat secara aktif dalam memberikan andil dan peranannya di dalam pembangunan melalui bidang perpajakan. yang sebagian besar masih bergantung pada penerimaan dari minyak bumi dan gas alam. Di samping Undang-Undang Perpajakan tersebut. Dalam rangka pelaksanaan undang-undang ini. maka sejak 1 Januari 1985 tarip pajak kekayaan telah diturunkan dari 1 persen menjadi 0. Berlainan dengan undang-undang perpajakan yang lama yang mempunyai sistem. prosedur dan pentaripan yang rumit. serta guna meningkatkan kesadaran para wajib pajak dalam menaati pembayaran pajaknya.

sedangkan pada tahun sebelumnya menunjukkan kenaikan sebesar 11.787. dan iklim terse but harus dipertahankan agar upaya pembangunan dengan kekuatan sendiri secara bertahap dapat terwujud menjadi kenyataan. dan diharapkan pada waktunya akan mendapat persetujuan akhir dari Dewan Perwakilan Rakyat. Sehubungan dengan itu dalam tahun pertama Repelita IV kebijaksanaan di bidang pendidikan terutama ditekankan dan diarahkan pada peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dihimpun oleh sektor perbankan menunjukkan kenaikan yang mengesankan. Sementara itu dalam periode Juni 1983 . Dengan demikian manusia Indonesia yang sehat. peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar dalam rangka pelaksanaan wajib Departemen Keuangan RI 14 . Organisasi Kemasyarakatan.5 persen.705. diantaranya sebesar Rp 7. Perubahan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR/DPR/DPRD. laju inflasi menunjukkan peningkatan sebesar 8. dan tentang Referendum.905. Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Dalam kaitan ini unsur terpenting di dalam pengembangan sumber daya manusia adalah pendidikan. dana perbankan telah mencapai jumlah sebesar Rp 14. Meningkatnya dana-dana masyarakat yang terhimpun oleh sektor perbankan menunjukkan adanya kestabilan ekonomi. sosial maupun politik.2 milyar. Pelaksanaan pembangunan nasional senantiasa diupayakan berjalan seirama dengaIi pembinaan dan pemeliharaan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.Juni 1984. maka kepada DPR telah diajukan lima RUU masing-masing tentang: Perubahan UU Pemilu. volume deposito berjangka telah menunjukkan kenaikan sebesar Rp 2. Perubahan UU tentang Parpol dan Golkar. Sungguhpun jumlah uang beredar terus meningkat. dan penyederhanaan kehidupan politik. Terpeliharanya kestabilan ekonomi mencerminkan terselenggaranya pengendalian jumlah uang beredar yang sesuai dengan kebutuhan perekonomian. namun mendorong kegiatan pembangunan. dan kesinambungan pembangunan.8 persen merupakan dana deposito dan tabungan yang merupakan sumber dana yang renting bagi pembentukan modal untuk disalurkan berupa kredit bagi kegiatan usaha. Dalam tahun 1984. Dalam rangka pembaharuan.8 milyar. Oleh sebab itu. cerdas dan berbudi luhur merupakan modal pembangunan yang sangat menentukan.2 milyar atau 53. baik di bidang ekonomi. Sampai dengan bulan September 1984. Kelima RUU tersebut kini dalam pembahasan. diusahakan agar pengaruhnya terhadap tingkat harga senantiasa dalam batas-batas yang aman.8 persen. pembangunan politik dan pendidikan politik seperti yang digariskan oleh GBHN terus menerus dilaksanakan. Tegaknya demokrasi Pancasila merupakan syarat mutlak bagi terjaminnya stabilitas nasional.

Untuk itu sejak Pelita I telah dan terus dilaksanakan pembangunan di bidang kesehatan. makmur dan sejahtera. sementara kesejahteraan para guru dan dosen tetap menjadi perhatian Pemerintah. pemberantasan penyakit menular. dan hanya dengan persatuan yang makin kukuh segala rintangan dan tantangan yang berat dalam tahun-tahun mendatang akan teratasi. pengadaan tenaga dokter dan tenaga medis. serta pengelolaan pendidikan yang lebih berdaya guna dan berhasil guna. agar tempat beranjak pembangunan bertambah kuat sehingga bangsa Indonesia dapat terus tumbuh dan berkembang. Dengan penuh kepercayaan pada kemampuan sendiri. baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Departemen Keuangan RI 15 . Guna meningkatkan mutu pendidikan. peningkatan gizi masyarakat. Di samping itu juga dilaksanakan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera (NKKBS) melalui program lintas sektoral agar terwujud keluarga yang sehat. dan pembangunan nasional. maka perlu terus ditingkatkan pembangunan kesehatan dan pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk. telah dilaksanakan penataran guru/pembina pada berbagai tingkat pendidikan. dan masyarakat untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila. Maka teramat penting bagi segenap aparatur negara. penyuluhan kesehatan. Terciptanya kerangka landasan seperti yang diamanatkan oleh GBHN harus benarbenar dapat diwujudkan. Untuk itu Pemerintah dalam tahun 1985/1986. dan mengarah kepada pengalihan tanggung jawab pengelolaan dari Pemerintah kepada masyarakat. serta agar pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan baik. Pembangunan juga mengusahakan agar setiap warga negara dapat memperoleh derajat kesehatan yang tinggi menuju terbentuknya keluarga yang sehat dan sejahtera. serta cita dan harapan dapat menjadi kenyataan. Bersamaan dengan itu terus diusahakan pula peningkatan program keluarga berencana (KB) nasional yang pelaksanaannya ditempuh melalui pendekatan kemasyarakatan baik melalui jalur formal maupun informal. antara lain berupa pembangunan Puskesmas dan rumah sakit.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 belajar. yang meliputi berbagai bidang studi dan pengelolaan. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap generasi muda dalam tugasnya sebagai penerus perjuangan bangsa. agar arah dan pelaksanaan pembangunan tetap benar. merencanakan untuk memberikan tunjangan jabatan fungsional kepada guru sekolah tingkat dasar dan menengah. dan alih teknologi di bidang kesehatan dan peralatan kesehatan. dan tujuannya tidak tersimpangkan. serta penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional. Oleh karena manusia merupakan modal terpenting dan menentukan dalam pembangunan nasional. baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah.

Dengan demikian penerimaan negara beserta pengalokasiannya kepada seluruh sektor pembangunan. Meningkatnya taraf hidup. sebagai suatu rangkaian tak terpisahkan dari Trilogi Pembangunan. kecerdasan. dan pengeluaran negara sebagai pelaksanaan prinsip-prinsip anggaran yang berimbang dan dinamis. tetap menjadi dasar kebijaksanaan bagi pengelolaan keuangan negara. dan secara operasional setiap tahun diwujudkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). kebijaksanaan keuangan negara tetap diarahkan. khususnya terhadap meningkatnya laju inflasi. Hal demikian merupakan salah satu upaya pemantapan stabilitas ekonomi. tahun pertama pelaksanaan Pelita pertama hingga memasuki tahun kedua Pelita IV.1. pendidikan. Departemen Keuangan RI 16 . Apa yang ditetapkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara dijabarkan di dalam Repelita. kecerdasan serta kesejahteraan seluruh rakyat. dan memperluas usaha pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. kesehatan serta penciptaan lapangan kerja diseluruh pelosok tanah air telah ikut mendorong laju pertumbuhan. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. keseimbangan antara penerimaan negara. diarahkan kepada terwujudnya Trilogi Pemba. guna mewujudkan amanat yang terkandung di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. tetap dipertahankan. Hal demikian sangatlah diperlukan untuk menjamin terus berlangsungnya pembangunan nasional secara berkesinambungan. Dalam memelihara pengaruh APBN terhadap perkembangan moneter. yang berarti pula menjaga sendi-sendi kestabilan kehidupan masyarakat. dan ditegaskan kembali di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). dan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. Pendahuluan Sejak pembangunan nasional dirimlai pada tahun 1969/1970. Kemajuan pembangunan nasional yang dilaksanakan sejak tahun 1969 itu tercermin tidak hanya dari terus meningkatnya volume APBN. dan berpegang teguh pada kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan tarat hidup.i1gunan tersebut secara optimal. Beberapa indikator seperti bertambah luasnya prasarana dan sarana seperti perhubungan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB II ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA 2. sehingga menambah kemantapan iklim perekonomian nasional secara menyeluruh dan terpadu. sebagai tujuan utama dari pembangunan merupakan babagian yang tak dapat dipisahkan dari ukuran keberhasilan pembangunan secara menyeluruh. pertumbuhan ekonomi yang memadai serta kestabilan nasional yang sehat dan dinamis.

4 milyar. Dalam Repelita I dan II anggaran penerimaan yang direncanakan berjumlah Rp 2.510. yaitu dengan realisasi penerimaannya sebesar Rp 66.8 milyar. sehingga dengan demikian masing-masing melampaui rencananya sebesar Rp 820. Oleh sebab itu upaya peningkatan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas Departemen Keuangan RI 17 .2 milyar dan Rp18.3 milyar dan Rp 12.129. dan kebijaksanaan moneter 1 Juni 1983. yakni dari tahun 1979/1980 sampai dengan tahun 1983/1984. masing-masing lebih besar dengan Rp 21. Dalam Repelita III anggaran yang direncanakan berimbang pada jumlah sebesar Rp43.406.4 milyar.5 milyar dan Rp 34.4 milyar.279.551.2 milyar. sedangkan pengeluaran negara terdiri dari pengeluaran rutin sebesar Rp 21.8 milyar dari yang direncanakan. Adapun usaha untuk memperkecil pengaruh yang di timbulkan resesi dunia tersebut.8 milyar.3 milyar dan Rp 1.0 milyar dan Rp 12.7 milyar.237.6 milyar. Perekonomian dunia yang dilanda krisis. sehingga masing-masing mengalami kenaikan sebesar Rp 10.661.467.168. Bila dibandingkan dengan rencana anggaran penerimaan dalam Repelita.1 milyar.283. Demikian pula rencana anggaran penerimaan dalam Repelita III sebesar Rp 43. dan penerimaan pembangunansebesar Rp 9. dan pengeluaran pembangunan sebesar Rp21.7 milyar.393.510. Pemerintah telah mengambil berbagai kebijaksanaan antara lain berupa pembaharuan di bidang perpajakan.2 milyar. maka realisasinya selalu melampaui rencana dalam setiap Repelita.019. hila dalam tabun pertama Pelita I jumlah penerimaan baru sebesar Rp 334.987.2 milyar dan Rp 5.6 milyar.273.3 milyar.1 milyar. terutama untuk mengamankan penerimaan negara melalui APBN. Dengan demikian dibandingkan dengan rencananya. Dibalik kemajuan tersebut. berbagai tantangan dan hambatan. maka dalam tabun terakhir Pelita III realisasinya telah meningkat menjadi Rp 18. yang terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 34.1 milyar.5 milyar. penjadwalan kembali proyek-proyek.7 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Perkembangan volume APBN. dan penerimaan pembangunan sebesar Rp 10.393.315.586.463. telah mempengaruhi perkembangan APBN.849. realisasi penerimaan negara telah dapatn mencapai Rp 66. penyesuaian nilai tukar dollar Ametika terhadap rupiah. khususnya di bidang penerimaan negara. dalam realisasinya masing-masing mencapai jumlah sebesar Rp 3. yang berarti meningkat sebesar hampir 55 kali lipat dalam jangka waktu lima betas tahun. dalam beberapa tahun terakhir. Adapun pengeluaran rurin dan pengeluaran pembangunan dalam lima tahun pelaksanaan Pelita III terse but dicapaijumlah sebesar Rp 32.247.6 milyar ternyata dalam pelaksanaannya telah dilampaui sebesar Rp 22.714.883. Di dalam pelaksanaannya selama lima tahun Pelita III. dan berlangsung berkepanjangan telah memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi perekonomian Indonesia. terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 55.

asosiasi-asosiasi. dan agar terdapat alokasi sumber-sumber ekonomi yang sehat. terusmenerus dilaksanakan. kebijaksanaan perpajakan diarahkan bukan saja untuk meningkatkan penerimaan negara. Di sektor pengeluaran rutin. baik yang menyangkut prosedur dan tata kerja administrasi perpajakan. Iklim tersebut selanjutnya akan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri. Selanjutnya agar penerimaan dan pengeluaran negara dapat diurus secara efisien dan efektif. yang berkembang sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. dan terus disempurnakan baik tata cara pengelolaannya. seperti pemerataan pendapatan dan beban pembangunan. Kebijaksanaan yang ditempuh untuk melaksanakan hal tersebut antara lain dengan meningkatkan efisiensi penggunaan dana. memerlukan penanganan dan pendayagunaan yang cermat dan secara berencana terus dikembangkan agar tujuan mencapai kemandirian dalam pembiayaan pembangunan secara bertahap dapat menjadi kenyataan. Sementara itu pengeluaran pembangunan tetap diarahkan untuk membiayai proyek-proyek yang Departemen Keuangan RI 18 . unsur-unsur kesederhanaan. perluasan kesempatan kerja. maka perlu ditingkatkan pengawasan. Untuk itu mulai akhir tahun anggaran 1983/1984 telah diberlakukan beberapa undang-undang perpajakan yang baru dengan perbaikan secara mendasar terhadap sistem perpajakan lama yang antara lain meliputi dasar pengenaan pajak. Dalam undang-undang perpajakan rang baru tersebut. maupun peningkatan disiplin dan pembinaan mental aparat pemungut pajak. Agar pelaksanaan undang-undang pajak dapat berjalan lancar telah dan terus diadakan penyuluhan terhadap pengusaha. Pengurangan dan penghapusan berbagai subsidi. perdagangan. tarip pajak serta tata cara pembayaran pajaknya. serta membantu terciptanya suasana yang lebih sesuai dengan pola hidup sederhana. akan tetapi juga dimaksudkan untuk menciptakan iklim yang memungkinkan terwujudnya beberapa sasaran pembangunan nasional. telah dan akan terus dilaksanakan. diperlukan disiplin dari berbagai pihak. serta mengarahkan kegiatan pembangunan pada proyek-proyek yang berprioritas tinggi.. Sebagai peralatan fiskal. serta menunjang upaya stabilisasi ekonomi nasional. baik dari pengelola pajak maupun dari masyarakat wajib pajak. sedikit demi sedikit telah dilaksanakan seiring dengan meningkatnya perekonomian pada umumnya. seperti penerimaan dari sumber-sumber perpajakan. serta para wajib pajak pada umumnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 alam. pengendalian dan penghematan dalam menyelenggarakan kegiatan Pemerintah terus dilakukan. badan-badan usaha. Adanya potensi perpajakan yang masih besar dalam masyarakat. bea dan cukai. tanpa harus mengorbankan kebutuhan dan kesejahteraan dari sebagian besar masyarakat. Dalam melaksanakan undang-undang perpajakan yang baru. kestabilan barga. pemerataan atau keadilan dan kepostian mendapat pengaturan yang lebih sesuai dengan perkembangan pembangunan. maupun ketrampilan petugas yang bersangkutan. Dalam hubungan ini pembenahan aparatur perpajakan. serta penerimaan bukan pajak.

372. dan penerimaan bukan pajak. Berbagai usaha dan langkah kebijaksanaan yang telah diambil.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas. Apabila dibandingkan dengan penerimaan dalam negeri dalam semester I 1983/1984 sebesar Rp 6. realisasi penerimaan dalam negeri mencapai jumlah sebesar Rp 7.6 persen dan 41. yang berarti masingmasing meningkat dengan 6. dibandingkan dengan tahun sebelumnya. maupun segenap aparat negara.8 milyar.546. baik sarana maupun prasarana.295. Jumlah penerimaan dalam negeri tersebut berarti 45.540.6 milyar dan Rp 8.7 milyar. realisasi penerimaan dan pengeluaran negara masing-masing dapat mencapai Rp 8. Kenaikan tersebut terutama disebabkan karena meningkatnya penerimaan dari sektor minyak. Jumlah penerimaan dan pengeluaran negara dalam semester I 1984/1985 tersebut berarti masing-masing mencapai 41.5 persen dari penge1uaran rutin yang direncanakan dalam APBN 1984/1985.2. pada hakekatnya memerlukan penyesuaian sikap. Adapun realisasi pengeluaran rutin dalam semester I 1984/1985 mencapai Rp 4.971.1. Kebijaksanaan penge1uaran rutin dalam tahun anggaran 1984/1985 diarahkan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas yang lebih tinggi. serta merawat sarana dan prasarana hasil pembangunan. maka te1ah terjadi kenaikan sebesar 16. dan kerja keras. baik dari masyarakat.7 persen bila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun anggaran sebe1umnya.418.4 milyar. Ringkasan Pelaksanaan APBN dalam tahun anggaran 1984/1985 ditandai oleh perkembangan keadaan ekonomi nasional yang relatif lebih baik. khususnya dunia usaha. terdapat peningkatan sebesar 19.2. penerimaan cukai. Departemen Keuangan RI 19 .1 persen. khususnya aparat penge1ola keuangan negara. dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2. maupun dalam rangka pemulihan perekonomian di dalam negeri. 2. Dalam semester I 1984/1985.8 milyar. Dibandingkan dengan pengeluaran rutin dalam semester I 1983/1984.9 milyar.0 persen.560.8 persen dari jumlah yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. terutama dalam memberikan pe1ayanan kepada masyarakat.6 milyar yang terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 4. Pelaksanaan APBN 1984/1985 ( Semester I ) 2. guna menumbuhkan seluruh sektor perekonomian masyarakat.5 persen dari rencana APBN 1984/1985 yang berimbang pada jumlah Rp 20.4 milyar. yang berarti 42.390. Se1ama semester I tahun anggaran 1984/1985. baik untuk memperkecil pengaruh resesi dunia.

2. Dibandingkan dengan tabungan Pemerintah semester I 1983/1984 yang berjumlah sebesar Rp 2. Bila dibandingkan dengan penerimaan pembangunan dalam semester I tahun sebe1umnya sebesar Rp 1.5 milyar. maka berarti terdapat penurunan sebesar 29. Dalam semester I 1984/1985 telah berhasil dihimpun tabungan Pemerintah sebesar Rp 3.2. Realisasi penerimaan pembangunan yang bersumber dari luar negeri dalam semester I 1984/1985 menunjukkan jumlah sebesar Rp 1.156. pembiayaan pembangunan regional berupa bantuan pembangunan daerah (program Inpres) dan Ipeda sebesar Rp 844. Dalam semester I 1984/1985. Penerimaan dalam negeri Dalam rangka menunjang kegiatan pembangunan yang semakin meningkat dan meluas. upaya penyediaannya haruslah selalu diusahakan terutama dari sumber dalam negeri. dan penge1uaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek sebesar Rp 1. terlihat dari meningkatnya tabungan Pemerintah yang merupakan se1isih an tara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin.3 persen.1 milyar.764. baik segi perencanaan maupun pelaksanaan operasionalnya.244. maka dalam semester Departemen Keuangan RI 20 .5 milyar. membentuk dana pembangunan sebesar Rp 4. Jumlah tersebut terdiri dari realisasi pembiayaan pembangunan sektoral yang dilaksanakan oleh departemen/lembaga sebesar Rp 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Meningkatnya kemampuan sumber-sumber dana dari dalam negeri guna membiayai pembangunan nasional.9 milyar.094. Dana ini dibutuhkan guna menambah dana pembiayaan pembangunan agar sasaran pembangunan dapat tercapai. Sehubungan dengan itu.094.2. serta lebih mengusahakan pemerataan pembangunan dan pemeliharaan kestabilan.7 milyar.7 milyar pada semester I 1984/1985.250. Dengan berbagai kebijaksanaan dan usaha yang te1ah dijalankan.0 milyar.634.552. Dengan demikian pembangunan yang dilaksanakan untuk se1anjutnya akan dapat lebih tumbuh dan berkembang di atas kemampuan sendiri.7 milyar tersebut te1ah digunakan untuk membiayai penge1uaran pembangunan sebesar Rp 4.7 milyar. realisasi pengeluaran pembangunan mencapai jumlah sebesar Rp 4. memperluas kesempatan kerja.132. Sejalan dengan semakin ineningkatnya kebutuhan dana pembangunan yang hams disediakan. Penerimaan pembangunan bersama tabungan Pemerintah berjumlah Rp3.0 persen.250.5 milyar. maka diperlukan tersedianya dana pembangunan yang semakin meningkat pula.3 milyar maka terdapat peningkatan sebesar 12.8 milyar. Dengan demikian dari dana pembangunan sebesar Rp 4. realisasi penge1uaran pembangunan lainnya sebesar Rp 714. upaya untuk meningkatkan penerimaan dalam negeri dalam tahun 1984/1985 terus dilakukan seraya diarahkan untuk menunjang peningkatan produksi dan investasi.244.7 milyar.

5 milyar.8 milyar. 25 persen untuk penghasilan di atas Rp 10 Departemen Keuangan RI 21 .000.5 milyar. Undang-Undang Pajak Penghasilan tahun 1984 yang sudah berlaku sejak bulan Januari 1984 mengandung berbagai kebijaksanaan yang pada prinsipnya mendorong kegiatan dunia usaha dan pembangunan nasional.9 milyar. yaitu 15 persen untuk penghasilan sampai dengan Rp 10 juta. Langkahlangkah kebijaksanaan yang diambil dalam rangka meningkatkan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam antara lain berupa pelaksanaan undang-undang perpajakan yang baru.2 milyar.2 persen.971.-. Realisasi penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2. yang semula untuk satu keluarga terdiri dari suami. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam tersebut telah meningkat sebesar Rp 252.0 milyar.880.166.971.7 persen hila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun 1983/1984 sebesar Rp 2.7 milyar. Peningkatan penerimaan ini antara lain disebabkan oleh adanya penyesuaian nilai tukar dollar Amerika terhadap rupiah.8 milyar atau 11.8 persen dari jumlah seluruhnya yang direncanakan dalam APBN. pemerataan dan kepostian hukum.418. cukai sebesar Rp 375. Jumlah realisasi penerimaan dalam negeri semester I 1984/1985 tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 4.000. pajak ekspor sebesar Rp 38. bea masuk sebesar Rp 276. dengan senantiasa berusaha untuk menciptakan iklim perpajakan yang menjamin keadilan. pajak penjualan impor sebesar Rp 125.2 miyar.418. Realisasi penerimaan minyak bumi dan gas alam dalam semester I 1984/1985 sebesar Rp 4.8 milyar tersebut adalah 48. berarti mengalami kenaikan sebesar Rp 765.050.8 milyar tersebut berarti telah mencapai 41. serta meningkatnya volume ekspor dari gas alam.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 I tahun anggaran 1984/1985 realisasi penerimaan dalam negeri mencapai jumlah sebesar Rp7. penerimaan pajak lainnya sebesar Rp 33. dan terdiri dari tiga lapisan tarip.1 milyar atau 18.0 persen dari yang direncanakan dalam APBN. Sedangkan lapisan kena pajak. isteri. dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 353.8 milyar dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2. pajak penjualan sebesar Rp 272. Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan dalam semester I tahun sebe1umnya yang sebesar Rp 4. serta tiga orang anak adalah sebesar Rp 1.5 milyar.6 milyar.2 milyar.206. Adapun penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam terdiri dari penerimaan pajak penghasilan sebesar Rp 875. Upaya ke arah pemungutan pajak yang lebih adil dan merata tercermin dengan semakin ringannya beban pajak bagi golongan masyarakat berpendapatan rendah melalui peningkatan penghasilan tidak kena pajak (PTKP).kini telah ditingkatkan menjadi Rp 2.8 milyar. dan penggolongan tarip lebih sederhana.390.0 milyar.. PTKP yang sebelumnya dikenal dengan istilah BPBP (batas pendapatan bebas pajak). penerimaan Ipeda sebesar Rp 68.

7 milyar dan Rp 122. dalam semester I tahun anggaran 1984/1985 realisasi penerimaan pajak penghasilan telah mencapai Rp 875. maka Undang-Undang Pajak Penjualan 1951 masih berlaku hingga tanggal berlakunya undang-undang baru tersebut. Undang-Undang Pajak Penjualan 1951 sebenarnya tidak berlaku lagi setelah disahkannya Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang semula direncanakan untuk diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1984. juga diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat banyak.5 milyar. penerimaan pajak penjualan dan pajak penjualan impor adalah sebesar Rp 272. maka terdapat kenaikan sebesar 3.5 milyar. Sehubungan dengan itu Pemerintah tetap memberikan keringanan tarip.kenaikan sebesar 7.9 milyar.5 Departemen Keuangan RI 22 . dan sebelumnya yang belum pernah. Dengan berbagai kebijaksanaan dan usaha-usaha tersebut di atas. Jumlah terse but adalah 35. serta mendorong perkembangan industri dalam negeri.2 milyar. atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut pajak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Bila dibandingkan dengan penerimaan bea masuk semester I tahun anggaran sebelumnya sebesar Rp 267. telah pula dilaksanakan penyempurnaan tala laksana pabean di bidang impor. yang berarti 40.3 milyar. yang dimaksudkan untuk memelihara dan menunjang perkembangan industri di dalam negeri. kebijaksanaan di bidang bea masuk di samping dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan negara. maupun beberapa pembebasan sebagian bea masuk atas sejumlah bahan baku dan barang-barang tertentu. sehingga dengan pengampunan pajak terse but diharapkan akan dapat memperluas jumlah wajib pajak. Dalam rangka menjamin kelancaran arus dokumen dan pengeluaran barang.8 persen.4 persen. dan 35 persen untuk penghasilan di atas Rp 50 juta.7 persen dari yang direncanakan dalam APBN. Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan pajak penjualan dan pajak penjualan impor dalam semester I 1983/1984 yaitu masing-masing sebesar Rp 252.7 persen dan 2. Sejalan dengan kebijaksanaan umum di bidang perpajakan.6 persen dari yang direncanakan dalam APBN. Tetapi sehubungan dengan penundaan pelaksanaan Undang-Undang PPN 1984 tersebut hingga selambat-lambatnya tanggal 1 Januari 1986. Realisasi penerimaan bea masuk dalam semester I tahun 1984/1985 mencapai Rp 276. dan Rp 125. terlihat adanya.0 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 juta sampai dengan Rp 50 juta. Dalam semester I 1984/1985. Realisasi penerimaan cukai dalam semester I 1984/1985 adalah sebesar Rp 375. Pengampunan pajak diberikan atas pendapatan yang diperoleh dalam tahun 1983. Adapun pengampunan pajak yang ditentukan sejak 18 April 1984 akan memberikan pengaruh positif terhadap kejujutan dan keterbukaan wajib pajak.

berarti terdapat penurunan sebesar 23.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar.2 milyar. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun anggaran sebelumnya yang besamya Rp 334. Sejalan dengan perkembangan tersebut. realisasi penerimaan pajak ekspor untuk semester I 1984/1985 hanya mencapai sebesar Rp 38.4 persen dari yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985. Hal tersebut telab berpengaruh kepada volume maupun nilai ekspor Indonesia dalam semester I 1984/1985. Di samping itu timbul pula hambatan yang dikenakan negaranegara maju terhadap barang-barang ekspor negara dunia ketiga. berarti mengalami kenaikan sebesar 41. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp 23. maka terdapat kenaikan sebesar Rp 147.9 persen.4 persen dari yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 28. Pemerintah telah menurunkan tarip pajak ekspor terhadap beberapa komoditi tertentu.9 persen. berarti mengalami kenaikan sebesar 12.4 milyar. Dalam semester I 1984/1985 penerimaan bukan pajak realisasinya mencapai Rp 353.5 milyar. Jumlah tersebut berarti 44.7 milyar atau 71. bea meterai. serta penyuluhan kepada masyarakat luas. Kenaikan ini terutama berasal dari kenaikan penerimaan cukai tembakau dengan meningkatnya produksi rokok.2 milyar.5 milyar. Penerirnaan bukan pajak terdiri dari Departemen Keuangan RI 23 .8 milyar atau 31.4 persen dari rencananya dalam APBN. Keadaan perekonomian yang masih belum sepenuhnya pulih dari resesi. dan bea lelang. dalam semester I 1984/1985 mencapai Rp 33.6 milyar. Apabila dibandingkan dengan penerimaan yang sarna dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp50.2 milyar.6 milyar.2 persen bila dibandingkan dengan penerimaan dalam semester I tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 53. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp 205. Upaya peningkatan penerimaan jenis ini selalu diusahakan dengan lebih meningkatkan kualitas petugas pelaksana melalui pendidikan dan latihan. Realisasi penerimaan pajak lainnya yang terdiri dari pajak kekayaan. Penerimaan Ipeda dalam semester I tahun 1984/1985 adalah sebesar Rp 68. sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar iuran tersebut.3 persen. Untuk meningkatkan ekspor non migas di tengah perkembangan perekonomian dunia yang masih lamban. berupa pembatasan (kuota) impor terbadap berbagaijenis komodiri. antara lain bauksit dan pekatannya. membawa pengaruh yang kurang menguntungkan terhadap perkembangan harga barang-barang ekspor non migas di posaran dunia. termasuk Indonesia.6 persen dari yang direncanakan dalam APBN. atau 57. yang berarti mencapai 51.3 persen.

4 5. Ipeda 53.5 12. dan bank negara. sewa rumah dinas.5 353.70 7. dalam semester I 1984/1985 realisasinya masing-masing sebesar Rp 23.5 41. bumi dan gas alam 2.2.132.2 A.7 1. yaitu dalam bentuk bantuan program dan bantuan proyek.3.60 6.2 68.971.5 3. Pajak penjualan 252.0 2. penerimaan dalam negeri senantiasa diusahakan peningkatan dan peranannya di dalam penyediaan dana pembangunan yang diperlukan. gas alam 4.2 PENERIMAAN DALAM NEGERI.3 6.8 milyar. Namun upaya memobilisasikan dana pembangunan tersebut harus diusahakan tidak melampaui kekuatan ekonomi yang ada. Pajak penghasilan 856.4. bea nikah dan akte kelahiran pada catatan sipil.2 71. dan sebagainya. Oleh karena itu dana yang berasal dari luar negeri masih diperlukan sebagai pelengkap untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan.80 18.4 375. Pajak lainnya 23.9 2.9 Jumlah 6. Bea masuk 267.372.2. SEMESTER 1 1983/1984 DAN 1984/1985 (dalam milyar rupiah) .8 4.2 875 2. Pengelolaan sumber dana yang berasal dari luar negeri tersebut senantiasa diarahkan seefisien mungkin untuk membiayai proyek-proyek pembangunan yang produktif dan berprioritas tinggi. hasil penjualan barang milik negara.390. Perbandingan penerimaan dalam negeri.3 276.7 3.8 -23. serta berbagai jenis penerimaan departemen dan lembaga Pemerintah lainnya.6 33.2 2.6 38.9 9. Pengeluaran rutin Kebijaksanaan Pemerintah di bidang pengeluaran rutin tidak terlepos dari upaya untuk Departemen Keuangan RI 24 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berbagai jenis penerimaan negara.80 11.7 272.2 Tabel II.2 7. Pajak penjualan impor 122. semester I 1983/1984 dan 1984/1985 dapat dilihat dalam Tabel II. antara lain berupa bagian Pemerintah atas laba perusahaan negara.00 2.206.418. Pajak ekspor 50.5 125.2 28.166. Penerimaan pembangunan. Penerimaan bukan pajak 205.3 7.70 Penerimaan di luar minyak B. uang pendidikan. Penerimaan pembangunan Untuk memungkinkan ekonomi nasional dapat tumbuh dan berkembang di atas kemampuannya sendiri.Semester I Semester 11) Kenaikan / 1983/1984 1984/1985 Penurunan (%) Jems penerimaan Penerimaan minyak bumi dan 4.2 milyar dan Rp 1.2 8. Cukai 334. seperti iuran hak pengusahaan hutan (IHPH). 2.

pembayaran bunga dan cicilan hutang sebesar Rp 1. Departemen Keuangan RI 25 .2 persen dari dana yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985.602. serta lebih efektif dan efisien sehingga pelaksanaannya dapat lebih terarah dan terkendali.2 milyar dalarn semester I 1984/1985 yang berarti meningkat sebesar 85. subsidi daerah otonom sebesar Rp 913. sebagai upaya untuk lebih mendorong peningkatan produksi dalam negeri. tidak mewah. di samping berhubungan erat dengan pengamanan dan pemeliharaan hasilhasil pembangunan. Perkembangan realisasi pengeluaran rutin dalam sem(.3 milyar selama semester I 1984/1985 merupakan peningkatan sebesar 14. dan berarti pula telah menyerap 50.1 milyar. Kenaikan realisasi belanja pegawai juga disebabkan meningkatnya realisasi tunjangan beras.602. Oleh sebab itu setiap kegiatan pengeluaran harus dipertimbangkan agar selalu berlandaskan pada prinsip-prinsip hemat. belanja barang sebesar Rp 406. Realisasi pengeluaran rutin sebesar Rp 4. yang terdiri dari belanja pegawai sebesar Rp 1. sehingga dapat bekerja lebih baik dan dengan demikian akan meningkatkan produktivitas kerja.ster I 1984/1985 dapat diikuti dalam Tabel II.295. Seiring dengan itu.9 milyar. Pemberian kenaikan gaji itu sendiri merupakan langkah yang ditempuh Pemerintah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri sipil/ ABRI dan pensiunan.6 milyar. dayaguna dan hasilguna serta pengamanan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa.1 persen hila dibandingkan dengan semester I 1983/ 1984. realisasi pengeluaran rutin diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 4. telah ditetapkan pula Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 1984 tentang Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah di Departemen/Lembaga. dalam rangka meningkatkan kelancaran. dan lain-lain pengeluaran rutin sebesar Rp135.3 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 meningkatkan tabungan Pemerintah. dari Rp 137.5 persen dari rencananya dalam APBN 1984/1985 dan menunjukkan peningkatan sebesar 19.9 milyar tersebut merupakan 42.2 persen dari realisasi dalam semester I tahun sebelumnya.0 milyar.238.3 milyar.9 milyar.3 Realisasi belanja pegawai sebesar Rp 1. Peningkatan re'alisasi belanja pegawai ini antara lain sebagai akibat diberikannya kenaikan gaji sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan kepada pegawai negeri sipil/ ABRI dan pensiunan. Dalam pedoman pelaksanaan APBN yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 29 tahun 1984 dinyatakan bahwa pelaksanaan APBN diarahkan kepada penggunaan kemampuan dan hasil produksi dalam negeri sejauh mungkin. Dalam semester I 1984/1985. yang merupakan sumber utama bagi pembiayaan pembangunan.7 milyar dalarn semester I 1983/1984 menjadi Rp 255.295.

2 c.3 34.237.lain Jumlah 1) Angka sementara 1983/84 1.1 Tabel II.609.7 b.9 milyar. Pembiayaan Departemen/Lembaga 1.2 4.4 PENGELUARAN PEMBANGUNAN. Subsidi BBM b. Tunjangan beras b.761. Agar pe1aksanaan penge1uaran rutin dapat berjalan secara hemat dan efisien.4 26.2 85. Subsidi pupuk 176. SalaDa kesehatan / Puskesmas 9. Bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984 terdapat kenaikan sebesar Rp 615. Subsidi daerah otonom a.402.2 3.3 PENGELUARAN RUTIN.1 21.9 483.5 136.6 714.9 a. yang berarti 72.90 137.7 e.5 81.30 147. dalam negeri e.7 1) Di luar bantuan proyek 2) Angka sementara Hal ini terutama disebabkan perhitungan harga beras untuk pegawai Degen.608.8 0.7 42. peg.238.3 a.2 68. Pengeluaran rutin untuk subsidi daerah otonom dalam semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 913.1 milyar terdiri dari pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri sebesar Rp 0.238. Dalam negeri b.20 3.5 b.70 151 41 31. Lain-lain pengeluaran rutin.2 623 0. yang semula Rp 327.2 -37. penggantian biaya pengiriman surat dinas bebas porto.9 30.3 3.1 Jumlah 2.2 844.3 32.3 -73. Hal ini disebabkan terutama oleh lebih rendahnya realisasi subsidi bahan bakar minyak.1 39. yang berarti meningkat sebesar 26.9 391.70 1.9 12.5 j.-/kg sejak 1 April 1984.295. Prasarana jalan 45 57. Pembiayaan Lain-lain 548.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel II.051.5 369.3 6.2 1.30 255.9 357.4 406.2 -4 33. Lain -lain a.4 d.2 1. penge1uaran untuk belanja barang harus dilakukan secara selektif dan terkendali.6 126.70 12.237. penyesuaian harga beras ini mempengaruhi pula pembayaran uang makan/lauk pauk.3 913 828. Lain-lain bel.4 722.40 1. dan untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri sebesar Rp 1.9 i. Bantuan penghijauan dan reboisasi 51.lain 174.2 h. Lain .7 641. SEMESTER I 1983/1984 DAN 1984/1985 1) (dalam milyar rupiah) Kenaikan (%) Jenis pengeluaran 1983/84 1984/85 2) 1.5 a.3 persen dibandingkan dengan semester I tahun sebelumnya.8 -15 2.9 2. yang antara lain menampung pengeluaran untuk subsidi bahan bakar minyak. Pembangunan Timor Timur 0.40 1984/85 1) 1.7 -3. . Departemen Keuangan RI 26 .2 3.8 84. Kenaikan realisasi subsidi daerah otonom ini disebabkan adanya kenaikan gaji pegawai daerah otonom sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan tahun sebe1umnya.6 6. Bantuan sekolah dasar 330 311.6 31.1 -5.8 286.7 b.111.10 0. Dalam negeri b.6 milyar.7 203.2 28. Se1anjutnya. se1ama semester I 1984/1985 mencapai realisasi sebesar Rp 135.0 milyar. Pembiayaan bagi daerah 603. H a n k a m 239.70 -3.70 135.7 1.7 23. Penyertaan modal pemerintah 197. Bantuan pembangunan dan pemugaran 8.7 -55.2 237.6 15. pe1aksanaan be1anja barang dalam semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 406.9 46 19.6 10 1) 9.123.9 622.1 489.369.1 milyar. Bunga dan cicilan hutang a.3 f. Bantuan pembangunan desa 24 92. yang berarti suatu kenaikan sebesar 10 persen dan realisasi dalam periode yang sama tahun sebelumnya. Ipeda 53. Gaji dan pensiun c.-/kg dinaikkan menjadi Rp 366. SEMESTER I 1983/1984 DAN 1984/1985 (dalam milyar rupiah) Jenis Pengeluaran 1. Belanja barang a. Non belanja pegawai 4.1 26.4 9. Belanja pegawai a.6 260. Realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam semester I 1984/1985 sebesar Rp 1.5 23.2 545.3 persen lebih rendah dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984. Luar negeri 5.602.Belanja pegawal b.4 g.1 194.7 98. Biaya makan (lauk pauk) d.5 12.552. Luar negeri 3.9 c. Bantuan pembangunan Dati I 59. Dengan berpedoman kepada ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 1984.90 -1.4 1. Belanja pegawai luar negeri 2.90 Kenaikan (%) 14. Lain .3 29.7 57.7 milyar. Bantuan pembangunan kabupaten 30.8 217 24.348. biaya giro pos dan lain-lain. Departemen/lembaga 1.4 milyar.6 99 -72.

4 milyar atau 11. Dalam tahun anggaran 1984/1985. Bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2.9 persen.094.7 milyar.5. Selama semester I 1984/1985 te1ah berhasil dihimpun tabungan Pemerintah sebesar Rp 3.7 milyar.5 milyar. dan sisanya berupa pengeluaran pembangunan lainnya sebesar Rp 714. Pengeluaran pembangunan Berbagai langkah dan kebijaksanaan yang telah diambil Pemerintah selama pelaksanaan Repelita I. yang berarti telah mencapai 51.8 milyar. intensifikasi dan extensifikasi pungutan pajak.2. yang merupakan tahun pertama pelaksanaan Repelita IV. Pengeluaran pembangunan bempa pembiayaan pembangunan bagi daerah merupakan bantuan yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah untuk menjalankan pembangunan yang meliputi program-program Inpres. telah berhasil direalisasikan bantuan sebesar Departemen Keuangan RI 27 .132. kebijaksanaan yang dijalankan berkenaan dengan pelaksanaan anggaran telah dituangkan dalam Keputusan PresideD Nomor 29 tahun 1984 tentang Pelaksanaan APBN. telah meletakkan landasan yang lebih kuat bagi pelaksanaan Repelita IV.111. Dengan tetap berlandaskan pada Trilogi Pembangunan. sedang di bidang penge1uaran rutin antara lain dengan jalan menyempurnakan pedoman pe1aksanaan APBN di samping peningkatan mutu aparat pe1aksanaannya. penyempurnaan administrasi serta pembenahan aparatur perpajakan. 2. pengeluaran pembangunan bagi daerah sebesar Rp 844.7 milyar tersebut terdiri dari pengeluaran pembangunan untuk proyek-proyek sektoral yang dikelola departemen/lembaga sebesar Rp 1. II dan III. pelaksanaan pengeluaran pembangunan selama semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 4. dilakukan dengan meningkatkan jumlah penerimaan dalam negeri bersamaaan dengan penghematan dalam pengeluaran rutin. Tabungan Pemerintah Usaha untuk meningkatkan tabungan Pemerintah. Pengeluaran pembangunan berupa pembiayaan rupiah sebesar Rp3. dan pengeluaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek sebesar Rp 1.1 milyar.9 milyar.552. Selama semester I 1984/1985. Jumlah tersebut meliputi pembiayaan rupiah sebesar Rp 3.111. jumlah tersebut menunjukkan peningkatan sebesar Rp 330.244.2. Ipeda dan pembiayaan bagi Timor Timur.6. Upaya peningkatan penerimaan dalarn negeri ditempuh antara lain dengan penyempurnaan perundang-undangan pajak.2 persen dan yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. yang merupakan sumber utarna bagi pembiayaan pembangunan. serta selalu berpedoman kepada Keputusan Presiden tersebut diatas.7 milyar.

meratakan hasil-hasil pembangunan. serta bantuan bagi prasarana jalan sebesar Rp 57. yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah dalam rangka melindungi para pedagang kecil golongan ekonomi lemah.an pembangunan Dati I sebesar Rp 57. Bantuan pembangunan Dati I. prasarana jalan dan program pembangunan Timor Timur dalam semester I 1984/1985 telah menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan realisasi dalam periode yang sarna tahun sebelumnya. Begitu pula halnya dengan pengeluaran pembangunan dengan dana Ipeda.2 persen bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I tahun sebelumnya.4 milyar.2 milyar.4 milyar.7 milyar. Jumlah tersebut meliputi pembiayaan bagi program bantuan pembangunan desa sebesar Rp 92. Di samping itu jumlah tersebut juga meliputi program bantuan pembangunan sekolah dasar sebesar Rp 311.8 milyar dan Rp 194. dan Departemen Keuangan RI 28 . bantuan pembangunan posar sebesar Rp8.2 milyar dalam semester I 1984/1985 merupakan realisasi dari anggaran yang disediakan dalam tahun anggaran 1984/1985.2 milyar. Realisasi bantuan pembangunan desa dan bantuan pembangunan kabupaten masingmasing sebesar Rp 92.9 milyar.8 milyar.6 milyar. bantuan penghijauan dan reboisasi sebesar Rp 32. Pengeluaran pembangunan lainnya.2 milyar. Rp 260.6 persen dari yang direneanakan dalam tahun 1984/1985. Bantuan pembangunan dan pemugaran pasar. Selebihnya adalah realisasi program bantuan pembangunan Timor Timur sebesar Rp 0. yang terdiri dari subsidi pupuk. yang berarti telah menyerap sebesar 55.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp844. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan sebesar Rp 8.7 persen dari dana yang direncanakan dalam tahun 1984/1985.3 milyar. Tetapi realisasi sebesar Rp 311. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan sebesar Rp 57. Realisasi program-program pembangunan sarana kesehatan/Puskesmas. bantuan pembangunan kabupaten sebesar Rp 194.2 milyar. realisasinya menunjukkan penurunan sebesar 5. dan program pembangunan dengan dana Ipeda sebesar Rp 68. sarana kesehatan/Puskesmas sebesar Rp 21. realisasinya sebesar Rp 68.5 milyar.7 milyar yang berarti 3.2 milyar dalam semester I 1984/1985 menunjukkan peningkatan sebesar 28. Demikian pula halnya dengan program pembangunan sekolah dasar.1 milyar. sedangkan bantuan penghijauan dan reboisasi yang bertujuan untuk menyelamatkan kelestarian sumber-sumber alam.1 milyar. dan bantu. yang diberikan dalam rangka meningkatkan keselarasan pembangunan sektoral dan regional. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan masing-masing sebesar Rp 237.4 persen di bawah realisasi semester I 1983/1984.1 milyar.7 persen dibandingkan dengan semester I tahun lalu. penyertaan modal Pemerintah dan lain-lain pembangunan. serta meningkatkan partisiposi daerah dalam pembangunan. dalam waktu yang bersamaan telah direalisasikan sebesar Rp 32.1 milyar ini telah menyerap dana sebesar 53.

PT GIA/Cengkareng. pertumbuhan ekonomi yang eukup tinggi.00 pada tanggal14 Maret 1983.0 milyar. Pengeluaran pembangunan dalam rangka penyertaan modal Pemerintah antara lain dipakai untuk pembiayaan PT Dok Perkapalan Tanjung Priok. landasan kebijaksanaan raneangan APBN 1985/1986 tetap bertumpu pada Trilogi Pembangunan. yakni pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.9 persen dan 24. dan penurunan harga minyak dari US $ 34. yaitu sejak diberlakukannya kuota produksi sebesar 1. serta mengarahkan penggunaan Departemen Keuangan RI 29 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 217. rendahnya permintaan akan komoditi-komoditi ekspor dari negara-negara sedang berkembang.7 persen. realisasi tersebut menunjukkan peningkatan masingmasing sebesar 34. Di bidang keuangan negara.1 persen.4. lingkungan hidup.3 juta barrel pada bulan April 1982. pengembangan statistik. Seperti halnya pada tahun-tahun yang lampau. Dibandingkan dengan semester I 1983/1984. termasuk Indonesia. Perbandingan antara realisasi pengeluaran pembangunan di luar bantuan proyek dalam semester I 1984/1985 dengan semester I 1983/1984 ditunjukkan dalam Tabel II. malah ditandai dengan mulai melambannya kembali pertumbuhan ekonomi negara-negara industri. Sedangkan pengeluaran pembangunan lainnya terutama digunakan untuk meningkatkan pelaksanaan program keluarga berencana. Situasi perekonomian intemasional yang belum sepenuhnya pulih dari resesi. Dari keadaan tersebut diperkirakan masa-masa sulit sebagai akibat dari resesi ekonomi dunia dan perkembangan harga minyak bumi masih akan dirasakan dalam tahun anggaran 1985/1986. serta meningkatnya langkah-langkah proteksionisme dari negara-negara maju. 31. proyek sumber daya laut dan lain-lainnya. sertifikat ekspor. PT PINDAD.00 menjadi US $ 29.3 Rencana APBN 1985/1986 Berbagai program dan proyek pembangunan yang disusun dalam reneana APBN 1985/1986 merupakan pelaksanaan operasional tahun kedua Reneana Pembangunan Lima Tahun keempat (Repelita IV). Demikian pula prinsip-prinsip anggaran berimbang yang dinamis tetap pula dipertahankan dalam penyusunan rancangan APBN 1985/1986. telah mempengaruhi perkembangan perekonomian negara-negara dunia ketiga. PT Industri Mesin Produksi Indonesia (IMPI) dan PT PAL Indonesia. Demikian pula posaran dan harga minyak bumi dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan keadaan labil. 2. akan tetap dilaksanakan berbagai langkah kebijaksanaan untuk meningkatkan efisiensi dan penghematan.

diharapkan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam akan dapat lebih ditingkatkan. serta penerimaan pembangunan yang direncanakan sebesar Rp 4.046. khususnya melalui usaha peningkatan penerimaan dalam negeri di luar minyak. Dengan demikian tabungan Pemerintah yang direncanakan adalah sebesar Rp 6.647.1. dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam.masing-masing direncanakan sebesar Rp 12.0 milyar. dan berbagai pembiayaan pembangunan lainnya seperti penyertaan modal Pemerintah.2 milyar. Di samping itu. 2.7 milyar dan Rp7.5 milyar. Di sisi penerimaan negara.399.644.23.297.159. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai berbagai jenis pengeluaran pembangunan sektoral yang dilaksanakan oleh Departemen/Lembaga Negara sebesar Rp3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 keuangan negara untuk bidang-bidang yang mempunyai prioritas yang tinggi. jumlah tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam. jumlah tersebut terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan yang . subsidi pupuk. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara direncanakan berimbang pada jumlah sebesar Rp.062.1 milyar.2 milyar. telah dilaksanakan ketika memasuki tahun awal Pelita IV. Dalam tahun 1985/1986.9 milyar. dengan pembaharuan-pembaharuan di bidang perpajakan.368. Tabungan Pemerintah tersebut bersama-sama dengan penerimaan pembangunan akan membentuk dana pembangunan yang direncanakan akan mencapai Rp10. Di sisi pengeluaran negara.643.647. dan lain-lain pengeluaran yang seluruhnya direncanakan berjumlah sebesar Rp 1.518.278. serta bantuan pembangunan Timor Timur sebesar Rp 1. dana Ipeda.. pada hakekatnya mempunyai arah dan tujuan untuk meningkatkan penerimaan dalam negeri terutama dari sumber-sumber di luar minyak bumi dan gas alam. pembangunan regional berupa proyek-proyek Inpres. akan tetapi juga berusaha-untuk meningkatkan rasa keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan melalui bidang perpajakan. Penerimaan dalam negeri Kebijaksanaan untuk menciptakan landasan yang kuat guna mempercepat proses pembangunan yang selama ini dijalankan. Dalam pengeluaran pembangunan termasuk didalamnya pengeluaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek yang direncanakan 3ebesar Rp 4. yakni dengan disahkannya beberapa undang-undang Departemen Keuangan RI 30 .0 milyar.3 milyar.0 milyar. Dengan kebijaksanaan ini Pemerintah bukan saja berupaya untuk lebih menyeimbangkan struktur penerimaan negara yang sebagian besar masih tergantung pada penerimaan dari minyak bumi dan gas alam. LangkahIangkah umuk menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan. yang masing-masing direncanakan sebesar Rp 11.0 milyar.0 milyar dan Rp10.3.

dan iuran pembangunan daerah. Di samping undang-undang perpajakan tersebut. guna lebih memantapkan peningkatan penerimaan di dalam negeri. Perkembangan penerimaan dalam negeri sejak 1969/1970 sampai dengan 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. telah pula dilaksanakan penataran untuk seluruh aparat perpajakan. baik untuk meningkatkan pengetahuan teknis di lapangan. antara lain mengenai pabean. prosedur dan penaripan yang rumit.518.677.2 milyar.6 Departemen Keuangan RI 31 .7 milyar dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 7. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 1985/1986. penerimaan dalam negeri direncanakan mencapai Rp 18.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perpajakan baru sebagai penggami dari undang-undang perpajakan lama warisan kolonial yang dirasakan telah tidak sesuai lagi dengan alam dan gerak pembangunan sekarang ini. berbagai perubahan dalam teknis pelaksanaan pemungutan pajak telah pula dilaksanakan. Sejalan dengan itu. Akan tetapi usaha tersebut akan kurang bermanfaat tanpa keikutsertaan serta kesadaran . Hal itu meliputi perubahanperubahan prosedur dan administrasi perpajakan.9 milyar. undangundang perpajakan yang baru lebih mencerminkan kesederhanaan serta lebih mendorong pemerataan dan memberikan kepostian hukum.dari seluruh wajib pajak. pembaharuan bemuk-bentuk formulir. serta pendataan dan pemberian nomor pokok wajib pajak (NPWP) sesuai dengan perundangundangan yang baru. sedangkan Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah direncanakan akan berlaku pada tanggal 1 April 1985. yang terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 11.159. pajak kekayaan. kini tengah dipersiapkan beberapa rancangan undang-undang. Berlainan dengan undang-undang perpajakan yang lama yang mempunyai sistem. terutama dalam tujuannya meningkatkan peranan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam sebagai sumber utama penerimaan negara. maupun umuk meningkatkan disiplin serta mental aparat perpajakan. UndangUndang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan serta Undang-Undang temang Pajak penghasilan telah diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 1984. baik terhadap aparat perpajakan maupun para wajib pajak. memerlukan waktu umuk mencapai mekanisme yang diinginkan oleh undang-undang perpajakan yang baru. Sejak berlakunya undang-undang perpajakan yang baru. Untuk itu penyuluhan-penyuluhan juga telah diberikan kepada wajib pajak guna meningkatkan kesadaran. serta pemahaman tentang arti pentingnya undang-undang perpajakan tersebut dalam era pembangun.. Namun Pemerintah menyadari sepenuhnya bahwa pembinaan yang dilakukan.

2 1975/1976 2.50 15. Dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 1985/1986 penerimaan rninyak bumi dan gas alarn direncanakan sebesar Rp 11.1.4 1982/1983 12.7 1981/1982 12. dalam masa. Pembatasan produksi yang disepakati bersama oleh negara-negara anggota OPEC baru-baru ini diharapkan akan membawa pengaruh yang positif terhadap perkembangan tingkat harga minyak mentah di posaran dunia.227.535.20 52.90 2.530.753.00 664.70 786 81.6 100. melihat perkembangan harga dan permintaan minyak mentah di posaran dunia yang masih diliputi kelesuan akibat keadaan perekonomian negara-negara industri yang belum sepenuhnya bangkit dari kemelut resesi.7 1970/1971 344. 6 PENERIMAAN DALAM NEGERI.9 1985/19862) 18.6 38 1973/1974 967.7 1) APBN 2) RAPBN 2.985. 1969/1970 -1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Kenaikan Jumlah Persentase Tahun anggaran Jumlah PELITA I 1969/1970 243.60 19. Apabila Departemen Keuangan RI 32 .7 20.90 488.266.1 29. penerimaan dari sektor ini tidak dapat diharapkan akan mengalami lonjakan yang besar seperti yang terjadi dalam Pelita II dan permulaan Pelita III.9 41.159.212.70 2.2 PELITA IV 1984/19851) 16.70 11.2 1972/1973 590.60 1.696.70 57 1980/1981 10.241.4 24.1.418.906.432.7 1978/1979 4. Gas alam yang rnerupakan salah satu sumber energi alternatip bagi industri-industri besar sebagai pengganti minyak bumi.7 milyar.40 629.4 1971/1972 428 83.7 PELITA III 1979/1980 6.3.014.9 PELITA II 1974/1975 1.528.masa terakhir ini menghadapi permintaan yang meningkat dengan cukup berarti.716.6 162.00 3.40 16.7 1983/1984 14.1 63.30 205. Namun demikian.677. Penerimaan minyak bumi dan gas alam Dari keseluruhan penerirnaan negara yang bersurnber dari dalam negeri.149.7 377.80 2.430.7 1.10 730.2 27.4 21.8 1976/1977 2.6 1977/1978 3. Adapun penerimaan dari sektor gas alam (LNG) diperkirakan mengalami kenaikan.40 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabe1 II. penerimaan yang berasal dari sektor minyak bumi dan gas alam masih tetap merupakan sumber penerimaan yang penting dalam tahun 1985/1986.

019.8 151.1.70 2. upaya peningkatan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam.00 1.4 41.20 -457.4 30.5 89.2 140.8 150. 7 PENERIMAAN MINYAK BUMI DAN GAS ALAM.4 31 19.2 31.10 1.5 382.170.308.3.9 344.30 1.2.248.948.11. dan penerirnaan gas alam sebesar Rp 1.9 7. Departemen Keuangan RI 33 .7 persen.40 9.80 8.00 1.159.259. Pemerintah tidak lagi sepenuhnya dapat bertumpu pada penerimaan yang berasal dari minyak bumi dan gas alam.680.70 Penerimaan minyak lainnya 17.366.1 50.60 7.4 28.308. .70 2.948.8 63.5 84.019.5 8.619.479.3 68.70 2.8 99. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam Untuk membiayai pelaksanaan pembangunan yang sernakin meningkat dalam Pelita IV.9 -1.159. merupakan suatu langkah keharusan bagi berhasilnya pembangunan yang akan dilaksanakan untuk waktu-waktu mendatang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penerimaan minyak bumi dan gas alam tersebut dibandingkan dengan rencana dalam APBN tahun 1984/1985 yang berjumlah Rp 10.4 1.1 15.20 Persentase Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) APBN 2) RAPBN Jumlah 33.8 112.170.40 9. berarti terdapat peningkatan sebesar Rp793.+ 18.6 -15.6 milyar.627.259.8 387.4 793.9 -5.60 7.349.3 313.7 .520. Menyadari hat tersebut.9 Kenaikan Jumlah 65.950. Penerimaan rninyak bumi dan gas alam tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi yang direncanakan sebesar Rp 9.8 22.80 8.2 .7 230.1 rnilyar atau 7.10.6 milyar.8 41. Perkembangan penerimaan pajak penghasilan rninyak bumi dan gas alam sejak tahun 1969/1970 sampai dengan tahun 1985/1986 dapat dilihat dalam Tabel II.6 37. Tabel II.3 16. baik pajak langsung maupun tidak langsung.7 575 290.366.1 milyar.2 957.40 1.7.520.6 973.20 10.70 4.60 .90 2.8 65.5 198.60 11.249.1 1.635.366. 1969/1970 -1985/1986 ( dalam milyar rupiah ) Pajak penghasilan minyak bumi dan gas alam 48.608.2 1.60 8.4 360 1.5 64. khususnya pada tahun kedua pelaksanaan Pelita IV ini.760.5 30.80 846.60 8.627.70 4.

dan royalty (PBOR) yang terhutang atas bunga. maka Departemen Keuangan RI 34 . dengan nama dan dalam bentuk apapun baik yang telah maupun yang belum terdaftar sebagai wajib pajak. serta terhadap pajak penjualan yang terhutang dalam tahun 1983 dan sebelumnya. Sementara itu terhadap pajak pendapatan buruh yang terhutang dalam tahun pajak 1983 dan sebelumnya. serta terhadap MPO wapu yang terhutang dalam tahun 1983 dan sebelumnya. Untuk memberi peluang agar wajib pajak memperoleh informasi lebih jelas dan mempunyai waktu cukup untuk mengisi laporan kekayaannya. meningkatkan diversifikasi ekspor. melindungi golongan ekonomi lemah. dan royalty yang dibayarkan atau disediakan untuk dibayarkan sampai dengan 31 Oesember 1983. menciptakan suasana pola hidup sederhana. Di samping itu kepada wajib pajak yang mengajukan permintaan pengampunan pajak akan dibebaskan dari pengusutan fiskal. pajak atas bunga. dengan jalan menciptakan pangkal tolak yang bersih yang berlandaskan pada kejujutan dan keterbukaan dari masyarakat. dividen. Kebijaksanaan ini tiada lain dimaksudkan untuk menunjang dan melengkapi pelaksanaan sistem perpajakan yang baru. maka batas waktu pengampunan pajak diperpanjang dari akhir Desember 1984 menjadi 30 Juni 1985. yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengampunan pajak ini diberikan kepada wajib pajak perorangan atau badan. melancarkan perdagangan dalam dan luar negeri. melindungi barang-barang yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri. diberikan pengampunan pajak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai tindak lanjut ditetapkannya beberapa undang-undang perpajakan baru. dan laporan tentang kekayaannya tidak akan dijadikan dasar penyidikan dan penuntutan pidana dalam bentuk apapun. Untuk itu atas pendapatan yang diperoleh dalam tahun 1983 dan sebelumnya dan kekayaan yang dimiliki pada 1 Januari 1984 dan sebelumnya. dikenakan tebusan dengan tarip 1 persen dan 10 persen dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung jumlah pajak yang dimintakan pengampunan. Upaya yang dilakukan Pemerintah di bidang penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam tersebut di samping diarahkan bagi peningkatan pendapatan negara juga diusahakan agar lebih dapat menciptakan iklim dan gairah usaha dalam negeri. Pengampunan ini juga diberikan terhadap pajak perseroan atas laba yang diperoleh dalam tahun 1983 dan sebelumnya. sehingga dapat lebih menjamin pemerataan pendapatan. juga diberikan pengampunan pajak. Selanjutnya untuk lebih mendorong tumbuhnya industri dalam negeri. Terhadap pajak-pajak yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut yang dimintakan pengampunan pajak. serta untuk lebih meningkatkan dampak positif di bidang ekonomi dari sistem perpajakan nasional. dividen. sejak 18 April 1984 diambil pula kebijaksanaan untuk memberi pengampunan pajak.

atas dasar undang-undang perpajakan yang bam beserta kelengkapannya. penerimaan pajak ekspor.074.7 milyar. penerimaan bea masuk.5 milyar. Apabila dibandingkan dengan penerimaan tahun sebelumnya. penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah.3 milyar. Ipeda sebesar Rp 167. besarnya penerimaan ini baru mencapai Rp 177.2 milyar. Di dalam perkembangannya. mesin-mesin tekstil dan lainnya. yaitu tahun 1984/ 1985.9 milyar. Mengingat perkembangan perekonomian. penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp 1.735. dan penerimaan bukan pajak. serta dengan memperhitungkan pengelolaan sistem perpajakan yang semakin baik.8.518. serta semakin meningkatnya partisiposi masyarakat di dalam pembangunan. penerimaan Ipeda. Perkembangan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sejak tahun 1969/1970 sampai tahun 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. cukai sebesar Rp 963. penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah sebesar Rp 1.4 milyar.4 milyar.276.0 persen.4 milyar. maka penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam untuk tahun 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 7.4 milyar atau 30.7 milyar.3 milyar dan pajak penghasilan badan sebesar Rp 2. yaitu tahun 1983/1984.1 milyar. Tarip penyusutan yang dipercepat tersebut diharapkan akan merangsang tumbuhnya investasi baru yang selanjutnya akan memperkokoh kemandirian perekonomian nasional. atau suatu kenaikan lebih dari 27 kali. penerimaan pajak lainnya. penerimaan cukai. Departemen Keuangan RI 35 . Penerimaan ini terdiri dari penerimaan pajak penghasilan sebesar Rp 3. yakni pajak penghasilan perseorangan sebesar Rp797. penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam terbagi atas penerimaan pajak penghasilan.912.0 milyar.9 milyar: maka dalam tahun terakhir Pelita III. yaitu tahun pertama Pelita I. Penyusutan yang lebih tinggi tersebut diberikan antara lain kepada mesin-mesin pertanian.666. penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas :rlam senantiasa menunjukkan adanya peningkatan sejalan dengansemakin baiknya pengelolaan keuangan negara. jumlah tersebut telah meningkat menjadi Rp 4. mesin-mesin yang mengolah produk asal binatang atau nabati. pajak ekspor sebesar Rp 101. pajak lainnya sebesar Rp 96. Apabila dalam tahun 1969/1970. bea masuk sebesar Rp 717. Di dalam RAPBN tahun 1985/1986.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sejak 9 Agustus 1984 telah ditetapkan tarip penyusutan baru yang lebih tinggi. dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 731.

518.735.3 62.9 1. Undang-Undang Pajak Perseroan 1925.40 37.9 245.782.6 11.8 770.80 7. prinsip kepostian dan prinsip pemerataan.584. Kesederhanaan daripada tarip pajak.5 796.247.6 36 24.8 316 370.80 4.3 360.8 24. terutama dengan dimasukkannya semua jenis pendapatan ke dalam dasar pengenaan pajak.20 3.4 24.5 41.912.6 17. Hal ini pada gilirannya akan meningkatkan penerimaan pajak sehingga memperkokoh kemandirian dalam penyediaan sumber dana yang dibutuhkan oleh pembangunan.8 27.90 4. yang berarti di samping ditujukan bagi penambahan pengumpulan dana sebesarbesarnya.5 31.7 479.40 2.4 276.437. 8 PENERIMAAN DI LUAR MINYAK BUMI DAN GAS ALAM 1969/1970 1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) APBN 2) RAPBN Jumlah 177.50 5. diharapkan akan lebih merangsang para wajib pajak untuk memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak.70 1.9 72.8 Tahun 1967 tentang MPO/MPS. diharapkan akan menciptakan iklim dan gairah usaha yang lebih baik yang akan mendorang kegiatan Junia usaha dan perekonomian nasional umumnya.6 870.8 18. undang-undang ini juga dimaksudkan untuk menciptakan suasana kehidupan dan berusaha yang lebih adil dan merata dalam kepostian hukum yang berlaku.586.1 25.9 17.5 15.5 993.20 Kenaikan Jumlah Persentase 67.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel II. Dengan undang-undang pajak penghasilan ini diharapkan akan lebih diwujudkan prinsip kesederhanaan.3 1.270.4 663.207.4 287. diwajibkan kepada pegawai negeri untuk mengisi Departemen Keuangan RI 36 . Di samping itu lebih luasnya dasar pengenaan pajak.1 664.957.70 1.8 225.1 585. Undang-Undang PBDR 1970 dan Un dang-Un dang No.4 211 197.7 30 Berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan sejak 1 Januari 1984 yang menggantikan Undang-Undang Pajak Pendapatan 1944.9 23. yang hanya terdiri atas tiga tingkat dan tarip rata-rata yang lebih rendah dari tarip rata-rata dalam undang-undang perpajakan sebelumnya.40 3.2 t377.

meningkatnya dasar pemungutan pajak dari karyawan asing. agar perkembangan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai selama ini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Kalau dalam APBN 1984/1985 penerimaan pajak penghasilan perseorangan aclalah sebesar Rp 577. Sebagai perwujudan dari pemerataan pendapatan dan beban pembangunan. sebagai hasil nyata dari kebijaksanaan penyesuaian tarip penyusmall baru yang lebih menguntungkan para pengusaha. walaupun tarip pajak lebih rendah serta lebih sederhana. serta dihapuskannya segala bentuk fasilitas dan pembebasan pajak. Di samping itu lebih tingginya batas pendapatan tidak kena pajak (PTKP) dari batas pendapatan bebas pajak (BPBP) yang dulu terdapat dalam sistem perpajakan yang lama. tunjangan tetap. diharapkan akan membawa pengaruh positif terhadap perluasan dan peningkatan kesempatan kerja baru. sehingga untuk masa mendatang akan meningkatkan efektifitas pemungutan pajak. Di samping hat ini akan menambah kapositas efektif pemungutan pajaknya. serta semakin efektifnya pemotongan oleh bendaharawan Pemerintah atas pembayaran gaji. Upaya peningkatan penerimaan pajak penghasilan badan diusahakan melalui kebijaksanaan tarip yang lebih sesuai dengan perkembangan dunia usaha. diharapkan dapat lebih melindungi golongan ekonomi lemah dan masyarakat yang berpendapatan rendah . diharapkan pula dapat lebih mendorong gairah usaha yang pada gilirannya akan memperluas tersedianya barang-barang produksi dalam negeri. Peningkatan tersebut berlangsung sejalan dengan meningkatnya penghasilan para pegawai negeri dan karyawan swasta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 surat pemberitahuan (SPT) pajak penghasilan. dan lebih dari Rp 50 juta. 25 persen dan 35 persen.3 milyar.6 milyar. upah. antara Rp 10 juta sampai Rp 50 juta. di samping ditekankan pula untuk memperluas dasar pengenaan pajaknya. Adanya perluasan perusahaan dan munculnya penanaman modal baru. Tarip pajak tersebut adalah sebesar 15 persen. honorarium.7 milyar atau 38. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 diharapkan bisa mencapai Rp 797. yang berarti terdapat peningkatan sebesar Rp 219. Menyadari pentingnya perluasan Departemen Keuangan RI 37 . Keputusan PresideD Domer 26 tahun 1984 tentang Pengampunan Pajak diharapkan akan mempercepat proses terciptanya sikap jujur dan terbuka para pemberi kerja untuk melakukan pemotongan dan penyetoran pajaknya. diharapkan akan semakin memperluas potensi penerimaan pajak ini. dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan dan jabatan yang dibebankan kepada keuangan negara.0 persen. unsur progresivitas tidaklah diabaikan akan tetapi sekaligus dilaksanakan untuk pengumpulan dana bagi pembangunan. Penerimaan pajak penghasilan perseorangan dalam RAPBN tahun 1985/1986 direncanakan meningkat dari tahun sebelumnya. masing-masing untuk penghasilan kena pajak sampai dengan Rp 10 juta.

Pemerintah berupaya dengan sungguhsungguh melaksanakan pengawasan terhadap perusahaan negara.5 milyar.7 milyar. Pemerintah melalui kebijaksanaan di bidang perpajakan telah memberikan kesempatan kepada para penanam modal untuk menggunakan fasilitas pengampunan pajak. Peningkatan kegiatan ekonomi nasional khususnya pengembangan dunia usaha senantiasa mendapat perhatian Pemerintah. serta kesadaran melaksanakan kewajiban di bidang perpajakan. Di samping itu apabila penanam modal lebih dulu menyimpan dananya melalui deposito berjangka sekurangkurangnya selama tiga bulan. Di dalam perkembangannya. untuk selanjutnya diharapkan akan meningkatkan penerimaan pajak serta ketertiban pembayaran pajaknya. Sejalan dengan kebijaksanaan tersebut. Dari padanya diharapkan berlanjut akan meningkatnya kegiatan dunia usaha. Upaya Pemerintah menciptakan peraturan perundangundangan yang lebih luas dimensi cakupannya.276. dan lebih tegas menjamin kepostian hukum. dari setinggitingginya 15 persen.873. Namun untuk menunjang perkembangan perpajakan dalam memenuhi kebutuhan dana yang diperlukan pembangunan serta untuk membantu menciptakan suasana pola hidup sederhana. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 1. yang mendorong lahirnya Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah dalam rangka menunjang perkembangan dunia usaha. Kebijaksanaan ini diharapkan akan lebih meringankan beban pajak penghasilan yang harus dibayar oleh pengusaha. Dalam undangundang tersebut hanya terdapat dua tarip yaitu 0 persen dan 10 persen. maka penanam modal tersebut akan dibebaskan dari kemungkinan pengusutan perpajakannya. sedangkan bagi barang mewah dikenakan tambahan pajak sebesar 10 persen dan 20 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dasar pengenaan pajak tersebut bagi peningkatan penerimaan pajak penghasilan. Sehubungan dengan semakin pentingnya mobilisasi sumber dana dari dalam negeri.5 persen. Dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan pajak penghasilan badan direncanakan sebesar Rp2. lebih sederhana. telah dilakukan penyesuaian atas tarip penyusutan yang ditetapkan lebih tinggi sehingga penyusutan dapat lebih dipercepat. penerimaan pajak penghasilan badan ini terus mengalami pertumbuhan yang menggembirakan.2 milyar atau 21. yang selanjutnya akan mendorong investasi baru dan pada gilirannya akan meningkatkan jumlah dan potensi wajib pajak. tarip pajak pertambahan nilai terse but dapat diubah menjadi serendah-rendahnya 5 persen. Pengawasan ini dilakukan untuk lebih meningkatkan produktivitas dan efisiensinya sehingga akan meningkatkan penghasilan perusahaan negara tersebut. serta tarip pajak penjualan khusus atas barang mewah dapat diubah menjadi setinggi-tingginya 35 persen. Dalam rangka lebih mendorong upaya peningkatan Departemen Keuangan RI 38 . maka berarti meningkat sebesar Rp 403.

Tarip yang lebih sederhana yang diterapkan dalam sistem baru ini akan sangat membantu pe1aksanaannya karena akan mudah dipahami baik oleh pemungut maupun pembayar pajaknya. terutama mereka yang merasa telah membayar pajak lebih daripada yang seharusnya. serta untuk lebih menunjang upaya diversifikasi ekspor. terutama komoditi non migas. terutama kebijaksanaan pajak pertambahan nilai sebesar 0 persen atas barang-barang ekspor. volume maupun pengembangan diversifikasinya. Sedangkan sebagai upaya untuk menghilangkan pengarub pajak berganda yang terdapat Facia sistem yang lama. Kebijaksanaan ini bersama-sama dengan kebijaksanaan lamnya. Dalam pada itu mulai tahun anggaran 1985/1986 di dalam penerimaan pajak pertambahan nilai termasilk didalamnya pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri. Untuk lebih mendorong kepatuhan membayar pajak dengan jalan memberikan rasa aman bagi para wajib pajak. Di samping itu dapat dihilangkan pula kemungkinan adanya usaha-usaha untuk me1akukan integrasi vertikal antara dua perusahaan alan lebih. sehingga akan menciptakan kepostian bagi upaya penyeragaman beban pajaknya. Kesederhanaan dalam tarip pajak pertambahan nilai akan lebih dapat dirasakan bila dibandingkan dengan sistem yang lama dengan tarip yang bervariasi antara delapan jenis tarip.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ekspor. Jumlah tarip tersebut diperbanyak lagi dengan diberikannya berbagai pembebasan sebagian atas produk-produk tertentu. Sistem kredit ini menetapkan. dalam Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai tahun 1984 ditentukan adanya sistem kredit. sistem baru ini mengintegrasikan bea masuk yang dikenakan atas barang-barang impor dengan pajak pertambahan nilai yang dikenakan atas barang-barang perdagangan dalam negeri. Dalam hubungannya dengan perdagangan luar negeri. Sedangkan bagi pajak pertambahan nilai yang dikenakan atas bahan baku yang digunakan untuk memproduksi barang-barang ekspor secara periodik dapat dimintakan pengembaliannya. dalam undang-undang yang baru ini tarip pajak penjualan atas barang-barang ekspor adalah 0 persen. Berdasarkan pertimbangan bahwa pelaksanaan Undang-Undang Pajak Pertambahan Departemen Keuangan RI 39 . Hal ini disebabkan karena adanya batasan yang jelas mengenai jenis perusahaan yang dapat digolongkan sebagai perusahaan kecil. diharapkan akan semakin mendorong ekspor. bahwa beban pajak yang telah ada Facia bahan baku yang dipakai perusahaan dapat diperhitungkan/dikurangkan dari pajak pertambahan nilai yang terhutang alas hasil produksi perusahaan itu. maka dalam sistem baru ini diatur dengan je1as ketentuan mengenai pembayaran kembali daripada ke1ebihan dalam pembayaran pajak. Di samping itu sistem baru ini juga menciptakan ik!im usaha yang lebih menarik bagi golongan ekonomi lemah. yang semata-mata untuk menghindari pajak dengan mengorbankan efisiensi. khususnya komoditi non migas baik dalam hal kualitas.

menggunakan sumber daya dalam negeri. Sehubungan dengan hal rersebut. dilanjutkan dan ditingkatkan usaha-usaha yang diarahkan bagi penciptaan iklim dan gairah usaha yang mendorong terlaksananya pembangunan industri dalam negeri yang efisien. pengamanan penerimaan negara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nilai tahun 1984 yang ditunda sampai selambat-lambatnya 1 Januari 1986 dapat dilaksanakan pada awal tahun anggaran 1985/1986. dan upaya pengutamaan penggunaan barang-barang hasil produksi dalam negeri. telah pula ditetapkan kebijaksanaan yang memberikan keringanan pembebanan impor atas pemasukkan bahan baku/bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi. tanpa melupakan kepentingan konsumen. Di bidang penerimaan bea masuk.4 milyar. di dalam memberikan perlindungan bagi industri di dalam negeri. Untuk itu. terutama industri yang menghasilkan nilai tambah yang tinggi.666. Diharapkan kedua kebijaksanaan tersebut dapat saling mengisi dan melengkapi secara harmonis. maka penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah dalam RAPBN tahun 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 1. dalam rangka penyempumaa dan penertiban sistem administrasi pabean telah dilaksanakan persiapan- Departemen Keuangan RI 40 . tangguh dan memiliki daya saing yang kuat.serta mampu menyediakan barangbarang yang diminta konsumen baik di dalam maupun di luar negeri dengan harga yang memadai. impor terhadap produk-produk sejenis dikenakan tarip yang lebih tinggi. kepada sektor industri tersebut diberikan perlindungan dengan tarip I CKO yang lebih rendah dari tarip produk yang sama yang diimpor dalam keadaan built up/non-KO. baik impor maupun ekspor. usaha penanggulangan penyelundupan terus ditingkatkan dengan meningkatkan ketrampilan aparat pabean serta memperlancar arus dokumen. Selanjutnya untuk menunjang kebijaksanaan Pemerintah di bidang pentaripan. telah diberikan beberapa bentuk keringanan bea masuk atas kertas tulis dan kertas cetak serta beberapa buku ilmu pengetahuan tertentu. Untuk itu dalam mendorong pertumbuhan industri : perakitan di tanah air. Sebagai upaya menunjang pengembangan industri di dalam negeri. . maka kepada industri tersebut diberikan beberapa keringanan pembebanan taripnya. serta menunjang peiaksanaan kebijaksanaan perdagangan luar negeri. Dalam rangka memberikan perlindungan dan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri. Sesuai dengan kebijaksanaan yang digariskan dalam Repelita IV. menyerap tenaga kerja yang banyak. Berkenaan dengan program wajib belajar. kebijaksanaan tarip bea masuk selalu diusahakan agar mampu memberikan perhitungan yang wajar bagi industri dalam negeri. kebijaksanaan tarip senantiasa diusahakan agar dapat berjalan seirama dengan kebijaksanaan pengaturan tata niaga. Sedangkan untuk memberikan perlindungan bagi semakin tumbuhnya industri pengolahan di dalam negeri.

juga dimaksudkan guna mencapai sasaran-sasaran tertentu lainnya. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan bea masuk direncanakan sebesar Rp 717.7 milyar. kebijaksanaan di bidang cukai lainnya juga disempurnakan sesuai dengan perkembangan ekonomi.rip 22. maka terlihat peningkatan sebesar Rp 35. dengan ketentuan bahwa perusahaan yang produksinya lebih dari 4 milyar batang setahun dikenakan tarip 25 persen diri harga pita cukai. sejak 1 Mei 1984 diadakan penyesuaian harga dasar Departemen Keuangan RI 41 . yang produksinya antara 750 juta batang sampai 4 milyar batang setahun dikenakan ta. Kebijaksanaan. Fasilitas tersebut diberikan kepada perusahaan sigaret kretek tangan (SKT). Apabila dibandingkan dengan rencana penerimaan bea masuk dalam APBN 1984/ 1985. cukai gula.1 milyar. dan banyak menyerap tenaga kerja. Penerimaan cukai ini terdiri dari cukai tembakau. Di dalam perkembangannya. penerimaan cukai dipengaruhi antara lain oleh perkembangan pertumbuhan produksi.5 persen dari harga pita cukai. Berdasarkan langkah-Iangkah yang telah dilaksanakan di bidang bea masuk. guna mempertahankan harga yang lebih sesuai dengan daya beli masyarakat dan menjamin kelayakan tingkat pendapatan petani tebu. yang produksinya antara 100 juta sampai 750 juta batang setahun dikenakan tarip 20 persen dari pita cukai. Sebagaimana halnya dengan cukai tembakau. Terhadap impor hasil tembakau dipungut cukai sepenuhnya. baik sigaret putih mesin (SPM) maupun sigaret kretek mesin (SKM) dikenakan tarip tunggal yang besarnya 40 persen dari harga pita cukainya. maka pada 1 April 1984 telah ditetapkan pembebasan sebagian tarip cukai terhadap hasil tembakau buatan dalam negeri. penyesuaian harga pita dengan harga jualnya. sejak 1 April 1984 tidak lagi diberikan pembebasan sebagian cukai terhadap impor hasil tembakau. peningkatan daya beli masyarakat konsumen. cukai bir.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 persiapan kearah penerapan sistem komputer di bidang operasional pabean dari pengumpulan data. serta intensifikasi dan verifikasi pemungutannya. 50 persen untuk sigaret kretek bukan buatan mesin. serta 40 persen untuk jenis cerutu. Sehubungan dengan itu. di samping diarahkan kepada fungsinya sebagai penghimpun dana. Dalam rangka lebih mendorong perkembangan industri rokok dan hasil tembakau dalam negeri terutama bagi produsen yang tergolong pengusaha lemah. Sedangkan bagi jenis produksi sigaret buatan mesin. cukai yang se1ama ini dijalankan . yaitu 70 persen dari pita cukainya untuk sigaret buatan mesin dan tembakau iris. dan bagi perusahaan yang produksinya 100 juta batang atau kurang setahun dikenakan tarip 15 persen dari pita cukainya. dan cukai alkohol sulingan. Di samping itu untuk memberikan kesempatan bagi berkembangnya produksi tembakau di dalam negeri.

SHS II... Dalam RAPBN 1985/1986 penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan tersebut direncanakan akan mencapai sebesar Rp 101.8 milyar. bahwa barangbarang yang dianggap penting bagi konsumsi dalam negeri. produksi bir diperkirakan tidak akan mengalami kenaikan yang berarti. prospek produksi.(TRB) maupun tebu rakyat intensifikasi (TRI).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pemungutan cukai gula. Penurunan tersebut bukan saja disebabkan karena menurunnya nilai maupun volume ekspor beberapa komoditi tertentu.per kuintal. sejak Januari 1984 telah diadakan pengenaan kembali tarip pajak ekspor tambahannya. Di samping itu telah pula diadakan penertiban penanaman tebu.per kuintal. Apabila rencana penerimaan cukai tersebut dibandingkan dengan yang direncanakan dalam tahun anggaran sebelumnya. seperti minyak kelapa sawit dan hasil-hasilnya.700. masing-masing sebesar Rp40. Rp 39. serta untuk menjaga kelestarian lingkungan alam. Sehubungan dengan perlunya pengawasan terhadap minuman keras. Adapun penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan. Demikian juga terhadap alkohol sulingan. sejak Mei 1980 telah diadakan pembatasan ekspor terhadap kayu gelondongan. serta beberapa jenis kayu gergajian mewah.850. serta pajak ekspor tambahan terhadap berbagai barang-barang ekspor dalam rangka mendorong ekspor yang selama ini terus diusahakan peningkatannya. Berdasarkan pertimbangan atas langkah-langkah yang sedang.. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan cukai direncanakan sebesar Rp 963. dan HS I. baik tebu rakyat bebas. berarti meningkat dengan Rp 235. akhir-akhir ini mengalami sedikit penurunan di dalam realisasinya. yaitu untuk jenis SHS I. kebijaksanaan di bidang pajak ekspor dalam tahun anggaran 1985/1986 akan tetap diarahkan agar selalu menunjang berbagai usaha dan kebijaksanaan Pemerintah dalam rangka meningkatkan daya saing komoditi ekspor Indonesia di posaran intemasional. Departemen Keuangan RI 42 . melainkan diakibatkan pula oleh adanya penurunan dan pembebasan pajak ekspor. Segi lain dari kebijaksanaan tersebut adalah. diperkirakan produksinya akan sedikit mengalami penurunan. dan akan dilaksanakan terutama dengan semakin efektifnya pemungutan cukai. dan Rp 39.7 milyar. dan penyesuaian tarip cukai terutama untuk tembakau dan gula.000. Berdasarkan berbagai langkah kebijaksanaan yang dilaksanakan Pemerintah di bidang ekspor. yang pada pokoknya mengarah pada upaya penciptaan iklim yang lebih mendorong gairah usaha untuk rnempertahankan dan mendorong nilai maupun volume ekspor. maka dalam RAPBN 1985/1986 penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan diperkirakan akan mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan yang tertera dalam APBN 1984/1985.per kuintal. Di samping itu sebagai upaya penyediaan bahan bagi industri pengolahan kayu dalam negeri.3 milyar. Untuk itu.

aksep.8 milyar dari yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. antara lain atas kuitansi atau tanda penerimaan uang. dan polis asuransi jiwa. akan dinaikkan menjadi Rp 100.sudah dikenakan bea meterai. yang saat ini adalah Rp 10. penerimaan di bidang ini untuk masa-masa mendatang diharapkan akan mengalami Departemen Keuangan RI 43 . sedang taripnya diturunkan dari 1 persen menjadi 0.. Penerimaan negara yang berasal dari penerimaan pajak lainnya.4 milyar yang berarti meningkat sebesar Rp 16. terutama terhadap kekayaan yang dimilikinya.-. Tarip bea meterai yang berlaku sekarang dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan. Hal ini menunjukkan semakin membaiknya kesadaran masyarakat dalam rangka memenuhi kewajiban pajaknya.. Batas kekayaan yang tidak terkena pajak mulai 1 Januari 1985 dinaikkan dari Rp 14 juta menjadi Rp 80 juta. bea meterai dan bea lelang. terus dibina kerjasama yang lebih baik dengan Pemerintah Daerah. Kuitansi yang memuat angka penjualan di atas Rp 50.000.menjadi Rp 500. serta penyuluhan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadarannya dalam membayar Ipeda. Kebijaksanaan Pemerintah di bidang penerimaan pajak lainnya untuk tahun 1985/ 1986 masih merupakan kelanjutan dan peningkatan dari kebijaksanaan yang sudah diambil pada masa sebelumnya.-. Sedangkan untuk promes. Untuk mendorong perkembangan yang lebih realistis seirama dengan keadaan perekonomian nasional.-. Dalam RAPBN 1985/1986. juga diarahkan untuk menciptakan iklim dunia usaha yang lebih sehat. dan semakin meningkatnya mutu para juru lelang. penetapan dan penagihannya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Kebijaksanaan di bidang Ipeda pada dasamya tetap diarahkan bagi terciptanya sasaran pertumbuhan. serta transaksi perekonomian yang lebih bertanggung jawab. Untuk itu mulai 1 Maret 1985 terhadap tarip bea meterai juga diadakan beberapa penyesuaian. serta untuk mempercepat proses pemerataan pendapatan guna lebih memantapkan stabilitas perekonomian nasional. dan surat-surat berharga lainnya tarip meterainya juga diadakan penyesuaian dari Rp 25. dewasa ini sedang dibahas Rancangan Undang-Undang Pajak Kekayaan dan Ipeda. dan gerak pembangunan ekonomi daerah yang lebih merata me1alui upaya peningkatan penerimaannya. di samping secara terus menerus diadakan pembinaan terhadap administrasi pendataannya. konosemen-konosemen.baru dikenakan bea meterai. Kebijaksanaan tersebut di samping ditujukan untuk menghimpun dana pembangunan yang bersumber dari dalam negeri. Sehubungan dengan semakin banyaknya kegiatan le1ang. yaitu pajak kekayaan. Dalam rangka meningkatkan potensi penerimaan Ipeda. menunjukkan perkembangan yang memadai. penerimaan Ipeda direncanakan sebesar Rp 167. sedangkan sebelumnya kuitansi yang bernilai di atas Rp 5.. Dengan kebijaksanaan tersebut diharapkan kesadaran para wajib pajak untuk memenuhi kewajiban pajaknya akan meningkat.5 persen.000.

penerimaan kejaksaan dan pengadilan serta penerimaan lainnya. terutama dengan kebijaksanaan pengampunan pajak serta dengan semakin membaiknya perekonomian di tanah air.4 milyar.0 milyar atau 27. digunakan sebagai pe1engkap. Semakin meningkatnya kegiatan pembangunan. baik jenis maupun kualitasnya dalam dimensi yang semakin me1uas. tetapi di sisi lain menambah tanggung jawab Pemerintah dalam menyediakan dana bagi pembangunan yang terus berkembang. dalam perkembangannya te1ah mengalami peningkatan. baik yang berasal dari tabungan Pemerintah maupun dari tabungan masyarakat. seperti penerimaan pendidikan. Apabila penerimaan tersebut dibandingkan dengan rencana penerimaan tahun 1984/1985 yaitu sebesar Rp 75. Dengan demikian untuk masa-masa selanjutnya. Apabila penerimaan tersebut dibandingkan dengan APBN 1984/1985 berarti terdapat peningkatan sebesar Rp 116.9 milyar. Penerimaan bukan pajak yang terdiri dari penerimaan berbagai departemen/lembaga non departemen. Dalam penerimaan bukan pajak tersebut termasuk pula penerimaan dari bagian Pemerintah atas laba perusahaan negara/bank negara serta iuran hasil hutan dan royaltynya. Penerimaan bukan pajak oleh Pemerintah senantiasa diusahakan pula peningkatan sumbangannya bagi penerimaan negara. Sedangkan dana bantuan yang berasal dari luar negeri yang diterima sebagai penerimaan pembangunan. Oleh sebab itu.0 persen. sesuai dengan yang diamanatkan dalam GBHN. baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. 2.3.dana yang bersumber dari bantuan luar negeri barus senantiasa diarahkan bagi Departemen Keuangan RI 44 .2. berarti meningkat sebesar Rp 21. dalam RAPBN 1985/1986 besarnya penerimaan pajak lainnya direncanakan sebesar Rp 96.4 milyar. penerimaan jasa. menuju perekomomian nasional yang mandiri. dinamis. Usaha pengerahan dana pembiayaan pembangunan. Untuk itu langkah-Iangkah kebijaksanaan yang sudah dirintis sejak awal Pelita I akan terus dikembangkan. di satu sisi meningkatkan kesejahteraan rakyat.9 milyar atau 19. Penerimaan pembangunan Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan bangsa Indonesia sejak Pelita I hingga sekarang te1ah memberikan hasil nyata berupa semakin meningkatnya taraf hidup dan kesejahteraan se1uruh rakyat. pembangunan yang dilaksanakan adalah pembangunan yang dilandasi oleh kemampuan bangsa Indonesia sendiri yang bertumpu kepada kepercayaan diri. dan stabil. senantiasa harus terus diupayakan terutama dengan menggalinya dari sumber-sumber dana dalam negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan.9 persen. Berdasarkan langkah-Iangkah yang sedang dan akan dilaksanakan Pemerintah. Dalam RAPBN 1985/ 1986 penerimaan bukan pajak direncanakan sebesar Rp 731.

1 20.50 4. pembayaran bunga dan cicilan hutang.7 215.6 292.1 45. Dalam RAPBN tahun 1985/1986.6 737.381.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) A P B N 2) RAP B N Bantuan program 65.1 Kenaikan Jumlah Persentase 29.4 262. 9 BANTUAN LUAR NEGERI.5 95.8 48. pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan memperlancar proses pemerataan pembangunan dan hasilnya.1 22.4 15.2 -10.20 Jumlah 91 120.1 milyar.2 231 1.411. yaitu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju terciptanya keadilan sosial bagi se1uruh rakyat.297.2 14.40 528.5 100.1 195.3.3 114.5 70. Tabe1 II.3 12..4 773. yang terdiri dari bantuan program sebesar Rp 70.5 45 62.035. 1969/1970 .8 36.9 471.5 157.5 29.1 14.493.4 8.924.5 16.4 -1.1 28. serta pengarahan penge1uaran rutin untuk mencapai sasaran-sasaran yang te1ah ditentukan.4 135.867.80 1.368.2 35.2 13.2 10.942.371.316. Peningkatan tabungan Pemerintah tidak mungkin dapat terlaksana hanya dengan peningkatan penerimaan negara saja.70 1.50 1.1 15. tetapi harus pula disertai tindakan penghematan.9 232 491.1 13.1 259.6 783.368.9 milyar. Departemen Keuangan RI 45 .297.1 345.4 13.7 78. Pengeluaran rutin Sasaran kebijaksanaan penge1uaran rutin.30 1.6 -1 2. Penge1uaran rutin yang me1iputi be1anja pegawai.3 1.2 64.8 64.6 -42. serta penge1uaran rutin lainnya.90 3.3 33.9 Bantuan proyek 25.40 4.3 41.429.9 59.9 33.8 111. penerimaan pembangunan direncanakan sebesar Rp 4.3 46.9 39.90 1.00 1.882. subsidi daerah otonom.4 1.00 3. tidak bisa dipisahkan dari sasaran kebijaksanaan anggaran secara kese1uruhan yang mencakup ketiga unsur Trilogi Pembangunan. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.663.9 32.3.5 89.6 112.6 987.9.00 4.8 773.9 90.8 203. dan bantuan proyek sebesar Rp 4.709. Perkembangan penerimaan pembangunan se1ama tahun 1969/1970 hingga tahun 1985/1986 dapat dilihat dalam Tabel II.940.50 4.10 1. be1anja barang.2 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembiayaan kegiatan-kegiatan pembangunan yang bersifat produktif dan berprioritas tinggi.

5 milyar.8 36.40 1.482.90 33. d.2 349.7 25.318.4 70.1 713.10 Tab e I II.50 1.117.6 59.8 12.6 99. sasaran utama kebijaksanaan pengeluaran rutin adalah peningkatan dana tabungan Pemerintah.8 5.8 24.60 6.5 78.277.6 87.5 254.3 289.1>29.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/19862) 1) Angka APBN 2) Angka RAPBN Jumlah 216.023. serta meningkatkan kemampuan yang lebih besar bagi mereka untuk berperanserta dalam proses pembangunan.7 29.016.5 31.8 23.n Tunjangan Gaji dan peg.4 268.8 179.001.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam perkembangannya te1ah menunjukkan peningkatan selaras dengan tingkat perkembangan pembangunan yang dicapai.743.90 3.30 8.8 131.9 420.1 22.1 438.189.2 240.1 23.743.9 252 253.1 594.6 16.3 50.5 17.8 1.5 297.115.053.90 2. l.7 482. raJa akhir tahun Pelita II meningkat menjadi Rp 2. Dalam Keputusan Presiden Nomor 29 tersebut.6 47.10 1.7 48 42.3 14.7 60. di samping usaha-usaha untuk mengurangi secara bertahap pemberian subsidi dalam berbagai bentuknya. produksi dalam negeri.3 1. golongan ekonomi lemah diberi kesempatan berusaha yang lebih luas lagi.3 0.2 5.60 1.6 99.061.689.7 Tahun PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977 /1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/19851) 1985/19862) 1) Angka APBN 2) Angka RAPBN Tabel II.9 31.8 2.3 3.10 12.7 1. yaitu dalam rangka membantu dan membimbing pertumbuhan.1 4.415.00 2.4 43.332.3 1.1 21.9 27.6 893.800. Demikian pula penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri makin digalakkan.1 Jumlah 103.6 4.5 288.5 45.2 20.307.6 313.2 302.5 56.10 2.60 18.n.10 1.9 760. dan ditingkatkan untuk lebih mendorong peningkatan produksi dalam negeri.7 66 79.8 33.4 45.8 316.9 346.5 31. Dalam APBN 1984/1985.7 milyar.1 61.6 173.9 89 275.3 286.7 131.419.90 1.20 1.4 89.30 2.1 415. Rangkaian kebijaksanaan yang telah dijalankan Pemerintah di bidang pengeluaran rutin tersebut frat kaitannya dengan usaha-usaha peningkatan Departemen Keuangan RI 46 .4 200.8 672. Apabila pada tahun pertama Pelita I realisasi penge1uaran rutin baru mencapai Rp 216.3 31.8 10. yang merupakan tahun kedua pelaksanaan Repelita IV.70 4.7 11. 1969/1970 .8 51.00 Kenaikan Jumlah Persentase 71.9 126.5 111.5 62.4 163.80 10.90 2.9 31.2 24.90 1.2 109.3 20. pengeluaran rutin direncanakan sebesar Rp 10.1 milyar.80 10.80 5.00 6.2 132.7 12.399.738.00 1.411. dan pada akhir tahun Pelita III meningkat lagi menjadi Rp 8.411. Perkembangan pengeluaran rutin tersebut dapat diikuti pada Tabel II.50 4.148.7 14.30 2.1 34 43.8 20.8 milyar. serta perluasan kesempatan kerja seperti yang telah dijalankan dalam tahun-tahun sebelumnya. 11 BELANJA PEGAWAI.10 2.4 9.8 42.177. Selanjutnya juga diusahakan peningkatan peranan golongan ekonomi lemah.9 301.101.996.8 14.2 1.1 25.418.2 79.101.977.1 14.9 636. beras pensiun 28.9 193.00 3.6 7.30 Dalam tahun anggaran 1985/1986.2 519.3 20. 1969/1970 .9 261.9 114.1 593.7 400 424.757.60 1.749.996.660. Usaha-usaha tersebut diwujudkan antara lain dengan diberlakukannya Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 yang merupakan penyempurnaan lebih lanjut daripada Keputusan Presiden Nomor 14A Tahun 1980 dan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan APBN.1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Uang Lain-lain Belanja makan bel.9 116.297. 10 PENGELUARAN RUTIN.5 33.7 47.

bahwa pada awal Pe1ita I realisasinya baru mencapai jumlah sebesar Rp 103.001. Dalam tahun anggaran 1985/1986. Belanja pegawai Kebijaksanaan belanja pegawai yang akan dijalankan Pemerintah dalam tahun 1985/1986 adalah dalam rangka meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas Pemerintah.3 milyar. antara lain dalam bentuk pemberian gaji bulan ke 13 dan 14 dalam tahun 1979/1980. antara lain dalam bentuk kenaikan gaji.3 milyar.1 milyar. Langkah-langkah tersebut telah dimulai dengan usaha peningkatan kesejahteraan pegawai negeri/ ABRI dan pensiunan dalam tahun-tahun yang lalu.8 milyar karena ditetapkannya kebijaksanaan untuk meningkatkan penghasilan pegawai negeri/ABRI sebesar 20 persen. subsidi daerah otonom sebesar Rp 2. anggaran untuk pengeluaran rutin direncanakan sebesar Rp 12.757.6 milyar. Pada akhir Pe1ita III jumlah realisasi belanja pegawai mencapai jumlah sebesar Rp 2. serta dalam rangka mengamankan dan memelihara kekayaan negara yang diperoleh sebagai hasil kegiatan pembangunan.9 milyar atau 22. Usaha perbaikan penghasilan pegawai negeri/ ABRI se1alu dilakukan dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara setiap tahunnya.529. Dalam tahun 1985/1986 be1anja pegawai direncanakan meningkat sebesar Rp 927.559. Perkembangan realisasi be1anja pegawai sejak Pe1ita I menunjukkan.3. Jumlah tersebut meliputi pengeluaran untuk belanja pegawai sebesar Rp 4.3. yang dicerminkan antara lain dalam bentuk peningkatan jumlah.9 milyar. dan lain-lain pengeluaran rutin sebesar Rp 602.0 milyar.980/ 1981 dan 1981/1982. belanja barang sebesar Rp 1.1.117.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kegiatan pembangunan dan pelayanan Pemerintah kepada masyarakat.590. dan berupa pemberian gaji bulan ke 13 dalam tahun 1983/1984.297.7 persen di atas anggaran pengeluaran rutin dalam APBN 1984/1985. di samping dilakukan pula penyempurnaan di bidang organisasi dan administrasinya. pembinaan dan penertiban aparatur negara. 2. dan Departemen Keuangan RI 47 .75 kali hila dibandingkan dengan realisasi pada akhir Pe1ita II. dan pada awal Pe1ita IV usaha perbaikan tersebut diwujudkan dengan diberikannya kenaikan sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan. pemberian tunjangan perbaikan penghasilan (TPP) dalam tahun 1.399. dan mutu aparatur negara beserta perlengkapannya.4 milyar. yang berarti Rp 2. yang berarti meningkat 2. pembayaran bunga dan cicilan hutang sebesar Rp 3. sedangkan pada akhir Pe1ita II mencapai jumlah sebesar Rp 1.8 milyar. Kenaikan ini adalah karena se1ama Pelita III te1ah beberapa kali dilakukan perbaikan penghasilan pegawai negeri/ ABRI dan pensiunan.0 milyar.

uang makan/lauk pauk sebesar Rp313. ke1ancaran dan kehasilgunaan dalam pengadaan barang/peralatan dan jasa di lingkungan departemen/lembaga diharapkan dapat lebih ditingkatkan lagi. Selanjutnya dengan dike1uarkannya Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 1984. yang terdiri dari tunjangan beras sebesar Rp 482.529.6 milyar. dan pada akhir Pelita III mencapai jumlah sebesar Rp 1. kepada Tim pengendali dan Pengadaan ditekankan agar memperhatikan harga dan kualitas yang paling menguntungkan negara. dan anggaran yang disediakan. anggaran untuk belanja barang direncanakan sebesar Rp 1.1 milyar.5 milyar.3 milyar.8 milyar. dan be1anja pegawai luar negeri sebesar Rp 89.3.1 milyar. pada akhir Pelita II meningkat menjadi Rp 419. anggaran untuk be1anja pegawai direncanakan sebesar Rp 4. pengadaan atau pembelian barang dan jasa yang diperlukan akan sesuai dengan prioritas. dalam tahun 1984 telah dikeluarkan pula Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 1984 tentang Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah di Departemen/Lembaga.59 persen.057.115. sehingga dengan demikian dapat lebih terkendali dan terarah. Dalam tahun anggaran 1985/1986.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pensiunan sebesar 27 .2. maka kebijaksanaan 'be1anja barang dalam tahun anggaran 1985/1986 akan lebih diarahkan pada pembe1ian barang-barang dan jasa produksi dalam negeri yang kebanyakan dihasilkan oleh golongan tersebut. Dalam Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 dinyatakan bahwa untuk pembelian/pemborongan barang dan jasa Pemerintah dengan nilai kontrak sebesar Rp200 juta ke atas harus me1alui Tim Pengendali dan Pengadaan. serta dicapai penghematan dalam pelaksanaan anggaran belanja barang. lain-lain be1anja pegawai dalam negeri sebesar Rp 116. Belanja barang Dalam rangka menunjang kegiatan usaha golongan ekonomi lemah serta menunjang perluasan kesempatan kerja.5 milyar. 2.9 milyar. gaji dan pensiun sebesar Rp 3.3 milyar. di samping pengutamaan penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri. Dalam melaksanakan tugasnya.3.117. di samping Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 tentang Pelaksanaan APBN. Perkembangan realisasi be1anja pegawai dapat dilihat pada Tabel II.11.3 milyar. Dalam RAPBN 1985/1986. Penurunan batas nilai kontrak dari Rp 500 juta dalam Keputusan Presiden Nomor 14A Tahun 1980 menjadi Rp 200 juta tersebut adalah dalam rangka penghematan dan rasionalisasi dunia usaha. Dengan diberlakukannya kedua Keputusan Presiden tersebut. Pengeluaran rutin melalui belanja barang yang pada awal Pelita I baru mencapi sebesar Rp 50. Untuk menjamin lebih terlaksananya kebijaksanaan dimaksud. yang terdiri dari belanja barang dalam Departemen Keuangan RI 48 .

4. untuk belanja pegawai sebesar Rp 2.4 milyar tersebut berarti meningkat sebesar Rp 805. karena didalamnya ditampung pula pembiayaan untuk tambahan guru-guru SD Inpres dan tenaga medis.349. pengembalian pinjaman yang dipergunakan untuk membiayai pembangunan proyek-proyek pada waktu jatuh tempo adalah dalam bentuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri. Pengeluaran subsidi daerah otonom dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 2.2 persen.0 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 negeri sebesar Rp 1.8 milyar dan belanja barang luar negeri sebesar Rp 78. ikut mempengaruhi besarnya subsidi daerah otonom. juga berupa dana pinjaman dari luar negeri. Selanjutnya dalam subsidi daerah otonom ditampung pula penggantian biaya akibat dihapuskannya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sekolah dasar kelas satu sampai dengan kelas enam. selain berupa dana yang dihimpun dari dalam negeri. Dalam rangka pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan. serta tunjangan pamong desa. Seiring dengan makin meningkatnya kemampuan keuangan negara.8 milyar atau 45. Di samping itu makin. Dengan demikian hila dibandingkan dengan APBN 1984/1985. meningkatnya kegiatan pembangunan.590. oleh karena ditetapkannya kebijaksanaan meningkatkan penghasilan pegawai negeri dan pensiunan.451. dan belanja non pegawai sebesar Rp 241. 2.1 milyar. khususnya pembangunan SD Inpres dan Puskesmas. di samping pemanfaatan bantuan luar negeri tersebut harus benar-benar untuk proyek-proyek. bahwa setiap penambahan hutang luar negeri harus sesuai dengan kemampuan pengembaliannya. 2. dan kegiatan yang produktif. Hal ini didasarkan pada perhitungan.4 milyar.3: Subsidi daerah otonom Pengeluaran untuk subsidi daerah otonom erat kaitannya dengan kebijaksanaan belanja pegawai. yang antara lain didukung oleh hasil-hasil yang diperoleh dari proyek-proyek yang telah menghasilkan.3.3. rencana pembiayaan subsidi daerah otonom sebesar Rp 2. Departemen Keuangan RI 49 .4 milyar. realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri yang jatuh tempo makin meningkat pula setiap tahunnya.590.3. oleh karena pemberian subsidi daerah otonom sebagian besar digunakan untuk pembayaran gaji pegawai negeri sipil dalam lingkungan daerah otonom. tenaga paramedis dan tenaga medis Puskesmas di daerah-daerah. maka dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan pula untuk menambah jumlah guru sekolah dasar Inpres.3. Bunga dan cicilan hutang Dana yang dipergunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan. pembayaran gaji lurah dan perangkatnya.

Realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang pada permulaan Pelita I baru mencapai Rp 14. dan persiapan Pemilu sebesar Rp 40. dan pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri sebesar Rp 30. dan meningkat lagi menjadi sebesar Rp 2. Dalam perkembangannya. yang terdiri dari pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri sebesar Rp 3. dan penge1uaran rutin lainnya antara lain untuk biaya sural menyurat me1alui pos. Dengan demikian bila dibandingkan dengan APBN 1984/1985. Di samping itu. 2. melalui lain-lain pengeluaran rutin dibebankan pula pembiayaan yang bersifat non departemental seperti biaya sural menyurat melalui pos dan giro pos. subsidi bahan bakar minyak dan Pemilu.6 milyar pada akhir Pelita III. realisasi lain-lain pengeluaran rutin selama Pelita III menunjukkan peningkatan yang sangat besar dibandingkan dengan Pelita I dan II. yaitu untuk pembayaran tagihan jasa umum seperti bunga atas uang muka Bank Indonesia kepada Pemerintah.1 milyar.3 milyar. Dalam APBN 1984/1985.3 milyar tersebut disediakan untuk subsidi bahan bakar minyak sebesar Rp 532.0 milyar atau 32.686.4 milyar.1 milyar. Departemen Keuangan RI 50 . yang berarti lebih rendah hila dibandingkan dengan anggaran tahun sebelumnya. rencana pembayaran tersebut mengalami kenaikan sebesar Rp 873. lain-lain pengeluaran rutin dianggarkan sebesar Rp1.5 milyar.0 milyar. dan gula dalam rangka kebijaksanaan stabilisasi harga pangan di dalam negeri. disebabkan pengeluaran untuk subsidi impor pangan terutama beras.1 milyar. Rencana anggaran sebesar Rp 602. Hal ini terutama disebabkan meningkatnya pengeluaran subsidi bahan bakar minyak sehubungan dengan kenaikan-kenaikan harga minyak mentah di posaran internasional.3.3. gandum.102.5 persen.5. Lain-lain pengeluaran rutin pembiayaan rutin yang ditampung dalam lain-lain pengeluaran rutin antara lain terdiri dari pengeluaran untuk subsidi pangan. pada akhir Pelita II meningkat menjadi Rp 534.529. giro pos dan bebas porto sebesar Rp 30.3 milyar.0 milyar. Dalam APBN 1984/1985.0 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sehingga tidak sangat memberatkan beban keuangan negara. terdapat pula pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri.177.0 milyar. untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang direncanakan sebesar Rp 2. sedangkan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 602. di samping juga.559. sedangkan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 3. Di samping untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri.

2 22.6 26.635. tabungan Pemerintah diharapkan dapat dihimpun sebesar Rp 6.6 Departemen Keuangan RI 51 .20 1.3 135.40 29. Perkembangan realisasi tabungan Pemerintah selama ini menunjukkan peningkatanpeningkatan. yang merupakan selisih antara penerimaan dalam negeri sebesar Rp l8. menjadi Rp 1.00 187 6.1985/1986 Dibiayai oleh Anggaran (milyar Tabungan Bantuan Tahun anggaran Pemerintah luar negeri (%) (%) PELITA I: 1969/1970 118.90 59.3 40.9 6.90 64. Pada APBN 1984/1985.677.6 909.278.90 27.522.90 598.8 25.5 PELITA III : 1979{1980 4.13 Tab e I II. maupun dengan mencari sumber-sumber penerimaan yang baru.4 milyar pada akhir Pelita II.020.8 39.8 1978{1979 2.020.9 35.5 73. 792.944.0 mitral.048. Perkembangan realisasi tabungan Pemerintah dapat diikuti pada Tabel II. Usaha tersebut harus diikuti pula dengan tindakan penghematan dalam pengeluaran rutin.2 35.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. 12 TABUNGAN PEMERINTAH. dan menjadi Rp 6.0 5.920.278.00 75.2 1985{19863) 10.9 1973/1974 458.00 62 38 1977{1978 2.60 4.5 3.5 44.30 60. Tabel II.90 64.3 mitral.3 1.00 808 5.459.00 + 1.5 254.1 1976{1977 2.060.427.9 93.8 63.4 230.3 3.1 1971{1972 214.903.6 1982{1983 7.2 milyar pada awal Pelita I.2 23 77 1970{1971 176. sehingga dapat diperoieh selisih yang lebih besar antara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin untuk menambah besar tabungan Pemerintah.235.4 78.4.112.50 1.8 73.1 68 18.6 34.00 59 41 I) Termasuk saldo anggaran lebih 2) APBN 3) RAPBN Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 PELITA III : 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 PELITA IV: 1984{1985 1) 1985{1986 2) I) Angka APBN 2) Angka RAPBN Jumlah Kenaikan Jumlah Persentase 107.10 65.5 PELITA II : 1974{1975 969.4 1980{1981 5.9 1975/1976 1.4 737. yaitu dari Rp 27.2 PELITA IV : 1984{19852) 10.8 27.016.2 56.3 49.5 40.6 9.13 PERBANDINGAN TABUNGAN PEMERINTAH DAN BANTUAN LUAR NEGERI TERHADAP ANGGARAN PEMBANGUNAN 1969/1970 .30 6.3 66.7 366.9 2.8 42.00 73.6 11 0. Usaha-usaha untuk meningkatkan dana pembangunan melalui tabungan Pemerintah terus dilakukan setiap tahunnya dengan jalan meningkatkan penerimaan negara.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tab el II.6 101.3 55.6 76.Tabungan Pemerintah Sesuai dengan kebijaksanaan anggaran berimbang yang dinamis.12.048.1 23.522.647.362.9 483.159.386. Selanjutnya dalam tahun anggaran 1985/1986.9 23.9 68.2 1972{1973 310. tabungan Pemerintah sebagai unsur utama dalam dana pembangunan tetap memegang peranan yang sangat penting dalam Pelita IV.30 57.400.00 1.8 31.4 39.3 8. 1969/1970 .4 1983{1984 9.9 milyar dan pengeluaran rutin sebesar Rp 12.4 36.9 milyar pada akhir Pelita III. baik melalui peningkatan sumber-sumber penerimaan yang sudah ada. tabungan Pemerintah direncanakan dapat dihimpun sebesar Rp6.4 24.1 50.399.9 milyar.2 171.422.557.276.80 74.2 1981{1982 6.8 189.9 110.3.9 152.

SelaI1)a Pelita III.9 milyar. maka jumlah pengeluaran pembangunan sebesar Rp 34.129.1 persen dan 12. Pelita III yang telah herakhir pada tahun 1983/1984 telah memberikan hasil-hasil yang positif.4 persen dari seluruh jumlah pengeluaran pembangunan dalam Pelita III.129. dan bantuan proyek sebesar Rp 10. Pembiayaan pembangunan sebesar Rp 34. dana yang telah dibelanjakan untuk pembiayaan pembangunan mencapai jumlah sebesar Rp 34.2 milyar tersebut menunjukkan kenaikan sebesar Rp 12.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2.129.3.457. Ditinjau secara sektoral.2 persen dari yang direncanakan dalam Repelita III. juga merupakan usaha untuk tercapainya keserasian laju pertumbuhan antar daerah menuju kepada pemerataan pembangunan. baik melalui pembangunan sektaral yang dilaksanakan oleh departemen/ lembaga maupun melalui pembangunan regional dalam berbagai bentuk program Inpres dan bantuan pembangunan melalui Ipeda. sehingga pembangunan sektaral yang berlangsung di daerah benar-benar sesuai dengan potensi dan permasalahan masing-masing daerah. Pengeluaran pembangunan lainnya yang Departemen Keuangan RI 52 .5.3.202.2 milyar. bangsa Indonesia telah berhasil menyelesaikan serangkaian program pembangunan yang dituangkan dalam tiga Repelita yaitu Repelita I. 13. Hal ini berarti bahwa tiap sektor pembangunan tersebut telah menyerap dana masing-masing sebesar 15. berbagai kebijaksanaan dan program pembangunan sektaral yang didasarkan kepada unsur prioritas. Bila dibandingkan dengan anggaran yang direncanakan dalam Repelita III. milyar. pembagian pendapatan yang makin merata. pengeluaran pembangunan selama Pelita III digunakan antara lain untuk membiayai program-program pembangunan bidang ekonomi. terutama di sektor pertambangan dan energi. sektor perhubungan dan pariwisata serta sektor pertanian dan pengairan.0 milyar. Rp 4. penyebaran serta pemerataan pembangunan itu diselaraskan dengan pembangunan regional..2 persen. Di lain pihak pelaksanaan pembangunan regional dalam berbagai bentuk program Inpres dan bantuan pembangunan melalui Ipeda.175. Dalam pelaksanaannya. Pengeluaran pembangunan Dalam perjalanannya menuju suatu masyarakat arlit makmur melalui pembangunan nasional.279.0 milyar dan Rp 4. dengan jumlah pengeluaran masing-masing sebesar Rp 5. dan perluasan kesempatan kerja.8 milyar.235.2 milyar. II dan III. yang terdiri dari pembiayaan rupiah sebesar Rp 23. atau 56. sehingga tercapailah keadaan yang mantap untuk melanjutkan pembangunan dalam Repelita IV sebagai pelaksanaan tahap keempat dari Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang.2 milyar selama Pelita III telah menghasilkan berbagai macam program pembangunan yang ditujukan kepada usaha peningkatan kesejahteraan rakyat.926.

serta mempersiapkan Departemen Keuangan RI 53 .0 milyar atau 64. dan menjamin penyediaan panganuntuk masyarakat pada tingkat harga yang layak. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. di samping untuk memperkenalkan kebudayaan bangsa.5 milyar.956. Dalam kegiatan ini pula peranserta swasta nasional lebih ditingkatkan. serta dalam kota. penggunaan dana di keenam sektor . kesempatan belajar yang dikaitkan dengan aspek pemerataan. serta ditingkatkap eksplorasi dan exploitasi kekayaan alam berupa sumber mineral dan energi.9 persen. Selanjutnya melalui pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata. dan kota. 8. merupakan kelanjutan dalam rangka meningkatkan produksi pangan yang diarahkan untuk memperbaiki tingkat hidup petani.1 milyar. Rp 2. memperluas kesempatan kerja. desa. Rangkaian kebijaksanaan pokok yang telah dirumuskan dalam Repelita III adalah dalam rangka tercapainya tujuan pembangunan di bidang pendidikan dan pengembangan generasi muda. Pembiayaan pembangunan sektor pendidikan.pembangunan bidang ekonomi tersebut ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan yang makin merata bagi seluruh rakyat. Kegiatan-kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. serta dapat meningkatkan ekspor non migas. dan diperluas kepariwisataan dalam rangka meningkatkan penerimaan devisa. generasi muda. Pemhangunan sektor pertanian dan pengairan yang telah dilaksanakan selama Pelita III. perluasan lapangan kerja. Melalui pembangunan sektor pertambangan dan energi.5 persen dan 5. Melalui pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata ini pula telah ditingkatkan. terutama dalam pertambangan rakyat. peranan pendidikan dalam pembangunan.2 milyar dan Rp 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menyerap dana cukup besar dalam Pelita III adalah sektor pendidikan.397. terutama daerah pedesaan dan daerah terpencil.797. dan dengan demikian merangsang dan menunjang pencapaian sasaransasaran pembangunan. Di samping itu juga te1ah diarahkan agar dapat menunjang pembangunan industri pertanian. atau masingmasing telah menyerap dana sebesar 9. dengan alokasi dana masingmasing sebesar Rp 3.894. sehingga dapat memperlancar arus barang/jasa dan manusia ke seluruh daerah. pembangunan prasarana angkutan dan perhubungan lebih ditingkatkan. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Pelita III diarahkan kepada usaha-usaha peningkatan kecerdasan bangsa.3 persen dari seluruh jumlah pengeluaran pembangunan selama Pelita III. yang berarti pula makin memperkokoh ketahanan nasional. generasi muda. sektor pembangunan daerah. sehingga penerimaan negara dari produksi ekspor pertambangan dapat bertambah. Dengan demikian keenam sektor pembangunan bidang ekonomi yang sebagian besar dananya dikelola departemen/lembaga itu telah menyerap dana sebesar Rp 21. telah dilaksanakan inventarisasi dan pemetaan. Sesuai dengan arab dan kebijaksanaan Pelita III. serta sektor tenaga kerja dan transmigrasi.3 persen dari seluruh /pengeluaran pembangunan selama Pelita III.

Masalah-masalah yang menonjol dalam sektor tenaga kerja dan transmigrasi selama Pelita III di bidang ketenagakerjaan adalah pertambahan penduduk yang tinggi sehingga menimbulkan kelebihan tenaga kerja.0 milyar. Dengan berlandaskan pada arah dan sasaran serta berpedoman kepada kebijaksanaan yang telah ditetapkan. serta adanya kekurangseimbangan antara tenaga kerja terdidik dan tak terdidik. yang terdiri dari pembiayaan rupiah sebesar Rp 6. di samping juga belum tersedianya posar tenaga kerja yang menyalurkan tenaga kerja secara efektif dan efisien. Dengan memperhatikan hasil-hasil pembangunan yang dicapai selama Pelita III maka dalam RAPBN 1985/1986. Sementara itu makin meningkatnya program-program pembangunan yang akan dijalankan hams diimbangi pula dengan pengerahan dana pembangunan yang lebih besar.349. Untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. arah dan kebijaksanaan pembangunan yang ditempuh selama Pelita III terus dilanjutkan dan ditingkatkan agar peningkatan tarat hidup. Bila dibandingkan dengan APBN 1984/1985. pembiayaan rupiah sebesar Rp 6. keserasian antara pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. dan terpadu. Pembangunan regional dalam Pelita III yang dilaksanakan melalui sektor pembangunan daerah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 generasi muda sebagai penerus perjuangan dan pembangunan nasional. kecerdasan dan kesejahteraan yang makin merata dan adil bagi seluruh rakyat dapat tereapai.349.8 milyar tersebut menunjukkan Departemen Keuangan RI 54 . Peranan pembangunan daerah dalam Pelita III semakin bertambah besar karena dalam melanjutkan pelaksanaan Trilogi Pembangunan.8 milyar dan bantuan proyek sebesar Rp 4. pertumbuhan ekonomi serta stabilitas nasional akan tetap menjadi pertimbangan pokok. desa dan kota merupakan kelanjutan kegiatan yang telah dilaksanakan dalam Pelita II. Seperti halnya dengan Repelita-repelita sebelumnya. Dengan demikian di dalam pengerahan dan penggunaan dana tersebut. kekurangseimbangan dalam susunan unsur tenaga kerja dan penyebaran tenaga kerja.297. dan pada gilirannya dapat merupakan landasan yang kuat untuk tahap pembangunan berikutnya. pengeluaran pembangunan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 10.647. yang merupakan reneana operasional tahunan daripada Repelita IV tetap berlandaskan pada Trilogi Pembangunan. yang merupakan pelaksanaan tahun kedua Pelita IV. pengerahan dan penggunaan dana pembangunan dalam RAPBN 1985/1986.2 milyar. selama Pelita III telah ditempuh berbagai langkah dan kebijaksanaan di bidang tenaga kerja yang bersifat menyeluruh. tekanan lebih diberikan kepada usaha pemerataan khususnya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah tanah air. dengan sasaran perluasan serta pemerataan kesempatan kerja produktif dan numeratif. sehingga dengan demikian dapat meningkatkan pemerataan pembagian pendapatan.

Pengarahan pengeluaran pembangunan kepada proyek-proyek yang diprioritaskan untuk pertumbuhan dan pemerataan tersebut pada gilirannya akan menunjang tereapainya sasaran kestabilan perekonomian. sena pada sektor-sektor lain yang menunjang tereapainya sasaran pertumbuhan dan keseimbangan struktur perekonomian.9 1976/1977 1.3 1) Di luar bantuan proyek 2) Angka APBN 3) Angka RAPBN Penggunaan anggaran pembangunan yang direncanakan sebesar Rp 10.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp262.5 PELITA III : 1979/1980 2.4 1975/1976 926.1 35.80 56.3 persen lebih besar.568.697.9 85 56.8 17.0 milyar alan 4.276.9 429.3 100.60 72 1980/1981 4.087.9 22. Perkembangan pengeluaran pembangunan di luar bantuan proyek sejak pelaksanaan Repelita I hingga sekarang dapat diikuti pada Tabel II.647.4 20.1 10.20 138.129.3 1977/1978 1.2 37.70 158. sosial.9 42.8 17. dengan tujuan lebih meningkatkan peranserta Departemen Keuangan RI 55 .8 1978/1979 1. 1969/1970 -1985/1986 1) ( dalam milyar rupiah) Kenaikan Jumlah Persentase Tahun anggaran Jumlah PELITA I: 1969/1970 92.50 66.14 PENGELUARAN PEMBANGUNAN.349.3 1981/1982 5.30 149.8 100.6 38.8 1972/1973 235.280.1 0.90 354.90 1.419.486.9 1985/19863) 6.20 789.3 1973/1974 336. politik maupun penahanan dan keamanan.788. kebudayaan. Dalam reneana anggaran pembangunan tersebut telah termasuk pula peningkatan bantuan pembangunan daerah.3 10. yaitu diarahkan kepada proyekproyek yang secara langsung alan tidak langsung meningkatkan pemerataan kegiatan pembangunan baik dalam bidang ekonomi.9 1971/1972 150.5 3 1983/1984 6.80 262 4.70 597 11 REPELITA IV 1984/1985 2) 6.1 127.40 1.0 milyar tersebut akan lebih dipertajam prioritasnya dalam Repelita IV.8 PELITA II 1974/1975 765. Di samping itu diarahkan pula kepada proyek-proyek yang dapat meningkatkan laju pertumbuhan terutama sektor pertanian dalam rangka swasembada pangan.434. sektor industri yang menghasilkan mesin-mesin industri sendiri.14 Tabel II.6 1982/1983 5.031.9 1970/1971 128.

13. generasi muda.8 milyar. generasi muda. Pembangunan sektor pertanian dan pengairan dalam tahun 1985/1986 merupakan kegiatan yang diarahkan kepada usaha untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan. yang diberikan dalam rangka mempercepat penuntasan keikutsertaan anak usia sekolah pada pendidikan dasar. serta meningkatkan perluasan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan menengah.0 milyar tersebut dialokasikan pada sektor pendidikan. dan udara. mendorong pemerataan kesempatan berusaha. 13. terutama dititik beratkan pada peningkatan mutu dan perluasan pendidikan dasar dalam rangka mewujudkan dan memantapkan pelaksanaan wajib belajar.2 persen. sektor pertanian dan pengairan sebesat Rp 1. Untuk mendukung tercapainya perluasan kesempatan kerja yang merupakan kebutuhan yang makin mendesak.647.301. kebutuhan in du stri dalam negeri serta meningkatkan ekspor. desa dan kota sebesar Rp 868. lebih diperluas dan ditingkatkan. Dengan demikian sektor pertanian akan makin kuat guna mendorong perkembangan industri dalam rangka mencapai keseimbangan ekonomi. lalit. Berdasarkan pada kebijaksanaan yang telah digariskan. 12. Termasuk didalamnya usaha peningkatan dalam pengembangan jasa meteorologi dan geofisika untuk menunjang keselamatan masyarakat pada umumnya. Dengan demikian keenam sektor pembangunan yang telah disebutkan masing-masing mendapat alokasi sebesar 14. dalam RAPBN 1985/ 1986 tetap mendapatkan perhatian sesuai dengan prioritas yang telah digariskan dalam GBHN. kebudayaan nasional dan kepereayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebesar Rp 1.2 persen. 8.4 milyar.4 persen. Pembangunan sektor pendidikan. pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata yang meliputi perhubungan darat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 masyarakat dalam kegiatan pembangunan. Selebihnya dialokasikan kepada dua belas sektor pembangunan lainnya. memperluas kesempatan kerja.4 persen dari anggaran yang direncanakan dalam tahun 1985/1986.425. serta meningkatkan kegiatan transmigrasi. mendukung pembangunan daerah.8 milyar.510. sektor pembangunan daerah. meningkatkan pendapatan petani.4 persen. Selanjutnya untuk anggaran sektor pertambangan dan energi direncanakan sebesar Rp 1.2 persen dan 6. anggaran pembangunan sebesar Rp 10.4 milyar. keselamatan pelayaran dan penerbangan Departemen Keuangan RI 56 .2 milyar dan sektor tenaga kerja dan transmigrasi sebesar Rp 676. Pelaksanaan wajib belajar ini dituangkan dalam program Inpres sekolah dasar. berbagai tingkat dan jenis pendidikan ketrampilan serta latihan kejuruan yang dapat menciptakan kegiatan kerja.7 milyar.430. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. dan sektor perhubungan dan pariwisata sebesar Rp 1. serta pembangunan pos dan telekomunikasi.

usaha-usaha untuk meningkatkan produksi dan ekspor hasil pertambangan. serta untuk kepentingan pembangunan di berbagai sektor. Kegiatan pembangunan dalam sektor pembangunan daerah. terutama sektor minyak bumi dan gas alam yang merupakan sumber penerimaan negara yang terbesar selama ini. direncanakan untuk membiayai berbagai macam proyek prasarana serta sektor-sektor produktif dan bermanfaat. desa dan kota tetap diarahkan kepada perluasan kesempatan kerja.297. yang tersebar dalam delapan belas sektor pembangunan. Perincian pengeluaran pembangunan secara sektoral dalam RAPBN 1985/1986 adalah sebagai berikut : Departemen Keuangan RI 57 . telah memberikan kesempatan kepada daerah untuk merencanakan dan )11elaksanakan pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masing-masing daerah. serta peningkatan mutu dan kelancaran pelayanan. Untuk terlaksananya sasaran ini. Oleh sebab itu kegiatan pembangunan sektor pertambangan yang meliputi inventarisasi dan pemetaan. Selanjutnya bantuan proyek yang dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp4. serta peningkatan kemampuan penduduk untuk memanfaatkan sumber-sumber kekayaan alam. Demikian pula dengan pembangunan tenaga listrik yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat kota dan desa. Demikian juga pembangunan pariwisata terus ditingkatkan melalui kebijaksanaan terpadu. Di sektor pertambangan dan energi. eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam berupa sumber mineral dan energi dalam tahun 1985/1986 terus ditingkatkan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna. penyediaan sarana dan prasarana.2 milyar. pembinaan dan pengembangan lingkungan pemukiman pedesaan dan perkotaan yang sehat. bantuan pembangunan yang diberikan kepada daerah berupa program-program Inpres dan bantuan pembangunan lainnya makin ditingkatkan dan disempurnakan. terus dilanjutkan dan ditingkatkan. Diberikannya berbagai program bantuan pembangunan kepada daerah selama ini. sehingga produksi dan ekspor pertambangan serta penerimaan negara akan dapat meningkat pula. serta mendorong kegiatan ekonomi khususnya industri. akan dilanjutkan dan diperluas. antara lain berupa peningkatan kegiatan promosi dan pendidikan kepariwisataan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada khususnya.

SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi 7.000 578.000 47. SEKTOR PERTANIAN DAN PENGAIRAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan 1.846.000 98.000 275.000 900.000 274. SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama 1.141. SEKTOR PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor Perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata 5. DESA DAN KOTA Sub Sektor Pembangunan Daerah.000 28.000 1.913.361. SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri 3.365.000 71.000 868.000 68.392.363.092.126.000 529. SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi 6.628.000 2.000 102.301.000 63.095.000 655.595.971.425.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ( dalam ribuan rupiah) 1. GENERASI MUDA. SEKTOR PEMBANGUNAN DAERAH.000 676.830. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa 1.000 1.788.739.430.000 128.000 1.000 868. SEKTOR PENDIDIKAN.818.975.000 63.219.510.000 190.000 9.025.000 60. SEKTOR PERT AMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Sub Sektor Energi 4.000 621.141.704.257.012.679.000 655.000 238.350.531.580.219. Desa dan Kota 8.595.658.000 Departemen Keuangan RI 58 .

SEKTOR ILMU PENGETAHUAN. SEKTOR PERUMAHAN RAKY AT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman 437.064.938. yaitu pengeluaran pembangunan departemen/lembaga termasuk di dalamnya departemen Hankam.000 714. SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum 13.000 74. PERS DAN KOMUNlKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.189.308.000 176.000 229.000 80.962. bantuan pembangunan bagi daerah.092.000 437.000 12. Pers dan Komunikasi Sosial 15.720.000 80.000 259.720. SEKTOR KESEHATAN.362. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA 413.000 67.441.441.000 67.383.000 58.000 259.000 Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kependudukan dan Keluarga Berencana 11.147.000 100. sedangkan Departemen Keuangan RI 59 .000 229. SEKTOR PENGEMBANGAN DUNIA USAHA Sub Sektor Pengembangan Dunia Usaha 18.000 714. PERANAN W ANITA.687.000 Pengeluaran pembangunan yang dibiayai dengan rupiah diperinci atas tiga bagian besar. dan lain-lain pengeluaran pembangunan.189.000 207.000 133.641.000 176.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 10.555.000. SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional 14.000 254. Pengeluaran pembangunan melalui departemen/lembaga merupakan pembiayaan yang disediakan untuk pembangunan sektoral dan dikelola oleh departemen/lembaga. TEKNOLOGI DAN PENELITIAN Sub Sektor Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sub Sektor Penelitian 16.064.147. SEKTOR PENERANGAN.687.647.641. SEKTOR SUMBER ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Sub Sektor Sumber Alam dan Lingkungan Hidup JUMLAH 10. SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah 17. KESEJAHTERAAN SOSIAL.

Adapun proyek-proyek yang dapat dibiayai oleh dana bantuan pembangunan kabupaten meliputi proyek/kegiatan yang bersifat pemeliharaan jalan dan jembatan yang sudah ada. yang diberikan untuk mendorong dan mengarahkan usahausaha swadaya gotongroyong masyarakat dalam membangun desanya. bantuan pembangunan/pemugaran posar.6 milyar. Dengan makin bertambahnya jumlah penduduk dan kemampuan keuangan negara. kemudian menjadi Rp 42. dan bantuan pembangunan prasarana jalan. Bantuan pembangunan desa. dan pemeliharaan prasarana pedesaan.6 milyar. Dalam RAPBN 1985/1986 yang merupakan tahun kedua Pelita IV bantuan yang diberikan direncanakan sebesar Rp 215.8 milyar untuk 67.9 milyar alas dasar perhitungan Departemen Keuangan RI 60 . Dalam tahun 1970/1971. berhubung dengan bertambahnya jumlah bantuan menjadi Rp 1.1 milyar masing-masing pada awal Pelita II dan Pelita III. Di samping itu dapat juga dipergunakan untuk membiayai proyekproyek yang bersifat meningkatkan ketrampilan penduduk pedesaan. bantuan pembangunan sekolah dasar. menunjukkan hasil-hasil yang nyata.437 buah. bantuan yang diberikan terus meningkat pula setiap tahunnya. bantuan penghijauan/rebuisasi. Pada akhir Pelita II telah meningkat menjadi Rp 24. programprogram Inpres yang terdiri dari bantuan pemb:mgunan desa. dimaksudkan untuk menciptakan dan memperluas lapangan kerja.448 desa.350 ribu tiap desa.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengeluaran pembangunan berupa bantuan pembangunan bagi daerah merupakan bantuan yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan potensi dan prioritas daerah masing-masing dalam bentuk program Inpres. bantuan pembangunan sarana kesehatan. bantuan Ipeda dan bantuan pembangunan Timor Timur.0 milyar dengan jumlah desa sebanyak 60.645 buah. bantuan pembangunan Dati I. sedang dalam RAPBN 1985/1986 bantuan terse but ditingkatkan menjadi Rp 98. kepada seBap kabupaten diberikan juga bantuan peralatan berupa satu buah mesin gilas jalan. bantuan yang diberikan baru mencapai jumlah sebesar Rp 5. bantuan pembangunan kabupaten. Dalam perkembangannya. jumlah bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 92. Dalam APBN 1984/1985. pada awal Pelita I baru diberikan kepada 44.6 milyar.6 milyar dengan jumlah desa sebanyak 66. Sementara itu bantuan pembangunan kabupaten yang besarnya didasarkan atas jumlah penduduk. serta meningkatkan partisiposi penduduk dalam pembangunan.478 desa dengan jumlah bantuan sebesar Rp 2.5 milyar dan Rp 87. dan pada akhir Pelita III meningkat lagi menjadi Rp 91. dalam rangka memanfaatkan dan memelihara sumber alam. Oleh sebab itu selain bantuan berupa uang. serta proyek peningkatan dan pembangunan jalan yang dapat membuka daerah terisolasi sehingga dapat mengembangkan perekonomian daerah dan memperluas kesempatan berusaha.

0 milyar. bantuan pembangunan Dati I dalam RAPBN 198511986lebih ditingkatkan penggunaannya.7 milyar pada awal Pelita II.0 milyar dengan bantuan minimum sebesar Rp 10. Dalam APBN 1984/1985. perbaikan gedung-gedung sekolah yang sudah ada.0 juta untuk kabupaten.8 milyar pada awal Pelita III. Bantuan yang ditetapkan digunakan untuk membiayai perbaikan jalan dan jembatan. penyediaan buku-buku pelajaran dan buku bacaan. dan dalam RAPBN 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 617.250.bantuan per jiwa dan bantuan minimum yang diberikan adalah sebesar Rp 170. Adapun jumlah bantuan yang telah diberikan dalam tahun 1973/1974 adalah sebesar Rp 17.2 milyar. bantuan pembangunan sekolah dasar lebih ditingkatkan lagi. terutama bagi anak-anak usia sekolah pada pendidikan dasar yang berada di pedesaan. daerah transmigrasi. yaitu ditambah dengan penyediaan paket peralatan olah raga untuk sekolah dasar negeri dan swasta. kemudian ditingkatkan menjadi Rp 19. pembangunan rumah guru dan kepala sekolah di daerah terpencil.. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 280. meratakan hasil-hasil pembangunan. Dalam APBN 1984/1985. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 253.0 milyar. yang merupakan permulaan Pelita IV. serta biaya eksploitasi dan pemeliharaan pengairan. serta buku bacaan bagi anak-anak sekolah dasar saja. dan pemukiman baru. dan kemudian diperluas lagi pada tahun berikutnya dengan pembangunan rumah bagi kepala sekolah dan guru yang bertugas di daerah terpenci1. Selanjutnya ditingkatkan dengan pembangunan penambahan ruang kelas baru. Dalam rangka meningkatkan keselarasan pembangunan sektoral dan regional. Adapun bantuan pembangunan sekolah dasar yang bertujuan untuk memperluas kesempatan belajar. serta madrasah ibtidaiyah. dan untuk meningkatkan keserasian laju pertumbuhan antar daerah serta meningkatkan peranserta daerah dalam pembangunan. Jumlah tersebut meliputi antara lain pembangunan gedung sekolah baru. perbaikan dan peningkatan irigasi. Dalam tahun 1982/1983. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 580. dan ditingkatkan lagi menjadi Rp 155. daerah terpencil. dalam tahun 1985/1986 lebih ditingkatkan lagi.0 milyar dengan bantuan minimum untuk liar propinsi sebesar Rp 9. Pada mulanya bantuan pembangunan sekolah dasar ini diberikan untuk pembangunan dan rehabilitasi gedung-gedung sekolah dasar. Sedangkan bantuan yang diarahkan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 1. dan diarahkan penggunaannya. Program Inpres Dati I ini terdiri dari bantuan yang ditetapkan penggunaannya. penyediaan bukubuku pelajaran. serta penyediaan alat-alat olah raga dalam Departemen Keuangan RI 61 . dan bantuan maksimum Rp 12.0 milyar.8 milyar.0 milyar. digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek yang meningkatkan taraf hidup rakyat serta untuk mengembangkan daerah-daerah minus di daerah kritis.

Sehubungan dengan itu anggaran bagi bantuan penghijauan dan reboisasi.050 buah. pembuatan hutan rakyat. dan pernmahan untuk dokter dan paramedis. Sebagaimana halnya dalam Pelita III. sedangkan dalam APBN 1984/1985 disediakan sebesar Rp 10. yang bertujuan untuk menyelamatkan kelestarian sumber-sumber alam. dan dalam tahun 1985/1986 anggaran untuk program Inpres ini direncanakan sebesar Rp 42. Untuk keperluan itu dalam tahun 1985/ 1986 bantuan pembangunan yang diberikan melalui Inpres Sarana Kesehatan lebih ditingkatkan lagi jumlahnya.1 milyar untuk memperbaikijalan sepanjang 7. Untuk tahun 1985/1986 anggaran yang direncanakan untuk program Inpres ini adalah sebesar Rp 11.5 milyar. tanah hutan.3 milyar. Bila dalam APBN 1984/1985 jumlah bantuan yang diberikan sebesar Rp 98.021 km dan jembatan sebanyak 62. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi Dati II dalam rangka pembangunan daerah.6 milyar. melalui bantuan pembangunan dan pemugaran posar diberikan kesempatan kepada Pemerintah daerah untuk menyediakan tempat berjualan/posar dengan sewa semurah mungkin. puskesmas pembantu. Kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup tetap mendapat perhatian yang besar dalam Repelita IV. lebih ditingkatkan lagi. Untuk membantu para pedagang kecil golongan ekonomi lemah. bantuan yang diberikan baru sebesar Rp 1. dalam pelaksanaannya banyak melibatkan aparatur Pemerintah desa serta berbagai lembaga yang ada di desa.4 milyar maka dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp 114. menghubungkan daerah produksi hasil pertanian dengan daerah pemasarannya. Dalam tahun 1984/ 1985 disediakan anggaran sebesar Rp 39.7 milyar. yang sebagian besar berpenghasilan rendah.383 buah dengan jumlah biaya sebesar Rp 200. pembuatan bangunan pencegah erosi. percontohan pertanian terpadu. selama Pelita III telah berhasil diperbaiki jalan sepanjang 33.2 milyar. Dalam tahun 1978/1979. dan air.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bentuk paket.8 milyar. Dengan diberikannya bantuan penunjangan jalan kabupaten sejak 1979/1980.500 km dan jembatan sebanyak 19.0 milyar. anggaran yang diberikan untuk program Inpres ini baru sebesar Rp 16. baik di desa maupun di kota. khususnya dalam membuka daerah yang masih terisolasi. puskesmas keliling. sasaran peningkatan pelayanan kesehatan dan perbaikan gizi dalam Pelita IV tetap diutamakan kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah.5 milyar yang direncanakan dipergunakan antara lain untuk pembangunan puskesmas baru. Sedangkan dalam APBN 1984/ 1985 disediakan bantuan sebesar Rp 80. Oleh sebab itu dalam tahun 1985/1986 bantuan yang direncanakan untuk program bantuan penunjangan jalan Departemen Keuangan RI 62 . Pada awal pelaksanaannya tahun 1976/1977. Kegiatan penghijauan meliputi penanaman tanaman tahunan.

Dalam tahun 1977/1978. Pembangunan melalui sektor pengembangan dunia usaha dilakukan Pemerintah me1alui penyertaan modal Pemerintah pada perusahaanperusahaan negara yang bergerak di berbagai sektor.5 milyar. dan pengembangan program perumahan rakyat. kesehatan. ditujukan kepada program pembangunan yang menyangkut kepentingan masyarakat umum yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan negara. dan lembaga Pemerintah lainnya.8 milyar.6 milyar.7 milyar.6 milyar.6 milyar dalam RAPBN 1985/1986. dan se1ama Pelita III telah diberikan bantuan sebesar Rp 30. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp 255. Bantuan yang diberikan dalam rangka memberi kesempatan kepada propinsi termuda ini agar dapat sejajar dengan tingkat kemajuan daerah-daerah lainnya di Indonesia. digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan.6 milyar. Rencana penge1uaran pembangunan dalam tahun 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. Dalam APBN 1984/1985.7 milyar. Bila dalam APBN 1984/1985 anggaran untuk subsidi pupuk disediakan sebesar Rp 458. terutama pada sektor pendidikan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ditingkatkan menjadi Rp 87. Bantuan pembangunan kepada daerah Timor Timur diberikan sejak tahun 1977/1978. maka dalam tahun 1985/1986 direncanakan untuk ditingkatkan menjadi Rp 557.8 milyar. dan pembiayaan lain-lain pembangunan sebesar Rp 248.0 milyar. yang terdiri dari pembiayaan subsidi pupuk sebesar Rp 557. bantuan pembangunan untuk daerah Timor Timur adalah sebesar Rp 8. dan proyekproyek perkebunan tanaman komoditi ekspor.8 milyar. dan perkreditan. diantaranya sektor pertanian. yang direncanakan antara lain untuk pembiayaan proyek-proyek pabrik pupuk. kemudian Rp 4. dan sektor pemerintahan. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 disediakan bantuan sebesar Rp 8. Realisasi pengeluaran pembangunan bagi penyertaan modal Pemerintah disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara setiap tahunnya.5 milyar. penyertaan modal Pemerintah sebesar Rp 255.062. sehingga mereka dapat membe1i pupuk sesuai dengan yang diperlukan.5 milyar dalam tahun 1978/1979. Program-program pembangunan tersebut diantaranya adalah program pembinaan keluarga berencana.5 milyar. program pengembangan statistik/sensus.6 milyar. harga pupuk akan dapat disesuaikan dengan clara beli rakyat dan petani kecil. tambang batu bara. Dalam APBN 1984/1985 anggaran yang disediakan adalah sebesar Rp 359. Selanjutnya penge1uaran pembangunan lainnya yang dianggarkan sebesar Rp 248. Pemberian subsidi pupuk oleh Pemerintah pada hakekatnya bertujuan untuk mendukung program swasembada pangallo Dengan diberikannya subsidi ini. industri. Pembiayaan pembangunan lainnya dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp1.15 dan Tabel Departemen Keuangan RI 63 . perhubungan. pertambangan. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 3.

129. Pembiayaan dalam rupiah II.50 92.6 215.16. Pembiayaan lain-lain 1. Pembangunan SD 5.5 3.6 1.20 23.30 45'8. Lain-lain IV.40 2.046. Belanja pegawai 2.00 1. 15 RENCANA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA.2 1. Bantuan proyek Jumlah Jumlah 12.20 23. Pajak penghasilan 2. PENG. PEMBANGUNAN I.20 Pengeluaran A. Bunga dan cicilan hutang 1.590. pembiayaan bagi daerah 1.9 280 617 114.30 3.159. Departemen/Lembaga 2.80 78. Timor Timur 10. Pembangunan prasarana jalan 9.5 150.30 1985/1986 RAPBN 3.50 98.00 6. Bantuan program II.10 395.249.297.115. Bantuan pembangunan posar 7.516.1 2.30 482.1 8.1 1. Pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah 3.371. Belanja baraag 1.5 8.90 1.074.00 557. Dalam negeri 2.5 42.647. DALAM NEGERI I. Bantuan proyek Jumlah Departemen Keuangan RI 64 .297.6 39.40 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 II.7 359.459. 1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Penerimaan A.00 I.666.00 Tabel II.559. Tunjangan beras 2.4 3. Belanja pegawai luar negeri II. Pelayanan kesehatan/Puskesmas 6. Dalam negeri 2. Tabel II.9 253 580. Lain-lain belanja pegawai dalam negeri 5.529.50 10. Gaji/pensiun 3.8 167. Pajak ekspor 5.451.518.PENG.80 380.680. Bantuan pembangunan kabupaten 3.677.90 11.20 10.80 313.647.00 3. Penyertaan modal pemerintah 3.6 89.4 1.70 7. Penerrmaan minyak bumi dan gas alam II.9 B. Lain-lain B.2 1. Bea masuk dan cukai 4. PEMBANGUNAN I. PEN.10 70.6 243 4. 16 RENCANA ANGGARAN PEMBANGUNAN.368.061. I P e d a III. Departemen Hankam II.6 4.8 98.5 11. 1985/1986 (dalam milyar rupiah) Jenis Pengeluaran 1984/1985 APBN 3. PEN. Belanja pegawai 1. Subsidi pupuk 2.3 10. Ipeda 6. Bantuan Proyek Jumlah 4.510. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam 18.4 96. Pajak lainnya 7. Bantuan penghijauan 8.349. Subsidi daerah otonom 1.529.4 10.00 4.80 4.297.4 731.3 116. Pembiayaan Departemen/Lembaga 1.3 87.8 255.10 602.117.399.6 248.046. Bantuan pembangunan desa 2. Luar negeri III. Luar negeri V.062.40 101.644. Belanja non pegawai IV. Bantuan pembangunan Dati I 4. Biaya makan (lauk-pauk) 4.10 30 3.00 241.643. Penerimaan bukan pajak 1.7 167.8 201.349.8 80. RUTIN I.9 4.00 1.

peningkatan tatakerja keterampilan serta keahlian. baik organisasi maupun kegiatannya. Akibat dari peningkatan pengawasan atasan langsung maka timbul kebutuhan akan peningkatan media yang akan dipergunakan dalam pengawasan tersebut. maupun berupa tindakan penyempumaan kelembagaan. atau dengan kala lain peningkatan pemasyarakatan pengawasan._an terhadap para pelaku.6. serta Struktur Organisasi Menko Ekuin dan Pengawasan Pembangunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. Selanjutnya peningkatan pengawasan adalah juga menggerakkan seluruh aparatur pelaksana untuk secara aktif melaksanakan pengawasan terhadap bawahannya. penyesuaian besarnya organisasi dan personil. Peningkatan pengawasan pertama-tama mempunyai arti peningkatan aparatur pengawasan. Untuk mewujudkan integrasi secara struktural di bidang pengawasan seperti dim aksu d. Tugas pokok. terutama dengan makin meningkatnya volume anggaran yang dikelola sebagai konsekuensi dari makin meluasnya kegiatan pembangunan yang dilaksanakan selama Pelita I. II dan III. baik itu berupa tinda. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1983 tentang Kedudukan. kepegawaian. dan ketatalaksanaan. Peningkatan organisasi tersebut meliputi peningkatan kedudukan. 15 tahun 1983 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan. Pelaksanaan pengawasan di bidang anggaran dilakukan dengan cara pemeriksaan secara Departemen Keuangan RI 65 . baik aparatur Pemerintah maupun masyarakat umum. Oleh karenanya perlu diciptakan dan ditingkatkan mutu sistem pengendalian manajemen dalam tiap aparatur Pemerintah. yaitu peningkatan pelaksanaan tindak lanjut. juga merupakan salah satu aspek dari peningkatan pengawasan. Peningkatan penggunaan hasilhasil pengawasan oleh seluruh aparatur yang berwenang. Fungsi dan Tatakerja.3. serta disesuaikan dengan sasaran-sasaran pembangunan yang hendak dicapai. Pada akhir tahun Pelita III telah ditempuh kebijaksanaan untuk melaksanaka_ sistim pengawasan terpadu secara struktural. Langkah-langkah yang diambil dalam usaha peningkatan pengawasan serta peningkatan penggunaan hasil-hasil pengawasan oleh seluruh aparatur yang berwenang itu hams diikuti pula dengan usaha peningk::ttan pengertian dan kesadaran akan pengawasan dari seluruh masyarakat. Dalam Pelita IV. telah diterbitkan Keputusan PresideD Nomor 31 tahun 1983 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). fungsi pengawasan makin ditingkatkan dan disempumakan lagi. yang berlaku sebagai landasan operasional pengawasan. sedangkan peningkatan kegiatan berarti perluasan ruang lingkup dan luasnya jangkauan pengawasan. dan Inpres No. Pengawasan pembangunan Fungsi pengawasan keuangan negara memegang peranan yang makin penting. yang biasa disebut pengawasan atasan langsung.

8172) 3. Hasil pemeriksaan tersebut menggambarkan kemajuan di dalam disiplin administrasi para pelaksana proyek..151 68.1982/1983 PEL1TA I PEL ITA II PEL ITA III 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 759 992 1.497 97.04 dan 0. Fenerbitan SPMU oleh KPN: (Murni) (jutaan Rp) .74% -89.333 159.054.221 27.51% 6. Adapun jumlah laporan pemeriksaan terhadap realisasi APBN/APBD selama tahun keempat Pelita III adalah sebanyak 11.54% 1.361 246.060 58.639 137.3) .151 248 111 108 306 368 .21% -88.672 5. Dari hasil pemeriksaan belanja pegawai tersebut.bcban sementara s. Sedangkan jumlah kejadian realisasi fisik yang tidak sesuai dengan DIP pada akhir Pelita I. Nilai SKO yang diperiksa 4.19.514 48. pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.756 138..015 60.92% 2.729 dijumpai karena sasaran pemeriksaan ada1ah Kas Opname s.a 51.694 350.d.024 4.116.011 718.171 129.791 1.67% 39.025 846.211 proyek.60% -80.038 .3) .17.912.370 41. telah dilakukan pemeriksaan serentak terhadap belanja pegawai daerah otonom dan pegawai pusat pada 27 propinsi.20 persen.178 proyek dan selanjutnya pada tahun keempat Pelita III bertambah lagi menjadi 5. yang pada akhir tahun Pelita I baru mencapai 1.d.140 304.. dan pemeriksaan secara serentak pada akhir tahun anggaran terhadap proyekproyek Pelita dan proyek-proyek pembangunan daerah.214 122 126 566.. pada akhir Pelita II telah mencakup 3.06% -81. Hal ini adalah karena berdasarkan hasil-hasil pengawasan sejak Pelita I sampai dengan akhir tahun keempat Pelita III.beban sementara s.404 63.324 38. 1969/1970 .814 857.683 1) Daiam Pelita I terdiri atas pcnerbitan SPMU murni SlAP: dalam Pelita II khusus penerbitan SPMU murni saja 2) Jumlab anggaran yang diperiksa 3) Mulai tabun anggaran 1979/1980 DIP berfungsi sebagai SKO Dalam tahun 1983/1984..851 222.10% -96. Penerbitan SPMU oleh KPN : (dalam pcrsentase) .821 5.677 110.81% 3.398 157 282 704.065 1.499 69.157 97.784 146.782 44.740 221.86% 30.39% -90.421 261. 18. Jumlah Proyek Pelita Yang dipcriksa 2.703 213. Berita acorn yang tidak benar (jutaan RP)I) 1.3) 154. dalam rangka memperoleh gambaran mutakhir mengenai jumlah pegawai Pemerintah serta permasalahannya.5402) 1.473.567 1. pemeriksaan serentak atas proyek-proyek Repelita tidak lagi dilaksanakan tiap tahun tetapi akan dilakukan sewaktu-waktu bilamana dianggap perlu.jumlah s.682 406.214 I.512 2.08% 828 364 969.647.789 207.03 persen dari nilai yang diperiksa.07% 41.410 145.9192) 4.33% 1..475 87.445 632. Perkembangan hasil pemeriksaan khusus proyekproyek Pelita dapat diikuti pada Tabel II.276 16.483 1.790 64. Realisasi pisik yang tak sesuai dengan DIP (jumlah kejadian) 129 201 88 354 215 8.544 834.18% -42.33% data-data tak 58.599 85.d.178 4. Nilai SlAP yang dipcriksa per 1 April tahun berikutnya (jutaan Rp) 12-375 23.011 97..773 1. yang meliputi laporan hasil pemeriksaan penerimaan.238 57.211 -20.49% . ditemukan hal-hat mengenai ketertiban administrasi Departemen Keuangan RI 66 .. 38.08 kejadian per proyek. Tabel II.14 persen dan 0.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rutin.46% 40.578 59.015 362.634 .101 1. Sedangkan pemeriksaan serentak terhadap proyek-proyek Pelita.89% -80% -79.beban tetap s. 47 % 75% 72 % 72% 68.098 366 410 1.089 27.142 86.759 66.123 268 361 1.180.940 3. disiplin administrasi proyek-proyek Pelita secara keseiuruhan bertambah baik.408 70. Pelita II..104 355.jumlab kejadian 106 52 78 144 78 7.956 proyek.94% 260 66 224 251.beban tetap s.295 616. 0.956 2.06% 31.360 58.103 507.639 624.540 676. 53% 25% 28% 28% 31.PROYEK PELlTA.162 1. yang tercermin dari perkembangan jumlah berita acara yang tidak benar dan realisasi fisik yang tidak sesuai dengan DIP.262 4.100 2.173 501.772.d.233 355.687. dan pada tahun keempat Pelita III masing-masing adalah sebanyak 0..246. Mulai tahun terakhir Pelita III. 20.d.37% 979 173 277 369.d.45% -88.93% 3.867 647.17 HASIL PEMERIKSAAN KHUSUS PROYEK.88% -93. 0.l67.19% 41.590 laporan.057 80.783 2.620 30.024 491. Nilai DIP yang diperiksa ( jutaan rupiah) 3.326 226. Berita acara yang tidak benar pada periode tersebut masing-masing adalah 0.63% 36.26% -71.956 .14% 273 95 234 160.66% -90.939 141.

pembayaran gaji kepada pegawai yang belum/tidak berhak. kelebihan pembayaran kepada pegawai yang tidak patuh kepada disiplin kepegawaian (meninggalkan tugas lebih dari 2 bulan tanpa alasan). yang mengakibatkan bertambahnya bagian Pemerintah berupa pajak dan minyak mentah. Perjan. Pemeriksaan tersebut dilakukan terhadap selurnh kontraktor minyak asing yang telah berproduksi secara komersial. Selain itu dilakukan pula pemeriksaan terhadap para kontraktor minyak asing yang mengadakan kerja sama dengan Pertamina dalam bentuk Kontrak Bagi Hasil. Departemen Keuangan RI 67 . Sehubungan dengan itu telah dilakukan penelitian atas pengetrapan prinsip-prinsip perhitungan biaya BBM yang telah ditetapkan. yang diakhiri dengan pernyataan akuntan yang dapat dipergunakan untuk menilai kemajuan dan ketertiban perianggungjawaban keuangan. Pengeluaran negara yang menyangkut subsidi BBM mengalami kenaikan karena meningkatnya biaya pokok BBM dan semakin naiknya permintaan masyarakat akan BBM. kesalahan perhitungan yang mengakibatkan pembayaran gaji lebih besar dari seharnsnya. pembayaran rangkap kepada pegawai berupa pembayaran dari dua instansi Pemerintah. dari selurnh BUMN yang diperiksa terdapat 79 perusahaan yang memperoleh pernyataan "menyetujui tanpa syarat". kesalahan perhitungan yang mengakibatkan pembayaran pensiunan lebih besar dari yang seharnsnya. diantaranya ialah pembayaran gaji pegawai fiktif. dan sebagainya. Pemeriksaan secara rutin juga dilakukan terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Perum. pembayaran rangkap kepada pegawai berupa pembayaran dari perusahaan dan dari Pemerintah daerah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kepegawaian maupun hal-hal yang merugikan negara. kelebihan pembayaran tunjangan keluarga. Pada akhir Pelita II. Terhadap BUMN ini pada umumnya dilakukan pemeriksaan terhadap neraca dan perkiraan rugi laba. dan perusahaan-perusahaan negara yang didirikan dengan undang-undang tersendiri. Usaha-usaha Pertamina di dalam mencapai accountability dan auditability di bidang tata usaha keuangannya meliputi pula anak-anak perusahaan/joint venture Pertamina. Hal ini menunjukkan bahwa administrasi pertanggungjawaban keuangan perusahaan semakin bertambah baik. dan Kontrak Karya. yang meliputi pemeriksaan atas Persero. Pernyataan akuntan "menyetujui tanpa syarat" (yaitu pernyataan terhadap laporan keuangan BUMN jang disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi) dari tahun ke tahun terus meningkat jumlahnya. seperti Pertamina dan bank-bank milik negara. Pada umumnya hasil pemeriksaaan terhadap kontraktor minyak asing tersebut menguntungkan Pemerintah karena terdapat koreksi-koreksi perhitungan biaya. sedang dalam tahun terakhir Pelita III terdapat kenaikan jumlah pernsahaan yang mendapat pernyataan "menyetujui tanpa syarat menjadi 230 perusahaan.

maka pada Pelita III sasaran diperluas sampai kepada pemeriksaan untuk melihat apakah suatu kegiatan/program dilaksanakan dengan menggunakan dana yang tersedia secara efisien. dan 41 kasus yang menyangkut BUMN/BUMD. telekomunikasi. program perbaikan dan peningkatan irigasi. dan apakah hasil atau manfaat yang diinginkan dari suatu kegiatan/program telah diperoleh secara efektif. Pemeriksaan operasional tersebut belum dapat menjangkau seluruh bidang kegiatan pemerintahan umum dan pembangunan. Dalam triwulan I tahun 1984/1985. Di bidang penerimaan negara. Departemen Keuangan RI 68 . Kalau dalam Pelita I dan Pelita II pemeriksaan hanya ditujukan terntama kepada segi keuangan saja. Sedangkan untuk program pembangunan. pemeriksaan operasional dilakukan antara lain terhadap proyek-proyek Inpres pembangunan kabupaten. kepada para pejabat yang bertanggungjawab telah disarnpaikan saran-saran penyempumaan lebih lanjut. Sementara itu terhadap Badan Usaha Milik Negara. pemeliharaan jalan dan jembatan. dan sebanyak 8 kasus yang menyangkut BUMN/BUMD telah disampaikan kepada Kejaksaan Agung. program peningkatan produksi tanaman pangan program pembangunan jaringan irigasi baru.ana yang berasal dari APBN/APBD. program pembangunan jalan dan jembatan. program rehabilitasi dan. yang berarti adanya perluasan sasaran pemeriksaan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sejak tahun 1979/1980 tahap pengawasan ditingkatkan dengan pemeriksaan operasional. serta reboisasi dan penghijauan. dan pengawasan terhadap kelancaran pelaksanaan pembangunan. melainkan baru terbatas kepada sasaran-sasaran yang diprioritaskan. sekolah dasar. terdiri dari 106 kasus yang menyangkut APBN/APBD. maupun terhadap badan-badan usaha negara. Pemeriksaan operasional ini dilaksanakan baik terhadap kegiatan/program yang dibiayai dengan dana-d. pemeriksaan operasional dilakukan terhadap program transmigrasi termasuk program pemukiman daerah transmigrasi. Dari hasil pemeriksaan operasional tersebut. Selanjutnya sebanyak 28 kasus yang menyangkut APBN/ APBD. program pengembangan daerah rawa. penyaluran pupuk. sarana kesehatan. Selanjutnya terhadap program pembangunan daerah. Dari hasil pemeriksaan khusus tersebut ditemukan 147 kasus yang diduga mengandung unsur tindak pidana. pemeriksaan operasional dilakukan terhadap penerimaan pajak/lpeda serta bea dan cukai. serta pos dan giro. telah ditemukan beberapa bidang yang dipandang masih dapat ditingkatkan dayaguna dan hasilgunanya. pemeriksaan operasional dilakukan antara lain terhadap perkreditan . terdiri dari 43 kasus yang menyangkut APBN/ APBD. dari hasil pemeriksaan khusus ditemukan 47 kasus yang mengandung unsur tindak pidana. Dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan pula pemeriksaan khusus terhadap kasuskasus penyimpangan.

Selanjutnya untuk menciptakan keseragaman mutu hasil pemeriksaan. Selanjutnya hasil-hasil pengawasan aparat pengawasan Departemen Keuangan RI 69 . yaitu standar-standar keahlian para pelaksana. sehingga dapat menghasilkan mekanisme pengawasan terhadap bawahan. dan 309 orang pembantu akuntan. Inspektorat Wilayah Propinsi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan 4 kasus yang menyangkut BUMN. yang diselenggarakan pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara telah dihasilkan tenaga-tenaga pemeriksa.370 orang. tetapi jumlah dan kondisi aparat pengawas yang ada saat ini masih belum memadai bila dibandingkan dengan makin kompleks dan luasnya ruang lingkup pengawasan. Semua kasus yang disampaikan kepada Kejaksaan Agung telah diteruskan pula kepada Kejaksaan Tinggi di masing-masing daerah. sebanyak 14 kasus telah diteruskan ke Kejaksaan Agung. 1. Di samping itu dilanjutkan usaha untuk meningkatkan mutu sistem pengendalian manajemen. pelaksanaan tugas. dilakukan pula usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknis dari tenaga-tenaga yang sudah ada melalui penataranpenataran. kepada para pengawas dibekali pula dengan tata cara pelaksanaan pemeriksaan. dalam arti bahwa pengawasan atasan bukan lagi merupakan pekerjaan terpisah dari fungsi pimpinan. ajun akuntan dan akuntan. Bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sehubungan dengan itu agar dapat mendukung tercapainya sasaran strategis pengawasan pada masa mendatang. atau Pemerintah Daerah. jumlah tenaga pemeriksa tersebut menunjukkan adanya kenaikan. dan Inspektorat Wilayah Kabupaten/ Kotarnadya berdasarkan data sementara adalah sebanyak 7. Meskipun usaha-usaha peningkatan aparat pengawasan secara kualitas maupun kuantitasnya terus dijalankan. Dewasa ini Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah memiliki 3. ditambah pula dengan 267 orang tenaga-tenaga sarjana dan sarjana muda jurusan non akuntan yang dijadikan tenaga pemeriksa setelah mendapatkan pendidikan tambahan. Sedangkan sebagai petunjuk pelaksanaan pengawasan secara lebih teknis. Di samping usaha-usaha meningkatkan jumlah aparat pengawasan.239 orang tenaga pemeriksa yang terdiri dari 1. sedangkan terhadap 2 kasus yang menyangkut BUMN telah dilakukan tindak lanjutnya berupa tindakan administratif dan tuntutan ganti rugi kepada yang bersangkutan. serta makin banyaknya objek pemeriksaan yang hams ditangani. dan pelaporan yang harns dipenuhi. Dalam rangka meningkatkan jumlah aparat pengawasan.190 orang akuntan. kepada para pemeriksa dibekali norma pemeriksaan. baik yang diselenggarakan oleh BPKP maupun oleh departemen .473 orang ajun akuntan. melalui pendidikan pembantu akuntan. dalam tahun 1985/1986 Pemerintah terus berusaha meningkatkan serta menyempurnakan fungsi pengawasan. Dari kasus yang menyangkut APBN/APBD. Sernentara itu jumlah tenaga pemeriksa pada aparat pengawasan fungsionallainnya seperti Inspektorat Jenderal.

dan penyimpangan. Departemen Keuangan RI 70 . serta pengembangan petunjukpetunjuk tatacara pelaksanaan pemeriksaan terus dilanjutkan untuk lebih meningkatkan mutu aparat pengawasan fungsional. Seluruh kebijaksanaan dan langkahIangkah di bidang pengawasan tersebut diarahkan agar pada akhir Repelita IV terbentuk sistem pengendalian manajemen yang mampu mencegah secara dini terjadinya pemborosan. Sistem pengendalian manajemen tersebut akan ikut mewujudkan aparatur Pemerintah yang berdayaguna dan berhasilguna.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 fungsional diharapkan akan menjadi bagian dari informasi untuk pengambilan keputusan dan perumusan kebijaksanaan. karena berkembangnya standar dan norma untuk mengukur efisiensi. di samping pelaksanaan rencana memiliki pengendalian yang menjamin tercapainya tujuan-tujuan yang ditetapkan dalam rencana. Sejalan dengan itu pendidikan dan latihan tenaga pengawas. kebocoran.

Sementara itu perkembangan harga komoditi ekspor di pasar internasional selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember menunjukkan perkembangan yang agak baik. Harga-harga di dalam negeri juga dipengaruhi oleh harga-harga di luar negeri. Dilain pihak menguatnya nilai dollar Amerika telah menyebabkan kurs matauang terse but terus meningkat di posaran. khususnya dalam hal lada putih.38 persen sebulan. Untuk periode yang sarna tahun sebelumnya..33 persen atau rata-rata 0. Pendahuluan Stabilitas ekonomi yang cukup mantap merupakan landasan yang menjamin lancarnya pembangunan tahap berikutnya.16 persen per taboo. sedang dalam Pelita II (1974/1975-1978/1979) dan Pelita III (1979/1980-1983/1984) laju inflasi menurun masing-masing menjadi rata-rata sebesar 14.1. bahan pangan merupakan salah sarti kelompok barang yang terrenting.81 persen per bulan. Melalui program stabilisasi senantiasa diusahakan agar laju inflasi dapat dikendalikan. seperti misalnya dengan emas. Namun matauang lainnya secara umum tidak mengalami gejolak harga yang cukup besar.46 persen atau rata-rata 0. Oleh karena itu Pemerintah senantiasa menjaga stabilitas harganya agar tetap dalam jangkauan daya beli masyarakat. laju inflasi adalah sebesar 7. terlihat bahwa rata-rata laju inflasi dalam Pelita I (1969/1970-1973/1974) adalah sebesar 17. sehingga dapat memperkuat landasan bagi pelaksanaan Repelita selanjutnya. Selanjutnya selama sembilan bulan dalam tahun pertama pelaksanaan Repelita IV atau tepatnya sampai dengan bulan Desember 1984.48 persen setahun.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB III HARGA. Oleh karena itu senantiasa diusahakan tercapainya kestabilan harga di dalam negeri melalui penyediaan bahan kebutuhan pokok yang cukup. Dari perkembangan laju inflasi selama Pelita I sampai dengan Pelita III. lada Departemen Keuangan RI 71 . Perbedaan harga rata-rata terendah. laju inflasi adalah sebesar 3. secara umum harga beras di beberapa kota selama bulan April-Oktober 1984 telah mengalami penurunan. GAJI DAN UPAH 3. komoditi ekspor dan lain-lain. dan hal itu telah mengakibatkan harga emas di pasar Jakarta mengalami penurunan pula.8 persen. Dalam bulan-bulan terakhir tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember. dan penyaluran yang cepat bagi masyarakat. harga emas di bursa internasional cenderung mengalami penurunan. Dengan produksi beras dalam tahun 1984 yang diperkirakan lebih tinggidari tahun sebelumnya.77 persen dan sebesar 13. Apabila diteliti barang dan jasa yang mempengaruhi tingkat kenaikan barga-barga. dan harga rata-rata tertinggi di beberapa kota adalah sekitar 2.

13 % + 15.78 % + 0.6 persen.2.1984/1985 Tahun kenaikan REPELITA I 1) 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 REPELITA II 1) 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 REPELITA III 2) 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 REPELITA IV 1984/1985 (sampai dengan bulan Desember) 1) Repelita I dan II berlaku Indeks Biaya Hidup di Jakarta 2) Repelita III mulai diguruikan Indeks Barga Konsumen Indonesia Persentase + 10.81 % + 20.46 % 3.10 % + 19. 1 PERSENTASE KENAlKAN INDEKS BIAYA HIDUP DI JAKARTA DAN INDEKS HARGA KONSUMEN INDONESIA 1969/1970 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hitam. industri sebesar 12. yang digunakan sebagai pengukur perkembangan laju inflasi.2 persen.80 % + 8.35 % + 20.0 persen.08 % + 11. terlihat bahwa laju Departemen Keuangan RI 72 .40 % + 12. dan perkembangan harga yang tak menentu telah terjadi pada kopra serta minyak sawit.9 persen.2.79 % + 19.85 % + 9. Dalam periode yang sarna.5 persen.3 persen.12 % + 10.79 % + 47. kopi robusta eks Lampung dan timah putih. Perkembangan harga 3. Tabe1 III. pertambangan dan penggalian sebesar 8. Perkembangan indeks harga perdagangan besar Indonesia dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus telah meningkat sebesar 11.1. serta sektor impor dan ekspor masingmasing sebesar 10.77 % + 12. sebagai akibat meningkatnya indeks harga pada sektor-sektor pertanian sebesar 12. Indeks harga konsumen Indonesia Berdasarkan perkembangan indeks harga 150 macam barang dan jasa di 17 kala propinsi.65 % + 7. Sebaliknya penurunan harga telah terjadi pada karet jenis RSS III. indeks harga sektor perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi telah meningkat pula sebesar 7.63 % + 3.7 persen dan 11.

Departemen Keuangan RI 73 .46 persen tersebut disebabkan oleh meningkatnya indeks harga kelompok makanan dan kelompok perumahan.17 persen. masing-masing sebesar 2. Juli dan Desember 1984 laju inflasi masing-masing sebesar 1. indek harga sub kelompok telur.64 persen antara lain disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar 7. Mei.98 persen dan indeks harga sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 5. atau rata-rata 0.30 persen yang terjadi selama periode April-Desember 1984 adalah akibat meningkatnya indeks harga sub kelompok biaya tempat tinggal. 0. indeks harga sub kelompok kacang-kacangan sebesar 6.71 persen. Dalam indeks harga kelompok perumahan.79 persen dan indeks harga sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 9.28 persen. laju inflasi adalah sebesar 7.31 persen.46 persen atau rata-rata 0.kenaikan yang cukup besar pada kelompok makanan terjadi pada bulan Desember 1984 yaitu sebesar 2. indeks harga sub kelompok ikan segar sebesar 7. Kenaikan yang cukup besar pada indeks harga sub kelompok biaya penyelenggaraan rumah tangga pada bulan April dan Nopember 1984 masing_masing sebesar 1.97 persen dan indeks harga sub kelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 6. terlihat bahwa laju inflasi sebesar 3.49 persen dan 7.16 persen. 0.38 persen.04 persen. perkembangan yang lebih terperinci menunjukkan bahwa dalam bulan Agustus dan September 1984 telah terjadi deflasi masing-masing sebesar 0. yaitu sebesar 0. Kenaikan indeks harga kelompok makanan sebesar 2.33 persen. Pada periode yang sarna tahun sebelumnya.15 persen dan 0.81 persen. 0.10 persen. dan indeks harga sub kelompok biaya penyelenggaraan rumah tangga.37 persen dan 1.65 persen. masing-masing sebesar 2.88 persen dan 1. Bila dilihat faktor penyebab laju inflasi selama periode April-Desember 1984 berdasarkan kelompok maupun sub kelompok barang dan jasa. serta dalam bulan Oktober dan Nopember 1984laju inflasi adalah sarna.kota propinsi di Indonesia.64 persen dan 2. peningkatan sebesar 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 inflasi selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Desember. Sementara itu penurunan indeks harga sub kelompok lainnya dalam kelompok makanan terjadi pada indeks harga sub kelompok lemak dan minyak yaitu sebesar 3.30 persen.03 persen.45 persen.43 persen dan 5. adalah sebesar 3. Juni.38 persen per bulan. ubi-ubian dan hasil-hasilnya sebesar 4. sedang dalam bulan-bulan April.33 persen adalah sebagai akibat meningkatnya upah pembantu di 10 dari 17 . susu dan hasil-hasilnya sebesar 5.03 persen.76 persen. indeks harga kelompok sandang dan kelompok aneka barang dan jasa masing-masing sebesar 2. Bila diteliti lebih lanjut.74 persen.47 persen yang disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok padi-padian.

30 199.67 259.68 244.48 212.82 255.86 178.48 257.48 244.29 208.68 219.24 160.79 218.46 220.84 214.29 225.47 166.99 194.35 177.98 143.93 187.90 184.34 183.12 263.34 242.93 275.88 257.27 225.33 236.05 243.73 147.86 236.72 216. 2 INDEKS HARGA KONSUMEN INDONESIA.73 238.82 172.76 228.52 220.08 262.37 213.30 204.70 171.03 246.02 147.78 257.88 265.14 215.69 262.14 174.33 243.73 247.85 205.18 233.36 274.48 205.26 200.34 220.98 239.72 272.57 177.70 233.46 220.08 258.90 226.89 227.14 237.48 255.07 258.70 220.09 245.35 Perumahan 146.17 238. 3 INDEKS UMUM HARGA KONSUMEN DI 17 KOTA DI INDONESIA.42 186.90 233..31 Departemen Keuangan RI 74 .14 172.52 220.03 217.48 240.70 205.10 177.91 257.00 258.58 223.34 267.1984/1985 ( 1977/1978 = 100) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 198411985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Sandang 173.88 163.82 263.37 215.11 258.58 161.82 189.57 246.82 192.40 263.75 200.68 242.49 193.02 273. 1979/1980 .32 210.89 246.47 275.13 265.62 276.52 255.08 263.03 204.12 219.28 214.77 175.23 210.36 245.53 233.40 242.78 238.33 183.19 179.61 221.69 239.08 175.52 240.79 239.16 274.57 203.73 189.51 238.77 220.02 189.54 221.87 240.43 238.34 247.91 258.08 276.02 237.59 247.77 240.95 268.29 200.72 189.11 233.60 221.56 245.96 209.19 219.97 258.09 185.45 231.43 245.08 263.38 183.86 239.18 240.98 223.64 232.57 217.02 204.45 257.89 191.21 149.54 Umum 147.19 232.22 238.53 269.40 179.40 227.08 233.25 244.09 156.46 221.56 Medan 149.43 197.82 148.34 246.21 197.18 219.51 221.69 237.53 226.12 202.03 221.59 197.61 188.63 Tabel III.49 221.19 200.20 224.32 182.12 255.27 214.48 238.29 245.93 211. 1979/1980 -1984/1985 ( 1977/1978 = 100 ) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Yogyakarta Surabaya Denpasar 152.28 262.57 246.14 267.08 263.77 241.06 239.27 202.72 245.51 258.14 244.11 256.34 240.46 269.55 221.20 222.25 252.58 Makanan 144.61 247.50 218.90 245.62 183.65 259.01 204.93 224.35 246.51 171.55 259.99 216.22 243.01 230.33 234.40 240.94 267.76 234.99 139.93 223.02 238.65 234.45 238.55 221.65 238.93 241.63 190.45 221.46 258.16 224.04 215.67 247.03 236.39 246.52 Padang Palembang Jakarta Bandung Semarang 148.64 265.29 192.14 241.96 214.76 183.45 220.54 229.21 231.73 177.58 206.43 273.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel III.78 239.41 197.88 266.77 219.82 194.60 174.38 179.83 176.58 239.24 210.60 210.70 168.H 261.42 236.28 198.18 212.

7 206.1 Laju inflasi di 17 kota selama sembilan bulan tahun anggaran 1984/1985 telah menunjukkan perkembangan yang relatif besar untuk kota Jayapura.55 232.93 157.68 212. dan DKI Jakarta yaitu masingmasing sebesar 4.15 230. 4.87 231.35 242. Laju inflasi di kota-kota lainnya hanya berkisar antara 0.17 253.13 persen. serta meningkatnya harga obat tanpa resep adalah merupakan faktor penyebab meningkatnya beberapa indeks harga tersebut di atas. dari sub kelompok sandang wanita masing-masing sebesar 3.84 231.66 236.8 219.84 Manado 149.25 200.15 persen dan 4.97 191.97 243. yang termasuk pada indeks harga sub kelompok pendidikan.52 persen dan 1.6 231.81 205.91 218.49 208. dan sandang lainnya sebesar 1.68 231.11 226.09 227.02 229.65 228 227.95 255.09 Banjarmasi n 163.3 212.63 238.66 214.82 232.57 persen.01 Ujung pandang Ambon 145.33 246.62 237.35 180.56 235.72 206.35 persen .49 persen.81 249.9 230.17 241.03 Indeks harga kelompok sandang selama bulan April-Desember 1984 telah meningkat sebesar 2. antara lain disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok transpor sebesar 10.79 227.9 230.25 222.36 225.95 197.55 258.5 244.24 135. Peningkatan terse but disebabkan oleh naiknya indeks harga sub kelompok san dang lakiIaki.19 247.65 228. dalam bulan Juli dan Nopember 1934. peningkatan yang cukup besar dari indeks harga ketiga jenis sandang yaitu sandang laki-Iaki.62 228. 4.37 227.27 235.23 257.2 179.44 231.81 241.2 208.37 191. Medan.33 229.46 144.19 241.27 242.67 218. indeks harga sub kelompok pendidikall sebesar 8.22 233.21 Kupang 150.81 246.13 224.55 211. Kenaikan yang cukup besar dari biaya angkutan umum dalam bulan April 1984. sandang wanita.43 236.65 212.76 218.72 224.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel III.61 persen.56 223.57 214.79 232.52 177.7 219.53 209. yaitu pada saat-saat menjelang Idul Fitri.42 160.46 260. dan sandang anakanak telah terjadi dalam bulan Juni dan Juli 1984.39 217.44 232. kenaikan harga alar-alar tulis dan buku tulis.16 persen.57 244.49 persen.19 241. 3.1 236.95 228.62 reIsen. Perkembangan indeks harga konsumen di setiap kala dapat dilihat dalam Tabel III.56 236.29 175.47 227.63 227.04 223. sedangkan laju penurunan harga terjadi di kota Ambon sebesar 1.17 228.68 210.12 242.81 219.35 persen.18 231.74 227. Perkembangan indeks harga konsumen beserta komponennya dapat dilihat dalam Tabel III.45 180.78 241. Denpasar.97 259.09 232.4 227.53 214.45 persen.15 232.9 229. serta kenaikan indeks harga sub kelompok barang pribadi.13 persen.52 164.56 216. Departemen Keuangan RI 75 .42 175.84 229.65 Pontianak 148.96 192.73 Jayapura 128.55 228.21 258 257.4 225.92 221.31 216. sedapg dalam bulan-bulan lainnya hanya mengalami peningkatan yang relatif rendah.65 234.33 persen sampai 3.54 228.28 201.67 193.55 161.71 259. Indeks harga kelornpok aneka barung dan jasa yang meningkat sebesar 7.09 225.01 223.92 259. sub kelompok sandang anak-anak. 3. 3 (lanjutan) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Mataram 148.83 226.05 231.97 persen.44 persen.51 193.09 215. dan indeks harga sub kelompok kesehatan sebesar 5.39 212. Bila dilihat perkembangan per bulannya.17 192.06 253.

75 105.34 180.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 3.67 180.84 84.-135. Peningkatan yang cukup tinggi telah terjadi hampir di semua kola dalam bulan Agustus 1984.250.-- Kota Bandung Yogyakarta Semarang Surabaya Medan Banjarmasm Ujungpandang Denpasar jenis barang Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil ( Rp{kg ) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg) (Rp{kg) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg) ( Rp{kg) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) Departemen Keuangan RI 76 .5 200.46 per kilogram. perkembangan harga beras yang relatif stabil antara lain terjadi di kola Semarang.-170. dengan peningkatan terbesar terjadi di kola Ujungpandang yaitu sebesar 13.-257.-135.128. GULA PASIR DAN TEKSTIL DI BEBERAPA KOTA BESAR DI INDONESIA.-225.-311.-135.1984/1985 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 Maret Maret Maret Maret Maret Maret 103.-95.-104.-135.67 103. Sedangkan harga yang bervariasi antara Rp 263.-123.17 100.-173.-155.25 150.-200.5 210.85 191.88 244.44 175.5 241.-185.-235. Yogyakarta.-176.66 100.-200.-188.-193.33 146.94 132.63 165.67 182.-125.84 262.-165.39 261.-91.-155.67 250.75 135.-175. Perbedaan harga rata-rata terendah.-133.-180.4 HARGA RATA-RATA BERAS MUTU MENENGAH.33 143.75 93.79 170.66 220.-185.75 300. Rp 348.-170.-213.-135.2.5 175.-124.75 190.-275.13 157.2.25 201.33 140.62 95.25 200. Ujungpandang dan Denposar.-223.-100.33 103.-200.-245. masing-masing pada tingkat harga Rp 291.-80.-90.11 125.-250.-176..-120.67 159.-262.09 75.11 82.-120.-125.71 172.-135.-115.-175.-92.-125.-120.-160.36 sampai Rp 425.-120. TEPUNG TERIGU.-190.190.-180.-168.-165.89 75.-160.-200.5 165.-226.67 175.-150. Medan dan Banjarmasin.33 125.-135.-215.62 278.-130.-160.-100.-166.-250.-140.-156.-125.33 183. 1973/1974 .06 153.per kilogram.33 140..18 131.139.5 129. dan harga rata-rata tertinggi di beberapa kola adalah sebesar 2.-250.-250.-200.sampai Rp 395.-190.33 255.-157. yaitu tetap pada tingkat harga Rp 275.8 persen.-218.-120.-125.33 150.25 265.-125.83 137. Surabaya.-120.33 215.-166..-159.-103. Produksi beras dalam tahun 1984 yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.89 135.-200.-125.96 89.-235.-425. serta penyaluran yang cukup lancar ke pasaran telah menyebabkan stabilnya harga beras dalam periode tersebut.17 90.190.67.67 242.-165.75 252.-215.-105.-90.-246.8 persen. Sedangkan dalam bulan-bulan lainnya harga tepung terigu tidak mengalami peningkatan yang berarti.-140.-130.-200.per kilogram Tabel III.81 250. Harga tepung terigu di beberapa kola di Indonesia dalam periode April-Oktober 1984 berkisar antara Rp 275.33 221. Harga beberapa barang konsumsi utama Perkembangan harga beras di beberapa kala di Indonesia selama periode April sampai dengan Oktcber 1984 secara umum relatif stabil.33 79.-75.-125.08 273.-190.-200.5 90.per kilogram terjadi di kola Bandung.-130.-217.-185.67 125.-230. bahkan di kota Banjarmasin selama periode April-Oktober 1984 mengalami kestabilan.-125.02 dan Rp 333.-250.-325..67 235.-200.5 145.-125.-180.-125.-193.-96.78 81.54 206.-85.88 173.

-288.-219.33 500.8 400.16 195.-275.-563.25 567.46 351.-425.84 528.34 650.75 342.-625.97 193.35 373.-290.42 584.83 564.-425.51 175.-503.-600.92 327.-255.63 571.-269.-385.-375.-381.75 221.22 275.-280.-200..67 714.33 518.75 555. kenaikan harga yang cukup tinggi terjadi dalam bulan Mei dan Agustus 1984 yang berkisar antara 0.5 511.4.75 510.6 393.-245.-300.08 550.600.4 (lanjutan) 1979/1980 1980/1981 Maret Maret 219.-332.17 542.56 633.-315.97 326.34 486. Semarang dan Surabaya.-190.-615.25 319.-267..08 1984/19851) s/d Oktober 315.36 265.92 481.04 315.67 600.536.83 400.-274.16 330.52 349.5 236. sehingga dalam bulan tersebut terjadi peningkatan di kota Ujungpandang.206. dan konsumen terhindar dari gejolak kenaikan harga.65 272.88 250.33 291.-500.63 375.-510.67 271.n 377.58 576.25 461.-527.34 250. Di sam ping itu dalam rangka menunjang program tebu rakyat intensifikasi.3 178.94 252.-550.-- K o t a / Jenis barang Bandung Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Y ogyakarta Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Semarang Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Surabaya Beras Tepung terigu Cula posir Tekstil Medan Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Banjarmasin Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Ujungpandang Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Denposar Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil 1) Sampai dengan Oktober 198 ( Rp/kg) (Rp/kg ) ( Rp/kg) (Rp/m) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp /kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp /kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg) ( Rp/kg) (Rp/m) 1981/1982 Maret 281.-272.-475.11 224.183.67 762. Produksi tekstil yang mencukupi telah menyebabkan perkembangan harga tekstil di Departemen Keuangan RI 77 . Berdasarkan perkembangan harga gula posir di beberapa kota selama periode April-Oktober 1984 sebagaimana terlihat dalam Tabel III.-239. dan penyesuaian harga provenue gula pasir.34 278.67 407.75 228.89 260.6 persen dan 2.67 214.-350.38 210.67 386.-222. 2.54 225.-250. mulai bulan Oktober 1980'Pemerintah menjamin pemasaran seluruh gula rani baik yang merupakan bagian petani.42 260.22 281.3 persen.43 395.-550.-230.75 514.-437.34 225.-350.-550.8 208.-575.58 217. Kenaikan harga tepung terigu yang terjadi pada bulan Agustus 1984 telah pula mempengaruhi perkembangan harga gula pasir.0 persen.-900.42 500 236.-425.-206.08 323.75 503. 525.-350.5 327. Dengan demikian petani dapat menerima harga yang ditetapkan.41 176.12 473.-425.38 188.635.5 275. pembangunan pabrik-pabrik baru.-242.5 275.67 542.-271. masing-masing sebesar 4.2 246.3 persen sampai 6.-267.99 273.-- 1982/1983 Maret 319.-268.33 621.25 289.92 500.33 321.206.74 226.48 423.-- Kebijaksanaan Pemerintah dalam usaha meningkatkan produksi gula pasir antara lain dilaksanakan melalui rehabilitasi pabrik-pabrik gula.71 226.-525.-322.68 205.5 250.17 649. maupun yang merupakan bagian pabrik.57 400.72 702.-500.57 529.19 216.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel 111.-- 1983/1984 Maret 272.-541.-.-450.-400.46 287.75 559.-285.-400.-273.5 500.82 269.25 275.25 430.87 590.-178.55 275.67 540.83 527.83 400.-610.-550.39 599.-740.3 persen.91 265.33 626.-650.33 525.4 415.-700.07 196.55 252.-255.21 261.-500.33 278.-516.

41 1.25 920.6 370.2 4. Hal ini memperlihatkan bahwa minat masyarakat terhadap logam mulia emas masih cukup besar.147..151 .-Mei 1.-4.4 469.123.006.020.2 465. sedang harga tertinggi terjadi di kota Medan dengan harga Rp 900.25 354. 23 karat dan 22 karat di pasar Jakarta telah menurun masing-masing sebesar 7.165.1.36 1.1976/1977 Maret 415.75 302.28 1.488. 7.139.326.1.39 1..-138.82.2 persen.011.131.1973/1974 Maret 415. Dalam periode yang sarna di pasaran London.322.75 370.1972/1973 Maret 414.5 274.422.-173.6 329.390.sampai Rp 900.1978/1979 Maret 627.Nopember Swiss F NFL 110.4. Indeks harga emas dan valuta asing Fluktuasi kurs matauang dollar Amerika telah mempengaruhi perkembangan harga emas. 1969/1970 -1984/1985 (hargajual/dalam rupiah per satuan) Tahun anggaran/ rata-rata bulan DM US $ Yen £ HK$ Sing $ 1969/1970 Maret 379.-463.5 persen dan 5.461.25 348.75 131.75 372.197.5 308.365.16 1.50 129.-Juli 1.5 304.75 Agustus 1.-179.40 134. Selama periode April-Oktober 1984.362. baik di posaran lokal maupun di posaran internasional.75 478.50 4.-125.2 386.25 422.062.067.302.75 Oktober 1.25 830.139.40 366.064.376.per meter.291.47 1.-365.-1.4 455.2 478.83. bahkan di kota Semarang dalam bulan Juli 1984 harga menurun sebesar 0.1975/1976 Maret 415.1984/1985 April 1.81 1.8 330.6 365.6 461.15 1.4 1.167.443.-980.46 1.196.3.2 Juni 1.-341.-4.75 483.6 Desember 996.8 496.153.6 September 1.25 322.408.465.per meter. Dalam bulan-bulan menjelang Idul Fitri.89.316.75 2.5 2.09 1.882.4.4 482.1974/1975 Maret 416..8 318.8 4.25 1.-80.418.130.131.2 125.8 341.6 363.5 146.2.127.8 341.72.-184.25 139.-81.5 432.6 4. perkembangan harga barang-barang konsumsi Utama dapat dilihat dalam Tabel IlI.-1.153.492.52 1. yaitu bulan Juni dan Juli 1984.60 4. Selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember.1.20 4.276.2 456.25 491.5 HARGA BEBERAPA VALUTA ASING DI JAKARTA.8 3.2 314. maka terlihat bahwa di pasaran Jakarta harga emas mengalami penurunan yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan penurunan yang terjadi di pasar London.5 349.4 September 989.4.6 1979/1980 Maret 632.-323.-143.024.12 1.2 461.041.75 1981/1982 Maret 653.431.8 3.357.162.205.4.88.25 1.25 1980/1981 Maret 632.25 448.443. Di samping itU penurunan harga Departemen Keuangan RI 78 .6 780.75 427.5 63.130.50 115.145.25 284..373. harga emas 24 karat.140. Tabel III.25 335.62.1971/1972 Maret 413.8 Maret 1.-251.167.75 133.3.035. Harga terendah terjadi di kola Denpasar dengan tingkat harga Rp 500.527.-160.25 123.5 1982/1983 Maret 761.4 3.13 5 .5 433.8 persen.-11 7.-140.per meter.6 383.-426.21 370.75 347.-338.015.75 133.5 312.1970/1971 Maret 378.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa kota relatif stabil. harga emas menurun sebesar 15.4 1983/1984 Juni 979.345.-444. harga tekstil tidak mengalami kenaikan yang berarti.25 690. Bila dibandingkan penurunan harga emas di pasar Jakarta dengan di pasar London.3 persen.2 312.5 328.75 383.-157.31 1.25 950.7 persen.80 486.132.57 1.166.-858.-1977/1978 Maret 412.8 324.481.20 4.-1.123.153.75 289.33 1. harga tekstil di beberapa kota berkisar antara Rp 500.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

emas tersebut juga merupakan akibat bertambahnya permintaan terhadap matauang dollar Arnerika. Bila dilihat perkembangannya setiap bulan, harga emas 24 karat, 23 karat dan 22 karat selama tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember 1984 umumnya mengalami penurunan. Khususnya dalam bulan Juli 1984, masing-masing mengalami penurunan sebesar 4,6 persen, 4,5 persen dan 4,1 persen. Sedangkan selama empat bulan terakhir yaitu bulan Agustus, September, Oktober dan Nopember 1984, harga emas 24 karat, 23 karat dan 22 karat relatif stabil yaitu tetap raJa harga Rp 11.500,-, Rp 11.000,- dan Rp 10.500,- per gram. perkembangan harga emas dapat dilihat dalam Tabel III.6.
Tabel III. 6 HARGA EMAS DI PASAR JAKARTA DAN DI PASAR LONDON, 1969/1970 - 1984/1985 ( dalam rupiah per gram) London Tahun anggaran / Jakarta 24' 23 ' 22' US $/ 1 fine oz rata-rata bulan 1969/1970 Maret 490,-470,-450,-35.32 1970/1971 Maret 510,480,450,-37.38 1971/1972 Maret 620,-580,450,-48.40 1972 / Maret 1.050,1.000,950,-90.00 1973/1974 Maret 1.775,-1.675,1.575,-111.75 1974/1975 Maret 2.312,50 2.212,50 2.100,-177.50 1975 / Maret 1.837,50 1.737,50 1.637,50 129.55 1976/1977 Maret 2.050,1. 950,-1.850,149.13 1977/ 1978 Maret 2.350,-2.260,-2.150,-179.75 1978/1979 Maret 5.080,-4.880,4.680,239.75 1979/1980 Maret 10.750,9.750,-9.000,547.25 1980/ 1981 Maret 10.100,9.593,75 9.100,-576.75 1981 / Maret 7.150,-6.725,-6.375,316.25 1982/1983 Maret 9.980,9.534,9.048,413.00 1983/1984 Juni 12.580,- 11.940,-11.320,-415.00 September 12.800,-- 12.000,-11.500,-385.00 Desember 12.340,-- 11.690,-11.090,375.00 Maret 12.390,- 11.890,-11.140,393.00 1984/1985 April 12.237,50 11.662,50 11.025,-383.75 Mei 12.080,11.480,11.860,384.70 Juni 12.300,11.750,11.000,371.50 Juli 11.737,50 11.225,10.550,336.10 Agustus 11.500,-- d.OOO..10.500,347.11 September 11.500,-- 11.000,-10.500,-346.68 Oktober 11.500.11.000,10.500,336.00 Nopember 11.500,-11.000,10.500,330.80

Meningkatnya kurs matauang dollar Amerika sejak awal tahun anggaran 1984/1985 masih terus berlangsung sampai dengan bulan Nopember 1984. Selama periode AprilNopember 1984, kurs matauang tersebut meningkat sebesar 4,6 persen yaitU dari Rp 1.020,menjadi Rp 1.067,20 per dollarnya. Dari perkembangan kurs dollar setiap bulannya terlihat bahwa kurs dollar Amerika telah mengalami peningkatan tertinggi dalam bulan September 1984 yaitu sebesar 2,1 persen, sedangkan dalam bulan-bulan lainnya selama periode tersebUt
Departemen Keuangan RI

79

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

hanya meningkat antara 0,1 sampai 1,7 persen. Kurs dollar Hongkong terus meningkat dengan peningkatan terbesar terjadi dalam bulan September 1984, yaitu sebesar 2,4 persen. Secara urn urn dapat dikatakan bahwa peningkatan yang cukup besar raJa kurs dollar Amerika, maupun pada kurs dollar Hongkong dalam bulan tersebut disebabkan permintaan dalam jumlah yang relatif besar di posaran. Keadaan sebaliknya telah terjadi pada harga matauang Asia yaitu Yen, dollar Singapura dan beberapa matauang Eropa Barat, yang permintaannya tidak menentu sehingga berakibat tidak stabilnya kurs matauang tersebut di pasaran. Bila dilihat perkembangan kurs Yen setiap bulan, maka selama delapan bulan dalam tahun anggaran 1984/1985 atau dalam periode April-Nopember 1984, telah terjadi penurunan dalam bulanbulan Mei, Juni, Juli dan Oktober 1984, sedangkan sebaliknya dalam bulan-bulan lainnya terjadi peningkatan antara 1,1 sampai 1,5 persen. Pola yang hampir sarna terjadi raJa kurs dollar Singapura yang mengalami kenaikan kurs tertinggi dalam bulan Agustus 1984 yaitU sebesar 1,8 persen, sedangkan dalam bulan Juli 1984 mengalami penurunan sebesar 0,8 persen. Secara keseluruhan selama periode April-Nopember 1984, kurs Yen menurun sebesar 1,3 persen, sedang kurs dollar Singapura meningkat dengan 3,7 persen. Perkembangan beberapa matauang
Eropa Barat yaitu Poundsterling Inggris, Mark Jerman, Franc Swiss dan Guilder Belanda dalam periode yang sarna secara umum menunjukkan penurunan masingmasing sebesar 8,2 peTscH, 7,5 persen, 6,9 per:sen dan 7,2 persen. Penurunan kurs matauang Poundsterling Inggris dalam bulan Oktober 1984 sebesar 2,8 persen merupakan penurunan yang terbesar diantara penurunan yang terjadi selama kurun waktu April-Nopember 1984. Sedangkan kurs matauang Mark Jerman dan Franc Swiss mengalami penurunan terbesar dalam bulan Juli 1984 masing-masing sebesar 2,5 persen dan 3,9 persen, demikian pula kurs Guilder Belanda mengalami penurunan terbesar dalam bulan September 1984 sebesar 3,0 persen. Perkembangan kurs beberapa valuta asing di pasar Jakarta dapat dilihat dalam Tabel III.8

3.2.4. Harga barang-barang ekspor Memasuki tahun pertama Repelita IV, atau tepatnya pada tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember, harga komoditi ekspor di posar lokal Jakarta yaitu lada putih dan kopi robusta telah mengalami peningkatan masing-masing sebesar 5,6 persen dan 2,0 persen, sedangkan komoditi karet dan kopra selama periode terse bUt telah menurun sebesar 23,8 persen dan 16,7 persen. Secara umum dapat dikatakan bahwa peningkatan dan penurunan harga yang terjadi di posaran lokal adalah akibat perkembangan harga yang terjadi di pasaran internasional. Mengamati perkembangan harga di posaran internasional dalam kaitannya dengan

Departemen Keuangan RI

80

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

ekspor beberapa komoditi Indonesia, terlihat bahwa beberapa komoditi mempunyai prospek yang baik sekali dalam usaha pengembangan ekspor. Hal ini tercermin pada Tabel 111.8, dimana komoditi lada putih, lad a hiram, kopi robusta eks Lampung, dan timah putih selama tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Nopember 1984 mengalami pemasaran yang makin baik. Selama periode April-Nopember 1984, harga lada putih di posar London, dan lada biram di posar New York telah meningkat masing-masing sebesar 21,9 persen dan 21,0 persen. Menguatnya harga lada putih dan lada biram tersebut adalah akibat menurunnya persediaan, karena memburuknya panen lada dunia dalam tahun 1983/1984 yang diperkirakan masih terus berkelanjutan dalam tahun pallen 1984/1985. Harga kopi robusta eks Lamrung di posar Singapura dalam periode yang sarna naik sebesar 14,1 persen, walaupun di pasar New York sebagai pusat pemasaran kopi dunia dalam periode terse but mengalami penurunan sebesar 5,3 persen. perkembangan harga timah putih di posar London selama periode April-Nopember 1984 menunjukkan kenaikan sebesar 13,5 persen. Peningkatan tersebut bukan merupakan akibat dari meningkatnya permintaan, akan tetapi akibat menurunnya nilai Pound sterling Inggris di pasaran moneter internasional. Perkembangan yang sebaliknya telah terjadi pada harga kopra di posar Manila, dan di posar London serta minyak sawit eks Malaysia di pasar London, yang selama periode April-Nopember 1984 mengalami penurunan masing-masing sebesar 17,0 persen, 17,8 persen dan 15,7 persen. Demikian pula halnya dengan harga karet RSS III di posar New York, London dan Singapura, selama periode tersebut telah mengalami penurunan masing-masing sebesar 27,7 persen, 17,2 persen dan 28,2 persen. Penurunan harga karet sintetis, sehubungan dengan menurunnya harga minyak bumi, merupakan salah sarli sebab menurunnya harga karet tersebut. perkembangan harga komoditi di posar lokal, dan di posar internasional dapat dilihat pada Tabel III.7, Tabel III.8

Departemen Keuangan RI

81

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Tabel III. 7 HARGA BEBERAPA BARANG EKSPOR DI JAKARTA, 1969/1970 - 1984/1985 ( dalam rupiah per kilogram) Tahun anggaran/ Kopra rata-rata bulan (Sulawesi) RSS I Lada putih Kopi robusta 1969/1970 Maret 125,66 50,18 295,-126,57 1970/1971 Maret 106,1 65,4 199,25 156,1971 /1972 Maret 103,12 58,2 257,6 120,62 1972/1973 Maret 199,77 79,7 431,4 293,09 1973/1974 Maret 305,56 192,43 752,19 360,46 1974/1975 Maret 178,35 94,51 526,25 245,82 1975/1976 Maret 243,59 89,18 455,37 507,1976/1977 Maret 278,29 215,5 1.100,2.090,1977/1978 Maret 306,47 233,33 917,5 862,5 1978/1979 Maret 626,66 256,67 1.276,25 1.169,1979/1980 Maret 777,94 242,26 1.162,50 1.225,1980/1981 Maret 690,21 263,4 822,5 968,75 1981/1982 Maret 508,48 243,8 880,-783,6 1982/1983 Maret 701,09 219,8 956,-1.025,1983/1984 Juni 1.041,64 313,26 1.270,1.200,-September 992,74 363,78 1.450,1.150,Desember 1.103,43 467,32 2.510,1.250,Maret 1.006,25 535,07 2.665,1.275,1984/1985 April 939,44 560,38 2.540,1.300,Mei 889,84 540,65 2.660,1.325,-Juni 791,42 577,25 2.670,1.300,Juli 795,54 543,48 2.440,1.300,Agustus 820,36 493,15 2.600,1.325,September 853,37 432,74 2.925,1.350,Oktober 797,9 445,77 2.850,1.235,Nopember 766,78 445,77 2.815,1. 300,-

Tahun anggaran/ rata-rata bulan

Tabel III..8 HARGA BEBERAPA BARANG EKSPOR UTAMA DI PASAR INTERNASIONAL, 1969/1970 - 1984/1985 RSS III Kopra Kopi robusta Lada putih Lada hitam Timah putih Minyak US $/lt US $flt Str $1 pic us $ ct/lb Br tIlt US $ ct/!b Br £ I mt Br tIlt US $ ct/lb Brp I kg Str $ ct/kg York) (London) (Singapnra) (Manila) (London) Lampung eks Palembang (London) (New York) (London) Malaysia (Singapura) (New York) (London) 20,88 17,08 16,01 26,4 42,43 27,83 35,88 39,67 43,52 51,7 69,43 65,06 43,24 54,36 53,29 58,11 57,2 56,84 54,54 50,7 47,01 45,47 45,59 45,58 42,33 41,1 20,65 14,6 12,6 24,59 39,98 24,89 41,22 38,86 48,34 59,87 66,35 57,25 48,24 73,58 71,81 75,48 81,21 80,2 77,64 73,41 68,01 70,07 70,3 71,38 68,59 66,41 59,35 98,83 83,2 137,45 203,96 117,8 179,05 186,44 196,43 247,44 300,91 240,63 163,5 200,56 219,33 221,23 228,53 225,31 215,08 198,55 182,17 179,2 180,04 179,78 167,30' 161,87 205,-176,28 115,92 201,5 767,67 258,93 178,46 456,76 664,5 520,76 406,25 327,05 329,58 479,01 645,-655,33 747,726,83 845,-723,25 658,5 648,54 703,13 620,240,53 208,55 141,84 221,21 899,6 304,6 192,5 551,5 437,06 796,45 516,75 389,43 330,25 321,69 472,92 638,01 653,4 744,15 735,75 800,17 829,4 728,682,6 642,13 747,63 611,54 82,38 117,13 95,5 90,-165,93 118,53 215,38 815,23 280,-285,-395,-399,-356,94 292,5 332,5 362,5 480,5 487,5 487,5 487,5 551,37 551,-551,-562,25 566,556,-33,65 39,28 36,43 42,28 62,31 42,86 78,15 294,56 120,67 154,75 104,52 114,48 114,69 117,49 117,42 126,04 128,15 127,45 133,5 132,75 127,66 127,2 128,2 122,26 121,42 49,77 42,73 47,4 60,5 98,93 88,3 102,55 164,6 188,75 150,62 139,-100,-128,88 132,-126,56 135,-243,-244,8 245,-245,245,-245,241,01 274,5 317,5 298,5 57,72 55,6 45,52,25 79,92 90,-79,14 117,31 116,67 86,52 95,67 83,-73,-64,"71,63 66,84 98,7 90,07 92,45 96,8 97,6 92,5 91,88 105,1 114,8 108,94 1.578,54 1.472,20 1.477,60 1.736,50 3.524,-3.043,26 3.594,05 6.155,94 5.917,50 7.328,7.906,83 6.084,13 7.070,78 8.957,10 8.581,41 8.506,16 8.616,20 8.523,48 8.762,42 9.055,25 9.170,38 9.412,60 9.352,08 9.594,25 9.596,50 9.676,94 109,58 117,6 81,35 115,-276,87 197,85 591,74 319,5 679,61 612,602,33 505,17 376,5 400,66 648,85 705,79 739,5 767,23 905,63 817,33 590,28 566,6 616,-631,75 623,39

1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984

1984/1985

Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Juni September Oesember Maret April Mei Juni Jull Agustus September Oktober Nopember

Departemen Keuangan RI

82

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

3.2 .5 .Indeks harga perdagangan besar Indonesia Dalam tahun 1983, indeks harga perdagangan besar meningkat sebesar 18,2 persen, atau dari indeks 302 dalam tahun 1982 menjadi 357 dalam tahun 1983. Kenaikan tersebut disebabkan oleh meningkatnya indeks harga sektor pertanian sebesar 13,7 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 9,0 persen, sektor industri sebesar 17,1 persen, sektor impor sebesar 20,9 persen, dan sektor ekspor sebesar 19,5 persen. Dalam perkembangannya yang terakhir, yaitu dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus, indeks harga perdagangan besar terse but meningkat sebesar 11,5 persen, sebagai hasil dari kenaikan indeks harga sektor pertanian sebesar 12,0 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 8,6 persen, sektor industri sebesar 12,3 persen, serta indeks sektor impor dan sektor ekspor masing-masing sebesar 10,7 persen dan 11,9 persen. Peningkatan indeks harga sektor pertanian terjadi pada indeks harga masing-masing sub sektor tanaman perdagangan, bahan makanan, peternakan, perikanan, serta sub sektor perkayuan dan hasil-hasil hutan. Indeks harga sektor pertambangan dan penggalian meningkat karena peningkatan yang terjadi antara lain pada indeks harga sub sektor batubara, sub sektor penggalian, dan sub sektor garam. Pada indeks harga sektor industri, peningkatan telah terjadi pada indeks harga semua sub sektornya, yaitu antara lain sub sektor industri minyak nabati dan lemak, serta sub sektor industri pengilangan minyak dan hasilhasilnya. Di sektor impor, kenaikan terjadi pada indeks harga sub sektor hasil industri pemintalan, perajutan, tekstil dan lainnya, sub sektor hasil industri kertas dan hasil-hasilnya, serta sub sektor hasil industri pengilangan minyak. Demikian pula halnya dengan indeks harga perdagangan besar bahan ekspor, peningkatan terjadi pada indeks harga masing-masing sub sektor bahan makanan dan sejenisnya, biji logam bukan besi, serta sub sektor hasil-hasil tanaman perdagangan dan ternak. Perkembangan Indeks harga perdagangan besar Indonesia dapat dilihat dalam Tabel III.9.
Tabel III. 9 ANGKA INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR INDONESIA, 1977 -1984 ( 1975 = 100 )

S e k tor I. Pertanian 2. Pertambangan dan penggalian 3. In d u s t r i 4. Impor 5. E k s p o r Indek Umum Kenaikan indeks (%)
1) Sampai dengan buIan Agustus

1977 145 130 128 108 116 122

1978

1979 213 175 178 153 246 195
71,05

1980

1981 302 266 234 191 414 282
11,46

1982

1983 382 339 301 243 514 357
18,21

1984 1)

-

162 144 139 118 127 114 -6,56

262 218 210 174 375 253
29,74

336 311 257 201 430 302
7,09

428 368 338 269 575 398
11,48

Departemen Keuangan RI

83

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

3.2.6. Indeks harga perdagangan besar bahan bangunan/konstruksi Perkembangan indeks umum harga perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi dalam tahun 1983 telah menunjukkan peningkatan sebesar 11,8 persen. Kenaikan tersebut tercermin dati kenaikan yang terjadi pada masing-masing indeks harga jenis bangunan tempat tinggal sebesar 11,0 persen, jenis bangunan bukan tempat tinggal sebesar 12,3 persen, jenis pekerjaan umum untuk pertanian sebesar 13,0 persen, jenis pekerjaan umum untuk jalan dan jembatan sebesar 11,5 persen, jenis bangunan listrik dan transmisinya sebesar 12,2 persen, bangunan dan konstruksi lainnya sebesar 11,9 persen, sella indeks harga untuk jenis perbaikan bangunan sebesar 12,5 persen. Pada perkembangannya yang terakhir yaitu pada tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus, indeks umum harga perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi telah meningkat sebesar 7,2 persen. Peningkatan terse but disebabkan oleh peningkatan masing-masing pada indeks harga jenis bangunan pekerjaan umum untuk pertanian sebesar 8,9 persen, jenis bangunan pekerjaan uIhum untuk jalan dan jembatan sebesar 7,5 persen, serta indeks harga jenis bangunan lainnya yang berkisar antara 5,9 persen dan 7,4 persen. perkembangan angka indeks harga perdagangan besar bahan bangunan/konstruksi dapat dilihat pada Tabel III.10.
Tabel III. 10 ANGKA INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR BAHAN BANGUNAN/KONSTRUKSI DI INDONESIA MENURUT lENIS, 1977 -1984 ( 1975 = 100 ) Jenis 1. Bangunan tempat tinggal 2. Bangunan bukan temp at tinggal 3. Pekerjaan umum untuk pertanian 4. Pekerjaan umum untuk jalan dan jembatan 5. Bangunan listrik dan transmisinya 6. Bangunan dan konstruksi lainnya 7. Perbaikan bangunan Umum Persentase perubahan 1) Sampai dengan bulan Agustus 1977 114 113 109 112 106 111 113 112 1978 123 124 120 123 116 123 122 122 8,93 1979 149 152 146 151 142 154 151 150 22,95 1980 175 177 192 183 160 182 179 177 18 1981 191 193 213 205 170 200 196 194 9,6 1982 209 211 239 226 181 219 216 212 9,28 1983 232 237 270 252 203 245 243 237 11,79 1984 248 254 194 271 215 261 261 254 7,17

3.3. Gaji dan upah di berbagai sektor ekonomi Peraturan pengupahan secara regional, sektoral, maupun sub sektoral senantiasa mengalami peningkatan dati tahun ke tahun. Sampai dengan tahun _pertama pelaksanaan Repelita IV sampai dengan bulan September, secara kumulatif telah dihasilkan 16 buah peraturan pengupahan secara regional, 58 buah peraturan pengupahan secara sektoral, dan 300

Departemen Keuangan RI

84

721 550.021 351.118 34.837 13.590 89. Industri 4.778 135.283 69.914 35.280 176. kenaikan upah minimum terjadi terutama pada sektor bangunan dan sektor perkebunan yaitu masing-masing sebesar 38.500 191.128 29.725 496.606 60.826 36.361 381.527 228.105 21.395 465.254 382. Pada Tabel III.550 Departemen Keuangan RI 85 .328 554.121 67.889 645.039 70.405 228.036 309.632 393.3 persen. Lain-lain/pegawai negeri ( Rata-rata upah maksimum ) 1.400 289.099 17.009 60. Perkebunan 2.618 415. upah minimum di semua sektor mengalami peningkatan yaitu pada sektor bangunan.540 65.1 persen.187 28.339 291.400 262. Tabel III.116 30. Bangunan 5.840 219.166 150.994 231.182 22.624 359. Sedangkan peningkatan upah maksimum terjadi disektor perhubungan.039 89. Bangunan 5 Listrik 6.589 20.718 40.4 persen dan sektor bangunan sebesar 24. Lain-Iain/pegawal negeri 1982 25.056 58.193 35.246 287.4 persen.658 509.606 27.2 persen.362 72.400 19841) 31.681 36.242 117.503 492.606 465.719 361. Dilain pihak penurunan terjadi pada sektor pertambangan sebesar 0.214 209. Jasa-jasa 9.650 834.745 712.932 41.485 69.179 333.517 39.11 dapat dilihat bahwa dalam tahun 1983 upah minimum di semua sektor telah meningkat antara 4.299 29.391 32.280 150.843 63.975 672.491 32.665 322.662 50.200 14.069 42.5 persen dan 22.676 554.278 35.411 448.827 297.025 556.881 17.9 persen. Bila perkembangan upah selama periode Januari-Juni 1984 dibandingkan dengan periode Januari-Juni 1983.262 29.262 19.412 307. Perdaganganlbank/asuransi 7.695 248.919 46.158 14.752 241.720 25.2 persen.782 23.742 14.974 73.114 29.754 27. sektor bangunan.146 527.0 persen sampai 12.700 10.262 25. Dalam hal upah maksimum.570 36. kenaikan terjadi pada sektor perdagangan/bank/asuransi sebesar 43.723 532.137 29. Jasa-jasa 9.738 370.300 138.956 294. Pertambangan 3. sektor industri.209 48.400 Sektor ( Rata-rata upah minimum) 1. sektor listrik.752 241.475 56.5 persen sampai 18. Demikian pula halnya dengan upah maksimum dalam tahun 1983 meningkat antara 3.500 9.893 27.314 158.051 29.528 442.5 persen.200 12.030 172. 11 UPAH MINIMUM DAN MAKSIMUM DI BERBAGAI SEKTOR.181 171. Perdaganganlbank/asuransi 7.337 409.500 21.196 297.536 275.279 53.207 72. Perhubungan 8.046 250.233 241.101 37. 19.078 342.270 26.510 46.5 persen.165 524.300 118.235 50.877 64.665 14.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 buah peraturan pengupahan secara sub sektoral.832 320. Perkebunan 2.280 172.200 712.423 57.178 24. Perhubungan 8.6 persen.235 84. Industri 4.595 174.595 189.1 persen dan 18.991 125.647 205. dan sektor perkebllnan masing-masing sebesar 36.318 32. sektor jasa dan sektor lainnya meningkat sekitar 4.245 50.348 455.078 307.299 440.7 persen.530 280. sedangkan sektor perkebunan. kecuali pada sektor pegawai negeri yang tidak mengalami perubahan dalam upah minimum maupun upah maksimum.0 sampai 32.520 780.972 33.7 persen dan 17.255 26.6 persen.061 29.158 16.760 295.200 17.424 320. dan sektor perdagangan/bank/asuransi masing-masing sebesar 24. Pertambangan 3. 23.416 205.408 620.419 227.158 16.400 277.178 251.429 32.494 34.6 persen.238 173.993 44. Listrik 6. 1975 -1984 ( rupiah per bulan) 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 8. Sampai dengan semester I tahun 1984.498 14.520 656.287 83.185 72.035 307.977 16.400 1983 27. sektor perhubungan sebesar 28.050 42.381 20.5 sampai 18.211 269.927 32.928 689.025 33. sedangkan sektor listrik tidak mengalami perubahan.799 268.452 25. sedangkan sektor-sektor lainnya hanya meningkat antara 2.112 41.

dan kredit likuiditas Bank Indonesia kepada bank-bank untuk sektor ekonomi yang bukan prioritas dihentikan. sebagai salah satu pilihan bagi masyarakat untuk menanamkan kelebihan dananya.dita IV. kebijaksanaan moneter telah memasuki tahun kedua penataan kembali sistem perbankan Indonesia. serta meningkatkan efisiensi dan peranan lembaga-lembaga keuangan. dan keringanan pajak atas pendapatan bunga dividen dan royalty (PBDR) juga berlaku bagi pembelian obligasi. Dalam tahun pertama Rep. pagu kredit perbankan dihapuskan. Departemen Keuangan RI 86 . Transaksi di pasar uang antar bank melalui kliring di Jakarta. tatacara penyelesaian transaksi effek di bursa telah disederhanakan. senantiasa disempurnakan dengan ikut sertanya Bank Indonesia untuk menjaga perkembangan suku bunga antar bank. memelihara kestabilan perekonomian dengan menjaga kestabilan harga. Sedangkan untuk mengembangkan jual beli surat berharga di posar modal. serta pengembangan usaha golongan ekonomi lemah.1. bertujuan untuk meneruskan usaha kearah tercapainya sa saran pembangunan sesuai dengan trilogi pembangunan. dengan beberapa penyesuaian dalam ketentuan dan persyaratan. Untuk itu fasilitas kredit likuiditas tetap disediakan untuk pinjaman yang berprioritas tinggi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB IV MONETER DAN PERKREDITAN 4. Di samping itu penerbitan sertifikat deposito terus dilanjutkan. yang mempunyai kaitan erat dengan kebijaksanaan fiskal dan perkembangan neraca pembayaran. Beberapa tujuan pokok yang akan dicapai adalah peningkatan usaha mobilisasi tabungan masyarakat melalui bank dan lembaga keuangan bukan bank. yang pada dasarnya bertujuan untuk ineningkatkan pengerahan dana masyarakat melalui pemberian tanggung jawab yang lebih besar kepada bank-bank untuk menetapkan sendiri persyaratan-persyaratan penghimpunan dana dari dan pemberian kredit kepada masyarakat. telah diambil kebijaksanaan untuk tidak memungut atau menangguhkan pemungutan pajak penghasilan atas pendapatan bunga deposito berjangka. Sejalan dengan hal tersebut. dan tabungan lainnya. Pemerintah senantiasa mendorong peningkatan produksi barang-barang kebutuhan rakyat. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan usaha pemerataan pembangunan. meningkatkan usaha pemerataan pembangunan dengan meningkatkan golongan ekonomi lemah. Untuk lebih menunjang usaha peningkatan dana masyarakat. Pendahuluan Kebijaksanaan moneter dalam Repelita IV.

2. Jumlah uang beredar dan sehab-sehab perubahannya Jumlah uang beredar selama 6 bulan pertama tahun anggaran 1984/1985 telah mengalami peningkatan sebesar Rp 38. di samping ketentuan untuk memelihara cadangan wajib minimum bank-bank yang sejak 1 Januari 1978 besarnya adalah 15 persen dari kewajiban y. Terhadap bank umum swasta nasional juga diberikan keringanan dalam persyaratan pembukaan kantor cabang.1 milyar atau 56 persen dari jumlah uang beredar. dan uang giral sebesar Rp 4. Sebaliknya sebagai sarana untuk menanggulangi kekurangan likuiditas. yaitu dari posisinya sebesar Rp8. Dengan demikian secara keseluruhan sampai dengan bulan September 1984. menjadi Rp 8.054. dan meliputi pembinaan terhadap lembaga perbankan. Peningkatan tersebut terdiri dari peningkatan uang kartal sebesar Rp 10. Bank Indonesia menyediakan fasilitas diskonto yang merupakan upaya terakhir bagi bank-bank dalam usahanya untuk memperoleh tambahan dana. Pembinaan bank pembangunan daerah dilaksanakan melalui program pemberian bantuan teknis dan pendidikan. Usaha untuk meningkatkan peranan pembiayaan pembangunan dengan dana dari masyarakat.529. Pembinaan disektor perbankan diarahkan untuk mengembangkan sistem perbankan yang sehat.7 milyar pada akhir bulan Maret 1984. dan uang giral sebesar Rp 27. serta peningkatan peranan pasar uang dan modal.9 milyar. posisi uang kanal adalah sebesar Rp 3.563. 4. pembinaan lembaga-lembaga keuangan senantiasa ditingkatkan.0 milyar pada akhir bulan September 1984. Departemen Keuangan RI 87 . Sementara itu peranan lembaga keuangan bukan bank (LKBB) ditingkatkan dengan diberikannya fasilitas diskonto ulang dalam perdagangan surat-surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan.3 milyar (0.mg dapat dibayar. Peranan uang giral yang cukup tinggi di dalam komponen uang beredar tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat di dalam menggunakan jasa-jasa perbankan.5 persen). lembaga keuangan bukan bank. baik bank Pemerintah maupun bank swasta nasional.093. dan perasuransian. sejak 1 Pebruari 1984 telah diterbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).9 milyar atau 44 persen dari jumlah uang beredar. SBI ini dapat digunakan (melalui operasi posar terbuka) untuk menanamkan kelebihan dana likuiditas dari bank yang belum dioperasikan. serta perluasan jaringan kliring lokal di tempattempat yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai sarana pengendalian moneter.4 milyar.

491.368.10 1.6 -7.233.508.80 44 4.178.40 126 1.1 -143.8 387.1 4.2 -123.40 -596.985.90 55 8.7 79.2 210.4 472.2 198 1) Termasuk tagihan pada badan/lembaga dan perusahaan Pemerintah 2) Angka sementara Akhir waktu Aktiva Luar negeri Pemerintah pusat Simpanan berjangka & Tabungan -27. 2 SEBAB .5 16.8 39 853.560.SEBAB PERUBAHAN JUMLAH UANG BEREDAR.10 51 2.70 43 2.5 28.50 44 4.2 853.90 210.306.30 38 4.6 54 1.3 58 150 42 360.7 -654.3 2.9 2.90 199.60 56 7.5 1973/1974 Maret 154.40 1984/1985 April 130.553.30 44 4.7 -16.9 3.6 1971/1972 Maret 153.10 56 8.5 -146.50 43 4.2 421.9 Lainnya bersih -32.1 Maret 1.7 -650.50 604.8 -92.6 2.815.00 -89.774.4 -190.684.9 361.80 49 1.5 675.4 675.50 -105.221.8 188.7 Departemen Keuangan RI 88 .50 -374 -65 -124.90 47 2.2 35.10 -146.7 126 210.10 997.6 -1.8 -101.60 809.4 Mei 160.283.8 -1.8 3.265.7 3.136. 1 JUMLAH UANG BEREDAR.1 -157.2 45 530.30 -1.5 90.273.8 457 5.2 127.563.8 62 103.2 353 Juli 2) -35.6 -83.70 57 8.505.50 279.378.110.10 1983/1984 Juni 429 -347.302.1984/1985 (dalam milyar rupiah) Tagihan pada perusahaan & Perorangan l) 1969/1970 Maret -7 -4.8 -88.4 Desember 406.5 2.719.5 -194.8 September 671 -871 608.10 2.1 -2.4 -25.653.9 458.1 -1.1 170 254 242.90 44 4.5 3.1 33.8 400.30 -101.9 59.427.70 45 4.40 62 6.054.072.4 -395 810.8 -610.1984/1985 ( dalam milyar rupiah) Uang Uang Persentase kartal giral % % Jumlah Perubahan Perubahan 126.8 -180.7 1978/1979 Maret 985.934.409.50 57 5.2 158.3 3.3 170 47.5 -162.417.3 -312.1 1.9 3.5 Agustus 2) -35.431.3 1.6 -830.093.715.5 295.835.1 1970/1971 Maret -4.6 -72.9 -50.2 -195 -134.00 158.2 -13.497.541.9 1.3 332.9 61.1 151.5 -39.2 3.1 166.410.563.2 -684.90 43 4.3 17.9 0.6 -418 1.4 -170.00 1982/1983 Maret 16.3 60 84.7 485.1 55 239.50 29.3 90.7 Juni 241.2 3.4 697.1 54 363.9 3.4 47 962 53 1.333.4 1980/1981 Maret 2.90 295.6 1977/1978 Maret 441.296.70 54 7. 1969/1970 .633.6 -497 42.70 49 1.1 -369.3 227.10 242.90 400.9 395.5 -192.8 -1.90 -1.3 46 768.7 8.075.4 -138.7 -471.569.20 -146.5 689 997.5 1975/1976 Maret -319.799.501.1 53 100.3 549.20 1981/1982 Maret -67.9 -973.8 -164.5 6.214.10 1976/19.099.70 41 4.1 -277.77 Maret 476.2 59.50 1.90 689 32.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.6 199.3 9.605.1 1972/1973 Maret 124.40 604.836.60 17.40 387.2 46 784.8 3.228.8 31 659.572.20 1.2 -105.6 1.5 -1.9 307.2 1.70 59 7.10 37.30 55 7.615.2 Perubahan 79.8 September 2) -215.70 485.825.6 1974/1975 Maret 1 23.4 38 270.20 53 3.379.6 48 1.5 27.797.20 51 2.20 51 8.40 57 7.70 49 4.1 Kumulatif 2.80 1979/1980 Maret 2.605.000.046.20 56 8.023.8 158.9 142.235.036.9 718.4 40 210.2 -417.70 1.983.773.3 291. 1969/1970 .4 -175 -1.5 52 488.8 -220.631.420.6 -266 527.3 2.3 254 47.036.560.90 56 7.035.4 -686.9 -146.7 -1.027.1 -445.4 -123.30 -559.529.7 2 Akhir Waktu 1969/1970 Maret 1970/1971 Maret 1971/1972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Joni September Desember Maret Kumulatif 1984/1985 April Mei Juni Juli I) Agustus 1) September 1) I) Angka sementara Tabel IV.9 -89.1 3.182.20 45 4.40 -1.60 46 4.5 -203.417.9 538.3 190.8 112.

6 milyar. kecuali terhadap deposito berjangka waktu 24 bulan yang bunganya ditetapkan sekurang-kurangnya 12 persen per tahun. sedangkan dana deposito dan . Peningkatan yang cukup besar pada sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan ini.3 milyar (4. sedangkan dalam periode yang sama tahun yang lalu. sektor tersebut memberikan pengaruh mengurang sebesar Rp 1.1. sedangkan dana giro bank-bank Departemen Keuangan RI 89 . dan sektor lainnya bersih juga memberikan pengaruh menambah pada jumlah uang beredar.4 milyar. sektor Pemerintah pusat tersebut memberikan pengaruh mengurang sebesar Rp 1. Sektor Pemerintah pusat selama semester pertama tahun anggaran 1984/1985 menunjukkan pengaruh mengurang.9 milyar dan Rp 238.4 persen). yaitu sebesar Rp 1. yaitu sebesar Rp 970. Sampai dengan akhir bulan September 1984. Bankbank Pemerintah diberi kebebasan dalam menentukan tingkat suku bunga deposito dan tabungan lainnya. kepada bank-bank Pemerintah telah diberikan tanggung jawab yang lebih besar di dalam usaha pengerahan dana. dan sebab-sebab perubahannya secara lengkap dapat diikuti pada Tabel lV.2.965. serta sekaligus mengurangi ketergantungan bank-bank kepada dana likuiditas Bank Indonesia. satu dan lain adalah karena peningkatan kredit untuk pembiayaan di bidang perindustrian dan jasa-jasa.3. sebesar Rp 6.3 persen).4 milyar.6 milyar (46.l dan Tabel IV. masing-masing sebesar Rp 244. Di samping itu sektor aktiva luar negeri bersih.705.390.3. Dana perbankan Kebijaksanaan di bidang mobilisasi. Dana giro sebesar Rp 6.2 milyar. pada jumlah uang beredar sebesar Rp 1. yaitu sebesar Rp 5. dana perbankan senantiasa mengalami penyempurnaan sesuai dengan perkembangan.3 persen) adalah dana giro. Dalam periode April-September 1984. Pengaruh menambah sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan tersebut menunjukkan suatu perkembangan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode yang sarna tahun lalu. dalam periode April-September 1984.9 milyar.800. Dari jumlah tersebut.8 milyar. sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan memberikan pengaruh menambah yang cukup besar. Usaha untuk meningkatkan tabungan masyarakat yang terus dilakukan Pemerintah tercermin dari besarnya pengaruh mengurang pada jumlah uang beredar yang ditimbulkan oleh sektor simpanan berjangka dan tabungan. dana perbankan mencapai jumlah sebesar Rp 14. Sejak Juni 1983.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Jika dilihat dari sektor-sektor yang mempengaruhi jumlah uang beredar.218.266. 'Perkembangan jumlah uang beredar. tabungan masing-masing adalah sebesar Rp 7.800.020.034. 4.9 milyar (49.6 milyar terse but sebagian besar berasal dari dana giro bank-bank Pemerintah. dan Rp 638.0 milyar.4 milyar. Dana dan Kredit Perbankan 4.

8 1.60 1.3 366.1984 ( dalam milyar rupiah ) 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember.00 5.2 milyar.9 98.20 4.5 222.20 508.526.8 858.267.00 109.272.7 71.2 489.650.720.981.4 52.40 0.853. 7 43.80 637.90 2.471.141.70 233.156.20 2.4 2.70 6.028.70 456.097.398.10 6.2 4.356.8 382.058.4 200.70 676.6 16 19.9 244 482.30 7.50 105.0 2.399.695.9 55.693.30 106 13.367.4 1.3 986. oleh bank-bank swasta nasional sebesar Rp106.60 543.293.30 6.4 1.5 94.3 106.40 3. 7. 723.080.7 145.449.4 Sept.436.9 10. Bank-bank Pemerintah Giro Deposito c Tabllngan II.00 1.80 544.243.90 4.815.2 255 363 464.00 3.90 541.4 1.8 299.1.40 4.4 816.017.485.458.60 4.200.9 2.60 94.927.1 19.3 417.9 April 9.4 1.908.60 6.7 1.00 6.777.4 146. Bank-bank Pemerintah G ir 0 Deposito Tabungan II.80 1.988.2 13.3 560. Cabang bank-bank asing Giro Deposito Tabungan IV.30 6.7 1.4 117. bank pembangunan dan bank tabungan termasuk dana milik pemerintah pusat dan bukan penduduk.6 13. Jumlah besar( I + IV) Giro Deposito 2) Tabungan 3) 6.00 1.2 1.6 72.5 1.8 50.00 64.525.7 2.3 '52.1 458.3 1984 Juli 9.7 153.10 186.40 1. Bank-bank swasta nasional Giro Deposito Tabungan III.168.254.012.2 371.535.170.3 1.4 Me i 9. 3) Termasuk tabungan pegawai dan setoran ongkos naik haji.60 591.40 669.378.244.50 1.033.30 1. 1982 Desember Maret I. Tabel IV.2 77.10 505.80 1.6 198.20 1.2 114.80 4.6 454.20 513.50 6.650. 2) Termasuk sertifikat deposito. Dari dana yang dihimpun dalam bentuk deposito sebesar Rp7.109. Jumlah besar (I + IV ) 1) Giro Deposito 2) Tabungan 3) 1) Terdiri atas dana bank-bank umum.233.80 1. 8.3 4.5 I.917.151.40 87 1.60 1.90 28.80 583.657.181.80 4.034.9 1.10 6.470.9 4.150.6 930.8 1.80 29.50 1.6 68 1.463.737.4 205.2 302.256.6 765.10 104.2 44.920.395.781. Bank-bank swasta nasional Giro Deposito Tabungan III.559.30 539.40 4.20 2.236.2 901.2 13.60 6.167.3 604.287.519.590.337.1 0.40 1.5 21.20 1.3 48. Sedangkan dana tabungan yang berhasil dihimpun oleh bank-bank Pemerintah adalah berjumlah Rp 531.9 Maret 9.4 1.015.00 103.8 392.20 0.705.1 28.379.60 4.80 552.9 44.1 203.9 114.40 1.444.50 1.863.20 1.9 milyar.60 1.20 954.9 305.2 1. 9.063.1 231.7 522.60 3.10 4.888.30 6.9 845.40 1.250.2 milyar oleh bank-bank swasta nasional.2 421.6 740. 381.2 4.2 242.50 0.800.756.582.10 585 2.4 35.252.131.502.466.9 0.908.7 997.40 68.3 224 255.6 3.273.6 431.40 4.5 240 330.099.10 4.3 66 89 117.689.9 581.325.2 46 73. Cahang bank-bank asing Giro Deposito Tabungan IV.4 milyar.618.50 0.632.00 6.90 543.1 0.70 1.144.8 224.886.292.1 8.9 32.80 1.30 537.1 2.40 2.20 1.834.266.2 4. sehingga secara keseluruhan jumlah dana tabungan mencapai Rp 638.4 158.2 1.8 184.8 149.1 110.90 653.10 1.4 769.00 4.932.70 0.30 559.6 14.6 553.252.2 2.8 0. 18.60 1.7 20'\.914.6 16.50 1.792. Rp 4.70 688.8 70 70.80 3.616.376.2 187.10 4.70 1.60 6.2 703.106.209.412.30 583. Rp 1.6 3.00 74.8 71.2 5.9 80.599.1 0.20 0.7 419.180.742.471.40 4.111. Departemen Keuangan RI 90 .5 225.80 3.60 7.3 197.348.381.1 671.60 4.150.20 1.023.4 831.2 3.7 765.6 313.122.60 489 7.2 760.70 2.2 202 252.8 32.6 Juni .00 1.030.10 1.1 79.70 1.60 1.7 345.210.263.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 swasta nasional adalah sebesar Rp 1.556.40 5.888.196. dan Rp 1.40 566.2 11.343.5 12.787.1 Des.7 303.3 milyar.106.398.2 77. 4) Angka sementara. 2) Termasuk sertifikat deposito.3 1.1 1.7 666.9 1.90 1.858.20 1.896.30 5.060.9.4 1.80 1.10 1.7 2.40 514 2.3 0.2 3.3 milyar.4 338.40 6.3 810 0.1 132.058.976.50 1.7 0.90 869.5 83 113 134.8.9 8 11. 1972 .00 1.941.30 109.50 100.616.20 3.867.4 680.70 168.1 13.163.90 1.7 1.00 1.10 3.30 94.396.3 645.20 2.047.80 688.3 238.5 1.6 milyaroleh cabang bank-bank asing.30 1.90 2.260.802.20 106.410.6 3.818.10 531.543. Sub total (II + III) Giro Deposito Tabungan V.9 559.3 Sept.003. 3) Termasuk tabungan pegawai dan setoran ongkos naik hajj.1 140.50 1.2 4.40 3.5 218.081.6 Agust.259.80 5.80 1.0 1.270.20 539.3 1.6 milyar.7 44.195.660.924.4 1.190. 718.20 1.243.688.1 3.543.8 590.1 76.80 107 14.30 100 1.63.698.034.707.613.40 1.60 26.742.90 4.230.1 164.70 4.003.4 362.8 501.6 462.6 127.90 8.133.927.8 milyar dan oleh cabang bank-bank asing sebesar Rp 0.2 4.882.189.8 436.20 2.80 6.4 1.1 1. Sub total (II + III ) Giro Deposito Tabungan 1) V.10 103.086.90 638.60 103.753.582.20 521.446.750.70 1.10 87.350.122.70 6.261.7 890.659.555.010.8 3.113.2 1.40 4.80 4.451.2 1983 Juni 7.50 1.80 103 1.00 4.70 412.2 980.103.084. dan dana giro cabang bank-bank asing adalah sebesar Rp 513.736.3 1) Terdiri atas dana bank-bank umum.239.80 2.7 2.6 333.3 159.4 1.80 5.7 32. 3 DANA PERBANKAN RUPIAH DAN V ALUTA ASING.40 2.10 2.9 8 11.539.6 672.7 281.7 0.6 756.266.70 933.60 0.074.8 141 142.302.194.035.60 6.086.1 810.7 1.483.6 112.3 4. 770.80 2.3 3. 4) 9.154.80 516.1 milyar merupakan dana yang berhasil dihimpun oleh bank-bank Pemerintah.40 2.2 4.10 4.266.236. bank pembangunan dan bank tabungan termasuk dana milik pemerintah pusat dan bukan penduduk.10 1.30 72.7 804.90 1.6 90.756.009.8 !i31.2 4.50 4.426.068.50 568.034.624.80 105.173.8 372.80 2.00 5.766.2 3.10 260.3 10.40 570.429.90 466.

40 118.668.3 1.8 milyar (23.458.045.8 694.7 milyar (1.6 138 1.697.9 331 Maret 6.3 168 1) Termasuk deposito yang sudahjatuh waktu dan deposit on call 2) Termasuk deposito berjangka waktu 9 dan 18 bulan 1982 Desember Deposito berjangka 24 Bulan 12 bulan 6 bulan 3 bulan 1 bulan 1) Lainnya 2) TABANAS TASKA 2.4 DEPOSITO BERJANGKA RUPIAH DAN VALUTA ASING SELURUH BANK.2 937.80 785.2 234.7 584.3 460.609.4 94.80 480.2 372 Juli 6.8 572.8 25.5 580.842.7 357 1984 Juni 6.6 persen).2 2 191.8 2.00 131.540.8 1.669.6 112 1.650. Jika semula saldo Tabanas yang diberikan Departemen Keuangan RI 91 . kecuali dalam juta rupiah untuk Taska) 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Deserrtber Deposito berjangka 24 bulan 12 bulan 6 bulan 3 bulan 1 bulan 1) Lainnya 2) TABANAS TASKA 233.7 537 191.1 122.8 153.1 1.7 317 Sept 4.141.6 38.80 1.886.787.6 234.737.1 4.2 127.8 29.8 361.3 136.5 303 Juni 4.6 2. TABANAS DAN TASKA.8 milyar (5.5 120 1. dan tabungan asuransi berjangka (Taska) adalah saran a penghimpun dana masyarakat yang lebih menonjolkan segi pendidikan kepada masyarakat terutama generasi muda untuk hidup berhemat.8 53.1 32.9 445.401.4.613.723.2 2.10 117.20 1.1 11.693.5 413 1) Termasuk deposito yang sudah jatuh waktu dan deposit on call 2) Termasuk deposito berjangka waktu 9 dan 18 bulan.1 22.059.9 370.6 1.60 897.9 74.4 70 115 980.5 21.2 531.6 persen).379.60 685.031.781.714.40 128 574 391 Agust 7.4 47.70 519 1. dan deposito lainnya sebesar Rp 119.90 833.40 612.0 milyar (32.924.8 199 72 37.9 253.2 81.9 366 Des 5.7 2.3 82.732. 788.839.357. 1972 .9 136.33 7.80 679.60 168. berjangka waktu 24 bulan sebesar Rp 407.618.6 41.209.081.8 17.60 544. Perkembangan deposito berjangka dapat diikuti pada Tabel IV. kebijaksanaan mengenai Tabanas telah memberikan kesempatan bagi para penabung untuk menikmati tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari pada sebelumnya.6 88. Jenis tabungan ini diikuti oleh para pelajar. Tabanas dan Taska Tabungan pembangunan nasional (Tabanas). pramuka.3.7 291.90 407.10 1.6 99 338.7 persen).40 569.5 212.4 1.2.7 152.4 persen).7 264.20 950.10 998.9 74 760.7 244. berjangka waktu 6 bulan sebesar Rp 1.4 359.1 384.3 342.0 persen).5 90.099.7 122 2.9 343 Mei 6.50 372.8 117.90 750 1.1 158 1.287.489.348.70 684 1.5 141.2 111.3 43.50 1.2 306.8 575.5 1.4 476.20 1.266.80 129.550.5 844.981.9 492.7 357 April 6.7 32.4 1.70 1.103.40 111.335.7 585. maka raJa akhir September 1984 dana tertersebut terdiri dari deposito berjangka waktu 1 bulan sebesar Rp 1.1 milyar.4 195.00 1. pegawai.4 522.1 16.4 106.4 640.10 960. berjangka waktu 3 bulan sebesar Rp 990.40 986 1.3 421 Sept 3) 7.70 450.920.90 418.459.3 milyar (13.5 84 581.5 1.30 990.262.90 73.90 819.5 59.357.3 483.1984 ( dalam milyar rupiah.2 81.80 591.4 471.8 61.80 1.1 55. berjangka waktu 12 bulan sebesar Rp 2.225.461. 3) Angka sementara.194.001. 4.8 2.90 605.80 119.3 milyar (23.3 1.7 109. Dengan demikian bila pada akhir tahun 1983/1984 jumlah dana perbankan secara keseluruhan baru sebesar Rp 13.5 80.8 307 1983 Maret 3. dan masyarakat pada umumnya. Sejak 1 Juni 1983.6 47.40 1.9 104.5 1.20 612.5 1.6 1.7 persen).1 28.316.9 19.90 127.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.8 580.723.20 879.668.2 399.3 152.60 967.1 32.8 1.1.5 11.

kenaikan Taska mencapai Rp 63 juta (20.7 persen). serta mempunyai kewajiban untuk menjamin pelunasan sertifikat deposito yang diterbitkannya sesuai dengan jangka waktunya. yaitu tetap 9 persen setahun. dan selanjutnya dikenal sebagai sertifikat deposito. dalam rangka me intis terbentuknya pasar uang di Indonesia. Kenaikan jumlah penabung Tabanas pada periode April-September 1984 mencapai 613 ribu penabung.1.5 persen dari jumlah pinjarnan yang diberikannya.087 ribu penabung. Kemudian dalam tahun 1971 program SBI tersebut diikuti oleh bank-bank Pemerintah. Sertifikat Deposito Sertifikat deposito semula diterbitkan oleh Bank Indonesia dengan nama Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Sedangkan suku bunga Taska tidak mengalami perubahan.8 persen). Jangka waktu sertifikat deposito ini ditetapkan sendiri oleh bank-bank penerbit dengan ketentuan tidak kurang dari 15 (lima belas) hari. 4.1 milyar (84. tercatat adanya kenaikan sebesar Rp 9. Selain itu bank penerbit dapat memiliki sertifikat deposito yang diterbitkan oleh bank-bank lain dalam jumlah tidak melebihi 7. yang terdiri atas sertifikat deposito bank-bank Pemerintah sebesar Rp 189.000.000.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bunga 15 persen setahun hanyalah sampai dengan jumlah maksimum Rp 200.0 milyar.4. sedangkan pada periode yang sarna tahun lalu kenaikan jumlah penabung adalah sebanyak 387 ribu penabung. Pada periode April-September tahun sebelumnya.9 Departemen Keuangan RI 92 . Bank-bank penerbit adalah bank-bank yang secara berturut-turut selama dua tahun terakhir telah memenuhi persyaratan yang ditentukan.4 persen). posisi sertifikat deposito yang diterbitkan oleh bank-bank Pemerintah. dan bankbank pembangunan. Untuk lebih meningkatkan peranan sertifikat deposito diperluas lagi dengan penerbitan sertifikat deposito atas unjuk dalam rupiah bagi bank-bank umum. dan cabang bank-bank asing mencapai Rp 224.7 milyar. sedang selebihnya diberikan bunga 6 persen setahun. di samping sebagai wadah penghimpun dana masyarakat. dan selebihnya bersuku bunga 12 persen setahun. jumlah Tabanas telah mencapai sebesar Rp 585. dan sertifikat deposito cabang bank-bank asing sebesar Rp 34.5 milyar dengan 12. maka dalam kebijaksanaan yang bam saldo ini telah ditingkatkan menjadi Rp 1. Bila dibandingkan dengan posisinya pada akhir Maret 1984 sebesar Rp575.7 persen) hila dibandingkan dengan posisinya pada akhir bulan Maret 1984 sebesar Rp 357 juta. Sampai dengan akhir September 1984.000.3. Selanjutnya perkembangan Tabanas dan Taska dapat diikuti pada Tabel IV. Sampai dengan akhir September 1984.8 milyar (1.3. dan cabang bank asing. Posisi Taska sebesar Rp 413 juta pada bulan September 1984 menunjukkan adanya peningkatan sebesar Rp 56 juta (15.

7 57.2 24. Dibandingkan dengan periode yang sarna tahun lalu.8 26.3 91.9 30 35.1 9.8 34.7 260.9 39.5.2 43.8 28.6 213.5 232.6 70 70 14.8 16.1 Bank-bank Asing 0.4 26.4 29.4 32.5 346.7 79.1 172.6 29.4 231 222.2 48.1 189. para penabung kemudian memilih jenis tabungan lain yang lebih menarik.7 42.1 12.3 229.5 8.5 244.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar (15.8 46.3 10.5 71.4 376.5 13.6 4.7 28 55.4 59.9 14.4 28.3 6.1 202. sertifikat deposito meningkat sebesar Rp 127.1 21. Tabel IV.2 390.8 196.1 7.5 244.2 373.4 62. Penurunan tersebut pada umumnya karena setelah sertifikat deposito jatuh waktu. sejak 22 Oktober 1984 program tersebut Departemen Keuangan RI 93 .7 301.7 31.2 330. Dengan demikian secara keseluruhan sertifikat deposito selama periode tersebut menurun sebesar Rp 152.5 363.9 415.5 24.2 358.6 102.3 32.5 74 70 66.8 37 41. 1970/1971 .7 329.6 22.9 31.7 34.1 18.2 milyar.1 milyar. Selama periode April-September 1984. Perkembangan sertifikat deposito dapat diikuti pada Tabel IV.2 426.4 46.3 0.8 82.2 53.4 294.6 385.7 369.9 milyar.9 Akhir waktu 1970/1971 Maret 197111972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 198111982 Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April M ei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember J anuari Pebruari Maret 1984/1985 April Me i Juni Juli Agustus September 1) J umlah 0.8 224 1) Arigka sementara dalam memupuk pembiayaan pembangunan.6 396.1 165.8 250. sedangkan sertifikat deposito cabang bank-bank asing meningkat sebesar Rp 4.8 1.1 204.8 352.5 SERTIFlKAT DEPOSITO BANK-BANK.3 2.8 259.1984/1985 ( dalam milyar rupiah) Bank-bank Pemerintah 1.2 133.6 persen).9 51.4 milyar.9 373.2 212. sertifikat deposito bank-bank Pemerintah menunjukkan penurunan sebesar Rp 157.9 26.7 15.5 94.7 56.

jumlah tersebut meningkat menjadi sebesar Rp 18. yang dapat diperpanjang maksimal 30 hari untuk setiap kali perpanjangan. sehingga jangka waktu seluruhnya tidak melebihi 120 hari. Melalui kebijaksanaan 1 Juni 1983. dengan jangka waktu seluruhnya tidak melebihi 29 hari.908 milyar (11.043 milyar. Pemberian kredit perbankan Kebijaksanaan perkreditan dalam tahun 1983/1984 dan 1984/1985 adalah sejalan dengan kebijaksanaan moneter pada umumnya yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesempatan berusaha dengan tetap memelihara kestabilan. Fasilitas diskonto kedua disediakan untuk memudahkan bank dalam mengatasi kesulitan pendanaan hila rencana penarikan dana tidak sesuai dengan reo ncana penarikan kredit jangka menengah. Jangka waktu dasar ditetapkan maksimal 60 hari. Jumlah fasilitas kredit adalah maksimal sebesar 3 persen dari jumlah dana pihak ketiga.135 milyar atau mengalami peningkatan sebesar Rp 2. sejak Pebruari 1984 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai fasilitas diskonto. Pemberian kredit menurut sektor perbankan Perkembangan pemberian kredit perbankan yang senantiasa menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. yang berarti dalam periode I April-$eptember 1984 teIjadi peningkatan sebesar Rp 1. Sebagai tindak lanjut dari kebijaksanaan pembebasan pagu kredit perbankan. pada akhir tahun 1983/1984 posisinya telah meningkat menjadi Rp 16. Jumlah dasar kredit yang disediakan adalah 5 persen dari jumlah dana pihak ketiga.705 milyar.3. Jika pada akhir tahun 1982/1983 posisi pemberian kredit perbankan adalah sebesar Rp 13. yaitu kredit yang berprioritas tinggi. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan akhir September. serta untuk menjaga likuiditas bank-bank dalam melaksanakan pemberian kredit sehari-hari. fasilitas kredit likuiditas tetap diberikan. Jangka waktu maksimal diskonto pertama adalah 15 hari. yaitu dalam rangka tetap mendorong kegiatan pengusaha golongan ekonomi lemah. sedangkan untuk kredit yang berprioritas tinggi. Bagi kredit bukan prioritas.2. dan jangka panjang. serta produksi dalam negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 4. yang dapat diperpanjang maksimal 7 hari untuk setiap kali perpanjangan. Dengan berlakunya kebijaksanaan tersebut.430 milyar (17. sejak Agustus 1982 tidak lagi disediakan fasilitas kredit likuiditas Bank Indonesia.1.2.3. merupakan pencerminan dari semakin besarnya peranserta sektor perbankan dalam pembiayaan pembangunan.8 persen). 4. dan kredit yang bukan prioritas. bank-bank didorong untuk meningkatkan kemampuannya di dalam melaksanakan pemberian kredit dengan dana yang berasal dari masyarakat.7 persen). kredit perbankan dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis. Jumlah tersebut adalah lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatannya dalam periode yang sarna tahun 1983/1984 Departemen Keuangan RI 94 .

Jika dilihat perkembangannya menurut kelompok bank penyelenggara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang berjumlah sebesar Rp 900 milyar (6.1 persen).095 milyar (6. Kenaikan pemberian kredit perbankan sebesar Rp 1.1 persen).514 milyar.538 milyar (69.269 milyar (18.490 milyar (24.043 milyar pada akhir September 1984 digunakan untuk membiayai kegiatan di sektor Pemerintah sebesar Rp 5. termasuk kredit likuiditas Bank Indonesia sampai dengan akhir Sep1Jember 1984 mencapai Rp 12.388 milyar pada akhir Maret 1984.773 milyar atau 70.0 persen). Hal ini sejalan dengan luasnya bidang usaha yang dapat dijangkau dengan lokasi cabang bank Pemerintah yang terse bar di seluruh Indonesia sampai ketingkat kecamatan.5 persen). dan cabang bank asing sebesar Rp 3 Departemen Keuangan RI 95 .8 persen dari kesduruhan ktedit perbankan. Adapun kegiatan di sektor swasta yang dibiayai kredit perbankan adalah semua kegiatan yang diselenggarakan oleh perusahaan swasta. kredit melalui bank-bank umum Pemerintah.5 persen).2 persen terhadap posisinya sebesar Rp 5. Posisi pemberian kredit perbankan sebesar Rp 18. Pemberian kredit menurut sektor Pemerintah dan sektor swasta Kredit perbankan sebagai somber pembiayaan pembangunan dapat diperinci menurut kredit yang diberikan di sektor Pemerintah.2. walaupun terjadi penurunan kredit langsung Bank Indonesia sebesar Rp 1.3.908 milyar dalam periode April-September 1984 tersebut disebabkan oleh kenaikan kredit bank-bank umum Pemerintah sebesar Rp 2. dan di sektor swasta sebesar Rp 12. dan kredit cabang bank-bank asing sebesar Rp 118 milyar (12.505 milyar (30. Penyaluran. perorangan. kredit bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 686 milyar (26. Kegiatan yang dibiayai dengan kredit di sektor Pemerintah diantaranya adalah usaha di bidang perindustrian. serta kegiatan perekonomian lain yang dilaksanakan oleh lembaga-Iembaga negara. dan lembaga-Iembaga bukan bank milik swasta.1 persen). dan kredit yang diberikan di sektor swasta. 4. pertambangan. Rp 1. Kenaikan terse but berasal dari peningkatan kredit pada bank umum Pemerintah sebesar Rp 1. koperasi.2. tercatat bahwa jumlah pemberian kredit yang disalurkan melalui bank-bank umum Pemerintah tetap mengambil bagian yang terbesar. bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 5 milyar. Sedangkan posisi pemberian kredit bank umum swasta nasional. Penyaluran kredit untuk sektor Pemerintah dalam periode April-September 1984 meningkat sebesar Rp 117 milyar. yayasan.6 persen). atau 2.2 persen).5 persen).6 persen). kredit cabang bank asing. dan sebesar Rp 906 milyar (5.386 milyar (60. dan kredit langsung Bank Indonesia pada saat yang sarna masing-masing mencapai Rp 3. dan prasarana listrik.

018 milyar (44.115 1978/1979 Maret 1. cabang bank asing sebesar Rp 115 milyar. bidang pertanian sebesar Rp Departemen Keuangan RI 96 . Kredit dalarn rupiah. terrnasuk kredit investasi.968 1. Dalam perkembangannya selama periode April-September 1984.005 682 1.293 milyar.043 milyar pada akhir September 1984 digunakan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 8. Pemberian kredit perbankan menurut sektor ekonomi Menurut sektor ekonomi.187 1.6. sehingga posisinya meningkat dari Rp 10.2.532 387 Sektor Bank Indonesia 1) Sektor Pernerintah 2) Sektor Swasta Bank-bank Urnurn Pernerintah Likuiditas sendiri Sektor Pernerintah Sektor Swasta Likuiditas Bank Indonesia Sektor Pernerintah Sektor Swasta Bank-bank Urnurn Swasta Nasional Likuiditas sendiri Sektor Pernerintah Sektor Swasta Likuiditas Bank Indonesia Sektor Swasta Cabang Bankotiank asing 3) Sektor Pernerintah Sektor Swasta Jurnlah kredit perbankan 4) Sektor Pernerintah Sektor Swasta Kredit dalarn valuta aging 1).630 1. dan dari Bank Indonesia sebesar Rp 19 milyar.405 milyar.538 milyar pada akhir September 1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar.055 695 428 267 211 199 4 195 12 12 99 1 98 2. di sektor perdagangan sebesar Rp 6. pembiayaan kredit di sektor swasta mengalami peningkatan sebesar Rp 1.443 545 411 134 286 274 4 270 12 12 144 144 2.193 1077/1978 Maret 343 339 4 2.676 813 559 254 382 347 5 342 35 35 207 2 205 5. Kredit langsung Bank Indonesia 2).3.4 persen).008 104 904 508 312 196 149 140 4 136 9 9 76 2 74 2.696 1.791 milyar (16.721 2.007 1.174 119 1. yaitu sebesar Rp 976 milyar. KIK dan KMKP 4.798 milyar (21.869 1.524 894 1. 1969/1970 – 1984/1985 (dalam milyar rupiah) 1969/1970 Maret 71 69 2 163 72 7 65 91 50 41 22 21 21 1 1 4 4 260 126 134 24 4 4 11 11 373 138 235 6 1970/1971 Maret 81 78 3 253 138 21 117 115 39 76 28 24 1971/1972 Maret 86 83 3 374 221 46 175 153 57 96 35 28 28 7 7 15 15 510 184 326 24 1972/1973 Maret 126 122 4 470 302 11 291 168 59 109 55 49 2 47 6 6 34 34 685 194 491 85 1973/1974 Maret 136 132 4 815 538 38 500 277 104 173 72 67 3 64 5 5 64 64 1.542 199 1.960 953 2. Likuiditas sendiri 4).449 451 998 305 1975/1976 Maret 264 260 4 1. walaupun terdapat penurunan kredit yang disalurkan melalui kredit langsung Bank Indonesia sebesar Rp 1.323 984 1976/1977 Maret 345 342 3 1.1 persen). Jumlah pemberian kredit untuk kegiatan di sektor produksi sampai dengan bulan September 1984 sebesar Rp 8.111 686 71 615 425 203 222 98 93 3 90 5 5 63 63 1.253 2.3.6 KREDIT PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR PEMERINTAH DAN SEKTOR SWASTA. Perkembangan kredit perbankan menurut sektor Pemerintah dan sektor swasta dapat diikuti pada Tabel IV.516 1. Sejak Maret 1979 terrnasuk pinjarnan valuta aging kepada Pertarnina yang dinyatakan dalarn rupiah 3).747 milyar pada akhir bulan Maret menjadi Rp 12. dari bank umum swasta nasional sebesar Rp 681 milyar.5 persen). dan untuk kegiatan di sektor lainnya sebesar Rp 3.948 20 2. Tabel IV.018 milyar tersebut digunakan untuk bidang perindustrian sebesar Rp 6.227 milyar (34.883 207 1. Kenaikan pemberian kredit di sektor swasta tersebut sebagian besar berasal dari kenaikan kredit bank-bank umum Pemerintah.7 persen). pemberian kredit perbankan sebesar Rp 18.087 277 810 127 1974/1975 Maret 177 174 3 1.

227 milyar.3 persen) yang berasal dari kenaikan kredit di bidang perindustrian sebesar Rp579 milyar.516 719 528 269 149 45 62 42 76 33 27 16 2. KIK dan KMKP.524 1. di samping penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 292 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1.515 1. Sementara itu posisi pemberian kredit untuk .193 343 166 165 12 2.193 1.egiatan di sektor perdagangan sampai dengan bulan September 1984 adalah sebesar lp 6.253 3.735 202 31 2.11875 468 388 255 98 29 29 40 63 22 15 26 1.133 605 387 SEKTOR Bank Indonesia 1) Produksi 2) Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Pemerintah Produksi Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum SwastaNasional Produksi Perdagangan Lain-lain Cabang Bank-bank asing Produksi Perdagangan Lain-lain Jumlah kredit perbankan 3) Produksi Perdagangan Lain-lain Kredit dalam valuta asing 1) Kredit langsung Bank Indonesia 2) Sejak Maret 1979 termasukpinjaman valuta asing kepada Pertamina yang dinyatakan dalam rupiah 3) Termasuk kredit investasi.187 1. yaitu antara lain lsaha pengumpulan barang-barang dalam negeri. Selama periode AprilSeptember 1984 pemberian kredit untuk kegiatan produksi meningkat sebesar Rp 329 milyar (4.696 1. Sedangkan kredit untuk sektor ekonomi lainnya dalam periode yang iama telah meningkat sebesar Rp 649 milyar. Tabel IV. ini berarti bahwa selama periode April-September 1984 telah meningkat sebesar Rp 930 milyar. Di samping itu tercatat beberapa kegiatan lainnya yang dibiayai oleh kredit di sektor perdagangan. Pemberian kredit di sektor perdagangan sebagian besar digunakan untuk pembiayaan pengadaan pangan. sampai dengan akhir Maret 1980 adalah posisikredit dalam rupiah 4) Angka sementara Departemen Keuangan RI 97 . dan perdagangan eceran.7 KREDIT PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR EKONOMI.165 602 420 286 82 130 74 144 75 47 22 2.449 536 590 323 305 264 104 149 11 1. dan bidang pertambangan sebesar Rp 378 milyar.347 milyar.869 979 530 360 211 64 94 53 99 42 39 18 2.087 457 397 233 127 177 17 158 2 0. dan di bidang pertanian sebesar Rp 42 milyar.960 1.488 944 528 1.291 793 440 1.005 901 766 338 984 345 206 130 9 1. 1969/1970 – 1984/1985 (dalam milyar rupiah) 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret 71 163 22 4 260 81 253 28 11 373 6 86 374 35 15 510 24 126 18 105 3 470 223 149 98 55 15 22 18 34 13 14 7 685 269 290 126 85 136 21 112 3 815 390 247 178 72 21 23 28 64 25 15 24 1.968 1. impor pupuk dan batu bara.565 679 452 382 111 181 90 207 104 71 32 5. distribusi kebutuhan pokok.

750 1.399 1.325 1.851.808 2. pemberian kredit perbankan untuk seluruh Dati I di Indonesia.933 1.854 4.728 4.314 1.800 6.169 526 549 9.253 4.502 1.116 2.326 1. Sampai dengan akhir bulan September 1984.068 1.295 2.405 5.757 2.167.132 5.269 870 905 1.216 3.293 1.362 930 955 477 9.278 16.970 2.292 12.297 2.737 6.787 10.3 milyar. 811 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1979/80 Maret 2.127 660 738 861 977 470 543 275 289 116 145 15.827 18.017 1.542 5. 4) 938 906 274 273 664 633 12.7 persen).111.4.064 4. Untuk membiayai kegiatan di sektor produksi telah dipergunakan kredit sebesar Rp 7.136 1.353 1.115 Agost.248 734 412 1980/81 Maret 2. telah mencapai jumlah sebesar Rp 16.018 6.009 1.043 7.139 4.240 7.512 5.744 5.8 milyar (68.902 4.328 1.582. disusul kemudian oleh Dati I Sumatera Selatan dengan Rp 115. 784 178 47 3..3 milyar.753 939 1984/85 Juni Juni 923 304 619 6.801 2.726 3.450 6.388 1.187 2.605 7.950 462 1982/83 Maret 2.026 1.303.966 541 849 576 735 416 240 79 14.708 2.625 1.0 milyar (44. 4) Sept.039 547 555 561 292 296 311 142 153 167 16.135 2.842 762 510 508 148 232 128 284 159 76 49 5.127 S e k t o.591 1. Untuk sektor perdagangan telah disalurkan sebesar Rp 6.163 261 580 322 587 344 192 51 10.524.7 persen).318 894 1. Dati I Kalimantan Barat dengan Rp 67.416 1.705 6.860 5. bidang pertanian sebesar Rp 1.0 persen).350 1.583 645 718 990 1.084 1.626.071 3.356 2.917 775 780.651 5.027 837 429 9. sektor perdagangan sebesar Rp 2. tidak termasuk kredit langsung Bank Indonesia.227 3.703 7. Secara keseluruhan.1 milyar (20.107 12.644 5.757 1.689 5. karena daerah di luar pulau Jawa telah menikmati pemberian kredit yang lebih meningkat. yang berasal dari kenaikan pemberian kredit di sektor produksi sebesar Rp 604.249 761 812 857 981 1.7 milyar (18.3 milyar.292 720 574 1.165 1.773 6. Pemberian kredit perbankan menurut Dati I Pemerataan sarana dan hasil pembangunan juga diusahakan melalui pemberian fasilitas kredit perbankan untuk membiayai kegiatan perekonomian di berbagai sektor yang dialokasikan sesuai dengan kebutuhannya di masing-masing daerah tingkat I di Indonesia.146 1) Kredit langsung Bank Indonesia 2) Sejak Maret 1979 termasuk pinjaman valuta asing kepada Pertamina yang dinyatakan dalam rupiah 3) Termasuk kredit investasi.356 359 1981/82 Maret 2. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 3.675 16. Kredit tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan perekonomian yang dapat diperinci sebagai berikut.854 2.522 3.139 821 428 8.051 4.2.114 1. dan sektor lain-lain sebesar Rp 1.8 persen) termasuk kredit untuk bidang jasa-jasa sebesar Rp 2. terlihat perkembangan yang cukup menggembir_kan.795 402 117 4.039 827 1.9 milyar (9.006 1.4 milyar.111 4.0 persen).768.359 5.062 5.621 1.1 persen). dan bidang perindustrian sebesar Rp 5.149 987 1.353 3. yaitu sebesar Rp 165.744 7.132 3.477 1.8 milyar (96.908 6.784 466 785 533 661 384 212 65 13.164 2.717 2. bidang pertambangan sebesar Rp 104.285 7.785 2.915 3. 2.772 2.599 901 1983/84 Des.735 1. Sept.031 542 312 177 17.065 1.971 4.993 4.5 milyar (38.4 persen).678 1. sampai dengan akhir Maret 1980 adalah posisikredit dalam rupiah 4) Angka sementara 4. KIK dan KMKP.8 milyar.043 3.782 12.526 1.131 6.888 3. dalam periode ]anuari-September 1984 telah terjadi peningkatan pemberian kredit di seluruh Dati I sebesar Rp 4.177 3.0 milyar Departemen Keuangan RI 98 .542 3.293 1.592 813 227 6.081 895 521 501 301 -563 580 594 11.632 1.347.798 1.496.0 persen). Bila dilihat pemberian kredit di tiap-tiap Dati I.r Bank Indonesia 1) Produksi 2) Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Pemerintah Produksi Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Swasta Nasional Produksi Perdagangan Lain-lain Cabang Bank-bank asing Produksi Perdagangan Lain-lain Jumlah kredit perbankan 3) Produksi Perdagangan Lain-lain (Kredit da1am valuta asing) Juni 2.701 2.712 1.263 1.110 1.958 7.095 560 587 323 323 185 185 17.121 973 784 178 382 224 436 273 121 42 8.735 5.6 milyar (49.593 1.620 2.280 3.427 908 937 1.927 3.216 1.726 450 780 496 737 412 241 84 13.004 1.299 16.620 827 Maret April Me i 2.2 persen).835 8.135 7.283 11.6 tnilyar (37. Di Dati I Sumatera Utara terdapat peningkatan volume kredit yang cukup besar.

dan di Dati I Kalimantan Timur meningkat dengan Rp 50.3 persen). dan di sektor lain-lain sebesar Rp 42.351.1 persen).7 persen). Pertambahan tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 169.839.4 milyar (17.7 milyar (24. atau selama sembilan bulan terse but telah meningkat sebesar Rp 185. ke sektor perdagangan sebesar Rp1.0 persen). Dati I Jawa Tengah telah menggunakan kredit scbesar Rp 978.5 persen).183. Peningkatan tersebut tersalur ke sektor produksi sebesar Rp 278.8 milyar (19. Dati I Sumatera Barat dengan Rp 51.8 persen).6 milyar (25.4 persen). sektor peraagangan sebesar Rp 124.7 milyar (25.2 milyar (50.7 persen).8 persen). yang berarti meningkat sebesar Rp 147. sampai dengan akhir bulan September 1984 adalah sebesar Rp 4.5 persen).6 persen).297 milyar. Dati I Jawa Barat sampai dengan akhir bulan September 1984 telah menggunakan kredit sebesar Rp 1.932.7 persen).115.2 persen).483.2 milyar.5 persen).2 persen).8.5 milyar (2. Kenaikan kredit yang cukup tinggi di sektor produksi terutama digunakan untuk kegiatan perindustrian.0 milyar (22. Posisi penyaluran kredit di Dati I DKI Jakarta raJa akhir bulan September 1984 menunjukkan jumlah sebesar Rp8.4 milyar (35.0 milyar (25. dapat diikuti pada Tabel IV. Departemen Keuangan RI 99 .6 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 5. Dalam periode yang sarna.9 milyar.9 milyar (53. Dati I Jawa Timur telah menggunakan kredit sebesar Rp 1.9 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.9 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 1. kenaikan pemberian kredit sebagian besar berasal dari penggunaan kredit di sektor produksi sebesar Rp 106.167.0 milyar (5. yang berarti meningkat sebesar Rp355.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (32. perdagangan sebesar Rp 300. Dengan demikian selama sembilan bulan dalam tahun 1984.6 persen).4 milyar (8.4 milyar (26.5 milyar (16.2 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.8 persen). di sektor perdagangan sebesar Rp 66. Jumlah peningkatan terse but dipergunakan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 12. dan ke sektor lain-lain sebesar Rp 972. Seperti halnya raJa Dati I-Dati I terse but di atas. perkembangan pemberian kredit perbankan menurut Dati I sampai dengan akhir bulan Agustus 1984.7 milyar (27. Jumlah pertambahan tersebut dipergunakan ulltuk membiayai usaha di sektor produksi sebesar Rp 38. penggunaan kredit di DKI Jaya telah meningkat sebesar Rp 3.3 milyar (82.2 milyar (9.3 persen).3 milyar (61.7 persen) dari posisinya sebesar Rp 831.0 milyar (41.0 persen).6 milyar. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 348. Dengan demikian sejak akhir bulan Desember 1983 telah meningkat sebesar Rp 755.1 milyar.8 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.0 persen). di sektor perdagangan sebesar Rp 72. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 101.8 milyar (23.3 milyar (23. dan sektor lain-lain sebesar Rp 60. Jumlah pemberian kredit di Dati I lainnya.

9 15.8 116.6 13.80 1) Termasuk Bapindo dan Bank Pembangunan Daerah 2) Angka sementara 4.536. D.9 0. Nusa Tenggara Barat 22.6 203.30 598.1 47.955.2 2.90 611.6 1.2 15.SEPTEMBER 1984 (dalam milyar rupiah) D ati I 1. Jam b i 20.3 135.4 42.8 48.2 127.3 7.6 13.3 14.5 29.7 351.5 21.5 16.468.303.9 13.90 1.839.6 211. KREDIT RUPIAH PERBANKAN MENURUT DATI I DAN SEKTOR EKONOMI TIDAK TERMASUK KREDIT LANGSUNG BANK INDONESIA 1) DESEMBER 1983 .6 18.1 23.7 41.8 22.5 2.111.8 16.9 245.00 Perdagangan Des.2 52. 8.4 5. Yogyakarta 17.2 797.5 315.6 9.90 1.9 44. Sumatera Barat 11. Pemberian kredit investasi Kegiatan investasi terus berkembang sejalan dengan kegiatan pembangunan yang semakin meningkat.6 20.:162 61.5 585.60 175.7 18.5 7 17.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.5 124. Sulawesi Utara 19. D.4 238.3 114.4 3.7 104.2 88 47.2 111.9 0.1 231.8 114.6 48 17.7 25 25.1 85.5 28.30 5. Ace h 18.5 118.6 189. Kalimantan Barat 9.3 75.5 32.7 58.6 208.9 354.3 48. Kalimantan Selatan 13.7 59 58.8 141.2 24 15.4 18.2 11.6 261. Jawa Timur 3.2 498.913.1 110.4 8.1 279.167.3 5.10 3. DKl Jaya 2. Ria u 15.7 40.7 14.2 15.4 86.60 Lain-lain Des.5 8.9 73.5 15.1 66.5.40 882. IrianJaya 25.7 21. Lampung 12.10 1.9 48 33.1 32 30 25.5 522.8 51 59 53.20 1.80 3.351. Jumlah Sept.1 136. Jawa Barat 4.7 2.8 41. Pemerintah senantiasa menyempurnakan ketentuan-ketentuan yang menunjang pelaksanaan investasi.3 135 61. dan bank asing yang memenuhi persyaratan. Sept.1 15 10.7 8.9 112.8 26. Jumlah maksimum pinjaman untuk setiap nasabah bank umllm swasta nasional adalah 10 persen dari modal sendiri.2 114. 1.8 62.8 27.9 116. Kalimantan Timur 10. Sept.297.3 8.4 12.5 177.1 10.1 2.3 272. alltara lain bank-bank Pemerintah dapat memberikan fasilitas kredit investasi ulltuk industri perkayuan yang berintikan kayu lapis.5 169.2 38.5 70. B a l i 16.9 83.5 34 36.8 6.3.7 460.5 35.2 42.9 589.4 101.9 205. 2.2 24.8 1.9 20.50 978.690.I.7 6.052.582.1 36.7 0. Sehubungan dengan itu.8 145.2 13.3 6.3 36.483.191.6 13.3 117 152.80 1.4 54 53.9 271.2.9 40.1 35.2 25. Sulawesi Tenggara 26.2 175. Kalimantan Tengah 23.4 9.7 223.9 81.3 246.4 125.2 43.2 25 25. 718.3 11.9 287.1 53.7 3.167.9 85 106.9 233.9 0. 2) 8.9 8.1 14. Timor Timur Jumlah Produksi Des.2 193. Sumatera Selatan 7.5 69.7 182.2 0.4 30.9 40 56.2 347. Demikian pula bank-bank swasta nasional.6 10. Jawa Tengah 5.I.6 963 349.6 4.698. dan tidak lebih dari Rp 1 milyar.00 831. Sulawesi Selatan 8.4 83.2 183.1 10.3 65.8 112.112.586.1" 55. Sept. Sulawesi Tengah 21.6 57.1 4. Sumatera Utara 6.8 51.3 23.9 18.8 29. Bengkulu 27.1 38.9 24.4 82. Nusa Tenggara Timur 24. dan sebanyak mungkin dipergunakan untuk proyek-proyek yang menggunakan hasil produksi dalam negeri.5 126.60 1.6 34 35 20.6 113. dapat pula berperan serta memberikan kredit untuk pembiayaan investasi dengan jumlah maksimum masing-masing sebesar 20 persen dan 35 persen dari baki debet pinjaman.6 125.70 Des. Maluku 14. SelanjUtnya bank-bank umum Departemen Keuangan RI 100 .670.20 487.5 7.

5 persen). Dibandingkan dengan posisinya pada bulan Maret 1984. Sampai dengan akhir bulan September 1984.199 milyar. terutama di bidang jasa-jasa. dalam periode April-September 1984 telah terjadi peningkatan yang cukup berarti terutama di bidang perindustrian. Keseluruhan jumlah kredit sebesar Rp 6. yaitu masingmasing sebesar Rp 132 milyar (17. perdagangan sebesar Rp 73 milyar (48.2 persen).4 persen). dan di bidang lain-lain sebesar Rp 49 milyar (9. Dilain pihak terdapat penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 19 milyar (2.1 persen). dan sebesar Rp 92 milyar (18.6 persen). dan di bidang lain-lain sebesar Rp 581.5 persen). oleh bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 152 milyar.6 persen). di samping penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 292 milyar (46. Menyusul kemudian peningkatan di bidang pertanian st.6 persen).2 persen). dan di bidang pertanian. dan Rp 114 milyar (12.732 milyar pada akhir bulan Maret 1984. Ada pun posisi kredit investasi yang telah direalisasikan sampai dengan akhir bulan September 1984 adalah sebesar Rp 4.674 milyar.7 persen). dan oleh cabang bank-bank asing sebesar Rp 2 milyar. dan di. bidang perindustrian sebesar Rp 12 milyar (0. pertanian sebesar Rp 891 milyar (14.3 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 4. Kenaikan dalam periode 1984/1985 tersebut adalah lebih baik dari yang terjadi dalam periode 1983/1984 yang mengalami penurunan sebesar Rp 306 milyar (5.6 persen). oleh Bank Indonesia sebesar Rp 1.2 persen). pinjaman investasi perbankan dalam rupiah dan valuta asing yang disetujui telah mencapai jumlah sebesar Rp 6.766 milyar (44. dalam periode AprilSeptember 1984 telah terjadi peningkatan sebesar Rp 63 milyar (1. Jumlah terse but telah disalurkan oleh bank-bank Pemerimah sebesar Rp 4.besar Rp 99 milyar (12. dengan jangka waktu maksimum 8 tahun. te12h terjadi peningkatan sebesar Rp 509 milyar (8.795 milyar. Dengan demikian. pertambangan sebesar Rp 734 milyar (11.004 milyar (16.5 persen).5 persen). jasa-jasa sebesar Rp 1. Juga terjadi kenaikan di bidang perdagangan sebesar Rp 61 milyar (57.5 persen). Peningkatan tersebut hemal dari kenaikan kredit di berbagai sektor ekonomi. dan bank-bank asing diberikan kesempatan melakukan penyertaan modal dalam perusahaan-perusahaan yang potensial.371 milyar. dan di bidang -lainlain sebesar Rp 82 milyar (19.0 milyar (9. dan di bidang jasa-jasa.4 persen).8 persen).199 milyar tersebut dipergunakan untuk kegiatan di bidang perindustrian sebesar Rp 2.8 persen). Dengan demikian secara keseluruhan dalam periode April-September 1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 swasta nasional.9 persen) atau rata-rata perbulan sebesar Rp 85 milyar. perdagangan sebesar Rp 223 milyar (3.0 persen). Departemen Keuangan RI 101 . yaitu masing-masing meningkat dcngan Rp 193 milyar (7.

Beberapa jenis kredit berprioritas tinggi tersebut antara lain adalah Kredit Investasi Kecil (KIK). Departemen Keuangan RI 102 . Kredit Bimas.311 117 917 1.762 831 2.455 416 1.141 472 4.658 539 2.996 644 2.393 617 2.759 219 1. 2) Sampai dengan Maret 1980.602 737 160 899 533 4. Kredit Umum Pedesaan (Kupedes). 1) 1969/1970 .571 355 1.934 121 800 333 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.480 837 129 1.359 1.958 1. te1ah mengalami beberapa penyempurnaan. kredit investasi sampai dengan Rp 75.182 99 676 301 1983/1984 Sept Des 5.681 852 2.lain Juni 5.973 49 485 34 3. kebijaksanaan moDeler perbankan 1 Juni 1983 tetap memberikan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah.669 564 184 963 536 4. melalui pemberian fasilitas kredit perbankan untuk jenis usaha yang berprioritas tinggi.648 477 2.795 586 587 2.316 632 106 752 431 April 5. 4. Kredit Kecil (KK).668 522 2.755 815 2.806 39 361 71 1981/82 Maret 4.650 713 2.003 983 117 663 375 5.630 583 2. dan kemudahan-kemudahan untuk memperoleh kredit yang diperlukan. termasuk kredit untuk sektor perdagangan 3) Angka sementara.304 340 340 150 167 870 884 506 513 1) Sampai dengan Maret 1980.1984/1985 ( dalam mityar rupiah ) 1969/1970 Maret 1970/1971 Maret 1971/1972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret Yang disetujui perbankan Pertanian Industri Pertambangan Jasa-jasa 2) Lain .304 1.164 1.694 4.0 juta.3.623 67 521 139 1982/83 Maret 5.894 1.lain Realisasi Pertanian Industri Pertambangan Jasa .766 736 734 177 223 975 1. adalah posisi kredit investasi dalam rupiah pacta bank-bank Pemerintah.579 753 158 916 534 4.jasa 2) Lain -lain 32 8 11 1 11 1 17 6 5 1 5 - 78 20 35 22 1 49 13 20 15 1 115 11 61 40 3 77 6 45 25 1 147 12 75 1 54 5 107 8 58 39 2 175 18 84 1 62 10 119 10 61 41 7 198 19 100 66 13 143 13 73 47 10 270 36 110 5 104 15 196 29 82 5 70 10 343 48 137 5 137 16 263 41 97 4 111 10 362 69 143 5 127 18 288 57 109 3 107 12 448 86 154 10 185 13 343 71 118 2 143 9 1) Sampai dengan Maret 1980.752 243 968 1. Kredit Koperasi.002 84 661 155 3.314 2. baik mengenai besarnya volume kredit yang diberikan maupun mengenai bagian pembiayaan pinjaman. 9 KREDIT INVESTASI PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR EKONOMI.722 2. Program kredit untuk golongan ekonomi lemah Untuk mendorong peranan pengusaha golongan ekonomi lemah dalam meningkatkan produksi dalam negeri.579 438 2.794 878 2.2.242 2.6.732 495 2. pembiayaannya tetap disediakan melalui fasilitas kredit likuiditas Bank Indonesia.225 367 139 827 489 Sektor Yang disetujui perbankan Pertanian lndustri Pertambangan Perdagangan Jasa-jasa 2) Lain -lain Realisasi Pertanian lndustri Pertambangan Perdagangan Jasa-jasa 2) Lain .004 569 581 4. suku bunga serta jangka waktu pinjamannya. adalah posisi kredit investasi dalam rupiah pada bank-bank Pemerintah 2) Termasuk kredit untuk sektor perdagangan 1979/80 Maret 662 114 212 6 306 24 463 78 158 2 207 18 1980/81 Maret 3.670 509 2.573 753 150 890 532 4.040 138 984 416 4.340 366 134 813 466 5.073 101 645 326 Maret 5.793 734 2.690 792 2.092 121 894 365 4.605 389 1. Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP). Sehubungan dengan hat itu.190 1. Kredit Pemilikan Rumah (KPR).199 875 891 2.222 563 123 773 465 Agust 3) Sept 3) 6.643 562 167 925 532 4.176 769 115 716 395 1984/1985 Juni Juli 5. Pemberian fasilitas kredit melalui Kredit Investasi Kecil (KIK) dan Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP) kepada pengusaha kecil yang dilaksanakan sejak akhir tahun 1973.054 6.248 579 121 765 448 Mei 5. dan Kredit Candak Kulak (KCK). di samping keringanan suku bunga.

dengan peningkatan permohonan sebanyak 107 ribu pemohon. jumlah KIK mengalami peningkatan sebesar Rp 47 milyar (5. serta plafon kredit yang dapat disesuaikan dengan kemampuan pelunasan pinjaman oleh nasabah. maka dalam perkembangannya hingga bulan September 1980 jumlah maksimum KIK te1ah menjadi Rp 10 juta. Jumlah kredit likuiditas Bank Indonesia untuk program kredit ini yang semula ditetapkan 80 persen. dengan jumlah 1.718 ribu pemohon. Dalam periode April-September 1984. di tUrunkan menjadi 55 persen. tanpa adanya tambahan plafon. jangka waktu KMKP ditetapkan 5 tahun dengan masa tenggang 1 tahun.5 persen setahun dengan jangka waktu maksimum menjadi 10 tahun.7 persen) dengan pyningkatan nasabah sebesar 10 ribu pemohon (4. Mulai 1 Juni 1983 jumlah kredit tersebut ditingkatkan menjadi Rp 15 juta tanpa tambahan plafon.6 persen) dengan 238 ribu pemohon.073 milyar (70.2 milyar dengan 18 ribu pemohon.945 milyar. dan plafon kredit yang senantiasa disesuaikan dengan kemampuan pelunasan pinjaman oleh nasabah.Perkembangan KIK dan KMKP dapat dilihat pada Tabel IV. jumlah maksimum KIK adalah sebesar Rp 5 juta setiap nasabah dengan suku bunga 12 persen setahun. sehingga jumlah maksimum kredit menjadi Rp 15 jtita. sedang sisanya sebesar 25 persen akan dibiayai dengan dana yang berasal dari Bank Dunia. Selanjutnya pada bulan Juli 1984 diadakan penyesuaian dalam kebijaksanaan KIK/ KMKP. Jumlah KIK dan KMKP yang disetujui sampai dengan bulan September 1984 tercatat sebesar Rp 2. bat as tertinggi KIK dinaikkan lagi menjadi Rp 15 juta. Jumlah-jumlah tersebut terdiri dari KIK yang disetujui sebesar Rp 872 milyar (29. Ketentuan jumlah maksimum KMKP pada awal diselenggarakannya program ini adalahsebesar Rp 5 juta rupiah. dan jangka waktu maksimum 5 tahun.. atau rata-rata setiap bulannya meningkat sebesar Rp 43. dan diberikan tambahan plafon sebesar Rp 5 juta. dengan suku bunga tetap sebesar 12 persen setahun.4 persen) dengan peningkatan nasabah sebesar 97 ribu pemohon (6.4 persell).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Jika pada awal dilaksanakannya. sedangkan KMKP meningkat sebesar Rp 212 milyar (11. daD dengan suku bunga 12 persen setahun. suku bunga 10.0 persen). danjangka waktu maksimum 3 tahun. dengan jangka waktu 3 tahun (yang setiap saat dapat diperpanjang). sedangkan bagian dana dari bank pelaksana tetap 20 persen. dan KMKP yang disetujui sebesar Rp 2.4 persen) dengan 1.956 ribu pemohon. Departemen Keuangan RI 103 . Selanjutnya sejak September 1980 plafon KMKP te1ah menjadi Rp 10 juta. dengan suku bunga 15 persen setahun.10. dan suku bunga 12 persen setahun.6 persen). Dengan demikian posisi KIK dan KMKP dalam 6 bulan pertama tahun anggaran 1984/1985 (April-September 1984) menunjukkan pertambahan sebesar Rp 259 milyar (9. dapat diberikan tambahan plafon sebesar Rp 5 juta. Jangka waktu KIK adalah 8 tahun dengan masa tenggang 4 tahun. Dalam bulan Juli 1984. Sejak tanggal 1 Juni 1983.

dan sebagian lagi dari bank pelaksana.657 1.454 1. Di samping Kredit Kecil.178 1. senantiasa ditingkatkan dari waktu kewaktu sesuai dengan perkembangan.627 1. 1.542 1. 761 1.1984/1985 (dalam milyar rupiah) Periode 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember J anuari Pebruari Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September 1) 1) Angka sementara KIK 6 19 34 55 79 113 190 366 421 477 528 571 608 648 685 723 732 741 749 756 766 778 783 790 799 805 819 825 835 847 882 857 860 872 KMKP 4 18 41 75 124 188 349 656 799 958 .073 Pemberian Kredit Kecil (KK) yang diselenggarakan sejak tahun 1974. Kredit Midi dananya sebagian berasal dari kredit likuiditas Bank Indonesia.022 2.861 1. sejak tahun 1978 telah pula diselenggarakan program kredit Midi untuk pengusaha yang memerlukan kredit dalam jumlah maksimum sampai dengan Rp 500 ribu.830 1. Berbeda dengan Kredit Kecil yang sumber dananya berasal dari APBN.697 1.679 1.062 1.998 2.938 1.798 1. 10 VESTASI KECIL DAN KREDIT MODAL KERJA P YANG DISETUJUI 1973/1974 . Selanjutnya sejak Januari 1984 telah Departemen Keuangan RI 104 .300 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.814 1.578 1.378 1.888 1.725 1. 1.605 .961 1.

yang disebabkan karena selain makin banyak para nasabah mengembalikan kredit dalam periode tersebut.5 persen ) terhadap posisinya pada akhir bulan Maret 1984 sebesar Rp 36. dan dana APBN yang telah disalurkan dalam rangka penyelenggaraan program Kredit Keci!.2 milyar untuk 13 ribu nasabah.6 milyar.11. atau rata-rata Rp 9. dan kredit eksploitasi biasa adalah sebesar Rp 344. dan terhadap kredit eksploitasi biasa sebesar Rp 36. dan jangka waktu maksimum 3 tahun. Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pemberian kredit kepada pengusaha kecil.8 milyar setiap bulan. Dengan dikeluarkannya fasilitas Kupedes ini. juga disebabkan beralihnya nasabah Kredit Kecil ke Kredit Umum Pedesaan. Dalam hal Kupedes dipergunakan untuk modal kerja dikenakan suku bunga 18 persen setahun. jumlah pertanggungan yang diberikan kepada KIK. Fasilitas kredit untuk pengusaha kecil ini dikenal dengan Kredit Umum Pedesaan (Kupedes).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 diselenggarakan program kredit baru yang merupakan pengganti dari program Kredit Kecil.6 milyar. dan untuk usaha eksploitasi sebesar Rp 20. posisi Kupedes yang diselenggarakan sejak Januari 1984 telah mencapai Rp 88. baik usaha-usaha yang sebelumnya pernah dibantu dengan fasilitas Kredit Kecil/Kredit Midi. Dalam tahun 1984 sampai dengan bulan September 1984. dan 24 persen setahun untuk kredit modal kerja. sedangkan permintaan kredit baru dialihkan ke Kupedes. dana perbankan yang berhasil dihimpun dari masyarakat. Kredit ini dananya berasal dari kredit likuiditas Bank Indonesia.5 milyar. terhadap Kredit Modal Kerja Perman en (KMKP) sebesar Rp236.dan maksimum sebesar Rp 1. dan Kredit Midi. Fasilitas kredit ini dimaksudkan untuk mengembangkan. posisi Kredit Kecil tercatat sebesar Rp 14..3 milyar untuk 251 Departemen Keuangan RI 105 .000. dan meningkatkan usaha-usaha kecil di pedesaan. Perkembangan Kredit Kecil dan Kupedes dapat dilihat pada Tabel IV. Bagi nasabah yang menunggak pengembalian pinjamannya.000.1 milyar ( 60. Kredit Investasi Kecil (KIK) adalah sebesar Rp 71. jumlah pertanggungan yang diberikan terhadap. PT Askrindo dalam kegiatannya telah menyediakan jasa pertanggungan atas kredit perbankan yang diberikan. Sampal dengan akhir September 1984.2 milyar untuk 176 ribu nasabah. suku bunga_ya akan dinaikkan masing-masing menjadi 18 persen setahun untuk kredit investasi. maupun usaha calon nasabah baru.-. Secara keseluruhan. KMKP. Jumlah pinjaman yang diberikan kepada nasabah Kupedes adalah minimum sebesar Rp 25. Sampai dengan akhir September 1984.9 milyar untuk 62 ribu nasabah. Penurunan tersebut terdiri dari penurunan kredit untuk usaha investasi sebesar Rp 1.000. dan jangka waktu maksimum 2 tahun. fasilitas Kredit Mini dan Kredit Midi masih diteruskan sampai dengan jatuh tempo kredit masing-masing.4 milyar atau suatu penurunan sebesar Rp 22. Kredit tersebut dapat digunakan untuk investasi dengan bunga 12 persen setahun.5 milyar.

Di dalam keseluruhan kredit yang dijamin PT Askrindo. dengan peningkatan sebanyak 632 nasabah. maka untuk meningkatkan pendapatan serta menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat pedesaan dan kota-kota kecamatan.588 peminjam. Menurut sektor ekonomi. pemberian kredit penjembatan. termasuk kredit sebesar Rp 0. Pemberian pertanggungan secara individual terdiri dari nilai pertanggungan di sektor pertanian sebesar Rp 10. Sampai dengan akhir bulan September 1984.7 milyar merupakan jumlah pertanggungan yang diberikan secara masal kepada 124 ribu nasabah.000. jasa-jasa sebesar Rp49.0 juta.1 juta kepada 39 buah perusahaan dan penanaman dana lainnya sebesar Rp 10.4 milyar untUk 389 nasabah.285. dan bunga yang rendah melalui 4.9 juta. Guna mendorong kegiatan para pengusaha kecil.0 juta yang terdiri dari kredit penjembatan sebesar Rp 3. Hal ini berarti bahwa dalam periode AprilSeptember 1984 perputaran KCK mengalami peningkatan sebesar Rp 12 milyar (8. maupun dalam bentuk penanaman lainnya. Bantuan tersebut terutama dipergunakan untuk usaha di sektor perdagangan dan industri. sejak tahun 1976 Pemerintah menyelenggarakan program Kredit Candak Kulak untuk para bakul/pedagang kecil di pedesaan.4 milyar untuk 68 ribu nasabah. perputaran KCK telah mencapai sebesar Rp 162 milyar yang meliputi 13. Pada waktu dimulainya program kredit tersebut. yang sejak bulan Juli 1982 ditingkatkan menjadi Rp 30. perdagangan sebesar Rp 1. Departemen Keuangan RI 106 . PT Bahana telah melakukan penanaman dana sebesar Rp 4. dan sektor jasa-jasa sebesar Rp 1.9 milyar untuk 40 ribu nasabah. Secara terperinci pemberian pertanggungan secara masal meliputi sektor pertanian sebesar Rp 8.-.5 milyar untuk 122 ribu nasabah. industri sebesar Rp 23. penyertaan modal sebesar Rp 662. perdagangan sebesar Rp 231.1 milyar untuk 9 ribu nasabah.dengan bulan September 1984.956 peminjam. PT Bahana sejak tahun 1974 telah pula memberikan bantUan dalam bentuk penyertaan modal. sedangkan pada akhir bulan Maret 1984 jumlahnya baru mencapai Rp 150 milyar dengan jumlah 12. Kredit ini disalurkan oleh Bank Rakyat Indonesia dengan syarat lunak.6 milyar merupakan pertanggungan kredit yang diberikan secara individual kepada 127 ribu nasabah.2 juta untuk satU BUUD/KUD.000. Di samping program-program kredit diatas. sebesar Rp 11. Sampai .964 BUUD/KUD yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.8 milyar untuk 1. dan di sektor ekonomi lainnya sebesar Rp 18.682 nasabah. jumlah pinjaman yang dapat diberikan kepada seorang peminjam maksimum adalah Rp 15.2 milyar untuk 5 ribu nasabah.0 milyar untuk 5 ribu nasabah. dari keseluruhan jumlah pertanggungan tersebut di atas.0 persen).-.612. dan Rp 332.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ribu nasabah.

981 398.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.972 2. Pemerintah sejak tahun 1976 menyediakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang disalurkan melalui Bank Tabungan Negara.829 272.229 665.322 47. selama Departemen Keuangan RI 107 .740 760.806 766.332 58.810 342.773 252.266 618.880 12.277 2.246 407.306 36.911 4-9.920 313. posisi pemberian KPR mencapai jumlah sebesar Rp 721 milyar.467 161.474 353. 11 KREDIT KECIL DAN KREDIT UMUM PEDESAAN.406 224.519 296.925 62.088 59.208 757.597 702.708 710.058 15.414 56.613 unit rumah yang terdiri dari 92.162 50.974 450.579 71.411 22.599 14.340 603.503 741. 13.040 756.416 Periode 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Januari Pebruari Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September l) 1) Angka sementara.708 88.603 207.172 30.404 491.280 82.934 695.553 498.417 unit dibangun oleh rerum Perumnas. Sampai dengan akhir bulan September 1984.294 393.44.220 .991 19.159 723.689 26.029 8.754 20.533 57.659 758.137 5.130 445.250 234.822 744.281 57.662 45.741 566.192 11.641 62.783 359.932 62.509 749.673 63.968 60.104 57. 1974/1975 1984/1985 Kredit Kecil Kredit Umum Pedesaan Jumlah pinjaman Jumlah pinjaman peminjam rupiah ) peminjam rupiah) 61.230 75. yang digunakan untuk membangun 215.204 57.438 687.065 59.855 716.902 58.879 54.824 131.196 unit dibangun oleh non Perumnas. dan 123.518 31.670 16.256 59.290 750.592 63.398 41.624 Guna membantu mengatasi kebutuhan akan perumahan. Bila dibandingkan dengan posisinya pada bulan Maret 1984 sebesar Rp 620 milyar.601 756.

Dalam tahun 1983/84 bantuan tersebut diberikan kepada 2 BPD.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 periode April-September 1984 pemberian KPR telah mengalami peningkatan sebesar Rp 101 milyar (16.4.882 unit dengan nilai sebesar Rp 8 milyar dibangun oleh rerum Perumnas.778 unit rumah. Pemerintah telah memperlunak persyaratan pendirian kantor cabang. Jumlah kredit yang diperoleh daTi BRI adalah antara 1. Lembaga-lembaga keuangan 4. dan 15. guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan jasa perbankan terutama di daerah-daerah. dan berhasil guna dalam menunjang pembangunan nasional. kecamatan.5 sampai 3 kali modal sendiri. Usaha untuk meningkatkan bank perkreditan rakyat di dalam rangka membantu pengusaha golongan ekonomi lemah yang berada di pedesaan terus dilakukan dengan pemberian fasilitas kredit likuiditas yang disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI). 4. dalam Repelita IV sasaran kebijaksanaan moDeter diarahkan untuk meningkatkan efisiensi kerja. serta menyempurnakan organisasiorganisasi lembaga keuangan. dan kantor cabang pembantu BPD.3 persen) untuk membangun 19. Kredit untuk pembangunan rumah oleh rerum Perumnas dananya berasal dari APBN.1.5 persen per rabun. Lembaga-Iembaga keuangan perbankan akan dikembangkan dan diperluas agar pelayanannya dapat menjangkau ke seluruh daerah kabupaten. dan jangka waktu satu tahun. dan bank pembangunan koperasi. Lembaga keuangan perbankan Kebijaksanaan Pemerintah untuk mengembangkan dan membina sektor perbankan dalam tahun 1984/1985 merupakan kelanjutan dari kebijaksanaan dalam tahun anggaran sebelumnya yang diarahkan untuk menumbuhkan sistem perbankan yang sehat. Pembinaan yang telah dilakukan selama ini terutama diarahkan kepada usaha untuk lebih mengembangkan bank pembangunan daerah (BPD). Untuk tetap meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam membiayai pembangunan. Hal itu dimaksudkan agar lembaga-lembaga keuangan lebih efektif menjalankan fungsinya sebagai perantara keuangan dalam bentuk mobilisasi daD penyaluran dana-dana masyarakat. dengan suku bunga 13. sehingga sampai saar ini telah dicakup 27 buah BPD yang tersebar merata di setiap ibukota propinsi.896 unit dengan nilai Rp 93 milyar dibangun oleh non Perumnas. Di samping itu. Dari jumlah tersebut. sedangkan kredit untuk pembangunan rumah non Perumnas dananya berasal dari dana perbankan. Usaha memperkuat permodalan BPD serta pembinaannya dalam bentuk pemberian bantuan teknis dan pendidikan tetap dilanjutkan. sebanyak 3. bank perkreditan rakyat (BPR). Departemen Keuangan RI 108 .4. dan pedesaan.

Dalam tahun 1983/1984. dan pengusaha ekonomi lemah. dan jenis lainnya.2. sedangkan himbauan untUk melakukan penggabungan usaha (merger) terus dilanjutkan. LKBB jenis investasi terutama melakukan usaha sebagai perantara dalam menerbitkan surat-surat berharga. Untuk lebih meningkatkan peranan LKBB di dalam pengembangan posar uang dan modal. dan melakukan penyertaan modal dalam perusahaan-perusahaan. jenis investasi. Dalam rangka memperluas dan memperlancar lalu lint as uang giral. serta agar peranannya selaras dengan kebijaksanaan ekonomi keuangan. Tugas LKBB jenis pembiayaan pembangunan terutama adalah memberikan. Usaha menciptakan pertumbuhan yang lebih seimbang diantara bank-bank umum swasta nasional (BUSN). Lembaga-Iembaga keuangan bukan bank Lembaga-Iembaga keuangan bukan bank (LKBB) mempunyai peranan penting dalam menunjang pengerahan dana dari masyarakat untuk kemudian menyalurkan dana tersebut bagi kegiatan yang produktip. 4. jumlah tempat penyelenggara kliring lokal tersebut telah bertambah dengan 3 tempat sehingga menjadi 24 tempat. Ada 3 macam jenis LKBB. yaitu jenis yang bergerak di bidang pembiayaan pembangunan.4. sehingga jumlahnya menjadi 80 kantor pacta akhir Juli 1984. sebanyak 2 bank telah melakukan penggabungan usahanya. sehingga BUSN yang telah mengadakan merger sampai dengan AgustUs 1984 berjumlah 94 bank. Di samping itu Departemen Keuangan RI 109 . bank-bank dan lembaga-Iembaga keuangan bukan bank masih tetap dapat menerbitkan surat jaminan bank dalam rangka memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat. Dalam tahtm terakhir ini. dan menjamin serta menanggung terjualnya surat-surat berharga (underwriter). 14A tahun 1980. Berdasarkan Keppres nomor 29 tahun 1984 sebagai pengganti Keppres no. sejak tahun 1982 dilakukan oleh Departemen Keuangan. perluasan kliring lokal di wilayah. dilaksanakan melalui pemberian kemudahan untuk membuka kantor cabang. yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia terus ditingkatkan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Demikian pula sejak Pebruari 1983 tata kerja bank-bank umum yang berbadan hukum koperasi. dan kantor cabang pembantu. dan semester I 1984/1985. Sedangkan tugas LKBB jenis pembiayaan lainnya adalah memberikan pinjaman kepada masyarakat golongan berpenghasilan menengah untuk memiliki rumah. tugas pembinaan dan pengawasan LKBB yang semula dilaksanakan oleh Bank Indonesia. Jumlah kantor cabang pembantu sebagai peserta tidak langsung dari kliring lokal telah bertambah dengan 24 kantor. kredit jangka menengah atau jangka panjang. disesuaikan dengan tempat dimana bank didirikan terutama mengenai besarnya modal koperasi.

disertai dengan.6 persen).0 persen). maka mulai ditempuh pula cara pernbiayaan alternatip melalui leasing. Di lain pihak jumlah dana yang berhasil dihimpun oleh LKBB jenis investasi sampai dengan September 1984 berjumlah sebesar Rp 919 milyar atau 4. Leasing adalah kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala. sehingga posisinya menjadi Rp 1. atau Departemen Keuangan RI 110 .5 persen dalam periode yang sarna. Untuk tahap pertama. surat-surat berharga yang didiskontokan kepada Bank Indonesia berjumlah sebesar Rp 156 milyar. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 9. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 (sampai dengan Juli 1984). dalam periode April-September 1984 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 5.155 milyar pada akhir September 1984 terse but terdiri dari penanaman dana LKBB jebis investasi sebesar Rp 917 milyar (79. hak pilih (optie) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan. Demikian pula untuk lebih meningkatkan peranan LKBB dalam perdagangan surat-surat berharga. jumlah obligasi yang dapat didiskonto ulangkan kepada Bank Indonesia ditetapkan sebesar 70 persen dari nilai nominalnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pendirian LKBB tetap hanya diberikan untuk kantor perwakilannya saja. Dengan demikian posisi fasilitas diskonto ulang pada akhir Juli 1984 naik menjadi Rp 8 milyar.162 milyar. dan 9. telah dijual surat-surat berharga kepada Bank Indonesia sebesar Rp 57 milyar. dan dibeli kembali sebesar Rp 51 milyar.milyar (6. berarti posisi fasilitas diskonto ulang menurun menjadi Rp 2 milyar pada akhir Maret 1984.155 milyar. Dengan berkembangnya perekonomian Indonesia.2 persen lebih tinggi dari posisinya sebesar Rp 882 milyar pada akhir Maret 1984. yang secara formal mulai diperkenalkan oleh Pemerintah sejak tahun 1974.2 persen. Sementara itU jumlah dananya pada periode yang sarna telah meningkat sebesar Rp 58 milyar atau 5. Posisi fasilitas diskonto ulang pada akhir Maret 1983 tercatat sebesar Rp 43 milyar. sehingga posisinya menjadi sebesar Rp 1. Penanaman dana dari LKBB sebesar Rp 1. Adapun penanaman dana dari LKBB secara keseluruhan selama periode AprilSeptember 1984 mengalami kenaikan sebesar Rp 65. dan jumlah surat berharga yang dibeli kembali oleh LKBB adalah sebesar Rp 197 milyar.2 persen. Surat berharga yang dapat didiskonto ulangkan kepada Bank Indonesia telah diperluas dengan obligasi.4 persen) dan jenis pembangunan sebesar Rp 238 milyar (20. Sedangkan jumlah dana LKBB jenis pembangunan berjumlah sebesar Rp 243 milyar. Dalam tahun 1983/1984. Kedua jenis penanaman dana tersebut.2 persen. Bank Indonesia telah memberikan fasilitas diskonto ulang. Dengan adanya pembelian kembali suqtt-surat berharga yang lebih besar sejumlah Rp 41 milyar.

53 buah milik swasta nasional. berarti telah terjadi kenaikan sebesar Rp 225.1 milyar. dan reasuransi kerugian adalah sebanyak 68 buah. dan reasuransi sebesar Rp 159. sebagai salah satu sumber pendapatan Pemerintah. Asuransi jiwa bertalian dengan pemberian jaminan terhadap resiko yang timbul terhadap kematian. maka dalam tahun 1984 terdapat peningkatan kegiatan leasing yang cukup besar.9 milyar. asuransijiwa sebesar Rp 169.1 milyar sedangkan jumlah tagihan bersih yang harus dibayar dalam periode yang sarna hanya berjumlah sebesar Rp 21.2 milyar. jumlah dana investasi dari sektor asuransi telah mencapai jumlah sebesar Rp 900.Kegiatan usaha leasing antara lain dapat dilihat dari besarnya nilai kontrak leasingnya.2 milyar (5. dan Rp 158.5 milyar (33. asuransi jiwa. dan 12 buah milik patungan.4. masingmasing sebesar Rp8. Sampai dengan tahun 1983. dan asuransi sosial.9 persen). dan 26 perusahaan leasing patungan.5 milyar.5 milyar (38. 4. Sejak diselenggarakannya sampai dengan akhir semester I 1984. 3 buah diantaranya merupakan perusahaan milik negara. yang pada gilirannya akan membawa kernajuan kegiatan di bidang perasuransian. Perasuransian Perkembangan perekonomian dalam lahar pernbangunan yang semakin meningkat akan memperluas bidang-bidang usaha perasuransian.4 persen\ Rp 58. 14 perusahaan milik swasta nasional. Kegiatan asuransi meliputi pemberian pertanggungan terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat kebakaran. Bila hal ini dibandingkan dengan dana investasi dari sektor asuransi dalam tahun 1982. dan masa pensiun. Dibandingkan dengan nilai kontrak leasing dalam periode yang sarna tahun lalu sebesar Rp 47.2 milyar. yaitu asuransi kerugian dan reasuransi.4 persen). dan bea siswa. Sampai saat ini jumlah perusahaan asuransi Departemen Keuangan RI 111 . Jumlah premi bersih yang diterima selama semester f1984/1985 adalah sebesar Rp 52.4 milyar.3. Industri asuransi mempunyai beberapa fungsi. jumlah perusahaan asuransi kerugian. Kegiatan ini di Indonesia dapat digolongkan ke dalam 3 golongan. dan asuransi sosial sebesar Rp 570. yang selama April-Juni 1984 mencapai sebesar Rp 108. maupun sebagai penyerap tenaga kerja. kematian. peningkatan ini disebabkan adanya peningkatan dana-dana investasi dari sektor-sektor asuransi kerugian dan reasuransi. antara lain menanggung resiko. pengangkutan. yang berasal dari dana-dana investasi asuransi kerugian.9 milyar.8 milyar (52. sebagai alar pernupukan modal. kesehatan tenaga kerja. asuransi jiwa. Berdasarkan perkembangan sampai dengan semester I 1984/1985. jumlah perusahaan leasing telah mencapai 41 perusahaan yang terdiri dari 1 perusahaan milik negara.5 persen). pensiunan. serta asuransi sosial.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersarna.

Dengan demikian selama 5 tahun terse but terjadi kenaikan sebesar 24.1 persen).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jiwa yang ada di Indonesia.5 persen).817. Perkembangan perusahaan asuransi so sial menunjukkan gambaran adanya pembinaan serta penyempurnaan yang dilakukan terhadap perusahaan tersebut. investasi perusahaan asuransi jiwa telah meningkat sebesar Rp 140.3 persen).0 milyar diinvestasikan dalam pinjaman polis. jumlah uang pertanggungan asuransi jiwa telah meningkat sebesar Rp 1.1 persen). Dalam tahun 1983 saja jumlah pertanggungan meningkat sebesar Rp699.969 milyar. sehingga posisinya dalam tahun 1983 menjadi Rp 1.9 persen) setiap tahunnya. sedangkan pengusaha asing dapat melakukan usaha patungan dengan perusahaan asuransi jiwa nasional yang ada. sedangkan pada tahun 1978 baru mencapai 1. Kalau dibandingkan dengan jumlah dana investasi dalam tahun 1978.9 milyar dalam tahun 1982. Dalam periode yang sarna.8 milyar dalam tahun 1983.8 milyar (52.0 milyar (36.308 ribu orang.9 persen). sehingga jumlah premi untuk tahun 1983 berjumlah Rp 114. Dari jumlah tersebut Rp 80.9 milyar. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 4. dana investasi meningkat sebesar Rp 95. sedangkan dalam tahun 1983 saja tercatat peningkatan sebesar Rp 158. Jumlah premi dalam periode yang sarna mengalami kenaikan dengan 59.633.4 milyar diantaranya diinvestasikan dalam deposito. termasuk Koperasi Asuransi Indonesia (KAI). pinjaman polis. atau rata-rata Rp 28. sehingga jumlahnya menjadi sebesar Rp 2. atau rata-rata setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar Rp 348.5 milyar (38. atau rata-rata setiap tahun sebesar 4. adalah sebanyak 15 perusahaan.9 milyar (484.259.906 buah. yakni dari posisinya sebesar Rp 411.3 milyar.9 persen.1 persen pertahun. dan jenis-jenis investasi lainnya.8 milyar (195.821 ribu orang. Sementara itu jumlah dana investasi asuransi jiwa yang ditanam dalam bentuk deposito.4 milyar pada tahun 1983. Sedangkan dalam tahun 1983 tercatat peningkatan sebesar Rp 58. Selama periode 5 tahun.4 persen.760 buah.7 persen). sampai dengan tahun 1983 mencapai sebesar Rp 169. dan Rp 38. Jumlah peserta asuransi sosial sejak tahun 1978 sampai dengan 1983 naik rata-rata 21.8 persen setiap tahunnya.4 milyar (39.7 persen setiap tahunnya. Perkembangan dana investasi dari Departemen Keuangan RI 112 . Pemerintah telah memberikan kesempatan kepada pengusaha nasional untuk mendirikan perusahaan asuransi jiwa baru.2 milyar (96. Perkembangan usaha asuransi jiwa pada saat ini terlihat pada jumlah polis yang dalam tahun 1983 berjumlah 2.7 milyar setiap tahunnya.741. Jumlah nilai pertanggungannya dalam periode yang sarna juga menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 58. Perkefnbangan dana investasi yang dilakukan perusahaan asuransi sosial juga meningkat. menjadi Rp 570. Jika dalam tahun 1978 pesertanya adalah sebanyak 2.

549 222. Di samping itu guna meningkatkan kegiatan perdagangan efek. Pembelian obligasi tidak dapat dipergunakan baik secara langsung maupun tidak langsung sebagai dasar pengenaan pajak mengenai masa sebelum pembelian.872 8.1983 ( dalam juta rupiah) kerugian reasuransi 1.163 3.475 8. Selanjutnya Departemen Keuangan RI 113 . Sedangkan bagi badan hukum lainnya yang berbentuk PT.756 4.322 25.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sektor asuransi dapat diikuti dalam Tabel IV.531 296.527 7.004 126.247 32.391 Periode 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1) 1) Angka sementara Jumlah 2.693 4.709 110.12.530 39.264 18.861 Asuransi jiwa 30 222 404 961 2. dividen dan royalty yang terhutang alas pembayaran bunga dan hadiah obligasi diberikan keringanan berupa tidak ditagihnya sebesar 50 persen.182 485. Pemerintah senantiasa berusaha untuk menyempurnakan tala cara perdagangan efek di bursa.267 92.405 83.198 60. 1969 .288 151. sehingga tarip pengenaan efektip adalah 10 persen yang bersifat pungutan final.560 2.983 77.911 10. DANA INVESTASI DARI SEKTOR ASURANSI.4.192 15. Sejak Januari 1983 telah diadakan penyempurnaan ketentuan mengenai pemberian keringanan perpajakan bagi perorangan. dan perorangan harus mempunyai modal disetor atau modal sendiri sekurang-kurangnya Rp 100 juta.812 23. Tabel IV.182 169. dan badan usaha yang membeli obligasi yang telah memperoleh ijin dari Menteri Keuangan tidak dilakukan pengusutan fiskal.246 105.064 40.4. dan obligasi yang diterbitkan perusahaan atau badan usaha. Pajak alas bunga.903 570.939 177.631 3.629 159.253 674.889 12.714 900.188 21.827 18.103 2.542 47.398 72.344 5.882 160.946 Asuransi sosial 1.405 411.085 29.743 11. Pasar Modal Dalam rangka meningkatkan peranserta masyarakat dalam pemilikan saham. Sejak bulan Juli 1983 telah dipercepat tala cara penyelesaian transaksi efek di bursa dari 14 hari menjadi 4 hari.926 7.073 4.051 2.481 54. sejak Juni 1983 bank dan LKBB yang ingin menjadi pedagang efek diwajibkan menyisihkan modal usaha sekurang-kurangnya Rp 250 juta.333 36.198 4.560 111.609 59.531 314.

telah disetujui permohonan 8 perusahaan untuk memasarkan sahamnya.26 buah. kedua puluh enam perusahaan. Perkembangan perusahaan-perusahaan/badan-badan usaha yang telah memasyarakatkan saham dan obligasi melalui posar modal dapat diikuti dalam Tabel IV. maka sampai dengan Agustus 1984. Departemen Keuangan RI 114 .5 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tidak dilakukan lagi penagihan pajak penjualan dan pajak perseroan yang terhutang dari hasil penerimaan bunga dan hadiah obligasi. Adapun perusahaan/badan usaha yang menerbitkan obligasi sampai dengan Agustus 1984 adalah PT Jasa Marga (di bidang jalan tol).115 ribu lembar dengan nilai sebesar Rp 60.230 lembar dengan nilai Rp 154. sejak diaktipkannya kembali bursa efek di Indonesia pada bulan AgustUs 1977. berarti pasar modal di Indonesia mulai memasuki tahap lanjut dalam perluasan transaksi modalnya. terutama yang berpenghasilan rendah.7 milyar.14.8 milyar. Berbagai kegiatan promosi dan penelitian telah ditingkatkan untuk menjadikan pasar modal sebagai sarana pembiayaan yang potensial. dan sertifikat dana yang diperdagangkan di luar bursa. Penerbitan berbagai jenis sertifikat saham PT Danareksa berkaitan erat dengan tujuan menyebarluaskan pemilikan sertifikat kepada masyarakat. serta obligasi yang dikeluarkan oleh badan usaha milik negara. yang seluruhnya berjumlah 7. Dalam tahun 1983/1984 dan semester I 1984/1985.420 ribu sertifikat dengan nilai Rp 72. dan 3 buah badan usaha menerbitkan obligasi sebanyak 263. 23 buah diantaranya menerbitkan saham sejumlah 57. dan menengah. Sampai dengan Agustus 1984. jumlah perusahaan yang telah terdaftar adalah sebanyak . Jumlah sertifikat saham dan sertifikat dana yang berada di masyarakat sampai dengan akhir tahun 1983/1984 adalah sebanyak 6.3 milyar. dan efektif. Berdasarkan harga penawaran perdana. Rp 130. Dengan demikian.5 milyar.2 juta lembar saham dengan nilai emisi . dan PT Papan Sejahtera (di bidang perumahan). dan 1 perusahaan untuk memasarkail obligasi melalui posar modal. Dengan mulai diterbitkannya obligasi. PT Danareksa telah menerbitkan dua jenis sertifikat yaitu sertifikat saham dan sertifikat dana. dan badan usaha itu telah menyerap dana masyarakat melalui pasar modal sebesar Rp 285. Bank Pembangunan Indonesia (di bidang perbankan). Di samping itu Pemerintah telah membebaskan pajak penghasilan alas dana pensiun yang ditanam dalam bentuk saham.13 dan Tabel IV.

500 7.475 1.716.000 765. PT Unilever Indonesia 10.281.000 6.00 1.20 130.162.639.000.500.762.100.00 7.600.637.10 119.10 113.660.081.600 342.500 972.520.530.116 214. PT Sucaco 13.108 31.022.280.30 98.20 7.00 3.080. PT Jakarta International Hotel .751. PT Richardson Vicks Indonesia 6.708 44.096 17.708 48.980 116.00 1.608 38.618.150 1.00 1.00 81.175 1.237.210.317.957.208 48.90 3.012 9.096 20.10 10. PT Regnis Indonesia 20.724.749.000 3.660.100 1.226.60 52.708 46.500 5.605.665.541.Emisi I .680.009.690. PT Semen Cibinong .000 1.900 1.90 117.00 83. PT Tificorp 5.000 2.608 36.000 584.467.020.1.642.00 1.147.000 1.000 523.200.800.000 347.8 1.90 120.60 47.600.150.750 5. PT Goodyear Indonesia 7.096 15.079.10 116.096 673.90 1.90 638 2. PT Pfizer Indonesia 21.00 879.005.10 115.722.667.096 8.500 3.398.20 3.000 1.975.10 35.580.200.250 1. 13 PERUSAHAAN-PERUSAHAAN/BADAN USAHA YANG TELAH MEMASYARAKATKAN SAHAM MELALUI PASAR MODAL SAMPAI DENGAN AGUSTUS 1984 Jumlah Harga Nilai pasar Perusahaan emisi Kumulatif penawaran Perdana Kumulatif (lembar) (lembar) (Rp/lembar) (Juta Rp) (Juta Rp) 1.205.500 4. PT Delta Jakarta 22. PT Sepatu Bata Indonesia 11.834.00 7.10 36.850. PT Panin Union Insurance Ltd 19.362. PT Sari Husada 18.000 1.8 806.192.108 31.10 118.90 5.90 92.708 47.540 1.400 1. PT BAT Indonesia 4.924.708 40.696.050 1.475 3.Emisi I .708 45.135.50 110.857.584 57.096 9. 342.084.00 16.080.060.055. PT Bayer Indonesia 14.020.952.10 27.421.000 6.669.481.050 2.30 9.208 43.60 3.60 109.562.976 6.800.90 89.618. PT Unitex 12.421.950 1.000 733.096 1.325 3.716.10 43.108 29. PT Centex .500 600.40 29.208 48.519. PT Hotel Prapatan 23.412.822.000 360.000 2. PT Asuransi Jiwa Panin Putra 17.608 50.100 1.867. PT Panin Bank Indonesia .Emisi I .600.Emisi II 15.024.014.000 16. PT Multi Bintang Indonesia 9.00 5.550 1.425 2.950 1.50 3.920.250 3.000 1.Emisi II 3.00 84.10 Departemen Keuangan RI 115 .927.116 557.850 1.067.500 3.10 7.096 7.257.324.526.Emisi II 2.687.30 11.184 10.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.570 3.40 5.2 855 .275 1. PT Squibb Indonesia 16. PT Merck Indonesia 8.000 1.

000 1.00 Perusahaan PT Jasa Marga I Bank Pembangunan PT Papan Sejakhtera PT Jasa Marga II Jumlah 4.500. bahwa kenaikan Darga dalam tahun 1985/1986 tidak banyak berbeda dibandingkan dengan tahun 1984/1985.000 10. sedangkan kredit perbankan bertambah dengan Rp 4.00 2.000 10.0 milyar.800 6.00 5.550.000 4.000 5.250.800 263.943.500.00 24.00 10.00 6. 14 PERUSAHAAN-PERUSAHAAN/BADAN USAHA YANG TELAH MEMASYARAKATKAN OBLIGASI MELALUI PASAR MODAL (Januari 1983 sId Agustus 1984) Jumlah emisi Pecahan Harga nominal (lembar) Harga Perdana Nilai Harga (ribu Rp) (juta Rp) 125.0 milyar (13.000 50 100 500 1.00 68. Pada akhir tahun 1984/1985 jumlah uang beredar dan kredit perbankan diperkirakan sebesar Rp8.00 2.000 10.000. 300 2.000 10 50 100 500 1.125. dan kredit perbankan pada akhir tahun 1985/1986 diperkirakan mencapaijumlah Rp 10.845. dan Rp 19.000 1.250 6.000 10.00 16.000.680 1.718.00 65 260 1.00 2.000 5. Dengan demikian posisi jumlah uang beredar.500 5. Dalam tahun 1985/1986 jumlah uang beredar diperkirakan akan bertambah dengan Rp 1.7 persen).408.00 154.080 2.000 46. Perkiraan jumlah uang beredar dan kredit perbankan tahun 1985/1986 Perkiraan jumlah uang beredar didasarkan pada anggapan-anggapan.000.5.000 1.00 2.300.230 10 50 100 1.550 4.600 2.000 15.000.0 milyar.00 10 50 100 840 1.00 2.00 150 600 2.0 milyar (23.000.000 10 100 500 1.000 6.500 1.221.0 milyar dan Rp 24.960.000.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV. Departemen Keuangan RI 116 .00 4.0 persen).000 24.650 1.0 milyar.164.410.250.000 400 200 1.565.000 1.800.960 960 1.000 5.

negara-negara ASEAN seperti Thailand.3 persen. Amerika Serikat.3 persen.4 persen.4 persen dan 2. Sebaliknya Inggris diperkirakan justru mengalami penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi menjadi 2.6 persen. Pendahuluan Memasuki tahun pertama Repelita IV. Afrika dan Amerika Latin juga mengalami peningkatan.1. Sebagai akibatnya. perkembangan ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih dan resesi yang berkepanjangan.0 persen dan 4. Amerika Serikat. produk nasional bruto negara-negara berkembang pada pelbagai belahan bumi seperti di Asia. Kanada dan Jepang mengalami peningkatan kegiatan yang lebih tinggi.9 persen. 3. Dengan dicapainya perluasan kegiatan tersebut. secara keseluruhan produk nasional bruto (GNP) negara-negara industri dalam tahun 1984 diperkirakan dapat meningkat kembali menjadi 4. Dengan tingkat pertumbuhan yang dicapai oleh masing-masing negara industri tersebut. Italia dan Perancis diperkirakan sedikit mengalami peningkatan yaitu masingmasing sebesar 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB V NERACA PEMBAYARAN DAN PERDAGANGAN LUAR NEGERI 5. sementara kegiatan di negara-negara industri lainnya hanya menunjukkan sedikit perbaikan.1 persen dan nol persen dalam tahun 1983. 2. proses peningkatan kegiatan yang berlangsung dalam tahun 1984 belum secara merata terjadi pada semua negara industri.5 persen dan 1.7 persen. Keadaan ini menempatkan mereka sebagai negara-negara yang mempunyai laju pertumbuhan yang relatif lebih cepat di antara kelompok negara-negara industri utama.6 persen. Di kawasan Asia Tenggara.5 persen.2 persen dalam tahun 1983. masing-masing diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 7.1 persen dan sebesar 5. Sementara itu negara-negara industri lainnya seperti Jerman Barat. setelah dalam tahun sebelumnya mengalami perbaikan dari sebesar negatif 0. Jepang dan Kanada dalam tahun 1984 berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan ekonominya. sehingga pengaruh positifnya masih dirasakan terbatas bagi kemajuan ekonomi negara-negara berkembang. dari sebesar 3. Departemen Keuangan RI 117 . sehingga kalau diukur dan pertambahan produk nasional bruto (GNP). 1.6 persen daiam tahun 1983. Sejalan dengan pertumbuhan yang dicapai negara-negara industri. Tanda-tanda perbaikan ekonomi yang telah mulai tampak dalam tahun terakhir Pelita III belumlah sepenuhnya berkembang seperti yang diharapkan. 5.2 persen dalam tahun i982 menjadi 2. masing-masing diperkirakan sebesar 5.

Italia dengan berbagai upaya diperkirakan telah berhasil menurunkan laju inflasi ke tingkat 11. Dengan arah perkembangan tersebut. Sedangkan Philipina justru diperkirakan mengalami penurunan dalam tingkat pertumbuhan ekonominya dari 1. masih tetap merupakan negara dengan tingkat pengangguran terendah di antara ke1ompok negara-negara industri utama. dengan masing-masing diperkirakan sebesar 2.0 persen dalam tahun 1984. dan Perancis justru sedikit mengalami kenaikan dalam tingkat penganggurannya.6 persen.0 persen. Pertumbuhan ekonomi dunia tersebut dapat dicapai dengan adanya perluasan kegiatan investasi. yaitu masing-masing menjadi 12. dari 9. Sementara itu Jerman Barat be1um dapat menurunkan angka pengangguran dari tingkat 8.9 persen dalam tahun sebe1umnya.0 persen dalam tahun sebelumnya. Penurunan yang sarna dialami pula oleh Amerika Serikat dan Kanada masing-masing diperkirakan menjadi 7. dan Inggris te1ah dapat menu runkan tingkat inflasinya di bawah lima persen.0 persen dalam tahun sebelumnya. dari 2. Kanada. Italia.2 persen.8 persen dan 7.0 persen dan 4. sehingga angka pengangguran dapat lebih dikendalikan selaras dengan kemajuan ekonomi yang dicapai masing-masing negara. Dalam tahun 1984. yaitu menjadi 7.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Malaysia dan Singapura diperkirakan berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya masing-masing dari sebesar 5. Sedangkan negara-negara lainnya seperti Jerman Barat. Melalui kebijaksanaan pengendalian moneter. 9. Di antara negara-negara industri tersebut.0 persen. Jepang dengan laju inflasi yang diperkirakan sebesar 0. dan 11. Sebaliknya Inggris.3 persen dari 5. Terpeliharanya stabilitas. 4. Peningkatan kegiatan-kegiatan tersebut se1anjutnya mendorong perluasan kesempatan kerja.8 persen. Jepang dengan penurunan angka pengangguran yang diperkirakan menjadi 2. 6.6 persen.5 persen.9 persen dan 10.7 persen dan 8.6 persen. dan 11.6 persen dalam tahun 1984 dibandingkan dengan 8. serta perkembangan aktivitas di bidang perdagangan antarnegara.3 persen dalam tahun 1983.0 persen dalam tahun 1984. Sebaliknya Departemen Keuangan RI 118 . tingkat pengangguran rata-rata di tujuh negara industri utama diperkirakan menurun. peningkatan produksi.3 persen.7 persen dalam tahun 1983.8 persen. tingkat inflasi rata-rata dalam tahun 1984 di negaranegara industri secara keseluruhan diperkirakan dapat diturunkan menjadi 4.9 persen. 5.4 persen dalam tahun 1983 menjadi negatif 6.3 persen dalam tahun 1984. Sementara itu meskipun masih merupakan negara dengan tingkat inflasi tertinggi di antara negara-negara industri. dan terciptanya iklim usaha yang menguntungkan hanya mungkin dicapai jika laju inflasi dapat dipertahankan pada tingkat yang terkendali.9 persen dari 15.9 persen dalam tahun 1983 menjadi sebesar 6. merupakan negara yang paling berhasil mempertahankan tingkat stabilitas ekonominya.

Sementara itu Thailand diperkirakan mampu mengendalikan angka inflasinya pada tingkat 3.5 persen. masing-masing menjadi 4. yaitu sebesar 13 persen jika dibanding dengan tingkat sebesar 11. Sepadan dengan hasil pengendalian yang dicapai oleh negara-negara industri. laju inflasi negara-negara berkembang di Afrika. Dollar Departemen Keuangan RI 119 . US Prime Rate tetap bertahan pada tingkat yang cukup tinggi. Philipina diperkirakan mempunyai angka inflasi yang paling tinggi. yang pada gilirannya telah mempercepat tingkat perluasan kegiatan ekonomi negara terse but. dan mendorong timbulnya kesenjangan yang makin lebar dengan negara-negara industri terkemuka lainnya. dan Singapura diperkirakan sedikit mengalami kepaikan. terutama Amerika Serikat.0 persen dalam tahun 1984 dibandingkan dengan 10. Franc Perancis.9 persen dari 3. dan tingginya tingkat suku bunga yang timbul sebagai akibat kebijaksanaan yang diambil dalam proses penyesuaian oleh beberapa negara industri di lain pihak. dan mengakibatkan berbagai matauang kuat dunia seperti Mark Jerman. Sekalipun tidak sebesar ketika suku bunga mencapai tingkat tertinggi yaitu sekitar 20.3 persen dalam tahun 1983. maupun Singapura. untuk menarik dana masyarakat sebagai cara menutup defisit anggaran belanjanya telah mengakibatkan bertahannya suku bunga riil pada tingkat yang cukup tinggi.8 persen dalam tahun sebe1umnya.5 persen. Kebijaksanaan ini yang dipertajam oleh upaya pemerintah negara-negara industri. Yen Jepang. dari sebesar 3. Suku bunga nasabah utama di Amerika Serikat (US Prime Rate) mengalami peningkatan lebih tinggi dibanding dengan kenaikan suku bunga antar bank baik di London (LIBOR) maupun di Singapura (SIBOR). Terkendalinya laju inflasi bagi terciptanya iklim usaha yang mendukung peningkatan kegiatan ekonomi tersebut diusahakan dengan pengendalian jumlah uang beredar.0 persen. Perbedaan yang terdapat pada perkembangan tingkat suku bunga ini mengakibatkan mengalirnya dana investasi masuk ke Amerika Serikat. yaitu 45.5 persen dalam bulan Juli 1981.0 persen.7 persen dan 1. Amerika Serikat. Hongkong. Asia dan Amerika Latin diperkirakan dapat dikendalikan masing-masing ke tingkat sebesar 12.5 persen dan 3. Pound Sterling-Inggris. mendorong semakin kuamya nilai tukar matauang Amerika Serikat terhadap pelbagai macam matauang asing (currency) lainnya. Guilder Belanda.2 persen dalam tahun 1983. 7. seperti yang dicapai oleh LIBOR maupun SIBOR dalam bulan September tahun 1984.0 persen. Perbedaan tingkat kegiatan ekonomi di satu pihak.1 persen dan 12. Adapun tingkat inflasi negara-negara ASEAN seperti Malaysia.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Amerika Serikat sekalipun tingkat inflasinya masih di bawah lima persen. diperkirakan justru mengalami sedikit kenaikan yaitu diperkirakan menjadi 3. baik di Eropa. Keadaan ini menimbulkan ketidakstabilan pasar valuta internasional.

US $ 4. besarnya defisit anggaran belanja.9 milyar. Amerika Serikat diperkirakan mengalami kenaikan defisit yang cukup besar.5 milyar dalam tahun 1983 menjadi US $ 35.0 milyar dalam tahun 1984. dan mekanisme pembayaran dunia. sehingga defisit neraca perdagangan mereka menjadi semakin besar. mengakibatkan defisit transaksi berjalan negara-negara industri secara keseluruhan dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami kenaikan.4 milyar dan US $ 1. dari sebesar US $ 3. sedangkan negara-negara industri lainnya seperti Jerman Barat. terpaksa menempuh kebijaksanaan devaluasi sekaligus melakukan pengambangan atas dasar sekelompok matauang asing (currency-basket) negara-negara rekan dagangnya yang utama. US $ 2.6 persen.7 milyar. seperti penentuan kuota impor. Jepang diperkirakan mengalami kenaikan surplus.0 milyar dalam tahun 1984.9 milyar dalam tahun sebelumnya. yaitu dari US $ 41. serta perkembangan yang terdapat pada lalu lintas transfer.4 milyar dalam tahun 1984. makin ketatnya pengendalian moneter. Volume impor negara-negara industri dalam tahun 1984 diperkirakan meningkat dengan 11. Melihat perkembangan transaksi berjalan negara-negara industri tersebut. menimbulkan kecenderungan makin meningkatnya tindakan proteksionisme yang dilakukan oleh negaranegara industri sebagai upaya untuk melindungi industri dalam negeri masing-masing terhadap persaingan barang-barang sejenis daTi negara lain.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Singapura dan Dollar Kanada mengalami kemerosotan nilai (depresiasi) yang cukup besar. daTi US $ 20.4 milyar dalam tahun sebelumnya.8 milyar dalam tahun 1983 menjadi sebesar US $ 2. dan tingginya tingkat suku bunga.5 milyar dari sebesar US $ 18. Sementara itu. sedangkan volume ekspornya dalam periode terse but hanya meningkat sebesar 8. Besamya defisit neraca perdagangan di satu pihak. Ketidakstabilan kurs dollar Amerika. Kecenderungan tersebut menimbulkan rangkaian akibat terhadap perkembangan perdagangan dunia dalam tahun 1984. Di lain pihak hal ini mengakibatkan beberapa negara yang sampai sekarang masih mendasarkan nilai tukar tetapnya terhadap dollar Amerika Serikat. peraturan kesehatan dan lain-lain. seperti Thailand.9 persen. persyaratan mutu. Usaha mencegah semakin besarnya defisit transaksi berjalan ke arah keseimbangan neraca pembayaran. di samping mewarnai ketidakpostian situasi moneter intemasional juga telah mengakibatkan terganggunya keseimbangan sistem moneter. dan jasa-jasa di lain pihak.2 milyar dan Dol milyar dollar Amerika. Departemen Keuangan RI 120 . tindakan penyesuaian nilai tukar matauang. yaitu menjadi US $ 52. Inggris dan Kanada diperkirakan mengalami penurunan surplus. persetujuan pembatasan ekspor. Di lain pihak defisit transaksi berjalan Perancis diperkirakan sedikit dapat diperbaiki dari US $ 3.6 milyar dalam tahun 1983 menjadi sebesar US $ 90. masing-masing menjadi sebesar US $ 3. Upaya tersebut dilakukan baik dalam bentuk kenaikan tarif maupun dalam bentuk kebijaksanaan bukan tarif.

sekalipun diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. dan kecenderungan yang terjadi pada moneter internasional. Meskipun demikian. dan sangat membatasi ekspor dari negara-negara berkembang. volume. Menghadapi situasi demikian.1 persen dalam tahun 1984. adanya sedikit peningkatan kegiatan ekonomi di pelbagai negara industri. dan negara-negara berkembang tersebut. Kesemuanya itu telah menyebabkan terganggunya keseimbangan posar. Perkembangan ini menjadikan posisi perbandingan pertukaran (terms of trade) negara-negara berkembang mengalami peningkatan dari negatif 3.0 juta barrel per hari.5 persen dalam tahun 1983 menjadi sebesar 0. dan impor di negara-negara industri. Besarnya kebutuhan dana untuk membiayai pembangunan. sedangkan di lain pihak. dan nilai ekspor maupun impor negaranegara berkembang secara keseluruhan. menyebabkan menumpuknya beban hutang negara Departemen Keuangan RI 121 . dan perbandingan pertukaran serta keadaan posaran minyak seperti yang diuraikan di atas. dalam rangka menjaga kestabilan harga minyak. serta lesunya ekspor kebanyakan negara-negara berkembang. dan mengakibatkan timbulnya penurunan harga seperti yang telah dilakukan oleh Norwegia. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam sidang daruratnya yang berlangsung dalam bulan Oktober 1984 di Jenewa. Sebaliknya negara-negara industri diperkirakan mengalami penurunan dari sebesar 2. Dengan perkembangan ekspor. Inggris dan Nigeria.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Proteksionisme dalam segala bentuknya ini merupakan penghambat bagi dayaguna (effisiensi) perdagangan antarnegara. memutuskan untuk tetap mempertahankan harga pada tingkat yang berlaku sekarang. serta berhasilnya penghematan (konservasi) energi minyak. telah mendorong harga beberapa barang primer non minyak tetap ke arab yang lebih baik. namun masih lebih rendah dad harga yang dicapai oleh kelompok barang primer non minyak. maka volume perdagangan dunia dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. sekalipun harga kelompok barang-barang industri mengalami perbaikan. Berdasarkan perkembangan barga. tetapi masih belum seperti yang diharapkan. Kesenjangan yang masih terdapat antara permintaan dan penawaran minyak dunia. dipertajam pula oleh peleposan cadangan. dan beberapa negara berkembang. juga mempermahal biaya peminjaman di berbagai pusat keuangan internasional. walaupun tidak sebaik dalam tahun 1983. dan penawaran minyak hasil produksi negaranegara di luar OPEC. di samping memperlangka dana yang dapat dipinjamkan.3 persen dalam tahun 1984. dengan jalan mengurangi produksi dari batas tertinggi 17. yang selanjutnya mengakibatkan tertekannya pertumbuhan perdagangan dunia dalam tahun 1984. dan menutup defisit neraca pembayaran.2 persen dalam tahun 1983 menjadi 0. Perkembangan perdagangan dunia.5 juta barrel menjadi sebesar 16. serta menetapkan ketentuan kuota baru bagi negara-negara anggotanya.

sehingga mereka lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman baru. yang berlangsung dalam bulan Juni 1984 di London. Dari jumlah tersebut. serta penanganan secara tuntas melalui berbagai perundingan yang sedang berlangsung. Forum perundingan dan kerjasama intemasional seperti dalam pertemuan Bank Dunia (IBRD). yang pada gilirannya telah menimbulkan masalah likuiditas perbankan internasional. dan kerjasama dalam berbagai forum internasional. baik untuk kestabilan ekonomi dunia yang lebih mantap. dan berkembang. dan moneter internasional tersebut di atas menimbulkan kesadaran akan semakin tingginya tingkat ketergantungan timbal balik. maupun Dialog Utara-Selatan. Kesadaran itu menempatkan masalah pemulihan kembali ekonomi dunia menjadi tanggung jawab bagi semua negara sehingga upaya pemecahannya memerlukan kerjasama yang sungguhsungguh. yang dirasakan sudah tidak sesuai dalam menjawab masalah. Persetujuan Umum ten tang Tarif dan Perdagangan (GATT). baik antarnegara industri. Sementara itu besarnya kewajiban pengembalian bunga maupun cicilan hutang di satu pihak. Terciptanya Tata Ekonomi Dunia Baru (TED B) merupakan kebutuhan mendesak. Keadaan ini mengakibatkan beberapa negara berkembang mengalami kesulitan dalam melunasi kembali hutang-hutangnya. Kecenderungan ini diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang. dan tantangan yang dihadapi.9 milyar di antaranya merupakan hutang negara-negara berkembang bukan pengekspor minyak. Dana Moneter Internasional (IMF). Namun demikian kenyataan saling ketergantungan antara negara-negara maju.6 milyar dalam tahun 1979 menjadi US $ 830. upaya mencari jalan keluar dari resesi ke arah pemulihan kembali ekonomi dunia secara menyeluruh. antarnegara berkembang.1 milyar dalam tahun 1984. serta turunnya ekspor di lain pihak telah menyebabkan debt-service-ratio (DSR) negara-negara terse but menjadi semakin tinggi. Dengan diawali oleh Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) tujuh negara industri terkemuka. US $ 728. dan membahayakan operasi bank-bank pemberi pinjaman. maupun antara negara industri dan negara berkembang. menjadi teramat penting sebagai sarana perjuangan bagi semua negara untuk menegakkan tatanan ekonomi dunia baru yang lebih adil. dan akan merupakan salah satu penghambat ke arah pemulihan ekonomi dunia. Hal tersebut disebabkan karena resesi yang timbul dewasa ini an tara lain bersumber dari kerawanan dan ketidakseimbangan struktural di semua aspek yang berakar pada tatanan lama.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berkembang yang meningkat secara cepat dari US $ 478. yang merupakan dasar untuk Departemen Keuangan RI 122 . Pelbagai indikator ekonomi. Konperensi Perserikatan Bangsa-bangsa dalam Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD). tuntas dan mantap terus diusahakan melalui perundingan-perundingan. maupun sebagai jawaban terhadap tuntutan keadilan sosial dalam hubungan ekonomi antarbangsa.

Dalam hubungan ini. Kerjasama ekonomi ini meliputi kegiatan-kegiatan di bidang pangan dan pertanian. pengembangan kerjasama ekonomi antarnegara berkembang (kerjasama selatan-selatan) lebih diarahkan untuk mencapai kemandirian individual. industri. Colombia dan Republik Dominika. Argentina. Usaha peningkatan kerjasama tersebut dilakukan melalui berbagai forum internasional pada tingkat bilateral dan multilateral. menurunkan tingkat suku bunga. ilmu pengetahuan dan teknologi. Bolivia. Venezuela. dan mempertahankan laju pemulihan ekonomi dunia akan tetap mengalami hambatan. Kelompok 77. Hal ini mengakibatkan kelambanan terus mewarnai berbagai negosiasi yang sudah. Sementara itu untuk memperkuat kedudukan negara-negara berkembang dalam proses pengambilan keputusan politik tentang masalah-masalah ekonomi global. dan lain sebagainya. dan lembaga-Iembaga internasional memberi kelonggaran waktu bagi negara-negara peminjam untuk membayar kembali hutangnya. dan sedang berjalan bagi terwujudnya TEDB. Colombia pada tanggal 21 sampai dengan 22 Juni 1984. KTT tidak menghasilkan kesepakatan mengenai tindakan penyelesaian terhadap masalah-masalah proteksionisme. ketrampilan teknik. kecuali komitmen politik untuk memperbaharui tekad dalam usaha mempertahankan pemulihan ekonomi agar bertambah mantap.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dialog. dan lembaga pemberi pinjaman agar memberikan kelonggaran waktu bagi pembayaran hutanghutang mereka melalui penjadwalan kembali (rescheduling). seperti gerakan Non blok. energi. yang merupakan penghambat usaha mempercepat dan mempertahankan pemulihan ekonomi dunia. dan menghapuskan kebijaksanaan yang bersifat protektif dan restriktif dalam perdagangan. Equador. Costarica. Departemen Keuangan RI 123 . perdagangan. tingkat suku bunga yang tinggi. menimbulkan dorongan kepada sebelas negara di Amerika Latin yaitu Mexico. Ini berarti bahwa lalu lint as perdagangan internasional sebagai salah satu syarat mendasar dalam meningkatkan. Dalam hubungan dengan penyelesaian hutang luar negeri negara-negara berkembang. Peru. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk mendesak negara. Organisasi Konperensi Islam (OKI). pengangkutan dan komunikasi. baik di dalam maupun di luar forum PBB. Di lain pihak upaya mencari jalan penyelesaian dari krisis hutang negara-negara "berkembang. dan bertahan lama. dan kolektif sebagai strategi perjuangan untuk mewujudkan TEDB. kelompok regional seperti ASEAN. moneter dan keuangan. Chili. Brasilia. dan defisit anggaran belanja khususnya di Amerika Serikat. dan lain sebagainya. KTT sepakat untuk mendesak agar bank-bank komersial. belum dengan sepenuh hati diikhtiarkan oleh negaranegara maju. dan kerjasama internasional. mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah hutang luar negeri mereka di Cartagena.

kekurangan likuiditas. Sedangkan negara-negara berkembang perlu pula melaksanakan penyesuaian yang efektif. Sedangkan di bidang industri. perdagangan. dan energi maupun di bidang pangan dan pertanian. Pendekatan ini juga dimaksudkan sebagai usaha untuk memberikan dorongan bagi terlaksananya negosiasi global yang masih tetap mengalami kemacetan dalam Dialog Utara-Selatan. industri. perdagangan. keuangan dan perbankan. Dalam sidang tersebut diadakan pengkajian terhadap pelbagai indikator serta masalah-masalah mendasar yang masih mewarnai situasi ekonomi dan moneter internasianal. melaksanakan kebijaksanaan harga yang fleksibel dan realistis. yang meliputi sektor-sektor pertanian. Untuk memungkinkan negara-negara Departemen Keuangan RI 124 . usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke arah pemulihan. dan memperkuat kerjasama antar negara-negara anggota ASEAN telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. mengurangi defisit anggaran belanja. telah pula diupayakan oleh Bank Dunia (IBRD) dan Dana Moneter Internasional (IMF) melalui sidang-sidangnya yang berlangsung dalam bulan September 1984. diserukan kepada negara-negara industri untuk terus melaksanakan strategi kebijaksanaan moneter yang tidak menimbulkan pengaruh inflatoir. program ini juga merupakan suatu pedoman bagi pembangunan ekonomi untuk dikembangkan pada tingkat sub-regional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai bagian dari strategi untuk menciptakan kemandirian individual dan kolektif dalam KTT terakhir di New Delhi. melakukan usaha-usaha untuk mengatasi masalah struktural dengan cara mendorong mobilitas tenaga kerja. serta gejolak kurs matauang. melalui dana pembiayaan bersama telah dibangun proyek-proyek ASEAN. seperti berbagai aspek pemulihan ekonomi dunia. serta meniadakan indeksasi dalam kontrak-kontrak. Di bidang perdagangan. Ikhtiar politik untuk secara aktif memantapkan pemulihan ekonomi dunia yang menyeluruh dan merata. Sidang berhasil mencapai kesepakatan. serta mengawasi pengeluaran Pemerintah ke arab penggunaan yang produktif. gerakan non blok telah menggariskan suatu pendekatan baru yang bertujuan untuk menanggulangi krisis ekonomi dunia dengan tindakan-tindakan darurat jangka pendek. Dalam kerangka kerjasama ekonomi regional. bahwa agar pemulihan kembali ekonomi dunia dapat bersifat tetap dan pesat. menekan defisit anggaran belanja. tingkat suku bunga. mempertahankan stabilitas dalam negeri.dan didirikan proyek-proyek industri komplementer. Pelbagai kemajuan telah dapat dicapai dalam kerjasama ekonomi tersebut. Di samping merupakan upaya merealisasikan konsep kemandirian kolektif. baik di bidang keuangan dan moneter. defisit anggaran belanja. masalah proteksi. dan beban hutang negara-negara berkembang. hasil kerjasama tersebut tercermin dalam perluasan jumlah barang yang tercakup dalam perjanjian perdagangan preferensial. regional dan global.

negara-negara industri dihimbau untuk tetap mempertahankan pertumbuhan ekonominya pada tingkat yang memadai. sidang telah menghasilkan kesepakatan untUk memberikan wewenang kepada "suatu kelompok" guna mengadakan pengkajian mengenai masalah-masalah di bidang perdagangan. Sehubungan dengan masalah hutang luar negeri negaranegara berkembang. dan melaksanakan pembangunan ekonomi negaranya. sidang menegaskan sikapnya bahwa masalah hutang luar negeri negara-negara berkembang hanya dapat diselesaikan sebaik-baiknya melalui kerjasama yang frat antara negara-negara debitur dan negara-negara kreditur. dengan tindakantindakan yang nyata untuk mencegah timbulnya proteksionisme baru. Kerjasama internasional yang ditekankan oleh IMF tersebut meliputi bidang pembiayaan bersyarat lunak (concessional financing). baik di bidang produksi maupun Departemen Keuangan RI 125 . dan mengharapkan agar IMF tetap dapat memainkan peranannya dalam pelaksanaan strategi pengelolaan hutang luar negeri secara terkoordinir. dan dikembangkan disiplin dalam sistem perdagangan intemasional kepada semua negara anggota. membuka posar bagi ekspor negara-negara berkembang. sidang menyatakan keprihatinannya. Sedangkan negara-negara debitur perlu melaksanakan kebijaksanaan penyesuaian yang mantap. serta dapat menghambat kelancaran bekerjanya sistem keuangan dan perdagangan internasional. akan dapat membahayakan proses pemulihan kembali perekonomian. Tantangan politik untuk menghentikan dan memutar balik kecenderungan ke arah proteksionisme. menjadikan pertemuan para menteri dalam GATT (Persetujuan Umum tentang Tarif dan Perdagangan) forum paling tepat dalam mengadakan perundingan terusmenerus untuk mengurangi rintangan-rintangan terhadap perdagangan. dan menyerukan perlunya ditingkatkan. serta memungkinkan seger a meningkatkan kembali pertumbuhan ekonominya. kebijaksanaan perdagangan serta pengawasan (surveillance) efektif terhadap kebijaksanaan yang ditempuh beberapa negara untuk mencegah terjadinya gejolak kurs :matauang secara tajam.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berkembang dapat membayar kembali hutang-hutang luar negerinya. Oleh sebab itu sidang menyambut baik komitmen-komitmen kearah kebijaksanaan perdagangan terbuka. Dari hasil pertemuan. dan menghapuskan kebij aksanaan -ke bij aksanaan proteksionistis. serta perlu menurunkan tingkat suku bunga. menghindari kebijaksanaan yang terlalu bersifat proteksionistis. sehingga pada akhirnya dapat memulihkan kepercayaan untuk memperoleh pinjaman (credit worthiness). Dalam hubungan ini sidang menyambut baik penjadwalan kembali pembayaran hutanghutang luar negeri untuk jangka waktu beberapa tahun. yaitu yang dapat memperkuat posisi ekonomi luar negeri mereka. Dalam hubungannya dengan proteksionisme yang masih terus berlangsung. seperti faktorfaktor penghambat proses penyesuaian struktural. karena hila hal ini tidak segera diatasi.

Di samping itu usaha peningkatan kegiatan perdagangan juga dilakukan melalui pembentukan/perbaikan instrumen-instrumen perdagangan yang ada. resiprositas dan non diskriminasi. menjadikan perlunya pengamatan dan kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menghambat pelaksanaan pembangunan. Kebijaksanaan di bidang perdagangan luar negeri Dalam tahun pertama Repelita IV. Dalam hubungan ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menjadikan Generalized System of Preferences (GSP) bukan saja sebagai "hasil sementara" akan tetapi merupakan "hasil permanen" dalam sistem perdagangan internasional. maupun lalu lintas devisa. dan menghilangkan tindakan meayimpang dari prinsip-prinsip GATT lainnya. komitmen politik negaranegara industri terhadap hasil-hasil negosiasi global. mengurangi proteksionisme. Dalam hubungan ini partisiposi yang lebih aktif dari negara-negara berkembang untuk menegakkan sistem perdagangan intemasional yang lebih adil dan seimbarlg dirasakan makin penting. Untuk meningkatkan kerjasama perdagangan internasional atas dasar keuntungan bersama. Pola perkembangan ekonomi dan moneter internasional. dalam rangka UNCTAD dikembangkan diversifikasi perdagangan antara negara-negara industri dan berkembang di satU pihak.2. 5. maka dalam rangka meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap tantangan-tantangan yang mungkin akan terjadi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perdagangan. dan menghemat penggunaannya melalui pelbagai kebijaksanaan. terutama dalam menghadapi sikap dan kecenderungan proteksionisme negara-negara industri sebagai tindakan yang menyimpang dari prinsip multilateralisme. dan transparansi sebagai prinsip dasar sistem perdagangan intemasional. guna membantu negara-negara berkembang dalam meningkatkan perdagangan internasionalnya dengan tidak mengabaikan prinsip "special and differential treatment". serta masih sulitnya dicapai kesepakatan dalam berbagai kerjasama antarnegara yang masih terus berlangsung dewasa ini. baik di bidang perdagangan luar negeri. dengan negara-negara sosialis Eropa Timur di lain pihak. untUk meningkatkan aliran sumber keuangan ke negara-negara berkembang. serta mencari upaya penyelesaian dari masalah-masalah yang belum terselesaikan dalam perundingan perdagangan multilateral (MTN). Dengan menyadari keterkaitan ekonomi Indonesia dalam hubungan ekonomi internasional. perlu ditempuh langkah-langkah untuk meningkatkan penerimaan devisa. non-diskriminasi. kebijaksanaan neraca pembayaran dan perdagangan Departemen Keuangan RI 126 . Di samping itu lembaga ini juga diminta untuk meneliti pelaksanaan prinsip-prinsip GATT.

000 barrel per hari yang berarti penerimaan dari sektor minyak agak berkurang. dan barang modal yang dibutuhkan.Kebijaksanaan di bidang ekspor Usaha mengurangi ketergantungan pacta sektor minyak terus dilaksanakan. Namun demikian sebagai akibat belum mantapnya usaha pemulihan ekonomi dunia.5 juta barrel menjadi 16 juta barrel per hari dan tetap mempertahankan harga patokan minyaknya sebesar US $ 29 per barrel. lebihlebih pada tahun 1984 di mana situasi minyak dunia semakin memburuk. maka dalam rangka mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran telah diusahakan penghematan dalam penggunaan devisa. Keadaan ini memaksa OPEC untuk mengadakan sidang di Jenewa pada tanggal 29 Oktober 1984 dengan keputusan untuk mengurangi produksinya dari 17. 5. pengendalian impor yang lebih diarahkan kepada pengembangan produksi dalam negeri. sesuai dengan sasaran investasi dalam sektor-sektor pembangunan. Dalam tahun pertama Pelita IV ini Pemerintah tetap melanjutkan kebijaksanaan ekspor sebagaimana yang tertuang dalam PP No. yang kemudian diikuti dengan diturunkannya harga minyak oleh Inggris.1 bulan Januari 1982. Serangkaian tindakan Pemerintah untuk meningkatkan ekspor di luar minyak dan gas diawali dengan kebijaksanaan ekspor yang tertuang dalam PP No.1. antara lain dengan melalui usaha diversifikasi. bahan penolong.1 tahun 1982 beserta peraturanperaturan pelaksanaannya. Di samping itu peranan ekspor barang-barang industri diusahakan pula peningkatannya. Sehubungan dengan itu untuk mengurangi ketergantungan pada hasil minyak bumi. pajak ekspor dan Departemen Keuangan RI 127 . kredit ekspor. maka peningkatan pengembangan ekspor lebih diarahkan kepada ekspor di luar minyak dan gas alam. serta pemanfaalan pinjaman dan penanaman modal luar negeri. dan adanya berbagai hambatan dalam perdagangan internasional.2. telah diambil kebijaksanaan untuk lebih meningkatkan penerimaan devisa dari hasil ekspor di luar minyak dan gas.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 luar negeri ditujukan untuk meningkatkan laju perkembangan ekspor. Norwegia dan Nigeria pada pertengahan Oktober 1984. Hal ini terjadi karena meningkatnya produksi minyak dari negara-negara di luar OPEC. Dengan penurunan produksi tersebut. seperti pemberian sertifikat ekspor. yang diupayakan melalui perluasan posar dan peningkatan clara saing barang-barang ekspor Indonesia di luar negeri. Indonesia mendapat pengurangan kuota produksi sebesar 111. peningkatan daya saing barang-barang ekspor serta perluasan pasaran di luar negeri. Mengingat situasi perminyakan yang tidak menentu tersebut. sehingga tersedia devisa untuk mendukung pembiayaan impor bahan baku. yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan devaluasi rupiah terhadap matauang dollar Amerika pada bulan Maret 1983.

kopi. meliputi berbagai macam barang yang tidak terbatas pada produk tekstil saja. Dalam pemberian fasilitas sertifikat ekspor. Malaysia dan Taiwan.mggal 1 Januari 1984 pungutan MPO ekspor atas eksportir telah dihapuskan. karet. Di bidang perpajakan. mulai t. Selanjutnya untuk memperluas pemasaran pakaian jadi. rotan. Departemen Keuangan RI 128 .0 juta. 12 perizinan di sektor perhu bungan. kelapa sawit. yang telah dilaksanakan sejak bulan Januari 1982 sampai 3 Oktober 1984. di antaranya telah dicabut 16 perizinan di bidang pengusahaan hutan. Sementara itu mum barang yang diekspor harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan dan selalu ditingkatkan. mulai tanggal 1 Juli 1984 ditetapkan setiap 12 bulan. dan jagung. serta sistem imbal beli di mana pembelian barang-barang Pemerintah dari luar negeri yang memakai dana APBN dikaitkan dengan ekspor di luar minyak dan gas. kayu gergajian. sedang sistem pembayaran yang dapat digunakan hanyalah irrevocable letter of credit. mencakup kontrak yang sudah ditandatangani dengan 21 negara sebesar US $ 937. dan 17 perizinan di sektor perdagangan. udang. sedangkan realisasinya mencapai US $ 465. Dalam ekspor produk tekstil. tetapi juga produk-produk lainnya. Sampai dengan bulan November 1984. negara yang paling besar melaksanakannya adalah Republik Federasi Jerman. lisensi ekspor. juga ditetapkan bahwa setiap eksportir barus menyerahkan bukti pembayaran iuran ekspor produk tekstil untuk mendapatkan surat keterangan asal. Begitu pula untuk refined bleached deodorized stearin dan crude stearin.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pajak ekspor tambahan. gaplek. Singapura. para eksportir diharuskan menyertakan laporan surveyor yang dikeluarkan oleh PT Sucofindo. dan surat persetujuan ekspor produk tekstil. telah dilakukan penyederhanaan perizinan yang berlaku dan penghapusan izin-izin yang dapat menghambat ekspor. Sedangkan untUk mencegah penyalahgunaan fasilitas sertifikat ekspor bagi hasil industri tekstil yang diekspor ke Hongkong. ikan tuna. serta biji nikel dan pekatannya diturunkan dari 10 persen menjadi nol persen. Di antara 21 negara tersebut. Selanjutnya tarif pajak ekspor yang dikenakan atas beberapa komoditi seperti bauksit dan pekatannya.6 juta. prosentasenya yang semula ditetapkan setiap 6 bulan. dan dari jumlah terse but baru 38 jenis barang yang sudah dilaksanakan. disusul kemudian oleh Jepang. 12 perizinan di bidang pertanian. Demikian juga mulai 1 Oktober 1984 dihapuskan pungutan langsung dari Pemerintah Daerah terhadap beberapa komoditi ekspor yaitu plywood. Sistem imbal beli. yang nilainya sarna dengan harga jual sebenamya. terdapat 2. penyederhanaan dan penyempurnaan prosedur ekspor. Mengenai prosedur ekspor. pajak ekspor tambahannya diturunkan.144 jenis barang yang sudah memperoleh tasilitas sertifikat ekspor. Untuk itu sampai dengan Agustus 1984 telah ditetapkan standar mutu untuk 165 jenis barang-barang perdagangan.

Sebagai hasilnya telah dicapai persetujuan bilateral dengan negaranegara yang tergabung dalam masyarakat ekonomi Eropa (MEE). dengan tujuan untuk lebih memantapkan peningkatan produksi udang/bandeng. kecuali dengan persetujuan Departemen Perdagangan untuk bisa mengalihkan sebagian atau seluruh kuotanya kepada eksportir lainnya. Swedia dan Amerika Serikat. dengan tujuan meningkatkan produksi udang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. dan untuk diekspor. kertas. minyak sawit dan inti sawit. sidang Menteri-menteri ASEAN ke-16 bulan Mei 1984 dalam rangka ASEAN Preferential Trading Arrangement telah menyetujui pemb_rian Departemen Keuangan RI 129 . dan peratUran pelaksanaannya. Sementara itu kegiatan ekspor beberapa jenis komoditi meliputi pupuk. di mana kuota tersebut diberikan kepada eksportir terdaftar yang secara berkala barus melaporkan kegiatan ekspomya. 3 juta potong ke Swedia dan 11 juta potong ke Amerika Serikat. diawasi karena kebutuhan di dalam negeri semakin meningkat. Pemerintah dalam tahun ini menyesuaikan kembali ketentuan ekspor tembakau. Dalam rangka memperlancar pelaksanaan. Karawang. Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai kuota ekspor produk tekstil. Kemudian dilanjutkan dengan program intensifikasi tambak musim tanam tahun 1984/1985. maka Pemerintah mulai bulan Maret 1984 menggalakkan pembudidayaan udang tambak. Dengan adanya badan ini. aspal. ban mobil. yang dikukuhkan Menteri Perdagangan pada tanggal 15 Oktober 1984. antara lain dengan mengadakan Proyek Tambak Inti Rakyat di atas tanah seluas 350 ha di desa Pusaka Jaya Utara. dan peningkatan devisa negara dari hasil ekspor udang dan bandeng. antara lain dengan mengirimkan misi-misi dagang agar memperoleh kuota yang lebih besar. Selanjutnya untuk memantapkan pemasaran tembakau di pasaran internasional. Kemudian pada tanggal 13 September 1984 juga telah dikeluarkan ketentuan mengenai pengawasan mutu kayu lapis untuk ekspor. Eksportir yang telah menerima kuota harus melaksanakan sendiri ekspomya. dan mengambil manfaat sebesar-besamya dari kuota ekspor tekstil tersebut. yang dimulai tanggal 4 Januari 1984. Dalam rangka kerjasama regional. kontrakkontrak penjualan untuk ekspor kayu lapis harns mendapat persetujuan daTi badan terse but. sehingga Indonesia memperoleh kuota ekspor sebanyak 12 juta potong ke negara MEE. telah dilakukan beberapa pendekatan dengan negara-negara tersebut. Sementara itu untuk menghindarkan persaingan yang tidak sehat di antara eksportir kayu lapis yang dapat mempengaruhi harganya. pendapatan petani tambak. besi beton. semen. maka Asosiasi Panel Kayu Indonesia telah membentuk 7 kelompok pemasaran kayu lapis sebagai Badan Pemasaran Bersama Ekspor Kayu Lapis.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 terutama ke negara-negara Eropa dan Amerika. Karena udang dipandang mempunyai potensi yang besar untuk menambah penerimaan devisa hasil ekspor.

Selain itu telah ditunjuk pula perusahaan pelayaran swasta dan Pemerintah untuk melaksanakan keagenan umum perkapalan ke negara-negara Eropa Timur.283 jenis ke negara-negala ASEAN lainnya. Swedia. Dalam hubungan. dan sebagai kelanjutannya telah dibentuk team koordinasi dalam bidang kerja sarna ekonomi dan perdagangan dengan Eropa Timur. MEE juga memberikan bantuan teknis kepada negara-negara ASEAN termasuk Indonesia. Di samping itu. Selain kerjasama dengan negara-negara ASEAN. ASEAN juga telah mengadakan hubungan kerjasama perdagangan dengan Amerika Serikat. Selain mengadakan hubungan dengan MEE. Perjanjian Karet Alam Internasional (INRA).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 preferensi tarif antara 20 persen sampai maksimum 50 persen. yang kesemuanya merupakan upaya untuk meningkatkan pemasaran barang-barang ASEAN ke negara-negara tersebut. dengan memberikan kursus-kursus untuk meningkatkan kemampuan ekspor negara-negara tersebut. Di antara barang-barang yang mendapat preferensi tersebut Indonesia dapat mengekspor 8. Di samping itu pada saat ini juga sedang dijajagi oleh Pemerintah kemungkinan untuk mengadakan hubungan dagang langsung dengan RRC tanpa melalui pihak ketiga. jepang. Cekoslowakia dan Jerman Timur. Dewan Timah Internasional (ITC). regional maupun multilateral. Indonesia sebagai negara anggota ASEAN turut memperjuangkan kepentingan-kepentingan ASEAN dalam bentuk penyampaian beberapa masalah yang berkaitan dengan adanya hambatan-hambatan di bidang tarif maupun non tarif. kedutaan Republik Indonesia setempat diberi wewenang oleh Pemerintah untuk mengeluarkan visa bagi importir-importir negara-negara tersebut yang akan melakukan penjajagan ke Indonesia. Selanjutnya dalam rangka lebih meningkatkan ekspor di luar minyak dan gas. serta berusaha untuk menghilangkan atau mengurangi hambatanhambatan yang sebelumnya terjadi. Dalam hubungan ini di samping telah diadakan pernndingan bilateral dengan negara-negara anggota MEE. telah dikirim delegasi ekonomi Indonesia ke negara-negara Uni Soviet. Perjanjian Timah Internasional (ITA). Hongaria. Untuk mempermudah hubungan dagang ini. antara lain dengan mengadakan pertemuan rutin antara pengusaha/eksportir-eksportir di dalam negeri Departemen Keuangan RI 130 . Pemerintah mengaktifkan fungsi dari atase-atase perdagangan Indonesia di luar negeri. Asosiasi Negara-negara Produsen Timah (ATPC). Sedangkan untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara Eropa Timur. Kanada. usaha meningkatkan pemasaran komoditi di luar minyak juga terus dikembangkan baik melalui kerjasama bilateral. juga terus ditingkatkan kerjasama dalam Organisasi Kopi Internasional (ICO). Australia dan New Zealand. dan Amerika Serikat di bidang tekstil. ASEAN dengan negara-negara MEE. dan organisasi-organisasi lainnya yang berhubungan dengan kerjasama perdagangan barangbarang di luar minyak.

Untuk itu dibentuk Komite Karet yang bertugas menyusun ketentuanketentuan perniagaan karet di bursa tersebut. Dengan pertemuan-pertemuan tersebut para eksportir dapat menyampaikan informasi tentang produk mereka.2. perkakas tangan. serta untuk menjaga kestabilan harga beberapa bahan pokok yang diperlukan masyarakat. seperti kacang kedele. permesinan. Di lain pihak. aluminium sheet dan fuli aluminium jenis-jenis tertentu. seperti me sin penggali (hydraulic excavator) dan wheel loader. Sedangkan untuk menjaga kestabilan harga minyak goreng di Departemen Keuangan RI 131 . dan mendorong industri dalam negeri. peralatan pertukangan. pipa besi dan produk polyvinyl chloride (PVC).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan para atase perdagangan di luar negeri. juga telah diberlakukan tari( bea masuk dan pajak penjualan impor yang baru. dan sebaliknya para atase perdagangan dapat memberikan informasi kepada eksportir tentang permintaan konsumen di luar negeri. dalam rangka memberikan perlindungan terhadap barang-barang yang telah dapat dihasilkan. serta untuk menciptakan persaingan yang sehat dan wajar antara produksi dalam negeri dengan produksi eks impor sejalan dengan usaha peningkatan penggunaan/pemakaian produksi dalam negeri. serta memperbanyak pengiriman misi-misi dagang ke luar negeri yang dipimpin langsung oleh Menteri Perdagangan. maka Pemerintah menetapkan bahwa karet merupakan komoditi pertama yang diperniagakan di bursa. Sementara itu kegiatan Bursa Komoditi yang diresmikan pada bulan Desember 1982 dalam waktu dekat akan dimulai. peralatan laboratorium. 5.Kebijaksanaan di bidang impor Kebijaksanaan di bidang impor ditujukan untuk menunjang pertumbuhan industri dalam negeri dengan memperlancar pengadaan beberapa bahan baku/penolong dan barang modal. Pemerintah telah memperluas pemberian fasilitas berupa pembebasan sebagian dan/atau seluruh bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap pemasukan bahan baku/penolong serta barang modal. serta elektro motor. dan mencukupi kebutuhan di dalam negeri. dan sekaligus menaikkan tarif bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap impor barang-barang seperti kertas untuk jenis tertentu. Demikian pula terhadap beberapa produk yang telah dapat dirakit di dalam negeri. Oleh karena sampai sekarang baru asosiasi pengusaha di bidang karet (Gapkindo) yang telah menyatakan dukungannya terhadap pemasaran karet melalui bursa. Pemerintah telah mencabut keringanan/pembebasan. Dengan demikian diharapkan barang-barang produksi Indonesia akan dapat lebih mudah masuk ke posar internasional.2. Dalam rangka lebih memberikan kepostian berusaha. Selain itu Pemerintah telah memperbanyak pusat-pusat promosi dagang di luar negeri.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam negeri pada tingkat yang dapat dijangkau oleh masyarakat. produk baja lembaran. Besarnya pungutan ditetapkan sebesar 2. Sehubungan dengan berlakunya UndangUndang Pajak Penghasilan 1984. Untuk lebih memantapkan pelaksanaan tataniaga impor produk baja lembaran dan gulungan yang digiling pada suhu rendah. Sehubungan dengan itu. dan sebesar 7. dan sekaligus sebagai importir baja lembaran dan gulungan tertentu yang digiling pada suhu rendah. barang-barang yang telah dimasukkan ke dalam kelompok produk industri hanya dapat diimpor oleh importir produsen terdaftar bagi masingmasing kelompok produksi yang diakui oleh Menteri Perdagangan. perusahaan swasta nasional dan pernsahaan dalam rangka penanaman modal. Dalam rangka memanfaatkan kapositas industri. Demikian juga terhadap impor produk aluminium dan barang logam tidak inulia. APIS atau APIT. telah diatur dalam tataniaga impor dengan menunjuk PT Tambang Timah sebagai importirnya. Guna menjamin kelancaran pengadaan bahan baku/penolong yang masih harns diimpor dari luar negeri untuk proses produksi industri dalam negeri. maka jenisnya diperluas lagi dengan menunjuk PT Krakatau Steel atau PT Tambang Timah sebagai importirnya. proyek Aromatik Plaju di Sumatera Selatan telah dilanjutkan pembangunannya sesuai dengan rencana penjadwalan kembali (rephasing). yang dapat terdiri dari pernsahaan negara. walaupun untuk memproduksi peralatan tersebut sekitar 30 persen bahan bakunya masih perlu diimpor. dan importir terdaftar. Untuk tahap pertama pembangunan proyek ini dibatasi pada perangkat hilir yang terdiri dari pabrik Pure Terepthalic Acid (PTA) Departemen Keuangan RI 132 . Adapun untuk mengurangi ketergantungan terhadap barang-barang impor. Pemerintah telah membebaskan bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap minyak goreng segala jenis yang diimpor dalam jumlah yang diatur oleh Menteri Perdagangan. dan sebagai gantinya dipungut pajak penghasilan (PPh). telah dilakukan usaha-usaha untuk mengarahkan penggunaan devisa dalam rangka menggalakkan penggunaan produksi industri di dalam negeri. Dengan pengaturan tersebut. diatur dalam tataniaga ekspor dan impor secara terpadu. Dengan demikian. gulungan dan pelat yang digiling pada suhu tinggi dan rendah. beberapa peralatan yang digunakan untuk industri perminyakan telah dapat diproduksi di dalam negeri. APIS atau APIT masing-masing dihitung dari nilai dasar impor (cif). gulungan dan pelat yang digiling pada suhu tinggi. PT Krakatau Steel atau PT Giwang Selogam ditunjuk sebagai eksportir baja lembaran.5 persen bagi impor barang yang tidak menggunakan API. Sementara itu. maka pungutan MPO atas barang-barang impor dihentikan.5 persen bagi imp or barang yang menggunakan API. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan pelaksanaan mengenai tataniaga impor barang-barang yang termasuk kelompok produk industri.

816 juta.l. dan ekspor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mencapai US $ 13. Sedangkan lalu lintas modal bersih. impor maupun lalu lintas devisa.000 ton per tahun. Perincian perkembangan neraca pembayaran dapat dilihat dalam Tabe1 V. namun dengan adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan baik di bidang ekspor. dan pemasukan modal lainnya dikurangi dengan pembayaran kembali angsuran pokok hutang luar negeri.729 juta. Dari jumlah ekspor kese1uruhan tahun 1984/1985. Sete1ah memperkirakan adanya selisih yang be1um diperhitungkan sebesar positif US $ 698 juta.367 juta dalam tahun 1983/1984 menjadi US $ 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan kapositas 150. berarti terdapat penurunan sebesar US $ 37 juta. 5.Ekspor Realisasi nilai ekspor minyak dan gas maupun bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 19.050 juta dalam tahun 1984/1985.1. Jumlah penerimaan devisa dari hasil minyak dan gas bersih. dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 1983/1984 sebesar US $ 19. Perkembangan neraca pembayaran dalam tahun 1984/1985 Walaupun berbagai hambatan telah mempengaruhi usaha pemulihan ekonomi dunia. dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mencapai sebesar US $ 3. Sedangkan ekspor bukan minyak dan gas diperkirakan mengalami kenaikan sebesar US $ 683 juta. neraca pembayaran dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mengalami surplus sebesar US $ 643 juta. Dengan deniikian realisasi transaksi berjalan dalam periode terse but diperkirakan akan mengalami defisit sebesar US $ 3.3.099 juta. nilai ekspor minyak dan gas berjumlah sebesar US $ 13. neraca pembayaran Indonesia dalam tahun 1984/1Y85 diperkirakan masih mengalami surplus walaupun tidak sebesar tahun sebe1umnya. 5. sedangkan bahan bakunya yang berupa paraxylene masih perlu diimpor. PTA akan diproses lebih lanjut menjadi polyester oleh industri hilir. yaitu jumlah pemasukan modal Pemerintah. sedangkan jumlah penge1uaran devisa untuk membiayai imp or dan jasa-jasa bukan minyak dan gas dalam periode yang sarna diperkirakan mencapai US $ 16.191 juta.345 juta.779 juta. Departemen Keuangan RI 133 . Dengan dilanjutkannya pembangunan proyek ini maka diharapkan akan lebih mendorong dan memantapkan industri sandang di dalam negeri. yaitu dari US $ 5.3.246 juta.

1 persen dibandingkan dengan nilai ekspornya dalarn periode yang sarna tahun 1983 sebesar US $ 1.3 + 103.8 22.6 10.3 77 95.8 176.7 6.1 8. Pemasnkan modal Pemerintab 1.822 -2.860 7.591 -1.8 40.397 643 281 362 + + + + + + + + + + + 86.7 16.240 987 138 2.4 + 15.613 -1.7 15 17. Jasa-jasa minyak dan gas tanpa minyak don gas 4.9 32.6 86.4 41.8 13.266 690 4.9 + + + 1975/1976 7.4 4.6 46.5 51.2 720.6 98.5 juta.765.3 72 104.6 46.6 -123.959.8 5.146 5. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 2.3 58.114 + + + + + + + + + + + + + persentase perubahan 4.8 + 16.074 461 -2.213 6. Realisasi nilai ekspor sebesar US $ 9.8 40.4 1.4 + + - 549 + 81 + 355 5 360 1973/1974 I.097 88 -1.9 32.5 122.1 24.044 384 660 -1.4 juta tersebut terdiri dari nilai ekspor minyak dan gas sebesar US $ 6. Barang. Impor.9 14 19. Transaksi berjalan minyak dan gas tanpa minyak dan gas H.479 -2.5 27.5 33.9 + 51.684 1.4 9.009 448 204 244 501 92 593 35 371 308 63 27 31 99 56 43 + + + + + + + + + + + 1970/1971 1.334. Sensih yang belum dapat diperhitungkan VIII.7 60.1 27.7 46.6 + 24.374 3.7 47.033 -5.490 6.979 8.1 18.386 854 3.1 33.135 2.3 20.barang don jasa.507 7.9 75.295 606 689 756 641 -1.1 8.6 4. dan nilai ekspor di luar rninyak dan gas sebesar US $ 2.6 43.977.4 10.8 juta.3 95.905 + -3.613 1.5 + + + + + 1971/1972 1.6 12.353 3.097 -1.8 juta. berarti nilai ekspor rninyak dan gas tersebut rnengalami kenaikan sebesar 13.3 17.651 159 -1. Peningkatan tersebut tidak terlepos dari adanya perbaikan dalarn perekonornian dunia.9 15.5 + + + 1976/1977 9.353 7.barang don jasa.9 20. yang pada gilirannya Departemen Keuangan RI 134 .3 48. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 2.3 14.100. Ekspor.2 13 8.208 94 2. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 3.776 660 180 480 131 89 302 311 9 + + + + + + + + + + + + + + persentase perubahan 98.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel V.1 juta atau 18. Lain lintas moneter + + 1. Transaksi berjalan minyak dan gas tanpa minyak dan gas H.074 461 -2.8 0.753 -5.001 + + + + + + + + + + + + + persentase pernbahan 28.6 + 15.1 53.7 17.7 2.710 -4.4 22. 1969/1970 .3 + 0.205 -1.711 6.9 juta.2 189.418 2.443 1.075 77 11 353 364 + + + + + + + + + + + - persentase perubaban 0.2 + persentase 1973/1974 perubahan 3.9 9.1 33.102 94 -1.7 17 + + + + + + + + + + - + + + + + + + + + + + + + + + + + 15.921 -1.7 26. Barang.7 15.6 6. Pembayaranhntang pokok VI.937.6 29.409 930 -4.2 16.2 66 + + + + + + + + + + 1972/1973 1. Jumlah I sId V VII.5 7.5 6. Impor.4 juta.5 + 6.9 24.100.4 149.1 22. Pemasnkan modal Pemerintab 1.949 + + + + + + + + + + + + + 17.6 + - 176 + 761 + 831 180 651 363.9 13.7 65.116 574 254 320 448 204 652 30 400 286 114 190 78 94 6 100 + + + + + + + + + + + + + + + + + + persentase perubaban 14.153 2.010 5.5 8.7 7.5 98. Peningkatan ini terjadi antara lain karena adanya peningkatan yang cukup besar dalarn ekspor gas alarn cairo Nilai ekspor di luar rninyak dan gas selarna periode April-Agustus 1984 tersebut berarti rneningkat sebesar US $ 357.9 300. Pembayaranhntang pokok VI.955 802 3. yaitu dari sebesar US $ 7.5 0.445 5.1 17.1984/1985 ( dalam jutaan US $ ) 1969/1970 I.8 0.138 -3.995 74 1.7 311.8 + + + + + + + persentase 1977/1978 perubahan 10.873 -5.3 7.653 2.9 15.2 40.1 18.2 36. Jumlah I sId V VII.3 2.6 13.676 38 166 893 108 -1. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 3.732 4. Jasa-jasa minyak dan gas tanpa minyak don gas 4.7 + + + + + + + + + + + 325. Bantuan program 2.6 88. Bila dibandingkan dengan realisasinya selarna periode April-Agustus 1983 sebesar US $5.186 5.6 juta rnenjadi sebesar US $9.9 57.1 6.512 1.173 1.l NERACA PEMBAYARAN.412 1.2 3 13.4 52.992 1.9 15.6 35. Bantnan prorok dan lain-lain IV.6 59.4 518.155 4.008 490 214 276 388 135 523 28 369 283 86 115 47 77 95 18 + + + + + + + + + + + persentase perubahan 15.8 202.248 132 -1.613 + 1.165 64 2.5 21 9.8 20 0.376 3.3 81.5 9. Bantnan prorok dan lain-lain IV.9 6.jasa 1.3 13. Sensih yang belum dapat diperhitungkan VIII.273 1.275 -3.6 + + - 152.227 -1.3 + 15.420 -2.374 590 784 -1.638 -2.9 201. 708 + 1.204 443 761 -1.350 2.8 19 43.939 965 974 -1. Lain lintas modallainnya V.866 1.1 36. S D R HI.842 887 -1.905 -3.397 643 281 362 549 81 355 5 360 + + + 1974/1975 7.jasa 1.5 persen.5 + 115.2 60.6 2.6 65. Ekspor.7 14.1 32.4 67.863 -7.492 845 407 438 557 399 956 481 336 145 480 66 338 87 425 + + + + + + + + + + + + + + + + persentase pernbahan 41.295 606 689 756 641 -1.1 63. Lain lintas moneter + + + 3.106 157 1.708 1.7 11. S D R HI.1 9. Bantuan program 2.3 16.6 20.065 1.3 35.8 1978/1979 + + + 11.2 32.2 + 358.6 46. Lain lintas modallainnya V.613 -1.4 + - 392 + 632 877 169 708 Realisasi nilai ekspor secara kese1uruhan dalam periode April-Agustus 1984 menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan realisasi nilai ekspor dalam periode yang sama tahun 1983.823 147 1.

Kenaikan harga ini timbul karena adanya pembelian secara besar-besaran yang berlangsung setelah tersiar kabar kemungkinan rusaknya panen kopi Brazil tahun 1985 akibat hawa beku yang akan melanda negara tersebut.9 juta. Sebaliknya nilai ekspor tirnah yang dalam lima bulan pertama tahun 1984/1985 berjumlah sebesar US $ 103.4 juta. Menurunnya ekspor minyak sawit ini disebabkan oleh karena adanya pembatasan ekspor untuk memenuhi kebutuhan dalarn negeri. ekspor kayu dalarn periode April-Agustus 1984 rnencapai nilai sebesar US $ 438. Sedangkan nilai ekspor biji sawit yang mencapai sebesar US $0. Sebagai salah satu komoditi dalarn kelornpok barang utama.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rneningkatkan perrnintaan negara-negara industri terhadap barang-barang ekspor negara berkernbang.6 juta. Tirnur Tengah.8 juta untuk periode April-Agustus 1983.4 juta. rnenjadi sebesar US $ 9. yang berarti US $ 7. menunjukkan adanya penurunan sebesar US $ 30. Kenaikan tersebut terjadi selain disebabkan oleh kenaikan harga kopi di posar internasional. sehingga pemakaian timah berkurang. dalam periode yang sama tahun 1984/1985 meningkat menjadi US $ 233. Penurunan ini disebabkan oleh rnenurunnya harga kayu.8 juta dalarn periode yang sama tahun 1984.6 juta. dalam periode yang sarna tahun 1984 menunjukkan peningkatan rnenjadi sebesar US $ 373.2 juta lebih rendah dari nilai ekspor pada periode yang sarna tahun sebelurnnya sebesar US $ 445.nilai ekspor kopi yang pada lima bulan pertama tahun 1983/1984 mencapai US $ 203.4 juta. meskipun harganya di posar internasional mulai rnembaik. Penurunan ini terjadi karena meskipun harga naik tetapi volume ekspornya menurun sebagai akibat pembatasan ekspor timah oleh Dewan Timah Internasional.8 juta bila dibandingkan dengan nilai ekspornya dalam periode yang sama tahun 1983/1984 yang berjumlah sebesar US $ 134.2 juta dalarn periode April-Agustus 1983. serta berkurangnya penawaran kopi robusta dari Departemen Keuangan RI 135 . dalam periode 1984 belum ada realisasinya. diantaranya ke beberapa negara Asia. Demikian pula nilai ekspor minyak sawit telah menurun dari sebesar US $40. dan perrnintaan dari Jepang karena meningkatnya kebutuhan untuk mermnuhi pesanan dari luar negeri. juga disebabkan oleh naiknya kuota ekspor kopi. dan adanya penggunaan bahan-bahan lain pengganti timah. Meningkatnya nilai ekspor ini disebabkan oleh rneningkatnya perrnintaan Amerika Serikat akan karet alam untuk rnenambah cadangan strategisnya.4 juta. rneskipun pernasanin kayu lapis ke beberapa negara sernakin rneningkat. terrnasuk dari Indonesia. meskipun dalarn periode tersebut harga karet rnengalarni penurunan. Ekspor karet yang dalarn periode April-Agustus 1983 realisasinya mencapai US $ 343.7 juta. Eropa dan Arnerika Serikat. karena ada penundaan dalarn pelaksanaan ekspornya. Sebaliknya .

6 juta. Demikian pula nilai ekspor lain-lain meningkat dalam periode yang sarna dad sebesar US $ 378.g dan lain-lain.5 juta atau US $ 338. bungkil kopra. nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 12.2 juta.169 juta. sehingga menjadi sebesar US $ 270. termasuk tekstil dan pakaian jadi. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya nilai ekspor komoditi lada.0 juta lebih tinggi hila dibandingkan dengan nilai ekspornya dalam periode yang sarna tahun 1983/1984 sebesar US $ 729. Meningkatnya nilai ekspor barang tambang ini disebabkan oleh meningkatnya ekspor aluminium dan tembaga. Berkaitan dengan itu.067.7 persen) lebih Departemen Keuangan RI 136 . selama lima bulan pertama 1984/1985 mencapai nilai ekspor sebesar US $ 1. dalam jangka waktu yang sarna tahun 1984/1985 meningkat masing-masing menjadi sebesar US $ 22.5 juta. Sementara itu nilai impor minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 3.7 juta. Adapun barang lainnya seperti hewan dan hasilnya. yang disebabkan an tara lain oleh meningkatnya ekspor kerajinan tangan termasuk pakaian jadi.269 juta.1 juta untuk tahun 1984.489 juta. yang berarti US$ 646 juta atau 5. Impor Rangkaian kebijaksanaan di bidang impor yang telah dan sedang dilaksanakan dalam beberapa periode ini banyak mempengaruhi perkembangan impor dalam tahun 1984/1985.6 juta atau US $ 320 juta (6.p. kalau dalam lima bulan pertama tahun 1983/1984 masing-masing berjumlah sebesar US $ 17. yang berarti mengalami penurunan sebesar US $ 220 juta bila dibandingkan dengan realisasi nilai impor minyak dan gas pacta tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 3.0 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan realisasi nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1983/1984 yang berjumlah sebesar US $ 12. bahan makanan. Penurunan ini terutama disebabkan karena menurunnya impor peralatan untuk keperluan eksplorasi minyak sejalan dengan telah dapat diproduksinya beberapa perala tan pengeboran minyak oleh industri dalam negeri.3 juta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pantai Gading. realisasi impor bukan minyak dan gas dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 4. barang tambang.7 juta dan US $ 50. dalam periode yang sarna tahun 1984 meningkat sebesar US $ 94. barang tamba. menjadi US $ 626. 5. Dilihat dari golongan barangnya. Selanjutnya barang tambang yang dalam periode April-Agustus 1983 nilai ekspornya sebesar US $ 175.2 juta. Lebih rendahnya nilai impor tersebut terutama disebabkan karena menurunnya impor yang dilakukan dalam rangka bantuan proyek.815 juta. semen dan alat-alat listrik. lada.4 juta dan US $ 34. Nilai ekspor lada dan bahan makanan termasuk tapioka.3.2. bahan makanan.6 juta dalam tahun 1983. dan lain-Iainnya termasuk kerajinan tangan dan pakaian jadi.427.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

rendah hila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun 1983 yaitu sebesar US $ 4.747,6 juta. Lebih rendahnya nilai impor tersebut terjadi alas imp or semua golongan barang, baik barang konsumsi, bahan baku/penolong maupun barang modal. Sementara nilai impor kelompok barang konsumsi dalam tahun 1984 berjumlah sebesar US $314,6 juta. Hal ini berarti terdapat penurunan sebesar US $ 60,3 juta atau sebesar 16,1 persen hila dibandingkan dengan nilai impornya dalam periode yang sarna tahun 1;183 sebesar US $374,9 juta. Penurunan nilai impor ini terjadi alas impor hampir semua jenis barang konsumsi, dan telah menyebabkan menurunnya peranan impor barang konsumsi terhadap nilai impor bukan minyak dan gas secara keseluruhan dari 7,9 persen menjadi 7,1 persen. Selanjutnya realisasi impor bahan baku/penolong dalam periode April-Agustus 1984 juga menunjukkan adanya penurunan bila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sama tahun sebelumnya. Apabila realisasi nilai impor bahan baku/penolong dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 2.168,0 juta, dalam periode yang sama tahun 1983 realisasi impornya berjumlah sebesar US $ 2.258,5 juta. Hal ini berarti lebih rendah sebesar US $ 90,5 juta, atau sebesar 4,0 persen. Lebih rendahnya nilai impor tersebut disebabkan karena menurunnya impor bahan kimia, bahan obat-obatan, pupuk, bahan-bahan kertas, bahan bangunan serta semen, kapur, dan bahan bangunan buatan pabrik lainnya. Namun demikian apabila dilihat dari peranan impor bahan baku/penolong terhadap impor bukan minyak dan gas seC(I,ra keseluruhan, persentasenya mengalami peningkatan dari 47,6 persen dalam periode April-Agustus 1983, menjadi sebesar 49,0 persen dalam periode yang sarna tahun 1984. Adapun realisasi nilai impor barang modal dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 1.945,0 juta. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun 1983 yang berjumlah sebesar US $ 2.114,2 juta, berarti telah terjadi penurunan sebesar US $ 169,2 juta atau 8,0 persen. Penurunan ini terjadi pacta impor mesin-mesin, generator listrik, peralatan listrik dan lainnya. Penurunan dalam realisasi nilai impor ini telah mengakibatkan pula menurunnya persentase impor kelompok barang modal terhadap realisasi nilai impor bukan minyak dan gas secara keseluruhan, yaitu dari sebesar 44,5 persen dalam periode April-Agustus 1983, menjadi sebesar 43,9 persen dalam periode yang sarna tahun 1984. Gambaran yang terperinci mengenai impor bukan minyak dan gas dapat diikuti dalam Tabel V.3.

Departemen Keuangan RI

137

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986
Tabel V.3 NILAI IMPOR TANPA MINY AK DAN GAS MENURUT GOLONGAN BARANG, 1969/1970 - 1984/1985 (df, dalam jutaan US $) persentase persentase persentase persentase persentase Jenis barang 1969/1970 dari 1970/1971 dari 1971/1972 dari 1972/1973 dari 1973/1974 dari jumlah jumlah jumlah jumlah jumlah I. Barang konsumsi 180,7 22,1 178,1 17,7 157 13,2 293,7 16,2 544,1 18,9 1. Beras 46,9 44,1 27,3 132,6 367,8 2. Tekstil 28,3 16 11,9 23 13,2 3. Susu, makanan, minuman dan buah - buahan 23,7 34 31,9 22,3 48,6 4. Tembakau daD olahannya 7,3 1,8 2,6 4,1 6,3 1 1,4 1,7 3,5 7,7 5. Sabun dan kosmetik 6. Alat-alat rumah tangga 10,9 12,3 15,8 6,7 24,6 7. Lainnya 62,6 68,5 65,8 101,5 75,9 ll. Bahan baku/penolong 399,7 48,8 475,6 47,3 562,3 47,3 790,4 43,7 1.257,90 43,7 1. Bahan kimia 60,3 69,6 80 115,2 171 2. Bahan obat-obatan 12,9 14,3 13,6 18,8 31,6 27,6 19,5 35,2 46,2 68,8 3. Pupuk 4. Bahan-bahan kertas 21,3 26,9 25,2 30,1 53,3 5. Benang tenun 54,3 55,3 56,5 106,2 206,5 6. Semen. kapur dan bahan bangunan buatan pabrik 11,3 13,8 18,2 25,8 46,5 7. Besi baja dan logam 61,5 72,6 113,2 186,6 351,4 1,3 1,2 1,1 19 78,3 8. Bahan-bahan karet dan plastik 9. Bahan bangunan 6,1 10,8 16,3 25,7 56 10. Alat-alat listrlk 1 1,2 ' 0,9 5,7 23 11. Lainnya 142,1 190,4 202,1 211,1 171;5 III.Barang modal 238,7 29,1 352,6 35 470,6 39,5 724,5 40,1 1.079,00 37,4 1. Mesin-mesin 115,8 183,8 247,8 373,2 588,4 5,3 7,6 10,9 31,9 87,1 2. Generator listrik 3. Alat telekomunikasi 16,9 19,2 21 32,4 46,9 7,2 11 12,3 16,4 31,3 4. Peralatan listrik 5. Alat pengangkutan 44,7 62,9 81,4 141,2 301,3 6. Lainnya 48,8 68,1 97,2 129,4 24 Jumlah 819,1 100 1.006,30 100 1.189,90 100 1.808,60 100 2.881,00 100

Jenis barang I. Barang konsumsi 1. Beras 2. Tekstil 3. SolO, makanan, minuman dan buah-buahan 4. Tembakau dan olahannya 5. Sabun dan kosmetik 6. Alat-alat rumah tangga 7. Lainnya n. Bahan bakufpenolong 1. Bahan kimia 2. Bahan obat-obatan 3. Pupuk 4. Bahan-bahan kertas 5. Benang tenon 6. Semen, kapur dan bahan bangunan buatan pabrik 7. Besi baja dan logam 8. Bahan-bahan karet dan plastik 9. Bahan bangunan 10. Alat-alat listrik 11. Lcinnya ill.Barang modal 1. Mesin-mesin 2. Generator listrik 3. Alat telekomunikasi 4. Peralatan listrik 5. Alat pengangkutan 6. Lainnya Jumlah

1974/1975

persentase persentase persentase persentase persentase dari 1975/1976 1976/1977 dari 1977/1978 dari 1978/1979 dari dari jumJah jum1ah jum1ah jumJah jum1ah 659 16,9 519 831,2 15,3 1.176,40 21,3 1.202,90 19,5 11,8 426,8 234,7 408,4 677,7 592,3 15,9 13,5 21,6 26,6 23,9 130,7 7,9 8,6 27,8 95,8 2.151,10 273,4 33 316,5 70,7 254,2 61,9 585,2 128,9 111 62,7 253,6 1.730,10 804,9 167,2 122 61,7 530,4 43,9 4.400,20 173,4 13,5 17,1 42,5 154,7 2.156,40 332,3 45,4 22,1 109,6 307,8 60,4 587,7 165,4 165,7 97,6 262,4 2.453,60 1.125,80 264,2 355,4 131,2 531,5 45,5 5.441,20 238,1 15,3 19,5 43,5 155,8 2.185,10 392,5 42,1 31,9 117,2 322,5 29,4 597,4 175,3 155,4 84,2 237,2 2.152,90 944,7 203,2 200,9 125,3 615,8 63 5.514,40 256,1 16 20,5 56,9 237,2 2.616,10 461,9 48,3 55,2 123,2 293,3 23,7 760,4 223,5 115,7 90,3 420,6 2.335,40 1.113,10 187,2 122,5 134,1 734,6 43,9 6.154,40

77,7 11,6 7,4 31,9 87,7 1.816,00 239,9 33,8 305,6 58,9 229,5 76,2 467,8 99,9 77,4 38,4 188,6 1.430,40 738,7 141 60,7 45,3 415,2 29,5 3.905,40

46,5

48,9

39,6

39,6

42,5

36,6

39,3

45,1

39,1

38

100

100

100

100

100

Berdasarkan PPUD yang diolah Biro Pusat Statistik

5.3.3.Pengeluaran jasa-jasa (netto) Usaha-usaha meningkatkan penerimaan devisa dan penghematan penggunaan devisa dalam bidang jasa-jasa terus digalakkan. Berkaitan dengan itu, fasilitas bebas visa selama dua bulan yang telah diberikan sejak 1 April 1983 kepada wisatawan dari 26 negara, mulai 1 September 1984 juga diberikan kepada para pengusaha dari negara-negara tersebut, bahkan telah ditambah dua negara lagi sehingga meliputi 28 negara. Demikian pula pembangunan
Departemen Keuangan RI

138

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

industri dan sarana pariwisata dirangsang dengan memberikan keringanan bea masuk dan pajak penjualan impor atas barang-barang tertentu yang masih dibutuhkan dan belum dihasilkan di dalam negeri. Sementara itu kebijaksanaan pengiriman tenaga kerja Indonesiake luar negeri (Timur Tengah) terus digalakkan, dengan harapan dapat menambah penerimaan devisa yang berasal dari uang kiriman para tenaga kerja ke tanah air (remittance). Pengendalian tata pelaksanaan pengerahan tenaga kerja dewasa ini mencakup juga penentuan upah terendah, dan kewajiban mentransfer paling sedikit lima puluh persen penghasilan yang diterima. Selanjutnya usaha penghematan penggunaan devisa di bidang jasa-jasa dilaksanakan dengan tetap menerapkan bea fiskal perjalanan luar negeri sebesar Rp 150.000,- bagi setiap orang yang bepergian ke luar negeri. Pengeluaran devisa untuk jasa-jasa setelah dikurangi dengan penerimaan devisa dari jasa-jasa, baik minyak dan gas maupun di luar minyak dan gas, dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 7.587 juta. Jumlah ini berarti lebih rendah sebesar US $ 76 juta hila dibandingkan dengan realisasinya dalam tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 7.663 juta. Perkiraan penge1uaran devisa untuk jasa-jasa tersebut terdiri dari pengeluaran jasa-jasa bukan minyak dan gas sebesar US $ 4.176 juta, yang berarti lebih tinggi sebesar US $ 102 juta atau 2,5 persen hila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 4.074 juta. Lebih tingginya pengeluaran jasa-jasa tersebut terutama disebabkan karena meningkatnya pembayaran bunga pinjaman luar negeri. Di lain pihak pengeluaran jasa-jasa minyak (termasuk LNG) menunjukkan penurnnan sebesar US$ 178 juta atau sebesar 5,0 persen, yaitu dari US $ 3.589 jut3 dalam tahun 1983/1984 menjadi US $ 3.411 juta dalam tahun 1984/1985. 5.3.4. Lalu lintas modal dan transfer Dengan semakin meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan terbatasnya penerimaan devisa yang dapat dihimpun, pemasukan modal baik dalam bentuk pemasukan modal Pemerintah maupun modallainnya tetap diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran, dan kelangsungan pembangunan ekonomi nasional. Namun demikian sikap berhati-hati dalam meminjam, dan selektif dalam pemilihan proyek-proyek yang dibiayai dari dana luar negeri tersebut lebih diperhatikan, sehingga penggunaannya dapat meningkatkan kemampuan pengembangan industri dalam negeri, dan mendorong perluasan lapangan kerja, serta pacta akhirnya tidak akan menyulitkan posisi neraca pembayaran dimasa yang akan datang. Sehubungan dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut, lalu lintas modal, yang merupakan hasil bersih pemasukan modal Pemerintah dan pemasukan modal lainnya setelah dikurangi dengan pembayaran angsuran pokok hutang luar negeri, dalam tahun 1984/1985
Departemen Keuangan RI

139

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

diperkirakan berjumlah sebesar US $ 3.191 juta. Jumlah tersebut terdiri dari pemasukan modal Pemerintah sebesar US $ 4.359 juta, dan pemasukan modallainnya sebesar US $ 341 juta. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 1983/1984, masing-masing menurun sebesar US $ 1.434 juta atau 24,8 persen, dan sebesar US $ 850 juta atau 71,4 persen. Sedangkan realisasi pelunasan hutang pokok luar negeri dalam tahun 1984/1985 diperkirakan meningkat dari tahun sebelumnya sehingga mencapai jumlah sebesar US $ 1.509 juta. Peningkatan terse but adalah sejalan dengan semakin bertambah besarnya kewajiban penyelesaian hutang dari tahun-tahun sebelumnya yang telah jatuh tempo. 5.4. Perkiraan neraca pembayaran dalam tahun 1985/1986 Atas dasar perkiraan realisasi dalam tahun 1984/1985, dan dengan memperhitungkan perkembangan yang diperkirakan akan terjadi baik terhadap ekspor, impor maupun lalu lintas modal dalam periode berikutnya, neraca pembayaran Indonesia dalam tahun 1985/1986 diperkirakan masih akan mengalami surplus meskipun tidak sebesar dalam tahun 1984/1985. Keadaan ini diperkirakan terjadi karena di satu pihak realisasi transaksi berjalan diperkirakan akan mengalami defisit sebesar US $ 3.409 juta, dan di lain pihak lalu lintas modal bersih, baik yang berasal. dari pemasukan modal Pemerintah maupun pemasukan modal lainnya, setelah dikurangi angsuran pokok hutang luar negeri, dalam periode tersebut mencapai US $ 3.682 juta. Dengan demikian neraca pembayaran tahun 1985/1986 diperkirakan surplus sebesar US $ 273 juta. 5.4.1. Perkiraan nilai ekspor bukan minyak dan gas Kalau dalam tahun 1984/1985 nilai ekspor di luar minyak dan gas realisasinya diperkirakan mencapai US $ 6.050 juta, maka dalam tahun 1985/1986 nilai ekspornya diperkirakan mencapai sebesar US $ 7.009 juta, yang berarti meningkat sebesar. US $ 959 juta atau 15,9 persen. Adapun perkiraan kenaikan nilai ekspor di luar minyak dan gas terse but didasarkan pacta pertimbangan-pertimbangan : (1) Mulai pulihnya perekonomian negara-negara industri dari pengaruh resesi, sehingga harga-harga komoditi di luar minyak dan gas di posaran internasional diharapkan akan meningkat, disertai dengan meningkatnya permintaan negara-negara tersebut terhadap komoditi di luar minyak dan gas; (2) (3) Penanganan ekspor komoditi di luar minyak dan gas secara terpadu dan efisien; Ditingkatkannya usaha perluasan posar antara lain dengan' mengadakan hubungan dagang dengan negara-negara Eropa Timur.
Departemen Keuangan RI

140

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

5.4.2. Perkiraan nilai impor bukan minyak dan gas Pengduaran devisa untuk impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1985/1986 diperkirakan akan berjumlah sebesar US $ 13.342 juta. Jumlah ini adalah US $ 1.173 juta atau 9,6 persen lebih besar bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 sebesar US $ 12.169 juta. Nilai impor bukan minyak dan gas tahun 1985/1986 didasarkan atas perkiraan-perkiraan sebagai berikut : (1) Kebijaksanaan kurs devisa untuk menjaga keseimbangan perdagangan luar negeri masih tetap dipertahankan. (2) Keadaan resesi ekonomi dunia yang menunjukkan pemulihan akan mempengarnhi perekonomian Indonesia khususnya di bidang produksi industri dalam negeri, sehingga untuk keperluan industri dalam negeri t_rsebut diperlukan impor bahan baku/penolong serta barang modal yang lebih tinggi. (3) Pemerintah masih tetap menjaga kestabilan harga barang-barang kebutuhan masyarakat sehingga terhadap barang yang belum mencukupi atau belum diproduksi di dalam tetap dilakukan impor. (4) (5) (6) Pemakaian produksi dalam negeri terus digalakkan. Impor dalam rangka bantuan proyek dan bantuan program masih tetap diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Kebijaksanaan penjadwalan kembali (rephasing) yang telah dilaksanakan untuk proyek proyek tertentu yang banyak menggunakan barang-barang impor masih tetap dipertahankan. 5.4.3.Perkiraan penerimaan minyak bersih termasuk LNG Situasi posaran minyak dunia sampai saat ini belum memperlihatkan tanda-tanda perbaikan seperti yang diharapkan. Situasi yang demikian ini sangat frat hubungannya dengan proses pemulihan ekonomi yang berjalan lamban, sehingga adanya kelebihan produksi minyak dunia tidak segera diikuti oleh penambahan permintaannya. Di samping itu harga minyak tunai (spot) diposaran dunia terus mengalami posang surut bersamaan dengan posang surntnya pemulihan perekonomian dunia, terntama di negara-negara industri, perubahan musim di belahan bumi non tropis, serta peleposan/penambahan cadangan (stock) minyak oleh negaranegara industri. Situasi yang demikian itu telah memaksa OPEC mengambil keputusan untuk memperbaiki situasi minyak yang ternyata sampai akhir tahun 1984 belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Bahkan sesuai dengan hasil pertemuan OPEC bulan Oktober 1984 telah diputuskan bahwa kuota produksi diturunkan dari 17,5 juta barrel menjadi 16 juta barrel per
Departemen Keuangan RI

negeri

141

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

hari, sedangkan harga patokan minyak mentah masih tetap dipertahankan sebesar US $ 29 per barrel. Dengan adanya ketentuan kuota produksi minyak tersebut, maka kuota produksi minyak Indonesia harns diturunkan sebanyak 111.000 barrel per hari selama bulan November dan Desember 1984. Sementara itu dengan telah diproduksinya beberapa peralatan pengeboran minyak oleh industri dalam negeri, maka akan mempengaruhi penghematan penggunaan devisa untuk impor di sektor minyak. Di lain pihak devisa hasil ekspor gas alam yang dicairkan (LNG) diperkirakan akan mengalami peningkatan dalam tahun 1985/1986. Atas dasar perkiraan realisasi penerimaan minyak bersih termasuk LNG dalam tahun 1984/1985, serta perkiraan situasi pasaran minyak dunia yang akan terjadi, maka dalam tahun 1985/1986 penerimaan minyak bersih (termasuk LNG) diperkirakan berjumlah sebesar US $ 7.299 juta. 5.4.4. Perkiraan pos lainnya Pengeluaran devisa untuk pembayaran jasa-jasa. dalam tahun 1985/1986 diperkirakan masih akan lebih besar dari penerimaannya, sehingga sektor jasa masih menunjukkan hasil bersih yang negatif bagi penerimaan devisa negara. Sehubungan dengan itu, usaba peningkatan penerimaan devisa, dan penghematan penggunaannya di bidang jasa-jasa akan terus dilakukan melalui pengembangan sektor kepariwisataan, pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, pembatasan perjalanan ke luar negeri, pengurangan secara bertahap penggunaan tenaga kerja asing/konsultan di Indonesia, serta peningkatan peranan armada niaga nasional dalam pengangkutan barang ekspor dan impor. Dalam tahun 1985/1986 hasil bersih untuk jasa-jasa diperkirakan berjumlah sebesar US $ 8.102 juta. Selanjutnya pemasukan modal Pemerintah dalam tahun 1985/1986 diperkirakan akan berjumlah sebesar US $ 4.974 juta, termasuk bantuan proyek sebesar US $ 4.016 juta. Sedangkan pemasukan modallainnya diperkirakan akan mencapai sebesar US $ 406 juta. Di lain pihak, pembayaran kembali hutang pokok luar negeri dalam tahun 1985/1986 diperkirakan sebesar US $ 1.698 juta.

Departemen Keuangan RI

142

Sedangkan apabila diukur atas dasar harga konstan tahun 1973. Perkembangan pendapatan nasional menurut lapangan usaha dan kontribusinya Hasil pembangunan ekonomi antara lain dicerminkan dari pendapatan nasional yang senantiasa meningkat dalarn kurun waktu 14 tahun terakhir ini.tural yang penting.0 milyar menjadi sebesar Rp 71.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VI PENDAPATAN NASIONAL 6. Di samping telah dicapainya penmgkatan produk domestik bruto dari tahun ke tahun. yaitu dari periode tahun 1969 sampai dengan tahun 1983.2 persen per tahun (Tabel VI. serta sektor listrik.214. Berdasarkan harga yang berlaku.2 persen per tahun.718. maka dalarn periode tersebut telah terjadi kenaikan rata-rata sebesar 7. lembaga keuangan dan jasa lainnya. yakni sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur melalui produk domestik bruto atas dasar harga yang berlaku telah berhasil ditingkatkan dengan rata-rata sebesar 26. Departemen Keuangan RI 143 . yaitu ke arab suatu perekonomian industri yang didukung oleh sektor pertanian yang tangguh. Keadaan tersebut merupakan suatu petunjuk terjadinya suatu proses keseimbangan yang lebih baik dalam struktur ekonomi. sektor perdagangan. di satu pihak peranan sektor pertanian menurun sedangkan di lain pihak peranan sektor lainnya seperti sektor industri. Tanpa mengabaikan usaha pemerataan dan kestabilan.2.2 persen per tahun. yang pada gilirannya memungkinkan terwujudnya peningkatan tarat hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat. gas dan air minum telah semakin meningkat. produk domestik bruto atas dasar harga yang berlaku mengalami kenaikan rata-rata sebesar 26. Dalam kurun waktu 14 tahun. telah terjadi pula perubahan struJ<:. Hal ini berarti bahwa selama kurun waktu tersebut. pendapatan nasional sebagaimana tercermin dari perkembangan nilai produk domestik bruto dari tahun 1969 sarnpai dengan tahun 1983 telah menunjukkan jumlah yang semakin besar. 6.7 milyar. Indonesia sejak tahun 1969 dengan giat melaksanakan pembangunan nasional secara berencana dan bertahap serta berpegang teguh pada kebijaksanaan Trilogi Pembangunan. sektor bangunan.1.1). pembangunan nasional mengusahakan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. yakni dari sebssar Rp 2. Pendahuluan Sebagai suatu negara yang sedang berkembang.

90 4.20 17.00 1972 1.137.80 3. Perdagangan.877.707.40 1.90 1.3 384.441.047.339.00 890 52 406 442 3.6 1.40 118.753.424.20 1981 3.90 1. dan air minum 5.943. Departemen Keuangan RI 144 .6 2.538.20 12.00 5.351.60 5.642.7 2.50 11.80 2.182.70 69.103.40 1974 2.70 1.70 11.50 9.3 3.247.30 1l.00 21.395.816.20 2.30 68.90 2.771.678.90 10.842. Perkembangan secara lebih terperinci dapat diikuti pada Tabel VI.00 831 650 30.1 30.115.00 1.427.414.20 1.714.669.80 1.50 1979 3.2 Setelah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah dalam tahun 1982 yakni sebesar 2.755.245.995.70 1.882.070.5 752. industri pengolahan 4.00 305. antara lain sektor pertanian sebesar Rp 3.3 1.892. juga karena adanya kebangkitan kembali ekonomi dunia.356.9 41.00 831 650 30. Pengangkutan don komunikasi 7.710.9 528.287.6 114 158 1.325.10 2.031.00 962 613 173 293 15 100 96 986 1971 1.6 562.20 12. Sebagaimana terlihat pada Tabel VI.357.979.00 1.375.3 609.80 1.1983 (dalam milyar rupiah atas dasar harga yang berlaku) 1974 4.90 8.50 5.833.942.80 1.484.970.50 5.80 5.845.20 1973 2.453.60 56.433.134.064.80 12842.013.70 49 463. suatu pertumbuhan yang dimungkinkan di samping oleh kebijaksanaan Pemerintah dan upaya masyarakat.00 1975 4.2 222 229 1.00 6.30 12.00 1. Tanaman bahan makanan b.5 143 165 1.593.540.668.00 6.30 1980 11.30 9.820.242.2 milyar. Pertanian.8 1.10 1.80 1.70 12.00 1.50 1.908.156.30 6.00 3.40 2.00 766 491 448 20 174 182 1. kehutanan.90 225.434.8 804.3.00 1982 15.1 3.067.60 1982 3.6 milyar. lembaga keuangan dan jasa lainnya 1969 1.7' 6.795.60 8.80 1981 13.6 662.10 1. 1 PRODUK DOMESTIK BRUTO.00 674 564 26.657.00 1.905.9 4.50 8.8 1. Bangunan 6.30 1.900.60 4. perikanan a.90 6.70 380.961. perikanan a.043.40 1983 3.9 persen per tahun.9 514.7 171 210 1.003. Pertanian.023.2 PRODUK DOMESTIK BRUTO.30 956.90 1978 6.479.448.299.00 961 685 294 307 18 128 162 1.5 milyar menjadi Rp 12.00 1976 4.90 7.00 1.680.4 262 257 2.5 342.599.30 842.50 1.6 521.9 5.054. kehutanan.738.60 1.40 939.965.5 4.873.420.80 1976 2. don al£ minum 5.3 930 46.6 4.80 3.70 4.169.80 1.734.40 2.60 6.70 1.5 1.10 828.698.80 89.00 1.696.90 105.332.034.433.00 1975 2.30 1.507.90 2.8 7.480.00 1978 3. Dengan demikian selama Pelita III telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 6 persen per tahun. Listrik.2 persen per tahun.00 3.437. laju pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 7.10 1977 5.573. lembaga keuangan dan jasa lainnya sebesar Rp 4. Pertambangan & penggalian 3.199.10 1.70 288.10 1. produk domestik bruto yang dihitung atas dasar harga konstan tahun 1973.00 1.789.820. Tanaman bahan makanan b.646. Pengangkutan dan komunikasi 7.8 559.811.046.1 2.2 4.374.117.00 4.00 1.5 milyar serta sektor perdagangan.415.845.60 2. sektor industri pengolahan sebesar Rp 1.263.30 98.837.2 milyar tersebut terbentuk dari nilai tambah bruto di semua sektor.556.2 364.1 812.1 847.50 12.00 1.0 859 755 37 320 288 2.421.005.60 2.630.930.00 1.00 5.707.70 1972 2.290.00 1.573.235.379.9 639. gas.353.00 2.50 2.8 589.2.357. Perdagangan.2 952.70 105.2 3.003.80 2.842.427.8 3.2 persen selama kurun waktu 14 tahun tersebut terutama didukung oleh sektor bangunan yang mempunyai tingkat pertumbuhan paling tinggi yaitu rata-rata sebesar 14.30 9.80 1.768.60 1.00 551 490 24.00 1.401.812.8 716.20 15.835.8 302.164.60 2.681.069.00 1979 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e 1 VI.00 1971 2.40 2.942.60 148.310.101.70 Lapangan usaha 1.048.575.00 1.346.20 1.2 676.00 823 516 129 251 13 75 77 834 1970 1.90 1980 3. juga mengalami peningkatan dari sebesar Rp 4.5 757.00 7.117.261.00 1.8 milyar.373.2 3.704.850.10 1983 18.00 Dalam periode yang sama.6 4.013.027.2 persen.70 3.706. 1969 -1983 (dalam milyar rupiah.073.932.235.523.8 438.00 1. Pertambangan & penggalian 3. Lainnya 2. 1969 .047.402.821.294.096.390.50 1970 2.2 persen per tahun. Industri pengolahan 4.30 1.00 1.811.255.981.380.60 13.412.821. Dengan demikian apabila perkembangan tersebut dikaitkan dengan laju pertumbuhan penduduk yang diperkirakan sekitar 2. Listrik.50 112.275.80 1.4 3.60 4.123.672.20 1. 1embaga keuangan danjasa lainnya Jumlah 1969 2.071. atas dasar harga konstan tahun 1973) Lapangan usaha 1.9 720.7 2.412.325.4 262 257 2. gas.00 954 522 435 22.544. Lainnya 2.991.554.870.893. maka terlihat bahwa upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat selama kurun waktu memperihatkan hasil yang nyata.80 1.2 persen. maka ekonomi mulai membaik dan dalam tahun 1983 telah mencapai sebesar 4.00 890 452 399 19.823.710. Produk domestik bruto sebesar Rp 12.566.659. Tabel VI.50 8.70 3.60 77. Bangunan 6.00 1973 2.1 88.057.40 1.436.269. atau naik rata-rata sebesar 7.30 1977 2.137.918.

8 13. Bangunan 6. sektor bangunan serta sektor pengangkutan dan komunikasi.4 1973 47.2 28.1 41. perikanan 2. Listrik.1 35.7 8.9 1980 25.9 persen dalam jangka waktu 14 tahun kemudian.6 41. 1970.2 3.7 18.9 11. yaitu meningkat ratarata sebesar 3.6 27. Departemen Keuangan RI 145 .8 25.7 26.7 5 1976 20. Sementara itu walaupun laju pertumbuhan sektor pertanian lebih rendah dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.3 15.2 5 4.3 persen.9 20.1 15. seperti halnya sektor industri pengolahan.8 1.7 26. yaitu ke arab struktur ekonomi yang lebih seimbang dengan sektor industri yang maju dan didukung oleh sektor pertanian yang tangguh.8 2.5 67.1983 ( persentase kenaikan ) Lapangan ulaha ( Atas dasar harga yang berlaku ) 1.3 14.7 12.2 1981 20.3 23. Listrik.9 -1.2 19.4 18.4 37. Di samping itusektor perdagangan.1 persen.3 13.6 29 29.6 8.1 9.5 6.3 4.6 13.1 32. Pertanian. gas dan air minum.2 42.3 24.4 5.9 11.8 11.6 21.3 1974 29 185.7 3. Di lain pihak.2 Rata-rata 3) 1970 .4 12.3 22.9 27.2 12 21.3 34.7 persen per tahun. 1embaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto 1970 17.4 58.6 1975 14. sektor industri pengolahan serta sektor pengangkutan dan komunikasi juga cukup besar peranannya. jalan. Dari perbedaan laju pertumbuhan antarsektor tersebut dapat dilihat bahwa telah terjadi proses perubahan di dalam komposisi produk domestik bruto.1 0.9 4.7 13.6 12.8 26.4 19 19.7 7.4 12.3 33.9 3.8 20 28 68.2 45.2 17.9 13.7 11.5 40.9 persen dari seluruh nilai produk domestik bruto. Di samping itu sektor listrik.5 persen dalam tahun 1983.5 69.4 14 5.9 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Dihitung dengan compound rate Hal tersebut sejalan dengan makin meningkatnya kegiatan pembangunan di berbagai bidang seperti perumahan.4 8.8 persen dalam tahun 1983.1 9.8 12 48. Pertambangan & penggalian 3.1 55 72 51. gas daft air minum 5.5 9 14.1 4.1 16.5 persen per tahun.1 6.1 12.3 PRODUK DOMESTIK BRUTO. jembatan dan irigasi.4 4.9 71.2 36.2. 1embaga keuangan dan jasa 1ainnya Produk Domesdk Bruto ( Atas dasar harga konstan 1973 ) 1.9 7. 2.1 1978 13.1 10.7 36.6 48 9.7 22.6 13.2 6.8 19.9 5.1973 20.8 16.2 1.1 1.5 11.3 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 15. lndustri pengolahan 4.4 8.1 22 22.4 5.4 20.3 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 34.6 9. yaitu sebesar 46.1 29.8 5.0 9.2 16.6 5. Seperti terlihat pada Tabel VI.9 1982 1) 1983 2) 14.7 1979 34.9 12.3 40.2 59.6 3.7 39.9 29.9 5 6.9 25 7.5 19.1 10.4 persen dan 3.3 15. Pengangkutan daft komunikasi 7.6 6.9 32 12.2 15.8 5.3 persen. lndustri pengolahan 4.8 33.1 26.4 2.4 3. Di samping itu sektor perdagangan.3 41 38.3 persen dan 5.1 28 23.5 5.8 persen per tahun.8 36. Namun peranan tersebut berangsur-angsur menurun menjadi sebesar 29. Pengangkutan dan komunikasi 7. peranan sektor-sektor lainnya di luar sektor pertanian pada umumnya menunjukkan tendensi yang semakin meningkat.9 6.2 21.2 19.2 13.7 19.6 67 45.2 2.2 8 7. Perdagangan.4 .9 18.9 12.5 11.6 34.3 10.8 3.2 5.3 8.7 15.4.9 26. Pertambangan & penggalian 3.8 18. 6.2 45.01 12.2 16 18 12.2 22. lembaga keuangan dan jasa lainnya juga meningkat yaitu dari sebesar 29.3 1.1 -12.4 22.2 7.1 10.3. Perdagangan.8 13 10.3 15 12. Hal ini pada gilirannya diharapkan dapat mengacu kepada perimbangan yang serasi dan sesuai dengan sasaran pembangunan ekonomi jangka panjang.3 9.5 37.1 52 50. kehutanan.3 11.4 7.8 26.4 24.5 4.9 4.2 23. namun sumbangannya terhadap pembentukan produk domestik bruto masih tetap besar.4 33. yang masing-masing meningkat dari sebesar 8.8 19. yakni masing-masing dengan kenaikan rata-rata sebesar 13.6 16. peranan sektor pertanian dalam tahun 1969 tampak menonjol. Pertanian.9 5.4 4. Bangunan 6.4 19.6 22.7 51.1 33.5 18.7 22. gas daft air minum 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VI. kehutanan.8 9 13 9.4 .5 7.2 7. 11.7 31.6 25.5 69. perikanan 2.2 17.3 7. lembaga keuangan dan jasa lainnya serta sektor pertambangan dan penggalian masing-masing mengalami kenaikan ratarata sebesar 8.1 16.8 30.5 1971 4.3 26.2 17.8 -9.9 persen dan 11.5 4.4 persen dan 5.1 60.8 27.7 1977 22.1 14 17.7 7 1972 11.

791.4 100 26.1 100 29.3. Perdagangan.1 persen.7 5.9 100 40.4 0.1 30. Perdagangan.6 5.8 7.1 28.1 milyar dalam tahun 1983.2 0. dalam periode yang sarna pengeluaran konsumsi pemerintah dan pengeluaran konsumsi rumah tangga juga telah menunjukkan peningkatan.9 0.5 5.1 3. Listrik.8 25.2 100 31. yaitu masing-masing dari sebesar Rp 414.9 3.7 4.4 3.8 100 32.4 4.7 22.1 11.5 100 1.5 4.5 milyar dalam tahun 1969 menjadi sebesar Rp 1.8 0. Pengangkutan dan komunikasi 7.1 8.8 9.6 0.8 29.4 0.2 100 33.4 0. Jika dihitung alas dasar harga konstan tahun 1973.7 4.4 12.2 persen per tahun.3 0.8 10.3 15.921.6 33. Hal ini berarti bahwa kenaikan riil sebesar 7.6 4.6 5.4 30.8 30.2 31.6 4.8 100 29.758. 1969 .6 12 11.8 0.6 12.2 10.3 100 32 10.7 6. Pertanian. lndustri pengolahan 4.1 9.8 milyar dalam tahun 1969 menjadi sebesar Rp 3.3 5.6 15.3 19.1 0.2 100 24.3 0.8 4 30.9 9.7 19.9 4. Bangunan 6.9 0.9 100 25.7 30 100 29.3 100 48.4 0.8 2.1 12.5 0.9 100 40.1 18. Listrik.7 11.4 3.4 29.1 12. lembaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 6.5 4. gas dan air milIum 5.3 100 31 18.7 100 44.3 27. lembaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto (Atas dasar harga konstan 1973) 49.6 5.9 100 31.7 9.0 milyar dan Rp 3.5 4.3 30.8 30.6. Pertambangan & penggalian 3.9 6.9 0.5 5. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 24.5 100 30.7 100 46.4 8.5 100 45. Meningkatnya produk domestik bruto.4 100 26.4 100 44 9. kehutanan.501.5 5. Perkembangan pendapatan nasional menurut jenis penggunaan Perkembangan ekonomi nasional sarnpai dengan tahun 1983 selain ditunjukkan oleh kenaikan per sektor.8 4.8 11.8 10.1 3 30.9 6.9 7. kehutanan.9 15.7 30.5 4.5 3.3 0.3 4. perikanan 2.2 milyar dalam tahun 1983.4 100 36.5 32. 4 PERANAN MASING-MASING LAPANGAN USAHA DALAM PROD UK DOMESTIK BRUTO.5 0.2 100 29.8 11 12.3 9 0.2 persen per tahun selama 14 tahun tersebut terutarna berasal dari semakin tingginya kegiatan investasi. Pertanian.4 19.2 persen per tahun. terutama disebabkan oleh meningkatnya pembentukan modal domestik bruto yaitu dari sebesar Rp 537.4 3.9 milyar dan Rp 11.4 100 36.5 4.7 9.4 2. Bangunan 6.8 8 8.4 100 38.3 13.2 100 32.9 31.4 32. dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 dengan rata-rata sebesar 7. alan suatu kenaikan rata-rata sebesar 10.5 30.4 15.5 3.9 9. baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun oleh swasta.5 5. gas dan air milIum 5.6 5.3 0.8 100 40.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TabeI VI.9 0.3 4.5 2.7 11-Jun 0.9 3. alan suatu kenaikan sebesar rata-rata 15.6 5.5 3.2 persen dalam tahun 1969 menjadi 30.6 5.8 4.4 4 30.3 0.3 29.6 5.5 dan Tabel VI.8 34.2 4. Apabila dalam tahun 1969 peranan pembentukan modal domestik bruto atas dasar harga yang berlaku terhadap produk domestik bruto baru mencapai sebesar 11.3 9.9 9. alas dasar harga konstan tahun 1973.1 0.8 100 28.7 11.8 4 31.7 3.6 0. pembentukan modal domestik bruto tetap menunjukkan kenaikan yaitu dari sebesar 11.8 0. Pengangkutan dan komunikasi 7.1 21. perikanan 2.5 persen Departemen Keuangan RI 146 .1 5.6 4.8 29. dapat pula dilihat dari perkembangan masing-masing komponen penggunaannya seperti terlihat pada Tabel VI.2 4.7 0.2 8. Pertambangan & penggalian 3.9 100 40.4 31.6 0.6 0.3 9.4 29.4 2.5 5.3 24 10.8 29.7 3.5 3.4 0.1983 ( persentase ) 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) Lapangan usaha (Atas dasar harga yang berlaku) 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1.5 3. Terlihat bahwa peranan masing-masing jenis penggunaan produk domestik bruto dalarn periode tahun 1969 sarnpai dengan tahun 1983 telah menunjukkan perubahan dalam komposisi penggunaannya.9 11.5 19.4 30.8 10.7 5.3 10.5 3.7 8.5 10.9 8. Selanjutnya di samping meningkatnya pembentukan modal domestik bruto.9 34. Industri pengolahan 4.7 persen.7 5.8 8.2 persen per tahun dalarn periode tersebut.4 0.7 6 5.2 29.9 persen dan 8.

2 -254.70 10.30 8.80 2.449.630.00 1.698.30 -314.380.10 1.70 4.4 13.006.235.3 persen menjadi sebesar 10.10 10.749.30 1977 6.90 1.273.688.00 12.00 1.10 135 176 2.044.50 414 537.00 2.20 1976 6.00 .560. Pembentukan modal domestik bruto 4.60 4.208.60 12.00 32.00 1974 5.20 1.70 4.874.1 persen dalam tahun 1983 bila dihitung atas dasar harga yang berlaku.30 2.00 1.508.6 persen menjadi sebesar 13.50 1.7 1.876.304.5 3.10 1.708.3 4.60 1973 4.5 1.00 .2 624 7.541.355. walaupun alas dasar harga konstan tahun 1973 peranannya menunjukkan peningkatan dari sebesar 78.8 18.410.797.356.70 1.436.20 5. Produk nasional bruto 9.632.8 5.00 43.40 45.802.30 17.890.077.482.80 2.70 3.50 15.30 3.5 778.50 19.111.445.50 -493.10 4.40 9.758.70 22.330.30 3.204.752.00 4.731.330.4 -498.832.164.00 61.553.90 17.10 1970 3.90 9.80 13.80 38.636.50 21.269.40 10.741.280. baik alas dasar harga yang berlaku maupun atas dasar harga konstan tahun 1973 dalam periode yang sarna.035.60 1.7 663.7 472.838.887.4 424 2.20 7.444.356.8 6.5 394.70 1981 10.182.343.40 4.372. dan dari sebesar 8.842.782.30 294.10 716 1.419.564.572.10 641 1.621.704.80 251.80 199 317 328.10 1979 7. Demikian pula halnya untuk konsumsi pemerintah.804.20 845. Produk domestik bruto 7.136.55.10 19.3 866.349.20 1983 2) 11.410.00 2.670.70 3.40 3.820.00 12.461.5 238.40 12.066.1 7.20 2.30 2.70 351.10 3.67.90 68.896.5 1983 2) 49.534.2 690.20 14.90 13.30 1971 4.50 19.678. Produk nasional netto atas dasar biaya faktor produksi 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Residual 1969 3.80 3.590.904.80 1.3 834 755.9 1.5 3.085.399.169. Dikurangi: Impor barons don jasa 6.666.20 4.957.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam tahun 1983.1 12. Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi 8.10 51.732.30 623.90 430.00 2.7 439 696 821 1.6 persen dalam tahun 1969 menjadi negatif 33.2 5.044.20 71.70 6.8 746 668.5 9.90 271.308.3 728. Produk nasional netto alas dasar biaya faktor produksi 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Residual 1969 2.1 1.90 3.30 341 414 716 84-1.10 1.00 1.8 576.30 3.2 9. Ekspor barang daD jasa 5".2 5.007.642.70 13.485.067.20 Tab e I VI.80 2.00 6.10 7.40 4. Pengeluaran konsumsi rumah tangga 3) 2.865.1 530.00 52.20 1.90 6.214.90 1978 1979 1980 1981 1982 1) 15. Pengeluaran konsumsi pemerintah 3.94.466.7 10.40 2.40 Jenis penggunaan 1.20 399. Produk nasional bruto 9.027.60 3.20 -758.137.7 871.30 9.153.8 4.502.4 786. Pengeluaran konswnsi pemerintah 3.303.90 -649.332.028.80 8.8 837.231.20 -183.753.178.033.010.6 7.50 10.70 293 455 434 522.238.60 483.4 1.728.50 1977 12.7 -1.50 1.80 6.515.501.791.30 1982 1) 10.90 3. 6 ( dalam milyar rupiah atas dasar harga konstan tahun 1973 ) Jenis penggunaan 1.70 1972 4.80 6.10 3.831.90 587.741.10 3.287.1 persen dalam tahun 1983.9 -144.50 1980 8.454.60 -673.80 3.803.00 328 439 5.511.30 5.30 8.345.40 10.508.293.187.10 9.40 11.00 .80 -389 7.733.30 2.629.5 persen dalam tahun 1969 menjadi negatif 4.208.70 14.60 -866.6 10.5 8.745.00 -378.10 7.650.467.50 1. Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi 8.20 835.8 persen dalam tahun 1983.765.683.8 4.189.5 persen dalam tahun 1983.032.984.6 6.395.5 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 69.70 !.60 2.628.20 4.9 persen jika dihitung alas dasar harga yang berlaku.817.650.511. Ekspor barang dan jasa 5.50 544.8 762.209.00 7.088.70 .80 13.7 11.325.184.927.20 -835.883.318. yaitu apabila dihitung atas dasar harga yang berlaku telah menurun dari negatif 3. 1969 -19 ( daiam milyar rupiah atas dasar harga yang beriaku ) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 2.921. Produk domestik bruto 7.826.2 9.269.70 16.40 -652. Dikurangi: Pajak tak langsung netto 10.10 4.10 1970 2.253.9 2.897.375.513.804.9 5.7 persen jika dihitung alas dasar harga konstan tahun 1973.9 10.50 1.822.512.5 PENGGUNAAN PRODUK DOMESTIK BRUTO.00 1.719.60 27.118.5 6. Dikurangi: Pajak tak langsung nella 10.842.9 942. sedangkan atas dasar harga konstan tahun 1973 menunjukkan suatu penurunan dari positif 1.20 229 236 328 447 519.70 -1.838.879.10 625.70.699.241.60 1.824.00 41.697.40 2.146.70 495.9 715.742.3 4.356.670.00 -420.50 2.50 1.489.805.924.00 7.079.20 2.675.522.864.7 336.9 360.025.20 15.7 11.759.218.156.00 -677.90 35.194.867. Dalam pada itu ekspor netto juga mengalmi perubahan.2 5.1 8.218.658.20 1l.50 1978 6.00 3.6 496 6.30 30.753.00 1.34.90 1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga 3) 2.70 1.964.268. Dikurangi: Impor barang dan jasa 6.672.746.20 1.6 -556.847. peran:annya narnpak semakin meningkat.80 370.50 896.10 5.544.10 1.50 1.776.132.48. Dikurangi: Penyusutan 11.578.00 3. Pembentukan modal domestik bruto 4.90 -1.40 992.90 526.70 600.50 234.70 54. Di lain pihak peranan konsumsi rumah tangga mengalarni penurunan yaitu dari sebesar 84.70 -3.6 803.20 12.80 2.066.445.912.40 -2.0 1.554. Tabel VI.00 518.6 persen dalarn tahun 1969 menjadi sebesar 89.481.007.962.20 2.054. 580 857 1.484.566.00 1.882.435.40 -245.30 46.604.2 10.00 5.367.70 27.8 5.3 6.143.983.80 1.787.0 4. yaitu dari masing-masing sebesar 7.089.973.535.30 466.00 59.502.50 188 219 2.102.8 -482.10 57.70 Departemen Keuangan RI 147 .90 10.90 20.440.681.791.027. Dikurangi: Penyusutan 11.073.7 296.345.1 313.849.879.229.50 .672.6 1.50 560.7 3.297.323.634.523.811.70 .20 3.228.4 6.30 3.641.50 1975 5.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VII PERKEMBANGAN USAHA DAN HASIL-HASIL PEMBANGUNAN EKONOMI 7. serta kependudukan dan transmigrasi. peranan swasta dan kopeiasi akan lebih ditingkatkan guna mencapai tingkat pertumbuhan seperti yang direncanakan. sesuai dengan arab dan sasaran Repelita IV. pembinaan dunia usaha. pertambangan dan energi. pos dan pariwisata. baik nasional maupun asing dalam penanaman modal terus digairahkan melalui penciptaan prasarana dan sarana yang memungkinkan kegiatan pembangunan ekonomi dapat bergerak ke arab yang direncanakan. pertanian. Oleh karena itu pengerahan dana daTi sektor swasta. kegiatan penanaman modal baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA) antara lain diarahkan untuk meningkatkan dan memperluas kapositas produksi nasional. Dalam hal ini. Pendahuluan Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. meningkatkan penerimaan devisa Departemen Keuangan RI 148 .2. Hal itu tercermin pada peningkatan taraf hidup. perhubungan. Berkenaan dengan arab dan tujuan pengembangan penanaman modal yang sesuai dengan strategi pokok pembangunan. industri. menciptakan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat. Penanaman modal Strategi dasar pembangunan nasional diarahkan pada pemanfaatan sebesar-besarnya dari seluruh potensi yang ada untuk tercapainya tujuan pembangunan. Oleh karena itu dalam Repelita IV akan terus dilakukan pembangunan ekonomi yang berlandaskan Trilogi Pembangunan. Sehubungan dengan hal itu akan terus dilakukan upaya-upaya peningkatan hasil produksi barang dan jasa di berbagai bidang meliputi penanaman modal.1. telekomunikasi. kehutanan. 7. pekerjaan umum. yang pelaksanaan operasionalnya senantiasa disusun dalam kerangka kebijaksanaan ekonomi secara terpadu. yang pada gilirannya menjadi kerangka landasan yang kokoh untuk melanjutkan pembangunan dalam masa-masa mendatang. Adapun hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai selama ini dapat diikuti melalui uraian daripada masingmasing bidang di bawah ini. berbagai kegiatan pembangunan yang telah dilaksanakan Pemerintah bersama-sama seluruh rakyat Indonesia telah mencapai hasil-hasil yang positif.

investasi di bidang industri logam dan mesin telah digalakkan secara khusus. sedangkan swasta asing diarahkan kepada usaha patungan yang memerlukan modal besar. Untuk proyekproyek penting tersebut disusun suatu ketentuan teknis berupa kerangka acuan yang mengikat para investor dalam pelaksanaan proyek. Dari segi pemerataan pembangunan. teknologi tinggi dan belum dapat diusahakan oleh swasta nasional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 serta mengusahakan perluasan kesempatan kerja. ubi kayu dan kelapa sawit dari sektor perkebunan. sub-kontrak. DSP menggambarkan suatu rencana penanaman modal yang terpadu. serta coklat. kodak. telah ditempuh berbagai kebijaksanaan untuk menyebar proyek-proyek ke seluruh wilayah Indonesia sejauh faktor-faktor ekonomis masih memungkinkan. pengilangan baja (cold rolling mill) dan sebagainya. baik asing maupun dalam negeri dengan para pengusaha. dengan sasaran pokok tercapainya peningkatan pendapatan. Sementara itu dalam rangka pengembangan dan pembinaan proyek prioritas sesuai dengan sasaran dalam Repelita IV. Pada dasarnya kesempatan penanaman modal diberikan lebih banyak kepada swasta nasional dengan peran yang lebih besar kepada koperasi dan golongan ekonomi lemah. Dalam rangka perencanaan dan sebagai pedoman bagi penanaman modal telah diterbitkan daftar skala prioritas (DSP) yang penyusunannya dikaitkan dengan programprogram yang direncanakan. pembuatan komponen automotive. karel. baik dalam rangka partisiposi permodalan. kesempatan kerja. teh. Di samping itu telah banyak pula diusahakan produk lain yang berorientasi pada ekspor seperti udang. maupun penampungan hasil-hasil usahanya. dan ikan cakalang dari sektor perikanan. industri tekstil dan pakaian jadi sebagai komoditi ekspor. kesempatan berusaha serta pemerataan pembangunan di daerah-daerah dalam rangka pemanfaatan sumber kekayaan alam. Sejalan dengan itu sektor-sektor lain seperti industri makanan telah pula diarahkan pada ekspor. Dalam hal ini masyarakat umum telah diberikan kesempatan yang luas untuk berperanserta dalam perusahaan-perusahaan baik PMDN maupun PMA dengan memiliki saham dari perusahaan-perusahaan yang telah memasyarakatkan sahamnya. kepi. Di samping itu juga telah dilaksanakan kebijaksanaan yang mendukung adanya kerjasama antara proyek penanaman modal. ikan tuna. koperasi ataupun para petani setempat. Adapun guna meningkatkan pelayanan kepada investor telah pula dikembangkan berbagai pra-studi Departemen Keuangan RI 149 . Salah satu usaha yang dilakukan dalam rangka kebijaksanaan tersebut adalah mendekatkan lokasi proyek dengan bahan baku. Investasi yang telah disetujui di bidang tersebut antara lain meliputi bidang usaha pembuatan mesin automotive dan non-automotive. Penanaman modal juga diarahkan untuk meningkatkan penerimaan devisa antara lain dapat terlihat dalam perkembangan sektor perkayuan terutama kayu olahan.

078. Dalam hubungan ini kegiatan promosi penanaman modal ditempuh melalui pendekatan yang optimal kepada para investor dengan cara promosi investasi langsung.248 proyek. 2. serta sektor pertambangan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1. dan selanjutnya mempertemukan para peminat tersebut dalam suatu temu-usaha ke arab kerjasama yang lebih konkrit. dan penyiapan informasi proyek yang lebih sempurna. Adapun mengenai lokasi. Jumlah tersebut termasuk proyek yang mengadakan perluasan/penambahan modal.2 milyar. sampai saat ini pulau Jawa masih tetap merupakan daerah yang paling banyak menyerap proyek-proyek PMDN sebagai lokasi usahanya. dengan nilai rencana investasi sebesar Rp20. Departemen Keuangan RI 150 .2.9 persen) di antaranya berlokasi di pulau Jawa dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 13. 7.1).4 milyar. baik di dalam maupun di luar negeri.1. tetapi tidak termasuk proyek yang mengundurkan diri atau dibatalkan. serta dengan cara membantu mempertemukan berbagai unsur masyarakat yang ikut serta dalam bidang penanaman modal. yang antara lain bertujuan mengidentifikasi proyek-proyek yang diperkirakan akan menarik minat para calon investor.7 milyar atau 29. Sektor industri sebagaimana dalam tahun-tahun sebelumnya masih tetap merupakan sektor yang paling banyak menarik minat para investor dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 13.948 proyek.766 proyek (64.9 milyar dengan 502 proyek. sehingga proyek-proyek dapat dipromosikan secara lebih konkrit.3 persen dari rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984. serta proyek-proyek yang beralih status dari PMA menjadi PMDN. dari sebanyak 4.4 milyar atau 30. yakni di New York. Untuk itu telah dibuka 3 perwakilan BKPM di luar negeri.9 milyar. Dari jumlah yang telah disetujuai tersebut sampai dengan bulan Maret 1984 telah direalisasikan sebesar Rp 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kelayakan.564.259 proyek PMDN. Sampai dengan bulan Agustus 1984.632.037. Sedangkan realisasinya sampai dengan bulan Maret 1984 mencapai Rp4. meliputi sebanyak 2. sebagai sarana memperlancar pemberian informasi penanaman modal ke negara-negara di Amerika Serikat dan Eropa. Paris dan Frankfurt. Demikian pula telah diadakan kerjasama dengan berbagai pihak. Penanaman modal dalam negeri Investasi melalui PMDN yang telah mendapat persetujuan Pemerintah sampai dengan bulan Agustus 1984 adalah sebanyak 4.5 milyar dengan 215 proyek. sektor kehutanan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1.270.3 milyar dengan 54 proyek (Tabel VII.1 persen dari nilai rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984.178.645. Kegiatan di sektor-sektor lain yang juga cukup menonjol adalah sektor pertanian/peternakan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1.540.

736.661 1 6 44.575 122. D1 Aeeh 303.679 3 8.036 -1 -1.077 1 16.347. Realisasi penanaman modal asing sampai dengan bulan Maret 1984 mencapai US $ 6.815 2 27.003.413 33.600 1.743 3 14.1984/1985 1) 1968 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1968 Bidang Usaha Jum1ah Modal Jumlah Modal Jum1ah Modal Jumlah Modal Jumlah Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek 1. Sulawesi Tengah 24 67.995 3 716 78 855.203 93.767 11 56.1984/1985' Realisasi 3) Jumlah Modal Jumlah Modal Modal Modal Jumlah Modal ( Rp juta) Jumlah Jumlah proyek (Rpjuta) proyek (Rpjuta) proyek (Rpjuta) proyek (Rp juta) proyek (Rp juta) 781 1.460 4 44.980. 2.512 838 2.622 18.178.289 4.774 124 1.802 29 594. Nusa Tenggara Timur 7 15.891 1 65.099 26 9.790 517 2.656 21 144. perluasan.632.053 7 53.899 67 263.1984/1985 1) Lokasi usaha 1968 .512 1 5.585 20.325 46.370 57 250.385 1 31.299.098 97 154. Sumatera Selatan 79.042 3 6.862 1.690 Tabel VII.259 20.800 27 322.968 48.991 49.590 40 160. Perindutrian 2. Kalimantan Barat 141.879 1.800 112 232.041 93.575 4.432 Realisasi 3) ( Rp juta ) 693.564.651 2.326 24. Pertarnbangan 27 145. Kalimantan Tengah 104 157.491 502 4.250 13.161 15.147 16 208. Nusa Tenggara Barat 3.733 6.593.947 4 1. Tab e I VII.472.699 279 1 25.948 6.274 13. Usaha-usaha lainnya 29 49.119 17.471 11 31.715 3 32.540.788 6 198.990 985 5.211 4 159.432 Keterangan: 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek don investasi berasal dari proyek baru.257.035 46 59.467 31.607 418.163 345.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 atau 64.435 92.4 persen dari rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984.585 1 Jumlah 3.705 89.260 1.394 11.299.329 315 6.perubahan.699 5 44.993 4.901 65.847 16 829 3.332 20.435 4 1.645.064 18 167.949.499 87.428 6 38. 1968 .922 3.908 3 1.350.811.791 20. alih status daD yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984 7.719 202 343.836.904 7. Modal (Rp juta) 1.190 15 78. Perikanan 33 48.106 8 892.954 2 1.148 215 2. Jam b i 27.317 18 139.5 juta atau 43. Sebagaimana dapat diikuti pada Tabel VII.466 276.954 692.831 22.027 123.236 7. Sumatera Vtara 336.666 40.492.358 232. Perkembangan proyekproyek PMDN yang telah disetujui Pemerintah menurut lokasi usaha dapat diikuti pada Tabel VII.017 114 433.152 48 411.026 13 159.623 4.179.375 13 445.101 3 77 112.003.078.593.846.634 368 1.795 19 81. alih status dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984.109 26.915.626 7 5.950 15 63.523 8.212 3 15.800 8.673 38 194. Tenaga listrik 1 418.689 9.541 54 49. Jawa Tengah 1.181 530.037. sektor perindustrian merupakan sektor yang Departemen Keuangan RI 151 .147 118.1 00 29 118.776 6 88.857 9 54.153 223 769.202 53 114.509.662 11 81.337 43.522 2 6. DK1Jaya 885. setelah diperhitungkan dengan proyek yang mengundurkan diri atau dibatalkan dan yang melakukan pengalihan status dari proyek PMA menjadi proyek PMDN.387 2 4.087 223 1.296 2 6.913 234.068 36 730.868 4 21.923 6 85.329 318 57 1.728 3 82 234.252 13 214.809 11 73.042 6 464.575 6.180 718.263 249.248 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru. Perhubungan/Pariwisata 275 404.732 31 460.220 28 521.932 2 26.724 18 194.090 9 2. Pertanian IPeternakan 167 580.145 7.124 10 19.665 43 655.663 68 307.673 15 206.305 89.229 75 8.273 19. perluasan.455 420. Sumalera Barat 33.736 35 92. 1968 . Kalimantan Selatan 60 180.736.941 329 7. Sulawesi Selatan 34. Perumahan/perkantoran 44 197.863.746 491.257 192 3.814 1 12.362 10.684 1 8 46.579 47 10.261 157.320 254 5 11. Sulawesi Vtara 145.585 1 27 40.645 5 63 161. 1 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI YANG TELAH DlSETUJUI PEMERINTAH MENURUT BIDANG USAHA.027 1 1.2.959 869.262 120. M a I u k u 48.797 10 218.117 8.980 173 4.792 4 58 80.149 3 14.303 4 31 70.140 1. Prasarana 9 21.905 2.953 10.395 95" 128.352 26 113. Kalimantan Timur 196 854.2 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI YANG TELAH DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT LOKASI USAHA.203.690 JUMLAH 6.3.275 4.919 9 144.024 45 113.257 195 3.008 14.777 16 196.175.2 juta.663 107.202 314. Lampung 121.752 21.037. Jawa Timur 446 952.445 412. B a Ii 78.099 7 8.304 6 147.309 6.346 6 3.944 1 38 82.988 10 43. PMA yang telah disetujui Pemerintah sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencapai sebanyak 795 buah proyek dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 14.275 52 1.263 2 -2.742 66 213.709 9.828 7 466.632.3 persen dari seluruh rencananya. Bengkulu 14 18.984 1 5. lrianJaya 333 -1 3.994 23.334 159.689 9.622 17 151.383 51 3.078 1. perubahan. Sulawesi Tenggara 23.746 6 11.796 481.692 18 296.1981/1982 1982/1983 1983/19842) 1984/1985 1) 1968 .996 102 852.342 6 22.000 2 -26.794 10 44.807 6 316 362. Penanaman modal asing Keikutsertaan pihak swasta asing dalam kegiatan investasi di Indonesia diatur dengan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1967. Jumlah tersebut sudah termasuk proyek yang mengadakan perluasan/penambahan modal.255 47.517 79 393. Jawa Barat 3.434 1 52 168. Kehutanan 481 1.623 6.071.800 54 5.347 94 409.2. D1 Yogyakarta 26. Ri au 79.

Kalimantan Tengah 17 125.983 6 9 4 3.597 795 14.010 1 9.359.4 54.100 77.646 -2 LUARJAWA 420. Jawa Tengah 21 233.625 2 34.000 53 235.658.276 70 195.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 paling banyak menarik minat para investor.597 1.030 340.6 9.535 32. Jasa lainnya *) 51 362.172 67. baik dalam hal jumlah proyek maupun nilai rencana investasinya hila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. dan sektor perhubungan/pariwisata sebesar US $ 421.654 -1 3.086 250. Pertambangan 10 1.017 237.845.627 1.848 57 395.jasa lain + Perumahan/Perkantoran 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru. Sulawesi Tengah 6 78. perluasan.551 -1 5.500 -1 17.370.4 persen dari seluruh nilai realisasinya.3 -4 Jumlab 787 10. Sumatera Selatan 14 73.8 3.394.086 -1 8.000 -5.715 14.829.855 10.451.9 7.915.944 -87.1984/1985 1) 1983/1984 2) 1984/1985 1) 1967 . D.385 120 -1 5.664.658.241 6.4 -3 -1 -2 3.045 497 11.983 6. Jawa Barat 159 2. perluasan.5 0.6 24.740 -4 1 10.5 331.937 -1 -2 -1 20.250 54 659.554. Realisasi PMA yang terbesar sampai dengan bulan Maret 1984 adalah sektor perindustrian.499 -1 25.773 41.577 -1 38.630 -27.182 3.691 -24.2 11.346 -5.433 19.543 2.1 776.916 -1 23.899 765.4 juta meliputi 9 proyek.9 -1 6.916 78.317 96.392 -12.910 1 -2 7.656 64.307 22. a1ih status daD yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) SampaidenganimlanMaret 1984 Departemen Keuangan RI 152 .373 1. Perhubungan/Pariwisata 31 352.731 -74.001 130.810 7 66.950 57.50 12 2. yaitu berjumlah US $ 3.438 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek daD investasi berasal dari proyek baru.404 -1 -13.PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DlSETUJUI PEMERINTAH MENURUT BIDANG USAHA.893 -6.874 24 162.3 85.70 333.3 5.3 juta dengan 54 proyek.112.865 120.6 6.850 4.227 123.449 4.956 -1 -9.ngan bulan Maret 1984 Tabel VII.939.430 247.053 -2 14.393 9.977 5. Nusa Tenggara Timur 2 3. Peri k a n a n 24 147.7 228.917 15. sektor jasa. Beberapa Daerah Lainnya 45 1.4 juta dengan 28 proyek.518 368.405 969.845. Sulawesi Utara 3 77.160 JUMLAH 787 10.737 5.289. 1967 .312 294.052 7 15.655 665.360 74.1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1967 .451. perubahan.2 134.413.463 1 -3.479 6.932 2. Ria u 23 320.248 504.700 491. DKIJakarta 282 1.383. 1967 -1984 / 19851) 1967 .370.438 736.4 359.215 8. Kalimantan Timur 22 235. aIih status PMA ke PMDN dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai d.4 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT LOKASI USAHA.443 160.496 -4.771 1. Kehutanan 69 582. Lampung 8 85.135.249 3. D.383 52.655 21.7 524. Tabel VII.655 20. IrianJaya 15 309.736 -4 *) Jasa.893 30.440 1. Bengkulu -10.192.026 -2.936 18 997.405 1 11.9 100. Konstruksi 63 93.915.422 9 1. Perindustrian 477 7..672 3 11. perubahan.50 JAW A 656.550 12. Sumatera Barat 4 55.7 65. Kalimantan Selatan 18. B a 1 i 5 47.470 14 -9 -4 736.970 3.823 1.L Yogyakarta 3 8.6 25.4 253.490 -1 2. Mal u k u 7 46. Perdagangan 3 11.7 381.1 -8 -1 -3 4.3 PROYEK .8 125.136 4.499 24.394. Sulawesi Selatan 6 28.641 -2 -2 13.224 -10.0 juta atau 59.937.L Aceh 6 435.500 28 421. Jam b i 5 28.2 40.483 -2 1 27.613 63. Jawa Timur 70 520.932 843.934 -1 -5 239.5 6.7 -1 5.472.593 29.00 15 2.5 -3 7. Adapun sektor-sektor lain yang juga cukup dominan adalah sektor pertambangan dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.472.924 29.693 8.672 8.241 Lokasi Realisasi 3) Modal (US S juta) 869.199 36.2 1.160 14.1984/1985 1967 .444.836 1.279 652. Kalimantan Barat -57. Sumatera Utara 46 1.1984/1985 ReaJisasi Bidang usaha JumIah Modal Modal Modal Modal Jumlah Modal Modal Jumlah Jumlah Jumlah Proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) (US $ juta) proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) 1.497 -5 -3 16. Sulawesi Tenggara 3 29. Pertanian 59 239.1981/1982 1982/1983 Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal proyek (US S ribu) proyek proyek (US S ribu) proyek proyek (US S ribu) (US S 294 178 22 2 67 5 45 4 20 6 3 13 5 14 16 5 3 2 3 5 6 6 3 16 45 788 3.828 1 26. perumahan/perkantoran sebesar US $ 659.470 1.6 57. Nusa Tenggara Barat 1 3.519 -14.

Nilai rencana investasi untuk ketiga wilayah tersebut masing-masing adalah sebesar US $ 4.8 107 21. maka sejumlah 563 proyek atau 71.266.900 139.611 45.8 0.079 17.492 - 4.978 -5.694 16.80 93.297 146. Gabungan Negara 28.5 14.384 45.8 juta. Jepang telah membangun 210 proyek dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 4.269 7.272 762 61.241 6472. Jepang merupakan negara yang paling besar melakukan investasi di Indonesia.393 10.594 667.652 7.810 38.653 2.674 38.599 12. Perancis 16.3 196.632 593. Malaysia 9.353 -776 802. dan Belgia dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 926. alih status dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984 Seperti halnya dengan PMDN.2 205.602 -2. US $ 3.4 Modal (US $ ribu) 484.021.095 15.807 71.40 20.105 -3. dan US $ 1.004 1. Negara Lainnya JUMLAH Jumlah proyek 72 3 205 18 127 5 34 14 8 7 36 2 16 4 9 1 44 24 44 15 6 3 4 2 76 8 Modal (US $ ribu) 456.800 12.0 persen dari seluruh rencana investasi PMA.1984/1985 1) 1) Jumlah proyek 2 Modal (US $ ribu) 17.244 614.3 172.175 15. Switzerland 21. perluasan. Selanjutnya bila ditinjau dari segi besarnya nilai rencana investasi untuk tiap-tiap propinsi.197 37.000 -12.876 897 12. Italia 17. Swedia 22.757 172.000 5.351 48.073 15. Lichentein 26.7 persen daTi jumlah proyek yang ada. Spanyol 25.919.4 107.653 -2.4 juta meliputi 71 proyek.7 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.8 juta dengan 45 proyek. Korea Se1atan 5.1 3.276 47.150 - -4 -1 -1 -2 -1 2 2 -1 - 62.597 787 14.674 10.792 79. Amerika Serikat dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.883.8 4.413.5 2.5 677. rencana investasi berlokasi di pulau Jawa.770 136.190 28. 4.635 33. 1967 1982/1983 1983/19842) Jumlah proyek 10 2 -2 -1 -1 -1 1 -3 2 1 1 3 Modal (US $ ribu) 62. yang berarti 26. Be1gia 14.507.6 102.016 2.710 2.5 12.307 900 926.2 persen dari jumlah keseluruhan.0 juta dan meliputi 121 proyek. Jerman Barat 19.883.047 31. dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 8.840 76.612 283.1 juta dengan 294 proyek. India 11.954 58.5 22 30.746.919.455.855 1. Netherland 18.066 7.552 482. maka Jawa Barat.733 3. Australia 12.698 19.7 8.006 1.733 4. Taiwan 7. dan 33.460 23.593 -12.178 174.694 22.1 juta meliputi sebanyak 178 proyek.507 -1.361 3.958 10.9 juta atau 59.679 1984/1985 Jumlah proyek 71 3 210 18 121 4 29 10 6 7 35 2 16 5 9 42 27 51 18 1 6 2 1 3 Modal (US $ ribu) 1.244 130.915.073 101. Selain itu beberapa negara lain yang juga cukup menonjol adalah Hongkong dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.230 167.678 Realisasi Modal ( US $ juta) 582.035 139.810 16. Singapore 8.4 35.576 4.777 362.3 166.160.675 2.472 201.240 13.2 5. maka jumlah investasi PMA yang terbanyak juga berlokasi di pulau Jawa.5 juta meliputi 16 proyek (Tabel VII.832.815 414.370.977 -16. Brunei 24. Hongkong 6. Canada 3. DKI Jakarta dan Sumatera Utara merupakan daerah yang cukup menonjol.550 96.241 900 123.263 -15.178.558 272.569 -908 9. Sebagaimana terlihat pada Tabel VII. Norwegia 27.5 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.554. Sampai dengan bulan Agustus 1984.646 112.895 1.760 266.2 2.686 111.014 352.470 MENURUT NEGARA ASAL. 5).727 29. perubahan.432 - 3 79 8 787 12 2.364 Jumlah proyek -3 -1 -1 -5 -1 -1 -2 -1 1 -2 -1 3 5 1 -1 1 -1 1 - .021.719 13.795 -500 25. Demikian pula dari segi negara asal investor.000 10.511 72. Philipina 10. Departemen Keuangan RI 153 .5 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DISETUjUl PEMERINTAH 1967-1981/1982 Negara I. New Zealand 13. Panama 23.524 103.780.6 219.000 -2.945 143.736 -8 -4 736.962 3. Denmark 15. Jepang 4.963 165.892 7.300 25. Amerika Serikat 2.052 5.359.4 persen daTi 788 buah proyek PMA. Inggris 20.392 442.937.

serta mempertinggi kemampuan para anggota dan petugas koperasi dalam berkoperasi. Hal ini diharapkan akan meningkatkan partisiposi dan kesediaan anggota antara lain untuk mengikuti rapat tahunan para anggota. serta pengusaha industri rumah. sektor pertanian. Hal tersebut dimaksudkan untuk memantapkan dan menumbuhkan swadaya koperasi/KUD. Sementara itu agar koperasi-koperasi primer dapat memainkan peranannya dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. antara lain diarahkan untuk meningkatkan kemampuan KUD dan koperasi primer dalam berprakarsa dan berswakarya. mendorong pembentukan dan pengembangan unit-unit organisasi. pemeriksa. tatalaksana dan pengawasan. khususnya yang berpendapatan rendah. maka selain terus ditingkatkan pembinaan. maka selama Pelita III telah dltingkatkan pembinaan kelembagaan koperasi yang mencakup organisasi.3. pengurus. sektor perkreditan dan sektor pengangkutan. maupun teknis. baik dengan koperasi primer lainnya maupun dengan usaha-usaha bukan koperasi di wilayah atau di daerahnya masing-masing. Dewasa ini KUD dan koperasi primer antara lain telah mampu melayani kepentingan anggota. Untuk lebih memperkok6h kemampuan KUD dan koperasi primer maka dilakukan suatu kerjasama yang lebih erat. rapat pengurus dan badan pemeriksa. Dalam rangka pengembangan usaha koperasi/KUD tersebut. Sehubungan dengan itu maka pembinaan kelembagaan koperasi diarahkan untuk meningkatkan penghayatan terhadap fungsi koperasi bagi setiap anggota. Pembinaan dunia usaha Pelaksanaan pembangunan ekonomi antara lain diarahkan untuk menumbuhkan peranan dan tanggung jawab masyarakat pedesaan agar secara aktif ikut berperanserta dalam pembangunan desa. pengrajin yang menggunakan peralatan tradisional. sektor perkebunan. serta meningkatkan Departemen Keuangan RI 154 . sehmgga pada gilirannya dapat memetik dan menikmati hasil pembangunan guna menaikkan taraf hidupnya. Di samping itu juga dilakukan penyempurnaan organisasi dan tatalaksana koperasi. yang meliputi pedagang kecil. manajemen dan pemasaran. Dalam Pelita III peningkatan dan pengembangan dunia usaha pada umumnya dan koperasi khususnya. manajer dan pembantu manajer dalam mengelola koperasi sesuai dengan tugasnya masing-masing. juga telah diberikan sarana dan prasarana antara lain berupa bantuan permodalan serta latihan keterampilan baik administratif. seperti sektor perdagangan. sekaligus memajukan usaha anggotanya di berbagai sektor. yang pada gilirannya akan mempertinggi kemampuan para anggota. sektor industri. sehingga mampu menjadi pusat pelayanan kegiatan perekonomian pedesaan yang mandiri. Dalam hubungan ini koperasi merupakan salah satu wahana utama dalam membina kemampuan golongan ekonomi lemah. sektor perlistrikan desa.

ballman. serta tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat membebani atau menyaingi kegiatan KUD yang bersangkutan. Kenaikan jumlah simpanan anggota dan jumlah nilai usaha koperasi tersebut menunjukkan meningkatnya partisiposi masyarakat terhadap kegiatan dan kelangsungan hidup wadah koperasi. tidak boleh melakukan usaha sendiri. yang terdiri dari 6. sedangkan dalam tahun 1984 telah terjadi peningkatan yaitu menjadi sebanyak 9. Sedangkan biaya pembinaan yang dilakukan oleh BPP KUD dibebankan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Dalam tahun 1983 jumlah koperasi adalah sebanyak 24.290 ribu orang pada non KUD. Jumlah simpanan anggota koperasi juga mengalami peningkatan yaitu dan Rp 103.322.327 buah KUD dan 18. berarti bahwa wadah koperasi telah menyebar luas ke hampir seluruh lapisan masyarakat. Dengan meningkatnya jumlah baik lembaga maupun anggota koperasi tersebut. yang beranggotakan tokoh-tokoh yang berada di pedesaan dan atas usul camat setempat.410 buah non KUD. yakni 6.073 ribu orang pada non KUD. mengenai besarnya peranan koperasi bagi para anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya. maka melalui Keppres Nomor 4 Tahun 1984 di setiap KUD dibentuk Badan Pembimbing dan Pelindung Koperasi Unit Desa (BPP-KUD).714. Demikian pula halnya jumlah usaha koperasi telah bertambah dari Rp 2. Sejalan dengan itu maka dilakukan pula penyempurnaan iklim perkoperasian melalui peningkatan kesadaran masyarakat.4 milyar.701 buah yang tersebar di seluruh propinsi kecuali DKI Jakarta. Adapun jumlah KUD model dalam tahun 1984 meliputi sebanyak 3. Sementara itu guna meningkatkan kelancaran usaha koperasi unit desa (KUD).0 milyar dalam tahun 1983. Dalam pada itu jumlah anggota koperasi primer dalam tahun 1983 adalah sebanyak 9. Hasil-hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan Repelita III menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Tugas daripada BPP KUD tersebut adalah memberikan bimbingan.6. saran dan nasehat kepada pengurus KUD.791 buah.1 milyar menjadi Rp 2.1 milyar dalam tahun 1982 menjadi Rp 125. sedangkan dalam tahun 1984 telah meningkat menjadi sebanyak 25. yang sekaligus berarti pula bertambahnya kepercayaan masyarakat kepada Departemen Keuangan RI 155 .614 ribu orang pada KUD dan 4. Perkembangan jumlah BUUD dan KUD yang menyebar di seluruh Indonesia dapat dilihat pada Tabel VII.464 buah non KUD.539 ribu orang pada KUD dan 4. serta untuk memantapkan pertumbuhan dan pengembangannya. serta melindungi KUD daTi hal-hal yang dapat merusak citra dan kelangsungan hidupnya.546 buah KUD dan 19.956 buah. Namun BPP KUD tersebut tidak boleh mencampuri kegiatan usaha KUD.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 usaha di masing-masing wilayah koperasi sesuai dengan kebutuhan para anggotanya.

741.9 milyar.4 638 128 12 19.621 buah KUD denganjumlah perputaran kredit senilai Rp 113.991.2 634. Sulawesi Tenggara 34 40 1 56 1 63 3 73 11 75 11 77 15 79 14 79 37 120 65 140 2 2 2 4 4 24 26 70 120 31 123 25.131 buah KUD.40 12.019 993 9.201 1.315 15.435 buah KUD dengan kredit sebesar Rp209.531.844.766. maka dalam tahun 1982/1983 telah meningkat menjadi sebanyak 11.8 1.60 14.326 4.2 781. Sumatera Barat 57 100 53 133 7 185 21 185 7 232 7 232 7 232 4 235 4 234 233 276 274 281 9 11 12 11 11 22 5 57 7 47 7 47 7 48 7 47 7 47 33 170 113 178 4.40 3.2) .430 200.90 571 113 44 21.788.00 2831.10 4.2) 1) Angka sementara Bidang perkreditan juga mengalami perkembangan.334 buah KUD dengan kredit senilai Rp 270.191.5 666 137 12 23.639.739 701 4.50 20.159 2.394 18.5 6. Sumatera Utara 205 261 284 288 297 307 7 311 5 342 350 133 413 114 428 3.2) 124.213 2.321 6.1984 Jumlah koperasi (buah ) Simpanan koperasi ( Rp juta) Pusat Gabungan Induk Jumlah Induk Jumlah Primer Pusat Gabungan 548 78 8 13. dengan perputaran kredit senilai Departemen Keuangan RI 156 .097. Sulawesi Tengah 6 7 12 15 9 20 18 17 69 17 69 17 91 92 90 19 126 83 127 23.90 291. IrianJaya 5 5 4 2 6 3 10 8 18 8 27 15 27 15 47 30 47 69 78 JUMLAH 1.10 513.104.50 940.20 532 60 19 23.2) .10 4.003.086 3.5 215.977.2) .4 698 105 15 16. yaitu hila dalam tahun 19811 1982 jumlah KUD penerima kredit yang dijamin oleh Perum PKK (Perusahaan Umum pengembangan Keuangan Koperasi) baru sebanyak 7.8 1.795 189 1.200 353.00 4.90 284.60 331.652 16.067.2 548 99 39 19.7 659 119 15 18.623.2 1. D.235.9 15.892.591 1.265 486 5.8 522.621 6.7 273.074.941 17.10 1.60 80. Kalimantan Selatan 11 47 7 79 5 99 3 106 2 116 2 115 1 117 3 119 130 66 160 110 164 20.7 655 126 15 23.679 345 2.445 15.456 22.90 1628.521.775 357.060.933 18.625 220.50 445.864 22. Tabel VIl.7 milyar.20 54.402 1.261 18.237.714 24. 1974 . Jambi 6 40 10 50 5 57 9 24 99 99 99 99 118 34 148 155 163 6.970 22.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 koperasiJKUD dalam menyimpan dan mengelola uang anggotanya. Kalimantan Tengah 7 4 7 19 11 19 11 19 10 39 10 39 4 64 4 64 4 64 8 133 139 19.081.404 22.214 365.7 1.386. Sulawesi Selatan 228 69 141 172 106 229 68 288 71 302 71 302 71 302 71 302 71 301 71 399 316 417 24.678. Bengkulu 8.1 1.5 milyar.70 624. Jawa Barat 10.1984 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1) No.797.50 8.3 1. Nusa Tenggara Barat 9 5 9 5 2 12 24 16 25 16 25 16 25 16 9 92 57 66 115 145 144 147 15. jumlah koperasi yang ikut menyelenggarakan KCK adalah sebanyak 4.054 222. Sumatera Selatan 12 15 13 20 33 53 48 38 78 36 37 81 21 108 16 144 16 177 16 295 47 310 1 15 25 1 43 49 56 57 66 6 68 103 500 154 115 156 7.80 519. Jawa Timur 13.323 Tabel VII.282.180 25.8 593 113 31 17. Kalimantan Barat 2 32 4 44 52 78 80 80 154 154 1 26 1 203 92 204 18.750.4 1.50 6.136 51.791 .516.693 16.766.90 2. Sulawesi Utara 26 4 19 12 20 14 28 15 6 83 1 90 1 90 1 90 105 122 123 32 123 22. Jawa Tengah 206 282 118 402 93 437 88 454 80 471 86 492 86 492 67 522 67 521 584 586 588 599 11.90 3.20 18. Maluku 26.00 532 60 19 24. Timor Timur 1 1 10 18 61 14 67 17. 797.60 883.6 JUMLAH BUUD DAN KUD SELURUH INDONESIA MENURUT PROPINSI.60 19.313 2.325 2) 2) 2) 2) 103.80 14. yakni apabila dalam tahun 1982 jumlah koperasi yang ikut menyelenggarakan KCK baru sebanyak 3.4 3.344.3 675 124 15 16.2) 533 60 19 25.70 9.487 3. B a Ii 5 46 8 52 5 55 61 63 67 2 69 72 72 72 84 81 84 14.0 2) .7 JUMLAH DAN SIMP ANAN KOPERASI.00 22. Propinsi BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD 1.6 683 127 15 19.430 156.L Aceh 27 22 31 48 27 57 7 83 12 103 12 103 12 103 12 103 843 48 296 15 298 2. Perkembangan jumlah dan simpanan koperasi dapat dilihat pada Tabel VII.113 3. Lampung 20 52 5 83 5 101 112 118 118 118 1 156 147 51 199 87 209 250 342 261 530 267 629 226 682 195 731 195 731 195 731 196 750 132 871 872 994 1.638.441 973 3.7.344.263 185.286 buah KUD dengan perputaran kredit sebesar Rp 145.2) .450 20.542 1) Angka sementara Tahun 1969 1970 1971 1912 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1) Primer 13.7 1. Dalam tahun 1984 sampai derigan bulan April 1984.30 333.8 1.2) .8 543 118 31 17.276.331 1.118.20 802.80 13.7 milyar.184 74.139. Riau 5.873. Kalimantan Timur 2 2 6 4 4 6 4 10 1 26 1 26 1 27 153 158 43 206 21. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 4.071.935 .949 71. 1969 .683.657 1.8 678 130 12 23.888 1. Nusa Tenggara Timur 23 45 23 51 25 55 15 71 8 84 8 84 9 92 57 66 8 116 8 101 50 110 16. D1 Yogyakarta 45 10 3 54 57 57 57 62 62 62 61 61 62 61 62 634 13 572 91 570 113 577 116 526 189 526 189 486 231 199 538 48 695 490 731 672 736 12. Jumlah kredit candak kulak (KCK) melalui koperasi selama pelaksanaan Repelita III menunjukkan peningkatan yang cukup berarti.

107 buah KUD telah menyiapkan pengadaan beras untuk posaran umum sebanyak 64.1 ribu ton seharga Rp 8.078 kg/liter obat-obatan.609.0 ton dan 308. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Mei 1984 masing-masing telah mencapai sebanyak 2.6 milyar.4 ribu ton beras. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Mei 1984 jumlah KUD adalah sebanyak 2.0 ton. Dalam tahun 1983 jumlah Departemen Keuangan RI 157 .5 milyar. serta penjualan kopra sebanyak 50. 229.5 milyar. sedangkan sisanya dijual ke posaran umum. koperasi yang ikut memasarkan kopra berjumlah 126 buah KUD.932. cengkeh dan tebu rakyat nampak semakin meningkat.4 ribu ton seharga Rp 7.6 ribu ton beras. jumlah KUD penyalur dalam musim tanam (MT) 1983 adalah sebanyak 3.391 buah dengan beras sebanyak 851.5 milyar.357 ton dan 3.699 buah.7 ribu ton.9 ribu ton. sedangkan jumlah kopra yang telah terjual mencapai 27. Dalam tahun 1982 telah terbentuk koperasi pengelola cengkeh sebanyak 138 buah.996.9 milyar.332 buah yang menyalurkan bahan-bahan sebanyak 251. Dalam rangka melaksanakan tugasnya. 8 ton dan 306 tOll.2 ribu ton.419.550 kg/liter. Di bidang penyaluran sarana produksi pertanian. Kemudian dalam MT 1984 baik jumlah KUD. dan jumlah cengkeh yang dapat dibeli seluruhnya sebanyak 24.5 milyar: dalam tahun 1983 masing-masing telah meningkat menjadi 184 buah KUD. dan 2.9 ribu ton seharga Rp 5. Adapun jumlah KUD yang ikut serta dalam pengadaan beras untuk stok nasional dalam tahun 1982/1983 adalah sebanyak 3. pembelian kopra sebanyak 54. setiap KUD wajib membeli gabah/beras dari para petani dengan harga dasar yang berlaku. hasil usaha yang dilakukan oleh KUD sampai dengan akhir Pelita III telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. khususnya pupuk dan obat-obatan.036. dengan jumlah beras yang disediakan sebanyak 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 12.9 ton seharga Rp 84. Sehubungan dengan itu dalam tahun 1982/ 1983 sebanyak 1. 490. Dalam tahun 1983/1984 sampai dengan November masing-masing telah mencapai 46. pupuk maupun obat-obatan telah meningkat masing-masing menjadi sebanyak 3.6 ribu ton seharga Rp 5. Di bidang tataniaga cengkeh. Dalam tahun 1982.054 buah dengan jumlah beras yang tersedia sebanyak 1.054 buah KUD dan 7.191 buah.7 ribu ton. dengan jumlah kopra yang dibeli sebanyak 29.6 ribu ton. Beras/gabah yang telah dibelinya kemudian dijual kepada Sub Dolog setempat dengan harga yang telah ditetapkan. Sedangkan pemasaran palawija yang meliputi jagung. Sementara itu kegiatan koperasi/KUD di bidang perkebunan rakyat yang meliputi kopra.5 ribu ton. sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlah KUD adalah sebanyak 3.237 ton pupuk. yang meningkat dalam tahun 1983/1984 masing-masing menjadi 1.519 buah KUD dan 69. kedelai dan kacang hijau dalam tahun 1982/1983 berjumlah masing-masing sebanyak 23.

133. pembibitan.788. penebangan.130.4 milyar. 18. terutama dalam hal perkreditan dan pemasaran gula tebu yang dihasilkannya.4 milyar. dan kredit yang disalurkan kepada petani sebesar Rp 241.0 milyar.802 orang dan modal senilai Rp 70. dan biaya angkut dari areal penebangan ke pabrik gula. Dalam tahun 1982 jumlah KOPTI baru mencapai sebanyak 36 buah. Dalam tahun 1983 jumlah kredit mencapai sebesar Rp 211.277 orang.175.4 ton seharga Rp157. Penggabungan industri kecil yang memproduksi tahu dan tempe ke dalam wadah koperasi tabu dan tempe Indonesia (KOPTI) telah menjadi kenyataan.5 ton seharga Rp 152. koperasi yang menampung sebanyak 651 buah. sedangkan dalam tahun 1984 sampai dengan bulan April 1984 jumlah kredit telah mencapai sebesar Rp 199. Kredit yang disalurkan KUD merupakan kredit yang diperlukan oleh petani tebu untuk penggarapan tanah.3 milyar.5 milyar yang disalurkan oleh 675 buah KUD. ditampung oleh 621 buah KUD.286 orang. sedangkan yang terjual dalam tahun 1983 mencapai sebanyak 19. Dalam tahun 1983/1984 jumlah gula telah mencapai sebanyak 652. Pemberian kesempatan kepada KUD untuk mengelola tebu rakyat intensifikasi (TRI) dimaksudkan untuk melayani para petani tebu.6 milyar. dalam tahun 1983 jumlahnya telah meningkat masing-masing menjadi sebanyak 67 buah. Dari cengkeh yang tdah dibeli tersebut.9 juta. Kegiatan koperasi di bidang peternakan meliputi pengadaan bibit sapi unggul impor. dengan kredit yang disalurkan kepada petani sebesar Rp 179.9 milyar.414 orang dan modal senilai Rp 71. Jumlah gula tani yang dapat ditampung KUD dalam tahun 1982/1983 adalah sebanyak 556. Dalam tahun 1982. dengan jumlah anggota sebanyak 120.900 ton.7 milyar.6 ton kedelai. Dalam tahun 1982.2 ton.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 koperasi telah bertambah menjadi sebanyak 264 buah KUD.380.1 ton seharga Rp 150. Perkembangan usaha koperasi di bidang perikanan rakyat selama Pelita III telah dapat menunjukkan hasil yang cukup baik. sedangkan dalam tahun 1983 masing-masing telah mencapai 615 buah. Rp 1.2 milyar. dengan jumlah Departemen Keuangan RI 158 . yang terjual dalam tahun 1982 berjumlah sebanyak 18. jumlah koperasi perikanan baru sebanyak 585 buah. jumlah koperasi petemakan baru sebanyak 469 buah. penyediaan makanan ternak. penyediaan obat-obatan ternak. dan jumlah kedelai yang dapat disalurkan sebanyak 26.200 ton.292. dan 53. modal sebesar Rp 743. dengan pembelian cengkeh seluruhnya sebanyak 20. serta pemasaran hasil temak.7 milyar yang disalurkan oleh 714 buah KUD. dengan jumlah anggota sebanyak 12.

dengan jumlah anggota sebanyak 29. Sedangkan dalam tahun 1983 jumlah tersebut telah meningkat menjadi 491 buah.969. secara bertahap telah pula merangsang masyarakat pedesaan untuk menjadi anggota koperasi perlistrikan desa.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 anggota sebanyak 45.732 orang. Demikian juga jumlah koperasi susu yang dalam tahun 1982 baru mencapai 162 buah dengan anggota sebanyak 38. Departemen Keuangan RI 159 . jumlah koperasi jasa angkutan adalah sebanyak 165 buah yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia.046 juta.362 orang.2 milyar.201 orang.8 juta. beranggotakan sebanyak 59.536 orang.000 ekor.1 milyar. koperasi angkutan sungai dan penyeberangan serta koperasi angkutan laut. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 173 buah dengan jumlah anggota sebanyak 41. Adapun jumlah sapi betina yang dimiliki oleh anggota koperasi yang dalam tahun 1982 baru sebanyak 140. dan dengan usaha senilai Rp 208.550 buah kendaraan angkutan darat dan sungai. Dalam tahun 1983 jumlah susu yang ditampung oleh koperasi telah meningkat menjadi 130 juta liter atau 89.281 orang dan nilai usaha sebesar Rp 40. Pembinaan koperasi yang menangani jasa angkutan juga terus digalakkan sejak awal Pelita III. yang dilakukan melalui pemanfaatan tenaga listrik yang dibangkitkan dan disediakan oleh PLN. Dalam tahun 1982.352 buah.1 juta liter atau 92.630 peternak. Jawa Tengah.9 persen dari seluruh produksi susu dalam negeri yang berjumlah 144. Dalam tahun 1983 jumlah terse but telah meningkat menjadi 298 buah yang tersebar di 20 propinsi. dan memiliki kendaraan sebanyak 7. Bali dan Sumatera Barat. Dalam tahun terakhir Pelita III. yang terdiri dari 5.802 buah kendaraan angkutan laut. dan nilai usaha sebesar Rp 61.000 ekor.6 persen dari seluruh produksi susu dalam negeri yang berjumlah 116. yakni mencakup koperasi angkutan darat.6 juta liter. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 161. dengan jumlah anggota sebanyak 65. Adapun jumlah susu yang dapat ditampung dan dipasarkan oleh koperasi dalam tahun 1982 adalah sebanyak 108. serta 1. Selanjutnya dalam tahun 1983 jumlah koperasi telah meningkat menjadi 675 buah. Sehubungan dengan itu dalam tahun 1982 jumlah koperasi yang mengelola dan mengkoordinir para pengrajin adalah sebanyak 348 buah. jumlah koperasi di bidang perlistrikan desa meliputi 118 buah yang tersebar di daerah Jawa Barat. dan dengan nilai usaha sebesar Rp 210. Beberapa koperasi telah berperan sebagai distributor listrik di pedesaan.383 orang. dengan anggota sebanyak 48. Jawa Timur. Keberhasilan koperasi di dalam membantu para anggotanya telah membuat para pengrajin di daerah-daerah pedesaan terangsang untuk bergabung di dalam wahana koperasi. Keberhasilan proyek perintis perlistrikan di daerah pedesaan yang dikelola oleh koperasi.7 juta liter.

Pertanian Dalam kurun waktu antara tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 pembangunan di bidang pertanian yang diarahkan dan dilaksanakan melalui Sapta Karya Pembangunan Pertanian.163 3. Minyak sawit 14.546 12. T e h 18.235 5. Perkembangan terse but juga tercermin dari adanya proyek-proyek besar di bidang pertanian yang membantu usaha pertanian rakyat dengan sistem perusahaan inti rakyat (PIR). serta adanya dukungan untuk pembangunan daerah yang tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam.237 1.286 22.917 2.572 3. Ubi ja1ar 5.607 2.237 1.029 3.478 2.8 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERTANIAN TERPENTING.292 10.504 desa. telah pula bermanfaat bagi sektor-sektor sosiallainnya.249 2.186 13.607 15.208 kepala keluarga pada 1.260 389 267 785 429 309 58 29 778 189 1.257 704 521 568 783 475 437 469 535 1. K 0 P i 17. 2.4. Cengkeh 19.183 14.200 185 64 15 17 78 873 3 T abel VII.7 7.149 1.6 1980 20.676 2. melayani pelanggan sebanyak 202.751 2. Ikan darat 9.509 3.469 2.311 1.031 12.518 1.158 1.038 135 157 161 141 1.618 1.094 1. Karet 13.606 10. Namun demikian.693 1.651 14.516 1.408 1. Telur 11. kecuali dalam juta liter untuk susu) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 13.341 1. telah menunjukkan perkembangan yang positif. Selain itu sejumlah 38 buah koperasi di bidang perlistrikan desa telah mampu untuk berswadaya melayani para anggotanya.988 11.1 2.276 15. Gula tebu 22.812 1. Hal ini terlihat dari meningkatnya produksi bahan makanan sehingga memantapkan usaha swasembada pangan.211 2.083 2.318 424 433 389 388 393 401 414 420 430 332 366 379 403 435 449 468 475 486 68 78 81 98 112 116 131 151 164 36 38 35 57 51 58 61 62 72 804 808 845 817 782 856 838 844 898 249 270 289 348 397 431 483 532 642 -94 108 1.301 12.606 2. hal ini berarti bahwa koperasi tersebut selain dapat membantu perekonomian masyarakat kecil di pedesaan.601 2 1. Ikan lout 8.991 13. Inti .254 3.319 1.845 15.395 455 571 259 78 1.575 1.872 2. Tembakau 21. Bera.227 1. Jagung 3.9 0. Ubi kayu 4. meningkatnya produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.902 13.412 13.5 1.375 1.5 0. serta meningkatnya ekspor dan berkurangnya impor produksi pertanian.079 653 470 1. 723 1. Kelapa/kopra 16.awit 15. 1969 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sampai dengan bulan Maret 1984 jumlah koperasi perlistrikan desa telah mencapai 313 buah. 7.107 748 884 907 1.670 506 507 520 549 596 629 671 694 275 297 316 329 86 117 143 170 963 899 1.9 2.600 1.387 2.726 2.961 24.903 2.185 15.724 13.876 17.460 2.532 1.438 1.702 2.433 2.7 40 Bila dikaji kembali hasil pembangunan di bidang pertanian.525 17.044 2.701 4.140 2.385 11. Susu 12.020 701 126 1. Jenis hasil 1.191 12.082 1. Daging 10.066 2.143 4.690 10.010 1. maka akan tampak peranan cukup besar dari sektor negara dalam menggerakkan dan mendorong kegiatan yang bersifat produktif di bidang pertanian.488 12.011 2. Kacang tORah 7.227 1. meningkatnya tarat hidup petani. Kede1ai 6. K a pos 1) Angka diperbaiki 2) Angka semen tara 1969 12.759 285 106 39 37 116 1.221 175 62 12 17 84 922 3 1970 13.825 10.015 295 281 302 309 110 93 113 116 40 33 45 56 39 34 40 41 118 106 120 121 1.041 1.582 196 214 150 149 160 194 197 223 228 71 51 67 65 70 73 76 91 125 14 13 22 15 15 20 39 21 35 24 18 29 27 23 37 43 46 47 76 79 80 77 82 89 84 81 87 1.831 6 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) 22.690 3.381 2.9 0.095 5.491 1.133 1.175 498 281 808 421 314 59 29 802 217 1.837 23.4 0. Lad a 20.1984 (dalam ribu ton.230 1.769 10 14.700 1.194 516 518 541 589 590 522 523 617 680 284 282 290 307 380 341 409 446 424 820 836 889 949 997 1. meluasnya kesempatan kerja yang mendorong tumbuhnya kesempatan untuk berusaha di bidang pertanian. disadari sepenuhnya bahwa masih Departemen Keuangan RI 160 .

Di dalam pengertian tersebut terkandung makna masyarakat petani yang mampu mengatasi tantangan. yang dapat memberikan umpan batik bagi pengembangan industri dan jasa.6 ton. Gambaran daripada hasil-hasil pembangunan di bidang pertanian sampai dengan tahun pertama Repelita IV dapat diikuti melalui Tabel VII. hambatan dan gangguan terhadap eksistensi serta kelestarian sumberdaya alamnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 banyak masalah yang dihadapi serta diperlukan hasil-hasil yang lebih mantap dan merata.5 persen per tahun tersebut dimungkinkan karena didukung oleh produksi beras per hektar dalam tahun 1983 yang mencapai rata-rata sebesar 2. Kebijaksanaan tersebut meliputi kebijaksanaan usaha tani terpadu. optimal dalam memanfaatkan sumberdaya alam. Apabila selama Pelita I dan Pelita II pertumbuhan produksinya masing-masing mencapai 4. modal dan teknologi serta sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. insektisida dan bibit unggul secara efektif. sedangkan upaya-upaya yang dilaksanakan untuk menunjang pelaksanaan kebijaksanaan tersebut ditempuh melalui empat usaha pokok yaitu intensifikasi. diversifikasi dan rehabilitasi. serta keberhasilan Departemen Keuangan RI 161 . Selanjutnya produksi beras sampai dengan bulan September 1984 telah meningkat lagi menjadi sekitar 24.5 ton per hektar. Di samping itu juga tercermin pengertian rota dan struktur produksi pertanian yang mampu mengikuti dinamika perubahan permintaan industri hilir dan konsumsi akhir.9 juta ton. juga karena tetap dilakukannya penggunaan pupuk. maka selama Pelita III telah meningkat menjadi 6.3 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1983. atau mengalami kenaikan sekitar 4. perluasan areal. ancaman.1.8 juta ton (Tabel VII.7 juta ton atau sebesar 3.8 persen per tahun. serta dapat berperan dalam pembangunan regional dan nasional yang serasi dan seimbang. Sehubungan dengan itu Pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan dasar pembangunan di bidang pertanian yaitu berdasarkan Trimatra Pembangunan Pertanian. Pelita II dan Pelita III menunjukkan kenaikan yang mantap. 7. komoditi terpadu dan wilayah terpadu.7 persen dan 3.4.9 persen di atas produksi tahun 1982 yang baru berjumlah 22. tenaga.8.9). Pertanian yang tangguh adalah pertanian yang dinamis dan kokoh. Hasil dari kenaikan produksi beras tersebut selain disebabkan oleh adanya peningkatan luasareal pallen dalam tahun 1984. Tanaman pangan Produksi beras selama Pelita I. Atas dasar itu maka produksi beras dalam tahun 1983 telah mencapai 23.5 persen per tahun. Tataurut kebijaksanaan dan upaya-upaya tersebut semata-mata dimaksudkan untuk tercapainya komoditi pertanian yang tangguh sesuai dengan kadar dan perimbangan yang wajar dalam struktur perekonomian nasional. yang dalam tahun sebelumnya baru mencapai rata-rata sebesar 2. Tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 6.

yaitu dad 6. baik perbaikan terhadap saluran tersier. Kerjasama kelompok petani tersebut diarahkan pada terwujudnya partisipasi dari semua petani untuk menerapkan sepenuhnya Panca Usaha Tani. maka diadakan perangsang. Sedangkan pertambahan luas areal panen intensifikasi tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya luas areal panen Inmas seluas 175 ribu hektar atau sebesar 3.401 ribu hektar dalam tahun 1983. yang bertujuan memanfaatkan potensi setiap lahan yang memungkinkan. yaitu denl!an menyelenggarakan perlombaan antarkelompok intensifikasi khusus. yaitu dari 5. atau meningkat dengan 77 ribu hektar dibandingkan tahun sebelumnya.102 ribu hektar..Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam mengatasi serangan hama/penyakit.623 ribu hektar dalam tahun 1983.1 persen atau seluas 105 ribu hektar. Sedangkan sebagai pendorong agar sebanyak mungkin kelompok tani dapat lebih berpartisiposi dan ikut serta dalam intensifikasi khusus.179 ribu hektar. Sementara itu dalam rangka meningkatkan mutu intensifikasi. Luas areal panen yang dapat dicapai sampai dengan bulan September 1984 telah meningkat lagi menjadi 9.047 ribu hektar dalam tahun 1982 menjadi 5.I0). Pemerintah juga melaksanakan operasi khusus (Opsus) yang merupakan penerapan intensifikasi khusus untuk daerah/lahan tadah hujan yang potensial dan dilakukan dengan lebih menggiatkan baik para petani maupun para petugas penyuluh yang ditunjang dengan penyediaan sarana produksi yang memadai.3 persen.un 1982 menjadi 6. Di samping lusus.222 ribu hektar dalam tahun 1983 (Tabel VII. maupun dalam penggunaannya melalui organisasi pemakai air yang semakin efisien. Pertambahan luas areal panen tersebut terutama disebabkan meningkatnya luas areal panen intensifikasi sebesar 4. maka sejak tahun 1979 Pemerintah telah mengadakan pola kegiatan baru yang telah dikenal dengan intensifikasi khusus (Insus).296 ribu hektar dalam tahun 1982 menjadi 1. yaitu dari seluas 1.5 persen dari tahun sebelumnya. lusus adalah suatu bentuk intensifikasi yang dilaksanakan oleh petani secara berkelompok sehamparan. Peningkatan tersebut juga ditunjang oleh keadaan iklim dan curah hujan yang normal serta adanya perbaikan irigasi.4 persen terhadap tahun sebelumnya.343 ribu hektar dalam ta:.988 ribu hektar. Selanjutnya luas areal panen Bimas yang sebagian besar bergeser ke areal Inmas. maka dalam tahun 1983 telah bertambah menjadi seluas 9. suatu kenaikan sebesar 1. dalam tahun 1983 meningkat sebesar 8. Apabila dalam tahun 1982 luas areal panen yang dapat dicapai baru seluas 8. Departemen Keuangan RI 162 .

509 8.005 9.179 Produksi ( ribu ton) 12.53 1.250 4.819 669 1.601 858 3.516 6.185 15.140 13.258 1976 321 2.637 3.872 20.63 2.169 3.130 2.338 1) Tidak termasuk Insus 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara In mas Biasa Baru 722 99 571 334 867 525 1.8 1.135 8.374 1980 125 1...988 3724 3. 1969 .898 8.286 22.102 9.03 2.38 2.1984 Rata-rata ( ton/ha ) 1.67 1.845 15.34 2.848 5.69 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Areal panen (ribu ha) 8.166 800 1.219 1983 3) 63 1. 10 LUAS PAN EN BIMAS DAN INMAS PADI.076 1.080 410 638 343 611 370 .54 2.613 4.525 17. Biasa Baru 1969 926 383 1970 803 445 1971 827 569 1972 621 582 1973 662 1.276 15.701 Tabel VII.346 619 4. yang terdiri dari lahan pekarangan Departemen Keuangan RI 163 . Selama Pelita III.607 15.724 1979 197 1.202 1975 425 2. Di samping itu penambahan areal pertanian di daerah transmigrasi mencapai 551.382 8.265 1982 2) 77 1.837 23.Tabel VII.89 1.929 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 .876 17.603 Jumlah 2.186 6.di samping pengkaitannya dengan usaha transmigrasi.961 24.088 851 2.183 14.153 2. 9 AREAL PANEN DAN PRODUKSI BERAS.284 868 3.360 8.788 3.170 1974 474 2.62 1.249 1981 2) 119 1.719 hektar dan areal yang sudah ditanami mencapai 153.014 8.163 22. 1969 -19831) ( dalam ribu hektar ) Tahun Bimas . 797 1978 236 1.324 7.934 hektar.988 9.343 6.369 8.724 13.74 1.495 8.249 13.623 Usaha ekstensifikasi dilakukan melalui perluasan areal tanam yaitu berupa pembukaan persawahan pasang surut atau pencetakan sawah baru.403 8.79 1.801 hektar.023 5.934 701 4.803 9.512 800 2.65 1.103 1977 272 1.9 1. sawah yang sudah selesai dicetak meliputi 178.96 2.

yaitu dari 3.0 persen. jumlah petani peserta Bimas dan Inmas telah mencapai sebanyak 43.095 ribu ton dalam tahun 1983. Sehubungan dengan itu dari Tabel VII. atau 66.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 seluas 98. Produksi kacang tanah dan.4 milyar.3 persen dan 9. baik melalui program intensifikasi maupun dengan program Bimas dan Inmas yang masih memerlukan tersedianya sarana yang cukup.779 hektar. serta penyelenggaraan perlombaan antarhimpunan petani.044 ribu ton dalam tahun 1983.12 dapat dilihat bahwa produksi jagung meningkat sebesar 57. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan September 1984. informasi pertanian. peragaan.4 persen dari luas seluruh lahan yang sudah dibuka. pembinaan kelompok dan himpunan petani. sebagaimana halnya dengan Bimas padi.9 persen. seperti halnya dengan produksi padi.676 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 2. sehingga petani dapat meningkatkan produksi pangallo Demikian pula terus ditingkatkan kegiatan kursus tani. Untuk menunjang usaha tersebut. Sementara itu produksi palawija sampai dengan bulan September tahun 1984.605 hektar dan lahan yang. yaitu masing-masing dari 437 ribu ton dan 606 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 469 ribu ton dan 633 ribu ton dalam tahun 1983. Produksi ubi jalar meningkat dengan 21. yaitu dari 1. sampai dengan tahun 1983 telah terdapat 14.11. Selanjutnya Pemerintah juga menyediakan kredit bagi petani untuk Departemen Keuangan RI 164 . dibuka dengan cara swadaya transmigrasi sendiri seluas 75. Dalam pengembangan produksi pangan.900 orang dengan realisasi penyaluran kredit sebesar Rp 1. 3. juga mengalami peningkatan yang mantap apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. atau masing-masing mengalami kenaikan sebesar 7.5 persen. Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan Bimas palawija.814 hektar. Di samping itu Pemerintah juga memberikan pelayanan kepada petani secara kontinyu dengan berbagai sarana produksi dan kredit. lahan yang sudah diusahakan penggunaannya mencapai seluas 366. Dari luas lahan yang telah dibuka tersebut. Pemerintah juga menyediakan kredit bagi petani untuk pengadaan sarana produksi. Oleh karena peningkatan produksi pangan sangat ditentukan oleh kegiatan para petani. lahan usaha seluas 377. Sebagaimana terlihat dalam Tabel VII. Kenaikan tersebut antara lain disebabkan adanya pengembangan produksi palawija melalui pusat pengembangan pertanian palawija.071 orang penyuluh pertanian madya (PPM) dan 606 orang tenaga penyuluh pertanian spesialis (PPS) yang tersebar di wilayah kerja penyuluh pertanian (WKPP) di 26 propinsi. kedelai juga meningkat. maka kepada para petani peserta tetap disediakan bantuan kredit untuk pengadaan sarana produksi yang dibutuhkan. maka Pemerintah terus memberikan penyuluhan pertanian agar mereka mampu menggunakan teknologi baru.044 orang tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL). di samping adanya pembinaan bagi daerah yang telah melaksanakan Bimas palawija serta adanya penyebaran bibit unggul.235 ribu ton dalan tahun 1982 menjadi 5.382 hektar.

191 12.417.445 2.90 3.151.20 39.90 563 43.90 1972/1973 15.966 Jagung Produksi 2.406 1.20 1.10 1973/1974 36.1 1) Posisi 30 September 1984 Kredit lomas padi mulai berIangsung MT 1977/1978 Jumlah petani 1.235 5. 12 LUAS PANEN DAN PRODUKSI PALAWI]A.488 12.690 3.061 3.314.412 1. Oalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan September 1984.4 158.492.254 3.682.353.991 4.13.066 2.584.173.690 10.388 1.383 1.398 1.600 orang.10 2.469 2.557.079 2.581.50 48.10 51.115.044 2.80 1.90 1984/1985 1) 1.90 3.567 3. Perkembangan mengenai penyaluran kredit Bimas palawija dapat diikuti dalam Tabel VII.467 1.40 2.095 5.20 11. dan ribu ton untuk produksi ) Tahun 1969 1910 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) Luas 2. realisasi penyaluran kredit telah mencapai sekitar Rp 0.939 2.40 1977/1978 62.903 2.143 4.573.50 1.60 1975/1976 72.846.435 2.80 42.095 2.083 2.9 Tabel VII.194 2.605.751 13.10 9.330.519.433 2.30 60.60 1982/1983 59.988 11.439 1.301 12. Tabel VII.282.011 2.385 11.257 Kacang tanah Luas panen Produksi 372 267 380 281 376 284 354 282 416 290 411 307 475 380 414 341 507 409 506 446 473 424 506 470 1) 508 475 461 437 484 469 419 535 Kedelai Luas panen 554 695 680 697 743 768 752 646 646 733 784 732 810 606 633 666 Produksi 389 498 516 518 541 589 590 522 523 617 680 653 1) 704 521 568 783 1) Angka diperbaiki Departemen Keuangan RI 165 .90 49.096.031 12.391.094 1.458.70 1983/1984 23.381 2.004.30 1974/1975 53.902 13.429 1.471 10.260 2.794.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengadaan sarana produksinya.468 1.175 2.40 3.106.364 1. 1971/1972 .50 64.071.353.4 milyar.815.70 1981/1982 62.50 2.90 41.546 12.211 2.493.70 29.20 3.676 2.735 2.50 1978/1979 60.10 1980/1981 50.30 33.288.387 2.1984 ( dalam ribu hektar untuk luas panen.1984/1985 (dalam jutarupiah dan ribu orang) Realisasi Pengembalian kredit kredit Tanun 1971/1972 9.10 1.324 1.501. 1969 .594 2.292 2.018 1.606 3.515.025 2.509 1.186 13.667 2.603.633.412 Ubi kayo Luas panen 1.470.160 3.011.410 1.509 3.606 2.917 10.433 2.572 3.955 2.353 1. dengan jumlah petani peserta sebanyak 8.726 13.740.40 1976/1977 71.029 3.30 1979/1980 49.538. 11 PENYALURAN KREDIT BlMAS DAN INMAS PADI.702 Luas panen 369 357 357 338 379 330 311 301 326 301 287 276 275 220 261 37 Ubi jalar Produksi 2.825 2.185 297 Produksi 10.626 2.503.460 2.651 14.548.301.80 14.

332 3.191.512 4.788.127 2.80 4.030 Departemen Keuangan RI 166 .8 77.90 1974/1975 5.048.336 4.40 1981/1982 9.435 3.832 2.5 348.889 1.6 245.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.215.1984/1985 (dalamjuta rupiah dan ribu orang) Ta h u n Realisasi kredit Pengembalian kredit Jumlah petani 143.361.8 360. 14 LUAS PANEN DAN PRODUKSI HORTIKULTURA.40 1984/1985 1) 390 15.10 5.10 1977/1978 6.10 5.226.791 1.90 1979/1980 5.893.226 5.204.7 195 159.293 1.30 4.906 4.9 1) Posisi 30 September 1984 Sejak MT 1978/1979 termasuk Bimas Palawija tumpangsari Tabel VII.007. 1973/1974 .70 1976/1977 8.120 2.325.80 1978/1979 6.80 7.249 4.40 1.70 4.215.709 3.356.70 1983/1984 4.50 5.067 2.393.295 2.117 5.743 2.206 4.348 8.927 1.731 3.861 2.272 3.00 4.7 146.1984 (dalam ribu hektar dan ribu ton) Luas panen Tahun 1969 600 1970 641 1971 715 1972 694 1973 676 1974 647 1975 531 1976 459 1977 558 1978 642 1979 660 1980 673 1981 921 19821) 632 1983 2) 787 1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Sayuran Produksi 1.60 1982/1983 11.30 7.480.7 261.007.445.7 442.13 PENYALURAN KREDIT BIMAS PALAWIjA.038 3.204.058.20 1980/1981 6.833 1.517 Luas panen 488 533 554 666 696 614 623 528 445 436 529 541 561 560 618 Buah-buahan Produksi 2.641 1. 1969 .917.6 8.6 1975/1976 9.624 2.725 3.6 1973/1974 1.277.306.7 235.073.30 1.068 2.

8 13.165.20 11.00 1.80 13.7 52. 1969 .3 54.2 Sejalan dengan usaha pengembangan tanaman pangan.9 210.7 11.20 1.00 2.9 14.3 442.6 1 2.50 4.1 219.7 126.638.7 17.2 354. 15 PENGGUNAAN PUPUK UNTUK TANAMAN PANGAN.4 53 53 116 46.9 129.3 24.9 43.3 Tabel VII.209.10 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.060.2 162.9 787.9 550.40 Rodentisida 1) 33.3 946 1.943. di samping berperan pula Departemen Keuangan RI 167 .4 P205 36.9 6.90 8.504.6 317.10 973.075.432.2 31.30 1.464.191.00 4. digiatkan pula peningkatan produksi hortikultura.5 65.3 K20 1 3.8 1 3 9.9 299. 1969 -1983 ( dalam ribu ton kadar pupuk ) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 . maka selain dilakukan peningkatan produksi beras dan produksi palawija.2 99.60 1.386.7 171. 1981 1982 1) 1983 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara N 155.5 94.3 95.555.8 84 58 113 121 79 78.7 110.3 1.2 262.10 4.268.982.8 311.1 109.60 1.2 43.254.00 3.4 478.3 312 290. 16 PENGGUNAAN PESTISIDA UNTUK TANAMAN PANGAN. Hal ini mengingat bahwa hasil-hasil produksi hortikultura sangat penting artinya dalam menunjang perbaikan gizi dan pola konsumsi masyarakat.410.1983 ( dalam ton) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 2) 1983 3) 1) Ekivalen Zinkphospide 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Insektisida 1.3 104.3 313.

Meningkatnya penggunaan pestisida disebabkan oleh bertambahnya penggunaan pestisida dari jenis insektisida dan rodentisida.038 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 3. Hal tersebut terutama disebabkan karena terjadinya peningkatan produksi sayur-sayuran sebesar 52. perkebunan digolongkan atas perkebunan rakyat. yaitu dari 2. Sampai dengan tahun terakhir pelaksanaan Pelita III.5 milyar nilai ekspor berasal dari sektor perkebunan.3 ribu ton dalam tahun 1983.16.2 ton dalam tahun 1983. Tanaman perkebunan Perkebunan merupakan salah satu sektor yang terpenting dalam menunjang perekonomian Indonesia. Selanjutnya perkebunan negara dan perkebunan besar swasta disebut juga sebagai perkebunan besar.1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. perkebunan rakyat telah Departemen Keuangan RI 168 . Hal ini terutama terlihat dari besarnya sumbangan devisa melalui ekspor hasil-hasil produksinya.2. Walaupun dalam pelaksanaanya dialami banyak tantangan. Menjelang akhir tahun 1983/1984. hasil produksi hortikultura secara keseluruhan sampai dengan tahun 1983 telah mengalami peningkatan sebesar 35. Meningkatnya penggunaan pupuk dan pestisida tersebut secara keseluruhan dapat diikuti melalui Tabel VII.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam intensitas penggunaan tanah dan tenaga kerja. 7. perkebunan negara dan perkebunan besar swasta. yaitu dari sebanyak 43.9 persen. Dalam pembahasan selanjutnya. Kenaikan penggunaan pupuk terutama disebabkan oleh meningkatnya penggunaan pupuk jenis K20.3 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 54.982. yaitu masing-masing dari 11.4. Sebagaimana terlihat dalam Tabel VII. Kenaikan insektisida dan rodentisida masing-masing adalah sebesar 24.8 ton dan 94.254. maka selama pelaksanaan Pelita telah dilaksanakan berbagai kebijaksanaan dan kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan produksi hasil perkebunan. Sehubungan dengan itu maka pengembangan produksi hortikultura ditekankan pada pengembangan sayur-sayuran dan buahbuahan di sekitar kota yang pemasarannya dapat lebih cepat.2 persen dan 80.7 ton dalam tahun 1982 menjadi 13. lebih dari US $ 1.4 ton dan 171. Meningkatnya hasil produksi tanaman pangan sangat erat kaitannya dengan penggunaan pupuk dan pestisida.117 ribu ton dalam tahun 1983.15 dan Tabel VII.14. namun mengingat bahwa peranan sektor perkebunan yang demikian besar dalam menunjang pembangunan umumnya dan bagi peningkatan sumber pendapatan devisa atau rupiah khususnya. karena semakin luasnya areal panen dan meningkatnya mutu Insus.8 persen.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

mendapat prioritas utama dalam pengembangan usaha perkebunan. Hal tersebut berdasarkan kenyataan bahwa sebagian besar areal dan hasil perkebunan yang ada selama ini adalah milik dan hasil produksi perkebunan rakyat, yang mutu dan produktivitasnya relatif masih rendah. Oleh karena itu penyuluhan bagi perkebunan rakyat ditujukan untuk meningkatkan pendapatan petani melalui modernisasi usaha perkebunan, pengorganisasian usahapemasaran serta pengelolaannya melalui wadah KUD. Sedangkan pengembangan dan pembinaannya tidak lagi dilakukan secara partial, akan tetapi melalui pola pembinaan terpadu. Pola pembinaan terpadu tersebut dilaksanakan secara menyeluruh, baik secara vertikal yaitu berupa kegiatan penyuluhan, penyediaan sarana produksi dan kredit, maupun secara horisontal yang dilakukan sejak mulai penanaman, pemeliharaan tan am an, pengolahan hasil produksi dan pemasaran hingga pengembangan manajemen. Realisasi daripada pembinaan terpadu diwujudkan dalam bentuk unit pelaksana proyek (UPP), yang meliputi pembinaan untuk berbagai komoditi/budidaya perkebunan, terutama tanaman karet, kelapa, kopi, cengkeh, lada, kelapa sawit dan teh. Selama Pelita III areal tanaman Y.lng telah berhasil diremajakan adalah tanaman karet, kelapa, kopi, teh, lada dan coklat yang telah mencapai areal seluas 306.626 hektar, sedangkan untuk tanaman cengkeh mencapai areal seluas 3.000 hektar. Adapun perkehunan rakyat yang telah dibina melalui UPP meliputi 880 unit dengan areal tanam seluas 2.482 ribu hektar. Sementara itu upaya lainnya untuk lebih mengembangkan perkebunan rakyat adalah dengan menerapkan pola perkebunan inti. Dalam pola tersebut perkebunan besar milik Pemerintah, yakni Perusahaan Negara Perkebunan/PT Perkebunan (PNP/PTP), berfungsi sebagai inti atau pusat pengembangan perkebunan rakyat sekitarnya. Pada gilirannya perkebunan rakyat tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi koperasi perkebunan rakyat. Pengembangan pola perkebunan inti tersebut, yang disebut proyek NES (nucleus estate smallholders) atau proyek perkebunan inti rakyat (PIR) meliputi budidaya karet, kelapa hibrida, kelapa sawit dan tebu. Perkebunan besar dalam NES/PIR tersebut berfungsi sebagai penyuluh, penyalur sarana produksi kepada perkebunan rakyat, pengolah hasil yang berasal dari rakyat/petani dan sebagai pemasar hasil produksinya. Sedangkan perkebunan rakyat hams menyediakan tanah dan tenaga kerja. Sampai dengan tahun 1983, realisasi luas areal hasil pembinaan pola NES/PIR adalah seluas 188.067 hektar untuk jenis tanaman kafer, kelapa sawit dan kelapa. Dari Tabel VII.17 dapat dilihat bahwa berhasilnya usaha pembina an perkebunan rakyat sampai dengan tahun 1983 tersebut ditandai dengan meningkatnya hasil kafer, teh dan cengkeh, masing-masing sebesar 55,6 persen, 47,1 persen dan 37,5 persen apabila dibandingkan dengan tahun 1982.

Departemen Keuangan RI

169

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Dalam waktu yang sarna hasil produksi perkebunan rakyat lainnya seperti lada, tembakau, kopi dan gula tebu juga mengalami peningkatan produksi, yaitu masing-masing sebesar 17,6 persen, 14,4 persen, 8,8 persen dan 2,1 persen. Sejalan dengan usaha dan kegiatan dalam bidang perkebunan rakyat, maka pembinaan dan pengembangan perkebunan besar swasta juga terus ditingkatkan. Hasil produksi usaha perkebunan besar swasta selama ini, khususnya sampai dengan tahun 1983, belum menunjukkan peningkatan seperti yang diharapkan. Hal ini antara lain karena berbagai jenis tanam_n seperti kafer, kelapa dan coklat yang telah diremajakan belum menunjukkan produktivitasnya, di samping masih adanya gangguan hama terhadap tanaman-tanaman terse but. Dalam tahun 1983, produksi kopi mengalami kenaikan sebesar 26,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni dari 5,7 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 7,2 ribu ton dalam tahun 1983. Sedangkan untuk produksi cengkeh dan teh, dalam tahun 1983 masing-masing telah meningkat sebesar 50,0 persen dan 5,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perkembangan selanjutnya daripada hasil produksi perkebunan besar swasta dapat diikuti dalam Tabel VII.18. Sementara itu perkebunan besar negara (PNP/PTP) dalam Pelita III juga telah banyak mendapat perhatian dari Pemerintah. Hal ini dimasudkan agar perkebunan besar negara dapat mengimbangi tuntutan perkembangan dan kemajuan teknologi moderen serta permintaan posaran intemasional. Untuk itu ditempuh serangkaian kebijaksanaan yang ditujukan terutama untuk meningkatkan budidaya pengusahaan tanaman dan bentuk usahanya. Di samping menyangkut segi pengelolaan perkebunan/perusahaan, maka aspek sosial ekonomi khususnya pemberian imbalan kepada tenaga kerja juga diperhatikan sebaik-baiknya. Berbagai kegiatan yang dilakukan di bidang perkebunan negara tersebut ditandai dengan meningkatnya produksi beberapa hasil perkebunan negara dalam tahun 1983, seperti antara lain terlihat dan meningkatnya produksi kafer, minyak sawit dan teh, masing-masing sebesar 4,2 persen, 3,7 persen dan 18,0 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hasil-hasil yang dicapai di bidang perkebunan negara dapat diikuti melalui Tabel VII.19. Dari Tabel VII.20 dapat dilihat bahwa dengan berhasil ditingkatkannya produksi perkebunan dalam tahun 1983, baik perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta maupun perkebunan negara, serta ditunjang pula oleh adanya kebangkitan kembali ekonomi dunia, maka volume ekspor hasil perkebunan telah meningkat pula. Apabila dalam tahun 1982 volume ekspor hasil utama perkebunan secara keseluruhan adalah sebesar 1.763,6 ribu ton, maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 1.990,5 ribu ton, atau suatu kenaikan sebesar 12,8 persen dibandingkan dengan tahun

Departemen Keuangan RI

170

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama didukung oleh meningkatnya volume ekspor minyak sawit, lada dan karet, masing-masing sebesar 33,3 persen, 23,9 persen dan 20,2 persen. Oi samping itu juga disebabkan oleh meningkatnya volume ekspor tembakau, teh dan kopi, masing-masing sebesar 18,3 persen, 7,7 persen dan 6,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Tabel VII. 17 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERKEBUNAN RAKYAT, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Kelapa/ Gula Tembakopra Tebu kau Teh Karet Kopi Cengkeh 220 162 22 220 75 558 11 1.198 170 21 196' 69 15 571 1.147 178 24 221 69 572 14 1.308 196 7 247 74 13 559 1.233 140 14 199 69 22 599 1.335 132 14 250 69 15 571 1.370 144 14 223 74 15 536 1.527 178 13 267 78 17 610 1.513 181 14 352 72 37 584 1.554 206 17 485 68 612 21 1.561 209 17 498 73 616 35 1.630 276 21 1.203 69 715 34 1.765 290 24 1.364 100 642 29 1.707 262 17 1.352 97 585 32 1.592 285 25 1.380 111 910 44

Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1) 1981 1) 1982 1) 1983 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara

Lada 17 17 24 18 29 27 23 37 43 46 47 37 40 34 40

Kapas 2,4 2,6 1,3 1,5 1,1 2,9 2,4 0,9 0,9 0,5 0,6 3 11 17,7 6,1

Tabel VII. 18 PRODUKSI BEBERAP A HASIL PERKEBUNAN BESAR SWASTA, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Ke1apa/ Gula Minyak Tebu sawit kopra Tahun Teh Kopi Karet 1 1969 110 5 9 72 60 2 1970 113 6 9 74 70 2 1971 114 7 10 122 79 3 1972 128 6 7 130 81 4 1973 109 4 10 118 82 6 1974 108 7 11 127 104 5 1975 109 6 10 126 126 5 1976 104 6 11 152 145 5 1977 107 6 11 162 147 21 1978 110 7 15 71 165 21 1979 112 8 16 73 168 33 19801) 120 6 18 84 221 25 1981 1) 127 9 14 116 266 11 1982 1) 125 6 16 72 285 19832) 124 7 16 72 286 11 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara

Inti sawit 13 15 18 17 18 21 24 27 29 22 23 38 41 47 47

Departemen Keuangan RI

171

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986
Tabel VII. 19 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERKEBUNAN NEGARA, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Tahun Karet 1969 110 1970 118 1971 118 1972 121 1973 137 1974 138 1975 137 1976 142 1977 147 1978 162 1979 170 19801) 186 1981 1) 193 19821) 189 19832) 197 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Minyak sawit 129 147 170 189 207 244 271 286 338 367 474 499 533 599 621 Inti sawit 28 33 39 42 46 52 57 56 64 72 85 90 100 110 115 Teh 31 34 37 37 43 40 46 49 51 59 92 68 72 61 72 Kopi 8 9 11 12 6 10 10 10 ]0 10 11 13 16 13 10 Tembakau 9 9 7 5 11 8 8 11 12 13 14 15 9 9 8 Gula tebu 630 603 708 756 293 860 878 902 924 960 1.030 273 220 195 191

Tabel VII. 20 VOLUME EKSPOR HASIL UTAMA PERKEBUNAN, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Minyak Kopra dan bungkil Tahun Teh Lada Karet sawit Inti sawit Kopi Tembakau 1969 857,5 179,1 42,7 36,1 127,1 5,7 16,7 349,1 1970 790,2 159,2 42,4 41,1 104,3 11 2,6 393,1 1971 789,3 209 48,6 44,8 74,3 18,3 24,2 322,5' 1972 774,6 236,5 51,4 44 107 26,2 25,7 327,1 1973 890,2 262,7 39,2 39,6 100,8 33,3 25,6 282 1974 840,4 281,2 28,5 55,7 111,8 33,6 15,7 252,6 2) 1975 788,3 386,2 21 45,9 128,4 19,6 15,2 329,1 1976 811,5 405,6 25,6 47,5 136,4 20,5 28,8 396,7 1977 800,2 404,6 25,2 51,3 160,4 25,9 30,9 335,9 1978 918,2 412,3 7,3 61,6 222,8 27,3 38 324,4 2) 1979 967,3 437,8 33,1 65,9 230,7 24,9 25,7 381,4 2) 1980 I)' 981 502,9 42,9 74,2 238,7 28,3 29,7 430,1 19811) 812,8 196,4 22,7 71,3 210,6 25,3 34 321,8 19821) 797,6 259,5 6,9 63,7 227 20,2 36,3 352,4 19833) 958,9 345,8 2,2 68,6 241,2 23,9 45 304,9 1) Angka diperbaiki 2) Hanya bungkil kopra 3) Angka sementara

Jenis komoditi 1969 Kare t 220,7 Kopra dan bungkil kopra 20,6 Ko p i 51,3 Tcmbakau 13,8 Minyak sawit 22,2 Inti sawlt 4 Lada 10,4 Teh 9,7 Bunga, biji pala dan ccngkch 1.6 Rcmpah-rcmpah lainnya 4) 3,5 Jumlah 357,8 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Hanya cengkeh 4) Scjak tahun 1980 tidak ada nilai ckspor

1970 260,9 35,1 65,8 11,5 36,5 5.U 2.9 17,3 2.1 4,3\ 441.4

Tabel VII. 21 NILAI EKSPOR HASIL UTAMA PERKEBUNAN, 1969 - 1983 ( dalam US $ juta ) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 222.2 195,9 395 487,3 365,U 535,1 593,8 720,5 1.002,40 1.174,20 835,8 602,1 26,2 17,6 23.6 23,2 28,9 31.2 38.1 35 41,3 52,1 32,4 38 55.4 72.4 77,4 1UI,3 101.1 250 634.0 509,7 655.4 656 345,9 341,7 19,9 30.0 44.9 35,5 37,8 39,2 61,1 59,3 60,3 58,b 53,1 38,9 46.3 42.0 72,5 Ibb,U 158,1 142 192,8 208,3 253,7 254,7 106,9 64,4 5,5 3,7 4.8 8.4 5.1 3,7 5.8 1,5 7.2 8.1 4,4 2,2 24.7 20.5 28.0 24.6 22.8 46,2 65,6 69,8 47,3 58,1 47,2 44,9 28,7 31.4 30,2 43,6 53,1 55 121.0 92,3 91,7 112,7 100.8 89,5 1.8 2.1 1.7 2,5 5.0 9,7 10,9 11.2 10,9 27,9 80,3 0,33) 4.4 3.4 6.5 6,1 3,7 5,6 7,8 9.0 0.3 435.1 419.0 684.6 898,5 78U,6 1.117,70 1.730,90 1.716,60 2.170,50 2.402,40 1.606,80 1.222,00

1983 2) 802,3 46,4 427,3 47,6 111,5 0,4 52 120,4 0,43) L608,3

Departemen Keuangan RI

172

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Meningkatnya volume ekspor beberapa hasil perkebunan tersebut disertai pula dengan kenaikan nilai ekspor hasil perkebunan dalam tahun 1983. Nilai ekspor keseluruhan dari beherapa komoditi perkehunan dalam tahun 1983, yang terdiri atas jenis komoditi karet, kelapa sawit, kopi, teh, lada dan tembakau, telah mencapai US $ 1.608,3 juta. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 dengan nilai sebesar US $ 1.222,0 juta, maka terdapat kenaikan sebesar 31,6 persen. Gambaran selanjutnya mengenai nilai ekspor beberapa hasil utama perkebunan dapat diikuti melalui Tabel VII.21.

7.4.3. Peternakan Salah satu masalah yang dihadapi di bidang peternakan sebelum Pelita berlangsung adalah rendahnya tingkat populasi ternak dengan perkembangan yang tidak merata. Hal ini antara lain disebabkan karena hampir 60 persen dari seluruh jenis ternak terkonsentrasi di pulau J awa yang justru luasnya hanya sebesar 7 persen dari luas seluruh daratan Indonesia, kecuali untuk jenis ternak babi yang sebagian besar dipelihara secara tradisional di Sumatela Utara, Sulawesi Utara, Bali dan Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu sejak dilaksanakannya pembangunan nasional, kegiatan di bidang peternakan diarahkan kepada peningkatan dan penyebaran populasi ternak, dan sekaligus juga untuk meningkatkan pendapatan para peternak dan memperluas kesempatan berusaha. Sehubungan dengan itu langkah-Iangkah telah dan terus dilakukan terutama dengan penyebaran bibit unggul ke daerah-daerah dalam usaha untuk mengatasi masalah kelahiran dan produktivitas ternak yang rendah, serta peningkatan pemotongan ternak jenis betina. Bibit unggul ternak tersebut disebarkan dari wilayah/propinsi sumber-sumber bibit ternak sapi seperti Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, ke wilayah/ propinsi lainnya yang potensial. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas bibit-bibit sapi lokal, telah dikembangkan usaha pembinaan sumber bibitnya, misainya sapi Bali dikembangkan di pulau Bali, Sumbawa, dan beberapa lokasi di Sulawesi Selatan. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap para peternak sapi Ongole di pulau Sumba dengan jalan mendatangkan sapi jenis unggul dari luar negeri, antara lain seperti sapi jenis Brahman. Sedangkan dalam rangka meningkatkan mutu bibit sapi, maka dalarn tahun 19831 1984 te1ah disebar sebanyak 28.129 ekor bibit sapi. Demikian pula untuk bibit ternak kerb au , karnbingldomba dan kuda, dalarn waktu yang sarna te1ah disebar masing-masing sebanyak 6.452 ekor, 12.910 ekor dan 2.633 ekor. Berkaitan dengan usaha Pemerintah di bidang transmigrasi, bidang peternakan telah ditingkatkan peranannya untuk mendukung usaha pengembangan lokasi baru tersebut. Dalarn rangka menunjang program
Departemen Keuangan RI

173

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

tersebut, sampai dengan Pelita III telah disebarkan sekitar 4.000 ekor dari berbagai jenis ternak, terutarna sapi dan kerbau, melalui dana transmigrasi. Di samping itu melalui dana bantuan Presiden juga telah diimpor berbagai jenis temak unggul seperti sapi jenis Brahman, Santa, Gertrudis dan Bilmon Red yang selanjutnya disebar ke daerah-daerah. Sedangkan untuk penyebaran bibit ternak jenis lainnya yaitu seperti bibit ayam DOC (day old chick) dari Pusat Pembibitan Cisarua juga terus dilaksanakan dan selanjutnya disalurkan ke seluruh propinsi Indonesia. Upaya lainnya yang telah dilakukan adalah dengan teknik inseminasi buatan (IB), yaitu suatu cara perkawinan pada hewan betina dengan alat berupa split pipet (insemination gun) yang telah diisi dengan semen dari pejantan. IB merupakan sarana untuk mengembangbiakkan ternak dengan cepat, teratur dan murah yang dapat memperkecil kemajiran serta tidak perlu memelihara pejantan, sehingga dengan demikian dapat dicegah adanya penyebaran penyakit dari satu hewan ke hewan lainnya sebagai akibat daripada perkawinan. Teknik IB di Indonesia telah dipergunakan sejak tahun 1970, namun baru dalam tahun 1973 dipergunakan semen beku, serta dalarn tahun 1975 dibangun laboratorium yang dapat memproduksi semen beku tersebut di Lembang dan Bandung. Sehubungan dengan ire dapat dikemukakan bahwa apabila se1arna Pelita II baru disalurkan sebanyak 67.000 dosis semen beku kepada 18 propinsi, maka pada akhir Pelita III telah berhasil disalurkan sebanyak 396.817 dosis semen beku untuk keperluan IB ke seluruh propinsi di Indonesia. Tenaga-tenaga untuk menangani pelaksanaan IB tersebut juga telah ditingkatkan, dan dalam rangka meningkatkan keterampilannya sudah banyak yang dikirim ke luar negeri antara lain ke New Zealand. Sebagai hasilnya, jumlah tenaga khusus untuk IB yang selama Pelita II baru berjumlah 295 orang telah berhasil ditingkatkan menjadi sebanyak 595 orang pada akhir Pelita III. Mengingat bahwa persediaan makanan ternak, baik kualitas maupun kuantitasnya, yang berasal dari hijauan makanan ternak masih dirasakan kurang terutama untuk daerahdaerah di pulau Jawa, maka telah dilaksanakan pembinaan terhadap kegiatan-kegiatan penyediaan makanan ternak. Adapun makanan ternak tersebut dapat dibedakan atas makanan hijauan yang terdiri dari rumput, leguminosa dan lain-lain, serta makanan penguat yang terdiri atas konsentrat. Sejalan dengan program penghijauan, maka kini telah dilakukan penanaman makanan hijauan ternak pada daerah/tanah-tanah kritis dan terlantar. Sedangkan dalam hal makanan temak jenis konsentrat, penyediaannya dilakukan oleh pihak swasta dengan pengawasan mutu oleh Pemerintah. Sementara itu di kebun-kebun bibit pusat di Cisarua dan Cisereuh, yang dilengkapi dengan laboratorium pemeriksaan bibit rumput dan bahan rerumputan. telah berhasil dikembangbiakkan jenis rerumputan atau makanan

Departemen Keuangan RI

174

obatan darijenis ND Kumarov.500 ribu dosis. dan penyakit kulit menular (scabies). bebesiosis). Brucella dan Rabies. 13. pencegahan dan pemberantasan penyakit. diamati daya adaptasi dan daya tumbuhnya untuk kemudian disebarkan ke tiap kabupaten. Selanjutnya dari kebun-kebun bibit tingkat kabupaten dan tingkat kecamatan disalurkan kepada peternak di kecamatan. desa dan kampung sampai ke padang penggembalaan. 2 di antaranya berada di Denposar dan Ujungpandang yang dibangun alas ban_an FAa (Food Agriculture Organisation) dan TJNDP (United Nation Development Program). Dalam hubungan ini telah selesai dibangun dan berfungsi 5 buah Balai Penyidikan Hewan. Di samping itu juga telah dibangun 3 buah Laboratorium Penyidikan Penyakit Hewan jenis A di tingkat pusat. penolakan. radang paba dan keluron menular (brucellosis). dalam tahun Departemen Keuangan RI 175 . -parasit darah (surra. Dalam tahun 1983/1984 telah dapat disediakan dan disebarkan vaksin dan obat. Sehubungan dengan itu. Selama lima tahun pelaksanaan Repelita III telah dilakukan kegiatan pengamanan ternak dengan mengaktitkan fungsi penyidikan. Di samping itu juga telah dapat . 20 ribu dosis dan 522 ribu dosis. penyakit jembrana di Bali dan penyakit zoonosa rabies. masing-masing sebanyak 50.ditanggulangi penyakit asal bakteri antara lain seperti penyakit ngorok. Di kebun bibit ditingkat propinsi tersebut. Anthrax.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hijauan temak baru serta memperbaiki jenis yang ada untuk disebarkan ke kebun-kebun bibit di berbagai propinsi. dewasa ini juga telah direhabilitir beberapa karantina hewan serta vaksinasi massal yang\ditangani secara khusus. petugas laboratorium diagnostik dan tenaga vaksinator terus ditingkatkan. sedangkan 2 buah lagi berada di Medan dan Tanjung Karang yang dibangun alas bantuan dari pemerintah jepang. SE. penyakit antrax. 1. namun tidak dapat diabaikan adanya beberapa penyakit yang berasal dari virus seperti penyakit tetelo. Dengan demikian akan tercapai upaya dalam mendapatkan rumput alam yang bermutu tinggi di samping usaha budidaya rumput. Walaupun selama sepuluh tahun terakhir ini serangan penyakit pada temak pada umumnya dapat diatasi dan dikendalikan. penyediaan tenaga penyuluh. bibit-bibit diperbanyak. Sebuah balai dibangun di Bukittinggi dengan bantuan dari pemerintah j erman Barat.000 ribu dosis. maka Pemerintah telah mempersiapkan baik alat-alat ataupun tenaganya. kader peternak. Guna menanggulangi wahab yang tidak dapat diduga baik mengenai kejadian maupun waktunya.000 ribu dosis.550 ribu dosis. dan laboratorium jenis B di setiap propinsi serta laboratoriumjenis C di setiap kabupaten. Fowl Pox F. 4. penyakit mulut dan kuku pada sapi. Apabila dalam tahun 1982/1983 jumlah tenaga penyuluh petemakan spesialis (PPS) dan tenaga penyuluh peternakan lapangan/demonstrator masing-masing baru berjumlah 368 orang dan 936 orang. Selanjutnya dalam rangka pencegahan penyakit ternak.

976 2. Selanjutnya jumlah petugas laboratorium diagnostik dan petugas vaksinator yang dalam tahun 1982/1983 masing-masing baru sebanyak 312 orang dan 1.132 211.6 0.6 0.2 1.2 7.1984 ( dalam ribu ekor) Tahun Sapi 1969 6.4 29.8 0.7 3.620 14.5 1.447 1970 6.438 75.4 0.2 97 1) 3.8 0.4 0.382 3.8 51.269 7.2 28 3.587 3.513 2.1 2.1 8.7 45 13.245 1972 6.416 12.189 6.822 2.078 22.407 orang.489 2.286 1973 6.330 1979 6.544 6.315 6.382 107.124 13.1 2.4 0.947 2.403 3.3 0.7 1.541 18.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1983/1984 telah meningkat masing-masing menjadi 428 orang dan 1.130 orang.5 0 0 0.350 2.906 2.8 Tulang 10.611 4.804 3.533 Kambing 7.976 2.637 1974 6.2 1.4 8 7.751 1) Angka sementara Sapi perahan 52 59 66 68 78 86 90 87 91 93 94 103 113 140 162 169 Kerbau 2.362 3.370 10.169 3.3 0.237 1977 6.659 7.357 184.7 0 0 0.976 2.9 4.6 0.677 4.488 2.6 1.861 25. Tabel VII.4 0.627 84.640 82.2 9.6 50.146 2.979 2.878 3.4 0.343 Babi 2.364 3.1 0.5 1) Angka dalam ton 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 176 .9 24.5 0.7 187 1) 3 0. 22 POPULASI TERNAK.2 18. 1969 -1983 ( dalam ribu ekor untuk temak.9 0 0 0.4 0.217 1978 6.538 2.089 21.380 93.6 9.284 2.2 5.6 22.707 2.432 2.687 Itik 7.2 2.902 3.1 9.4 2.071 4.516 1982 6.1 1.9 0 0 1.6 1.316 4.8 9 0.182 16.790 7.374 3.5 0.4 2.793 6.177 4.124 4.475 102.098 Domba 2.9 0.4 0.302 232.032 17.943 7.4 0.891 8.5 0.292 2.7 54.1 1.336 6.380 1975 6.436 orang.998 3.183 3.556 197.3 0.6 8.996 3.906 7.517 6.3 0.312 2.660 19841) 6.5 5.9 31.1 0. 1969 .100 98.8 1 59.3 1 0 0 2.125 15.594 1983 1) 6.079 Kuda 642 692 665 693 645 600 627 631 659 615 596 616 637 658 665 704 Ayam 62.603 3. dalam ribu ton untuk kulit dan tulang ) Ternak Kulit Sapi Kerbau S api Kerbau Kambing Domba 38.436 27.415 2.457 2.1 0.5 1.242 1976 6.1 0.014 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 19832) Tabel VII.362 1980 6.4 0 1.4 193 1) 2.5 2.155 3.130 1971 6.440 1981 6.6 28 1) 3.476 63.2 4.457 3.691 7.1 2. dalam tahun 1983/1984 juga telah meningkat masing-masing menjadi 313 orang dan 5.1 11.049 8.231 4. 24 VOLUME EKSPOR TERNAK DAN HASIL-HASILNYA.404 11.232 8.2 0.432 2.051 7.9 9.987 121.1 2.426 23.768 2.5 2.493 114.

6 14.1 626.421.60 22. Apabila dibandingkan dengan produksi tahun 1982 yang masing-masing baru berjumlah 628.193.677 ribu ekor dan 665 ribu ekor dalam tahun 1983.2 5. menjadi 6.20 299.433.0 ribu ton.6 ribu ton. sapi perahan dan kambing dalam tahun 1983 telah menunjukkan kenaikan dari masing-masing sebanyak 6.636. 316.23).30 109.90 26.25 NILAI EKSPOR TERNAKDAN HASIL-HASILNYA.046.1 1977 1.9 juta liter (Tabel VII.80 Kulit Kerbau Kambing 170.3 0 1979 0 0 1980 0 0 1981 0 0 1982 0 0 19831) 0 0 1) Angka sementara Sapi 1.40 Berbagai cara telah dilaksanakan untuk meningkatkan populasi ternak.6 615.20 41.70 83.981.70 1.00 3.40 19.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.70 139 11.822.9 524. telur dan susu juga menunjukkan peningkatan yang cukup mantap.243.582.3 1. 1969 -1983 (dalam US $ ribu) T ernak Sapi Kerbau Tahun 1969 596 251 1970 1. Dari tabel tersebut terlihat bahwa apabila dibandingkan dengan tahun 1982.758. maka produksi daging. Dalam tahun 1983.196. maka produksi daging telah meningkat sebesar 6.40 7.40 990.6 169 105.30 157.307.00 2.810.60 385.594 ribu ekor.315.471.083.843.9 1.1 3.926. 140 ribu ekor dan 7.8 195.891 ribu ekor dalam tahun 1982.694.0 ribu ton dan 117.0 ribu ton dan 142.049 ribu ekor dalam tahun 1983. babi dan kuda.026.974. volume dan nilai ekspor ternak dan hasil-hasilnya tidak lagi mengalami kenaikan bahkan kegiatan ekspor Departemen Keuangan RI 177 .5 2.10 7.50 485.423.1 2. 3.8 1972 2.843.704.752.30 23.00 6.20 813.9 1976 3. Demikian juga populasi ternak Ryall dan itik menunjukkan kenaikan masingmasing sebesar 7.007.658.30 3.30 3.1 4. ketiga jenis produk tersebut masing-masing telah mencapai sebanyak 671.10 Domba 693.222.60 1.50 25. Hasil-hasil yang dicapai di bidang peningkatan populasi ternak sampai dengan tahun pertama Repelita IV dapat diikuti melalui Tabel VII.3 535.20 2.80 7.6 0 JumJah 4.50 237. maka populasi ternak jenis sapi.738.3 1971 1.80 25.672.10 1.70 398 3.70 1.80 5.248. Disusul kemudian kenaikan populasi ternak domba.998.792.6 juta liter.966.90 398.60 7.134.30 299.30 1.80 1973 3.587 ribu ekor dan 658 ribu ekor dalam tahun 1982.5 172.90 6.262.883. produksi telur 6.226.90 147 11.4 persen dan produksi susu 21.00 15.341.5 393.949. meningkatkan menjadi 4. yaitu dari masing-masing sebanyak 4.523. 297.24 dan Tabel VII.9 164.90 26 1978 70.412.2 124.70 22.20 3.00 698.6 1974 7.516.40 7.30 69 18.5 590.30 1975 5.5 persen. Sementara itu sebagaimana terlihat dalam Tabel VII.25.186.2 persen dan 6.4 9.132.790.677.272.60 11.691.231 ribu ekor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.30 Tulang 52.50 154.368.985.50 15.40 1.245.5 255.30 425.087. 3.391. 162 ribu ekor dan 8.6 652 1.308.00 395.660 ribu ekor.662.4 1.769.80 10.922.010.22.7 persen.843. Sejalan dengan meningkatnya hasil-hasil yang dicapai di bidang pengembangan populasi ternak.40 4.7 24.800.20 1.90 2.824.560.50 30 14.40 2.316 ribu ekor.80 7.900.246.401.2 13.80 16.90 712.

Di lain pihak.120 ribu ton. atau 6. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan para nelayan. dan long line.5 persen dari hasil keseluruhan. Penurunan tersebut disebabkan karena meningkatnya permintaan daging dan protein hewani. purseseine.3 persen. serta kulit dan tulang di dalam negeri sebagai akibat dari berkembangnya sektor industri. sedangkan sisanya sebanyak 520 ribu ton adalah ikan darat. pole and line. meningkatkan mutu gizi pangan dan sekaligus untuk meningkatkan ekspor.4.998 ribu ton. yaitu sebanyak 1. Dengan letak geografis yang ada sella ditunjang oleh iklim tropis sepanjang tahun. Produksi ikan sampai dengan tahun 1983 telah meningkat menjadi sekitar 2. Apabila dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 1982 yang berjumlah US $ 25.4 persen. 7.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ternak sapi dan kerbau telah dihentikan sejak tahun 1979. Kenaikan produksi ikan tersebut selain disebabkan peningkatan produksi ikan taut sebesar 7. penggunaan perahu tanpa motor dan alatDepartemen Keuangan RI 178 . Sementara itu hasil-hasil yang telah dicapai di bidang perikanan dalam tahun 1983 antara lain tercermin pada produksi ikan yang telah mencapai 2.120 ribu ton atau sebesar 6.1 persen lebih tinggi dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya yakni sebanyak 1. keadaan tersebut sangat menguntungkan produktivitas dan pengembangan budidaya ikan di Indonesia. Namun mengingat bahwa penangkapan ikan memerlukan tatacara yang benar agar pelaksanaannya dapat produktif dan efisien.4.600 ribu ton atau 75.9 juta. memperluas kesempatan berusaha.1 juta. kerbau.7 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982. Titik berat pembangunan di bidang perikanan dalam Repelita IV ditujukan pada pembinaan dan pengembangan perikanan rakyat. Dapat diketengahkan bahwa besarnya peningkatan produksi ikan taut tersebut terutama karena bertambahnya kapal-kapal perikanan bermotor dan meningkatnya penggunaan alat-alat penangkap ikan moderen seperti jaring jenis gill net. mempertinggi produksi.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. kambing dan domba dengan nilai ekspor sebesar US $ 23. Perikanan Indonesia dikenal sebagai suatu negara maritim yang terdiri dari pulau-pulau dengan perairan yang me1iputi tiga perempat bagian dari se1uruh wilayah negara. maka selama Pelita III telah ditempuh usaha-usaha intensifikasi penangkapan sekaligus pengembangbiakan daTi berbagai jenis ikan dan udang di samping juga dilakukan usaha pengembangan perikanan darat. juga karena meningkatnya produksi ikan darat sebesar 2. meskipun jumlah populasi ternak secara keseluruhan meningkat setiap tahunnya. Dengan demikian dalam tahun 1983 sebagian besar ekspor hasil ternak adalah berupa kulit sapi. Hasil produksi ikan dalam tahun 1983 tersebut sebagian besar merupakan produksi ikan lalit. maka nilai ekspor hasil ternak turun sebesar 4.

produksinya te1ah meningkat lagi sehingga mencapai 279 ribu ton. Dalam tahun 1983.3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. namun produksi ikan darat juga menunjukkan jumlah yang terus meningkat. Meningkatnya penggunaan perahu/kapal motor serta alat-alat penangkap ikan moderen terlihat dari jumlah perahu/kapal motor yang dalam tahun 1982 baru sebanyak 85. Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan yang keseluruhannya mencapai sepanjang 590 km.5 ribu hektar. terutama yang terdiri dari hasil tambak. atau suatu kenaikan sebesar 9.6 ribu hektar atau suatu kenaikan 1. Jawa Tengah. maka dalam tahun 1983 telah mencapai 405. Selanjutnya guna menunjang dan mempercepat pertumbuhan produksi perikanan lalit.466 buah dalam tahun 1982 menjadi 212. Sampai dengan bulan September tahun 1984. Jawa Barat.4 persen. gudang pendingin dan lain-lain fasilitas yang diperlukan untuk mengembangkan produksi. kolam dan sawah. 2 buah PP nusantara dan sebuah PP samudera. yang berarti peningkatan sebesar 10. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 94. Jawa Timur. terutama perikanan rakyat. produksi budidaya perikanan darat mengalami kenaikan sebesar 5. NTB. Sebaliknya dalam periode yang sarna jumlah perahu tanpa motor telah menurun dari 215.300 buah. Di samping itu juga telah dibangun 24 buah PP.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 alat penangkap ikan tradisional te1ah menurun yang menunjukkan te1ah terjadinya pergeseran dan pergantian dari alat-alat penangkapan tradisional ke alat-alat penangkapan yang lebih produktif.8 persen bila dibandingkan dengan tahun sebe1umnya. yang terdiri alas 21 buah PP pantai. PPI dan PP tersebut dilengkapi dengan tempat pelelangan. yaitu dari 241 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 254 ribu ton dalam tahun 1983. Sumatera Utara. Bali.8 persen. Dalam hubungan ini.083 buah. Sedangkan untuk mendukung pengembangan budiclara tambak dan perikanan darat lainnya. Tersedianya benih dan induk ikan dalam jumlah dan mutu yang memadai sangat Departemen Keuangan RI 179 .400 buah dalam tahun 1983.4 persen dibandingkan dengan tahun sebe1umnya. sampai dengan tahun 1983/1984 telah dibangun 149 buah PPI yang tersebar di 25 propinsi kecuali untuk DI Yogyakarta dan Timor Timur. pabrik es. Meningkatnya produksi budidaya perikanan darat tersebut terutama disebabkan intensifikasi budidaya tambak di samping adanya perluasan arealnya. NTT. Apabila luas areal budidaya tambak dalam tahun 1982 baru mencapai 400. Sementara itu walaupun pertumbuhan produksi ikan darat tidak secepat produksi ikan laut. telah dibangun saluran tambak di Daerah Istimewa Aceh. maka sejak Pelita III telah dilaksanakan rehabilitasi dan pembangunan pangkalan pendarat ikan (PPI) serta pelabuhan perikanan (PP). atau suatu penurunan sebesar 1. pemasaran dan pengolahan hasilhasil perikanan.

657 7.106 1.411 29.332 326 28 9 42 20 13.187 29.941 52. Selanjutnya untuk tahun 1983. selain mengandalkan benih dari sumber alam.154 1.195 34.721 84.236 359 96 14.6 persen dari seluruh volume.600 Ekspor ikan selama Pelita III.705 226.971 162. baik volume maupun nilainya telah mengalami kenaikan.754 473 136 13.178 68.026 11.910 19.145 1.375 8. Pada urutan Departemen Keuangan RI 180 .852 45.378 3.041 2.118 892 568 384 103 29 10.121 78. 1969 .170 194.550 ton dengan nilai sebesar US $ 247.778 9.431 364 114 1 i .724 2.2 persen dan 1.505 1.827 1982 2) 25. yang mencapai 29.907 7.648 2.992 3. Apabila dalam tahun 1978 konsumsi ikan baru mencapai 11.720 32. baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.286 16.334 2.991 1977 31.308 19.156 34.865 471 867 749 190 37 12. Dalam waktu yang sarna telah dibangun sebanyak 3 unit balai benih udang (BBU) dan 3 unit balai benih udang galah (BBUG).955 1979 34.787 57. rata-rata konsumsi ikan segar per kapita per tahun dalam negeri dari tahun 1978 sampai dengan tahun 1983 terus menunjukkan peningkatan.4 kg per kapita.959 ribu.1983 (Volume dalam ton. Untuk mengatasi hal tersebut.575 181.756 18.934 180.191 54.018 63. Dilihat dari segi konsumsinya.463 116.639 5.050 5.8 persen per tahun.300 8.517 3.344 40.486 193.28. nilai dalam US $ ribu) Ikan segar Katak Ikan hias Lain-lain Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai 2.980 5.431 1976 31. Tabel VII. sampai dengan tahun 1983 telah menunjukkan peningkatan yang mantap.355 358 65 12. yakni masing-masing dengan rata-rata sebesar 6.319 14. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 dengan volume ekspor sebesar 61.768 321 92 9.571 1975 25.1 kg per kapita.060 6.805 ton senilai US $ 244.278 1971 15.395 7.114 29.738 88.370 6.049 5.444 22.875 5.612 4.184 399 114 13.160 3.387 89.450 I) Segar dan awetan 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Jumlah Volume Nilai 21.868 678 2.585 217 98 17.8 persen dan 5.354 75. Ekspor hasil-hasil perikanan dalam tahun 1983 sebagian besar adalah berupa udang segar dan awetan.620 161.178 225.851 2.774 286 56 14.0 persen.211 13.300 255. pemasaran hasil ikan ke luar negeri telah mencapai 83.827 7S.424 68.838 1.640 19833) 26.180 ribu.389 131.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menentukan berhasilnya usaha perikanan budidaya.426 2.420 ribu.953 92.410 Udang 1) Volume Nilai Tahun 1969 5.1 persen dari seluruh nilai ekspor hasil perikanan.416 88.820 3.510 163.823 3.182 1.697 1972 23.750 200 170 24.185 54.274 17.255 33. ditingkatkan pula peranan yang lebih aktif dari balai benih ikan (BBl).867 3. Sampai dengan tahun 1983/1984 telah direhabilitasi dan dibangun BBI sebanyak 43 unit.111 1.163 2.924 350 61 12.464 236.28 VOLUME DAN NILAI EKSPOR HASIL-HASIL PERIKANAN.562 1974 32.496 12.810 10.316 4.627 140.618 249.693 1.380 57.378 21. Pemasaran ikan.325 6.959 30. Volume dan nilai ekspor hasil ikan dalam tahun 1983 tersebut belum termasuk ekspor uhliruhlir yang berjumlah 4.233 1978 32.553 2.625 31.115 7.994 41. maka berarti volume dan nilai ekspornya telah meningkat masing-masing sebesar 35. atau mengalami kenaikan rata-rata 2.188 4.258 305 54 13.904 1981 24.712 31.483 1980 31.7 persen per tahun.247 169 652 286 104 38 12.809 1973 28.387 1.333 4. dan 76.943 200. sebagaimana terlihat pada Tabel VII. Dalam waktu yang sama.750 ton senilai US $ 8.655 18. ekspor hasil-hasil perikanan juga menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan.373 1. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 13.540 21.637 878 1970 7.

Pangan dan gizi Pembangunan di bidang pangan dan gizi sampai dengan akhir Pelita III dititikberatkan pada peningkatan penyediaan pangan secara merata. Penetapan harga dasar dan harga batas tertinggi tersebut tidak hanya berlaku terhadap bahan pangan pokok beras saja. Sehubungan dengan harga dasar gabah/beras dapat dikemukakan bahwa pada awal Pe1ita III harga dasar gabah kering giling di tingkat BUUD/KUD adalah sebesar Rp 85. Mulai awal Pebruari Departemen Keuangan RI 181 . peningkatan jumlah sarana penyangga. sehingga usaha perbaikan dan peningkatan gizi masyarakat dapat tercapai. kedelai.per kilogram. 7. maka harga dasar gabah/beras tersebut te1ah ditingkatkan sehingga sampai dengan akhir tahun Pe1ita III mencapai sebesar Rp 145.7 persen dari seluruh nilai ekspor hasil perikanan. dan kacang hiiau. melainkan juga untuk beberapa jenis palawija. sehingga konsumsi bahan pangan bukan beras terus meningkat. Dalam menunjang usaha tersebut. di samping tercukupinya kebutuhan gizi yang sesuai dengan daya beli masyarakat banyak. memantapkan harga serta memperbaiki pengolahan dan penyimpanan hasil produksi pangan. Singapura. Amerika Serikat. Pemerintah mengusahakan terwujudnya harga pangan yang stabil pada tingkat yang wajar. serta pembangunan gudanggudang pangan di seluruh pelosok tanah air.per kilogram.4 persen dari volume atau 7. melancarkan penyaluran bahan pangan.. Sehubungan dengan kegiatan tersebut.5. Sejalan dengan kebijaksanaan yang berorientasi pada harga. antara lain jagung. telah dilakukan peningkatan produksi.4. Penentuan harga yang wajar bagi produsen terutama ditujukan untuk memberikan dorongan kepada petani produsen meningkatkan hasil produksinya. memperbaiki sarana distribusi dan pemasaran.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kedua adalah ekspor ikan segar yang mencapai 38. Di samping itu. maka juga ditujukan untuk meningkatkan gizi masyarakat melalui penganekaragaman pola konsumsi pangan masyarakat. Untuk itu secara berkala Pemerintah telah menetapkan harga dasar yang diterima oleh petani produsen dan harga batas tertinggi yang dibayar oleh konsumen. baik bagi kepentingan produsen maupun konsumen. Pemerintah melakukan kebijaksanaan barga. Negeri Belanda. Sedangkan negara-negara tujuan utama ekspor hasil perikanan adalah ]epang. Agar petani produsen padi lebih bergairah dalam meningkatkan produksinya. Hongkong. Sedangkan khusus harga dasar kacang tanah sejak tahun 1982/1983 telah dihapuskan karena harga kacang tanah di posaran sudah tinggi sehingga tidak perlu lagi ditetapkan harga dasarnya.. Belgia dan Luxemburg. Sedangkan penetapan harga batas tertinggi yang dibayar oleh konsumen dimaksudkan agar harga pangan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak.

yakni sebesar 12 persen per tahun.2 ribu ton.8 ribu ton. Hal ini antara lain terlihat dari pembangunan gudang-gudang pangan Pemerintah di se1uruh pe1osok tanah air. Untuk lebih meningkatkan keterkaitan kebijaksanaan pangan dengan koperasi baik di bidang pengadaan maupun penyalurannya.037. sedangkan dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus jumlah terse but telah meningkat menjadi sekitar 2.0 ribu ton.per kilogram. maka sejak tanggal 1 Juni 1983 kepada koperasi diberikan kredit dengan suku bunga rendah. te1ah mencapai sebanyak 1. dan gudang Bulog lama sebanyak 89 buah dengan kapositas tampung sebanyak 168.29).per kilogram (Tabel VII. Demikian pula untuk tahun 1985. Pemerintah juga terus memperbaiki sarana distribusi dan pemasaran serta pengolahan dan penyimpanan hasil pertanian pangan.0 ribu ton atau sebesar 11 persen berasal dari non KUD. Selain mendorong perkembangan KUD.6 ribu ton alan sebesar 89 persen dari se1uruh pengadaan gabahlberas dalam negeri. sedangkan sisanya sebanyak 137.6 ribu ton. Sampai dengan bulan Juli 1984.. Agar persediaan beras berada dalam jumlah yang cukup. sedangkan Departemen Keuangan RI 182 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1984 harga dasar gabah/beras telah ditingkatkan lagi menjadi Rp 165. Dari jumlah impor beras dalam tahun 1983/1984 tersebut. gudang semi permanen sebanyak 430 buah dengan kapositas tampung sebanyak 397. Jumlah gudang tersebut terdiri atas gudang Bulog baru sebanyak 599 buah dengan kapositas tampung sebanyak 1. maka dalam pengadaan gabah/beras te1ah diberikan pula margin tataniaga yang lebih besar dari yang diberikan kepada pihak swasta non KUD..467. Dalam tahun 1983/1984 pembelian beras (berupa gabah setara beras) yang berasal dari dalam negeri adalah sebanyak 1. dan diikutsertakan dalam penyediaan sarana lepas panen: Di samping itu untuk memperkuat daya saing dan membantu pemupukan modal bagi KUD.0 ribu ton.118 buah dengan kapasitas tampung se1uruhnya sebesar 2.8 ribu ton. maka pembelian gabah dan hasil palawija dari petani dilaksanakan terutama melalui koperasi unit desa (KUD). sebanyak 81. Untuk menjamin agar para petani produsen benar-benar dapat menerima harga penjualan hasil produksinya sesuai dengan harga dasar yang telah ditetapkan.8 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1983/1984.210.. Dengan tersedianya gudanggudang penyimpanan tersebut diharapkan pengadaan pangan untuk sarana penyangga dapat berjalan lancar.5 persen dilakukan melalui impor komersial. jumlah gudang Pemerintah yang te1ah selesai dibangun dan dapat berfungsi mencapai 1.250. atau 85. maka dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan impor beras sebanyak 1.109.901.4 ribu ton. Sebagai perbandingan dapat dikemukakan bahwa pengadaan gabahlberas yang berasal dari kUD dalam tahun 1983/1984. terhitung mulai tanggal1 Pebruari 1985 te1ah diputuskan untuk menaikkan lagi harga dasar gabahlberas giling di tingkat BUUD/KUD menjadi Rp 175.

6 persen lebih rendah dibandingkan dengan penyaluran beras dalam tahun sebelumnya yang mencapai jumlah 2.00 1) 175.00 Gabah kering giling di BUUD/KUD 42.00 165.00 135.50 54.50 70.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sisanya dalam rangka bantuan pangallo Pengadaan beras dalam negeri dan impor dapat diikuti melalui Tabel VII.50 68. 1974/1975 .00 2) 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1985/1986 I) BerIaku mulai I Pebruari 1984 s/d 31 Januari 1985 2) BerIaku mulai 1 Pebruari 1985 Departemen Keuangan RI 183 .00 74.50 52.30 44.00 120.944 ribu ton. Pengendalian harga tersebut antara lain dilakukan melalui penyaluran beras ke seluruh pelosok tanah air.00 Padi kering giling di desa 31.00 145. baik untuk memenuhi kebutuhan pegawai dan karyawan tertentu maupun untuk umum melalui operasi posar.50 64.31. beras yang disalurkan dalam tahun 1983/1984 adalah 1.00 42.30 58.50 70. Dengan adanya beras dalam jumlah yang cukup.00 54. 29 HARGA DASAR PADI DAN GABAH.866 ribu ton atau 36.00 50.00 51. Gambaran dari perkembangan harga beras di beberapa kola besar dari tahun 1974/1975 sampai dengan tahun 1983/1984 dapat diikuti melalui Tabel VII.50 54.00 85.1985/1986 ( dalam rupiah per kilogram ) Tahun Padai kering Lumbung di desa 30.30.50 67. maka perkembangan harga beras di posaran umum dapat dikendalikan dalam batas-batas yang wajar.00 57.00 75.00 66.00 Gabah kering lumbung di desa 38.00 95.00 105.50 Gabah kering giling di desa 40. Tabel VII.60 57. Secara keseluruhan.50 71.

09 73.75 207.31 176.58 186.32 190.43 195.1:3 171.94 91.19 274.19 121.66 203.91 262.OO 235.66 137.6 179.5 226.5 141.36 285.6 116.33 189.14 131.52 119.21 74.85 338.92 178.77 95.11 132.32 129.1 315 363.88 230.34 124.59 267.36 277.91 121.17 230.75 127.76 130.12 157.19 112.49 215.62 270.64 133.88 230.88 115.08 75.01 140.53 186.81 211.67 233.68 212.6 Bulan Agustus September Oktober Nopember 76.2 135.48 124.98 123.15 122.74 85.69 109.69 144.94 154.42 131.1 183.83 Juni 66.26 169.25 184.8 201.83 130 137.97 84.84 229.6 185.9 151).71 128.67 120 120 127.34 120.02 103.66 125 146.17 317.76 75.78 139.32 299.59 91.39 .56 208.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.27 140.36 232.35 86.01 76.71 198.02 137.07 110.77 334.41 213.78 218.1 184.41 128.08 198.28 257.57 165.72 146.37 224.15 204.81 212.36 128.93 241.15 205.01 181.95 134.2 178 182.03 213.4 Mei 66.53 172.07 128.32 85.42 232.81 121.18 125.68 202.42 171.06 125.32 97.22 181.59 196.46 268.63 217.91 159.53 141.56 243.41 Mei 77.1 283.25 135 134.96 197.7 132.68 99.12 124 126.52 11 7.65 285.21 172.97 111.36 285.65 144.54 134.6 140.78 184.53 286.83 110.87 75.36 113.31 216.17 132.56 213.72 257.15 123.36 259.OG 125 125 125 135 133.18 85.79 102.9 225.0(1 125.1 178.87 206.69 111.79 146.15 140.42 125 124.13 209.42 286.99 255.62 112.41 156.4 172.13 130.43 187.42 131.26 150 185 213.28 213.17 109.25 116.27 90.61 180 194.81 77.22 90.2 Nopember Dcsember Januari 77.76 200.35 280 315 315 310.02 232.64 96.8 234.88 71.72 180.02 221.73 318.53 318.87 111.63 124.16 321.97 136.19 245.51 280 300 Departemen Keuangan RI 184 .82 186.4 167.48 180.69 129.45 120.22 125.06 180.27 178.61 175.15 260 261 255.57 245.18 118.53 252 263.59 111.46 213.86 254.87 77.6 153.46 167.26 180.55 140.96 125.96 232.41 202.07 121.31 126.48 129.62 223.71 126.18 231.42 215.18 125 125 126.16 128.87 126.33 180 180.08 152.46 243.23 195.42 242.44 107.93 175.9 212.28 90.35 126.85 184.15 181.12 101.53 296.92 84.3 117.31 119. 1974/1975 .9 124.36 135.11 97.87 75.2 132.39 111.9 127.72 122.23 140.34 108.5 261.42 320.42 134.25 138.52 145.28 279.2 211.96 275 271.55 159.71 122.77 Pebruari 79.94 244.83 325.03 313.87 225 304.19 205.65 109.39 203.69 268.5 252.8 126.16 264.12 108.58 126.66 145.42 144.48 120.86 285.55 128.1 183 198.46 239.9 111.32 297.28 125.67 184.63 256.54 128.5 102.4 197.15 128.6 125 145 172.71 133.9 189.31 Juli 69.84 133.03 216.86 119.05 125.5 229.41 172.43 228.81 136.88 126.99 122.6 208.02 215.3 167.96 252.82 199.12 139.99 80.68 122.288.79 132.03 118.28 230.78 Maret 99.64 224.25 164.76 85.64 225 222.69 288.71 124.41 200.28 133 150 185.55 141.16 117.29 283.11 199.17 108.41 172.19 88.03 124.5 172.19 243.31 ( lanjutan) Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 YOGYAK 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 SURABAY 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 MEDAN 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982'/1983 1983/1984 1) Angka sementara Kota April 66.42 87.04 211.71 273.46 81.65 84.48 220.7 180.02 129.75 75.79 Kota Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 JAKARTA 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 BANDUNG 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 SEMARANG 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{19H 1) Angka sementara Desember Januari Pebruari 90.61 127.59 132.78 125.58 89.4 93.12 247.98 120 145 172.3 153.15 217.6 187.85 125.77 135.8 119.63 280 303.41 180 182.46 86.76 114.17 196.34 194.82 125 127.53 289.92 139.80 126.37 195.46 127.15 121.56 185 195.65 68.77 202.95 185.43 128.51 183.03 209.87 125.04 209.6 189.53 120.54 235.91 194.85 206.31 HARGA BERAS KUALITAS MENENGAH DI BEBERAPA KOTA BESAR.76 212.16 114.31 210 208.25 118.34 280.9'! 193.47 90 123.13 202.55 199.58 73.5 199.85 109.92 180.32 140.57 252.05 76.73 96.71 236.37 67.4 Maret 80.88 130.36 120.58 234.91 135.64 125.43 156.84 179.56 215.51 77.29 247.55 85.22 88.00 148.04 313.84 125.88 72.32 90.46 199.94 283.49 121.39 292.19 123.48 241.93 128.88 127.5 143.31 127.19 90.14 213.08 133.5 123.47 129.98 115.88 82.08 92.72 136.05 Tabel VII.31 245.52 207.98 313.43 124.03 74.25 126.98 211.13 304.63 118.72 107.8 234.1983/1984 ( dalam rupiah per kilogram) April 84.72 120.75 121.36 107.98 200 210.54 161.5 226 227.81 201.91 174.6 85.2 133.25 120.5 132.37 231.57 190.22 212.94 214.56 144.48 132.6 247.3 115.22 234.59 Bulan Agustus September Oktober 68.6 125.83 291.5 279.23 292.88 96.83 228.06 85.24 184.29 185.07 101.23 208.69 117.91 189.65 117.15 250.63 186.03 122.33 Juli 76.48 128.36 253.55 183.24 125 125.04 74.5 169.53 231.87 178.6 300.93 133.56 188.21 123.1 212.52 274.74 132.66 128.12 125.58 138.96 281.08 124 124.39 141.64 218.12 144.61 124 124.17 162.29 301.52 225.18 114.9 88.62 302.35 178.58 123.06 253.86 128.09 116.88 139.37 107.5 180 199.68 125.01 130.36 97.19 139.35 322.7 211.59 127.78 86.3 181.69 206.28 128.13 125.14 125.28 234.99 185.48 230.38 222.96 165.2 114.37 125.56 125.29 93.04 295.5 225 230.13 236.38 183.98 290.04 80.59 233.99 233.81 115.5 283.06 257.7 179.38 230.48 109.17 215.1 95.73 221.51 207.59 134.53 128.53 128.96 69 83.45 288.25 179.66 221.62 334.57 127.02 129.66 212.87 133.96 259.33 175 179.78 142.5 123.77 206.2 212.74 76.98 104.18 144.9 125 129.9 140.18 91.7 310.22 109.1 75.92 319.3 179.97 178.64 184.79 123.9 90.79 146.37 75 79.46 216.4 128.56 228.5 197.72 221.63 96.73 162.46 139.16 269.18 124.28 230.74 224.99 120.66 324.25 297.11 134.31 212.83 75.81 200 191.68 312.5 167.34 213.68 124.83 198.58 187.54 Juni 76.69 148.1 212.8 77.78 202./6 93.75 101.36 285.15 125 122.6 190 223.56 144.52 172.38 217.27 169.72 185.64 120.46 177.81 93.15 74.33 125 125 125 134.6 220 226.

76 157.39 121.23 105.32 106. serta untuk meningkatkan gizi masyarakat.15 225 276.46 187.6 115 113.85 139.92 130.46 175.58 131.66 297.29 130.07 125 121.05 100.39 157.2 181 185 185 180 180 182.88 106.67 265.13 121.23 142.69 Juni 115.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.31 232.08 115 120 120 120 120.83 242.82 131. usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK).66 239.1 152.87 184.92 11 7 .1 139.06 85.65 333.74 208.5 127.91 246.58 134.33 77.61 239.69 168.11 189.25 239.4 115 126 140 185 200 255 273.13 179.38 129.2 133.58 118.64 205.75 131.31 221.61 226.24 349.41 185.95 120.71 164.11 294.77 297.6 Kota PALEMBANG BANJARMASIN UJUNG Tahun 1974{1975 19750976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1977 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1970{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 April 116.77 142.16 137.5 96 107.6 persen.6 205.02 106.05 215 229.25 133.44 90 120 109 125 156.04: 142. usaha-usaha khusus lainnya.26 216.55 323.25 87.91 312.98 209.92 332.2 130 131.47 147.52 78.95 90.1 247.46 97.19 183.83 115.27 242.65 147.12 120 115 127.65 312.25 132 155 201.557 ribu ton.83 165 165 174.648 ribu ton atau sebesar 89.25 88.86 142.83 229.6 180.5 112.23 107.26 186.46 125 148.25 131.69 90.4 275 285.43 131. Selanjutnya kegiatan fortifikasi bahan pangan.41 260.13 152. telah dapat disalurkan kepada masyarakat sebanyak 1.72 178.1 182.29 270 270 274.31 75 92.95 205.15 200 207. telah dilaksanakan pula pengadaan dan penyaluran tepung terigu yang bahan bakunya berupa gandum yang diperoleh dari impor.99 227.66 133.59 142.75 125 127.91 268.722 ribu ton atau 10.21 145.60 126.29 90 97.99 132.5 125 125 110 110 110.1 297 106.44 142. dan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG).45 158.46 242.62 139.53 124.91 312..87 95.2 110. fortifikasi bahan raTIgan.08 299.68 221.6 164. dan ditambah lagi dengan sebanyak 118 ribu ton dari sisa stok tahun sebelumnya.69 195 231.67 273. masing-masing diwujudkan melalui peningkatan jumlah produksi garam beryodium.81 1) Angka sementara Dalam rangka penganekaragarnan konsumsi masyarakat agar tidak hanya tergantung pada beras.77 200 206.14 132.42 303.2 219. 31 ( lanjutan) Bu1an Oktober Nopember Desember Januari Pebruari Agustus September 112.77 173.22 356.69 275.5 149.66 230. khususnya masyarakat petani produsen telah diarahkan untuk meningkatkan intensifikasi tanaman palawija di tanah kering dan penganekaragaman usaha pertanian dengan cara tumpangsari antara jenis tanaman kacangkacangan dengan sayur-sayuran.8 125 130.92 83.61 75 79. Dalam hubungan ini maka dalam tahun 1983/1984 telah diimpor gandum sebanyak 1.61 215 215 231.47 132.58 125.73 .2 142.8 97.31 293.31 75 88.2 275.83 173.51 206.95 113.31 316.44 101.25 94.37 211.5 89.05 127.86 141.98 250.11 140 185 206.46 185.67 128.1 297 106.5 115 119.54 180 194.68 183.82 130.12 164.62 191.7 125.38 185 200 225 273.42 130.07 225 270 Maret 105.12 297.96 185.91 145.01 109.31 221.65 299.06 151.12 335 334.09 226.43 242.19 230 226. Dari jumlah impor gandum dalam tahun 1983/1984 tersebut.2 132.5 122.26 146.34 151.68 131.79 101.55 214.04 183.94 155.56 119.41 97.69 102.34 187 209.31 221.08 126.91 312.21 133.33 170.13 130.23 146.99 229.32 337. Dalam hal penyuluhan gizi.64 206. pada akhir Pelita III telah dikembangkan suatu sistem untuk mencegah terjadinya krisis pangan yang antara lain sebagai akibat daripada bencana alam dan musim kering yang berkepanjangan.4 89.31 89.73 142. Usaha-usaha lain yang telah dilakukan dalam rangka perbaikan gizi masyarakat antara lain ditempuh melalui penyuluhan.06 92.03 100 95.2 134.17 205.33 142.27 238.12 206.91 308.25 200 200 202 206.39 160.2 247.36 181.6 persen lebih banyak dibandingkan dengan impor dalam tahun 1982/1983 yang sebanyak 1.91 242.71 228 239.66 256.45 120 123. 89.47 242.78 111.03 185 190.51 205.04 225 229 234.11 94. serta penanggulangan kekurangan vitamin A dan zat besi.26 105.09 195 196.28 142.53 142.52 298.04 152.4 96.4 220.6 Mei 112.25 147.1 118.79 132.5 277.79 239.75 121.43 180.10 198.99 92.08 217.2 265.8 120. perluasan jangkauan UPGK sampai ke pelosok tanah air.79 318.39 133. Sedangkan dalam hal SKPG.54 225 270 Juli 112.48 242.1 297 106.96 186 216.32 126.25 134.91 121.24 297.76 99.01 197. UPGK dan usaha-usaha khusus lainnya.58 298.34 151.66 266.95 220.19 242. Upaya-upaya tersebut telah mulai dilaksanakan di daerah-daerah pemanduan Departemen Keuangan RI 185 .36 152.5 186.31 312.96 11 7 .28 112.25 103.19 122.

Di samping itu juga dilakukan peningkatan bidang-bidang lain seperti penelitian dan pengembangan. Untuk itu terus dilakukan kegiatan rehabilitasi sumberdaya alam. perlindungan dan pelestarian alam. Sasaran pembangunan di bidang kehutanan diharapkan dapat terwujud melalui peningkatan inventarisasi dan tataguna bulan. pekalongan. 7. lapangan dan penggunaan jasa satelit. antara lain meliputi survai udara. Karang Asem di Bali dan Boyolali di Jawa Tengah. pengawasan dan pendayagunaan aparatur. pengatur tata air.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 seperti Lombok Tengah di NTB.977. Dalam tahun 1983/1984. yang meliputi peningkatan produksi hutan berupa kayu dan hasil hutan ikutan.5. pencegah erosi. Dari hasil survai tersebut telah diperoleh potret kawasan hutan sebanyak 22.3 persen dari seluruh panjang batas kawasan Departemen Keuangan RI 186 . 1. sehingga akan tetap bermanfaat bagi generasi yang akan datang.029 ribu hektar. Hasil kegiatan tersebut baru sebesar 21. pengawet dan pelestari alam. serta pengawetan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Inventarisasi dan tataguna hutan Kegiatan di bidang inventarisasi hutan yang telah dicapai selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV. Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur. maka sejak Pelita I sampai dengan Pelita III telah berhasil dibuat tatabatas kawasan hutan sepanjang 31.1. hutan pendidikan dan hutan penelitian. yang ditempuh melalui berbagai kegiatan antara lain meliputi pelestarian. Selain itu juga ditujukan pada pengusahaan sumberdaya bulan. penghijauan dan rehabilitasi lahan serta pengusahaan hutan. Dalam Repelita IV pembangunan di bidang kehutanan ditujukan dan dilaksanakan melalui Sapta Karya Pembangunan Kehutanan. melalui pemulihan kemampuan dan produktivitas sumberdaya bulan.400 kilometer. Sementara itu dalam rangka penataan batas kawasan hutan yang terdiri alas hutan lindung. serta sebagai penunjang peningkatan so sial.060 ribu hektar.5. 7. reboisasi. pelindung. kegiatan SKPG telah dikembangkan lagi ke daerah Lombok Timur.726 lembar dengan skala 1:100. Kehutanan Hutan sebagai sumber kekayaan alam dan merupakan salah satu unsur pertahanan nasional. harus dilindungi kelestariannya. Hal tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan keseimbangan dan kelestariannya. serta sarana penunjang. tanah dan air yang kritis sehingga dapat memenuhi fungsinya secara maksimal sebagai produsen.5 ribu hektar dan 36. perlindungan.000. pendidikan dan latihan. daD dimanfaatkan guna meningkatkan kesejahteraan rakyat secara optimal. masing-masing meliputi areal kawasan hutan seluas 5.

Jenis peta dasar yang telah selesai dibuat antara lain berupa peta topografi.0 ribu hektar. 87 orang dan 176 orang. Sampai dengan bulan Juni 1984 telah dapat disusun dan diselesaikan pola tataguna hutan kesepakatan (TGHK) di 19 propinsi di luar pulau Jawa. melalui pendidikan tenaga ukur.2 ribu hektar. masing-masing telah berjumlah 604 orang. peta lalit. Sejalan dengan kegiatan tersebut. informasi dan menjaga konsistensi data.5 ribu hektar. Dalam rangka pengelolaan hutan yang meliputi peningkatan pembinaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Dalam rangka peningkatan penyempurnaan aparatur dan sarana penunjang telah dilakukan peningkatan aparatur pelaksana inventarisasi dan tataguna bulan. berikut sub balainya.8 ribu hektar dan hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 24. peta tanah. maka diperlukan adanya tataguna hutan. pengolahan. jumlah tenaga juru ukur. peta geologi. sampai dengan bulan Juni 1984 telah dapat memenuhi semua kebutuhan peta dasarnya.4 ribu hektar. hutan produksi terbatas seluas 22. maka dalam tahun pertama Repelita IV telah dapat diwujudkan suatu sistem informasi yang dipusatkan pada suatu basis data dan sistem informasi. masing-masing sebanyak 10 balai dan 31 sub balai. Sebagai sarana penunjang telah dibangun balai inventarisasi dan pemetaan bulan. perlindungan hutan dan pelestarian alam Pada hakekatnya perlindungan hutan dan pelestarian alam dalam rangka konservasi Departemen Keuangan RI 187 . peta daerah aliran sungai (DAS) di 27 propinsi. peta ketinggian dan peta thematic. pengamanan dan penyimpanan data. peta TPC (Tactical Pilotage Chart).5.905.317.4 ribu hektar. peta land-use.891. sehingga diharapkan tidak terjadi tumpang tindih dalam pengumpulan. Sementara itu pemetaan yang mempunyai peranan penting di bidang kehutanan. Dari hasil TGHK tersebut telah dapat diidentifikasikan luas areal hutan di Indonesia sekitar 147 juta hektar. hutan suaka alam dan hutan wisata seluas 15. hutan produksi bebas seluas 25.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hutan yang diperkirakan sepanjang 147. sejak tahun 1981 sampai dengan bulan Juni 1984 telah dilaksanakan tatabatas dalam rangka pengukuhan areal reboisasi pada bekas tanah negara bebas. tenaga gambar dan tenaga penafsir potret udara. di samping juga akan memudahkan pelayanan. Sejak tahun 1981 sampai dengan bulan Agustus 1984.000 kilometer. peta JOG Qoint Operation Graffic Ground).939.569. Sedangkan untuk kegiatan pendataan kehutanan yang meliputi pengumpulan data dan pengolahannya. Dalam waktu yang sarna. 7. juru gambar dan tenaga penafsir potret udara. juga telah berhasil dicapai pengukuhan dan penatagunaan hutan lindung seluas 24.2. yang mencakup areal seluas 260.

2 ribu hektar dan tersebar pada 306 lokasi diseluruh Indonesia. penetapan sebanyak 521 jenis satwa dan 36 jenis flora yang dilindungi peraturan perundang-undangan. Usaha perlindungan hutan dan pelestarian alam dilaksanakan melalui beberapa kelompok kegiatan. Selama Pelita III. baik kualitas maupun kuantitasnya. suaka margasatwa seluas 4. gejala alam.4 ribu hektar. Sedangkan konservasi di luar kawasan bulan. Konservasi kawasan hutan antara lain ditempuh melalui kegiatan pengalokasian.8 ribu hektar. di samping juga melalui kegiatan yang berorientasi pada masalah botani. yang selama Pelita III telah berhasil mencapai 16 lokasi Departemen Keuangan RI 188 . Sejalan dengan kegiatan tersebut. hutan wisata dan taman nasional sebagai model ekosistem. antara lain berupa rehabilitasi orang hutan di Tanjung Puting (Kalimantan Tengah) dan Bahorok (Sumatera Utara).3 hektar. Guna menunjang berbagai kegiatan tersebut. antara lain ditempuh melalui inventarisasi dan identifikasi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar yang populasinya diancam kepunahan. dan rusa di pulau Bawean. ditujukan untuk menjaga keberadaan plasma nutfah dan kelestarian potensi sumberdaya alam beserta ekosistemnya dari kemungkinan bahaya kerusakan dan penurunan. maka telah ditingkatkan penertiban perburuan. dengan jumlah koleksi sebanyak 500 jenis satwa. selain sebagai obyek olah raga dan wisata.4 ribu hektar. antara lain telah dilakukan studi dan inventarisasi flora dan fauna di 20 lokasi yang mencakup kawasan seluas 2. Dalam rangka menunjang pelestarian jenis-jenis satwa yang tidak dilindungi. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap populasi jenis satwa langka. ditingkatkan pula pembinaan dan pengembangan kebun binatang dan oceanorium di 21 lokasi. baik di daratan maupun di perairan. keanekaragaman dan keunikan jenis flora dan fauna.784. burung jalak di Bali Barat. yang tersebar di 5 lokasi. pembinaan wisata alam. pembinaan pencinta alam. maka selama Pelita III telah dilakukan penunjukan atau penetapan suaka alam dan hutan wisata yang mencapai 12. taman baru seluas 326. Suaka alam dan hutan wisata tersebut terdiri atas hutan cagar alam seluas 6. gajah di pinggiran Air Sugihan (Sumatera Selatan).4 ribu hektar. pengelolaan hutan lindung.1 juta hektar. pengelolaan dan pembinaan hutan suaka alam. melalui penetapan 11 lokasi taman baru. Sedangkan upaya konservasinya dilakukan melalui pembinaan dan pengembangan taman nasional.784. burung muho di Sulawesi Utara. serta inventarisasi sebanyak 20 jenis kekayaan laut. Riau dan Sumatera Utara. serta keindahan alam. taman wisata seluas 172. di mana 50 jenis di antaranya termasuk jenis satwa yang dilindungi. monitoring dampak lingkungan serta kegiatan pengamanan hutan. serta pengamanan terhadap daerah pengungsian dan daerah perlindungan satwa baik di darat maupun di laut. dan taman laut seluas 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sumberdaya alam dan lingkungan hidup. sumber plasma nutfah.076. antara lain meliputi pengembangan taman nasional.

Bukit Barisan Selatan. bimbingan dan pendidikan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap wisata alam. Sedangkan 11 lokasi lainnya. Reboisasi. Bali Barat. hasil reboisasi dalam tahun 1983/1984 telah meningkat sebesar 57. gunung Baluran dan pulau Komodo.3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.234. daerah Kutai. Dalam pada itu sejalan dengan upaya-upaya dalam bidang perlindungan hutan dan pelestarian alam. penggarapan lahan yang keliru. berarti masing-masing telah meningkat sebesar 21. serta Lore Lindu-Manusela telah ditetapkan pada tanggal14 Oktober 1982.2 ribu ekor. Kepulauan Seribu.5. Untuk itu selama Pelita III telah diadakan penyuluhan. Di samping kegiatan-kegiatan tersebut.32).3.8 persen.5 persen dan 36. gunung Tengger-Semeru. baik untuk kepentingan konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. Sumbangan devisa dari ekspor satwa liar dalam tahun 1983/1984 mencapai US $5. serta 169 orang petugas khusus penghijauan. penghijauan dan rehabilitasi lahan. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 realisasinya telah mencapai 75. penghijauan dan rehabilitasi lahan Dalam rangka pelaksanaan program penyelamatan hutan. Tanjung Puling. tanah dan air.3 ribu. selain dilakukan usaha pemanfaatan juga tetap diperhatikan kelestariannya melalui pengurangan populasi yang telah melampaui keseimbangan ekosistemnya. kebakaran hutan dan penggembalaan ternak secara liar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan luas areal seluruhnya 4. Dumoga Bone. yaitu dari 118. yaitu di gunung Kerinci. pembinaan terhadap pencinta alam juga dilaksanakan dan ditingkatkan. maka dalam rangka reboisasi lahan kritis juga telah dilakukan persiapan-persiapan kearah pembangunan Departemen Keuangan RI 189 .1 ribu ekor.5 ribu hektar.884. Bila dibandingkan dengan tahun 1982/1983 dengan nilai ekspor sebesar US $ 4.400 hektar menjadi 186. 5 lokasi di antaranya telah ditetapkan pada tanggal16 Maret 1980 bertepatan dengan dicanangkannya World Conservation Strategy. Hal ini dimaksudkan untuk mengimbangi kerusakan kawasan hutan sebagai akibat dari perladangan berpindah. gunung Gede-Pangrango. gunung Seblat.688. gunung MeruBetiri.3 ribu yang berasal dari 1. 7. Ujung Kulon. Oleh karena itu dalam tahun 1983/1984 berbagai usaha penunjang telah dilaksanakan. Dan kegiatan yang telah dilakukan tersebut. antara lain dengan dipekerjakannya sebanyak 7. yang berasal dari berbagai jenis satwa liar sebanyak 1.434 hektar.934. Dalam rangka pembinaan populasi satwa liar.300 hektar (Tabel VII.626. yaitu di gunung Leuser. Dari 16lokasi tersebut. bertepatan dengan Kongres Taman Nasional Sedunia ke III di Bali.432 orang petugas lapangan penghijauan dan reboisasi. maka setiap tahunnya terus ditingkatkan kegiatan di bidang reboisasi.

pembuatan beras dan saluran air seluas 184.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hutan jenis kayu indah dan langka.360 hektar per tahun. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni I 1984 juga telah berhasil dilakukan penghijauan seluas 311.390 unit checkdam. melalui metoda sipil teknis telah berhasil clibangun sebanyak 2.000 hektar. dan dengan metoda vegetatif yang antara lain dilakukan melalui pembuatan kebun-kebun rakyat. seperti halnya reboisasi dilakukan melalui dana Inpres bantuan penghijauan dan reboisasi. antara lain berupa studi-studi dan penyiapan rencana pengembangannya pada areal seluas 720. Departemen Keuangan RI 190 . antara lain telah dilakukan pengembangan teknologi benih dan pemulihan jenis pohon. yang tersebar di 15 propinsi. Dari hasil-hasil yang telah dicapai tersebut. maka dilakukan upaya pemukiman kembali bagi para peladang berpindah untuk mencegah rusaknya sumberdaya alam berupa hutan.613. yang sarna dengan luas kawasan penghijauan seluas 579. Di samping itu dilakukan juga pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu. Sedangkan dalam rangka pengembangan dan pembenihan. yang kemudian ditingkatkan lagi dalam tahun 1983/1984 menjadi 7.753 unit yang masing-masing luasnya antara 10 sampai 20 hektar. sampai dengan tahun 1982/1983 telah dilaksanakan pemukiman kembali terhadap para peladang berpindah sebanyak 6.262 kepala keluarga (KK). serta pembuatan petak percontohan penghijauan sebanyak 2.6 ribu hektar. serta penyuluhan guna peningkatan partisiposi masyarakat dalam pemeliharaan kelestarian sumberdaya alam.400 hektar per tahun. Pusat Pemulihan Pohon di Yogyakarta dan Unit Pengembangan Teknologi Persemaian di Benahat. Sumatera Selatan. Sedangkan melalui metoda vegetatif telah berhasil dibuat kebun rakyat seluas 1. Dalam hubungan ini. Selama Pelita III. Dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut dilakukan melalui metoda sipil teknis.210 KK.2 persen bila dibandingkan dengan Pelita II. yaitu dari rata-rata seluas 364. menjadi 525. yaitu kegiatan yang dikaitkan dengan pernbangunan irigasi. Sejak tahun 1976/1977 kegiatan penghijauan. Sehubungan dengan itu. Dalam rangka kegiatan rehabilitasi lahan. yang pelaksanaannya dilakukan baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. selama Pelita III telah dibangun somber benih seluas 4.576 hektar.600 hektar. maka selama Pelita III realisasi kegiatan penghijauan secara keseluruhan telah meningkat sebesar 44.000 hektar.500 hektar. dan untuk menunjang kegiatan tersebut telah dibangun Pusat Teknologi Benih di Bogor.

148 276.000 Reboisasi 33.855 104.697 632.402 50.689 665.3 8.7 126.700 147.000 118.259 107.999.0 52. Dalam hubungan ini.6 Investasi ( US$ juta) 1.118 35.658 170.1 240. Pengusahaan hutan Berdasarkan tataguna hutan kesepakatan luas kawasan hutan produksi di Indonesia adalah sekitar 70 juta hektar.000 179. dari 520 Departemen Keuangan RI 191 .4.650 53.500 149.400 558.434 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII. 33 PENGUSAHAAN HUTAN SAMPAI DENGAN MARET 1984 1) Jenis dan sifat usaha 1.032.682 89.219.300 1) 75.543 204.5 7.5 juta (Tabel VII.681 102.578 98.1984 ( dalam hektar ) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 2) Penghijauan 149. Apabila ditinjau dari status dan sumber permodalannya.000 311.Perusahaan yang merupakan usaha nasional 2. 32 AREAL PENGHIJAUAN DAN REBOISASI.971.802 70.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.840. 1969 .600 610.400 186.219.544 213.Peruasahaah dalam rangka PMA Jumlah perusahaan yang telah memperoleh HPH 1) Angka sementara Jumlah (unit) 457 61 2 520 Luas areal (ribu ha) 45.5.1 2.9 juta hektar dan investasi yang ditanam senilai US $ 2.100 501. sampai dengan akhir bulan Maret 1984 telah dilakukan pengusahaan hutan sebanyak 520 unit dengan areal konsesi seluas 52.991 578.33).315 22.900 378. yang pengusahaannya di luar Jawa selain dilakukan oleh Perum Perhutani juga dilaksanakan oleh pemegang hak pengusahaan hutan (HPH).Perusahaan patungan 3.623 302.9 7.174 35.

Sejalan dengan pengaturan melalui HPH.8 1977 573 22.327 65.262 65.313 ribu meterkubik atau sebesar 25.702 6.70 1979 575 24.204 meterkubik.613 ribu meterkubik senilai US $ 891.2 891.6 100. Walaupun produksi kayu da\am tahun 1983 telah menurun.1984 Produksi (ribu m3) Ekspor Volume % Nilai Kayu Kayu jati rimba Tahun J umIah (ribu m3 produksi (US$juta) 1969 520 7.9 1.3 168.8 1. sebanyak 457 unit di antaranya adalah perusahaan nasional dengan areal pengusahaan seluas 45.521 86.015 5.6 1976 480 20.008.805.740 14.781 26.856 12.717 13.971. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 6.760 78.1 juta hektar dan US $ 8.107 3.1 juta.2 725. Dalam tahun 1982 volume dan nilai ekspor kayu yang terdiri atas kayu rimba dan kayu jati baru sebanyak 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 unit perusahaan yang telah memperoleh HPH tersebut.3 1984 2) 450 754 1.427 18.9 849.425 52.806 86.256 20.954 8.124 25. Luas areal hutan dan besarnya investasi yang ditanam oleh kedua jenis perusahaan tersebut masingmasing adalah 7.3 385 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 192 .702 ribu meterkubik yang terdiri atas 8.4 783.123 76.40 1982 692 12.4 1978 475 25. 34 PRODUKSI DAN EKSPOR KAYU.488 75. dan 716 ribu meterkubik kayu jati.947 21.7 1973 676 25.986 ribu meter kubik kayu rimba.296 13. serta 0.587 8.981 78.6 juta.968 13.60 1980 500 21.660 23.323 13.8 juta hektar dan US $ 240.366 22. produksinya telah mencapai sebesar 1.6 1972 597 17.6 1983 1) 716 8.986 9. Sedangkan selebihnya sebanyak 61 unit merupakan perusahaan patungan dan 2 unit lagi berupa penisahaan asing dalam rangka PMA.5 583.448 79.786.613 68. Jumlah tersebut apabila dibandingkan dengan tahun 1982 yang telah mencapai sebesar 13. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Maret 1984.4 persen. Tabel VII.2 1.701 16.4 230.800 19.424 7.015 ribu meter kubik.3 juta.6 1971 770 12.2 1. hasil produksi kayu dalam tahun 1983 berjumlah sebesar 9. 1969 .0 juta hektar dan investasi senilai US $ 1.610 74.065 19.596 44.3 juta.3 26 1970 568 11.412 59. Hal tersebut disebabkan terutama karena adanya kebijaksanaan untuk mengurangi secara bertahap ekspor kayu bulat guna lebih mendorong industri pengolahan kayu dalam negeri.980 45.7 1975 595 15. berarti mengalami penurunan sebesar 3.70 1981 578 15.204 2.280 18.240 21.376 15. yang terdiri atas 754 ribu meterkubik kayu rimba dan 450 ribu meterkubik kayu jati.738 10.939 19.9 1974 620 22.1 juta.035.4 501. namun hasil volume dan nilai ekspornya telah meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.490 25.3 961.921 85.980 ribu meterkubik senilai US $ 849.120 17.

8 14.8 2.9 juta meterkubik.8 persen.2 1 2. beberapa jenis kayu dari Indonesia cukup dikenal dan mempunyai posaran yang mantap di luar negeri.3 1975 68 1976 64.7 2.7 10.9 8.6 21.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. yang sampai dengan bulan Maret 1984 jumlahnya telah mencapai 412 unit dengan kapositas produksi sebanyak 11.6 14.9 persen dalam tahun 1979 meningkat menjadi 70. Oleh karena itu guna mencegah kemungkinan melemahnya ekspor kayu di posaran internasional.7 1.3 0. Akibat positif daripada kebijaksanaan tersebut ditandai dengan berkembangnya industri kayu gergajian dan kayu lapis di dalam negeri.8 2.6 0.9 10 10.2 10.2 2. namun beberapa jenis kayu lainnya masih harus dikembangkan dan dipromosikan agar dapat memasuki posaran dunia.9 4 2.8 1981 54.7 19831) 70.3 0.8 0.6 23.9 5.9 1. agatbis.7 1.8 3.4 1.9 persen dan 0.1 22. Jenis kayu tersebut antara lain adalah kayu meranti.7 2 1.7 2. Dilihat dari sudut permintaan.9 3.8 11.9 persen. Departemen Keuangan RI 193 .7 10.0 juta meterkubik.3 10. dalam waktu yang sarna telah berjumiah sebanyak 162 unit dengan kapositas produksi sebanyak 8.9 1980 57.1 0. agatbis dan jati peranannya telah meningkat masingmasing dari 3.4 1978 66 1979 58.6 Aglutis 5.5 1977 63.9 2.2 1) Angka sementara Ramin 9.5 Jumlah 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Hal ini berarti telah terjadi peningkatan volume dan nilai ekspor masing-masing sebesar 10.2 0. Sebagaimana terlihat Facia Tabel VII.8 Pulai Lain-lain 13.9 1. yaitu dari 58.6 persen. pulai dan jati.7 Jati 0. 35.2 1.9 13. sejak lima tahun terakhir jenis kayu meranti merupakan bagian terbesar dalam komposisi ekspor kayu Indonesia.1 1982 56.3 0.7 13 14. 35 JENIS-JENIS KAYU DALAM PERSENTASE DARIPADA VOLUME EKSPOR KAYU.1 6.6 11.6 21 19. 2.4 11.7 1973 58 1974 64.s 5.7 0.6 persen dan 4. antara lain telah dilakukan diversifikasi komoditi dan pemasarannya melalui pengembangan pemasaran ekspor hasil olahan/industri dan perluasan negara tujuan ekspor. 1. Sedangkan jumlah industri kayu lapis.2 persen dalam tahun 1983.7 5.1 0.2 0.8 5 6 6.9 persen. kruing.7 1972 62.5 3.1 10.4 11.2 0.4 0.2 0.4 13.9 0. Walaupun jenis-jenis kayu tersebut pemasarannya ke luar negeri telah mantap.4 4.3 1.1983 Kapur/ keruing 1.2 persen menjadi 14.5 Tahun Meranti 1970 68.7 persen dan 0. ramin.4 0.5 1971 62.6 0. Demikian pula jenis kayu ramin.5 3.2 26. 1970 .2 0.8 1.9 8.34. perkembangan volume dan nilai ekspor kayu dapat diikuti melalui Tabel VII.1 1.2 14.9 6 3 2.

perkembangan yang paling menonjol di sektor pertambangan antara lain ditandai oleh keberhasilan dalam meningkatkan produksi batu bara. juga ditujukan untuk penganekaragaman hasil-hasil pertambangan. baik untuk keperluan ekspor maupun guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri di dalam negeri. Selama Pelita III. Upaya-upaya tersebut selain dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan dan peningkatan produksi.6 juta barrel. Dengan melemahnya posaran minyak dunia akhir-akhir ini dan pembatasan produksi yang disepakati oleh para anggota OPEC sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan tingkat harga yang kini berlaku. Dengan hasil-hasil terse but Indonesia telah dapat mengurangi ketergantungannya terhaclap impor bahan bakar minyak (BBM). Minyak dan gas bumi Hasil produksi minyak bumi dalam tahun kelima Pelita III mencapai 517. yang terdiri dari 477. Perekonomian dunia yang tidak menentu bagi Indonesia merupakan hambatan utama dalam mencapai peningkatan produksi bahan-bahan tambang utama.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. Sehubungan dengan itu telah dilakukan upaya-upaya antara lain berupa pengembangan inventarisasi dan eksploitasi berbagai sumberdaya mineral dan energi. 7. sebagai langkah persiapan menuju pengembangan dan pemanfaatan batU bara secara besar-besaran di masa datang. yang tercermin dari pembatasan produksi minyak bumi sebagaimana telah disepakati oleh negara-negara penghasil minyak OPEC dan pernbatasan ekspor timah dari Dewan Timah Internasional terhadap anggota-anggotanya. Namun demikian produksi beberapa bahan tambang masih menunjukkan peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II.7 juta barrel berupa kondensat.0 juta barrel.7 persen apabila dibandingkan dengan produksi tahun keempat Pelita III yang berjumlah 459. Sampai dengan tahun terakhir Pelita III telah dapat diselesaikan perluasan kilang minyak Cilacap serta pembangunan unit hydro cracker di Dumai dan di Balikpapan dalam rangka pemehuhan BBM dalam negeri. walaupun dalam kurun waktu tersebut hampir seluruh komoditi tambang yang diekspor mengalami kesulitan pemasaran.9 juta barrel minyak mentah. maka perkembangan produksi minyak bumi menjadi kurang Departemen Keuangan RI 194 .1. LNG dan LPG (liquified petroleum gas).6. di sam ping perluasan kilang LNG (liquified natural gas) Arun dan kilang LNG Badak. peranan bidang pertambangan dan energi masih tetap besar dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jumlah terse but menunjukkan peningkatan sebesar 12. Pertambangan dan energi Selama Pelita III.6. khususnya di sektor minyak dan gas bumi. dan selebihnya sebanyak 39. serta pengembangan teknologi pertambangan yang mencakup pula pengolahannya.

maka dalam tahun terakhir Pelita III telah berhasil dilakukan survai seismik sepanjang 56. Dengan ditingkatkannya kapositas pengilangan di dalam negeri tersebUt. yang terdiri alas 237 juta barrel minyak mentah dan 22 juta barrel kondensat. Jika dalam tahun terakhir Pelita II baru dilaksanakan survai seismik sepanjang 21. yang terdiri atas 99 iuta barrel hasil kilang dalam negeri dan sebanyak 99 juta barrel dari hasil kilang luar negeri (Tabel VII.37).944 kilometer lintasan dan pemboran sumur minyak sebanyak 250 sumur. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka ditempuh kebijaksanaan untuk meningkatkan eksplorasi. Realisasi ekspor minyak bumi Indonesia selama Pelita III. Melawai Timur dan Sumatera Selatan.9 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang baru mencapai sebanyak 336. masing-masing sebanyak 200 ribu barrel per hari. Kegiatan eksplorasi yang dilaksanakan dari tahun ke tahun telah memperlihatkan hasil yang meningkat. Dengan demikian secara keseluruhan produksi pengilangan minyak bumi dalam tahun terakhir Pelita III telah mencapai 198 juta barrel. Volume ekspor minyak bumi dan hasil minyak dalam tahun 1983/1984 telah mencapai sebanyak 413. Sementara itu meningkatnya kebutUhan terhadap BBM dalam negeri telah diimbangi dengan pengadaan dan peningkatan produksi BBM yang berasal dari kilang minyak dalam negeri. Di samping itu juga dilakukan pembangunan unit hydrocracker kilang Dumai. atau 2 juta barrel lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun Departemen Keuangan RI 195 . dengan kapositas 85 ribu barrel per hari. yang dapat mengolah bahan residu berkadar belerang rendah.1 juta barrel atau sebesar 22. antara lain dengan menggiatkan survai selsmik dan pemboran sumur minyak. Sedangkan volume ekspornya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sekitar 215 juta barrel. Selanjutnya dari jumlah BBM hasil kilang dalam negeri terse but telah diposarkan untuk keperluan di dalam negeri sebanyak 161 juta barrel.000 kilometer lintasan. dan pemboran sebanyak 141 sumur minyak. kecuali tahun terakhir Pelita III yang sedikit meningkat.1 juta barrel (Tabel VII. selain berpengaruh terhadap produksi minyak bumi juga menghambat usaha peningkatan ekspor. Melawai Barat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menggembirakan. dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan menurun hila dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II. Dalam tahun 1983 telah dilakukan eksplorasi terhadap 4 lokasi baru yang meliputi daerah Riau. maka produksi minyak bumi yang telah dapat diolah dalam tahun 1983/1984 mencapai 99 juta barrel atau 10 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perubahan situasi posaran minyak bumi internasional yang terjadi selama Pelita III.36). Dalam hubungan ini selama Pelita III khususnya dalam tahun 1983/1984 telah ditingkatkan kapositas pengilangan minyak di kilang Balikpapan dan Cilacap. Adapun produksi minyak bumi dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sekitar 259 juta barrel.

3 10.3 – 3.3 158.4 2.3 .9 191.1 8. 1969/1970 -1983/1984 ( dalam juta barrel ) Tahun Minyak mentah yang diolah ( in-take) 75.2 milyar 'kakikubik dan 650.2 195. Sedangkan apabila dibandingkan dengan produksi dan pemanfaatan gas bumi dalam tahun terakhir Pelita II yang masing-masing baru mencapai 868.0 189.8 86.9 115.6 25. Berbeda dengan minyak bumi.278 milyar kakikubik.6 – 4.1 103. Tabel VII. dan yang telah dimanfaatkan adalah sebanyak 1.5 117.3 0. energi pengganti BBM bagi kilang minyak dan pabrik semen Cibinong. Perkembangan produksi dan pemanfaatan gas bumi sampai dengan tahun 1983/1984 dapat diikuti melalui Tabel VII. Apabila dibandingkan dengan produksi dan pemanfaatan dalam tahun 1982/1983 yang masing-masing berjumlah 1.1 198.100 milyar kakikubik dan 932 milyar kakikubik.1 .8 116.10. maka berarti telah terjadi peningkatan masing-masing sebesar 16.0 23. gas bumi tetap dapat ditingkatkan produksinya selama Pelita III. Peningkatan pemanfaatan gas bumi tersebut antara lain disebabkan karena adanya peningkatan pemanfaatan gas bumi untuk LNG.0 183.38.9 persen.0 1.1 38.6 milyar kakikubik. serta bagi perusahaan gas negara (PGN) di kota Jakarta dan Bogor.2 persen dan 76. pembuatan pupuk urea.2 persen dan 20.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sebelumnya.6 persen.0 Persentase kenaikan 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/19841) 1) Angka sementara – 13.6 161.2.123 milyar kakikubik atau 87.1 Departemen Keuangan RI 196 .5 persen.0 128. 37 VOLUME PENGILANGAN MINYAKMENTAH. maka terdapat kenaikan sebesar 47.5 8. Produksi gas bumi dalam tahun 1983/1984 mencapai sebanyak 1.0 93.

4 633.2 148.278.3 32. jumlah produksi LNG telah mencapai 11.1 868.136.4.5 25.028.2 persen dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang berjumlah 9.8 15 18.2 33 30.3 28.7 26.1 366.8 juta MMBTU.4 juta ton sarna dengan 485.2 239. maka ekspor LNG yang telah dimulai sejak tahun 1977 juga terus menunjukkan peningkatan.8 Ekspor 16. yakni di LNG Plant Badak dan LNG Plant Arun. 1974/1975 .9 19. Produksi Logam timah 14. 1969/1970 -1983/1984 (dalam ribu ton) Bijih 17.7 650. maka dalam tahun Departemen Keuangan RI 197 .4 85.6 27.8 27.5 21.1 20.7 21 23.5 24. Tahun Tabe1 VII.4 30.7 25 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1) 1) Angka sementara Produksi LNG di Indonesia baru mulai dilakukan sejak Pelita II. 39 PRODUKSI DAN EKSPOR TIMAH.042.3 26.1 juta MMBTU.0 .2 31.123.1983/1984 ( milyar kaki kubik ) Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1) 1983/1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Produksi 206.2 1.6 20.0 Pemanfaatan 78. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 17.2 33. Apabila dalam tahun 1982/1983 baru diekspor sebanyak 477.1 914.4 31.2 24.6 795. 38 PRODUKSI DAN PEMANFAATAN GAS BUMI.4 19.8 1.3 juta MMBTU.1 20. Dalam tahun 1983/1984.2 25.0 juta ton sarna dengan sebanyak 569.2 27.8 23.100.4 17.9 33 25.8 932.5 22.6 24.0 1.1 813.6 35.2 344.3 25.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. Sejalan dengan meningkatnya produksi LNG tersebut.0 1.1 23.9 25.2 1.2 1.

3.7 ribu ton senilai US $ 15. 7. LPG Plant Rantau di Sumatera Utara. Dalam waktu yang sarna.505 juta.6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang berjumlah 486.39.952 metrik ton dalam tahun 1983/1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1983/1984 telah meneapai sebanyak 555.7 ribu ton senilai US $ 351.4 juta dalam tahun 1982/1983 menjadi US $ 108.2 ton dan 406. kesulitan pemasaran di luar negeri. 7. Produksi LPG dalam tahun 1983/1984 meneapai sebanyak 514. Dalam tahun 1983/1984 terjadi penurunan produksi menjadi sebanyak 25. sampai dengan tahun terakhir Pelita III terus mengalami peningkatan. atau suatu peningkatan sebesar 25.834 metrik ton. Perkembangan produksi dan ekspor logam timah dapat dilihat pada Tabel VII. Penurunan tersebut disebabkan karena berkurangnya jumlah permintaan nikel di posaran dunia.870 juta. yaitu dari US $ 86.0 ribu ton senilai US $ 309. maka dalam tahun 1983/1984 telah turun menjadi 810. Timah Hasil produksi timah dalam tahun 1982/1983 meneapai sebanyak 33. Nikel Jumlah ekspor hasil tambang nikel selama 2 tahun terakhir Pelita III berturut-turut mengalami penurunan.3 persen. yaitu jika dalam tahun 1982/1983 meneapai sebanyak 27.566 juta.2 ribu ton logam timah.2.timah dan 25.997 juta. Lex Plant Union Oil Samail di Kalimantan Timur dan LPG Plant Areo di J awa Barat. yaitu dari sebesar 461.4 ribu ton bijih . Sungai Gerong.6. Penumoan tersebut antara lain disebabkan oleh adanya kemerosotan harga timah di posaran internasional. volume ekspor LPG telah menurun sebesar 1.5 ribu ton senilai US $ 19.0 ribu ton bijih timah dan 30. maka dalam tahun 1983/1984 menjadi sebanyak 25.1 ton. yaitu apabila dalam tahun 1982/1983 berjumlah sebanyak 897.6.5 juta MMBTU yang berarti terjadi peningkatan sebesar 16. Adapun volume ekspor tin:ah dalam 2 tahun yang sarna juga mengalami penurunan. serta pembatasan kuota ekspor yang dikenakan oleh Dewan Timah Internasional kepada negara-negara pengekspor timah.1 persen. Sedangkan penjualan logam timah di dalam negeri dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/ 1984 masing-masing meneapai sebanyak 464.8 ribu ton logam timah.559 metrik ton dalarn tahun 1982/1983 menjadi sebesar 456.1 juta dalarn tahun 1983/1984. Departemen Keuangan RI 198 . Mundu di Cirebon.198 metrik ton atau 5. Produksi LPG yang berasal dari kilang minyak Plaju. Di lain pihak nilai ekspornya telah menunjukkan peningkatan.0 p_rsen.

2 216.2 194.2 707.5 989.238.9 188.6 202.0 689.0 887.4 1.4 853.2 207.7 1.8 187.7 125.2 1.3 189.7 737.316. 1969/1970 -1983/1984 (dalam ribu ton) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971 /1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) Produksi 311.6 201.6 Ekspor 232.5 225.6 209.0 971.4 1.8 220.3 114.6 167.177.778.3 223.1983/1984 (dalam ribu ton kering) Tahun 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Produksi 9.0 538.6 1. 40 PRODUKSI DAN EKSPOR BIJIH NIKEL.3 197.6 924.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.0 850.5 830.7 211.0 853.5 1) 810.7 Ekspor 8.7 1.2 707.6 924. 1972/1973 .5 830.1 184.207.4 764.. 41 PRODUKSI DAN EKSPOR KONSENTRAT TEMBAGA.9 212.9 781.4 1) 199.5 830.1 176.192.0 887.5 178.5 897.8 Departemen Keuangan RI 199 .1 751.

6 3 4.7 317.7 1) 122.1 ton senilai US $ 23.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. Adapun jumlah ekspornya dalam tahun 1981/1982 telah mencapai sebanyak 209.40.2 78.3 105.3 329.2 346.2 21.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1) Angka sementara Jumlah feronikel yang diekspor dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 masingmasing mencapai sebanyak 4.4 ribu.469 juta.2 66.6.2 -10 -17. Dalam tahun 1982/1983 telah di ekspor nikel matte sebanyak 15.536 juta.5 ribu ton.9 291.6 204 183. 7.6 Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/19841) Produksi 176 175.7 ribu ton.876 ton senilai US $100. Departemen Keuangan RI 200 .3 248.923.8 177.8 ribu ton senilai US $ 130.4 ribu ton.1 276.41.5 10.7 ribu ton senilai US $130. dan kemudian dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi sebanyak 211.6 348.1 35.624.2 456.5 35.935.9 -10.6 ribu ton senilai US $ 114.2 14.3 34.274 juta dan 4.6 290.001 juta.1 ton senilai US $ 21.4 12.6 321.8 298.5 614. 43 PRODUKSI BATU BARA.2 283. dari dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi sebanyak 225.1983/1984 ( dalam ribu ton) Tahun 1970/1971 1971 /1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) Produksi 53.7 349.2 299.3 376.248. 42 PRODUKSI DAN EKSPOR P ASIR BESI.4 23.9 171. Namun dalam tahun 1983/1984 menurun menjadi sebanyak 202.5 ribu.7 17. 1970/1971 .2 120.130 juta.6 18. 1969/1970 ( dalam ribu ton) Persentase kenaikan -0.443 ton senilai US $ 42.2 237.6 135. dan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 22. Tembaga Produksi tembaga dalam tahun 1981/1982 telah mencapai 197.2 145.1 Ekspor 242. Perkembangan jumlah produksi dan ekspor konsentrat tembaga dapat dilihat pada Tabel VII.5 9.4 196.7 276. Perkembangan jumlah produksi dan ekspor bijih nikel dapat dilihat dalam Tabel VII.5 256 267. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlahnya mengalami penurunan menjadi sebanyak 199.5 68.3 12 Tabel VII.4.1 25.

9 I) 1983/1984 1.3 269 1978/1979 220.2 1983/1984 1) 265.1 1981/1982 172.1 1972/1973 9.9 ribu ton.8 3.1 3.8 ribu ton.5 ribu ton.9 1977/1978 2.43.3 1 1976/1977 3.2 2.1983/1984 (dalam ton) Tahun Produksi Penjualan Ekspor 1969/1970 10. Hasil produksi pasir besi yang dalam tahun 1981/1982 sebanyak 105.1 2.2 1971/1972 8.5.5 290 1976/1977 349. Sedangkan pengembangan cadangan pasir besi di daerah pantai selatan Yogyakarta masih terbatas dalam studi kelayakan.2 0.1 ribu dan 12.6. yang berarti suatu kenaikan sebanyak 162.41) 1981/1982 1. karena daerah penambangan di daerah Pelabuhan Ratu telah habis cadangannya. 44 PRODUKSI DAN PENJUALAN DALAM NEGERI LOGAM 1969/1970 .4 1973/1974 327.1 2. Perkembangan produksi batu bara dapat dilihat pada Tabel VII.3 324 1974/1975 260 262.3 288.0 ribu ton senilai US $ 119. jumlah ekspor batu bara Indonesia mencapai sebanyak 283.7 ribu ton.3 2.5 ribu ton atau 133.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 7. 1969/1970 . Departemen Keuangan RI 201 .7 246.6 6.4 251.42.7 1982/1983 262. Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di dalam negeri.1 1978/1979 2.4 3. Batu bara Dalam tahun 1983/1984 produksi batu bara berjumlah 614.7 persen dibandingkan dengan produksi tahun 1982/1983 yang baru mencapai 456.8 1. dan sedang dilakukan penelitian lanjutan guna mencari metode pemrosesan lainnya dalam rangka pemanfaatan pasir besi Yogyakarta menjadi bahan baku bagi pabrik besi baja PT Krakatau Steel.2 398 1977/19'18 252. Dalam tahun 1983. Dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 telah diekspor masing-masing sebanyak 10.4 186. yang berarti peningkatan sebanyak 158.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.2 1980/1981 224.3 1974/1975 6. Perkembanganjumlah produksi dan ekspor pasir besi dapat dilihat pada Tabel VII.6.1 261 I) Angka sementara T a bel VII.4 1979/1980 1.3 ribu ton. 45 PRODUKSI.9 1982/1983 3. Tabel VII.5 1975/1976 321. Pasir besi Penambangan pasir besi sejak 1 Maret 1982 hanya dilakukan di daerah Cilacap. dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi 129.6 170. PENJUALAN DALAM NEGERI DAN EKSPOR LOGAM PERAK.9 1.7 1973/1974 8. sedangkan dalam tahun 1983/1984 mengalami penurunan menjadi 122.5 1970/1971 9.9 ribu.4 1972/1973 332.6.8 7.2 ribu ton atau 34.3 250.2 2.8 1980/1981 2.7 1.1 4 1975/1976 4.9 persen bila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru mencapai 121.1983/1984 (dalam kilogram) Tahun Produksi Penjualan 1969/1970 261 1970/1971 255.3 ribu ton senilai US $ 123. maka sebagian daripada produksi batu bara tersebut telah pula diekspor.4 1971/U)72 343.6 ribu ton.9 1979/1980 197.1 ribu ton.

atau suatu peningkatan sebesar 17 persen dan 9 persen. Emas dan perak Penambangan emas dan perak yang dilakukan di penambangan Cikotok.8 kilogram untuk penjualannya. yang berarti telah terjadi peningkatan sebanyak 3. yang masing-masing dilengkapi dengan instalasi pencucian. Selain itu emas dan perak juga dihasilkan oleh Freeport Indonesia Inc berupa logam ikutan dalam konsentrat tembaga. Penambangan di pulau Koyang sejak tahun 1982 telah dihentikan. masing-masing bila dibandingkan dengan tahun 1982/1983.4 ton atau 45. Dalam tahun 1982/1983 jumlah produksi dan ekspor bauksit masing-masing berjumlah sebanyak 721.6 ribu ton. Perkembangan produksi dan ekspor bauksit dapat dilihat pada Tabel VII. sehingga kadar emas dan perak dari bijih yang dihasilkan menjadi semakin rendah.7 ton dan 1.8. Selama tahun 1983/1984 hasil produksi dan penjualan emas di dalam negeri. yang berarti mengalami penurunan sebanyak 1. dan oleh sejumlah pertambangan rakyat yang dilaksanakan dengan peralatan dan teknik yang sederhana serta dengan hasil produksi yang tidak teratur. Sedangkan produksi dan penjualan logam perak dalam tahun 1983/1984 masing-masing meneapai 1.7 ton. sedangkan kadar logam timbal dan seng semakin tinggi. sehingga menurunkan permintaan bauksit di negara tersebut. yaitu di pulau Tembiling.4 persen untuk penjualannya hila dibandingkan dengan tahun 1982/1983.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.6. walaupun cadangan bauksitnya masih ada. Melalui proses yang telah disempurnakan.1 kilogram dan 261. 7.6. yang disebabkan karena penambangan tersebut tidak menguntungkan.9 ribu ton dan 861.2 persen untuk produksi dan sebanyak 1.46. Departemen Keuangan RI 202 .7. sedangkan di Jepang telah terjadi restrukturisasi dalam industri.7 kilogram untuk produksi dan sebanyak 9. Perkembangan produksi dan penjualan logam emas dan perak dapat dilihat pada Tabel VII.2 ribu ton. Bauksit Penambangan bauksit di Indonesia dilakukan di daerah pulau Bintan dan sekitarnya. Banten Selatan. sedangkan dalam tahun 1983/1984 masing-masing telah meningkat menjadi sebanyak 841.45. Jawa Barat telah semakin dalam.2 ton atau 41.0 ribu ton dan 792. Dari tabel tersebut terlihat bahwa produksi dan ekspor bauksit dalam tahun terakhir Pelita III mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II.0 kilogram. yang terutama disebabkan karena pemasaran bauksit Indonesia hanya tertuju ke Jepang.44 dan Tabel VII. selain dihasilkan konsentrat emas dan perak juga diperoleh konsentrat timbal dan seng yang dapat diekspor walaupun saat ini jumlahnya masih kecil. pulau Kelong dan pulau Dendang. Sementara itu penambangan di pulau Angkut telah dihentikan karena cadangan bauksitnya telah habis. masing-masing meneapai 266.

Hal ini berarti produksi granit mengalami penurunan sebanyak 116. 716.597 _2) 15.817 80. walaupun di antaranya telah ada yang diekspor dalam jumlah relatif kecil dan secara tidak teratur. Mangaan 7.323 11.944 3.47. Aspal 115.345 11.. aspal.10. Feldspar 2.6.1 27 11.904 75.071 5. fosfat. sedangkan ekspornya telah meningkat sebanyak 676.051 106.690.9 7.902 7.639 17.783 6.756 1.717 12.951 2.4 25.232 13.939 12.9 33.111 7.3 25.244 260.648 6.965 18.48 PRODUK BAHAN GALIAN 1).894 7.621 b.767 1. Listrik Pembangunan di bidang kelistrikan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat.724.605.603 220 3.697 1.889 6.48.971 30.196 2.750 13.647 80.973 7.909 4.390.688 85. belerang.909 3.697 104.631 2.148 64.522 1. Pada umumnya bahan tambang ini diperuntukkan bagi konsumsi dalam negeri.752 4. Marmer 9.266.bahan semen a.601 173.847 6. Yarosit 274 341 1. Kegiatan penambangan bahan-bahan tambang tersebut dilakukan oleh badan usaha milik negara (BUMN) dan perusahaan swasta nasional.287 219. BeIerang 900 1.079 1. yarosit dan kalsit. ashes. Gamping 411. Granit Dewasa ini penambangan batu granit dilaksanakan di pulau Karimun.528 29.865.307.349 3.191 2. Yodium 9.465 6.870 _2) 10. mangaan.3 29. As b e s 223 283 92 50 31 15 103) 253) 74 9.483 1. terdiri alas kaolin.228 14.979 110.771 2.811 524. maupun untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.323 38.616 13.295 5.439 7.196 148 147 _2) 14.6.006 37.496 25. yang termasuk dalam bahan galian industri atau bahan galian golongan C.563 7. Lempung 76.484 9.115 58.842 1.626 192.529 75. 7. pcrusahaan daerah dan lain-lain 2) Data tidak terscdia 3) Angka diperbaiki 4) Angka scmcntara 7.3 25.170 115. marmer.6 ribu ton. peldspar.485 2. posir kuarsa.241 _2) 13.828 25.520 19.949 8. Perkembangan produksi tambang lainnya dapat dilihat pada Tabel VII. K a Is it 3.3 28. gamping lempung. Posir kwarsa 44.609 25.074 155.575 1.374.266 16.11.7 ribu ton dan 1. bentonit.6.893 379. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah terjadi penurunan masing-masing menjadi 2.441 310.360.782 332.80 ribu ton atau sebesar 95 persen.780 6.644 3.161 62.7633) 1803) 1973) 4973) 1.1983 ( dalam ton kecuali marmer dalam m2 slabs) 1974 1975 1976 1977 1978 Jenis 1972 1973 1979 1980 1981 1982 19834) 1.730 938. Bentonit 4.3 ribu ton atau 5 persen. Dalam tahun 1982/1983. Fosfat 1.0 ribu ton dan 713.580 95.944 35.320 819 5.216 25.563 725. yodium.152 583.120.066 '270.739 161.018 276. G ips 290 453 855 570 _2) 1) Mcrupakan hasil usaha swasta nasional.569 653.315 28. serta untuk mendorong dan Departemen Keuangan RI 203 .4 ribu ton. baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan.639 3.657.764 1.753.522 15. Dalam pada itu penjualan batu granit dilaksanakan baik untuk keperluan ekspor khususnya ke Singapura dan Malaysia.598 7.9. Bahan .2 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. Bahan-bahan tambang lainnya Bahan-bahan tambang lainnya.149 75.721 12. jumlah produksi dan ekspor granit mencapai 2.216 33.078 907.847 5. Tabel VII.942 6. Riau. Perkembangan produksi dan ekspor granit dapat dilihat pada Tabel VII.528 2.976 995.192 8.9 25.433 2. 1972 .906 29.144 3. K a 0 1 i n 12.114.643 1.809 221.6 19.704 784 1.396 3.618 _2) 11.990 138.610 164.190.

126. Pelaksanaan pembangunan tenaga listrik tersebut didasarkan pada kebijaksanaan yang menyatukan seluruh sektor tenaga listrik dalam satu kesatuan perencanaan yang menyeluruh.410 MWH.50.151 MWH. gardu induk dan jaringan distribusi. maka telah dibuka peluang yang lebih besar dalam pengusahaan tenaga listrik.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 merangsang kegiatan ekonomi. dengan maksud agar tercapai suatu sistem interkoneksi regional.843. Dalam tahun 1982/1983. daya tersambung dan daya terpasang. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat di segala bidang. Dengan peningkatan rehabilitasi dan pembangunan di bidang kelistrikan tersebut. daya tersambung dan daya terpasang tenaga listrik dapat diikuti pada Tabel VII. 9. maka peranan listrik semakin mempunyai arti penting.296. Di samping itu dengan meningkatnya pembangunan tenaga listrik. Selama Pelita III. lengkap dengan pembarigkit transmisi dan distribusi.669 KV A dan 3. 6. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 masing-masing telah berkembang menjadi sebesar 13. 5. penjualan tenaga listrik. baik sebagai sarana kehidupan sehari-hari maupun sebagai sarana produksi. Hal ini terlihat antara lain dari permintaan tenaga listrik yang semakin meningkat yang diakibatkan oleh terus bertambahnya tingkat kebutuhan masyarakat. Perkembangan produksi.800 MW.596 MWH.980 MW. Di samping itu dalam tahun yang sarna juga telah dilakukan rehabilitasi dan pembangunan jaringan transmisi.924.269. maka telah meningkat pula kebutuhan tenaga-tenaga terampil.251 KVA dan 3. Oleh sebab itu pembangunan di bidang kelistrikan terus dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. 10 persen.023.405. yaitu sejauh mungkin memanfaatkan potensi sumber energi non minyak dan penghematan bahan bakar minyak. pembangunan dan rehabilitasi tenaga listrik secara bertahap telah dapat meningkatkan baik clara terposang pembangkit tenaga listrik maupun jaringan listriknya.720 MW. rehabilitasi dan pembangunan yang dilakukan pada pusat pembangkit tenaga listrik mencakup kapositas sebesar 355.072. atau suatu peningkatan sebesar 41 persen. maupun pada lembaga-lembaga pendidikan dan latihan di luar PLN. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi sebesar 501. 10. masing-masing mencapai 11. Untuk itu selama Pelita III telah dilakukan pendidikan dan latihan di bidang teknis dan administratif baik di pusat pendidikan dan latihan PLN. Selanjutnya dalam rangka diversifikasi penggunaan sumber energi dan penghematan bahan bakar minyak. yang berarti terjadi peningkatan masing-masing sebesar 12 persen.41 MW.619 MWH. serta diarahkan pada pendekatan secara regional. Departemen Keuangan RI 204 . rencana dan pembangunan tenaga listrik dikaitkan dengan kebijaksanaan umum bidang energi. 16 persen dan 15 persen. penjualan. Dalam tahun 1982/1983 jumlah produksi tenaga listrik.

pusat listrik tenaga uap (PLTU) Semarang Unit III.051 desa pada akhir Pelita III. Dalam rangka pemerataan pembangunan. maka terus ditingkatkan pula keterpaduan antarsektor sehingga lebih memantapkan proses industrialisasi. PENjUALAN. Selama Pelita III telah dapat diselesaikan pembangunan sejumlah pusat pembangkit tenaga listrik di beberapa lokasi.076.788 3.40 1976/1977 4.386 4.933.296.502.609 934. PLTG Palembang Unit III.023.081. Sejalan dengan pembangunan yang dilakukan di sektor industri.817 1.921 5. pengolahan kapur dan tanah liat untuk industri semen. PLTA Wonogiri.286.669 3.137.354 1) 3. PLTG Para Posir (Medan) Unit V.376 1.107 1.494.269.244 desa pada akhir Pelita II menjadi sebanyak 8.410 10.151 9. 7. Dalam pada itu pemanfaatan kekayaan alam yang merupakan potensi u'tama bidang industri.027 1.444.9 persen per tahun dalam Pelita III.49 1982/1983 11.004.340 ibukota kecamatan yang ada juga telah mendapat aliran listrik.77 1974/1975 3.722. dalam Pelita III telah banyak menunjukkan peningkatan.466 4.482 1.129.740. Di samping itu sekitar 2.0 persen per tahun dalam Pelita I.000 ibukota kecamatan dari sejumlah 3. PLTG Denpasar.38 2.345.390 3.669 2.16 1973/1974 3. serta penggunaan kayu gelondongan untuk industri kayu Departemen Keuangan RI 205 .261.052 3.477 1.862. yaitu mencapai rata-rata 13.&15 1.241 2.950 1.264 970.116.006. PLTG Ujungpandang.405. Selanjutnya kini juga sedang diselesaikan pembangunan beberapa pusat pembangkit tenaga listrik.063. telah ditingkatkan pula pembangunan pusat-pusat pembangkit tenaga listrik dengan tetap didasarkan pada diverifikasi energi. antara lain meliputi PLTU Suralaya Unit I.84 1975/1976 3.459.41 5. antara lain pusat listrik tenaga air (PLTA) Maninjau. 13.50 1977/1978 4.127.74 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 10.511 2. Industri Pertumbuhan sektor industri yang telah dicapai selama ini adalah cukup tinggi. PLTD Bukit Asam.92 1) 2.892.376.803.7.98 1983/1984 13. PLTU Belawan Unit I dan II.420.236 2.294 2.413. 1972/1973 -1983/1984 Uraian Produksi tenaga listrik (MWH) Penjualan tenaga listrik (MWH) Daya tersambung (KVA) Daya terposang (MW) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1972/1973 2.032.426.473.594.072.660 3. PLTA Lodoyo. PLTD Tarakan.406 6. pusat listrik tenaga' gas (PLTG) Semarang Unit IV.617 850. Oemikian juga beberapa pusat listrik tenaga disel (PLTD) yang tersebar di kala-kola dan di daerah pedesaan. PLTG Padang Unit III.026 1) 2.845.801) Sejalan dengan peningkatan permjntaaan tenaga listrik yang terus berkembang. DAY A TERSAMBUNG DAN DAYA TERPOSANG TENAGA LISTRIK.619 6.343.251 3.535.846. PLTG Gresik Unit III.7 persen per tahun dalam Pelita II dan 8. meningkatnya penggunaan dan pengolahan gas alam untuk industri baja.910 7.288 8. PLTD Pontianak dan PLTD Ujungpandang.613 1. dan PLTG Ujungpandang unit II.770. program kelistrikan desa telah ditingkatkan melalui partisiposi masyarakat setempat dan pihak Pemda.50 PRODUKSI.744.924.214.816 7. Hal ini terlihat dari perkembangan industri LNG.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TABELVII.532.596 5. pupuk urea dan petro kimia.126.554. Adapun jumlah desa yang mendapat aliran listrik telah meningkat dari sebanyak 2.

796. Benang tenun (ribu ball 3.7 322 1971/72 732 239 16. Walaupun produksi dan nilai tambah industri kecil selama ini masih sangat rendah. 1969/1970 .9 15.9 568.017.00 -17.3 319.503 623 290 634 419 147 800 55 1.1 1.7 -34.2) .8 17.4 507. yang sebagian berlokasi di luar pulau Jawa.3 141.2 43.8 251 300 167.1 18.971 1.576.8 9.40 2. Dalam Pelita III telah dimulai dengan pembangunan industri-industri dasar/hulu yang mengolah sumberdaya alam dan energi.6 15.00 1.7 1.Z A (ribu ton) 6.4 401.9 213 207.10 364 445.4 30.4 155.536 733 600 420 185 100 30 300 26 16 17 37 22 30 4 114 47 1.8 330.672.8 129.5 736.00 1.8 132 23.5 50.9 39.0 828.5 172.8 266.3 377. Cibinong.1 28. Besi spons (n"bu ton) 29.4 17. Lampu pijarJTL (juta buah) 30.5 194. Asam sulfat (ribu ton) 12.4 21.000 135 400 144 70 30 19 115 24 9 25 20 7 8 2.1 387.8 819 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/853) 737.4 -0.000 460 484 442 185 98 25 240 29 13 19 15 10 25 4 j ) 1978/79 1979/80 1980/81 123 54 3. Oleh karena pembangunan sektor industri memerlukan mobilitas yang tinggi.9 37. Plat song (ribu ton) 27. Vet sin (ribu ton) 36. Pup uk . Sprayer (ribubuah) 35.40 2.704.7 102.6 208. Baterai keriog (juta buah) 26.60 3.2 20.8 813.5 221.7 28.80 6.5 4.1984/1985 Jenis produksi 1.6 11.10 5.6 31.3 21.9 1. 23.3 148.7 8.078.5 1. maka terus dilakukan pengembangan industri berskala besar.9 1.2 44.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 gergajian dan kayu lapis.6 22.3 Persentase perubahan 1983/84 terbadap 3) 1969/70 1982/83 343.4 28.2 1.6 33. Ban kendaraan bermotor (ribu buah) 8.2 132.2 20.4 9.9 108.6 10.2) .320 1.883.6 29.8 475.4 27.944.3 209.995.247.351.223.20 7.3 1973/74 926. 20.4 406.4 67.5 30.6 .40 1.11) 68.2 278.7 110.7 16.1 381. Lhok Seumawe dan Indarung.3 18. pupuk.204.5 18.2) . 24.70 1.1 2.3 36. sampai dengan akhir Pelita II sebagian besar pembangunan industri masih berlokasi di pulau Jawa.9 144.2) .10 1. Rokok kretek (milyar batang) 17.0 1.5 55.1 102. Gresik.30 2. Tapal gigi (juta tube) Deterjen (ribu ton) Accu (ribubuab) Radio (ribubuah) Televisi (ribu buah) Assembling mesin jabit (ribu buab) 25.7 17.4 83.2 264.3 106.00 8.3 37.60 3.0 1.30 2.6 -5.8 32.8 23. 33.1 452 610 480.7 19.41) 65 93.00 65.5 265 268.705.521.816.5 203. Gelas/botol (ribu ton) 9.00 1.111 730 525 527 294 143 282 34 641 74 19 40 134 26 34 6 1981/82 1982/83 1983/84 1984/852) 165 75.481.001 14 13 12.910.6 11.1 113.00 4.0 1.016.9 43.4 13. Mesin dise1 (ribu boob) 37.5 -5.50 1.4 276. Assembling mobil (ribu buah) 4.6 23.9 63.9 19.21) 1975/76 108 35 220 1. 21.7 348 1972/73 852 262 23 100 120.2 232 246.829 22.2 209. Kaca polos (ribu ton) 10.6 51.8 12.9 974 1.7 29.8 213.8 105. Minyak goreng (ribu ton) 15. Tekstil (juta meter) 2.5 41. Cilegon.8 26.5 50.7 54.7 28.00 1.2 89.6 32.6 296.027.4 379.5 13.4 21.437.2 14.9 100.9 23.1 2.3 13.7 27. Susu kental manis (juta peti) *) Da1am ribu ton 1) Angka dipedtaiki 2) Angka smentara 1969/70 15 32 364 5 14 54 9 4 5 5 1 7 2 1970/71 25 4 56 393 5 14 55 34 6 10 5 4 15 1971/72 26 6 262 416 65 262 72 67 6 74 32 15 1972/73 30 5 130 700 60 340 72 70 15 12 75 20 6 15 1973/74 32 7 140 900 70 800 132 70 30 18 120 20 7 23 40 7 2 2 1974/75 46 7 180 1.40 3.70 45. Aluminium sulfat (ribu ton) 11.400 16 314 .3 *) 55 39 2.184.629.9 326. 22.026 69 50 12 170 36 59 101.8 *) Untuk memantapkan struktur industri. maka selama Repelita IV akan terus dilakukan pengamanan terhadap penyediaan sarana angkutan.5 11 3 3.019 660 478 462 250 108 100 30 500 47 17 35 78 20 25 5 138 145 64 67 3.0 147.662.4 14.9 50 108.00 1.673. baik di dalam negeri maupun untuk angkutan komoditi ekspor.01) 442.8 37.6 271.8 24.6 30. Rokokputih (milyarbatang) 18.5.6 61.0 1.5 1.9 31.5 22.3 3. Besi beton (ribu ton) 31.540. 708.2) . terutama di wilayah pengembangan industri seperti zona industri Cikampek.827.4 7. Sabun cuci (ribu ton) 16.885. Air conditioner (ribu buah) 32.094.2 10 33 15 105 54 38 25 6 -62.6 -0.844.6 175.135 529 264 97 287 175 62 350 27 500 26 26 6 67 12 26 37.155 1. baja. Dari segi penyebaranura.9 40.651.900 70 -26.3 857.00 1.6 264.3 13.6 78.4 .2 32.740 -4.90 3.9 678.2 214.4 12. seperti angkutan semen.9 17.3 83.332.30 2.5 155. Kertas (ribu ton) 13.7 68.0 990.6 -13.7 1.390.51 BEBERAPA HASIL INDUSTRI.2 93.8 182.10 2.21) 342 131.1 25. TabeI VII.9 43.241.979.320.2 258.5 202.5 11.0 49.10 1.2) .9 47.3 114 100.40 902.985. Kapal baja baru (ribu BRT) 1) 34.8 180.1 52.7 722.2 36.9 272.1 5 21.4 85.878.6 16.071.4 59.8 93.1 102 22.1 260.2 46.8 4.9 188.01) 566 707 780 772 506. sedangkan untuk daerah-daerah di luar Jawa jumlahnya masih terbatas.339.51) 209.8 195.000 166 520 240 145 43 21 202 23 9 22 15 8 8 3 1976/77 104 34 480 1.8 553 586.2 21.4 326.9 164. Cilacap. baik industri hilir dan industri kecil Departemen Keuangan RI 206 .650.30 37. Korek api (juta kotak) 1) Angka diperbaiki 2) Data tidak tersedia 3) Angka sementara 1969/70 449.2 17 263 27 133 19 11 269 1970/71 598.60 49. Semen (ribu ton) 7.1 2.3 998 1.2 39.4 817 ( Jenis produksi 19.2) .590 847 654 552 554 302 160 385 37 672 54 19 41 154 34 69 5 394 577 317 126 391 36 744 55 47 32 160 33.2 8.4 77.Urea (ribu ton) .006.851.2 30.747 1.3 37. Berdirinya industri dasar/hulu tersebut telah mampu menggerakkan pembangunan wilayah. Minyak kelapa (ribu ton) 14.7 316.3 663 39.4 542 366.7 7.7 150 115.080 1.00 3.1 539.3 837.898.6 6 6 9 8 109 44 690 1.431 4.9 *) Presentase perobahan 1983/84 tedtadap 2) 1969/70 1982/83 1. Assembling sepeda motor (ribu buah) 5. Kabellistrik/telekom (ribu ton) 33.2 664.00 1.00 1.9 75.5 24.700 1.6 3. clara serapnya terhadap tenaga kerja cukup besar sehingga dalam Repelita IV akan terus diusahakan peningkatan peranannya di dalam struktur industri nasional. kertas.9 369.2 276. Dalam hubungan ini akan terus dilakukan peningkatan penyediaan prasarana.100 210 400 420 156 85 26 296 30 9 27 20 8 24 4 1977/78 104 39 575 1.01) 199 30.8 681.3 217 2.4 530.7 122.9 218. dan kayu lapis.5 28.8 193.370.2 34.2 26 132.873 4.6 410 503.2) .2) 127.166. yang didukung dan diperkuat oleh industri berskala menengah dan kecil.5 16.4 662.3 84. Kawat baja (ribu ton) 28.7 15.6 258.9 -6.

8 140 81.7.1.2 159.00 16. Huller (ribu buah) 8.4 46..5 891 800 640.279.4 60. Industri logam dasar Kelompok industri mesin dan logam dasar meliputi industri logam dan produk dasar.8 156 296. serta pengembangan kehidupan perekonomian daerah. Plat seng (ribu ton) 8. berskala besar.2 45 60 15 27 180 26. industri mesin.7 70 120 22.4 178.5 17.5 148.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun kegiatan ekonomi lainnya.00 192 65 116 68 8.2) 4.5 816.7 128.6 500 85.8 16 11.074.8 66 5 52 185 55 1.2 1970/71 2.6 114.026. yaitu industri yang menghasilkan bahan baku.00 1984/85 3) 39. Traktor tangan (buah) 23.8 748.4 64.7 1.4 550 150 8.8 3. industri peralatan listrik dan elektronika profesional.4 8 2.1 170.2 80 1977/78 83.7 62 26.51) 209. Tabung gambar (ribu buah) 21.3 84.4 47.4 575 3.6 58.2 .4 25 17.4 12.00 Departemen Keuangan RI 207 .7 15.9 66.7 9.271.7 12.2 100 80.8 1.859.8 2.4 41.00 1.820.9 188.8 30 1976/77 75.8 18. Namun mengingat bahwa industri dasar/hulu mempunyai ciri padat modal.5 12.00 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 172. Transformator (ribu bush) 22. menggunakan teknologi tinggi.00 20. Aluminium sheet (ribu ton) 12.6 80.2 178. Piston (ribubuah) 20. pendidikan dan latihan bagi tenaga kerja siap pakai.3 27. 7.5 15 1978/74 36.2) 2.2) .2 10. Assembling mobil (ribu buah) 2. Oleh karena itu laju pertumbuhan kelompok industri mesin dan logam dasar senantiasa sejalan dengan perkembangan sektor-sektor ekonomi lainnya. Traktor mini (buah) 24. Radiator (ribu bush) 19.4 2.6 75 15 200. 1969/1970 . Ingot baja (ribu ton) 15.2 109.7 16 16 80 47.4 10 15 200 .1 69.1 200 2. Besi spons (ribu ton) 4.4 155.9 4. 52 BEBERAPA HASIL INDUSTRI LOGAM DASAR.5 1.8 1.8 294.065.1971/72 16. juga disebabkan oleh dorongan sektor-sektor lainnya di samping juga melalui pembinaan terhadap industri itu sendiri (Tabel VII.00 40. Tab e I VII. serta industri alat angkut. Mesin penggilas jalan (buah) 7.6 70 115 25. Dalam Pelita III pengembangannya mulai bergeser ke arah hulu.8 73.4 280 25 1979/80 102. Sedangkan dalam Repelita IV pengembangannya ditekankan pada industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri.8 98 25.5 80 8 4 8 1975/76 78.2 7 8.2 50 160.8 877 1.5 8 18 186 88 55 18. Kawat baja (ribu ton) 9. Pesawat helikopter (buah) 14. Pipa listrik .1 8 12 17 21 15 12 12 21.6 74 15 200 1972/78 28 69.6 8.1984/1985 Jenis produksi 1.5 80 2 1974/75 65. serta berlokasi di daerah yang berdekatan dengan sumberdaya alam dan energi yang pada umumnya belum berkembang.6 9.9 145 202 22 475 4 48.1 125 60 59.5 4.3 82.1 816 431 404 423 1. Ekstrusi aluminium (ribu ton) 11. penyediaan sarana dan prasarana.8 75 69.1 9.7 185 300 16.4 4 6 888. Besi beton (ribu ton) 5.8 625 48 18.9 884.5 16 16 122.2 450 2.Mesin disel (ribu buah) 10.9 120 2.215.7 419 281.5 81.00 45.5 250 99.2 2 116 85 50 12 15 50 0. (ribu ton) 17.7 7 6 67.6 850 500 6.8 57.5 30 .1 1) 166.8 7 100 135 25 1.1 102 122.8 75.7 41.01) 18 897. 51)..7 0.2 44 1978/79 108.850.1 1.00 1.1 177 0. maka timbul masalah regional baru yang memerlukan pemecahan secara konsepsional dan terpadu. baik industri berat maupun ringan.4 5. komponen dan peralatan mesin.4 6. terutama yang menjadi konsumen dari kelompok industri tersebut.1 486 698 762 68.5 108 25 6. Gambaran yang lebih terperinci tentang berbagai aspek perkembangan kegiatan industri beserta hasil-hasilnya dapat diikuti melalui uraian berikut ini.5 671.8 9. Permasalahan tersebut antara lain berupa pengaturan tataruang pemukiman. Pesawat terbang (buah) 18. .2 546 1 84. Generator set (unit) 1) Angka diperbaiki 2) Data tidak tersedia 3) Angka sementara 1969/70 5 8.9 84. Pipa bajaspiral (ribu ton) 18. Kapal baja ba:ru (ribu BRT) 1) 6. industri motor dan perlengkapan pabrik.8 174.4 400 0.9 185 240 19.875. Pipa air/gaJI/minyak (ribu ton) 16.6 24 2. lingkungan hidup.8 147. Perkembangan sektor industri yang cukup pesat selama Pelita III selain karena adanya peranserta masyarakat.9 860 3.2 301.5 7.0 2. Hasil produksi kelompok industri tersebut sebagian besar merupakan barang modal yang sangat diperlukan dalam kegiatan di berbagai sektor ekonomi.

7 ribu ton dan kemudian terus meningkat menjadi sebanyak 15. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat dihasilkan sebanyak 500. belum cukup berkembangnya industri hulu atau industri barang antara. sedangkan dalam tahun 1978/1979 baru berjumlah 30. Sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dihasilkan lagi sebanyak 26.8 ribu buah. suatu kenaikan rata-rata sebesar 56.7. mesin plastik dan komponenkomponen pabrik lainnya. telah diproduksi sebanyak 3. dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 762 ribu ton. kafer.3 ribu ton.9 persen setahun.1 ribu ton dalam tahun 1982/1983. Dalam tahun 1983/1984 telah dihasilkan motor disel sebanyak 58.2 ribu unit.4 ribu unit. saat ini industri mesin dan peralatan pabrik sudah mampu membuat komponen-komponen mesin/peralatan untuk pabrik gula. Adapun produksi besi heron dalam waktu yang sarna telah meningkat dari 300 ribu ton menjadi 1. Hal ini berarti bahwa selama periode tersebut telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 18. teh.0 ribu ton. atau suatu kenaikan sebesar 108.52. Industri kimia dasar Dalam Pelita III telah diusahakan tercapainya sa saran di bidang industri kimia dasar.4 ribu ton.2. resesi dunia yang belum sepenuhnya pulih. Untuk tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 4. yang dalam tahun 1982/1983 baru mencapai 4. dalam tahun 1983/ 1984 telah menurun menjadi sebanyak 8. Hal ini antara lain ditandai oleh tumbuhnya wilayah-wilayah/zona industri yang tersebar di Departemen Keuangan RI 208 .3 ribu buah. serta masih lemahnya keterkaitan industri baik secara horizontal maupun vertikal. Sebagai hasilnya. 7.0 ribu ton. Namun untuk produksi aluminium sheet.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Perkembangan yang telah dicapai di bidang industri logam dasar dalam pelaksanaan Repelita III pada umumnya cukup menggembirakan.9 persen per tahun. dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 9. Adapun produksi ingot baja/billet yang dalam tahun 1978/1979 mencapai sebanyak 80 ribu ton. yang meliputi penguatan struktur industri dan peningkatan pertumbuhan industri nasional. kopi.026 ribu ton. yang berarti telah terjadi peningkatan ratarata sebesar 27. yang dalam tahun 1978/1979 berjumlah 9. namun masih banyak dihadapi hambatan-hambatan.5 persen. mesin tenun. Produksi industri transformator. kelapa sawit.6 persen per tahun.6 ribu unit. Adapun dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Walaupun perkembangan beberapa hasil industri logam dasar cukup baik sebagaimana dapat dilihat pada Tabel VII. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 333.7 ribu buah. semen. Hal tersebut antara lain menyangkut masalah ketergantungan akan bahan baku yang sampai saar ini masih harus diimpor.

Proyek sarana distribusi pupuk Pusri IV (PSD IV).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa wilayah seperti di Aceh. maka dalam tahun 1983/1984 telah dapat meningkat menjadi sebanyak 2. Dengan meningkatnya produksi dan kebutuhan pupuk. Hal ini antara lain disebabkan karena makin meningkatnya permintaan masyarakat akan pupuk. yang l?erupakan lanjutan daripada PSD III.2 ribu ton. Dalam Repelita IV akan terus ditingkatkan upaya pengembangan industri-industri yang mempunyai dampak pengembangan wilayah. pulau Jawa. pembangunan unit pengantongan pupuk di Ujungpandang.885. pestisida.0 ribu ton. asam sulfat. Adapun kegiatannya mencakup pengadaan kapal curah dan suku cadang. perluasan kesempatan kerja dan lalu lintas ekonomi antarwilayah. dan serat sintetis. Kalimantan Timur. kertas. Hasil pengembangan tersebut telah terlihat pada peningkatan kegiatan sektor-sektor ekonomi . Jika dalam tahun 1982/1983 baru dihasilkan sebanyak 296. Walaupun demikian hal ini tidak akan berpengaruh terhadap kapositas produksi petani pemakai pupuk.0 ribu ton dalam tahun 1983/1984. serta peningkatan kemampuan teknologi industri.6 ribu ton kertas.4 persen di alas tahun sebelumnya. ban kendaraan bermotor.6 ribu buah dan 2.673.5 persen. Sementara itu jumlah produksi berbagai jenis kertas dalam tahun 1983/1984 juga telah mengalami peningkatan. Kelompok industri kimia dasar. Riau. Jika dalam tahun 1982/1983 produksi pupuk urea mengalami sedikit penurunan hila dibandingkan dengan tahun 1981/1982. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Hal ini telah menimbulkan dampak yang positif berupa pertumbuhan ekonomi.lainnya yang berkaitan dengan kelompok industri kimia dasar. maka dalam tahun 1983/1984 produksinya meningkat menjadi 369. dari 209. yang antara lain menghasilkan pupuk. namun dalam tahun 1983/1984 hanya mencapai sebanyak 3. Demikian pula halnya dengan pupuk TSP.3 ribu buah ban kendaraan bermotor dan 2. semen.438. dalam tahun 1983/1984 produksinya telah mencapai sebanyak 783. atau kenaikan sebesar 24.1 ribu buah. Di lain pihak produksi berbagai jenis ban luar kendaraan bermotor dan ban luar sepeda motor telah mengalami sedikit penurunan.567. pemerataan pembangunan. atau 35.5 ribu ban sepeda Departemen Keuangan RI 209 . Sumatera Barat. dalam tahun terakhir Pelita III secara umum menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.204. Dalam tahun 1982/1983 produksinya masing-masing berjumlah 3. maka terus dilaksanakan usahausaha untuk menunjang kelancaran distribusinya.6 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjacli 208. Di lain pihak terjacli sedikit penurunan produksi pupuk ZA.6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang baru berjumlah 577. merupakan salah satu langkah yang ditempuh Pemerintah dalam memperlancar distribusi pupuk. Sumatera bagian selatan.4 ribu ton. kaca palos.8 ribu ton yang berarti sebesar 13. serta pengadaan gerbong kereta api dan pembangunan gudang-gudang pupuk.

7 4.9 89 112 113.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 motor.9 ribu ton.241.6 296.2 527 627 4.6 0.8 15.704.9 100.4 120 115.4 530.4 722.2 81 _2) 509.9 3 7. te1ah terjadi kenaikan sebesar 8. 53. TSP (ribu ton) 2.520.437. kaca palos.7 118.50 2. Zat asam (iuta M3) 11.796.5 99.7 0.00 1.8 2. Demikian pula halnya dengan produksi susu kental manis.204. Apabila dalam tahun 1982/1983 produksi semen baru berjumlah 7.20 2.150.00 6.2 44. alar listrik dan logam serta bahan bangunan dan umum. Zink oksida (ton) 17.90 3.8 24.00 1. atau suatu kenaikan sebesar 10.40 1.550.7 110.9 19.9 6.00 4.1 0.351.9 3.2 3.6 17.8 2. Aneka industri Kelompok aneka industri (industri hilir) mempunyai peranan yang cukup besar dalam pembangunan industri secara keseluruhan.8 2.5 1.3 11 10.8 241.5 3.2 289. Ban sepeda motor (ribu ton) 6. asam sulfat dan zink oksida.6 4.9 9.2 17 568.127.4 83.6 29.7 54.1 471.800.4 792 1. tekstil. kimia.30 366.10 2.5 17.2 57.3 106.2 214.1983/1984 1969/70 1970/71 1971/72 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 3) 1.8 129.4 801. atau suatu kenaikan sebesar 184. 53 Jenis produksi 1.2 2. sehingga dapat memperkokoh struktur industri nasional.3 577.319.7 ribu ton menjadi 110. Demikian pula halnya dengan produksi kaca palos.60 3.80 85.5 532.6 1.4 2.339. dalam waktu yang sama telah meningkat dari 100.5 18.6 15.1 102.1 9.8 37.673.5 ton.9 4 4.4 406 990 1.9 4.1.006.650.4 783 22.9 1. a.10 5.320.Semen(ributon) 4.10 2. Synthetic resin (ribu ton) 15.801.2 14.0 1.9 0.8 180.7 209.8 4.30 2.5 2.7 8.20 2.00 1.8 195.250.0 970 980 1.629.3.8 12.827.4 17.5 8.1 18.00 1.80 6.5 2.10 542 401.00 8.985.2 93.9 1.00 718 480 614 541 0.9 369.7 17. ke1ompok aneka industri ini lebih besar peranannya apabila dibandingkan dengan kelompok industri hulu yang re1atif lebih padat modal.4 67.3 6.71) 1.650.5 50.2 3.30 2.0 persen.9 0.8 8.816.2 11.40 3.3 2.40 2.557.4 1 2. Di samping itu dalam menyerap tenaga kerja.7 857.8 3.30 2.3 18.8 3.9 108.20 7.2 43.2 4.1 20.3 3) Angka sementara 7.7 15.6 18.2 32.00 25.8 9.2 0.1 persen.1 113.885. ZA (ribu ton) c.4 465 559.3 21. suatu penurunan masing-masing sebesar 5.705.8 105.438.2 89.0 persen. Ban kendaraan bermotor (ribu ton) 5.60 3.5 155. yang antara lain menghasilkan semen.6 534.70 2.9 15.0 ribu ton. Asam chlorida (ribu ton) 19.Acety1ene (ribu M3) 13.6 3.5 30.00 1.3 13.6 48 36. Urea (ribu ton) b.898.21) 8. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dihasilkan sebanyak 28.540.2 17.6 11. Cabang industri anorganik dan industri bahan-bahan kimia organik dasar.0 45069. Pestisida (ribu ton) 14.6 persen di bandingkan dengan tahun sebelumnya.2 46.50 22. Aluminium sulfat (ribu ton) 8.5 2.2 232 246.3 14 31 51.1 39. Bahan peledak (ribu ton) 18.9 39.8 26. maka dalam tahun 1983/1984 telah mencapai sebanyak 8.6 208 114.7 4.2 8.80 1.00 1. Aneka industri yang meliputi industri pangan.8 25.9 4.392.2 8.329.1 387.189. Asam arang (ribu ton) 12.6 47.6 8.870.7 810 7:)1. dan sekaligus mempererat keterkaitan antara industri besar dengan industri kecil. Asam sulfat (ribu ton) 9.0 1.2 123.7 4.851.8 2.1 ton.898.3 2.078.1 2.1 305 335 246. dalam tahun terakhir Pelita III menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.5 10.0 1) 43.0 1.6 51.1 ribu ton. sedangkan dalam tahun 1982/1983 baru berjumlah 30.50 1.4 72. Hal ini antara lain karena aneka industri dapat merupakan jembatan antara kelompok industri hulu (dasar) dengan ke1ompok industri kecil.9 1.6 10.3 141 147. Bahan kimia tekstil (ton) 16.2 9.5 9.7 511.3 5.284. K e r t a s (ribu ton) 3.8 7.6 29 _2) 0.0 persen.878.979.7 33.2 30. Dalam tahun 1983/1984 produksi margarine te1ah mencapai 85.0 0.5 507.00 1.994.00 1.5 9.00 3. Tab e I VII.3 819 828.Soda(ributon) 10. yang berarti telah terjadi peningkatan sebesar 5.200.7 122.432.5 600 244.078.5 10.883.7. Serat sintetis (ribu ton) 1)Angka diperbaiki 2) Data tidal tersedia BEBERAPA HASIL INDUSTRI KIMIA DASAR.460. Kaca palos (ribu ton) 7.844.658. yaitu Departemen Keuangan RI 210 .00 .9 43.5 11.070. 1969/1970 .567.154.3 ton.0 1.4 49.2 209.5 persen dan 5.2 31. Perkembangan beberapa hasil industri kimia dasar dapat diikuti pada Tabel VII.8 3. dalam tahun terakhir Pelita III telah berkembang dengan baik.

9 persen. Jika dalam tahun 1982/1983 baru dihasilkan sebanyak 145.9 persen dan 13.995. Dalam periode yang sarna produksi minyak ke1apa mengalami penurunan sebesar 13. Bersamaan dengan itu produksi benang tenun dan pakaian jadi juga te1ah menunjukkan suatu peningkatan. Produksi rokok kretek dan susu cair te1ah meningkat masing-masing sebesar 11.6 juta buah dalam tahun 1983/1984. yakni dari 1.6 juta liter. tekstil dan pakaian jadi telah menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan tahun sebe1umnya.1 milyar batang dan 11.1 juta meter dalam tahun 1983/1984. yang antara lain menghasilkan televisi.2 milyar batang dan 18.0 ribu bal dalam tahun 1983/1984. yakni dari 442.0 persen. yakni dari 1. maka dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 165.1 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjadi 381.708. telah dihasilkan masing-masing sebanyak 23. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 masing-masing telah berjumlah 55.5 ribu ton.551.0 juta tube tapal gigi dan 66.8 ribu ton diterjen.0 juta tube dan 39. sepeda motor. Namun khusus untuk baterai kering telah terjadi peningkatan sebesar 9.1 juta ]iter dalam tahun 198211983.2 ribu ton.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dari 93. Industri alat listrik dan logam. Perkembangan beberapa hasil aneka industri dapat diikuti melalui Tabel VII.1 juta tube dan 75. dan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dihasilkan sebanyak 287.6 juta buah dalam tahun 1982/1983 menjadi 633.8 milyar batang dan 6.6 persen dan 67.8 persen.8 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjadi 101. yakni dari 576. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. meningkat sebesar 16. sedangkan dalam tahun pertama Repe1ita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat dihasilkan sebanyak 737. Kemudian dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 37. Produksi tekstil.9 persen.54. Produksi industri tekstil seperti benang tenun. Departemen Keuangan RI 211 .6 juta liter dalam tahun 1983/1984.7 ribu ton dalam tahun 1983/1984. dan baterai kering. radio.662.0 ribu bal dalam tahun 1982/1983 menjadi 1. yang berarti meningkat sebesar 7.3 juta meter. suatu peningkatan sebesar 13.7 persen. Adapun industri kimia seperti tapal gigi dan diterjen juga mengalamj peningkatan produksi yang cukup besar.9 juta meter dalam tahun 19821 1983 menjadi 1.9 ribu ton. secara keseluruhan menunjukkan sedikit penurunan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.2 juta buah. yakni dari 61.3 ribu ton dalam tahun 1983/1984. menjadi 68.2 persen.

1 55 503.90 1.551.0 1) 442.7 127.8 5.21) 342 114 6.000.3 837.9 43.8 20 20 24 23 30 29.319.3 2.7 13. Susu kenta! manis (juta peti) 1. Minyak goreng (ribu ton) 27 26 27. Lampu pijar/TL (juta buah) 3. Korek api (juta kotak) 269 322 348 475. Radio (ribubuah) 363.3*) 37.70 3.5 15.3 319.00 1.5 6 12.2 664.2 132.5 3.000.8 28.7 47 50 26.7 65 60 70 135 166 210 260 733. Assembling mesin jahit (ribu bubo) 14 13.5 4 3.1 10. menunjang pembangunan daerah serta memanfaatkan sumberdaya alam.30 2.8 681.4 63.651.247. maka pengembangannya lebih dikaitkan dengan potensi setempat.9 10.3 566 707 780 772 506.4 23.6 5.8 26.521. meningkatkan ekspor.2 364 445.589.00 1. yakni meliputi 9 pusat pengembangan industri kecil (PPIK).9 21 26 24.100. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.8 7.7 264.6 23.3 11.8 730. Industri kecil Pembangunan di bidang industri kecil ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja.017.2 278.4 276. menghemat devisa.3 19. 80 unit pelayanan teknis dan 13 pusat pelayanan promosi yang penyebarannya hampir merata di seluruh wilayah tanah air.50 1.2 72 72 132 144 240 420 442 420 462 526.3 26.662.3 8.7 16.2 46.2 262 130 140 180 220 480 575 690 1.2 6.6 410 577.7 16.5 16.9 8.5 2. Tapal gigi (juta tube) 15 25 26 30 32 46 107.4 31.6 61.8 9.6 31.3 998 1.5 50.5 5.5 19.8 22.4 379.6 5.536.910.8 9.4.8 266. Semen tara itu di bidang kelembagaan telah didirikan sarana pembinaan.00 1.7 3.1 18. Kabellistrik/telekom (ribu.503.5 113.9 33.5 4.5 290.5 5.6 271.5 28.5 7.8*) 101.7 17.8 330.3 732 852 926.000.7 18.90 1.154. serta produksinya berorientasikan kepada komoditi ekspor.3 12.2 659.1 319.5 4.4 27.233.5 262 340 800 400 520 400 484 600 477.50 1. Benang tenon (ribu ba1) 182.1 28 9.6 30.2 8.4 2. Air Conditioner (ribu buah) 4. meningkatkan pembangunan di daerah.9 3. Oleh karenanya.00 1.5 55.4 20.5 221.9 213 207.8 553 586.5 22. Tekstil (juta meter) 449.00 1.6 55 68. Rokok putih (milyar batang) 11 13.9 653.00 1.5 54.5 4.9 218.5 393.110. telah berhasil diresmikan penggunaan buah lingkungan industri kecil (UK).7 17.5 41.1 15.3 18 18.4 817 272.1 68. antara lain berupa pemberian prioritas pengembangan kepada industri kecil yang hasilnya dapat memenuhi kebutuhan orang banyak.4 531.5 194. DeteIjen (ribu ton) 4 5. energi dan manusia. salah satu prioritas pengembangan wilayah dalam kelompok industri kecil berorientasi kepada pengembangan zona dan kawasan industri.1 846.3 4.027.6 *) Dalam ribu ton 1 ) Angka diperbaiki 2) Mu1ai tahun 1978/1979.094.2 28.332.8 598.9 33.'2 18.7 55. Televisi (ribu buah) 2) 4.6 287. maka ditempuh beberapa kebijaksanaan sektoral.2 23.80 1.54 BEBERAPA HASIL ANEKA INDUSTRI.2 2.00 4.080.3 37.6 33.7 10. industri menengah dan industri besar.4 29.3 37. Assembling sepeda motor (ribu buah) 21.4 19.1984/1985 Jenis produksi 1969/70 19670/197 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1.6 576.135.1 19.00 1.7 29.9 9.184.1 4. Sabun cuei (ribu ton) 133 132.00 633 3.1 85.018.576.1 27.3 416 700 900 1.7 14.5 9.9 123 137.4 13. Untuk lebih mendukung terciptanya sa saran pengembangan industri kecil.00 1.2 96.5 44.4 108.4 47.9 678.6 33. Baterai kering (juta buah) 54 55.5 145 165.747.5 202. Minyak kelapa (ribu ton) 263 258.5 622.5 264.4 38.1 539.6 7 34.5 53.9*) 23.9 326.9 26.3 193.5 28.5 265 268.6 13. yang tersebar di Yogyakarta.00 1.9 66.3 17.4 326. sehingga dapat diharapkan pembangunan industri besar dan menengah secara langsung akan merangsang pembangunan sektor industri keci!.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.10 737.8 263.5 39.1 381. meningkatkan ekspor serta meningkatkan pengetahuan para pengusaha/pengrajin.7 31.1 50 100 150 261 300 267. 7 pusat pelayanan informasi. 1969/1970 .00 14.7 553.4 30.8 36.9 40.8 30. Dalam hubungan ini diusahakan untuk terciptanya kaitan yang erat antara industri kecil.4 4.3 21.7 974 1.2 260.00 2.00 1.6 27.995.1 25.00 1.3 148. Margarine (ton) 7.6 6.00 2.00 1. Susu bubuk (ribu ton) 1. Departemen Keuangan RI 212 .7.4 73.708. A c c u (ribu buah) 32 56.20 3.5 35.9 23. terdiri dari TV hitam putih dan TV berwarna 3) Angka sementara 7.7 28.6 104.6 633. Mengingat lokasi usaha industri kecil tersebar di seluruh wilayah tanah air bahkan sampai ke pedalaman.9 164.2 93.60 3. Untuk itu telah digariskan pokok-pokok kebijaksanaan di bidang pembangunan industri kecil yang antara lain bertujuan menciptakan iklim usaha melalui penetapan skala prioritas.ton) 1 4 6 9 9 9 9 12.8 75.10 529 15.4 132 131.5 21.4 28. mempunyai keterkaitan dengan sektor-sektor lain.7 30. yaitu melalui pengembangan wilayah-wilayah pusat pertumbuhan industri (WPPI).1 18.8 103.6 32.1 217 239 262 316.2 30.90 1.6 175. memeratakan kesempatan berusaha. terutama melalui penciptaan usaha industri kecil baru yang dinamis di samping optimalisasi usaha industri kecil yang telah ada. Magetan.3 5. Rokok kretek (milyar batang) 19 20.8 20.6 393.8 213 199 100.5 7 7.1 452 610 480.4 622.2 11. Susu cair (juta liter) 2.6 525.4 21.3 27.

Sidoarjo. Apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah TPL yang berhasil dididik baru sebanyak 93 orang. Perhubungan. sehingga dapat menyediakan kapositas jasa yang semakin baik bagi masyarakat. Tebet dan Tangerang. yang merupakan peningkatan dari TPL. telekomunikasi. di Sukabumi (Jawa Barat).8. Bandung. Cilacap dan Surabaya. telah dapat diperluas jangkauan pelayanan perhubungan. 7. maka dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 690 buah. maka dalam tahun 1983/1984 telah bertambah menjadi 2. pos dan kepariwisataan yang setiap tahunnya terus meningkat. maka wilayah Nusantara telah dapat dihubungkan oleh suatu sistem perhubungan yang semakin terpadu dan teratur. Tenaga penyuluh lapangan (TPL) terus pula ditingkatkan. pos dan kepariwisataan Pelaksanaan pembangunan perhubungan. Dewasa ini peningkatan kapositas di bidang perhubungan telah mampu melayani kenaikan permintaan masyarakat dengan tingkat pertumbuhan sekitar 12 persen per'tahun. serta komunikasi dan mobilitas penduduk ke seluruh pelosok wilayah Nusantara. Medan. Dengan bertambahnya sarana pembina tersebut maka kemampuan pembinaan juga telah meningkat. Di samping itu juga telah dilaksanakan pembangunan 6 buah perkampungan industri kecil (PIK) masing-masing di Jakarta yang meliputi Pulogadung. yakni apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah sentra industri kecil yang dibina baru sebanyak 281 buah. yang tersebar di hampir seluruh propmsl. di Gunung Sempu (Yogyakarta).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Semarang. Usaha tersebut juga telah dapat'menembus isolasi dan mendorong laju pertumbuhan daerahdaerah terpencil serta meningkatkan perdagangan antardaerah yang lebih seimbang dan lancar. Selain itu hasil-hasil yang dicapai juga telah dapat menjangkau dan memenuhi pelayanan kebutuhan masyarakat luas. arus barang dan jasa. Dengan adanya peningkatan pembangunan tersebut. dalam tahun 1982/1983 telah berjumlah 438 orang. pos dan telekomunikasi serta kepariwisataan sampai dengan tahun pertama Pelita IV ditekankan pada kegiatan rehabilitasi dan peningkatan prasarana serta sarana yang ada. serta di Pare-Pare (Sulawesi Selatan). telekomunikasi. Hal ini terwujud dari meningkatnya pemerataan pembangunan Departemen Keuangan RI 213 . Dengan pembangunan perhubungan. Sejalan dengan itU telah dibangun pula saran a usaha industri kedl (SUlK) yang terletak di dalam kawasan-kawasan industri Pulogadung (Jakarta). Tegal. Di samping itu terus dilakukan pula pembangunan prasarana dan sarana baru sesuai dengan pertumbuhan jasa perhubungan.151 orang. Sedangkan jumlah tenaga penyuluh lapangan spesialis (TPLS). Tasikmalaya dan Sukabumi. baik jumlah maupun mutunya.

ditandai dengan meningkatnya jumlah armada angkutan jalan raya yang telah mencapai 1. serta guna mengurangi kepadatan lalu lintas dalam kola.2 juta orang menjadi sebanyak 47. khususnya angkutan jalan raya.1. Dalam periode yang sarna.748.761 ton.5 persen atau sebanyak 165.7 persen untuk angkutan penumpang dan 1. Pelayanan angkutan kola.004. lampu pengatur lalu lintas dan pusatpusat pengujian kendaraan bermotor.574 orang menjadi 18. danau dan penyeberangan.915 orang. baik secara nasional maupun regional.9 persen . Perhubungan darat Program pembangunan di bidang perhubungan darat. angkutan antarkota . yaitu masing-masing dari 3.651 ton menjadi 4. dan angkutan bis perintis ke daerah terpencil juga telah ditingkatkan guna melancarkan arus penumpang.55). armada angkutan jalan raya telah meningkat 10. dan dari 5. dan dari sebanyak 14. maka jumlah angkutan armada bis bertingkat dan Departemen Keuangan RI 214 .796.582.8. Hasil pembangunan yang telah dicapai di bidang perhubungan darat.073 buah dalam tahun 1983. sehingga semakin memantapkan perwujudan stabilitas nasional dalam bidang ekonomi. yaitu dari masing-masing 43.5 5 3 buah. angkutan pariwisata. Sedangkan bidang perkeretaapian dalam tahun 1983 telah mengalami kenaikan sebesar 9. danau dan penyeberangan telah mengalami kenaikan angkutan barang sebesar 21 persen dan angkutan penumpang sebesar 21.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perhubungan secara menyeluruh. serta angkutan sungai. angkutan transmigrasi dan angkutan ke seluruh daerah terpencil yang secara ekonomis potensial. Hal tersebut telah ditunjang pula dengan usaha-usaha yang dapat meningkatkan efisiensi pelayanan jasa perhubungan. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru berjumlah 1.3 juta ton barang menjadi sebanyak 5.752.4 juta ton barang.untuk angkutan barang hila dibandingkan dengan tahun 1982. 7. kereta api. Selama Pelita III telah dilakukan peningkatan fasilitas keselamatan jalan raya berupa pembangunan rambu-rambu lalu lintas. angkutan sungai. sampai dengan tahun pertama Repelita IV. politik. serta pembinaan dan pengembangan usaha angkutan darat termasuk peningkatan pendidikan.520 buah (Tabel VII.4 juta orang.7 persen.928. sosial dan ketahanan nasional. Dalam rangka mengatasi kebutuhan angkutan umum dalam kola. pengaturan pengoperasian dan keselamatan lalu lintas. pada umumnya telah dapat dilaksanakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. keterampilan dan latihan bagi petugas. Pembangunan di bidang perhubungan darat tetap ditujukan untuk lebih meningkatkan pemanfaatan jalan raya.

623 3.6961) 1.082 4.280 359.057 1.990 419.739 337.430 19832) 160.748.488 1973 30.4 Penumpang km (orang) 3. dan Ujungpandang 20 buah.022 1.099 531.034.8 5.321 785.019 869.841 917.073 Tab e I VII.240 471.441 791.873 Mobil -212.080 6.167 535.496 603.878 131.814 112.371 3.116 959 701 814 1.7 39.038 1.835 1979 69.534 3.370 679.940 Jumlah 328.609 buah.1 21 29.1 29.553 1.466 3.7241) 1.389 46.425.582.060 166.648 478.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tidak bertingkat terus ditambah. Semarang 134 buah. 55 ARMADA ANGKUTAN JALAN RAY A.451 1971 22.466 3. Bandung 144 buah.2 4.464 1 722. Adapun jumlah armada bis kota yang ada di Jakarta dalam tahun 1983 adalah sebanyak 1.3 3.260 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Mobil 95.5 3.166 19811) 112. yang terdiri alas 105 buah bis bertingkat dan 575 buah bis tidak bertingkat.4 Barang Ian (ton) 859 855 949 1.660 99. Tab e I VII.123 235.098 328.175 144. 1969 -1983 (dalam satuan) Tahun Bis 1969 20.9 43.873 482.692 268.6 5 4.3 4. Dalam hal ini Surabaya mempunyai bis kota sebanyak 208 buah.497 1970 23.751 5.816 256.2 47.1983 Tahun J umlah Outa orang) 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 19821) 19832) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 55.3 5. 1969 .229 6.9 3.063 1.352 2. Solo 15 buah.8 20.9 40.066 590. 56 PEMAKAIAN JASA KERETA API.063 951.356 189.4 50.7 40.069 1.313 J umlah Outa ton) 4 3.439 1975 35.104 717.538 657.081 392.815.368 1974 31. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 680 buah bis.4 52.206 5.727 3.701 377.4 25.210 307.2 4.988 277.2 Departemen Keuangan RI 215 .981 6.2 37.022 383.644 1977 1978 57.271 6.2 4.545 1980 86.422 3.428 434.4 23.3 4.016 980 1.016 1.203. Jika dalam tahun 1982 jumlah armada bis kota di beberapa kota besar di luar Jakarta baru sebanyak 604 buah.480 220.9 4. yang terdiri alas 85 bis bertingkat dan 519 buah bis tidak bertingkat.562 1972 26.078 19821) 134. Tanjung Karang 42 buah.900 1976 39.311 639. Medan 117 buah.

Angkutan kereta api mempunyai peranan semakin penting. pagar pengaman jalan. bengkel kendaraan dan tempat tunggu bis. Balik papan 4 bis. Dilli 18 bis. Sedangkan guna memperlancar angkutan kota. batu bara. Pengembangan pedesaan yang sekaligus berfungsi sebagai angkutan perintis dan melayani daerah-daerah terpencil. Dalam waktu yang sama telah dibangun pula pusat pengujian kendaraan bermotor di Bekasi. telah diusahakan dalam bentuk angkutan campuran antara barang dan penumpang. Biak 6 bis. Bengkulu 23 bis. Palu 8 bis. pupuk dan kelapa sawit. pertambangan. lebih cepat dan lebih teratur di samping juga dapat mengurangi kemacetan lalu lintas. Sumbawa 8 bis. Demikian pula bagi kota-kota besar yang telah mendesak keperluan jasa angkutan masalnya. Jayapura 11 bis. Manokwari 4 bis. peranan angkutan kereta api terus meningkat dalam melayani angkutan penumpang dan barang. Armada bis perintis tersebut terus ditingkatkan jumlahnya. Selain itu telah dilengkapi pula pengadaan terminal angkutan. ketertiban dan keselamatan lalu lintas angkutan jalan raya telah dikembangkan pula fasilitas pengaturan dan pengawasan. Angkutan kereta api juga sangat efektif dan efisien dalam memperlancar distribusi beberapa hasil produksi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Untuk menjaga kelancaran . di samping juga melayani angkutan Departemen Keuangan RI 216 . dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 165 buah. lampulampu pengatur lalu lintas dan kendaraan patroli. yang antara lain meliputi pembangunan alat pengujian. telah dilakukan peningkatan penggunaan jasa kereta api kala. dalam menunjang laju pembangunan nasional. antara lain berupa terminal dan shelter. peningkatan tersebut disebabkan oleh bertambahnya permintaan untuk jasa angkutan hasil-hasil industri. sistem angkutan disusun secara terpadu antara angkutan bis dengan angkutan kereta api kota. khususnya angkutan umum di kota-kota besar. seperti minyak. Dalam rangka mengembangkan armada angkutan kota telah ditingkatkan pula sistem dan fasilitas angkutan dalam kota. sehingga apabila dalam tahun 1982 jumlah bis perintis baru mencapai sebanyak 142 buah. sehingga arus penumpang akan lebih lancar. Kupang 6 bis. tanda jalan. Merauke 4 bis. besi beton. Sarong 7 bis. juga lebih kecil tingkat pencemarannya dibandingkan dengan angkutan jalan raya lainnya. Mataram 5 bis. rambu jalan. Padang 10 buah bis. semen. Jawa Barat yang bertujuan untuk menguji kendaraan laik darat. Banda Aceh 14 bis dan Palembang 10 bis. serta untuk pengangkutan transmigrasi dan pariwisata. Hal ini disebabkan karena jenis angkutan ini selain lebih hemal dalam pemakaian bahan bakar. Lubuk linggau 9 bis. baik kini maupun di masa mendatang. perkebunan dan pertanian. Ambon 5 bis. Bis-bis perintis terse but melayani daerahdaerah terpencil dengan perincian untuk stasiun Ujungpandang sebanyak 7 bis. Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Pangkal Pinang 6 bis.

063. Sejak tahun 1981 sampai dengan tahun 1983.329 kilometer. Hasil rehabilitasi di bidang perkeretaapian dapat diikuti pada Tabel VII. Perkembangan jumlah angkutan penumpang dan barang dapat diikuti melalui Tabel VII. jumlah angkutan penumpang kereta api adalah sebanyak 43.4 juta ton dalam tahun 1983. Dalam pada itu Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) juga mempunyai proyekproyek pembangunan kereta api yang cukup besar. transmigrasi dan angkutan kala.2 ton per kilometer dalam tahun 1983.3 juta orang per kilometer. Sedangkan angkutan barang dalam ton per kilometer mengalami penurunan hila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pariwisata. kereta penumpang sebanyak 360 buah dan gerbong sebanyak 400 buah. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 47. PT Inka (Industri Kereta Api) teiah merakit 400 gerbong dari bahan complete manufacturing (CM) keluaran Sumitomo Jepang. kereta rei listrik (KRL) sebanyak 60 buah. kereta penumpang dan gerbong barang. Untuk dapat meningkatkan kapositas angkutan dan mutu pelayanan kereta api tersebut.57. antara lain telah dilakukan peningkatan jalan kereta api serta rehabilitasi dan penambahan lok uap. Sementara itu pembuatan sarana dan suku cadang kereta api terus dikembangl)an sehingga kebutuhan sarana dan prasarana kereta api dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri.2 juta orang atau 6. teiah dilakukan peningkatan kapositas dan mutu pelayanan angkutan kereta api kala melalui Departemen Keuangan RI 217 . lok disel sebanyak 590 buah.3 juta ton dalam tahun 1982 menjadi 5. Dalam rangka mengatasi masalah angkutan masal di wilayah Jabotabek. yang menunjukkan peningkatan operasianal perusahaan sehingga mampu beroperasi secara efektif dan efisien.56. kereta rei disel (KRD) sebanyak 112 buah. lok disel. gerbong sebanyak 10. Di samping itu juga telah dilakukan pembangunan lintas kereta api antara Meneng-Kabat di Jawa Timur yang ditujukan untuk memperlancar distribusi pupuk di wilayah tersebut.623 buah. lok listrik. Dalam tahun 1982.4 juta orang atau 6.070 buah. Hasil yang teiah dicapai di bidang saran a dan prasarana kereta api selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III antara lain meliputi rehabilitasi lok uap sebanyak 38 buah. antara lain proyek pengembangan pengangkutan batu bara Bukit Asam dengan kereta api (P3Baka) dari Tanjung Enim ke Tarahan. Demikian pula angkutan barang dalam waktu yang sarna telah mengalami peningkatan dari 5. Selain itu telah pula dilakukan penambahan lok disel sebanyak 75 buah. Sebagian daripada kebutuhan prasarana dan sarana kereta api tersebut telah pula diproduksi di dalam negeri. yang bertujuan untuk mengangkut batu bara sebanyak 3 ton setahun sebagai sumber energi bagi PLTU di Suralaya.0 ton per kilometer dalam tahun 1982 menjadi sebesar 951. kereta penumpang sebanyak 1. yaitu dari 1.2 juta penumpang per kilometer. serta rehabilitasi/peningkatan jalan kereta api sepanjang 2.

Buah 3. pembersihan alur sepanjang 1.2 296.772 2. Dengan demikian.3 326.906 3.272 1. 11 buah gedung kantor.825 1. baik pelayanan angkutan jalan raya maupun angkutan sungai. danau dan penyeberangan.379 buah rambu-rambu.223 2.675 11. 5 buah terminal.50 191 1.5 5) 1.7 354.376.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penambahan sarana angkutan dan peningkatan prasarananya.9 5.3 272 40. beton (buah) b.6 513. Pelaksanaan pembangunan angkutan sungai.606 81 301 2) 190 140 42 2) 55 4) 99 79 3.4 349.960 3. danau dan penyeberangan.701 38 1) 58 1) 39 I) 15 1) 67 1) 115 1) 2.60 4.341 5) 4.40 422 762 . Bangunan operasional (m2) 5. penghematan waktu. Uraian 1. Di samping itu pembangunan angkutan penyeberangan juga telah dapat meningkatkan hubungan penyeberangan sungai dan selat. 57 REHABILITASI DI BIDANG PERKERETAAPIAN.2 207 164. Dalam hubungan ini.3 232.30 7. pengadaan 15 buah kapal dan 4.136.583 2. Ton Perkembangan di bidang angkutan sungai dan danau sampai dengan tahun pertama Repelita IV sangat dirasakan manfaatnya dalam memperlancar angkutan daerah pedalaman dan daerah terpencil. Selanjutnya juga telah dilakukan penelitian terhadap penggunaan angkutan kereta api untuk angkutan petikemas serta penelitian pembangunan lintasan baru bagi pengembangan industri semen di pulau Jawa dan Sumatera.6 124.7 294.2 351.112 301 236 455 135 130 42 20 15 15 69 196 111 93 259 34 22 42 34 56 83 38 21 389 3) 1. Angka sementara 5. Lok uap (buah) 6.055 3. Lok listrik (buah) 8. a.038.943 14.4 180. Unit 2. penghematan energi bahan bakar minyak melalui sistem propulsi kereta api dengan listrik dari PLN.385.382.243 7. sampai dengan tahun pertama Repelita IV telah ditempuh beberapa kebijaksanaan antara lain mengutamakan proyek lanjutan agar segera dapat terwujud dan langsung dapat beroperasi. serta beberapa lokasi sarana angkutan jalan. serta penyediaan jasa angkutan sepanjang tahun secara tetap dan teratur. meningkatkan kapasitas angkut serta menciptakan sistem transportasi yang terpadu antara kereta api dan jalan raya.371 3.5 295. Di samping itu Departemen Keuangan RI 218 .9 126.120 2. terutama bagi penduduk di tepi sungai dan danau yang belum dilayani oleh jenis angkutan lain.253 2.4 218.359 2.7 188.2 397. penyediaan jasa angkutan diarahkan agar pihak swasta dan koperasi khususnya golongan ekonomi lemah dapat turut berperanserta.2 280. di samping dimaksudkan juga untuk memekarkan bidang usaha pelayanan tradisional. Angka diperbaiki TabelVII. danau dan penyeberangan telah dapat ditingkatkan menjadi satu kesatuan hubungan yang terpadu.000 meterkubik. Penggantian bantalan(ribu bt) 3. Rehabilitasi gerbong (buah) 10.7 565. Assembling gerbong (buah) I 1.7 578.3 1.2 298.1 150.469 15 10 23 69 68 48 31 28 7 3 13 16 40 91 103 111 111 107 118 163 128 387 15 2 2 8 20 65 62 176 390 444 635 406 256 246 328 387 92 52 58 25 680 714 2.1983/1984 1969/70 1970/71 1971/12 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 94. Perbaikan pilar jembatan(m 3) (ton) 4.096 kilometer dan pengerukan sekitar 300. Penggantian rei (km) 2.474 973 1. Kereta (buah) 9. baja(buah) 1. Adapun tujuan proyek kereta api Jabotabek tersebut antara lain untuk mengurangi beban jalan raya. Lok disel (buah) 7.8 620 968 164 732.514 15. Hasil-hasil yang dicapai selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III antara lain meliputi pembangunan 25 buah dermaga sungai. 1969/1970 .

pengerukan kolam pelabuhan. keselamatan pelayaran. lintas angkutan sungai. penambahan fasilitas keselamatan pelayaran serta pembersihan dan pengerukan alur pelayaran. peralatan pelabuhan. armada pelayaran lokal. fasilitas pengamanan taut dan pantai. Selanjutnya telah pula dilakukan penambahan 2 buah sarana angkutan sungai dan danau. armada pelayaran rakyat dan armada pelayaran perintis. koperasi maupun Pemerintah. pengembangan armada angkutan taut terse but dilakukan oleh pihak swasta nasional. danau dan penyeberangan berupa rehabilitasi dan penambahan kapal. serta lintas-lintas perairan dipedalaman Kalimantan. Perhubungan taut pembangunan di bidang perhubungan taut ditandai dengan meningkatnya penyediaan jasa angkutan taut baik oleh sektor Pemerintah. dilakukan peningkatan fasilitas armada taut. pengembangan jasa industri maritim dan pekerjaan bawah air. di samping juga usaha patungan antara pihak swasta nasional dengan swasta asing. Sedangkan dalam tahun pertama Repelita IV telah dilakukan peningkatan dan pembangunan sarana dan prasarana angkutan sungai. Selain itu terus dilakukan pula peningkatan kapositas armada pelayaran dan mutu pelayanan luar negeri yang meliputi armada pelayaran samudera umum dan armada pelayaran samudera khusus. dengan menciptakan iklim usaha Departemen Keuangan RI 219 . Hasil-hasil yang dicapai dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni tahun 1984 adalah meliputi pembangunan 9 buah dermaga penyeberangan. Dalam hal ini partisiposi Pemerintah dibatasi pada kegiatan pelayaran tertentu saja.8. lintas-lintas di kepulauan Maluku dan Irian Jaya.211 meterkubik. 7. alur pelayaran. 11 buah kapal inspeksi serta pengerukan sebanyak 113. swasta maupun koperasi. 2 buah terminal sungai dan 291 buah rambu sungai. Untuk dapat meningkatkan jasa perhubungan taut secara keseluruhan. telekomunikasi pelayaran.2. Selain itu juga telah dilakukan peningkatan pelayaran operasional. danau dan penyeberangan. di samping juga sedang diselesaikan sebanyak 8 buah lintasan baru. penyempurnaan kelembagaan serta pembinaan \ terhadap usaha masyarakat di bidang angkutan sungai. pembangunan dermaga dan terminal. di mana setiap lintasan dilayari oleh lebih dari 2 kapal penyeberangan baik milik swasta. Hal tersebut antara lain meliputi peningkatan kapositas angkutan armada pelayaran dan mutu pelayanan dalam negeri yang terdiri atas armada pelayaran nusantara. kesyahbandaran. 4 buah terminal penyeberangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 angkutan penyeberangan juga telah dapat beroperasi di 19 lintasan yang dilayari oleh 62 kapal. danau dan penyeberangan di Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya. 2 buah dermaga sungai. serta peningkatan kapositas galangan kapal. Sementara itu akan terus ditingkatkan pembangunan lintas dari Sabang sampai ke Los Palos.

serta memperlancar arus barang dan penumpang. sehingga terwujud suatu sistem pelayaran terpadu yang menunjang kelancaran arus barang dan penumpang dengan aman. armada pelayaran Nusantara telah memanfaatkan prasarana dan Departemen Keuangan RI 220 . Dalam tahun 1982/1983. Sebaliknya jumlah dan kapositas armada mengalami penurunan. maka karat-karat tersebut secara bertahap sampai dengan bulan Agustus 1984 diganti dengan karat-karat produk. sehingga tidak dapat lagi beroperasi sepenuhnya.58.896 orang. karena pada akhir Pelita III sebanyak 62 karat dengan clara muat 60'. efisien. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlah muatan yang diangkut telah meningkat menjadi 8.. Selain itu juga dilakukan pembinaan pelayaran rakyat sebagai modal angkutan tradisional yang potensial.376 unit petikemas penumpang sebanyak 475.375 DWT. serta penumpang sebesar 4 persen. manajemen dan diversifikasi usaha. 495.463 ton barang dan 1_. sedangkan pelaksanaan angkutan transmigrasi diselenggarakan oleh Pemerintah dan swasta. pengembangan daerah terutama di Indonesia bagian timur. sehingga dapat meningkatkan pelayaran antarpulau yang lebih efektif. Sejalan dengan meningkatnya angkutan transmigrasi dari tempat asal ke tempat tujuan.si dalam negeri.untuk lebih meningkatkan lagi produktivitas angkman lalit. Dalam periode tersebut telah terjadi peningkatan muatan barang dan petikemas sebesar 13 persen dan 218 persen.245 penumpang. Peranan perhubungan laut secara keseluruhan terus ditingkatkan untuk mencapai keterpaduan berbagai jenis pelayaran. jumlah muatan yang diangkut oleh armada pelayaran Nusantara meliputi barang sebanyak 7. serta tarip jasa yang terjangkau. Kegiatan-kegiatan tersebut dimaksudkan agar sistem angkutan taut dapat meningkatkan kegiatan pemasaran. dapat menjangkau daerah-daerah terpencil dan dapat meningkatkan kegiatan ekspor. dan diarahkan pada usaha wiraswasta bahari nasional dengan mendorong perusahaan-perusahaan kecil untuk bergabung dalam bentuk koperasi. dengan memakai karat sebanyak 387 buah dengan kapositas 486. Selanjutnya pola jaringan pelayaran Nusantara telah dipadukan dengan jaringan yang dilayani kapal pelayaran lokal.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang ditujukan untuk merangsang pihak swasta dalam menunjang pengembangan armada nasional. teratur.610 ton dan 4.423. dengan memakai karat sebanyak 397 buah dengan kapositas seluruhnya 503. cepat dan teratur. Perkembangan armada niaga Nusantara dapat dilihat pada Tabel VII.824 DWT. penyediaan jasa perintis diselenggarakan oleh Pemerintah. serta pembinaan perusahaan-perusahaan pelayaran.927 unit petikemas. termasuk transmigrasi.457.690 DWT telah berusia di alas 30 rabun. penyempurnaan sistem trayek pelayaran. Namun . serta pembinaan sistem organisasi. Armada pelayaran Nusantara dan pelayaran lokal sebagai jaringan utama angkutan taut dalam negeri telah dan terus ditingkatkan melalui penambahan kapositas armada pelayaran.

kapositas armada pelayaran rakyat baru sebesar 180. Dalam tahun 1982/1983. Untuk menunjang perkembangan armada pelayaran lokal tersebut. Idi dan Ternate. Donggala.600 ton.677 ton dan sebanyak 610. Maluku dan Irian Jaya. Selama ini armada pelayaran Nusantara telah melaksanakan pengangkutan transmigrasi dari beberapa pelabuhan asal yaitu Tanjung Priok. Kendari.155. namun kapasitasnya telah meningkat menjadi 133. Paotere. Bitung. atau suatu kenaikan masing-masing sebesar 8.025 buah.436 ton. serta mengangkut barang dan penumpang masing-masing seberat 2. Perkembangan jumlah armada pelayaran lokal dapat dilihat pada Tabel VII. terus dilakukan pembinaan melalui usaha koperasi dan motorisasi perahu layar dengan mengutamakan golongan ekonomi lemah.049 buah karat dengan kapasitas 129.477 DWT dengan jumlah muatan sebanyak 2. Kalimantan Barat. Bidang pelayaran rakyat selain merupakan jenis angkutan laut penunjang pelayaran Nusantara yang melayari daerah-daerah terpencil. Semarang. Cirebon. baik di daerah asal transmigrasi maupun di pelabuhan kecil yang melayani daerah-daerah pemukiman transmigrasi. usaha koperasi serta usaha swadaya masyarakat. serta mengangkut 2.59. antara lain di Sibolga. Untuk menunjang pelayaran terse but.444. Sulawesi Tengah.347 ton barang dan 653.400 DWT. juga merupakan pelayaran yang sesuai dengan potensi angkutan laut tradisional sehingga terus dikembangkan dan dibina. Departemen Keuangan RI 221 . Pem binaan pelayaran rakyat dimaksudkan untuk membantu meningkatkan kehidupan so sial ekonomi masyarakat dan sekaligus memberikan kesempatan untuk berkembang bagi golongan ekonomi lemah. Di samping itu dalam tahun yang sarna juga telah dimotorisasikan sebanyak 1. sedangkan dalam tahun 1983/ 1984 masing-masing telah meningkat menjadi 195. Jambi. Sunda Kelapa.3 persen dan 6 persen. Riau.294. terus dilakukan peningkatan dan pembangunan beberapa prasarana dan sarana pelabuhan perahu layar.138 DWT.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sarana perhubungan taut yang ada tanpa mengganggu fungsi mama kegiatan pelayarannya. Pelayaran lokal sebagai unsur penunjang pelayaran Nusantara Regular Liner Service (RLS).481. Walaupun dalam tahun 1983/1984 jumlah karat telah menurun menjadi 1. Palembang. Tegal. Kalimantan Timur. telah berkembang adalah seperti yang diharapkan terutama dalam mengumpulkan barang-barang ke pelabuhan pengumpul. Sulawesi Tenggara.390 kapal melalui dana Bantuan Presiden. Surabaya. Dalam tahun 1982/1983. jumlah armada pelayaran lokal baru sebanyak 1.747 orang.460 DWT dan 2. Kalimantan Selatan. Gresik.496 orang. Dalam kaitan ini juga telah dilaksanakan peningkatan fasilitas pelabuhan. Kalimantan Tengah. Benoa dan Lembar ke berbagai daerah tujuan pemukiman transmigrasi di Sumatera. Semarang. Sulawesi Utara.

931 272. Di samping itu Departemen Keuangan RI 222 .445 2. pengaturan pelayaran serta penambahan frekuensi.162 1.970 2.7 90 83 86 92.278 1. 59 ARMADA DAN MUATAN PELAYARAN LOKAL.278 1.208 938 1.4 129.1983 Jumlah kapal Kapal 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982i) 1983 1) Angka sementara 182 273 282 282 267 300 305 340 316 322 373 390 361 397 387 DWT 184.543 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e 1 VII.954 406.025 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Pembangunan di bidang pelayaran perintis juga terus ditingkatkan.378 425. 58 ARMADA PELAYARAN NIAGA NUSANTARA.375 4.822 1.428 503.481 Tahun Jumlah kapal 1969 803 1970 777 1971 623 1972 679 1973 980 1974 965 1975 858 1976 1.382 1.428 503.090 1982 1. 1969 -1983 Kapositas ( ribu DWT ) 60.824 Tahun T abel VII. penambahan pe!abuhan yang disinggahi.824 Kapal-k.669 284.448 1979 1.277 1977 1.950 330.200 2.570 312.004 234.479 1.1 147.000 386.6 92.350 267.669 321.apal yang beroperasi Kapal 130 232 215 282 267 300 305 340 316 322 373 390 361 397 387 DWT 138.570 312.8 132.8 161.9 155. antara lain melalui perluasan hubungan angkutan laut ke daerah-daerah terpencil dan terisolir.954 406.1 Muatan yang ( ribu ton) 1.144 1983 2) 1.2 154.419 310.081 1981 1.41) 133.931 272.411 311.271 2.000 386.535 321.950 330.411 311.348 1978 1.6 163.899 1.389 1980 1.419 310.375 486.685 238.378 425. 1969 .759 321.669 284.6 92.

Demikian pula pembinaan pelayaran diarahkan pad a sistem angkutan laut yang teratur. di samping telah dilakukan pula penyesuaian terhadap perkembangan teknologi. cepat. melayari 29 trayek. Dalam tahun 1982/1983. Pelayaran khusus. Perkembangan jumlah armada dan muatan pelayaran samudera dapat dilihat pada Tabel VII. Dalam tahun 1982/1983.166 ton barang dan 161.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 terus dilakukan pula pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaannya.325 DWT. murah dan aman.694. yang antara lain mengangkut minyak bumi. baik semi container (petikemas) maupun full container. dengan muatan yang diangkut seberat 53.270. yang terdiri atas 3 buah kapal full container.465 ribu ton.60. Dengan adanya usaha peningkatan angkutan petikemas. Pe1ayaran samudera telah pula meningkat karasitasnya. Berkurangnya jumlah kapal yang digunakan dan trayek yang dilayari terse but adalah karena telah banyaknya trayek-trayek ekonomi yang dapat dilayari pelayaran lokal dan pelayaran rakyat. Jumlah muatan yang diangkut kapal nasional dalam taliun 1982/1983 adalah sebanyak 18. yang melayari 35 trayek dan menyinggahi sebanyak 214 pelabuhan. Dalam tahun 1983/1984. bauksit. dengan sejauh mungkin memanfaatkan usaha pelayaran swasta setempat terutama pengusaha golongan ekonomi lemah. dan semen. kapositas yang tersedia telah mencapai sebesar 732. Jumlah dan kapositas kapal petikemas tersebut telah mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan akhir Pelita III yang berjumlah 11 buah kapal dengan kapositas seluruhnya 130. tetap.500 DWT dan 61. jumlah armada pelayaran khusus baru mencapai 2. menyinggahi 177 pelabuhan dengan muatan seberat 31. Sedangkan dalam tahun 1983/1984.052 DWT. antara lain di pantai barat Aceh. posir besi. nikel. dan 4 buah kapal semi container dengan clara angkut seluruhnya masing-masing 61. sampai dengan akhir Pelita III telah meningkat.200 DWT.848 penumpang. kayu.000 ton. telah terjadi penurunan yaitu jumlah armada yang dioperasikan menjadi 31 kapal.387 orang.964 ribu ton. bermuatan nasional seberat 6. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 18. Di samping itu setiap tahun kaposltas dan jumlah kapalnya juga telah disesuaikan dengan pertumbuhan permintaan akan jasa angkutan laut. pupuk. Adanya peningkatan penggunaan angkutan petikemas pada gilirannya teiah meningkatkan kapositas angkut disamping lebih efisien pula penggunaannya. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 PT Jakarta Lloyd telah memiliki serta mengoperasikan sebanyak 7 buah kapal. minyak kelapa sawit. pantai barat Sumatera. baik jumlah armada maupun daya angkutnya. aspal. oleh karena kapal petikemas konvensional tidak dioperasikan lagi.200 ton barang dan 127. jumlah armada pelayaran perintis yang telah dioperasikan adalah sebanyak 36 kapal.501 buah kapal dengan kapositas seluruhnya Departemen Keuangan RI 223 . Riau dan Banjarmasin.000 ton dan bermuatan asing seberat 12.

Di samping itu dilakukan pula peningkatan operasional melalui pembentukan perusahaan umum pelabuhan dan pengelompokan pelabuhanpelabuhan dalam 4 Perum pelabuhan yang berpusat di Belawan. kayu olahan.682. bijih tambang serta minyak dan gas bumi. Kegiatan tersebut dilakukan melalui rehabilitasi.542 buah kapal. dengan kapositas 2. Kendari.981. fasilitas gudang dan lapangan penumpukan. 784. Panarukan. yang dilakukan di pelabuhan-pelabuhan dan alur pelayaran Belawan. Gresik. Dalam tahun 1983/1984 telah berhasil dilakukan pengerukan lumpur sebanyak 15. Cirebon. Pengerukan tersebut dilakukan oleh 39 buah kapal keruk dengan kapositas 39 juta meterkubik.6 persen. Probolinggo.489 BRT dan 425. Semarang. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 2. minyak kelapa sawit. pembangunan baru dan peningkatan fasilitas dermaga. disediakan sebanyak 25 pelabuhan Utama yang tersebar di seluruh wilayah tanah air. Kenaikan muatan tersebut antara lain disebabkan karena meningkatnya produksi di bidang industri semen. Untuk memelihara dan meningkatkan kelancaran lalu lintas kolam pelabuhan dan alur pelayaran!. 649.pengerukan kolam pelabuhan dan alur pelayaran telah dan terus ditingkatkan. Tegal. terutama dengan semakin meningkatnya standar kapal dan bongkar muat barang.740 DWT. 606. Ujungpandang. Pulau Batam. Tanjung Priok. 150 persen dan 141 persen. Palembang. serta mengangkut muatan nonmigas dan migas sebanyak 36.7 persen.587 HP. Jambi. Keempat pelabuhan tersebut ditunjang oleh 14 pelabuhan kolektor sebagai pengumpul dan pengirim barang ekspor.240. Tanjung Priok. Adanya peningkatan pelayaran khusus dalam negeri tersebut juga telah memperlancar distribusi bahan pangan serta bahan 'bakar minyak (BBM) ke seluruh pelosok tanah air.541 liter/ton. serta mengangkut muatan non migas dan migas masing-masing seberat 14. 17. Manado dan Bitung.041 ton/meterkubik dan 39. Pengembangan fasilitas pelabuhan merupakan salah satu penunjang kegiatan pelayaran. Sei Kahayan. Tanjung Perak dan Ujungpandang. serta peningkatan peralatan bongkar muat barang. Oleh sebab itu pembangunan fasilitas pelabuhan terus ditingkatkan sesuai dengan pertumbuhan lalu limas pelayaran dan arus bongkar muat barang yang terjadi di masing-masing pelabuhan. Sedangkan untuk kegiatan angkutan laut domestik.772. Tanjung Petak.489 BRT dan 361.267. Sei Barito. Sei Mahakam.408 HP.71juta meterkubik. Sunda Kelapa. Hal ini berarti telah terjadi peningkatan masing-masing sebesar 1.535 ton/meterkubik dan 95.61. pupuk. Selain itu juga telah dilakukan peningkatan keterampilan tenaga kerja dan buruh pelabuhan agar pengoperasiannya dapat dilaksanakan Departemen Keuangan RI 224 .215 DWT.628 liter/ton. Hasil-hasil pengerukan pelabuhan dapat dilihat pada Tabel VII.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. Bengkulu.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan lebih.121 12. 61 HASIL PENGERUKAN PELABUHAN.0 11.7 Realisasi 16.650 6.917 5.1 15 17.7 15.913 2.0 15. Tabel VII. produktivitas rata-rata dermaga pelabuhan telah mencapai 700-800 ton/meter per tahun.120 14.923 9. Perkembangan fasilitas pelabuhan dapat diikuti melalui Tabel VII. pembangunan dermaga baru seluas 54.752 16. antara lain meliputi rehabilitasi dan peningkatan dermaga seluas 5. 60 ARMADA DAN MUATAN PELAYARAN SAMUDERA. Dengan pembangunan tersebut.6 16 16 16 16 16 19 20.406 10.62. baik.2 14.343 1.964 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1) Angka sementara Tab e I VII.2 14.452 12.5 16.967 5. 1969 -1983 Tahun JumIah kapal 39 48 59 53 41 45 47 50 54 52 50 58 61 62 51 Kapositas (ribu DWT) 318 386 489 467 387 339 412 450 491 513 513 668 802 827 732 Muatan yang ( ribu ton) 1.0 10.5 21.917 meter persegi.145 meter persegi.6 16 16 16 16.4 16.026 meterpersegi. pembangunan penahan gelombang seluas 8.636 18.095 16. 1969/1970 .2 17.1983/1984 ( dalam juta m3 ) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/19831) 1983/1984 Target 11.186 meter persegi serta pembangunan lapangan penumpukan seluas 41.465 18.7 17.7 15.7 15 17.2 17. Hasil-hasil yang telah dicapai dalam tahun 1983/1984.7 Persentase terhadap target 145 115 106 100 100 100 104 109 103 83 100 100 100 100 100 1) Angka sementara Ketelangan : JumIah lumpur yang dikeruk dinyatakan dalam juta m 3 hopper ( lumpur bercampur air ) Departemen Keuangan RI 225 .

810 4.Rehabilitasi (kva) .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984.62 REALISASI FISIK PEMBANGUNAN FASILITAS PELABUHAN.535 260 1. G u d a n g .700 299 60 3.500 pe1abuhan 5 64 1 6 1 2 4 1 6 Fisik 3.255 1982/1983 Jumlah 1983/1984 Jumlah pelabuhan pelabuhan 4 31 1 1 4 5 3 35 1 2 800 1984/1985 1) J um1ah Fisik Fisik pelabuhan 0 0 0 0 8.Penambahan (ton/h.473 14.Penambahan 2. di samping juga kemampuan dan fasilitas galangan kapal dalam negeri.100 m2 11 6 Di bidang jasa maritim.025 756 pelabuhan 6 15 3 3 5 6 5 5 8 Fisik 11.942 2. Lis t ri k .Penambahan 3.Rehabilitasi .497 2.465 5.928 1. Fasilitas air .700 2 unit 4 18 1 5 2 6 2 4 3 2.921 6.257 23. sebanyak 60 persen dari armada pelayaran nasional yang berukuran di bawah 10.Penambahan (ton/hari) 6. Stasiun radio kelas I 2.253 12. 1969/1970 -1984/1985 1977/1978 PELITA I 1974/1975 1975/1976 1976/1977 Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Fisik Fisik Fisik Fisik Fisik pelabuhan pelabuhan pelabuhan pelabuhan pelabuhan 1. Dalam tahun 1983/1984. Pelampung suar 4.Rehabilitasi (kva) . Dermaga . AIat bongkar muat .368 1.878 2.521 1.800 m2 1) 700 m2 1) 7 1 5 23 - 5 2 1 26 4 6 8 1.Rehabilitasi . 63 REHABILITASIIPEMBANGUNAN FASILITAS KESELAMATAN PELAY ARAN. Supply Vessel 8.946 2 15 2 1 4 1 4 21. Stasiun radio kelas IV 1) Masing-masing adalah merupakan bagian dari 2) Angka sementara 1972/73 10 13 8 1 2 1 2 1 1973/74 11 13 26 1974/75 4 9 6 2 2 1 2 1975/76 12 17 5 1 1976/77 7 5 10 2 2 4 1977/78 9 13 1978/79 11 25 7 14 2 1979/80 10 11 20 7 1980/81 12 18 1 6 10 1981/82 12 38 7 15 12 1982/83 1983/84 1) 1984/85 2) 26 39 7 5 11 23 2 27 3 6 25 23 4 5 1 1 1 . AJat bongkar moat .325 24.804 300 155.100 11.000 DWT telah dapat diperbaiki oleh galangan kapal dalam negeri. Listrik .186 - T abe I VII.Rehabilitasi .680 1.725 8. Rambu suax 3. Penahan gelombang .794 2..Rehabilitasi . Fasilitas air .399 2.700 3.Penambahan 3.690 15.1984/1985 ( dalam satuan ) Jenis sarana L Pcrambuan daft pencrangan pantai : 1.Rehabilitasi . Penahan gelombang .296 31. Stasiun radio kelas III 4.960 4 17 4 8 1 1 6 1 4 2 9.kapal serta pembersihan alur dan daerah perairan dari kerangka. dewasa ini telah dapat ditingkatkan kemampuan perawatan.Penambahan 4. Elektrifikasi menara suar 2. karang dan ranjau. Kade / dennaga . jumlah kapositas galangan kapal telah mencapai 163.500 3.066 1. perbaikan dan pembangunan kapal. 1972/1973 .425 3.455 515 7.514 54. Kode / dermaga .Rehabilitasi . G u d an g . Kapal rambu (watch boat) 9. ADak pelampung 5.720 11.kerangka kapal.Penambahan 2.340 1979/1980 Jumlah pelabuhan 15 3 55 360 500 3 unit 150 900! 1.007 10 17 3 4 6 11 5 6 10 1978/1979 Jumlah Fisik 14.070 2.334 11.764 18.455 135 48.Rehabilitasi (ton/hari) .246 17.190 22.Penambahan (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) 90 1 (ton) (ton) (hp) 59.Penambahan (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) 29.Rehabilitasi .242 800 320 2.075 10.206 1.026 8.270 45 3. Buoy tender 7.035 (ton) (ton) (hp) 6 25 27 17 6 1 15 9 6 3 16 4 2 1 2. Dalam hubungan ini terus ditingkatkan perawatan dan perbaikan kapal nasional.550 33.732 230 5.Penambahan 4.145 11.281 11. Stasiun radio kelas II 3.n) 6.Penambahan (kva) 5.000 400 5 unit 40 unit 3 - 7 31. Di samping itu juga telah dilakukan Departemen Keuangan RI 226 .190 1. Ben g k e I 11.216 17.800 53. Pangkalan bantu sarana navigasi 10.218 m2 1980/1981 Jumlah Fisik 1. IL Telekomunikasi: 1.800 22.Penambahan (kva) 5.310 22.750 2. Lampu peIabuhan 6.Rehabilitasi .700 DWT dengan produksi doking sekitar 127 juta DWT.175 2.650 2 1.Rehabilitasi (ton/hari) .600 200 200 1981/1982 Jumlah pelabuhan 6 47 2 4 2 4 1 1 400 Fisik 2.

tanaman dan pos melalui udara.3. Selain itu juga oleh adanya peningkatan frekuensi penerbangan. Hasil rehabilitasi fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dapat diikuti melalui Tabel VII. menara suar. peningkatan kemampuan landasan udara serta penambahan peralatan keselamatan penerbangan. serta peningkatan pe1ayanan angkutan transmigrasi dan pelayanan angkutan haji.8. serta dapat menjangkau ke se1uruh tanah air. 7. terutama di pelabuhan Sunda Kelapa dan Cilacap. dalam waktu yang sama telah dapat ditingkatkan kemampuan dan modernisasi sarana keselamatan dan keamanan pelayaran di perairan Indonesia. peningkatan kesyahbandaran. sarana dan angkutan udara mengalami kenaikan. walaupun pada tahun terakhir Pelita III tingkat pertumbuhannya tidak setinggi awal Pelita III. radio pantai. Sedangkan guna meningkatkan pengawasan teknis pembangunan reparasi kapal. pcnjagaan laut dan pantai serta jasa klasifikasi. Se1ain diusahakan pertumbuhan angkutan komersial dalam dan luar negeri. terus dilakukan pembinaan klasifikasi Indonesia dan penambahan sarana laboratorium. Perhubungan udara Kegiatan pembangunan sektor perhubungan udara sampai dengan tahun pertama Pelita IV ditandai antara lain oleh usaha pemenuhan kebutuhan masyarakat di bidang jasa angkutan udara yang semakin meningkat. perluasan jaringan penerbangan. Surabaya. Sejalan dengan itu ditempuh usaha-usaha untuk menciptakan kemudahan-kemudahan bagi lalu lintas penumpang. Selanjutnya untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dok/galangan kapal dalam negeri. serta peningkatan kemampuan pegawai melalui pendidikan dan latihan. dilakukan pembinaan di bidang manajemen keuangan serta pembentukan usaha patungan perusahaan dok/galangan kapal dalam negeri dengan perusahaan dok/galangan kapalluar negeri. rambu suar. termasuk di dalamnya pembangunan dan peningkatan beberapa pe1abuhan udara dan lapangan terbang. telah dapat dikembangkan sebanyak 5 buah pe1abuhan udara. Demikian pula dalam rangka keselamatan dan keamanan pelayaran. Denpasar. penambahan jumlah dan komposisi armada. yaitu di Medan. Selama Pelita III. Ujungpandang. Di samping itu juga te1ah dilaksanakan pembangunan landasan udara baru sesuai dengan pertumbuhan lalu lintas udara. Departemen Keuangan RI 227 . Sehubungan dengan itu terus dilaksanakan proyek-proyek lanjutan dalam masa Pelita IV. barang. hewan. A-300 dan DC-lO. pertumbuhan prasarana. Sampai dengan tahun pertama Repe1ita IV. te1ah pula dilakukan peningkatan pe1ayanan angkutan perintis di daerah-daerah terpencil. antara lain berupa pembangunan fasilitas navigasi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembersihan alur-alur pelayaran dan daerah pelabuhan dari kerangka kapal dan ranjau.63. dan Biak guna menampung pesawat berbadan lebar tipe B-747.

Juanda di Surabaya. Adapun pelabuhan udara internasional di Cengkareng sedang dalam taraf penyelesaian. Bima. Selain itu sesuai dengan sa saran yang hendak dicapai. antara lain bahwa semua pelabuhan udara yang melayani pesawat jet secara bertahap diperlengkapi dengan instalasi peralatan navigasi DVOR (Doppler Very High Omni Range). Sehubungan dengan akan diproduksinya pesawat CN-235. maka pelabuhan udara yang semula direncanakan menjadi pelabuhan udara yang dapat dioperasikan dengan pesawat Fokker 27 (F-27). 7 landasan oleh DC-9. Uji coba pendaratan dan lepas landas telah dilakukan. jumlah lapangan terbang perintis telah berhasil ditambah menjadi 95 buah yang dilayani oleh 19 buah pesawat DHC-6 dan 16 buah pesawat C-212. fasilitas pengangkat pesawat di 3 pelabuhan udara dan fasilitas pemadam kebakaran di 48 pelabuhan udara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 antara lain di Meulaboh. Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Halim Perdanakusumah di Jakarta. Dalam pada itu telah pula dibangun dan ditingkatkan pe1abuhan udara perintis di 75 lokasi yang tersebar di 27 propinsi di Indonesia. 20 landasan oleh F-28. Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan pelabuhan udara. dan sesuai dengan jadwal akan beroperasi penuh dalam bulan April 1985. telah dilakukan pembukaan Departemen Keuangan RI 228 . Timika. Kegiatan penerbangan perintis terus ditingkatkan pula melalui penambahan frekuensi penerbangan dan lapangan terbang perintis. fasilitas dan pesawat terbang. sedangkan pada 6 pelabuhan udara lainnya sedang dalam persiapan pemasangan instalasi. Poso. Kota Baru. Di samping itu juga telah dilakukan pemasangan alat bantu pendaratan ILS (Instrumen Landing System) di 7 pelabuhan udara yaitu Polonia di Medan. Pulau Batam. Ampenan. Nabire. disesuaikan menjadi pelabuhan udara yang dapat dioperasikan untuk pesawat CN-235. Demikian pula telah dilakukan pemasangan fasilitas radar di 7 pelabuhan udara. Waikabubak dan Baucau. Pangkalan Bun. 3 landasan oleh pesawat Hercules tipe L-I00-300. fasilitas telekomunikasi di 46 pelabuhan udara. Ruteng. serta untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas udara dari pemakaian jasa terminal pelabuhan udara. Hasanuddin di Ujungpandang dan Mokmer di Biak. Samarinda. Hasil pembangunan yang telah dicapai dalam tahun pertama Repelita IV antara lain te1ah terdapatnya 9 landasan yang dapat didarati oleh pesawat tipe C-l60 dan CN-235. Samsudin Noor di Banjarmasin. 2 landasan oleh DC-lO dan A-300 serta 2 landasan yang dapat didarati oleh B-747. Waingapu. Talangbetutu di Palembang. hingga tahun pertama Repelita IV juga telah ditingkatkan fasilitasnya. Di bidang keselamatan penerbangan. jumlah pelabuhan udara yang beroperasi lebih dari 12 jam telah menjadi 20 buah pelabuhan udara. sedangkan penyelesaian pekerjaan akan dilanjutkan dengan penyempurnaan gedung terminal dan fasilitas peralatan kese1amatan penerbangan.

Adapun dalam menunjang program transmigrasi dan pelaksanaan angkutan haji. Dalam tahun pertama Repelita IV. 250 buah pesawat untuk melayani penerbangan tidak berjadwal . Di samping itu.943 orang dari 4lokasi penerbangan. Di samping itu penggunaan pesawat hasil rakitan PT Nurtanio juga telah meningkat. Selanjutnya telah direncanakan pula sebanyak 42 Pelud untuk melayani penerbangan malam. Dari jumlah tersebut. sedangkan dalam waktu yang sarna jemaah haji udara telah dapat diangkut sebanyak 49. Mandala menggunakan 15 buah pesawat. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 16 buah pesawat dan dipergunakan untuk melayani penerbangan perintis. Surabaya. telah ditingkatkan pula sarana angkutan udara yaitu pesawat udara bermesin turbo-prop dan pesawat bermesin turbo-jet. Dalam tahun pertama Repelita IV. angkutan transmigrasi udara telah diangkut melalui udara adalah sebanyak 28. Dalam tahun 1983/1984. telah dapat ditingkatkan baik kapositas angkutan maupun mutu pelayanannya. Semarang. yaitu bila dalam tahun 1978 baru sebanyak 2 buah pesawat. Pelita Air Service sebagai pengelolanya telah memiliki 6 buah pesawat udara tipe Hercules (L-I00-300) dan 3 buah pesawat udara tipe Transall (C-I00). yaitu Medan. Halim Perdanakusumah Jakarta. Palembang. Jumlah pesawat yang digunakan untuk masing-masing armada penerbangan telah pula meningkat. Bouraq menggunakan 26 buah pesawat dan Seulawah menggunakan 4 buah pesawat. dengan mengusahakan agar perusahaanperusahaan penerbangan memanfaatkan fasilitas tersebut.dan sisanya sebanyak 330 buah lagi dipergunakan untuk melayani penerbangan umum. Sejalan dengan pembangunan pelabuhan udara dan fasilitas keselamatan penerbangan. . Banjarmasin. Kemayoran Jakarta. 353 buah pesawat dengan kapositas tinggal landas di bawah 10 ton dan 184 buah pesawat helikopter.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa pelabuhan udara bagi penerbangan malam.921 kepala keluarga (KK).yang terdiri alas 231 buah pesawat yang mempunyai kapositas tinggallandas di alas 10 ton. sebanyak 188 buah di antaranya dipergunakan untuk melayani penerbangan berjadwal. Untuk melaksanakan angkutan transmigrasi. Bali. Dalam hubungan ini baru sepuluh buah pelabuhan udara (Pelud) yang dioperasikan secara penuh melalui perpanjangan jam operasi dan dilengkapi dengan fasilitas penerbangan malam. dimana 30 buah di antaranya telah siap dengan fasilitas penerbangan malam. usaha untuk Departemen Keuangan RI 229 . Hal ini dimaksudkan untuk menunjang kemajuan teknologi angkutan udara agar dapat memenuhi dan melayani permintaan angkutan udara baik di dalam maupun di luar negeri. PT Garuda Indonesian Airways (GIA) telah menggunakan 86 buah pesawat. angkutan udara dalam negeri telah dilayani oleh sebanyak 768 buah pesawat. Ujungpandang dan Biak. PT Merpati Nusantara Airways (MNA) menggunakan 57 buah pesawat.

Adapun hasil penelitian yang telah diterbitkan dalam publikasi. atau masing-masing telah mengalami kenaikan sebesar 12 persen dan 9 persen. menunjukkan bahwa keadaan iklim Departemen Keuangan RI 230 . 350 persen.64 dan Tabel VII. antara lain meliputi penelitian mengenai standardisasi pengumpulan dan penyebaran data/informasi.884 ton barang/pos menjadi 1. Jawa Timur dan daerah ramalan cuaca. sedangkan pelayanan jasanya rata-rata naik sebesar 30 persen per tahun. antara lain dilakukan melalui reduksi harga tiket untuk wisata remaja dan paket wisata (package tour). dan digantinya hampir semua peralatan lama dengan yang baru sesuai dengan kemajuan teknologi. Hasil pembangunan yang telah dicapai di bidang meteorologi dan geofisika selama Pelita III antara lain ditandai dengan bertambahnya jaring-jaring stasiun. 252 persen dan 74 persen.000 orang dan 49.320 buah menjadi 4.65.839 penumpang dan 9.366 ton barang/pos. yaitu masing-masing dari sebanyak 56 buah menjadi 107 buah. serta penelitian sistematika gempa dan polusi udara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menunjang keberhasilan program pariwisata. telah selesai dibangun dan dioperasikan stasiun geofisika Tanjung Pandan di Sumatera Selatan. klimatologi dan iklim serta stasiun penguapan dan hujan.024 buah yang berani masing-masing mengalami peningkatan sebesar 91. Pulau Baai dan Lasiana Kupang. stasiun geofisika Saumlaki di Maluku. Kenyataan bahwa sebagian besar areal pertanian masih merupakan daerah tadah hujan.711. Sejalan dengan itu telah pula dilakukan peningkatan fasilitas terminal di beberapa pelabuhan udara guna melayani arus wisatawan yang langsung ke tempat-tempat obyek wisata.884 ton barang/pos. masing-masing di Sumatera Barat.790 ton barang/ pos. dari 6 buah menjadi 27 buah. sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1984 selalu mengalami kenaikan. dari 92 buah menjadi 324 buah dan dari 2. yang berarti masing-masing mengalami kenaikan sebesar 43 persen dan 187 persen. Sampai dengan bulan Juni tahun 1984. maka pada akhir Pelita III telah meningkat menjadi 5.000 orang dan 45. Jumlah stasiun-stasiun meteorologi. yaitu dari sebanyak 733. Angkutan penerbangan sipil ke luar negeri juga mengalami peningkatan.292. Perkembangan penerbangan sipil di dalam negeri dan ke luar negeri dapat diikuti melalui Tabel VII.1 persen. Apabila pada akhir Pelita II jumlah penumpang dalam negeri yang diangkut baru sebanyak 4. Dalam periode yang sama data meteorologi dan geofisika yang dihasilkan meningkat dengan sekitar 90 persen per tahun. Bengkulu dan Nusa Tenggara Timur.113 penumpang dan 28. penelitian kartografi normal yang bertipe hujan di Jawa Tengah. serta meningkatkan penerbangan borongan dari luar negeri langsung ke tempat-tempat obyek pariwisata tanpa mengganggu penerbangan berjadwal. Di samping itu sebagian besar stasiun yang ada juga sudah mampu beroperasi selama 24 jam sehari.047. geofisika. baik di dalam maupun di luar negeri. serta stasiun Klimatologi Sicincin.

937 3.341 923.602 233.459 616.101 653.501 82.323 22.252 264.378 10.180 5.135 1980 1) 24.972 2.269 22.955 196.674 80.743 20.741 1.250 321.125 127.136 748.760 Departemen Keuangan RI 231 .574 180.624 731.790 809.671 TonJkm (ribu) 31.908 151 396.340 97.758 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara TonJkm (ribu) 34.893 1982 1) 26.480 1979 1) 22.839 9.649 13.840 3.831 47.914 97.027 36.185 1971 20.424 733.045 68.65 PENERBANGAN SIPIL KE LUAR NEGERI.287 4.366 1. Stasiun hujan utama ini dilengkapi pula dengan sensor lain seperti suhu.318 291.167 196 19791) 70.519 1) 19781) 85.377 1977 14.158. Tabel VII 64 PENERBANGAN SIPIL DALAM NEGERI.246 39.233 373.555 80.963 2.620 87.151 56.940 80.791 1976 10.538 56.427 10.204lokasi dapat diterima tepat pada waktunya.340 1975 8.651 7.162 499 4.451 40.711 45.094 125.480 770 4.042 34.194 1.448 106 1974 2.942 1.626 5.607 17.150 4.023 227 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.384 10.433 212 1982 1) 87.884 950.543 240.790 213.329 531.815 10. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar data hujan masih mengalami keterlambatan yang disebabkan karena banyak lokasi renakar hujan yang letaknya sangat terpencil dan jauh dari sarana komunikasi.804 335.510 449.883 79.019 84.985 3.502 1973 33.562 34.166.494 1972 26.597 374.302 1.918 29. yaitu berupa banjir atau merajalelanya hama tanaman.235 11.175.918 176 19801) 78.272 1981 1) 24.884 526.824 11.451 1972 7.240 1.412 146.142 3. Hal ini akan terpenuhi apabila data hujan yang dikumpulkan dari 4.570 116 1976 55.429 1974 7.385 98.129 52.560 463.459 279.113 28.268 521.237 85.371 14.047.483 190 1981 87.791 37. 1969 -1983 Tahun Km pesaat Penumpang Barang TonJkm (ribu) (orang) (ton) Jam terbang (ribu) 1969 5.506 1970 16.292 49.348. radiasi matahari dan arab angin.377 2.546 5.404 545.015 102.217 3.401 164.925 137 1977 59.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang tidak menentu pada suatu periode dapat memberikan pengaruh yang besar pada produksi pertanian.696 169. 1969 .098 3.458 993 7.506 109.834 800.126 19.354 102.619 302.925 42. Di samping itu untuk setiap balai penyuluhan pertanian juga dibangun stasiun meteorologi pertanian khusus.326 46.5881) 50.781 378.073 62. kelembaban.353 193.290 457.991 1.499 1. Untuk itu ditempuh kebijaksanaan dengan mendirikan lebih kurang 750 stasiun hujan utama sistem telemetry di seluruh wilayah Indonesia.083.953 369.718 34.461 1975 46.664 45.512 1983 2) 23.578 4.304 122.057 17.439 4.635 216.1983 Km pesawat Penumpang Barang Jam terbang Tonjkm Tahun (ribu) (ribu) (ton) (ribu) (ribu) 1969 12.589 223 19832) 89. lengkap dengan sarana telekomunikasinya.062 114.115 245.340 1973 7.675 3.209 115.779 134.920 51. Oleh karenanya informasi dari meteorologi dan geofisika bagi sektor pertanian harus dapat dipercaya dan tepat pada waktunya.782 28.302 1970 6.373 32.016 1978 1) 19.549 1971 6.166 387.

pembangunan di bidang telekomunikasi ditujukan untuk menciptakan kerangka landasan bagi pembangunan tahap-tahap Pelita berikutnya. Di bidang telekomunikasi dalam negeri.854 SS. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984. sambungan telex sebanyak 2. Dalam tahun pertama pelaksanaan Repelita IV. Demikian pula halnya kapositas telepon manual. telex dan jaringan transmisi.500 buah.579 SS dalam tahun 1983 dan bertambah lagi menjadi 91. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dapat ditingkatkan lagi menjadi 173 buah dengan kapositas seluruhnya 583.66. sambungan kontener sebanyak 900 SS. sehingga memungkinkan hubungan telekomunikasi yang lebih luas dan cepat. Untuk itu terus ditingkatkan sistem jaringan transmisi. alur transmisi teresterial sebanyak 15. transmisi teresterial 11. sentral transit perluasan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) 7.000 satuan sambungan (SS). alur telegrap sebanyak 1. fasilitas telepon otomat.150 SS.080 SS.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. Di samping itu telah diselesaikan pula program ekstra sebanyak 75 buah SBK.583 sirkit.850. yaitu sebanyak 86. Perkembangan jumlah sentral dan kapositas telepon dapat diikuti pada Tabel VII. telegrap dan telex. telegrap.380 SS. antara lain telah dapat diselesaikan pembangunan telepon otomat sebanyak 152. baik yang menyangkut hubungan komunikasi di dalam maupun di luar negeri. telepon umum sebanyak 3.797 SS.4.819 alur. serta sentral sambungan telepon jarak jauh (STJJ) sebanyak 14 buah dengan kapositas masing-masing 50 SS.8.54855 dalam tahun 1984.947 SS. sirkit tandem sebanyak 1.000 SS. Telekomunikasi. Sementara itu dalam periode yang sarna telah diselesaikan pula sambungan telepon sebanyak 26. maka dalam tahun 1983 jumlah sentral telepon otomat (STO) telah mencapai 170 buah dengan kapositas seluruhnya 576.070 alur dan stasiun bumi kecil (SBK) sebanyak 10 buah. Dengan adanya kegiatan tersebut. serta penambahan sejumlah stasiun bumi. Kesemuanya itu dimaksudkan untuk memperluas pemanfaatan satelit Palapa dan sejumlah fasilitas penunjang lainnya. telepon umum. Departemen Keuangan RI 232 . pos dan giro Telekomunikasi sebagai salah satu pendorong dan penggerak pembangunan nasional terus ditingkatkan kemampuannya guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat setiap tahun. serta STJJ sebanyak 1. sambungan telepon manual sebanyak 7. Melalui serangkaian pembangunan yang dilaksanakan selama ini telah berhasil dilakukan peningkatan fasilitas telepon.

jumlah sentral manual adalah sebanyak 506 buah.054 86. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985. Pada awal Pelita I. telah dapat dilakukan hubungan melalui SLI ini dengan sebanyak 58 negara.092 99.660 1971 33 95. Di samping itu hubungan telepon internasional dengan sistem manual dan semi otomatis secara bertahap juga telah diganti dengan sambungan langsung internasional (SLI).860 1973 34 121. Di lain pihak jumlah sentral telepon otomat telah meningkat dengan pesat. Surabaya dan Ujungpandang. Selanjutnya masing-masing sentral tandem tersebut dihubungkan dengan sentral lokal yang tersebar di beberapa kota.782 101.142 101.167 96.460 1974 37 125.292 108.762 79. 1969 -1984 ( sentral dalam buah. telah dilakukan peningkatan jaringan pada 4 buah sentral tandem nasional yang berlokasi di Medan. Jakarta.860 1981 156 549.797 1984 2) 173 583.320 1978 69 367.100 1976 45 160. Di samping itu.947 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tahun Manual Sentral 506 504 496 506 504 507 507 507 503 493 468 457 469 1) 503 1) 509 509 Kapasitas 122. Pada awal Repelita IV.600 1977 54 218. Di bidang telex. hubungan telepon interlokal dengan sistem manual secara bertahap juga telah diganti dengan sistem otomat dan dimasukkan ke dalam jaringan SLJJ.840 satuan sambungan yang melayani 24 kota di Indonesia.548 Sistem yang digunakan dalam bidang telekomunikasi telah mengalami banyak perkembangan. antara lain teiepon lokal dengan sistem manual secara bertahap telah diganti dengan sistem otomat walaupun baru menjangkau di kala-kala. kapositas dalam satuan sambungan ) Otomat Sentral Kapasitas 1969 26 84.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TabeI VII. kapositas sentral yang terposang telah mencapai 15.253 87.963 1983 1) 170 576.563 104. yaitu dari 26 sentral pada awal Pelita I menjadi sebanyak 173 sentral pada awal Repelita IV. jumlah kala yang sudah masuk jaringan SLJJ mencapai sebanyak 104 kala. Selama Pelita III. 66 JUMLAH SENTRAL DAN KAPASITAS TELEPON.200 1979 101 460.300 1972 33 110.920 104.100 1980 137 524.579 89. Selain itu juga telah Departemen Keuangan RI 233 .772 73. Kenyataan ini menunjukkan bahvva selama periode tersebut tidak mengalami banyak perubahan. sedangkan pada awal Repelita IV adalah sebanyak 509 buah.718 102.520 1982 164 557.896 107.500 1975 39 144.660 1970 28 90.336 91. sedangkan yang mendapat hubungan SLJJ terbatas adalah sebanyak 20 kala.

4 277.2 23.244.036.169.3 2.990.7 124.647.8 1.158.0 5.3 Sementara itu telah dilakukan pula penambahan jaringan transmisi. ibukota kabupaten dan beberapa kota kecamatan.345.876.0 72.926.4 3.696.1 231.3 1.8 257.3 3.8 470.51) 240.4 400.7 2.070.830.1 7. sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diselesaikan pembangunan sistim komunikasi kabel laut (SKKL) Asean antara Indonesia-Singapura sebanyak 480 kallal.67 PEMAKAIAN ]ASA TELEKOMUNIKASI.786.5 205.1 25.1 74.5 40.9 2.8 55.158.632.083. GM SurabayaBanjarmasin dengan 48 aluran dan GM Indonesia Timur dengan 196 aluran.1 14.889.332.212.190.7 12.3 13.0 176.3 11.532.3 4.206 saluran yang dirangkaikan dengan sistem transmisi hambur-tropo (tropos catter).8 1. stasiun referensi time division multiple accses (TDMA) dan terminal TDMA di Jatiluhur sebanyak 240 kanal.8 70. 1969 .3 992.2 796.4 75.Lokal (jumlahpulsa) 1) .6 2.656.Banyak pennintaan (ribu) #NAME? b.027.2 150.760. SKKL Medan-Singapura 1.4 3.9 82. dengan satelit Palapa generasi kedua Bl dan B2 yang mempunyai 24 transponder.621. perkembangan jasa telekomunikasi dapat diikuti melalui Tabel VII.682.133.543.190.164.1 14.3 ribu permintaan dalam tahun 1982 menjadi 3.9 2.459.5 6.013. Di samping itu telah dipakai pula sistem gelombang mikro (GM) teresterial.6 9.364. sentral telepon di_ital di Medan sebanyak 2.9 62.Jumlah call (ribu) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 62.529.558.5 30. Telex dalam negeri : .Jumlah kata (ribu) e.2 51.1 134.817.463.864. yang merupakan salah satu unsur renting dalam peningkatan jasa telekomunikasi baik di dalam maupun di luar negeri.1 2.3 9.894.1 2.790.Sambungan langsung jarak jaub: Jumlah paisa (ribu ) Jumlah call (ribu) Co Telegrap dalam negeri: .0 60.9 1979 1.4 11.6 7. VHF.302.419. Telegrap luar negeri: .6 122.849.8 10.174.7 3.402.1 19842) 1.1 411.120.0 4.4 4.7 271.5 3. Hal ini berarti bahwa dalam periode tersebut telah terjadi suatu kenaikan sebesar 19 persen. yang meliputi GM Lintas-Sumatera dengan 693 aluran.396.452.1 TabeI VII.3 1.0 379.1 7. Sedangkan perluasan sistem gelombang radio frekuensi tinggi HF.0 267.0 336.5 63.1 240.3 6.2 185.0 1.6 3.0 351.419.260 kallal.3 12.3 191.1984 1972 1973 1974 1976 1977 1975 208.622.9 58.94 4.479.827.7 368.67.527.9 7. Dalam rangka peningkatan sarana telekomunikasi internasional.877.776.551.2 11.1 167.297.100 kallal.0 11.1 772.8 26.7 488.548.9 663.684.730.219.5 6.430.3 1.885.527.114.920.073.Telex luar negeri : .718.7 7.271. kabel koaksial dan kabel optek.0 68.8 1. yaitu kawasan Samudera Hindia (Indian Ocean Region) dengan kemampuan up-link 6 aluran dan down-link 14 aluran.1 1.5 106.2 629.3 15.0 3.950. dan UHF telah mencapai sebanyak 197 stasiun.865.961.353.663.513.1 18.8 13.6 181.315.807.327. 30.2 10.3 39.6 4.6 6.7 182.. 5.4 56. .958.918.120.8 17.1 7. Penggantian Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa Al yang dalam operasi pertama baru mempunyai 12 transponder telah diganti.8.775.8 7.3 43. dengan kabel kawat masa ganda (multi-pairs wire).0 389.9 10.5 10.622.239.6 124.631.9 48.793.868.073.2 30.263.237.7 4.4 5.5 10.426.064.524.284.426.446.372.6 3.103.619.184.6 .949.2 307.741.0 4..51) 3.0 6.8 1978 964.905.1 1980 1.735. 1969 .2 53.3 67.5 19831) 3.9 10.753.Jumlah pulsa (ribu) f.2 16.3 758.480.8 2. Peningkatan hubungan internasional dilaksanakan melalui sistem komunikasi intelsat yang mencakup dua kawasan.4 7. Lalu lintas telepon international: .297. Lalu lintas telepon dalam negeri: .047.903.930.141.701. GM Jawa-Bali dengan 2.576.103.934.7 217.7 12.249.0 113.Jumlah telegrap (ribu) .6 9.5 50.7 15.1 104.1 4.196.0 391.1 331.136. mikrowave link Jakarta-Jatiluhur sebanyak Departemen Keuangan RI 234 .1 ribu dalam tahun 1983.0 1970 151.094.427.011.Jumlah telegrap (ribu) .233.673.381.776. Adapun lalu lintas telepon internasional telah pula meningkat dari sebanyak 2.431.0 11.0 105.023.2 1.059.988.6 64.156.5 6.294.3 4.399.096.8 1971 202.0 8.6 140.1 414.3 276.Jumlahkata (ribu) d.038.0 2.864.4 35.9 563. SKKL Medan-Penang dan stasiun kabel sebanyak 480 kallal.4 27.7 2.084.579.389.403.5 5.4 1981 2.376.503.916.7 2.1 9.1 1982 2.321.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dilakukan peningkatan sistem telegrap teleprinter sebagai pengganti sistem morse dan digunakan untuk menghubungkan telegrap pada 400 lokasi di kota-kota besar.4 12. serta kawasan Samudera Posifik (Posific Ocean Region) dengan kemampuan up-link 5 aluran dan-down link 14 aluran.442.9 157.925.4 493.5 205.247.574.

sebagai sentral pos desa sekitarnya. 3 buah stasiun tetap yakni di Cakung. kini te1ah dioperasikan 1 buah stasiun monitor bergerak. te1ah banyak kemajuan yang dapat dicapai. Di samping itu juga te1ah dilakukan penambahan.0 persen dari selruh desa di Indonesia. kantor pos besar/ kantor pos ke1as I sebanyak 21 buah. baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.232 desa dari sejumlah 66. Di samping itu. Dari segi kuantitas. telah dilakukan pembangunan kantor pos dan kantor pos pembantu di kecamatan-kecamatan. Demikian pula industri telekomunikasi PT Inti. Hal ini berarti pelayanan pos dan giro telah dapat melayani 91. penambahan trafo tegangan tinggi 3x250 KVA. antara lain dengan memperpendek waktu tempuh surat.3 persen dari seluruh ibukota kecamatan yang ada dan 91. kendaraan bermotor roda 4 sebanyak 48 buah serta bis sural sebanyak 1.159 desa yang ada di Indonesia. kantor kepala daerah pos sebanyak 3 buah. sirkit sewa telegrap sebanyak 120 kanal. dan perluasan jasa pos ke1iling kala dan jasa pos ke1iling desa.488 ibukota kecamatan yang ada. Selanjutnya guna menertibkan penggunaan frekuensi radio serta persiapan keanggotaan Indonesia dalam sistem monitoring radio internasional.214 buah.096 trunks telepon internasional dan nasional. serta 4. kantor pos besar dan kantor pos ke1as I di ibukota propinsi dan kala-kala lainnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 572 kanal. dari segi operasi te1ah pula berhasil ditingkatkan mutu pe1ayanan pos dan giro. Hasil-hasil yang te1ah dicapai sampai dengan bulan Mei 1984 meliputi pembangunan kantor pos pembantu/kantor pos tambahan sebanyak 485 buah. serta telah siap untuk dioperasikan sebanyak 18 buah stasiun monitoring bergerak. sirkit sewa suara/data sebanyak 20 kallal. Untuk menunjang hal tersebut. sehingga pe1ayanan pos dapat menunjang kegiatan so sial ekonomi masyarakat. Pembangunan di bidang pos dan giro sampai dengan tahun 1984/1985 dimaksudkan untuk memperluas fasilitas pos dan giro dan meningkatkan jasa pelayanannya. Ulan Kayu dan Samarinda. telah berhasil diletakkan dasardasar kebijaksanaan untuk Departemen Keuangan RI 235 . kini pelayanannya te1ah mampu menjangkau 3. pengadaan uninterruptible power supply (UPS) 200 KVA dan 1 unit antena track telemetry command and monitoring (TTCM) di Jatiluhur. sehingga dapat menjangkau kecamatan-kecamatan di wilayah Nusantara termasuk daerah-daerah pemukiman transmigrasi. penambahan jaringan dan perluasan pe1ayanan. Jangkauan pelayanan pos dan giro ke desa-desa te1ah mencapai 60. Dengan peningkatan fasilitas pos dan giro tersebut. pengadaan peralatan VFT-MUX sebanyak 48 terminal. serta kantor pus tambahan. Selain itu te1ah berhasil pula ditetapkan sistem kode pos untuk se1uruh Indonesia guna mendukung kelancaran operasi. kantor pos sebanyak 30 buah.103 ibukota kecamatan dari sejumlah 3. telah berkembang dalam meningkatkan kemampuannya di bidang usaha telekomunikasi dan elektronika. Se1ama Pelita III hingga tahun pertama Repelita IV.

41 milyar serta jumlah tabungan pada BTN sebesar Rp 81.063.68.795. Di samping itu dalam kedudukannya sebagai anggota UPU (United Post Union) dan APPU (Asia Posific Post Union). daerah-daerah pemukiman trasmigrasi serta daerah terpencil.74 juta buah. Pelayanan pos dan giro selain berpedoman kepada volume lalu lintas pos dan perhitungan biaya.569. sehingga dapat mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang mengganggu ke1ancaran pos dan giro. weselpos senilai Rp 163. Adapun angkutan pos laut pada umumnya tidak ada hambatan. Guna menambah fasilitas alat angkutan pos untuk pemantapan waktu tempuh. dengan lebih seringnya frekuensi penerbangan dan adanya tambahan trayek baru sehingga hampir menjangkau seluruh pelosok Nusantara. yang untuk tahap pertamanya dimulai di wilayah DKI Jakarta dan kemudian disusul oleh propinsi-propinsi lairmya. telah diadakan perjanjian kerjasama angkutan pos dengan perusahaan swasta. Indonesia telah banyak memperoleh manfaat dari kedua organisasi tersebut dalam mencapai kemajuan di bidang pos dan giro.70 milyar. Departemen Keuangan RI 236 . yakni berupa perluasan jangkauan pelayanan sampai ke desa-desa. serta jumlah tabungan BTN sebesar Rp 23. karena frekuensi dan jumlah kapal sudah semakin bertambah dan daerah yang dilintasi juga semakin luas. peredaran giro dan cekpos sebesar Rp 2. peredaran giro dan cekpos sebesar Rp 967. Sedangkan dari segi kualitas antara lain ditandai dengan berhasilnya diadakan ikatan kontrak dengan perusahaan angkutan umum.60 juta. yang antara lain dilakukan dengan memperbanyak unitunit pelayanan pos bergerak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 djadikan program pengembangan tahun-tahun berikutnya. surat pos yang disampaikan berjumlah sebanyak 27. Perkembangan arus lalu lintas pos dan giro dapat diikuti melalui Tabel VIII. Sedangkan sampai dengan bulan Mei 1984.50 milyar. Dengan adanya peningkatan kualitas tersebut. Demikian pula angkutan pos udara semakin lancar. weselpos senilai Rp 445. angkutan pos me1alui darat pada umumnya lancar. juga ditujukan untuk meningkatkan jangkauan pelayanan ke daerah-daerah terpencil dan daerah-daerah transmigrasi. Dalam pada itu telah dilakukan pula pemasyarakatan kode pos. Dalam tahun 1983 telah disampaikan surat pos sebanyak 348 juta buah.90 juta.80 milyar.

705. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agus. Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.23 2.08 1982 299.71 1977 236. telah dilakukan berbagai usaha antara lain pembebasan visa selama 2 bulan bagi wisatawan dari 26 negara posaran wisatawan yang potensial. dan wisata remaja.933.23 325.569.60 445. Jawa Timur.26 499.43 4.82 63.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.53 1972 196 157.325.63 59.3 317.84 426.8 27. tapak kawasan dan detil desain Departemen Keuangan RI 237 .7 660.90 1984 2) 163.65 32.113.064.42 58.771) 1983 348 2. Jawa Barat. antara lain berupa peningkatan dan pembangunan daerah-daerah tujuan wisata. Sumatera Barat.81 1978 252.75 1.00 174.70 32.52 1973 176.56 1979 265.61 2.37 20.5 204.56 471.29 840. Daerah Istimewa Yogyakarta. Pembinaan dan pengembangan obyek wisata sejak Pelita III hingga tahun pertama Repelita IV terutama ditujukan pada 10 daerah tujuan wisata (DTW) yaitu propinsi Sumatera Utara.65 146.06 1981 1) 272. peningkatan pelayanan bagi wisatawan asing serta peningkatan keahlian dan keterampilan petugas-petugas yang menangani pariwisata.358.48 1971 181.9 1969 147 97.34 15. serta pengenalan alam dan kebudayaan Indonesia.19 1.17 99.81 1970 159 106.29 152.063. Untuk lebih meningkatkan arus wisatawan dari luar negeri.908.29 1976 200. juga dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan devisa.042.31 183.795. Jawa Tengah.65 1974 187.42 42.98 45.3 1975 199.8.526. Kepariwisataan Pembangunan di bidang pariwisata diarahkan selain untuk meningkatkan dan memperluas kesempatan kerja serta kesempatan berusaha.41 81.9 124. Bali.5 23.48 121.74 967.338.80 138.05 26.68 ARUS LALU LINTAS POS DAN GIRO. kemudahan keimigrasian. Dalam upaya mengembangkan obyek wisata yang tersebar di 10 DTW dan beberapa propinsi lainnya tersebut.tus tahun 1984 telah dilaksanakan studi perencanaan pengembangan. 1969 -1984 Peredaran Tabungan Surat pos Weselpos dan cekpos Bank Tahun (juta ) ( mityar ( juta ( mityar 14.59 10.208.850.5. baik yang berupa rencana induk perencanaan.801 126.2 1.45 7.558. Selama Pelita III telah dilakukan langkah-Iangkah pembinaan dan pengembangan pariwisata.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 7. serta pengembangan mutu produk wisata Indonesia.94 1980 276. DKI Jakarta.86 1.18 81.16 20.414.

5 juta. jasa biro perjalanan. Sedangkan lama tinggal di Indonesia ratarata bagi wisatawan asing dalam tahun 1983 adalah 11.6 10. Kegiatan dan upaya tersebut antara lain meliputi pemasangan iklan pada media internasional.5 113.8 7.3 .621 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 3) 1983 1) Data tidak tersedia 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Untuk meningkatkan arus wisatawan baik asing maupun domestik.100 2) 297 10.3 .510 270.356 433.69.928 38.046 426 358.319 359 16.69 PERKEMBANGAN DI BIDANG PARIWISATA.766 366.7 2) 86.614 467 94.1) 42.4 48.6 . untuk mempromosikan dan menjual produk wisata Indonesia.1) 11.237 453 70.6 . yang berarti mengalami kenaikan sebesar 7.300 12.855 orang. Dalam rangka perintisan pengembangan obyek-obyek wisata di luar 10 DTW.781 2) 545 22.2 8. Perkembangan bidang kepariwisataan dapat diikuti melalui Tabe1 VII. dalam tahun pertama Repe1ita IV te1ah dipersiapkan pengembangan pariwisata di tiga propinsi yaitu Riau.925 401. Sed:mgkan guna menunjang ke1ancaran arus wisatawan sampai ke DTW. sarana dan penunjang lainnya seperti tempat penginapan.671 178.179 242 27.398 94.048 4. diusahakan peningkatan prasarana.360 34.406 2) 501.452 414 54.293 437 62.8 per malam sehingga jumlah seluruh pengeluaran wisatawan asing mencapai sekitar US $ 439.1983 Wisatawan Kamar hotel Biro Penerimaan Tenaga kerja (orang) (buah ) (juta US $) (orang) (kamar) 2.972 86. jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia baru sebanyak 592.156 ) 38.390 3.627 592.3 53.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun lanjutan pembangunan fasilitas obyek-obyek wisata di DTW yang te1ah mantap pengembangannya. 1969 .430 295 250. Bengkulu dan Kalimantan Tengah. penerbangan borongan yang langsung ke tempat obyek wisata.308 2) 600.1 112. dalam tahun 1983 telah dilakukan usaha-usaha dan kegiatan pemasaran melalui koordinasi dan kerjasama terpadu guna menghadapi persaingan yang cukup ketat di pasaran pariwisata internasional.000 313. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 638. serta pemandu wisata.282 638.1) 42. dengan pengeluaran rata-rata sebesar US $ 58.0 2 38.960 21.850 221.855 436 439. Tabel VII.233 129.151 3) 409 309.9 .300 2) 561.393 2) 464 81.139.1) 5.9 persen.8 1.178 3) 330 289.575 2) 468. Selain itu juga dilakukan pembuatan bahan promosi/cetakan yang bertemakan "Indonesia destination of endless diversity" (Indonesia Departemen Keuangan RI 238 .278 3.303 2) 253 40. Dalam tahun 1982. Kegiatan di DTW tersebut telah menghasilkan peningkatan arus wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia.7 malam per kunjungan.046 orang.1) 31.

dalam setiap kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia sebagai negara tujuan wisata. prosedur dan unsur-unsur lainnya yang berkaitan dengan kedatangan wisatawan asing di Indonesia. Jawa Timur. Kegiatan bina masyarakat dimaksudkan untuk membimbing. Sulawesi Tengah dan Maluku. sedangkan yang belum diklasifikasikan berjumlah sebanyak 792 buah dengan kamar sebanyak 18. dan agen perjalanan (AP) sebanyak 143 buah perusahaan. telah diselenggarakan widya wisata. Untuk menunjang kegiatan tersebut. Selain itu telah pula digalakkan wisata di kalangan para remaja melalui pengadaan bahan-bahan informasi berupa buku petunjuk perjalanan wisata remaja. Di samping itu juga dilakukan monitoring. pengendalian. pelayanan. maka berarti terdapat peningkatan usaha baru sebanyak 10 buah perusahaan atau sebesar 2. Posisi ini tidak berbeda dengan keadaan tahun 1982. Melalui kerjasama dengan KBRI di luar negeri. yang terdiri atas biro perjalanan umum (BPU) sebanyak 185 buah perusahaan. cabang biro perjalanan umum (CBPU) 108 buah perusahaan. budaya dan alam serta wisata marina. yang selalu diterbitkan setiap tahun. untuk mengetahui fasilitas. program dan kegiatan yang dilakukan Pemerintah di bidang kepariwisataan. secara aktif. yaitu meliputi sejarah.3 persen. dan pemuka-pemuka organisasi dan masyarakat. Sementara itu untuk memperkenalkan secara lebih mendalam mengenai atraksi dan fasilitas wisata Indonesia. Garuda Indonesian Airways.537 buah. Departemen Keuangan RI 239 . Dalam tahun 1983.090 buah. pembinaan dan pengembangan wisata remaja di empat daerah. oleh karena dalam tahun 1983 pelaksanaan klasifikasi hotel terpaksa ditunda yang disebabkan adanya resesi dunia. Hal itu sekaligus merupakan kesempatan bagi industri dan perusahaanperusahaan untuk melakukan kontak dagang dengan industri pariwisata dari berbagai negara yang ikut serta. dan mengarahkan masyarakat untuk mendukung kebijaksanaan. jumlah tempat menginap yang telah mendapatkan klasifikasi hotel mencapai sebanyak 283 buah hotel berbintang dengan kamar sebanyak 20. serta meningkatkan sadar wisata dari para pejabat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 adalah tempat tujuan yang beraneka ragam tanpa putus-putusnya). Program tersebut ditujukan antara lain bagi kalangan pengusaha/pedagang dan wartawan dengan cara peninjauan langsung ke obyek-obyek wisata. dilakukan peningkatan kerjasama dengan media masa guna menyebarkan informasi kepariwisataan dan hasil-hasilnya. hotel-hotel dan biro perjalanan di dalam negeri. yaitu Kalimantan Barat. yang memperoleh ijin usaha dalam tahun 1983 tercatat sebanyak 436 perusahaan. Demikian pula dengan biro perjalanan. Di samping itu perwakilan Pusat Promosi Pariwisata Indonesia (P3I) di luar negeri juga telah berperanserta. Bila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru mencapai 426 buah perusahaan.

Dalam rangka itu antara lain dilakukan pembukaan areal persawahan baru terutama di luar pulau J awa.sektor lainnya. yakni melalui usaha intensifikasi dan ekstensifikasi areal persawahan. Selain itu telah pula disempurnakan koordinasi pemanfaatan obyek wisata. Untuk menunjang perkembangan pariwisata. kebijaksanaan tersebut telah menurunkan jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Singapura sebesar 38 persen dalam tahun 1983. kini sedang dipersiapkan Rancangan Undang-undang Kepariwisataan Nasional. Pekerjaan umum Pembangunan di bidang pekerjaan umum yang meliputi bidang pengairan. cipta karya dan bina marga telah menunjukkan hasil yang semakin nyata di dalam menunjang dan mendukung keberhasilan pembangunan sektor-sektor lain. dan peningkatan atraksi wisata yang akan dapat meningkatkan clara saing produk wisatawan Indonesia. Selanjutnya kegiatan pemasaran dan promosi baik di dalam maupun ke luar negeri semakin ditingkatkan melalui pemasangan iklan dan penyebaran informasi mengenai atraksi dan fasilitas wisata Indonesia. Sementara itu guna membantu kelancaran arus wisatawan asing clari luar negeri. bila dibandingkan dengan tahun 1982. 7. dilakukan peningkatan pemasaran dan promosi yang terpadu dan agresif berdasarkan penelitian yang menyeluruh. antara lain berupa penambahan pintu masuk penerbangan dan pintu masuk pelabuhan laut. yang antara lain disebabkan adanya kebijaksanaan Pemerintah untuk meningkatkan biaya fiskal perjalanan ke luar negeri.9. Di lain pihak.9. Pengairan Pembangunan di bidang pengairan dititikberatkan pada peningkatan produksi pangan terutama beras.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pariwisata dalam negeri pada tahun pertama Repelita IV mengalami peningkatan yang cukup tinggi. 7. Pelaksanaan pembangunan yang dilakukan dalam tahun pertama Repelita IV merupakan kesinambungan dari tahap-tahap Repelita sebelumnya. seperti pembangunan waduk serba guna yang dapat dimanfaatkan untuk Departemen Keuangan RI 240 . Berbagai kebijaksanaan tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan arus wisatawan pada waktu yang akan datang. serta pelayanan telekomunikasi di tempat menginap. sehingga dengan peningkatan produksi padi tersebut pada gilirannya pendapatan para petani juga dapat ditingkatkan. dan sekaligus dimaksudkan untuk memperkokoh kerangka landasan dalam pencapaian sasaran Repelita IV.1. Di samping itu bidang pengairan telah pula menunjang kegiatan sektor. Hal tersebut tercermin antara lain dari tercapainya sasaran fisik sejak tahun pertama Pelita I sampai dengan Pelita III.

serta Lombok Se1atan.271 hektar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan areal pertanian.600 hektar. pembangunan jaringan irigasi baru. pengembangan daerah rawa seluas 437. Selain itu guna melindungi kawasan pemukiman masyarakat pedesaan dan masyarakat lainnya. survai. tanah dan air seluas 587. para pemilik tanahnya juga harus menunjukkan partisiposi yang tinggi dalam program irigasi dan pencetakan sawah baru.000 hektar. Dalam waktu yang sarna. telah dilakukan pengamanan terhadap daerah yang peka terhadap bencana banjir. Sedeku seluas 30.271 hektar.100 hektar. Pamali Carnal seluas 30. pembangunan jaringan irigasi baru dititikberatkan pada pembangunan irigasi sedang dan kecil. dan kemudian dalam tahun 1983/1984 telah mencapai seluas 88.000 hektar dan Tabo-tabo seluas 11.000 hektar. Gambarsari seluas 20. Sedangkan untuk menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam tahun 1982/1983 telah dilakukan perbaikan dan peningkatan areal irigasi seluas 72. Delta Brantas seluas 32. Pekalen Sampean seluas 229. Untuk menunjang kegiatan tersebut. penyelidikan dan perancangan pengembangan sumber-sumber air. Madiun. Hal itu dilakukan dengan meningkatkan pelayanan produksi. sehingga program pembangunan Departemen Keuangan RI 241 .000 hektar. Program pembangunan di bidang pengairan yang dilaksanakan dalam Pelita III mencakup masalah perbaikan dan peningkatan irigasi. pembangunan jaringan irigasi baru seluas 437. telah disediakan air baku yang memenuhi syarat-syarat kesehatan bagi daerah pemukiman.500 hektar. serta penyelamatan hutan. Ciujung seluas 24. pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan penyediaan air industri. Serayu. Jawa Timur. Adapun hasil-hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan Pelita III meliputi perbaikan dan peningkatan irigasi seluas 386.400 hektar dan 45. dilakukan pula penelitian.651 hektar.468 hektar. Sedangkan proyek-proyek yang sampai dengan akhir Pelita III sudah atau hampir terselesaikan antara lain berupa rehabilitasi jaringan irigasi utama Cisadane seluas 40.000 hektar.300 hektar. Hal ini terutama diterapkan pada areal transmigrasi. Se1ain itu secara intensif juga mulai dilaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi di daerah Semarang Barat dan Simalungun. Sementara itu dalam tahun pertama Repelita IV te1ah dimulai pembangunan irigasi tersier dan drainase di daerah irigasi Cirebon. guna mempercepat jangkauan fungsional pelayanan produksi dalam kawasan yang telah dikembangkan. serta penyelamatan hutan. pengembangan daerah rawa.561 hektar. yang masing-masing mencakup wilayah se1uas 19. tanah dan air. Persyaratan dimaksud adalah se1ain lokasi yang bersangkutan sangat memerlukan pembangunan irigasi guna menunjang peningkatan produksi pertanian.bih cepat dan tepat melalui pemanfaatan sumber-sumber clara alam yang ada. sehingga mampu memberikan pelayanan yang le.000 hektar. dengan prioritas utama pada lokasi-lokasi yang memenuhi persyaratan yang ditentukan.

000 hektar.200 hektar. Bengkulu. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Hasil-hasil yang te1ah dicapai di bidang pembangunan irigasi baru se1ama dua tahun terakhir pe1aksanaan Pe1ita III.900 hektar. Jambi. Dalam hubungan ini standar prasarana reklamasi daerah rawa te1ah ditingkatkan. sedangkan jaringan tersier dan drainasenya sedang dalam tarat penyelesaian.271 hektar antara lain me1iputi proyek irigasi Krueng Jrue Kiri se1uas 2. Batang Gadis. Pemanfaatan daerah rawa selain ditujukan untuk memperluas areal pertanian yang ada. Wawotobi. kecil dan sederhana. antara lain berupa penyempurnaan jaringan reklamasi daerah rawa serta perluasan dan penambahan areal pertanian baru. Kegiatan tersebut juga mencakup proyek reklamasi rawa bukan posang surut yang terdapat di daerah Aceh. Jambi. Way Jepara se1uas 6.600 hektar dan Way Pangubuan seluas 5.729 hektar. Sumatera Selatan. Kedu Selatan. te1ah dilaksanakan melalui kegiatan pengembangan pengairan posang surut di daerah Riau. juga dilanjutkan pembangunan prasarana irigasi baru yang lebih besar. Be1itang se1uas 19.500 hektar. Penyelamatan hutan. Lampung. Adapun proyek-proyek yang masih terus ditingkatkan pembangunannya me1iputi proyek irigasi Krueng Baro. dan Dumoga.400 hektar. seperti daerah Yogyakarta Se1atan. dan Kalimantan Selatan. Sumatera Barat. Bali. Hasil yang telah dicapai dalam tahun terakhir Pelita III di bidang pengembangan daerah rawa meliputi areal seluas 86. Way Rarem. yaitu dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984. Selama masa Pelita III te1ah dibangun jaringan irigasi baru pada areal se1uas 437. juga dimaksudkan untuk memperluas dan memperbaiki daerah pemukiman penduduk. Jawa Tengah.500 hektar. Pada Waras. Teluk Lada. Se1ain dilakukan pengembangan irigasi sedang. Kalimantan Barat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jaringan irigasi terse but sekaligus dapat menunjang keberhasilan program transmigrasi. Sungai Dareh Sitiung. yang sebagian besar merupakan lahan yang potensial untuk usaha tani. Sumatera Selatan. Dalam tahun pertama Repe1ita IV pembangunan daerah rawa masih me1anjutkan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan se1ama Pe1ita III. Cidurian se1uas 9. Sumatera Utara. Sedangkan hasil yang dicapai selama Pelita III meliputi areal seluas 456. Kalimantan Barat. Lombok. dan dengan biaya peme1iharaan yang lebih rendah. Ciletuh. Lodoyo se1uas 12. Untuk seluruh proyek terse but sudah dapat dise1esaikan jaringan irigasi utamanya.189 hektar. tanah dan air dimaksudkan guna meningkatkan pengamanan Departemen Keuangan RI 242 . Bali. dan Timor. Riau. Jawa Timur. masing-masing adalah se1uas 108.680 hektar. Gumbasa seluas 7.607 hektar dan 39. Jambu Aye. Kalimantan Timur. . Kegiatan lain daripada program ini adalah pengembangan air tanah bagi daerahdaerah pertanian yang berlahan kering dan rawan yang langka air permukaan. agar dapat dilakukan pengaturan air dengan lebih baik.

Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi pengaturan dan pengamanan sungai. yaitu berupa pengerukan dasar sungai. seperti pembangunan pembangkit tenaga listrik dan penyediaan air. Perumahan rakyat dan pemukiman Salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dilakukan melalui peningkatan pembangunan di bidang perumahan rakyat dan pemukiman. yaitu tercapainya areal seluas 1. perluasan aliran. Pengutamaan kegiatan pada program jaringan tersier. perlindungan dan perkuatan tebing. gunung Kelud. dan daerah industri terhadap gangguan bencana banjir. daerah pemukiman penduduk.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 daerah produksi pertanian. sungai Arakundo. yang dilaksanakan secara khusus melalui proyekproyek pengaturan dan pengamanan sungai besar. seperti waduk Wonogiri yang sudah berfungsi dan Wadas Lintang yang sedang dalam tahap penyelesaian.680. pembuatan tanggul. Di samping itu juga ditujukan untuk mengembangkan pemanfaatan sumber-sumber air sungai yang memiliki potensi tinggi dalam memenuhi keperluan sektor pertanian. proyek itu juga dimaksudkan untuk menunjang sektor industri.2.100 hektar. Selain untuk pengendalian banjir. Selain itu program ini juga dimaksudkan untuk mengamankan sungai-sungai yang merupakan sumber-sumber air bagi jaringan irigasi yang telah ada. Selama 5 tahun Pelita III telah berhasil dilakukan penyelamatan hutan. dalam Pelita III telah meperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan.698 hektar. pembuatan sudetan. pembuatan saluran banjir. di antaranya yang dilakukan dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 masing-masing seluas 248.601 hektar dan 63. baik bagi para petugas maupun bagi penduduk setempat. sungai Brantas dan pengendalian banjir Jakarta. telah dilaksanakan pula pembangunan waduk-waduk besar. Untuk menanggulangi bencana banjir lahar sebagai akibat dari meletusnya gunung-gunung berapi seperti di sekitar daerahdaerah gunung Merapi. Proyek-proyek terse but terdiri atas proyek Bengawan Solo. maka dilakukan pembangunan dan pengendalian kantong posir (check dam) serta tanggul. gunung Agung dan gunung Galunggung. Cisanggarung. Sehubungan dengan Departemen Keuangan RI 243 .9. Dalam hubungan ini. serta latihan penanggulangan banjir. Pembangunan jaringan tersier dilaksanakan melalui pemanfaatan jaringan-jaringan irigasi yang telah dibangun. tanah dan air seluas 587. sungai Ular. gunung Semeru. keperluan air industri untuk pembangkit tenaga listrik serta kebutuhan air di pelabuhan.573 hektar. 7. Citanduy. kebutuhan air bersih untuk pemukiman penduduk. baik untuk keperluan industri maupun rumah tangga. pembuatan pintu-pintu banjir. dan dewasa ini secara langsung telah dapat menunjang program intensifikasi produksi pertanian.

Kegiatan perbaikan kampung di daerah perkotaan mencakup bina lingkungan.701 hektar yang dapat memberikan manfaat bagi 1. perbaikan saluran pembuangan air hujan. meliputi areal seluas 3. bina usaha dan bina manusia. yang sebagian besar penduduknya berpenghasilan rendah. Adapun secara keseluruhan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah berhasil dilaksanakan perbaikan kampung seluas 17. yang antara lain berupa perbaikan jalan lingkungan dan jalan setapak. Sehubungan dengan itu. perluasan kesempatan kerja. Pembangunan perumahan rakyat dan pemukiman tersebut pada dasarnya merupakan tanggung jawab masyarakat itu sendiri dengan mendapatkan bantuan dan pembinaan dari Pemerintah. Departemen Keuangan RI 244 . terutama yang menyangkut peningkatan mutu kehidupan masyarakat banyak yang berpenghasilan rendah. Sehubungan dengan itu kini sedang dikembangkan suatu sistem yang lebih terarah dan terpadu. kesehatan lingkungan. Pembangunan perumahan rakyat terutama ditujukan untuk meningkatkan perbaikan kampung/lingkungan pemukiman kota.436. perkreditan. pemugaran perumahan desa dan pembinaan yang menunjang kegiatan tersebut.600 penduduk di berbagai propinsi. dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan perbaikan kampung pada 190 kala. yang dapat memberikan manfaat langsung kepada 5.220 orang penduduk kampung. Program perumahan rakyat mencakup perintisan pemugaran perumahan desa. perintisan perbaikan lingkungan perumahan kota. terutama yang berkaitan dengan masalah pembiayaan. serta riset dan teknologi. penanggulangan sampah lingkungan.980 hektar. pembinaan kesejahteraan ibu dan anak (PKK). gedung sekolah dasar. serta pengembangan kredit pemilikan rumah (KPR).000 desa pada 200 kota. pembuangan air limbah rumah tangga dan pengadaan air bersih. pembangunan perumahan rakyat. di samping tetap memperhatikan aspek-aspek pemerataan dan keterjangkauan khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dan menengah. perbaikan kawasan pusat kota bagi kota-kota sedang dan kecil termasuk lingkungan kawasan posarnya. produksi bahan bangunan lokal. keserasian pembangunan daerah. pemukiman serta tataguna tanah perkotaan dan pedesaan.183.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 itu. serta kegiatan-kegiatan lainnya yang ditujukan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah perkotaan. Kebijaksanaan pembangunan di bidang pemukiman rakyat sangat erat kaitannya dengan kebijaksanaan di sektor lainnya seperti kependudukan. pertanahan. Kebijaksanaan umum yang ditempuh di bidang ini antara lain dengan melibatkan masyarakat sebanyak mungkin. pembangunan perumahan rakyat dan pengembangan pemukiman penduduk diarahkan untuk dapat tersebar ke berbagai lokasi pemukiman yang meliputi sekitar 6. Kegiatan tersebut juga berupa pengadaan sarana fasilitas sosial lainnya seperti Puskesmas. perintisan peremajaan kota.

712 29.628 3. jumlah keseluruhan rumah siap huni yang telah selesai dibangun mencapai 81. 14.230 1.441 1983/1984 1) Rumah inti Jumlah 606 606 638 787 706 727 1.166 34 4.542 1.734 7.323 unit rumah dan 104.386 12.uk rumah susun don RKTM Rumah sederhana 3.024 unit rumah susun. 21.264 534 216 300 502 200 688 43 400 2.200 9.846 1.288 Jumlah I) Angkadiperbaiki 2) Termasuk Tangerang dan Depok 3) Sejak tahun 1980/1981 pada rumah sederhana termasuk rumah susun 4) Sejak tahun 1983/1984 rumah sederhana terma.342 1. Perkembangan jumlah perumahan yang dibangun oleh Perum Perumnas dapat dilihat pada Tabel VII.563 unit rumah. terdiri atas 787 unit rumah inti. 13.190 1.504 171 278 500 92.510 7.508 830 830 4.517 13.l.014 100 100 508 354 862 514 500 764 534 140 324 324 534 534 300 500 1.504 250 282 282 4 278 200 500 300 200 500 300 300 200 200 200 356 216 572 9.234 2.552 5. Yogyakarta Jawa TImur BaIi Nusa Tenggara Barut Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Belatan Kalimantan Timur 200 Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan 1.1983/1984 ( dalam unit rumah ) 1979/1980 1982/1983 1980/1981 1981/1982 Rumah Rumah3) Rumah Rumah 3) Rumah Rumahh3) Rumah inti Jumlah sederhana inti Jumlah sederhana inti inti Jumlah sederhana 388 388 388 388 388 3.523 12.326 1.230 3. 27.250 1. Di samping itu terdapat pula perumahan yang dibangun oleh PT Departemen Keuangan RI 245 .500 444 198 21. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 juga telah seksai dibangun sebanyak 1. 16.610 19.212 1'49 1.222 768 20.500 1. Ace h Sumatern Utara Sumatern Barat Ria u J ambi Swnatern Selatan Bengkulu Lampung DK1Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D. 3.730 34 64 64 1. 20. 23.594 1.192 1.718 3.620 8.596 1.742 2.078 200 120 340 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Hal ini berarti bahwa selama periode tersebut pelaksanaan program perbaikan kampung telah dapat melampaui target yang direncanakan dalam Repelita III seluas 15.666 2.212 9.176 8 1.299 935 24. terdiri atas 28.696 23.078 1978/1979 Rumah inti 898 12.891 2.500 2. 5.289 unit rumah dan 104.050 49.654 7. 9.580 42. 8.466 158 304 432 238 218 806 482 281 389 8.018 4.166 3.914 12. Selama Pelita III.953 20.l.186 9.964 Pembangunan rumah dengan dukungan KPR dari BTN telah pula ditingkatkan dan dikembangkan hampir di seluruh ibukota propinsi dan ibukota kecamatan.838 134 250 - Rumah 4) Jumlah sederhana 388 13.386 1. 17.584 3.009 1. 19.479 3.070 Sulawesi Tenggara Maluku Irian Jaya Timor Timor 49.087 9. Sedangkan yang dibangun tanpa dukungan KPR masing-masing telah mencapai sebanyak 81. 24. 4.886 unit rumah. 110 unit rumah sederhana.252 1.71.805 27.136 478 10 1.230 200 11. 8.032 522 300 822 522 140 58 7. 15. 11.457 500 1.020 3. Adapun selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III.192 1.230 1. 71 PEMBANGUNAN PERUMAHAN RAY AT OLEH PERUMNAS.078 200 216 216 216 500 500 216 216 300 502 304 806 200 32 120 656 656 32 688 340 400 400 400 134 480 480 2.412 368 500 90 23.090 4.764 1.500 6. D.094 158 286 444 286 158 510 1.269 unit rumah inti dan 3.200 4.268 400 140 1. BTN juga mengadakan kerjasama dengan perusahaan pembangunan perumahan swasta.736 1. 10. Dalam tahun 1983/1984. 2.000 612 612 600 200 700 500 452 600 450 540 306 680 986 148 406 1. 25.900 194 1.537 unit. 22.216 5.764 600 1. Tab eI VII. 26.314 333 1. yang bertujuan untuk membangun perumahan rakyat bagi mereka yang berpenghasilan menengah dan tinggi. 1978/1979 .014 500 1.046 1. Perum Perumnas telah membangun sebanyak 12. Selain dengan Perum Perumnas. Pengadaan perumahan rakyat bagi masyarakat berpenghasilan rendah selama ini telah dilaksanakan melalui Perum Perumnas yakni berupa pemberian fasilitas KPR dari Bank Tabungan Negara (BTN).576 4.078 1.366 Rumah Jumlah sederhana 4.300 2. 18.606 15.098 882 1.680 unit rumah sederhana.948 368 11.500 3. hasil yang telah dicapai oleh Perum Perumnas dan non Perumnas yang mendapat dukungan KPR masing-masing sebanyak 88.060 1.946 1.003 Propinsi I.900 2.872 6. 50.856 746 2.400 4.774 2.212 400 600 1.8642) 522 2.963 rumah siap huni yang terdiri atas 3.563 unit rumah.264 240 1.323 unit.000 hektar. sehingga seluruhnya berjumlah 192.030 unit rumah sederhana. 7.988 148 935 2. 12.523 unit rumah inti dan 760 unit rumah susun.852 unit rumah.480 1.704 1.518 2. 6. sehingga keseluruhannya berjumlah 185. dan 640 unit rumah susun.

juga telah banyak memberikan sumbangannya dalam pembangunan perumahan.214 meter. dan pengadaan peralatan penukangan sebanyak 1. pembuatan saluran pembuangan air kotor sepanjang 25. pembangunan sarana MCK sebanyak 993 unit. proyek perintis perbaikan lingkungan perumahan kota (P3LPK).281 unit. peningkatan keterampilan. Adapun unit usaha pengolahan air bersih yang menggunakan Departemen Keuangan RI 246 . dengan mengarahkan agar dapat dilakukan secara mandiri melalui rumah percontohan dan penyuluhan yang diberikan. dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran. Pada dasarnya kegiatan tersebut merupakan usaha gotong royong masyarakat desa yang bersangkutan dengan mendapatkan bantuan dan bimbingan dari Pemerintah. Adapun perusahaan-perusahaan pembangunan perumahan swasta yang tergabung dalam perusahaan Real Estate Indonesia (REI).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Papan Sejahtera atas dukungan KPR. Kegiatan penelitian di bidang air bersih dan kesehatan lingkungan pemukiman. perintisan pengadaan produksi bahan-bahan bangunan setempat. juga meliputi perbaikan jalan lingkungan desa. Selain itu juga dimaksudkan untuk menunjang pelaksanaan proyek perintis perbaikan lingkungan perumahan desa (P3LPD). yang dimaksudkan untuk mencukupi keperluan air bersih di propinsi Nusa Tenggara Timur. dan juga aparat Pemerintah daerah. maka dilakukan pula kegiatan-kegiatan penunjang yang bertujuan untuk memudahkan pelaksanaan program perumahan rakyat secara keseluruhan. Kegiatan terse but antara lain berupa pembinaan umum pembangunan perumahan rakyat. khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas. Selama Pelita III telah dilaksanakan pemugaran perumahan di 4. serta perintisan unit produksi bahan bangunan setempat. pengadaan sarana mandi-cuci-kakus (MCK). di samping juga telah dilakukan di 120 desa dalam rangka penanggulangan bencana alam atau penanggulangan darurat. Pemugaran perumahan pedesaan dimaksudkan agar sebanyak mungkin rakyat desa dapat mendiami rumah dan lingkungan yang sehat.243 unit rumah. serta usaha-usaha lain di bidang pemukiman. Kegiatannya selain mencakup pemugaran rumah-rumah desa. motivasi. Pembinaan di bidang pembangunan perumahan rakyat tersebut telah dilaksanakan melalui Pusat Informasi Teknik Bangunan (PITB).444 meter. serta penelitian perumahan rakyat baik yang bersifat nasional maupun regional. telah dilaksanakan dengan pembuatan model bangunan sederhana pengolah air yang disebut embung-embung. pengetahuan. pengadaan sarana air bersihsebanyak 1. perbaikan kampung dan pemugaran perumahan desa. Selain pengadaan perumahan rakyat.281 unit. yang selama Pelita III telah mencapai sebanyak 1. penyediaan air bersih.923 desa yang terse bar di 25 propinsi kecuali propinsi OKI Jakarta dan Irian Jaya. Sedangkan pembangunan jalan lingkungan desa telah diselesaikan sepanjang 990. kemampuan dan keterampilan masyarakat luas.

221. sedangkan untuk pembangunan sarana pembuangan air kotor telah selesai dibangun instalasi pengolahan air kotor. yang dapat melayani penduduk sebanyak 4.146 buah dan 2.137. telah mencapai 18. terus dilakukan upaya pengadaan dan penyediaan air bersih yang dapat menjangkau baik kota-kota-besar. Sejalan dengan makin meningkatnya kebutuhan air bersih. Dengan demikian.520 jiwa di 25 propinsi kecuali Sumatera Barat dan Jawa Barat. tersebar di 710 kota besar. dan sejalan dengan itu dilakukan pula usaha peningkatan keterampilan tenaga-tenaga teknisi air bersih. rnaupun kota-kota kecil. Dalam hubungan ini. Di samping itU selama periode tersebut juga telah berhasil dilakukan pengadaan air di 627 IKK. mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan proyek air bersih di berbagai kala di seluruh propinsi. Kegiatan terse but ditujukan untuk meningkatkan mutu lingkungan pemukiman terutama dalam mencegah berjangkitnya penyakit. selama Pelita III telah dilaksanakan perbaikan sarana lingkungan kota termasuk persampahan di 15 kala. 390 di antaranya ditangani dengan sistem IKK sepenuhnya. dalam Pelita III telah dilakukan peningkatan dan pemerataan pelayanan air bersih.5 liter per detik untuk kota. dan hidran umum sebanyak 9. Sehubungan dengan itu. dalam tahun 1983/1984 telah dibentuk 28 badan pengelola air minum (BPAM).082.651 hidran umum yang mampu melayani 1. termasuk Departemen Keuangan RI 247 . Kegiatan program penunjang air bersih dilakukan untuk mempersiapkan. sedangkan sampai dengan tahun terakhir pelaksanaan Pelita III jumlah seluruh BPAM telah mencapai 150 buah. 139 dengan sistem BNA (basic need approach). Peningkatan status BPAM menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (POAM). Dalam tahun terakhir pelaksanaan Pelita III. telah dapat dilakukan penambahan kapositas produksi air bersih sebesar 5. Dalam tahun 1983/1984 telah dapat diposang sambungan rumah sebanyak 69. serta pembangunan sarana pembuangan air kotor dan saluran pembuangan air hujan. khususnya bagi penduduk yang berpenghasilan rendah. sehingga dapat melayani penduduk dengan baik terutama berdasarkan kemampuannya sendiri. Sedangkan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III kapositas produksi air bersih.309 buah. terus diusahakan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tanah gambut sebagai bahan pengolahannya. Pembangunan di bidang sanitasi lingkungan meliputi kegiatan kebersihan kala. termasuk ibukota kecamatan (IKK) yang terdapat di seluruh propinsi.660 jiwa penduduk di 357 kota.254 liter per detik. Sejalan dengan itu.322 buah. sedang dan kecil termasuk IKK. selama lima tahun pelaksanaan Repelita III jumlah sambungan rumah yang telah dipasang mencapai 227. serta sambungan ke rumah-rumah guna mencapai tingkat pelayanan penduduk semaksimal mungkin. Hal itu dilaksanakan melalui peningkatan penyediaan dan pemasangan hidran umum. telah dibangun di propinsi Kalimantan Selatan. dan 98 sisanya melalui Inpres kesehatan.

Selama Pelita III telah disusun rencana tataruang kala sebanyak 176 kota. serta jalan-jalan yang membuka daerah-daerah yang potensial tetapi masih terisolir. Dengan demikian prioritas utama kegiatannya diberikan kepada perbaikan dan peningkatan jalan yang menghubungkan antara pusat-pusat produksi dengan daerah-daerah pemasaran dan pelabuhan. Bidang rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan telah dapat memperbaiki kerusakan-kerusakan setempat pacta ruas-ruas jalan arteri dan kolektor yang telah mempunyai kondisi fisik yang mantap. semakin meningkat. masyarakat pemakai jalan ikut membiayai jalan-jalan baru melalui sistem tol.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jaringan pipanya di Tangerang. Selain itu kini sedang dilakukan juga pembangunan sarana pembuangan air kotor di kota Bandung. Mengingat bahwa pembangunan gedung-gedung. 7. serta rencana tataruang daerah yang diperuntukkan bagi sebanyak 61 daerah yang tersebar di berbagai propinsi di seluruh Indonesia. serta program pembangunan jalan dan jembatao baru. tidak mudah runtuh. Jakarta dan Medan. Untuk itu terus ditingkatkan keselamatan bangunan-bangunan umum agar tidak cepat rusak. baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah maupun swasta. aman dari bahaya kebakaran. serta model peraturan setempat di kola kabupaten dan kotamadya. Di sam ping itu pembinaan jaringan jalan ditujukan untuk meningkatkan pengangkutan barang dan jasa dari pusat-pusat produksi ke daerah-daerah pedesaan. serta untuk mendorong mobilitas manusia sekaligus mengembangkan dan meratakan pembangunan beserta hasil-hasilnya di seluruh nusantara. penunjangan jalan dan jembatan. maka diperlukan pengaturan dan pembinaannya agar pelaksanaan dan pemanfaatannya dapat berdaya guna dan berhasil guna.3. Di lain pihak. prosedur pengadaan bangunan negara. Prasarana jalan dan jembatan Pelaksanaan pembangunan jalan selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pelayanan jaringan jalan yang tersebar di seluruh Indonesia agar dapat melayani lalu lintas yang semakin berkembang. Kegiatan yang telah dilakukan sampai dengan tahun pertama Repelita IV meliputi programprogram rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan. dan mendapatkan sinar matahari yang cukup. peraturan bangunan nasional. bebas dari genangan banjir. pedoman pelaksanaan. peningkatan jalan dan penggantian jembatan. Sampai dengan tahun 1983/1984 telah dibangun saluran pembuangan air hujan di 25 kala yang tersebar di berbagai daerah. terutama arus-arus jalan yang mempunyai nilai sosial dan ekonomi yang tinggi. dalam rangka tertib bangunan telah disusun berbagai peraturan antara lain mengenai standar.9. sehingga Departemen Keuangan RI 248 . Di daerahdaerah yang telah menunjukkan perkembangan yang relatif tinggi.

sedangkan beberapa ruas jalan telah beberapa kali mengalami perbaikan.943 km.488 meter dan 24. Selama Pelita III telah dapat ditingkatkan jalan sepanjang 10.848 meter. yaitu sepanjang 4. Hasil yang telah dicapai selama Pelita III adalah meliputi pembangunan sepanjang 1.308 meter. dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 2.527 meter. Sedangkan peningkatan jembatan selama Pelita III telah mencapai sepanjang 14.414 km dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 4. Kegiatan yang dilakukan di bidang penunjangan jalan dan jembatan telah dapat memperbaiki kondisi jalan yang tidak mantap dan kritis menjadi baik.448 km. sehingga dapat melayani pertumbuhan lalu lintas dalam jangka pendek sebelum jalan tersebut ditingkatkan luasnya. Apabila dalam tahun 1982/1983 Departemen Keuangan RI 249 .0'55 meter. Di lain pihak jalan mantap dan tidak mantap yang pada akhir Pelita II masing-masing adalah sebesar 13 persen dan 65 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jalan terse but tetap terpelihara.272 km.971 km. dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 15. maupun dalam rangka pembukaan hubungan lalu lintas ke daerah yang terpencil. Sedangkan kegiatan rehabilitasi dan pemeliharaan jembatan selama Pelita III telah mencapai 41. Sementara itu program peningkatan jalan dan penggantian jembatan telah dapat meningkatkan jumlah jaringan jalan arteri dan jalan kolektor ke dalam kondisi mantap.708 km.412 meter. termasuk di antaranya yang dicapai dalam tahun 1982/1983 sepanjang 9.841 km. maka pada akhir Pelita III telah dapat diatasi seluruhnya. sehingga mampu memenuhi kebutuhan pertumbuhan lalu lintas yang terus meningkat pada arus-arus jalan tersebut. Hasil yang dicapai dalam program tersebut selama Pelita III meliputi jalan sepanjang 31. masing-masing mencapai 36.393 meter telah dilaksanakan dalam tahun 1982/1983 dan 3. terisolir dan daerah pemukiman transmigrasi. selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah mencapai 141. sedangkan secara keseluruhan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III mencapai 42.212 meter dan 10.868 meter jembatan.059 meter. Hasil yang telah dicapai selama Pelita III meliputi peningkatan jalan sepanjang 90. termasuk di antaranya yang dicapai dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 masingmasing sepanjang 8.384 km jalan dan 6. diantaranya dalam tahun 1982/1983 telah dilaksanakan sepanjang 3. Dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 telah dilakukan penggantian jembatan sepanjang 8. di antaranya dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984.768 meter dan 7.381 km. Pembangunari jalan baru ditujukan untuk dapat melayani pertumbuhan lalu lintas baik di daerah perkotaan. maka pada akhir Petitt III jalan mantap telah meningkat menjadi sebesar 36 persen dan jalan tidak mantap berkurang menjadi 64 persen. Adapun di bidang penunjangan jembatan.749 meter.547 km.887 meter daiam tahun 1983/1984. di antaranya dalam tahun 1982/1983 sepanjang 18. Hasil yang cukup baik tersebut tampak pada kenyataan bahwa jalan kritis yang pada akhir Pelita II masih sekitar 22 persen.

000 kendaraan per hari. dalam periode yang sarna jumlah jalan tidak mantap telah diturunkan dari sepanjang 25.383 ton dan untuk seluruh Pelita III sebanyak 1. Pembangunan di bidang jalan dan jembatan dapat dilihat pada Tabel VII. Hasil yang dicapai dalam tahun 1983/1984 di bidang penunjangan jalan kabupaten meliputi sepanjang 7. Sementara itu guna memperlancar pemasaran hasil produksi pertanian. baik yang menyangkut kegiatan perdagangan dan produksi. dan sistem pengelolaannya.943 ton dan 453.568 meter. Sedangkan jumlah jalan kritis yang dalam tahun 1982/1983 mencapai sepanjang 900 km.633 ton. Berhasilnya pembangunan jalan dan jembatan terse but pada gilirannya telah dapat meningkatkan kelancaran mobilitas antardaerah. dengan lebar perkerasan jalan sekitar 7 meter.399. Sementara itu penggunaan aspal Buton terus dikembangkan. sistem distribusi.396 meter dan penggantian gorong-gorong sepanjang 59. telah dilakukan bantuan penunjangan jalan kabupaten.326 km. Dengan penggunaan cara/sistem tersebut maka dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 masingmasing telah digunakan aspal Buton sebanyak 452. perkebunan dan industri kecil di pedesaan.392 km. Di lain pihak.044 km dalam tahun 1983/1984. terutama untuk menghapuskan ruas-ruas jalan pada kondisi kritis dengan kepadatan lalu lintas yang relatif rendah. dan penunjangan jembatan sepanjang 51. Kegiatan tersebut ditingkatkan melalui penyediaan peralatan jalan dan peningkatan kemampuan teknis di lapangan. maka dalam tahun 1983/1984 telah ditingkatkan menjadi 13.418 km.956 km.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jumlah jalan mantap mencapai 12. selain untuk meningkatkan produksi aspal dalam negeri. Kedua lapisan aspal tersebut digunakan untuk kondisi jalan dengan kepadatan lalu lintas sekitar 3. telah dapat digunakan untuk peningkatan jaringan jalan antara lain meliputi lapisan tipis aspal Buton murni (Latasbum) dan lapisan aspal Buton dengan batu pecah agreget (Lasbutag). penunjangan jembatan sepanjang 19. juga ditujukan untuk mengadakan penelitian mengenai peningkatan mUlti produksi dalam negeri.781 meter. Departemen Keuangan RI 250 .208 km dalam tahun 1982/1983 menjadi sepanjang 25. 72. dalam tahun 1983/1984 telah dapat diperbaiki seluruhnya. Selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah berhasil ditingkatkan penunjangan jalan kabupaten sepanjang 40. Hasil penelitian yang dilakukan selama Petita III. maupun dalam rangka penyebaran penduduk dan penghapusan isolasi daerah-daerah terpencil. Sedangkan jalan agreget padat tahan cuaca (Japat) digunakan untuk kegiatan penunjangan jalan.

502 331 1. sebanyak Departemen Keuangan RI 251 .1984/1985 1971/72 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 30.165 110 8. Penunjangan 2) 920 746 27 4.482 4.390 3.580 1.789 4.224 1.544 507 2. Rehabilitas! 3.317 4.488 1983/84 4.858 2. Oleh karena itu di dalam melaksanakan pembinaan dan penempatan tenaga kerja.419 1.262 60 12. 1969/1970 . Pembangunan baru 5.055 1984/85 157 3. Di samping itu juga oleh adanya struktur umur yang kurang seimbang serta kualitas penduduk yang relatif masih rendah. telah ditetapkan kebijaksanaan yang bersifat menyeluruh dan terpadu dan dititikberatkan pada perluasan kesempatan kerja yang produktif dan renumeratif. terutama dalam mewujudkan lapangan kerja baru bagi angkatan kerja.502 840 - 5.782 6. dan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 158.387 735 47 6. Rehabilitasi 3.651 1969/70 J a I a n (km) 1.381 8. pertumbuhan yang cukup tinggi dan penyebaran yang kurang merata.128 775 1.579 1.579 - 1981/82 7.745 1. Kependudukan Masalah pokok di bidang kependudukan dalam tahun kedua Repelita IV terutama ditandai oleh besarnya jumlah penduduk.673 1.841 2. Keadaan penduduk tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan bidang ketenagakerjaan.1 juta.685 221 18.5 juta. Pemeliharaan 1) 2.226 1. dalam periode 1971-1980 meningkat menjadi sebesar 2.560 913 4. yang setiap tahun jumlahnya diperkirakan bertambah sekitar 1.916 688 10.154 2.928 4.982 1.075 2.1.787 1.301 3.199 1) Dalam Pelita llI.399 1. pemeliharaan menjadi satu dengan rehabilitasi 2) Dalarn Pelita I dan ll.700 3.074 6. antara lain melalui perluasan dan intensifikasi pelaksanaan program keluarga berencana ke seluruh wilayah dan lapisan masyarakat.414 3. Kependudukan dan transmigrasi 7. Dengan pertumbuhan yang relatif masih cukup tinggi ter3ebut.011 5.602 4. Sementara itu dengan adanya penyebaran penduduk yang kurang merata. diusahakan untuk mempercepat turunnya tingkat kelahiran.393 2. Jumlah penduduk Indonesia dalam tahun 1980 adalah sebanyak 147.889 936 68 21.749 3.566 8.132 1. Guna mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk tersebut. Peningkatan 4.502 2.5 juta orang selama kurun waktu tersebut.887 829 757 145 8.779 546 230 2.105 25. Pemeliharaan 1) 2.034 1.103 1982/83 9.397 1.834 115 26.108 36.610 375 28.212 4.356 1.700 - 2. Jika dalam periode 19601971 tingkat pertambahan penduduk adalah sebesar 2.943 10.1 persen.448 174 15. penunjangan menjadi satu dengan peningkatan 3) Angka sementara 7.526 5. Penunjangan 2) Jembatan (m) 1. 184 juta jiwa dan 223 juta jiwa.010 125 2. Pembangunan baru 5. sedangkan dalam periode 1980-1990 diperkirakan menurun menjadi sekitar 2.500 - 1970/71 10.515 3.825 1.029 2.013 3.0 persen.305 8. termasuk daerah-daerah pemukiman baru. tahun 1990 dan tahun 2000 diperkirakan akan meningkat masing-masing menjildi 165 juta jiwa.583 8.928 23. dan sekaligus bertujuan untuk meningkatkan pemerataan pendapatan dan kegiatan pembangunan.894 3.10. Kenaikan tersebut terutama disebabkan karena masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk.887 826 24.730 994 684 51 4.10.482 1.272 400 18.956 1.3 persen.605 920 111 18.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 T abe I VII.514 9.367 521 16.464 3. jumlah penduduk Indonesia dalam tahun 1985.294 916 148 2.454 27. Peningkatan 4.72 PEMBANGUNAN DI BIDANG PRASARANA jALAN DAN jEMBATAN.

terutama pada seko}ah dasar (SD) dan sekolah menengah tingkat pertama (SMTP).3 juta.72 per seribu. sumber daya alam tidak dapat dikelola secara efektif. Di lain pihak. yang masing-masing luasnya sekitar 26. Dengan demikian kepadatan penduduknya hanya mencapai 67 orang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 98. Kalimantan dan Sulawesi. yaitu apabila dalam periode 19811985 tingkat kelahiran mencapai 33.7 juta orang. berada di pulau Jawa yang luas wilayahnya hanya sekitar 7 persen dari seluruh wilayah Indonesia.6 juta dan 11.5 persen per tahun. Selain itu dalam rangka meningkatkan kesadaran serta pengetahuan di bidang kependudukan.1 juta orang dan 76. 14 orang dan 60 orang per kilometer persegi. di lain pihak di daerah yang jarang penduduknya. Oleh karena itu guna memungkinkan pendayagunaan sumber daya alam secara optimal. Dengan adanya ketimpangan penyebaran penduduk tersebut. dalam periode 1986-1990 dan 1990-1995 masing-masing diperkirakan sebesar 31.73.7 juta. Sebagai akibatnya. di wilayah Sumatera.9 persen dari seluruh angkatan kerja juga berada di pulau Jawa. kepadatan serta proyeksinya sampai dengan tahun 1984 dapat dilihat pada Tabel VII. dan 9. jumlah penduduknya hanya sebanyak 31.7 juta orang. Masalah lain di bidang kependudukan adalah kurang seimbangnya struktur umur penduduk.7 persen dari seluruh wilayah Indonesia. 7. dikembangkan pula penelitian di bidang kependudukan yang sekaligus dimaksudkan untuk memanfaatkan sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan pembangunan.9 juta.0 persen per tahun. masing-masing diperkirakan akan meningkat menjadi 64. Perkembangan penduduk Indonesia. Hal ini terutama disebabkan karena masih cukup tingginya tingkat kelahiran.1 persen dari sebanyak 161. yang ditandai dengan besarnya jumlah penduduk berusia muda. diperkirakan sebanyak 41. Sementara itu dengan adanya peningkatan penyediaan fasilitas pendidikan.2 juta jiwa atau 62.26 per seribu dan 28.9 juta orang. Tingkat kenaikan tersebut berarti masih di alas pertumbuhan penduduk dalam periode 1980-1990 yang diperkirakan mencapai sekitar 2. 27. jumlah angkatan kerja dalam kelompok umur 10-14 tahun diperkirakan akan terus menurun baik secara proposional Departemen Keuangan RI 252 .2 juta orang. Demikian pula halnya dengan jumlah angkatan kerja.6 juta penduduk dalam tahun 1984. tahun 1990 dan tahun 2000. maka di satu pihak sumber daya alam di daerah padat penduduk mengalami tekanan eksploitasi yang berlebihan. dalam tahun 1985. apabila dalam tahun 1983 baru mencapai 63.90 per seribu.7 juta orang atau suatu kenaikan rata-rata sebesar 2.6 persen. 69. dalam tahun 1988 diperkirakan akan meningkat menjadi 71. atau 61. di samping dialaminya tekanan penduduk yang mencapai kepadatan 747 orang per kilometer persegi. penyebaran penduduk terutama ditujukan pada tercapainya perimbangan yang lebih serasi antara sumber daya alam dan sumber daya manusia.8 persen. Sebagai akibatnya apabila dalam tahun 1980 jumlah penduduk yang berumur 0-14 tahun baru mencapai sebanyak 59.

Selanjutnya apabila dilihat dari tingkat pendidikannya. dalam tahun 1982/1983 melalui PPKGB dan PPKJT telah dapat diserap tenaga kerja sebanyak 21. Dalam pelaksanaannya.9 juta orang. Dalam tahun 1985. program penyebaran tenaga kerja. pembuatan beras dan Departemen Keuangan RI 253 . yaitu akan meningkat menjadi 42.801. Apabila dalam tahun 1983 jumlah angkatan kerja dalam kelompok umur 10-14 tahun mencapai 2. perkembangan angkatan kerja yang belum tamat SD diperkirakan masih cukup besar.8 juta orang meningkat menjadi 17.2 juta orang atau 64. Dalam jangka pendek. program generasi muda dan program peranan wanita. Program pembangunan desa terutama ditujukan untuk mengatasi masalah kekurangan kesempatan kerja bagi tenaga-tenaga penganggur atau penganggur musiman yang kurang terampil di daerah pedesaan. dalam tahun 1983 diperkirakan 41. dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kerja terutama bagi penduduk yang tinggal di daerah kecamatan miskin dan padat penduduk.000 orang.5 juta orang. Tenaga kerja tersebut dipekerjakan pada pembangunan jalan desa.325 hari kerja. perluasan kesempatan kerja.0 juta orang. yakni meliputi peningkatan informasi posar kerja. Guna menanggulangi permasalahan tersebut. yaitu dari sebanyak 16. sedangkan dalam jangka panjang. perluasan kesempatan kerja terutama dihubungkan dengan kebutuhan tenaga kerja setelah selesainya atau berfungsinya proyek tersebut. Sedangkan melalui PPKJT. Namun sebaliknya untuk angkatan kerja muda dalam kelompok umur 15-24 tahun. dalam periode yang sarna jumlahnya diperkrakan masih cukup besar. sedangkan yang telah menamatkan perguruan tinggi hanya mencapai 657. program latihan. di samping juga ditanggulangi kekurangan kesempatan kerja sebagai akibat terjadinya bencana alam di beberapa daerah. Sehubungan dengan itu.0 persen.6 juta orang. program ini ditujukan untuk perluasan kesempatan kerja bersamaan dengan dilaksanakannya suatu proyek. dalam tahun 1988 diperkirakan akan menurun menjadi 1. penyebaran dan pemanfaatan tenaga kerja khususnya tenaga kerja usia muda. antara lain telah ditempuh kebijaksanaan di bidang ketenagakerjaan. produktivitas tenaga kerja.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun secara absolut. antara lain dilakukan pembangunan jalanjalan desa dan prasarana desa lainnya. dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi terhadap saluran air dan jaringan tersier.5 persen dari seluruh angkatan kerja yang ada masih belum tamat SD. program pembangunan desa dilakukan melalui proyek padat karya gaya baru (PPKGB) dan proyek padat karya jaringan tersier (PPKJT).200 orang atau 1. Melalui PPKGB. sedangkan yang tamat perguruan tinggi hanya sebanyak 754. saluran air. meliputi program pembangunan desa. Untuk itu pelaksanaan operasionalnya akan dituangkan ke dalam berbagai program. serta peningkatan penyaluran.

baik tenaga kerja sarjana maupun sarjana muda. Melalui informasi pasar kerja. penyuluh di bidang kesehatan.antara lain dapat diketahui jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan menurut jenis pekerjaan. Sehubungan dengan itu. Dalam lokasi baru tersebut. pelaksana program kejar paket A.302 orang dan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia seb:inyak 112. keterampilan dan imbalan jasa yang.221 orang. Kemudian dalam tahun 1983/1984. yang berarti telah meningkat dengan 82. . gizi dan keluarga berencana.7 kilometer yang tersebar pada 1. dalam tahun 1983/1984 dengan jumlah pencari kerja yang terdaftar sebanyak 498. diberikan. telah dapat ditempatkan sebanyak 84. telah dapat ditempatkan sebanyak 15. Melalui proyek pengerahan tenaga kerja sukarela. antarkerja antardaerah (AKAD) dan antarkerja antarnegara (AKAN). Dengan semakin meningkatnya pembangunan.940.096 buah kecamatan miskin dan padat penduduk. pelaksanaan program AKAD diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang semakin Departemen Keuangan RI 254 .721 hari kerja. mereka diaktifkan sebagai pelopor pembaharuan dan pembangunan di daerah pedesaan yang tersebar di seluruh propinsi. antara lain sebagai tenaga penyempurna administrasi desa. di samping juga ikut membantu menyebarkan teknologi tepat guna dan sistem padat karya. dengan jumlah pencari kerja sebanyak 104.1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang baru mencapai 3. Dengan demikian mobilitas tenaga kerja baik antar jabatan maupun antarlokasi dapat ditingkatkan. serta kegiatan lain yang menunjang pembangunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 prasarana desa lainnya. Di samping melalui program TKS/BUTSI. dari pembangunan/rehabilitasi prasarana dan sarana yang tersebar di 96 kecamatan miskin dan padat penduduknya telah dapat diserap tenaga kerja sebanyak 342.815 orang. para tenaga kerja sukarelalbadan usaha tenaga sarjana Indonesia (TKS/BUTSI) bertugas di berbagai bidang pembangunan. program penyebaran tenaga kerja juga dilaksanakan melalui kegiatan antarkerja yang ditunjang oleh informasi posar kerja yang akurat.480 orang. Dalam hubungan ini. Sedangkan daJam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.720. yang terse bar di 1.892 hari kerja. melalui pembangunan/rehabilitasi jalan desa sepanjang 3. tenaga kerja yang diserap telah meningkat menjadi sebanyak 26. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.084 kecamatan miskin dan padat penduduk. Di samping itu usaha penyebaran tenaga kerja juga dilaksanakan melalui program antarkerja antar lokal (AKAL). Sementara itu pelaksanaan pogram penyebaran tenaga kerja terutama ditujukan untuk menyebarkan dan memanfaatkan tenaga kerja terdidik ke daerah pedesaan.941 orang dan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia sebanyak 23.010 orang.836 tenaga kerja. dalam tahun 1983/1984 jumlah TKS/ BUTSI yang dikerahkan ke daerah-daerah pedesaan di seluruh Indonesia telah mencapai 5.635 orang.693 kilometer dan saluran tersier sepanjang 3.

Hal ini berartitelah terjadi kenaikan sebanyak 16. Sementara itu guna meningkatkan produktivitas tenaga kerja. dalam tahun 1983/1984 telah dapat disalurkan tenaga kerja sebanyak 135. Di samping itu juga diberikan kepada beberapa tenagakerja yang sudah mendapatkan lapangan kerja tertentu. BLK Pertanian (BLKP).346 orang.193 orang.120 orang melalui MTU.209 orang.427 orang dan 11.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang baru mencapai 82.138 orang. penyaluran tenaga kerja melalui AKAL mencapai sebanyak 15. Melalui program antarkerja tersebut. telah dapat dilatih tenaga kerja sebanyak 1. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. pengelolaannya dilaksanakan melalui program AKAN. Unit Produktivitas Nasional (UPN) dan Mobile Training Unit (MTU) seluruhnya mencapai 98. terutama yang sudah mandiri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 meningkat di luar Jawa.790 orang melalui AKAN. tetapi produktivitas kerjanya masih rendah. juga karena semakin meningkatnya minat para pencari kerja untuk mengikuti latihan.635 orang. sedangkan melalui AKAD dan AKAN masing-masing mencapai 9. jumlah tenaga kerja yang telah dilatih melalui BLK Industri (BLKI). Balai Pengembangan Manajemen dan Produktivitas (BPMP). 19. Sedangkan guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja di luar negeri. dengan perincian sebanyak 84. 880 orang melalui BPMP dan sebanyak 1. diberikan program latihan dan keterampilan tenaga kerja khususnya kepada tenaga kerja usia muda dan wanita pedesaan yang belum memiliki pengalaman dan keterampilan. juga diberikan bimbingan kepada kursus-kursus swasta sebagai bagian dari sistem latihan nasional. terutama dengan terbukanya kesempatan kerja di Timur Tengah. Departemen Keuangan RI 255 . Dalam tahun 1983/1984.583 orang melalui AKAD dan sebanyak 30. Kenaikan ini selain disebabkan karena adanya penambahan tenaga instruktur dan perluasan clara tampung daripada BLK-BLK. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.005 orang atau 19.836 orang disalurkan melalui AKAL. selain melalui pembangunan/rehabilitasi balai latihan kejuruan (BLK). Untuk menunjang kegiatan tersebut.734 orang melalui BLKI.

028 6. yang kesemuanya disertai dengan perlengkapan dan peralatan.340 29.989 6. serta untuk menunjang pembangunan daerah.34% 2. pelaksanaan transmigrasi terutama ditujukan untuk pembangunan dan rehabilitasi daerah asal.289 24.723 10.567 154. serta mendorong masyarakat agar berperanserta Departemen Keuangan RI 256 .700 31.282 5.904 25. serta perumahan berikut salafia air minum dan jamban keluarga.893 30. Di lain pihak.929 7. balai pengobatan. untuk membuka dan mengembangkan daerah pertanian baru. 73 PENDUDUK INDONESIA DAN KEPADATANNYA PADA TAHUN 1971 SERTA PROYEKSINYA SAMPAI DENGAN TAHUN 1984 ( dalam ribu jiwa) Pulau J awa Sumatera Kalimantan Sulawesi Lainnya Indonesia Jumlah penduduk 19711) 76.070 10.490 1981 93.rata per tahun 1971 .10. rumah ibadah.799 158.1984 2.190 1977 87.2.079 10. sosial-ekonomi para transmigran telah dibangun pula sarana penunjang seperti gedung sekolah.334 10.048 161.086 20.410 11. Guna melayani kegiatan.350 11.887 11. baik bagi para transmigran maupun bagi masyarakat sekitarnya.579 19801) 91.377 141.927 7.269 28.083 1984 98.888 135.240 10.112 11.28% 2.632 119. balai pertemuan/balai desa.103 29.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. rumah petugas dan rumah pos. sarana dan fasilitas secara memadai bagi tumbuhnya kegiatan masyarakat baru.340 151.563 11.48% 3.076 24. maka di daerah pemukiman transmigrasi antara lain telah dibangun jalan penghubung.724 6.527 8.143 10.70% 2.315 1982 95.665 11.808 5. gedung koperasi/KUD. Usaha-usaha tersebut pada gilirannya diharapkan akan dapat menjamin peningkatan tarat hidup. jalan desa.016 6. khususnya di luar pulau Jawa dan Bali.341 12.209 1976 85.13% 3.962 7. Untuk tersedianya prasarana.812 9.342 1978 88.942 10.662 1983 96.924 9. bagi daerah asal transmigran.155 8.579 Kepadatan / Km 2 19711) 576 44 10 45 15 62 1976 633 45 11 43 17 67 1977 650 46 11 44 18 68 1978 663 47 11 46 18 70 1980 1) 690 59 12 55 19 77 1981 706 61 12 56 19 79 1982 719 63 13 58 20 81 1983 733 65 13 59 20 83 1984 747 67 14 60 20 84 Perkembangan rata . lahan pertanian.128 138. Transmigrasi Program transmigrasi terutama ditujukan untuk memperbaiki penyebaran penduduk dan tenaga kerja.78% 1) Angka sensus 7.072 147.

Selama Pelita III pelaksanaan transmigrasi dari tahun ke tahun selalu menunjukkan peningkatan.127 KK transmigran umum dan 160.6 1970/1971 3.910 13.414 101.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam bidang transmigrasi.000 100.338 112. Perkembangan hasil penempatan transmigran dapat diikuti dalam Tabel VII.959 100 1974/1975 11.100 100 1976/1977 13.200 11. Dengan demikian selama 5 tahun pelaksanaan Repelita III telah dapat ditempatkan transmigran sebanyak 527.9 1973/1974 22.055 38.910 100 1977/1978 22.985 kepala keluarga (KK).4 Jumlah 754. Oleh karena itu penentuan daerah asal bagi para calon transmigran terutama diprioritaskan pada daerah yang terlalu padat.359 KK.6 1979/1980 50.566 46.865 4. 736 KK transmigran swakarsa berbantuan dan sebanyak 18.425 705.412 100 Pelita II 82. Kemudian dalam tiga tahun terakhir Pelita III masing-masing telah meningkat menjadi 100.010 KK.5 1) Angka diperbaiki.876 105.412 22. yang terdiri atas 367.000 51.949 100 1978/1979 27.158 93.1984/1985 ( kepala keluarga ) Persentase Tahun Target Realisasi realisasi Pelita I 46. 1969/1970 .268 99.000 27.000 100 Pelita III 1) 500.000 78359 104.000 48.600 4. 127.7 1972/1973 11.055 KK.949 22.970 KK dan 169. yang terdiri atas 29.489 3. TabeI VII.4 1983/1984 150.100 8.056 KK transmigran swakarsa murni.74.749 KK transmigran swakarsa.171 90.552 100.000 159. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984 telah dapat ditemp atkan sebanyak 48.000 127.985 104 1980/1981 75.6 1982/1983 125.000 11.000 527. termasuk transmigran swakarsa 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 257 . daerah yang terkena proyek-proyek pembangunan serta daerah yang perlu dilestarikan.010 106 Pelita IV 1984/1985 2) 125.2 1971/1972 4.263 KK transmigran umum. 74 HASIL PENEMPATAN TRANSMIGRAN.4 1969/1970 4.552 KK.933 87. dae(ah aliran sungai (DAS) yang akan dihijaukan.959 82.876 KK.000 100 1975/1976 8. dalam tahun 1980/1981 telah meningkat menjadi 78.5 1981/1982 100. Apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah transmigran yang ditempatkan baru mencapai sebanyak 51.970 102.

Bagi sektor industri. yang dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan di bidang keamanan dan kesehatan para transmigran.000 KK. Demikian juga sektor swasta belum memadai peranannya dalam menunjang perkembangan perekonomian daerah transmigrasi. Sedangkan untuk sektor perdagangan. khusus kepada para petugas pengawal transmigran telah diberikan berbagai penataran. Hambatan-hambatan tersebut antara lain berupa kurangnya tenaga penyuluh yang terampil. khususnya untuk daerah-daerah kosentrasi pengumpulan yakni di kabupaten-kabupaten. sehingga membuka kemungkinan yang lebih luas bagi pengolahan hasil-hasil pertanian di daerah transmigrasi. kesehatan dan makanan bagi para transmigran. seperti terlihat dari pelaksanaan dalam tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Oktober 1984 yang baru mencapai 38. perindustrian. belum terarahnya materi atau informasi yang disampaikan. kegiatan transmigrasi akan memberikan kesempatan yang luas pada usaha-usaha penyalur hasil produksi dari daerah transmigrasi ke pasaran. Di samping itu juga belum memadainya perkembangan KUD. Di samping itu guna melancarkan angkutan bagi para transmigran. Dalam pelaksanaannya. baik di pasaran lokal maupun nasional. serta meningkatkan produksi dari berbagai komoditi pertanian. pendidikan dan kesehatan. terutama untuk lahan pertanian. serta masih lemahnya pelayanan dalam angkutan. telah dilakukan penambahan angkutan transite. khususnya yang menyangkut masalah pengelolaan dan perdagangan hasil-hasil pertanian. maka dalam Pelita IV pelaksanaan program transmigrasi akan lebih dipadukan dengan pembangunan sektor-sektor lainnya. seperti sektor pertanian.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sejalan dengan telah berhasilnya pelaksanaan program transmigrasi dalam Pelita III. Guna mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Sebaliknya pembangunan yang dilakukan di daerah transmigrasi akan memberikan peluang bagi usaha penyalur barang dan jasa yang dibutuhkan bagi pembangunan daerah transmigrasi itu sendiri. Di sektor pertanian. peternakan. Dengan demikian diharapkan penyebaran potensi sumber daya manusia akan lebih seimbang dengan penyebaran potensi sumber alam. Oleh karena itu pelaksanaan kegiatan ini langsung dikaitkan dengan pemindahan penduduk dan tenaga kerja dari daerah yang radar ke daerah yang jarang penduduknya. sebagai lembaga yang diharapkan dapat mengembangkan perekonomian bagi daerah transmigrasi. program transmigrasi masih banyak mengalami hambatanhambatan. Sedangkan untuk memenuhi kecepatan waktu dan meningkatkan mutu makanan yang lebih Departemen Keuangan RI 258 . belum memadainya sarana penerangan yang ada. pelaksanaan transmigrasi ditujukan untuk memperluas areal pertanian baru.4 persen dari target yang telah ditetapkan dalam tahun 1984/1985 yaitU sebanyak 125. perikanan. usaha di bidang transmigrasi akan lebih menjamin tersedianya tenaga kerja dan bahan baku. perkebunan.

Guna meningkatkan dan mendorong pelaksanaan transmigrasi swakarsa. Sementara itu guna meningkatkan pengelolaan dan pemasaran hasil-hasil produksi dari daerah transmigrasi. Selain ittt juga telah dilaksanakan rehabilitasi terhadap 67 lokasi lahan usaha yang kurang berhasil. serta intensifikasi dan diversifikasi usaha tani. dan pembinaan terhadap transmigran lama sebanyak 592. Selanjutnya usaha peningkatan transmigrasi swakarsa dilaksanakan pula dengan jalan mengikutsertakan para transmigran pada kegiatan perkebunan inti rakyat (PIR) khusus.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sempurna. ijin dan penyediaan fasilitas di daerah penerimaan. 534 penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan 660 pembina koperasi. maupun mengenai kelancaran hub_mgan antara daerah asal dan daerah penerima. Khusus kepada daerah-daerah yang terkena musim kering dan beberapa daerah yang memerlukan perawatan kesehatan.381 KK. 55 dokter.631 guru SO.622 guru SMTP. maka di beberapa lokasi dan daerah asal telah diadakan dapur lapangan yang mobil. Departemen Keuangan RI 259 . mengadakan konservasi laban. telah ditingkatkan pula peranan koperasi dan usaha swasta. telah diberikan bantuan bibit tanaman dan bantuan pangan. baik yang menyangkut masalah pengurusan pelaksanaan administrasi. 2. kepada para caton transmigran swakarsa telah diberikan berbagai kemudahan. telah dapat dilaksanakan pengadaan tenaga pembina sebanyak 6. sampai dengan bulan Oktober 1984. 1.458 orang. Demikian pula bagi lokasi-lokasi yang kurang subur telah dilaksanakan upaya penanggulangan. Sejalan dengan itu dalam tahun pertama Pelita IV. yaitu dengan memberikan pengapuran. yang terdiri dari 956 tenaga medis.

keserasian dan keseimbangan baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. Untuk itu berbagai sarana dan fasilitas pendidikan secara bertahap dan pasti terus ditingkatkan. serta mampu menciptakan keselarasan. yang berarti pula makin banyak anggota masyarakat yang mempunyai kesempatan untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan. terus pula dikembangkan seiring dengan bidang-bidang lainnya. Sasaran yang ingin dicapai di bidang ini antara lain adalah meningkatkan kecerdasan serta menumbuhkan semangat kebangsaan yang tinggi. merupakan wujud nyata dari upaya tersebut. Dalam kaitannya dengan pembangunan di bidang pendidikan. maupun dalam hubungannya dengan masyarakat dan alam sekitarnya. Pembinaan di bidang agama. dan mempunyai etik moral yang kuat. keberhasilan upaya Departemen Keuangan RI 260 . serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Pendahuluan Laju pembangunan yang telah dicapai sekarang ini tidak terlepas dari peranan manusia yang berfungsi sebagai pelaksana pembangunan. Sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia tersebut. serta semakin meningkatnya kesejahteraan dan mutu para pendidik. sebagaimana telah dapat dirasakan dewasa ini.1. namun unsur manusia dan unsur-unsur lainnya tetap mendapat perhatian yang seimbang. Oengan demikian dalam proses'pembangunan selanjutnya diharapkan akan dapat tercipta suatu strata masyarakat Indonesia yang berkepribadian kokoh. Hal ini ditandai dengan makin berkembangnya berbagai fasilitas dan saran a kesehatan. pembangunan di bidang agama antara lain bertujuan untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia 'yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. pembangunan bidang kesehatan yang merupakan salah satu kebutuhan dasar setiap manusia terus pula dilaksanakan. baik melalui pendidikan formal maupun non formal.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VIII PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN SOSIAL DAN PEMBANGUNAN DAERAH 8. yang pada gilirannya diharapkan akan menumbuhkan manusia Indonesia yang mampu membangun dirinya sendiri. Selaras dengan itu. Tersedianya gedung-gedung sekolah terutama di tingkat dasar yang menyebar di seluruh pelosok tanah air. Oleh karena itu walaupun prioritas pembangunan masih ditekankan pada sektor ekonomi. jangkauannya tidak hanya terbatas pada pendidikan formal melainkan meliputi pula pendidikan luar sekolah yang menuntut peran serta aktif pihak swasta. Di samping itu.

diarahkan guna meningkatkan tarat kesejahteraan sosial masyarakat secara adil dan merata. agar tercipta rasa amall. terus digalakkan. Hal ini tidak terlepas dari usaha untuk mewujudkan kondisi sosial yang dinamis dalam kehidupan individu. Selaras dengan itu. tertib serta tenteram lahir dan batin. pembangunan di bidang hukum berasa semakin penting. Adanya kepastian hukum yang dapat rnenjamin hak-hak setiap warga negara. Dengan demikian Departemen Keuangan RI 261 . pelayanan kepada para akseptor KB terus ditingkatkan. perlu ditingkatkan laju pertumbuhan daerah.2. Hal ini pada akhirnya diharapkan akan mampu menjamin kelangsungan pembangunan yang merata di seluruh wilayah tanah air serta kemajuan yang nyata dan ternikmati oleh segenap lapisan masyarakat. pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan juga semakin berasa sebagai suatu kebutuhan yang mutlak. terutama para peserta KB. serta mampu mengikuti laju pertumbuhan-daerah. pembangunan di bidang agama terutama ditandai dengan semakin terbinanya hidup rukun di antara sesama umat beragama. Dalam hubungannya dengan usaha untuk rnenciptakan suasana tersebut. dinamis. serta pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air. Agama Memasuki tahun pertarna Pelita IV. Di bidang pembangunan daerah. Maka dari itu. Pembangunan bidang kesejahteraan sosial yang merupakan bagian integral daripada kesatuan sistem pembangunan nasional. Untuk itu berbagai upaya dan penyuluhan. diharapkan akan tercipta suatu kondisi sosial rnasyarakat sebagaimana diidam-idamkan. di samping aparat penegak hukum yang bersih dan berwibawa. yang bertujuan membangkitkan motivasi serta kesadaran masyarakat akan arti pentingnya kesehatan dan keluarga berencana (KB). terus ditingkatkan upaya guna menjabarkan asas Trilogi Pembangunan ke dalam konsepsi yang bersifat operasional. 8. di samping penyediaan sarana dan fasilitas yang memadai. Dengan bertumpu pada landasan tersebut. Berbagai langkah pembinaan telah dilakukan. demi terbentuknya suatu angkatan bersenjata yang tangguh serta mampu rnelindungi seluruh turnpah darah dan segenap bangsa Indonesia. serta diiringi dengan penyediaan fasilitas yang memadai. Dalam rangka memantapkan usaha tersebut. serta ditunjang oleh kesadaran hukum masyarakat yang tinggi merupakan salah satu tujuan di bidang pembinaan hukum. Norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera sudah dapat dirasakan oleh sebagian anggota masyarakat. keluarga dan masyarakat. Kesemuanya itu akan terwujud apabila keutuhan bangsa serta integritas teritorial terus ditingkatkan pula. terutama bagi para penyandang perrnasalahan sosial.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak terlepas pula dari kemampuan dan kesadaran masyarakat itu sendiri.

selama 5 tahun pelaksanaan Repelita III telah dibangun balai nikah sebanyak 1. agar tercapai tujuan pendidikan nasional yang berlandaskan Pancasila. selain ditujukan agar dalam pengembangannya tidak mengarah kepada adanya pembentukan agama baru. Sedangkan untuk tahun pertama Pelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984. Guna mendorong para pemeluk agarna untuk mempelajari dan mendalami agamanya. serta menciptakan suasana yang mendorong ke arah berkembangnya pola berpikir secara ilmiah. Untuk itu telah dikembangkan kehidupan keagamaan. juga dimaksudkan agar pelaksanaan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa benar-benar sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. dengan perincian masing-masing setiap tahunnya sebanyak 296 buah. yang dilakukan dengan cara memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum. Departemen Keuangan RI 262 . Sejalan dengan itu. khususnya di bidang pendidikan. karena melalui gedung balai nikah ini kepada para calon suami istri dapat dibina dan diberikan penyuluhan mengenai kesejahteraan keluarga sesuai dengan undang-undang perkawinan. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. 8.572 buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kesatuan dan persatuan bangsa dapat diperkokoh dan peranserta umat beragama dalam pembangunan dapat ditingkatkan pula. Dalam waktu yang sarna juga telah ditingkatkan pembangunan gedung pengadilan agarna. Pembinaan tata kehidupan beragama Pembinaan tata kehidupan beragama antara lain mencakup peningkatan sarana kehidupan beragarna. telah dibangun 17 buah gedung pengadilan agama tingkat pertama dan 4 buah gedung pengadilan agama tingkat banding. mulai dari sekolah dasar sampai dengan universitas. Adapun pembinaan yang dilakukan terhadap para penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Usaha tersebut terutama ditujukan untuk meningkatkan dan menyelaraskan pembinaan antara pendidikan dan perguruan agarna dengan pendidikan umurn. Hal ini secara tidak langsung akan menunjang suksesnya program nasional kependudukan dan keluarga berencana.2. 320 buah.1. penerangan dan bimbingan hidup beragama serta peningkatan pelayanan ibadah hajj. 316 buah dan 350 buah. 290 buah. pembangunan balai nikah telah mencapai sebanyak 587 buah atau 237 buah lebih banyak hila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. yakni apabila dalarn tahun 1983/1984 telah dibangun 15 buah gedung pengadilan agama tingkat pertarna. Salah sarti perwujudan nyata dari pada upaya tersebut adalah dilakukannya pembangunan/rehabilitasi gedung balai nikah dan gedung pengadilan agama. Dalam pada itu telah dilakukan pula rehabilitasi terhadap 27 buah gedung pengadilan agama tingkat pertama dan sebuah gedung pengadilan agama tingkat banding.

660 buah. Dalam periode yang sarna telah diberikan pula penyuluhan kepada para pemeluk agama Protestan dan Katolik masing-masing sebanyak 300 kelompok dan 185 kelompok yang terdiri dari suku berasing. 148.000 buah Departemen Keuangan RI 263 . yang terdiri dari 2. Sehubungan dengan itu dalam tahun pertama Repelita IV telah diberikan penyuluhan agama kepada 2. yang terdiri atas 844. dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Agustus 1984.790 kelompok pemeluk agama Islam. telah diberikan kepada masyarakat dari berbagai golongan agama.384 paket penyuluhan. Dalam rangka meningkatkan sarana kehidupan beragama maka telah dilaksanakan bantuan pembangunan/rehabilitasi tempat-tempat ibadah.433 buah tempat ibadah.715 tempat ibadah. seperti terlihat dengan semakin banyaknya jumlah tempat ibadah dari tahun ke tahun. serta tempat-tempat ibadah yang rusak karena bencana alam. telah diterbitkan sebanyak 1.000 buah kitab suci dari berbagai agama.000 buah kitab suci agama Islam. sarana ibadah serta buku-buku keagamaan.000 buah kitab .800 buah.245 buah setiap tahunnya. para transmigran. narapidana dan kelompok lainnya. atau rata-rata 21. disertai pula dengan penyediaan brosur agama masing-masing sebanyak 60.183. Apabila dalam tahun 1983/1984 bantuan pembangunan/rehabilitasi diberikan kepada 2. terutarna terhadap kelompok masyarakat yang masih lemah sosial ekonominya. Apabila pada akhir Pelita II baru terdapat sebanyak 471. 267 gereja Katolik. Pemberian penyuluhan agama.000 buah kitab suci agama Budha. dan kelompok khusus lainnya seperti tunasusila. dan disertai pula dengan pengadaan 652. dalafu tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.834 mesjid.300 buah kitab suci agama Hindu dan 15. suku berasing. 132.000 buah brosur agama dan 36. Jika dalam tahun 1983/1984 telah diterbitkan sebanyak 1.821 temp at ibadah. daerah transmigrasi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maka terus ditingkatkan usaha penerbitan kitab suci dari berbagai agama. terutama masyarakat suku berasing. telah diberikan kepada 3. para transmigran. daerah-daerah yang mempunyai nilai sejarah dan yang terletak di daerah strategis. maka pada akhir Pelita III telah meningkat menjadi 577. yang terdiri dari para karyawan instansi Pemerintah/swasta. para transmigran dan kelompok khusus lainnya. Dampak positif dari bantuan tersebut adalah terangsangnya masyarakat untuk berswadaya dalam membangun tempat ibadah sesuai dengan kebutuhannya. Bantuan tersebut pada umumnya diberikan dalam bentuk biaya pembangunan/rehabilitasi.228. narapidana.suci agarna Katolik. sebagai salah satu pelaksanaan daripada program penerangan dan bimbingan hidup beragama. Di samping itu jumlah tempat ibadah yang diberikan bantuan setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. 221 pura Hindu dan 58 buah wihara Budha.500 buah kitab suci agama Protestan. 89. daerah pemukiman baru. 335 gereja Protestan.

000 buah. Usaha peningkatan kerukunan hidup beragama dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan dengan berbagai kegiatan. Dalam periode yang sama telah dilaksanakan pekan orientasi kerjasama antarumat beragama dengan Pemerintah pada 3 lokasi dengan peserta sebanyak 360 orang. Pada awal Pelita III pembangunan asrama haji dititikberatkan pada 4 kola pelabuhan udara tempat pemberangkatan jemaah. sedangkan musyawarah antarumat beragama telah diikuti oleh 540 orang dan dilaksanakan pada 6 lokasi.300 orang. seperti musyawarah intern umat beragama. Untuk tahun 1983/1984 pembangunan asrama haji telah pula menjangkau beberapa pelabuhan transit yang jumlah jemaahnya sudah cukup banyak. baik untuk pelabuhan-pelabuhan pemberangkatan maupun pelabuhan-pelabuhan transit. Jawa Timur. yaitu Jakarta.1. pekan orientasi kerjasama antarumat beragama dengan Pemerintah. 3. 5. serta paket penyuluhan masing-masing sebanyak 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan 22. 3. dengan jumlah jemaah masing-masing sebanyak 7. disediakan buku pedoman perjalanan dan ibadah haji. DKI Jakarta dan Jawa Tengah.715 meter persegi untuk pelabuhan.000 buah. 2.180 meter persegi untuk pelabuhan Surabaya.200 buah. Sulawesi Selatan. seperti Banjarmasin dan Pontianak dengan luas masing-masing 1. Guna menunjang program tersebut. an tara lain telah dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi asrama haji.097 orang. Sementara itu jika dilihat daerah asal daripada para jemaah. dengan perincian 2. Ujungpandang. Perkembangan jumlah jemaah haji dapat diikuti pada Tabel VIII. Peningkatan pelayanan ibadah haji terutama ditujukan untuk meningkatkan pengelolaan dan pelayanan kepada masyarakat dalam melaksanakan ibadah haji.008 orang. di samping telah diberikan pula buku pedoman kerukunan hidup beragama sebanyak 17.615 orang dan 2.Pontianak. maka dalam tahun 1984/1985 jumlah jemaah haji yang paling banyak berasal dari Jawa Barat. serta sarana lainnya seperti pembuatan film haji.200 meter persegi dan 2.800 meter persegi untuk Banjarmasin dan 2. Surabaya.200 buah dan 22. Sedangkan untuk agama Hindu dan Budha telah diberikan penyuluhan kepada 25 kelompok transmigran dan suku berasing dengan disertai 32. pembangunan asrama haji telah dapat ditingkatkan menjadi 7.000 buah brosur agama. antarumat beragama.783 orang. Departemen Keuangan RI 264 . baik kepada para petugas maupun jemaah. Musyawarah intern umat beragamatelah dilaksanakan pada 13 lokasi dengan peserta sebanyak 1. dan Medan. Di samping itu juga telah diberikan penataran.400 meter persegi. Sedangkan untuk tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.695 meter persegi.907 orang. dan pengadaan buku pedoman kerukunan hidup beragama.

961 55.146 73.897 66.317 38.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e I VIII.697 74.845 19.227 2.449 53 .039 17.2. serta mutu pendidikan agama pada sekolah umum.071 15.000 MIS. Sejalan dengan pembinaan MIN. 1969/1970 -1984/1985 (orang) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 197971980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/19851) Jumlah 1) Angka sementara Haji melalui laut 8. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah meningkat menjadi 10.612 7.500 guru.520 69.961 55.072 22.828 45.351 12. pembangunan/rehabilitasi gedung MIN sebanyak 83 buah.126 692. Sedangkan guna meningkatkan mutu pendidikan agama Departemen Keuangan RI 265 . pemberian alat peraga dan olah raga serta penataran guru dan tenaga pembina. serta pengadaan buku pedoman bagi guru sebanyak 5.305 23. masing-masing telah mencapai 1.035 41.126 572.403 54.344 40. Apabila dalam tahun 1983/1984 dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi terhadap 6.897 66. 51 buah dan 5 juta buah.589 35.781 16.246 48.511 6.238 23. Usaha ini ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan umum pada pendidikan dan perguruan agama.500 guru.317 38.124 119.246 48. telah dilakukan pula pembinaan terhadap madrasah ibtidaiyah swasta (MIS).079 Haji melalui udara 611 1.681 12.978 25.2.039 8. 1 JUMLAH JEMAAH HAJI. Untuk itu telah dilaksanakan berbagai kegiatan seperti pembangunan/ rehabilitasi gedung sekolah.366 18.8 juta buah. menengah dan tingkat tinggi.575 9. Demikian pula dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.292 22.270 73. Pembinaan pendidikan agama Pembinaan pendidikan agama dalam pelaksanaannya mencakup pendidikan agama tingkat dasar. Dalam rangka meningkatkan mutu madrasah ibtidaiyah negeri (MIN) sebagai pendidikan agama tingkat dasar.760 MIS.697 74.292 14. dalam tahun 1983/ 1984 telah dilaksanakan penataran terhadap 3. penyempurnaan kurikulum.035 41.960 Jumlah 9.

penyediaan alat-alat keterampilan dan alat-alat praktek.2 juta buah dan pengadaan alat peraga sebanyak 2. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Pembinaan terhadap pendidikan agama tingkat menengah alas terutama ditujukan untuk meningkatkan pendidikan pada madrasah aliyah negeri (MAN).280 orang guru agama. Pembinaan terhadap pendidikan agama tingkat menengah pertama terutama ditujukan untuk meningkatkan multi pendidikan umum pada madrasah tsanawiyah negeri (MTsN) dan pondok pesantren. Dengan demilGan secara keseluruhan mulai awal Pelita III sampai dengan tahun pertama Repelita IV. serta pembangunan/rehabilitasi gedung dan bengkel kerja. Khusus kepada MTsN. Sedangkan guna meningkatkan mutu pendidikan agama bagi SMTP.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada sekolah dasar. baik dari masyarakat maupun dari Pemerintah.163 tenaga pembina. pengadaan buku sebanyak 3. serta pembangunan/rehabilitasi gedung dan bengkel kerja pada 71 pondok pesantren. di samping telah dilaksanakan penataran terhadap 4. penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan. serta pendidikan agama pada sekolah menengah tingkat pertama (SMTP). penataran terhadap 1. yang antara lain dilakukan oleh pondok pesantren Suryalaya (Jawa Barat). juga telah diberikan bantuan kepada 534 pondok pesantren. Pondok pesantren tersebut sampai saar ini telah berhasil menyantuni korban narkotika sebanyak 100 orang.030 pondok pesantren.200 guru dan pengadaan buku sebanyak 1. dalam periode yang sarna juga telah disediakan buku pelajaran dan pedoman bagi guru sebanyak 706. sehingga dapat kembali menjadi remaja yang baik.200 tenaga pembina. terdiri dari penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan kepada 397 pondok pesantren.250 buah. pemberian alar-alar keterampilan dan praktek kepada 66 pondok pesantren. bergairah serta mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri. penataran terhadap 6.2 juta buah. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi gedung sebanyak 154 buah. penyediaan alar-alar keterampilan dan praktek untuk 891 pondok pesantren dan pembangunantrehabilitasi gedung dan bengkel kerja terhadap 813 pondok pesantren. pendidikan guru agarna Departemen Keuangan RI 266 . dan dinilai telah berhasil adalah kegiatan terapi non medis yang agamis terhadap korban narkotika. Sementara itu terhadap pondok pesantren telah dilaksanakan pembinaan dan pengembangan melalui penataran tenaga pembina. telah dilakukan pembinaan dan pengembangan terhadap 3:734 buah pondok pesantren yang meliputi penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan bagi 2. Kegiatan pondok pesantren yang banyak mendapat perhatian. dan diberikan penataran kepada 160 orang guru agama. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan penataran terhadap 1.000 set.

000 buah serta pembangunan/perluasan 35 buah gedung PGAN Islam. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. pengadaan buku pelajaran dan pedoman bagi guru sebanyak 650. Departemen Keuangan RI 267 .688 mahasiswa. Dalam Pelita III telah dilaksanakan pembangunan/perluasan gedung Institut Agama Islam Negeri (lAIN) seluas 56.000 buah. yang terdiri dari ruang kuliah.800 buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (PGA).750 buah. dan disediakan buku-buku ilmiah dan perpustakaan sebanyak 6. kepada MAN telah dilakukan pengadaan buku sebanyak 462. Untuk itu dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan penataran terhadap 7.440 meterpersegi. antara lain pembangunan prasarana dan penyediaan sarana pendidikan. telah dilaksanakan penataran kepada 355 guru serta penyediaan buku pelajaran dan buku pedoman guru sebanyak 270. Katolik dan Hindu. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Adapun pembinaan terhadap PGAN terutama ditujukan agar lulusan PGAN benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai tenaga guru yang baik dan mampu. dan pembangunan/rehabilitasi gedung MAN sebanyak 67 buah. Di samping itu juga dilakukan penyediaan buku-buku ilmiah dan perpustakaan sebanyak 221. dan pengadaan buku pelajaran sebanyak 239. serta peningkatan mutu pendidikan agarna pada sekolah menengah tingkat atas (SMTA).500 guru dan pembangunan/rehabilitasi gedung MAN sebanyak 45 buah. yaitu dengan memberikan bantuan rehabilitasi terhadap 50 buah gedung MAS. ruang kantor dan ruang perpustakaan. Protestan. masing-masing sebanyak 160 orang dan 358. penataran 7.087 meter persegi. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengadaan buku sebanyak 358.150 buah. telah dilakukan pembangunan/perluasan gedung IAIN seluas 10. peningkatan mutu tenaga pengajar serta kegiatan penelitian. telah dilaksanakan berbagai kegiatan.500 guru agama. Untuk meningkatkan mutu para pengajar dan tenaga administrasi. Dalam periode yang sarna juga telah dilaksanakan pembinaan pendidikan agama pada SMTA yang meliputi penataran guru agama dan pengadaan buku.000 buah. maka telah diberikan kesempatan kepada 117 dosen untuk mengikuti program posca sarjana dan program doktor.850 buah. Dalam tahun 1983/1984.000 buah. Dalam periode yang sama telah ditingkatkan pula mutu madrasah aliyah swasta (MAS). Guna meningkatkan mutu perguruan tinggi agama. serta penelitian di berbagai daerah mengenai masalah-masalab keagarnaan dan kemasyarakatan sebanyak 29 kali. Hasil lain yang telah dicapai dalam periode yang sarna antara lain meliputi pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN) yang diikuti oleh 2.

367. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984. Buku pelajaran yang disediakan untuk tingkat pendidikan dasar adalah sebanyak 260. untuk sekolah menengah tingkat pertania (SMTP) kejuruan dan teknologi sebanyak 96. peningkatan keterampilan serta penyempumaan kurikulum.240 eksemplar serta untuk pendidikan tinggi sebanyak 333.1. pengadaan laboratorium dan peralatan belajar.3. serta penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional.706 orang untuk pendidikan menengah kejuruan dan teknologi.250 orang untuk pendidikan menengah umum. serta untuk sekolah pendidikan guru/sekolah guru olah raga (SPG/SGO) sebanyak 7. 20. untuk sekolah menengah umum sebanyak 82. Sejalan dengan pengadaan buku pelajaran dan buku bacaan.3. baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah. serta pengelolaan pendidikan yang lebih berdaya guna dan berhasil guna. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dan sedang dilaksanakan peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan.000 eksemplar. baik secara kualitatif maupun kuantitatif. untuk sekolah menengah tingkat atas (SMTA) kejuruan dan teknologi sebanyak 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 8. buku bacaan dan buku perpustakaan.500 eksemplar buku Sistem Pengajaran Modul untuk SMP terbuka.945 eksemplar. Di samping'itu juga dilakukan persiapan terhadap generasi muda dalam tugasnya sebagai penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional.195. Dalam tahun pertama Repelita IV kebijaksanaan di bidang pendidikan terutama ditekankan dan diarahkan pada peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan. telah disediakan pula buku perpustakaan untuk tingkat pendidikan dasar sebanyak 119.700. dan 367 Departemen Keuangan RI 268 . yang disertai dengan penerbitan 3.963 eksemplar. yang perumusannya dilakukan melalui serangkaian kebijaksanaan pokok pembangunan di bidang pendidikan. untuk SPG/SGO sebanyak 1. maka telah dibangun pula sebanyak 1.816 ruang laboratorium untuk tingkat SMP.892. Pendidikan dan kebudayaan 8.235 eksemplar.291. telah dan sedang ditatar sebanyak 2. Di samping itu untuk tingkat SMA juga dibangun 317 ruang perpustakaan. untuk SMP dan SMA sebanyak 14.700 eksemplar.000 eksemplar. Penataran guru/pembina dilaksanakan pada berbagai tingkat pendidikan. yang meliputi berbagai bidang studi dan pengelolaan.039 orang untuk pendidikan dasar.292 eksemplar. Pembinaan pendidikan formal dan nonformal Salah satu tujuan dari kemerdekaan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.917 eksemplar. 74. pengadaan buku pelajaran.699.350. Di samping buku pelajaran. peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar dalam rangka pelaksanaan wajib belajar.671. yang antara lain dilakukan melalui penataran guru/ pembina.048. serta 20.509 orang untuk pendidikan guru termasuk penataran dosen.782 ruang perpustakaan dan 1.

000 88.565 .400 106 11.Pendidikan tinggi (dosen) 945 1.480 6.611 eksemplar buku-buku perpustakaan dan 1.800 31.852 2. Dalam peningkatan mutu pendidikan di luar sekolah ini termasuk juga usaha mengintegrasikan kelompok belajar (Kejar) paket A dengan pendidik.717 20.500 14.Pendidikan dasar 6.544 43. angkatan guru baru.936 tenaga teknis termasuk tutor.157 479.000 58.Pendidikan tinggi 19 35 1) Sejak tahun 1979{1980 termasuk buku PMP dan kurikulum 2) Termasuk dalam buku perpustakaan 3) Angka diperbaiki 4) Angka sementara 1983/84 1984/854) 304. pelatih.538 46 16. monitor.018 17.258 5.095 424 226 1.810 perangkat alat laboratorium. monitor.610.823 60.2.310 buah perumahan dosen.376 18. penggerak olah raga dan pembina/pemuka pemuda.840 45.468 68.133 105 5.Pendidikan dasar 20.879 4.000 22.960 105. Selain itu juga telah dibangun sebanyak 1.000 1.Pendidikan menengah 424 3.Pendidikan menengah 5.032 23. Dalam rangka peningkatan mutu di bidang pendidikan luar sekolah termasuk kepemudaan dan keolahragaan.600 6.467 meter persegi ruang perpustakaan dan 237. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah ditatar sebanyak 383. serta peng. Sehubungan dengan hal itu.048 29. sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dan sedang dibangun melalui program bantuan Inpres sebanyak 76.795 2.000 30.Pendidikan dasar 25.675 7.kegiatan tersebut dalam waktu yang sama telah dibangun dan direhabilitasi.505 1.500 12.441 19.084 1.744 .000 1.513 724 6.000 2. penambahan ruang kelas Departemen Keuangan RI 269 .960 .292 10. Penataran guru/pembinaan (orang) . Perkembangan peningkatan pendidikan dapat diikuti pada Tabel VIII.407 21.812 3.400 .488 18. antara lain dilaksanakan melalui pembangunan gedung sekolah baru. Sedangkan untuk perguruan tinggi telah dibangun )7.316 7.531 7. an mala pencaharian serta pendidikan politik dan latihan kepemimpinan/keterampilan bagi generasi muda.000 6 61 51 28 36 40 . masing-masing sebanyak 56 buah dan 37 buah sanggar kegiatan belajar untuk tempat latihan tenaga teknis dan pengembangan sarana belajar.940 unit gedung SD.521 385.580 110.000 15.Pendidikan menengah 413 979 422 1.238 2.314 8.284 2. Kegiatan 1974/75 1975/76 1977/78 1. telah diselenggarakan pendidikan dan latihan bagi tenaga pendidik termasuk tutor. Pengadaan alat peraga/praktek/ ketarampilanflaboratorium (unit) .393 6. Pengadaan buku perpustakaan ( ribu eksemplar ) 8.793 judul.884 .000 80.262 417 Usaha peningkatan kesempatan belajar yang dikaitkan dengan pemerataan memperoleh pendidikan.Pendidikan tinggi 11 30 4.524 547.855 56. 1973/1974 -1984/1985 1973/74 1976/77 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 .163 meterpersegi ruang laboratorium yang masing-masing dilengkapi dengan 305.150 116.900 7.200 11.053 105.161 364.088 1.600 .200 372. Tab e I VIII. Pengadaan buku pelajaran ( ribu eksemplar ) 1) . penambahan ruang belajar pada sekolah yang ada.Pendidikan menengah 1. dan diberikan bantuan kepada perguruan tinggi swasta .140 10. rehabilitasi gedung sekolah.177 25. untuk mewujudkan pelaksanaan wajib belajar pada tingkat pendidikan dasar.Pendidikan dasar 8.176 6.600 4. pembina dan instruktur serta diadakan buku paket A sebanyak 71. dilakukan penelitian sebanyak 7.023 2. Guna menunjang kegiatan.Pendidikan tinggi 2) 3.813 18.300 - 32.360 275.307 4. 2 PEMBINAAN MUTU PENDIDIKAN DI BERBAGAI TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL.390 eksemplar.840 4.811 41.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ruang laboratorium serta 25 ruang laboratorium bahasa.467 299.946 17.015 489 4.0043) - 16.200 13.994 231.000 .606 2.271 65(SMP) 104(SMP) 3 39 76 50 273 270 .420 24.072 5.040 1.512 25.600 369.

serta rehabilitasi sebanyak 134. dilakukan melalui lembaga pendidikan khusus.732. Seperti diketahui. dan tahun pertama Pelita IV telah ditingkatkan dengan membangun TKK pembina. dan dilakukan rehabilitasi terhadap 1. Bersamaan dengan itu telah dikembangkan pula sebanyak 165 buah SMTP kejuruan yang tidak diintegrasikan ke dalam SMP. Selanjutnya guna menunjang Departemen Keuangan RI 270 .500 sekolah termasuk SD swasta dan madrasah ibtidaiyah. serta dila:kukan rehabilitasi terhadap sejumlah SLB yang telah ada.8 persen sedangkan pada awal Repelita IV sarnpai dengan bulan Agustus 1984. Hal ini disebabkan karena terjadinya kenaikan jumlah lulusan SD yang melanjutkan ke SMP yakni dari sebanyak 1. garaan untuk SD negeri. Dalam tahun 1979/ 1980 baru mencapai 83. tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten/kotamadya. yaitu sekolah luar biasa (SLB). Perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTP tersebut telah memperlihatkan hasil yang baik. Sedangkan pengembangan pembinaan taman kanak-kanak (TKK) dalam Pelita III. Sebagai kelanjutannya. maka sampai dengan bulan Agustus 1984 telah meningkat menjadi sebanyak 5.580 guru. telah meningkat menjadi 97. alat peraga dan penataran guru/pembina. juga dibangun sejumlah gedung SLB baru dengan asramanya.983. pada Hari Pendidikan Nasional (Harpenas) tanggal2 Mei 1984. Dalam waktu yang sarna telah dilaksanakan pengangkatan 439.054 ruang kelas baru. Pemerintah juga telah menghapuskan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) untuk SD dan sebagai gantinya diberikan subsidi/bantuan pembiayaan penyeleng. selain disediakan buku. dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diusahakan pula peningkatan daya tampungnya.800 buah.598 gedung sekolah yang telah ada.000 orang sampai dengan bulan Agustus 1984. termasuk guru agarna dan tenaga teknis.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 baru sebanyak 129. Perkembangan pendidikan dasar telah menunjukkan hasil yang nyata seperti tercermin pada kenaikan angka partisiposi pendidikan.2 persen.000 orang dalam tahun 1979/1980 menjadi 4.8 persen per tahun. mental dan sosial. Sejak tahun 1979/1980 sampai dengim bulan Agustus 1984. Adapun pendidikan bagi anak-anak yang mengalami cacat fisik. 18.342. Sejalan dengan perkembangan tingkat pendidikan dasar serta perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTP. baik yang baru maupun lanjutan. maka selmna Pelita III.000 orang. sebagai TKK percontohan.1 persen atau rata-rata 15. Untuk itu telah dibangun 2.156.200 orang. Hal ini tercermin pada kenaikan jumlah murid yang selama 5 tahun terakhir telah meningkat sebesar 79. Apabila pada awal Pelita III jumlah murid baru sebanyak 2. baik di tingkat nasional. Presiden telah mencanangkan gerakan wajib belajar untuk seluruh Indonesia.919 unit sekolah baru.

SGO dan SGPLB. dan dilakukan rehabilitasi terhadap 460 sekolah yang telah ada. Hal ini berarti peningkatan sebesar 89. Dalam tahun 1979/1980 jumlah mahasiswa baru adalah sebanyak 424. sekolah menengah kesejahteraan keluarga (SMKK). Kegiatan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTA telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.547 meterpersegi ruang kuliah dan kantor. serta pembangunan ruang kelas dan rehabilitasi sejumlah SPG.6 persen selama periode tersebut atau rata-rata sebesar 14. Usaha perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan tinggi. serta merehabilitasi gedung seluas 233. telah dilakukan pembangunan gedung baru. 22. Untuk memperlrias kesempatan belajar kepada siswa dan mahasiswa yang berbakat dan berprestasi.000 orang. Untuk itu telah dibangun sebanyak 517 unit gedung SMA baru. Hal ini tercermin dari meningkatnya daya tampung SMTA yang dalam tahun 1979/1980 baru berjumlah 1. juga telah diberikan sejumlah bea siswa.373 siswa SMTA. Pembinaan perguruan tinggi swasta juga terus ditingkatkan.3 persen dalam periode tersebut. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencapai 2. sekolah menengah seni rupa (SMSR).776 orang dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Guna menghadapi meningkatnya jumlah mahasiswa yang ingin melanjutkan pelajaran pada perguruan tinggi. dan sekolah menengah musik (SMM). 39.700 orang.400 siswa SD.085 meterpesegi. atau rata-rata sebesar 22. telah dapat meningkatkan daya tampung bagi lulusan SLTA yang akan me1anjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.3 persen per tahun.200 orang. sekolah menengah industri kerajinan (SMIK). sekolah menengah karawitan indonesia (SMKI). 37. sekolah menengah pekerjaan sosial (SMPS). SMEA. 130 putra Irian Jaya dan 320 putra Timor Timur. maka dalarn waktu yang sarna juga telah dilakukan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTA. 160 putra Nusa Tenggara Timur. Se1ama Pe1ita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diberikan bea siswa kepada 63. Bersamaan dengan itu pada SMTA kejuruan telah direhabilitasi/dikembangkan pula sebanyak 145 buah STM 3 tahun. Sedangkan untuk pendidikan guru. yang meningkat menjadi 803.424 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.927 siswa SLTP. 5.085 ruang kelas baru.574. 289 buah STM 3 tahun.733. Perkembangan kesempatan belajar diberbagai tingkat pendidikan formal dapat dilihat Departemen Keuangan RI 271 . 44 buah SMT pertanian/khusus. serta dilakukan pembangunan/pembinaan terhadap 8 STM Pembangunan. maka selama Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dibangun 765. sekolah menengah tehnologi kerumahtanggaan (SMTK).7 persen per tahun. Hal ini berarti suatu peningkatan sebesar 70. antara lain me1alui penataan dan pemberian bantuan prasarana serta sarana.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perkembangan kegiatan belajar pada tingkat SMTP.

000 orang.000 - 15.347 218.Pendidikan menengah (ruang) 1) . Meliputi SD Negeri.000 608 29. Rehabilitasi/pengembangan (sekolah) . patriotisme dan idealisme.003 103.261 4.000 1.547 warga pe1ajar selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984.300 30.000 5. o Kegiatan 1.000 162 6 15.020 121. Kegiatankegiatan tersebut diarahkan pada pengembangan kepemimpinan dan keterampilan.000 - 10. yang telah diikuti oleh 7.900 54.700 6. 3 PENYEDIAAN SARAN A GEDUNG DAN GURU BAGI PENDIDIKAN FORMAL.320 21.500 14.750 20.500 784 14. selain dilakukan melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi juga dilaksanakan melalui berbagai kegiatan yang bersifat informal. Pembangunan gedung (unit) .Pendidikan tinggi (m 2) 4.000 286 24.Pendidikan dasar (a 3 ruang kelas) .000 125 1.Pendidikan menengah .184 91.140 878 11 2.Pendidikan menengah .000 179 9.Pendidikan dasar 2) .205 37.075 36(SPG) - 1.000 16. Untuk meningkatkan sistem pendidikan agar lebih sesuai dengan kebutuhan pembangunan.000 15.000 1.390 10.000 15.000 1. Pembinaan dan pengembangan generasi muda sebagai kader-kader penerus perjuangan dan pembangunan nasional.3.000 92 24.Pendidikan dasar (ruang) .500 175.200 16.100 12.000 4. 725 52.435 50.200 610 11 19.683 25. dan perluasan sekolah kejuruan.000 35.154 48.151 18. Terdiri dari SMP & SMA.600 33.Pendidikan menengah .488 36. Pembangunan ruang kelas baru . Pengangkatan/penempatan guru (orang) .207 15.000 246 10 20.404.830 19. Guna memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga kejuruan/teknik yang terdidik dan terampil.610 18.000 1. Departemen Keuangan RI 272 .350 10.000 - 10.000 1.000 60.000 1.000 923 67. Angka sementara. dan menampung sebanyak 1.000 - 6. Usaha ini dilakukan melalui Kejar pendidikan dasar (Paket A).000 390 11 22.946 25. kesegaran jasmani dan daya kreasi. tennasuk ruang laboratorium. Sedangkan dalam rangka penyempurnaan sistem pendidikan nasional.629 50.000 155 10.420 123. telah dilakukan berbagai kegiatan seperti penyempurnaan kurikulum tingkat pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah alas. dan sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mempunyai 7.500 15.000 - 14.600 1.000 2. ruang ketrampilan dan ruang perpustakaan 2.000 7.460 25.202 89.150 11 13.480 32.380 75. kesadaran berbangsa dan bernegara.400 orang mahasiswa.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada Tabel VIII.080 103. MI Swasta 3.Pendidikan tinggi (m 2) 3.225 15.Pendidikan dasar 3) .767 28.219 7.100 5.Pendidikan tinggi (dosen) T abel VIII.000 135 15.790 21.144 60.300 28.105 50.338. penyempurnaan sistem pendidikan nasional.051 1. jumlahnya te1ah mencapai 8. 1973/1974 -1984/1985 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/85 4) 6.614 6.Pendidikan tinggi 2. Adapun lembaga pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat (PLSM). Se1anjutnya dalam rangka meningkatkan pendidikan masyarakat te1ah pula ditingkatkan kegiatan pendidikan di luar sekolah. dewasa ini te1ah dikembangkan sekolah menengah kejuruan tingkat atas (SMTA-AKT) yang meliputi berbagai bidang dan 7 politeknik. Penyempurnaan kurikulum dilaksanakan melalui perbaikan kurikulum lama (1975) menjadi kurikulum baru (1984) yang merupakan bagian penting dari perkembangan sistem pendidikan nasional guna memenuhi tuntutan pembangunan nasional.000 1.000 703 8.334 15.202 50.845 23. SD Swasta.000 buah.192 10. telah disiapkan RUU sistem pendidikan nasional yang kini telah mencapai tahap penyelesaian terakhir. Termasuk guru agama daD tenaga teknis lainnya 4.000 103 27.085 23.194 15.000 8.672 36.

penataran tingkat menengah nasional dan regional terhadap 600 orang. perkemahan kerja pemuda yang diikuti oleh 3. 325 orang dan 2. Selain itu juga telah dilakukan latihan pemuda tingkat pemuka yang diikuti oleh 6.955 orang. Adapun pembinaan dan Departemen Keuangan RI 273 . Selanjutnya dalam rangka peningkatan/pengembangan wanita telah dilakukan latihan pengembangan belajar wanita yang diikuti 24.480 orang dan latihan pendamping pembina pemuda yang diikuti oleh 210 orang. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan.057 orang. penyelenggaraan festival pemuda yang mengikutsertakan 44. penataran pemuda tingkat perintis. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan penataran P4.360 orang. 150 orang. pendidikan dan latihan kegrafikaan yang diikuti 6. serta latihan kepemimpinan manajemen yang mengikutsertakan 1. yang masing-masing diikuti 3.855 orang. sekolah pimpinan administrasi tingkat madya (Sepadya) dan sekolah pimpinan administrasi tingkat lanjutan (Sepala). pemantapan organisasi.400 orang satuan tugas sukarela pemuda. pembinaan dan peningkatan perencanaan serta penyempurnaan pengawasan.970 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Poskibraka) dan Caraka Muda tingkat propinsi. latihan instruktur terhadap 3. lomba kreativitas pemuda. Sementara itu dalam rangka pembinaan serta pengembangan keterampilan dan daya kreasi generasi muda antara lain dilakukan pertukaran pemuda dengan luar negeri dan antarpropinsi.825 orang. Untuk itu telah dilakukan pengembangan desa pemuda di beberapa daerah/propinsi. pembinaan unit kerja produktif terhadap 1.280 orang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kepribadian dan budi pekerti luhur.576 orang dan 4. Penataran tenaga non edukatif telah dilakukan melalui sekolah star dan pimpinan administrasi (Sespa). fungsi. pembangunan gedung Cadika seluas 16. Sehubungan dengan itu. yang masing-masing diikuti 300 orang. dan penataran tenaga teknis penilik generasi muda. serta lomba desa binaan keluarga sehat dan sejahtera di 26 propinsi.795 orang.330 orang.519 orang serta penataran tenaga teknis kebudayaan yang diikuti 2.204 orang serta pembinaan terhadap 5.192 orang. yang antara lain meliputi penataran tenaga nonedukatif. serta partisipasi generasi muda dalam pembangunan. 260 orang. penataran pengelola gelanggang. serta pengadaan prasarana dan sarana.270 orang.185 eksemplar. Untuk peningkatan pengelolaan pendidikan agar lebih berdaya guna dan berhasil guna. pembinaan terhadap 8. penataran tingkat pelaksana terhadap 1. Bantuan kepada pramuka dilakukan dengan menyelenggarakan latihan terhadap 30. 22. yang masing-masing diikuti oleh 2.556 orang. mutu.799 orang. Selain itu bantuan kepada KNPI juga telah dimanfaatkan guna meningkatkan aktivitas. dan 805 orang.718 meterpersegi serta pengadaan buku pramuka sebanyak 310.

selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pembangunan/rehabilitasi gedung kantor pusat dan kantor wilayah. rumah dinas sebanyak 37 buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan perencanaan dilaksanakan melalui berbagai kegiatan. serta memperkokoh jiwa persatuan. mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional. penyempurnaan sistem pelaporan. penyelenggaraan pemasalan olahraga yang mengikutsertakan 1. gedung kotamadya/kabupaten sebanyak 117 unit. pelatih. antara lain penyempurnaan teknik dan metodologi perencanaan. serta pengadaan peralatan kantor kecamatan dan sarana mobilitas. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan berbagai program yang antara lain berupa program kepurbakalaan.360 orang. antara lain bidang ekonomi.583 paket.658 orang. serta mempercepat alih teknologi yang semakin tinggi. kesejarahan. serta pengadaan buku-buku olah raga sebanyak 143. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi dan menjawab tantangan zaman dalam berbagai bidang. Berkaitan dengan itu juga telah dilaksanakan penataran terhadap 8. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 antara lain telah diwujudkan pembangunan gedung olahraga dan kolam renang. 8. nilai-nilai dan norma budaya yang dinamis. masing-masing seluas 9. pemantapan sistem dan mekanisme perencanaan terpadu. Adapun peningkatan pengawasan dilakukan melalui penyempumaan sistem dan prosedur pengawasan terpadu. selaras dgn memberi arah pacta pembangunan harus dibina dan dikembangkan guna memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila.982 meterpersegi. Untuk itu telah dilakukan survai dan perencanaan koleksi di 92 lokasi yang tersebar di 26 Departemen Keuangan RI 274 .243 orang guru. serta peningkatan mutu aparat perencanaan baik di pusat maupun di daerah melalui penataran perencanaan P2 dan P1 tertulis yang masing-masing diikuti oleh 60 orang dan 1. Untuk itu.657 meter persegi.065. mahasiswa.2 Pembinaan kebudayaan Usaha pembinaan dan pengembangan budaya bangsa senantiasa ditujukan untuk menunjang pembangunan nasional.175 meter persegi dan 6.054 meterpersegi dan 30. Pembinaan di bidang olah raga ditujukan untuk mengolahragakan masyarakat. Guna menunjang berbagai kegiatan tersebut. teknologi dan ilmu pengetahuan. masyarakat dan penyandang cacat. dan permuseuman. masing-masing seluas 25. serta peningkatan mutu aparat pengawasan. gedung kantor kecamatan sebanyak 8 unit. memperkuat kepribadian bangsa. pengadaan peralatan olah raga sebanyak 52.000 eksemplar. serta pembinaan olahraga berbakat terhadap 18.573 orang pelajar. dan memasyarakatkan olah raga.3. dan pembina.

penyelesaian rencana induk Wisma Seni Nasional. Kegiatan inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan nasional ditujukan untuk membina Wawasan Nusantara. pengembangan organisasi kesenian dan penyebarluasan kesenian. sayembara mengarang. serta pembinaan bahasa Indonesia melalui TVRI dan RRI. perbukuan. dan editing dari 800 naskah. Di samping itu juga dilakukan peningkatan penghayatan seni oleh masyarakat yang mencakup 4 bidang seni.museum sebanyak 549 unit. serta pengembangan perpustakaan nasional. melanjutkan pemeliharaan Candi Borobudur serta rehabilitasi Monumen Nasional (Monas). serta pengadaan buku sebanyak 1. dan daerah transmigrasi. serta pengadaan peralatan kantor museum sebanyak 872 unit. Pengembangan dalam bidang seni budaya ditujukan untuk meningkatkan kreativitas seniman yang sehat. Sejalan dengan itu telah dilakukan pula penulisan dan penerbitan naskah buku bacaan populer sebanyak 720. pemeliharaan dan penyelamatan 1. Kegiatan tersebut antara lain berupa penyusunan/penerbitan perkamusan sebanyak 29 naskah. terjemahan 16 naskah. pengadaan koleksi sebanyak 6 jenis di 26 propinsi. pengadaan peralatan kantor. dan lebih memperkaya kesenian Indonesia yang beraneka ragam. antara lain meliputi pembinaan sosio drama. pengadaan peralatan teknis. penerbitan pedoman penyuluhan perpustakaan sebanyak 6 naskah.351.636 eksemplar untuk perpustakaan wilayah. perpustakaan desa dan perpustakaan perintis sekolah. serta pemberian bantuan peralatan kesenian pada kabupaten/kodya. Dalam waktu yang sama juga telah dilakukan pemugaran peninggalan sejarah dan purbakala di 379 lokasi. pengembangan media kebahasaan sebanyak 30 naskah. serta studi kelayakan di daerah tingkat II di 127 lokasi. serta sayembara mengarang bacaan populer sebanyak 56 judul. Sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diadakan penilaian. studi kelayakan di 133 lokasi. maka sejak Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengembangan bahasa serta sastra Indonesia dan daerah. penyusunan naskah kebudayaan daerah Departemen Keuangan RI 275 . Untuk itu telah dilakukan berbagai kegiatan. penyuluhan teknis kesenian. Selain itu dalam bidang perpustakaan nasional juga telah dilaksanakan rekatalogisasi koleksi pustaka Indonesia dan asing. dan perpustakaan.564 situs. peningkatan apresiasi sastralseni. kecamatan. pemberian bantuan kepada 60 museum daerah. kesusastraan. penerbitan majalah. pameran dalam rangka pemantapan fungsi eksistensi museum dengan segenap aspeknya sebanyak 183 kali di 26 propinsi. perpustakaan umum. Demikian pula dilaksanakan penambahan tenaga. yang tersebar di seluruh nusantara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 propinsi. Kemudian dilakukan juga penanggulangan terhadap pengaruh kebudayaan yang negatif. perpustakaan keliling. Untuk pengembangan kebahasaan.500 eksemplar. penyempumaan.

Kegiatan ini ditunjang dengan pengadaan obat yang cukup dan terjangkau oleh masyarakat. Selain itu juga telah diselenggarakan penataran tenaga teknis dokumentasi dan informasi kebudayaan yang diikuti 130 orang. Kesehatan dan keluarga berencana Sebagai kelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya. serta pembinaan bimbingan teknis operasional penelitian yang mengikutsertakan 457 orang. Pelayanan kesehatan Kegiatan yang dilakukan di bidang pelayanan kesehatan ditujukan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara lebih merata dan lebih dekat kepada masyarakat. penulisan. serta peningkatan pendidikan. serta peningkatan pelayanan laboratorium kesehatan. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Selanjutnya juga diarahkan pada pengurangan kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh penyakit yang banyak diderita rakyat banyak. penelitian purbakala sebanyak 5 aspek serta penerbitan majalah arkeologi. 8.4. dan penyusunan naskah dad 117 penelitian. penyakit yang hanya dapat dicegah dengan imunisasi.4. terutama melalui pencegahan dan penyembuhan. maka dilakukan penelitian. Sejalan dengan usaha inventarisasi dan dokumentasi sejarah nasional. Peningkatan dan pemerataan pelayanan kesehatan tersebut antara lain dilakukan melalui puskesmas. Usaha lain yang dilakukan adalah meliputi penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah sebanyak 665 naskah. pembangunan di bidang kesehatan dalarn tahun pertama Repelita IV diarahkan pada peningkatan kemarnpuan masyarakat untuk hidup sehat dan mengatasi sendiri masalah kesehatan yang sederhana. terutama yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam 5 aspek dengan ps:nerbitan sebanyak 372 judul.1. Selain itu juga ditujukan pada peningkatan kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar guna perbaikan mutu lingkungan. usaha kesehatan sekolah (UKS). pembangunan di bidang kesehatan dilakukan secara terpadu dengan bidang-bidang lainnya ke dalam suatu sistem kesehatan nasional. tokoh nasional sebanyak 120 judul. Selain itu telah dilakukan peningkatan pelayanan rumah Departemen Keuangan RI 276 . 8. sejarah pahlawan sebanyak 26 judul serta biografi nasional sebanyak 17 judul. serta penyakit yang disebabkan oleh pengaruh buruk dari bahan yang berbahaya bagi kesehatan. pelayanan kesehatan gigi dan jiwa. terutama penyakit menular. pemerataan kesehatan masyarakat. latihan dan pengelolaan tenaga kesehatan masyarakat. dan penyusunan naskah biografi pahlawan nasional yang meliputi caton pahlawan sebanyak 36 judul.

893 4. Tabel VIII. Sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah puskesmas. telah dilakukan pula perbaikan 5. yang masing-masing dilengkapi 10 tempat tidur. Untuk mendukung tugas puskesmas tersebut.979 1). serta peningkatan pelayanan instalasi kesehatan. Selain pembangunan puskesmas.670 kader/pemuka masyarakat. Puskesmas Pembantu 2) 3.600 dokter puskesmas.928 3.180 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sakit.342 979 4.343 7.453 15. Selanjutnya agar pelayanan kesehatan kepada rakyat dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan merata. telah dilaksanakan penataran tenaga kesehatan terhadap 2.342 1.979 2. Dalam rangka pencegahan Departemen Keuangan RI 277 .053 4.180 2.353 12.412 4.113 7. serta daerah perbatasan atau daerah yang angka kecelakaan lalu lintasnya tinggi. Perkembangan sarana pelayanan kesehatan masyarakat dapat diikuti pada Tabel VIII.412 4.353 604 4.076 tenaga laboratorium dan 3. Sedangkan bagi daerah-daerah terpencil yang jauh dari pelayanan rumah sakit.6364) 1.553 7. telah disediakan pula 19. Angka kumuIatif 2). Selanjutnya di bidang kesehatan olah raga telah dikembangkan pusat kesehatan olah raga di 8 propinsi.342 729 4. Puskesmas Ke1iling 4.136 buah dan 2.4.828 staf puskesmas.443 4. puskesmas dan rumah sakit di semua tingkat.180 2.787 tenaga kesehatan melalui program Inpres. B K I A 3) 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/85 2. pembangunan kesehatan masyarakat desa. penarnbahan persediaan bahan-bahan dan obat-obatan.801 3.826 puskesmas dan penggantian peralatan medis sebanyak 2. Merupakan peningkatan dari BKlA dan Ba1ai Pengobatan 3). 5. sehingga sarnpai dengan bulan Agustus 1984 jumlahnya telah mencapai 5.479 5. telah diadakan latihan cepat bagi pembantu paramedis sebanyak 1.124 6. pengobatan mala telah dikembangkan di 250 puskesmas yang tersebar di 24 propinsi.702 set. Untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tenaga kesehatan di puskesmas. Angka sementara Sampai dengan bulan Agustus 1984. dan diperlengkapi dengan 167 set peralatan kesehatan mata dan obat-obatan mata. seluruh sarana kesehatan diusahakan berada dalarn suatu sistem jaringan hubungan yang serasi dan efektif.416 orang.453 buah.136 2. Angka diperbaiki 5). Di samping itu telah diselenggarakan pula latihan kesehatan mala bagi 221 paramedis dan 1. Puskesmas 2.479 5.744 3. Sejak 1975/1976 berkurangnya jumlah BKIA dan Balai Pengobatan karena diintegrasikan 4). maka jumlah dan fungsi puskesmas terus ditingkatkan. masing-masing sebanyak 15. 3. Untuk itu.124 6.153 5. 4 JUMLAH SARAN A PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT.342 13. yang dilakukan melalui sistem rujukan antara masyarakat. Sedangkan dalam rangka memenuhi kekurangan tenaga di puskesmas.412 4.753 8.953 10. BaJai Pengobatan 3) 5.602 2. 1973/1974 -1984/1985 1) 1984/855) 1.979 buah. serta latihan klinis bagi 155 orang dokter dan 185 orang paramedis yang bekerja di puskesmas. telah dibangun puskesmas perawatan sebanyak 158 unit.691 tenaga record and report (RR) terpadu. dalam waktu yang sarna telah dibangun pula puskesmas pembantu dan puskesmas keliling.

serta pembinaan kesehatan lingkungan. dan pengembangan pelayanan kesehatan gigi integrasi terhadap 258 SD di 139 daerah tingkat II. Sedangkan melalui RSU. di samping juga terhadap golongan khusus yang berada di 52 panti dan tersebar di 24 propinsi.620 guru SD. dengan jumlah kunjungan posien mental sekitar 40. ditingkatkan pula pelayanan kesehatan gigi kepadamasyarakat.000 per tahun.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan pengobatan penyakit pada anak-anak sekolah.500 orang. Bersamaan dengan itu. Adapun pelaksanaannya dilakukan melalui rumah soot jiwa (RS jiwa).dan di 30 rumah sakit yang dilengkapi dengan peralatan rehabilitasi gigi (unit teknik gigi). Selama Pelita III telah dapat dicakup sebanyak 95. standarisasil metodologi terhadap' 10 daerah pelayanan. telah dilakukan juga pelayanan kesehatan jiwa yang dititikberatkan pada upaya pencegahan. melalui usaha kesehatan gigi sekolah (UKGS) telah dilaksanakan pemanduan UKGS selektif bagi 108 SD. Untuk itu fungsi rumah sakit jiwa sebagai pusat rujukan pelayanan kesehatan jiwa semakin ditingkatkan. imunisasi. Selain dilakukan pemeriksaan guna menemukan kelainan-kelainan kesehatan yang ada sedini mungkin. Di samping itu juga dilakukan survai epidemiologi terhadap 11. dan UKGS di puskesmas-puskesmas. gelandangan dan posung. Program perawatan kesehatan masyarakat sampai dengan bulan Agustus tahun 1984. telah ditempatkan sebanyak 1.250 orang tenaga perawat gigi di 402 puskesmas. survai pengumpulan data kadar flour dalam posta gigi.347 guru SLTA. 5. penyembuhan. Selanjutnya dalam upaya kesehatan gigi sekolah telah dilakukan penempatan sebanyak 62 set klinik gigi lapangan (KGL). 9.254 puskesmas dengan membina 82. serta pemantapan standarisasi pelayanan di rumah sakit. serta integrasi kesehatan jiwa ke puskesmas dan rumah sakit umum (RS umum). serta peningkatan pelayanan gigi di 104 RSU kelas D yang dilengkapi dengan 104 unit klinik gigi basis. juga diberikan penyuluhan kesehatan kepada anakanak sekolah. Selama Pelita III telah dilakukan integrasi kesehatan jiwa ke 560 puskesmas. Departemen Keuangan RI 278 .191 guru yang terdiri dati 97. Dalam Pelita III. telah diintegrasikan kesehatan jiwa ke 90 RSU.280 SLP dan 3891 SLA.404 SD.224 guru SLTP dan 2. Di samping itu dalam rangka UKS juga telah dilakukan penataran terhadap105. di 40 RSU kelas C yang dilengkapi dengan peralatan bedah mulut sederhana. dan pengobatan pertama bagi yang memerlukan. telah dilaksanakan di 2. Sedangkan dalam rangka kesehatan gigi masyarakat desa. telah dilakukan usaha kesehatan sekolah (UKS) melalui kunjungan berkala petugas puskesmas ke sekolah-sekolah.426 keluarga. rehabilitasi mental. sejak tahun 1980/1981 sampai dengan akhir Pelita III. Dalam Pelita III. serta penanggulangan penderita mental khususnya psikotik.

Dalam hubungan ini selama Pelita III telah dilaksanakan pembangunan gedung dan penambahan ruang pemeriksaan di 27 balai laboratorium kesehatan. Guna meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Untuk lebih meningkatkan fungsi rujukan tersebut. Dalamwaktu yang sarna telah dilakukan pula rehabilitasi terhadap 192 buah RSU kabupaten/kotamadya. di bidang mikrobiologi. Sedangkan untuk meningkatkan pelayanan laboratorium di puskesmas. pelayanan melalui rumah sakit juga terus ditingkatkan dengan penyempurnaan sistem rujukan. 20 buah RSU di ibukota propinsi. terus ditingkatkan pula pelayanan laboratorium kesehatan. baik antarberbagai tingkat rumah sakit maupun antara puskesmas dengan rumah sakit. patologi. dokter-dokter ahli dari rumah rumah sakit yang tingkatannya lebih tinggi telah dikirim ke tingkatan yang lebih rendah. terutama di daerahdaerah terpencil semakin ditingkatkan. serta penambahan alat-alat laboratorium di 26 balai laboratorium dan 137 laboratorium kabupaten rumah sakit C. Sejalan Departemen Keuangan RI 279 . Selain itu pengiriman penderita dari puskesmas ke rumah sakit kabupaten dan rumah sakit yang lebih tinggi semakin ditingkatkan. Untuk itu baik sarana maupun peralatan laboratorium. Untuk itu selama Pelita III telah ditingkatkan pula baik sarana fisik maupun tenaga kesehatannya melalui pemban_nan 11 RSU baru sebagai pengganti RSU yang telah ada. yakni melalui pemeriksaan laboratorium baik secara kualitatif maupun kuantitatif. kimia dan imunologi. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah ditatar sekitar 3. 5 buah RS khusus vertikal dan sebuah Palang Merah Indonesia (PMI).076 tenaga laboratorium puskesmas.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sementara itu guna menunjang peningkatan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. 13 buah RS vertikal.

Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit menular ditujukan khususnya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular.248 1974/75 7.972 1977/78 9. 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Sementara itu guna memenuhi kebutuhan obat dalam masyarakat.400 37.000 40.4.707 1976/77 8.061 35. Untuk itu selama Pelita III telah ditempatkan di 133 RS sebanyak 263 tenaga dokter. Tabel VIII.361 1980/81 12. Penjenang kesehatan 1973/74 6.5.854 35. di 1. dan 5 RS khusus vertikal.520 35.678 kecamatan. yang memiliki keahlian dasar bedah. yang dikembangkan melalui bantuan Pemerintah meliputi sebanyak 1.805 27. di 410 kecamatan dan 101 Dati II. 1973/1974 -1983/1984 J enis Tenaga 1. kebidanan dan kandungan serta penyakit dalam. yang disebut promotor kesehatan desa (Prokesa). Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah diberikan bantuan obatobatan kepada 40 RS propinsi.2.985 desa.323 24. kesehatan anak.456 31. Per a w a t 1) 3. sedangkan sisanya.926 30. selama Pelita III telah disediakan obat-obatan dan bahan-bahan obat antara lain untuk RSU khusus pusat. melalui latihan dan bimbingan tenaga sukarelawan kesehatan desa.221 7.000 35.720 ) 28. D okter 2.262 1975/76 8. Bid ani) 4. dan 168 Dati II merupakan hasil swadaya masyarakat.066 9. Peningkatan pembangunan sarana pelayanan kesehatan tersebut telah diikuti pula dengan peningkat an jumlah tenaga kesehatan. dan 269 Dati II yang tersebar di seluruh propinsi. Adapun untuk menggerakkan partisipasi masyarakat dalam peningkatan derajat kesehatannya. AMD (ABRI Masuk Desa) serta kegiatan sosial lainnya.711 33.977 28. dibentuk Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD).931 35. Dari jumlah tersebut.693 desa meliputi sebanyak 1.237 1978/79 10.856 ) 10.681 32.577 1979/80 11. dengan pemutusan matarantai penularan penyakit.160 26.279 9. 5 JUMLAH BEBERAPAjENIS TENAGA KESEHATAN. diberikan pula bantuan berupa peralatan medis dan non medis kepada 135 RSU propinsi/kabupaten.679 1) Sejak tahun 1976/1977 perawat dan bidan ditetapkan menjadi tenaga perawat kesehatan. penanggulangan bencana alam. 8.679 1983/84 3) 17.113 35. sebanyak 5.647 44.698 1981/82 1982/83 2) 15.693 35. Pemberantasan penyakit menular Pemberantasan penyakit menular mempunyai peran yang cukup penting dalam menunjang pembangunan. Sampai dengan akhir Pelita III.678 16. Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan daripada upaya-upaya yang telah dilakukan dalam tahun sebelumnya dan didasarkan atas ketentuan Departemen Keuangan RI 280 . PKMD tersebut telah dikembangkan di 7. Perkembangan tenaga kesehatan dapat diikuti pada Tabel VIII.698 desa.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan meningkatnya sarana fisik tersebut.268 kecamatan.736 8.644 8.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

prioritas jenis penyakit yang telah ditetapkan. Sehubungan dengan itu, pemberantasannya diprioritaskan pada penyakit malaria melalui penurunan jumlah penderita, dan penanggulangan wabah yang terjadi di Jawa dan Bali, melindungi penduduk yang telah kebal dan berpindah dari Jawa dan Bali, serta menurunkan jumlah penderita di daerah yang keadaan sosial ekonominya rendah termasuk pemukiman transmigran dan pemukiman baru. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap sekitar 749 ribu sediaan darah penderita, pemberian obat kepada sekitar 798 ribu orang penderita, dan penyemprotan terhadap sekitar 75 ribu buah rumah. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 48,3 juta sediaan darah, pengobatan alas 45 juta orang dan penyemprotan 17 juta buah rumah. Pemberantasan penyakit demam berdarah (arbovirosis) dalam tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984, dilakukan melalui pemberantasan jentik nyamuk pada sekitar 200 ribu rumah dan penanggulangan fokus pada 800 lokasi. Dengan demikian selama Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemberantasan jentik nyamuk terhadap 528.516 buah rumah dan penanggulangan 11.632 fokus. Pemberantasan penyakit kaki gajah (filariasis) dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 dilakukan melalui pemeriksaan terhadap 146.778 sediaan darah malam dan pengobatan terhadap 200.557 orang penderita. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diperiksa sebanyak 737.702 sediaan darah malam, dan diobati sebanyak 1.136.573 orang penderita. Dalam waktu yang sama untuk pemberantasan penyakit rabies dan pes telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 200 sediaan darah tersangka rabies dan pengobatan terhadap 1.700 orang yang digigit oleh hewan tersangka rabies. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984, telah dikumpulkan dan diperiksa sebanyak 8.970 sediaan darah tersangka rabies, dan diobati sebanyak 66.408 orang penderita gigitan hewan tersangka rabies. Adapun dalam rangka pemberantasan penyakit pes, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diobati sebanyak 70 orang tersangka pes, sehingga sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diobati sebanyak 1.424 orang tersangka penderita pes. Pemberantasan penyakit demam keong (scbistosomiasis) dilakukan melalui survai terhadap tikus, keong dan specimen tinja, sella pengobatan selektif terhadap penderita di daerah endemis, yaitu di sekitar danau Lindu (Sulawesi Tengah). Selama Pelita III telah dilaksanakan survai di 15 lokasi dan pengobatan terbatas terhadap 12.799 orang penderita. Di samping itu dilakukan juga pemberantasan terhadap penyakit anthrax, yakni penyakit menularyang bersumberdari binatang. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan buIan Agustus 1984 tdah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 10 sediaan dan
Departemen Keuangan RI

281

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

pengobatan terhadap 30 orang tersangka penderita anthrax. Pemberantasan penyakit tersebut dilakukan di daerah endemis yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat dan Timor Timur, sehingga sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 361 sediaan dan pengobatan terhadap 844 orang penderita tersangka anthrax. Selain pemberantasan terhadap penyakit menular yang bersumber dari binatang, telah dilakukan pula pemberantasan penyakit yang menular secara langsung. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, pemberantasan terhadap TBC paru dilakukan melalui pemeriksaan dahak dari 19.000 orang penduduk dan pengobatan kepada 2.000 orang penderita, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah. diadakan pemeriksaan dahak terhadap 1.255.846 orang tersangka TBC, dan diobati sebanyak 141. 300 orang penderita, baik dengan streptomycin maupun rifampisin. Jumlah penderita yang diobati tersebut belum termasuk penderita yang diobati oleh BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru) dan dirumah-rumah sakit. Untuk pemberantasan penyakit frambosia juga te1ah dilakukan pemeriksaan terhadap sekitar 231.000 orangpendudukdan pengobatan terhadap 4.500 orang penderita, sehingga sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diperiksa sebanyak 37.268.231 orang penduduk dan diobati sebanyak 534.903 orang..penderita. Untuk pemberantasan penyakit ke1amin, dalam tahun pertama Repe1ita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan darah terhadap sekitar 20.500 orang, pemeriksaan gonorhoe terhadap 800 orang, dan pengobatan terhadap 17.500 orang penderita. Secara keseluruhan, sejak Pe1ita III sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan pemeriksaan darah terhadap 916.940 orang, pemeriksaan gonorhoe terhadap 271.079 orang, dan pengobatan terhadap 287.893 orang penderita. Se1anjutnya untuk pemberantasan penyakit kusta yang mempunyai angka kesakitan tinggi, antara lain di daerah Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya, dalam tahun 1984 te1ah diperiksa sekitar 25 ribu anak sekolah, dan 24.900 orang kontak (orang yang mempunyai hubungan dengan penderita). Dari hasil pemeriksaan tersebut, te1ah diobati secara teratur sebanyak 15.200 orang penderita, sehingga dengan demikian secara kese1uruhan sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 te1ah diperiksa sebanyak 20.608.702 anak sekolah dan 2.134.183 orang kontak, serta pengobatan terhadap 467.510 orang penderita. Dalam tahun yang sarna juga te1ah dilakukan pemberantasan terhadap penyakit cacing tambang dan parasit lainnya, melalui pemeriksaan sediaan darah dan sediaan tinja dari 105.153 orang, serta pengobatan terhadap sekitar 5.200 orang penduduk. Dengan demikian sejak tahun 1979/1980

Departemen Keuangan RI

282

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dilakukan pemeriksaan sediaan darah dan tinja terhadap 105.153 orang, dan pengobatan terhadap 646.722 orang penduduk, Berkaitan dengan pemberantasan penyakit kholera, te1ah dikembangkan 482 puskesmas menjadi pusat rehidrasi, serta te1ah ditemukan dan diobati sebanyak 246.000 orang penderita diare dan 4.100 orang penderita tersangka kholera. Sehubungan dengan itu, sejak awal Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 te1ah dikembangkan sebanyak 811 puskesmas menjadi pusat rehidrasi, serta telah diobati penderita diare dan kholera masing-masing sebanyak 4.006.583 orang dan 1.205.192 orang. Dalam program pemberantasan penyakit menular te1ah dikembangkan pula berbagai konsep pengembangan kesehatan, antara lain kegiatan imunisasi dan epidemiologi. Berkaitan dengan kegiatan imunisasi, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan vaksinasi BCG pertama kepada 299.000 anak, vaksinasi TT (tetanus toxoid) kepada 282.000 ibu hamil dan anak, vaksinasi DPT (deptherina pertusis tetanus) kepada 282.000 anak, vaksinasi DT (depthelina tetanus) kepada 233.000 anak, vaksinasi polio kepada 97.000 anak, serta vaksinasi pencegahan penyakit campak (morbili) kepada 57.000 anak. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diberikan vaksinasi BCG pertama kepada 5.298.918 anak, vaksinasi IT kepada 282.000 ibu hamil dan anak, vaksinasi DPT kepada 6.32L529 anak, vaksinasi DT kepada 2.064.482, anak, vaksinasi polio kepada 1.103.652 anak serta vaksinasi pencegahan penyakit campak kepada sebanyak 470.612 anak. Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyakit menular termasuk penyebaran penyakit dari satu tempat ke tempat lainnya, telah dilakukan peningkatan kesehatan terhadap pelabuhan karantina haji, pengamanan kesehatan dalam perpindahan penduduk serta isolasi penderita penyakit menular. Guna menunjang kegiatan tersebut, maka fasilitas sarana kerja dan keterampilan petugasnya terus ditingkatkan. Dalam waktu yang sarna juga telah diadakan persiapan pengamanan terhadap terjangkitnya penyakit menular di 10 lokasi transmigrasi baru, terutama penyakit malaria. Dengan demikian selama Pelita III dan tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, kegiatan tersebut secara keseluruhan telah mencakup 203 lokasi transmigrasi baru, di samping telah dilakukan pengamatan kesehatan bagi seluruh jemaah haji. Selain itu dalam tahun 1984 teiah dikembangkan pula isolasi penderita penyakit menular terhadap 11 rumah sakit di beberapa daerah, yang selain ditujukan pada penyakit yang nyatanyata menimbulkan masalah, juga terhadap penyakit menular yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan masalah. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakail pengamatan (surveillance) penyakit menular melalui survai terhadap 500

Departemen Keuangan RI

283

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

kejadian luar biasa (KLB), survai penyakit-penyakit tertentu di 255 rumah sakit, pengambilan 900 sampel, penyebaran data dalam bentuk bulletin epidemologi sebanyak 4.400 eksemplar, serta pelaksanaan survai entomologis serangga penular penyakit pada 200 lokasi. Sejak Pelita III dan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, secara keseluruhan telah dilaksanakan penyelidikan terhadap 21.520 KLB, survai beberapa penyakit menular di 2.418 rumah sakit, pengambilan 741.495 sampel, dan penyebaran data dalam bentuk bulletin epidemiologi sebanyak 217.214 eksemplar. Untuk menunjang penurunan angka kematian anak balita dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, terutama bagi golongan rawan dan masyarakat yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota, telah dilaksanakan usaha perbaikan gizi. Kegiatan ini diarahkan untuk melanjutkan dan meningkatkan status gizi masyarakat, serta pencegahan dan penanggulangan masalah gizi khususnya terhadap penderita kurang kalori protein (KKP), kurang vitamin A, anemia gizi besi serta gondok endemik melalui peranserta aktif masyarakat. Pencegahan dan penanggulangan KKP terutama ditujukan pada anak pra-sekolah, wan ita hamil, wanita menyusui serta penduduk di daerah rawan pangan dan bencana alam. Untuk menurunkan jumlah anak yang menderita KKP, baik dalam tingkat ringan maupun sedang, telah dilakukan peningkatan dan perluasan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK). Sehubungan dengan usaha peningkatan pelayanan kesehatan bagi anak-anak penderita gizi buruk, kaitan antara UPGK dengan puskesmas juga semakin ditingkatkan. Kegiatan UPGK yang dilaksanakan secara terpadu di sektor kesehatan, pertanian, agama dan keluarga berencana, serta swadaya masyarakat tersebut antara lain mencakup penimbangan anak balita, penyuluhan gizi, pemberian paket pertolongan gizi, pemanfaatan tanaman pekarangan dan pemberian makanan tambahan. Dalam tahun pertama Repelita IV selain dilanjutkan pembinaan pada desa UPGK lama, juga te1ah dikembangkan UPGK pada 3.000 desa baru, sehingga sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 kegiatan tersebut te1ah mencakup sebanyak 43.085 desa. Penanggulangan dan pencegahan kekurangan vitamin A pada aDak balita dalam tahun 1984/1985 sampai dengan Agustus 1984, telah dilaksanakan khusus untuk 15 propinsi rawan vitamin A yang desa-desanya belum terjangkau oleh UPGK melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi terhadap 1.550 orang anak balita. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 melalui kegiatan tersebut telah dicapai sebanyak 15.017.061 orang anak balita. Se1anjutnya guna menanggulangi dan mencegah gondok endemik, dalam waktu yang sarna telah dilakukan penyuntikan larutan radium dalam minyak terhadap daerah endemik berat meliputi 1.663.000 orang, sehingga dengan demikian

Departemen Keuangan RI

284

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sejak Pelita III hingga bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan penyuntikan terhadap 6.279.815 orang penduduk yang tinggal di daerah-daerah pegunungan. Sedangkan untuk menanggulangi dan mencegah anemia gizi besi telah dilakukan pemberian pil zat besi, penyuluhan gizi dan pemanfaatan tanaman pekarangan, yang pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam UPGK, sehingga me1alui paket tersebut se1ama Pelita III telah dicukupi kebutuhan zat besi terhadap 1.790.650 orang ibu hamil Adapun sistem kewaspadaan pangan dan gizi yang se1ama Pelita III baru dilaksanakan di beberapa daerah pemanduan di 5 propinsi, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diperluas ke 2 propinsi baru yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Salah satu syarat penting untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal dalam masyarakat adalah tersedianya air bersih yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan, terutama bagi penduduk yang berpenghasilan rendah baik di daerah pedesaan maupun di daerah perkotaan. Untuk itu se1ain disediakan sarana dan teknologi sederhana, terus dilakukan pula penyuluhan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memelihara sarana air bersih, serta pengawasan kualitas air minum dan pencemaran lingkungan. Adapun penentuan lokasi sarana air tersebut diprioritaskan pada daerah-daerah yang sulit memperoleh air bersih dan daerah yang tinggi angka kesakitan terhadap penyakit kholera dan penyakit perut lainnya. Sehubungan dengan itu, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dibangun berbagai jenis sarana air minum meliputi 3 buah penampungan mata air dengan perpipaan (PP), 7 buah sumur artesis (SA), 16 buah sumur gali (SGL), 1.277 buah sumur pompa tangan dangkal (SPT DK) dan 431 buah sumur pompa tangan dalam (SPT DL). Selanjutnya dalam waktu yang sama telah dibangun pula saringan pasir sederhana sebanyak 3 buah, sarana pengolahan Fe dan Mn sebanyak 7 buah dan kran umum sebanyak 40 buah. Selain telah dibangun berbagai sarana fisik tersebut, dilakukan pula pelaksanaan survai di 146 lokasi. Dengan demikian sejak Pelita III sarnpai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dibangun sebanyak 628 buah PP, 250 buah SA, 13.741 buah SGL, 244.411 buah SPT DK dan 27.160 buah SPT DL. Sejalan dengan itu, telah dibangun pula saringan posir sederhana, sarana pengolahan Fe dan Mn serta kran umum, masing-masing sebanyak 3 buah, 26 buah dan 40 buah, dan juga dilakukan survai di 800 lokasi. Untuk menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat terutama bagi masyarakat kota dan masyarakat desa yang berpenghasilan rendah, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan umum di 129lokasi, pembangunan multiple latrine sebanyak 10 buah, peningkatan sanitasi perumahan dan lingkungan di 93 lokasi, pengamatan

Departemen Keuangan RI

285

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida di 1.660 lokasi, serta grading tempat pembuatan dan penyimpanan makanan (TP2M) sebanyak 1.180 buah. Dengan demikian sejak Pelita III sarnpai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan umum, peningkatan sanitasi perumahan dan lingkungan, serta pengarnatan pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida, masing-masing di 77.271lokasi, 413 lokasi dan 1.660 lokasi, di samping juga pembangunan multiple latrine dan grading TP2M, masing-masing sebanyak 428 buah dan 5.977 buah.

8.4.3. Pengadaan dan pengawasan obat, makanan dan minuman Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam tahun terakhir Pelita III di bidang pengadaan dan pengawasan obat, makanan serta minuman pada dasarnya merupakan kelanjutan dan peningkatan dari kegiatan yang dilakukan dalam tahun sebelumnya. Upaya ini meliputi pengawasan dalam produksi, distribusi dan penggunaan obat, termasuk obat tradisional, makanan dan minuman, kosmetika dan alat-alat kesehatan, serta pengawasan terhadap penyalahgunaan narkotika dan bahan obat.berbahaya lainnya. Untuk menunjang kegiatan tersebut telah ditetapkan daftar obat esensial (DOE) yang dipakai oleh semua unit kerja kesehatan dalam pengadaan obat di sektor Pemerintah. Obat yang dihasilkan di sektor Pemerintah besamya sekitar 5 persen dari seluruh obat yang beredar, sedangkan sisanya merupakan produksi sektor swasta. Selanjutnya untuk memperlancar distribusi obat, dilakukan penataan kembali pola distribusi obat, baik terhadap sektor Pemerintah maupun sektor swasta. Sejalan dengan peningkatan produksi obat, selama Pelita III telah dibangun sebanyak 134 buah gudang farmasi di seluruh kabupaten dan kotamadya, di sarnping juga telah tersedia sebanyak 283 buah pabrik farmasi. Adapun jumlah pedagang besar farmasi dan jumlah apotik masingmasing telah mencapai 912 buah dan 1.717 buah. Dalam rangka pembinaan di bidang produksi dan distribusi obat, dilakukan pengambilan 76.305 sample obat untuk seluruh propinsi dan 47.430 sample obat untuk tingkat pusat. Untuk melestarikan dan mengembangkan obat-obatan tradisional, dilakukan pengawasan melalui pendaftaran, pemberian informasi dan penyuluhan, serta evaluasi terhadap kegunaannya. Berkaitan dengan itu selama Pelita III telah terdaftar sebanyak 2.3 88 buah produk obat tradisional dari 370 buah perusahaan. Selain itu telah pula diterbitkan buku-buku dan pedoman penyuluhan yang bersifat teknis terutama mengenai jamu gendong, pemanfaatan tanaman obat tradisional dan obat keluarga serta pertemuan-pertemuan ilmiah dalam bentuk seminar dan lain-lain. Selanjutnya untuk mendapatkan keposrian mengenai keamanan, khasiat, nilai gizi,
Departemen Keuangan RI

286

yang semula direncanakan dapat dicapai dalam tahun 2000. kriteria obat jadi. kegiatan pendaftaran obat. yang ditempuh atas dasar sukarela. alat kesehatan dan sebagainya semakin ditingkatkan.467 macam dan 1. penandaan obat. serta kadaluwarsa makanan yang berasal dari susu dan makanan-makanan bayi.516 macam dan 48 macam. dipercepat untuk dapat dicapai dalam jangka waktu 10 tahun lebih awal yaitu dalam tahun 1990. Selain itu guna melaksanakan norma keluarga kecil yang bahagia dan Departemen Keuangan RI 287 . sampai dengan akhir Pelita III telah dilakukan perluasan dan pembangunan gedung laboratorium pengujian obat dan makanan di 26 propinsi.425 macam dan 2. serta alat-alat kesehatan produksi dalam dan luar negeri masing-masing sebanyak 1. Berkaitan dengan itu selama Pelita III telah terdaftar produksi obat dalam dan luar negeri masing-masing sebanyak 4. Namun demikian. maka perlu adanya pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk.054 macam.4. makanan dan lainnya. pengawasannya dilakukan melalui pengaturan izin impor bagi apotik atau badan usaha yang akan mengimpor dan mengedarkannya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kegunaan. Untuk itu sejak Pelita I sampai dengan Pelita III telah dilaksanakan program keluarga berencana (KB) nasional. usaha percepatan program KB nasional ditempuh melalui pendekatan kemasyarakatan baik melalui jalur formal maupun informal. serta produksi makanan dalam dan luar negeri sebanyak 8.146 macam. agar pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan cepat. Oleh karena itu dalam memasuki tahun kedua Repelita IV ini. selama Pelita III antara lain telah diterbitkan dan diundangkan peraturan tentang bahan berbahaya.256 macam.4. Selain itu telah dilakukan pula pendaftaran terhadap produk kosmetika dalam dan luar negeri sebanyak 3. Sementara itu untuk mendukung kegiatan pengujian obat dan makanan. makanan. tujuan secara kuantitatif demografis semakin dipercepat. di samping melalui wajib daftar dan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya yang telah beredar. 8. Penurunan fertilitas sebesar 50 persen dari keadaan tahun 1971. Sedangkan untuk menjamin keselamatan pemakaian obat. dan mengarah kepada pengalihan tanggung jawab pengelolaan dari Pemerintah kepada masyarakat. Keluarga berencana Faktor penduduk merupakan salah satu modal dasar dan sekaligus sebagai faktor dominan dalam pembangunan nasional. Sejalan dengan perkembangan waktu dan pertimbangan hasil-hasil yang telah dicapai selama ini. standar mutu dan persyaratan lain yang telah ditetapkan. yang terdiri dari laboratorium tipe B di 8 propinsi dan laboratorium tipe C di 18 propinsi.195 macam dan 3. Dalam hal narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya.

Safari Catur Warga dan terakhir dikenal pula Safari KB Senyum (sungguh enak dan nyaman untuk masyarakat) Terpadu. Pelaksanaan program KB atas dasar hasil sensus penduduk Indonesia tahun 1980. Propinsi Kalimantan Timur. juga telah diusahakan percepatan peningkatan kesejahteraan peserta KB yang dilakukan melalui program lintas sektoral dan pembangunan daerah. Maluku. penggarapannya dilakukan menurut pembagian wilayah yang didasarkan pada klasifikasi propinsi sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah. Kemudian propinsi Sumatera Utara. Demikian pula halnya dengan peserta KB baru yang menggunakan metode suntikan telah meningkat dari sekitar 3 Departemen Keuangan RI 288 .2 juta. antara lain Safari Spiral. Lampung.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sejahtera (NKKBS). Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang pasangan usia suburnya besar. Di lain pihak. Penggunaan alat kontrasepsi diarahkan pada alat kontrasepsi yang selain lebih murah juga mempunyai clara lindung yang efektif. Irian J aya dan Timor Timur ditetapkan sebagai propinsi penerima transmigran. Kalimantan Selatan. Riau dan Kalimantan Barat yang mempunyai dampak politis psikologis dinyatakan sebagai propinsi khusus. Sedangkan propinsi DI Yogyakarta. maka setiap propinsi meneruskan cara-cara tersebut kepada daerah-daerah tingkat kabupaten/kotamadya yang strategis potensial. dijadikan sebagai propinsi penyangga utama. Sumatera Barat. sehingga jumlah seluruhnya dari awal Pelita III sampai dengan bulan Juli 1984 telah mencapai sebanyak 18. Bali dan Sulawesi Utara ditetapkan sebagai pengembang program kependudukan. propinsi Jawa Barat. Sulawesi Utara. Program KB yang sebelumnya baru meliputi 16 propinsi. Atas dasar penggarapan tersebut. Sulawesi Tengah. pada saat ini telah mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air Indonesia. seperti spiral atau IUD. DKI Jakarta. Sulawesi Selatan. Jambi. telah memberikan hasil yang cukup menggembirakan. jumlah peserta KB baru yang menggunakan kontrasepsi IUD memperlihatkan kecenderungan meningkat yaitu dari sekitar 16 persen dalam tahun 1980/1981 menjadi sekitar 27 persen pada akhir Pelita III dan awal Pelita IV. Jika dalam tahun-tahun sebelumnya lebih dari 50 persen peserta KB baru menggunakan kontrasepsi pil.4 juta peserta KB baru. Sumatera Selatan. pada akhir Pelita III dan awal Pelita IV telah menurun sampai di bawah 50 persen. Pelaksanaan program KB ini apabila dilihat dari dimensi perluasan jangkauan kuantitatifnya yaitu jumlah peserta KB baru. dikategorikan sebagai propinsi penyangga. Dalam tahun terakhir Pelita III telah diperoleh peserta KB baru sebanyak 5. Untuk itu telah dilakukan berbagai kegiatan program KB. Propinsi Aceh. Dengan caracara penggarapan yang taktis menurut spesifikasi propinsi tersebut. Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jumlah penduduknya banyak. dan dari kebupaten/kotamadya selanjutnya diteruskan pula ke tingkat kecamatan yang potensial tanpa meninggalkan kecamatan lainnya. Bengkulu.

Selain melalui klinik KB. Menurut statusnya.246.2 366.051.3 293.2 187.7 380.40 335 Jumlah 53.4 1.80 1. Di samping terjadi peningkatan dalam jumlah peserta KB baru.50 265.90 2.055.229.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 persen pada awal Pelita III menjadi sekitar 28 persen pada awal Pelita IV.078.316.6 1.550.20 382.60 2.911 buah klinik milik Departemen Kesehatan.6 79. 480 buah klinik milik ABRI. Hal ini berarti bahwa penggarapan program KB telah dapat diarahkan kepada sasaran yang mempunyai potensi melahirkan yang tinggi.7 1. baik berupa klinik KB maupun tenaga medis dan administrasinya.6.330.50 2. 6 JUMLAH AKSEPTOR BARU Y Al'TG DICAPAI MENURUT METODE KONTRASEPSI.966. yaitu sebagian besar peserta KB baru tersebut berumur di bawah 30 tahun dan berasal dari keluarga petani. ditunjang pula oleh penyediaan sarana pelayanan yang memadai.10 983. Sejalan dengan meningkatnya kegiatan KB.5 1) Angka sementara sampai dengan bulan Juli 1984 Keberhasilan pelaksanaan program KB nasior.90 1. jumlah klinik KB selama ini juga terus bertambah.8 892.885.5 405. 246 buah klinik milik instansi lainnya dan 583 buah klinik milik swasta.9 91.90 2.505.al ini selain didukung oleh kegiatan para petugas KB dan kesadaran masyarakat.9 Lain -lain 9.246.120.8 596. dari segi kualitas pun menunjukkan kenaikan.369.7 398.8 281.4 1.5 461.8 607 857.10 2.481.3 330.80 1.4 937. pelayanan KB kepada masyarakat didukung oleh meningkatnya partisiposi para dokter dan bidan praktek swasta.80 2.2 252 400.087.7 280.524.30 1. dan merupakan mayoritas daripada masyarakat yang berasal dari kalangan berpenghasilan rendah.50 1.424.1 285. Tabel VIII.5 433.9 384.908.80 3. sehingga sampai dengan bulan Juli 1984 telah mencapai 7.9 286. 1969/1970 .6 218.220 buah klinik yang tersebar sampai ke kecamatan-kecamatan dan desa-desa.70 3.593.2 317.9 24.6 IUD 29 76.215.10 1.212.592.5 24. Perkembangan jumlah peserta dan metode kontrasepsi yang digunakan dapat diikuti pada Tabel VIII. selain juga dari dukungan pelayanan dan penanggulangan efek sampingan yang dilakukan di klinik dan di rumah sakit Departemen Keuangan RI 289 . klinik tersebut terdiri dari 5. Di daerah perkotaan.60 2.1 519.966.1984/1985 ( ribu orang) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1) Pil 14.2 496.90 1.1 181.20 2.4 212.90 1.70 1.20 5. untuk menjangkau pelayanan KB yang lebih luas kepada masyarakat dikembangkan juga kegiatan pelayanan KB melalui till KB keliling.

620 3.186 1. Sedangkan jumlah tenaga medis yang mendukung pelayanan KB sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sebanyak 16.930 3.586 7.584 orang bidan dan 5.594 3.041 12.758 1.118 5.129 6.143 1.7.532 3. yang terdiri dari 4. Adapun jumlah tenaga administrasi klinik dan petugas lapangan masing-masing adalah sebanyak 4.927 4. 54.232 3.750 2.018 3. Tab el VIII. PERSONALIA DAN PETUGAS LAPANGAN KELUARGA BERENCANA.722 Petugas lapangao .667 4. pembinaannya pun menunjukkan kemajuan.568 5.2) .445 6.476 5.975 4.242 4.9 6. Peningkatan jumlah peserta KB aktif telah diikuti pula dengan peningkatan usaha pembinaan melalui program integrasi gizi.661 4.959 2.653 Bidan 855 1.707 5.791 4.392 3. dan yang tetap setia menggunakan kontrasepsi secara berlanjut.1 persen dari seluruh posangan usia subur.1) 322 1. 28.198 orang pembantu bidan. pelayanan kegiatan KB ini dilakukan melalui pembantu pembina keluarga berencana desa (PPKBD) dan sub-PPKBD. yang dilakukan sampai ke desa-desa di seluruh wilayah Indonesia.134 5.319 4525 4. 776 2.504 3.678 1. 6.303 4.1984/1985 ( dalam jumlah orang.343 3. Perkembangan KB dan tenaga pendukungnya dapat diikuti pada Tabel VIII.098 3.964 11.882 3.041 orang.436 4. jumlah peserta KB yang telah dibina mencapai 14.2) 1.956 2.8 persen dari peserta KB aktif tersebut memakai kontrasepsi pil.578 6. 1969/1970 .000 7. baik terhadap peserta KB aktif maupun peserta KB yang diaktifkan kembali setelah beristirahat menggunakan kontrasepsinya.096 4.041 1) Pekerjaan administrasi dirangkap pembantu bidan 2) Belum ada tenaga PLKB (Petugas Lapangan KB ) 3) Angka diperbaiki 4) Angka sementara sid bulanJuli 1984 Sejalan dengan perluasan jangkauan program KB. Adapun menurut metode kontrasepsi yang dipakai.774 q.653 orang dokter.609 2.970 2.722 orang dan 12.213 4.544 6.995 3.919 4.478 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang menjadi pusat rujukan. Sampai dengan bulan Juli 1984. Departemen Keuangan RI 290 .682 6.601 4. kecuali untuk klinik KB dalam satuan ) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/19854) Jumlah klinik 727 1.220 Dokter 421 556 791 883 1.141 5.435 orang.715 4.584 Pembantu bidan 75 580 605 1. 9.425 12.999 7.198 Tenaga administtasi klinik .465 1.239 6. Sedangkan untuk daerah pedesaan.920 3) 5.275 1.657 3.639 6.1 juta peserta KB aktif atau sebesar 57.241 3.646 1.808 3. Hal ini dapat diukur melalui indikator kuantitatif.421 3.609 6.235 3.3 persen memakai suntikan dan sisanya memakai alat kontrasepsi lainnya.137 2.349 3. 7 JUMLAH KLINIK.000 9.064 7.316 2.9Q.3 persen memakai IUD.974 6.569 2.861 2.

telah dilakukan pendekatan kepada para pemuda. maka peranan dan status wan ita akan lebih potensial baik sosial maupun ekonomis. serta pemberian bib it kelapa hybrida kepada 500 ribu peserta KB lestari. dan pengelola program KB. baik dari masyarakat maupun instansi Pemerintah yang semula belum turut menjadi pelaksana. 8. Kegiatan-kegiatan ini antara lain mencakup peningkatan gizi keluarga. Di samping itu telah dilakukan pula program peningkatan pendapatan keluarga yang pada saat ini telah dilaksanakan di 8.191 buah. Melalui lembaga masyarakat ini selain dilakukan kegiatan pemberian kontrasepsi. Setiap tahap pembangunan di bidang kesejahteraan sosial diarahkan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat' Departemen Keuangan RI 291 . 10 tahun dan 16 tahun serta kepada lembaga masyarakat pengelola program KB di tingkat pedesaan. Sedangkan untuk lebih memberikan dukungan psikologis bagi peserta KB.5. Sub PPKBD atau paguyuban-paguyuban akseptor. Apabila dilihat dari dimensi pelembagaan/pembudayaan.138 kelompok akseptor KB.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Selain itu.731 buah pos penimbangan balita. dan penyuluhan makanan sehat. dan pelaksanaannya dilakukan searah. Maka dari itu dikembangkan suatu usaha bersama dalam program peningkatan pendapatan yang dilakukan melalui kelompok-kelompok peserta KB. jumlah PPKBD dan paguyuban telah mencapai 184. telah dilakukan pemberian piagam penghargaan bagi peserta KB lestari 5 tahun. telah pula dilaksanakan kegiatan-kegiatan lain yang berada dalam naungan program-program kependudukan yang sifatnya mendukung program kependudukan dan keluarga berencana (KKB). yang salah satu kegiatannya adalah berupa penimbangan terhadap anak berumur di bawah lima tahun (balita). Program gizi yang dilakukan melalui jalur program KKB ini dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencakup 27. Sampai dengan bulan Agustus 1984. Selain itu keterlibatan perusahaan-perusahaan untuk memberikan dukungan yang positif terhadap pelaksanaan program KB bagi buruh dan karyawannya juga semakin meningkat. Sementara itu dalam rangka program peningkatan usia perkawinan dan program pendidikan kependudukan.022 desa yang tersebar di seluruh wilayah tanah air dan telah memiliki 63. Kesejahteraan sosial Pembangunan di bidang kesejahteraan sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan nasional. dengan mengikuti program KB. pelajar dan mahasiswa. saling menunjang dan saling mengisi dengan bidang-bidang pembangunan lainnya. keberhasilan program KB ditandai dengan makin berkembangnya partisiposi. Proses pelembagaan di dalam masyarakat ditandai dengan terus meningkatnya lembaga-Iembaga masyarakat seperti PPKBD.

pemberian bantuan stimulan berupa modal dan bahan usaha produktif. Pembinaan kesejahteraan sosial Pelaksanaan pembangunan bidang kesejahteraan sosial dilakukan melalui berbagai program pembinaan. Sehubungan dengan itu.5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 secara adil dan merata.800 remaja. swakarsa dan swasembada dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya semaksimal mungkin. yang bertempat tinggal di daerah minus. serta yang tinggal di daerah perkotaan yang padat dan miskin. sampai dengan bulan Oktober 1984 telah berhasil dibina sebanyak 13. juga lebih diutamakan pada kegiatan yang berfungsi pencegahan dan pengembangan. 8. salah satu daripadanya adalah pembinaan generasi muda yang kegiatannya meliputi pembinaan Karang Taruna. Melalui wadah Karang Taruna dimaksudkan pula untuk terwujudnya penghayatan dan pengamalan Pancasiladi kalangan remaja. latihan usaha swadaya sosial masyarakat. Sejak awal Departemen Keuangan RI 292 . pembinaan jasmani dan rohani serta kegiatan yang bersifat rekreatif. Program lainnya adalah pembinaan kesejahteraan sosial. Kegiatan ini meliputi bimbingan dan penyuluhan sosial. Selain itu para remaja juga dibimbing dalam berbagai kegiatan yang meliputi keterampilan ekonomis produktif. partisipasi sosial masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan sosial semakin dikembangkan. terutama bagi para penyandang permasalahan sosial.1. Untuk menunjang kegiatan-kegiatan terse but. serta pengadaan pusat-pusat latihan kerja sebagai tempat kegiatan kerja produktif. sehingga pada gilirannya mereka akan mampu berusaha secara swaclara. Dalam hubungan ini.450 karang taruna dan 14. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai penanaman rasa tanggung jawab sosial yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan rasa kebersamaan masyarakat dalam kesetiakawanan sosial. penyuluhan dan bimbingan sosial. Sejak tahun pertama Repelita IV. Melalui wadah ini telah dilakukan pembinaan terhadap remaja. yang bertujuan memberikan bimbingan kepada para keluarga yang kondisi sosial dan ekonominya berada di batas rawan. agar dapat mencegah dan membatasi timbulnya masalah kenakalan atau kelainan tingkah laku remaja. pembangunan di bidang kesejahteraan sosial di samping diarahkan pada kelanjutan perbaikan dan perluasan segala kegiatan yang berfungsi pelayanan. telah dilakukan pembinaan dalam bidang kepemimpinan sosial. yang tujuannya untuk memberikan bimbingan agar dapat menyadari peranan dan tanggung jawabnya dalam menyongsong hari depan. Dengan bantuan ini diharapkan dapat tumbuh dan berkembang kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial. yang pada gilirannya akan mampu mengatasi atau menanggulangi berbagai permasalahan sosial di kalangan pemuda dan masyarakat.

khususnya yang bertempat tinggal di daerah pedesaan. Usaha peningkatan peranan dan fungsi wanita ditujukan untuk mengembangkan kesejahteraan sosial wanita. Di samping itu dalam waktu yang sama te1ah diberikan pula 7. pe1estarian sumber-sumber alam lainnya. dalam waktu yang sarna juga te1ah diadakan pembinaan swadaya masyarakat di bidang perumahan dan lingkungan. melalui stimulan bahan bukan lokal sebanyak 18 unit telah berhasil dibina 6. Sarnpai dengan tahun 1983/1984 telah berhasil dibina 35. Se1ain bimbingan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat. terbelakang dan berpindah-pindah. serta melalui stimulan peralatan bangunan lokal sebanyak 697 unit yang me1ibatkan 6. melalui stimulan sarana produksi telah berhasil dibina dan ditingkatkan taraf hidup para keluarga yang berpenghasilan rendah sebanyak 242. telah berhasil dilakukan pembinaan me1alui potensi kesejahteraan sosial terhadap sebanyak 28.709 keluarga bina swadaya.160 KK. pengembangan peranserta fungsi lingkungan bagi kesejahteraan sosial masyarakat. telah dapat dibina me1alui stimulan bahan bukan lokal sebanyak 24. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984.970 KK. Kegiatan ini antara lain meliputi penye1enggaraan latihan bagi ke1uarga miskin di bidang pembangunan perumahan secara gotong royong dengan semaksimal mungkin menggunakan potensi manusia dan alam yang ada. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. agar dapat berperan serta dalam proses pembangunan tanpa mengurangi peranannya dalam pembinaan keluarga sejahtera.935 Dalam bina swadaya. khususnya dalam pemantapan kemampuan dan keterarnpilan. pengaturan saluran air. Selain itu juga berupa penanaman pengetahuan dan keterampilan dalam memelihara.908 unit stimulan dana kesejahteraan sosial yang te1ah melibatkan 79.160 wanita dalam kepemimpinan.567 wanita dalam bina swadaya.114 orang. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. serta pemberian stimulan bahan bangunan bukan lokal dan peralatan kerja. Sedangkan dalam rangka pembinaan swadaya masyarakat di bidang perumahan dan lingkungan. Kegiatan tersebut berupa pembinaan dan bimbingan agar mereka memiliki kern au an dan kemarnpuan untuk mengembangkan kondisi sosial dan budayanya ke Departemen Keuangan RI 293 . telah berhasil dibina sebanyak 1. me1alui stimulan perbaikan lingkungan sebanyak 716 unit yang me1ibatkan 7.080 kepala keluarga (KK). penggalakan penghijauan. dan 5. Usaha-usaha tersebut terutarna diarahkan pada wanita yang kondisi kehidupannya tergolong miskin.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pelita III sampai dengan akhir 1983/1984. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pembinaan kesejahteraan masyarakat berasing ditujukan pada peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat yang hidup terpencil.399 KK.384 perumahan warga binaan yang meliputi 17 desa.

baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. Sementara itu telah dilakukan pula pembinaan terhadap keluarga dan remaja yang mengalami permasalahan sosial psikologis. melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 14. yang sekaligus sebagai pendorong kegiatan yang semakin meluas secara swadaya di kalangan masyarakat. yang terdiri atas para tokoh masyarakat dari berbagai profesi. dan tanah seluas 2 hektar sehingga diharapkan taraf hidup mereka akan dapat lebih ditingkatkan. Sedangkan untuk menunjang kelancaran kegiatan di bidang kesejahteraan sosial. telah dibentuk tenaga kesejahteraan sosial sukarela (TKSS). telah dapat dibina sebanyak 164 organisasi sosial.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 arah kehidupan sosial yang selaras dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. telah diadakan penyuluhan sosial terhadap 5. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. Melalui kegiatan ini sarnpai dengan bulan Oktober 1984. Dalarn rangka mcngembangkan. Sarana lain untuk membina masyarakat berasing adalah melalui pemukiman di suatu lokasi yang terletak pada jalur komunikasi dan ekonomi. Sejalan dengan itu. sehingga Departemen Keuangan RI 294 .350 orang kader keserasian sosial.449 KK.088 orang PSM yang tersebar di seluruh propinsi. Selain itu diberikan pula bimbingan mental. Tenaga yang dipilih dari anggota masyarakat setempat. dalam waktu yang sarna telah dibina pula sebanyak 8. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. ditugaskan sebagai penggerak dan pelaksana dari peningkatan kesejahteraan sosial di lingkungan tempat tinggalnya. yang sampai dengan akhir tahun 1983/1984 telah mencapai 5.115 orang. Sampai dengan akhir bulan Oktober 1984 melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 13.490 orang. balai sosial dan sekolah sederhana. menyebarluaskan dan melembagakan partisiposi sosial masyarakat dalam pembangunan di bidang kesejahteraan sosial. telah berhasil dibina 70.347 orang. Sedangkan dalam rangka memantapkan keserasian dan kesetiakawanan masyarakat dalam mengatasi berbagai masalah. serta latihan keterampilan dalam penanganan dan penanggulangan permasalahan sosial dalam masyarakat. telah dilakukan peningkatan mutu dan kemarnpuan operasional organisasi sosial. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. sosial dan berbagai keterampilan dalam bidang-bidang usaha kesejahteraan sosial. Untuk itu kepada para pengurus dan anggota organ isasi sosial diberikan latihan keterampilan dalam bidang manajemen dan prinsip-prinsip tehnik pendekatan sosial menurut bidang sasaran organisasi sosial. melalui latihan dan praktek lapangan di bidang kesejahteraan sosial te1ah dibina pekerja sosial masyarakat (PSM). kepada setiap keluarga diberikan bantuan rumah sederhana. yang dilengkapi dengan sarana umum seperti tempat ibadah. Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan dan bimbingan sosial. Kemudian untuk tercapainya hasil-hasil pembangunan kesejahteraan sosial secara luas dan merata.

kepada mereka telah diberikan bimbingan sosial. yang meliputi anak-anak yatim piatu terlantar.222 anak. Dalam tahun. pemukiman lokal. telah diberikan bantuan dan penyantunan. Selain kepada anak terlantar.835 KK. telah dilakukan pula pemberian bantuan dan penyantunan kepada para penyandang cacat.2.833 KK dan 14. melalui pemukiman lokal sebanyak 2. Setelah mendapatkan bimbingan dan keterampilan tersebut. Sampai dengan Pelita III. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. Sampai dengan akhir 1983/1984.597 orang cacat. serta membangkitkan minat dan kecintaan bekerja bagi para gelandangan dan pengemis. baik melalui sistem paoli maupun sistem luar panti. anak-anak putus sekolah dan anak-anak dari keluarga miskin yang terhambat perkembangan sosialnya. telah dilakukan berbagai kegiatan yang bertujuan agar mereka mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri. 8.545 KK serta melalui pondok sosial sebanyak 600 KK. melalui transmigrasi sosial sebanyak 5. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. baik melalui sistem panti maupun sistem luar panti. tidak menggantungkan pada bantuan orang lain dan dapat ikut serta dalam proses pembangunan. sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing. melalui sistem rami telah dapat dibina sebanyak 15.822 remaja putus sekolah. Terhadap anak terlantar. melalui sistem panti dan luar panti telah berhasil dibina masing-masing sebanyak 29.745 KK.220 anak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 melalui kegiatan ini sampai dengan akhir tahun 1983/1984 telah dibina sebanyak 8. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan kepada 561 orang dan 41 KK fakir miskin. Untuk memulihkan kembali rasa harga diri. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan so sial terhadap 2.765 KK. Selain itu kepada mereka diberikan pula keterampilan yang bersifat ekonomis produktif. yaitu melalui swakarya sebanyak 4. sedangkan melalui Loka Bina Karya (LBK) telah dibina sebanyak 300 orang. mental dan agama. para gelandangan dan pengemis itu disalurkan melalui kegiatan transmigrasi sosial.5.010 orang dan 105.873 anak.900 orang. Selama Pelita III. melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 13. pola swakarya dan pola pondok so sial. sedangkan melalui sistem luar panti sebanyak 221. Departemen Keuangan RI 295 . telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan sosial terhadap 4. Bantuan dan penyantunan sosial Dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesejahteraan sosial bagi para penyandang masalah kesejahteraan sosial. 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984.

masing-masing sebanyak 242. Selanjutnya telah dilakukan pula usaha rehabilitasi bagi para remaja yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika. Untuk menimbulkan kesadaran masyarakat. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984.610 orang. Palembang dan Semarang. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. telah dibangun 43 buah wisma.600 orang dan melalui sistem luar panti sebanyak 3. sedangkan untuk rehabilitasi anak nakal telah dibangun panti rehabilitasi di Jakarta. Selain itu telah dilakukan pula pembinaan terhadap para lanjut usia/jompo melalui sistem luar panti dan Sasana Tresna Wredha. telah diberikan penyantunan dan pengentasan kepada 1. khususnya generasi muda. sampai dengan Oktober tahun 1984 telah berhasil dibina sebanyak 4. Melalui panti-panti tersebut. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. serta kegiatan yang produktif bagi yang masih potensial. telah dilakukan pula rehabilitasi bagi para bekas tahanan.411 anak korban narkotika dan anak nakal. Di samping itu untuk maksud yang sama telah Departemen Keuangan RI 296 .350 orang dan 2. telah berhasil dibina sebanyak 6. terhadap arti dan nilai-nilai kepahlawanan. telah diberikan penyantunan dan pembinaan terhadap 4. Selain usaha rehabilitasi para WTS.757 bekas narapidana. Untuk itu telah dibangun panti rehabilitasi sosial korban narkotika di Jakarla. Sampai dengan akhir Pelita III. yang pelaksanaannya dilakukan melalui sistem panti dan luar panti. dan 32 wisma tingkat kabupaten.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Selanjutnya untuk menanggulangi kehidupan yang sesat dari kelompok wanita tunasusila (WTS). telah dilakukan penyebarluasan gambar-garnbar dan buku-buku sejarah serta penulisan autobiografi para pahlawan dan perintis kemerdekaan. selanjutnya dapat disalurkan ke pasaran kerja sesuai dengan bakat dan jenis keterampilannya.720 orang.010 orang. telah dilakukan usaha rehabilitasi. telah dilaksanakan pembangunan panti baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten. dengan perincian melalui sistem panti sebanyak 3. baik melalui sistem panti maupun sistem luar paoli. Surabaya dan Medan. Dalam hal pemberian bantuan dan penyantunan bagi para lanjut usia/jompo yang terlantar atau kurang terurus. yang terdiri dari 11 wisma tingkat propinsi. keperintisan para pahlawan dan perintis kemerdekaan.177 orang tuna sosial. melalui kegiatan ini telah berhasil dibina sebanyak 1. guna melayani sebanyak 430 orang lanjut usia. kemasyarakatan dan rekreasi.765 orang lanjut usia. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. Dalam kegiatan ini kepada WTS tersebut diberikan pendidikan budi pekerti dan berbagai keterampilan agar dalam kehidupan bermasyarakat kelak mereka dapat berdiri sendiri dengan menjunjung harga dirinya. Melalui panti tersebut diberikan pembinaan dan pengembangan yang bersifat spiritual. Dalam hal ini kegiatan yang dilakukan melalui LBK bertujuan agar setelah mereka dianggap mampu untuk terjun ke dalam masyarakat.

525 orang dan 4.1. Maluku dan Bali. di samping juga dilaksanakan melalui pemberian bantuan berupa beras. dan bantuan pemugaran makam sebanyak 280 buah. Selain itu juga telah diberikan bantuan dan penyantunan perintis/pejuang kemerdekaan.606 KK. makam pahlawan dan taman makam pahlawan (TMP). Selain itu melalui pemukiman lokal dan transmigrasi sosial. para korban telah dipindahkan pula ke temp at lain. obat-obatan dan pakaian. Sampai kini jumlah perintis/pejuang kemerdekaan yang masih hidup dan yang jandanya telah mendapat pengakuan. Pembinaan dan pembaharuan hukum Pembinaan hukum merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembangunan yang tengah berlangsung. antara lain berupa bantuan usaha produktif kepada 1.6.macam latihan keterampilan yang ekonomis produktif. Selama Pelita III telah dibangun dan dipugar sebanyak 157 buah TMP dan 9 buah makam pahlawan nasional serta penulisan buku perjuangan sebanyak 10. Sedangkan selama Pelita III telah dilakukan pemberian bantuan bahan bangunan rumah kepada 2.292 orang. serta penyediaan panti persinggahan sebanyak 28 buah. Hukum dan perundang-undangan 8.6.388 KK. Bersamaan dengan itu diusahakan pula peningkatan tarat hidup melalui bimbingan. Sehubungan dengan itu. masing-masing adalah sebanyak 2. Sulawesi Utara. telah dilakukan rehabilitasi sosial korban bencana alam sebanyak 35.075 KK. motivasi dan berbagai . Dengan demikian dapat diciptakan ketertiban dan kepostian hukum yang pada gilirannya dapat memperlancar Departemen Keuangan RI 297 . 8. dan merupakan rehabilitasi agar kondisi sosial ekonomi para korban dapat menjadi lebih baik.840 KK dan yang ditempatkan pada pemukiman lokal di luar pulau Jawa dan Bali adalah sebanyak 3.000 eksemplar. bantuan perbaikan rumah kepada 165 orang. kebijaksanaan pokok dalam pembangunan dan pembinaan hukum diarahkan agar hukum mampu memenuhi kebutuhan sesuai dengan tingkat dan perkembangan pembangunan di berbagai bidang. latihan pembimbing dan petugas lapangan sebanyak 540 orang. serta pembangunan monumen kepahlawanan. seperti propinsi Aceh. Sejak awal Pelita III sampai dengan bulan Oktober 1984.165 orang. Kegiatan ini antara lain dilakukan melalui pengadaan panti persinggahan pada daerah-daerah rawan bencana. Adapun jumlah para korban bencana alam yang ditransmigrasikan ke luar pulau Jawa dan Bali mencapai 3. Usaha yang berkaitan dengan pemberian bantuan dan penyantunan kepada para korban bencana alam pada dasarnya bersifat darurat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dilakukan pemeliharaan dan pemugaran makarn perintis kemerdekaan. Riau.

Pendaftaran. serta Peraturan Pemerintah tentang Pajak Atas Bunga Deposito Berjangka dan Tabungantabungan lainnya. Selanjutnya dalam tahun 1983/1984 telah dibahas pula sejumlah rancangan undang-undang. Un dang-Un dang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Perbendaharaan Negara. Asuransi Sosial Tenaga Kerja. dan Persyaratan Pengajuan Keberatan. Penjadwalan Kembali Proyek-proyek Pembangunan yang Pembiayaannya Menggunakan Devisa Negara atau Kredit Komersial Luar Negeri. Selain itu juga telah dihasilkan Peraturan Pemerintah ten tang Dewan Pers.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan. antara lain Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984. Hukum Perdata Internasional. Koordinasi Usaha Kesejahteraan Sosial Bagi Penderita Cacat. Dalam tahun 1983/1984 telah dihasilkan 7 buah undang-undang. Untuk itu telah dilaksanakan pembaharuan dan pembentukan perangkat hukum nasional. serta Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Masyarakat. yang terdiri dari Undang-Undang tentang Tambahan dan Perubahan Atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1982/1983. Sementara itu telah pula dihasilkan sejumlah Keputusan Presiden antara lain Keppres tentang Rencana pembangilnan Lima Tahun Keempat (Repelita IV) tahun 1984/1985-1988/1989. Penangguhan Pajak Penghasilan Atas Bunga Pinjaman Yang Diterima Pemerintah Dalam Rangka Pinjaman Luar Negeri. Undang-Undang tentang Perhitungan Anggaran Negara Tahun 1979/1980. serta Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 1984/1985. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Pemberian Nomor Wajib Pajak. Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai 1984. Penyampaian Surat Pemberitahuan. Undang-Undang ten tang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Sementara itu dalam waktu yang sarna juga telah disahkan sebanyak 44 buah peraturan Pemerintah. Dalam rangka menunjang perancangan perundang-undangan. serta Keppres ten tang Dewan Standardisasi Nasional. Daftar Skala Prioritas Bidang Usaha Penanaman Modal Tahun 1983/ 1984. Badan Administrasi Kepegawaian Negara. Sedangkan yang berupa Instruksi Presiden. Kerjasama ini Departemen Keuangan RI 298 . telah dilakukan kerjasama antara berbagai instansi yang ada hubungannya dengan bidang hukum. Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Koordinasi Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. Pemberian Tunjangan Perbaikan Penghasilan Pensiun Bagi Penerima Pensiun/Tunjangan Yang Bersifat Pensiun. Jam Krida Olah Raga. antara lain Inpres tentang Pelaksanaan Penjadwalan Kembali Proyek-proyek di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi. Pelaksanaan KUHP. Grasi. serta Inpres tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan. antara lain meliputi Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Hukum Pidana. serta RUU tentang Pelimpahan Teknologi. Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan.

aspek hukum perlindungan berkenaan dengan perluasan lokasi industri.2. 8. Kotacane. (KUHAP). dan 26 pengadilan tinggi yang terdapat pacta setiap propinsi kecuali Propinsi Timor Timur. Penegakan hukum Kegiatan yang dilakukan dalam penegakan hukum pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan ketertiban dan kepostian hukum dalam masyarakat. masalah yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan RUU Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Selanjutnya untuk menunjang peningkatan dan penyempurnaan penegakan hukum. aspek hukum dalam praktek pertanggungan perbankan umuk usaha pemborongan bangunan. Sungai Liat. jujur dan dengan biaya yang terjangkau oleh pencari keadilan dalam berbagai lapisan masyarakat. Putusibau. Di samping itu dalam waktu yang sarna juga telah dihasilkan penulisan karya ilmiah dengan judul Perlindungan hak-hak azasi manusia dalam KUHAP serta Politik hukum baru mengenai kedudukan dan Peranan hukum adat dan hukum Islam dalam pembinaan hukum. Dengan demikian sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 telah dibangun 291 pengadilan negeri yang tersebar di hampir setiap kabupaten/kotamadya. Dalam hubungan ini. di daerah-daerah yang wilayah pengadilan negerinya sangat luas dan sulit komunikasinya. peningkatan operasi yustisi untuk pengamanan hasil-hasil dan pelaksanaan pembangunan yang sedang berjalan. terus diusahakan agar proses peradilan lebih sederhana. penanggulangan kejahatan dan pembinaan narapidana. harmonisasi hukum di negaranegara ASEAN. telah diadakan tempattempat sidang pengadilan sehingga pelaksanaan tugas hakim keliling dapat berjalan lancar. cepat. antara lain berupa penelitian hukum. di Departemen Keuangan RI 299 . Sehubungan dengan itu. Gorontalo dan Watampone. dalam tahun 1983/1984 telah dibentuk 7 pengadilan negeri yang terletak di Garut. pertemuan ilmiah dalam bentuk lokakarya. perilaku dan kemampuan para penegak hukum. Selain itu guna meningkatkan pemerataan kesempatan dalam memperoleh keadilan. serta hukum kedokreran. baik antarsesama aparatur penegak hukum maupun dengan instansi-instansi lain. Pacitan. serta kejahatan akibat teknologi modem. dalam tahun 1983/1984 telah dilaksanakan berbagai penelitian antara lain atas pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. khususnya dalam' pembinaan peradilan. Untuk itu telah dilakukan pemantapan kedudukan dan wewenang badan-badan penegakan hukum. seminar dan simposium serta penulisan karya ilmiah dalam berbagai bidang hukum. serta penyempurnaan koordinasi dan kerjasama fungsional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berbentuk kegiatan ilmiah. perlindungan hukum terhadap konsumen jasa angkutan. Sedangkan pertemuan ilmiah yang diselenggarakan antara lain meliputi evaluasi terhadap pembangunan hukum Pelita III menjelang Pelita IV. pemantapan sikap.6.

antara lain melalui brosur-brosur yang disebarluaskan ke daerah-daerah. Guna meningkatkan kesadaran hukum dalam masyarakat. untuk menunjang pembinaan dan pelaksanaan tugas-tugas penegak hukum. 45 tempat sidang dan 11 gedung kejaksaan negeri/tinggi. sejak tahun 1981/1982 telah dilakukan pula konsultasilbantuan hukum melalui 24 fakultas hukum negeri yang tersebar di seluruh Indonesia. 12 gedung baru pengadilan tinggi dan 373 buah tempat sidang. Sementara itu dalam waktu yang sarna juga telah diadakan pembinaan personal peradilan.496 perkara.527 desa. dalam tahun 1983/1984 telah diberikan bantuan hukum terhadap 4. Sementara itu guna meningkatkan pelaksanaan penegakan hukum. Sedangkan penyuluhan hukum yang dilaksanakan melalui program jaksa masuk desa. serta rehabilitasi/penyempurnaan/perluasan 160 gedung pengadilan negeri daD gedung pengadilan tinggi serta 244 gedung kejaksaan tinggi/negeri. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 jumlah hakim telah mencapai 2.440 kasus konsultasi hukum dan 2. Dalam tahun 1983/1984. telah ditingkatkan juga penyelesaian perkara. berupa penerangan tentang fungsi dan tugas pengadilan.915 desa. Dalam rangka menunjang pembinaan peradilan. dalam tahun 1983/1984 telah dibangun 7 gedung pengadilan negeri. Sehubungan dengan itu. terus dilakukan pemberian bantuan hukum.238 orang. telah dilakukan peningkatan dalam penyediaan prasarana dan sarana hukum. telah disediakan pula sebanyak 111 kendaraan yang terdiri atas berbagai jenis.880 perkara yang ada di Departemen Keuangan RI 300 . wawancara di TVRI/RRI.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 samping telah dipercepatnya proses penyelesaian perkara di temp at kasus/sengketa. terutama bagi golongan yang kurang atau tidak mampu. yang dilaksanakan dengan pemutasian hakim. yang tersebar di 26 pengadilan tinggi. radio swasta serta tempat. Di samping itu. Di samping itu. sehingga sampai dengan akhir Pelita III telah diberikan bantuan hukum bagi pencari keadilan yang kurang mampu sebanyak 17. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 telah menjangkau 9. penyuluhan pacta masyarakat dalam bentuk ceramah. Kegiatan tersebut dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan di 2. Kegiatan tersebut sampai dengan tahun 1983/1984 telah meliputi sebanyak 45. serta 79 gedung kejaksaan negeri/tinggi. sampai dengan tahun terakhir Pelita III telah dilakukan pembangunan 127 gedung baru pengadilan negeri. Di samping itu juga telah dilakukan rehabilitasi dan perluasan/penyempurnaan 19 gedung pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Dalam rangka peningkatan pemerataan kesempatan untuk memperoleh keadilan bagi masyarakat. Sehubungan dengan itu. Dengan demikian. telah dilaksanakan pula berbagai kegiatan penyuluhan hukum. baik secara regional maupun nasional. baik yang bersifat pidana maupun perdata. dari 766.450 perkara bantuan hukum.858 kasus pidana.tempat umum dan publikasi media cetak lainnya.

297 perkara yang ada pada pengadilan tinggi.746 perkara yang ada di mahkamah agung. serta perluasan/rehabilitasi gedung LP masingmasing sebanyak 162 gedung dan 224 gedung.042 perkara yang ada di kejaksaan telah dapat diselesaikan 698. telah dapat diselesaikan 747. telah diselenggarakan berbagai kegiatan pendidikan. telah diadakan pendidikan di sekolah. Untuk menunjang sistem tersebut maka ditingkatkan pula pembangunan sarana penunjangnya. produktif. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilanaparat penegak hukum. telah dilaksanakan pembangunan. serta program rekreasi/olahraga.184 perkara atau sekitar 71 persen. yang meliputi penataran administrasi kepegawaian. Adapun pembinaan narapidana dan anak didik dilakukan melalui pembinaan spiritual. sistem pemasyarakatan yang ada diarahkan agar narapidana dan anak didik setelah selesai menjalani hukumannya. penataran panitera/panitera pengganti sebanyak 150 orang. pendidikan umum. serta pendidikan perancang perundang-undangan sebanyak 70 orang. Kegiatan ini dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah diikuti oleh 3. Sedangkan dari 7. telah dilaksanakan pembangunan prasarana fisik berupa pembangunan baru/lanjutan masing-masing 22 dan 51 gedung lembaga pemasyarakatan (LP). pendidikan tenaga peneliti hukum sebanyak 30 orang. Dalam tahun 1983/1984 dan tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. perluasan/rehabilitasi masingmasing 24 dan 25 gedung LP. serta guna pemantapan sikap dan kepekaannya terhadap perkembangan kesadaran hukum dan rasa keadilan masyarakat.336 perkara atau sekitar 99 persen. latihan dan penataran.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengadilan negeri. keamanan dan ketertiban. dan dari 703. telah dapat diselesaikan 5. pembinaan pramuka. Di samping itu dalam waktu yang sarna juga telah dilakukan pembangunan balai bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak (Bispa) masingmasing 5 dan 9 gedung. taat serta menghormati hukum dan norma-norma pergaulan hidup yang berlakudalam masyarakat. beternak dan berwiraswasta.816 orang. Sementara itu guna meningkatkan bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak. mampu melanjutkan kehidupannya dengan wajar dan layak dalam masyarakat. bimbingan sosial. serta keterampilan bertani. baik baru maupun lanjutan. pendidikan keammaan. Selain itu dalam periode yang sarna juga telah Departemen Keuangan RI 301 . Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984. keuangan dan perlengkapan sebanyak 570 orang. keterampilan perawatan dan pelayanan masyarakat.729 perkara at au sekitar 52 persen.705 perkara atau sekitar 97 persen. serta renovasi LP menjadi rumah tahanan (Rutan) masing-masing 73 dan 79 gedung. Selain itu dari 14. telah dapat diselesaikan sebanyak 7. Berkaitan dengan pembinaan pemasyarakatan. pendidikan calon hakim sebanyak 210 orang. dan agar dapat menjadi warga negara yang kreatif.

maka baik frekuensi maupun volume lalu lintas orang dari dan ke luar negeri dari tahun ke tahun terus mengalarni peningkatan. terdiri 286.011. Sedangkan yang berangkat ke luar negeri berjumlah sebanyak 1. Siding. Pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan telah berkembang terus. di mana tiap-tiap warga negara berhak dan wajib Departemen Keuangan RI 302 . Liku. Tanjung Petak. Tanjung Priok.713 orang.034. Sentani dan Kabil. tanpa mengabaikan segi pengawasannya agar tidak mengganggu stabilitas nasional. Surakarta. sehingga dapat menjadi kerangka landasan yang dapat diandalkan dan tahan uji. Banda Aceh. pengawasan orang asing dan lalu lintas ke dan dati luar negeri terus ditingkatkan. Kerangka landasan tersebut mempunyai pengertian yang seluas-luasnya. Jambi dan Banjarmasin. Senggih. terdiri dari 323. Demikian juga telah dilakukan rehabilitasi dan perluasan kantor imigrasi dan asrama tahanan imigrasi. Dalam tahun 1983/1984 telah dilaksanakan pembangunan 8 gedung kantor imigrasi yang terletak di pelabuhan-pelabuhan Cengkareng. masing-masing sebanyak 12 gedung dan 1 gedung. Keimigrasian Sejalan dengan perkembangan ekonomi dan hubungan antar negara. orang yang masuk ke Indonesia adalah sebanyak 1.6. Ubruk.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dibangun 38 gedung Bispa dan renovasi LP menjadi Rutan sebanyak 152 gedung. Berkaitan dengan itu penanganan bidang keimigrasian diarahkan untuk menunjang perkembangan yang terjadi di bidang-bidang tersebut.7.666 orang Indonesia dan 711. baik masa sekarang maupun di masa yang akan datang.047 orang asing. Dalam waktu yang sarna telah dibangun pula 11 pos imigrasi yang terletak di Sinabi. Bupul. Sebatik. Aruk.3.030 orang Indonesia dan 725. ketenagakerjaan. serta pelaksanaan ibadah keagamaan (haji dan umroh). Padang. 8. 8. pengembangan pariwisata. Untuk mewujudkan usaha tersebut diperlukan prasarana dan sarana yang dati tahun ke tahun terus meningkat. Jagoi Babang. Di samping itu ABRI juga telah mampu mengamankan pembangunan nasional dan kedaulatan Negara RI. sehingga pembangunan ABRI akan selalu selaras dengan tingkat kemajuan pembangunan nasional.349 orang asing.379 orang. Pertahanan dan keamanan Pembangunan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sampai dengan Pelita III telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kokoh dalam menuju angkatan bersenjata yang modern. Dalam rangka menanggulangi subversi. Dalam tahun 1983/1984.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ikut serta dalam usaha pembelaan negara. yakni mencakup usaha untuk mendapatkan prajurit ABRI yang Departemen Keuangan RI 303 . Politik pertahanan dan keamanan dimaksudkan untuk menjamin keamanan negara serta turut memelihara perdamaian dunia pada umumnya dan keamanan di kawasan Asia Tenggara khususnya. yaitu menjamin tetap tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. yang memberikan landasan hukum yang bersumber pada Undang-Undang Dasar 1945. Konsep pertahanan yang dikembangkan menyangkut pertahanan dan konsentrasi selektif sesuai dengan perkiraan keadaan. Di samping itu dalam rangka ketertiban masyarakat dan penegakan hukum. Dwi fungsi ABRI harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Selama dua Pelita yang lalu. kekuatan yang dibangun tetap dikonsentrasikan pada kekuatan kewilayahan yang lebih mempertegas dan memantapkan prinsip kesatuan wilayah Nusantara. pembangunan ABRI masih dipusatkan pada pembangunan personalnya. komando dan pengendalian. Dalam hubungan ini masalah utama yang telah mendapat perhatian semua pihak adalah pendayagunaan sumber daya nasional bagi upaya pertahanan keamanan negara. ABRI menjadi seinakin mantap dalam mengemban tugas pokoknya. maka telah ditingkatkan mutu aparat kepolisian agar mampu hadir secara fisik. sedangkan strategi pertahanan dan keamanan ditujukan untuk mencegah dan menangkal gangguan keamanan dalam negeri. serta penyempumaan sistem dan manajemen. termasuk di dalamnya sebagai kekuatan yang menjaga dan sekaligus menyegarkan demokrasi Pancasila. yang disertai dengan penyebaran kekuatan penangkal dan penempatan perbekalan dalam upaya menyesuaikan luas wilayah ke dalam strategi pagelaran kekuatan. agar ABRI dapat terus memikul tugas sejarahnya sebagai stabilisator dan dinamisator. dengan inti kekuatan darat yang didukung kekuatan laut dan kekuatan udara. Sesuai dengan doktrin dasar nasional Wawasan Nusantara. yaitu dengan telah disahkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia. yang memerlukan koordinasi yang terus menerus antara semua pihak yang berkepentingan. Adapun pembangunan kekuatan pertahanan dan keamanan yang telah dilaksanakan adalah berupa peningkatan mutu personal. Dengan adanya undangundang tersebut. peralatan. Implementasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 dalam bidang organisasi telah dilaksanakan melalui Keputusan Presiden Nomor 46 Tahun 1983 tentang Pokok-Pokok dan Susunan Organisasi Departemen Pertahanan dan Keputusan Presiden Nomor 60 Tahun 1983 tentang Pokok-Pokok Susunan Organisasi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. sekaligus sebagai pengayom dan pencipta rasa tenteram dan aman bagi lingkungan masyarakat. Selama Pelita III telah berhasil dicapai tonggak baru dalam sejarah perkembangan ABRI.

maka secara bertahap beberapa peralatan utama ABRI telah mulai diganti dengan yang lebih maju tingkat teknologinya. Untuk menunjang usaha tersebut. 16 Kodam. yang antara lain meliputi penyempurnaan sistem penerimaan anggota baru ABRI. mulai dari pendidikan tamtama hingga pendidikan tinggi perwira. 47 Heli. serta 102 Pesud. 36. dan 1 Yon Posgat untuk TNI-AU. 25. Adapun kekuatan operasi tersebut meliputi 2 Brigif Linud. sehingga pada akhirnya mampu berswasembada secara keseluruhan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 mewarisi jiwa dan semangat pejuang. dan yang memiliki kemampuan profesional yang cukup tinggi dalam bidangnya. 33 Kowil. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. serta Pabrik Roket Menang TNI-AU menjadi bagian dari divisi senjata PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. 281 Kores. Untuk mengurangi ketergantungan peralatan ABRI pada luar negeri. Perindustrian TNI-AD (Pindad) menjadi PT Pindad. Selanjutnya dilakukan juga penyempurnaan sistem pendidikan dan latihan ABRI. 53 Yonban. 58 kapal. yang terdiri dari 216. Hal tersebut dimaksudkan agar mampu mengemban tugas pokok ABRI dalam lingkungan yang terus bergerak dinamis guna mengikuti gerak pertumbuhan pembangunan nasional. 14 Heli.098 orang TNI-AU. 25 pesawat udara (Pesud). telah dilakukan peningkatan kekuatan operasi untuk masing-masing angkatan dan Polri. maka telah digalakkan industri nasional dalam pembuatan komponen atau suku cadang peralatan utama ABRI. serta penyempurnaan fasilitas perawatan personal melalui pembangunan sistem pangkalan. Hal ini memerlukan daya pukul dan kecepatan bergerak yang tinggi. Pembangunan kekuatan ABRI tersebut dilaksanakan untuk mewujudkan ABRI sebagai kekuatan yang kecil tetapi efektif. Unit Survai dan Pemetaan TNI-AU menjadi Perum Penas. yang sangat penting bagi pengembangan Departemen Keuangan RI 304 .838 orang Polri. Di samping itu koordinasi antardepartemen. Usaha-usaha tersebut meliputi pengembangan Unit Industri Bahan Peledak TNI-AU menjadi Perum Dahana. 292 Kodim dan 3215 Koramil untuk TN I-AD .003 orang TNI-AD . Sedangkan untuk Polri adalah mencakup 17 Kodak. 82 Yonif. 3. Untuk menunjang usaha tersebut telah dilakukan kegiatan-kegiatan pokok.944 orang TNI-AL. dan 133. 2 Grup Sandha. Adapun kekuatan personal militer yang telah dimiliki sampai dengan triwulan IV tahun 1983/1984 adalah sebanyak 411.233 Kosek dan 56 Sat Brimob. Penataran TNI-AL Surabaya menjadi PT Pabrik Kapal Indonesia.833 orang. sehingga tingkat teknologi maju yang terus berkembang hams dapat dikuasai. 41 Korem. yaitu kecil dalam jumlah dan sederhana dalam organisasi. Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio TNI-AU menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. 2 Grup Parako. 6 Yonif Mar dan 10 Yonban Mar untuk TNI-AL.Angkatan 1945. agar mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air. namun mampu melaksanakan tugas-tugas yang menjadi kewajibannya.

yang pada gilirannya akan meningkatkan pula pendapatan atau kesejahteraannya. televisi. Guna meningkatkan peranan pers dalam pembangunan. juga telah dimantapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 1983 tentang Pembentukan Dewan Pembina dan Pengelola Industri-industri Strategis dan Industri Pertahanan Keamanan. baik yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan penerangan di dalam negeri maupun di luar negeri. pees. Sejalan dengan itu.8. Dengan adanya kegiatan tersebut. dengan lebih meningkatkan pendayagunaan sarana penerangan seperti radio. 8. antara lain dengan memperkenalkan teknologi yang layak dan sesuai dengan perkembangan daerah pedesaan. yang dilakukan melalui penambahan sarana dan prasarana penerangan. menyalurkan aspirasi rakyat. dan peningkatan jumlah frekuensi dari berbagai jenis kegiatan penerangan umum. masyarakat pedesaan diharapkan akan dapat menggali dan memanfaatkan sumber-sumber kekayaan yang ada di daerahnya. memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional.8. memasyarakatkan kebudayaan dan kepribadian Indonesia serta menggairahkan partisiposi masyarakat dalam pembangunan. serta meningkatkan pemeliharaan kesehatan bagi lingkungan. terus ditingkatkan pengembangan pers yang sehat. melakukan kontrol sosial yang konstruktif.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 industri pertahanan keamanan. Untuk itu melalui Puspenmas diberikan penerangan dan bimbingan. Untuk itu telah dilaksanakan berbagai kegiatan penerangan terutama yang bersifat menggelorakan semangat pengabdian dan perjuangan bangsa. Guna Departemen Keuangan RI 305 . pameran dan media tradisional. mengembangkan sistem perekonomian yang lebih baik dengan mengutamakan asas gotong royong. telah ditingkatkan pula peranserta masyarakat pedesaan dalam pembangunan. serta memperluas komunikasi dan partisiposi masyarakat. sehingga dapat menjalankan fungsinya dalam menyebarkan informasi yang obyektif. Penerangan Pembangunan di bidang penerangan terutama ditujukan untuk meningkatkan penerangan sampai ke desa-desa. 8. Operasional penerangan Pembangunan operasional bidang penerangan dalam pelaksanaannya mencakup peningkatan peranan pusat penerangan masyarakat (Puspenmas). film. mengembangkan usaha bersama melalui sistem koperasi. bebas dan bertanggung jawab. Hal ini secara tidak langsung akan mendidik masyarakat pedesaan agar tidak mudah terpengaruh pada keinginan untuk melakukan urbanisasi.1.

Pameran pembangunan di tingkat pusat dilakukan pada setiap tanggal 20 Mei. terutarna dalam rangka meningkatkan peranserta wanita dalam pembangunan. Sulawesi Selatan. ruang perpustakaan. Jawa Tengah. Sumatera Selatan. terutama industri kecil. alat-alat duplikasi dan sarana mobilitas penerangan. Riau. Dalam waktu yang sama juga telah dilaksanakan usaha peningkatan mutu dan peranan daripada Jupen wanita. Hal ini merupakan suatu kegiatan terpadu antara Pemerintah dengan unsur-unsur swasta. yaitu bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional. Selain itu kegiatan tersebut juga berfungsi sebagai salah satu promosi hasil-hasil industri. yang antara lain meliputi peragaan visual. yaitu meliputi mobil unit penerangan. baik melalui pameran di tingkat pusat. yang untuk selanjutnya dapat menyebarluaskan materi siaran tersebut kepada masyarakat sebelum diterima dokumen lengkapnya. Nusa Tenggara Barat. hiburan dan sarasehan/pentaloka. Salah satu kegiatan penerangan yang dilaksanakan secara langsung adalah pameran pembangunan. Bali dan Sulawesi Utara. jumlah Jupen wanita yang secara aktif ikut memberikan penerangan kepada kaum wanita di daerah-daerah pedesaan mencapai 380 orang. juga dilengkapi dengan berbagai sarana penerangan antara lain berupa radio kaset. Jawa Barat. dan pada periode antara tanggal 21 Juni sarnpai dengan tanggal 21 Juli Departemen Keuangan RI 306 . sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 sebanyak 110 orang. serta mobil unit visual mini yang terdiri alas muviani darat dan muviani air. Sebagaimana halnya dengan Puspenmas.135 unit dan 300 unit. Sampai dengan bulan Agustus 1984 tahun pertama Repelita IV. mobil unit panggung. dalarn tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Agustus 1984 telah menjadi sebanyak 25 buah yang tersebar pada 11 ibukota propinsi meliputi propinsi Jawa Timur. dalam meningkatkan mutu dan peranan juru penerang (Jupen) yang bertugas di kecamatan. Dengan demikian sampai dengan tahun pertama repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 pembangunan gedung Puspenmas telah mencapai 275 buah yang mencakup 27 ibu kota propinsi. Sarnpai dengan akhir Pelita III. mobil unit suara. Sehubungan dengan itu apabila dalam tahun 1983/1984 pembangunan gedung Puspenmas baru mencapai sebanyak 11 buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menunjang usaha tersebut. Timor Timur. yang dalarn penyelenggaraannya terutarna disesuaikan dengan momentum hari-hari bersejarah. dalam pembangunan gedung Puspenmas selalu dilengkapi dengan ruang aula. Hal ini dimaksudkan agar para Jupen tersebut dapat memonitor siaran-siaran Pemerintah. Di samping itu guna menunjang kelancaran pelaksanaan penerangan sampai ke desa-desa. telah ditingkatkan pula penyediaan sarana mobilitas bagi para Jupen. Jambi. maupun di daerah-daerah sampai dengan tingkat kecarnatan yang dilaksanakan dengan pameran keliling. penyediaan muviani darat dan muviani air masing-masing telah berjumlah sebanyak 3.

8. Pengembangan sarana penerangan 8. terus diusahakan peningkatan mutu. isi.2. Guna menunjang kebijaksanaan tersebut. OB Van dan gedung studio/pemancar. Selanjutnya pada setiap tanggal 1 Oktober. 8. dalarn tahun 1983/1984 antara lain telah diterbitkan majalah Indonesia Today sebanyak 48.000 eksemplar. guna meningkatkan peranserta masyarakat dalam pembangunan maka dalam waktu yang sama telah diberikan 48. yang meliputi alat-alat studio/pemancar. Sedangkan untuk tingkat propinsi.000 eksemplar. Radio Dalarn rangka meningkatkan frekuensi dan mutu siaran RRI. yang bersamaan dengan dilakukannya peringatan hari Kesaktian Pancasila. Sedangkan khusus untuk Timor Timur. telah diberikan pembinaan. terutama yang ditujukan ke daerah-daerah Indonesia bagian timur dan Posifik Selatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berupa Pekan Raya Jakarta. dalam tahun pertama Pelita IV antara lain telah dilaksanakan peningkatan sarana penyiaran. Selanjutnya guna meningkatkan kekuatan pemancar RRI. Dengan demikian sampai dengan bulan Agustus 1984.2. Dalam rangka meningkatkan citra Indonesia di luar negeri. bersamaan dengan peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.000 eksemplar dan Indonesia Spotlight On Event sebanyak 72. penyebaran kaset penerangan dan penyuluhan ke daerah-daerah. jumlah serta frekuensi paket penerangan ke luar negeri yang disalurkan melalui perwakilan-perwakilan Indonesia yang berada di luar negeri. dan masyarakat asing yang tinggal di Indonesia. dewasa ini telah dilaksanakan pengudaraan pemancar gelombang pendek dengan kekuatan 250 kilowatt. Di sarnping itu juga telah diadakan kompetisi siaran pedesaan. baik melalui forum pertemuan/sarasehan maupun dengan pengadaan buku/brosur tentang pelaksanaan/perkembangan pembangunan di Indonesia. perekaman. Demikian pula halnya kepada masyarakat Indonesia di luar negeri. Dengan demikian minat luar negeri terhadap pelaksanaan pembangunan di Indonesia diharapkan akan semakin meningkat. pameran pembangunan dilaksanakan pada setiap tanggal 17 Agustus. RRI telah memiliki 301 buah pemancar yang Departemen Keuangan RI 307 . perlombaan bintang radio dan televisi. dilakukan pula pameran pembangunan untuk tingkat kabupaten/kotamadya. Indonesia Elyoum sebanyak 18.1. serta penyelenggaraan siaran wanita dalam pembangunan.8.000 eksemplar brosur/ majalah yang terdiri atas 25 judul. terutama yang mempunyai pengaruh langsung terhadap pembangunan di Indonesia. dan dunia internasional pada umumnya. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama dan persahabatan bagi bangsa-bangsa di kawasan ASEAN khususnya.

997 kilowatt. Dengan demikian dalam pembinaan selanjutnya akan terus diusahakan agar di setiap desa di seluruh Indonesia terdapat sekurang-kurangnya 1 kelompok pendengar yang tergabung dalam Kelompencapir. Sehubungan dengan perluasan jangkauan siaran TVRI. jumlah jam siaran pedesaan telah ditingkatkan sehingga mencapai 484 jam dalam satu minggu.4 persen. sampai dengan akhir Pelita III telah dapat diselesaikan pengembangan tahap pertama studio produksi TVRI di Jakarta.000 orang dalam tahun 1983/1984 menjadi 41. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah meningkat menjadi Departemen Keuangan RI 308 . Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. terus ditingkatkan siaran pedesaan baik mengenai mutu maupun isinya. 8. Televisi Dalam rangka meningkatkan daya jangkau penerangan dan pengembangan siaran di seluruh pelosok tanah air melalui televisi. Medan dan Palembang.609 orang. sehingga pada gilirannya RRI akan dapat menyatu dan akrab dengan khalayak pendengarnya. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. Untuk meningkatkan peranserta masyarakat pedesaan dalam pembangunan. baik mengenai mutu. telah dibangun lagi 10 buah stasiun pemancar.609 kilometer.814 orang dan 5.325 orang dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Dengan demikian secara keseluruhan jumlah stasiun pemancar TVRI yang berhasil dibangun sampai dengan periode tersebut telah mencapai 199 buah. Kegiatan pembinaan kelompok pendengar siaran pedesaan. Selanjutnya untuk meningkatkan sarana produksi dan jangkauan siaran TVRI.8. pengadaan 10 unit stasiun produksi keliling. apabila dalam tahun 1983/1984 luas daerah jangkauannya baru mencapai 495. terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. isi maupun persentase siarannya. terdiri dari 244 jam per minggu yang disiarkan melalui 48 buah Radio Republik Indonesia (RRI) dan 240 jam per minggu yang disiarkan melalui 108 buah Radio Pemerintah Daerah (RPD). Dalam pada itu jumlah pendengar siaran pedesaan juga telah meningkat sebesar 5. Di samping itu juga telah dilaksanakan intensifikasi penggunaan stasiun produksi keliling dalam bentuk mobil unit. kemudian diikuti oleh kelompok pemuda dan kelompok wanita yang masing-masing mencapai 6. terutama dalam rangka menggali potensi seni budaya bangsa yang tersebar di berbagai daerah. yaitu dari 39. Dari jumlah tersebut. dilakukan secara terpadu dengan kelompok pembaca dan pemirsa (Kelompencapir). kelompok dewasa merupakan kelompok pendengar yang paling banyak yakni 28.902 orang.2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tersebar pada 49 stasiun di seluruh Indonesia dengan kekuatan terpasang sekitar 2. serta pembangunan 189 stasiun pemancar. pembangunan studio warna di Ujungpandang.2.

719 1982/83 6.1984/1985 Uraian 1.631 1978/79 5.000 82 1978/79 9 82 1.030 650 12.965 7. Nopember 1828. jumlah produksi serta kelancaran peredaran dan pemasaran fIlm Indonesia.900 1971/72 900 800 270 1. STASI_N PEMANCAR.433.100 1977/78 3.435 519 25.980 1976/77 4. agar film/rekaman video produksi nasional dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.lain Jumlah 1) Angka sementara 1969/70 680 800 260 1.461 731 15.100 40. Lebak Membara.940 174. Studio (buah) 2.433.5 1974/75 6 23 410.500 40 1973/74 6 22 351.100.000 82 1979/80 9 89 1.700 470 4. LUAS DAERAH DAN JUML_H PENDUDUK DALAM DAERAHPANCARAN TVRI.2 8.965 Tabel VIII.410 600 6. seperti film drama.261 514 25.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.308 495. PESAWAT TELEVISI.504 25.405.000 400.432 buah atau sebesar 1.578 1983/84 1984/85 1) 7. Departemen Keuangan RI 309 .011 18.126.740 4. baik dalam memenuhi kebutuhan di dalam negeri maupun di luar negeri.9. TabeI VIII. Kartini. Penduduk dalam daerah pancaran (juta orang) 1 ) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1969/70 2 4 80.572 25. maka kemampuan mekanisme tata peredaran film/rekaman video nasional terus ditingkatkan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 534. 8 JUMLAH JAM SIARAN TELEVESI MENU RUT JENIS SIARAN.180 229. Sedangkan jumlah pesawat televisi yang terdaftar pada kantor pos dan giro dalam tahun yang sama telah mencapai 5. 1969/1970 . mutu. Pesawat televisi (buah) 4.343.2 juta orang. Sehubungan dengan usaha regenerasi pewarisan nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa.000 85 1980/81 9 107 2. action serta film khusus untuk anak-anak dan remaja.000 24.5 1972/73 4 10 220.100 80.000 87 1981/82 9 124 2.000 72.000 406. Jaka Sembung. pelaksanaannya diarahkan pada tercapainya suatu keseimbangan di antara tema-tema fIlm yang diproduksi.038 1979/80 5. dalam periode yang sama telah meningkat dari 95.600 95.430 75. terus diusahakan terciptanya mekanisme kerjasama.160 512 25.439 11. 1969/1970 .610 1. saling pengertian.970 1972/73 930 800 270 2.9 1977/78 9 70 895.599.8 dan Tabel VIII.740 534.500 5.780 1974/75 3.500 36.000 419. di Pusat Produksi Film Negara (PPFN) pada saat ini telah dan sedang di produksi film-film sejarah seperti Serangan Fajar.000 22.900 42 1975/76 6 26 542. rasa persatuan dan tanggung jawab di antara organisasi profesi.030 1975/76 1.906 18.808 115.8. Stasion pemancar (buah) 3.000 1973/74 2.5 9 199 5.435 519 25. Sehubungan dengan itu. Luas dalam jangkauan (Km2) 18. sedangkan film/rekaman video impor hanya berfungsi sebagai pelengkap.600 95.572 25.000 34.890 495.519 17. Perkembangan sarana dan jumlah jam siaran TVRI menurut jenis siaran dapat diikuti pada Tabel VIII.600 73 1976/77 6 34 632.323 1981/82 6.020 2. yang sekaligus terkandung penertiban judulnya.000 36.470 72.971.808 kilometer.232 2.5 1970/71 3 4 135.1984/1985 Jam siaran Hiburan Berita/penerangan/ pendidikan /kebudayaan Lain .5 1983/84 1984/85 2) 9 189 5.3.944 18.680 560 6. yang berarti telah meningkat dengan 90.740 buah.915 17. 9 JUMLAH STUDIO.500 90 1982/83 9 186 2.508 17. Selanjutnya dalam rangka peningkatan produksi film.500 26.2.5 juta orang menjadi 115.420 7.026 2.232 2. Perfilman nasional Peningkatan dan pembinaan bidang perfilman nasional terutama ditujukan untuk meningkatkan citra.719 1980/81 5.011 18. komedi. Demikian pula jumlah penduduk yang telah terjangkau oleh siaran TVRI.740 1970/71 800 800 300 1.827 427. Guna mewujudkan iklim yang sehat bagi perkembangan industri perfilman dan rekaman video.5 1971/72 4 8 190.

Sedangkan untuk peredaran di luar negeri me1alui 59 kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) telah disediakan 60 copy.2. jumlah ekspor film Indonesia ke luar negeri telah mencapai sebanyak 22 judul. yang merupakan perubahan alas Un dangUndang No. 76 judul dan 40 judul. Dengan te1ah dilaksanakannya peningkatan di bidang pertunjukan. Selanjutnya agar film tersebut dapat mencapai peredaran di dalam negeri selama dua tahun. Selama Pelita III. Sedangkan dalam tahun 1984 antara lain telah diselenggarakan Festival Film Indonesia (FFI) di Yogyakarta dan Festival Film ASEAN XIV di Jakarta. terus ditingkatkan usaha menghidupkan film produksi nasional. film-film Indonesia telah diikutsertakan dalam festival dan pekan film internasional. yaitu ke Malaysia. Los Angeles dan Milano. Singapura dan Brunai. Selama Pelita III. sehingga dapat menampung penonton sebanyak 3 kali lebih besar dibandingkan dengan pertunjukan film yang dalam penyajiannya menggunakan teknik biasa.4. di sampingjuga telah diproduksi film iklan.8. yaitu suatu film yang dalam penyajiannya menggunakan layar lebar dan membentuk 180?. Selanjutnya untuk lebih memperkenalkan budaya bangsa Indonesia di luar negeri. te1ah diproduksi film ceritera nasional sebanyak 337 judul yang berarti rata-rata dapat diproduksi sebanyak 67 judul per tahun. London. Berlin. di samping juga sebagai film pendidikan bagi generasi muda. 8. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah dihasilkan 46 judul. Se1anjutnya dalam rangka meningkatkan mutu penyajian film. film dokumenter nasional dan film dokumenter/iklan yang dibuat orang asing. Dalam hubungan ini. sejak tahun 1983/1984 PPFN telah diperkenalkan film Cinerama. sejak tahun 1984/1985 diproduksikan fIlm dengan menggunakan sistem Imax yaitu suatu teknologi perfilman yang menggunakan sistem proyektor 70 mm/6 sound track. Kereta Api Terakhir dan Sejarah Orde Baru. di samping setiap tahun juga diikutsertakan dalam Festival Film Asia dan Festival Film ASEAN secara rutin. Pers Peningkatan pembinaan di bidang pers terutama ditandai dengan telah ditetapkannya Undang-Undang No. masing-masing sebanyak 16 judul. selama Pelita III telah diikuti festival dan pekan film internasional di Manila.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Kamp Tawanan Wanita. Cannes. 21 Tahun 1982. disediakan 30 copy dengan perincian 27 copy untuk Daerah Tingkat I dan 3 copy untuk arsip nasional. 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Departemen Keuangan RI 310 . Adapun film Sejarah Orde Baru dimaksudkan untuk meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap bahaya laten PKI. Hongkong. Sementara itu guna meningkatkan usaha promosi dan pemasaran film Indonesia ke luar negeri.

Sehubungan dengan itu. serta peningkatan laju pertumbuhan setiap daerah. saat ini sedang dilaksanakan pembahasan rancangan perubahan mengenai Sural Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) oleh Dewan Pers. yaitu sebuah lembaga yang akan mendampingi Pemerintah dalam membina dan mengembangkan pers nasional.675. khususnya yang mempunyai hubungan secara langsung dengan tugas di bidang pembangunan desa. terus ditingkatkan penyelenggaraan forumforum dialog antara Pemerintah. 8. serta dalam rangka pelaksanaan interaksi positif. secara bertahap telah ditingkatkan pelaksanaan program koran masuk desa (KMD) baik kualitas maupun kuantitas. dalam tahun 1983/1984 melalui program KMD telah dapat diedarkan koran sebanyak 8. Selanjutnya sebagai pelaksanaannya telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1967. pers dan masyarakat. 21 Tahun 1982. di samping itu juga untuk mempertebal semangat dan gairah partisiposi masyarakat dalam meningkatkan hasil guna dan clara guna kegiatan pembangunan di daerah. Bantuan pembangunan daerah 8.000 eksemplar melalui 16 penerbit.1 Tahun 1984 tentang Dewan Pers. Selain itu sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No.1. Sesuai dengan arab pembangunan daerah tersebut. sehingga dengan adanya KMD tersebut benar-benar akan dapat memberikan motivasi kepada masyarakat pedesaan untuk ikut berpatisiposi dalam pembangunan.9. sedangkan dari segi kuantitas peningkatannya nampak dari penambahan jumlah oplag. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah dapat diedarkan sebanyak 397. Sementara itu guna meningkatkan pemerataan informasi ke daerah-daerah pedesaan. Sedangkan guna mengembangkan kebutuhan informasi. kegiatan tersebut antara lain ditujukan pada pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh tanah air.000 eksemplar dari 50 penerbit dan tersebar pada 26 propinsi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Undang-Undang No. Dari segi kualitas dicerminkan dalam peningkatan kemampuan mengelola KMD melalui penataran-penataran. daerah tingkat I dan daerah tingkat II Kebijaksanaan yang ditempuh di bidang pembangunan daerah dalam tahun 1983/ 1984 merupakan kelanjutan dan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.9. Pembangunan desa. yang kemudian ditingkatkan melalui kegiatan kerjasama dengan berbagai lembaga. maka dalam Pdita IV pembangunan pedesaan ditujukan untuk Departemen Keuangan RI 311 . Sejalan dengan Trilogi Pembangunan. terutama dalam mewujudkan adanya pers yang bebas dan bertanggung jawab. Di samping itu guna meningkatkan pelaksanaan KMD telah dibentuk pula kelompokkelompok pembaca di daerah pedesaan.

terbelakang.757 desa.045 kecamatan yang tersebar di 27 propinsi daerah tingkat I. rawan. sedangkan pada Departemen Keuangan RI 312 .5 persen per tahun. jumlah desa yang telah menjadi pemenang perlombaan desa. serta kursus bagi 3. pembangunan di wilayah kecamatan melalui sistem UDKP tersebut diutamakan pada kecamatan yang tergolong miskin. Untuk itu telah dilakukan evaluasi terhadap tingkat perkembangan desa. telah diselenggarakan perlombaan desa. diskusi UDKP dan temu karya LKMD di tingkat ke carnatan . yang pada gilirannya akan dapat memantapkan ketahanan nasional. serta berada di wilayah perbatasan/kepulauan dan radar penduduk.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 mempercepat pertumbuhan desa. yang merupakan satu sistem terkecil dalam administrasi pemerintahan dan ekonomi. berjumlah 11. Kepada desadesa yang mencapai prestasi tinggi dan menjadi pemenang perlombaan diberikan penghargaan dan hadiah dalam bentuk proyek. Sedangkan untuk mendorong desa-desa agar lebih giat melaksanakan pembangunan desanya. Hasil evaluasi dan monitoring di bidang perkembangan desa sampai dengan tahun 1984/1985 menunjukkan adanya 16. baik di tingkat kabupaten/kotamadya maupun di tingkat propinsi. atau suatu peningkatan rata-rata sebesar 3. baik di tingkat kabupaten/kotamadya daerah tingkat II maupun di tingkat propinsi daerah tingkat I. Sejalan dengan pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah tanah air. Sampai dengan tahun 1983/1984. Sejalan dengan itu telah dilaksanakan pula penempatan 1. kecamatan UDKP rata-rata meningkat 6. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan yang positif bagi desa-desa lainnya agar lebih giat melaksanakan pembangunan.385 desa yang telah menjadi desa swasembada. Sebagai hasilnya. Sampai dengan tahun 1983/1984. serta rapat koordinasi pembangunan. desa-desa di 27 propinsi yang telah menjadi pemenang perlombaan desa kini dapat mengembangkan desanya secara lebih cepat dan baik.7 persen per tahun.429 kepala urusan pembangunan. musyawarah LKMD. menjadi desa swasembada. desa tingkat kecamatan dari 27 propinsi. Selain itu di wilayah kecarnatan UDKP telah dilaksanakan pula berbagai kegiatan. Dengan demikian kedudukan desa sebagai obyek pembangunan berubah menjadi subyek pembangunan yang berketahanan di semua bidang. dilakukan juga pembangunan desa melalui sistem Unit Daerah Kerja Pembangunan (UDKP). sistem UDKP ini telah dilaksanakan pada 2.183 TKS-BUTSI. antara lain penataran terhadap 1. Melalui sistem UDKP. Usaha ini merupakan penerapan sistem penyusunan rencana daTi bawah. karena dalam jangka panjang desa-desa di seluruh Indonesia akan dikembangkan menjadi desa swasembada. agar kecamalan-kecamatan tersebut dapat berkembang sesuai dengan kecamatan lainnya. jumlah desa swasembada pada. minus. yang disesuaikan dengan kebutuhan dasar masyarakat desa yang berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan.093 orang camat UDKP.

698 LKMD atau sekitar 94. siaran pedesaan melalui RRI dengan 41. telah dikembangkan pula sebanyak 4. telah dilaksanakan latihan bagi pelatih/instruktur PL-LKMD yang diikuti 6. telah dibentuk pula lembaga ketahanan masyarakat desa (LKMD). telah diikuti oleh 42. dan swadaya masyarakat yang mengisi kecarnatan dengan sistem UDFY terse but rata-rata adalah sebanyak 25 proyek. dan bagi kader LKMD-KPD yang diikuti 57. regional.755 LKMD percontohan yang diharapkan akan menjadi LKMD teladan.575 peserta dan kelompok kesenian rakyat.ertambah dengan sebesar 3. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan fungsi LKMD.2 persen per tahun. serta melalui penerbitan dan Departemen Keuangan RI 313 . Selain itu guna mempercepat terwujudnya LKMD yang aktif berfungsi dalam pelaksanaan pembangunan. pertanian. juga terkait kegiatan penerapan pola tatadesa dan pengembangan teknologi pedesaan. survai/pengkajian identifikasi masalah tatadesa di 6 kecarnatan yang meliputi 90 desa dan penyuluhan mengenai teknis pola tatadesa terhadap 216 tokoh masyarakat desa.488 orang. yaitu kategori posif sebanyak 10. Sampai dengan tahun 1983/1984. sedangkan latihan guna meningkatkan keterampilan dalam pembangunan/pemugaran perumahan desa.040 kecamatan. pemukiman kembali penduduk dan penciptaan lapangan kerja.876 kecamatan. Inpres. yakni meliputi bidang energi. Selain kegiatan tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kecamatan non UDKP rata-rata hanya b. konstruksi dan material. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk latihan sosio drama yang diikuti oleh 9.207 LKMD.448 desa yang ada di Indonesia. Sedangkan guna penerapan dan pengembangan teknologi pedesaan telah dilakukan identifikasi spesifik terhadap 46 jenis teknologi pedesaan yang telah berhasil diterapkan dan dikembangkan. Jumlah tersebut menurut tingkat perkembangannya dapat dike1ompokkan ke dalam 3 kategori. Dalam sistem UDKP tersebut. terutama untuk desa-desa yang terbelakang. penerapan pola tatadesa di 672 desa. telah dibentuk sebanyak 63. sampai dengan tahun 1983/1984 telah diberikan dana paket UDKP kepada 1. kategori berkembang sebanyak 25. pementasan kegiatan LKMD melalui TVRI. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan peranserta aktif swadaya masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan hidup dan pembangunan desanya. telah dilaksanakan pula penyuluhan dan peningkatan motivasi.297 LKMD dan kategori aktif berfungsi sebanyak 28. pangan.194 LKMD. Adapun untuk pengembangan teknologi desa telah diberikan latihan kepada 734 orang anggota masyarakat.380 kelompok pendengar. Berkaitan dengan itu telah dilakukan survai pendahuluan tatadesa pada 1.4 persen dari 66. Melalui inpres bantuan pembangunan desa. di samping juga penetapan dan pemilihan 63 orang perugas teknologi pedesaan (PL TP) dan 345 orang kader teknologi pedesaan.315 orang. Dalam pada itu peningkatan jumlah proyek/program sektoral.237 orang.

Berkaitan dengan pemukiman kembali penduduk desa. pemasaran dan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk daerah perkotaan. telah diberikan bantuan yang besarnya didasarkan atas jumlah penduduk.598 orang. terutama lingkungan hidup masyarakat yang berpenghasilan Departemen Keuangan RI 314 . 17. penggunaan bantuan tersebut diarahkan pada proyekproyek yang dapat memperbaiki lingkungan hidup perkotaan. Jawa Barat dan 32 orang di DI Yogyakarta. telah dilakukan pula penyuluhan dan latihan bagi 21 orang petugas lapangan di Tangerang.896 lokasi/desa di 26 propinsi.6 milyar. dan saluran pembawa.3 persen. bantuan diarahkan pada pembangunan baik prasarana fisik. jembatan. yang sampai dengan tahun 1983/1984 telah diikuti oleh 290.3 persen dan 38. Pemerintah daerah dan swadaya masyarakat.890 rumah yang tersebar pada 1. yang diikuti oleh 2. masing-masing sebesar 61. Untuk membantu pelaksanaan pembangunan di daerah tingkat II. yang terdiri atas prasarana produksi. gorong-gorong. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan' bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan latihan/kursus bagi tim penggerak PKK tingkat propinsi dan kabupaten/kotamadya. terus ditingkatkan jumlah bantuan yang diberikan kepada setiap desa. Sedangkan sejak dimulainya kegiatan pemugaran perumahan dan lingkungan desa.935 buah. peningkatan dan pembangunan berbagai jenis prasarana fisiko perekonomian dan lingkungan. masing-masing sebanyak 30. Di samping itu guna meningkatkan peranan masyarakat dalam menunjang program dasawarsa air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman. yakni melalui usaha perbaikan. Bantuan tersebut ditujukan untuk penciptaan dan perluasan lapangan kerja di daerah-daerah. Proyek-proyek tersebut dibangun melalui bantuan Pemerintah pusat.831 buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penyebaran folder/poster/brosur-brosur penyuluhan. telah dilaksanakan pemugaran 46. Untuk meningkatkan taraf hidupdan kesejahteraan penduduk di pedesaan serta guna mempercepat pembangunan pedesaan. Kegiatan lain yang erat kaitannya dengan pembinaan LKMD adalah pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). bendungan. yakni dalam tahun 1976/1977 sampai dengan bulan Agustus 1984.669 KK pada 5'Ollokasi di 21 propinsi. perhubungan. sejak tahun 1972/1973 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dimukimkan kembali penduduk sebanyak 29.441 proyek.437 desa telah memperoleh bantuan sebesar Rp 91.4 persen. 0. maupun proyek-proyek lain seperti pengembangan potensi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. Untuk itu dibentuk kaderkader PKK melalui penyelenggaraan kursus-kursus PKK.092 buah. sehingga dalam tahun 1983/1984 sebanyak 66.583 buah dan 54. 'yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di daerah-daerah bersangkutan. 3. Dalam waktu yang sarna hasil pelaksanaan Inpres pembangunan desa telah mencakup 106. seperti jalan.430 orang meliputi 27 propinsi dan terdiri dari 54 kabupaten/kotamadya.

741. masing-masing seluas 38. Oleh schab itu. yang jumlah penduduk dan tingkat produktivitasnya cukup tinggi. serta penghijauan dan pencegahan banjir.4 hektar. saluran pembawa sepanjang 13. yang ditujukan untuk membantu daerah tingkat II untuk membangun jalan yang menghubungkan daerahdaerah terpencil.227 meter. mulai tahun 1979/1980 diberikan pula bantuan penunjangan jalan kabupaten. peranan kota sebagai pusat pemukiman. masing-masing sebanyak 23 buah dan 11 buah. Sedangkan melalui dana Inpres bantuan pembangunan daerah tingkat I sebesar Rp 253.000.7 kilometer. Sejalan dengan itu telah dibangun pula fasilitas eksploitasi sebanyak 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rendah.5 meter.225. selain juga untuk perbaikan dan penyempurnaan irigasi yang terdiri dari bendungan sebanyak 56 buah dan saluran sepanjang 280.393.315 meterpersegi.082 buah. serta prasarana pengairan bernpa bendungan sejumlah 121. serta penggantian gorong-gorong sepanjang 59. masing-masing sepanjang 61..916. Tatakota dan tatadaerah Sejalan dengan proses pembangunan yang terus berlangsung. politik.321.907 buah.414 kilometer. penunjangan jembatan sepanjang 5. kebudayaan.022 meter. Dengan semakin meningkatnya bantuan kepada Dati I. sosial.1 kilometer dan 3.juta telah dibangun sebanyak 2.415 kilometer.928 hektar. Bantuan tersebut antara lain digunakan untuk pemeliharaan jalan dan jembatan. Sementara itu dalam rangka pemeliharaan pengairan antara lain telah dilakukan pembangunan bangunan air sebanyak 112. masing-masing sepanjang 7. Dalam tahun 1983/1984 telah dibangun prasarana perhubungan meliputi jalan sepanjang 17. Selain itu juga telah dibangun pasar seluas 77. Di samping bantuan pembangunan daerah tingkat II tersebut. stasiun bus dan pelabuhan sungai.174 hektar dan 6.8 kilometer dan 8. 8. jasa dan pusat pemerintahan juga semakin besar.707 meter. administrasi.604 buah proyek. maka pelaksanaan pembangunan daerah lebih meningkat lagi sesuai dengan prioritas kebutuhannya.880. dalam tahun 1983/1984 telah berhasil dilaksanakan penunjangan jalan sepanjang 7. telah dilakukan usaha pembinaan dan pengembangan perkotaan yang bertujuan.658 meter.6 kilometer. selain untuk pembangunan dan pengembangan terhadap kota tersebut. serta tanggul banjir dan jaringan telepon.2 kilometer dan 16.2 kilometer.9.9 kilometer dan bangunan pengairan lainnya sebanyak 664 buah yang dapat mengairi areal seluas 44.2.352. Dengan bantuan tersebut. kegiatan ekonomi. serta saluran pembawa dan pembuang.3 kilometer. riol sepanjang 434.748.487 meterkubik. pembangunan jembatan sepanjang 14. juga dimaksudkan untuk peningkatan pelayanan umum dan perbaikan Departemen Keuangan RI 315 .728. dan jembatan sepanjang 27. masing-masing sepanjang 5.

serta tertib pemeliharaan tanah dan lingkungan.3. Sejalan dengan itu dilakukan pula persiapan penyusunan rencana kota yang dikaitkan dengan program bantuan bagi 57 kota. baik dengan kota-kota di luar negeri maupun dengan organisasillembaga intemasional perkotaan di luar negeri.2. 8. Kota Banjar. Atas dasar hasil pengumpulan data tersebut. penyusunan raneangan peraturan Pemerintah mengenai pembentukan kota administratif Kota Bumi. Kuala Kapuas. Cibinong. Kota Baru dan Amuntai. telah dilakukan pula pembentukan kota administratif sebanyak 28 buah di seluruh Indonesia.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kondisi lingkunganpemukiman yang aman. 30 buah Dinas Air Minum dan 27 buah Seksi Air Minum. Untuk itu telah dilakukan penertiban dan peningkatan pengurusan hak-hak atas tanah. pengembangan landreform serta Departemen Keuangan RI 316 . tertib da sehat bagi seluruh warganya. tertib penggunaan tanah. Berkaitan dengan pembinaan pemerintahan kota. Selain itu juga telah disusun kerangka acuan kerja bantuan teknik bagi kota Semarang (Semarang Raya). Metro. Pangkalan Brandan. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah terdapat sebanyak 136 buah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Lahat.005. Selanjutnya dalam rangka pengembangan perkotaan telah dilakukan pula pembinaan kerjasama antara kotakota di dalam negeri.9. Curup. Palopo. Tata agraria dan tataguna tanah Kegiatan program tataagraria seiring dengan program tataguna tanah ditujukan untuk meneiptakan tertib hukum pertanahan. Untuk mencapai tujuan tersebut. Bima. Dalam rangka pembinaan pengelolaan air minum. pembinaan pengelolaan air minum dan pembinaan pemerim:ahan kota. Watampone. telah dilaksanakan pengumpulan data/bahan-bahan yang meneakup masalah air minum di seluruh Indonesia. serta rencana induk kota Tangerang. Sementara itu dalam pembinaan reneana kota telah dilakukan kegiatan pengembangan kota Metropolitan Jakarta yang meliputi penyusunan rencana induk kota DKI Jakarta tahun 1985 . Rantau Prapat. Lhokseumawe dan Pariaman. Langsa. dan Bekasi. Di samping itu juga dilakukan peningkatan kemampuan di bidang perencanaan kota melalui kursus yang diselenggarakan oleh Badan kerjasama Antar Kota Seluruh Indonesia (BKS-AKSI). ditempuh kebijaksanaan yang antara lain meliputi pembinaan reneana kota. pemberian bantuan teknis dan biaya dalam jumlah terbatas kepada daerah tingkat II yang akan melakukan reneana induk kotanya. tertib administrasi pertanahan. pendaftaran tanah. Bontang. Ujungpandang (Mamimasa Ora) dan Denpasar. 75 buah Badan Pengelola Air Minum (BPAM). Sampit. yang pengembangannya disesuaikan dengan pokok-pokok kebijaksanaan pengembangan wilayah Jabotabek. Selain itu telah dilakukan penelitian tentang reneana pembentukan kota administratif Sarong.

penguasaan. pemetaan penggunaan tanah pedusunan. Sedangkan hasil-hasil yang telah dicapai dalam kegiatan pengembangan land reform sampai dengan akhir Pelita III antara lain meliputi identifikasi penguasaan pemilikan tanah pertanian pedesaan di 21 desa.611.716. serta peningkatan tertib administrasi landreform terhadap 80. serta pengendalian penggunaannya. penggunaan.088 ribu hektar dan 44.494 ribu hektar dan 70.512. pemetaan kemampuan tanah. 14.053 sural keputusan hak tanah dengan penerimaan negara sebesar Rp 6. 78. dan monitoring rencana tataguna tanah Dati II di 250 kabupaten/kodya. pelaksanaan redistribusi tanah seluas 665.078 KK. Program pembangunan tataguna tanah terutama diarahkan pada daerah-daerah minus dan padat penduduknya. serta pemetaan penggunaan tanah pedusunan dengan skala 1:200 ribu. 194 kota kabupaten dan 485 kola kecamatan.281. 1:50 ribu dan 1:25 ribu.960 ribu hektar. Sementara itu telah dilakukan pemetaan penggunaan tanah perkotaan pada 64 kotamadya/kota administratif. dan pemilikan tanah. monitoring lokasi daerah miskin.160 ribu hektar. serta ditujukan untuk peningkatan pelayanan terhadap penyiapan daerah transmigrasi. perencanaan tataguna tanah Dati II. masing-masing seluas 9. Dalam tahun 1983/1984.-. Di samping pemetaan penggunaan tanah. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah diselesaikan sebanyak 34. perhifungan produktivitas tanah di 199 kabupaten.833. juga telah diselesaikan penyusunan rencana tataguna tanah Dati II di 250 kodya/kabupaten. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Juli 1984 telah diselesaikan sebanyak 171. Departemen Keuangan RI 317 .652. Hasil yang dicapai di bidang pengembangan tataguna tanah sampai dengan Pelita III meliputi pembuatan peta kerja dengan skala 1:25 ribu seluas 7. Selain itu juga mencakup peningkatan inventarisasi dan evaluasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup.760 ribu hektar.592 ribu hektar. masing-masing seluas 11. penertiban perjanjian bagi hasil pada 52 kabupaten. monitoring lokasi daerah miskin di 246 kabupaten. perhitungan produktivitas tanah. dengan jumlah pemasukan uang kepada negara sebesar Rp 1. pemetaan kemampuan tanah dengan skala 1: 100 ribu dan 1:50 ribu.302 surat keputusan hak tanah. pengembangan tataguna tanah pada umumnya merupakan kelanjutan daripada kegiatan tahun sebelumnya yang meliputi pembuatan peta kerja.094 hektar. 1: 100 ribu. serta monitoring rencana tataguna tanah Dati II. penyelesaian sengketa sebanyak 114 kasus.-. penyediaan sarana dan cara penataan kembali.264 ribu hektar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 proyek operasi nasional agraria (Prona). Adapun dari hasil penertiban dan peningkatan pengurusan hak-hak atas tanah. pemetaan penggunaan tanah perkotaan.

200 1. PENERIMAAN DALAM NEGERI I. Penerimaan di Luar Minyak Bumi dan Gas Alam 1.000 -98. Bantuan Proyek JUMLAH 717. Penerimaan Bukan Pajak B.300 101.300 -865.100 -314. Pajak Penghasilan Gas Alam II. Pajak Penghasilan Minyak Bumi 2.1. Bea Masuk 3.200 3.2.900 11.700 9.479.000 -1.276.Cukai . Bea Masuk dan Cukai 3.900 4.2. Pajak Ekspor 5.600 2.Hasil potongan penghasilan Pekerjaan .700 167.Usaha dan pekerjaan 1.100 70.680. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah 3.368.100 963.600 1.400 1. PENERIMAAN PEMBANGUNAN 1. Bantuan Program 2.Hasil pungutan kegiatan usaha .Badan usaha swasta .700 -226.677.010.000 JUMLAH 18.700 -658.400 -294.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Lampiran 1 PERKIRAAN PENERIMAAN NEGARA TAHUNANGGARAN 1985/1986 (dalam jutaan rupiah) JENIS PENERIMAAN A.159. royalty Dan sebagainya.074.Cukai tembakau .Hasil potongan bunga deviden.297. 2. Pajak Penghasilan 1.200 23.100 7.300 -570.046.000 797. Pajak Lainnya 7.1.Cukai lainnya 4.400 731. Pajak penghasilan perseorangan .400 Departemen Keuangan RI 318 .400 96.666.Badan usaha milik negara . Penerimaan Minyak Bumi dan Gas Alam 1.Ipeda 6.518. Pajak penghasilan badan .680.900 4.

1. Pajak penghasilan usaha dan pekerjaan Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : .timbulnya perusahaan-perusahaan baru dan perluasan perusahaan yang ada sehingga memperluas lapangan kerja.penertiban dan perluasan wajib pajak. Berdasarkan pertimbangan di atas.7 milyar.batas pendapatan tidak kena pajak sesuai dengan UndangUndang Pajak Penghasilan.1.peningkatan verifikasi sehingga dapat ditagih pajak yang seharusnya dipungut. . .perluasan dasar pengenaan pajak. maka penerimaan minyak bumi dan gas alam diperkirakan sebesar Rp'11. maka diperkirakan penerimaan yang berasal dari pajak hasil potongan penghasilan pekerjaan dapat mencapai Rp 570.peningkatan mutu aparat pajak. Berdasarkan hal-hat tersebut.1S9.2.50 per barrel.1.1. dan 100 ribu barrel kondensat sehari harga rata-rata ekspor minyak mentah Indonesia diperkirakan sebesar US $ 29. . 319 Departemen Keuangan RI .perluasan dasar pengenaan pajak.penertiban dan perluasan jumlah wajib pajak dengan intensifikasi pemungutan melalui verifikasi yang mendalam. PENERIMAAN DALAM NEGERI I. .penertiban dan perluasan wajib pajak. .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 DASAR PERHITUNGAN UNTUK PERKlRAAN PENERIMAAN NEGARA RAPBN 1985/1986 A. . .peningkatan kesadaran dari para wajib pajak.3 juta barrel minyak mentah sehari. .penagihan yang lebih intensif atas tunggakan-tunggakan pajak.peningkatan penghasilan masyarakat. . 1. .7 milyar. . PENERIMAAN DI LUAR MINYAK BUMI DAN GAS ALAM 1. Pajak penghasilan perseorangan Faktor-faktor umum yang diperhitungkan : . . Pajak penghasilan 1.peningkatan kegiatan penagihan atas tunggakan-tunggakan pajakpenghasilan. Pajak hasil potongan penghasilan pekerjaan Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : .peningkatan penghasilan dan kegiatan usaha perseorangan. PENERIMAAN MINYAK BUMI DAN GAS ALAM Faktor-faktor yang diperhitungkan : produksi minyak diperkirakan sebesar 1. .perluasan dasar pengenaan pajak. II. 1.berkembangnya kegiatan usaha produksi dan perdagangan.

Departemen Keuangan RI 320 .timbulnya perusahaan-perusahaan baru.naiknya penghasilan perusahaan-perusahaan.berkembangnya kegiatan ekonomildunia usaha.2. dividen.6 milyar. 1.kesadaran wajib pajak yang semakin baik yang mendorong perusahaan untuk lebih terbuka dalam pembukuannya. . Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : . Pajak penghasilan badan usaha swasta Dalam penerimaan ini termasuk pula pajak penghasilan atas laba yang/diperoleh badan aging yang ada di Indonesia.1. .berkembangnya kegiatan usaha produksi dan perdagangan.2. 1.2. . diperkirakin pajak penghasilan badan usaha swasta sejumlah Rp 1. Berdasarkan faktor-faktor di atas. 1.penertiban dan perluasan jumlab wajib pajak. royalty dan sebagainya. 1. . .pemeriksaan pembukuan yang lebih intensif atas jumlah laba perusahaan. . .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 - pemeriksaan pembukuan yang lebih intensif atas jumlah laba perusahaan.penertiban dan perluasan wajib pajak. .1 milyar.peningkatan penghasilan dari badan-badan usaha swasta.3.perusahaan negara. maka diperkirakan dapat diperoleh pajak hasil pungutan kegiatan usaha sebesar Rp 314. Pajak hasil potongan bunga. Pajak hasil pungutan kegiatan usaha Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : .2.2. Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas diperkirakan pajak penghasilan badan usaha milik negara sebesar Rp 658.penagihan yang lebih intensif atas tunggakan-tunggakan pajak.4 milyar. . .010.penertiban administrasi dan organisasi perusahaan .2. Pajak penghasilan badan usaha milik negara Faktor-faktor yang diperhitungkan : . . Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : . Berdasarkan faktor-faktor di atas.batas PTKP sesuai dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan. Pajak penghasilan badan Faktor-faktor umum yang diperhitungkan : . diperkirakan penerimaan pajak penghasilan usaha dan pekerjaan dapat mencapai jumlah Rp 226. 1.perluasan dasar pengenaan pajak.4.0 milyar. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. .kegiatan usaba yang memperoleh pembayaran untuk barang dan jasa dari anggaran belanja negara.intensifikasi pemungutan pajak.kegiatan usaha di bidang impor.peningkatan keuntungan daripada perusahaan negara.

tarip rata-rata bea masuk diperkirakan sebesar 13.4 milyar Bea Masuk dan Cukai 3. Cukai 3. 3.peningkatan clara beli masyarakat dengan naiknya pendapatan nasional.2. .1.peningkatan usaha pemungutan cukai berupa penyerasian pita cukai dengan perkembangan harga jualnya. Cukai lainnya Cukai lainnya terdiri dari cukai gula. . Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan adalah : . .pencegahan dan pemberantasan pita rokok palsu dan rokok tidak berpita cukai.pengenaan pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM).0 persen. dividen.perkembangan perekonomian khususnya pacta sektor pertanian. Cukai tembakau Hal-hal yang dapat mempengaruhi penerimaan cukai tembakau adalah : . 2. pembayaran bunga dan royalty. . perdagangan dan jasa.0 milyar 3.666.2 milyar. diharapkan dapat diterima cukai tembakau sebesar Rp 865. royalty dan sebagainya diperkirakan akan mencapai sebesar Rp 294. Departemen Keuangan RI 321 . maka penerimaan bea masuk diperkirakan dapat mencapai Rp717. Berdasarkan hal-hat tersebut.perluasan jumlah wajib pajak dan intensifikasi pemungutan melalui verifikasi yang lebih ketat atas penyerahan barang-barang dan jasa. Berdasarkan faktor-faktor di atas maka penerimaan pajak hasil potongan bunga. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah.1 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 - verifikasi yang intensif terhadap perusahaan-perusahaan dalam hal pembagian dividen.penyelesaian tunggakan-tunggakan cukai.2. .1.2.peningkatan produksi rokok dan hasil-hasil tembakau lainnya. 3. Berdasarkan hal-hal tersebut maka penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah diperkirakan mencapai Rp 1. . Bea masuk Perkiraan penerimaan bea masuk didasarkan alas hal-hat sebagai berikut: .verifikasi yang lebih cermat alas perusahaan-perusahaan rokok.. .1 milyar. cukai bir dan cukai alkohol sulingan. .2. industri.perkembangan tata niaga impor.impor yang dapat dikenakan bea masuk diperkirakan sekitar US $ 5. Berdasarkan hal-hat tersebut di alas. .

. luran Pembangunan Daerah Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : .intensifikasi pemungutan cukai dan penyesuaian harga dasar sesuai dengan perkembangan ekonomi. 5.verifikasi dan pengawasan yang lebih baik atas penyetoran daripada penerimaan departemen-departemen. .perluasan wajib pajak dan intensifikasi pemungutan pajak. .ekspor di luar minyak diperkirakan sebesar US $ 7.0 milyar. .intensifikasi pemungutan meliputi pokok pengenaan dalam tahun berjalan dan penagihan atas tunggakan hutang Ipeda tahun-tahun sebelumnya.4milyar.berkembangnya kegiatan ekonomi. 6. . . Departemen Keuangan RI 322 . Dengan faktor-faktor tersebut diperkirakan akan diterima penerimaan bukan pajak sebesar Rp731. Berdasarkan hal-hal tersebut.peningkatan batas kekayaan yang tidak kena pajak. Pajak Lainnya Jenis penerimaan ini meliputi pajak kekayaan.9 milyar. . . Berdasarkan hal-hal tersebut di atas.usaha intensifikasi dan ekstensifikasi daripada sumber-sumber penerimaan. .peningkatan daripada nilai obyek Ipeda sejalan dengan kegiatan pembangunan. 4.penyempurnaan dan peningkatan efektivitas dalam penggunaan kantor lelang. maka penerimaan Ipeda diperkirakan akan mencapai jumlah sebesar Rp 167. Pajak Ekspor Dasar perhitungan pajak ekspor adalah sebagai berikut : .naiknya nilai kekayaan sejalan dengan naiknya penghasilan. Perkiraan penerimaannya didasarkan atas hal-hal sebagai berikut : . 7.4 milyar.3 milyar. maka penerimaan pajak ekspor diperkirakan sebesar Rp 101. Penerimaan Bukan Pajak Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan adalah : .peningkatan kegiatan dan transaksi ekonomi yang dapat dikenakan bea meterai. .peningkatan produksi gula.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Hal-hal yang dapat meningkatkan penerimaan adalah : . Dengan memperhitungkan hal-hal tersebut maka penerimaan pajak lainnya diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 96. bea meterai dan bea lelang. Dengan dasar perhitungan tersebut.penyesuaian tarip pajak kekayaan dan bea meterai. . maka cukai lainnya diperkirakan akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp 98.7 milyar.penertiban administrasi perusahaan negara dan bank milik negara dalam rangka meningkatkan penerimaan.pengawasan yang lebih ketat atas pemakaian bea meterai.

2 6 6.408.112.754.00 15. Lampiran 2 ANGGARAN BELANJA RUTIN 1985/1986 DIPERINCI MENU RUT SEKTOR 1 SUB SEKTOR ( dalam ribuan rupiah) Nomor Kode 1 1. PENERIMAAN PEMBANGUNAN Perkiraan penerimaan bantuan program dan bantuan proyek adalah sebagai berikut : bantuan program dalam tahun anggaran 1985/1986 diperkirakan sebesar Rp 70.00 15.00 36.00 21.00 6.665.9 milyar.919.2 7 Sektor/Sub Sektor SEKTOR PERTANIAN DAN PEN GAl RAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri SEKTOR PERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Sub Sektor Energi SEKTOR PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor Perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi SEKTOR REGIONAL DAN DAERAH/PEMBANGUNAN DAERAH.00 13.398.550.160.990.122.2 2 2.652.247.952.563.440.00 5.075.1 3 3.464.2 4.636.1 3.355.1 6.602.3 4.00 590.132.446.368.1 1.440.920.646.00 31.5 4.237.100.00 40.00 42.979.878.1 5.00 22.00 1.00 13.4 4.685.1 4.523.297.170.2 4 4.00 6.754.6 5 5.377.225.893.00 8.00 Departemen Keuangan RI 323 .380.00 2.991.715.00 15.534.00 405.2 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 B. realisasi (disbursement) dalam tahun 1985/1986 dari komitmen bantuan proyek tahun-tahun yang lalu dan tahun 1985/1986 diperkirakan sebesar Rp 4.542. DESA DAN KOTA J umlah 50.00 14.00 83.298.

803.618.392.1 10.1 12 12.521. PERANAN WANITA.521.154.1 14 14. KESEJAHTERAAN SOSIAL.00 50.00 46.316.1 Sektor/Sub Sektor Kota SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama SEKTOR PENDIDIKAN.850.00 9.1 8 8.00 4.331.941.074.2 9.930.649.187.218.00 34. Pers dan Komunikasi Sosial PENELITIAN Sub Sektor Penelitian SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah Sub Sektor Lembaga Tertinggi Tinggi Negara Sub Sektor Keuangan Negara JUMLAH Jumlah 2.685.00 74.850.778.00 129.00 6.261.453.00 10 10.1 9.596.500.889.596.3 11 11.928.600.00 1.00 46.00 9 9.000.2 10.3 665.00 1.848. PERS DAN KOMUNlKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.392. GENERASI MUDA.00 618.510.1 13 13.453.618.604.662.00 12.470.943.662. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedlinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa SEKTOR KESEHATAN.464.00 34.00 129.500.00 16.803.00 23.928.100.00 642.00 6.158.196.00 Departemen Keuangan RI 324 .636.155.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode 7.00 50.1 15 15.269.500.408.2 16.000.00 17.399.600. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kepencluclukan dan Keluarga Berencana SEKTOR PERUMAHAN RAKY AT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional SEKTOR PENERANGAN.3 116.1 16.154.447.00 6.634.295.316.943.00 4.1 16 16.

141.900.365.1 4.975.320.532.000 256.000 109.000 635.795.000 621.462.518.623.6 5 5.531.289.931.971.000 258.040.800.864.000 1.000 265.1 6.000 543.425.486.000 111.000.000 263.025.363.000 9.788.683.000 108.830.000 691.012.000 136.294.000 45.658.739.000 472.903.141.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Lampiran 3 ANGGARAN BELANJA PEMBANGUNAN 1985/1986 DIPERINCI MENURUT SEKTOR/SUB SEKTOR ( dalam ribuan rupiah ) Nilai Rupiah Proyek/ Teknis.000 217.000 111.536.000 539.531.000 826.492.000 655.518. Kredit Ekspor dan obligasi Sektor/Sub Sektor SEKTOR PERTANIAN DAN PENGAIRAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri SEKTORPERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor pertambangan Sub Sektor Energi SEKTORPERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi Rupiah 957.000 190.000 365.000 16.000 128.230.000 238.000 76.291.623.000 275.125.000 30.000 209.1 3.795.1 3 3.043.2 6 6.000 170.462.000 578.000 70.000 529.000 58.194.195.189.045.359.000 1.000 68.430.095.5 4.350.257.392.000 274.000 60.000 80.2 2 2.704.4 4.000 543.050.000 469.000 676.913.000 38.993.831.000 1.000 1.000 52.1 5.2 4.1 1.000 179.580.2 Departemen Keuangan RI 325 .301.850.509.000 95.2 4 4.000 62.469.000 655.818.000 28.679.000 789.000 12.545.000 900.324.3 4.000 Nomor Kode 1 1.212.000 28.000 71.000 68.000 14.000 98.000 Jumlah 1.000 199.494.

120.510.000 817.1 9.000 1.641.000.1 303.720.000 1.000 16.2 9.595.1 12 12.595.000 83.000 79.000 1.720.000 817.553.540.885.000 102.000 63.321.000 413.774.628.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode Sektor/Sub Sektor Rupiah 7 7.000 437.2 10.000 42.846.000 47. GENERASI MUDA.361.000 65. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa SEKTOR KESEHATAN.000 189.000 63.000 163. PERANAN WANITA.000 63.000 55.362.000 Departemen Keuangan RI 326 .000 868.000 100.409.000 63.885.000 18.135.000 58.867.001.903.1 8 8.1 10.334.1 9 SEKTORPEMBANGUNAN DAERAH.000 109.000 10 10.308.595. Kredit Ekspor dan obligasi 25.000 163.000 437.092.219.3 31.219.232.867.000 273.000 1.774.092. KESEJAHTERAAN SOSIAL.000 80.000 79.000 80.158.962.334.3 11 11.000 Jumlah 868.860.126.845.006.493.000 273.000 2. DESA DAN KOTA Sub Sektor Pembangunan Daerah.641.000 25.000 Nilai Rupiah Proyek/ Teknis.000 9.000 203.903.987. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGABERENCANA Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kependudukan dan Keluarga Berencana SEKTORPERUMAHAN RAKYAT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum 842.092.273.000 58.595.000 237.000 842.000 254.822. Desa dan Kota SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama SEKTOR PENDlDlKAN.

000 165.000 138.555.064.000 74.200.687.000 34.1 17 17.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode Sektor/Sub Sektor Rupiah Nitai Rupiah Bantuan Proyek/ Teknis.000 207.189.000 6.938.800.274.000 2.000 133.313.000 93. 18.415.000 176.327.000 99.147.854.281.000 67.000 174.572.242.000 67.441.000 229.1 SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional SEKTOR PENERANGAN.000 J umlah 13 13. TEKNOLOGI DAN PENELITIAN Sub Sektor Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sub Sektor Penelitian SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah SEKTORPENGEMBANGAN DUNIA USAHA Sub Sektor Pegembangan Dunia Usaha SEKTOR SUMBER ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Sub Sektor Sumber Alam dan Lingkungan Hidup JUMLAH 395.000 165.1 15.000 217.2 16 16.000 Departemen Keuangan RI 327 .873.210.828.000 69.572.383.000 93.000 49.1 15 15.102.361. Kredit Eksgor dan obligasi 318.000 2. Pers dan Komunikasi Sosial SEKTOR ILMU PENGETAHUAN.647.114.000 39.361.000 318. PERS DAN KOMUNIKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.000 217.000 714.327.000 18.064.1 18.000 174.000 11.000 10.000 259.828.000 395.000 11.115.000 259.000 49.189.687.000 18.000 4.000 714.523.000 176.115.000 229.441.1 14 14.114.873.147.297.854.210.274.349.000.000 35.

dan untuk lebih menjaga kelangsungan jalannya pembangunan maka dalam Undang-undang tersebut diatur pula ten tang saldo-anggaran-Iebih dan sisa kredit anggaran proyek-proyek pada anggaran pembangunan Tahun Anggaran 1985/1986. bahwa sehubungan dengan itu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 perlu diatur dengan Undang-undang. Pasal 5 ayat (1). 2. dan Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. dan sekaligus untuk meletakkan landasan bagi usahausaha pembangunan selanjutnya. tetap disusun dengan mengikuti prioritas nasional sebagaimana ditetapkan di dalam Pola Umum Pembangunan Lima Tahun IV yang tercantum dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. b. Mengingat : Departemen Keuangan RI 328 . Pasal 20 ayat (1). 1. bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/ 1986 pada dasarnya merupakan rencana kerja Pemerintah dalam rangka pelaksanaan tahun kedua rencana tahunan Pembangunan Lima Tahun IV dan di samping itu dimaksudkan pula untuk memelihara dan meneruskan hasil-hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan pembangunan sejak Pembangunan Lima Tahun I sampai dengan tahun pertama Pembangunan Lima Tahun IV. Indische Comptabiliteitswet (Staatsblad tahun 1925 Nomor 448) sebagaimana telah beberapa kali diubah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Menimbang : a. terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1968 tentang Perubahan Posal 7 Indische Comptabiliteitswet (Lembaran Negara Tahun 1968 Nomor 53). bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk Tahun Anggaran 1985/1986 sebagai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun kedua dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun IV. c.

00.00.000.046.000. (2) (3) Pendapatan Rutin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a menurut perkiraan berjumlah Rp 18. Pasal l (1) Pendapatan Negara Tahun Anggaran 1985/1986 diperoleh dari : a. Sumber-sumber Anggaran Pembangunan. Perincian dalam Lampiran III sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memuat sektor dan sub sektor.000:000.00.00.900.000.000. Perincian pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Jan ayat (3) berturut-turut dimuat dalam Lampiran III dan Lampiran IV.368. Jumlah seluruh pendapatan Negara Tahun Anggaran 1985/1986 menurut perkiraan berjumlah Rp 23.100. b.647. (4) (5) Departemen Keuangan RI 329 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA. Sumber-sumber Anggaran Rutin.000.000.000. Anggaran Belanja Pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b menurut perkiraan berjumlah Rp 10.00. Anggaran Belanja Rutin. Pasal 2 (1) Anggaran Belanja Tahun Anggaran 1985/1986 terdiri atas : a.000. Anggaran Belanja Pembangunan. MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/ 1986. Jumlah seluruh Anggaran Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 menurut perkiraan berjumlah Rp 23.399.000.000.00. (2) (3) (4) (5) (6) Anggaran Belanja Rutin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a menurut perkiraan berjumlah Rp 12. Perincian pendapatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) berturut-turut dimuat dalam Lampiran I dan Lampiran II.000.000.046. b. Pendapatan Pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b menurut perkiraan berjumlah Rp 4.000. sedangkan perincian lebih lanjut sampai pada kegiatan ditentukan dengan Keputusan Presiden.000.677.

c. Anggaran Belanja Rutin. Kebijaksanaan Perkreditan. (3) (4) Dalam laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) disusun prognosa untuk 6 (enam) bulan berikutnya. (2) (3) (4) (5) Departemen Keuangan RI 330 . dengan Peraturan Pemerintah dipindahkan kepada Tahun Anggaran 1986/1987 dengan menambahkannya kepada kredit anggaran Tahun Anggaran 1986/1987. sedangkan perincian lebih lanjut sampai pada proyek-proyek ditentukan dengan Keputusan Presiden. b. Anggaran Belanja Pembangunan. Saldo-anggaran-Iebih Tahun Anggaran 1985/1986 ditambahkan kepada anggaran Tahun Anggaran 1986/1987 dan dipergunakan untuk membiayai Anggaran Belanja Pembangunan Tahun Anggaran 1986/1987. d. Anggaran Pendapatan Pembangunan. Penyesuaian anggaran dengan perkembangan/perubahan keadaan dibahas bersama oleh Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Perkembangan Lalu-lintas Pembayaran Luar Negeri. b. Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyatakan pula. bahwa sisa kredit anggaran yang ditambahkan itu dikurangkan dari kredit anggaran Tahun Anggaran 1985/1986. Pasal 4 (5) (1) Kredit anggaran proyek-proyek pada Anggaran Belanja Pembangunan Tahun Anggaran 1985/1986 yang pada akhir Tahun Anggaran menunjukkan sisa. Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dibahas bersama oleh Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan Badan Pemeriksa Keuangan selambat-Iambatnya pada akhir triwulan I Tahun Anggaran 1986/1987. (2) Pada pertengahan Tahun Anggaran dibuat laporan realisasi mengenal : a. Anggaran Pendapatan Rutin. Sisa kredit anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebelum ditambahkan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1986/1987 terlebih dahulu diperiksa dan dinyatakan kebenarannya oleh Menteri Keuangan. Pasal 3 (1) Pada pertengahan Tahun Anggaran dibuat a.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (7) Perincian dalam Lampiran IV sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memuat sektor dan sub sektor.

susunan.aksud dalam ayat (1) setelah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan disampaikan oleh Pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat selambat-lambatnya 3 (tiga) tahun setelah Tahun Anggaran yang bersangkutan berakhir. Perhitungan Anggaran Negara sebagaimana dim. Pasal 7 Ketentuan-ketentuan dalam Indische Comptabiliteitswet (Undang-undang Perbendaharaan) yang hertentangan dengan bentuk. dan isi Undangundang ini dinyatakan tidak berlaku.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pasal 5 Selambat-Iambatnya pada akhir Tahun Anggaran 1985/1986 oleh Pemerintah diajukan Rancangan Undang-undang tentang Tambahan dan Perubahan alas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 berdasarkan tambahan dan perubahan sebagai hasil penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (5) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Disahkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Agar setiap orang mengetahuinya. SUDHARMONO. (2) SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI/SEKRET ARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indoneia. Departemen Keuangan RI 331 . SR. Pasal 8 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal l April 1985. Pasal 6 (1) Setelah Tahun Anggaran 1985/1986 berakhir dibuat perhitungan anggaran mengenai pelaksanaan anggaran yang bersangkutan.

Adapun bantuan pembangunan kepada Desa. pertumbuhan ekonomi yang cukup ringgi. antara lain untuk terus mendayagunakan aparatur negara agar lebih mampu melaksanakan tugas yang kian meningkat sesuai dengan perkembangan pelaksanaan pembangunan. dan tahun berjalan. Keriga unsur Trilogi Pembangunan tersebut saling kaitmengkait. sehingga peranan Tabungan Pemerintab di dalam anggaran pembangunan dapat lebih ditingkatkan lagi. dan ap. sosial budaya. antara lain melalui penyempurnaan sistem perpajakan. Di bidang pengeluaran. Departemen Keuangan RI 332 . pertahanan keamanan.1fat yang makin mampu dan bersih. khususnya Pola Umum Pelita Keempat. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. serta bantuan pembangunan lainnya. maka pengeluaran terutama ditujukan untuk menyelesaikan proyek-proyek. Sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara. Daerah Tingkat II. dan perlu tetap dikembangkan secara serasi agar saling memperkuat. dan agar saling menunjang dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh pembangunan bidang ekonomi. Anggaran berimbang yang dinamis perlu disertai penyempurnaan pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara agar penerimaan negara makin meningkat. Prioritas diletakkan pada pembangunan di bidang ekonomi dengan ririk berat pada sektor pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha memantapkan swasembada pangan. dan Daerah Tingkat I.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 RANCANGAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TEN TANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/1986 UMUM Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 adalah anggaran pendapatan dan belanja negara tahun kedua dalam rangka pelaksanaan REPELITA IV. yakni pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Peningkatan penerimaan negara diutamakan dari sumber-sumber di luar miIiyak bumi dan gas alam. yang disertai dengan pemungutan pajak yang lebih intensif. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. baik industri berat maupun industri ringan. yang akan terus dikembangkan dalam Pelitaj'elita selanjutnya. seperti pengembangan sarana kesehatan. maupun dari tahun-tahun sebelumnya. pembangunan di bidang polirik. makin diringkatkan sepadan. Selanjutnya diperlukan pula pengeluaran untuk tugas umum Pemerintahan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 mengikuri prioritas nasional sebagaimana ditetapkan di dalam Pola Umum Pelita Keempat. dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri. dan lain-lain. Sejalan dengan prioritas pembangunan di bidang ekonomi. kebijaksanaan dalam pelaksanaan pembangunan didasarkan kepada Trilogi Pembangunan. sedangkan pengeluaran negara makin terkendali dan terarah. prasarana jalan. di samping memelihara hasil-hasil pembangunan.

dilakukan dengan persetujuan Presiden. serta bidangbidang lainnya. tersedianyabarang-barang kebutuhan pokok sehari-hari yang cukup tersebar merata dengan harga yang stabil dan terjangkau oleh rakyat banyak. sisa kredit anggaran proyekproyek pada anggaran pembangunan dan saldo-anggaran-Iebih Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 ditambahkan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1986/1987. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. khususnya yang berasal dari sektor perdagangan internasional dapat mencapai target yang telah ditetapkan. sedangkan penggeseran antar sektor dan antar sub sektor. dilakukan dengan Undang-undang. Oleh sebab itu penyusunan kebijaksanaan kredit dan devisa dalam benruk dan ani seperti anggaran rutin dan anggaran pembangunan sukar untuk dilaksanakan. dapat terus dipertahankan bahwa penerimaan negara. Pasal 2 Cukup jelas. b. maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 disusun berdasarkan asumsi-asumsi umum sebagai berikut : a. maupun dalam anggaran belanja pembangunan. agar tercapai keserasian dan keselarasan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. dan sektor penerimaan negara masih dipengaruhi oleh perekonomian dunia yang belum menunjukkan kepulihan yang berarti. baik dalam anggaran belanja rutin. terus pula dilaksanakan pembangunan di bidang pendidikan. bahwa keadaan perekonomian Indonesia khususnya sektor perdagangan internasional. serta mengurangi tekanan pengangguran. Selanjutnya. Dalam rangka kesinambungan kegiatan pembangunan. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan penghutanan kembali tanah kritis. Ayat (2) Masalah kebijaksanaan kredit dan lalu lintas pembayaran luar negeri sebagian besar berada di sektor bukan Pemerintah. dilanjutkan sehingga secara keseluruhan dapat terus menggerakkan dan meratakan pembangunan daerah. Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas. serta antar program dan antar proyek dalam anggaran belanja pembangunan. yang diharapkan dapat menambah penyediaan dan perluasan lapangan kerja. . maka penggeseran antar program dan antar kegiatan dalam anggaran belanja rutin. Di samping itu. bahwa kestabilan moneter. Departemen Keuangan RI 333 . sehingga untuk itu dibuat dalam bentuk prognosa. c. agar biaya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal sesuai dengan kebijaksanaan anggaran.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 5 Pasal ini menentukan bahwa jika diperlukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tambahan dan Peru bahan. Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. maka pengajuannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan selambat-lambatnya pada akhir Tahun Anggaran 1985/1986. Pasal 6 Perhitungan Anggaran Negara sebagaimana dimaksud dalam Posal ini disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dalam benruk dan susunan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan persetujuan Badan Pemeriksa Keuangan. Ayat (4) Cukup jelas. Departemen Keuangan RI 334 . Ayat (5) Cukup jelas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful