NOTA KEUANGAN DAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN 1985/1986

REPUBLIK INDONESIA

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

BAB I UMUM

Telah merupakan suatu kenyataan sejarah bahwa perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang mengarah kepada kemajuan suatu bangsa, senantiasa mensyaratkan adanya perjuangan dan membawa serta perubahan-perubahan dalam berbagai segi dan dimensi kehidupan. Sebagai suatu rangkaian pembaharuan pada berbagai tingkat perimbangannya, perjuangan yang merupakan pengejawantahan ideologi negara dan pandangan hidup bangsa selalu menuju ke suatu bentuk, dan tatanan kehidupan masyarakat yang dinamis dan lebih baik. Sejarah telah mengajarkan bahwa perjuangan untuk mencapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang makmur dan sejahtera, bukanlah suatu perjuangan tanpa pengorbanan. Mengikuti liku-liku perjalanan sejarah Indonesia akan terlihat betapa generasi demi generasi telah menyemarakkan persada nusantara dengan berbagai pengorbanan, mulai dari perjuangan untuk menghimpun rakyat Indonesia menjadi satu bangsa, bersatu padu dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjamin kelestarian eksistensinya, sampai kepada usaha besar bangsa Indonesia untuk membangun suatu masyarakat sejahtera yang berkeadilan, masyarakat Pancasila. Limabelas tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah memancangkan tonggak sejarah bagi dimulainya suatu babak baru dalam kelanjutan perjuangannya. Bagi bangsa Indonesia, babak itu merupakan garis pemisah antara kecenderungan yang serba sepihak, liberal ataupun terpimpin, dengan sikap yang mengacu kepada keseimbangan, keserasian dan keselarasan yang bersumber pada pemahaman Pancasila secara utuh dan menyeluruh. Alur perjalanan sejarah yang demikian itulah yang terus diusahakan agar menjelma menjadi kenyataan tahap demi tahap sesuai dengan rencana, dan pengutamaan yang selaras dengan perkembangan kesanggupan bangsa. Kini bangsa Indonesia tengah berada diambang pintu tahun kedua Repelita IV, suatu tahap pembangunan yang telah semakin mendekatkan rakyat Indonesia kepada cita-cita perjuangan. Repelita IV bukanlah semata merupakan kelanjutan dan peningkatan dari PelitaPelita sebelumnya, melainkan juga mempunyai posisi yang penting dan menentukan bagi terciptanya kerangka landasan pembangunan nasional. Keberhasilan Repelita IV akan memungkinkan terlaksananya tahap pemantapan kerangka landasan dalam Repelita V dan tahap tinggal landas dal3:m Repelita VI, untuk memacu pembangunan menuju masyarakat adil dan
Departemen Keuangan RI

2

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

makmur berdasarkan Pancasila. Untuk menciptakan kerangka landasan pembangunan tersebut, perlu diupayakan terciptanya kondisi nasional yang memberikan rangsangan serta peluang seluas-luasnya bagi potensi pembangunan agar dapat berperan serta dalam usaha pembangunan nasional. Dengan segenap potensi pembangunan, dana dan daya yang dapat digali dan dikerahkan dari dalam negeri akan semakin meningkatkan dan memantapkan ketahanan ekonomi terhadap pengaruh dari berbagai kemungkinan gejolak atau krisis ekonomi dunia. Pembangunan dengan asas kepercayaan pada diri sendiri, merupakan kekuatan yang tidak ternilai harganya bagi bangsa yang sedang membangun. Kepercayaan pada diri sendiri bertambah penting artinya, karena dalam tahun-tahun yang akan datang pembangunan posti bertambah berat, karena masalah yang ditangani makin besar, dan aspirasi masyarakat pun bertambah luas. Oleh sebab itu perlu dikembangkan kebijaksanaan ekonomi yang bertumpu di atas Trilogi Pembangunan, suatu kebijaksanaan yang telah dianut Pemerintah sejak pembangunan nasional dicanangkan raJa 1 April 1969. Prioritas pembangunan dalam Repelita IV, sesuai dengan Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang, tetap menempatkan sektor pertanian sebagai sektor yang akan terus dikembangkan dan ditingkatkan menuju swasembada pangan, serta pengembangan sektor industri, balk industri berat maupun industri ringan. Dalam hubungan ini, apabila dikaji dan ditelusuri kembali rangkaian kebijaksanaan ekonomi yang telah ditempuh Pemerintah selama ini hingga tahun kedua Repelita IV, maka tampak jelas kesinambungan usaha menuju kepada memperluas, meningkatkan dan sekaligus memperkuat landasan kegiatan ekonomi melalui pengembangan industri di atas sektor pertanian yang mandiri. Kebijaksanaan juga ditujukan kepada perluasan kesempatan kerja, mengutamakan penggunaan hasil produksi dalam negeri, dan peningkatan ekspor. Kesemuanya itu ditunjang oleh kebijaksanaan di bidang fiskal yang lebih mengarah pada asas keadilan, dan kebijaksanaan moneter yang diupayakan untuk merangsang kegiatan dunia usaha, dan memantapkan kestabilan. Tujuan tersebut dan kebijaksanaan penunjangnya mengisi dan menyatu secara terpadu dalam upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang memadai, pemerataan pembangunan dan hasilnya, dan pemeliharaan kestabilan. Diharapkan pada akhimya tercipta strnktur perekonomian yang lebih seimbang dan mantap, dengan tingkat kelenturan produksi yang tinggi yang dalam batasbatas tertentu, mampu meredam setiap kegoncangan ekonomi baik dalam maupun luar negeri. Dengan perkembangan yang mengarah kepada terciptanya keadaan tersebut, perekonomian Indonesia yang modern, tangguh dan demokratis berdasarkan Pancasila akan menopang terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Departemen Keuangan RI

3

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Sejalan dengan cita pembangunan tersebut, sertadengan memperhatikan perkembangan keadaan perekonomian dunia yang masih belum sepenuhnya pulih dari resesi, pada tahun pertama pelaksanaan Repelita IV oleh Pemerintah telah diambil beberapa langkah kebijaksanaan ekonomi yang penting. Langkah nyata dalam rangka menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan tampak lebih jelas dengan telah disahkannya tiga undangundang perpajakan baru yang baik semangat maupun pengaturannya lebih sesuai dengan tuntutan pembangunan yang semakin berkembang. Di bidang moneter, tanggung jawab yang diberikan kepada bank-bank Pemerintah dalam menentukan suku bunga simpanan maupun pinjaman, telah merangsang dunia perbankan untuk mengerahkan dana-dana masyarakat, terlebih karena pada saat yang sama ketentuan pagu kredit perbankan ditiadakan. Bagi masyarakat, adanya kenaikan dalam tingkat pendapatan, terpeliharanya kestabilan harga, dan terkendalinya nilai tukar devisa te1ah semakin meningkatkan hasratnya untuk menabung, yang dilakukan diantaranya melalui sektor perbankan maupun lembaga keuangan lainnya. Dengan demikian terdapat titik temu aliran dana yang menghasilkan kegunaan bagi berbagai pihak, yakni antara masyarakat penabung, sektor perbankan dan tersedianya sumber dana pembangunan. Dan dalam rangka meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, serta mengurangi tekanan yang berat terhadap neraca pembayaran, pada bulan Maret 1983 te1ah diadakan penyesuaian nilai tukar rupiah terbadap dollar Amerika Serikat. Agar supaya pengerahan dana pembangunan, baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri, memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi pembangunan, usaha pengendalian dan penghematan penggunaan dana harus terus ditingkatkan. Oleh karena itu penge1uaran rutin diusahakan dapat ditekan, dan dikendalikan tanpa mengurangi fungsi pe1ayanan kepada masyarakat, serta pemeliharaan terhadap hasil pembangunan yang telah dicapai. Namun demikian, mengingat pentingnya peningkatan pendayagunaan aparatur negara, maka dalam tahun 1985/1986 direncanakan suatu kenaikan gaji bersih pegawai negeri sebesar 20 persen dan pensiun antara 27 - 59 persen. Di lain pihak prioritas pembangunan dipertajam agar penge1uaran pembangunan dapat memberikan hasil guna dan daya guna yang lebih besar, disertai dengan pengurangan, atau penghapusan terhadap berbagai subsidi sejauh yang dapat dilakukan tanpa mengorbankan kepentingan stabilisasi, serta kebutuhan masyarakat banyak. Pemberian subsidi ditata sedemikian rupa agar terdapat alokasi sumber ekonomi secara lebih efisien, dan terhindar dari adanya distorsi harga-harga yang tidak wajar. Sejalan dengan hal tersebut, maka pengeluaran untuk subsidi bahan bakar minyak dalam tahun 1985/1986 te1ah

Departemen Keuangan RI

4

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

dapat ditekan lebih lanjut, yang terutama disebabkan karena adanya peningkatan efisiensi dalam pengolahan bahan bakar tersebut. Di lain pihak subsidi untuk pupuk diperkirakan akan meningkat lebih besar, yang berkaitan erat dengan semakin intensifnya penggunaan pupuk dalam rangka mempertahankan, dan meningkatkan kemajuan yang te1ah dicapai di bidang pengadaan pangan, dan produksi komoditi pertanian lainnya. Adapun penjadwalan kembali beberapa proyek renting dan pengendalian impor secara se1ektif, te1ah dilaksanakan dalam rangka penghematan di bidang devisa, dan upaya untuk mengurangi tekanan terhadap neraca pembayaran. Sedangkan di bidang moneter, kebijaksanaan moneter dan perkreditan tetap ditujukan kepada penggunaan dana yang terarah dan produktif. Perimbangan yang belum memadai antar berbagai sektor kegiatan dalam perekoDamian, serta sifat perekonomian terbuka yang sangat dipengaruhi oleh hambatan dalam kegiatan ekspor, dan resesi perekonomian dunia yang be1um sepenuhnya pulih, menimbulkan akibat yang tak terhindarkan terhadap perekonomian Indonesia dalam tahun-tahun terakhir Pelita III, yang masih berasa pengaruhnya hingga diambang tahun kedua Repelita IV. Agar perkembangan pembangunan waktu lalu lebih dapat dipahami dalam ruang lingkup keadaan yang melatarbelakanginya, dan terlebih renting dadpada itu, agar supaya permasalahan yang dihadapi dalam masa pembangunan yang akan datang dapat ditanggulangi dengan tanggap, serta dapat memanfaatkan peluang yang mungkin tercipta, maka keadaan ekonomi dunia perlu dan senantiasa secara cermat terus diikuti perkembangannya. Tanda-tanda perbaikan ekonomi dunia yang mulai tampak pada tahun akhir Pelita III belum sepenuhnya menunjukkan perkembangan yang diharapkan. Bahkan akhir-akhir ini diperkirakan terdapat kecenderungan gejala perlambatan kembali dari kegiatan ekonomi negara industri utama, yaitu Amerika Serikat, yang dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami kenaikan pertumbuhan ekonomi tertinggi diantara negara-negara industri lainnya, yakni sebesar 7,3 persen. Perekonomian dunia yang belum sepenuhnya bangkit ke arab pemulihan sebagaimana yang diharapkan, hanya memberikan pengaruh yang terbatas manfaatnya bagi perkembangan ekonomi negara-negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi negara-negara industri secara. keseluruhan dalam tahun 1984 diperkirakan menunjukkan kenaikan rata-rata sebesar 4,9 persen, atau 2,3 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan tahun lalu, dimana Jepang dan Kanada diperkirakan mengalami kenaikan tertinggi setelah Amerika Serikat, yakni sebesar 5,0 persen dan 4,6 persen, sedangkan negara-negara industri lainnya dalam kelompok tujuh negara industri besar diperkirakan menunjukkan kenaikan rata-rata sekitar 2,5 persen.

Departemen Keuangan RI

5

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Pertumbuhan ekonomi yang dicapai negara-negara industri utama tersebut, erat kaitannya dengan menurunnya tingkat pengangguran serta laju inflasi. di negara-negara tersebut. Tingkat pengangguran rata-rata di negara-negara industri tersebut diperkirakan telah dapat ditekan menjadi 7,6 persen dalam tahun 1984 dibandingkan 8,3 persen dalam tahun 1983, sedangkan laju inflasi diperkirakan menunjukkan sedikit penurunan dari sebesar 5,0 persen dalam tahun 1983 menjadi 4,3 persen dalam tahun 1984. Sisi lain perkembangan perekonomian dunia yang pada umumnya menunjukkan perbaikan, telah ditandai dengan makin meningkatnya suku bunga riil di Amerika Serikat yang bertahan pada tingkat yang relatif tinggi, sebagai akibat dari pelaksanaan kebijaksanaan moneter yang ketat di negara tersebut. Suku bunga untuk nasabah-nasabah utama (US Prime Rate) di Amerika Serikat mencapai tingkatan yang tinggi, sekitar 13 persen pada bulan September 1984. Perbedaan dalam tingkat produktivitas serta laju pertumbuhan perekonomian, dan tingkat inflasi antara berbagai negara di dunia, serta tingginya suku bunga riil di Amerika Serikat, telah mengakibatkan masuknya modal dari negara-negara lain ke Amerika Serikat, yang kemudian mengakibatkan naiknya nilai tukar mata uang Amerika Serikat terhadap pelbagai macam mata uang asing. Meningkatnya nilai tukar mata uang dollar Amerika selanjutnya telah mengakibatkan kegoncangan posar valuta internasional di berbagai negara, serta kemerosatan yang cukup besar pada nilai tukar mata uang - mata uang penting dunia. Ketidakstabilan nilai tukar valuta asing, kebijaksanaan moneter yang ketat, tingginya suku bunga menimbulkan rangkaian akibat berupa naiknya defisit transaksi berjalan negaranegara industri. Usaha mengatasi defisit tersebut telah menimbulkan dampak sampingan yang kurang menguntungkan, khususnya bagi perkembangan ekspor negara-negara berkembang, karena adanya langkah-langkah proteksionisme yang dilakukan oleh negara-negara industri dalam rangka melindungi hasil produksi dalam negeri mereka. Perkembangan perekonomian dunia telah dipengaruhi pula oleh ketidakstabilan dalam posar minyak dunia. Meningkatnya produksi serta peleposan cadangan minyak negara-negara di luar OPEC, dan upaya penghematan penggunaan energi minyak telah menyebabkan terganggunya keseimbangan posar, dan kecenderungan terjadinya penurunan harga minyak dunia. Menghadapi keadaan demikian, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam sidangnya bulan Oktober 1984 di Geneva memutuskan untuk tetap mempertahankan tingkat harga yang berlaku sekarang, dengan jalan mengurangi produksi dari batas tertinggi 17,5 juta barrel menjadi sebesar 16,0 juta barrel per hari, serta menetapkan kuota baru bagi negara-negara anggotanya.

Departemen Keuangan RI

6

070 juta. pengembangan ekspor barang-barang produksi hasil industri dan perluasan posaran di luar negeri ke negara-negara selain rekan dagang. minyak kelapa sawit dan sebagainya.151 juta. agar pembayaran kembali dikemudian hari tetap dalam batas kemampuan keuangan negara. Departemen Keuangan RI 7 .6 persen. Juga terlihat peluang untuk mengekspor barang-barang manufaktur ke Eropa Timur sepanjang harganya mampu bersaing di posaran internasional. terus dilakukan oleh Pemerintah mengingat peranannya sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan. dengan latar belakang perkembangan keadaan perekonomian dunia yang menunjukkan adanya sedikit perbaikan. Namun demikian. Dalam rangka memperluas ekspor Indonesia. defisit tersebut apabila dibandingkan dengan defisit tahun 1982/1983. serta sebagai sektor pendorong gerak perekonomian nasional yang penting. pengendalian impor. Usaha tersebut meliputi peningkatan dan diversifikasi ekspor di luar minyak dan gas bumi. perbaikan mutu barang ekspor. kebijaksanaan mendorong ekspor secara menyeluruh melalui pola pengembangan ekspor terpadu terus ditingkatkan. memperlihatkan adanya perbaikan yang berarti. Dalam rangka pengelolaan bantuan yang lebih berdaya guna. pelaksanaan sistem imbal beli. dimana dalam tahun sebelumnya mengalami penurunan. Ternyata negara-negara tersebut sangat membutuhkan komoditi ekspor Indonesia seperti karet. timah. maka telah dikeluarkan Inpres No. kopi. Berbagai langkah kebijaksanaan di bidang perdagangan luar negeri. maka telah dijajagi kemungkinan peningkatan perdagangan dengan negara-negara Eropa Timur. serta guna mengurangi ketergantungan pada ekspor minyak dan gas bumi.1 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Setetah mengalami defisit dalam neraca pembayaran yang cukup besar dalam tahun 1982/1983. serta pengelolaan bantuan dan pinjaman luar negeri secara lebih cermat. Oleh karena penerimaan ekspor minyak mengalami penurunan. kenaikan penerimaan ekspor keseluruhan dalam tahun 1983/1984 hanya sebesar 6. khususnya dalam rangka mendorong ekspor. meskipun transaksi berjalan masih mengalami defisit sebesar US $ 4.8 Tahun 1984 yang menegaskan ketentuan tentang pengendalian dalam penggunaan kredit ekspor luar negeri. walaupun penurunan tersebut jauh lebih rendah dari tahun 1982/1983. dalam tahun 1983/1984 neraca pembayaran Indonesia menunjukkan keadaan yang lebih baik yaitu surplus sebesar US $ 2. Dalam tahun 1984/1985 perkembangan neraca pembayaran diperkirakan masih akan mengalami surplus sungguhpun tidak sebesar dalam tahun 1983/1984. Menghadapi situasi perekonomian internasional yang tidak menentu. Selain dari itu juga meliputi penyesuaian nilai tukar mata uang dollar Amerika. Kemajuan di bidang neraca pembayaran tersebut tidak terlepos dari perkembangan ekspor bukan minyak yang menunjukkan kenaikan sebesar 36. teh. perluasan kemudahan dibidang perpajakan dan perkreditan.

Di bidang perpajakan. Dengan berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan pada tanggal 1 Januari 1984. pipa besi dan produk polyvinyl chloride (PVC). dan perdagangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pelaksanaan berbagai kebijaksanaan di bidang ekspor tersebut tertuang antara lain dalam Peraturan Pemerintah No. dan pemeliharaan kestabilan. dan selanjutnya meningkat menuju tahapan perluasan ekspor hasil produksinya. akan tetapi juga sekaligus meningkatkan penerimaannya. tetapi sekaligus menyesuaikan tarif bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap impor barang-barang yang telah dapat diproduksi di dalam negeri seperti kertas untuk jenis tertentu. dimana dari jumlah tersebut standar mutu dari 38 jenis barang sudah dilaksanakan. Selain itu. dan barang modal dalam rangka pemenuhan kebutuhan bahan pokok yang diperlukan masyarakat. Departemen Keuangan RI 8 . Melalui kebijaksanaan impor yang mendukung pertumbuhan sektor industri.1 bulan Januari 1982 yang menyangkut pengaturan jual beli devisa. Sejalan dengan usaha meningkatkan mutu barang-barang ekspor. dan penghapusan izin yang meliputi berbagai bidang antara lain bidang kehutanan. Pemerintah telah mengusahakan untuk sejauh mungkin tidak memberi keringanan bea masuk. Kebijaksanaan di bidang impor selain ditujukan kepada memperlancar pengadaan bahan baku/penolong. suatu keterpaduan langkah yang tidak hanya mengarah kepada penghematan devisa. serta sejalan dengan usaha peningkatan penggunaan produksi dalam negeri. tata cara ekspor dan sebagainya. Dalam hubungan ini. sejak 1 Januari 1984 pungutan MPO ekspor atas eksportir telah dihapuskan. telah diadakan penyederhanaan perizinan. aluminium sheet dan fuli aluminium jenis-jenis tertentu. sampai dengan Agustus 1984 telah ditetapkan standar mutu untuk 165 jenis barang-barang perdagangan. dan memperluas posarannya. Memantapkan ekspor. dan untuk beberapa komoditi tertentu yang semula dikenakan pajak ekspor sebesar 10 persen diturunkan menjadi 0 persen. Demikian pula terhadap beberapa produk yang telah dapat dirakit di dalam negeri telah diberlakukan tarif bea masuk. khususnya dunia usaha. juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program pembangunan jangka panjang sektor industri. sejak 10ktober 1984 pungutan langsung oleh Pemerintah Daerah terhadap beberapa komoditi ekspor penting telah pula dihapuskan. memerlukan kerja keras baik dari Pemerintah maupun masyarakat. serta penurunan pajak ekspor tambahan atas jenis komoditi tertentu lainnya. pertanian. Pemerintah telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meniadakan berbagai hambatan yang dapat mengurangi daya saing komoditi ekspor Indonesia di posaran internasional. dan pajak penjualan impor yang baru. sektor tersebut didorong untuk mencapai tahap perkembangan yang efisien melalui persaingan yang sehat. Di bidang prosedur ekspor. perhubungan.

Sehubungan dengan hat tersebut. telah berkembang relatif lebih pesat dibanding industri hulu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pungutan MPO atas barang-barang impor dihapuskan.0 persen dan 13. baik vertikal maupun horizontal. dan mempertinggi sikap mental pembaharuan. maka dalam Pelita III turun menjadi 8. sehingga menyebabkan lemahnya kaitan antarindustri. bahwa pembangunan industri ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja. yaitu dengan mengembangkan industri yang saling menunjang dengan sektor lainnya. setelah mengalami titik kenaikan yang terendah dalam tahun 1982. juga diarahkan agar di dalam sektor industri sendiri semakin terwujud keseimbangan dan keserasian antara industri besar/sedangdan industri kecil. dalam tahun 1983 secara riil menunjukkan kenaikan sebesar 2. meningkatkan ekspor. antara industri padat modal dan industri padat karya. sektor tersebut hingga tahun-tahun pertama Pelita III telah berkembang tidak kurang dari 9 persen. serta harus mampu meningkatkan keahlian dan ketrampilan masyarakat. untuk memantapkan dan memperkokoh struktur industri nasional. tidak terlepos dari adanya pengaruh resesi ekonomi dunia. telah ditempuh kebijaksanaan program terpadu. Apabila dalam Pelita I dan II sektor industri telah tumbuh rata-rata sebesar 13. Dengan demikian pembangunan industri selain diharapkan dapat mewujudkan struktur ekonomi yang seimbang antara industri dan pertanian. Terhadap impor barang yang dilakukan oleh importir yang tidak menggunakan sistem perijinan impor. tahap industrialisasi yang merupakan tahap yang sulit. antara industri hilir dan industri hulu.5 persen dari nilai dasar impor (cif).9 persen setahun. dan belum dapat memberikan kemantapan pada struktur industri yang ada. dan dengan Pancasila sebagai dasar perjuangan bangsa. APIS atau APIT yaitu sebesar 2.5 persen dari nilai dasar impor (cif). Program tersebut terdiri dari rangkaian usaha berupa peningkatan keterkaitan antara berbagai jenis industri secara vertikal dan horizontal. menghemat devisa. Sejak awal Pelita I.7 persen. yang pada umumnya merupakan industri substitusi impor. dan memanfaatkan sumber alam dan energi serta sumber daya manusia. sedangkan pungutan baru dikenakan terhadap impor barang yang dilakukan oleh importir yang menggunakan API. Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara ditetapkan. memeratakan kesempatan berusaha. Industri hilir. dikenakan pungutan sebesar 7. dilihat sebagai komponen produk domestik bruto.2 persen. dan mengandung kerawanan kiranya dapat dilalui tanpa menimbulkan ketegangan sosial. pembinaan industri kecil. menunjang pembangunan daerah. Dengan arah kebijaksanaan tersebut. Pertumbuhan sektor industri pengolahan. serta adanya kekurangserasian pertumbuhan antarsektor industri. peningkatan peranan bangsa Indonesia sendiri dalam Departemen Keuangan RI 9 . Kelambanan yang terjadi dalam pertumbuhan sektor industri dipenghujung tahun Pelita III.

akan tetapi meliputi pula usaha mengangkat kehidupan sosial.7 persen dan 3. dimana peningkatan daya beli sebagian besar masyarakat beserta pemerataan pendapatan yang berlangsung di sektor ini.5 persen pertahun. tingkat harga dasar gabah yang diterima oleh petani setiap tahunnya selalu ditinjau kembali. harga dasar gabah kering giling di KUD dinaikkan menjadi Rp 175.00 perkilogram. sementara nilai produksinya terus meningkat. dalam komoditi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan industri. Didukung oleh besarnya peranan nilai tambah yang diciptakan oleh sektor perdagangan. Dengan berbagai usaha tersebut akan tercipta keserasian yang memberi kekuatan pada keseluruhan pertumbuhan industri.8 persen pertahun. Dengan demikian pembangunan pertanian diharapkan memberikan arti yang utuh bagi peningkatan sebagian besar kesejahteraan bangsa Indonesia.9 persen dari produk domestik bruto riil. serta peningkatan ekspor hasil produksinya. pembangunan pertanian dilaksanakan dengan berlandaskan Trimatra Pembangunan Pertanian. Pembangunan sektor pertanian berdasarkan Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang tidak hanya menyangkut peningkatan produksi semata. Kemajuan yang dapat dicapai oleh sektor industri pada tingkat akhir berkaitan erat dengan kemantapan pertumbuhan. Di samping produksi beras. merupakan faktor yang sangat menunjang tegak tahannya sektor industri. yaitu keterpaduan dalam usaha tani. dan dengan menerapkan Panca Usaha Tani. produk domestik Departemen Keuangan RI 10 . Sungguhpun pertumbuhan sektor pertanian sejak Pelita I setiap tahunnya menunjukkan tingkat kenaikan yang berbeda. Agar peningkatan produksi beras dapat pula meningkatkan tarat hidup petani lebih layak. lembaga keuangan dan jasa lainnya. pendidikan dan tingkat kehidupan para petani di pedesaan pada umumnya. serta sektor-sektor lainnya. Apabila pada awal Pelita I. produksi palawija dan hortikultura telah memainkan peran yang cukup penting pula dalam pemenuhan kebutuhan bahan pangan yang meningkat. akan tetapi sumbangannya terhadap produk domestik bruto riil terus mengecil. Untuk itu pada bulan Pebruari 1985. sumbangan sektor pertanian masih sebesar 46. dimana dalam Pelita I dan II pertumbuhan produksinya adalah sebesar 4. maka pada akhir Pelita III diperkirakan menurun menjadi hanya sekitar 29 persen. dan dalam pengembangan wilayah dengan sasaran sebagaimana yang tercakup dalam Sapta Karya Pembangunan Pertanian. Produksi tanaman pangan sebagai komponen produksi pertanian terpenting menunjukkan perkembangan yang mengesankan. dan perkembangan produktivitas sektor pertanian. Dalam Pelita III produksi beras menunjukkan pertumbuhan sebesar 6. dan dinaikkan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut.

2 persen pertahun dalam periode tersebut. akan tetapi masih lebih tinggi dari yang dicapai dalam tahun 1982. dunia usaha. dalam tahun 1983 diperkirakan telah meningkat menjadi 30. Sebagai kompensasi. dan pemutihan modal bagi penanam modal di Indonesia dihapuskan. Sebagai piranti anggaran dalam melaksanakan Repelita demi Repelita. oleh Pemerintah telah diberikan berbagai rangsangan antara lain dalam bentuk penyederhanaan prosedur penanaman modal. sejak Pelita I. alas dasar harga konstan 1973.2 juta. yakni segala dana yang ditabung dalam deposito tidakakan diusut asal usulnya. telah berkembang menjadi hampir lima puluh lima kali dalam Departemen Keuangan RI 11 . alas dasar harga konstan tahun 1973. serta tingkat produktivitas modal. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya pembentukan modal domestik bruto rata-rata sebesar 15. volume Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah berhasil ditingkatkan terus dalam jumlah yang cukup besar. Sungguhpun kenaikan tersebut masih lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan per tahun dalam periode 1970 . Berbagai fasilitas tersebut diberikan agar tercipta iklim penanaman modal yang menarik. Produk domestik bruto. Pertumbuhan ekonomi yang tercermin dari perkembangan produk domestik bruto sangat dipengaruhi. Hal ini tiada lain menunjukkan adanya kemajuan di dalam pembentukan atau penanaman modal. serta ketentuan bahwa perorangan dapat melaksanakan penanaman modal melalui fasilitas PMDN tanpa harus berbentuk badan hukum. dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 telah meningkat rata-rata sebesar 7.5 persen. Pembentukan modal domestik bruto yang dalam tahun 1969. dan prospek yang baik dari perkembangan pembangunan. Volume APBN pada awal Pelita I yang berjumlah Rp 334. dan ditentukan oleh perimbanganperimbangan yang terjadi di dalam tingkat pembentukan modal.4 milyar. baru berjumlah 11.1982.2 persen. dan tenaga kerja yang . baik yang dilakukan oleh masyarakat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bruto riil secara keseluruhan dalam tahun 1983 diperkirakan menunjukkan adanya kemajuan yang cukup berarti.2 persen pertahun.915. Sumber pembentukan modal yang terpenting adalah dana-dana yang dapat dikerahkan dan disalurkan melalui APBN. Kegiatan penanaman modal yang dilakukan oleh dunia usaha. yakni kenaikan sebesar 4. meskipun fasilitas bebas pajak. sedangkan penanaman modal asing (PMA) dalam periode yang sama. rencana investasinya mencapai nilai sebesar US $ 14. fasilitas pengampunan pajak.2 persen dari produk domestik brutonya.ada. sejalan dengan terpeliharanya kestabilan. penetapan tarip penyusutan yang lebih tinggi. semacam pemutihan modal masih dimungkinkan. Dalam rangka meningkatkan penanaman modal.7 milyar.632. maupun Pemerintah. Penanaman modal yang dilakukan melalui fasilitas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sampai dengan bulan Agustus 1984 telah disetujui sebesar Rp 20. terus menunjukkan peningkatan.

Sedangkan bantuan pembangunan bagi Dati II antara lain adalah untuk proyek-proyek prasarana dan produksi yang dapat memperluas lapangan kerja dan proyek padat karya.0 milyar. Namun demikian.677. dan pengeluaran pembangunan sebesar Rp 10. Gambaran perkembangan volume APBN yang terus meningkat. Resesi ekonomi dunia yang telah mempengaruhi perekoDamian Il}donesia pada gilirannya telah mempengaruhi penyusunan RAPBN 1985/1986. Bantuan tersebut dimaksudkan untuk pemeliharaan jembatan dan jalan propinsi. kepada Dati II juga diberikan bantuan pembangunan prasarana jalan. dan berlangsung berkepanjangan telah memberikan dampak yang tidak diinginkan terhadap perekonomian Indonesia. memberikan harapan yang besar untuk tetap berlangsungnya pembangunan nasional guna mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. dan penerimaan pembangunan sebesar Rp 4. oleh Pemerintah telah diambil berbagai langkah kebijaksanaan untuk meningkatkan ketahanan Departemen Keuangan RI 12 . rencana tersebut terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 18. serta upaya pemecahannya telah pula menjadi bahagian dari pelaksanaan APBN. dalam rangka pemerataan pembangunan dan hasilnya. eksploitasi dan pemeliharaan pengairan. Dalam tahun 1985/1986 bantuan pembangunan Dati I adalah sebesar Rp 280. di balik kemajuan tersebut berbagai tantangan dan hambatan. perbaikan dan penyempumaan irigasi. utuh dan menyeluruh melalui peranan ganda dari pengeluaran pembangunan. Dengan demikian pemerataan. Dalam usaha untuk memperkecil pengaruh yang ditimbulkan resesi duma tersebut. maka volume RAPBN tahun anggaran 1985/1986 direncanakan berimbang pada tingkat sebesar Rp 23. Di sisi penerimaan negara. Untuk mempedancar distribusi hasil-hasil produksi.0 milyar. juga diserasikan dengan pembiayaan pembangunan regional dan perluasan kesempatan kerja melalui berbagai program Inpres. Perkembangan APBN terus diusahakan agar tetap berimbang dan dinamis.647.1 milyar.0 milyar. Pengeluaran pembangunan selain dialokasikan untuk berbagai sektor.0 milyar. serta usaha untuk tetap terpeliharanya kesinambungan pembangunan. Dengan latar belakang kebijaksanaan dan perkembangan perekonomian baik nasional maupun internasional. pertumbuhan dan stabilitas memperoleh gambaran yang lebih nyata. sehingga peranannya sebagai stabilisator.399. dan akselerator pembangunan tetap dapat dipertahankan. terutama dalam mengamankan penerimaan negara melalui APBN. sedangkan di sisi pengeluaran negara rencana tersebut terdiri dari pengeluaran rutin sebesar Rp 12. Seperti yang telah dikemukakan perekonomian dunia yang dilanda krisis.9 milyar. pembangunan daerah minus serta pengembangan perkotaan. khususnya dalam beberapa tahun terakhir ini.368.046.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tahun terakhir Pelita III.

dana-dana yang berasal dari masyarakat yang dapat Departemen Keuangan RI 13 . akan tetapi juga berusaha untuk meningkatkan rasa keikutsertaan masyarakat secara aktif dalam memberikan andil dan peranannya di dalam pembangunan melalui bidang perpajakan. serta lebih mendorong pemerataan. yang sebagian besar masih bergantung pada penerimaan dari minyak bumi dan gas alam. Berlainan dengan undang-undang perpajakan yang lama yang mempunyai sistem. Pemerintah bertekad untuk melaksanakannya pada 1 April 1985. maka mulai tahun anggaran 1985/ 1986 dalam penerimaan pajak pertambahan nilai. Di samping Undang-Undang Perpajakan tersebut. prosedur dan pentaripan yang rumit.8 Tahun 1984 telah ditangguhkan berlakunya sampai selambat-Iambatnya tanggal 1 J anuari 1986. sedangkan batas kekayaan yang tidak kena pajak telah dinaikkan dari Rp 14 juta menjadi Rp 80 juta. pajak kekayaan. serta guna meningkatkan kesadaran para wajib pajak dalam menaati pembayaran pajaknya. dan memberikan kepostian hukum. Untuk mewujudkan kebijaksanaan yang lebih realistis dengan keadaan perekonomian nasional. Sumber penting lainnya dari penanaman modal adalah tabungan masyarakat yang antara lain terkumpul melalui sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya. termasuk di dalamnya pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM) sebesar 10 persen. dengan Undang-Undang No. Pemerintah kini tengah mempersiapkan perundang-undangan mengenai pabean. undang-undang perpajakan yang baru tersebut lebih mencerminkan kesederhanaan. dan iuran pembangunan daerah. yakni dengan diberlakukannya UndangUndang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan serta Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan sejak tanggal 1 Januari 1984. yang merupakan perbaikan secara mendasar terhadap undang-undang perpajakan yang lama. Namun demikian mengingat pentingnya peranan pajak tersebut. serta menciptakan landasan yang kuat guna berlangsungnya kelancaran proses pembangunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ekonomi nasional. guna lebih memantapkan peningkatan penerimaan dalam negeri. Langkah-Iangkah untuk menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan. maka sejak 1 Januari 1985 tarip pajak kekayaan telah diturunkan dari 1 persen menjadi 0.5 persen. Sejak dilaksanakannya kebijaksanaan moneter 1 Juni 1983. Dalam rangka pelaksanaan undang-undang ini. khususnya melalui usaha peningkatan penerimaan dalam negeri di luar minyak. Sedangkan Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang sedianya berlaku pada tanggal 1 Juli 1984. telah dilaksanakan ketika memasuki tahun pertama Repelita IV. Salah satu kebijaksanaan yangtelah diambil adalah dengan disahkannya beberapa undang-undang perpajakan yang baru. Dengan kebijaksanaan tersebut Pemerintah bukan saja berupaya untuk lebih menyeimbangkan struktur penerimaan negara.

diantaranya sebesar Rp 7. peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar dalam rangka pelaksanaan wajib Departemen Keuangan RI 14 . Sampai dengan bulan September 1984. dan penyederhanaan kehidupan politik. Terpeliharanya kestabilan ekonomi mencerminkan terselenggaranya pengendalian jumlah uang beredar yang sesuai dengan kebutuhan perekonomian. dan diharapkan pada waktunya akan mendapat persetujuan akhir dari Dewan Perwakilan Rakyat.787. sedangkan pada tahun sebelumnya menunjukkan kenaikan sebesar 11.2 milyar. Organisasi Kemasyarakatan. dan kesinambungan pembangunan. diusahakan agar pengaruhnya terhadap tingkat harga senantiasa dalam batas-batas yang aman. Sungguhpun jumlah uang beredar terus meningkat. Kelima RUU tersebut kini dalam pembahasan. Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Sementara itu dalam periode Juni 1983 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dihimpun oleh sektor perbankan menunjukkan kenaikan yang mengesankan. pembangunan politik dan pendidikan politik seperti yang digariskan oleh GBHN terus menerus dilaksanakan. laju inflasi menunjukkan peningkatan sebesar 8. Meningkatnya dana-dana masyarakat yang terhimpun oleh sektor perbankan menunjukkan adanya kestabilan ekonomi. Dalam kaitan ini unsur terpenting di dalam pengembangan sumber daya manusia adalah pendidikan. Perubahan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR/DPR/DPRD. baik di bidang ekonomi.8 persen.2 milyar atau 53.8 milyar. cerdas dan berbudi luhur merupakan modal pembangunan yang sangat menentukan. volume deposito berjangka telah menunjukkan kenaikan sebesar Rp 2. Perubahan UU tentang Parpol dan Golkar. dana perbankan telah mencapai jumlah sebesar Rp 14.5 persen. Dalam tahun 1984. Oleh sebab itu. Dengan demikian manusia Indonesia yang sehat. dan tentang Referendum. Tegaknya demokrasi Pancasila merupakan syarat mutlak bagi terjaminnya stabilitas nasional. maka kepada DPR telah diajukan lima RUU masing-masing tentang: Perubahan UU Pemilu. sosial maupun politik. Sehubungan dengan itu dalam tahun pertama Repelita IV kebijaksanaan di bidang pendidikan terutama ditekankan dan diarahkan pada peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan. namun mendorong kegiatan pembangunan.Juni 1984. Dalam rangka pembaharuan. dan iklim terse but harus dipertahankan agar upaya pembangunan dengan kekuatan sendiri secara bertahap dapat terwujud menjadi kenyataan.8 persen merupakan dana deposito dan tabungan yang merupakan sumber dana yang renting bagi pembentukan modal untuk disalurkan berupa kredit bagi kegiatan usaha.905.705. Pelaksanaan pembangunan nasional senantiasa diupayakan berjalan seirama dengaIi pembinaan dan pemeliharaan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.

dan tujuannya tidak tersimpangkan. dan pembangunan nasional. maka perlu terus ditingkatkan pembangunan kesehatan dan pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk. agar arah dan pelaksanaan pembangunan tetap benar. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap generasi muda dalam tugasnya sebagai penerus perjuangan bangsa. Untuk itu Pemerintah dalam tahun 1985/1986. serta penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional. baik secara kualitatif maupun kuantitatif. sementara kesejahteraan para guru dan dosen tetap menjadi perhatian Pemerintah. Dengan penuh kepercayaan pada kemampuan sendiri. dan alih teknologi di bidang kesehatan dan peralatan kesehatan. makmur dan sejahtera. Maka teramat penting bagi segenap aparatur negara. Departemen Keuangan RI 15 . baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah. serta agar pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan baik. yang meliputi berbagai bidang studi dan pengelolaan. Terciptanya kerangka landasan seperti yang diamanatkan oleh GBHN harus benarbenar dapat diwujudkan. Pembangunan juga mengusahakan agar setiap warga negara dapat memperoleh derajat kesehatan yang tinggi menuju terbentuknya keluarga yang sehat dan sejahtera. serta pengelolaan pendidikan yang lebih berdaya guna dan berhasil guna. telah dilaksanakan penataran guru/pembina pada berbagai tingkat pendidikan. penyuluhan kesehatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 belajar. dan masyarakat untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila. dan mengarah kepada pengalihan tanggung jawab pengelolaan dari Pemerintah kepada masyarakat. Oleh karena manusia merupakan modal terpenting dan menentukan dalam pembangunan nasional. merencanakan untuk memberikan tunjangan jabatan fungsional kepada guru sekolah tingkat dasar dan menengah. Untuk itu sejak Pelita I telah dan terus dilaksanakan pembangunan di bidang kesehatan. Bersamaan dengan itu terus diusahakan pula peningkatan program keluarga berencana (KB) nasional yang pelaksanaannya ditempuh melalui pendekatan kemasyarakatan baik melalui jalur formal maupun informal. serta cita dan harapan dapat menjadi kenyataan. Di samping itu juga dilaksanakan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera (NKKBS) melalui program lintas sektoral agar terwujud keluarga yang sehat. pengadaan tenaga dokter dan tenaga medis. agar tempat beranjak pembangunan bertambah kuat sehingga bangsa Indonesia dapat terus tumbuh dan berkembang. antara lain berupa pembangunan Puskesmas dan rumah sakit. dan hanya dengan persatuan yang makin kukuh segala rintangan dan tantangan yang berat dalam tahun-tahun mendatang akan teratasi. peningkatan gizi masyarakat. Guna meningkatkan mutu pendidikan. pemberantasan penyakit menular.

dan memperluas usaha pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Dengan demikian penerimaan negara beserta pengalokasiannya kepada seluruh sektor pembangunan. kecerdasan. guna mewujudkan amanat yang terkandung di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. sebagai tujuan utama dari pembangunan merupakan babagian yang tak dapat dipisahkan dari ukuran keberhasilan pembangunan secara menyeluruh. Beberapa indikator seperti bertambah luasnya prasarana dan sarana seperti perhubungan. tahun pertama pelaksanaan Pelita pertama hingga memasuki tahun kedua Pelita IV. Meningkatnya taraf hidup. dan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. pendidikan. Hal demikian sangatlah diperlukan untuk menjamin terus berlangsungnya pembangunan nasional secara berkesinambungan. dan secara operasional setiap tahun diwujudkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). kecerdasan serta kesejahteraan seluruh rakyat. Hal demikian merupakan salah satu upaya pemantapan stabilitas ekonomi. khususnya terhadap meningkatnya laju inflasi. Departemen Keuangan RI 16 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB II ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA 2. dan pengeluaran negara sebagai pelaksanaan prinsip-prinsip anggaran yang berimbang dan dinamis. diarahkan kepada terwujudnya Trilogi Pemba. Pendahuluan Sejak pembangunan nasional dirimlai pada tahun 1969/1970. sehingga menambah kemantapan iklim perekonomian nasional secara menyeluruh dan terpadu. Dalam memelihara pengaruh APBN terhadap perkembangan moneter. dan ditegaskan kembali di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Apa yang ditetapkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara dijabarkan di dalam Repelita. pertumbuhan ekonomi yang memadai serta kestabilan nasional yang sehat dan dinamis. sebagai suatu rangkaian tak terpisahkan dari Trilogi Pembangunan.1. kesehatan serta penciptaan lapangan kerja diseluruh pelosok tanah air telah ikut mendorong laju pertumbuhan. Kemajuan pembangunan nasional yang dilaksanakan sejak tahun 1969 itu tercermin tidak hanya dari terus meningkatnya volume APBN. keseimbangan antara penerimaan negara. kebijaksanaan keuangan negara tetap diarahkan. tetap dipertahankan.i1gunan tersebut secara optimal. yang berarti pula menjaga sendi-sendi kestabilan kehidupan masyarakat. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. tetap menjadi dasar kebijaksanaan bagi pengelolaan keuangan negara. dan berpegang teguh pada kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan tarat hidup.

terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 55.4 milyar. sehingga dengan demikian masing-masing melampaui rencananya sebesar Rp 820. Di dalam pelaksanaannya selama lima tahun Pelita III. yang berarti meningkat sebesar hampir 55 kali lipat dalam jangka waktu lima betas tahun. dalam beberapa tahun terakhir. dan pengeluaran pembangunan sebesar Rp21. berbagai tantangan dan hambatan.849.6 milyar. Adapun usaha untuk memperkecil pengaruh yang di timbulkan resesi dunia tersebut.283.8 milyar dari yang direncanakan. dan berlangsung berkepanjangan telah memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi perekonomian Indonesia. Dengan demikian dibandingkan dengan rencananya.463.7 milyar.3 milyar dan Rp 12. hila dalam tabun pertama Pelita I jumlah penerimaan baru sebesar Rp 334.4 milyar. masing-masing lebih besar dengan Rp 21.6 milyar ternyata dalam pelaksanaannya telah dilampaui sebesar Rp 22.237. dalam realisasinya masing-masing mencapai jumlah sebesar Rp 3. maka dalam tabun terakhir Pelita III realisasinya telah meningkat menjadi Rp 18. dan kebijaksanaan moneter 1 Juni 1983. Dalam Repelita I dan II anggaran penerimaan yang direncanakan berjumlah Rp 2. Oleh sebab itu upaya peningkatan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas Departemen Keuangan RI 17 .6 milyar.0 milyar dan Rp 12. telah mempengaruhi perkembangan APBN. Bila dibandingkan dengan rencana anggaran penerimaan dalam Repelita.510. khususnya di bidang penerimaan negara. maka realisasinya selalu melampaui rencana dalam setiap Repelita. sehingga masing-masing mengalami kenaikan sebesar Rp 10. penyesuaian nilai tukar dollar Ametika terhadap rupiah. terutama untuk mengamankan penerimaan negara melalui APBN. dan penerimaan pembangunansebesar Rp 9.3 milyar dan Rp 1. Dalam Repelita III anggaran yang direncanakan berimbang pada jumlah sebesar Rp43.8 milyar. yang terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 34.1 milyar. sedangkan pengeluaran negara terdiri dari pengeluaran rutin sebesar Rp 21.8 milyar.393.883.315.247.586.1 milyar. dan penerimaan pembangunan sebesar Rp 10.393.7 milyar.2 milyar dan Rp18.510. Dibalik kemajuan tersebut.4 milyar.168.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Perkembangan volume APBN.2 milyar dan Rp 5.467.2 milyar.019.273.5 milyar. Perekonomian dunia yang dilanda krisis. Adapun pengeluaran rurin dan pengeluaran pembangunan dalam lima tahun pelaksanaan Pelita III terse but dicapaijumlah sebesar Rp 32.7 milyar.714.2 milyar.129.406.5 milyar dan Rp 34.551.987. yakni dari tahun 1979/1980 sampai dengan tahun 1983/1984. Pemerintah telah mengambil berbagai kebijaksanaan antara lain berupa pembaharuan di bidang perpajakan. realisasi penerimaan negara telah dapatn mencapai Rp 66. Demikian pula rencana anggaran penerimaan dalam Repelita III sebesar Rp 43. penjadwalan kembali proyek-proyek. yaitu dengan realisasi penerimaannya sebesar Rp 66.661.1 milyar.3 milyar.279.

seperti pemerataan pendapatan dan beban pembangunan. bea dan cukai. terusmenerus dilaksanakan. pemerataan atau keadilan dan kepostian mendapat pengaturan yang lebih sesuai dengan perkembangan pembangunan. kestabilan barga. yang berkembang sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Pengurangan dan penghapusan berbagai subsidi. Sementara itu pengeluaran pembangunan tetap diarahkan untuk membiayai proyek-proyek yang Departemen Keuangan RI 18 . Sebagai peralatan fiskal. perdagangan. Dalam melaksanakan undang-undang perpajakan yang baru. memerlukan penanganan dan pendayagunaan yang cermat dan secara berencana terus dikembangkan agar tujuan mencapai kemandirian dalam pembiayaan pembangunan secara bertahap dapat menjadi kenyataan. perluasan kesempatan kerja. pengendalian dan penghematan dalam menyelenggarakan kegiatan Pemerintah terus dilakukan. dan terus disempurnakan baik tata cara pengelolaannya. maupun peningkatan disiplin dan pembinaan mental aparat pemungut pajak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 alam. Iklim tersebut selanjutnya akan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri. baik dari pengelola pajak maupun dari masyarakat wajib pajak. kebijaksanaan perpajakan diarahkan bukan saja untuk meningkatkan penerimaan negara. Adanya potensi perpajakan yang masih besar dalam masyarakat. serta membantu terciptanya suasana yang lebih sesuai dengan pola hidup sederhana. dan agar terdapat alokasi sumber-sumber ekonomi yang sehat. maka perlu ditingkatkan pengawasan. telah dan akan terus dilaksanakan. sedikit demi sedikit telah dilaksanakan seiring dengan meningkatnya perekonomian pada umumnya. maupun ketrampilan petugas yang bersangkutan. badan-badan usaha. serta penerimaan bukan pajak. diperlukan disiplin dari berbagai pihak. tarip pajak serta tata cara pembayaran pajaknya. Di sektor pengeluaran rutin. serta menunjang upaya stabilisasi ekonomi nasional. unsur-unsur kesederhanaan. Dalam hubungan ini pembenahan aparatur perpajakan. serta para wajib pajak pada umumnya. Kebijaksanaan yang ditempuh untuk melaksanakan hal tersebut antara lain dengan meningkatkan efisiensi penggunaan dana. Dalam undang-undang perpajakan rang baru tersebut. asosiasi-asosiasi. Selanjutnya agar penerimaan dan pengeluaran negara dapat diurus secara efisien dan efektif. akan tetapi juga dimaksudkan untuk menciptakan iklim yang memungkinkan terwujudnya beberapa sasaran pembangunan nasional. serta mengarahkan kegiatan pembangunan pada proyek-proyek yang berprioritas tinggi.. baik yang menyangkut prosedur dan tata kerja administrasi perpajakan. Agar pelaksanaan undang-undang pajak dapat berjalan lancar telah dan terus diadakan penyuluhan terhadap pengusaha. Untuk itu mulai akhir tahun anggaran 1983/1984 telah diberlakukan beberapa undang-undang perpajakan yang baru dengan perbaikan secara mendasar terhadap sistem perpajakan lama yang antara lain meliputi dasar pengenaan pajak. tanpa harus mengorbankan kebutuhan dan kesejahteraan dari sebagian besar masyarakat. seperti penerimaan dari sumber-sumber perpajakan.

dan kerja keras. dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2.295. realisasi penerimaan dalam negeri mencapai jumlah sebesar Rp 7. pada hakekatnya memerlukan penyesuaian sikap.6 persen dan 41. baik untuk memperkecil pengaruh resesi dunia. 2.6 milyar dan Rp 8.560. Pelaksanaan APBN 1984/1985 ( Semester I ) 2. Kenaikan tersebut terutama disebabkan karena meningkatnya penerimaan dari sektor minyak. Apabila dibandingkan dengan penerimaan dalam negeri dalam semester I 1983/1984 sebesar Rp 6.1 persen.8 milyar. Dalam semester I 1984/1985.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas.390.8 persen dari jumlah yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. yang berarti 42. dibandingkan dengan tahun sebelumnya. baik dari masyarakat.540.372.7 milyar. maka te1ah terjadi kenaikan sebesar 16. maupun segenap aparat negara. realisasi penerimaan dan pengeluaran negara masing-masing dapat mencapai Rp 8.5 persen dari rencana APBN 1984/1985 yang berimbang pada jumlah Rp 20. Dibandingkan dengan pengeluaran rutin dalam semester I 1983/1984. Adapun realisasi pengeluaran rutin dalam semester I 1984/1985 mencapai Rp 4.6 milyar yang terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 4. baik sarana maupun prasarana. Ringkasan Pelaksanaan APBN dalam tahun anggaran 1984/1985 ditandai oleh perkembangan keadaan ekonomi nasional yang relatif lebih baik. terutama dalam memberikan pe1ayanan kepada masyarakat. maupun dalam rangka pemulihan perekonomian di dalam negeri.8 milyar.546. Se1ama semester I tahun anggaran 1984/1985.971. dan penerimaan bukan pajak. Berbagai usaha dan langkah kebijaksanaan yang telah diambil. guna menumbuhkan seluruh sektor perekonomian masyarakat. Kebijaksanaan penge1uaran rutin dalam tahun anggaran 1984/1985 diarahkan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas yang lebih tinggi.4 milyar. Jumlah penerimaan dan pengeluaran negara dalam semester I 1984/1985 tersebut berarti masing-masing mencapai 41.418.2. penerimaan cukai. khususnya aparat penge1ola keuangan negara.9 milyar.1. khususnya dunia usaha.2. yang berarti masingmasing meningkat dengan 6.5 persen dari penge1uaran rutin yang direncanakan dalam APBN 1984/1985.0 persen. Departemen Keuangan RI 19 . serta merawat sarana dan prasarana hasil pembangunan. Jumlah penerimaan dalam negeri tersebut berarti 45.4 milyar.7 persen bila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun anggaran sebe1umnya. terdapat peningkatan sebesar 19.

upaya untuk meningkatkan penerimaan dalam negeri dalam tahun 1984/1985 terus dilakukan seraya diarahkan untuk menunjang peningkatan produksi dan investasi. maka diperlukan tersedianya dana pembangunan yang semakin meningkat pula.3 milyar maka terdapat peningkatan sebesar 12. Sehubungan dengan itu. memperluas kesempatan kerja.156. Dengan berbagai kebijaksanaan dan usaha yang te1ah dijalankan. Dengan demikian pembangunan yang dilaksanakan untuk se1anjutnya akan dapat lebih tumbuh dan berkembang di atas kemampuan sendiri.5 milyar. realisasi pengeluaran pembangunan mencapai jumlah sebesar Rp 4.8 milyar.7 milyar. Dalam semester I 1984/1985 telah berhasil dihimpun tabungan Pemerintah sebesar Rp 3.552.250.132.094. Penerimaan pembangunan bersama tabungan Pemerintah berjumlah Rp3. realisasi penge1uaran pembangunan lainnya sebesar Rp 714.7 milyar tersebut te1ah digunakan untuk membiayai penge1uaran pembangunan sebesar Rp 4.3 persen. baik segi perencanaan maupun pelaksanaan operasionalnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Meningkatnya kemampuan sumber-sumber dana dari dalam negeri guna membiayai pembangunan nasional. Dana ini dibutuhkan guna menambah dana pembiayaan pembangunan agar sasaran pembangunan dapat tercapai. Dibandingkan dengan tabungan Pemerintah semester I 1983/1984 yang berjumlah sebesar Rp 2. Dengan demikian dari dana pembangunan sebesar Rp 4. serta lebih mengusahakan pemerataan pembangunan dan pemeliharaan kestabilan. 2.7 milyar.7 milyar pada semester I 1984/1985.2.5 milyar. Jumlah tersebut terdiri dari realisasi pembiayaan pembangunan sektoral yang dilaksanakan oleh departemen/lembaga sebesar Rp 1. Bila dibandingkan dengan penerimaan pembangunan dalam semester I tahun sebe1umnya sebesar Rp 1.094. Realisasi penerimaan pembangunan yang bersumber dari luar negeri dalam semester I 1984/1985 menunjukkan jumlah sebesar Rp 1.250.5 milyar. terlihat dari meningkatnya tabungan Pemerintah yang merupakan se1isih an tara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin. maka dalam semester Departemen Keuangan RI 20 . pembiayaan pembangunan regional berupa bantuan pembangunan daerah (program Inpres) dan Ipeda sebesar Rp 844.0 milyar.9 milyar. Sejalan dengan semakin ineningkatnya kebutuhan dana pembangunan yang hams disediakan.7 milyar.764.0 persen. maka berarti terdapat penurunan sebesar 29.244. upaya penyediaannya haruslah selalu diusahakan terutama dari sumber dalam negeri.244.634. membentuk dana pembangunan sebesar Rp 4. Penerimaan dalam negeri Dalam rangka menunjang kegiatan pembangunan yang semakin meningkat dan meluas.1 milyar. dan penge1uaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek sebesar Rp 1. Dalam semester I 1984/1985.2.

5 milyar.2 miyar.kini telah ditingkatkan menjadi Rp 2. Peningkatan penerimaan ini antara lain disebabkan oleh adanya penyesuaian nilai tukar dollar Amerika terhadap rupiah..8 milyar dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2. Upaya ke arah pemungutan pajak yang lebih adil dan merata tercermin dengan semakin ringannya beban pajak bagi golongan masyarakat berpendapatan rendah melalui peningkatan penghasilan tidak kena pajak (PTKP). dan terdiri dari tiga lapisan tarip. yang semula untuk satu keluarga terdiri dari suami.7 milyar.000. Undang-Undang Pajak Penghasilan tahun 1984 yang sudah berlaku sejak bulan Januari 1984 mengandung berbagai kebijaksanaan yang pada prinsipnya mendorong kegiatan dunia usaha dan pembangunan nasional.000.5 milyar. Langkahlangkah kebijaksanaan yang diambil dalam rangka meningkatkan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam antara lain berupa pelaksanaan undang-undang perpajakan yang baru.206.418.0 persen dari yang direncanakan dalam APBN. pemerataan dan kepostian hukum. Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan dalam semester I tahun sebe1umnya yang sebesar Rp 4.7 persen hila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun 1983/1984 sebesar Rp 2.418.1 milyar atau 18. isteri.2 milyar.8 milyar.971. pajak penjualan sebesar Rp 272. serta meningkatnya volume ekspor dari gas alam. pajak penjualan impor sebesar Rp 125. berarti mengalami kenaikan sebesar Rp 765. pajak ekspor sebesar Rp 38.2 milyar.5 milyar.9 milyar. 25 persen untuk penghasilan di atas Rp 10 Departemen Keuangan RI 21 .050. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam tersebut telah meningkat sebesar Rp 252. Sedangkan lapisan kena pajak. dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 353. penerimaan Ipeda sebesar Rp 68. Adapun penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam terdiri dari penerimaan pajak penghasilan sebesar Rp 875. penerimaan pajak lainnya sebesar Rp 33.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 I tahun anggaran 1984/1985 realisasi penerimaan dalam negeri mencapai jumlah sebesar Rp7.0 milyar. cukai sebesar Rp 375.971. dan penggolongan tarip lebih sederhana. yaitu 15 persen untuk penghasilan sampai dengan Rp 10 juta.0 milyar.8 persen dari jumlah seluruhnya yang direncanakan dalam APBN.390. dengan senantiasa berusaha untuk menciptakan iklim perpajakan yang menjamin keadilan.-.2 persen.8 milyar.6 milyar. PTKP yang sebelumnya dikenal dengan istilah BPBP (batas pendapatan bebas pajak). bea masuk sebesar Rp 276. serta tiga orang anak adalah sebesar Rp 1. Jumlah realisasi penerimaan dalam negeri semester I 1984/1985 tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 4.8 milyar tersebut berarti telah mencapai 41.8 milyar tersebut adalah 48.166. Realisasi penerimaan minyak bumi dan gas alam dalam semester I 1984/1985 sebesar Rp 4.8 milyar atau 11.880. Realisasi penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2.

kenaikan sebesar 7.4 persen. Dalam semester I 1984/1985. Sehubungan dengan itu Pemerintah tetap memberikan keringanan tarip. Undang-Undang Pajak Penjualan 1951 sebenarnya tidak berlaku lagi setelah disahkannya Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang semula direncanakan untuk diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1984.7 persen dari yang direncanakan dalam APBN. dan 35 persen untuk penghasilan di atas Rp 50 juta. Sejalan dengan kebijaksanaan umum di bidang perpajakan. atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut pajak sesuai dengan peraturan yang berlaku.3 milyar. penerimaan pajak penjualan dan pajak penjualan impor adalah sebesar Rp 272. maupun beberapa pembebasan sebagian bea masuk atas sejumlah bahan baku dan barang-barang tertentu.0 milyar. Bila dibandingkan dengan penerimaan bea masuk semester I tahun anggaran sebelumnya sebesar Rp 267. Tetapi sehubungan dengan penundaan pelaksanaan Undang-Undang PPN 1984 tersebut hingga selambat-lambatnya tanggal 1 Januari 1986. Realisasi penerimaan bea masuk dalam semester I tahun 1984/1985 mencapai Rp 276. sehingga dengan pengampunan pajak terse but diharapkan akan dapat memperluas jumlah wajib pajak. Realisasi penerimaan cukai dalam semester I 1984/1985 adalah sebesar Rp 375.7 milyar dan Rp 122.5 milyar.5 Departemen Keuangan RI 22 . kebijaksanaan di bidang bea masuk di samping dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan negara. terlihat adanya. maka terdapat kenaikan sebesar 3. Jumlah terse but adalah 35. juga diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat banyak. dan sebelumnya yang belum pernah. serta mendorong perkembangan industri dalam negeri. Pengampunan pajak diberikan atas pendapatan yang diperoleh dalam tahun 1983. telah pula dilaksanakan penyempurnaan tala laksana pabean di bidang impor. dan Rp 125. yang dimaksudkan untuk memelihara dan menunjang perkembangan industri di dalam negeri.8 persen. dalam semester I tahun anggaran 1984/1985 realisasi penerimaan pajak penghasilan telah mencapai Rp 875. Dengan berbagai kebijaksanaan dan usaha-usaha tersebut di atas.6 persen dari yang direncanakan dalam APBN. Dalam rangka menjamin kelancaran arus dokumen dan pengeluaran barang.5 milyar. maka Undang-Undang Pajak Penjualan 1951 masih berlaku hingga tanggal berlakunya undang-undang baru tersebut.2 milyar. Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan pajak penjualan dan pajak penjualan impor dalam semester I 1983/1984 yaitu masing-masing sebesar Rp 252. yang berarti 40.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 juta sampai dengan Rp 50 juta.9 milyar. Adapun pengampunan pajak yang ditentukan sejak 18 April 1984 akan memberikan pengaruh positif terhadap kejujutan dan keterbukaan wajib pajak.7 persen dan 2.

4 persen dari rencananya dalam APBN. Pemerintah telah menurunkan tarip pajak ekspor terhadap beberapa komoditi tertentu. Jumlah tersebut berarti 44.2 persen bila dibandingkan dengan penerimaan dalam semester I tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 53.6 milyar. berarti mengalami kenaikan sebesar 12. dalam semester I 1984/1985 mencapai Rp 33. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun anggaran sebelumnya yang besamya Rp 334. Di samping itu timbul pula hambatan yang dikenakan negaranegara maju terhadap barang-barang ekspor negara dunia ketiga. Sejalan dengan perkembangan tersebut. Dalam semester I 1984/1985 penerimaan bukan pajak realisasinya mencapai Rp 353.6 milyar. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp 23.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar. berarti terdapat penurunan sebesar 23.3 persen. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp 205.4 persen dari yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985. Hal tersebut telab berpengaruh kepada volume maupun nilai ekspor Indonesia dalam semester I 1984/1985.7 milyar atau 71.5 milyar. termasuk Indonesia. realisasi penerimaan pajak ekspor untuk semester I 1984/1985 hanya mencapai sebesar Rp 38. membawa pengaruh yang kurang menguntungkan terhadap perkembangan harga barang-barang ekspor non migas di posaran dunia.2 milyar. Apabila dibandingkan dengan penerimaan yang sarna dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp50. Upaya peningkatan penerimaan jenis ini selalu diusahakan dengan lebih meningkatkan kualitas petugas pelaksana melalui pendidikan dan latihan. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 28. Penerirnaan bukan pajak terdiri dari Departemen Keuangan RI 23 . antara lain bauksit dan pekatannya. Keadaan perekonomian yang masih belum sepenuhnya pulih dari resesi. yang berarti mencapai 51.9 persen.2 milyar.9 persen. dan bea lelang. atau 57.5 milyar. Realisasi penerimaan pajak lainnya yang terdiri dari pajak kekayaan. sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar iuran tersebut. Penerimaan Ipeda dalam semester I tahun 1984/1985 adalah sebesar Rp 68.8 milyar atau 31.2 milyar.4 milyar. Untuk meningkatkan ekspor non migas di tengah perkembangan perekonomian dunia yang masih lamban. serta penyuluhan kepada masyarakat luas.6 persen dari yang direncanakan dalam APBN. berupa pembatasan (kuota) impor terbadap berbagaijenis komodiri. bea meterai.4 persen dari yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985. berarti mengalami kenaikan sebesar 41.3 persen. Kenaikan ini terutama berasal dari kenaikan penerimaan cukai tembakau dengan meningkatnya produksi rokok. maka terdapat kenaikan sebesar Rp 147.

80 11.372.8 4. Penerimaan bukan pajak 205. seperti iuran hak pengusahaan hutan (IHPH).2 7. yaitu dalam bentuk bantuan program dan bantuan proyek.5 3.2 milyar dan Rp 1.418.2 2.5 12.5 353. sewa rumah dinas. Ipeda 53. hasil penjualan barang milik negara. dan bank negara. uang pendidikan. Penerimaan pembangunan Untuk memungkinkan ekonomi nasional dapat tumbuh dan berkembang di atas kemampuannya sendiri.390.971. Namun upaya memobilisasikan dana pembangunan tersebut harus diusahakan tidak melampaui kekuatan ekonomi yang ada.9 2. Pajak lainnya 23.7 272.2 875 2.4 5.7 1.3 6. Pajak penjualan 252.5 41.3 7.2 Tabel II. 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berbagai jenis penerimaan negara.60 6. Pajak penjualan impor 122. Penerimaan pembangunan.7 3.2 PENERIMAAN DALAM NEGERI. semester I 1983/1984 dan 1984/1985 dapat dilihat dalam Tabel II.4 375.2 A.0 2. Pengeluaran rutin Kebijaksanaan Pemerintah di bidang pengeluaran rutin tidak terlepos dari upaya untuk Departemen Keuangan RI 24 .Semester I Semester 11) Kenaikan / 1983/1984 1984/1985 Penurunan (%) Jems penerimaan Penerimaan minyak bumi dan 4. Pengelolaan sumber dana yang berasal dari luar negeri tersebut senantiasa diarahkan seefisien mungkin untuk membiayai proyek-proyek pembangunan yang produktif dan berprioritas tinggi. Perbandingan penerimaan dalam negeri. Pajak penghasilan 856.4. dalam semester I 1984/1985 realisasinya masing-masing sebesar Rp 23.2 28.5 125.206. Cukai 334.9 9. Bea masuk 267. dan sebagainya.70 7. Oleh karena itu dana yang berasal dari luar negeri masih diperlukan sebagai pelengkap untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan. antara lain berupa bagian Pemerintah atas laba perusahaan negara. bea nikah dan akte kelahiran pada catatan sipil.166.2.80 18.00 2. Pajak ekspor 50. gas alam 4.2 68.2.8 -23.9 Jumlah 6.8 milyar.6 33. bumi dan gas alam 2.2 8.2 71.3. penerimaan dalam negeri senantiasa diusahakan peningkatan dan peranannya di dalam penyediaan dana pembangunan yang diperlukan.3 276.70 Penerimaan di luar minyak B.6 38.132. SEMESTER 1 1983/1984 DAN 1984/1985 (dalam milyar rupiah) . serta berbagai jenis penerimaan departemen dan lembaga Pemerintah lainnya.

realisasi pengeluaran rutin diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 4.238. Kenaikan realisasi belanja pegawai juga disebabkan meningkatnya realisasi tunjangan beras.602.1 persen hila dibandingkan dengan semester I 1983/ 1984.9 milyar tersebut merupakan 42. dan berarti pula telah menyerap 50. sebagai upaya untuk lebih mendorong peningkatan produksi dalam negeri.9 milyar.0 milyar. serta lebih efektif dan efisien sehingga pelaksanaannya dapat lebih terarah dan terkendali.6 milyar. dari Rp 137.ster I 1984/1985 dapat diikuti dalam Tabel II. dan lain-lain pengeluaran rutin sebesar Rp135.602. Departemen Keuangan RI 25 . pembayaran bunga dan cicilan hutang sebesar Rp 1. sehingga dapat bekerja lebih baik dan dengan demikian akan meningkatkan produktivitas kerja.9 milyar. di samping berhubungan erat dengan pengamanan dan pemeliharaan hasilhasil pembangunan.3 milyar.7 milyar dalarn semester I 1983/1984 menjadi Rp 255. Peningkatan re'alisasi belanja pegawai ini antara lain sebagai akibat diberikannya kenaikan gaji sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan kepada pegawai negeri sipil/ ABRI dan pensiunan.2 persen dari realisasi dalam semester I tahun sebelumnya.3 milyar selama semester I 1984/1985 merupakan peningkatan sebesar 14. Seiring dengan itu. yang terdiri dari belanja pegawai sebesar Rp 1. Dalam semester I 1984/1985.295.3 Realisasi belanja pegawai sebesar Rp 1. Perkembangan realisasi pengeluaran rutin dalam sem(. dayaguna dan hasilguna serta pengamanan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa. Dalam pedoman pelaksanaan APBN yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 29 tahun 1984 dinyatakan bahwa pelaksanaan APBN diarahkan kepada penggunaan kemampuan dan hasil produksi dalam negeri sejauh mungkin. tidak mewah.295. dalam rangka meningkatkan kelancaran.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 meningkatkan tabungan Pemerintah.5 persen dari rencananya dalam APBN 1984/1985 dan menunjukkan peningkatan sebesar 19. belanja barang sebesar Rp 406. subsidi daerah otonom sebesar Rp 913.1 milyar. Realisasi pengeluaran rutin sebesar Rp 4. Pemberian kenaikan gaji itu sendiri merupakan langkah yang ditempuh Pemerintah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri sipil/ ABRI dan pensiunan. yang merupakan sumber utama bagi pembiayaan pembangunan. Oleh sebab itu setiap kegiatan pengeluaran harus dipertimbangkan agar selalu berlandaskan pada prinsip-prinsip hemat.2 milyar dalarn semester I 1984/1985 yang berarti meningkat sebesar 85.3 persen.2 persen dari dana yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985. telah ditetapkan pula Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 1984 tentang Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah di Departemen/Lembaga.

se1ama semester I 1984/1985 mencapai realisasi sebesar Rp 135. yang berarti meningkat sebesar 26.111.9 483.7 b. Luar negeri 3.8 84.7 milyar.2 3.2 623 0.123.6 milyar. SEMESTER I 1983/1984 DAN 1984/1985 1) (dalam milyar rupiah) Kenaikan (%) Jenis pengeluaran 1983/84 1984/85 2) 1. Tunjangan beras b.9 milyar. Bantuan pembangunan kabupaten 30. Pembiayaan Lain-lain 548. Lain .5 23.7 641.70 12.3 PENGELUARAN RUTIN.9 46 19.-/kg dinaikkan menjadi Rp 366.2 c. Bantuan pembangunan dan pemugaran 8.4 9.7 1) Di luar bantuan proyek 2) Angka sementara Hal ini terutama disebabkan perhitungan harga beras untuk pegawai Degen. yang antara lain menampung pengeluaran untuk subsidi bahan bakar minyak.3 32. Subsidi daerah otonom a.602. Dengan berpedoman kepada ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 1984.2 237.1 489. dalam negeri e.9 a.7 b. Kenaikan realisasi subsidi daerah otonom ini disebabkan adanya kenaikan gaji pegawai daerah otonom sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan tahun sebe1umnya.Belanja pegawal b. Bunga dan cicilan hutang a.402.9 2.4 26.10 0.3 -73.-/kg sejak 1 April 1984. yang semula Rp 327.1 39.4 g. H a n k a m 239.30 147. Non belanja pegawai 4. Bantuan pembangunan desa 24 92.0 milyar. Lain-lain bel.7 57. Subsidi BBM b. SEMESTER I 1983/1984 DAN 1984/1985 (dalam milyar rupiah) Jenis Pengeluaran 1.7 23. Bantuan pembangunan Dati I 59.90 -1.6 10 1) 9.lain 174. SalaDa kesehatan / Puskesmas 9.4 d.3 persen lebih rendah dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984.2 68.238.4 406. Se1anjutnya.7 42.3 913 828.295.9 12. Pembiayaan Departemen/Lembaga 1.9 357.4 milyar. . Belanja pegawai luar negeri 2.1 milyar.2 3. Bantuan sekolah dasar 330 311.2 844.051. Lain .4 722.lain Jumlah 1) Angka sementara 1983/84 1.5 j.3 a.5 b. dan untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri sebesar Rp 1.90 137.40 1984/85 1) 1.3 f.5 369.70 151 41 31.3 29.1 -5.2 545. Realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam semester I 1984/1985 sebesar Rp 1. pe1aksanaan be1anja barang dalam semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 406.9 391. Biaya makan (lauk pauk) d. biaya giro pos dan lain-lain.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel II.8 217 24. Bantuan penghijauan dan reboisasi 51.6 31.5 a.761.2 -37. Agar pe1aksanaan penge1uaran rutin dapat berjalan secara hemat dan efisien.2 1.1 26.6 15.6 126.6 6.4 1.1 milyar terdiri dari pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri sebesar Rp 0. Departemen/lembaga 1.20 3. Prasarana jalan 45 57.608.2 h. Belanja barang a.348.3 6. yang berarti 72.3 3.238.2 1. penggantian biaya pengiriman surat dinas bebas porto.7 203.8 -15 2.9 622.237.1 Jumlah 2.9 30.5 12. Pengeluaran rutin untuk subsidi daerah otonom dalam semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 913. Luar negeri 5.9 c.4 PENGELUARAN PEMBANGUNAN.369.1 21.1 194. Pembangunan Timor Timur 0.3 34.90 Kenaikan (%) 14.609.2 28.7 -55.3 persen dibandingkan dengan semester I tahun sebelumnya. Penyertaan modal pemerintah 197.2 4.552.8 286.237.5 81. Lain-lain pengeluaran rutin.2 -4 33. Lain -lain a.30 255.5 136.9 i. penyesuaian harga beras ini mempengaruhi pula pembayaran uang makan/lauk pauk.70 135.6 99 -72.70 1.8 0. Pembiayaan bagi daerah 603.70 -3.7 1.7 e. Subsidi pupuk 176. Ipeda 53. yang berarti suatu kenaikan sebesar 10 persen dan realisasi dalam periode yang sama tahun sebelumnya.1 Tabel II. Belanja pegawai a. Dalam negeri b.40 1.7 98. penge1uaran untuk belanja barang harus dilakukan secara selektif dan terkendali.7 -3.2 85.6 714.6 260. Hal ini disebabkan terutama oleh lebih rendahnya realisasi subsidi bahan bakar minyak. peg. Gaji dan pensiun c. Bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984 terdapat kenaikan sebesar Rp 615. Dalam negeri b. Departemen Keuangan RI 26 .

Bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984. Ipeda dan pembiayaan bagi Timor Timur. Pengeluaran pembangunan berupa pembiayaan rupiah sebesar Rp3. Dengan tetap berlandaskan pada Trilogi Pembangunan.7 milyar. dilakukan dengan meningkatkan jumlah penerimaan dalam negeri bersamaaan dengan penghematan dalam pengeluaran rutin.7 milyar.9 persen.4 milyar atau 11.111. yang merupakan tahun pertama pelaksanaan Repelita IV.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2.244.9 milyar. yang merupakan sumber utarna bagi pembiayaan pembangunan. dan pengeluaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek sebesar Rp 1. sedang di bidang penge1uaran rutin antara lain dengan jalan menyempurnakan pedoman pe1aksanaan APBN di samping peningkatan mutu aparat pe1aksanaannya.094. telah berhasil direalisasikan bantuan sebesar Departemen Keuangan RI 27 . penyempurnaan administrasi serta pembenahan aparatur perpajakan. jumlah tersebut menunjukkan peningkatan sebesar Rp 330. 2. yang berarti telah mencapai 51.7 milyar tersebut terdiri dari pengeluaran pembangunan untuk proyek-proyek sektoral yang dikelola departemen/lembaga sebesar Rp 1.552. intensifikasi dan extensifikasi pungutan pajak. II dan III. Selama semester I 1984/1985 te1ah berhasil dihimpun tabungan Pemerintah sebesar Rp 3.6. pelaksanaan pengeluaran pembangunan selama semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 4. serta selalu berpedoman kepada Keputusan Presiden tersebut diatas. kebijaksanaan yang dijalankan berkenaan dengan pelaksanaan anggaran telah dituangkan dalam Keputusan PresideD Nomor 29 tahun 1984 tentang Pelaksanaan APBN.7 milyar. Upaya peningkatan penerimaan dalarn negeri ditempuh antara lain dengan penyempurnaan perundang-undangan pajak. Pengeluaran pembangunan Berbagai langkah dan kebijaksanaan yang telah diambil Pemerintah selama pelaksanaan Repelita I.1 milyar.5. Dalam tahun anggaran 1984/1985.132. Selama semester I 1984/1985. telah meletakkan landasan yang lebih kuat bagi pelaksanaan Repelita IV. Jumlah tersebut meliputi pembiayaan rupiah sebesar Rp 3.2. pengeluaran pembangunan bagi daerah sebesar Rp 844.8 milyar. dan sisanya berupa pengeluaran pembangunan lainnya sebesar Rp 714.2 persen dan yang direncanakan dalam APBN 1984/1985.111.2. Tabungan Pemerintah Usaha untuk meningkatkan tabungan Pemerintah.5 milyar. Pengeluaran pembangunan bempa pembiayaan pembangunan bagi daerah merupakan bantuan yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah untuk menjalankan pembangunan yang meliputi program-program Inpres.

yang berarti telah menyerap sebesar 55. Demikian pula halnya dengan program pembangunan sekolah dasar. Rp 260.7 persen dibandingkan dengan semester I tahun lalu.4 milyar.8 milyar dan Rp 194.2 persen bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I tahun sebelumnya.1 milyar.7 milyar yang berarti 3.4 milyar. penyertaan modal Pemerintah dan lain-lain pembangunan. Pengeluaran pembangunan lainnya.2 milyar.2 milyar.9 milyar. yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah dalam rangka melindungi para pedagang kecil golongan ekonomi lemah.6 milyar. serta bantuan bagi prasarana jalan sebesar Rp 57. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan sebesar Rp 57. realisasinya sebesar Rp 68. Jumlah tersebut meliputi pembiayaan bagi program bantuan pembangunan desa sebesar Rp 92. Bantuan pembangunan dan pemugaran pasar. dan Departemen Keuangan RI 28 .2 milyar dalam semester I 1984/1985 merupakan realisasi dari anggaran yang disediakan dalam tahun anggaran 1984/1985.5 milyar.6 persen dari yang direneanakan dalam tahun 1984/1985. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan masing-masing sebesar Rp 237. Tetapi realisasi sebesar Rp 311. meratakan hasil-hasil pembangunan.1 milyar.2 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp844. serta meningkatkan partisiposi daerah dalam pembangunan. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan sebesar Rp 8.an pembangunan Dati I sebesar Rp 57.3 milyar.8 milyar. dalam waktu yang bersamaan telah direalisasikan sebesar Rp 32. realisasinya menunjukkan penurunan sebesar 5. yang terdiri dari subsidi pupuk. bantuan pembangunan posar sebesar Rp8. bantuan pembangunan kabupaten sebesar Rp 194. Bantuan pembangunan Dati I. Realisasi bantuan pembangunan desa dan bantuan pembangunan kabupaten masingmasing sebesar Rp 92. dan program pembangunan dengan dana Ipeda sebesar Rp 68.2 milyar dalam semester I 1984/1985 menunjukkan peningkatan sebesar 28.1 milyar. sarana kesehatan/Puskesmas sebesar Rp 21. Di samping itu jumlah tersebut juga meliputi program bantuan pembangunan sekolah dasar sebesar Rp 311. Begitu pula halnya dengan pengeluaran pembangunan dengan dana Ipeda. Selebihnya adalah realisasi program bantuan pembangunan Timor Timur sebesar Rp 0. bantuan penghijauan dan reboisasi sebesar Rp 32.2 milyar. sedangkan bantuan penghijauan dan reboisasi yang bertujuan untuk menyelamatkan kelestarian sumber-sumber alam. yang diberikan dalam rangka meningkatkan keselarasan pembangunan sektoral dan regional.4 persen di bawah realisasi semester I 1983/1984.1 milyar ini telah menyerap dana sebesar 53. prasarana jalan dan program pembangunan Timor Timur dalam semester I 1984/1985 telah menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan realisasi dalam periode yang sarna tahun sebelumnya. dan bantu. Realisasi program-program pembangunan sarana kesehatan/Puskesmas.7 milyar.7 persen dari dana yang direncanakan dalam tahun 1984/1985.

proyek sumber daya laut dan lain-lainnya. telah mempengaruhi perkembangan perekonomian negara-negara dunia ketiga.7 persen.3 Rencana APBN 1985/1986 Berbagai program dan proyek pembangunan yang disusun dalam reneana APBN 1985/1986 merupakan pelaksanaan operasional tahun kedua Reneana Pembangunan Lima Tahun keempat (Repelita IV). termasuk Indonesia. lingkungan hidup. pengembangan statistik. Dibandingkan dengan semester I 1983/1984. PT Industri Mesin Produksi Indonesia (IMPI) dan PT PAL Indonesia.4. Seperti halnya pada tahun-tahun yang lampau.00 menjadi US $ 29. yaitu sejak diberlakukannya kuota produksi sebesar 1.9 persen dan 24. pertumbuhan ekonomi yang eukup tinggi. Sedangkan pengeluaran pembangunan lainnya terutama digunakan untuk meningkatkan pelaksanaan program keluarga berencana. realisasi tersebut menunjukkan peningkatan masingmasing sebesar 34. serta meningkatnya langkah-langkah proteksionisme dari negara-negara maju. yakni pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. dan penurunan harga minyak dari US $ 34.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 217. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. Pengeluaran pembangunan dalam rangka penyertaan modal Pemerintah antara lain dipakai untuk pembiayaan PT Dok Perkapalan Tanjung Priok. malah ditandai dengan mulai melambannya kembali pertumbuhan ekonomi negara-negara industri.1 persen. landasan kebijaksanaan raneangan APBN 1985/1986 tetap bertumpu pada Trilogi Pembangunan.3 juta barrel pada bulan April 1982. 2. akan tetap dilaksanakan berbagai langkah kebijaksanaan untuk meningkatkan efisiensi dan penghematan. sertifikat ekspor. 31. Dari keadaan tersebut diperkirakan masa-masa sulit sebagai akibat dari resesi ekonomi dunia dan perkembangan harga minyak bumi masih akan dirasakan dalam tahun anggaran 1985/1986. Di bidang keuangan negara.0 milyar. PT PINDAD. Demikian pula posaran dan harga minyak bumi dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan keadaan labil. Situasi perekonomian intemasional yang belum sepenuhnya pulih dari resesi. serta mengarahkan penggunaan Departemen Keuangan RI 29 . Perbandingan antara realisasi pengeluaran pembangunan di luar bantuan proyek dalam semester I 1984/1985 dengan semester I 1983/1984 ditunjukkan dalam Tabel II. Demikian pula prinsip-prinsip anggaran berimbang yang dinamis tetap pula dipertahankan dalam penyusunan rancangan APBN 1985/1986. rendahnya permintaan akan komoditi-komoditi ekspor dari negara-negara sedang berkembang. PT GIA/Cengkareng.00 pada tanggal14 Maret 1983.

5 milyar..9 milyar. serta bantuan pembangunan Timor Timur sebesar Rp 1. dana Ipeda. dan lain-lain pengeluaran yang seluruhnya direncanakan berjumlah sebesar Rp 1. Di sisi pengeluaran negara. akan tetapi juga berusaha-untuk meningkatkan rasa keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan melalui bidang perpajakan.399.647.297. Tabungan Pemerintah tersebut bersama-sama dengan penerimaan pembangunan akan membentuk dana pembangunan yang direncanakan akan mencapai Rp10. 2. Penerimaan dalam negeri Kebijaksanaan untuk menciptakan landasan yang kuat guna mempercepat proses pembangunan yang selama ini dijalankan.278.0 milyar. dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam.23. yakni dengan disahkannya beberapa undang-undang Departemen Keuangan RI 30 .046.3 milyar. LangkahIangkah umuk menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan.0 milyar.159. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara direncanakan berimbang pada jumlah sebesar Rp.647. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai berbagai jenis pengeluaran pembangunan sektoral yang dilaksanakan oleh Departemen/Lembaga Negara sebesar Rp3.1.2 milyar. Dengan kebijaksanaan ini Pemerintah bukan saja berupaya untuk lebih menyeimbangkan struktur penerimaan negara yang sebagian besar masih tergantung pada penerimaan dari minyak bumi dan gas alam. yang masing-masing direncanakan sebesar Rp 11.2 milyar.7 milyar dan Rp7. diharapkan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam akan dapat lebih ditingkatkan.062. telah dilaksanakan ketika memasuki tahun awal Pelita IV.3.0 milyar. Di sisi penerimaan negara.368.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 keuangan negara untuk bidang-bidang yang mempunyai prioritas yang tinggi.518. jumlah tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam. jumlah tersebut terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan yang .644. Dengan demikian tabungan Pemerintah yang direncanakan adalah sebesar Rp 6.0 milyar. khususnya melalui usaha peningkatan penerimaan dalam negeri di luar minyak. dengan pembaharuan-pembaharuan di bidang perpajakan.1 milyar. serta penerimaan pembangunan yang direncanakan sebesar Rp 4. Dalam tahun 1985/1986. Dalam pengeluaran pembangunan termasuk didalamnya pengeluaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek yang direncanakan 3ebesar Rp 4.643.masing-masing direncanakan sebesar Rp 12. Di samping itu.0 milyar dan Rp10. subsidi pupuk. dan berbagai pembiayaan pembangunan lainnya seperti penyertaan modal Pemerintah. pembangunan regional berupa proyek-proyek Inpres. pada hakekatnya mempunyai arah dan tujuan untuk meningkatkan penerimaan dalam negeri terutama dari sumber-sumber di luar minyak bumi dan gas alam.

Sejak berlakunya undang-undang perpajakan yang baru. Untuk itu penyuluhan-penyuluhan juga telah diberikan kepada wajib pajak guna meningkatkan kesadaran. Hal itu meliputi perubahanperubahan prosedur dan administrasi perpajakan. kini tengah dipersiapkan beberapa rancangan undang-undang. UndangUndang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan serta Undang-Undang temang Pajak penghasilan telah diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 1984. telah pula dilaksanakan penataran untuk seluruh aparat perpajakan. Namun Pemerintah menyadari sepenuhnya bahwa pembinaan yang dilakukan. terutama dalam tujuannya meningkatkan peranan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam sebagai sumber utama penerimaan negara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perpajakan baru sebagai penggami dari undang-undang perpajakan lama warisan kolonial yang dirasakan telah tidak sesuai lagi dengan alam dan gerak pembangunan sekarang ini. antara lain mengenai pabean. Akan tetapi usaha tersebut akan kurang bermanfaat tanpa keikutsertaan serta kesadaran .dari seluruh wajib pajak. prosedur dan penaripan yang rumit.518. yang terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 11. Di samping undang-undang perpajakan tersebut. memerlukan waktu umuk mencapai mekanisme yang diinginkan oleh undang-undang perpajakan yang baru. baik untuk meningkatkan pengetahuan teknis di lapangan. serta pendataan dan pemberian nomor pokok wajib pajak (NPWP) sesuai dengan perundangundangan yang baru. Sejalan dengan itu. Berlainan dengan undang-undang perpajakan yang lama yang mempunyai sistem. Perkembangan penerimaan dalam negeri sejak 1969/1970 sampai dengan 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II.. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 1985/1986. baik terhadap aparat perpajakan maupun para wajib pajak. sedangkan Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah direncanakan akan berlaku pada tanggal 1 April 1985.159.7 milyar dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 7. penerimaan dalam negeri direncanakan mencapai Rp 18. guna lebih memantapkan peningkatan penerimaan di dalam negeri. pembaharuan bemuk-bentuk formulir. dan iuran pembangunan daerah.9 milyar. serta pemahaman tentang arti pentingnya undang-undang perpajakan tersebut dalam era pembangun.6 Departemen Keuangan RI 31 . berbagai perubahan dalam teknis pelaksanaan pemungutan pajak telah pula dilaksanakan. maupun umuk meningkatkan disiplin serta mental aparat perpajakan.2 milyar.677. pajak kekayaan. undangundang perpajakan yang baru lebih mencerminkan kesederhanaan serta lebih mendorong pemerataan dan memberikan kepostian hukum.

430.90 488.40 16.7 20.4 21.6 38 1973/1974 967.9 1985/19862) 18.159. Gas alam yang rnerupakan salah satu sumber energi alternatip bagi industri-industri besar sebagai pengganti minyak bumi.4 1971/1972 428 83.530.2 1972/1973 590. dalam masa.2 27.70 57 1980/1981 10.212.1.9 PELITA II 1974/1975 1.4 1982/1983 12.6 100.6 1977/1978 3.535.60 1.20 52.7 1978/1979 4.7 1) APBN 2) RAPBN 2.418. Penerimaan minyak bumi dan gas alam Dari keseluruhan penerirnaan negara yang bersurnber dari dalam negeri. penerimaan dari sektor ini tidak dapat diharapkan akan mengalami lonjakan yang besar seperti yang terjadi dalam Pelita II dan permulaan Pelita III.70 786 81.8 1976/1977 2.266.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabe1 II.985. Dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 1985/1986 penerimaan rninyak bumi dan gas alarn direncanakan sebesar Rp 11.7 1.60 19.6 162.716.00 664.7 377. Adapun penerimaan dari sektor gas alam (LNG) diperkirakan mengalami kenaikan.40 1.70 2.241.677.9 41.4 24.3.7 1983/1984 14.696.906.2 1975/1976 2.7 PELITA III 1979/1980 6.1 29.7 1970/1971 344.00 3. penerimaan yang berasal dari sektor minyak bumi dan gas alam masih tetap merupakan sumber penerimaan yang penting dalam tahun 1985/1986.80 2.753. Apabila Departemen Keuangan RI 32 .70 11.1 63.1.50 15.30 205. Pembatasan produksi yang disepakati bersama oleh negara-negara anggota OPEC baru-baru ini diharapkan akan membawa pengaruh yang positif terhadap perkembangan tingkat harga minyak mentah di posaran dunia.7 1981/1982 12.40 629. 6 PENERIMAAN DALAM NEGERI.90 2.masa terakhir ini menghadapi permintaan yang meningkat dengan cukup berarti.10 730. melihat perkembangan harga dan permintaan minyak mentah di posaran dunia yang masih diliputi kelesuan akibat keadaan perekonomian negara-negara industri yang belum sepenuhnya bangkit dari kemelut resesi.528.149.227. 1969/1970 -1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Kenaikan Jumlah Persentase Tahun anggaran Jumlah PELITA I 1969/1970 243.014. Namun demikian.2 PELITA IV 1984/19851) 16.432.7 milyar.

8 99.8 63.4 1.40 9.479.8 112.760.8 151.10 1.159.1 1.60 7.70 Penerimaan minyak lainnya 17.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penerimaan minyak bumi dan gas alam tersebut dibandingkan dengan rencana dalam APBN tahun 1984/1985 yang berjumlah Rp 10.20 10.9 -1. . upaya peningkatan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam.30 1.10.019.1 50.90 2.5 84.7 .9 Kenaikan Jumlah 65.60 11.40 9.00 1.308.6 37.11.1 milyar.627.4 31 19.619.170.019. Departemen Keuangan RI 33 .5 382. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam Untuk membiayai pelaksanaan pembangunan yang sernakin meningkat dalam Pelita IV.70 2.3 16. Penerimaan rninyak bumi dan gas alam tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi yang direncanakan sebesar Rp 9.5 30.5 8.8 387.70 2.170.3 313.308.70 4.1 rnilyar atau 7.70 4.60 7.3.7.6 -15.248.6 milyar. Tabel II. dan penerirnaan gas alam sebesar Rp 1.9 -5.8 65.948.6 milyar.259.5 64. berarti terdapat peningkatan sebesar Rp793.4 360 1.2.7 persen.20 Persentase Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) APBN 2) RAPBN Jumlah 33.366.950.948.20 -457. 7 PENERIMAAN MINYAK BUMI DAN GAS ALAM.5 89. baik pajak langsung maupun tidak langsung.520.80 8.60 .366.80 8.5 198.60 8.40 1.2 140.9 344.80 846.+ 18.8 150.7 230. khususnya pada tahun kedua pelaksanaan Pelita IV ini.3 68.520. Menyadari hat tersebut.2 31.2 957.8 22.249.4 30.366.4 28.70 2.680. Perkembangan penerimaan pajak penghasilan rninyak bumi dan gas alam sejak tahun 1969/1970 sampai dengan tahun 1985/1986 dapat dilihat dalam Tabel II.159.349.259.4 41.4 793. Pemerintah tidak lagi sepenuhnya dapat bertumpu pada penerimaan yang berasal dari minyak bumi dan gas alam.608.6 973.00 1.2 1.7 575 290.8 41. merupakan suatu langkah keharusan bagi berhasilnya pembangunan yang akan dilaksanakan untuk waktu-waktu mendatang.9 7.1.2 .60 8. 1969/1970 -1985/1986 ( dalam milyar rupiah ) Pajak penghasilan minyak bumi dan gas alam 48.635.627.1 15.

maka batas waktu pengampunan pajak diperpanjang dari akhir Desember 1984 menjadi 30 Juni 1985. melancarkan perdagangan dalam dan luar negeri. Untuk itu atas pendapatan yang diperoleh dalam tahun 1983 dan sebelumnya dan kekayaan yang dimiliki pada 1 Januari 1984 dan sebelumnya. juga diberikan pengampunan pajak. Selanjutnya untuk lebih mendorong tumbuhnya industri dalam negeri. dan laporan tentang kekayaannya tidak akan dijadikan dasar penyidikan dan penuntutan pidana dalam bentuk apapun. Terhadap pajak-pajak yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut yang dimintakan pengampunan pajak. Pengampunan pajak ini diberikan kepada wajib pajak perorangan atau badan. Untuk memberi peluang agar wajib pajak memperoleh informasi lebih jelas dan mempunyai waktu cukup untuk mengisi laporan kekayaannya. dividen. dikenakan tebusan dengan tarip 1 persen dan 10 persen dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung jumlah pajak yang dimintakan pengampunan. serta untuk lebih meningkatkan dampak positif di bidang ekonomi dari sistem perpajakan nasional. pajak atas bunga. melindungi barang-barang yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri. sehingga dapat lebih menjamin pemerataan pendapatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai tindak lanjut ditetapkannya beberapa undang-undang perpajakan baru. Sementara itu terhadap pajak pendapatan buruh yang terhutang dalam tahun pajak 1983 dan sebelumnya. serta terhadap pajak penjualan yang terhutang dalam tahun 1983 dan sebelumnya. sejak 18 April 1984 diambil pula kebijaksanaan untuk memberi pengampunan pajak. melindungi golongan ekonomi lemah. Pengampunan ini juga diberikan terhadap pajak perseroan atas laba yang diperoleh dalam tahun 1983 dan sebelumnya. dengan jalan menciptakan pangkal tolak yang bersih yang berlandaskan pada kejujutan dan keterbukaan dari masyarakat. dan royalty yang dibayarkan atau disediakan untuk dibayarkan sampai dengan 31 Oesember 1983. meningkatkan diversifikasi ekspor. dividen. maka Departemen Keuangan RI 34 . dengan nama dan dalam bentuk apapun baik yang telah maupun yang belum terdaftar sebagai wajib pajak. dan royalty (PBOR) yang terhutang atas bunga. Upaya yang dilakukan Pemerintah di bidang penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam tersebut di samping diarahkan bagi peningkatan pendapatan negara juga diusahakan agar lebih dapat menciptakan iklim dan gairah usaha dalam negeri. yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. diberikan pengampunan pajak. serta terhadap MPO wapu yang terhutang dalam tahun 1983 dan sebelumnya. Di samping itu kepada wajib pajak yang mengajukan permintaan pengampunan pajak akan dibebaskan dari pengusutan fiskal. menciptakan suasana pola hidup sederhana. Kebijaksanaan ini tiada lain dimaksudkan untuk menunjang dan melengkapi pelaksanaan sistem perpajakan yang baru.

Penerimaan ini terdiri dari penerimaan pajak penghasilan sebesar Rp 3. mesin-mesin tekstil dan lainnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sejak 9 Agustus 1984 telah ditetapkan tarip penyusutan baru yang lebih tinggi. maka penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam untuk tahun 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 7.4 milyar. penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp 1. besarnya penerimaan ini baru mencapai Rp 177. serta semakin meningkatnya partisiposi masyarakat di dalam pembangunan. Mengingat perkembangan perekonomian. yaitu tahun 1984/ 1985.9 milyar: maka dalam tahun terakhir Pelita III.518.074.7 milyar. Penyusutan yang lebih tinggi tersebut diberikan antara lain kepada mesin-mesin pertanian.4 milyar.276. Apabila dalam tahun 1969/1970.3 milyar.666.912. penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam terbagi atas penerimaan pajak penghasilan. penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. yaitu tahun pertama Pelita I. Perkembangan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sejak tahun 1969/1970 sampai tahun 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II.4 milyar atau 30. Di dalam perkembangannya. Di dalam RAPBN tahun 1985/1986. jumlah tersebut telah meningkat menjadi Rp 4. dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 731. Tarip penyusutan yang dipercepat tersebut diharapkan akan merangsang tumbuhnya investasi baru yang selanjutnya akan memperkokoh kemandirian perekonomian nasional.3 milyar dan pajak penghasilan badan sebesar Rp 2. yaitu tahun 1983/1984.5 milyar. Departemen Keuangan RI 35 . atas dasar undang-undang perpajakan yang bam beserta kelengkapannya.9 milyar. penerimaan cukai. serta dengan memperhitungkan pengelolaan sistem perpajakan yang semakin baik. penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah sebesar Rp 1. penerimaan pajak ekspor. penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas :rlam senantiasa menunjukkan adanya peningkatan sejalan dengansemakin baiknya pengelolaan keuangan negara. Ipeda sebesar Rp 167. pajak ekspor sebesar Rp 101. penerimaan bea masuk. atau suatu kenaikan lebih dari 27 kali. mesin-mesin yang mengolah produk asal binatang atau nabati.4 milyar.2 milyar. cukai sebesar Rp 963. penerimaan pajak lainnya.1 milyar. penerimaan Ipeda.735.8. bea masuk sebesar Rp 717. pajak lainnya sebesar Rp 96.7 milyar. Apabila dibandingkan dengan penerimaan tahun sebelumnya.0 milyar. dan penerimaan bukan pajak. yakni pajak penghasilan perseorangan sebesar Rp797.0 persen.

diharapkan akan menciptakan iklim dan gairah usaha yang lebih baik yang akan mendorang kegiatan Junia usaha dan perekonomian nasional umumnya.3 360.1 585. undang-undang ini juga dimaksudkan untuk menciptakan suasana kehidupan dan berusaha yang lebih adil dan merata dalam kepostian hukum yang berlaku. 8 PENERIMAAN DI LUAR MINYAK BUMI DAN GAS ALAM 1969/1970 1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) APBN 2) RAPBN Jumlah 177. Undang-Undang PBDR 1970 dan Un dang-Un dang No.207.4 24.70 1.5 993.4 211 197.6 36 24.6 17.8 316 370.40 37.8 225.9 17.7 479.1 25.5 15. diharapkan akan lebih merangsang para wajib pajak untuk memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak.20 3.518.8 27. Hal ini pada gilirannya akan meningkatkan penerimaan pajak sehingga memperkokoh kemandirian dalam penyediaan sumber dana yang dibutuhkan oleh pembangunan.957.4 276.8 18.4 663.9 1.584.6 870.1 664.80 4.90 4.8 Tahun 1967 tentang MPO/MPS.437.8 770.6 11.20 Kenaikan Jumlah Persentase 67.2 t377.5 796.40 2. Di samping itu lebih luasnya dasar pengenaan pajak.3 62. prinsip kepostian dan prinsip pemerataan.4 287.586.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel II.247.9 23.8 24. Dengan undang-undang pajak penghasilan ini diharapkan akan lebih diwujudkan prinsip kesederhanaan. yang berarti di samping ditujukan bagi penambahan pengumpulan dana sebesarbesarnya.782.9 72.50 5.9 245.735. yang hanya terdiri atas tiga tingkat dan tarip rata-rata yang lebih rendah dari tarip rata-rata dalam undang-undang perpajakan sebelumnya.912.40 3. terutama dengan dimasukkannya semua jenis pendapatan ke dalam dasar pengenaan pajak. Kesederhanaan daripada tarip pajak.80 7. Undang-Undang Pajak Perseroan 1925.5 31.270.70 1.5 41. diwajibkan kepada pegawai negeri untuk mengisi Departemen Keuangan RI 36 .3 1.7 30 Berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan sejak 1 Januari 1984 yang menggantikan Undang-Undang Pajak Pendapatan 1944.

sebagai hasil nyata dari kebijaksanaan penyesuaian tarip penyusmall baru yang lebih menguntungkan para pengusaha. Tarip pajak tersebut adalah sebesar 15 persen. Sebagai perwujudan dari pemerataan pendapatan dan beban pembangunan. unsur progresivitas tidaklah diabaikan akan tetapi sekaligus dilaksanakan untuk pengumpulan dana bagi pembangunan. diharapkan akan membawa pengaruh positif terhadap perluasan dan peningkatan kesempatan kerja baru. diharapkan dapat lebih melindungi golongan ekonomi lemah dan masyarakat yang berpendapatan rendah . diharapkan pula dapat lebih mendorong gairah usaha yang pada gilirannya akan memperluas tersedianya barang-barang produksi dalam negeri.0 persen.7 milyar atau 38. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 diharapkan bisa mencapai Rp 797. Penerimaan pajak penghasilan perseorangan dalam RAPBN tahun 1985/1986 direncanakan meningkat dari tahun sebelumnya. diharapkan akan semakin memperluas potensi penerimaan pajak ini. Di samping hat ini akan menambah kapositas efektif pemungutan pajaknya. serta semakin efektifnya pemotongan oleh bendaharawan Pemerintah atas pembayaran gaji. walaupun tarip pajak lebih rendah serta lebih sederhana. Upaya peningkatan penerimaan pajak penghasilan badan diusahakan melalui kebijaksanaan tarip yang lebih sesuai dengan perkembangan dunia usaha. yang berarti terdapat peningkatan sebesar Rp 219. Kalau dalam APBN 1984/1985 penerimaan pajak penghasilan perseorangan aclalah sebesar Rp 577. honorarium. Keputusan PresideD Domer 26 tahun 1984 tentang Pengampunan Pajak diharapkan akan mempercepat proses terciptanya sikap jujur dan terbuka para pemberi kerja untuk melakukan pemotongan dan penyetoran pajaknya. Di samping itu lebih tingginya batas pendapatan tidak kena pajak (PTKP) dari batas pendapatan bebas pajak (BPBP) yang dulu terdapat dalam sistem perpajakan yang lama. tunjangan tetap. upah. Menyadari pentingnya perluasan Departemen Keuangan RI 37 . meningkatnya dasar pemungutan pajak dari karyawan asing.6 milyar. dan lebih dari Rp 50 juta. Adanya perluasan perusahaan dan munculnya penanaman modal baru.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 surat pemberitahuan (SPT) pajak penghasilan. agar perkembangan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai selama ini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. antara Rp 10 juta sampai Rp 50 juta. Peningkatan tersebut berlangsung sejalan dengan meningkatnya penghasilan para pegawai negeri dan karyawan swasta. masing-masing untuk penghasilan kena pajak sampai dengan Rp 10 juta.3 milyar. serta dihapuskannya segala bentuk fasilitas dan pembebasan pajak. dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan dan jabatan yang dibebankan kepada keuangan negara. 25 persen dan 35 persen. sehingga untuk masa mendatang akan meningkatkan efektifitas pemungutan pajak. di samping ditekankan pula untuk memperluas dasar pengenaan pajaknya.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dasar pengenaan pajak tersebut bagi peningkatan penerimaan pajak penghasilan. Dalam rangka lebih mendorong upaya peningkatan Departemen Keuangan RI 38 .276. Pemerintah berupaya dengan sungguhsungguh melaksanakan pengawasan terhadap perusahaan negara.2 milyar atau 21. Di dalam perkembangannya. Sehubungan dengan semakin pentingnya mobilisasi sumber dana dari dalam negeri. Kebijaksanaan ini diharapkan akan lebih meringankan beban pajak penghasilan yang harus dibayar oleh pengusaha. dan lebih tegas menjamin kepostian hukum.5 persen. telah dilakukan penyesuaian atas tarip penyusutan yang ditetapkan lebih tinggi sehingga penyusutan dapat lebih dipercepat. serta kesadaran melaksanakan kewajiban di bidang perpajakan. penerimaan pajak penghasilan badan ini terus mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. Dari padanya diharapkan berlanjut akan meningkatnya kegiatan dunia usaha. Dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan pajak penghasilan badan direncanakan sebesar Rp2. Dalam undangundang tersebut hanya terdapat dua tarip yaitu 0 persen dan 10 persen. tarip pajak pertambahan nilai terse but dapat diubah menjadi serendah-rendahnya 5 persen. Sejalan dengan kebijaksanaan tersebut. Di samping itu apabila penanam modal lebih dulu menyimpan dananya melalui deposito berjangka sekurangkurangnya selama tiga bulan.7 milyar. lebih sederhana. maka penanam modal tersebut akan dibebaskan dari kemungkinan pengusutan perpajakannya.5 milyar. Pemerintah melalui kebijaksanaan di bidang perpajakan telah memberikan kesempatan kepada para penanam modal untuk menggunakan fasilitas pengampunan pajak.873. Namun untuk menunjang perkembangan perpajakan dalam memenuhi kebutuhan dana yang diperlukan pembangunan serta untuk membantu menciptakan suasana pola hidup sederhana. Peningkatan kegiatan ekonomi nasional khususnya pengembangan dunia usaha senantiasa mendapat perhatian Pemerintah. yang mendorong lahirnya Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah dalam rangka menunjang perkembangan dunia usaha. serta tarip pajak penjualan khusus atas barang mewah dapat diubah menjadi setinggi-tingginya 35 persen. untuk selanjutnya diharapkan akan meningkatkan penerimaan pajak serta ketertiban pembayaran pajaknya. dari setinggitingginya 15 persen. yang selanjutnya akan mendorong investasi baru dan pada gilirannya akan meningkatkan jumlah dan potensi wajib pajak. Upaya Pemerintah menciptakan peraturan perundangundangan yang lebih luas dimensi cakupannya. Pengawasan ini dilakukan untuk lebih meningkatkan produktivitas dan efisiensinya sehingga akan meningkatkan penghasilan perusahaan negara tersebut. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 1. maka berarti meningkat sebesar Rp 403. sedangkan bagi barang mewah dikenakan tambahan pajak sebesar 10 persen dan 20 persen.

yang semata-mata untuk menghindari pajak dengan mengorbankan efisiensi. Di samping itu sistem baru ini juga menciptakan ik!im usaha yang lebih menarik bagi golongan ekonomi lemah. Dalam hubungannya dengan perdagangan luar negeri. Sedangkan bagi pajak pertambahan nilai yang dikenakan atas bahan baku yang digunakan untuk memproduksi barang-barang ekspor secara periodik dapat dimintakan pengembaliannya. terutama mereka yang merasa telah membayar pajak lebih daripada yang seharusnya. sistem baru ini mengintegrasikan bea masuk yang dikenakan atas barang-barang impor dengan pajak pertambahan nilai yang dikenakan atas barang-barang perdagangan dalam negeri. dalam undang-undang yang baru ini tarip pajak penjualan atas barang-barang ekspor adalah 0 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ekspor. serta untuk lebih menunjang upaya diversifikasi ekspor. Sedangkan sebagai upaya untuk menghilangkan pengarub pajak berganda yang terdapat Facia sistem yang lama. Tarip yang lebih sederhana yang diterapkan dalam sistem baru ini akan sangat membantu pe1aksanaannya karena akan mudah dipahami baik oleh pemungut maupun pembayar pajaknya. sehingga akan menciptakan kepostian bagi upaya penyeragaman beban pajaknya. Dalam pada itu mulai tahun anggaran 1985/1986 di dalam penerimaan pajak pertambahan nilai termasilk didalamnya pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri. diharapkan akan semakin mendorong ekspor. Kebijaksanaan ini bersama-sama dengan kebijaksanaan lamnya. volume maupun pengembangan diversifikasinya. Berdasarkan pertimbangan bahwa pelaksanaan Undang-Undang Pajak Pertambahan Departemen Keuangan RI 39 . Jumlah tarip tersebut diperbanyak lagi dengan diberikannya berbagai pembebasan sebagian atas produk-produk tertentu. Di samping itu dapat dihilangkan pula kemungkinan adanya usaha-usaha untuk me1akukan integrasi vertikal antara dua perusahaan alan lebih. terutama komoditi non migas. terutama kebijaksanaan pajak pertambahan nilai sebesar 0 persen atas barang-barang ekspor. Sistem kredit ini menetapkan. Untuk lebih mendorong kepatuhan membayar pajak dengan jalan memberikan rasa aman bagi para wajib pajak. maka dalam sistem baru ini diatur dengan je1as ketentuan mengenai pembayaran kembali daripada ke1ebihan dalam pembayaran pajak. dalam Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai tahun 1984 ditentukan adanya sistem kredit. khususnya komoditi non migas baik dalam hal kualitas. Kesederhanaan dalam tarip pajak pertambahan nilai akan lebih dapat dirasakan bila dibandingkan dengan sistem yang lama dengan tarip yang bervariasi antara delapan jenis tarip. bahwa beban pajak yang telah ada Facia bahan baku yang dipakai perusahaan dapat diperhitungkan/dikurangkan dari pajak pertambahan nilai yang terhutang alas hasil produksi perusahaan itu. Hal ini disebabkan karena adanya batasan yang jelas mengenai jenis perusahaan yang dapat digolongkan sebagai perusahaan kecil.

serta mampu menyediakan barangbarang yang diminta konsumen baik di dalam maupun di luar negeri dengan harga yang memadai. kebijaksanaan tarip senantiasa diusahakan agar dapat berjalan seirama dengan kebijaksanaan pengaturan tata niaga. telah pula ditetapkan kebijaksanaan yang memberikan keringanan pembebanan impor atas pemasukkan bahan baku/bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi. Berkenaan dengan program wajib belajar. maka kepada industri tersebut diberikan beberapa keringanan pembebanan taripnya. dalam rangka penyempumaa dan penertiban sistem administrasi pabean telah dilaksanakan persiapan- Departemen Keuangan RI 40 . Dalam rangka memberikan perlindungan dan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri. kepada sektor industri tersebut diberikan perlindungan dengan tarip I CKO yang lebih rendah dari tarip produk yang sama yang diimpor dalam keadaan built up/non-KO. . Sehubungan dengan hal rersebut. dan upaya pengutamaan penggunaan barang-barang hasil produksi dalam negeri. Sedangkan untuk memberikan perlindungan bagi semakin tumbuhnya industri pengolahan di dalam negeri.4 milyar. dilanjutkan dan ditingkatkan usaha-usaha yang diarahkan bagi penciptaan iklim dan gairah usaha yang mendorong terlaksananya pembangunan industri dalam negeri yang efisien. tangguh dan memiliki daya saing yang kuat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nilai tahun 1984 yang ditunda sampai selambat-lambatnya 1 Januari 1986 dapat dilaksanakan pada awal tahun anggaran 1985/1986. Sesuai dengan kebijaksanaan yang digariskan dalam Repelita IV. serta menunjang peiaksanaan kebijaksanaan perdagangan luar negeri. Di bidang penerimaan bea masuk. kebijaksanaan tarip bea masuk selalu diusahakan agar mampu memberikan perhitungan yang wajar bagi industri dalam negeri. Selanjutnya untuk menunjang kebijaksanaan Pemerintah di bidang pentaripan. telah diberikan beberapa bentuk keringanan bea masuk atas kertas tulis dan kertas cetak serta beberapa buku ilmu pengetahuan tertentu.666. Sebagai upaya menunjang pengembangan industri di dalam negeri. maka penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah dalam RAPBN tahun 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 1. baik impor maupun ekspor. Diharapkan kedua kebijaksanaan tersebut dapat saling mengisi dan melengkapi secara harmonis. terutama industri yang menghasilkan nilai tambah yang tinggi. menggunakan sumber daya dalam negeri. usaha penanggulangan penyelundupan terus ditingkatkan dengan meningkatkan ketrampilan aparat pabean serta memperlancar arus dokumen. pengamanan penerimaan negara. Untuk itu dalam mendorong pertumbuhan industri : perakitan di tanah air. di dalam memberikan perlindungan bagi industri di dalam negeri. tanpa melupakan kepentingan konsumen. menyerap tenaga kerja yang banyak. impor terhadap produk-produk sejenis dikenakan tarip yang lebih tinggi. Untuk itu.

Sebagaimana halnya dengan cukai tembakau. di samping diarahkan kepada fungsinya sebagai penghimpun dana. sejak 1 April 1984 tidak lagi diberikan pembebasan sebagian cukai terhadap impor hasil tembakau. serta 40 persen untuk jenis cerutu. guna mempertahankan harga yang lebih sesuai dengan daya beli masyarakat dan menjamin kelayakan tingkat pendapatan petani tebu. Sehubungan dengan itu. 50 persen untuk sigaret kretek bukan buatan mesin. Berdasarkan langkah-Iangkah yang telah dilaksanakan di bidang bea masuk. dan bagi perusahaan yang produksinya 100 juta batang atau kurang setahun dikenakan tarip 15 persen dari pita cukainya. penerimaan cukai dipengaruhi antara lain oleh perkembangan pertumbuhan produksi. Penerimaan cukai ini terdiri dari cukai tembakau. dengan ketentuan bahwa perusahaan yang produksinya lebih dari 4 milyar batang setahun dikenakan tarip 25 persen diri harga pita cukai. Sedangkan bagi jenis produksi sigaret buatan mesin. yaitu 70 persen dari pita cukainya untuk sigaret buatan mesin dan tembakau iris. Fasilitas tersebut diberikan kepada perusahaan sigaret kretek tangan (SKT). peningkatan daya beli masyarakat konsumen. Di samping itu untuk memberikan kesempatan bagi berkembangnya produksi tembakau di dalam negeri.rip 22. Dalam rangka lebih mendorong perkembangan industri rokok dan hasil tembakau dalam negeri terutama bagi produsen yang tergolong pengusaha lemah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 persiapan kearah penerapan sistem komputer di bidang operasional pabean dari pengumpulan data.1 milyar. cukai bir. maka terlihat peningkatan sebesar Rp 35.5 persen dari harga pita cukai. baik sigaret putih mesin (SPM) maupun sigaret kretek mesin (SKM) dikenakan tarip tunggal yang besarnya 40 persen dari harga pita cukainya. dan banyak menyerap tenaga kerja. juga dimaksudkan guna mencapai sasaran-sasaran tertentu lainnya. Di dalam perkembangannya. Kebijaksanaan. serta intensifikasi dan verifikasi pemungutannya. sejak 1 Mei 1984 diadakan penyesuaian harga dasar Departemen Keuangan RI 41 . dan cukai alkohol sulingan. Terhadap impor hasil tembakau dipungut cukai sepenuhnya.7 milyar. penyesuaian harga pita dengan harga jualnya. Apabila dibandingkan dengan rencana penerimaan bea masuk dalam APBN 1984/ 1985. yang produksinya antara 750 juta batang sampai 4 milyar batang setahun dikenakan ta. cukai yang se1ama ini dijalankan . maka pada 1 April 1984 telah ditetapkan pembebasan sebagian tarip cukai terhadap hasil tembakau buatan dalam negeri. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan bea masuk direncanakan sebesar Rp 717. cukai gula. yang produksinya antara 100 juta sampai 750 juta batang setahun dikenakan tarip 20 persen dari pita cukai. kebijaksanaan di bidang cukai lainnya juga disempurnakan sesuai dengan perkembangan ekonomi.

dan HS I. Sehubungan dengan perlunya pengawasan terhadap minuman keras. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan cukai direncanakan sebesar Rp 963. masing-masing sebesar Rp40. maka dalam RAPBN 1985/1986 penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan diperkirakan akan mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan yang tertera dalam APBN 1984/1985. Demikian juga terhadap alkohol sulingan. diperkirakan produksinya akan sedikit mengalami penurunan. produksi bir diperkirakan tidak akan mengalami kenaikan yang berarti. Segi lain dari kebijaksanaan tersebut adalah. yang pada pokoknya mengarah pada upaya penciptaan iklim yang lebih mendorong gairah usaha untuk rnempertahankan dan mendorong nilai maupun volume ekspor.8 milyar. melainkan diakibatkan pula oleh adanya penurunan dan pembebasan pajak ekspor. Berdasarkan pertimbangan atas langkah-langkah yang sedang. kebijaksanaan di bidang pajak ekspor dalam tahun anggaran 1985/1986 akan tetap diarahkan agar selalu menunjang berbagai usaha dan kebijaksanaan Pemerintah dalam rangka meningkatkan daya saing komoditi ekspor Indonesia di posaran intemasional. serta pajak ekspor tambahan terhadap berbagai barang-barang ekspor dalam rangka mendorong ekspor yang selama ini terus diusahakan peningkatannya. Berdasarkan berbagai langkah kebijaksanaan yang dilaksanakan Pemerintah di bidang ekspor.per kuintal.000.3 milyar.700. dan Rp 39. seperti minyak kelapa sawit dan hasil-hasilnya. Di samping itu sebagai upaya penyediaan bahan bagi industri pengolahan kayu dalam negeri. Di samping itu telah pula diadakan penertiban penanaman tebu.per kuintal. sejak Januari 1984 telah diadakan pengenaan kembali tarip pajak ekspor tambahannya. yaitu untuk jenis SHS I.. baik tebu rakyat bebas..Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pemungutan cukai gula.850. Untuk itu. berarti meningkat dengan Rp 235. Dalam RAPBN 1985/1986 penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan tersebut direncanakan akan mencapai sebesar Rp 101. Adapun penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan.(TRB) maupun tebu rakyat intensifikasi (TRI). Apabila rencana penerimaan cukai tersebut dibandingkan dengan yang direncanakan dalam tahun anggaran sebelumnya. sejak Mei 1980 telah diadakan pembatasan ekspor terhadap kayu gelondongan.per kuintal.7 milyar. dan akan dilaksanakan terutama dengan semakin efektifnya pemungutan cukai. serta untuk menjaga kelestarian lingkungan alam. serta beberapa jenis kayu gergajian mewah. Rp 39. bahwa barangbarang yang dianggap penting bagi konsumsi dalam negeri. dan penyesuaian tarip cukai terutama untuk tembakau dan gula.. prospek produksi. SHS II. Penurunan tersebut bukan saja disebabkan karena menurunnya nilai maupun volume ekspor beberapa komoditi tertentu. akhir-akhir ini mengalami sedikit penurunan di dalam realisasinya. Departemen Keuangan RI 42 .

dewasa ini sedang dibahas Rancangan Undang-Undang Pajak Kekayaan dan Ipeda..-. Untuk mendorong perkembangan yang lebih realistis seirama dengan keadaan perekonomian nasional. dan surat-surat berharga lainnya tarip meterainya juga diadakan penyesuaian dari Rp 25. yang saat ini adalah Rp 10. menunjukkan perkembangan yang memadai. penerimaan di bidang ini untuk masa-masa mendatang diharapkan akan mengalami Departemen Keuangan RI 43 . di samping secara terus menerus diadakan pembinaan terhadap administrasi pendataannya. penerimaan Ipeda direncanakan sebesar Rp 167.menjadi Rp 500. serta penyuluhan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadarannya dalam membayar Ipeda..-. aksep. konosemen-konosemen. dan gerak pembangunan ekonomi daerah yang lebih merata me1alui upaya peningkatan penerimaannya. sedang taripnya diturunkan dari 1 persen menjadi 0. terutama terhadap kekayaan yang dimilikinya. Hal ini menunjukkan semakin membaiknya kesadaran masyarakat dalam rangka memenuhi kewajiban pajaknya. dan polis asuransi jiwa.baru dikenakan bea meterai. Dalam rangka meningkatkan potensi penerimaan Ipeda.sudah dikenakan bea meterai. bea meterai dan bea lelang..5 persen. serta transaksi perekonomian yang lebih bertanggung jawab.000. dan semakin meningkatnya mutu para juru lelang. Batas kekayaan yang tidak terkena pajak mulai 1 Januari 1985 dinaikkan dari Rp 14 juta menjadi Rp 80 juta. antara lain atas kuitansi atau tanda penerimaan uang. serta untuk mempercepat proses pemerataan pendapatan guna lebih memantapkan stabilitas perekonomian nasional. Kebijaksanaan tersebut di samping ditujukan untuk menghimpun dana pembangunan yang bersumber dari dalam negeri. Dalam RAPBN 1985/1986. Dengan kebijaksanaan tersebut diharapkan kesadaran para wajib pajak untuk memenuhi kewajiban pajaknya akan meningkat. Untuk itu mulai 1 Maret 1985 terhadap tarip bea meterai juga diadakan beberapa penyesuaian. Sehubungan dengan semakin banyaknya kegiatan le1ang. Penerimaan negara yang berasal dari penerimaan pajak lainnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Kebijaksanaan di bidang Ipeda pada dasamya tetap diarahkan bagi terciptanya sasaran pertumbuhan.000. Sedangkan untuk promes. terus dibina kerjasama yang lebih baik dengan Pemerintah Daerah. akan dinaikkan menjadi Rp 100. juga diarahkan untuk menciptakan iklim dunia usaha yang lebih sehat.-. sedangkan sebelumnya kuitansi yang bernilai di atas Rp 5.4 milyar yang berarti meningkat sebesar Rp 16. Kuitansi yang memuat angka penjualan di atas Rp 50. Tarip bea meterai yang berlaku sekarang dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan. penetapan dan penagihannya.8 milyar dari yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. yaitu pajak kekayaan. Kebijaksanaan Pemerintah di bidang penerimaan pajak lainnya untuk tahun 1985/ 1986 masih merupakan kelanjutan dan peningkatan dari kebijaksanaan yang sudah diambil pada masa sebelumnya.

baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. baik jenis maupun kualitasnya dalam dimensi yang semakin me1uas. Penerimaan bukan pajak yang terdiri dari penerimaan berbagai departemen/lembaga non departemen. Dalam penerimaan bukan pajak tersebut termasuk pula penerimaan dari bagian Pemerintah atas laba perusahaan negara/bank negara serta iuran hasil hutan dan royaltynya. terutama dengan kebijaksanaan pengampunan pajak serta dengan semakin membaiknya perekonomian di tanah air. 2. Oleh sebab itu. dalam perkembangannya te1ah mengalami peningkatan. digunakan sebagai pe1engkap.9 milyar. Semakin meningkatnya kegiatan pembangunan. Berdasarkan langkah-Iangkah yang sedang dan akan dilaksanakan Pemerintah. Sedangkan dana bantuan yang berasal dari luar negeri yang diterima sebagai penerimaan pembangunan. di satu sisi meningkatkan kesejahteraan rakyat. Penerimaan pembangunan Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan bangsa Indonesia sejak Pelita I hingga sekarang te1ah memberikan hasil nyata berupa semakin meningkatnya taraf hidup dan kesejahteraan se1uruh rakyat. penerimaan jasa. dan stabil.2. seperti penerimaan pendidikan.0 persen. berarti meningkat sebesar Rp 21. sesuai dengan yang diamanatkan dalam GBHN. dalam RAPBN 1985/1986 besarnya penerimaan pajak lainnya direncanakan sebesar Rp 96. tetapi di sisi lain menambah tanggung jawab Pemerintah dalam menyediakan dana bagi pembangunan yang terus berkembang.4 milyar. senantiasa harus terus diupayakan terutama dengan menggalinya dari sumber-sumber dana dalam negeri.dana yang bersumber dari bantuan luar negeri barus senantiasa diarahkan bagi Departemen Keuangan RI 44 .0 milyar atau 27. Untuk itu langkah-Iangkah kebijaksanaan yang sudah dirintis sejak awal Pelita I akan terus dikembangkan. pembangunan yang dilaksanakan adalah pembangunan yang dilandasi oleh kemampuan bangsa Indonesia sendiri yang bertumpu kepada kepercayaan diri.9 milyar atau 19.9 persen. penerimaan kejaksaan dan pengadilan serta penerimaan lainnya. dinamis. Dengan demikian untuk masa-masa selanjutnya. Penerimaan bukan pajak oleh Pemerintah senantiasa diusahakan pula peningkatan sumbangannya bagi penerimaan negara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan. Usaha pengerahan dana pembiayaan pembangunan.4 milyar. menuju perekomomian nasional yang mandiri. Apabila penerimaan tersebut dibandingkan dengan APBN 1984/1985 berarti terdapat peningkatan sebesar Rp 116. Dalam RAPBN 1985/ 1986 penerimaan bukan pajak direncanakan sebesar Rp 731. baik yang berasal dari tabungan Pemerintah maupun dari tabungan masyarakat. Apabila penerimaan tersebut dibandingkan dengan rencana penerimaan tahun 1984/1985 yaitu sebesar Rp 75.3.

1 15.2 35.4 262.942.8 773.297.2 231 1.2 13..80 1.2 -10.8 48.940.4 15. Dalam RAPBN tahun 1985/1986. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.4 135.316.30 1.3 33.5 157. 9 BANTUAN LUAR NEGERI.8 64. yaitu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju terciptanya keadilan sosial bagi se1uruh rakyat.924. yang terdiri dari bantuan program sebesar Rp 70.9 39.00 1.429.7 78.1 14.6 -1 2.1 milyar.9 59.5 95.5 16.1 28.8 203. Peningkatan tabungan Pemerintah tidak mungkin dapat terlaksana hanya dengan peningkatan penerimaan negara saja.5 29.4 1.3 12.709.663.2 10.1 22.9 471.1 259.9 Bantuan proyek 25. 1969/1970 . Pengeluaran rutin Sasaran kebijaksanaan penge1uaran rutin. pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.6 112.50 1.368.20 Jumlah 91 120.368.4 8. Penge1uaran rutin yang me1iputi be1anja pegawai.371. be1anja barang.9 milyar.493.8 36. Tabe1 II.2 milyar.00 4. serta penge1uaran rutin lainnya.867. Perkembangan penerimaan pembangunan se1ama tahun 1969/1970 hingga tahun 1985/1986 dapat dilihat dalam Tabel II.40 528.1 Kenaikan Jumlah Persentase 29. subsidi daerah otonom.381.1 20.7 215. penerimaan pembangunan direncanakan sebesar Rp 4.6 783.3.6 -42.9 90.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) A P B N 2) RAP B N Bantuan program 65.9 232 491.1 13.9 33.3.3 1. dan bantuan proyek sebesar Rp 4.5 89. serta pengarahan penge1uaran rutin untuk mencapai sasaran-sasaran yang te1ah ditentukan. tetapi harus pula disertai tindakan penghematan.3 41.5 70.90 1.297.6 737.50 4.70 1. tidak bisa dipisahkan dari sasaran kebijaksanaan anggaran secara kese1uruhan yang mencakup ketiga unsur Trilogi Pembangunan.5 100.9. pembayaran bunga dan cicilan hutang.6 987.1 195.2 64.1 45.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembiayaan kegiatan-kegiatan pembangunan yang bersifat produktif dan berprioritas tinggi.411.50 4.2 14.4 773.90 3. dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan memperlancar proses pemerataan pembangunan dan hasilnya.4 13.882.3 46.00 3.035.3 114.6 292.9 32.5 45 62. Departemen Keuangan RI 45 .8 111.40 4.1 345.4 -1.10 1.

411.00 Kenaikan Jumlah Persentase 71.7 482.3 1.2 20. di samping usaha-usaha untuk mengurangi secara bertahap pemberian subsidi dalam berbagai bentuknya.90 33. yaitu dalam rangka membantu dan membimbing pertumbuhan.3 50.90 1.1 Jumlah 103.7 131.3 1.996.4 9.6 313.30 8.1 4.3 286.9 116.3 20.5 45.9 636.3 14.399.2 302.5 288. 1969/1970 .90 2. 10 PENGELUARAN RUTIN.9 89 275.749.2 5.1 713.4 268.50 4.7 12.8 316.6 99.9 420. 1969/1970 .2 24.415.4 43.00 1.5 31.7 48 42.8 42.5 33.2 109. Usaha-usaha tersebut diwujudkan antara lain dengan diberlakukannya Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 yang merupakan penyempurnaan lebih lanjut daripada Keputusan Presiden Nomor 14A Tahun 1980 dan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan APBN.30 2.6 7.4 70.8 2.9 301.60 6.8 24.6 893.5 31.7 400 424.10 1.996.6 16.40 1.10 12.30 2.8 5.3 289.4 163.9 31. serta perluasan kesempatan kerja seperti yang telah dijalankan dalam tahun-tahun sebelumnya.8 20.743.1>29.20 1.6 99.8 131.10 2.689.5 17.101.5 78. beras pensiun 28.1 23.2 79.10 1.5 milyar.7 Tahun PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977 /1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/19851) 1985/19862) 1) Angka APBN 2) Angka RAPBN Tabel II. Demikian pula penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri makin digalakkan.8 12.7 29.023.00 3. 11 BELANJA PEGAWAI.00 2.318.1 21.1 415.10 2.6 173.307.4 89.6 59.332.6 47. dan ditingkatkan untuk lebih mendorong peningkatan produksi dalam negeri.277.297.738.8 milyar. dan pada akhir tahun Pelita III meningkat lagi menjadi Rp 8.3 31.419.60 1.7 11.9 126.5 111.10 Tab e I II.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/19862) 1) Angka APBN 2) Angka RAPBN Jumlah 216.30 Dalam tahun anggaran 1985/1986. Dalam Keputusan Presiden Nomor 29 tersebut. Perkembangan pengeluaran rutin tersebut dapat diikuti pada Tabel II.8 51. raJa akhir tahun Pelita II meningkat menjadi Rp 2.7 47.8 33.7 60.7 1. yang merupakan tahun kedua pelaksanaan Repelita IV.9 261.90 1.6 87.2 519.00 6.1 438.743.2 132.1 61.9 114.70 4.3 20. Rangkaian kebijaksanaan yang telah dijalankan Pemerintah di bidang pengeluaran rutin tersebut frat kaitannya dengan usaha-usaha peningkatan Departemen Keuangan RI 46 .3 3.016.n.8 10.1 14.1 594.061.1 34 43.8 23.1 milyar.7 25.4 200.117.7 66 79.3 0.1 25.90 2.001.148.411. d.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam perkembangannya te1ah menunjukkan peningkatan selaras dengan tingkat perkembangan pembangunan yang dicapai. Apabila pada tahun pertama Pelita I realisasi penge1uaran rutin baru mencapai Rp 216.177.8 36.9 27.60 1.7 milyar.8 179.4 45. serta meningkatkan kemampuan yang lebih besar bagi mereka untuk berperanserta dalam proses pembangunan. l.418.8 1. sasaran utama kebijaksanaan pengeluaran rutin adalah peningkatan dana tabungan Pemerintah.1 22.50 1.8 672.90 3.757.5 56. pengeluaran rutin direncanakan sebesar Rp 10.60 18.6 4.101.660.977. produksi dalam negeri. Dalam APBN 1984/1985.9 760.5 62.800.2 1.80 10.1 593.9 346.2 240.9 252 253.9 31. golongan ekonomi lemah diberi kesempatan berusaha yang lebih luas lagi.80 10.8 14.5 297.2 349.053.n Tunjangan Gaji dan peg.80 5.189.115.1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Uang Lain-lain Belanja makan bel.482.5 254. Selanjutnya juga diusahakan peningkatan peranan golongan ekonomi lemah.7 14.9 193.

0 milyar. di samping dilakukan pula penyempurnaan di bidang organisasi dan administrasinya. belanja barang sebesar Rp 1.117. Dalam tahun 1985/1986 be1anja pegawai direncanakan meningkat sebesar Rp 927. dan lain-lain pengeluaran rutin sebesar Rp 602. pembinaan dan penertiban aparatur negara. yang berarti Rp 2.559.3 milyar.980/ 1981 dan 1981/1982. pemberian tunjangan perbaikan penghasilan (TPP) dalam tahun 1. Kenaikan ini adalah karena se1ama Pelita III te1ah beberapa kali dilakukan perbaikan penghasilan pegawai negeri/ ABRI dan pensiunan.9 milyar.1 milyar.9 milyar atau 22.3.7 persen di atas anggaran pengeluaran rutin dalam APBN 1984/1985. dan berupa pemberian gaji bulan ke 13 dalam tahun 1983/1984. Langkah-langkah tersebut telah dimulai dengan usaha peningkatan kesejahteraan pegawai negeri/ ABRI dan pensiunan dalam tahun-tahun yang lalu.529. dan Departemen Keuangan RI 47 .8 milyar karena ditetapkannya kebijaksanaan untuk meningkatkan penghasilan pegawai negeri/ABRI sebesar 20 persen.1. Belanja pegawai Kebijaksanaan belanja pegawai yang akan dijalankan Pemerintah dalam tahun 1985/1986 adalah dalam rangka meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas Pemerintah.3.3 milyar.4 milyar.8 milyar.297. Pada akhir Pe1ita III jumlah realisasi belanja pegawai mencapai jumlah sebesar Rp 2. Jumlah tersebut meliputi pengeluaran untuk belanja pegawai sebesar Rp 4. antara lain dalam bentuk kenaikan gaji. dan pada awal Pe1ita IV usaha perbaikan tersebut diwujudkan dengan diberikannya kenaikan sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan.0 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kegiatan pembangunan dan pelayanan Pemerintah kepada masyarakat. antara lain dalam bentuk pemberian gaji bulan ke 13 dan 14 dalam tahun 1979/1980. anggaran untuk pengeluaran rutin direncanakan sebesar Rp 12.399. serta dalam rangka mengamankan dan memelihara kekayaan negara yang diperoleh sebagai hasil kegiatan pembangunan. sedangkan pada akhir Pe1ita II mencapai jumlah sebesar Rp 1. pembayaran bunga dan cicilan hutang sebesar Rp 3. yang dicerminkan antara lain dalam bentuk peningkatan jumlah.75 kali hila dibandingkan dengan realisasi pada akhir Pe1ita II. 2. bahwa pada awal Pe1ita I realisasinya baru mencapai jumlah sebesar Rp 103. yang berarti meningkat 2. Dalam tahun anggaran 1985/1986. dan mutu aparatur negara beserta perlengkapannya.6 milyar.001. Perkembangan realisasi be1anja pegawai sejak Pe1ita I menunjukkan. Usaha perbaikan penghasilan pegawai negeri/ ABRI se1alu dilakukan dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara setiap tahunnya. subsidi daerah otonom sebesar Rp 2.590.757.

maka kebijaksanaan 'be1anja barang dalam tahun anggaran 1985/1986 akan lebih diarahkan pada pembe1ian barang-barang dan jasa produksi dalam negeri yang kebanyakan dihasilkan oleh golongan tersebut. ke1ancaran dan kehasilgunaan dalam pengadaan barang/peralatan dan jasa di lingkungan departemen/lembaga diharapkan dapat lebih ditingkatkan lagi.3. dalam tahun 1984 telah dikeluarkan pula Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 1984 tentang Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah di Departemen/Lembaga. gaji dan pensiun sebesar Rp 3.529. Penurunan batas nilai kontrak dari Rp 500 juta dalam Keputusan Presiden Nomor 14A Tahun 1980 menjadi Rp 200 juta tersebut adalah dalam rangka penghematan dan rasionalisasi dunia usaha. Dalam tahun anggaran 1985/1986.5 milyar. Dengan diberlakukannya kedua Keputusan Presiden tersebut. Dalam RAPBN 1985/1986. Pengeluaran rutin melalui belanja barang yang pada awal Pelita I baru mencapi sebesar Rp 50. Untuk menjamin lebih terlaksananya kebijaksanaan dimaksud. lain-lain be1anja pegawai dalam negeri sebesar Rp 116.1 milyar. yang terdiri dari tunjangan beras sebesar Rp 482. Selanjutnya dengan dike1uarkannya Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 1984.3.057. di samping Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 tentang Pelaksanaan APBN. dan be1anja pegawai luar negeri sebesar Rp 89.11. Belanja barang Dalam rangka menunjang kegiatan usaha golongan ekonomi lemah serta menunjang perluasan kesempatan kerja.2. Dalam melaksanakan tugasnya.3 milyar.8 milyar. pada akhir Pelita II meningkat menjadi Rp 419. uang makan/lauk pauk sebesar Rp313. sehingga dengan demikian dapat lebih terkendali dan terarah. 2.6 milyar. pengadaan atau pembelian barang dan jasa yang diperlukan akan sesuai dengan prioritas.59 persen.117.9 milyar.3 milyar. serta dicapai penghematan dalam pelaksanaan anggaran belanja barang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pensiunan sebesar 27 . anggaran untuk be1anja pegawai direncanakan sebesar Rp 4. Perkembangan realisasi be1anja pegawai dapat dilihat pada Tabel II.3 milyar.115.5 milyar. kepada Tim pengendali dan Pengadaan ditekankan agar memperhatikan harga dan kualitas yang paling menguntungkan negara.1 milyar. Dalam Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 dinyatakan bahwa untuk pembelian/pemborongan barang dan jasa Pemerintah dengan nilai kontrak sebesar Rp200 juta ke atas harus me1alui Tim Pengendali dan Pengadaan. dan pada akhir Pelita III mencapai jumlah sebesar Rp 1. yang terdiri dari belanja barang dalam Departemen Keuangan RI 48 . di samping pengutamaan penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri. dan anggaran yang disediakan. anggaran untuk belanja barang direncanakan sebesar Rp 1.

Seiring dengan makin meningkatnya kemampuan keuangan negara. meningkatnya kegiatan pembangunan.349. juga berupa dana pinjaman dari luar negeri. maka dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan pula untuk menambah jumlah guru sekolah dasar Inpres. serta tunjangan pamong desa.0 milyar. tenaga paramedis dan tenaga medis Puskesmas di daerah-daerah. oleh karena ditetapkannya kebijaksanaan meningkatkan penghasilan pegawai negeri dan pensiunan. Pengeluaran subsidi daerah otonom dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 2.451. dan belanja non pegawai sebesar Rp 241.4 milyar. selain berupa dana yang dihimpun dari dalam negeri. ikut mempengaruhi besarnya subsidi daerah otonom. bahwa setiap penambahan hutang luar negeri harus sesuai dengan kemampuan pengembaliannya. Selanjutnya dalam subsidi daerah otonom ditampung pula penggantian biaya akibat dihapuskannya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sekolah dasar kelas satu sampai dengan kelas enam.1 milyar. pembayaran gaji lurah dan perangkatnya. di samping pemanfaatan bantuan luar negeri tersebut harus benar-benar untuk proyek-proyek. khususnya pembangunan SD Inpres dan Puskesmas. Hal ini didasarkan pada perhitungan. karena didalamnya ditampung pula pembiayaan untuk tambahan guru-guru SD Inpres dan tenaga medis.590.4 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 negeri sebesar Rp 1. 2. oleh karena pemberian subsidi daerah otonom sebagian besar digunakan untuk pembayaran gaji pegawai negeri sipil dalam lingkungan daerah otonom.3: Subsidi daerah otonom Pengeluaran untuk subsidi daerah otonom erat kaitannya dengan kebijaksanaan belanja pegawai.2 persen. Departemen Keuangan RI 49 .3.4. untuk belanja pegawai sebesar Rp 2. 2.3. Dalam rangka pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.590. dan kegiatan yang produktif.3. Di samping itu makin.8 milyar atau 45. Bunga dan cicilan hutang Dana yang dipergunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan. Dengan demikian hila dibandingkan dengan APBN 1984/1985.3.4 milyar tersebut berarti meningkat sebesar Rp 805. realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri yang jatuh tempo makin meningkat pula setiap tahunnya. pengembalian pinjaman yang dipergunakan untuk membiayai pembangunan proyek-proyek pada waktu jatuh tempo adalah dalam bentuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri. yang antara lain didukung oleh hasil-hasil yang diperoleh dari proyek-proyek yang telah menghasilkan.8 milyar dan belanja barang luar negeri sebesar Rp 78. rencana pembiayaan subsidi daerah otonom sebesar Rp 2.

3 milyar. realisasi lain-lain pengeluaran rutin selama Pelita III menunjukkan peningkatan yang sangat besar dibandingkan dengan Pelita I dan II.0 milyar. lain-lain pengeluaran rutin dianggarkan sebesar Rp1.3 milyar.5. dan persiapan Pemilu sebesar Rp 40. yang terdiri dari pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri sebesar Rp 3. Dalam perkembangannya.0 milyar.0 milyar. di samping juga. yaitu untuk pembayaran tagihan jasa umum seperti bunga atas uang muka Bank Indonesia kepada Pemerintah.5 milyar. terdapat pula pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri. disebabkan pengeluaran untuk subsidi impor pangan terutama beras. pada akhir Pelita II meningkat menjadi Rp 534.177. Hal ini terutama disebabkan meningkatnya pengeluaran subsidi bahan bakar minyak sehubungan dengan kenaikan-kenaikan harga minyak mentah di posaran internasional.3.1 milyar. dan penge1uaran rutin lainnya antara lain untuk biaya sural menyurat me1alui pos. sedangkan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 3. dan pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri sebesar Rp 30. subsidi bahan bakar minyak dan Pemilu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sehingga tidak sangat memberatkan beban keuangan negara.1 milyar.1 milyar.6 milyar pada akhir Pelita III. Departemen Keuangan RI 50 .5 persen. melalui lain-lain pengeluaran rutin dibebankan pula pembiayaan yang bersifat non departemental seperti biaya sural menyurat melalui pos dan giro pos.686. untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang direncanakan sebesar Rp 2.4 milyar. yang berarti lebih rendah hila dibandingkan dengan anggaran tahun sebelumnya. Dengan demikian bila dibandingkan dengan APBN 1984/1985. Dalam APBN 1984/1985. 2.3 milyar tersebut disediakan untuk subsidi bahan bakar minyak sebesar Rp 532. rencana pembayaran tersebut mengalami kenaikan sebesar Rp 873. Di samping itu.529.0 milyar.3. Dalam APBN 1984/1985.0 milyar atau 32. giro pos dan bebas porto sebesar Rp 30. Di samping untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri. gandum. Rencana anggaran sebesar Rp 602.559.102. sedangkan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 602. Lain-lain pengeluaran rutin pembiayaan rutin yang ditampung dalam lain-lain pengeluaran rutin antara lain terdiri dari pengeluaran untuk subsidi pangan. Realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang pada permulaan Pelita I baru mencapai Rp 14. dan meningkat lagi menjadi sebesar Rp 2. dan gula dalam rangka kebijaksanaan stabilisasi harga pangan di dalam negeri.

020.9 68.2 56.3 mitral.00 62 38 1977{1978 2. 792.399.3 1.00 1.00 75.00 808 5.80 74.00 73.90 27.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2.9 6.4 737.4 230.4 milyar pada akhir Pelita II.12.2 22.5 3.90 59.8 63.235.1 68 18.9 milyar pada akhir Pelita III. Perkembangan realisasi tabungan Pemerintah dapat diikuti pada Tabel II.5 73.2 1972{1973 310.3 8. tabungan Pemerintah direncanakan dapat dihimpun sebesar Rp6.30 60.6 9.3 55.903. tabungan Pemerintah diharapkan dapat dihimpun sebesar Rp 6.40 29.8 31.5 40. maupun dengan mencari sumber-sumber penerimaan yang baru. 12 TABUNGAN PEMERINTAH.422.13 Tab e I II.2 PELITA IV : 1984{19852) 10.6 909.6 Departemen Keuangan RI 51 .9 1975/1976 1.4 39.3 66.522. Usaha-usaha untuk meningkatkan dana pembangunan melalui tabungan Pemerintah terus dilakukan setiap tahunnya dengan jalan meningkatkan penerimaan negara. yang merupakan selisih antara penerimaan dalam negeri sebesar Rp l8.90 64.30 6.8 73.3 49.3 135.9 2.159. Usaha tersebut harus diikuti pula dengan tindakan penghematan dalam pengeluaran rutin.6 26. Perkembangan realisasi tabungan Pemerintah selama ini menunjukkan peningkatanpeningkatan.13 PERBANDINGAN TABUNGAN PEMERINTAH DAN BANTUAN LUAR NEGERI TERHADAP ANGGARAN PEMBANGUNAN 1969/1970 .5 PELITA II : 1974{1975 969.060.00 + 1.020.362.Tabungan Pemerintah Sesuai dengan kebijaksanaan anggaran berimbang yang dinamis.8 1978{1979 2.4 36.9 93.7 366.6 76.3 3.5 PELITA III : 1979{1980 4.5 44.3 40.400.9 milyar dan pengeluaran rutin sebesar Rp 12. dan menjadi Rp 6.9 152. Tabel II.8 189.9 23.016.4 1980{1981 5.2 1985{19863) 10.6 11 0. 1969/1970 . yaitu dari Rp 27.677.278.4 1983{1984 9.276.0 5.1 1976{1977 2.048.9 483.20 1.3.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tab el II.8 42. menjadi Rp 1. baik melalui peningkatan sumber-sumber penerimaan yang sudah ada.459.386.9 110.90 598.2 1981{1982 6.10 65.1 1971{1972 214.9 1973/1974 458.50 1.6 1982{1983 7.944. Pada APBN 1984/1985. sehingga dapat diperoieh selisih yang lebih besar antara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin untuk menambah besar tabungan Pemerintah.048.0 mitral.00 187 6.8 27.30 57.522.635.647.4 24.278.1985/1986 Dibiayai oleh Anggaran (milyar Tabungan Bantuan Tahun anggaran Pemerintah luar negeri (%) (%) PELITA I: 1969/1970 118.2 35.5 254. Selanjutnya dalam tahun anggaran 1985/1986.9 milyar.427.2 23 77 1970{1971 176.6 101.1 50.2 171. tabungan Pemerintah sebagai unsur utama dalam dana pembangunan tetap memegang peranan yang sangat penting dalam Pelita IV.00 59 41 I) Termasuk saldo anggaran lebih 2) APBN 3) RAPBN Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 PELITA III : 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 PELITA IV: 1984{1985 1) 1985{1986 2) I) Angka APBN 2) Angka RAPBN Jumlah Kenaikan Jumlah Persentase 107.8 39.1 23.112.8 25.557.2 milyar pada awal Pelita I.4 78.90 64.6 34.4.9 35.920.60 4.

pengeluaran pembangunan selama Pelita III digunakan antara lain untuk membiayai program-program pembangunan bidang ekonomi. dan perluasan kesempatan kerja. pembagian pendapatan yang makin merata. atau 56. SelaI1)a Pelita III.5. Pelita III yang telah herakhir pada tahun 1983/1984 telah memberikan hasil-hasil yang positif. maka jumlah pengeluaran pembangunan sebesar Rp 34.2 persen.4 persen dari seluruh jumlah pengeluaran pembangunan dalam Pelita III.0 milyar dan Rp 4. Pembiayaan pembangunan sebesar Rp 34. dengan jumlah pengeluaran masing-masing sebesar Rp 5.3.2 milyar. Bila dibandingkan dengan anggaran yang direncanakan dalam Repelita III. berbagai kebijaksanaan dan program pembangunan sektaral yang didasarkan kepada unsur prioritas.457. dan bantuan proyek sebesar Rp 10. dana yang telah dibelanjakan untuk pembiayaan pembangunan mencapai jumlah sebesar Rp 34. II dan III.926.175.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. bangsa Indonesia telah berhasil menyelesaikan serangkaian program pembangunan yang dituangkan dalam tiga Repelita yaitu Repelita I. sehingga tercapailah keadaan yang mantap untuk melanjutkan pembangunan dalam Repelita IV sebagai pelaksanaan tahap keempat dari Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang. penyebaran serta pemerataan pembangunan itu diselaraskan dengan pembangunan regional. 13. milyar.279. sehingga pembangunan sektaral yang berlangsung di daerah benar-benar sesuai dengan potensi dan permasalahan masing-masing daerah.2 milyar. juga merupakan usaha untuk tercapainya keserasian laju pertumbuhan antar daerah menuju kepada pemerataan pembangunan.2 milyar tersebut menunjukkan kenaikan sebesar Rp 12.129.3. baik melalui pembangunan sektaral yang dilaksanakan oleh departemen/ lembaga maupun melalui pembangunan regional dalam berbagai bentuk program Inpres dan bantuan pembangunan melalui Ipeda.9 milyar. Pengeluaran pembangunan lainnya yang Departemen Keuangan RI 52 .1 persen dan 12.235. Dalam pelaksanaannya. Hal ini berarti bahwa tiap sektor pembangunan tersebut telah menyerap dana masing-masing sebesar 15.2 milyar selama Pelita III telah menghasilkan berbagai macam program pembangunan yang ditujukan kepada usaha peningkatan kesejahteraan rakyat.129. Ditinjau secara sektoral.0 milyar.. yang terdiri dari pembiayaan rupiah sebesar Rp 23.8 milyar. Rp 4. Pengeluaran pembangunan Dalam perjalanannya menuju suatu masyarakat arlit makmur melalui pembangunan nasional. Di lain pihak pelaksanaan pembangunan regional dalam berbagai bentuk program Inpres dan bantuan pembangunan melalui Ipeda. terutama di sektor pertambangan dan energi.129. sektor perhubungan dan pariwisata serta sektor pertanian dan pengairan.2 persen dari yang direncanakan dalam Repelita III.202.

Melalui pembangunan sektor pertambangan dan energi. terutama dalam pertambangan rakyat.5 persen dan 5.956. sektor pembangunan daerah. merupakan kelanjutan dalam rangka meningkatkan produksi pangan yang diarahkan untuk memperbaiki tingkat hidup petani. Dalam kegiatan ini pula peranserta swasta nasional lebih ditingkatkan. 8. desa. peranan pendidikan dalam pembangunan. dan menjamin penyediaan panganuntuk masyarakat pada tingkat harga yang layak. dan diperluas kepariwisataan dalam rangka meningkatkan penerimaan devisa. dengan alokasi dana masingmasing sebesar Rp 3. memperluas kesempatan kerja. serta mempersiapkan Departemen Keuangan RI 53 . perluasan lapangan kerja.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menyerap dana cukup besar dalam Pelita III adalah sektor pendidikan. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. telah dilaksanakan inventarisasi dan pemetaan. generasi muda.3 persen dari seluruh jumlah pengeluaran pembangunan selama Pelita III.397. serta dalam kota. Melalui pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata ini pula telah ditingkatkan. atau masingmasing telah menyerap dana sebesar 9.3 persen dari seluruh /pengeluaran pembangunan selama Pelita III.2 milyar dan Rp 1. generasi muda. sehingga dapat memperlancar arus barang/jasa dan manusia ke seluruh daerah. Pemhangunan sektor pertanian dan pengairan yang telah dilaksanakan selama Pelita III. Dengan demikian keenam sektor pembangunan bidang ekonomi yang sebagian besar dananya dikelola departemen/lembaga itu telah menyerap dana sebesar Rp 21.5 milyar. penggunaan dana di keenam sektor . terutama daerah pedesaan dan daerah terpencil. dan dengan demikian merangsang dan menunjang pencapaian sasaransasaran pembangunan.797. Rangkaian kebijaksanaan pokok yang telah dirumuskan dalam Repelita III adalah dalam rangka tercapainya tujuan pembangunan di bidang pendidikan dan pengembangan generasi muda. sehingga penerimaan negara dari produksi ekspor pertambangan dapat bertambah. serta sektor tenaga kerja dan transmigrasi. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Pelita III diarahkan kepada usaha-usaha peningkatan kecerdasan bangsa. yang berarti pula makin memperkokoh ketahanan nasional. Pembiayaan pembangunan sektor pendidikan.0 milyar atau 64. Selanjutnya melalui pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata. dan kota. Di samping itu juga te1ah diarahkan agar dapat menunjang pembangunan industri pertanian. Rp 2. serta ditingkatkap eksplorasi dan exploitasi kekayaan alam berupa sumber mineral dan energi.894. Sesuai dengan arab dan kebijaksanaan Pelita III. Kegiatan-kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan.pembangunan bidang ekonomi tersebut ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan yang makin merata bagi seluruh rakyat. pembangunan prasarana angkutan dan perhubungan lebih ditingkatkan. serta dapat meningkatkan ekspor non migas. di samping untuk memperkenalkan kebudayaan bangsa.1 milyar. kesempatan belajar yang dikaitkan dengan aspek pemerataan.9 persen.

Sementara itu makin meningkatnya program-program pembangunan yang akan dijalankan hams diimbangi pula dengan pengerahan dana pembangunan yang lebih besar. pengerahan dan penggunaan dana pembangunan dalam RAPBN 1985/1986.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 generasi muda sebagai penerus perjuangan dan pembangunan nasional.647. yang merupakan pelaksanaan tahun kedua Pelita IV. Masalah-masalah yang menonjol dalam sektor tenaga kerja dan transmigrasi selama Pelita III di bidang ketenagakerjaan adalah pertambahan penduduk yang tinggi sehingga menimbulkan kelebihan tenaga kerja.349. Peranan pembangunan daerah dalam Pelita III semakin bertambah besar karena dalam melanjutkan pelaksanaan Trilogi Pembangunan. Dengan demikian di dalam pengerahan dan penggunaan dana tersebut. Bila dibandingkan dengan APBN 1984/1985. pengeluaran pembangunan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 10. di samping juga belum tersedianya posar tenaga kerja yang menyalurkan tenaga kerja secara efektif dan efisien. Untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. kekurangseimbangan dalam susunan unsur tenaga kerja dan penyebaran tenaga kerja. Dengan berlandaskan pada arah dan sasaran serta berpedoman kepada kebijaksanaan yang telah ditetapkan. sehingga dengan demikian dapat meningkatkan pemerataan pembagian pendapatan. dengan sasaran perluasan serta pemerataan kesempatan kerja produktif dan numeratif. kecerdasan dan kesejahteraan yang makin merata dan adil bagi seluruh rakyat dapat tereapai. pembiayaan rupiah sebesar Rp 6. keserasian antara pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. dan terpadu. yang terdiri dari pembiayaan rupiah sebesar Rp 6.8 milyar tersebut menunjukkan Departemen Keuangan RI 54 . pertumbuhan ekonomi serta stabilitas nasional akan tetap menjadi pertimbangan pokok. arah dan kebijaksanaan pembangunan yang ditempuh selama Pelita III terus dilanjutkan dan ditingkatkan agar peningkatan tarat hidup. desa dan kota merupakan kelanjutan kegiatan yang telah dilaksanakan dalam Pelita II. Dengan memperhatikan hasil-hasil pembangunan yang dicapai selama Pelita III maka dalam RAPBN 1985/1986. dan pada gilirannya dapat merupakan landasan yang kuat untuk tahap pembangunan berikutnya.2 milyar.0 milyar. selama Pelita III telah ditempuh berbagai langkah dan kebijaksanaan di bidang tenaga kerja yang bersifat menyeluruh. tekanan lebih diberikan kepada usaha pemerataan khususnya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah tanah air. serta adanya kekurangseimbangan antara tenaga kerja terdidik dan tak terdidik.8 milyar dan bantuan proyek sebesar Rp 4. yang merupakan reneana operasional tahunan daripada Repelita IV tetap berlandaskan pada Trilogi Pembangunan.297.349. Pembangunan regional dalam Pelita III yang dilaksanakan melalui sektor pembangunan daerah. Seperti halnya dengan Repelita-repelita sebelumnya.

70 158.9 42.647.8 1978/1979 1. dengan tujuan lebih meningkatkan peranserta Departemen Keuangan RI 55 .9 1970/1971 128.60 72 1980/1981 4.349.9 22.5 PELITA III : 1979/1980 2. kebudayaan.031. Di samping itu diarahkan pula kepada proyek-proyek yang dapat meningkatkan laju pertumbuhan terutama sektor pertanian dalam rangka swasembada pangan.90 354.8 17.434.3 10. yaitu diarahkan kepada proyekproyek yang secara langsung alan tidak langsung meningkatkan pemerataan kegiatan pembangunan baik dalam bidang ekonomi.90 1.419.3 1) Di luar bantuan proyek 2) Angka APBN 3) Angka RAPBN Penggunaan anggaran pembangunan yang direncanakan sebesar Rp 10.8 17. Perkembangan pengeluaran pembangunan di luar bantuan proyek sejak pelaksanaan Repelita I hingga sekarang dapat diikuti pada Tabel II.697.4 1975/1976 926.3 persen lebih besar.80 56.5 3 1983/1984 6.9 85 56.30 149.1 10.6 1982/1983 5. Dalam reneana anggaran pembangunan tersebut telah termasuk pula peningkatan bantuan pembangunan daerah.6 38.3 1981/1982 5.8 1972/1973 235.1 0.20 789.9 1976/1977 1. sosial.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp262.280.3 100.568.14 Tabel II.1 35.8 100.087.129.14 PENGELUARAN PEMBANGUNAN. Pengarahan pengeluaran pembangunan kepada proyek-proyek yang diprioritaskan untuk pertumbuhan dan pemerataan tersebut pada gilirannya akan menunjang tereapainya sasaran kestabilan perekonomian.2 37.8 PELITA II 1974/1975 765. 1969/1970 -1985/1986 1) ( dalam milyar rupiah) Kenaikan Jumlah Persentase Tahun anggaran Jumlah PELITA I: 1969/1970 92.1 127.276.0 milyar tersebut akan lebih dipertajam prioritasnya dalam Repelita IV.486. politik maupun penahanan dan keamanan.40 1.9 1985/19863) 6.9 1971/1972 150.3 1977/1978 1. sena pada sektor-sektor lain yang menunjang tereapainya sasaran pertumbuhan dan keseimbangan struktur perekonomian.80 262 4.20 138.9 429.0 milyar alan 4.50 66. sektor industri yang menghasilkan mesin-mesin industri sendiri.3 1973/1974 336.788.70 597 11 REPELITA IV 1984/1985 2) 6.4 20.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 masyarakat dalam kegiatan pembangunan. berbagai tingkat dan jenis pendidikan ketrampilan serta latihan kejuruan yang dapat menciptakan kegiatan kerja. Selanjutnya untuk anggaran sektor pertambangan dan energi direncanakan sebesar Rp 1.2 persen. Termasuk didalamnya usaha peningkatan dalam pengembangan jasa meteorologi dan geofisika untuk menunjang keselamatan masyarakat pada umumnya. pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata yang meliputi perhubungan darat. kebudayaan nasional dan kepereayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebesar Rp 1. 8.2 persen. dan udara.301. lebih diperluas dan ditingkatkan. serta meningkatkan kegiatan transmigrasi. serta pembangunan pos dan telekomunikasi.4 persen dari anggaran yang direncanakan dalam tahun 1985/1986. generasi muda.425. desa dan kota sebesar Rp 868. meningkatkan pendapatan petani. yang diberikan dalam rangka mempercepat penuntasan keikutsertaan anak usia sekolah pada pendidikan dasar.510.7 milyar. dalam RAPBN 1985/ 1986 tetap mendapatkan perhatian sesuai dengan prioritas yang telah digariskan dalam GBHN.8 milyar.4 persen. Pembangunan sektor pertanian dan pengairan dalam tahun 1985/1986 merupakan kegiatan yang diarahkan kepada usaha untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan. Berdasarkan pada kebijaksanaan yang telah digariskan. Untuk mendukung tercapainya perluasan kesempatan kerja yang merupakan kebutuhan yang makin mendesak. 13.2 persen dan 6.430. Dengan demikian keenam sektor pembangunan yang telah disebutkan masing-masing mendapat alokasi sebesar 14. dan sektor perhubungan dan pariwisata sebesar Rp 1. kebutuhan in du stri dalam negeri serta meningkatkan ekspor.4 milyar. terutama dititik beratkan pada peningkatan mutu dan perluasan pendidikan dasar dalam rangka mewujudkan dan memantapkan pelaksanaan wajib belajar. 12. Dengan demikian sektor pertanian akan makin kuat guna mendorong perkembangan industri dalam rangka mencapai keseimbangan ekonomi.4 milyar. Pembangunan sektor pendidikan. anggaran pembangunan sebesar Rp 10. generasi muda. sektor pertanian dan pengairan sebesat Rp 1.647.2 milyar dan sektor tenaga kerja dan transmigrasi sebesar Rp 676. mendukung pembangunan daerah. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. keselamatan pelayaran dan penerbangan Departemen Keuangan RI 56 . lalit.4 persen. Pelaksanaan wajib belajar ini dituangkan dalam program Inpres sekolah dasar. 13. serta meningkatkan perluasan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan menengah. mendorong pemerataan kesempatan berusaha.0 milyar tersebut dialokasikan pada sektor pendidikan.8 milyar. Selebihnya dialokasikan kepada dua belas sektor pembangunan lainnya. memperluas kesempatan kerja. sektor pembangunan daerah.

serta peningkatan kemampuan penduduk untuk memanfaatkan sumber-sumber kekayaan alam. sehingga produksi dan ekspor pertambangan serta penerimaan negara akan dapat meningkat pula.297. penyediaan sarana dan prasarana.2 milyar. Kegiatan pembangunan dalam sektor pembangunan daerah. desa dan kota tetap diarahkan kepada perluasan kesempatan kerja. serta peningkatan mutu dan kelancaran pelayanan. akan dilanjutkan dan diperluas. terus dilanjutkan dan ditingkatkan. Perincian pengeluaran pembangunan secara sektoral dalam RAPBN 1985/1986 adalah sebagai berikut : Departemen Keuangan RI 57 . Untuk terlaksananya sasaran ini. Demikian pula dengan pembangunan tenaga listrik yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat kota dan desa. yang tersebar dalam delapan belas sektor pembangunan. usaha-usaha untuk meningkatkan produksi dan ekspor hasil pertambangan. bantuan pembangunan yang diberikan kepada daerah berupa program-program Inpres dan bantuan pembangunan lainnya makin ditingkatkan dan disempurnakan. pembinaan dan pengembangan lingkungan pemukiman pedesaan dan perkotaan yang sehat. Di sektor pertambangan dan energi. direncanakan untuk membiayai berbagai macam proyek prasarana serta sektor-sektor produktif dan bermanfaat. serta untuk kepentingan pembangunan di berbagai sektor. Demikian juga pembangunan pariwisata terus ditingkatkan melalui kebijaksanaan terpadu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada khususnya. eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam berupa sumber mineral dan energi dalam tahun 1985/1986 terus ditingkatkan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna. Oleh sebab itu kegiatan pembangunan sektor pertambangan yang meliputi inventarisasi dan pemetaan. Selanjutnya bantuan proyek yang dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp4. antara lain berupa peningkatan kegiatan promosi dan pendidikan kepariwisataan. telah memberikan kesempatan kepada daerah untuk merencanakan dan )11elaksanakan pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masing-masing daerah. Diberikannya berbagai program bantuan pembangunan kepada daerah selama ini. serta mendorong kegiatan ekonomi khususnya industri. terutama sektor minyak bumi dan gas alam yang merupakan sumber penerimaan negara yang terbesar selama ini.

628.000 63.000 9. SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi 7. SEKTOR PERTANIAN DAN PENGAIRAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan 1.000 60.012.025.658.971.580.000 529.000 238.000 868.257.595.000 900.913.704.000 621.818.219.846.000 1. SEKTOR PENDIDIKAN.000 47.000 128.425.739.830.141.000 63. SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama 1.141.000 71.000 676.392.000 275.595.975.363.000 Departemen Keuangan RI 58 . KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa 1.000 98.361.092.301. DESA DAN KOTA Sub Sektor Pembangunan Daerah.000 655.000 2.000 655.679.126. SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri 3. Desa dan Kota 8.000 68.219.000 28.510. SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi 6.000 102.000 868.000 1.000 578.430.000 190. SEKTOR PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor Perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata 5.788.000 1.531.365.350. SEKTOR PERT AMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Sub Sektor Energi 4. GENERASI MUDA.000 274.095.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ( dalam ribuan rupiah) 1. SEKTOR PEMBANGUNAN DAERAH.

000 437.962.555.362.720.000 80. PERS DAN KOMUNlKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.147. SEKTOR ILMU PENGETAHUAN.064.147.092. Pers dan Komunikasi Sosial 15. bantuan pembangunan bagi daerah. SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional 14.189.641.000 100.000 254.000.000 229.687. SEKTOR PENGEMBANGAN DUNIA USAHA Sub Sektor Pengembangan Dunia Usaha 18. KESEJAHTERAAN SOSIAL.000 714.000 207.000 259. TEKNOLOGI DAN PENELITIAN Sub Sektor Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sub Sektor Penelitian 16.441.720. Pengeluaran pembangunan melalui departemen/lembaga merupakan pembiayaan yang disediakan untuk pembangunan sektoral dan dikelola oleh departemen/lembaga. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA 413.000 58.000 714. yaitu pengeluaran pembangunan departemen/lembaga termasuk di dalamnya departemen Hankam.000 Pengeluaran pembangunan yang dibiayai dengan rupiah diperinci atas tiga bagian besar. sedangkan Departemen Keuangan RI 59 .000 229.000 Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kependudukan dan Keluarga Berencana 11.647.383. SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum 13. SEKTOR PENERANGAN.687. SEKTOR KESEHATAN.064.000 74.938.189.000 67.441.000 80.000 67. SEKTOR SUMBER ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Sub Sektor Sumber Alam dan Lingkungan Hidup JUMLAH 10.000 176. PERANAN W ANITA.000 259. SEKTOR PERUMAHAN RAKY AT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman 437. dan lain-lain pengeluaran pembangunan. SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah 17.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 10.000 176.308.000 12.641.000 133.

Pada akhir Pelita II telah meningkat menjadi Rp 24.437 buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengeluaran pembangunan berupa bantuan pembangunan bagi daerah merupakan bantuan yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan potensi dan prioritas daerah masing-masing dalam bentuk program Inpres.6 milyar. serta meningkatkan partisiposi penduduk dalam pembangunan.478 desa dengan jumlah bantuan sebesar Rp 2. bantuan pembangunan Dati I. bantuan Ipeda dan bantuan pembangunan Timor Timur.645 buah. jumlah bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 92. Dalam tahun 1970/1971.1 milyar masing-masing pada awal Pelita II dan Pelita III. bantuan pembangunan/pemugaran posar. pada awal Pelita I baru diberikan kepada 44. dalam rangka memanfaatkan dan memelihara sumber alam. Adapun proyek-proyek yang dapat dibiayai oleh dana bantuan pembangunan kabupaten meliputi proyek/kegiatan yang bersifat pemeliharaan jalan dan jembatan yang sudah ada. Dalam APBN 1984/1985. serta proyek peningkatan dan pembangunan jalan yang dapat membuka daerah terisolasi sehingga dapat mengembangkan perekonomian daerah dan memperluas kesempatan berusaha. programprogram Inpres yang terdiri dari bantuan pemb:mgunan desa. Dalam perkembangannya.6 milyar. dan pada akhir Pelita III meningkat lagi menjadi Rp 91. menunjukkan hasil-hasil yang nyata. berhubung dengan bertambahnya jumlah bantuan menjadi Rp 1. Oleh sebab itu selain bantuan berupa uang. bantuan yang diberikan baru mencapai jumlah sebesar Rp 5. Sementara itu bantuan pembangunan kabupaten yang besarnya didasarkan atas jumlah penduduk. Di samping itu dapat juga dipergunakan untuk membiayai proyekproyek yang bersifat meningkatkan ketrampilan penduduk pedesaan. Dengan makin bertambahnya jumlah penduduk dan kemampuan keuangan negara. Dalam RAPBN 1985/1986 yang merupakan tahun kedua Pelita IV bantuan yang diberikan direncanakan sebesar Rp 215. sedang dalam RAPBN 1985/1986 bantuan terse but ditingkatkan menjadi Rp 98. bantuan yang diberikan terus meningkat pula setiap tahunnya. kemudian menjadi Rp 42.8 milyar untuk 67. yang diberikan untuk mendorong dan mengarahkan usahausaha swadaya gotongroyong masyarakat dalam membangun desanya.6 milyar. bantuan penghijauan/rebuisasi.9 milyar alas dasar perhitungan Departemen Keuangan RI 60 .5 milyar dan Rp 87. dan bantuan pembangunan prasarana jalan. bantuan pembangunan sarana kesehatan.350 ribu tiap desa.0 milyar dengan jumlah desa sebanyak 60. dimaksudkan untuk menciptakan dan memperluas lapangan kerja. bantuan pembangunan kabupaten. kepada seBap kabupaten diberikan juga bantuan peralatan berupa satu buah mesin gilas jalan.448 desa. bantuan pembangunan sekolah dasar. dan pemeliharaan prasarana pedesaan.6 milyar dengan jumlah desa sebanyak 66. Bantuan pembangunan desa.

7 milyar pada awal Pelita II. pembangunan rumah guru dan kepala sekolah di daerah terpencil. Dalam rangka meningkatkan keselarasan pembangunan sektoral dan regional. Bantuan yang ditetapkan digunakan untuk membiayai perbaikan jalan dan jembatan..0 milyar dengan bantuan minimum sebesar Rp 10. Selanjutnya ditingkatkan dengan pembangunan penambahan ruang kelas baru.2 milyar. dalam tahun 1985/1986 lebih ditingkatkan lagi.0 juta untuk kabupaten.0 milyar. yaitu ditambah dengan penyediaan paket peralatan olah raga untuk sekolah dasar negeri dan swasta.0 milyar. daerah terpencil. Sedangkan bantuan yang diarahkan. dan untuk meningkatkan keserasian laju pertumbuhan antar daerah serta meningkatkan peranserta daerah dalam pembangunan. serta biaya eksploitasi dan pemeliharaan pengairan. serta penyediaan alat-alat olah raga dalam Departemen Keuangan RI 61 . serta buku bacaan bagi anak-anak sekolah dasar saja. Adapun bantuan pembangunan sekolah dasar yang bertujuan untuk memperluas kesempatan belajar. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 253. dan kemudian diperluas lagi pada tahun berikutnya dengan pembangunan rumah bagi kepala sekolah dan guru yang bertugas di daerah terpenci1. Pada mulanya bantuan pembangunan sekolah dasar ini diberikan untuk pembangunan dan rehabilitasi gedung-gedung sekolah dasar. dan pemukiman baru. dan diarahkan penggunaannya. yang merupakan permulaan Pelita IV. meratakan hasil-hasil pembangunan. digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek yang meningkatkan taraf hidup rakyat serta untuk mengembangkan daerah-daerah minus di daerah kritis. dan dalam RAPBN 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 617. bantuan pembangunan sekolah dasar lebih ditingkatkan lagi. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 280. daerah transmigrasi.0 milyar dengan bantuan minimum untuk liar propinsi sebesar Rp 9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 1. kemudian ditingkatkan menjadi Rp 19.250. Dalam APBN 1984/1985. terutama bagi anak-anak usia sekolah pada pendidikan dasar yang berada di pedesaan.8 milyar pada awal Pelita III. perbaikan dan peningkatan irigasi.0 milyar. dan bantuan maksimum Rp 12. Dalam tahun 1982/1983.8 milyar. bantuan pembangunan Dati I dalam RAPBN 198511986lebih ditingkatkan penggunaannya. Jumlah tersebut meliputi antara lain pembangunan gedung sekolah baru. Dalam APBN 1984/1985. perbaikan gedung-gedung sekolah yang sudah ada.bantuan per jiwa dan bantuan minimum yang diberikan adalah sebesar Rp 170. Adapun jumlah bantuan yang telah diberikan dalam tahun 1973/1974 adalah sebesar Rp 17. penyediaan bukubuku pelajaran. Program Inpres Dati I ini terdiri dari bantuan yang ditetapkan penggunaannya. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 580. serta madrasah ibtidaiyah.0 milyar. penyediaan buku-buku pelajaran dan buku bacaan. dan ditingkatkan lagi menjadi Rp 155.

Bantuan ini sangat bermanfaat bagi Dati II dalam rangka pembangunan daerah. Pada awal pelaksanaannya tahun 1976/1977.0 milyar. melalui bantuan pembangunan dan pemugaran posar diberikan kesempatan kepada Pemerintah daerah untuk menyediakan tempat berjualan/posar dengan sewa semurah mungkin. Untuk tahun 1985/1986 anggaran yang direncanakan untuk program Inpres ini adalah sebesar Rp 11. Sebagaimana halnya dalam Pelita III.050 buah. Untuk membantu para pedagang kecil golongan ekonomi lemah. yang sebagian besar berpenghasilan rendah. Kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup tetap mendapat perhatian yang besar dalam Repelita IV. menghubungkan daerah produksi hasil pertanian dengan daerah pemasarannya. puskesmas keliling. selama Pelita III telah berhasil diperbaiki jalan sepanjang 33. baik di desa maupun di kota. pembuatan hutan rakyat. Oleh sebab itu dalam tahun 1985/1986 bantuan yang direncanakan untuk program bantuan penunjangan jalan Departemen Keuangan RI 62 . Kegiatan penghijauan meliputi penanaman tanaman tahunan. tanah hutan. Untuk keperluan itu dalam tahun 1985/ 1986 bantuan pembangunan yang diberikan melalui Inpres Sarana Kesehatan lebih ditingkatkan lagi jumlahnya.383 buah dengan jumlah biaya sebesar Rp 200. dan dalam tahun 1985/1986 anggaran untuk program Inpres ini direncanakan sebesar Rp 42. anggaran yang diberikan untuk program Inpres ini baru sebesar Rp 16.4 milyar maka dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp 114. sedangkan dalam APBN 1984/1985 disediakan sebesar Rp 10.021 km dan jembatan sebanyak 62.5 milyar yang direncanakan dipergunakan antara lain untuk pembangunan puskesmas baru.6 milyar.8 milyar.1 milyar untuk memperbaikijalan sepanjang 7. percontohan pertanian terpadu. dan pernmahan untuk dokter dan paramedis. bantuan yang diberikan baru sebesar Rp 1. Sehubungan dengan itu anggaran bagi bantuan penghijauan dan reboisasi. yang bertujuan untuk menyelamatkan kelestarian sumber-sumber alam. Dalam tahun 1978/1979. sasaran peningkatan pelayanan kesehatan dan perbaikan gizi dalam Pelita IV tetap diutamakan kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Sedangkan dalam APBN 1984/ 1985 disediakan bantuan sebesar Rp 80. Bila dalam APBN 1984/1985 jumlah bantuan yang diberikan sebesar Rp 98.2 milyar.7 milyar.500 km dan jembatan sebanyak 19. Dalam tahun 1984/ 1985 disediakan anggaran sebesar Rp 39. lebih ditingkatkan lagi.5 milyar. pembuatan bangunan pencegah erosi. puskesmas pembantu. Dengan diberikannya bantuan penunjangan jalan kabupaten sejak 1979/1980.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bentuk paket. khususnya dalam membuka daerah yang masih terisolasi. dalam pelaksanaannya banyak melibatkan aparatur Pemerintah desa serta berbagai lembaga yang ada di desa.3 milyar. dan air.

8 milyar.5 milyar. harga pupuk akan dapat disesuaikan dengan clara beli rakyat dan petani kecil. Bantuan yang diberikan dalam rangka memberi kesempatan kepada propinsi termuda ini agar dapat sejajar dengan tingkat kemajuan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Pembangunan melalui sektor pengembangan dunia usaha dilakukan Pemerintah me1alui penyertaan modal Pemerintah pada perusahaanperusahaan negara yang bergerak di berbagai sektor. Pemberian subsidi pupuk oleh Pemerintah pada hakekatnya bertujuan untuk mendukung program swasembada pangallo Dengan diberikannya subsidi ini. penyertaan modal Pemerintah sebesar Rp 255.6 milyar.6 milyar. Dalam tahun 1977/1978. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 3. dan lembaga Pemerintah lainnya.5 milyar. perhubungan. Realisasi pengeluaran pembangunan bagi penyertaan modal Pemerintah disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara setiap tahunnya.0 milyar. yang direncanakan antara lain untuk pembiayaan proyek-proyek pabrik pupuk. industri. kesehatan. ditujukan kepada program pembangunan yang menyangkut kepentingan masyarakat umum yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan negara. maka dalam tahun 1985/1986 direncanakan untuk ditingkatkan menjadi Rp 557.5 milyar dalam tahun 1978/1979.7 milyar. tambang batu bara.062.8 milyar. diantaranya sektor pertanian. dan pengembangan program perumahan rakyat. sehingga mereka dapat membe1i pupuk sesuai dengan yang diperlukan. dan sektor pemerintahan. Bila dalam APBN 1984/1985 anggaran untuk subsidi pupuk disediakan sebesar Rp 458. Pembiayaan pembangunan lainnya dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp1. bantuan pembangunan untuk daerah Timor Timur adalah sebesar Rp 8. digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan.8 milyar.5 milyar.6 milyar. dan perkreditan. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 disediakan bantuan sebesar Rp 8. dan proyekproyek perkebunan tanaman komoditi ekspor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ditingkatkan menjadi Rp 87.6 milyar. Bantuan pembangunan kepada daerah Timor Timur diberikan sejak tahun 1977/1978. dan pembiayaan lain-lain pembangunan sebesar Rp 248.6 milyar dalam RAPBN 1985/1986. Selanjutnya penge1uaran pembangunan lainnya yang dianggarkan sebesar Rp 248.7 milyar. program pengembangan statistik/sensus. Dalam APBN 1984/1985 anggaran yang disediakan adalah sebesar Rp 359. kemudian Rp 4. terutama pada sektor pendidikan. Dalam APBN 1984/1985. Program-program pembangunan tersebut diantaranya adalah program pembinaan keluarga berencana. Rencana penge1uaran pembangunan dalam tahun 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp 255. dan se1ama Pelita III telah diberikan bantuan sebesar Rp 30.15 dan Tabel Departemen Keuangan RI 63 . pertambangan. yang terdiri dari pembiayaan subsidi pupuk sebesar Rp 557.

115.2 1.80 78.643.9 280 617 114.074. PEN. Belanja pegawai 1.117. Subsidi daerah otonom 1.4 96. PEMBANGUNAN I.6 1.590.00 557. Bantuan proyek Jumlah Departemen Keuangan RI 64 .80 313.90 11.8 98.00 241. Pajak ekspor 5.00 1.046. 1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Penerimaan A. PENG. Biaya makan (lauk-pauk) 4.3 87. 15 RENCANA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA.297. Luar negeri V.PENG.40 2.30 3.371.529. Belanja pegawai 2.4 1.666. Lain-lain belanja pegawai dalam negeri 5. Pembangunan prasarana jalan 9.9 253 580.647.8 201.30 1985/1986 RAPBN 3.6 248.00 6.349. Departemen/Lembaga 2.80 380. RUTIN I.368.1 8. Gaji/pensiun 3. Bantuan pembangunan kabupaten 3. Lain-lain IV.6 243 4.3 116. Dalam negeri 2.10 602. Belanja baraag 1.2 1.20 23. Bunga dan cicilan hutang 1.8 80. Bantuan proyek Jumlah Jumlah 12. Penyertaan modal pemerintah 3.4 731.30 45'8.4 10. Bantuan penghijauan 8. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam 18. Penerrmaan minyak bumi dan gas alam II. Ipeda 6. Bea masuk dan cukai 4. Pembiayaan lain-lain 1.297.50 92.297. Tabel II.5 150.349.30 482.159.129.50 10.20 23.061. Bantuan program II.6 215. Tunjangan beras 2.062. Pembiayaan Departemen/Lembaga 1.00 Tabel II.6 39.516. PEMBANGUNAN I.90 1.5 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 II. Bantuan pembangunan posar 7. Penerimaan bukan pajak 1.451.00 3.10 395. Subsidi pupuk 2. Belanja pegawai luar negeri II. Pelayanan kesehatan/Puskesmas 6. I P e d a III. Belanja non pegawai IV. Luar negeri III. 16 RENCANA ANGGARAN PEMBANGUNAN. Pembiayaan dalam rupiah II.70 7.3 10.644.677.8 255.00 4.459.5 3.8 167. PEN.4 3.5 11.10 70. Bantuan pembangunan desa 2.046.20 Pengeluaran A. Dalam negeri 2.5 42. Lain-lain B.6 4. Pembangunan SD 5. Timor Timur 10.20 10.399.40 3.00 I.1 2.7 167.7 359.9 B. pembiayaan bagi daerah 1. Bantuan Proyek Jumlah 4.10 30 3. 1985/1986 (dalam milyar rupiah) Jenis Pengeluaran 1984/1985 APBN 3.510.16. Pajak lainnya 7.529. Bantuan pembangunan Dati I 4.647.00 1.249.80 4.9 4. Pajak penghasilan 2.1 1.680.6 89.518.50 98. Departemen Hankam II. DALAM NEGERI I. Pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah 3.40 101.559.

_an terhadap para pelaku. yaitu peningkatan pelaksanaan tindak lanjut. Fungsi dan Tatakerja. II dan III. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1983 tentang Kedudukan. dan Inpres No. Peningkatan penggunaan hasilhasil pengawasan oleh seluruh aparatur yang berwenang. terutama dengan makin meningkatnya volume anggaran yang dikelola sebagai konsekuensi dari makin meluasnya kegiatan pembangunan yang dilaksanakan selama Pelita I. serta disesuaikan dengan sasaran-sasaran pembangunan yang hendak dicapai. Peningkatan organisasi tersebut meliputi peningkatan kedudukan. yang biasa disebut pengawasan atasan langsung. Pada akhir tahun Pelita III telah ditempuh kebijaksanaan untuk melaksanaka_ sistim pengawasan terpadu secara struktural. penyesuaian besarnya organisasi dan personil. maupun berupa tindakan penyempumaan kelembagaan. Pengawasan pembangunan Fungsi pengawasan keuangan negara memegang peranan yang makin penting. Selanjutnya peningkatan pengawasan adalah juga menggerakkan seluruh aparatur pelaksana untuk secara aktif melaksanakan pengawasan terhadap bawahannya. baik aparatur Pemerintah maupun masyarakat umum. juga merupakan salah satu aspek dari peningkatan pengawasan. baik organisasi maupun kegiatannya. Akibat dari peningkatan pengawasan atasan langsung maka timbul kebutuhan akan peningkatan media yang akan dipergunakan dalam pengawasan tersebut. fungsi pengawasan makin ditingkatkan dan disempumakan lagi. baik itu berupa tinda. kepegawaian. Oleh karenanya perlu diciptakan dan ditingkatkan mutu sistem pengendalian manajemen dalam tiap aparatur Pemerintah. dan ketatalaksanaan. peningkatan tatakerja keterampilan serta keahlian. serta Struktur Organisasi Menko Ekuin dan Pengawasan Pembangunan. Pelaksanaan pengawasan di bidang anggaran dilakukan dengan cara pemeriksaan secara Departemen Keuangan RI 65 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2.6. Tugas pokok. Langkah-langkah yang diambil dalam usaha peningkatan pengawasan serta peningkatan penggunaan hasil-hasil pengawasan oleh seluruh aparatur yang berwenang itu hams diikuti pula dengan usaha peningk::ttan pengertian dan kesadaran akan pengawasan dari seluruh masyarakat. 15 tahun 1983 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan. atau dengan kala lain peningkatan pemasyarakatan pengawasan. sedangkan peningkatan kegiatan berarti perluasan ruang lingkup dan luasnya jangkauan pengawasan. Peningkatan pengawasan pertama-tama mempunyai arti peningkatan aparatur pengawasan. telah diterbitkan Keputusan PresideD Nomor 31 tahun 1983 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). yang berlaku sebagai landasan operasional pengawasan. Untuk mewujudkan integrasi secara struktural di bidang pengawasan seperti dim aksu d.3. Dalam Pelita IV.

791 1. dalam rangka memperoleh gambaran mutakhir mengenai jumlah pegawai Pemerintah serta permasalahannya.60% -80.21% -88.bcban sementara s.93% 3.94% 260 66 224 251.d.14% 273 95 234 160.783 2.578 59.956 2.370 41.67% 39.790 64.214 I.404 63. Nilai DIP yang diperiksa ( jutaan rupiah) 3.beban tetap s.360 58.473. 18. Dari hasil pemeriksaan belanja pegawai tersebut.06% -81.08 kejadian per proyek.060 58.694 350.39% -90.683 1) Daiam Pelita I terdiri atas pcnerbitan SPMU murni SlAP: dalam Pelita II khusus penerbitan SPMU murni saja 2) Jumlab anggaran yang diperiksa 3) Mulai tabun anggaran 1979/1980 DIP berfungsi sebagai SKO Dalam tahun 1983/1984. Realisasi pisik yang tak sesuai dengan DIP (jumlah kejadian) 129 201 88 354 215 8.499 69.. Berita acara yang tidak benar pada periode tersebut masing-masing adalah 0.024 491.057 80.17 HASIL PEMERIKSAAN KHUSUS PROYEK.3) .beban sementara s. 38..45% -88.88% -93. Nilai SlAP yang dipcriksa per 1 April tahun berikutnya (jutaan Rp) 12-375 23.14 persen dan 0.784 146..567 1.682 406.46% 40. yang tercermin dari perkembangan jumlah berita acara yang tidak benar dan realisasi fisik yang tidak sesuai dengan DIP.620 30. dan pemeriksaan secara serentak pada akhir tahun anggaran terhadap proyekproyek Pelita dan proyek-proyek pembangunan daerah.3) 154.410 145. 0..054. yang pada akhir tahun Pelita I baru mencapai 1.jumlab kejadian 106 52 78 144 78 7.851 222. yang meliputi laporan hasil pemeriksaan penerimaan. Mulai tahun terakhir Pelita III.3) .221 27.324 38.011 97. Tabel II.151 248 111 108 306 368 .729 dijumpai karena sasaran pemeriksaan ada1ah Kas Opname s.233 355.956 . Perkembangan hasil pemeriksaan khusus proyekproyek Pelita dapat diikuti pada Tabel II. disiplin administrasi proyek-proyek Pelita secara keseiuruhan bertambah baik.l67. pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.867 647.03 persen dari nilai yang diperiksa. Pelita II.647.37% 979 173 277 369.66% -90. 0.157 97. dan pada tahun keempat Pelita III masing-masing adalah sebanyak 0.333 159.92% 2.19. ditemukan hal-hat mengenai ketertiban administrasi Departemen Keuangan RI 66 . 53% 25% 28% 28% 31.677 110.483 1..024 4.544 834.140 304.123 268 361 1.089 27.514 48.398 157 282 704.821 5.262 4.8172) 3.51% 6.238 57.07% 41.180.04 dan 0.756 138..759 66.151 68.100 2. 47 % 75% 72 % 72% 68.015 362.814 857. Sedangkan pemeriksaan serentak terhadap proyek-proyek Pelita.10% -96. pada akhir Pelita II telah mencakup 3.d.015 60.PROYEK PELlTA.d.103 507.49% .81% 3.211 -20.jumlah s.26% -71.d.63% 36. 1969/1970 .5402) 1.101 1.590 laporan. telah dilakukan pemeriksaan serentak terhadap belanja pegawai daerah otonom dan pegawai pusat pada 27 propinsi. Hasil pemeriksaan tersebut menggambarkan kemajuan di dalam disiplin administrasi para pelaksana proyek.33% data-data tak 58.639 624.703 213.18% -42.d.672 5.939 141.171 129.540 676.. Nilai SKO yang diperiksa 4.142 86.025 846.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rutin.740 221.599 85.beban tetap s.773 1.789 207.173 501.065 1.421 261.08% 828 364 969.89% -80% -79.104 355.116.74% -89.d. Berita acorn yang tidak benar (jutaan RP)I) 1.782 44.011 718. Sedangkan jumlah kejadian realisasi fisik yang tidak sesuai dengan DIP pada akhir Pelita I.326 226.162 1.178 4.276 16.408 70.33% 1. Fenerbitan SPMU oleh KPN: (Murni) (jutaan Rp) .940 3.. Adapun jumlah laporan pemeriksaan terhadap realisasi APBN/APBD selama tahun keempat Pelita III adalah sebanyak 11.86% 30.1982/1983 PEL1TA I PEL ITA II PEL ITA III 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 759 992 1.19% 41. Jumlah Proyek Pelita Yang dipcriksa 2..295 616.178 proyek dan selanjutnya pada tahun keempat Pelita III bertambah lagi menjadi 5.214 122 126 566.687.912.361 246.098 366 410 1.445 632.246.497 97.a 51.17.639 137. 20.9192) 4.20 persen.54% 1.512 2. Hal ini adalah karena berdasarkan hasil-hasil pengawasan sejak Pelita I sampai dengan akhir tahun keempat Pelita III.06% 31.475 87..956 proyek.634 .038 . pemeriksaan serentak atas proyek-proyek Repelita tidak lagi dilaksanakan tiap tahun tetapi akan dilakukan sewaktu-waktu bilamana dianggap perlu.772. Penerbitan SPMU oleh KPN : (dalam pcrsentase) .211 proyek.

dari selurnh BUMN yang diperiksa terdapat 79 perusahaan yang memperoleh pernyataan "menyetujui tanpa syarat". dan perusahaan-perusahaan negara yang didirikan dengan undang-undang tersendiri. seperti Pertamina dan bank-bank milik negara. pembayaran rangkap kepada pegawai berupa pembayaran dari perusahaan dan dari Pemerintah daerah. Pemeriksaan tersebut dilakukan terhadap selurnh kontraktor minyak asing yang telah berproduksi secara komersial. Pernyataan akuntan "menyetujui tanpa syarat" (yaitu pernyataan terhadap laporan keuangan BUMN jang disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi) dari tahun ke tahun terus meningkat jumlahnya. yang meliputi pemeriksaan atas Persero. Sehubungan dengan itu telah dilakukan penelitian atas pengetrapan prinsip-prinsip perhitungan biaya BBM yang telah ditetapkan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kepegawaian maupun hal-hal yang merugikan negara. Terhadap BUMN ini pada umumnya dilakukan pemeriksaan terhadap neraca dan perkiraan rugi laba. kesalahan perhitungan yang mengakibatkan pembayaran pensiunan lebih besar dari yang seharnsnya. kelebihan pembayaran kepada pegawai yang tidak patuh kepada disiplin kepegawaian (meninggalkan tugas lebih dari 2 bulan tanpa alasan). Usaha-usaha Pertamina di dalam mencapai accountability dan auditability di bidang tata usaha keuangannya meliputi pula anak-anak perusahaan/joint venture Pertamina. dan sebagainya. yang mengakibatkan bertambahnya bagian Pemerintah berupa pajak dan minyak mentah. Perjan. Pemeriksaan secara rutin juga dilakukan terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN). diantaranya ialah pembayaran gaji pegawai fiktif. Hal ini menunjukkan bahwa administrasi pertanggungjawaban keuangan perusahaan semakin bertambah baik. sedang dalam tahun terakhir Pelita III terdapat kenaikan jumlah pernsahaan yang mendapat pernyataan "menyetujui tanpa syarat menjadi 230 perusahaan. kesalahan perhitungan yang mengakibatkan pembayaran gaji lebih besar dari seharnsnya. pembayaran rangkap kepada pegawai berupa pembayaran dari dua instansi Pemerintah. pembayaran gaji kepada pegawai yang belum/tidak berhak. Pada umumnya hasil pemeriksaaan terhadap kontraktor minyak asing tersebut menguntungkan Pemerintah karena terdapat koreksi-koreksi perhitungan biaya. Departemen Keuangan RI 67 . Pada akhir Pelita II. Selain itu dilakukan pula pemeriksaan terhadap para kontraktor minyak asing yang mengadakan kerja sama dengan Pertamina dalam bentuk Kontrak Bagi Hasil. Pengeluaran negara yang menyangkut subsidi BBM mengalami kenaikan karena meningkatnya biaya pokok BBM dan semakin naiknya permintaan masyarakat akan BBM. yang diakhiri dengan pernyataan akuntan yang dapat dipergunakan untuk menilai kemajuan dan ketertiban perianggungjawaban keuangan. dan Kontrak Karya. Perum. kelebihan pembayaran tunjangan keluarga.

telekomunikasi. program pengembangan daerah rawa. program perbaikan dan peningkatan irigasi. Pemeriksaan operasional tersebut belum dapat menjangkau seluruh bidang kegiatan pemerintahan umum dan pembangunan. Kalau dalam Pelita I dan Pelita II pemeriksaan hanya ditujukan terntama kepada segi keuangan saja. Pemeriksaan operasional ini dilaksanakan baik terhadap kegiatan/program yang dibiayai dengan dana-d. yang berarti adanya perluasan sasaran pemeriksaan. terdiri dari 106 kasus yang menyangkut APBN/APBD. maupun terhadap badan-badan usaha negara. terdiri dari 43 kasus yang menyangkut APBN/ APBD. Dalam triwulan I tahun 1984/1985. program peningkatan produksi tanaman pangan program pembangunan jaringan irigasi baru. Departemen Keuangan RI 68 . maka pada Pelita III sasaran diperluas sampai kepada pemeriksaan untuk melihat apakah suatu kegiatan/program dilaksanakan dengan menggunakan dana yang tersedia secara efisien. kepada para pejabat yang bertanggungjawab telah disarnpaikan saran-saran penyempumaan lebih lanjut. Selanjutnya sebanyak 28 kasus yang menyangkut APBN/ APBD. dari hasil pemeriksaan khusus ditemukan 47 kasus yang mengandung unsur tindak pidana. pemeriksaan operasional dilakukan terhadap penerimaan pajak/lpeda serta bea dan cukai. program rehabilitasi dan. dan 41 kasus yang menyangkut BUMN/BUMD. serta reboisasi dan penghijauan. pemeriksaan operasional dilakukan antara lain terhadap proyek-proyek Inpres pembangunan kabupaten. sekolah dasar. pemeriksaan operasional dilakukan antara lain terhadap perkreditan . Di bidang penerimaan negara. dan pengawasan terhadap kelancaran pelaksanaan pembangunan. melainkan baru terbatas kepada sasaran-sasaran yang diprioritaskan. telah ditemukan beberapa bidang yang dipandang masih dapat ditingkatkan dayaguna dan hasilgunanya. program pembangunan jalan dan jembatan. sarana kesehatan. Dari hasil pemeriksaan khusus tersebut ditemukan 147 kasus yang diduga mengandung unsur tindak pidana. Selanjutnya terhadap program pembangunan daerah. dan apakah hasil atau manfaat yang diinginkan dari suatu kegiatan/program telah diperoleh secara efektif. Sedangkan untuk program pembangunan. Sementara itu terhadap Badan Usaha Milik Negara.ana yang berasal dari APBN/APBD. pemeriksaan operasional dilakukan terhadap program transmigrasi termasuk program pemukiman daerah transmigrasi. serta pos dan giro. Dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan pula pemeriksaan khusus terhadap kasuskasus penyimpangan. penyaluran pupuk. pemeliharaan jalan dan jembatan. Dari hasil pemeriksaan operasional tersebut. dan sebanyak 8 kasus yang menyangkut BUMN/BUMD telah disampaikan kepada Kejaksaan Agung.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sejak tahun 1979/1980 tahap pengawasan ditingkatkan dengan pemeriksaan operasional.

yaitu standar-standar keahlian para pelaksana. Di samping itu dilanjutkan usaha untuk meningkatkan mutu sistem pengendalian manajemen. atau Pemerintah Daerah. Inspektorat Wilayah Propinsi. kepada para pemeriksa dibekali norma pemeriksaan. Selanjutnya untuk menciptakan keseragaman mutu hasil pemeriksaan. 1. Bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. dalam tahun 1985/1986 Pemerintah terus berusaha meningkatkan serta menyempurnakan fungsi pengawasan. jumlah tenaga pemeriksa tersebut menunjukkan adanya kenaikan.190 orang akuntan. sedangkan terhadap 2 kasus yang menyangkut BUMN telah dilakukan tindak lanjutnya berupa tindakan administratif dan tuntutan ganti rugi kepada yang bersangkutan. dan 309 orang pembantu akuntan. ajun akuntan dan akuntan. Selanjutnya hasil-hasil pengawasan aparat pengawasan Departemen Keuangan RI 69 . dan Inspektorat Wilayah Kabupaten/ Kotarnadya berdasarkan data sementara adalah sebanyak 7. Semua kasus yang disampaikan kepada Kejaksaan Agung telah diteruskan pula kepada Kejaksaan Tinggi di masing-masing daerah. Dari kasus yang menyangkut APBN/APBD.239 orang tenaga pemeriksa yang terdiri dari 1. pelaksanaan tugas. ditambah pula dengan 267 orang tenaga-tenaga sarjana dan sarjana muda jurusan non akuntan yang dijadikan tenaga pemeriksa setelah mendapatkan pendidikan tambahan. serta makin banyaknya objek pemeriksaan yang hams ditangani. Di samping usaha-usaha meningkatkan jumlah aparat pengawasan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan 4 kasus yang menyangkut BUMN. Sehubungan dengan itu agar dapat mendukung tercapainya sasaran strategis pengawasan pada masa mendatang.370 orang. yang diselenggarakan pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara telah dihasilkan tenaga-tenaga pemeriksa. baik yang diselenggarakan oleh BPKP maupun oleh departemen . tetapi jumlah dan kondisi aparat pengawas yang ada saat ini masih belum memadai bila dibandingkan dengan makin kompleks dan luasnya ruang lingkup pengawasan. dan pelaporan yang harns dipenuhi. Sedangkan sebagai petunjuk pelaksanaan pengawasan secara lebih teknis. sebanyak 14 kasus telah diteruskan ke Kejaksaan Agung. sehingga dapat menghasilkan mekanisme pengawasan terhadap bawahan. Meskipun usaha-usaha peningkatan aparat pengawasan secara kualitas maupun kuantitasnya terus dijalankan. dalam arti bahwa pengawasan atasan bukan lagi merupakan pekerjaan terpisah dari fungsi pimpinan. dilakukan pula usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknis dari tenaga-tenaga yang sudah ada melalui penataranpenataran. Sernentara itu jumlah tenaga pemeriksa pada aparat pengawasan fungsionallainnya seperti Inspektorat Jenderal. Dalam rangka meningkatkan jumlah aparat pengawasan. Dewasa ini Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah memiliki 3.473 orang ajun akuntan. melalui pendidikan pembantu akuntan. kepada para pengawas dibekali pula dengan tata cara pelaksanaan pemeriksaan.

dan penyimpangan. karena berkembangnya standar dan norma untuk mengukur efisiensi. serta pengembangan petunjukpetunjuk tatacara pelaksanaan pemeriksaan terus dilanjutkan untuk lebih meningkatkan mutu aparat pengawasan fungsional. Seluruh kebijaksanaan dan langkahIangkah di bidang pengawasan tersebut diarahkan agar pada akhir Repelita IV terbentuk sistem pengendalian manajemen yang mampu mencegah secara dini terjadinya pemborosan. Sistem pengendalian manajemen tersebut akan ikut mewujudkan aparatur Pemerintah yang berdayaguna dan berhasilguna. di samping pelaksanaan rencana memiliki pengendalian yang menjamin tercapainya tujuan-tujuan yang ditetapkan dalam rencana. kebocoran.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 fungsional diharapkan akan menjadi bagian dari informasi untuk pengambilan keputusan dan perumusan kebijaksanaan. Sejalan dengan itu pendidikan dan latihan tenaga pengawas. Departemen Keuangan RI 70 .

GAJI DAN UPAH 3. Sementara itu perkembangan harga komoditi ekspor di pasar internasional selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember menunjukkan perkembangan yang agak baik. dan hal itu telah mengakibatkan harga emas di pasar Jakarta mengalami penurunan pula. lada Departemen Keuangan RI 71 . Untuk periode yang sarna tahun sebelumnya. Dilain pihak menguatnya nilai dollar Amerika telah menyebabkan kurs matauang terse but terus meningkat di posaran. Dalam bulan-bulan terakhir tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember. secara umum harga beras di beberapa kota selama bulan April-Oktober 1984 telah mengalami penurunan. sedang dalam Pelita II (1974/1975-1978/1979) dan Pelita III (1979/1980-1983/1984) laju inflasi menurun masing-masing menjadi rata-rata sebesar 14. Oleh karena itu senantiasa diusahakan tercapainya kestabilan harga di dalam negeri melalui penyediaan bahan kebutuhan pokok yang cukup. sehingga dapat memperkuat landasan bagi pelaksanaan Repelita selanjutnya. Pendahuluan Stabilitas ekonomi yang cukup mantap merupakan landasan yang menjamin lancarnya pembangunan tahap berikutnya. dan penyaluran yang cepat bagi masyarakat. terlihat bahwa rata-rata laju inflasi dalam Pelita I (1969/1970-1973/1974) adalah sebesar 17.46 persen atau rata-rata 0. bahan pangan merupakan salah sarti kelompok barang yang terrenting.77 persen dan sebesar 13. Oleh karena itu Pemerintah senantiasa menjaga stabilitas harganya agar tetap dalam jangkauan daya beli masyarakat. Selanjutnya selama sembilan bulan dalam tahun pertama pelaksanaan Repelita IV atau tepatnya sampai dengan bulan Desember 1984. seperti misalnya dengan emas. Harga-harga di dalam negeri juga dipengaruhi oleh harga-harga di luar negeri.81 persen per bulan. khususnya dalam hal lada putih. harga emas di bursa internasional cenderung mengalami penurunan.38 persen sebulan.48 persen setahun. Namun matauang lainnya secara umum tidak mengalami gejolak harga yang cukup besar. Perbedaan harga rata-rata terendah. Melalui program stabilisasi senantiasa diusahakan agar laju inflasi dapat dikendalikan.8 persen.33 persen atau rata-rata 0. laju inflasi adalah sebesar 3. Dengan produksi beras dalam tahun 1984 yang diperkirakan lebih tinggidari tahun sebelumnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB III HARGA. dan harga rata-rata tertinggi di beberapa kota adalah sekitar 2. komoditi ekspor dan lain-lain.16 persen per taboo.. laju inflasi adalah sebesar 7. Apabila diteliti barang dan jasa yang mempengaruhi tingkat kenaikan barga-barga. Dari perkembangan laju inflasi selama Pelita I sampai dengan Pelita III.1.

81 % + 20. indeks harga sektor perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi telah meningkat pula sebesar 7.2.3 persen. industri sebesar 12.35 % + 20.6 persen.79 % + 19.2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hitam. serta sektor impor dan ekspor masingmasing sebesar 10. Dalam periode yang sarna.80 % + 8.1984/1985 Tahun kenaikan REPELITA I 1) 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 REPELITA II 1) 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 REPELITA III 2) 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 REPELITA IV 1984/1985 (sampai dengan bulan Desember) 1) Repelita I dan II berlaku Indeks Biaya Hidup di Jakarta 2) Repelita III mulai diguruikan Indeks Barga Konsumen Indonesia Persentase + 10.08 % + 11. dan perkembangan harga yang tak menentu telah terjadi pada kopra serta minyak sawit. Perkembangan indeks harga perdagangan besar Indonesia dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus telah meningkat sebesar 11.65 % + 7. yang digunakan sebagai pengukur perkembangan laju inflasi.77 % + 12.12 % + 10. Indeks harga konsumen Indonesia Berdasarkan perkembangan indeks harga 150 macam barang dan jasa di 17 kala propinsi.79 % + 47. kopi robusta eks Lampung dan timah putih.46 % 3. 1 PERSENTASE KENAlKAN INDEKS BIAYA HIDUP DI JAKARTA DAN INDEKS HARGA KONSUMEN INDONESIA 1969/1970 .0 persen.78 % + 0. pertambangan dan penggalian sebesar 8. Tabe1 III. Perkembangan harga 3.5 persen.85 % + 9. sebagai akibat meningkatnya indeks harga pada sektor-sektor pertanian sebesar 12.13 % + 15.7 persen dan 11. Sebaliknya penurunan harga telah terjadi pada karet jenis RSS III.1.9 persen.63 % + 3.10 % + 19. terlihat bahwa laju Departemen Keuangan RI 72 .2 persen.40 % + 12.

adalah sebesar 3. indeks harga sub kelompok kacang-kacangan sebesar 6.46 persen atau rata-rata 0.30 persen.16 persen. Bila dilihat faktor penyebab laju inflasi selama periode April-Desember 1984 berdasarkan kelompok maupun sub kelompok barang dan jasa. Sementara itu penurunan indeks harga sub kelompok lainnya dalam kelompok makanan terjadi pada indeks harga sub kelompok lemak dan minyak yaitu sebesar 3. Kenaikan yang cukup besar pada indeks harga sub kelompok biaya penyelenggaraan rumah tangga pada bulan April dan Nopember 1984 masing_masing sebesar 1. masing-masing sebesar 2. Bila diteliti lebih lanjut.30 persen yang terjadi selama periode April-Desember 1984 adalah akibat meningkatnya indeks harga sub kelompok biaya tempat tinggal.74 persen.64 persen antara lain disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar 7.97 persen dan indeks harga sub kelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 6. serta dalam bulan Oktober dan Nopember 1984laju inflasi adalah sarna. indeks harga sub kelompok ikan segar sebesar 7. Kenaikan indeks harga kelompok makanan sebesar 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 inflasi selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Desember.03 persen. Juli dan Desember 1984 laju inflasi masing-masing sebesar 1.64 persen dan 2.04 persen.47 persen yang disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok padi-padian. Mei.15 persen dan 0.33 persen adalah sebagai akibat meningkatnya upah pembantu di 10 dari 17 .31 persen.kota propinsi di Indonesia. Dalam indeks harga kelompok perumahan. Juni.33 persen. dan indeks harga sub kelompok biaya penyelenggaraan rumah tangga.88 persen dan 1. atau rata-rata 0. susu dan hasil-hasilnya sebesar 5.71 persen.65 persen. laju inflasi adalah sebesar 7. peningkatan sebesar 2. perkembangan yang lebih terperinci menunjukkan bahwa dalam bulan Agustus dan September 1984 telah terjadi deflasi masing-masing sebesar 0.37 persen dan 1. indek harga sub kelompok telur.45 persen.17 persen.28 persen.38 persen. Pada periode yang sarna tahun sebelumnya.03 persen.10 persen.38 persen per bulan. Departemen Keuangan RI 73 . 0. indeks harga kelompok sandang dan kelompok aneka barang dan jasa masing-masing sebesar 2.76 persen. ubi-ubian dan hasil-hasilnya sebesar 4. yaitu sebesar 0.46 persen tersebut disebabkan oleh meningkatnya indeks harga kelompok makanan dan kelompok perumahan. terlihat bahwa laju inflasi sebesar 3.79 persen dan indeks harga sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 9.43 persen dan 5.kenaikan yang cukup besar pada kelompok makanan terjadi pada bulan Desember 1984 yaitu sebesar 2.81 persen. sedang dalam bulan-bulan April. 0. masing-masing sebesar 2. 0.98 persen dan indeks harga sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 5.49 persen dan 7.

73 177.51 221.09 156.03 246.97 258.73 247.43 245.09 185.02 237.14 237.19 232.12 263.01 204.1984/1985 ( 1977/1978 = 100) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 198411985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Sandang 173.70 233.29 192.99 194.46 220.28 198.77 241.70 205.45 231. 3 INDEKS UMUM HARGA KONSUMEN DI 17 KOTA DI INDONESIA.89 191.37 215.53 233.68 219.56 Medan 149.61 188.65 238.58 Makanan 144.86 239.27 225.43 238.14 215.75 200.11 256.93 211.70 168.35 177.02 147.20 222.33 183.90 233.55 221.58 161.77 175.98 239.63 Tabel III.99 139.22 243.38 183.03 236.48 244.03 221.73 238.18 212.40 240.93 223.29 245.42 186.88 257.06 239.48 238.63 190.48 240.35 246.34 242.76 183.14 241.57 177.50 218.53 226.99 216.18 219.90 245.87 240.55 259.33 236.09 245.84 214.46 221.86 236.60 174.21 231.60 221.82 194.93 241.24 160.69 239.79 239.57 246.46 220.28 262.88 163.77 219.47 166.51 238.16 224.08 258.40 242.45 257.43 273.42 236.61 247.67 259.52 220.72 245.69 262.49 193.78 239.30 204.08 263.46 258.16 274.12 219.82 172.27 202.20 224.19 219.82 189.34 246. 1979/1980 .22 238.08 262.45 238.08 276.48 205.07 258.40 179.04 215.64 232.41 197.21 149.78 257.68 242.98 143.53 269.82 192.73 147.51 258.82 255.76 234.48 257.02 238.10 177..73 189.14 267.54 221.62 276.14 174.40 227.34 220.65 259.21 197.26 200.58 206.43 197.93 187.90 184.49 221.30 199.58 223.03 217.25 244.98 223.83 176.12 255.82 148.60 210.77 220.67 247.52 240.93 275.55 221.72 216.78 238.35 Perumahan 146.56 245.H 261.37 213.85 205.70 220.05 243.65 234.33 234.14 172.12 202.93 224.18 240.02 204.40 263.70 171.17 238.36 274.59 247.52 255.23 210.88 265.11 258.64 265.72 189.95 268.36 245.54 Umum 147.48 255.02 189.13 265.91 258.19 200.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel III.45 220. 1979/1980 -1984/1985 ( 1977/1978 = 100 ) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Yogyakarta Surabaya Denpasar 152.96 214.24 210.51 171.28 214.57 217.62 183.59 197.31 Departemen Keuangan RI 74 .76 228.69 237.25 252.29 208.89 246.79 218.86 178.01 230.48 212.08 263.91 257.88 266.18 233.00 258.90 226. 2 INDEKS HARGA KONSUMEN INDONESIA.61 221.34 247.52 220.33 243.68 244.94 267.08 175.34 240.45 221.72 272.03 204.96 209.54 229.08 233.82 263.38 179.57 203.29 225.32 210.32 182.29 200.77 240.89 227.52 Padang Palembang Jakarta Bandung Semarang 148.08 263.57 246.58 239.11 233.14 244.02 273.27 214.34 183.47 275.46 269.34 267.39 246.19 179.

03 Indeks harga kelompok sandang selama bulan April-Desember 1984 telah meningkat sebesar 2.35 persen.71 259.17 228.72 224.84 231. 4.35 180.7 206.49 208.51 193.42 160.37 227.62 228.06 253.92 259. indeks harga sub kelompok pendidikall sebesar 8.56 236.81 249.33 229.35 persen .9 230.9 230.6 231.13 224.96 192.1 Laju inflasi di 17 kota selama sembilan bulan tahun anggaran 1984/1985 telah menunjukkan perkembangan yang relatif besar untuk kota Jayapura.01 Ujung pandang Ambon 145.55 211. Departemen Keuangan RI 75 .44 persen.7 219.25 200.66 214. dan indeks harga sub kelompok kesehatan sebesar 5.92 221.09 Banjarmasi n 163.53 209. Peningkatan terse but disebabkan oleh naiknya indeks harga sub kelompok san dang lakiIaki.21 Kupang 150.79 227.23 257.78 241.63 227.8 219.05 231.13 persen.47 227.4 227.17 192.95 228. Indeks harga kelornpok aneka barung dan jasa yang meningkat sebesar 7.17 241. peningkatan yang cukup besar dari indeks harga ketiga jenis sandang yaitu sandang laki-Iaki.11 226.57 persen.09 225.56 223.16 persen. sandang wanita.91 218.09 227. antara lain disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok transpor sebesar 10.46 144. 3 (lanjutan) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Mataram 148. sedangkan laju penurunan harga terjadi di kota Ambon sebesar 1. Medan.55 228.55 258.01 223. yang termasuk pada indeks harga sub kelompok pendidikan.87 231.24 135.45 persen. dari sub kelompok sandang wanita masing-masing sebesar 3.36 225.54 228.67 193.81 205. serta kenaikan indeks harga sub kelompok barang pribadi.68 212.66 236.15 232.3 212.4 225.52 177.35 242.63 238.83 226. 4.65 228 227. dan sandang anakanak telah terjadi dalam bulan Juni dan Juli 1984. 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel III. sub kelompok sandang anak-anak.74 227.5 244.81 246.39 217.31 216.65 Pontianak 148.81 241.2 208. serta meningkatnya harga obat tanpa resep adalah merupakan faktor penyebab meningkatnya beberapa indeks harga tersebut di atas.22 233.97 191.65 228.19 247.57 214.28 201.21 258 257. kenaikan harga alar-alar tulis dan buku tulis.27 242.52 164.65 234.37 191.65 212.68 231.45 180.56 216.61 persen. Perkembangan indeks harga konsumen beserta komponennya dapat dilihat dalam Tabel III. 3.18 231.84 229.95 255. dan DKI Jakarta yaitu masingmasing sebesar 4.9 229. Laju inflasi di kota-kota lainnya hanya berkisar antara 0.81 219.33 246.49 persen.44 231. Perkembangan indeks harga konsumen di setiap kala dapat dilihat dalam Tabel III.15 230.17 253.67 218.13 persen.27 235.19 241.44 232.93 157.72 206.12 242.97 persen. Kenaikan yang cukup besar dari biaya angkutan umum dalam bulan April 1984.33 persen sampai 3.25 222.55 232.84 Manado 149.2 179.42 175.79 232.46 260.95 197.55 161.15 persen dan 4. Denpasar.02 229.43 236.97 259.73 Jayapura 128.19 241.52 persen dan 1.39 212.97 243. Bila dilihat perkembangan per bulannya.57 244.82 232. yaitu pada saat-saat menjelang Idul Fitri. dalam bulan Juli dan Nopember 1934.56 235.49 persen.53 214.29 175.1 236.09 232.62 237. sedapg dalam bulan-bulan lainnya hanya mengalami peningkatan yang relatif rendah.09 215.04 223. dan sandang lainnya sebesar 1.62 reIsen.76 218.68 210.

-100.-185.17 100.67.per kilogram terjadi di kola Bandung.128.-200.-75.-180.-168.8 persen.-235.5 200.-80.-115.11 82.18 131.25 150. Produksi beras dalam tahun 1984 yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.-185.-135.1984/1985 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 Maret Maret Maret Maret Maret Maret 103.-160.-213.-217.-250.-125.-135.-140.-125.33 140.-155.5 175.-125.33 146.-125.-125.-200. yaitu tetap pada tingkat harga Rp 275.33 103. 1973/1974 . Yogyakarta.-124.67 103.-250.-165.39 261.-245.-190.89 135.-165..-176.36 sampai Rp 425.-165.33 150.75 252.33 143.-246. dan harga rata-rata tertinggi di beberapa kola adalah sebesar 2.62 95.-- Kota Bandung Yogyakarta Semarang Surabaya Medan Banjarmasm Ujungpandang Denpasar jenis barang Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil ( Rp{kg ) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg) (Rp{kg) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg) ( Rp{kg) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) Departemen Keuangan RI 76 .5 129.17 90.75 190.-135.4 HARGA RATA-RATA BERAS MUTU MENENGAH. bahkan di kota Banjarmasin selama periode April-Oktober 1984 mengalami kestabilan.-200.-125.-120.5 165.5 90.62 278.02 dan Rp 333.06 153.-311. Medan dan Banjarmasin.-175.09 75.25 200. Surabaya.per kilogram Tabel III.-226.sampai Rp 395.-85.-104. Sedangkan dalam bulan-bulan lainnya harga tepung terigu tidak mengalami peningkatan yang berarti.-130.-175.83 137.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 3.-156.-92.-90.-188.46 per kilogram.84 84.-130.-262.-160. Harga beberapa barang konsumsi utama Perkembangan harga beras di beberapa kala di Indonesia selama periode April sampai dengan Oktcber 1984 secara umum relatif stabil.-215.81 250.-170.71 172.-235.-135.25 265. Rp 348.. Peningkatan yang cukup tinggi telah terjadi hampir di semua kola dalam bulan Agustus 1984.139.33 215.-190.96 89.-250.-120.-200.-170.85 191.-90.-135.67 180.-173.67 175.-200.79 170.33 79.-225.-125.67 250.-103.-130.33 183.-125.13 157.-185.88 173.-135.08 273.-120.-160.250.-425.5 145.-218. TEPUNG TERIGU.-96.-135.33 140. perkembangan harga beras yang relatif stabil antara lain terjadi di kola Semarang.11 125.-223.67 235.-125.-159.-193..33 255.-120.75 135.-133. Harga tepung terigu di beberapa kola di Indonesia dalam periode April-Oktober 1984 berkisar antara Rp 275.-215.-180.67 159.66 100.-125.25 201.-200.94 132.-140.67 125.-91.2. GULA PASIR DAN TEKSTIL DI BEBERAPA KOTA BESAR DI INDONESIA.per kilogram.-190.5 241.75 105.-166. dengan peningkatan terbesar terjadi di kola Ujungpandang yaitu sebesar 13.75 300.-176.78 81.-95.-250.89 75.-180.67 182.-275. serta penyaluran yang cukup lancar ke pasaran telah menyebabkan stabilnya harga beras dalam periode tersebut.-325. masing-masing pada tingkat harga Rp 291.-120.75 93.8 persen.-100.-257.2.67 242.-123.33 221.84 262.-200. Ujungpandang dan Denposar.-157. Sedangkan harga yang bervariasi antara Rp 263.-193.-166.-150.54 206.190.-120.-105.88 244.-200.190..-230.-250. Perbedaan harga rata-rata terendah.66 220.63 165.33 125.-200.5 210.-125.-155.34 180.44 175.

3 persen.34 486.206.-288.-- K o t a / Jenis barang Bandung Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Y ogyakarta Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Semarang Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Surabaya Beras Tepung terigu Cula posir Tekstil Medan Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Banjarmasin Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Ujungpandang Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Denposar Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil 1) Sampai dengan Oktober 198 ( Rp/kg) (Rp/kg ) ( Rp/kg) (Rp/m) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp /kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp /kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg) ( Rp/kg) (Rp/m) 1981/1982 Maret 281.54 225.25 289.-475.-450.19 216.83 400. 525.67 540.75 228.-.3 178.-563.-500.-900.-550.-219.-230.33 278.25 461.-425.-400.-425.42 500 236.-375. Berdasarkan perkembangan harga gula posir di beberapa kota selama periode April-Oktober 1984 sebagaimana terlihat dalam Tabel III.-510.-250.51 175.63 571.-- 1983/1984 Maret 272.67 542.97 326.-437.33 518.-550.-255.33 321.206.25 567. Kenaikan harga tepung terigu yang terjadi pada bulan Agustus 1984 telah pula mempengaruhi perkembangan harga gula pasir.-525.56 633.3 persen sampai 6.-242.46 351.33 621.75 555.5 511.22 275.16 330.-400.-272. kenaikan harga yang cukup tinggi terjadi dalam bulan Mei dan Agustus 1984 yang berkisar antara 0.38 188.-500.12 473.5 275.34 278.4 (lanjutan) 1979/1980 1980/1981 Maret Maret 219.-239.-425.-178.600.-- Kebijaksanaan Pemerintah dalam usaha meningkatkan produksi gula pasir antara lain dilaksanakan melalui rehabilitasi pabrik-pabrik gula.-268.84 528.99 273.08 323.5 327.92 327. maupun yang merupakan bagian pabrik.-285.-625.92 481.21 261. masing-masing sebesar 4.-516.2 246..11 224.6 persen dan 2.39 599.67 407.58 576.42 584.-700.33 626.75 503.-245.07 196.6 393.88 250.-280.58 217.75 510.-615.67 214.25 319.71 226.-274.08 1984/19851) s/d Oktober 315.75 559.-381.63 375.-650.5 500.89 260.83 527.-527.-550.22 281.08 550.-- 1982/1983 Maret 319.0 persen.-425.183.17 649.-267.-190.46 287.91 265.67 762.83 564.55 252.-315.33 291.5 275.75 221.17 542. sehingga dalam bulan tersebut terjadi peningkatan di kota Ujungpandang.41 176.-290.536.83 400.-275.67 271. Di sam ping itu dalam rangka menunjang program tebu rakyat intensifikasi.48 423.5 236.33 525.-575.-222.92 500. dan penyesuaian harga provenue gula pasir.-550. pembangunan pabrik-pabrik baru.34 650.43 395. Dengan demikian petani dapat menerima harga yang ditetapkan.5 250.-350.635.04 315.-610.42 260.75 342.94 252.67 600.65 272.-541.3 persen.38 210.4 415. 2.75 514.n 377.68 205.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel 111.4.-300.-273.-269.8 208.67 714.-206.-500.-350.52 349.-322.-503.87 590.55 275.72 702.25 275. mulai bulan Oktober 1980'Pemerintah menjamin pemasaran seluruh gula rani baik yang merupakan bagian petani.34 250.-350.8 400.97 193.67 386.-255.36 265.25 430.82 269.57 400.-600.-740..35 373. Produksi tekstil yang mencukupi telah menyebabkan perkembangan harga tekstil di Departemen Keuangan RI 77 . dan konsumen terhindar dari gejolak kenaikan harga.-267.16 195.-332.34 225.-271.57 529. Semarang dan Surabaya.-200.-385.74 226.33 500.

5 349.5 2.-138.75 302..131.162. Tabel III.13 5 .-444.443.373.-858.6 4.60 4.25 448.2 312.376.25 139.418.5 433.1.461.139.2 456.153.12 1.25 1.1973/1974 Maret 415..75 478.-323.1975/1976 Maret 415.36 1.2 Juni 1. Harga terendah terjadi di kola Denpasar dengan tingkat harga Rp 500.390.357. Bila dibandingkan penurunan harga emas di pasar Jakarta dengan di pasar London. perkembangan harga barang-barang konsumsi Utama dapat dilihat dalam Tabel IlI.25 335.4. Indeks harga emas dan valuta asing Fluktuasi kurs matauang dollar Amerika telah mempengaruhi perkembangan harga emas.25 354.8 4. 1969/1970 -1984/1985 (hargajual/dalam rupiah per satuan) Tahun anggaran/ rata-rata bulan DM US $ Yen £ HK$ Sing $ 1969/1970 Maret 379.50 129.015.25 950.5 312.20 4.2 persen.408. sedang harga tertinggi terjadi di kota Medan dengan harga Rp 900. Selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember.80 486.82.291.75 483.4.-80.40 134.062.422. baik di posaran lokal maupun di posaran internasional.123. bahkan di kota Semarang dalam bulan Juli 1984 harga menurun sebesar 0.2 314.488.75 2.8 341.20 4.-1.25 123.481.83.322.365.147.5 304.25 348.-173. maka terlihat bahwa di pasaran Jakarta harga emas mengalami penurunan yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan penurunan yang terjadi di pasar London.6 329.3.6 461.8 330.2.25 1.8 341.3 persen.5 308.-81.1970/1971 Maret 378.132.064.75 133.15 1.75 Oktober 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa kota relatif stabil.8 324. Dalam periode yang sarna di pasaran London.1971/1972 Maret 413.196.-4.75 372.5 63.5 HARGA BEBERAPA VALUTA ASING DI JAKARTA.2 461.25 920.6 780.6 September 1.465.50 4.362.-179.4.1976/1977 Maret 415.167.1974/1975 Maret 416.8 318. 23 karat dan 22 karat di pasar Jakarta telah menurun masing-masing sebesar 7.per meter.41 1.75 133.4 September 989.40 366.345.6 370.5 146. Dalam bulan-bulan menjelang Idul Fitri.25 690.75 131.4 1.25 422.5 432.4 455.62.per meter. harga emas 24 karat.75 Agustus 1.8 Maret 1.041.5 274. yaitu bulan Juni dan Juli 1984.316.57 1.-1.6 363. Selama periode April-Oktober 1984.5 328.443.-365.Nopember Swiss F NFL 110.020.492.1978/1979 Maret 627.39 1.per meter.153.-125.4.205.75 383.75 347.2 4.151 .145.197.4 3.302.024.6 Desember 996.8 persen.4 469. Di samping itU penurunan harga Departemen Keuangan RI 78 .123.46 1.431.25 1980/1981 Maret 632..2 125.006.75 370.-184..6 1979/1980 Maret 632.72.8 496.067.81 1.25 284.21 370.8 3. 7.139.25 491. harga tekstil tidak mengalami kenaikan yang berarti.035.-341.-1977/1978 Maret 412.7 persen.4 482.33 1.89.011.-Juli 1.-463.130.130.6 365. Hal ini memperlihatkan bahwa minat masyarakat terhadap logam mulia emas masih cukup besar.166. harga emas menurun sebesar 15.-980.-4.153.31 1.1984/1985 April 1.1.47 1.25 830.165.140.-Mei 1.8 3.-143.-157.3.5 1982/1983 Maret 761.127.sampai Rp 900.-11 7.75 1981/1982 Maret 653.167.276.52 1.527.88.1. harga tekstil di beberapa kota berkisar antara Rp 500.-160.2 386.4 1983/1984 Juni 979.25 322.326.50 115.2 465.16 1.6 383.75 427.1972/1973 Maret 414.28 1.-1.5 persen dan 5.-426.882.-251.131.-140.09 1.2 478.75 289.-338.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

emas tersebut juga merupakan akibat bertambahnya permintaan terhadap matauang dollar Arnerika. Bila dilihat perkembangannya setiap bulan, harga emas 24 karat, 23 karat dan 22 karat selama tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember 1984 umumnya mengalami penurunan. Khususnya dalam bulan Juli 1984, masing-masing mengalami penurunan sebesar 4,6 persen, 4,5 persen dan 4,1 persen. Sedangkan selama empat bulan terakhir yaitu bulan Agustus, September, Oktober dan Nopember 1984, harga emas 24 karat, 23 karat dan 22 karat relatif stabil yaitu tetap raJa harga Rp 11.500,-, Rp 11.000,- dan Rp 10.500,- per gram. perkembangan harga emas dapat dilihat dalam Tabel III.6.
Tabel III. 6 HARGA EMAS DI PASAR JAKARTA DAN DI PASAR LONDON, 1969/1970 - 1984/1985 ( dalam rupiah per gram) London Tahun anggaran / Jakarta 24' 23 ' 22' US $/ 1 fine oz rata-rata bulan 1969/1970 Maret 490,-470,-450,-35.32 1970/1971 Maret 510,480,450,-37.38 1971/1972 Maret 620,-580,450,-48.40 1972 / Maret 1.050,1.000,950,-90.00 1973/1974 Maret 1.775,-1.675,1.575,-111.75 1974/1975 Maret 2.312,50 2.212,50 2.100,-177.50 1975 / Maret 1.837,50 1.737,50 1.637,50 129.55 1976/1977 Maret 2.050,1. 950,-1.850,149.13 1977/ 1978 Maret 2.350,-2.260,-2.150,-179.75 1978/1979 Maret 5.080,-4.880,4.680,239.75 1979/1980 Maret 10.750,9.750,-9.000,547.25 1980/ 1981 Maret 10.100,9.593,75 9.100,-576.75 1981 / Maret 7.150,-6.725,-6.375,316.25 1982/1983 Maret 9.980,9.534,9.048,413.00 1983/1984 Juni 12.580,- 11.940,-11.320,-415.00 September 12.800,-- 12.000,-11.500,-385.00 Desember 12.340,-- 11.690,-11.090,375.00 Maret 12.390,- 11.890,-11.140,393.00 1984/1985 April 12.237,50 11.662,50 11.025,-383.75 Mei 12.080,11.480,11.860,384.70 Juni 12.300,11.750,11.000,371.50 Juli 11.737,50 11.225,10.550,336.10 Agustus 11.500,-- d.OOO..10.500,347.11 September 11.500,-- 11.000,-10.500,-346.68 Oktober 11.500.11.000,10.500,336.00 Nopember 11.500,-11.000,10.500,330.80

Meningkatnya kurs matauang dollar Amerika sejak awal tahun anggaran 1984/1985 masih terus berlangsung sampai dengan bulan Nopember 1984. Selama periode AprilNopember 1984, kurs matauang tersebut meningkat sebesar 4,6 persen yaitU dari Rp 1.020,menjadi Rp 1.067,20 per dollarnya. Dari perkembangan kurs dollar setiap bulannya terlihat bahwa kurs dollar Amerika telah mengalami peningkatan tertinggi dalam bulan September 1984 yaitu sebesar 2,1 persen, sedangkan dalam bulan-bulan lainnya selama periode tersebUt
Departemen Keuangan RI

79

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

hanya meningkat antara 0,1 sampai 1,7 persen. Kurs dollar Hongkong terus meningkat dengan peningkatan terbesar terjadi dalam bulan September 1984, yaitu sebesar 2,4 persen. Secara urn urn dapat dikatakan bahwa peningkatan yang cukup besar raJa kurs dollar Amerika, maupun pada kurs dollar Hongkong dalam bulan tersebut disebabkan permintaan dalam jumlah yang relatif besar di posaran. Keadaan sebaliknya telah terjadi pada harga matauang Asia yaitu Yen, dollar Singapura dan beberapa matauang Eropa Barat, yang permintaannya tidak menentu sehingga berakibat tidak stabilnya kurs matauang tersebut di pasaran. Bila dilihat perkembangan kurs Yen setiap bulan, maka selama delapan bulan dalam tahun anggaran 1984/1985 atau dalam periode April-Nopember 1984, telah terjadi penurunan dalam bulanbulan Mei, Juni, Juli dan Oktober 1984, sedangkan sebaliknya dalam bulan-bulan lainnya terjadi peningkatan antara 1,1 sampai 1,5 persen. Pola yang hampir sarna terjadi raJa kurs dollar Singapura yang mengalami kenaikan kurs tertinggi dalam bulan Agustus 1984 yaitU sebesar 1,8 persen, sedangkan dalam bulan Juli 1984 mengalami penurunan sebesar 0,8 persen. Secara keseluruhan selama periode April-Nopember 1984, kurs Yen menurun sebesar 1,3 persen, sedang kurs dollar Singapura meningkat dengan 3,7 persen. Perkembangan beberapa matauang
Eropa Barat yaitu Poundsterling Inggris, Mark Jerman, Franc Swiss dan Guilder Belanda dalam periode yang sarna secara umum menunjukkan penurunan masingmasing sebesar 8,2 peTscH, 7,5 persen, 6,9 per:sen dan 7,2 persen. Penurunan kurs matauang Poundsterling Inggris dalam bulan Oktober 1984 sebesar 2,8 persen merupakan penurunan yang terbesar diantara penurunan yang terjadi selama kurun waktu April-Nopember 1984. Sedangkan kurs matauang Mark Jerman dan Franc Swiss mengalami penurunan terbesar dalam bulan Juli 1984 masing-masing sebesar 2,5 persen dan 3,9 persen, demikian pula kurs Guilder Belanda mengalami penurunan terbesar dalam bulan September 1984 sebesar 3,0 persen. Perkembangan kurs beberapa valuta asing di pasar Jakarta dapat dilihat dalam Tabel III.8

3.2.4. Harga barang-barang ekspor Memasuki tahun pertama Repelita IV, atau tepatnya pada tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember, harga komoditi ekspor di posar lokal Jakarta yaitu lada putih dan kopi robusta telah mengalami peningkatan masing-masing sebesar 5,6 persen dan 2,0 persen, sedangkan komoditi karet dan kopra selama periode terse bUt telah menurun sebesar 23,8 persen dan 16,7 persen. Secara umum dapat dikatakan bahwa peningkatan dan penurunan harga yang terjadi di posaran lokal adalah akibat perkembangan harga yang terjadi di pasaran internasional. Mengamati perkembangan harga di posaran internasional dalam kaitannya dengan

Departemen Keuangan RI

80

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

ekspor beberapa komoditi Indonesia, terlihat bahwa beberapa komoditi mempunyai prospek yang baik sekali dalam usaha pengembangan ekspor. Hal ini tercermin pada Tabel 111.8, dimana komoditi lada putih, lad a hiram, kopi robusta eks Lampung, dan timah putih selama tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Nopember 1984 mengalami pemasaran yang makin baik. Selama periode April-Nopember 1984, harga lada putih di posar London, dan lada biram di posar New York telah meningkat masing-masing sebesar 21,9 persen dan 21,0 persen. Menguatnya harga lada putih dan lada biram tersebut adalah akibat menurunnya persediaan, karena memburuknya panen lada dunia dalam tahun 1983/1984 yang diperkirakan masih terus berkelanjutan dalam tahun pallen 1984/1985. Harga kopi robusta eks Lamrung di posar Singapura dalam periode yang sarna naik sebesar 14,1 persen, walaupun di pasar New York sebagai pusat pemasaran kopi dunia dalam periode terse but mengalami penurunan sebesar 5,3 persen. perkembangan harga timah putih di posar London selama periode April-Nopember 1984 menunjukkan kenaikan sebesar 13,5 persen. Peningkatan tersebut bukan merupakan akibat dari meningkatnya permintaan, akan tetapi akibat menurunnya nilai Pound sterling Inggris di pasaran moneter internasional. Perkembangan yang sebaliknya telah terjadi pada harga kopra di posar Manila, dan di posar London serta minyak sawit eks Malaysia di pasar London, yang selama periode April-Nopember 1984 mengalami penurunan masing-masing sebesar 17,0 persen, 17,8 persen dan 15,7 persen. Demikian pula halnya dengan harga karet RSS III di posar New York, London dan Singapura, selama periode tersebut telah mengalami penurunan masing-masing sebesar 27,7 persen, 17,2 persen dan 28,2 persen. Penurunan harga karet sintetis, sehubungan dengan menurunnya harga minyak bumi, merupakan salah sarli sebab menurunnya harga karet tersebut. perkembangan harga komoditi di posar lokal, dan di posar internasional dapat dilihat pada Tabel III.7, Tabel III.8

Departemen Keuangan RI

81

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Tabel III. 7 HARGA BEBERAPA BARANG EKSPOR DI JAKARTA, 1969/1970 - 1984/1985 ( dalam rupiah per kilogram) Tahun anggaran/ Kopra rata-rata bulan (Sulawesi) RSS I Lada putih Kopi robusta 1969/1970 Maret 125,66 50,18 295,-126,57 1970/1971 Maret 106,1 65,4 199,25 156,1971 /1972 Maret 103,12 58,2 257,6 120,62 1972/1973 Maret 199,77 79,7 431,4 293,09 1973/1974 Maret 305,56 192,43 752,19 360,46 1974/1975 Maret 178,35 94,51 526,25 245,82 1975/1976 Maret 243,59 89,18 455,37 507,1976/1977 Maret 278,29 215,5 1.100,2.090,1977/1978 Maret 306,47 233,33 917,5 862,5 1978/1979 Maret 626,66 256,67 1.276,25 1.169,1979/1980 Maret 777,94 242,26 1.162,50 1.225,1980/1981 Maret 690,21 263,4 822,5 968,75 1981/1982 Maret 508,48 243,8 880,-783,6 1982/1983 Maret 701,09 219,8 956,-1.025,1983/1984 Juni 1.041,64 313,26 1.270,1.200,-September 992,74 363,78 1.450,1.150,Desember 1.103,43 467,32 2.510,1.250,Maret 1.006,25 535,07 2.665,1.275,1984/1985 April 939,44 560,38 2.540,1.300,Mei 889,84 540,65 2.660,1.325,-Juni 791,42 577,25 2.670,1.300,Juli 795,54 543,48 2.440,1.300,Agustus 820,36 493,15 2.600,1.325,September 853,37 432,74 2.925,1.350,Oktober 797,9 445,77 2.850,1.235,Nopember 766,78 445,77 2.815,1. 300,-

Tahun anggaran/ rata-rata bulan

Tabel III..8 HARGA BEBERAPA BARANG EKSPOR UTAMA DI PASAR INTERNASIONAL, 1969/1970 - 1984/1985 RSS III Kopra Kopi robusta Lada putih Lada hitam Timah putih Minyak US $/lt US $flt Str $1 pic us $ ct/lb Br tIlt US $ ct/!b Br £ I mt Br tIlt US $ ct/lb Brp I kg Str $ ct/kg York) (London) (Singapnra) (Manila) (London) Lampung eks Palembang (London) (New York) (London) Malaysia (Singapura) (New York) (London) 20,88 17,08 16,01 26,4 42,43 27,83 35,88 39,67 43,52 51,7 69,43 65,06 43,24 54,36 53,29 58,11 57,2 56,84 54,54 50,7 47,01 45,47 45,59 45,58 42,33 41,1 20,65 14,6 12,6 24,59 39,98 24,89 41,22 38,86 48,34 59,87 66,35 57,25 48,24 73,58 71,81 75,48 81,21 80,2 77,64 73,41 68,01 70,07 70,3 71,38 68,59 66,41 59,35 98,83 83,2 137,45 203,96 117,8 179,05 186,44 196,43 247,44 300,91 240,63 163,5 200,56 219,33 221,23 228,53 225,31 215,08 198,55 182,17 179,2 180,04 179,78 167,30' 161,87 205,-176,28 115,92 201,5 767,67 258,93 178,46 456,76 664,5 520,76 406,25 327,05 329,58 479,01 645,-655,33 747,726,83 845,-723,25 658,5 648,54 703,13 620,240,53 208,55 141,84 221,21 899,6 304,6 192,5 551,5 437,06 796,45 516,75 389,43 330,25 321,69 472,92 638,01 653,4 744,15 735,75 800,17 829,4 728,682,6 642,13 747,63 611,54 82,38 117,13 95,5 90,-165,93 118,53 215,38 815,23 280,-285,-395,-399,-356,94 292,5 332,5 362,5 480,5 487,5 487,5 487,5 551,37 551,-551,-562,25 566,556,-33,65 39,28 36,43 42,28 62,31 42,86 78,15 294,56 120,67 154,75 104,52 114,48 114,69 117,49 117,42 126,04 128,15 127,45 133,5 132,75 127,66 127,2 128,2 122,26 121,42 49,77 42,73 47,4 60,5 98,93 88,3 102,55 164,6 188,75 150,62 139,-100,-128,88 132,-126,56 135,-243,-244,8 245,-245,245,-245,241,01 274,5 317,5 298,5 57,72 55,6 45,52,25 79,92 90,-79,14 117,31 116,67 86,52 95,67 83,-73,-64,"71,63 66,84 98,7 90,07 92,45 96,8 97,6 92,5 91,88 105,1 114,8 108,94 1.578,54 1.472,20 1.477,60 1.736,50 3.524,-3.043,26 3.594,05 6.155,94 5.917,50 7.328,7.906,83 6.084,13 7.070,78 8.957,10 8.581,41 8.506,16 8.616,20 8.523,48 8.762,42 9.055,25 9.170,38 9.412,60 9.352,08 9.594,25 9.596,50 9.676,94 109,58 117,6 81,35 115,-276,87 197,85 591,74 319,5 679,61 612,602,33 505,17 376,5 400,66 648,85 705,79 739,5 767,23 905,63 817,33 590,28 566,6 616,-631,75 623,39

1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984

1984/1985

Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Juni September Oesember Maret April Mei Juni Jull Agustus September Oktober Nopember

Departemen Keuangan RI

82

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

3.2 .5 .Indeks harga perdagangan besar Indonesia Dalam tahun 1983, indeks harga perdagangan besar meningkat sebesar 18,2 persen, atau dari indeks 302 dalam tahun 1982 menjadi 357 dalam tahun 1983. Kenaikan tersebut disebabkan oleh meningkatnya indeks harga sektor pertanian sebesar 13,7 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 9,0 persen, sektor industri sebesar 17,1 persen, sektor impor sebesar 20,9 persen, dan sektor ekspor sebesar 19,5 persen. Dalam perkembangannya yang terakhir, yaitu dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus, indeks harga perdagangan besar terse but meningkat sebesar 11,5 persen, sebagai hasil dari kenaikan indeks harga sektor pertanian sebesar 12,0 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 8,6 persen, sektor industri sebesar 12,3 persen, serta indeks sektor impor dan sektor ekspor masing-masing sebesar 10,7 persen dan 11,9 persen. Peningkatan indeks harga sektor pertanian terjadi pada indeks harga masing-masing sub sektor tanaman perdagangan, bahan makanan, peternakan, perikanan, serta sub sektor perkayuan dan hasil-hasil hutan. Indeks harga sektor pertambangan dan penggalian meningkat karena peningkatan yang terjadi antara lain pada indeks harga sub sektor batubara, sub sektor penggalian, dan sub sektor garam. Pada indeks harga sektor industri, peningkatan telah terjadi pada indeks harga semua sub sektornya, yaitu antara lain sub sektor industri minyak nabati dan lemak, serta sub sektor industri pengilangan minyak dan hasilhasilnya. Di sektor impor, kenaikan terjadi pada indeks harga sub sektor hasil industri pemintalan, perajutan, tekstil dan lainnya, sub sektor hasil industri kertas dan hasil-hasilnya, serta sub sektor hasil industri pengilangan minyak. Demikian pula halnya dengan indeks harga perdagangan besar bahan ekspor, peningkatan terjadi pada indeks harga masing-masing sub sektor bahan makanan dan sejenisnya, biji logam bukan besi, serta sub sektor hasil-hasil tanaman perdagangan dan ternak. Perkembangan Indeks harga perdagangan besar Indonesia dapat dilihat dalam Tabel III.9.
Tabel III. 9 ANGKA INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR INDONESIA, 1977 -1984 ( 1975 = 100 )

S e k tor I. Pertanian 2. Pertambangan dan penggalian 3. In d u s t r i 4. Impor 5. E k s p o r Indek Umum Kenaikan indeks (%)
1) Sampai dengan buIan Agustus

1977 145 130 128 108 116 122

1978

1979 213 175 178 153 246 195
71,05

1980

1981 302 266 234 191 414 282
11,46

1982

1983 382 339 301 243 514 357
18,21

1984 1)

-

162 144 139 118 127 114 -6,56

262 218 210 174 375 253
29,74

336 311 257 201 430 302
7,09

428 368 338 269 575 398
11,48

Departemen Keuangan RI

83

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

3.2.6. Indeks harga perdagangan besar bahan bangunan/konstruksi Perkembangan indeks umum harga perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi dalam tahun 1983 telah menunjukkan peningkatan sebesar 11,8 persen. Kenaikan tersebut tercermin dati kenaikan yang terjadi pada masing-masing indeks harga jenis bangunan tempat tinggal sebesar 11,0 persen, jenis bangunan bukan tempat tinggal sebesar 12,3 persen, jenis pekerjaan umum untuk pertanian sebesar 13,0 persen, jenis pekerjaan umum untuk jalan dan jembatan sebesar 11,5 persen, jenis bangunan listrik dan transmisinya sebesar 12,2 persen, bangunan dan konstruksi lainnya sebesar 11,9 persen, sella indeks harga untuk jenis perbaikan bangunan sebesar 12,5 persen. Pada perkembangannya yang terakhir yaitu pada tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus, indeks umum harga perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi telah meningkat sebesar 7,2 persen. Peningkatan terse but disebabkan oleh peningkatan masing-masing pada indeks harga jenis bangunan pekerjaan umum untuk pertanian sebesar 8,9 persen, jenis bangunan pekerjaan uIhum untuk jalan dan jembatan sebesar 7,5 persen, serta indeks harga jenis bangunan lainnya yang berkisar antara 5,9 persen dan 7,4 persen. perkembangan angka indeks harga perdagangan besar bahan bangunan/konstruksi dapat dilihat pada Tabel III.10.
Tabel III. 10 ANGKA INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR BAHAN BANGUNAN/KONSTRUKSI DI INDONESIA MENURUT lENIS, 1977 -1984 ( 1975 = 100 ) Jenis 1. Bangunan tempat tinggal 2. Bangunan bukan temp at tinggal 3. Pekerjaan umum untuk pertanian 4. Pekerjaan umum untuk jalan dan jembatan 5. Bangunan listrik dan transmisinya 6. Bangunan dan konstruksi lainnya 7. Perbaikan bangunan Umum Persentase perubahan 1) Sampai dengan bulan Agustus 1977 114 113 109 112 106 111 113 112 1978 123 124 120 123 116 123 122 122 8,93 1979 149 152 146 151 142 154 151 150 22,95 1980 175 177 192 183 160 182 179 177 18 1981 191 193 213 205 170 200 196 194 9,6 1982 209 211 239 226 181 219 216 212 9,28 1983 232 237 270 252 203 245 243 237 11,79 1984 248 254 194 271 215 261 261 254 7,17

3.3. Gaji dan upah di berbagai sektor ekonomi Peraturan pengupahan secara regional, sektoral, maupun sub sektoral senantiasa mengalami peningkatan dati tahun ke tahun. Sampai dengan tahun _pertama pelaksanaan Repelita IV sampai dengan bulan September, secara kumulatif telah dihasilkan 16 buah peraturan pengupahan secara regional, 58 buah peraturan pengupahan secara sektoral, dan 300

Departemen Keuangan RI

84

1 persen dan 18. Listrik 6.287 83.7 persen dan 17.0 persen sampai 12.606 60.5 persen sampai 18.416 205. Perhubungan 8.209 48.6 persen.121 67.977 16.695 248.200 712.2 persen.4 persen.500 191.419 227.178 24. kenaikan upah minimum terjadi terutama pada sektor bangunan dan sektor perkebunan yaitu masing-masing sebesar 38.7 persen.270 26.494 34.662 50.207 72.3 persen. Pertambangan 3.246 287.927 32.381 20.051 29.050 42.991 125.255 26.745 712.181 171.632 393.827 297.742 14.245 50.760 295.112 41.099 17.166 150.676 554. Tabel III.233 241.5 persen.5 persen.035 307.039 89.408 620.187 28.881 17.528 442. Perkebunan 2.424 320.395 465. sedangkan sektor-sektor lainnya hanya meningkat antara 2. sektor industri.299 29.200 12. Pada Tabel III.475 56. sektor perhubungan sebesar 28.520 656.405 228.262 19.799 268.914 35.647 205.254 382.025 556.078 342.036 309.527 228.500 21.500 9.840 219. sektor listrik.056 58.348 455. Perkebunan 2.182 22.400 1983 27.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 buah peraturan pengupahan secara sub sektoral.200 14.078 307.738 370.179 333.972 33.570 36.314 158.5 persen dan 22. sedangkan sektor perkebunan.725 496. sedangkan sektor listrik tidak mengalami perubahan.993 44.4 persen dan sektor bangunan sebesar 24.116 30. Dalam hal upah maksimum. dan sektor perdagangan/bank/asuransi masing-masing sebesar 24. 11 UPAH MINIMUM DAN MAKSIMUM DI BERBAGAI SEKTOR.540 65.491 32.362 72. Jasa-jasa 9. Perdaganganlbank/asuransi 7.6 persen.193 35.158 14.752 241.361 381.624 359. upah minimum di semua sektor mengalami peningkatan yaitu pada sektor bangunan.718 40.485 69.235 50.328 554.242 117.069 42.606 27. Perhubungan 8.837 13. sektor jasa dan sektor lainnya meningkat sekitar 4.877 64.280 176.158 16. Industri 4.665 322.589 20. Bangunan 5 Listrik 6.503 492.606 465.165 524. Sampai dengan semester I tahun 1984.719 361.214 209.200 17.550 Departemen Keuangan RI 85 .11 dapat dilihat bahwa dalam tahun 1983 upah minimum di semua sektor telah meningkat antara 4.9 persen.832 320.039 70.300 138. 1975 -1984 ( rupiah per bulan) 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 8.932 41. Lain-Iain/pegawal negeri 1982 25. Pertambangan 3.752 241.235 84.975 672. 19.595 174.400 19841) 31.681 36.211 269. Jasa-jasa 9.530 280. Bangunan 5.429 32.889 645.021 351.196 297.650 834.025 33.158 16.658 509.826 36.974 73.030 172. Demikian pula halnya dengan upah maksimum dalam tahun 1983 meningkat antara 3.262 25.185 72. Perdaganganlbank/asuransi 7. 23. Sedangkan peningkatan upah maksimum terjadi disektor perhubungan.412 307.893 27.400 277.061 29.994 231.5 sampai 18.723 532. Lain-lain/pegawai negeri ( Rata-rata upah maksimum ) 1. sektor bangunan.238 173.128 29.411 448.595 189.520 780.337 409.498 14.590 89.452 25.700 10.928 689.278 35.618 415.517 39.146 527.283 69.754 27.2 persen.101 37.536 275. Industri 4.300 118. kenaikan terjadi pada sektor perdagangan/bank/asuransi sebesar 43.299 440.919 46.318 32.6 persen.0 sampai 32.391 32.400 262.046 250.105 21.280 172.114 29. Dilain pihak penurunan terjadi pada sektor pertambangan sebesar 0.843 63. dan sektor perkebllnan masing-masing sebesar 36.279 53.720 25.423 57.721 550.339 291.262 29.665 14. kecuali pada sektor pegawai negeri yang tidak mengalami perubahan dalam upah minimum maupun upah maksimum.280 150.956 294. Bila perkembangan upah selama periode Januari-Juni 1984 dibandingkan dengan periode Januari-Juni 1983.1 persen.009 60.782 23.510 46.118 34.400 Sektor ( Rata-rata upah minimum) 1.400 289.137 29.778 135.178 251.

Untuk itu fasilitas kredit likuiditas tetap disediakan untuk pinjaman yang berprioritas tinggi. senantiasa disempurnakan dengan ikut sertanya Bank Indonesia untuk menjaga perkembangan suku bunga antar bank. kebijaksanaan moneter telah memasuki tahun kedua penataan kembali sistem perbankan Indonesia. Pemerintah senantiasa mendorong peningkatan produksi barang-barang kebutuhan rakyat.1. sebagai salah satu pilihan bagi masyarakat untuk menanamkan kelebihan dananya. dan kredit likuiditas Bank Indonesia kepada bank-bank untuk sektor ekonomi yang bukan prioritas dihentikan. dan keringanan pajak atas pendapatan bunga dividen dan royalty (PBDR) juga berlaku bagi pembelian obligasi. Dalam tahun pertama Rep. dengan beberapa penyesuaian dalam ketentuan dan persyaratan. serta meningkatkan efisiensi dan peranan lembaga-lembaga keuangan. bertujuan untuk meneruskan usaha kearah tercapainya sa saran pembangunan sesuai dengan trilogi pembangunan. Departemen Keuangan RI 86 . Untuk lebih menunjang usaha peningkatan dana masyarakat. tatacara penyelesaian transaksi effek di bursa telah disederhanakan. memelihara kestabilan perekonomian dengan menjaga kestabilan harga.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB IV MONETER DAN PERKREDITAN 4. Sedangkan untuk mengembangkan jual beli surat berharga di posar modal. telah diambil kebijaksanaan untuk tidak memungut atau menangguhkan pemungutan pajak penghasilan atas pendapatan bunga deposito berjangka. Pendahuluan Kebijaksanaan moneter dalam Repelita IV. pagu kredit perbankan dihapuskan. meningkatkan usaha pemerataan pembangunan dengan meningkatkan golongan ekonomi lemah. Beberapa tujuan pokok yang akan dicapai adalah peningkatan usaha mobilisasi tabungan masyarakat melalui bank dan lembaga keuangan bukan bank. yang pada dasarnya bertujuan untuk ineningkatkan pengerahan dana masyarakat melalui pemberian tanggung jawab yang lebih besar kepada bank-bank untuk menetapkan sendiri persyaratan-persyaratan penghimpunan dana dari dan pemberian kredit kepada masyarakat.dita IV. yang mempunyai kaitan erat dengan kebijaksanaan fiskal dan perkembangan neraca pembayaran. dan tabungan lainnya. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan usaha pemerataan pembangunan. Transaksi di pasar uang antar bank melalui kliring di Jakarta. Sejalan dengan hal tersebut. serta pengembangan usaha golongan ekonomi lemah. Di samping itu penerbitan sertifikat deposito terus dilanjutkan.

lembaga keuangan bukan bank. dan meliputi pembinaan terhadap lembaga perbankan. dan uang giral sebesar Rp 27.0 milyar pada akhir bulan September 1984.529. Sebaliknya sebagai sarana untuk menanggulangi kekurangan likuiditas.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai sarana pengendalian moneter. baik bank Pemerintah maupun bank swasta nasional.9 milyar atau 44 persen dari jumlah uang beredar. Peningkatan tersebut terdiri dari peningkatan uang kartal sebesar Rp 10. serta peningkatan peranan pasar uang dan modal. Pembinaan bank pembangunan daerah dilaksanakan melalui program pemberian bantuan teknis dan pendidikan. dan perasuransian.5 persen).9 milyar. menjadi Rp 8.4 milyar. pembinaan lembaga-lembaga keuangan senantiasa ditingkatkan. serta perluasan jaringan kliring lokal di tempattempat yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia. Dengan demikian secara keseluruhan sampai dengan bulan September 1984. Sementara itu peranan lembaga keuangan bukan bank (LKBB) ditingkatkan dengan diberikannya fasilitas diskonto ulang dalam perdagangan surat-surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan. SBI ini dapat digunakan (melalui operasi posar terbuka) untuk menanamkan kelebihan dana likuiditas dari bank yang belum dioperasikan.7 milyar pada akhir bulan Maret 1984. 4. Terhadap bank umum swasta nasional juga diberikan keringanan dalam persyaratan pembukaan kantor cabang. sejak 1 Pebruari 1984 telah diterbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Departemen Keuangan RI 87 .563. Usaha untuk meningkatkan peranan pembiayaan pembangunan dengan dana dari masyarakat. posisi uang kanal adalah sebesar Rp 3.1 milyar atau 56 persen dari jumlah uang beredar. di samping ketentuan untuk memelihara cadangan wajib minimum bank-bank yang sejak 1 Januari 1978 besarnya adalah 15 persen dari kewajiban y.2.mg dapat dibayar. Peranan uang giral yang cukup tinggi di dalam komponen uang beredar tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat di dalam menggunakan jasa-jasa perbankan.054. Jumlah uang beredar dan sehab-sehab perubahannya Jumlah uang beredar selama 6 bulan pertama tahun anggaran 1984/1985 telah mengalami peningkatan sebesar Rp 38. Bank Indonesia menyediakan fasilitas diskonto yang merupakan upaya terakhir bagi bank-bank dalam usahanya untuk memperoleh tambahan dana. dan uang giral sebesar Rp 4.093.3 milyar (0. yaitu dari posisinya sebesar Rp8. Pembinaan disektor perbankan diarahkan untuk mengembangkan sistem perbankan yang sehat.

9 -50.5 Agustus 2) -35.3 1.2 210.8 3.023.427.9 3.20 -146.302.70 54 7.2 -13.4 40 210.30 44 4.563.3 2.1 -277.8 400.80 44 4.50 43 4.70 485.50 -374 -65 -124.6 -266 527.1 Kumulatif 2.90 55 8.605.099.20 45 4.417.40 -1.1 1.8 457 5.2 -417.1 -2.30 38 4.9 3.90 44 4.985.40 604.046.20 51 2.6 -72.6 1971/1972 Maret 153.4 -395 810.90 400.6 -7.50 29.2 -684.027.6 48 1.1984/1985 ( dalam milyar rupiah) Uang Uang Persentase kartal giral % % Jumlah Perubahan Perubahan 126.3 17.3 46 768.9 3.90 210.8 September 671 -871 608.6 54 1.10 56 8.3 2.2 Perubahan 79.3 332.835.8 112.2 853.7 126 210.90 -1.934.9 718.1 -1.6 1977/1978 Maret 441.1 1970/1971 Maret -4.50 -105.684.615.5 1975/1976 Maret -319.9 307.572.529.20 51 8. 1969/1970 .5 28.825.80 1979/1980 Maret 2.501.8 -1.773.3 60 84.50 57 5.2 59.7 79.497.306.2 158.9 538.70 1.6 199.20 1.10 2.8 -220.1 -143.1 3.379.4 -138.1 -445.560.5 -194.5 675.8 -1.8 -610.5 689 997.90 43 4.774.136.569.9 -973.983.80 49 1.1 1972/1973 Maret 124.6 1.4 -170.4 472.8 62 103.2 -105.3 3.3 549.SEBAB PERUBAHAN JUMLAH UANG BEREDAR.7 -1.2 46 784.30 55 7.70 45 4.60 56 7.214.10 -146.3 227.1 -157.541.5 3.6 1974/1975 Maret 1 23.273.9 61.90 295.9 458.8 -101.90 47 2.8 39 853.110.40 126 1.6 2.40 62 6.2 127.5 27.4 -190.8 31 659.505.2 1.7 -650.9 395.6 -830.5 -203.815.1 4.296.560.6 -1.60 809.90 56 7.10 1976/19.075.10 242.9 1.508.563.3 291.283.5 2.7 485.90 199.000.40 57 7.1 33.7 -654.2 421.2 3.7 -471.1 -369.00 158.553.072.4 -123.2 -123.30 -1.054.60 17.10 37.6 -83.10 1983/1984 Juni 429 -347.1 55 239.70 57 8.1 151.50 279.836.50 44 4.3 -312.5 295.7 Juni 241.5 -1.221.7 -16.431.8 3.9 Lainnya bersih -32.036.9 -146.653.90 689 32.715.178.2 -195 -134.719.631.7 1978/1979 Maret 985.2 45 530.035.40 -596.5 -192.1984/1985 (dalam milyar rupiah) Tagihan pada perusahaan & Perorangan l) 1969/1970 Maret -7 -4.491.7 2 Akhir Waktu 1969/1970 Maret 1970/1971 Maret 1971/1972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Joni September Desember Maret Kumulatif 1984/1985 April Mei Juni Juli I) Agustus 1) September 1) I) Angka sementara Tabel IV.235.3 9.9 -89.5 1973/1974 Maret 154.77 Maret 476.20 53 3.633.00 1982/1983 Maret 16.10 997.30 -559.8 -164.417.9 0.40 387.8 -88.5 52 488.6 -497 42.8 -180.182.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.4 Desember 406.3 170 47.8 387.2 353 Juli 2) -35.8 158.4 47 962 53 1.3 254 47.4 675.368.9 59. 1 JUMLAH UANG BEREDAR.8 188.30 -101.70 43 2.5 -146.2 35.3 190.5 6. 1969/1970 .1 53 100.4 38 270.5 16.4 1980/1981 Maret 2.10 51 2.60 46 4.50 1.036.00 -89.4 -25.20 56 8.093.6 -418 1.410.50 604.10 1.5 -162.228.70 41 4.1 Maret 1.7 3.9 142.420.9 361.4 -175 -1.233.70 49 1.3 58 150 42 360.7 8.4 697.378.9 2.2 3.70 49 4.1 170 254 242.8 -92.5 90.4 Mei 160. 2 SEBAB .7 Departemen Keuangan RI 88 .409.799.20 1981/1982 Maret -67.797.3 90.8 September 2) -215.2 198 1) Termasuk tagihan pada badan/lembaga dan perusahaan Pemerintah 2) Angka sementara Akhir waktu Aktiva Luar negeri Pemerintah pusat Simpanan berjangka & Tabungan -27.605.265.1 54 363.1 166.40 1984/1985 April 130.4 -686.5 -39.70 59 7.333.

Pengaruh menambah sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan tersebut menunjukkan suatu perkembangan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode yang sarna tahun lalu.3 milyar (4.218.4 persen).2.965.1. kepada bank-bank Pemerintah telah diberikan tanggung jawab yang lebih besar di dalam usaha pengerahan dana. tabungan masing-masing adalah sebesar Rp 7.4 milyar. Sampai dengan akhir bulan September 1984.020.3 persen).705.800. Bankbank Pemerintah diberi kebebasan dalam menentukan tingkat suku bunga deposito dan tabungan lainnya. yaitu sebesar Rp 5. Usaha untuk meningkatkan tabungan masyarakat yang terus dilakukan Pemerintah tercermin dari besarnya pengaruh mengurang pada jumlah uang beredar yang ditimbulkan oleh sektor simpanan berjangka dan tabungan. masing-masing sebesar Rp 244. 4. dan Rp 638.3 persen) adalah dana giro.6 milyar (46. satu dan lain adalah karena peningkatan kredit untuk pembiayaan di bidang perindustrian dan jasa-jasa.800. Sejak Juni 1983.4 milyar. Dari jumlah tersebut.6 milyar terse but sebagian besar berasal dari dana giro bank-bank Pemerintah. dana perbankan senantiasa mengalami penyempurnaan sesuai dengan perkembangan. dana perbankan mencapai jumlah sebesar Rp 14.4 milyar.266. kecuali terhadap deposito berjangka waktu 24 bulan yang bunganya ditetapkan sekurang-kurangnya 12 persen per tahun. sedangkan dana deposito dan .9 milyar (49. yaitu sebesar Rp 970. sedangkan dana giro bank-bank Departemen Keuangan RI 89 .0 milyar. Di samping itu sektor aktiva luar negeri bersih. sektor Pemerintah pusat tersebut memberikan pengaruh mengurang sebesar Rp 1. Dana dan Kredit Perbankan 4.9 milyar. serta sekaligus mengurangi ketergantungan bank-bank kepada dana likuiditas Bank Indonesia. Sektor Pemerintah pusat selama semester pertama tahun anggaran 1984/1985 menunjukkan pengaruh mengurang.3. yaitu sebesar Rp 1. sebesar Rp 6.l dan Tabel IV.6 milyar. dan sebab-sebab perubahannya secara lengkap dapat diikuti pada Tabel lV. Dana giro sebesar Rp 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Jika dilihat dari sektor-sektor yang mempengaruhi jumlah uang beredar. dan sektor lainnya bersih juga memberikan pengaruh menambah pada jumlah uang beredar. Peningkatan yang cukup besar pada sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan ini. dalam periode April-September 1984. sektor tersebut memberikan pengaruh mengurang sebesar Rp 1.2 milyar. 'Perkembangan jumlah uang beredar.9 milyar dan Rp 238. sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan memberikan pengaruh menambah yang cukup besar.034. sedangkan dalam periode yang sama tahun yang lalu. pada jumlah uang beredar sebesar Rp 1. Dana perbankan Kebijaksanaan di bidang mobilisasi.8 milyar.3. Dalam periode April-September 1984.390.

00 4.3 417.80 688.429.2 3.0 1.60 7.6 672.40 566.60 1.9 10.5 240 330.6 13.3 66 89 117.189.8 141 142.787.60 1.2 187.3 milyar.023.2 milyar.4 1.00 6.30 537.00 103.6 756.688.10 505.3 milyar.40 514 2.8 50.792.502.50 1.7 1.2 901.9 0.908.4 52.40 2.259.7 0.50 6.80 4.426.3 986.2 11.80 1.00 1.030.113.6 milyar.853.350.707.10 103.267.080.50 4.863.4 1.70 6.535.2 1.9 Maret 9.1 810. dan dana giro cabang bank-bank asing adalah sebesar Rp 513.10 1.8 392.80 2.6 930.3 4.2 13.20 1.555.6 72.50 1.2 980.50 1.80 1.10 87.753. 1972 .705.9 8 11.3 1.483.4 362.1 203.60 6.40 4.6 3.1 28.60 4.777.599.2 1983 Juni 7.766.7 890.80 516.2 703.80 5.4 117.8 71.163.00 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 swasta nasional adalah sebesar Rp 1.924.6 454.2 114.20 3.4 milyar.40 5.60 1. Bank-bank Pemerintah G ir 0 Deposito Tabungan II.398.9 80.40 1.660.30 559.287.60 1.4 Sept.033.90 466. 9.195.266.30 109.1 1. 2) Termasuk sertifikat deposito.988.10 2.243.8 184.3 645.80 3.30 94.50 1.074.80 1.256.272.80 2.50 0.2 4.6 462.5 225.034.9 milyar.30 539.00 1.9 44.190.70 0.90 2. Tabel IV.3 366.9 32.8 149.802.6 milyaroleh cabang bank-bank asing.7 765.90 4.5 94.20 2.144.736. Cabang bank-bank asing Giro Deposito Tabungan IV.559.4 1.40 4.7 345.1 3.7 71.156.10 531.30 1.141.410.659.9 244 482. Rp 4. Bank-bank swasta nasional Giro Deposito Tabungan III.80 29.4 205.90 8.4 2.30 583.60 3.3 106.40 2. 4) 9.343.2 5.20 508.1 Des.2 242. 381.2 255 363 464.263.010.471.1 76.698.00 1.4 Me i 9.7 522.4 1.9 1.7 419.695.028.80 5. Cahang bank-bank asing Giro Deposito Tabungan IV.8.4 1.151.8 299.395.009.3 10.60 26.337.90 638.196.8 1. 3) Termasuk tabungan pegawai dan setoran ongkos naik hajj.3 159.4 1.976.781.470.40 1.30 72.10 6.9 114.20 2. Bank-bank Pemerintah Giro Deposito c Tabllngan II.9 55.60 103.068.3 1.941.244.10 4.858.80 583.6 16.50 1.3 4.2 760.886. 1982 Desember Maret I.252.60 4.1 19.00 1.356.90 2.20 1.40 0.80 2.3 48.2 1.6 127.60 6.90 4.122.90 28.920. bank pembangunan dan bank tabungan termasuk dana milik pemerintah pusat dan bukan penduduk.1 0.20 1.10 6.50 568. 723.086.243.40 3.106.0 2.1 0. Sub total (II + III) Giro Deposito Tabungan V.471.80 637.5 222.40 2.30 106 13.1 671.60 6.034.9 April 9.80 4.2 46 73.7 1.2 milyar oleh bank-bank swasta nasional.60 6.63.3 238.10 1.30 6.7 145.10 4.60 489 7.10 4.9.80 1.150.20 954.80 544. 2) Termasuk sertifikat deposito.086.80 6.4 146.650.449.1 8.689.180.3 1984 Juli 9.2 4.80 1.6 333.436.4 158.097.8 372.616. 3 DANA PERBANKAN RUPIAH DAN V ALUTA ASING.5 12.1 2.2 4.047.70 1.70 1.122.1 140.917.7 2.00 3.111. Jumlah besar (I + IV ) 1) Giro Deposito 2) Tabungan 3) 1) Terdiri atas dana bank-bank umum.250.2 4.20 2.463.8 501.9 305.6 Agust.399.8 32.00 1.582.7 0.10 104.2 371.2 77.981.20 513.693.60 94.20 2.379.8 1.8 858.8 milyar dan oleh cabang bank-bank asing sebesar Rp 0.485.266.173.80 3.003.750.8 0.367.60 0.5 I.618.446.017. 3) Termasuk tabungan pegawai dan setoran ongkos naik haji.131.292.6 553.451.293.181.00 6.254.543.236.624.8 436.6 Juni .632. 18.70 6.927. 8.9 2.167.325.168.2 4.10 186.20 1.756.50 1.6 765.40 1.80 552.20 521.742.896.4 200.80 1.084.60 1.209.5 1.70 676.60 4.1 231.613.8 70 70.1984 ( dalam milyar rupiah ) 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember.70 233.8 3.9 98.239.252.2 489.867.230.10 1.6 16 19.003.70 168.556.6 68 1.4 338.233.1 13.40 1. 4) Angka sementara.20 1.70 1.818.7 2.815.914.103.1 1.40 669.4 680.2 4.2 1.3 810 0.20 1. Rp 1. 718.657.90 1.00 5.882.9 1.1 164.30 6. sehingga secara keseluruhan jumlah dana tabungan mencapai Rp 638.273.444.058.525.6 198.90 543.6 3.90 1.3 604.9 845. 7.3 Sept.4 35.081.2 3.40 6.1 milyar merupakan dana yang berhasil dihimpun oleh bank-bank Pemerintah.3 0.034.4 769.20 0.519.261.50 0.70 933.20 0.458.154.170.80 4.70 412. Bank-bank swasta nasional Giro Deposito Tabungan III.1 110.40 87 1. Sedangkan dana tabungan yang berhasil dihimpun oleh bank-bank Pemerintah adalah berjumlah Rp 531.6 431.7 20'\.30 6.2 4.30 7.200.4 1.2 77.058.060.50 105.40 1.2 1.150.194. Sub total (II + III ) Giro Deposito Tabungan 1) V.80 105.70 2.8 590.40 3.834.90 869.7 2.378.412.888.6 14.2 2.539.9 559.616.80 107 14. 770. Jumlah besar( I + IV) Giro Deposito 2) Tabungan 3) 6.4 1.9 581.800.3 197.7 1.270.50 1.6 90.348.012.6 740. Dari dana yang dihimpun dalam bentuk deposito sebesar Rp7.396.109.1.90 1.5 21.3 '52.3 1.888.2 421.133.00 109.10 1.30 5.00 64.302.2 13. Departemen Keuangan RI 90 .50 100.1 458.720.10 3.035. oleh bank-bank swasta nasional sebesar Rp106.40 68.7 32.4 831.90 541.10 260.6 3.1 79.60 591.00 74.7 1.30 1.7 44.4 1.20 106.40 4.266.20 4.376.40 4.7 153.9 8 11.3 1) Terdiri atas dana bank-bank umum.2 302.015.6 313.8 224.543.099.2 3.582.737.5 83 113 134.7 666.7 303.590.80 103 1.650.5 218.3 560.60 543.908.756.1 132.6 112.8 382.742.70 1.20 1.210.398.4 816.1 0.236.70 688.7 804.90 653.3 3.10 585 2.106.3 224 255.8 !i31.7 281.927. 7 43.40 570.2 202 252.70 4.063.932.40 4.30 100 1.20 539.9 4. dan Rp 1.526. bank pembangunan dan bank tabungan termasuk dana milik pemerintah pusat dan bukan penduduk.10 4.7 997.381.70 456.00 5.2 44.5 1.466.260.

4 DEPOSITO BERJANGKA RUPIAH DAN VALUTA ASING SELURUH BANK.1 4. Sejak 1 Juni 1983.2 937.6 138 1. 788.5 11.90 418.70 1.3 82.20 612.50 1.7 317 Sept 4.4 522.90 833.6 2.697.6 47.8 153.6 persen).9 492. pramuka.1 28.40 128 574 391 Agust 7.4 persen). Dengan demikian bila pada akhir tahun 1983/1984 jumlah dana perbankan secara keseluruhan baru sebesar Rp 13.668.80 591.842.5 84 581.6 41.33 7. Tabanas dan Taska Tabungan pembangunan nasional (Tabanas).20 1.4 94.6 persen).3 milyar (13. Jenis tabungan ini diikuti oleh para pelajar.40 569.458.262.90 819.9 370.50 372.886.5 1.4 106.9 331 Maret 6.461.723.60 544.081.001.9 343 Mei 6. dan masyarakat pada umumnya.059.6 112 1.7 2.6 88.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.8 milyar (23.80 785.8 572.194.6 1.6 1.1 16.8 2.5 212.1 55.2 81.4 195.7 32.10 1.489. maka raJa akhir September 1984 dana tertersebut terdiri dari deposito berjangka waktu 1 bulan sebesar Rp 1.8 1.7 milyar (1.2 234.613.103.2 399.20 1.540.60 168.8 2.3 342.5 120 1.7 584.90 407.3 1.10 117.90 73.9 74.0 persen). TABANAS DAN TASKA.20 950.7 109.90 605.40 1.6 99 338. pegawai.3.8 53.9 445.5 580.4 1.80 679. berjangka waktu 6 bulan sebesar Rp 1.80 119.781.668.609.3 168 1) Termasuk deposito yang sudahjatuh waktu dan deposit on call 2) Termasuk deposito berjangka waktu 9 dan 18 bulan 1982 Desember Deposito berjangka 24 Bulan 12 bulan 6 bulan 3 bulan 1 bulan 1) Lainnya 2) TABANAS TASKA 2.90 750 1.357.7 357 1984 Juni 6.2 2.1 22.1 32.7 357 April 6.60 967.4.287.30 990.5 141.4 359.80 129.5 844.7 537 191.4 1.1 158 1.7 persen).316.10 960.4 640.6 38.40 612.6 234.40 118. 3) Angka sementara.4 476.00 1.60 897.723.3 43.1.348.459.7 585.4 70 115 980.2 127. 1972 .40 111.8 1.10 998.20 879.924.7 persen).5 1.379.357. Perkembangan deposito berjangka dapat diikuti pada Tabel IV.8 17.9 104.8 199 72 37.2 372 Juli 6.335.099.2 531.5 90.981.8 307 1983 Maret 3.3 152.7 291.7 244.1984 ( dalam milyar rupiah.7 264.8 580.266.787.8 29.3 136.2 306.9 74 760.90 127.5 1.2 81.7 122 2.8 milyar (5.225. dan deposito lainnya sebesar Rp 119.9 253.5 1.1 1. Jika semula saldo Tabanas yang diberikan Departemen Keuangan RI 91 .2 111.9 136.1 milyar.920.045.8 117.839.5 80.3 milyar (23.3 483.618.4 47.7 152.4 471.2 2 191.40 986 1.401. kebijaksanaan mengenai Tabanas telah memberikan kesempatan bagi para penabung untuk menikmati tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari pada sebelumnya. berjangka waktu 12 bulan sebesar Rp 2.732.70 450.70 684 1.80 480.80 1.80 1.1 11.8 694.8 575.9 366 Des 5.2.1 384.3 1. kecuali dalam juta rupiah untuk Taska) 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Deserrtber Deposito berjangka 24 bulan 12 bulan 6 bulan 3 bulan 1 bulan 1) Lainnya 2) TABANAS TASKA 233.1 32.60 685. berjangka waktu 3 bulan sebesar Rp 990.1 122. dan tabungan asuransi berjangka (Taska) adalah saran a penghimpun dana masyarakat yang lebih menonjolkan segi pendidikan kepada masyarakat terutama generasi muda untuk hidup berhemat.031.650.5 413 1) Termasuk deposito yang sudah jatuh waktu dan deposit on call 2) Termasuk deposito berjangka waktu 9 dan 18 bulan.00 131.70 519 1.693.5 303 Juni 4.5 21.5 59.669.8 25.714.0 milyar (32.209.3 460.141.3 421 Sept 3) 7.737.9 19.8 61.8 361. 4.550. berjangka waktu 24 bulan sebesar Rp 407.

yaitu tetap 9 persen setahun. dan cabang bank asing.8 milyar (1. serta mempunyai kewajiban untuk menjamin pelunasan sertifikat deposito yang diterbitkannya sesuai dengan jangka waktunya.000. Sedangkan suku bunga Taska tidak mengalami perubahan. Posisi Taska sebesar Rp 413 juta pada bulan September 1984 menunjukkan adanya peningkatan sebesar Rp 56 juta (15. 4. dan sertifikat deposito cabang bank-bank asing sebesar Rp 34.9 Departemen Keuangan RI 92 .087 ribu penabung.7 persen). jumlah Tabanas telah mencapai sebesar Rp 585. tercatat adanya kenaikan sebesar Rp 9. Selanjutnya perkembangan Tabanas dan Taska dapat diikuti pada Tabel IV. Bila dibandingkan dengan posisinya pada akhir Maret 1984 sebesar Rp575.4 persen).7 persen) hila dibandingkan dengan posisinya pada akhir bulan Maret 1984 sebesar Rp 357 juta. sedangkan pada periode yang sarna tahun lalu kenaikan jumlah penabung adalah sebanyak 387 ribu penabung. dan cabang bank-bank asing mencapai Rp 224.7 milyar.0 milyar. Kenaikan jumlah penabung Tabanas pada periode April-September 1984 mencapai 613 ribu penabung.3. dan selebihnya bersuku bunga 12 persen setahun.5 milyar dengan 12. Sampai dengan akhir September 1984. dan bankbank pembangunan. kenaikan Taska mencapai Rp 63 juta (20. dalam rangka me intis terbentuknya pasar uang di Indonesia. dan selanjutnya dikenal sebagai sertifikat deposito. yang terdiri atas sertifikat deposito bank-bank Pemerintah sebesar Rp 189. maka dalam kebijaksanaan yang bam saldo ini telah ditingkatkan menjadi Rp 1. Pada periode April-September tahun sebelumnya.1 milyar (84. Selain itu bank penerbit dapat memiliki sertifikat deposito yang diterbitkan oleh bank-bank lain dalam jumlah tidak melebihi 7.000.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bunga 15 persen setahun hanyalah sampai dengan jumlah maksimum Rp 200.5 persen dari jumlah pinjarnan yang diberikannya. di samping sebagai wadah penghimpun dana masyarakat. Sertifikat Deposito Sertifikat deposito semula diterbitkan oleh Bank Indonesia dengan nama Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Sampai dengan akhir September 1984. Jangka waktu sertifikat deposito ini ditetapkan sendiri oleh bank-bank penerbit dengan ketentuan tidak kurang dari 15 (lima belas) hari.3. Untuk lebih meningkatkan peranan sertifikat deposito diperluas lagi dengan penerbitan sertifikat deposito atas unjuk dalam rupiah bagi bank-bank umum. posisi sertifikat deposito yang diterbitkan oleh bank-bank Pemerintah.8 persen). sedang selebihnya diberikan bunga 6 persen setahun.000.1. Bank-bank penerbit adalah bank-bank yang secara berturut-turut selama dua tahun terakhir telah memenuhi persyaratan yang ditentukan.4. Kemudian dalam tahun 1971 program SBI tersebut diikuti oleh bank-bank Pemerintah.

8 259.8 224 1) Arigka sementara dalam memupuk pembiayaan pembangunan.5 363.7 369.5 94.4 231 222.1 milyar.8 250.1 21.2 373.9 415.5 SERTIFlKAT DEPOSITO BANK-BANK.3 6.3 0.8 352.9 51. Selama periode April-September 1984.9 39.4 32.3 10.5.7 28 55.4 milyar.5 244.6 4.1 165.5 346.5 8.8 34.6 70 70 14.5 71.6 385. para penabung kemudian memilih jenis tabungan lain yang lebih menarik.2 24.4 62.2 milyar.4 29.8 37 41.2 426.2 212.1 Bank-bank Asing 0. sertifikat deposito bank-bank Pemerintah menunjukkan penurunan sebesar Rp 157.2 133.9 milyar.4 294.9 Akhir waktu 1970/1971 Maret 197111972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 198111982 Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April M ei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember J anuari Pebruari Maret 1984/1985 April Me i Juni Juli Agustus September 1) J umlah 0.7 329. Dengan demikian secara keseluruhan sertifikat deposito selama periode tersebut menurun sebesar Rp 152.2 390.3 229.2 330.9 30 35.4 46.1 204.6 213.6 22.2 53. sejak 22 Oktober 1984 program tersebut Departemen Keuangan RI 93 . Penurunan tersebut pada umumnya karena setelah sertifikat deposito jatuh waktu.1 202.8 26.5 74 70 66.6 102.8 46.9 373. Dibandingkan dengan periode yang sarna tahun lalu.1 172.8 1.3 32.6 persen).9 31.8 28.7 79.3 91.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar (15.8 16.8 82.7 34.7 31.4 26.3 2.1 18.6 396. Tabel IV. Perkembangan sertifikat deposito dapat diikuti pada Tabel IV.5 232.1984/1985 ( dalam milyar rupiah) Bank-bank Pemerintah 1.2 358.4 376.6 29.7 15.2 43.9 26.8 196.9 14. sedangkan sertifikat deposito cabang bank-bank asing meningkat sebesar Rp 4.7 260.1 189.7 42.7 57. sertifikat deposito meningkat sebesar Rp 127.7 56.7 301.4 28.1 9.4 59.2 48.5 13.5 244.5 24.1 7.1 12. 1970/1971 .

serta produksi dalam negeri. Sebagai tindak lanjut dari kebijaksanaan pembebasan pagu kredit perbankan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 4. dan kredit yang bukan prioritas. dan jangka panjang. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan akhir September. fasilitas kredit likuiditas tetap diberikan. Bagi kredit bukan prioritas.705 milyar. yang dapat diperpanjang maksimal 7 hari untuk setiap kali perpanjangan. sehingga jangka waktu seluruhnya tidak melebihi 120 hari. yang dapat diperpanjang maksimal 30 hari untuk setiap kali perpanjangan.430 milyar (17. serta untuk menjaga likuiditas bank-bank dalam melaksanakan pemberian kredit sehari-hari. Jangka waktu maksimal diskonto pertama adalah 15 hari. Jumlah dasar kredit yang disediakan adalah 5 persen dari jumlah dana pihak ketiga. pada akhir tahun 1983/1984 posisinya telah meningkat menjadi Rp 16. Jangka waktu dasar ditetapkan maksimal 60 hari. Fasilitas diskonto kedua disediakan untuk memudahkan bank dalam mengatasi kesulitan pendanaan hila rencana penarikan dana tidak sesuai dengan reo ncana penarikan kredit jangka menengah.3.8 persen). Jika pada akhir tahun 1982/1983 posisi pemberian kredit perbankan adalah sebesar Rp 13.2. yaitu dalam rangka tetap mendorong kegiatan pengusaha golongan ekonomi lemah. Pemberian kredit menurut sektor perbankan Perkembangan pemberian kredit perbankan yang senantiasa menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. bank-bank didorong untuk meningkatkan kemampuannya di dalam melaksanakan pemberian kredit dengan dana yang berasal dari masyarakat. Jumlah tersebut adalah lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatannya dalam periode yang sarna tahun 1983/1984 Departemen Keuangan RI 94 . dengan jangka waktu seluruhnya tidak melebihi 29 hari. yaitu kredit yang berprioritas tinggi. sejak Pebruari 1984 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai fasilitas diskonto. merupakan pencerminan dari semakin besarnya peranserta sektor perbankan dalam pembiayaan pembangunan.908 milyar (11. Jumlah fasilitas kredit adalah maksimal sebesar 3 persen dari jumlah dana pihak ketiga. Melalui kebijaksanaan 1 Juni 1983. sejak Agustus 1982 tidak lagi disediakan fasilitas kredit likuiditas Bank Indonesia. jumlah tersebut meningkat menjadi sebesar Rp 18.2. Dengan berlakunya kebijaksanaan tersebut.3. kredit perbankan dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis. sedangkan untuk kredit yang berprioritas tinggi. 4.7 persen).1. yang berarti dalam periode I April-$eptember 1984 teIjadi peningkatan sebesar Rp 1.043 milyar. Pemberian kredit perbankan Kebijaksanaan perkreditan dalam tahun 1983/1984 dan 1984/1985 adalah sejalan dengan kebijaksanaan moneter pada umumnya yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesempatan berusaha dengan tetap memelihara kestabilan.135 milyar atau mengalami peningkatan sebesar Rp 2.

Sedangkan posisi pemberian kredit bank umum swasta nasional. dan kredit cabang bank-bank asing sebesar Rp 118 milyar (12. Posisi pemberian kredit perbankan sebesar Rp 18.388 milyar pada akhir Maret 1984.538 milyar (69. koperasi. dan prasarana listrik.514 milyar.3.5 persen).2. Kegiatan yang dibiayai dengan kredit di sektor Pemerintah diantaranya adalah usaha di bidang perindustrian.1 persen). yayasan.6 persen).095 milyar (6.490 milyar (24.1 persen).505 milyar (30. perorangan. Hal ini sejalan dengan luasnya bidang usaha yang dapat dijangkau dengan lokasi cabang bank Pemerintah yang terse bar di seluruh Indonesia sampai ketingkat kecamatan. bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 5 milyar. Pemberian kredit menurut sektor Pemerintah dan sektor swasta Kredit perbankan sebagai somber pembiayaan pembangunan dapat diperinci menurut kredit yang diberikan di sektor Pemerintah.908 milyar dalam periode April-September 1984 tersebut disebabkan oleh kenaikan kredit bank-bank umum Pemerintah sebesar Rp 2. dan kredit yang diberikan di sektor swasta.2. serta kegiatan perekonomian lain yang dilaksanakan oleh lembaga-Iembaga negara. dan kredit langsung Bank Indonesia pada saat yang sarna masing-masing mencapai Rp 3.8 persen dari kesduruhan ktedit perbankan.5 persen).1 persen). dan sebesar Rp 906 milyar (5.6 persen). Penyaluran kredit untuk sektor Pemerintah dalam periode April-September 1984 meningkat sebesar Rp 117 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang berjumlah sebesar Rp 900 milyar (6.386 milyar (60. Jika dilihat perkembangannya menurut kelompok bank penyelenggara. dan cabang bank asing sebesar Rp 3 Departemen Keuangan RI 95 .2 persen terhadap posisinya sebesar Rp 5. dan di sektor swasta sebesar Rp 12. kredit bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 686 milyar (26.5 persen). atau 2.269 milyar (18. Rp 1. 4. Kenaikan pemberian kredit perbankan sebesar Rp 1.0 persen).773 milyar atau 70. kredit cabang bank asing. Penyaluran. dan lembaga-Iembaga bukan bank milik swasta. walaupun terjadi penurunan kredit langsung Bank Indonesia sebesar Rp 1.2 persen). Kenaikan terse but berasal dari peningkatan kredit pada bank umum Pemerintah sebesar Rp 1. kredit melalui bank-bank umum Pemerintah. Adapun kegiatan di sektor swasta yang dibiayai kredit perbankan adalah semua kegiatan yang diselenggarakan oleh perusahaan swasta. tercatat bahwa jumlah pemberian kredit yang disalurkan melalui bank-bank umum Pemerintah tetap mengambil bagian yang terbesar. termasuk kredit likuiditas Bank Indonesia sampai dengan akhir Sep1Jember 1984 mencapai Rp 12.043 milyar pada akhir September 1984 digunakan untuk membiayai kegiatan di sektor Pemerintah sebesar Rp 5. pertambangan.

008 104 904 508 312 196 149 140 4 136 9 9 76 2 74 2.696 1.005 682 1.542 199 1. di sektor perdagangan sebesar Rp 6. cabang bank asing sebesar Rp 115 milyar.948 20 2. Jumlah pemberian kredit untuk kegiatan di sektor produksi sampai dengan bulan September 1984 sebesar Rp 8.174 119 1.7 persen).791 milyar (16.018 milyar tersebut digunakan untuk bidang perindustrian sebesar Rp 6.115 1978/1979 Maret 1.798 milyar (21.055 695 428 267 211 199 4 195 12 12 99 1 98 2.6.883 207 1.721 2.405 milyar. Likuiditas sendiri 4).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar. pembiayaan kredit di sektor swasta mengalami peningkatan sebesar Rp 1.187 1. KIK dan KMKP 4.227 milyar (34.6 KREDIT PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR PEMERINTAH DAN SEKTOR SWASTA.524 894 1. terrnasuk kredit investasi. Kredit dalarn rupiah.449 451 998 305 1975/1976 Maret 264 260 4 1. walaupun terdapat penurunan kredit yang disalurkan melalui kredit langsung Bank Indonesia sebesar Rp 1.087 277 810 127 1974/1975 Maret 177 174 3 1. Pemberian kredit perbankan menurut sektor ekonomi Menurut sektor ekonomi. Kredit langsung Bank Indonesia 2). dan untuk kegiatan di sektor lainnya sebesar Rp 3.869 1.293 milyar. 1969/1970 – 1984/1985 (dalam milyar rupiah) 1969/1970 Maret 71 69 2 163 72 7 65 91 50 41 22 21 21 1 1 4 4 260 126 134 24 4 4 11 11 373 138 235 6 1970/1971 Maret 81 78 3 253 138 21 117 115 39 76 28 24 1971/1972 Maret 86 83 3 374 221 46 175 153 57 96 35 28 28 7 7 15 15 510 184 326 24 1972/1973 Maret 126 122 4 470 302 11 291 168 59 109 55 49 2 47 6 6 34 34 685 194 491 85 1973/1974 Maret 136 132 4 815 538 38 500 277 104 173 72 67 3 64 5 5 64 64 1. Kenaikan pemberian kredit di sektor swasta tersebut sebagian besar berasal dari kenaikan kredit bank-bank umum Pemerintah.323 984 1976/1977 Maret 345 342 3 1. pemberian kredit perbankan sebesar Rp 18. dari bank umum swasta nasional sebesar Rp 681 milyar.043 milyar pada akhir September 1984 digunakan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 8.676 813 559 254 382 347 5 342 35 35 207 2 205 5. bidang pertanian sebesar Rp Departemen Keuangan RI 96 .538 milyar pada akhir September 1984.3.111 686 71 615 425 203 222 98 93 3 90 5 5 63 63 1.5 persen).007 1.193 1077/1978 Maret 343 339 4 2. Perkembangan kredit perbankan menurut sektor Pemerintah dan sektor swasta dapat diikuti pada Tabel IV.532 387 Sektor Bank Indonesia 1) Sektor Pernerintah 2) Sektor Swasta Bank-bank Urnurn Pernerintah Likuiditas sendiri Sektor Pernerintah Sektor Swasta Likuiditas Bank Indonesia Sektor Pernerintah Sektor Swasta Bank-bank Urnurn Swasta Nasional Likuiditas sendiri Sektor Pernerintah Sektor Swasta Likuiditas Bank Indonesia Sektor Swasta Cabang Bankotiank asing 3) Sektor Pernerintah Sektor Swasta Jurnlah kredit perbankan 4) Sektor Pernerintah Sektor Swasta Kredit dalarn valuta aging 1).253 2. sehingga posisinya meningkat dari Rp 10.018 milyar (44.4 persen).2.960 953 2. dan dari Bank Indonesia sebesar Rp 19 milyar. Sejak Maret 1979 terrnasuk pinjarnan valuta aging kepada Pertarnina yang dinyatakan dalarn rupiah 3).3.516 1. Tabel IV.1 persen).443 545 411 134 286 274 4 270 12 12 144 144 2. Dalam perkembangannya selama periode April-September 1984.630 1.747 milyar pada akhir bulan Maret menjadi Rp 12. yaitu sebesar Rp 976 milyar.968 1.

Pemberian kredit di sektor perdagangan sebagian besar digunakan untuk pembiayaan pengadaan pangan.005 901 766 338 984 345 206 130 9 1.193 343 166 165 12 2. impor pupuk dan batu bara.735 202 31 2. di samping penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 292 milyar. KIK dan KMKP.227 milyar.565 679 452 382 111 181 90 207 104 71 32 5. dan di bidang pertanian sebesar Rp 42 milyar.515 1. yaitu antara lain lsaha pengumpulan barang-barang dalam negeri.187 1.133 605 387 SEKTOR Bank Indonesia 1) Produksi 2) Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Pemerintah Produksi Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum SwastaNasional Produksi Perdagangan Lain-lain Cabang Bank-bank asing Produksi Perdagangan Lain-lain Jumlah kredit perbankan 3) Produksi Perdagangan Lain-lain Kredit dalam valuta asing 1) Kredit langsung Bank Indonesia 2) Sejak Maret 1979 termasukpinjaman valuta asing kepada Pertamina yang dinyatakan dalam rupiah 3) Termasuk kredit investasi.7 KREDIT PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR EKONOMI.696 1.087 457 397 233 127 177 17 158 2 0. dan perdagangan eceran.193 1.egiatan di sektor perdagangan sampai dengan bulan September 1984 adalah sebesar lp 6.253 3. sampai dengan akhir Maret 1980 adalah posisikredit dalam rupiah 4) Angka sementara Departemen Keuangan RI 97 . Sementara itu posisi pemberian kredit untuk .960 1.11875 468 388 255 98 29 29 40 63 22 15 26 1. ini berarti bahwa selama periode April-September 1984 telah meningkat sebesar Rp 930 milyar.869 979 530 360 211 64 94 53 99 42 39 18 2.3 persen) yang berasal dari kenaikan kredit di bidang perindustrian sebesar Rp579 milyar.165 602 420 286 82 130 74 144 75 47 22 2. distribusi kebutuhan pokok. dan bidang pertambangan sebesar Rp 378 milyar. Sedangkan kredit untuk sektor ekonomi lainnya dalam periode yang iama telah meningkat sebesar Rp 649 milyar.449 536 590 323 305 264 104 149 11 1. Di samping itu tercatat beberapa kegiatan lainnya yang dibiayai oleh kredit di sektor perdagangan.488 944 528 1.516 719 528 269 149 45 62 42 76 33 27 16 2.347 milyar.524 1.291 793 440 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1. 1969/1970 – 1984/1985 (dalam milyar rupiah) 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret 71 163 22 4 260 81 253 28 11 373 6 86 374 35 15 510 24 126 18 105 3 470 223 149 98 55 15 22 18 34 13 14 7 685 269 290 126 85 136 21 112 3 815 390 247 178 72 21 23 28 64 25 15 24 1. Selama periode AprilSeptember 1984 pemberian kredit untuk kegiatan produksi meningkat sebesar Rp 329 milyar (4.968 1. Tabel IV.

295 2.263 1.132 5.303.705 6.854 4. telah mencapai jumlah sebesar Rp 16.026 1.169 526 549 9.405 5. karena daerah di luar pulau Jawa telah menikmati pemberian kredit yang lebih meningkat.283 11.115 Agost.269 870 905 1.753 939 1984/85 Juni Juni 923 304 619 6.135 7.187 2.744 7.735 5.8 persen) termasuk kredit untuk bidang jasa-jasa sebesar Rp 2.095 560 587 323 323 185 185 17.512 5.772 2.280 3. dalam periode ]anuari-September 1984 telah terjadi peningkatan pemberian kredit di seluruh Dati I sebesar Rp 4.064 4.353 3.971 4.293 1.004 1.139 821 428 8. 4) Sept.6 milyar (49.542 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1979/80 Maret 2.4 milyar.068 1.111 4.062 5. Kredit tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan perekonomian yang dapat diperinci sebagai berikut. Untuk membiayai kegiatan di sektor produksi telah dipergunakan kredit sebesar Rp 7.737 6.768.757 2.249 761 812 857 981 1.6 tnilyar (37.744 5.784 466 785 533 661 384 212 65 13.350 1.966 541 849 576 735 416 240 79 14.285 7.678 1.253 4.888 3.121 973 784 178 382 224 436 273 121 42 8.591 1.031 542 312 177 17.626.2 persen). dan bidang perindustrian sebesar Rp 5. Pemberian kredit perbankan menurut Dati I Pemerataan sarana dan hasil pembangunan juga diusahakan melalui pemberian fasilitas kredit perbankan untuk membiayai kegiatan perekonomian di berbagai sektor yang dialokasikan sesuai dengan kebutuhannya di masing-masing daerah tingkat I di Indonesia.1 milyar (20.5 milyar (38.116 2.798 1.0 persen).114 1.7 milyar (18.163 261 580 322 587 344 192 51 10.388 1. Sampai dengan akhir bulan September 1984.827 18. bidang pertanian sebesar Rp 1.703 7.593 1. 811 1.292 720 574 1.542 5.167.808 2.353 1.139 4.359 5.7 persen). yang berasal dari kenaikan pemberian kredit di sektor produksi sebesar Rp 604. KIK dan KMKP.216 1.4.039 547 555 561 292 296 311 142 153 167 16.522 3. pemberian kredit perbankan untuk seluruh Dati I di Indonesia.735 1.240 7. bidang pertambangan sebesar Rp 104.006 1.8 milyar.325 1.136 1. Sept. Secara keseluruhan.292 12.043 3.917 775 780.644 5.216 3.782 12.605 7. tidak termasuk kredit langsung Bank Indonesia.3 milyar.416 1.993 4.299 16. sektor perdagangan sebesar Rp 2.708 2.621 1.009 1.851.110 1.689 5. disusul kemudian oleh Dati I Sumatera Selatan dengan Rp 115.620 2.787 10.146 1) Kredit langsung Bank Indonesia 2) Sejak Maret 1979 termasuk pinjaman valuta asing kepada Pertamina yang dinyatakan dalam rupiah 3) Termasuk kredit investasi. dan sektor lain-lain sebesar Rp 1.496.227 3. 2. terlihat perkembangan yang cukup menggembir_kan.450 6.902 4.051 4.018 6.0 persen).399 1.842 762 510 508 148 232 128 284 159 76 49 5.039 827 1.728 4.8 milyar (96.326 1.071 3.750 1. 784 178 47 3.427 908 937 1.526 1.620 827 Maret April Me i 2.701 2.314 1.524.111.3 milyar. Untuk sektor perdagangan telah disalurkan sebesar Rp 6.3 milyar.r Bank Indonesia 1) Produksi 2) Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Pemerintah Produksi Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Swasta Nasional Produksi Perdagangan Lain-lain Cabang Bank-bank asing Produksi Perdagangan Lain-lain Jumlah kredit perbankan 3) Produksi Perdagangan Lain-lain (Kredit da1am valuta asing) Juni 2.293 1.081 895 521 501 301 -563 580 594 11.582.065 1.915 3.127 S e k t o. sampai dengan akhir Maret 1980 adalah posisikredit dalam rupiah 4) Angka sementara 4.0 milyar Departemen Keuangan RI 98 .164 2.800 6. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 3.4 persen).347.177 3.854 2.9 milyar (9.785 2.8 milyar (68.712 1.135 2.7 persen).651 5.632 1.726 450 780 496 737 412 241 84 13.726 3.132 3.933 1.0 milyar (44.950 462 1982/83 Maret 2. 4) 938 906 274 273 664 633 12.908 6.773 6.328 1.278 16.165 1. Di Dati I Sumatera Utara terdapat peningkatan volume kredit yang cukup besar.835 8.027 837 429 9.970 2.757 1.149 987 1.356 2.362 930 955 477 9.084 1.599 901 1983/84 Des. Bila dilihat pemberian kredit di tiap-tiap Dati I.958 7.625 1.583 645 718 990 1.795 402 117 4.043 7.502 1.356 359 1981/82 Maret 2.801 2.0 persen).717 2.248 734 412 1980/81 Maret 2.297 2.2.318 894 1. yaitu sebesar Rp 165.017 1.127 660 738 861 977 470 543 275 289 116 145 15.107 12.927 3.477 1. Dati I Kalimantan Barat dengan Rp 67.860 5.592 813 227 6.1 persen)..131 6.675 16.

di sektor perdagangan sebesar Rp 72.9 milyar (53.351. Kenaikan kredit yang cukup tinggi di sektor produksi terutama digunakan untuk kegiatan perindustrian.4 persen).6 persen).5 persen).8 milyar (23.2 milyar. Jumlah pertambahan tersebut dipergunakan ulltuk membiayai usaha di sektor produksi sebesar Rp 38.2 persen).8.0 milyar (25.1 milyar.4 milyar (26.1 persen).0 milyar (41. Pertambahan tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 169. ke sektor perdagangan sebesar Rp1. Dati I Jawa Timur telah menggunakan kredit sebesar Rp 1.5 milyar (16.7 persen). Posisi penyaluran kredit di Dati I DKI Jakarta raJa akhir bulan September 1984 menunjukkan jumlah sebesar Rp8. sektor peraagangan sebesar Rp 124. Dalam periode yang sarna.0 persen). kenaikan pemberian kredit sebagian besar berasal dari penggunaan kredit di sektor produksi sebesar Rp 106.6 milyar. dan sektor lain-lain sebesar Rp 60.6 persen).4 milyar (17.3 persen). Dati I Sumatera Barat dengan Rp 51.9 milyar. yang berarti meningkat sebesar Rp 147.7 persen). penggunaan kredit di DKI Jaya telah meningkat sebesar Rp 3. Departemen Keuangan RI 99 .0 milyar (5.2 milyar (50.115.6 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 5.9 milyar raJa akhir bulan Desember 1983. Peningkatan tersebut tersalur ke sektor produksi sebesar Rp 278.7 milyar (24. perkembangan pemberian kredit perbankan menurut Dati I sampai dengan akhir bulan Agustus 1984.932. Dati I Jawa Barat sampai dengan akhir bulan September 1984 telah menggunakan kredit sebesar Rp 1.3 milyar (23. yang berarti meningkat sebesar Rp355.167.7 milyar (27.8 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.297 milyar.9 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 1.2 persen). dan ke sektor lain-lain sebesar Rp 972.183.6 milyar (25.3 milyar (61. perdagangan sebesar Rp 300.4 milyar (8.483.8 milyar (19.2 milyar (9. Jumlah peningkatan terse but dipergunakan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 12.3 milyar (82. atau selama sembilan bulan terse but telah meningkat sebesar Rp 185.5 persen).0 persen). dan di sektor lain-lain sebesar Rp 101. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 42. di sektor perdagangan sebesar Rp 66.839.4 milyar (35.7 persen) dari posisinya sebesar Rp 831.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (32. Seperti halnya raJa Dati I-Dati I terse but di atas.0 persen). dan di sektor lain-lain sebesar Rp 348. Dati I Jawa Tengah telah menggunakan kredit scbesar Rp 978. sampai dengan akhir bulan September 1984 adalah sebesar Rp 4.7 persen).8 persen).3 persen). dan di Dati I Kalimantan Timur meningkat dengan Rp 50.5 milyar (2.5 persen). dapat diikuti pada Tabel IV.0 milyar (22. Dengan demikian sejak akhir bulan Desember 1983 telah meningkat sebesar Rp 755.8 persen). Jumlah pemberian kredit di Dati I lainnya.8 persen). Dengan demikian selama sembilan bulan dalam tahun 1984.2 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.7 milyar (25.

8 16.6 203.4 30.5 8.6 13.4 3.2 43. Pemerintah senantiasa menyempurnakan ketentuan-ketentuan yang menunjang pelaksanaan investasi.690.3 135 61.6 34 35 20.9 287.670. Jawa Tengah 5.9 85 106.60 175.2 15.1 38.7 18.9 589. Bengkulu 27. Jam b i 20.303.7 14.9 271.2 127. Jawa Barat 4.2 183.20 487. Ria u 15.2 498. Sehubungan dengan itu.1 231.3 135.111.5 177.913. 2.30 598. Sulawesi Selatan 8.10 1. Jumlah Sept.351.8 27.5 21.4 125.I.3 6.5 2.8 41.4 54 53.1 4.2 24 15.80 3.6 261.5 7 17.9 13.6 13.5 29.5 34 36. Yogyakarta 17.1" 55.9 18. Sumatera Utara 6.9 245.9 354.8 26.3 246.8 62. dan tidak lebih dari Rp 1 milyar. DKl Jaya 2.536.3 75.5 522. Sumatera Selatan 7.8 51.297.2 797. 718.2 24.5 70. Sept.6 125.3 272. Kalimantan Tengah 23. dan sebanyak mungkin dipergunakan untuk proyek-proyek yang menggunakan hasil produksi dalam negeri. Nusa Tenggara Timur 24.8 112.50 978.9 8.483. 1. KREDIT RUPIAH PERBANKAN MENURUT DATI I DAN SEKTOR EKONOMI TIDAK TERMASUK KREDIT LANGSUNG BANK INDONESIA 1) DESEMBER 1983 .5 126.3 48.2 114.6 10.6 57.8 51 59 53. Kalimantan Selatan 13.7 223.2 38.7 0.3 5.4 18.3 23. Sumatera Barat 11.9 44.2 42.1 53.1 10.60 Lain-lain Des. dapat pula berperan serta memberikan kredit untuk pembiayaan investasi dengan jumlah maksimum masing-masing sebesar 20 persen dan 35 persen dari baki debet pinjaman.8 116.2 175. Sulawesi Utara 19.4 42.112.10 3.7 41.5 585.7 59 58.9 0.5 32.9 73.2 88 47. Sept.2 25 25.2 11.3 117 152.9 40.9 83.5.20 1.7 6.839. Lampung 12. Nusa Tenggara Barat 22.167. Sulawesi Tengah 21.7 351.1 110. Sulawesi Tenggara 26. D.60 1.5 35. Pemberian kredit investasi Kegiatan investasi terus berkembang sejalan dengan kegiatan pembangunan yang semakin meningkat. 2) 8.2 193.3 36.9 20. Ace h 18.SEPTEMBER 1984 (dalam milyar rupiah) D ati I 1.6 211.30 5.8 29.6 48 17.5 7.8 114.7 460.8 22.7 104.90 1.5 124.7 3. dan bank asing yang memenuhi persyaratan.9 48 33. Maluku 14.1 36.40 882.1 35.90 611.00 Perdagangan Des.8 145.6 113.2 2.3 8.9 233.5 69. alltara lain bank-bank Pemerintah dapat memberikan fasilitas kredit investasi ulltuk industri perkayuan yang berintikan kayu lapis.8 6.052.7 25 25. Demikian pula bank-bank swasta nasional.1 23.5 15.9 15.4 83.1 15 10.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.80 1.3 7.6 208.8 141.4 86.7 40.6 1. D.1 14.1 279.00 831. Kalimantan Barat 9.1 2.9 0.1 136.90 1.9 81.5 118.7 21.6 18.2 347.2 111.1 10.1 66.9 24.8 1.167.586.3 114.4 238.9 205.3 14.1 32 30 25.6 13.3 11.9 0.9 116.5 169. Timor Timur Jumlah Produksi Des.80 1) Termasuk Bapindo dan Bank Pembangunan Daerah 2) Angka sementara 4.2 52.582.5 315.4 5. Kalimantan Timur 10.6 4.698. B a l i 16.3.2 15.955. Sept.2 0. Jawa Timur 3.7 58.6 20.9 112.6 963 349.2.70 Des.4 101. SelanjUtnya bank-bank umum Departemen Keuangan RI 100 .8 48.7 8.6 189.191.6 9.2 25.4 8.4 12. 8.4 82.468.3 65.:162 61. IrianJaya 25.5 28.7 2.2 13.I.7 182.9 40 56.5 16.4 9.1 47. Jumlah maksimum pinjaman untuk setiap nasabah bank umllm swasta nasional adalah 10 persen dari modal sendiri.1 85.

4 persen). dan di bidang jasa-jasa. Dilain pihak terdapat penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 19 milyar (2.9 persen) atau rata-rata perbulan sebesar Rp 85 milyar. oleh bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 152 milyar. te12h terjadi peningkatan sebesar Rp 509 milyar (8.674 milyar. perdagangan sebesar Rp 73 milyar (48. dalam periode AprilSeptember 1984 telah terjadi peningkatan sebesar Rp 63 milyar (1.8 persen). dan bank-bank asing diberikan kesempatan melakukan penyertaan modal dalam perusahaan-perusahaan yang potensial. pinjaman investasi perbankan dalam rupiah dan valuta asing yang disetujui telah mencapai jumlah sebesar Rp 6. dan di bidang lain-lain sebesar Rp 49 milyar (9.0 milyar (9. Dengan demikian secara keseluruhan dalam periode April-September 1984.8 persen). dan oleh cabang bank-bank asing sebesar Rp 2 milyar. Sampai dengan akhir bulan September 1984.6 persen). dan di bidang pertanian. Keseluruhan jumlah kredit sebesar Rp 6.6 persen). perdagangan sebesar Rp 223 milyar (3.2 persen).3 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 4. yaitu masingmasing sebesar Rp 132 milyar (17. Dengan demikian. yaitu masing-masing meningkat dcngan Rp 193 milyar (7.5 persen). oleh Bank Indonesia sebesar Rp 1. Dibandingkan dengan posisinya pada bulan Maret 1984. bidang perindustrian sebesar Rp 12 milyar (0.5 persen). pertambangan sebesar Rp 734 milyar (11.0 persen). Ada pun posisi kredit investasi yang telah direalisasikan sampai dengan akhir bulan September 1984 adalah sebesar Rp 4.1 persen).7 persen). Departemen Keuangan RI 101 .besar Rp 99 milyar (12. dan sebesar Rp 92 milyar (18.371 milyar. Jumlah terse but telah disalurkan oleh bank-bank Pemerimah sebesar Rp 4.5 persen).6 persen).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 swasta nasional. di samping penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 292 milyar (46. dan di bidang -lainlain sebesar Rp 82 milyar (19.004 milyar (16. Menyusul kemudian peningkatan di bidang pertanian st.199 milyar tersebut dipergunakan untuk kegiatan di bidang perindustrian sebesar Rp 2. Peningkatan tersebut hemal dari kenaikan kredit di berbagai sektor ekonomi. dan Rp 114 milyar (12. pertanian sebesar Rp 891 milyar (14. terutama di bidang jasa-jasa.5 persen).5 persen).795 milyar. jasa-jasa sebesar Rp 1.199 milyar. dalam periode April-September 1984 telah terjadi peningkatan yang cukup berarti terutama di bidang perindustrian. dan di bidang lain-lain sebesar Rp 581.766 milyar (44. dengan jangka waktu maksimum 8 tahun. Kenaikan dalam periode 1984/1985 tersebut adalah lebih baik dari yang terjadi dalam periode 1983/1984 yang mengalami penurunan sebesar Rp 306 milyar (5.4 persen).2 persen).2 persen). Juga terjadi kenaikan di bidang perdagangan sebesar Rp 61 milyar (57. dan di.6 persen).732 milyar pada akhir bulan Maret 1984.

003 983 117 663 375 5.762 831 2.579 753 158 916 534 4.2.182 99 676 301 1983/1984 Sept Des 5. kredit investasi sampai dengan Rp 75. Program kredit untuk golongan ekonomi lemah Untuk mendorong peranan pengusaha golongan ekonomi lemah dalam meningkatkan produksi dalam negeri.669 564 184 963 536 4.571 355 1.996 644 2. Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP).054 6.073 101 645 326 Maret 5.690 792 2.393 617 2. suku bunga serta jangka waktu pinjamannya. Kredit Umum Pedesaan (Kupedes). pembiayaannya tetap disediakan melalui fasilitas kredit likuiditas Bank Indonesia.694 4.002 84 661 155 3.242 2.643 562 167 925 532 4.314 2.340 366 134 813 466 5.934 121 800 333 4.225 367 139 827 489 Sektor Yang disetujui perbankan Pertanian lndustri Pertambangan Perdagangan Jasa-jasa 2) Lain -lain Realisasi Pertanian lndustri Pertambangan Perdagangan Jasa-jasa 2) Lain . 1) 1969/1970 . melalui pemberian fasilitas kredit perbankan untuk jenis usaha yang berprioritas tinggi.092 121 894 365 4.304 1. Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Kredit Bimas.248 579 121 765 448 Mei 5.190 1.755 815 2.806 39 361 71 1981/82 Maret 4.759 219 1. Kredit Koperasi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.623 67 521 139 1982/83 Maret 5. 4. di samping keringanan suku bunga.480 837 129 1. Departemen Keuangan RI 102 .602 737 160 899 533 4.650 713 2. termasuk kredit untuk sektor perdagangan 3) Angka sementara.752 243 968 1.668 522 2.573 753 150 890 532 4.670 509 2. 9 KREDIT INVESTASI PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR EKONOMI.766 736 734 177 223 975 1.630 583 2. dan Kredit Candak Kulak (KCK).004 569 581 4.141 472 4.722 2.040 138 984 416 4. baik mengenai besarnya volume kredit yang diberikan maupun mengenai bagian pembiayaan pinjaman. adalah posisi kredit investasi dalam rupiah pacta bank-bank Pemerintah.579 438 2.199 875 891 2.311 117 917 1.lain Juni 5.732 495 2.681 852 2.304 340 340 150 167 870 884 506 513 1) Sampai dengan Maret 1980.605 389 1. Beberapa jenis kredit berprioritas tinggi tersebut antara lain adalah Kredit Investasi Kecil (KIK).6.794 878 2.658 539 2.958 1.793 734 2. Sehubungan dengan hat itu.894 1. Pemberian fasilitas kredit melalui Kredit Investasi Kecil (KIK) dan Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP) kepada pengusaha kecil yang dilaksanakan sejak akhir tahun 1973.648 477 2.0 juta. kebijaksanaan moDeler perbankan 1 Juni 1983 tetap memberikan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah.lain Realisasi Pertanian Industri Pertambangan Jasa . te1ah mengalami beberapa penyempurnaan.164 1. Kredit Kecil (KK).316 632 106 752 431 April 5.222 563 123 773 465 Agust 3) Sept 3) 6.1984/1985 ( dalam mityar rupiah ) 1969/1970 Maret 1970/1971 Maret 1971/1972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret Yang disetujui perbankan Pertanian Industri Pertambangan Jasa-jasa 2) Lain . adalah posisi kredit investasi dalam rupiah pada bank-bank Pemerintah 2) Termasuk kredit untuk sektor perdagangan 1979/80 Maret 662 114 212 6 306 24 463 78 158 2 207 18 1980/81 Maret 3. dan kemudahan-kemudahan untuk memperoleh kredit yang diperlukan.176 769 115 716 395 1984/1985 Juni Juli 5.455 416 1.359 1.3.973 49 485 34 3.795 586 587 2.jasa 2) Lain -lain 32 8 11 1 11 1 17 6 5 1 5 - 78 20 35 22 1 49 13 20 15 1 115 11 61 40 3 77 6 45 25 1 147 12 75 1 54 5 107 8 58 39 2 175 18 84 1 62 10 119 10 61 41 7 198 19 100 66 13 143 13 73 47 10 270 36 110 5 104 15 196 29 82 5 70 10 343 48 137 5 137 16 263 41 97 4 111 10 362 69 143 5 127 18 288 57 109 3 107 12 448 86 154 10 185 13 343 71 118 2 143 9 1) Sampai dengan Maret 1980. 2) Sampai dengan Maret 1980.

serta plafon kredit yang dapat disesuaikan dengan kemampuan pelunasan pinjaman oleh nasabah. jumlah KIK mengalami peningkatan sebesar Rp 47 milyar (5.10.4 persell).6 persen) dengan 238 ribu pemohon. sedangkan bagian dana dari bank pelaksana tetap 20 persen. dapat diberikan tambahan plafon sebesar Rp 5 juta. dengan jumlah 1. Selanjutnya sejak September 1980 plafon KMKP te1ah menjadi Rp 10 juta. Departemen Keuangan RI 103 . dan diberikan tambahan plafon sebesar Rp 5 juta. danjangka waktu maksimum 3 tahun.073 milyar (70. dengan jangka waktu 3 tahun (yang setiap saat dapat diperpanjang). Selanjutnya pada bulan Juli 1984 diadakan penyesuaian dalam kebijaksanaan KIK/ KMKP.4 persen) dengan peningkatan nasabah sebesar 97 ribu pemohon (6. sehingga jumlah maksimum kredit menjadi Rp 15 jtita.6 persen).0 persen). sedang sisanya sebesar 25 persen akan dibiayai dengan dana yang berasal dari Bank Dunia.Perkembangan KIK dan KMKP dapat dilihat pada Tabel IV.7 persen) dengan pyningkatan nasabah sebesar 10 ribu pemohon (4. maka dalam perkembangannya hingga bulan September 1980 jumlah maksimum KIK te1ah menjadi Rp 10 juta. bat as tertinggi KIK dinaikkan lagi menjadi Rp 15 juta. Jumlah-jumlah tersebut terdiri dari KIK yang disetujui sebesar Rp 872 milyar (29. suku bunga 10. Dengan demikian posisi KIK dan KMKP dalam 6 bulan pertama tahun anggaran 1984/1985 (April-September 1984) menunjukkan pertambahan sebesar Rp 259 milyar (9. Jumlah kredit likuiditas Bank Indonesia untuk program kredit ini yang semula ditetapkan 80 persen. Dalam periode April-September 1984. di tUrunkan menjadi 55 persen. dengan peningkatan permohonan sebanyak 107 ribu pemohon. daD dengan suku bunga 12 persen setahun. dan plafon kredit yang senantiasa disesuaikan dengan kemampuan pelunasan pinjaman oleh nasabah.945 milyar. Ketentuan jumlah maksimum KMKP pada awal diselenggarakannya program ini adalahsebesar Rp 5 juta rupiah. Jumlah KIK dan KMKP yang disetujui sampai dengan bulan September 1984 tercatat sebesar Rp 2. dan jangka waktu maksimum 5 tahun.. dengan suku bunga tetap sebesar 12 persen setahun. Mulai 1 Juni 1983 jumlah kredit tersebut ditingkatkan menjadi Rp 15 juta tanpa tambahan plafon.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Jika pada awal dilaksanakannya.4 persen) dengan 1. dan suku bunga 12 persen setahun. atau rata-rata setiap bulannya meningkat sebesar Rp 43.5 persen setahun dengan jangka waktu maksimum menjadi 10 tahun. jumlah maksimum KIK adalah sebesar Rp 5 juta setiap nasabah dengan suku bunga 12 persen setahun. jangka waktu KMKP ditetapkan 5 tahun dengan masa tenggang 1 tahun. Jangka waktu KIK adalah 8 tahun dengan masa tenggang 4 tahun.956 ribu pemohon. dan KMKP yang disetujui sebesar Rp 2.2 milyar dengan 18 ribu pemohon. sedangkan KMKP meningkat sebesar Rp 212 milyar (11. Dalam bulan Juli 1984. dengan suku bunga 15 persen setahun. Sejak tanggal 1 Juni 1983.718 ribu pemohon. tanpa adanya tambahan plafon.

1984/1985 (dalam milyar rupiah) Periode 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember J anuari Pebruari Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September 1) 1) Angka sementara KIK 6 19 34 55 79 113 190 366 421 477 528 571 608 648 685 723 732 741 749 756 766 778 783 790 799 805 819 825 835 847 882 857 860 872 KMKP 4 18 41 75 124 188 349 656 799 958 .178 1.627 1. Di samping Kredit Kecil.605 .888 1.725 1.697 1.961 1.814 1.073 Pemberian Kredit Kecil (KK) yang diselenggarakan sejak tahun 1974.542 1.798 1. Selanjutnya sejak Januari 1984 telah Departemen Keuangan RI 104 .062 1.378 1.679 1.022 2.998 2.454 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.830 1. senantiasa ditingkatkan dari waktu kewaktu sesuai dengan perkembangan. 10 VESTASI KECIL DAN KREDIT MODAL KERJA P YANG DISETUJUI 1973/1974 . sejak tahun 1978 telah pula diselenggarakan program kredit Midi untuk pengusaha yang memerlukan kredit dalam jumlah maksimum sampai dengan Rp 500 ribu.861 1.300 1.938 1. dan sebagian lagi dari bank pelaksana. Berbeda dengan Kredit Kecil yang sumber dananya berasal dari APBN. Kredit Midi dananya sebagian berasal dari kredit likuiditas Bank Indonesia.657 1. 1. 1. 761 1.578 1.

dan jangka waktu maksimum 3 tahun. jumlah pertanggungan yang diberikan terhadap.000.2 milyar untuk 176 ribu nasabah. baik usaha-usaha yang sebelumnya pernah dibantu dengan fasilitas Kredit Kecil/Kredit Midi.5 persen ) terhadap posisinya pada akhir bulan Maret 1984 sebesar Rp 36. Jumlah pinjaman yang diberikan kepada nasabah Kupedes adalah minimum sebesar Rp 25. Fasilitas kredit ini dimaksudkan untuk mengembangkan.dan maksimum sebesar Rp 1. jumlah pertanggungan yang diberikan kepada KIK.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 diselenggarakan program kredit baru yang merupakan pengganti dari program Kredit Kecil.6 milyar.4 milyar atau suatu penurunan sebesar Rp 22. suku bunga_ya akan dinaikkan masing-masing menjadi 18 persen setahun untuk kredit investasi.6 milyar. dana perbankan yang berhasil dihimpun dari masyarakat. dan Kredit Midi. dan jangka waktu maksimum 2 tahun. dan kredit eksploitasi biasa adalah sebesar Rp 344. PT Askrindo dalam kegiatannya telah menyediakan jasa pertanggungan atas kredit perbankan yang diberikan.5 milyar..3 milyar untuk 251 Departemen Keuangan RI 105 .2 milyar untuk 13 ribu nasabah. Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pemberian kredit kepada pengusaha kecil. dan untuk usaha eksploitasi sebesar Rp 20. posisi Kupedes yang diselenggarakan sejak Januari 1984 telah mencapai Rp 88.1 milyar ( 60.8 milyar setiap bulan. Perkembangan Kredit Kecil dan Kupedes dapat dilihat pada Tabel IV. Bagi nasabah yang menunggak pengembalian pinjamannya.5 milyar.11. terhadap Kredit Modal Kerja Perman en (KMKP) sebesar Rp236. Dalam tahun 1984 sampai dengan bulan September 1984. Dengan dikeluarkannya fasilitas Kupedes ini. Dalam hal Kupedes dipergunakan untuk modal kerja dikenakan suku bunga 18 persen setahun. Kredit tersebut dapat digunakan untuk investasi dengan bunga 12 persen setahun. dan terhadap kredit eksploitasi biasa sebesar Rp 36. yang disebabkan karena selain makin banyak para nasabah mengembalikan kredit dalam periode tersebut. KMKP. Fasilitas kredit untuk pengusaha kecil ini dikenal dengan Kredit Umum Pedesaan (Kupedes).9 milyar untuk 62 ribu nasabah.000. Secara keseluruhan. fasilitas Kredit Mini dan Kredit Midi masih diteruskan sampai dengan jatuh tempo kredit masing-masing. Sampal dengan akhir September 1984. Sampai dengan akhir September 1984. Kredit ini dananya berasal dari kredit likuiditas Bank Indonesia.000. juga disebabkan beralihnya nasabah Kredit Kecil ke Kredit Umum Pedesaan. atau rata-rata Rp 9. posisi Kredit Kecil tercatat sebesar Rp 14. dan 24 persen setahun untuk kredit modal kerja. Kredit Investasi Kecil (KIK) adalah sebesar Rp 71. dan dana APBN yang telah disalurkan dalam rangka penyelenggaraan program Kredit Keci!. sedangkan permintaan kredit baru dialihkan ke Kupedes.-. Penurunan tersebut terdiri dari penurunan kredit untuk usaha investasi sebesar Rp 1. maupun usaha calon nasabah baru. dan meningkatkan usaha-usaha kecil di pedesaan.

industri sebesar Rp 23.9 juta. Sampai dengan akhir bulan September 1984. sedangkan pada akhir bulan Maret 1984 jumlahnya baru mencapai Rp 150 milyar dengan jumlah 12. perdagangan sebesar Rp 1.964 BUUD/KUD yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. sebesar Rp 11. dengan peningkatan sebanyak 632 nasabah.4 milyar untUk 389 nasabah. Pemberian pertanggungan secara individual terdiri dari nilai pertanggungan di sektor pertanian sebesar Rp 10. Di samping program-program kredit diatas. Hal ini berarti bahwa dalam periode AprilSeptember 1984 perputaran KCK mengalami peningkatan sebesar Rp 12 milyar (8.0 milyar untuk 5 ribu nasabah.588 peminjam.612.-.2 juta untuk satU BUUD/KUD.0 persen). penyertaan modal sebesar Rp 662. PT Bahana telah melakukan penanaman dana sebesar Rp 4. Menurut sektor ekonomi. maupun dalam bentuk penanaman lainnya.6 milyar merupakan pertanggungan kredit yang diberikan secara individual kepada 127 ribu nasabah. Sampai .-.285.682 nasabah.2 milyar untuk 5 ribu nasabah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ribu nasabah. Departemen Keuangan RI 106 . dan sektor jasa-jasa sebesar Rp 1.5 milyar untuk 122 ribu nasabah. termasuk kredit sebesar Rp 0. dan bunga yang rendah melalui 4. yang sejak bulan Juli 1982 ditingkatkan menjadi Rp 30. perdagangan sebesar Rp 231. dan Rp 332.1 milyar untuk 9 ribu nasabah. Guna mendorong kegiatan para pengusaha kecil.0 juta yang terdiri dari kredit penjembatan sebesar Rp 3. maka untuk meningkatkan pendapatan serta menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat pedesaan dan kota-kota kecamatan. Bantuan tersebut terutama dipergunakan untuk usaha di sektor perdagangan dan industri.0 juta. jumlah pinjaman yang dapat diberikan kepada seorang peminjam maksimum adalah Rp 15. perputaran KCK telah mencapai sebesar Rp 162 milyar yang meliputi 13. PT Bahana sejak tahun 1974 telah pula memberikan bantUan dalam bentuk penyertaan modal.956 peminjam.000.dengan bulan September 1984. Pada waktu dimulainya program kredit tersebut.8 milyar untuk 1. Di dalam keseluruhan kredit yang dijamin PT Askrindo.000. pemberian kredit penjembatan.7 milyar merupakan jumlah pertanggungan yang diberikan secara masal kepada 124 ribu nasabah.1 juta kepada 39 buah perusahaan dan penanaman dana lainnya sebesar Rp 10. Secara terperinci pemberian pertanggungan secara masal meliputi sektor pertanian sebesar Rp 8. dari keseluruhan jumlah pertanggungan tersebut di atas. sejak tahun 1976 Pemerintah menyelenggarakan program Kredit Candak Kulak untuk para bakul/pedagang kecil di pedesaan. Kredit ini disalurkan oleh Bank Rakyat Indonesia dengan syarat lunak. dan di sektor ekonomi lainnya sebesar Rp 18.9 milyar untuk 40 ribu nasabah.4 milyar untuk 68 ribu nasabah. jasa-jasa sebesar Rp49.

yang digunakan untuk membangun 215.806 766.925 62.754 20.509 749.613 unit rumah yang terdiri dari 92.829 272.281 57.280 82.204 57.065 59.414 56.741 566.332 58.290 750.137 5.104 57.474 353.406 224.340 603.230 75.519 296.902 58.879 54.601 756. 1974/1975 1984/1985 Kredit Kecil Kredit Umum Pedesaan Jumlah pinjaman Jumlah pinjaman peminjam rupiah ) peminjam rupiah) 61.579 71.991 19.417 unit dibangun oleh rerum Perumnas. 13.294 393.855 716.404 491. posisi pemberian KPR mencapai jumlah sebesar Rp 721 milyar.599 14.708 710.659 758.740 760.172 30.040 756.553 498.220 .208 757.673 63.824 131. Pemerintah sejak tahun 1976 menyediakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang disalurkan melalui Bank Tabungan Negara.920 313.662 45.518 31.467 161.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.932 62.783 359.266 618. Bila dibandingkan dengan posisinya pada bulan Maret 1984 sebesar Rp 620 milyar. dan 123.934 695.972 2.503 741.670 16.981 398.398 41. selama Departemen Keuangan RI 107 .192 11.088 59.822 744.44.162 50.911 4-9.597 702.880 12.159 723. Sampai dengan akhir bulan September 1984.641 62.603 207.256 59. 11 KREDIT KECIL DAN KREDIT UMUM PEDESAAN.624 Guna membantu mengatasi kebutuhan akan perumahan.810 342.974 450.058 15.306 36.773 252.130 445.196 unit dibangun oleh non Perumnas.438 687.411 22.592 63.029 8.533 57.250 234.246 407.416 Periode 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Januari Pebruari Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September l) 1) Angka sementara.229 665.689 26.277 2.968 60.708 88.322 47.

5 persen per rabun. Lembaga-Iembaga keuangan perbankan akan dikembangkan dan diperluas agar pelayanannya dapat menjangkau ke seluruh daerah kabupaten. guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan jasa perbankan terutama di daerah-daerah. dan jangka waktu satu tahun. Dalam tahun 1983/84 bantuan tersebut diberikan kepada 2 BPD. Usaha memperkuat permodalan BPD serta pembinaannya dalam bentuk pemberian bantuan teknis dan pendidikan tetap dilanjutkan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 periode April-September 1984 pemberian KPR telah mengalami peningkatan sebesar Rp 101 milyar (16. dan 15. sebanyak 3. bank perkreditan rakyat (BPR). Jumlah kredit yang diperoleh daTi BRI adalah antara 1.3 persen) untuk membangun 19. kecamatan.778 unit rumah. sedangkan kredit untuk pembangunan rumah non Perumnas dananya berasal dari dana perbankan. Dari jumlah tersebut.882 unit dengan nilai sebesar Rp 8 milyar dibangun oleh rerum Perumnas. 4. dan berhasil guna dalam menunjang pembangunan nasional. serta menyempurnakan organisasiorganisasi lembaga keuangan.4. dan bank pembangunan koperasi.1.5 sampai 3 kali modal sendiri. Kredit untuk pembangunan rumah oleh rerum Perumnas dananya berasal dari APBN. dan kantor cabang pembantu BPD. Untuk tetap meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam membiayai pembangunan. Lembaga-lembaga keuangan 4. Lembaga keuangan perbankan Kebijaksanaan Pemerintah untuk mengembangkan dan membina sektor perbankan dalam tahun 1984/1985 merupakan kelanjutan dari kebijaksanaan dalam tahun anggaran sebelumnya yang diarahkan untuk menumbuhkan sistem perbankan yang sehat.4. Hal itu dimaksudkan agar lembaga-lembaga keuangan lebih efektif menjalankan fungsinya sebagai perantara keuangan dalam bentuk mobilisasi daD penyaluran dana-dana masyarakat. Di samping itu. dan pedesaan. sehingga sampai saar ini telah dicakup 27 buah BPD yang tersebar merata di setiap ibukota propinsi. Pemerintah telah memperlunak persyaratan pendirian kantor cabang.896 unit dengan nilai Rp 93 milyar dibangun oleh non Perumnas. Usaha untuk meningkatkan bank perkreditan rakyat di dalam rangka membantu pengusaha golongan ekonomi lemah yang berada di pedesaan terus dilakukan dengan pemberian fasilitas kredit likuiditas yang disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pembinaan yang telah dilakukan selama ini terutama diarahkan kepada usaha untuk lebih mengembangkan bank pembangunan daerah (BPD). dalam Repelita IV sasaran kebijaksanaan moDeter diarahkan untuk meningkatkan efisiensi kerja. Departemen Keuangan RI 108 . dengan suku bunga 13.

yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia terus ditingkatkan. dilaksanakan melalui pemberian kemudahan untuk membuka kantor cabang.2. Sedangkan tugas LKBB jenis pembiayaan lainnya adalah memberikan pinjaman kepada masyarakat golongan berpenghasilan menengah untuk memiliki rumah. Berdasarkan Keppres nomor 29 tahun 1984 sebagai pengganti Keppres no.4. dan kantor cabang pembantu. 14A tahun 1980. Lembaga-Iembaga keuangan bukan bank Lembaga-Iembaga keuangan bukan bank (LKBB) mempunyai peranan penting dalam menunjang pengerahan dana dari masyarakat untuk kemudian menyalurkan dana tersebut bagi kegiatan yang produktip. dan pengusaha ekonomi lemah. jenis investasi. Untuk lebih meningkatkan peranan LKBB di dalam pengembangan posar uang dan modal. sebanyak 2 bank telah melakukan penggabungan usahanya. Tugas LKBB jenis pembiayaan pembangunan terutama adalah memberikan. sehingga jumlahnya menjadi 80 kantor pacta akhir Juli 1984. sedangkan himbauan untUk melakukan penggabungan usaha (merger) terus dilanjutkan. bank-bank dan lembaga-Iembaga keuangan bukan bank masih tetap dapat menerbitkan surat jaminan bank dalam rangka memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat. LKBB jenis investasi terutama melakukan usaha sebagai perantara dalam menerbitkan surat-surat berharga. dan melakukan penyertaan modal dalam perusahaan-perusahaan. Usaha menciptakan pertumbuhan yang lebih seimbang diantara bank-bank umum swasta nasional (BUSN). kredit jangka menengah atau jangka panjang. Ada 3 macam jenis LKBB. jumlah tempat penyelenggara kliring lokal tersebut telah bertambah dengan 3 tempat sehingga menjadi 24 tempat. tugas pembinaan dan pengawasan LKBB yang semula dilaksanakan oleh Bank Indonesia.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Demikian pula sejak Pebruari 1983 tata kerja bank-bank umum yang berbadan hukum koperasi. sejak tahun 1982 dilakukan oleh Departemen Keuangan. sehingga BUSN yang telah mengadakan merger sampai dengan AgustUs 1984 berjumlah 94 bank. perluasan kliring lokal di wilayah. dan jenis lainnya. Di samping itu Departemen Keuangan RI 109 . dan semester I 1984/1985. 4. dan menjamin serta menanggung terjualnya surat-surat berharga (underwriter). serta agar peranannya selaras dengan kebijaksanaan ekonomi keuangan. Dalam tahun 1983/1984. disesuaikan dengan tempat dimana bank didirikan terutama mengenai besarnya modal koperasi. yaitu jenis yang bergerak di bidang pembiayaan pembangunan. Dalam rangka memperluas dan memperlancar lalu lint as uang giral. Jumlah kantor cabang pembantu sebagai peserta tidak langsung dari kliring lokal telah bertambah dengan 24 kantor. Dalam tahtm terakhir ini.

Bank Indonesia telah memberikan fasilitas diskonto ulang. Untuk tahap pertama. Dengan adanya pembelian kembali suqtt-surat berharga yang lebih besar sejumlah Rp 41 milyar. Leasing adalah kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala. sehingga posisinya menjadi sebesar Rp 1. maka mulai ditempuh pula cara pernbiayaan alternatip melalui leasing. dan jumlah surat berharga yang dibeli kembali oleh LKBB adalah sebesar Rp 197 milyar. hak pilih (optie) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan.2 persen. dan dibeli kembali sebesar Rp 51 milyar. disertai dengan. sehingga posisinya menjadi Rp 1.162 milyar. Dengan berkembangnya perekonomian Indonesia. Adapun penanaman dana dari LKBB secara keseluruhan selama periode AprilSeptember 1984 mengalami kenaikan sebesar Rp 65. yang secara formal mulai diperkenalkan oleh Pemerintah sejak tahun 1974.4 persen) dan jenis pembangunan sebesar Rp 238 milyar (20.155 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pendirian LKBB tetap hanya diberikan untuk kantor perwakilannya saja. Posisi fasilitas diskonto ulang pada akhir Maret 1983 tercatat sebesar Rp 43 milyar. jumlah obligasi yang dapat didiskonto ulangkan kepada Bank Indonesia ditetapkan sebesar 70 persen dari nilai nominalnya. Di lain pihak jumlah dana yang berhasil dihimpun oleh LKBB jenis investasi sampai dengan September 1984 berjumlah sebesar Rp 919 milyar atau 4. dalam periode April-September 1984 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 5. Penanaman dana dari LKBB sebesar Rp 1. Dalam tahun 1983/1984. Kedua jenis penanaman dana tersebut. Dengan demikian posisi fasilitas diskonto ulang pada akhir Juli 1984 naik menjadi Rp 8 milyar.2 persen. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 (sampai dengan Juli 1984).milyar (6.0 persen). berarti posisi fasilitas diskonto ulang menurun menjadi Rp 2 milyar pada akhir Maret 1984. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 9. surat-surat berharga yang didiskontokan kepada Bank Indonesia berjumlah sebesar Rp 156 milyar. Sementara itU jumlah dananya pada periode yang sarna telah meningkat sebesar Rp 58 milyar atau 5.6 persen).2 persen. Surat berharga yang dapat didiskonto ulangkan kepada Bank Indonesia telah diperluas dengan obligasi.155 milyar pada akhir September 1984 terse but terdiri dari penanaman dana LKBB jebis investasi sebesar Rp 917 milyar (79. telah dijual surat-surat berharga kepada Bank Indonesia sebesar Rp 57 milyar. Demikian pula untuk lebih meningkatkan peranan LKBB dalam perdagangan surat-surat berharga. Sedangkan jumlah dana LKBB jenis pembangunan berjumlah sebesar Rp 243 milyar.2 persen lebih tinggi dari posisinya sebesar Rp 882 milyar pada akhir Maret 1984.5 persen dalam periode yang sarna. dan 9. atau Departemen Keuangan RI 110 .

Kegiatan usaha leasing antara lain dapat dilihat dari besarnya nilai kontrak leasingnya. dan Rp 158. jumlah dana investasi dari sektor asuransi telah mencapai jumlah sebesar Rp 900. Kegiatan ini di Indonesia dapat digolongkan ke dalam 3 golongan. jumlah perusahaan asuransi kerugian. 14 perusahaan milik swasta nasional. pengangkutan.4 persen). dan asuransi sosial. antara lain menanggung resiko. dan reasuransi sebesar Rp 159.9 milyar. dan reasuransi kerugian adalah sebanyak 68 buah. 3 buah diantaranya merupakan perusahaan milik negara. Asuransi jiwa bertalian dengan pemberian jaminan terhadap resiko yang timbul terhadap kematian.2 milyar. dan 12 buah milik patungan. jumlah perusahaan leasing telah mencapai 41 perusahaan yang terdiri dari 1 perusahaan milik negara.2 milyar (5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersarna. pensiunan. peningkatan ini disebabkan adanya peningkatan dana-dana investasi dari sektor-sektor asuransi kerugian dan reasuransi. yaitu asuransi kerugian dan reasuransi. berarti telah terjadi kenaikan sebesar Rp 225. kematian. Industri asuransi mempunyai beberapa fungsi. Dibandingkan dengan nilai kontrak leasing dalam periode yang sarna tahun lalu sebesar Rp 47. Sampai saat ini jumlah perusahaan asuransi Departemen Keuangan RI 111 . maka dalam tahun 1984 terdapat peningkatan kegiatan leasing yang cukup besar. Kegiatan asuransi meliputi pemberian pertanggungan terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat kebakaran. kesehatan tenaga kerja.5 persen). maupun sebagai penyerap tenaga kerja. masingmasing sebesar Rp8. 4.1 milyar sedangkan jumlah tagihan bersih yang harus dibayar dalam periode yang sarna hanya berjumlah sebesar Rp 21.5 milyar (38. Bila hal ini dibandingkan dengan dana investasi dari sektor asuransi dalam tahun 1982. yang berasal dari dana-dana investasi asuransi kerugian.8 milyar (52. sebagai alar pernupukan modal. serta asuransi sosial.1 milyar.5 milyar (33.5 milyar. Sampai dengan tahun 1983. yang pada gilirannya akan membawa kernajuan kegiatan di bidang perasuransian. Perasuransian Perkembangan perekonomian dalam lahar pernbangunan yang semakin meningkat akan memperluas bidang-bidang usaha perasuransian. Sejak diselenggarakannya sampai dengan akhir semester I 1984. dan bea siswa. dan 26 perusahaan leasing patungan.4 persen\ Rp 58.4 milyar.9 persen). asuransi jiwa. yang selama April-Juni 1984 mencapai sebesar Rp 108. 53 buah milik swasta nasional.9 milyar.3. sebagai salah satu sumber pendapatan Pemerintah. dan asuransi sosial sebesar Rp 570. asuransijiwa sebesar Rp 169. Jumlah premi bersih yang diterima selama semester f1984/1985 adalah sebesar Rp 52. asuransi jiwa. dan masa pensiun.2 milyar.4. Berdasarkan perkembangan sampai dengan semester I 1984/1985.

9 milyar dalam tahun 1982. atau rata-rata setiap tahun sebesar 4. sehingga posisinya dalam tahun 1983 menjadi Rp 1. adalah sebanyak 15 perusahaan. menjadi Rp 570. Jumlah premi dalam periode yang sarna mengalami kenaikan dengan 59. pinjaman polis.1 persen). atau rata-rata Rp 28.9 milyar.4 milyar diantaranya diinvestasikan dalam deposito.9 persen. sedangkan pengusaha asing dapat melakukan usaha patungan dengan perusahaan asuransi jiwa nasional yang ada. sampai dengan tahun 1983 mencapai sebesar Rp 169. Kalau dibandingkan dengan jumlah dana investasi dalam tahun 1978.633. Selama periode 5 tahun. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 4. Dengan demikian selama 5 tahun terse but terjadi kenaikan sebesar 24.4 milyar (39. dan Rp 38. Perkembangan perusahaan asuransi so sial menunjukkan gambaran adanya pembinaan serta penyempurnaan yang dilakukan terhadap perusahaan tersebut.1 persen pertahun.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jiwa yang ada di Indonesia. termasuk Koperasi Asuransi Indonesia (KAI).1 persen).259.7 persen).7 persen setiap tahunnya.3 persen). Jumlah nilai pertanggungannya dalam periode yang sarna juga menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 58.7 milyar setiap tahunnya.8 milyar (195.8 milyar (52. Dalam periode yang sarna.5 persen).9 persen) setiap tahunnya.969 milyar.0 milyar (36. atau rata-rata setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar Rp 348.741. jumlah uang pertanggungan asuransi jiwa telah meningkat sebesar Rp 1.308 ribu orang.760 buah.0 milyar diinvestasikan dalam pinjaman polis. sedangkan dalam tahun 1983 saja tercatat peningkatan sebesar Rp 158. Jika dalam tahun 1978 pesertanya adalah sebanyak 2. dan jenis-jenis investasi lainnya. yakni dari posisinya sebesar Rp 411. sehingga jumlah premi untuk tahun 1983 berjumlah Rp 114.9 persen). Sedangkan dalam tahun 1983 tercatat peningkatan sebesar Rp 58.821 ribu orang. Pemerintah telah memberikan kesempatan kepada pengusaha nasional untuk mendirikan perusahaan asuransi jiwa baru. investasi perusahaan asuransi jiwa telah meningkat sebesar Rp 140.8 milyar dalam tahun 1983. sehingga jumlahnya menjadi sebesar Rp 2. Dari jumlah tersebut Rp 80. Perkembangan dana investasi dari Departemen Keuangan RI 112 . dana investasi meningkat sebesar Rp 95.5 milyar (38.8 persen setiap tahunnya.817.3 milyar.9 milyar (484. Sementara itu jumlah dana investasi asuransi jiwa yang ditanam dalam bentuk deposito. Jumlah peserta asuransi sosial sejak tahun 1978 sampai dengan 1983 naik rata-rata 21. sedangkan pada tahun 1978 baru mencapai 1.4 persen.4 milyar pada tahun 1983. Perkembangan usaha asuransi jiwa pada saat ini terlihat pada jumlah polis yang dalam tahun 1983 berjumlah 2. Dalam tahun 1983 saja jumlah pertanggungan meningkat sebesar Rp699. Perkefnbangan dana investasi yang dilakukan perusahaan asuransi sosial juga meningkat.2 milyar (96.906 buah.

939 177. Pembelian obligasi tidak dapat dipergunakan baik secara langsung maupun tidak langsung sebagai dasar pengenaan pajak mengenai masa sebelum pembelian. dan perorangan harus mempunyai modal disetor atau modal sendiri sekurang-kurangnya Rp 100 juta.391 Periode 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1) 1) Angka sementara Jumlah 2.889 12.264 18.344 5.926 7.198 4. dan obligasi yang diterbitkan perusahaan atau badan usaha.560 2.064 40. Pasar Modal Dalam rangka meningkatkan peranserta masyarakat dalam pemilikan saham.531 296. Selanjutnya Departemen Keuangan RI 113 .192 15.903 570.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sektor asuransi dapat diikuti dalam Tabel IV.267 92.405 411.946 Asuransi sosial 1.609 59. DANA INVESTASI DARI SEKTOR ASURANSI.693 4.288 151.527 7.475 8.1983 ( dalam juta rupiah) kerugian reasuransi 1.182 169.743 11.198 60.253 674. dan badan usaha yang membeli obligasi yang telah memperoleh ijin dari Menteri Keuangan tidak dilakukan pengusutan fiskal.709 110.861 Asuransi jiwa 30 222 404 961 2.4.812 23. Pemerintah senantiasa berusaha untuk menyempurnakan tala cara perdagangan efek di bursa. Tabel IV. Pajak alas bunga.542 47. Di samping itu guna meningkatkan kegiatan perdagangan efek.531 314.983 77.188 21.872 8.714 900.4.882 160.629 159.911 10. 1969 .631 3.182 485.530 39.073 4. sejak Juni 1983 bank dan LKBB yang ingin menjadi pedagang efek diwajibkan menyisihkan modal usaha sekurang-kurangnya Rp 250 juta. Sejak Januari 1983 telah diadakan penyempurnaan ketentuan mengenai pemberian keringanan perpajakan bagi perorangan.827 18.560 111.12.247 32.756 4.085 29.405 83.549 222. Sedangkan bagi badan hukum lainnya yang berbentuk PT.004 126.481 54.163 3.398 72.246 105.051 2.322 25.103 2.333 36. sehingga tarip pengenaan efektip adalah 10 persen yang bersifat pungutan final. dividen dan royalty yang terhutang alas pembayaran bunga dan hadiah obligasi diberikan keringanan berupa tidak ditagihnya sebesar 50 persen. Sejak bulan Juli 1983 telah dipercepat tala cara penyelesaian transaksi efek di bursa dari 14 hari menjadi 4 hari.

dan efektif. dan badan usaha itu telah menyerap dana masyarakat melalui pasar modal sebesar Rp 285. Berbagai kegiatan promosi dan penelitian telah ditingkatkan untuk menjadikan pasar modal sebagai sarana pembiayaan yang potensial. dan sertifikat dana yang diperdagangkan di luar bursa.8 milyar. serta obligasi yang dikeluarkan oleh badan usaha milik negara. dan 3 buah badan usaha menerbitkan obligasi sebanyak 263. Dengan demikian. yang seluruhnya berjumlah 7. Penerbitan berbagai jenis sertifikat saham PT Danareksa berkaitan erat dengan tujuan menyebarluaskan pemilikan sertifikat kepada masyarakat. dan menengah.14. dan PT Papan Sejahtera (di bidang perumahan).3 milyar.2 juta lembar saham dengan nilai emisi . Di samping itu Pemerintah telah membebaskan pajak penghasilan alas dana pensiun yang ditanam dalam bentuk saham. Berdasarkan harga penawaran perdana.26 buah. kedua puluh enam perusahaan.420 ribu sertifikat dengan nilai Rp 72. Rp 130. sejak diaktipkannya kembali bursa efek di Indonesia pada bulan AgustUs 1977. Adapun perusahaan/badan usaha yang menerbitkan obligasi sampai dengan Agustus 1984 adalah PT Jasa Marga (di bidang jalan tol). terutama yang berpenghasilan rendah.230 lembar dengan nilai Rp 154. Sampai dengan Agustus 1984. Dengan mulai diterbitkannya obligasi. Jumlah sertifikat saham dan sertifikat dana yang berada di masyarakat sampai dengan akhir tahun 1983/1984 adalah sebanyak 6. telah disetujui permohonan 8 perusahaan untuk memasarkan sahamnya.7 milyar.13 dan Tabel IV. Departemen Keuangan RI 114 . 23 buah diantaranya menerbitkan saham sejumlah 57.5 milyar. PT Danareksa telah menerbitkan dua jenis sertifikat yaitu sertifikat saham dan sertifikat dana. Dalam tahun 1983/1984 dan semester I 1984/1985. jumlah perusahaan yang telah terdaftar adalah sebanyak . dan 1 perusahaan untuk memasarkail obligasi melalui posar modal. berarti pasar modal di Indonesia mulai memasuki tahap lanjut dalam perluasan transaksi modalnya.5 milyar. Perkembangan perusahaan-perusahaan/badan-badan usaha yang telah memasyarakatkan saham dan obligasi melalui posar modal dapat diikuti dalam Tabel IV. maka sampai dengan Agustus 1984. Bank Pembangunan Indonesia (di bidang perbankan).115 ribu lembar dengan nilai sebesar Rp 60.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tidak dilakukan lagi penagihan pajak penjualan dan pajak perseroan yang terhutang dari hasil penerimaan bunga dan hadiah obligasi.

005. PT Sari Husada 18.800.200.00 5.000 1.079.020.150 1.696. PT Richardson Vicks Indonesia 6.605.660.280.608 50.084.500 972.562.550 1.080.208 48.250 1.175 1.000 584.208 48. PT Goodyear Indonesia 7.000 16.Emisi I .10 113.642.749.90 638 2.425 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV. 342.116 557.708 48.90 1.30 9.108 31.2 855 .192. PT Regnis Indonesia 20.708 44.10 7.708 40.Emisi II 3.975.Emisi II 15.412.275 1.10 36.362.237.208 43. PT Panin Bank Indonesia . PT Sucaco 13.000 1.618.096 20.000 1.976 6.000 360.116 214.637.000 347.00 1.20 7.000.421.10 118.708 45.570 3.608 36.00 879. 13 PERUSAHAAN-PERUSAHAAN/BADAN USAHA YANG TELAH MEMASYARAKATKAN SAHAM MELALUI PASAR MODAL SAMPAI DENGAN AGUSTUS 1984 Jumlah Harga Nilai pasar Perusahaan emisi Kumulatif penawaran Perdana Kumulatif (lembar) (lembar) (Rp/lembar) (Juta Rp) (Juta Rp) 1.147.690.100.834.108 29.00 1.467.850. PT BAT Indonesia 4.184 10.750 5.952.800.90 89.60 109.162.957.100 1.40 29.00 84.108 31.680. PT Centex .751.00 16.060.924.60 3.10 35.60 47. PT Merck Indonesia 8.200.210.40 5.096 17.90 92.850 1.950 1.600.20 3.580.540 1.10 27.60 52. PT Jakarta International Hotel .000 6.067.Emisi I .500 4.980 116.000 1.022.398.900 1.10 115.421.90 117.000 765.660.226. PT Unilever Indonesia 10. PT Multi Bintang Indonesia 9.10 Departemen Keuangan RI 115 .600 342.708 46.009. PT Semen Cibinong .500 5.481.618.096 673.639.722.50 110.Emisi I .000 733.012 9.500 600.669.716.30 98. PT Squibb Indonesia 16.400 1. PT Tificorp 5.Emisi II 2.10 116.080.608 38.020.055.000 1.081.90 120.927.096 9.584 57.500.724.857.096 15.324.20 130.500 7.665.150.250 3.526.519.50 3.950 1.667.000 1.600. PT Panin Union Insurance Ltd 19.10 43.100 1. PT Pfizer Indonesia 21.530.096 1.10 10.90 3.500 3. PT Delta Jakarta 22. PT Sepatu Bata Indonesia 11.687.520.281.90 5.000 523.257.762.096 7.541.000 2.475 1.00 3.822.30 11. PT Asuransi Jiwa Panin Putra 17.708 47.600.867.024.096 8. PT Hotel Prapatan 23.475 3.8 806.716.10 119.500 3.325 3.050 2.00 7.205.8 1.135.00 1.00 81. PT Unitex 12.920.1. PT Bayer Indonesia 14.050 1.014.000 3.00 7.00 1.000 2.317.000 6.00 83.

550 4.7 persen).650 1.565.300.000 50 100 500 1.680 1.960 960 1.0 milyar (13.000.00 4.000.00 150 600 2.0 milyar.000 1.00 10 50 100 840 1.000 10.000 10 50 100 500 1.800 6.0 persen).410.230 10 50 100 1.00 2.000.800. 14 PERUSAHAAN-PERUSAHAAN/BADAN USAHA YANG TELAH MEMASYARAKATKAN OBLIGASI MELALUI PASAR MODAL (Januari 1983 sId Agustus 1984) Jumlah emisi Pecahan Harga nominal (lembar) Harga Perdana Nilai Harga (ribu Rp) (juta Rp) 125.718.0 milyar (23.000 24.080 2.000 1. 300 2. bahwa kenaikan Darga dalam tahun 1985/1986 tidak banyak berbeda dibandingkan dengan tahun 1984/1985.00 68.250.000 10.000 10.000 10.845.00 2.000 10 100 500 1.000.000 5.00 65 260 1.960.00 16.0 milyar. dan kredit perbankan pada akhir tahun 1985/1986 diperkirakan mencapaijumlah Rp 10. dan Rp 19.0 milyar dan Rp 24.000.000.408.00 2.500 5.000 5.00 6.000 15.250 6.600 2.00 10.000 6.800 263.5.550.00 154.000 400 200 1.00 2. Pada akhir tahun 1984/1985 jumlah uang beredar dan kredit perbankan diperkirakan sebesar Rp8. Perkiraan jumlah uang beredar dan kredit perbankan tahun 1985/1986 Perkiraan jumlah uang beredar didasarkan pada anggapan-anggapan.164. Departemen Keuangan RI 116 .250.0 milyar.00 2. Dalam tahun 1985/1986 jumlah uang beredar diperkirakan akan bertambah dengan Rp 1.00 Perusahaan PT Jasa Marga I Bank Pembangunan PT Papan Sejakhtera PT Jasa Marga II Jumlah 4.125.000 1.221.00 5.000 46.000 5.00 24. sedangkan kredit perbankan bertambah dengan Rp 4.500 1.500.500. Dengan demikian posisi jumlah uang beredar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.000 1.943.000 4.

produk nasional bruto negara-negara berkembang pada pelbagai belahan bumi seperti di Asia.3 persen. Jepang dan Kanada dalam tahun 1984 berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan ekonominya. perkembangan ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih dan resesi yang berkepanjangan.2 persen dalam tahun i982 menjadi 2. Dengan dicapainya perluasan kegiatan tersebut. sehingga pengaruh positifnya masih dirasakan terbatas bagi kemajuan ekonomi negara-negara berkembang. Dengan tingkat pertumbuhan yang dicapai oleh masing-masing negara industri tersebut. Sebaliknya Inggris diperkirakan justru mengalami penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi menjadi 2.6 persen.7 persen.1 persen dan sebesar 5.0 persen dan 4. masing-masing diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 7. proses peningkatan kegiatan yang berlangsung dalam tahun 1984 belum secara merata terjadi pada semua negara industri. Sejalan dengan pertumbuhan yang dicapai negara-negara industri. Tanda-tanda perbaikan ekonomi yang telah mulai tampak dalam tahun terakhir Pelita III belumlah sepenuhnya berkembang seperti yang diharapkan. Kanada dan Jepang mengalami peningkatan kegiatan yang lebih tinggi.3 persen.5 persen. 2. negara-negara ASEAN seperti Thailand.9 persen. sehingga kalau diukur dan pertambahan produk nasional bruto (GNP).2 persen dalam tahun 1983. masing-masing diperkirakan sebesar 5. Sementara itu negara-negara industri lainnya seperti Jerman Barat.6 persen daiam tahun 1983.6 persen. secara keseluruhan produk nasional bruto (GNP) negara-negara industri dalam tahun 1984 diperkirakan dapat meningkat kembali menjadi 4. Amerika Serikat. sementara kegiatan di negara-negara industri lainnya hanya menunjukkan sedikit perbaikan. Keadaan ini menempatkan mereka sebagai negara-negara yang mempunyai laju pertumbuhan yang relatif lebih cepat di antara kelompok negara-negara industri utama.1 persen dan nol persen dalam tahun 1983.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB V NERACA PEMBAYARAN DAN PERDAGANGAN LUAR NEGERI 5. setelah dalam tahun sebelumnya mengalami perbaikan dari sebesar negatif 0.5 persen dan 1. Pendahuluan Memasuki tahun pertama Repelita IV. 5. dari sebesar 3.1. Sebagai akibatnya. 3. Di kawasan Asia Tenggara. 1. Afrika dan Amerika Latin juga mengalami peningkatan.4 persen.4 persen dan 2. Departemen Keuangan RI 117 . Italia dan Perancis diperkirakan sedikit mengalami peningkatan yaitu masingmasing sebesar 2. Amerika Serikat.

Sebaliknya Departemen Keuangan RI 118 .0 persen.9 persen dari 15. 4.8 persen dan 7.0 persen dan 4. Sebaliknya Inggris. dan 11.0 persen dalam tahun 1984. 5. dari 9.3 persen dalam tahun 1984. 6.8 persen. tingkat inflasi rata-rata dalam tahun 1984 di negaranegara industri secara keseluruhan diperkirakan dapat diturunkan menjadi 4. Melalui kebijaksanaan pengendalian moneter. Pertumbuhan ekonomi dunia tersebut dapat dicapai dengan adanya perluasan kegiatan investasi.9 persen dan 10. merupakan negara yang paling berhasil mempertahankan tingkat stabilitas ekonominya. Dengan arah perkembangan tersebut.6 persen. yaitu menjadi 7. 9.0 persen dalam tahun sebelumnya. Terpeliharanya stabilitas. serta perkembangan aktivitas di bidang perdagangan antarnegara. dan terciptanya iklim usaha yang menguntungkan hanya mungkin dicapai jika laju inflasi dapat dipertahankan pada tingkat yang terkendali. Di antara negara-negara industri tersebut. dengan masing-masing diperkirakan sebesar 2. Jepang dengan laju inflasi yang diperkirakan sebesar 0.0 persen.3 persen dalam tahun 1983. peningkatan produksi. dan Perancis justru sedikit mengalami kenaikan dalam tingkat penganggurannya. masih tetap merupakan negara dengan tingkat pengangguran terendah di antara ke1ompok negara-negara industri utama.8 persen.9 persen. yaitu masing-masing menjadi 12. dan Inggris te1ah dapat menu runkan tingkat inflasinya di bawah lima persen. Sedangkan negara-negara lainnya seperti Jerman Barat.9 persen dalam tahun 1983 menjadi sebesar 6. dan 11. Sementara itu meskipun masih merupakan negara dengan tingkat inflasi tertinggi di antara negara-negara industri. Italia dengan berbagai upaya diperkirakan telah berhasil menurunkan laju inflasi ke tingkat 11. Jepang dengan penurunan angka pengangguran yang diperkirakan menjadi 2.7 persen dalam tahun 1983. tingkat pengangguran rata-rata di tujuh negara industri utama diperkirakan menurun.6 persen.3 persen dari 5.2 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Malaysia dan Singapura diperkirakan berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya masing-masing dari sebesar 5.4 persen dalam tahun 1983 menjadi negatif 6. Sedangkan Philipina justru diperkirakan mengalami penurunan dalam tingkat pertumbuhan ekonominya dari 1. Italia. sehingga angka pengangguran dapat lebih dikendalikan selaras dengan kemajuan ekonomi yang dicapai masing-masing negara. dari 2.6 persen. Peningkatan kegiatan-kegiatan tersebut se1anjutnya mendorong perluasan kesempatan kerja.0 persen dalam tahun 1984. Sementara itu Jerman Barat be1um dapat menurunkan angka pengangguran dari tingkat 8.0 persen dalam tahun sebelumnya. Dalam tahun 1984. Penurunan yang sarna dialami pula oleh Amerika Serikat dan Kanada masing-masing diperkirakan menjadi 7.5 persen.3 persen.9 persen dalam tahun sebe1umnya.6 persen dalam tahun 1984 dibandingkan dengan 8.7 persen dan 8. Kanada.

Franc Perancis. laju inflasi negara-negara berkembang di Afrika. diperkirakan justru mengalami sedikit kenaikan yaitu diperkirakan menjadi 3. Philipina diperkirakan mempunyai angka inflasi yang paling tinggi. dan tingginya tingkat suku bunga yang timbul sebagai akibat kebijaksanaan yang diambil dalam proses penyesuaian oleh beberapa negara industri di lain pihak.9 persen dari 3.2 persen dalam tahun 1983.8 persen dalam tahun sebe1umnya.1 persen dan 12. terutama Amerika Serikat. US Prime Rate tetap bertahan pada tingkat yang cukup tinggi.3 persen dalam tahun 1983. yaitu sebesar 13 persen jika dibanding dengan tingkat sebesar 11. masing-masing menjadi 4. Suku bunga nasabah utama di Amerika Serikat (US Prime Rate) mengalami peningkatan lebih tinggi dibanding dengan kenaikan suku bunga antar bank baik di London (LIBOR) maupun di Singapura (SIBOR). Sepadan dengan hasil pengendalian yang dicapai oleh negara-negara industri. Sementara itu Thailand diperkirakan mampu mengendalikan angka inflasinya pada tingkat 3. untuk menarik dana masyarakat sebagai cara menutup defisit anggaran belanjanya telah mengakibatkan bertahannya suku bunga riil pada tingkat yang cukup tinggi. 7. Guilder Belanda. Terkendalinya laju inflasi bagi terciptanya iklim usaha yang mendukung peningkatan kegiatan ekonomi tersebut diusahakan dengan pengendalian jumlah uang beredar.0 persen. Kebijaksanaan ini yang dipertajam oleh upaya pemerintah negara-negara industri.5 persen. maupun Singapura.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Amerika Serikat sekalipun tingkat inflasinya masih di bawah lima persen. dan mendorong timbulnya kesenjangan yang makin lebar dengan negara-negara industri terkemuka lainnya. Pound Sterling-Inggris.0 persen. dari sebesar 3. dan Singapura diperkirakan sedikit mengalami kepaikan. Perbedaan tingkat kegiatan ekonomi di satu pihak. Asia dan Amerika Latin diperkirakan dapat dikendalikan masing-masing ke tingkat sebesar 12. Yen Jepang. mendorong semakin kuamya nilai tukar matauang Amerika Serikat terhadap pelbagai macam matauang asing (currency) lainnya.0 persen. Keadaan ini menimbulkan ketidakstabilan pasar valuta internasional. Amerika Serikat. baik di Eropa. Sekalipun tidak sebesar ketika suku bunga mencapai tingkat tertinggi yaitu sekitar 20.5 persen dan 3. dan mengakibatkan berbagai matauang kuat dunia seperti Mark Jerman. seperti yang dicapai oleh LIBOR maupun SIBOR dalam bulan September tahun 1984.0 persen dalam tahun 1984 dibandingkan dengan 10. Hongkong.5 persen dalam bulan Juli 1981.5 persen. Perbedaan yang terdapat pada perkembangan tingkat suku bunga ini mengakibatkan mengalirnya dana investasi masuk ke Amerika Serikat. yang pada gilirannya telah mempercepat tingkat perluasan kegiatan ekonomi negara terse but. Dollar Departemen Keuangan RI 119 . Adapun tingkat inflasi negara-negara ASEAN seperti Malaysia. yaitu 45.7 persen dan 1.

Jepang diperkirakan mengalami kenaikan surplus. Departemen Keuangan RI 120 .0 milyar dalam tahun 1984.5 milyar dari sebesar US $ 18. Inggris dan Kanada diperkirakan mengalami penurunan surplus. seperti penentuan kuota impor. dan jasa-jasa di lain pihak. di samping mewarnai ketidakpostian situasi moneter intemasional juga telah mengakibatkan terganggunya keseimbangan sistem moneter. Melihat perkembangan transaksi berjalan negara-negara industri tersebut.0 milyar dalam tahun 1984. persetujuan pembatasan ekspor.4 milyar dalam tahun sebelumnya. Di lain pihak defisit transaksi berjalan Perancis diperkirakan sedikit dapat diperbaiki dari US $ 3. Amerika Serikat diperkirakan mengalami kenaikan defisit yang cukup besar. seperti Thailand. dan mekanisme pembayaran dunia. Besamya defisit neraca perdagangan di satu pihak. besarnya defisit anggaran belanja.2 milyar dan Dol milyar dollar Amerika. Kecenderungan tersebut menimbulkan rangkaian akibat terhadap perkembangan perdagangan dunia dalam tahun 1984. persyaratan mutu. menimbulkan kecenderungan makin meningkatnya tindakan proteksionisme yang dilakukan oleh negaranegara industri sebagai upaya untuk melindungi industri dalam negeri masing-masing terhadap persaingan barang-barang sejenis daTi negara lain. sehingga defisit neraca perdagangan mereka menjadi semakin besar.6 milyar dalam tahun 1983 menjadi sebesar US $ 90. Volume impor negara-negara industri dalam tahun 1984 diperkirakan meningkat dengan 11.8 milyar dalam tahun 1983 menjadi sebesar US $ 2. Sementara itu.5 milyar dalam tahun 1983 menjadi US $ 35. peraturan kesehatan dan lain-lain. Upaya tersebut dilakukan baik dalam bentuk kenaikan tarif maupun dalam bentuk kebijaksanaan bukan tarif. dari sebesar US $ 3. terpaksa menempuh kebijaksanaan devaluasi sekaligus melakukan pengambangan atas dasar sekelompok matauang asing (currency-basket) negara-negara rekan dagangnya yang utama. Ketidakstabilan kurs dollar Amerika.9 milyar dalam tahun sebelumnya.7 milyar. serta perkembangan yang terdapat pada lalu lintas transfer. daTi US $ 20.9 persen. Usaha mencegah semakin besarnya defisit transaksi berjalan ke arah keseimbangan neraca pembayaran. makin ketatnya pengendalian moneter. yaitu dari US $ 41. masing-masing menjadi sebesar US $ 3. US $ 2. tindakan penyesuaian nilai tukar matauang. mengakibatkan defisit transaksi berjalan negara-negara industri secara keseluruhan dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami kenaikan. dan tingginya tingkat suku bunga. Di lain pihak hal ini mengakibatkan beberapa negara yang sampai sekarang masih mendasarkan nilai tukar tetapnya terhadap dollar Amerika Serikat. US $ 4.6 persen. sedangkan volume ekspornya dalam periode terse but hanya meningkat sebesar 8. yaitu menjadi US $ 52.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Singapura dan Dollar Kanada mengalami kemerosotan nilai (depresiasi) yang cukup besar. sedangkan negara-negara industri lainnya seperti Jerman Barat.4 milyar dan US $ 1.9 milyar.4 milyar dalam tahun 1984.

Dengan perkembangan ekspor. Kesemuanya itu telah menyebabkan terganggunya keseimbangan posar. dan impor di negara-negara industri. volume. telah mendorong harga beberapa barang primer non minyak tetap ke arab yang lebih baik. dipertajam pula oleh peleposan cadangan.0 juta barrel per hari. walaupun tidak sebaik dalam tahun 1983. tetapi masih belum seperti yang diharapkan. Besarnya kebutuhan dana untuk membiayai pembangunan.5 persen dalam tahun 1983 menjadi sebesar 0. dalam rangka menjaga kestabilan harga minyak. adanya sedikit peningkatan kegiatan ekonomi di pelbagai negara industri. dan perbandingan pertukaran serta keadaan posaran minyak seperti yang diuraikan di atas. dan menutup defisit neraca pembayaran. juga mempermahal biaya peminjaman di berbagai pusat keuangan internasional. Inggris dan Nigeria. dan penawaran minyak hasil produksi negaranegara di luar OPEC. Berdasarkan perkembangan barga. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam sidang daruratnya yang berlangsung dalam bulan Oktober 1984 di Jenewa. dan beberapa negara berkembang. sekalipun diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. dan sangat membatasi ekspor dari negara-negara berkembang. Kesenjangan yang masih terdapat antara permintaan dan penawaran minyak dunia. Perkembangan perdagangan dunia.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Proteksionisme dalam segala bentuknya ini merupakan penghambat bagi dayaguna (effisiensi) perdagangan antarnegara. Meskipun demikian. serta lesunya ekspor kebanyakan negara-negara berkembang. menyebabkan menumpuknya beban hutang negara Departemen Keuangan RI 121 .5 juta barrel menjadi sebesar 16. dan negara-negara berkembang tersebut. Menghadapi situasi demikian. maka volume perdagangan dunia dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. Sebaliknya negara-negara industri diperkirakan mengalami penurunan dari sebesar 2. dan mengakibatkan timbulnya penurunan harga seperti yang telah dilakukan oleh Norwegia. dan nilai ekspor maupun impor negaranegara berkembang secara keseluruhan. sekalipun harga kelompok barang-barang industri mengalami perbaikan. memutuskan untuk tetap mempertahankan harga pada tingkat yang berlaku sekarang.1 persen dalam tahun 1984.3 persen dalam tahun 1984. serta berhasilnya penghematan (konservasi) energi minyak. Perkembangan ini menjadikan posisi perbandingan pertukaran (terms of trade) negara-negara berkembang mengalami peningkatan dari negatif 3. dan kecenderungan yang terjadi pada moneter internasional. namun masih lebih rendah dad harga yang dicapai oleh kelompok barang primer non minyak. sedangkan di lain pihak. dengan jalan mengurangi produksi dari batas tertinggi 17. yang selanjutnya mengakibatkan tertekannya pertumbuhan perdagangan dunia dalam tahun 1984.2 persen dalam tahun 1983 menjadi 0. di samping memperlangka dana yang dapat dipinjamkan. serta menetapkan ketentuan kuota baru bagi negara-negara anggotanya.

Dana Moneter Internasional (IMF). Kesadaran itu menempatkan masalah pemulihan kembali ekonomi dunia menjadi tanggung jawab bagi semua negara sehingga upaya pemecahannya memerlukan kerjasama yang sungguhsungguh. menjadi teramat penting sebagai sarana perjuangan bagi semua negara untuk menegakkan tatanan ekonomi dunia baru yang lebih adil.9 milyar di antaranya merupakan hutang negara-negara berkembang bukan pengekspor minyak. Forum perundingan dan kerjasama intemasional seperti dalam pertemuan Bank Dunia (IBRD). dan membahayakan operasi bank-bank pemberi pinjaman. maupun antara negara industri dan negara berkembang. Pelbagai indikator ekonomi. baik antarnegara industri. serta turunnya ekspor di lain pihak telah menyebabkan debt-service-ratio (DSR) negara-negara terse but menjadi semakin tinggi. upaya mencari jalan keluar dari resesi ke arah pemulihan kembali ekonomi dunia secara menyeluruh. yang pada gilirannya telah menimbulkan masalah likuiditas perbankan internasional. Konperensi Perserikatan Bangsa-bangsa dalam Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD). maupun Dialog Utara-Selatan. Hal tersebut disebabkan karena resesi yang timbul dewasa ini an tara lain bersumber dari kerawanan dan ketidakseimbangan struktural di semua aspek yang berakar pada tatanan lama. baik untuk kestabilan ekonomi dunia yang lebih mantap. dan moneter internasional tersebut di atas menimbulkan kesadaran akan semakin tingginya tingkat ketergantungan timbal balik. dan berkembang.6 milyar dalam tahun 1979 menjadi US $ 830. sehingga mereka lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman baru. Keadaan ini mengakibatkan beberapa negara berkembang mengalami kesulitan dalam melunasi kembali hutang-hutangnya. yang merupakan dasar untuk Departemen Keuangan RI 122 . Sementara itu besarnya kewajiban pengembalian bunga maupun cicilan hutang di satu pihak. dan akan merupakan salah satu penghambat ke arah pemulihan ekonomi dunia. Namun demikian kenyataan saling ketergantungan antara negara-negara maju. Persetujuan Umum ten tang Tarif dan Perdagangan (GATT). maupun sebagai jawaban terhadap tuntutan keadilan sosial dalam hubungan ekonomi antarbangsa.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berkembang yang meningkat secara cepat dari US $ 478. Terciptanya Tata Ekonomi Dunia Baru (TED B) merupakan kebutuhan mendesak. yang dirasakan sudah tidak sesuai dalam menjawab masalah. dan kerjasama dalam berbagai forum internasional.1 milyar dalam tahun 1984. Kecenderungan ini diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang. US $ 728. antarnegara berkembang. yang berlangsung dalam bulan Juni 1984 di London. tuntas dan mantap terus diusahakan melalui perundingan-perundingan. dan tantangan yang dihadapi. Dari jumlah tersebut. serta penanganan secara tuntas melalui berbagai perundingan yang sedang berlangsung. Dengan diawali oleh Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) tujuh negara industri terkemuka.

yang merupakan penghambat usaha mempercepat dan mempertahankan pemulihan ekonomi dunia. dan lain sebagainya. Brasilia. dan lembaga pemberi pinjaman agar memberikan kelonggaran waktu bagi pembayaran hutanghutang mereka melalui penjadwalan kembali (rescheduling). Ini berarti bahwa lalu lint as perdagangan internasional sebagai salah satu syarat mendasar dalam meningkatkan. Colombia pada tanggal 21 sampai dengan 22 Juni 1984. Costarica. Organisasi Konperensi Islam (OKI). Hal ini mengakibatkan kelambanan terus mewarnai berbagai negosiasi yang sudah. Sementara itu untuk memperkuat kedudukan negara-negara berkembang dalam proses pengambilan keputusan politik tentang masalah-masalah ekonomi global. baik di dalam maupun di luar forum PBB. Di lain pihak upaya mencari jalan penyelesaian dari krisis hutang negara-negara "berkembang. dan defisit anggaran belanja khususnya di Amerika Serikat. dan kolektif sebagai strategi perjuangan untuk mewujudkan TEDB. KTT sepakat untuk mendesak agar bank-bank komersial. Bolivia. ketrampilan teknik. KTT tidak menghasilkan kesepakatan mengenai tindakan penyelesaian terhadap masalah-masalah proteksionisme. moneter dan keuangan. Equador. Kerjasama ekonomi ini meliputi kegiatan-kegiatan di bidang pangan dan pertanian. dan bertahan lama. energi. industri. Colombia dan Republik Dominika. Kelompok 77. kelompok regional seperti ASEAN. Peru. Dalam hubungan dengan penyelesaian hutang luar negeri negara-negara berkembang. ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hubungan ini. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk mendesak negara. Usaha peningkatan kerjasama tersebut dilakukan melalui berbagai forum internasional pada tingkat bilateral dan multilateral. Argentina. menurunkan tingkat suku bunga. tingkat suku bunga yang tinggi. dan kerjasama internasional. kecuali komitmen politik untuk memperbaharui tekad dalam usaha mempertahankan pemulihan ekonomi agar bertambah mantap. pengangkutan dan komunikasi. perdagangan. seperti gerakan Non blok. Departemen Keuangan RI 123 . dan menghapuskan kebijaksanaan yang bersifat protektif dan restriktif dalam perdagangan. Chili. menimbulkan dorongan kepada sebelas negara di Amerika Latin yaitu Mexico. dan sedang berjalan bagi terwujudnya TEDB. dan lembaga-Iembaga internasional memberi kelonggaran waktu bagi negara-negara peminjam untuk membayar kembali hutangnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dialog. mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah hutang luar negeri mereka di Cartagena. pengembangan kerjasama ekonomi antarnegara berkembang (kerjasama selatan-selatan) lebih diarahkan untuk mencapai kemandirian individual. dan lain sebagainya. dan mempertahankan laju pemulihan ekonomi dunia akan tetap mengalami hambatan. Venezuela. belum dengan sepenuh hati diikhtiarkan oleh negaranegara maju.

Dalam kerangka kerjasama ekonomi regional. regional dan global. telah pula diupayakan oleh Bank Dunia (IBRD) dan Dana Moneter Internasional (IMF) melalui sidang-sidangnya yang berlangsung dalam bulan September 1984. perdagangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai bagian dari strategi untuk menciptakan kemandirian individual dan kolektif dalam KTT terakhir di New Delhi. Sedangkan negara-negara berkembang perlu pula melaksanakan penyesuaian yang efektif. bahwa agar pemulihan kembali ekonomi dunia dapat bersifat tetap dan pesat. baik di bidang keuangan dan moneter. Dalam sidang tersebut diadakan pengkajian terhadap pelbagai indikator serta masalah-masalah mendasar yang masih mewarnai situasi ekonomi dan moneter internasianal. Di samping merupakan upaya merealisasikan konsep kemandirian kolektif. serta meniadakan indeksasi dalam kontrak-kontrak. defisit anggaran belanja. tingkat suku bunga. Untuk memungkinkan negara-negara Departemen Keuangan RI 124 . program ini juga merupakan suatu pedoman bagi pembangunan ekonomi untuk dikembangkan pada tingkat sub-regional. mempertahankan stabilitas dalam negeri. serta gejolak kurs matauang. serta mengawasi pengeluaran Pemerintah ke arab penggunaan yang produktif. melalui dana pembiayaan bersama telah dibangun proyek-proyek ASEAN. yang meliputi sektor-sektor pertanian. menekan defisit anggaran belanja. Pendekatan ini juga dimaksudkan sebagai usaha untuk memberikan dorongan bagi terlaksananya negosiasi global yang masih tetap mengalami kemacetan dalam Dialog Utara-Selatan. Ikhtiar politik untuk secara aktif memantapkan pemulihan ekonomi dunia yang menyeluruh dan merata. gerakan non blok telah menggariskan suatu pendekatan baru yang bertujuan untuk menanggulangi krisis ekonomi dunia dengan tindakan-tindakan darurat jangka pendek. dan beban hutang negara-negara berkembang.dan didirikan proyek-proyek industri komplementer. Sedangkan di bidang industri. seperti berbagai aspek pemulihan ekonomi dunia. dan energi maupun di bidang pangan dan pertanian. Di bidang perdagangan. mengurangi defisit anggaran belanja. dan memperkuat kerjasama antar negara-negara anggota ASEAN telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. perdagangan. melaksanakan kebijaksanaan harga yang fleksibel dan realistis. hasil kerjasama tersebut tercermin dalam perluasan jumlah barang yang tercakup dalam perjanjian perdagangan preferensial. diserukan kepada negara-negara industri untuk terus melaksanakan strategi kebijaksanaan moneter yang tidak menimbulkan pengaruh inflatoir. Sidang berhasil mencapai kesepakatan. industri. Pelbagai kemajuan telah dapat dicapai dalam kerjasama ekonomi tersebut. melakukan usaha-usaha untuk mengatasi masalah struktural dengan cara mendorong mobilitas tenaga kerja. masalah proteksi. keuangan dan perbankan. usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke arah pemulihan. kekurangan likuiditas.

negara-negara industri dihimbau untuk tetap mempertahankan pertumbuhan ekonominya pada tingkat yang memadai. dan mengharapkan agar IMF tetap dapat memainkan peranannya dalam pelaksanaan strategi pengelolaan hutang luar negeri secara terkoordinir. serta dapat menghambat kelancaran bekerjanya sistem keuangan dan perdagangan internasional. sidang telah menghasilkan kesepakatan untUk memberikan wewenang kepada "suatu kelompok" guna mengadakan pengkajian mengenai masalah-masalah di bidang perdagangan. dan melaksanakan pembangunan ekonomi negaranya. dengan tindakantindakan yang nyata untuk mencegah timbulnya proteksionisme baru. Dalam hubungannya dengan proteksionisme yang masih terus berlangsung. menghindari kebijaksanaan yang terlalu bersifat proteksionistis. serta perlu menurunkan tingkat suku bunga. Dalam hubungan ini sidang menyambut baik penjadwalan kembali pembayaran hutanghutang luar negeri untuk jangka waktu beberapa tahun. Tantangan politik untuk menghentikan dan memutar balik kecenderungan ke arah proteksionisme. sehingga pada akhirnya dapat memulihkan kepercayaan untuk memperoleh pinjaman (credit worthiness). menjadikan pertemuan para menteri dalam GATT (Persetujuan Umum tentang Tarif dan Perdagangan) forum paling tepat dalam mengadakan perundingan terusmenerus untuk mengurangi rintangan-rintangan terhadap perdagangan. kebijaksanaan perdagangan serta pengawasan (surveillance) efektif terhadap kebijaksanaan yang ditempuh beberapa negara untuk mencegah terjadinya gejolak kurs :matauang secara tajam. dan menghapuskan kebij aksanaan -ke bij aksanaan proteksionistis. dan menyerukan perlunya ditingkatkan. Sehubungan dengan masalah hutang luar negeri negaranegara berkembang. akan dapat membahayakan proses pemulihan kembali perekonomian. sidang menyatakan keprihatinannya. sidang menegaskan sikapnya bahwa masalah hutang luar negeri negara-negara berkembang hanya dapat diselesaikan sebaik-baiknya melalui kerjasama yang frat antara negara-negara debitur dan negara-negara kreditur. serta memungkinkan seger a meningkatkan kembali pertumbuhan ekonominya. dan dikembangkan disiplin dalam sistem perdagangan intemasional kepada semua negara anggota. membuka posar bagi ekspor negara-negara berkembang. Kerjasama internasional yang ditekankan oleh IMF tersebut meliputi bidang pembiayaan bersyarat lunak (concessional financing). Sedangkan negara-negara debitur perlu melaksanakan kebijaksanaan penyesuaian yang mantap. Dari hasil pertemuan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berkembang dapat membayar kembali hutang-hutang luar negerinya. seperti faktorfaktor penghambat proses penyesuaian struktural. karena hila hal ini tidak segera diatasi. yaitu yang dapat memperkuat posisi ekonomi luar negeri mereka. baik di bidang produksi maupun Departemen Keuangan RI 125 . Oleh sebab itu sidang menyambut baik komitmen-komitmen kearah kebijaksanaan perdagangan terbuka.

serta mencari upaya penyelesaian dari masalah-masalah yang belum terselesaikan dalam perundingan perdagangan multilateral (MTN). baik di bidang perdagangan luar negeri. kebijaksanaan neraca pembayaran dan perdagangan Departemen Keuangan RI 126 . Dalam hubungan ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menjadikan Generalized System of Preferences (GSP) bukan saja sebagai "hasil sementara" akan tetapi merupakan "hasil permanen" dalam sistem perdagangan internasional. maupun lalu lintas devisa.2. Di samping itu usaha peningkatan kegiatan perdagangan juga dilakukan melalui pembentukan/perbaikan instrumen-instrumen perdagangan yang ada.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perdagangan. dan menghemat penggunaannya melalui pelbagai kebijaksanaan. untUk meningkatkan aliran sumber keuangan ke negara-negara berkembang. Untuk meningkatkan kerjasama perdagangan internasional atas dasar keuntungan bersama. non-diskriminasi. menjadikan perlunya pengamatan dan kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menghambat pelaksanaan pembangunan. guna membantu negara-negara berkembang dalam meningkatkan perdagangan internasionalnya dengan tidak mengabaikan prinsip "special and differential treatment". dengan negara-negara sosialis Eropa Timur di lain pihak. Pola perkembangan ekonomi dan moneter internasional. dalam rangka UNCTAD dikembangkan diversifikasi perdagangan antara negara-negara industri dan berkembang di satU pihak. Di samping itu lembaga ini juga diminta untuk meneliti pelaksanaan prinsip-prinsip GATT. dan menghilangkan tindakan meayimpang dari prinsip-prinsip GATT lainnya. dan transparansi sebagai prinsip dasar sistem perdagangan intemasional. maka dalam rangka meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap tantangan-tantangan yang mungkin akan terjadi. mengurangi proteksionisme. Dengan menyadari keterkaitan ekonomi Indonesia dalam hubungan ekonomi internasional. Kebijaksanaan di bidang perdagangan luar negeri Dalam tahun pertama Repelita IV. 5. serta masih sulitnya dicapai kesepakatan dalam berbagai kerjasama antarnegara yang masih terus berlangsung dewasa ini. resiprositas dan non diskriminasi. perlu ditempuh langkah-langkah untuk meningkatkan penerimaan devisa. komitmen politik negaranegara industri terhadap hasil-hasil negosiasi global. terutama dalam menghadapi sikap dan kecenderungan proteksionisme negara-negara industri sebagai tindakan yang menyimpang dari prinsip multilateralisme. Dalam hubungan ini partisiposi yang lebih aktif dari negara-negara berkembang untuk menegakkan sistem perdagangan intemasional yang lebih adil dan seimbarlg dirasakan makin penting.

antara lain dengan melalui usaha diversifikasi. maka dalam rangka mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran telah diusahakan penghematan dalam penggunaan devisa. serta pemanfaalan pinjaman dan penanaman modal luar negeri. Di samping itu peranan ekspor barang-barang industri diusahakan pula peningkatannya. Mengingat situasi perminyakan yang tidak menentu tersebut. Keadaan ini memaksa OPEC untuk mengadakan sidang di Jenewa pada tanggal 29 Oktober 1984 dengan keputusan untuk mengurangi produksinya dari 17. bahan penolong. Dalam tahun pertama Pelita IV ini Pemerintah tetap melanjutkan kebijaksanaan ekspor sebagaimana yang tertuang dalam PP No. yang diupayakan melalui perluasan posar dan peningkatan clara saing barang-barang ekspor Indonesia di luar negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 luar negeri ditujukan untuk meningkatkan laju perkembangan ekspor.5 juta barrel menjadi 16 juta barrel per hari dan tetap mempertahankan harga patokan minyaknya sebesar US $ 29 per barrel. dan barang modal yang dibutuhkan. dan adanya berbagai hambatan dalam perdagangan internasional. kredit ekspor. peningkatan daya saing barang-barang ekspor serta perluasan pasaran di luar negeri. Norwegia dan Nigeria pada pertengahan Oktober 1984. sesuai dengan sasaran investasi dalam sektor-sektor pembangunan. seperti pemberian sertifikat ekspor.1 bulan Januari 1982.2. Hal ini terjadi karena meningkatnya produksi minyak dari negara-negara di luar OPEC. sehingga tersedia devisa untuk mendukung pembiayaan impor bahan baku. Indonesia mendapat pengurangan kuota produksi sebesar 111. 5. telah diambil kebijaksanaan untuk lebih meningkatkan penerimaan devisa dari hasil ekspor di luar minyak dan gas. pajak ekspor dan Departemen Keuangan RI 127 .1. lebihlebih pada tahun 1984 di mana situasi minyak dunia semakin memburuk.Kebijaksanaan di bidang ekspor Usaha mengurangi ketergantungan pacta sektor minyak terus dilaksanakan.000 barrel per hari yang berarti penerimaan dari sektor minyak agak berkurang. yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan devaluasi rupiah terhadap matauang dollar Amerika pada bulan Maret 1983. Serangkaian tindakan Pemerintah untuk meningkatkan ekspor di luar minyak dan gas diawali dengan kebijaksanaan ekspor yang tertuang dalam PP No. Sehubungan dengan itu untuk mengurangi ketergantungan pada hasil minyak bumi. yang kemudian diikuti dengan diturunkannya harga minyak oleh Inggris. maka peningkatan pengembangan ekspor lebih diarahkan kepada ekspor di luar minyak dan gas alam.1 tahun 1982 beserta peraturanperaturan pelaksanaannya. Namun demikian sebagai akibat belum mantapnya usaha pemulihan ekonomi dunia. pengendalian impor yang lebih diarahkan kepada pengembangan produksi dalam negeri. Dengan penurunan produksi tersebut.

yang nilainya sarna dengan harga jual sebenamya. rotan. dan dari jumlah terse but baru 38 jenis barang yang sudah dilaksanakan. 12 perizinan di sektor perhu bungan. ikan tuna. disusul kemudian oleh Jepang. Sampai dengan bulan November 1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pajak ekspor tambahan. Dalam ekspor produk tekstil. dan surat persetujuan ekspor produk tekstil. Mengenai prosedur ekspor. Departemen Keuangan RI 128 .0 juta. Malaysia dan Taiwan. kayu gergajian. Singapura. tetapi juga produk-produk lainnya. negara yang paling besar melaksanakannya adalah Republik Federasi Jerman. juga ditetapkan bahwa setiap eksportir barus menyerahkan bukti pembayaran iuran ekspor produk tekstil untuk mendapatkan surat keterangan asal. Selanjutnya untuk memperluas pemasaran pakaian jadi. di antaranya telah dicabut 16 perizinan di bidang pengusahaan hutan. udang. Demikian juga mulai 1 Oktober 1984 dihapuskan pungutan langsung dari Pemerintah Daerah terhadap beberapa komoditi ekspor yaitu plywood. mulai t. Sementara itu mum barang yang diekspor harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan dan selalu ditingkatkan. Selanjutnya tarif pajak ekspor yang dikenakan atas beberapa komoditi seperti bauksit dan pekatannya. Untuk itu sampai dengan Agustus 1984 telah ditetapkan standar mutu untuk 165 jenis barang-barang perdagangan. terdapat 2. serta sistem imbal beli di mana pembelian barang-barang Pemerintah dari luar negeri yang memakai dana APBN dikaitkan dengan ekspor di luar minyak dan gas. dan 17 perizinan di sektor perdagangan. Di antara 21 negara tersebut. lisensi ekspor. Sedangkan untUk mencegah penyalahgunaan fasilitas sertifikat ekspor bagi hasil industri tekstil yang diekspor ke Hongkong.mggal 1 Januari 1984 pungutan MPO ekspor atas eksportir telah dihapuskan. sedangkan realisasinya mencapai US $ 465. prosentasenya yang semula ditetapkan setiap 6 bulan. pajak ekspor tambahannya diturunkan. dan jagung. mencakup kontrak yang sudah ditandatangani dengan 21 negara sebesar US $ 937. kelapa sawit. meliputi berbagai macam barang yang tidak terbatas pada produk tekstil saja. Dalam pemberian fasilitas sertifikat ekspor.144 jenis barang yang sudah memperoleh tasilitas sertifikat ekspor. serta biji nikel dan pekatannya diturunkan dari 10 persen menjadi nol persen. kopi. mulai tanggal 1 Juli 1984 ditetapkan setiap 12 bulan. sedang sistem pembayaran yang dapat digunakan hanyalah irrevocable letter of credit. gaplek. Sistem imbal beli. penyederhanaan dan penyempurnaan prosedur ekspor. karet. telah dilakukan penyederhanaan perizinan yang berlaku dan penghapusan izin-izin yang dapat menghambat ekspor.6 juta. Begitu pula untuk refined bleached deodorized stearin dan crude stearin. Di bidang perpajakan. yang telah dilaksanakan sejak bulan Januari 1982 sampai 3 Oktober 1984. 12 perizinan di bidang pertanian. para eksportir diharuskan menyertakan laporan surveyor yang dikeluarkan oleh PT Sucofindo.

besi beton. ban mobil. Swedia dan Amerika Serikat. Selanjutnya untuk memantapkan pemasaran tembakau di pasaran internasional. Dengan adanya badan ini. Karawang. Sementara itu kegiatan ekspor beberapa jenis komoditi meliputi pupuk. Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai kuota ekspor produk tekstil. kontrakkontrak penjualan untuk ekspor kayu lapis harns mendapat persetujuan daTi badan terse but. maka Pemerintah mulai bulan Maret 1984 menggalakkan pembudidayaan udang tambak. Kemudian dilanjutkan dengan program intensifikasi tambak musim tanam tahun 1984/1985. yang dikukuhkan Menteri Perdagangan pada tanggal 15 Oktober 1984. Kemudian pada tanggal 13 September 1984 juga telah dikeluarkan ketentuan mengenai pengawasan mutu kayu lapis untuk ekspor. Dalam rangka memperlancar pelaksanaan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 terutama ke negara-negara Eropa dan Amerika. 3 juta potong ke Swedia dan 11 juta potong ke Amerika Serikat. Pemerintah dalam tahun ini menyesuaikan kembali ketentuan ekspor tembakau. dan peningkatan devisa negara dari hasil ekspor udang dan bandeng. dengan tujuan meningkatkan produksi udang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dalam rangka kerjasama regional. minyak sawit dan inti sawit. kertas. pendapatan petani tambak. antara lain dengan mengirimkan misi-misi dagang agar memperoleh kuota yang lebih besar. Sebagai hasilnya telah dicapai persetujuan bilateral dengan negaranegara yang tergabung dalam masyarakat ekonomi Eropa (MEE). sehingga Indonesia memperoleh kuota ekspor sebanyak 12 juta potong ke negara MEE. Sementara itu untuk menghindarkan persaingan yang tidak sehat di antara eksportir kayu lapis yang dapat mempengaruhi harganya. telah dilakukan beberapa pendekatan dengan negara-negara tersebut. Karena udang dipandang mempunyai potensi yang besar untuk menambah penerimaan devisa hasil ekspor. sidang Menteri-menteri ASEAN ke-16 bulan Mei 1984 dalam rangka ASEAN Preferential Trading Arrangement telah menyetujui pemb_rian Departemen Keuangan RI 129 . aspal. yang dimulai tanggal 4 Januari 1984. antara lain dengan mengadakan Proyek Tambak Inti Rakyat di atas tanah seluas 350 ha di desa Pusaka Jaya Utara. maka Asosiasi Panel Kayu Indonesia telah membentuk 7 kelompok pemasaran kayu lapis sebagai Badan Pemasaran Bersama Ekspor Kayu Lapis. Eksportir yang telah menerima kuota harus melaksanakan sendiri ekspomya. dan peratUran pelaksanaannya. kecuali dengan persetujuan Departemen Perdagangan untuk bisa mengalihkan sebagian atau seluruh kuotanya kepada eksportir lainnya. diawasi karena kebutuhan di dalam negeri semakin meningkat. dan untuk diekspor. semen. dengan tujuan untuk lebih memantapkan peningkatan produksi udang/bandeng. di mana kuota tersebut diberikan kepada eksportir terdaftar yang secara berkala barus melaporkan kegiatan ekspomya. dan mengambil manfaat sebesar-besamya dari kuota ekspor tekstil tersebut.

usaha meningkatkan pemasaran komoditi di luar minyak juga terus dikembangkan baik melalui kerjasama bilateral.283 jenis ke negara-negala ASEAN lainnya. ASEAN dengan negara-negara MEE. Di samping itu pada saat ini juga sedang dijajagi oleh Pemerintah kemungkinan untuk mengadakan hubungan dagang langsung dengan RRC tanpa melalui pihak ketiga. Perjanjian Timah Internasional (ITA). Di antara barang-barang yang mendapat preferensi tersebut Indonesia dapat mengekspor 8. kedutaan Republik Indonesia setempat diberi wewenang oleh Pemerintah untuk mengeluarkan visa bagi importir-importir negara-negara tersebut yang akan melakukan penjajagan ke Indonesia. Untuk mempermudah hubungan dagang ini. MEE juga memberikan bantuan teknis kepada negara-negara ASEAN termasuk Indonesia. Perjanjian Karet Alam Internasional (INRA). Cekoslowakia dan Jerman Timur. Sedangkan untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara Eropa Timur. Selanjutnya dalam rangka lebih meningkatkan ekspor di luar minyak dan gas. Selain itu telah ditunjuk pula perusahaan pelayaran swasta dan Pemerintah untuk melaksanakan keagenan umum perkapalan ke negara-negara Eropa Timur.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 preferensi tarif antara 20 persen sampai maksimum 50 persen. dan Amerika Serikat di bidang tekstil. serta berusaha untuk menghilangkan atau mengurangi hambatanhambatan yang sebelumnya terjadi. Dalam hubungan. Pemerintah mengaktifkan fungsi dari atase-atase perdagangan Indonesia di luar negeri. Kanada. antara lain dengan mengadakan pertemuan rutin antara pengusaha/eksportir-eksportir di dalam negeri Departemen Keuangan RI 130 . ASEAN juga telah mengadakan hubungan kerjasama perdagangan dengan Amerika Serikat. Dalam hubungan ini di samping telah diadakan pernndingan bilateral dengan negara-negara anggota MEE. Swedia. juga terus ditingkatkan kerjasama dalam Organisasi Kopi Internasional (ICO). dan organisasi-organisasi lainnya yang berhubungan dengan kerjasama perdagangan barangbarang di luar minyak. Asosiasi Negara-negara Produsen Timah (ATPC). telah dikirim delegasi ekonomi Indonesia ke negara-negara Uni Soviet. Dewan Timah Internasional (ITC). regional maupun multilateral. Indonesia sebagai negara anggota ASEAN turut memperjuangkan kepentingan-kepentingan ASEAN dalam bentuk penyampaian beberapa masalah yang berkaitan dengan adanya hambatan-hambatan di bidang tarif maupun non tarif. jepang. yang kesemuanya merupakan upaya untuk meningkatkan pemasaran barang-barang ASEAN ke negara-negara tersebut. Hongaria. dan sebagai kelanjutannya telah dibentuk team koordinasi dalam bidang kerja sarna ekonomi dan perdagangan dengan Eropa Timur. Australia dan New Zealand. Di samping itu. dengan memberikan kursus-kursus untuk meningkatkan kemampuan ekspor negara-negara tersebut. Selain mengadakan hubungan dengan MEE. Selain kerjasama dengan negara-negara ASEAN.

Dengan pertemuan-pertemuan tersebut para eksportir dapat menyampaikan informasi tentang produk mereka. Dengan demikian diharapkan barang-barang produksi Indonesia akan dapat lebih mudah masuk ke posar internasional.2. 5. peralatan laboratorium. serta memperbanyak pengiriman misi-misi dagang ke luar negeri yang dipimpin langsung oleh Menteri Perdagangan.2. maka Pemerintah menetapkan bahwa karet merupakan komoditi pertama yang diperniagakan di bursa.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan para atase perdagangan di luar negeri. seperti kacang kedele. dan sekaligus menaikkan tarif bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap impor barang-barang seperti kertas untuk jenis tertentu. dalam rangka memberikan perlindungan terhadap barang-barang yang telah dapat dihasilkan. permesinan. Demikian pula terhadap beberapa produk yang telah dapat dirakit di dalam negeri.Kebijaksanaan di bidang impor Kebijaksanaan di bidang impor ditujukan untuk menunjang pertumbuhan industri dalam negeri dengan memperlancar pengadaan beberapa bahan baku/penolong dan barang modal. seperti me sin penggali (hydraulic excavator) dan wheel loader. serta elektro motor. Untuk itu dibentuk Komite Karet yang bertugas menyusun ketentuanketentuan perniagaan karet di bursa tersebut. serta untuk menciptakan persaingan yang sehat dan wajar antara produksi dalam negeri dengan produksi eks impor sejalan dengan usaha peningkatan penggunaan/pemakaian produksi dalam negeri. dan sebaliknya para atase perdagangan dapat memberikan informasi kepada eksportir tentang permintaan konsumen di luar negeri. pipa besi dan produk polyvinyl chloride (PVC). peralatan pertukangan. perkakas tangan. dan mencukupi kebutuhan di dalam negeri. aluminium sheet dan fuli aluminium jenis-jenis tertentu. Oleh karena sampai sekarang baru asosiasi pengusaha di bidang karet (Gapkindo) yang telah menyatakan dukungannya terhadap pemasaran karet melalui bursa. Dalam rangka lebih memberikan kepostian berusaha. dan mendorong industri dalam negeri. serta untuk menjaga kestabilan harga beberapa bahan pokok yang diperlukan masyarakat. Sementara itu kegiatan Bursa Komoditi yang diresmikan pada bulan Desember 1982 dalam waktu dekat akan dimulai. Sedangkan untuk menjaga kestabilan harga minyak goreng di Departemen Keuangan RI 131 . Pemerintah telah mencabut keringanan/pembebasan. juga telah diberlakukan tari( bea masuk dan pajak penjualan impor yang baru. Di lain pihak. Selain itu Pemerintah telah memperbanyak pusat-pusat promosi dagang di luar negeri. Pemerintah telah memperluas pemberian fasilitas berupa pembebasan sebagian dan/atau seluruh bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap pemasukan bahan baku/penolong serta barang modal.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam negeri pada tingkat yang dapat dijangkau oleh masyarakat. dan importir terdaftar. Dalam rangka memanfaatkan kapositas industri. dan sekaligus sebagai importir baja lembaran dan gulungan tertentu yang digiling pada suhu rendah. proyek Aromatik Plaju di Sumatera Selatan telah dilanjutkan pembangunannya sesuai dengan rencana penjadwalan kembali (rephasing). walaupun untuk memproduksi peralatan tersebut sekitar 30 persen bahan bakunya masih perlu diimpor. diatur dalam tataniaga ekspor dan impor secara terpadu. produk baja lembaran. perusahaan swasta nasional dan pernsahaan dalam rangka penanaman modal. gulungan dan pelat yang digiling pada suhu tinggi. dan sebesar 7. yang dapat terdiri dari pernsahaan negara. Sehubungan dengan berlakunya UndangUndang Pajak Penghasilan 1984. Guna menjamin kelancaran pengadaan bahan baku/penolong yang masih harns diimpor dari luar negeri untuk proses produksi industri dalam negeri. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan pelaksanaan mengenai tataniaga impor barang-barang yang termasuk kelompok produk industri. telah diatur dalam tataniaga impor dengan menunjuk PT Tambang Timah sebagai importirnya. Untuk tahap pertama pembangunan proyek ini dibatasi pada perangkat hilir yang terdiri dari pabrik Pure Terepthalic Acid (PTA) Departemen Keuangan RI 132 . Adapun untuk mengurangi ketergantungan terhadap barang-barang impor. Pemerintah telah membebaskan bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap minyak goreng segala jenis yang diimpor dalam jumlah yang diatur oleh Menteri Perdagangan. dan sebagai gantinya dipungut pajak penghasilan (PPh). Demikian juga terhadap impor produk aluminium dan barang logam tidak inulia. Dengan pengaturan tersebut. APIS atau APIT. Sehubungan dengan itu. maka pungutan MPO atas barang-barang impor dihentikan. PT Krakatau Steel atau PT Giwang Selogam ditunjuk sebagai eksportir baja lembaran. Sementara itu. telah dilakukan usaha-usaha untuk mengarahkan penggunaan devisa dalam rangka menggalakkan penggunaan produksi industri di dalam negeri. Dengan demikian. barang-barang yang telah dimasukkan ke dalam kelompok produk industri hanya dapat diimpor oleh importir produsen terdaftar bagi masingmasing kelompok produksi yang diakui oleh Menteri Perdagangan. gulungan dan pelat yang digiling pada suhu tinggi dan rendah. APIS atau APIT masing-masing dihitung dari nilai dasar impor (cif).5 persen bagi imp or barang yang menggunakan API. maka jenisnya diperluas lagi dengan menunjuk PT Krakatau Steel atau PT Tambang Timah sebagai importirnya. Untuk lebih memantapkan pelaksanaan tataniaga impor produk baja lembaran dan gulungan yang digiling pada suhu rendah. beberapa peralatan yang digunakan untuk industri perminyakan telah dapat diproduksi di dalam negeri.5 persen bagi impor barang yang tidak menggunakan API. Besarnya pungutan ditetapkan sebesar 2.

Sedangkan lalu lintas modal bersih. neraca pembayaran dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mengalami surplus sebesar US $ 643 juta. dan pemasukan modal lainnya dikurangi dengan pembayaran kembali angsuran pokok hutang luar negeri. dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mencapai sebesar US $ 3. Dengan dilanjutkannya pembangunan proyek ini maka diharapkan akan lebih mendorong dan memantapkan industri sandang di dalam negeri. Perincian perkembangan neraca pembayaran dapat dilihat dalam Tabe1 V. dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 1983/1984 sebesar US $ 19. sedangkan jumlah penge1uaran devisa untuk membiayai imp or dan jasa-jasa bukan minyak dan gas dalam periode yang sarna diperkirakan mencapai US $ 16. nilai ekspor minyak dan gas berjumlah sebesar US $ 13. PTA akan diproses lebih lanjut menjadi polyester oleh industri hilir.367 juta dalam tahun 1983/1984 menjadi US $ 6. impor maupun lalu lintas devisa. Sedangkan ekspor bukan minyak dan gas diperkirakan mengalami kenaikan sebesar US $ 683 juta.3. sedangkan bahan bakunya yang berupa paraxylene masih perlu diimpor.345 juta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan kapositas 150.099 juta. namun dengan adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan baik di bidang ekspor. Departemen Keuangan RI 133 .779 juta.246 juta.1. Sete1ah memperkirakan adanya selisih yang be1um diperhitungkan sebesar positif US $ 698 juta. yaitu jumlah pemasukan modal Pemerintah. 5. neraca pembayaran Indonesia dalam tahun 1984/1Y85 diperkirakan masih mengalami surplus walaupun tidak sebesar tahun sebe1umnya.Ekspor Realisasi nilai ekspor minyak dan gas maupun bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 19.050 juta dalam tahun 1984/1985. 5.816 juta.000 ton per tahun.3. yaitu dari US $ 5. Dengan deniikian realisasi transaksi berjalan dalam periode terse but diperkirakan akan mengalami defisit sebesar US $ 3. dan ekspor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mencapai US $ 13.l.191 juta. Jumlah penerimaan devisa dari hasil minyak dan gas bersih. Perkembangan neraca pembayaran dalam tahun 1984/1985 Walaupun berbagai hambatan telah mempengaruhi usaha pemulihan ekonomi dunia. berarti terdapat penurunan sebesar US $ 37 juta. Dari jumlah ekspor kese1uruhan tahun 1984/1985.729 juta.

6 + - 176 + 761 + 831 180 651 363.4 149. Bila dibandingkan dengan realisasinya selarna periode April-Agustus 1983 sebesar US $5.jasa 1. S D R HI.842 887 -1.6 98.6 46.3 20.208 94 2.397 643 281 362 + + + + + + + + + + + 86.3 16.3 7.3 58.165 64 2. Ekspor.9 20.7 15. Transaksi berjalan minyak dan gas tanpa minyak dan gas H.075 77 11 353 364 + + + + + + + + + + + - persentase perubaban 0.240 987 138 2.5 33.205 -1.barang don jasa.9 300. Realisasi nilai ekspor sebesar US $ 9.6 88. Sensih yang belum dapat diperhitungkan VIII.591 -1.420 -2.7 6.353 3.8 20 0.5 6.995 74 1.823 147 1.7 + + + + + + + + + + + 325.9 juta.8 40.9 32.100.613 -1.010 5.613 1.8 juta.5 + 6.5 98.6 65.651 159 -1.1 18.684 1.2 + 358. 1969/1970 . Pembayaranhntang pokok VI.6 12.186 5.921 -1.8 176.992 1.9 75.3 17.7 7.409 930 -4.1 juta atau 18.7 311.1 33.7 60.9 + + + 1975/1976 7.4 41.977.350 2.653 2.6 4.6 -123.7 2.l NERACA PEMBAYARAN. dan nilai ekspor di luar rninyak dan gas sebesar US $ 2.273 1.2 + persentase 1973/1974 perubahan 3.4 52.9 15. Pemasnkan modal Pemerintab 1. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 3.638 -2.492 845 407 438 557 399 956 481 336 145 480 66 338 87 425 + + + + + + + + + + + + + + + + persentase pernbahan 41.7 65.5 + + + 1976/1977 9.3 95. Barang.9 13.2 32.6 2.397 643 281 362 549 81 355 5 360 + + + 1974/1975 7.5 juta.6 29.4 518.097 -1. 708 + 1.9 15.153 2. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 2. Impor.065 1.8 + 16.1 8. Jumlah I sId V VII. yang pada gilirannya Departemen Keuangan RI 134 .5 8.479 -2.1 27.512 1.6 43. Bantuan program 2. Peningkatan tersebut tidak terlepos dari adanya perbaikan dalarn perekonornian dunia.2 3 13.613 -1.155 4.114 + + + + + + + + + + + + + persentase perubahan 4.9 32.710 -4.2 720.5 0.7 26.6 46.jasa 1.1 36.6 + + - 152.8 juta.008 490 214 276 388 135 523 28 369 283 86 115 47 77 95 18 + + + + + + + + + + + persentase perubahan 15.barang don jasa.3 13.1 24.295 606 689 756 641 -1.6 46.949 + + + + + + + + + + + + + 17.8 202. Transaksi berjalan minyak dan gas tanpa minyak dan gas H.5 21 9.6 59. Sensih yang belum dapat diperhitungkan VIII.3 + 0.4 67.4 juta tersebut terdiri dari nilai ekspor minyak dan gas sebesar US $ 6.6 10.266 690 4. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 2.2 66 + + + + + + + + + + 1972/1973 1.7 46.6 6.4 22.4 juta.753 -5.6 13.959.6 + 24.135 2. Pemasnkan modal Pemerintab 1.9 201. Lain lintas moneter + + + 3.3 2.3 81.9 15.9 24.376 3.1 32.6 86.1 33.7 15 17.4 9.7 17 + + + + + + + + + + - + + + + + + + + + + + + + + + + + 15.6 20.490 6. Pembayaranhntang pokok VI.138 -3.412 1.3 77 95.001 + + + + + + + + + + + + + persentase pernbahan 28.418 2.9 9.2 16.5 51.2 60. Bantnan prorok dan lain-lain IV. Jasa-jasa minyak dan gas tanpa minyak don gas 4. S D R HI. Ekspor.9 6. yaitu dari sebesar US $ 7. Lain lintas modallainnya V. Lain lintas modallainnya V. Peningkatan ini terjadi antara lain karena adanya peningkatan yang cukup besar dalarn ekspor gas alarn cairo Nilai ekspor di luar rninyak dan gas selarna periode April-Agustus 1984 tersebut berarti rneningkat sebesar US $ 357.613 + 1. Bantnan prorok dan lain-lain IV.1984/1985 ( dalam jutaan US $ ) 1969/1970 I.507 7.1 8.6 35.1 53.2 13 8.204 443 761 -1.009 448 204 244 501 92 593 35 371 308 63 27 31 99 56 43 + + + + + + + + + + + 1970/1971 1.6 + 15.102 94 -1.5 27.937. Impor.3 + 15.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel V.765.1 22.334. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 3.1 18.708 1.6 juta rnenjadi sebesar US $9.8 1978/1979 + + + 11. Barang.4 + 15.116 574 254 320 448 204 652 30 400 286 114 190 78 94 6 100 + + + + + + + + + + + + + + + + + + persentase perubaban 14.295 606 689 756 641 -1.8 + + + + + + + persentase 1977/1978 perubahan 10.5 7.5 + + + + + 1971/1972 1.097 88 -1.5 122.9 57.100. Lain lintas moneter + + 1.676 38 166 893 108 -1.939 965 974 -1.9 14 19.732 4.8 13.5 + 115.979 8.866 1.863 -7.776 660 180 480 131 89 302 311 9 + + + + + + + + + + + + + + persentase perubahan 98.8 19 43.227 -1.2 36.3 14.1 persen dibandingkan dengan nilai ekspornya dalarn periode yang sarna tahun 1983 sebesar US $ 1.074 461 -2.173 1.3 + 103.3 72 104.7 16.8 5.9 + 51.3 48.4 10.7 14.7 17.860 7.1 6.3 35. Jumlah I sId V VII.213 6.033 -5.1 9.7 11.106 157 1.146 5.074 461 -2.711 6.8 40.8 0.8 22.353 7.374 3.044 384 660 -1.7 47.4 + + - 549 + 81 + 355 5 360 1973/1974 I.1 63.955 802 3. Jasa-jasa minyak dan gas tanpa minyak don gas 4.5 persen.4 4.1 17.374 590 784 -1.5 9.873 -5. berarti nilai ekspor rninyak dan gas tersebut rnengalami kenaikan sebesar 13.4 + - 392 + 632 877 169 708 Realisasi nilai ekspor secara kese1uruhan dalam periode April-Agustus 1984 menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan realisasi nilai ekspor dalam periode yang sama tahun 1983.8 0.443 1.905 + -3.2 40.822 -2.4 1. Bantuan program 2.905 -3.445 5.2 189.386 854 3.275 -3.248 132 -1.

dan perrnintaan dari Jepang karena meningkatnya kebutuhan untuk mermnuhi pesanan dari luar negeri. Sebaliknya nilai ekspor tirnah yang dalam lima bulan pertama tahun 1984/1985 berjumlah sebesar US $ 103.2 juta dalarn periode April-Agustus 1983.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rneningkatkan perrnintaan negara-negara industri terhadap barang-barang ekspor negara berkernbang.8 juta bila dibandingkan dengan nilai ekspornya dalam periode yang sama tahun 1983/1984 yang berjumlah sebesar US $ 134.4 juta.9 juta. serta berkurangnya penawaran kopi robusta dari Departemen Keuangan RI 135 .nilai ekspor kopi yang pada lima bulan pertama tahun 1983/1984 mencapai US $ 203.8 juta untuk periode April-Agustus 1983. yang berarti US $ 7.4 juta. dalam periode 1984 belum ada realisasinya. terrnasuk dari Indonesia. Meningkatnya nilai ekspor ini disebabkan oleh rneningkatnya perrnintaan Amerika Serikat akan karet alam untuk rnenambah cadangan strategisnya. Ekspor karet yang dalarn periode April-Agustus 1983 realisasinya mencapai US $ 343. diantaranya ke beberapa negara Asia. Tirnur Tengah. sehingga pemakaian timah berkurang.4 juta. Eropa dan Arnerika Serikat. dalam periode yang sama tahun 1984/1985 meningkat menjadi US $ 233. Sedangkan nilai ekspor biji sawit yang mencapai sebesar US $0. Penurunan ini terjadi karena meskipun harga naik tetapi volume ekspornya menurun sebagai akibat pembatasan ekspor timah oleh Dewan Timah Internasional. Kenaikan harga ini timbul karena adanya pembelian secara besar-besaran yang berlangsung setelah tersiar kabar kemungkinan rusaknya panen kopi Brazil tahun 1985 akibat hawa beku yang akan melanda negara tersebut. menunjukkan adanya penurunan sebesar US $ 30. dan adanya penggunaan bahan-bahan lain pengganti timah. rnenjadi sebesar US $ 9.6 juta.8 juta dalarn periode yang sama tahun 1984. Demikian pula nilai ekspor minyak sawit telah menurun dari sebesar US $40. Sebaliknya .4 juta. dalam periode yang sarna tahun 1984 menunjukkan peningkatan rnenjadi sebesar US $ 373.2 juta lebih rendah dari nilai ekspor pada periode yang sarna tahun sebelurnnya sebesar US $ 445. Penurunan ini disebabkan oleh rnenurunnya harga kayu. meskipun dalarn periode tersebut harga karet rnengalarni penurunan. Kenaikan tersebut terjadi selain disebabkan oleh kenaikan harga kopi di posar internasional. juga disebabkan oleh naiknya kuota ekspor kopi. Menurunnya ekspor minyak sawit ini disebabkan oleh karena adanya pembatasan ekspor untuk memenuhi kebutuhan dalarn negeri. karena ada penundaan dalarn pelaksanaan ekspornya. meskipun harganya di posar internasional mulai rnembaik. rneskipun pernasanin kayu lapis ke beberapa negara sernakin rneningkat. Sebagai salah satu komoditi dalarn kelornpok barang utama.6 juta. ekspor kayu dalarn periode April-Agustus 1984 rnencapai nilai sebesar US $ 438.7 juta.

bahan makanan.7 juta. menjadi US $ 626.269 juta. barang tambang.2. Selanjutnya barang tambang yang dalam periode April-Agustus 1983 nilai ekspornya sebesar US $ 175. Berkaitan dengan itu.5 juta.p.3.2 juta. Adapun barang lainnya seperti hewan dan hasilnya.427.7 persen) lebih Departemen Keuangan RI 136 .0 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan realisasi nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1983/1984 yang berjumlah sebesar US $ 12. 5.3 juta.6 juta atau US $ 320 juta (6. yang berarti mengalami penurunan sebesar US $ 220 juta bila dibandingkan dengan realisasi nilai impor minyak dan gas pacta tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 3. semen dan alat-alat listrik. sehingga menjadi sebesar US $ 270.7 juta dan US $ 50. lada.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pantai Gading. Sementara itu nilai impor minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 3. bungkil kopra.6 juta. Dilihat dari golongan barangnya.815 juta. termasuk tekstil dan pakaian jadi.2 juta. dan lain-Iainnya termasuk kerajinan tangan dan pakaian jadi.1 juta untuk tahun 1984.5 juta atau US $ 338.4 juta dan US $ 34. yang disebabkan an tara lain oleh meningkatnya ekspor kerajinan tangan termasuk pakaian jadi. Nilai ekspor lada dan bahan makanan termasuk tapioka. nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 12. dalam periode yang sarna tahun 1984 meningkat sebesar US $ 94. selama lima bulan pertama 1984/1985 mencapai nilai ekspor sebesar US $ 1. bahan makanan. Meningkatnya nilai ekspor barang tambang ini disebabkan oleh meningkatnya ekspor aluminium dan tembaga.0 juta lebih tinggi hila dibandingkan dengan nilai ekspornya dalam periode yang sarna tahun 1983/1984 sebesar US $ 729. yang berarti US$ 646 juta atau 5.169 juta. Impor Rangkaian kebijaksanaan di bidang impor yang telah dan sedang dilaksanakan dalam beberapa periode ini banyak mempengaruhi perkembangan impor dalam tahun 1984/1985.489 juta. realisasi impor bukan minyak dan gas dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 4. Lebih rendahnya nilai impor tersebut terutama disebabkan karena menurunnya impor yang dilakukan dalam rangka bantuan proyek. kalau dalam lima bulan pertama tahun 1983/1984 masing-masing berjumlah sebesar US $ 17. Demikian pula nilai ekspor lain-lain meningkat dalam periode yang sarna dad sebesar US $ 378. dalam jangka waktu yang sarna tahun 1984/1985 meningkat masing-masing menjadi sebesar US $ 22.067.6 juta dalam tahun 1983. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya nilai ekspor komoditi lada. barang tamba. Penurunan ini terutama disebabkan karena menurunnya impor peralatan untuk keperluan eksplorasi minyak sejalan dengan telah dapat diproduksinya beberapa perala tan pengeboran minyak oleh industri dalam negeri.g dan lain-lain.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

rendah hila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun 1983 yaitu sebesar US $ 4.747,6 juta. Lebih rendahnya nilai impor tersebut terjadi alas imp or semua golongan barang, baik barang konsumsi, bahan baku/penolong maupun barang modal. Sementara nilai impor kelompok barang konsumsi dalam tahun 1984 berjumlah sebesar US $314,6 juta. Hal ini berarti terdapat penurunan sebesar US $ 60,3 juta atau sebesar 16,1 persen hila dibandingkan dengan nilai impornya dalam periode yang sarna tahun 1;183 sebesar US $374,9 juta. Penurunan nilai impor ini terjadi alas impor hampir semua jenis barang konsumsi, dan telah menyebabkan menurunnya peranan impor barang konsumsi terhadap nilai impor bukan minyak dan gas secara keseluruhan dari 7,9 persen menjadi 7,1 persen. Selanjutnya realisasi impor bahan baku/penolong dalam periode April-Agustus 1984 juga menunjukkan adanya penurunan bila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sama tahun sebelumnya. Apabila realisasi nilai impor bahan baku/penolong dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 2.168,0 juta, dalam periode yang sama tahun 1983 realisasi impornya berjumlah sebesar US $ 2.258,5 juta. Hal ini berarti lebih rendah sebesar US $ 90,5 juta, atau sebesar 4,0 persen. Lebih rendahnya nilai impor tersebut disebabkan karena menurunnya impor bahan kimia, bahan obat-obatan, pupuk, bahan-bahan kertas, bahan bangunan serta semen, kapur, dan bahan bangunan buatan pabrik lainnya. Namun demikian apabila dilihat dari peranan impor bahan baku/penolong terhadap impor bukan minyak dan gas seC(I,ra keseluruhan, persentasenya mengalami peningkatan dari 47,6 persen dalam periode April-Agustus 1983, menjadi sebesar 49,0 persen dalam periode yang sarna tahun 1984. Adapun realisasi nilai impor barang modal dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 1.945,0 juta. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun 1983 yang berjumlah sebesar US $ 2.114,2 juta, berarti telah terjadi penurunan sebesar US $ 169,2 juta atau 8,0 persen. Penurunan ini terjadi pacta impor mesin-mesin, generator listrik, peralatan listrik dan lainnya. Penurunan dalam realisasi nilai impor ini telah mengakibatkan pula menurunnya persentase impor kelompok barang modal terhadap realisasi nilai impor bukan minyak dan gas secara keseluruhan, yaitu dari sebesar 44,5 persen dalam periode April-Agustus 1983, menjadi sebesar 43,9 persen dalam periode yang sarna tahun 1984. Gambaran yang terperinci mengenai impor bukan minyak dan gas dapat diikuti dalam Tabel V.3.

Departemen Keuangan RI

137

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986
Tabel V.3 NILAI IMPOR TANPA MINY AK DAN GAS MENURUT GOLONGAN BARANG, 1969/1970 - 1984/1985 (df, dalam jutaan US $) persentase persentase persentase persentase persentase Jenis barang 1969/1970 dari 1970/1971 dari 1971/1972 dari 1972/1973 dari 1973/1974 dari jumlah jumlah jumlah jumlah jumlah I. Barang konsumsi 180,7 22,1 178,1 17,7 157 13,2 293,7 16,2 544,1 18,9 1. Beras 46,9 44,1 27,3 132,6 367,8 2. Tekstil 28,3 16 11,9 23 13,2 3. Susu, makanan, minuman dan buah - buahan 23,7 34 31,9 22,3 48,6 4. Tembakau daD olahannya 7,3 1,8 2,6 4,1 6,3 1 1,4 1,7 3,5 7,7 5. Sabun dan kosmetik 6. Alat-alat rumah tangga 10,9 12,3 15,8 6,7 24,6 7. Lainnya 62,6 68,5 65,8 101,5 75,9 ll. Bahan baku/penolong 399,7 48,8 475,6 47,3 562,3 47,3 790,4 43,7 1.257,90 43,7 1. Bahan kimia 60,3 69,6 80 115,2 171 2. Bahan obat-obatan 12,9 14,3 13,6 18,8 31,6 27,6 19,5 35,2 46,2 68,8 3. Pupuk 4. Bahan-bahan kertas 21,3 26,9 25,2 30,1 53,3 5. Benang tenun 54,3 55,3 56,5 106,2 206,5 6. Semen. kapur dan bahan bangunan buatan pabrik 11,3 13,8 18,2 25,8 46,5 7. Besi baja dan logam 61,5 72,6 113,2 186,6 351,4 1,3 1,2 1,1 19 78,3 8. Bahan-bahan karet dan plastik 9. Bahan bangunan 6,1 10,8 16,3 25,7 56 10. Alat-alat listrlk 1 1,2 ' 0,9 5,7 23 11. Lainnya 142,1 190,4 202,1 211,1 171;5 III.Barang modal 238,7 29,1 352,6 35 470,6 39,5 724,5 40,1 1.079,00 37,4 1. Mesin-mesin 115,8 183,8 247,8 373,2 588,4 5,3 7,6 10,9 31,9 87,1 2. Generator listrik 3. Alat telekomunikasi 16,9 19,2 21 32,4 46,9 7,2 11 12,3 16,4 31,3 4. Peralatan listrik 5. Alat pengangkutan 44,7 62,9 81,4 141,2 301,3 6. Lainnya 48,8 68,1 97,2 129,4 24 Jumlah 819,1 100 1.006,30 100 1.189,90 100 1.808,60 100 2.881,00 100

Jenis barang I. Barang konsumsi 1. Beras 2. Tekstil 3. SolO, makanan, minuman dan buah-buahan 4. Tembakau dan olahannya 5. Sabun dan kosmetik 6. Alat-alat rumah tangga 7. Lainnya n. Bahan bakufpenolong 1. Bahan kimia 2. Bahan obat-obatan 3. Pupuk 4. Bahan-bahan kertas 5. Benang tenon 6. Semen, kapur dan bahan bangunan buatan pabrik 7. Besi baja dan logam 8. Bahan-bahan karet dan plastik 9. Bahan bangunan 10. Alat-alat listrik 11. Lcinnya ill.Barang modal 1. Mesin-mesin 2. Generator listrik 3. Alat telekomunikasi 4. Peralatan listrik 5. Alat pengangkutan 6. Lainnya Jumlah

1974/1975

persentase persentase persentase persentase persentase dari 1975/1976 1976/1977 dari 1977/1978 dari 1978/1979 dari dari jumJah jum1ah jum1ah jumJah jum1ah 659 16,9 519 831,2 15,3 1.176,40 21,3 1.202,90 19,5 11,8 426,8 234,7 408,4 677,7 592,3 15,9 13,5 21,6 26,6 23,9 130,7 7,9 8,6 27,8 95,8 2.151,10 273,4 33 316,5 70,7 254,2 61,9 585,2 128,9 111 62,7 253,6 1.730,10 804,9 167,2 122 61,7 530,4 43,9 4.400,20 173,4 13,5 17,1 42,5 154,7 2.156,40 332,3 45,4 22,1 109,6 307,8 60,4 587,7 165,4 165,7 97,6 262,4 2.453,60 1.125,80 264,2 355,4 131,2 531,5 45,5 5.441,20 238,1 15,3 19,5 43,5 155,8 2.185,10 392,5 42,1 31,9 117,2 322,5 29,4 597,4 175,3 155,4 84,2 237,2 2.152,90 944,7 203,2 200,9 125,3 615,8 63 5.514,40 256,1 16 20,5 56,9 237,2 2.616,10 461,9 48,3 55,2 123,2 293,3 23,7 760,4 223,5 115,7 90,3 420,6 2.335,40 1.113,10 187,2 122,5 134,1 734,6 43,9 6.154,40

77,7 11,6 7,4 31,9 87,7 1.816,00 239,9 33,8 305,6 58,9 229,5 76,2 467,8 99,9 77,4 38,4 188,6 1.430,40 738,7 141 60,7 45,3 415,2 29,5 3.905,40

46,5

48,9

39,6

39,6

42,5

36,6

39,3

45,1

39,1

38

100

100

100

100

100

Berdasarkan PPUD yang diolah Biro Pusat Statistik

5.3.3.Pengeluaran jasa-jasa (netto) Usaha-usaha meningkatkan penerimaan devisa dan penghematan penggunaan devisa dalam bidang jasa-jasa terus digalakkan. Berkaitan dengan itu, fasilitas bebas visa selama dua bulan yang telah diberikan sejak 1 April 1983 kepada wisatawan dari 26 negara, mulai 1 September 1984 juga diberikan kepada para pengusaha dari negara-negara tersebut, bahkan telah ditambah dua negara lagi sehingga meliputi 28 negara. Demikian pula pembangunan
Departemen Keuangan RI

138

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

industri dan sarana pariwisata dirangsang dengan memberikan keringanan bea masuk dan pajak penjualan impor atas barang-barang tertentu yang masih dibutuhkan dan belum dihasilkan di dalam negeri. Sementara itu kebijaksanaan pengiriman tenaga kerja Indonesiake luar negeri (Timur Tengah) terus digalakkan, dengan harapan dapat menambah penerimaan devisa yang berasal dari uang kiriman para tenaga kerja ke tanah air (remittance). Pengendalian tata pelaksanaan pengerahan tenaga kerja dewasa ini mencakup juga penentuan upah terendah, dan kewajiban mentransfer paling sedikit lima puluh persen penghasilan yang diterima. Selanjutnya usaha penghematan penggunaan devisa di bidang jasa-jasa dilaksanakan dengan tetap menerapkan bea fiskal perjalanan luar negeri sebesar Rp 150.000,- bagi setiap orang yang bepergian ke luar negeri. Pengeluaran devisa untuk jasa-jasa setelah dikurangi dengan penerimaan devisa dari jasa-jasa, baik minyak dan gas maupun di luar minyak dan gas, dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 7.587 juta. Jumlah ini berarti lebih rendah sebesar US $ 76 juta hila dibandingkan dengan realisasinya dalam tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 7.663 juta. Perkiraan penge1uaran devisa untuk jasa-jasa tersebut terdiri dari pengeluaran jasa-jasa bukan minyak dan gas sebesar US $ 4.176 juta, yang berarti lebih tinggi sebesar US $ 102 juta atau 2,5 persen hila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 4.074 juta. Lebih tingginya pengeluaran jasa-jasa tersebut terutama disebabkan karena meningkatnya pembayaran bunga pinjaman luar negeri. Di lain pihak pengeluaran jasa-jasa minyak (termasuk LNG) menunjukkan penurnnan sebesar US$ 178 juta atau sebesar 5,0 persen, yaitu dari US $ 3.589 jut3 dalam tahun 1983/1984 menjadi US $ 3.411 juta dalam tahun 1984/1985. 5.3.4. Lalu lintas modal dan transfer Dengan semakin meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan terbatasnya penerimaan devisa yang dapat dihimpun, pemasukan modal baik dalam bentuk pemasukan modal Pemerintah maupun modallainnya tetap diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran, dan kelangsungan pembangunan ekonomi nasional. Namun demikian sikap berhati-hati dalam meminjam, dan selektif dalam pemilihan proyek-proyek yang dibiayai dari dana luar negeri tersebut lebih diperhatikan, sehingga penggunaannya dapat meningkatkan kemampuan pengembangan industri dalam negeri, dan mendorong perluasan lapangan kerja, serta pacta akhirnya tidak akan menyulitkan posisi neraca pembayaran dimasa yang akan datang. Sehubungan dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut, lalu lintas modal, yang merupakan hasil bersih pemasukan modal Pemerintah dan pemasukan modal lainnya setelah dikurangi dengan pembayaran angsuran pokok hutang luar negeri, dalam tahun 1984/1985
Departemen Keuangan RI

139

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

diperkirakan berjumlah sebesar US $ 3.191 juta. Jumlah tersebut terdiri dari pemasukan modal Pemerintah sebesar US $ 4.359 juta, dan pemasukan modallainnya sebesar US $ 341 juta. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 1983/1984, masing-masing menurun sebesar US $ 1.434 juta atau 24,8 persen, dan sebesar US $ 850 juta atau 71,4 persen. Sedangkan realisasi pelunasan hutang pokok luar negeri dalam tahun 1984/1985 diperkirakan meningkat dari tahun sebelumnya sehingga mencapai jumlah sebesar US $ 1.509 juta. Peningkatan terse but adalah sejalan dengan semakin bertambah besarnya kewajiban penyelesaian hutang dari tahun-tahun sebelumnya yang telah jatuh tempo. 5.4. Perkiraan neraca pembayaran dalam tahun 1985/1986 Atas dasar perkiraan realisasi dalam tahun 1984/1985, dan dengan memperhitungkan perkembangan yang diperkirakan akan terjadi baik terhadap ekspor, impor maupun lalu lintas modal dalam periode berikutnya, neraca pembayaran Indonesia dalam tahun 1985/1986 diperkirakan masih akan mengalami surplus meskipun tidak sebesar dalam tahun 1984/1985. Keadaan ini diperkirakan terjadi karena di satu pihak realisasi transaksi berjalan diperkirakan akan mengalami defisit sebesar US $ 3.409 juta, dan di lain pihak lalu lintas modal bersih, baik yang berasal. dari pemasukan modal Pemerintah maupun pemasukan modal lainnya, setelah dikurangi angsuran pokok hutang luar negeri, dalam periode tersebut mencapai US $ 3.682 juta. Dengan demikian neraca pembayaran tahun 1985/1986 diperkirakan surplus sebesar US $ 273 juta. 5.4.1. Perkiraan nilai ekspor bukan minyak dan gas Kalau dalam tahun 1984/1985 nilai ekspor di luar minyak dan gas realisasinya diperkirakan mencapai US $ 6.050 juta, maka dalam tahun 1985/1986 nilai ekspornya diperkirakan mencapai sebesar US $ 7.009 juta, yang berarti meningkat sebesar. US $ 959 juta atau 15,9 persen. Adapun perkiraan kenaikan nilai ekspor di luar minyak dan gas terse but didasarkan pacta pertimbangan-pertimbangan : (1) Mulai pulihnya perekonomian negara-negara industri dari pengaruh resesi, sehingga harga-harga komoditi di luar minyak dan gas di posaran internasional diharapkan akan meningkat, disertai dengan meningkatnya permintaan negara-negara tersebut terhadap komoditi di luar minyak dan gas; (2) (3) Penanganan ekspor komoditi di luar minyak dan gas secara terpadu dan efisien; Ditingkatkannya usaha perluasan posar antara lain dengan' mengadakan hubungan dagang dengan negara-negara Eropa Timur.
Departemen Keuangan RI

140

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

5.4.2. Perkiraan nilai impor bukan minyak dan gas Pengduaran devisa untuk impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1985/1986 diperkirakan akan berjumlah sebesar US $ 13.342 juta. Jumlah ini adalah US $ 1.173 juta atau 9,6 persen lebih besar bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 sebesar US $ 12.169 juta. Nilai impor bukan minyak dan gas tahun 1985/1986 didasarkan atas perkiraan-perkiraan sebagai berikut : (1) Kebijaksanaan kurs devisa untuk menjaga keseimbangan perdagangan luar negeri masih tetap dipertahankan. (2) Keadaan resesi ekonomi dunia yang menunjukkan pemulihan akan mempengarnhi perekonomian Indonesia khususnya di bidang produksi industri dalam negeri, sehingga untuk keperluan industri dalam negeri t_rsebut diperlukan impor bahan baku/penolong serta barang modal yang lebih tinggi. (3) Pemerintah masih tetap menjaga kestabilan harga barang-barang kebutuhan masyarakat sehingga terhadap barang yang belum mencukupi atau belum diproduksi di dalam tetap dilakukan impor. (4) (5) (6) Pemakaian produksi dalam negeri terus digalakkan. Impor dalam rangka bantuan proyek dan bantuan program masih tetap diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Kebijaksanaan penjadwalan kembali (rephasing) yang telah dilaksanakan untuk proyek proyek tertentu yang banyak menggunakan barang-barang impor masih tetap dipertahankan. 5.4.3.Perkiraan penerimaan minyak bersih termasuk LNG Situasi posaran minyak dunia sampai saat ini belum memperlihatkan tanda-tanda perbaikan seperti yang diharapkan. Situasi yang demikian ini sangat frat hubungannya dengan proses pemulihan ekonomi yang berjalan lamban, sehingga adanya kelebihan produksi minyak dunia tidak segera diikuti oleh penambahan permintaannya. Di samping itu harga minyak tunai (spot) diposaran dunia terus mengalami posang surut bersamaan dengan posang surntnya pemulihan perekonomian dunia, terntama di negara-negara industri, perubahan musim di belahan bumi non tropis, serta peleposan/penambahan cadangan (stock) minyak oleh negaranegara industri. Situasi yang demikian itu telah memaksa OPEC mengambil keputusan untuk memperbaiki situasi minyak yang ternyata sampai akhir tahun 1984 belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Bahkan sesuai dengan hasil pertemuan OPEC bulan Oktober 1984 telah diputuskan bahwa kuota produksi diturunkan dari 17,5 juta barrel menjadi 16 juta barrel per
Departemen Keuangan RI

negeri

141

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

hari, sedangkan harga patokan minyak mentah masih tetap dipertahankan sebesar US $ 29 per barrel. Dengan adanya ketentuan kuota produksi minyak tersebut, maka kuota produksi minyak Indonesia harns diturunkan sebanyak 111.000 barrel per hari selama bulan November dan Desember 1984. Sementara itu dengan telah diproduksinya beberapa peralatan pengeboran minyak oleh industri dalam negeri, maka akan mempengaruhi penghematan penggunaan devisa untuk impor di sektor minyak. Di lain pihak devisa hasil ekspor gas alam yang dicairkan (LNG) diperkirakan akan mengalami peningkatan dalam tahun 1985/1986. Atas dasar perkiraan realisasi penerimaan minyak bersih termasuk LNG dalam tahun 1984/1985, serta perkiraan situasi pasaran minyak dunia yang akan terjadi, maka dalam tahun 1985/1986 penerimaan minyak bersih (termasuk LNG) diperkirakan berjumlah sebesar US $ 7.299 juta. 5.4.4. Perkiraan pos lainnya Pengeluaran devisa untuk pembayaran jasa-jasa. dalam tahun 1985/1986 diperkirakan masih akan lebih besar dari penerimaannya, sehingga sektor jasa masih menunjukkan hasil bersih yang negatif bagi penerimaan devisa negara. Sehubungan dengan itu, usaba peningkatan penerimaan devisa, dan penghematan penggunaannya di bidang jasa-jasa akan terus dilakukan melalui pengembangan sektor kepariwisataan, pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, pembatasan perjalanan ke luar negeri, pengurangan secara bertahap penggunaan tenaga kerja asing/konsultan di Indonesia, serta peningkatan peranan armada niaga nasional dalam pengangkutan barang ekspor dan impor. Dalam tahun 1985/1986 hasil bersih untuk jasa-jasa diperkirakan berjumlah sebesar US $ 8.102 juta. Selanjutnya pemasukan modal Pemerintah dalam tahun 1985/1986 diperkirakan akan berjumlah sebesar US $ 4.974 juta, termasuk bantuan proyek sebesar US $ 4.016 juta. Sedangkan pemasukan modallainnya diperkirakan akan mencapai sebesar US $ 406 juta. Di lain pihak, pembayaran kembali hutang pokok luar negeri dalam tahun 1985/1986 diperkirakan sebesar US $ 1.698 juta.

Departemen Keuangan RI

142

yakni sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur melalui produk domestik bruto atas dasar harga yang berlaku telah berhasil ditingkatkan dengan rata-rata sebesar 26. Berdasarkan harga yang berlaku. Departemen Keuangan RI 143 . Indonesia sejak tahun 1969 dengan giat melaksanakan pembangunan nasional secara berencana dan bertahap serta berpegang teguh pada kebijaksanaan Trilogi Pembangunan. maka dalarn periode tersebut telah terjadi kenaikan rata-rata sebesar 7. sektor bangunan.2 persen per tahun (Tabel VI. gas dan air minum telah semakin meningkat.2 persen per tahun. pembangunan nasional mengusahakan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. sektor perdagangan. Hal ini berarti bahwa selama kurun waktu tersebut.0 milyar menjadi sebesar Rp 71. di satu pihak peranan sektor pertanian menurun sedangkan di lain pihak peranan sektor lainnya seperti sektor industri.tural yang penting.1). Pendahuluan Sebagai suatu negara yang sedang berkembang.7 milyar. yang pada gilirannya memungkinkan terwujudnya peningkatan tarat hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat. Tanpa mengabaikan usaha pemerataan dan kestabilan.214. lembaga keuangan dan jasa lainnya. 6. telah terjadi pula perubahan struJ<:. yaitu ke arab suatu perekonomian industri yang didukung oleh sektor pertanian yang tangguh. Sedangkan apabila diukur atas dasar harga konstan tahun 1973. Di samping telah dicapainya penmgkatan produk domestik bruto dari tahun ke tahun. yaitu dari periode tahun 1969 sampai dengan tahun 1983.718.1. pendapatan nasional sebagaimana tercermin dari perkembangan nilai produk domestik bruto dari tahun 1969 sarnpai dengan tahun 1983 telah menunjukkan jumlah yang semakin besar. Perkembangan pendapatan nasional menurut lapangan usaha dan kontribusinya Hasil pembangunan ekonomi antara lain dicerminkan dari pendapatan nasional yang senantiasa meningkat dalarn kurun waktu 14 tahun terakhir ini.2 persen per tahun. produk domestik bruto atas dasar harga yang berlaku mengalami kenaikan rata-rata sebesar 26. serta sektor listrik. yakni dari sebssar Rp 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VI PENDAPATAN NASIONAL 6. Dalam kurun waktu 14 tahun. Keadaan tersebut merupakan suatu petunjuk terjadinya suatu proses keseimbangan yang lebih baik dalam struktur ekonomi.2.

704.90 1.771.8 1.70 1.427. suatu pertumbuhan yang dimungkinkan di samping oleh kebijaksanaan Pemerintah dan upaya masyarakat.40 1974 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e 1 VI.850.421. perikanan a.820.8 589.6 4.811. laju pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 7.9 5.706.169.710.00 1979 8.70 Lapangan usaha 1.00 823 516 129 251 13 75 77 834 1970 1.117. gas. Bangunan 6. Dengan demikian apabila perkembangan tersebut dikaitkan dengan laju pertumbuhan penduduk yang diperkirakan sekitar 2.00 1972 1.50 1.90 4.448.70 1972 2.00 954 522 435 22.034.90 7.235.2 PRODUK DOMESTIK BRUTO.80 1.069.00 305.00 5.00 831 650 30.755.70 49 463.263.00 1. kehutanan.707.30 68.80 1.00 21.027.00 1.9 639.00 1.566.842.023.00 3.00 890 52 406 442 3.60 77.734.395. Industri pengolahan 4.247. Tanaman bahan makanan b.833.599.60 2.593.064.2 676.681.507.071. perikanan a.2 3.6 521.80 1981 13.672.50 2.70 11.013.80 1. atas dasar harga konstan tahun 1973) Lapangan usaha 1.50 11.3 1.50 112.10 828.479.80 1.40 1.00 3.8 1.00 1975 2.9 528.2 Setelah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah dalam tahun 1982 yakni sebesar 2.8 3.427. Listrik.20 12. gas. Lainnya 2.8 milyar.339.979.942.60 1. maka ekonomi mulai membaik dan dalam tahun 1983 telah mencapai sebesar 4.356.4 262 257 2.2 persen.137.90 1978 6.10 1977 5.80 1976 2.50 5. juga karena adanya kebangkitan kembali ekonomi dunia.00 1973 2.816. kehutanan.50 1.414.00 1.30 1977 2.20 12.00 1.965.182.90 8.299.2 222 229 1.00 551 490 24.40 2.9 514.995.00 961 685 294 307 18 128 162 1.40 118.00 1.835.6 662.20 1.00 766 491 448 20 174 182 1.30 842.823.80 1.00 1978 3.30 1980 11. lembaga keuangan dan jasa lainnya 1969 1.646.795.10 1.30 9.048.415.877. Pertambangan & penggalian 3.60 1982 3.7 2.70 12.943.00 1.50 1979 3.30 12.40 939.6 1.5 342. Departemen Keuangan RI 144 .00 5.374.60 2.20 1.6 2.346.00 962 613 173 293 15 100 96 986 1971 1.115.30 1l.90 6.90 10.789.00 1.900.9 41.005.261.480. Tabel VI.164.096.8 716.003.669. 1969 .714. 1embaga keuangan danjasa lainnya Jumlah 1969 2.434.70 1.357.753.893.325.047.40 2.90 2. Sebagaimana terlihat pada Tabel VI. maka terlihat bahwa upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat selama kurun waktu memperihatkan hasil yang nyata.287.20 1.882.30 98.845.294.90 105.80 89.137.60 8. juga mengalami peningkatan dari sebesar Rp 4.2 952.80 12842. Lainnya 2.2 persen per tahun.2 persen.00 1976 4.9 persen per tahun.433.00 6.991.436.2 364.00 6.90 225.659.5 milyar serta sektor perdagangan.707.90 2.325.269.70 1.5 752.00 1.70 3.80 1.50 5.10 1.811.1 88.4 3.245. Tanaman bahan makanan b.6 milyar.6 562.1983 (dalam milyar rupiah atas dasar harga yang berlaku) 1974 4.1 2.90 1980 3.873.3.981.310.80 3.8 438.573.9 720.00 7.554.10 1.70 69.380.821.90 1.80 2. don al£ minum 5.332.544.00 674 564 26.441.00 1.837.275.50 9.538. Pertanian.003.353.30 1.60 2.821.70 4.00 1.5 143 165 1.3 930 46.908.013.768.60 4.970.1 812.70 380.00 1.2 3.60 6. lembaga keuangan dan jasa lainnya sebesar Rp 4.7 171 210 1.117. Pengangkutan don komunikasi 7.3 3.8 7.698.424. produk domestik bruto yang dihitung atas dasar harga konstan tahun 1973.00 890 452 399 19.696.043.942.00 4.412.10 2.3 609.30 956.892.00 2.1 3.3 384.00 1971 2.80 5.1 847.00 1.070.930. 1 PRODUK DOMESTIK BRUTO. dan air minum 5.678.433.50 1970 2.642.375. Produk domestik bruto sebesar Rp 12.290.30 6.6 114 158 1. 1969 -1983 (dalam milyar rupiah.357.30 1.70 288. atau naik rata-rata sebesar 7.4 262 257 2. Listrik.046.047.80 1.9 4. Perdagangan.199.5 4.242.2 milyar.20 1973 2.2 4. Dengan demikian selama Pelita III telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 6 persen per tahun.30 1.484.255.1 30.905.067.50 8.00 1.390.961.2 persen selama kurun waktu 14 tahun tersebut terutama didukung oleh sektor bangunan yang mempunyai tingkat pertumbuhan paling tinggi yaitu rata-rata sebesar 14. Pengangkutan dan komunikasi 7.842.573.6 4.401.50 8.00 Dalam periode yang sama.031.073.235.00 1. Bangunan 6.2 milyar tersebut terbentuk dari nilai tambah bruto di semua sektor.630.738.50 12.156.2 persen per tahun.054.057.40 1983 3.575.5 milyar menjadi Rp 12.523.420.70 3.80 1.870.40 2.918.379.540.10 1983 18.845.00 1982 15.657.134.412.7' 6.70 105.710.30 9.402.680.00 831 650 30.820.437.2.812. sektor industri pengolahan sebesar Rp 1. Pertambangan & penggalian 3.8 559.5 1.20 15.60 56.60 1.60 5.556.20 2.932.00 1.60 148.00 1.00 1975 4. Perdagangan.5 757.20 1981 3.80 3. Perkembangan secara lebih terperinci dapat diikuti pada Tabel VI.60 13.123.8 302.373. industri pengolahan 4.80 2.7 2.101.668. antara lain sektor pertanian sebesar Rp 3.351.10 1.8 804.103.20 17.60 4. Pertanian.453.0 859 755 37 320 288 2.40 1.

2 23.4 7.1 9.7 5 1976 20. gas daft air minum 5.9 7. Pengangkutan daft komunikasi 7.8 5.1 14 17.1 6.8 1.9 1982 1) 1983 2) 14.6 16.8 30.2 45.4 20.6 21.4 18. sektor bangunan serta sektor pengangkutan dan komunikasi.5 37.9 5.1 33.4 33.1 35.1 15. Perdagangan.2 8 7.2 59. Bangunan 6.1 52 50. yang masing-masing meningkat dari sebesar 8.3 24.7 1977 22.9 26. lndustri pengolahan 4.9 27.7 1979 34.3 1.2 7.4 8. Pertanian. 2.9 12. yakni masing-masing dengan kenaikan rata-rata sebesar 13.4 .3 11.3.2. Di samping itu sektor listrik. 1970.9 25 7.2 17.2 12 21.1 16.8 3.6 5. lndustri pengolahan 4.1 4.8 20 28 68.5 67.3 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 34.5 6.6 27.8 18.4 19 19.1 -12. Dari perbedaan laju pertumbuhan antarsektor tersebut dapat dilihat bahwa telah terjadi proses perubahan di dalam komposisi produk domestik bruto.6 41. Di lain pihak.5 9 14.8 33.6 29 29.6 48 9. peranan sektor-sektor lainnya di luar sektor pertanian pada umumnya menunjukkan tendensi yang semakin meningkat.2 15.2 Rata-rata 3) 1970 .3 7.9 18.8 persen per tahun.2 16.4 5.9 12.5 11.5 5.6 9.2 17.1 29.8 16.4 3. 1embaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto 1970 17. Bangunan 6.3 persen.4 14 5. gas dan air minum.7 18.7 7 1972 11.7 31.8 13.4 22.3 1974 29 185.1 1978 13.8 19.2 7.3 13.5 18.8 5. Listrik.7 7.1 60.4 19.1 41.3 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 15.9 5 6.5 69. kehutanan.01 12.7 26.7 8.7 persen per tahun.1 26.4 37.9 persen dari seluruh nilai produk domestik bruto.5 7.4 5. jembatan dan irigasi.6 25.4 4.1 9.7 12.8 11.6 13. Namun peranan tersebut berangsur-angsur menurun menjadi sebesar 29.8 -9.5 1971 4.1 32.9 4.3 9.2 21.7 51.4 24. Di samping itusektor perdagangan. Seperti terlihat pada Tabel VI. gas daft air minum 5.8 25.9 6.1 10.1 55 72 51.7 26. Hal ini pada gilirannya diharapkan dapat mengacu kepada perimbangan yang serasi dan sesuai dengan sasaran pembangunan ekonomi jangka panjang.3 PRODUK DOMESTIK BRUTO.3 33.9 5.9 1980 25. peranan sektor pertanian dalam tahun 1969 tampak menonjol.8 persen dalam tahun 1983.1 0.8 2.4 persen dan 3.6 6.3 23.1 12.2 6.6 1975 14. lembaga keuangan dan jasa lainnya serta sektor pertambangan dan penggalian masing-masing mengalami kenaikan ratarata sebesar 8.4 1973 47.2 2. Departemen Keuangan RI 145 .1 10.2 1.1 16.5 11. perikanan 2.4 12.9 20.5 persen dalam tahun 1983.8 36.1983 ( persentase kenaikan ) Lapangan ulaha ( Atas dasar harga yang berlaku ) 1.4 12.6 3. perikanan 2.7 39.8 12 48.5 40.9 persen dan 11.5 4.2 28.3 15.8 27.6 12.2 19. 11. Pertambangan & penggalian 3.9 4.9 32 12.8 19. yaitu meningkat ratarata sebesar 3.2 16 18 12.7 11.5 69. Pertanian.2 22. jalan.2 13.9 13.1 28 23.8 26.9 -1.7 13.2 19. kehutanan.9 29.7 22.0 9. Listrik. yaitu ke arab struktur ekonomi yang lebih seimbang dengan sektor industri yang maju dan didukung oleh sektor pertanian yang tangguh.9 11. sektor industri pengolahan serta sektor pengangkutan dan komunikasi juga cukup besar peranannya.3 15.1 22 22. Perdagangan. yaitu sebesar 46.2 3.4.1 10.2 42.8 26.9 3. 1embaga keuangan dan jasa 1ainnya Produk Domesdk Bruto ( Atas dasar harga konstan 1973 ) 1. 6.2 5.2 17. Di samping itu sektor perdagangan.4 2.2 5 4.4 58.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VI.6 67 45.4 .3 22.4 persen dan 5.1973 20.6 13.1 1.9 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Dihitung dengan compound rate Hal tersebut sejalan dengan makin meningkatnya kegiatan pembangunan di berbagai bidang seperti perumahan.7 15.7 36. namun sumbangannya terhadap pembentukan produk domestik bruto masih tetap besar.2 45.4 8.3 persen dan 5.3 4.7 22.7 19.9 11.4 4.3 10.3 15 12.6 8.3 14.8 9 13 9.5 4. Pertambangan & penggalian 3.9 71.8 13 10.2 36.6 34.5 19. Sementara itu walaupun laju pertumbuhan sektor pertanian lebih rendah dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.3 persen.9 persen dalam jangka waktu 14 tahun kemudian. seperti halnya sektor industri pengolahan. Pengangkutan dan komunikasi 7.6 22.2 1981 20.7 3.3 34.3 26.3 41 38.3 8.1 persen. lembaga keuangan dan jasa lainnya juga meningkat yaitu dari sebesar 29.5 persen per tahun.3 40.

4 0.6 5.7 100 44.4 3.4 0.1 0.7 11.5 3.4 32.3 9.8 29.2 persen per tahun.3 10.791.4 4.3 0. Hal ini berarti bahwa kenaikan riil sebesar 7.7 3.4 3.4 100 36.7 9.1 28.7 11.8 4 30.7 8.5 5.4 19.8 4 31. lembaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 6. Perdagangan.7 6 5.2 100 32. Apabila dalam tahun 1969 peranan pembentukan modal domestik bruto atas dasar harga yang berlaku terhadap produk domestik bruto baru mencapai sebesar 11.9 persen dan 8. kehutanan.7 4. perikanan 2.2 persen dalam tahun 1969 menjadi 30.8 2.4 100 36.5 4.9 9.1 100 29.1 5.6 5.7 3.8 11 12. alan suatu kenaikan rata-rata sebesar 10. gas dan air milIum 5.5 4.5 32. alas dasar harga konstan tahun 1973.1 21.2 100 31. lndustri pengolahan 4.5 3.8 7.9 34.5 3. Bangunan 6.9 6.7 30.6 5.6 5.9 3.4 3.6 33.921. Listrik.9 100 40.2 31. Jika dihitung alas dasar harga konstan tahun 1973.2 8.5 0.1 9.7 30 100 29.5 milyar dalam tahun 1969 menjadi sebesar Rp 1.2 100 29.4 12.3 100 31 18.3 19.4 0. dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 dengan rata-rata sebesar 7.2 10.2 milyar dalam tahun 1983.9 100 31.4 15.7 22.4 100 26.3 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TabeI VI.2 100 24.6 5.5 dan Tabel VI.2 persen per tahun dalarn periode tersebut. Pertanian. Pertambangan & penggalian 3.6 0.5 5.9 0. baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun oleh swasta.8 milyar dalam tahun 1969 menjadi sebesar Rp 3.9 7.1 30. Perdagangan.5 0.9 100 40.4 0.8 29.7 5.8 100 28.4 0.5 100 30.2 4.8 0.6 0. Pertanian.5 100 1.6.1 12.8 34.3 100 32 10.7 11-Jun 0.5 30.3 27.5 4.3 9.9 9.8 10. Industri pengolahan 4.5 5.1 0. gas dan air milIum 5.8 10.9 31. 4 PERANAN MASING-MASING LAPANGAN USAHA DALAM PROD UK DOMESTIK BRUTO.6 15.4 100 44 9.3 100 48.5 5. Selanjutnya di samping meningkatnya pembentukan modal domestik bruto. Meningkatnya produk domestik bruto.6 0. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 24.7 9.8 29.501.3 4.8 100 40.2 persen per tahun selama 14 tahun tersebut terutarna berasal dari semakin tingginya kegiatan investasi.8 0. Listrik.6 12.2 0.9 8.9 100 40. Perkembangan pendapatan nasional menurut jenis penggunaan Perkembangan ekonomi nasional sarnpai dengan tahun 1983 selain ditunjukkan oleh kenaikan per sektor.3 30.4 29.5 3.4 30.8 11.7 5.1 11.8 4.3 0.2 29.1 8.1 12.3.1983 ( persentase ) 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) Lapangan usaha (Atas dasar harga yang berlaku) 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1.2 persen per tahun.9 milyar dan Rp 11.4 2.3 24 10.1 3 30. Bangunan 6.2 100 33.4 100 38.7 100 46. Pengangkutan dan komunikasi 7.9 0.9 4.5 19. perikanan 2.8 25.8 30.6 5.9 11. Pengangkutan dan komunikasi 7.1 18.8 9. dalam periode yang sarna pengeluaran konsumsi pemerintah dan pengeluaran konsumsi rumah tangga juga telah menunjukkan peningkatan.3 29. pembentukan modal domestik bruto tetap menunjukkan kenaikan yaitu dari sebesar 11.4 8.9 15. dapat pula dilihat dari perkembangan masing-masing komponen penggunaannya seperti terlihat pada Tabel VI.9 9.4 2.5 10.2 4.5 4.8 8.758. alan suatu kenaikan sebesar rata-rata 15.7 0.5 100 45.8 0.6 12 11.9 100 25.3 5. 1969 .7 5. Pertambangan & penggalian 3.4 4 30.7 19.7 persen.0 milyar dan Rp 3.3 0.9 3.5 3.4 31. kehutanan.6 4.8 8 8.9 0.4 30.7 6.6 4.3 15.9 6.3 9 0.8 10.5 2. Terlihat bahwa peranan masing-masing jenis penggunaan produk domestik bruto dalarn periode tahun 1969 sarnpai dengan tahun 1983 telah menunjukkan perubahan dalam komposisi penggunaannya.6 0.4 29.3 13.6 4.7 4.4 0.8 100 32. terutama disebabkan oleh meningkatnya pembentukan modal domestik bruto yaitu dari sebesar Rp 537. lembaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto (Atas dasar harga konstan 1973) 49.3 0.4 100 26.5 5.5 3.1 milyar dalam tahun 1983.8 30.8 4.5 persen Departemen Keuangan RI 146 .1 3.3 0.6 5.5 4.9 0.8 100 29. yaitu masing-masing dari sebesar Rp 414.1 persen.

90 17.867.00 12.20 835.146.088. yaitu dari masing-masing sebesar 7.153.511.6 803.00 1.820.70 3.3 persen menjadi sebesar 10.00 3.00 1.00 32.50 188 219 2.410.189.482.60 1.67.60 12.136.208.1 persen dalam tahun 1983 bila dihitung atas dasar harga yang berlaku.803.678.00 41.964. Demikian pula halnya untuk konsumsi pemerintah.8 -482. Produk nasional bruto 9.3 866.2 5.80 2.924.912.1 8.650. Produk nasional netto atas dasar biaya faktor produksi 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Residual 1969 3.10 1.698.732.297.6 persen dalarn tahun 1969 menjadi sebesar 89.00 43.80 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam tahun 1983. Dikurangi: Impor barons don jasa 6.8 4.90 20.7 472.467.50 1.882.847.4 13.9 1.630.70 6.90 430.40 10.187.60 483.7 11.00 328 439 5.50 414 537.80 251.00 518.629.111.831.461.00 1.641.30 1971 4.70 27.1 persen dalam tahun 1983.849.40 2. Dikurangi: Pajak tak langsung netto 10.229.5 238.466.30 466.8 6.10 3.70 -3.50 544.4 -498.824.40 Jenis penggunaan 1.10 1.20 -183.30 623.864.20 1.184.204.10 135 176 2.80 2.838.70.522.791.8 5.3 6.40 4.962.60 27.40 -245.80 3.973.70 600.5 3.20 2.2 624 7.9 5.10 7.20 5.636.70 .20 7.896. Dikurangi: Pajak tak langsung nella 10.20 2.10 1970 3.00 3.40 45.9 2.241.90 1978 1979 1980 1981 1982 1) 15.817.137.50 1.5 9. Pengeluaran konsumsi rumah tangga 3) 2.90 9.541.40 -652.20 14.20 12.323.554.9 942.80 2.6 10.811.419.90 3.00 -677.753.30 8.20 3.00 -378.50 1978 6.60 -673.00 5.5 6.90 -1.90 271.787. Pembentukan modal domestik bruto 4.60 1.00 2.80 2.367.681.70 -1.10 7.746.55.8 persen dalam tahun 1983.066.34.30 5.304.10 4.3 728.0 4.00 1.7 10.10 3.027. Tabel VI.578.765.60 1973 4.80 6.48.80 1.523.00 .70 22.033.445.508.672.20 845.20 399.40 12.90 1.50 560.797.00 2.2 690.897.4 6.132.40 4.5 778.502.553.80 1.50 19.80 6.2 -254.511.035.10 641 1.9 10.032.40 9.90 6.80 13.832.269.804.7 663.00 7.218.349.604.658.089.874.728.802. Dalam pada itu ekspor netto juga mengalmi perubahan.70 !.883.10 1.642.6 persen menjadi sebesar 13.30 30.143.356. Produk domestik bruto 7.8 762.70 293 455 434 522.60 4.758.30 1982 1) 10.753.70 1.20 71.7 871.566.672.876.2 9.70 1981 10.20 15.30 2.178.688.670.10 1970 2.10 625.70 54. Pengeluaran konswnsi pemerintah 3.7 3.534.50 19.228.887.50 1975 5.375.287.20 1.454.308.508.741.50 1.9 persen jika dihitung alas dasar harga yang berlaku.865.489.666.054.5 PENGGUNAAN PRODUK DOMESTIK BRUTO.513. yaitu apabila dihitung atas dasar harga yang berlaku telah menurun dari negatif 3.20 -835.10 1979 7.436.20 2.20 1983 2) 11.90 587. 580 857 1.6 persen dalam tahun 1969 menjadi negatif 33.50 15.238.70 10.2 10.2 5. Pengeluaran konsumsi pemerintah 3.70 1972 4.20 1.325.60 -866.699.9 -144.80 199 317 328.70 Departemen Keuangan RI 147 .6 6.927.80 13.00 6.00 59.30 2.30 341 414 716 84-1.501.6 -556.164.20 229 236 328 447 519.30 3.20 1l. Dikurangi: Penyusutan 11.7 11.50 1.502.742.10 10.708.1 1.10 9.40 11.395.634.208.156.044.70 13.70 16.50 .194.535.20 1976 6.1 12.675.4 1.1 530.293.010.90 13. Di lain pihak peranan konsumsi rumah tangga mengalarni penurunan yaitu dari sebesar 84.332.006.30 17.20 4.70 1.957.70 4.904.8 4.4 424 2.8 746 668.838.410.50 2.318.5 1.10 19.94. 1969 -19 ( daiam milyar rupiah atas dasar harga yang beriaku ) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 2.826.650.8 837.80 370.879.40 2.6 7.70 495.5 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 69.704.028.209.30 294.399.355.70 14.5 1983 2) 49. baik alas dasar harga yang berlaku maupun atas dasar harga konstan tahun 1973 dalam periode yang sarna.60 3. Dikurangi: Impor barang dan jasa 6.90 10.8 18.00 1.8 5.70 351.449.085.719.345.50 1977 12.066.6 496 6.50 1.00 -420.00 52.7 296.50 896.90 1.805.303.5 persen dalam tahun 1969 menjadi negatif 4.1 7.30 3.330. Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi 8.731.70 .7 persen jika dihitung alas dasar harga konstan tahun 1973.343.7 1.515.921.5 3.683.7 336.733.984. peran:annya narnpak semakin meningkat.10 3.00 7.044.00 2.7 -1.70 3.749.10 1.268. Pembentukan modal domestik bruto 4.30 -314.10 716 1.00 .776.842.00 .273.621.280.90 35.445.3 834 755.70 4.628.842.80 3.50 -493.544. walaupun alas dasar harga konstan tahun 1973 peranannya menunjukkan peningkatan dari sebesar 78.50 21.30 9.00 12.7 439 696 821 1.40 3.697.564.235.572.169.5 394.10 5.80 38.50 234. dan dari sebesar 8.2 9.80 -389 7.30 3.632.027.00 4.20 4.182.20 Tab e I VI.30 2.269.00 1.752. Produk nasional netto alas dasar biaya faktor produksi 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Residual 1969 2.380.590.435.218.00 1.1 313.345.5 8.30 1977 6. Dikurangi: Penyusutan 11.40 10.50 1980 8.759.822.444.8 576.30 8.481.10 4.804.50 1. Produk domestik bruto 7. 6 ( dalam milyar rupiah atas dasar harga konstan tahun 1973 ) Jenis penggunaan 1.90 -649.073.00 1974 5.741.231.40 -2.791.20 -758.9 715.983.890.6 1.10 57.3 4.067.484.118.102.9 360.4 786.10 51.372.560. Ekspor barang daD jasa 5".077.440.40 992.079. Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi 8.0 1.512.025.2 5.782. Pengeluaran konsumsi rumah tangga 3) 2.356.356.214.30 46.90 3.879.670.00 61. Ekspor barang dan jasa 5.253.485. Produk nasional bruto 9.3 4. sedangkan atas dasar harga konstan tahun 1973 menunjukkan suatu penurunan dari positif 1.30 3.330.60 2.90 526.50 10.007.745.90 68.007.5 persen dalam tahun 1983.

kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat. pertanian. Dalam hal ini. telekomunikasi. Hal itu tercermin pada peningkatan taraf hidup. Berkenaan dengan arab dan tujuan pengembangan penanaman modal yang sesuai dengan strategi pokok pembangunan. pembinaan dunia usaha. serta kependudukan dan transmigrasi. 7. Adapun hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai selama ini dapat diikuti melalui uraian daripada masingmasing bidang di bawah ini. pos dan pariwisata. berbagai kegiatan pembangunan yang telah dilaksanakan Pemerintah bersama-sama seluruh rakyat Indonesia telah mencapai hasil-hasil yang positif.2. yang pelaksanaan operasionalnya senantiasa disusun dalam kerangka kebijaksanaan ekonomi secara terpadu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VII PERKEMBANGAN USAHA DAN HASIL-HASIL PEMBANGUNAN EKONOMI 7. Sehubungan dengan hal itu akan terus dilakukan upaya-upaya peningkatan hasil produksi barang dan jasa di berbagai bidang meliputi penanaman modal. kegiatan penanaman modal baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA) antara lain diarahkan untuk meningkatkan dan memperluas kapositas produksi nasional. meningkatkan penerimaan devisa Departemen Keuangan RI 148 . pertambangan dan energi. yang pada gilirannya menjadi kerangka landasan yang kokoh untuk melanjutkan pembangunan dalam masa-masa mendatang. perhubungan. kehutanan.1. menciptakan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. industri. pekerjaan umum. baik nasional maupun asing dalam penanaman modal terus digairahkan melalui penciptaan prasarana dan sarana yang memungkinkan kegiatan pembangunan ekonomi dapat bergerak ke arab yang direncanakan. Oleh karena itu pengerahan dana daTi sektor swasta. peranan swasta dan kopeiasi akan lebih ditingkatkan guna mencapai tingkat pertumbuhan seperti yang direncanakan. Penanaman modal Strategi dasar pembangunan nasional diarahkan pada pemanfaatan sebesar-besarnya dari seluruh potensi yang ada untuk tercapainya tujuan pembangunan. Pendahuluan Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Oleh karena itu dalam Repelita IV akan terus dilakukan pembangunan ekonomi yang berlandaskan Trilogi Pembangunan. sesuai dengan arab dan sasaran Repelita IV.

Dalam rangka perencanaan dan sebagai pedoman bagi penanaman modal telah diterbitkan daftar skala prioritas (DSP) yang penyusunannya dikaitkan dengan programprogram yang direncanakan. pembuatan komponen automotive. koperasi ataupun para petani setempat. kodak. baik asing maupun dalam negeri dengan para pengusaha. Di samping itu juga telah dilaksanakan kebijaksanaan yang mendukung adanya kerjasama antara proyek penanaman modal. ikan tuna. Sementara itu dalam rangka pengembangan dan pembinaan proyek prioritas sesuai dengan sasaran dalam Repelita IV. sedangkan swasta asing diarahkan kepada usaha patungan yang memerlukan modal besar. serta coklat. Adapun guna meningkatkan pelayanan kepada investor telah pula dikembangkan berbagai pra-studi Departemen Keuangan RI 149 . Dalam hal ini masyarakat umum telah diberikan kesempatan yang luas untuk berperanserta dalam perusahaan-perusahaan baik PMDN maupun PMA dengan memiliki saham dari perusahaan-perusahaan yang telah memasyarakatkan sahamnya. Salah satu usaha yang dilakukan dalam rangka kebijaksanaan tersebut adalah mendekatkan lokasi proyek dengan bahan baku. investasi di bidang industri logam dan mesin telah digalakkan secara khusus. ubi kayu dan kelapa sawit dari sektor perkebunan. maupun penampungan hasil-hasil usahanya. Dari segi pemerataan pembangunan. Di samping itu telah banyak pula diusahakan produk lain yang berorientasi pada ekspor seperti udang. teh. dan ikan cakalang dari sektor perikanan. sub-kontrak. baik dalam rangka partisiposi permodalan. telah ditempuh berbagai kebijaksanaan untuk menyebar proyek-proyek ke seluruh wilayah Indonesia sejauh faktor-faktor ekonomis masih memungkinkan. kesempatan kerja. teknologi tinggi dan belum dapat diusahakan oleh swasta nasional. pengilangan baja (cold rolling mill) dan sebagainya. kesempatan berusaha serta pemerataan pembangunan di daerah-daerah dalam rangka pemanfaatan sumber kekayaan alam. Untuk proyekproyek penting tersebut disusun suatu ketentuan teknis berupa kerangka acuan yang mengikat para investor dalam pelaksanaan proyek. Sejalan dengan itu sektor-sektor lain seperti industri makanan telah pula diarahkan pada ekspor. Penanaman modal juga diarahkan untuk meningkatkan penerimaan devisa antara lain dapat terlihat dalam perkembangan sektor perkayuan terutama kayu olahan. Investasi yang telah disetujui di bidang tersebut antara lain meliputi bidang usaha pembuatan mesin automotive dan non-automotive. karel.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 serta mengusahakan perluasan kesempatan kerja. DSP menggambarkan suatu rencana penanaman modal yang terpadu. industri tekstil dan pakaian jadi sebagai komoditi ekspor. kepi. Pada dasarnya kesempatan penanaman modal diberikan lebih banyak kepada swasta nasional dengan peran yang lebih besar kepada koperasi dan golongan ekonomi lemah. dengan sasaran pokok tercapainya peningkatan pendapatan.

2. sektor kehutanan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1.4 milyar.1. sebagai sarana memperlancar pemberian informasi penanaman modal ke negara-negara di Amerika Serikat dan Eropa. Paris dan Frankfurt.7 milyar atau 29. Jumlah tersebut termasuk proyek yang mengadakan perluasan/penambahan modal. Adapun mengenai lokasi.3 persen dari rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984. Sampai dengan bulan Agustus 1984. dan selanjutnya mempertemukan para peminat tersebut dalam suatu temu-usaha ke arab kerjasama yang lebih konkrit.9 milyar dengan 502 proyek.1 persen dari nilai rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984. serta sektor pertambangan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1. Departemen Keuangan RI 150 .4 milyar atau 30. dan penyiapan informasi proyek yang lebih sempurna. 7. serta proyek-proyek yang beralih status dari PMA menjadi PMDN.270. Penanaman modal dalam negeri Investasi melalui PMDN yang telah mendapat persetujuan Pemerintah sampai dengan bulan Agustus 1984 adalah sebanyak 4. tetapi tidak termasuk proyek yang mengundurkan diri atau dibatalkan. Untuk itu telah dibuka 3 perwakilan BKPM di luar negeri.1). dengan nilai rencana investasi sebesar Rp20.632.948 proyek.766 proyek (64. yakni di New York.078.248 proyek.9 milyar. Dari jumlah yang telah disetujuai tersebut sampai dengan bulan Maret 1984 telah direalisasikan sebesar Rp 6.2.9 persen) di antaranya berlokasi di pulau Jawa dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 13. Sedangkan realisasinya sampai dengan bulan Maret 1984 mencapai Rp4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kelayakan. Kegiatan di sektor-sektor lain yang juga cukup menonjol adalah sektor pertanian/peternakan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1.178. dari sebanyak 4. meliputi sebanyak 2. Demikian pula telah diadakan kerjasama dengan berbagai pihak.540. serta dengan cara membantu mempertemukan berbagai unsur masyarakat yang ikut serta dalam bidang penanaman modal.3 milyar dengan 54 proyek (Tabel VII.259 proyek PMDN.564.2 milyar.5 milyar dengan 215 proyek. baik di dalam maupun di luar negeri. sehingga proyek-proyek dapat dipromosikan secara lebih konkrit. yang antara lain bertujuan mengidentifikasi proyek-proyek yang diperkirakan akan menarik minat para calon investor.645. Dalam hubungan ini kegiatan promosi penanaman modal ditempuh melalui pendekatan yang optimal kepada para investor dengan cara promosi investasi langsung.037. Sektor industri sebagaimana dalam tahun-tahun sebelumnya masih tetap merupakan sektor yang paling banyak menarik minat para investor dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 13. sampai saat ini pulau Jawa masih tetap merupakan daerah yang paling banyak menyerap proyek-proyek PMDN sebagai lokasi usahanya.

993 4. alih status dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984.990 985 5.807 6 316 362.347 94 409.673 15 206.941 329 7. Kalimantan Timur 196 854.776 6 88.008 14.2 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI YANG TELAH DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT LOKASI USAHA.257.119 17.800 27 322.802 29 594.078 1.1984/1985' Realisasi 3) Jumlah Modal Jumlah Modal Modal Modal Jumlah Modal ( Rp juta) Jumlah Jumlah proyek (Rpjuta) proyek (Rpjuta) proyek (Rpjuta) proyek (Rp juta) proyek (Rp juta) 781 1.690 JUMLAH 6.220 28 521.800 8.575 122.435 4 1.908 3 1.950 15 63.994 23.632.815 2 27.432 Realisasi 3) ( Rp juta ) 693. alih status daD yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984 7.522 2 6.954 692. Realisasi penanaman modal asing sampai dengan bulan Maret 1984 mencapai US $ 6. Jawa Timur 446 952.626 7 5.899 67 263.2.3 persen dari seluruh rencananya.634 368 1.901 65.732 31 460.512 1 5.435 92.984 1 5.148 215 2.715 3 32.175.017 114 433.2. Kalimantan Selatan 60 180.026 13 159.5 juta atau 43.334 159. perluasan.099 26 9.585 20.790 517 2.428 6 38. lrianJaya 333 -1 3.027 123.309 6.263 249. Sumalera Barat 33.203.593.954 2 1.656 21 144.2 juta.472. Ri au 79.523 8.117 8.922 3.988 10 43.317 18 139.879 1.788 6 198.003.944 1 38 82.663 107. Perumahan/perkantoran 44 197.471 11 31. Nusa Tenggara Barat 3.540. M a I u k u 48.275 52 1.383 51 3.959 869.329 318 57 1.260 1.250 13.326 24.181 530.257 195 3.041 93.329 315 6. Tab e I VII.953 10.1984/1985 1) Lokasi usaha 1968 .645 5 63 161.124 10 19.736. DK1Jaya 885.661 1 6 44.846.600 1.995 3 716 78 855. Sulawesi Tengah 24 67.689 9.913 234.809 11 73.perubahan. D1 Aeeh 303.037.857 9 54.259 20.153 223 769.632.814 1 12.3. Modal (Rp juta) 1.811.078.517 79 393.792 4 58 80.273 19.236 7.831 22.666 40.690 Tabel VII. Perikanan 33 48.777 16 196.305 89.090 9 2.767 11 56.467 31.347.262 120.797 10 218. Tenaga listrik 1 418.692 18 296.733 6.337 43. Sumatera Selatan 79.261 157. setelah diperhitungkan dengan proyek yang mengundurkan diri atau dibatalkan dan yang melakukan pengalihan status dari proyek PMA menjadi proyek PMDN.147 16 208.248 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.152 48 411. Sulawesi Vtara 145.000 2 -26.263 2 -2.585 1 27 40.035 46 59.728 3 82 234.699 5 44.746 6 11. Kalimantan Tengah 104 157.350.385 1 31.996 102 852.098 97 154.579 47 10.466 276.303 4 31 70. perubahan.645.003.255 47.106 8 892.099 7 8.434 1 52 168. Jawa Barat 3.042 6 464.590 40 160. Perindutrian 2.905 2.919 9 144.665 43 655.663 68 307. Bengkulu 14 18.190 15 78.455 420.077 1 16.662 11 81.791 20.679 3 8.289 4.774 124 1.868 4 21. sektor perindustrian merupakan sektor yang Departemen Keuangan RI 151 .492.699 279 1 25.149 3 14. 1968 .229 75 8.042 3 6.622 17 151. Perhubungan/Pariwisata 275 404.024 45 113. D1 Yogyakarta 26.512 838 2.109 26.296 2 6. Sulawesi Tenggara 23.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 atau 64.1 00 29 118.257 192 3. 1968 .607 418.794 10 44.991 49.320 254 5 11.863.796 481.1984/1985 1) 1968 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1968 Bidang Usaha Jum1ah Modal Jumlah Modal Jum1ah Modal Jumlah Modal Jumlah Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek 1.087 223 1. Sulawesi Selatan 34.460 4 44.541 54 49.948 6.968 48.140 1.037.719 202 343. perluasan.342 6 22.395 95" 128.299.212 3 15.394 11.064 18 167.585 1 Jumlah 3.947 4 1.491 502 4.4 persen dari rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984. Sumatera Vtara 336.202 314.923 6 85. Jawa Tengah 1.147 118.101 3 77 112.299. Kalimantan Barat 141.445 412.358 232.684 1 8 46.752 21. 2.932 2 26.325 46.068 36 730.387 2 4.304 6 147.593.432 Keterangan: 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek don investasi berasal dari proyek baru.375 13 445.746 491.828 7 466.623 4.370 57 250.575 6.575 4.736 35 92. Lampung 121.709 9. Penanaman modal asing Keikutsertaan pihak swasta asing dalam kegiatan investasi di Indonesia diatur dengan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1967.202 53 114.362 10. B a Ii 78.509.724 18 194.564.274 13.736.352 26 113. Kehutanan 481 1.499 87. Sebagaimana dapat diikuti pada Tabel VII.203 93.862 1.163 345.742 66 213.178.413 33.651 2.673 38 194. Prasarana 9 21.053 7 53.027 1 1. Pertanian IPeternakan 167 580.904 7.1981/1982 1982/1983 1983/19842) 1984/1985 1) 1968 .211 4 159.036 -1 -1.743 3 14.179. 1 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI YANG TELAH DlSETUJUI PEMERINTAH MENURUT BIDANG USAHA. Perkembangan proyekproyek PMDN yang telah disetujui Pemerintah menurut lokasi usaha dapat diikuti pada Tabel VII.800 112 232. Jam b i 27. Nusa Tenggara Timur 7 15.980.795 19 81.980 173 4. Pertarnbangan 27 145.623 6. Usaha-usaha lainnya 29 49.836. PMA yang telah disetujui Pemerintah sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencapai sebanyak 795 buah proyek dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 14.800 54 5.252 13 214.346 6 3.275 4. Jumlah tersebut sudah termasuk proyek yang mengadakan perluasan/penambahan modal.145 7.161 15.071.180 718.915.622 18.891 1 65.705 89.949.847 16 829 3.689 9.332 20.

030 340.4 54.451.658.276 70 195.577 -1 38.731 -74.444.543 2.160 14. perluasan.855 10. Ria u 23 320.2 1.5 -3 7.393 9.440 1.160 JUMLAH 787 10.50 12 2.658. Kalimantan Timur 22 235.370.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 paling banyak menarik minat para investor.500 28 421.026 -2. Adapun sektor-sektor lain yang juga cukup dominan adalah sektor pertambangan dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.385 120 -1 5.6 6.0 juta atau 59. baik dalam hal jumlah proyek maupun nilai rencana investasinya hila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.086 250.470 1.000 53 235.550 12.4 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT LOKASI USAHA.874 24 162.6 57. Kalimantan Barat -57.2 134.279 652.865 120.241 6. Bengkulu -10.4 359.463 1 -3. Kehutanan 69 582.916 -1 23. Realisasi PMA yang terbesar sampai dengan bulan Maret 1984 adalah sektor perindustrian.893 -6.499 -1 25.359.3 5. a1ih status daD yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) SampaidenganimlanMaret 1984 Departemen Keuangan RI 152 . perubahan.932 843.936 18 997.1981/1982 1982/1983 Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal proyek (US S ribu) proyek proyek (US S ribu) proyek proyek (US S ribu) (US S 294 178 22 2 67 5 45 4 20 6 3 13 5 14 16 5 3 2 3 5 6 6 3 16 45 788 3.199 36. Mal u k u 7 46.956 -1 -9.392 -12.250 54 659.950 57.1984/1985 ReaJisasi Bidang usaha JumIah Modal Modal Modal Modal Jumlah Modal Modal Jumlah Jumlah Jumlah Proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) (US $ juta) proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) 1. dan sektor perhubungan/pariwisata sebesar US $ 421.6 25. Sulawesi Tengah 6 78.551 -1 5.010 1 9.394. IrianJaya 15 309.736 -4 *) Jasa.479 6. sektor jasa.045 497 11.248 504.4 juta meliputi 9 proyek. Sulawesi Utara 3 77.4 persen dari seluruh nilai realisasinya. Perindustrian 477 7. Peri k a n a n 24 147.227 123.224 -10. Beberapa Daerah Lainnya 45 1.9 7. 1967 -1984 / 19851) 1967 .ngan bulan Maret 1984 Tabel VII.5 331. Perdagangan 3 11.394. Sulawesi Tenggara 3 29.627 1.3 juta dengan 54 proyek.. yaitu berjumlah US $ 3.5 6.470 14 -9 -4 736.215 8.100 77.449 4. Pertambangan 10 1. DKIJakarta 282 1.1984/1985 1967 .693 8.00 15 2. Sulawesi Selatan 6 28.7 65.6 24.490 -1 2.937.405 969.000 -5. Sumatera Utara 46 1.535 32.483 -2 1 27.317 96. Konstruksi 63 93.970 3.370.2 40.655 20.383.7 524.737 5.499 24.845.182 3. Jawa Tengah 21 233.249 3.810 7 66.934 -1 -5 239.518 368.597 795 14.916 78.241 Lokasi Realisasi 3) Modal (US S juta) 869.655 21.983 6.001 130.654 -1 3.937 -1 -2 -1 20.845. Sumatera Selatan 14 73.443 160.672 3 11.497 -5 -3 16.4 juta dengan 28 proyek.7 -1 5.1 -8 -1 -3 4.413.3 85.773 41.135. D. Jam b i 5 28.4 253.4 -3 -1 -2 3.655 665.307 22.373 1.017 237.915.664.850 4.1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1967 .613 63. Jawa Barat 159 2.899 765.691 -24.472.672 8.312 294.893 30.9 100.848 57 395.917 15.944 -87.433 19.2 11.910 1 -2 7.430 247.9 -1 6.3 PROYEK .086 -1 8.112.5 0.983 6 9 4 3.360 74.7 381.932 2.593 29.6 9.289. Tabel VII.828 1 26. Pertanian 59 239. B a 1 i 5 47.50 JAW A 656.977 5.500 -1 17.L Yogyakarta 3 8.L Aceh 6 435.192.346 -5. Nusa Tenggara Timur 2 3. Sumatera Barat 4 55. Kalimantan Selatan 18.829.404 -1 -13. Nusa Tenggara Barat 1 3. Jasa lainnya *) 51 362.405 1 11.656 64.554.939. aIih status PMA ke PMDN dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai d.136 4.422 9 1.438 736.771 1.8 125.jasa lain + Perumahan/Perkantoran 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.700 491.1984/1985 1) 1983/1984 2) 1984/1985 1) 1967 . Kalimantan Tengah 17 125. D. Jawa Timur 70 520. perumahan/perkantoran sebesar US $ 659. Lampung 8 85.625 2 34.740 -4 1 10.823 1.924 29.PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DlSETUJUI PEMERINTAH MENURUT BIDANG USAHA. perubahan. perluasan.715 14. Perhubungan/Pariwisata 31 352.496 -4.597 1.836 1.630 -27.438 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek daD investasi berasal dari proyek baru.383 52.641 -2 -2 13.3 -4 Jumlab 787 10.8 3. 1967 .646 -2 LUARJAWA 420.70 333.915.052 7 15.519 -14.1 776.172 67.451.7 228.472.053 -2 14.

455. India 11.963 165.470 MENURUT NEGARA ASAL.263 -15. Spanyol 25.066 7. Gabungan Negara 28.594 667.892 7.393 10.175 15.727 29.760 266.919.915.855 1.807 71.8 0.883.719 13.1 3. Demikian pula dari segi negara asal investor.550 96.7 8. Norwegia 27. Denmark 15. New Zealand 13.777 362.272 762 61. Lichentein 26.004 1.686 111.7 persen daTi jumlah proyek yang ada. Netherland 18.047 31.558 272.0 juta dan meliputi 121 proyek.073 101.678 Realisasi Modal ( US $ juta) 582.5 juta meliputi 16 proyek (Tabel VII. Canada 3. Jepang 4.150 - -4 -1 -1 -2 -1 2 2 -1 - 62. Panama 23.612 283. Taiwan 7.653 -2.6 102.5 12.460 23.511 72. Australia 12. 1967 1982/1983 1983/19842) Jumlah proyek 10 2 -2 -1 -1 -1 1 -3 2 1 1 3 Modal (US $ ribu) 62. Sebagaimana terlihat pada Tabel VII.552 482.80 93.694 22.105 -3.4 persen daTi 788 buah proyek PMA.3 196.361 3.694 16. Departemen Keuangan RI 153 . Nilai rencana investasi untuk ketiga wilayah tersebut masing-masing adalah sebesar US $ 4.962 3.698 19.432 - 3 79 8 787 12 2.021. yang berarti 26.733 3.2 2.095 15.792 79.876 897 12.1 juta dengan 294 proyek.945 143.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. Swedia 22. maka jumlah investasi PMA yang terbanyak juga berlokasi di pulau Jawa. 5).576 4.611 45. perluasan.178 174.244 614. Philipina 10.8 juta dengan 45 proyek. alih status dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984 Seperti halnya dengan PMDN.052 5.006 1.919.241 900 123.675 2.073 15. dan 33.178. dan Belgia dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 926. Singapore 8.492 - 4. Selanjutnya bila ditinjau dari segi besarnya nilai rencana investasi untuk tiap-tiap propinsi.197 37.297 146.4 Modal (US $ ribu) 484.746.1 juta meliputi sebanyak 178 proyek.5 22 30.413. Korea Se1atan 5.5 677. Selain itu beberapa negara lain yang juga cukup menonjol adalah Hongkong dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.000 -12.000 5.593 -12.733 4.392 442.160.800 12.9 juta atau 59. perubahan. Inggris 20.780. Jepang telah membangun 210 proyek dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 4.266. Sampai dengan bulan Agustus 1984.353 -776 802.1984/1985 1) 1) Jumlah proyek 2 Modal (US $ ribu) 17.384 45.4 35.079 17.5 2.900 139.6 219. US $ 3.602 -2.40 20.307 900 926. Malaysia 9. Jerman Barat 19.635 33. DKI Jakarta dan Sumatera Utara merupakan daerah yang cukup menonjol.230 167.883.770 136.035 139.736 -8 -4 736. Jepang merupakan negara yang paling besar melakukan investasi di Indonesia.646 112.359. dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 8.832.3 166.524 103.364 Jumlah proyek -3 -1 -1 -5 -1 -1 -2 -1 1 -2 -1 3 5 1 -1 1 -1 1 - .710 2.895 1.5 14.016 2. Italia 17. Perancis 16.954 58.8 juta.000 10. Switzerland 21.370.597 787 14.269 7.190 28.795 -500 25.300 25.276 47.840 76.5 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DISETUjUl PEMERINTAH 1967-1981/1982 Negara I.7 1.958 10.8 107 21.472 201.632 593.4 juta meliputi 71 proyek.674 10.2 5. 4.810 38.240 13.815 414.569 -908 9.351 48.3 172.554.244 130.937.653 2.978 -5.977 -16.507.5 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.000 -2. Amerika Serikat dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.4 107. maka sejumlah 563 proyek atau 71. Brunei 24.021. rencana investasi berlokasi di pulau Jawa.8 4.014 352.241 6472.2 205. Amerika Serikat 2.679 1984/1985 Jumlah proyek 71 3 210 18 121 4 29 10 6 7 35 2 16 5 9 42 27 51 18 1 6 2 1 3 Modal (US $ ribu) 1. Hongkong 6. maka Jawa Barat. Negara Lainnya JUMLAH Jumlah proyek 72 3 205 18 127 5 34 14 8 7 36 2 16 4 9 1 44 24 44 15 6 3 4 2 76 8 Modal (US $ ribu) 456. Be1gia 14.507 -1.757 172.810 16. dan US $ 1.0 persen dari seluruh rencana investasi PMA.652 7.674 38.2 persen dari jumlah keseluruhan.599 12.

sektor pertanian. Hal ini diharapkan akan meningkatkan partisiposi dan kesediaan anggota antara lain untuk mengikuti rapat tahunan para anggota. Dewasa ini KUD dan koperasi primer antara lain telah mampu melayani kepentingan anggota. pengrajin yang menggunakan peralatan tradisional. sektor perkreditan dan sektor pengangkutan. manajemen dan pemasaran.3. manajer dan pembantu manajer dalam mengelola koperasi sesuai dengan tugasnya masing-masing. tatalaksana dan pengawasan. yang meliputi pedagang kecil. sektor perkebunan. sektor industri. pengurus. maka selain terus ditingkatkan pembinaan. Dalam rangka pengembangan usaha koperasi/KUD tersebut. Di samping itu juga dilakukan penyempurnaan organisasi dan tatalaksana koperasi. Dalam hubungan ini koperasi merupakan salah satu wahana utama dalam membina kemampuan golongan ekonomi lemah. antara lain diarahkan untuk meningkatkan kemampuan KUD dan koperasi primer dalam berprakarsa dan berswakarya. Sehubungan dengan itu maka pembinaan kelembagaan koperasi diarahkan untuk meningkatkan penghayatan terhadap fungsi koperasi bagi setiap anggota. khususnya yang berpendapatan rendah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. maupun teknis. rapat pengurus dan badan pemeriksa. baik dengan koperasi primer lainnya maupun dengan usaha-usaha bukan koperasi di wilayah atau di daerahnya masing-masing. sehingga mampu menjadi pusat pelayanan kegiatan perekonomian pedesaan yang mandiri. Hal tersebut dimaksudkan untuk memantapkan dan menumbuhkan swadaya koperasi/KUD. sehmgga pada gilirannya dapat memetik dan menikmati hasil pembangunan guna menaikkan taraf hidupnya. Pembinaan dunia usaha Pelaksanaan pembangunan ekonomi antara lain diarahkan untuk menumbuhkan peranan dan tanggung jawab masyarakat pedesaan agar secara aktif ikut berperanserta dalam pembangunan desa. maka selama Pelita III telah dltingkatkan pembinaan kelembagaan koperasi yang mencakup organisasi. serta meningkatkan Departemen Keuangan RI 154 . sektor perlistrikan desa. juga telah diberikan sarana dan prasarana antara lain berupa bantuan permodalan serta latihan keterampilan baik administratif. serta mempertinggi kemampuan para anggota dan petugas koperasi dalam berkoperasi. yang pada gilirannya akan mempertinggi kemampuan para anggota. seperti sektor perdagangan. Sementara itu agar koperasi-koperasi primer dapat memainkan peranannya dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. serta pengusaha industri rumah. sekaligus memajukan usaha anggotanya di berbagai sektor. Untuk lebih memperkok6h kemampuan KUD dan koperasi primer maka dilakukan suatu kerjasama yang lebih erat. mendorong pembentukan dan pengembangan unit-unit organisasi. pemeriksa. Dalam Pelita III peningkatan dan pengembangan dunia usaha pada umumnya dan koperasi khususnya.

Jumlah simpanan anggota koperasi juga mengalami peningkatan yaitu dan Rp 103. Demikian pula halnya jumlah usaha koperasi telah bertambah dari Rp 2.6. Kenaikan jumlah simpanan anggota dan jumlah nilai usaha koperasi tersebut menunjukkan meningkatnya partisiposi masyarakat terhadap kegiatan dan kelangsungan hidup wadah koperasi.956 buah. Dengan meningkatnya jumlah baik lembaga maupun anggota koperasi tersebut.539 ribu orang pada KUD dan 4.0 milyar dalam tahun 1983. serta untuk memantapkan pertumbuhan dan pengembangannya.4 milyar. maka melalui Keppres Nomor 4 Tahun 1984 di setiap KUD dibentuk Badan Pembimbing dan Pelindung Koperasi Unit Desa (BPP-KUD). saran dan nasehat kepada pengurus KUD. Sementara itu guna meningkatkan kelancaran usaha koperasi unit desa (KUD).073 ribu orang pada non KUD. serta melindungi KUD daTi hal-hal yang dapat merusak citra dan kelangsungan hidupnya.701 buah yang tersebar di seluruh propinsi kecuali DKI Jakarta.464 buah non KUD. yang sekaligus berarti pula bertambahnya kepercayaan masyarakat kepada Departemen Keuangan RI 155 .614 ribu orang pada KUD dan 4.714. sedangkan dalam tahun 1984 telah meningkat menjadi sebanyak 25. sedangkan dalam tahun 1984 telah terjadi peningkatan yaitu menjadi sebanyak 9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 usaha di masing-masing wilayah koperasi sesuai dengan kebutuhan para anggotanya. Sejalan dengan itu maka dilakukan pula penyempurnaan iklim perkoperasian melalui peningkatan kesadaran masyarakat.1 milyar dalam tahun 1982 menjadi Rp 125.546 buah KUD dan 19. mengenai besarnya peranan koperasi bagi para anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya. yang terdiri dari 6.290 ribu orang pada non KUD.791 buah. Hasil-hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan Repelita III menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Dalam pada itu jumlah anggota koperasi primer dalam tahun 1983 adalah sebanyak 9.410 buah non KUD. Namun BPP KUD tersebut tidak boleh mencampuri kegiatan usaha KUD. Perkembangan jumlah BUUD dan KUD yang menyebar di seluruh Indonesia dapat dilihat pada Tabel VII. yang beranggotakan tokoh-tokoh yang berada di pedesaan dan atas usul camat setempat. yakni 6. Tugas daripada BPP KUD tersebut adalah memberikan bimbingan. Adapun jumlah KUD model dalam tahun 1984 meliputi sebanyak 3.1 milyar menjadi Rp 2. ballman.322. Dalam tahun 1983 jumlah koperasi adalah sebanyak 24. serta tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat membebani atau menyaingi kegiatan KUD yang bersangkutan.327 buah KUD dan 18. Sedangkan biaya pembinaan yang dilakukan oleh BPP KUD dibebankan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II yang bersangkutan. tidak boleh melakukan usaha sendiri. berarti bahwa wadah koperasi telah menyebar luas ke hampir seluruh lapisan masyarakat.

184 74.892. Maluku 26.625 220. 1974 .2) . Kalimantan Timur 2 2 6 4 4 6 4 10 1 26 1 26 1 27 153 158 43 206 21.60 331.739 701 4.445 15.054 222.2) . Tabel VIl.741. 797.344.10 4.7 JUMLAH DAN SIMP ANAN KOPERASI.6 683 127 15 19. Lampung 20 52 5 83 5 101 112 118 118 118 1 156 147 51 199 87 209 250 342 261 530 267 629 226 682 195 731 195 731 195 731 196 750 132 871 872 994 1.50 8.00 2831.795 189 1.7 1.7 655 126 15 23.977.404 22.90 284.3 1.200 353.90 3.315 15.20 802.2) .90 2.2 1.949 71.531.80 14.4 1.50 6.10 1.237.623.766.30 333.941 17.019 993 9.003. B a Ii 5 46 8 52 5 55 61 63 67 2 69 72 72 72 84 81 84 14.714 24. Kalimantan Selatan 11 47 7 79 5 99 3 106 2 116 2 115 1 117 3 119 130 66 160 110 164 20.8 543 118 31 17.323 Tabel VII.750.139.344.265 486 5. Nusa Tenggara Barat 9 5 9 5 2 12 24 16 25 16 25 16 25 16 9 92 57 66 115 145 144 147 15.90 571 113 44 21.4 698 105 15 16.5 milyar.788.2) .5 666 137 12 23.067.430 156. Jawa Tengah 206 282 118 402 93 437 88 454 80 471 86 492 86 492 67 522 67 521 584 586 588 599 11.766.7 milyar.20 54. maka dalam tahun 1982/1983 telah meningkat menjadi sebanyak 11.2) 533 60 19 25.235.9 milyar.086 3.334 buah KUD dengan kredit senilai Rp 270.1984 Jumlah koperasi (buah ) Simpanan koperasi ( Rp juta) Pusat Gabungan Induk Jumlah Induk Jumlah Primer Pusat Gabungan 548 78 8 13.621 buah KUD denganjumlah perputaran kredit senilai Rp 113. Sulawesi Utara 26 4 19 12 20 14 28 15 6 83 1 90 1 90 1 90 105 122 123 32 123 22.2 634.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 koperasiJKUD dalam menyimpan dan mengelola uang anggotanya.386.325 2) 2) 2) 2) 103.2) 1) Angka sementara Bidang perkreditan juga mengalami perkembangan. Sumatera Utara 205 261 284 288 297 307 7 311 5 342 350 133 413 114 428 3.7 659 119 15 18.00 22.435 buah KUD dengan kredit sebesar Rp209.970 22. Sulawesi Tenggara 34 40 1 56 1 63 3 73 11 75 11 77 15 79 14 79 37 120 65 140 2 2 2 4 4 24 26 70 120 31 123 25. Propinsi BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD 1.542 1) Angka sementara Tahun 1969 1970 1971 1912 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1) Primer 13.70 624.1984 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1) No.7 milyar.276.261 18. yaitu hila dalam tahun 19811 1982 jumlah KUD penerima kredit yang dijamin oleh Perum PKK (Perusahaan Umum pengembangan Keuangan Koperasi) baru sebanyak 7.60 883.50 20. Jawa Timur 13.90 291.678.313 2.652 16.430 200.8 1.80 13.80 519.00 532 60 19 24.5 6. Kalimantan Barat 2 32 4 44 52 78 80 80 154 154 1 26 1 203 92 204 18.864 22.40 12.282.679 345 2. dengan perputaran kredit senilai Departemen Keuangan RI 156 .441 973 3.50 940.9 15. Nusa Tenggara Timur 23 45 23 51 25 55 15 71 8 84 8 84 9 92 57 66 8 116 8 101 50 110 16.797. Riau 5. Dalam tahun 1984 sampai derigan bulan April 1984.118.7 1. Sumatera Selatan 12 15 13 20 33 53 48 38 78 36 37 81 21 108 16 144 16 177 16 295 47 310 1 15 25 1 43 49 56 57 66 6 68 103 500 154 115 156 7.775 357.3 675 124 15 16.621 6.201 1.00 4. D1 Yogyakarta 45 10 3 54 57 57 57 62 62 62 61 61 62 61 62 634 13 572 91 570 113 577 116 526 189 526 189 486 231 199 538 48 695 490 731 672 736 12.450 20. 1969 .888 1.6 JUMLAH BUUD DAN KUD SELURUH INDONESIA MENURUT PROPINSI.131 buah KUD.683. D.521.326 4.8 1.7 273. yakni apabila dalam tahun 1982 jumlah koperasi yang ikut menyelenggarakan KCK baru sebanyak 3.2 548 99 39 19.1 1.791 . Sumatera Barat 57 100 53 133 7 185 21 185 7 232 7 232 7 232 4 235 4 234 233 276 274 281 9 11 12 11 11 22 5 57 7 47 7 47 7 48 7 47 7 47 33 170 113 178 4.263 185.991.844. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 4.060. Jumlah kredit candak kulak (KCK) melalui koperasi selama pelaksanaan Repelita III menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. IrianJaya 5 5 4 2 6 3 10 8 18 8 27 15 27 15 47 30 47 69 78 JUMLAH 1.159 2.180 25.20 532 60 19 23.10 513.873. Timor Timur 1 1 10 18 61 14 67 17.402 1.081. Sulawesi Selatan 228 69 141 172 106 229 68 288 71 302 71 302 71 302 71 302 71 301 71 399 316 417 24.191. Sulawesi Tengah 6 7 12 15 9 20 18 17 69 17 69 17 91 92 90 19 126 83 127 23.097. Perkembangan jumlah dan simpanan koperasi dapat dilihat pada Tabel VII.321 6.394 18.8 1.2) 124.638.693 16.10 4.104.456 22.0 2) .213 2. Bengkulu 8. jumlah koperasi yang ikut menyelenggarakan KCK adalah sebanyak 4.L Aceh 27 22 31 48 27 57 7 83 12 103 12 103 12 103 12 103 843 48 296 15 298 2.40 3.5 215.2) .516.60 19. Jambi 6 40 10 50 5 57 9 24 99 99 99 99 118 34 148 155 163 6.113 3.487 3.8 593 113 31 17.2 781.657 1.7.935 .8 522.20 18.071.136 51.591 1.70 9.4 3.4 638 128 12 19.214 365.50 445.60 14.90 1628.074.933 18. Kalimantan Tengah 7 4 7 19 11 19 11 19 10 39 10 39 4 64 4 64 4 64 8 133 139 19.331 1.60 80.8 678 130 12 23.286 buah KUD dengan perputaran kredit sebesar Rp 145. Jawa Barat 10.639.

Adapun jumlah KUD yang ikut serta dalam pengadaan beras untuk stok nasional dalam tahun 1982/1983 adalah sebanyak 3. Dalam rangka melaksanakan tugasnya. Sedangkan pemasaran palawija yang meliputi jagung. kedelai dan kacang hijau dalam tahun 1982/1983 berjumlah masing-masing sebanyak 23. Sehubungan dengan itu dalam tahun 1982/ 1983 sebanyak 1. Di bidang penyaluran sarana produksi pertanian. pembelian kopra sebanyak 54.054 buah KUD dan 7. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Mei 1984 masing-masing telah mencapai sebanyak 2.054 buah dengan jumlah beras yang tersedia sebanyak 1.5 milyar.0 ton dan 308.419. jumlah KUD penyalur dalam musim tanam (MT) 1983 adalah sebanyak 3.2 ribu ton. setiap KUD wajib membeli gabah/beras dari para petani dengan harga dasar yang berlaku. pupuk maupun obat-obatan telah meningkat masing-masing menjadi sebanyak 3. hasil usaha yang dilakukan oleh KUD sampai dengan akhir Pelita III telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. cengkeh dan tebu rakyat nampak semakin meningkat.7 ribu ton.4 ribu ton beras. serta penjualan kopra sebanyak 50. 229.6 milyar.550 kg/liter.036. Di bidang tataniaga cengkeh.609. sedangkan jumlah kopra yang telah terjual mencapai 27. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Mei 1984 jumlah KUD adalah sebanyak 2. 8 ton dan 306 tOll. Kemudian dalam MT 1984 baik jumlah KUD. Dalam tahun 1982 telah terbentuk koperasi pengelola cengkeh sebanyak 138 buah. Beras/gabah yang telah dibelinya kemudian dijual kepada Sub Dolog setempat dengan harga yang telah ditetapkan. Dalam tahun 1983 jumlah Departemen Keuangan RI 157 . Dalam tahun 1982. dan jumlah cengkeh yang dapat dibeli seluruhnya sebanyak 24.078 kg/liter obat-obatan.1 ribu ton seharga Rp 8.357 ton dan 3.4 ribu ton seharga Rp 7.237 ton pupuk. Dalam tahun 1983/1984 sampai dengan November masing-masing telah mencapai 46.9 ribu ton.191 buah. sedangkan sisanya dijual ke posaran umum. Sementara itu kegiatan koperasi/KUD di bidang perkebunan rakyat yang meliputi kopra.332 buah yang menyalurkan bahan-bahan sebanyak 251.6 ribu ton seharga Rp 5.0 ton. dengan jumlah beras yang disediakan sebanyak 1.519 buah KUD dan 69.5 milyar: dalam tahun 1983 masing-masing telah meningkat menjadi 184 buah KUD. khususnya pupuk dan obat-obatan.7 ribu ton.5 milyar.699 buah. koperasi yang ikut memasarkan kopra berjumlah 126 buah KUD. sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlah KUD adalah sebanyak 3.9 ton seharga Rp 84.9 milyar.107 buah KUD telah menyiapkan pengadaan beras untuk posaran umum sebanyak 64.391 buah dengan beras sebanyak 851. 490.5 milyar.932.6 ribu ton beras.9 ribu ton seharga Rp 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 12. dan 2. dengan jumlah kopra yang dibeli sebanyak 29.6 ribu ton. yang meningkat dalam tahun 1983/1984 masing-masing menjadi 1.5 ribu ton.996.

dan kredit yang disalurkan kepada petani sebesar Rp 241. sedangkan yang terjual dalam tahun 1983 mencapai sebanyak 19.1 ton seharga Rp 150. 18.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 koperasi telah bertambah menjadi sebanyak 264 buah KUD.900 ton. Dalam tahun 1983 jumlah kredit mencapai sebesar Rp 211.3 milyar. Pemberian kesempatan kepada KUD untuk mengelola tebu rakyat intensifikasi (TRI) dimaksudkan untuk melayani para petani tebu.5 ton seharga Rp 152.2 ton. dengan pembelian cengkeh seluruhnya sebanyak 20. Dari cengkeh yang tdah dibeli tersebut. dalam tahun 1983 jumlahnya telah meningkat masing-masing menjadi sebanyak 67 buah.0 milyar.4 ton seharga Rp157. sedangkan dalam tahun 1983 masing-masing telah mencapai 615 buah. Dalam tahun 1983/1984 jumlah gula telah mencapai sebanyak 652.6 milyar.6 ton kedelai. sedangkan dalam tahun 1984 sampai dengan bulan April 1984 jumlah kredit telah mencapai sebesar Rp 199.175.4 milyar. 133. penebangan.2 milyar.200 ton.9 milyar.788. dengan kredit yang disalurkan kepada petani sebesar Rp 179.5 milyar yang disalurkan oleh 675 buah KUD. dan 53. Perkembangan usaha koperasi di bidang perikanan rakyat selama Pelita III telah dapat menunjukkan hasil yang cukup baik. koperasi yang menampung sebanyak 651 buah. jumlah koperasi perikanan baru sebanyak 585 buah. serta pemasaran hasil temak. dengan jumlah anggota sebanyak 12.802 orang dan modal senilai Rp 70. penyediaan makanan ternak.7 milyar yang disalurkan oleh 714 buah KUD.130. dengan jumlah anggota sebanyak 120. penyediaan obat-obatan ternak.7 milyar. Dalam tahun 1982. pembibitan.277 orang.4 milyar. terutama dalam hal perkreditan dan pemasaran gula tebu yang dihasilkannya. dengan jumlah Departemen Keuangan RI 158 . yang terjual dalam tahun 1982 berjumlah sebanyak 18.292.286 orang. dan jumlah kedelai yang dapat disalurkan sebanyak 26. Rp 1.380. ditampung oleh 621 buah KUD. Kegiatan koperasi di bidang peternakan meliputi pengadaan bibit sapi unggul impor. Dalam tahun 1982 jumlah KOPTI baru mencapai sebanyak 36 buah. Penggabungan industri kecil yang memproduksi tahu dan tempe ke dalam wadah koperasi tabu dan tempe Indonesia (KOPTI) telah menjadi kenyataan. modal sebesar Rp 743. Kredit yang disalurkan KUD merupakan kredit yang diperlukan oleh petani tebu untuk penggarapan tanah. Dalam tahun 1982. Jumlah gula tani yang dapat ditampung KUD dalam tahun 1982/1983 adalah sebanyak 556. dan biaya angkut dari areal penebangan ke pabrik gula.9 juta.414 orang dan modal senilai Rp 71. jumlah koperasi petemakan baru sebanyak 469 buah.

Keberhasilan proyek perintis perlistrikan di daerah pedesaan yang dikelola oleh koperasi.362 orang. dengan anggota sebanyak 48. serta 1. secara bertahap telah pula merangsang masyarakat pedesaan untuk menjadi anggota koperasi perlistrikan desa. Dalam tahun 1982. Dalam tahun 1983 jumlah susu yang ditampung oleh koperasi telah meningkat menjadi 130 juta liter atau 89. Jawa Timur. yang terdiri dari 5.7 juta liter.6 persen dari seluruh produksi susu dalam negeri yang berjumlah 116.802 buah kendaraan angkutan laut.000 ekor.536 orang. jumlah koperasi di bidang perlistrikan desa meliputi 118 buah yang tersebar di daerah Jawa Barat. koperasi angkutan sungai dan penyeberangan serta koperasi angkutan laut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 anggota sebanyak 45. dengan jumlah anggota sebanyak 65. Jawa Tengah.383 orang.969. Demikian juga jumlah koperasi susu yang dalam tahun 1982 baru mencapai 162 buah dengan anggota sebanyak 38. Departemen Keuangan RI 159 . Dalam tahun terakhir Pelita III. Sedangkan dalam tahun 1983 jumlah tersebut telah meningkat menjadi 491 buah. dan dengan nilai usaha sebesar Rp 210.6 juta liter. Adapun jumlah sapi betina yang dimiliki oleh anggota koperasi yang dalam tahun 1982 baru sebanyak 140.1 juta liter atau 92. Adapun jumlah susu yang dapat ditampung dan dipasarkan oleh koperasi dalam tahun 1982 adalah sebanyak 108. yakni mencakup koperasi angkutan darat.352 buah. Beberapa koperasi telah berperan sebagai distributor listrik di pedesaan.046 juta. jumlah koperasi jasa angkutan adalah sebanyak 165 buah yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia.9 persen dari seluruh produksi susu dalam negeri yang berjumlah 144.8 juta.000 ekor. Selanjutnya dalam tahun 1983 jumlah koperasi telah meningkat menjadi 675 buah.2 milyar. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 161. Sehubungan dengan itu dalam tahun 1982 jumlah koperasi yang mengelola dan mengkoordinir para pengrajin adalah sebanyak 348 buah. Bali dan Sumatera Barat.281 orang dan nilai usaha sebesar Rp 40. Pembinaan koperasi yang menangani jasa angkutan juga terus digalakkan sejak awal Pelita III.1 milyar.201 orang. Keberhasilan koperasi di dalam membantu para anggotanya telah membuat para pengrajin di daerah-daerah pedesaan terangsang untuk bergabung di dalam wahana koperasi.630 peternak.732 orang. dengan jumlah anggota sebanyak 29. dan memiliki kendaraan sebanyak 7. dan nilai usaha sebesar Rp 61.550 buah kendaraan angkutan darat dan sungai. Dalam tahun 1983 jumlah terse but telah meningkat menjadi 298 buah yang tersebar di 20 propinsi. yang dilakukan melalui pemanfaatan tenaga listrik yang dibangkitkan dan disediakan oleh PLN. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 173 buah dengan jumlah anggota sebanyak 41. beranggotakan sebanyak 59. dan dengan usaha senilai Rp 208.

041 1.185 15. K 0 P i 17.276 15.292 10.029 3.194 516 518 541 589 590 522 523 617 680 284 282 290 307 380 341 409 446 424 820 836 889 949 997 1.107 748 884 907 1.607 2.700 1.961 24.525 17.237 1. Namun demikian.724 13.158 1. serta adanya dukungan untuk pembangunan daerah yang tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam.769 10 14.988 11. Tembakau 21.311 1. Ikan lout 8.079 653 470 1.504 desa.876 17.095 5. K a pos 1) Angka diperbaiki 2) Angka semen tara 1969 12.9 2.690 10.433 2. disadari sepenuhnya bahwa masih Departemen Keuangan RI 160 .518 1.831 6 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) 22. Kacang tORah 7. Pertanian Dalam kurun waktu antara tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 pembangunan di bidang pertanian yang diarahkan dan dilaksanakan melalui Sapta Karya Pembangunan Pertanian. Karet 13.6 1980 20.812 1.191 12. Kede1ai 6.375 1.044 2. telah pula bermanfaat bagi sektor-sektor sosiallainnya. 723 1.693 1.651 14.211 2.5 1. Lad a 20.509 3.038 135 157 161 141 1.221 175 62 12 17 84 922 3 1970 13. 1969 . meningkatnya tarat hidup petani.478 2. Ubi ja1ar 5.575 1.845 15. Hal ini terlihat dari meningkatnya produksi bahan makanan sehingga memantapkan usaha swasembada pangan. Inti .319 1.7 7. 2. telah menunjukkan perkembangan yang positif. 7.9 0.381 2.1984 (dalam ribu ton.991 13.186 13.601 2 1.759 285 106 39 37 116 1.249 2.208 kepala keluarga pada 1. T e h 18.902 13.094 1.140 2.872 2. meningkatnya produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.341 1.701 4.690 3. serta meningkatnya ekspor dan berkurangnya impor produksi pertanian.618 1.469 2. Minyak sawit 14.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sampai dengan bulan Maret 1984 jumlah koperasi perlistrikan desa telah mencapai 313 buah.9 0.235 5.825 10.230 1.546 12.572 3.582 196 214 150 149 160 194 197 223 228 71 51 67 65 70 73 76 91 125 14 13 22 15 15 20 39 21 35 24 18 29 27 23 37 43 46 47 76 79 80 77 82 89 84 81 87 1. Telur 11.318 424 433 389 388 393 401 414 420 430 332 366 379 403 435 449 468 475 486 68 78 81 98 112 116 131 151 164 36 38 35 57 51 58 61 62 72 804 808 845 817 782 856 838 844 898 249 270 289 348 397 431 483 532 642 -94 108 1.301 12.670 506 507 520 549 596 629 671 694 275 297 316 329 86 117 143 170 963 899 1.676 2. Cengkeh 19. melayani pelanggan sebanyak 202. Kelapa/kopra 16.143 4.751 2.083 2. Jagung 3. kecuali dalam juta liter untuk susu) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 13. Bera.5 0.175 498 281 808 421 314 59 29 802 217 1.488 12. Selain itu sejumlah 38 buah koperasi di bidang perlistrikan desa telah mampu untuk berswadaya melayani para anggotanya.606 10.066 2.412 13.133 1.082 1.385 11.903 2.438 1.1 2. maka akan tampak peranan cukup besar dari sektor negara dalam menggerakkan dan mendorong kegiatan yang bersifat produktif di bidang pertanian.917 2.031 12.010 1.837 23.awit 15. Gula tebu 22. Susu 12.020 701 126 1.149 1.7 40 Bila dikaji kembali hasil pembangunan di bidang pertanian. hal ini berarti bahwa koperasi tersebut selain dapat membantu perekonomian masyarakat kecil di pedesaan. meluasnya kesempatan kerja yang mendorong tumbuhnya kesempatan untuk berusaha di bidang pertanian.491 1.460 2.257 704 521 568 783 475 437 469 535 1.4.606 2.726 2.286 22.516 1.395 455 571 259 78 1.254 3.260 389 267 785 429 309 58 29 778 189 1. Ikan darat 9.607 15.4 0.015 295 281 302 309 110 93 113 116 40 33 45 56 39 34 40 41 118 106 120 121 1.227 1.8 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERTANIAN TERPENTING.408 1.237 1.532 1. Jenis hasil 1. Daging 10. Ubi kayu 4.600 1.227 1.702 2.387 2.011 2.200 185 64 15 17 78 873 3 T abel VII. Perkembangan terse but juga tercermin dari adanya proyek-proyek besar di bidang pertanian yang membantu usaha pertanian rakyat dengan sistem perusahaan inti rakyat (PIR).163 3.183 14.

yang dapat memberikan umpan batik bagi pengembangan industri dan jasa.5 ton per hektar.1. Pertanian yang tangguh adalah pertanian yang dinamis dan kokoh. Hasil dari kenaikan produksi beras tersebut selain disebabkan oleh adanya peningkatan luasareal pallen dalam tahun 1984.5 persen per tahun.3 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1983. ancaman. serta dapat berperan dalam pembangunan regional dan nasional yang serasi dan seimbang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 banyak masalah yang dihadapi serta diperlukan hasil-hasil yang lebih mantap dan merata. Pelita II dan Pelita III menunjukkan kenaikan yang mantap. tenaga. maka selama Pelita III telah meningkat menjadi 6.8. yang dalam tahun sebelumnya baru mencapai rata-rata sebesar 2. Selanjutnya produksi beras sampai dengan bulan September 1984 telah meningkat lagi menjadi sekitar 24.9 juta ton. Tanaman pangan Produksi beras selama Pelita I.9 persen di atas produksi tahun 1982 yang baru berjumlah 22.4. sedangkan upaya-upaya yang dilaksanakan untuk menunjang pelaksanaan kebijaksanaan tersebut ditempuh melalui empat usaha pokok yaitu intensifikasi. modal dan teknologi serta sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani.9).7 juta ton atau sebesar 3. Gambaran daripada hasil-hasil pembangunan di bidang pertanian sampai dengan tahun pertama Repelita IV dapat diikuti melalui Tabel VII. Tataurut kebijaksanaan dan upaya-upaya tersebut semata-mata dimaksudkan untuk tercapainya komoditi pertanian yang tangguh sesuai dengan kadar dan perimbangan yang wajar dalam struktur perekonomian nasional. serta keberhasilan Departemen Keuangan RI 161 .8 juta ton (Tabel VII. diversifikasi dan rehabilitasi.6 ton. 7. Di samping itu juga tercermin pengertian rota dan struktur produksi pertanian yang mampu mengikuti dinamika perubahan permintaan industri hilir dan konsumsi akhir. Atas dasar itu maka produksi beras dalam tahun 1983 telah mencapai 23. Di dalam pengertian tersebut terkandung makna masyarakat petani yang mampu mengatasi tantangan. Sehubungan dengan itu Pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan dasar pembangunan di bidang pertanian yaitu berdasarkan Trimatra Pembangunan Pertanian.5 persen per tahun tersebut dimungkinkan karena didukung oleh produksi beras per hektar dalam tahun 1983 yang mencapai rata-rata sebesar 2. hambatan dan gangguan terhadap eksistensi serta kelestarian sumberdaya alamnya. optimal dalam memanfaatkan sumberdaya alam.8 persen per tahun. Apabila selama Pelita I dan Pelita II pertumbuhan produksinya masing-masing mencapai 4. juga karena tetap dilakukannya penggunaan pupuk. atau mengalami kenaikan sekitar 4. Kebijaksanaan tersebut meliputi kebijaksanaan usaha tani terpadu.7 persen dan 3. Tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 6. komoditi terpadu dan wilayah terpadu. perluasan areal. insektisida dan bibit unggul secara efektif.

Luas areal panen yang dapat dicapai sampai dengan bulan September 1984 telah meningkat lagi menjadi 9. lusus adalah suatu bentuk intensifikasi yang dilaksanakan oleh petani secara berkelompok sehamparan. Sedangkan sebagai pendorong agar sebanyak mungkin kelompok tani dapat lebih berpartisiposi dan ikut serta dalam intensifikasi khusus.179 ribu hektar.047 ribu hektar dalam tahun 1982 menjadi 5..un 1982 menjadi 6. yaitu dari 5. maka dalam tahun 1983 telah bertambah menjadi seluas 9. Apabila dalam tahun 1982 luas areal panen yang dapat dicapai baru seluas 8.1 persen atau seluas 105 ribu hektar. baik perbaikan terhadap saluran tersier. maka sejak tahun 1979 Pemerintah telah mengadakan pola kegiatan baru yang telah dikenal dengan intensifikasi khusus (Insus). yaitu dari seluas 1. yaitu denl!an menyelenggarakan perlombaan antarkelompok intensifikasi khusus. Pertambahan luas areal panen tersebut terutama disebabkan meningkatnya luas areal panen intensifikasi sebesar 4. maupun dalam penggunaannya melalui organisasi pemakai air yang semakin efisien.102 ribu hektar.343 ribu hektar dalam ta:. Selanjutnya luas areal panen Bimas yang sebagian besar bergeser ke areal Inmas.5 persen dari tahun sebelumnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam mengatasi serangan hama/penyakit.I0). atau meningkat dengan 77 ribu hektar dibandingkan tahun sebelumnya. maka diadakan perangsang. suatu kenaikan sebesar 1.296 ribu hektar dalam tahun 1982 menjadi 1.988 ribu hektar. yaitu dad 6. Departemen Keuangan RI 162 . yang bertujuan memanfaatkan potensi setiap lahan yang memungkinkan. Pemerintah juga melaksanakan operasi khusus (Opsus) yang merupakan penerapan intensifikasi khusus untuk daerah/lahan tadah hujan yang potensial dan dilakukan dengan lebih menggiatkan baik para petani maupun para petugas penyuluh yang ditunjang dengan penyediaan sarana produksi yang memadai. Sedangkan pertambahan luas areal panen intensifikasi tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya luas areal panen Inmas seluas 175 ribu hektar atau sebesar 3.3 persen.401 ribu hektar dalam tahun 1983.623 ribu hektar dalam tahun 1983. Sementara itu dalam rangka meningkatkan mutu intensifikasi. Di samping lusus. dalam tahun 1983 meningkat sebesar 8.4 persen terhadap tahun sebelumnya.222 ribu hektar dalam tahun 1983 (Tabel VII. Kerjasama kelompok petani tersebut diarahkan pada terwujudnya partisipasi dari semua petani untuk menerapkan sepenuhnya Panca Usaha Tani. Peningkatan tersebut juga ditunjang oleh keadaan iklim dan curah hujan yang normal serta adanya perbaikan irigasi.

076 1.369 8.186 6.934 hektar.819 669 1.8 1.102 9..637 3. 1969 -19831) ( dalam ribu hektar ) Tahun Bimas .202 1975 425 2.166 800 1.53 1. 9 AREAL PANEN DAN PRODUKSI BERAS.1984 Rata-rata ( ton/ha ) 1.724 13.62 1. 1969 .219 1983 3) 63 1.801 hektar.080 410 638 343 611 370 .03 2.601 858 3.382 8.96 2.276 15.788 3.67 1.338 1) Tidak termasuk Insus 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara In mas Biasa Baru 722 99 571 334 867 525 1.286 22.135 8.898 8.346 619 4.Tabel VII.512 800 2.130 2.179 Produksi ( ribu ton) 12.088 851 2.170 1974 474 2.607 15.9 1.837 23.623 Usaha ekstensifikasi dilakukan melalui perluasan areal tanam yaitu berupa pembukaan persawahan pasang surut atau pencetakan sawah baru.324 7.360 8.023 5. Biasa Baru 1969 926 383 1970 803 445 1971 827 569 1972 621 582 1973 662 1.169 3.988 9.185 15.961 24.54 2.724 1979 197 1.74 1. Di samping itu penambahan areal pertanian di daerah transmigrasi mencapai 551.613 4.988 3724 3.153 2.934 701 4.284 868 3. sawah yang sudah selesai dicetak meliputi 178.403 8.265 1982 2) 77 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 .014 8.250 4.38 2.258 1976 321 2.69 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Areal panen (ribu ha) 8.65 1.525 17.516 6.63 2.79 1.495 8.848 5. yang terdiri dari lahan pekarangan Departemen Keuangan RI 163 .34 2.719 hektar dan areal yang sudah ditanami mencapai 153.509 8.89 1.di samping pengkaitannya dengan usaha transmigrasi.183 14.701 Tabel VII. 797 1978 236 1. 10 LUAS PAN EN BIMAS DAN INMAS PADI.845 15.876 17.103 1977 272 1. Selama Pelita III.249 1981 2) 119 1.929 8.803 9.603 Jumlah 2.005 9.249 13.163 22.343 6.374 1980 125 1.872 20.140 13..

di samping adanya pembinaan bagi daerah yang telah melaksanakan Bimas palawija serta adanya penyebaran bibit unggul. yaitu masing-masing dari 437 ribu ton dan 606 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 469 ribu ton dan 633 ribu ton dalam tahun 1983. peragaan. sebagaimana halnya dengan Bimas padi. Sebagaimana terlihat dalam Tabel VII.382 hektar. jumlah petani peserta Bimas dan Inmas telah mencapai sebanyak 43.0 persen.095 ribu ton dalam tahun 1983. Untuk menunjang usaha tersebut.235 ribu ton dalan tahun 1982 menjadi 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 seluas 98. 3.3 persen dan 9. dibuka dengan cara swadaya transmigrasi sendiri seluas 75.605 hektar dan lahan yang. kedelai juga meningkat. atau 66. baik melalui program intensifikasi maupun dengan program Bimas dan Inmas yang masih memerlukan tersedianya sarana yang cukup. Pemerintah juga menyediakan kredit bagi petani untuk pengadaan sarana produksi.044 ribu ton dalam tahun 1983. Sementara itu produksi palawija sampai dengan bulan September tahun 1984. informasi pertanian.12 dapat dilihat bahwa produksi jagung meningkat sebesar 57. yaitu dari 1. Dalam pengembangan produksi pangan. maka Pemerintah terus memberikan penyuluhan pertanian agar mereka mampu menggunakan teknologi baru. lahan usaha seluas 377.900 orang dengan realisasi penyaluran kredit sebesar Rp 1. Sehubungan dengan itu dari Tabel VII. serta penyelenggaraan perlombaan antarhimpunan petani. lahan yang sudah diusahakan penggunaannya mencapai seluas 366.814 hektar.044 orang tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL). atau masing-masing mengalami kenaikan sebesar 7. Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan Bimas palawija.676 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 2. Produksi kacang tanah dan. Kenaikan tersebut antara lain disebabkan adanya pengembangan produksi palawija melalui pusat pengembangan pertanian palawija. maka kepada para petani peserta tetap disediakan bantuan kredit untuk pengadaan sarana produksi yang dibutuhkan. seperti halnya dengan produksi padi. Oleh karena peningkatan produksi pangan sangat ditentukan oleh kegiatan para petani. yaitu dari 3. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan September 1984. sampai dengan tahun 1983 telah terdapat 14. sehingga petani dapat meningkatkan produksi pangallo Demikian pula terus ditingkatkan kegiatan kursus tani. Dari luas lahan yang telah dibuka tersebut.9 persen. pembinaan kelompok dan himpunan petani.4 milyar.4 persen dari luas seluruh lahan yang sudah dibuka. Di samping itu Pemerintah juga memberikan pelayanan kepada petani secara kontinyu dengan berbagai sarana produksi dan kredit.11. Selanjutnya Pemerintah juga menyediakan kredit bagi petani untuk Departemen Keuangan RI 164 . Produksi ubi jalar meningkat dengan 21.779 hektar. juga mengalami peningkatan yang mantap apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.071 orang penyuluh pertanian madya (PPM) dan 606 orang tenaga penyuluh pertanian spesialis (PPS) yang tersebar di wilayah kerja penyuluh pertanian (WKPP) di 26 propinsi.5 persen.

20 3. 1971/1972 .175 2.815.10 1973/1974 36.509 3.493.988 11.751 13.651 14. Tabel VII.10 1980/1981 50.018 1.406 1.90 49.581.40 1976/1977 71.50 1.690 10.301 12.385 11.257 Kacang tanah Luas panen Produksi 372 267 380 281 376 284 354 282 416 290 411 307 475 380 414 341 507 409 506 446 473 424 506 470 1) 508 475 461 437 484 469 419 535 Kedelai Luas panen 554 695 680 697 743 768 752 646 646 733 784 732 810 606 633 666 Produksi 389 498 516 518 541 589 590 522 523 617 680 653 1) 704 521 568 783 1) Angka diperbaiki Departemen Keuangan RI 165 .939 2.667 2.40 1977/1978 62.70 1983/1984 23.468 1.160 3.509 1.626 2.70 29.676 2.292 2.353.412 Ubi kayo Luas panen 1.151.469 2.185 297 Produksi 10.603.383 1.011.096.115.726 13.079 2.594 2.30 1974/1975 53.538.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengadaan sarana produksinya.066 2.410 1.083 2.095 5.031 12.194 2. 12 LUAS PANEN DAN PRODUKSI PALAWI]A.573.80 1.10 1.173.1984/1985 (dalam jutarupiah dan ribu orang) Realisasi Pengembalian kredit kredit Tanun 1971/1972 9.90 1984/1985 1) 1.557.1 1) Posisi 30 September 1984 Kredit lomas padi mulai berIangsung MT 1977/1978 Jumlah petani 1.825 2.846.740.435 2.381 2.572 3.903 2.417. 11 PENYALURAN KREDIT BlMAS DAN INMAS PADI.10 9.071.546 12.605.186 13.966 Jagung Produksi 2.90 1972/1973 15.301.60 1982/1983 59.50 48.80 14.50 64.584.30 1979/1980 49.515.460 2.80 42.004.70 1981/1982 62.567 3.439 1.20 39.794.690 3.50 2.412 1.519.061 3.30 33.282.106.991 4. dengan jumlah petani peserta sebanyak 8.143 4.353.388 1. Perkembangan mengenai penyaluran kredit Bimas palawija dapat diikuti dalam Tabel VII.471 10.314.211 2. realisasi penyaluran kredit telah mencapai sekitar Rp 0.1984 ( dalam ribu hektar untuk luas panen.10 51.9 Tabel VII.90 3.90 563 43.606 2.90 41.254 3.364 1.330.044 2.4 milyar.492.470.902 13.391.191 12.955 2.682.025 2.4 158.387 2.095 2.40 3.30 60.501.633.353 1.606 3.20 1.50 1978/1979 60. Oalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan September 1984.548.445 2.917 10.467 1.735 2.13.60 1975/1976 72.011 2. 1969 .20 11.488 12.600 orang.702 Luas panen 369 357 357 338 379 330 311 301 326 301 287 276 275 220 261 37 Ubi jalar Produksi 2.503.433 2.288.40 2.429 1.235 5.458.10 2. dan ribu ton untuk produksi ) Tahun 1969 1910 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) Luas 2.398 1.90 3.260 2.324 1.029 3.094 1.433 2.

00 4.861 2.927 1.215.226.480.40 1984/1985 1) 390 15.7 146.393.10 5.30 1.7 195 159.70 4.90 1974/1975 5.206 4.325.272 3.731 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.50 5.7 261.30 7.13 PENYALURAN KREDIT BIMAS PALAWIjA.226 5.038 3.204.007.9 1) Posisi 30 September 1984 Sejak MT 1978/1979 termasuk Bimas Palawija tumpangsari Tabel VII.60 1982/1983 11.336 4. 14 LUAS PANEN DAN PRODUKSI HORTIKULTURA.10 5.80 4.067 2.788.791 1.277.517 Luas panen 488 533 554 666 696 614 623 528 445 436 529 541 561 560 618 Buah-buahan Produksi 2.6 1973/1974 1.215.906 4.295 2.332 3.293 1.191.7 442.1984 (dalam ribu hektar dan ribu ton) Luas panen Tahun 1969 600 1970 641 1971 715 1972 694 1973 676 1974 647 1975 531 1976 459 1977 558 1978 642 1979 660 1980 673 1981 921 19821) 632 1983 2) 787 1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Sayuran Produksi 1.249 4. 1969 .127 2.058.893.068 2.40 1981/1982 9.306.30 4.6 8.5 348.1984/1985 (dalamjuta rupiah dan ribu orang) Ta h u n Realisasi kredit Pengembalian kredit Jumlah petani 143.90 1979/1980 5.709 3.70 1976/1977 8.833 1.204. 1973/1974 .624 2.641 1.20 1980/1981 6.048.70 1983/1984 4.073.361.445.030 Departemen Keuangan RI 166 .348 8.725 3.832 2.10 1977/1978 6.7 235.117 5.40 1.80 7.007.356.6 1975/1976 9.917.6 245.743 2.512 4.80 1978/1979 6.8 77.8 360.889 1.120 2.435 3.

10 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. 15 PENGGUNAAN PUPUK UNTUK TANAMAN PANGAN.80 13. Hal ini mengingat bahwa hasil-hasil produksi hortikultura sangat penting artinya dalam menunjang perbaikan gizi dan pola konsumsi masyarakat. 1969 -1983 ( dalam ribu ton kadar pupuk ) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 .8 84 58 113 121 79 78.9 6.9 550.3 946 1.00 1.1 219.410.982. di samping berperan pula Departemen Keuangan RI 167 .2 43.2 31.9 129. digiatkan pula peningkatan produksi hortikultura.3 24.20 11.2 262.060.1 109.8 1 3 9.5 94. maka selain dilakukan peningkatan produksi beras dan produksi palawija.50 4.209.3 95.8 13.638.2 99.4 478.191.9 43.10 6.2 354.7 17.30 1.7 11.60 1.3 313.9 299. 1969 .8 311.2 Sejalan dengan usaha pengembangan tanaman pangan.268.075.7 126.464.165.432.6 317. 1981 1982 1) 1983 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara N 155.3 312 290.4 53 53 116 46.254.60 1.5 65.20 1.4 P205 36.2 162.00 4.3 442.386.943. 16 PENGGUNAAN PESTISIDA UNTUK TANAMAN PANGAN.3 104.504.7 52.7 171.9 787.7 110.90 8.40 Rodentisida 1) 33.3 Tabel VII.9 210.00 2.3 54.1983 ( dalam ton) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 2) 1983 3) 1) Ekivalen Zinkphospide 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Insektisida 1.6 1 2.9 14.10 973.00 3.555.3 1.3 K20 1 3.

Kenaikan penggunaan pupuk terutama disebabkan oleh meningkatnya penggunaan pupuk jenis K20.3 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 54. yaitu dari 2. namun mengingat bahwa peranan sektor perkebunan yang demikian besar dalam menunjang pembangunan umumnya dan bagi peningkatan sumber pendapatan devisa atau rupiah khususnya.8 persen.1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal tersebut terutama disebabkan karena terjadinya peningkatan produksi sayur-sayuran sebesar 52.16.7 ton dalam tahun 1982 menjadi 13.117 ribu ton dalam tahun 1983.038 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 3. Selanjutnya perkebunan negara dan perkebunan besar swasta disebut juga sebagai perkebunan besar.3 ribu ton dalam tahun 1983. perkebunan negara dan perkebunan besar swasta. maka selama pelaksanaan Pelita telah dilaksanakan berbagai kebijaksanaan dan kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan produksi hasil perkebunan. Meningkatnya hasil produksi tanaman pangan sangat erat kaitannya dengan penggunaan pupuk dan pestisida.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam intensitas penggunaan tanah dan tenaga kerja. Meningkatnya penggunaan pestisida disebabkan oleh bertambahnya penggunaan pestisida dari jenis insektisida dan rodentisida. Kenaikan insektisida dan rodentisida masing-masing adalah sebesar 24. Hal ini terutama terlihat dari besarnya sumbangan devisa melalui ekspor hasil-hasil produksinya. hasil produksi hortikultura secara keseluruhan sampai dengan tahun 1983 telah mengalami peningkatan sebesar 35.4.5 milyar nilai ekspor berasal dari sektor perkebunan. Walaupun dalam pelaksanaanya dialami banyak tantangan. perkebunan digolongkan atas perkebunan rakyat. 7. karena semakin luasnya areal panen dan meningkatnya mutu Insus.14. lebih dari US $ 1.2.254. Sehubungan dengan itu maka pengembangan produksi hortikultura ditekankan pada pengembangan sayur-sayuran dan buahbuahan di sekitar kota yang pemasarannya dapat lebih cepat.8 ton dan 94.4 ton dan 171. Tanaman perkebunan Perkebunan merupakan salah satu sektor yang terpenting dalam menunjang perekonomian Indonesia. yaitu masing-masing dari 11.9 persen.15 dan Tabel VII. Sebagaimana terlihat dalam Tabel VII. Meningkatnya penggunaan pupuk dan pestisida tersebut secara keseluruhan dapat diikuti melalui Tabel VII. perkebunan rakyat telah Departemen Keuangan RI 168 .2 ton dalam tahun 1983. Dalam pembahasan selanjutnya. yaitu dari sebanyak 43. Menjelang akhir tahun 1983/1984.982. Sampai dengan tahun terakhir pelaksanaan Pelita III.2 persen dan 80.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

mendapat prioritas utama dalam pengembangan usaha perkebunan. Hal tersebut berdasarkan kenyataan bahwa sebagian besar areal dan hasil perkebunan yang ada selama ini adalah milik dan hasil produksi perkebunan rakyat, yang mutu dan produktivitasnya relatif masih rendah. Oleh karena itu penyuluhan bagi perkebunan rakyat ditujukan untuk meningkatkan pendapatan petani melalui modernisasi usaha perkebunan, pengorganisasian usahapemasaran serta pengelolaannya melalui wadah KUD. Sedangkan pengembangan dan pembinaannya tidak lagi dilakukan secara partial, akan tetapi melalui pola pembinaan terpadu. Pola pembinaan terpadu tersebut dilaksanakan secara menyeluruh, baik secara vertikal yaitu berupa kegiatan penyuluhan, penyediaan sarana produksi dan kredit, maupun secara horisontal yang dilakukan sejak mulai penanaman, pemeliharaan tan am an, pengolahan hasil produksi dan pemasaran hingga pengembangan manajemen. Realisasi daripada pembinaan terpadu diwujudkan dalam bentuk unit pelaksana proyek (UPP), yang meliputi pembinaan untuk berbagai komoditi/budidaya perkebunan, terutama tanaman karet, kelapa, kopi, cengkeh, lada, kelapa sawit dan teh. Selama Pelita III areal tanaman Y.lng telah berhasil diremajakan adalah tanaman karet, kelapa, kopi, teh, lada dan coklat yang telah mencapai areal seluas 306.626 hektar, sedangkan untuk tanaman cengkeh mencapai areal seluas 3.000 hektar. Adapun perkehunan rakyat yang telah dibina melalui UPP meliputi 880 unit dengan areal tanam seluas 2.482 ribu hektar. Sementara itu upaya lainnya untuk lebih mengembangkan perkebunan rakyat adalah dengan menerapkan pola perkebunan inti. Dalam pola tersebut perkebunan besar milik Pemerintah, yakni Perusahaan Negara Perkebunan/PT Perkebunan (PNP/PTP), berfungsi sebagai inti atau pusat pengembangan perkebunan rakyat sekitarnya. Pada gilirannya perkebunan rakyat tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi koperasi perkebunan rakyat. Pengembangan pola perkebunan inti tersebut, yang disebut proyek NES (nucleus estate smallholders) atau proyek perkebunan inti rakyat (PIR) meliputi budidaya karet, kelapa hibrida, kelapa sawit dan tebu. Perkebunan besar dalam NES/PIR tersebut berfungsi sebagai penyuluh, penyalur sarana produksi kepada perkebunan rakyat, pengolah hasil yang berasal dari rakyat/petani dan sebagai pemasar hasil produksinya. Sedangkan perkebunan rakyat hams menyediakan tanah dan tenaga kerja. Sampai dengan tahun 1983, realisasi luas areal hasil pembinaan pola NES/PIR adalah seluas 188.067 hektar untuk jenis tanaman kafer, kelapa sawit dan kelapa. Dari Tabel VII.17 dapat dilihat bahwa berhasilnya usaha pembina an perkebunan rakyat sampai dengan tahun 1983 tersebut ditandai dengan meningkatnya hasil kafer, teh dan cengkeh, masing-masing sebesar 55,6 persen, 47,1 persen dan 37,5 persen apabila dibandingkan dengan tahun 1982.

Departemen Keuangan RI

169

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Dalam waktu yang sarna hasil produksi perkebunan rakyat lainnya seperti lada, tembakau, kopi dan gula tebu juga mengalami peningkatan produksi, yaitu masing-masing sebesar 17,6 persen, 14,4 persen, 8,8 persen dan 2,1 persen. Sejalan dengan usaha dan kegiatan dalam bidang perkebunan rakyat, maka pembinaan dan pengembangan perkebunan besar swasta juga terus ditingkatkan. Hasil produksi usaha perkebunan besar swasta selama ini, khususnya sampai dengan tahun 1983, belum menunjukkan peningkatan seperti yang diharapkan. Hal ini antara lain karena berbagai jenis tanam_n seperti kafer, kelapa dan coklat yang telah diremajakan belum menunjukkan produktivitasnya, di samping masih adanya gangguan hama terhadap tanaman-tanaman terse but. Dalam tahun 1983, produksi kopi mengalami kenaikan sebesar 26,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni dari 5,7 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 7,2 ribu ton dalam tahun 1983. Sedangkan untuk produksi cengkeh dan teh, dalam tahun 1983 masing-masing telah meningkat sebesar 50,0 persen dan 5,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perkembangan selanjutnya daripada hasil produksi perkebunan besar swasta dapat diikuti dalam Tabel VII.18. Sementara itu perkebunan besar negara (PNP/PTP) dalam Pelita III juga telah banyak mendapat perhatian dari Pemerintah. Hal ini dimasudkan agar perkebunan besar negara dapat mengimbangi tuntutan perkembangan dan kemajuan teknologi moderen serta permintaan posaran intemasional. Untuk itu ditempuh serangkaian kebijaksanaan yang ditujukan terutama untuk meningkatkan budidaya pengusahaan tanaman dan bentuk usahanya. Di samping menyangkut segi pengelolaan perkebunan/perusahaan, maka aspek sosial ekonomi khususnya pemberian imbalan kepada tenaga kerja juga diperhatikan sebaik-baiknya. Berbagai kegiatan yang dilakukan di bidang perkebunan negara tersebut ditandai dengan meningkatnya produksi beberapa hasil perkebunan negara dalam tahun 1983, seperti antara lain terlihat dan meningkatnya produksi kafer, minyak sawit dan teh, masing-masing sebesar 4,2 persen, 3,7 persen dan 18,0 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hasil-hasil yang dicapai di bidang perkebunan negara dapat diikuti melalui Tabel VII.19. Dari Tabel VII.20 dapat dilihat bahwa dengan berhasil ditingkatkannya produksi perkebunan dalam tahun 1983, baik perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta maupun perkebunan negara, serta ditunjang pula oleh adanya kebangkitan kembali ekonomi dunia, maka volume ekspor hasil perkebunan telah meningkat pula. Apabila dalam tahun 1982 volume ekspor hasil utama perkebunan secara keseluruhan adalah sebesar 1.763,6 ribu ton, maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 1.990,5 ribu ton, atau suatu kenaikan sebesar 12,8 persen dibandingkan dengan tahun

Departemen Keuangan RI

170

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama didukung oleh meningkatnya volume ekspor minyak sawit, lada dan karet, masing-masing sebesar 33,3 persen, 23,9 persen dan 20,2 persen. Oi samping itu juga disebabkan oleh meningkatnya volume ekspor tembakau, teh dan kopi, masing-masing sebesar 18,3 persen, 7,7 persen dan 6,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Tabel VII. 17 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERKEBUNAN RAKYAT, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Kelapa/ Gula Tembakopra Tebu kau Teh Karet Kopi Cengkeh 220 162 22 220 75 558 11 1.198 170 21 196' 69 15 571 1.147 178 24 221 69 572 14 1.308 196 7 247 74 13 559 1.233 140 14 199 69 22 599 1.335 132 14 250 69 15 571 1.370 144 14 223 74 15 536 1.527 178 13 267 78 17 610 1.513 181 14 352 72 37 584 1.554 206 17 485 68 612 21 1.561 209 17 498 73 616 35 1.630 276 21 1.203 69 715 34 1.765 290 24 1.364 100 642 29 1.707 262 17 1.352 97 585 32 1.592 285 25 1.380 111 910 44

Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1) 1981 1) 1982 1) 1983 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara

Lada 17 17 24 18 29 27 23 37 43 46 47 37 40 34 40

Kapas 2,4 2,6 1,3 1,5 1,1 2,9 2,4 0,9 0,9 0,5 0,6 3 11 17,7 6,1

Tabel VII. 18 PRODUKSI BEBERAP A HASIL PERKEBUNAN BESAR SWASTA, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Ke1apa/ Gula Minyak Tebu sawit kopra Tahun Teh Kopi Karet 1 1969 110 5 9 72 60 2 1970 113 6 9 74 70 2 1971 114 7 10 122 79 3 1972 128 6 7 130 81 4 1973 109 4 10 118 82 6 1974 108 7 11 127 104 5 1975 109 6 10 126 126 5 1976 104 6 11 152 145 5 1977 107 6 11 162 147 21 1978 110 7 15 71 165 21 1979 112 8 16 73 168 33 19801) 120 6 18 84 221 25 1981 1) 127 9 14 116 266 11 1982 1) 125 6 16 72 285 19832) 124 7 16 72 286 11 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara

Inti sawit 13 15 18 17 18 21 24 27 29 22 23 38 41 47 47

Departemen Keuangan RI

171

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986
Tabel VII. 19 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERKEBUNAN NEGARA, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Tahun Karet 1969 110 1970 118 1971 118 1972 121 1973 137 1974 138 1975 137 1976 142 1977 147 1978 162 1979 170 19801) 186 1981 1) 193 19821) 189 19832) 197 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Minyak sawit 129 147 170 189 207 244 271 286 338 367 474 499 533 599 621 Inti sawit 28 33 39 42 46 52 57 56 64 72 85 90 100 110 115 Teh 31 34 37 37 43 40 46 49 51 59 92 68 72 61 72 Kopi 8 9 11 12 6 10 10 10 ]0 10 11 13 16 13 10 Tembakau 9 9 7 5 11 8 8 11 12 13 14 15 9 9 8 Gula tebu 630 603 708 756 293 860 878 902 924 960 1.030 273 220 195 191

Tabel VII. 20 VOLUME EKSPOR HASIL UTAMA PERKEBUNAN, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Minyak Kopra dan bungkil Tahun Teh Lada Karet sawit Inti sawit Kopi Tembakau 1969 857,5 179,1 42,7 36,1 127,1 5,7 16,7 349,1 1970 790,2 159,2 42,4 41,1 104,3 11 2,6 393,1 1971 789,3 209 48,6 44,8 74,3 18,3 24,2 322,5' 1972 774,6 236,5 51,4 44 107 26,2 25,7 327,1 1973 890,2 262,7 39,2 39,6 100,8 33,3 25,6 282 1974 840,4 281,2 28,5 55,7 111,8 33,6 15,7 252,6 2) 1975 788,3 386,2 21 45,9 128,4 19,6 15,2 329,1 1976 811,5 405,6 25,6 47,5 136,4 20,5 28,8 396,7 1977 800,2 404,6 25,2 51,3 160,4 25,9 30,9 335,9 1978 918,2 412,3 7,3 61,6 222,8 27,3 38 324,4 2) 1979 967,3 437,8 33,1 65,9 230,7 24,9 25,7 381,4 2) 1980 I)' 981 502,9 42,9 74,2 238,7 28,3 29,7 430,1 19811) 812,8 196,4 22,7 71,3 210,6 25,3 34 321,8 19821) 797,6 259,5 6,9 63,7 227 20,2 36,3 352,4 19833) 958,9 345,8 2,2 68,6 241,2 23,9 45 304,9 1) Angka diperbaiki 2) Hanya bungkil kopra 3) Angka sementara

Jenis komoditi 1969 Kare t 220,7 Kopra dan bungkil kopra 20,6 Ko p i 51,3 Tcmbakau 13,8 Minyak sawit 22,2 Inti sawlt 4 Lada 10,4 Teh 9,7 Bunga, biji pala dan ccngkch 1.6 Rcmpah-rcmpah lainnya 4) 3,5 Jumlah 357,8 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Hanya cengkeh 4) Scjak tahun 1980 tidak ada nilai ckspor

1970 260,9 35,1 65,8 11,5 36,5 5.U 2.9 17,3 2.1 4,3\ 441.4

Tabel VII. 21 NILAI EKSPOR HASIL UTAMA PERKEBUNAN, 1969 - 1983 ( dalam US $ juta ) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 222.2 195,9 395 487,3 365,U 535,1 593,8 720,5 1.002,40 1.174,20 835,8 602,1 26,2 17,6 23.6 23,2 28,9 31.2 38.1 35 41,3 52,1 32,4 38 55.4 72.4 77,4 1UI,3 101.1 250 634.0 509,7 655.4 656 345,9 341,7 19,9 30.0 44.9 35,5 37,8 39,2 61,1 59,3 60,3 58,b 53,1 38,9 46.3 42.0 72,5 Ibb,U 158,1 142 192,8 208,3 253,7 254,7 106,9 64,4 5,5 3,7 4.8 8.4 5.1 3,7 5.8 1,5 7.2 8.1 4,4 2,2 24.7 20.5 28.0 24.6 22.8 46,2 65,6 69,8 47,3 58,1 47,2 44,9 28,7 31.4 30,2 43,6 53,1 55 121.0 92,3 91,7 112,7 100.8 89,5 1.8 2.1 1.7 2,5 5.0 9,7 10,9 11.2 10,9 27,9 80,3 0,33) 4.4 3.4 6.5 6,1 3,7 5,6 7,8 9.0 0.3 435.1 419.0 684.6 898,5 78U,6 1.117,70 1.730,90 1.716,60 2.170,50 2.402,40 1.606,80 1.222,00

1983 2) 802,3 46,4 427,3 47,6 111,5 0,4 52 120,4 0,43) L608,3

Departemen Keuangan RI

172

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Meningkatnya volume ekspor beberapa hasil perkebunan tersebut disertai pula dengan kenaikan nilai ekspor hasil perkebunan dalam tahun 1983. Nilai ekspor keseluruhan dari beherapa komoditi perkehunan dalam tahun 1983, yang terdiri atas jenis komoditi karet, kelapa sawit, kopi, teh, lada dan tembakau, telah mencapai US $ 1.608,3 juta. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 dengan nilai sebesar US $ 1.222,0 juta, maka terdapat kenaikan sebesar 31,6 persen. Gambaran selanjutnya mengenai nilai ekspor beberapa hasil utama perkebunan dapat diikuti melalui Tabel VII.21.

7.4.3. Peternakan Salah satu masalah yang dihadapi di bidang peternakan sebelum Pelita berlangsung adalah rendahnya tingkat populasi ternak dengan perkembangan yang tidak merata. Hal ini antara lain disebabkan karena hampir 60 persen dari seluruh jenis ternak terkonsentrasi di pulau J awa yang justru luasnya hanya sebesar 7 persen dari luas seluruh daratan Indonesia, kecuali untuk jenis ternak babi yang sebagian besar dipelihara secara tradisional di Sumatela Utara, Sulawesi Utara, Bali dan Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu sejak dilaksanakannya pembangunan nasional, kegiatan di bidang peternakan diarahkan kepada peningkatan dan penyebaran populasi ternak, dan sekaligus juga untuk meningkatkan pendapatan para peternak dan memperluas kesempatan berusaha. Sehubungan dengan itu langkah-Iangkah telah dan terus dilakukan terutama dengan penyebaran bibit unggul ke daerah-daerah dalam usaha untuk mengatasi masalah kelahiran dan produktivitas ternak yang rendah, serta peningkatan pemotongan ternak jenis betina. Bibit unggul ternak tersebut disebarkan dari wilayah/propinsi sumber-sumber bibit ternak sapi seperti Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, ke wilayah/ propinsi lainnya yang potensial. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas bibit-bibit sapi lokal, telah dikembangkan usaha pembinaan sumber bibitnya, misainya sapi Bali dikembangkan di pulau Bali, Sumbawa, dan beberapa lokasi di Sulawesi Selatan. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap para peternak sapi Ongole di pulau Sumba dengan jalan mendatangkan sapi jenis unggul dari luar negeri, antara lain seperti sapi jenis Brahman. Sedangkan dalam rangka meningkatkan mutu bibit sapi, maka dalarn tahun 19831 1984 te1ah disebar sebanyak 28.129 ekor bibit sapi. Demikian pula untuk bibit ternak kerb au , karnbingldomba dan kuda, dalarn waktu yang sarna te1ah disebar masing-masing sebanyak 6.452 ekor, 12.910 ekor dan 2.633 ekor. Berkaitan dengan usaha Pemerintah di bidang transmigrasi, bidang peternakan telah ditingkatkan peranannya untuk mendukung usaha pengembangan lokasi baru tersebut. Dalarn rangka menunjang program
Departemen Keuangan RI

173

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

tersebut, sampai dengan Pelita III telah disebarkan sekitar 4.000 ekor dari berbagai jenis ternak, terutarna sapi dan kerbau, melalui dana transmigrasi. Di samping itu melalui dana bantuan Presiden juga telah diimpor berbagai jenis temak unggul seperti sapi jenis Brahman, Santa, Gertrudis dan Bilmon Red yang selanjutnya disebar ke daerah-daerah. Sedangkan untuk penyebaran bibit ternak jenis lainnya yaitu seperti bibit ayam DOC (day old chick) dari Pusat Pembibitan Cisarua juga terus dilaksanakan dan selanjutnya disalurkan ke seluruh propinsi Indonesia. Upaya lainnya yang telah dilakukan adalah dengan teknik inseminasi buatan (IB), yaitu suatu cara perkawinan pada hewan betina dengan alat berupa split pipet (insemination gun) yang telah diisi dengan semen dari pejantan. IB merupakan sarana untuk mengembangbiakkan ternak dengan cepat, teratur dan murah yang dapat memperkecil kemajiran serta tidak perlu memelihara pejantan, sehingga dengan demikian dapat dicegah adanya penyebaran penyakit dari satu hewan ke hewan lainnya sebagai akibat daripada perkawinan. Teknik IB di Indonesia telah dipergunakan sejak tahun 1970, namun baru dalam tahun 1973 dipergunakan semen beku, serta dalarn tahun 1975 dibangun laboratorium yang dapat memproduksi semen beku tersebut di Lembang dan Bandung. Sehubungan dengan ire dapat dikemukakan bahwa apabila se1arna Pelita II baru disalurkan sebanyak 67.000 dosis semen beku kepada 18 propinsi, maka pada akhir Pelita III telah berhasil disalurkan sebanyak 396.817 dosis semen beku untuk keperluan IB ke seluruh propinsi di Indonesia. Tenaga-tenaga untuk menangani pelaksanaan IB tersebut juga telah ditingkatkan, dan dalam rangka meningkatkan keterampilannya sudah banyak yang dikirim ke luar negeri antara lain ke New Zealand. Sebagai hasilnya, jumlah tenaga khusus untuk IB yang selama Pelita II baru berjumlah 295 orang telah berhasil ditingkatkan menjadi sebanyak 595 orang pada akhir Pelita III. Mengingat bahwa persediaan makanan ternak, baik kualitas maupun kuantitasnya, yang berasal dari hijauan makanan ternak masih dirasakan kurang terutama untuk daerahdaerah di pulau Jawa, maka telah dilaksanakan pembinaan terhadap kegiatan-kegiatan penyediaan makanan ternak. Adapun makanan ternak tersebut dapat dibedakan atas makanan hijauan yang terdiri dari rumput, leguminosa dan lain-lain, serta makanan penguat yang terdiri atas konsentrat. Sejalan dengan program penghijauan, maka kini telah dilakukan penanaman makanan hijauan ternak pada daerah/tanah-tanah kritis dan terlantar. Sedangkan dalam hal makanan temak jenis konsentrat, penyediaannya dilakukan oleh pihak swasta dengan pengawasan mutu oleh Pemerintah. Sementara itu di kebun-kebun bibit pusat di Cisarua dan Cisereuh, yang dilengkapi dengan laboratorium pemeriksaan bibit rumput dan bahan rerumputan. telah berhasil dikembangbiakkan jenis rerumputan atau makanan

Departemen Keuangan RI

174

dan laboratorium jenis B di setiap propinsi serta laboratoriumjenis C di setiap kabupaten. petugas laboratorium diagnostik dan tenaga vaksinator terus ditingkatkan. diamati daya adaptasi dan daya tumbuhnya untuk kemudian disebarkan ke tiap kabupaten. dewasa ini juga telah direhabilitir beberapa karantina hewan serta vaksinasi massal yang\ditangani secara khusus. Guna menanggulangi wahab yang tidak dapat diduga baik mengenai kejadian maupun waktunya. Di kebun bibit ditingkat propinsi tersebut. namun tidak dapat diabaikan adanya beberapa penyakit yang berasal dari virus seperti penyakit tetelo. -parasit darah (surra. penyakit mulut dan kuku pada sapi. penyakit jembrana di Bali dan penyakit zoonosa rabies. Dengan demikian akan tercapai upaya dalam mendapatkan rumput alam yang bermutu tinggi di samping usaha budidaya rumput. bebesiosis).000 ribu dosis. Sebuah balai dibangun di Bukittinggi dengan bantuan dari pemerintah j erman Barat. Apabila dalam tahun 1982/1983 jumlah tenaga penyuluh petemakan spesialis (PPS) dan tenaga penyuluh peternakan lapangan/demonstrator masing-masing baru berjumlah 368 orang dan 936 orang. dan penyakit kulit menular (scabies).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hijauan temak baru serta memperbaiki jenis yang ada untuk disebarkan ke kebun-kebun bibit di berbagai propinsi. 4. 13. penyakit antrax. Fowl Pox F. Walaupun selama sepuluh tahun terakhir ini serangan penyakit pada temak pada umumnya dapat diatasi dan dikendalikan. Anthrax. bibit-bibit diperbanyak. Selama lima tahun pelaksanaan Repelita III telah dilakukan kegiatan pengamanan ternak dengan mengaktitkan fungsi penyidikan. sedangkan 2 buah lagi berada di Medan dan Tanjung Karang yang dibangun alas bantuan dari pemerintah jepang. 20 ribu dosis dan 522 ribu dosis.500 ribu dosis. masing-masing sebanyak 50. maka Pemerintah telah mempersiapkan baik alat-alat ataupun tenaganya. 2 di antaranya berada di Denposar dan Ujungpandang yang dibangun alas ban_an FAa (Food Agriculture Organisation) dan TJNDP (United Nation Development Program).550 ribu dosis. radang paba dan keluron menular (brucellosis). kader peternak. pencegahan dan pemberantasan penyakit.ditanggulangi penyakit asal bakteri antara lain seperti penyakit ngorok. Selanjutnya dalam rangka pencegahan penyakit ternak. SE. Dalam tahun 1983/1984 telah dapat disediakan dan disebarkan vaksin dan obat.obatan darijenis ND Kumarov. dalam tahun Departemen Keuangan RI 175 . 1. Brucella dan Rabies. Sehubungan dengan itu. penyediaan tenaga penyuluh. penolakan. Di samping itu juga telah dapat . Selanjutnya dari kebun-kebun bibit tingkat kabupaten dan tingkat kecamatan disalurkan kepada peternak di kecamatan. Di samping itu juga telah dibangun 3 buah Laboratorium Penyidikan Penyakit Hewan jenis A di tingkat pusat. Dalam hubungan ini telah selesai dibangun dan berfungsi 5 buah Balai Penyidikan Hewan. desa dan kampung sampai ke padang penggembalaan.000 ribu dosis.

2 7.5 0 0 0.5 1.079 Kuda 642 692 665 693 645 600 627 631 659 615 596 616 637 658 665 704 Ayam 62.380 1975 6.382 3.177 4.488 2.943 7.594 1983 1) 6.2 1.098 Domba 2.436 orang.4 0.687 Itik 7.976 2.1 9.032 17.146 2.1 2.316 4.3 0. Tabel VII.3 0.8 Tulang 10.124 13.183 3.5 0.217 1978 6.8 0.7 1.998 3.1 2.1 2.182 16.370 10.071 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1983/1984 telah meningkat masing-masing menjadi 428 orang dan 1.189 6.640 82.6 0.6 22.5 5.8 0.286 1973 6. Selanjutnya jumlah petugas laboratorium diagnostik dan petugas vaksinator yang dalam tahun 1982/1983 masing-masing baru sebanyak 312 orang dan 1.245 1972 6.707 2.1 0.751 1) Angka sementara Sapi perahan 52 59 66 68 78 86 90 87 91 93 94 103 113 140 162 169 Kerbau 2.4 2.691 7.6 1.2 9.049 8.4 0.302 232.976 2.906 7.9 9.627 84.100 98.9 0 0 0.611 4. dalam tahun 1983/1984 juga telah meningkat masing-masing menjadi 313 orang dan 5.051 7.4 193 1) 2.9 31.902 3.403 3. 1969 .6 9.343 Babi 2.407 orang.2 5.1 2.7 187 1) 3 0.416 12.8 51.541 18.432 2.242 1976 6.1984 ( dalam ribu ekor) Tahun Sapi 1969 6.284 2.861 25.3 0.4 8 7.6 0.7 45 13.6 0.130 1971 6.2 1.6 8.357 184.1 11.660 19841) 6.5 1) Angka dalam ton 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 176 .987 121.517 6.475 102.9 0 0 1.4 29.5 0.2 0.169 3.603 3.078 22.432 2.1 8.8 1 59.382 107.4 0 1.132 211.9 4. 22 POPULASI TERNAK.312 2.315 6.231 4.362 3.7 3.4 2.415 2.1 0.544 6.9 0.4 0.587 3.014 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 19832) Tabel VII.8 9 0.457 3.793 6.426 23.125 15.292 2.768 2.556 197.155 3.4 0.4 0.620 14.124 4.906 2.374 3.1 0.232 8.364 3.2 97 1) 3.489 2. 24 VOLUME EKSPOR TERNAK DAN HASIL-HASILNYA.2 4.9 24.2 28 3.4 0.996 3.2 18.3 0.7 0 0 0.336 6.637 1974 6.2 2.4 0.790 7.404 11.380 93.516 1982 6.440 1981 6.976 2.6 28 1) 3.1 0.089 21. 1969 -1983 ( dalam ribu ekor untuk temak.822 2.947 2.5 2.6 1.533 Kambing 7.493 114.538 2.330 1979 6.3 1 0 0 2.436 27.438 75.269 7.659 7.5 1.5 2.362 1980 6.804 3.677 4. dalam ribu ton untuk kulit dan tulang ) Ternak Kulit Sapi Kerbau S api Kerbau Kambing Domba 38.1 1.476 63.891 8.447 1970 6.5 0.237 1977 6.6 50.457 2.350 2.513 2.4 0.878 3.979 2.1 1.7 54.130 orang.

704.10 Domba 693. volume dan nilai ekspor ternak dan hasil-hasilnya tidak lagi mengalami kenaikan bahkan kegiatan ekspor Departemen Keuangan RI 177 .658.40 7.70 22.50 15.316 ribu ekor. sapi perahan dan kambing dalam tahun 1983 telah menunjukkan kenaikan dari masing-masing sebanyak 6.90 712.5 persen.636.7 persen.30 69 18.315.412.5 172. 3.6 0 JumJah 4.80 7.90 6. telur dan susu juga menunjukkan peningkatan yang cukup mantap.087.6 1974 7. meningkatkan menjadi 4.90 2.30 299. babi dan kuda.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.193.80 16. yaitu dari masing-masing sebanyak 4.4 persen dan produksi susu 21.50 154.966.80 1973 3.80 10.186. 162 ribu ekor dan 8.90 26.10 1.2 124.23).10 7.662.226.80 25.30 3.5 2.660 ribu ekor.421.9 juta liter (Tabel VII. produksi telur 6.998. Disusul kemudian kenaikan populasi ternak domba.40 4.134.810.60 22.70 398 3.90 147 11.582.248.3 1971 1.9 524.974.594 ribu ekor.677 ribu ekor dan 665 ribu ekor dalam tahun 1983.790.20 1.433. menjadi 6.672.00 395. Dalam tahun 1983.981.423.50 485. 1969 -1983 (dalam US $ ribu) T ernak Sapi Kerbau Tahun 1969 596 251 1970 1. Dari tabel tersebut terlihat bahwa apabila dibandingkan dengan tahun 1982.560.70 1.25.900.843.20 41. Hasil-hasil yang dicapai di bidang peningkatan populasi ternak sampai dengan tahun pertama Repelita IV dapat diikuti melalui Tabel VII.843.20 2.985.8 1972 2.5 393.00 2.752.20 299.40 990.50 237.2 5. maka populasi ternak jenis sapi.30 Tulang 52.891 ribu ekor dalam tahun 1982.20 3.70 83.792.222.5 255.00 15.80 7.341.3 0 1979 0 0 1980 0 0 1981 0 0 1982 0 0 19831) 0 0 1) Angka sementara Sapi 1.4 9.800.391.401. Sejalan dengan meningkatnya hasil-hasil yang dicapai di bidang pengembangan populasi ternak.4 1.30 425.50 30 14.6 652 1.231 ribu ekor.9 1976 3.083.60 7.307.516.922. ketiga jenis produk tersebut masing-masing telah mencapai sebanyak 671.6 ribu ton.1 3.40 7.926.00 6.1 4.6 615.949.70 139 11.30 23.368. Apabila dibandingkan dengan produksi tahun 1982 yang masing-masing baru berjumlah 628.132.587 ribu ekor dan 658 ribu ekor dalam tahun 1982.677.243.843.00 3.22.5 590.00 698.1 1977 1.262.8 195.40 Berbagai cara telah dilaksanakan untuk meningkatkan populasi ternak.50 25.90 26 1978 70.7 24.70 1.246.40 2.0 ribu ton.046.1 626.20 813.738.80 Kulit Kerbau Kambing 170.30 109.026.196. Sementara itu sebagaimana terlihat dalam Tabel VII.1 2. 316.2 persen dan 6. maka produksi daging.9 1. 140 ribu ekor dan 7.80 5.6 14.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.30 157.60 11.694.6 juta liter.9 164.691.883.049 ribu ekor dalam tahun 1983.40 19.3 1.30 1975 5.523.0 ribu ton dan 142.010.822.0 ribu ton dan 117.2 13. 297. Demikian juga populasi ternak Ryall dan itik menunjukkan kenaikan masingmasing sebesar 7.758.824.24 dan Tabel VII.30 3. 3.60 1.3 535.245.769.60 385.471. maka produksi daging telah meningkat sebesar 6.6 169 105.40 1.25 NILAI EKSPOR TERNAKDAN HASIL-HASILNYA.308.272.007.30 1.90 398.

meskipun jumlah populasi ternak secara keseluruhan meningkat setiap tahunnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ternak sapi dan kerbau telah dihentikan sejak tahun 1979.4. Kenaikan produksi ikan tersebut selain disebabkan peningkatan produksi ikan taut sebesar 7. Dapat diketengahkan bahwa besarnya peningkatan produksi ikan taut tersebut terutama karena bertambahnya kapal-kapal perikanan bermotor dan meningkatnya penggunaan alat-alat penangkap ikan moderen seperti jaring jenis gill net.998 ribu ton.120 ribu ton. kerbau.4. Sementara itu hasil-hasil yang telah dicapai di bidang perikanan dalam tahun 1983 antara lain tercermin pada produksi ikan yang telah mencapai 2.120 ribu ton atau sebesar 6. Perikanan Indonesia dikenal sebagai suatu negara maritim yang terdiri dari pulau-pulau dengan perairan yang me1iputi tiga perempat bagian dari se1uruh wilayah negara. maka selama Pelita III telah ditempuh usaha-usaha intensifikasi penangkapan sekaligus pengembangbiakan daTi berbagai jenis ikan dan udang di samping juga dilakukan usaha pengembangan perikanan darat.7 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982. purseseine.3 persen. mempertinggi produksi. atau 6. Penurunan tersebut disebabkan karena meningkatnya permintaan daging dan protein hewani. Produksi ikan sampai dengan tahun 1983 telah meningkat menjadi sekitar 2. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan para nelayan. penggunaan perahu tanpa motor dan alatDepartemen Keuangan RI 178 . sedangkan sisanya sebanyak 520 ribu ton adalah ikan darat. pole and line. yaitu sebanyak 1. juga karena meningkatnya produksi ikan darat sebesar 2. Dengan letak geografis yang ada sella ditunjang oleh iklim tropis sepanjang tahun. maka nilai ekspor hasil ternak turun sebesar 4. Dengan demikian dalam tahun 1983 sebagian besar ekspor hasil ternak adalah berupa kulit sapi. memperluas kesempatan berusaha.600 ribu ton atau 75. keadaan tersebut sangat menguntungkan produktivitas dan pengembangan budidaya ikan di Indonesia.4 persen. Di lain pihak. Namun mengingat bahwa penangkapan ikan memerlukan tatacara yang benar agar pelaksanaannya dapat produktif dan efisien. 7.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. kambing dan domba dengan nilai ekspor sebesar US $ 23. serta kulit dan tulang di dalam negeri sebagai akibat dari berkembangnya sektor industri.1 juta. Titik berat pembangunan di bidang perikanan dalam Repelita IV ditujukan pada pembinaan dan pengembangan perikanan rakyat. dan long line. Apabila dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 1982 yang berjumlah US $ 25.1 persen lebih tinggi dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya yakni sebanyak 1.5 persen dari hasil keseluruhan. meningkatkan mutu gizi pangan dan sekaligus untuk meningkatkan ekspor.9 juta. Hasil produksi ikan dalam tahun 1983 tersebut sebagian besar merupakan produksi ikan lalit.

Sementara itu walaupun pertumbuhan produksi ikan darat tidak secepat produksi ikan laut. Jawa Barat. maka dalam tahun 1983 telah mencapai 405.300 buah. Sebaliknya dalam periode yang sarna jumlah perahu tanpa motor telah menurun dari 215. Meningkatnya produksi budidaya perikanan darat tersebut terutama disebabkan intensifikasi budidaya tambak di samping adanya perluasan arealnya.3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.466 buah dalam tahun 1982 menjadi 212. Apabila luas areal budidaya tambak dalam tahun 1982 baru mencapai 400. NTT.8 persen bila dibandingkan dengan tahun sebe1umnya. Dalam tahun 1983. atau suatu penurunan sebesar 1. produksi budidaya perikanan darat mengalami kenaikan sebesar 5. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 94. pabrik es. terutama yang terdiri dari hasil tambak.6 ribu hektar atau suatu kenaikan 1. Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan yang keseluruhannya mencapai sepanjang 590 km. 2 buah PP nusantara dan sebuah PP samudera. telah dibangun saluran tambak di Daerah Istimewa Aceh. atau suatu kenaikan sebesar 9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 alat penangkap ikan tradisional te1ah menurun yang menunjukkan te1ah terjadinya pergeseran dan pergantian dari alat-alat penangkapan tradisional ke alat-alat penangkapan yang lebih produktif. Di samping itu juga telah dibangun 24 buah PP. Sumatera Utara. yang terdiri alas 21 buah PP pantai.5 ribu hektar.4 persen. yang berarti peningkatan sebesar 10. pemasaran dan pengolahan hasilhasil perikanan. gudang pendingin dan lain-lain fasilitas yang diperlukan untuk mengembangkan produksi. Bali. kolam dan sawah. Selanjutnya guna menunjang dan mempercepat pertumbuhan produksi perikanan lalit.4 persen dibandingkan dengan tahun sebe1umnya. produksinya te1ah meningkat lagi sehingga mencapai 279 ribu ton. maka sejak Pelita III telah dilaksanakan rehabilitasi dan pembangunan pangkalan pendarat ikan (PPI) serta pelabuhan perikanan (PP). sampai dengan tahun 1983/1984 telah dibangun 149 buah PPI yang tersebar di 25 propinsi kecuali untuk DI Yogyakarta dan Timor Timur. Sedangkan untuk mendukung pengembangan budiclara tambak dan perikanan darat lainnya. Jawa Timur.083 buah. Meningkatnya penggunaan perahu/kapal motor serta alat-alat penangkap ikan moderen terlihat dari jumlah perahu/kapal motor yang dalam tahun 1982 baru sebanyak 85. Dalam hubungan ini. yaitu dari 241 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 254 ribu ton dalam tahun 1983. terutama perikanan rakyat. NTB. Sampai dengan bulan September tahun 1984.400 buah dalam tahun 1983. Jawa Tengah. Tersedianya benih dan induk ikan dalam jumlah dan mutu yang memadai sangat Departemen Keuangan RI 179 .8 persen. namun produksi ikan darat juga menunjukkan jumlah yang terus meningkat. PPI dan PP tersebut dilengkapi dengan tempat pelelangan.

1969 . Dilihat dari segi konsumsinya.838 1.286 16.820 3.370 6. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 13.827 7S.375 8.517 3. baik volume maupun nilainya telah mengalami kenaikan. Dalam waktu yang sama.373 1.121 78.705 226.060 6.750 ton senilai US $ 8.851 2.553 2.426 2.496 12.721 84.724 2.8 persen per tahun.389 131.585 217 98 17.810 10.943 200.258 305 54 13.187 29.4 kg per kapita.505 1.041 2. Selanjutnya untuk tahun 1983.720 32.738 88.657 7. maka berarti volume dan nilai ekspornya telah meningkat masing-masing sebesar 35.28 VOLUME DAN NILAI EKSPOR HASIL-HASIL PERIKANAN.156 34.627 140. Pemasaran ikan.300 255.28.300 8.308 19.787 57.778 9.774 286 56 14.444 22. ditingkatkan pula peranan yang lebih aktif dari balai benih ikan (BBl).994 41.562 1974 32.924 350 61 12. Apabila dalam tahun 1978 konsumsi ikan baru mencapai 11. rata-rata konsumsi ikan segar per kapita per tahun dalam negeri dari tahun 1978 sampai dengan tahun 1983 terus menunjukkan peningkatan.6 persen dari seluruh volume.540 21.910 19.160 3.2 persen dan 1.163 2.178 68.410 Udang 1) Volume Nilai Tahun 1969 5.178 225.195 34. dan 76.424 68. Sampai dengan tahun 1983/1984 telah direhabilitasi dan dibangun BBI sebanyak 43 unit.274 17.907 7.387 1. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 dengan volume ekspor sebesar 61.333 4. yang mencapai 29.145 1.754 473 136 13. sebagaimana terlihat pada Tabel VII.693 1.756 18.395 7.852 45.712 31.115 7.344 40. Pada urutan Departemen Keuangan RI 180 .7 persen per tahun.378 21.805 ton senilai US $ 244.050 5.904 1981 24.959 30.618 249.188 4.355 358 65 12. Ekspor hasil-hasil perikanan dalam tahun 1983 sebagian besar adalah berupa udang segar dan awetan.971 162.463 116.431 1976 31.809 1973 28.1 persen dari seluruh nilai ekspor hasil perikanan.247 169 652 286 104 38 12.827 1982 2) 25.191 54.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menentukan berhasilnya usaha perikanan budidaya.612 4.8 persen dan 5.483 1980 31.184 399 114 13.697 1972 23.934 180.118 892 568 384 103 29 10. Dalam waktu yang sarna telah dibangun sebanyak 3 unit balai benih udang (BBU) dan 3 unit balai benih udang galah (BBUG). baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.953 92. Tabel VII.750 200 170 24.450 I) Segar dan awetan 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Jumlah Volume Nilai 21.332 326 28 9 42 20 13.571 1975 25.655 18.420 ribu.991 1977 31.865 471 867 749 190 37 12.106 1.114 29.170 194.278 1971 15. atau mengalami kenaikan rata-rata 2.018 63.334 2.955 1979 34.431 364 114 1 i .1983 (Volume dalam ton.380 57.464 236.941 52.868 678 2.992 3.486 193. Untuk mengatasi hal tersebut. ekspor hasil-hasil perikanan juga menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan.325 6. selain mengandalkan benih dari sumber alam.823 3.550 ton dengan nilai sebesar US $ 247.959 ribu.319 14.625 31.236 359 96 14.387 89.768 321 92 9.211 13.026 11.980 5.620 161.875 5.233 1978 32. yakni masing-masing dengan rata-rata sebesar 6. pemasaran hasil ikan ke luar negeri telah mencapai 83. sampai dengan tahun 1983 telah menunjukkan peningkatan yang mantap.354 75.867 3.111 1.180 ribu. nilai dalam US $ ribu) Ikan segar Katak Ikan hias Lain-lain Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai 2.182 1.648 2.575 181.255 33.154 1.316 4. Volume dan nilai ekspor hasil ikan dalam tahun 1983 tersebut belum termasuk ekspor uhliruhlir yang berjumlah 4.510 163.1 kg per kapita.049 5.637 878 1970 7.0 persen.185 54.639 5.416 88.600 Ekspor ikan selama Pelita III.640 19833) 26.378 3.411 29.

Pemerintah melakukan kebijaksanaan barga. Pangan dan gizi Pembangunan di bidang pangan dan gizi sampai dengan akhir Pelita III dititikberatkan pada peningkatan penyediaan pangan secara merata. Agar petani produsen padi lebih bergairah dalam meningkatkan produksinya.per kilogram. Amerika Serikat. Negeri Belanda. maka juga ditujukan untuk meningkatkan gizi masyarakat melalui penganekaragaman pola konsumsi pangan masyarakat. sehingga konsumsi bahan pangan bukan beras terus meningkat.4. Singapura.7 persen dari seluruh nilai ekspor hasil perikanan. Penetapan harga dasar dan harga batas tertinggi tersebut tidak hanya berlaku terhadap bahan pangan pokok beras saja. dan kacang hiiau. kedelai. sehingga usaha perbaikan dan peningkatan gizi masyarakat dapat tercapai. serta pembangunan gudanggudang pangan di seluruh pelosok tanah air.5. Untuk itu secara berkala Pemerintah telah menetapkan harga dasar yang diterima oleh petani produsen dan harga batas tertinggi yang dibayar oleh konsumen. baik bagi kepentingan produsen maupun konsumen. 7. Dalam menunjang usaha tersebut. Sedangkan khusus harga dasar kacang tanah sejak tahun 1982/1983 telah dihapuskan karena harga kacang tanah di posaran sudah tinggi sehingga tidak perlu lagi ditetapkan harga dasarnya. Penentuan harga yang wajar bagi produsen terutama ditujukan untuk memberikan dorongan kepada petani produsen meningkatkan hasil produksinya. melainkan juga untuk beberapa jenis palawija.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kedua adalah ekspor ikan segar yang mencapai 38. antara lain jagung. Sehubungan dengan harga dasar gabah/beras dapat dikemukakan bahwa pada awal Pe1ita III harga dasar gabah kering giling di tingkat BUUD/KUD adalah sebesar Rp 85. di samping tercukupinya kebutuhan gizi yang sesuai dengan daya beli masyarakat banyak. Hongkong. Mulai awal Pebruari Departemen Keuangan RI 181 .. Di samping itu. melancarkan penyaluran bahan pangan. maka harga dasar gabah/beras tersebut te1ah ditingkatkan sehingga sampai dengan akhir tahun Pe1ita III mencapai sebesar Rp 145. Sedangkan negara-negara tujuan utama ekspor hasil perikanan adalah ]epang. memantapkan harga serta memperbaiki pengolahan dan penyimpanan hasil produksi pangan. Sehubungan dengan kegiatan tersebut. Sedangkan penetapan harga batas tertinggi yang dibayar oleh konsumen dimaksudkan agar harga pangan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak. memperbaiki sarana distribusi dan pemasaran.4 persen dari volume atau 7. Pemerintah mengusahakan terwujudnya harga pangan yang stabil pada tingkat yang wajar.per kilogram.. telah dilakukan peningkatan produksi. Belgia dan Luxemburg. peningkatan jumlah sarana penyangga. Sejalan dengan kebijaksanaan yang berorientasi pada harga.

Untuk lebih meningkatkan keterkaitan kebijaksanaan pangan dengan koperasi baik di bidang pengadaan maupun penyalurannya.29).4 ribu ton. sedangkan dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus jumlah terse but telah meningkat menjadi sekitar 2. maka dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan impor beras sebanyak 1.. maka dalam pengadaan gabah/beras te1ah diberikan pula margin tataniaga yang lebih besar dari yang diberikan kepada pihak swasta non KUD.6 ribu ton alan sebesar 89 persen dari se1uruh pengadaan gabahlberas dalam negeri. Agar persediaan beras berada dalam jumlah yang cukup.6 ribu ton. sebanyak 81.8 ribu ton.per kilogram (Tabel VII.8 ribu ton.0 ribu ton atau sebesar 11 persen berasal dari non KUD.. Dalam tahun 1983/1984 pembelian beras (berupa gabah setara beras) yang berasal dari dalam negeri adalah sebanyak 1..per kilogram. Untuk menjamin agar para petani produsen benar-benar dapat menerima harga penjualan hasil produksinya sesuai dengan harga dasar yang telah ditetapkan. dan gudang Bulog lama sebanyak 89 buah dengan kapositas tampung sebanyak 168. te1ah mencapai sebanyak 1. Demikian pula untuk tahun 1985. maka sejak tanggal 1 Juni 1983 kepada koperasi diberikan kredit dengan suku bunga rendah.037.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1984 harga dasar gabah/beras telah ditingkatkan lagi menjadi Rp 165. Sampai dengan bulan Juli 1984. Jumlah gudang tersebut terdiri atas gudang Bulog baru sebanyak 599 buah dengan kapositas tampung sebanyak 1.210. dan diikutsertakan dalam penyediaan sarana lepas panen: Di samping itu untuk memperkuat daya saing dan membantu pemupukan modal bagi KUD.901. terhitung mulai tanggal1 Pebruari 1985 te1ah diputuskan untuk menaikkan lagi harga dasar gabahlberas giling di tingkat BUUD/KUD menjadi Rp 175. sedangkan Departemen Keuangan RI 182 .5 persen dilakukan melalui impor komersial. Dari jumlah impor beras dalam tahun 1983/1984 tersebut.0 ribu ton.2 ribu ton. yakni sebesar 12 persen per tahun. Selain mendorong perkembangan KUD. jumlah gudang Pemerintah yang te1ah selesai dibangun dan dapat berfungsi mencapai 1.250. maka pembelian gabah dan hasil palawija dari petani dilaksanakan terutama melalui koperasi unit desa (KUD). Sebagai perbandingan dapat dikemukakan bahwa pengadaan gabahlberas yang berasal dari kUD dalam tahun 1983/1984. sedangkan sisanya sebanyak 137.0 ribu ton. Dengan tersedianya gudanggudang penyimpanan tersebut diharapkan pengadaan pangan untuk sarana penyangga dapat berjalan lancar. Pemerintah juga terus memperbaiki sarana distribusi dan pemasaran serta pengolahan dan penyimpanan hasil pertanian pangan. gudang semi permanen sebanyak 430 buah dengan kapositas tampung sebanyak 397. atau 85.109.118 buah dengan kapasitas tampung se1uruhnya sebesar 2.8 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1983/1984. Hal ini antara lain terlihat dari pembangunan gudang-gudang pangan Pemerintah di se1uruh pe1osok tanah air.467.

50 52. Dengan adanya beras dalam jumlah yang cukup.50 Gabah kering giling di desa 40.50 54. 29 HARGA DASAR PADI DAN GABAH.00 75.00 51.00 145.50 71.60 57.00 Padi kering giling di desa 31.00 120.00 165.50 54.00 74.00 1) 175.50 70.00 95.00 105.31.6 persen lebih rendah dibandingkan dengan penyaluran beras dalam tahun sebelumnya yang mencapai jumlah 2.50 64.50 68.00 50. Gambaran dari perkembangan harga beras di beberapa kola besar dari tahun 1974/1975 sampai dengan tahun 1983/1984 dapat diikuti melalui Tabel VII. maka perkembangan harga beras di posaran umum dapat dikendalikan dalam batas-batas yang wajar.00 85.866 ribu ton atau 36.00 Gabah kering lumbung di desa 38.00 54.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sisanya dalam rangka bantuan pangallo Pengadaan beras dalam negeri dan impor dapat diikuti melalui Tabel VII. baik untuk memenuhi kebutuhan pegawai dan karyawan tertentu maupun untuk umum melalui operasi posar. 1974/1975 . beras yang disalurkan dalam tahun 1983/1984 adalah 1. Pengendalian harga tersebut antara lain dilakukan melalui penyaluran beras ke seluruh pelosok tanah air.00 66.00 2) 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1985/1986 I) BerIaku mulai I Pebruari 1984 s/d 31 Januari 1985 2) BerIaku mulai 1 Pebruari 1985 Departemen Keuangan RI 183 .30.30 58.50 70.00 Gabah kering giling di BUUD/KUD 42.30 44.50 67.00 135.00 57. Tabel VII.944 ribu ton.00 42. Secara keseluruhan.1985/1986 ( dalam rupiah per kilogram ) Tahun Padai kering Lumbung di desa 30.

41 200.04 313.28 133 150 185.04 209.87 75.17 108.12 144.38 183.46 177.81 136.22 212.36 128.41 202.53 289.1 75.98 313.25 179.31 176.34 280.12 101.77 135.88 126.87 225 304.42 171.41 156.15 125 122.27 169.88 230.63 96.33 Juli 76.36 120.5 229./6 93.57 252.72 180.72 257.98 123.92 178.26 180.84 133.93 175.5 180 199.08 133.88 139.51 280 300 Departemen Keuangan RI 184 .31 127.38 222.65 68.72 107.95 185.16 114.66 324.22 90.03 122.87 77.43 128.96 69 83.19 123.6 140.46 139.65 109.5 279.73 318.51 183.5 261.81 211.28 234.82 186.53 120.53 252 263.42 125 124.36 97.79 123.65 84. 1974/1975 .2 211.8 126.9 212.42 134.46 127.15 128.80 126.46 199.16 269.72 136.04 295.28 279.33 175 179.81 212.88 72.41 128.78 184.53 231.4 167.12 108.42 131.8 77.69 129.58 234.11 132.16 117.56 215.56 185 195.57 190.28 125.54 134.08 92.87 111.29 247.56 144.25 118.58 187.35 178.12 247.21 123.72 122.31 245.12 125.65 285.91 121.18 85.12 139.52 119.05 Tabel VII.86 119.27 90.01 140.48 124.82 199.57 127.52 274.05 76.23 195.87 206.19 90.85 184.28 128.62 270.22 109.34 120.8 119.66 203.96 259.4 Mei 66.31 126.19 121.62 112.34 108.38 230.9 111.84 179.32 90.6 179.65 144.82 125 127.62 223.35 86.68 99.26 169.8 201.61 180 194.07 110.88 127.6 208.85 206.61 127.32 129.18 114.37 231.17 109.7 211.96 197.11 199.36 259.98 115.39 141.1 212.1:3 171.52 225.1 184.85 125.25 184.36 135.22 234.01 130.85 109.39 203.42 131.1 183.74 132.14 213.18 124.59 134.76 212.55 183.07 121.67 233.03 74.98 104.25 138.46 86.48 129.32 190.5 226.76 130.38 217.78 86.58 73.68 125.08 198.6 300.41 180 182.46 213.59 132.63 124.25 120.66 221.56 228.98 290.28 90.7 179.63 118.3 117.88 96.55 85.64 184.83 75.42 320.39 292.24 125 125.94 214.55 140.47 129.53 186.88 230.64 120.17 162.75 127.2 Nopember Dcsember Januari 77.58 138.83 110.81 77.1 183 198.5 141.88 71.78 218.53 318.53 296.97 111.2 212.48 109.86 254.58 126.36 285.94 91.34 194.42 286.83 228.14 125.02 221.69 268.65 117.48 128.68 312.9 140.56 243.21 172.46 268.28 257.56 213.5 132.84 125.4 128.94 244.48 230.32 140.72 120.02 232.19 245.54 128.19 243.87 125.71 273.19 274.39 111.07 101.36 232.43 195.83 291.9 88.59 233.53 128.59 111.19 139.79 102.4 197.71 133.5 172.91 135.9 124.15 123.79 132.96 232.5 123.36 285.25 135 134.52 207.25 164.15 181.42 232.88 82.97 136.76 85.17 230.8 234.4 93.78 Maret 99.13 236.87 178.288.48 241.4 172.87 75.64 225 222.6 185.43 124.0(1 125.03 313.68 202.1 178.42 144.99 233.32 85.98 211.5 252.13 202.84 229.87 133.86 128.32 297.03 124.63 186.97 84.9 90.98 200 210.33 189.48 120.46 216.03 213.41 213.78 142.73 96.79 146.53 128.29 185.68 124.55 128.66 145.99 120.74 224.99 255.99 80.64 218.02 137.31 119.76 114.02 129.71 236.93 128.13 209.92 84.22 88.71 122.86 285.43 156.36 113.3 115.53 141.57 245.33 125 125 125 134.59 127.63 280 303.17 196.59 196.49 215.72 146.59 91.04 74.15 260 261 255.28 230.25 126.91 159.63 217.37 125.81 200 191.69 206.6 153.31 ( lanjutan) Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 YOGYAK 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 SURABAY 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 MEDAN 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982'/1983 1983/1984 1) Angka sementara Kota April 66.78 139.74 76.81 121.16 128.18 231.9 189.81 115.25 297.11 97.51 207.09 73.22 181.23 208.15 205.33 180 180.12 157.77 334.39 .02 215.69 148.99 185.09 116.46 167.18 144.31 HARGA BERAS KUALITAS MENENGAH DI BEBERAPA KOTA BESAR.69 144.05 125.18 118.08 124 124.61 175.58 186.83 Juni 66.19 88.64 125.5 283.28 213.01 76.6 247.6 125 145 172.36 285.55 199.9 127.17 215.41 Mei 77.3 167.79 Kota Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 JAKARTA 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 BANDUNG 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 SEMARANG 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{19H 1) Angka sementara Desember Januari Pebruari 90.29 283.88 115.92 180.19 112.15 140.81 93.73 162.58 89.13 304.72 185.00 148.59 267.59 Bulan Agustus September Oktober 68.99 122.31 212.95 134.53 172.23 140.15 217.37 224.31 216.9 125 129.64 96.66 125 146.01 181.71 128.56 188.81 201.85 338.41 172.36 277.64 133.24 184.72 221.35 280 315 315 310.92 139.67 120 120 127.6 187.08 152.63 256.53 286.67 184.55 159.06 253.52 172.6 85.74 85.18 91.29 93.77 206.7 132.03 209.28 230.96 165.1 315 363.2 114.02 129.97 178.5 167.42 215.83 130 137.54 235.61 124 124.37 107.21 74.8 234.6 220 226.64 224.68 122.93 241.96 275 271.46 239.7 180.6 190 223.36 253.52 145.51 77.23 292.27 140.71 198.48 132.46 243.31 210 208.03 216.73 221.04 211.83 198.18 125.75 207.77 95.56 125.76 200.16 264.96 125.43 228.7 310.5 226 227.83 325.3 181.69 288.OG 125 125 125 135 133.91 262.91 189.9 225.77 Pebruari 79.34 124.76 75.69 117.6 125.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.94 154.9 151).11 134.1983/1984 ( dalam rupiah per kilogram) April 84.66 128.32 299.71 124.91 194.68 212.15 204.94 283.56 208.06 180.42 242.46 81.15 250.77 202.54 161.2 132.42 87.98 120 145 172.5 197.69 109.17 317.66 137.75 121.19 205.6 Bulan Agustus September Oktober Nopember 76.22 125.17 132.02 103.79 146.69 111.5 102.37 75 79.47 90 123.88 130.07 128.15 74.43 187.15 121.3 153.35 322.06 125.75 75.62 334.13 125.37 67.32 97.41 172.06 85.52 11 7.5 199.3 179.96 252.1 283.55 141.4 Maret 80.5 143.12 124 126.1 212.26 150 185 213.31 Juli 69.87 126.54 Juni 76.04 80.06 257.5 225 230.44 107.49 121.75 101.03 118.34 213.2 135.2 133.62 302.16 321.27 178.18 125 125 126.36 107.93 133.35 126.91 174.57 165.1 95.58 123.13 130.6 189.5 123.48 180.45 288.71 126.78 125.29 301.14 131.37 195.56 144.OO 235.25 116.2 178 182.5 169.9'! 193.96 281.92 319.66 212.48 220.6 116.08 75.78 202.45 120.15 122.

48 242.25 239.34 151.1 297 106.33 77.25 94.08 299.77 142.06 151.29 270 270 274.34 187 209.83 242.91 312.65 333.95 90.5 122.66 297.47 132.46 125 148.71 228 239. serta untuk meningkatkan gizi masyarakat.45 158. perluasan jangkauan UPGK sampai ke pelosok tanah air.5 125 125 110 110 110.45 120 123.06 92.83 115.2 132.44 90 120 109 125 156.26 186.722 ribu ton atau 10.55 214. telah dilaksanakan pula pengadaan dan penyaluran tepung terigu yang bahan bakunya berupa gandum yang diperoleh dari impor.66 133.56 119.31 221.46 175.68 183.65 147. Sedangkan dalam hal SKPG.12 335 334. Dalam hal penyuluhan gizi.31 312.31 89.58 131.19 230 226.05 215 229.69 102.2 134.25 132 155 201.69 168.92 83.39 121.96 186 216.43 242.91 268.19 242.24 349.5 277.8 120.6 Kota PALEMBANG BANJARMASIN UJUNG Tahun 1974{1975 19750976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1977 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1970{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 April 116.1 297 106. 89.8 97.31 316.11 294.51 205.32 337.4 115 126 140 185 200 255 273.69 195 231. usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK).2 133.31 221.2 110.37 211.12 206.7 125.4 275 285.91 121.25 131.01 109.69 275.87 184.04 152. masing-masing diwujudkan melalui peningkatan jumlah produksi garam beryodium. dan ditambah lagi dengan sebanyak 118 ribu ton dari sisa stok tahun sebelumnya.67 128.2 142.59 142.46 187.62 191.13 130.99 229. Selanjutnya kegiatan fortifikasi bahan pangan.39 160.95 120.75 125 127.27 242.2 275.09 226.92 130.72 178.77 200 206.1 182.36 181.53 142.08 217. 31 ( lanjutan) Bu1an Oktober Nopember Desember Januari Pebruari Agustus September 112.54 180 194.13 152.557 ribu ton.64 205.6 205.01 197.67 265.46 185.19 183.77 297.04 225 229 234.26 216.98 250.79 132.81 1) Angka sementara Dalam rangka penganekaragarnan konsumsi masyarakat agar tidak hanya tergantung pada beras.05 127.61 226.77 173.03 100 95.75 121.65 299.79 101.27 238.96 11 7 .28 112. dan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG).66 256.38 185 200 225 273.23 105. Dalam hubungan ini maka dalam tahun 1983/1984 telah diimpor gandum sebanyak 1.58 125.86 142.42 130.25 88.39 133.5 115 119.92 332.95 113.91 312.1 152.87 95.1 118. Usaha-usaha lain yang telah dilakukan dalam rangka perbaikan gizi masyarakat antara lain ditempuh melalui penyuluhan.5 127.36 152. usaha-usaha khusus lainnya.32 126.11 140 185 206.42 303.22 356.6 persen.1 247.33 142.12 120 115 127.99 132.10 198.08 126.21 133.47 242.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.15 225 276.4 96.66 239.74 208.62 139.5 89.60 126.2 130 131.6 persen lebih banyak dibandingkan dengan impor dalam tahun 1982/1983 yang sebanyak 1.85 139.28 142.44 142.6 164.5 149.25 200 200 202 206.5 112.31 75 88.53 124.8 125 130.46 97.43 180.2 247.91 242. fortifikasi bahan raTIgan.31 221.83 165 165 174.16 137.07 225 270 Maret 105.5 186.2 219.04 183.29 90 97.02 106.83 173.07 125 121.31 75 92.82 131.95 205.52 298.76 99.33 170.39 157.95 220.12 297.51 206.98 209.66 266.4 220.41 185.79 318.99 92.15 200 207. pada akhir Pelita III telah dikembangkan suatu sistem untuk mencegah terjadinya krisis pangan yang antara lain sebagai akibat daripada bencana alam dan musim kering yang berkepanjangan.41 260.6 Mei 112. UPGK dan usaha-usaha khusus lainnya.2 265.11 189.4 89.75 131.6 180.26 105.43 131.54 225 270 Juli 112.05 100.21 145.13 121.41 97.88 106.96 185.23 142.67 273..31 232.44 101.2 181 185 185 180 180 182.24 297.79 239.83 229.09 195 196.69 90. Dari jumlah impor gandum dalam tahun 1983/1984 tersebut.26 146. telah dapat disalurkan kepada masyarakat sebanyak 1.06 85.04: 142.68 221.03 185 190.92 11 7 .82 130.71 164.25 147.91 312.29 130.55 323.94 155.61 215 215 231. khususnya masyarakat petani produsen telah diarahkan untuk meningkatkan intensifikasi tanaman palawija di tanah kering dan penganekaragaman usaha pertanian dengan cara tumpangsari antara jenis tanaman kacangkacangan dengan sayur-sayuran.61 239.38 129.23 146.68 131.5 96 107.66 230.13 179.25 103.25 133.12 164.91 308.31 293.99 227.648 ribu ton atau sebesar 89.08 115 120 120 120 120.61 75 79. Upaya-upaya tersebut telah mulai dilaksanakan di daerah-daerah pemanduan Departemen Keuangan RI 185 .25 134.14 132.23 107.91 246.91 145.58 298.64 206.69 Juni 115. serta penanggulangan kekurangan vitamin A dan zat besi.65 312.76 157.58 134.1 297 106.6 115 113.73 .52 78.34 151.32 106.58 118.25 87.11 94.1 139.73 142.86 141.47 147.46 242.17 205.78 111.19 122.

Dalam Repelita IV pembangunan di bidang kehutanan ditujukan dan dilaksanakan melalui Sapta Karya Pembangunan Kehutanan. perlindungan dan pelestarian alam. maka sejak Pelita I sampai dengan Pelita III telah berhasil dibuat tatabatas kawasan hutan sepanjang 31. Inventarisasi dan tataguna hutan Kegiatan di bidang inventarisasi hutan yang telah dicapai selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV. sehingga akan tetap bermanfaat bagi generasi yang akan datang. lapangan dan penggunaan jasa satelit. pendidikan dan latihan. masing-masing meliputi areal kawasan hutan seluas 5. kegiatan SKPG telah dikembangkan lagi ke daerah Lombok Timur. serta pengawetan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.1. pencegah erosi. hutan pendidikan dan hutan penelitian.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 seperti Lombok Tengah di NTB.977. Sementara itu dalam rangka penataan batas kawasan hutan yang terdiri alas hutan lindung. 1. Kehutanan Hutan sebagai sumber kekayaan alam dan merupakan salah satu unsur pertahanan nasional. 7. daD dimanfaatkan guna meningkatkan kesejahteraan rakyat secara optimal. pekalongan. Hasil kegiatan tersebut baru sebesar 21.000.3 persen dari seluruh panjang batas kawasan Departemen Keuangan RI 186 . Dari hasil survai tersebut telah diperoleh potret kawasan hutan sebanyak 22. Selain itu juga ditujukan pada pengusahaan sumberdaya bulan.029 ribu hektar. Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur. Untuk itu terus dilakukan kegiatan rehabilitasi sumberdaya alam. harus dilindungi kelestariannya. serta sebagai penunjang peningkatan so sial. pengawasan dan pendayagunaan aparatur. Sasaran pembangunan di bidang kehutanan diharapkan dapat terwujud melalui peningkatan inventarisasi dan tataguna bulan. penghijauan dan rehabilitasi lahan serta pengusahaan hutan.5. pelindung.5. antara lain meliputi survai udara. Karang Asem di Bali dan Boyolali di Jawa Tengah. Di samping itu juga dilakukan peningkatan bidang-bidang lain seperti penelitian dan pengembangan. reboisasi. perlindungan. tanah dan air yang kritis sehingga dapat memenuhi fungsinya secara maksimal sebagai produsen.5 ribu hektar dan 36. Hal tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan keseimbangan dan kelestariannya. melalui pemulihan kemampuan dan produktivitas sumberdaya bulan. 7. pengatur tata air. serta sarana penunjang.060 ribu hektar.400 kilometer. pengawet dan pelestari alam. Dalam tahun 1983/1984.726 lembar dengan skala 1:100. yang ditempuh melalui berbagai kegiatan antara lain meliputi pelestarian. yang meliputi peningkatan produksi hutan berupa kayu dan hasil hutan ikutan.

4 ribu hektar. 87 orang dan 176 orang. Sejalan dengan kegiatan tersebut. Sebagai sarana penunjang telah dibangun balai inventarisasi dan pemetaan bulan. yang mencakup areal seluas 260. juga telah berhasil dicapai pengukuhan dan penatagunaan hutan lindung seluas 24.569.5. perlindungan hutan dan pelestarian alam Pada hakekatnya perlindungan hutan dan pelestarian alam dalam rangka konservasi Departemen Keuangan RI 187 . Sementara itu pemetaan yang mempunyai peranan penting di bidang kehutanan. melalui pendidikan tenaga ukur. juru gambar dan tenaga penafsir potret udara. Dalam waktu yang sarna. di samping juga akan memudahkan pelayanan. Sedangkan untuk kegiatan pendataan kehutanan yang meliputi pengumpulan data dan pengolahannya.891. berikut sub balainya. maka diperlukan adanya tataguna hutan. peta ketinggian dan peta thematic. peta land-use. tenaga gambar dan tenaga penafsir potret udara. peta daerah aliran sungai (DAS) di 27 propinsi. Dari hasil TGHK tersebut telah dapat diidentifikasikan luas areal hutan di Indonesia sekitar 147 juta hektar. sehingga diharapkan tidak terjadi tumpang tindih dalam pengumpulan. peta tanah. hutan produksi bebas seluas 25.4 ribu hektar. sejak tahun 1981 sampai dengan bulan Juni 1984 telah dilaksanakan tatabatas dalam rangka pengukuhan areal reboisasi pada bekas tanah negara bebas.317.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hutan yang diperkirakan sepanjang 147.2. informasi dan menjaga konsistensi data. pengamanan dan penyimpanan data. peta JOG Qoint Operation Graffic Ground). peta TPC (Tactical Pilotage Chart).8 ribu hektar dan hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 24. 7.000 kilometer. Sampai dengan bulan Juni 1984 telah dapat disusun dan diselesaikan pola tataguna hutan kesepakatan (TGHK) di 19 propinsi di luar pulau Jawa.5 ribu hektar. maka dalam tahun pertama Repelita IV telah dapat diwujudkan suatu sistem informasi yang dipusatkan pada suatu basis data dan sistem informasi. masing-masing sebanyak 10 balai dan 31 sub balai. masing-masing telah berjumlah 604 orang. jumlah tenaga juru ukur. Sejak tahun 1981 sampai dengan bulan Agustus 1984. Dalam rangka peningkatan penyempurnaan aparatur dan sarana penunjang telah dilakukan peningkatan aparatur pelaksana inventarisasi dan tataguna bulan. hutan suaka alam dan hutan wisata seluas 15.2 ribu hektar. Dalam rangka pengelolaan hutan yang meliputi peningkatan pembinaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. sampai dengan bulan Juni 1984 telah dapat memenuhi semua kebutuhan peta dasarnya.905. pengolahan. hutan produksi terbatas seluas 22. peta geologi. peta lalit.0 ribu hektar. Jenis peta dasar yang telah selesai dibuat antara lain berupa peta topografi.939.

monitoring dampak lingkungan serta kegiatan pengamanan hutan. serta keindahan alam. sumber plasma nutfah. baik di daratan maupun di perairan. hutan wisata dan taman nasional sebagai model ekosistem. pembinaan pencinta alam. dan rusa di pulau Bawean. maka selama Pelita III telah dilakukan penunjukan atau penetapan suaka alam dan hutan wisata yang mencapai 12. ditingkatkan pula pembinaan dan pengembangan kebun binatang dan oceanorium di 21 lokasi. suaka margasatwa seluas 4. dengan jumlah koleksi sebanyak 500 jenis satwa. antara lain telah dilakukan studi dan inventarisasi flora dan fauna di 20 lokasi yang mencakup kawasan seluas 2. pengelolaan dan pembinaan hutan suaka alam.4 ribu hektar. Sejalan dengan kegiatan tersebut. gejala alam. taman baru seluas 326.784. maka telah ditingkatkan penertiban perburuan.4 ribu hektar.1 juta hektar. serta inventarisasi sebanyak 20 jenis kekayaan laut. keanekaragaman dan keunikan jenis flora dan fauna. gajah di pinggiran Air Sugihan (Sumatera Selatan). Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap populasi jenis satwa langka. Suaka alam dan hutan wisata tersebut terdiri atas hutan cagar alam seluas 6.4 ribu hektar. selain sebagai obyek olah raga dan wisata. Guna menunjang berbagai kegiatan tersebut. melalui penetapan 11 lokasi taman baru. Selama Pelita III. Sedangkan upaya konservasinya dilakukan melalui pembinaan dan pengembangan taman nasional. dan taman laut seluas 8. Sedangkan konservasi di luar kawasan bulan.784.2 ribu hektar dan tersebar pada 306 lokasi diseluruh Indonesia. penetapan sebanyak 521 jenis satwa dan 36 jenis flora yang dilindungi peraturan perundang-undangan. burung jalak di Bali Barat.3 hektar. Dalam rangka menunjang pelestarian jenis-jenis satwa yang tidak dilindungi. Riau dan Sumatera Utara.8 ribu hektar. Konservasi kawasan hutan antara lain ditempuh melalui kegiatan pengalokasian. pengelolaan hutan lindung. di samping juga melalui kegiatan yang berorientasi pada masalah botani.076. antara lain meliputi pengembangan taman nasional. antara lain ditempuh melalui inventarisasi dan identifikasi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar yang populasinya diancam kepunahan. ditujukan untuk menjaga keberadaan plasma nutfah dan kelestarian potensi sumberdaya alam beserta ekosistemnya dari kemungkinan bahaya kerusakan dan penurunan. antara lain berupa rehabilitasi orang hutan di Tanjung Puting (Kalimantan Tengah) dan Bahorok (Sumatera Utara).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sumberdaya alam dan lingkungan hidup. yang selama Pelita III telah berhasil mencapai 16 lokasi Departemen Keuangan RI 188 . taman wisata seluas 172. serta pengamanan terhadap daerah pengungsian dan daerah perlindungan satwa baik di darat maupun di laut. baik kualitas maupun kuantitasnya. pembinaan wisata alam. burung muho di Sulawesi Utara. Usaha perlindungan hutan dan pelestarian alam dilaksanakan melalui beberapa kelompok kegiatan. di mana 50 jenis di antaranya termasuk jenis satwa yang dilindungi. yang tersebar di 5 lokasi.

tanah dan air. Bali Barat. bertepatan dengan Kongres Taman Nasional Sedunia ke III di Bali. Sedangkan 11 lokasi lainnya.3.884.234. Untuk itu selama Pelita III telah diadakan penyuluhan. gunung Gede-Pangrango.5 ribu hektar. bimbingan dan pendidikan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap wisata alam. serta Lore Lindu-Manusela telah ditetapkan pada tanggal14 Oktober 1982. antara lain dengan dipekerjakannya sebanyak 7.432 orang petugas lapangan penghijauan dan reboisasi. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 realisasinya telah mencapai 75. maka setiap tahunnya terus ditingkatkan kegiatan di bidang reboisasi. penggarapan lahan yang keliru.3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. penghijauan dan rehabilitasi lahan Dalam rangka pelaksanaan program penyelamatan hutan. Ujung Kulon. Dalam pada itu sejalan dengan upaya-upaya dalam bidang perlindungan hutan dan pelestarian alam. Dan kegiatan yang telah dilakukan tersebut. gunung Seblat. gunung Baluran dan pulau Komodo. kebakaran hutan dan penggembalaan ternak secara liar.3 ribu.400 hektar menjadi 186. berarti masing-masing telah meningkat sebesar 21.5. pembinaan terhadap pencinta alam juga dilaksanakan dan ditingkatkan. gunung MeruBetiri.1 ribu ekor. Bukit Barisan Selatan.934. yang berasal dari berbagai jenis satwa liar sebanyak 1.626.688. Tanjung Puling. yaitu di gunung Leuser. hasil reboisasi dalam tahun 1983/1984 telah meningkat sebesar 57. penghijauan dan rehabilitasi lahan. Bila dibandingkan dengan tahun 1982/1983 dengan nilai ekspor sebesar US $ 4.2 ribu ekor. Kepulauan Seribu. daerah Kutai. Dalam rangka pembinaan populasi satwa liar.434 hektar. Oleh karena itu dalam tahun 1983/1984 berbagai usaha penunjang telah dilaksanakan. Di samping kegiatan-kegiatan tersebut.300 hektar (Tabel VII.8 persen. 5 lokasi di antaranya telah ditetapkan pada tanggal16 Maret 1980 bertepatan dengan dicanangkannya World Conservation Strategy. Dari 16lokasi tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk mengimbangi kerusakan kawasan hutan sebagai akibat dari perladangan berpindah. Sumbangan devisa dari ekspor satwa liar dalam tahun 1983/1984 mencapai US $5.3 ribu yang berasal dari 1. selain dilakukan usaha pemanfaatan juga tetap diperhatikan kelestariannya melalui pengurangan populasi yang telah melampaui keseimbangan ekosistemnya. 7. gunung Tengger-Semeru. maka dalam rangka reboisasi lahan kritis juga telah dilakukan persiapan-persiapan kearah pembangunan Departemen Keuangan RI 189 . serta 169 orang petugas khusus penghijauan. Dumoga Bone.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan luas areal seluruhnya 4. yaitu di gunung Kerinci.32). baik untuk kepentingan konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. yaitu dari 118.5 persen dan 36. Reboisasi.

yaitu kegiatan yang dikaitkan dengan pernbangunan irigasi. yang pelaksanaannya dilakukan baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. Departemen Keuangan RI 190 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hutan jenis kayu indah dan langka. pembuatan beras dan saluran air seluas 184.576 hektar.360 hektar per tahun. melalui metoda sipil teknis telah berhasil clibangun sebanyak 2. yang kemudian ditingkatkan lagi dalam tahun 1983/1984 menjadi 7. Sumatera Selatan. serta penyuluhan guna peningkatan partisiposi masyarakat dalam pemeliharaan kelestarian sumberdaya alam.613. seperti halnya reboisasi dilakukan melalui dana Inpres bantuan penghijauan dan reboisasi. Di samping itu dilakukan juga pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu.400 hektar per tahun.000 hektar.2 persen bila dibandingkan dengan Pelita II. yang tersebar di 15 propinsi. Sedangkan dalam rangka pengembangan dan pembenihan. Pusat Pemulihan Pohon di Yogyakarta dan Unit Pengembangan Teknologi Persemaian di Benahat.390 unit checkdam. Dari hasil-hasil yang telah dicapai tersebut. yaitu dari rata-rata seluas 364. Selama Pelita III. maka dilakukan upaya pemukiman kembali bagi para peladang berpindah untuk mencegah rusaknya sumberdaya alam berupa hutan. Dalam hubungan ini. menjadi 525.262 kepala keluarga (KK).753 unit yang masing-masing luasnya antara 10 sampai 20 hektar. antara lain berupa studi-studi dan penyiapan rencana pengembangannya pada areal seluas 720.600 hektar. antara lain telah dilakukan pengembangan teknologi benih dan pemulihan jenis pohon.000 hektar.6 ribu hektar. dan untuk menunjang kegiatan tersebut telah dibangun Pusat Teknologi Benih di Bogor. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni I 1984 juga telah berhasil dilakukan penghijauan seluas 311. selama Pelita III telah dibangun somber benih seluas 4.500 hektar. yang sarna dengan luas kawasan penghijauan seluas 579. Sedangkan melalui metoda vegetatif telah berhasil dibuat kebun rakyat seluas 1. dan dengan metoda vegetatif yang antara lain dilakukan melalui pembuatan kebun-kebun rakyat.210 KK. sampai dengan tahun 1982/1983 telah dilaksanakan pemukiman kembali terhadap para peladang berpindah sebanyak 6. Sehubungan dengan itu. Dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut dilakukan melalui metoda sipil teknis. maka selama Pelita III realisasi kegiatan penghijauan secara keseluruhan telah meningkat sebesar 44. Dalam rangka kegiatan rehabilitasi lahan. Sejak tahun 1976/1977 kegiatan penghijauan. serta pembuatan petak percontohan penghijauan sebanyak 2.

802 70.999.000 118.578 98.1 240. Apabila ditinjau dari status dan sumber permodalannya.1 2.Perusahaan yang merupakan usaha nasional 2.689 665.5. 1969 .5 juta (Tabel VII.300 1) 75.400 186.650 53.0 52. 33 PENGUSAHAAN HUTAN SAMPAI DENGAN MARET 1984 1) Jenis dan sifat usaha 1.543 204.840.118 35.174 35.6 Investasi ( US$ juta) 1.4.658 170.9 juta hektar dan investasi yang ditanam senilai US $ 2.400 558.682 89.697 632.315 22.855 104.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.219.Perusahaan patungan 3.700 147.900 378.Peruasahaah dalam rangka PMA Jumlah perusahaan yang telah memperoleh HPH 1) Angka sementara Jumlah (unit) 457 61 2 520 Luas areal (ribu ha) 45.219.100 501.600 610.434 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.681 102.032. Dalam hubungan ini.3 8.9 7.971.148 276. 32 AREAL PENGHIJAUAN DAN REBOISASI. sampai dengan akhir bulan Maret 1984 telah dilakukan pengusahaan hutan sebanyak 520 unit dengan areal konsesi seluas 52.7 126.33).544 213.1984 ( dalam hektar ) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 2) Penghijauan 149.623 302.402 50.000 179. yang pengusahaannya di luar Jawa selain dilakukan oleh Perum Perhutani juga dilaksanakan oleh pemegang hak pengusahaan hutan (HPH). Pengusahaan hutan Berdasarkan tataguna hutan kesepakatan luas kawasan hutan produksi di Indonesia adalah sekitar 70 juta hektar.000 Reboisasi 33.5 7.000 311.500 149.991 578. dari 520 Departemen Keuangan RI 191 .259 107.

262 65.123 76.980 45. produksinya telah mencapai sebesar 1. berarti mengalami penurunan sebesar 3.4 501.412 59.6 1976 480 20.786.701 16.5 583.2 1.986 9.947 21.702 ribu meterkubik yang terdiri atas 8.971.448 79.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 unit perusahaan yang telah memperoleh HPH tersebut.8 1.7 1973 676 25.6 100. hasil produksi kayu dalam tahun 1983 berjumlah sebesar 9.40 1982 692 12.327 65.424 7.70 1979 575 24.256 20.323 13.60 1980 500 21. Walaupun produksi kayu da\am tahun 1983 telah menurun.613 68. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 6.008.280 18.760 78.204 2.6 juta.425 52.610 74.366 22. 1969 .921 85. Luas areal hutan dan besarnya investasi yang ditanam oleh kedua jenis perusahaan tersebut masingmasing adalah 7.4 1978 475 25.490 25. Jumlah tersebut apabila dibandingkan dengan tahun 1982 yang telah mencapai sebesar 13.488 75.1984 Produksi (ribu m3) Ekspor Volume % Nilai Kayu Kayu jati rimba Tahun J umIah (ribu m3 produksi (US$juta) 1969 520 7.296 13. Sedangkan selebihnya sebanyak 61 unit merupakan perusahaan patungan dan 2 unit lagi berupa penisahaan asing dalam rangka PMA.1 juta.1 juta hektar dan US $ 8.806 86.2 891.596 44.3 26 1970 568 11. 34 PRODUKSI DAN EKSPOR KAYU.3 168.3 juta.9 1.204 meterkubik.313 ribu meterkubik atau sebesar 25.738 10.065 19.3 juta.70 1981 578 15.2 1.980 ribu meterkubik senilai US $ 849.939 19.3 1984 2) 450 754 1.2 725.376 15.0 juta hektar dan investasi senilai US $ 1. Dalam tahun 1982 volume dan nilai ekspor kayu yang terdiri atas kayu rimba dan kayu jati baru sebanyak 5.1 juta. Tabel VII.035. Sejalan dengan pengaturan melalui HPH.954 8.6 1971 770 12.4 230.587 8.717 13.9 849.8 1977 573 22.781 26.015 5.6 1972 597 17.4 783.968 13.3 385 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 192 .805.427 18. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Maret 1984.800 19. Hal tersebut disebabkan terutama karena adanya kebijaksanaan untuk mengurangi secara bertahap ekspor kayu bulat guna lebih mendorong industri pengolahan kayu dalam negeri.4 persen.015 ribu meter kubik. serta 0.120 17. yang terdiri atas 754 ribu meterkubik kayu rimba dan 450 ribu meterkubik kayu jati.740 14. dan 716 ribu meterkubik kayu jati.6 1983 1) 716 8.7 1975 595 15.986 ribu meter kubik kayu rimba. namun hasil volume dan nilai ekspornya telah meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.124 25.521 86.660 23.107 3.240 21.856 12.613 ribu meterkubik senilai US $ 891. sebanyak 457 unit di antaranya adalah perusahaan nasional dengan areal pengusahaan seluas 45.8 juta hektar dan US $ 240.9 1974 620 22.702 6.981 78.3 961.

6 21 19. Demikian pula jenis kayu ramin.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.9 2.6 23. yaitu dari 58.7 5.3 10.8 0.4 1.2 0.34.7 13 14.1 0.2 26. Oleh karena itu guna mencegah kemungkinan melemahnya ekspor kayu di posaran internasional.2 0.2 0. namun beberapa jenis kayu lainnya masih harus dikembangkan dan dipromosikan agar dapat memasuki posaran dunia. beberapa jenis kayu dari Indonesia cukup dikenal dan mempunyai posaran yang mantap di luar negeri.2 persen dalam tahun 1983.5 Jumlah 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Hal ini berarti telah terjadi peningkatan volume dan nilai ekspor masing-masing sebesar 10.4 0. Akibat positif daripada kebijaksanaan tersebut ditandai dengan berkembangnya industri kayu gergajian dan kayu lapis di dalam negeri.3 0.5 1977 63. kruing.7 1972 62.7 2 1.9 0.9 1980 57. 1. agatbis.7 2.2 0. pulai dan jati.5 3.8 3.6 Aglutis 5.5 Tahun Meranti 1970 68.9 13. antara lain telah dilakukan diversifikasi komoditi dan pemasarannya melalui pengembangan pemasaran ekspor hasil olahan/industri dan perluasan negara tujuan ekspor.3 1.4 13.4 11.6 21. 35 JENIS-JENIS KAYU DALAM PERSENTASE DARIPADA VOLUME EKSPOR KAYU.3 1975 68 1976 64. ramin.9 persen dan 0.9 10 10.4 4.0 juta meterkubik.9 6 3 2. Dilihat dari sudut permintaan.1 10.6 persen dan 4. 1970 .4 0.8 5 6 6.2 2.2 10.1 1. sejak lima tahun terakhir jenis kayu meranti merupakan bagian terbesar dalam komposisi ekspor kayu Indonesia.1983 Kapur/ keruing 1.3 0.1 1982 56.7 1.8 Pulai Lain-lain 13.9 persen dalam tahun 1979 meningkat menjadi 70.7 10.8 2.1 6.9 persen.2 1) Angka sementara Ramin 9. Jenis kayu tersebut antara lain adalah kayu meranti.8 11.7 persen dan 0.5 3.4 11.7 1.7 10.2 1 2.9 1. yang sampai dengan bulan Maret 1984 jumlahnya telah mencapai 412 unit dengan kapositas produksi sebanyak 11.4 1978 66 1979 58.6 0.9 3.1 22. 2.9 8.3 0. agatbis dan jati peranannya telah meningkat masingmasing dari 3.6 0.5 1971 62.6 14.2 14. perkembangan volume dan nilai ekspor kayu dapat diikuti melalui Tabel VII.8 1.8 2. Sebagaimana terlihat Facia Tabel VII. 35.1 0.7 0.9 5.7 Jati 0.7 19831) 70.8 14. Walaupun jenis-jenis kayu tersebut pemasarannya ke luar negeri telah mantap.6 persen.6 11.2 persen menjadi 14. Departemen Keuangan RI 193 .9 1.8 1981 54.9 persen.2 1.7 1973 58 1974 64.7 2.9 juta meterkubik.9 8.s 5.8 persen.9 4 2. dalam waktu yang sarna telah berjumiah sebanyak 162 unit dengan kapositas produksi sebanyak 8.2 0. Sedangkan jumlah industri kayu lapis.

yang terdiri dari 477. Pertambangan dan energi Selama Pelita III. Perekonomian dunia yang tidak menentu bagi Indonesia merupakan hambatan utama dalam mencapai peningkatan produksi bahan-bahan tambang utama.1.7 persen apabila dibandingkan dengan produksi tahun keempat Pelita III yang berjumlah 459.6 juta barrel. Namun demikian produksi beberapa bahan tambang masih menunjukkan peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II. di sam ping perluasan kilang LNG (liquified natural gas) Arun dan kilang LNG Badak. Jumlah terse but menunjukkan peningkatan sebesar 12. juga ditujukan untuk penganekaragaman hasil-hasil pertambangan. serta pengembangan teknologi pertambangan yang mencakup pula pengolahannya. peranan bidang pertambangan dan energi masih tetap besar dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia. maka perkembangan produksi minyak bumi menjadi kurang Departemen Keuangan RI 194 . perkembangan yang paling menonjol di sektor pertambangan antara lain ditandai oleh keberhasilan dalam meningkatkan produksi batu bara. Dengan hasil-hasil terse but Indonesia telah dapat mengurangi ketergantungannya terhaclap impor bahan bakar minyak (BBM). Selama Pelita III. 7. dan selebihnya sebanyak 39. walaupun dalam kurun waktu tersebut hampir seluruh komoditi tambang yang diekspor mengalami kesulitan pemasaran. yang tercermin dari pembatasan produksi minyak bumi sebagaimana telah disepakati oleh negara-negara penghasil minyak OPEC dan pernbatasan ekspor timah dari Dewan Timah Internasional terhadap anggota-anggotanya.6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. Sehubungan dengan itu telah dilakukan upaya-upaya antara lain berupa pengembangan inventarisasi dan eksploitasi berbagai sumberdaya mineral dan energi. LNG dan LPG (liquified petroleum gas).6. Minyak dan gas bumi Hasil produksi minyak bumi dalam tahun kelima Pelita III mencapai 517. Sampai dengan tahun terakhir Pelita III telah dapat diselesaikan perluasan kilang minyak Cilacap serta pembangunan unit hydro cracker di Dumai dan di Balikpapan dalam rangka pemehuhan BBM dalam negeri.9 juta barrel minyak mentah.0 juta barrel.7 juta barrel berupa kondensat. Dengan melemahnya posaran minyak dunia akhir-akhir ini dan pembatasan produksi yang disepakati oleh para anggota OPEC sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan tingkat harga yang kini berlaku. Upaya-upaya tersebut selain dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan dan peningkatan produksi. sebagai langkah persiapan menuju pengembangan dan pemanfaatan batU bara secara besar-besaran di masa datang. baik untuk keperluan ekspor maupun guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri di dalam negeri. khususnya di sektor minyak dan gas bumi.

Sedangkan volume ekspornya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sekitar 215 juta barrel. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka ditempuh kebijaksanaan untuk meningkatkan eksplorasi. dengan kapositas 85 ribu barrel per hari. maka produksi minyak bumi yang telah dapat diolah dalam tahun 1983/1984 mencapai 99 juta barrel atau 10 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.944 kilometer lintasan dan pemboran sumur minyak sebanyak 250 sumur. maka dalam tahun terakhir Pelita III telah berhasil dilakukan survai seismik sepanjang 56. Dalam tahun 1983 telah dilakukan eksplorasi terhadap 4 lokasi baru yang meliputi daerah Riau. Dalam hubungan ini selama Pelita III khususnya dalam tahun 1983/1984 telah ditingkatkan kapositas pengilangan minyak di kilang Balikpapan dan Cilacap.1 juta barrel atau sebesar 22. Perubahan situasi posaran minyak bumi internasional yang terjadi selama Pelita III. Jika dalam tahun terakhir Pelita II baru dilaksanakan survai seismik sepanjang 21. Dengan demikian secara keseluruhan produksi pengilangan minyak bumi dalam tahun terakhir Pelita III telah mencapai 198 juta barrel. Adapun produksi minyak bumi dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sekitar 259 juta barrel. Di samping itu juga dilakukan pembangunan unit hydrocracker kilang Dumai. yang dapat mengolah bahan residu berkadar belerang rendah. atau 2 juta barrel lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun Departemen Keuangan RI 195 .000 kilometer lintasan.1 juta barrel (Tabel VII. yang terdiri alas 237 juta barrel minyak mentah dan 22 juta barrel kondensat.9 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang baru mencapai sebanyak 336. selain berpengaruh terhadap produksi minyak bumi juga menghambat usaha peningkatan ekspor. Volume ekspor minyak bumi dan hasil minyak dalam tahun 1983/1984 telah mencapai sebanyak 413. Melawai Timur dan Sumatera Selatan. Dengan ditingkatkannya kapositas pengilangan di dalam negeri tersebUt. yang terdiri atas 99 iuta barrel hasil kilang dalam negeri dan sebanyak 99 juta barrel dari hasil kilang luar negeri (Tabel VII. Melawai Barat. dan pemboran sebanyak 141 sumur minyak. dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan menurun hila dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II.36).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menggembirakan. masing-masing sebanyak 200 ribu barrel per hari. kecuali tahun terakhir Pelita III yang sedikit meningkat. Kegiatan eksplorasi yang dilaksanakan dari tahun ke tahun telah memperlihatkan hasil yang meningkat.37). Sementara itu meningkatnya kebutUhan terhadap BBM dalam negeri telah diimbangi dengan pengadaan dan peningkatan produksi BBM yang berasal dari kilang minyak dalam negeri. antara lain dengan menggiatkan survai selsmik dan pemboran sumur minyak. Selanjutnya dari jumlah BBM hasil kilang dalam negeri terse but telah diposarkan untuk keperluan di dalam negeri sebanyak 161 juta barrel. Realisasi ekspor minyak bumi Indonesia selama Pelita III.

2 persen dan 20.6 persen. Perkembangan produksi dan pemanfaatan gas bumi sampai dengan tahun 1983/1984 dapat diikuti melalui Tabel VII. 37 VOLUME PENGILANGAN MINYAKMENTAH.0 1.3 158.1 8.1 103.5 117.6 milyar kakikubik.2.278 milyar kakikubik.3 .100 milyar kakikubik dan 932 milyar kakikubik.10.9 115.4 2. energi pengganti BBM bagi kilang minyak dan pabrik semen Cibinong.1 198. pembuatan pupuk urea.3 10.0 183.1 Departemen Keuangan RI 196 .123 milyar kakikubik atau 87. serta bagi perusahaan gas negara (PGN) di kota Jakarta dan Bogor.0 Persentase kenaikan 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/19841) 1) Angka sementara – 13.8 86.6 – 4. Berbeda dengan minyak bumi.0 23.0 189. gas bumi tetap dapat ditingkatkan produksinya selama Pelita III.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sebelumnya. Tabel VII.6 161. Produksi gas bumi dalam tahun 1983/1984 mencapai sebanyak 1.2 195.1 38.8 116.5 persen.3 – 3.6 25. Peningkatan pemanfaatan gas bumi tersebut antara lain disebabkan karena adanya peningkatan pemanfaatan gas bumi untuk LNG.1 .5 8. maka berarti telah terjadi peningkatan masing-masing sebesar 16.2 persen dan 76.9 191.3 0. maka terdapat kenaikan sebesar 47.38.9 persen.0 93. Apabila dibandingkan dengan produksi dan pemanfaatan dalam tahun 1982/1983 yang masing-masing berjumlah 1.0 128. Sedangkan apabila dibandingkan dengan produksi dan pemanfaatan gas bumi dalam tahun terakhir Pelita II yang masing-masing baru mencapai 868. dan yang telah dimanfaatkan adalah sebanyak 1. 1969/1970 -1983/1984 ( dalam juta barrel ) Tahun Minyak mentah yang diolah ( in-take) 75.2 milyar 'kakikubik dan 650.

2 239.2 1.1983/1984 ( milyar kaki kubik ) Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1) 1983/1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Produksi 206.2 27.0 juta ton sarna dengan sebanyak 569.0 .5 22.9 19.4 31.7 21 23.100.6 27. Dalam tahun 1983/1984.9 33 25. yakni di LNG Plant Badak dan LNG Plant Arun.2 24.4 30.1 juta MMBTU.8 23.6 24.2 31.042.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.3 26.8 1.3 32.028.6 795.4 juta ton sarna dengan 485.6 35.1 366. maka dalam tahun Departemen Keuangan RI 197 .8 15 18.7 25 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1) 1) Angka sementara Produksi LNG di Indonesia baru mulai dilakukan sejak Pelita II.2 33 30. 39 PRODUKSI DAN EKSPOR TIMAH.8 27. Apabila dalam tahun 1982/1983 baru diekspor sebanyak 477.8 juta MMBTU.1 868.278.7 26. 1969/1970 -1983/1984 (dalam ribu ton) Bijih 17.2 1. jumlah produksi LNG telah mencapai 11.1 23.1 20.3 juta MMBTU.0 1.0 1. Sejalan dengan meningkatnya produksi LNG tersebut.2 persen dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang berjumlah 9.4 17.6 20.4 85. 38 PRODUKSI DAN PEMANFAATAN GAS BUMI.3 25.4. maka ekspor LNG yang telah dimulai sejak tahun 1977 juga terus menunjukkan peningkatan.1 914. 1974/1975 .2 33.5 21.123.2 344.2 1.1 813.136.3 28.8 Ekspor 16. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 17.7 650.2 148.0 Pemanfaatan 78.9 25.2 25.4 633.4 19.1 20.8 932. Tahun Tabe1 VII. Produksi Logam timah 14.5 24.5 25.

7. yaitu dari sebesar 461.2.4 juta dalam tahun 1982/1983 menjadi US $ 108.2 ton dan 406.3 persen. yaitu dari US $ 86.8 ribu ton logam timah. Perkembangan produksi dan ekspor logam timah dapat dilihat pada Tabel VII.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1983/1984 telah meneapai sebanyak 555.198 metrik ton atau 5. yaitu jika dalam tahun 1982/1983 meneapai sebanyak 27.3.952 metrik ton dalam tahun 1983/1984. Dalam waktu yang sarna.5 juta MMBTU yang berarti terjadi peningkatan sebesar 16. Departemen Keuangan RI 198 .5 ribu ton senilai US $ 19. Lex Plant Union Oil Samail di Kalimantan Timur dan LPG Plant Areo di J awa Barat. Sungai Gerong. maka dalam tahun 1983/1984 menjadi sebanyak 25. Sedangkan penjualan logam timah di dalam negeri dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/ 1984 masing-masing meneapai sebanyak 464. sampai dengan tahun terakhir Pelita III terus mengalami peningkatan. Dalam tahun 1983/1984 terjadi penurunan produksi menjadi sebanyak 25. 7.1 juta dalarn tahun 1983/1984. Timah Hasil produksi timah dalam tahun 1982/1983 meneapai sebanyak 33.870 juta.0 ribu ton senilai US $ 309. atau suatu peningkatan sebesar 25. Penurunan tersebut disebabkan karena berkurangnya jumlah permintaan nikel di posaran dunia. serta pembatasan kuota ekspor yang dikenakan oleh Dewan Timah Internasional kepada negara-negara pengekspor timah. Nikel Jumlah ekspor hasil tambang nikel selama 2 tahun terakhir Pelita III berturut-turut mengalami penurunan. kesulitan pemasaran di luar negeri.2 ribu ton logam timah.505 juta. Penumoan tersebut antara lain disebabkan oleh adanya kemerosotan harga timah di posaran internasional. maka dalam tahun 1983/1984 telah turun menjadi 810.6. yaitu apabila dalam tahun 1982/1983 berjumlah sebanyak 897. Produksi LPG yang berasal dari kilang minyak Plaju.997 juta. Adapun volume ekspor tin:ah dalam 2 tahun yang sarna juga mengalami penurunan.834 metrik ton.6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang berjumlah 486.0 p_rsen. Di lain pihak nilai ekspornya telah menunjukkan peningkatan.4 ribu ton bijih .1 ton.7 ribu ton senilai US $ 351. Mundu di Cirebon.7 ribu ton senilai US $ 15.559 metrik ton dalarn tahun 1982/1983 menjadi sebesar 456.1 persen.0 ribu ton bijih timah dan 30. volume ekspor LPG telah menurun sebesar 1.timah dan 25.39. Produksi LPG dalam tahun 1983/1984 meneapai sebanyak 514.566 juta.6. LPG Plant Rantau di Sumatera Utara.

6 201.3 223.0 538.2 1.8 220.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.0 853.4 853.4 1.6 1.9 212.5 225. 1972/1973 .7 737.778.9 781.192.316.207.2 207.2 216.177.0 971.4 1) 199.7 211. 40 PRODUKSI DAN EKSPOR BIJIH NIKEL.5 1) 810.7 Ekspor 8.1 176.5 897.6 924.1 184.0 887..5 989.6 202.2 707.3 114.2 194.1983/1984 (dalam ribu ton kering) Tahun 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Produksi 9.3 189.5 830. 1969/1970 -1983/1984 (dalam ribu ton) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971 /1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) Produksi 311.7 1.4 764.8 187.6 167.0 850.4 1.5 830.1 751.238.8 Departemen Keuangan RI 199 .2 707.6 209.6 Ekspor 232.3 197.5 830.7 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.7 125.5 178.9 188.6 924.0 689.0 887. 41 PRODUKSI DAN EKSPOR KONSENTRAT TEMBAGA.

3 376.1983/1984 ( dalam ribu ton) Tahun 1970/1971 1971 /1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) Produksi 53.3 329.935.130 juta.41.9 -10.923.4 196.6 321.469 juta. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlahnya mengalami penurunan menjadi sebanyak 199.6 Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/19841) Produksi 176 175. 7.7 17. Namun dalam tahun 1983/1984 menurun menjadi sebanyak 202.7 ribu ton.1 ton senilai US $ 21.7 276.3 12 Tabel VII.248.2 145.5 ribu ton.2 237.8 298.3 248.40.9 291.1 Ekspor 242.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1) Angka sementara Jumlah feronikel yang diekspor dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 masingmasing mencapai sebanyak 4. 1970/1971 .274 juta dan 4.2 283.2 21. dan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 22.1 276.6 18.443 ton senilai US $ 42.2 -10 -17.2 14. Adapun jumlah ekspornya dalam tahun 1981/1982 telah mencapai sebanyak 209.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.1 ton senilai US $ 23.2 78.7 ribu ton senilai US $130.9 171.536 juta. 43 PRODUKSI BATU BARA.4 23. Dalam tahun 1982/1983 telah di ekspor nikel matte sebanyak 15.1 25.876 ton senilai US $100.7 349.5 10.4 ribu. Tembaga Produksi tembaga dalam tahun 1981/1982 telah mencapai 197.2 346.6 ribu ton senilai US $ 114.6 135.8 ribu ton senilai US $ 130.6 348.5 256 267.2 456.8 177.7 317.3 105.001 juta.5 ribu.624. dari dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi sebanyak 225.6 3 4. dan kemudian dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi sebanyak 211. 42 PRODUKSI DAN EKSPOR P ASIR BESI.5 614.3 34. Perkembangan jumlah produksi dan ekspor bijih nikel dapat dilihat dalam Tabel VII. 1969/1970 ( dalam ribu ton) Persentase kenaikan -0.6.5 35.4.6 290.6 204 183.5 9.1 35.2 120.7 1) 122.2 299.4 ribu ton.4 12.5 68. Departemen Keuangan RI 200 .2 66. Perkembangan jumlah produksi dan ekspor konsentrat tembaga dapat dilihat pada Tabel VII.

4 1979/1980 1.3 288.2 1983/1984 1) 265.4 186.4 3.9 ribu ton. Sedangkan pengembangan cadangan pasir besi di daerah pantai selatan Yogyakarta masih terbatas dalam studi kelayakan.1 3.3 269 1978/1979 220.43.1 4 1975/1976 4.8 ribu ton.2 1980/1981 224.7 persen dibandingkan dengan produksi tahun 1982/1983 yang baru mencapai 456. 45 PRODUKSI.4 1973/1974 327.4 251.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.1 2. 1969/1970 . 44 PRODUKSI DAN PENJUALAN DALAM NEGERI LOGAM 1969/1970 . maka sebagian daripada produksi batu bara tersebut telah pula diekspor.7 1973/1974 8.3 1 1976/1977 3.8 7.1 ribu ton. Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di dalam negeri.7 1982/1983 262.2 0. Batu bara Dalam tahun 1983/1984 produksi batu bara berjumlah 614. Dalam tahun 1983.6 ribu ton.6 170.1 1981/1982 172.3 ribu ton senilai US $ 123.8 3.2 2.1 ribu dan 12.4 1972/1973 332.3 1974/1975 6. dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi 129. yang berarti peningkatan sebanyak 158.2 1971/1972 8.1 1972/1973 9.9 1.3 324 1974/1975 260 262.2 ribu ton atau 34.1 261 I) Angka sementara T a bel VII.3 2.6.5 ribu ton. karena daerah penambangan di daerah Pelabuhan Ratu telah habis cadangannya.0 ribu ton senilai US $ 119.6.9 1982/1983 3.6.5 1970/1971 9. jumlah ekspor batu bara Indonesia mencapai sebanyak 283. dan sedang dilakukan penelitian lanjutan guna mencari metode pemrosesan lainnya dalam rangka pemanfaatan pasir besi Yogyakarta menjadi bahan baku bagi pabrik besi baja PT Krakatau Steel.9 persen bila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru mencapai 121.5 290 1976/1977 349.8 1. Dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 telah diekspor masing-masing sebanyak 10.5 1975/1976 321.4 1971/U)72 343.1 1978/1979 2. Perkembanganjumlah produksi dan ekspor pasir besi dapat dilihat pada Tabel VII. sedangkan dalam tahun 1983/1984 mengalami penurunan menjadi 122.2 2.5.6 6. yang berarti suatu kenaikan sebanyak 162.8 1980/1981 2.7 1.3 250. Pasir besi Penambangan pasir besi sejak 1 Maret 1982 hanya dilakukan di daerah Cilacap.9 1979/1980 197.1983/1984 (dalam ton) Tahun Produksi Penjualan Ekspor 1969/1970 10.9 I) 1983/1984 1.42.9 1977/1978 2. PENJUALAN DALAM NEGERI DAN EKSPOR LOGAM PERAK.7 246. Departemen Keuangan RI 201 .3 ribu ton. Tabel VII.1 2.5 ribu ton atau 133. Perkembangan produksi batu bara dapat dilihat pada Tabel VII.9 ribu.2 398 1977/19'18 252.41) 1981/1982 1.7 ribu ton.1983/1984 (dalam kilogram) Tahun Produksi Penjualan 1969/1970 261 1970/1971 255.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 7. Hasil produksi pasir besi yang dalam tahun 1981/1982 sebanyak 105.

Melalui proses yang telah disempurnakan. 7.8.4 persen untuk penjualannya hila dibandingkan dengan tahun 1982/1983.7 ton. masing-masing meneapai 266.2 persen untuk produksi dan sebanyak 1. sehingga menurunkan permintaan bauksit di negara tersebut. Penambangan di pulau Koyang sejak tahun 1982 telah dihentikan. sedangkan dalam tahun 1983/1984 masing-masing telah meningkat menjadi sebanyak 841. sehingga kadar emas dan perak dari bijih yang dihasilkan menjadi semakin rendah. sedangkan kadar logam timbal dan seng semakin tinggi. Banten Selatan.46.6. Perkembangan produksi dan penjualan logam emas dan perak dapat dilihat pada Tabel VII.8 kilogram untuk penjualannya. atau suatu peningkatan sebesar 17 persen dan 9 persen. walaupun cadangan bauksitnya masih ada.9 ribu ton dan 861. Selama tahun 1983/1984 hasil produksi dan penjualan emas di dalam negeri.2 ribu ton. Perkembangan produksi dan ekspor bauksit dapat dilihat pada Tabel VII.6 ribu ton.0 ribu ton dan 792. Dari tabel tersebut terlihat bahwa produksi dan ekspor bauksit dalam tahun terakhir Pelita III mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II. yang terutama disebabkan karena pemasaran bauksit Indonesia hanya tertuju ke Jepang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.7. Bauksit Penambangan bauksit di Indonesia dilakukan di daerah pulau Bintan dan sekitarnya.7 kilogram untuk produksi dan sebanyak 9. dan oleh sejumlah pertambangan rakyat yang dilaksanakan dengan peralatan dan teknik yang sederhana serta dengan hasil produksi yang tidak teratur. Jawa Barat telah semakin dalam. yang berarti telah terjadi peningkatan sebanyak 3. yang berarti mengalami penurunan sebanyak 1.1 kilogram dan 261. yaitu di pulau Tembiling. yang disebabkan karena penambangan tersebut tidak menguntungkan. Dalam tahun 1982/1983 jumlah produksi dan ekspor bauksit masing-masing berjumlah sebanyak 721.7 ton dan 1. Departemen Keuangan RI 202 . Sedangkan produksi dan penjualan logam perak dalam tahun 1983/1984 masing-masing meneapai 1. pulau Kelong dan pulau Dendang. Emas dan perak Penambangan emas dan perak yang dilakukan di penambangan Cikotok. Selain itu emas dan perak juga dihasilkan oleh Freeport Indonesia Inc berupa logam ikutan dalam konsentrat tembaga. sedangkan di Jepang telah terjadi restrukturisasi dalam industri. Sementara itu penambangan di pulau Angkut telah dihentikan karena cadangan bauksitnya telah habis. yang masing-masing dilengkapi dengan instalasi pencucian.45.0 kilogram.4 ton atau 45.44 dan Tabel VII.2 ton atau 41. masing-masing bila dibandingkan dengan tahun 1982/1983. selain dihasilkan konsentrat emas dan perak juga diperoleh konsentrat timbal dan seng yang dapat diekspor walaupun saat ini jumlahnya masih kecil.6.

244 260.569 653.307.783 6. Gamping 411.889 6.441 310. BeIerang 900 1.580 95.465 6.739 161.644 3. aspal..144 3. bentonit. Lempung 76.320 819 5.191 2.10.241 _2) 13. Tabel VII.756 1. gamping lempung.603 220 3.626 192.7633) 1803) 1973) 4973) 1.643 1. Hal ini berarti produksi granit mengalami penurunan sebanyak 116.48 PRODUK BAHAN GALIAN 1).753.80 ribu ton atau sebesar 95 persen.287 219.196 148 147 _2) 14.909 4.990 138. posir kuarsa.944 35. walaupun di antaranya telah ada yang diekspor dalam jumlah relatif kecil dan secara tidak teratur.563 7.609 25. maupun untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.006 37.631 2.979 110.782 332. yodium.48.3 ribu ton atau 5 persen.639 17.657. 7. Aspal 115.870 _2) 10.295 5.601 173.120.228 14. Fosfat 1.750 13.071 5.148 64.9.939 12.6.3 25. ashes.111 7.0 ribu ton dan 713. Riau.115 58.563 725.865. terdiri alas kaolin.483 1.7 ribu ton dan 1.647 80.170 115.842 1.942 6.4 ribu ton.971 30.597 _2) 15.484 9. 1972 . Bahan-bahan tambang lainnya Bahan-bahan tambang lainnya.618 _2) 11. Yarosit 274 341 1. marmer.522 15.390.216 25.648 6.2 5.721 12. mangaan. baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan. peldspar.374.196 2. yarosit dan kalsit.079 1.1 27 11.47.949 8.951 2.6.9 33.704 784 1. G ips 290 453 855 570 _2) 1) Mcrupakan hasil usaha swasta nasional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.1983 ( dalam ton kecuali marmer dalam m2 slabs) 1974 1975 1976 1977 1978 Jenis 1972 1973 1979 1980 1981 1982 19834) 1. sedangkan ekspornya telah meningkat sebanyak 676.9 25. Marmer 9.752 4.724.828 25. Mangaan 7.192 8. pcrusahaan daerah dan lain-lain 2) Data tidak terscdia 3) Angka diperbaiki 4) Angka scmcntara 7.817 80.074 155. Perkembangan produksi tambang lainnya dapat dilihat pada Tabel VII.688 85.809 221. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah terjadi penurunan masing-masing menjadi 2.323 11. Bentonit 4.6. Bahan . 716.522 1.6 ribu ton.528 2.894 7.528 29.909 3.3 29.6 19.605.847 6.4 25.771 2.944 3.904 75.520 19.232 13.697 1. Dalam pada itu penjualan batu granit dilaksanakan baik untuk keperluan ekspor khususnya ke Singapura dan Malaysia.018 276. Dalam tahun 1982/1983.190.9 7.730 938.906 29.433 2.575 1. Kegiatan penambangan bahan-bahan tambang tersebut dilakukan oleh badan usaha milik negara (BUMN) dan perusahaan swasta nasional.11.3 25.051 106.161 62.315 28.616 13.360. As b e s 223 283 92 50 31 15 103) 253) 74 9.639 3.621 b.767 1.610 164. serta untuk mendorong dan Departemen Keuangan RI 203 .266.323 38.893 379.266 16.216 33.965 18.bahan semen a. K a Is it 3.598 7.3 28. Feldspar 2.078 907.149 75.811 524.439 7.902 7.717 12. fosfat.349 3. Pada umumnya bahan tambang ini diperuntukkan bagi konsumsi dalam negeri.396 3. Perkembangan produksi dan ekspor granit dapat dilihat pada Tabel VII. K a 0 1 i n 12. belerang.152 583. Listrik Pembangunan di bidang kelistrikan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat.690.764 1.697 104. yang termasuk dalam bahan galian industri atau bahan galian golongan C.485 2. Posir kwarsa 44. Yodium 9. jumlah produksi dan ekspor granit mencapai 2.345 11.114.529 75.496 25. Granit Dewasa ini penambangan batu granit dilaksanakan di pulau Karimun.066 '270.976 995.780 6.973 7.847 5.

800 MW. 16 persen dan 15 persen. gardu induk dan jaringan distribusi. 10 persen. Perkembangan produksi.41 MW. Selama Pelita III. Untuk itu selama Pelita III telah dilakukan pendidikan dan latihan di bidang teknis dan administratif baik di pusat pendidikan dan latihan PLN.151 MWH.126. 5.720 MW. atau suatu peningkatan sebesar 41 persen. maka telah dibuka peluang yang lebih besar dalam pengusahaan tenaga listrik.619 MWH. Pelaksanaan pembangunan tenaga listrik tersebut didasarkan pada kebijaksanaan yang menyatukan seluruh sektor tenaga listrik dalam satu kesatuan perencanaan yang menyeluruh. Selanjutnya dalam rangka diversifikasi penggunaan sumber energi dan penghematan bahan bakar minyak. maka peranan listrik semakin mempunyai arti penting. 10.596 MWH. Hal ini terlihat antara lain dari permintaan tenaga listrik yang semakin meningkat yang diakibatkan oleh terus bertambahnya tingkat kebutuhan masyarakat.405.843. dengan maksud agar tercapai suatu sistem interkoneksi regional.410 MWH. serta diarahkan pada pendekatan secara regional. Departemen Keuangan RI 204 . rencana dan pembangunan tenaga listrik dikaitkan dengan kebijaksanaan umum bidang energi.023.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 merangsang kegiatan ekonomi.924. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat di segala bidang. Di samping itu dalam tahun yang sarna juga telah dilakukan rehabilitasi dan pembangunan jaringan transmisi. yang berarti terjadi peningkatan masing-masing sebesar 12 persen. daya tersambung dan daya terpasang. Di samping itu dengan meningkatnya pembangunan tenaga listrik. pembangunan dan rehabilitasi tenaga listrik secara bertahap telah dapat meningkatkan baik clara terposang pembangkit tenaga listrik maupun jaringan listriknya. maupun pada lembaga-lembaga pendidikan dan latihan di luar PLN. Dalam tahun 1982/1983 jumlah produksi tenaga listrik. Dalam tahun 1982/1983.669 KV A dan 3.251 KVA dan 3. Dengan peningkatan rehabilitasi dan pembangunan di bidang kelistrikan tersebut. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi sebesar 501. Oleh sebab itu pembangunan di bidang kelistrikan terus dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. maka telah meningkat pula kebutuhan tenaga-tenaga terampil. penjualan. lengkap dengan pembarigkit transmisi dan distribusi. 6. daya tersambung dan daya terpasang tenaga listrik dapat diikuti pada Tabel VII. rehabilitasi dan pembangunan yang dilakukan pada pusat pembangkit tenaga listrik mencakup kapositas sebesar 355.980 MW. penjualan tenaga listrik. yaitu sejauh mungkin memanfaatkan potensi sumber energi non minyak dan penghematan bahan bakar minyak. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 masing-masing telah berkembang menjadi sebesar 13. masing-masing mencapai 11.269. baik sebagai sarana kehidupan sehari-hari maupun sebagai sarana produksi.296.072.50. 9.

816 7.390 3.617 850.127.16 1973/1974 3.846.006.244 desa pada akhir Pelita II menjadi sebanyak 8.7.862. Dalam pada itu pemanfaatan kekayaan alam yang merupakan potensi u'tama bidang industri.921 5.669 2.660 3. PLTG Ujungpandang.924.420.613 1.77 1974/1975 3.482 1. PLTA Wonogiri.340 ibukota kecamatan yang ada juga telah mendapat aliran listrik.236 2.788 3.406 6.502. PLTG Para Posir (Medan) Unit V.50 1977/1978 4. Adapun jumlah desa yang mendapat aliran listrik telah meningkat dari sebanyak 2. Selanjutnya kini juga sedang diselesaikan pembangunan beberapa pusat pembangkit tenaga listrik.845.107 1. 1972/1973 -1983/1984 Uraian Produksi tenaga listrik (MWH) Penjualan tenaga listrik (MWH) Daya tersambung (KVA) Daya terposang (MW) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1972/1973 2. 13.92 1) 2. pusat listrik tenaga' gas (PLTG) Semarang Unit IV.376.129.126.40 1976/1977 4.081.294 2.7 persen per tahun dalam Pelita II dan 8. Oemikian juga beberapa pusat listrik tenaga disel (PLTD) yang tersebar di kala-kola dan di daerah pedesaan.0 persen per tahun dalam Pelita I.38 2.532. pusat listrik tenaga uap (PLTU) Semarang Unit III. serta penggunaan kayu gelondongan untuk industri kayu Departemen Keuangan RI 205 . PLTD Tarakan.41 5.619 6.9 persen per tahun dalam Pelita III.241 2.051 desa pada akhir Pelita III.801) Sejalan dengan peningkatan permjntaaan tenaga listrik yang terus berkembang.535.027 1. PLTD Bukit Asam.052 3.473.116. PLTG Palembang Unit III. dan PLTG Ujungpandang unit II.296. antara lain pusat listrik tenaga air (PLTA) Maninjau.032. 7. Di samping itu sekitar 2.288 8. Hal ini terlihat dari perkembangan industri LNG.740.251 3.076.459.063.023.744.933. PLTG Gresik Unit III.345. DAY A TERSAMBUNG DAN DAYA TERPOSANG TENAGA LISTRIK.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TABELVII.892. PLTG Denpasar.49 1982/1983 11.98 1983/1984 13.494.426.803. antara lain meliputi PLTU Suralaya Unit I.405.466 4. program kelistrikan desa telah ditingkatkan melalui partisiposi masyarakat setempat dan pihak Pemda.444.817 1.072.609 934. pupuk urea dan petro kimia.151 9.722.137.&15 1.376 1. telah ditingkatkan pula pembangunan pusat-pusat pembangkit tenaga listrik dengan tetap didasarkan pada diverifikasi energi.511 2.286. dalam Pelita III telah banyak menunjukkan peningkatan.264 970.026 1) 2. pengolahan kapur dan tanah liat untuk industri semen.669 3.214.950 1.354 1) 3.910 7.261.594.74 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 10. Industri Pertumbuhan sektor industri yang telah dicapai selama ini adalah cukup tinggi. PLTD Pontianak dan PLTD Ujungpandang.000 ibukota kecamatan dari sejumlah 3. PLTA Lodoyo. PLTU Belawan Unit I dan II.004.343. yaitu mencapai rata-rata 13. Selama Pelita III telah dapat diselesaikan pembangunan sejumlah pusat pembangkit tenaga listrik di beberapa lokasi.413. PENjUALAN.477 1. Dalam rangka pemerataan pembangunan.84 1975/1976 3.269.596 5.554.770.50 PRODUKSI. meningkatnya penggunaan dan pengolahan gas alam untuk industri baja.386 4. PLTG Padang Unit III.410 10. maka terus ditingkatkan pula keterpaduan antarsektor sehingga lebih memantapkan proses industrialisasi. Sejalan dengan pembangunan yang dilakukan di sektor industri.

885. Tapal gigi (juta tube) Deterjen (ribu ton) Accu (ribubuab) Radio (ribubuah) Televisi (ribu buah) Assembling mesin jabit (ribu buab) 25.339.6 23.2 132.2 36.10 2.1 452 610 480.2 232 246.8 266.370.9 39.5 1. 708.5 50.00 1.0 990. terutama di wilayah pengembangan industri seperti zona industri Cikampek.7 16.4 14.30 37.3 84. maka selama Repelita IV akan terus dilakukan pengamanan terhadap penyediaan sarana angkutan. baja. yang sebagian berlokasi di luar pulau Jawa.4 21.6 11.100 210 400 420 156 85 26 296 30 9 27 20 8 24 4 1977/78 104 39 575 1.3 106.001 14 13 12.155 1.944.8 213.5 22.00 4.2 10 33 15 105 54 38 25 6 -62.01) 442.1 102.0 1.6 -13. 20.629.5 265 268.026 69 50 12 170 36 59 101.9 63.4 85.390.481. 24.6 32.1984/1985 Jenis produksi 1.5 16.21) 342 131.3 663 39.3 141.2 34.9 -6.2 43.851.6 33.2 32.9 164.3 148. Susu kental manis (juta peti) *) Da1am ribu ton 1) Angka dipedtaiki 2) Angka smentara 1969/70 15 32 364 5 14 54 9 4 5 5 1 7 2 1970/71 25 4 56 393 5 14 55 34 6 10 5 4 15 1971/72 26 6 262 416 65 262 72 67 6 74 32 15 1972/73 30 5 130 700 60 340 72 70 15 12 75 20 6 15 1973/74 32 7 140 900 70 800 132 70 30 18 120 20 7 23 40 7 2 2 1974/75 46 7 180 1.2 20.878.8 32.000 460 484 442 185 98 25 240 29 13 19 15 10 25 4 j ) 1978/79 1979/80 1980/81 123 54 3.3 209.000 166 520 240 145 43 21 202 23 9 22 15 8 8 3 1976/77 104 34 480 1. Gresik.672.5 11. Cilegon. dan kayu lapis.1 2.4 530.6 . TabeI VII.0 1.2) .5 13.8 26. Semen (ribu ton) 7.6 10.503 623 290 634 419 147 800 55 1.1 2.4 .51 BEBERAPA HASIL INDUSTRI.00 -17.6 175.2 93.8 17.7 122.8 12.00 8.071.8 193. Minyak goreng (ribu ton) 15. Air conditioner (ribu buah) 32.9 188.9 23.6 61.1 1.3 377.320 1.5 203.10 364 445. Dalam hubungan ini akan terus dilakukan peningkatan penyediaan prasarana.51) 209.4 276.8 93.9 47.1 2.70 1.7 27.2 264. Kaca polos (ribu ton) 10.5 194. Cilacap.8 129.21) 1975/76 108 35 220 1. Walaupun produksi dan nilai tambah industri kecil selama ini masih sangat rendah.979.7 102.9 326.80 6.7 15.7 1.9 213 207.900 70 -26.9 17.5 55.705.4 379.7 54.7 28. Minyak kelapa (ribu ton) 14.1 381.006.5 41. 1969/1970 .9 568.9 108.7 19.8 *) Untuk memantapkan struktur industri.027.2 89.4 13. kertas. Baterai keriog (juta buah) 26.320.9 *) Presentase perobahan 1983/84 tedtadap 2) 1969/70 1982/83 1.2 21.1 5 21.700 1. Korek api (juta kotak) 1) Angka diperbaiki 2) Data tidak tersedia 3) Angka sementara 1969/70 449.2 278.662.7 322 1971/72 732 239 16.3 37. Rokok kretek (milyar batang) 17.8 182.5 30. Pup uk .995.6 -5.40 2.1 102 22. Lhok Seumawe dan Indarung.400 16 314 .5 221.184.1 52.4 406.2 1.10 1.5 18.166.4 77. Plat song (ribu ton) 27.4 17.6 258.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 gergajian dan kayu lapis.5 172.01) 199 30.40 902.247.9 43.3 13.0 828.8 9.3 37.204.41) 65 93.4 28.6 16. Dari segi penyebaranura.9 50 108.6 -0.6 6 6 9 8 109 44 690 1.5 4.4 817 ( Jenis produksi 19.673.7 17.2) .8 24.590 847 654 552 554 302 160 385 37 672 54 19 41 154 34 69 5 394 577 317 126 391 36 744 55 47 32 160 33.7 316.60 3.8 813.9 15.9 144. Vet sin (ribu ton) 36.9 37. Besi spons (n"bu ton) 29.9 974 1.5 11 3 3.9 218.829 22.747 1.135 529 264 97 287 175 62 350 27 500 26 26 6 67 12 26 37.2 8.437.4 83.10 5.576.651.796.30 2.8 23. Oleh karena pembangunan sektor industri memerlukan mobilitas yang tinggi.8 195.0 147.080 1.3 83. Assembling sepeda motor (ribu buah) 5.8 330.3 36.0 1.241.9 678.40 1.4 326.6 271.10 1.111 730 525 527 294 143 282 34 641 74 19 40 134 26 34 6 1981/82 1982/83 1983/84 1984/852) 165 75.816.3 18.4 7.9 1.2 258.2 20.4 21.431 4.00 65.910.60 49.4 507.00 1.536 733 600 420 185 100 30 300 26 16 17 37 22 30 4 114 47 1.4 59.2) .4 9.2) .00 1.9 43.1 28.7 150 115. Mesin dise1 (ribu boob) 37.521.40 3.9 272.70 45.4 155.985.3 1973/74 926.9 369.1 387. Sprayer (ribubuah) 35.6 29.8 37.6 30. Cibinong.6 78.4 67.898.00 3.6 11.2 39. Kawat baja (ribu ton) 28.2) .5 1. 21.4 542 366.2 26 132. 33.2 214.1 18.2 17 263 27 133 19 11 269 1970/71 598.971 1.9 40.6 51. Lampu pijarJTL (juta buah) 30.00 1.7 29.2 30.2 209.6 22.9 31. Benang tenun (ribu ball 3.3 998 1.3 217 2. Asam sulfat (ribu ton) 12.8 819 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/853) 737. clara serapnya terhadap tenaga kerja cukup besar sehingga dalam Repelita IV akan terus diusahakan peningkatan peranannya di dalam struktur industri nasional.7 722. pupuk.8 180.4 30.40 2. maka terus dilakukan pengembangan industri berskala besar.883.2) 127.60 3.8 553 586.8 251 300 167.5 50.6 3. Tekstil (juta meter) 2.6 410 503. baik industri hilir dan industri kecil Departemen Keuangan RI 206 .000 135 400 144 70 30 19 115 24 9 25 20 7 8 2.3 *) 55 39 2.11) 68.873 4.2) .7 28.7 7.90 3.5 155.7 348 1972/73 852 262 23 100 120.00 1. Assembling mobil (ribu buah) 4.8 475.3 319.332.5 736. Kertas (ribu ton) 13.6 208.2) .078.9 19. Gelas/botol (ribu ton) 9. Aluminium sulfat (ribu ton) 11.7 1.5 28.8 105.2 46.01) 566 707 780 772 506.017.4 12.6 296.1 25.7 8.3 857.5 24.351.4 -0.30 2.0 1.6 15.8 681. sampai dengan akhir Pelita II sebagian besar pembangunan industri masih berlokasi di pulau Jawa.4 27.6 264.019 660 478 462 250 108 100 30 500 47 17 35 78 20 25 5 138 145 64 67 3.4 401.9 1. Ban kendaraan bermotor (ribu buah) 8. yang didukung dan diperkuat oleh industri berskala menengah dan kecil. 23. baik di dalam negeri maupun untuk angkutan komoditi ekspor.2 14. Berdirinya industri dasar/hulu tersebut telah mampu menggerakkan pembangunan wilayah.8 132 23.2 276.3 3.3 21.1 539.Z A (ribu ton) 6.094.1 113.00 1.3 837. Besi beton (ribu ton) 31.1 260. Sabun cuci (ribu ton) 16.7 -34.00 1.7 110. seperti angkutan semen.7 68.0 49.20 7. sedangkan untuk daerah-daerah di luar Jawa jumlahnya masih terbatas.5 -5.30 2.740 -4.3 Persentase perubahan 1983/84 terbadap 3) 1969/70 1982/83 343. 22.223.2) . Rokokputih (milyarbatang) 18.6 31.50 1.540.00 1.2 44.9 75.844. Dalam Pelita III telah dimulai dengan pembangunan industri-industri dasar/hulu yang mengolah sumberdaya alam dan energi.016.4 662.3 114 100.2 664.8 4. Kapal baja baru (ribu BRT) 1) 34.650.9 100.5.Urea (ribu ton) .704.5 202. Kabellistrik/telekom (ribu ton) 33.827.3 13.

4 25 17.6 8.2 45 60 15 27 180 26.8 30 1976/77 75.8 3. Radiator (ribu bush) 19.3 84.2 44 1978/79 108.7 419 281.1971/72 16. Kawat baja (ribu ton) 9.5 148.7. Dalam Pelita III pengembangannya mulai bergeser ke arah hulu. lingkungan hidup.2 .8 73.9 188. yaitu industri yang menghasilkan bahan baku. terutama yang menjadi konsumen dari kelompok industri tersebut.5 108 25 6.5 250 99.5 671.4 10 15 200 .00 192 65 116 68 8.1 177 0. Kapal baja ba:ru (ribu BRT) 1) 6. menggunakan teknologi tinggi.7 15. 51).5 15 1978/74 36.8 66 5 52 185 55 1.8 748.2 546 1 84.51) 209.5 4.271.8 98 25.00 20.8 75.7 185 300 16.9 84.5 80 8 4 8 1975/76 78.00 1. Sedangkan dalam Repelita IV pengembangannya ditekankan pada industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri.7 12.2 2 116 85 50 12 15 50 0.8 877 1.1 486 698 762 68.1 816 431 404 423 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun kegiatan ekonomi lainnya.0 2. komponen dan peralatan mesin.8 147.1.00 40. 1969/1970 .8 294. Tabung gambar (ribu buah) 21.9 145 202 22 475 4 48. Huller (ribu buah) 8.5 7.2) 2.4 155.7 1. industri mesin.8 625 48 18.8 9. Traktor mini (buah) 24.1 8 12 17 21 15 12 12 21. Perkembangan sektor industri yang cukup pesat selama Pelita III selain karena adanya peranserta masyarakat.4 550 150 8.00 45.9 120 2.2 7 8. juga disebabkan oleh dorongan sektor-sektor lainnya di samping juga melalui pembinaan terhadap industri itu sendiri (Tabel VII. serta pengembangan kehidupan perekonomian daerah.8 16 11.8 156 296.6 500 85.7 0.074.7 16 16 80 47. penyediaan sarana dan prasarana. 52 BEBERAPA HASIL INDUSTRI LOGAM DASAR.2 10. 7.5 12. Assembling mobil (ribu buah) 2.4 60.2 80 1977/78 83..1 1.2 1970/71 2.2 159.1 9. Besi spons (ribu ton) 4.9 4. Ingot baja (ribu ton) 15.2 50 160.6 114. .4 400 0.5 30 . Aluminium sheet (ribu ton) 12.2 301.2 178.3 27.9 860 3.4 4 6 888..4 575 3.1 1) 166.065. industri motor dan perlengkapan pabrik.850.1 69. Besi beton (ribu ton) 5.875. berskala besar.9 884. serta industri alat angkut.5 1.6 24 2. Pesawat helikopter (buah) 14.5 17.00 1984/85 3) 39.3 82. Permasalahan tersebut antara lain berupa pengaturan tataruang pemukiman.4 8 2. Plat seng (ribu ton) 8.1 102 122.8 1. Mesin penggilas jalan (buah) 7. Namun mengingat bahwa industri dasar/hulu mempunyai ciri padat modal.279.4 5.4 178. Piston (ribubuah) 20.5 80 2 1974/75 65.6 80.6 70 115 25.8 140 81.8 174.4 6.01) 18 897.2) 4.4 280 25 1979/80 102. Hasil produksi kelompok industri tersebut sebagian besar merupakan barang modal yang sangat diperlukan dalam kegiatan di berbagai sektor ekonomi. Pipa air/gaJI/minyak (ribu ton) 16.6 9.00 Departemen Keuangan RI 207 .6 74 15 200 1972/78 28 69.5 816.8 75 69.1 200 2.8 1.4 2.4 46.5 16 16 122. Ekstrusi aluminium (ribu ton) 11.1 170.8 7 100 135 25 1. maka timbul masalah regional baru yang memerlukan pemecahan secara konsepsional dan terpadu.820.7 70 120 22.215. Generator set (unit) 1) Angka diperbaiki 2) Data tidak tersedia 3) Angka sementara 1969/70 5 8.4 47.4 64.7 62 26. Oleh karena itu laju pertumbuhan kelompok industri mesin dan logam dasar senantiasa sejalan dengan perkembangan sektor-sektor ekonomi lainnya.6 58.00 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 172.5 81. baik industri berat maupun ringan. (ribu ton) 17.1984/1985 Jenis produksi 1.9 185 240 19. Pipa listrik .5 8 18 186 88 55 18.2 100 80.00 16.2 450 2.7 41.7 128. Pesawat terbang (buah) 18.5 891 800 640.4 12.00 1.8 18.8 57.6 75 15 200.859. Industri logam dasar Kelompok industri mesin dan logam dasar meliputi industri logam dan produk dasar.7 7 6 67.026.9 66.1 125 60 59. pendidikan dan latihan bagi tenaga kerja siap pakai.2) . Pipa bajaspiral (ribu ton) 18. Transformator (ribu bush) 22.7 9. Traktor tangan (buah) 23.Mesin disel (ribu buah) 10. Gambaran yang lebih terperinci tentang berbagai aspek perkembangan kegiatan industri beserta hasil-hasilnya dapat diikuti melalui uraian berikut ini.6 850 500 6.2 109. industri peralatan listrik dan elektronika profesional. Tab e I VII.4 41. serta berlokasi di daerah yang berdekatan dengan sumberdaya alam dan energi yang pada umumnya belum berkembang.8 2.

026 ribu ton. atau suatu kenaikan sebesar 108.6 persen per tahun. telah diproduksi sebanyak 3. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 333.4 ribu ton. kafer.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Perkembangan yang telah dicapai di bidang industri logam dasar dalam pelaksanaan Repelita III pada umumnya cukup menggembirakan. mesin tenun.7 ribu buah. kopi. Adapun produksi ingot baja/billet yang dalam tahun 1978/1979 mencapai sebanyak 80 ribu ton. Hal tersebut antara lain menyangkut masalah ketergantungan akan bahan baku yang sampai saar ini masih harus diimpor. Hal ini antara lain ditandai oleh tumbuhnya wilayah-wilayah/zona industri yang tersebar di Departemen Keuangan RI 208 . yang dalam tahun 1982/1983 baru mencapai 4. Adapun produksi besi heron dalam waktu yang sarna telah meningkat dari 300 ribu ton menjadi 1.6 ribu unit.4 ribu unit. resesi dunia yang belum sepenuhnya pulih. serta masih lemahnya keterkaitan industri baik secara horizontal maupun vertikal.9 persen per tahun. kelapa sawit. Adapun dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.52.9 persen setahun.1 ribu ton dalam tahun 1982/1983.2. Untuk tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 4. sedangkan dalam tahun 1978/1979 baru berjumlah 30. yang berarti telah terjadi peningkatan ratarata sebesar 27.0 ribu ton.3 ribu ton.3 ribu buah.5 persen. saat ini industri mesin dan peralatan pabrik sudah mampu membuat komponen-komponen mesin/peralatan untuk pabrik gula. suatu kenaikan rata-rata sebesar 56. dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 762 ribu ton.2 ribu unit. Industri kimia dasar Dalam Pelita III telah diusahakan tercapainya sa saran di bidang industri kimia dasar. Sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dihasilkan lagi sebanyak 26. Dalam tahun 1983/1984 telah dihasilkan motor disel sebanyak 58. belum cukup berkembangnya industri hulu atau industri barang antara.0 ribu ton. Hal ini berarti bahwa selama periode tersebut telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 18. dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 9. 7. Sebagai hasilnya. Produksi industri transformator. namun masih banyak dihadapi hambatan-hambatan. mesin plastik dan komponenkomponen pabrik lainnya. semen. yang meliputi penguatan struktur industri dan peningkatan pertumbuhan industri nasional. Walaupun perkembangan beberapa hasil industri logam dasar cukup baik sebagaimana dapat dilihat pada Tabel VII. teh.8 ribu buah.7 ribu ton dan kemudian terus meningkat menjadi sebanyak 15.7. yang dalam tahun 1978/1979 berjumlah 9. Namun untuk produksi aluminium sheet. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat dihasilkan sebanyak 500. dalam tahun 1983/ 1984 telah menurun menjadi sebanyak 8.

atau 35.4 ribu ton.lainnya yang berkaitan dengan kelompok industri kimia dasar. pembangunan unit pengantongan pupuk di Ujungpandang. yang l?erupakan lanjutan daripada PSD III. Adapun kegiatannya mencakup pengadaan kapal curah dan suku cadang. Sementara itu jumlah produksi berbagai jenis kertas dalam tahun 1983/1984 juga telah mengalami peningkatan. yang antara lain menghasilkan pupuk. kaca palos. serta pengadaan gerbong kereta api dan pembangunan gudang-gudang pupuk. maka dalam tahun 1983/1984 telah dapat meningkat menjadi sebanyak 2.8 ribu ton yang berarti sebesar 13.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa wilayah seperti di Aceh. dari 209.204. dalam tahun 1983/1984 produksinya telah mencapai sebanyak 783.6 ribu buah dan 2. pemerataan pembangunan. Dengan meningkatnya produksi dan kebutuhan pupuk. Sumatera Barat.6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang baru berjumlah 577. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.2 ribu ton.1 ribu buah. Dalam Repelita IV akan terus ditingkatkan upaya pengembangan industri-industri yang mempunyai dampak pengembangan wilayah. serta peningkatan kemampuan teknologi industri. atau kenaikan sebesar 24. pulau Jawa.3 ribu buah ban kendaraan bermotor dan 2. maka dalam tahun 1983/1984 produksinya meningkat menjadi 369. semen. asam sulfat.5 ribu ban sepeda Departemen Keuangan RI 209 . ban kendaraan bermotor. Hal ini telah menimbulkan dampak yang positif berupa pertumbuhan ekonomi. Di lain pihak produksi berbagai jenis ban luar kendaraan bermotor dan ban luar sepeda motor telah mengalami sedikit penurunan.567.673. Proyek sarana distribusi pupuk Pusri IV (PSD IV). Riau. dan serat sintetis.4 persen di alas tahun sebelumnya. pestisida.885. perluasan kesempatan kerja dan lalu lintas ekonomi antarwilayah.6 ribu ton kertas. merupakan salah satu langkah yang ditempuh Pemerintah dalam memperlancar distribusi pupuk. Sumatera bagian selatan. Demikian pula halnya dengan pupuk TSP. Di lain pihak terjacli sedikit penurunan produksi pupuk ZA.6 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjacli 208. Jika dalam tahun 1982/1983 produksi pupuk urea mengalami sedikit penurunan hila dibandingkan dengan tahun 1981/1982. Hasil pengembangan tersebut telah terlihat pada peningkatan kegiatan sektor-sektor ekonomi . maka terus dilaksanakan usahausaha untuk menunjang kelancaran distribusinya. kertas.438. dalam tahun terakhir Pelita III secara umum menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.5 persen. Hal ini antara lain disebabkan karena makin meningkatnya permintaan masyarakat akan pupuk.0 ribu ton dalam tahun 1983/1984. Walaupun demikian hal ini tidak akan berpengaruh terhadap kapositas produksi petani pemakai pupuk. namun dalam tahun 1983/1984 hanya mencapai sebanyak 3. Jika dalam tahun 1982/1983 baru dihasilkan sebanyak 296. Kalimantan Timur.0 ribu ton. Kelompok industri kimia dasar. Dalam tahun 1982/1983 produksinya masing-masing berjumlah 3.

4 530.5 18.1 persen.1 0.1 305 335 246.550.50 1.7 17.20 2.2 14.30 2.00 1. Aneka industri Kelompok aneka industri (industri hilir) mempunyai peranan yang cukup besar dalam pembangunan industri secara keseluruhan.827.3 5.2 527 627 4.00 718 480 614 541 0.0 0.8 2.3 2.0 persen. Pestisida (ribu ton) 14.5 ton.1 ribu ton. TSP (ribu ton) 2. ZA (ribu ton) c.6 296.7 ribu ton menjadi 110.816.3.4 83.8 4.006.704.650.00 1. tekstil. Aluminium sulfat (ribu ton) 8.30 2.5 2.9 39.6 48 36.Semen(ributon) 4.6 208 114.1 102.0 1.3 577.5 9.8 26.0 1.8 2.40 1.00 25. Hal ini antara lain karena aneka industri dapat merupakan jembatan antara kelompok industri hulu (dasar) dengan ke1ompok industri kecil.6 29 _2) 0.2 3.70 2.6 4. Ban kendaraan bermotor (ribu ton) 5.5 10. Aneka industri yang meliputi industri pangan.4 406 990 1.705.2 31.8 8.8 195.6 17.00 8.070. kimia.6 51.00 .1 471.8 7.673.1 387.800.1 9.00 1.7.629.3 21.6 persen di bandingkan dengan tahun sebelumnya.9 4 4.80 6. 1969/1970 .9 0.5 2.0 970 980 1.3 6. Zat asam (iuta M3) 11.658.9 3 7.9 1.0 1. ke1ompok aneka industri ini lebih besar peranannya apabila dibandingkan dengan kelompok industri hulu yang re1atif lebih padat modal. dan sekaligus mempererat keterkaitan antara industri besar dengan industri kecil.1 2.8 105.50 2.241.3 11 10.10 542 401. sehingga dapat memperkokoh struktur industri nasional.6 1.0 1) 43.10 2.870.7 4. a.5 10. Di samping itu dalam menyerap tenaga kerja. 53 Jenis produksi 1.71) 1.5 99.4 72.1 113. Bahan peledak (ribu ton) 18.2 17 568. Cabang industri anorganik dan industri bahan-bahan kimia organik dasar. atau suatu kenaikan sebesar 10.7 810 7:)1.078.00 1.5 30.80 1.7 15.5 532. Kaca palos (ribu ton) 7.00 1.250.8 37.8 25.851.7 511.9 4.2 9.4 17.2 4.329.1 20.50 22. Asam chlorida (ribu ton) 19.7 857.6 0.00 6.1983/1984 1969/70 1970/71 1971/72 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 3) 1.5 8. atau suatu kenaikan sebesar 184.2 17.2 3.2 289.557.7 122.0 1.650.9 19.204.21) 8. yaitu Departemen Keuangan RI 210 .8 9.5 9.6 8.0 persen.3 13.6 534.320. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dihasilkan sebanyak 28.9 89 112 113.2 81 _2) 509.319.1 ton. suatu penurunan masing-masing sebesar 5. Synthetic resin (ribu ton) 15.898.20 7.4 49.9 100. alar listrik dan logam serta bahan bangunan dan umum.2 89.4 1 2.4 792 1. te1ah terjadi kenaikan sebesar 8. Serat sintetis (ribu ton) 1)Angka diperbaiki 2) Data tidal tersedia BEBERAPA HASIL INDUSTRI KIMIA DASAR. Demikian pula halnya dengan produksi susu kental manis.5 persen dan 5.60 3.00 1.3 106.8 2.994.5 3.7 110.8 3.2 43.Soda(ributon) 10.284. Perkembangan beberapa hasil industri kimia dasar dapat diikuti pada Tabel VII.7 54. Tab e I VII.2 8.520.2 30. dalam waktu yang sama telah meningkat dari 100.339.2 32. K e r t a s (ribu ton) 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 motor.9 9. sedangkan dalam tahun 1982/1983 baru berjumlah 30.9 6.6 11.20 2.7 8.Acety1ene (ribu M3) 13.4 722.9 ribu ton. Urea (ribu ton) b.80 85.1 39.3 141 147.3 18.7 118.351.979.189.200.801.0 ribu ton.9 3.9 0.9 15.7 4.1. Apabila dalam tahun 1982/1983 produksi semen baru berjumlah 7.2 232 246.432. asam sulfat dan zink oksida.078.1 18. Demikian pula halnya dengan produksi kaca palos.3 3) Angka sementara 7.30 2.5 600 244.9 1.3 14 31 51.2 214.2 44.90 3.0 persen.6 18.154.150.438.796. Ban sepeda motor (ribu ton) 6.4 801.00 1.885.437.5 155.6 47.2 2.40 2.6 3.4 783 22. yang antara lain menghasilkan semen. dalam tahun terakhir Pelita III menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.2 209.60 3.00 4.7 4.540.844.00 1.9 108.6 29.4 465 559. kaca palos.3 ton.4 2.3 819 828.7 0.5 2. 53. dalam tahun terakhir Pelita III telah berkembang dengan baik.2 57.30 366.8 3.40 3.8 15.00 3.4 120 115. Zink oksida (ton) 17.2 46.9 369.8 129.9 1.5 11.7 209.392.8 12.985.2 11.127.0 45069.8 241. maka dalam tahun 1983/1984 telah mencapai sebanyak 8. Bahan kimia tekstil (ton) 16.8 180. Asam sulfat (ribu ton) 9.3 2.10 5.5 1.2 93. Dalam tahun 1983/1984 produksi margarine te1ah mencapai 85.898.567.8 2.6 15.7 33.8 3.9 4. yang berarti telah terjadi peningkatan sebesar 5.460.5 17.9 43.878.8 24.5 50.2 8.2 123. Asam arang (ribu ton) 12.4 67.5 507.6 10.883.10 2.2 0.

Kemudian dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 37.1 juta tube dan 75. yang antara lain menghasilkan televisi.708.8 persen. telah dihasilkan masing-masing sebanyak 23.8 ribu ton diterjen.1 juta ]iter dalam tahun 198211983.7 ribu ton dalam tahun 1983/1984.9 persen.9 persen dan 13. Produksi tekstil.6 juta buah dalam tahun 1982/1983 menjadi 633. Bersamaan dengan itu produksi benang tenun dan pakaian jadi juga te1ah menunjukkan suatu peningkatan. yang berarti meningkat sebesar 7. sedangkan dalam tahun pertama Repe1ita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat dihasilkan sebanyak 737. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 masing-masing telah berjumlah 55. maka dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 165.6 persen dan 67.3 ribu ton dalam tahun 1983/1984. tekstil dan pakaian jadi telah menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan tahun sebe1umnya. Dalam periode yang sarna produksi minyak ke1apa mengalami penurunan sebesar 13. radio.0 persen. Produksi industri tekstil seperti benang tenun.0 juta tube dan 39.2 milyar batang dan 18. Produksi rokok kretek dan susu cair te1ah meningkat masing-masing sebesar 11.0 juta tube tapal gigi dan 66. Adapun industri kimia seperti tapal gigi dan diterjen juga mengalamj peningkatan produksi yang cukup besar.6 juta liter. Perkembangan beberapa hasil aneka industri dapat diikuti melalui Tabel VII. suatu peningkatan sebesar 13. secara keseluruhan menunjukkan sedikit penurunan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. menjadi 68.1 milyar batang dan 11. Departemen Keuangan RI 211 . dan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dihasilkan sebanyak 287.8 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjadi 101. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.9 juta meter dalam tahun 19821 1983 menjadi 1.8 milyar batang dan 6. yakni dari 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dari 93.1 juta meter dalam tahun 1983/1984. sepeda motor.9 ribu ton.662.5 ribu ton. Industri alat listrik dan logam.551. Namun khusus untuk baterai kering telah terjadi peningkatan sebesar 9.1 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjadi 381.9 persen.0 ribu bal dalam tahun 1983/1984. yakni dari 1. yakni dari 576.2 ribu ton.0 ribu bal dalam tahun 1982/1983 menjadi 1. dan baterai kering.7 persen. yakni dari 442. yakni dari 61.995.6 juta liter dalam tahun 1983/1984.54.2 juta buah. Jika dalam tahun 1982/1983 baru dihasilkan sebanyak 145.2 persen. meningkat sebesar 16.6 juta buah dalam tahun 1983/1984.3 juta meter.

5 15.6 7 34.9 21 26 24.3 5.6 31.4 38.7 264.1 18.9 678.000.00 1.6 32.3 8.1 55 503. DeteIjen (ribu ton) 4 5.135.6 55 68.5 9. Oleh karenanya. meningkatkan ekspor.00 1. yaitu melalui pengembangan wilayah-wilayah pusat pertumbuhan industri (WPPI).9 23.7 16.21) 342 114 6.9 66.4 29. Radio (ribubuah) 363. terutama melalui penciptaan usaha industri kecil baru yang dinamis di samping optimalisasi usaha industri kecil yang telah ada. maka ditempuh beberapa kebijaksanaan sektoral. Rokok kretek (milyar batang) 19 20.6 5. Tekstil (juta meter) 449.2 664.5 53.3 37.00 1.10 529 15. sehingga dapat diharapkan pembangunan industri besar dan menengah secara langsung akan merangsang pembangunan sektor industri keci!.30 2.6 175.0 1) 442.2 2.094.7 17.00 4.6 104.2 46.'2 18.536.7 31.6 633.6 23.8 681.5 145 165.6 410 577.8 22. 7 pusat pelayanan informasi.2 262 130 140 180 220 480 575 690 1.332.00 2.6 6. Untuk lebih mendukung terciptanya sa saran pengembangan industri kecil.000.9 40.9 10.2 30. menghemat devisa.8 103.521. Semen tara itu di bidang kelembagaan telah didirikan sarana pembinaan.110.2 93.1 28 9.995.2 96.5 393. Industri kecil Pembangunan di bidang industri kecil ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja.8 730. salah satu prioritas pengembangan wilayah dalam kelompok industri kecil berorientasi kepada pengembangan zona dan kawasan industri. Minyak goreng (ribu ton) 27 26 27.9 123 137.7 14.9 164.4 2.00 1.9 26. Margarine (ton) 7.3 416 700 900 1.4 47.7 47 50 26.2 28.00 1.5 28.4 622.5 7.319. Assembling mesin jahit (ribu bubo) 14 13.1 381. yakni meliputi 9 pusat pengembangan industri kecil (PPIK).70 3.5 290.3 319.80 1.10 737.5 39.154.4 21.651. terdiri dari TV hitam putih dan TV berwarna 3) Angka sementara 7. Susu kenta! manis (juta peti) 1. Dalam hubungan ini diusahakan untuk terciptanya kaitan yang erat antara industri kecil.1 15.2 23.5 194.3 148.8 26. Susu cair (juta liter) 2.9 3.910.1 27.2 260.00 1. Sabun cuei (ribu ton) 133 132.551.3*) 37.747. Susu bubuk (ribu ton) 1.5 4.5 35.2 364 445.1 25.8 36. 80 unit pelayanan teknis dan 13 pusat pelayanan promosi yang penyebarannya hampir merata di seluruh wilayah tanah air.1 85.027.9 326.4 63.1 10.8 9.6 33.3 193.3 18 18.6 *) Dalam ribu ton 1 ) Angka diperbaiki 2) Mu1ai tahun 1978/1979.8 28.3 37.4 31.7.54 BEBERAPA HASIL ANEKA INDUSTRI.5 4.50 1.8 20.3 566 707 780 772 506.4 30. maka pengembangannya lebih dikaitkan dengan potensi setempat. Assembling sepeda motor (ribu buah) 21.5 21.3 837.7 65 60 70 135 166 210 260 733. Departemen Keuangan RI 212 . mempunyai keterkaitan dengan sektor-sektor lain.7 13.6 525.00 2. meningkatkan pembangunan di daerah. Televisi (ribu buah) 2) 4.7 29.90 1.2 8. Rokok putih (milyar batang) 11 13.4 4.3 12.ton) 1 4 6 9 9 9 9 12.90 1.1984/1985 Jenis produksi 1969/70 19670/197 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1. Untuk itu telah digariskan pokok-pokok kebijaksanaan di bidang pembangunan industri kecil yang antara lain bertujuan menciptakan iklim usaha melalui penetapan skala prioritas.7 28. Benang tenon (ribu ba1) 182.4 276.3 2.00 14.00 1.9 33. 1969/1970 . serta produksinya berorientasikan kepada komoditi ekspor. menunjang pembangunan daerah serta memanfaatkan sumberdaya alam.000.5 265 268.080.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.1 50 100 150 261 300 267.5 28.100. Lampu pijar/TL (juta buah) 3.5 2. yang tersebar di Yogyakarta.1 4.4 132 131.7 30.5 221.00 1.233.4 23.3 21.5 54.184.00 1.7 974 1.50 1.6 576.8 9.5 44.5 262 340 800 400 520 400 484 600 477.20 3.017.8 553 586.2 72 72 132 144 240 420 442 420 462 526. Minyak kelapa (ribu ton) 263 258. telah berhasil diresmikan penggunaan buah lingkungan industri kecil (UK).5 5.589.8*) 101.00 1.2 11.8 598.8 5.6 5. Baterai kering (juta buah) 54 55.5 7 7. A c c u (ribu buah) 32 56.5 202.9 33.00 1.5 16. Tapal gigi (juta tube) 15 25 26 30 32 46 107.3 732 852 926.3 17.5 264.7 10.5 3.90 1.5 19.7 127.2 278.247.9 9.4 531.8 330.5 622.00 1.8 7.503.6 61.4 73.4 379.7 3.8 75.3 4.4 817 272.6 27.1 68.4 108.5 50.4 326. energi dan manusia.4 19.5 55.9 653.2 659.5 5.9*) 23. meningkatkan ekspor serta meningkatkan pengetahuan para pengusaha/pengrajin.60 3.5 4 3.6 13.3 26. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.3 11.5 41.3 19. antara lain berupa pemberian prioritas pengembangan kepada industri kecil yang hasilnya dapat memenuhi kebutuhan orang banyak.662.6 30. Korek api (juta kotak) 269 322 348 475.4 20.4 28. Air Conditioner (ribu buah) 4.1 18. Magetan.1 452 610 480.8 263.6 271.1 539.7 553.4 27.5 4.8 30.708.5 22.7 16.1 217 239 262 316.576. memeratakan kesempatan berusaha.7 55.4 13. industri menengah dan industri besar. Mengingat lokasi usaha industri kecil tersebar di seluruh wilayah tanah air bahkan sampai ke pedalaman.3 27.00 633 3.8 213 199 100.9 218.6 287. Kabellistrik/telekom (ribu.7 17.8 20 20 24 23 30 29.1 19.9 213 207.5 113.2 132.6 33.9 8.9 43.8 266.6 393.4.2 6.1 319.7 18.018.5 6 12.1 846.3 998 1.

Bandung. sehingga dapat menyediakan kapositas jasa yang semakin baik bagi masyarakat. telekomunikasi. Tasikmalaya dan Sukabumi. Sidoarjo. Sedangkan jumlah tenaga penyuluh lapangan spesialis (TPLS). pos dan telekomunikasi serta kepariwisataan sampai dengan tahun pertama Pelita IV ditekankan pada kegiatan rehabilitasi dan peningkatan prasarana serta sarana yang ada. arus barang dan jasa. Hal ini terwujud dari meningkatnya pemerataan pembangunan Departemen Keuangan RI 213 . yang merupakan peningkatan dari TPL. yakni apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah sentra industri kecil yang dibina baru sebanyak 281 buah. Di samping itu terus dilakukan pula pembangunan prasarana dan sarana baru sesuai dengan pertumbuhan jasa perhubungan. Dengan adanya peningkatan pembangunan tersebut. 7. serta komunikasi dan mobilitas penduduk ke seluruh pelosok wilayah Nusantara. Tebet dan Tangerang. di Sukabumi (Jawa Barat). Tegal. Usaha tersebut juga telah dapat'menembus isolasi dan mendorong laju pertumbuhan daerahdaerah terpencil serta meningkatkan perdagangan antardaerah yang lebih seimbang dan lancar.151 orang. di Gunung Sempu (Yogyakarta). Medan. Sejalan dengan itU telah dibangun pula saran a usaha industri kedl (SUlK) yang terletak di dalam kawasan-kawasan industri Pulogadung (Jakarta). maka dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 690 buah. Di samping itu juga telah dilaksanakan pembangunan 6 buah perkampungan industri kecil (PIK) masing-masing di Jakarta yang meliputi Pulogadung. Cilacap dan Surabaya. Dengan bertambahnya sarana pembina tersebut maka kemampuan pembinaan juga telah meningkat. maka wilayah Nusantara telah dapat dihubungkan oleh suatu sistem perhubungan yang semakin terpadu dan teratur. Apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah TPL yang berhasil dididik baru sebanyak 93 orang. dalam tahun 1982/1983 telah berjumlah 438 orang. telekomunikasi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Semarang. telah dapat diperluas jangkauan pelayanan perhubungan. Perhubungan. Tenaga penyuluh lapangan (TPL) terus pula ditingkatkan. pos dan kepariwisataan yang setiap tahunnya terus meningkat. yang tersebar di hampir seluruh propmsl. serta di Pare-Pare (Sulawesi Selatan). Dengan pembangunan perhubungan.8. pos dan kepariwisataan Pelaksanaan pembangunan perhubungan. maka dalam tahun 1983/1984 telah bertambah menjadi 2. Selain itu hasil-hasil yang dicapai juga telah dapat menjangkau dan memenuhi pelayanan kebutuhan masyarakat luas. baik jumlah maupun mutunya. Dewasa ini peningkatan kapositas di bidang perhubungan telah mampu melayani kenaikan permintaan masyarakat dengan tingkat pertumbuhan sekitar 12 persen per'tahun.

520 buah (Tabel VII.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perhubungan secara menyeluruh. 7. sosial dan ketahanan nasional.55). Selama Pelita III telah dilakukan peningkatan fasilitas keselamatan jalan raya berupa pembangunan rambu-rambu lalu lintas.2 juta orang menjadi sebanyak 47. ditandai dengan meningkatnya jumlah armada angkutan jalan raya yang telah mencapai 1. pada umumnya telah dapat dilaksanakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. baik secara nasional maupun regional. Dalam rangka mengatasi kebutuhan angkutan umum dalam kola. Dalam periode yang sarna.004. dan dari 5. danau dan penyeberangan telah mengalami kenaikan angkutan barang sebesar 21 persen dan angkutan penumpang sebesar 21.915 orang.574 orang menjadi 18.8. angkutan antarkota .582.748. Pelayanan angkutan kola. sehingga semakin memantapkan perwujudan stabilitas nasional dalam bidang ekonomi.7 persen untuk angkutan penumpang dan 1.untuk angkutan barang hila dibandingkan dengan tahun 1982.752. keterampilan dan latihan bagi petugas. dan dari sebanyak 14.9 persen . sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Pembangunan di bidang perhubungan darat tetap ditujukan untuk lebih meningkatkan pemanfaatan jalan raya. pengaturan pengoperasian dan keselamatan lalu lintas. yaitu masing-masing dari 3. Sedangkan bidang perkeretaapian dalam tahun 1983 telah mengalami kenaikan sebesar 9.3 juta ton barang menjadi sebanyak 5.7 persen.761 ton. Perhubungan darat Program pembangunan di bidang perhubungan darat.1. Hal tersebut telah ditunjang pula dengan usaha-usaha yang dapat meningkatkan efisiensi pelayanan jasa perhubungan. dan angkutan bis perintis ke daerah terpencil juga telah ditingkatkan guna melancarkan arus penumpang. Hasil pembangunan yang telah dicapai di bidang perhubungan darat.4 juta orang. serta angkutan sungai. serta pembinaan dan pengembangan usaha angkutan darat termasuk peningkatan pendidikan.073 buah dalam tahun 1983. angkutan pariwisata. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru berjumlah 1. danau dan penyeberangan. maka jumlah angkutan armada bis bertingkat dan Departemen Keuangan RI 214 . angkutan transmigrasi dan angkutan ke seluruh daerah terpencil yang secara ekonomis potensial. angkutan sungai. serta guna mengurangi kepadatan lalu lintas dalam kola.651 ton menjadi 4.796. khususnya angkutan jalan raya. politik. kereta api.4 juta ton barang.928.5 5 3 buah. armada angkutan jalan raya telah meningkat 10. lampu pengatur lalu lintas dan pusatpusat pengujian kendaraan bermotor. yaitu dari masing-masing 43.5 persen atau sebanyak 165.

497 1970 23.660 99.562 1972 26.123 235.069 1.3 4.389 46.022 1.873 482.2 47.9 43.370 679.534 3.4 Barang Ian (ton) 859 855 949 1. Tab e I VII. Dalam hal ini Surabaya mempunyai bis kota sebanyak 208 buah.748.7 40.981 6.644 1977 1978 57.203.582.2 4. Bandung 144 buah.727 3.371 3. Adapun jumlah armada bis kota yang ada di Jakarta dalam tahun 1983 adalah sebanyak 1.988 277.422 3.425.057 1.019 869.116 959 701 814 1.9 3.7241) 1.990 419.311 639. yang terdiri alas 85 bis bertingkat dan 519 buah bis tidak bertingkat.099 531.8 20.940 Jumlah 328.878 131.016 1.6 5 4.034.466 3.701 377. Jika dalam tahun 1982 jumlah armada bis kota di beberapa kota besar di luar Jakarta baru sebanyak 604 buah.073 Tab e I VII.352 2.260 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Mobil 95. dan Ujungpandang 20 buah.496 603.648 478.063 1.5 3.082 4.4 52.210 307. 1969 .280 359.480 220. Medan 117 buah.098 328.692 268.3 5.835 1979 69.1983 Tahun J umlah Outa orang) 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 19821) 19832) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 55.609 buah.553 1.206 5.4 23.8 5.167 535.3 4.814 112.428 434.751 5.016 980 1.229 6.240 471. yang terdiri alas 105 buah bis bertingkat dan 575 buah bis tidak bertingkat.545 1980 86.4 50.2 4.430 19832) 160.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tidak bertingkat terus ditambah.451 1971 22.488 1973 30.368 1974 31.900 1976 39.313 J umlah Outa ton) 4 3. 1969 -1983 (dalam satuan) Tahun Bis 1969 20.1 29.063 951.081 392.2 37. 56 PEMAKAIAN JASA KERETA API. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 680 buah bis.2 4.841 917.439 1975 35.9 4.356 189.4 Penumpang km (orang) 3.166 19811) 112.022 383.464 1 722. Solo 15 buah.9 40. Tanjung Karang 42 buah.816 256.466 3.271 6.6961) 1.038 1. 55 ARMADA ANGKUTAN JALAN RAY A.080 6.739 337. Semarang 134 buah.7 39.815.441 791.623 3.078 19821) 134.060 166.321 785.538 657.4 25.2 Departemen Keuangan RI 215 .066 590.175 144.104 717.873 Mobil -212.1 21 29.3 3.

Angkutan kereta api mempunyai peranan semakin penting. Sumbawa 8 bis. rambu jalan. Jayapura 11 bis. Kupang 6 bis. Selain itu telah dilengkapi pula pengadaan terminal angkutan. dalam menunjang laju pembangunan nasional. sehingga arus penumpang akan lebih lancar. tanda jalan. Pengembangan pedesaan yang sekaligus berfungsi sebagai angkutan perintis dan melayani daerah-daerah terpencil. Dalam waktu yang sama telah dibangun pula pusat pengujian kendaraan bermotor di Bekasi. Balik papan 4 bis. baik kini maupun di masa mendatang. Angkutan kereta api juga sangat efektif dan efisien dalam memperlancar distribusi beberapa hasil produksi. telah dilakukan peningkatan penggunaan jasa kereta api kala. antara lain berupa terminal dan shelter. Manokwari 4 bis. ketertiban dan keselamatan lalu lintas angkutan jalan raya telah dikembangkan pula fasilitas pengaturan dan pengawasan. Biak 6 bis. pupuk dan kelapa sawit.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Untuk menjaga kelancaran . Dilli 18 bis. batu bara. khususnya angkutan umum di kota-kota besar. peningkatan tersebut disebabkan oleh bertambahnya permintaan untuk jasa angkutan hasil-hasil industri. Banda Aceh 14 bis dan Palembang 10 bis. Ambon 5 bis. juga lebih kecil tingkat pencemarannya dibandingkan dengan angkutan jalan raya lainnya. Sarong 7 bis. Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. pagar pengaman jalan. lebih cepat dan lebih teratur di samping juga dapat mengurangi kemacetan lalu lintas. pertambangan. Hal ini disebabkan karena jenis angkutan ini selain lebih hemal dalam pemakaian bahan bakar. lampulampu pengatur lalu lintas dan kendaraan patroli. serta untuk pengangkutan transmigrasi dan pariwisata. Dalam rangka mengembangkan armada angkutan kota telah ditingkatkan pula sistem dan fasilitas angkutan dalam kota. Bengkulu 23 bis. sistem angkutan disusun secara terpadu antara angkutan bis dengan angkutan kereta api kota. yang antara lain meliputi pembangunan alat pengujian. seperti minyak. perkebunan dan pertanian. Sedangkan guna memperlancar angkutan kota. Armada bis perintis tersebut terus ditingkatkan jumlahnya. Palu 8 bis. Merauke 4 bis. bengkel kendaraan dan tempat tunggu bis. Padang 10 buah bis. besi beton. peranan angkutan kereta api terus meningkat dalam melayani angkutan penumpang dan barang. Pangkal Pinang 6 bis. Mataram 5 bis. sehingga apabila dalam tahun 1982 jumlah bis perintis baru mencapai sebanyak 142 buah. telah diusahakan dalam bentuk angkutan campuran antara barang dan penumpang. Demikian pula bagi kota-kota besar yang telah mendesak keperluan jasa angkutan masalnya. di samping juga melayani angkutan Departemen Keuangan RI 216 . Lubuk linggau 9 bis. Jawa Barat yang bertujuan untuk menguji kendaraan laik darat. semen. Bis-bis perintis terse but melayani daerahdaerah terpencil dengan perincian untuk stasiun Ujungpandang sebanyak 7 bis. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 165 buah.

Sementara itu pembuatan sarana dan suku cadang kereta api terus dikembangl)an sehingga kebutuhan sarana dan prasarana kereta api dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri. lok disel.57.3 juta orang per kilometer. lok disel sebanyak 590 buah. Dalam pada itu Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) juga mempunyai proyekproyek pembangunan kereta api yang cukup besar. kereta penumpang dan gerbong barang. kereta penumpang sebanyak 1. kereta rei disel (KRD) sebanyak 112 buah. transmigrasi dan angkutan kala. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 47.4 juta ton dalam tahun 1983. yaitu dari 1. antara lain telah dilakukan peningkatan jalan kereta api serta rehabilitasi dan penambahan lok uap. Dalam rangka mengatasi masalah angkutan masal di wilayah Jabotabek. Untuk dapat meningkatkan kapositas angkutan dan mutu pelayanan kereta api tersebut. Sebagian daripada kebutuhan prasarana dan sarana kereta api tersebut telah pula diproduksi di dalam negeri. kereta penumpang sebanyak 360 buah dan gerbong sebanyak 400 buah. Perkembangan jumlah angkutan penumpang dan barang dapat diikuti melalui Tabel VII. jumlah angkutan penumpang kereta api adalah sebanyak 43. Hasil yang teiah dicapai di bidang saran a dan prasarana kereta api selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III antara lain meliputi rehabilitasi lok uap sebanyak 38 buah.56. yang bertujuan untuk mengangkut batu bara sebanyak 3 ton setahun sebagai sumber energi bagi PLTU di Suralaya. serta rehabilitasi/peningkatan jalan kereta api sepanjang 2. antara lain proyek pengembangan pengangkutan batu bara Bukit Asam dengan kereta api (P3Baka) dari Tanjung Enim ke Tarahan. Dalam tahun 1982. gerbong sebanyak 10.0 ton per kilometer dalam tahun 1982 menjadi sebesar 951.4 juta orang atau 6. Hasil rehabilitasi di bidang perkeretaapian dapat diikuti pada Tabel VII. Sejak tahun 1981 sampai dengan tahun 1983.3 juta ton dalam tahun 1982 menjadi 5.070 buah.063. PT Inka (Industri Kereta Api) teiah merakit 400 gerbong dari bahan complete manufacturing (CM) keluaran Sumitomo Jepang. Di samping itu juga telah dilakukan pembangunan lintas kereta api antara Meneng-Kabat di Jawa Timur yang ditujukan untuk memperlancar distribusi pupuk di wilayah tersebut. teiah dilakukan peningkatan kapositas dan mutu pelayanan angkutan kereta api kala melalui Departemen Keuangan RI 217 . Selain itu telah pula dilakukan penambahan lok disel sebanyak 75 buah. Sedangkan angkutan barang dalam ton per kilometer mengalami penurunan hila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.2 ton per kilometer dalam tahun 1983.623 buah. lok listrik. yang menunjukkan peningkatan operasianal perusahaan sehingga mampu beroperasi secara efektif dan efisien.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pariwisata. Demikian pula angkutan barang dalam waktu yang sarna telah mengalami peningkatan dari 5.329 kilometer.2 juta orang atau 6.2 juta penumpang per kilometer. kereta rei listrik (KRL) sebanyak 60 buah.

701 38 1) 58 1) 39 I) 15 1) 67 1) 115 1) 2.1 150.112 301 236 455 135 130 42 20 15 15 69 196 111 93 259 34 22 42 34 56 83 38 21 389 3) 1.7 294.1983/1984 1969/70 1970/71 1971/12 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 94.583 2.514 15.906 3.4 218.469 15 10 23 69 68 48 31 28 7 3 13 16 40 91 103 111 111 107 118 163 128 387 15 2 2 8 20 65 62 176 390 444 635 406 256 246 328 387 92 52 58 25 680 714 2.243 7.943 14. penghematan energi bahan bakar minyak melalui sistem propulsi kereta api dengan listrik dari PLN.3 232. Di samping itu Departemen Keuangan RI 218 . di samping dimaksudkan juga untuk memekarkan bidang usaha pelayanan tradisional. terutama bagi penduduk di tepi sungai dan danau yang belum dilayani oleh jenis angkutan lain.382. Di samping itu pembangunan angkutan penyeberangan juga telah dapat meningkatkan hubungan penyeberangan sungai dan selat.272 1.120 2.6 513.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penambahan sarana angkutan dan peningkatan prasarananya.4 180. Assembling gerbong (buah) I 1. Buah 3. a. 11 buah gedung kantor. 5 buah terminal.2 207 164.60 4. Lok uap (buah) 6.9 5.3 1. Kereta (buah) 9. 57 REHABILITASI DI BIDANG PERKERETAAPIAN.4 349.359 2. Angka diperbaiki TabelVII.772 2. sampai dengan tahun pertama Repelita IV telah ditempuh beberapa kebijaksanaan antara lain mengutamakan proyek lanjutan agar segera dapat terwujud dan langsung dapat beroperasi. Lok disel (buah) 7.2 397.055 3.376.2 296.7 565. danau dan penyeberangan.2 351. Lok listrik (buah) 8. meningkatkan kapasitas angkut serta menciptakan sistem transportasi yang terpadu antara kereta api dan jalan raya. Dalam hubungan ini.5 5) 1. Uraian 1. pengadaan 15 buah kapal dan 4.7 188.2 280.253 2.825 1. serta penyediaan jasa angkutan sepanjang tahun secara tetap dan teratur. 1969/1970 .40 422 762 .7 354.2 298. Penggantian rei (km) 2. Unit 2. beton (buah) b.223 2.9 126.371 3. baja(buah) 1. Perbaikan pilar jembatan(m 3) (ton) 4. Dengan demikian.038. Rehabilitasi gerbong (buah) 10. danau dan penyeberangan.960 3.385. Angka sementara 5. baik pelayanan angkutan jalan raya maupun angkutan sungai. Ton Perkembangan di bidang angkutan sungai dan danau sampai dengan tahun pertama Repelita IV sangat dirasakan manfaatnya dalam memperlancar angkutan daerah pedalaman dan daerah terpencil.136.474 973 1. serta beberapa lokasi sarana angkutan jalan.000 meterkubik.50 191 1.8 620 968 164 732. pembersihan alur sepanjang 1.3 326. penghematan waktu.6 124. Adapun tujuan proyek kereta api Jabotabek tersebut antara lain untuk mengurangi beban jalan raya.606 81 301 2) 190 140 42 2) 55 4) 99 79 3.7 578. Bangunan operasional (m2) 5. Penggantian bantalan(ribu bt) 3.341 5) 4.3 272 40. penyediaan jasa angkutan diarahkan agar pihak swasta dan koperasi khususnya golongan ekonomi lemah dapat turut berperanserta. Selanjutnya juga telah dilakukan penelitian terhadap penggunaan angkutan kereta api untuk angkutan petikemas serta penelitian pembangunan lintasan baru bagi pengembangan industri semen di pulau Jawa dan Sumatera.675 11.30 7. Pelaksanaan pembangunan angkutan sungai.379 buah rambu-rambu.096 kilometer dan pengerukan sekitar 300.5 295. Hasil-hasil yang dicapai selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III antara lain meliputi pembangunan 25 buah dermaga sungai. danau dan penyeberangan telah dapat ditingkatkan menjadi satu kesatuan hubungan yang terpadu.

armada pelayaran lokal. kesyahbandaran. Hal tersebut antara lain meliputi peningkatan kapositas angkutan armada pelayaran dan mutu pelayanan dalam negeri yang terdiri atas armada pelayaran nusantara. di mana setiap lintasan dilayari oleh lebih dari 2 kapal penyeberangan baik milik swasta. Hasil-hasil yang dicapai dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni tahun 1984 adalah meliputi pembangunan 9 buah dermaga penyeberangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 angkutan penyeberangan juga telah dapat beroperasi di 19 lintasan yang dilayari oleh 62 kapal. serta lintas-lintas perairan dipedalaman Kalimantan. pengembangan armada angkutan taut terse but dilakukan oleh pihak swasta nasional. di samping juga usaha patungan antara pihak swasta nasional dengan swasta asing. serta peningkatan kapositas galangan kapal. penyempurnaan kelembagaan serta pembinaan \ terhadap usaha masyarakat di bidang angkutan sungai. 4 buah terminal penyeberangan. koperasi maupun Pemerintah. penambahan fasilitas keselamatan pelayaran serta pembersihan dan pengerukan alur pelayaran. pengerukan kolam pelabuhan. Untuk dapat meningkatkan jasa perhubungan taut secara keseluruhan. di samping juga sedang diselesaikan sebanyak 8 buah lintasan baru.2. telekomunikasi pelayaran. danau dan penyeberangan di Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya. lintas-lintas di kepulauan Maluku dan Irian Jaya. armada pelayaran rakyat dan armada pelayaran perintis. Sementara itu akan terus ditingkatkan pembangunan lintas dari Sabang sampai ke Los Palos. dengan menciptakan iklim usaha Departemen Keuangan RI 219 . alur pelayaran. dilakukan peningkatan fasilitas armada taut. Sedangkan dalam tahun pertama Repelita IV telah dilakukan peningkatan dan pembangunan sarana dan prasarana angkutan sungai. 2 buah terminal sungai dan 291 buah rambu sungai. Perhubungan taut pembangunan di bidang perhubungan taut ditandai dengan meningkatnya penyediaan jasa angkutan taut baik oleh sektor Pemerintah. swasta maupun koperasi. 7. fasilitas pengamanan taut dan pantai. 2 buah dermaga sungai. 11 buah kapal inspeksi serta pengerukan sebanyak 113. pengembangan jasa industri maritim dan pekerjaan bawah air. pembangunan dermaga dan terminal. danau dan penyeberangan berupa rehabilitasi dan penambahan kapal. Selain itu juga telah dilakukan peningkatan pelayaran operasional. keselamatan pelayaran. Selanjutnya telah pula dilakukan penambahan 2 buah sarana angkutan sungai dan danau.8.211 meterkubik. danau dan penyeberangan. lintas angkutan sungai. Selain itu terus dilakukan pula peningkatan kapositas armada pelayaran dan mutu pelayanan luar negeri yang meliputi armada pelayaran samudera umum dan armada pelayaran samudera khusus. Dalam hal ini partisiposi Pemerintah dibatasi pada kegiatan pelayaran tertentu saja. peralatan pelabuhan.

245 penumpang. sehingga terwujud suatu sistem pelayaran terpadu yang menunjang kelancaran arus barang dan penumpang dengan aman. Selain itu juga dilakukan pembinaan pelayaran rakyat sebagai modal angkutan tradisional yang potensial. dapat menjangkau daerah-daerah terpencil dan dapat meningkatkan kegiatan ekspor. termasuk transmigrasi.untuk lebih meningkatkan lagi produktivitas angkman lalit. teratur.927 unit petikemas. jumlah muatan yang diangkut oleh armada pelayaran Nusantara meliputi barang sebanyak 7.. Perkembangan armada niaga Nusantara dapat dilihat pada Tabel VII. Selanjutnya pola jaringan pelayaran Nusantara telah dipadukan dengan jaringan yang dilayani kapal pelayaran lokal. serta penumpang sebesar 4 persen. 495. sehingga dapat meningkatkan pelayaran antarpulau yang lebih efektif. manajemen dan diversifikasi usaha. dengan memakai karat sebanyak 397 buah dengan kapositas seluruhnya 503.463 ton barang dan 1_. Sejalan dengan meningkatnya angkutan transmigrasi dari tempat asal ke tempat tujuan. sedangkan pelaksanaan angkutan transmigrasi diselenggarakan oleh Pemerintah dan swasta.610 ton dan 4. dan diarahkan pada usaha wiraswasta bahari nasional dengan mendorong perusahaan-perusahaan kecil untuk bergabung dalam bentuk koperasi. penyempurnaan sistem trayek pelayaran.376 unit petikemas penumpang sebanyak 475. serta pembinaan sistem organisasi. Peranan perhubungan laut secara keseluruhan terus ditingkatkan untuk mencapai keterpaduan berbagai jenis pelayaran. maka karat-karat tersebut secara bertahap sampai dengan bulan Agustus 1984 diganti dengan karat-karat produk.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang ditujukan untuk merangsang pihak swasta dalam menunjang pengembangan armada nasional.824 DWT. penyediaan jasa perintis diselenggarakan oleh Pemerintah. karena pada akhir Pelita III sebanyak 62 karat dengan clara muat 60'. efisien.896 orang. dengan memakai karat sebanyak 387 buah dengan kapositas 486. serta tarip jasa yang terjangkau. serta pembinaan perusahaan-perusahaan pelayaran. armada pelayaran Nusantara telah memanfaatkan prasarana dan Departemen Keuangan RI 220 .690 DWT telah berusia di alas 30 rabun. Namun . serta memperlancar arus barang dan penumpang. sehingga tidak dapat lagi beroperasi sepenuhnya.423. Armada pelayaran Nusantara dan pelayaran lokal sebagai jaringan utama angkutan taut dalam negeri telah dan terus ditingkatkan melalui penambahan kapositas armada pelayaran.58.si dalam negeri.375 DWT. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlah muatan yang diangkut telah meningkat menjadi 8. Dalam periode tersebut telah terjadi peningkatan muatan barang dan petikemas sebesar 13 persen dan 218 persen. pengembangan daerah terutama di Indonesia bagian timur. Dalam tahun 1982/1983. Kegiatan-kegiatan tersebut dimaksudkan agar sistem angkutan taut dapat meningkatkan kegiatan pemasaran. cepat dan teratur. Sebaliknya jumlah dan kapositas armada mengalami penurunan.457.

serta mengangkut 2.677 ton dan sebanyak 610.600 ton. kapositas armada pelayaran rakyat baru sebesar 180. Semarang. serta mengangkut barang dan penumpang masing-masing seberat 2. Sulawesi Tenggara. telah berkembang adalah seperti yang diharapkan terutama dalam mengumpulkan barang-barang ke pelabuhan pengumpul. Paotere.347 ton barang dan 653. Bitung. Idi dan Ternate. Semarang.59.747 orang. Tegal. Donggala. Kendari. Selama ini armada pelayaran Nusantara telah melaksanakan pengangkutan transmigrasi dari beberapa pelabuhan asal yaitu Tanjung Priok. Gresik. jumlah armada pelayaran lokal baru sebanyak 1.3 persen dan 6 persen.049 buah karat dengan kapasitas 129.155. sedangkan dalam tahun 1983/ 1984 masing-masing telah meningkat menjadi 195. Dalam tahun 1982/1983.436 ton. terus dilakukan pembinaan melalui usaha koperasi dan motorisasi perahu layar dengan mengutamakan golongan ekonomi lemah. Bidang pelayaran rakyat selain merupakan jenis angkutan laut penunjang pelayaran Nusantara yang melayari daerah-daerah terpencil.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sarana perhubungan taut yang ada tanpa mengganggu fungsi mama kegiatan pelayarannya.294. juga merupakan pelayaran yang sesuai dengan potensi angkutan laut tradisional sehingga terus dikembangkan dan dibina. Cirebon.496 orang. Departemen Keuangan RI 221 . Kalimantan Tengah.460 DWT dan 2.444. Untuk menunjang pelayaran terse but. Walaupun dalam tahun 1983/1984 jumlah karat telah menurun menjadi 1. Kalimantan Selatan. antara lain di Sibolga. atau suatu kenaikan masing-masing sebesar 8. Riau. Kalimantan Barat. Sulawesi Utara. Dalam kaitan ini juga telah dilaksanakan peningkatan fasilitas pelabuhan. Maluku dan Irian Jaya. Jambi. Sunda Kelapa. Untuk menunjang perkembangan armada pelayaran lokal tersebut. Pelayaran lokal sebagai unsur penunjang pelayaran Nusantara Regular Liner Service (RLS). Sulawesi Tengah.477 DWT dengan jumlah muatan sebanyak 2. Pem binaan pelayaran rakyat dimaksudkan untuk membantu meningkatkan kehidupan so sial ekonomi masyarakat dan sekaligus memberikan kesempatan untuk berkembang bagi golongan ekonomi lemah. terus dilakukan peningkatan dan pembangunan beberapa prasarana dan sarana pelabuhan perahu layar. Benoa dan Lembar ke berbagai daerah tujuan pemukiman transmigrasi di Sumatera.025 buah.481. Di samping itu dalam tahun yang sarna juga telah dimotorisasikan sebanyak 1.138 DWT.390 kapal melalui dana Bantuan Presiden. usaha koperasi serta usaha swadaya masyarakat. Dalam tahun 1982/1983. Surabaya. Palembang. namun kapasitasnya telah meningkat menjadi 133. Perkembangan jumlah armada pelayaran lokal dapat dilihat pada Tabel VII. baik di daerah asal transmigrasi maupun di pelabuhan kecil yang melayani daerah-daerah pemukiman transmigrasi.400 DWT. Kalimantan Timur.

antara lain melalui perluasan hubungan angkutan laut ke daerah-daerah terpencil dan terisolir.7 90 83 86 92.570 312.278 1.824 Kapal-k.2 154.931 272.000 386.apal yang beroperasi Kapal 130 232 215 282 267 300 305 340 316 322 373 390 361 397 387 DWT 138.8 161.382 1.669 284.481 Tahun Jumlah kapal 1969 803 1970 777 1971 623 1972 679 1973 980 1974 965 1975 858 1976 1.025 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Pembangunan di bidang pelayaran perintis juga terus ditingkatkan.6 163.954 406.669 321.419 310.000 386.8 132. Di samping itu Departemen Keuangan RI 222 .348 1978 1.411 311.1 Muatan yang ( ribu ton) 1.271 2.1983 Jumlah kapal Kapal 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982i) 1983 1) Angka sementara 182 273 282 282 267 300 305 340 316 322 373 390 361 397 387 DWT 184.669 284.278 1.950 330.375 4.081 1981 1.535 321.1 147.090 1982 1.899 1.931 272.570 312. pengaturan pelayaran serta penambahan frekuensi. 59 ARMADA DAN MUATAN PELAYARAN LOKAL.162 1.004 234.375 486.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e 1 VII.428 503.350 267.411 311.9 155.543 1.685 238. 1969 -1983 Kapositas ( ribu DWT ) 60.954 406.389 1980 1.41) 133.6 92.448 1979 1.950 330.759 321. penambahan pe!abuhan yang disinggahi.419 310. 58 ARMADA PELAYARAN NIAGA NUSANTARA.378 425.277 1977 1.822 1.479 1.378 425.970 2.445 2.6 92.208 938 1. 1969 .4 129.428 503.824 Tahun T abel VII.200 2.144 1983 2) 1.

694. aspal. Dalam tahun 1982/1983.501 buah kapal dengan kapositas seluruhnya Departemen Keuangan RI 223 . cepat. Dalam tahun 1983/1984. oleh karena kapal petikemas konvensional tidak dioperasikan lagi. kayu. Dalam tahun 1982/1983. yang melayari 35 trayek dan menyinggahi sebanyak 214 pelabuhan. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 PT Jakarta Lloyd telah memiliki serta mengoperasikan sebanyak 7 buah kapal. pantai barat Sumatera. Perkembangan jumlah armada dan muatan pelayaran samudera dapat dilihat pada Tabel VII. dengan sejauh mungkin memanfaatkan usaha pelayaran swasta setempat terutama pengusaha golongan ekonomi lemah. Dengan adanya usaha peningkatan angkutan petikemas. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 18. pupuk.052 DWT. jumlah armada pelayaran khusus baru mencapai 2.166 ton barang dan 161. bauksit.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 terus dilakukan pula pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaannya. Pelayaran khusus.60. sampai dengan akhir Pelita III telah meningkat. Demikian pula pembinaan pelayaran diarahkan pad a sistem angkutan laut yang teratur. yang terdiri atas 3 buah kapal full container. di samping telah dilakukan pula penyesuaian terhadap perkembangan teknologi. Riau dan Banjarmasin.000 ton. melayari 29 trayek. menyinggahi 177 pelabuhan dengan muatan seberat 31. nikel. baik semi container (petikemas) maupun full container. antara lain di pantai barat Aceh. Di samping itu setiap tahun kaposltas dan jumlah kapalnya juga telah disesuaikan dengan pertumbuhan permintaan akan jasa angkutan laut. kapositas yang tersedia telah mencapai sebesar 732. baik jumlah armada maupun daya angkutnya. minyak kelapa sawit. Adanya peningkatan penggunaan angkutan petikemas pada gilirannya teiah meningkatkan kapositas angkut disamping lebih efisien pula penggunaannya. jumlah armada pelayaran perintis yang telah dioperasikan adalah sebanyak 36 kapal. Berkurangnya jumlah kapal yang digunakan dan trayek yang dilayari terse but adalah karena telah banyaknya trayek-trayek ekonomi yang dapat dilayari pelayaran lokal dan pelayaran rakyat.200 DWT. Pe1ayaran samudera telah pula meningkat karasitasnya.465 ribu ton. telah terjadi penurunan yaitu jumlah armada yang dioperasikan menjadi 31 kapal.000 ton dan bermuatan asing seberat 12. dan semen.848 penumpang. posir besi. dan 4 buah kapal semi container dengan clara angkut seluruhnya masing-masing 61.500 DWT dan 61.387 orang. bermuatan nasional seberat 6. Jumlah muatan yang diangkut kapal nasional dalam taliun 1982/1983 adalah sebanyak 18. Jumlah dan kapositas kapal petikemas tersebut telah mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan akhir Pelita III yang berjumlah 11 buah kapal dengan kapositas seluruhnya 130. murah dan aman.200 ton barang dan 127. dengan muatan yang diangkut seberat 53. Sedangkan dalam tahun 1983/1984.270. tetap.964 ribu ton.325 DWT. yang antara lain mengangkut minyak bumi.

yang dilakukan di pelabuhan-pelabuhan dan alur pelayaran Belawan.541 liter/ton.682. Sedangkan untuk kegiatan angkutan laut domestik. bijih tambang serta minyak dan gas bumi. Sei Mahakam. serta mengangkut muatan nonmigas dan migas sebanyak 36. Sunda Kelapa. Tegal.542 buah kapal.981.215 DWT. minyak kelapa sawit.240. Selain itu juga telah dilakukan peningkatan keterampilan tenaga kerja dan buruh pelabuhan agar pengoperasiannya dapat dilaksanakan Departemen Keuangan RI 224 . Gresik. Semarang.61. 606. pembangunan baru dan peningkatan fasilitas dermaga.408 HP. Keempat pelabuhan tersebut ditunjang oleh 14 pelabuhan kolektor sebagai pengumpul dan pengirim barang ekspor. 649. Hal ini berarti telah terjadi peningkatan masing-masing sebesar 1. Panarukan. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 2. Pengerukan tersebut dilakukan oleh 39 buah kapal keruk dengan kapositas 39 juta meterkubik. Kegiatan tersebut dilakukan melalui rehabilitasi.7 persen. Pulau Batam. Palembang.772. 17. Tanjung Perak dan Ujungpandang. Probolinggo. Bengkulu. kayu olahan.6 persen. Ujungpandang.pengerukan kolam pelabuhan dan alur pelayaran telah dan terus ditingkatkan. 150 persen dan 141 persen. Tanjung Priok. 784. serta mengangkut muatan non migas dan migas masing-masing seberat 14.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. Adanya peningkatan pelayaran khusus dalam negeri tersebut juga telah memperlancar distribusi bahan pangan serta bahan 'bakar minyak (BBM) ke seluruh pelosok tanah air. Tanjung Petak. terutama dengan semakin meningkatnya standar kapal dan bongkar muat barang. Kenaikan muatan tersebut antara lain disebabkan karena meningkatnya produksi di bidang industri semen.489 BRT dan 361.628 liter/ton. fasilitas gudang dan lapangan penumpukan.587 HP.267.489 BRT dan 425.535 ton/meterkubik dan 95. pupuk. Cirebon. Untuk memelihara dan meningkatkan kelancaran lalu lintas kolam pelabuhan dan alur pelayaran!.041 ton/meterkubik dan 39. Jambi. Tanjung Priok. Dalam tahun 1983/1984 telah berhasil dilakukan pengerukan lumpur sebanyak 15. Sei Kahayan. serta peningkatan peralatan bongkar muat barang.740 DWT. Oleh sebab itu pembangunan fasilitas pelabuhan terus ditingkatkan sesuai dengan pertumbuhan lalu limas pelayaran dan arus bongkar muat barang yang terjadi di masing-masing pelabuhan. Pengembangan fasilitas pelabuhan merupakan salah satu penunjang kegiatan pelayaran. Di samping itu dilakukan pula peningkatan operasional melalui pembentukan perusahaan umum pelabuhan dan pengelompokan pelabuhanpelabuhan dalam 4 Perum pelabuhan yang berpusat di Belawan. disediakan sebanyak 25 pelabuhan Utama yang tersebar di seluruh wilayah tanah air. Sei Barito. Hasil-hasil pengerukan pelabuhan dapat dilihat pada Tabel VII. Kendari. dengan kapositas 2. Manado dan Bitung.71juta meterkubik.

2 14. pembangunan penahan gelombang seluas 8.5 21.7 15 17. Perkembangan fasilitas pelabuhan dapat diikuti melalui Tabel VII.752 16.406 10.121 12.145 meter persegi.452 12.186 meter persegi serta pembangunan lapangan penumpukan seluas 41.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan lebih.1 15 17.5 16.2 17.7 15.095 16. 1969 -1983 Tahun JumIah kapal 39 48 59 53 41 45 47 50 54 52 50 58 61 62 51 Kapositas (ribu DWT) 318 386 489 467 387 339 412 450 491 513 513 668 802 827 732 Muatan yang ( ribu ton) 1.0 15. Dengan pembangunan tersebut.6 16 16 16 16 16 19 20.6 16 16 16 16.650 6.913 2. produktivitas rata-rata dermaga pelabuhan telah mencapai 700-800 ton/meter per tahun.2 17.465 18. baik.343 1.7 Realisasi 16.4 16.7 17.0 11. 61 HASIL PENGERUKAN PELABUHAN. Tabel VII.636 18.7 15.7 Persentase terhadap target 145 115 106 100 100 100 104 109 103 83 100 100 100 100 100 1) Angka sementara Ketelangan : JumIah lumpur yang dikeruk dinyatakan dalam juta m 3 hopper ( lumpur bercampur air ) Departemen Keuangan RI 225 .026 meterpersegi.120 14. pembangunan dermaga baru seluas 54. antara lain meliputi rehabilitasi dan peningkatan dermaga seluas 5. 60 ARMADA DAN MUATAN PELAYARAN SAMUDERA.917 5.0 10.923 9.917 meter persegi.964 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1) Angka sementara Tab e I VII. Hasil-hasil yang telah dicapai dalam tahun 1983/1984.62.967 5.2 14.1983/1984 ( dalam juta m3 ) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/19831) 1983/1984 Target 11. 1969/1970 .

804 300 155.465 5.270 45 3.255 1982/1983 Jumlah 1983/1984 Jumlah pelabuhan pelabuhan 4 31 1 1 4 5 3 35 1 2 800 1984/1985 1) J um1ah Fisik Fisik pelabuhan 0 0 0 0 8.025 756 pelabuhan 6 15 3 3 5 6 5 5 8 Fisik 11. AIat bongkar muat .186 - T abe I VII.794 2.206 1. AJat bongkar moat . Lampu peIabuhan 6.650 2 1.680 1.1984/1985 ( dalam satuan ) Jenis sarana L Pcrambuan daft pencrangan pantai : 1.kapal serta pembersihan alur dan daerah perairan dari kerangka.878 2. Penahan gelombang .066 1. jumlah kapositas galangan kapal telah mencapai 163.Penambahan (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) 90 1 (ton) (ton) (hp) 59. ADak pelampung 5.700 2 unit 4 18 1 5 2 6 2 4 3 2.Penambahan (ton/h.732 230 5.218 m2 1980/1981 Jumlah Fisik 1.Rehabilitasi .Rehabilitasi .Penambahan (kva) 5. sebanyak 60 persen dari armada pelayaran nasional yang berukuran di bawah 10.310 22.Rehabilitasi .Penambahan 4.800 m2 1) 700 m2 1) 7 1 5 23 - 5 2 1 26 4 6 8 1.070 2. Stasiun radio kelas III 4.100 m2 11 6 Di bidang jasa maritim. 1969/1970 -1984/1985 1977/1978 PELITA I 1974/1975 1975/1976 1976/1977 Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Fisik Fisik Fisik Fisik Fisik pelabuhan pelabuhan pelabuhan pelabuhan pelabuhan 1.190 22. 63 REHABILITASIIPEMBANGUNAN FASILITAS KESELAMATAN PELAY ARAN. Penahan gelombang .Penambahan 2.535 260 1.Penambahan 3.946 2 15 2 1 4 1 4 21.007 10 17 3 4 6 11 5 6 10 1978/1979 Jumlah Fisik 14.800 22.690 15.257 23.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.700 3.425 3.281 11. Fasilitas air .725 8.190 1.810 4. Di samping itu juga telah dilakukan Departemen Keuangan RI 226 .253 12.340 1979/1980 Jumlah pelabuhan 15 3 55 360 500 3 unit 150 900! 1.175 2. Supply Vessel 8. Pelampung suar 4.942 2.100 11. Buoy tender 7.. G u d an g .500 3.550 33.750 2. Stasiun radio kelas II 3.960 4 17 4 8 1 1 6 1 4 2 9.700 DWT dengan produksi doking sekitar 127 juta DWT. Rambu suax 3.455 135 48.Penambahan (ton/hari) 6.000 400 5 unit 40 unit 3 - 7 31.Rehabilitasi (kva) .720 11.Rehabilitasi (ton/hari) .Rehabilitasi (ton/hari) .Penambahan 4. Stasiun radio kelas IV 1) Masing-masing adalah merupakan bagian dari 2) Angka sementara 1972/73 10 13 8 1 2 1 2 1 1973/74 11 13 26 1974/75 4 9 6 2 2 1 2 1975/76 12 17 5 1 1976/77 7 5 10 2 2 4 1977/78 9 13 1978/79 11 25 7 14 2 1979/80 10 11 20 7 1980/81 12 18 1 6 10 1981/82 12 38 7 15 12 1982/83 1983/84 1) 1984/85 2) 26 39 7 5 11 23 2 27 3 6 25 23 4 5 1 1 1 .334 11. Stasiun radio kelas I 2. Dermaga .Rehabilitasi . Kade / dennaga .000 DWT telah dapat diperbaiki oleh galangan kapal dalam negeri.500 pe1abuhan 5 64 1 6 1 2 4 1 6 Fisik 3. Lis t ri k .399 2. Elektrifikasi menara suar 2.497 2. Kode / dermaga . Dalam hubungan ini terus ditingkatkan perawatan dan perbaikan kapal nasional.521 1. 1972/1973 . Fasilitas air . Listrik . Dalam tahun 1983/1984.Rehabilitasi . G u d a n g . IL Telekomunikasi: 1.kerangka kapal.764 18.Penambahan 3. Kapal rambu (watch boat) 9.035 (ton) (ton) (hp) 6 25 27 17 6 1 15 9 6 3 16 4 2 1 2.700 299 60 3.473 14.Rehabilitasi .455 515 7.514 54.600 200 200 1981/1982 Jumlah pelabuhan 6 47 2 4 2 4 1 1 400 Fisik 2.026 8.928 1. dewasa ini telah dapat ditingkatkan kemampuan perawatan. perbaikan dan pembangunan kapal.216 17.62 REALISASI FISIK PEMBANGUNAN FASILITAS PELABUHAN.Penambahan 2.Rehabilitasi (kva) .800 53.Penambahan (kva) 5.246 17. karang dan ranjau.368 1.242 800 320 2.921 6.Rehabilitasi .n) 6. Pangkalan bantu sarana navigasi 10.075 10.296 31. Ben g k e I 11.325 24.Rehabilitasi . Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984.Penambahan (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) 29. di samping juga kemampuan dan fasilitas galangan kapal dalam negeri.145 11.

tanaman dan pos melalui udara. menara suar. penambahan jumlah dan komposisi armada. radio pantai. Se1ain diusahakan pertumbuhan angkutan komersial dalam dan luar negeri. Departemen Keuangan RI 227 . terus dilakukan pembinaan klasifikasi Indonesia dan penambahan sarana laboratorium. Selanjutnya untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dok/galangan kapal dalam negeri. terutama di pelabuhan Sunda Kelapa dan Cilacap. Surabaya. serta dapat menjangkau ke se1uruh tanah air. peningkatan kemampuan landasan udara serta penambahan peralatan keselamatan penerbangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembersihan alur-alur pelayaran dan daerah pelabuhan dari kerangka kapal dan ranjau. pcnjagaan laut dan pantai serta jasa klasifikasi. Sehubungan dengan itu terus dilaksanakan proyek-proyek lanjutan dalam masa Pelita IV. Sejalan dengan itu ditempuh usaha-usaha untuk menciptakan kemudahan-kemudahan bagi lalu lintas penumpang. Denpasar. Hasil rehabilitasi fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dapat diikuti melalui Tabel VII. Selain itu juga oleh adanya peningkatan frekuensi penerbangan. dilakukan pembinaan di bidang manajemen keuangan serta pembentukan usaha patungan perusahaan dok/galangan kapal dalam negeri dengan perusahaan dok/galangan kapalluar negeri. hewan. serta peningkatan kemampuan pegawai melalui pendidikan dan latihan. peningkatan kesyahbandaran. Di samping itu juga te1ah dilaksanakan pembangunan landasan udara baru sesuai dengan pertumbuhan lalu lintas udara. A-300 dan DC-lO. sarana dan angkutan udara mengalami kenaikan. perluasan jaringan penerbangan. Demikian pula dalam rangka keselamatan dan keamanan pelayaran. Sedangkan guna meningkatkan pengawasan teknis pembangunan reparasi kapal. telah dapat dikembangkan sebanyak 5 buah pe1abuhan udara. te1ah pula dilakukan peningkatan pe1ayanan angkutan perintis di daerah-daerah terpencil. yaitu di Medan. walaupun pada tahun terakhir Pelita III tingkat pertumbuhannya tidak setinggi awal Pelita III. antara lain berupa pembangunan fasilitas navigasi. Selama Pelita III. Perhubungan udara Kegiatan pembangunan sektor perhubungan udara sampai dengan tahun pertama Pelita IV ditandai antara lain oleh usaha pemenuhan kebutuhan masyarakat di bidang jasa angkutan udara yang semakin meningkat. Sampai dengan tahun pertama Repe1ita IV.8. serta peningkatan pe1ayanan angkutan transmigrasi dan pelayanan angkutan haji. termasuk di dalamnya pembangunan dan peningkatan beberapa pe1abuhan udara dan lapangan terbang. dalam waktu yang sama telah dapat ditingkatkan kemampuan dan modernisasi sarana keselamatan dan keamanan pelayaran di perairan Indonesia.3. dan Biak guna menampung pesawat berbadan lebar tipe B-747. 7. Ujungpandang. barang. rambu suar.63. pertumbuhan prasarana.

antara lain bahwa semua pelabuhan udara yang melayani pesawat jet secara bertahap diperlengkapi dengan instalasi peralatan navigasi DVOR (Doppler Very High Omni Range). Halim Perdanakusumah di Jakarta. fasilitas pengangkat pesawat di 3 pelabuhan udara dan fasilitas pemadam kebakaran di 48 pelabuhan udara. Uji coba pendaratan dan lepas landas telah dilakukan. Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Adapun pelabuhan udara internasional di Cengkareng sedang dalam taraf penyelesaian. Di samping itu juga telah dilakukan pemasangan alat bantu pendaratan ILS (Instrumen Landing System) di 7 pelabuhan udara yaitu Polonia di Medan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 antara lain di Meulaboh. Pulau Batam. dan sesuai dengan jadwal akan beroperasi penuh dalam bulan April 1985. Nabire. Ampenan. Di bidang keselamatan penerbangan. Samsudin Noor di Banjarmasin. sedangkan penyelesaian pekerjaan akan dilanjutkan dengan penyempurnaan gedung terminal dan fasilitas peralatan kese1amatan penerbangan. telah dilakukan pembukaan Departemen Keuangan RI 228 . Talangbetutu di Palembang. Poso. Hasanuddin di Ujungpandang dan Mokmer di Biak. jumlah lapangan terbang perintis telah berhasil ditambah menjadi 95 buah yang dilayani oleh 19 buah pesawat DHC-6 dan 16 buah pesawat C-212. fasilitas dan pesawat terbang. Sehubungan dengan akan diproduksinya pesawat CN-235. Ruteng. Waingapu. Juanda di Surabaya. jumlah pelabuhan udara yang beroperasi lebih dari 12 jam telah menjadi 20 buah pelabuhan udara. Bima. Waikabubak dan Baucau. 2 landasan oleh DC-lO dan A-300 serta 2 landasan yang dapat didarati oleh B-747. sedangkan pada 6 pelabuhan udara lainnya sedang dalam persiapan pemasangan instalasi. Demikian pula telah dilakukan pemasangan fasilitas radar di 7 pelabuhan udara. Pangkalan Bun. Hasil pembangunan yang telah dicapai dalam tahun pertama Repelita IV antara lain te1ah terdapatnya 9 landasan yang dapat didarati oleh pesawat tipe C-l60 dan CN-235. Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan pelabuhan udara. 7 landasan oleh DC-9. hingga tahun pertama Repelita IV juga telah ditingkatkan fasilitasnya. 3 landasan oleh pesawat Hercules tipe L-I00-300. Samarinda. Kegiatan penerbangan perintis terus ditingkatkan pula melalui penambahan frekuensi penerbangan dan lapangan terbang perintis. fasilitas telekomunikasi di 46 pelabuhan udara. serta untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas udara dari pemakaian jasa terminal pelabuhan udara. disesuaikan menjadi pelabuhan udara yang dapat dioperasikan untuk pesawat CN-235. 20 landasan oleh F-28. Selain itu sesuai dengan sa saran yang hendak dicapai. Dalam pada itu telah pula dibangun dan ditingkatkan pe1abuhan udara perintis di 75 lokasi yang tersebar di 27 propinsi di Indonesia. Timika. maka pelabuhan udara yang semula direncanakan menjadi pelabuhan udara yang dapat dioperasikan dengan pesawat Fokker 27 (F-27). Kota Baru.

sebanyak 188 buah di antaranya dipergunakan untuk melayani penerbangan berjadwal. Palembang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa pelabuhan udara bagi penerbangan malam. Surabaya. Untuk melaksanakan angkutan transmigrasi. dengan mengusahakan agar perusahaanperusahaan penerbangan memanfaatkan fasilitas tersebut. 250 buah pesawat untuk melayani penerbangan tidak berjadwal .921 kepala keluarga (KK). Banjarmasin. PT Garuda Indonesian Airways (GIA) telah menggunakan 86 buah pesawat. Dalam hubungan ini baru sepuluh buah pelabuhan udara (Pelud) yang dioperasikan secara penuh melalui perpanjangan jam operasi dan dilengkapi dengan fasilitas penerbangan malam. yaitu bila dalam tahun 1978 baru sebanyak 2 buah pesawat. Di samping itu penggunaan pesawat hasil rakitan PT Nurtanio juga telah meningkat. angkutan transmigrasi udara telah diangkut melalui udara adalah sebanyak 28. Pelita Air Service sebagai pengelolanya telah memiliki 6 buah pesawat udara tipe Hercules (L-I00-300) dan 3 buah pesawat udara tipe Transall (C-I00). Semarang. Di samping itu. Bouraq menggunakan 26 buah pesawat dan Seulawah menggunakan 4 buah pesawat. Dalam tahun pertama Repelita IV. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 16 buah pesawat dan dipergunakan untuk melayani penerbangan perintis.943 orang dari 4lokasi penerbangan. usaha untuk Departemen Keuangan RI 229 . . Ujungpandang dan Biak. angkutan udara dalam negeri telah dilayani oleh sebanyak 768 buah pesawat. telah ditingkatkan pula sarana angkutan udara yaitu pesawat udara bermesin turbo-prop dan pesawat bermesin turbo-jet. dimana 30 buah di antaranya telah siap dengan fasilitas penerbangan malam. Selanjutnya telah direncanakan pula sebanyak 42 Pelud untuk melayani penerbangan malam. Adapun dalam menunjang program transmigrasi dan pelaksanaan angkutan haji.dan sisanya sebanyak 330 buah lagi dipergunakan untuk melayani penerbangan umum. Jumlah pesawat yang digunakan untuk masing-masing armada penerbangan telah pula meningkat. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang kemajuan teknologi angkutan udara agar dapat memenuhi dan melayani permintaan angkutan udara baik di dalam maupun di luar negeri. Bali. yaitu Medan. sedangkan dalam waktu yang sarna jemaah haji udara telah dapat diangkut sebanyak 49. Kemayoran Jakarta. Halim Perdanakusumah Jakarta. telah dapat ditingkatkan baik kapositas angkutan maupun mutu pelayanannya. Sejalan dengan pembangunan pelabuhan udara dan fasilitas keselamatan penerbangan. Dalam tahun 1983/1984. PT Merpati Nusantara Airways (MNA) menggunakan 57 buah pesawat. Mandala menggunakan 15 buah pesawat. Dalam tahun pertama Repelita IV. Dari jumlah tersebut.yang terdiri alas 231 buah pesawat yang mempunyai kapositas tinggallandas di alas 10 ton. 353 buah pesawat dengan kapositas tinggal landas di bawah 10 ton dan 184 buah pesawat helikopter.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menunjang keberhasilan program pariwisata. Sampai dengan bulan Juni tahun 1984.839 penumpang dan 9. serta penelitian sistematika gempa dan polusi udara. serta stasiun Klimatologi Sicincin. Jawa Timur dan daerah ramalan cuaca. menunjukkan bahwa keadaan iklim Departemen Keuangan RI 230 . geofisika.1 persen. Dalam periode yang sama data meteorologi dan geofisika yang dihasilkan meningkat dengan sekitar 90 persen per tahun. klimatologi dan iklim serta stasiun penguapan dan hujan. Bengkulu dan Nusa Tenggara Timur.366 ton barang/pos. antara lain dilakukan melalui reduksi harga tiket untuk wisata remaja dan paket wisata (package tour). Perkembangan penerbangan sipil di dalam negeri dan ke luar negeri dapat diikuti melalui Tabel VII. telah selesai dibangun dan dioperasikan stasiun geofisika Tanjung Pandan di Sumatera Selatan. Sejalan dengan itu telah pula dilakukan peningkatan fasilitas terminal di beberapa pelabuhan udara guna melayani arus wisatawan yang langsung ke tempat-tempat obyek wisata. dari 92 buah menjadi 324 buah dan dari 2. antara lain meliputi penelitian mengenai standardisasi pengumpulan dan penyebaran data/informasi. baik di dalam maupun di luar negeri. yang berarti masing-masing mengalami kenaikan sebesar 43 persen dan 187 persen.024 buah yang berani masing-masing mengalami peningkatan sebesar 91. dan digantinya hampir semua peralatan lama dengan yang baru sesuai dengan kemajuan teknologi. Kenyataan bahwa sebagian besar areal pertanian masih merupakan daerah tadah hujan.047.000 orang dan 45. sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1984 selalu mengalami kenaikan. Hasil pembangunan yang telah dicapai di bidang meteorologi dan geofisika selama Pelita III antara lain ditandai dengan bertambahnya jaring-jaring stasiun. atau masing-masing telah mengalami kenaikan sebesar 12 persen dan 9 persen.320 buah menjadi 4.113 penumpang dan 28. yaitu dari sebanyak 733. penelitian kartografi normal yang bertipe hujan di Jawa Tengah.790 ton barang/ pos.000 orang dan 49.711.292. masing-masing di Sumatera Barat. Angkutan penerbangan sipil ke luar negeri juga mengalami peningkatan.884 ton barang/pos menjadi 1. yaitu masing-masing dari sebanyak 56 buah menjadi 107 buah.64 dan Tabel VII. Adapun hasil penelitian yang telah diterbitkan dalam publikasi. Pulau Baai dan Lasiana Kupang.884 ton barang/pos. 350 persen. Jumlah stasiun-stasiun meteorologi. serta meningkatkan penerbangan borongan dari luar negeri langsung ke tempat-tempat obyek pariwisata tanpa mengganggu penerbangan berjadwal. Apabila pada akhir Pelita II jumlah penumpang dalam negeri yang diangkut baru sebanyak 4. 252 persen dan 74 persen. maka pada akhir Pelita III telah meningkat menjadi 5. sedangkan pelayanan jasanya rata-rata naik sebesar 30 persen per tahun. Di samping itu sebagian besar stasiun yang ada juga sudah mampu beroperasi selama 24 jam sehari. stasiun geofisika Saumlaki di Maluku.65. dari 6 buah menjadi 27 buah.

620 87.510 449.451 40.925 42.459 616.555 80.167 196 19791) 70. Oleh karenanya informasi dari meteorologi dan geofisika bagi sektor pertanian harus dapat dipercaya dan tepat pada waktunya.326 46.401 164.378 10.057 17.019 84. Stasiun hujan utama ini dilengkapi pula dengan sensor lain seperti suhu.235 11. kelembaban.439 4.142 3.883 79.341 923.940 80.664 45.045 68.354 102.696 169.433 212 1982 1) 87.237 85.098 3.125 127.451 1972 7.918 176 19801) 78.502 1973 33.619 302.651 7.779 134.461 1975 46.711 45.519 1) 19781) 85.292 49.538 56.083.483 190 1981 87.129 52.166.758 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara TonJkm (ribu) 34.302 1970 6.150 4.781 378.884 526.427 10.377 2.304 122.366 1.246 39.914 97.340 1973 7.115 245.506 1970 16.494 1972 26.589 223 19832) 89.158.480 770 4.329 531.113 28.023 227 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.016 1978 1) 19.675 3.920 51.602 233.674 80.094 125.624 731.287 4.404 545.560 463.562 34.649 13.893 1982 1) 26. Tabel VII 64 PENERBANGAN SIPIL DALAM NEGERI.790 213.831 47.062 114.937 3.839 9.015 102.791 37. lengkap dengan sarana telekomunikasinya.175.027 36.741 1.942 1.290 457.047.166 387.985 3. Untuk itu ditempuh kebijaksanaan dengan mendirikan lebih kurang 750 stasiun hujan utama sistem telemetry di seluruh wilayah Indonesia.918 29.101 653.815 10.136 748.194 1.574 180. Di samping itu untuk setiap balai penyuluhan pertanian juga dibangun stasiun meteorologi pertanian khusus.480 1979 1) 22.804 335.743 20.65 PENERBANGAN SIPIL KE LUAR NEGERI.340 97.963 2.269 22.512 1983 2) 23.272 1981 1) 24.884 950.323 22.204lokasi dapat diterima tepat pada waktunya.348.135 1980 1) 24.824 11.162 499 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang tidak menentu pada suatu periode dapat memberikan pengaruh yang besar pada produksi pertanian.459 279. radiasi matahari dan arab angin.635 216. Hal ini akan terpenuhi apabila data hujan yang dikumpulkan dari 4.908 151 396.760 Departemen Keuangan RI 231 .302 1.424 733.782 28.448 106 1974 2.233 373.543 240.353 193.506 109.250 321.791 1976 10.718 34.217 3.1983 Km pesawat Penumpang Barang Jam terbang Tonjkm Tahun (ribu) (ribu) (ton) (ribu) (ribu) 1969 12.991 1.501 82.925 137 1977 59.412 146.385 98.180 5.268 521.955 196.340 1975 8.429 1974 7.597 374.671 TonJkm (ribu) 31.126 19.607 17.377 1977 14.458 993 7.209 115. yaitu berupa banjir atau merajalelanya hama tanaman.972 2.240 1.546 5.790 809.185 1971 20.371 14.626 5.318 291.151 56.373 32.549 1971 6.5881) 50.834 800. 1969 .953 369.042 34. 1969 -1983 Tahun Km pesaat Penumpang Barang TonJkm (ribu) (orang) (ton) Jam terbang (ribu) 1969 5.840 3. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar data hujan masih mengalami keterlambatan yang disebabkan karena banyak lokasi renakar hujan yang letaknya sangat terpencil dan jauh dari sarana komunikasi.570 116 1976 55.384 10.578 4.499 1.252 264.073 62.

850.854 SS. serta STJJ sebanyak 1. maka dalam tahun 1983 jumlah sentral telepon otomat (STO) telah mencapai 170 buah dengan kapositas seluruhnya 576. pembangunan di bidang telekomunikasi ditujukan untuk menciptakan kerangka landasan bagi pembangunan tahap-tahap Pelita berikutnya.500 buah. sambungan kontener sebanyak 900 SS. baik yang menyangkut hubungan komunikasi di dalam maupun di luar negeri. telex dan jaringan transmisi. sentral transit perluasan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) 7.380 SS. Demikian pula halnya kapositas telepon manual. transmisi teresterial 11. Melalui serangkaian pembangunan yang dilaksanakan selama ini telah berhasil dilakukan peningkatan fasilitas telepon.4. telegrap.66. telegrap dan telex.583 sirkit. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984. fasilitas telepon otomat. alur telegrap sebanyak 1. sambungan telepon manual sebanyak 7.819 alur. sirkit tandem sebanyak 1. antara lain telah dapat diselesaikan pembangunan telepon otomat sebanyak 152.080 SS. Telekomunikasi. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dapat ditingkatkan lagi menjadi 173 buah dengan kapositas seluruhnya 583. Kesemuanya itu dimaksudkan untuk memperluas pemanfaatan satelit Palapa dan sejumlah fasilitas penunjang lainnya.579 SS dalam tahun 1983 dan bertambah lagi menjadi 91. yaitu sebanyak 86. pos dan giro Telekomunikasi sebagai salah satu pendorong dan penggerak pembangunan nasional terus ditingkatkan kemampuannya guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat setiap tahun.150 SS. sambungan telex sebanyak 2. Di bidang telekomunikasi dalam negeri.947 SS. telepon umum.000 SS. Sementara itu dalam periode yang sarna telah diselesaikan pula sambungan telepon sebanyak 26. Untuk itu terus ditingkatkan sistem jaringan transmisi. Dengan adanya kegiatan tersebut. Di samping itu telah diselesaikan pula program ekstra sebanyak 75 buah SBK.8. Perkembangan jumlah sentral dan kapositas telepon dapat diikuti pada Tabel VII.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. serta sentral sambungan telepon jarak jauh (STJJ) sebanyak 14 buah dengan kapositas masing-masing 50 SS.070 alur dan stasiun bumi kecil (SBK) sebanyak 10 buah.797 SS.54855 dalam tahun 1984. sehingga memungkinkan hubungan telekomunikasi yang lebih luas dan cepat. Dalam tahun pertama pelaksanaan Repelita IV.000 satuan sambungan (SS). telepon umum sebanyak 3. Departemen Keuangan RI 232 . serta penambahan sejumlah stasiun bumi. alur transmisi teresterial sebanyak 15.

antara lain teiepon lokal dengan sistem manual secara bertahap telah diganti dengan sistem otomat walaupun baru menjangkau di kala-kala. telah dilakukan peningkatan jaringan pada 4 buah sentral tandem nasional yang berlokasi di Medan.963 1983 1) 170 576.100 1980 137 524. jumlah kala yang sudah masuk jaringan SLJJ mencapai sebanyak 104 kala. jumlah sentral manual adalah sebanyak 506 buah. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985. 66 JUMLAH SENTRAL DAN KAPASITAS TELEPON.782 101. Selama Pelita III.840 satuan sambungan yang melayani 24 kota di Indonesia.500 1975 39 144. Kenyataan ini menunjukkan bahvva selama periode tersebut tidak mengalami banyak perubahan.142 101. kapositas dalam satuan sambungan ) Otomat Sentral Kapasitas 1969 26 84.292 108.718 102.200 1979 101 460. kapositas sentral yang terposang telah mencapai 15.460 1974 37 125.520 1982 164 557.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TabeI VII.860 1973 34 121.920 104.320 1978 69 367. Jakarta.548 Sistem yang digunakan dalam bidang telekomunikasi telah mengalami banyak perkembangan.167 96. Di lain pihak jumlah sentral telepon otomat telah meningkat dengan pesat. Selain itu juga telah Departemen Keuangan RI 233 .797 1984 2) 173 583.563 104. yaitu dari 26 sentral pada awal Pelita I menjadi sebanyak 173 sentral pada awal Repelita IV.253 87.947 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tahun Manual Sentral 506 504 496 506 504 507 507 507 503 493 468 457 469 1) 503 1) 509 509 Kapasitas 122.896 107.092 99. sedangkan yang mendapat hubungan SLJJ terbatas adalah sebanyak 20 kala. sedangkan pada awal Repelita IV adalah sebanyak 509 buah.600 1977 54 218.100 1976 45 160.660 1970 28 90. Di samping itu hubungan telepon internasional dengan sistem manual dan semi otomatis secara bertahap juga telah diganti dengan sambungan langsung internasional (SLI).579 89. Surabaya dan Ujungpandang. Di bidang telex.300 1972 33 110.054 86.772 73. hubungan telepon interlokal dengan sistem manual secara bertahap juga telah diganti dengan sistem otomat dan dimasukkan ke dalam jaringan SLJJ. Pada awal Pelita I. Pada awal Repelita IV.660 1971 33 95. Di samping itu. Selanjutnya masing-masing sentral tandem tersebut dihubungkan dengan sentral lokal yang tersebar di beberapa kota. 1969 -1984 ( sentral dalam buah.762 79.336 91. telah dapat dilakukan hubungan melalui SLI ini dengan sebanyak 58 negara.860 1981 156 549.

2 307.3 12.247.3 ribu permintaan dalam tahun 1982 menjadi 3.5 6.120. 1969 .868.684.1 14. ibukota kabupaten dan beberapa kota kecamatan. perkembangan jasa telekomunikasi dapat diikuti melalui Tabel VII.8 1.158.776.990.877.0 391.402.1 TabeI VII.5 19831) 3.452.0 5.3 4.4 3.073.084.0 105.576.3 992.958.849.294.206 saluran yang dirangkaikan dengan sistem transmisi hambur-tropo (tropos catter).4 4.741.1 18.8 55.083. Adapun lalu lintas telepon internasional telah pula meningkat dari sebanyak 2.8 70.790.0 4.7 182.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dilakukan peningkatan sistem telegrap teleprinter sebagai pengganti sistem morse dan digunakan untuk menghubungkan telegrap pada 400 lokasi di kota-kota besar. yaitu kawasan Samudera Hindia (Indian Ocean Region) dengan kemampuan up-link 6 aluran dan down-link 14 aluran.8 470.426.9 2.4 11.9 82.1 7.889.5 5.7 7. Lalu lintas telepon international: .949.631.Jumlah telegrap (ribu) .5 106.2 10.5 30.8 26.5 63.8 1.0 72.5 10.2 51. sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diselesaikan pembangunan sistim komunikasi kabel laut (SKKL) Asean antara Indonesia-Singapura sebanyak 480 kallal.0 113.1984 1972 1973 1974 1976 1977 1975 208.753.2 1.156. dan UHF telah mencapai sebanyak 197 stasiun.67 PEMAKAIAN ]ASA TELEKOMUNIKASI.070.Sambungan langsung jarak jaub: Jumlah paisa (ribu ) Jumlah call (ribu) Co Telegrap dalam negeri: .730.3 276.776.682.5 40.632.419.8 17.158.233.164. 1969 .480.543.6 .023.9 1979 1. SKKL Medan-Penang dan stasiun kabel sebanyak 480 kallal.7 4.9 563. Penggantian Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa Al yang dalam operasi pertama baru mempunyai 12 transponder telah diganti.463.5 205.2 53.3 1.503. .332.918.381.925.0 8.558. dengan kabel kawat masa ganda (multi-pairs wire). Dalam rangka peningkatan sarana telekomunikasi internasional.0 1.389.9 2.5 6.321.6 181.364.7 2.1 2.4 1981 2.114.297.7 3.916.345.327.376. Telex dalam negeri : .7 12.036..372.1 7.169.6 140.2 185.Lokal (jumlahpulsa) 1) .532.3 11. 5.Jumlah telegrap (ribu) .2 23. GM Jawa-Bali dengan 2.817.622.3 6.3 43.0 2.793.5 205.184.51) 3.038. VHF.2 150.4 493.864.430.527.1 25.1 19842) 1.0 267.302.9 663.0 3.619.8.Banyak pennintaan (ribu) #NAME? b.5 50.094.7 124.894.103. Telegrap luar negeri: .548.3 Sementara itu telah dilakukan pula penambahan jaringan transmisi.1 4.190.579.4 12.4 75.1 1.513.8 1.647.0 389.271.1 9. Hal ini berarti bahwa dalam periode tersebut telah terjadi suatu kenaikan sebesar 19 persen.Telex luar negeri : ..4 56.885.905.6 4.9 58. SKKL Medan-Singapura 1.4 35.807.4 3.9 62.3 1.696.1 231.013.663.249.735.190.6 64.3 15.6 124. stasiun referensi time division multiple accses (TDMA) dan terminal TDMA di Jatiluhur sebanyak 240 kanal.3 67.073.1 134.9 7.6 6.8 1978 964.2 629.3 3.260 kallal.988.3 758.673.0 60.786.5 3.864.5 6.527.0 176.0 68.419.3 191.701.760.263.431.9 10.7 368.027.0 336.0 351.284.529.1 7.442. dengan satelit Palapa generasi kedua Bl dan B2 yang mempunyai 24 transponder.100 kallal.6 9.426.2 30.934.4 400.1 104.315.Jumlah pulsa (ribu) f.6 2.865.718.827.7 12. yang meliputi GM Lintas-Sumatera dengan 693 aluran. Di samping itu telah dipakai pula sistem gelombang mikro (GM) teresterial.1 331.4 5.133. Lalu lintas telepon dalam negeri: .1 14.459.4 277.0 6.396.8 1971 202. yang merupakan salah satu unsur renting dalam peningkatan jasa telekomunikasi baik di dalam maupun di luar negeri.1 1982 2.1 772.930.3 39.1 240.4 27.1 414. 30.8 10.Jumlahkata (ribu) d.7 271.174.Jumlah kata (ribu) e.7 217.064.8 13.775.876.920.8 7.0 11.551.926.9 48.8 257.8 2.120.212. mikrowave link Jakarta-Jatiluhur sebanyak Departemen Keuangan RI 234 .5 10.9 10.574.2 796.403.6 122. Sedangkan perluasan sistem gelombang radio frekuensi tinggi HF.3 4.047.51) 240.7 2.6 3.1 1980 1.622.479.136.2 16.096.524. kabel koaksial dan kabel optek.237.0 4.141. Peningkatan hubungan internasional dilaksanakan melalui sistem komunikasi intelsat yang mencakup dua kawasan.830.1 2.244.950.4 7.3 13.6 7.621.297.94 4. sentral telepon di_ital di Medan sebanyak 2.67.059.196.427.353. GM SurabayaBanjarmasin dengan 48 aluran dan GM Indonesia Timur dengan 196 aluran.219.399.656.0 379.1 ribu dalam tahun 1983.1 74.1 167.0 11.Jumlah call (ribu) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 62.103.3 9.011.2 11.7 2.7 488.3 1.961.3 2.903.239.7 15.0 1970 151. serta kawasan Samudera Posifik (Posific Ocean Region) dengan kemampuan up-link 5 aluran dan-down link 14 aluran.446.6 9.6 3.9 157.1 411.

096 trunks telepon internasional dan nasional. Demikian pula industri telekomunikasi PT Inti. telah berhasil diletakkan dasardasar kebijaksanaan untuk Departemen Keuangan RI 235 . dan perluasan jasa pos ke1iling kala dan jasa pos ke1iling desa.0 persen dari selruh desa di Indonesia. penambahan jaringan dan perluasan pe1ayanan. Di samping itu juga te1ah dilakukan penambahan. serta telah siap untuk dioperasikan sebanyak 18 buah stasiun monitoring bergerak. te1ah banyak kemajuan yang dapat dicapai. sirkit sewa suara/data sebanyak 20 kallal. kantor pos besar/ kantor pos ke1as I sebanyak 21 buah. pengadaan uninterruptible power supply (UPS) 200 KVA dan 1 unit antena track telemetry command and monitoring (TTCM) di Jatiluhur. Untuk menunjang hal tersebut. telah berkembang dalam meningkatkan kemampuannya di bidang usaha telekomunikasi dan elektronika. sehingga pe1ayanan pos dapat menunjang kegiatan so sial ekonomi masyarakat. sehingga dapat menjangkau kecamatan-kecamatan di wilayah Nusantara termasuk daerah-daerah pemukiman transmigrasi. Selanjutnya guna menertibkan penggunaan frekuensi radio serta persiapan keanggotaan Indonesia dalam sistem monitoring radio internasional. 3 buah stasiun tetap yakni di Cakung.488 ibukota kecamatan yang ada. sirkit sewa telegrap sebanyak 120 kanal. kini pelayanannya te1ah mampu menjangkau 3. serta 4. telah dilakukan pembangunan kantor pos dan kantor pos pembantu di kecamatan-kecamatan.3 persen dari seluruh ibukota kecamatan yang ada dan 91. kini te1ah dioperasikan 1 buah stasiun monitor bergerak.232 desa dari sejumlah 66. Pembangunan di bidang pos dan giro sampai dengan tahun 1984/1985 dimaksudkan untuk memperluas fasilitas pos dan giro dan meningkatkan jasa pelayanannya. kendaraan bermotor roda 4 sebanyak 48 buah serta bis sural sebanyak 1.103 ibukota kecamatan dari sejumlah 3. Selain itu te1ah berhasil pula ditetapkan sistem kode pos untuk se1uruh Indonesia guna mendukung kelancaran operasi.214 buah. Hasil-hasil yang te1ah dicapai sampai dengan bulan Mei 1984 meliputi pembangunan kantor pos pembantu/kantor pos tambahan sebanyak 485 buah. kantor kepala daerah pos sebanyak 3 buah. serta kantor pus tambahan. kantor pos sebanyak 30 buah. sebagai sentral pos desa sekitarnya.159 desa yang ada di Indonesia.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 572 kanal. kantor pos besar dan kantor pos ke1as I di ibukota propinsi dan kala-kala lainnya. dari segi operasi te1ah pula berhasil ditingkatkan mutu pe1ayanan pos dan giro. Hal ini berarti pelayanan pos dan giro telah dapat melayani 91. antara lain dengan memperpendek waktu tempuh surat. Dari segi kuantitas. baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Jangkauan pelayanan pos dan giro ke desa-desa te1ah mencapai 60. pengadaan peralatan VFT-MUX sebanyak 48 terminal. Dengan peningkatan fasilitas pos dan giro tersebut. penambahan trafo tegangan tinggi 3x250 KVA. Se1ama Pelita III hingga tahun pertama Repelita IV. Ulan Kayu dan Samarinda. Di samping itu.

sehingga dapat mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang mengganggu ke1ancaran pos dan giro. yang antara lain dilakukan dengan memperbanyak unitunit pelayanan pos bergerak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 djadikan program pengembangan tahun-tahun berikutnya. Di samping itu dalam kedudukannya sebagai anggota UPU (United Post Union) dan APPU (Asia Posific Post Union).90 juta.063. peredaran giro dan cekpos sebesar Rp 967.80 milyar. Adapun angkutan pos laut pada umumnya tidak ada hambatan. juga ditujukan untuk meningkatkan jangkauan pelayanan ke daerah-daerah terpencil dan daerah-daerah transmigrasi.74 juta buah.795. Demikian pula angkutan pos udara semakin lancar. surat pos yang disampaikan berjumlah sebanyak 27.50 milyar. Pelayanan pos dan giro selain berpedoman kepada volume lalu lintas pos dan perhitungan biaya. daerah-daerah pemukiman trasmigrasi serta daerah terpencil. Dalam pada itu telah dilakukan pula pemasyarakatan kode pos. Perkembangan arus lalu lintas pos dan giro dapat diikuti melalui Tabel VIII.60 juta.41 milyar serta jumlah tabungan pada BTN sebesar Rp 81. Indonesia telah banyak memperoleh manfaat dari kedua organisasi tersebut dalam mencapai kemajuan di bidang pos dan giro. Dengan adanya peningkatan kualitas tersebut. serta jumlah tabungan BTN sebesar Rp 23. yakni berupa perluasan jangkauan pelayanan sampai ke desa-desa. weselpos senilai Rp 445. weselpos senilai Rp 163. yang untuk tahap pertamanya dimulai di wilayah DKI Jakarta dan kemudian disusul oleh propinsi-propinsi lairmya. Sedangkan sampai dengan bulan Mei 1984.569. dengan lebih seringnya frekuensi penerbangan dan adanya tambahan trayek baru sehingga hampir menjangkau seluruh pelosok Nusantara. karena frekuensi dan jumlah kapal sudah semakin bertambah dan daerah yang dilintasi juga semakin luas. Dalam tahun 1983 telah disampaikan surat pos sebanyak 348 juta buah. Sedangkan dari segi kualitas antara lain ditandai dengan berhasilnya diadakan ikatan kontrak dengan perusahaan angkutan umum. angkutan pos me1alui darat pada umumnya lancar.68. Departemen Keuangan RI 236 . peredaran giro dan cekpos sebesar Rp 2.70 milyar. telah diadakan perjanjian kerjasama angkutan pos dengan perusahaan swasta. Guna menambah fasilitas alat angkutan pos untuk pemantapan waktu tempuh.

peningkatan pelayanan bagi wisatawan asing serta peningkatan keahlian dan keterampilan petugas-petugas yang menangani pariwisata.3 317. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agus.80 138.29 152.90 1984 2) 163.86 1. serta pengembangan mutu produk wisata Indonesia.9 1969 147 97.81 1970 159 106.75 1.29 1976 200. baik yang berupa rencana induk perencanaan.63 59. antara lain berupa peningkatan dan pembangunan daerah-daerah tujuan wisata.05 26.98 45. Pembinaan dan pengembangan obyek wisata sejak Pelita III hingga tahun pertama Repelita IV terutama ditujukan pada 10 daerah tujuan wisata (DTW) yaitu propinsi Sumatera Utara. 1969 -1984 Peredaran Tabungan Surat pos Weselpos dan cekpos Bank Tahun (juta ) ( mityar ( juta ( mityar 14.338. Untuk lebih meningkatkan arus wisatawan dari luar negeri.65 32. DKI Jakarta.56 1979 265. Dalam upaya mengembangkan obyek wisata yang tersebar di 10 DTW dan beberapa propinsi lainnya tersebut.358.19 1.48 1971 181.908.2 1.48 121.064.65 1974 187.558. kemudahan keimigrasian.94 1980 276. Selama Pelita III telah dilakukan langkah-Iangkah pembinaan dan pengembangan pariwisata.81 1978 252.5 204. serta pengenalan alam dan kebudayaan Indonesia.37 20.18 81.26 499.74 967.5 23.82 63.23 2.34 15.06 1981 1) 272.42 58.59 10.08 1982 299.3 1975 199.84 426.70 32.68 ARUS LALU LINTAS POS DAN GIRO.933.705.56 471. Jawa Tengah.771) 1983 348 2. juga dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan devisa.41 81.801 126. dan wisata remaja.8.60 445.414.29 840.063.71 1977 236.9 124.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 7.65 146.795.42 42. Jawa Barat. telah dilakukan berbagai usaha antara lain pembebasan visa selama 2 bulan bagi wisatawan dari 26 negara posaran wisatawan yang potensial.53 1972 196 157.7 660.569. Jawa Timur. Sumatera Barat.325.23 325.8 27.31 183. tapak kawasan dan detil desain Departemen Keuangan RI 237 .61 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.43 4.526.45 7.042.tus tahun 1984 telah dilaksanakan studi perencanaan pengembangan.113.16 20. Bali.00 174.850. Daerah Istimewa Yogyakarta.52 1973 176. Kepariwisataan Pembangunan di bidang pariwisata diarahkan selain untuk meningkatkan dan memperluas kesempatan kerja serta kesempatan berusaha.208.17 99. Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.5.

671 178. dengan pengeluaran rata-rata sebesar US $ 58.1) 5. Perkembangan bidang kepariwisataan dapat diikuti melalui Tabe1 VII.1983 Wisatawan Kamar hotel Biro Penerimaan Tenaga kerja (orang) (buah ) (juta US $) (orang) (kamar) 2.9 persen.000 313.1) 42.398 94.300 12. Selain itu juga dilakukan pembuatan bahan promosi/cetakan yang bertemakan "Indonesia destination of endless diversity" (Indonesia Departemen Keuangan RI 238 .151 3) 409 309.430 295 250.308 2) 600. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 638.8 1.278 3.5 juta.627 592.3 .156 ) 38.282 638. Sedangkan lama tinggal di Indonesia ratarata bagi wisatawan asing dalam tahun 1983 adalah 11. 1969 .360 34.781 2) 545 22.855 436 439.9 .303 2) 253 40. jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia baru sebanyak 592.0 2 38.850 221.046 426 358.3 . Dalam tahun 1982.046 orang.8 per malam sehingga jumlah seluruh pengeluaran wisatawan asing mencapai sekitar US $ 439.048 4.1) 11.100 2) 297 10.390 3.319 359 16. Dalam rangka perintisan pengembangan obyek-obyek wisata di luar 10 DTW.356 433.179 242 27. Tabel VII.69.452 414 54.2 8.300 2) 561.6 10. untuk mempromosikan dan menjual produk wisata Indonesia. Kegiatan di DTW tersebut telah menghasilkan peningkatan arus wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia.510 270.233 129. Bengkulu dan Kalimantan Tengah.575 2) 468.5 113.293 437 62. dalam tahun 1983 telah dilakukan usaha-usaha dan kegiatan pemasaran melalui koordinasi dan kerjasama terpadu guna menghadapi persaingan yang cukup ketat di pasaran pariwisata internasional.6 . serta pemandu wisata.8 7.960 21.7 2) 86.139.237 453 70.178 3) 330 289. Sed:mgkan guna menunjang ke1ancaran arus wisatawan sampai ke DTW.6 . penerbangan borongan yang langsung ke tempat obyek wisata.1) 42. sarana dan penunjang lainnya seperti tempat penginapan. dalam tahun pertama Repe1ita IV te1ah dipersiapkan pengembangan pariwisata di tiga propinsi yaitu Riau.621 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 3) 1983 1) Data tidak tersedia 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Untuk meningkatkan arus wisatawan baik asing maupun domestik. jasa biro perjalanan.7 malam per kunjungan. Kegiatan dan upaya tersebut antara lain meliputi pemasangan iklan pada media internasional.4 48.614 467 94. diusahakan peningkatan prasarana.928 38.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun lanjutan pembangunan fasilitas obyek-obyek wisata di DTW yang te1ah mantap pengembangannya.406 2) 501.855 orang.3 53.393 2) 464 81.69 PERKEMBANGAN DI BIDANG PARIWISATA.1) 31.972 86.925 401.766 366. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 7.1 112.

pengendalian.537 buah. Posisi ini tidak berbeda dengan keadaan tahun 1982. Bila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru mencapai 426 buah perusahaan. oleh karena dalam tahun 1983 pelaksanaan klasifikasi hotel terpaksa ditunda yang disebabkan adanya resesi dunia. telah diselenggarakan widya wisata. Di samping itu juga dilakukan monitoring. sedangkan yang belum diklasifikasikan berjumlah sebanyak 792 buah dengan kamar sebanyak 18. Kegiatan bina masyarakat dimaksudkan untuk membimbing. Hal itu sekaligus merupakan kesempatan bagi industri dan perusahaanperusahaan untuk melakukan kontak dagang dengan industri pariwisata dari berbagai negara yang ikut serta.090 buah. dan mengarahkan masyarakat untuk mendukung kebijaksanaan.3 persen. serta meningkatkan sadar wisata dari para pejabat. hotel-hotel dan biro perjalanan di dalam negeri. Garuda Indonesian Airways. pembinaan dan pengembangan wisata remaja di empat daerah. Selain itu telah pula digalakkan wisata di kalangan para remaja melalui pengadaan bahan-bahan informasi berupa buku petunjuk perjalanan wisata remaja. maka berarti terdapat peningkatan usaha baru sebanyak 10 buah perusahaan atau sebesar 2. pelayanan. dilakukan peningkatan kerjasama dengan media masa guna menyebarkan informasi kepariwisataan dan hasil-hasilnya. cabang biro perjalanan umum (CBPU) 108 buah perusahaan. Sementara itu untuk memperkenalkan secara lebih mendalam mengenai atraksi dan fasilitas wisata Indonesia. Demikian pula dengan biro perjalanan. budaya dan alam serta wisata marina. dalam setiap kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia sebagai negara tujuan wisata. dan agen perjalanan (AP) sebanyak 143 buah perusahaan. Di samping itu perwakilan Pusat Promosi Pariwisata Indonesia (P3I) di luar negeri juga telah berperanserta. secara aktif. yang memperoleh ijin usaha dalam tahun 1983 tercatat sebanyak 436 perusahaan. prosedur dan unsur-unsur lainnya yang berkaitan dengan kedatangan wisatawan asing di Indonesia. dan pemuka-pemuka organisasi dan masyarakat. Departemen Keuangan RI 239 . Melalui kerjasama dengan KBRI di luar negeri. jumlah tempat menginap yang telah mendapatkan klasifikasi hotel mencapai sebanyak 283 buah hotel berbintang dengan kamar sebanyak 20. yang terdiri atas biro perjalanan umum (BPU) sebanyak 185 buah perusahaan. Jawa Timur. program dan kegiatan yang dilakukan Pemerintah di bidang kepariwisataan. Dalam tahun 1983. Program tersebut ditujukan antara lain bagi kalangan pengusaha/pedagang dan wartawan dengan cara peninjauan langsung ke obyek-obyek wisata. yaitu Kalimantan Barat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 adalah tempat tujuan yang beraneka ragam tanpa putus-putusnya). Untuk menunjang kegiatan tersebut. yang selalu diterbitkan setiap tahun. Sulawesi Tengah dan Maluku. untuk mengetahui fasilitas. yaitu meliputi sejarah.

Hal tersebut tercermin antara lain dari tercapainya sasaran fisik sejak tahun pertama Pelita I sampai dengan Pelita III. Pelaksanaan pembangunan yang dilakukan dalam tahun pertama Repelita IV merupakan kesinambungan dari tahap-tahap Repelita sebelumnya. kebijaksanaan tersebut telah menurunkan jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Singapura sebesar 38 persen dalam tahun 1983. Pengairan Pembangunan di bidang pengairan dititikberatkan pada peningkatan produksi pangan terutama beras.1. seperti pembangunan waduk serba guna yang dapat dimanfaatkan untuk Departemen Keuangan RI 240 . dan sekaligus dimaksudkan untuk memperkokoh kerangka landasan dalam pencapaian sasaran Repelita IV. Berbagai kebijaksanaan tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan arus wisatawan pada waktu yang akan datang. Sementara itu guna membantu kelancaran arus wisatawan asing clari luar negeri. kini sedang dipersiapkan Rancangan Undang-undang Kepariwisataan Nasional. Pekerjaan umum Pembangunan di bidang pekerjaan umum yang meliputi bidang pengairan.sektor lainnya. cipta karya dan bina marga telah menunjukkan hasil yang semakin nyata di dalam menunjang dan mendukung keberhasilan pembangunan sektor-sektor lain. bila dibandingkan dengan tahun 1982. 7. yang antara lain disebabkan adanya kebijaksanaan Pemerintah untuk meningkatkan biaya fiskal perjalanan ke luar negeri. Untuk menunjang perkembangan pariwisata.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pariwisata dalam negeri pada tahun pertama Repelita IV mengalami peningkatan yang cukup tinggi. serta pelayanan telekomunikasi di tempat menginap. Di samping itu bidang pengairan telah pula menunjang kegiatan sektor. Di lain pihak. Selanjutnya kegiatan pemasaran dan promosi baik di dalam maupun ke luar negeri semakin ditingkatkan melalui pemasangan iklan dan penyebaran informasi mengenai atraksi dan fasilitas wisata Indonesia. yakni melalui usaha intensifikasi dan ekstensifikasi areal persawahan. sehingga dengan peningkatan produksi padi tersebut pada gilirannya pendapatan para petani juga dapat ditingkatkan. 7.9. antara lain berupa penambahan pintu masuk penerbangan dan pintu masuk pelabuhan laut. dilakukan peningkatan pemasaran dan promosi yang terpadu dan agresif berdasarkan penelitian yang menyeluruh. dan peningkatan atraksi wisata yang akan dapat meningkatkan clara saing produk wisatawan Indonesia. Dalam rangka itu antara lain dilakukan pembukaan areal persawahan baru terutama di luar pulau J awa.9. Selain itu telah pula disempurnakan koordinasi pemanfaatan obyek wisata.

Adapun hasil-hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan Pelita III meliputi perbaikan dan peningkatan irigasi seluas 386. serta Lombok Se1atan. sehingga program pembangunan Departemen Keuangan RI 241 . dan kemudian dalam tahun 1983/1984 telah mencapai seluas 88.000 hektar. Madiun. para pemilik tanahnya juga harus menunjukkan partisiposi yang tinggi dalam program irigasi dan pencetakan sawah baru.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan areal pertanian. Jawa Timur.500 hektar. Hal itu dilakukan dengan meningkatkan pelayanan produksi. pembangunan jaringan irigasi baru seluas 437.000 hektar dan Tabo-tabo seluas 11. Delta Brantas seluas 32. survai. dengan prioritas utama pada lokasi-lokasi yang memenuhi persyaratan yang ditentukan.100 hektar. telah disediakan air baku yang memenuhi syarat-syarat kesehatan bagi daerah pemukiman. guna mempercepat jangkauan fungsional pelayanan produksi dalam kawasan yang telah dikembangkan.000 hektar. Hal ini terutama diterapkan pada areal transmigrasi.000 hektar. pembangunan jaringan irigasi baru. Se1ain itu secara intensif juga mulai dilaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi di daerah Semarang Barat dan Simalungun. dilakukan pula penelitian. Dalam tahun 1982/1983 telah dilakukan perbaikan dan peningkatan areal irigasi seluas 72. serta penyelamatan hutan. telah dilakukan pengamanan terhadap daerah yang peka terhadap bencana banjir. pengembangan daerah rawa seluas 437. Pamali Carnal seluas 30. Ciujung seluas 24. pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan penyediaan air industri. Program pembangunan di bidang pengairan yang dilaksanakan dalam Pelita III mencakup masalah perbaikan dan peningkatan irigasi. sehingga mampu memberikan pelayanan yang le. Serayu. Sedangkan proyek-proyek yang sampai dengan akhir Pelita III sudah atau hampir terselesaikan antara lain berupa rehabilitasi jaringan irigasi utama Cisadane seluas 40. pembangunan jaringan irigasi baru dititikberatkan pada pembangunan irigasi sedang dan kecil. Sementara itu dalam tahun pertama Repelita IV te1ah dimulai pembangunan irigasi tersier dan drainase di daerah irigasi Cirebon. tanah dan air.600 hektar. Sedangkan untuk menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sedeku seluas 30.271 hektar. serta penyelamatan hutan.300 hektar.400 hektar dan 45. Persyaratan dimaksud adalah se1ain lokasi yang bersangkutan sangat memerlukan pembangunan irigasi guna menunjang peningkatan produksi pertanian.000 hektar. Selain itu guna melindungi kawasan pemukiman masyarakat pedesaan dan masyarakat lainnya.561 hektar. penyelidikan dan perancangan pengembangan sumber-sumber air. yang masing-masing mencakup wilayah se1uas 19. Untuk menunjang kegiatan tersebut.651 hektar.000 hektar. Pekalen Sampean seluas 229.468 hektar. Gambarsari seluas 20.271 hektar.bih cepat dan tepat melalui pemanfaatan sumber-sumber clara alam yang ada. Dalam waktu yang sarna. tanah dan air seluas 587. pengembangan daerah rawa.

600 hektar dan Way Pangubuan seluas 5. Dalam hubungan ini standar prasarana reklamasi daerah rawa te1ah ditingkatkan. dan Timor.500 hektar.200 hektar. agar dapat dilakukan pengaturan air dengan lebih baik. Cidurian se1uas 9. Jawa Timur. Kalimantan Barat. kecil dan sederhana.189 hektar. Riau. dan dengan biaya peme1iharaan yang lebih rendah. Bali. masing-masing adalah se1uas 108.271 hektar antara lain me1iputi proyek irigasi Krueng Jrue Kiri se1uas 2. Lampung. Sumatera Selatan. Penyelamatan hutan. sedangkan jaringan tersier dan drainasenya sedang dalam tarat penyelesaian. Sumatera Selatan. dan Kalimantan Selatan. Kegiatan tersebut juga mencakup proyek reklamasi rawa bukan posang surut yang terdapat di daerah Aceh. juga dimaksudkan untuk memperluas dan memperbaiki daerah pemukiman penduduk. Jambi. Kedu Selatan. yang sebagian besar merupakan lahan yang potensial untuk usaha tani. Jawa Tengah. Bengkulu. Sungai Dareh Sitiung. Way Rarem. . Way Jepara se1uas 6. Jambu Aye. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Ciletuh. Pemanfaatan daerah rawa selain ditujukan untuk memperluas areal pertanian yang ada. Se1ain dilakukan pengembangan irigasi sedang. Sedangkan hasil yang dicapai selama Pelita III meliputi areal seluas 456. Hasil yang telah dicapai dalam tahun terakhir Pelita III di bidang pengembangan daerah rawa meliputi areal seluas 86.900 hektar. Pada Waras. tanah dan air dimaksudkan guna meningkatkan pengamanan Departemen Keuangan RI 242 .400 hektar. Dalam tahun pertama Repe1ita IV pembangunan daerah rawa masih me1anjutkan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan se1ama Pe1ita III. Selama masa Pelita III te1ah dibangun jaringan irigasi baru pada areal se1uas 437. Kalimantan Timur. Gumbasa seluas 7. te1ah dilaksanakan melalui kegiatan pengembangan pengairan posang surut di daerah Riau.607 hektar dan 39.500 hektar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jaringan irigasi terse but sekaligus dapat menunjang keberhasilan program transmigrasi. Hasil-hasil yang te1ah dicapai di bidang pembangunan irigasi baru se1ama dua tahun terakhir pe1aksanaan Pe1ita III. seperti daerah Yogyakarta Se1atan. Be1itang se1uas 19.000 hektar. yaitu dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984. Sumatera Barat. antara lain berupa penyempurnaan jaringan reklamasi daerah rawa serta perluasan dan penambahan areal pertanian baru. Batang Gadis. Lodoyo se1uas 12. juga dilanjutkan pembangunan prasarana irigasi baru yang lebih besar. Teluk Lada. Wawotobi. Lombok. Untuk seluruh proyek terse but sudah dapat dise1esaikan jaringan irigasi utamanya. Bali. dan Dumoga.680 hektar. Jambi. Sumatera Utara. Kegiatan lain daripada program ini adalah pengembangan air tanah bagi daerahdaerah pertanian yang berlahan kering dan rawan yang langka air permukaan. Kalimantan Barat. Adapun proyek-proyek yang masih terus ditingkatkan pembangunannya me1iputi proyek irigasi Krueng Baro.729 hektar.

Perumahan rakyat dan pemukiman Salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dilakukan melalui peningkatan pembangunan di bidang perumahan rakyat dan pemukiman. Proyek-proyek terse but terdiri atas proyek Bengawan Solo. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi pengaturan dan pengamanan sungai. yaitu berupa pengerukan dasar sungai. kebutuhan air bersih untuk pemukiman penduduk. baik bagi para petugas maupun bagi penduduk setempat. yaitu tercapainya areal seluas 1. pembuatan sudetan. serta latihan penanggulangan banjir. yang dilaksanakan secara khusus melalui proyekproyek pengaturan dan pengamanan sungai besar. 7. Di samping itu juga ditujukan untuk mengembangkan pemanfaatan sumber-sumber air sungai yang memiliki potensi tinggi dalam memenuhi keperluan sektor pertanian. Untuk menanggulangi bencana banjir lahar sebagai akibat dari meletusnya gunung-gunung berapi seperti di sekitar daerahdaerah gunung Merapi. sungai Brantas dan pengendalian banjir Jakarta.680. sungai Arakundo. gunung Agung dan gunung Galunggung.573 hektar. dan dewasa ini secara langsung telah dapat menunjang program intensifikasi produksi pertanian.100 hektar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 daerah produksi pertanian. telah dilaksanakan pula pembangunan waduk-waduk besar. dalam Pelita III telah meperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan. dan daerah industri terhadap gangguan bencana banjir.9. pembuatan pintu-pintu banjir. pembuatan tanggul. tanah dan air seluas 587. proyek itu juga dimaksudkan untuk menunjang sektor industri. seperti waduk Wonogiri yang sudah berfungsi dan Wadas Lintang yang sedang dalam tahap penyelesaian. Selain itu program ini juga dimaksudkan untuk mengamankan sungai-sungai yang merupakan sumber-sumber air bagi jaringan irigasi yang telah ada. daerah pemukiman penduduk. Citanduy. Dalam hubungan ini. Selain untuk pengendalian banjir. Pembangunan jaringan tersier dilaksanakan melalui pemanfaatan jaringan-jaringan irigasi yang telah dibangun. maka dilakukan pembangunan dan pengendalian kantong posir (check dam) serta tanggul. Selama 5 tahun Pelita III telah berhasil dilakukan penyelamatan hutan. Cisanggarung.698 hektar. gunung Semeru. pembuatan saluran banjir. Sehubungan dengan Departemen Keuangan RI 243 . sungai Ular. keperluan air industri untuk pembangkit tenaga listrik serta kebutuhan air di pelabuhan.601 hektar dan 63. Pengutamaan kegiatan pada program jaringan tersier. baik untuk keperluan industri maupun rumah tangga. gunung Kelud. perlindungan dan perkuatan tebing. seperti pembangunan pembangkit tenaga listrik dan penyediaan air. di antaranya yang dilakukan dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 masing-masing seluas 248.2. perluasan aliran.

kesehatan lingkungan. produksi bahan bangunan lokal.701 hektar yang dapat memberikan manfaat bagi 1.183. perbaikan kawasan pusat kota bagi kota-kota sedang dan kecil termasuk lingkungan kawasan posarnya. perbaikan saluran pembuangan air hujan. pembinaan kesejahteraan ibu dan anak (PKK). bina usaha dan bina manusia. terutama yang berkaitan dengan masalah pembiayaan. Sehubungan dengan itu. Kegiatan tersebut juga berupa pengadaan sarana fasilitas sosial lainnya seperti Puskesmas. Pembangunan perumahan rakyat dan pemukiman tersebut pada dasarnya merupakan tanggung jawab masyarakat itu sendiri dengan mendapatkan bantuan dan pembinaan dari Pemerintah. Kebijaksanaan pembangunan di bidang pemukiman rakyat sangat erat kaitannya dengan kebijaksanaan di sektor lainnya seperti kependudukan. pembangunan perumahan rakyat dan pengembangan pemukiman penduduk diarahkan untuk dapat tersebar ke berbagai lokasi pemukiman yang meliputi sekitar 6. serta kegiatan-kegiatan lainnya yang ditujukan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah perkotaan. Kebijaksanaan umum yang ditempuh di bidang ini antara lain dengan melibatkan masyarakat sebanyak mungkin. pemugaran perumahan desa dan pembinaan yang menunjang kegiatan tersebut. perintisan perbaikan lingkungan perumahan kota. dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan perbaikan kampung pada 190 kala. Departemen Keuangan RI 244 . perintisan peremajaan kota.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 itu. serta pengembangan kredit pemilikan rumah (KPR). gedung sekolah dasar. penanggulangan sampah lingkungan. keserasian pembangunan daerah. pembuangan air limbah rumah tangga dan pengadaan air bersih.000 desa pada 200 kota. Kegiatan perbaikan kampung di daerah perkotaan mencakup bina lingkungan. Sehubungan dengan itu kini sedang dikembangkan suatu sistem yang lebih terarah dan terpadu. Pembangunan perumahan rakyat terutama ditujukan untuk meningkatkan perbaikan kampung/lingkungan pemukiman kota. pertanahan. meliputi areal seluas 3. pembangunan perumahan rakyat. terutama yang menyangkut peningkatan mutu kehidupan masyarakat banyak yang berpenghasilan rendah. pemukiman serta tataguna tanah perkotaan dan pedesaan.220 orang penduduk kampung. yang sebagian besar penduduknya berpenghasilan rendah.980 hektar.436. yang antara lain berupa perbaikan jalan lingkungan dan jalan setapak. yang dapat memberikan manfaat langsung kepada 5. di samping tetap memperhatikan aspek-aspek pemerataan dan keterjangkauan khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dan menengah. perluasan kesempatan kerja. perkreditan.600 penduduk di berbagai propinsi. Program perumahan rakyat mencakup perintisan pemugaran perumahan desa. serta riset dan teknologi. Adapun secara keseluruhan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah berhasil dilaksanakan perbaikan kampung seluas 17.

734 7.71. 8.730 34 64 64 1. Di samping itu terdapat pula perumahan yang dibangun oleh PT Departemen Keuangan RI 245 . sehingga seluruhnya berjumlah 192.166 3.504 250 282 282 4 278 200 500 300 200 500 300 300 200 200 200 356 216 572 9.l. 110 unit rumah sederhana.8642) 522 2.500 1. 71 PEMBANGUNAN PERUMAHAN RAY AT OLEH PERUMNAS.190 1.666 2.900 2.192 1. Dalam tahun 1983/1984. 22.542 1.900 194 1.323 unit rumah dan 104.805 27. 3.250 1.696 23.891 2.252 1.000 hektar.563 unit rumah.480 1.300 2. 18.090 4.620 8.718 3. BTN juga mengadakan kerjasama dengan perusahaan pembangunan perumahan swasta.046 1.230 3.518 2. Selain dengan Perum Perumnas.500 3.024 unit rumah susun.212 9. 11.584 3. 19.216 5. Adapun selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III.946 1.230 1. 27.594 1. jumlah keseluruhan rumah siap huni yang telah selesai dibangun mencapai 81.537 unit.l. 7.342 1.000 612 612 600 200 700 500 452 600 450 540 306 680 986 148 406 1. Perkembangan jumlah perumahan yang dibangun oleh Perum Perumnas dapat dilihat pada Tabel VII.479 3. 4.948 368 11.500 6.050 49.212 1'49 1.014 500 1. Perum Perumnas telah membangun sebanyak 12.366 Rumah Jumlah sederhana 4.872 6. 17. Ace h Sumatern Utara Sumatern Barat Ria u J ambi Swnatern Selatan Bengkulu Lampung DK1Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D. yang bertujuan untuk membangun perumahan rakyat bagi mereka yang berpenghasilan menengah dan tinggi. Tab eI VII.680 unit rumah sederhana.914 12. Pengadaan perumahan rakyat bagi masyarakat berpenghasilan rendah selama ini telah dilaksanakan melalui Perum Perumnas yakni berupa pemberian fasilitas KPR dari Bank Tabungan Negara (BTN). D.838 134 250 - Rumah 4) Jumlah sederhana 388 13.060 1.uk rumah susun don RKTM Rumah sederhana 3.654 7.136 478 10 1.742 2. 8.774 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Hal ini berarti bahwa selama periode tersebut pelaksanaan program perbaikan kampung telah dapat melampaui target yang direncanakan dalam Repelita III seluas 15.009 1.234 2.003 Propinsi I.466 158 304 432 238 218 806 482 281 389 8. Sedangkan yang dibangun tanpa dukungan KPR masing-masing telah mencapai sebanyak 81.412 368 500 90 23.268 400 140 1.264 534 216 300 502 200 688 43 400 2. 25.457 500 1.596 1.078 1978/1979 Rumah inti 898 12. dan 640 unit rumah susun.628 3.552 5.504 171 278 500 92.953 20.576 4. 13.963 rumah siap huni yang terdiri atas 3. 21.856 746 2.269 unit rumah inti dan 3.314 333 1.078 1.712 29.736 1.018 4. 15.988 148 935 2. 14. hasil yang telah dicapai oleh Perum Perumnas dan non Perumnas yang mendapat dukungan KPR masing-masing sebanyak 88.523 12.523 unit rumah inti dan 760 unit rumah susun.020 3.852 unit rumah.500 444 198 21.032 522 300 822 522 140 58 7.014 100 100 508 354 862 514 500 764 534 140 324 324 534 534 300 500 1.610 19.386 1.288 Jumlah I) Angkadiperbaiki 2) Termasuk Tangerang dan Depok 3) Sejak tahun 1980/1981 pada rumah sederhana termasuk rumah susun 4) Sejak tahun 1983/1984 rumah sederhana terma.200 9.508 830 830 4.098 882 1. Selama Pelita III. 50. 2. 9.500 2.222 768 20. 1978/1979 .704 1.087 9.764 600 1.094 158 286 444 286 158 510 1.212 400 600 1.176 8 1. 24.517 13.580 42.964 Pembangunan rumah dengan dukungan KPR dari BTN telah pula ditingkatkan dan dikembangkan hampir di seluruh ibukota propinsi dan ibukota kecamatan.186 9.400 4.192 1.510 7.166 34 4.563 unit rumah.846 1.289 unit rumah dan 104.078 200 120 340 1.326 1. 26. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 juga telah seksai dibangun sebanyak 1.078 200 216 216 216 500 500 216 216 300 502 304 806 200 32 120 656 656 32 688 340 400 400 400 134 480 480 2.264 240 1. 20. terdiri atas 787 unit rumah inti. 5. 10.1983/1984 ( dalam unit rumah ) 1979/1980 1982/1983 1980/1981 1981/1982 Rumah Rumah3) Rumah Rumah 3) Rumah Rumahh3) Rumah inti Jumlah sederhana inti Jumlah sederhana inti inti Jumlah sederhana 388 388 388 388 388 3.070 Sulawesi Tenggara Maluku Irian Jaya Timor Timor 49.764 1. 16. sehingga keseluruhannya berjumlah 185.230 200 11.230 1.606 15. terdiri atas 28.200 4.323 unit. 12.299 935 24. 23.386 12. Yogyakarta Jawa TImur BaIi Nusa Tenggara Barut Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Belatan Kalimantan Timur 200 Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan 1. 6.441 1983/1984 1) Rumah inti Jumlah 606 606 638 787 706 727 1.030 unit rumah sederhana.886 unit rumah.

281 unit. juga meliputi perbaikan jalan lingkungan desa. khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas. pembuatan saluran pembuangan air kotor sepanjang 25.923 desa yang terse bar di 25 propinsi kecuali propinsi OKI Jakarta dan Irian Jaya. telah dilaksanakan dengan pembuatan model bangunan sederhana pengolah air yang disebut embung-embung. dan juga aparat Pemerintah daerah. peningkatan keterampilan. Selain itu juga dimaksudkan untuk menunjang pelaksanaan proyek perintis perbaikan lingkungan perumahan desa (P3LPD). serta penelitian perumahan rakyat baik yang bersifat nasional maupun regional. Adapun unit usaha pengolahan air bersih yang menggunakan Departemen Keuangan RI 246 . di samping juga telah dilakukan di 120 desa dalam rangka penanggulangan bencana alam atau penanggulangan darurat. maka dilakukan pula kegiatan-kegiatan penunjang yang bertujuan untuk memudahkan pelaksanaan program perumahan rakyat secara keseluruhan. dan pengadaan peralatan penukangan sebanyak 1. juga telah banyak memberikan sumbangannya dalam pembangunan perumahan. perbaikan kampung dan pemugaran perumahan desa. kemampuan dan keterampilan masyarakat luas. Pemugaran perumahan pedesaan dimaksudkan agar sebanyak mungkin rakyat desa dapat mendiami rumah dan lingkungan yang sehat. Sedangkan pembangunan jalan lingkungan desa telah diselesaikan sepanjang 990. Adapun perusahaan-perusahaan pembangunan perumahan swasta yang tergabung dalam perusahaan Real Estate Indonesia (REI). yang selama Pelita III telah mencapai sebanyak 1.444 meter.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Papan Sejahtera atas dukungan KPR. Pembinaan di bidang pembangunan perumahan rakyat tersebut telah dilaksanakan melalui Pusat Informasi Teknik Bangunan (PITB). Kegiatan penelitian di bidang air bersih dan kesehatan lingkungan pemukiman. Kegiatan terse but antara lain berupa pembinaan umum pembangunan perumahan rakyat. dengan mengarahkan agar dapat dilakukan secara mandiri melalui rumah percontohan dan penyuluhan yang diberikan. pembangunan sarana MCK sebanyak 993 unit. Selain pengadaan perumahan rakyat.281 unit. serta perintisan unit produksi bahan bangunan setempat. penyediaan air bersih. pengadaan sarana air bersihsebanyak 1. dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran. Selama Pelita III telah dilaksanakan pemugaran perumahan di 4.214 meter. proyek perintis perbaikan lingkungan perumahan kota (P3LPK). serta usaha-usaha lain di bidang pemukiman. perintisan pengadaan produksi bahan-bahan bangunan setempat. motivasi. yang dimaksudkan untuk mencukupi keperluan air bersih di propinsi Nusa Tenggara Timur. Pada dasarnya kegiatan tersebut merupakan usaha gotong royong masyarakat desa yang bersangkutan dengan mendapatkan bantuan dan bimbingan dari Pemerintah. pengadaan sarana mandi-cuci-kakus (MCK). pengetahuan. Kegiatannya selain mencakup pemugaran rumah-rumah desa.243 unit rumah.

serta sambungan ke rumah-rumah guna mencapai tingkat pelayanan penduduk semaksimal mungkin.660 jiwa penduduk di 357 kota. telah dibangun di propinsi Kalimantan Selatan. dalam tahun 1983/1984 telah dibentuk 28 badan pengelola air minum (BPAM). selama Pelita III telah dilaksanakan perbaikan sarana lingkungan kota termasuk persampahan di 15 kala. Dalam tahun 1983/1984 telah dapat diposang sambungan rumah sebanyak 69. tersebar di 710 kota besar. termasuk ibukota kecamatan (IKK) yang terdapat di seluruh propinsi. sedang dan kecil termasuk IKK. Pembangunan di bidang sanitasi lingkungan meliputi kegiatan kebersihan kala. 390 di antaranya ditangani dengan sistem IKK sepenuhnya. telah dapat dilakukan penambahan kapositas produksi air bersih sebesar 5. Sejalan dengan makin meningkatnya kebutuhan air bersih. sehingga dapat melayani penduduk dengan baik terutama berdasarkan kemampuannya sendiri.082. dalam Pelita III telah dilakukan peningkatan dan pemerataan pelayanan air bersih. dan hidran umum sebanyak 9.309 buah. mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan proyek air bersih di berbagai kala di seluruh propinsi.520 jiwa di 25 propinsi kecuali Sumatera Barat dan Jawa Barat. Dalam hubungan ini.254 liter per detik. 139 dengan sistem BNA (basic need approach). khususnya bagi penduduk yang berpenghasilan rendah. Kegiatan terse but ditujukan untuk meningkatkan mutu lingkungan pemukiman terutama dalam mencegah berjangkitnya penyakit.651 hidran umum yang mampu melayani 1.146 buah dan 2. selama lima tahun pelaksanaan Repelita III jumlah sambungan rumah yang telah dipasang mencapai 227. Sehubungan dengan itu. terus diusahakan. rnaupun kota-kota kecil. sedangkan sampai dengan tahun terakhir pelaksanaan Pelita III jumlah seluruh BPAM telah mencapai 150 buah. Kegiatan program penunjang air bersih dilakukan untuk mempersiapkan. Hal itu dilaksanakan melalui peningkatan penyediaan dan pemasangan hidran umum.322 buah. serta pembangunan sarana pembuangan air kotor dan saluran pembuangan air hujan. termasuk Departemen Keuangan RI 247 . dan 98 sisanya melalui Inpres kesehatan. telah mencapai 18.221. yang dapat melayani penduduk sebanyak 4.5 liter per detik untuk kota. dan sejalan dengan itu dilakukan pula usaha peningkatan keterampilan tenaga-tenaga teknisi air bersih.137. Sedangkan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III kapositas produksi air bersih. Dalam tahun terakhir pelaksanaan Pelita III.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tanah gambut sebagai bahan pengolahannya. Di samping itU selama periode tersebut juga telah berhasil dilakukan pengadaan air di 627 IKK. Dengan demikian. terus dilakukan upaya pengadaan dan penyediaan air bersih yang dapat menjangkau baik kota-kota-besar. sedangkan untuk pembangunan sarana pembuangan air kotor telah selesai dibangun instalasi pengolahan air kotor. Peningkatan status BPAM menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (POAM). Sejalan dengan itu.

Di daerahdaerah yang telah menunjukkan perkembangan yang relatif tinggi. terutama arus-arus jalan yang mempunyai nilai sosial dan ekonomi yang tinggi. Selain itu kini sedang dilakukan juga pembangunan sarana pembuangan air kotor di kota Bandung. Dengan demikian prioritas utama kegiatannya diberikan kepada perbaikan dan peningkatan jalan yang menghubungkan antara pusat-pusat produksi dengan daerah-daerah pemasaran dan pelabuhan. Prasarana jalan dan jembatan Pelaksanaan pembangunan jalan selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pelayanan jaringan jalan yang tersebar di seluruh Indonesia agar dapat melayani lalu lintas yang semakin berkembang. serta program pembangunan jalan dan jembatao baru. prosedur pengadaan bangunan negara. serta rencana tataruang daerah yang diperuntukkan bagi sebanyak 61 daerah yang tersebar di berbagai propinsi di seluruh Indonesia. Jakarta dan Medan. Di sam ping itu pembinaan jaringan jalan ditujukan untuk meningkatkan pengangkutan barang dan jasa dari pusat-pusat produksi ke daerah-daerah pedesaan. dalam rangka tertib bangunan telah disusun berbagai peraturan antara lain mengenai standar. serta untuk mendorong mobilitas manusia sekaligus mengembangkan dan meratakan pembangunan beserta hasil-hasilnya di seluruh nusantara. penunjangan jalan dan jembatan.3. Sampai dengan tahun 1983/1984 telah dibangun saluran pembuangan air hujan di 25 kala yang tersebar di berbagai daerah. masyarakat pemakai jalan ikut membiayai jalan-jalan baru melalui sistem tol. Selama Pelita III telah disusun rencana tataruang kala sebanyak 176 kota. semakin meningkat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jaringan pipanya di Tangerang. serta jalan-jalan yang membuka daerah-daerah yang potensial tetapi masih terisolir. baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah maupun swasta. Kegiatan yang telah dilakukan sampai dengan tahun pertama Repelita IV meliputi programprogram rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan. Bidang rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan telah dapat memperbaiki kerusakan-kerusakan setempat pacta ruas-ruas jalan arteri dan kolektor yang telah mempunyai kondisi fisik yang mantap. peraturan bangunan nasional. Untuk itu terus ditingkatkan keselamatan bangunan-bangunan umum agar tidak cepat rusak.9. dan mendapatkan sinar matahari yang cukup. Mengingat bahwa pembangunan gedung-gedung. sehingga Departemen Keuangan RI 248 . aman dari bahaya kebakaran. 7. tidak mudah runtuh. bebas dari genangan banjir. maka diperlukan pengaturan dan pembinaannya agar pelaksanaan dan pemanfaatannya dapat berdaya guna dan berhasil guna. serta model peraturan setempat di kola kabupaten dan kotamadya. Di lain pihak. peningkatan jalan dan penggantian jembatan. pedoman pelaksanaan.

maka pada akhir Petitt III jalan mantap telah meningkat menjadi sebesar 36 persen dan jalan tidak mantap berkurang menjadi 64 persen. Dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 telah dilakukan penggantian jembatan sepanjang 8. Hasil yang telah dicapai selama Pelita III adalah meliputi pembangunan sepanjang 1.272 km.768 meter dan 7.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jalan terse but tetap terpelihara. di antaranya dalam tahun 1982/1983 sepanjang 18.381 km. Pembangunari jalan baru ditujukan untuk dapat melayani pertumbuhan lalu lintas baik di daerah perkotaan. sehingga mampu memenuhi kebutuhan pertumbuhan lalu lintas yang terus meningkat pada arus-arus jalan tersebut.887 meter daiam tahun 1983/1984.412 meter. Apabila dalam tahun 1982/1983 Departemen Keuangan RI 249 . Hasil yang dicapai dalam program tersebut selama Pelita III meliputi jalan sepanjang 31. maka pada akhir Pelita III telah dapat diatasi seluruhnya. dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 2. diantaranya dalam tahun 1982/1983 telah dilaksanakan sepanjang 3. Hasil yang telah dicapai selama Pelita III meliputi peningkatan jalan sepanjang 90.414 km dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 4.749 meter. Di lain pihak jalan mantap dan tidak mantap yang pada akhir Pelita II masing-masing adalah sebesar 13 persen dan 65 persen. Sedangkan peningkatan jembatan selama Pelita III telah mencapai sepanjang 14.393 meter telah dilaksanakan dalam tahun 1982/1983 dan 3.841 km.448 km. dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 15. Hasil yang cukup baik tersebut tampak pada kenyataan bahwa jalan kritis yang pada akhir Pelita II masih sekitar 22 persen. di antaranya dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984. termasuk di antaranya yang dicapai dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 masingmasing sepanjang 8. Sedangkan kegiatan rehabilitasi dan pemeliharaan jembatan selama Pelita III telah mencapai 41.848 meter.384 km jalan dan 6. sehingga dapat melayani pertumbuhan lalu lintas dalam jangka pendek sebelum jalan tersebut ditingkatkan luasnya.308 meter.971 km. Sementara itu program peningkatan jalan dan penggantian jembatan telah dapat meningkatkan jumlah jaringan jalan arteri dan jalan kolektor ke dalam kondisi mantap. Kegiatan yang dilakukan di bidang penunjangan jalan dan jembatan telah dapat memperbaiki kondisi jalan yang tidak mantap dan kritis menjadi baik. Selama Pelita III telah dapat ditingkatkan jalan sepanjang 10.527 meter. maupun dalam rangka pembukaan hubungan lalu lintas ke daerah yang terpencil.708 km. yaitu sepanjang 4.868 meter jembatan.0'55 meter. sedangkan secara keseluruhan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III mencapai 42.212 meter dan 10. sedangkan beberapa ruas jalan telah beberapa kali mengalami perbaikan.547 km. termasuk di antaranya yang dicapai dalam tahun 1982/1983 sepanjang 9. selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah mencapai 141.488 meter dan 24.059 meter. masing-masing mencapai 36. terisolir dan daerah pemukiman transmigrasi. Adapun di bidang penunjangan jembatan.943 km.

telah dilakukan bantuan penunjangan jalan kabupaten. dalam tahun 1983/1984 telah dapat diperbaiki seluruhnya. terutama untuk menghapuskan ruas-ruas jalan pada kondisi kritis dengan kepadatan lalu lintas yang relatif rendah.044 km dalam tahun 1983/1984.633 ton.956 km. Sedangkan jalan agreget padat tahan cuaca (Japat) digunakan untuk kegiatan penunjangan jalan. telah dapat digunakan untuk peningkatan jaringan jalan antara lain meliputi lapisan tipis aspal Buton murni (Latasbum) dan lapisan aspal Buton dengan batu pecah agreget (Lasbutag).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jumlah jalan mantap mencapai 12.383 ton dan untuk seluruh Pelita III sebanyak 1.000 kendaraan per hari. perkebunan dan industri kecil di pedesaan.399.781 meter. dengan lebar perkerasan jalan sekitar 7 meter. Sementara itu guna memperlancar pemasaran hasil produksi pertanian. Departemen Keuangan RI 250 . Kedua lapisan aspal tersebut digunakan untuk kondisi jalan dengan kepadatan lalu lintas sekitar 3. dan sistem pengelolaannya. Hasil penelitian yang dilakukan selama Petita III. dan penunjangan jembatan sepanjang 51. dalam periode yang sarna jumlah jalan tidak mantap telah diturunkan dari sepanjang 25. Pembangunan di bidang jalan dan jembatan dapat dilihat pada Tabel VII. juga ditujukan untuk mengadakan penelitian mengenai peningkatan mUlti produksi dalam negeri. selain untuk meningkatkan produksi aspal dalam negeri. penunjangan jembatan sepanjang 19.568 meter. Sedangkan jumlah jalan kritis yang dalam tahun 1982/1983 mencapai sepanjang 900 km. maka dalam tahun 1983/1984 telah ditingkatkan menjadi 13. 72. Di lain pihak. Dengan penggunaan cara/sistem tersebut maka dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 masingmasing telah digunakan aspal Buton sebanyak 452. Sementara itu penggunaan aspal Buton terus dikembangkan. baik yang menyangkut kegiatan perdagangan dan produksi.418 km. Kegiatan tersebut ditingkatkan melalui penyediaan peralatan jalan dan peningkatan kemampuan teknis di lapangan.208 km dalam tahun 1982/1983 menjadi sepanjang 25. sistem distribusi.943 ton dan 453.326 km. Hasil yang dicapai dalam tahun 1983/1984 di bidang penunjangan jalan kabupaten meliputi sepanjang 7.396 meter dan penggantian gorong-gorong sepanjang 59.392 km. Selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah berhasil ditingkatkan penunjangan jalan kabupaten sepanjang 40. maupun dalam rangka penyebaran penduduk dan penghapusan isolasi daerah-daerah terpencil. Berhasilnya pembangunan jalan dan jembatan terse but pada gilirannya telah dapat meningkatkan kelancaran mobilitas antardaerah.

488 1983/84 4. termasuk daerah-daerah pemukiman baru.199 1) Dalam Pelita llI.1984/1985 1971/72 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 30.397 1.034 1.103 1982/83 9. Sementara itu dengan adanya penyebaran penduduk yang kurang merata.834 115 26.894 3. Penunjangan 2) 920 746 27 4.502 331 1.605 920 111 18.305 8.128 775 1. sedangkan dalam periode 1980-1990 diperkirakan menurun menjadi sekitar 2.749 3.566 8.943 10.075 2.700 3.579 1.779 546 230 2. Kependudukan dan transmigrasi 7.212 4. penunjangan menjadi satu dengan peningkatan 3) Angka sementara 7. diusahakan untuk mempercepat turunnya tingkat kelahiran.10.011 5. sebanyak Departemen Keuangan RI 251 .825 1.399 1.390 3.502 2. Pemeliharaan 1) 2. Guna mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk tersebut. Peningkatan 4.887 829 757 145 8.165 110 8. Dengan pertumbuhan yang relatif masih cukup tinggi ter3ebut.673 1.514 9.745 1.272 400 18.956 1. Pemeliharaan 1) 2.301 3.889 936 68 21.500 - 1970/71 10. dalam periode 1971-1980 meningkat menjadi sebesar 2.526 5.1 persen.224 1.074 6.583 8. Di samping itu juga oleh adanya struktur umur yang kurang seimbang serta kualitas penduduk yang relatif masih rendah. yang setiap tahun jumlahnya diperkirakan bertambah sekitar 1. Kenaikan tersebut terutama disebabkan karena masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk.393 2.381 8.226 1.010 125 2.928 4.105 25.580 1.515 3. 1969/1970 . jumlah penduduk Indonesia dalam tahun 1985.154 2.262 60 12.544 507 2. Jika dalam periode 19601971 tingkat pertambahan penduduk adalah sebesar 2.055 1984/85 157 3.841 2.916 688 10.789 4.013 3.72 PEMBANGUNAN DI BIDANG PRASARANA jALAN DAN jEMBATAN.5 juta.610 375 28.464 3.782 6. Jumlah penduduk Indonesia dalam tahun 1980 adalah sebanyak 147. Keadaan penduduk tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan bidang ketenagakerjaan. Kependudukan Masalah pokok di bidang kependudukan dalam tahun kedua Repelita IV terutama ditandai oleh besarnya jumlah penduduk. Rehabilitasi 3.482 1.928 23.787 1.356 1. Pembangunan baru 5.579 - 1981/82 7.419 1.448 174 15.1 juta.685 221 18. pertumbuhan yang cukup tinggi dan penyebaran yang kurang merata. Rehabilitas! 3. telah ditetapkan kebijaksanaan yang bersifat menyeluruh dan terpadu dan dititikberatkan pada perluasan kesempatan kerja yang produktif dan renumeratif.502 840 - 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 T abe I VII.560 913 4. tahun 1990 dan tahun 2000 diperkirakan akan meningkat masing-masing menjildi 165 juta jiwa.317 4. dan sekaligus bertujuan untuk meningkatkan pemerataan pendapatan dan kegiatan pembangunan.3 persen.387 735 47 6. 184 juta jiwa dan 223 juta jiwa. Peningkatan 4. Penunjangan 2) Jembatan (m) 1.1. dan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 158. Pembangunan baru 5.294 916 148 2.602 4.5 juta orang selama kurun waktu tersebut.858 2.367 521 16. Oleh karena itu di dalam melaksanakan pembinaan dan penempatan tenaga kerja.108 36.700 - 2.132 1.0 persen.482 4.887 826 24. pemeliharaan menjadi satu dengan rehabilitasi 2) Dalarn Pelita I dan ll.414 3.651 1969/70 J a I a n (km) 1.982 1.454 27.10. antara lain melalui perluasan dan intensifikasi pelaksanaan program keluarga berencana ke seluruh wilayah dan lapisan masyarakat.029 2.730 994 684 51 4. terutama dalam mewujudkan lapangan kerja baru bagi angkatan kerja.

Di lain pihak. Sebagai akibatnya apabila dalam tahun 1980 jumlah penduduk yang berumur 0-14 tahun baru mencapai sebanyak 59. Sebagai akibatnya. diperkirakan sebanyak 41. Dengan adanya ketimpangan penyebaran penduduk tersebut.3 juta.6 juta dan 11. di samping dialaminya tekanan penduduk yang mencapai kepadatan 747 orang per kilometer persegi.2 juta orang. Tingkat kenaikan tersebut berarti masih di alas pertumbuhan penduduk dalam periode 1980-1990 yang diperkirakan mencapai sekitar 2. Oleh karena itu guna memungkinkan pendayagunaan sumber daya alam secara optimal.5 persen per tahun. Sementara itu dengan adanya peningkatan penyediaan fasilitas pendidikan. di wilayah Sumatera.8 persen. dikembangkan pula penelitian di bidang kependudukan yang sekaligus dimaksudkan untuk memanfaatkan sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan pembangunan. Masalah lain di bidang kependudukan adalah kurang seimbangnya struktur umur penduduk. Demikian pula halnya dengan jumlah angkatan kerja. jumlah angkatan kerja dalam kelompok umur 10-14 tahun diperkirakan akan terus menurun baik secara proposional Departemen Keuangan RI 252 .90 per seribu. 14 orang dan 60 orang per kilometer persegi.72 per seribu. dalam periode 1986-1990 dan 1990-1995 masing-masing diperkirakan sebesar 31.9 persen dari seluruh angkatan kerja juga berada di pulau Jawa.6 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 98.2 juta jiwa atau 62.9 juta. 69. Selain itu dalam rangka meningkatkan kesadaran serta pengetahuan di bidang kependudukan. Dengan demikian kepadatan penduduknya hanya mencapai 67 orang. 7.26 per seribu dan 28.7 juta orang. apabila dalam tahun 1983 baru mencapai 63. masing-masing diperkirakan akan meningkat menjadi 64. sumber daya alam tidak dapat dikelola secara efektif. di lain pihak di daerah yang jarang penduduknya. jumlah penduduknya hanya sebanyak 31.7 persen dari seluruh wilayah Indonesia. dalam tahun 1988 diperkirakan akan meningkat menjadi 71. berada di pulau Jawa yang luas wilayahnya hanya sekitar 7 persen dari seluruh wilayah Indonesia. atau 61. kepadatan serta proyeksinya sampai dengan tahun 1984 dapat dilihat pada Tabel VII.73. penyebaran penduduk terutama ditujukan pada tercapainya perimbangan yang lebih serasi antara sumber daya alam dan sumber daya manusia. Perkembangan penduduk Indonesia. tahun 1990 dan tahun 2000. Hal ini terutama disebabkan karena masih cukup tingginya tingkat kelahiran. dalam tahun 1985.1 juta orang dan 76. maka di satu pihak sumber daya alam di daerah padat penduduk mengalami tekanan eksploitasi yang berlebihan. yang masing-masing luasnya sekitar 26.7 juta. terutama pada seko}ah dasar (SD) dan sekolah menengah tingkat pertama (SMTP).7 juta orang. yaitu apabila dalam periode 19811985 tingkat kelahiran mencapai 33.0 persen per tahun.9 juta orang.1 persen dari sebanyak 161. dan 9. yang ditandai dengan besarnya jumlah penduduk berusia muda.7 juta orang atau suatu kenaikan rata-rata sebesar 2.6 juta penduduk dalam tahun 1984. Kalimantan dan Sulawesi. 27.

dalam tahun 1988 diperkirakan akan menurun menjadi 1.0 juta orang. produktivitas tenaga kerja. perkembangan angkatan kerja yang belum tamat SD diperkirakan masih cukup besar.5 persen dari seluruh angkatan kerja yang ada masih belum tamat SD.5 juta orang. Dalam jangka pendek. Guna menanggulangi permasalahan tersebut.9 juta orang. sedangkan yang telah menamatkan perguruan tinggi hanya mencapai 657. Melalui PPKGB. dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kerja terutama bagi penduduk yang tinggal di daerah kecamatan miskin dan padat penduduk. di samping juga ditanggulangi kekurangan kesempatan kerja sebagai akibat terjadinya bencana alam di beberapa daerah.000 orang. program pembangunan desa dilakukan melalui proyek padat karya gaya baru (PPKGB) dan proyek padat karya jaringan tersier (PPKJT). serta peningkatan penyaluran. Program pembangunan desa terutama ditujukan untuk mengatasi masalah kekurangan kesempatan kerja bagi tenaga-tenaga penganggur atau penganggur musiman yang kurang terampil di daerah pedesaan. Namun sebaliknya untuk angkatan kerja muda dalam kelompok umur 15-24 tahun. program latihan. penyebaran dan pemanfaatan tenaga kerja khususnya tenaga kerja usia muda.801. antara lain dilakukan pembangunan jalanjalan desa dan prasarana desa lainnya.0 persen. program generasi muda dan program peranan wanita. dalam periode yang sarna jumlahnya diperkrakan masih cukup besar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun secara absolut. program penyebaran tenaga kerja.6 juta orang. dalam tahun 1982/1983 melalui PPKGB dan PPKJT telah dapat diserap tenaga kerja sebanyak 21. yaitu dari sebanyak 16. perluasan kesempatan kerja. sedangkan yang tamat perguruan tinggi hanya sebanyak 754. program ini ditujukan untuk perluasan kesempatan kerja bersamaan dengan dilaksanakannya suatu proyek. perluasan kesempatan kerja terutama dihubungkan dengan kebutuhan tenaga kerja setelah selesainya atau berfungsinya proyek tersebut. sedangkan dalam jangka panjang. antara lain telah ditempuh kebijaksanaan di bidang ketenagakerjaan.325 hari kerja. yakni meliputi peningkatan informasi posar kerja. dalam tahun 1983 diperkirakan 41.200 orang atau 1. Untuk itu pelaksanaan operasionalnya akan dituangkan ke dalam berbagai program. meliputi program pembangunan desa. pembuatan beras dan Departemen Keuangan RI 253 . Sedangkan melalui PPKJT. Selanjutnya apabila dilihat dari tingkat pendidikannya.2 juta orang atau 64. Dalam pelaksanaannya. yaitu akan meningkat menjadi 42. Sehubungan dengan itu. Apabila dalam tahun 1983 jumlah angkatan kerja dalam kelompok umur 10-14 tahun mencapai 2. dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi terhadap saluran air dan jaringan tersier. Dalam tahun 1985.8 juta orang meningkat menjadi 17. Tenaga kerja tersebut dipekerjakan pada pembangunan jalan desa. saluran air.

melalui pembangunan/rehabilitasi jalan desa sepanjang 3. .480 orang. Dalam lokasi baru tersebut. program penyebaran tenaga kerja juga dilaksanakan melalui kegiatan antarkerja yang ditunjang oleh informasi posar kerja yang akurat. penyuluh di bidang kesehatan. dalam tahun 1983/1984 jumlah TKS/ BUTSI yang dikerahkan ke daerah-daerah pedesaan di seluruh Indonesia telah mencapai 5.693 kilometer dan saluran tersier sepanjang 3. di samping juga ikut membantu menyebarkan teknologi tepat guna dan sistem padat karya. dalam tahun 1983/1984 dengan jumlah pencari kerja yang terdaftar sebanyak 498. Di samping melalui program TKS/BUTSI. yang berarti telah meningkat dengan 82. Di samping itu usaha penyebaran tenaga kerja juga dilaksanakan melalui program antarkerja antar lokal (AKAL). Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.815 orang. baik tenaga kerja sarjana maupun sarjana muda. telah dapat ditempatkan sebanyak 15. Dengan demikian mobilitas tenaga kerja baik antar jabatan maupun antarlokasi dapat ditingkatkan. antara lain sebagai tenaga penyempurna administrasi desa.1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang baru mencapai 3.635 orang. antarkerja antardaerah (AKAD) dan antarkerja antarnegara (AKAN). dengan jumlah pencari kerja sebanyak 104.antara lain dapat diketahui jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan menurut jenis pekerjaan.221 orang. tenaga kerja yang diserap telah meningkat menjadi sebanyak 26.302 orang dan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia seb:inyak 112.940. pelaksana program kejar paket A.721 hari kerja.836 tenaga kerja. Melalui proyek pengerahan tenaga kerja sukarela.084 kecamatan miskin dan padat penduduk. gizi dan keluarga berencana. Melalui informasi pasar kerja.941 orang dan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia sebanyak 23. keterampilan dan imbalan jasa yang.010 orang. para tenaga kerja sukarelalbadan usaha tenaga sarjana Indonesia (TKS/BUTSI) bertugas di berbagai bidang pembangunan. telah dapat ditempatkan sebanyak 84. Sedangkan daJam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.7 kilometer yang tersebar pada 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 prasarana desa lainnya. Sehubungan dengan itu. Dengan semakin meningkatnya pembangunan. yang terse bar di 1. pelaksanaan program AKAD diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang semakin Departemen Keuangan RI 254 . mereka diaktifkan sebagai pelopor pembaharuan dan pembangunan di daerah pedesaan yang tersebar di seluruh propinsi. Sementara itu pelaksanaan pogram penyebaran tenaga kerja terutama ditujukan untuk menyebarkan dan memanfaatkan tenaga kerja terdidik ke daerah pedesaan.720.096 buah kecamatan miskin dan padat penduduk. dari pembangunan/rehabilitasi prasarana dan sarana yang tersebar di 96 kecamatan miskin dan padat penduduknya telah dapat diserap tenaga kerja sebanyak 342. Dalam hubungan ini. serta kegiatan lain yang menunjang pembangunan. Kemudian dalam tahun 1983/1984. diberikan.892 hari kerja.

346 orang.005 orang atau 19. selain melalui pembangunan/rehabilitasi balai latihan kejuruan (BLK). juga diberikan bimbingan kepada kursus-kursus swasta sebagai bagian dari sistem latihan nasional.193 orang. telah dapat dilatih tenaga kerja sebanyak 1.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang baru mencapai 82. Melalui program antarkerja tersebut. Sementara itu guna meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. 19.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 meningkat di luar Jawa. terutama dengan terbukanya kesempatan kerja di Timur Tengah. terutama yang sudah mandiri. tetapi produktivitas kerjanya masih rendah. Kenaikan ini selain disebabkan karena adanya penambahan tenaga instruktur dan perluasan clara tampung daripada BLK-BLK. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.734 orang melalui BLKI.583 orang melalui AKAD dan sebanyak 30.427 orang dan 11. pengelolaannya dilaksanakan melalui program AKAN. Hal ini berartitelah terjadi kenaikan sebanyak 16. Balai Pengembangan Manajemen dan Produktivitas (BPMP). Sedangkan guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja di luar negeri. Untuk menunjang kegiatan tersebut. diberikan program latihan dan keterampilan tenaga kerja khususnya kepada tenaga kerja usia muda dan wanita pedesaan yang belum memiliki pengalaman dan keterampilan. 880 orang melalui BPMP dan sebanyak 1.120 orang melalui MTU. penyaluran tenaga kerja melalui AKAL mencapai sebanyak 15. dalam tahun 1983/1984 telah dapat disalurkan tenaga kerja sebanyak 135. BLK Pertanian (BLKP). Unit Produktivitas Nasional (UPN) dan Mobile Training Unit (MTU) seluruhnya mencapai 98. jumlah tenaga kerja yang telah dilatih melalui BLK Industri (BLKI). Departemen Keuangan RI 255 . Dalam tahun 1983/1984. juga karena semakin meningkatnya minat para pencari kerja untuk mengikuti latihan. sedangkan melalui AKAD dan AKAN masing-masing mencapai 9.790 orang melalui AKAN.635 orang.836 orang disalurkan melalui AKAL.138 orang. dengan perincian sebanyak 84. Di samping itu juga diberikan kepada beberapa tenagakerja yang sudah mendapatkan lapangan kerja tertentu.209 orang.

10. balai pertemuan/balai desa.112 11.079 10. Di lain pihak.924 9.083 1984 98. maka di daerah pemukiman transmigrasi antara lain telah dibangun jalan penghubung. serta untuk menunjang pembangunan daerah.072 147. serta perumahan berikut salafia air minum dan jamban keluarga.342 1978 88.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. 73 PENDUDUK INDONESIA DAN KEPADATANNYA PADA TAHUN 1971 SERTA PROYEKSINYA SAMPAI DENGAN TAHUN 1984 ( dalam ribu jiwa) Pulau J awa Sumatera Kalimantan Sulawesi Lainnya Indonesia Jumlah penduduk 19711) 76.13% 3. rumah ibadah.927 7.812 9.128 138. Transmigrasi Program transmigrasi terutama ditujukan untuk memperbaiki penyebaran penduduk dan tenaga kerja. balai pengobatan.048 161.016 6. jalan desa.rata per tahun 1971 .350 11.341 12. gedung koperasi/KUD.315 1982 95. Guna melayani kegiatan.579 Kepadatan / Km 2 19711) 576 44 10 45 15 62 1976 633 45 11 43 17 67 1977 650 46 11 44 18 68 1978 663 47 11 46 18 70 1980 1) 690 59 12 55 19 77 1981 706 61 12 56 19 79 1982 719 63 13 58 20 81 1983 733 65 13 59 20 83 1984 747 67 14 60 20 84 Perkembangan rata .724 6.490 1981 93.340 151.942 10. khususnya di luar pulau Jawa dan Bali. Usaha-usaha tersebut pada gilirannya diharapkan akan dapat menjamin peningkatan tarat hidup.190 1977 87.808 5.567 154. lahan pertanian.340 29.269 28.888 135.893 30. serta mendorong masyarakat agar berperanserta Departemen Keuangan RI 256 .1984 2.904 25.78% 1) Angka sensus 7. baik bagi para transmigran maupun bagi masyarakat sekitarnya.527 8.155 8.662 1983 96.723 10.799 158.086 20.028 6. bagi daerah asal transmigran. sosial-ekonomi para transmigran telah dibangun pula sarana penunjang seperti gedung sekolah.410 11.070 10. sarana dan fasilitas secara memadai bagi tumbuhnya kegiatan masyarakat baru.962 7.289 24.989 6. yang kesemuanya disertai dengan perlengkapan dan peralatan.143 10.282 5.632 119.28% 2.103 29. pelaksanaan transmigrasi terutama ditujukan untuk pembangunan dan rehabilitasi daerah asal.579 19801) 91.929 7.48% 3. untuk membuka dan mengembangkan daerah pertanian baru.700 31.70% 2.34% 2. rumah petugas dan rumah pos.2.563 11.240 10. Untuk tersedianya prasarana.377 141.665 11.887 11.334 10.076 24.209 1976 85.

6 1982/1983 125.970 102.425 705.1984/1985 ( kepala keluarga ) Persentase Tahun Target Realisasi realisasi Pelita I 46.010 106 Pelita IV 1984/1985 2) 125. dalam tahun 1980/1981 telah meningkat menjadi 78. 736 KK transmigran swakarsa berbantuan dan sebanyak 18.74.949 100 1978/1979 27.000 48.000 100 Pelita III 1) 500.000 100 1975/1976 8.010 KK. Dengan demikian selama 5 tahun pelaksanaan Repelita III telah dapat ditempatkan transmigran sebanyak 527. dae(ah aliran sungai (DAS) yang akan dihijaukan.959 100 1974/1975 11.412 100 Pelita II 82. 127.056 KK transmigran swakarsa murni. daerah yang terkena proyek-proyek pembangunan serta daerah yang perlu dilestarikan.000 127.055 KK.7 1972/1973 11.985 kepala keluarga (KK).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam bidang transmigrasi.6 1970/1971 3. termasuk transmigran swakarsa 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 257 . yang terdiri atas 367.100 8. Perkembangan hasil penempatan transmigran dapat diikuti dalam Tabel VII.200 11.000 51.000 527.552 KK.876 105.910 13.970 KK dan 169. 1969/1970 .910 100 1977/1978 22. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984 telah dapat ditemp atkan sebanyak 48.5 1981/1982 100.6 1979/1980 50.000 27.949 22. yang terdiri atas 29.263 KK transmigran umum.489 3.000 78359 104. Oleh karena itu penentuan daerah asal bagi para calon transmigran terutama diprioritaskan pada daerah yang terlalu padat.959 82.933 87.4 1983/1984 150.412 22. TabeI VII.338 112.359 KK.749 KK transmigran swakarsa.158 93.171 90.865 4. Kemudian dalam tiga tahun terakhir Pelita III masing-masing telah meningkat menjadi 100.414 101.4 1969/1970 4.127 KK transmigran umum dan 160.268 99.2 1971/1972 4.100 100 1976/1977 13.600 4. Selama Pelita III pelaksanaan transmigrasi dari tahun ke tahun selalu menunjukkan peningkatan.000 100.876 KK.055 38.552 100.000 159.000 11.5 1) Angka diperbaiki. 74 HASIL PENEMPATAN TRANSMIGRAN.4 Jumlah 754.566 46. Apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah transmigran yang ditempatkan baru mencapai sebanyak 51.985 104 1980/1981 75.9 1973/1974 22.

Demikian juga sektor swasta belum memadai peranannya dalam menunjang perkembangan perekonomian daerah transmigrasi. Oleh karena itu pelaksanaan kegiatan ini langsung dikaitkan dengan pemindahan penduduk dan tenaga kerja dari daerah yang radar ke daerah yang jarang penduduknya. Sebaliknya pembangunan yang dilakukan di daerah transmigrasi akan memberikan peluang bagi usaha penyalur barang dan jasa yang dibutuhkan bagi pembangunan daerah transmigrasi itu sendiri. Sedangkan untuk sektor perdagangan. maka dalam Pelita IV pelaksanaan program transmigrasi akan lebih dipadukan dengan pembangunan sektor-sektor lainnya. usaha di bidang transmigrasi akan lebih menjamin tersedianya tenaga kerja dan bahan baku. khususnya yang menyangkut masalah pengelolaan dan perdagangan hasil-hasil pertanian. peternakan. Di samping itu guna melancarkan angkutan bagi para transmigran. baik di pasaran lokal maupun nasional. Dengan demikian diharapkan penyebaran potensi sumber daya manusia akan lebih seimbang dengan penyebaran potensi sumber alam. sebagai lembaga yang diharapkan dapat mengembangkan perekonomian bagi daerah transmigrasi. yang dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan di bidang keamanan dan kesehatan para transmigran. pelaksanaan transmigrasi ditujukan untuk memperluas areal pertanian baru. Guna mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Bagi sektor industri. Di samping itu juga belum memadainya perkembangan KUD. khususnya untuk daerah-daerah kosentrasi pengumpulan yakni di kabupaten-kabupaten. khusus kepada para petugas pengawal transmigran telah diberikan berbagai penataran. kesehatan dan makanan bagi para transmigran. Dalam pelaksanaannya. Hambatan-hambatan tersebut antara lain berupa kurangnya tenaga penyuluh yang terampil. kegiatan transmigrasi akan memberikan kesempatan yang luas pada usaha-usaha penyalur hasil produksi dari daerah transmigrasi ke pasaran.000 KK. pendidikan dan kesehatan.4 persen dari target yang telah ditetapkan dalam tahun 1984/1985 yaitU sebanyak 125. belum terarahnya materi atau informasi yang disampaikan. serta masih lemahnya pelayanan dalam angkutan. seperti sektor pertanian. seperti terlihat dari pelaksanaan dalam tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Oktober 1984 yang baru mencapai 38. serta meningkatkan produksi dari berbagai komoditi pertanian. sehingga membuka kemungkinan yang lebih luas bagi pengolahan hasil-hasil pertanian di daerah transmigrasi. belum memadainya sarana penerangan yang ada. Di sektor pertanian. perkebunan. perindustrian.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sejalan dengan telah berhasilnya pelaksanaan program transmigrasi dalam Pelita III. terutama untuk lahan pertanian. perikanan. telah dilakukan penambahan angkutan transite. program transmigrasi masih banyak mengalami hambatanhambatan. Sedangkan untuk memenuhi kecepatan waktu dan meningkatkan mutu makanan yang lebih Departemen Keuangan RI 258 .

55 dokter. telah dapat dilaksanakan pengadaan tenaga pembina sebanyak 6. serta intensifikasi dan diversifikasi usaha tani.631 guru SO. Sejalan dengan itu dalam tahun pertama Pelita IV.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sempurna. kepada para caton transmigran swakarsa telah diberikan berbagai kemudahan. Departemen Keuangan RI 259 . Demikian pula bagi lokasi-lokasi yang kurang subur telah dilaksanakan upaya penanggulangan.381 KK. yang terdiri dari 956 tenaga medis. yaitu dengan memberikan pengapuran. maupun mengenai kelancaran hub_mgan antara daerah asal dan daerah penerima. ijin dan penyediaan fasilitas di daerah penerimaan. 2. Guna meningkatkan dan mendorong pelaksanaan transmigrasi swakarsa. Selain ittt juga telah dilaksanakan rehabilitasi terhadap 67 lokasi lahan usaha yang kurang berhasil. telah diberikan bantuan bibit tanaman dan bantuan pangan. maka di beberapa lokasi dan daerah asal telah diadakan dapur lapangan yang mobil. Sementara itu guna meningkatkan pengelolaan dan pemasaran hasil-hasil produksi dari daerah transmigrasi. baik yang menyangkut masalah pengurusan pelaksanaan administrasi. Selanjutnya usaha peningkatan transmigrasi swakarsa dilaksanakan pula dengan jalan mengikutsertakan para transmigran pada kegiatan perkebunan inti rakyat (PIR) khusus. 1. Khusus kepada daerah-daerah yang terkena musim kering dan beberapa daerah yang memerlukan perawatan kesehatan. 534 penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan 660 pembina koperasi. mengadakan konservasi laban.458 orang. dan pembinaan terhadap transmigran lama sebanyak 592.622 guru SMTP. telah ditingkatkan pula peranan koperasi dan usaha swasta. sampai dengan bulan Oktober 1984.

Sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia tersebut. dan mempunyai etik moral yang kuat. Sasaran yang ingin dicapai di bidang ini antara lain adalah meningkatkan kecerdasan serta menumbuhkan semangat kebangsaan yang tinggi. Pembinaan di bidang agama. Untuk itu berbagai sarana dan fasilitas pendidikan secara bertahap dan pasti terus ditingkatkan. Oleh karena itu walaupun prioritas pembangunan masih ditekankan pada sektor ekonomi. keserasian dan keseimbangan baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. baik melalui pendidikan formal maupun non formal. serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. maupun dalam hubungannya dengan masyarakat dan alam sekitarnya. namun unsur manusia dan unsur-unsur lainnya tetap mendapat perhatian yang seimbang. Pendahuluan Laju pembangunan yang telah dicapai sekarang ini tidak terlepas dari peranan manusia yang berfungsi sebagai pelaksana pembangunan. yang berarti pula makin banyak anggota masyarakat yang mempunyai kesempatan untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan. Selaras dengan itu. keberhasilan upaya Departemen Keuangan RI 260 . serta mampu menciptakan keselarasan. pembangunan di bidang agama antara lain bertujuan untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia 'yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sebagaimana telah dapat dirasakan dewasa ini. terus pula dikembangkan seiring dengan bidang-bidang lainnya. Tersedianya gedung-gedung sekolah terutama di tingkat dasar yang menyebar di seluruh pelosok tanah air. Oengan demikian dalam proses'pembangunan selanjutnya diharapkan akan dapat tercipta suatu strata masyarakat Indonesia yang berkepribadian kokoh. yang pada gilirannya diharapkan akan menumbuhkan manusia Indonesia yang mampu membangun dirinya sendiri. Di samping itu.1. pembangunan bidang kesehatan yang merupakan salah satu kebutuhan dasar setiap manusia terus pula dilaksanakan. merupakan wujud nyata dari upaya tersebut. Dalam kaitannya dengan pembangunan di bidang pendidikan. serta semakin meningkatnya kesejahteraan dan mutu para pendidik. Hal ini ditandai dengan makin berkembangnya berbagai fasilitas dan saran a kesehatan. jangkauannya tidak hanya terbatas pada pendidikan formal melainkan meliputi pula pendidikan luar sekolah yang menuntut peran serta aktif pihak swasta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VIII PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN SOSIAL DAN PEMBANGUNAN DAERAH 8.

diharapkan akan tercipta suatu kondisi sosial rnasyarakat sebagaimana diidam-idamkan. Dalam hubungannya dengan usaha untuk rnenciptakan suasana tersebut. Selaras dengan itu. Hal ini tidak terlepas dari usaha untuk mewujudkan kondisi sosial yang dinamis dalam kehidupan individu. serta ditunjang oleh kesadaran hukum masyarakat yang tinggi merupakan salah satu tujuan di bidang pembinaan hukum. Agama Memasuki tahun pertarna Pelita IV. Adanya kepastian hukum yang dapat rnenjamin hak-hak setiap warga negara. pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan juga semakin berasa sebagai suatu kebutuhan yang mutlak. pembangunan di bidang hukum berasa semakin penting. terutama para peserta KB.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak terlepas pula dari kemampuan dan kesadaran masyarakat itu sendiri. Pembangunan bidang kesejahteraan sosial yang merupakan bagian integral daripada kesatuan sistem pembangunan nasional. di samping aparat penegak hukum yang bersih dan berwibawa. Berbagai langkah pembinaan telah dilakukan. Di bidang pembangunan daerah. Untuk itu berbagai upaya dan penyuluhan. terutama bagi para penyandang perrnasalahan sosial. Norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera sudah dapat dirasakan oleh sebagian anggota masyarakat. dinamis. Dengan bertumpu pada landasan tersebut. terus ditingkatkan upaya guna menjabarkan asas Trilogi Pembangunan ke dalam konsepsi yang bersifat operasional. keluarga dan masyarakat. diarahkan guna meningkatkan tarat kesejahteraan sosial masyarakat secara adil dan merata. Dalam rangka memantapkan usaha tersebut.2. Dengan demikian Departemen Keuangan RI 261 . serta diiringi dengan penyediaan fasilitas yang memadai. perlu ditingkatkan laju pertumbuhan daerah. Kesemuanya itu akan terwujud apabila keutuhan bangsa serta integritas teritorial terus ditingkatkan pula. di samping penyediaan sarana dan fasilitas yang memadai. serta pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air. demi terbentuknya suatu angkatan bersenjata yang tangguh serta mampu rnelindungi seluruh turnpah darah dan segenap bangsa Indonesia. yang bertujuan membangkitkan motivasi serta kesadaran masyarakat akan arti pentingnya kesehatan dan keluarga berencana (KB). pembangunan di bidang agama terutama ditandai dengan semakin terbinanya hidup rukun di antara sesama umat beragama. tertib serta tenteram lahir dan batin. terus digalakkan. Maka dari itu. pelayanan kepada para akseptor KB terus ditingkatkan. serta mampu mengikuti laju pertumbuhan-daerah. agar tercipta rasa amall. 8. Hal ini pada akhirnya diharapkan akan mampu menjamin kelangsungan pembangunan yang merata di seluruh wilayah tanah air serta kemajuan yang nyata dan ternikmati oleh segenap lapisan masyarakat.

Dalam pada itu telah dilakukan pula rehabilitasi terhadap 27 buah gedung pengadilan agama tingkat pertama dan sebuah gedung pengadilan agama tingkat banding.2. juga dimaksudkan agar pelaksanaan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa benar-benar sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. telah dibangun 17 buah gedung pengadilan agama tingkat pertama dan 4 buah gedung pengadilan agama tingkat banding.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kesatuan dan persatuan bangsa dapat diperkokoh dan peranserta umat beragama dalam pembangunan dapat ditingkatkan pula. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. agar tercapai tujuan pendidikan nasional yang berlandaskan Pancasila.572 buah. pembangunan balai nikah telah mencapai sebanyak 587 buah atau 237 buah lebih banyak hila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sedangkan untuk tahun pertama Pelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984. selain ditujukan agar dalam pengembangannya tidak mengarah kepada adanya pembentukan agama baru. Dalam waktu yang sarna juga telah ditingkatkan pembangunan gedung pengadilan agarna. Sejalan dengan itu. penerangan dan bimbingan hidup beragama serta peningkatan pelayanan ibadah hajj. 290 buah. Pembinaan tata kehidupan beragama Pembinaan tata kehidupan beragama antara lain mencakup peningkatan sarana kehidupan beragarna. yang dilakukan dengan cara memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum. 8. dengan perincian masing-masing setiap tahunnya sebanyak 296 buah.1. Departemen Keuangan RI 262 . Hal ini secara tidak langsung akan menunjang suksesnya program nasional kependudukan dan keluarga berencana. Guna mendorong para pemeluk agarna untuk mempelajari dan mendalami agamanya. Untuk itu telah dikembangkan kehidupan keagamaan. selama 5 tahun pelaksanaan Repelita III telah dibangun balai nikah sebanyak 1. yakni apabila dalarn tahun 1983/1984 telah dibangun 15 buah gedung pengadilan agama tingkat pertarna. Adapun pembinaan yang dilakukan terhadap para penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 316 buah dan 350 buah. Usaha tersebut terutama ditujukan untuk meningkatkan dan menyelaraskan pembinaan antara pendidikan dan perguruan agarna dengan pendidikan umurn. serta menciptakan suasana yang mendorong ke arah berkembangnya pola berpikir secara ilmiah. mulai dari sekolah dasar sampai dengan universitas. karena melalui gedung balai nikah ini kepada para calon suami istri dapat dibina dan diberikan penyuluhan mengenai kesejahteraan keluarga sesuai dengan undang-undang perkawinan. 320 buah. Salah sarti perwujudan nyata dari pada upaya tersebut adalah dilakukannya pembangunan/rehabilitasi gedung balai nikah dan gedung pengadilan agama. khususnya di bidang pendidikan.

narapidana dan kelompok lainnya. seperti terlihat dengan semakin banyaknya jumlah tempat ibadah dari tahun ke tahun. terutarna terhadap kelompok masyarakat yang masih lemah sosial ekonominya. Apabila dalam tahun 1983/1984 bantuan pembangunan/rehabilitasi diberikan kepada 2. Pemberian penyuluhan agama. suku berasing. maka pada akhir Pelita III telah meningkat menjadi 577. Jika dalam tahun 1983/1984 telah diterbitkan sebanyak 1. serta tempat-tempat ibadah yang rusak karena bencana alam. para transmigran. Sehubungan dengan itu dalam tahun pertama Repelita IV telah diberikan penyuluhan agama kepada 2. dan disertai pula dengan pengadaan 652.790 kelompok pemeluk agama Islam.000 buah kitab suci dari berbagai agama. Di samping itu jumlah tempat ibadah yang diberikan bantuan setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. 221 pura Hindu dan 58 buah wihara Budha. 148. yang terdiri dari 2. Apabila pada akhir Pelita II baru terdapat sebanyak 471. Dalam rangka meningkatkan sarana kehidupan beragama maka telah dilaksanakan bantuan pembangunan/rehabilitasi tempat-tempat ibadah.000 buah kitab . yang terdiri atas 844.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maka terus ditingkatkan usaha penerbitan kitab suci dari berbagai agama. telah diberikan kepada masyarakat dari berbagai golongan agama.384 paket penyuluhan. terutama masyarakat suku berasing. narapidana.183. daerah pemukiman baru.000 buah kitab suci agama Islam. telah diberikan kepada 3. dalafu tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. atau rata-rata 21. 132. dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Agustus 1984. yang terdiri dari para karyawan instansi Pemerintah/swasta. dan kelompok khusus lainnya seperti tunasusila.715 tempat ibadah.245 buah setiap tahunnya. daerah-daerah yang mempunyai nilai sejarah dan yang terletak di daerah strategis.660 buah.000 buah kitab suci agama Budha. daerah transmigrasi.000 buah brosur agama dan 36.000 buah Departemen Keuangan RI 263 . 335 gereja Protestan.300 buah kitab suci agama Hindu dan 15. disertai pula dengan penyediaan brosur agama masing-masing sebanyak 60. Dampak positif dari bantuan tersebut adalah terangsangnya masyarakat untuk berswadaya dalam membangun tempat ibadah sesuai dengan kebutuhannya. para transmigran dan kelompok khusus lainnya. para transmigran. sarana ibadah serta buku-buku keagamaan. Bantuan tersebut pada umumnya diberikan dalam bentuk biaya pembangunan/rehabilitasi.500 buah kitab suci agama Protestan. telah diterbitkan sebanyak 1. sebagai salah satu pelaksanaan daripada program penerangan dan bimbingan hidup beragama. 89. 267 gereja Katolik. Dalam periode yang sarna telah diberikan pula penyuluhan kepada para pemeluk agama Protestan dan Katolik masing-masing sebanyak 300 kelompok dan 185 kelompok yang terdiri dari suku berasing.821 temp at ibadah.suci agarna Katolik.800 buah.834 mesjid.433 buah tempat ibadah.228.

200 buah. Sementara itu jika dilihat daerah asal daripada para jemaah. pekan orientasi kerjasama antarumat beragama dengan Pemerintah. Peningkatan pelayanan ibadah haji terutama ditujukan untuk meningkatkan pengelolaan dan pelayanan kepada masyarakat dalam melaksanakan ibadah haji. Usaha peningkatan kerukunan hidup beragama dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan dengan berbagai kegiatan. Jawa Timur. Sedangkan untuk tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Di samping itu juga telah diberikan penataran. 2. Untuk tahun 1983/1984 pembangunan asrama haji telah pula menjangkau beberapa pelabuhan transit yang jumlah jemaahnya sudah cukup banyak.300 orang.400 meter persegi. Dalam periode yang sama telah dilaksanakan pekan orientasi kerjasama antarumat beragama dengan Pemerintah pada 3 lokasi dengan peserta sebanyak 360 orang.1.097 orang. pembangunan asrama haji telah dapat ditingkatkan menjadi 7. yaitu Jakarta. dengan jumlah jemaah masing-masing sebanyak 7. an tara lain telah dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi asrama haji.907 orang.000 buah brosur agama. Musyawarah intern umat beragamatelah dilaksanakan pada 13 lokasi dengan peserta sebanyak 1. Sulawesi Selatan. sedangkan musyawarah antarumat beragama telah diikuti oleh 540 orang dan dilaksanakan pada 6 lokasi. antarumat beragama. seperti musyawarah intern umat beragama. di samping telah diberikan pula buku pedoman kerukunan hidup beragama sebanyak 17. Surabaya. Ujungpandang. Guna menunjang program tersebut. dan Medan. 3.000 buah.615 orang dan 2. maka dalam tahun 1984/1985 jumlah jemaah haji yang paling banyak berasal dari Jawa Barat. 5. 3. Pada awal Pelita III pembangunan asrama haji dititikberatkan pada 4 kola pelabuhan udara tempat pemberangkatan jemaah.008 orang.783 orang.695 meter persegi.Pontianak.000 buah.715 meter persegi untuk pelabuhan. serta sarana lainnya seperti pembuatan film haji.200 meter persegi dan 2. dan pengadaan buku pedoman kerukunan hidup beragama. DKI Jakarta dan Jawa Tengah. Departemen Keuangan RI 264 . Perkembangan jumlah jemaah haji dapat diikuti pada Tabel VIII. Sedangkan untuk agama Hindu dan Budha telah diberikan penyuluhan kepada 25 kelompok transmigran dan suku berasing dengan disertai 32. baik kepada para petugas maupun jemaah.180 meter persegi untuk pelabuhan Surabaya.200 buah dan 22. disediakan buku pedoman perjalanan dan ibadah haji. dengan perincian 2. baik untuk pelabuhan-pelabuhan pemberangkatan maupun pelabuhan-pelabuhan transit. serta paket penyuluhan masing-masing sebanyak 4.800 meter persegi untuk Banjarmasin dan 2. seperti Banjarmasin dan Pontianak dengan luas masing-masing 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan 22.

072 22.978 25.897 66.344 40.760 MIS.511 6.961 55. Sedangkan guna meningkatkan mutu pendidikan agama Departemen Keuangan RI 265 .612 7.2.681 12.305 23. Dalam rangka meningkatkan mutu madrasah ibtidaiyah negeri (MIN) sebagai pendidikan agama tingkat dasar.292 22. Untuk itu telah dilaksanakan berbagai kegiatan seperti pembangunan/ rehabilitasi gedung sekolah.238 23.449 53 .500 guru.2.351 12. penyempurnaan kurikulum. Pembinaan pendidikan agama Pembinaan pendidikan agama dalam pelaksanaannya mencakup pendidikan agama tingkat dasar.897 66.961 55.039 8.697 74.227 2. Apabila dalam tahun 1983/1984 dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi terhadap 6.035 41. menengah dan tingkat tinggi.071 15.520 69.000 MIS.124 119.246 48. 51 buah dan 5 juta buah.035 41.317 38. Usaha ini ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan umum pada pendidikan dan perguruan agama.697 74.246 48. serta mutu pendidikan agama pada sekolah umum.079 Haji melalui udara 611 1.589 35. pembangunan/rehabilitasi gedung MIN sebanyak 83 buah.500 guru.126 692.845 19.146 73. serta pengadaan buku pedoman bagi guru sebanyak 5.366 18.039 17. Demikian pula dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah meningkat menjadi 10.126 572.960 Jumlah 9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e I VIII. Sejalan dengan pembinaan MIN.292 14. masing-masing telah mencapai 1.781 16. telah dilakukan pula pembinaan terhadap madrasah ibtidaiyah swasta (MIS). 1969/1970 -1984/1985 (orang) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 197971980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/19851) Jumlah 1) Angka sementara Haji melalui laut 8.575 9.8 juta buah.317 38.403 54. pemberian alat peraga dan olah raga serta penataran guru dan tenaga pembina. dalam tahun 1983/ 1984 telah dilaksanakan penataran terhadap 3.828 45. 1 JUMLAH JEMAAH HAJI.270 73.

2 juta buah.2 juta buah dan pengadaan alat peraga sebanyak 2.200 tenaga pembina. pendidikan guru agarna Departemen Keuangan RI 266 . penataran terhadap 6. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan penataran terhadap 1. terdiri dari penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan kepada 397 pondok pesantren. Pembinaan terhadap pendidikan agama tingkat menengah alas terutama ditujukan untuk meningkatkan pendidikan pada madrasah aliyah negeri (MAN). penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi gedung sebanyak 154 buah. dalam periode yang sarna juga telah disediakan buku pelajaran dan pedoman bagi guru sebanyak 706. dan dinilai telah berhasil adalah kegiatan terapi non medis yang agamis terhadap korban narkotika. penyediaan alat-alat keterampilan dan alat-alat praktek. yang antara lain dilakukan oleh pondok pesantren Suryalaya (Jawa Barat). serta pendidikan agama pada sekolah menengah tingkat pertama (SMTP).200 guru dan pengadaan buku sebanyak 1.000 set. pengadaan buku sebanyak 3. baik dari masyarakat maupun dari Pemerintah.250 buah. pemberian alar-alar keterampilan dan praktek kepada 66 pondok pesantren.163 tenaga pembina. sehingga dapat kembali menjadi remaja yang baik. penataran terhadap 1. Khusus kepada MTsN. Sedangkan guna meningkatkan mutu pendidikan agama bagi SMTP. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.280 orang guru agama. telah dilakukan pembinaan dan pengembangan terhadap 3:734 buah pondok pesantren yang meliputi penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan bagi 2. juga telah diberikan bantuan kepada 534 pondok pesantren. di samping telah dilaksanakan penataran terhadap 4. Kegiatan pondok pesantren yang banyak mendapat perhatian. Sementara itu terhadap pondok pesantren telah dilaksanakan pembinaan dan pengembangan melalui penataran tenaga pembina. penyediaan alar-alar keterampilan dan praktek untuk 891 pondok pesantren dan pembangunantrehabilitasi gedung dan bengkel kerja terhadap 813 pondok pesantren. dan diberikan penataran kepada 160 orang guru agama. Dengan demilGan secara keseluruhan mulai awal Pelita III sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Pembinaan terhadap pendidikan agama tingkat menengah pertama terutama ditujukan untuk meningkatkan multi pendidikan umum pada madrasah tsanawiyah negeri (MTsN) dan pondok pesantren.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada sekolah dasar. bergairah serta mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri. Pondok pesantren tersebut sampai saar ini telah berhasil menyantuni korban narkotika sebanyak 100 orang. serta pembangunan/rehabilitasi gedung dan bengkel kerja. serta pembangunan/rehabilitasi gedung dan bengkel kerja pada 71 pondok pesantren.030 pondok pesantren.

440 meterpersegi. Protestan. dan disediakan buku-buku ilmiah dan perpustakaan sebanyak 6.800 buah. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengadaan buku sebanyak 358. Dalam tahun 1983/1984. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.000 buah serta pembangunan/perluasan 35 buah gedung PGAN Islam. antara lain pembangunan prasarana dan penyediaan sarana pendidikan. kepada MAN telah dilakukan pengadaan buku sebanyak 462. ruang kantor dan ruang perpustakaan. telah dilaksanakan berbagai kegiatan. peningkatan mutu tenaga pengajar serta kegiatan penelitian. Dalam periode yang sama telah ditingkatkan pula mutu madrasah aliyah swasta (MAS).000 buah. Departemen Keuangan RI 267 . telah dilaksanakan penataran kepada 355 guru serta penyediaan buku pelajaran dan buku pedoman guru sebanyak 270.750 buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (PGA). Untuk itu dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan penataran terhadap 7.000 buah.000 buah. yang terdiri dari ruang kuliah. Guna meningkatkan mutu perguruan tinggi agama.500 guru dan pembangunan/rehabilitasi gedung MAN sebanyak 45 buah. telah dilakukan pembangunan/perluasan gedung IAIN seluas 10.500 guru agama. penataran 7.150 buah.087 meter persegi.850 buah. Katolik dan Hindu. pengadaan buku pelajaran dan pedoman bagi guru sebanyak 650. serta peningkatan mutu pendidikan agarna pada sekolah menengah tingkat atas (SMTA). Dalam Pelita III telah dilaksanakan pembangunan/perluasan gedung Institut Agama Islam Negeri (lAIN) seluas 56. Di samping itu juga dilakukan penyediaan buku-buku ilmiah dan perpustakaan sebanyak 221. maka telah diberikan kesempatan kepada 117 dosen untuk mengikuti program posca sarjana dan program doktor. Untuk meningkatkan mutu para pengajar dan tenaga administrasi. Dalam periode yang sarna juga telah dilaksanakan pembinaan pendidikan agama pada SMTA yang meliputi penataran guru agama dan pengadaan buku. dan pembangunan/rehabilitasi gedung MAN sebanyak 67 buah.688 mahasiswa. dan pengadaan buku pelajaran sebanyak 239. Adapun pembinaan terhadap PGAN terutama ditujukan agar lulusan PGAN benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai tenaga guru yang baik dan mampu. serta penelitian di berbagai daerah mengenai masalah-masalab keagarnaan dan kemasyarakatan sebanyak 29 kali. yaitu dengan memberikan bantuan rehabilitasi terhadap 50 buah gedung MAS. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. masing-masing sebanyak 160 orang dan 358. Hasil lain yang telah dicapai dalam periode yang sarna antara lain meliputi pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN) yang diikuti oleh 2.

3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 8.700. Dalam tahun pertama Repelita IV kebijaksanaan di bidang pendidikan terutama ditekankan dan diarahkan pada peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan.3.000 eksemplar. Penataran guru/pembina dilaksanakan pada berbagai tingkat pendidikan.048. serta untuk sekolah pendidikan guru/sekolah guru olah raga (SPG/SGO) sebanyak 7.235 eksemplar. maka telah dibangun pula sebanyak 1. untuk SMP dan SMA sebanyak 14. Di samping'itu juga dilakukan persiapan terhadap generasi muda dalam tugasnya sebagai penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional. Pendidikan dan kebudayaan 8.250 orang untuk pendidikan menengah umum. untuk SPG/SGO sebanyak 1. peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar dalam rangka pelaksanaan wajib belajar. pengadaan laboratorium dan peralatan belajar.699. buku bacaan dan buku perpustakaan. Pembinaan pendidikan formal dan nonformal Salah satu tujuan dari kemerdekaan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Di samping itu untuk tingkat SMA juga dibangun 317 ruang perpustakaan.945 eksemplar.1. Di samping buku pelajaran. dan 367 Departemen Keuangan RI 268 . yang antara lain dilakukan melalui penataran guru/ pembina. telah dan sedang ditatar sebanyak 2.500 eksemplar buku Sistem Pengajaran Modul untuk SMP terbuka. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dan sedang dilaksanakan peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan. serta pengelolaan pendidikan yang lebih berdaya guna dan berhasil guna.291.195. untuk sekolah menengah tingkat pertania (SMTP) kejuruan dan teknologi sebanyak 96. untuk sekolah menengah umum sebanyak 82.350. baik secara kualitatif maupun kuantitatif. 74. pengadaan buku pelajaran. Buku pelajaran yang disediakan untuk tingkat pendidikan dasar adalah sebanyak 260. peningkatan keterampilan serta penyempumaan kurikulum.700 eksemplar.892. yang meliputi berbagai bidang studi dan pengelolaan.039 orang untuk pendidikan dasar. baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah.782 ruang perpustakaan dan 1. untuk sekolah menengah tingkat atas (SMTA) kejuruan dan teknologi sebanyak 6. yang perumusannya dilakukan melalui serangkaian kebijaksanaan pokok pembangunan di bidang pendidikan. yang disertai dengan penerbitan 3.367.671. 20.917 eksemplar. serta 20.000 eksemplar.706 orang untuk pendidikan menengah kejuruan dan teknologi. serta penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional.816 ruang laboratorium untuk tingkat SMP. Sejalan dengan pengadaan buku pelajaran dan buku bacaan.509 orang untuk pendidikan guru termasuk penataran dosen.292 eksemplar.240 eksemplar serta untuk pendidikan tinggi sebanyak 333. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984.963 eksemplar. telah disediakan pula buku perpustakaan untuk tingkat pendidikan dasar sebanyak 119.

133 105 5.580 110.606 2.Pendidikan tinggi (dosen) 945 1.390 eksemplar.084 1. Pengadaan alat peraga/praktek/ ketarampilanflaboratorium (unit) .292 10. Pengadaan buku pelajaran ( ribu eksemplar ) 1) .717 20.441 19. pelatih.531 7.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ruang laboratorium serta 25 ruang laboratorium bahasa.467 meter persegi ruang perpustakaan dan 237. pembina dan instruktur serta diadakan buku paket A sebanyak 71.811 41.271 65(SMP) 104(SMP) 3 39 76 50 273 270 .150 116.505 1.600 6.744 .521 385.675 7.000 15.176 6. serta peng. Dalam rangka peningkatan mutu di bidang pendidikan luar sekolah termasuk kepemudaan dan keolahragaan. monitor.177 25.565 .Pendidikan menengah 424 3.513 724 6.810 perangkat alat laboratorium.300 - 32.Pendidikan menengah 1. monitor.000 2.855 56.813 18. Kegiatan 1974/75 1975/76 1977/78 1.812 3.200 11.488 18.000 30.600 .884 .852 2.946 17.000 22.2.000 1.238 2.Pendidikan dasar 8.200 13.600 4.879 4.468 68.157 479.823 60. sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dan sedang dibangun melalui program bantuan Inpres sebanyak 76.053 105.420 24.088 1.095 424 226 1.161 364.936 tenaga teknis termasuk tutor.538 46 16.840 45. Sehubungan dengan hal itu.940 unit gedung SD.262 417 Usaha peningkatan kesempatan belajar yang dikaitkan dengan pemerataan memperoleh pendidikan. Sedangkan untuk perguruan tinggi telah dibangun )7.611 eksemplar buku-buku perpustakaan dan 1.0043) - 16.512 25. Tab e I VIII. angkatan guru baru. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah ditatar sebanyak 383.795 2.610. penambahan ruang belajar pada sekolah yang ada. masing-masing sebanyak 56 buah dan 37 buah sanggar kegiatan belajar untuk tempat latihan tenaga teknis dan pengembangan sarana belajar.140 10.500 14.Pendidikan tinggi 19 35 1) Sejak tahun 1979{1980 termasuk buku PMP dan kurikulum 2) Termasuk dalam buku perpustakaan 3) Angka diperbaiki 4) Angka sementara 1983/84 1984/854) 304.000 58.015 489 4. untuk mewujudkan pelaksanaan wajib belajar pada tingkat pendidikan dasar.310 buah perumahan dosen.500 12.200 372.376 18.480 6.360 275. Guna menunjang kegiatan.544 43. Penataran guru/pembinaan (orang) . telah diselenggarakan pendidikan dan latihan bagi tenaga pendidik termasuk tutor.Pendidikan tinggi 2) 3. Perkembangan peningkatan pendidikan dapat diikuti pada Tabel VIII. dilakukan penelitian sebanyak 7.Pendidikan menengah 5.994 231.048 29. Selain itu juga telah dibangun sebanyak 1.284 2.032 23.Pendidikan dasar 20.793 judul.000 . dan diberikan bantuan kepada perguruan tinggi swasta .000 80.072 5.040 1. Pengadaan buku perpustakaan ( ribu eksemplar ) 8.023 2.000 88.kegiatan tersebut dalam waktu yang sama telah dibangun dan direhabilitasi.Pendidikan tinggi 11 30 4.163 meterpersegi ruang laboratorium yang masing-masing dilengkapi dengan 305.960 105.018 17.393 6.314 8.400 .258 5.Pendidikan menengah 413 979 422 1. an mala pencaharian serta pendidikan politik dan latihan kepemimpinan/keterampilan bagi generasi muda.840 4.524 547.407 21.800 31. penggerak olah raga dan pembina/pemuka pemuda.000 6 61 51 28 36 40 .Pendidikan dasar 6.Pendidikan dasar 25. 1973/1974 -1984/1985 1973/74 1976/77 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 .600 369. rehabilitasi gedung sekolah.960 .467 299. antara lain dilaksanakan melalui pembangunan gedung sekolah baru. Dalam peningkatan mutu pendidikan di luar sekolah ini termasuk juga usaha mengintegrasikan kelompok belajar (Kejar) paket A dengan pendidik.400 106 11.900 7.307 4.000 1. 2 PEMBINAAN MUTU PENDIDIKAN DI BERBAGAI TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL.316 7. penambahan ruang kelas Departemen Keuangan RI 269 .

8 persen sedangkan pada awal Repelita IV sarnpai dengan bulan Agustus 1984. Seperti diketahui.598 gedung sekolah yang telah ada. Dalam tahun 1979/ 1980 baru mencapai 83. serta dila:kukan rehabilitasi terhadap sejumlah SLB yang telah ada.919 unit sekolah baru.000 orang. tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten/kotamadya. termasuk guru agarna dan tenaga teknis.732.2 persen.342. Adapun pendidikan bagi anak-anak yang mengalami cacat fisik. garaan untuk SD negeri. baik yang baru maupun lanjutan. Selanjutnya guna menunjang Departemen Keuangan RI 270 .156. dan dilakukan rehabilitasi terhadap 1.983. Sebagai kelanjutannya.8 persen per tahun. dilakukan melalui lembaga pendidikan khusus.000 orang dalam tahun 1979/1980 menjadi 4.000 orang sampai dengan bulan Agustus 1984. dan tahun pertama Pelita IV telah ditingkatkan dengan membangun TKK pembina. serta rehabilitasi sebanyak 134.800 buah. yaitu sekolah luar biasa (SLB). baik di tingkat nasional. Apabila pada awal Pelita III jumlah murid baru sebanyak 2.580 guru. Hal ini disebabkan karena terjadinya kenaikan jumlah lulusan SD yang melanjutkan ke SMP yakni dari sebanyak 1. Sejak tahun 1979/1980 sampai dengim bulan Agustus 1984. Perkembangan pendidikan dasar telah menunjukkan hasil yang nyata seperti tercermin pada kenaikan angka partisiposi pendidikan. pada Hari Pendidikan Nasional (Harpenas) tanggal2 Mei 1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 baru sebanyak 129. Sedangkan pengembangan pembinaan taman kanak-kanak (TKK) dalam Pelita III. juga dibangun sejumlah gedung SLB baru dengan asramanya. Bersamaan dengan itu telah dikembangkan pula sebanyak 165 buah SMTP kejuruan yang tidak diintegrasikan ke dalam SMP. dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diusahakan pula peningkatan daya tampungnya. telah meningkat menjadi 97. Sejalan dengan perkembangan tingkat pendidikan dasar serta perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTP.200 orang. selain disediakan buku. Untuk itu telah dibangun 2. Dalam waktu yang sarna telah dilaksanakan pengangkatan 439. alat peraga dan penataran guru/pembina. sebagai TKK percontohan. Presiden telah mencanangkan gerakan wajib belajar untuk seluruh Indonesia. Hal ini tercermin pada kenaikan jumlah murid yang selama 5 tahun terakhir telah meningkat sebesar 79. Pemerintah juga telah menghapuskan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) untuk SD dan sebagai gantinya diberikan subsidi/bantuan pembiayaan penyeleng.1 persen atau rata-rata 15. Perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTP tersebut telah memperlihatkan hasil yang baik.500 sekolah termasuk SD swasta dan madrasah ibtidaiyah. maka selmna Pelita III. 18. maka sampai dengan bulan Agustus 1984 telah meningkat menjadi sebanyak 5. mental dan sosial.054 ruang kelas baru.

serta merehabilitasi gedung seluas 233. Sedangkan untuk pendidikan guru.400 siswa SD. Kegiatan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTA telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.085 meterpesegi. sekolah menengah pekerjaan sosial (SMPS).700 orang. sekolah menengah tehnologi kerumahtanggaan (SMTK). telah dapat meningkatkan daya tampung bagi lulusan SLTA yang akan me1anjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. maka selama Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dibangun 765.085 ruang kelas baru. sekolah menengah kesejahteraan keluarga (SMKK). Hal ini tercermin dari meningkatnya daya tampung SMTA yang dalam tahun 1979/1980 baru berjumlah 1. yang meningkat menjadi 803. sekolah menengah seni rupa (SMSR). 22. Perkembangan kesempatan belajar diberbagai tingkat pendidikan formal dapat dilihat Departemen Keuangan RI 271 . Se1ama Pe1ita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diberikan bea siswa kepada 63. maka dalarn waktu yang sarna juga telah dilakukan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTA. Guna menghadapi meningkatnya jumlah mahasiswa yang ingin melanjutkan pelajaran pada perguruan tinggi. telah dilakukan pembangunan gedung baru.7 persen per tahun.424 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.776 orang dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.574. sekolah menengah karawitan indonesia (SMKI).3 persen per tahun.733.547 meterpersegi ruang kuliah dan kantor. serta pembangunan ruang kelas dan rehabilitasi sejumlah SPG. Untuk memperlrias kesempatan belajar kepada siswa dan mahasiswa yang berbakat dan berprestasi. 37. dan dilakukan rehabilitasi terhadap 460 sekolah yang telah ada.6 persen selama periode tersebut atau rata-rata sebesar 14. 289 buah STM 3 tahun. antara lain me1alui penataan dan pemberian bantuan prasarana serta sarana. 44 buah SMT pertanian/khusus. 39.200 orang. atau rata-rata sebesar 22. 130 putra Irian Jaya dan 320 putra Timor Timur. Hal ini berarti peningkatan sebesar 89. Pembinaan perguruan tinggi swasta juga terus ditingkatkan.000 orang. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencapai 2.927 siswa SLTP. juga telah diberikan sejumlah bea siswa. Hal ini berarti suatu peningkatan sebesar 70. 160 putra Nusa Tenggara Timur.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perkembangan kegiatan belajar pada tingkat SMTP. serta dilakukan pembangunan/pembinaan terhadap 8 STM Pembangunan. Untuk itu telah dibangun sebanyak 517 unit gedung SMA baru.373 siswa SMTA. sekolah menengah industri kerajinan (SMIK). Bersamaan dengan itu pada SMTA kejuruan telah direhabilitasi/dikembangkan pula sebanyak 145 buah STM 3 tahun. 5. SMEA. Dalam tahun 1979/1980 jumlah mahasiswa baru adalah sebanyak 424. Usaha perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan tinggi.3 persen dalam periode tersebut. SGO dan SGPLB. dan sekolah menengah musik (SMM).

000 16.Pendidikan dasar 2) . 725 52. Pembangunan gedung (unit) .000 1.202 89.000 15. selain dilakukan melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi juga dilaksanakan melalui berbagai kegiatan yang bersifat informal.000 - 15. Meliputi SD Negeri.300 28.435 50.202 50. Pengangkatan/penempatan guru (orang) .261 4.Pendidikan tinggi (m 2) 4.946 25.000 60.000 162 6 15. kesegaran jasmani dan daya kreasi.000 179 9.075 36(SPG) - 1. yang telah diikuti oleh 7.3.000 1.184 91.000 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada Tabel VIII.845 23.700 6. Termasuk guru agama daD tenaga teknis lainnya 4.105 50.080 103.000 4.480 32. Kegiatankegiatan tersebut diarahkan pada pengembangan kepemimpinan dan keterampilan.100 5. telah disiapkan RUU sistem pendidikan nasional yang kini telah mencapai tahap penyelesaian terakhir.200 16. dan menampung sebanyak 1. jumlahnya te1ah mencapai 8.000 92 24.000 5.000 1.790 21.000 1.300 30. dewasa ini te1ah dikembangkan sekolah menengah kejuruan tingkat atas (SMTA-AKT) yang meliputi berbagai bidang dan 7 politeknik.610 18.347 218.672 36. ruang ketrampilan dan ruang perpustakaan 2.460 25. Pembinaan dan pengembangan generasi muda sebagai kader-kader penerus perjuangan dan pembangunan nasional.205 37.000 125 1. penyempurnaan sistem pendidikan nasional.Pendidikan tinggi (m 2) 3.100 12.000 390 11 22.000 135 15.500 15.629 50. patriotisme dan idealisme.830 19. 3 PENYEDIAAN SARAN A GEDUNG DAN GURU BAGI PENDIDIKAN FORMAL.600 33.400 orang mahasiswa.000 103 27.000 703 8. Guna memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga kejuruan/teknik yang terdidik dan terampil.Pendidikan menengah (ruang) 1) . 1973/1974 -1984/1985 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/85 4) 6.767 28. Departemen Keuangan RI 272 . o Kegiatan 1.000 15.Pendidikan menengah . MI Swasta 3.600 1.051 1.225 15. dan sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mempunyai 7.350 10.488 36.Pendidikan tinggi (dosen) T abel VIII.380 75.547 warga pe1ajar selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984.614 6. Adapun lembaga pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat (PLSM).320 21. Angka sementara.683 25.000 - 6. Sedangkan dalam rangka penyempurnaan sistem pendidikan nasional.000 orang. Se1anjutnya dalam rangka meningkatkan pendidikan masyarakat te1ah pula ditingkatkan kegiatan pendidikan di luar sekolah.020 121.Pendidikan menengah .144 60.Pendidikan tinggi 2. dan perluasan sekolah kejuruan. kesadaran berbangsa dan bernegara.000 - 10.207 15.000 buah.000 - 10.Pendidikan menengah .500 175.404. Usaha ini dilakukan melalui Kejar pendidikan dasar (Paket A).000 246 10 20.000 7.390 10.000 1.000 155 10.085 23. Rehabilitasi/pengembangan (sekolah) .Pendidikan dasar 3) .151 18. SD Swasta.192 10.000 1. tennasuk ruang laboratorium.003 103. Penyempurnaan kurikulum dilaksanakan melalui perbaikan kurikulum lama (1975) menjadi kurikulum baru (1984) yang merupakan bagian penting dari perkembangan sistem pendidikan nasional guna memenuhi tuntutan pembangunan nasional.500 14.334 15.500 784 14.154 48. Terdiri dari SMP & SMA. Pembangunan ruang kelas baru .338.000 608 29.140 878 11 2.000 1.000 8.150 11 13.194 15.219 7.000 35.420 123. Untuk meningkatkan sistem pendidikan agar lebih sesuai dengan kebutuhan pembangunan.200 610 11 19.Pendidikan dasar (a 3 ruang kelas) .000 - 14.750 20.000 286 24.000 923 67.Pendidikan dasar (ruang) . telah dilakukan berbagai kegiatan seperti penyempurnaan kurikulum tingkat pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah alas.900 54.

150 orang. latihan instruktur terhadap 3.360 orang. pembinaan terhadap 8.057 orang.955 orang.576 orang dan 4.400 orang satuan tugas sukarela pemuda.855 orang. penataran pemuda tingkat perintis. pendidikan dan latihan kegrafikaan yang diikuti 6.480 orang dan latihan pendamping pembina pemuda yang diikuti oleh 210 orang. 260 orang.330 orang. pemantapan organisasi.204 orang serta pembinaan terhadap 5. Sementara itu dalam rangka pembinaan serta pengembangan keterampilan dan daya kreasi generasi muda antara lain dilakukan pertukaran pemuda dengan luar negeri dan antarpropinsi. Untuk itu telah dilakukan pengembangan desa pemuda di beberapa daerah/propinsi.970 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Poskibraka) dan Caraka Muda tingkat propinsi. serta partisipasi generasi muda dalam pembangunan. Penataran tenaga non edukatif telah dilakukan melalui sekolah star dan pimpinan administrasi (Sespa).280 orang. Selain itu bantuan kepada KNPI juga telah dimanfaatkan guna meningkatkan aktivitas. yang masing-masing diikuti oleh 2. serta latihan kepemimpinan manajemen yang mengikutsertakan 1. 22. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan. Selanjutnya dalam rangka peningkatan/pengembangan wanita telah dilakukan latihan pengembangan belajar wanita yang diikuti 24.185 eksemplar. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan penataran P4. yang antara lain meliputi penataran tenaga nonedukatif.270 orang. dan penataran tenaga teknis penilik generasi muda.825 orang. penyelenggaraan festival pemuda yang mengikutsertakan 44.718 meterpersegi serta pengadaan buku pramuka sebanyak 310.192 orang. 325 orang dan 2. dan 805 orang. pembinaan unit kerja produktif terhadap 1. fungsi. sekolah pimpinan administrasi tingkat madya (Sepadya) dan sekolah pimpinan administrasi tingkat lanjutan (Sepala). yang masing-masing diikuti 300 orang. pembangunan gedung Cadika seluas 16. Bantuan kepada pramuka dilakukan dengan menyelenggarakan latihan terhadap 30. Untuk peningkatan pengelolaan pendidikan agar lebih berdaya guna dan berhasil guna. perkemahan kerja pemuda yang diikuti oleh 3. Adapun pembinaan dan Departemen Keuangan RI 273 . serta pengadaan prasarana dan sarana. mutu. penataran tingkat menengah nasional dan regional terhadap 600 orang.795 orang. penataran pengelola gelanggang.799 orang. Sehubungan dengan itu. yang masing-masing diikuti 3. pembinaan dan peningkatan perencanaan serta penyempurnaan pengawasan. serta lomba desa binaan keluarga sehat dan sejahtera di 26 propinsi. lomba kreativitas pemuda.519 orang serta penataran tenaga teknis kebudayaan yang diikuti 2.556 orang. penataran tingkat pelaksana terhadap 1. Selain itu juga telah dilakukan latihan pemuda tingkat pemuka yang diikuti oleh 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kepribadian dan budi pekerti luhur.

serta memperkokoh jiwa persatuan. Pembinaan di bidang olah raga ditujukan untuk mengolahragakan masyarakat. teknologi dan ilmu pengetahuan. rumah dinas sebanyak 37 buah. pemantapan sistem dan mekanisme perencanaan terpadu. penyelenggaraan pemasalan olahraga yang mengikutsertakan 1. dan pembina. 8. pengadaan peralatan olah raga sebanyak 52. serta pengadaan peralatan kantor kecamatan dan sarana mobilitas.658 orang. pelatih. serta pembinaan olahraga berbakat terhadap 18. mahasiswa. masing-masing seluas 9. gedung kantor kecamatan sebanyak 8 unit. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 antara lain telah diwujudkan pembangunan gedung olahraga dan kolam renang. masing-masing seluas 25.054 meterpersegi dan 30. masyarakat dan penyandang cacat.982 meterpersegi. penyempurnaan sistem pelaporan.2 Pembinaan kebudayaan Usaha pembinaan dan pengembangan budaya bangsa senantiasa ditujukan untuk menunjang pembangunan nasional. Berkaitan dengan itu juga telah dilaksanakan penataran terhadap 8.657 meter persegi. Untuk itu. Untuk itu telah dilakukan survai dan perencanaan koleksi di 92 lokasi yang tersebar di 26 Departemen Keuangan RI 274 .243 orang guru. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi dan menjawab tantangan zaman dalam berbagai bidang.175 meter persegi dan 6. kesejarahan. serta pengadaan buku-buku olah raga sebanyak 143.065. antara lain bidang ekonomi. Guna menunjang berbagai kegiatan tersebut.000 eksemplar.573 orang pelajar. Adapun peningkatan pengawasan dilakukan melalui penyempumaan sistem dan prosedur pengawasan terpadu.360 orang. dan permuseuman.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan perencanaan dilaksanakan melalui berbagai kegiatan. serta peningkatan mutu aparat pengawasan. gedung kotamadya/kabupaten sebanyak 117 unit. antara lain penyempurnaan teknik dan metodologi perencanaan.583 paket. serta peningkatan mutu aparat perencanaan baik di pusat maupun di daerah melalui penataran perencanaan P2 dan P1 tertulis yang masing-masing diikuti oleh 60 orang dan 1. memperkuat kepribadian bangsa. serta mempercepat alih teknologi yang semakin tinggi.3. mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional. dan memasyarakatkan olah raga. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pembangunan/rehabilitasi gedung kantor pusat dan kantor wilayah. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan berbagai program yang antara lain berupa program kepurbakalaan. nilai-nilai dan norma budaya yang dinamis. selaras dgn memberi arah pacta pembangunan harus dibina dan dikembangkan guna memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila.

antara lain meliputi pembinaan sosio drama. dan editing dari 800 naskah. Kegiatan tersebut antara lain berupa penyusunan/penerbitan perkamusan sebanyak 29 naskah. studi kelayakan di 133 lokasi. Sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diadakan penilaian. Selain itu dalam bidang perpustakaan nasional juga telah dilaksanakan rekatalogisasi koleksi pustaka Indonesia dan asing. perpustakaan umum. perpustakaan keliling. penerbitan majalah. pameran dalam rangka pemantapan fungsi eksistensi museum dengan segenap aspeknya sebanyak 183 kali di 26 propinsi. pengadaan koleksi sebanyak 6 jenis di 26 propinsi.500 eksemplar. penyelesaian rencana induk Wisma Seni Nasional. dan lebih memperkaya kesenian Indonesia yang beraneka ragam.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 propinsi. Demikian pula dilaksanakan penambahan tenaga. peningkatan apresiasi sastralseni. Untuk itu telah dilakukan berbagai kegiatan. kecamatan. serta pemberian bantuan peralatan kesenian pada kabupaten/kodya. Sejalan dengan itu telah dilakukan pula penulisan dan penerbitan naskah buku bacaan populer sebanyak 720.564 situs. serta pengadaan peralatan kantor museum sebanyak 872 unit. serta pembinaan bahasa Indonesia melalui TVRI dan RRI. Dalam waktu yang sama juga telah dilakukan pemugaran peninggalan sejarah dan purbakala di 379 lokasi. pemberian bantuan kepada 60 museum daerah. Untuk pengembangan kebahasaan. perpustakaan desa dan perpustakaan perintis sekolah. maka sejak Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengembangan bahasa serta sastra Indonesia dan daerah. pengembangan media kebahasaan sebanyak 30 naskah. Di samping itu juga dilakukan peningkatan penghayatan seni oleh masyarakat yang mencakup 4 bidang seni. Kegiatan inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan nasional ditujukan untuk membina Wawasan Nusantara. serta pengadaan buku sebanyak 1. sayembara mengarang. serta pengembangan perpustakaan nasional. dan perpustakaan. pengadaan peralatan teknis. pemeliharaan dan penyelamatan 1. yang tersebar di seluruh nusantara. pengadaan peralatan kantor. dan daerah transmigrasi. serta studi kelayakan di daerah tingkat II di 127 lokasi. Pengembangan dalam bidang seni budaya ditujukan untuk meningkatkan kreativitas seniman yang sehat. melanjutkan pemeliharaan Candi Borobudur serta rehabilitasi Monumen Nasional (Monas). penyusunan naskah kebudayaan daerah Departemen Keuangan RI 275 . penyuluhan teknis kesenian. penerbitan pedoman penyuluhan perpustakaan sebanyak 6 naskah. penyempumaan. perbukuan.636 eksemplar untuk perpustakaan wilayah. pengembangan organisasi kesenian dan penyebarluasan kesenian. Kemudian dilakukan juga penanggulangan terhadap pengaruh kebudayaan yang negatif. kesusastraan.museum sebanyak 549 unit. serta sayembara mengarang bacaan populer sebanyak 56 judul.351. terjemahan 16 naskah.

8. 8. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. serta penyakit yang disebabkan oleh pengaruh buruk dari bahan yang berbahaya bagi kesehatan. penulisan. dan penyusunan naskah dad 117 penelitian. pelayanan kesehatan gigi dan jiwa. terutama melalui pencegahan dan penyembuhan. pembangunan di bidang kesehatan dalarn tahun pertama Repelita IV diarahkan pada peningkatan kemarnpuan masyarakat untuk hidup sehat dan mengatasi sendiri masalah kesehatan yang sederhana.4. Kegiatan ini ditunjang dengan pengadaan obat yang cukup dan terjangkau oleh masyarakat. Pelayanan kesehatan Kegiatan yang dilakukan di bidang pelayanan kesehatan ditujukan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara lebih merata dan lebih dekat kepada masyarakat. penyakit yang hanya dapat dicegah dengan imunisasi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam 5 aspek dengan ps:nerbitan sebanyak 372 judul. pembangunan di bidang kesehatan dilakukan secara terpadu dengan bidang-bidang lainnya ke dalam suatu sistem kesehatan nasional. Kesehatan dan keluarga berencana Sebagai kelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya. Selain itu juga telah diselenggarakan penataran tenaga teknis dokumentasi dan informasi kebudayaan yang diikuti 130 orang. tokoh nasional sebanyak 120 judul. terutama penyakit menular. maka dilakukan penelitian. sejarah pahlawan sebanyak 26 judul serta biografi nasional sebanyak 17 judul. Selain itu telah dilakukan peningkatan pelayanan rumah Departemen Keuangan RI 276 . penelitian purbakala sebanyak 5 aspek serta penerbitan majalah arkeologi. serta peningkatan pelayanan laboratorium kesehatan.4. Peningkatan dan pemerataan pelayanan kesehatan tersebut antara lain dilakukan melalui puskesmas. serta peningkatan pendidikan. Selanjutnya juga diarahkan pada pengurangan kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh penyakit yang banyak diderita rakyat banyak. Selain itu juga ditujukan pada peningkatan kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar guna perbaikan mutu lingkungan. terutama yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota. pemerataan kesehatan masyarakat. Sejalan dengan usaha inventarisasi dan dokumentasi sejarah nasional. latihan dan pengelolaan tenaga kesehatan masyarakat. Usaha lain yang dilakukan adalah meliputi penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah sebanyak 665 naskah.1. usaha kesehatan sekolah (UKS). dan penyusunan naskah biografi pahlawan nasional yang meliputi caton pahlawan sebanyak 36 judul. serta pembinaan bimbingan teknis operasional penelitian yang mengikutsertakan 457 orang.

893 4.753 8. dan diperlengkapi dengan 167 set peralatan kesehatan mata dan obat-obatan mata.416 orang.744 3.691 tenaga record and report (RR) terpadu. Selanjutnya di bidang kesehatan olah raga telah dikembangkan pusat kesehatan olah raga di 8 propinsi. Perkembangan sarana pelayanan kesehatan masyarakat dapat diikuti pada Tabel VIII.353 12. pengobatan mala telah dikembangkan di 250 puskesmas yang tersebar di 24 propinsi.076 tenaga laboratorium dan 3. sehingga sarnpai dengan bulan Agustus 1984 jumlahnya telah mencapai 5. 1973/1974 -1984/1985 1) 1984/855) 1. serta peningkatan pelayanan instalasi kesehatan.412 4. Sedangkan dalam rangka memenuhi kekurangan tenaga di puskesmas. Selain pembangunan puskesmas.412 4.670 kader/pemuka masyarakat. Angka diperbaiki 5).979 2. serta daerah perbatasan atau daerah yang angka kecelakaan lalu lintasnya tinggi.180 2.453 buah. Untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tenaga kesehatan di puskesmas.4. Puskesmas Pembantu 2) 3. Sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah puskesmas.828 staf puskesmas.136 buah dan 2. Untuk itu.342 13. B K I A 3) 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/85 2.826 puskesmas dan penggantian peralatan medis sebanyak 2.412 4.124 6.342 729 4.702 set.953 10. Untuk mendukung tugas puskesmas tersebut. 3.453 15. Puskesmas 2.979 buah. penarnbahan persediaan bahan-bahan dan obat-obatan. Di samping itu telah diselenggarakan pula latihan kesehatan mala bagi 221 paramedis dan 1. telah dilakukan pula perbaikan 5. yang dilakukan melalui sistem rujukan antara masyarakat. Angka sementara Sampai dengan bulan Agustus 1984.443 4. Merupakan peningkatan dari BKlA dan Ba1ai Pengobatan 3).801 3. telah dibangun puskesmas perawatan sebanyak 158 unit. serta latihan klinis bagi 155 orang dokter dan 185 orang paramedis yang bekerja di puskesmas. pembangunan kesehatan masyarakat desa. telah disediakan pula 19. 5. telah dilaksanakan penataran tenaga kesehatan terhadap 2.479 5.342 979 4. Sejak 1975/1976 berkurangnya jumlah BKIA dan Balai Pengobatan karena diintegrasikan 4). 4 JUMLAH SARAN A PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT.353 604 4. masing-masing sebanyak 15. Selanjutnya agar pelayanan kesehatan kepada rakyat dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan merata.600 dokter puskesmas.6364) 1.928 3.113 7. Sedangkan bagi daerah-daerah terpencil yang jauh dari pelayanan rumah sakit.787 tenaga kesehatan melalui program Inpres.553 7. Tabel VIII. maka jumlah dan fungsi puskesmas terus ditingkatkan.479 5.979 1).180 2.342 1.053 4.343 7.136 2. Puskesmas Ke1iling 4. dalam waktu yang sarna telah dibangun pula puskesmas pembantu dan puskesmas keliling.153 5.180 2. telah diadakan latihan cepat bagi pembantu paramedis sebanyak 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sakit. Dalam rangka pencegahan Departemen Keuangan RI 277 .124 6. BaJai Pengobatan 3) 5.602 2. puskesmas dan rumah sakit di semua tingkat. seluruh sarana kesehatan diusahakan berada dalarn suatu sistem jaringan hubungan yang serasi dan efektif. Angka kumuIatif 2). yang masing-masing dilengkapi 10 tempat tidur.

Sedangkan melalui RSU. Sedangkan dalam rangka kesehatan gigi masyarakat desa.280 SLP dan 3891 SLA.620 guru SD. Di samping itu dalam rangka UKS juga telah dilakukan penataran terhadap105. Selama Pelita III telah dilakukan integrasi kesehatan jiwa ke 560 puskesmas. rehabilitasi mental. serta pemantapan standarisasi pelayanan di rumah sakit. dan pengobatan pertama bagi yang memerlukan. Bersamaan dengan itu. penyembuhan. Program perawatan kesehatan masyarakat sampai dengan bulan Agustus tahun 1984. gelandangan dan posung. serta pembinaan kesehatan lingkungan. telah ditempatkan sebanyak 1. dan UKGS di puskesmas-puskesmas. Di samping itu juga dilakukan survai epidemiologi terhadap 11. telah dilaksanakan di 2. Departemen Keuangan RI 278 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan pengobatan penyakit pada anak-anak sekolah. telah diintegrasikan kesehatan jiwa ke 90 RSU. standarisasil metodologi terhadap' 10 daerah pelayanan. dengan jumlah kunjungan posien mental sekitar 40. serta penanggulangan penderita mental khususnya psikotik.dan di 30 rumah sakit yang dilengkapi dengan peralatan rehabilitasi gigi (unit teknik gigi). 5. serta integrasi kesehatan jiwa ke puskesmas dan rumah sakit umum (RS umum). di 40 RSU kelas C yang dilengkapi dengan peralatan bedah mulut sederhana. di samping juga terhadap golongan khusus yang berada di 52 panti dan tersebar di 24 propinsi.500 orang.404 SD. Selain dilakukan pemeriksaan guna menemukan kelainan-kelainan kesehatan yang ada sedini mungkin. telah dilakukan usaha kesehatan sekolah (UKS) melalui kunjungan berkala petugas puskesmas ke sekolah-sekolah. Adapun pelaksanaannya dilakukan melalui rumah soot jiwa (RS jiwa). survai pengumpulan data kadar flour dalam posta gigi.254 puskesmas dengan membina 82.347 guru SLTA. melalui usaha kesehatan gigi sekolah (UKGS) telah dilaksanakan pemanduan UKGS selektif bagi 108 SD.000 per tahun. telah dilakukan juga pelayanan kesehatan jiwa yang dititikberatkan pada upaya pencegahan.224 guru SLTP dan 2. Dalam Pelita III. Untuk itu fungsi rumah sakit jiwa sebagai pusat rujukan pelayanan kesehatan jiwa semakin ditingkatkan.250 orang tenaga perawat gigi di 402 puskesmas.426 keluarga. sejak tahun 1980/1981 sampai dengan akhir Pelita III. Dalam Pelita III. ditingkatkan pula pelayanan kesehatan gigi kepadamasyarakat. imunisasi. Selanjutnya dalam upaya kesehatan gigi sekolah telah dilakukan penempatan sebanyak 62 set klinik gigi lapangan (KGL). Selama Pelita III telah dapat dicakup sebanyak 95. dan pengembangan pelayanan kesehatan gigi integrasi terhadap 258 SD di 139 daerah tingkat II. juga diberikan penyuluhan kesehatan kepada anakanak sekolah. serta peningkatan pelayanan gigi di 104 RSU kelas D yang dilengkapi dengan 104 unit klinik gigi basis.191 guru yang terdiri dati 97. 9.

sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah ditatar sekitar 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sementara itu guna menunjang peningkatan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Selain itu pengiriman penderita dari puskesmas ke rumah sakit kabupaten dan rumah sakit yang lebih tinggi semakin ditingkatkan. patologi. dokter-dokter ahli dari rumah rumah sakit yang tingkatannya lebih tinggi telah dikirim ke tingkatan yang lebih rendah.076 tenaga laboratorium puskesmas. terutama di daerahdaerah terpencil semakin ditingkatkan. kimia dan imunologi. Guna meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. di bidang mikrobiologi. terus ditingkatkan pula pelayanan laboratorium kesehatan. 13 buah RS vertikal. Dalamwaktu yang sarna telah dilakukan pula rehabilitasi terhadap 192 buah RSU kabupaten/kotamadya. serta penambahan alat-alat laboratorium di 26 balai laboratorium dan 137 laboratorium kabupaten rumah sakit C. pelayanan melalui rumah sakit juga terus ditingkatkan dengan penyempurnaan sistem rujukan. Untuk lebih meningkatkan fungsi rujukan tersebut. Dalam hubungan ini selama Pelita III telah dilaksanakan pembangunan gedung dan penambahan ruang pemeriksaan di 27 balai laboratorium kesehatan. baik antarberbagai tingkat rumah sakit maupun antara puskesmas dengan rumah sakit. 20 buah RSU di ibukota propinsi. Sejalan Departemen Keuangan RI 279 . Untuk itu selama Pelita III telah ditingkatkan pula baik sarana fisik maupun tenaga kesehatannya melalui pemban_nan 11 RSU baru sebagai pengganti RSU yang telah ada. Untuk itu baik sarana maupun peralatan laboratorium. 5 buah RS khusus vertikal dan sebuah Palang Merah Indonesia (PMI). yakni melalui pemeriksaan laboratorium baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Sedangkan untuk meningkatkan pelayanan laboratorium di puskesmas.

237 1978/79 10. di 410 kecamatan dan 101 Dati II.720 ) 28.931 35. Perkembangan tenaga kesehatan dapat diikuti pada Tabel VIII.693 35.693 desa meliputi sebanyak 1. Pemberantasan penyakit menular Pemberantasan penyakit menular mempunyai peran yang cukup penting dalam menunjang pembangunan. dan 269 Dati II yang tersebar di seluruh propinsi.926 30.678 16. sebanyak 5.066 9.679 1) Sejak tahun 1976/1977 perawat dan bidan ditetapkan menjadi tenaga perawat kesehatan.113 35. 5 JUMLAH BEBERAPAjENIS TENAGA KESEHATAN. Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan daripada upaya-upaya yang telah dilakukan dalam tahun sebelumnya dan didasarkan atas ketentuan Departemen Keuangan RI 280 . diberikan pula bantuan berupa peralatan medis dan non medis kepada 135 RSU propinsi/kabupaten. kesehatan anak.000 35.2. D okter 2. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah diberikan bantuan obatobatan kepada 40 RS propinsi. Adapun untuk menggerakkan partisipasi masyarakat dalam peningkatan derajat kesehatannya. 8.736 8. dibentuk Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD).5.698 desa. Untuk itu selama Pelita III telah ditempatkan di 133 RS sebanyak 263 tenaga dokter.854 35.698 1981/82 1982/83 2) 15.4. dan 5 RS khusus vertikal. PKMD tersebut telah dikembangkan di 7.644 8.520 35.805 27.361 1980/81 12.985 desa.972 1977/78 9. yang disebut promotor kesehatan desa (Prokesa).061 35.647 44.456 31.679 1983/84 3) 17.160 26. yang dikembangkan melalui bantuan Pemerintah meliputi sebanyak 1. dan 168 Dati II merupakan hasil swadaya masyarakat.711 33.323 24.400 37.977 28.678 kecamatan.268 kecamatan. kebidanan dan kandungan serta penyakit dalam.248 1974/75 7. Bid ani) 4. Dari jumlah tersebut.577 1979/80 11. dengan pemutusan matarantai penularan penyakit. Penjenang kesehatan 1973/74 6. Tabel VIII. Sampai dengan akhir Pelita III.856 ) 10.681 32.221 7. Peningkatan pembangunan sarana pelayanan kesehatan tersebut telah diikuti pula dengan peningkat an jumlah tenaga kesehatan. penanggulangan bencana alam.000 40. 1973/1974 -1983/1984 J enis Tenaga 1.279 9. melalui latihan dan bimbingan tenaga sukarelawan kesehatan desa.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan meningkatnya sarana fisik tersebut. sedangkan sisanya. AMD (ABRI Masuk Desa) serta kegiatan sosial lainnya. Per a w a t 1) 3. 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Sementara itu guna memenuhi kebutuhan obat dalam masyarakat.262 1975/76 8. Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit menular ditujukan khususnya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular. selama Pelita III telah disediakan obat-obatan dan bahan-bahan obat antara lain untuk RSU khusus pusat. yang memiliki keahlian dasar bedah. di 1.707 1976/77 8.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

prioritas jenis penyakit yang telah ditetapkan. Sehubungan dengan itu, pemberantasannya diprioritaskan pada penyakit malaria melalui penurunan jumlah penderita, dan penanggulangan wabah yang terjadi di Jawa dan Bali, melindungi penduduk yang telah kebal dan berpindah dari Jawa dan Bali, serta menurunkan jumlah penderita di daerah yang keadaan sosial ekonominya rendah termasuk pemukiman transmigran dan pemukiman baru. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap sekitar 749 ribu sediaan darah penderita, pemberian obat kepada sekitar 798 ribu orang penderita, dan penyemprotan terhadap sekitar 75 ribu buah rumah. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 48,3 juta sediaan darah, pengobatan alas 45 juta orang dan penyemprotan 17 juta buah rumah. Pemberantasan penyakit demam berdarah (arbovirosis) dalam tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984, dilakukan melalui pemberantasan jentik nyamuk pada sekitar 200 ribu rumah dan penanggulangan fokus pada 800 lokasi. Dengan demikian selama Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemberantasan jentik nyamuk terhadap 528.516 buah rumah dan penanggulangan 11.632 fokus. Pemberantasan penyakit kaki gajah (filariasis) dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 dilakukan melalui pemeriksaan terhadap 146.778 sediaan darah malam dan pengobatan terhadap 200.557 orang penderita. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diperiksa sebanyak 737.702 sediaan darah malam, dan diobati sebanyak 1.136.573 orang penderita. Dalam waktu yang sama untuk pemberantasan penyakit rabies dan pes telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 200 sediaan darah tersangka rabies dan pengobatan terhadap 1.700 orang yang digigit oleh hewan tersangka rabies. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984, telah dikumpulkan dan diperiksa sebanyak 8.970 sediaan darah tersangka rabies, dan diobati sebanyak 66.408 orang penderita gigitan hewan tersangka rabies. Adapun dalam rangka pemberantasan penyakit pes, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diobati sebanyak 70 orang tersangka pes, sehingga sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diobati sebanyak 1.424 orang tersangka penderita pes. Pemberantasan penyakit demam keong (scbistosomiasis) dilakukan melalui survai terhadap tikus, keong dan specimen tinja, sella pengobatan selektif terhadap penderita di daerah endemis, yaitu di sekitar danau Lindu (Sulawesi Tengah). Selama Pelita III telah dilaksanakan survai di 15 lokasi dan pengobatan terbatas terhadap 12.799 orang penderita. Di samping itu dilakukan juga pemberantasan terhadap penyakit anthrax, yakni penyakit menularyang bersumberdari binatang. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan buIan Agustus 1984 tdah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 10 sediaan dan
Departemen Keuangan RI

281

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

pengobatan terhadap 30 orang tersangka penderita anthrax. Pemberantasan penyakit tersebut dilakukan di daerah endemis yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat dan Timor Timur, sehingga sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 361 sediaan dan pengobatan terhadap 844 orang penderita tersangka anthrax. Selain pemberantasan terhadap penyakit menular yang bersumber dari binatang, telah dilakukan pula pemberantasan penyakit yang menular secara langsung. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, pemberantasan terhadap TBC paru dilakukan melalui pemeriksaan dahak dari 19.000 orang penduduk dan pengobatan kepada 2.000 orang penderita, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah. diadakan pemeriksaan dahak terhadap 1.255.846 orang tersangka TBC, dan diobati sebanyak 141. 300 orang penderita, baik dengan streptomycin maupun rifampisin. Jumlah penderita yang diobati tersebut belum termasuk penderita yang diobati oleh BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru) dan dirumah-rumah sakit. Untuk pemberantasan penyakit frambosia juga te1ah dilakukan pemeriksaan terhadap sekitar 231.000 orangpendudukdan pengobatan terhadap 4.500 orang penderita, sehingga sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diperiksa sebanyak 37.268.231 orang penduduk dan diobati sebanyak 534.903 orang..penderita. Untuk pemberantasan penyakit ke1amin, dalam tahun pertama Repe1ita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan darah terhadap sekitar 20.500 orang, pemeriksaan gonorhoe terhadap 800 orang, dan pengobatan terhadap 17.500 orang penderita. Secara keseluruhan, sejak Pe1ita III sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan pemeriksaan darah terhadap 916.940 orang, pemeriksaan gonorhoe terhadap 271.079 orang, dan pengobatan terhadap 287.893 orang penderita. Se1anjutnya untuk pemberantasan penyakit kusta yang mempunyai angka kesakitan tinggi, antara lain di daerah Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya, dalam tahun 1984 te1ah diperiksa sekitar 25 ribu anak sekolah, dan 24.900 orang kontak (orang yang mempunyai hubungan dengan penderita). Dari hasil pemeriksaan tersebut, te1ah diobati secara teratur sebanyak 15.200 orang penderita, sehingga dengan demikian secara kese1uruhan sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 te1ah diperiksa sebanyak 20.608.702 anak sekolah dan 2.134.183 orang kontak, serta pengobatan terhadap 467.510 orang penderita. Dalam tahun yang sarna juga te1ah dilakukan pemberantasan terhadap penyakit cacing tambang dan parasit lainnya, melalui pemeriksaan sediaan darah dan sediaan tinja dari 105.153 orang, serta pengobatan terhadap sekitar 5.200 orang penduduk. Dengan demikian sejak tahun 1979/1980

Departemen Keuangan RI

282

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dilakukan pemeriksaan sediaan darah dan tinja terhadap 105.153 orang, dan pengobatan terhadap 646.722 orang penduduk, Berkaitan dengan pemberantasan penyakit kholera, te1ah dikembangkan 482 puskesmas menjadi pusat rehidrasi, serta te1ah ditemukan dan diobati sebanyak 246.000 orang penderita diare dan 4.100 orang penderita tersangka kholera. Sehubungan dengan itu, sejak awal Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 te1ah dikembangkan sebanyak 811 puskesmas menjadi pusat rehidrasi, serta telah diobati penderita diare dan kholera masing-masing sebanyak 4.006.583 orang dan 1.205.192 orang. Dalam program pemberantasan penyakit menular te1ah dikembangkan pula berbagai konsep pengembangan kesehatan, antara lain kegiatan imunisasi dan epidemiologi. Berkaitan dengan kegiatan imunisasi, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan vaksinasi BCG pertama kepada 299.000 anak, vaksinasi TT (tetanus toxoid) kepada 282.000 ibu hamil dan anak, vaksinasi DPT (deptherina pertusis tetanus) kepada 282.000 anak, vaksinasi DT (depthelina tetanus) kepada 233.000 anak, vaksinasi polio kepada 97.000 anak, serta vaksinasi pencegahan penyakit campak (morbili) kepada 57.000 anak. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diberikan vaksinasi BCG pertama kepada 5.298.918 anak, vaksinasi IT kepada 282.000 ibu hamil dan anak, vaksinasi DPT kepada 6.32L529 anak, vaksinasi DT kepada 2.064.482, anak, vaksinasi polio kepada 1.103.652 anak serta vaksinasi pencegahan penyakit campak kepada sebanyak 470.612 anak. Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyakit menular termasuk penyebaran penyakit dari satu tempat ke tempat lainnya, telah dilakukan peningkatan kesehatan terhadap pelabuhan karantina haji, pengamanan kesehatan dalam perpindahan penduduk serta isolasi penderita penyakit menular. Guna menunjang kegiatan tersebut, maka fasilitas sarana kerja dan keterampilan petugasnya terus ditingkatkan. Dalam waktu yang sarna juga telah diadakan persiapan pengamanan terhadap terjangkitnya penyakit menular di 10 lokasi transmigrasi baru, terutama penyakit malaria. Dengan demikian selama Pelita III dan tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, kegiatan tersebut secara keseluruhan telah mencakup 203 lokasi transmigrasi baru, di samping telah dilakukan pengamatan kesehatan bagi seluruh jemaah haji. Selain itu dalam tahun 1984 teiah dikembangkan pula isolasi penderita penyakit menular terhadap 11 rumah sakit di beberapa daerah, yang selain ditujukan pada penyakit yang nyatanyata menimbulkan masalah, juga terhadap penyakit menular yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan masalah. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakail pengamatan (surveillance) penyakit menular melalui survai terhadap 500

Departemen Keuangan RI

283

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

kejadian luar biasa (KLB), survai penyakit-penyakit tertentu di 255 rumah sakit, pengambilan 900 sampel, penyebaran data dalam bentuk bulletin epidemologi sebanyak 4.400 eksemplar, serta pelaksanaan survai entomologis serangga penular penyakit pada 200 lokasi. Sejak Pelita III dan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, secara keseluruhan telah dilaksanakan penyelidikan terhadap 21.520 KLB, survai beberapa penyakit menular di 2.418 rumah sakit, pengambilan 741.495 sampel, dan penyebaran data dalam bentuk bulletin epidemiologi sebanyak 217.214 eksemplar. Untuk menunjang penurunan angka kematian anak balita dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, terutama bagi golongan rawan dan masyarakat yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota, telah dilaksanakan usaha perbaikan gizi. Kegiatan ini diarahkan untuk melanjutkan dan meningkatkan status gizi masyarakat, serta pencegahan dan penanggulangan masalah gizi khususnya terhadap penderita kurang kalori protein (KKP), kurang vitamin A, anemia gizi besi serta gondok endemik melalui peranserta aktif masyarakat. Pencegahan dan penanggulangan KKP terutama ditujukan pada anak pra-sekolah, wan ita hamil, wanita menyusui serta penduduk di daerah rawan pangan dan bencana alam. Untuk menurunkan jumlah anak yang menderita KKP, baik dalam tingkat ringan maupun sedang, telah dilakukan peningkatan dan perluasan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK). Sehubungan dengan usaha peningkatan pelayanan kesehatan bagi anak-anak penderita gizi buruk, kaitan antara UPGK dengan puskesmas juga semakin ditingkatkan. Kegiatan UPGK yang dilaksanakan secara terpadu di sektor kesehatan, pertanian, agama dan keluarga berencana, serta swadaya masyarakat tersebut antara lain mencakup penimbangan anak balita, penyuluhan gizi, pemberian paket pertolongan gizi, pemanfaatan tanaman pekarangan dan pemberian makanan tambahan. Dalam tahun pertama Repelita IV selain dilanjutkan pembinaan pada desa UPGK lama, juga te1ah dikembangkan UPGK pada 3.000 desa baru, sehingga sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 kegiatan tersebut te1ah mencakup sebanyak 43.085 desa. Penanggulangan dan pencegahan kekurangan vitamin A pada aDak balita dalam tahun 1984/1985 sampai dengan Agustus 1984, telah dilaksanakan khusus untuk 15 propinsi rawan vitamin A yang desa-desanya belum terjangkau oleh UPGK melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi terhadap 1.550 orang anak balita. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 melalui kegiatan tersebut telah dicapai sebanyak 15.017.061 orang anak balita. Se1anjutnya guna menanggulangi dan mencegah gondok endemik, dalam waktu yang sarna telah dilakukan penyuntikan larutan radium dalam minyak terhadap daerah endemik berat meliputi 1.663.000 orang, sehingga dengan demikian

Departemen Keuangan RI

284

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sejak Pelita III hingga bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan penyuntikan terhadap 6.279.815 orang penduduk yang tinggal di daerah-daerah pegunungan. Sedangkan untuk menanggulangi dan mencegah anemia gizi besi telah dilakukan pemberian pil zat besi, penyuluhan gizi dan pemanfaatan tanaman pekarangan, yang pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam UPGK, sehingga me1alui paket tersebut se1ama Pelita III telah dicukupi kebutuhan zat besi terhadap 1.790.650 orang ibu hamil Adapun sistem kewaspadaan pangan dan gizi yang se1ama Pelita III baru dilaksanakan di beberapa daerah pemanduan di 5 propinsi, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diperluas ke 2 propinsi baru yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Salah satu syarat penting untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal dalam masyarakat adalah tersedianya air bersih yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan, terutama bagi penduduk yang berpenghasilan rendah baik di daerah pedesaan maupun di daerah perkotaan. Untuk itu se1ain disediakan sarana dan teknologi sederhana, terus dilakukan pula penyuluhan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memelihara sarana air bersih, serta pengawasan kualitas air minum dan pencemaran lingkungan. Adapun penentuan lokasi sarana air tersebut diprioritaskan pada daerah-daerah yang sulit memperoleh air bersih dan daerah yang tinggi angka kesakitan terhadap penyakit kholera dan penyakit perut lainnya. Sehubungan dengan itu, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dibangun berbagai jenis sarana air minum meliputi 3 buah penampungan mata air dengan perpipaan (PP), 7 buah sumur artesis (SA), 16 buah sumur gali (SGL), 1.277 buah sumur pompa tangan dangkal (SPT DK) dan 431 buah sumur pompa tangan dalam (SPT DL). Selanjutnya dalam waktu yang sama telah dibangun pula saringan pasir sederhana sebanyak 3 buah, sarana pengolahan Fe dan Mn sebanyak 7 buah dan kran umum sebanyak 40 buah. Selain telah dibangun berbagai sarana fisik tersebut, dilakukan pula pelaksanaan survai di 146 lokasi. Dengan demikian sejak Pelita III sarnpai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dibangun sebanyak 628 buah PP, 250 buah SA, 13.741 buah SGL, 244.411 buah SPT DK dan 27.160 buah SPT DL. Sejalan dengan itu, telah dibangun pula saringan posir sederhana, sarana pengolahan Fe dan Mn serta kran umum, masing-masing sebanyak 3 buah, 26 buah dan 40 buah, dan juga dilakukan survai di 800 lokasi. Untuk menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat terutama bagi masyarakat kota dan masyarakat desa yang berpenghasilan rendah, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan umum di 129lokasi, pembangunan multiple latrine sebanyak 10 buah, peningkatan sanitasi perumahan dan lingkungan di 93 lokasi, pengamatan

Departemen Keuangan RI

285

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida di 1.660 lokasi, serta grading tempat pembuatan dan penyimpanan makanan (TP2M) sebanyak 1.180 buah. Dengan demikian sejak Pelita III sarnpai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan umum, peningkatan sanitasi perumahan dan lingkungan, serta pengarnatan pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida, masing-masing di 77.271lokasi, 413 lokasi dan 1.660 lokasi, di samping juga pembangunan multiple latrine dan grading TP2M, masing-masing sebanyak 428 buah dan 5.977 buah.

8.4.3. Pengadaan dan pengawasan obat, makanan dan minuman Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam tahun terakhir Pelita III di bidang pengadaan dan pengawasan obat, makanan serta minuman pada dasarnya merupakan kelanjutan dan peningkatan dari kegiatan yang dilakukan dalam tahun sebelumnya. Upaya ini meliputi pengawasan dalam produksi, distribusi dan penggunaan obat, termasuk obat tradisional, makanan dan minuman, kosmetika dan alat-alat kesehatan, serta pengawasan terhadap penyalahgunaan narkotika dan bahan obat.berbahaya lainnya. Untuk menunjang kegiatan tersebut telah ditetapkan daftar obat esensial (DOE) yang dipakai oleh semua unit kerja kesehatan dalam pengadaan obat di sektor Pemerintah. Obat yang dihasilkan di sektor Pemerintah besamya sekitar 5 persen dari seluruh obat yang beredar, sedangkan sisanya merupakan produksi sektor swasta. Selanjutnya untuk memperlancar distribusi obat, dilakukan penataan kembali pola distribusi obat, baik terhadap sektor Pemerintah maupun sektor swasta. Sejalan dengan peningkatan produksi obat, selama Pelita III telah dibangun sebanyak 134 buah gudang farmasi di seluruh kabupaten dan kotamadya, di sarnping juga telah tersedia sebanyak 283 buah pabrik farmasi. Adapun jumlah pedagang besar farmasi dan jumlah apotik masingmasing telah mencapai 912 buah dan 1.717 buah. Dalam rangka pembinaan di bidang produksi dan distribusi obat, dilakukan pengambilan 76.305 sample obat untuk seluruh propinsi dan 47.430 sample obat untuk tingkat pusat. Untuk melestarikan dan mengembangkan obat-obatan tradisional, dilakukan pengawasan melalui pendaftaran, pemberian informasi dan penyuluhan, serta evaluasi terhadap kegunaannya. Berkaitan dengan itu selama Pelita III telah terdaftar sebanyak 2.3 88 buah produk obat tradisional dari 370 buah perusahaan. Selain itu telah pula diterbitkan buku-buku dan pedoman penyuluhan yang bersifat teknis terutama mengenai jamu gendong, pemanfaatan tanaman obat tradisional dan obat keluarga serta pertemuan-pertemuan ilmiah dalam bentuk seminar dan lain-lain. Selanjutnya untuk mendapatkan keposrian mengenai keamanan, khasiat, nilai gizi,
Departemen Keuangan RI

286

selama Pelita III antara lain telah diterbitkan dan diundangkan peraturan tentang bahan berbahaya. kegiatan pendaftaran obat. serta alat-alat kesehatan produksi dalam dan luar negeri masing-masing sebanyak 1.467 macam dan 1.054 macam. yang semula direncanakan dapat dicapai dalam tahun 2000. Keluarga berencana Faktor penduduk merupakan salah satu modal dasar dan sekaligus sebagai faktor dominan dalam pembangunan nasional. Untuk itu sejak Pelita I sampai dengan Pelita III telah dilaksanakan program keluarga berencana (KB) nasional. makanan dan lainnya. sampai dengan akhir Pelita III telah dilakukan perluasan dan pembangunan gedung laboratorium pengujian obat dan makanan di 26 propinsi.4. agar pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan cepat. standar mutu dan persyaratan lain yang telah ditetapkan. serta produksi makanan dalam dan luar negeri sebanyak 8. makanan. alat kesehatan dan sebagainya semakin ditingkatkan. Oleh karena itu dalam memasuki tahun kedua Repelita IV ini. Penurunan fertilitas sebesar 50 persen dari keadaan tahun 1971. dipercepat untuk dapat dicapai dalam jangka waktu 10 tahun lebih awal yaitu dalam tahun 1990.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kegunaan.4. tujuan secara kuantitatif demografis semakin dipercepat. pengawasannya dilakukan melalui pengaturan izin impor bagi apotik atau badan usaha yang akan mengimpor dan mengedarkannya. maka perlu adanya pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk. Sedangkan untuk menjamin keselamatan pemakaian obat. yang terdiri dari laboratorium tipe B di 8 propinsi dan laboratorium tipe C di 18 propinsi.425 macam dan 2. penandaan obat. Selain itu guna melaksanakan norma keluarga kecil yang bahagia dan Departemen Keuangan RI 287 .516 macam dan 48 macam. Sementara itu untuk mendukung kegiatan pengujian obat dan makanan.195 macam dan 3. usaha percepatan program KB nasional ditempuh melalui pendekatan kemasyarakatan baik melalui jalur formal maupun informal. Selain itu telah dilakukan pula pendaftaran terhadap produk kosmetika dalam dan luar negeri sebanyak 3.146 macam. yang ditempuh atas dasar sukarela. Sejalan dengan perkembangan waktu dan pertimbangan hasil-hasil yang telah dicapai selama ini. di samping melalui wajib daftar dan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya yang telah beredar. 8. Dalam hal narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya.256 macam. serta kadaluwarsa makanan yang berasal dari susu dan makanan-makanan bayi. Berkaitan dengan itu selama Pelita III telah terdaftar produksi obat dalam dan luar negeri masing-masing sebanyak 4. kriteria obat jadi. Namun demikian. dan mengarah kepada pengalihan tanggung jawab pengelolaan dari Pemerintah kepada masyarakat.

Sedangkan propinsi DI Yogyakarta. Propinsi Aceh. Jambi. dan dari kebupaten/kotamadya selanjutnya diteruskan pula ke tingkat kecamatan yang potensial tanpa meninggalkan kecamatan lainnya. Sulawesi Tengah. Sumatera Barat. Untuk itu telah dilakukan berbagai kegiatan program KB. pada saat ini telah mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air Indonesia. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang pasangan usia suburnya besar.4 juta peserta KB baru. penggarapannya dilakukan menurut pembagian wilayah yang didasarkan pada klasifikasi propinsi sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah. Sulawesi Selatan. sehingga jumlah seluruhnya dari awal Pelita III sampai dengan bulan Juli 1984 telah mencapai sebanyak 18.2 juta. Pelaksanaan program KB atas dasar hasil sensus penduduk Indonesia tahun 1980. Safari Catur Warga dan terakhir dikenal pula Safari KB Senyum (sungguh enak dan nyaman untuk masyarakat) Terpadu. juga telah diusahakan percepatan peningkatan kesejahteraan peserta KB yang dilakukan melalui program lintas sektoral dan pembangunan daerah. Pelaksanaan program KB ini apabila dilihat dari dimensi perluasan jangkauan kuantitatifnya yaitu jumlah peserta KB baru. seperti spiral atau IUD. telah memberikan hasil yang cukup menggembirakan. pada akhir Pelita III dan awal Pelita IV telah menurun sampai di bawah 50 persen. Dalam tahun terakhir Pelita III telah diperoleh peserta KB baru sebanyak 5. Kemudian propinsi Sumatera Utara. Sulawesi Utara. Program KB yang sebelumnya baru meliputi 16 propinsi. Bali dan Sulawesi Utara ditetapkan sebagai pengembang program kependudukan. dikategorikan sebagai propinsi penyangga. Riau dan Kalimantan Barat yang mempunyai dampak politis psikologis dinyatakan sebagai propinsi khusus.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sejahtera (NKKBS). Dengan caracara penggarapan yang taktis menurut spesifikasi propinsi tersebut. maka setiap propinsi meneruskan cara-cara tersebut kepada daerah-daerah tingkat kabupaten/kotamadya yang strategis potensial. Maluku. jumlah peserta KB baru yang menggunakan kontrasepsi IUD memperlihatkan kecenderungan meningkat yaitu dari sekitar 16 persen dalam tahun 1980/1981 menjadi sekitar 27 persen pada akhir Pelita III dan awal Pelita IV. Di lain pihak. Kalimantan Selatan. antara lain Safari Spiral. DKI Jakarta. Propinsi Kalimantan Timur. Irian J aya dan Timor Timur ditetapkan sebagai propinsi penerima transmigran. Demikian pula halnya dengan peserta KB baru yang menggunakan metode suntikan telah meningkat dari sekitar 3 Departemen Keuangan RI 288 . Jika dalam tahun-tahun sebelumnya lebih dari 50 persen peserta KB baru menggunakan kontrasepsi pil. Atas dasar penggarapan tersebut. Bengkulu. Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jumlah penduduknya banyak. Lampung. dijadikan sebagai propinsi penyangga utama. propinsi Jawa Barat. Penggunaan alat kontrasepsi diarahkan pada alat kontrasepsi yang selain lebih murah juga mempunyai clara lindung yang efektif. Sumatera Selatan.

9 24.4 212. klinik tersebut terdiri dari 5. Hal ini berarti bahwa penggarapan program KB telah dapat diarahkan kepada sasaran yang mempunyai potensi melahirkan yang tinggi.212.80 3.20 382. 6 JUMLAH AKSEPTOR BARU Y Al'TG DICAPAI MENURUT METODE KONTRASEPSI.246.330.2 496.90 1.1 519.6 1.8 596.8 892.5 433.70 3.90 1.5 1) Angka sementara sampai dengan bulan Juli 1984 Keberhasilan pelaksanaan program KB nasior. Selain melalui klinik KB.9 Lain -lain 9.90 2.2 366.593. 480 buah klinik milik ABRI.50 1.966.6 218. Perkembangan jumlah peserta dan metode kontrasepsi yang digunakan dapat diikuti pada Tabel VIII.5 24.3 330.50 265.80 1. 246 buah klinik milik instansi lainnya dan 583 buah klinik milik swasta.50 2.4 1.10 983.9 286.8 281.7 1. Menurut statusnya. baik berupa klinik KB maupun tenaga medis dan administrasinya.60 2.20 2.885.5 461.9 384.966.055. selain juga dari dukungan pelayanan dan penanggulangan efek sampingan yang dilakukan di klinik dan di rumah sakit Departemen Keuangan RI 289 .911 buah klinik milik Departemen Kesehatan.90 1. Di samping terjadi peningkatan dalam jumlah peserta KB baru.3 293.2 187.20 5.4 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 persen pada awal Pelita III menjadi sekitar 28 persen pada awal Pelita IV.369.120.8 607 857.10 1.316.1984/1985 ( ribu orang) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1) Pil 14.078.524.087. ditunjang pula oleh penyediaan sarana pelayanan yang memadai. Sejalan dengan meningkatnya kegiatan KB.424.70 1.051. jumlah klinik KB selama ini juga terus bertambah.40 335 Jumlah 53.60 2. dari segi kualitas pun menunjukkan kenaikan. pelayanan KB kepada masyarakat didukung oleh meningkatnya partisiposi para dokter dan bidan praktek swasta.30 1.9 91. Di daerah perkotaan.229.7 280.1 285. yaitu sebagian besar peserta KB baru tersebut berumur di bawah 30 tahun dan berasal dari keluarga petani.80 2.220 buah klinik yang tersebar sampai ke kecamatan-kecamatan dan desa-desa.215.246.1 181. Tabel VIII.550. dan merupakan mayoritas daripada masyarakat yang berasal dari kalangan berpenghasilan rendah.4 937.2 317.90 2.5 405.7 398.7 380.481. 1969/1970 .6.al ini selain didukung oleh kegiatan para petugas KB dan kesadaran masyarakat.80 1.6 79.592. untuk menjangkau pelayanan KB yang lebih luas kepada masyarakat dikembangkan juga kegiatan pelayanan KB melalui till KB keliling. sehingga sampai dengan bulan Juli 1984 telah mencapai 7.908.2 252 400.6 IUD 29 76.10 2.505.

096 4.3 persen memakai suntikan dan sisanya memakai alat kontrasepsi lainnya. 28.609 6.129 6.999 7.661 4.220 Dokter 421 556 791 883 1.2) .041 orang.421 3.657 3.349 3.2) 1.722 orang dan 12.653 orang dokter.861 2. pembinaannya pun menunjukkan kemajuan. 1969/1970 .653 Bidan 855 1.239 6.682 6.750 2.134 5.275 1.186 1.722 Petugas lapangao .213 4.791 4. Perkembangan KB dan tenaga pendukungnya dapat diikuti pada Tabel VIII.9Q.137 2.609 2.141 5. kecuali untuk klinik KB dalam satuan ) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/19854) Jumlah klinik 727 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang menjadi pusat rujukan.198 Tenaga administtasi klinik .1 persen dari seluruh posangan usia subur.715 4.569 2. yang dilakukan sampai ke desa-desa di seluruh wilayah Indonesia.241 3.000 9.303 4.959 2.964 11.584 Pembantu bidan 75 580 605 1.8 persen dari peserta KB aktif tersebut memakai kontrasepsi pil.319 4525 4. baik terhadap peserta KB aktif maupun peserta KB yang diaktifkan kembali setelah beristirahat menggunakan kontrasepsinya.504 3.476 5.000 7.098 3.343 3. Sedangkan jumlah tenaga medis yang mendukung pelayanan KB sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sebanyak 16.1 juta peserta KB aktif atau sebesar 57. 6.064 7.478 4.532 3.1984/1985 ( dalam jumlah orang.995 3.198 orang pembantu bidan.882 3. Sampai dengan bulan Juli 1984.544 6. PERSONALIA DAN PETUGAS LAPANGAN KELUARGA BERENCANA.041 12. jumlah peserta KB yang telah dibina mencapai 14. yang terdiri dari 4.920 3) 5.758 1.445 6.316 2. Adapun menurut metode kontrasepsi yang dipakai.930 3.594 3. 54. Sedangkan untuk daerah pedesaan.232 3.578 6.970 2. pelayanan kegiatan KB ini dilakukan melalui pembantu pembina keluarga berencana desa (PPKBD) dan sub-PPKBD. Hal ini dapat diukur melalui indikator kuantitatif.707 5.919 4.974 6.018 3.465 1.774 q. 9.808 3. Peningkatan jumlah peserta KB aktif telah diikuti pula dengan peningkatan usaha pembinaan melalui program integrasi gizi.975 4.435 orang.425 12. Adapun jumlah tenaga administrasi klinik dan petugas lapangan masing-masing adalah sebanyak 4.639 6.041 1) Pekerjaan administrasi dirangkap pembantu bidan 2) Belum ada tenaga PLKB (Petugas Lapangan KB ) 3) Angka diperbaiki 4) Angka sementara sid bulanJuli 1984 Sejalan dengan perluasan jangkauan program KB.678 1.927 4. dan yang tetap setia menggunakan kontrasepsi secara berlanjut.620 3.436 4.3 persen memakai IUD.601 4.646 1. Tab el VIII. Departemen Keuangan RI 290 .586 7.584 orang bidan dan 5.242 4. 7 JUMLAH KLINIK.1) 322 1. 776 2.7.392 3.118 5.568 5.667 4.956 2.9 6.143 1.235 3.

telah dilakukan pemberian piagam penghargaan bagi peserta KB lestari 5 tahun. Proses pelembagaan di dalam masyarakat ditandai dengan terus meningkatnya lembaga-Iembaga masyarakat seperti PPKBD.191 buah. serta pemberian bib it kelapa hybrida kepada 500 ribu peserta KB lestari. Sedangkan untuk lebih memberikan dukungan psikologis bagi peserta KB. Sementara itu dalam rangka program peningkatan usia perkawinan dan program pendidikan kependudukan. Program gizi yang dilakukan melalui jalur program KKB ini dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencakup 27. Sampai dengan bulan Agustus 1984. maka peranan dan status wan ita akan lebih potensial baik sosial maupun ekonomis.138 kelompok akseptor KB.731 buah pos penimbangan balita. pelajar dan mahasiswa. Kegiatan-kegiatan ini antara lain mencakup peningkatan gizi keluarga. jumlah PPKBD dan paguyuban telah mencapai 184. Apabila dilihat dari dimensi pelembagaan/pembudayaan. Sub PPKBD atau paguyuban-paguyuban akseptor. saling menunjang dan saling mengisi dengan bidang-bidang pembangunan lainnya. Kesejahteraan sosial Pembangunan di bidang kesejahteraan sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan nasional.5. baik dari masyarakat maupun instansi Pemerintah yang semula belum turut menjadi pelaksana. dengan mengikuti program KB. dan pelaksanaannya dilakukan searah.022 desa yang tersebar di seluruh wilayah tanah air dan telah memiliki 63. telah pula dilaksanakan kegiatan-kegiatan lain yang berada dalam naungan program-program kependudukan yang sifatnya mendukung program kependudukan dan keluarga berencana (KKB).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Selain itu. dan penyuluhan makanan sehat. Selain itu keterlibatan perusahaan-perusahaan untuk memberikan dukungan yang positif terhadap pelaksanaan program KB bagi buruh dan karyawannya juga semakin meningkat. 10 tahun dan 16 tahun serta kepada lembaga masyarakat pengelola program KB di tingkat pedesaan. 8. yang salah satu kegiatannya adalah berupa penimbangan terhadap anak berumur di bawah lima tahun (balita). Melalui lembaga masyarakat ini selain dilakukan kegiatan pemberian kontrasepsi. dan pengelola program KB. Maka dari itu dikembangkan suatu usaha bersama dalam program peningkatan pendapatan yang dilakukan melalui kelompok-kelompok peserta KB. telah dilakukan pendekatan kepada para pemuda. Setiap tahap pembangunan di bidang kesejahteraan sosial diarahkan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat' Departemen Keuangan RI 291 . keberhasilan program KB ditandai dengan makin berkembangnya partisiposi. Di samping itu telah dilakukan pula program peningkatan pendapatan keluarga yang pada saat ini telah dilaksanakan di 8.

Dalam hubungan ini. Program lainnya adalah pembinaan kesejahteraan sosial.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 secara adil dan merata. penyuluhan dan bimbingan sosial. telah dilakukan pembinaan dalam bidang kepemimpinan sosial. Selain itu para remaja juga dibimbing dalam berbagai kegiatan yang meliputi keterampilan ekonomis produktif. Sejak tahun pertama Repelita IV. Kegiatan ini meliputi bimbingan dan penyuluhan sosial. yang bertujuan memberikan bimbingan kepada para keluarga yang kondisi sosial dan ekonominya berada di batas rawan. yang bertempat tinggal di daerah minus. 8. Melalui wadah ini telah dilakukan pembinaan terhadap remaja. terutama bagi para penyandang permasalahan sosial. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai penanaman rasa tanggung jawab sosial yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan rasa kebersamaan masyarakat dalam kesetiakawanan sosial. pembangunan di bidang kesejahteraan sosial di samping diarahkan pada kelanjutan perbaikan dan perluasan segala kegiatan yang berfungsi pelayanan.450 karang taruna dan 14. swakarsa dan swasembada dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya semaksimal mungkin. Pembinaan kesejahteraan sosial Pelaksanaan pembangunan bidang kesejahteraan sosial dilakukan melalui berbagai program pembinaan. juga lebih diutamakan pada kegiatan yang berfungsi pencegahan dan pengembangan. Dengan bantuan ini diharapkan dapat tumbuh dan berkembang kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial. serta pengadaan pusat-pusat latihan kerja sebagai tempat kegiatan kerja produktif. pembinaan jasmani dan rohani serta kegiatan yang bersifat rekreatif. salah satu daripadanya adalah pembinaan generasi muda yang kegiatannya meliputi pembinaan Karang Taruna.5. sehingga pada gilirannya mereka akan mampu berusaha secara swaclara. Untuk menunjang kegiatan-kegiatan terse but.800 remaja. latihan usaha swadaya sosial masyarakat. pemberian bantuan stimulan berupa modal dan bahan usaha produktif. Sejak awal Departemen Keuangan RI 292 . agar dapat mencegah dan membatasi timbulnya masalah kenakalan atau kelainan tingkah laku remaja. Melalui wadah Karang Taruna dimaksudkan pula untuk terwujudnya penghayatan dan pengamalan Pancasiladi kalangan remaja. yang pada gilirannya akan mampu mengatasi atau menanggulangi berbagai permasalahan sosial di kalangan pemuda dan masyarakat. sampai dengan bulan Oktober 1984 telah berhasil dibina sebanyak 13. Sehubungan dengan itu. serta yang tinggal di daerah perkotaan yang padat dan miskin. partisipasi sosial masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan sosial semakin dikembangkan. yang tujuannya untuk memberikan bimbingan agar dapat menyadari peranan dan tanggung jawabnya dalam menyongsong hari depan.1.

melalui stimulan bahan bukan lokal sebanyak 18 unit telah berhasil dibina 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pelita III sampai dengan akhir 1983/1984.908 unit stimulan dana kesejahteraan sosial yang te1ah melibatkan 79.935 Dalam bina swadaya. khususnya yang bertempat tinggal di daerah pedesaan. me1alui stimulan perbaikan lingkungan sebanyak 716 unit yang me1ibatkan 7.970 KK.399 KK. Usaha peningkatan peranan dan fungsi wanita ditujukan untuk mengembangkan kesejahteraan sosial wanita. Sarnpai dengan tahun 1983/1984 telah berhasil dibina 35.567 wanita dalam bina swadaya. dan 5. serta melalui stimulan peralatan bangunan lokal sebanyak 697 unit yang me1ibatkan 6.114 orang. telah berhasil dilakukan pembinaan me1alui potensi kesejahteraan sosial terhadap sebanyak 28. dalam waktu yang sarna juga te1ah diadakan pembinaan swadaya masyarakat di bidang perumahan dan lingkungan. telah berhasil dibina sebanyak 1.160 KK. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984.709 keluarga bina swadaya. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pembinaan kesejahteraan masyarakat berasing ditujukan pada peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat yang hidup terpencil. penggalakan penghijauan. terbelakang dan berpindah-pindah. Usaha-usaha tersebut terutarna diarahkan pada wanita yang kondisi kehidupannya tergolong miskin. agar dapat berperan serta dalam proses pembangunan tanpa mengurangi peranannya dalam pembinaan keluarga sejahtera. Kegiatan ini antara lain meliputi penye1enggaraan latihan bagi ke1uarga miskin di bidang pembangunan perumahan secara gotong royong dengan semaksimal mungkin menggunakan potensi manusia dan alam yang ada. Di samping itu dalam waktu yang sama te1ah diberikan pula 7. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. pengaturan saluran air. serta pemberian stimulan bahan bangunan bukan lokal dan peralatan kerja. telah dapat dibina me1alui stimulan bahan bukan lokal sebanyak 24. Sedangkan dalam rangka pembinaan swadaya masyarakat di bidang perumahan dan lingkungan.160 wanita dalam kepemimpinan. Selain itu juga berupa penanaman pengetahuan dan keterampilan dalam memelihara. pengembangan peranserta fungsi lingkungan bagi kesejahteraan sosial masyarakat. khususnya dalam pemantapan kemampuan dan keterarnpilan.384 perumahan warga binaan yang meliputi 17 desa. melalui stimulan sarana produksi telah berhasil dibina dan ditingkatkan taraf hidup para keluarga yang berpenghasilan rendah sebanyak 242. pe1estarian sumber-sumber alam lainnya. Kegiatan tersebut berupa pembinaan dan bimbingan agar mereka memiliki kern au an dan kemarnpuan untuk mengembangkan kondisi sosial dan budayanya ke Departemen Keuangan RI 293 . Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. Se1ain bimbingan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat.080 kepala keluarga (KK).

Sedangkan dalam rangka memantapkan keserasian dan kesetiakawanan masyarakat dalam mengatasi berbagai masalah. kepada setiap keluarga diberikan bantuan rumah sederhana. balai sosial dan sekolah sederhana. telah dibentuk tenaga kesejahteraan sosial sukarela (TKSS). Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. Sampai dengan akhir bulan Oktober 1984 melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 13. Sementara itu telah dilakukan pula pembinaan terhadap keluarga dan remaja yang mengalami permasalahan sosial psikologis. serta latihan keterampilan dalam penanganan dan penanggulangan permasalahan sosial dalam masyarakat. melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 14.088 orang PSM yang tersebar di seluruh propinsi.350 orang kader keserasian sosial. yang dilengkapi dengan sarana umum seperti tempat ibadah. baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. Dalarn rangka mcngembangkan.115 orang. dan tanah seluas 2 hektar sehingga diharapkan taraf hidup mereka akan dapat lebih ditingkatkan. sehingga Departemen Keuangan RI 294 . melalui latihan dan praktek lapangan di bidang kesejahteraan sosial te1ah dibina pekerja sosial masyarakat (PSM).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 arah kehidupan sosial yang selaras dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Kemudian untuk tercapainya hasil-hasil pembangunan kesejahteraan sosial secara luas dan merata. telah dilakukan peningkatan mutu dan kemarnpuan operasional organisasi sosial. yang sampai dengan akhir tahun 1983/1984 telah mencapai 5. Sejalan dengan itu. Sarana lain untuk membina masyarakat berasing adalah melalui pemukiman di suatu lokasi yang terletak pada jalur komunikasi dan ekonomi. yang terdiri atas para tokoh masyarakat dari berbagai profesi. menyebarluaskan dan melembagakan partisiposi sosial masyarakat dalam pembangunan di bidang kesejahteraan sosial. Tenaga yang dipilih dari anggota masyarakat setempat. Sedangkan untuk menunjang kelancaran kegiatan di bidang kesejahteraan sosial. ditugaskan sebagai penggerak dan pelaksana dari peningkatan kesejahteraan sosial di lingkungan tempat tinggalnya. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. yang sekaligus sebagai pendorong kegiatan yang semakin meluas secara swadaya di kalangan masyarakat. dalam waktu yang sarna telah dibina pula sebanyak 8. telah berhasil dibina 70. Untuk itu kepada para pengurus dan anggota organ isasi sosial diberikan latihan keterampilan dalam bidang manajemen dan prinsip-prinsip tehnik pendekatan sosial menurut bidang sasaran organisasi sosial.490 orang. telah diadakan penyuluhan sosial terhadap 5.449 KK. telah dapat dibina sebanyak 164 organisasi sosial. Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan dan bimbingan sosial.347 orang. sosial dan berbagai keterampilan dalam bidang-bidang usaha kesejahteraan sosial. Selain itu diberikan pula bimbingan mental. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. Melalui kegiatan ini sarnpai dengan bulan Oktober 1984.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 melalui kegiatan ini sampai dengan akhir tahun 1983/1984 telah dibina sebanyak 8.222 anak. baik melalui sistem panti maupun sistem luar panti.745 KK. melalui pemukiman lokal sebanyak 2. telah dilakukan berbagai kegiatan yang bertujuan agar mereka mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri. pola swakarya dan pola pondok so sial. sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing. melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 13. 8.5. serta membangkitkan minat dan kecintaan bekerja bagi para gelandangan dan pengemis. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan so sial terhadap 2. pemukiman lokal. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan sosial terhadap 4. melalui sistem panti dan luar panti telah berhasil dibina masing-masing sebanyak 29. sedangkan melalui sistem luar panti sebanyak 221. yang meliputi anak-anak yatim piatu terlantar. telah diberikan bantuan dan penyantunan.833 KK dan 14. Bantuan dan penyantunan sosial Dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesejahteraan sosial bagi para penyandang masalah kesejahteraan sosial.220 anak. kepada mereka telah diberikan bimbingan sosial.545 KK serta melalui pondok sosial sebanyak 600 KK.765 KK. melalui transmigrasi sosial sebanyak 5.2. Dalam tahun.873 anak. Untuk memulihkan kembali rasa harga diri.010 orang dan 105. Setelah mendapatkan bimbingan dan keterampilan tersebut. 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. Sampai dengan Pelita III. Selama Pelita III. mental dan agama.835 KK. telah dilakukan pula pemberian bantuan dan penyantunan kepada para penyandang cacat.822 remaja putus sekolah. tidak menggantungkan pada bantuan orang lain dan dapat ikut serta dalam proses pembangunan.597 orang cacat. para gelandangan dan pengemis itu disalurkan melalui kegiatan transmigrasi sosial. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. melalui sistem rami telah dapat dibina sebanyak 15. Terhadap anak terlantar. sedangkan melalui Loka Bina Karya (LBK) telah dibina sebanyak 300 orang. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan kepada 561 orang dan 41 KK fakir miskin. Selain itu kepada mereka diberikan pula keterampilan yang bersifat ekonomis produktif. anak-anak putus sekolah dan anak-anak dari keluarga miskin yang terhambat perkembangan sosialnya. Selain kepada anak terlantar. yaitu melalui swakarya sebanyak 4. Departemen Keuangan RI 295 .900 orang. Sampai dengan akhir 1983/1984. baik melalui sistem paoli maupun sistem luar panti.

Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. Di samping itu untuk maksud yang sama telah Departemen Keuangan RI 296 . dengan perincian melalui sistem panti sebanyak 3. serta kegiatan yang produktif bagi yang masih potensial. telah berhasil dibina sebanyak 6. Dalam kegiatan ini kepada WTS tersebut diberikan pendidikan budi pekerti dan berbagai keterampilan agar dalam kehidupan bermasyarakat kelak mereka dapat berdiri sendiri dengan menjunjung harga dirinya. Melalui panti tersebut diberikan pembinaan dan pengembangan yang bersifat spiritual. Selain usaha rehabilitasi para WTS. kemasyarakatan dan rekreasi. telah dilakukan usaha rehabilitasi. Palembang dan Semarang.610 orang. telah dilaksanakan pembangunan panti baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten. Untuk itu telah dibangun panti rehabilitasi sosial korban narkotika di Jakarla. Melalui panti-panti tersebut. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984.177 orang tuna sosial. telah diberikan penyantunan dan pengentasan kepada 1. Dalam hal pemberian bantuan dan penyantunan bagi para lanjut usia/jompo yang terlantar atau kurang terurus. telah dilakukan pula rehabilitasi bagi para bekas tahanan. masing-masing sebanyak 242. yang terdiri dari 11 wisma tingkat propinsi.765 orang lanjut usia. Sampai dengan akhir Pelita III.350 orang dan 2. keperintisan para pahlawan dan perintis kemerdekaan. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. sedangkan untuk rehabilitasi anak nakal telah dibangun panti rehabilitasi di Jakarta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Selanjutnya untuk menanggulangi kehidupan yang sesat dari kelompok wanita tunasusila (WTS). Surabaya dan Medan.720 orang.600 orang dan melalui sistem luar panti sebanyak 3. terhadap arti dan nilai-nilai kepahlawanan. Selanjutnya telah dilakukan pula usaha rehabilitasi bagi para remaja yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika. Selain itu telah dilakukan pula pembinaan terhadap para lanjut usia/jompo melalui sistem luar panti dan Sasana Tresna Wredha. baik melalui sistem panti maupun sistem luar paoli.757 bekas narapidana. guna melayani sebanyak 430 orang lanjut usia. Untuk menimbulkan kesadaran masyarakat. yang pelaksanaannya dilakukan melalui sistem panti dan luar panti. telah dibangun 43 buah wisma. dan 32 wisma tingkat kabupaten. telah dilakukan penyebarluasan gambar-garnbar dan buku-buku sejarah serta penulisan autobiografi para pahlawan dan perintis kemerdekaan. selanjutnya dapat disalurkan ke pasaran kerja sesuai dengan bakat dan jenis keterampilannya.411 anak korban narkotika dan anak nakal. melalui kegiatan ini telah berhasil dibina sebanyak 1. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. sampai dengan Oktober tahun 1984 telah berhasil dibina sebanyak 4. telah diberikan penyantunan dan pembinaan terhadap 4. Dalam hal ini kegiatan yang dilakukan melalui LBK bertujuan agar setelah mereka dianggap mampu untuk terjun ke dalam masyarakat.010 orang. khususnya generasi muda.

Selain itu juga telah diberikan bantuan dan penyantunan perintis/pejuang kemerdekaan. Kegiatan ini antara lain dilakukan melalui pengadaan panti persinggahan pada daerah-daerah rawan bencana. Selama Pelita III telah dibangun dan dipugar sebanyak 157 buah TMP dan 9 buah makam pahlawan nasional serta penulisan buku perjuangan sebanyak 10.075 KK. Hukum dan perundang-undangan 8.292 orang. dan merupakan rehabilitasi agar kondisi sosial ekonomi para korban dapat menjadi lebih baik. serta pembangunan monumen kepahlawanan. di samping juga dilaksanakan melalui pemberian bantuan berupa beras.macam latihan keterampilan yang ekonomis produktif. Sulawesi Utara. serta penyediaan panti persinggahan sebanyak 28 buah.388 KK. para korban telah dipindahkan pula ke temp at lain. kebijaksanaan pokok dalam pembangunan dan pembinaan hukum diarahkan agar hukum mampu memenuhi kebutuhan sesuai dengan tingkat dan perkembangan pembangunan di berbagai bidang.606 KK. Usaha yang berkaitan dengan pemberian bantuan dan penyantunan kepada para korban bencana alam pada dasarnya bersifat darurat. makam pahlawan dan taman makam pahlawan (TMP). Riau. Sejak awal Pelita III sampai dengan bulan Oktober 1984. telah dilakukan rehabilitasi sosial korban bencana alam sebanyak 35.000 eksemplar. 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dilakukan pemeliharaan dan pemugaran makarn perintis kemerdekaan.840 KK dan yang ditempatkan pada pemukiman lokal di luar pulau Jawa dan Bali adalah sebanyak 3. seperti propinsi Aceh. Dengan demikian dapat diciptakan ketertiban dan kepostian hukum yang pada gilirannya dapat memperlancar Departemen Keuangan RI 297 . Sampai kini jumlah perintis/pejuang kemerdekaan yang masih hidup dan yang jandanya telah mendapat pengakuan. Bersamaan dengan itu diusahakan pula peningkatan tarat hidup melalui bimbingan.525 orang dan 4.165 orang.1. antara lain berupa bantuan usaha produktif kepada 1.6. latihan pembimbing dan petugas lapangan sebanyak 540 orang. obat-obatan dan pakaian. Selain itu melalui pemukiman lokal dan transmigrasi sosial. masing-masing adalah sebanyak 2. motivasi dan berbagai .6. dan bantuan pemugaran makam sebanyak 280 buah. Maluku dan Bali. Pembinaan dan pembaharuan hukum Pembinaan hukum merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembangunan yang tengah berlangsung. bantuan perbaikan rumah kepada 165 orang. Sedangkan selama Pelita III telah dilakukan pemberian bantuan bahan bangunan rumah kepada 2. Adapun jumlah para korban bencana alam yang ditransmigrasikan ke luar pulau Jawa dan Bali mencapai 3. Sehubungan dengan itu.

Jam Krida Olah Raga. Daftar Skala Prioritas Bidang Usaha Penanaman Modal Tahun 1983/ 1984. Penjadwalan Kembali Proyek-proyek Pembangunan yang Pembiayaannya Menggunakan Devisa Negara atau Kredit Komersial Luar Negeri. Badan Administrasi Kepegawaian Negara. Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Undang-Undang ten tang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai 1984. Pemberian Tunjangan Perbaikan Penghasilan Pensiun Bagi Penerima Pensiun/Tunjangan Yang Bersifat Pensiun. Pelaksanaan KUHP. antara lain meliputi Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Hukum Pidana. Un dang-Un dang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. serta RUU tentang Pelimpahan Teknologi. Perbendaharaan Negara. serta Keppres ten tang Dewan Standardisasi Nasional. Sedangkan yang berupa Instruksi Presiden. antara lain Inpres tentang Pelaksanaan Penjadwalan Kembali Proyek-proyek di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi. antara lain Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984. Asuransi Sosial Tenaga Kerja. serta Inpres tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan. Dalam rangka menunjang perancangan perundang-undangan. Grasi. serta Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 1984/1985. Penangguhan Pajak Penghasilan Atas Bunga Pinjaman Yang Diterima Pemerintah Dalam Rangka Pinjaman Luar Negeri. serta Peraturan Pemerintah tentang Pajak Atas Bunga Deposito Berjangka dan Tabungantabungan lainnya. Pemberian Nomor Wajib Pajak. Dalam tahun 1983/1984 telah dihasilkan 7 buah undang-undang. Pendaftaran. Sementara itu dalam waktu yang sarna juga telah disahkan sebanyak 44 buah peraturan Pemerintah. Untuk itu telah dilaksanakan pembaharuan dan pembentukan perangkat hukum nasional. Kerjasama ini Departemen Keuangan RI 298 . Selanjutnya dalam tahun 1983/1984 telah dibahas pula sejumlah rancangan undang-undang. Hukum Perdata Internasional. Sementara itu telah pula dihasilkan sejumlah Keputusan Presiden antara lain Keppres tentang Rencana pembangilnan Lima Tahun Keempat (Repelita IV) tahun 1984/1985-1988/1989. Penyampaian Surat Pemberitahuan. Koordinasi Usaha Kesejahteraan Sosial Bagi Penderita Cacat. telah dilakukan kerjasama antara berbagai instansi yang ada hubungannya dengan bidang hukum.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan. Undang-Undang tentang Perhitungan Anggaran Negara Tahun 1979/1980. serta Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Masyarakat. Selain itu juga telah dihasilkan Peraturan Pemerintah ten tang Dewan Pers. Koordinasi Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. yang terdiri dari Undang-Undang tentang Tambahan dan Perubahan Atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1982/1983. dan Persyaratan Pengajuan Keberatan. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan.

di daerah-daerah yang wilayah pengadilan negerinya sangat luas dan sulit komunikasinya. aspek hukum dalam praktek pertanggungan perbankan umuk usaha pemborongan bangunan. pertemuan ilmiah dalam bentuk lokakarya. serta kejahatan akibat teknologi modem. penanggulangan kejahatan dan pembinaan narapidana. Sedangkan pertemuan ilmiah yang diselenggarakan antara lain meliputi evaluasi terhadap pembangunan hukum Pelita III menjelang Pelita IV.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berbentuk kegiatan ilmiah. Dalam hubungan ini. terus diusahakan agar proses peradilan lebih sederhana. Penegakan hukum Kegiatan yang dilakukan dalam penegakan hukum pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan ketertiban dan kepostian hukum dalam masyarakat. harmonisasi hukum di negaranegara ASEAN. baik antarsesama aparatur penegak hukum maupun dengan instansi-instansi lain. dan 26 pengadilan tinggi yang terdapat pacta setiap propinsi kecuali Propinsi Timor Timur. serta penyempurnaan koordinasi dan kerjasama fungsional. seminar dan simposium serta penulisan karya ilmiah dalam berbagai bidang hukum. telah diadakan tempattempat sidang pengadilan sehingga pelaksanaan tugas hakim keliling dapat berjalan lancar. dalam tahun 1983/1984 telah dibentuk 7 pengadilan negeri yang terletak di Garut. antara lain berupa penelitian hukum. (KUHAP). khususnya dalam' pembinaan peradilan. serta hukum kedokreran. pemantapan sikap. cepat. perlindungan hukum terhadap konsumen jasa angkutan.2. di Departemen Keuangan RI 299 . Di samping itu dalam waktu yang sarna juga telah dihasilkan penulisan karya ilmiah dengan judul Perlindungan hak-hak azasi manusia dalam KUHAP serta Politik hukum baru mengenai kedudukan dan Peranan hukum adat dan hukum Islam dalam pembinaan hukum. dalam tahun 1983/1984 telah dilaksanakan berbagai penelitian antara lain atas pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Selanjutnya untuk menunjang peningkatan dan penyempurnaan penegakan hukum. Untuk itu telah dilakukan pemantapan kedudukan dan wewenang badan-badan penegakan hukum. Putusibau. Selain itu guna meningkatkan pemerataan kesempatan dalam memperoleh keadilan. Kotacane. Pacitan. jujur dan dengan biaya yang terjangkau oleh pencari keadilan dalam berbagai lapisan masyarakat. peningkatan operasi yustisi untuk pengamanan hasil-hasil dan pelaksanaan pembangunan yang sedang berjalan. perilaku dan kemampuan para penegak hukum. 8. aspek hukum perlindungan berkenaan dengan perluasan lokasi industri. Sehubungan dengan itu. masalah yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan RUU Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Dengan demikian sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 telah dibangun 291 pengadilan negeri yang tersebar di hampir setiap kabupaten/kotamadya. Sungai Liat.6. Gorontalo dan Watampone.

496 perkara. telah dilakukan peningkatan dalam penyediaan prasarana dan sarana hukum. Dengan demikian.450 perkara bantuan hukum. Kegiatan tersebut sampai dengan tahun 1983/1984 telah meliputi sebanyak 45. telah dilaksanakan pula berbagai kegiatan penyuluhan hukum. Guna meningkatkan kesadaran hukum dalam masyarakat. Di samping itu juga telah dilakukan rehabilitasi dan perluasan/penyempurnaan 19 gedung pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. berupa penerangan tentang fungsi dan tugas pengadilan. yang tersebar di 26 pengadilan tinggi.915 desa. terus dilakukan pemberian bantuan hukum.238 orang. untuk menunjang pembinaan dan pelaksanaan tugas-tugas penegak hukum. 45 tempat sidang dan 11 gedung kejaksaan negeri/tinggi. baik yang bersifat pidana maupun perdata. serta 79 gedung kejaksaan negeri/tinggi.527 desa. Sementara itu dalam waktu yang sarna juga telah diadakan pembinaan personal peradilan. Dalam rangka menunjang pembinaan peradilan. antara lain melalui brosur-brosur yang disebarluaskan ke daerah-daerah. telah disediakan pula sebanyak 111 kendaraan yang terdiri atas berbagai jenis. Sementara itu guna meningkatkan pelaksanaan penegakan hukum. 12 gedung baru pengadilan tinggi dan 373 buah tempat sidang. Sehubungan dengan itu. dalam tahun 1983/1984 telah diberikan bantuan hukum terhadap 4. penyuluhan pacta masyarakat dalam bentuk ceramah.858 kasus pidana. baik secara regional maupun nasional. serta rehabilitasi/penyempurnaan/perluasan 160 gedung pengadilan negeri daD gedung pengadilan tinggi serta 244 gedung kejaksaan tinggi/negeri.440 kasus konsultasi hukum dan 2. telah ditingkatkan juga penyelesaian perkara. sampai dengan tahun terakhir Pelita III telah dilakukan pembangunan 127 gedung baru pengadilan negeri. sejak tahun 1981/1982 telah dilakukan pula konsultasilbantuan hukum melalui 24 fakultas hukum negeri yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam rangka peningkatan pemerataan kesempatan untuk memperoleh keadilan bagi masyarakat.880 perkara yang ada di Departemen Keuangan RI 300 . Sedangkan penyuluhan hukum yang dilaksanakan melalui program jaksa masuk desa. radio swasta serta tempat. Dalam tahun 1983/1984. yang dilaksanakan dengan pemutasian hakim. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 jumlah hakim telah mencapai 2. dalam tahun 1983/1984 telah dibangun 7 gedung pengadilan negeri. Sehubungan dengan itu. wawancara di TVRI/RRI.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 samping telah dipercepatnya proses penyelesaian perkara di temp at kasus/sengketa. dari 766. Di samping itu. sehingga sampai dengan akhir Pelita III telah diberikan bantuan hukum bagi pencari keadilan yang kurang mampu sebanyak 17. terutama bagi golongan yang kurang atau tidak mampu. Di samping itu. Kegiatan tersebut dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan di 2. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 telah menjangkau 9.tempat umum dan publikasi media cetak lainnya.

Selain itu dalam periode yang sarna juga telah Departemen Keuangan RI 301 . baik baru maupun lanjutan. mampu melanjutkan kehidupannya dengan wajar dan layak dalam masyarakat.184 perkara atau sekitar 71 persen.729 perkara at au sekitar 52 persen. yang meliputi penataran administrasi kepegawaian. serta program rekreasi/olahraga. dan agar dapat menjadi warga negara yang kreatif. serta perluasan/rehabilitasi gedung LP masingmasing sebanyak 162 gedung dan 224 gedung. telah dapat diselesaikan 747.042 perkara yang ada di kejaksaan telah dapat diselesaikan 698.816 orang. serta keterampilan bertani. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984.746 perkara yang ada di mahkamah agung. telah diselenggarakan berbagai kegiatan pendidikan. pendidikan tenaga peneliti hukum sebanyak 30 orang. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilanaparat penegak hukum. serta renovasi LP menjadi rumah tahanan (Rutan) masing-masing 73 dan 79 gedung. serta pendidikan perancang perundang-undangan sebanyak 70 orang. telah diadakan pendidikan di sekolah.336 perkara atau sekitar 99 persen. latihan dan penataran. Di samping itu dalam waktu yang sarna juga telah dilakukan pembangunan balai bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak (Bispa) masingmasing 5 dan 9 gedung. serta guna pemantapan sikap dan kepekaannya terhadap perkembangan kesadaran hukum dan rasa keadilan masyarakat. Sedangkan dari 7. penataran panitera/panitera pengganti sebanyak 150 orang. pendidikan calon hakim sebanyak 210 orang. keamanan dan ketertiban. pendidikan keammaan. produktif. taat serta menghormati hukum dan norma-norma pergaulan hidup yang berlakudalam masyarakat. Adapun pembinaan narapidana dan anak didik dilakukan melalui pembinaan spiritual. telah dilaksanakan pembangunan. pembinaan pramuka.297 perkara yang ada pada pengadilan tinggi. bimbingan sosial. Kegiatan ini dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah diikuti oleh 3. pendidikan umum. telah dapat diselesaikan 5. Berkaitan dengan pembinaan pemasyarakatan. Dalam tahun 1983/1984 dan tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.705 perkara atau sekitar 97 persen. keterampilan perawatan dan pelayanan masyarakat. beternak dan berwiraswasta. Selain itu dari 14. keuangan dan perlengkapan sebanyak 570 orang. Sementara itu guna meningkatkan bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak. telah dapat diselesaikan sebanyak 7. dan dari 703. perluasan/rehabilitasi masingmasing 24 dan 25 gedung LP. Untuk menunjang sistem tersebut maka ditingkatkan pula pembangunan sarana penunjangnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengadilan negeri. telah dilaksanakan pembangunan prasarana fisik berupa pembangunan baru/lanjutan masing-masing 22 dan 51 gedung lembaga pemasyarakatan (LP). sistem pemasyarakatan yang ada diarahkan agar narapidana dan anak didik setelah selesai menjalani hukumannya.

Liku. ketenagakerjaan. Di samping itu ABRI juga telah mampu mengamankan pembangunan nasional dan kedaulatan Negara RI. Sebatik. Jambi dan Banjarmasin. Kerangka landasan tersebut mempunyai pengertian yang seluas-luasnya.034. Surakarta. terdiri 286. Siding. terdiri dari 323. Keimigrasian Sejalan dengan perkembangan ekonomi dan hubungan antar negara. 8.047 orang asing. pengawasan orang asing dan lalu lintas ke dan dati luar negeri terus ditingkatkan.7. sehingga dapat menjadi kerangka landasan yang dapat diandalkan dan tahan uji. 8. Padang. Tanjung Petak. Pertahanan dan keamanan Pembangunan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sampai dengan Pelita III telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kokoh dalam menuju angkatan bersenjata yang modern. serta pelaksanaan ibadah keagamaan (haji dan umroh).713 orang. Aruk. Demikian juga telah dilakukan rehabilitasi dan perluasan kantor imigrasi dan asrama tahanan imigrasi. Dalam rangka menanggulangi subversi.011.379 orang. Ubruk. maka baik frekuensi maupun volume lalu lintas orang dari dan ke luar negeri dari tahun ke tahun terus mengalarni peningkatan.349 orang asing. Bupul. Senggih. pengembangan pariwisata. Pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan telah berkembang terus. tanpa mengabaikan segi pengawasannya agar tidak mengganggu stabilitas nasional. masing-masing sebanyak 12 gedung dan 1 gedung. Dalam tahun 1983/1984. Sedangkan yang berangkat ke luar negeri berjumlah sebanyak 1. Dalam tahun 1983/1984 telah dilaksanakan pembangunan 8 gedung kantor imigrasi yang terletak di pelabuhan-pelabuhan Cengkareng.666 orang Indonesia dan 711. Dalam waktu yang sarna telah dibangun pula 11 pos imigrasi yang terletak di Sinabi. Berkaitan dengan itu penanganan bidang keimigrasian diarahkan untuk menunjang perkembangan yang terjadi di bidang-bidang tersebut.030 orang Indonesia dan 725. Jagoi Babang.6.3. orang yang masuk ke Indonesia adalah sebanyak 1. Untuk mewujudkan usaha tersebut diperlukan prasarana dan sarana yang dati tahun ke tahun terus meningkat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dibangun 38 gedung Bispa dan renovasi LP menjadi Rutan sebanyak 152 gedung. di mana tiap-tiap warga negara berhak dan wajib Departemen Keuangan RI 302 . Banda Aceh. Tanjung Priok. baik masa sekarang maupun di masa yang akan datang. sehingga pembangunan ABRI akan selalu selaras dengan tingkat kemajuan pembangunan nasional. Sentani dan Kabil.

Implementasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 dalam bidang organisasi telah dilaksanakan melalui Keputusan Presiden Nomor 46 Tahun 1983 tentang Pokok-Pokok dan Susunan Organisasi Departemen Pertahanan dan Keputusan Presiden Nomor 60 Tahun 1983 tentang Pokok-Pokok Susunan Organisasi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Dwi fungsi ABRI harus dilaksanakan sebaik-baiknya. dengan inti kekuatan darat yang didukung kekuatan laut dan kekuatan udara. Konsep pertahanan yang dikembangkan menyangkut pertahanan dan konsentrasi selektif sesuai dengan perkiraan keadaan. serta penyempumaan sistem dan manajemen. Selama Pelita III telah berhasil dicapai tonggak baru dalam sejarah perkembangan ABRI. ABRI menjadi seinakin mantap dalam mengemban tugas pokoknya. Di samping itu dalam rangka ketertiban masyarakat dan penegakan hukum. pembangunan ABRI masih dipusatkan pada pembangunan personalnya. Dengan adanya undangundang tersebut. Selama dua Pelita yang lalu. Dalam hubungan ini masalah utama yang telah mendapat perhatian semua pihak adalah pendayagunaan sumber daya nasional bagi upaya pertahanan keamanan negara. termasuk di dalamnya sebagai kekuatan yang menjaga dan sekaligus menyegarkan demokrasi Pancasila. Politik pertahanan dan keamanan dimaksudkan untuk menjamin keamanan negara serta turut memelihara perdamaian dunia pada umumnya dan keamanan di kawasan Asia Tenggara khususnya. maka telah ditingkatkan mutu aparat kepolisian agar mampu hadir secara fisik. yakni mencakup usaha untuk mendapatkan prajurit ABRI yang Departemen Keuangan RI 303 . yang memerlukan koordinasi yang terus menerus antara semua pihak yang berkepentingan. yaitu dengan telah disahkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia. kekuatan yang dibangun tetap dikonsentrasikan pada kekuatan kewilayahan yang lebih mempertegas dan memantapkan prinsip kesatuan wilayah Nusantara. komando dan pengendalian. yaitu menjamin tetap tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Adapun pembangunan kekuatan pertahanan dan keamanan yang telah dilaksanakan adalah berupa peningkatan mutu personal. agar ABRI dapat terus memikul tugas sejarahnya sebagai stabilisator dan dinamisator. sedangkan strategi pertahanan dan keamanan ditujukan untuk mencegah dan menangkal gangguan keamanan dalam negeri. peralatan. yang disertai dengan penyebaran kekuatan penangkal dan penempatan perbekalan dalam upaya menyesuaikan luas wilayah ke dalam strategi pagelaran kekuatan. Sesuai dengan doktrin dasar nasional Wawasan Nusantara. yang memberikan landasan hukum yang bersumber pada Undang-Undang Dasar 1945.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ikut serta dalam usaha pembelaan negara. sekaligus sebagai pengayom dan pencipta rasa tenteram dan aman bagi lingkungan masyarakat.

003 orang TNI-AD . dan 133. 14 Heli.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 mewarisi jiwa dan semangat pejuang. 82 Yonif. mulai dari pendidikan tamtama hingga pendidikan tinggi perwira. sehingga tingkat teknologi maju yang terus berkembang hams dapat dikuasai.833 orang. Adapun kekuatan operasi tersebut meliputi 2 Brigif Linud. Di samping itu koordinasi antardepartemen. Hal ini memerlukan daya pukul dan kecepatan bergerak yang tinggi. 58 kapal. Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio TNI-AU menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. yang sangat penting bagi pengembangan Departemen Keuangan RI 304 . Usaha-usaha tersebut meliputi pengembangan Unit Industri Bahan Peledak TNI-AU menjadi Perum Dahana. 33 Kowil. Untuk menunjang usaha tersebut telah dilakukan kegiatan-kegiatan pokok. 3. 53 Yonban. Pembangunan kekuatan ABRI tersebut dilaksanakan untuk mewujudkan ABRI sebagai kekuatan yang kecil tetapi efektif. 281 Kores. 25. Untuk menunjang usaha tersebut.Angkatan 1945. serta 102 Pesud. 36. yang antara lain meliputi penyempurnaan sistem penerimaan anggota baru ABRI. dan yang memiliki kemampuan profesional yang cukup tinggi dalam bidangnya. telah dilakukan peningkatan kekuatan operasi untuk masing-masing angkatan dan Polri. dan 1 Yon Posgat untuk TNI-AU. 292 Kodim dan 3215 Koramil untuk TN I-AD . Sedangkan untuk Polri adalah mencakup 17 Kodak. namun mampu melaksanakan tugas-tugas yang menjadi kewajibannya. 2 Grup Parako. 25 pesawat udara (Pesud). Untuk mengurangi ketergantungan peralatan ABRI pada luar negeri. serta Pabrik Roket Menang TNI-AU menjadi bagian dari divisi senjata PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. yang terdiri dari 216.944 orang TNI-AL. 6 Yonif Mar dan 10 Yonban Mar untuk TNI-AL. serta penyempurnaan fasilitas perawatan personal melalui pembangunan sistem pangkalan.838 orang Polri. Hal tersebut dimaksudkan agar mampu mengemban tugas pokok ABRI dalam lingkungan yang terus bergerak dinamis guna mengikuti gerak pertumbuhan pembangunan nasional. Selanjutnya dilakukan juga penyempurnaan sistem pendidikan dan latihan ABRI.098 orang TNI-AU. 16 Kodam. 41 Korem. maka secara bertahap beberapa peralatan utama ABRI telah mulai diganti dengan yang lebih maju tingkat teknologinya. yaitu kecil dalam jumlah dan sederhana dalam organisasi. maka telah digalakkan industri nasional dalam pembuatan komponen atau suku cadang peralatan utama ABRI.233 Kosek dan 56 Sat Brimob. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. sehingga pada akhirnya mampu berswasembada secara keseluruhan. Penataran TNI-AL Surabaya menjadi PT Pabrik Kapal Indonesia. Unit Survai dan Pemetaan TNI-AU menjadi Perum Penas. Adapun kekuatan personal militer yang telah dimiliki sampai dengan triwulan IV tahun 1983/1984 adalah sebanyak 411. agar mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air. 2 Grup Sandha. Perindustrian TNI-AD (Pindad) menjadi PT Pindad. 47 Heli.

pameran dan media tradisional. Sejalan dengan itu. terus ditingkatkan pengembangan pers yang sehat. bebas dan bertanggung jawab. sehingga dapat menjalankan fungsinya dalam menyebarkan informasi yang obyektif. melakukan kontrol sosial yang konstruktif. dengan lebih meningkatkan pendayagunaan sarana penerangan seperti radio. memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional.8. 8. Guna Departemen Keuangan RI 305 . menyalurkan aspirasi rakyat. Dengan adanya kegiatan tersebut. serta meningkatkan pemeliharaan kesehatan bagi lingkungan. Guna meningkatkan peranan pers dalam pembangunan. telah ditingkatkan pula peranserta masyarakat pedesaan dalam pembangunan. Untuk itu telah dilaksanakan berbagai kegiatan penerangan terutama yang bersifat menggelorakan semangat pengabdian dan perjuangan bangsa. memasyarakatkan kebudayaan dan kepribadian Indonesia serta menggairahkan partisiposi masyarakat dalam pembangunan. dan peningkatan jumlah frekuensi dari berbagai jenis kegiatan penerangan umum. Hal ini secara tidak langsung akan mendidik masyarakat pedesaan agar tidak mudah terpengaruh pada keinginan untuk melakukan urbanisasi. baik yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan penerangan di dalam negeri maupun di luar negeri. juga telah dimantapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 1983 tentang Pembentukan Dewan Pembina dan Pengelola Industri-industri Strategis dan Industri Pertahanan Keamanan. mengembangkan sistem perekonomian yang lebih baik dengan mengutamakan asas gotong royong. yang pada gilirannya akan meningkatkan pula pendapatan atau kesejahteraannya. 8. Untuk itu melalui Puspenmas diberikan penerangan dan bimbingan. serta memperluas komunikasi dan partisiposi masyarakat. pees. mengembangkan usaha bersama melalui sistem koperasi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 industri pertahanan keamanan. masyarakat pedesaan diharapkan akan dapat menggali dan memanfaatkan sumber-sumber kekayaan yang ada di daerahnya.8. antara lain dengan memperkenalkan teknologi yang layak dan sesuai dengan perkembangan daerah pedesaan. Operasional penerangan Pembangunan operasional bidang penerangan dalam pelaksanaannya mencakup peningkatan peranan pusat penerangan masyarakat (Puspenmas). film. yang dilakukan melalui penambahan sarana dan prasarana penerangan.1. Penerangan Pembangunan di bidang penerangan terutama ditujukan untuk meningkatkan penerangan sampai ke desa-desa. televisi.

Sulawesi Selatan. Jawa Barat. yang dalarn penyelenggaraannya terutarna disesuaikan dengan momentum hari-hari bersejarah. Hal ini merupakan suatu kegiatan terpadu antara Pemerintah dengan unsur-unsur swasta. ruang perpustakaan. Riau. juga dilengkapi dengan berbagai sarana penerangan antara lain berupa radio kaset. Jambi.135 unit dan 300 unit. terutama industri kecil. alat-alat duplikasi dan sarana mobilitas penerangan. Dalam waktu yang sama juga telah dilaksanakan usaha peningkatan mutu dan peranan daripada Jupen wanita. dalam meningkatkan mutu dan peranan juru penerang (Jupen) yang bertugas di kecamatan. telah ditingkatkan pula penyediaan sarana mobilitas bagi para Jupen. Nusa Tenggara Barat. terutarna dalam rangka meningkatkan peranserta wanita dalam pembangunan. Sehubungan dengan itu apabila dalam tahun 1983/1984 pembangunan gedung Puspenmas baru mencapai sebanyak 11 buah. mobil unit suara. Salah satu kegiatan penerangan yang dilaksanakan secara langsung adalah pameran pembangunan. Timor Timur. jumlah Jupen wanita yang secara aktif ikut memberikan penerangan kepada kaum wanita di daerah-daerah pedesaan mencapai 380 orang. penyediaan muviani darat dan muviani air masing-masing telah berjumlah sebanyak 3. Sampai dengan bulan Agustus 1984 tahun pertama Repelita IV. Jawa Tengah. Pameran pembangunan di tingkat pusat dilakukan pada setiap tanggal 20 Mei. baik melalui pameran di tingkat pusat. Dengan demikian sampai dengan tahun pertama repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 pembangunan gedung Puspenmas telah mencapai 275 buah yang mencakup 27 ibu kota propinsi. mobil unit panggung. Sebagaimana halnya dengan Puspenmas. Selain itu kegiatan tersebut juga berfungsi sebagai salah satu promosi hasil-hasil industri. dalarn tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Agustus 1984 telah menjadi sebanyak 25 buah yang tersebar pada 11 ibukota propinsi meliputi propinsi Jawa Timur. yang untuk selanjutnya dapat menyebarluaskan materi siaran tersebut kepada masyarakat sebelum diterima dokumen lengkapnya. dalam pembangunan gedung Puspenmas selalu dilengkapi dengan ruang aula. Sumatera Selatan. Hal ini dimaksudkan agar para Jupen tersebut dapat memonitor siaran-siaran Pemerintah. maupun di daerah-daerah sampai dengan tingkat kecarnatan yang dilaksanakan dengan pameran keliling. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 sebanyak 110 orang. yang antara lain meliputi peragaan visual. hiburan dan sarasehan/pentaloka. Bali dan Sulawesi Utara. Sarnpai dengan akhir Pelita III.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menunjang usaha tersebut. serta mobil unit visual mini yang terdiri alas muviani darat dan muviani air. dan pada periode antara tanggal 21 Juni sarnpai dengan tanggal 21 Juli Departemen Keuangan RI 306 . Di samping itu guna menunjang kelancaran pelaksanaan penerangan sampai ke desa-desa. yaitu meliputi mobil unit penerangan. yaitu bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional.

Selanjutnya guna meningkatkan kekuatan pemancar RRI. telah diberikan pembinaan. dalarn tahun 1983/1984 antara lain telah diterbitkan majalah Indonesia Today sebanyak 48. terutama yang ditujukan ke daerah-daerah Indonesia bagian timur dan Posifik Selatan. Indonesia Elyoum sebanyak 18.2. OB Van dan gedung studio/pemancar.2.000 eksemplar dan Indonesia Spotlight On Event sebanyak 72. guna meningkatkan peranserta masyarakat dalam pembangunan maka dalam waktu yang sama telah diberikan 48. 8. terutama yang mempunyai pengaruh langsung terhadap pembangunan di Indonesia. Dengan demikian minat luar negeri terhadap pelaksanaan pembangunan di Indonesia diharapkan akan semakin meningkat. dewasa ini telah dilaksanakan pengudaraan pemancar gelombang pendek dengan kekuatan 250 kilowatt. terus diusahakan peningkatan mutu. bersamaan dengan peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. perekaman. isi. Sedangkan untuk tingkat propinsi. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama dan persahabatan bagi bangsa-bangsa di kawasan ASEAN khususnya. Dengan demikian sampai dengan bulan Agustus 1984. Sedangkan khusus untuk Timor Timur. RRI telah memiliki 301 buah pemancar yang Departemen Keuangan RI 307 . Selanjutnya pada setiap tanggal 1 Oktober. Demikian pula halnya kepada masyarakat Indonesia di luar negeri.000 eksemplar. Pengembangan sarana penerangan 8.8. baik melalui forum pertemuan/sarasehan maupun dengan pengadaan buku/brosur tentang pelaksanaan/perkembangan pembangunan di Indonesia. serta penyelenggaraan siaran wanita dalam pembangunan. Guna menunjang kebijaksanaan tersebut. Di sarnping itu juga telah diadakan kompetisi siaran pedesaan.000 eksemplar. jumlah serta frekuensi paket penerangan ke luar negeri yang disalurkan melalui perwakilan-perwakilan Indonesia yang berada di luar negeri. yang bersamaan dengan dilakukannya peringatan hari Kesaktian Pancasila.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berupa Pekan Raya Jakarta. dilakukan pula pameran pembangunan untuk tingkat kabupaten/kotamadya. yang meliputi alat-alat studio/pemancar. dalam tahun pertama Pelita IV antara lain telah dilaksanakan peningkatan sarana penyiaran.1. Radio Dalarn rangka meningkatkan frekuensi dan mutu siaran RRI.000 eksemplar brosur/ majalah yang terdiri atas 25 judul.8. perlombaan bintang radio dan televisi. dan dunia internasional pada umumnya. penyebaran kaset penerangan dan penyuluhan ke daerah-daerah. Dalam rangka meningkatkan citra Indonesia di luar negeri. dan masyarakat asing yang tinggal di Indonesia. pameran pembangunan dilaksanakan pada setiap tanggal 17 Agustus.

Di samping itu juga telah dilaksanakan intensifikasi penggunaan stasiun produksi keliling dalam bentuk mobil unit.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tersebar pada 49 stasiun di seluruh Indonesia dengan kekuatan terpasang sekitar 2. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. terdiri dari 244 jam per minggu yang disiarkan melalui 48 buah Radio Republik Indonesia (RRI) dan 240 jam per minggu yang disiarkan melalui 108 buah Radio Pemerintah Daerah (RPD).8. Televisi Dalam rangka meningkatkan daya jangkau penerangan dan pengembangan siaran di seluruh pelosok tanah air melalui televisi. kemudian diikuti oleh kelompok pemuda dan kelompok wanita yang masing-masing mencapai 6. kelompok dewasa merupakan kelompok pendengar yang paling banyak yakni 28. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.902 orang. dilakukan secara terpadu dengan kelompok pembaca dan pemirsa (Kelompencapir). Untuk meningkatkan peranserta masyarakat pedesaan dalam pembangunan. sampai dengan akhir Pelita III telah dapat diselesaikan pengembangan tahap pertama studio produksi TVRI di Jakarta. apabila dalam tahun 1983/1984 luas daerah jangkauannya baru mencapai 495. pengadaan 10 unit stasiun produksi keliling. serta pembangunan 189 stasiun pemancar.4 persen. baik mengenai mutu. Selanjutnya untuk meningkatkan sarana produksi dan jangkauan siaran TVRI.2.814 orang dan 5.609 kilometer.325 orang dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah meningkat menjadi Departemen Keuangan RI 308 . Dari jumlah tersebut. Dengan demikian secara keseluruhan jumlah stasiun pemancar TVRI yang berhasil dibangun sampai dengan periode tersebut telah mencapai 199 buah. jumlah jam siaran pedesaan telah ditingkatkan sehingga mencapai 484 jam dalam satu minggu. telah dibangun lagi 10 buah stasiun pemancar. Dengan demikian dalam pembinaan selanjutnya akan terus diusahakan agar di setiap desa di seluruh Indonesia terdapat sekurang-kurangnya 1 kelompok pendengar yang tergabung dalam Kelompencapir. terutama dalam rangka menggali potensi seni budaya bangsa yang tersebar di berbagai daerah.000 orang dalam tahun 1983/1984 menjadi 41. Kegiatan pembinaan kelompok pendengar siaran pedesaan. Dalam pada itu jumlah pendengar siaran pedesaan juga telah meningkat sebesar 5. terus ditingkatkan siaran pedesaan baik mengenai mutu maupun isinya. sehingga pada gilirannya RRI akan dapat menyatu dan akrab dengan khalayak pendengarnya. yaitu dari 39. 8. pembangunan studio warna di Ujungpandang.609 orang.997 kilowatt. Sehubungan dengan perluasan jangkauan siaran TVRI.2. isi maupun persentase siarannya. Medan dan Palembang. terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan.

420 7.232 2. yang sekaligus terkandung penertiban judulnya.000 22.5 1974/75 6 23 410.8.100 1977/78 3.740 4.900 42 1975/76 6 26 542.719 1982/83 6. yang berarti telah meningkat dengan 90.700 470 4. Lebak Membara.500 5.430 75.500 26.9.020 2.572 25.000 419.940 174.435 519 25. baik dalam memenuhi kebutuhan di dalam negeri maupun di luar negeri.719 1980/81 5. maka kemampuan mekanisme tata peredaran film/rekaman video nasional terus ditingkatkan.011 18.5 1970/71 3 4 135.5 1971/72 4 8 190.5 juta orang menjadi 115.5 1972/73 4 10 220. pelaksanaannya diarahkan pada tercapainya suatu keseimbangan di antara tema-tema fIlm yang diproduksi. saling pengertian.808 kilometer.038 1979/80 5. Pesawat televisi (buah) 4.827 427. rasa persatuan dan tanggung jawab di antara organisasi profesi.970 1972/73 930 800 270 2.405.500 40 1973/74 6 22 351.000 85 1980/81 9 107 2.000 34.1984/1985 Uraian 1.432 buah atau sebesar 1.030 1975/76 1.2. 9 JUMLAH STUDIO.631 1978/79 5.900 1971/72 900 800 270 1.232 2.100.599.965 Tabel VIII. Perkembangan sarana dan jumlah jam siaran TVRI menurut jenis siaran dapat diikuti pada Tabel VIII. Selanjutnya dalam rangka peningkatan produksi film.508 17. Penduduk dalam daerah pancaran (juta orang) 1 ) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1969/70 2 4 80.470 72.610 1.572 25.343.2 8. Sehubungan dengan usaha regenerasi pewarisan nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa. 8 JUMLAH JAM SIARAN TELEVESI MENU RUT JENIS SIARAN.030 650 12. action serta film khusus untuk anak-anak dan remaja.261 514 25.890 495.1984/1985 Jam siaran Hiburan Berita/penerangan/ pendidikan /kebudayaan Lain . sedangkan film/rekaman video impor hanya berfungsi sebagai pelengkap. Guna mewujudkan iklim yang sehat bagi perkembangan industri perfilman dan rekaman video. dalam periode yang sama telah meningkat dari 95. 1969/1970 .8 dan Tabel VIII. Sehubungan dengan itu. LUAS DAERAH DAN JUML_H PENDUDUK DALAM DAERAHPANCARAN TVRI. TabeI VIII.500 90 1982/83 9 186 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 534.323 1981/82 6.680 560 6.lain Jumlah 1) Angka sementara 1969/70 680 800 260 1.011 18.000 400. 1969/1970 .9 1977/78 9 70 895.000 36. seperti film drama.000 72.740 buah. STASI_N PEMANCAR.3.000 82 1979/80 9 89 1.100 40.519 17. Studio (buah) 2. Kartini.410 600 6.433. Demikian pula jumlah penduduk yang telah terjangkau oleh siaran TVRI.808 115. Jaka Sembung.915 17.026 2. jumlah produksi serta kelancaran peredaran dan pemasaran fIlm Indonesia.2 juta orang.000 87 1981/82 9 124 2.000 24.944 18.000 1973/74 2.740 534. PESAWAT TELEVISI.906 18.5 9 199 5.308 495.500 36.965 7.740 1970/71 800 800 300 1.600 73 1976/77 6 34 632. terus diusahakan terciptanya mekanisme kerjasama.433. Luas dalam jangkauan (Km2) 18.000 406.5 1983/84 1984/85 2) 9 189 5.578 1983/84 1984/85 1) 7.600 95.100 80.461 731 15.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.000 82 1978/79 9 82 1. Stasion pemancar (buah) 3. komedi. Departemen Keuangan RI 309 .435 519 25. mutu. agar film/rekaman video produksi nasional dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.160 512 25.504 25.180 229.600 95.439 11. Nopember 1828. di Pusat Produksi Film Negara (PPFN) pada saat ini telah dan sedang di produksi film-film sejarah seperti Serangan Fajar.126.980 1976/77 4.780 1974/75 3.971. Perfilman nasional Peningkatan dan pembinaan bidang perfilman nasional terutama ditujukan untuk meningkatkan citra. Sedangkan jumlah pesawat televisi yang terdaftar pada kantor pos dan giro dalam tahun yang sama telah mencapai 5.

Pers Peningkatan pembinaan di bidang pers terutama ditandai dengan telah ditetapkannya Undang-Undang No. di samping setiap tahun juga diikutsertakan dalam Festival Film Asia dan Festival Film ASEAN secara rutin. di sampingjuga telah diproduksi film iklan. Los Angeles dan Milano.8. Sedangkan dalam tahun 1984 antara lain telah diselenggarakan Festival Film Indonesia (FFI) di Yogyakarta dan Festival Film ASEAN XIV di Jakarta. Dengan te1ah dilaksanakannya peningkatan di bidang pertunjukan. sejak tahun 1983/1984 PPFN telah diperkenalkan film Cinerama. sejak tahun 1984/1985 diproduksikan fIlm dengan menggunakan sistem Imax yaitu suatu teknologi perfilman yang menggunakan sistem proyektor 70 mm/6 sound track. Berlin. 76 judul dan 40 judul. Sementara itu guna meningkatkan usaha promosi dan pemasaran film Indonesia ke luar negeri. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah dihasilkan 46 judul. terus ditingkatkan usaha menghidupkan film produksi nasional. film-film Indonesia telah diikutsertakan dalam festival dan pekan film internasional.4. Selanjutnya agar film tersebut dapat mencapai peredaran di dalam negeri selama dua tahun. Selama Pelita III. te1ah diproduksi film ceritera nasional sebanyak 337 judul yang berarti rata-rata dapat diproduksi sebanyak 67 judul per tahun. 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Departemen Keuangan RI 310 . disediakan 30 copy dengan perincian 27 copy untuk Daerah Tingkat I dan 3 copy untuk arsip nasional. yaitu ke Malaysia. Selanjutnya untuk lebih memperkenalkan budaya bangsa Indonesia di luar negeri. yang merupakan perubahan alas Un dangUndang No. yaitu suatu film yang dalam penyajiannya menggunakan layar lebar dan membentuk 180?. Kereta Api Terakhir dan Sejarah Orde Baru. Adapun film Sejarah Orde Baru dimaksudkan untuk meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap bahaya laten PKI. masing-masing sebanyak 16 judul. Dalam hubungan ini. film dokumenter nasional dan film dokumenter/iklan yang dibuat orang asing. Singapura dan Brunai. Cannes. Sedangkan untuk peredaran di luar negeri me1alui 59 kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) telah disediakan 60 copy. selama Pelita III telah diikuti festival dan pekan film internasional di Manila. jumlah ekspor film Indonesia ke luar negeri telah mencapai sebanyak 22 judul. Selama Pelita III. Hongkong. 21 Tahun 1982.2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Kamp Tawanan Wanita. sehingga dapat menampung penonton sebanyak 3 kali lebih besar dibandingkan dengan pertunjukan film yang dalam penyajiannya menggunakan teknik biasa. London. Se1anjutnya dalam rangka meningkatkan mutu penyajian film. di samping juga sebagai film pendidikan bagi generasi muda. 8.

675. serta peningkatan laju pertumbuhan setiap daerah. saat ini sedang dilaksanakan pembahasan rancangan perubahan mengenai Sural Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) oleh Dewan Pers. kegiatan tersebut antara lain ditujukan pada pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh tanah air. secara bertahap telah ditingkatkan pelaksanaan program koran masuk desa (KMD) baik kualitas maupun kuantitas. daerah tingkat I dan daerah tingkat II Kebijaksanaan yang ditempuh di bidang pembangunan daerah dalam tahun 1983/ 1984 merupakan kelanjutan dan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Selanjutnya sebagai pelaksanaannya telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. Sementara itu guna meningkatkan pemerataan informasi ke daerah-daerah pedesaan. 21 Tahun 1982. Sejalan dengan Trilogi Pembangunan. Bantuan pembangunan daerah 8. sehingga dengan adanya KMD tersebut benar-benar akan dapat memberikan motivasi kepada masyarakat pedesaan untuk ikut berpatisiposi dalam pembangunan. pers dan masyarakat. Pembangunan desa. Sedangkan guna mengembangkan kebutuhan informasi. Selain itu sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No.1. maka dalam Pdita IV pembangunan pedesaan ditujukan untuk Departemen Keuangan RI 311 .1 Tahun 1984 tentang Dewan Pers. terus ditingkatkan penyelenggaraan forumforum dialog antara Pemerintah. Dari segi kualitas dicerminkan dalam peningkatan kemampuan mengelola KMD melalui penataran-penataran. khususnya yang mempunyai hubungan secara langsung dengan tugas di bidang pembangunan desa.9.9. dalam tahun 1983/1984 melalui program KMD telah dapat diedarkan koran sebanyak 8. 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Undang-Undang No.000 eksemplar dari 50 penerbit dan tersebar pada 26 propinsi. 44 Tahun 1967. terutama dalam mewujudkan adanya pers yang bebas dan bertanggung jawab. Di samping itu guna meningkatkan pelaksanaan KMD telah dibentuk pula kelompokkelompok pembaca di daerah pedesaan. yang kemudian ditingkatkan melalui kegiatan kerjasama dengan berbagai lembaga. serta dalam rangka pelaksanaan interaksi positif. Sesuai dengan arab pembangunan daerah tersebut. yaitu sebuah lembaga yang akan mendampingi Pemerintah dalam membina dan mengembangkan pers nasional. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah dapat diedarkan sebanyak 397. sedangkan dari segi kuantitas peningkatannya nampak dari penambahan jumlah oplag.000 eksemplar melalui 16 penerbit. di samping itu juga untuk mempertebal semangat dan gairah partisiposi masyarakat dalam meningkatkan hasil guna dan clara guna kegiatan pembangunan di daerah. Sehubungan dengan itu.

183 TKS-BUTSI. pembangunan di wilayah kecamatan melalui sistem UDKP tersebut diutamakan pada kecamatan yang tergolong miskin. agar kecamalan-kecamatan tersebut dapat berkembang sesuai dengan kecamatan lainnya. Untuk itu telah dilakukan evaluasi terhadap tingkat perkembangan desa. dilakukan juga pembangunan desa melalui sistem Unit Daerah Kerja Pembangunan (UDKP). Hal ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan yang positif bagi desa-desa lainnya agar lebih giat melaksanakan pembangunan. minus. sistem UDKP ini telah dilaksanakan pada 2. terbelakang.045 kecamatan yang tersebar di 27 propinsi daerah tingkat I.429 kepala urusan pembangunan. sedangkan pada Departemen Keuangan RI 312 .5 persen per tahun.7 persen per tahun. Hasil evaluasi dan monitoring di bidang perkembangan desa sampai dengan tahun 1984/1985 menunjukkan adanya 16. berjumlah 11. Sebagai hasilnya. kecamatan UDKP rata-rata meningkat 6. serta berada di wilayah perbatasan/kepulauan dan radar penduduk. Dengan demikian kedudukan desa sebagai obyek pembangunan berubah menjadi subyek pembangunan yang berketahanan di semua bidang. yang disesuaikan dengan kebutuhan dasar masyarakat desa yang berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. karena dalam jangka panjang desa-desa di seluruh Indonesia akan dikembangkan menjadi desa swasembada. diskusi UDKP dan temu karya LKMD di tingkat ke carnatan . serta kursus bagi 3. yang pada gilirannya akan dapat memantapkan ketahanan nasional. Sampai dengan tahun 1983/1984. Sejalan dengan pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah tanah air. telah diselenggarakan perlombaan desa.093 orang camat UDKP. rawan. menjadi desa swasembada. jumlah desa yang telah menjadi pemenang perlombaan desa. Sedangkan untuk mendorong desa-desa agar lebih giat melaksanakan pembangunan desanya. baik di tingkat kabupaten/kotamadya maupun di tingkat propinsi. serta rapat koordinasi pembangunan. antara lain penataran terhadap 1. Sejalan dengan itu telah dilaksanakan pula penempatan 1. musyawarah LKMD. yang merupakan satu sistem terkecil dalam administrasi pemerintahan dan ekonomi. Melalui sistem UDKP. desa tingkat kecamatan dari 27 propinsi.757 desa. Usaha ini merupakan penerapan sistem penyusunan rencana daTi bawah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 mempercepat pertumbuhan desa. Sampai dengan tahun 1983/1984. Selain itu di wilayah kecarnatan UDKP telah dilaksanakan pula berbagai kegiatan.385 desa yang telah menjadi desa swasembada. atau suatu peningkatan rata-rata sebesar 3. baik di tingkat kabupaten/kotamadya daerah tingkat II maupun di tingkat propinsi daerah tingkat I. Kepada desadesa yang mencapai prestasi tinggi dan menjadi pemenang perlombaan diberikan penghargaan dan hadiah dalam bentuk proyek. desa-desa di 27 propinsi yang telah menjadi pemenang perlombaan desa kini dapat mengembangkan desanya secara lebih cepat dan baik. jumlah desa swasembada pada.

konstruksi dan material. Berkaitan dengan itu telah dilakukan survai pendahuluan tatadesa pada 1. pangan. telah dilaksanakan pula penyuluhan dan peningkatan motivasi.297 LKMD dan kategori aktif berfungsi sebanyak 28. pemukiman kembali penduduk dan penciptaan lapangan kerja. Dalam pada itu peningkatan jumlah proyek/program sektoral. sedangkan latihan guna meningkatkan keterampilan dalam pembangunan/pemugaran perumahan desa.876 kecamatan.040 kecamatan. survai/pengkajian identifikasi masalah tatadesa di 6 kecarnatan yang meliputi 90 desa dan penyuluhan mengenai teknis pola tatadesa terhadap 216 tokoh masyarakat desa.2 persen per tahun.ertambah dengan sebesar 3. telah dikembangkan pula sebanyak 4. penerapan pola tatadesa di 672 desa.575 peserta dan kelompok kesenian rakyat. regional. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan peranserta aktif swadaya masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan hidup dan pembangunan desanya. terutama untuk desa-desa yang terbelakang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kecamatan non UDKP rata-rata hanya b. Melalui inpres bantuan pembangunan desa. telah diikuti oleh 42.4 persen dari 66. dan swadaya masyarakat yang mengisi kecarnatan dengan sistem UDFY terse but rata-rata adalah sebanyak 25 proyek.207 LKMD. serta melalui penerbitan dan Departemen Keuangan RI 313 .315 orang. telah dibentuk pula lembaga ketahanan masyarakat desa (LKMD).698 LKMD atau sekitar 94. kategori berkembang sebanyak 25.755 LKMD percontohan yang diharapkan akan menjadi LKMD teladan. Sedangkan guna penerapan dan pengembangan teknologi pedesaan telah dilakukan identifikasi spesifik terhadap 46 jenis teknologi pedesaan yang telah berhasil diterapkan dan dikembangkan.237 orang. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan fungsi LKMD.194 LKMD. Dalam sistem UDKP tersebut. Selain itu guna mempercepat terwujudnya LKMD yang aktif berfungsi dalam pelaksanaan pembangunan. Adapun untuk pengembangan teknologi desa telah diberikan latihan kepada 734 orang anggota masyarakat. dan bagi kader LKMD-KPD yang diikuti 57.488 orang. Sampai dengan tahun 1983/1984. telah dibentuk sebanyak 63. di samping juga penetapan dan pemilihan 63 orang perugas teknologi pedesaan (PL TP) dan 345 orang kader teknologi pedesaan. telah dilaksanakan latihan bagi pelatih/instruktur PL-LKMD yang diikuti 6. siaran pedesaan melalui RRI dengan 41. pertanian.448 desa yang ada di Indonesia. Inpres. pementasan kegiatan LKMD melalui TVRI. juga terkait kegiatan penerapan pola tatadesa dan pengembangan teknologi pedesaan. Selain kegiatan tersebut. yaitu kategori posif sebanyak 10.380 kelompok pendengar. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk latihan sosio drama yang diikuti oleh 9. sampai dengan tahun 1983/1984 telah diberikan dana paket UDKP kepada 1. yakni meliputi bidang energi. Jumlah tersebut menurut tingkat perkembangannya dapat dike1ompokkan ke dalam 3 kategori.

penggunaan bantuan tersebut diarahkan pada proyekproyek yang dapat memperbaiki lingkungan hidup perkotaan. pemasaran dan sosial. Sedangkan sejak dimulainya kegiatan pemugaran perumahan dan lingkungan desa. 3. Kegiatan lain yang erat kaitannya dengan pembinaan LKMD adalah pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). yang terdiri atas prasarana produksi.437 desa telah memperoleh bantuan sebesar Rp 91. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan' bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan latihan/kursus bagi tim penggerak PKK tingkat propinsi dan kabupaten/kotamadya. Untuk membantu pelaksanaan pembangunan di daerah tingkat II.890 rumah yang tersebar pada 1. bantuan diarahkan pada pembangunan baik prasarana fisik.3 persen dan 38. gorong-gorong.3 persen. Pemerintah daerah dan swadaya masyarakat.583 buah dan 54. Dalam waktu yang sarna hasil pelaksanaan Inpres pembangunan desa telah mencakup 106. perhubungan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penyebaran folder/poster/brosur-brosur penyuluhan. Untuk mencapai tujuan tersebut. telah diberikan bantuan yang besarnya didasarkan atas jumlah penduduk.935 buah. Untuk itu dibentuk kaderkader PKK melalui penyelenggaraan kursus-kursus PKK. terutama lingkungan hidup masyarakat yang berpenghasilan Departemen Keuangan RI 314 . masing-masing sebesar 61. yakni dalam tahun 1976/1977 sampai dengan bulan Agustus 1984. maupun proyek-proyek lain seperti pengembangan potensi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. telah dilaksanakan pemugaran 46. jembatan. Proyek-proyek tersebut dibangun melalui bantuan Pemerintah pusat. yang diikuti oleh 2. seperti jalan. terus ditingkatkan jumlah bantuan yang diberikan kepada setiap desa. dan saluran pembawa.092 buah. Berkaitan dengan pemukiman kembali penduduk desa. yang sampai dengan tahun 1983/1984 telah diikuti oleh 290. bendungan. Untuk meningkatkan taraf hidupdan kesejahteraan penduduk di pedesaan serta guna mempercepat pembangunan pedesaan. Bantuan tersebut ditujukan untuk penciptaan dan perluasan lapangan kerja di daerah-daerah.6 milyar. sehingga dalam tahun 1983/1984 sebanyak 66. Di samping itu guna meningkatkan peranan masyarakat dalam menunjang program dasawarsa air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman.441 proyek.896 lokasi/desa di 26 propinsi.669 KK pada 5'Ollokasi di 21 propinsi. 'yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di daerah-daerah bersangkutan.598 orang. yakni melalui usaha perbaikan. 17.831 buah. sejak tahun 1972/1973 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dimukimkan kembali penduduk sebanyak 29. Jawa Barat dan 32 orang di DI Yogyakarta. telah dilakukan pula penyuluhan dan latihan bagi 21 orang petugas lapangan di Tangerang. peningkatan dan pembangunan berbagai jenis prasarana fisiko perekonomian dan lingkungan.4 persen. 0. Untuk daerah perkotaan. masing-masing sebanyak 30.430 orang meliputi 27 propinsi dan terdiri dari 54 kabupaten/kotamadya.

6 kilometer.741.393.321. penunjangan jembatan sepanjang 5. 8.880.8 kilometer dan 8.9. serta tanggul banjir dan jaringan telepon.225.487 meterkubik.000.707 meter. selain juga untuk perbaikan dan penyempurnaan irigasi yang terdiri dari bendungan sebanyak 56 buah dan saluran sepanjang 280. masing-masing sepanjang 7. stasiun bus dan pelabuhan sungai. pembangunan jembatan sepanjang 14. sosial.352. serta penghijauan dan pencegahan banjir.9 kilometer dan bangunan pengairan lainnya sebanyak 664 buah yang dapat mengairi areal seluas 44. Sementara itu dalam rangka pemeliharaan pengairan antara lain telah dilakukan pembangunan bangunan air sebanyak 112. Sejalan dengan itu telah dibangun pula fasilitas eksploitasi sebanyak 3.928 hektar. masing-masing sepanjang 5. peranan kota sebagai pusat pemukiman.. serta penggantian gorong-gorong sepanjang 59. telah dilakukan usaha pembinaan dan pengembangan perkotaan yang bertujuan.658 meter.728. kegiatan ekonomi. dan jembatan sepanjang 27.022 meter.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rendah.5 meter.2.748. yang jumlah penduduk dan tingkat produktivitasnya cukup tinggi. Bantuan tersebut antara lain digunakan untuk pemeliharaan jalan dan jembatan.3 kilometer.415 kilometer. administrasi.604 buah proyek. maka pelaksanaan pembangunan daerah lebih meningkat lagi sesuai dengan prioritas kebutuhannya. Dalam tahun 1983/1984 telah dibangun prasarana perhubungan meliputi jalan sepanjang 17. Dengan semakin meningkatnya bantuan kepada Dati I. Tatakota dan tatadaerah Sejalan dengan proses pembangunan yang terus berlangsung.juta telah dibangun sebanyak 2.2 kilometer. jasa dan pusat pemerintahan juga semakin besar. juga dimaksudkan untuk peningkatan pelayanan umum dan perbaikan Departemen Keuangan RI 315 . yang ditujukan untuk membantu daerah tingkat II untuk membangun jalan yang menghubungkan daerahdaerah terpencil. politik.907 buah. dalam tahun 1983/1984 telah berhasil dilaksanakan penunjangan jalan sepanjang 7. saluran pembawa sepanjang 13. masing-masing sepanjang 61. masing-masing sebanyak 23 buah dan 11 buah. riol sepanjang 434. selain untuk pembangunan dan pengembangan terhadap kota tersebut. Dengan bantuan tersebut. kebudayaan.916.2 kilometer dan 16. Sedangkan melalui dana Inpres bantuan pembangunan daerah tingkat I sebesar Rp 253. serta saluran pembawa dan pembuang.1 kilometer dan 3. serta prasarana pengairan bernpa bendungan sejumlah 121. Selain itu juga telah dibangun pasar seluas 77.227 meter.414 kilometer.4 hektar.174 hektar dan 6. Di samping bantuan pembangunan daerah tingkat II tersebut. masing-masing seluas 38.315 meterpersegi. Oleh schab itu.082 buah.7 kilometer. mulai tahun 1979/1980 diberikan pula bantuan penunjangan jalan kabupaten.

Berkaitan dengan pembinaan pemerintahan kota. tertib da sehat bagi seluruh warganya. Selain itu telah dilakukan penelitian tentang reneana pembentukan kota administratif Sarong. Metro. Dalam rangka pembinaan pengelolaan air minum. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah terdapat sebanyak 136 buah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). pendaftaran tanah. ditempuh kebijaksanaan yang antara lain meliputi pembinaan reneana kota. Kota Banjar. Selain itu juga telah disusun kerangka acuan kerja bantuan teknik bagi kota Semarang (Semarang Raya). Bontang. pemberian bantuan teknis dan biaya dalam jumlah terbatas kepada daerah tingkat II yang akan melakukan reneana induk kotanya. Curup. serta rencana induk kota Tangerang. telah dilaksanakan pengumpulan data/bahan-bahan yang meneakup masalah air minum di seluruh Indonesia.005. Kota Baru dan Amuntai. tertib administrasi pertanahan. Pangkalan Brandan. Di samping itu juga dilakukan peningkatan kemampuan di bidang perencanaan kota melalui kursus yang diselenggarakan oleh Badan kerjasama Antar Kota Seluruh Indonesia (BKS-AKSI).9. Cibinong. 30 buah Dinas Air Minum dan 27 buah Seksi Air Minum. Lahat. Sementara itu dalam pembinaan reneana kota telah dilakukan kegiatan pengembangan kota Metropolitan Jakarta yang meliputi penyusunan rencana induk kota DKI Jakarta tahun 1985 . Palopo.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kondisi lingkunganpemukiman yang aman. Watampone. 8. Sampit. Selanjutnya dalam rangka pengembangan perkotaan telah dilakukan pula pembinaan kerjasama antara kotakota di dalam negeri.2. Ujungpandang (Mamimasa Ora) dan Denpasar. baik dengan kota-kota di luar negeri maupun dengan organisasillembaga intemasional perkotaan di luar negeri. penyusunan raneangan peraturan Pemerintah mengenai pembentukan kota administratif Kota Bumi. yang pengembangannya disesuaikan dengan pokok-pokok kebijaksanaan pengembangan wilayah Jabotabek. 75 buah Badan Pengelola Air Minum (BPAM). tertib penggunaan tanah. Sejalan dengan itu dilakukan pula persiapan penyusunan rencana kota yang dikaitkan dengan program bantuan bagi 57 kota. Bima. Lhokseumawe dan Pariaman. telah dilakukan pula pembentukan kota administratif sebanyak 28 buah di seluruh Indonesia. pembinaan pengelolaan air minum dan pembinaan pemerim:ahan kota. dan Bekasi. Atas dasar hasil pengumpulan data tersebut. Rantau Prapat. Kuala Kapuas. pengembangan landreform serta Departemen Keuangan RI 316 . Untuk itu telah dilakukan penertiban dan peningkatan pengurusan hak-hak atas tanah. serta tertib pemeliharaan tanah dan lingkungan.3. Langsa. Tata agraria dan tataguna tanah Kegiatan program tataagraria seiring dengan program tataguna tanah ditujukan untuk meneiptakan tertib hukum pertanahan. Untuk mencapai tujuan tersebut.

pemetaan penggunaan tanah perkotaan. masing-masing seluas 9. dan monitoring rencana tataguna tanah Dati II di 250 kabupaten/kodya. Dalam tahun 1983/1984. pengembangan tataguna tanah pada umumnya merupakan kelanjutan daripada kegiatan tahun sebelumnya yang meliputi pembuatan peta kerja. serta monitoring rencana tataguna tanah Dati II. Program pembangunan tataguna tanah terutama diarahkan pada daerah-daerah minus dan padat penduduknya. perhitungan produktivitas tanah. Adapun dari hasil penertiban dan peningkatan pengurusan hak-hak atas tanah. pemetaan kemampuan tanah dengan skala 1: 100 ribu dan 1:50 ribu.302 surat keputusan hak tanah. pemetaan penggunaan tanah pedusunan.053 sural keputusan hak tanah dengan penerimaan negara sebesar Rp 6. 194 kota kabupaten dan 485 kola kecamatan. 14. Hasil yang dicapai di bidang pengembangan tataguna tanah sampai dengan Pelita III meliputi pembuatan peta kerja dengan skala 1:25 ribu seluas 7. Departemen Keuangan RI 317 .264 ribu hektar. perencanaan tataguna tanah Dati II. dan pemilikan tanah.-. penyediaan sarana dan cara penataan kembali. penggunaan.760 ribu hektar. monitoring lokasi daerah miskin di 246 kabupaten.960 ribu hektar.094 hektar. monitoring lokasi daerah miskin.494 ribu hektar dan 70. Di samping pemetaan penggunaan tanah. dengan jumlah pemasukan uang kepada negara sebesar Rp 1. Sementara itu telah dilakukan pemetaan penggunaan tanah perkotaan pada 64 kotamadya/kota administratif.088 ribu hektar dan 44. penertiban perjanjian bagi hasil pada 52 kabupaten.160 ribu hektar. serta pengendalian penggunaannya.592 ribu hektar. serta ditujukan untuk peningkatan pelayanan terhadap penyiapan daerah transmigrasi.716. Selain itu juga mencakup peningkatan inventarisasi dan evaluasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup. serta pemetaan penggunaan tanah pedusunan dengan skala 1:200 ribu. 78.-. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah diselesaikan sebanyak 34.281. 1:50 ribu dan 1:25 ribu. perhifungan produktivitas tanah di 199 kabupaten. serta peningkatan tertib administrasi landreform terhadap 80.833.652.512.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 proyek operasi nasional agraria (Prona). 1: 100 ribu. masing-masing seluas 11. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Juli 1984 telah diselesaikan sebanyak 171. Sedangkan hasil-hasil yang telah dicapai dalam kegiatan pengembangan land reform sampai dengan akhir Pelita III antara lain meliputi identifikasi penguasaan pemilikan tanah pertanian pedesaan di 21 desa. penyelesaian sengketa sebanyak 114 kasus. pelaksanaan redistribusi tanah seluas 665.078 KK. pemetaan kemampuan tanah. juga telah diselesaikan penyusunan rencana tataguna tanah Dati II di 250 kodya/kabupaten.611. penguasaan.

PENERIMAAN PEMBANGUNAN 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Lampiran 1 PERKIRAAN PENERIMAAN NEGARA TAHUNANGGARAN 1985/1986 (dalam jutaan rupiah) JENIS PENERIMAAN A.1.900 4.479. Pajak Penghasilan 1.000 -98. Penerimaan Bukan Pajak B.368.000 -1.000 797.200 1.600 2.Cukai lainnya 4.046.300 -570.400 Departemen Keuangan RI 318 .677.276.700 9. Pajak Lainnya 7.680. royalty Dan sebagainya. Bea Masuk 3.100 70. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah 3.400 1.Badan usaha milik negara .900 4.2.Cukai tembakau .900 11.100 7. Pajak penghasilan perseorangan . Penerimaan Minyak Bumi dan Gas Alam 1. 2. Pajak penghasilan badan .010.700 167. Bantuan Proyek JUMLAH 717.100 963.Usaha dan pekerjaan 1.2.Hasil potongan penghasilan Pekerjaan .300 101. Pajak Ekspor 5.400 731.Ipeda 6.200 23.000 JUMLAH 18.074.518.700 -658.666. PENERIMAAN DALAM NEGERI I.100 -314.680.Hasil pungutan kegiatan usaha . Pajak Penghasilan Minyak Bumi 2.400 96.159. Bea Masuk dan Cukai 3.Badan usaha swasta .1.200 3.Cukai .Hasil potongan bunga deviden.600 1. Pajak Penghasilan Gas Alam II. Penerimaan di Luar Minyak Bumi dan Gas Alam 1.300 -865.700 -226.297.400 -294. Bantuan Program 2.

Pajak penghasilan usaha dan pekerjaan Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : .2.7 milyar. maka diperkirakan penerimaan yang berasal dari pajak hasil potongan penghasilan pekerjaan dapat mencapai Rp 570.penertiban dan perluasan wajib pajak.7 milyar. . .peningkatan kegiatan penagihan atas tunggakan-tunggakan pajakpenghasilan.perluasan dasar pengenaan pajak.peningkatan verifikasi sehingga dapat ditagih pajak yang seharusnya dipungut.3 juta barrel minyak mentah sehari.1S9.1. Berdasarkan pertimbangan di atas. PENERIMAAN DI LUAR MINYAK BUMI DAN GAS ALAM 1.peningkatan penghasilan dan kegiatan usaha perseorangan. . Pajak hasil potongan penghasilan pekerjaan Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : . .perluasan dasar pengenaan pajak. .1.1. 319 Departemen Keuangan RI . 1. II. PENERIMAAN MINYAK BUMI DAN GAS ALAM Faktor-faktor yang diperhitungkan : produksi minyak diperkirakan sebesar 1. Pajak penghasilan 1.peningkatan mutu aparat pajak. . .peningkatan penghasilan masyarakat.1. Berdasarkan hal-hat tersebut.penertiban dan perluasan wajib pajak.perluasan dasar pengenaan pajak. .penagihan yang lebih intensif atas tunggakan-tunggakan pajak. dan 100 ribu barrel kondensat sehari harga rata-rata ekspor minyak mentah Indonesia diperkirakan sebesar US $ 29.batas pendapatan tidak kena pajak sesuai dengan UndangUndang Pajak Penghasilan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 DASAR PERHITUNGAN UNTUK PERKlRAAN PENERIMAAN NEGARA RAPBN 1985/1986 A. 1. .penertiban dan perluasan jumlah wajib pajak dengan intensifikasi pemungutan melalui verifikasi yang mendalam. . .berkembangnya kegiatan usaha produksi dan perdagangan. .50 per barrel.peningkatan kesadaran dari para wajib pajak. PENERIMAAN DALAM NEGERI I. maka penerimaan minyak bumi dan gas alam diperkirakan sebesar Rp'11. . Pajak penghasilan perseorangan Faktor-faktor umum yang diperhitungkan : .timbulnya perusahaan-perusahaan baru dan perluasan perusahaan yang ada sehingga memperluas lapangan kerja.

kegiatan usaba yang memperoleh pembayaran untuk barang dan jasa dari anggaran belanja negara. Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : . Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas diperkirakan pajak penghasilan badan usaha milik negara sebesar Rp 658.berkembangnya kegiatan ekonomildunia usaha.2.6 milyar. . . .batas PTKP sesuai dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan.2.2.perusahaan negara.timbulnya perusahaan-perusahaan baru.2.penertiban dan perluasan wajib pajak. . .4.0 milyar.penertiban administrasi dan organisasi perusahaan . 1. maka diperkirakan dapat diperoleh pajak hasil pungutan kegiatan usaha sebesar Rp 314.peningkatan keuntungan daripada perusahaan negara. .penagihan yang lebih intensif atas tunggakan-tunggakan pajak. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. dividen. . 1. Pajak penghasilan badan usaha swasta Dalam penerimaan ini termasuk pula pajak penghasilan atas laba yang/diperoleh badan aging yang ada di Indonesia. diperkirakan penerimaan pajak penghasilan usaha dan pekerjaan dapat mencapai jumlah Rp 226.perluasan dasar pengenaan pajak. .010.kegiatan usaha di bidang impor.kesadaran wajib pajak yang semakin baik yang mendorong perusahaan untuk lebih terbuka dalam pembukuannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : . .2.penertiban dan perluasan jumlab wajib pajak. .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 - pemeriksaan pembukuan yang lebih intensif atas jumlah laba perusahaan. Departemen Keuangan RI 320 . Pajak penghasilan badan usaha milik negara Faktor-faktor yang diperhitungkan : . 1. Pajak penghasilan badan Faktor-faktor umum yang diperhitungkan : .2.naiknya penghasilan perusahaan-perusahaan.1 milyar. Pajak hasil potongan bunga. Berdasarkan faktor-faktor di atas.1. diperkirakin pajak penghasilan badan usaha swasta sejumlah Rp 1.peningkatan penghasilan dari badan-badan usaha swasta. . Berdasarkan faktor-faktor di atas. 1. royalty dan sebagainya.3. Pajak hasil pungutan kegiatan usaha Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : .pemeriksaan pembukuan yang lebih intensif atas jumlah laba perusahaan.4 milyar. .intensifikasi pemungutan pajak. 1.berkembangnya kegiatan usaha produksi dan perdagangan.

Cukai 3.2.peningkatan usaha pemungutan cukai berupa penyerasian pita cukai dengan perkembangan harga jualnya. Cukai tembakau Hal-hal yang dapat mempengaruhi penerimaan cukai tembakau adalah : . diharapkan dapat diterima cukai tembakau sebesar Rp 865. .perkembangan tata niaga impor.2. Berdasarkan hal-hat tersebut. royalty dan sebagainya diperkirakan akan mencapai sebesar Rp 294.1 milyar.pengenaan pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM).1.1 milyar. industri. . . Departemen Keuangan RI 321 .penyelesaian tunggakan-tunggakan cukai. Bea masuk Perkiraan penerimaan bea masuk didasarkan alas hal-hat sebagai berikut: . . Cukai lainnya Cukai lainnya terdiri dari cukai gula.2 milyar. Berdasarkan hal-hal tersebut maka penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah diperkirakan mencapai Rp 1. . pembayaran bunga dan royalty.4 milyar Bea Masuk dan Cukai 3.peningkatan clara beli masyarakat dengan naiknya pendapatan nasional. .1. dividen. 2. Berdasarkan faktor-faktor di atas maka penerimaan pajak hasil potongan bunga. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah.perkembangan perekonomian khususnya pacta sektor pertanian.peningkatan produksi rokok dan hasil-hasil tembakau lainnya.tarip rata-rata bea masuk diperkirakan sebesar 13.2. maka penerimaan bea masuk diperkirakan dapat mencapai Rp717.0 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 - verifikasi yang intensif terhadap perusahaan-perusahaan dalam hal pembagian dividen.pencegahan dan pemberantasan pita rokok palsu dan rokok tidak berpita cukai. 3.2.impor yang dapat dikenakan bea masuk diperkirakan sekitar US $ 5. Berdasarkan hal-hat tersebut di alas. 3. perdagangan dan jasa..verifikasi yang lebih cermat alas perusahaan-perusahaan rokok.perluasan jumlah wajib pajak dan intensifikasi pemungutan melalui verifikasi yang lebih ketat atas penyerahan barang-barang dan jasa.0 milyar 3. cukai bir dan cukai alkohol sulingan.666. . . . Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan adalah : .

intensifikasi pemungutan meliputi pokok pengenaan dalam tahun berjalan dan penagihan atas tunggakan hutang Ipeda tahun-tahun sebelumnya. .penertiban administrasi perusahaan negara dan bank milik negara dalam rangka meningkatkan penerimaan.3 milyar.naiknya nilai kekayaan sejalan dengan naiknya penghasilan. bea meterai dan bea lelang.4milyar.penyempurnaan dan peningkatan efektivitas dalam penggunaan kantor lelang.peningkatan kegiatan dan transaksi ekonomi yang dapat dikenakan bea meterai. . Dengan memperhitungkan hal-hal tersebut maka penerimaan pajak lainnya diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 96. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas.peningkatan produksi gula. . Perkiraan penerimaannya didasarkan atas hal-hal sebagai berikut : . Dengan dasar perhitungan tersebut.verifikasi dan pengawasan yang lebih baik atas penyetoran daripada penerimaan departemen-departemen. 7. .peningkatan batas kekayaan yang tidak kena pajak. . Penerimaan Bukan Pajak Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan adalah : .usaha intensifikasi dan ekstensifikasi daripada sumber-sumber penerimaan. Pajak Ekspor Dasar perhitungan pajak ekspor adalah sebagai berikut : .perluasan wajib pajak dan intensifikasi pemungutan pajak. Departemen Keuangan RI 322 . luran Pembangunan Daerah Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : . 5. .pengawasan yang lebih ketat atas pemakaian bea meterai. . maka cukai lainnya diperkirakan akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp 98.0 milyar. 4. Pajak Lainnya Jenis penerimaan ini meliputi pajak kekayaan. maka penerimaan pajak ekspor diperkirakan sebesar Rp 101. Berdasarkan hal-hal tersebut.intensifikasi pemungutan cukai dan penyesuaian harga dasar sesuai dengan perkembangan ekonomi. . Dengan faktor-faktor tersebut diperkirakan akan diterima penerimaan bukan pajak sebesar Rp731. . 6. maka penerimaan Ipeda diperkirakan akan mencapai jumlah sebesar Rp 167.berkembangnya kegiatan ekonomi.4 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Hal-hal yang dapat meningkatkan penerimaan adalah : . .ekspor di luar minyak diperkirakan sebesar US $ 7.penyesuaian tarip pajak kekayaan dan bea meterai. .7 milyar.9 milyar.peningkatan daripada nilai obyek Ipeda sejalan dengan kegiatan pembangunan.

00 590.1 3.1 3 3.00 8.00 42.00 Departemen Keuangan RI 323 .1 5.602.00 14.754.100.550.652.1 6.00 1.685.00 22.464. realisasi (disbursement) dalam tahun 1985/1986 dari komitmen bantuan proyek tahun-tahun yang lalu dan tahun 1985/1986 diperkirakan sebesar Rp 4.991.523.3 4.542.355.563.00 6.440.990.2 4 4.380.00 2.646.6 5 5.2 6 6.075. Lampiran 2 ANGGARAN BELANJA RUTIN 1985/1986 DIPERINCI MENU RUT SEKTOR 1 SUB SEKTOR ( dalam ribuan rupiah) Nomor Kode 1 1.919.377.00 405.00 6.112.368.2 milyar.2 4.00 13.237.297.1 4.170.2 2 2.534.160.00 21.665.247.979.00 40.00 13.1 1.00 83.5 4.446.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 B.132.00 15.00 5.408.00 15.00 36.00 15.754. PENERIMAAN PEMBANGUNAN Perkiraan penerimaan bantuan program dan bantuan proyek adalah sebagai berikut : bantuan program dalam tahun anggaran 1985/1986 diperkirakan sebesar Rp 70.952.4 4. DESA DAN KOTA J umlah 50.225.893.878.920.715.2 7 Sektor/Sub Sektor SEKTOR PERTANIAN DAN PEN GAl RAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri SEKTOR PERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Sub Sektor Energi SEKTOR PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor Perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi SEKTOR REGIONAL DAN DAERAH/PEMBANGUNAN DAERAH.398.298.122.636.00 31.9 milyar.440.

600.00 129. GENERASI MUDA.392.1 14 14.500.187.848.000.00 129.1 13 13.00 1.331.1 16 16.00 34.521.00 50.685.218.3 665.3 11 11.618.158.1 16. PERS DAN KOMUNlKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.00 9 9.928.00 46.500.803.392.453. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kepencluclukan dan Keluarga Berencana SEKTOR PERUMAHAN RAKY AT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional SEKTOR PENERANGAN.447.1 Sektor/Sub Sektor Kota SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama SEKTOR PENDIDIKAN.261.00 46.00 50.1 10.00 6.196.00 9.154.00 618.618.596.1 9.470.453.928.00 10 10. KESEJAHTERAAN SOSIAL.500.399.850.2 10.00 6.510.00 6.00 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode 7.636.154.649.889.943.00 4.2 9.1 15 15.00 74.604.00 23.074.00 16.00 34.803.1 8 8.941.596.850.00 642.00 1.00 12.521.634.1 12 12.316.662.930.269.00 17.00 Departemen Keuangan RI 324 .600.662.316. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedlinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa SEKTOR KESEHATAN.943.000.2 16.100.3 116.408.155.295.464.778. Pers dan Komunikasi Sosial PENELITIAN Sub Sektor Penelitian SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah Sub Sektor Lembaga Tertinggi Tinggi Negara Sub Sektor Keuangan Negara JUMLAH Jumlah 2. PERANAN WANITA.

000 95.1 3 3.6 5 5.000 365.000 578.704.795.000 199.294.000 1.392.000 190.289.000 14.545.2 2 2.971.365.000 265.000 76.000 676.623.320.000 529.000 539.864.000 543.000 655.1 5.025.000 128.189.000 38.1 1.000 238.3 4.818.518.536.900.683.000 1. Kredit Ekspor dan obligasi Sektor/Sub Sektor SEKTOR PERTANIAN DAN PENGAIRAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri SEKTORPERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor pertambangan Sub Sektor Energi SEKTORPERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi Rupiah 957.913.000 263.430.000 469.000 826.350.000 274.000 28.462.000 111.000 80.000 621.425.040.000 58.518.125.903.000 12.000 45.000 209.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Lampiran 3 ANGGARAN BELANJA PEMBANGUNAN 1985/1986 DIPERINCI MENURUT SEKTOR/SUB SEKTOR ( dalam ribuan rupiah ) Nilai Rupiah Proyek/ Teknis.324.2 Departemen Keuangan RI 325 .531.850.795.000 71.000 543.301.000 1.4 4.000 68.830.580.000 109.000 691.494.000 217.000 16.141.2 4 4.975.230.993.931.486.000 635.000 1.000 136.2 6 6.5 4.000 170.532.194.363.831.492.095.800.000 900.000 Jumlah 1.462.043.000 60.359.000 472.531.000 111.000 98.195.000 9.141.045.000 655.000 789.623.050.000 Nomor Kode 1 1.000.000 28.1 4.000 70.000 108.000 68.1 3.000 62.000 179.000 258.000 275.469.000 30.257.212.788.1 6.000 256.679.012.2 4.509.291.739.658.000 52.

1 303.000 42.000 16.000 80.361.000 63.867.000 1.641.000 18.000 65.903.334.000 Jumlah 868.000 237.885.120.273.000 25.1 9.885.000 817.2 10.774.000 163.000 10 10.000 842.987.962.000 63. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGABERENCANA Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kependudukan dan Keluarga Berencana SEKTORPERUMAHAN RAKYAT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum 842.362.903.000 437.867.092.000 58.006.000 189.000 273.822.000 1.000 100.000 83.135.3 11 11.595.553.001.000 9.219.000 254.720.628. KESEJAHTERAAN SOSIAL.000 55.1 8 8.000 63.1 10.000 47. Kredit Ekspor dan obligasi 25.000.000 63.595.308.000 273.000 817.000 80.219.000 1.321.126.000 203.000 Departemen Keuangan RI 326 .232.2 9.000 868.000 79.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode Sektor/Sub Sektor Rupiah 7 7.510.845. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa SEKTOR KESEHATAN.1 12 12.092.3 31.092. PERANAN WANITA.720.493.000 58.000 Nilai Rupiah Proyek/ Teknis.000 163.540.000 109.000 2. DESA DAN KOTA Sub Sektor Pembangunan Daerah.595.158.000 102.000 413. Desa dan Kota SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama SEKTOR PENDlDlKAN.409.000 1.860.846.595. GENERASI MUDA.000 79.1 9 SEKTORPEMBANGUNAN DAERAH.774.334.000 437.641.

000 395.854.873.854.210.000 Departemen Keuangan RI 327 .000 99.1 18.327.000 18.361. 18.000 229.828.189.000 34.523.274.000 74.242.297.000 J umlah 13 13.327.572.1 15 15.647.383.000 714.114.800.064.000 69.000 67.000 4.000 2.415.000 207.000 18.828.000 39.2 16 16.102.687.274.441.000 67.000 10.210.687.000 259.000 176.1 14 14.000.114.000 229.064.000 714.281.189.000 133. PERS DAN KOMUNIKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.147.441. Pers dan Komunikasi Sosial SEKTOR ILMU PENGETAHUAN.000 49.200.1 15.000 138.555.147.115.000 11.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode Sektor/Sub Sektor Rupiah Nitai Rupiah Bantuan Proyek/ Teknis.000 2.000 35.349. TEKNOLOGI DAN PENELITIAN Sub Sektor Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sub Sektor Penelitian SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah SEKTORPENGEMBANGAN DUNIA USAHA Sub Sektor Pegembangan Dunia Usaha SEKTOR SUMBER ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Sub Sektor Sumber Alam dan Lingkungan Hidup JUMLAH 395.000 165. Kredit Eksgor dan obligasi 318.1 SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional SEKTOR PENERANGAN.000 93.873.000 259.000 318.000 217.000 49.000 217.000 93.572.000 6.000 174.000 176.000 11.1 17 17.361.000 165.000 174.115.313.938.

b.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 2. Pasal 5 ayat (1). dan sekaligus untuk meletakkan landasan bagi usahausaha pembangunan selanjutnya. terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1968 tentang Perubahan Posal 7 Indische Comptabiliteitswet (Lembaran Negara Tahun 1968 Nomor 53). bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/ 1986 pada dasarnya merupakan rencana kerja Pemerintah dalam rangka pelaksanaan tahun kedua rencana tahunan Pembangunan Lima Tahun IV dan di samping itu dimaksudkan pula untuk memelihara dan meneruskan hasil-hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan pembangunan sejak Pembangunan Lima Tahun I sampai dengan tahun pertama Pembangunan Lima Tahun IV. tetap disusun dengan mengikuti prioritas nasional sebagaimana ditetapkan di dalam Pola Umum Pembangunan Lima Tahun IV yang tercantum dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. bahwa sehubungan dengan itu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 perlu diatur dengan Undang-undang. dan untuk lebih menjaga kelangsungan jalannya pembangunan maka dalam Undang-undang tersebut diatur pula ten tang saldo-anggaran-Iebih dan sisa kredit anggaran proyek-proyek pada anggaran pembangunan Tahun Anggaran 1985/1986. Pasal 20 ayat (1). c. bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk Tahun Anggaran 1985/1986 sebagai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun kedua dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun IV. 1. Indische Comptabiliteitswet (Staatsblad tahun 1925 Nomor 448) sebagaimana telah beberapa kali diubah. Menimbang : a. dan Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Mengingat : Departemen Keuangan RI 328 .

000.399. Pendapatan Pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b menurut perkiraan berjumlah Rp 4.000.00. sedangkan perincian lebih lanjut sampai pada kegiatan ditentukan dengan Keputusan Presiden. (2) (3) (4) (5) (6) Anggaran Belanja Rutin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a menurut perkiraan berjumlah Rp 12. Jumlah seluruh Anggaran Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 menurut perkiraan berjumlah Rp 23.000:000.00. Perincian pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Jan ayat (3) berturut-turut dimuat dalam Lampiran III dan Lampiran IV.647.046.000.000.000. (2) (3) Pendapatan Rutin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a menurut perkiraan berjumlah Rp 18. MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/ 1986.000.046.00.677. (4) (5) Departemen Keuangan RI 329 .000. Perincian pendapatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) berturut-turut dimuat dalam Lampiran I dan Lampiran II.000. b. b.000. Sumber-sumber Anggaran Rutin. Sumber-sumber Anggaran Pembangunan.000. Pasal 2 (1) Anggaran Belanja Tahun Anggaran 1985/1986 terdiri atas : a.00.000.100.000.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA. Anggaran Belanja Pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b menurut perkiraan berjumlah Rp 10.368. Pasal l (1) Pendapatan Negara Tahun Anggaran 1985/1986 diperoleh dari : a. Anggaran Belanja Rutin.000.000.00. Jumlah seluruh pendapatan Negara Tahun Anggaran 1985/1986 menurut perkiraan berjumlah Rp 23. Anggaran Belanja Pembangunan.900. Perincian dalam Lampiran III sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memuat sektor dan sub sektor.00.

d. Anggaran Pendapatan Rutin. (2) Pada pertengahan Tahun Anggaran dibuat laporan realisasi mengenal : a. (2) (3) (4) (5) Departemen Keuangan RI 330 . c. Kebijaksanaan Perkreditan. dengan Peraturan Pemerintah dipindahkan kepada Tahun Anggaran 1986/1987 dengan menambahkannya kepada kredit anggaran Tahun Anggaran 1986/1987. b. Anggaran Belanja Pembangunan. Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyatakan pula. b. Sisa kredit anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebelum ditambahkan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1986/1987 terlebih dahulu diperiksa dan dinyatakan kebenarannya oleh Menteri Keuangan. (3) (4) Dalam laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) disusun prognosa untuk 6 (enam) bulan berikutnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (7) Perincian dalam Lampiran IV sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memuat sektor dan sub sektor. Anggaran Pendapatan Pembangunan. Pasal 4 (5) (1) Kredit anggaran proyek-proyek pada Anggaran Belanja Pembangunan Tahun Anggaran 1985/1986 yang pada akhir Tahun Anggaran menunjukkan sisa. Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan Badan Pemeriksa Keuangan selambat-Iambatnya pada akhir triwulan I Tahun Anggaran 1986/1987. Perkembangan Lalu-lintas Pembayaran Luar Negeri. sedangkan perincian lebih lanjut sampai pada proyek-proyek ditentukan dengan Keputusan Presiden. bahwa sisa kredit anggaran yang ditambahkan itu dikurangkan dari kredit anggaran Tahun Anggaran 1985/1986. Saldo-anggaran-Iebih Tahun Anggaran 1985/1986 ditambahkan kepada anggaran Tahun Anggaran 1986/1987 dan dipergunakan untuk membiayai Anggaran Belanja Pembangunan Tahun Anggaran 1986/1987. Penyesuaian anggaran dengan perkembangan/perubahan keadaan dibahas bersama oleh Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Anggaran Belanja Rutin. Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dibahas bersama oleh Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 3 (1) Pada pertengahan Tahun Anggaran dibuat a.

SR. Pasal 8 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal l April 1985. Pasal 6 (1) Setelah Tahun Anggaran 1985/1986 berakhir dibuat perhitungan anggaran mengenai pelaksanaan anggaran yang bersangkutan. SUDHARMONO.aksud dalam ayat (1) setelah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan disampaikan oleh Pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat selambat-lambatnya 3 (tiga) tahun setelah Tahun Anggaran yang bersangkutan berakhir. dan isi Undangundang ini dinyatakan tidak berlaku. susunan. Departemen Keuangan RI 331 . Perhitungan Anggaran Negara sebagaimana dim.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pasal 5 Selambat-Iambatnya pada akhir Tahun Anggaran 1985/1986 oleh Pemerintah diajukan Rancangan Undang-undang tentang Tambahan dan Perubahan alas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 berdasarkan tambahan dan perubahan sebagai hasil penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (5) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Agar setiap orang mengetahuinya. Disahkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indoneia. Pasal 7 Ketentuan-ketentuan dalam Indische Comptabiliteitswet (Undang-undang Perbendaharaan) yang hertentangan dengan bentuk. (2) SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI/SEKRET ARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA.

Sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara. Di bidang pengeluaran. Prioritas diletakkan pada pembangunan di bidang ekonomi dengan ririk berat pada sektor pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha memantapkan swasembada pangan. pertahanan keamanan. yang disertai dengan pemungutan pajak yang lebih intensif. dan lain-lain. seperti pengembangan sarana kesehatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 RANCANGAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TEN TANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/1986 UMUM Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 adalah anggaran pendapatan dan belanja negara tahun kedua dalam rangka pelaksanaan REPELITA IV. Anggaran berimbang yang dinamis perlu disertai penyempurnaan pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara agar penerimaan negara makin meningkat. pertumbuhan ekonomi yang cukup ringgi. makin diringkatkan sepadan. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. Selanjutnya diperlukan pula pengeluaran untuk tugas umum Pemerintahan. khususnya Pola Umum Pelita Keempat. kebijaksanaan dalam pelaksanaan pembangunan didasarkan kepada Trilogi Pembangunan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 mengikuri prioritas nasional sebagaimana ditetapkan di dalam Pola Umum Pelita Keempat. sehingga peranan Tabungan Pemerintab di dalam anggaran pembangunan dapat lebih ditingkatkan lagi. dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri. prasarana jalan. serta bantuan pembangunan lainnya. Daerah Tingkat II. yang akan terus dikembangkan dalam Pelitaj'elita selanjutnya. dan ap. sosial budaya. dan tahun berjalan. yakni pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Keriga unsur Trilogi Pembangunan tersebut saling kaitmengkait. baik industri berat maupun industri ringan. maka pengeluaran terutama ditujukan untuk menyelesaikan proyek-proyek. Peningkatan penerimaan negara diutamakan dari sumber-sumber di luar miIiyak bumi dan gas alam. dan agar saling menunjang dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh pembangunan bidang ekonomi. Departemen Keuangan RI 332 . di samping memelihara hasil-hasil pembangunan. antara lain melalui penyempurnaan sistem perpajakan. antara lain untuk terus mendayagunakan aparatur negara agar lebih mampu melaksanakan tugas yang kian meningkat sesuai dengan perkembangan pelaksanaan pembangunan.1fat yang makin mampu dan bersih. Sejalan dengan prioritas pembangunan di bidang ekonomi. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. dan Daerah Tingkat I. Adapun bantuan pembangunan kepada Desa. pembangunan di bidang polirik. maupun dari tahun-tahun sebelumnya. sedangkan pengeluaran negara makin terkendali dan terarah. dan perlu tetap dikembangkan secara serasi agar saling memperkuat.

yang diharapkan dapat menambah penyediaan dan perluasan lapangan kerja. bahwa keadaan perekonomian Indonesia khususnya sektor perdagangan internasional. khususnya yang berasal dari sektor perdagangan internasional dapat mencapai target yang telah ditetapkan. serta bidangbidang lainnya. terus pula dilaksanakan pembangunan di bidang pendidikan. bahwa kestabilan moneter. Departemen Keuangan RI 333 . c. serta antar program dan antar proyek dalam anggaran belanja pembangunan. baik dalam anggaran belanja rutin. agar tercapai keserasian dan keselarasan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. dilakukan dengan Undang-undang. sedangkan penggeseran antar sektor dan antar sub sektor. tersedianyabarang-barang kebutuhan pokok sehari-hari yang cukup tersebar merata dengan harga yang stabil dan terjangkau oleh rakyat banyak. agar biaya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal sesuai dengan kebijaksanaan anggaran. Selanjutnya. sehingga untuk itu dibuat dalam bentuk prognosa. dapat terus dipertahankan bahwa penerimaan negara. Di samping itu. Oleh sebab itu penyusunan kebijaksanaan kredit dan devisa dalam benruk dan ani seperti anggaran rutin dan anggaran pembangunan sukar untuk dilaksanakan. serta mengurangi tekanan pengangguran. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas. Dalam rangka kesinambungan kegiatan pembangunan. Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas. dilakukan dengan persetujuan Presiden.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan penghutanan kembali tanah kritis. sisa kredit anggaran proyekproyek pada anggaran pembangunan dan saldo-anggaran-Iebih Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 ditambahkan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1986/1987. b. . maupun dalam anggaran belanja pembangunan. Ayat (2) Masalah kebijaksanaan kredit dan lalu lintas pembayaran luar negeri sebagian besar berada di sektor bukan Pemerintah. dan sektor penerimaan negara masih dipengaruhi oleh perekonomian dunia yang belum menunjukkan kepulihan yang berarti. maka penggeseran antar program dan antar kegiatan dalam anggaran belanja rutin. dilanjutkan sehingga secara keseluruhan dapat terus menggerakkan dan meratakan pembangunan daerah. Pasal 2 Cukup jelas. maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 disusun berdasarkan asumsi-asumsi umum sebagai berikut : a.

maka pengajuannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan selambat-lambatnya pada akhir Tahun Anggaran 1985/1986. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 6 Perhitungan Anggaran Negara sebagaimana dimaksud dalam Posal ini disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dalam benruk dan susunan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan persetujuan Badan Pemeriksa Keuangan. Departemen Keuangan RI 334 . Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 5 Pasal ini menentukan bahwa jika diperlukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tambahan dan Peru bahan. Ayat (4) Cukup jelas.