NOTA KEUANGAN DAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN 1985/1986

REPUBLIK INDONESIA

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

BAB I UMUM

Telah merupakan suatu kenyataan sejarah bahwa perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang mengarah kepada kemajuan suatu bangsa, senantiasa mensyaratkan adanya perjuangan dan membawa serta perubahan-perubahan dalam berbagai segi dan dimensi kehidupan. Sebagai suatu rangkaian pembaharuan pada berbagai tingkat perimbangannya, perjuangan yang merupakan pengejawantahan ideologi negara dan pandangan hidup bangsa selalu menuju ke suatu bentuk, dan tatanan kehidupan masyarakat yang dinamis dan lebih baik. Sejarah telah mengajarkan bahwa perjuangan untuk mencapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang makmur dan sejahtera, bukanlah suatu perjuangan tanpa pengorbanan. Mengikuti liku-liku perjalanan sejarah Indonesia akan terlihat betapa generasi demi generasi telah menyemarakkan persada nusantara dengan berbagai pengorbanan, mulai dari perjuangan untuk menghimpun rakyat Indonesia menjadi satu bangsa, bersatu padu dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjamin kelestarian eksistensinya, sampai kepada usaha besar bangsa Indonesia untuk membangun suatu masyarakat sejahtera yang berkeadilan, masyarakat Pancasila. Limabelas tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah memancangkan tonggak sejarah bagi dimulainya suatu babak baru dalam kelanjutan perjuangannya. Bagi bangsa Indonesia, babak itu merupakan garis pemisah antara kecenderungan yang serba sepihak, liberal ataupun terpimpin, dengan sikap yang mengacu kepada keseimbangan, keserasian dan keselarasan yang bersumber pada pemahaman Pancasila secara utuh dan menyeluruh. Alur perjalanan sejarah yang demikian itulah yang terus diusahakan agar menjelma menjadi kenyataan tahap demi tahap sesuai dengan rencana, dan pengutamaan yang selaras dengan perkembangan kesanggupan bangsa. Kini bangsa Indonesia tengah berada diambang pintu tahun kedua Repelita IV, suatu tahap pembangunan yang telah semakin mendekatkan rakyat Indonesia kepada cita-cita perjuangan. Repelita IV bukanlah semata merupakan kelanjutan dan peningkatan dari PelitaPelita sebelumnya, melainkan juga mempunyai posisi yang penting dan menentukan bagi terciptanya kerangka landasan pembangunan nasional. Keberhasilan Repelita IV akan memungkinkan terlaksananya tahap pemantapan kerangka landasan dalam Repelita V dan tahap tinggal landas dal3:m Repelita VI, untuk memacu pembangunan menuju masyarakat adil dan
Departemen Keuangan RI

2

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

makmur berdasarkan Pancasila. Untuk menciptakan kerangka landasan pembangunan tersebut, perlu diupayakan terciptanya kondisi nasional yang memberikan rangsangan serta peluang seluas-luasnya bagi potensi pembangunan agar dapat berperan serta dalam usaha pembangunan nasional. Dengan segenap potensi pembangunan, dana dan daya yang dapat digali dan dikerahkan dari dalam negeri akan semakin meningkatkan dan memantapkan ketahanan ekonomi terhadap pengaruh dari berbagai kemungkinan gejolak atau krisis ekonomi dunia. Pembangunan dengan asas kepercayaan pada diri sendiri, merupakan kekuatan yang tidak ternilai harganya bagi bangsa yang sedang membangun. Kepercayaan pada diri sendiri bertambah penting artinya, karena dalam tahun-tahun yang akan datang pembangunan posti bertambah berat, karena masalah yang ditangani makin besar, dan aspirasi masyarakat pun bertambah luas. Oleh sebab itu perlu dikembangkan kebijaksanaan ekonomi yang bertumpu di atas Trilogi Pembangunan, suatu kebijaksanaan yang telah dianut Pemerintah sejak pembangunan nasional dicanangkan raJa 1 April 1969. Prioritas pembangunan dalam Repelita IV, sesuai dengan Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang, tetap menempatkan sektor pertanian sebagai sektor yang akan terus dikembangkan dan ditingkatkan menuju swasembada pangan, serta pengembangan sektor industri, balk industri berat maupun industri ringan. Dalam hubungan ini, apabila dikaji dan ditelusuri kembali rangkaian kebijaksanaan ekonomi yang telah ditempuh Pemerintah selama ini hingga tahun kedua Repelita IV, maka tampak jelas kesinambungan usaha menuju kepada memperluas, meningkatkan dan sekaligus memperkuat landasan kegiatan ekonomi melalui pengembangan industri di atas sektor pertanian yang mandiri. Kebijaksanaan juga ditujukan kepada perluasan kesempatan kerja, mengutamakan penggunaan hasil produksi dalam negeri, dan peningkatan ekspor. Kesemuanya itu ditunjang oleh kebijaksanaan di bidang fiskal yang lebih mengarah pada asas keadilan, dan kebijaksanaan moneter yang diupayakan untuk merangsang kegiatan dunia usaha, dan memantapkan kestabilan. Tujuan tersebut dan kebijaksanaan penunjangnya mengisi dan menyatu secara terpadu dalam upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang memadai, pemerataan pembangunan dan hasilnya, dan pemeliharaan kestabilan. Diharapkan pada akhimya tercipta strnktur perekonomian yang lebih seimbang dan mantap, dengan tingkat kelenturan produksi yang tinggi yang dalam batasbatas tertentu, mampu meredam setiap kegoncangan ekonomi baik dalam maupun luar negeri. Dengan perkembangan yang mengarah kepada terciptanya keadaan tersebut, perekonomian Indonesia yang modern, tangguh dan demokratis berdasarkan Pancasila akan menopang terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Departemen Keuangan RI

3

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Sejalan dengan cita pembangunan tersebut, sertadengan memperhatikan perkembangan keadaan perekonomian dunia yang masih belum sepenuhnya pulih dari resesi, pada tahun pertama pelaksanaan Repelita IV oleh Pemerintah telah diambil beberapa langkah kebijaksanaan ekonomi yang penting. Langkah nyata dalam rangka menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan tampak lebih jelas dengan telah disahkannya tiga undangundang perpajakan baru yang baik semangat maupun pengaturannya lebih sesuai dengan tuntutan pembangunan yang semakin berkembang. Di bidang moneter, tanggung jawab yang diberikan kepada bank-bank Pemerintah dalam menentukan suku bunga simpanan maupun pinjaman, telah merangsang dunia perbankan untuk mengerahkan dana-dana masyarakat, terlebih karena pada saat yang sama ketentuan pagu kredit perbankan ditiadakan. Bagi masyarakat, adanya kenaikan dalam tingkat pendapatan, terpeliharanya kestabilan harga, dan terkendalinya nilai tukar devisa te1ah semakin meningkatkan hasratnya untuk menabung, yang dilakukan diantaranya melalui sektor perbankan maupun lembaga keuangan lainnya. Dengan demikian terdapat titik temu aliran dana yang menghasilkan kegunaan bagi berbagai pihak, yakni antara masyarakat penabung, sektor perbankan dan tersedianya sumber dana pembangunan. Dan dalam rangka meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, serta mengurangi tekanan yang berat terhadap neraca pembayaran, pada bulan Maret 1983 te1ah diadakan penyesuaian nilai tukar rupiah terbadap dollar Amerika Serikat. Agar supaya pengerahan dana pembangunan, baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri, memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi pembangunan, usaha pengendalian dan penghematan penggunaan dana harus terus ditingkatkan. Oleh karena itu penge1uaran rutin diusahakan dapat ditekan, dan dikendalikan tanpa mengurangi fungsi pe1ayanan kepada masyarakat, serta pemeliharaan terhadap hasil pembangunan yang telah dicapai. Namun demikian, mengingat pentingnya peningkatan pendayagunaan aparatur negara, maka dalam tahun 1985/1986 direncanakan suatu kenaikan gaji bersih pegawai negeri sebesar 20 persen dan pensiun antara 27 - 59 persen. Di lain pihak prioritas pembangunan dipertajam agar penge1uaran pembangunan dapat memberikan hasil guna dan daya guna yang lebih besar, disertai dengan pengurangan, atau penghapusan terhadap berbagai subsidi sejauh yang dapat dilakukan tanpa mengorbankan kepentingan stabilisasi, serta kebutuhan masyarakat banyak. Pemberian subsidi ditata sedemikian rupa agar terdapat alokasi sumber ekonomi secara lebih efisien, dan terhindar dari adanya distorsi harga-harga yang tidak wajar. Sejalan dengan hal tersebut, maka pengeluaran untuk subsidi bahan bakar minyak dalam tahun 1985/1986 te1ah

Departemen Keuangan RI

4

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

dapat ditekan lebih lanjut, yang terutama disebabkan karena adanya peningkatan efisiensi dalam pengolahan bahan bakar tersebut. Di lain pihak subsidi untuk pupuk diperkirakan akan meningkat lebih besar, yang berkaitan erat dengan semakin intensifnya penggunaan pupuk dalam rangka mempertahankan, dan meningkatkan kemajuan yang te1ah dicapai di bidang pengadaan pangan, dan produksi komoditi pertanian lainnya. Adapun penjadwalan kembali beberapa proyek renting dan pengendalian impor secara se1ektif, te1ah dilaksanakan dalam rangka penghematan di bidang devisa, dan upaya untuk mengurangi tekanan terhadap neraca pembayaran. Sedangkan di bidang moneter, kebijaksanaan moneter dan perkreditan tetap ditujukan kepada penggunaan dana yang terarah dan produktif. Perimbangan yang belum memadai antar berbagai sektor kegiatan dalam perekoDamian, serta sifat perekonomian terbuka yang sangat dipengaruhi oleh hambatan dalam kegiatan ekspor, dan resesi perekonomian dunia yang be1um sepenuhnya pulih, menimbulkan akibat yang tak terhindarkan terhadap perekonomian Indonesia dalam tahun-tahun terakhir Pelita III, yang masih berasa pengaruhnya hingga diambang tahun kedua Repelita IV. Agar perkembangan pembangunan waktu lalu lebih dapat dipahami dalam ruang lingkup keadaan yang melatarbelakanginya, dan terlebih renting dadpada itu, agar supaya permasalahan yang dihadapi dalam masa pembangunan yang akan datang dapat ditanggulangi dengan tanggap, serta dapat memanfaatkan peluang yang mungkin tercipta, maka keadaan ekonomi dunia perlu dan senantiasa secara cermat terus diikuti perkembangannya. Tanda-tanda perbaikan ekonomi dunia yang mulai tampak pada tahun akhir Pelita III belum sepenuhnya menunjukkan perkembangan yang diharapkan. Bahkan akhir-akhir ini diperkirakan terdapat kecenderungan gejala perlambatan kembali dari kegiatan ekonomi negara industri utama, yaitu Amerika Serikat, yang dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami kenaikan pertumbuhan ekonomi tertinggi diantara negara-negara industri lainnya, yakni sebesar 7,3 persen. Perekonomian dunia yang belum sepenuhnya bangkit ke arab pemulihan sebagaimana yang diharapkan, hanya memberikan pengaruh yang terbatas manfaatnya bagi perkembangan ekonomi negara-negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi negara-negara industri secara. keseluruhan dalam tahun 1984 diperkirakan menunjukkan kenaikan rata-rata sebesar 4,9 persen, atau 2,3 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan tahun lalu, dimana Jepang dan Kanada diperkirakan mengalami kenaikan tertinggi setelah Amerika Serikat, yakni sebesar 5,0 persen dan 4,6 persen, sedangkan negara-negara industri lainnya dalam kelompok tujuh negara industri besar diperkirakan menunjukkan kenaikan rata-rata sekitar 2,5 persen.

Departemen Keuangan RI

5

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Pertumbuhan ekonomi yang dicapai negara-negara industri utama tersebut, erat kaitannya dengan menurunnya tingkat pengangguran serta laju inflasi. di negara-negara tersebut. Tingkat pengangguran rata-rata di negara-negara industri tersebut diperkirakan telah dapat ditekan menjadi 7,6 persen dalam tahun 1984 dibandingkan 8,3 persen dalam tahun 1983, sedangkan laju inflasi diperkirakan menunjukkan sedikit penurunan dari sebesar 5,0 persen dalam tahun 1983 menjadi 4,3 persen dalam tahun 1984. Sisi lain perkembangan perekonomian dunia yang pada umumnya menunjukkan perbaikan, telah ditandai dengan makin meningkatnya suku bunga riil di Amerika Serikat yang bertahan pada tingkat yang relatif tinggi, sebagai akibat dari pelaksanaan kebijaksanaan moneter yang ketat di negara tersebut. Suku bunga untuk nasabah-nasabah utama (US Prime Rate) di Amerika Serikat mencapai tingkatan yang tinggi, sekitar 13 persen pada bulan September 1984. Perbedaan dalam tingkat produktivitas serta laju pertumbuhan perekonomian, dan tingkat inflasi antara berbagai negara di dunia, serta tingginya suku bunga riil di Amerika Serikat, telah mengakibatkan masuknya modal dari negara-negara lain ke Amerika Serikat, yang kemudian mengakibatkan naiknya nilai tukar mata uang Amerika Serikat terhadap pelbagai macam mata uang asing. Meningkatnya nilai tukar mata uang dollar Amerika selanjutnya telah mengakibatkan kegoncangan posar valuta internasional di berbagai negara, serta kemerosatan yang cukup besar pada nilai tukar mata uang - mata uang penting dunia. Ketidakstabilan nilai tukar valuta asing, kebijaksanaan moneter yang ketat, tingginya suku bunga menimbulkan rangkaian akibat berupa naiknya defisit transaksi berjalan negaranegara industri. Usaha mengatasi defisit tersebut telah menimbulkan dampak sampingan yang kurang menguntungkan, khususnya bagi perkembangan ekspor negara-negara berkembang, karena adanya langkah-langkah proteksionisme yang dilakukan oleh negara-negara industri dalam rangka melindungi hasil produksi dalam negeri mereka. Perkembangan perekonomian dunia telah dipengaruhi pula oleh ketidakstabilan dalam posar minyak dunia. Meningkatnya produksi serta peleposan cadangan minyak negara-negara di luar OPEC, dan upaya penghematan penggunaan energi minyak telah menyebabkan terganggunya keseimbangan posar, dan kecenderungan terjadinya penurunan harga minyak dunia. Menghadapi keadaan demikian, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam sidangnya bulan Oktober 1984 di Geneva memutuskan untuk tetap mempertahankan tingkat harga yang berlaku sekarang, dengan jalan mengurangi produksi dari batas tertinggi 17,5 juta barrel menjadi sebesar 16,0 juta barrel per hari, serta menetapkan kuota baru bagi negara-negara anggotanya.

Departemen Keuangan RI

6

070 juta. pengendalian impor. kopi. serta sebagai sektor pendorong gerak perekonomian nasional yang penting.6 persen. Dalam rangka pengelolaan bantuan yang lebih berdaya guna.151 juta. Kemajuan di bidang neraca pembayaran tersebut tidak terlepos dari perkembangan ekspor bukan minyak yang menunjukkan kenaikan sebesar 36. Berbagai langkah kebijaksanaan di bidang perdagangan luar negeri. Ternyata negara-negara tersebut sangat membutuhkan komoditi ekspor Indonesia seperti karet. agar pembayaran kembali dikemudian hari tetap dalam batas kemampuan keuangan negara. maka telah dikeluarkan Inpres No. serta pengelolaan bantuan dan pinjaman luar negeri secara lebih cermat. kenaikan penerimaan ekspor keseluruhan dalam tahun 1983/1984 hanya sebesar 6. khususnya dalam rangka mendorong ekspor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Setetah mengalami defisit dalam neraca pembayaran yang cukup besar dalam tahun 1982/1983. Oleh karena penerimaan ekspor minyak mengalami penurunan. Departemen Keuangan RI 7 . timah. minyak kelapa sawit dan sebagainya. dengan latar belakang perkembangan keadaan perekonomian dunia yang menunjukkan adanya sedikit perbaikan. memperlihatkan adanya perbaikan yang berarti. pengembangan ekspor barang-barang produksi hasil industri dan perluasan posaran di luar negeri ke negara-negara selain rekan dagang. Selain dari itu juga meliputi penyesuaian nilai tukar mata uang dollar Amerika. Menghadapi situasi perekonomian internasional yang tidak menentu. pelaksanaan sistem imbal beli. dalam tahun 1983/1984 neraca pembayaran Indonesia menunjukkan keadaan yang lebih baik yaitu surplus sebesar US $ 2. perluasan kemudahan dibidang perpajakan dan perkreditan. Dalam rangka memperluas ekspor Indonesia. Usaha tersebut meliputi peningkatan dan diversifikasi ekspor di luar minyak dan gas bumi. Namun demikian. walaupun penurunan tersebut jauh lebih rendah dari tahun 1982/1983.1 persen. meskipun transaksi berjalan masih mengalami defisit sebesar US $ 4. maka telah dijajagi kemungkinan peningkatan perdagangan dengan negara-negara Eropa Timur. defisit tersebut apabila dibandingkan dengan defisit tahun 1982/1983. serta guna mengurangi ketergantungan pada ekspor minyak dan gas bumi. terus dilakukan oleh Pemerintah mengingat peranannya sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan. perbaikan mutu barang ekspor. Juga terlihat peluang untuk mengekspor barang-barang manufaktur ke Eropa Timur sepanjang harganya mampu bersaing di posaran internasional.8 Tahun 1984 yang menegaskan ketentuan tentang pengendalian dalam penggunaan kredit ekspor luar negeri. kebijaksanaan mendorong ekspor secara menyeluruh melalui pola pengembangan ekspor terpadu terus ditingkatkan. Dalam tahun 1984/1985 perkembangan neraca pembayaran diperkirakan masih akan mengalami surplus sungguhpun tidak sebesar dalam tahun 1983/1984. teh. dimana dalam tahun sebelumnya mengalami penurunan.

Demikian pula terhadap beberapa produk yang telah dapat dirakit di dalam negeri telah diberlakukan tarif bea masuk. serta penurunan pajak ekspor tambahan atas jenis komoditi tertentu lainnya. tata cara ekspor dan sebagainya. akan tetapi juga sekaligus meningkatkan penerimaannya. juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program pembangunan jangka panjang sektor industri. sektor tersebut didorong untuk mencapai tahap perkembangan yang efisien melalui persaingan yang sehat. Memantapkan ekspor. dan pemeliharaan kestabilan. Di bidang perpajakan. pertanian. dan penghapusan izin yang meliputi berbagai bidang antara lain bidang kehutanan. Pemerintah telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meniadakan berbagai hambatan yang dapat mengurangi daya saing komoditi ekspor Indonesia di posaran internasional. telah diadakan penyederhanaan perizinan. dan pajak penjualan impor yang baru. pipa besi dan produk polyvinyl chloride (PVC). perhubungan. Di bidang prosedur ekspor. memerlukan kerja keras baik dari Pemerintah maupun masyarakat. dan memperluas posarannya. dan barang modal dalam rangka pemenuhan kebutuhan bahan pokok yang diperlukan masyarakat. aluminium sheet dan fuli aluminium jenis-jenis tertentu. sejak 10ktober 1984 pungutan langsung oleh Pemerintah Daerah terhadap beberapa komoditi ekspor penting telah pula dihapuskan. Pemerintah telah mengusahakan untuk sejauh mungkin tidak memberi keringanan bea masuk. Selain itu. Dalam hubungan ini. serta sejalan dengan usaha peningkatan penggunaan produksi dalam negeri.1 bulan Januari 1982 yang menyangkut pengaturan jual beli devisa. dan selanjutnya meningkat menuju tahapan perluasan ekspor hasil produksinya. khususnya dunia usaha. Dengan berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan pada tanggal 1 Januari 1984. Melalui kebijaksanaan impor yang mendukung pertumbuhan sektor industri. Sejalan dengan usaha meningkatkan mutu barang-barang ekspor. sampai dengan Agustus 1984 telah ditetapkan standar mutu untuk 165 jenis barang-barang perdagangan. dan perdagangan. suatu keterpaduan langkah yang tidak hanya mengarah kepada penghematan devisa. dimana dari jumlah tersebut standar mutu dari 38 jenis barang sudah dilaksanakan. Departemen Keuangan RI 8 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pelaksanaan berbagai kebijaksanaan di bidang ekspor tersebut tertuang antara lain dalam Peraturan Pemerintah No. tetapi sekaligus menyesuaikan tarif bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap impor barang-barang yang telah dapat diproduksi di dalam negeri seperti kertas untuk jenis tertentu. sejak 1 Januari 1984 pungutan MPO ekspor atas eksportir telah dihapuskan. Kebijaksanaan di bidang impor selain ditujukan kepada memperlancar pengadaan bahan baku/penolong. dan untuk beberapa komoditi tertentu yang semula dikenakan pajak ekspor sebesar 10 persen diturunkan menjadi 0 persen.

Pertumbuhan sektor industri pengolahan. dan mempertinggi sikap mental pembaharuan. dan belum dapat memberikan kemantapan pada struktur industri yang ada. pembinaan industri kecil. Industri hilir. Sejak awal Pelita I. sedangkan pungutan baru dikenakan terhadap impor barang yang dilakukan oleh importir yang menggunakan API. Dengan demikian pembangunan industri selain diharapkan dapat mewujudkan struktur ekonomi yang seimbang antara industri dan pertanian. dan mengandung kerawanan kiranya dapat dilalui tanpa menimbulkan ketegangan sosial. dan dengan Pancasila sebagai dasar perjuangan bangsa. Terhadap impor barang yang dilakukan oleh importir yang tidak menggunakan sistem perijinan impor. juga diarahkan agar di dalam sektor industri sendiri semakin terwujud keseimbangan dan keserasian antara industri besar/sedangdan industri kecil. Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara ditetapkan. antara industri hilir dan industri hulu. Sehubungan dengan hat tersebut.5 persen dari nilai dasar impor (cif).7 persen. bahwa pembangunan industri ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja. maka dalam Pelita III turun menjadi 8. Program tersebut terdiri dari rangkaian usaha berupa peningkatan keterkaitan antara berbagai jenis industri secara vertikal dan horizontal. dan memanfaatkan sumber alam dan energi serta sumber daya manusia. peningkatan peranan bangsa Indonesia sendiri dalam Departemen Keuangan RI 9 .9 persen setahun. Kelambanan yang terjadi dalam pertumbuhan sektor industri dipenghujung tahun Pelita III. untuk memantapkan dan memperkokoh struktur industri nasional. baik vertikal maupun horizontal. telah ditempuh kebijaksanaan program terpadu. APIS atau APIT yaitu sebesar 2. yang pada umumnya merupakan industri substitusi impor. serta adanya kekurangserasian pertumbuhan antarsektor industri.0 persen dan 13. tahap industrialisasi yang merupakan tahap yang sulit. dilihat sebagai komponen produk domestik bruto. antara industri padat modal dan industri padat karya.5 persen dari nilai dasar impor (cif). dalam tahun 1983 secara riil menunjukkan kenaikan sebesar 2. tidak terlepos dari adanya pengaruh resesi ekonomi dunia. telah berkembang relatif lebih pesat dibanding industri hulu. Apabila dalam Pelita I dan II sektor industri telah tumbuh rata-rata sebesar 13. memeratakan kesempatan berusaha. sektor tersebut hingga tahun-tahun pertama Pelita III telah berkembang tidak kurang dari 9 persen. dikenakan pungutan sebesar 7. meningkatkan ekspor. setelah mengalami titik kenaikan yang terendah dalam tahun 1982. menunjang pembangunan daerah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pungutan MPO atas barang-barang impor dihapuskan.2 persen. Dengan arah kebijaksanaan tersebut. sehingga menyebabkan lemahnya kaitan antarindustri. menghemat devisa. serta harus mampu meningkatkan keahlian dan ketrampilan masyarakat. yaitu dengan mengembangkan industri yang saling menunjang dengan sektor lainnya.

akan tetapi sumbangannya terhadap produk domestik bruto riil terus mengecil. dan perkembangan produktivitas sektor pertanian. Dalam Pelita III produksi beras menunjukkan pertumbuhan sebesar 6. dan dengan menerapkan Panca Usaha Tani. Dengan berbagai usaha tersebut akan tercipta keserasian yang memberi kekuatan pada keseluruhan pertumbuhan industri. Produksi tanaman pangan sebagai komponen produksi pertanian terpenting menunjukkan perkembangan yang mengesankan. serta sektor-sektor lainnya. Untuk itu pada bulan Pebruari 1985.7 persen dan 3.00 perkilogram. akan tetapi meliputi pula usaha mengangkat kehidupan sosial. dalam komoditi. lembaga keuangan dan jasa lainnya. tingkat harga dasar gabah yang diterima oleh petani setiap tahunnya selalu ditinjau kembali. produksi palawija dan hortikultura telah memainkan peran yang cukup penting pula dalam pemenuhan kebutuhan bahan pangan yang meningkat. produk domestik Departemen Keuangan RI 10 . maka pada akhir Pelita III diperkirakan menurun menjadi hanya sekitar 29 persen. harga dasar gabah kering giling di KUD dinaikkan menjadi Rp 175.5 persen pertahun. yaitu keterpaduan dalam usaha tani. pendidikan dan tingkat kehidupan para petani di pedesaan pada umumnya. Apabila pada awal Pelita I. Kemajuan yang dapat dicapai oleh sektor industri pada tingkat akhir berkaitan erat dengan kemantapan pertumbuhan. serta peningkatan ekspor hasil produksinya. pembangunan pertanian dilaksanakan dengan berlandaskan Trimatra Pembangunan Pertanian.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan industri. Untuk mewujudkan tujuan tersebut. sumbangan sektor pertanian masih sebesar 46. Agar peningkatan produksi beras dapat pula meningkatkan tarat hidup petani lebih layak. sementara nilai produksinya terus meningkat. Dengan demikian pembangunan pertanian diharapkan memberikan arti yang utuh bagi peningkatan sebagian besar kesejahteraan bangsa Indonesia. dan dinaikkan. dan dalam pengembangan wilayah dengan sasaran sebagaimana yang tercakup dalam Sapta Karya Pembangunan Pertanian. merupakan faktor yang sangat menunjang tegak tahannya sektor industri.9 persen dari produk domestik bruto riil. Di samping produksi beras. dimana peningkatan daya beli sebagian besar masyarakat beserta pemerataan pendapatan yang berlangsung di sektor ini. dimana dalam Pelita I dan II pertumbuhan produksinya adalah sebesar 4. Didukung oleh besarnya peranan nilai tambah yang diciptakan oleh sektor perdagangan. Sungguhpun pertumbuhan sektor pertanian sejak Pelita I setiap tahunnya menunjukkan tingkat kenaikan yang berbeda.8 persen pertahun. Pembangunan sektor pertanian berdasarkan Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang tidak hanya menyangkut peningkatan produksi semata.

alas dasar harga konstan 1973. Dalam rangka meningkatkan penanaman modal. sejalan dengan terpeliharanya kestabilan. Sebagai piranti anggaran dalam melaksanakan Repelita demi Repelita. terus menunjukkan peningkatan.2 juta.2 persen. baik yang dilakukan oleh masyarakat. dan pemutihan modal bagi penanam modal di Indonesia dihapuskan. fasilitas pengampunan pajak. serta tingkat produktivitas modal. Kegiatan penanaman modal yang dilakukan oleh dunia usaha.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bruto riil secara keseluruhan dalam tahun 1983 diperkirakan menunjukkan adanya kemajuan yang cukup berarti. dalam tahun 1983 diperkirakan telah meningkat menjadi 30. dunia usaha.ada. volume Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah berhasil ditingkatkan terus dalam jumlah yang cukup besar. Sungguhpun kenaikan tersebut masih lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan per tahun dalam periode 1970 . rencana investasinya mencapai nilai sebesar US $ 14. oleh Pemerintah telah diberikan berbagai rangsangan antara lain dalam bentuk penyederhanaan prosedur penanaman modal. Volume APBN pada awal Pelita I yang berjumlah Rp 334.2 persen pertahun dalam periode tersebut. dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 telah meningkat rata-rata sebesar 7.5 persen. Berbagai fasilitas tersebut diberikan agar tercipta iklim penanaman modal yang menarik. dan ditentukan oleh perimbanganperimbangan yang terjadi di dalam tingkat pembentukan modal. maupun Pemerintah. sejak Pelita I. Sumber pembentukan modal yang terpenting adalah dana-dana yang dapat dikerahkan dan disalurkan melalui APBN. akan tetapi masih lebih tinggi dari yang dicapai dalam tahun 1982. Pembentukan modal domestik bruto yang dalam tahun 1969. semacam pemutihan modal masih dimungkinkan.915. meskipun fasilitas bebas pajak. Sebagai kompensasi.2 persen pertahun. sedangkan penanaman modal asing (PMA) dalam periode yang sama. yakni kenaikan sebesar 4.4 milyar. Pertumbuhan ekonomi yang tercermin dari perkembangan produk domestik bruto sangat dipengaruhi. penetapan tarip penyusutan yang lebih tinggi. dan prospek yang baik dari perkembangan pembangunan. baru berjumlah 11. yakni segala dana yang ditabung dalam deposito tidakakan diusut asal usulnya. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya pembentukan modal domestik bruto rata-rata sebesar 15.2 persen dari produk domestik brutonya. alas dasar harga konstan tahun 1973. dan tenaga kerja yang . Hal ini tiada lain menunjukkan adanya kemajuan di dalam pembentukan atau penanaman modal. serta ketentuan bahwa perorangan dapat melaksanakan penanaman modal melalui fasilitas PMDN tanpa harus berbentuk badan hukum. telah berkembang menjadi hampir lima puluh lima kali dalam Departemen Keuangan RI 11 .632.7 milyar. Penanaman modal yang dilakukan melalui fasilitas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sampai dengan bulan Agustus 1984 telah disetujui sebesar Rp 20.1982. Produk domestik bruto.

Bantuan tersebut dimaksudkan untuk pemeliharaan jembatan dan jalan propinsi. utuh dan menyeluruh melalui peranan ganda dari pengeluaran pembangunan. serta upaya pemecahannya telah pula menjadi bahagian dari pelaksanaan APBN.0 milyar. perbaikan dan penyempumaan irigasi. memberikan harapan yang besar untuk tetap berlangsungnya pembangunan nasional guna mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.399. pembangunan daerah minus serta pengembangan perkotaan.677.0 milyar. Dengan demikian pemerataan. Namun demikian.1 milyar. kepada Dati II juga diberikan bantuan pembangunan prasarana jalan. Sedangkan bantuan pembangunan bagi Dati II antara lain adalah untuk proyek-proyek prasarana dan produksi yang dapat memperluas lapangan kerja dan proyek padat karya. Resesi ekonomi dunia yang telah mempengaruhi perekoDamian Il}donesia pada gilirannya telah mempengaruhi penyusunan RAPBN 1985/1986. dan pengeluaran pembangunan sebesar Rp 10.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tahun terakhir Pelita III. Untuk mempedancar distribusi hasil-hasil produksi. serta usaha untuk tetap terpeliharanya kesinambungan pembangunan.647. dan berlangsung berkepanjangan telah memberikan dampak yang tidak diinginkan terhadap perekonomian Indonesia. di balik kemajuan tersebut berbagai tantangan dan hambatan. Pengeluaran pembangunan selain dialokasikan untuk berbagai sektor. sehingga peranannya sebagai stabilisator. dan penerimaan pembangunan sebesar Rp 4. rencana tersebut terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 18. pertumbuhan dan stabilitas memperoleh gambaran yang lebih nyata.9 milyar. oleh Pemerintah telah diambil berbagai langkah kebijaksanaan untuk meningkatkan ketahanan Departemen Keuangan RI 12 .046.368. sedangkan di sisi pengeluaran negara rencana tersebut terdiri dari pengeluaran rutin sebesar Rp 12.0 milyar. dan akselerator pembangunan tetap dapat dipertahankan. juga diserasikan dengan pembiayaan pembangunan regional dan perluasan kesempatan kerja melalui berbagai program Inpres. Di sisi penerimaan negara. Dalam tahun 1985/1986 bantuan pembangunan Dati I adalah sebesar Rp 280. Seperti yang telah dikemukakan perekonomian dunia yang dilanda krisis. maka volume RAPBN tahun anggaran 1985/1986 direncanakan berimbang pada tingkat sebesar Rp 23. Dengan latar belakang kebijaksanaan dan perkembangan perekonomian baik nasional maupun internasional. terutama dalam mengamankan penerimaan negara melalui APBN. Perkembangan APBN terus diusahakan agar tetap berimbang dan dinamis. Dalam usaha untuk memperkecil pengaruh yang ditimbulkan resesi duma tersebut. Gambaran perkembangan volume APBN yang terus meningkat. dalam rangka pemerataan pembangunan dan hasilnya. khususnya dalam beberapa tahun terakhir ini.0 milyar. eksploitasi dan pemeliharaan pengairan.

maka sejak 1 Januari 1985 tarip pajak kekayaan telah diturunkan dari 1 persen menjadi 0.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ekonomi nasional.8 Tahun 1984 telah ditangguhkan berlakunya sampai selambat-Iambatnya tanggal 1 J anuari 1986. prosedur dan pentaripan yang rumit. akan tetapi juga berusaha untuk meningkatkan rasa keikutsertaan masyarakat secara aktif dalam memberikan andil dan peranannya di dalam pembangunan melalui bidang perpajakan. Dalam rangka pelaksanaan undang-undang ini. undang-undang perpajakan yang baru tersebut lebih mencerminkan kesederhanaan. Pemerintah kini tengah mempersiapkan perundang-undangan mengenai pabean. Dengan kebijaksanaan tersebut Pemerintah bukan saja berupaya untuk lebih menyeimbangkan struktur penerimaan negara. Langkah-Iangkah untuk menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan. pajak kekayaan. yakni dengan diberlakukannya UndangUndang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan serta Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan sejak tanggal 1 Januari 1984. Pemerintah bertekad untuk melaksanakannya pada 1 April 1985. serta guna meningkatkan kesadaran para wajib pajak dalam menaati pembayaran pajaknya. Salah satu kebijaksanaan yangtelah diambil adalah dengan disahkannya beberapa undang-undang perpajakan yang baru. termasuk di dalamnya pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM) sebesar 10 persen. Sedangkan Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang sedianya berlaku pada tanggal 1 Juli 1984. dan iuran pembangunan daerah.5 persen. Berlainan dengan undang-undang perpajakan yang lama yang mempunyai sistem. maka mulai tahun anggaran 1985/ 1986 dalam penerimaan pajak pertambahan nilai. Untuk mewujudkan kebijaksanaan yang lebih realistis dengan keadaan perekonomian nasional. yang sebagian besar masih bergantung pada penerimaan dari minyak bumi dan gas alam. sedangkan batas kekayaan yang tidak kena pajak telah dinaikkan dari Rp 14 juta menjadi Rp 80 juta. guna lebih memantapkan peningkatan penerimaan dalam negeri. Namun demikian mengingat pentingnya peranan pajak tersebut. telah dilaksanakan ketika memasuki tahun pertama Repelita IV. Sejak dilaksanakannya kebijaksanaan moneter 1 Juni 1983. dengan Undang-Undang No. Sumber penting lainnya dari penanaman modal adalah tabungan masyarakat yang antara lain terkumpul melalui sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya. dana-dana yang berasal dari masyarakat yang dapat Departemen Keuangan RI 13 . dan memberikan kepostian hukum. serta lebih mendorong pemerataan. yang merupakan perbaikan secara mendasar terhadap undang-undang perpajakan yang lama. serta menciptakan landasan yang kuat guna berlangsungnya kelancaran proses pembangunan. khususnya melalui usaha peningkatan penerimaan dalam negeri di luar minyak. Di samping Undang-Undang Perpajakan tersebut.

sosial maupun politik. Perubahan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR/DPR/DPRD. Dalam rangka pembaharuan. Sementara itu dalam periode Juni 1983 .Juni 1984. namun mendorong kegiatan pembangunan. laju inflasi menunjukkan peningkatan sebesar 8. peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar dalam rangka pelaksanaan wajib Departemen Keuangan RI 14 . dan iklim terse but harus dipertahankan agar upaya pembangunan dengan kekuatan sendiri secara bertahap dapat terwujud menjadi kenyataan.5 persen. Pelaksanaan pembangunan nasional senantiasa diupayakan berjalan seirama dengaIi pembinaan dan pemeliharaan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. pembangunan politik dan pendidikan politik seperti yang digariskan oleh GBHN terus menerus dilaksanakan. Tegaknya demokrasi Pancasila merupakan syarat mutlak bagi terjaminnya stabilitas nasional.8 persen merupakan dana deposito dan tabungan yang merupakan sumber dana yang renting bagi pembentukan modal untuk disalurkan berupa kredit bagi kegiatan usaha.8 milyar. diusahakan agar pengaruhnya terhadap tingkat harga senantiasa dalam batas-batas yang aman. cerdas dan berbudi luhur merupakan modal pembangunan yang sangat menentukan. Terpeliharanya kestabilan ekonomi mencerminkan terselenggaranya pengendalian jumlah uang beredar yang sesuai dengan kebutuhan perekonomian.905. Kelima RUU tersebut kini dalam pembahasan.787. dan diharapkan pada waktunya akan mendapat persetujuan akhir dari Dewan Perwakilan Rakyat. Dengan demikian manusia Indonesia yang sehat. dan penyederhanaan kehidupan politik.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dihimpun oleh sektor perbankan menunjukkan kenaikan yang mengesankan. Dalam kaitan ini unsur terpenting di dalam pengembangan sumber daya manusia adalah pendidikan. maka kepada DPR telah diajukan lima RUU masing-masing tentang: Perubahan UU Pemilu. Perubahan UU tentang Parpol dan Golkar. Dalam tahun 1984. volume deposito berjangka telah menunjukkan kenaikan sebesar Rp 2. Oleh sebab itu. diantaranya sebesar Rp 7.705. dan tentang Referendum. dan kesinambungan pembangunan.2 milyar. Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Sampai dengan bulan September 1984. sedangkan pada tahun sebelumnya menunjukkan kenaikan sebesar 11.2 milyar atau 53. Meningkatnya dana-dana masyarakat yang terhimpun oleh sektor perbankan menunjukkan adanya kestabilan ekonomi. baik di bidang ekonomi.8 persen. Sehubungan dengan itu dalam tahun pertama Repelita IV kebijaksanaan di bidang pendidikan terutama ditekankan dan diarahkan pada peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan. Organisasi Kemasyarakatan. dana perbankan telah mencapai jumlah sebesar Rp 14. Sungguhpun jumlah uang beredar terus meningkat.

Untuk itu sejak Pelita I telah dan terus dilaksanakan pembangunan di bidang kesehatan. Maka teramat penting bagi segenap aparatur negara. Terciptanya kerangka landasan seperti yang diamanatkan oleh GBHN harus benarbenar dapat diwujudkan. dan alih teknologi di bidang kesehatan dan peralatan kesehatan. dan tujuannya tidak tersimpangkan. merencanakan untuk memberikan tunjangan jabatan fungsional kepada guru sekolah tingkat dasar dan menengah. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap generasi muda dalam tugasnya sebagai penerus perjuangan bangsa. makmur dan sejahtera. Departemen Keuangan RI 15 . sementara kesejahteraan para guru dan dosen tetap menjadi perhatian Pemerintah. serta penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional. baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah. yang meliputi berbagai bidang studi dan pengelolaan. dan mengarah kepada pengalihan tanggung jawab pengelolaan dari Pemerintah kepada masyarakat. Guna meningkatkan mutu pendidikan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 belajar. dan pembangunan nasional. serta pengelolaan pendidikan yang lebih berdaya guna dan berhasil guna. agar tempat beranjak pembangunan bertambah kuat sehingga bangsa Indonesia dapat terus tumbuh dan berkembang. Bersamaan dengan itu terus diusahakan pula peningkatan program keluarga berencana (KB) nasional yang pelaksanaannya ditempuh melalui pendekatan kemasyarakatan baik melalui jalur formal maupun informal. Untuk itu Pemerintah dalam tahun 1985/1986. pemberantasan penyakit menular. telah dilaksanakan penataran guru/pembina pada berbagai tingkat pendidikan. serta cita dan harapan dapat menjadi kenyataan. peningkatan gizi masyarakat. Pembangunan juga mengusahakan agar setiap warga negara dapat memperoleh derajat kesehatan yang tinggi menuju terbentuknya keluarga yang sehat dan sejahtera. baik secara kualitatif maupun kuantitatif. antara lain berupa pembangunan Puskesmas dan rumah sakit. dan masyarakat untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila. dan hanya dengan persatuan yang makin kukuh segala rintangan dan tantangan yang berat dalam tahun-tahun mendatang akan teratasi. agar arah dan pelaksanaan pembangunan tetap benar. serta agar pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan baik. Di samping itu juga dilaksanakan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera (NKKBS) melalui program lintas sektoral agar terwujud keluarga yang sehat. pengadaan tenaga dokter dan tenaga medis. penyuluhan kesehatan. Oleh karena manusia merupakan modal terpenting dan menentukan dalam pembangunan nasional. maka perlu terus ditingkatkan pembangunan kesehatan dan pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk. Dengan penuh kepercayaan pada kemampuan sendiri.

Departemen Keuangan RI 16 . sebagai tujuan utama dari pembangunan merupakan babagian yang tak dapat dipisahkan dari ukuran keberhasilan pembangunan secara menyeluruh.i1gunan tersebut secara optimal. tahun pertama pelaksanaan Pelita pertama hingga memasuki tahun kedua Pelita IV. pertumbuhan ekonomi yang memadai serta kestabilan nasional yang sehat dan dinamis. diarahkan kepada terwujudnya Trilogi Pemba. Apa yang ditetapkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara dijabarkan di dalam Repelita.1. tetap dipertahankan. dan berpegang teguh pada kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan tarat hidup. kesehatan serta penciptaan lapangan kerja diseluruh pelosok tanah air telah ikut mendorong laju pertumbuhan. tetap menjadi dasar kebijaksanaan bagi pengelolaan keuangan negara. dan secara operasional setiap tahun diwujudkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan demikian penerimaan negara beserta pengalokasiannya kepada seluruh sektor pembangunan. kecerdasan. sehingga menambah kemantapan iklim perekonomian nasional secara menyeluruh dan terpadu. Hal demikian merupakan salah satu upaya pemantapan stabilitas ekonomi. yang berarti pula menjaga sendi-sendi kestabilan kehidupan masyarakat. Dalam memelihara pengaruh APBN terhadap perkembangan moneter. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. guna mewujudkan amanat yang terkandung di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Pendahuluan Sejak pembangunan nasional dirimlai pada tahun 1969/1970. dan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. dan pengeluaran negara sebagai pelaksanaan prinsip-prinsip anggaran yang berimbang dan dinamis. sebagai suatu rangkaian tak terpisahkan dari Trilogi Pembangunan. keseimbangan antara penerimaan negara. Kemajuan pembangunan nasional yang dilaksanakan sejak tahun 1969 itu tercermin tidak hanya dari terus meningkatnya volume APBN. Meningkatnya taraf hidup. dan ditegaskan kembali di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). pendidikan. khususnya terhadap meningkatnya laju inflasi. Beberapa indikator seperti bertambah luasnya prasarana dan sarana seperti perhubungan. kebijaksanaan keuangan negara tetap diarahkan. Hal demikian sangatlah diperlukan untuk menjamin terus berlangsungnya pembangunan nasional secara berkesinambungan. kecerdasan serta kesejahteraan seluruh rakyat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB II ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA 2. dan memperluas usaha pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya.

393.247. Demikian pula rencana anggaran penerimaan dalam Repelita III sebesar Rp 43. telah mempengaruhi perkembangan APBN.4 milyar. berbagai tantangan dan hambatan. dan pengeluaran pembangunan sebesar Rp21. khususnya di bidang penerimaan negara.849. dan penerimaan pembangunansebesar Rp 9.3 milyar. Di dalam pelaksanaannya selama lima tahun Pelita III.586. terutama untuk mengamankan penerimaan negara melalui APBN. sedangkan pengeluaran negara terdiri dari pengeluaran rutin sebesar Rp 21.5 milyar.1 milyar.463.129.2 milyar.279.6 milyar ternyata dalam pelaksanaannya telah dilampaui sebesar Rp 22.661. realisasi penerimaan negara telah dapatn mencapai Rp 66.714.4 milyar. Dengan demikian dibandingkan dengan rencananya. dalam beberapa tahun terakhir. sehingga dengan demikian masing-masing melampaui rencananya sebesar Rp 820.3 milyar dan Rp 12. maka dalam tabun terakhir Pelita III realisasinya telah meningkat menjadi Rp 18. dalam realisasinya masing-masing mencapai jumlah sebesar Rp 3.7 milyar.7 milyar.1 milyar.019. penyesuaian nilai tukar dollar Ametika terhadap rupiah.0 milyar dan Rp 12. dan kebijaksanaan moneter 1 Juni 1983.510.8 milyar dari yang direncanakan. penjadwalan kembali proyek-proyek.8 milyar.237.168.8 milyar.315.467. Perekonomian dunia yang dilanda krisis. Dalam Repelita III anggaran yang direncanakan berimbang pada jumlah sebesar Rp43.4 milyar.283. Dibalik kemajuan tersebut. Adapun pengeluaran rurin dan pengeluaran pembangunan dalam lima tahun pelaksanaan Pelita III terse but dicapaijumlah sebesar Rp 32. yang terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 34. yang berarti meningkat sebesar hampir 55 kali lipat dalam jangka waktu lima betas tahun. Oleh sebab itu upaya peningkatan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas Departemen Keuangan RI 17 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Perkembangan volume APBN.883.7 milyar.510.273.1 milyar. Bila dibandingkan dengan rencana anggaran penerimaan dalam Repelita.393. yaitu dengan realisasi penerimaannya sebesar Rp 66.5 milyar dan Rp 34. dan penerimaan pembangunan sebesar Rp 10. Dalam Repelita I dan II anggaran penerimaan yang direncanakan berjumlah Rp 2.6 milyar.551.3 milyar dan Rp 1. terdiri dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp 55.2 milyar dan Rp 5.987.2 milyar dan Rp18. sehingga masing-masing mengalami kenaikan sebesar Rp 10. maka realisasinya selalu melampaui rencana dalam setiap Repelita.6 milyar. Pemerintah telah mengambil berbagai kebijaksanaan antara lain berupa pembaharuan di bidang perpajakan. dan berlangsung berkepanjangan telah memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi perekonomian Indonesia.2 milyar. masing-masing lebih besar dengan Rp 21. Adapun usaha untuk memperkecil pengaruh yang di timbulkan resesi dunia tersebut. yakni dari tahun 1979/1980 sampai dengan tahun 1983/1984.406. hila dalam tabun pertama Pelita I jumlah penerimaan baru sebesar Rp 334.

serta penerimaan bukan pajak. terusmenerus dilaksanakan. perdagangan. serta mengarahkan kegiatan pembangunan pada proyek-proyek yang berprioritas tinggi. yang berkembang sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. dan agar terdapat alokasi sumber-sumber ekonomi yang sehat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 alam. serta membantu terciptanya suasana yang lebih sesuai dengan pola hidup sederhana. Adanya potensi perpajakan yang masih besar dalam masyarakat. Pengurangan dan penghapusan berbagai subsidi. seperti pemerataan pendapatan dan beban pembangunan. unsur-unsur kesederhanaan. baik dari pengelola pajak maupun dari masyarakat wajib pajak. pengendalian dan penghematan dalam menyelenggarakan kegiatan Pemerintah terus dilakukan. dan terus disempurnakan baik tata cara pengelolaannya.. kestabilan barga. sedikit demi sedikit telah dilaksanakan seiring dengan meningkatnya perekonomian pada umumnya. serta para wajib pajak pada umumnya. tanpa harus mengorbankan kebutuhan dan kesejahteraan dari sebagian besar masyarakat. Sebagai peralatan fiskal. bea dan cukai. Dalam melaksanakan undang-undang perpajakan yang baru. maupun peningkatan disiplin dan pembinaan mental aparat pemungut pajak. Selanjutnya agar penerimaan dan pengeluaran negara dapat diurus secara efisien dan efektif. kebijaksanaan perpajakan diarahkan bukan saja untuk meningkatkan penerimaan negara. Kebijaksanaan yang ditempuh untuk melaksanakan hal tersebut antara lain dengan meningkatkan efisiensi penggunaan dana. perluasan kesempatan kerja. memerlukan penanganan dan pendayagunaan yang cermat dan secara berencana terus dikembangkan agar tujuan mencapai kemandirian dalam pembiayaan pembangunan secara bertahap dapat menjadi kenyataan. Di sektor pengeluaran rutin. telah dan akan terus dilaksanakan. diperlukan disiplin dari berbagai pihak. baik yang menyangkut prosedur dan tata kerja administrasi perpajakan. Dalam undang-undang perpajakan rang baru tersebut. maupun ketrampilan petugas yang bersangkutan. Dalam hubungan ini pembenahan aparatur perpajakan. badan-badan usaha. serta menunjang upaya stabilisasi ekonomi nasional. maka perlu ditingkatkan pengawasan. Iklim tersebut selanjutnya akan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri. Sementara itu pengeluaran pembangunan tetap diarahkan untuk membiayai proyek-proyek yang Departemen Keuangan RI 18 . Untuk itu mulai akhir tahun anggaran 1983/1984 telah diberlakukan beberapa undang-undang perpajakan yang baru dengan perbaikan secara mendasar terhadap sistem perpajakan lama yang antara lain meliputi dasar pengenaan pajak. asosiasi-asosiasi. tarip pajak serta tata cara pembayaran pajaknya. akan tetapi juga dimaksudkan untuk menciptakan iklim yang memungkinkan terwujudnya beberapa sasaran pembangunan nasional. pemerataan atau keadilan dan kepostian mendapat pengaturan yang lebih sesuai dengan perkembangan pembangunan. seperti penerimaan dari sumber-sumber perpajakan. Agar pelaksanaan undang-undang pajak dapat berjalan lancar telah dan terus diadakan penyuluhan terhadap pengusaha.

maupun segenap aparat negara. terutama dalam memberikan pe1ayanan kepada masyarakat. Ringkasan Pelaksanaan APBN dalam tahun anggaran 1984/1985 ditandai oleh perkembangan keadaan ekonomi nasional yang relatif lebih baik.971. Pelaksanaan APBN 1984/1985 ( Semester I ) 2.546. realisasi penerimaan dan pengeluaran negara masing-masing dapat mencapai Rp 8.0 persen.7 milyar.9 milyar. Apabila dibandingkan dengan penerimaan dalam negeri dalam semester I 1983/1984 sebesar Rp 6.1.295. baik untuk memperkecil pengaruh resesi dunia.7 persen bila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun anggaran sebe1umnya. khususnya dunia usaha.4 milyar. dan kerja keras.6 milyar dan Rp 8. pada hakekatnya memerlukan penyesuaian sikap. Adapun realisasi pengeluaran rutin dalam semester I 1984/1985 mencapai Rp 4.4 milyar.2. Berbagai usaha dan langkah kebijaksanaan yang telah diambil. 2. Dalam semester I 1984/1985.418.5 persen dari rencana APBN 1984/1985 yang berimbang pada jumlah Rp 20. penerimaan cukai. Departemen Keuangan RI 19 . maka te1ah terjadi kenaikan sebesar 16. baik dari masyarakat. Kenaikan tersebut terutama disebabkan karena meningkatnya penerimaan dari sektor minyak.8 milyar. dan penerimaan bukan pajak. Kebijaksanaan penge1uaran rutin dalam tahun anggaran 1984/1985 diarahkan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas yang lebih tinggi.560.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas. Se1ama semester I tahun anggaran 1984/1985. dibandingkan dengan tahun sebelumnya.6 persen dan 41.372.8 milyar. khususnya aparat penge1ola keuangan negara.1 persen. yang berarti masingmasing meningkat dengan 6. realisasi penerimaan dalam negeri mencapai jumlah sebesar Rp 7. serta merawat sarana dan prasarana hasil pembangunan. baik sarana maupun prasarana.540.5 persen dari penge1uaran rutin yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. maupun dalam rangka pemulihan perekonomian di dalam negeri.390. terdapat peningkatan sebesar 19. Jumlah penerimaan dalam negeri tersebut berarti 45. Dibandingkan dengan pengeluaran rutin dalam semester I 1983/1984.8 persen dari jumlah yang direncanakan dalam APBN 1984/1985.2. dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2. guna menumbuhkan seluruh sektor perekonomian masyarakat. yang berarti 42. Jumlah penerimaan dan pengeluaran negara dalam semester I 1984/1985 tersebut berarti masing-masing mencapai 41.6 milyar yang terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 4.

serta lebih mengusahakan pemerataan pembangunan dan pemeliharaan kestabilan.244.764.132. Dana ini dibutuhkan guna menambah dana pembiayaan pembangunan agar sasaran pembangunan dapat tercapai. Dalam semester I 1984/1985.250. Penerimaan dalam negeri Dalam rangka menunjang kegiatan pembangunan yang semakin meningkat dan meluas. 2.8 milyar. realisasi penge1uaran pembangunan lainnya sebesar Rp 714. memperluas kesempatan kerja. upaya untuk meningkatkan penerimaan dalam negeri dalam tahun 1984/1985 terus dilakukan seraya diarahkan untuk menunjang peningkatan produksi dan investasi. dan penge1uaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek sebesar Rp 1. Dengan berbagai kebijaksanaan dan usaha yang te1ah dijalankan. Jumlah tersebut terdiri dari realisasi pembiayaan pembangunan sektoral yang dilaksanakan oleh departemen/lembaga sebesar Rp 1.5 milyar.2. terlihat dari meningkatnya tabungan Pemerintah yang merupakan se1isih an tara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin. upaya penyediaannya haruslah selalu diusahakan terutama dari sumber dalam negeri.7 milyar pada semester I 1984/1985.552.2. Sejalan dengan semakin ineningkatnya kebutuhan dana pembangunan yang hams disediakan.7 milyar.5 milyar.0 milyar. Sehubungan dengan itu.3 milyar maka terdapat peningkatan sebesar 12.094.250.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Meningkatnya kemampuan sumber-sumber dana dari dalam negeri guna membiayai pembangunan nasional. Dengan demikian pembangunan yang dilaksanakan untuk se1anjutnya akan dapat lebih tumbuh dan berkembang di atas kemampuan sendiri.7 milyar.156.7 milyar tersebut te1ah digunakan untuk membiayai penge1uaran pembangunan sebesar Rp 4. Dibandingkan dengan tabungan Pemerintah semester I 1983/1984 yang berjumlah sebesar Rp 2. maka diperlukan tersedianya dana pembangunan yang semakin meningkat pula.244. Dalam semester I 1984/1985 telah berhasil dihimpun tabungan Pemerintah sebesar Rp 3.634. maka berarti terdapat penurunan sebesar 29.5 milyar. maka dalam semester Departemen Keuangan RI 20 .1 milyar.3 persen. pembiayaan pembangunan regional berupa bantuan pembangunan daerah (program Inpres) dan Ipeda sebesar Rp 844. membentuk dana pembangunan sebesar Rp 4. Realisasi penerimaan pembangunan yang bersumber dari luar negeri dalam semester I 1984/1985 menunjukkan jumlah sebesar Rp 1. Dengan demikian dari dana pembangunan sebesar Rp 4.094. realisasi pengeluaran pembangunan mencapai jumlah sebesar Rp 4. baik segi perencanaan maupun pelaksanaan operasionalnya.7 milyar.9 milyar.0 persen. Bila dibandingkan dengan penerimaan pembangunan dalam semester I tahun sebe1umnya sebesar Rp 1. Penerimaan pembangunan bersama tabungan Pemerintah berjumlah Rp3.

206. yaitu 15 persen untuk penghasilan sampai dengan Rp 10 juta.2 persen. pajak penjualan impor sebesar Rp 125..0 milyar.000.7 milyar.1 milyar atau 18.050. Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan dalam semester I tahun sebe1umnya yang sebesar Rp 4. Upaya ke arah pemungutan pajak yang lebih adil dan merata tercermin dengan semakin ringannya beban pajak bagi golongan masyarakat berpendapatan rendah melalui peningkatan penghasilan tidak kena pajak (PTKP).8 milyar.8 milyar tersebut berarti telah mencapai 41.5 milyar. serta meningkatnya volume ekspor dari gas alam. dengan senantiasa berusaha untuk menciptakan iklim perpajakan yang menjamin keadilan. Adapun penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam terdiri dari penerimaan pajak penghasilan sebesar Rp 875. cukai sebesar Rp 375.7 persen hila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun 1983/1984 sebesar Rp 2.5 milyar.390.2 milyar. pajak ekspor sebesar Rp 38. Langkahlangkah kebijaksanaan yang diambil dalam rangka meningkatkan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam antara lain berupa pelaksanaan undang-undang perpajakan yang baru.-. penerimaan pajak lainnya sebesar Rp 33. Peningkatan penerimaan ini antara lain disebabkan oleh adanya penyesuaian nilai tukar dollar Amerika terhadap rupiah.8 persen dari jumlah seluruhnya yang direncanakan dalam APBN.8 milyar tersebut adalah 48.418.0 milyar. Sedangkan lapisan kena pajak. isteri. 25 persen untuk penghasilan di atas Rp 10 Departemen Keuangan RI 21 .000.8 milyar atau 11. Undang-Undang Pajak Penghasilan tahun 1984 yang sudah berlaku sejak bulan Januari 1984 mengandung berbagai kebijaksanaan yang pada prinsipnya mendorong kegiatan dunia usaha dan pembangunan nasional. PTKP yang sebelumnya dikenal dengan istilah BPBP (batas pendapatan bebas pajak). Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam tersebut telah meningkat sebesar Rp 252. bea masuk sebesar Rp 276. pajak penjualan sebesar Rp 272.166.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 I tahun anggaran 1984/1985 realisasi penerimaan dalam negeri mencapai jumlah sebesar Rp7. pemerataan dan kepostian hukum.9 milyar.8 milyar.971. serta tiga orang anak adalah sebesar Rp 1. dan terdiri dari tiga lapisan tarip.kini telah ditingkatkan menjadi Rp 2. yang semula untuk satu keluarga terdiri dari suami. berarti mengalami kenaikan sebesar Rp 765. dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 353.418.880. penerimaan Ipeda sebesar Rp 68.5 milyar.8 milyar dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2. Realisasi penerimaan minyak bumi dan gas alam dalam semester I 1984/1985 sebesar Rp 4. Realisasi penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 2. Jumlah realisasi penerimaan dalam negeri semester I 1984/1985 tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 4.0 persen dari yang direncanakan dalam APBN.2 milyar.2 miyar.971.6 milyar. dan penggolongan tarip lebih sederhana.

7 persen dari yang direncanakan dalam APBN. penerimaan pajak penjualan dan pajak penjualan impor adalah sebesar Rp 272. atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut pajak sesuai dengan peraturan yang berlaku.2 milyar. dan sebelumnya yang belum pernah.5 milyar. Dalam semester I 1984/1985. Adapun pengampunan pajak yang ditentukan sejak 18 April 1984 akan memberikan pengaruh positif terhadap kejujutan dan keterbukaan wajib pajak. Jumlah terse but adalah 35.7 milyar dan Rp 122. Undang-Undang Pajak Penjualan 1951 sebenarnya tidak berlaku lagi setelah disahkannya Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang semula direncanakan untuk diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1984. yang dimaksudkan untuk memelihara dan menunjang perkembangan industri di dalam negeri.5 milyar.6 persen dari yang direncanakan dalam APBN.4 persen. kebijaksanaan di bidang bea masuk di samping dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan negara.3 milyar. terlihat adanya.0 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 juta sampai dengan Rp 50 juta. Realisasi penerimaan cukai dalam semester I 1984/1985 adalah sebesar Rp 375. sehingga dengan pengampunan pajak terse but diharapkan akan dapat memperluas jumlah wajib pajak.5 Departemen Keuangan RI 22 . maka terdapat kenaikan sebesar 3. dalam semester I tahun anggaran 1984/1985 realisasi penerimaan pajak penghasilan telah mencapai Rp 875. yang berarti 40. telah pula dilaksanakan penyempurnaan tala laksana pabean di bidang impor. Dengan berbagai kebijaksanaan dan usaha-usaha tersebut di atas. maka Undang-Undang Pajak Penjualan 1951 masih berlaku hingga tanggal berlakunya undang-undang baru tersebut.9 milyar.7 persen dan 2. maupun beberapa pembebasan sebagian bea masuk atas sejumlah bahan baku dan barang-barang tertentu. Realisasi penerimaan bea masuk dalam semester I tahun 1984/1985 mencapai Rp 276. Dalam rangka menjamin kelancaran arus dokumen dan pengeluaran barang. dan Rp 125. Pengampunan pajak diberikan atas pendapatan yang diperoleh dalam tahun 1983.kenaikan sebesar 7. serta mendorong perkembangan industri dalam negeri. dan 35 persen untuk penghasilan di atas Rp 50 juta. Bila dibandingkan dengan penerimaan bea masuk semester I tahun anggaran sebelumnya sebesar Rp 267.8 persen. Sejalan dengan kebijaksanaan umum di bidang perpajakan. Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan pajak penjualan dan pajak penjualan impor dalam semester I 1983/1984 yaitu masing-masing sebesar Rp 252. Sehubungan dengan itu Pemerintah tetap memberikan keringanan tarip. Tetapi sehubungan dengan penundaan pelaksanaan Undang-Undang PPN 1984 tersebut hingga selambat-lambatnya tanggal 1 Januari 1986. juga diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat banyak.

4 persen dari yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985.3 persen. antara lain bauksit dan pekatannya. berupa pembatasan (kuota) impor terbadap berbagaijenis komodiri.3 persen. termasuk Indonesia. realisasi penerimaan pajak ekspor untuk semester I 1984/1985 hanya mencapai sebesar Rp 38.4 persen dari yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985. Untuk meningkatkan ekspor non migas di tengah perkembangan perekonomian dunia yang masih lamban. membawa pengaruh yang kurang menguntungkan terhadap perkembangan harga barang-barang ekspor non migas di posaran dunia. Di samping itu timbul pula hambatan yang dikenakan negaranegara maju terhadap barang-barang ekspor negara dunia ketiga. atau 57. yang berarti mencapai 51.4 persen dari rencananya dalam APBN. Jumlah tersebut berarti 44.5 milyar.5 milyar. Hal tersebut telab berpengaruh kepada volume maupun nilai ekspor Indonesia dalam semester I 1984/1985.9 persen.4 milyar. Realisasi penerimaan pajak lainnya yang terdiri dari pajak kekayaan.9 persen. dan bea lelang. berarti terdapat penurunan sebesar 23. Penerimaan Ipeda dalam semester I tahun 1984/1985 adalah sebesar Rp 68. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 28. sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar iuran tersebut. Upaya peningkatan penerimaan jenis ini selalu diusahakan dengan lebih meningkatkan kualitas petugas pelaksana melalui pendidikan dan latihan.6 milyar.2 milyar.2 milyar.7 milyar atau 71.8 milyar atau 31. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp 23.2 persen bila dibandingkan dengan penerimaan dalam semester I tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 53. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun anggaran sebelumnya yang besamya Rp 334. serta penyuluhan kepada masyarakat luas. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp 205. Apabila dibandingkan dengan penerimaan yang sarna dalam semester I tahun sebelumnya sebesar Rp50.6 milyar. Pemerintah telah menurunkan tarip pajak ekspor terhadap beberapa komoditi tertentu.2 milyar. bea meterai. Kenaikan ini terutama berasal dari kenaikan penerimaan cukai tembakau dengan meningkatnya produksi rokok. Keadaan perekonomian yang masih belum sepenuhnya pulih dari resesi. maka terdapat kenaikan sebesar Rp 147. Sejalan dengan perkembangan tersebut. dalam semester I 1984/1985 mencapai Rp 33. berarti mengalami kenaikan sebesar 41. Penerirnaan bukan pajak terdiri dari Departemen Keuangan RI 23 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar.6 persen dari yang direncanakan dalam APBN. berarti mengalami kenaikan sebesar 12. Dalam semester I 1984/1985 penerimaan bukan pajak realisasinya mencapai Rp 353.

3.9 2.3 7.2 875 2. penerimaan dalam negeri senantiasa diusahakan peningkatan dan peranannya di dalam penyediaan dana pembangunan yang diperlukan.4 375.2 milyar dan Rp 1. hasil penjualan barang milik negara. Pajak penghasilan 856.9 Jumlah 6.5 353.7 3. Ipeda 53.8 4. serta berbagai jenis penerimaan departemen dan lembaga Pemerintah lainnya.372.3 276. seperti iuran hak pengusahaan hutan (IHPH). bea nikah dan akte kelahiran pada catatan sipil.6 38.2 68. Pajak penjualan impor 122. yaitu dalam bentuk bantuan program dan bantuan proyek. Perbandingan penerimaan dalam negeri.2 28.418.390.2 A. Penerimaan pembangunan.70 Penerimaan di luar minyak B. Pajak penjualan 252.971.2 PENERIMAAN DALAM NEGERI. Oleh karena itu dana yang berasal dari luar negeri masih diperlukan sebagai pelengkap untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan.2 7.132.7 1. SEMESTER 1 1983/1984 DAN 1984/1985 (dalam milyar rupiah) . bumi dan gas alam 2.166. dan bank negara. Cukai 334.2 Tabel II.5 41.2. antara lain berupa bagian Pemerintah atas laba perusahaan negara.70 7.2 71.4. 2. semester I 1983/1984 dan 1984/1985 dapat dilihat dalam Tabel II.7 272.00 2.5 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berbagai jenis penerimaan negara.80 11. Pajak lainnya 23.3 6. Pajak ekspor 50.9 9. gas alam 4. dalam semester I 1984/1985 realisasinya masing-masing sebesar Rp 23.80 18. dan sebagainya.2. sewa rumah dinas.6 33. Bea masuk 267.5 12.Semester I Semester 11) Kenaikan / 1983/1984 1984/1985 Penurunan (%) Jems penerimaan Penerimaan minyak bumi dan 4.4 5.2 8.0 2. Pengelolaan sumber dana yang berasal dari luar negeri tersebut senantiasa diarahkan seefisien mungkin untuk membiayai proyek-proyek pembangunan yang produktif dan berprioritas tinggi. Penerimaan pembangunan Untuk memungkinkan ekonomi nasional dapat tumbuh dan berkembang di atas kemampuannya sendiri. uang pendidikan. Namun upaya memobilisasikan dana pembangunan tersebut harus diusahakan tidak melampaui kekuatan ekonomi yang ada.8 -23.8 milyar.2 2.206.60 6. Pengeluaran rutin Kebijaksanaan Pemerintah di bidang pengeluaran rutin tidak terlepos dari upaya untuk Departemen Keuangan RI 24 . Penerimaan bukan pajak 205.5 125.

3 milyar selama semester I 1984/1985 merupakan peningkatan sebesar 14. subsidi daerah otonom sebesar Rp 913.0 milyar. dan berarti pula telah menyerap 50. serta lebih efektif dan efisien sehingga pelaksanaannya dapat lebih terarah dan terkendali.3 Realisasi belanja pegawai sebesar Rp 1.602.3 milyar. Seiring dengan itu. Pemberian kenaikan gaji itu sendiri merupakan langkah yang ditempuh Pemerintah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri sipil/ ABRI dan pensiunan.2 persen dari dana yang dianggarkan dalam APBN 1984/1985.2 milyar dalarn semester I 1984/1985 yang berarti meningkat sebesar 85.1 persen hila dibandingkan dengan semester I 1983/ 1984.295. realisasi pengeluaran rutin diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 4. Dalam pedoman pelaksanaan APBN yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 29 tahun 1984 dinyatakan bahwa pelaksanaan APBN diarahkan kepada penggunaan kemampuan dan hasil produksi dalam negeri sejauh mungkin. Departemen Keuangan RI 25 .9 milyar. Kenaikan realisasi belanja pegawai juga disebabkan meningkatnya realisasi tunjangan beras. Perkembangan realisasi pengeluaran rutin dalam sem(. Peningkatan re'alisasi belanja pegawai ini antara lain sebagai akibat diberikannya kenaikan gaji sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan kepada pegawai negeri sipil/ ABRI dan pensiunan. Dalam semester I 1984/1985. tidak mewah.238. sehingga dapat bekerja lebih baik dan dengan demikian akan meningkatkan produktivitas kerja. yang merupakan sumber utama bagi pembiayaan pembangunan.2 persen dari realisasi dalam semester I tahun sebelumnya.5 persen dari rencananya dalam APBN 1984/1985 dan menunjukkan peningkatan sebesar 19.6 milyar.602. pembayaran bunga dan cicilan hutang sebesar Rp 1.7 milyar dalarn semester I 1983/1984 menjadi Rp 255. dan lain-lain pengeluaran rutin sebesar Rp135. di samping berhubungan erat dengan pengamanan dan pemeliharaan hasilhasil pembangunan. dalam rangka meningkatkan kelancaran.3 persen.9 milyar. Oleh sebab itu setiap kegiatan pengeluaran harus dipertimbangkan agar selalu berlandaskan pada prinsip-prinsip hemat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 meningkatkan tabungan Pemerintah.ster I 1984/1985 dapat diikuti dalam Tabel II. dayaguna dan hasilguna serta pengamanan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa.9 milyar tersebut merupakan 42. dari Rp 137. telah ditetapkan pula Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 1984 tentang Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah di Departemen/Lembaga.295. sebagai upaya untuk lebih mendorong peningkatan produksi dalam negeri.1 milyar. Realisasi pengeluaran rutin sebesar Rp 4. yang terdiri dari belanja pegawai sebesar Rp 1. belanja barang sebesar Rp 406.

7 57.-/kg sejak 1 April 1984. .6 260. Pengeluaran rutin untuk subsidi daerah otonom dalam semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 913.2 c.Belanja pegawal b.552. Penyertaan modal pemerintah 197.2 3.1 Tabel II.8 0.6 714.9 391.20 3. Pembangunan Timor Timur 0. peg. Biaya makan (lauk pauk) d.3 persen dibandingkan dengan semester I tahun sebelumnya. SEMESTER I 1983/1984 DAN 1984/1985 (dalam milyar rupiah) Jenis Pengeluaran 1.1 489.609. penge1uaran untuk belanja barang harus dilakukan secara selektif dan terkendali.237.2 85.3 -73.1 -5.70 -3.3 persen lebih rendah dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984. Pembiayaan Departemen/Lembaga 1.2 -37.7 23. Dalam negeri b. Pembiayaan Lain-lain 548.70 135.111. H a n k a m 239.1 194.2 28.4 PENGELUARAN PEMBANGUNAN.7 milyar.369.3 913 828.1 21.7 -55.608.8 84.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel II.5 369.1 milyar.9 357.3 f.2 623 0.9 a.9 483. Bantuan pembangunan kabupaten 30.5 a. Departemen/lembaga 1. Lain -lain a.1 milyar terdiri dari pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri sebesar Rp 0.4 9. Bantuan pembangunan Dati I 59.90 -1.lain Jumlah 1) Angka sementara 1983/84 1. Bantuan pembangunan dan pemugaran 8.5 136.5 b.4 406.237. Belanja pegawai luar negeri 2.9 12.3 3.30 255.6 31.lain 174.1 39.9 milyar.295.70 1.7 b. Pembiayaan bagi daerah 603.3 32.7 -3.40 1984/85 1) 1.2 3.9 30. Luar negeri 3.7 e. yang berarti 72. Realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam semester I 1984/1985 sebesar Rp 1.5 23.761.4 milyar. Dengan berpedoman kepada ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 1984.6 6. Belanja barang a. Lain-lain pengeluaran rutin.9 i. dan untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri sebesar Rp 1. yang antara lain menampung pengeluaran untuk subsidi bahan bakar minyak. Kenaikan realisasi subsidi daerah otonom ini disebabkan adanya kenaikan gaji pegawai daerah otonom sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan tahun sebe1umnya.2 h.70 12.2 237.6 126. Dalam negeri b.7 203.2 1.4 g.7 641. Lain-lain bel. Bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984 terdapat kenaikan sebesar Rp 615.7 b. Se1anjutnya. Lain . SalaDa kesehatan / Puskesmas 9.90 Kenaikan (%) 14.3 a.7 98.2 68. Bantuan pembangunan desa 24 92.3 34. Prasarana jalan 45 57. Gaji dan pensiun c.238. yang semula Rp 327.8 217 24. pe1aksanaan be1anja barang dalam semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 406.3 PENGELUARAN RUTIN.5 12.40 1.6 milyar.5 81.9 46 19. Subsidi pupuk 176. biaya giro pos dan lain-lain.4 722.9 2.402.2 4. Lain . penggantian biaya pengiriman surat dinas bebas porto.2 545. Departemen Keuangan RI 26 .30 147.8 286. Ipeda 53.8 -15 2. Tunjangan beras b.3 6.90 137.5 j.6 15.238.4 d. Hal ini disebabkan terutama oleh lebih rendahnya realisasi subsidi bahan bakar minyak. SEMESTER I 1983/1984 DAN 1984/1985 1) (dalam milyar rupiah) Kenaikan (%) Jenis pengeluaran 1983/84 1984/85 2) 1.3 29. Bunga dan cicilan hutang a.6 10 1) 9. Non belanja pegawai 4. Bantuan penghijauan dan reboisasi 51.0 milyar. se1ama semester I 1984/1985 mencapai realisasi sebesar Rp 135.7 42.2 844.7 1. Subsidi daerah otonom a.1 26.-/kg dinaikkan menjadi Rp 366.9 622.7 1) Di luar bantuan proyek 2) Angka sementara Hal ini terutama disebabkan perhitungan harga beras untuk pegawai Degen. yang berarti suatu kenaikan sebesar 10 persen dan realisasi dalam periode yang sama tahun sebelumnya. Luar negeri 5.2 1.123. Subsidi BBM b. Agar pe1aksanaan penge1uaran rutin dapat berjalan secara hemat dan efisien.70 151 41 31.4 26. Bantuan sekolah dasar 330 311. Belanja pegawai a.348.602.9 c. penyesuaian harga beras ini mempengaruhi pula pembayaran uang makan/lauk pauk.6 99 -72.4 1.2 -4 33.051. dalam negeri e. yang berarti meningkat sebesar 26.1 Jumlah 2.10 0.

penyempurnaan administrasi serta pembenahan aparatur perpajakan. yang merupakan tahun pertama pelaksanaan Repelita IV. Tabungan Pemerintah Usaha untuk meningkatkan tabungan Pemerintah.5.6.8 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. serta selalu berpedoman kepada Keputusan Presiden tersebut diatas. sedang di bidang penge1uaran rutin antara lain dengan jalan menyempurnakan pedoman pe1aksanaan APBN di samping peningkatan mutu aparat pe1aksanaannya. dan sisanya berupa pengeluaran pembangunan lainnya sebesar Rp 714. yang merupakan sumber utarna bagi pembiayaan pembangunan. Selama semester I 1984/1985.9 milyar. Dalam tahun anggaran 1984/1985. yang berarti telah mencapai 51. telah meletakkan landasan yang lebih kuat bagi pelaksanaan Repelita IV. Ipeda dan pembiayaan bagi Timor Timur.094. telah berhasil direalisasikan bantuan sebesar Departemen Keuangan RI 27 .244.7 milyar. dilakukan dengan meningkatkan jumlah penerimaan dalam negeri bersamaaan dengan penghematan dalam pengeluaran rutin.4 milyar atau 11. Bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I 1983/1984.132.7 milyar tersebut terdiri dari pengeluaran pembangunan untuk proyek-proyek sektoral yang dikelola departemen/lembaga sebesar Rp 1. pelaksanaan pengeluaran pembangunan selama semester I 1984/1985 mencapai jumlah sebesar Rp 4. Pengeluaran pembangunan berupa pembiayaan rupiah sebesar Rp3. Jumlah tersebut meliputi pembiayaan rupiah sebesar Rp 3. 2.7 milyar.1 milyar. pengeluaran pembangunan bagi daerah sebesar Rp 844.552.7 milyar. kebijaksanaan yang dijalankan berkenaan dengan pelaksanaan anggaran telah dituangkan dalam Keputusan PresideD Nomor 29 tahun 1984 tentang Pelaksanaan APBN.2 persen dan yang direncanakan dalam APBN 1984/1985. intensifikasi dan extensifikasi pungutan pajak. Dengan tetap berlandaskan pada Trilogi Pembangunan. Pengeluaran pembangunan Berbagai langkah dan kebijaksanaan yang telah diambil Pemerintah selama pelaksanaan Repelita I. jumlah tersebut menunjukkan peningkatan sebesar Rp 330. Selama semester I 1984/1985 te1ah berhasil dihimpun tabungan Pemerintah sebesar Rp 3. dan pengeluaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek sebesar Rp 1.2. Upaya peningkatan penerimaan dalarn negeri ditempuh antara lain dengan penyempurnaan perundang-undangan pajak.5 milyar. Pengeluaran pembangunan bempa pembiayaan pembangunan bagi daerah merupakan bantuan yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah untuk menjalankan pembangunan yang meliputi program-program Inpres.111.9 persen.2. II dan III.111.

2 milyar dalam semester I 1984/1985 merupakan realisasi dari anggaran yang disediakan dalam tahun anggaran 1984/1985.3 milyar. dan program pembangunan dengan dana Ipeda sebesar Rp 68. bantuan penghijauan dan reboisasi sebesar Rp 32.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp844.2 milyar dalam semester I 1984/1985 menunjukkan peningkatan sebesar 28. Di samping itu jumlah tersebut juga meliputi program bantuan pembangunan sekolah dasar sebesar Rp 311.2 milyar.7 milyar yang berarti 3.4 milyar. Pengeluaran pembangunan lainnya. Bantuan pembangunan dan pemugaran pasar. dan Departemen Keuangan RI 28 . sedangkan bantuan penghijauan dan reboisasi yang bertujuan untuk menyelamatkan kelestarian sumber-sumber alam.2 persen bila dibandingkan dengan realisasi dalam semester I tahun sebelumnya. bantuan pembangunan kabupaten sebesar Rp 194.4 milyar. sarana kesehatan/Puskesmas sebesar Rp 21. yang berarti telah menyerap sebesar 55.7 milyar. dalam waktu yang bersamaan telah direalisasikan sebesar Rp 32.4 persen di bawah realisasi semester I 1983/1984. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan masing-masing sebesar Rp 237. Selebihnya adalah realisasi program bantuan pembangunan Timor Timur sebesar Rp 0. penyertaan modal Pemerintah dan lain-lain pembangunan. realisasinya menunjukkan penurunan sebesar 5. yang terdiri dari subsidi pupuk. Jumlah tersebut meliputi pembiayaan bagi program bantuan pembangunan desa sebesar Rp 92.8 milyar dan Rp 194.2 milyar. serta bantuan bagi prasarana jalan sebesar Rp 57. yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah dalam rangka melindungi para pedagang kecil golongan ekonomi lemah.6 persen dari yang direneanakan dalam tahun 1984/1985. Realisasi program-program pembangunan sarana kesehatan/Puskesmas. Realisasi bantuan pembangunan desa dan bantuan pembangunan kabupaten masingmasing sebesar Rp 92. yang diberikan dalam rangka meningkatkan keselarasan pembangunan sektoral dan regional. Begitu pula halnya dengan pengeluaran pembangunan dengan dana Ipeda. Rp 260. dan bantu. meratakan hasil-hasil pembangunan.1 milyar. bantuan pembangunan posar sebesar Rp8. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan sebesar Rp 57. Bantuan pembangunan Dati I. serta meningkatkan partisiposi daerah dalam pembangunan.7 persen dari dana yang direncanakan dalam tahun 1984/1985.2 milyar.1 milyar. Tetapi realisasi sebesar Rp 311.1 milyar ini telah menyerap dana sebesar 53. Demikian pula halnya dengan program pembangunan sekolah dasar. realisasinya sebesar Rp 68.7 persen dibandingkan dengan semester I tahun lalu. prasarana jalan dan program pembangunan Timor Timur dalam semester I 1984/1985 telah menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan realisasi dalam periode yang sarna tahun sebelumnya.1 milyar.5 milyar.2 milyar. dalam semester I 1984/1985 telah direalisasikan sebesar Rp 8.9 milyar.8 milyar.an pembangunan Dati I sebesar Rp 57.6 milyar.

Pengeluaran pembangunan dalam rangka penyertaan modal Pemerintah antara lain dipakai untuk pembiayaan PT Dok Perkapalan Tanjung Priok. sertifikat ekspor.00 menjadi US $ 29. proyek sumber daya laut dan lain-lainnya. realisasi tersebut menunjukkan peningkatan masingmasing sebesar 34. Situasi perekonomian intemasional yang belum sepenuhnya pulih dari resesi. serta meningkatnya langkah-langkah proteksionisme dari negara-negara maju.3 Rencana APBN 1985/1986 Berbagai program dan proyek pembangunan yang disusun dalam reneana APBN 1985/1986 merupakan pelaksanaan operasional tahun kedua Reneana Pembangunan Lima Tahun keempat (Repelita IV).4. Dari keadaan tersebut diperkirakan masa-masa sulit sebagai akibat dari resesi ekonomi dunia dan perkembangan harga minyak bumi masih akan dirasakan dalam tahun anggaran 1985/1986. 2. Perbandingan antara realisasi pengeluaran pembangunan di luar bantuan proyek dalam semester I 1984/1985 dengan semester I 1983/1984 ditunjukkan dalam Tabel II. serta mengarahkan penggunaan Departemen Keuangan RI 29 . malah ditandai dengan mulai melambannya kembali pertumbuhan ekonomi negara-negara industri. landasan kebijaksanaan raneangan APBN 1985/1986 tetap bertumpu pada Trilogi Pembangunan. PT Industri Mesin Produksi Indonesia (IMPI) dan PT PAL Indonesia. Seperti halnya pada tahun-tahun yang lampau. 31.1 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 217.9 persen dan 24. yaitu sejak diberlakukannya kuota produksi sebesar 1.7 persen. PT PINDAD. Dibandingkan dengan semester I 1983/1984.0 milyar.00 pada tanggal14 Maret 1983. yakni pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Demikian pula posaran dan harga minyak bumi dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan keadaan labil. termasuk Indonesia.3 juta barrel pada bulan April 1982. lingkungan hidup. telah mempengaruhi perkembangan perekonomian negara-negara dunia ketiga. pengembangan statistik. akan tetap dilaksanakan berbagai langkah kebijaksanaan untuk meningkatkan efisiensi dan penghematan. Di bidang keuangan negara. Sedangkan pengeluaran pembangunan lainnya terutama digunakan untuk meningkatkan pelaksanaan program keluarga berencana. pertumbuhan ekonomi yang eukup tinggi. dan penurunan harga minyak dari US $ 34. rendahnya permintaan akan komoditi-komoditi ekspor dari negara-negara sedang berkembang. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. PT GIA/Cengkareng. Demikian pula prinsip-prinsip anggaran berimbang yang dinamis tetap pula dipertahankan dalam penyusunan rancangan APBN 1985/1986.

1. Di sisi pengeluaran negara. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara direncanakan berimbang pada jumlah sebesar Rp.0 milyar.2 milyar. Dengan demikian tabungan Pemerintah yang direncanakan adalah sebesar Rp 6. jumlah tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam. jumlah tersebut terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan yang .368. khususnya melalui usaha peningkatan penerimaan dalam negeri di luar minyak.0 milyar. Di samping itu. 2.3 milyar. Dengan kebijaksanaan ini Pemerintah bukan saja berupaya untuk lebih menyeimbangkan struktur penerimaan negara yang sebagian besar masih tergantung pada penerimaan dari minyak bumi dan gas alam. LangkahIangkah umuk menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan.9 milyar.0 milyar. yang masing-masing direncanakan sebesar Rp 11.278. dan lain-lain pengeluaran yang seluruhnya direncanakan berjumlah sebesar Rp 1. diharapkan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam akan dapat lebih ditingkatkan. akan tetapi juga berusaha-untuk meningkatkan rasa keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan melalui bidang perpajakan. yakni dengan disahkannya beberapa undang-undang Departemen Keuangan RI 30 . subsidi pupuk.297.7 milyar dan Rp7.0 milyar dan Rp10. Dalam tahun 1985/1986. dana Ipeda. telah dilaksanakan ketika memasuki tahun awal Pelita IV. dan berbagai pembiayaan pembangunan lainnya seperti penyertaan modal Pemerintah. Tabungan Pemerintah tersebut bersama-sama dengan penerimaan pembangunan akan membentuk dana pembangunan yang direncanakan akan mencapai Rp10.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 keuangan negara untuk bidang-bidang yang mempunyai prioritas yang tinggi. pembangunan regional berupa proyek-proyek Inpres.647.062.3.. serta penerimaan pembangunan yang direncanakan sebesar Rp 4. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai berbagai jenis pengeluaran pembangunan sektoral yang dilaksanakan oleh Departemen/Lembaga Negara sebesar Rp3.0 milyar.046.5 milyar. Penerimaan dalam negeri Kebijaksanaan untuk menciptakan landasan yang kuat guna mempercepat proses pembangunan yang selama ini dijalankan. dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam.2 milyar. Di sisi penerimaan negara.399. serta bantuan pembangunan Timor Timur sebesar Rp 1.644. pada hakekatnya mempunyai arah dan tujuan untuk meningkatkan penerimaan dalam negeri terutama dari sumber-sumber di luar minyak bumi dan gas alam.643.159.1 milyar.518.647.masing-masing direncanakan sebesar Rp 12. Dalam pengeluaran pembangunan termasuk didalamnya pengeluaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek yang direncanakan 3ebesar Rp 4. dengan pembaharuan-pembaharuan di bidang perpajakan.23.

kini tengah dipersiapkan beberapa rancangan undang-undang. dan iuran pembangunan daerah. undangundang perpajakan yang baru lebih mencerminkan kesederhanaan serta lebih mendorong pemerataan dan memberikan kepostian hukum. Perkembangan penerimaan dalam negeri sejak 1969/1970 sampai dengan 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. memerlukan waktu umuk mencapai mekanisme yang diinginkan oleh undang-undang perpajakan yang baru. UndangUndang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan serta Undang-Undang temang Pajak penghasilan telah diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 1984.677. pajak kekayaan.6 Departemen Keuangan RI 31 . Sejak berlakunya undang-undang perpajakan yang baru. yang terdiri dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 11. terutama dalam tujuannya meningkatkan peranan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam sebagai sumber utama penerimaan negara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perpajakan baru sebagai penggami dari undang-undang perpajakan lama warisan kolonial yang dirasakan telah tidak sesuai lagi dengan alam dan gerak pembangunan sekarang ini. Di samping undang-undang perpajakan tersebut. berbagai perubahan dalam teknis pelaksanaan pemungutan pajak telah pula dilaksanakan. Akan tetapi usaha tersebut akan kurang bermanfaat tanpa keikutsertaan serta kesadaran . baik terhadap aparat perpajakan maupun para wajib pajak. Berlainan dengan undang-undang perpajakan yang lama yang mempunyai sistem. serta pendataan dan pemberian nomor pokok wajib pajak (NPWP) sesuai dengan perundangundangan yang baru. sedangkan Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah direncanakan akan berlaku pada tanggal 1 April 1985.518. prosedur dan penaripan yang rumit. penerimaan dalam negeri direncanakan mencapai Rp 18.2 milyar. telah pula dilaksanakan penataran untuk seluruh aparat perpajakan.. Namun Pemerintah menyadari sepenuhnya bahwa pembinaan yang dilakukan. Sejalan dengan itu. baik untuk meningkatkan pengetahuan teknis di lapangan. maupun umuk meningkatkan disiplin serta mental aparat perpajakan.9 milyar. guna lebih memantapkan peningkatan penerimaan di dalam negeri.159. Untuk itu penyuluhan-penyuluhan juga telah diberikan kepada wajib pajak guna meningkatkan kesadaran. Hal itu meliputi perubahanperubahan prosedur dan administrasi perpajakan.dari seluruh wajib pajak. pembaharuan bemuk-bentuk formulir. antara lain mengenai pabean.7 milyar dan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 7. serta pemahaman tentang arti pentingnya undang-undang perpajakan tersebut dalam era pembangun. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 1985/1986.

227.7 1970/1971 344.7 1) APBN 2) RAPBN 2.9 1985/19862) 18. melihat perkembangan harga dan permintaan minyak mentah di posaran dunia yang masih diliputi kelesuan akibat keadaan perekonomian negara-negara industri yang belum sepenuhnya bangkit dari kemelut resesi.7 PELITA III 1979/1980 6.716.2 1972/1973 590.1.40 629. penerimaan yang berasal dari sektor minyak bumi dan gas alam masih tetap merupakan sumber penerimaan yang penting dalam tahun 1985/1986.430.906.70 786 81.masa terakhir ini menghadapi permintaan yang meningkat dengan cukup berarti.8 1976/1977 2. Namun demikian.70 57 1980/1981 10.30 205.00 3.10 730.60 19.9 PELITA II 1974/1975 1.1 29.014. Pembatasan produksi yang disepakati bersama oleh negara-negara anggota OPEC baru-baru ini diharapkan akan membawa pengaruh yang positif terhadap perkembangan tingkat harga minyak mentah di posaran dunia. Penerimaan minyak bumi dan gas alam Dari keseluruhan penerirnaan negara yang bersurnber dari dalam negeri.696.40 1.50 15.7 1981/1982 12.4 1982/1983 12.2 PELITA IV 1984/19851) 16.90 2. 1969/1970 -1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Kenaikan Jumlah Persentase Tahun anggaran Jumlah PELITA I 1969/1970 243.677.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabe1 II.70 2.535.432.1.40 16.1 63.530.4 21. penerimaan dari sektor ini tidak dapat diharapkan akan mengalami lonjakan yang besar seperti yang terjadi dalam Pelita II dan permulaan Pelita III.6 100.60 1.418.9 41.2 27. Adapun penerimaan dari sektor gas alam (LNG) diperkirakan mengalami kenaikan.7 milyar.753.70 11. dalam masa.7 377.6 162.4 1971/1972 428 83.20 52.159. Apabila Departemen Keuangan RI 32 .6 38 1973/1974 967.7 1983/1984 14.212.985.00 664. Gas alam yang rnerupakan salah satu sumber energi alternatip bagi industri-industri besar sebagai pengganti minyak bumi. Dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 1985/1986 penerimaan rninyak bumi dan gas alarn direncanakan sebesar Rp 11.7 1.3. 6 PENERIMAAN DALAM NEGERI.90 488.80 2.149.241.7 1978/1979 4.528.266.4 24.2 1975/1976 2.7 20.6 1977/1978 3.

Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam Untuk membiayai pelaksanaan pembangunan yang sernakin meningkat dalam Pelita IV. .60 11.4 360 1.948.1 rnilyar atau 7.5 89.2 140.7 575 290.8 65.30 1.366.60 8.40 9.349.308.8 63.170.520. baik pajak langsung maupun tidak langsung.80 8.2.40 9.80 8.00 1.6 973.70 Penerimaan minyak lainnya 17.2 957.4 28.9 7. upaya peningkatan penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam.60 8.4 31 19.4 793.80 846.11.90 2.520. Menyadari hat tersebut.249.9 -1.159.10. Departemen Keuangan RI 33 .019. khususnya pada tahun kedua pelaksanaan Pelita IV ini.4 1.1 50.60 .259. dan penerirnaan gas alam sebesar Rp 1.627.019.8 99.20 Persentase Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) APBN 2) RAPBN Jumlah 33.70 2. Pemerintah tidak lagi sepenuhnya dapat bertumpu pada penerimaan yang berasal dari minyak bumi dan gas alam.635.9 344.4 30.7 . 1969/1970 -1985/1986 ( dalam milyar rupiah ) Pajak penghasilan minyak bumi dan gas alam 48.20 10.70 2.8 150.259.20 -457.6 -15.7 persen.+ 18.308.7 230.70 4.40 1.479.00 1.2 31.627.1 milyar.70 4.6 milyar.8 41.7.9 -5.619.950.3 16.70 2. Perkembangan penerimaan pajak penghasilan rninyak bumi dan gas alam sejak tahun 1969/1970 sampai dengan tahun 1985/1986 dapat dilihat dalam Tabel II.5 198.1 1.8 151.5 84.248.159. merupakan suatu langkah keharusan bagi berhasilnya pembangunan yang akan dilaksanakan untuk waktu-waktu mendatang.60 7.1.3 68.2 1.8 22.6 milyar.10 1.6 37.608.680.1 15.60 7. Penerimaan rninyak bumi dan gas alam tersebut terdiri dari penerimaan minyak bumi yang direncanakan sebesar Rp 9. 7 PENERIMAAN MINYAK BUMI DAN GAS ALAM.760.3. Tabel II.5 64.3 313.8 112.366.8 387.5 30.5 8.9 Kenaikan Jumlah 65.4 41. berarti terdapat peningkatan sebesar Rp793.5 382.366.170.948.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penerimaan minyak bumi dan gas alam tersebut dibandingkan dengan rencana dalam APBN tahun 1984/1985 yang berjumlah Rp 10.2 .

Di samping itu kepada wajib pajak yang mengajukan permintaan pengampunan pajak akan dibebaskan dari pengusutan fiskal. menciptakan suasana pola hidup sederhana. sejak 18 April 1984 diambil pula kebijaksanaan untuk memberi pengampunan pajak. melindungi barang-barang yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri. diberikan pengampunan pajak. dengan jalan menciptakan pangkal tolak yang bersih yang berlandaskan pada kejujutan dan keterbukaan dari masyarakat. Kebijaksanaan ini tiada lain dimaksudkan untuk menunjang dan melengkapi pelaksanaan sistem perpajakan yang baru. dengan nama dan dalam bentuk apapun baik yang telah maupun yang belum terdaftar sebagai wajib pajak. Pengampunan pajak ini diberikan kepada wajib pajak perorangan atau badan. Sementara itu terhadap pajak pendapatan buruh yang terhutang dalam tahun pajak 1983 dan sebelumnya. pajak atas bunga. dikenakan tebusan dengan tarip 1 persen dan 10 persen dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung jumlah pajak yang dimintakan pengampunan. dan royalty (PBOR) yang terhutang atas bunga. Terhadap pajak-pajak yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut yang dimintakan pengampunan pajak. meningkatkan diversifikasi ekspor. Untuk memberi peluang agar wajib pajak memperoleh informasi lebih jelas dan mempunyai waktu cukup untuk mengisi laporan kekayaannya. dan laporan tentang kekayaannya tidak akan dijadikan dasar penyidikan dan penuntutan pidana dalam bentuk apapun.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai tindak lanjut ditetapkannya beberapa undang-undang perpajakan baru. Selanjutnya untuk lebih mendorong tumbuhnya industri dalam negeri. dan royalty yang dibayarkan atau disediakan untuk dibayarkan sampai dengan 31 Oesember 1983. melindungi golongan ekonomi lemah. serta untuk lebih meningkatkan dampak positif di bidang ekonomi dari sistem perpajakan nasional. sehingga dapat lebih menjamin pemerataan pendapatan. Untuk itu atas pendapatan yang diperoleh dalam tahun 1983 dan sebelumnya dan kekayaan yang dimiliki pada 1 Januari 1984 dan sebelumnya. Upaya yang dilakukan Pemerintah di bidang penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam tersebut di samping diarahkan bagi peningkatan pendapatan negara juga diusahakan agar lebih dapat menciptakan iklim dan gairah usaha dalam negeri. yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. juga diberikan pengampunan pajak. maka batas waktu pengampunan pajak diperpanjang dari akhir Desember 1984 menjadi 30 Juni 1985. maka Departemen Keuangan RI 34 . serta terhadap MPO wapu yang terhutang dalam tahun 1983 dan sebelumnya. Pengampunan ini juga diberikan terhadap pajak perseroan atas laba yang diperoleh dalam tahun 1983 dan sebelumnya. dividen. serta terhadap pajak penjualan yang terhutang dalam tahun 1983 dan sebelumnya. melancarkan perdagangan dalam dan luar negeri. dividen.

Perkembangan penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam sejak tahun 1969/1970 sampai tahun 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. cukai sebesar Rp 963. penerimaan cukai.4 milyar. penerimaan Ipeda. Penyusutan yang lebih tinggi tersebut diberikan antara lain kepada mesin-mesin pertanian. mesin-mesin tekstil dan lainnya.276.7 milyar. atas dasar undang-undang perpajakan yang bam beserta kelengkapannya.735.518. Departemen Keuangan RI 35 . penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas :rlam senantiasa menunjukkan adanya peningkatan sejalan dengansemakin baiknya pengelolaan keuangan negara. penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam terbagi atas penerimaan pajak penghasilan. bea masuk sebesar Rp 717.4 milyar. Apabila dalam tahun 1969/1970. dan penerimaan bukan pajak.9 milyar: maka dalam tahun terakhir Pelita III.0 milyar.3 milyar. pajak lainnya sebesar Rp 96.3 milyar dan pajak penghasilan badan sebesar Rp 2. penerimaan pajak ekspor. maka penerimaan negara di luar minyak bumi dan gas alam untuk tahun 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 7. yaitu tahun 1984/ 1985. Mengingat perkembangan perekonomian.5 milyar.074. yaitu tahun pertama Pelita I.2 milyar.4 milyar atau 30. besarnya penerimaan ini baru mencapai Rp 177.8. serta dengan memperhitungkan pengelolaan sistem perpajakan yang semakin baik. penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp 1. Ipeda sebesar Rp 167.1 milyar.9 milyar. Tarip penyusutan yang dipercepat tersebut diharapkan akan merangsang tumbuhnya investasi baru yang selanjutnya akan memperkokoh kemandirian perekonomian nasional. mesin-mesin yang mengolah produk asal binatang atau nabati. yakni pajak penghasilan perseorangan sebesar Rp797. dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 731. serta semakin meningkatnya partisiposi masyarakat di dalam pembangunan. jumlah tersebut telah meningkat menjadi Rp 4. penerimaan pajak lainnya. penerimaan bea masuk.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sejak 9 Agustus 1984 telah ditetapkan tarip penyusutan baru yang lebih tinggi. Di dalam perkembangannya.4 milyar. penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah.912. Penerimaan ini terdiri dari penerimaan pajak penghasilan sebesar Rp 3. Apabila dibandingkan dengan penerimaan tahun sebelumnya. atau suatu kenaikan lebih dari 27 kali.666.0 persen. yaitu tahun 1983/1984. pajak ekspor sebesar Rp 101. penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah sebesar Rp 1.7 milyar. Di dalam RAPBN tahun 1985/1986.

prinsip kepostian dan prinsip pemerataan. Undang-Undang PBDR 1970 dan Un dang-Un dang No.247. Undang-Undang Pajak Perseroan 1925.586.7 30 Berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan sejak 1 Januari 1984 yang menggantikan Undang-Undang Pajak Pendapatan 1944.2 t377.437.1 664.6 17.4 276.8 27.40 37. undang-undang ini juga dimaksudkan untuk menciptakan suasana kehidupan dan berusaha yang lebih adil dan merata dalam kepostian hukum yang berlaku.6 36 24.782. yang berarti di samping ditujukan bagi penambahan pengumpulan dana sebesarbesarnya.5 993. diwajibkan kepada pegawai negeri untuk mengisi Departemen Keuangan RI 36 .1 585.90 4.5 41.912.20 Kenaikan Jumlah Persentase 67.9 17.40 3.8 225. yang hanya terdiri atas tiga tingkat dan tarip rata-rata yang lebih rendah dari tarip rata-rata dalam undang-undang perpajakan sebelumnya.8 770.9 23.8 Tahun 1967 tentang MPO/MPS.40 2. Kesederhanaan daripada tarip pajak.584.5 15.4 287.270.4 24.207. Dengan undang-undang pajak penghasilan ini diharapkan akan lebih diwujudkan prinsip kesederhanaan.518.9 72.1 25.5 796. terutama dengan dimasukkannya semua jenis pendapatan ke dalam dasar pengenaan pajak.20 3. Di samping itu lebih luasnya dasar pengenaan pajak. Hal ini pada gilirannya akan meningkatkan penerimaan pajak sehingga memperkokoh kemandirian dalam penyediaan sumber dana yang dibutuhkan oleh pembangunan.50 5.5 31.3 1.70 1.3 360.6 11.7 479.8 316 370. 8 PENERIMAAN DI LUAR MINYAK BUMI DAN GAS ALAM 1969/1970 1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) APBN 2) RAPBN Jumlah 177. diharapkan akan lebih merangsang para wajib pajak untuk memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak.3 62.70 1.9 1.4 211 197.80 7.80 4.6 870.4 663.8 18.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel II. diharapkan akan menciptakan iklim dan gairah usaha yang lebih baik yang akan mendorang kegiatan Junia usaha dan perekonomian nasional umumnya.957.735.9 245.8 24.

upah. Upaya peningkatan penerimaan pajak penghasilan badan diusahakan melalui kebijaksanaan tarip yang lebih sesuai dengan perkembangan dunia usaha. yang berarti terdapat peningkatan sebesar Rp 219. serta semakin efektifnya pemotongan oleh bendaharawan Pemerintah atas pembayaran gaji. diharapkan pula dapat lebih mendorong gairah usaha yang pada gilirannya akan memperluas tersedianya barang-barang produksi dalam negeri. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 diharapkan bisa mencapai Rp 797. Tarip pajak tersebut adalah sebesar 15 persen. sehingga untuk masa mendatang akan meningkatkan efektifitas pemungutan pajak. Adanya perluasan perusahaan dan munculnya penanaman modal baru. sebagai hasil nyata dari kebijaksanaan penyesuaian tarip penyusmall baru yang lebih menguntungkan para pengusaha. Penerimaan pajak penghasilan perseorangan dalam RAPBN tahun 1985/1986 direncanakan meningkat dari tahun sebelumnya. Menyadari pentingnya perluasan Departemen Keuangan RI 37 . honorarium.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 surat pemberitahuan (SPT) pajak penghasilan.3 milyar. 25 persen dan 35 persen. dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan dan jabatan yang dibebankan kepada keuangan negara. Keputusan PresideD Domer 26 tahun 1984 tentang Pengampunan Pajak diharapkan akan mempercepat proses terciptanya sikap jujur dan terbuka para pemberi kerja untuk melakukan pemotongan dan penyetoran pajaknya. Di samping itu lebih tingginya batas pendapatan tidak kena pajak (PTKP) dari batas pendapatan bebas pajak (BPBP) yang dulu terdapat dalam sistem perpajakan yang lama. meningkatnya dasar pemungutan pajak dari karyawan asing. Kalau dalam APBN 1984/1985 penerimaan pajak penghasilan perseorangan aclalah sebesar Rp 577. dan lebih dari Rp 50 juta.0 persen. Peningkatan tersebut berlangsung sejalan dengan meningkatnya penghasilan para pegawai negeri dan karyawan swasta. diharapkan dapat lebih melindungi golongan ekonomi lemah dan masyarakat yang berpendapatan rendah . di samping ditekankan pula untuk memperluas dasar pengenaan pajaknya. antara Rp 10 juta sampai Rp 50 juta. Di samping hat ini akan menambah kapositas efektif pemungutan pajaknya. masing-masing untuk penghasilan kena pajak sampai dengan Rp 10 juta. tunjangan tetap. diharapkan akan semakin memperluas potensi penerimaan pajak ini.6 milyar. agar perkembangan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai selama ini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebagai perwujudan dari pemerataan pendapatan dan beban pembangunan.7 milyar atau 38. walaupun tarip pajak lebih rendah serta lebih sederhana. unsur progresivitas tidaklah diabaikan akan tetapi sekaligus dilaksanakan untuk pengumpulan dana bagi pembangunan. diharapkan akan membawa pengaruh positif terhadap perluasan dan peningkatan kesempatan kerja baru. serta dihapuskannya segala bentuk fasilitas dan pembebasan pajak.

Peningkatan kegiatan ekonomi nasional khususnya pengembangan dunia usaha senantiasa mendapat perhatian Pemerintah.276.5 persen. Dalam undangundang tersebut hanya terdapat dua tarip yaitu 0 persen dan 10 persen. Sehubungan dengan semakin pentingnya mobilisasi sumber dana dari dalam negeri. dan lebih tegas menjamin kepostian hukum.5 milyar. Sejalan dengan kebijaksanaan tersebut. Di dalam perkembangannya.7 milyar. Pemerintah berupaya dengan sungguhsungguh melaksanakan pengawasan terhadap perusahaan negara. untuk selanjutnya diharapkan akan meningkatkan penerimaan pajak serta ketertiban pembayaran pajaknya. Upaya Pemerintah menciptakan peraturan perundangundangan yang lebih luas dimensi cakupannya.2 milyar atau 21. Dari padanya diharapkan berlanjut akan meningkatnya kegiatan dunia usaha. serta kesadaran melaksanakan kewajiban di bidang perpajakan. Pengawasan ini dilakukan untuk lebih meningkatkan produktivitas dan efisiensinya sehingga akan meningkatkan penghasilan perusahaan negara tersebut. serta tarip pajak penjualan khusus atas barang mewah dapat diubah menjadi setinggi-tingginya 35 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dasar pengenaan pajak tersebut bagi peningkatan penerimaan pajak penghasilan.873. dari setinggitingginya 15 persen. sedangkan bagi barang mewah dikenakan tambahan pajak sebesar 10 persen dan 20 persen. Pemerintah melalui kebijaksanaan di bidang perpajakan telah memberikan kesempatan kepada para penanam modal untuk menggunakan fasilitas pengampunan pajak. Kebijaksanaan ini diharapkan akan lebih meringankan beban pajak penghasilan yang harus dibayar oleh pengusaha. penerimaan pajak penghasilan badan ini terus mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. maka berarti meningkat sebesar Rp 403. Dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan pajak penghasilan badan direncanakan sebesar Rp2. Namun untuk menunjang perkembangan perpajakan dalam memenuhi kebutuhan dana yang diperlukan pembangunan serta untuk membantu menciptakan suasana pola hidup sederhana. telah dilakukan penyesuaian atas tarip penyusutan yang ditetapkan lebih tinggi sehingga penyusutan dapat lebih dipercepat. maka penanam modal tersebut akan dibebaskan dari kemungkinan pengusutan perpajakannya. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 1. yang selanjutnya akan mendorong investasi baru dan pada gilirannya akan meningkatkan jumlah dan potensi wajib pajak. Dalam rangka lebih mendorong upaya peningkatan Departemen Keuangan RI 38 . tarip pajak pertambahan nilai terse but dapat diubah menjadi serendah-rendahnya 5 persen. yang mendorong lahirnya Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah dalam rangka menunjang perkembangan dunia usaha. Di samping itu apabila penanam modal lebih dulu menyimpan dananya melalui deposito berjangka sekurangkurangnya selama tiga bulan. lebih sederhana.

diharapkan akan semakin mendorong ekspor. Berdasarkan pertimbangan bahwa pelaksanaan Undang-Undang Pajak Pertambahan Departemen Keuangan RI 39 . maka dalam sistem baru ini diatur dengan je1as ketentuan mengenai pembayaran kembali daripada ke1ebihan dalam pembayaran pajak. khususnya komoditi non migas baik dalam hal kualitas. Untuk lebih mendorong kepatuhan membayar pajak dengan jalan memberikan rasa aman bagi para wajib pajak. Kesederhanaan dalam tarip pajak pertambahan nilai akan lebih dapat dirasakan bila dibandingkan dengan sistem yang lama dengan tarip yang bervariasi antara delapan jenis tarip. Hal ini disebabkan karena adanya batasan yang jelas mengenai jenis perusahaan yang dapat digolongkan sebagai perusahaan kecil. dalam undang-undang yang baru ini tarip pajak penjualan atas barang-barang ekspor adalah 0 persen. sistem baru ini mengintegrasikan bea masuk yang dikenakan atas barang-barang impor dengan pajak pertambahan nilai yang dikenakan atas barang-barang perdagangan dalam negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ekspor. Sedangkan bagi pajak pertambahan nilai yang dikenakan atas bahan baku yang digunakan untuk memproduksi barang-barang ekspor secara periodik dapat dimintakan pengembaliannya. Sedangkan sebagai upaya untuk menghilangkan pengarub pajak berganda yang terdapat Facia sistem yang lama. terutama komoditi non migas. Tarip yang lebih sederhana yang diterapkan dalam sistem baru ini akan sangat membantu pe1aksanaannya karena akan mudah dipahami baik oleh pemungut maupun pembayar pajaknya. terutama mereka yang merasa telah membayar pajak lebih daripada yang seharusnya. yang semata-mata untuk menghindari pajak dengan mengorbankan efisiensi. Dalam pada itu mulai tahun anggaran 1985/1986 di dalam penerimaan pajak pertambahan nilai termasilk didalamnya pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri. serta untuk lebih menunjang upaya diversifikasi ekspor. terutama kebijaksanaan pajak pertambahan nilai sebesar 0 persen atas barang-barang ekspor. bahwa beban pajak yang telah ada Facia bahan baku yang dipakai perusahaan dapat diperhitungkan/dikurangkan dari pajak pertambahan nilai yang terhutang alas hasil produksi perusahaan itu. Dalam hubungannya dengan perdagangan luar negeri. Sistem kredit ini menetapkan. Kebijaksanaan ini bersama-sama dengan kebijaksanaan lamnya. Di samping itu dapat dihilangkan pula kemungkinan adanya usaha-usaha untuk me1akukan integrasi vertikal antara dua perusahaan alan lebih. Di samping itu sistem baru ini juga menciptakan ik!im usaha yang lebih menarik bagi golongan ekonomi lemah. sehingga akan menciptakan kepostian bagi upaya penyeragaman beban pajaknya. volume maupun pengembangan diversifikasinya. dalam Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai tahun 1984 ditentukan adanya sistem kredit. Jumlah tarip tersebut diperbanyak lagi dengan diberikannya berbagai pembebasan sebagian atas produk-produk tertentu.

Untuk itu. di dalam memberikan perlindungan bagi industri di dalam negeri. tangguh dan memiliki daya saing yang kuat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nilai tahun 1984 yang ditunda sampai selambat-lambatnya 1 Januari 1986 dapat dilaksanakan pada awal tahun anggaran 1985/1986. baik impor maupun ekspor. dilanjutkan dan ditingkatkan usaha-usaha yang diarahkan bagi penciptaan iklim dan gairah usaha yang mendorong terlaksananya pembangunan industri dalam negeri yang efisien.4 milyar. Berkenaan dengan program wajib belajar. kepada sektor industri tersebut diberikan perlindungan dengan tarip I CKO yang lebih rendah dari tarip produk yang sama yang diimpor dalam keadaan built up/non-KO. menggunakan sumber daya dalam negeri. pengamanan penerimaan negara.666. terutama industri yang menghasilkan nilai tambah yang tinggi. maka kepada industri tersebut diberikan beberapa keringanan pembebanan taripnya. Diharapkan kedua kebijaksanaan tersebut dapat saling mengisi dan melengkapi secara harmonis. Sesuai dengan kebijaksanaan yang digariskan dalam Repelita IV. telah diberikan beberapa bentuk keringanan bea masuk atas kertas tulis dan kertas cetak serta beberapa buku ilmu pengetahuan tertentu. dan upaya pengutamaan penggunaan barang-barang hasil produksi dalam negeri. Sehubungan dengan hal rersebut. serta menunjang peiaksanaan kebijaksanaan perdagangan luar negeri. impor terhadap produk-produk sejenis dikenakan tarip yang lebih tinggi. dalam rangka penyempumaa dan penertiban sistem administrasi pabean telah dilaksanakan persiapan- Departemen Keuangan RI 40 . usaha penanggulangan penyelundupan terus ditingkatkan dengan meningkatkan ketrampilan aparat pabean serta memperlancar arus dokumen. . Untuk itu dalam mendorong pertumbuhan industri : perakitan di tanah air.serta mampu menyediakan barangbarang yang diminta konsumen baik di dalam maupun di luar negeri dengan harga yang memadai. Selanjutnya untuk menunjang kebijaksanaan Pemerintah di bidang pentaripan. kebijaksanaan tarip bea masuk selalu diusahakan agar mampu memberikan perhitungan yang wajar bagi industri dalam negeri. menyerap tenaga kerja yang banyak. Sedangkan untuk memberikan perlindungan bagi semakin tumbuhnya industri pengolahan di dalam negeri. Dalam rangka memberikan perlindungan dan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri. telah pula ditetapkan kebijaksanaan yang memberikan keringanan pembebanan impor atas pemasukkan bahan baku/bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi. Di bidang penerimaan bea masuk. maka penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah dalam RAPBN tahun 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 1. kebijaksanaan tarip senantiasa diusahakan agar dapat berjalan seirama dengan kebijaksanaan pengaturan tata niaga. tanpa melupakan kepentingan konsumen. Sebagai upaya menunjang pengembangan industri di dalam negeri.

Sehubungan dengan itu. Terhadap impor hasil tembakau dipungut cukai sepenuhnya.1 milyar. di samping diarahkan kepada fungsinya sebagai penghimpun dana. guna mempertahankan harga yang lebih sesuai dengan daya beli masyarakat dan menjamin kelayakan tingkat pendapatan petani tebu. Di dalam perkembangannya. sejak 1 Mei 1984 diadakan penyesuaian harga dasar Departemen Keuangan RI 41 . maka pada 1 April 1984 telah ditetapkan pembebasan sebagian tarip cukai terhadap hasil tembakau buatan dalam negeri.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 persiapan kearah penerapan sistem komputer di bidang operasional pabean dari pengumpulan data. Kebijaksanaan. Apabila dibandingkan dengan rencana penerimaan bea masuk dalam APBN 1984/ 1985.5 persen dari harga pita cukai. maka terlihat peningkatan sebesar Rp 35. serta 40 persen untuk jenis cerutu. dan banyak menyerap tenaga kerja. Dalam rangka lebih mendorong perkembangan industri rokok dan hasil tembakau dalam negeri terutama bagi produsen yang tergolong pengusaha lemah. Sebagaimana halnya dengan cukai tembakau. cukai bir. penyesuaian harga pita dengan harga jualnya. dengan ketentuan bahwa perusahaan yang produksinya lebih dari 4 milyar batang setahun dikenakan tarip 25 persen diri harga pita cukai. Di samping itu untuk memberikan kesempatan bagi berkembangnya produksi tembakau di dalam negeri. 50 persen untuk sigaret kretek bukan buatan mesin. Sedangkan bagi jenis produksi sigaret buatan mesin. maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan bea masuk direncanakan sebesar Rp 717. serta intensifikasi dan verifikasi pemungutannya. yaitu 70 persen dari pita cukainya untuk sigaret buatan mesin dan tembakau iris. Penerimaan cukai ini terdiri dari cukai tembakau. Berdasarkan langkah-Iangkah yang telah dilaksanakan di bidang bea masuk. Fasilitas tersebut diberikan kepada perusahaan sigaret kretek tangan (SKT). yang produksinya antara 750 juta batang sampai 4 milyar batang setahun dikenakan ta. cukai yang se1ama ini dijalankan . dan cukai alkohol sulingan.7 milyar. sejak 1 April 1984 tidak lagi diberikan pembebasan sebagian cukai terhadap impor hasil tembakau. juga dimaksudkan guna mencapai sasaran-sasaran tertentu lainnya. cukai gula. peningkatan daya beli masyarakat konsumen.rip 22. kebijaksanaan di bidang cukai lainnya juga disempurnakan sesuai dengan perkembangan ekonomi. yang produksinya antara 100 juta sampai 750 juta batang setahun dikenakan tarip 20 persen dari pita cukai. penerimaan cukai dipengaruhi antara lain oleh perkembangan pertumbuhan produksi. dan bagi perusahaan yang produksinya 100 juta batang atau kurang setahun dikenakan tarip 15 persen dari pita cukainya. baik sigaret putih mesin (SPM) maupun sigaret kretek mesin (SKM) dikenakan tarip tunggal yang besarnya 40 persen dari harga pita cukainya.

8 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pemungutan cukai gula. yaitu untuk jenis SHS I. produksi bir diperkirakan tidak akan mengalami kenaikan yang berarti.per kuintal. sejak Mei 1980 telah diadakan pembatasan ekspor terhadap kayu gelondongan. Berdasarkan pertimbangan atas langkah-langkah yang sedang.(TRB) maupun tebu rakyat intensifikasi (TRI). Demikian juga terhadap alkohol sulingan. masing-masing sebesar Rp40. Dalam RAPBN 1985/1986 penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan tersebut direncanakan akan mencapai sebesar Rp 101. Berdasarkan berbagai langkah kebijaksanaan yang dilaksanakan Pemerintah di bidang ekspor. diperkirakan produksinya akan sedikit mengalami penurunan. melainkan diakibatkan pula oleh adanya penurunan dan pembebasan pajak ekspor. Untuk itu. Segi lain dari kebijaksanaan tersebut adalah. Di samping itu telah pula diadakan penertiban penanaman tebu. Rp 39. prospek produksi. kebijaksanaan di bidang pajak ekspor dalam tahun anggaran 1985/1986 akan tetap diarahkan agar selalu menunjang berbagai usaha dan kebijaksanaan Pemerintah dalam rangka meningkatkan daya saing komoditi ekspor Indonesia di posaran intemasional.850. Penurunan tersebut bukan saja disebabkan karena menurunnya nilai maupun volume ekspor beberapa komoditi tertentu. Departemen Keuangan RI 42 . maka dalam RAPBN tahun 1985/1986 penerimaan cukai direncanakan sebesar Rp 963.7 milyar.3 milyar.per kuintal. dan HS I.700.. dan penyesuaian tarip cukai terutama untuk tembakau dan gula. yang pada pokoknya mengarah pada upaya penciptaan iklim yang lebih mendorong gairah usaha untuk rnempertahankan dan mendorong nilai maupun volume ekspor. serta untuk menjaga kelestarian lingkungan alam. maka dalam RAPBN 1985/1986 penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan diperkirakan akan mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan yang tertera dalam APBN 1984/1985. baik tebu rakyat bebas. Di samping itu sebagai upaya penyediaan bahan bagi industri pengolahan kayu dalam negeri. dan akan dilaksanakan terutama dengan semakin efektifnya pemungutan cukai.. bahwa barangbarang yang dianggap penting bagi konsumsi dalam negeri. berarti meningkat dengan Rp 235. SHS II. seperti minyak kelapa sawit dan hasil-hasilnya.per kuintal. sejak Januari 1984 telah diadakan pengenaan kembali tarip pajak ekspor tambahannya. Sehubungan dengan perlunya pengawasan terhadap minuman keras. Apabila rencana penerimaan cukai tersebut dibandingkan dengan yang direncanakan dalam tahun anggaran sebelumnya.000. Adapun penerimaan pajak ekspor dan pajak ekspor tambahan. serta pajak ekspor tambahan terhadap berbagai barang-barang ekspor dalam rangka mendorong ekspor yang selama ini terus diusahakan peningkatannya. dan Rp 39. akhir-akhir ini mengalami sedikit penurunan di dalam realisasinya. serta beberapa jenis kayu gergajian mewah..

Untuk mendorong perkembangan yang lebih realistis seirama dengan keadaan perekonomian nasional. dan gerak pembangunan ekonomi daerah yang lebih merata me1alui upaya peningkatan penerimaannya. Dalam RAPBN 1985/1986. Batas kekayaan yang tidak terkena pajak mulai 1 Januari 1985 dinaikkan dari Rp 14 juta menjadi Rp 80 juta. penetapan dan penagihannya. Kebijaksanaan tersebut di samping ditujukan untuk menghimpun dana pembangunan yang bersumber dari dalam negeri. Hal ini menunjukkan semakin membaiknya kesadaran masyarakat dalam rangka memenuhi kewajiban pajaknya. sedangkan sebelumnya kuitansi yang bernilai di atas Rp 5.. di samping secara terus menerus diadakan pembinaan terhadap administrasi pendataannya. Kuitansi yang memuat angka penjualan di atas Rp 50. Penerimaan negara yang berasal dari penerimaan pajak lainnya. dan surat-surat berharga lainnya tarip meterainya juga diadakan penyesuaian dari Rp 25..000.-. Dalam rangka meningkatkan potensi penerimaan Ipeda. penerimaan Ipeda direncanakan sebesar Rp 167. serta penyuluhan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadarannya dalam membayar Ipeda. sedang taripnya diturunkan dari 1 persen menjadi 0. yaitu pajak kekayaan. dewasa ini sedang dibahas Rancangan Undang-Undang Pajak Kekayaan dan Ipeda. Dengan kebijaksanaan tersebut diharapkan kesadaran para wajib pajak untuk memenuhi kewajiban pajaknya akan meningkat. terutama terhadap kekayaan yang dimilikinya. antara lain atas kuitansi atau tanda penerimaan uang. penerimaan di bidang ini untuk masa-masa mendatang diharapkan akan mengalami Departemen Keuangan RI 43 . serta transaksi perekonomian yang lebih bertanggung jawab.4 milyar yang berarti meningkat sebesar Rp 16.000.. yang saat ini adalah Rp 10. menunjukkan perkembangan yang memadai.menjadi Rp 500. Sedangkan untuk promes.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Kebijaksanaan di bidang Ipeda pada dasamya tetap diarahkan bagi terciptanya sasaran pertumbuhan. Sehubungan dengan semakin banyaknya kegiatan le1ang. aksep.baru dikenakan bea meterai. Untuk itu mulai 1 Maret 1985 terhadap tarip bea meterai juga diadakan beberapa penyesuaian. akan dinaikkan menjadi Rp 100.sudah dikenakan bea meterai. Tarip bea meterai yang berlaku sekarang dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan.-. serta untuk mempercepat proses pemerataan pendapatan guna lebih memantapkan stabilitas perekonomian nasional. dan semakin meningkatnya mutu para juru lelang. terus dibina kerjasama yang lebih baik dengan Pemerintah Daerah. bea meterai dan bea lelang. Kebijaksanaan Pemerintah di bidang penerimaan pajak lainnya untuk tahun 1985/ 1986 masih merupakan kelanjutan dan peningkatan dari kebijaksanaan yang sudah diambil pada masa sebelumnya.8 milyar dari yang direncanakan dalam APBN 1984/1985.-.5 persen. dan polis asuransi jiwa. juga diarahkan untuk menciptakan iklim dunia usaha yang lebih sehat. konosemen-konosemen.

berarti meningkat sebesar Rp 21. Apabila penerimaan tersebut dibandingkan dengan APBN 1984/1985 berarti terdapat peningkatan sebesar Rp 116.0 persen. dalam RAPBN 1985/1986 besarnya penerimaan pajak lainnya direncanakan sebesar Rp 96. Dalam penerimaan bukan pajak tersebut termasuk pula penerimaan dari bagian Pemerintah atas laba perusahaan negara/bank negara serta iuran hasil hutan dan royaltynya. dalam perkembangannya te1ah mengalami peningkatan. digunakan sebagai pe1engkap. Apabila penerimaan tersebut dibandingkan dengan rencana penerimaan tahun 1984/1985 yaitu sebesar Rp 75. senantiasa harus terus diupayakan terutama dengan menggalinya dari sumber-sumber dana dalam negeri. seperti penerimaan pendidikan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan. penerimaan kejaksaan dan pengadilan serta penerimaan lainnya.9 milyar. di satu sisi meningkatkan kesejahteraan rakyat. baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Oleh sebab itu. Sedangkan dana bantuan yang berasal dari luar negeri yang diterima sebagai penerimaan pembangunan. pembangunan yang dilaksanakan adalah pembangunan yang dilandasi oleh kemampuan bangsa Indonesia sendiri yang bertumpu kepada kepercayaan diri. baik yang berasal dari tabungan Pemerintah maupun dari tabungan masyarakat.0 milyar atau 27.9 persen. menuju perekomomian nasional yang mandiri. Semakin meningkatnya kegiatan pembangunan. dinamis. Penerimaan bukan pajak oleh Pemerintah senantiasa diusahakan pula peningkatan sumbangannya bagi penerimaan negara.9 milyar atau 19. baik jenis maupun kualitasnya dalam dimensi yang semakin me1uas. dan stabil. Untuk itu langkah-Iangkah kebijaksanaan yang sudah dirintis sejak awal Pelita I akan terus dikembangkan. Berdasarkan langkah-Iangkah yang sedang dan akan dilaksanakan Pemerintah. sesuai dengan yang diamanatkan dalam GBHN. Penerimaan bukan pajak yang terdiri dari penerimaan berbagai departemen/lembaga non departemen.3.4 milyar. 2.dana yang bersumber dari bantuan luar negeri barus senantiasa diarahkan bagi Departemen Keuangan RI 44 . terutama dengan kebijaksanaan pengampunan pajak serta dengan semakin membaiknya perekonomian di tanah air.4 milyar. tetapi di sisi lain menambah tanggung jawab Pemerintah dalam menyediakan dana bagi pembangunan yang terus berkembang. Penerimaan pembangunan Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan bangsa Indonesia sejak Pelita I hingga sekarang te1ah memberikan hasil nyata berupa semakin meningkatnya taraf hidup dan kesejahteraan se1uruh rakyat. penerimaan jasa.2. Usaha pengerahan dana pembiayaan pembangunan. Dengan demikian untuk masa-masa selanjutnya. Dalam RAPBN 1985/ 1986 penerimaan bukan pajak direncanakan sebesar Rp 731.

yaitu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju terciptanya keadilan sosial bagi se1uruh rakyat.6 292.5 45 62.6 -42.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/1986 2) 1) A P B N 2) RAP B N Bantuan program 65.00 4.5 95.9 milyar.90 1. tidak bisa dipisahkan dari sasaran kebijaksanaan anggaran secara kese1uruhan yang mencakup ketiga unsur Trilogi Pembangunan.1 45.940.40 4.7 215.4 773. penerimaan pembangunan direncanakan sebesar Rp 4.882.6 -1 2.368.2 64. Penge1uaran rutin yang me1iputi be1anja pegawai. Departemen Keuangan RI 45 .8 36. tetapi harus pula disertai tindakan penghematan.70 1.1 195.035.6 783.3.50 4.2 milyar.1 20.1 15.297.50 4.20 Jumlah 91 120.429.8 773.3 46.9 Bantuan proyek 25.30 1.3 114.3 33.368.3 1.90 3.1 milyar.8 64. Perkembangan penerimaan pembangunan se1ama tahun 1969/1970 hingga tahun 1985/1986 dapat dilihat dalam Tabel II.9 232 491.5 16.371.297.9 33.663.411.9 59.10 1.4 135.3 41.381.1 13. Dalam RAPBN tahun 1985/1986.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembiayaan kegiatan-kegiatan pembangunan yang bersifat produktif dan berprioritas tinggi.5 29.4 262.4 1.9 90.3 12. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.6 987. Tabe1 II.1 259. serta penge1uaran rutin lainnya. 1969/1970 .5 157.4 -1. pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.9 32.7 78.1 14.2 35.2 14.40 528. yang terdiri dari bantuan program sebesar Rp 70.1 22.5 100.924.6 737.50 1.6 112.8 48. pembayaran bunga dan cicilan hutang.709.1 345.00 3.3.9 39. dan bantuan proyek sebesar Rp 4. subsidi daerah otonom.1 28.80 1. Pengeluaran rutin Sasaran kebijaksanaan penge1uaran rutin.4 15.4 13.9. 9 BANTUAN LUAR NEGERI.9 471.493. serta pengarahan penge1uaran rutin untuk mencapai sasaran-sasaran yang te1ah ditentukan..5 70.2 10. be1anja barang.8 203.942.316.4 8.2 13.1 Kenaikan Jumlah Persentase 29.8 111.867.2 -10.5 89. dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan memperlancar proses pemerataan pembangunan dan hasilnya.2 231 1.00 1. Peningkatan tabungan Pemerintah tidak mungkin dapat terlaksana hanya dengan peningkatan penerimaan negara saja.

8 316.4 89.90 2.8 23.6 99.2 302.00 6.5 111.4 45.3 1.90 3.30 2.2 240.9 31. serta perluasan kesempatan kerja seperti yang telah dijalankan dalam tahun-tahun sebelumnya. 11 BELANJA PEGAWAI. yang merupakan tahun kedua pelaksanaan Repelita IV.00 3.60 6.177.016. 1969/1970 .749. serta meningkatkan kemampuan yang lebih besar bagi mereka untuk berperanserta dalam proses pembangunan.7 12.5 45. pengeluaran rutin direncanakan sebesar Rp 10.7 25.9 193.757.90 1.5 56.800.419.1 593.30 2. Demikian pula penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri makin digalakkan.80 10.1 415.3 3.1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Uang Lain-lain Belanja makan bel.3 50.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/1985 1) 1985/19862) 1) Angka APBN 2) Angka RAPBN Jumlah 216. d.5 254.148.40 1.743.9 346.8 12.4 9.4 163.318.50 4.7 milyar. l.10 12.10 Tab e I II.9 116. beras pensiun 28.20 1.7 29.2 1.4 70.8 36.1 milyar.8 10.3 20.743.7 131.4 43. Usaha-usaha tersebut diwujudkan antara lain dengan diberlakukannya Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 yang merupakan penyempurnaan lebih lanjut daripada Keputusan Presiden Nomor 14A Tahun 1980 dan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan APBN.60 1.6 47.7 60.977.411.9 420.3 14.6 87.8 14.1 22.307.60 1.9 31.5 31.8 672. 1969/1970 .1 14.3 286. dan ditingkatkan untuk lebih mendorong peningkatan produksi dalam negeri.023.8 2.9 252 253.8 1.2 24.1 34 43.9 261.6 16.9 301.1 Jumlah 103. di samping usaha-usaha untuk mengurangi secara bertahap pemberian subsidi dalam berbagai bentuknya.n Tunjangan Gaji dan peg.9 636.8 20.2 20.5 33.689.5 31.70 4. Rangkaian kebijaksanaan yang telah dijalankan Pemerintah di bidang pengeluaran rutin tersebut frat kaitannya dengan usaha-usaha peningkatan Departemen Keuangan RI 46 .8 24.3 0.660.60 18.332.8 33.6 59.7 482.6 313.9 126. yaitu dalam rangka membantu dan membimbing pertumbuhan.10 2.5 62.6 4.8 milyar.3 1.996.90 2.7 400 424.50 1.061.053.3 20.101.6 99.5 297.3 31.5 17.6 7.1 4.30 Dalam tahun anggaran 1985/1986.1>29.1 23.6 893.297.117.3 289.1 594.399. raJa akhir tahun Pelita II meningkat menjadi Rp 2.2 5.30 8.738.00 Kenaikan Jumlah Persentase 71. Perkembangan pengeluaran rutin tersebut dapat diikuti pada Tabel II. sasaran utama kebijaksanaan pengeluaran rutin adalah peningkatan dana tabungan Pemerintah.90 1.5 milyar.277.189.1 713.1 61.10 1. 10 PENGELUARAN RUTIN.90 33.7 11.00 1.7 14.411.7 48 42. Selanjutnya juga diusahakan peningkatan peranan golongan ekonomi lemah.7 Tahun PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977 /1978 1978/1979 PELITA III 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 PELITA IV 1984/19851) 1985/19862) 1) Angka APBN 2) Angka RAPBN Tabel II.001. dan pada akhir tahun Pelita III meningkat lagi menjadi Rp 8.10 2.9 760.7 1. Dalam APBN 1984/1985.8 51.5 78.1 438.8 42.10 1.2 519.5 288.8 179.2 79.00 2.415.2 132.1 25.7 47.n.9 114.996. Apabila pada tahun pertama Pelita I realisasi penge1uaran rutin baru mencapai Rp 216.9 27.2 349.418.2 109.101.80 5.482.80 10. produksi dalam negeri. Dalam Keputusan Presiden Nomor 29 tersebut. golongan ekonomi lemah diberi kesempatan berusaha yang lebih luas lagi.7 66 79.1 21.9 89 275.8 131.4 268.6 173.115.8 5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam perkembangannya te1ah menunjukkan peningkatan selaras dengan tingkat perkembangan pembangunan yang dicapai.4 200.

Dalam tahun anggaran 1985/1986.3.9 milyar atau 22. antara lain dalam bentuk kenaikan gaji. Belanja pegawai Kebijaksanaan belanja pegawai yang akan dijalankan Pemerintah dalam tahun 1985/1986 adalah dalam rangka meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas Pemerintah.8 milyar. Kenaikan ini adalah karena se1ama Pelita III te1ah beberapa kali dilakukan perbaikan penghasilan pegawai negeri/ ABRI dan pensiunan. Dalam tahun 1985/1986 be1anja pegawai direncanakan meningkat sebesar Rp 927.9 milyar. Usaha perbaikan penghasilan pegawai negeri/ ABRI se1alu dilakukan dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara setiap tahunnya. 2. Jumlah tersebut meliputi pengeluaran untuk belanja pegawai sebesar Rp 4. yang berarti meningkat 2.559. bahwa pada awal Pe1ita I realisasinya baru mencapai jumlah sebesar Rp 103.4 milyar.297.3 milyar. anggaran untuk pengeluaran rutin direncanakan sebesar Rp 12.980/ 1981 dan 1981/1982.7 persen di atas anggaran pengeluaran rutin dalam APBN 1984/1985.590. sedangkan pada akhir Pe1ita II mencapai jumlah sebesar Rp 1. yang berarti Rp 2. subsidi daerah otonom sebesar Rp 2.6 milyar. Langkah-langkah tersebut telah dimulai dengan usaha peningkatan kesejahteraan pegawai negeri/ ABRI dan pensiunan dalam tahun-tahun yang lalu.757. pembinaan dan penertiban aparatur negara.0 milyar. dan lain-lain pengeluaran rutin sebesar Rp 602.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kegiatan pembangunan dan pelayanan Pemerintah kepada masyarakat.1 milyar. dan pada awal Pe1ita IV usaha perbaikan tersebut diwujudkan dengan diberikannya kenaikan sebesar 15 persen dari gaji yang dibayarkan. Pada akhir Pe1ita III jumlah realisasi belanja pegawai mencapai jumlah sebesar Rp 2. dan berupa pemberian gaji bulan ke 13 dalam tahun 1983/1984. belanja barang sebesar Rp 1. serta dalam rangka mengamankan dan memelihara kekayaan negara yang diperoleh sebagai hasil kegiatan pembangunan. Perkembangan realisasi be1anja pegawai sejak Pe1ita I menunjukkan.3. yang dicerminkan antara lain dalam bentuk peningkatan jumlah.001. pemberian tunjangan perbaikan penghasilan (TPP) dalam tahun 1.75 kali hila dibandingkan dengan realisasi pada akhir Pe1ita II. pembayaran bunga dan cicilan hutang sebesar Rp 3. dan Departemen Keuangan RI 47 .3 milyar. di samping dilakukan pula penyempurnaan di bidang organisasi dan administrasinya.529.0 milyar.1.117.8 milyar karena ditetapkannya kebijaksanaan untuk meningkatkan penghasilan pegawai negeri/ABRI sebesar 20 persen.399. dan mutu aparatur negara beserta perlengkapannya. antara lain dalam bentuk pemberian gaji bulan ke 13 dan 14 dalam tahun 1979/1980.

11.3.057. anggaran untuk be1anja pegawai direncanakan sebesar Rp 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pensiunan sebesar 27 . Dalam RAPBN 1985/1986.3 milyar. dan anggaran yang disediakan. uang makan/lauk pauk sebesar Rp313. dalam tahun 1984 telah dikeluarkan pula Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 1984 tentang Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah di Departemen/Lembaga.529.1 milyar. Untuk menjamin lebih terlaksananya kebijaksanaan dimaksud.1 milyar. Penurunan batas nilai kontrak dari Rp 500 juta dalam Keputusan Presiden Nomor 14A Tahun 1980 menjadi Rp 200 juta tersebut adalah dalam rangka penghematan dan rasionalisasi dunia usaha.115. Dengan diberlakukannya kedua Keputusan Presiden tersebut. dan pada akhir Pelita III mencapai jumlah sebesar Rp 1.5 milyar. yang terdiri dari belanja barang dalam Departemen Keuangan RI 48 . serta dicapai penghematan dalam pelaksanaan anggaran belanja barang. yang terdiri dari tunjangan beras sebesar Rp 482. maka kebijaksanaan 'be1anja barang dalam tahun anggaran 1985/1986 akan lebih diarahkan pada pembe1ian barang-barang dan jasa produksi dalam negeri yang kebanyakan dihasilkan oleh golongan tersebut. sehingga dengan demikian dapat lebih terkendali dan terarah. Selanjutnya dengan dike1uarkannya Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 1984. 2. pada akhir Pelita II meningkat menjadi Rp 419. anggaran untuk belanja barang direncanakan sebesar Rp 1.9 milyar.117. Belanja barang Dalam rangka menunjang kegiatan usaha golongan ekonomi lemah serta menunjang perluasan kesempatan kerja. gaji dan pensiun sebesar Rp 3. Pengeluaran rutin melalui belanja barang yang pada awal Pelita I baru mencapi sebesar Rp 50. lain-lain be1anja pegawai dalam negeri sebesar Rp 116. kepada Tim pengendali dan Pengadaan ditekankan agar memperhatikan harga dan kualitas yang paling menguntungkan negara. pengadaan atau pembelian barang dan jasa yang diperlukan akan sesuai dengan prioritas.3 milyar. Perkembangan realisasi be1anja pegawai dapat dilihat pada Tabel II. di samping pengutamaan penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri. Dalam melaksanakan tugasnya.59 persen.3. dan be1anja pegawai luar negeri sebesar Rp 89.3 milyar. ke1ancaran dan kehasilgunaan dalam pengadaan barang/peralatan dan jasa di lingkungan departemen/lembaga diharapkan dapat lebih ditingkatkan lagi. Dalam tahun anggaran 1985/1986. Dalam Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 dinyatakan bahwa untuk pembelian/pemborongan barang dan jasa Pemerintah dengan nilai kontrak sebesar Rp200 juta ke atas harus me1alui Tim Pengendali dan Pengadaan.5 milyar.8 milyar.6 milyar. di samping Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1984 tentang Pelaksanaan APBN.2.

0 milyar. realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri yang jatuh tempo makin meningkat pula setiap tahunnya. 2. pengembalian pinjaman yang dipergunakan untuk membiayai pembangunan proyek-proyek pada waktu jatuh tempo adalah dalam bentuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri. meningkatnya kegiatan pembangunan. tenaga paramedis dan tenaga medis Puskesmas di daerah-daerah. oleh karena ditetapkannya kebijaksanaan meningkatkan penghasilan pegawai negeri dan pensiunan. di samping pemanfaatan bantuan luar negeri tersebut harus benar-benar untuk proyek-proyek. juga berupa dana pinjaman dari luar negeri. bahwa setiap penambahan hutang luar negeri harus sesuai dengan kemampuan pengembaliannya.2 persen.8 milyar atau 45. rencana pembiayaan subsidi daerah otonom sebesar Rp 2.3.4 milyar.8 milyar dan belanja barang luar negeri sebesar Rp 78. oleh karena pemberian subsidi daerah otonom sebagian besar digunakan untuk pembayaran gaji pegawai negeri sipil dalam lingkungan daerah otonom.4.3. 2. yang antara lain didukung oleh hasil-hasil yang diperoleh dari proyek-proyek yang telah menghasilkan. ikut mempengaruhi besarnya subsidi daerah otonom. Hal ini didasarkan pada perhitungan.4 milyar tersebut berarti meningkat sebesar Rp 805. khususnya pembangunan SD Inpres dan Puskesmas. Bunga dan cicilan hutang Dana yang dipergunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan. Pengeluaran subsidi daerah otonom dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 2.3. Selanjutnya dalam subsidi daerah otonom ditampung pula penggantian biaya akibat dihapuskannya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sekolah dasar kelas satu sampai dengan kelas enam. selain berupa dana yang dihimpun dari dalam negeri. Dengan demikian hila dibandingkan dengan APBN 1984/1985.3: Subsidi daerah otonom Pengeluaran untuk subsidi daerah otonom erat kaitannya dengan kebijaksanaan belanja pegawai. karena didalamnya ditampung pula pembiayaan untuk tambahan guru-guru SD Inpres dan tenaga medis. Departemen Keuangan RI 49 . serta tunjangan pamong desa.590.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 negeri sebesar Rp 1. Seiring dengan makin meningkatnya kemampuan keuangan negara. pembayaran gaji lurah dan perangkatnya.1 milyar. Dalam rangka pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.590.349. untuk belanja pegawai sebesar Rp 2. maka dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan pula untuk menambah jumlah guru sekolah dasar Inpres.3. dan kegiatan yang produktif.4 milyar. dan belanja non pegawai sebesar Rp 241.451. Di samping itu makin.

2.3 milyar.5.529.0 milyar.6 milyar pada akhir Pelita III.3 milyar.5 persen. terdapat pula pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri.0 milyar. pada akhir Pelita II meningkat menjadi Rp 534.3. Realisasi pembayaran bunga dan cicilan hutang pada permulaan Pelita I baru mencapai Rp 14. Dalam perkembangannya. dan meningkat lagi menjadi sebesar Rp 2. yang terdiri dari pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri sebesar Rp 3.3.177. Di samping untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri. realisasi lain-lain pengeluaran rutin selama Pelita III menunjukkan peningkatan yang sangat besar dibandingkan dengan Pelita I dan II.686. melalui lain-lain pengeluaran rutin dibebankan pula pembiayaan yang bersifat non departemental seperti biaya sural menyurat melalui pos dan giro pos.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sehingga tidak sangat memberatkan beban keuangan negara. gandum. dan penge1uaran rutin lainnya antara lain untuk biaya sural menyurat me1alui pos. disebabkan pengeluaran untuk subsidi impor pangan terutama beras.102. rencana pembayaran tersebut mengalami kenaikan sebesar Rp 873. di samping juga. lain-lain pengeluaran rutin dianggarkan sebesar Rp1.559. Hal ini terutama disebabkan meningkatnya pengeluaran subsidi bahan bakar minyak sehubungan dengan kenaikan-kenaikan harga minyak mentah di posaran internasional.1 milyar. Departemen Keuangan RI 50 . Rencana anggaran sebesar Rp 602. Lain-lain pengeluaran rutin pembiayaan rutin yang ditampung dalam lain-lain pengeluaran rutin antara lain terdiri dari pengeluaran untuk subsidi pangan. yaitu untuk pembayaran tagihan jasa umum seperti bunga atas uang muka Bank Indonesia kepada Pemerintah.1 milyar.4 milyar.5 milyar.1 milyar.0 milyar.3 milyar tersebut disediakan untuk subsidi bahan bakar minyak sebesar Rp 532.0 milyar. Dalam APBN 1984/1985. Di samping itu. Dalam APBN 1984/1985. dan pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam negeri sebesar Rp 30. untuk pembayaran bunga dan cicilan hutang direncanakan sebesar Rp 2. Dengan demikian bila dibandingkan dengan APBN 1984/1985. yang berarti lebih rendah hila dibandingkan dengan anggaran tahun sebelumnya. sedangkan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 3. giro pos dan bebas porto sebesar Rp 30.0 milyar atau 32. sedangkan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 602. dan persiapan Pemilu sebesar Rp 40. subsidi bahan bakar minyak dan Pemilu. dan gula dalam rangka kebijaksanaan stabilisasi harga pangan di dalam negeri.

3 49.00 75.060.459.90 27.1 1971{1972 214.016.920.3.4 230.Tabungan Pemerintah Sesuai dengan kebijaksanaan anggaran berimbang yang dinamis.6 909.3 135.9 1975/1976 1.2 56.00 187 6.944.522.400.3 8.13 Tab e I II.5 254.4 36.40 29.4 39. tabungan Pemerintah sebagai unsur utama dalam dana pembangunan tetap memegang peranan yang sangat penting dalam Pelita IV.2 23 77 1970{1971 176.8 1978{1979 2. Selanjutnya dalam tahun anggaran 1985/1986.3 3.3 1.3 66.80 74.4. yaitu dari Rp 27.8 73.2 PELITA IV : 1984{19852) 10. tabungan Pemerintah diharapkan dapat dihimpun sebesar Rp 6. Perkembangan realisasi tabungan Pemerintah selama ini menunjukkan peningkatanpeningkatan.00 73.00 + 1.30 57.9 35.3 40.386.647.00 808 5.90 59.9 2.2 1981{1982 6.00 1.4 1980{1981 5. menjadi Rp 1.399. 1969/1970 .1985/1986 Dibiayai oleh Anggaran (milyar Tabungan Bantuan Tahun anggaran Pemerintah luar negeri (%) (%) PELITA I: 1969/1970 118.1 1976{1977 2.9 6.9 93. dan menjadi Rp 6.6 1982{1983 7.6 34.9 483.278.8 42.2 milyar pada awal Pelita I.5 3.557. 792.9 23.20 1.00 62 38 1977{1978 2.522.6 11 0. Tabel II.677.50 1.9 milyar pada akhir Pelita III.8 189.2 171. Usaha tersebut harus diikuti pula dengan tindakan penghematan dalam pengeluaran rutin.30 60.4 24.6 26.427.90 64.3 55.2 1985{19863) 10.6 Departemen Keuangan RI 51 .9 1973/1974 458.3 mitral.903.6 76.9 152.6 101.235.4 737.2 35.9 110.159.60 4.5 73. tabungan Pemerintah direncanakan dapat dihimpun sebesar Rp6. Pada APBN 1984/1985.9 milyar.048.5 PELITA III : 1979{1980 4.13 PERBANDINGAN TABUNGAN PEMERINTAH DAN BANTUAN LUAR NEGERI TERHADAP ANGGARAN PEMBANGUNAN 1969/1970 .8 63.278.6 9. maupun dengan mencari sumber-sumber penerimaan yang baru.4 78.90 598. Perkembangan realisasi tabungan Pemerintah dapat diikuti pada Tabel II.4 1983{1984 9.0 5.1 23.00 59 41 I) Termasuk saldo anggaran lebih 2) APBN 3) RAPBN Tahun anggaran PELITA I 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 PELITA II 1974/1975 1975/1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 PELITA III : 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 PELITA IV: 1984{1985 1) 1985{1986 2) I) Angka APBN 2) Angka RAPBN Jumlah Kenaikan Jumlah Persentase 107. Usaha-usaha untuk meningkatkan dana pembangunan melalui tabungan Pemerintah terus dilakukan setiap tahunnya dengan jalan meningkatkan penerimaan negara.276.9 milyar dan pengeluaran rutin sebesar Rp 12.362.422.112.5 44. sehingga dapat diperoieh selisih yang lebih besar antara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin untuk menambah besar tabungan Pemerintah.020.1985/1986 (dalam milyar rupiah) Tab el II.5 PELITA II : 1974{1975 969.635.12.8 27.10 65.8 25. 12 TABUNGAN PEMERINTAH.0 mitral.4 milyar pada akhir Pelita II.5 40.8 31.048.30 6.1 50.1 68 18.90 64.8 39.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2.7 366.9 68.2 22.2 1972{1973 310.020. baik melalui peningkatan sumber-sumber penerimaan yang sudah ada. yang merupakan selisih antara penerimaan dalam negeri sebesar Rp l8.

2 milyar. terutama di sektor pertambangan dan energi. dan perluasan kesempatan kerja.2 milyar tersebut menunjukkan kenaikan sebesar Rp 12. Pengeluaran pembangunan Dalam perjalanannya menuju suatu masyarakat arlit makmur melalui pembangunan nasional.3.129.175. Rp 4. pembagian pendapatan yang makin merata. Pengeluaran pembangunan lainnya yang Departemen Keuangan RI 52 . Dalam pelaksanaannya.5. baik melalui pembangunan sektaral yang dilaksanakan oleh departemen/ lembaga maupun melalui pembangunan regional dalam berbagai bentuk program Inpres dan bantuan pembangunan melalui Ipeda. Pembiayaan pembangunan sebesar Rp 34.202. maka jumlah pengeluaran pembangunan sebesar Rp 34.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. penyebaran serta pemerataan pembangunan itu diselaraskan dengan pembangunan regional.3. Pelita III yang telah herakhir pada tahun 1983/1984 telah memberikan hasil-hasil yang positif..457.2 milyar. berbagai kebijaksanaan dan program pembangunan sektaral yang didasarkan kepada unsur prioritas.926. bangsa Indonesia telah berhasil menyelesaikan serangkaian program pembangunan yang dituangkan dalam tiga Repelita yaitu Repelita I. 13.129.0 milyar dan Rp 4.2 persen.279.4 persen dari seluruh jumlah pengeluaran pembangunan dalam Pelita III. sehingga pembangunan sektaral yang berlangsung di daerah benar-benar sesuai dengan potensi dan permasalahan masing-masing daerah. sehingga tercapailah keadaan yang mantap untuk melanjutkan pembangunan dalam Repelita IV sebagai pelaksanaan tahap keempat dari Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang.129. dan bantuan proyek sebesar Rp 10. atau 56. Hal ini berarti bahwa tiap sektor pembangunan tersebut telah menyerap dana masing-masing sebesar 15. SelaI1)a Pelita III.235. Ditinjau secara sektoral.1 persen dan 12. milyar. pengeluaran pembangunan selama Pelita III digunakan antara lain untuk membiayai program-program pembangunan bidang ekonomi. dengan jumlah pengeluaran masing-masing sebesar Rp 5. yang terdiri dari pembiayaan rupiah sebesar Rp 23.9 milyar. dana yang telah dibelanjakan untuk pembiayaan pembangunan mencapai jumlah sebesar Rp 34.2 persen dari yang direncanakan dalam Repelita III. juga merupakan usaha untuk tercapainya keserasian laju pertumbuhan antar daerah menuju kepada pemerataan pembangunan. sektor perhubungan dan pariwisata serta sektor pertanian dan pengairan. II dan III.2 milyar selama Pelita III telah menghasilkan berbagai macam program pembangunan yang ditujukan kepada usaha peningkatan kesejahteraan rakyat.0 milyar. Di lain pihak pelaksanaan pembangunan regional dalam berbagai bentuk program Inpres dan bantuan pembangunan melalui Ipeda. Bila dibandingkan dengan anggaran yang direncanakan dalam Repelita III.8 milyar.

kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.2 milyar dan Rp 1. terutama dalam pertambangan rakyat. Rangkaian kebijaksanaan pokok yang telah dirumuskan dalam Repelita III adalah dalam rangka tercapainya tujuan pembangunan di bidang pendidikan dan pengembangan generasi muda. sehingga penerimaan negara dari produksi ekspor pertambangan dapat bertambah. Dengan demikian keenam sektor pembangunan bidang ekonomi yang sebagian besar dananya dikelola departemen/lembaga itu telah menyerap dana sebesar Rp 21. pembangunan prasarana angkutan dan perhubungan lebih ditingkatkan. yang berarti pula makin memperkokoh ketahanan nasional. dan menjamin penyediaan panganuntuk masyarakat pada tingkat harga yang layak. sektor pembangunan daerah. Dalam kegiatan ini pula peranserta swasta nasional lebih ditingkatkan. Melalui pembangunan sektor pertambangan dan energi. telah dilaksanakan inventarisasi dan pemetaan. generasi muda. penggunaan dana di keenam sektor . Pemhangunan sektor pertanian dan pengairan yang telah dilaksanakan selama Pelita III.894. Selanjutnya melalui pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata. Di samping itu juga te1ah diarahkan agar dapat menunjang pembangunan industri pertanian. 8. serta mempersiapkan Departemen Keuangan RI 53 . serta dalam kota. serta ditingkatkap eksplorasi dan exploitasi kekayaan alam berupa sumber mineral dan energi.5 persen dan 5.1 milyar.956.pembangunan bidang ekonomi tersebut ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan yang makin merata bagi seluruh rakyat. Rp 2. dan kota. Kegiatan-kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. serta sektor tenaga kerja dan transmigrasi.9 persen. merupakan kelanjutan dalam rangka meningkatkan produksi pangan yang diarahkan untuk memperbaiki tingkat hidup petani. Pembiayaan pembangunan sektor pendidikan. peranan pendidikan dalam pembangunan. Sesuai dengan arab dan kebijaksanaan Pelita III.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menyerap dana cukup besar dalam Pelita III adalah sektor pendidikan. sehingga dapat memperlancar arus barang/jasa dan manusia ke seluruh daerah.3 persen dari seluruh jumlah pengeluaran pembangunan selama Pelita III. di samping untuk memperkenalkan kebudayaan bangsa.0 milyar atau 64. dan diperluas kepariwisataan dalam rangka meningkatkan penerimaan devisa. generasi muda.5 milyar.397. serta dapat meningkatkan ekspor non migas. memperluas kesempatan kerja. perluasan lapangan kerja. dan dengan demikian merangsang dan menunjang pencapaian sasaransasaran pembangunan. terutama daerah pedesaan dan daerah terpencil.3 persen dari seluruh /pengeluaran pembangunan selama Pelita III. kesempatan belajar yang dikaitkan dengan aspek pemerataan. dengan alokasi dana masingmasing sebesar Rp 3. desa.797. atau masingmasing telah menyerap dana sebesar 9. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Pelita III diarahkan kepada usaha-usaha peningkatan kecerdasan bangsa. Melalui pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata ini pula telah ditingkatkan.

647. Pembangunan regional dalam Pelita III yang dilaksanakan melalui sektor pembangunan daerah. Bila dibandingkan dengan APBN 1984/1985.0 milyar.2 milyar.8 milyar tersebut menunjukkan Departemen Keuangan RI 54 . yang terdiri dari pembiayaan rupiah sebesar Rp 6. arah dan kebijaksanaan pembangunan yang ditempuh selama Pelita III terus dilanjutkan dan ditingkatkan agar peningkatan tarat hidup. dan pada gilirannya dapat merupakan landasan yang kuat untuk tahap pembangunan berikutnya. selama Pelita III telah ditempuh berbagai langkah dan kebijaksanaan di bidang tenaga kerja yang bersifat menyeluruh. pertumbuhan ekonomi serta stabilitas nasional akan tetap menjadi pertimbangan pokok.8 milyar dan bantuan proyek sebesar Rp 4. Dengan berlandaskan pada arah dan sasaran serta berpedoman kepada kebijaksanaan yang telah ditetapkan. yang merupakan reneana operasional tahunan daripada Repelita IV tetap berlandaskan pada Trilogi Pembangunan. Dengan memperhatikan hasil-hasil pembangunan yang dicapai selama Pelita III maka dalam RAPBN 1985/1986. Peranan pembangunan daerah dalam Pelita III semakin bertambah besar karena dalam melanjutkan pelaksanaan Trilogi Pembangunan. kekurangseimbangan dalam susunan unsur tenaga kerja dan penyebaran tenaga kerja. yang merupakan pelaksanaan tahun kedua Pelita IV. pengeluaran pembangunan dalam tahun anggaran 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 10. Dengan demikian di dalam pengerahan dan penggunaan dana tersebut. di samping juga belum tersedianya posar tenaga kerja yang menyalurkan tenaga kerja secara efektif dan efisien.349. dengan sasaran perluasan serta pemerataan kesempatan kerja produktif dan numeratif. pembiayaan rupiah sebesar Rp 6. desa dan kota merupakan kelanjutan kegiatan yang telah dilaksanakan dalam Pelita II. serta adanya kekurangseimbangan antara tenaga kerja terdidik dan tak terdidik. sehingga dengan demikian dapat meningkatkan pemerataan pembagian pendapatan. Sementara itu makin meningkatnya program-program pembangunan yang akan dijalankan hams diimbangi pula dengan pengerahan dana pembangunan yang lebih besar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 generasi muda sebagai penerus perjuangan dan pembangunan nasional. Seperti halnya dengan Repelita-repelita sebelumnya. tekanan lebih diberikan kepada usaha pemerataan khususnya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah tanah air.349. keserasian antara pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Masalah-masalah yang menonjol dalam sektor tenaga kerja dan transmigrasi selama Pelita III di bidang ketenagakerjaan adalah pertambahan penduduk yang tinggi sehingga menimbulkan kelebihan tenaga kerja. Untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.297. pengerahan dan penggunaan dana pembangunan dalam RAPBN 1985/1986. dan terpadu. kecerdasan dan kesejahteraan yang makin merata dan adil bagi seluruh rakyat dapat tereapai.

276.129.5 PELITA III : 1979/1980 2. Perkembangan pengeluaran pembangunan di luar bantuan proyek sejak pelaksanaan Repelita I hingga sekarang dapat diikuti pada Tabel II.349.434.0 milyar alan 4.4 20.0 milyar tersebut akan lebih dipertajam prioritasnya dalam Repelita IV.486. 1969/1970 -1985/1986 1) ( dalam milyar rupiah) Kenaikan Jumlah Persentase Tahun anggaran Jumlah PELITA I: 1969/1970 92. Dalam reneana anggaran pembangunan tersebut telah termasuk pula peningkatan bantuan pembangunan daerah.280.9 22.6 1982/1983 5.90 1.3 100.568.087.3 1) Di luar bantuan proyek 2) Angka APBN 3) Angka RAPBN Penggunaan anggaran pembangunan yang direncanakan sebesar Rp 10.9 429.788.1 10.3 persen lebih besar.9 42.14 Tabel II.50 66.3 1977/1978 1. Pengarahan pengeluaran pembangunan kepada proyek-proyek yang diprioritaskan untuk pertumbuhan dan pemerataan tersebut pada gilirannya akan menunjang tereapainya sasaran kestabilan perekonomian.9 1985/19863) 6.5 3 1983/1984 6.4 1975/1976 926.3 10.80 262 4.419.60 72 1980/1981 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp262. sosial.1 0.3 1981/1982 5.20 138.9 1976/1977 1.9 1970/1971 128.8 100.1 35.8 17.20 789.031.14 PENGELUARAN PEMBANGUNAN. sena pada sektor-sektor lain yang menunjang tereapainya sasaran pertumbuhan dan keseimbangan struktur perekonomian.1 127.8 1972/1973 235.80 56. yaitu diarahkan kepada proyekproyek yang secara langsung alan tidak langsung meningkatkan pemerataan kegiatan pembangunan baik dalam bidang ekonomi. Di samping itu diarahkan pula kepada proyek-proyek yang dapat meningkatkan laju pertumbuhan terutama sektor pertanian dalam rangka swasembada pangan.90 354.8 1978/1979 1.70 158.30 149.2 37.40 1.8 PELITA II 1974/1975 765.9 1971/1972 150.697. sektor industri yang menghasilkan mesin-mesin industri sendiri.6 38. politik maupun penahanan dan keamanan. dengan tujuan lebih meningkatkan peranserta Departemen Keuangan RI 55 .9 85 56. kebudayaan.647.8 17.70 597 11 REPELITA IV 1984/1985 2) 6.3 1973/1974 336.

serta meningkatkan perluasan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan menengah.2 milyar dan sektor tenaga kerja dan transmigrasi sebesar Rp 676.4 persen. Pelaksanaan wajib belajar ini dituangkan dalam program Inpres sekolah dasar. generasi muda. yang diberikan dalam rangka mempercepat penuntasan keikutsertaan anak usia sekolah pada pendidikan dasar. Berdasarkan pada kebijaksanaan yang telah digariskan. terutama dititik beratkan pada peningkatan mutu dan perluasan pendidikan dasar dalam rangka mewujudkan dan memantapkan pelaksanaan wajib belajar. Dengan demikian keenam sektor pembangunan yang telah disebutkan masing-masing mendapat alokasi sebesar 14. Selanjutnya untuk anggaran sektor pertambangan dan energi direncanakan sebesar Rp 1. Dengan demikian sektor pertanian akan makin kuat guna mendorong perkembangan industri dalam rangka mencapai keseimbangan ekonomi.4 milyar. mendorong pemerataan kesempatan berusaha. Pembangunan sektor pendidikan. kebudayaan nasional dan kepereayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebesar Rp 1.510. anggaran pembangunan sebesar Rp 10. Pembangunan sektor pertanian dan pengairan dalam tahun 1985/1986 merupakan kegiatan yang diarahkan kepada usaha untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan. pembangunan sektor perhubungan dan pariwisata yang meliputi perhubungan darat. dalam RAPBN 1985/ 1986 tetap mendapatkan perhatian sesuai dengan prioritas yang telah digariskan dalam GBHN. serta pembangunan pos dan telekomunikasi. 13.2 persen dan 6. generasi muda. 12.4 milyar. sektor pertanian dan pengairan sebesat Rp 1.4 persen.425. kebudayaan nasional dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. lalit. memperluas kesempatan kerja.8 milyar. kebutuhan in du stri dalam negeri serta meningkatkan ekspor. berbagai tingkat dan jenis pendidikan ketrampilan serta latihan kejuruan yang dapat menciptakan kegiatan kerja. lebih diperluas dan ditingkatkan.0 milyar tersebut dialokasikan pada sektor pendidikan. meningkatkan pendapatan petani.301. desa dan kota sebesar Rp 868. Termasuk didalamnya usaha peningkatan dalam pengembangan jasa meteorologi dan geofisika untuk menunjang keselamatan masyarakat pada umumnya.647. 13. Untuk mendukung tercapainya perluasan kesempatan kerja yang merupakan kebutuhan yang makin mendesak.430. dan udara.2 persen. mendukung pembangunan daerah.7 milyar.2 persen.8 milyar. sektor pembangunan daerah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 masyarakat dalam kegiatan pembangunan. keselamatan pelayaran dan penerbangan Departemen Keuangan RI 56 . 8.4 persen dari anggaran yang direncanakan dalam tahun 1985/1986. dan sektor perhubungan dan pariwisata sebesar Rp 1. serta meningkatkan kegiatan transmigrasi. Selebihnya dialokasikan kepada dua belas sektor pembangunan lainnya.

terus dilanjutkan dan ditingkatkan. Oleh sebab itu kegiatan pembangunan sektor pertambangan yang meliputi inventarisasi dan pemetaan. Untuk terlaksananya sasaran ini. direncanakan untuk membiayai berbagai macam proyek prasarana serta sektor-sektor produktif dan bermanfaat. terutama sektor minyak bumi dan gas alam yang merupakan sumber penerimaan negara yang terbesar selama ini. akan dilanjutkan dan diperluas. sehingga produksi dan ekspor pertambangan serta penerimaan negara akan dapat meningkat pula. serta peningkatan mutu dan kelancaran pelayanan. Perincian pengeluaran pembangunan secara sektoral dalam RAPBN 1985/1986 adalah sebagai berikut : Departemen Keuangan RI 57 . yang tersebar dalam delapan belas sektor pembangunan. penyediaan sarana dan prasarana. serta untuk kepentingan pembangunan di berbagai sektor. bantuan pembangunan yang diberikan kepada daerah berupa program-program Inpres dan bantuan pembangunan lainnya makin ditingkatkan dan disempurnakan. Selanjutnya bantuan proyek yang dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp4. Di sektor pertambangan dan energi. serta mendorong kegiatan ekonomi khususnya industri. eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam berupa sumber mineral dan energi dalam tahun 1985/1986 terus ditingkatkan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna. Kegiatan pembangunan dalam sektor pembangunan daerah. pembinaan dan pengembangan lingkungan pemukiman pedesaan dan perkotaan yang sehat. desa dan kota tetap diarahkan kepada perluasan kesempatan kerja. Diberikannya berbagai program bantuan pembangunan kepada daerah selama ini. antara lain berupa peningkatan kegiatan promosi dan pendidikan kepariwisataan. usaha-usaha untuk meningkatkan produksi dan ekspor hasil pertambangan. Demikian pula dengan pembangunan tenaga listrik yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat kota dan desa.297. Demikian juga pembangunan pariwisata terus ditingkatkan melalui kebijaksanaan terpadu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada khususnya. telah memberikan kesempatan kepada daerah untuk merencanakan dan )11elaksanakan pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masing-masing daerah. serta peningkatan kemampuan penduduk untuk memanfaatkan sumber-sumber kekayaan alam.2 milyar.

531.000 275.000 2.025.595. SEKTOR PERT AMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Sub Sektor Energi 4.219.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ( dalam ribuan rupiah) 1.000 274.830. SEKTOR PENDIDIKAN. SEKTOR PERTANIAN DAN PENGAIRAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan 1.000 238.704.363.141.595.000 102.846.000 68.971.430.000 1. Desa dan Kota 8.628.000 98. GENERASI MUDA.818.392.361.679.739. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa 1.012.975.000 Departemen Keuangan RI 58 .658.510.141.000 621.219.000 900.913.000 529.000 60.000 28. SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri 3.365. SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi 6. DESA DAN KOTA Sub Sektor Pembangunan Daerah.000 190.000 63.788.000 868.301. SEKTOR PEMBANGUNAN DAERAH.425.000 9.000 655.000 128.000 1.000 47.580.000 63.126.000 71.257.000 655. SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi 7.092.000 578.095. SEKTOR PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor Perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata 5.350.000 1.000 676.000 868. SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama 1.

064. TEKNOLOGI DAN PENELITIAN Sub Sektor Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sub Sektor Penelitian 16. KESEJAHTERAAN SOSIAL. SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum 13. dan lain-lain pengeluaran pembangunan.000 133. yaitu pengeluaran pembangunan departemen/lembaga termasuk di dalamnya departemen Hankam.000 176.064. SEKTOR PENERANGAN. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA 413.000 259.687.000 254. Pers dan Komunikasi Sosial 15.647.000 437.641. SEKTOR SUMBER ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Sub Sektor Sumber Alam dan Lingkungan Hidup JUMLAH 10.000 12.441. bantuan pembangunan bagi daerah.000 229.000.000 58.000 714.000 67.000 176. SEKTOR ILMU PENGETAHUAN.000 67.000 714.000 Pengeluaran pembangunan yang dibiayai dengan rupiah diperinci atas tiga bagian besar.308. SEKTOR PENGEMBANGAN DUNIA USAHA Sub Sektor Pengembangan Dunia Usaha 18.000 229.000 Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kependudukan dan Keluarga Berencana 11.000 74.720.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 10.000 259. PERANAN W ANITA.555.000 80.189.962.147.938. SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah 17.092.720.000 80.000 207. sedangkan Departemen Keuangan RI 59 . SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional 14.383. PERS DAN KOMUNlKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan. SEKTOR PERUMAHAN RAKY AT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman 437.441. Pengeluaran pembangunan melalui departemen/lembaga merupakan pembiayaan yang disediakan untuk pembangunan sektoral dan dikelola oleh departemen/lembaga.189.362.000 100.147.641. SEKTOR KESEHATAN.687.

bantuan pembangunan kabupaten. menunjukkan hasil-hasil yang nyata. bantuan pembangunan sarana kesehatan.6 milyar. sedang dalam RAPBN 1985/1986 bantuan terse but ditingkatkan menjadi Rp 98. bantuan pembangunan/pemugaran posar. serta proyek peningkatan dan pembangunan jalan yang dapat membuka daerah terisolasi sehingga dapat mengembangkan perekonomian daerah dan memperluas kesempatan berusaha. yang diberikan untuk mendorong dan mengarahkan usahausaha swadaya gotongroyong masyarakat dalam membangun desanya. Oleh sebab itu selain bantuan berupa uang. pada awal Pelita I baru diberikan kepada 44. bantuan pembangunan sekolah dasar. bantuan penghijauan/rebuisasi.1 milyar masing-masing pada awal Pelita II dan Pelita III. Dengan makin bertambahnya jumlah penduduk dan kemampuan keuangan negara.645 buah. serta meningkatkan partisiposi penduduk dalam pembangunan. Bantuan pembangunan desa.448 desa.8 milyar untuk 67. berhubung dengan bertambahnya jumlah bantuan menjadi Rp 1. dimaksudkan untuk menciptakan dan memperluas lapangan kerja. Dalam perkembangannya. dalam rangka memanfaatkan dan memelihara sumber alam. jumlah bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 92.437 buah.350 ribu tiap desa.9 milyar alas dasar perhitungan Departemen Keuangan RI 60 . Sementara itu bantuan pembangunan kabupaten yang besarnya didasarkan atas jumlah penduduk. dan bantuan pembangunan prasarana jalan. kepada seBap kabupaten diberikan juga bantuan peralatan berupa satu buah mesin gilas jalan.6 milyar.6 milyar dengan jumlah desa sebanyak 66. dan pada akhir Pelita III meningkat lagi menjadi Rp 91. kemudian menjadi Rp 42. Dalam tahun 1970/1971.478 desa dengan jumlah bantuan sebesar Rp 2. Pada akhir Pelita II telah meningkat menjadi Rp 24. programprogram Inpres yang terdiri dari bantuan pemb:mgunan desa. Adapun proyek-proyek yang dapat dibiayai oleh dana bantuan pembangunan kabupaten meliputi proyek/kegiatan yang bersifat pemeliharaan jalan dan jembatan yang sudah ada. bantuan yang diberikan baru mencapai jumlah sebesar Rp 5. bantuan Ipeda dan bantuan pembangunan Timor Timur. Dalam RAPBN 1985/1986 yang merupakan tahun kedua Pelita IV bantuan yang diberikan direncanakan sebesar Rp 215. Dalam APBN 1984/1985.5 milyar dan Rp 87. dan pemeliharaan prasarana pedesaan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengeluaran pembangunan berupa bantuan pembangunan bagi daerah merupakan bantuan yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan potensi dan prioritas daerah masing-masing dalam bentuk program Inpres. bantuan yang diberikan terus meningkat pula setiap tahunnya.0 milyar dengan jumlah desa sebanyak 60. bantuan pembangunan Dati I. Di samping itu dapat juga dipergunakan untuk membiayai proyekproyek yang bersifat meningkatkan ketrampilan penduduk pedesaan.6 milyar.

serta biaya eksploitasi dan pemeliharaan pengairan. Pada mulanya bantuan pembangunan sekolah dasar ini diberikan untuk pembangunan dan rehabilitasi gedung-gedung sekolah dasar. dan untuk meningkatkan keserasian laju pertumbuhan antar daerah serta meningkatkan peranserta daerah dalam pembangunan.7 milyar pada awal Pelita II. bantuan pembangunan sekolah dasar lebih ditingkatkan lagi. serta buku bacaan bagi anak-anak sekolah dasar saja. Bantuan yang ditetapkan digunakan untuk membiayai perbaikan jalan dan jembatan. serta madrasah ibtidaiyah.2 milyar.0 milyar. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 253. pembangunan rumah guru dan kepala sekolah di daerah terpencil.8 milyar pada awal Pelita III. dan kemudian diperluas lagi pada tahun berikutnya dengan pembangunan rumah bagi kepala sekolah dan guru yang bertugas di daerah terpenci1. Adapun bantuan pembangunan sekolah dasar yang bertujuan untuk memperluas kesempatan belajar. Jumlah tersebut meliputi antara lain pembangunan gedung sekolah baru. Program Inpres Dati I ini terdiri dari bantuan yang ditetapkan penggunaannya. meratakan hasil-hasil pembangunan. Dalam tahun 1982/1983. daerah transmigrasi. daerah terpencil. Dalam APBN 1984/1985. penyediaan buku-buku pelajaran dan buku bacaan. bantuan pembangunan Dati I dalam RAPBN 198511986lebih ditingkatkan penggunaannya.0 milyar dengan bantuan minimum untuk liar propinsi sebesar Rp 9. yang merupakan permulaan Pelita IV. perbaikan dan peningkatan irigasi. dan ditingkatkan lagi menjadi Rp 155. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 580.8 milyar. terutama bagi anak-anak usia sekolah pada pendidikan dasar yang berada di pedesaan. digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek yang meningkatkan taraf hidup rakyat serta untuk mengembangkan daerah-daerah minus di daerah kritis. perbaikan gedung-gedung sekolah yang sudah ada. dan bantuan maksimum Rp 12. yaitu ditambah dengan penyediaan paket peralatan olah raga untuk sekolah dasar negeri dan swasta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 1. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 280. dan pemukiman baru. Dalam rangka meningkatkan keselarasan pembangunan sektoral dan regional.0 juta untuk kabupaten.. Sedangkan bantuan yang diarahkan. dalam tahun 1985/1986 lebih ditingkatkan lagi.0 milyar. Dalam APBN 1984/1985.0 milyar dengan bantuan minimum sebesar Rp 10. kemudian ditingkatkan menjadi Rp 19. serta penyediaan alat-alat olah raga dalam Departemen Keuangan RI 61 . Selanjutnya ditingkatkan dengan pembangunan penambahan ruang kelas baru. dan diarahkan penggunaannya.250.0 milyar. dan dalam RAPBN 1985/1986 direncanakan sebesar Rp 617.0 milyar. Adapun jumlah bantuan yang telah diberikan dalam tahun 1973/1974 adalah sebesar Rp 17. penyediaan bukubuku pelajaran.bantuan per jiwa dan bantuan minimum yang diberikan adalah sebesar Rp 170.

yang bertujuan untuk menyelamatkan kelestarian sumber-sumber alam.5 milyar yang direncanakan dipergunakan antara lain untuk pembangunan puskesmas baru.8 milyar.7 milyar.5 milyar. dan air.0 milyar. Oleh sebab itu dalam tahun 1985/1986 bantuan yang direncanakan untuk program bantuan penunjangan jalan Departemen Keuangan RI 62 . puskesmas keliling. Sedangkan dalam APBN 1984/ 1985 disediakan bantuan sebesar Rp 80.383 buah dengan jumlah biaya sebesar Rp 200. anggaran yang diberikan untuk program Inpres ini baru sebesar Rp 16. dalam pelaksanaannya banyak melibatkan aparatur Pemerintah desa serta berbagai lembaga yang ada di desa. melalui bantuan pembangunan dan pemugaran posar diberikan kesempatan kepada Pemerintah daerah untuk menyediakan tempat berjualan/posar dengan sewa semurah mungkin. pembuatan hutan rakyat. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi Dati II dalam rangka pembangunan daerah.021 km dan jembatan sebanyak 62. selama Pelita III telah berhasil diperbaiki jalan sepanjang 33. Untuk keperluan itu dalam tahun 1985/ 1986 bantuan pembangunan yang diberikan melalui Inpres Sarana Kesehatan lebih ditingkatkan lagi jumlahnya.500 km dan jembatan sebanyak 19.3 milyar. lebih ditingkatkan lagi. baik di desa maupun di kota. Kegiatan penghijauan meliputi penanaman tanaman tahunan. Dalam tahun 1984/ 1985 disediakan anggaran sebesar Rp 39. percontohan pertanian terpadu. Sebagaimana halnya dalam Pelita III. dan pernmahan untuk dokter dan paramedis.2 milyar. pembuatan bangunan pencegah erosi.6 milyar. Untuk tahun 1985/1986 anggaran yang direncanakan untuk program Inpres ini adalah sebesar Rp 11. sedangkan dalam APBN 1984/1985 disediakan sebesar Rp 10. menghubungkan daerah produksi hasil pertanian dengan daerah pemasarannya. sasaran peningkatan pelayanan kesehatan dan perbaikan gizi dalam Pelita IV tetap diutamakan kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. yang sebagian besar berpenghasilan rendah. Kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup tetap mendapat perhatian yang besar dalam Repelita IV. bantuan yang diberikan baru sebesar Rp 1. Dengan diberikannya bantuan penunjangan jalan kabupaten sejak 1979/1980. Bila dalam APBN 1984/1985 jumlah bantuan yang diberikan sebesar Rp 98. Pada awal pelaksanaannya tahun 1976/1977. Untuk membantu para pedagang kecil golongan ekonomi lemah. Dalam tahun 1978/1979.4 milyar maka dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp 114.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bentuk paket.1 milyar untuk memperbaikijalan sepanjang 7. dan dalam tahun 1985/1986 anggaran untuk program Inpres ini direncanakan sebesar Rp 42. tanah hutan. Sehubungan dengan itu anggaran bagi bantuan penghijauan dan reboisasi. khususnya dalam membuka daerah yang masih terisolasi. puskesmas pembantu.050 buah.

maka dalam tahun 1985/1986 direncanakan untuk ditingkatkan menjadi Rp 557. Dalam APBN 1984/1985 anggaran yang disediakan adalah sebesar Rp 359. dan pembiayaan lain-lain pembangunan sebesar Rp 248. Program-program pembangunan tersebut diantaranya adalah program pembinaan keluarga berencana.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ditingkatkan menjadi Rp 87. Bila dalam APBN 1984/1985 anggaran untuk subsidi pupuk disediakan sebesar Rp 458.6 milyar.8 milyar.7 milyar. kesehatan.6 milyar dalam RAPBN 1985/1986. diantaranya sektor pertanian. pertambangan. dan pengembangan program perumahan rakyat. Pembangunan melalui sektor pengembangan dunia usaha dilakukan Pemerintah me1alui penyertaan modal Pemerintah pada perusahaanperusahaan negara yang bergerak di berbagai sektor.5 milyar. Bantuan pembangunan kepada daerah Timor Timur diberikan sejak tahun 1977/1978. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 disediakan bantuan sebesar Rp 8.8 milyar.5 milyar. Pembiayaan pembangunan lainnya dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp1. kemudian Rp 4. Selanjutnya penge1uaran pembangunan lainnya yang dianggarkan sebesar Rp 248. program pengembangan statistik/sensus.6 milyar. terutama pada sektor pendidikan. bantuan pembangunan untuk daerah Timor Timur adalah sebesar Rp 8. dan lembaga Pemerintah lainnya. bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp 3. yang terdiri dari pembiayaan subsidi pupuk sebesar Rp 557. Realisasi pengeluaran pembangunan bagi penyertaan modal Pemerintah disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara setiap tahunnya.0 milyar. Rencana penge1uaran pembangunan dalam tahun 1985/1986 dapat dilihat pada Tabel II. penyertaan modal Pemerintah sebesar Rp 255. sedangkan dalam RAPBN 1985/1986 disediakan sebesar Rp 255. industri.6 milyar. Dalam APBN 1984/1985.15 dan Tabel Departemen Keuangan RI 63 . tambang batu bara. sehingga mereka dapat membe1i pupuk sesuai dengan yang diperlukan. dan se1ama Pelita III telah diberikan bantuan sebesar Rp 30. dan proyekproyek perkebunan tanaman komoditi ekspor.5 milyar dalam tahun 1978/1979. perhubungan.7 milyar. yang direncanakan antara lain untuk pembiayaan proyek-proyek pabrik pupuk.8 milyar. digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan. Pemberian subsidi pupuk oleh Pemerintah pada hakekatnya bertujuan untuk mendukung program swasembada pangallo Dengan diberikannya subsidi ini. ditujukan kepada program pembangunan yang menyangkut kepentingan masyarakat umum yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan negara.5 milyar.6 milyar. dan perkreditan. Dalam tahun 1977/1978.062. harga pupuk akan dapat disesuaikan dengan clara beli rakyat dan petani kecil. Bantuan yang diberikan dalam rangka memberi kesempatan kepada propinsi termuda ini agar dapat sejajar dengan tingkat kemajuan daerah-daerah lainnya di Indonesia. dan sektor pemerintahan.

9 4. Bantuan pembangunan posar 7.80 380. 1985/1986 (dalam milyar rupiah) Jenis Pengeluaran 1984/1985 APBN 3.046. Lain-lain B.4 96.5 8. PEN. PEN.50 98.20 10.10 30 3. PEMBANGUNAN I. Belanja pegawai 2.4 10. Bantuan penghijauan 8.80 78.061. Pembiayaan Departemen/Lembaga 1.PENG.4 3. Pajak penghasilan 2. Luar negeri V. Bantuan pembangunan desa 2. Dalam negeri 2. Bantuan pembangunan Dati I 4.4 731. Pajak ekspor 5.9 280 617 114. Biaya makan (lauk-pauk) 4. Bea masuk dan cukai 4.30 1985/1986 RAPBN 3.40 101.677.30 482.680. Belanja pegawai 1.297.518.5 42.5 150. PEMBANGUNAN I.3 10. Subsidi pupuk 2.6 4.349.6 89.644.117. Pembangunan prasarana jalan 9. Luar negeri III.590. Ipeda 6.1 1.129.6 1.4 1. Subsidi daerah otonom 1.8 98.559.20 23.90 11.6 243 4.046.2 1. Timor Timur 10. Dalam negeri 2.7 359.3 87.8 80.2 1.00 3. Tunjangan beras 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 II.10 602. Lain-lain IV.115.00 I.20 23. Bantuan proyek Jumlah Jumlah 12.8 255. I P e d a III. Belanja baraag 1.7 167.20 Pengeluaran A. Lain-lain belanja pegawai dalam negeri 5.10 395.459.6 248.371.8 167.529. Pelayanan kesehatan/Puskesmas 6. pembiayaan bagi daerah 1.666.16.510.40 3.9 253 580.062.00 4.647. Bantuan pembangunan kabupaten 3.30 3. DALAM NEGERI I. Bunga dan cicilan hutang 1. Penerimaan di luar minyak bumi dan gas alam 18. 1985/1986 ( dalam milyar rupiah) Penerimaan A.3 116. PENG. Departemen/Lembaga 2. Penyertaan modal pemerintah 3.70 7.00 6.00 1. RUTIN I.249.5 11. Pembiayaan lain-lain 1.80 313. Penerrmaan minyak bumi dan gas alam II. Bantuan program II. Belanja pegawai luar negeri II. Bantuan Proyek Jumlah 4.00 Tabel II.399. Pajak lainnya 7.00 1.30 45'8.00 241.90 1. 15 RENCANA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA.5 3.516.529.50 92.297.1 2.6 39.8 201.80 4. Pembangunan SD 5.074. Tabel II.40 2. Pembiayaan dalam rupiah II.1 8.10 70.297. Gaji/pensiun 3.9 B. Departemen Hankam II. Penerimaan bukan pajak 1.451.349.647.159.6 215. 16 RENCANA ANGGARAN PEMBANGUNAN. Pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah 3.643.50 10. Bantuan proyek Jumlah Departemen Keuangan RI 64 .00 557.368. Belanja non pegawai IV.

6. Pengawasan pembangunan Fungsi pengawasan keuangan negara memegang peranan yang makin penting. Pada akhir tahun Pelita III telah ditempuh kebijaksanaan untuk melaksanaka_ sistim pengawasan terpadu secara struktural. telah diterbitkan Keputusan PresideD Nomor 31 tahun 1983 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1983 tentang Kedudukan. dan ketatalaksanaan. fungsi pengawasan makin ditingkatkan dan disempumakan lagi. II dan III. dan Inpres No._an terhadap para pelaku. Peningkatan penggunaan hasilhasil pengawasan oleh seluruh aparatur yang berwenang. juga merupakan salah satu aspek dari peningkatan pengawasan. Pelaksanaan pengawasan di bidang anggaran dilakukan dengan cara pemeriksaan secara Departemen Keuangan RI 65 . Untuk mewujudkan integrasi secara struktural di bidang pengawasan seperti dim aksu d. Selanjutnya peningkatan pengawasan adalah juga menggerakkan seluruh aparatur pelaksana untuk secara aktif melaksanakan pengawasan terhadap bawahannya. baik itu berupa tinda. Langkah-langkah yang diambil dalam usaha peningkatan pengawasan serta peningkatan penggunaan hasil-hasil pengawasan oleh seluruh aparatur yang berwenang itu hams diikuti pula dengan usaha peningk::ttan pengertian dan kesadaran akan pengawasan dari seluruh masyarakat. 15 tahun 1983 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan. sedangkan peningkatan kegiatan berarti perluasan ruang lingkup dan luasnya jangkauan pengawasan. Peningkatan pengawasan pertama-tama mempunyai arti peningkatan aparatur pengawasan. peningkatan tatakerja keterampilan serta keahlian. atau dengan kala lain peningkatan pemasyarakatan pengawasan. Oleh karenanya perlu diciptakan dan ditingkatkan mutu sistem pengendalian manajemen dalam tiap aparatur Pemerintah. yang biasa disebut pengawasan atasan langsung. baik aparatur Pemerintah maupun masyarakat umum. terutama dengan makin meningkatnya volume anggaran yang dikelola sebagai konsekuensi dari makin meluasnya kegiatan pembangunan yang dilaksanakan selama Pelita I. penyesuaian besarnya organisasi dan personil. Fungsi dan Tatakerja. serta Struktur Organisasi Menko Ekuin dan Pengawasan Pembangunan. Dalam Pelita IV.3. baik organisasi maupun kegiatannya. kepegawaian. yaitu peningkatan pelaksanaan tindak lanjut. Peningkatan organisasi tersebut meliputi peningkatan kedudukan. maupun berupa tindakan penyempumaan kelembagaan. Tugas pokok. yang berlaku sebagai landasan operasional pengawasan. Akibat dari peningkatan pengawasan atasan langsung maka timbul kebutuhan akan peningkatan media yang akan dipergunakan dalam pengawasan tersebut. serta disesuaikan dengan sasaran-sasaran pembangunan yang hendak dicapai.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2.

.10% -96. Jumlah Proyek Pelita Yang dipcriksa 2.634 .173 501.33% 1.682 406.162 1.180.421 261. 53% 25% 28% 28% 31.276 16.912.687.60% -80.157 97.a 51.08 kejadian per proyek.221 27. Berita acara yang tidak benar pada periode tersebut masing-masing adalah 0. Pelita II.065 1.784 146.. Penerbitan SPMU oleh KPN : (dalam pcrsentase) . yang meliputi laporan hasil pemeriksaan penerimaan.3) 154.06% 31..011 718. 38.5402) 1.bcban sementara s.d.19% 41. Perkembangan hasil pemeriksaan khusus proyekproyek Pelita dapat diikuti pada Tabel II.514 48..789 207. 20.123 268 361 1.639 624.540 676.17 HASIL PEMERIKSAAN KHUSUS PROYEK.140 304.683 1) Daiam Pelita I terdiri atas pcnerbitan SPMU murni SlAP: dalam Pelita II khusus penerbitan SPMU murni saja 2) Jumlab anggaran yang diperiksa 3) Mulai tabun anggaran 1979/1980 DIP berfungsi sebagai SKO Dalam tahun 1983/1984.jumlah s.20 persen. dan pemeriksaan secara serentak pada akhir tahun anggaran terhadap proyekproyek Pelita dan proyek-proyek pembangunan daerah. Realisasi pisik yang tak sesuai dengan DIP (jumlah kejadian) 129 201 88 354 215 8.63% 36.d.89% -80% -79.. Hal ini adalah karena berdasarkan hasil-hasil pengawasan sejak Pelita I sampai dengan akhir tahun keempat Pelita III.025 846.93% 3.103 507.PROYEK PELlTA.475 87..d.14 persen dan 0.956 . Nilai SlAP yang dipcriksa per 1 April tahun berikutnya (jutaan Rp) 12-375 23.92% 2. 0.233 355.590 laporan.759 66.37% 979 173 277 369.703 213.262 4.54% 1. Adapun jumlah laporan pemeriksaan terhadap realisasi APBN/APBD selama tahun keempat Pelita III adalah sebanyak 11.015 60.544 834.956 proyek.39% -90.408 70.089 27.04 dan 0.151 68.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rutin.d.104 355.647. Nilai SKO yang diperiksa 4.939 141..015 362.599 85.246. yang tercermin dari perkembangan jumlah berita acara yang tidak benar dan realisasi fisik yang tidak sesuai dengan DIP.620 30.67% 39.214 122 126 566. Sedangkan pemeriksaan serentak terhadap proyek-proyek Pelita. telah dilakukan pemeriksaan serentak terhadap belanja pegawai daerah otonom dan pegawai pusat pada 27 propinsi.beban tetap s. Dari hasil pemeriksaan belanja pegawai tersebut.1982/1983 PEL1TA I PEL ITA II PEL ITA III 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 759 992 1. Tabel II.l67.100 2. Hasil pemeriksaan tersebut menggambarkan kemajuan di dalam disiplin administrasi para pelaksana proyek.814 857.057 80.49% ..060 58.d.361 246.17.956 2.756 138.116.694 350.jumlab kejadian 106 52 78 144 78 7. Sedangkan jumlah kejadian realisasi fisik yang tidak sesuai dengan DIP pada akhir Pelita I. dan pada tahun keempat Pelita III masing-masing adalah sebanyak 0.567 1. Mulai tahun terakhir Pelita III.326 226.370 41. Berita acorn yang tidak benar (jutaan RP)I) 1.740 221.45% -88.46% 40.410 145.19. dalam rangka memperoleh gambaran mutakhir mengenai jumlah pegawai Pemerintah serta permasalahannya.360 58.151 248 111 108 306 368 .26% -71.88% -93.790 64.214 I.024 4.d.94% 260 66 224 251. Nilai DIP yang diperiksa ( jutaan rupiah) 3.211 -20.867 647.3) .211 proyek.06% -81. pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.098 366 410 1.74% -89. Fenerbitan SPMU oleh KPN: (Murni) (jutaan Rp) .639 137. 18. ditemukan hal-hat mengenai ketertiban administrasi Departemen Keuangan RI 66 .9192) 4.677 110.8172) 3.497 97.782 44.851 222.483 1.238 57.beban sementara s..398 157 282 704.66% -90.178 proyek dan selanjutnya pada tahun keempat Pelita III bertambah lagi menjadi 5.14% 273 95 234 160.81% 3.18% -42.3) .940 3.473. disiplin administrasi proyek-proyek Pelita secara keseiuruhan bertambah baik.773 1.038 .07% 41.672 5. 0.171 129.08% 828 364 969.054.beban tetap s.178 4.333 159.011 97..578 59.86% 30.51% 6.142 86.33% data-data tak 58.821 5.499 69. 1969/1970 . yang pada akhir tahun Pelita I baru mencapai 1.03 persen dari nilai yang diperiksa.791 1.445 632. pada akhir Pelita II telah mencakup 3.729 dijumpai karena sasaran pemeriksaan ada1ah Kas Opname s.772.101 1.512 2.024 491. 47 % 75% 72 % 72% 68.783 2.295 616.21% -88.404 63.324 38. pemeriksaan serentak atas proyek-proyek Repelita tidak lagi dilaksanakan tiap tahun tetapi akan dilakukan sewaktu-waktu bilamana dianggap perlu.

Terhadap BUMN ini pada umumnya dilakukan pemeriksaan terhadap neraca dan perkiraan rugi laba. Hal ini menunjukkan bahwa administrasi pertanggungjawaban keuangan perusahaan semakin bertambah baik. Pernyataan akuntan "menyetujui tanpa syarat" (yaitu pernyataan terhadap laporan keuangan BUMN jang disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi) dari tahun ke tahun terus meningkat jumlahnya. Perjan. dan perusahaan-perusahaan negara yang didirikan dengan undang-undang tersendiri. Pada umumnya hasil pemeriksaaan terhadap kontraktor minyak asing tersebut menguntungkan Pemerintah karena terdapat koreksi-koreksi perhitungan biaya. sedang dalam tahun terakhir Pelita III terdapat kenaikan jumlah pernsahaan yang mendapat pernyataan "menyetujui tanpa syarat menjadi 230 perusahaan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kepegawaian maupun hal-hal yang merugikan negara. Usaha-usaha Pertamina di dalam mencapai accountability dan auditability di bidang tata usaha keuangannya meliputi pula anak-anak perusahaan/joint venture Pertamina. pembayaran rangkap kepada pegawai berupa pembayaran dari perusahaan dan dari Pemerintah daerah. Pemeriksaan tersebut dilakukan terhadap selurnh kontraktor minyak asing yang telah berproduksi secara komersial. Sehubungan dengan itu telah dilakukan penelitian atas pengetrapan prinsip-prinsip perhitungan biaya BBM yang telah ditetapkan. Pengeluaran negara yang menyangkut subsidi BBM mengalami kenaikan karena meningkatnya biaya pokok BBM dan semakin naiknya permintaan masyarakat akan BBM. yang diakhiri dengan pernyataan akuntan yang dapat dipergunakan untuk menilai kemajuan dan ketertiban perianggungjawaban keuangan. Selain itu dilakukan pula pemeriksaan terhadap para kontraktor minyak asing yang mengadakan kerja sama dengan Pertamina dalam bentuk Kontrak Bagi Hasil. Pada akhir Pelita II. Perum. dari selurnh BUMN yang diperiksa terdapat 79 perusahaan yang memperoleh pernyataan "menyetujui tanpa syarat". yang mengakibatkan bertambahnya bagian Pemerintah berupa pajak dan minyak mentah. diantaranya ialah pembayaran gaji pegawai fiktif. pembayaran gaji kepada pegawai yang belum/tidak berhak. kesalahan perhitungan yang mengakibatkan pembayaran gaji lebih besar dari seharnsnya. Departemen Keuangan RI 67 . yang meliputi pemeriksaan atas Persero. seperti Pertamina dan bank-bank milik negara. Pemeriksaan secara rutin juga dilakukan terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN). kelebihan pembayaran kepada pegawai yang tidak patuh kepada disiplin kepegawaian (meninggalkan tugas lebih dari 2 bulan tanpa alasan). kelebihan pembayaran tunjangan keluarga. dan sebagainya. dan Kontrak Karya. pembayaran rangkap kepada pegawai berupa pembayaran dari dua instansi Pemerintah. kesalahan perhitungan yang mengakibatkan pembayaran pensiunan lebih besar dari yang seharnsnya.

pemeriksaan operasional dilakukan terhadap penerimaan pajak/lpeda serta bea dan cukai. dan sebanyak 8 kasus yang menyangkut BUMN/BUMD telah disampaikan kepada Kejaksaan Agung. program rehabilitasi dan. dan 41 kasus yang menyangkut BUMN/BUMD. dan pengawasan terhadap kelancaran pelaksanaan pembangunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sejak tahun 1979/1980 tahap pengawasan ditingkatkan dengan pemeriksaan operasional. Sedangkan untuk program pembangunan. Pemeriksaan operasional ini dilaksanakan baik terhadap kegiatan/program yang dibiayai dengan dana-d. program pembangunan jalan dan jembatan. Sementara itu terhadap Badan Usaha Milik Negara. dan apakah hasil atau manfaat yang diinginkan dari suatu kegiatan/program telah diperoleh secara efektif. Selanjutnya sebanyak 28 kasus yang menyangkut APBN/ APBD. terdiri dari 43 kasus yang menyangkut APBN/ APBD. pemeriksaan operasional dilakukan antara lain terhadap proyek-proyek Inpres pembangunan kabupaten. Di bidang penerimaan negara. yang berarti adanya perluasan sasaran pemeriksaan. pemeriksaan operasional dilakukan terhadap program transmigrasi termasuk program pemukiman daerah transmigrasi. program perbaikan dan peningkatan irigasi. telekomunikasi. serta pos dan giro. maka pada Pelita III sasaran diperluas sampai kepada pemeriksaan untuk melihat apakah suatu kegiatan/program dilaksanakan dengan menggunakan dana yang tersedia secara efisien. terdiri dari 106 kasus yang menyangkut APBN/APBD. Pemeriksaan operasional tersebut belum dapat menjangkau seluruh bidang kegiatan pemerintahan umum dan pembangunan. program pengembangan daerah rawa. melainkan baru terbatas kepada sasaran-sasaran yang diprioritaskan. pemeriksaan operasional dilakukan antara lain terhadap perkreditan . Kalau dalam Pelita I dan Pelita II pemeriksaan hanya ditujukan terntama kepada segi keuangan saja. sekolah dasar. Selanjutnya terhadap program pembangunan daerah. dari hasil pemeriksaan khusus ditemukan 47 kasus yang mengandung unsur tindak pidana. serta reboisasi dan penghijauan. Dalam triwulan I tahun 1984/1985. pemeliharaan jalan dan jembatan. Dari hasil pemeriksaan khusus tersebut ditemukan 147 kasus yang diduga mengandung unsur tindak pidana. Departemen Keuangan RI 68 . Dari hasil pemeriksaan operasional tersebut. penyaluran pupuk.ana yang berasal dari APBN/APBD. program peningkatan produksi tanaman pangan program pembangunan jaringan irigasi baru. telah ditemukan beberapa bidang yang dipandang masih dapat ditingkatkan dayaguna dan hasilgunanya. maupun terhadap badan-badan usaha negara. sarana kesehatan. Dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan pula pemeriksaan khusus terhadap kasuskasus penyimpangan. kepada para pejabat yang bertanggungjawab telah disarnpaikan saran-saran penyempumaan lebih lanjut.

dilakukan pula usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknis dari tenaga-tenaga yang sudah ada melalui penataranpenataran. jumlah tenaga pemeriksa tersebut menunjukkan adanya kenaikan. Di samping itu dilanjutkan usaha untuk meningkatkan mutu sistem pengendalian manajemen.190 orang akuntan. sehingga dapat menghasilkan mekanisme pengawasan terhadap bawahan. dan Inspektorat Wilayah Kabupaten/ Kotarnadya berdasarkan data sementara adalah sebanyak 7. sedangkan terhadap 2 kasus yang menyangkut BUMN telah dilakukan tindak lanjutnya berupa tindakan administratif dan tuntutan ganti rugi kepada yang bersangkutan. melalui pendidikan pembantu akuntan.370 orang. dan pelaporan yang harns dipenuhi. ditambah pula dengan 267 orang tenaga-tenaga sarjana dan sarjana muda jurusan non akuntan yang dijadikan tenaga pemeriksa setelah mendapatkan pendidikan tambahan. sebanyak 14 kasus telah diteruskan ke Kejaksaan Agung. ajun akuntan dan akuntan.473 orang ajun akuntan. dan 309 orang pembantu akuntan. Dewasa ini Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah memiliki 3. Selanjutnya untuk menciptakan keseragaman mutu hasil pemeriksaan. Sernentara itu jumlah tenaga pemeriksa pada aparat pengawasan fungsionallainnya seperti Inspektorat Jenderal. kepada para pengawas dibekali pula dengan tata cara pelaksanaan pemeriksaan. Inspektorat Wilayah Propinsi. tetapi jumlah dan kondisi aparat pengawas yang ada saat ini masih belum memadai bila dibandingkan dengan makin kompleks dan luasnya ruang lingkup pengawasan. dalam arti bahwa pengawasan atasan bukan lagi merupakan pekerjaan terpisah dari fungsi pimpinan. yaitu standar-standar keahlian para pelaksana. Selanjutnya hasil-hasil pengawasan aparat pengawasan Departemen Keuangan RI 69 . Bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan 4 kasus yang menyangkut BUMN. serta makin banyaknya objek pemeriksaan yang hams ditangani. Dari kasus yang menyangkut APBN/APBD. pelaksanaan tugas. baik yang diselenggarakan oleh BPKP maupun oleh departemen . Sedangkan sebagai petunjuk pelaksanaan pengawasan secara lebih teknis. atau Pemerintah Daerah.239 orang tenaga pemeriksa yang terdiri dari 1. kepada para pemeriksa dibekali norma pemeriksaan. dalam tahun 1985/1986 Pemerintah terus berusaha meningkatkan serta menyempurnakan fungsi pengawasan. Semua kasus yang disampaikan kepada Kejaksaan Agung telah diteruskan pula kepada Kejaksaan Tinggi di masing-masing daerah. Di samping usaha-usaha meningkatkan jumlah aparat pengawasan. yang diselenggarakan pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara telah dihasilkan tenaga-tenaga pemeriksa. Dalam rangka meningkatkan jumlah aparat pengawasan. Sehubungan dengan itu agar dapat mendukung tercapainya sasaran strategis pengawasan pada masa mendatang. Meskipun usaha-usaha peningkatan aparat pengawasan secara kualitas maupun kuantitasnya terus dijalankan. 1.

Sejalan dengan itu pendidikan dan latihan tenaga pengawas.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 fungsional diharapkan akan menjadi bagian dari informasi untuk pengambilan keputusan dan perumusan kebijaksanaan. Departemen Keuangan RI 70 . Sistem pengendalian manajemen tersebut akan ikut mewujudkan aparatur Pemerintah yang berdayaguna dan berhasilguna. Seluruh kebijaksanaan dan langkahIangkah di bidang pengawasan tersebut diarahkan agar pada akhir Repelita IV terbentuk sistem pengendalian manajemen yang mampu mencegah secara dini terjadinya pemborosan. di samping pelaksanaan rencana memiliki pengendalian yang menjamin tercapainya tujuan-tujuan yang ditetapkan dalam rencana. serta pengembangan petunjukpetunjuk tatacara pelaksanaan pemeriksaan terus dilanjutkan untuk lebih meningkatkan mutu aparat pengawasan fungsional. kebocoran. dan penyimpangan. karena berkembangnya standar dan norma untuk mengukur efisiensi.

. laju inflasi adalah sebesar 3. Pendahuluan Stabilitas ekonomi yang cukup mantap merupakan landasan yang menjamin lancarnya pembangunan tahap berikutnya. Sementara itu perkembangan harga komoditi ekspor di pasar internasional selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember menunjukkan perkembangan yang agak baik. harga emas di bursa internasional cenderung mengalami penurunan. Dari perkembangan laju inflasi selama Pelita I sampai dengan Pelita III.33 persen atau rata-rata 0. Dalam bulan-bulan terakhir tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember. Selanjutnya selama sembilan bulan dalam tahun pertama pelaksanaan Repelita IV atau tepatnya sampai dengan bulan Desember 1984. dan penyaluran yang cepat bagi masyarakat. lada Departemen Keuangan RI 71 . Untuk periode yang sarna tahun sebelumnya.46 persen atau rata-rata 0. GAJI DAN UPAH 3.1. Apabila diteliti barang dan jasa yang mempengaruhi tingkat kenaikan barga-barga. dan harga rata-rata tertinggi di beberapa kota adalah sekitar 2.81 persen per bulan. Dengan produksi beras dalam tahun 1984 yang diperkirakan lebih tinggidari tahun sebelumnya. sedang dalam Pelita II (1974/1975-1978/1979) dan Pelita III (1979/1980-1983/1984) laju inflasi menurun masing-masing menjadi rata-rata sebesar 14.16 persen per taboo.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB III HARGA. Oleh karena itu senantiasa diusahakan tercapainya kestabilan harga di dalam negeri melalui penyediaan bahan kebutuhan pokok yang cukup. bahan pangan merupakan salah sarti kelompok barang yang terrenting. Melalui program stabilisasi senantiasa diusahakan agar laju inflasi dapat dikendalikan. Namun matauang lainnya secara umum tidak mengalami gejolak harga yang cukup besar. Perbedaan harga rata-rata terendah.48 persen setahun. seperti misalnya dengan emas. khususnya dalam hal lada putih.77 persen dan sebesar 13. Harga-harga di dalam negeri juga dipengaruhi oleh harga-harga di luar negeri. Oleh karena itu Pemerintah senantiasa menjaga stabilitas harganya agar tetap dalam jangkauan daya beli masyarakat. terlihat bahwa rata-rata laju inflasi dalam Pelita I (1969/1970-1973/1974) adalah sebesar 17. komoditi ekspor dan lain-lain. Dilain pihak menguatnya nilai dollar Amerika telah menyebabkan kurs matauang terse but terus meningkat di posaran. laju inflasi adalah sebesar 7.8 persen. sehingga dapat memperkuat landasan bagi pelaksanaan Repelita selanjutnya. secara umum harga beras di beberapa kota selama bulan April-Oktober 1984 telah mengalami penurunan. dan hal itu telah mengakibatkan harga emas di pasar Jakarta mengalami penurunan pula.38 persen sebulan.

0 persen. dan perkembangan harga yang tak menentu telah terjadi pada kopra serta minyak sawit. industri sebesar 12.81 % + 20.77 % + 12.12 % + 10.2 persen.46 % 3.80 % + 8.2.2. Sebaliknya penurunan harga telah terjadi pada karet jenis RSS III.9 persen.7 persen dan 11. Indeks harga konsumen Indonesia Berdasarkan perkembangan indeks harga 150 macam barang dan jasa di 17 kala propinsi.79 % + 47.3 persen. Perkembangan indeks harga perdagangan besar Indonesia dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus telah meningkat sebesar 11.40 % + 12.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hitam. Perkembangan harga 3.6 persen.35 % + 20.08 % + 11.85 % + 9.79 % + 19. yang digunakan sebagai pengukur perkembangan laju inflasi. kopi robusta eks Lampung dan timah putih.1984/1985 Tahun kenaikan REPELITA I 1) 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 REPELITA II 1) 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 REPELITA III 2) 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 REPELITA IV 1984/1985 (sampai dengan bulan Desember) 1) Repelita I dan II berlaku Indeks Biaya Hidup di Jakarta 2) Repelita III mulai diguruikan Indeks Barga Konsumen Indonesia Persentase + 10.65 % + 7.78 % + 0.5 persen. pertambangan dan penggalian sebesar 8.1.13 % + 15.63 % + 3. indeks harga sektor perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi telah meningkat pula sebesar 7. terlihat bahwa laju Departemen Keuangan RI 72 . Tabe1 III. sebagai akibat meningkatnya indeks harga pada sektor-sektor pertanian sebesar 12. Dalam periode yang sarna. 1 PERSENTASE KENAlKAN INDEKS BIAYA HIDUP DI JAKARTA DAN INDEKS HARGA KONSUMEN INDONESIA 1969/1970 .10 % + 19. serta sektor impor dan ekspor masingmasing sebesar 10.

64 persen antara lain disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar 7.17 persen.16 persen.37 persen dan 1. adalah sebesar 3. Juni.kenaikan yang cukup besar pada kelompok makanan terjadi pada bulan Desember 1984 yaitu sebesar 2. indeks harga kelompok sandang dan kelompok aneka barang dan jasa masing-masing sebesar 2. Kenaikan yang cukup besar pada indeks harga sub kelompok biaya penyelenggaraan rumah tangga pada bulan April dan Nopember 1984 masing_masing sebesar 1.kota propinsi di Indonesia.04 persen.03 persen.33 persen adalah sebagai akibat meningkatnya upah pembantu di 10 dari 17 .43 persen dan 5.81 persen.97 persen dan indeks harga sub kelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 6.74 persen. indek harga sub kelompok telur.03 persen.38 persen per bulan.88 persen dan 1.49 persen dan 7. terlihat bahwa laju inflasi sebesar 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 inflasi selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Desember. masing-masing sebesar 2.65 persen.28 persen. 0. atau rata-rata 0. susu dan hasil-hasilnya sebesar 5. serta dalam bulan Oktober dan Nopember 1984laju inflasi adalah sarna. perkembangan yang lebih terperinci menunjukkan bahwa dalam bulan Agustus dan September 1984 telah terjadi deflasi masing-masing sebesar 0. indeks harga sub kelompok kacang-kacangan sebesar 6.30 persen yang terjadi selama periode April-Desember 1984 adalah akibat meningkatnya indeks harga sub kelompok biaya tempat tinggal.47 persen yang disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok padi-padian.30 persen. ubi-ubian dan hasil-hasilnya sebesar 4. masing-masing sebesar 2.33 persen.38 persen. Mei.79 persen dan indeks harga sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 9.31 persen.98 persen dan indeks harga sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 5. Departemen Keuangan RI 73 . Dalam indeks harga kelompok perumahan. 0. Pada periode yang sarna tahun sebelumnya. peningkatan sebesar 2.64 persen dan 2. sedang dalam bulan-bulan April.45 persen. Sementara itu penurunan indeks harga sub kelompok lainnya dalam kelompok makanan terjadi pada indeks harga sub kelompok lemak dan minyak yaitu sebesar 3.46 persen atau rata-rata 0. indeks harga sub kelompok ikan segar sebesar 7. Bila dilihat faktor penyebab laju inflasi selama periode April-Desember 1984 berdasarkan kelompok maupun sub kelompok barang dan jasa. Juli dan Desember 1984 laju inflasi masing-masing sebesar 1.46 persen tersebut disebabkan oleh meningkatnya indeks harga kelompok makanan dan kelompok perumahan.15 persen dan 0.10 persen. Kenaikan indeks harga kelompok makanan sebesar 2. dan indeks harga sub kelompok biaya penyelenggaraan rumah tangga. 0. laju inflasi adalah sebesar 7.71 persen.76 persen. yaitu sebesar 0. Bila diteliti lebih lanjut.

36 274.25 244.76 234.02 189.83 176.14 244.08 263.90 184.38 183.18 233.27 225.48 205.88 163.57 246.72 216.22 238.45 221.48 212.33 183.76 228.34 220.16 224.53 226.86 178.20 222.97 258.23 210.48 238.86 239.51 238.69 262.33 236.14 241.14 267.62 276.60 210.78 238.02 204.72 272.91 258.64 232.28 214.12 255.73 147.34 183.08 263.69 239.17 238.18 240.60 174.60 221.42 186.34 246.89 246.70 205.22 243.85 205.43 197.93 223.98 239.40 263.36 245.08 175.32 210.11 258.77 220.24 210.08 233.53 233.88 257.57 217.99 216.77 175.12 263.67 259.46 221.70 171. 1979/1980 .51 258.14 172.52 220.68 242.09 156.65 234.65 238.40 179.14 215.95 268.93 224.24 160.30 199.88 265.56 Medan 149.H 261.12 219.93 275.08 262.58 Makanan 144.35 177.77 241.78 239.61 221.34 267.37 213.91 257.02 237.49 221.82 255.47 166.00 258.48 240.63 190.99 139.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel III.52 220.61 188.45 220.40 240.14 237.18 212.70 220.73 177.72 245.55 259.08 258.30 204.33 234.46 269.94 267.77 240.03 221..26 200.70 233.82 172.82 189.64 265.21 149.45 238.32 182.19 219.46 220.82 192.03 246.33 243.03 236.55 221.10 177.62 183.96 209.09 245.37 215.98 223.09 185.34 242.93 187.53 269.77 219.21 197.03 204.19 200.82 194.08 276.90 226.98 143.16 274.93 211.90 245.45 231.57 177.51 221.52 240.43 245.54 221.54 229.49 193.58 161.04 215.41 197.52 Padang Palembang Jakarta Bandung Semarang 148.02 147.35 Perumahan 146.43 238.48 257.72 189.54 Umum 147.03 217. 3 INDEKS UMUM HARGA KONSUMEN DI 17 KOTA DI INDONESIA.27 214.40 242.76 183.1984/1985 ( 1977/1978 = 100) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 198411985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Sandang 173.59 247.65 259.34 247.67 247.46 220.42 236.87 240.11 233.21 231.11 256.84 214.58 206.58 223.99 194.18 219.39 246.06 239.86 236.68 244.02 273.61 247.38 179.31 Departemen Keuangan RI 74 .73 238.59 197.07 258. 2 INDEKS HARGA KONSUMEN INDONESIA.12 202.28 198.68 219.50 218.29 225.02 238.14 174.48 255.73 189.79 218.52 255.25 252.63 Tabel III.78 257.28 262.35 246. 1979/1980 -1984/1985 ( 1977/1978 = 100 ) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Yogyakarta Surabaya Denpasar 152.90 233.57 246.40 227.47 275.93 241.19 232.27 202.20 224.29 208.43 273.88 266.89 227.57 203.73 247.46 258.82 148.96 214.69 237.01 230.34 240.29 245.05 243.79 239.19 179.48 244.58 239.45 257.29 192.89 191.56 245.82 263.08 263.01 204.75 200.55 221.51 171.29 200.13 265.70 168.

Perkembangan indeks harga konsumen beserta komponennya dapat dilihat dalam Tabel III.2 208.28 201.81 205. sub kelompok sandang anak-anak. sedangkan laju penurunan harga terjadi di kota Ambon sebesar 1.27 242.84 229. yaitu pada saat-saat menjelang Idul Fitri.19 247. dalam bulan Juli dan Nopember 1934.24 135.37 191.56 223.95 197.09 215.55 258.57 214. Bila dilihat perkembangan per bulannya.65 228 227.19 241.66 214.29 175.39 217.11 226.62 reIsen.3 212.55 161.21 258 257.63 238.91 218.17 241. Peningkatan terse but disebabkan oleh naiknya indeks harga sub kelompok san dang lakiIaki.71 259. sandang wanita.8 219.56 235. Denpasar.37 227.22 233.76 218.97 259.15 232.09 227. 4.97 191.6 231. yang termasuk pada indeks harga sub kelompok pendidikan.13 224.62 228.68 212.52 177.68 210.1 236.52 164.92 221. Medan.61 persen.52 persen dan 1. antara lain disebabkan naiknya indeks harga sub kelompok transpor sebesar 10.16 persen.46 144.78 241.33 246.92 259.87 231.56 216.55 211.13 persen.25 200.15 persen dan 4.57 244.17 192.49 208. dan DKI Jakarta yaitu masingmasing sebesar 4.5 244.21 Kupang 150.17 228.04 223.35 242.25 222.23 257.42 160.65 234.44 231.93 157.72 224. Indeks harga kelornpok aneka barung dan jasa yang meningkat sebesar 7.82 232.83 226.97 persen.42 175.57 persen.45 persen.15 230.35 persen .19 241.73 Jayapura 128. dan indeks harga sub kelompok kesehatan sebesar 5.35 persen.65 Pontianak 148.63 227. serta meningkatnya harga obat tanpa resep adalah merupakan faktor penyebab meningkatnya beberapa indeks harga tersebut di atas.18 231.68 231. dan sandang anakanak telah terjadi dalam bulan Juni dan Juli 1984. sedapg dalam bulan-bulan lainnya hanya mengalami peningkatan yang relatif rendah.84 Manado 149. 3.09 225. serta kenaikan indeks harga sub kelompok barang pribadi.9 230.02 229.49 persen.49 persen. Laju inflasi di kota-kota lainnya hanya berkisar antara 0. indeks harga sub kelompok pendidikall sebesar 8.44 232.81 219.09 232.09 Banjarmasi n 163.7 219.81 246.35 180.65 212.9 229.33 persen sampai 3.2 179.62 237. 3. Kenaikan yang cukup besar dari biaya angkutan umum dalam bulan April 1984.01 Ujung pandang Ambon 145.7 206.4 225.79 227.65 228.55 228.53 209. Perkembangan indeks harga konsumen di setiap kala dapat dilihat dalam Tabel III.12 242.4 227.1 Laju inflasi di 17 kota selama sembilan bulan tahun anggaran 1984/1985 telah menunjukkan perkembangan yang relatif besar untuk kota Jayapura.67 218. dari sub kelompok sandang wanita masing-masing sebesar 3. Departemen Keuangan RI 75 .05 231.13 persen.53 214.67 193.81 241.36 225.79 232.95 255.45 180.43 236.01 223.39 212.03 Indeks harga kelompok sandang selama bulan April-Desember 1984 telah meningkat sebesar 2.17 253. peningkatan yang cukup besar dari indeks harga ketiga jenis sandang yaitu sandang laki-Iaki.44 persen.54 228.9 230. 4.31 216.55 232.56 236.66 236.84 231.51 193.46 260. dan sandang lainnya sebesar 1. 3 (lanjutan) Tahun anggaran/ rata-rata bulan 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Juni September Desember Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Mataram 148.96 192.06 253.27 235.97 243. kenaikan harga alar-alar tulis dan buku tulis.74 227.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel III.47 227.95 228.33 229.72 206.81 249.

-190.sampai Rp 395.-325. Sedangkan harga yang bervariasi antara Rp 263.-190.54 206. Produksi beras dalam tahun 1984 yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.67 180..2.-165.-155.-175.-200.-125.-176.96 89.81 250.-173.-125.-246.-120.per kilogram.89 75.-135.36 sampai Rp 425.-230.25 265.-193.2.13 157.-135. perkembangan harga beras yang relatif stabil antara lain terjadi di kola Semarang.-200. GULA PASIR DAN TEKSTIL DI BEBERAPA KOTA BESAR DI INDONESIA.-245.75 135.02 dan Rp 333.1984/1985 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 Maret Maret Maret Maret Maret Maret 103. 1973/1974 .-135.per kilogram terjadi di kola Bandung.-125.-235.-226.34 180.-100.-140.17 90.09 75.67.-135. Harga beberapa barang konsumsi utama Perkembangan harga beras di beberapa kala di Indonesia selama periode April sampai dengan Oktcber 1984 secara umum relatif stabil.8 persen.-91. yaitu tetap pada tingkat harga Rp 275.-124.-250. Surabaya. Ujungpandang dan Denposar.5 129.-133.33 146.250.-200.33 125.-165.-95.190. Perbedaan harga rata-rata terendah.5 200.-170. Harga tepung terigu di beberapa kola di Indonesia dalam periode April-Oktober 1984 berkisar antara Rp 275.-120.67 159.84 262.-92.33 103.4 HARGA RATA-RATA BERAS MUTU MENENGAH.-130.-235.-160. Rp 348..-185.33 143.-135.-125.-85. dan harga rata-rata tertinggi di beberapa kola adalah sebesar 2.-150.128.-200.-100.67 182.-275.-215.78 81.17 100.33 215.-168.11 82.25 150.-156.-115.-120.75 190.66 220.-176.-125.5 241.-185.79 170.per kilogram Tabel III.8 persen.67 250. TEPUNG TERIGU.-175.-215.71 172.83 137.-193.62 278.67 175.-262.75 300.33 221. dengan peningkatan terbesar terjadi di kola Ujungpandang yaitu sebesar 13.-90.-135.-159.67 103.18 131. Medan dan Banjarmasin.-166.-218.-90.-217. masing-masing pada tingkat harga Rp 291.-200.84 84.139..85 191.-120.67 235.-188.-130.88 173.-- Kota Bandung Yogyakarta Semarang Surabaya Medan Banjarmasm Ujungpandang Denpasar jenis barang Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil Beras Tepung terigu Gula posir Tekstil ( Rp{kg ) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg) (Rp{kg) (Rp{m) ( Rp{kg ) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg) ( Rp{kg) (Rp{m) ( Rp{kg) ( Rp{kg ) ( Rp{kg ) (Rp{m) Departemen Keuangan RI 76 .33 140.-130. serta penyaluran yang cukup lancar ke pasaran telah menyebabkan stabilnya harga beras dalam periode tersebut.-200.-125.75 93.-200.75 252.-190.-165.5 210.-160.-311. Sedangkan dalam bulan-bulan lainnya harga tepung terigu tidak mengalami peningkatan yang berarti.5 145.-257.33 183. Peningkatan yang cukup tinggi telah terjadi hampir di semua kola dalam bulan Agustus 1984.25 201.-157.-125.46 per kilogram.67 125.5 165.-170.33 79.44 175.-200.190.-180.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 3.-425. Yogyakarta.-96.-250..-104.89 135.-250.-125.-223. bahkan di kota Banjarmasin selama periode April-Oktober 1984 mengalami kestabilan.-140.-155.11 125.-250.-185.63 165.-120.25 200.-180.06 153.94 132.-213.62 95.-125.-80.88 244.-125.33 140.39 261.-103.-225.-180.-75.-105.08 273.5 90.-135.66 100.-166.67 242.5 175.-160.-200.-250.75 105.33 150.-125.-123.33 255.-120.

75 342.n 377.-.52 349.183.-271.-700.3 persen sampai 6.42 260.-230.67 762.25 289.-516.84 528.75 221.8 208.-288.-503.63 375.11 224.67 214.-273.-500.39 599.38 188.-200.-563.16 330. 2. Berdasarkan perkembangan harga gula posir di beberapa kota selama periode April-Oktober 1984 sebagaimana terlihat dalam Tabel III.5 327.56 633.55 275.04 315.08 323.43 395.-400.08 1984/19851) s/d Oktober 315.5 250.-350.536.-219.3 178.22 281.5 236.33 321.-267.4 (lanjutan) 1979/1980 1980/1981 Maret Maret 219.94 252.75 510.46 287.75 514.-206.83 564.-550.55 252.92 481.600. pembangunan pabrik-pabrik baru. mulai bulan Oktober 1980'Pemerintah menjamin pemasaran seluruh gula rani baik yang merupakan bagian petani.-245.-400.-475.-650.21 261.-222.67 407. Semarang dan Surabaya.-300.67 542.-274.67 540.99 273..-450.68 205.72 702.92 500.92 327.75 559.17 649.97 326.-541.74 226.-900.6 393.08 550. masing-masing sebesar 4.35 373.33 621.-550.-350.-500.-- Kebijaksanaan Pemerintah dalam usaha meningkatkan produksi gula pasir antara lain dilaksanakan melalui rehabilitasi pabrik-pabrik gula.3 persen.2 246.-527.33 626.88 250.-525.89 260.-575.91 265.34 486.-740.67 714.38 210.83 527.-550.-269.33 500.-615. maupun yang merupakan bagian pabrik.34 225.48 423.-285.-510. sehingga dalam bulan tersebut terjadi peningkatan di kota Ujungpandang.4.8 400.-375.-425. 525. Kenaikan harga tepung terigu yang terjadi pada bulan Agustus 1984 telah pula mempengaruhi perkembangan harga gula pasir.-350.41 176.46 351.51 175.0 persen.-190.83 400.5 275.-425.-381.-500.3 persen.63 571.-242.-239..-385.83 400.34 650.36 265.42 584.-332.-425.4 415.5 275.-- 1982/1983 Maret 319.25 319.16 195.75 228.67 271.33 278.6 persen dan 2.-272.635.-178.-250.57 529.-268.-315.206.5 500.75 503. Di sam ping itu dalam rangka menunjang program tebu rakyat intensifikasi. dan konsumen terhindar dari gejolak kenaikan harga.-600.-425.34 250.54 225.67 600.07 196.22 275.25 275.-290.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel 111.17 542. Produksi tekstil yang mencukupi telah menyebabkan perkembangan harga tekstil di Departemen Keuangan RI 77 .-550.-255.-267.75 555. dan penyesuaian harga provenue gula pasir.-255.33 518.97 193.25 461.67 386.19 216.58 217.57 400.-- K o t a / Jenis barang Bandung Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Y ogyakarta Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Semarang Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Surabaya Beras Tepung terigu Cula posir Tekstil Medan Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Banjarmasin Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Ujungpandang Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil Denposar Beras Tepung terigu Gula pasir Tekstil 1) Sampai dengan Oktober 198 ( Rp/kg) (Rp/kg ) ( Rp/kg) (Rp/m) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp /kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp /kg ) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg ) ( Rp/kg ) (Rp/m) ( Rp/kg) ( Rp/kg) ( Rp/kg) (Rp/m) 1981/1982 Maret 281.206.33 291.42 500 236.-- 1983/1984 Maret 272.33 525.-275.87 590. Dengan demikian petani dapat menerima harga yang ditetapkan.-625.58 576.-322.-610.82 269. kenaikan harga yang cukup tinggi terjadi dalam bulan Mei dan Agustus 1984 yang berkisar antara 0.65 272.12 473.25 567.-280.5 511.34 278.71 226.25 430.-437.

-365.81 1.-341.1972/1973 Maret 414.-138.-80. Selama tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember.024.390.25 690.89.8 318.1978/1979 Maret 627.-160.139.8 324.12 1.131. harga emas menurun sebesar 15.4 482.8 persen.5 432.75 289.72.25 354.75 372.4 469.-1977/1978 Maret 412.-143.per meter.481. Tabel III.153.6 370.1984/1985 April 1.5 1982/1983 Maret 761.422. sedang harga tertinggi terjadi di kota Medan dengan harga Rp 900.062.2 386..25 1980/1981 Maret 632.88.50 129.-Juli 1.25 348. 7.-251.123.75 383.6 4.25 284.82.5 328.8 3.132..8 4.4.-11 7.4 455.-179.25 322. perkembangan harga barang-barang konsumsi Utama dapat dilihat dalam Tabel IlI.418.1970/1971 Maret 378.011.067.140.465.2 persen.25 139.5 304.2 461.75 Oktober 1.75 Agustus 1.25 950.-81.8 330.443.196.36 1. harga tekstil tidak mengalami kenaikan yang berarti.15 1.1974/1975 Maret 416.345.373.145.25 1.006.3 persen.-426. yaitu bulan Juni dan Juli 1984.461.16 1.09 1.357.362.20 4.5 persen dan 5.-157.1.167.2 4. Bila dibandingkan penurunan harga emas di pasar Jakarta dengan di pasar London.197.3. Selama periode April-Oktober 1984. Harga terendah terjadi di kola Denpasar dengan tingkat harga Rp 500. Dalam bulan-bulan menjelang Idul Fitri.1973/1974 Maret 415.83.-1.25 1.488.6 383.13 5 .205.75 133.-323.25 123.Nopember Swiss F NFL 110.5 146.7 persen.365.151 .322.57 1.-444.40 366.376.4 3.39 1.291..80 486.25 335.6 461.153.015. harga tekstil di beberapa kota berkisar antara Rp 500.40 134.5 HARGA BEBERAPA VALUTA ASING DI JAKARTA.2 312.31 1.2 125.-140.-125.165.5 2. maka terlihat bahwa di pasaran Jakarta harga emas mengalami penurunan yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan penurunan yang terjadi di pasar London.4 1983/1984 Juni 979.60 4.1. harga emas 24 karat.per meter.-338.2 478.1975/1976 Maret 415.. Hal ini memperlihatkan bahwa minat masyarakat terhadap logam mulia emas masih cukup besar.020.4 September 989.4.75 347.25 491.per meter.035.6 365.041.153.162.50 4.-980.28 1.46 1.127.75 133.-463.-4.5 312.8 341.302.1971/1972 Maret 413.2 314.8 496.4 1.316.47 1.5 349.75 302.6 329.25 830.166.41 1.131. 1969/1970 -1984/1985 (hargajual/dalam rupiah per satuan) Tahun anggaran/ rata-rata bulan DM US $ Yen £ HK$ Sing $ 1969/1970 Maret 379.25 448.-1.8 341.130.25 920.123.sampai Rp 900.139.2 456.6 780.3.-858.6 1979/1980 Maret 632.6 Desember 996. Indeks harga emas dan valuta asing Fluktuasi kurs matauang dollar Amerika telah mempengaruhi perkembangan harga emas. 23 karat dan 22 karat di pasar Jakarta telah menurun masing-masing sebesar 7.50 115.-1.5 63.147.20 4.1976/1977 Maret 415.-184.5 274.492.527.33 1.75 478.5 433.408.25 422.-Mei 1.8 Maret 1.431.443.62.75 131. Dalam periode yang sarna di pasaran London. baik di posaran lokal maupun di posaran internasional.8 3.6 September 1.4.21 370.5 308.2 Juni 1.52 1.276.1. Di samping itU penurunan harga Departemen Keuangan RI 78 .75 483.130.882. bahkan di kota Semarang dalam bulan Juli 1984 harga menurun sebesar 0.-4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa kota relatif stabil.75 370.4.75 427.167.064.-173.326.2.2 465.75 2.6 363.75 1981/1982 Maret 653.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

emas tersebut juga merupakan akibat bertambahnya permintaan terhadap matauang dollar Arnerika. Bila dilihat perkembangannya setiap bulan, harga emas 24 karat, 23 karat dan 22 karat selama tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember 1984 umumnya mengalami penurunan. Khususnya dalam bulan Juli 1984, masing-masing mengalami penurunan sebesar 4,6 persen, 4,5 persen dan 4,1 persen. Sedangkan selama empat bulan terakhir yaitu bulan Agustus, September, Oktober dan Nopember 1984, harga emas 24 karat, 23 karat dan 22 karat relatif stabil yaitu tetap raJa harga Rp 11.500,-, Rp 11.000,- dan Rp 10.500,- per gram. perkembangan harga emas dapat dilihat dalam Tabel III.6.
Tabel III. 6 HARGA EMAS DI PASAR JAKARTA DAN DI PASAR LONDON, 1969/1970 - 1984/1985 ( dalam rupiah per gram) London Tahun anggaran / Jakarta 24' 23 ' 22' US $/ 1 fine oz rata-rata bulan 1969/1970 Maret 490,-470,-450,-35.32 1970/1971 Maret 510,480,450,-37.38 1971/1972 Maret 620,-580,450,-48.40 1972 / Maret 1.050,1.000,950,-90.00 1973/1974 Maret 1.775,-1.675,1.575,-111.75 1974/1975 Maret 2.312,50 2.212,50 2.100,-177.50 1975 / Maret 1.837,50 1.737,50 1.637,50 129.55 1976/1977 Maret 2.050,1. 950,-1.850,149.13 1977/ 1978 Maret 2.350,-2.260,-2.150,-179.75 1978/1979 Maret 5.080,-4.880,4.680,239.75 1979/1980 Maret 10.750,9.750,-9.000,547.25 1980/ 1981 Maret 10.100,9.593,75 9.100,-576.75 1981 / Maret 7.150,-6.725,-6.375,316.25 1982/1983 Maret 9.980,9.534,9.048,413.00 1983/1984 Juni 12.580,- 11.940,-11.320,-415.00 September 12.800,-- 12.000,-11.500,-385.00 Desember 12.340,-- 11.690,-11.090,375.00 Maret 12.390,- 11.890,-11.140,393.00 1984/1985 April 12.237,50 11.662,50 11.025,-383.75 Mei 12.080,11.480,11.860,384.70 Juni 12.300,11.750,11.000,371.50 Juli 11.737,50 11.225,10.550,336.10 Agustus 11.500,-- d.OOO..10.500,347.11 September 11.500,-- 11.000,-10.500,-346.68 Oktober 11.500.11.000,10.500,336.00 Nopember 11.500,-11.000,10.500,330.80

Meningkatnya kurs matauang dollar Amerika sejak awal tahun anggaran 1984/1985 masih terus berlangsung sampai dengan bulan Nopember 1984. Selama periode AprilNopember 1984, kurs matauang tersebut meningkat sebesar 4,6 persen yaitU dari Rp 1.020,menjadi Rp 1.067,20 per dollarnya. Dari perkembangan kurs dollar setiap bulannya terlihat bahwa kurs dollar Amerika telah mengalami peningkatan tertinggi dalam bulan September 1984 yaitu sebesar 2,1 persen, sedangkan dalam bulan-bulan lainnya selama periode tersebUt
Departemen Keuangan RI

79

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

hanya meningkat antara 0,1 sampai 1,7 persen. Kurs dollar Hongkong terus meningkat dengan peningkatan terbesar terjadi dalam bulan September 1984, yaitu sebesar 2,4 persen. Secara urn urn dapat dikatakan bahwa peningkatan yang cukup besar raJa kurs dollar Amerika, maupun pada kurs dollar Hongkong dalam bulan tersebut disebabkan permintaan dalam jumlah yang relatif besar di posaran. Keadaan sebaliknya telah terjadi pada harga matauang Asia yaitu Yen, dollar Singapura dan beberapa matauang Eropa Barat, yang permintaannya tidak menentu sehingga berakibat tidak stabilnya kurs matauang tersebut di pasaran. Bila dilihat perkembangan kurs Yen setiap bulan, maka selama delapan bulan dalam tahun anggaran 1984/1985 atau dalam periode April-Nopember 1984, telah terjadi penurunan dalam bulanbulan Mei, Juni, Juli dan Oktober 1984, sedangkan sebaliknya dalam bulan-bulan lainnya terjadi peningkatan antara 1,1 sampai 1,5 persen. Pola yang hampir sarna terjadi raJa kurs dollar Singapura yang mengalami kenaikan kurs tertinggi dalam bulan Agustus 1984 yaitU sebesar 1,8 persen, sedangkan dalam bulan Juli 1984 mengalami penurunan sebesar 0,8 persen. Secara keseluruhan selama periode April-Nopember 1984, kurs Yen menurun sebesar 1,3 persen, sedang kurs dollar Singapura meningkat dengan 3,7 persen. Perkembangan beberapa matauang
Eropa Barat yaitu Poundsterling Inggris, Mark Jerman, Franc Swiss dan Guilder Belanda dalam periode yang sarna secara umum menunjukkan penurunan masingmasing sebesar 8,2 peTscH, 7,5 persen, 6,9 per:sen dan 7,2 persen. Penurunan kurs matauang Poundsterling Inggris dalam bulan Oktober 1984 sebesar 2,8 persen merupakan penurunan yang terbesar diantara penurunan yang terjadi selama kurun waktu April-Nopember 1984. Sedangkan kurs matauang Mark Jerman dan Franc Swiss mengalami penurunan terbesar dalam bulan Juli 1984 masing-masing sebesar 2,5 persen dan 3,9 persen, demikian pula kurs Guilder Belanda mengalami penurunan terbesar dalam bulan September 1984 sebesar 3,0 persen. Perkembangan kurs beberapa valuta asing di pasar Jakarta dapat dilihat dalam Tabel III.8

3.2.4. Harga barang-barang ekspor Memasuki tahun pertama Repelita IV, atau tepatnya pada tahun anggaran 1984/1985 sampai dengan bulan Nopember, harga komoditi ekspor di posar lokal Jakarta yaitu lada putih dan kopi robusta telah mengalami peningkatan masing-masing sebesar 5,6 persen dan 2,0 persen, sedangkan komoditi karet dan kopra selama periode terse bUt telah menurun sebesar 23,8 persen dan 16,7 persen. Secara umum dapat dikatakan bahwa peningkatan dan penurunan harga yang terjadi di posaran lokal adalah akibat perkembangan harga yang terjadi di pasaran internasional. Mengamati perkembangan harga di posaran internasional dalam kaitannya dengan

Departemen Keuangan RI

80

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

ekspor beberapa komoditi Indonesia, terlihat bahwa beberapa komoditi mempunyai prospek yang baik sekali dalam usaha pengembangan ekspor. Hal ini tercermin pada Tabel 111.8, dimana komoditi lada putih, lad a hiram, kopi robusta eks Lampung, dan timah putih selama tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Nopember 1984 mengalami pemasaran yang makin baik. Selama periode April-Nopember 1984, harga lada putih di posar London, dan lada biram di posar New York telah meningkat masing-masing sebesar 21,9 persen dan 21,0 persen. Menguatnya harga lada putih dan lada biram tersebut adalah akibat menurunnya persediaan, karena memburuknya panen lada dunia dalam tahun 1983/1984 yang diperkirakan masih terus berkelanjutan dalam tahun pallen 1984/1985. Harga kopi robusta eks Lamrung di posar Singapura dalam periode yang sarna naik sebesar 14,1 persen, walaupun di pasar New York sebagai pusat pemasaran kopi dunia dalam periode terse but mengalami penurunan sebesar 5,3 persen. perkembangan harga timah putih di posar London selama periode April-Nopember 1984 menunjukkan kenaikan sebesar 13,5 persen. Peningkatan tersebut bukan merupakan akibat dari meningkatnya permintaan, akan tetapi akibat menurunnya nilai Pound sterling Inggris di pasaran moneter internasional. Perkembangan yang sebaliknya telah terjadi pada harga kopra di posar Manila, dan di posar London serta minyak sawit eks Malaysia di pasar London, yang selama periode April-Nopember 1984 mengalami penurunan masing-masing sebesar 17,0 persen, 17,8 persen dan 15,7 persen. Demikian pula halnya dengan harga karet RSS III di posar New York, London dan Singapura, selama periode tersebut telah mengalami penurunan masing-masing sebesar 27,7 persen, 17,2 persen dan 28,2 persen. Penurunan harga karet sintetis, sehubungan dengan menurunnya harga minyak bumi, merupakan salah sarli sebab menurunnya harga karet tersebut. perkembangan harga komoditi di posar lokal, dan di posar internasional dapat dilihat pada Tabel III.7, Tabel III.8

Departemen Keuangan RI

81

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Tabel III. 7 HARGA BEBERAPA BARANG EKSPOR DI JAKARTA, 1969/1970 - 1984/1985 ( dalam rupiah per kilogram) Tahun anggaran/ Kopra rata-rata bulan (Sulawesi) RSS I Lada putih Kopi robusta 1969/1970 Maret 125,66 50,18 295,-126,57 1970/1971 Maret 106,1 65,4 199,25 156,1971 /1972 Maret 103,12 58,2 257,6 120,62 1972/1973 Maret 199,77 79,7 431,4 293,09 1973/1974 Maret 305,56 192,43 752,19 360,46 1974/1975 Maret 178,35 94,51 526,25 245,82 1975/1976 Maret 243,59 89,18 455,37 507,1976/1977 Maret 278,29 215,5 1.100,2.090,1977/1978 Maret 306,47 233,33 917,5 862,5 1978/1979 Maret 626,66 256,67 1.276,25 1.169,1979/1980 Maret 777,94 242,26 1.162,50 1.225,1980/1981 Maret 690,21 263,4 822,5 968,75 1981/1982 Maret 508,48 243,8 880,-783,6 1982/1983 Maret 701,09 219,8 956,-1.025,1983/1984 Juni 1.041,64 313,26 1.270,1.200,-September 992,74 363,78 1.450,1.150,Desember 1.103,43 467,32 2.510,1.250,Maret 1.006,25 535,07 2.665,1.275,1984/1985 April 939,44 560,38 2.540,1.300,Mei 889,84 540,65 2.660,1.325,-Juni 791,42 577,25 2.670,1.300,Juli 795,54 543,48 2.440,1.300,Agustus 820,36 493,15 2.600,1.325,September 853,37 432,74 2.925,1.350,Oktober 797,9 445,77 2.850,1.235,Nopember 766,78 445,77 2.815,1. 300,-

Tahun anggaran/ rata-rata bulan

Tabel III..8 HARGA BEBERAPA BARANG EKSPOR UTAMA DI PASAR INTERNASIONAL, 1969/1970 - 1984/1985 RSS III Kopra Kopi robusta Lada putih Lada hitam Timah putih Minyak US $/lt US $flt Str $1 pic us $ ct/lb Br tIlt US $ ct/!b Br £ I mt Br tIlt US $ ct/lb Brp I kg Str $ ct/kg York) (London) (Singapnra) (Manila) (London) Lampung eks Palembang (London) (New York) (London) Malaysia (Singapura) (New York) (London) 20,88 17,08 16,01 26,4 42,43 27,83 35,88 39,67 43,52 51,7 69,43 65,06 43,24 54,36 53,29 58,11 57,2 56,84 54,54 50,7 47,01 45,47 45,59 45,58 42,33 41,1 20,65 14,6 12,6 24,59 39,98 24,89 41,22 38,86 48,34 59,87 66,35 57,25 48,24 73,58 71,81 75,48 81,21 80,2 77,64 73,41 68,01 70,07 70,3 71,38 68,59 66,41 59,35 98,83 83,2 137,45 203,96 117,8 179,05 186,44 196,43 247,44 300,91 240,63 163,5 200,56 219,33 221,23 228,53 225,31 215,08 198,55 182,17 179,2 180,04 179,78 167,30' 161,87 205,-176,28 115,92 201,5 767,67 258,93 178,46 456,76 664,5 520,76 406,25 327,05 329,58 479,01 645,-655,33 747,726,83 845,-723,25 658,5 648,54 703,13 620,240,53 208,55 141,84 221,21 899,6 304,6 192,5 551,5 437,06 796,45 516,75 389,43 330,25 321,69 472,92 638,01 653,4 744,15 735,75 800,17 829,4 728,682,6 642,13 747,63 611,54 82,38 117,13 95,5 90,-165,93 118,53 215,38 815,23 280,-285,-395,-399,-356,94 292,5 332,5 362,5 480,5 487,5 487,5 487,5 551,37 551,-551,-562,25 566,556,-33,65 39,28 36,43 42,28 62,31 42,86 78,15 294,56 120,67 154,75 104,52 114,48 114,69 117,49 117,42 126,04 128,15 127,45 133,5 132,75 127,66 127,2 128,2 122,26 121,42 49,77 42,73 47,4 60,5 98,93 88,3 102,55 164,6 188,75 150,62 139,-100,-128,88 132,-126,56 135,-243,-244,8 245,-245,245,-245,241,01 274,5 317,5 298,5 57,72 55,6 45,52,25 79,92 90,-79,14 117,31 116,67 86,52 95,67 83,-73,-64,"71,63 66,84 98,7 90,07 92,45 96,8 97,6 92,5 91,88 105,1 114,8 108,94 1.578,54 1.472,20 1.477,60 1.736,50 3.524,-3.043,26 3.594,05 6.155,94 5.917,50 7.328,7.906,83 6.084,13 7.070,78 8.957,10 8.581,41 8.506,16 8.616,20 8.523,48 8.762,42 9.055,25 9.170,38 9.412,60 9.352,08 9.594,25 9.596,50 9.676,94 109,58 117,6 81,35 115,-276,87 197,85 591,74 319,5 679,61 612,602,33 505,17 376,5 400,66 648,85 705,79 739,5 767,23 905,63 817,33 590,28 566,6 616,-631,75 623,39

1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984

1984/1985

Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Juni September Oesember Maret April Mei Juni Jull Agustus September Oktober Nopember

Departemen Keuangan RI

82

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

3.2 .5 .Indeks harga perdagangan besar Indonesia Dalam tahun 1983, indeks harga perdagangan besar meningkat sebesar 18,2 persen, atau dari indeks 302 dalam tahun 1982 menjadi 357 dalam tahun 1983. Kenaikan tersebut disebabkan oleh meningkatnya indeks harga sektor pertanian sebesar 13,7 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 9,0 persen, sektor industri sebesar 17,1 persen, sektor impor sebesar 20,9 persen, dan sektor ekspor sebesar 19,5 persen. Dalam perkembangannya yang terakhir, yaitu dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus, indeks harga perdagangan besar terse but meningkat sebesar 11,5 persen, sebagai hasil dari kenaikan indeks harga sektor pertanian sebesar 12,0 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 8,6 persen, sektor industri sebesar 12,3 persen, serta indeks sektor impor dan sektor ekspor masing-masing sebesar 10,7 persen dan 11,9 persen. Peningkatan indeks harga sektor pertanian terjadi pada indeks harga masing-masing sub sektor tanaman perdagangan, bahan makanan, peternakan, perikanan, serta sub sektor perkayuan dan hasil-hasil hutan. Indeks harga sektor pertambangan dan penggalian meningkat karena peningkatan yang terjadi antara lain pada indeks harga sub sektor batubara, sub sektor penggalian, dan sub sektor garam. Pada indeks harga sektor industri, peningkatan telah terjadi pada indeks harga semua sub sektornya, yaitu antara lain sub sektor industri minyak nabati dan lemak, serta sub sektor industri pengilangan minyak dan hasilhasilnya. Di sektor impor, kenaikan terjadi pada indeks harga sub sektor hasil industri pemintalan, perajutan, tekstil dan lainnya, sub sektor hasil industri kertas dan hasil-hasilnya, serta sub sektor hasil industri pengilangan minyak. Demikian pula halnya dengan indeks harga perdagangan besar bahan ekspor, peningkatan terjadi pada indeks harga masing-masing sub sektor bahan makanan dan sejenisnya, biji logam bukan besi, serta sub sektor hasil-hasil tanaman perdagangan dan ternak. Perkembangan Indeks harga perdagangan besar Indonesia dapat dilihat dalam Tabel III.9.
Tabel III. 9 ANGKA INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR INDONESIA, 1977 -1984 ( 1975 = 100 )

S e k tor I. Pertanian 2. Pertambangan dan penggalian 3. In d u s t r i 4. Impor 5. E k s p o r Indek Umum Kenaikan indeks (%)
1) Sampai dengan buIan Agustus

1977 145 130 128 108 116 122

1978

1979 213 175 178 153 246 195
71,05

1980

1981 302 266 234 191 414 282
11,46

1982

1983 382 339 301 243 514 357
18,21

1984 1)

-

162 144 139 118 127 114 -6,56

262 218 210 174 375 253
29,74

336 311 257 201 430 302
7,09

428 368 338 269 575 398
11,48

Departemen Keuangan RI

83

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

3.2.6. Indeks harga perdagangan besar bahan bangunan/konstruksi Perkembangan indeks umum harga perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi dalam tahun 1983 telah menunjukkan peningkatan sebesar 11,8 persen. Kenaikan tersebut tercermin dati kenaikan yang terjadi pada masing-masing indeks harga jenis bangunan tempat tinggal sebesar 11,0 persen, jenis bangunan bukan tempat tinggal sebesar 12,3 persen, jenis pekerjaan umum untuk pertanian sebesar 13,0 persen, jenis pekerjaan umum untuk jalan dan jembatan sebesar 11,5 persen, jenis bangunan listrik dan transmisinya sebesar 12,2 persen, bangunan dan konstruksi lainnya sebesar 11,9 persen, sella indeks harga untuk jenis perbaikan bangunan sebesar 12,5 persen. Pada perkembangannya yang terakhir yaitu pada tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus, indeks umum harga perdagangan besar bahan bangunan dan konstruksi telah meningkat sebesar 7,2 persen. Peningkatan terse but disebabkan oleh peningkatan masing-masing pada indeks harga jenis bangunan pekerjaan umum untuk pertanian sebesar 8,9 persen, jenis bangunan pekerjaan uIhum untuk jalan dan jembatan sebesar 7,5 persen, serta indeks harga jenis bangunan lainnya yang berkisar antara 5,9 persen dan 7,4 persen. perkembangan angka indeks harga perdagangan besar bahan bangunan/konstruksi dapat dilihat pada Tabel III.10.
Tabel III. 10 ANGKA INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR BAHAN BANGUNAN/KONSTRUKSI DI INDONESIA MENURUT lENIS, 1977 -1984 ( 1975 = 100 ) Jenis 1. Bangunan tempat tinggal 2. Bangunan bukan temp at tinggal 3. Pekerjaan umum untuk pertanian 4. Pekerjaan umum untuk jalan dan jembatan 5. Bangunan listrik dan transmisinya 6. Bangunan dan konstruksi lainnya 7. Perbaikan bangunan Umum Persentase perubahan 1) Sampai dengan bulan Agustus 1977 114 113 109 112 106 111 113 112 1978 123 124 120 123 116 123 122 122 8,93 1979 149 152 146 151 142 154 151 150 22,95 1980 175 177 192 183 160 182 179 177 18 1981 191 193 213 205 170 200 196 194 9,6 1982 209 211 239 226 181 219 216 212 9,28 1983 232 237 270 252 203 245 243 237 11,79 1984 248 254 194 271 215 261 261 254 7,17

3.3. Gaji dan upah di berbagai sektor ekonomi Peraturan pengupahan secara regional, sektoral, maupun sub sektoral senantiasa mengalami peningkatan dati tahun ke tahun. Sampai dengan tahun _pertama pelaksanaan Repelita IV sampai dengan bulan September, secara kumulatif telah dihasilkan 16 buah peraturan pengupahan secara regional, 58 buah peraturan pengupahan secara sektoral, dan 300

Departemen Keuangan RI

84

412 307. Bangunan 5 Listrik 6.039 89. dan sektor perkebllnan masing-masing sebesar 36. sedangkan sektor listrik tidak mengalami perubahan.5 sampai 18.5 persen sampai 18.528 442.035 307.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 buah peraturan pengupahan secara sub sektoral.1 persen.158 14.975 672.050 42. Dalam hal upah maksimum.974 73.128 29. Jasa-jasa 9.280 150.137 29.039 70.200 12.214 209. Perkebunan 2.590 89. 1975 -1984 ( rupiah per bulan) 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 8.475 56.246 287.056 58.725 496. Perdaganganlbank/asuransi 7.078 307.400 262. kenaikan upah minimum terjadi terutama pada sektor bangunan dan sektor perkebunan yaitu masing-masing sebesar 38.606 60.527 228.099 17.972 33.0 sampai 32.009 60.662 50.837 13.718 40.695 248.193 35. Pertambangan 3.881 17. Listrik 6.061 29. 23.025 556.658 509.994 231.280 172.3 persen. Sampai dengan semester I tahun 1984.6 persen. Perkebunan 2.452 25. sektor jasa dan sektor lainnya meningkat sekitar 4.977 16. Tabel III.400 1983 27.595 174.046 250.720 25.503 492.719 361.606 465.025 33.280 176.400 Sektor ( Rata-rata upah minimum) 1.238 173.0 persen sampai 12.200 17. kecuali pada sektor pegawai negeri yang tidak mengalami perubahan dalam upah minimum maupun upah maksimum.255 26.530 280. Perdaganganlbank/asuransi 7.287 83.5 persen.6 persen.877 64.745 712.278 35.118 34. Industri 4.362 72.5 persen.262 19. dan sektor perdagangan/bank/asuransi masing-masing sebesar 24.589 20. sektor listrik.283 69.187 28.827 297.491 32.114 29.116 30. Bila perkembangan upah selama periode Januari-Juni 1984 dibandingkan dengan periode Januari-Juni 1983.721 550.196 297. Pertambangan 3.299 440. Bangunan 5.738 370.328 554.5 persen dan 22.500 9.799 268.185 72. Demikian pula halnya dengan upah maksimum dalam tahun 1983 meningkat antara 3.2 persen. sektor bangunan.078 342.405 228.517 39.927 32. Pada Tabel III. Sedangkan peningkatan upah maksimum terjadi disektor perhubungan.166 150.4 persen dan sektor bangunan sebesar 24.650 834.112 41.339 291.207 72.051 29. Dilain pihak penurunan terjadi pada sektor pertambangan sebesar 0.211 269.993 44.337 409.069 42.540 65.760 295.416 205.400 277.754 27.498 14.500 191.381 20.520 656. Jasa-jasa 9.101 37. sektor perhubungan sebesar 28.030 172. Lain-Iain/pegawal negeri 1982 25.500 21.840 219.723 532.843 63. Perhubungan 8.676 554.550 Departemen Keuangan RI 85 .233 241.179 333.932 41.700 10.200 712.361 381.536 275. sektor industri.181 171.618 415.314 158.209 48.429 32.300 138.485 69. sedangkan sektor perkebunan.242 117.395 465.158 16.279 53. Lain-lain/pegawai negeri ( Rata-rata upah maksimum ) 1.121 67. 19.914 35. Industri 4.318 32.245 50.681 36.158 16.300 118.165 524.9 persen.254 382.778 135.182 22.1 persen dan 18.991 125.235 84.2 persen. Perhubungan 8.606 27.408 620.647 205.510 46.11 dapat dilihat bahwa dalam tahun 1983 upah minimum di semua sektor telah meningkat antara 4.105 21.893 27. 11 UPAH MINIMUM DAN MAKSIMUM DI BERBAGAI SEKTOR.919 46.200 14.262 25.494 34.752 241.348 455.7 persen.665 322.632 393.520 780.419 227.299 29.178 251.270 26.832 320.889 645.391 32.423 57. sedangkan sektor-sektor lainnya hanya meningkat antara 2.400 19841) 31.928 689.146 527.178 24.235 50.262 29. kenaikan terjadi pada sektor perdagangan/bank/asuransi sebesar 43.7 persen dan 17.742 14.411 448.956 294.424 320.782 23.021 351.4 persen.570 36. upah minimum di semua sektor mengalami peningkatan yaitu pada sektor bangunan.6 persen.665 14.400 289.036 309.624 359.752 241.826 36.595 189.

senantiasa disempurnakan dengan ikut sertanya Bank Indonesia untuk menjaga perkembangan suku bunga antar bank. dan tabungan lainnya. dan keringanan pajak atas pendapatan bunga dividen dan royalty (PBDR) juga berlaku bagi pembelian obligasi. dengan beberapa penyesuaian dalam ketentuan dan persyaratan. sebagai salah satu pilihan bagi masyarakat untuk menanamkan kelebihan dananya. Sedangkan untuk mengembangkan jual beli surat berharga di posar modal. Transaksi di pasar uang antar bank melalui kliring di Jakarta. telah diambil kebijaksanaan untuk tidak memungut atau menangguhkan pemungutan pajak penghasilan atas pendapatan bunga deposito berjangka. Departemen Keuangan RI 86 . pagu kredit perbankan dihapuskan. serta meningkatkan efisiensi dan peranan lembaga-lembaga keuangan. Pemerintah senantiasa mendorong peningkatan produksi barang-barang kebutuhan rakyat. yang mempunyai kaitan erat dengan kebijaksanaan fiskal dan perkembangan neraca pembayaran. meningkatkan usaha pemerataan pembangunan dengan meningkatkan golongan ekonomi lemah. Sejalan dengan hal tersebut. Untuk itu fasilitas kredit likuiditas tetap disediakan untuk pinjaman yang berprioritas tinggi. dan kredit likuiditas Bank Indonesia kepada bank-bank untuk sektor ekonomi yang bukan prioritas dihentikan.1. Di samping itu penerbitan sertifikat deposito terus dilanjutkan. Untuk lebih menunjang usaha peningkatan dana masyarakat. serta pengembangan usaha golongan ekonomi lemah. tatacara penyelesaian transaksi effek di bursa telah disederhanakan. yang pada dasarnya bertujuan untuk ineningkatkan pengerahan dana masyarakat melalui pemberian tanggung jawab yang lebih besar kepada bank-bank untuk menetapkan sendiri persyaratan-persyaratan penghimpunan dana dari dan pemberian kredit kepada masyarakat. memelihara kestabilan perekonomian dengan menjaga kestabilan harga. kebijaksanaan moneter telah memasuki tahun kedua penataan kembali sistem perbankan Indonesia. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan usaha pemerataan pembangunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB IV MONETER DAN PERKREDITAN 4. bertujuan untuk meneruskan usaha kearah tercapainya sa saran pembangunan sesuai dengan trilogi pembangunan. Dalam tahun pertama Rep.dita IV. Pendahuluan Kebijaksanaan moneter dalam Repelita IV. Beberapa tujuan pokok yang akan dicapai adalah peningkatan usaha mobilisasi tabungan masyarakat melalui bank dan lembaga keuangan bukan bank.

sejak 1 Pebruari 1984 telah diterbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai sarana pengendalian moneter. Peranan uang giral yang cukup tinggi di dalam komponen uang beredar tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat di dalam menggunakan jasa-jasa perbankan.5 persen). pembinaan lembaga-lembaga keuangan senantiasa ditingkatkan. 4. yaitu dari posisinya sebesar Rp8. dan uang giral sebesar Rp 4. Sementara itu peranan lembaga keuangan bukan bank (LKBB) ditingkatkan dengan diberikannya fasilitas diskonto ulang dalam perdagangan surat-surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan.0 milyar pada akhir bulan September 1984. serta perluasan jaringan kliring lokal di tempattempat yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia.mg dapat dibayar. dan meliputi pembinaan terhadap lembaga perbankan.9 milyar. Dengan demikian secara keseluruhan sampai dengan bulan September 1984. lembaga keuangan bukan bank. Usaha untuk meningkatkan peranan pembiayaan pembangunan dengan dana dari masyarakat. di samping ketentuan untuk memelihara cadangan wajib minimum bank-bank yang sejak 1 Januari 1978 besarnya adalah 15 persen dari kewajiban y. Departemen Keuangan RI 87 .093. Pembinaan bank pembangunan daerah dilaksanakan melalui program pemberian bantuan teknis dan pendidikan. Bank Indonesia menyediakan fasilitas diskonto yang merupakan upaya terakhir bagi bank-bank dalam usahanya untuk memperoleh tambahan dana.563. posisi uang kanal adalah sebesar Rp 3.9 milyar atau 44 persen dari jumlah uang beredar.4 milyar.054. Jumlah uang beredar dan sehab-sehab perubahannya Jumlah uang beredar selama 6 bulan pertama tahun anggaran 1984/1985 telah mengalami peningkatan sebesar Rp 38.1 milyar atau 56 persen dari jumlah uang beredar.3 milyar (0. dan perasuransian. Terhadap bank umum swasta nasional juga diberikan keringanan dalam persyaratan pembukaan kantor cabang. SBI ini dapat digunakan (melalui operasi posar terbuka) untuk menanamkan kelebihan dana likuiditas dari bank yang belum dioperasikan. Peningkatan tersebut terdiri dari peningkatan uang kartal sebesar Rp 10.7 milyar pada akhir bulan Maret 1984. baik bank Pemerintah maupun bank swasta nasional. Pembinaan disektor perbankan diarahkan untuk mengembangkan sistem perbankan yang sehat.2. Sebaliknya sebagai sarana untuk menanggulangi kekurangan likuiditas.529. serta peningkatan peranan pasar uang dan modal. dan uang giral sebesar Rp 27. menjadi Rp 8.

036.5 6.8 387.7 126 210.563.631.3 2.SEBAB PERUBAHAN JUMLAH UANG BEREDAR.9 Lainnya bersih -32.9 -50.40 1984/1985 April 130.20 51 8.000.9 -146.1 3.9 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.3 254 47.5 16.90 295.5 90.773.60 17.569.8 39 853.035.50 44 4.1 166.3 170 47.501.90 689 32.80 49 1.182.5 -39.6 -497 42.3 -312.2 210.40 62 6.8 -88.2 -105.6 -266 527.2 -417.8 -101.8 400.7 Juni 241.431.9 59.306.20 45 4.2 -13.30 -1. 1969/1970 .4 -686.8 31 659.9 1.4 40 210.799.985.1 55 239.6 1971/1972 Maret 153.283.8 457 5. 1969/1970 .10 56 8.4 -175 -1.036.8 September 671 -871 608.296.684.8 3.836.2 158.10 997.265.4 -190.1 33.5 28.9 458.560.1 -277.1 1.5 3.90 56 7.4 -138.2 198 1) Termasuk tagihan pada badan/lembaga dan perusahaan Pemerintah 2) Angka sementara Akhir waktu Aktiva Luar negeri Pemerintah pusat Simpanan berjangka & Tabungan -27.5 675.10 37.6 1.2 853.10 1976/19.90 43 4.9 395. 1 JUMLAH UANG BEREDAR.30 -101.00 -89.7 3.20 -146.2 46 784.4 Mei 160.9 2.8 -220.40 57 7.8 -92.10 1.50 279.1 Kumulatif 2.3 190.5 -162.9 0.1 151.572.427.4 -170.40 604.2 421.4 675.228.3 3.60 809.9 307.10 1983/1984 Juni 429 -347.6 1977/1978 Maret 441.4 472.110.1 1970/1971 Maret -4.20 1981/1982 Maret -67.40 -1.4 Desember 406.072.3 1.9 718.40 -596.30 44 4.5 -192.9 361.5 Agustus 2) -35.6 -830.653.2 -195 -134.8 188.6 -1.7 -654.20 56 8.8 -164.3 291.633.10 -146.9 -89.1 54 363.50 604.00 158.90 199.2 1.099.368.3 2.378.80 44 4.333.77 Maret 476.719.1984/1985 ( dalam milyar rupiah) Uang Uang Persentase kartal giral % % Jumlah Perubahan Perubahan 126.027.20 53 3.4 -395 810.3 549.20 51 2.90 55 8. 2 SEBAB .8 112.379.40 126 1.90 44 4.10 51 2.8 -610.7 2 Akhir Waktu 1969/1970 Maret 1970/1971 Maret 1971/1972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Maret 1982/1983 Maret 1983/1984 Joni September Desember Maret Kumulatif 1984/1985 April Mei Juni Juli I) Agustus 1) September 1) I) Angka sementara Tabel IV.420.1 -1.3 46 768.9 538.70 43 2.60 56 7.3 58 150 42 360.10 242.5 -146.50 43 4.30 -559.233.553.4 -25.221.136.7 485.9 61.214.50 -374 -65 -124.178.9 -973.5 2.5 -203.7 8.7 -1.2 3.7 1978/1979 Maret 985.505.797.8 -1.2 3.563.5 1973/1974 Maret 154.3 90.6 -7.075.1984/1985 (dalam milyar rupiah) Tagihan pada perusahaan & Perorangan l) 1969/1970 Maret -7 -4.508.50 -105.1 4.8 158.2 -684.410.7 -650.093.6 -418 1.417.1 -157.715.7 79.5 689 997.835.70 41 4.90 -1.1 1972/1973 Maret 124.615.50 29.3 9.3 60 84.90 400.6 48 1.983.560.8 -180.90 47 2.8 September 2) -215.6 -83.70 59 7.5 -194.70 485.605.50 1.9 142.5 27.70 45 4.1 -369.60 46 4.9 3.8 62 103.7 -16.815.40 387.6 1974/1975 Maret 1 23.541.70 49 1.1 -143.20 1.3 227.5 -1.1 Maret 1.80 1979/1980 Maret 2.1 170 254 242.8 3.6 199.273.302.417.825.2 127.5 295.70 54 7.023.4 -123.7 Departemen Keuangan RI 88 .1 -445.7 -471.4 1980/1981 Maret 2.2 45 530.6 54 1.491.70 57 8.4 47 962 53 1.1 -2.774.2 353 Juli 2) -35.30 55 7.30 38 4.4 38 270.90 210.5 52 488.497.046.10 2.054.5 1975/1976 Maret -319.529.8 -1.00 1982/1983 Maret 16.2 -123.9 3.3 17.2 59.4 697.2 35.934.235.70 1.6 -72.2 Perubahan 79.605.50 57 5.3 332.70 49 4.409.1 53 100.6 2.

9 milyar (49. Dana dan Kredit Perbankan 4.4 milyar. Pengaruh menambah sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan tersebut menunjukkan suatu perkembangan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode yang sarna tahun lalu. dan sektor lainnya bersih juga memberikan pengaruh menambah pada jumlah uang beredar.020.4 persen). Dari jumlah tersebut.6 milyar terse but sebagian besar berasal dari dana giro bank-bank Pemerintah. Usaha untuk meningkatkan tabungan masyarakat yang terus dilakukan Pemerintah tercermin dari besarnya pengaruh mengurang pada jumlah uang beredar yang ditimbulkan oleh sektor simpanan berjangka dan tabungan. sedangkan dana deposito dan . 'Perkembangan jumlah uang beredar. satu dan lain adalah karena peningkatan kredit untuk pembiayaan di bidang perindustrian dan jasa-jasa.965.800.8 milyar.9 milyar. sedangkan dana giro bank-bank Departemen Keuangan RI 89 .218. sektor Pemerintah pusat tersebut memberikan pengaruh mengurang sebesar Rp 1.266. serta sekaligus mengurangi ketergantungan bank-bank kepada dana likuiditas Bank Indonesia.2 milyar.705.3. dan Rp 638.800.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Jika dilihat dari sektor-sektor yang mempengaruhi jumlah uang beredar. Bankbank Pemerintah diberi kebebasan dalam menentukan tingkat suku bunga deposito dan tabungan lainnya.3 persen) adalah dana giro.034.6 milyar (46.3 milyar (4. pada jumlah uang beredar sebesar Rp 1. Di samping itu sektor aktiva luar negeri bersih.3 persen).6 milyar. kepada bank-bank Pemerintah telah diberikan tanggung jawab yang lebih besar di dalam usaha pengerahan dana. yaitu sebesar Rp 1. Sektor Pemerintah pusat selama semester pertama tahun anggaran 1984/1985 menunjukkan pengaruh mengurang. sektor tersebut memberikan pengaruh mengurang sebesar Rp 1. yaitu sebesar Rp 5. dana perbankan mencapai jumlah sebesar Rp 14. kecuali terhadap deposito berjangka waktu 24 bulan yang bunganya ditetapkan sekurang-kurangnya 12 persen per tahun.4 milyar.3. sebesar Rp 6. Dana perbankan Kebijaksanaan di bidang mobilisasi. Dana giro sebesar Rp 6.4 milyar. sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan memberikan pengaruh menambah yang cukup besar. dana perbankan senantiasa mengalami penyempurnaan sesuai dengan perkembangan. tabungan masing-masing adalah sebesar Rp 7. masing-masing sebesar Rp 244.9 milyar dan Rp 238.1. dalam periode April-September 1984.0 milyar. Dalam periode April-September 1984. Sampai dengan akhir bulan September 1984. dan sebab-sebab perubahannya secara lengkap dapat diikuti pada Tabel lV.390.2.l dan Tabel IV. Peningkatan yang cukup besar pada sektor tagihan pada perusahaan dan perorangan ini. Sejak Juni 1983. yaitu sebesar Rp 970. sedangkan dalam periode yang sama tahun yang lalu. 4.

00 3.988. Jumlah besar (I + IV ) 1) Giro Deposito 2) Tabungan 3) 1) Terdiri atas dana bank-bank umum.236.886.337.483.9 Maret 9.273.3 810 0.260.113.463.7 0.8 590.4 1.5 222.30 106 13.90 869.167. 770.063.292.343. Dari dana yang dihimpun dalam bentuk deposito sebesar Rp7.2 2.399. 723.2 3.10 4.9 98.8 71.908.917.80 1.3 197. oleh bank-bank swasta nasional sebesar Rp106.1 203.1 76.7 281.4 1.7 1.2 114.252.10 6.4 816.6 756.9 10.60 0.2 187.003.720.60 4.1 2.10 505.156.381.60 6.40 2. Jumlah besar( I + IV) Giro Deposito 2) Tabungan 3) 6.932.688.20 0.1 1.20 1.3 10.30 5.20 2.7 1.00 109.30 6.436.8 372.30 1. Tabel IV.3 1) Terdiri atas dana bank-bank umum.80 5.8 299.70 412.818.543.426.2 46 73.5 240 330.80 2.70 1.287.3 '52.10 1.2 703.10 531.60 7.3 3.023.80 1. Bank-bank Pemerintah G ir 0 Deposito Tabungan II.20 1.6 3.5 1.9 244 482.657.6 13.3 159.4 831.256.243.50 105.6 Juni . 381.2 1.40 570.00 1.00 4.863. Cabang bank-bank asing Giro Deposito Tabungan IV.698.693.50 1.650.111.543.6 112.3 1. 7 43.074.1 140.410.4 milyar. dan dana giro cabang bank-bank asing adalah sebesar Rp 513.80 6.103.8 1.6 Agust.599.5 12.263.8 382.1 164.6 333.1.742.20 1.20 1.20 1.90 1.695.00 1.927.4 Sept.70 233.2 5.60 591.40 87 1.6 68 1.80 107 14.40 3. Sub total (II + III ) Giro Deposito Tabungan 1) V.00 5.80 1.9 44.2 371.70 1.2 4.151.80 637.252.4 1.40 1.30 7.10 4.750.099.50 1.20 2.80 1.8 141 142.20 1.90 638.896.1 458.40 4. Rp 1.446.30 6.2 3.90 2.60 1.398.908.60 3.348.3 560.8 501.6 3.1 810.412.40 2.7 666.6 454.141.106.7 419.90 541.624.010.00 103.60 103.395.4 158.429.40 1.9 8 11.882.6 milyaroleh cabang bank-bank asing.20 4.707.40 0.1 671.017.1 231.2 44.10 104. Cahang bank-bank asing Giro Deposito Tabungan IV.4 1.4 1.736.90 1.10 87.60 26.781.266.2 11.2 421.60 489 7.084.7 0.2 77.209.466.60 6.40 4.40 566. 8.50 1.131.30 6.9 1. Departemen Keuangan RI 90 . Bank-bank swasta nasional Giro Deposito Tabungan III.189.1984 ( dalam milyar rupiah ) 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember.976.60 543.3 48.3 66 89 117.034.00 1.90 653.3 0.2 3.325.705.8 32.927.556.9 April 9.1 0.233.632.230. 3) Termasuk tabungan pegawai dan setoran ongkos naik hajj.4 52.3 417.539.9 114.834.270.3 1.210.00 6.616.8 392.777.8 0.6 127.70 6.9 1.6 765.50 1.63.3 milyar. 7.7 765.244.451.80 5.109.6 14.3 106.8 224. Bank-bank Pemerintah Giro Deposito c Tabllngan II.660.981. 3 DANA PERBANKAN RUPIAH DAN V ALUTA ASING.582.60 6.787.236.259.254.10 4.10 2.8 milyar dan oleh cabang bank-bank asing sebesar Rp 0.3 238.4 205.40 3.10 1.20 513.50 1.2 4.034.086.2 1.30 100 1.6 740. Sedangkan dana tabungan yang berhasil dihimpun oleh bank-bank Pemerintah adalah berjumlah Rp 531.1 milyar merupakan dana yang berhasil dihimpun oleh bank-bank Pemerintah.20 539. dan Rp 1.80 1.20 1.9 0.30 559.356.196.802.00 74.4 117.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 swasta nasional adalah sebesar Rp 1.2 1983 Juni 7.40 1.40 5.5 21.30 539.009.2 4.10 103.376.3 604.7 1.350.1 79.50 1.90 1.3 milyar.0 2.7 153.10 260.250.10 6.0 1.6 72. 1972 .2 242. 2) Termasuk sertifikat deposito.144.302.4 2.00 4. 2) Termasuk sertifikat deposito.6 431.30 109.3 1.00 1.181.10 1.30 583.70 4.7 890.4 1.00 1.20 2.3 Sept.2 255 363 464.867.6 313.80 2.261.3 1984 Juli 9.40 1.90 8.012.2 milyar oleh bank-bank swasta nasional.367.6 198.40 4.555.737.239.4 769.6 16. 4) 9.1 0.559.80 1.8 1.1 13.8 858.194. sehingga secara keseluruhan jumlah dana tabungan mencapai Rp 638.7 997.582.8 70 70.122.924.2 13.449.4 362.2 489.2 202 252.4 35. 1982 Desember Maret I.60 1.033.519.40 4.9 305.180.40 2.6 3.815.058.190.853. 718.2 980.9 milyar.034.4 146.3 645.2 760. bank pembangunan dan bank tabungan termasuk dana milik pemerintah pusat dan bukan penduduk.80 103 1.70 2.6 milyar.170.150.7 345.1 28.90 4.00 5.7 522.458.7 145.1 0.6 16 19.20 0.150.6 553.7 804.766.535.1 8.7 20'\.4 Me i 9.20 521.60 4.2 13.2 4.616.8 50.266.40 6.3 4. Sub total (II + III) Giro Deposito Tabungan V.081.80 552.20 2.526.122.1 132.90 466.3 366.267. 4) Angka sementara.398.80 29.80 4. 9.70 1.659.60 1.6 672.30 1.80 516.7 44.888.7 71.80 4.5 I.10 186.4 1.6 930.7 303.70 456.60 4.1 Des. Rp 4.2 4.7 1.266.40 514 2.792.200.70 168.047.106.7 2.163.378.30 94.2 77.80 2.1 19.3 224 255.800.4 200.471.243.9 2.030.50 568.2 4.50 100.9 581. Bank-bank swasta nasional Giro Deposito Tabungan III.941.90 4.70 0.90 543.035.060.10 3.272.00 64.20 3.30 72.2 milyar.485.8 149.028.080.3 4.1 110.1 1.2 1.003.20 508.5 225.058.1 3.7 2.173.015.5 218.80 105.6 462.80 4.3 986.50 4.471.2 901.50 0.4 680.756.70 6.068.753.650.80 3.60 94.9 845.4 1.60 6.50 0.613.618.10 585 2.60 1.5 83 113 134.396.60 1.858.8 184.40 669. bank pembangunan dan bank tabungan termasuk dana milik pemerintah pusat dan bukan penduduk.195.8 !i31.10 4.9 80.9.502.9 8 11.90 28.20 954.80 583.756.154.9 4.920.914.8 436.8.525.9 55.086.888.4 338.133. 3) Termasuk tabungan pegawai dan setoran ongkos naik haji.689.379.90 2.50 6.7 2.5 1.8 3.2 4.590.7 32.2 1.5 94.293.80 544.6 90.444.70 676.00 6.40 4.80 3.40 1.40 68.80 688.2 302.4 1.470.30 537.9 559.9 32.097.70 688.10 1.70 1.742.70 933.20 106.168.50 1. 18.

berjangka waktu 3 bulan sebesar Rp 990.9 104.3 483.8 117.141.9 343 Mei 6.10 998.20 612.70 450.3 milyar (13.8 61.9 136.40 118.8 milyar (5.1 32.6 2. Jika semula saldo Tabanas yang diberikan Departemen Keuangan RI 91 .401.80 1.723.4 106.6 persen).7 152.3 milyar (23. pegawai.40 1.348. berjangka waktu 6 bulan sebesar Rp 1.7 2.8 1.60 685. Dengan demikian bila pada akhir tahun 1983/1984 jumlah dana perbankan secara keseluruhan baru sebesar Rp 13.2.2 127.8 307 1983 Maret 3.839.2 234. dan deposito lainnya sebesar Rp 119.7 317 Sept 4. 1972 .613.458.4 70 115 980.30 990.1 28.209.2 306.3 1.461.7 357 April 6.7 537 191.1 milyar.2 937.2 2.787.60 168.8 153.4 1.90 750 1.80 591.80 1.266.2 81.550.8 575.3. 788.781.1984 ( dalam milyar rupiah.90 418.723.1. maka raJa akhir September 1984 dana tertersebut terdiri dari deposito berjangka waktu 1 bulan sebesar Rp 1.6 41.3 152.842.225.9 253.5 1.045.059.20 879.40 986 1.2 111.5 413 1) Termasuk deposito yang sudah jatuh waktu dan deposit on call 2) Termasuk deposito berjangka waktu 9 dan 18 bulan.5 21.1 384.7 persen).70 684 1.10 960.50 1.9 370.1 55.5 1. Perkembangan deposito berjangka dapat diikuti pada Tabel IV.7 persen).2 399.2 81.2 372 Juli 6.8 17.6 88.099.357.9 331 Maret 6.357.3 168 1) Termasuk deposito yang sudahjatuh waktu dan deposit on call 2) Termasuk deposito berjangka waktu 9 dan 18 bulan 1982 Desember Deposito berjangka 24 Bulan 12 bulan 6 bulan 3 bulan 1 bulan 1) Lainnya 2) TABANAS TASKA 2. TABANAS DAN TASKA.10 1.609.3 460.1 122. berjangka waktu 24 bulan sebesar Rp 407.3 82.50 372.8 2.2 2 191.9 74 760.8 361.80 480.8 milyar (23.668.1 11.7 244.981.90 819.6 persen).1 4.489.9 445.5 1.90 833.0 milyar (32.6 234.7 milyar (1.920.031.4 47.459.33 7.3 421 Sept 3) 7.697.194.8 29.8 2.20 1.0 persen). 3) Angka sementara.7 32.4 DEPOSITO BERJANGKA RUPIAH DAN VALUTA ASING SELURUH BANK.287.9 19.7 585.70 519 1.20 950.1 22. Jenis tabungan ini diikuti oleh para pelajar.9 366 Des 5.80 129.6 1.8 199 72 37. Sejak 1 Juni 1983.6 1. berjangka waktu 12 bulan sebesar Rp 2.40 569.714.8 694.6 112 1. dan masyarakat pada umumnya.80 119.7 357 1984 Juni 6. dan tabungan asuransi berjangka (Taska) adalah saran a penghimpun dana masyarakat yang lebih menonjolkan segi pendidikan kepada masyarakat terutama generasi muda untuk hidup berhemat.924.335.4.5 303 Juni 4.90 73.3 136.081.7 109.6 138 1.7 122 2.1 1.001.4 persen).1 16.4 195.3 1.5 141.90 605.4 471.5 844.3 342.4 94.7 584.1 32.650.8 53.103.5 84 581.7 291. 4.40 111.6 47.2 531.80 785.10 117.1 158 1. kebijaksanaan mengenai Tabanas telah memberikan kesempatan bagi para penabung untuk menikmati tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari pada sebelumnya.00 1.9 74.540.316.6 99 338. kecuali dalam juta rupiah untuk Taska) 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Desember Deserrtber Deposito berjangka 24 bulan 12 bulan 6 bulan 3 bulan 1 bulan 1) Lainnya 2) TABANAS TASKA 233.668.379.3 43.9 492.40 612.8 1.5 580.5 1.40 128 574 391 Agust 7.5 11. Tabanas dan Taska Tabungan pembangunan nasional (Tabanas).90 127.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.70 1.8 572.90 407.262.8 25.60 967.5 80.7 264.6 38.669.20 1.8 580.886.5 212.693.4 476.4 522.618.5 120 1.4 359.732.00 131.60 544.80 679.5 90. pramuka.5 59.4 1.737.60 897.4 640.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 bunga 15 persen setahun hanyalah sampai dengan jumlah maksimum Rp 200. Bila dibandingkan dengan posisinya pada akhir Maret 1984 sebesar Rp575. dan selanjutnya dikenal sebagai sertifikat deposito.4 persen).1.087 ribu penabung.3.7 milyar.5 persen dari jumlah pinjarnan yang diberikannya. jumlah Tabanas telah mencapai sebesar Rp 585.5 milyar dengan 12. tercatat adanya kenaikan sebesar Rp 9.7 persen). Sertifikat Deposito Sertifikat deposito semula diterbitkan oleh Bank Indonesia dengan nama Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Posisi Taska sebesar Rp 413 juta pada bulan September 1984 menunjukkan adanya peningkatan sebesar Rp 56 juta (15. dan selebihnya bersuku bunga 12 persen setahun. Selanjutnya perkembangan Tabanas dan Taska dapat diikuti pada Tabel IV. Sampai dengan akhir September 1984.000. dan cabang bank-bank asing mencapai Rp 224. maka dalam kebijaksanaan yang bam saldo ini telah ditingkatkan menjadi Rp 1.3. Kenaikan jumlah penabung Tabanas pada periode April-September 1984 mencapai 613 ribu penabung. Bank-bank penerbit adalah bank-bank yang secara berturut-turut selama dua tahun terakhir telah memenuhi persyaratan yang ditentukan.8 milyar (1. kenaikan Taska mencapai Rp 63 juta (20. Untuk lebih meningkatkan peranan sertifikat deposito diperluas lagi dengan penerbitan sertifikat deposito atas unjuk dalam rupiah bagi bank-bank umum. Sampai dengan akhir September 1984. serta mempunyai kewajiban untuk menjamin pelunasan sertifikat deposito yang diterbitkannya sesuai dengan jangka waktunya. di samping sebagai wadah penghimpun dana masyarakat.000.000. Selain itu bank penerbit dapat memiliki sertifikat deposito yang diterbitkan oleh bank-bank lain dalam jumlah tidak melebihi 7. 4.0 milyar. Sedangkan suku bunga Taska tidak mengalami perubahan. sedangkan pada periode yang sarna tahun lalu kenaikan jumlah penabung adalah sebanyak 387 ribu penabung.4. Pada periode April-September tahun sebelumnya. yang terdiri atas sertifikat deposito bank-bank Pemerintah sebesar Rp 189. dalam rangka me intis terbentuknya pasar uang di Indonesia. Kemudian dalam tahun 1971 program SBI tersebut diikuti oleh bank-bank Pemerintah. yaitu tetap 9 persen setahun.9 Departemen Keuangan RI 92 .1 milyar (84.7 persen) hila dibandingkan dengan posisinya pada akhir bulan Maret 1984 sebesar Rp 357 juta.8 persen). sedang selebihnya diberikan bunga 6 persen setahun. Jangka waktu sertifikat deposito ini ditetapkan sendiri oleh bank-bank penerbit dengan ketentuan tidak kurang dari 15 (lima belas) hari. dan cabang bank asing. dan bankbank pembangunan. dan sertifikat deposito cabang bank-bank asing sebesar Rp 34. posisi sertifikat deposito yang diterbitkan oleh bank-bank Pemerintah.

9 39.4 376.9 milyar.5 13.2 53.9 26.7 42.2 48.5 SERTIFlKAT DEPOSITO BANK-BANK. Dibandingkan dengan periode yang sarna tahun lalu.8 224 1) Arigka sementara dalam memupuk pembiayaan pembangunan.8 28.5 244.1 Bank-bank Asing 0.3 2.3 0.7 28 55. Tabel IV. sejak 22 Oktober 1984 program tersebut Departemen Keuangan RI 93 .9 30 35. Penurunan tersebut pada umumnya karena setelah sertifikat deposito jatuh waktu.3 229.9 14. 1970/1971 .2 212.5.6 70 70 14.1 189.1 9.7 56.9 415.2 133. sertifikat deposito bank-bank Pemerintah menunjukkan penurunan sebesar Rp 157.8 352.5 232.4 milyar.2 358.6 396.9 31.3 10.6 4.7 329.1 18.3 6.4 62. Selama periode April-September 1984.2 390.5 346.5 71.6 213. Perkembangan sertifikat deposito dapat diikuti pada Tabel IV.7 31.5 8.2 43.2 milyar.1 7.6 29.7 369.9 373.4 294.4 59.1 204.5 94.8 26.7 34.7 57.2 24.8 259.7 15.2 426.6 22.1 172. sertifikat deposito meningkat sebesar Rp 127.1 21.5 74 70 66.6 persen).4 29.2 373.1 milyar. Dengan demikian secara keseluruhan sertifikat deposito selama periode tersebut menurun sebesar Rp 152.3 32.8 37 41.1 165.9 51.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar (15.7 260.6 385.4 46.8 16.8 34.8 250.1 12. sedangkan sertifikat deposito cabang bank-bank asing meningkat sebesar Rp 4.4 32.5 24.2 330.5 363. para penabung kemudian memilih jenis tabungan lain yang lebih menarik.4 26.1 202.8 1.5 244.8 196.8 82.8 46.3 91.7 301.7 79.4 231 222.9 Akhir waktu 1970/1971 Maret 197111972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 198111982 Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April M ei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember J anuari Pebruari Maret 1984/1985 April Me i Juni Juli Agustus September 1) J umlah 0.1984/1985 ( dalam milyar rupiah) Bank-bank Pemerintah 1.4 28.6 102.

pada akhir tahun 1983/1984 posisinya telah meningkat menjadi Rp 16. bank-bank didorong untuk meningkatkan kemampuannya di dalam melaksanakan pemberian kredit dengan dana yang berasal dari masyarakat. fasilitas kredit likuiditas tetap diberikan. serta produksi dalam negeri. Jika pada akhir tahun 1982/1983 posisi pemberian kredit perbankan adalah sebesar Rp 13. Sebagai tindak lanjut dari kebijaksanaan pembebasan pagu kredit perbankan. dengan jangka waktu seluruhnya tidak melebihi 29 hari. 4. merupakan pencerminan dari semakin besarnya peranserta sektor perbankan dalam pembiayaan pembangunan.7 persen). Dengan berlakunya kebijaksanaan tersebut.135 milyar atau mengalami peningkatan sebesar Rp 2. dan jangka panjang. Jangka waktu dasar ditetapkan maksimal 60 hari. Jumlah fasilitas kredit adalah maksimal sebesar 3 persen dari jumlah dana pihak ketiga.3. Pemberian kredit menurut sektor perbankan Perkembangan pemberian kredit perbankan yang senantiasa menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.043 milyar. Fasilitas diskonto kedua disediakan untuk memudahkan bank dalam mengatasi kesulitan pendanaan hila rencana penarikan dana tidak sesuai dengan reo ncana penarikan kredit jangka menengah. yang berarti dalam periode I April-$eptember 1984 teIjadi peningkatan sebesar Rp 1.1. Pemberian kredit perbankan Kebijaksanaan perkreditan dalam tahun 1983/1984 dan 1984/1985 adalah sejalan dengan kebijaksanaan moneter pada umumnya yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesempatan berusaha dengan tetap memelihara kestabilan.8 persen). Bagi kredit bukan prioritas. yaitu kredit yang berprioritas tinggi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 4. yang dapat diperpanjang maksimal 30 hari untuk setiap kali perpanjangan. sehingga jangka waktu seluruhnya tidak melebihi 120 hari. sejak Pebruari 1984 Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai fasilitas diskonto. Jangka waktu maksimal diskonto pertama adalah 15 hari. yaitu dalam rangka tetap mendorong kegiatan pengusaha golongan ekonomi lemah. Jumlah tersebut adalah lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatannya dalam periode yang sarna tahun 1983/1984 Departemen Keuangan RI 94 . yang dapat diperpanjang maksimal 7 hari untuk setiap kali perpanjangan.705 milyar. serta untuk menjaga likuiditas bank-bank dalam melaksanakan pemberian kredit sehari-hari. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan akhir September.2. Jumlah dasar kredit yang disediakan adalah 5 persen dari jumlah dana pihak ketiga.2.430 milyar (17. jumlah tersebut meningkat menjadi sebesar Rp 18. sejak Agustus 1982 tidak lagi disediakan fasilitas kredit likuiditas Bank Indonesia. sedangkan untuk kredit yang berprioritas tinggi.908 milyar (11. dan kredit yang bukan prioritas. Melalui kebijaksanaan 1 Juni 1983.3. kredit perbankan dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis.

514 milyar. walaupun terjadi penurunan kredit langsung Bank Indonesia sebesar Rp 1.2.5 persen). pertambangan. termasuk kredit likuiditas Bank Indonesia sampai dengan akhir Sep1Jember 1984 mencapai Rp 12.6 persen). Kegiatan yang dibiayai dengan kredit di sektor Pemerintah diantaranya adalah usaha di bidang perindustrian.1 persen). yayasan. dan lembaga-Iembaga bukan bank milik swasta.1 persen). kredit cabang bank asing.5 persen). 4.1 persen). Posisi pemberian kredit perbankan sebesar Rp 18.908 milyar dalam periode April-September 1984 tersebut disebabkan oleh kenaikan kredit bank-bank umum Pemerintah sebesar Rp 2. Adapun kegiatan di sektor swasta yang dibiayai kredit perbankan adalah semua kegiatan yang diselenggarakan oleh perusahaan swasta. Pemberian kredit menurut sektor Pemerintah dan sektor swasta Kredit perbankan sebagai somber pembiayaan pembangunan dapat diperinci menurut kredit yang diberikan di sektor Pemerintah. dan kredit cabang bank-bank asing sebesar Rp 118 milyar (12. Kenaikan pemberian kredit perbankan sebesar Rp 1.0 persen).095 milyar (6. dan cabang bank asing sebesar Rp 3 Departemen Keuangan RI 95 . kredit melalui bank-bank umum Pemerintah. Hal ini sejalan dengan luasnya bidang usaha yang dapat dijangkau dengan lokasi cabang bank Pemerintah yang terse bar di seluruh Indonesia sampai ketingkat kecamatan.490 milyar (24.538 milyar (69. bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 5 milyar. Jika dilihat perkembangannya menurut kelompok bank penyelenggara.043 milyar pada akhir September 1984 digunakan untuk membiayai kegiatan di sektor Pemerintah sebesar Rp 5.8 persen dari kesduruhan ktedit perbankan.2. atau 2. koperasi. dan di sektor swasta sebesar Rp 12. Rp 1.386 milyar (60.5 persen). Penyaluran.773 milyar atau 70.388 milyar pada akhir Maret 1984. Penyaluran kredit untuk sektor Pemerintah dalam periode April-September 1984 meningkat sebesar Rp 117 milyar. dan kredit langsung Bank Indonesia pada saat yang sarna masing-masing mencapai Rp 3. tercatat bahwa jumlah pemberian kredit yang disalurkan melalui bank-bank umum Pemerintah tetap mengambil bagian yang terbesar.2 persen). Sedangkan posisi pemberian kredit bank umum swasta nasional. dan sebesar Rp 906 milyar (5. dan prasarana listrik.2 persen terhadap posisinya sebesar Rp 5.505 milyar (30.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang berjumlah sebesar Rp 900 milyar (6. perorangan. dan kredit yang diberikan di sektor swasta.3. kredit bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 686 milyar (26. serta kegiatan perekonomian lain yang dilaksanakan oleh lembaga-Iembaga negara. Kenaikan terse but berasal dari peningkatan kredit pada bank umum Pemerintah sebesar Rp 1.269 milyar (18.6 persen).

111 686 71 615 425 203 222 98 93 3 90 5 5 63 63 1.676 813 559 254 382 347 5 342 35 35 207 2 205 5.2.747 milyar pada akhir bulan Maret menjadi Rp 12.018 milyar tersebut digunakan untuk bidang perindustrian sebesar Rp 6.115 1978/1979 Maret 1.187 1.532 387 Sektor Bank Indonesia 1) Sektor Pernerintah 2) Sektor Swasta Bank-bank Urnurn Pernerintah Likuiditas sendiri Sektor Pernerintah Sektor Swasta Likuiditas Bank Indonesia Sektor Pernerintah Sektor Swasta Bank-bank Urnurn Swasta Nasional Likuiditas sendiri Sektor Pernerintah Sektor Swasta Likuiditas Bank Indonesia Sektor Swasta Cabang Bankotiank asing 3) Sektor Pernerintah Sektor Swasta Jurnlah kredit perbankan 4) Sektor Pernerintah Sektor Swasta Kredit dalarn valuta aging 1). Kredit langsung Bank Indonesia 2). pembiayaan kredit di sektor swasta mengalami peningkatan sebesar Rp 1. cabang bank asing sebesar Rp 115 milyar.005 682 1.405 milyar.696 1.007 1.227 milyar (34.798 milyar (21.7 persen). di sektor perdagangan sebesar Rp 6. pemberian kredit perbankan sebesar Rp 18.960 953 2. terrnasuk kredit investasi.087 277 810 127 1974/1975 Maret 177 174 3 1.449 451 998 305 1975/1976 Maret 264 260 4 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 milyar.791 milyar (16.630 1.3. sehingga posisinya meningkat dari Rp 10.6. dari bank umum swasta nasional sebesar Rp 681 milyar.055 695 428 267 211 199 4 195 12 12 99 1 98 2. dan dari Bank Indonesia sebesar Rp 19 milyar.5 persen). Sejak Maret 1979 terrnasuk pinjarnan valuta aging kepada Pertarnina yang dinyatakan dalarn rupiah 3).516 1. Jumlah pemberian kredit untuk kegiatan di sektor produksi sampai dengan bulan September 1984 sebesar Rp 8.018 milyar (44.193 1077/1978 Maret 343 339 4 2.443 545 411 134 286 274 4 270 12 12 144 144 2.3.008 104 904 508 312 196 149 140 4 136 9 9 76 2 74 2. yaitu sebesar Rp 976 milyar.293 milyar. walaupun terdapat penurunan kredit yang disalurkan melalui kredit langsung Bank Indonesia sebesar Rp 1.869 1.721 2.948 20 2.6 KREDIT PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR PEMERINTAH DAN SEKTOR SWASTA. 1969/1970 – 1984/1985 (dalam milyar rupiah) 1969/1970 Maret 71 69 2 163 72 7 65 91 50 41 22 21 21 1 1 4 4 260 126 134 24 4 4 11 11 373 138 235 6 1970/1971 Maret 81 78 3 253 138 21 117 115 39 76 28 24 1971/1972 Maret 86 83 3 374 221 46 175 153 57 96 35 28 28 7 7 15 15 510 184 326 24 1972/1973 Maret 126 122 4 470 302 11 291 168 59 109 55 49 2 47 6 6 34 34 685 194 491 85 1973/1974 Maret 136 132 4 815 538 38 500 277 104 173 72 67 3 64 5 5 64 64 1.323 984 1976/1977 Maret 345 342 3 1.538 milyar pada akhir September 1984. Perkembangan kredit perbankan menurut sektor Pemerintah dan sektor swasta dapat diikuti pada Tabel IV.968 1. Kenaikan pemberian kredit di sektor swasta tersebut sebagian besar berasal dari kenaikan kredit bank-bank umum Pemerintah. Likuiditas sendiri 4). dan untuk kegiatan di sektor lainnya sebesar Rp 3.253 2. Tabel IV.1 persen).524 894 1.542 199 1. Dalam perkembangannya selama periode April-September 1984. Pemberian kredit perbankan menurut sektor ekonomi Menurut sektor ekonomi.883 207 1. bidang pertanian sebesar Rp Departemen Keuangan RI 96 . KIK dan KMKP 4.043 milyar pada akhir September 1984 digunakan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 8.4 persen). Kredit dalarn rupiah.174 119 1.

165 602 420 286 82 130 74 144 75 47 22 2. Sementara itu posisi pemberian kredit untuk .515 1.005 901 766 338 984 345 206 130 9 1. Selama periode AprilSeptember 1984 pemberian kredit untuk kegiatan produksi meningkat sebesar Rp 329 milyar (4. ini berarti bahwa selama periode April-September 1984 telah meningkat sebesar Rp 930 milyar. distribusi kebutuhan pokok. di samping penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 292 milyar. dan di bidang pertanian sebesar Rp 42 milyar.11875 468 388 255 98 29 29 40 63 22 15 26 1. Pemberian kredit di sektor perdagangan sebagian besar digunakan untuk pembiayaan pengadaan pangan.087 457 397 233 127 177 17 158 2 0.696 1. yaitu antara lain lsaha pengumpulan barang-barang dalam negeri.193 343 166 165 12 2.565 679 452 382 111 181 90 207 104 71 32 5.187 1.968 1.227 milyar. dan bidang pertambangan sebesar Rp 378 milyar.253 3.347 milyar. dan perdagangan eceran. 1969/1970 – 1984/1985 (dalam milyar rupiah) 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret Maret 71 163 22 4 260 81 253 28 11 373 6 86 374 35 15 510 24 126 18 105 3 470 223 149 98 55 15 22 18 34 13 14 7 685 269 290 126 85 136 21 112 3 815 390 247 178 72 21 23 28 64 25 15 24 1.488 944 528 1.291 793 440 1. Di samping itu tercatat beberapa kegiatan lainnya yang dibiayai oleh kredit di sektor perdagangan. impor pupuk dan batu bara.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1.735 202 31 2. Sedangkan kredit untuk sektor ekonomi lainnya dalam periode yang iama telah meningkat sebesar Rp 649 milyar.3 persen) yang berasal dari kenaikan kredit di bidang perindustrian sebesar Rp579 milyar.7 KREDIT PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR EKONOMI.960 1.egiatan di sektor perdagangan sampai dengan bulan September 1984 adalah sebesar lp 6.524 1.516 719 528 269 149 45 62 42 76 33 27 16 2.869 979 530 360 211 64 94 53 99 42 39 18 2. KIK dan KMKP.133 605 387 SEKTOR Bank Indonesia 1) Produksi 2) Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Pemerintah Produksi Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum SwastaNasional Produksi Perdagangan Lain-lain Cabang Bank-bank asing Produksi Perdagangan Lain-lain Jumlah kredit perbankan 3) Produksi Perdagangan Lain-lain Kredit dalam valuta asing 1) Kredit langsung Bank Indonesia 2) Sejak Maret 1979 termasukpinjaman valuta asing kepada Pertamina yang dinyatakan dalam rupiah 3) Termasuk kredit investasi. sampai dengan akhir Maret 1980 adalah posisikredit dalam rupiah 4) Angka sementara Departemen Keuangan RI 97 . Tabel IV.193 1.449 536 590 323 305 264 104 149 11 1.

062 5.2 persen).165 1.477 1.068 1.8 milyar.717 2.915 3.795 402 117 4.353 1.3 milyar. terlihat perkembangan yang cukup menggembir_kan.750 1.800 6. sektor perdagangan sebesar Rp 2.169 526 549 9.526 1.006 1.757 2.0 persen).785 2.701 2.675 16.599 901 1983/84 Des. Sampai dengan akhir bulan September 1984.787 10.842 762 510 508 148 232 128 284 159 76 49 5.278 16.808 2.993 4.328 1.966 541 849 576 735 416 240 79 14. 784 178 47 3.860 5.416 1.583 645 718 990 1.8 milyar (96. bidang pertanian sebesar Rp 1..071 3.591 1.039 827 1. Kredit tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan perekonomian yang dapat diperinci sebagai berikut.854 2.512 5.798 1.644 5.299 16. Di Dati I Sumatera Utara terdapat peningkatan volume kredit yang cukup besar.632 1.303.3 milyar. yaitu sebesar Rp 165.065 1.689 5. telah mencapai jumlah sebesar Rp 16.293 1.971 4. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 3.592 813 227 6.744 7. dalam periode ]anuari-September 1984 telah terjadi peningkatan pemberian kredit di seluruh Dati I sebesar Rp 4.111.285 7.0 persen).167.227 3.908 6. Secara keseluruhan.8 persen) termasuk kredit untuk bidang jasa-jasa sebesar Rp 2.353 3. yang berasal dari kenaikan pemberian kredit di sektor produksi sebesar Rp 604.139 4.292 720 574 1.496.132 5. Dati I Kalimantan Barat dengan Rp 67.757 1.705 6.4.405 5.625 1.347.043 3.4 persen).350 1.427 908 937 1.131 6. Bila dilihat pemberian kredit di tiap-tiap Dati I.6 milyar (49. Pemberian kredit perbankan menurut Dati I Pemerataan sarana dan hasil pembangunan juga diusahakan melalui pemberian fasilitas kredit perbankan untuk membiayai kegiatan perekonomian di berbagai sektor yang dialokasikan sesuai dengan kebutuhannya di masing-masing daerah tingkat I di Indonesia.127 660 738 861 977 470 543 275 289 116 145 15.678 1.051 4.018 6.116 2.801 2.950 462 1982/83 Maret 2. disusul kemudian oleh Dati I Sumatera Selatan dengan Rp 115.933 1.253 4.737 6.735 5.187 2.135 7.773 6.620 827 Maret April Me i 2.970 2.325 1.293 1.115 Agost. dan sektor lain-lain sebesar Rp 1.164 2.7 milyar (18.703 7. tidak termasuk kredit langsung Bank Indonesia.582.163 261 580 322 587 344 192 51 10.280 3.111 4.283 11.084 1.5 milyar (38. 4) 938 906 274 273 664 633 12.004 1.359 5.835 8.9 milyar (9.744 5.248 734 412 1980/81 Maret 2.114 1.r Bank Indonesia 1) Produksi 2) Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Pemerintah Produksi Perdagangan Lain-lain Bank-bank Umum Swasta Nasional Produksi Perdagangan Lain-lain Cabang Bank-bank asing Produksi Perdagangan Lain-lain Jumlah kredit perbankan 3) Produksi Perdagangan Lain-lain (Kredit da1am valuta asing) Juni 2.726 450 780 496 737 412 241 84 13.356 2.135 2.728 4. Sept.177 3.708 2.149 987 1. pemberian kredit perbankan untuk seluruh Dati I di Indonesia. Untuk sektor perdagangan telah disalurkan sebesar Rp 6.132 3.1 milyar (20.1 persen).542 5. Untuk membiayai kegiatan di sektor produksi telah dipergunakan kredit sebesar Rp 7.0 milyar Departemen Keuangan RI 98 .017 1.009 1.522 3.651 5.524.620 2.0 milyar (44.263 1.854 4.7 persen).7 persen).139 821 428 8.772 2.326 1. KIK dan KMKP.121 973 784 178 382 224 436 273 121 42 8.110 1.768.039 547 555 561 292 296 311 142 153 167 16. 4) Sept.6 tnilyar (37.216 1.450 6.0 persen).712 1.249 761 812 857 981 1.136 1.888 3.362 930 955 477 9.081 895 521 501 301 -563 580 594 11.917 775 780.027 837 429 9.502 1.8 milyar (68.107 12.146 1) Kredit langsung Bank Indonesia 2) Sejak Maret 1979 termasuk pinjaman valuta asing kepada Pertamina yang dinyatakan dalam rupiah 3) Termasuk kredit investasi.127 S e k t o.295 2. 811 1.356 359 1981/82 Maret 2.605 7.827 18.388 1. 2.3 milyar. dan bidang perindustrian sebesar Rp 5.2.542 3.026 1.753 939 1984/85 Juni Juni 923 304 619 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1979/80 Maret 2.292 12.593 1.782 12.784 466 785 533 661 384 212 65 13.269 870 905 1.927 3.902 4.240 7.4 milyar.095 560 587 323 323 185 185 17.626.958 7.399 1. sampai dengan akhir Maret 1980 adalah posisikredit dalam rupiah 4) Angka sementara 4.297 2.064 4. karena daerah di luar pulau Jawa telah menikmati pemberian kredit yang lebih meningkat.031 542 312 177 17.318 894 1.735 1.726 3.216 3.851. bidang pertambangan sebesar Rp 104.314 1.043 7.621 1.

perkembangan pemberian kredit perbankan menurut Dati I sampai dengan akhir bulan Agustus 1984. Dati I Jawa Timur telah menggunakan kredit sebesar Rp 1.167.7 persen).8 persen). dan sektor lain-lain sebesar Rp 60. sektor peraagangan sebesar Rp 124. Departemen Keuangan RI 99 .9 milyar (53.0 persen).2 persen).0 milyar (5.3 milyar (23.3 persen).6 milyar. dapat diikuti pada Tabel IV.3 milyar (61.2 milyar (9.6 milyar (25. Peningkatan tersebut tersalur ke sektor produksi sebesar Rp 278. Seperti halnya raJa Dati I-Dati I terse but di atas.8 milyar (19.839. penggunaan kredit di DKI Jaya telah meningkat sebesar Rp 3.8 persen).7 milyar (25.932.0 milyar (25. Dengan demikian sejak akhir bulan Desember 1983 telah meningkat sebesar Rp 755.0 milyar (41. sampai dengan akhir bulan September 1984 adalah sebesar Rp 4.7 milyar (27. Dati I Jawa Barat sampai dengan akhir bulan September 1984 telah menggunakan kredit sebesar Rp 1. Dati I Sumatera Barat dengan Rp 51.8 persen). Pertambahan tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 169. atau selama sembilan bulan terse but telah meningkat sebesar Rp 185.2 milyar (50.4 persen).2 persen). yang berarti meningkat sebesar Rp 147.7 persen).4 milyar (8.0 persen). Jumlah peningkatan terse but dipergunakan untuk kegiatan di sektor produksi sebesar Rp 12. Posisi penyaluran kredit di Dati I DKI Jakarta raJa akhir bulan September 1984 menunjukkan jumlah sebesar Rp8.3 persen).7 persen) dari posisinya sebesar Rp 831.1 milyar.8.351.5 persen). dan ke sektor lain-lain sebesar Rp 972.4 milyar (26. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 101.5 persen).2 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.2 milyar. perdagangan sebesar Rp 300.3 milyar (82.4 milyar (35.9 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 1. Dalam periode yang sarna.9 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (32. ke sektor perdagangan sebesar Rp1. Jumlah pemberian kredit di Dati I lainnya.297 milyar.6 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 5.7 persen).183.483.1 persen). Jumlah pertambahan tersebut dipergunakan ulltuk membiayai usaha di sektor produksi sebesar Rp 38. Dengan demikian selama sembilan bulan dalam tahun 1984.5 milyar (16. kenaikan pemberian kredit sebagian besar berasal dari penggunaan kredit di sektor produksi sebesar Rp 106. Kenaikan kredit yang cukup tinggi di sektor produksi terutama digunakan untuk kegiatan perindustrian.4 milyar (17. dan di Dati I Kalimantan Timur meningkat dengan Rp 50.8 milyar raJa akhir bulan Desember 1983.7 milyar (24.0 persen).115. di sektor perdagangan sebesar Rp 66.8 milyar (23. di sektor perdagangan sebesar Rp 72. yang berarti meningkat sebesar Rp355. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 348.5 persen).0 milyar (22.6 persen).6 persen).5 milyar (2. dan di sektor lain-lain sebesar Rp 42.9 milyar raJa akhir bulan Desember 1983. Dati I Jawa Tengah telah menggunakan kredit scbesar Rp 978.

167.1 15 10.468.5 169. Bengkulu 27. 1. SelanjUtnya bank-bank umum Departemen Keuangan RI 100 .2 2. Nusa Tenggara Timur 24.955.6 34 35 20.8 51.5 522.2 43.4 18. Maluku 14.7 2.6 203.30 5.8 48.10 1.5 32.2 24.5 29.3 11.60 1.3 65. dan sebanyak mungkin dipergunakan untuk proyek-proyek yang menggunakan hasil produksi dalam negeri.6 13. Pemberian kredit investasi Kegiatan investasi terus berkembang sejalan dengan kegiatan pembangunan yang semakin meningkat. Ria u 15.6 963 349.40 882.5 124.7 25 25.9 0.1 53.3 48.2 175.1 85.8 141.9 44. Kalimantan Barat 9.2 127.2 13.5 2.112.5 7 17.9 0.6 113.670. Kalimantan Selatan 13.9 13.3 117 152.3 7.60 Lain-lain Des.7 182. Sulawesi Utara 19.8 22. Sumatera Barat 11.4 3. dapat pula berperan serta memberikan kredit untuk pembiayaan investasi dengan jumlah maksimum masing-masing sebesar 20 persen dan 35 persen dari baki debet pinjaman.1 32 30 25.4 83.6 20. Pemerintah senantiasa menyempurnakan ketentuan-ketentuan yang menunjang pelaksanaan investasi.6 48 17. IrianJaya 25.9 245.6 57.2 88 47.5 16.90 1.3 5.536.7 104.2 498.3 8.3.6 13.7 14.9 48 33.80 1) Termasuk Bapindo dan Bank Pembangunan Daerah 2) Angka sementara 4.8 41.2 42.052.4 42.60 175.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.4 54 53.8 51 59 53.3 272. D. Yogyakarta 17.1 10.7 18.1 136.4 5.2 347.913.80 3.1 110.9 83.1 4.9 40.6 9.20 1.6 261.4 12.3 14.9 81. 2) 8.4 86. Jawa Tengah 5.5 315.5 7.1 14.3 23.698.4 82. alltara lain bank-bank Pemerintah dapat memberikan fasilitas kredit investasi ulltuk industri perkayuan yang berintikan kayu lapis. Jawa Barat 4. Sumatera Utara 6.5 8.2 0. Jumlah Sept.5.5 15.2 52.8 29. Sulawesi Selatan 8.7 59 58.3 246. Timor Timur Jumlah Produksi Des.2 25.9 40 56.8 145.:162 61.690.9 24.1 38.1 66. Nusa Tenggara Barat 22.4 101.3 36. 8. Ace h 18.5 177.191.6 189.50 978.2 11.2 15.4 125.8 1.2 797.I.8 114. Sept.2 193.7 8.5 69.9 205. Jawa Timur 3.I. DKl Jaya 2. Sept.5 21.2 15.483.8 116.30 598.6 4.9 20. Demikian pula bank-bank swasta nasional.9 73.2 114.5 28.8 26.70 Des. 2.297.10 3.1 35.5 70.303.3 135. Kalimantan Timur 10. Sulawesi Tenggara 26.6 10.9 85 106.5 34 36.1 279.1 2.1 36.6 13.582. dan bank asing yang memenuhi persyaratan. KREDIT RUPIAH PERBANKAN MENURUT DATI I DAN SEKTOR EKONOMI TIDAK TERMASUK KREDIT LANGSUNG BANK INDONESIA 1) DESEMBER 1983 .839.2. dan tidak lebih dari Rp 1 milyar. Jam b i 20.8 27. D.90 1.7 3.9 233.7 460. Lampung 12.5 126.20 487.7 21.3 75.2 38.5 118.586. 718.6 211.6 125.9 271.111.9 15.7 58.8 6. Sumatera Selatan 7.2 24 15.1 23.7 223.3 135 61.3 6.2 25 25.9 589.3 114.4 30.1 10. Jumlah maksimum pinjaman untuk setiap nasabah bank umllm swasta nasional adalah 10 persen dari modal sendiri.7 351.1" 55.4 8.9 18.5 585.8 112. Sehubungan dengan itu.4 9.5 35. Sulawesi Tengah 21.6 208.7 6. Kalimantan Tengah 23.8 16.7 40.7 41.00 Perdagangan Des.167.7 0. Sept.80 1.6 18.8 62.9 0.9 354.9 287.351.6 1. B a l i 16.4 238.00 831.9 8.1 47.1 231.SEPTEMBER 1984 (dalam milyar rupiah) D ati I 1.9 112.2 183.90 611.2 111.9 116.

6 persen). Keseluruhan jumlah kredit sebesar Rp 6.5 persen). oleh bank-bank umum swasta nasional sebesar Rp 152 milyar. dan di.8 persen).004 milyar (16. dengan jangka waktu maksimum 8 tahun. Jumlah terse but telah disalurkan oleh bank-bank Pemerimah sebesar Rp 4.5 persen).6 persen).5 persen). dan di bidang lain-lain sebesar Rp 581. oleh Bank Indonesia sebesar Rp 1.1 persen). dalam periode April-September 1984 telah terjadi peningkatan yang cukup berarti terutama di bidang perindustrian.6 persen).2 persen). dan di bidang pertanian.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 swasta nasional.0 milyar (9.2 persen).199 milyar. yaitu masingmasing sebesar Rp 132 milyar (17. dan bank-bank asing diberikan kesempatan melakukan penyertaan modal dalam perusahaan-perusahaan yang potensial.5 persen).6 persen).674 milyar. bidang perindustrian sebesar Rp 12 milyar (0. dalam periode AprilSeptember 1984 telah terjadi peningkatan sebesar Rp 63 milyar (1. Dilain pihak terdapat penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 19 milyar (2. Sampai dengan akhir bulan September 1984.371 milyar. dan di bidang -lainlain sebesar Rp 82 milyar (19. Juga terjadi kenaikan di bidang perdagangan sebesar Rp 61 milyar (57. Departemen Keuangan RI 101 .8 persen).732 milyar pada akhir bulan Maret 1984.2 persen). Peningkatan tersebut hemal dari kenaikan kredit di berbagai sektor ekonomi. pertanian sebesar Rp 891 milyar (14.3 persen) terhadap posisinya sebesar Rp 4. dan di bidang jasa-jasa. Dengan demikian secara keseluruhan dalam periode April-September 1984.766 milyar (44. dan sebesar Rp 92 milyar (18. di samping penurunan di bidang pertambangan sebesar Rp 292 milyar (46. dan oleh cabang bank-bank asing sebesar Rp 2 milyar. pertambangan sebesar Rp 734 milyar (11. yaitu masing-masing meningkat dcngan Rp 193 milyar (7. jasa-jasa sebesar Rp 1. Kenaikan dalam periode 1984/1985 tersebut adalah lebih baik dari yang terjadi dalam periode 1983/1984 yang mengalami penurunan sebesar Rp 306 milyar (5. terutama di bidang jasa-jasa.795 milyar.besar Rp 99 milyar (12.7 persen).0 persen). perdagangan sebesar Rp 73 milyar (48.4 persen). dan di bidang lain-lain sebesar Rp 49 milyar (9.4 persen).199 milyar tersebut dipergunakan untuk kegiatan di bidang perindustrian sebesar Rp 2. te12h terjadi peningkatan sebesar Rp 509 milyar (8.9 persen) atau rata-rata perbulan sebesar Rp 85 milyar.5 persen). Menyusul kemudian peningkatan di bidang pertanian st. Ada pun posisi kredit investasi yang telah direalisasikan sampai dengan akhir bulan September 1984 adalah sebesar Rp 4. Dengan demikian. perdagangan sebesar Rp 223 milyar (3. Dibandingkan dengan posisinya pada bulan Maret 1984. dan Rp 114 milyar (12. pinjaman investasi perbankan dalam rupiah dan valuta asing yang disetujui telah mencapai jumlah sebesar Rp 6.

054 6. Kredit Bimas. Kredit Koperasi.480 837 129 1. pembiayaannya tetap disediakan melalui fasilitas kredit likuiditas Bank Indonesia. baik mengenai besarnya volume kredit yang diberikan maupun mengenai bagian pembiayaan pinjaman.669 564 184 963 536 4.755 815 2.759 219 1.311 117 917 1.225 367 139 827 489 Sektor Yang disetujui perbankan Pertanian lndustri Pertambangan Perdagangan Jasa-jasa 2) Lain -lain Realisasi Pertanian lndustri Pertambangan Perdagangan Jasa-jasa 2) Lain .752 243 968 1.340 366 134 813 466 5.222 563 123 773 465 Agust 3) Sept 3) 6.602 737 160 899 533 4.795 586 587 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV. 2) Sampai dengan Maret 1980.934 121 800 333 4. Kredit Umum Pedesaan (Kupedes). termasuk kredit untuk sektor perdagangan 3) Angka sementara.182 99 676 301 1983/1984 Sept Des 5.2.242 2.894 1.762 831 2.455 416 1.jasa 2) Lain -lain 32 8 11 1 11 1 17 6 5 1 5 - 78 20 35 22 1 49 13 20 15 1 115 11 61 40 3 77 6 45 25 1 147 12 75 1 54 5 107 8 58 39 2 175 18 84 1 62 10 119 10 61 41 7 198 19 100 66 13 143 13 73 47 10 270 36 110 5 104 15 196 29 82 5 70 10 343 48 137 5 137 16 263 41 97 4 111 10 362 69 143 5 127 18 288 57 109 3 107 12 448 86 154 10 185 13 343 71 118 2 143 9 1) Sampai dengan Maret 1980.973 49 485 34 3.958 1. 1) 1969/1970 .304 340 340 150 167 870 884 506 513 1) Sampai dengan Maret 1980.650 713 2.658 539 2.0 juta.694 4.002 84 661 155 3.806 39 361 71 1981/82 Maret 4.605 389 1. Kredit Kecil (KK).092 121 894 365 4.314 2.732 495 2. Pemberian fasilitas kredit melalui Kredit Investasi Kecil (KIK) dan Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP) kepada pengusaha kecil yang dilaksanakan sejak akhir tahun 1973. Sehubungan dengan hat itu. Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Program kredit untuk golongan ekonomi lemah Untuk mendorong peranan pengusaha golongan ekonomi lemah dalam meningkatkan produksi dalam negeri.793 734 2.3. dan Kredit Candak Kulak (KCK).623 67 521 139 1982/83 Maret 5.304 1.lain Juni 5.393 617 2.190 1.176 769 115 716 395 1984/1985 Juni Juli 5.996 644 2. dan kemudahan-kemudahan untuk memperoleh kredit yang diperlukan. Beberapa jenis kredit berprioritas tinggi tersebut antara lain adalah Kredit Investasi Kecil (KIK).643 562 167 925 532 4.248 579 121 765 448 Mei 5.579 753 158 916 534 4.648 477 2.571 355 1.573 753 150 890 532 4.1984/1985 ( dalam mityar rupiah ) 1969/1970 Maret 1970/1971 Maret 1971/1972 Maret 1972/1973 Maret 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret Yang disetujui perbankan Pertanian Industri Pertambangan Jasa-jasa 2) Lain .722 2. suku bunga serta jangka waktu pinjamannya.lain Realisasi Pertanian Industri Pertambangan Jasa .690 792 2.141 472 4.199 875 891 2.766 736 734 177 223 975 1. adalah posisi kredit investasi dalam rupiah pacta bank-bank Pemerintah. kredit investasi sampai dengan Rp 75.316 632 106 752 431 April 5.359 1.794 878 2.004 569 581 4. te1ah mengalami beberapa penyempurnaan.668 522 2.630 583 2.6. Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP).073 101 645 326 Maret 5.681 852 2. 9 KREDIT INVESTASI PERBANKAN DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING MENURUT SEKTOR EKONOMI. adalah posisi kredit investasi dalam rupiah pada bank-bank Pemerintah 2) Termasuk kredit untuk sektor perdagangan 1979/80 Maret 662 114 212 6 306 24 463 78 158 2 207 18 1980/81 Maret 3.003 983 117 663 375 5.164 1. kebijaksanaan moDeler perbankan 1 Juni 1983 tetap memberikan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah.579 438 2. di samping keringanan suku bunga.040 138 984 416 4.670 509 2. melalui pemberian fasilitas kredit perbankan untuk jenis usaha yang berprioritas tinggi. 4. Departemen Keuangan RI 102 .

945 milyar. serta plafon kredit yang dapat disesuaikan dengan kemampuan pelunasan pinjaman oleh nasabah.6 persen) dengan 238 ribu pemohon. sehingga jumlah maksimum kredit menjadi Rp 15 jtita. daD dengan suku bunga 12 persen setahun. dapat diberikan tambahan plafon sebesar Rp 5 juta.6 persen). suku bunga 10. Jumlah KIK dan KMKP yang disetujui sampai dengan bulan September 1984 tercatat sebesar Rp 2.0 persen). dan diberikan tambahan plafon sebesar Rp 5 juta.4 persen) dengan 1. di tUrunkan menjadi 55 persen.7 persen) dengan pyningkatan nasabah sebesar 10 ribu pemohon (4. Dalam bulan Juli 1984.10. Jumlah kredit likuiditas Bank Indonesia untuk program kredit ini yang semula ditetapkan 80 persen. dengan peningkatan permohonan sebanyak 107 ribu pemohon. sedangkan KMKP meningkat sebesar Rp 212 milyar (11. Departemen Keuangan RI 103 . Jumlah-jumlah tersebut terdiri dari KIK yang disetujui sebesar Rp 872 milyar (29. Mulai 1 Juni 1983 jumlah kredit tersebut ditingkatkan menjadi Rp 15 juta tanpa tambahan plafon.4 persen) dengan peningkatan nasabah sebesar 97 ribu pemohon (6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Jika pada awal dilaksanakannya. jumlah KIK mengalami peningkatan sebesar Rp 47 milyar (5.073 milyar (70. dengan suku bunga tetap sebesar 12 persen setahun. dan plafon kredit yang senantiasa disesuaikan dengan kemampuan pelunasan pinjaman oleh nasabah. dengan jangka waktu 3 tahun (yang setiap saat dapat diperpanjang). maka dalam perkembangannya hingga bulan September 1980 jumlah maksimum KIK te1ah menjadi Rp 10 juta. dan jangka waktu maksimum 5 tahun. atau rata-rata setiap bulannya meningkat sebesar Rp 43. Sejak tanggal 1 Juni 1983.. Selanjutnya pada bulan Juli 1984 diadakan penyesuaian dalam kebijaksanaan KIK/ KMKP. bat as tertinggi KIK dinaikkan lagi menjadi Rp 15 juta. dengan jumlah 1. jumlah maksimum KIK adalah sebesar Rp 5 juta setiap nasabah dengan suku bunga 12 persen setahun. Ketentuan jumlah maksimum KMKP pada awal diselenggarakannya program ini adalahsebesar Rp 5 juta rupiah. Selanjutnya sejak September 1980 plafon KMKP te1ah menjadi Rp 10 juta.718 ribu pemohon. sedang sisanya sebesar 25 persen akan dibiayai dengan dana yang berasal dari Bank Dunia. dengan suku bunga 15 persen setahun. sedangkan bagian dana dari bank pelaksana tetap 20 persen. Jangka waktu KIK adalah 8 tahun dengan masa tenggang 4 tahun.Perkembangan KIK dan KMKP dapat dilihat pada Tabel IV. danjangka waktu maksimum 3 tahun.5 persen setahun dengan jangka waktu maksimum menjadi 10 tahun.4 persell). dan suku bunga 12 persen setahun.956 ribu pemohon. tanpa adanya tambahan plafon. Dalam periode April-September 1984. Dengan demikian posisi KIK dan KMKP dalam 6 bulan pertama tahun anggaran 1984/1985 (April-September 1984) menunjukkan pertambahan sebesar Rp 259 milyar (9. dan KMKP yang disetujui sebesar Rp 2. jangka waktu KMKP ditetapkan 5 tahun dengan masa tenggang 1 tahun.2 milyar dengan 18 ribu pemohon.

Di samping Kredit Kecil. 761 1.578 1.062 1.697 1.1984/1985 (dalam milyar rupiah) Periode 1973/1974 Maret 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember J anuari Pebruari Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September 1) 1) Angka sementara KIK 6 19 34 55 79 113 190 366 421 477 528 571 608 648 685 723 732 741 749 756 766 778 783 790 799 805 819 825 835 847 882 857 860 872 KMKP 4 18 41 75 124 188 349 656 799 958 .830 1.798 1. 1.627 1.814 1.861 1. senantiasa ditingkatkan dari waktu kewaktu sesuai dengan perkembangan.998 2. 1.725 1.178 1.657 1.073 Pemberian Kredit Kecil (KK) yang diselenggarakan sejak tahun 1974. 10 VESTASI KECIL DAN KREDIT MODAL KERJA P YANG DISETUJUI 1973/1974 .961 1.300 1.605 .542 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.679 1.888 1. Kredit Midi dananya sebagian berasal dari kredit likuiditas Bank Indonesia.022 2. Selanjutnya sejak Januari 1984 telah Departemen Keuangan RI 104 .454 1.378 1.938 1. sejak tahun 1978 telah pula diselenggarakan program kredit Midi untuk pengusaha yang memerlukan kredit dalam jumlah maksimum sampai dengan Rp 500 ribu. Berbeda dengan Kredit Kecil yang sumber dananya berasal dari APBN. dan sebagian lagi dari bank pelaksana.

000. dan jangka waktu maksimum 3 tahun. Kredit Investasi Kecil (KIK) adalah sebesar Rp 71. dan kredit eksploitasi biasa adalah sebesar Rp 344.-.2 milyar untuk 13 ribu nasabah.3 milyar untuk 251 Departemen Keuangan RI 105 . Jumlah pinjaman yang diberikan kepada nasabah Kupedes adalah minimum sebesar Rp 25. dan 24 persen setahun untuk kredit modal kerja. dan meningkatkan usaha-usaha kecil di pedesaan. dan untuk usaha eksploitasi sebesar Rp 20. Dengan dikeluarkannya fasilitas Kupedes ini.9 milyar untuk 62 ribu nasabah.dan maksimum sebesar Rp 1. Kredit ini dananya berasal dari kredit likuiditas Bank Indonesia.000. juga disebabkan beralihnya nasabah Kredit Kecil ke Kredit Umum Pedesaan.6 milyar. Fasilitas kredit untuk pengusaha kecil ini dikenal dengan Kredit Umum Pedesaan (Kupedes).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 diselenggarakan program kredit baru yang merupakan pengganti dari program Kredit Kecil. Perkembangan Kredit Kecil dan Kupedes dapat dilihat pada Tabel IV. Kredit tersebut dapat digunakan untuk investasi dengan bunga 12 persen setahun.11. terhadap Kredit Modal Kerja Perman en (KMKP) sebesar Rp236.5 milyar. Secara keseluruhan. posisi Kupedes yang diselenggarakan sejak Januari 1984 telah mencapai Rp 88. fasilitas Kredit Mini dan Kredit Midi masih diteruskan sampai dengan jatuh tempo kredit masing-masing. Sampai dengan akhir September 1984. atau rata-rata Rp 9.2 milyar untuk 176 ribu nasabah.6 milyar. Penurunan tersebut terdiri dari penurunan kredit untuk usaha investasi sebesar Rp 1..5 persen ) terhadap posisinya pada akhir bulan Maret 1984 sebesar Rp 36. dan terhadap kredit eksploitasi biasa sebesar Rp 36. jumlah pertanggungan yang diberikan kepada KIK. Dalam hal Kupedes dipergunakan untuk modal kerja dikenakan suku bunga 18 persen setahun.8 milyar setiap bulan. posisi Kredit Kecil tercatat sebesar Rp 14. KMKP.1 milyar ( 60. dan jangka waktu maksimum 2 tahun. Sampal dengan akhir September 1984. baik usaha-usaha yang sebelumnya pernah dibantu dengan fasilitas Kredit Kecil/Kredit Midi. Bagi nasabah yang menunggak pengembalian pinjamannya. PT Askrindo dalam kegiatannya telah menyediakan jasa pertanggungan atas kredit perbankan yang diberikan.4 milyar atau suatu penurunan sebesar Rp 22.5 milyar. dan Kredit Midi. dana perbankan yang berhasil dihimpun dari masyarakat. suku bunga_ya akan dinaikkan masing-masing menjadi 18 persen setahun untuk kredit investasi. sedangkan permintaan kredit baru dialihkan ke Kupedes. Fasilitas kredit ini dimaksudkan untuk mengembangkan. maupun usaha calon nasabah baru. dan dana APBN yang telah disalurkan dalam rangka penyelenggaraan program Kredit Keci!. yang disebabkan karena selain makin banyak para nasabah mengembalikan kredit dalam periode tersebut. Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pemberian kredit kepada pengusaha kecil. jumlah pertanggungan yang diberikan terhadap.000. Dalam tahun 1984 sampai dengan bulan September 1984.

dan sektor jasa-jasa sebesar Rp 1. Secara terperinci pemberian pertanggungan secara masal meliputi sektor pertanian sebesar Rp 8. industri sebesar Rp 23. Di samping program-program kredit diatas.4 milyar untuk 68 ribu nasabah.0 persen).9 juta. dan bunga yang rendah melalui 4. Hal ini berarti bahwa dalam periode AprilSeptember 1984 perputaran KCK mengalami peningkatan sebesar Rp 12 milyar (8.0 juta.0 milyar untuk 5 ribu nasabah. Pemberian pertanggungan secara individual terdiri dari nilai pertanggungan di sektor pertanian sebesar Rp 10. sedangkan pada akhir bulan Maret 1984 jumlahnya baru mencapai Rp 150 milyar dengan jumlah 12. perdagangan sebesar Rp 231. Pada waktu dimulainya program kredit tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ribu nasabah.588 peminjam. Sampai .1 milyar untuk 9 ribu nasabah.000.2 juta untuk satU BUUD/KUD. Di dalam keseluruhan kredit yang dijamin PT Askrindo. Kredit ini disalurkan oleh Bank Rakyat Indonesia dengan syarat lunak. pemberian kredit penjembatan.0 juta yang terdiri dari kredit penjembatan sebesar Rp 3. jasa-jasa sebesar Rp49.2 milyar untuk 5 ribu nasabah. Departemen Keuangan RI 106 . dan di sektor ekonomi lainnya sebesar Rp 18. sejak tahun 1976 Pemerintah menyelenggarakan program Kredit Candak Kulak untuk para bakul/pedagang kecil di pedesaan. Sampai dengan akhir bulan September 1984.-.-. maupun dalam bentuk penanaman lainnya.956 peminjam. perdagangan sebesar Rp 1.682 nasabah.285.1 juta kepada 39 buah perusahaan dan penanaman dana lainnya sebesar Rp 10.9 milyar untuk 40 ribu nasabah. yang sejak bulan Juli 1982 ditingkatkan menjadi Rp 30.000.7 milyar merupakan jumlah pertanggungan yang diberikan secara masal kepada 124 ribu nasabah. dengan peningkatan sebanyak 632 nasabah.5 milyar untuk 122 ribu nasabah. perputaran KCK telah mencapai sebesar Rp 162 milyar yang meliputi 13.964 BUUD/KUD yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. maka untuk meningkatkan pendapatan serta menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat pedesaan dan kota-kota kecamatan.612.4 milyar untUk 389 nasabah. Bantuan tersebut terutama dipergunakan untuk usaha di sektor perdagangan dan industri. PT Bahana telah melakukan penanaman dana sebesar Rp 4. penyertaan modal sebesar Rp 662.dengan bulan September 1984. Menurut sektor ekonomi. termasuk kredit sebesar Rp 0. PT Bahana sejak tahun 1974 telah pula memberikan bantUan dalam bentuk penyertaan modal. dari keseluruhan jumlah pertanggungan tersebut di atas.6 milyar merupakan pertanggungan kredit yang diberikan secara individual kepada 127 ribu nasabah. sebesar Rp 11. Guna mendorong kegiatan para pengusaha kecil.8 milyar untuk 1. jumlah pinjaman yang dapat diberikan kepada seorang peminjam maksimum adalah Rp 15. dan Rp 332.

256 59. Pemerintah sejak tahun 1976 menyediakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang disalurkan melalui Bank Tabungan Negara. dan 123.740 760. Bila dibandingkan dengan posisinya pada bulan Maret 1984 sebesar Rp 620 milyar.991 19.925 62.220 .332 58.972 2.824 131.208 757.281 57.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.518 31.880 12. posisi pemberian KPR mencapai jumlah sebesar Rp 721 milyar.029 8.509 749.204 57.406 224.414 56. Sampai dengan akhir bulan September 1984.474 353.065 59.040 756.411 22.088 59.172 30.741 566.553 498.130 445.773 252.417 unit dibangun oleh rerum Perumnas.708 710.277 2.601 756.673 63.783 359.290 750.806 766.603 207.934 695.416 Periode 1974/1975 Maret 1975/1976 Maret 1976/1977 Maret 1977/1978 Maret 1978/1979 Maret 1979/1980 Maret 1980/1981 Maret 1981/1982 Juni September Desember Maret 1982/1983 Juni September Desember Maret 1983/1984 April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Januari Pebruari Maret 1984/1985 April Mei Juni Juli Agustus September l) 1) Angka sementara.246 407.754 20.592 63.689 26.44.911 4-9.981 398. selama Departemen Keuangan RI 107 .230 75.306 36.294 393.902 58.579 71. 13.708 88.192 11.266 618.250 234.662 45.829 272.641 62.503 741.822 744. 11 KREDIT KECIL DAN KREDIT UMUM PEDESAAN.196 unit dibangun oleh non Perumnas.398 41.162 50.920 313.597 702.058 15.613 unit rumah yang terdiri dari 92.404 491.855 716.159 723.533 57.340 603.229 665. yang digunakan untuk membangun 215.519 296.280 82.137 5.968 60.932 62. 1974/1975 1984/1985 Kredit Kecil Kredit Umum Pedesaan Jumlah pinjaman Jumlah pinjaman peminjam rupiah ) peminjam rupiah) 61.879 54.974 450.670 16.438 687.810 342.467 161.599 14.659 758.104 57.322 47.624 Guna membantu mengatasi kebutuhan akan perumahan.

Lembaga-lembaga keuangan 4. dan 15.3 persen) untuk membangun 19. kecamatan. dan bank pembangunan koperasi. Pemerintah telah memperlunak persyaratan pendirian kantor cabang. dan kantor cabang pembantu BPD. sehingga sampai saar ini telah dicakup 27 buah BPD yang tersebar merata di setiap ibukota propinsi. Hal itu dimaksudkan agar lembaga-lembaga keuangan lebih efektif menjalankan fungsinya sebagai perantara keuangan dalam bentuk mobilisasi daD penyaluran dana-dana masyarakat. bank perkreditan rakyat (BPR). Jumlah kredit yang diperoleh daTi BRI adalah antara 1.896 unit dengan nilai Rp 93 milyar dibangun oleh non Perumnas. dan pedesaan.4. sedangkan kredit untuk pembangunan rumah non Perumnas dananya berasal dari dana perbankan. guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan jasa perbankan terutama di daerah-daerah. serta menyempurnakan organisasiorganisasi lembaga keuangan. dan jangka waktu satu tahun. Departemen Keuangan RI 108 . Dalam tahun 1983/84 bantuan tersebut diberikan kepada 2 BPD. sebanyak 3. Di samping itu.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 periode April-September 1984 pemberian KPR telah mengalami peningkatan sebesar Rp 101 milyar (16. Lembaga-Iembaga keuangan perbankan akan dikembangkan dan diperluas agar pelayanannya dapat menjangkau ke seluruh daerah kabupaten.5 persen per rabun. Kredit untuk pembangunan rumah oleh rerum Perumnas dananya berasal dari APBN. Usaha untuk meningkatkan bank perkreditan rakyat di dalam rangka membantu pengusaha golongan ekonomi lemah yang berada di pedesaan terus dilakukan dengan pemberian fasilitas kredit likuiditas yang disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pembinaan yang telah dilakukan selama ini terutama diarahkan kepada usaha untuk lebih mengembangkan bank pembangunan daerah (BPD). Lembaga keuangan perbankan Kebijaksanaan Pemerintah untuk mengembangkan dan membina sektor perbankan dalam tahun 1984/1985 merupakan kelanjutan dari kebijaksanaan dalam tahun anggaran sebelumnya yang diarahkan untuk menumbuhkan sistem perbankan yang sehat.1. Usaha memperkuat permodalan BPD serta pembinaannya dalam bentuk pemberian bantuan teknis dan pendidikan tetap dilanjutkan. 4.882 unit dengan nilai sebesar Rp 8 milyar dibangun oleh rerum Perumnas.5 sampai 3 kali modal sendiri.4. dan berhasil guna dalam menunjang pembangunan nasional. Untuk tetap meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam membiayai pembangunan. Dari jumlah tersebut.778 unit rumah. dalam Repelita IV sasaran kebijaksanaan moDeter diarahkan untuk meningkatkan efisiensi kerja. dengan suku bunga 13.

sehingga BUSN yang telah mengadakan merger sampai dengan AgustUs 1984 berjumlah 94 bank. Dalam rangka memperluas dan memperlancar lalu lint as uang giral. sehingga jumlahnya menjadi 80 kantor pacta akhir Juli 1984. Lembaga-Iembaga keuangan bukan bank Lembaga-Iembaga keuangan bukan bank (LKBB) mempunyai peranan penting dalam menunjang pengerahan dana dari masyarakat untuk kemudian menyalurkan dana tersebut bagi kegiatan yang produktip. yaitu jenis yang bergerak di bidang pembiayaan pembangunan. jumlah tempat penyelenggara kliring lokal tersebut telah bertambah dengan 3 tempat sehingga menjadi 24 tempat. bank-bank dan lembaga-Iembaga keuangan bukan bank masih tetap dapat menerbitkan surat jaminan bank dalam rangka memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat.2.4. sebanyak 2 bank telah melakukan penggabungan usahanya. dan menjamin serta menanggung terjualnya surat-surat berharga (underwriter). 4. LKBB jenis investasi terutama melakukan usaha sebagai perantara dalam menerbitkan surat-surat berharga. dan jenis lainnya. disesuaikan dengan tempat dimana bank didirikan terutama mengenai besarnya modal koperasi. Usaha menciptakan pertumbuhan yang lebih seimbang diantara bank-bank umum swasta nasional (BUSN). jenis investasi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Demikian pula sejak Pebruari 1983 tata kerja bank-bank umum yang berbadan hukum koperasi. Jumlah kantor cabang pembantu sebagai peserta tidak langsung dari kliring lokal telah bertambah dengan 24 kantor. sejak tahun 1982 dilakukan oleh Departemen Keuangan. Sedangkan tugas LKBB jenis pembiayaan lainnya adalah memberikan pinjaman kepada masyarakat golongan berpenghasilan menengah untuk memiliki rumah. Berdasarkan Keppres nomor 29 tahun 1984 sebagai pengganti Keppres no. kredit jangka menengah atau jangka panjang. serta agar peranannya selaras dengan kebijaksanaan ekonomi keuangan. Ada 3 macam jenis LKBB. dan semester I 1984/1985. dilaksanakan melalui pemberian kemudahan untuk membuka kantor cabang. tugas pembinaan dan pengawasan LKBB yang semula dilaksanakan oleh Bank Indonesia. Di samping itu Departemen Keuangan RI 109 . Untuk lebih meningkatkan peranan LKBB di dalam pengembangan posar uang dan modal. dan melakukan penyertaan modal dalam perusahaan-perusahaan. Dalam tahtm terakhir ini. dan pengusaha ekonomi lemah. dan kantor cabang pembantu. perluasan kliring lokal di wilayah. 14A tahun 1980. sedangkan himbauan untUk melakukan penggabungan usaha (merger) terus dilanjutkan. Dalam tahun 1983/1984. yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia terus ditingkatkan. Tugas LKBB jenis pembiayaan pembangunan terutama adalah memberikan.

surat-surat berharga yang didiskontokan kepada Bank Indonesia berjumlah sebesar Rp 156 milyar. Kedua jenis penanaman dana tersebut.2 persen. dalam periode April-September 1984 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 5. Sedangkan jumlah dana LKBB jenis pembangunan berjumlah sebesar Rp 243 milyar.2 persen. Sementara itU jumlah dananya pada periode yang sarna telah meningkat sebesar Rp 58 milyar atau 5. maka mulai ditempuh pula cara pernbiayaan alternatip melalui leasing.5 persen dalam periode yang sarna. Adapun penanaman dana dari LKBB secara keseluruhan selama periode AprilSeptember 1984 mengalami kenaikan sebesar Rp 65.2 persen lebih tinggi dari posisinya sebesar Rp 882 milyar pada akhir Maret 1984. sehingga posisinya menjadi sebesar Rp 1. Penanaman dana dari LKBB sebesar Rp 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pendirian LKBB tetap hanya diberikan untuk kantor perwakilannya saja. Surat berharga yang dapat didiskonto ulangkan kepada Bank Indonesia telah diperluas dengan obligasi. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 9. Di lain pihak jumlah dana yang berhasil dihimpun oleh LKBB jenis investasi sampai dengan September 1984 berjumlah sebesar Rp 919 milyar atau 4.2 persen. Dalam tahun 1983/1984. dan jumlah surat berharga yang dibeli kembali oleh LKBB adalah sebesar Rp 197 milyar. Dengan berkembangnya perekonomian Indonesia.0 persen). berarti posisi fasilitas diskonto ulang menurun menjadi Rp 2 milyar pada akhir Maret 1984. Leasing adalah kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala. atau Departemen Keuangan RI 110 . Dengan demikian posisi fasilitas diskonto ulang pada akhir Juli 1984 naik menjadi Rp 8 milyar. Dengan adanya pembelian kembali suqtt-surat berharga yang lebih besar sejumlah Rp 41 milyar. dan dibeli kembali sebesar Rp 51 milyar. Demikian pula untuk lebih meningkatkan peranan LKBB dalam perdagangan surat-surat berharga. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 (sampai dengan Juli 1984). Bank Indonesia telah memberikan fasilitas diskonto ulang. disertai dengan.milyar (6. Untuk tahap pertama. Posisi fasilitas diskonto ulang pada akhir Maret 1983 tercatat sebesar Rp 43 milyar.155 milyar.155 milyar pada akhir September 1984 terse but terdiri dari penanaman dana LKBB jebis investasi sebesar Rp 917 milyar (79. yang secara formal mulai diperkenalkan oleh Pemerintah sejak tahun 1974. dan 9.4 persen) dan jenis pembangunan sebesar Rp 238 milyar (20.6 persen). hak pilih (optie) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan.162 milyar. jumlah obligasi yang dapat didiskonto ulangkan kepada Bank Indonesia ditetapkan sebesar 70 persen dari nilai nominalnya. sehingga posisinya menjadi Rp 1. telah dijual surat-surat berharga kepada Bank Indonesia sebesar Rp 57 milyar.

Asuransi jiwa bertalian dengan pemberian jaminan terhadap resiko yang timbul terhadap kematian. yang berasal dari dana-dana investasi asuransi kerugian. pensiunan. Sejak diselenggarakannya sampai dengan akhir semester I 1984. dan reasuransi kerugian adalah sebanyak 68 buah.2 milyar (5. jumlah perusahaan leasing telah mencapai 41 perusahaan yang terdiri dari 1 perusahaan milik negara.5 milyar (38. yang pada gilirannya akan membawa kernajuan kegiatan di bidang perasuransian.4 milyar. Industri asuransi mempunyai beberapa fungsi.9 persen). yang selama April-Juni 1984 mencapai sebesar Rp 108.1 milyar.4 persen\ Rp 58.3. asuransi jiwa. masingmasing sebesar Rp8. 14 perusahaan milik swasta nasional.5 persen).4 persen). maka dalam tahun 1984 terdapat peningkatan kegiatan leasing yang cukup besar.9 milyar. pengangkutan. Sampai saat ini jumlah perusahaan asuransi Departemen Keuangan RI 111 . asuransi jiwa.8 milyar (52. Dibandingkan dengan nilai kontrak leasing dalam periode yang sarna tahun lalu sebesar Rp 47.4. Jumlah premi bersih yang diterima selama semester f1984/1985 adalah sebesar Rp 52. maupun sebagai penyerap tenaga kerja. Perasuransian Perkembangan perekonomian dalam lahar pernbangunan yang semakin meningkat akan memperluas bidang-bidang usaha perasuransian. peningkatan ini disebabkan adanya peningkatan dana-dana investasi dari sektor-sektor asuransi kerugian dan reasuransi. Kegiatan asuransi meliputi pemberian pertanggungan terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat kebakaran.1 milyar sedangkan jumlah tagihan bersih yang harus dibayar dalam periode yang sarna hanya berjumlah sebesar Rp 21. asuransijiwa sebesar Rp 169. dan Rp 158. serta asuransi sosial. Berdasarkan perkembangan sampai dengan semester I 1984/1985. antara lain menanggung resiko.5 milyar (33. kematian.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersarna. dan 12 buah milik patungan. Kegiatan ini di Indonesia dapat digolongkan ke dalam 3 golongan. dan asuransi sosial sebesar Rp 570. 53 buah milik swasta nasional. 4. yaitu asuransi kerugian dan reasuransi. berarti telah terjadi kenaikan sebesar Rp 225. Sampai dengan tahun 1983. sebagai alar pernupukan modal.5 milyar. jumlah dana investasi dari sektor asuransi telah mencapai jumlah sebesar Rp 900.2 milyar.9 milyar. kesehatan tenaga kerja. dan masa pensiun. jumlah perusahaan asuransi kerugian. dan asuransi sosial.Kegiatan usaha leasing antara lain dapat dilihat dari besarnya nilai kontrak leasingnya. dan reasuransi sebesar Rp 159. dan 26 perusahaan leasing patungan.2 milyar. 3 buah diantaranya merupakan perusahaan milik negara. sebagai salah satu sumber pendapatan Pemerintah. dan bea siswa. Bila hal ini dibandingkan dengan dana investasi dari sektor asuransi dalam tahun 1982.

atau rata-rata setiap tahun sebesar 4. Dalam tahun 1983 saja jumlah pertanggungan meningkat sebesar Rp699. sedangkan dalam tahun 1983 saja tercatat peningkatan sebesar Rp 158.4 milyar pada tahun 1983. termasuk Koperasi Asuransi Indonesia (KAI). Perkefnbangan dana investasi yang dilakukan perusahaan asuransi sosial juga meningkat. Perkembangan perusahaan asuransi so sial menunjukkan gambaran adanya pembinaan serta penyempurnaan yang dilakukan terhadap perusahaan tersebut.259. sampai dengan tahun 1983 mencapai sebesar Rp 169.7 milyar setiap tahunnya.9 persen).1 persen). Dari jumlah tersebut Rp 80.4 persen. atau rata-rata Rp 28.906 buah. dana investasi meningkat sebesar Rp 95. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 4.9 milyar (484. Jumlah peserta asuransi sosial sejak tahun 1978 sampai dengan 1983 naik rata-rata 21. Jumlah premi dalam periode yang sarna mengalami kenaikan dengan 59.9 persen) setiap tahunnya.969 milyar. investasi perusahaan asuransi jiwa telah meningkat sebesar Rp 140.7 persen setiap tahunnya. atau rata-rata setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar Rp 348.9 milyar. Sementara itu jumlah dana investasi asuransi jiwa yang ditanam dalam bentuk deposito.9 milyar dalam tahun 1982. Pemerintah telah memberikan kesempatan kepada pengusaha nasional untuk mendirikan perusahaan asuransi jiwa baru. yakni dari posisinya sebesar Rp 411.8 persen setiap tahunnya.0 milyar (36. pinjaman polis. menjadi Rp 570.760 buah.1 persen).5 persen). sehingga jumlah premi untuk tahun 1983 berjumlah Rp 114.4 milyar diantaranya diinvestasikan dalam deposito. jumlah uang pertanggungan asuransi jiwa telah meningkat sebesar Rp 1. dan jenis-jenis investasi lainnya.2 milyar (96. Perkembangan usaha asuransi jiwa pada saat ini terlihat pada jumlah polis yang dalam tahun 1983 berjumlah 2.1 persen pertahun.3 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jiwa yang ada di Indonesia. sedangkan pengusaha asing dapat melakukan usaha patungan dengan perusahaan asuransi jiwa nasional yang ada.9 persen. Perkembangan dana investasi dari Departemen Keuangan RI 112 .4 milyar (39.308 ribu orang.5 milyar (38.8 milyar (52. Jumlah nilai pertanggungannya dalam periode yang sarna juga menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 58.0 milyar diinvestasikan dalam pinjaman polis.633.8 milyar (195. sehingga posisinya dalam tahun 1983 menjadi Rp 1. sedangkan pada tahun 1978 baru mencapai 1. Selama periode 5 tahun.3 persen).7 persen). Jika dalam tahun 1978 pesertanya adalah sebanyak 2.741. Dengan demikian selama 5 tahun terse but terjadi kenaikan sebesar 24. dan Rp 38. Kalau dibandingkan dengan jumlah dana investasi dalam tahun 1978. Sedangkan dalam tahun 1983 tercatat peningkatan sebesar Rp 58.817. adalah sebanyak 15 perusahaan. sehingga jumlahnya menjadi sebesar Rp 2. Dalam periode yang sarna.821 ribu orang.8 milyar dalam tahun 1983.

Pasar Modal Dalam rangka meningkatkan peranserta masyarakat dalam pemilikan saham. Sedangkan bagi badan hukum lainnya yang berbentuk PT.527 7.549 222.709 110.344 5.4.693 4.560 111.560 2.163 3.1983 ( dalam juta rupiah) kerugian reasuransi 1.247 32.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sektor asuransi dapat diikuti dalam Tabel IV.064 40. dan obligasi yang diterbitkan perusahaan atau badan usaha.246 105.946 Asuransi sosial 1. sehingga tarip pengenaan efektip adalah 10 persen yang bersifat pungutan final.405 411.198 60.398 72. dividen dan royalty yang terhutang alas pembayaran bunga dan hadiah obligasi diberikan keringanan berupa tidak ditagihnya sebesar 50 persen.12.051 2.481 54.542 47.182 485.827 18.531 296.631 3. DANA INVESTASI DARI SEKTOR ASURANSI.889 12. Pembelian obligasi tidak dapat dipergunakan baik secara langsung maupun tidak langsung sebagai dasar pengenaan pajak mengenai masa sebelum pembelian.861 Asuransi jiwa 30 222 404 961 2. Pemerintah senantiasa berusaha untuk menyempurnakan tala cara perdagangan efek di bursa.322 25. Di samping itu guna meningkatkan kegiatan perdagangan efek. Selanjutnya Departemen Keuangan RI 113 .391 Periode 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1) 1) Angka sementara Jumlah 2.743 11.085 29. 1969 . Sejak Januari 1983 telah diadakan penyempurnaan ketentuan mengenai pemberian keringanan perpajakan bagi perorangan.756 4. Tabel IV.182 169.103 2. Sejak bulan Juli 1983 telah dipercepat tala cara penyelesaian transaksi efek di bursa dari 14 hari menjadi 4 hari.405 83.475 8.198 4.882 160.629 159. Pajak alas bunga.531 314.983 77.926 7.004 126. dan badan usaha yang membeli obligasi yang telah memperoleh ijin dari Menteri Keuangan tidak dilakukan pengusutan fiskal.903 570.333 36.812 23.939 177.073 4.4.530 39.264 18. dan perorangan harus mempunyai modal disetor atau modal sendiri sekurang-kurangnya Rp 100 juta.911 10.872 8.714 900.288 151.192 15.267 92.188 21. sejak Juni 1983 bank dan LKBB yang ingin menjadi pedagang efek diwajibkan menyisihkan modal usaha sekurang-kurangnya Rp 250 juta.609 59.253 674.

Penerbitan berbagai jenis sertifikat saham PT Danareksa berkaitan erat dengan tujuan menyebarluaskan pemilikan sertifikat kepada masyarakat.5 milyar. Dalam tahun 1983/1984 dan semester I 1984/1985.420 ribu sertifikat dengan nilai Rp 72. jumlah perusahaan yang telah terdaftar adalah sebanyak . serta obligasi yang dikeluarkan oleh badan usaha milik negara. Departemen Keuangan RI 114 . Rp 130.3 milyar.8 milyar. kedua puluh enam perusahaan.230 lembar dengan nilai Rp 154. Adapun perusahaan/badan usaha yang menerbitkan obligasi sampai dengan Agustus 1984 adalah PT Jasa Marga (di bidang jalan tol). yang seluruhnya berjumlah 7. Di samping itu Pemerintah telah membebaskan pajak penghasilan alas dana pensiun yang ditanam dalam bentuk saham. dan badan usaha itu telah menyerap dana masyarakat melalui pasar modal sebesar Rp 285.14.13 dan Tabel IV. dan 1 perusahaan untuk memasarkail obligasi melalui posar modal. dan PT Papan Sejahtera (di bidang perumahan).115 ribu lembar dengan nilai sebesar Rp 60.7 milyar. dan efektif. Perkembangan perusahaan-perusahaan/badan-badan usaha yang telah memasyarakatkan saham dan obligasi melalui posar modal dapat diikuti dalam Tabel IV. Berbagai kegiatan promosi dan penelitian telah ditingkatkan untuk menjadikan pasar modal sebagai sarana pembiayaan yang potensial. dan 3 buah badan usaha menerbitkan obligasi sebanyak 263. Berdasarkan harga penawaran perdana.26 buah.5 milyar. telah disetujui permohonan 8 perusahaan untuk memasarkan sahamnya. terutama yang berpenghasilan rendah. PT Danareksa telah menerbitkan dua jenis sertifikat yaitu sertifikat saham dan sertifikat dana. 23 buah diantaranya menerbitkan saham sejumlah 57. Sampai dengan Agustus 1984.2 juta lembar saham dengan nilai emisi .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tidak dilakukan lagi penagihan pajak penjualan dan pajak perseroan yang terhutang dari hasil penerimaan bunga dan hadiah obligasi. Bank Pembangunan Indonesia (di bidang perbankan). Dengan demikian. maka sampai dengan Agustus 1984. berarti pasar modal di Indonesia mulai memasuki tahap lanjut dalam perluasan transaksi modalnya. dan sertifikat dana yang diperdagangkan di luar bursa. sejak diaktipkannya kembali bursa efek di Indonesia pada bulan AgustUs 1977. Dengan mulai diterbitkannya obligasi. dan menengah. Jumlah sertifikat saham dan sertifikat dana yang berada di masyarakat sampai dengan akhir tahun 1983/1984 adalah sebanyak 6.

30 98.096 17.950 1.096 20.584 57.108 31.690.10 113.920.927.020.90 638 2.000 733.00 1.000 347.Emisi I . PT Multi Bintang Indonesia 9.600.975.10 36.00 5.526.500 7.90 1.192.762.669.000 584. PT Regnis Indonesia 20.60 3.570 3.716.541.096 8. 342.108 31.096 7.10 118.00 3.751.722.055.642.2 855 .210.90 117.096 673.660.520.749.000 523. PT Hotel Prapatan 23.257.135.00 84.100 1.30 9.618. PT Panin Union Insurance Ltd 19.096 15.467.150.475 1.Emisi I .481.000 6.00 1.Emisi II 3.600 342.00 879.500 4.600.324.800.952.150 1.530.184 10.800. PT Sepatu Bata Indonesia 11.90 89.750 5.00 7.412.500 3.096 9.079.050 1.005.20 3. PT Tificorp 5.280. PT Semen Cibinong .500 972.90 3.20 7.10 27.Emisi II 15.400 1.10 43.116 214.108 29.519.8 806.90 120.000 3.00 1.608 38. PT Unilever Indonesia 10.208 48.237.080. PT Panin Bank Indonesia .10 119.10 35.100 1.950 1.60 47.660.637.540 1.000 1.580.60 109.562. PT Bayer Indonesia 14. PT Sari Husada 18.000 360.014.724.000 1.00 81. PT Sucaco 13. PT Delta Jakarta 22.716.500 600.000 765.550 1.009.421.822. PT Merck Indonesia 8.250 1.162.200.096 1.000 16. PT Asuransi Jiwa Panin Putra 17.281.175 1. PT Jakarta International Hotel .398. PT Goodyear Indonesia 7.708 44. PT Pfizer Indonesia 21.208 43.618.40 29.60 52.208 48.639.957.924.10 115.834.000 6.708 40.30 11.40 5.90 5.8 1.116 557.Emisi II 2.060.000 1.000.500 3.000 2.680.600.608 36.867.000 1.250 3.50 3.10 7.100.475 3. PT Squibb Indonesia 16.147.976 6.20 130. PT BAT Indonesia 4.900 1.081.10 Departemen Keuangan RI 115 .00 7.10 116.050 2.687.708 48.421.667.980 116.708 45.00 16.850.50 110.012 9.362.00 83.226.325 3.10 10.275 1.708 47.020.205.022.425 2.1.000 1. PT Centex . 13 PERUSAHAAN-PERUSAHAAN/BADAN USAHA YANG TELAH MEMASYARAKATKAN SAHAM MELALUI PASAR MODAL SAMPAI DENGAN AGUSTUS 1984 Jumlah Harga Nilai pasar Perusahaan emisi Kumulatif penawaran Perdana Kumulatif (lembar) (lembar) (Rp/lembar) (Juta Rp) (Juta Rp) 1.605.708 46.696.080.00 1.000 2.608 50.200. PT Unitex 12.317.857.90 92.000 1.500.Emisi I .067.084.665.024.500 5. PT Richardson Vicks Indonesia 6.850 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.

500 5.000 50 100 500 1.000 5.00 5.000 10 50 100 500 1. sedangkan kredit perbankan bertambah dengan Rp 4.000.250.800.800 6.00 154.0 persen). dan Rp 19.000 10.000 1.718.7 persen).230 10 50 100 1.000 4. Departemen Keuangan RI 116 .408.565.500.000 6.00 Perusahaan PT Jasa Marga I Bank Pembangunan PT Papan Sejakhtera PT Jasa Marga II Jumlah 4.0 milyar.000 10.000 1.000 15.600 2.680 1.550.00 150 600 2.250.000 10.650 1.00 2.000 5. 300 2.00 2.00 10.000 10 100 500 1.00 68.0 milyar dan Rp 24.00 65 260 1.845.000.00 2.00 10 50 100 840 1.000 46.000 1. Dalam tahun 1985/1986 jumlah uang beredar diperkirakan akan bertambah dengan Rp 1.080 2.0 milyar (13.960 960 1.5.500 1.300.943.000 1.0 milyar.410.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel IV.0 milyar (23.164.000.800 263.550 4.00 4.0 milyar.250 6.000.000 5.125.000. Dengan demikian posisi jumlah uang beredar. Pada akhir tahun 1984/1985 jumlah uang beredar dan kredit perbankan diperkirakan sebesar Rp8.500. bahwa kenaikan Darga dalam tahun 1985/1986 tidak banyak berbeda dibandingkan dengan tahun 1984/1985.221.000.00 2. dan kredit perbankan pada akhir tahun 1985/1986 diperkirakan mencapaijumlah Rp 10. Perkiraan jumlah uang beredar dan kredit perbankan tahun 1985/1986 Perkiraan jumlah uang beredar didasarkan pada anggapan-anggapan.960. 14 PERUSAHAAN-PERUSAHAAN/BADAN USAHA YANG TELAH MEMASYARAKATKAN OBLIGASI MELALUI PASAR MODAL (Januari 1983 sId Agustus 1984) Jumlah emisi Pecahan Harga nominal (lembar) Harga Perdana Nilai Harga (ribu Rp) (juta Rp) 125.000 400 200 1.00 16.00 2.000 24.00 6.00 24.000 10.

3 persen. proses peningkatan kegiatan yang berlangsung dalam tahun 1984 belum secara merata terjadi pada semua negara industri. dari sebesar 3.2 persen dalam tahun 1983. masing-masing diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 7. Tanda-tanda perbaikan ekonomi yang telah mulai tampak dalam tahun terakhir Pelita III belumlah sepenuhnya berkembang seperti yang diharapkan.5 persen dan 1. masing-masing diperkirakan sebesar 5. Amerika Serikat. Kanada dan Jepang mengalami peningkatan kegiatan yang lebih tinggi.2 persen dalam tahun i982 menjadi 2. Italia dan Perancis diperkirakan sedikit mengalami peningkatan yaitu masingmasing sebesar 2. produk nasional bruto negara-negara berkembang pada pelbagai belahan bumi seperti di Asia. Pendahuluan Memasuki tahun pertama Repelita IV. sementara kegiatan di negara-negara industri lainnya hanya menunjukkan sedikit perbaikan.6 persen. Jepang dan Kanada dalam tahun 1984 berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan ekonominya.7 persen. perkembangan ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih dan resesi yang berkepanjangan. Dengan tingkat pertumbuhan yang dicapai oleh masing-masing negara industri tersebut.1 persen dan sebesar 5. sehingga pengaruh positifnya masih dirasakan terbatas bagi kemajuan ekonomi negara-negara berkembang.6 persen daiam tahun 1983. Dengan dicapainya perluasan kegiatan tersebut.3 persen. Amerika Serikat. Keadaan ini menempatkan mereka sebagai negara-negara yang mempunyai laju pertumbuhan yang relatif lebih cepat di antara kelompok negara-negara industri utama.1 persen dan nol persen dalam tahun 1983. 1. Sementara itu negara-negara industri lainnya seperti Jerman Barat.5 persen. Afrika dan Amerika Latin juga mengalami peningkatan.6 persen. Sejalan dengan pertumbuhan yang dicapai negara-negara industri.4 persen. 2. secara keseluruhan produk nasional bruto (GNP) negara-negara industri dalam tahun 1984 diperkirakan dapat meningkat kembali menjadi 4.0 persen dan 4.9 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB V NERACA PEMBAYARAN DAN PERDAGANGAN LUAR NEGERI 5. Departemen Keuangan RI 117 . Sebaliknya Inggris diperkirakan justru mengalami penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi menjadi 2. sehingga kalau diukur dan pertambahan produk nasional bruto (GNP). Sebagai akibatnya.1. Di kawasan Asia Tenggara.4 persen dan 2. setelah dalam tahun sebelumnya mengalami perbaikan dari sebesar negatif 0. 3. negara-negara ASEAN seperti Thailand. 5.

Sementara itu meskipun masih merupakan negara dengan tingkat inflasi tertinggi di antara negara-negara industri. tingkat pengangguran rata-rata di tujuh negara industri utama diperkirakan menurun. dan 11.0 persen dalam tahun 1984.7 persen dalam tahun 1983. dan terciptanya iklim usaha yang menguntungkan hanya mungkin dicapai jika laju inflasi dapat dipertahankan pada tingkat yang terkendali. Dengan arah perkembangan tersebut. Sebaliknya Inggris. Sedangkan Philipina justru diperkirakan mengalami penurunan dalam tingkat pertumbuhan ekonominya dari 1.5 persen.0 persen.6 persen. 9.7 persen dan 8. Terpeliharanya stabilitas.6 persen.2 persen. dari 9. yaitu masing-masing menjadi 12. yaitu menjadi 7. Sementara itu Jerman Barat be1um dapat menurunkan angka pengangguran dari tingkat 8. sehingga angka pengangguran dapat lebih dikendalikan selaras dengan kemajuan ekonomi yang dicapai masing-masing negara.3 persen dalam tahun 1983.6 persen dalam tahun 1984 dibandingkan dengan 8. dan 11. Sedangkan negara-negara lainnya seperti Jerman Barat.0 persen dan 4. dan Inggris te1ah dapat menu runkan tingkat inflasinya di bawah lima persen. Italia dengan berbagai upaya diperkirakan telah berhasil menurunkan laju inflasi ke tingkat 11.3 persen. 4. dengan masing-masing diperkirakan sebesar 2.9 persen dan 10. Peningkatan kegiatan-kegiatan tersebut se1anjutnya mendorong perluasan kesempatan kerja.9 persen dalam tahun sebe1umnya. Di antara negara-negara industri tersebut. Jepang dengan penurunan angka pengangguran yang diperkirakan menjadi 2.3 persen dalam tahun 1984. peningkatan produksi. Kanada. Italia.3 persen dari 5. Melalui kebijaksanaan pengendalian moneter. Jepang dengan laju inflasi yang diperkirakan sebesar 0. 5.0 persen dalam tahun 1984. tingkat inflasi rata-rata dalam tahun 1984 di negaranegara industri secara keseluruhan diperkirakan dapat diturunkan menjadi 4. Pertumbuhan ekonomi dunia tersebut dapat dicapai dengan adanya perluasan kegiatan investasi.9 persen. Sebaliknya Departemen Keuangan RI 118 . dari 2.0 persen dalam tahun sebelumnya. 6.8 persen dan 7.0 persen.9 persen dalam tahun 1983 menjadi sebesar 6. Penurunan yang sarna dialami pula oleh Amerika Serikat dan Kanada masing-masing diperkirakan menjadi 7.8 persen.6 persen.4 persen dalam tahun 1983 menjadi negatif 6.8 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Malaysia dan Singapura diperkirakan berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya masing-masing dari sebesar 5. dan Perancis justru sedikit mengalami kenaikan dalam tingkat penganggurannya. Dalam tahun 1984. serta perkembangan aktivitas di bidang perdagangan antarnegara.0 persen dalam tahun sebelumnya. merupakan negara yang paling berhasil mempertahankan tingkat stabilitas ekonominya. masih tetap merupakan negara dengan tingkat pengangguran terendah di antara ke1ompok negara-negara industri utama.9 persen dari 15.

Perbedaan yang terdapat pada perkembangan tingkat suku bunga ini mengakibatkan mengalirnya dana investasi masuk ke Amerika Serikat. US Prime Rate tetap bertahan pada tingkat yang cukup tinggi. Amerika Serikat. Franc Perancis.5 persen dan 3.0 persen. 7.5 persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Amerika Serikat sekalipun tingkat inflasinya masih di bawah lima persen.7 persen dan 1. terutama Amerika Serikat.0 persen. Pound Sterling-Inggris. yang pada gilirannya telah mempercepat tingkat perluasan kegiatan ekonomi negara terse but.8 persen dalam tahun sebe1umnya. Hongkong. Suku bunga nasabah utama di Amerika Serikat (US Prime Rate) mengalami peningkatan lebih tinggi dibanding dengan kenaikan suku bunga antar bank baik di London (LIBOR) maupun di Singapura (SIBOR). dan tingginya tingkat suku bunga yang timbul sebagai akibat kebijaksanaan yang diambil dalam proses penyesuaian oleh beberapa negara industri di lain pihak. Asia dan Amerika Latin diperkirakan dapat dikendalikan masing-masing ke tingkat sebesar 12. yaitu 45. yaitu sebesar 13 persen jika dibanding dengan tingkat sebesar 11.5 persen dalam bulan Juli 1981. Philipina diperkirakan mempunyai angka inflasi yang paling tinggi. diperkirakan justru mengalami sedikit kenaikan yaitu diperkirakan menjadi 3. mendorong semakin kuamya nilai tukar matauang Amerika Serikat terhadap pelbagai macam matauang asing (currency) lainnya.9 persen dari 3. maupun Singapura.3 persen dalam tahun 1983. Sementara itu Thailand diperkirakan mampu mengendalikan angka inflasinya pada tingkat 3. Terkendalinya laju inflasi bagi terciptanya iklim usaha yang mendukung peningkatan kegiatan ekonomi tersebut diusahakan dengan pengendalian jumlah uang beredar. Adapun tingkat inflasi negara-negara ASEAN seperti Malaysia. dan Singapura diperkirakan sedikit mengalami kepaikan. seperti yang dicapai oleh LIBOR maupun SIBOR dalam bulan September tahun 1984. Dollar Departemen Keuangan RI 119 .0 persen dalam tahun 1984 dibandingkan dengan 10. baik di Eropa. Yen Jepang. dan mendorong timbulnya kesenjangan yang makin lebar dengan negara-negara industri terkemuka lainnya. Sepadan dengan hasil pengendalian yang dicapai oleh negara-negara industri.2 persen dalam tahun 1983. untuk menarik dana masyarakat sebagai cara menutup defisit anggaran belanjanya telah mengakibatkan bertahannya suku bunga riil pada tingkat yang cukup tinggi.5 persen. Perbedaan tingkat kegiatan ekonomi di satu pihak. dan mengakibatkan berbagai matauang kuat dunia seperti Mark Jerman.1 persen dan 12. laju inflasi negara-negara berkembang di Afrika. Sekalipun tidak sebesar ketika suku bunga mencapai tingkat tertinggi yaitu sekitar 20. Keadaan ini menimbulkan ketidakstabilan pasar valuta internasional. Kebijaksanaan ini yang dipertajam oleh upaya pemerintah negara-negara industri. Guilder Belanda.0 persen. masing-masing menjadi 4. dari sebesar 3.

Amerika Serikat diperkirakan mengalami kenaikan defisit yang cukup besar. sedangkan volume ekspornya dalam periode terse but hanya meningkat sebesar 8. terpaksa menempuh kebijaksanaan devaluasi sekaligus melakukan pengambangan atas dasar sekelompok matauang asing (currency-basket) negara-negara rekan dagangnya yang utama. persetujuan pembatasan ekspor. Departemen Keuangan RI 120 .2 milyar dan Dol milyar dollar Amerika. seperti penentuan kuota impor. yaitu dari US $ 41.4 milyar dan US $ 1. Upaya tersebut dilakukan baik dalam bentuk kenaikan tarif maupun dalam bentuk kebijaksanaan bukan tarif. Ketidakstabilan kurs dollar Amerika. Melihat perkembangan transaksi berjalan negara-negara industri tersebut. Besamya defisit neraca perdagangan di satu pihak. Di lain pihak defisit transaksi berjalan Perancis diperkirakan sedikit dapat diperbaiki dari US $ 3. Usaha mencegah semakin besarnya defisit transaksi berjalan ke arah keseimbangan neraca pembayaran. Sementara itu. Di lain pihak hal ini mengakibatkan beberapa negara yang sampai sekarang masih mendasarkan nilai tukar tetapnya terhadap dollar Amerika Serikat. dan tingginya tingkat suku bunga. menimbulkan kecenderungan makin meningkatnya tindakan proteksionisme yang dilakukan oleh negaranegara industri sebagai upaya untuk melindungi industri dalam negeri masing-masing terhadap persaingan barang-barang sejenis daTi negara lain.5 milyar dalam tahun 1983 menjadi US $ 35.0 milyar dalam tahun 1984.6 persen. Kecenderungan tersebut menimbulkan rangkaian akibat terhadap perkembangan perdagangan dunia dalam tahun 1984. Inggris dan Kanada diperkirakan mengalami penurunan surplus.7 milyar.4 milyar dalam tahun sebelumnya. peraturan kesehatan dan lain-lain.6 milyar dalam tahun 1983 menjadi sebesar US $ 90. US $ 2.9 milyar.8 milyar dalam tahun 1983 menjadi sebesar US $ 2. US $ 4.4 milyar dalam tahun 1984. besarnya defisit anggaran belanja. makin ketatnya pengendalian moneter. di samping mewarnai ketidakpostian situasi moneter intemasional juga telah mengakibatkan terganggunya keseimbangan sistem moneter. sedangkan negara-negara industri lainnya seperti Jerman Barat. dan jasa-jasa di lain pihak.9 milyar dalam tahun sebelumnya. dan mekanisme pembayaran dunia. daTi US $ 20. dari sebesar US $ 3. Jepang diperkirakan mengalami kenaikan surplus.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Singapura dan Dollar Kanada mengalami kemerosotan nilai (depresiasi) yang cukup besar. serta perkembangan yang terdapat pada lalu lintas transfer.0 milyar dalam tahun 1984. Volume impor negara-negara industri dalam tahun 1984 diperkirakan meningkat dengan 11. sehingga defisit neraca perdagangan mereka menjadi semakin besar. yaitu menjadi US $ 52. persyaratan mutu. tindakan penyesuaian nilai tukar matauang. mengakibatkan defisit transaksi berjalan negara-negara industri secara keseluruhan dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami kenaikan.5 milyar dari sebesar US $ 18.9 persen. seperti Thailand. masing-masing menjadi sebesar US $ 3.

sekalipun diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. dan sangat membatasi ekspor dari negara-negara berkembang.2 persen dalam tahun 1983 menjadi 0. Perkembangan ini menjadikan posisi perbandingan pertukaran (terms of trade) negara-negara berkembang mengalami peningkatan dari negatif 3.0 juta barrel per hari. Dengan perkembangan ekspor. telah mendorong harga beberapa barang primer non minyak tetap ke arab yang lebih baik. yang selanjutnya mengakibatkan tertekannya pertumbuhan perdagangan dunia dalam tahun 1984. namun masih lebih rendah dad harga yang dicapai oleh kelompok barang primer non minyak. Berdasarkan perkembangan barga.5 juta barrel menjadi sebesar 16. dan penawaran minyak hasil produksi negaranegara di luar OPEC.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Proteksionisme dalam segala bentuknya ini merupakan penghambat bagi dayaguna (effisiensi) perdagangan antarnegara. dan perbandingan pertukaran serta keadaan posaran minyak seperti yang diuraikan di atas. di samping memperlangka dana yang dapat dipinjamkan. dalam rangka menjaga kestabilan harga minyak. memutuskan untuk tetap mempertahankan harga pada tingkat yang berlaku sekarang. Perkembangan perdagangan dunia. maka volume perdagangan dunia dalam tahun 1984 diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. Meskipun demikian.1 persen dalam tahun 1984. Inggris dan Nigeria. serta berhasilnya penghematan (konservasi) energi minyak. Besarnya kebutuhan dana untuk membiayai pembangunan.3 persen dalam tahun 1984. dipertajam pula oleh peleposan cadangan. sekalipun harga kelompok barang-barang industri mengalami perbaikan. sedangkan di lain pihak. juga mempermahal biaya peminjaman di berbagai pusat keuangan internasional. dan mengakibatkan timbulnya penurunan harga seperti yang telah dilakukan oleh Norwegia. Sebaliknya negara-negara industri diperkirakan mengalami penurunan dari sebesar 2. dan nilai ekspor maupun impor negaranegara berkembang secara keseluruhan. dan impor di negara-negara industri. menyebabkan menumpuknya beban hutang negara Departemen Keuangan RI 121 . tetapi masih belum seperti yang diharapkan. adanya sedikit peningkatan kegiatan ekonomi di pelbagai negara industri. volume. Menghadapi situasi demikian.5 persen dalam tahun 1983 menjadi sebesar 0. dan negara-negara berkembang tersebut. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam sidang daruratnya yang berlangsung dalam bulan Oktober 1984 di Jenewa. walaupun tidak sebaik dalam tahun 1983. dan menutup defisit neraca pembayaran. serta lesunya ekspor kebanyakan negara-negara berkembang. Kesenjangan yang masih terdapat antara permintaan dan penawaran minyak dunia. dengan jalan mengurangi produksi dari batas tertinggi 17. Kesemuanya itu telah menyebabkan terganggunya keseimbangan posar. serta menetapkan ketentuan kuota baru bagi negara-negara anggotanya. dan kecenderungan yang terjadi pada moneter internasional. dan beberapa negara berkembang.

serta penanganan secara tuntas melalui berbagai perundingan yang sedang berlangsung. menjadi teramat penting sebagai sarana perjuangan bagi semua negara untuk menegakkan tatanan ekonomi dunia baru yang lebih adil. Forum perundingan dan kerjasama intemasional seperti dalam pertemuan Bank Dunia (IBRD). Konperensi Perserikatan Bangsa-bangsa dalam Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD). Dari jumlah tersebut. yang pada gilirannya telah menimbulkan masalah likuiditas perbankan internasional. tuntas dan mantap terus diusahakan melalui perundingan-perundingan. serta turunnya ekspor di lain pihak telah menyebabkan debt-service-ratio (DSR) negara-negara terse but menjadi semakin tinggi. yang dirasakan sudah tidak sesuai dalam menjawab masalah. baik antarnegara industri. yang merupakan dasar untuk Departemen Keuangan RI 122 . Dengan diawali oleh Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) tujuh negara industri terkemuka. US $ 728. maupun antara negara industri dan negara berkembang. maupun sebagai jawaban terhadap tuntutan keadilan sosial dalam hubungan ekonomi antarbangsa. dan kerjasama dalam berbagai forum internasional. yang berlangsung dalam bulan Juni 1984 di London. upaya mencari jalan keluar dari resesi ke arah pemulihan kembali ekonomi dunia secara menyeluruh. Persetujuan Umum ten tang Tarif dan Perdagangan (GATT).1 milyar dalam tahun 1984. Kesadaran itu menempatkan masalah pemulihan kembali ekonomi dunia menjadi tanggung jawab bagi semua negara sehingga upaya pemecahannya memerlukan kerjasama yang sungguhsungguh. dan moneter internasional tersebut di atas menimbulkan kesadaran akan semakin tingginya tingkat ketergantungan timbal balik. Sementara itu besarnya kewajiban pengembalian bunga maupun cicilan hutang di satu pihak. Hal tersebut disebabkan karena resesi yang timbul dewasa ini an tara lain bersumber dari kerawanan dan ketidakseimbangan struktural di semua aspek yang berakar pada tatanan lama. maupun Dialog Utara-Selatan.6 milyar dalam tahun 1979 menjadi US $ 830.9 milyar di antaranya merupakan hutang negara-negara berkembang bukan pengekspor minyak. Terciptanya Tata Ekonomi Dunia Baru (TED B) merupakan kebutuhan mendesak. dan tantangan yang dihadapi. baik untuk kestabilan ekonomi dunia yang lebih mantap. dan berkembang. Kecenderungan ini diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang. Pelbagai indikator ekonomi. sehingga mereka lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman baru. dan membahayakan operasi bank-bank pemberi pinjaman. antarnegara berkembang. Dana Moneter Internasional (IMF). dan akan merupakan salah satu penghambat ke arah pemulihan ekonomi dunia.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berkembang yang meningkat secara cepat dari US $ 478. Keadaan ini mengakibatkan beberapa negara berkembang mengalami kesulitan dalam melunasi kembali hutang-hutangnya. Namun demikian kenyataan saling ketergantungan antara negara-negara maju.

dan menghapuskan kebijaksanaan yang bersifat protektif dan restriktif dalam perdagangan. dan defisit anggaran belanja khususnya di Amerika Serikat. dan lain sebagainya. energi. Brasilia. Peru. dan lain sebagainya. perdagangan. Di lain pihak upaya mencari jalan penyelesaian dari krisis hutang negara-negara "berkembang. tingkat suku bunga yang tinggi. Colombia pada tanggal 21 sampai dengan 22 Juni 1984. Bolivia. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk mendesak negara. Hal ini mengakibatkan kelambanan terus mewarnai berbagai negosiasi yang sudah. Argentina. KTT tidak menghasilkan kesepakatan mengenai tindakan penyelesaian terhadap masalah-masalah proteksionisme. moneter dan keuangan. Venezuela. industri. kecuali komitmen politik untuk memperbaharui tekad dalam usaha mempertahankan pemulihan ekonomi agar bertambah mantap. baik di dalam maupun di luar forum PBB. Colombia dan Republik Dominika. yang merupakan penghambat usaha mempercepat dan mempertahankan pemulihan ekonomi dunia. Sementara itu untuk memperkuat kedudukan negara-negara berkembang dalam proses pengambilan keputusan politik tentang masalah-masalah ekonomi global. pengangkutan dan komunikasi. dan mempertahankan laju pemulihan ekonomi dunia akan tetap mengalami hambatan. ilmu pengetahuan dan teknologi. belum dengan sepenuh hati diikhtiarkan oleh negaranegara maju. Departemen Keuangan RI 123 . seperti gerakan Non blok. dan kerjasama internasional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dialog. Organisasi Konperensi Islam (OKI). Dalam hubungan ini. Kelompok 77. ketrampilan teknik. Costarica. menimbulkan dorongan kepada sebelas negara di Amerika Latin yaitu Mexico. dan lembaga pemberi pinjaman agar memberikan kelonggaran waktu bagi pembayaran hutanghutang mereka melalui penjadwalan kembali (rescheduling). Kerjasama ekonomi ini meliputi kegiatan-kegiatan di bidang pangan dan pertanian. Chili. dan kolektif sebagai strategi perjuangan untuk mewujudkan TEDB. dan bertahan lama. kelompok regional seperti ASEAN. pengembangan kerjasama ekonomi antarnegara berkembang (kerjasama selatan-selatan) lebih diarahkan untuk mencapai kemandirian individual. menurunkan tingkat suku bunga. Usaha peningkatan kerjasama tersebut dilakukan melalui berbagai forum internasional pada tingkat bilateral dan multilateral. dan lembaga-Iembaga internasional memberi kelonggaran waktu bagi negara-negara peminjam untuk membayar kembali hutangnya. Ini berarti bahwa lalu lint as perdagangan internasional sebagai salah satu syarat mendasar dalam meningkatkan. mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah hutang luar negeri mereka di Cartagena. Equador. dan sedang berjalan bagi terwujudnya TEDB. Dalam hubungan dengan penyelesaian hutang luar negeri negara-negara berkembang. KTT sepakat untuk mendesak agar bank-bank komersial.

perdagangan. telah pula diupayakan oleh Bank Dunia (IBRD) dan Dana Moneter Internasional (IMF) melalui sidang-sidangnya yang berlangsung dalam bulan September 1984. Sedangkan negara-negara berkembang perlu pula melaksanakan penyesuaian yang efektif. Dalam sidang tersebut diadakan pengkajian terhadap pelbagai indikator serta masalah-masalah mendasar yang masih mewarnai situasi ekonomi dan moneter internasianal.dan didirikan proyek-proyek industri komplementer. melakukan usaha-usaha untuk mengatasi masalah struktural dengan cara mendorong mobilitas tenaga kerja. Dalam kerangka kerjasama ekonomi regional. keuangan dan perbankan. menekan defisit anggaran belanja. melaksanakan kebijaksanaan harga yang fleksibel dan realistis. usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke arah pemulihan. kekurangan likuiditas. melalui dana pembiayaan bersama telah dibangun proyek-proyek ASEAN. industri. Untuk memungkinkan negara-negara Departemen Keuangan RI 124 . bahwa agar pemulihan kembali ekonomi dunia dapat bersifat tetap dan pesat. serta mengawasi pengeluaran Pemerintah ke arab penggunaan yang produktif. Sedangkan di bidang industri. yang meliputi sektor-sektor pertanian. Pendekatan ini juga dimaksudkan sebagai usaha untuk memberikan dorongan bagi terlaksananya negosiasi global yang masih tetap mengalami kemacetan dalam Dialog Utara-Selatan. Di bidang perdagangan. defisit anggaran belanja. program ini juga merupakan suatu pedoman bagi pembangunan ekonomi untuk dikembangkan pada tingkat sub-regional. tingkat suku bunga. perdagangan. Sidang berhasil mencapai kesepakatan. serta gejolak kurs matauang. diserukan kepada negara-negara industri untuk terus melaksanakan strategi kebijaksanaan moneter yang tidak menimbulkan pengaruh inflatoir. regional dan global. dan memperkuat kerjasama antar negara-negara anggota ASEAN telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. dan beban hutang negara-negara berkembang. Di samping merupakan upaya merealisasikan konsep kemandirian kolektif. baik di bidang keuangan dan moneter. seperti berbagai aspek pemulihan ekonomi dunia.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sebagai bagian dari strategi untuk menciptakan kemandirian individual dan kolektif dalam KTT terakhir di New Delhi. Ikhtiar politik untuk secara aktif memantapkan pemulihan ekonomi dunia yang menyeluruh dan merata. serta meniadakan indeksasi dalam kontrak-kontrak. dan energi maupun di bidang pangan dan pertanian. Pelbagai kemajuan telah dapat dicapai dalam kerjasama ekonomi tersebut. gerakan non blok telah menggariskan suatu pendekatan baru yang bertujuan untuk menanggulangi krisis ekonomi dunia dengan tindakan-tindakan darurat jangka pendek. masalah proteksi. hasil kerjasama tersebut tercermin dalam perluasan jumlah barang yang tercakup dalam perjanjian perdagangan preferensial. mempertahankan stabilitas dalam negeri. mengurangi defisit anggaran belanja.

Kerjasama internasional yang ditekankan oleh IMF tersebut meliputi bidang pembiayaan bersyarat lunak (concessional financing). Tantangan politik untuk menghentikan dan memutar balik kecenderungan ke arah proteksionisme. sidang telah menghasilkan kesepakatan untUk memberikan wewenang kepada "suatu kelompok" guna mengadakan pengkajian mengenai masalah-masalah di bidang perdagangan. dan melaksanakan pembangunan ekonomi negaranya. dan menghapuskan kebij aksanaan -ke bij aksanaan proteksionistis. membuka posar bagi ekspor negara-negara berkembang. Sehubungan dengan masalah hutang luar negeri negaranegara berkembang. Sedangkan negara-negara debitur perlu melaksanakan kebijaksanaan penyesuaian yang mantap. sidang menyatakan keprihatinannya. serta dapat menghambat kelancaran bekerjanya sistem keuangan dan perdagangan internasional. menghindari kebijaksanaan yang terlalu bersifat proteksionistis. negara-negara industri dihimbau untuk tetap mempertahankan pertumbuhan ekonominya pada tingkat yang memadai. Oleh sebab itu sidang menyambut baik komitmen-komitmen kearah kebijaksanaan perdagangan terbuka. sehingga pada akhirnya dapat memulihkan kepercayaan untuk memperoleh pinjaman (credit worthiness). dengan tindakantindakan yang nyata untuk mencegah timbulnya proteksionisme baru. Dalam hubungannya dengan proteksionisme yang masih terus berlangsung. baik di bidang produksi maupun Departemen Keuangan RI 125 . akan dapat membahayakan proses pemulihan kembali perekonomian. karena hila hal ini tidak segera diatasi. Dalam hubungan ini sidang menyambut baik penjadwalan kembali pembayaran hutanghutang luar negeri untuk jangka waktu beberapa tahun. dan mengharapkan agar IMF tetap dapat memainkan peranannya dalam pelaksanaan strategi pengelolaan hutang luar negeri secara terkoordinir. yaitu yang dapat memperkuat posisi ekonomi luar negeri mereka. dan dikembangkan disiplin dalam sistem perdagangan intemasional kepada semua negara anggota. seperti faktorfaktor penghambat proses penyesuaian struktural. serta memungkinkan seger a meningkatkan kembali pertumbuhan ekonominya. kebijaksanaan perdagangan serta pengawasan (surveillance) efektif terhadap kebijaksanaan yang ditempuh beberapa negara untuk mencegah terjadinya gejolak kurs :matauang secara tajam. menjadikan pertemuan para menteri dalam GATT (Persetujuan Umum tentang Tarif dan Perdagangan) forum paling tepat dalam mengadakan perundingan terusmenerus untuk mengurangi rintangan-rintangan terhadap perdagangan. Dari hasil pertemuan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berkembang dapat membayar kembali hutang-hutang luar negerinya. serta perlu menurunkan tingkat suku bunga. sidang menegaskan sikapnya bahwa masalah hutang luar negeri negara-negara berkembang hanya dapat diselesaikan sebaik-baiknya melalui kerjasama yang frat antara negara-negara debitur dan negara-negara kreditur. dan menyerukan perlunya ditingkatkan.

dan transparansi sebagai prinsip dasar sistem perdagangan intemasional. Dengan menyadari keterkaitan ekonomi Indonesia dalam hubungan ekonomi internasional.2. kebijaksanaan neraca pembayaran dan perdagangan Departemen Keuangan RI 126 . serta mencari upaya penyelesaian dari masalah-masalah yang belum terselesaikan dalam perundingan perdagangan multilateral (MTN). resiprositas dan non diskriminasi. terutama dalam menghadapi sikap dan kecenderungan proteksionisme negara-negara industri sebagai tindakan yang menyimpang dari prinsip multilateralisme. Pola perkembangan ekonomi dan moneter internasional. mengurangi proteksionisme. 5. dan menghemat penggunaannya melalui pelbagai kebijaksanaan. Kebijaksanaan di bidang perdagangan luar negeri Dalam tahun pertama Repelita IV. maka dalam rangka meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap tantangan-tantangan yang mungkin akan terjadi. non-diskriminasi. Dalam hubungan ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menjadikan Generalized System of Preferences (GSP) bukan saja sebagai "hasil sementara" akan tetapi merupakan "hasil permanen" dalam sistem perdagangan internasional. dengan negara-negara sosialis Eropa Timur di lain pihak. perlu ditempuh langkah-langkah untuk meningkatkan penerimaan devisa. untUk meningkatkan aliran sumber keuangan ke negara-negara berkembang. dan menghilangkan tindakan meayimpang dari prinsip-prinsip GATT lainnya. maupun lalu lintas devisa. Dalam hubungan ini partisiposi yang lebih aktif dari negara-negara berkembang untuk menegakkan sistem perdagangan intemasional yang lebih adil dan seimbarlg dirasakan makin penting.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perdagangan. Di samping itu lembaga ini juga diminta untuk meneliti pelaksanaan prinsip-prinsip GATT. menjadikan perlunya pengamatan dan kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menghambat pelaksanaan pembangunan. Di samping itu usaha peningkatan kegiatan perdagangan juga dilakukan melalui pembentukan/perbaikan instrumen-instrumen perdagangan yang ada. dalam rangka UNCTAD dikembangkan diversifikasi perdagangan antara negara-negara industri dan berkembang di satU pihak. baik di bidang perdagangan luar negeri. serta masih sulitnya dicapai kesepakatan dalam berbagai kerjasama antarnegara yang masih terus berlangsung dewasa ini. guna membantu negara-negara berkembang dalam meningkatkan perdagangan internasionalnya dengan tidak mengabaikan prinsip "special and differential treatment". komitmen politik negaranegara industri terhadap hasil-hasil negosiasi global. Untuk meningkatkan kerjasama perdagangan internasional atas dasar keuntungan bersama.

yang diupayakan melalui perluasan posar dan peningkatan clara saing barang-barang ekspor Indonesia di luar negeri.1 tahun 1982 beserta peraturanperaturan pelaksanaannya.000 barrel per hari yang berarti penerimaan dari sektor minyak agak berkurang. maka peningkatan pengembangan ekspor lebih diarahkan kepada ekspor di luar minyak dan gas alam.Kebijaksanaan di bidang ekspor Usaha mengurangi ketergantungan pacta sektor minyak terus dilaksanakan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 luar negeri ditujukan untuk meningkatkan laju perkembangan ekspor. Dalam tahun pertama Pelita IV ini Pemerintah tetap melanjutkan kebijaksanaan ekspor sebagaimana yang tertuang dalam PP No. Serangkaian tindakan Pemerintah untuk meningkatkan ekspor di luar minyak dan gas diawali dengan kebijaksanaan ekspor yang tertuang dalam PP No. dan barang modal yang dibutuhkan. sehingga tersedia devisa untuk mendukung pembiayaan impor bahan baku.1. antara lain dengan melalui usaha diversifikasi. Namun demikian sebagai akibat belum mantapnya usaha pemulihan ekonomi dunia. Indonesia mendapat pengurangan kuota produksi sebesar 111. yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan devaluasi rupiah terhadap matauang dollar Amerika pada bulan Maret 1983. Hal ini terjadi karena meningkatnya produksi minyak dari negara-negara di luar OPEC. 5. Sehubungan dengan itu untuk mengurangi ketergantungan pada hasil minyak bumi. Norwegia dan Nigeria pada pertengahan Oktober 1984. sesuai dengan sasaran investasi dalam sektor-sektor pembangunan. Dengan penurunan produksi tersebut. maka dalam rangka mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran telah diusahakan penghematan dalam penggunaan devisa. Di samping itu peranan ekspor barang-barang industri diusahakan pula peningkatannya. Keadaan ini memaksa OPEC untuk mengadakan sidang di Jenewa pada tanggal 29 Oktober 1984 dengan keputusan untuk mengurangi produksinya dari 17. pajak ekspor dan Departemen Keuangan RI 127 .1 bulan Januari 1982. telah diambil kebijaksanaan untuk lebih meningkatkan penerimaan devisa dari hasil ekspor di luar minyak dan gas. kredit ekspor. bahan penolong. lebihlebih pada tahun 1984 di mana situasi minyak dunia semakin memburuk.2. serta pemanfaalan pinjaman dan penanaman modal luar negeri. Mengingat situasi perminyakan yang tidak menentu tersebut. pengendalian impor yang lebih diarahkan kepada pengembangan produksi dalam negeri.5 juta barrel menjadi 16 juta barrel per hari dan tetap mempertahankan harga patokan minyaknya sebesar US $ 29 per barrel. seperti pemberian sertifikat ekspor. peningkatan daya saing barang-barang ekspor serta perluasan pasaran di luar negeri. dan adanya berbagai hambatan dalam perdagangan internasional. yang kemudian diikuti dengan diturunkannya harga minyak oleh Inggris.

yang telah dilaksanakan sejak bulan Januari 1982 sampai 3 Oktober 1984. penyederhanaan dan penyempurnaan prosedur ekspor. di antaranya telah dicabut 16 perizinan di bidang pengusahaan hutan. terdapat 2. dan jagung. juga ditetapkan bahwa setiap eksportir barus menyerahkan bukti pembayaran iuran ekspor produk tekstil untuk mendapatkan surat keterangan asal. mulai t. karet. mulai tanggal 1 Juli 1984 ditetapkan setiap 12 bulan. Singapura.0 juta. kayu gergajian. serta biji nikel dan pekatannya diturunkan dari 10 persen menjadi nol persen.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pajak ekspor tambahan. negara yang paling besar melaksanakannya adalah Republik Federasi Jerman. yang nilainya sarna dengan harga jual sebenamya. serta sistem imbal beli di mana pembelian barang-barang Pemerintah dari luar negeri yang memakai dana APBN dikaitkan dengan ekspor di luar minyak dan gas. Sedangkan untUk mencegah penyalahgunaan fasilitas sertifikat ekspor bagi hasil industri tekstil yang diekspor ke Hongkong. udang. Selanjutnya untuk memperluas pemasaran pakaian jadi. Sampai dengan bulan November 1984. dan surat persetujuan ekspor produk tekstil. mencakup kontrak yang sudah ditandatangani dengan 21 negara sebesar US $ 937. gaplek. meliputi berbagai macam barang yang tidak terbatas pada produk tekstil saja. lisensi ekspor. Dalam ekspor produk tekstil.144 jenis barang yang sudah memperoleh tasilitas sertifikat ekspor. 12 perizinan di bidang pertanian. rotan. Sistem imbal beli. Mengenai prosedur ekspor. Sementara itu mum barang yang diekspor harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan dan selalu ditingkatkan. pajak ekspor tambahannya diturunkan. Untuk itu sampai dengan Agustus 1984 telah ditetapkan standar mutu untuk 165 jenis barang-barang perdagangan. dan dari jumlah terse but baru 38 jenis barang yang sudah dilaksanakan. telah dilakukan penyederhanaan perizinan yang berlaku dan penghapusan izin-izin yang dapat menghambat ekspor.mggal 1 Januari 1984 pungutan MPO ekspor atas eksportir telah dihapuskan. Di antara 21 negara tersebut. dan 17 perizinan di sektor perdagangan. Selanjutnya tarif pajak ekspor yang dikenakan atas beberapa komoditi seperti bauksit dan pekatannya. Departemen Keuangan RI 128 . Dalam pemberian fasilitas sertifikat ekspor. 12 perizinan di sektor perhu bungan. disusul kemudian oleh Jepang. kopi. Begitu pula untuk refined bleached deodorized stearin dan crude stearin. sedangkan realisasinya mencapai US $ 465. Di bidang perpajakan. tetapi juga produk-produk lainnya. kelapa sawit. Malaysia dan Taiwan. Demikian juga mulai 1 Oktober 1984 dihapuskan pungutan langsung dari Pemerintah Daerah terhadap beberapa komoditi ekspor yaitu plywood. ikan tuna. prosentasenya yang semula ditetapkan setiap 6 bulan. para eksportir diharuskan menyertakan laporan surveyor yang dikeluarkan oleh PT Sucofindo.6 juta. sedang sistem pembayaran yang dapat digunakan hanyalah irrevocable letter of credit.

pendapatan petani tambak. sidang Menteri-menteri ASEAN ke-16 bulan Mei 1984 dalam rangka ASEAN Preferential Trading Arrangement telah menyetujui pemb_rian Departemen Keuangan RI 129 . antara lain dengan mengirimkan misi-misi dagang agar memperoleh kuota yang lebih besar. Dalam rangka memperlancar pelaksanaan. kertas. kontrakkontrak penjualan untuk ekspor kayu lapis harns mendapat persetujuan daTi badan terse but. yang dimulai tanggal 4 Januari 1984. Dalam rangka kerjasama regional. semen. Sebagai hasilnya telah dicapai persetujuan bilateral dengan negaranegara yang tergabung dalam masyarakat ekonomi Eropa (MEE). dengan tujuan meningkatkan produksi udang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Swedia dan Amerika Serikat. sehingga Indonesia memperoleh kuota ekspor sebanyak 12 juta potong ke negara MEE. Dengan adanya badan ini. Sementara itu kegiatan ekspor beberapa jenis komoditi meliputi pupuk. 3 juta potong ke Swedia dan 11 juta potong ke Amerika Serikat. Karena udang dipandang mempunyai potensi yang besar untuk menambah penerimaan devisa hasil ekspor. dan mengambil manfaat sebesar-besamya dari kuota ekspor tekstil tersebut. maka Asosiasi Panel Kayu Indonesia telah membentuk 7 kelompok pemasaran kayu lapis sebagai Badan Pemasaran Bersama Ekspor Kayu Lapis. diawasi karena kebutuhan di dalam negeri semakin meningkat. Eksportir yang telah menerima kuota harus melaksanakan sendiri ekspomya. maka Pemerintah mulai bulan Maret 1984 menggalakkan pembudidayaan udang tambak. besi beton. Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai kuota ekspor produk tekstil. kecuali dengan persetujuan Departemen Perdagangan untuk bisa mengalihkan sebagian atau seluruh kuotanya kepada eksportir lainnya. dan peningkatan devisa negara dari hasil ekspor udang dan bandeng. Selanjutnya untuk memantapkan pemasaran tembakau di pasaran internasional. aspal. telah dilakukan beberapa pendekatan dengan negara-negara tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan program intensifikasi tambak musim tanam tahun 1984/1985. antara lain dengan mengadakan Proyek Tambak Inti Rakyat di atas tanah seluas 350 ha di desa Pusaka Jaya Utara. Pemerintah dalam tahun ini menyesuaikan kembali ketentuan ekspor tembakau. minyak sawit dan inti sawit. dan untuk diekspor. Sementara itu untuk menghindarkan persaingan yang tidak sehat di antara eksportir kayu lapis yang dapat mempengaruhi harganya. Karawang. ban mobil. di mana kuota tersebut diberikan kepada eksportir terdaftar yang secara berkala barus melaporkan kegiatan ekspomya. yang dikukuhkan Menteri Perdagangan pada tanggal 15 Oktober 1984. dengan tujuan untuk lebih memantapkan peningkatan produksi udang/bandeng. Kemudian pada tanggal 13 September 1984 juga telah dikeluarkan ketentuan mengenai pengawasan mutu kayu lapis untuk ekspor. dan peratUran pelaksanaannya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 terutama ke negara-negara Eropa dan Amerika.

Dalam hubungan ini di samping telah diadakan pernndingan bilateral dengan negara-negara anggota MEE. Selain kerjasama dengan negara-negara ASEAN. Swedia. Dalam hubungan. Selain mengadakan hubungan dengan MEE. dengan memberikan kursus-kursus untuk meningkatkan kemampuan ekspor negara-negara tersebut. Selanjutnya dalam rangka lebih meningkatkan ekspor di luar minyak dan gas. Kanada. usaha meningkatkan pemasaran komoditi di luar minyak juga terus dikembangkan baik melalui kerjasama bilateral. Cekoslowakia dan Jerman Timur. Dewan Timah Internasional (ITC). Perjanjian Karet Alam Internasional (INRA). Selain itu telah ditunjuk pula perusahaan pelayaran swasta dan Pemerintah untuk melaksanakan keagenan umum perkapalan ke negara-negara Eropa Timur. Hongaria. ASEAN dengan negara-negara MEE. Sedangkan untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara Eropa Timur. dan Amerika Serikat di bidang tekstil. Asosiasi Negara-negara Produsen Timah (ATPC). juga terus ditingkatkan kerjasama dalam Organisasi Kopi Internasional (ICO). dan sebagai kelanjutannya telah dibentuk team koordinasi dalam bidang kerja sarna ekonomi dan perdagangan dengan Eropa Timur. Untuk mempermudah hubungan dagang ini. Pemerintah mengaktifkan fungsi dari atase-atase perdagangan Indonesia di luar negeri.283 jenis ke negara-negala ASEAN lainnya. serta berusaha untuk menghilangkan atau mengurangi hambatanhambatan yang sebelumnya terjadi. Australia dan New Zealand. Indonesia sebagai negara anggota ASEAN turut memperjuangkan kepentingan-kepentingan ASEAN dalam bentuk penyampaian beberapa masalah yang berkaitan dengan adanya hambatan-hambatan di bidang tarif maupun non tarif. Di samping itu. MEE juga memberikan bantuan teknis kepada negara-negara ASEAN termasuk Indonesia. Perjanjian Timah Internasional (ITA).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 preferensi tarif antara 20 persen sampai maksimum 50 persen. ASEAN juga telah mengadakan hubungan kerjasama perdagangan dengan Amerika Serikat. antara lain dengan mengadakan pertemuan rutin antara pengusaha/eksportir-eksportir di dalam negeri Departemen Keuangan RI 130 . kedutaan Republik Indonesia setempat diberi wewenang oleh Pemerintah untuk mengeluarkan visa bagi importir-importir negara-negara tersebut yang akan melakukan penjajagan ke Indonesia. dan organisasi-organisasi lainnya yang berhubungan dengan kerjasama perdagangan barangbarang di luar minyak. Di samping itu pada saat ini juga sedang dijajagi oleh Pemerintah kemungkinan untuk mengadakan hubungan dagang langsung dengan RRC tanpa melalui pihak ketiga. jepang. telah dikirim delegasi ekonomi Indonesia ke negara-negara Uni Soviet. Di antara barang-barang yang mendapat preferensi tersebut Indonesia dapat mengekspor 8. yang kesemuanya merupakan upaya untuk meningkatkan pemasaran barang-barang ASEAN ke negara-negara tersebut. regional maupun multilateral.

juga telah diberlakukan tari( bea masuk dan pajak penjualan impor yang baru. serta untuk menciptakan persaingan yang sehat dan wajar antara produksi dalam negeri dengan produksi eks impor sejalan dengan usaha peningkatan penggunaan/pemakaian produksi dalam negeri. dan sekaligus menaikkan tarif bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap impor barang-barang seperti kertas untuk jenis tertentu. serta memperbanyak pengiriman misi-misi dagang ke luar negeri yang dipimpin langsung oleh Menteri Perdagangan. Dengan pertemuan-pertemuan tersebut para eksportir dapat menyampaikan informasi tentang produk mereka. seperti me sin penggali (hydraulic excavator) dan wheel loader. dalam rangka memberikan perlindungan terhadap barang-barang yang telah dapat dihasilkan. Dalam rangka lebih memberikan kepostian berusaha.2. dan mendorong industri dalam negeri. Pemerintah telah memperluas pemberian fasilitas berupa pembebasan sebagian dan/atau seluruh bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap pemasukan bahan baku/penolong serta barang modal. perkakas tangan. serta elektro motor. dan sebaliknya para atase perdagangan dapat memberikan informasi kepada eksportir tentang permintaan konsumen di luar negeri. Pemerintah telah mencabut keringanan/pembebasan. Di lain pihak. aluminium sheet dan fuli aluminium jenis-jenis tertentu. seperti kacang kedele. permesinan. Sementara itu kegiatan Bursa Komoditi yang diresmikan pada bulan Desember 1982 dalam waktu dekat akan dimulai. dan mencukupi kebutuhan di dalam negeri.2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan para atase perdagangan di luar negeri.Kebijaksanaan di bidang impor Kebijaksanaan di bidang impor ditujukan untuk menunjang pertumbuhan industri dalam negeri dengan memperlancar pengadaan beberapa bahan baku/penolong dan barang modal. 5. Demikian pula terhadap beberapa produk yang telah dapat dirakit di dalam negeri. Selain itu Pemerintah telah memperbanyak pusat-pusat promosi dagang di luar negeri. Dengan demikian diharapkan barang-barang produksi Indonesia akan dapat lebih mudah masuk ke posar internasional. Untuk itu dibentuk Komite Karet yang bertugas menyusun ketentuanketentuan perniagaan karet di bursa tersebut. serta untuk menjaga kestabilan harga beberapa bahan pokok yang diperlukan masyarakat. peralatan laboratorium. Oleh karena sampai sekarang baru asosiasi pengusaha di bidang karet (Gapkindo) yang telah menyatakan dukungannya terhadap pemasaran karet melalui bursa. maka Pemerintah menetapkan bahwa karet merupakan komoditi pertama yang diperniagakan di bursa. pipa besi dan produk polyvinyl chloride (PVC). peralatan pertukangan. Sedangkan untuk menjaga kestabilan harga minyak goreng di Departemen Keuangan RI 131 .

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam negeri pada tingkat yang dapat dijangkau oleh masyarakat. dan sekaligus sebagai importir baja lembaran dan gulungan tertentu yang digiling pada suhu rendah. Sehubungan dengan itu. Dalam rangka memanfaatkan kapositas industri. produk baja lembaran. proyek Aromatik Plaju di Sumatera Selatan telah dilanjutkan pembangunannya sesuai dengan rencana penjadwalan kembali (rephasing). Besarnya pungutan ditetapkan sebesar 2. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan pelaksanaan mengenai tataniaga impor barang-barang yang termasuk kelompok produk industri. dan sebesar 7. maka pungutan MPO atas barang-barang impor dihentikan. Untuk lebih memantapkan pelaksanaan tataniaga impor produk baja lembaran dan gulungan yang digiling pada suhu rendah. telah diatur dalam tataniaga impor dengan menunjuk PT Tambang Timah sebagai importirnya. Sehubungan dengan berlakunya UndangUndang Pajak Penghasilan 1984. Guna menjamin kelancaran pengadaan bahan baku/penolong yang masih harns diimpor dari luar negeri untuk proses produksi industri dalam negeri. barang-barang yang telah dimasukkan ke dalam kelompok produk industri hanya dapat diimpor oleh importir produsen terdaftar bagi masingmasing kelompok produksi yang diakui oleh Menteri Perdagangan. yang dapat terdiri dari pernsahaan negara. maka jenisnya diperluas lagi dengan menunjuk PT Krakatau Steel atau PT Tambang Timah sebagai importirnya. PT Krakatau Steel atau PT Giwang Selogam ditunjuk sebagai eksportir baja lembaran. APIS atau APIT masing-masing dihitung dari nilai dasar impor (cif). APIS atau APIT.5 persen bagi impor barang yang tidak menggunakan API. gulungan dan pelat yang digiling pada suhu tinggi. Sementara itu.5 persen bagi imp or barang yang menggunakan API. diatur dalam tataniaga ekspor dan impor secara terpadu. dan importir terdaftar. Dengan demikian. beberapa peralatan yang digunakan untuk industri perminyakan telah dapat diproduksi di dalam negeri. Adapun untuk mengurangi ketergantungan terhadap barang-barang impor. Demikian juga terhadap impor produk aluminium dan barang logam tidak inulia. walaupun untuk memproduksi peralatan tersebut sekitar 30 persen bahan bakunya masih perlu diimpor. perusahaan swasta nasional dan pernsahaan dalam rangka penanaman modal. Untuk tahap pertama pembangunan proyek ini dibatasi pada perangkat hilir yang terdiri dari pabrik Pure Terepthalic Acid (PTA) Departemen Keuangan RI 132 . telah dilakukan usaha-usaha untuk mengarahkan penggunaan devisa dalam rangka menggalakkan penggunaan produksi industri di dalam negeri. dan sebagai gantinya dipungut pajak penghasilan (PPh). gulungan dan pelat yang digiling pada suhu tinggi dan rendah. Pemerintah telah membebaskan bea masuk dan pajak penjualan impor terhadap minyak goreng segala jenis yang diimpor dalam jumlah yang diatur oleh Menteri Perdagangan. Dengan pengaturan tersebut.

Dari jumlah ekspor kese1uruhan tahun 1984/1985.3.729 juta. yaitu jumlah pemasukan modal Pemerintah. Sete1ah memperkirakan adanya selisih yang be1um diperhitungkan sebesar positif US $ 698 juta. dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 1983/1984 sebesar US $ 19. dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mencapai sebesar US $ 3. namun dengan adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan baik di bidang ekspor. yaitu dari US $ 5. Dengan dilanjutkannya pembangunan proyek ini maka diharapkan akan lebih mendorong dan memantapkan industri sandang di dalam negeri. neraca pembayaran Indonesia dalam tahun 1984/1Y85 diperkirakan masih mengalami surplus walaupun tidak sebesar tahun sebe1umnya.099 juta. sedangkan jumlah penge1uaran devisa untuk membiayai imp or dan jasa-jasa bukan minyak dan gas dalam periode yang sarna diperkirakan mencapai US $ 16.1. Perincian perkembangan neraca pembayaran dapat dilihat dalam Tabe1 V. impor maupun lalu lintas devisa. nilai ekspor minyak dan gas berjumlah sebesar US $ 13.816 juta.367 juta dalam tahun 1983/1984 menjadi US $ 6. berarti terdapat penurunan sebesar US $ 37 juta. Sedangkan ekspor bukan minyak dan gas diperkirakan mengalami kenaikan sebesar US $ 683 juta. PTA akan diproses lebih lanjut menjadi polyester oleh industri hilir.050 juta dalam tahun 1984/1985. neraca pembayaran dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mengalami surplus sebesar US $ 643 juta.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan kapositas 150. Departemen Keuangan RI 133 . 5.345 juta. dan pemasukan modal lainnya dikurangi dengan pembayaran kembali angsuran pokok hutang luar negeri. Perkembangan neraca pembayaran dalam tahun 1984/1985 Walaupun berbagai hambatan telah mempengaruhi usaha pemulihan ekonomi dunia.l.779 juta. Dengan deniikian realisasi transaksi berjalan dalam periode terse but diperkirakan akan mengalami defisit sebesar US $ 3.Ekspor Realisasi nilai ekspor minyak dan gas maupun bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 19.191 juta.246 juta.000 ton per tahun. Jumlah penerimaan devisa dari hasil minyak dan gas bersih. sedangkan bahan bakunya yang berupa paraxylene masih perlu diimpor. 5. dan ekspor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan mencapai US $ 13. Sedangkan lalu lintas modal bersih.3.

4 149.7 16.860 7.8 40.873 -5.138 -3.9 24.5 51.350 2.949 + + + + + + + + + + + + + 17.3 + 15.033 -5.353 3.7 7.097 -1.9 15.9 75.955 802 3.653 2.708 1.l NERACA PEMBAYARAN.334.135 2.008 490 214 276 388 135 523 28 369 283 86 115 47 77 95 18 + + + + + + + + + + + persentase perubahan 15. berarti nilai ekspor rninyak dan gas tersebut rnengalami kenaikan sebesar 13.8 juta.9 32.5 98. S D R HI.2 32.7 11.4 + - 392 + 632 877 169 708 Realisasi nilai ekspor secara kese1uruhan dalam periode April-Agustus 1984 menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan realisasi nilai ekspor dalam periode yang sama tahun 1983.353 7.6 65.065 1.7 15.4 + 15.3 7.6 88.097 88 -1.001 + + + + + + + + + + + + + persentase pernbahan 28.165 64 2. Impor.1 8.8 + 16.2 720.8 22.638 -2.9 9.921 -1.barang don jasa.823 147 1.295 606 689 756 641 -1.613 + 1.3 16.5 persen.376 3.7 17 + + + + + + + + + + - + + + + + + + + + + + + + + + + + 15.6 43.3 48.6 35.684 1.6 98.227 -1. yaitu dari sebesar US $ 7.4 10. Bantnan prorok dan lain-lain IV.5 + 115. Pembayaranhntang pokok VI. dan nilai ekspor di luar rninyak dan gas sebesar US $ 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel V.9 + 51.9 juta.8 202.4 67.4 juta.9 13.591 -1.613 -1. Transaksi berjalan minyak dan gas tanpa minyak dan gas H.6 12.2 40.6 + + - 152. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 2. Realisasi nilai ekspor sebesar US $ 9. Barang.8 juta.3 2.5 juta.4 41.9 32.106 157 1. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 2.711 6.100.3 20.490 6.208 94 2.6 86.4 22.8 0.6 29.866 1. Sensih yang belum dapat diperhitungkan VIII. Peningkatan tersebut tidak terlepos dari adanya perbaikan dalarn perekonornian dunia.5 + + + 1976/1977 9.512 1.1 8.765.5 + 6.1 9.374 3.4 9.102 94 -1.6 2.9 6.7 47.173 1.1 22. 708 + 1.3 58.4 1.7 17.186 5. Ekspor.420 -2.6 13.3 + 0.273 1.5 27.240 987 138 2.3 + 103.8 + + + + + + + persentase 1977/1978 perubahan 10.992 1.5 33.977.075 77 11 353 364 + + + + + + + + + + + - persentase perubaban 0.2 3 13.939 965 974 -1.676 38 166 893 108 -1. Jumlah I sId V VII.905 -3.146 5.3 17.412 1.jasa 1.8 20 0.9 57.959.1 63.1 33.397 643 281 362 549 81 355 5 360 + + + 1974/1975 7. Impor.9 20.7 15 17.5 21 9.445 5.4 + + - 549 + 81 + 355 5 360 1973/1974 I.8 19 43.492 845 407 438 557 399 956 481 336 145 480 66 338 87 425 + + + + + + + + + + + + + + + + persentase pernbahan 41.010 5.6 46.7 60.1 36.5 + + + + + 1971/1972 1.275 -3.2 + 358.7 6.1 32.7 46. Lain lintas moneter + + 1.8 1978/1979 + + + 11. Jasa-jasa minyak dan gas tanpa minyak don gas 4. Pembayaranhntang pokok VI.386 854 3.2 13 8.3 81.2 60.776 660 180 480 131 89 302 311 9 + + + + + + + + + + + + + + persentase perubahan 98.3 13.2 16.905 + -3.8 176.074 461 -2.jasa 1.1 27.100.8 0.3 77 95.116 574 254 320 448 204 652 30 400 286 114 190 78 94 6 100 + + + + + + + + + + + + + + + + + + persentase perubaban 14.114 + + + + + + + + + + + + + persentase perubahan 4.863 -7.9 + + + 1975/1976 7. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 3.710 -4.9 15.9 15.2 189.6 4.009 448 204 244 501 92 593 35 371 308 63 27 31 99 56 43 + + + + + + + + + + + 1970/1971 1.613 -1.2 + persentase 1973/1974 perubahan 3. 1969/1970 .155 4. Sensih yang belum dapat diperhitungkan VIII.295 606 689 756 641 -1.613 1.8 40.753 -5.5 7.5 9.1 53.6 + - 176 + 761 + 831 180 651 363.3 72 104.409 930 -4.248 132 -1.6 46.213 6.418 2. Jasa-jasa minyak dan gas tanpa minyak don gas 4.507 7.6 46.044 384 660 -1.651 159 -1.3 95. Transaksi berjalan minyak dan gas tanpa minyak dan gas H. Pemasnkan modal Pemerintab 1.9 14 19.6 + 24.1 18. Jumlah I sId V VII.822 -2.7 14.5 122.2 36.8 13.266 690 4.3 35.1 18.6 59.4 4. Bantuan program 2. Peningkatan ini terjadi antara lain karena adanya peningkatan yang cukup besar dalarn ekspor gas alarn cairo Nilai ekspor di luar rninyak dan gas selarna periode April-Agustus 1984 tersebut berarti rneningkat sebesar US $ 357.153 2.7 + + + + + + + + + + + 325.6 10. S D R HI. Lain lintas moneter + + + 3.1 33.3 14. Lain lintas modallainnya V.205 -1.6 6.1 17.barang don jasa.204 443 761 -1.397 643 281 362 + + + + + + + + + + + 86. Pemasnkan modal Pemerintab 1.842 887 -1. Bila dibandingkan dengan realisasinya selarna periode April-Agustus 1983 sebesar US $5. Bantnan prorok dan lain-lain IV.7 311.1984/1985 ( dalam jutaan US $ ) 1969/1970 I.732 4.1 24.6 juta rnenjadi sebesar US $9. Lain lintas modallainnya V.7 26.937. Bantuan program 2.5 8. Barang.374 590 784 -1.9 300.4 52.1 juta atau 18.074 461 -2.5 6.6 -123.5 0.7 2.8 5.979 8.7 65.6 + 15.1 6.995 74 1.479 -2. yang pada gilirannya Departemen Keuangan RI 134 .4 518.4 juta tersebut terdiri dari nilai ekspor minyak dan gas sebesar US $ 6.6 20.9 201. Ekspor.443 1.1 persen dibandingkan dengan nilai ekspornya dalarn periode yang sarna tahun 1983 sebesar US $ 1. fob minyak dan gas tanpa minyak dan gas 3.2 66 + + + + + + + + + + 1972/1973 1.

8 juta untuk periode April-Agustus 1983. karena ada penundaan dalarn pelaksanaan ekspornya. Sebaliknya . Kenaikan tersebut terjadi selain disebabkan oleh kenaikan harga kopi di posar internasional.2 juta lebih rendah dari nilai ekspor pada periode yang sarna tahun sebelurnnya sebesar US $ 445. dalam periode 1984 belum ada realisasinya. Demikian pula nilai ekspor minyak sawit telah menurun dari sebesar US $40.8 juta bila dibandingkan dengan nilai ekspornya dalam periode yang sama tahun 1983/1984 yang berjumlah sebesar US $ 134.4 juta. Ekspor karet yang dalarn periode April-Agustus 1983 realisasinya mencapai US $ 343. Penurunan ini terjadi karena meskipun harga naik tetapi volume ekspornya menurun sebagai akibat pembatasan ekspor timah oleh Dewan Timah Internasional.6 juta. Sedangkan nilai ekspor biji sawit yang mencapai sebesar US $0.9 juta.8 juta dalarn periode yang sama tahun 1984.nilai ekspor kopi yang pada lima bulan pertama tahun 1983/1984 mencapai US $ 203. dan perrnintaan dari Jepang karena meningkatnya kebutuhan untuk mermnuhi pesanan dari luar negeri.6 juta. diantaranya ke beberapa negara Asia. dan adanya penggunaan bahan-bahan lain pengganti timah. Tirnur Tengah. Sebagai salah satu komoditi dalarn kelornpok barang utama.4 juta. sehingga pemakaian timah berkurang.4 juta. ekspor kayu dalarn periode April-Agustus 1984 rnencapai nilai sebesar US $ 438. Sebaliknya nilai ekspor tirnah yang dalam lima bulan pertama tahun 1984/1985 berjumlah sebesar US $ 103. terrnasuk dari Indonesia. Penurunan ini disebabkan oleh rnenurunnya harga kayu. dalam periode yang sarna tahun 1984 menunjukkan peningkatan rnenjadi sebesar US $ 373. Menurunnya ekspor minyak sawit ini disebabkan oleh karena adanya pembatasan ekspor untuk memenuhi kebutuhan dalarn negeri. Eropa dan Arnerika Serikat. menunjukkan adanya penurunan sebesar US $ 30. Meningkatnya nilai ekspor ini disebabkan oleh rneningkatnya perrnintaan Amerika Serikat akan karet alam untuk rnenambah cadangan strategisnya. juga disebabkan oleh naiknya kuota ekspor kopi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rneningkatkan perrnintaan negara-negara industri terhadap barang-barang ekspor negara berkernbang.4 juta. dalam periode yang sama tahun 1984/1985 meningkat menjadi US $ 233. rneskipun pernasanin kayu lapis ke beberapa negara sernakin rneningkat.7 juta. serta berkurangnya penawaran kopi robusta dari Departemen Keuangan RI 135 .2 juta dalarn periode April-Agustus 1983. meskipun dalarn periode tersebut harga karet rnengalarni penurunan. rnenjadi sebesar US $ 9. meskipun harganya di posar internasional mulai rnembaik. Kenaikan harga ini timbul karena adanya pembelian secara besar-besaran yang berlangsung setelah tersiar kabar kemungkinan rusaknya panen kopi Brazil tahun 1985 akibat hawa beku yang akan melanda negara tersebut. yang berarti US $ 7.

lada.0 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan realisasi nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1983/1984 yang berjumlah sebesar US $ 12. termasuk tekstil dan pakaian jadi. Adapun barang lainnya seperti hewan dan hasilnya.7 juta dan US $ 50. sehingga menjadi sebesar US $ 270.427. Sementara itu nilai impor minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 3.5 juta atau US $ 338. Berkaitan dengan itu. bahan makanan.6 juta dalam tahun 1983. Impor Rangkaian kebijaksanaan di bidang impor yang telah dan sedang dilaksanakan dalam beberapa periode ini banyak mempengaruhi perkembangan impor dalam tahun 1984/1985. bahan makanan. semen dan alat-alat listrik.2. Dilihat dari golongan barangnya.7 juta. dalam jangka waktu yang sarna tahun 1984/1985 meningkat masing-masing menjadi sebesar US $ 22.2 juta. yang berarti US$ 646 juta atau 5. dan lain-Iainnya termasuk kerajinan tangan dan pakaian jadi.4 juta dan US $ 34.3 juta. barang tambang.2 juta. menjadi US $ 626.067. yang berarti mengalami penurunan sebesar US $ 220 juta bila dibandingkan dengan realisasi nilai impor minyak dan gas pacta tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 3.269 juta. yang disebabkan an tara lain oleh meningkatnya ekspor kerajinan tangan termasuk pakaian jadi. Penurunan ini terutama disebabkan karena menurunnya impor peralatan untuk keperluan eksplorasi minyak sejalan dengan telah dapat diproduksinya beberapa perala tan pengeboran minyak oleh industri dalam negeri. Meningkatnya nilai ekspor barang tambang ini disebabkan oleh meningkatnya ekspor aluminium dan tembaga. nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 12.169 juta. barang tamba.7 persen) lebih Departemen Keuangan RI 136 . 5.p. bungkil kopra. realisasi impor bukan minyak dan gas dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 4.0 juta lebih tinggi hila dibandingkan dengan nilai ekspornya dalam periode yang sarna tahun 1983/1984 sebesar US $ 729. selama lima bulan pertama 1984/1985 mencapai nilai ekspor sebesar US $ 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pantai Gading. Demikian pula nilai ekspor lain-lain meningkat dalam periode yang sarna dad sebesar US $ 378.g dan lain-lain.1 juta untuk tahun 1984. Nilai ekspor lada dan bahan makanan termasuk tapioka.5 juta. Lebih rendahnya nilai impor tersebut terutama disebabkan karena menurunnya impor yang dilakukan dalam rangka bantuan proyek.3. Selanjutnya barang tambang yang dalam periode April-Agustus 1983 nilai ekspornya sebesar US $ 175. dalam periode yang sarna tahun 1984 meningkat sebesar US $ 94.489 juta.815 juta.6 juta. kalau dalam lima bulan pertama tahun 1983/1984 masing-masing berjumlah sebesar US $ 17. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya nilai ekspor komoditi lada.6 juta atau US $ 320 juta (6.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

rendah hila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun 1983 yaitu sebesar US $ 4.747,6 juta. Lebih rendahnya nilai impor tersebut terjadi alas imp or semua golongan barang, baik barang konsumsi, bahan baku/penolong maupun barang modal. Sementara nilai impor kelompok barang konsumsi dalam tahun 1984 berjumlah sebesar US $314,6 juta. Hal ini berarti terdapat penurunan sebesar US $ 60,3 juta atau sebesar 16,1 persen hila dibandingkan dengan nilai impornya dalam periode yang sarna tahun 1;183 sebesar US $374,9 juta. Penurunan nilai impor ini terjadi alas impor hampir semua jenis barang konsumsi, dan telah menyebabkan menurunnya peranan impor barang konsumsi terhadap nilai impor bukan minyak dan gas secara keseluruhan dari 7,9 persen menjadi 7,1 persen. Selanjutnya realisasi impor bahan baku/penolong dalam periode April-Agustus 1984 juga menunjukkan adanya penurunan bila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sama tahun sebelumnya. Apabila realisasi nilai impor bahan baku/penolong dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 2.168,0 juta, dalam periode yang sama tahun 1983 realisasi impornya berjumlah sebesar US $ 2.258,5 juta. Hal ini berarti lebih rendah sebesar US $ 90,5 juta, atau sebesar 4,0 persen. Lebih rendahnya nilai impor tersebut disebabkan karena menurunnya impor bahan kimia, bahan obat-obatan, pupuk, bahan-bahan kertas, bahan bangunan serta semen, kapur, dan bahan bangunan buatan pabrik lainnya. Namun demikian apabila dilihat dari peranan impor bahan baku/penolong terhadap impor bukan minyak dan gas seC(I,ra keseluruhan, persentasenya mengalami peningkatan dari 47,6 persen dalam periode April-Agustus 1983, menjadi sebesar 49,0 persen dalam periode yang sarna tahun 1984. Adapun realisasi nilai impor barang modal dalam periode April-Agustus 1984 berjumlah sebesar US $ 1.945,0 juta. Apabila dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sarna tahun 1983 yang berjumlah sebesar US $ 2.114,2 juta, berarti telah terjadi penurunan sebesar US $ 169,2 juta atau 8,0 persen. Penurunan ini terjadi pacta impor mesin-mesin, generator listrik, peralatan listrik dan lainnya. Penurunan dalam realisasi nilai impor ini telah mengakibatkan pula menurunnya persentase impor kelompok barang modal terhadap realisasi nilai impor bukan minyak dan gas secara keseluruhan, yaitu dari sebesar 44,5 persen dalam periode April-Agustus 1983, menjadi sebesar 43,9 persen dalam periode yang sarna tahun 1984. Gambaran yang terperinci mengenai impor bukan minyak dan gas dapat diikuti dalam Tabel V.3.

Departemen Keuangan RI

137

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986
Tabel V.3 NILAI IMPOR TANPA MINY AK DAN GAS MENURUT GOLONGAN BARANG, 1969/1970 - 1984/1985 (df, dalam jutaan US $) persentase persentase persentase persentase persentase Jenis barang 1969/1970 dari 1970/1971 dari 1971/1972 dari 1972/1973 dari 1973/1974 dari jumlah jumlah jumlah jumlah jumlah I. Barang konsumsi 180,7 22,1 178,1 17,7 157 13,2 293,7 16,2 544,1 18,9 1. Beras 46,9 44,1 27,3 132,6 367,8 2. Tekstil 28,3 16 11,9 23 13,2 3. Susu, makanan, minuman dan buah - buahan 23,7 34 31,9 22,3 48,6 4. Tembakau daD olahannya 7,3 1,8 2,6 4,1 6,3 1 1,4 1,7 3,5 7,7 5. Sabun dan kosmetik 6. Alat-alat rumah tangga 10,9 12,3 15,8 6,7 24,6 7. Lainnya 62,6 68,5 65,8 101,5 75,9 ll. Bahan baku/penolong 399,7 48,8 475,6 47,3 562,3 47,3 790,4 43,7 1.257,90 43,7 1. Bahan kimia 60,3 69,6 80 115,2 171 2. Bahan obat-obatan 12,9 14,3 13,6 18,8 31,6 27,6 19,5 35,2 46,2 68,8 3. Pupuk 4. Bahan-bahan kertas 21,3 26,9 25,2 30,1 53,3 5. Benang tenun 54,3 55,3 56,5 106,2 206,5 6. Semen. kapur dan bahan bangunan buatan pabrik 11,3 13,8 18,2 25,8 46,5 7. Besi baja dan logam 61,5 72,6 113,2 186,6 351,4 1,3 1,2 1,1 19 78,3 8. Bahan-bahan karet dan plastik 9. Bahan bangunan 6,1 10,8 16,3 25,7 56 10. Alat-alat listrlk 1 1,2 ' 0,9 5,7 23 11. Lainnya 142,1 190,4 202,1 211,1 171;5 III.Barang modal 238,7 29,1 352,6 35 470,6 39,5 724,5 40,1 1.079,00 37,4 1. Mesin-mesin 115,8 183,8 247,8 373,2 588,4 5,3 7,6 10,9 31,9 87,1 2. Generator listrik 3. Alat telekomunikasi 16,9 19,2 21 32,4 46,9 7,2 11 12,3 16,4 31,3 4. Peralatan listrik 5. Alat pengangkutan 44,7 62,9 81,4 141,2 301,3 6. Lainnya 48,8 68,1 97,2 129,4 24 Jumlah 819,1 100 1.006,30 100 1.189,90 100 1.808,60 100 2.881,00 100

Jenis barang I. Barang konsumsi 1. Beras 2. Tekstil 3. SolO, makanan, minuman dan buah-buahan 4. Tembakau dan olahannya 5. Sabun dan kosmetik 6. Alat-alat rumah tangga 7. Lainnya n. Bahan bakufpenolong 1. Bahan kimia 2. Bahan obat-obatan 3. Pupuk 4. Bahan-bahan kertas 5. Benang tenon 6. Semen, kapur dan bahan bangunan buatan pabrik 7. Besi baja dan logam 8. Bahan-bahan karet dan plastik 9. Bahan bangunan 10. Alat-alat listrik 11. Lcinnya ill.Barang modal 1. Mesin-mesin 2. Generator listrik 3. Alat telekomunikasi 4. Peralatan listrik 5. Alat pengangkutan 6. Lainnya Jumlah

1974/1975

persentase persentase persentase persentase persentase dari 1975/1976 1976/1977 dari 1977/1978 dari 1978/1979 dari dari jumJah jum1ah jum1ah jumJah jum1ah 659 16,9 519 831,2 15,3 1.176,40 21,3 1.202,90 19,5 11,8 426,8 234,7 408,4 677,7 592,3 15,9 13,5 21,6 26,6 23,9 130,7 7,9 8,6 27,8 95,8 2.151,10 273,4 33 316,5 70,7 254,2 61,9 585,2 128,9 111 62,7 253,6 1.730,10 804,9 167,2 122 61,7 530,4 43,9 4.400,20 173,4 13,5 17,1 42,5 154,7 2.156,40 332,3 45,4 22,1 109,6 307,8 60,4 587,7 165,4 165,7 97,6 262,4 2.453,60 1.125,80 264,2 355,4 131,2 531,5 45,5 5.441,20 238,1 15,3 19,5 43,5 155,8 2.185,10 392,5 42,1 31,9 117,2 322,5 29,4 597,4 175,3 155,4 84,2 237,2 2.152,90 944,7 203,2 200,9 125,3 615,8 63 5.514,40 256,1 16 20,5 56,9 237,2 2.616,10 461,9 48,3 55,2 123,2 293,3 23,7 760,4 223,5 115,7 90,3 420,6 2.335,40 1.113,10 187,2 122,5 134,1 734,6 43,9 6.154,40

77,7 11,6 7,4 31,9 87,7 1.816,00 239,9 33,8 305,6 58,9 229,5 76,2 467,8 99,9 77,4 38,4 188,6 1.430,40 738,7 141 60,7 45,3 415,2 29,5 3.905,40

46,5

48,9

39,6

39,6

42,5

36,6

39,3

45,1

39,1

38

100

100

100

100

100

Berdasarkan PPUD yang diolah Biro Pusat Statistik

5.3.3.Pengeluaran jasa-jasa (netto) Usaha-usaha meningkatkan penerimaan devisa dan penghematan penggunaan devisa dalam bidang jasa-jasa terus digalakkan. Berkaitan dengan itu, fasilitas bebas visa selama dua bulan yang telah diberikan sejak 1 April 1983 kepada wisatawan dari 26 negara, mulai 1 September 1984 juga diberikan kepada para pengusaha dari negara-negara tersebut, bahkan telah ditambah dua negara lagi sehingga meliputi 28 negara. Demikian pula pembangunan
Departemen Keuangan RI

138

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

industri dan sarana pariwisata dirangsang dengan memberikan keringanan bea masuk dan pajak penjualan impor atas barang-barang tertentu yang masih dibutuhkan dan belum dihasilkan di dalam negeri. Sementara itu kebijaksanaan pengiriman tenaga kerja Indonesiake luar negeri (Timur Tengah) terus digalakkan, dengan harapan dapat menambah penerimaan devisa yang berasal dari uang kiriman para tenaga kerja ke tanah air (remittance). Pengendalian tata pelaksanaan pengerahan tenaga kerja dewasa ini mencakup juga penentuan upah terendah, dan kewajiban mentransfer paling sedikit lima puluh persen penghasilan yang diterima. Selanjutnya usaha penghematan penggunaan devisa di bidang jasa-jasa dilaksanakan dengan tetap menerapkan bea fiskal perjalanan luar negeri sebesar Rp 150.000,- bagi setiap orang yang bepergian ke luar negeri. Pengeluaran devisa untuk jasa-jasa setelah dikurangi dengan penerimaan devisa dari jasa-jasa, baik minyak dan gas maupun di luar minyak dan gas, dalam tahun 1984/1985 diperkirakan berjumlah sebesar US $ 7.587 juta. Jumlah ini berarti lebih rendah sebesar US $ 76 juta hila dibandingkan dengan realisasinya dalam tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 7.663 juta. Perkiraan penge1uaran devisa untuk jasa-jasa tersebut terdiri dari pengeluaran jasa-jasa bukan minyak dan gas sebesar US $ 4.176 juta, yang berarti lebih tinggi sebesar US $ 102 juta atau 2,5 persen hila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang berjumlah sebesar US $ 4.074 juta. Lebih tingginya pengeluaran jasa-jasa tersebut terutama disebabkan karena meningkatnya pembayaran bunga pinjaman luar negeri. Di lain pihak pengeluaran jasa-jasa minyak (termasuk LNG) menunjukkan penurnnan sebesar US$ 178 juta atau sebesar 5,0 persen, yaitu dari US $ 3.589 jut3 dalam tahun 1983/1984 menjadi US $ 3.411 juta dalam tahun 1984/1985. 5.3.4. Lalu lintas modal dan transfer Dengan semakin meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan terbatasnya penerimaan devisa yang dapat dihimpun, pemasukan modal baik dalam bentuk pemasukan modal Pemerintah maupun modallainnya tetap diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran, dan kelangsungan pembangunan ekonomi nasional. Namun demikian sikap berhati-hati dalam meminjam, dan selektif dalam pemilihan proyek-proyek yang dibiayai dari dana luar negeri tersebut lebih diperhatikan, sehingga penggunaannya dapat meningkatkan kemampuan pengembangan industri dalam negeri, dan mendorong perluasan lapangan kerja, serta pacta akhirnya tidak akan menyulitkan posisi neraca pembayaran dimasa yang akan datang. Sehubungan dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut, lalu lintas modal, yang merupakan hasil bersih pemasukan modal Pemerintah dan pemasukan modal lainnya setelah dikurangi dengan pembayaran angsuran pokok hutang luar negeri, dalam tahun 1984/1985
Departemen Keuangan RI

139

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

diperkirakan berjumlah sebesar US $ 3.191 juta. Jumlah tersebut terdiri dari pemasukan modal Pemerintah sebesar US $ 4.359 juta, dan pemasukan modallainnya sebesar US $ 341 juta. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 1983/1984, masing-masing menurun sebesar US $ 1.434 juta atau 24,8 persen, dan sebesar US $ 850 juta atau 71,4 persen. Sedangkan realisasi pelunasan hutang pokok luar negeri dalam tahun 1984/1985 diperkirakan meningkat dari tahun sebelumnya sehingga mencapai jumlah sebesar US $ 1.509 juta. Peningkatan terse but adalah sejalan dengan semakin bertambah besarnya kewajiban penyelesaian hutang dari tahun-tahun sebelumnya yang telah jatuh tempo. 5.4. Perkiraan neraca pembayaran dalam tahun 1985/1986 Atas dasar perkiraan realisasi dalam tahun 1984/1985, dan dengan memperhitungkan perkembangan yang diperkirakan akan terjadi baik terhadap ekspor, impor maupun lalu lintas modal dalam periode berikutnya, neraca pembayaran Indonesia dalam tahun 1985/1986 diperkirakan masih akan mengalami surplus meskipun tidak sebesar dalam tahun 1984/1985. Keadaan ini diperkirakan terjadi karena di satu pihak realisasi transaksi berjalan diperkirakan akan mengalami defisit sebesar US $ 3.409 juta, dan di lain pihak lalu lintas modal bersih, baik yang berasal. dari pemasukan modal Pemerintah maupun pemasukan modal lainnya, setelah dikurangi angsuran pokok hutang luar negeri, dalam periode tersebut mencapai US $ 3.682 juta. Dengan demikian neraca pembayaran tahun 1985/1986 diperkirakan surplus sebesar US $ 273 juta. 5.4.1. Perkiraan nilai ekspor bukan minyak dan gas Kalau dalam tahun 1984/1985 nilai ekspor di luar minyak dan gas realisasinya diperkirakan mencapai US $ 6.050 juta, maka dalam tahun 1985/1986 nilai ekspornya diperkirakan mencapai sebesar US $ 7.009 juta, yang berarti meningkat sebesar. US $ 959 juta atau 15,9 persen. Adapun perkiraan kenaikan nilai ekspor di luar minyak dan gas terse but didasarkan pacta pertimbangan-pertimbangan : (1) Mulai pulihnya perekonomian negara-negara industri dari pengaruh resesi, sehingga harga-harga komoditi di luar minyak dan gas di posaran internasional diharapkan akan meningkat, disertai dengan meningkatnya permintaan negara-negara tersebut terhadap komoditi di luar minyak dan gas; (2) (3) Penanganan ekspor komoditi di luar minyak dan gas secara terpadu dan efisien; Ditingkatkannya usaha perluasan posar antara lain dengan' mengadakan hubungan dagang dengan negara-negara Eropa Timur.
Departemen Keuangan RI

140

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

5.4.2. Perkiraan nilai impor bukan minyak dan gas Pengduaran devisa untuk impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1985/1986 diperkirakan akan berjumlah sebesar US $ 13.342 juta. Jumlah ini adalah US $ 1.173 juta atau 9,6 persen lebih besar bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi nilai impor bukan minyak dan gas dalam tahun 1984/1985 sebesar US $ 12.169 juta. Nilai impor bukan minyak dan gas tahun 1985/1986 didasarkan atas perkiraan-perkiraan sebagai berikut : (1) Kebijaksanaan kurs devisa untuk menjaga keseimbangan perdagangan luar negeri masih tetap dipertahankan. (2) Keadaan resesi ekonomi dunia yang menunjukkan pemulihan akan mempengarnhi perekonomian Indonesia khususnya di bidang produksi industri dalam negeri, sehingga untuk keperluan industri dalam negeri t_rsebut diperlukan impor bahan baku/penolong serta barang modal yang lebih tinggi. (3) Pemerintah masih tetap menjaga kestabilan harga barang-barang kebutuhan masyarakat sehingga terhadap barang yang belum mencukupi atau belum diproduksi di dalam tetap dilakukan impor. (4) (5) (6) Pemakaian produksi dalam negeri terus digalakkan. Impor dalam rangka bantuan proyek dan bantuan program masih tetap diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Kebijaksanaan penjadwalan kembali (rephasing) yang telah dilaksanakan untuk proyek proyek tertentu yang banyak menggunakan barang-barang impor masih tetap dipertahankan. 5.4.3.Perkiraan penerimaan minyak bersih termasuk LNG Situasi posaran minyak dunia sampai saat ini belum memperlihatkan tanda-tanda perbaikan seperti yang diharapkan. Situasi yang demikian ini sangat frat hubungannya dengan proses pemulihan ekonomi yang berjalan lamban, sehingga adanya kelebihan produksi minyak dunia tidak segera diikuti oleh penambahan permintaannya. Di samping itu harga minyak tunai (spot) diposaran dunia terus mengalami posang surut bersamaan dengan posang surntnya pemulihan perekonomian dunia, terntama di negara-negara industri, perubahan musim di belahan bumi non tropis, serta peleposan/penambahan cadangan (stock) minyak oleh negaranegara industri. Situasi yang demikian itu telah memaksa OPEC mengambil keputusan untuk memperbaiki situasi minyak yang ternyata sampai akhir tahun 1984 belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Bahkan sesuai dengan hasil pertemuan OPEC bulan Oktober 1984 telah diputuskan bahwa kuota produksi diturunkan dari 17,5 juta barrel menjadi 16 juta barrel per
Departemen Keuangan RI

negeri

141

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

hari, sedangkan harga patokan minyak mentah masih tetap dipertahankan sebesar US $ 29 per barrel. Dengan adanya ketentuan kuota produksi minyak tersebut, maka kuota produksi minyak Indonesia harns diturunkan sebanyak 111.000 barrel per hari selama bulan November dan Desember 1984. Sementara itu dengan telah diproduksinya beberapa peralatan pengeboran minyak oleh industri dalam negeri, maka akan mempengaruhi penghematan penggunaan devisa untuk impor di sektor minyak. Di lain pihak devisa hasil ekspor gas alam yang dicairkan (LNG) diperkirakan akan mengalami peningkatan dalam tahun 1985/1986. Atas dasar perkiraan realisasi penerimaan minyak bersih termasuk LNG dalam tahun 1984/1985, serta perkiraan situasi pasaran minyak dunia yang akan terjadi, maka dalam tahun 1985/1986 penerimaan minyak bersih (termasuk LNG) diperkirakan berjumlah sebesar US $ 7.299 juta. 5.4.4. Perkiraan pos lainnya Pengeluaran devisa untuk pembayaran jasa-jasa. dalam tahun 1985/1986 diperkirakan masih akan lebih besar dari penerimaannya, sehingga sektor jasa masih menunjukkan hasil bersih yang negatif bagi penerimaan devisa negara. Sehubungan dengan itu, usaba peningkatan penerimaan devisa, dan penghematan penggunaannya di bidang jasa-jasa akan terus dilakukan melalui pengembangan sektor kepariwisataan, pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, pembatasan perjalanan ke luar negeri, pengurangan secara bertahap penggunaan tenaga kerja asing/konsultan di Indonesia, serta peningkatan peranan armada niaga nasional dalam pengangkutan barang ekspor dan impor. Dalam tahun 1985/1986 hasil bersih untuk jasa-jasa diperkirakan berjumlah sebesar US $ 8.102 juta. Selanjutnya pemasukan modal Pemerintah dalam tahun 1985/1986 diperkirakan akan berjumlah sebesar US $ 4.974 juta, termasuk bantuan proyek sebesar US $ 4.016 juta. Sedangkan pemasukan modallainnya diperkirakan akan mencapai sebesar US $ 406 juta. Di lain pihak, pembayaran kembali hutang pokok luar negeri dalam tahun 1985/1986 diperkirakan sebesar US $ 1.698 juta.

Departemen Keuangan RI

142

718.2 persen per tahun. Keadaan tersebut merupakan suatu petunjuk terjadinya suatu proses keseimbangan yang lebih baik dalam struktur ekonomi. Departemen Keuangan RI 143 .2 persen per tahun (Tabel VI.tural yang penting. yaitu ke arab suatu perekonomian industri yang didukung oleh sektor pertanian yang tangguh. Tanpa mengabaikan usaha pemerataan dan kestabilan. Dalam kurun waktu 14 tahun. lembaga keuangan dan jasa lainnya. Perkembangan pendapatan nasional menurut lapangan usaha dan kontribusinya Hasil pembangunan ekonomi antara lain dicerminkan dari pendapatan nasional yang senantiasa meningkat dalarn kurun waktu 14 tahun terakhir ini. pembangunan nasional mengusahakan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. yang pada gilirannya memungkinkan terwujudnya peningkatan tarat hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat. Sedangkan apabila diukur atas dasar harga konstan tahun 1973.1). yakni sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur melalui produk domestik bruto atas dasar harga yang berlaku telah berhasil ditingkatkan dengan rata-rata sebesar 26. serta sektor listrik.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VI PENDAPATAN NASIONAL 6.214.0 milyar menjadi sebesar Rp 71. Hal ini berarti bahwa selama kurun waktu tersebut.1. yakni dari sebssar Rp 2. Di samping telah dicapainya penmgkatan produk domestik bruto dari tahun ke tahun. Indonesia sejak tahun 1969 dengan giat melaksanakan pembangunan nasional secara berencana dan bertahap serta berpegang teguh pada kebijaksanaan Trilogi Pembangunan.2. maka dalarn periode tersebut telah terjadi kenaikan rata-rata sebesar 7. produk domestik bruto atas dasar harga yang berlaku mengalami kenaikan rata-rata sebesar 26. telah terjadi pula perubahan struJ<:. yaitu dari periode tahun 1969 sampai dengan tahun 1983. gas dan air minum telah semakin meningkat.7 milyar.2 persen per tahun. Berdasarkan harga yang berlaku. sektor bangunan. sektor perdagangan. di satu pihak peranan sektor pertanian menurun sedangkan di lain pihak peranan sektor lainnya seperti sektor industri. 6. pendapatan nasional sebagaimana tercermin dari perkembangan nilai produk domestik bruto dari tahun 1969 sarnpai dengan tahun 1983 telah menunjukkan jumlah yang semakin besar. Pendahuluan Sebagai suatu negara yang sedang berkembang.

069.00 6.70 380.290.00 1.30 6.2 milyar tersebut terbentuk dari nilai tambah bruto di semua sektor.339.5 1.20 1.669.80 1.9 5.554.20 15.50 8.00 1.942.877.672. Perdagangan.5 143 165 1.479.812. suatu pertumbuhan yang dimungkinkan di samping oleh kebijaksanaan Pemerintah dan upaya masyarakat.80 1976 2.80 1.8 1. Pertambangan & penggalian 3.480.823. Pertanian.995.374.00 1.900.50 1. antara lain sektor pertanian sebesar Rp 3.893.70 3.00 Dalam periode yang sama. Departemen Keuangan RI 144 .30 9.20 17.566.375.3 384.101.1 812.441.850.710.2 persen.30 1l.115.842.054.164.10 2.6 4.156.40 2.835. Tanaman bahan makanan b.071. kehutanan.00 6.294.310.00 1978 3. atau naik rata-rata sebesar 7.80 1.20 1973 2.6 milyar.820.70 105.50 8.346.60 1.30 98.991.30 1.80 1.7' 6.90 10.8 589.1983 (dalam milyar rupiah atas dasar harga yang berlaku) 1974 4.965.768.00 4.8 302. juga karena adanya kebangkitan kembali ekonomi dunia.833.427.134.30 956. don al£ minum 5. Pertanian.8 716.60 2.412. Bangunan 6.753.00 1.932.5 752.013.437. kehutanan.00 1.395.738.043.60 6.30 1. Pertambangan & penggalian 3.00 1976 4.247.979.2 222 229 1.00 21.00 823 516 129 251 13 75 77 834 1970 1.70 Lapangan usaha 1.60 148.269.961.80 1.379.357. maka ekonomi mulai membaik dan dalam tahun 1983 telah mencapai sebesar 4.30 12. gas.353.50 11.9 720.169.60 4.00 1972 1.484. Produk domestik bruto sebesar Rp 12.80 3.70 1972 2.657.453.1 30.357.4 262 257 2.599.10 1.013.30 9.811.00 1.40 118.90 4.2 persen.821.30 1980 11.3 930 46.00 961 685 294 307 18 128 162 1.6 2.9 persen per tahun.8 559.027. perikanan a.80 1.573.50 112.415.706.00 890 452 399 19.60 77.90 1978 6.710.892.005.556.20 2.60 1.50 12.402.00 3. 1embaga keuangan danjasa lainnya Jumlah 1969 2.755. Listrik.047.390.00 5.073.433.2 persen selama kurun waktu 14 tahun tersebut terutama didukung oleh sektor bangunan yang mempunyai tingkat pertumbuhan paling tinggi yaitu rata-rata sebesar 14.3 1.70 4.434.50 2.70 11. dan air minum 5.873.90 8.2 persen per tahun.00 1.942.80 5. Pengangkutan dan komunikasi 7.659.245.90 2.255.00 1. Lainnya 2.70 3.60 2. Tabel VI.8 7.427.263.90 7.103.00 890 52 406 442 3.3 609.10 1.573.373.00 954 522 435 22.023.00 1982 15.80 1.70 1.905. lembaga keuangan dan jasa lainnya 1969 1.678.80 1981 13.275.2.771.00 5.40 939.421.00 1.845.6 662.60 4.80 1.00 1971 2.3 3.2 676.50 9.424.3.795.00 766 491 448 20 174 182 1.10 1.696.351.908.681.20 12.5 milyar serta sektor perdagangan.9 4.00 1.80 2.90 1. produk domestik bruto yang dihitung atas dasar harga konstan tahun 1973.235.523.0 859 755 37 320 288 2.60 8.9 639.70 12.00 1975 2.5 342.90 225.067.930.287.00 1975 4.90 6.80 3. industri pengolahan 4.1 847.117.970.1 3.40 2.6 521.070.7 2.436.8 3.00 1973 2.5 4.2 4.414.10 828.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e 1 VI.544.00 831 650 30.30 842.714. 1 PRODUK DOMESTIK BRUTO.003.2 PRODUK DOMESTIK BRUTO.064. laju pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 7. maka terlihat bahwa upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat selama kurun waktu memperihatkan hasil yang nyata.20 1.507.123.707.003.668.1 2.433.6 1. 1969 .00 2.1 88. gas.90 105.412.6 562.630.9 528.20 1981 3.837.00 1.40 2.182.299. Industri pengolahan 4.6 4.00 831 650 30.820. Perdagangan.00 1.00 1.882.80 2.380.90 2.816.420.2 milyar.325.8 804.821.137. Lainnya 2.60 1982 3. Dengan demikian apabila perkembangan tersebut dikaitkan dengan laju pertumbuhan penduduk yang diperkirakan sekitar 2. 1969 -1983 (dalam milyar rupiah.7 2.2 3.8 1.918.4 3.2 364.540.00 962 613 173 293 15 100 96 986 1971 1.4 262 257 2.40 1974 2. Dengan demikian selama Pelita III telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 6 persen per tahun. lembaga keuangan dan jasa lainnya sebesar Rp 4.70 288. juga mengalami peningkatan dari sebesar Rp 4.789.80 12842.448.30 68.538.242.2 952.50 1979 3.00 1.642.10 1.646.70 1.20 12.70 69.40 1. sektor industri pengolahan sebesar Rp 1.707.90 1980 3. atas dasar harga konstan tahun 1973) Lapangan usaha 1.00 3.845.5 757. Tanaman bahan makanan b.50 5.00 305.047.981.8 438.235.8 milyar.9 41.034.00 1.00 674 564 26.00 551 490 24.943.734. Listrik.2 3.70 1.10 1983 18.117.870.057.680.261.70 49 463.137.50 1970 2.048. Bangunan 6.90 1.5 milyar menjadi Rp 12.031.50 1.80 89.50 5.30 1.698.704.6 114 158 1.60 56.356.60 5.60 2.811.00 1.10 1977 5.199.60 13.332.575. Sebagaimana terlihat pada Tabel VI.40 1983 3.00 1979 8.40 1.00 7.00 1.30 1977 2.096.593.20 1. Perkembangan secara lebih terperinci dapat diikuti pada Tabel VI.842.2 persen per tahun.401.046.9 514.2 Setelah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah dalam tahun 1982 yakni sebesar 2. Pengangkutan don komunikasi 7.325. perikanan a.7 171 210 1.

3 4.1 26.2 2.3 15.8 5.1 41.1 22 22.7 51.4 3.6 34.9 26.3 1.7 15.4 4.8 3.1 15.6 27.6 6.9 12. Seperti terlihat pada Tabel VI.7 22.1 52 50.4 5.7 13.6 5. Bangunan 6.1 29. 6.7 1979 34.9 18.5 4.1 10.7 22.9 5 6.2 17. Perdagangan.1 10.4 8. Listrik. gas daft air minum 5.3 PRODUK DOMESTIK BRUTO.6 3.4 persen dan 3. Pertanian.9 6.9 -1. peranan sektor pertanian dalam tahun 1969 tampak menonjol.9 71.7 11.3 7.6 13.6 25. Bangunan 6.1 9. Pengangkutan dan komunikasi 7. Perdagangan.4 18.5 69. gas dan air minum.4 persen dan 5.3.5 69.1983 ( persentase kenaikan ) Lapangan ulaha ( Atas dasar harga yang berlaku ) 1.1 12.7 39.8 19.1 16.2 45.7 5 1976 20.3 10.4. lembaga keuangan dan jasa lainnya serta sektor pertambangan dan penggalian masing-masing mengalami kenaikan ratarata sebesar 8.2 17.2 19.6 41. Listrik.1 10.2 6.9 11.4 4.5 11.9 4.3 persen.4 20.4 14 5.2 21.3 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 15.7 36.6 22.2 13. yakni masing-masing dengan kenaikan rata-rata sebesar 13.1 0.8 33.8 36. gas daft air minum 5.2 7.2 36. namun sumbangannya terhadap pembentukan produk domestik bruto masih tetap besar. 1970.3 15 12.9 29. yaitu meningkat ratarata sebesar 3.9 5. jembatan dan irigasi.3 persen.9 13.3 14. Pengangkutan daft komunikasi 7.3 persen dan 5.3 26.1 6. 11.8 19.9 11.1 14 17.4 33.3 23.3 33.5 11.2 1981 20.2 12 21.2 15.4 12.6 67 45.3 41 38.5 37. kehutanan.6 16. yaitu sebesar 46.3 13.7 26. Di samping itu sektor perdagangan. Di samping itu sektor listrik.3 1974 29 185. sektor bangunan serta sektor pengangkutan dan komunikasi. lembaga keuangan dan jasa lainnya juga meningkat yaitu dari sebesar 29.2 22.7 7. Pertanian.01 12.3 11. Namun peranan tersebut berangsur-angsur menurun menjadi sebesar 29.8 9 13 9.6 13.8 5. Departemen Keuangan RI 145 . perikanan 2.2.9 20.3 22.3 34.9 12.4 58. jalan.7 26. yaitu ke arab struktur ekonomi yang lebih seimbang dengan sektor industri yang maju dan didukung oleh sektor pertanian yang tangguh.6 1975 14.2 7.5 4.9 persen dan 11.0 9.4 .8 13.2 42.4 19.6 21.9 25 7.1 persen.8 persen dalam tahun 1983.1 4. Di samping itusektor perdagangan.5 67.8 12 48.6 8.8 25.4 8.8 18.9 32 12.2 17.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VI.8 -9. Pertambangan & penggalian 3.4 37.2 19.8 27. seperti halnya sektor industri pengolahan. sektor industri pengolahan serta sektor pengangkutan dan komunikasi juga cukup besar peranannya.8 16.4 22.9 3. yang masing-masing meningkat dari sebesar 8.1 60.1 55 72 51.4 12.8 persen per tahun.4 1973 47.7 31.5 40.1 -12.5 persen per tahun.5 7.2 5 4.2 1. 2.8 11.5 9 14.8 26. Di lain pihak.1 28 23. 1embaga keuangan dan jasa 1ainnya Produk Domesdk Bruto ( Atas dasar harga konstan 1973 ) 1.6 48 9.7 8.4 2.3 40.9 4.8 26.8 13 10.2 8 7.6 29 29.6 12.3 24.1 33.2 3.7 1977 22.1973 20. lndustri pengolahan 4.2 16 18 12.8 30.3 8.9 1980 25.5 5.7 18.4 24.2 Rata-rata 3) 1970 .8 2.5 19.3 9.1 32. kehutanan. lndustri pengolahan 4. Hal ini pada gilirannya diharapkan dapat mengacu kepada perimbangan yang serasi dan sesuai dengan sasaran pembangunan ekonomi jangka panjang. Dari perbedaan laju pertumbuhan antarsektor tersebut dapat dilihat bahwa telah terjadi proses perubahan di dalam komposisi produk domestik bruto.3 15.7 19.9 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Dihitung dengan compound rate Hal tersebut sejalan dengan makin meningkatnya kegiatan pembangunan di berbagai bidang seperti perumahan.4 5.7 3.1 9.9 persen dari seluruh nilai produk domestik bruto. Pertambangan & penggalian 3.5 18.5 1971 4.2 23.9 7.7 persen per tahun.9 persen dalam jangka waktu 14 tahun kemudian.6 9.4 19 19.9 27.5 persen dalam tahun 1983.3 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 34.2 5.7 7 1972 11.2 45.1 1978 13. perikanan 2.1 1.9 1982 1) 1983 2) 14. Sementara itu walaupun laju pertumbuhan sektor pertanian lebih rendah dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.7 12.4 . 1embaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto 1970 17.8 20 28 68.8 1.1 35.2 16. peranan sektor-sektor lainnya di luar sektor pertanian pada umumnya menunjukkan tendensi yang semakin meningkat.1 16.4 7.5 6.2 59.9 5.2 28.

yaitu masing-masing dari sebesar Rp 414. alas dasar harga konstan tahun 1973.1 21. lembaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto (Atas dasar harga konstan 1973) 49.4 100 26. Pengangkutan dan komunikasi 7.8 8.4 19. Perdagangan.9 milyar dan Rp 11. gas dan air milIum 5.8 11.5 100 1.5 dan Tabel VI.2 100 32.5 19. lndustri pengolahan 4.5 100 45.9 100 31.4 3. Listrik. dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 dengan rata-rata sebesar 7.5 3.4 100 36.3 29.2 persen per tahun dalarn periode tersebut.4 0.7 30.4 32.6 4.8 30.1 8.1 12.4 30.2 8.5 persen Departemen Keuangan RI 146 . Jika dihitung alas dasar harga konstan tahun 1973.3 10. Bangunan 6.7 22.2 persen per tahun.8 0.2 100 29.7 100 44.2 100 33.4 4 30. Listrik.1 100 29.9 3.9 34.4 3.6 5.6 5.9 0.8 0.3.6 5.4 100 26.5 5.7 6.9 3.9 6. Terlihat bahwa peranan masing-masing jenis penggunaan produk domestik bruto dalarn periode tahun 1969 sarnpai dengan tahun 1983 telah menunjukkan perubahan dalam komposisi penggunaannya.4 12. pembentukan modal domestik bruto tetap menunjukkan kenaikan yaitu dari sebesar 11. dalam periode yang sarna pengeluaran konsumsi pemerintah dan pengeluaran konsumsi rumah tangga juga telah menunjukkan peningkatan.7 11.3 0.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TabeI VI.2 10.1 11.5 4.3 100 32 10.2 4.2 0.7 3.4 0.8 10. Pertambangan & penggalian 3.7 3.7 4.4 100 44 9.5 0.4 3.7 30 100 29.7 6 5.8 100 29. Meningkatnya produk domestik bruto. alan suatu kenaikan sebesar rata-rata 15.5 3.8 10. kehutanan.8 4 30.3 24 10.8 34.8 29.5 5.6 4.1 18.5 10.3 9.9 0.5 30.4 15.1 milyar dalam tahun 1983.4 31.7 9.9 11.4 4.1983 ( persentase ) 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) Lapangan usaha (Atas dasar harga yang berlaku) 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1.3 19. kehutanan. Pertanian.9 100 40.6 5.6 0.2 29.3 15.7 persen.8 29.3 0.3 4.7 11.5 0.8 4 31.5 4.8 30.5 32. 1969 .4 0.6 5.9 7.5 100 30.501.4 0. Hal ini berarti bahwa kenaikan riil sebesar 7.4 100 38.7 4.4 0.8 29.2 4.1 28.5 2.7 5.6 12.8 100 32. lembaga keuangan dan jasa lainnya Produk Domestik Bruto 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 6. dapat pula dilihat dari perkembangan masing-masing komponen penggunaannya seperti terlihat pada Tabel VI. 4 PERANAN MASING-MASING LAPANGAN USAHA DALAM PROD UK DOMESTIK BRUTO.1 9.8 0.921.3 0.4 0.6.8 7.2 milyar dalam tahun 1983.6 0.2 persen per tahun.9 31.7 0.5 4.8 2.6 0.7 5.3 27.0 milyar dan Rp 3.1 persen.3 5.9 9.1 12. Perdagangan. Bangunan 6.6 4. Pengangkutan dan komunikasi 7.4 2.4 30. Pertambangan & penggalian 3.2 100 24.6 12 11.3 100 31 18.1 3.7 8.7 19.8 8 8.5 milyar dalam tahun 1969 menjadi sebesar Rp 1.8 9. Industri pengolahan 4.8 4.3 9 0.8 100 40.3 100 48.4 29.9 persen dan 8.9 9.9 8.9 100 40.3 0.9 15.2 persen dalam tahun 1969 menjadi 30.2 100 31. baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun oleh swasta.7 9.3 13.7 5.9 0.9 100 25.6 0.9 4.6 5.6 5.4 100 36.3 30. Apabila dalam tahun 1969 peranan pembentukan modal domestik bruto atas dasar harga yang berlaku terhadap produk domestik bruto baru mencapai sebesar 11.8 4.5 4.1 3 30.9 6.5 4.5 3. Perkembangan pendapatan nasional menurut jenis penggunaan Perkembangan ekonomi nasional sarnpai dengan tahun 1983 selain ditunjukkan oleh kenaikan per sektor. terutama disebabkan oleh meningkatnya pembentukan modal domestik bruto yaitu dari sebesar Rp 537.2 31. Selanjutnya di samping meningkatnya pembentukan modal domestik bruto. perikanan 2.791.758.1 30.5 3.6 15.8 10.8 100 28. perikanan 2.5 5.8 milyar dalam tahun 1969 menjadi sebesar Rp 3.8 11 12. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 24.9 9. alan suatu kenaikan rata-rata sebesar 10.6 33.3 9.4 8.9 0.7 100 46. Pertanian.2 persen per tahun selama 14 tahun tersebut terutarna berasal dari semakin tingginya kegiatan investasi.1 5. gas dan air milIum 5.1 0.7 11-Jun 0.5 5.5 5.5 3.8 25.4 29.4 2.1 0.3 0.9 100 40.3 4.5 3.

50 1980 8.343.566. Pembentukan modal domestik bruto 4.00 .40 9.027.5 PENGGUNAAN PRODUK DOMESTIK BRUTO.672.60 3.00 .10 4.70 1.273.482.440.831.20 5.304.00 12.449.00 1.7 11.699.20 Tab e I VI.70 6.897.367.20 3.269.372.847.776.461.70 Departemen Keuangan RI 147 .67.70 54.8 6.90 1.817.90 10.30 2.287.8 persen dalam tahun 1983.728.70 495.8 -482.10 7.50 10.30 2.697.10 1970 2.10 3.4 -498.650.7 336.50 188 219 2. Ekspor barang daD jasa 5".00 1.297.208.867.8 4.218.466.70 4.269.20 1976 6.50 19.025. Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi 8.6 1.4 1.436.572.513.8 746 668.20 2.228.4 6.60 2.48.826.50 1.60 -673.00 5.80 2.006.80 3.670.330.924.522.40 4.658.054.70 13.70 -1.30 623. yaitu apabila dihitung atas dasar harga yang berlaku telah menurun dari negatif 3.00 4.5 3.356.0 1.912.70 16.10 3.00 59.1 12.10 51.629.5 persen dalam tahun 1983.5 persen dalam tahun 1969 menjadi negatif 4.70 -3.632.40 3.10 135 176 2.218.268. yaitu dari masing-masing sebesar 7.927.7 439 696 821 1.40 45.7 3.10 1.079.30 30.5 394.20 399.395.650.512.10 716 1. Dikurangi: Penyusutan 11.749.2 624 7.20 7.803.80 8.7 1.40 2.90 -1.973.508.634.20 1.007.30 3. Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi 8.534.30 5.30 466.628.719.9 715.7 11.231.753.55.746.20 229 236 328 447 519.30 3.9 5.5 3.741. Pengeluaran konswnsi pemerintah 3.7 871.80 -389 7.20 1l.30 1971 4.00 1.2 5. Produk nasional bruto 9.50 1978 6.621.40 4.00 3.7 persen jika dihitung alas dasar harga konstan tahun 1973.741.3 866. walaupun alas dasar harga konstan tahun 1973 peranannya menunjukkan peningkatan dari sebesar 78.044.132.8 5. sedangkan atas dasar harga konstan tahun 1973 menunjukkan suatu penurunan dari positif 1.704.303.073.984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam tahun 1983.842.146.20 4.085.355.921.604.964.20 845. Produk domestik bruto 7.182.822.544.153.887.118.9 942.675.535.90 13.80 370.90 68.184.670.2 5.70 .90 587.765.136.541.20 71.849.865.8 762.30 17.883.209.10 641 1.204.50 896.7 663.10 3.5 1983 2) 49.70 3.864. 6 ( dalam milyar rupiah atas dasar harga konstan tahun 1973 ) Jenis penggunaan 1.50 1.20 1.00 43.896.70 22.890.50 1.70 1972 4.805.380.1 313.6 496 6.30 8. Demikian pula halnya untuk konsumsi pemerintah.00 1974 5.80 199 317 328.1 persen dalam tahun 1983 bila dihitung atas dasar harga yang berlaku.7 472.066.4 424 2. Dikurangi: Penyusutan 11.1 7.1 1.698.797.40 992.30 -314.5 persen dalam tahun 1969 menjadi sebesar 69.40 -652.502.983.10 1970 3.6 persen dalarn tahun 1969 menjadi sebesar 89.50 19.00 -420.70 3.410.345.60 1.60 12.688.90 9.241.5 238.20 835.1 530.904.80 13.293. Dikurangi: Impor barons don jasa 6.235.564.30 46. Dikurangi: Pajak tak langsung nella 10.253.759.10 5.445.502.70 4.832.70 1.90 271.50 2.2 10.00 518.732.30 3.636.50 414 537.102. Produk nasional netto atas dasar biaya faktor produksi 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Residual 1969 3.791.731.00 1.70 1981 10.560.3 persen menjadi sebesar 10.733.50 1.630.007.70 351.00 1.410.10 1979 7.20 -835.60 483.156.802.8 837.028.50 544.088.90 1978 1979 1980 1981 1982 1) 15.7 296.60 -866.60 1.708.666.590.4 786.6 10.40 12.484.318.80 2.745.445.752.50 15.9 2.10 1.4 13.6 persen menjadi sebesar 13.30 3.80 6.782.80 1.356.20 -758.00 7.2 9.758.554.50 1977 12.6 -556.10 57.032.90 17.3 728.40 -2.523.189.874.8 4.80 1.1 persen dalam tahun 1983. Tabel VI.454.033.20 15.804.10 625.308.957.40 2.5 8.50 1975 5.50 1.10 7.80 2.681.9 1.70 .40 11.089.90 3. 1969 -19 ( daiam milyar rupiah atas dasar harga yang beriaku ) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 2.044.027.7 10.511.40 10.077.0 4. peran:annya narnpak semakin meningkat.515.90 20.20 -183.838.00 -677.578.00 52.00 3.30 294.1 8.10 1.80 3.20 1983 2) 11. Pengeluaran konsumsi pemerintah 3.2 9.511.70 10.481.6 persen dalam tahun 1969 menjadi negatif 33.70 600.20 2.553.820. Produk nasional netto alas dasar biaya faktor produksi 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Residual 1969 2.8 18.811.90 526.80 251.501.00 328 439 5.40 Jenis penggunaan 1.787. Ekspor barang dan jasa 5.10 9.30 1982 1) 10.50 234.489.824.143.742.9 360.238.90 1.00 2.214.30 2.208.879.2 -254.30 9.50 21.7 -1.010.842.00 -378.323.3 834 755.00 1.356.3 4.6 803.8 5.70.70 14.50 .879.00 1.508.9 persen jika dihitung alas dasar harga yang berlaku.137.229.60 27.20 2.00 61.066. Dikurangi: Pajak tak langsung netto 10.111.804.642.194. Produk nasional bruto 9.467.00 2.9 -144.30 341 414 716 84-1.10 19.90 -649.70 !.375.164.9 10.40 10.332.50 560.067.90 35.30 1977 6.94.10 1.838.5 9.80 6.00 12.5 778.178.2 690.20 14. Produk domestik bruto 7.187.00 32.882.50 1.30 8.20 4.435.50 -493.90 430.280.444. 580 857 1.641. Pembentukan modal domestik bruto 4.169.876.10 4.678.00 6.90 3. Dalam pada itu ekspor netto juga mengalmi perubahan.60 1973 4.791.330.20 12.035.485.6 7.10 10.962.00 2.753. Pengeluaran konsumsi rumah tangga 3) 2.5 1. Di lain pihak peranan konsumsi rumah tangga mengalarni penurunan yaitu dari sebesar 84.20 1.00 .80 13. Dikurangi: Impor barang dan jasa 6.683.399.80 38.5 6.672.40 -245. Pengeluaran konsumsi rumah tangga 3) 2.70 27.8 576.349.80 2.70 293 455 434 522.00 41.325.2 5. dan dari sebesar 8.00 7.345.90 6.34. baik alas dasar harga yang berlaku maupun atas dasar harga konstan tahun 1973 dalam periode yang sarna.3 4.419.3 6.60 4.6 6.

Berkenaan dengan arab dan tujuan pengembangan penanaman modal yang sesuai dengan strategi pokok pembangunan. Oleh karena itu dalam Repelita IV akan terus dilakukan pembangunan ekonomi yang berlandaskan Trilogi Pembangunan. kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat. perhubungan. yang pelaksanaan operasionalnya senantiasa disusun dalam kerangka kebijaksanaan ekonomi secara terpadu. Dalam hal ini. Adapun hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai selama ini dapat diikuti melalui uraian daripada masingmasing bidang di bawah ini. menciptakan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Penanaman modal Strategi dasar pembangunan nasional diarahkan pada pemanfaatan sebesar-besarnya dari seluruh potensi yang ada untuk tercapainya tujuan pembangunan. kehutanan. kegiatan penanaman modal baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA) antara lain diarahkan untuk meningkatkan dan memperluas kapositas produksi nasional. serta kependudukan dan transmigrasi. pembinaan dunia usaha. 7. industri.1. peranan swasta dan kopeiasi akan lebih ditingkatkan guna mencapai tingkat pertumbuhan seperti yang direncanakan. sesuai dengan arab dan sasaran Repelita IV. pertambangan dan energi. Sehubungan dengan hal itu akan terus dilakukan upaya-upaya peningkatan hasil produksi barang dan jasa di berbagai bidang meliputi penanaman modal. Oleh karena itu pengerahan dana daTi sektor swasta. telekomunikasi. berbagai kegiatan pembangunan yang telah dilaksanakan Pemerintah bersama-sama seluruh rakyat Indonesia telah mencapai hasil-hasil yang positif. Pendahuluan Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. pos dan pariwisata. pertanian. yang pada gilirannya menjadi kerangka landasan yang kokoh untuk melanjutkan pembangunan dalam masa-masa mendatang. meningkatkan penerimaan devisa Departemen Keuangan RI 148 .2. pekerjaan umum. baik nasional maupun asing dalam penanaman modal terus digairahkan melalui penciptaan prasarana dan sarana yang memungkinkan kegiatan pembangunan ekonomi dapat bergerak ke arab yang direncanakan. Hal itu tercermin pada peningkatan taraf hidup.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VII PERKEMBANGAN USAHA DAN HASIL-HASIL PEMBANGUNAN EKONOMI 7.

kodak. baik asing maupun dalam negeri dengan para pengusaha. teknologi tinggi dan belum dapat diusahakan oleh swasta nasional. Adapun guna meningkatkan pelayanan kepada investor telah pula dikembangkan berbagai pra-studi Departemen Keuangan RI 149 . Sejalan dengan itu sektor-sektor lain seperti industri makanan telah pula diarahkan pada ekspor. teh. Dari segi pemerataan pembangunan. dengan sasaran pokok tercapainya peningkatan pendapatan. karel. koperasi ataupun para petani setempat. Di samping itu juga telah dilaksanakan kebijaksanaan yang mendukung adanya kerjasama antara proyek penanaman modal. Salah satu usaha yang dilakukan dalam rangka kebijaksanaan tersebut adalah mendekatkan lokasi proyek dengan bahan baku. serta coklat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 serta mengusahakan perluasan kesempatan kerja. Dalam hal ini masyarakat umum telah diberikan kesempatan yang luas untuk berperanserta dalam perusahaan-perusahaan baik PMDN maupun PMA dengan memiliki saham dari perusahaan-perusahaan yang telah memasyarakatkan sahamnya. sedangkan swasta asing diarahkan kepada usaha patungan yang memerlukan modal besar. DSP menggambarkan suatu rencana penanaman modal yang terpadu. ubi kayu dan kelapa sawit dari sektor perkebunan. telah ditempuh berbagai kebijaksanaan untuk menyebar proyek-proyek ke seluruh wilayah Indonesia sejauh faktor-faktor ekonomis masih memungkinkan. industri tekstil dan pakaian jadi sebagai komoditi ekspor. kesempatan berusaha serta pemerataan pembangunan di daerah-daerah dalam rangka pemanfaatan sumber kekayaan alam. kesempatan kerja. dan ikan cakalang dari sektor perikanan. Pada dasarnya kesempatan penanaman modal diberikan lebih banyak kepada swasta nasional dengan peran yang lebih besar kepada koperasi dan golongan ekonomi lemah. kepi. Sementara itu dalam rangka pengembangan dan pembinaan proyek prioritas sesuai dengan sasaran dalam Repelita IV. baik dalam rangka partisiposi permodalan. Untuk proyekproyek penting tersebut disusun suatu ketentuan teknis berupa kerangka acuan yang mengikat para investor dalam pelaksanaan proyek. maupun penampungan hasil-hasil usahanya. investasi di bidang industri logam dan mesin telah digalakkan secara khusus. Di samping itu telah banyak pula diusahakan produk lain yang berorientasi pada ekspor seperti udang. Investasi yang telah disetujui di bidang tersebut antara lain meliputi bidang usaha pembuatan mesin automotive dan non-automotive. pembuatan komponen automotive. Dalam rangka perencanaan dan sebagai pedoman bagi penanaman modal telah diterbitkan daftar skala prioritas (DSP) yang penyusunannya dikaitkan dengan programprogram yang direncanakan. sub-kontrak. Penanaman modal juga diarahkan untuk meningkatkan penerimaan devisa antara lain dapat terlihat dalam perkembangan sektor perkayuan terutama kayu olahan. ikan tuna. pengilangan baja (cold rolling mill) dan sebagainya.

1).9 milyar dengan 502 proyek. Paris dan Frankfurt.259 proyek PMDN.4 milyar atau 30.2. 7. sebagai sarana memperlancar pemberian informasi penanaman modal ke negara-negara di Amerika Serikat dan Eropa.7 milyar atau 29.540.037.3 persen dari rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984.645.1 persen dari nilai rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984.948 proyek. sampai saat ini pulau Jawa masih tetap merupakan daerah yang paling banyak menyerap proyek-proyek PMDN sebagai lokasi usahanya.1. Untuk itu telah dibuka 3 perwakilan BKPM di luar negeri.4 milyar.9 milyar. Dari jumlah yang telah disetujuai tersebut sampai dengan bulan Maret 1984 telah direalisasikan sebesar Rp 6. sektor kehutanan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1. Departemen Keuangan RI 150 . dan selanjutnya mempertemukan para peminat tersebut dalam suatu temu-usaha ke arab kerjasama yang lebih konkrit.5 milyar dengan 215 proyek. Kegiatan di sektor-sektor lain yang juga cukup menonjol adalah sektor pertanian/peternakan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1. serta proyek-proyek yang beralih status dari PMA menjadi PMDN. Penanaman modal dalam negeri Investasi melalui PMDN yang telah mendapat persetujuan Pemerintah sampai dengan bulan Agustus 1984 adalah sebanyak 4.248 proyek.078. dan penyiapan informasi proyek yang lebih sempurna. Sektor industri sebagaimana dalam tahun-tahun sebelumnya masih tetap merupakan sektor yang paling banyak menarik minat para investor dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 13. yang antara lain bertujuan mengidentifikasi proyek-proyek yang diperkirakan akan menarik minat para calon investor. meliputi sebanyak 2. dengan nilai rencana investasi sebesar Rp20.766 proyek (64. Sedangkan realisasinya sampai dengan bulan Maret 1984 mencapai Rp4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kelayakan.9 persen) di antaranya berlokasi di pulau Jawa dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 13. Sampai dengan bulan Agustus 1984. dari sebanyak 4.3 milyar dengan 54 proyek (Tabel VII. serta sektor pertambangan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 1. Adapun mengenai lokasi. 2. Jumlah tersebut termasuk proyek yang mengadakan perluasan/penambahan modal. yakni di New York.178.564.632. baik di dalam maupun di luar negeri. Demikian pula telah diadakan kerjasama dengan berbagai pihak. tetapi tidak termasuk proyek yang mengundurkan diri atau dibatalkan. sehingga proyek-proyek dapat dipromosikan secara lebih konkrit. Dalam hubungan ini kegiatan promosi penanaman modal ditempuh melalui pendekatan yang optimal kepada para investor dengan cara promosi investasi langsung.270. serta dengan cara membantu mempertemukan berbagai unsur masyarakat yang ikut serta dalam bidang penanaman modal.2 milyar.

752 21.792 4 58 80.027 123.147 16 208.645.236 7.163 345.993 4.037.262 120.036 -1 -1.797 10 218.perubahan.190 15 78.564.149 3 14.802 29 594.090 9 2. Penanaman modal asing Keikutsertaan pihak swasta asing dalam kegiatan investasi di Indonesia diatur dengan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1967.959 869.257. Sumalera Barat 33.042 3 6.2 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI YANG TELAH DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT LOKASI USAHA.140 1.077 1 16.334 159.733 6.467 31.699 5 44.690 JUMLAH 6.035 46 59.908 3 1.124 10 19.179.645 5 63 161.385 1 31.623 6.679 3 8.181 530.661 1 6 44.309 6.203.901 65.585 1 Jumlah 3.656 21 144. perubahan.736.078 1.932 2 26.305 89.512 1 5.607 418.003.445 412.767 11 56.790 517 2.346 6 3.455 420.800 27 322. Perumahan/perkantoran 44 197. 1 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI YANG TELAH DlSETUJUI PEMERINTAH MENURUT BIDANG USAHA. alih status daD yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984 7.071. 2.008 14. B a Ii 78.728 3 82 234.719 202 343.944 1 38 82.432 Keterangan: 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek don investasi berasal dari proyek baru.622 17 151. Pertanian IPeternakan 167 580.342 6 22. PMA yang telah disetujui Pemerintah sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencapai sebanyak 795 buah proyek dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 14.180 718. Sumatera Selatan 79.899 67 263.699 279 1 25.255 47.347.673 38 194. D1 Yogyakarta 26.299.435 92. Sulawesi Selatan 34.273 19.257 192 3.153 223 769. Lampung 121.212 3 15.152 48 411.248 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru. Sebagaimana dapat diikuti pada Tabel VII.692 18 296.064 18 167.593.990 985 5.099 26 9.000 2 -26.800 112 232.746 491.053 7 53.2.788 6 198.996 102 852.175.202 53 114. Jawa Barat 3.814 1 12.350.099 7 8.117 8.980.634 368 1.252 13 214. Pertarnbangan 27 145. Kalimantan Timur 196 854.296 2 6.623 4. Kalimantan Selatan 60 180. M a I u k u 48. Sulawesi Tengah 24 67.746 6 11. Perindutrian 2.147 118.651 2.632.857 9 54.590 40 160.715 3 32.828 7 466.3. Bengkulu 14 18.794 10 44.304 6 147.068 36 730. Sulawesi Tenggara 23.863.320 254 5 11.325 46.4 persen dari rencana investasi sampai dengan bulan Agustus 1984.383 51 3. Prasarana 9 21. Usaha-usaha lainnya 29 49.2 juta.690 Tabel VII.923 6 85.585 20.663 107.600 1.492.229 75 8.954 2 1.3 persen dari seluruh rencananya.274 13.145 7.148 215 2.968 48.435 4 1.1984/1985 1) Lokasi usaha 1968 .950 15 63. D1 Aeeh 303.809 11 73. DK1Jaya 885.027 1 1.807 6 316 362.289 4.995 3 716 78 855.042 6 464.119 17. Perkembangan proyekproyek PMDN yang telah disetujui Pemerintah menurut lokasi usaha dapat diikuti pada Tabel VII.742 66 213.263 249.466 276. Perikanan 33 48.774 124 1. Jumlah tersebut sudah termasuk proyek yang mengadakan perluasan/penambahan modal.988 10 43.815 2 27.736 35 92.811.831 22. sektor perindustrian merupakan sektor yang Departemen Keuangan RI 151 .303 4 31 70.358 232.413 33.862 1.1 00 29 118.491 502 4. lrianJaya 333 -1 3.329 318 57 1.460 4 44.777 16 196.512 838 2.434 1 52 168.622 18. alih status dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984.836.795 19 81.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 atau 64.953 10.260 1.1984/1985 1) 1968 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1968 Bidang Usaha Jum1ah Modal Jumlah Modal Jum1ah Modal Jumlah Modal Jumlah Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek (Rp juta) Proyek 1.257 195 3. Kalimantan Tengah 104 157.329 315 6.178.509.743 3 14. Sulawesi Vtara 145.954 692.5 juta atau 43. 1968 .665 43 655. Jawa Timur 446 952.087 223 1.317 18 139.663 68 307.666 40.471 11 31.948 6. Kalimantan Barat 141. Jam b i 27. setelah diperhitungkan dengan proyek yang mengundurkan diri atau dibatalkan dan yang melakukan pengalihan status dari proyek PMA menjadi proyek PMDN.984 1 5. Nusa Tenggara Barat 3.362 10.800 54 5.980 173 4.2.904 7.109 26.259 20.540.724 18 194. Perhubungan/Pariwisata 275 404.705 89.684 1 8 46.575 122.579 47 10.250 13.432 Realisasi 3) ( Rp juta ) 693.299. Tenaga listrik 1 418.879 1.161 15.472. perluasan.947 4 1.098 97 154.541 54 49. Modal (Rp juta) 1. Tab e I VII.891 1 65.593.689 9.261 157.689 9.575 6.913 234.220 28 521.370 57 250. Nusa Tenggara Timur 7 15.1981/1982 1982/1983 1983/19842) 1984/1985 1) 1968 .203 93.517 79 393.905 2.922 3.736.1984/1985' Realisasi 3) Jumlah Modal Jumlah Modal Modal Modal Jumlah Modal ( Rp juta) Jumlah Jumlah proyek (Rpjuta) proyek (Rpjuta) proyek (Rpjuta) proyek (Rp juta) proyek (Rp juta) 781 1.585 1 27 40.847 16 829 3.003.387 2 4.347 94 409.632.800 8. Sumatera Vtara 336.026 13 159.352 26 113.017 114 433.332 20.991 49.041 93. Realisasi penanaman modal asing sampai dengan bulan Maret 1984 mencapai US $ 6.709 9.919 9 144.275 52 1.428 6 38. 1968 .522 2 6. Jawa Tengah 1.915.941 329 7.575 4.776 6 88.868 4 21.037.106 8 892.791 20.101 3 77 112.326 24.626 7 5. Kehutanan 481 1.523 8.662 11 81.078.673 15 206.395 95" 128. Ri au 79.211 4 159.732 31 460.796 481. perluasan.275 4.375 13 445.202 314.024 45 113.394 11.846.337 43.263 2 -2.994 23.499 87.949.

Jawa Tengah 21 233.4 359. 1967 -1984 / 19851) 1967 .500 -1 17.543 2.045 497 11. perluasan.6 25.6 24. Pertambangan 10 1.715 14.053 -2 14.550 12.932 2.1 776.2 11.L Yogyakarta 3 8.451.317 96.3 juta dengan 54 proyek.490 -1 2.654 -1 3.5 -3 7.5 6.383 52.499 24. Beberapa Daerah Lainnya 45 1.551 -1 5.010 1 9.6 6.PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DlSETUJUI PEMERINTAH MENURUT BIDANG USAHA.597 1.438 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek daD investasi berasal dari proyek baru.383.554.241 Lokasi Realisasi 3) Modal (US S juta) 869.7 524.3 PROYEK .4 54.6 9. B a 1 i 5 47. dan sektor perhubungan/pariwisata sebesar US $ 421.112.199 36.613 63.215 8.497 -5 -3 16. Perhubungan/Pariwisata 31 352.479 6.086 -1 8.939.845. Sulawesi Selatan 6 28.737 5.360 74.7 65.241 6. Peri k a n a n 24 147.026 -2.656 64.773 41.413.001 130.910 1 -2 7.405 969. Bengkulu -10.289.017 237.430 247.691 -24.736 -4 *) Jasa..630 -27.50 12 2.249 3.899 765. Kalimantan Barat -57. yaitu berjumlah US $ 3. Sumatera Barat 4 55.433 19.393 9.641 -2 -2 13.625 2 34.672 8. baik dalam hal jumlah proyek maupun nilai rencana investasinya hila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.279 652.444.ngan bulan Maret 1984 Tabel VII. Kalimantan Timur 22 235. Realisasi PMA yang terbesar sampai dengan bulan Maret 1984 adalah sektor perindustrian.655 665.182 3. Sulawesi Utara 3 77.829. D.3 5.8 3.404 -1 -13.1984/1985 1) 1983/1984 2) 1984/1985 1) 1967 .312 294.950 57.518 368.845.086 250.483 -2 1 27.944 -87.6 57.915.2 1.449 4.7 381.646 -2 LUARJAWA 420.1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1967 .000 53 235. Ria u 23 320.8 125. Sulawesi Tengah 6 78.385 120 -1 5.1 -8 -1 -3 4.1984/1985 1967 . sektor jasa.810 7 66.7 228.740 -4 1 10.848 57 395.916 78. DKIJakarta 282 1. Jasa lainnya *) 51 362. Lampung 8 85.535 32.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 paling banyak menarik minat para investor. Nusa Tenggara Barat 1 3.855 10.370.771 1. aIih status PMA ke PMDN dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai d.823 1.4 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DISETUJUI PEMERINTAH MENURUT LOKASI USAHA.405 1 11.627 1.4 253.3 85.577 -1 38.4 persen dari seluruh nilai realisasinya.470 1.373 1.392 -12.472.463 1 -3.937 -1 -2 -1 20.9 7.4 juta dengan 28 proyek. Jam b i 5 28.9 -1 6.70 333.440 1.936 18 997. IrianJaya 15 309.893 -6. perluasan. Nusa Tenggara Timur 2 3.394.655 21.438 736.2 40.3 -4 Jumlab 787 10. Perindustrian 477 7.1981/1982 1982/1983 Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal Jumlah Modal proyek (US S ribu) proyek proyek (US S ribu) proyek proyek (US S ribu) (US S 294 178 22 2 67 5 45 4 20 6 3 13 5 14 16 5 3 2 3 5 6 6 3 16 45 788 3.731 -74.50 JAW A 656.658.983 6 9 4 3.934 -1 -5 239.500 28 421.519 -14.000 -5.394.932 843.370. Kalimantan Selatan 18.135. Adapun sektor-sektor lain yang juga cukup dominan adalah sektor pertambangan dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.874 24 162.307 22.597 795 14. Sumatera Utara 46 1.9 100.836 1.276 70 195.915. Sulawesi Tenggara 3 29.4 -3 -1 -2 3.443 160. Konstruksi 63 93.248 504.983 6.L Aceh 6 435.499 -1 25.2 134.00 15 2. Tabel VII.1984/1985 ReaJisasi Bidang usaha JumIah Modal Modal Modal Modal Jumlah Modal Modal Jumlah Jumlah Jumlah Proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) (US $ juta) proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) Proyek (US $ ribu) 1. a1ih status daD yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) SampaidenganimlanMaret 1984 Departemen Keuangan RI 152 . perumahan/perkantoran sebesar US $ 659.865 120.160 JUMLAH 787 10.346 -5.658.970 3.828 1 26. Kalimantan Tengah 17 125.664. Kehutanan 69 582.030 340. perubahan. Mal u k u 7 46. Jawa Timur 70 520.224 -10. Pertanian 59 239.192.655 20.924 29.160 14.472.916 -1 23.250 54 659.jasa lain + Perumahan/Perkantoran 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru.937.7 -1 5.100 77.451.672 3 11.850 4.5 331.917 15. Perdagangan 3 11.172 67.0 juta atau 59.496 -4.359.422 9 1. Sumatera Selatan 14 73. Jawa Barat 159 2.052 7 15.470 14 -9 -4 736.227 123.593 29.136 4.700 491. perubahan.893 30.977 5. D.4 juta meliputi 9 proyek. 1967 .956 -1 -9.5 0.693 8.

810 16.832. Perancis 16.40 20.795 -500 25.2 205.576 4.5 PROYEK-PROYEK PENANAMAN MODAL ASING YANG TELAH DISETUjUl PEMERINTAH 1967-1981/1982 Negara I. maka sejumlah 563 proyek atau 71. Amerika Serikat dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.675 2. maka jumlah investasi PMA yang terbanyak juga berlokasi di pulau Jawa.876 897 12.240 13.719 13.3 172. Canada 3. Nilai rencana investasi untuk ketiga wilayah tersebut masing-masing adalah sebesar US $ 4.599 12.178 174.602 -2.300 25. alih status dan yang dibatalkan/mengundurkan diri 3) Sampai dengan bulan Maret 1984 Seperti halnya dengan PMDN.963 165. Malaysia 9.686 111. Singapore 8.175 15. Sebagaimana terlihat pada Tabel VII.5 677.244 130.269 7. Jepang 4.263 -15.945 143.507 -1.710 2.6 219. dan 33.895 1.80 93. Jerman Barat 19.954 58.652 7.230 167.694 16.7 8.073 101.550 96.353 -776 802. Departemen Keuangan RI 153 . dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 8.593 -12.746.0 persen dari seluruh rencana investasi PMA.241 900 123.016 2.5 juta meliputi 16 proyek (Tabel VII. Hongkong 6.047 31.073 15.8 juta. Italia 17.197 37. Taiwan 7.455. yang berarti 26.900 139. 1967 1982/1983 1983/19842) Jumlah proyek 10 2 -2 -1 -1 -1 1 -3 2 1 1 3 Modal (US $ ribu) 62.5 12. perluasan.8 4.359.855 1. Selain itu beberapa negara lain yang juga cukup menonjol adalah Hongkong dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 1.035 139.470 MENURUT NEGARA ASAL. US $ 3.150 - -4 -1 -1 -2 -1 2 2 -1 - 62.674 10.8 juta dengan 45 proyek.962 3.052 5.511 72.612 283.105 -3. Selanjutnya bila ditinjau dari segi besarnya nilai rencana investasi untuk tiap-tiap propinsi.977 -16.679 1984/1985 Jumlah proyek 71 3 210 18 121 4 29 10 6 7 35 2 16 5 9 42 27 51 18 1 6 2 1 3 Modal (US $ ribu) 1.4 juta meliputi 71 proyek.178.792 79.6 102. dan Belgia dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 926.364 Jumlah proyek -3 -1 -1 -5 -1 -1 -2 -1 1 -2 -1 3 5 1 -1 1 -1 1 - .958 10.272 762 61.3 166.815 414.241 6472. perubahan.5 14.5 1) Sampai dengan bulan Agustus 1984 2) Jumlah proyek dan investasi berasal dari proyek baru. DKI Jakarta dan Sumatera Utara merupakan daerah yang cukup menonjol. India 11.694 22.569 -908 9.160.653 -2.7 1.597 787 14.393 10.840 76. Demikian pula dari segi negara asal investor. Switzerland 21.757 172. Lichentein 26.635 33. Brunei 24. Korea Se1atan 5.014 352.919. Be1gia 14.266.919. Philipina 10.006 1.770 136.760 266.978 -5.297 146.653 2.3 196. Amerika Serikat 2.5 2.2 5.4 35.9 juta atau 59.000 10.351 48.594 667.361 3.883.777 362. 4.733 4.432 - 3 79 8 787 12 2.190 28. Negara Lainnya JUMLAH Jumlah proyek 72 3 205 18 127 5 34 14 8 7 36 2 16 4 9 1 44 24 44 15 6 3 4 2 76 8 Modal (US $ ribu) 456.004 1.524 103.460 23. Swedia 22.915.021.611 45.733 3.810 38.554.558 272.0 juta dan meliputi 121 proyek.4 107.678 Realisasi Modal ( US $ juta) 582. Netherland 18.021.646 112.000 5.8 107 21. maka Jawa Barat.000 -12. Jepang merupakan negara yang paling besar melakukan investasi di Indonesia. Jepang telah membangun 210 proyek dengan nilai rencana investasi sebesar US $ 4.883.392 442. rencana investasi berlokasi di pulau Jawa.698 19.413.7 persen daTi jumlah proyek yang ada. Denmark 15.727 29. dan US $ 1. Australia 12.800 12.937.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.5 22 30.8 0.674 38.000 -2.276 47. Gabungan Negara 28.552 482.780. Panama 23.1984/1985 1) 1) Jumlah proyek 2 Modal (US $ ribu) 17. Norwegia 27.079 17.1 3.892 7.2 2.472 201. Inggris 20.384 45.095 15. 5). Spanyol 25.1 juta dengan 294 proyek.244 614.307 900 926.4 persen daTi 788 buah proyek PMA.507. New Zealand 13.370. Sampai dengan bulan Agustus 1984.066 7.4 Modal (US $ ribu) 484.1 juta meliputi sebanyak 178 proyek.2 persen dari jumlah keseluruhan.492 - 4.807 71.736 -8 -4 736.632 593.

3. sektor perkebunan. pengurus.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. serta pengusaha industri rumah. sektor pertanian. Sementara itu agar koperasi-koperasi primer dapat memainkan peranannya dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sehubungan dengan itu maka pembinaan kelembagaan koperasi diarahkan untuk meningkatkan penghayatan terhadap fungsi koperasi bagi setiap anggota. maka selain terus ditingkatkan pembinaan. pengrajin yang menggunakan peralatan tradisional. khususnya yang berpendapatan rendah. sektor perlistrikan desa. maupun teknis. serta mempertinggi kemampuan para anggota dan petugas koperasi dalam berkoperasi. Dalam Pelita III peningkatan dan pengembangan dunia usaha pada umumnya dan koperasi khususnya. sehingga mampu menjadi pusat pelayanan kegiatan perekonomian pedesaan yang mandiri. Untuk lebih memperkok6h kemampuan KUD dan koperasi primer maka dilakukan suatu kerjasama yang lebih erat. baik dengan koperasi primer lainnya maupun dengan usaha-usaha bukan koperasi di wilayah atau di daerahnya masing-masing. Dalam hubungan ini koperasi merupakan salah satu wahana utama dalam membina kemampuan golongan ekonomi lemah. manajer dan pembantu manajer dalam mengelola koperasi sesuai dengan tugasnya masing-masing. serta meningkatkan Departemen Keuangan RI 154 . yang meliputi pedagang kecil. Hal ini diharapkan akan meningkatkan partisiposi dan kesediaan anggota antara lain untuk mengikuti rapat tahunan para anggota. mendorong pembentukan dan pengembangan unit-unit organisasi. Dalam rangka pengembangan usaha koperasi/KUD tersebut. sehmgga pada gilirannya dapat memetik dan menikmati hasil pembangunan guna menaikkan taraf hidupnya. Dewasa ini KUD dan koperasi primer antara lain telah mampu melayani kepentingan anggota. sekaligus memajukan usaha anggotanya di berbagai sektor. tatalaksana dan pengawasan. sektor industri. sektor perkreditan dan sektor pengangkutan. maka selama Pelita III telah dltingkatkan pembinaan kelembagaan koperasi yang mencakup organisasi. juga telah diberikan sarana dan prasarana antara lain berupa bantuan permodalan serta latihan keterampilan baik administratif. seperti sektor perdagangan. pemeriksa. Di samping itu juga dilakukan penyempurnaan organisasi dan tatalaksana koperasi. manajemen dan pemasaran. Pembinaan dunia usaha Pelaksanaan pembangunan ekonomi antara lain diarahkan untuk menumbuhkan peranan dan tanggung jawab masyarakat pedesaan agar secara aktif ikut berperanserta dalam pembangunan desa. yang pada gilirannya akan mempertinggi kemampuan para anggota. rapat pengurus dan badan pemeriksa. antara lain diarahkan untuk meningkatkan kemampuan KUD dan koperasi primer dalam berprakarsa dan berswakarya. Hal tersebut dimaksudkan untuk memantapkan dan menumbuhkan swadaya koperasi/KUD.

Sejalan dengan itu maka dilakukan pula penyempurnaan iklim perkoperasian melalui peningkatan kesadaran masyarakat. serta tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat membebani atau menyaingi kegiatan KUD yang bersangkutan. serta untuk memantapkan pertumbuhan dan pengembangannya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 usaha di masing-masing wilayah koperasi sesuai dengan kebutuhan para anggotanya.791 buah.614 ribu orang pada KUD dan 4. Sementara itu guna meningkatkan kelancaran usaha koperasi unit desa (KUD).0 milyar dalam tahun 1983. Perkembangan jumlah BUUD dan KUD yang menyebar di seluruh Indonesia dapat dilihat pada Tabel VII. sedangkan dalam tahun 1984 telah terjadi peningkatan yaitu menjadi sebanyak 9. yang sekaligus berarti pula bertambahnya kepercayaan masyarakat kepada Departemen Keuangan RI 155 . yang terdiri dari 6.464 buah non KUD.6.327 buah KUD dan 18. tidak boleh melakukan usaha sendiri. berarti bahwa wadah koperasi telah menyebar luas ke hampir seluruh lapisan masyarakat.701 buah yang tersebar di seluruh propinsi kecuali DKI Jakarta. Sedangkan biaya pembinaan yang dilakukan oleh BPP KUD dibebankan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Hasil-hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan Repelita III menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Dalam pada itu jumlah anggota koperasi primer dalam tahun 1983 adalah sebanyak 9. ballman.546 buah KUD dan 19. sedangkan dalam tahun 1984 telah meningkat menjadi sebanyak 25.410 buah non KUD.956 buah.073 ribu orang pada non KUD. yakni 6. Demikian pula halnya jumlah usaha koperasi telah bertambah dari Rp 2. yang beranggotakan tokoh-tokoh yang berada di pedesaan dan atas usul camat setempat. Jumlah simpanan anggota koperasi juga mengalami peningkatan yaitu dan Rp 103. Adapun jumlah KUD model dalam tahun 1984 meliputi sebanyak 3.1 milyar dalam tahun 1982 menjadi Rp 125. mengenai besarnya peranan koperasi bagi para anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya. saran dan nasehat kepada pengurus KUD. Namun BPP KUD tersebut tidak boleh mencampuri kegiatan usaha KUD. serta melindungi KUD daTi hal-hal yang dapat merusak citra dan kelangsungan hidupnya. Tugas daripada BPP KUD tersebut adalah memberikan bimbingan. Kenaikan jumlah simpanan anggota dan jumlah nilai usaha koperasi tersebut menunjukkan meningkatnya partisiposi masyarakat terhadap kegiatan dan kelangsungan hidup wadah koperasi.1 milyar menjadi Rp 2. Dalam tahun 1983 jumlah koperasi adalah sebanyak 24.4 milyar. Dengan meningkatnya jumlah baik lembaga maupun anggota koperasi tersebut.322. maka melalui Keppres Nomor 4 Tahun 1984 di setiap KUD dibentuk Badan Pembimbing dan Pelindung Koperasi Unit Desa (BPP-KUD).290 ribu orang pada non KUD.539 ribu orang pada KUD dan 4.714.

060.214 365.5 6.265 486 5.516. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 4.621 6.60 19.80 519.8 1.325 2) 2) 2) 2) 103.2) 124.6 JUMLAH BUUD DAN KUD SELURUH INDONESIA MENURUT PROPINSI.441 973 3. Jambi 6 40 10 50 5 57 9 24 99 99 99 99 118 34 148 155 163 6.4 638 128 12 19.191.263 185.40 3. Dalam tahun 1984 sampai derigan bulan April 1984.683.118.949 71.90 3.323 Tabel VII.2 548 99 39 19.795 189 1. Bengkulu 8.394 18.20 18. Sulawesi Tenggara 34 40 1 56 1 63 3 73 11 75 11 77 15 79 14 79 37 120 65 140 2 2 2 4 4 24 26 70 120 31 123 25.90 571 113 44 21.5 milyar.00 4.977.019 993 9.791 .334 buah KUD dengan kredit senilai Rp 270.70 624.90 1628.331 1.775 357.7 1. Timor Timur 1 1 10 18 61 14 67 17.40 12. Sumatera Utara 205 261 284 288 297 307 7 311 5 342 350 133 413 114 428 3.8 1. Riau 5.2) . 1969 .00 2831.531.7 milyar.344.2) 533 60 19 25.90 291.081.404 22.679 345 2.4 3.315 15.10 1.638.071.8 678 130 12 23.652 16.201 1.625 220.4 698 105 15 16.159 2.113 3.00 532 60 19 24.991.60 80.50 445.2) .30 333.4 1.90 2.941 17.8 522.184 74.864 22.074. Sulawesi Selatan 228 69 141 172 106 229 68 288 71 302 71 302 71 302 71 302 71 301 71 399 316 417 24.693 16.00 22. 797.892.7 273. Jumlah kredit candak kulak (KCK) melalui koperasi selama pelaksanaan Repelita III menunjukkan peningkatan yang cukup berarti.2) .2) 1) Angka sementara Bidang perkreditan juga mengalami perkembangan.7 milyar.2 781.591 1.054 222.9 15. Propinsi BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD BUUD KUD 1.639.20 802.8 593 113 31 17.844. yakni apabila dalam tahun 1982 jumlah koperasi yang ikut menyelenggarakan KCK baru sebanyak 3. Kalimantan Timur 2 2 6 4 4 6 4 10 1 26 1 26 1 27 153 158 43 206 21. Nusa Tenggara Barat 9 5 9 5 2 12 24 16 25 16 25 16 25 16 9 92 57 66 115 145 144 147 15. Jawa Tengah 206 282 118 402 93 437 88 454 80 471 86 492 86 492 67 522 67 521 584 586 588 599 11.3 1.2) .50 20.286 buah KUD dengan perputaran kredit sebesar Rp 145.970 22.139.1984 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1) No.766.10 4. dengan perputaran kredit senilai Departemen Keuangan RI 156 .235. Jawa Timur 13.766.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 koperasiJKUD dalam menyimpan dan mengelola uang anggotanya.430 156. yaitu hila dalam tahun 19811 1982 jumlah KUD penerima kredit yang dijamin oleh Perum PKK (Perusahaan Umum pengembangan Keuangan Koperasi) baru sebanyak 7.873.741.90 284. Sulawesi Tengah 6 7 12 15 9 20 18 17 69 17 69 17 91 92 90 19 126 83 127 23.70 9. Nusa Tenggara Timur 23 45 23 51 25 55 15 71 8 84 8 84 9 92 57 66 8 116 8 101 50 110 16. Sumatera Barat 57 100 53 133 7 185 21 185 7 232 7 232 7 232 4 235 4 234 233 276 274 281 9 11 12 11 11 22 5 57 7 47 7 47 7 48 7 47 7 47 33 170 113 178 4.344.261 18.10 513.678.067.450 20.80 14.0 2) .788.326 4.60 331.213 2.7.321 6. Kalimantan Barat 2 32 4 44 52 78 80 80 154 154 1 26 1 203 92 204 18.750.L Aceh 27 22 31 48 27 57 7 83 12 103 12 103 12 103 12 103 843 48 296 15 298 2. D.542 1) Angka sementara Tahun 1969 1970 1971 1912 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1) Primer 13. B a Ii 5 46 8 52 5 55 61 63 67 2 69 72 72 72 84 81 84 14.888 1.621 buah KUD denganjumlah perputaran kredit senilai Rp 113.430 200.131 buah KUD.50 8.445 15. Sumatera Selatan 12 15 13 20 33 53 48 38 78 36 37 81 21 108 16 144 16 177 16 295 47 310 1 15 25 1 43 49 56 57 66 6 68 103 500 154 115 156 7.60 883.80 13.2) .9 milyar.237. Maluku 26. IrianJaya 5 5 4 2 6 3 10 8 18 8 27 15 27 15 47 30 47 69 78 JUMLAH 1. Jawa Barat 10.714 24.60 14.313 2. Tabel VIl.10 4.7 1.50 6.1984 Jumlah koperasi (buah ) Simpanan koperasi ( Rp juta) Pusat Gabungan Induk Jumlah Induk Jumlah Primer Pusat Gabungan 548 78 8 13.2 634. Kalimantan Selatan 11 47 7 79 5 99 3 106 2 116 2 115 1 117 3 119 130 66 160 110 164 20.104.20 532 60 19 23.6 683 127 15 19.487 3. jumlah koperasi yang ikut menyelenggarakan KCK adalah sebanyak 4.7 655 126 15 23.797.282.276.435 buah KUD dengan kredit sebesar Rp209.933 18.8 1.180 25.003.657 1.50 940.456 22.5 215.623.086 3. Sulawesi Utara 26 4 19 12 20 14 28 15 6 83 1 90 1 90 1 90 105 122 123 32 123 22.097.386.7 JUMLAH DAN SIMP ANAN KOPERASI.8 543 118 31 17.402 1.1 1.935 .7 659 119 15 18. Kalimantan Tengah 7 4 7 19 11 19 11 19 10 39 10 39 4 64 4 64 4 64 8 133 139 19. D1 Yogyakarta 45 10 3 54 57 57 57 62 62 62 61 61 62 61 62 634 13 572 91 570 113 577 116 526 189 526 189 486 231 199 538 48 695 490 731 672 736 12. 1974 .2 1. maka dalam tahun 1982/1983 telah meningkat menjadi sebanyak 11.5 666 137 12 23.20 54.739 701 4. Lampung 20 52 5 83 5 101 112 118 118 118 1 156 147 51 199 87 209 250 342 261 530 267 629 226 682 195 731 195 731 195 731 196 750 132 871 872 994 1.3 675 124 15 16.136 51. Perkembangan jumlah dan simpanan koperasi dapat dilihat pada Tabel VII.521.200 353.

490. jumlah KUD penyalur dalam musim tanam (MT) 1983 adalah sebanyak 3. Beras/gabah yang telah dibelinya kemudian dijual kepada Sub Dolog setempat dengan harga yang telah ditetapkan. Adapun jumlah KUD yang ikut serta dalam pengadaan beras untuk stok nasional dalam tahun 1982/1983 adalah sebanyak 3.7 ribu ton.419. Sehubungan dengan itu dalam tahun 1982/ 1983 sebanyak 1.9 ton seharga Rp 84.1 ribu ton seharga Rp 8.357 ton dan 3. 229.7 ribu ton.054 buah KUD dan 7. 8 ton dan 306 tOll.609.036. sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlah KUD adalah sebanyak 3.107 buah KUD telah menyiapkan pengadaan beras untuk posaran umum sebanyak 64. pupuk maupun obat-obatan telah meningkat masing-masing menjadi sebanyak 3. Dalam tahun 1982 telah terbentuk koperasi pengelola cengkeh sebanyak 138 buah.5 milyar: dalam tahun 1983 masing-masing telah meningkat menjadi 184 buah KUD. dan jumlah cengkeh yang dapat dibeli seluruhnya sebanyak 24.4 ribu ton seharga Rp 7.191 buah.5 milyar.9 ribu ton seharga Rp 5. koperasi yang ikut memasarkan kopra berjumlah 126 buah KUD.078 kg/liter obat-obatan.6 ribu ton beras.2 ribu ton. Sedangkan pemasaran palawija yang meliputi jagung. serta penjualan kopra sebanyak 50. dan 2. Dalam tahun 1983/1984 sampai dengan November masing-masing telah mencapai 46.5 milyar.996. khususnya pupuk dan obat-obatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Rp 12.6 ribu ton.519 buah KUD dan 69.550 kg/liter.4 ribu ton beras. sedangkan sisanya dijual ke posaran umum.391 buah dengan beras sebanyak 851.5 milyar.0 ton dan 308. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Mei 1984 masing-masing telah mencapai sebanyak 2. Dalam tahun 1983 jumlah Departemen Keuangan RI 157 . Di bidang penyaluran sarana produksi pertanian. Dalam rangka melaksanakan tugasnya. dengan jumlah beras yang disediakan sebanyak 1.6 milyar.9 milyar.054 buah dengan jumlah beras yang tersedia sebanyak 1. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Mei 1984 jumlah KUD adalah sebanyak 2. setiap KUD wajib membeli gabah/beras dari para petani dengan harga dasar yang berlaku. Di bidang tataniaga cengkeh.699 buah.932. pembelian kopra sebanyak 54. hasil usaha yang dilakukan oleh KUD sampai dengan akhir Pelita III telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Sementara itu kegiatan koperasi/KUD di bidang perkebunan rakyat yang meliputi kopra.0 ton. Dalam tahun 1982. kedelai dan kacang hijau dalam tahun 1982/1983 berjumlah masing-masing sebanyak 23.9 ribu ton.332 buah yang menyalurkan bahan-bahan sebanyak 251. Kemudian dalam MT 1984 baik jumlah KUD.237 ton pupuk.6 ribu ton seharga Rp 5. cengkeh dan tebu rakyat nampak semakin meningkat. yang meningkat dalam tahun 1983/1984 masing-masing menjadi 1. dengan jumlah kopra yang dibeli sebanyak 29.5 ribu ton. sedangkan jumlah kopra yang telah terjual mencapai 27.

7 milyar yang disalurkan oleh 714 buah KUD.3 milyar.286 orang.2 milyar. Dalam tahun 1983 jumlah kredit mencapai sebesar Rp 211.4 milyar.9 milyar. serta pemasaran hasil temak. Kegiatan koperasi di bidang peternakan meliputi pengadaan bibit sapi unggul impor. dalam tahun 1983 jumlahnya telah meningkat masing-masing menjadi sebanyak 67 buah.0 milyar. dengan jumlah anggota sebanyak 12.4 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 koperasi telah bertambah menjadi sebanyak 264 buah KUD.900 ton. dengan jumlah Departemen Keuangan RI 158 . sedangkan dalam tahun 1984 sampai dengan bulan April 1984 jumlah kredit telah mencapai sebesar Rp 199. Perkembangan usaha koperasi di bidang perikanan rakyat selama Pelita III telah dapat menunjukkan hasil yang cukup baik.277 orang. Kredit yang disalurkan KUD merupakan kredit yang diperlukan oleh petani tebu untuk penggarapan tanah. penyediaan makanan ternak. dan jumlah kedelai yang dapat disalurkan sebanyak 26.292. dan 53.175. dengan pembelian cengkeh seluruhnya sebanyak 20. Pemberian kesempatan kepada KUD untuk mengelola tebu rakyat intensifikasi (TRI) dimaksudkan untuk melayani para petani tebu.380. terutama dalam hal perkreditan dan pemasaran gula tebu yang dihasilkannya. dengan kredit yang disalurkan kepada petani sebesar Rp 179. penyediaan obat-obatan ternak.7 milyar. pembibitan. Penggabungan industri kecil yang memproduksi tahu dan tempe ke dalam wadah koperasi tabu dan tempe Indonesia (KOPTI) telah menjadi kenyataan. jumlah koperasi petemakan baru sebanyak 469 buah.1 ton seharga Rp 150. Dari cengkeh yang tdah dibeli tersebut. dan biaya angkut dari areal penebangan ke pabrik gula. Dalam tahun 1982.200 ton. 18. koperasi yang menampung sebanyak 651 buah.6 ton kedelai. Dalam tahun 1982 jumlah KOPTI baru mencapai sebanyak 36 buah.788. dan kredit yang disalurkan kepada petani sebesar Rp 241. dengan jumlah anggota sebanyak 120.9 juta. jumlah koperasi perikanan baru sebanyak 585 buah. 133.130. Dalam tahun 1983/1984 jumlah gula telah mencapai sebanyak 652.6 milyar.5 milyar yang disalurkan oleh 675 buah KUD. penebangan.802 orang dan modal senilai Rp 70. ditampung oleh 621 buah KUD.4 ton seharga Rp157. Dalam tahun 1982. Rp 1.5 ton seharga Rp 152. sedangkan dalam tahun 1983 masing-masing telah mencapai 615 buah. yang terjual dalam tahun 1982 berjumlah sebanyak 18. Jumlah gula tani yang dapat ditampung KUD dalam tahun 1982/1983 adalah sebanyak 556.414 orang dan modal senilai Rp 71. sedangkan yang terjual dalam tahun 1983 mencapai sebanyak 19.2 ton. modal sebesar Rp 743.

dengan jumlah anggota sebanyak 65.000 ekor. Keberhasilan koperasi di dalam membantu para anggotanya telah membuat para pengrajin di daerah-daerah pedesaan terangsang untuk bergabung di dalam wahana koperasi.6 juta liter. dan dengan nilai usaha sebesar Rp 210.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 anggota sebanyak 45.362 orang.969. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 173 buah dengan jumlah anggota sebanyak 41. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 161.7 juta liter. Demikian juga jumlah koperasi susu yang dalam tahun 1982 baru mencapai 162 buah dengan anggota sebanyak 38.630 peternak. yang dilakukan melalui pemanfaatan tenaga listrik yang dibangkitkan dan disediakan oleh PLN.2 milyar.6 persen dari seluruh produksi susu dalam negeri yang berjumlah 116.046 juta.281 orang dan nilai usaha sebesar Rp 40. Adapun jumlah sapi betina yang dimiliki oleh anggota koperasi yang dalam tahun 1982 baru sebanyak 140. Dalam tahun terakhir Pelita III. Dalam tahun 1983 jumlah susu yang ditampung oleh koperasi telah meningkat menjadi 130 juta liter atau 89. koperasi angkutan sungai dan penyeberangan serta koperasi angkutan laut.536 orang. Selanjutnya dalam tahun 1983 jumlah koperasi telah meningkat menjadi 675 buah. dan dengan usaha senilai Rp 208. yang terdiri dari 5.550 buah kendaraan angkutan darat dan sungai.383 orang.1 juta liter atau 92. jumlah koperasi di bidang perlistrikan desa meliputi 118 buah yang tersebar di daerah Jawa Barat. Dalam tahun 1982.8 juta. dengan jumlah anggota sebanyak 29. dan memiliki kendaraan sebanyak 7. Jawa Timur. Keberhasilan proyek perintis perlistrikan di daerah pedesaan yang dikelola oleh koperasi. Beberapa koperasi telah berperan sebagai distributor listrik di pedesaan.201 orang. secara bertahap telah pula merangsang masyarakat pedesaan untuk menjadi anggota koperasi perlistrikan desa.732 orang. Pembinaan koperasi yang menangani jasa angkutan juga terus digalakkan sejak awal Pelita III. Bali dan Sumatera Barat. Sehubungan dengan itu dalam tahun 1982 jumlah koperasi yang mengelola dan mengkoordinir para pengrajin adalah sebanyak 348 buah. dan nilai usaha sebesar Rp 61. Dalam tahun 1983 jumlah terse but telah meningkat menjadi 298 buah yang tersebar di 20 propinsi.9 persen dari seluruh produksi susu dalam negeri yang berjumlah 144. yakni mencakup koperasi angkutan darat. beranggotakan sebanyak 59. Sedangkan dalam tahun 1983 jumlah tersebut telah meningkat menjadi 491 buah.1 milyar.802 buah kendaraan angkutan laut. Adapun jumlah susu yang dapat ditampung dan dipasarkan oleh koperasi dalam tahun 1982 adalah sebanyak 108. jumlah koperasi jasa angkutan adalah sebanyak 165 buah yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia. dengan anggota sebanyak 48.352 buah. Jawa Tengah. Departemen Keuangan RI 159 . serta 1.000 ekor.

Selain itu sejumlah 38 buah koperasi di bidang perlistrikan desa telah mampu untuk berswadaya melayani para anggotanya.438 1.375 1.618 1.029 3.825 10.221 175 62 12 17 84 922 3 1970 13. Cengkeh 19. Ikan lout 8. 2. kecuali dalam juta liter untuk susu) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 13.133 1.041 1.237 1.408 1. 7.5 1.961 24. 723 1. Ubi kayu 4. K a pos 1) Angka diperbaiki 2) Angka semen tara 1969 12.140 2. Hal ini terlihat dari meningkatnya produksi bahan makanan sehingga memantapkan usaha swasembada pangan. Namun demikian.546 12. serta meningkatnya ekspor dan berkurangnya impor produksi pertanian.249 2. Lad a 20. Gula tebu 22.491 1.082 1.254 3.917 2. Kacang tORah 7.385 11.478 2.845 15. meningkatnya produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.676 2.700 1.257 704 521 568 783 475 437 469 535 1.509 3.227 1. hal ini berarti bahwa koperasi tersebut selain dapat membantu perekonomian masyarakat kecil di pedesaan.175 498 281 808 421 314 59 29 802 217 1. T e h 18. meluasnya kesempatan kerja yang mendorong tumbuhnya kesempatan untuk berusaha di bidang pertanian.872 2.4 0.194 516 518 541 589 590 522 523 617 680 284 282 290 307 380 341 409 446 424 820 836 889 949 997 1.903 2.831 6 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) 22.876 17.516 1.066 2.469 2.751 2.572 3.504 desa.158 1.769 10 14.575 1. Minyak sawit 14.525 17.095 5.518 1.149 1. Telur 11.6 1980 20.701 4. Perkembangan terse but juga tercermin dari adanya proyek-proyek besar di bidang pertanian yang membantu usaha pertanian rakyat dengan sistem perusahaan inti rakyat (PIR).awit 15. Pertanian Dalam kurun waktu antara tahun 1969 sampai dengan tahun 1983 pembangunan di bidang pertanian yang diarahkan dan dilaksanakan melalui Sapta Karya Pembangunan Pertanian.607 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sampai dengan bulan Maret 1984 jumlah koperasi perlistrikan desa telah mencapai 313 buah.079 653 470 1.015 295 281 302 309 110 93 113 116 40 33 45 56 39 34 40 41 118 106 120 121 1.988 11.690 10.211 2.690 3. Karet 13.724 13.341 1.532 1.651 14.020 701 126 1.031 12.038 135 157 161 141 1.812 1. Inti .208 kepala keluarga pada 1.260 389 267 785 429 309 58 29 778 189 1.607 15.7 7.600 1.276 15. maka akan tampak peranan cukup besar dari sektor negara dalam menggerakkan dan mendorong kegiatan yang bersifat produktif di bidang pertanian.292 10.044 2. Daging 10. Tembakau 21.200 185 64 15 17 78 873 3 T abel VII.230 1.460 2. Kelapa/kopra 16.9 2. disadari sepenuhnya bahwa masih Departemen Keuangan RI 160 .1984 (dalam ribu ton. Susu 12. Bera.185 15.083 2.837 23.601 2 1.902 13.191 12.702 2. serta adanya dukungan untuk pembangunan daerah yang tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam.011 2.186 13.670 506 507 520 549 596 629 671 694 275 297 316 329 86 117 143 170 963 899 1.582 196 214 150 149 160 194 197 223 228 71 51 67 65 70 73 76 91 125 14 13 22 15 15 20 39 21 35 24 18 29 27 23 37 43 46 47 76 79 80 77 82 89 84 81 87 1. telah pula bermanfaat bagi sektor-sektor sosiallainnya.311 1.4.693 1.606 10. Ikan darat 9. Jagung 3.227 1.9 0. melayani pelanggan sebanyak 202.395 455 571 259 78 1. Kede1ai 6. Jenis hasil 1.8 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERTANIAN TERPENTING.237 1.143 4.094 1.759 285 106 39 37 116 1.412 13.163 3.488 12.5 0. telah menunjukkan perkembangan yang positif.1 2. meningkatnya tarat hidup petani.7 40 Bila dikaji kembali hasil pembangunan di bidang pertanian. Ubi ja1ar 5.010 1.9 0. K 0 P i 17.381 2.387 2.183 14.235 5. 1969 .301 12.286 22.318 424 433 389 388 393 401 414 420 430 332 366 379 403 435 449 468 475 486 68 78 81 98 112 116 131 151 164 36 38 35 57 51 58 61 62 72 804 808 845 817 782 856 838 844 898 249 270 289 348 397 431 483 532 642 -94 108 1.433 2.107 748 884 907 1.991 13.319 1.726 2.606 2.

tenaga. komoditi terpadu dan wilayah terpadu.8. insektisida dan bibit unggul secara efektif. Apabila selama Pelita I dan Pelita II pertumbuhan produksinya masing-masing mencapai 4. Pertanian yang tangguh adalah pertanian yang dinamis dan kokoh. Gambaran daripada hasil-hasil pembangunan di bidang pertanian sampai dengan tahun pertama Repelita IV dapat diikuti melalui Tabel VII. Sehubungan dengan itu Pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan dasar pembangunan di bidang pertanian yaitu berdasarkan Trimatra Pembangunan Pertanian. Di dalam pengertian tersebut terkandung makna masyarakat petani yang mampu mengatasi tantangan.3 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1983.9 persen di atas produksi tahun 1982 yang baru berjumlah 22. 7.5 persen per tahun tersebut dimungkinkan karena didukung oleh produksi beras per hektar dalam tahun 1983 yang mencapai rata-rata sebesar 2. yang dapat memberikan umpan batik bagi pengembangan industri dan jasa.7 persen dan 3. hambatan dan gangguan terhadap eksistensi serta kelestarian sumberdaya alamnya. perluasan areal.4. Selanjutnya produksi beras sampai dengan bulan September 1984 telah meningkat lagi menjadi sekitar 24. maka selama Pelita III telah meningkat menjadi 6. sedangkan upaya-upaya yang dilaksanakan untuk menunjang pelaksanaan kebijaksanaan tersebut ditempuh melalui empat usaha pokok yaitu intensifikasi. Di samping itu juga tercermin pengertian rota dan struktur produksi pertanian yang mampu mengikuti dinamika perubahan permintaan industri hilir dan konsumsi akhir. Tataurut kebijaksanaan dan upaya-upaya tersebut semata-mata dimaksudkan untuk tercapainya komoditi pertanian yang tangguh sesuai dengan kadar dan perimbangan yang wajar dalam struktur perekonomian nasional. juga karena tetap dilakukannya penggunaan pupuk. diversifikasi dan rehabilitasi. Kebijaksanaan tersebut meliputi kebijaksanaan usaha tani terpadu.6 ton. Tanaman pangan Produksi beras selama Pelita I. Atas dasar itu maka produksi beras dalam tahun 1983 telah mencapai 23. Pelita II dan Pelita III menunjukkan kenaikan yang mantap.9).5 ton per hektar.7 juta ton atau sebesar 3. yang dalam tahun sebelumnya baru mencapai rata-rata sebesar 2. Tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 6. modal dan teknologi serta sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. serta dapat berperan dalam pembangunan regional dan nasional yang serasi dan seimbang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 banyak masalah yang dihadapi serta diperlukan hasil-hasil yang lebih mantap dan merata. ancaman. serta keberhasilan Departemen Keuangan RI 161 .8 persen per tahun. Hasil dari kenaikan produksi beras tersebut selain disebabkan oleh adanya peningkatan luasareal pallen dalam tahun 1984.8 juta ton (Tabel VII.1. optimal dalam memanfaatkan sumberdaya alam.5 persen per tahun. atau mengalami kenaikan sekitar 4.9 juta ton.

Apabila dalam tahun 1982 luas areal panen yang dapat dicapai baru seluas 8. Kerjasama kelompok petani tersebut diarahkan pada terwujudnya partisipasi dari semua petani untuk menerapkan sepenuhnya Panca Usaha Tani. lusus adalah suatu bentuk intensifikasi yang dilaksanakan oleh petani secara berkelompok sehamparan. Sedangkan pertambahan luas areal panen intensifikasi tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya luas areal panen Inmas seluas 175 ribu hektar atau sebesar 3.I0). yaitu dari 5. Di samping lusus. Peningkatan tersebut juga ditunjang oleh keadaan iklim dan curah hujan yang normal serta adanya perbaikan irigasi.179 ribu hektar.. maupun dalam penggunaannya melalui organisasi pemakai air yang semakin efisien. atau meningkat dengan 77 ribu hektar dibandingkan tahun sebelumnya.222 ribu hektar dalam tahun 1983 (Tabel VII.4 persen terhadap tahun sebelumnya. Departemen Keuangan RI 162 . yaitu dad 6. dalam tahun 1983 meningkat sebesar 8. Pemerintah juga melaksanakan operasi khusus (Opsus) yang merupakan penerapan intensifikasi khusus untuk daerah/lahan tadah hujan yang potensial dan dilakukan dengan lebih menggiatkan baik para petani maupun para petugas penyuluh yang ditunjang dengan penyediaan sarana produksi yang memadai.623 ribu hektar dalam tahun 1983. yang bertujuan memanfaatkan potensi setiap lahan yang memungkinkan.1 persen atau seluas 105 ribu hektar. maka dalam tahun 1983 telah bertambah menjadi seluas 9. maka sejak tahun 1979 Pemerintah telah mengadakan pola kegiatan baru yang telah dikenal dengan intensifikasi khusus (Insus). Sementara itu dalam rangka meningkatkan mutu intensifikasi. yaitu denl!an menyelenggarakan perlombaan antarkelompok intensifikasi khusus.296 ribu hektar dalam tahun 1982 menjadi 1.102 ribu hektar.401 ribu hektar dalam tahun 1983. suatu kenaikan sebesar 1. maka diadakan perangsang.343 ribu hektar dalam ta:.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam mengatasi serangan hama/penyakit.5 persen dari tahun sebelumnya.3 persen. Selanjutnya luas areal panen Bimas yang sebagian besar bergeser ke areal Inmas.047 ribu hektar dalam tahun 1982 menjadi 5.un 1982 menjadi 6. yaitu dari seluas 1. Sedangkan sebagai pendorong agar sebanyak mungkin kelompok tani dapat lebih berpartisiposi dan ikut serta dalam intensifikasi khusus. Luas areal panen yang dapat dicapai sampai dengan bulan September 1984 telah meningkat lagi menjadi 9. Pertambahan luas areal panen tersebut terutama disebabkan meningkatnya luas areal panen intensifikasi sebesar 4. baik perbaikan terhadap saluran tersier.988 ribu hektar.

080 410 638 343 611 370 .382 8.96 2. 10 LUAS PAN EN BIMAS DAN INMAS PADI.202 1975 425 2.135 8.140 13.988 3724 3.249 13.023 5.601 858 3.276 15.872 20.di samping pengkaitannya dengan usaha transmigrasi.130 2.801 hektar.34 2.163 22.369 8.166 800 1.185 15. yang terdiri dari lahan pekarangan Departemen Keuangan RI 163 . Di samping itu penambahan areal pertanian di daerah transmigrasi mencapai 551.8 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 .54 2.623 Usaha ekstensifikasi dilakukan melalui perluasan areal tanam yaitu berupa pembukaan persawahan pasang surut atau pencetakan sawah baru.988 9.934 701 4.284 868 3. Biasa Baru 1969 926 383 1970 803 445 1971 827 569 1972 621 582 1973 662 1. 797 1978 236 1.076 1.67 1.005 9.509 8.170 1974 474 2.258 1976 321 2.403 8.803 9.62 1.179 Produksi ( ribu ton) 12.265 1982 2) 77 1.324 7.516 6.03 2.898 8.219 1983 3) 63 1.38 2.607 15.848 5.169 3.014 8. 9 AREAL PANEN DAN PRODUKSI BERAS..346 619 4.63 2.374 1980 125 1.9 1.338 1) Tidak termasuk Insus 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara In mas Biasa Baru 722 99 571 334 867 525 1.837 23.512 800 2.74 1.613 4.495 8.79 1..103 1977 272 1.Tabel VII. 1969 .102 9.53 1.929 8.65 1.183 14.525 17. Selama Pelita III.724 1979 197 1.788 3.153 2.286 22. 1969 -19831) ( dalam ribu hektar ) Tahun Bimas .637 3.724 13. sawah yang sudah selesai dicetak meliputi 178.343 6.1984 Rata-rata ( ton/ha ) 1.186 6.876 17.701 Tabel VII.69 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Areal panen (ribu ha) 8.603 Jumlah 2.719 hektar dan areal yang sudah ditanami mencapai 153.249 1981 2) 119 1.845 15.961 24.819 669 1.934 hektar.89 1.088 851 2.250 4.360 8.

779 hektar.9 persen. pembinaan kelompok dan himpunan petani.814 hektar.0 persen. Dalam pengembangan produksi pangan. Sementara itu produksi palawija sampai dengan bulan September tahun 1984.605 hektar dan lahan yang. yaitu dari 1.044 ribu ton dalam tahun 1983.095 ribu ton dalam tahun 1983. lahan usaha seluas 377. seperti halnya dengan produksi padi. Selanjutnya Pemerintah juga menyediakan kredit bagi petani untuk Departemen Keuangan RI 164 .235 ribu ton dalan tahun 1982 menjadi 5. Sehubungan dengan itu dari Tabel VII. jumlah petani peserta Bimas dan Inmas telah mencapai sebanyak 43. Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan Bimas palawija. serta penyelenggaraan perlombaan antarhimpunan petani. di samping adanya pembinaan bagi daerah yang telah melaksanakan Bimas palawija serta adanya penyebaran bibit unggul. Kenaikan tersebut antara lain disebabkan adanya pengembangan produksi palawija melalui pusat pengembangan pertanian palawija. atau 66. peragaan.044 orang tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL).5 persen. maka kepada para petani peserta tetap disediakan bantuan kredit untuk pengadaan sarana produksi yang dibutuhkan. yaitu dari 3. dibuka dengan cara swadaya transmigrasi sendiri seluas 75.11. informasi pertanian. Oleh karena peningkatan produksi pangan sangat ditentukan oleh kegiatan para petani. sampai dengan tahun 1983 telah terdapat 14. Sebagaimana terlihat dalam Tabel VII.4 persen dari luas seluruh lahan yang sudah dibuka. Di samping itu Pemerintah juga memberikan pelayanan kepada petani secara kontinyu dengan berbagai sarana produksi dan kredit. maka Pemerintah terus memberikan penyuluhan pertanian agar mereka mampu menggunakan teknologi baru. juga mengalami peningkatan yang mantap apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. baik melalui program intensifikasi maupun dengan program Bimas dan Inmas yang masih memerlukan tersedianya sarana yang cukup. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan September 1984.4 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 seluas 98. sehingga petani dapat meningkatkan produksi pangallo Demikian pula terus ditingkatkan kegiatan kursus tani.071 orang penyuluh pertanian madya (PPM) dan 606 orang tenaga penyuluh pertanian spesialis (PPS) yang tersebar di wilayah kerja penyuluh pertanian (WKPP) di 26 propinsi. Untuk menunjang usaha tersebut. kedelai juga meningkat. atau masing-masing mengalami kenaikan sebesar 7. 3. lahan yang sudah diusahakan penggunaannya mencapai seluas 366. sebagaimana halnya dengan Bimas padi. Dari luas lahan yang telah dibuka tersebut.12 dapat dilihat bahwa produksi jagung meningkat sebesar 57.382 hektar. yaitu masing-masing dari 437 ribu ton dan 606 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 469 ribu ton dan 633 ribu ton dalam tahun 1983.3 persen dan 9.676 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 2. Produksi ubi jalar meningkat dengan 21. Pemerintah juga menyediakan kredit bagi petani untuk pengadaan sarana produksi. Produksi kacang tanah dan.900 orang dengan realisasi penyaluran kredit sebesar Rp 1.

20 39.353.10 51.939 2.429 1.519. 12 LUAS PANEN DAN PRODUKSI PALAWI]A.324 1.30 60.467 1.383 1.557.955 2.471 10.40 2.605.572 3.004.90 41.20 11.301.10 1.70 1981/1982 62.9 Tabel VII.30 33.388 1.50 48.682.031 12.011.151. Oalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan September 1984. 1969 .1984 ( dalam ribu hektar untuk luas panen.633.751 13.50 2.439 1.254 3.20 3.186 13.13.235 5.353 1.292 2.70 29.412 1.330.1984/1985 (dalam jutarupiah dan ribu orang) Realisasi Pengembalian kredit kredit Tanun 1971/1972 9.90 1972/1973 15.095 5.406 1.10 2.30 1979/1980 49.584.381 2. Perkembangan mengenai penyaluran kredit Bimas palawija dapat diikuti dalam Tabel VII.417.10 1973/1974 36.10 9.90 1984/1985 1) 1.690 10.175 2.90 49.435 2.726 13.143 4.509 3.445 2.185 297 Produksi 10.651 14.606 2.70 1983/1984 23.385 11. Tabel VII.1 1) Posisi 30 September 1984 Kredit lomas padi mulai berIangsung MT 1977/1978 Jumlah petani 1.40 1977/1978 62.071.825 2.40 3.470.106.433 2.606 3.567 3.90 563 43.846.30 1974/1975 53.191 12.40 1976/1977 71.433 2.066 2.160 3.60 1975/1976 72.50 1978/1979 60.60 1982/1983 59.538.398 1.903 2.603. 1971/1972 .20 1.282.690 3.546 12.991 4.173.460 2.257 Kacang tanah Luas panen Produksi 372 267 380 281 376 284 354 282 416 290 411 307 475 380 414 341 507 409 506 446 473 424 506 470 1) 508 475 461 437 484 469 419 535 Kedelai Luas panen 554 695 680 697 743 768 752 646 646 733 784 732 810 606 633 666 Produksi 389 498 516 518 541 589 590 522 523 617 680 653 1) 704 521 568 783 1) Angka diperbaiki Departemen Keuangan RI 165 .387 2.815.676 2.353.702 Luas panen 369 357 357 338 379 330 311 301 326 301 287 276 275 220 261 37 Ubi jalar Produksi 2.548.90 3.025 2.917 10.493.469 2.966 Jagung Produksi 2.50 1.391.458.096.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengadaan sarana produksinya.503.260 2.083 2.115.364 1.079 2. 11 PENYALURAN KREDIT BlMAS DAN INMAS PADI.492.594 2. dan ribu ton untuk produksi ) Tahun 1969 1910 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 1983 2) 1984 2) Luas 2.412 Ubi kayo Luas panen 1.501.044 2.4 158.018 1.80 14. dengan jumlah petani peserta sebanyak 8.735 2.626 2.301 12.573.90 3.094 1.095 2. realisasi penyaluran kredit telah mencapai sekitar Rp 0.509 1.314.288.581.211 2.902 13.029 3.740.515.667 2.80 1.468 1.600 orang.410 1.50 64.10 1980/1981 50.011 2.4 milyar.80 42.488 12.194 2.061 3.794.988 11.

6 245.40 1.70 1983/1984 4.10 5.306.60 1982/1983 11.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.9 1) Posisi 30 September 1984 Sejak MT 1978/1979 termasuk Bimas Palawija tumpangsari Tabel VII.206 4.249 4.073.725 3.70 4.90 1974/1975 5. 1969 .70 1976/1977 8.336 4.6 8.7 442.10 1977/1978 6.480.068 2.832 2.117 5.8 77.20 1980/1981 6.215.90 1979/1980 5.889 1.445.325.30 7.6 1973/1974 1.038 3.40 1981/1982 9.1984 (dalam ribu hektar dan ribu ton) Luas panen Tahun 1969 600 1970 641 1971 715 1972 694 1973 676 1974 647 1975 531 1976 459 1977 558 1978 642 1979 660 1980 673 1981 921 19821) 632 1983 2) 787 1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Sayuran Produksi 1.356.348 8.361.204.641 1.861 2.295 2.6 1975/1976 9.517 Luas panen 488 533 554 666 696 614 623 528 445 436 529 541 561 560 618 Buah-buahan Produksi 2.743 2.226 5.332 3.030 Departemen Keuangan RI 166 . 1973/1974 .277.00 4.788.7 235.13 PENYALURAN KREDIT BIMAS PALAWIjA.791 1.917.058.7 146.80 7.5 348.1984/1985 (dalamjuta rupiah dan ribu orang) Ta h u n Realisasi kredit Pengembalian kredit Jumlah petani 143.80 1978/1979 6.893.204.127 2.80 4.191.293 1.7 195 159.8 360.226.709 3.007.7 261.10 5.30 1.40 1984/1985 1) 390 15.833 1.512 4.272 3.906 4.393. 14 LUAS PANEN DAN PRODUKSI HORTIKULTURA.007.215.048.50 5.624 2.731 3.927 1.067 2.30 4.435 3.120 2.

3 313. di samping berperan pula Departemen Keuangan RI 167 .2 31.6 317.9 299.9 550.3 442.7 171.432.209.9 43.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. digiatkan pula peningkatan produksi hortikultura.9 14.2 262.504.10 6.3 24. 15 PENGGUNAAN PUPUK UNTUK TANAMAN PANGAN.410.9 129.7 17.2 43.20 1.254.00 4.00 2.20 11.386.6 1 2.2 99. 1981 1982 1) 1983 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara N 155.075.4 53 53 116 46.9 787.943.2 Sejalan dengan usaha pengembangan tanaman pangan.3 946 1.464.3 95.3 54.90 8. Hal ini mengingat bahwa hasil-hasil produksi hortikultura sangat penting artinya dalam menunjang perbaikan gizi dan pola konsumsi masyarakat.2 354.5 65.3 Tabel VII.4 P205 36.10 973.7 126.268.5 94.2 162.9 6.1 219.00 1. maka selain dilakukan peningkatan produksi beras dan produksi palawija.10 4.9 210. 1969 -1983 ( dalam ribu ton kadar pupuk ) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 .8 13.3 104.30 1.8 84 58 113 121 79 78.060.60 1.1 109.60 1.3 1.80 13.191.8 311.40 Rodentisida 1) 33.7 11.1983 ( dalam ton) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 2) 1983 3) 1) Ekivalen Zinkphospide 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Insektisida 1.7 110. 1969 .00 3. 16 PENGGUNAAN PESTISIDA UNTUK TANAMAN PANGAN.555.3 312 290.4 478.8 1 3 9.7 52.165.982.638.3 K20 1 3.50 4.

Sehubungan dengan itu maka pengembangan produksi hortikultura ditekankan pada pengembangan sayur-sayuran dan buahbuahan di sekitar kota yang pemasarannya dapat lebih cepat.15 dan Tabel VII.3 ribu ton dalam tahun 1983. Meningkatnya penggunaan pupuk dan pestisida tersebut secara keseluruhan dapat diikuti melalui Tabel VII.982. Menjelang akhir tahun 1983/1984.2. Kenaikan penggunaan pupuk terutama disebabkan oleh meningkatnya penggunaan pupuk jenis K20.2 persen dan 80. yaitu dari 2.254. yaitu dari sebanyak 43.7 ton dalam tahun 1982 menjadi 13.3 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 54. maka selama pelaksanaan Pelita telah dilaksanakan berbagai kebijaksanaan dan kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan produksi hasil perkebunan. perkebunan digolongkan atas perkebunan rakyat. 7. namun mengingat bahwa peranan sektor perkebunan yang demikian besar dalam menunjang pembangunan umumnya dan bagi peningkatan sumber pendapatan devisa atau rupiah khususnya.4 ton dan 171.2 ton dalam tahun 1983. Sebagaimana terlihat dalam Tabel VII. perkebunan negara dan perkebunan besar swasta. Walaupun dalam pelaksanaanya dialami banyak tantangan.117 ribu ton dalam tahun 1983. Dalam pembahasan selanjutnya. Tanaman perkebunan Perkebunan merupakan salah satu sektor yang terpenting dalam menunjang perekonomian Indonesia.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam intensitas penggunaan tanah dan tenaga kerja. yaitu masing-masing dari 11.4.1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.9 persen. Hal ini terutama terlihat dari besarnya sumbangan devisa melalui ekspor hasil-hasil produksinya. Sampai dengan tahun terakhir pelaksanaan Pelita III.5 milyar nilai ekspor berasal dari sektor perkebunan. Meningkatnya penggunaan pestisida disebabkan oleh bertambahnya penggunaan pestisida dari jenis insektisida dan rodentisida. Hal tersebut terutama disebabkan karena terjadinya peningkatan produksi sayur-sayuran sebesar 52. Kenaikan insektisida dan rodentisida masing-masing adalah sebesar 24.038 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 3.8 ton dan 94. karena semakin luasnya areal panen dan meningkatnya mutu Insus.16. hasil produksi hortikultura secara keseluruhan sampai dengan tahun 1983 telah mengalami peningkatan sebesar 35. Meningkatnya hasil produksi tanaman pangan sangat erat kaitannya dengan penggunaan pupuk dan pestisida. lebih dari US $ 1. perkebunan rakyat telah Departemen Keuangan RI 168 .14. Selanjutnya perkebunan negara dan perkebunan besar swasta disebut juga sebagai perkebunan besar.8 persen.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

mendapat prioritas utama dalam pengembangan usaha perkebunan. Hal tersebut berdasarkan kenyataan bahwa sebagian besar areal dan hasil perkebunan yang ada selama ini adalah milik dan hasil produksi perkebunan rakyat, yang mutu dan produktivitasnya relatif masih rendah. Oleh karena itu penyuluhan bagi perkebunan rakyat ditujukan untuk meningkatkan pendapatan petani melalui modernisasi usaha perkebunan, pengorganisasian usahapemasaran serta pengelolaannya melalui wadah KUD. Sedangkan pengembangan dan pembinaannya tidak lagi dilakukan secara partial, akan tetapi melalui pola pembinaan terpadu. Pola pembinaan terpadu tersebut dilaksanakan secara menyeluruh, baik secara vertikal yaitu berupa kegiatan penyuluhan, penyediaan sarana produksi dan kredit, maupun secara horisontal yang dilakukan sejak mulai penanaman, pemeliharaan tan am an, pengolahan hasil produksi dan pemasaran hingga pengembangan manajemen. Realisasi daripada pembinaan terpadu diwujudkan dalam bentuk unit pelaksana proyek (UPP), yang meliputi pembinaan untuk berbagai komoditi/budidaya perkebunan, terutama tanaman karet, kelapa, kopi, cengkeh, lada, kelapa sawit dan teh. Selama Pelita III areal tanaman Y.lng telah berhasil diremajakan adalah tanaman karet, kelapa, kopi, teh, lada dan coklat yang telah mencapai areal seluas 306.626 hektar, sedangkan untuk tanaman cengkeh mencapai areal seluas 3.000 hektar. Adapun perkehunan rakyat yang telah dibina melalui UPP meliputi 880 unit dengan areal tanam seluas 2.482 ribu hektar. Sementara itu upaya lainnya untuk lebih mengembangkan perkebunan rakyat adalah dengan menerapkan pola perkebunan inti. Dalam pola tersebut perkebunan besar milik Pemerintah, yakni Perusahaan Negara Perkebunan/PT Perkebunan (PNP/PTP), berfungsi sebagai inti atau pusat pengembangan perkebunan rakyat sekitarnya. Pada gilirannya perkebunan rakyat tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi koperasi perkebunan rakyat. Pengembangan pola perkebunan inti tersebut, yang disebut proyek NES (nucleus estate smallholders) atau proyek perkebunan inti rakyat (PIR) meliputi budidaya karet, kelapa hibrida, kelapa sawit dan tebu. Perkebunan besar dalam NES/PIR tersebut berfungsi sebagai penyuluh, penyalur sarana produksi kepada perkebunan rakyat, pengolah hasil yang berasal dari rakyat/petani dan sebagai pemasar hasil produksinya. Sedangkan perkebunan rakyat hams menyediakan tanah dan tenaga kerja. Sampai dengan tahun 1983, realisasi luas areal hasil pembinaan pola NES/PIR adalah seluas 188.067 hektar untuk jenis tanaman kafer, kelapa sawit dan kelapa. Dari Tabel VII.17 dapat dilihat bahwa berhasilnya usaha pembina an perkebunan rakyat sampai dengan tahun 1983 tersebut ditandai dengan meningkatnya hasil kafer, teh dan cengkeh, masing-masing sebesar 55,6 persen, 47,1 persen dan 37,5 persen apabila dibandingkan dengan tahun 1982.

Departemen Keuangan RI

169

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Dalam waktu yang sarna hasil produksi perkebunan rakyat lainnya seperti lada, tembakau, kopi dan gula tebu juga mengalami peningkatan produksi, yaitu masing-masing sebesar 17,6 persen, 14,4 persen, 8,8 persen dan 2,1 persen. Sejalan dengan usaha dan kegiatan dalam bidang perkebunan rakyat, maka pembinaan dan pengembangan perkebunan besar swasta juga terus ditingkatkan. Hasil produksi usaha perkebunan besar swasta selama ini, khususnya sampai dengan tahun 1983, belum menunjukkan peningkatan seperti yang diharapkan. Hal ini antara lain karena berbagai jenis tanam_n seperti kafer, kelapa dan coklat yang telah diremajakan belum menunjukkan produktivitasnya, di samping masih adanya gangguan hama terhadap tanaman-tanaman terse but. Dalam tahun 1983, produksi kopi mengalami kenaikan sebesar 26,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni dari 5,7 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 7,2 ribu ton dalam tahun 1983. Sedangkan untuk produksi cengkeh dan teh, dalam tahun 1983 masing-masing telah meningkat sebesar 50,0 persen dan 5,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perkembangan selanjutnya daripada hasil produksi perkebunan besar swasta dapat diikuti dalam Tabel VII.18. Sementara itu perkebunan besar negara (PNP/PTP) dalam Pelita III juga telah banyak mendapat perhatian dari Pemerintah. Hal ini dimasudkan agar perkebunan besar negara dapat mengimbangi tuntutan perkembangan dan kemajuan teknologi moderen serta permintaan posaran intemasional. Untuk itu ditempuh serangkaian kebijaksanaan yang ditujukan terutama untuk meningkatkan budidaya pengusahaan tanaman dan bentuk usahanya. Di samping menyangkut segi pengelolaan perkebunan/perusahaan, maka aspek sosial ekonomi khususnya pemberian imbalan kepada tenaga kerja juga diperhatikan sebaik-baiknya. Berbagai kegiatan yang dilakukan di bidang perkebunan negara tersebut ditandai dengan meningkatnya produksi beberapa hasil perkebunan negara dalam tahun 1983, seperti antara lain terlihat dan meningkatnya produksi kafer, minyak sawit dan teh, masing-masing sebesar 4,2 persen, 3,7 persen dan 18,0 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hasil-hasil yang dicapai di bidang perkebunan negara dapat diikuti melalui Tabel VII.19. Dari Tabel VII.20 dapat dilihat bahwa dengan berhasil ditingkatkannya produksi perkebunan dalam tahun 1983, baik perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta maupun perkebunan negara, serta ditunjang pula oleh adanya kebangkitan kembali ekonomi dunia, maka volume ekspor hasil perkebunan telah meningkat pula. Apabila dalam tahun 1982 volume ekspor hasil utama perkebunan secara keseluruhan adalah sebesar 1.763,6 ribu ton, maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 1.990,5 ribu ton, atau suatu kenaikan sebesar 12,8 persen dibandingkan dengan tahun

Departemen Keuangan RI

170

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama didukung oleh meningkatnya volume ekspor minyak sawit, lada dan karet, masing-masing sebesar 33,3 persen, 23,9 persen dan 20,2 persen. Oi samping itu juga disebabkan oleh meningkatnya volume ekspor tembakau, teh dan kopi, masing-masing sebesar 18,3 persen, 7,7 persen dan 6,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Tabel VII. 17 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERKEBUNAN RAKYAT, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Kelapa/ Gula Tembakopra Tebu kau Teh Karet Kopi Cengkeh 220 162 22 220 75 558 11 1.198 170 21 196' 69 15 571 1.147 178 24 221 69 572 14 1.308 196 7 247 74 13 559 1.233 140 14 199 69 22 599 1.335 132 14 250 69 15 571 1.370 144 14 223 74 15 536 1.527 178 13 267 78 17 610 1.513 181 14 352 72 37 584 1.554 206 17 485 68 612 21 1.561 209 17 498 73 616 35 1.630 276 21 1.203 69 715 34 1.765 290 24 1.364 100 642 29 1.707 262 17 1.352 97 585 32 1.592 285 25 1.380 111 910 44

Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1) 1981 1) 1982 1) 1983 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara

Lada 17 17 24 18 29 27 23 37 43 46 47 37 40 34 40

Kapas 2,4 2,6 1,3 1,5 1,1 2,9 2,4 0,9 0,9 0,5 0,6 3 11 17,7 6,1

Tabel VII. 18 PRODUKSI BEBERAP A HASIL PERKEBUNAN BESAR SWASTA, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Ke1apa/ Gula Minyak Tebu sawit kopra Tahun Teh Kopi Karet 1 1969 110 5 9 72 60 2 1970 113 6 9 74 70 2 1971 114 7 10 122 79 3 1972 128 6 7 130 81 4 1973 109 4 10 118 82 6 1974 108 7 11 127 104 5 1975 109 6 10 126 126 5 1976 104 6 11 152 145 5 1977 107 6 11 162 147 21 1978 110 7 15 71 165 21 1979 112 8 16 73 168 33 19801) 120 6 18 84 221 25 1981 1) 127 9 14 116 266 11 1982 1) 125 6 16 72 285 19832) 124 7 16 72 286 11 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara

Inti sawit 13 15 18 17 18 21 24 27 29 22 23 38 41 47 47

Departemen Keuangan RI

171

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986
Tabel VII. 19 PRODUKSI BEBERAPA HASIL PERKEBUNAN NEGARA, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Tahun Karet 1969 110 1970 118 1971 118 1972 121 1973 137 1974 138 1975 137 1976 142 1977 147 1978 162 1979 170 19801) 186 1981 1) 193 19821) 189 19832) 197 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Minyak sawit 129 147 170 189 207 244 271 286 338 367 474 499 533 599 621 Inti sawit 28 33 39 42 46 52 57 56 64 72 85 90 100 110 115 Teh 31 34 37 37 43 40 46 49 51 59 92 68 72 61 72 Kopi 8 9 11 12 6 10 10 10 ]0 10 11 13 16 13 10 Tembakau 9 9 7 5 11 8 8 11 12 13 14 15 9 9 8 Gula tebu 630 603 708 756 293 860 878 902 924 960 1.030 273 220 195 191

Tabel VII. 20 VOLUME EKSPOR HASIL UTAMA PERKEBUNAN, 1969 - 1983 ( dalam ribu ton) Minyak Kopra dan bungkil Tahun Teh Lada Karet sawit Inti sawit Kopi Tembakau 1969 857,5 179,1 42,7 36,1 127,1 5,7 16,7 349,1 1970 790,2 159,2 42,4 41,1 104,3 11 2,6 393,1 1971 789,3 209 48,6 44,8 74,3 18,3 24,2 322,5' 1972 774,6 236,5 51,4 44 107 26,2 25,7 327,1 1973 890,2 262,7 39,2 39,6 100,8 33,3 25,6 282 1974 840,4 281,2 28,5 55,7 111,8 33,6 15,7 252,6 2) 1975 788,3 386,2 21 45,9 128,4 19,6 15,2 329,1 1976 811,5 405,6 25,6 47,5 136,4 20,5 28,8 396,7 1977 800,2 404,6 25,2 51,3 160,4 25,9 30,9 335,9 1978 918,2 412,3 7,3 61,6 222,8 27,3 38 324,4 2) 1979 967,3 437,8 33,1 65,9 230,7 24,9 25,7 381,4 2) 1980 I)' 981 502,9 42,9 74,2 238,7 28,3 29,7 430,1 19811) 812,8 196,4 22,7 71,3 210,6 25,3 34 321,8 19821) 797,6 259,5 6,9 63,7 227 20,2 36,3 352,4 19833) 958,9 345,8 2,2 68,6 241,2 23,9 45 304,9 1) Angka diperbaiki 2) Hanya bungkil kopra 3) Angka sementara

Jenis komoditi 1969 Kare t 220,7 Kopra dan bungkil kopra 20,6 Ko p i 51,3 Tcmbakau 13,8 Minyak sawit 22,2 Inti sawlt 4 Lada 10,4 Teh 9,7 Bunga, biji pala dan ccngkch 1.6 Rcmpah-rcmpah lainnya 4) 3,5 Jumlah 357,8 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 3) Hanya cengkeh 4) Scjak tahun 1980 tidak ada nilai ckspor

1970 260,9 35,1 65,8 11,5 36,5 5.U 2.9 17,3 2.1 4,3\ 441.4

Tabel VII. 21 NILAI EKSPOR HASIL UTAMA PERKEBUNAN, 1969 - 1983 ( dalam US $ juta ) 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1) 222.2 195,9 395 487,3 365,U 535,1 593,8 720,5 1.002,40 1.174,20 835,8 602,1 26,2 17,6 23.6 23,2 28,9 31.2 38.1 35 41,3 52,1 32,4 38 55.4 72.4 77,4 1UI,3 101.1 250 634.0 509,7 655.4 656 345,9 341,7 19,9 30.0 44.9 35,5 37,8 39,2 61,1 59,3 60,3 58,b 53,1 38,9 46.3 42.0 72,5 Ibb,U 158,1 142 192,8 208,3 253,7 254,7 106,9 64,4 5,5 3,7 4.8 8.4 5.1 3,7 5.8 1,5 7.2 8.1 4,4 2,2 24.7 20.5 28.0 24.6 22.8 46,2 65,6 69,8 47,3 58,1 47,2 44,9 28,7 31.4 30,2 43,6 53,1 55 121.0 92,3 91,7 112,7 100.8 89,5 1.8 2.1 1.7 2,5 5.0 9,7 10,9 11.2 10,9 27,9 80,3 0,33) 4.4 3.4 6.5 6,1 3,7 5,6 7,8 9.0 0.3 435.1 419.0 684.6 898,5 78U,6 1.117,70 1.730,90 1.716,60 2.170,50 2.402,40 1.606,80 1.222,00

1983 2) 802,3 46,4 427,3 47,6 111,5 0,4 52 120,4 0,43) L608,3

Departemen Keuangan RI

172

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

Meningkatnya volume ekspor beberapa hasil perkebunan tersebut disertai pula dengan kenaikan nilai ekspor hasil perkebunan dalam tahun 1983. Nilai ekspor keseluruhan dari beherapa komoditi perkehunan dalam tahun 1983, yang terdiri atas jenis komoditi karet, kelapa sawit, kopi, teh, lada dan tembakau, telah mencapai US $ 1.608,3 juta. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 dengan nilai sebesar US $ 1.222,0 juta, maka terdapat kenaikan sebesar 31,6 persen. Gambaran selanjutnya mengenai nilai ekspor beberapa hasil utama perkebunan dapat diikuti melalui Tabel VII.21.

7.4.3. Peternakan Salah satu masalah yang dihadapi di bidang peternakan sebelum Pelita berlangsung adalah rendahnya tingkat populasi ternak dengan perkembangan yang tidak merata. Hal ini antara lain disebabkan karena hampir 60 persen dari seluruh jenis ternak terkonsentrasi di pulau J awa yang justru luasnya hanya sebesar 7 persen dari luas seluruh daratan Indonesia, kecuali untuk jenis ternak babi yang sebagian besar dipelihara secara tradisional di Sumatela Utara, Sulawesi Utara, Bali dan Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu sejak dilaksanakannya pembangunan nasional, kegiatan di bidang peternakan diarahkan kepada peningkatan dan penyebaran populasi ternak, dan sekaligus juga untuk meningkatkan pendapatan para peternak dan memperluas kesempatan berusaha. Sehubungan dengan itu langkah-Iangkah telah dan terus dilakukan terutama dengan penyebaran bibit unggul ke daerah-daerah dalam usaha untuk mengatasi masalah kelahiran dan produktivitas ternak yang rendah, serta peningkatan pemotongan ternak jenis betina. Bibit unggul ternak tersebut disebarkan dari wilayah/propinsi sumber-sumber bibit ternak sapi seperti Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, ke wilayah/ propinsi lainnya yang potensial. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas bibit-bibit sapi lokal, telah dikembangkan usaha pembinaan sumber bibitnya, misainya sapi Bali dikembangkan di pulau Bali, Sumbawa, dan beberapa lokasi di Sulawesi Selatan. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap para peternak sapi Ongole di pulau Sumba dengan jalan mendatangkan sapi jenis unggul dari luar negeri, antara lain seperti sapi jenis Brahman. Sedangkan dalam rangka meningkatkan mutu bibit sapi, maka dalarn tahun 19831 1984 te1ah disebar sebanyak 28.129 ekor bibit sapi. Demikian pula untuk bibit ternak kerb au , karnbingldomba dan kuda, dalarn waktu yang sarna te1ah disebar masing-masing sebanyak 6.452 ekor, 12.910 ekor dan 2.633 ekor. Berkaitan dengan usaha Pemerintah di bidang transmigrasi, bidang peternakan telah ditingkatkan peranannya untuk mendukung usaha pengembangan lokasi baru tersebut. Dalarn rangka menunjang program
Departemen Keuangan RI

173

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

tersebut, sampai dengan Pelita III telah disebarkan sekitar 4.000 ekor dari berbagai jenis ternak, terutarna sapi dan kerbau, melalui dana transmigrasi. Di samping itu melalui dana bantuan Presiden juga telah diimpor berbagai jenis temak unggul seperti sapi jenis Brahman, Santa, Gertrudis dan Bilmon Red yang selanjutnya disebar ke daerah-daerah. Sedangkan untuk penyebaran bibit ternak jenis lainnya yaitu seperti bibit ayam DOC (day old chick) dari Pusat Pembibitan Cisarua juga terus dilaksanakan dan selanjutnya disalurkan ke seluruh propinsi Indonesia. Upaya lainnya yang telah dilakukan adalah dengan teknik inseminasi buatan (IB), yaitu suatu cara perkawinan pada hewan betina dengan alat berupa split pipet (insemination gun) yang telah diisi dengan semen dari pejantan. IB merupakan sarana untuk mengembangbiakkan ternak dengan cepat, teratur dan murah yang dapat memperkecil kemajiran serta tidak perlu memelihara pejantan, sehingga dengan demikian dapat dicegah adanya penyebaran penyakit dari satu hewan ke hewan lainnya sebagai akibat daripada perkawinan. Teknik IB di Indonesia telah dipergunakan sejak tahun 1970, namun baru dalam tahun 1973 dipergunakan semen beku, serta dalarn tahun 1975 dibangun laboratorium yang dapat memproduksi semen beku tersebut di Lembang dan Bandung. Sehubungan dengan ire dapat dikemukakan bahwa apabila se1arna Pelita II baru disalurkan sebanyak 67.000 dosis semen beku kepada 18 propinsi, maka pada akhir Pelita III telah berhasil disalurkan sebanyak 396.817 dosis semen beku untuk keperluan IB ke seluruh propinsi di Indonesia. Tenaga-tenaga untuk menangani pelaksanaan IB tersebut juga telah ditingkatkan, dan dalam rangka meningkatkan keterampilannya sudah banyak yang dikirim ke luar negeri antara lain ke New Zealand. Sebagai hasilnya, jumlah tenaga khusus untuk IB yang selama Pelita II baru berjumlah 295 orang telah berhasil ditingkatkan menjadi sebanyak 595 orang pada akhir Pelita III. Mengingat bahwa persediaan makanan ternak, baik kualitas maupun kuantitasnya, yang berasal dari hijauan makanan ternak masih dirasakan kurang terutama untuk daerahdaerah di pulau Jawa, maka telah dilaksanakan pembinaan terhadap kegiatan-kegiatan penyediaan makanan ternak. Adapun makanan ternak tersebut dapat dibedakan atas makanan hijauan yang terdiri dari rumput, leguminosa dan lain-lain, serta makanan penguat yang terdiri atas konsentrat. Sejalan dengan program penghijauan, maka kini telah dilakukan penanaman makanan hijauan ternak pada daerah/tanah-tanah kritis dan terlantar. Sedangkan dalam hal makanan temak jenis konsentrat, penyediaannya dilakukan oleh pihak swasta dengan pengawasan mutu oleh Pemerintah. Sementara itu di kebun-kebun bibit pusat di Cisarua dan Cisereuh, yang dilengkapi dengan laboratorium pemeriksaan bibit rumput dan bahan rerumputan. telah berhasil dikembangbiakkan jenis rerumputan atau makanan

Departemen Keuangan RI

174

Walaupun selama sepuluh tahun terakhir ini serangan penyakit pada temak pada umumnya dapat diatasi dan dikendalikan. Brucella dan Rabies.000 ribu dosis. Di samping itu juga telah dapat . 20 ribu dosis dan 522 ribu dosis. 2 di antaranya berada di Denposar dan Ujungpandang yang dibangun alas ban_an FAa (Food Agriculture Organisation) dan TJNDP (United Nation Development Program). desa dan kampung sampai ke padang penggembalaan. penyakit jembrana di Bali dan penyakit zoonosa rabies. Selama lima tahun pelaksanaan Repelita III telah dilakukan kegiatan pengamanan ternak dengan mengaktitkan fungsi penyidikan. penyakit mulut dan kuku pada sapi. petugas laboratorium diagnostik dan tenaga vaksinator terus ditingkatkan. 4. dalam tahun Departemen Keuangan RI 175 . -parasit darah (surra.ditanggulangi penyakit asal bakteri antara lain seperti penyakit ngorok. Di samping itu juga telah dibangun 3 buah Laboratorium Penyidikan Penyakit Hewan jenis A di tingkat pusat. Fowl Pox F.000 ribu dosis. dan penyakit kulit menular (scabies). Sehubungan dengan itu. Sebuah balai dibangun di Bukittinggi dengan bantuan dari pemerintah j erman Barat. Dalam hubungan ini telah selesai dibangun dan berfungsi 5 buah Balai Penyidikan Hewan. kader peternak. namun tidak dapat diabaikan adanya beberapa penyakit yang berasal dari virus seperti penyakit tetelo.500 ribu dosis. radang paba dan keluron menular (brucellosis). Dengan demikian akan tercapai upaya dalam mendapatkan rumput alam yang bermutu tinggi di samping usaha budidaya rumput. 13. Guna menanggulangi wahab yang tidak dapat diduga baik mengenai kejadian maupun waktunya. penolakan. pencegahan dan pemberantasan penyakit. SE. Di kebun bibit ditingkat propinsi tersebut. bibit-bibit diperbanyak. masing-masing sebanyak 50. Selanjutnya dari kebun-kebun bibit tingkat kabupaten dan tingkat kecamatan disalurkan kepada peternak di kecamatan. Selanjutnya dalam rangka pencegahan penyakit ternak. Dalam tahun 1983/1984 telah dapat disediakan dan disebarkan vaksin dan obat. penyediaan tenaga penyuluh. Apabila dalam tahun 1982/1983 jumlah tenaga penyuluh petemakan spesialis (PPS) dan tenaga penyuluh peternakan lapangan/demonstrator masing-masing baru berjumlah 368 orang dan 936 orang. maka Pemerintah telah mempersiapkan baik alat-alat ataupun tenaganya.obatan darijenis ND Kumarov.550 ribu dosis. sedangkan 2 buah lagi berada di Medan dan Tanjung Karang yang dibangun alas bantuan dari pemerintah jepang. diamati daya adaptasi dan daya tumbuhnya untuk kemudian disebarkan ke tiap kabupaten. 1. bebesiosis). dan laboratorium jenis B di setiap propinsi serta laboratoriumjenis C di setiap kabupaten.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hijauan temak baru serta memperbaiki jenis yang ada untuk disebarkan ke kebun-kebun bibit di berbagai propinsi. dewasa ini juga telah direhabilitir beberapa karantina hewan serta vaksinasi massal yang\ditangani secara khusus. Anthrax. penyakit antrax.

5 1) Angka dalam ton 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 176 .130 orang.517 6.603 3.284 2.404 11.6 28 1) 3.6 50.5 0.1 1. dalam tahun 1983/1984 juga telah meningkat masing-masing menjadi 313 orang dan 5.1 2.440 1981 6.1 1.6 1.587 3.177 4.1 0.426 23.687 Itik 7.822 2.906 7.5 1.9 24.1 0.620 14.089 21.189 6.2 18. 22 POPULASI TERNAK.7 54.637 1974 6.976 2.5 5.3 0.611 4.1 0.432 2. Selanjutnya jumlah petugas laboratorium diagnostik dan petugas vaksinator yang dalam tahun 1982/1983 masing-masing baru sebanyak 312 orang dan 1.513 2.594 1983 1) 6.2 7.416 12.403 3.4 29.793 6.947 2.906 2.4 0 1.541 18.432 2.182 16.9 0.1 0.7 45 13.436 orang.1984 ( dalam ribu ekor) Tahun Sapi 1969 6.659 7.9 9.4 0.2 28 3.374 3.315 6. dalam ribu ton untuk kulit dan tulang ) Ternak Kulit Sapi Kerbau S api Kerbau Kambing Domba 38.1 2.2 0.4 0.5 0.2 1.6 22.5 2.2 1.4 0.4 0.979 2.4 8 7.457 3.343 Babi 2. Tabel VII.4 2.1 8. 1969 -1983 ( dalam ribu ekor untuk temak.976 2.943 7.996 3.237 1977 6.357 184.132 211.217 1978 6.146 2.382 3.4 193 1) 2.998 3.436 27.7 3.5 2.790 7.330 1979 6.457 2.032 17.987 121.476 63.124 13.891 8.556 197.8 9 0.302 232.125 15.100 98.768 2. 1969 .7 187 1) 3 0.362 3.8 0.6 0.382 107.9 31.516 1982 6.3 0.691 7.8 51.049 8.350 2.014 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 19832) Tabel VII.407 orang.6 0.2 97 1) 3.533 Kambing 7.155 3.6 8.8 0.2 4.1 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1983/1984 telah meningkat masing-masing menjadi 428 orang dan 1.2 5.707 2.124 4.493 114.1 9.312 2.269 7.231 4.627 84.7 0 0 0.438 75.2 2.640 82.362 1980 6.5 0 0 0.902 3.078 22.5 0.415 2.169 3.8 1 59.079 Kuda 642 692 665 693 645 600 627 631 659 615 596 616 637 658 665 704 Ayam 62.098 Domba 2.861 25.286 1973 6.6 9.7 1.9 4.130 1971 6.660 19841) 6.4 0.071 4.804 3.8 Tulang 10.183 3.336 6.976 2.4 0.232 8.380 93.6 0.364 3.447 1970 6.370 10.6 1.5 1.3 0.3 0.488 2.292 2.051 7.878 3.4 0.9 0 0 0.4 0. 24 VOLUME EKSPOR TERNAK DAN HASIL-HASILNYA.2 9.3 1 0 0 2.489 2.677 4.4 2.1 11.245 1972 6.242 1976 6.316 4.9 0 0 1.475 102.538 2.380 1975 6.544 6.1 2.751 1) Angka sementara Sapi perahan 52 59 66 68 78 86 90 87 91 93 94 103 113 140 162 169 Kerbau 2.

20 299.272.80 1973 3.30 3.738.694.10 1.6 1974 7.662. telur dan susu juga menunjukkan peningkatan yang cukup mantap.421.262.843.196.843.80 Kulit Kerbau Kambing 170.248.6 615.412.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.00 698.5 persen.981. 297.24 dan Tabel VII.769. Disusul kemudian kenaikan populasi ternak domba.1 3.0 ribu ton. Apabila dibandingkan dengan produksi tahun 1982 yang masing-masing baru berjumlah 628.974. menjadi 6.307.90 26.046.90 712.40 2.50 485.80 7.2 13. meningkatkan menjadi 4.900.9 1976 3.1 1977 1.2 124.40 7.883.1 626.25 NILAI EKSPOR TERNAKDAN HASIL-HASILNYA. maka populasi ternak jenis sapi.6 14.423.5 172.6 ribu ton.226. 316.134.80 25.20 2.843.30 157.792.922.20 3.691.0 ribu ton dan 142.40 990.8 195.132.966.790.30 Tulang 52. Dari tabel tersebut terlihat bahwa apabila dibandingkan dengan tahun 1982.70 139 11.401.23).752. maka produksi daging.316 ribu ekor.308.30 23.70 22.587 ribu ekor dan 658 ribu ekor dalam tahun 1982. babi dan kuda.80 10.10 Domba 693.30 425.083.20 813.80 7.00 6.985.087.471.3 1.1 2.658. yaitu dari masing-masing sebanyak 4.6 0 JumJah 4.70 1.2 5.822.315.810.30 1975 5.433.677 ribu ekor dan 665 ribu ekor dalam tahun 1983.70 1.2 persen dan 6.30 1.5 255.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.3 1971 1.50 25.222.80 16.90 6.40 19.00 3.60 385.70 398 3.560. Dalam tahun 1983. 140 ribu ekor dan 7.636.4 9.90 26 1978 70. sapi perahan dan kambing dalam tahun 1983 telah menunjukkan kenaikan dari masing-masing sebanyak 6.4 1. 3.6 juta liter.5 590.891 ribu ekor dalam tahun 1982.30 69 18. Sementara itu sebagaimana terlihat dalam Tabel VII.20 41.800.7 persen.998.22.5 2.00 15.049 ribu ekor dalam tahun 1983.25. Hasil-hasil yang dicapai di bidang peningkatan populasi ternak sampai dengan tahun pertama Repelita IV dapat diikuti melalui Tabel VII.60 11.758.949.677.30 109.90 2.516.6 169 105.5 393.3 0 1979 0 0 1980 0 0 1981 0 0 1982 0 0 19831) 0 0 1) Angka sementara Sapi 1.40 7.368.90 147 11.10 7.010. Sejalan dengan meningkatnya hasil-hasil yang dicapai di bidang pengembangan populasi ternak.704. Demikian juga populasi ternak Ryall dan itik menunjukkan kenaikan masingmasing sebesar 7.70 83.660 ribu ekor.50 15.245.582.341.60 22.523.6 652 1.007.193.391.8 1972 2.50 30 14.246.3 535.7 24.4 persen dan produksi susu 21. 162 ribu ekor dan 8.30 3.9 524.926.9 164. 1969 -1983 (dalam US $ ribu) T ernak Sapi Kerbau Tahun 1969 596 251 1970 1.60 7. volume dan nilai ekspor ternak dan hasil-hasilnya tidak lagi mengalami kenaikan bahkan kegiatan ekspor Departemen Keuangan RI 177 .9 juta liter (Tabel VII.00 395.40 1.40 4.186. ketiga jenis produk tersebut masing-masing telah mencapai sebanyak 671.824.594 ribu ekor.026.50 237.80 5.50 154.0 ribu ton dan 117.00 2. 3.1 4.40 Berbagai cara telah dilaksanakan untuk meningkatkan populasi ternak.243.90 398. produksi telur 6.9 1.20 1.30 299.60 1. maka produksi daging telah meningkat sebesar 6.672.231 ribu ekor.

memperluas kesempatan berusaha. maka selama Pelita III telah ditempuh usaha-usaha intensifikasi penangkapan sekaligus pengembangbiakan daTi berbagai jenis ikan dan udang di samping juga dilakukan usaha pengembangan perikanan darat. Sementara itu hasil-hasil yang telah dicapai di bidang perikanan dalam tahun 1983 antara lain tercermin pada produksi ikan yang telah mencapai 2. dan long line. Dengan letak geografis yang ada sella ditunjang oleh iklim tropis sepanjang tahun.120 ribu ton.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ternak sapi dan kerbau telah dihentikan sejak tahun 1979. penggunaan perahu tanpa motor dan alatDepartemen Keuangan RI 178 . serta kulit dan tulang di dalam negeri sebagai akibat dari berkembangnya sektor industri. atau 6.1 juta.4.9 juta. Dapat diketengahkan bahwa besarnya peningkatan produksi ikan taut tersebut terutama karena bertambahnya kapal-kapal perikanan bermotor dan meningkatnya penggunaan alat-alat penangkap ikan moderen seperti jaring jenis gill net.600 ribu ton atau 75. sedangkan sisanya sebanyak 520 ribu ton adalah ikan darat. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan para nelayan. Produksi ikan sampai dengan tahun 1983 telah meningkat menjadi sekitar 2. Namun mengingat bahwa penangkapan ikan memerlukan tatacara yang benar agar pelaksanaannya dapat produktif dan efisien. mempertinggi produksi.5 persen dari hasil keseluruhan.1 persen lebih tinggi dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya yakni sebanyak 1. meningkatkan mutu gizi pangan dan sekaligus untuk meningkatkan ekspor. keadaan tersebut sangat menguntungkan produktivitas dan pengembangan budidaya ikan di Indonesia. Kenaikan produksi ikan tersebut selain disebabkan peningkatan produksi ikan taut sebesar 7.4. Apabila dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 1982 yang berjumlah US $ 25.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan demikian dalam tahun 1983 sebagian besar ekspor hasil ternak adalah berupa kulit sapi.3 persen. purseseine.7 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982. maka nilai ekspor hasil ternak turun sebesar 4. yaitu sebanyak 1. Titik berat pembangunan di bidang perikanan dalam Repelita IV ditujukan pada pembinaan dan pengembangan perikanan rakyat. kerbau. Penurunan tersebut disebabkan karena meningkatnya permintaan daging dan protein hewani.120 ribu ton atau sebesar 6. kambing dan domba dengan nilai ekspor sebesar US $ 23.4 persen.998 ribu ton. pole and line. Perikanan Indonesia dikenal sebagai suatu negara maritim yang terdiri dari pulau-pulau dengan perairan yang me1iputi tiga perempat bagian dari se1uruh wilayah negara. meskipun jumlah populasi ternak secara keseluruhan meningkat setiap tahunnya. 7. Di lain pihak. Hasil produksi ikan dalam tahun 1983 tersebut sebagian besar merupakan produksi ikan lalit. juga karena meningkatnya produksi ikan darat sebesar 2.

8 persen. NTB. Meningkatnya produksi budidaya perikanan darat tersebut terutama disebabkan intensifikasi budidaya tambak di samping adanya perluasan arealnya.4 persen dibandingkan dengan tahun sebe1umnya. telah dibangun saluran tambak di Daerah Istimewa Aceh.466 buah dalam tahun 1982 menjadi 212.5 ribu hektar. maka sejak Pelita III telah dilaksanakan rehabilitasi dan pembangunan pangkalan pendarat ikan (PPI) serta pelabuhan perikanan (PP).4 persen. Sebaliknya dalam periode yang sarna jumlah perahu tanpa motor telah menurun dari 215. Apabila luas areal budidaya tambak dalam tahun 1982 baru mencapai 400.400 buah dalam tahun 1983. Dalam tahun 1983. Jawa Timur. Di samping itu juga telah dibangun 24 buah PP. Sumatera Utara. Sedangkan untuk mendukung pengembangan budiclara tambak dan perikanan darat lainnya. namun produksi ikan darat juga menunjukkan jumlah yang terus meningkat. pemasaran dan pengolahan hasilhasil perikanan. Jawa Tengah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 alat penangkap ikan tradisional te1ah menurun yang menunjukkan te1ah terjadinya pergeseran dan pergantian dari alat-alat penangkapan tradisional ke alat-alat penangkapan yang lebih produktif. Bali. maka dalam tahun 1983 telah mencapai 405. produksi budidaya perikanan darat mengalami kenaikan sebesar 5.3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.083 buah. Meningkatnya penggunaan perahu/kapal motor serta alat-alat penangkap ikan moderen terlihat dari jumlah perahu/kapal motor yang dalam tahun 1982 baru sebanyak 85. 2 buah PP nusantara dan sebuah PP samudera. produksinya te1ah meningkat lagi sehingga mencapai 279 ribu ton. yang berarti peningkatan sebesar 10. sampai dengan tahun 1983/1984 telah dibangun 149 buah PPI yang tersebar di 25 propinsi kecuali untuk DI Yogyakarta dan Timor Timur. Tersedianya benih dan induk ikan dalam jumlah dan mutu yang memadai sangat Departemen Keuangan RI 179 . Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan yang keseluruhannya mencapai sepanjang 590 km. Jawa Barat.300 buah. NTT. yang terdiri alas 21 buah PP pantai. PPI dan PP tersebut dilengkapi dengan tempat pelelangan. Selanjutnya guna menunjang dan mempercepat pertumbuhan produksi perikanan lalit. pabrik es. terutama perikanan rakyat. atau suatu penurunan sebesar 1. kolam dan sawah. yaitu dari 241 ribu ton dalam tahun 1982 menjadi 254 ribu ton dalam tahun 1983. atau suatu kenaikan sebesar 9. Sementara itu walaupun pertumbuhan produksi ikan darat tidak secepat produksi ikan laut.8 persen bila dibandingkan dengan tahun sebe1umnya. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 94. Dalam hubungan ini. terutama yang terdiri dari hasil tambak. gudang pendingin dan lain-lain fasilitas yang diperlukan untuk mengembangkan produksi. Sampai dengan bulan September tahun 1984.6 ribu hektar atau suatu kenaikan 1.

496 12.464 236.236 359 96 14.809 1973 28.188 4.720 32.823 3.111 1. ditingkatkan pula peranan yang lebih aktif dari balai benih ikan (BBl).444 22. yakni masing-masing dengan rata-rata sebesar 6.426 2.026 11.991 1977 31. rata-rata konsumsi ikan segar per kapita per tahun dalam negeri dari tahun 1978 sampai dengan tahun 1983 terus menunjukkan peningkatan.904 1981 24.344 40.486 193. selain mengandalkan benih dari sumber alam.827 7S.278 1971 15.255 33.258 305 54 13.805 ton senilai US $ 244.170 194.787 57. Sampai dengan tahun 1983/1984 telah direhabilitasi dan dibangun BBI sebanyak 43 unit.910 19. yang mencapai 29.562 1974 32.300 8. baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.160 3.750 200 170 24.333 4.992 3.934 180.2 persen dan 1.387 1.431 1976 31.163 2.018 63.505 1.867 3.060 6.648 2.943 200.286 16.121 78.416 88.195 34.7 persen per tahun.1983 (Volume dalam ton. Pada urutan Departemen Keuangan RI 180 .637 878 1970 7.182 1.754 473 136 13.370 6.156 34.959 ribu.424 68.712 31.838 1. Untuk mengatasi hal tersebut.724 2.178 68.375 8.355 358 65 12. Dalam waktu yang sama. maka berarti volume dan nilai ekspornya telah meningkat masing-masing sebesar 35.697 1972 23.980 5. 1969 .050 5.28 VOLUME DAN NILAI EKSPOR HASIL-HASIL PERIKANAN.750 ton senilai US $ 8.1 persen dari seluruh nilai ekspor hasil perikanan. Volume dan nilai ekspor hasil ikan dalam tahun 1983 tersebut belum termasuk ekspor uhliruhlir yang berjumlah 4.620 161.431 364 114 1 i . sebagaimana terlihat pada Tabel VII. Dalam waktu yang sarna telah dibangun sebanyak 3 unit balai benih udang (BBU) dan 3 unit balai benih udang galah (BBUG). dan 76.738 88.233 1978 32.851 2.380 57.553 2. Apabila dalam tahun 1978 konsumsi ikan baru mencapai 11.640 19833) 26.639 5.387 89.778 9.655 18.274 17.618 249.319 14.705 226.600 Ekspor ikan selama Pelita III.247 169 652 286 104 38 12.378 3.389 131.041 2.300 255. nilai dalam US $ ribu) Ikan segar Katak Ikan hias Lain-lain Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai 2.571 1975 25. atau mengalami kenaikan rata-rata 2. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 dengan volume ekspor sebesar 61.756 18.463 116. ekspor hasil-hasil perikanan juga menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan.185 54. baik volume maupun nilainya telah mengalami kenaikan.411 29.941 52.510 163.953 92.118 892 568 384 103 29 10.325 6.180 ribu.308 19.575 181.211 13.28.483 1980 31.191 54.955 1979 34.334 2.154 1.8 persen dan 5.907 7.865 471 867 749 190 37 12.8 persen per tahun.924 350 61 12.721 84.875 5.810 10. Ekspor hasil-hasil perikanan dalam tahun 1983 sebagian besar adalah berupa udang segar dan awetan.852 45.316 4.540 21.0 persen.373 1.187 29.378 21.774 286 56 14.994 41. Pemasaran ikan.354 75.106 1.450 I) Segar dan awetan 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Jumlah Volume Nilai 21. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 13.517 3.115 7.827 1982 2) 25.178 225.6 persen dari seluruh volume.1 kg per kapita. Selanjutnya untuk tahun 1983. pemasaran hasil ikan ke luar negeri telah mencapai 83.184 399 114 13.332 326 28 9 42 20 13.145 1.768 321 92 9. Tabel VII. Dilihat dari segi konsumsinya.627 140.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menentukan berhasilnya usaha perikanan budidaya.612 4.420 ribu.585 217 98 17.4 kg per kapita.820 3.049 5.550 ton dengan nilai sebesar US $ 247.971 162.693 1.959 30.657 7.868 678 2.410 Udang 1) Volume Nilai Tahun 1969 5.625 31.395 7. sampai dengan tahun 1983 telah menunjukkan peningkatan yang mantap.114 29.

Untuk itu secara berkala Pemerintah telah menetapkan harga dasar yang diterima oleh petani produsen dan harga batas tertinggi yang dibayar oleh konsumen. Sehubungan dengan kegiatan tersebut. Pangan dan gizi Pembangunan di bidang pangan dan gizi sampai dengan akhir Pelita III dititikberatkan pada peningkatan penyediaan pangan secara merata. Sedangkan penetapan harga batas tertinggi yang dibayar oleh konsumen dimaksudkan agar harga pangan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak. Belgia dan Luxemburg.per kilogram. Sehubungan dengan harga dasar gabah/beras dapat dikemukakan bahwa pada awal Pe1ita III harga dasar gabah kering giling di tingkat BUUD/KUD adalah sebesar Rp 85. melancarkan penyaluran bahan pangan. baik bagi kepentingan produsen maupun konsumen. maka juga ditujukan untuk meningkatkan gizi masyarakat melalui penganekaragaman pola konsumsi pangan masyarakat. Hongkong. Negeri Belanda. telah dilakukan peningkatan produksi. Sedangkan negara-negara tujuan utama ekspor hasil perikanan adalah ]epang. melainkan juga untuk beberapa jenis palawija. Sedangkan khusus harga dasar kacang tanah sejak tahun 1982/1983 telah dihapuskan karena harga kacang tanah di posaran sudah tinggi sehingga tidak perlu lagi ditetapkan harga dasarnya. Dalam menunjang usaha tersebut. peningkatan jumlah sarana penyangga. Pemerintah mengusahakan terwujudnya harga pangan yang stabil pada tingkat yang wajar. Sejalan dengan kebijaksanaan yang berorientasi pada harga.per kilogram. kedelai. Di samping itu.4 persen dari volume atau 7.4.7 persen dari seluruh nilai ekspor hasil perikanan. Singapura.. 7. sehingga usaha perbaikan dan peningkatan gizi masyarakat dapat tercapai. Penentuan harga yang wajar bagi produsen terutama ditujukan untuk memberikan dorongan kepada petani produsen meningkatkan hasil produksinya. di samping tercukupinya kebutuhan gizi yang sesuai dengan daya beli masyarakat banyak. sehingga konsumsi bahan pangan bukan beras terus meningkat.. Mulai awal Pebruari Departemen Keuangan RI 181 . dan kacang hiiau.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kedua adalah ekspor ikan segar yang mencapai 38. memantapkan harga serta memperbaiki pengolahan dan penyimpanan hasil produksi pangan. maka harga dasar gabah/beras tersebut te1ah ditingkatkan sehingga sampai dengan akhir tahun Pe1ita III mencapai sebesar Rp 145. Amerika Serikat. antara lain jagung. memperbaiki sarana distribusi dan pemasaran. Agar petani produsen padi lebih bergairah dalam meningkatkan produksinya.5. Penetapan harga dasar dan harga batas tertinggi tersebut tidak hanya berlaku terhadap bahan pangan pokok beras saja. Pemerintah melakukan kebijaksanaan barga. serta pembangunan gudanggudang pangan di seluruh pelosok tanah air.

Sampai dengan bulan Juli 1984. maka dalam pengadaan gabah/beras te1ah diberikan pula margin tataniaga yang lebih besar dari yang diberikan kepada pihak swasta non KUD.250..per kilogram (Tabel VII.per kilogram. Hal ini antara lain terlihat dari pembangunan gudang-gudang pangan Pemerintah di se1uruh pe1osok tanah air. atau 85.901.29). te1ah mencapai sebanyak 1.0 ribu ton. jumlah gudang Pemerintah yang te1ah selesai dibangun dan dapat berfungsi mencapai 1. Dari jumlah impor beras dalam tahun 1983/1984 tersebut. Sebagai perbandingan dapat dikemukakan bahwa pengadaan gabahlberas yang berasal dari kUD dalam tahun 1983/1984.118 buah dengan kapasitas tampung se1uruhnya sebesar 2. sedangkan dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus jumlah terse but telah meningkat menjadi sekitar 2. Jumlah gudang tersebut terdiri atas gudang Bulog baru sebanyak 599 buah dengan kapositas tampung sebanyak 1. Agar persediaan beras berada dalam jumlah yang cukup. maka pembelian gabah dan hasil palawija dari petani dilaksanakan terutama melalui koperasi unit desa (KUD). Dalam tahun 1983/1984 pembelian beras (berupa gabah setara beras) yang berasal dari dalam negeri adalah sebanyak 1.8 ribu ton..4 ribu ton.037.0 ribu ton. Demikian pula untuk tahun 1985. yakni sebesar 12 persen per tahun. dan diikutsertakan dalam penyediaan sarana lepas panen: Di samping itu untuk memperkuat daya saing dan membantu pemupukan modal bagi KUD. Selain mendorong perkembangan KUD.210.2 ribu ton.6 ribu ton.5 persen dilakukan melalui impor komersial. maka dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan impor beras sebanyak 1. sedangkan Departemen Keuangan RI 182 . dan gudang Bulog lama sebanyak 89 buah dengan kapositas tampung sebanyak 168.. terhitung mulai tanggal1 Pebruari 1985 te1ah diputuskan untuk menaikkan lagi harga dasar gabahlberas giling di tingkat BUUD/KUD menjadi Rp 175. gudang semi permanen sebanyak 430 buah dengan kapositas tampung sebanyak 397. Pemerintah juga terus memperbaiki sarana distribusi dan pemasaran serta pengolahan dan penyimpanan hasil pertanian pangan.467.109. Untuk menjamin agar para petani produsen benar-benar dapat menerima harga penjualan hasil produksinya sesuai dengan harga dasar yang telah ditetapkan. Dengan tersedianya gudanggudang penyimpanan tersebut diharapkan pengadaan pangan untuk sarana penyangga dapat berjalan lancar.8 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1983/1984.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1984 harga dasar gabah/beras telah ditingkatkan lagi menjadi Rp 165. maka sejak tanggal 1 Juni 1983 kepada koperasi diberikan kredit dengan suku bunga rendah.0 ribu ton atau sebesar 11 persen berasal dari non KUD.8 ribu ton. Untuk lebih meningkatkan keterkaitan kebijaksanaan pangan dengan koperasi baik di bidang pengadaan maupun penyalurannya. sebanyak 81. sedangkan sisanya sebanyak 137.6 ribu ton alan sebesar 89 persen dari se1uruh pengadaan gabahlberas dalam negeri.

maka perkembangan harga beras di posaran umum dapat dikendalikan dalam batas-batas yang wajar.00 51.50 67.50 68.1985/1986 ( dalam rupiah per kilogram ) Tahun Padai kering Lumbung di desa 30.50 70.00 75.00 135.50 54.944 ribu ton.00 54. 29 HARGA DASAR PADI DAN GABAH. Dengan adanya beras dalam jumlah yang cukup.00 145.00 Gabah kering giling di BUUD/KUD 42.00 85.00 120.00 Padi kering giling di desa 31. beras yang disalurkan dalam tahun 1983/1984 adalah 1.50 64.00 42.50 52. Tabel VII.00 95.00 105.00 74.50 54. 1974/1975 .50 Gabah kering giling di desa 40. baik untuk memenuhi kebutuhan pegawai dan karyawan tertentu maupun untuk umum melalui operasi posar.31.30 44.50 71.50 70.00 2) 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1985/1986 I) BerIaku mulai I Pebruari 1984 s/d 31 Januari 1985 2) BerIaku mulai 1 Pebruari 1985 Departemen Keuangan RI 183 .00 66. Secara keseluruhan.00 165.00 50. Gambaran dari perkembangan harga beras di beberapa kola besar dari tahun 1974/1975 sampai dengan tahun 1983/1984 dapat diikuti melalui Tabel VII.6 persen lebih rendah dibandingkan dengan penyaluran beras dalam tahun sebelumnya yang mencapai jumlah 2.30.30 58.866 ribu ton atau 36. Pengendalian harga tersebut antara lain dilakukan melalui penyaluran beras ke seluruh pelosok tanah air.00 1) 175.00 57.60 57.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sisanya dalam rangka bantuan pangallo Pengadaan beras dalam negeri dan impor dapat diikuti melalui Tabel VII.00 Gabah kering lumbung di desa 38.

69 111.6 187.53 172.17 196.65 117.71 122.86 119.3 167.53 286.79 Kota Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 JAKARTA 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 BANDUNG 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 SEMARANG 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{19H 1) Angka sementara Desember Januari Pebruari 90.72 120.02 215.91 135.91 174.28 234.88 230.41 213.75 121.98 313.58 187.71 128.5 180 199.28 90.96 281.03 122.1 315 363.46 243.2 133.15 250.99 185.55 140.96 252.56 208.13 209.6 116.87 77.36 232.67 233.18 114.58 126.64 133.91 189.6 220 226.18 144.85 125.5 172.59 Bulan Agustus September Oktober 68.18 85.01 181.18 118.88 130.36 120.9 88.6 153.78 184.36 277.23 292.84 133.1 283.05 Tabel VII.72 180.53 120.56 215.87 111.19 121.93 175.06 85.19 245.34 108.35 86.37 224.83 198.4 172.99 233.37 75 79.37 125.15 122.53 231.74 132.3 117.75 127.14 131.5 283.72 221.48 109.28 128.59 233.65 109.64 218.74 224.12 247.2 178 182.48 180.05 125.68 124.97 111.05 76.64 96.6 125.28 230.16 321.04 295.55 128.31 119.58 234.42 320.83 325.2 114.88 126.69 117.17 132.0(1 125.94 283.19 88.92 139.42 131.93 133.53 252 263.72 185.52 119.52 274.5 102.4 Maret 80.06 257.43 128.38 183.87 75.9 140.92 180.46 86.04 313.56 144.6 190 223.94 91.13 125.35 322.36 253.43 124.71 133.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.96 125.75 75.5 252.54 128.32 90.9 124.12 125.63 118.24 125 125.88 139.68 125.83 75.80 126.15 204.81 201.28 133 150 185.1 212.58 186.06 253.74 76.54 Juni 76.71 236.53 318.3 179.94 154.73 221.77 202.81 77.22 181.46 127.48 128.91 262.22 88.59 134.43 187.64 225 222.01 140.23 208.96 165.98 290.31 212.26 169.38 230.91 159.87 133.79 146.44 107.66 125 146.5 279.19 112.15 260 261 255.91 121.29 301.76 114.2 Nopember Dcsember Januari 77.17 108.79 102.9 151).57 190.77 135.33 189.81 211.48 230.36 107.97 136.5 123.31 ( lanjutan) Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 YOGYAK 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 SURABAY 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 MEDAN 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982'/1983 1983/1984 1) Angka sementara Kota April 66.77 95.66 221.82 125 127.6 189.12 101.47 90 123.46 239.37 67.12 108.3 115.62 112.04 209.78 Maret 99.32 129.1983/1984 ( dalam rupiah per kilogram) April 84.33 175 179.63 186.6 140.72 107.13 130.34 194.92 178.88 96.85 109.76 212.81 212.53 296.02 221.8 77.03 216.88 82.64 224.86 254.99 122.36 128.94 244.98 211.59 111.24 184.48 220.36 285.98 123.37 231.41 180 182.57 245.73 318.81 121.91 194.49 215.33 125 125 125 134.2 135.51 280 300 Departemen Keuangan RI 184 .46 177.66 203.69 129.99 80.73 96.71 126.32 190.75 207.22 125.5 143.85 184.79 123.8 234.63 256.28 213.41 172.9 90.02 137.29 185.8 119.77 334.25 297.83 110.77 206.88 71.36 259.49 121.97 84.96 259.08 133.03 209.08 152.76 130.08 198.88 72.84 229.08 75.6 179.28 125.6 208.4 197.07 121.4 Mei 66.27 90.22 212.42 215.78 125.OO 235.1 178.21 123.08 124 124.56 243.48 132.57 165.09 73.78 142.1 183.75 101.42 134.2 212.39 111./6 93.83 Juni 66.98 200 210.64 184.22 234.48 124.6 Bulan Agustus September Oktober Nopember 76.25 179.02 232.03 124.72 136.65 144.8 126.9 189.19 274.03 313.22 90.13 236.87 75.83 130 137.83 291.71 124.5 132.69 206.94 214.25 164.87 126.61 175.88 230.31 210 208.15 125 122.87 225 304.59 127.42 125 124.64 120.04 74.62 334.35 126.36 97.72 146.2 211.69 109.59 132.55 85.16 264.23 195.59 91.57 127.57 252.9 225.33 Juli 76.83 228.46 139.1 212.03 74.51 77.46 167.00 148.68 312.32 140.53 128.6 85.17 215.06 180.93 128.17 230.82 199.37 107.11 199.36 285.84 179.15 123.31 Juli 69.25 138.48 129.19 90.6 247.66 212.12 139.53 186.78 139.87 206.64 125.4 167.25 120.18 125.56 188.52 145.62 270.81 200 191.81 115.9 111.41 128.66 324.98 104.58 138.95 185.56 213.67 184.66 137.3 153.03 213.3 181.01 130.31 HARGA BERAS KUALITAS MENENGAH DI BEBERAPA KOTA BESAR.76 75.43 156.39 292.68 212.34 280.6 185.21 172.26 150 185 213.03 118.19 123.1:3 171.25 126.15 217.1 184.OG 125 125 125 135 133. 1974/1975 .5 167.08 92.52 172.54 161.09 116.14 125.31 176.02 129.6 125 145 172.78 218.27 140.53 128.45 120.99 255.46 213.04 80.31 216.53 141.42 144.34 120.31 245.25 135 134.12 124 126.5 141.7 179.5 226 227.288.72 122.59 267.01 76.52 207.85 338.06 125.8 234.65 68.5 197.11 132.5 226.93 241.62 302.61 127.37 195.25 116.38 222.42 286.73 162.62 223.48 241.84 125.7 132.41 200.32 297.29 93.11 134.59 196.71 198.2 132.68 202.68 122.56 125.7 211.1 75.41 156.96 232.02 129.12 144.1 183 198.16 269.51 183.41 202.22 109.5 169.48 120.69 148.28 279.33 180 180.32 299.31 126.16 128.18 124.86 285.55 141.43 195.28 257.98 120 145 172.72 257.15 128.34 213.51 207.41 Mei 77.46 268.92 319.25 118.46 199.88 127.16 114.18 91.27 169.82 186.32 85.88 115.47 129.63 96.17 317.19 243.96 197.15 181.81 136.15 140.55 199.54 134.17 109.32 97.97 178.16 117.42 242.52 225.71 273.12 157.56 228.99 120.34 124.5 123.66 145.36 135.19 139.9'! 193.55 159.29 283.42 87.23 140.79 146.9 125 129.65 285.86 128.36 285.69 144.63 124.85 206.7 180.9 212.4 93.77 Pebruari 79.56 144.52 11 7.35 280 315 315 310.04 211.02 103.18 125 125 126.9 127.45 288.36 113.67 120 120 127.26 180.53 289.15 74.58 89.63 217.13 304.66 128.25 184.5 229.41 172.17 162.65 84.61 180 194.42 232.56 185 195.69 288.29 247.42 171.54 235.55 183.21 74.96 275 271.87 178.46 216.95 134.46 81.28 230.11 97.92 84.98 115.27 178.63 280 303.31 127.69 268.58 73.74 85.96 69 83.07 128.6 300.5 261.81 93.15 205.18 231.4 128.38 217.68 99.7 310.35 178.61 124 124.39 203.15 121.42 131.5 225 230.43 228.8 201.87 125.76 200.07 101.79 132.39 .13 202.58 123.78 86.78 202.76 85.5 199.19 205.39 141.07 110.1 95.14 213.

54 180 194.69 102.48 242.75 121.60 126.44 90 120 109 125 156.4 89.67 265.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.04 225 229 234.07 225 270 Maret 105.29 130.69 Juni 115.79 239.91 121.04 183.1 139. serta untuk meningkatkan gizi masyarakat.25 87.31 316.45 158.76 157.04: 142.44 101.39 160. fortifikasi bahan raTIgan.06 85.1 118.26 216.37 211.1 182.99 132.96 11 7 .79 101. Dari jumlah impor gandum dalam tahun 1983/1984 tersebut.87 95. UPGK dan usaha-usaha khusus lainnya.47 147.19 183.79 132.6 Kota PALEMBANG BANJARMASIN UJUNG Tahun 1974{1975 19750976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1977 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1970{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 1974{1975 1975{1976 1976{1977 1977{1978 1978{1979 1979{1980 1980{1981 1981{1982 1982{1983 1983{1984 April 116.33 170.05 127.21 133.06 92.5 125 125 110 110 110.2 132.68 221.46 185.03 185 190.17 205.61 75 79.29 270 270 274.52 78.98 209. dan ditambah lagi dengan sebanyak 118 ribu ton dari sisa stok tahun sebelumnya.5 96 107.24 297.34 187 209.2 247.42 303.08 217.06 151.11 140 185 206.02 106.91 145.62 191.64 206.25 134. Upaya-upaya tersebut telah mulai dilaksanakan di daerah-daerah pemanduan Departemen Keuangan RI 185 .8 120.51 205.25 103.91 268.65 147.722 ribu ton atau 10.01 197.23 142.05 100..5 149.51 206.09 226.91 246.66 297.31 221.32 126.38 185 200 225 273.83 165 165 174.45 120 123.12 120 115 127.78 111.36 152.19 230 226.55 323.6 115 113.43 180. serta penanggulangan kekurangan vitamin A dan zat besi.6 persen lebih banyak dibandingkan dengan impor dalam tahun 1982/1983 yang sebanyak 1. khususnya masyarakat petani produsen telah diarahkan untuk meningkatkan intensifikasi tanaman palawija di tanah kering dan penganekaragaman usaha pertanian dengan cara tumpangsari antara jenis tanaman kacangkacangan dengan sayur-sayuran.77 297.68 131.8 97.53 142.29 90 97.47 132. Selanjutnya kegiatan fortifikasi bahan pangan.13 130.96 185.04 152.56 119.31 221.92 11 7 .08 126.53 124. Dalam hal penyuluhan gizi.73 142.77 142.41 97.08 299. perluasan jangkauan UPGK sampai ke pelosok tanah air.5 186.77 200 206.66 266.05 215 229.4 275 285.39 121.79 318.2 110.5 127.12 297.1 152.14 132.19 242.58 131.25 133.23 105. usaha-usaha khusus lainnya.5 112.28 112.69 195 231.32 337.31 221.12 164.58 118.52 298.65 312. telah dilaksanakan pula pengadaan dan penyaluran tepung terigu yang bahan bakunya berupa gandum yang diperoleh dari impor.99 229.95 90.19 122.10 198.96 186 216.71 228 239.66 230.86 141. Sedangkan dalam hal SKPG.5 277.08 115 120 120 120 120.92 130. 31 ( lanjutan) Bu1an Oktober Nopember Desember Januari Pebruari Agustus September 112.72 178.31 232.91 312.42 130.66 239.6 180.13 121.1 247.6 Mei 112.92 332.31 75 92.25 200 200 202 206. Dalam hubungan ini maka dalam tahun 1983/1984 telah diimpor gandum sebanyak 1.73 .25 132 155 201.39 133.41 185.2 275.6 164.36 181. Usaha-usaha lain yang telah dilakukan dalam rangka perbaikan gizi masyarakat antara lain ditempuh melalui penyuluhan.33 142.13 152.83 173.1 297 106.5 115 119.74 208.83 229.38 129.69 168.58 134.4 96.01 109.6 persen. 89.31 89.91 312.95 113.2 219.25 147.5 89.25 94.24 349.44 142.5 122.92 83.12 206.95 120.26 105.11 294.7 125.31 75 88.54 225 270 Juli 112.15 225 276.2 265. masing-masing diwujudkan melalui peningkatan jumlah produksi garam beryodium.27 238.83 242.71 164.83 115.43 131.95 205.26 186.67 128.31 293.25 131.64 205.46 97.43 242.15 200 207.39 157.67 273.11 189.62 139.648 ribu ton atau sebesar 89.99 92.23 107.34 151.31 312.46 242.22 356.68 183.26 146.25 88.46 187.95 220.91 308.61 215 215 231.47 242.61 226.46 125 148.32 106.1 297 106. pada akhir Pelita III telah dikembangkan suatu sistem untuk mencegah terjadinya krisis pangan yang antara lain sebagai akibat daripada bencana alam dan musim kering yang berkepanjangan.13 179.16 137. dan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG).81 1) Angka sementara Dalam rangka penganekaragarnan konsumsi masyarakat agar tidak hanya tergantung pada beras.34 151.75 131.65 333.75 125 127.86 142.69 275.82 130.03 100 95.76 99.12 335 334.2 134.69 90.58 125.27 242.59 142.61 239.98 250.87 184.2 133.77 173.2 181 185 185 180 180 182.82 131. telah dapat disalurkan kepada masyarakat sebanyak 1.4 115 126 140 185 200 255 273.91 312.09 195 196.2 142.07 125 121.65 299.23 146.2 130 131.66 256.1 297 106.99 227.85 139.46 175.4 220.55 214.88 106.33 77.94 155.66 133.6 205.11 94.21 145.8 125 130.25 239.58 298.557 ribu ton.41 260.28 142. usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK).91 242.

1. lapangan dan penggunaan jasa satelit. pengawasan dan pendayagunaan aparatur.5. Karang Asem di Bali dan Boyolali di Jawa Tengah. Hal tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan keseimbangan dan kelestariannya. masing-masing meliputi areal kawasan hutan seluas 5. pengawet dan pelestari alam. pelindung.029 ribu hektar. melalui pemulihan kemampuan dan produktivitas sumberdaya bulan. Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur. Dari hasil survai tersebut telah diperoleh potret kawasan hutan sebanyak 22. Kehutanan Hutan sebagai sumber kekayaan alam dan merupakan salah satu unsur pertahanan nasional. hutan pendidikan dan hutan penelitian.400 kilometer. Selain itu juga ditujukan pada pengusahaan sumberdaya bulan. 1. yang ditempuh melalui berbagai kegiatan antara lain meliputi pelestarian. pendidikan dan latihan. perlindungan dan pelestarian alam. serta pengawetan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Hasil kegiatan tersebut baru sebesar 21. serta sebagai penunjang peningkatan so sial. penghijauan dan rehabilitasi lahan serta pengusahaan hutan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 seperti Lombok Tengah di NTB. harus dilindungi kelestariannya. serta sarana penunjang. tanah dan air yang kritis sehingga dapat memenuhi fungsinya secara maksimal sebagai produsen.3 persen dari seluruh panjang batas kawasan Departemen Keuangan RI 186 . 7.5 ribu hektar dan 36. kegiatan SKPG telah dikembangkan lagi ke daerah Lombok Timur.060 ribu hektar. Sementara itu dalam rangka penataan batas kawasan hutan yang terdiri alas hutan lindung. Inventarisasi dan tataguna hutan Kegiatan di bidang inventarisasi hutan yang telah dicapai selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV. sehingga akan tetap bermanfaat bagi generasi yang akan datang. reboisasi. pengatur tata air. daD dimanfaatkan guna meningkatkan kesejahteraan rakyat secara optimal. Sasaran pembangunan di bidang kehutanan diharapkan dapat terwujud melalui peningkatan inventarisasi dan tataguna bulan. 7. yang meliputi peningkatan produksi hutan berupa kayu dan hasil hutan ikutan.000. pekalongan. Dalam tahun 1983/1984.726 lembar dengan skala 1:100.5. Untuk itu terus dilakukan kegiatan rehabilitasi sumberdaya alam. antara lain meliputi survai udara. Di samping itu juga dilakukan peningkatan bidang-bidang lain seperti penelitian dan pengembangan.977. maka sejak Pelita I sampai dengan Pelita III telah berhasil dibuat tatabatas kawasan hutan sepanjang 31. pencegah erosi. Dalam Repelita IV pembangunan di bidang kehutanan ditujukan dan dilaksanakan melalui Sapta Karya Pembangunan Kehutanan. perlindungan.

peta ketinggian dan peta thematic. Sementara itu pemetaan yang mempunyai peranan penting di bidang kehutanan. jumlah tenaga juru ukur. juru gambar dan tenaga penafsir potret udara.8 ribu hektar dan hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 24. sehingga diharapkan tidak terjadi tumpang tindih dalam pengumpulan.569. melalui pendidikan tenaga ukur. Sejak tahun 1981 sampai dengan bulan Agustus 1984. maka diperlukan adanya tataguna hutan. sampai dengan bulan Juni 1984 telah dapat memenuhi semua kebutuhan peta dasarnya. peta TPC (Tactical Pilotage Chart). informasi dan menjaga konsistensi data. berikut sub balainya.891. Sejalan dengan kegiatan tersebut.4 ribu hektar. 7. peta geologi.2.939. yang mencakup areal seluas 260. Dari hasil TGHK tersebut telah dapat diidentifikasikan luas areal hutan di Indonesia sekitar 147 juta hektar. juga telah berhasil dicapai pengukuhan dan penatagunaan hutan lindung seluas 24.5. maka dalam tahun pertama Repelita IV telah dapat diwujudkan suatu sistem informasi yang dipusatkan pada suatu basis data dan sistem informasi. masing-masing sebanyak 10 balai dan 31 sub balai. Sebagai sarana penunjang telah dibangun balai inventarisasi dan pemetaan bulan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hutan yang diperkirakan sepanjang 147. hutan produksi terbatas seluas 22. peta lalit. Sedangkan untuk kegiatan pendataan kehutanan yang meliputi pengumpulan data dan pengolahannya. tenaga gambar dan tenaga penafsir potret udara. peta land-use. Dalam rangka peningkatan penyempurnaan aparatur dan sarana penunjang telah dilakukan peningkatan aparatur pelaksana inventarisasi dan tataguna bulan.2 ribu hektar.5 ribu hektar. peta daerah aliran sungai (DAS) di 27 propinsi. pengamanan dan penyimpanan data. 87 orang dan 176 orang.000 kilometer. Jenis peta dasar yang telah selesai dibuat antara lain berupa peta topografi. di samping juga akan memudahkan pelayanan. sejak tahun 1981 sampai dengan bulan Juni 1984 telah dilaksanakan tatabatas dalam rangka pengukuhan areal reboisasi pada bekas tanah negara bebas.317.0 ribu hektar. peta tanah. Dalam waktu yang sarna.905. peta JOG Qoint Operation Graffic Ground). masing-masing telah berjumlah 604 orang. Dalam rangka pengelolaan hutan yang meliputi peningkatan pembinaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. pengolahan. hutan suaka alam dan hutan wisata seluas 15. hutan produksi bebas seluas 25. Sampai dengan bulan Juni 1984 telah dapat disusun dan diselesaikan pola tataguna hutan kesepakatan (TGHK) di 19 propinsi di luar pulau Jawa.4 ribu hektar. perlindungan hutan dan pelestarian alam Pada hakekatnya perlindungan hutan dan pelestarian alam dalam rangka konservasi Departemen Keuangan RI 187 .

antara lain telah dilakukan studi dan inventarisasi flora dan fauna di 20 lokasi yang mencakup kawasan seluas 2. hutan wisata dan taman nasional sebagai model ekosistem. yang selama Pelita III telah berhasil mencapai 16 lokasi Departemen Keuangan RI 188 . ditujukan untuk menjaga keberadaan plasma nutfah dan kelestarian potensi sumberdaya alam beserta ekosistemnya dari kemungkinan bahaya kerusakan dan penurunan. pembinaan wisata alam. Di samping itu juga dilakukan pembinaan terhadap populasi jenis satwa langka. pengelolaan dan pembinaan hutan suaka alam. Usaha perlindungan hutan dan pelestarian alam dilaksanakan melalui beberapa kelompok kegiatan. Guna menunjang berbagai kegiatan tersebut.076. gejala alam. Suaka alam dan hutan wisata tersebut terdiri atas hutan cagar alam seluas 6. antara lain berupa rehabilitasi orang hutan di Tanjung Puting (Kalimantan Tengah) dan Bahorok (Sumatera Utara). baik di daratan maupun di perairan. gajah di pinggiran Air Sugihan (Sumatera Selatan). burung muho di Sulawesi Utara. dan taman laut seluas 8. pengelolaan hutan lindung.784. dengan jumlah koleksi sebanyak 500 jenis satwa. Sedangkan konservasi di luar kawasan bulan. Sejalan dengan kegiatan tersebut. Konservasi kawasan hutan antara lain ditempuh melalui kegiatan pengalokasian. selain sebagai obyek olah raga dan wisata.1 juta hektar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Riau dan Sumatera Utara.3 hektar. baik kualitas maupun kuantitasnya. serta inventarisasi sebanyak 20 jenis kekayaan laut. sumber plasma nutfah.4 ribu hektar.4 ribu hektar. burung jalak di Bali Barat. suaka margasatwa seluas 4. dan rusa di pulau Bawean. maka telah ditingkatkan penertiban perburuan. penetapan sebanyak 521 jenis satwa dan 36 jenis flora yang dilindungi peraturan perundang-undangan. ditingkatkan pula pembinaan dan pengembangan kebun binatang dan oceanorium di 21 lokasi.784. keanekaragaman dan keunikan jenis flora dan fauna. maka selama Pelita III telah dilakukan penunjukan atau penetapan suaka alam dan hutan wisata yang mencapai 12. taman baru seluas 326.4 ribu hektar. melalui penetapan 11 lokasi taman baru. pembinaan pencinta alam. antara lain ditempuh melalui inventarisasi dan identifikasi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar yang populasinya diancam kepunahan. di samping juga melalui kegiatan yang berorientasi pada masalah botani. Dalam rangka menunjang pelestarian jenis-jenis satwa yang tidak dilindungi.2 ribu hektar dan tersebar pada 306 lokasi diseluruh Indonesia. di mana 50 jenis di antaranya termasuk jenis satwa yang dilindungi. Sedangkan upaya konservasinya dilakukan melalui pembinaan dan pengembangan taman nasional. taman wisata seluas 172.8 ribu hektar. monitoring dampak lingkungan serta kegiatan pengamanan hutan. yang tersebar di 5 lokasi. Selama Pelita III. serta pengamanan terhadap daerah pengungsian dan daerah perlindungan satwa baik di darat maupun di laut. serta keindahan alam. antara lain meliputi pengembangan taman nasional.

yaitu di gunung Kerinci. daerah Kutai. gunung MeruBetiri. serta 169 orang petugas khusus penghijauan. berarti masing-masing telah meningkat sebesar 21. pembinaan terhadap pencinta alam juga dilaksanakan dan ditingkatkan.688. yang berasal dari berbagai jenis satwa liar sebanyak 1.434 hektar. Bukit Barisan Selatan. baik untuk kepentingan konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor.626.300 hektar (Tabel VII. bimbingan dan pendidikan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap wisata alam. gunung Tengger-Semeru. hasil reboisasi dalam tahun 1983/1984 telah meningkat sebesar 57.400 hektar menjadi 186.8 persen. Bali Barat.3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Reboisasi. serta Lore Lindu-Manusela telah ditetapkan pada tanggal14 Oktober 1982. Dan kegiatan yang telah dilakukan tersebut. Oleh karena itu dalam tahun 1983/1984 berbagai usaha penunjang telah dilaksanakan. Dumoga Bone. Sumbangan devisa dari ekspor satwa liar dalam tahun 1983/1984 mencapai US $5.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan luas areal seluruhnya 4. penggarapan lahan yang keliru.5 persen dan 36. gunung Seblat. gunung Baluran dan pulau Komodo.234. bertepatan dengan Kongres Taman Nasional Sedunia ke III di Bali. Di samping kegiatan-kegiatan tersebut. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 realisasinya telah mencapai 75.3 ribu. 5 lokasi di antaranya telah ditetapkan pada tanggal16 Maret 1980 bertepatan dengan dicanangkannya World Conservation Strategy.884.5 ribu hektar. penghijauan dan rehabilitasi lahan. antara lain dengan dipekerjakannya sebanyak 7. Hal ini dimaksudkan untuk mengimbangi kerusakan kawasan hutan sebagai akibat dari perladangan berpindah. yaitu di gunung Leuser.32). maka setiap tahunnya terus ditingkatkan kegiatan di bidang reboisasi.934. Kepulauan Seribu. Tanjung Puling.1 ribu ekor.3 ribu yang berasal dari 1. Dalam pada itu sejalan dengan upaya-upaya dalam bidang perlindungan hutan dan pelestarian alam. yaitu dari 118. Untuk itu selama Pelita III telah diadakan penyuluhan. penghijauan dan rehabilitasi lahan Dalam rangka pelaksanaan program penyelamatan hutan. selain dilakukan usaha pemanfaatan juga tetap diperhatikan kelestariannya melalui pengurangan populasi yang telah melampaui keseimbangan ekosistemnya. maka dalam rangka reboisasi lahan kritis juga telah dilakukan persiapan-persiapan kearah pembangunan Departemen Keuangan RI 189 . Dari 16lokasi tersebut. Bila dibandingkan dengan tahun 1982/1983 dengan nilai ekspor sebesar US $ 4. Dalam rangka pembinaan populasi satwa liar.5.432 orang petugas lapangan penghijauan dan reboisasi. Ujung Kulon. kebakaran hutan dan penggembalaan ternak secara liar. tanah dan air. gunung Gede-Pangrango.2 ribu ekor. Sedangkan 11 lokasi lainnya. 7.3.

dan untuk menunjang kegiatan tersebut telah dibangun Pusat Teknologi Benih di Bogor. selama Pelita III telah dibangun somber benih seluas 4. yang sarna dengan luas kawasan penghijauan seluas 579. antara lain telah dilakukan pengembangan teknologi benih dan pemulihan jenis pohon. serta penyuluhan guna peningkatan partisiposi masyarakat dalam pemeliharaan kelestarian sumberdaya alam.2 persen bila dibandingkan dengan Pelita II.390 unit checkdam. menjadi 525. yang kemudian ditingkatkan lagi dalam tahun 1983/1984 menjadi 7. Sumatera Selatan. Dalam hubungan ini.6 ribu hektar.360 hektar per tahun. yaitu dari rata-rata seluas 364. seperti halnya reboisasi dilakukan melalui dana Inpres bantuan penghijauan dan reboisasi. dan dengan metoda vegetatif yang antara lain dilakukan melalui pembuatan kebun-kebun rakyat. maka selama Pelita III realisasi kegiatan penghijauan secara keseluruhan telah meningkat sebesar 44. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni I 1984 juga telah berhasil dilakukan penghijauan seluas 311. Sejak tahun 1976/1977 kegiatan penghijauan.613. yaitu kegiatan yang dikaitkan dengan pernbangunan irigasi.600 hektar.753 unit yang masing-masing luasnya antara 10 sampai 20 hektar. Dari hasil-hasil yang telah dicapai tersebut. Sehubungan dengan itu. serta pembuatan petak percontohan penghijauan sebanyak 2. maka dilakukan upaya pemukiman kembali bagi para peladang berpindah untuk mencegah rusaknya sumberdaya alam berupa hutan.000 hektar. Pusat Pemulihan Pohon di Yogyakarta dan Unit Pengembangan Teknologi Persemaian di Benahat. yang pelaksanaannya dilakukan baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. Departemen Keuangan RI 190 . melalui metoda sipil teknis telah berhasil clibangun sebanyak 2. Selama Pelita III. Di samping itu dilakukan juga pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu. Dalam rangka kegiatan rehabilitasi lahan.576 hektar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 hutan jenis kayu indah dan langka. yang tersebar di 15 propinsi.262 kepala keluarga (KK). pembuatan beras dan saluran air seluas 184. Sedangkan melalui metoda vegetatif telah berhasil dibuat kebun rakyat seluas 1.400 hektar per tahun. antara lain berupa studi-studi dan penyiapan rencana pengembangannya pada areal seluas 720. Dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut dilakukan melalui metoda sipil teknis.500 hektar. Sedangkan dalam rangka pengembangan dan pembenihan.210 KK. sampai dengan tahun 1982/1983 telah dilaksanakan pemukiman kembali terhadap para peladang berpindah sebanyak 6.000 hektar.

650 53.3 8.Peruasahaah dalam rangka PMA Jumlah perusahaan yang telah memperoleh HPH 1) Angka sementara Jumlah (unit) 457 61 2 520 Luas areal (ribu ha) 45.682 89.1 2.1 240. 32 AREAL PENGHIJAUAN DAN REBOISASI.400 558.600 610.000 179.700 147.000 Reboisasi 33. Dalam hubungan ini.999.100 501.802 70. dari 520 Departemen Keuangan RI 191 .4.991 578.315 22.219.300 1) 75.971. 33 PENGUSAHAAN HUTAN SAMPAI DENGAN MARET 1984 1) Jenis dan sifat usaha 1.Perusahaan patungan 3.400 186.5.681 102. Pengusahaan hutan Berdasarkan tataguna hutan kesepakatan luas kawasan hutan produksi di Indonesia adalah sekitar 70 juta hektar.5 7. Apabila ditinjau dari status dan sumber permodalannya.658 170.623 302.578 98.900 378.5 juta (Tabel VII.219.544 213.7 126.402 50.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.697 632.500 149.Perusahaan yang merupakan usaha nasional 2.855 104.118 35.174 35.689 665.032.000 118.434 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.9 7. 1969 .840. yang pengusahaannya di luar Jawa selain dilakukan oleh Perum Perhutani juga dilaksanakan oleh pemegang hak pengusahaan hutan (HPH). sampai dengan akhir bulan Maret 1984 telah dilakukan pengusahaan hutan sebanyak 520 unit dengan areal konsesi seluas 52.543 204.6 Investasi ( US$ juta) 1.148 276.000 311.9 juta hektar dan investasi yang ditanam senilai US $ 2.1984 ( dalam hektar ) Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 2) Penghijauan 149.33).0 52.259 107.

6 juta.3 961.120 17.280 18.1 juta.6 100. produksinya telah mencapai sebesar 1.2 1.366 22.954 8. namun hasil volume dan nilai ekspornya telah meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Walaupun produksi kayu da\am tahun 1983 telah menurun.3 juta.971.9 849.256 20.986 9.702 ribu meterkubik yang terdiri atas 8.613 68.2 891.738 10. Jumlah tersebut apabila dibandingkan dengan tahun 1982 yang telah mencapai sebesar 13.8 1.3 1984 2) 450 754 1.424 7.1 juta.3 168.204 2.327 65.800 19. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Maret 1984.123 76.610 74. serta 0.8 1977 573 22.3 juta.1 juta hektar dan US $ 8.3 385 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 192 . sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 6.760 78.717 13.4 1978 475 25.488 75.4 persen. Luas areal hutan dan besarnya investasi yang ditanam oleh kedua jenis perusahaan tersebut masingmasing adalah 7.701 16.9 1.262 65.660 23.7 1973 676 25.1984 Produksi (ribu m3) Ekspor Volume % Nilai Kayu Kayu jati rimba Tahun J umIah (ribu m3 produksi (US$juta) 1969 520 7.015 ribu meter kubik. 1969 .781 26.8 juta hektar dan US $ 240.60 1980 500 21.70 1979 575 24.065 19.921 85.947 21.3 26 1970 568 11.008.107 3.6 1971 770 12. Sejalan dengan pengaturan melalui HPH.204 meterkubik.856 12.6 1972 597 17.427 18.613 ribu meterkubik senilai US $ 891.6 1976 480 20.980 45. Hal tersebut disebabkan terutama karena adanya kebijaksanaan untuk mengurangi secara bertahap ekspor kayu bulat guna lebih mendorong industri pengolahan kayu dalam negeri.490 25. dan 716 ribu meterkubik kayu jati.323 13. sebanyak 457 unit di antaranya adalah perusahaan nasional dengan areal pengusahaan seluas 45.015 5.521 86.939 19. 34 PRODUKSI DAN EKSPOR KAYU.7 1975 595 15. Sedangkan selebihnya sebanyak 61 unit merupakan perusahaan patungan dan 2 unit lagi berupa penisahaan asing dalam rangka PMA.412 59.596 44.425 52.806 86.70 1981 578 15.980 ribu meterkubik senilai US $ 849.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 unit perusahaan yang telah memperoleh HPH tersebut.0 juta hektar dan investasi senilai US $ 1. Dalam tahun 1982 volume dan nilai ekspor kayu yang terdiri atas kayu rimba dan kayu jati baru sebanyak 5.240 21.805.2 1.313 ribu meterkubik atau sebesar 25.035.4 783. hasil produksi kayu dalam tahun 1983 berjumlah sebesar 9. Tabel VII.2 725.740 14.40 1982 692 12.4 230.786.448 79.587 8. berarti mengalami penurunan sebesar 3.5 583.4 501.124 25.9 1974 620 22.376 15.6 1983 1) 716 8.981 78.968 13.296 13.702 6.986 ribu meter kubik kayu rimba. yang terdiri atas 754 ribu meterkubik kayu rimba dan 450 ribu meterkubik kayu jati.

5 Tahun Meranti 1970 68.s 5.7 2.9 10 10.6 0. yaitu dari 58.7 1.4 0.3 0. dalam waktu yang sarna telah berjumiah sebanyak 162 unit dengan kapositas produksi sebanyak 8.3 10.2 1 2.2 0.9 persen dan 0.8 0.9 1.5 3. beberapa jenis kayu dari Indonesia cukup dikenal dan mempunyai posaran yang mantap di luar negeri.9 3.3 1. pulai dan jati.8 1981 54.4 1.6 23.8 5 6 6.34.2 0. 1970 . Akibat positif daripada kebijaksanaan tersebut ditandai dengan berkembangnya industri kayu gergajian dan kayu lapis di dalam negeri.9 persen.7 0.4 13.9 13.1 22.4 1978 66 1979 58.2 26.9 1.2 persen menjadi 14. agatbis.7 Jati 0.6 14. 2.2 0.8 11. 1.9 juta meterkubik.9 2.3 0. Jenis kayu tersebut antara lain adalah kayu meranti.5 1971 62.8 2.1 0.9 6 3 2.1 1982 56.5 Jumlah 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Hal ini berarti telah terjadi peningkatan volume dan nilai ekspor masing-masing sebesar 10.9 0.4 4.2 2.2 1) Angka sementara Ramin 9.7 2.2 1. sejak lima tahun terakhir jenis kayu meranti merupakan bagian terbesar dalam komposisi ekspor kayu Indonesia.7 1972 62.8 14.7 1973 58 1974 64.1 0.5 1977 63.8 3.1983 Kapur/ keruing 1.3 1975 68 1976 64.5 3. Dilihat dari sudut permintaan.9 1980 57.6 Aglutis 5.1 10.8 1.2 14.2 0. yang sampai dengan bulan Maret 1984 jumlahnya telah mencapai 412 unit dengan kapositas produksi sebanyak 11.6 21. agatbis dan jati peranannya telah meningkat masingmasing dari 3. 35 JENIS-JENIS KAYU DALAM PERSENTASE DARIPADA VOLUME EKSPOR KAYU.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.9 5.7 13 14. ramin. 35.0 juta meterkubik.1 1.9 persen dalam tahun 1979 meningkat menjadi 70. perkembangan volume dan nilai ekspor kayu dapat diikuti melalui Tabel VII.9 8.8 2. Demikian pula jenis kayu ramin.7 persen dan 0.4 0.6 persen dan 4. kruing.6 21 19.2 persen dalam tahun 1983. Walaupun jenis-jenis kayu tersebut pemasarannya ke luar negeri telah mantap.6 0. Oleh karena itu guna mencegah kemungkinan melemahnya ekspor kayu di posaran internasional. namun beberapa jenis kayu lainnya masih harus dikembangkan dan dipromosikan agar dapat memasuki posaran dunia.7 2 1.8 persen. Departemen Keuangan RI 193 .9 4 2.4 11.2 10.7 10.7 1.2 0.9 persen. Sebagaimana terlihat Facia Tabel VII.3 0.9 8.1 6.6 11.4 11.7 5.6 persen. antara lain telah dilakukan diversifikasi komoditi dan pemasarannya melalui pengembangan pemasaran ekspor hasil olahan/industri dan perluasan negara tujuan ekspor.8 Pulai Lain-lain 13.7 10.7 19831) 70. Sedangkan jumlah industri kayu lapis.

khususnya di sektor minyak dan gas bumi. yang terdiri dari 477. Upaya-upaya tersebut selain dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan dan peningkatan produksi. juga ditujukan untuk penganekaragaman hasil-hasil pertambangan.9 juta barrel minyak mentah.7 persen apabila dibandingkan dengan produksi tahun keempat Pelita III yang berjumlah 459. Pertambangan dan energi Selama Pelita III. Sampai dengan tahun terakhir Pelita III telah dapat diselesaikan perluasan kilang minyak Cilacap serta pembangunan unit hydro cracker di Dumai dan di Balikpapan dalam rangka pemehuhan BBM dalam negeri. Jumlah terse but menunjukkan peningkatan sebesar 12.6 juta barrel. peranan bidang pertambangan dan energi masih tetap besar dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia. baik untuk keperluan ekspor maupun guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri di dalam negeri. Dengan hasil-hasil terse but Indonesia telah dapat mengurangi ketergantungannya terhaclap impor bahan bakar minyak (BBM).6. maka perkembangan produksi minyak bumi menjadi kurang Departemen Keuangan RI 194 . walaupun dalam kurun waktu tersebut hampir seluruh komoditi tambang yang diekspor mengalami kesulitan pemasaran. 7. LNG dan LPG (liquified petroleum gas).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. perkembangan yang paling menonjol di sektor pertambangan antara lain ditandai oleh keberhasilan dalam meningkatkan produksi batu bara. Perekonomian dunia yang tidak menentu bagi Indonesia merupakan hambatan utama dalam mencapai peningkatan produksi bahan-bahan tambang utama. dan selebihnya sebanyak 39.1. Namun demikian produksi beberapa bahan tambang masih menunjukkan peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II. di sam ping perluasan kilang LNG (liquified natural gas) Arun dan kilang LNG Badak. serta pengembangan teknologi pertambangan yang mencakup pula pengolahannya.0 juta barrel.6. Minyak dan gas bumi Hasil produksi minyak bumi dalam tahun kelima Pelita III mencapai 517. Selama Pelita III. Sehubungan dengan itu telah dilakukan upaya-upaya antara lain berupa pengembangan inventarisasi dan eksploitasi berbagai sumberdaya mineral dan energi. Dengan melemahnya posaran minyak dunia akhir-akhir ini dan pembatasan produksi yang disepakati oleh para anggota OPEC sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan tingkat harga yang kini berlaku.7 juta barrel berupa kondensat. yang tercermin dari pembatasan produksi minyak bumi sebagaimana telah disepakati oleh negara-negara penghasil minyak OPEC dan pernbatasan ekspor timah dari Dewan Timah Internasional terhadap anggota-anggotanya. sebagai langkah persiapan menuju pengembangan dan pemanfaatan batU bara secara besar-besaran di masa datang.

1 juta barrel atau sebesar 22. atau 2 juta barrel lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun Departemen Keuangan RI 195 . selain berpengaruh terhadap produksi minyak bumi juga menghambat usaha peningkatan ekspor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menggembirakan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka ditempuh kebijaksanaan untuk meningkatkan eksplorasi. Sementara itu meningkatnya kebutUhan terhadap BBM dalam negeri telah diimbangi dengan pengadaan dan peningkatan produksi BBM yang berasal dari kilang minyak dalam negeri.36). antara lain dengan menggiatkan survai selsmik dan pemboran sumur minyak. yang dapat mengolah bahan residu berkadar belerang rendah. Realisasi ekspor minyak bumi Indonesia selama Pelita III. Dalam hubungan ini selama Pelita III khususnya dalam tahun 1983/1984 telah ditingkatkan kapositas pengilangan minyak di kilang Balikpapan dan Cilacap. masing-masing sebanyak 200 ribu barrel per hari. Sedangkan volume ekspornya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sekitar 215 juta barrel. Dalam tahun 1983 telah dilakukan eksplorasi terhadap 4 lokasi baru yang meliputi daerah Riau. Dengan demikian secara keseluruhan produksi pengilangan minyak bumi dalam tahun terakhir Pelita III telah mencapai 198 juta barrel. kecuali tahun terakhir Pelita III yang sedikit meningkat. yang terdiri atas 99 iuta barrel hasil kilang dalam negeri dan sebanyak 99 juta barrel dari hasil kilang luar negeri (Tabel VII.37). maka dalam tahun terakhir Pelita III telah berhasil dilakukan survai seismik sepanjang 56. yang terdiri alas 237 juta barrel minyak mentah dan 22 juta barrel kondensat. Perubahan situasi posaran minyak bumi internasional yang terjadi selama Pelita III. Melawai Barat. Dengan ditingkatkannya kapositas pengilangan di dalam negeri tersebUt.9 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang baru mencapai sebanyak 336. Adapun produksi minyak bumi dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sekitar 259 juta barrel. maka produksi minyak bumi yang telah dapat diolah dalam tahun 1983/1984 mencapai 99 juta barrel atau 10 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Volume ekspor minyak bumi dan hasil minyak dalam tahun 1983/1984 telah mencapai sebanyak 413.1 juta barrel (Tabel VII.000 kilometer lintasan. Di samping itu juga dilakukan pembangunan unit hydrocracker kilang Dumai. dan pemboran sebanyak 141 sumur minyak. dengan kapositas 85 ribu barrel per hari. Selanjutnya dari jumlah BBM hasil kilang dalam negeri terse but telah diposarkan untuk keperluan di dalam negeri sebanyak 161 juta barrel.944 kilometer lintasan dan pemboran sumur minyak sebanyak 250 sumur. Kegiatan eksplorasi yang dilaksanakan dari tahun ke tahun telah memperlihatkan hasil yang meningkat. Jika dalam tahun terakhir Pelita II baru dilaksanakan survai seismik sepanjang 21. dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan menurun hila dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II. Melawai Timur dan Sumatera Selatan.

maka terdapat kenaikan sebesar 47.3 .1 8.2 persen dan 20.6 25.0 93.10.3 10.8 86.0 189.4 2.2 195.9 191. energi pengganti BBM bagi kilang minyak dan pabrik semen Cibinong.1 38. dan yang telah dimanfaatkan adalah sebanyak 1.123 milyar kakikubik atau 87.9 115.9 persen. Peningkatan pemanfaatan gas bumi tersebut antara lain disebabkan karena adanya peningkatan pemanfaatan gas bumi untuk LNG.100 milyar kakikubik dan 932 milyar kakikubik. pembuatan pupuk urea.3 158. Produksi gas bumi dalam tahun 1983/1984 mencapai sebanyak 1.6 persen.6 – 4.0 1.1 Departemen Keuangan RI 196 .1 198.2 persen dan 76.0 128. gas bumi tetap dapat ditingkatkan produksinya selama Pelita III.5 117.6 milyar kakikubik.278 milyar kakikubik. 1969/1970 -1983/1984 ( dalam juta barrel ) Tahun Minyak mentah yang diolah ( in-take) 75. maka berarti telah terjadi peningkatan masing-masing sebesar 16.0 183.3 0.6 161. serta bagi perusahaan gas negara (PGN) di kota Jakarta dan Bogor. 37 VOLUME PENGILANGAN MINYAKMENTAH. Sedangkan apabila dibandingkan dengan produksi dan pemanfaatan gas bumi dalam tahun terakhir Pelita II yang masing-masing baru mencapai 868.0 Persentase kenaikan 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/19841) 1) Angka sementara – 13. Tabel VII. Perkembangan produksi dan pemanfaatan gas bumi sampai dengan tahun 1983/1984 dapat diikuti melalui Tabel VII.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sebelumnya.1 .38.5 8.3 – 3.2. Berbeda dengan minyak bumi.8 116.5 persen.2 milyar 'kakikubik dan 650.1 103.0 23. Apabila dibandingkan dengan produksi dan pemanfaatan dalam tahun 1982/1983 yang masing-masing berjumlah 1.

7 650.3 25.2 344.2 24.1 juta MMBTU.2 1.2 148. yakni di LNG Plant Badak dan LNG Plant Arun.3 32. 39 PRODUKSI DAN EKSPOR TIMAH.5 24.6 20. Apabila dalam tahun 1982/1983 baru diekspor sebanyak 477.1 868. maka ekspor LNG yang telah dimulai sejak tahun 1977 juga terus menunjukkan peningkatan.100.0 1.278. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 17.7 21 23.2 31.4 85.028.1 914.4 17.9 19.1 813.9 33 25.2 33 30.6 795.8 23.6 35.2 239. maka dalam tahun Departemen Keuangan RI 197 .3 juta MMBTU.6 27. jumlah produksi LNG telah mencapai 11.8 15 18.1 23.3 28.4.0 .8 27.7 25 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1) 1) Angka sementara Produksi LNG di Indonesia baru mulai dilakukan sejak Pelita II. 38 PRODUKSI DAN PEMANFAATAN GAS BUMI. 1969/1970 -1983/1984 (dalam ribu ton) Bijih 17.1 20.2 1.4 633. 1974/1975 .123.4 19.0 Pemanfaatan 78.8 Ekspor 16.0 juta ton sarna dengan sebanyak 569.4 juta ton sarna dengan 485.5 25.5 22.2 1.1 366.8 932. Sejalan dengan meningkatnya produksi LNG tersebut.2 persen dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang berjumlah 9.8 1.4 30.2 33.4 31.9 25.1 20.1983/1984 ( milyar kaki kubik ) Tahun 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1) 1983/1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Produksi 206.7 26.8 juta MMBTU. Dalam tahun 1983/1984.5 21.0 1.136.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.2 25.042.3 26. Tahun Tabe1 VII.2 27.6 24. Produksi Logam timah 14.

2 ribu ton logam timah. Produksi LPG dalam tahun 1983/1984 meneapai sebanyak 514.6. Penurunan tersebut disebabkan karena berkurangnya jumlah permintaan nikel di posaran dunia. Nikel Jumlah ekspor hasil tambang nikel selama 2 tahun terakhir Pelita III berturut-turut mengalami penurunan.566 juta. maka dalam tahun 1983/1984 telah turun menjadi 810. Perkembangan produksi dan ekspor logam timah dapat dilihat pada Tabel VII.198 metrik ton atau 5.7 ribu ton senilai US $ 351. atau suatu peningkatan sebesar 25.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 1983/1984 telah meneapai sebanyak 555.1 persen.952 metrik ton dalam tahun 1983/1984.5 juta MMBTU yang berarti terjadi peningkatan sebesar 16.6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang berjumlah 486. Adapun volume ekspor tin:ah dalam 2 tahun yang sarna juga mengalami penurunan.559 metrik ton dalarn tahun 1982/1983 menjadi sebesar 456. Timah Hasil produksi timah dalam tahun 1982/1983 meneapai sebanyak 33.39.2. Sedangkan penjualan logam timah di dalam negeri dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/ 1984 masing-masing meneapai sebanyak 464.505 juta.0 ribu ton senilai US $ 309. Penumoan tersebut antara lain disebabkan oleh adanya kemerosotan harga timah di posaran internasional. maka dalam tahun 1983/1984 menjadi sebanyak 25. yaitu dari sebesar 461. 7.3. sampai dengan tahun terakhir Pelita III terus mengalami peningkatan.0 p_rsen. 7. kesulitan pemasaran di luar negeri. Lex Plant Union Oil Samail di Kalimantan Timur dan LPG Plant Areo di J awa Barat. Dalam waktu yang sarna.997 juta.834 metrik ton. yaitu apabila dalam tahun 1982/1983 berjumlah sebanyak 897. Departemen Keuangan RI 198 .1 ton.870 juta. Mundu di Cirebon. Sungai Gerong. volume ekspor LPG telah menurun sebesar 1.1 juta dalarn tahun 1983/1984.4 ribu ton bijih . yaitu jika dalam tahun 1982/1983 meneapai sebanyak 27. yaitu dari US $ 86.5 ribu ton senilai US $ 19. LPG Plant Rantau di Sumatera Utara. serta pembatasan kuota ekspor yang dikenakan oleh Dewan Timah Internasional kepada negara-negara pengekspor timah. Di lain pihak nilai ekspornya telah menunjukkan peningkatan. Dalam tahun 1983/1984 terjadi penurunan produksi menjadi sebanyak 25.2 ton dan 406.0 ribu ton bijih timah dan 30.8 ribu ton logam timah. Produksi LPG yang berasal dari kilang minyak Plaju.4 juta dalam tahun 1982/1983 menjadi US $ 108.timah dan 25.3 persen.7 ribu ton senilai US $ 15.6.

5 830.6 924.6 209.6 201.1 184.6 924.1 176.7 125. 40 PRODUKSI DAN EKSPOR BIJIH NIKEL.8 Departemen Keuangan RI 199 .4 1.4 853.9 188.1983/1984 (dalam ribu ton kering) Tahun 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Produksi 9.5 989. 1969/1970 -1983/1984 (dalam ribu ton) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971 /1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) Produksi 311.0 538.2 707.8 187.4 1) 199.4 1.4 764.0 971.5 225.2 194.6 167.207.3 197.0 853.0 850.5 830.238.6 1.177.192.2 1.9 212.7 211.7 1.7 1.2 707.5 830.5 897.5 1) 810.3 114.8 220.2 207. 1972/1973 .5 178.0 887.3 189.0 689..0 887.9 781.7 Ekspor 8.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.6 202.778.1 751.6 Ekspor 232.3 223.7 737.316. 41 PRODUKSI DAN EKSPOR KONSENTRAT TEMBAGA.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.2 216.

4 12.5 68.2 -10 -17.6 3 4.4 ribu ton.2 78.2 66.2 456.443 ton senilai US $ 42.3 248. Tembaga Produksi tembaga dalam tahun 1981/1982 telah mencapai 197.5 ribu. dan kemudian dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi sebanyak 211.4 196.3 376.130 juta.6 204 183.6 290.4 23.5 614. 7.1 35.8 177.6 18.7 17.2 120.2 283.4 ribu. 43 PRODUKSI BATU BARA.1 25.2 299.6 321. Namun dalam tahun 1983/1984 menurun menjadi sebanyak 202.40.41. Dalam tahun 1982/1983 telah di ekspor nikel matte sebanyak 15.3 329. Departemen Keuangan RI 200 .001 juta.1 ton senilai US $ 21.9 291.7 ribu ton senilai US $130.6.4. 42 PRODUKSI DAN EKSPOR P ASIR BESI.469 juta.2 237.923.2 14.3 34.2 145. Perkembangan jumlah produksi dan ekspor bijih nikel dapat dilihat dalam Tabel VII.274 juta dan 4.2 346.9 171.1 Ekspor 242.5 35.7 276.1 ton senilai US $ 23.1983/1984 ( dalam ribu ton) Tahun 1970/1971 1971 /1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 2) Produksi 53.5 256 267. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlahnya mengalami penurunan menjadi sebanyak 199.5 9.5 10.2 21.6 348.536 juta.9 -10.876 ton senilai US $100.935. Perkembangan jumlah produksi dan ekspor konsentrat tembaga dapat dilihat pada Tabel VII.6 135.8 ribu ton senilai US $ 130. dari dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi sebanyak 225. 1969/1970 ( dalam ribu ton) Persentase kenaikan -0.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. dan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 22.3 105.5 ribu ton.6 ribu ton senilai US $ 114. Adapun jumlah ekspornya dalam tahun 1981/1982 telah mencapai sebanyak 209.3 12 Tabel VII.7 1) 122.6 Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/19841) Produksi 176 175.248.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1) Angka sementara Jumlah feronikel yang diekspor dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 masingmasing mencapai sebanyak 4. 1970/1971 .8 298.7 ribu ton.624.7 349.1 276.7 317.

3 1 1976/1977 3. Perkembangan produksi batu bara dapat dilihat pada Tabel VII.42.4 1971/U)72 343.6 ribu ton.4 3.3 250. Pasir besi Penambangan pasir besi sejak 1 Maret 1982 hanya dilakukan di daerah Cilacap.4 1973/1974 327.2 1980/1981 224.8 ribu ton.5.6 6.3 2.9 ribu ton.2 ribu ton atau 34.9 I) 1983/1984 1.7 246.3 288.2 398 1977/19'18 252.5 290 1976/1977 349.7 persen dibandingkan dengan produksi tahun 1982/1983 yang baru mencapai 456. Dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 telah diekspor masing-masing sebanyak 10.4 1979/1980 1.4 251. Dalam tahun 1983.7 1982/1983 262.4 186. jumlah ekspor batu bara Indonesia mencapai sebanyak 283.2 2. 1969/1970 .1 ribu dan 12.2 1983/1984 1) 265.8 1980/1981 2.6. yang berarti suatu kenaikan sebanyak 162.1983/1984 (dalam ton) Tahun Produksi Penjualan Ekspor 1969/1970 10.3 324 1974/1975 260 262. Batu bara Dalam tahun 1983/1984 produksi batu bara berjumlah 614.2 2.5 ribu ton.3 1974/1975 6. 45 PRODUKSI. PENJUALAN DALAM NEGERI DAN EKSPOR LOGAM PERAK.1 ribu ton.9 1979/1980 197.6.1983/1984 (dalam kilogram) Tahun Produksi Penjualan 1969/1970 261 1970/1971 255.9 persen bila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru mencapai 121. dan sedang dilakukan penelitian lanjutan guna mencari metode pemrosesan lainnya dalam rangka pemanfaatan pasir besi Yogyakarta menjadi bahan baku bagi pabrik besi baja PT Krakatau Steel.5 ribu ton atau 133.8 7.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 7.1 3. 44 PRODUKSI DAN PENJUALAN DALAM NEGERI LOGAM 1969/1970 .6. Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di dalam negeri. Hasil produksi pasir besi yang dalam tahun 1981/1982 sebanyak 105.2 1971/1972 8.9 1977/1978 2. Perkembanganjumlah produksi dan ekspor pasir besi dapat dilihat pada Tabel VII.1 2.7 1973/1974 8.9 ribu. maka sebagian daripada produksi batu bara tersebut telah pula diekspor.8 1.8 3.5 1970/1971 9. Departemen Keuangan RI 201 .0 ribu ton senilai US $ 119.4 1972/1973 332. Tabel VII.1 1981/1982 172.1 261 I) Angka sementara T a bel VII.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. yang berarti peningkatan sebanyak 158.41) 1981/1982 1.1 4 1975/1976 4.2 0. Sedangkan pengembangan cadangan pasir besi di daerah pantai selatan Yogyakarta masih terbatas dalam studi kelayakan. karena daerah penambangan di daerah Pelabuhan Ratu telah habis cadangannya. dalam tahun 1982/1983 meningkat menjadi 129.5 1975/1976 321. sedangkan dalam tahun 1983/1984 mengalami penurunan menjadi 122.7 1.3 ribu ton.1 1978/1979 2.1 2.7 ribu ton.1 1972/1973 9.3 ribu ton senilai US $ 123.9 1.9 1982/1983 3.6 170.3 269 1978/1979 220.43.

walaupun cadangan bauksitnya masih ada.6. selain dihasilkan konsentrat emas dan perak juga diperoleh konsentrat timbal dan seng yang dapat diekspor walaupun saat ini jumlahnya masih kecil.0 kilogram. Jawa Barat telah semakin dalam.0 ribu ton dan 792. pulau Kelong dan pulau Dendang. sehingga menurunkan permintaan bauksit di negara tersebut. sedangkan kadar logam timbal dan seng semakin tinggi. 7. Perkembangan produksi dan penjualan logam emas dan perak dapat dilihat pada Tabel VII. Banten Selatan.46.45. yang masing-masing dilengkapi dengan instalasi pencucian.6 ribu ton.44 dan Tabel VII. Sedangkan produksi dan penjualan logam perak dalam tahun 1983/1984 masing-masing meneapai 1. atau suatu peningkatan sebesar 17 persen dan 9 persen. yang berarti mengalami penurunan sebanyak 1. masing-masing meneapai 266.4 persen untuk penjualannya hila dibandingkan dengan tahun 1982/1983.1 kilogram dan 261.9 ribu ton dan 861.4 ton atau 45. sedangkan dalam tahun 1983/1984 masing-masing telah meningkat menjadi sebanyak 841. Departemen Keuangan RI 202 .7 kilogram untuk produksi dan sebanyak 9.8. sedangkan di Jepang telah terjadi restrukturisasi dalam industri.7 ton dan 1.2 persen untuk produksi dan sebanyak 1. yang disebabkan karena penambangan tersebut tidak menguntungkan. yaitu di pulau Tembiling. Dari tabel tersebut terlihat bahwa produksi dan ekspor bauksit dalam tahun terakhir Pelita III mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun terakhir Pelita II. Melalui proses yang telah disempurnakan. Selama tahun 1983/1984 hasil produksi dan penjualan emas di dalam negeri. dan oleh sejumlah pertambangan rakyat yang dilaksanakan dengan peralatan dan teknik yang sederhana serta dengan hasil produksi yang tidak teratur.2 ton atau 41.2 ribu ton. Bauksit Penambangan bauksit di Indonesia dilakukan di daerah pulau Bintan dan sekitarnya.8 kilogram untuk penjualannya. yang berarti telah terjadi peningkatan sebanyak 3. Dalam tahun 1982/1983 jumlah produksi dan ekspor bauksit masing-masing berjumlah sebanyak 721.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.7 ton. yang terutama disebabkan karena pemasaran bauksit Indonesia hanya tertuju ke Jepang. Emas dan perak Penambangan emas dan perak yang dilakukan di penambangan Cikotok. Penambangan di pulau Koyang sejak tahun 1982 telah dihentikan. sehingga kadar emas dan perak dari bijih yang dihasilkan menjadi semakin rendah. Sementara itu penambangan di pulau Angkut telah dihentikan karena cadangan bauksitnya telah habis.6. masing-masing bila dibandingkan dengan tahun 1982/1983.7. Selain itu emas dan perak juga dihasilkan oleh Freeport Indonesia Inc berupa logam ikutan dalam konsentrat tembaga. Perkembangan produksi dan ekspor bauksit dapat dilihat pada Tabel VII.

522 1.644 3. maupun untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.. ashes. Yodium 9.3 29.396 3.149 75.942 6. mangaan. Hal ini berarti produksi granit mengalami penurunan sebanyak 116.266.610 164. BeIerang 900 1.485 2.648 6.10.345 11. yang termasuk dalam bahan galian industri atau bahan galian golongan C.228 14.47.078 907.909 4.079 1.483 1.2 5. walaupun di antaranya telah ada yang diekspor dalam jumlah relatif kecil dan secara tidak teratur.847 6.144 3.657. Aspal 115.621 b.114. Gamping 411. Tabel VII.4 25.216 33.315 28.520 19.9.780 6.111 7. peldspar.074 155. terdiri alas kaolin.152 583.730 938.973 7.266 16. sedangkan ekspornya telah meningkat sebanyak 676.433 2.3 ribu ton atau 5 persen.7 ribu ton dan 1. Granit Dewasa ini penambangan batu granit dilaksanakan di pulau Karimun.782 332.190.603 220 3.528 2.951 2.390.894 7.750 13. Bahan-bahan tambang lainnya Bahan-bahan tambang lainnya. K a 0 1 i n 12. Mangaan 7.320 819 5.976 995.120.115 58.697 1.6.626 192. yarosit dan kalsit.569 653.6 ribu ton.196 2. 716.965 18.071 5.616 13. Riau.374.232 13. Marmer 9.575 1. Listrik Pembangunan di bidang kelistrikan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat. fosfat.244 260. K a Is it 3.bahan semen a.1 27 11.7633) 1803) 1973) 4973) 1.48. belerang. Yarosit 274 341 1.842 1.598 7. Pada umumnya bahan tambang ini diperuntukkan bagi konsumsi dalam negeri.902 7.944 35. marmer. serta untuk mendorong dan Departemen Keuangan RI 203 .9 7.018 276.904 75. Bahan .847 5.783 6.48 PRODUK BAHAN GALIAN 1).764 1.865.4 ribu ton.893 379.811 524.1983 ( dalam ton kecuali marmer dalam m2 slabs) 1974 1975 1976 1977 1978 Jenis 1972 1973 1979 1980 1981 1982 19834) 1.870 _2) 10.828 25.639 3.6. Fosfat 1.939 12.9 25.906 29.563 725. bentonit. G ips 290 453 855 570 _2) 1) Mcrupakan hasil usaha swasta nasional.6.647 80.580 95.601 173.323 38.643 1.170 115. Kegiatan penambangan bahan-bahan tambang tersebut dilakukan oleh badan usaha milik negara (BUMN) dan perusahaan swasta nasional. Posir kwarsa 44.721 12.597 _2) 15.11. aspal.979 110. Perkembangan produksi dan ekspor granit dapat dilihat pada Tabel VII.809 221.196 148 147 _2) 14. Feldspar 2.006 37.717 12. Dalam tahun 1982/1983.704 784 1. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah terjadi penurunan masing-masing menjadi 2.241 _2) 13.944 3. 7.605.909 3.609 25.753.618 _2) 11.724.771 2.051 106. jumlah produksi dan ekspor granit mencapai 2.360. posir kuarsa.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7.817 80.484 9.3 28.192 8.688 85.971 30.949 8.80 ribu ton atau sebesar 95 persen. Lempung 76.756 1.066 '270. pcrusahaan daerah dan lain-lain 2) Data tidak terscdia 3) Angka diperbaiki 4) Angka scmcntara 7.496 25.441 310.148 64. Perkembangan produksi tambang lainnya dapat dilihat pada Tabel VII. As b e s 223 283 92 50 31 15 103) 253) 74 9. gamping lempung.529 75. Bentonit 4.161 62.528 29.6 19.752 4.9 33.639 17. 1972 . baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan.287 219.216 25.465 6.0 ribu ton dan 713. yodium.631 2.522 15.295 5.697 104.889 6.990 138.323 11.307.439 7.739 161.767 1.349 3.191 2.3 25.3 25.563 7.690. Dalam pada itu penjualan batu granit dilaksanakan baik untuk keperluan ekspor khususnya ke Singapura dan Malaysia.

Dengan peningkatan rehabilitasi dan pembangunan di bidang kelistrikan tersebut.980 MW. Hal ini terlihat antara lain dari permintaan tenaga listrik yang semakin meningkat yang diakibatkan oleh terus bertambahnya tingkat kebutuhan masyarakat. 10 persen.50.596 MWH. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat di segala bidang.800 MW.410 MWH. baik sebagai sarana kehidupan sehari-hari maupun sebagai sarana produksi.405. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi sebesar 501.251 KVA dan 3. atau suatu peningkatan sebesar 41 persen. Selama Pelita III.843. Di samping itu dalam tahun yang sarna juga telah dilakukan rehabilitasi dan pembangunan jaringan transmisi. yang berarti terjadi peningkatan masing-masing sebesar 12 persen. yaitu sejauh mungkin memanfaatkan potensi sumber energi non minyak dan penghematan bahan bakar minyak.619 MWH. Dalam tahun 1982/1983 jumlah produksi tenaga listrik. daya tersambung dan daya terpasang tenaga listrik dapat diikuti pada Tabel VII. rencana dan pembangunan tenaga listrik dikaitkan dengan kebijaksanaan umum bidang energi. gardu induk dan jaringan distribusi. Oleh sebab itu pembangunan di bidang kelistrikan terus dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. penjualan. Di samping itu dengan meningkatnya pembangunan tenaga listrik. maka telah dibuka peluang yang lebih besar dalam pengusahaan tenaga listrik. Untuk itu selama Pelita III telah dilakukan pendidikan dan latihan di bidang teknis dan administratif baik di pusat pendidikan dan latihan PLN. Pelaksanaan pembangunan tenaga listrik tersebut didasarkan pada kebijaksanaan yang menyatukan seluruh sektor tenaga listrik dalam satu kesatuan perencanaan yang menyeluruh. 10.126. pembangunan dan rehabilitasi tenaga listrik secara bertahap telah dapat meningkatkan baik clara terposang pembangkit tenaga listrik maupun jaringan listriknya.269. lengkap dengan pembarigkit transmisi dan distribusi. masing-masing mencapai 11.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 merangsang kegiatan ekonomi. Dalam tahun 1982/1983. maka telah meningkat pula kebutuhan tenaga-tenaga terampil. maupun pada lembaga-lembaga pendidikan dan latihan di luar PLN.669 KV A dan 3.151 MWH. 5.072.296. daya tersambung dan daya terpasang. penjualan tenaga listrik. 9. rehabilitasi dan pembangunan yang dilakukan pada pusat pembangkit tenaga listrik mencakup kapositas sebesar 355. 16 persen dan 15 persen. Selanjutnya dalam rangka diversifikasi penggunaan sumber energi dan penghematan bahan bakar minyak. serta diarahkan pada pendekatan secara regional. 6. maka peranan listrik semakin mempunyai arti penting. dengan maksud agar tercapai suatu sistem interkoneksi regional. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 masing-masing telah berkembang menjadi sebesar 13.41 MW. Perkembangan produksi.720 MW.023.924. Departemen Keuangan RI 204 .

PLTG Gresik Unit III.006. Dalam pada itu pemanfaatan kekayaan alam yang merupakan potensi u'tama bidang industri.609 934. Sejalan dengan pembangunan yang dilakukan di sektor industri. PLTG Ujungpandang. Adapun jumlah desa yang mendapat aliran listrik telah meningkat dari sebanyak 2.390 3.613 1. dan PLTG Ujungpandang unit II.343. PLTD Pontianak dan PLTD Ujungpandang.340 ibukota kecamatan yang ada juga telah mendapat aliran listrik.50 1977/1978 4.261.98 1983/1984 13. yaitu mencapai rata-rata 13. maka terus ditingkatkan pula keterpaduan antarsektor sehingga lebih memantapkan proses industrialisasi.740. pengolahan kapur dan tanah liat untuk industri semen. PENjUALAN. Selanjutnya kini juga sedang diselesaikan pembangunan beberapa pusat pembangkit tenaga listrik.116.023.241 2.7 persen per tahun dalam Pelita II dan 8.722.406 6.244 desa pada akhir Pelita II menjadi sebanyak 8.669 3.596 5. PLTG Padang Unit III.410 10. 7.862.49 1982/1983 11. program kelistrikan desa telah ditingkatkan melalui partisiposi masyarakat setempat dan pihak Pemda.063.264 970.405.214.459.420. telah ditingkatkan pula pembangunan pusat-pusat pembangkit tenaga listrik dengan tetap didasarkan pada diverifikasi energi.026 1) 2.286. pusat listrik tenaga' gas (PLTG) Semarang Unit IV.236 2.9 persen per tahun dalam Pelita III.269.127.482 1. meningkatnya penggunaan dan pengolahan gas alam untuk industri baja.027 1. serta penggunaan kayu gelondongan untuk industri kayu Departemen Keuangan RI 205 .921 5.933. PLTG Denpasar.345. Dalam rangka pemerataan pembangunan.251 3.594.494.296.&15 1.129.426.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TABELVII.052 3.92 1) 2. Di samping itu sekitar 2.770.892. pupuk urea dan petro kimia.413.617 850.376 1.535.744.0 persen per tahun dalam Pelita I. PLTG Para Posir (Medan) Unit V.000 ibukota kecamatan dari sejumlah 3.511 2.477 1.294 2.051 desa pada akhir Pelita III. PLTA Lodoyo. dalam Pelita III telah banyak menunjukkan peningkatan.7.032.072.532.354 1) 3. Hal ini terlihat dari perkembangan industri LNG.41 5.74 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 10.788 3.38 2.081.910 7.77 1974/1975 3. antara lain pusat listrik tenaga air (PLTA) Maninjau. PLTD Bukit Asam. PLTD Tarakan. PLTU Belawan Unit I dan II.619 6.816 7. pusat listrik tenaga uap (PLTU) Semarang Unit III.803.076. PLTA Wonogiri.554. antara lain meliputi PLTU Suralaya Unit I.466 4.107 1.126.16 1973/1974 3.846.444.288 8. PLTG Palembang Unit III.924.473.801) Sejalan dengan peningkatan permjntaaan tenaga listrik yang terus berkembang.502. 13. Industri Pertumbuhan sektor industri yang telah dicapai selama ini adalah cukup tinggi. 1972/1973 -1983/1984 Uraian Produksi tenaga listrik (MWH) Penjualan tenaga listrik (MWH) Daya tersambung (KVA) Daya terposang (MW) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1972/1973 2. DAY A TERSAMBUNG DAN DAYA TERPOSANG TENAGA LISTRIK. Oemikian juga beberapa pusat listrik tenaga disel (PLTD) yang tersebar di kala-kola dan di daerah pedesaan.660 3. Selama Pelita III telah dapat diselesaikan pembangunan sejumlah pusat pembangkit tenaga listrik di beberapa lokasi.50 PRODUKSI.386 4.376.669 2.137.817 1.004.40 1976/1977 4.84 1975/1976 3.950 1.845.151 9.

2 664.1 5 21.2 93. Assembling sepeda motor (ribu buah) 5.00 1.2 209.8 475.827. Benang tenun (ribu ball 3.8 182.7 68.7 316.4 27.2 43.9 75.3 148.9 164.481.8 330.9 1.1 2.8 *) Untuk memantapkan struktur industri. Vet sin (ribu ton) 36. Sabun cuci (ribu ton) 16.10 1.00 65.3 209. Kawat baja (ribu ton) 28.9 50 108.60 3.651.9 188.370. 20. Oleh karena pembangunan sektor industri memerlukan mobilitas yang tinggi.9 19.3 37.7 1.9 15.8 819 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/853) 737.6 410 503.5 736.1 539.0 828.6 -13.016.223.166.6 264.60 49.8 193.9 37.332.431 4.00 1.2 232 246.4 21.51) 209.5 13.3 37.4 542 366.41) 65 93.247. Assembling mobil (ribu buah) 4.6 258.8 213.851. baik di dalam negeri maupun untuk angkutan komoditi ekspor.320.673.339.4 67.2 258.2 21. 1969/1970 . 33.9 108. Berdirinya industri dasar/hulu tersebut telah mampu menggerakkan pembangunan wilayah.10 1. baik industri hilir dan industri kecil Departemen Keuangan RI 206 . baja.11) 68.8 195.00 3.0 49.00 -17. Kabellistrik/telekom (ribu ton) 33.01) 199 30.8 37.6 11.7 16.70 45.2 264.2 20.2) .1 18. seperti angkutan semen.2) .8 132 23.700 1. Mesin dise1 (ribu boob) 37.7 28.Z A (ribu ton) 6.3 663 39.6 16.4 817 ( Jenis produksi 19.10 364 445. Minyak goreng (ribu ton) 15.816.5 1. Asam sulfat (ribu ton) 12.00 1.971 1.241.7 1.4 21.1 52.9 -6. Kaca polos (ribu ton) 10.00 1.9 218.576.2) .629.019 660 478 462 250 108 100 30 500 47 17 35 78 20 25 5 138 145 64 67 3. dan kayu lapis.0 147.5.3 1973/74 926.4 7.6 31.00 8.9 974 1.40 1. Pup uk .4 406.9 43.7 322 1971/72 732 239 16.705. TabeI VII.2 1.4 30. Kapal baja baru (ribu BRT) 1) 34.5 55.51 BEBERAPA HASIL INDUSTRI.2 44.9 369.3 83.1 2.70 1.5 155.6 .4 9.3 998 1.521. yang sebagian berlokasi di luar pulau Jawa. Tapal gigi (juta tube) Deterjen (ribu ton) Accu (ribubuab) Radio (ribubuah) Televisi (ribu buah) Assembling mesin jabit (ribu buab) 25.21) 1975/76 108 35 220 1.5 22.6 32.2 34.898.2 276.001 14 13 12. Sprayer (ribubuah) 35.8 9.4 530.5 194.995.7 54.7 150 115. Besi beton (ribu ton) 31.000 166 520 240 145 43 21 202 23 9 22 15 8 8 3 1976/77 104 34 480 1.6 51.910.5 265 268.5 41.7 -34. kertas.1 387.4 77.9 678.900 70 -26.4 59.6 3.4 662. Baterai keriog (juta buah) 26.8 24.7 19.3 13.437.9 40.5 50.90 3.0 1. Cilacap.3 141.2) 127.740 -4.00 1.6 22.7 28.8 266.30 2.6 10.6 271.1 102 22.01) 442.2 32.6 -5.662.1 2.027.3 106.2 20.184.9 17.590 847 654 552 554 302 160 385 37 672 54 19 41 154 34 69 5 394 577 317 126 391 36 744 55 47 32 160 33.1 260.9 23.873 4.8 26.8 813.4 . sampai dengan akhir Pelita II sebagian besar pembangunan industri masih berlokasi di pulau Jawa. Gresik.885. 22.5 28.7 102.2 26 132.400 16 314 .3 3.6 29.883.6 296.017.7 7.944.6 208.8 553 586.094.2 132.071.6 23.9 39.5 24.3 114 100.650.5 16.8 105.2 89.7 29.5 1.2) .00 1. maka terus dilakukan pengembangan industri berskala besar.2 14.2 39.000 135 400 144 70 30 19 115 24 9 25 20 7 8 2. Korek api (juta kotak) 1) Angka diperbaiki 2) Data tidak tersedia 3) Angka sementara 1969/70 449.5 221.5 203.00 4.3 36.3 837. Besi spons (n"bu ton) 29.2 10 33 15 105 54 38 25 6 -62. Plat song (ribu ton) 27.40 2.9 213 207.4 17.0 1.4 -0.10 5.6 11.9 *) Presentase perobahan 1983/84 tedtadap 2) 1969/70 1982/83 1.6 30.7 27.3 319. sedangkan untuk daerah-daerah di luar Jawa jumlahnya masih terbatas. Minyak kelapa (ribu ton) 14.9 43. 21.8 12.078.2 214.2) .135 529 264 97 287 175 62 350 27 500 26 26 6 67 12 26 37.3 18.320 1.8 23.50 1.01) 566 707 780 772 506.155 1. Susu kental manis (juta peti) *) Da1am ribu ton 1) Angka dipedtaiki 2) Angka smentara 1969/70 15 32 364 5 14 54 9 4 5 5 1 7 2 1970/71 25 4 56 393 5 14 55 34 6 10 5 4 15 1971/72 26 6 262 416 65 262 72 67 6 74 32 15 1972/73 30 5 130 700 60 340 72 70 15 12 75 20 6 15 1973/74 32 7 140 900 70 800 132 70 30 18 120 20 7 23 40 7 2 2 1974/75 46 7 180 1.540.204.40 3.006.672.21) 342 131.9 100. Gelas/botol (ribu ton) 9.747 1.7 722.4 276.5 50.4 401.080 1.7 122.2 36.8 180.10 2.0 1. Walaupun produksi dan nilai tambah industri kecil selama ini masih sangat rendah. clara serapnya terhadap tenaga kerja cukup besar sehingga dalam Repelita IV akan terus diusahakan peningkatan peranannya di dalam struktur industri nasional.7 17.000 460 484 442 185 98 25 240 29 13 19 15 10 25 4 j ) 1978/79 1979/80 1980/81 123 54 3.30 2.4 28.985.80 6. Air conditioner (ribu buah) 32.20 7.4 155.4 507.7 8.5 30.878.8 93. Cilegon.7 348 1972/73 852 262 23 100 120.5 11 3 3.60 3.00 1.40 902.1 113.100 210 400 420 156 85 26 296 30 9 27 20 8 24 4 1977/78 104 39 575 1.9 272.9 326.40 2.2 278.5 11.8 17.4 379. Rokokputih (milyarbatang) 18. Cibinong. yang didukung dan diperkuat oleh industri berskala menengah dan kecil.2 8.026 69 50 12 170 36 59 101.8 32.536 733 600 420 185 100 30 300 26 16 17 37 22 30 4 114 47 1.00 1.9 47.1 381.4 83. Dari segi penyebaranura.1 102.9 31.796. Tekstil (juta meter) 2.111 730 525 527 294 143 282 34 641 74 19 40 134 26 34 6 1981/82 1982/83 1983/84 1984/852) 165 75.2 46.30 37.6 78. Lampu pijarJTL (juta buah) 30. pupuk.Urea (ribu ton) . 23.7 110.8 129. Semen (ribu ton) 7.9 568.979.6 6 6 9 8 109 44 690 1.8 4.5 172.5 18.503 623 290 634 419 147 800 55 1.704.1984/1985 Jenis produksi 1.4 13.4 12.5 202. maka selama Repelita IV akan terus dilakukan pengamanan terhadap penyediaan sarana angkutan.6 175.2) .4 14. Kertas (ribu ton) 13.3 857.9 1.4 326.6 -0.3 *) 55 39 2.1 452 610 480.9 63.5 4.6 61. Ban kendaraan bermotor (ribu buah) 8. 24.8 681. terutama di wilayah pengembangan industri seperti zona industri Cikampek.3 Persentase perubahan 1983/84 terbadap 3) 1969/70 1982/83 343.3 21.3 377.1 28. Dalam hubungan ini akan terus dilakukan peningkatan penyediaan prasarana.3 217 2.3 13.6 15.7 15.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 gergajian dan kayu lapis.4 85.2) . Rokok kretek (milyar batang) 17. 708.1 25.8 251 300 167.30 2.829 22.6 33.2 30.351.5 -5. Dalam Pelita III telah dimulai dengan pembangunan industri-industri dasar/hulu yang mengolah sumberdaya alam dan energi.3 84.390.0 1.0 990.1 1. Aluminium sulfat (ribu ton) 11.2 17 263 27 133 19 11 269 1970/71 598.844.9 144. Lhok Seumawe dan Indarung.2) .

2 45 60 15 27 180 26.7 128. Kapal baja ba:ru (ribu BRT) 1) 6.01) 18 897.4 46.2 44 1978/79 108.7 62 26.4 4 6 888. Hasil produksi kelompok industri tersebut sebagian besar merupakan barang modal yang sangat diperlukan dalam kegiatan di berbagai sektor ekonomi.4 550 150 8.5 30 . Industri logam dasar Kelompok industri mesin dan logam dasar meliputi industri logam dan produk dasar.7 0.Mesin disel (ribu buah) 10.4 12. Pesawat helikopter (buah) 14.9 120 2.4 41.8 9.8 98 25.820.2 7 8.8 2.. Tab e I VII.4 6.0 2. serta industri alat angkut. juga disebabkan oleh dorongan sektor-sektor lainnya di samping juga melalui pembinaan terhadap industri itu sendiri (Tabel VII.5 8 18 186 88 55 18. lingkungan hidup.9 4.6 500 85.026. menggunakan teknologi tinggi. Piston (ribubuah) 20.8 140 81.9 145 202 22 475 4 48. penyediaan sarana dan prasarana.5 816.7 12. 1969/1970 .850.9 84. .1.7 419 281.9 66.8 625 48 18.6 8. Perkembangan sektor industri yang cukup pesat selama Pelita III selain karena adanya peranserta masyarakat.6 850 500 6. Namun mengingat bahwa industri dasar/hulu mempunyai ciri padat modal.7 15.8 75 69.4 5.9 884.074.00 Departemen Keuangan RI 207 .1 200 2.1971/72 16.1 69.1984/1985 Jenis produksi 1.3 82.8 1. Kawat baja (ribu ton) 9.1 486 698 762 68.51) 209.2 450 2.3 84.00 1984/85 3) 39. Pesawat terbang (buah) 18.4 60.00 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 172. industri motor dan perlengkapan pabrik.5 148.5 250 99.8 73.5 17.9 185 240 19.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun kegiatan ekonomi lainnya.00 1.8 1.5 891 800 640.4 8 2.2 50 160.00 20.859.6 74 15 200 1972/78 28 69.2 178.00 1.4 155. Traktor mini (buah) 24.7 41. Ekstrusi aluminium (ribu ton) 11.2 10.6 58.8 7 100 135 25 1.8 3. 52 BEBERAPA HASIL INDUSTRI LOGAM DASAR.1 125 60 59.7 185 300 16.7 9.6 75 15 200.5 16 16 122. 7.5 671.6 24 2. Aluminium sheet (ribu ton) 12.9 860 3.065. (ribu ton) 17.3 27.8 57.00 192 65 116 68 8. Tabung gambar (ribu buah) 21. serta berlokasi di daerah yang berdekatan dengan sumberdaya alam dan energi yang pada umumnya belum berkembang. Radiator (ribu bush) 19. Plat seng (ribu ton) 8.2 1970/71 2. Pipa listrik .5 7.2) 2. Sedangkan dalam Repelita IV pengembangannya ditekankan pada industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri. Assembling mobil (ribu buah) 2.1 8 12 17 21 15 12 12 21.279.2 100 80.2 546 1 84.2 301. komponen dan peralatan mesin.6 114.5 80 8 4 8 1975/76 78.2 109. Pipa air/gaJI/minyak (ribu ton) 16.00 45.7 70 120 22.4 64.5 108 25 6.00 40.8 294.5 12.4 2. Ingot baja (ribu ton) 15.2) 4.00 16. Gambaran yang lebih terperinci tentang berbagai aspek perkembangan kegiatan industri beserta hasil-hasilnya dapat diikuti melalui uraian berikut ini.5 1. Traktor tangan (buah) 23.2 80 1977/78 83. industri mesin. Generator set (unit) 1) Angka diperbaiki 2) Data tidak tersedia 3) Angka sementara 1969/70 5 8. Dalam Pelita III pengembangannya mulai bergeser ke arah hulu.1 102 122.5 81..215. berskala besar. Besi spons (ribu ton) 4. Permasalahan tersebut antara lain berupa pengaturan tataruang pemukiman.1 816 431 404 423 1.9 188.2) .2 159. Pipa bajaspiral (ribu ton) 18.4 178.2 . Oleh karena itu laju pertumbuhan kelompok industri mesin dan logam dasar senantiasa sejalan dengan perkembangan sektor-sektor ekonomi lainnya.8 174.875.4 25 17. terutama yang menjadi konsumen dari kelompok industri tersebut.4 10 15 200 .4 47.8 156 296. 51).7.6 80.7 7 6 67.4 575 3.8 748. Besi beton (ribu ton) 5.8 147.4 280 25 1979/80 102.7 16 16 80 47.5 15 1978/74 36.1 1.8 18.1 177 0. baik industri berat maupun ringan. Huller (ribu buah) 8.8 30 1976/77 75.6 70 115 25.8 75.5 80 2 1974/75 65.5 4. yaitu industri yang menghasilkan bahan baku.8 877 1. serta pengembangan kehidupan perekonomian daerah. industri peralatan listrik dan elektronika profesional. Transformator (ribu bush) 22.1 1) 166. Mesin penggilas jalan (buah) 7. maka timbul masalah regional baru yang memerlukan pemecahan secara konsepsional dan terpadu.8 66 5 52 185 55 1.1 9.1 170.6 9.4 400 0.8 16 11.271.7 1. pendidikan dan latihan bagi tenaga kerja siap pakai.2 2 116 85 50 12 15 50 0.

yang dalam tahun 1982/1983 baru mencapai 4.1 ribu ton dalam tahun 1982/1983.7. Dalam tahun 1983/1984 telah dihasilkan motor disel sebanyak 58.8 ribu buah. Adapun dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.4 ribu unit.7 ribu ton dan kemudian terus meningkat menjadi sebanyak 15. kelapa sawit. yang berarti telah terjadi peningkatan ratarata sebesar 27. Industri kimia dasar Dalam Pelita III telah diusahakan tercapainya sa saran di bidang industri kimia dasar. resesi dunia yang belum sepenuhnya pulih.3 ribu ton. Adapun produksi besi heron dalam waktu yang sarna telah meningkat dari 300 ribu ton menjadi 1.6 persen per tahun.3 ribu buah. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat dihasilkan sebanyak 500.2.026 ribu ton. serta masih lemahnya keterkaitan industri baik secara horizontal maupun vertikal.5 persen. mesin tenun. Hal tersebut antara lain menyangkut masalah ketergantungan akan bahan baku yang sampai saar ini masih harus diimpor. yang meliputi penguatan struktur industri dan peningkatan pertumbuhan industri nasional. Sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dihasilkan lagi sebanyak 26.7 ribu buah. Walaupun perkembangan beberapa hasil industri logam dasar cukup baik sebagaimana dapat dilihat pada Tabel VII.6 ribu unit. kopi. Adapun produksi ingot baja/billet yang dalam tahun 1978/1979 mencapai sebanyak 80 ribu ton. Hal ini antara lain ditandai oleh tumbuhnya wilayah-wilayah/zona industri yang tersebar di Departemen Keuangan RI 208 .4 ribu ton. kafer. dalam tahun 1983/ 1984 telah menurun menjadi sebanyak 8. Produksi industri transformator. Untuk tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 4.9 persen per tahun. Namun untuk produksi aluminium sheet. sedangkan dalam tahun 1978/1979 baru berjumlah 30. semen. atau suatu kenaikan sebesar 108.2 ribu unit. telah diproduksi sebanyak 3. suatu kenaikan rata-rata sebesar 56. 7. Hal ini berarti bahwa selama periode tersebut telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 18. teh. yang dalam tahun 1978/1979 berjumlah 9. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 333. saat ini industri mesin dan peralatan pabrik sudah mampu membuat komponen-komponen mesin/peralatan untuk pabrik gula.52. mesin plastik dan komponenkomponen pabrik lainnya.0 ribu ton.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Perkembangan yang telah dicapai di bidang industri logam dasar dalam pelaksanaan Repelita III pada umumnya cukup menggembirakan. Sebagai hasilnya.0 ribu ton.9 persen setahun. belum cukup berkembangnya industri hulu atau industri barang antara. dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 762 ribu ton. namun masih banyak dihadapi hambatan-hambatan. dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 9.

Dalam tahun 1982/1983 produksinya masing-masing berjumlah 3. Di lain pihak terjacli sedikit penurunan produksi pupuk ZA. atau 35. Kelompok industri kimia dasar. pestisida. serta peningkatan kemampuan teknologi industri.204. Sementara itu jumlah produksi berbagai jenis kertas dalam tahun 1983/1984 juga telah mengalami peningkatan. Dalam Repelita IV akan terus ditingkatkan upaya pengembangan industri-industri yang mempunyai dampak pengembangan wilayah. pulau Jawa. maka terus dilaksanakan usahausaha untuk menunjang kelancaran distribusinya. serta pengadaan gerbong kereta api dan pembangunan gudang-gudang pupuk. Jika dalam tahun 1982/1983 produksi pupuk urea mengalami sedikit penurunan hila dibandingkan dengan tahun 1981/1982. yang l?erupakan lanjutan daripada PSD III.lainnya yang berkaitan dengan kelompok industri kimia dasar. perluasan kesempatan kerja dan lalu lintas ekonomi antarwilayah.2 ribu ton. Hal ini antara lain disebabkan karena makin meningkatnya permintaan masyarakat akan pupuk. Demikian pula halnya dengan pupuk TSP. pembangunan unit pengantongan pupuk di Ujungpandang. Sumatera Barat. yang antara lain menghasilkan pupuk.0 ribu ton. dalam tahun 1983/1984 produksinya telah mencapai sebanyak 783.438.567.6 ribu buah dan 2.885. atau kenaikan sebesar 24. semen.8 ribu ton yang berarti sebesar 13. Sumatera bagian selatan.0 ribu ton dalam tahun 1983/1984.4 ribu ton. ban kendaraan bermotor. dari 209.6 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjacli 208. maka dalam tahun 1983/1984 telah dapat meningkat menjadi sebanyak 2.673. Riau.6 ribu ton kertas. merupakan salah satu langkah yang ditempuh Pemerintah dalam memperlancar distribusi pupuk. Adapun kegiatannya mencakup pengadaan kapal curah dan suku cadang. Walaupun demikian hal ini tidak akan berpengaruh terhadap kapositas produksi petani pemakai pupuk. pemerataan pembangunan.3 ribu buah ban kendaraan bermotor dan 2.1 ribu buah. maka dalam tahun 1983/1984 produksinya meningkat menjadi 369. dan serat sintetis. Kalimantan Timur. Proyek sarana distribusi pupuk Pusri IV (PSD IV).5 ribu ban sepeda Departemen Keuangan RI 209 .5 persen.6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1982/1983 yang baru berjumlah 577. kertas.4 persen di alas tahun sebelumnya. kaca palos. Dengan meningkatnya produksi dan kebutuhan pupuk. dalam tahun terakhir Pelita III secara umum menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. asam sulfat. Jika dalam tahun 1982/1983 baru dihasilkan sebanyak 296. Di lain pihak produksi berbagai jenis ban luar kendaraan bermotor dan ban luar sepeda motor telah mengalami sedikit penurunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa wilayah seperti di Aceh. Hasil pengembangan tersebut telah terlihat pada peningkatan kegiatan sektor-sektor ekonomi . Hal ini telah menimbulkan dampak yang positif berupa pertumbuhan ekonomi. namun dalam tahun 1983/1984 hanya mencapai sebanyak 3. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.

5 10.1 387.5 1.5 99.3 14 31 51.00 1. Pestisida (ribu ton) 14.5 3. Ban sepeda motor (ribu ton) 6. alar listrik dan logam serta bahan bangunan dan umum.1 102.2 30.351.1 2.9 ribu ton.4 722. 53.9 4.7 17.8 3.6 17.0 0.1 ribu ton. Bahan kimia tekstil (ton) 16.40 3.Soda(ributon) 10.8 37.3 2.2 232 246.2 17.2 289.5 532.6 29.5 18.7 857.60 3.5 8.7.6 29 _2) 0.00 8.1 305 335 246.127.0 45069.9 1.8 12.241. K e r t a s (ribu ton) 3.0 1) 43.9 43.4 792 1.4 1 2.0 970 980 1.80 85.8 2.3 18.200.3 819 828.4 2. Di samping itu dalam menyerap tenaga kerja. dalam waktu yang sama telah meningkat dari 100.50 22. Demikian pula halnya dengan produksi kaca palos.460. maka dalam tahun 1983/1984 telah mencapai sebanyak 8.2 57.00 1. yaitu Departemen Keuangan RI 210 .1 113. Asam chlorida (ribu ton) 19.4 783 22.2 46. Zink oksida (ton) 17.10 2.21) 8.9 108.00 718 480 614 541 0.9 4. Perkembangan beberapa hasil industri kimia dasar dapat diikuti pada Tabel VII.0 persen.5 17.154.90 3. asam sulfat dan zink oksida.5 11.3 13.00 1.6 persen di bandingkan dengan tahun sebelumnya.3 2. Urea (ribu ton) b.392. Cabang industri anorganik dan industri bahan-bahan kimia organik dasar.1 471.50 2. te1ah terjadi kenaikan sebesar 8.8 241.6 4.4 801.3 11 10.9 39.20 2.979.20 7.432.650.7 209.00 1.1 ton.1983/1984 1969/70 1970/71 1971/72 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 3) 1.6 1.80 1. atau suatu kenaikan sebesar 184.339.8 3.985.898.5 persen dan 5.078.5 2.3.4 465 559.9 0.658. Kaca palos (ribu ton) 7. TSP (ribu ton) 2.6 3.204.629. ke1ompok aneka industri ini lebih besar peranannya apabila dibandingkan dengan kelompok industri hulu yang re1atif lebih padat modal.1 0.1 persen.9 4 4.006.284.8 3. 1969/1970 .4 120 115.9 369.2 8.4 17.0 persen.9 6.10 542 401.2 4. yang antara lain menghasilkan semen.0 ribu ton.3 577.10 2.0 1.3 ton.5 10.2 89.5 50.30 366.8 129. tekstil.00 6.20 2.7 122.4 83.4 530.844. Apabila dalam tahun 1982/1983 produksi semen baru berjumlah 7.00 1.0 1.8 24.00 3.2 0.7 15.250.2 43.650.7 54.6 18.704.9 100.1 9.9 1.8 2. a.2 123.070.673.878.7 8.5 507.7 110. Tab e I VII.2 3.2 527 627 4.8 4.70 2.2 9.557.7 511.2 93.8 25.00 .40 2.9 3 7.7 118. Serat sintetis (ribu ton) 1)Angka diperbaiki 2) Data tidal tersedia BEBERAPA HASIL INDUSTRI KIMIA DASAR.705.6 208 114.520. sehingga dapat memperkokoh struktur industri nasional.7 4.0 1.00 1.827. Demikian pula halnya dengan produksi susu kental manis.1 20.6 296.60 3.2 44. sedangkan dalam tahun 1982/1983 baru berjumlah 30.437.8 9.7 4.7 4. suatu penurunan masing-masing sebesar 5. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dihasilkan sebanyak 28.7 810 7:)1.4 49.00 25.150.2 14.3 106.8 2.5 30.816.6 47.5 9.30 2. dan sekaligus mempererat keterkaitan antara industri besar dengan industri kecil. 53 Jenis produksi 1.9 3. ZA (ribu ton) c.5 600 244.8 2.30 2.8 26.2 81 _2) 509.329.994.800.540. dalam tahun terakhir Pelita III menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.5 ton.50 1.6 534.3 5.885.438. kimia.40 1. Dalam tahun 1983/1984 produksi margarine te1ah mencapai 85.6 10. Asam sulfat (ribu ton) 9.80 6.2 8.1 39.9 19.3 6.8 7.5 155.8 180.0 persen.4 72.6 11. Aneka industri yang meliputi industri pangan.7 33.Semen(ributon) 4.5 9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 motor. Bahan peledak (ribu ton) 18. yang berarti telah terjadi peningkatan sebesar 5.9 15.1 18. Ban kendaraan bermotor (ribu ton) 5.550.6 0.5 2.9 9.30 2.2 11.851.0 1.10 5.319. Aneka industri Kelompok aneka industri (industri hilir) mempunyai peranan yang cukup besar dalam pembangunan industri secara keseluruhan.9 89 112 113.2 17 568.870.6 48 36.2 32. kaca palos.7 ribu ton menjadi 110.6 51.6 8.71) 1.00 1.7 0.796.4 406 990 1.2 209.9 1.6 15.4 67.898.1.567.3 141 147.8 15.2 3.5 2. Asam arang (ribu ton) 12. Hal ini antara lain karena aneka industri dapat merupakan jembatan antara kelompok industri hulu (dasar) dengan ke1ompok industri kecil.9 0.2 31.2 2.2 214.3 21. Aluminium sulfat (ribu ton) 8.189.8 195.3 3) Angka sementara 7. dalam tahun terakhir Pelita III telah berkembang dengan baik. Synthetic resin (ribu ton) 15.078.801. Zat asam (iuta M3) 11.8 8.00 4. atau suatu kenaikan sebesar 10.00 1.8 105.320.883.Acety1ene (ribu M3) 13.

6 juta liter. suatu peningkatan sebesar 13. Produksi rokok kretek dan susu cair te1ah meningkat masing-masing sebesar 11. yakni dari 442.8 persen.6 juta buah dalam tahun 1983/1984.9 persen. yang antara lain menghasilkan televisi.8 milyar batang dan 6.2 persen. Dalam periode yang sarna produksi minyak ke1apa mengalami penurunan sebesar 13.2 milyar batang dan 18.8 ribu ton diterjen. yakni dari 1. tekstil dan pakaian jadi telah menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan tahun sebe1umnya. yakni dari 576. Namun khusus untuk baterai kering telah terjadi peningkatan sebesar 9.9 persen dan 13. Produksi tekstil.3 ribu ton dalam tahun 1983/1984.551. secara keseluruhan menunjukkan sedikit penurunan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kemudian dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diproduksi sebanyak 37.0 persen.0 ribu bal dalam tahun 1982/1983 menjadi 1.0 ribu bal dalam tahun 1983/1984.5 ribu ton. yakni dari 1.7 ribu ton dalam tahun 1983/1984. maka dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 165. Jika dalam tahun 1982/1983 baru dihasilkan sebanyak 145.1 juta ]iter dalam tahun 198211983.8 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjadi 101. menjadi 68.1 juta tube dan 75. Departemen Keuangan RI 211 .1 juta meter dalam tahun 1983/1984. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.54.6 juta liter dalam tahun 1983/1984.9 ribu ton. Adapun industri kimia seperti tapal gigi dan diterjen juga mengalamj peningkatan produksi yang cukup besar.1 milyar batang dan 11. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 masing-masing telah berjumlah 55. dan baterai kering. Produksi industri tekstil seperti benang tenun.3 juta meter. yang berarti meningkat sebesar 7. dan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dihasilkan sebanyak 287.6 juta buah dalam tahun 1982/1983 menjadi 633.9 persen.2 juta buah. sedangkan dalam tahun pertama Repe1ita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat dihasilkan sebanyak 737. Perkembangan beberapa hasil aneka industri dapat diikuti melalui Tabel VII. Industri alat listrik dan logam. meningkat sebesar 16.2 ribu ton.708. radio. Bersamaan dengan itu produksi benang tenun dan pakaian jadi juga te1ah menunjukkan suatu peningkatan.1 ribu ton dalam tahun 1982/1983 menjadi 381.0 juta tube dan 39.662. yakni dari 61.9 juta meter dalam tahun 19821 1983 menjadi 1.0 juta tube tapal gigi dan 66.6 persen dan 67. sepeda motor.995.7 persen. telah dihasilkan masing-masing sebanyak 23.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dari 93.

Untuk lebih mendukung terciptanya sa saran pengembangan industri kecil.3 37.3 19.027. Margarine (ton) 7.6 5.2 262 130 140 180 220 480 575 690 1.2 30.1 18. energi dan manusia.7 974 1.9 326.9 3.1 18. Susu bubuk (ribu ton) 1.00 1.5 221.9 43.4 30. salah satu prioritas pengembangan wilayah dalam kelompok industri kecil berorientasi kepada pengembangan zona dan kawasan industri.7 17.4 20.7 3.7 28. Untuk itu telah digariskan pokok-pokok kebijaksanaan di bidang pembangunan industri kecil yang antara lain bertujuan menciptakan iklim usaha melalui penetapan skala prioritas.1 19.00 1.6 *) Dalam ribu ton 1 ) Angka diperbaiki 2) Mu1ai tahun 1978/1979.7 553.9 66.4 379.018.6 287. antara lain berupa pemberian prioritas pengembangan kepada industri kecil yang hasilnya dapat memenuhi kebutuhan orang banyak.110.4 108.5 393.6 33.3 998 1.5 16.8 75. maka pengembangannya lebih dikaitkan dengan potensi setempat.2 93.2 2.4 28.3 21. meningkatkan ekspor. Departemen Keuangan RI 212 .5 6 12.9 218.4 2.247.50 1.5 202. 80 unit pelayanan teknis dan 13 pusat pelayanan promosi yang penyebarannya hampir merata di seluruh wilayah tanah air.5 262 340 800 400 520 400 484 600 477. memeratakan kesempatan berusaha.5 19.8 36.9 23.6 6.7 127.00 1.6 33.4 38. Susu kenta! manis (juta peti) 1.3 17.3 148.7 16.3 18 18.2 132.135.9 678.6 271.4 29.1 539.589.00 633 3. Kabellistrik/telekom (ribu.5 5.3 26.4 47.9 26.6 55 68.8 9.1984/1985 Jenis produksi 1969/70 19670/197 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1. industri menengah dan industri besar. Tapal gigi (juta tube) 15 25 26 30 32 46 107.7 13.00 1.1 85.8 103.1 55 503.9 9.5 5.536.8 20. sehingga dapat diharapkan pembangunan industri besar dan menengah secara langsung akan merangsang pembangunan sektor industri keci!.4 19.00 1. Magetan.00 1.3 27.5 50.3 11.080. Assembling sepeda motor (ribu buah) 21. Industri kecil Pembangunan di bidang industri kecil ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja.000.5 4 3.8 30.2 364 445.3 37. DeteIjen (ribu ton) 4 5.1 68.5 28. Air Conditioner (ribu buah) 4.7 47 50 26.017.6 7 34.9*) 23.7 17. Mengingat lokasi usaha industri kecil tersebar di seluruh wilayah tanah air bahkan sampai ke pedalaman.5 2.1 15.7 264.90 1.2 659.3*) 37.00 4.90 1.9 8.1 4.3 4.651.3 12.7 14.2 46.00 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.6 525.20 3. Minyak kelapa (ribu ton) 263 258. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.5 39.503.000.8 266.7 10.5 194.1 452 610 480. Oleh karenanya.319.5 7 7. Baterai kering (juta buah) 54 55.5 290.2 11.90 1.4 73.5 622.21) 342 114 6.3 5.1 319. yang tersebar di Yogyakarta.8 598.2 6.4 622.7 55.551.154. Korek api (juta kotak) 269 322 348 475.1 381.10 737.6 104.6 23.5 44.8 26.4 63.708. Benang tenon (ribu ba1) 182.7 31.2 28.30 2. serta produksinya berorientasikan kepada komoditi ekspor.00 1.7 30. 1969/1970 .1 10.3 566 707 780 772 506.5 28.5 53.ton) 1 4 6 9 9 9 9 12.576.6 32.2 72 72 132 144 240 420 442 420 462 526.8 681.2 260. Assembling mesin jahit (ribu bubo) 14 13. Radio (ribubuah) 363.5 113.6 393.00 1.2 23.2 664. Minyak goreng (ribu ton) 27 26 27.80 1.0 1) 442.6 576. Lampu pijar/TL (juta buah) 3.4 531.5 4.6 633.3 319.4 31.6 5. terutama melalui penciptaan usaha industri kecil baru yang dinamis di samping optimalisasi usaha industri kecil yang telah ada.2 278.6 61.9 40.1 27.4 23. Tekstil (juta meter) 449.332.5 7.4 276.662.3 2.910. Sabun cuei (ribu ton) 133 132.1 846.521.995.6 13.70 3.8 9.233. menunjang pembangunan daerah serta memanfaatkan sumberdaya alam. 7 pusat pelayanan informasi. maka ditempuh beberapa kebijaksanaan sektoral.100.9 653.094.60 3.8 7.1 25.3 8. A c c u (ribu buah) 32 56.8 22.00 1.8 730. Rokok putih (milyar batang) 11 13.5 264.00 1.4 13.50 1.8 213 199 100.184.7 65 60 70 135 166 210 260 733.9 164.5 15. Semen tara itu di bidang kelembagaan telah didirikan sarana pembinaan.8 5.747.3 193.000.5 265 268.4 132 131.4 4.5 4.3 732 852 926.9 123 137.6 175.4.6 30.1 28 9. yaitu melalui pengembangan wilayah-wilayah pusat pertumbuhan industri (WPPI). Rokok kretek (milyar batang) 19 20.5 35.4 21.9 213 207.10 529 15.6 27.8 330.4 817 272. Dalam hubungan ini diusahakan untuk terciptanya kaitan yang erat antara industri kecil.5 9.6 31.00 2.3 416 700 900 1.2 8.'2 18. meningkatkan pembangunan di daerah.9 21 26 24.5 54. Susu cair (juta liter) 2.3 837.54 BEBERAPA HASIL ANEKA INDUSTRI. mempunyai keterkaitan dengan sektor-sektor lain.7 16.9 10.7 18.2 96. terdiri dari TV hitam putih dan TV berwarna 3) Angka sementara 7.8 20 20 24 23 30 29.8*) 101.4 27.5 4.9 33.8 553 586. Televisi (ribu buah) 2) 4.1 50 100 150 261 300 267.5 21.00 14.8 263.5 22.5 145 165.5 41. yakni meliputi 9 pusat pengembangan industri kecil (PPIK).7 29. menghemat devisa.1 217 239 262 316.9 33.00 1.4 326.00 1.7.5 55.5 3. meningkatkan ekspor serta meningkatkan pengetahuan para pengusaha/pengrajin. telah berhasil diresmikan penggunaan buah lingkungan industri kecil (UK).6 410 577.8 28.

yakni apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah sentra industri kecil yang dibina baru sebanyak 281 buah. Cilacap dan Surabaya. Medan. telekomunikasi. Hal ini terwujud dari meningkatnya pemerataan pembangunan Departemen Keuangan RI 213 . maka dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 690 buah. Dewasa ini peningkatan kapositas di bidang perhubungan telah mampu melayani kenaikan permintaan masyarakat dengan tingkat pertumbuhan sekitar 12 persen per'tahun. maka dalam tahun 1983/1984 telah bertambah menjadi 2. Usaha tersebut juga telah dapat'menembus isolasi dan mendorong laju pertumbuhan daerahdaerah terpencil serta meningkatkan perdagangan antardaerah yang lebih seimbang dan lancar. yang tersebar di hampir seluruh propmsl. yang merupakan peningkatan dari TPL. di Sukabumi (Jawa Barat). Di samping itu juga telah dilaksanakan pembangunan 6 buah perkampungan industri kecil (PIK) masing-masing di Jakarta yang meliputi Pulogadung. dalam tahun 1982/1983 telah berjumlah 438 orang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Semarang. baik jumlah maupun mutunya. telekomunikasi. sehingga dapat menyediakan kapositas jasa yang semakin baik bagi masyarakat. telah dapat diperluas jangkauan pelayanan perhubungan. Tasikmalaya dan Sukabumi. Tegal. arus barang dan jasa. di Gunung Sempu (Yogyakarta). Sidoarjo. Tebet dan Tangerang.151 orang. Sejalan dengan itU telah dibangun pula saran a usaha industri kedl (SUlK) yang terletak di dalam kawasan-kawasan industri Pulogadung (Jakarta). maka wilayah Nusantara telah dapat dihubungkan oleh suatu sistem perhubungan yang semakin terpadu dan teratur. serta di Pare-Pare (Sulawesi Selatan). Perhubungan. Sedangkan jumlah tenaga penyuluh lapangan spesialis (TPLS). Dengan adanya peningkatan pembangunan tersebut.8. pos dan kepariwisataan yang setiap tahunnya terus meningkat. Bandung. Di samping itu terus dilakukan pula pembangunan prasarana dan sarana baru sesuai dengan pertumbuhan jasa perhubungan. pos dan telekomunikasi serta kepariwisataan sampai dengan tahun pertama Pelita IV ditekankan pada kegiatan rehabilitasi dan peningkatan prasarana serta sarana yang ada. Tenaga penyuluh lapangan (TPL) terus pula ditingkatkan. serta komunikasi dan mobilitas penduduk ke seluruh pelosok wilayah Nusantara. Selain itu hasil-hasil yang dicapai juga telah dapat menjangkau dan memenuhi pelayanan kebutuhan masyarakat luas. Dengan pembangunan perhubungan. Apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah TPL yang berhasil dididik baru sebanyak 93 orang. 7. Dengan bertambahnya sarana pembina tersebut maka kemampuan pembinaan juga telah meningkat. pos dan kepariwisataan Pelaksanaan pembangunan perhubungan.

armada angkutan jalan raya telah meningkat 10. Sedangkan bidang perkeretaapian dalam tahun 1983 telah mengalami kenaikan sebesar 9. pengaturan pengoperasian dan keselamatan lalu lintas. angkutan transmigrasi dan angkutan ke seluruh daerah terpencil yang secara ekonomis potensial. dan dari 5. Hal tersebut telah ditunjang pula dengan usaha-usaha yang dapat meningkatkan efisiensi pelayanan jasa perhubungan. maka jumlah angkutan armada bis bertingkat dan Departemen Keuangan RI 214 . angkutan sungai. Dalam periode yang sarna. keterampilan dan latihan bagi petugas.752. angkutan antarkota . kereta api. danau dan penyeberangan telah mengalami kenaikan angkutan barang sebesar 21 persen dan angkutan penumpang sebesar 21.928.4 juta ton barang.574 orang menjadi 18.5 persen atau sebanyak 165.55). sehingga semakin memantapkan perwujudan stabilitas nasional dalam bidang ekonomi. Dalam rangka mengatasi kebutuhan angkutan umum dalam kola. ditandai dengan meningkatnya jumlah armada angkutan jalan raya yang telah mencapai 1.651 ton menjadi 4.796.4 juta orang.7 persen untuk angkutan penumpang dan 1. serta angkutan sungai.5 5 3 buah.3 juta ton barang menjadi sebanyak 5. Selama Pelita III telah dilakukan peningkatan fasilitas keselamatan jalan raya berupa pembangunan rambu-rambu lalu lintas. dan angkutan bis perintis ke daerah terpencil juga telah ditingkatkan guna melancarkan arus penumpang. baik secara nasional maupun regional. serta guna mengurangi kepadatan lalu lintas dalam kola.1. Apabila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru berjumlah 1.9 persen . yaitu dari masing-masing 43. pada umumnya telah dapat dilaksanakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. dan dari sebanyak 14.915 orang.7 persen. danau dan penyeberangan. serta pembinaan dan pengembangan usaha angkutan darat termasuk peningkatan pendidikan. angkutan pariwisata. lampu pengatur lalu lintas dan pusatpusat pengujian kendaraan bermotor.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perhubungan secara menyeluruh.520 buah (Tabel VII. sampai dengan tahun pertama Repelita IV.073 buah dalam tahun 1983.8. sosial dan ketahanan nasional. yaitu masing-masing dari 3. Hasil pembangunan yang telah dicapai di bidang perhubungan darat.582.untuk angkutan barang hila dibandingkan dengan tahun 1982. Pembangunan di bidang perhubungan darat tetap ditujukan untuk lebih meningkatkan pemanfaatan jalan raya.2 juta orang menjadi sebanyak 47. khususnya angkutan jalan raya. Perhubungan darat Program pembangunan di bidang perhubungan darat. politik. 7. Pelayanan angkutan kola.748.004.761 ton.

2 37.016 1.229 6.9 43. Dalam hal ini Surabaya mempunyai bis kota sebanyak 208 buah.066 590.352 2.428 434. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 680 buah bis.835 1979 69.701 377.271 6.2 4.210 307.553 1.3 4.9 3.815.623 3.175 144.3 4. dan Ujungpandang 20 buah.660 99.425.451 1971 22.990 419.7 40.8 5.873 482.356 189.311 639.981 6.748.2 4.7241) 1. Tab e I VII.166 19811) 112.466 3.480 220.2 47.988 277. 1969 -1983 (dalam satuan) Tahun Bis 1969 20.240 471.022 1.022 383.167 535.099 531.4 Penumpang km (orang) 3.2 4. 55 ARMADA ANGKUTAN JALAN RAY A.8 20.2 Departemen Keuangan RI 215 .280 359.321 785. Semarang 134 buah.6 5 4.497 1970 23.582.4 Barang Ian (ton) 859 855 949 1.116 959 701 814 1. Tanjung Karang 42 buah.609 buah. Bandung 144 buah.464 1 722.873 Mobil -212.4 23.1 29. 56 PEMAKAIAN JASA KERETA API. 1969 .1983 Tahun J umlah Outa orang) 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 19821) 19832) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 55.739 337.260 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Mobil 95.3 3.422 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tidak bertingkat terus ditambah.4 52.648 478. Adapun jumlah armada bis kota yang ada di Jakarta dalam tahun 1983 adalah sebanyak 1.073 Tab e I VII.034.816 256.441 791. Medan 117 buah.081 392.940 Jumlah 328.466 3.1 21 29.078 19821) 134.644 1977 1978 57.104 717.370 679.3 5.841 917.123 235.080 6.545 1980 86.368 1974 31. Solo 15 buah.538 657.203.063 951.7 39.069 1. Jika dalam tahun 1982 jumlah armada bis kota di beberapa kota besar di luar Jakarta baru sebanyak 604 buah.4 50.082 4.206 5.063 1.389 46.4 25.751 5.900 1976 39.496 603.488 1973 30.430 19832) 160. yang terdiri alas 105 buah bis bertingkat dan 575 buah bis tidak bertingkat.057 1.534 3.098 328.439 1975 35.5 3.060 166.9 4.019 869.6961) 1.9 40.371 3.727 3.016 980 1. yang terdiri alas 85 bis bertingkat dan 519 buah bis tidak bertingkat.038 1.814 112.562 1972 26.878 131.313 J umlah Outa ton) 4 3.692 268.

rambu jalan. Demikian pula bagi kota-kota besar yang telah mendesak keperluan jasa angkutan masalnya. ketertiban dan keselamatan lalu lintas angkutan jalan raya telah dikembangkan pula fasilitas pengaturan dan pengawasan. Sedangkan guna memperlancar angkutan kota. batu bara. perkebunan dan pertanian. Jayapura 11 bis.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Untuk menjaga kelancaran . Biak 6 bis. Pangkal Pinang 6 bis. juga lebih kecil tingkat pencemarannya dibandingkan dengan angkutan jalan raya lainnya. baik kini maupun di masa mendatang. Sarong 7 bis. lebih cepat dan lebih teratur di samping juga dapat mengurangi kemacetan lalu lintas. sehingga arus penumpang akan lebih lancar. pertambangan. Kupang 6 bis. Padang 10 buah bis. Jawa Barat yang bertujuan untuk menguji kendaraan laik darat. Banda Aceh 14 bis dan Palembang 10 bis. khususnya angkutan umum di kota-kota besar. Dalam rangka mengembangkan armada angkutan kota telah ditingkatkan pula sistem dan fasilitas angkutan dalam kota. Pengembangan pedesaan yang sekaligus berfungsi sebagai angkutan perintis dan melayani daerah-daerah terpencil. Angkutan kereta api mempunyai peranan semakin penting. Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. lampulampu pengatur lalu lintas dan kendaraan patroli. Palu 8 bis. peningkatan tersebut disebabkan oleh bertambahnya permintaan untuk jasa angkutan hasil-hasil industri. yang antara lain meliputi pembangunan alat pengujian. besi beton. Merauke 4 bis. dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 165 buah. bengkel kendaraan dan tempat tunggu bis. Hal ini disebabkan karena jenis angkutan ini selain lebih hemal dalam pemakaian bahan bakar. Bengkulu 23 bis. Selain itu telah dilengkapi pula pengadaan terminal angkutan. serta untuk pengangkutan transmigrasi dan pariwisata. Angkutan kereta api juga sangat efektif dan efisien dalam memperlancar distribusi beberapa hasil produksi. Dalam waktu yang sama telah dibangun pula pusat pengujian kendaraan bermotor di Bekasi. sehingga apabila dalam tahun 1982 jumlah bis perintis baru mencapai sebanyak 142 buah. Manokwari 4 bis. antara lain berupa terminal dan shelter. seperti minyak. telah dilakukan peningkatan penggunaan jasa kereta api kala. di samping juga melayani angkutan Departemen Keuangan RI 216 . Lubuk linggau 9 bis. pagar pengaman jalan. Sumbawa 8 bis. Balik papan 4 bis. Ambon 5 bis. Bis-bis perintis terse but melayani daerahdaerah terpencil dengan perincian untuk stasiun Ujungpandang sebanyak 7 bis. Armada bis perintis tersebut terus ditingkatkan jumlahnya. peranan angkutan kereta api terus meningkat dalam melayani angkutan penumpang dan barang. dalam menunjang laju pembangunan nasional. sistem angkutan disusun secara terpadu antara angkutan bis dengan angkutan kereta api kota. tanda jalan. Dilli 18 bis. Mataram 5 bis. semen. telah diusahakan dalam bentuk angkutan campuran antara barang dan penumpang. pupuk dan kelapa sawit.

Sementara itu pembuatan sarana dan suku cadang kereta api terus dikembangl)an sehingga kebutuhan sarana dan prasarana kereta api dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri. yang bertujuan untuk mengangkut batu bara sebanyak 3 ton setahun sebagai sumber energi bagi PLTU di Suralaya.3 juta orang per kilometer. Hasil yang teiah dicapai di bidang saran a dan prasarana kereta api selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III antara lain meliputi rehabilitasi lok uap sebanyak 38 buah. Di samping itu juga telah dilakukan pembangunan lintas kereta api antara Meneng-Kabat di Jawa Timur yang ditujukan untuk memperlancar distribusi pupuk di wilayah tersebut.070 buah. transmigrasi dan angkutan kala. Hasil rehabilitasi di bidang perkeretaapian dapat diikuti pada Tabel VII. yaitu dari 1. lok disel sebanyak 590 buah.2 juta penumpang per kilometer. yang menunjukkan peningkatan operasianal perusahaan sehingga mampu beroperasi secara efektif dan efisien. teiah dilakukan peningkatan kapositas dan mutu pelayanan angkutan kereta api kala melalui Departemen Keuangan RI 217 . Selain itu telah pula dilakukan penambahan lok disel sebanyak 75 buah. kereta rei disel (KRD) sebanyak 112 buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pariwisata. Sebagian daripada kebutuhan prasarana dan sarana kereta api tersebut telah pula diproduksi di dalam negeri.3 juta ton dalam tahun 1982 menjadi 5.4 juta orang atau 6.56. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 47. lok listrik.063. gerbong sebanyak 10. Demikian pula angkutan barang dalam waktu yang sarna telah mengalami peningkatan dari 5.623 buah. Sedangkan angkutan barang dalam ton per kilometer mengalami penurunan hila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.329 kilometer. kereta penumpang dan gerbong barang. kereta rei listrik (KRL) sebanyak 60 buah. antara lain proyek pengembangan pengangkutan batu bara Bukit Asam dengan kereta api (P3Baka) dari Tanjung Enim ke Tarahan. antara lain telah dilakukan peningkatan jalan kereta api serta rehabilitasi dan penambahan lok uap. Perkembangan jumlah angkutan penumpang dan barang dapat diikuti melalui Tabel VII. Dalam pada itu Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) juga mempunyai proyekproyek pembangunan kereta api yang cukup besar. Dalam rangka mengatasi masalah angkutan masal di wilayah Jabotabek. kereta penumpang sebanyak 1.2 ton per kilometer dalam tahun 1983.57.2 juta orang atau 6. Dalam tahun 1982. jumlah angkutan penumpang kereta api adalah sebanyak 43. lok disel. serta rehabilitasi/peningkatan jalan kereta api sepanjang 2. kereta penumpang sebanyak 360 buah dan gerbong sebanyak 400 buah. Sejak tahun 1981 sampai dengan tahun 1983. Untuk dapat meningkatkan kapositas angkutan dan mutu pelayanan kereta api tersebut.4 juta ton dalam tahun 1983. PT Inka (Industri Kereta Api) teiah merakit 400 gerbong dari bahan complete manufacturing (CM) keluaran Sumitomo Jepang.0 ton per kilometer dalam tahun 1982 menjadi sebesar 951.

7 354.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penambahan sarana angkutan dan peningkatan prasarananya.272 1. Unit 2.675 11. terutama bagi penduduk di tepi sungai dan danau yang belum dilayani oleh jenis angkutan lain. penghematan waktu. baja(buah) 1. beton (buah) b.1 150.2 351.376. Bangunan operasional (m2) 5. baik pelayanan angkutan jalan raya maupun angkutan sungai. sampai dengan tahun pertama Repelita IV telah ditempuh beberapa kebijaksanaan antara lain mengutamakan proyek lanjutan agar segera dapat terwujud dan langsung dapat beroperasi. penghematan energi bahan bakar minyak melalui sistem propulsi kereta api dengan listrik dari PLN. Pelaksanaan pembangunan angkutan sungai. Rehabilitasi gerbong (buah) 10.825 1. Angka diperbaiki TabelVII. Lok disel (buah) 7.3 272 40. di samping dimaksudkan juga untuk memekarkan bidang usaha pelayanan tradisional.120 2.9 5.960 3. danau dan penyeberangan telah dapat ditingkatkan menjadi satu kesatuan hubungan yang terpadu.5 5) 1.30 7.243 7.382.6 124. Lok listrik (buah) 8. 1969/1970 .606 81 301 2) 190 140 42 2) 55 4) 99 79 3.385.8 620 968 164 732.7 188. serta beberapa lokasi sarana angkutan jalan.701 38 1) 58 1) 39 I) 15 1) 67 1) 115 1) 2.055 3. 11 buah gedung kantor.50 191 1.474 973 1.3 326.038.4 349.9 126.6 513. serta penyediaan jasa angkutan sepanjang tahun secara tetap dan teratur.000 meterkubik.7 294.253 2.371 3. Di samping itu pembangunan angkutan penyeberangan juga telah dapat meningkatkan hubungan penyeberangan sungai dan selat.2 207 164. pengadaan 15 buah kapal dan 4.906 3.4 218.223 2.096 kilometer dan pengerukan sekitar 300. Dalam hubungan ini.341 5) 4.943 14. a.2 296.40 422 762 .4 180.2 298. Dengan demikian.112 301 236 455 135 130 42 20 15 15 69 196 111 93 259 34 22 42 34 56 83 38 21 389 3) 1. Angka sementara 5.514 15. Penggantian bantalan(ribu bt) 3.5 295. Di samping itu Departemen Keuangan RI 218 .60 4. Buah 3. Penggantian rei (km) 2.772 2.1983/1984 1969/70 1970/71 1971/12 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 94.2 280. 5 buah terminal.469 15 10 23 69 68 48 31 28 7 3 13 16 40 91 103 111 111 107 118 163 128 387 15 2 2 8 20 65 62 176 390 444 635 406 256 246 328 387 92 52 58 25 680 714 2.2 397.359 2.3 1. pembersihan alur sepanjang 1.7 565. Assembling gerbong (buah) I 1. Perbaikan pilar jembatan(m 3) (ton) 4. Lok uap (buah) 6. Adapun tujuan proyek kereta api Jabotabek tersebut antara lain untuk mengurangi beban jalan raya.379 buah rambu-rambu. Hasil-hasil yang dicapai selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III antara lain meliputi pembangunan 25 buah dermaga sungai. Selanjutnya juga telah dilakukan penelitian terhadap penggunaan angkutan kereta api untuk angkutan petikemas serta penelitian pembangunan lintasan baru bagi pengembangan industri semen di pulau Jawa dan Sumatera. 57 REHABILITASI DI BIDANG PERKERETAAPIAN. meningkatkan kapasitas angkut serta menciptakan sistem transportasi yang terpadu antara kereta api dan jalan raya. Uraian 1. danau dan penyeberangan. penyediaan jasa angkutan diarahkan agar pihak swasta dan koperasi khususnya golongan ekonomi lemah dapat turut berperanserta. danau dan penyeberangan.583 2. Ton Perkembangan di bidang angkutan sungai dan danau sampai dengan tahun pertama Repelita IV sangat dirasakan manfaatnya dalam memperlancar angkutan daerah pedalaman dan daerah terpencil.3 232.136.7 578. Kereta (buah) 9.

danau dan penyeberangan berupa rehabilitasi dan penambahan kapal. koperasi maupun Pemerintah.211 meterkubik.8. di samping juga sedang diselesaikan sebanyak 8 buah lintasan baru. peralatan pelabuhan. armada pelayaran rakyat dan armada pelayaran perintis. 2 buah dermaga sungai. fasilitas pengamanan taut dan pantai. swasta maupun koperasi. Perhubungan taut pembangunan di bidang perhubungan taut ditandai dengan meningkatnya penyediaan jasa angkutan taut baik oleh sektor Pemerintah. 7. lintas-lintas di kepulauan Maluku dan Irian Jaya. Sementara itu akan terus ditingkatkan pembangunan lintas dari Sabang sampai ke Los Palos. Selain itu terus dilakukan pula peningkatan kapositas armada pelayaran dan mutu pelayanan luar negeri yang meliputi armada pelayaran samudera umum dan armada pelayaran samudera khusus. dengan menciptakan iklim usaha Departemen Keuangan RI 219 . di mana setiap lintasan dilayari oleh lebih dari 2 kapal penyeberangan baik milik swasta. serta peningkatan kapositas galangan kapal. 11 buah kapal inspeksi serta pengerukan sebanyak 113. lintas angkutan sungai. Sedangkan dalam tahun pertama Repelita IV telah dilakukan peningkatan dan pembangunan sarana dan prasarana angkutan sungai. Hal tersebut antara lain meliputi peningkatan kapositas angkutan armada pelayaran dan mutu pelayanan dalam negeri yang terdiri atas armada pelayaran nusantara. Dalam hal ini partisiposi Pemerintah dibatasi pada kegiatan pelayaran tertentu saja. keselamatan pelayaran. danau dan penyeberangan. pengerukan kolam pelabuhan. dilakukan peningkatan fasilitas armada taut. armada pelayaran lokal. 4 buah terminal penyeberangan. telekomunikasi pelayaran. Selain itu juga telah dilakukan peningkatan pelayaran operasional. kesyahbandaran. Untuk dapat meningkatkan jasa perhubungan taut secara keseluruhan. serta lintas-lintas perairan dipedalaman Kalimantan. penyempurnaan kelembagaan serta pembinaan \ terhadap usaha masyarakat di bidang angkutan sungai.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 angkutan penyeberangan juga telah dapat beroperasi di 19 lintasan yang dilayari oleh 62 kapal.2. 2 buah terminal sungai dan 291 buah rambu sungai. Selanjutnya telah pula dilakukan penambahan 2 buah sarana angkutan sungai dan danau. pengembangan jasa industri maritim dan pekerjaan bawah air. Hasil-hasil yang dicapai dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni tahun 1984 adalah meliputi pembangunan 9 buah dermaga penyeberangan. alur pelayaran. pembangunan dermaga dan terminal. danau dan penyeberangan di Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya. penambahan fasilitas keselamatan pelayaran serta pembersihan dan pengerukan alur pelayaran. di samping juga usaha patungan antara pihak swasta nasional dengan swasta asing. pengembangan armada angkutan taut terse but dilakukan oleh pihak swasta nasional.

927 unit petikemas. penyediaan jasa perintis diselenggarakan oleh Pemerintah. Namun . sehingga terwujud suatu sistem pelayaran terpadu yang menunjang kelancaran arus barang dan penumpang dengan aman.. dan diarahkan pada usaha wiraswasta bahari nasional dengan mendorong perusahaan-perusahaan kecil untuk bergabung dalam bentuk koperasi. Perkembangan armada niaga Nusantara dapat dilihat pada Tabel VII. Kegiatan-kegiatan tersebut dimaksudkan agar sistem angkutan taut dapat meningkatkan kegiatan pemasaran.610 ton dan 4. pengembangan daerah terutama di Indonesia bagian timur. dengan memakai karat sebanyak 387 buah dengan kapositas 486. dapat menjangkau daerah-daerah terpencil dan dapat meningkatkan kegiatan ekspor.58. sehingga tidak dapat lagi beroperasi sepenuhnya. serta pembinaan perusahaan-perusahaan pelayaran. efisien.824 DWT. Dalam periode tersebut telah terjadi peningkatan muatan barang dan petikemas sebesar 13 persen dan 218 persen.690 DWT telah berusia di alas 30 rabun.896 orang. maka karat-karat tersebut secara bertahap sampai dengan bulan Agustus 1984 diganti dengan karat-karat produk. armada pelayaran Nusantara telah memanfaatkan prasarana dan Departemen Keuangan RI 220 . jumlah muatan yang diangkut oleh armada pelayaran Nusantara meliputi barang sebanyak 7.untuk lebih meningkatkan lagi produktivitas angkman lalit. serta penumpang sebesar 4 persen.463 ton barang dan 1_. Sejalan dengan meningkatnya angkutan transmigrasi dari tempat asal ke tempat tujuan. Sebaliknya jumlah dan kapositas armada mengalami penurunan. dengan memakai karat sebanyak 397 buah dengan kapositas seluruhnya 503. sehingga dapat meningkatkan pelayaran antarpulau yang lebih efektif.245 penumpang. serta pembinaan sistem organisasi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang ditujukan untuk merangsang pihak swasta dalam menunjang pengembangan armada nasional. Dalam tahun 1982/1983. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 jumlah muatan yang diangkut telah meningkat menjadi 8. sedangkan pelaksanaan angkutan transmigrasi diselenggarakan oleh Pemerintah dan swasta.375 DWT.423. teratur.si dalam negeri. Peranan perhubungan laut secara keseluruhan terus ditingkatkan untuk mencapai keterpaduan berbagai jenis pelayaran. penyempurnaan sistem trayek pelayaran. 495. Selain itu juga dilakukan pembinaan pelayaran rakyat sebagai modal angkutan tradisional yang potensial. serta tarip jasa yang terjangkau. termasuk transmigrasi. manajemen dan diversifikasi usaha.376 unit petikemas penumpang sebanyak 475. Armada pelayaran Nusantara dan pelayaran lokal sebagai jaringan utama angkutan taut dalam negeri telah dan terus ditingkatkan melalui penambahan kapositas armada pelayaran. karena pada akhir Pelita III sebanyak 62 karat dengan clara muat 60'. cepat dan teratur.457. serta memperlancar arus barang dan penumpang. Selanjutnya pola jaringan pelayaran Nusantara telah dipadukan dengan jaringan yang dilayani kapal pelayaran lokal.

Surabaya. Bitung.444. Dalam kaitan ini juga telah dilaksanakan peningkatan fasilitas pelabuhan. serta mengangkut barang dan penumpang masing-masing seberat 2. Kalimantan Tengah. Dalam tahun 1982/1983. sedangkan dalam tahun 1983/ 1984 masing-masing telah meningkat menjadi 195.347 ton barang dan 653.477 DWT dengan jumlah muatan sebanyak 2. Walaupun dalam tahun 1983/1984 jumlah karat telah menurun menjadi 1. jumlah armada pelayaran lokal baru sebanyak 1.460 DWT dan 2. Sunda Kelapa. terus dilakukan peningkatan dan pembangunan beberapa prasarana dan sarana pelabuhan perahu layar. Kendari. Pem binaan pelayaran rakyat dimaksudkan untuk membantu meningkatkan kehidupan so sial ekonomi masyarakat dan sekaligus memberikan kesempatan untuk berkembang bagi golongan ekonomi lemah. namun kapasitasnya telah meningkat menjadi 133. Semarang.025 buah. Tegal.138 DWT. Selama ini armada pelayaran Nusantara telah melaksanakan pengangkutan transmigrasi dari beberapa pelabuhan asal yaitu Tanjung Priok.59. Bidang pelayaran rakyat selain merupakan jenis angkutan laut penunjang pelayaran Nusantara yang melayari daerah-daerah terpencil.155. Untuk menunjang pelayaran terse but. telah berkembang adalah seperti yang diharapkan terutama dalam mengumpulkan barang-barang ke pelabuhan pengumpul.3 persen dan 6 persen. Kalimantan Selatan. Riau. Cirebon. kapositas armada pelayaran rakyat baru sebesar 180. Jambi.600 ton. Benoa dan Lembar ke berbagai daerah tujuan pemukiman transmigrasi di Sumatera. Paotere.400 DWT. Perkembangan jumlah armada pelayaran lokal dapat dilihat pada Tabel VII. Sulawesi Utara. usaha koperasi serta usaha swadaya masyarakat. baik di daerah asal transmigrasi maupun di pelabuhan kecil yang melayani daerah-daerah pemukiman transmigrasi. Palembang. Di samping itu dalam tahun yang sarna juga telah dimotorisasikan sebanyak 1. Idi dan Ternate.481. atau suatu kenaikan masing-masing sebesar 8. Kalimantan Barat.747 orang.049 buah karat dengan kapasitas 129. Sulawesi Tenggara. Donggala. terus dilakukan pembinaan melalui usaha koperasi dan motorisasi perahu layar dengan mengutamakan golongan ekonomi lemah. Gresik. Departemen Keuangan RI 221 .677 ton dan sebanyak 610. Sulawesi Tengah.390 kapal melalui dana Bantuan Presiden. antara lain di Sibolga. juga merupakan pelayaran yang sesuai dengan potensi angkutan laut tradisional sehingga terus dikembangkan dan dibina. Kalimantan Timur.436 ton. Untuk menunjang perkembangan armada pelayaran lokal tersebut.294. Pelayaran lokal sebagai unsur penunjang pelayaran Nusantara Regular Liner Service (RLS).496 orang. Dalam tahun 1982/1983. serta mengangkut 2. Semarang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sarana perhubungan taut yang ada tanpa mengganggu fungsi mama kegiatan pelayarannya. Maluku dan Irian Jaya.

543 1.081 1981 1.1 Muatan yang ( ribu ton) 1.669 321. 58 ARMADA PELAYARAN NIAGA NUSANTARA.000 386.570 312.570 312.931 272.931 272.000 386.41) 133.8 161. 59 ARMADA DAN MUATAN PELAYARAN LOKAL.8 132.208 938 1.6 92.277 1977 1.411 311.271 2.6 92.824 Tahun T abel VII.6 163.378 425.822 1.479 1.4 129.278 1.7 90 83 86 92.162 1. 1969 .419 310.348 1978 1.375 486.1 147.970 2.004 234.411 311.389 1980 1.090 1982 1.954 406.025 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Pembangunan di bidang pelayaran perintis juga terus ditingkatkan.685 238. antara lain melalui perluasan hubungan angkutan laut ke daerah-daerah terpencil dan terisolir.950 330.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e 1 VII.382 1.954 406.759 321.899 1.378 425. Di samping itu Departemen Keuangan RI 222 .2 154.1983 Jumlah kapal Kapal 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982i) 1983 1) Angka sementara 182 273 282 282 267 300 305 340 316 322 373 390 361 397 387 DWT 184.669 284.950 330.535 321. pengaturan pelayaran serta penambahan frekuensi.278 1.824 Kapal-k.375 4.144 1983 2) 1.9 155.448 1979 1.669 284.481 Tahun Jumlah kapal 1969 803 1970 777 1971 623 1972 679 1973 980 1974 965 1975 858 1976 1.428 503. penambahan pe!abuhan yang disinggahi.428 503.419 310.445 2.apal yang beroperasi Kapal 130 232 215 282 267 300 305 340 316 322 373 390 361 397 387 DWT 138.200 2. 1969 -1983 Kapositas ( ribu DWT ) 60.350 267.

sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 PT Jakarta Lloyd telah memiliki serta mengoperasikan sebanyak 7 buah kapal.270. yang antara lain mengangkut minyak bumi. Di samping itu setiap tahun kaposltas dan jumlah kapalnya juga telah disesuaikan dengan pertumbuhan permintaan akan jasa angkutan laut. Dengan adanya usaha peningkatan angkutan petikemas. Pe1ayaran samudera telah pula meningkat karasitasnya. jumlah armada pelayaran khusus baru mencapai 2. Pelayaran khusus. pantai barat Sumatera. baik jumlah armada maupun daya angkutnya. cepat. Riau dan Banjarmasin.000 ton dan bermuatan asing seberat 12.200 DWT. nikel.60. murah dan aman. sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 18.387 orang. yang melayari 35 trayek dan menyinggahi sebanyak 214 pelabuhan. dan semen. Perkembangan jumlah armada dan muatan pelayaran samudera dapat dilihat pada Tabel VII.325 DWT.465 ribu ton.000 ton. aspal.200 ton barang dan 127. sampai dengan akhir Pelita III telah meningkat.501 buah kapal dengan kapositas seluruhnya Departemen Keuangan RI 223 . dengan sejauh mungkin memanfaatkan usaha pelayaran swasta setempat terutama pengusaha golongan ekonomi lemah. bauksit.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 terus dilakukan pula pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaannya. dengan muatan yang diangkut seberat 53. pupuk.500 DWT dan 61. kayu. melayari 29 trayek. Demikian pula pembinaan pelayaran diarahkan pad a sistem angkutan laut yang teratur. Sedangkan dalam tahun 1983/1984. Dalam tahun 1983/1984.052 DWT. oleh karena kapal petikemas konvensional tidak dioperasikan lagi. Adanya peningkatan penggunaan angkutan petikemas pada gilirannya teiah meningkatkan kapositas angkut disamping lebih efisien pula penggunaannya. tetap. Dalam tahun 1982/1983.694. Dalam tahun 1982/1983. Jumlah dan kapositas kapal petikemas tersebut telah mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan akhir Pelita III yang berjumlah 11 buah kapal dengan kapositas seluruhnya 130. di samping telah dilakukan pula penyesuaian terhadap perkembangan teknologi. minyak kelapa sawit. Berkurangnya jumlah kapal yang digunakan dan trayek yang dilayari terse but adalah karena telah banyaknya trayek-trayek ekonomi yang dapat dilayari pelayaran lokal dan pelayaran rakyat. Jumlah muatan yang diangkut kapal nasional dalam taliun 1982/1983 adalah sebanyak 18.166 ton barang dan 161. bermuatan nasional seberat 6. yang terdiri atas 3 buah kapal full container. menyinggahi 177 pelabuhan dengan muatan seberat 31. baik semi container (petikemas) maupun full container.964 ribu ton. jumlah armada pelayaran perintis yang telah dioperasikan adalah sebanyak 36 kapal. antara lain di pantai barat Aceh. posir besi. dan 4 buah kapal semi container dengan clara angkut seluruhnya masing-masing 61.848 penumpang. telah terjadi penurunan yaitu jumlah armada yang dioperasikan menjadi 31 kapal. kapositas yang tersedia telah mencapai sebesar 732.

Kendari.535 ton/meterkubik dan 95. Probolinggo. Selain itu juga telah dilakukan peningkatan keterampilan tenaga kerja dan buruh pelabuhan agar pengoperasiannya dapat dilaksanakan Departemen Keuangan RI 224 . Palembang. Tegal. Sei Kahayan. Sunda Kelapa. Dalam tahun 1983/1984 telah berhasil dilakukan pengerukan lumpur sebanyak 15. Pulau Batam. Tanjung Perak dan Ujungpandang. Tanjung Priok. 649. Semarang.682.7 persen. pembangunan baru dan peningkatan fasilitas dermaga. Sedangkan untuk kegiatan angkutan laut domestik.61. Ujungpandang. dengan kapositas 2. Cirebon.6 persen.489 BRT dan 425. yang dilakukan di pelabuhan-pelabuhan dan alur pelayaran Belawan.041 ton/meterkubik dan 39. Manado dan Bitung. 784.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 2. minyak kelapa sawit. 150 persen dan 141 persen. Bengkulu. Kegiatan tersebut dilakukan melalui rehabilitasi.628 liter/ton. pupuk. Panarukan. Keempat pelabuhan tersebut ditunjang oleh 14 pelabuhan kolektor sebagai pengumpul dan pengirim barang ekspor. Tanjung Petak.740 DWT. Oleh sebab itu pembangunan fasilitas pelabuhan terus ditingkatkan sesuai dengan pertumbuhan lalu limas pelayaran dan arus bongkar muat barang yang terjadi di masing-masing pelabuhan. Tanjung Priok. Hal ini berarti telah terjadi peningkatan masing-masing sebesar 1. Di samping itu dilakukan pula peningkatan operasional melalui pembentukan perusahaan umum pelabuhan dan pengelompokan pelabuhanpelabuhan dalam 4 Perum pelabuhan yang berpusat di Belawan.408 HP. Sei Mahakam. 606. Untuk memelihara dan meningkatkan kelancaran lalu lintas kolam pelabuhan dan alur pelayaran!.267. serta mengangkut muatan nonmigas dan migas sebanyak 36. serta mengangkut muatan non migas dan migas masing-masing seberat 14.542 buah kapal. Jambi. bijih tambang serta minyak dan gas bumi. Sedangkan dalam tahun 1983/1984 telah meningkat menjadi 2. Adanya peningkatan pelayaran khusus dalam negeri tersebut juga telah memperlancar distribusi bahan pangan serta bahan 'bakar minyak (BBM) ke seluruh pelosok tanah air.587 HP. serta peningkatan peralatan bongkar muat barang.215 DWT. kayu olahan. Sei Barito. disediakan sebanyak 25 pelabuhan Utama yang tersebar di seluruh wilayah tanah air. fasilitas gudang dan lapangan penumpukan.489 BRT dan 361.240. Hasil-hasil pengerukan pelabuhan dapat dilihat pada Tabel VII.pengerukan kolam pelabuhan dan alur pelayaran telah dan terus ditingkatkan. Kenaikan muatan tersebut antara lain disebabkan karena meningkatnya produksi di bidang industri semen.541 liter/ton. Pengembangan fasilitas pelabuhan merupakan salah satu penunjang kegiatan pelayaran.772.71juta meterkubik. terutama dengan semakin meningkatnya standar kapal dan bongkar muat barang. 17.981. Pengerukan tersebut dilakukan oleh 39 buah kapal keruk dengan kapositas 39 juta meterkubik. Gresik.

917 meter persegi.0 11.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan lebih.7 15.7 Persentase terhadap target 145 115 106 100 100 100 104 109 103 83 100 100 100 100 100 1) Angka sementara Ketelangan : JumIah lumpur yang dikeruk dinyatakan dalam juta m 3 hopper ( lumpur bercampur air ) Departemen Keuangan RI 225 .6 16 16 16 16 16 19 20.636 18.5 21.1983/1984 ( dalam juta m3 ) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/19831) 1983/1984 Target 11.2 17. 60 ARMADA DAN MUATAN PELAYARAN SAMUDERA.7 Realisasi 16.923 9.121 12.967 5.917 5. pembangunan dermaga baru seluas 54. Tabel VII.343 1.0 10.452 12.7 15. 61 HASIL PENGERUKAN PELABUHAN.6 16 16 16 16.0 15. pembangunan penahan gelombang seluas 8.186 meter persegi serta pembangunan lapangan penumpukan seluas 41. 1969/1970 . antara lain meliputi rehabilitasi dan peningkatan dermaga seluas 5. produktivitas rata-rata dermaga pelabuhan telah mencapai 700-800 ton/meter per tahun. baik.026 meterpersegi.145 meter persegi.465 18.913 2. Perkembangan fasilitas pelabuhan dapat diikuti melalui Tabel VII.650 6. 1969 -1983 Tahun JumIah kapal 39 48 59 53 41 45 47 50 54 52 50 58 61 62 51 Kapositas (ribu DWT) 318 386 489 467 387 339 412 450 491 513 513 668 802 827 732 Muatan yang ( ribu ton) 1. Hasil-hasil yang telah dicapai dalam tahun 1983/1984.406 10.964 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1) Angka sementara Tab e I VII.2 14.7 15 17.2 14.095 16.4 16.2 17.752 16. Dengan pembangunan tersebut.7 17.5 16.1 15 17.120 14.62.

465 5.n) 6. karang dan ranjau.253 12.800 22. Stasiun radio kelas II 3. Elektrifikasi menara suar 2. Lampu peIabuhan 6.535 260 1. sebanyak 60 persen dari armada pelayaran nasional yang berukuran di bawah 10.473 14. ADak pelampung 5. Lis t ri k .Rehabilitasi .Penambahan (kva) 5.000 DWT telah dapat diperbaiki oleh galangan kapal dalam negeri.Rehabilitasi (ton/hari) . G u d an g . AIat bongkar muat .190 1.690 15.Penambahan 4.190 22. Supply Vessel 8.497 2.Rehabilitasi .066 1.399 2.800 m2 1) 700 m2 1) 7 1 5 23 - 5 2 1 26 4 6 8 1. Stasiun radio kelas III 4.035 (ton) (ton) (hp) 6 25 27 17 6 1 15 9 6 3 16 4 2 1 2.246 17. Stasiun radio kelas IV 1) Masing-masing adalah merupakan bagian dari 2) Angka sementara 1972/73 10 13 8 1 2 1 2 1 1973/74 11 13 26 1974/75 4 9 6 2 2 1 2 1975/76 12 17 5 1 1976/77 7 5 10 2 2 4 1977/78 9 13 1978/79 11 25 7 14 2 1979/80 10 11 20 7 1980/81 12 18 1 6 10 1981/82 12 38 7 15 12 1982/83 1983/84 1) 1984/85 2) 26 39 7 5 11 23 2 27 3 6 25 23 4 5 1 1 1 .Penambahan 3. Dalam tahun 1983/1984.725 8.700 DWT dengan produksi doking sekitar 127 juta DWT. IL Telekomunikasi: 1. Kade / dennaga . 1972/1973 . di samping juga kemampuan dan fasilitas galangan kapal dalam negeri. G u d a n g .175 2. Fasilitas air .296 31. Kode / dermaga .Rehabilitasi .500 3.Penambahan (ton/hari) 6. Di samping itu juga telah dilakukan Departemen Keuangan RI 226 .804 300 155.Penambahan 3.Penambahan (kva) 5. Pelampung suar 4.007 10 17 3 4 6 11 5 6 10 1978/1979 Jumlah Fisik 14. perbaikan dan pembangunan kapal.732 230 5.680 1.550 33.455 515 7.600 200 200 1981/1982 Jumlah pelabuhan 6 47 2 4 2 4 1 1 400 Fisik 2.kapal serta pembersihan alur dan daerah perairan dari kerangka.026 8. Penahan gelombang . Fasilitas air .921 6.Rehabilitasi (kva) .310 22. Listrik . Ben g k e I 11.521 1.206 1.878 2.Rehabilitasi . jumlah kapositas galangan kapal telah mencapai 163.62 REALISASI FISIK PEMBANGUNAN FASILITAS PELABUHAN.Penambahan 2. dewasa ini telah dapat ditingkatkan kemampuan perawatan.700 299 60 3. Dalam hubungan ini terus ditingkatkan perawatan dan perbaikan kapal nasional.650 2 1.070 2.Rehabilitasi .928 1.764 18.500 pe1abuhan 5 64 1 6 1 2 4 1 6 Fisik 3.700 3.Penambahan 4.960 4 17 4 8 1 1 6 1 4 2 9.270 45 3.218 m2 1980/1981 Jumlah Fisik 1.281 11.794 2.216 17.257 23.Rehabilitasi (kva) .720 11.255 1982/1983 Jumlah 1983/1984 Jumlah pelabuhan pelabuhan 4 31 1 1 4 5 3 35 1 2 800 1984/1985 1) J um1ah Fisik Fisik pelabuhan 0 0 0 0 8.Penambahan 2.kerangka kapal.Rehabilitasi .325 24.145 11.242 800 320 2.425 3.Rehabilitasi (ton/hari) .Penambahan (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) 29.Penambahan (ton/h. 1969/1970 -1984/1985 1977/1978 PELITA I 1974/1975 1975/1976 1976/1977 Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Fisik Fisik Fisik Fisik Fisik pelabuhan pelabuhan pelabuhan pelabuhan pelabuhan 1.340 1979/1980 Jumlah pelabuhan 15 3 55 360 500 3 unit 150 900! 1. Stasiun radio kelas I 2.100 11.186 - T abe I VII.Penambahan (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) (m2) 90 1 (ton) (ton) (hp) 59.810 4. Buoy tender 7.942 2. 63 REHABILITASIIPEMBANGUNAN FASILITAS KESELAMATAN PELAY ARAN.946 2 15 2 1 4 1 4 21. Kapal rambu (watch boat) 9.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII. AJat bongkar moat .Rehabilitasi .000 400 5 unit 40 unit 3 - 7 31.075 10.750 2. Dermaga .455 135 48.514 54.025 756 pelabuhan 6 15 3 3 5 6 5 5 8 Fisik 11.Rehabilitasi . Penahan gelombang .100 m2 11 6 Di bidang jasa maritim..700 2 unit 4 18 1 5 2 6 2 4 3 2.1984/1985 ( dalam satuan ) Jenis sarana L Pcrambuan daft pencrangan pantai : 1.334 11.368 1. Rambu suax 3. Pangkalan bantu sarana navigasi 10.800 53. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984.

dan Biak guna menampung pesawat berbadan lebar tipe B-747. barang. A-300 dan DC-lO. peningkatan kemampuan landasan udara serta penambahan peralatan keselamatan penerbangan. hewan. telah dapat dikembangkan sebanyak 5 buah pe1abuhan udara. Sejalan dengan itu ditempuh usaha-usaha untuk menciptakan kemudahan-kemudahan bagi lalu lintas penumpang. sarana dan angkutan udara mengalami kenaikan. Denpasar. serta dapat menjangkau ke se1uruh tanah air. perluasan jaringan penerbangan. Surabaya. Selama Pelita III. radio pantai. Di samping itu juga te1ah dilaksanakan pembangunan landasan udara baru sesuai dengan pertumbuhan lalu lintas udara. dilakukan pembinaan di bidang manajemen keuangan serta pembentukan usaha patungan perusahaan dok/galangan kapal dalam negeri dengan perusahaan dok/galangan kapalluar negeri. tanaman dan pos melalui udara. pertumbuhan prasarana. serta peningkatan pe1ayanan angkutan transmigrasi dan pelayanan angkutan haji. 7. yaitu di Medan. rambu suar.3. Departemen Keuangan RI 227 . Ujungpandang. walaupun pada tahun terakhir Pelita III tingkat pertumbuhannya tidak setinggi awal Pelita III. terutama di pelabuhan Sunda Kelapa dan Cilacap. penambahan jumlah dan komposisi armada.63. Sampai dengan tahun pertama Repe1ita IV. Sehubungan dengan itu terus dilaksanakan proyek-proyek lanjutan dalam masa Pelita IV. Sedangkan guna meningkatkan pengawasan teknis pembangunan reparasi kapal. Hasil rehabilitasi fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dapat diikuti melalui Tabel VII. Selanjutnya untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dok/galangan kapal dalam negeri. peningkatan kesyahbandaran. Selain itu juga oleh adanya peningkatan frekuensi penerbangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembersihan alur-alur pelayaran dan daerah pelabuhan dari kerangka kapal dan ranjau. terus dilakukan pembinaan klasifikasi Indonesia dan penambahan sarana laboratorium. Perhubungan udara Kegiatan pembangunan sektor perhubungan udara sampai dengan tahun pertama Pelita IV ditandai antara lain oleh usaha pemenuhan kebutuhan masyarakat di bidang jasa angkutan udara yang semakin meningkat. dalam waktu yang sama telah dapat ditingkatkan kemampuan dan modernisasi sarana keselamatan dan keamanan pelayaran di perairan Indonesia.8. pcnjagaan laut dan pantai serta jasa klasifikasi. termasuk di dalamnya pembangunan dan peningkatan beberapa pe1abuhan udara dan lapangan terbang. serta peningkatan kemampuan pegawai melalui pendidikan dan latihan. menara suar. Se1ain diusahakan pertumbuhan angkutan komersial dalam dan luar negeri. te1ah pula dilakukan peningkatan pe1ayanan angkutan perintis di daerah-daerah terpencil. antara lain berupa pembangunan fasilitas navigasi. Demikian pula dalam rangka keselamatan dan keamanan pelayaran.

Hasil pembangunan yang telah dicapai dalam tahun pertama Repelita IV antara lain te1ah terdapatnya 9 landasan yang dapat didarati oleh pesawat tipe C-l60 dan CN-235. Bima. Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan pelabuhan udara. Kota Baru. Di samping itu juga telah dilakukan pemasangan alat bantu pendaratan ILS (Instrumen Landing System) di 7 pelabuhan udara yaitu Polonia di Medan. Di bidang keselamatan penerbangan. Waingapu. Ruteng. 20 landasan oleh F-28. Demikian pula telah dilakukan pemasangan fasilitas radar di 7 pelabuhan udara. jumlah lapangan terbang perintis telah berhasil ditambah menjadi 95 buah yang dilayani oleh 19 buah pesawat DHC-6 dan 16 buah pesawat C-212. Sampai dengan tahun pertama Repelita IV. maka pelabuhan udara yang semula direncanakan menjadi pelabuhan udara yang dapat dioperasikan dengan pesawat Fokker 27 (F-27). hingga tahun pertama Repelita IV juga telah ditingkatkan fasilitasnya. Uji coba pendaratan dan lepas landas telah dilakukan. fasilitas pengangkat pesawat di 3 pelabuhan udara dan fasilitas pemadam kebakaran di 48 pelabuhan udara. Samarinda. Dalam pada itu telah pula dibangun dan ditingkatkan pe1abuhan udara perintis di 75 lokasi yang tersebar di 27 propinsi di Indonesia. Juanda di Surabaya. Halim Perdanakusumah di Jakarta. Talangbetutu di Palembang. jumlah pelabuhan udara yang beroperasi lebih dari 12 jam telah menjadi 20 buah pelabuhan udara. antara lain bahwa semua pelabuhan udara yang melayani pesawat jet secara bertahap diperlengkapi dengan instalasi peralatan navigasi DVOR (Doppler Very High Omni Range). dan sesuai dengan jadwal akan beroperasi penuh dalam bulan April 1985. Adapun pelabuhan udara internasional di Cengkareng sedang dalam taraf penyelesaian.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 antara lain di Meulaboh. serta untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas udara dari pemakaian jasa terminal pelabuhan udara. Pangkalan Bun. Samsudin Noor di Banjarmasin. sedangkan penyelesaian pekerjaan akan dilanjutkan dengan penyempurnaan gedung terminal dan fasilitas peralatan kese1amatan penerbangan. 3 landasan oleh pesawat Hercules tipe L-I00-300. Selain itu sesuai dengan sa saran yang hendak dicapai. disesuaikan menjadi pelabuhan udara yang dapat dioperasikan untuk pesawat CN-235. Waikabubak dan Baucau. Nabire. Ampenan. Kegiatan penerbangan perintis terus ditingkatkan pula melalui penambahan frekuensi penerbangan dan lapangan terbang perintis. fasilitas dan pesawat terbang. fasilitas telekomunikasi di 46 pelabuhan udara. sedangkan pada 6 pelabuhan udara lainnya sedang dalam persiapan pemasangan instalasi. Sehubungan dengan akan diproduksinya pesawat CN-235. 7 landasan oleh DC-9. Pulau Batam. Timika. Poso. telah dilakukan pembukaan Departemen Keuangan RI 228 . Hasanuddin di Ujungpandang dan Mokmer di Biak. 2 landasan oleh DC-lO dan A-300 serta 2 landasan yang dapat didarati oleh B-747.

Di samping itu penggunaan pesawat hasil rakitan PT Nurtanio juga telah meningkat. Mandala menggunakan 15 buah pesawat. Selanjutnya telah direncanakan pula sebanyak 42 Pelud untuk melayani penerbangan malam. . Ujungpandang dan Biak. telah ditingkatkan pula sarana angkutan udara yaitu pesawat udara bermesin turbo-prop dan pesawat bermesin turbo-jet. Untuk melaksanakan angkutan transmigrasi. PT Merpati Nusantara Airways (MNA) menggunakan 57 buah pesawat. Adapun dalam menunjang program transmigrasi dan pelaksanaan angkutan haji. Halim Perdanakusumah Jakarta. 250 buah pesawat untuk melayani penerbangan tidak berjadwal .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 beberapa pelabuhan udara bagi penerbangan malam. sedangkan dalam waktu yang sarna jemaah haji udara telah dapat diangkut sebanyak 49. yaitu bila dalam tahun 1978 baru sebanyak 2 buah pesawat. Jumlah pesawat yang digunakan untuk masing-masing armada penerbangan telah pula meningkat.943 orang dari 4lokasi penerbangan. Di samping itu. Pelita Air Service sebagai pengelolanya telah memiliki 6 buah pesawat udara tipe Hercules (L-I00-300) dan 3 buah pesawat udara tipe Transall (C-I00). Sejalan dengan pembangunan pelabuhan udara dan fasilitas keselamatan penerbangan. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang kemajuan teknologi angkutan udara agar dapat memenuhi dan melayani permintaan angkutan udara baik di dalam maupun di luar negeri. Kemayoran Jakarta. Dari jumlah tersebut. sebanyak 188 buah di antaranya dipergunakan untuk melayani penerbangan berjadwal. Semarang. Bali.yang terdiri alas 231 buah pesawat yang mempunyai kapositas tinggallandas di alas 10 ton. PT Garuda Indonesian Airways (GIA) telah menggunakan 86 buah pesawat. maka dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi sebanyak 16 buah pesawat dan dipergunakan untuk melayani penerbangan perintis. Dalam tahun 1983/1984. Dalam tahun pertama Repelita IV. dengan mengusahakan agar perusahaanperusahaan penerbangan memanfaatkan fasilitas tersebut. Palembang. Dalam tahun pertama Repelita IV. yaitu Medan.921 kepala keluarga (KK). usaha untuk Departemen Keuangan RI 229 . Bouraq menggunakan 26 buah pesawat dan Seulawah menggunakan 4 buah pesawat.dan sisanya sebanyak 330 buah lagi dipergunakan untuk melayani penerbangan umum. Dalam hubungan ini baru sepuluh buah pelabuhan udara (Pelud) yang dioperasikan secara penuh melalui perpanjangan jam operasi dan dilengkapi dengan fasilitas penerbangan malam. angkutan transmigrasi udara telah diangkut melalui udara adalah sebanyak 28. angkutan udara dalam negeri telah dilayani oleh sebanyak 768 buah pesawat. Surabaya. 353 buah pesawat dengan kapositas tinggal landas di bawah 10 ton dan 184 buah pesawat helikopter. dimana 30 buah di antaranya telah siap dengan fasilitas penerbangan malam. Banjarmasin. telah dapat ditingkatkan baik kapositas angkutan maupun mutu pelayanannya.

839 penumpang dan 9. yaitu masing-masing dari sebanyak 56 buah menjadi 107 buah. sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1984 selalu mengalami kenaikan. dan digantinya hampir semua peralatan lama dengan yang baru sesuai dengan kemajuan teknologi.65. maka pada akhir Pelita III telah meningkat menjadi 5. klimatologi dan iklim serta stasiun penguapan dan hujan.047. telah selesai dibangun dan dioperasikan stasiun geofisika Tanjung Pandan di Sumatera Selatan. menunjukkan bahwa keadaan iklim Departemen Keuangan RI 230 . serta penelitian sistematika gempa dan polusi udara. dari 6 buah menjadi 27 buah.292. yang berarti masing-masing mengalami kenaikan sebesar 43 persen dan 187 persen.64 dan Tabel VII. 350 persen. Adapun hasil penelitian yang telah diterbitkan dalam publikasi. Pulau Baai dan Lasiana Kupang. antara lain meliputi penelitian mengenai standardisasi pengumpulan dan penyebaran data/informasi. Angkutan penerbangan sipil ke luar negeri juga mengalami peningkatan. stasiun geofisika Saumlaki di Maluku. Perkembangan penerbangan sipil di dalam negeri dan ke luar negeri dapat diikuti melalui Tabel VII.024 buah yang berani masing-masing mengalami peningkatan sebesar 91. penelitian kartografi normal yang bertipe hujan di Jawa Tengah. Di samping itu sebagian besar stasiun yang ada juga sudah mampu beroperasi selama 24 jam sehari. Sampai dengan bulan Juni tahun 1984. Jumlah stasiun-stasiun meteorologi. masing-masing di Sumatera Barat. sedangkan pelayanan jasanya rata-rata naik sebesar 30 persen per tahun. yaitu dari sebanyak 733.366 ton barang/pos. serta stasiun Klimatologi Sicincin. antara lain dilakukan melalui reduksi harga tiket untuk wisata remaja dan paket wisata (package tour). baik di dalam maupun di luar negeri. Hasil pembangunan yang telah dicapai di bidang meteorologi dan geofisika selama Pelita III antara lain ditandai dengan bertambahnya jaring-jaring stasiun.884 ton barang/pos. Dalam periode yang sama data meteorologi dan geofisika yang dihasilkan meningkat dengan sekitar 90 persen per tahun.711.113 penumpang dan 28. Bengkulu dan Nusa Tenggara Timur. Sejalan dengan itu telah pula dilakukan peningkatan fasilitas terminal di beberapa pelabuhan udara guna melayani arus wisatawan yang langsung ke tempat-tempat obyek wisata.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menunjang keberhasilan program pariwisata.000 orang dan 49. Kenyataan bahwa sebagian besar areal pertanian masih merupakan daerah tadah hujan. dari 92 buah menjadi 324 buah dan dari 2.790 ton barang/ pos. atau masing-masing telah mengalami kenaikan sebesar 12 persen dan 9 persen.884 ton barang/pos menjadi 1.1 persen.000 orang dan 45. geofisika. Apabila pada akhir Pelita II jumlah penumpang dalam negeri yang diangkut baru sebanyak 4. serta meningkatkan penerbangan borongan dari luar negeri langsung ke tempat-tempat obyek pariwisata tanpa mengganggu penerbangan berjadwal.320 buah menjadi 4. Jawa Timur dan daerah ramalan cuaca. 252 persen dan 74 persen.

429 1974 7. kelembaban.619 302.760 Departemen Keuangan RI 231 .549 1971 6.329 531.790 809.991 1.972 2.893 1982 1) 26.290 457.741 1. Tabel VII 64 PENERBANGAN SIPIL DALAM NEGERI.671 TonJkm (ribu) 31.302 1970 6.953 369.233 373.166.341 923.401 164.269 22.651 7.815 10. lengkap dengan sarana telekomunikasinya.427 10.136 748.142 3.918 29.027 36.162 499 4.570 116 1976 55. Di samping itu untuk setiap balai penyuluhan pertanian juga dibangun stasiun meteorologi pertanian khusus.384 10.083.985 3.194 1.790 213.624 731.115 245.840 3.158.781 378.045 68. Hal ini akan terpenuhi apabila data hujan yang dikumpulkan dari 4.578 4. Untuk itu ditempuh kebijaksanaan dengan mendirikan lebih kurang 750 stasiun hujan utama sistem telemetry di seluruh wilayah Indonesia.502 1973 33.758 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara TonJkm (ribu) 34.664 45.824 11.323 22.884 526.602 233.562 34.378 10. 1969 -1983 Tahun Km pesaat Penumpang Barang TonJkm (ribu) (orang) (ton) Jam terbang (ribu) 1969 5.126 19.340 97.326 46.287 4.318 291. Stasiun hujan utama ini dilengkapi pula dengan sensor lain seperti suhu.942 1.057 17.884 950.555 80.354 102.560 463.135 1980 1) 24.546 5.512 1983 2) 23.510 449.5881) 50.1983 Km pesawat Penumpang Barang Jam terbang Tonjkm Tahun (ribu) (ribu) (ton) (ribu) (ribu) 1969 12.649 13.519 1) 19781) 85.908 151 396.459 616.626 5.963 2.918 176 19801) 78.834 800.955 196.925 42.348.016 1978 1) 19.597 374.412 146.129 52.458 993 7.506 109.635 216.433 212 1982 1) 87.711 45.292 49.607 17.094 125.779 134.804 335.574 180.371 14.831 47.791 1976 10.166 387.925 137 1977 59.543 240.501 82.538 56.204lokasi dapat diterima tepat pada waktunya.696 169.047.209 115.353 193.483 190 1981 87.459 279.252 264.237 85.937 3.461 1975 46. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar data hujan masih mengalami keterlambatan yang disebabkan karena banyak lokasi renakar hujan yang letaknya sangat terpencil dan jauh dari sarana komunikasi.451 40.268 521.366 1.914 97.377 2.042 34. yaitu berupa banjir atau merajalelanya hama tanaman.718 34.675 3.246 39.167 196 19791) 70.839 9.620 87. 1969 .340 1973 7.340 1975 8.019 84.589 223 19832) 89.101 653.451 1972 7.250 321.150 4.180 5.65 PENERBANGAN SIPIL KE LUAR NEGERI.073 62.302 1.023 227 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tabel VII.424 733.791 37.175.113 28.404 545.506 1970 16.782 28.494 1972 26.015 102.385 98.883 79. Oleh karenanya informasi dari meteorologi dan geofisika bagi sektor pertanian harus dapat dipercaya dan tepat pada waktunya.743 20.480 770 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang tidak menentu pada suatu periode dapat memberikan pengaruh yang besar pada produksi pertanian.480 1979 1) 22.373 32.674 80. radiasi matahari dan arab angin.125 127.240 1.439 4.235 11.920 51.185 1971 20.217 3.499 1.304 122.098 3.940 80.272 1981 1) 24.377 1977 14.448 106 1974 2.062 114.151 56.

telepon umum.8. Dengan adanya kegiatan tersebut. Di samping itu telah diselesaikan pula program ekstra sebanyak 75 buah SBK.583 sirkit. baik yang menyangkut hubungan komunikasi di dalam maupun di luar negeri. maka dalam tahun 1983 jumlah sentral telepon otomat (STO) telah mencapai 170 buah dengan kapositas seluruhnya 576. Kesemuanya itu dimaksudkan untuk memperluas pemanfaatan satelit Palapa dan sejumlah fasilitas penunjang lainnya.380 SS. Departemen Keuangan RI 232 . Dalam tahun pertama pelaksanaan Repelita IV. pos dan giro Telekomunikasi sebagai salah satu pendorong dan penggerak pembangunan nasional terus ditingkatkan kemampuannya guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat setiap tahun. telex dan jaringan transmisi.66. telegrap dan telex. sambungan kontener sebanyak 900 SS. Telekomunikasi. Perkembangan jumlah sentral dan kapositas telepon dapat diikuti pada Tabel VII.150 SS. Melalui serangkaian pembangunan yang dilaksanakan selama ini telah berhasil dilakukan peningkatan fasilitas telepon. sehingga memungkinkan hubungan telekomunikasi yang lebih luas dan cepat. serta STJJ sebanyak 1. telegrap. telepon umum sebanyak 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 7. sentral transit perluasan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) 7. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dapat ditingkatkan lagi menjadi 173 buah dengan kapositas seluruhnya 583.000 SS.819 alur. transmisi teresterial 11.854 SS. fasilitas telepon otomat. Sementara itu dalam periode yang sarna telah diselesaikan pula sambungan telepon sebanyak 26. yaitu sebanyak 86. serta penambahan sejumlah stasiun bumi. alur telegrap sebanyak 1. Demikian pula halnya kapositas telepon manual. sambungan telex sebanyak 2. pembangunan di bidang telekomunikasi ditujukan untuk menciptakan kerangka landasan bagi pembangunan tahap-tahap Pelita berikutnya. antara lain telah dapat diselesaikan pembangunan telepon otomat sebanyak 152.080 SS.850. sambungan telepon manual sebanyak 7. sirkit tandem sebanyak 1. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984.947 SS.579 SS dalam tahun 1983 dan bertambah lagi menjadi 91.000 satuan sambungan (SS).797 SS.070 alur dan stasiun bumi kecil (SBK) sebanyak 10 buah.54855 dalam tahun 1984.500 buah. Di bidang telekomunikasi dalam negeri. alur transmisi teresterial sebanyak 15. Untuk itu terus ditingkatkan sistem jaringan transmisi.4. serta sentral sambungan telepon jarak jauh (STJJ) sebanyak 14 buah dengan kapositas masing-masing 50 SS.

antara lain teiepon lokal dengan sistem manual secara bertahap telah diganti dengan sistem otomat walaupun baru menjangkau di kala-kala.320 1978 69 367.660 1971 33 95.947 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara Tahun Manual Sentral 506 504 496 506 504 507 507 507 503 493 468 457 469 1) 503 1) 509 509 Kapasitas 122.563 104.579 89. Di bidang telex.500 1975 39 144. Pada awal Pelita I.782 101. 1969 -1984 ( sentral dalam buah. Surabaya dan Ujungpandang.100 1976 45 160.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 TabeI VII.336 91.762 79. telah dilakukan peningkatan jaringan pada 4 buah sentral tandem nasional yang berlokasi di Medan. Di samping itu hubungan telepon internasional dengan sistem manual dan semi otomatis secara bertahap juga telah diganti dengan sambungan langsung internasional (SLI). kapositas sentral yang terposang telah mencapai 15. Di samping itu. yaitu dari 26 sentral pada awal Pelita I menjadi sebanyak 173 sentral pada awal Repelita IV. sedangkan yang mendapat hubungan SLJJ terbatas adalah sebanyak 20 kala. telah dapat dilakukan hubungan melalui SLI ini dengan sebanyak 58 negara.253 87. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985. Di lain pihak jumlah sentral telepon otomat telah meningkat dengan pesat. hubungan telepon interlokal dengan sistem manual secara bertahap juga telah diganti dengan sistem otomat dan dimasukkan ke dalam jaringan SLJJ. Kenyataan ini menunjukkan bahvva selama periode tersebut tidak mengalami banyak perubahan.520 1982 164 557.100 1980 137 524. sedangkan pada awal Repelita IV adalah sebanyak 509 buah. 66 JUMLAH SENTRAL DAN KAPASITAS TELEPON.840 satuan sambungan yang melayani 24 kota di Indonesia. Jakarta.300 1972 33 110.772 73.200 1979 101 460. kapositas dalam satuan sambungan ) Otomat Sentral Kapasitas 1969 26 84. Selain itu juga telah Departemen Keuangan RI 233 .548 Sistem yang digunakan dalam bidang telekomunikasi telah mengalami banyak perkembangan.860 1973 34 121.460 1974 37 125.718 102. jumlah kala yang sudah masuk jaringan SLJJ mencapai sebanyak 104 kala.660 1970 28 90. Pada awal Repelita IV.292 108.920 104. Selama Pelita III.054 86.860 1981 156 549.896 107. jumlah sentral manual adalah sebanyak 506 buah.963 1983 1) 170 576.797 1984 2) 173 583.092 99. Selanjutnya masing-masing sentral tandem tersebut dihubungkan dengan sentral lokal yang tersebar di beberapa kota.167 96.142 101.600 1977 54 218.

3 12.5 40.4 3.1 104.905.8 257.827. SKKL Medan-Penang dan stasiun kabel sebanyak 480 kallal.426.0 1970 151.4 12.8 10.5 63.430.0 6.103.8 1978 964.8 55.136.0 8.3 ribu permintaan dalam tahun 1982 menjadi 3.1 74.9 1979 1.950.961.527.103.7 182.2 11.7 3. GM SurabayaBanjarmasin dengan 48 aluran dan GM Indonesia Timur dengan 196 aluran.233.5 205.865.8.753.988.120. stasiun referensi time division multiple accses (TDMA) dan terminal TDMA di Jatiluhur sebanyak 240 kanal.114.271.6 3. .184.656.1 9.1 ribu dalam tahun 1983.621.0 4.934.5 19831) 3.920.760.4 277.5 10.2 1.174.452.5 106.0 3.67 PEMAKAIAN ]ASA TELEKOMUNIKASI.548.0 72.5 6.949. perkembangan jasa telekomunikasi dapat diikuti melalui Tabel VII.249.6 181.4 11.431.027.817.345.156.1 2.7 12.2 185.100 kallal.4 7.9 82.0 1.038.302.3 43.3 15.576.1 411.1 7.503.3 758.1 1982 2.3 1.7 2.6 64.141.463.558.Jumlah call (ribu) 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 62. dengan satelit Palapa generasi kedua Bl dan B2 yang mempunyai 24 transponder.Jumlah pulsa (ribu) f.4 4.4 35.894.529.073. Peningkatan hubungan internasional dilaksanakan melalui sistem komunikasi intelsat yang mencakup dua kawasan.3 992.297.158.402.7 271.3 Sementara itu telah dilakukan pula penambahan jaringan transmisi.3 9. sentral telepon di_ital di Medan sebanyak 2.807.8 1.2 629.682.67.6 124.244. 30.4 5.426.1 18.0 113.3 3..730.0 336.1 14.877.372.396.5 6.8 13.327.1 231.190.Lokal (jumlahpulsa) 1) .2 30.6 4.5 30.070.6 6.990.133.Telex luar negeri : .4 1981 2.786.5 50.120.389.3 13.7 488.7 15.925. Sedangkan perluasan sistem gelombang radio frekuensi tinggi HF. yaitu kawasan Samudera Hindia (Indian Ocean Region) dengan kemampuan up-link 6 aluran dan down-link 14 aluran.Jumlah kata (ribu) e.1 414.023. dan UHF telah mencapai sebanyak 197 stasiun.3 39.7 2.9 58.Jumlahkata (ribu) d. Penggantian Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa Al yang dalam operasi pertama baru mempunyai 12 transponder telah diganti.0 68.527.164.7 12.632.059. sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dapat diselesaikan pembangunan sistim komunikasi kabel laut (SKKL) Asean antara Indonesia-Singapura sebanyak 480 kallal.094.6 3.399.958.776.684.3 6.206 saluran yang dirangkaikan dengan sistem transmisi hambur-tropo (tropos catter).237.619.196.5 5.7 124.868.876.889.247.3 67. dengan kabel kawat masa ganda (multi-pairs wire).6 . GM Jawa-Bali dengan 2.9 7.663. ibukota kabupaten dan beberapa kota kecamatan.9 563.9 10.543.1 19842) 1.3 1.3 4.7 7.0 351. Telex dalam negeri : .064.4 400.849.0 11.8 2.036.1 TabeI VII.51) 3.1 4.51) 240.0 391.5 10.0 105.8 1.7 368.376.1 25.830.0 11.403.047.0 60.011.776.3 191.332.Jumlah telegrap (ribu) .2 307.3 4. 1969 .. Di samping itu telah dipakai pula sistem gelombang mikro (GM) teresterial. yang meliputi GM Lintas-Sumatera dengan 693 aluran.284.083.0 267.2 16.2 51.513.8 7.3 11.775.158.864.0 176.930.263.2 10.8 470.718.2 796.239. Adapun lalu lintas telepon internasional telah pula meningkat dari sebanyak 2.741.419.574.190.6 2.013.8 1971 202.0 379.3 1.459.903. 1969 .9 663.1 240.6 7.701. yang merupakan salah satu unsur renting dalam peningkatan jasa telekomunikasi baik di dalam maupun di luar negeri.6 9.479.696.4 493. Lalu lintas telepon dalam negeri: .480.1 1980 1.0 4.084.427.446.353.916.0 5.Banyak pennintaan (ribu) #NAME? b.169.1 331.885.1 14.6 9.2 150.073.0 389. mikrowave link Jakarta-Jatiluhur sebanyak Departemen Keuangan RI 234 .8 70.7 217.9 2.8 17.631.442.321.6 122. SKKL Medan-Singapura 1.9 157.622.5 3. VHF. Dalam rangka peningkatan sarana telekomunikasi internasional.673.3 2.364.524.735.4 27.622.5 205.1 7.9 10. kabel koaksial dan kabel optek.Sambungan langsung jarak jaub: Jumlah paisa (ribu ) Jumlah call (ribu) Co Telegrap dalam negeri: . Lalu lintas telepon international: .2 53.647.8 1.1 7.419.219.1 2.9 62.9 2.212.7 4.1 134.2 23.4 3.579.6 140.1 167.926.0 2.551.381.315.5 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dilakukan peningkatan sistem telegrap teleprinter sebagai pengganti sistem morse dan digunakan untuk menghubungkan telegrap pada 400 lokasi di kota-kota besar.790. 5.918.4 75.7 2.1984 1972 1973 1974 1976 1977 1975 208.3 276.Jumlah telegrap (ribu) .94 4.1 772.793.4 56.260 kallal.532.297.9 48. Telegrap luar negeri: .8 26.1 1. serta kawasan Samudera Posifik (Posific Ocean Region) dengan kemampuan up-link 5 aluran dan-down link 14 aluran. Hal ini berarti bahwa dalam periode tersebut telah terjadi suatu kenaikan sebesar 19 persen.294.096.864.

Demikian pula industri telekomunikasi PT Inti. kantor kepala daerah pos sebanyak 3 buah. telah berhasil diletakkan dasardasar kebijaksanaan untuk Departemen Keuangan RI 235 . kantor pos besar/ kantor pos ke1as I sebanyak 21 buah. Selain itu te1ah berhasil pula ditetapkan sistem kode pos untuk se1uruh Indonesia guna mendukung kelancaran operasi. Pembangunan di bidang pos dan giro sampai dengan tahun 1984/1985 dimaksudkan untuk memperluas fasilitas pos dan giro dan meningkatkan jasa pelayanannya. serta kantor pus tambahan.3 persen dari seluruh ibukota kecamatan yang ada dan 91. dan perluasan jasa pos ke1iling kala dan jasa pos ke1iling desa. Dengan peningkatan fasilitas pos dan giro tersebut. Hasil-hasil yang te1ah dicapai sampai dengan bulan Mei 1984 meliputi pembangunan kantor pos pembantu/kantor pos tambahan sebanyak 485 buah. Dari segi kuantitas. pengadaan uninterruptible power supply (UPS) 200 KVA dan 1 unit antena track telemetry command and monitoring (TTCM) di Jatiluhur. Di samping itu juga te1ah dilakukan penambahan. antara lain dengan memperpendek waktu tempuh surat. sebagai sentral pos desa sekitarnya. telah berkembang dalam meningkatkan kemampuannya di bidang usaha telekomunikasi dan elektronika.0 persen dari selruh desa di Indonesia. kini te1ah dioperasikan 1 buah stasiun monitor bergerak.103 ibukota kecamatan dari sejumlah 3. sirkit sewa telegrap sebanyak 120 kanal. kantor pos besar dan kantor pos ke1as I di ibukota propinsi dan kala-kala lainnya. kendaraan bermotor roda 4 sebanyak 48 buah serta bis sural sebanyak 1. serta 4. Di samping itu. kini pelayanannya te1ah mampu menjangkau 3. sehingga dapat menjangkau kecamatan-kecamatan di wilayah Nusantara termasuk daerah-daerah pemukiman transmigrasi. Selanjutnya guna menertibkan penggunaan frekuensi radio serta persiapan keanggotaan Indonesia dalam sistem monitoring radio internasional. sirkit sewa suara/data sebanyak 20 kallal. dari segi operasi te1ah pula berhasil ditingkatkan mutu pe1ayanan pos dan giro.159 desa yang ada di Indonesia. telah dilakukan pembangunan kantor pos dan kantor pos pembantu di kecamatan-kecamatan. baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini berarti pelayanan pos dan giro telah dapat melayani 91. 3 buah stasiun tetap yakni di Cakung.096 trunks telepon internasional dan nasional. Se1ama Pelita III hingga tahun pertama Repelita IV.214 buah. sehingga pe1ayanan pos dapat menunjang kegiatan so sial ekonomi masyarakat. penambahan jaringan dan perluasan pe1ayanan. Ulan Kayu dan Samarinda. Untuk menunjang hal tersebut. te1ah banyak kemajuan yang dapat dicapai.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 572 kanal. Jangkauan pelayanan pos dan giro ke desa-desa te1ah mencapai 60.232 desa dari sejumlah 66. serta telah siap untuk dioperasikan sebanyak 18 buah stasiun monitoring bergerak. kantor pos sebanyak 30 buah.488 ibukota kecamatan yang ada. pengadaan peralatan VFT-MUX sebanyak 48 terminal. penambahan trafo tegangan tinggi 3x250 KVA.

Sedangkan dari segi kualitas antara lain ditandai dengan berhasilnya diadakan ikatan kontrak dengan perusahaan angkutan umum. yakni berupa perluasan jangkauan pelayanan sampai ke desa-desa. angkutan pos me1alui darat pada umumnya lancar. Demikian pula angkutan pos udara semakin lancar. Di samping itu dalam kedudukannya sebagai anggota UPU (United Post Union) dan APPU (Asia Posific Post Union).50 milyar. Perkembangan arus lalu lintas pos dan giro dapat diikuti melalui Tabel VIII.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 djadikan program pengembangan tahun-tahun berikutnya.569. Dengan adanya peningkatan kualitas tersebut.68.70 milyar. Dalam tahun 1983 telah disampaikan surat pos sebanyak 348 juta buah.41 milyar serta jumlah tabungan pada BTN sebesar Rp 81.795.60 juta. Adapun angkutan pos laut pada umumnya tidak ada hambatan. Indonesia telah banyak memperoleh manfaat dari kedua organisasi tersebut dalam mencapai kemajuan di bidang pos dan giro. daerah-daerah pemukiman trasmigrasi serta daerah terpencil. weselpos senilai Rp 163. telah diadakan perjanjian kerjasama angkutan pos dengan perusahaan swasta.74 juta buah. Guna menambah fasilitas alat angkutan pos untuk pemantapan waktu tempuh. peredaran giro dan cekpos sebesar Rp 967. yang untuk tahap pertamanya dimulai di wilayah DKI Jakarta dan kemudian disusul oleh propinsi-propinsi lairmya. surat pos yang disampaikan berjumlah sebanyak 27. weselpos senilai Rp 445. peredaran giro dan cekpos sebesar Rp 2.90 juta. Sedangkan sampai dengan bulan Mei 1984. dengan lebih seringnya frekuensi penerbangan dan adanya tambahan trayek baru sehingga hampir menjangkau seluruh pelosok Nusantara. Pelayanan pos dan giro selain berpedoman kepada volume lalu lintas pos dan perhitungan biaya. Departemen Keuangan RI 236 . Dalam pada itu telah dilakukan pula pemasyarakatan kode pos. yang antara lain dilakukan dengan memperbanyak unitunit pelayanan pos bergerak.80 milyar. karena frekuensi dan jumlah kapal sudah semakin bertambah dan daerah yang dilintasi juga semakin luas. juga ditujukan untuk meningkatkan jangkauan pelayanan ke daerah-daerah terpencil dan daerah-daerah transmigrasi. sehingga dapat mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang mengganggu ke1ancaran pos dan giro.063. serta jumlah tabungan BTN sebesar Rp 23.

569.45 7.5 204.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.61 2. Sumatera Barat.59 10. tapak kawasan dan detil desain Departemen Keuangan RI 237 .3 317.208.414.48 1971 181. baik yang berupa rencana induk perencanaan.42 42.558. kemudahan keimigrasian.7 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 7.82 63.5 23.3 1975 199. Bali.52 1973 176.2 1.70 32.68 ARUS LALU LINTAS POS DAN GIRO.064.042.9 1969 147 97. 1969 -1984 Peredaran Tabungan Surat pos Weselpos dan cekpos Bank Tahun (juta ) ( mityar ( juta ( mityar 14.56 1979 265.81 1970 159 106.5. Jawa Barat. Kepariwisataan Pembangunan di bidang pariwisata diarahkan selain untuk meningkatkan dan memperluas kesempatan kerja serta kesempatan berusaha. DKI Jakarta. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agus.31 183. serta pengenalan alam dan kebudayaan Indonesia.94 1980 276.06 1981 1) 272.29 840.90 1984 2) 163.63 59.526.84 426.801 126.29 1976 200.9 124.908. Jawa Tengah.00 174.19 1. telah dilakukan berbagai usaha antara lain pembebasan visa selama 2 bulan bagi wisatawan dari 26 negara posaran wisatawan yang potensial.80 138.23 2.tus tahun 1984 telah dilaksanakan studi perencanaan pengembangan. Dalam upaya mengembangkan obyek wisata yang tersebar di 10 DTW dan beberapa propinsi lainnya tersebut.7 660.41 81.42 58.358.8.933.65 1974 187.65 32. Daerah Istimewa Yogyakarta.81 1978 252.17 99.98 45.338.48 121.26 499. antara lain berupa peningkatan dan pembangunan daerah-daerah tujuan wisata.705.18 81. Untuk lebih meningkatkan arus wisatawan dari luar negeri. Jawa Timur.795. Selama Pelita III telah dilakukan langkah-Iangkah pembinaan dan pengembangan pariwisata.113.05 26.37 20. juga dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan devisa.771) 1983 348 2.325.34 15.75 1. peningkatan pelayanan bagi wisatawan asing serta peningkatan keahlian dan keterampilan petugas-petugas yang menangani pariwisata. Pembinaan dan pengembangan obyek wisata sejak Pelita III hingga tahun pertama Repelita IV terutama ditujukan pada 10 daerah tujuan wisata (DTW) yaitu propinsi Sumatera Utara.71 1977 236.60 445.23 325.29 152.43 4.65 146. dan wisata remaja.56 471. serta pengembangan mutu produk wisata Indonesia.74 967.850.86 1.16 20.53 1972 196 157. Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.8 27.08 1982 299.063.

8 per malam sehingga jumlah seluruh pengeluaran wisatawan asing mencapai sekitar US $ 439.1) 5.1) 11. penerbangan borongan yang langsung ke tempat obyek wisata. sedangkan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 638.925 401. Sedangkan lama tinggal di Indonesia ratarata bagi wisatawan asing dalam tahun 1983 adalah 11.671 178. dalam tahun pertama Repe1ita IV te1ah dipersiapkan pengembangan pariwisata di tiga propinsi yaitu Riau.8 7.8 1.393 2) 464 81. Selain itu juga dilakukan pembuatan bahan promosi/cetakan yang bertemakan "Indonesia destination of endless diversity" (Indonesia Departemen Keuangan RI 238 .1) 42.319 359 16.300 2) 561.360 34.406 2) 501.928 38.69.398 94. Dalam tahun 1982.0 2 38.1 112.151 3) 409 309.278 3. dalam tahun 1983 telah dilakukan usaha-usaha dan kegiatan pemasaran melalui koordinasi dan kerjasama terpadu guna menghadapi persaingan yang cukup ketat di pasaran pariwisata internasional. Sed:mgkan guna menunjang ke1ancaran arus wisatawan sampai ke DTW.3 .390 3.233 129. Kegiatan di DTW tersebut telah menghasilkan peningkatan arus wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia.179 242 27.000 313.6 .308 2) 600.3 . dengan pengeluaran rata-rata sebesar US $ 58.046 426 358. serta pemandu wisata. Perkembangan bidang kepariwisataan dapat diikuti melalui Tabe1 VII.4 48.6 10.046 orang.850 221.9 persen.237 453 70. diusahakan peningkatan prasarana.452 414 54.300 12.139. Bengkulu dan Kalimantan Tengah.2 8.100 2) 297 10. yang berarti mengalami kenaikan sebesar 7.575 2) 468.855 orang. jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia baru sebanyak 592.972 86.303 2) 253 40.7 2) 86. Kegiatan dan upaya tersebut antara lain meliputi pemasangan iklan pada media internasional.9 .1) 31.766 366.356 433.621 Tahun 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 3) 1983 1) Data tidak tersedia 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Untuk meningkatkan arus wisatawan baik asing maupun domestik.048 4.614 467 94.855 436 439.156 ) 38.282 638. Tabel VII. sarana dan penunjang lainnya seperti tempat penginapan.69 PERKEMBANGAN DI BIDANG PARIWISATA.7 malam per kunjungan. 1969 .627 592.3 53.6 .960 21. jasa biro perjalanan.5 113.430 295 250.1983 Wisatawan Kamar hotel Biro Penerimaan Tenaga kerja (orang) (buah ) (juta US $) (orang) (kamar) 2. untuk mempromosikan dan menjual produk wisata Indonesia.5 juta.293 437 62.781 2) 545 22. Dalam rangka perintisan pengembangan obyek-obyek wisata di luar 10 DTW.510 270.178 3) 330 289.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun lanjutan pembangunan fasilitas obyek-obyek wisata di DTW yang te1ah mantap pengembangannya.1) 42.

maka berarti terdapat peningkatan usaha baru sebanyak 10 buah perusahaan atau sebesar 2. Kegiatan bina masyarakat dimaksudkan untuk membimbing. pelayanan. oleh karena dalam tahun 1983 pelaksanaan klasifikasi hotel terpaksa ditunda yang disebabkan adanya resesi dunia.537 buah. serta meningkatkan sadar wisata dari para pejabat. Garuda Indonesian Airways. Di samping itu juga dilakukan monitoring.3 persen. hotel-hotel dan biro perjalanan di dalam negeri. Untuk menunjang kegiatan tersebut. Di samping itu perwakilan Pusat Promosi Pariwisata Indonesia (P3I) di luar negeri juga telah berperanserta. Dalam tahun 1983. dan mengarahkan masyarakat untuk mendukung kebijaksanaan. Program tersebut ditujukan antara lain bagi kalangan pengusaha/pedagang dan wartawan dengan cara peninjauan langsung ke obyek-obyek wisata. program dan kegiatan yang dilakukan Pemerintah di bidang kepariwisataan. dilakukan peningkatan kerjasama dengan media masa guna menyebarkan informasi kepariwisataan dan hasil-hasilnya. dan agen perjalanan (AP) sebanyak 143 buah perusahaan. pengendalian. Departemen Keuangan RI 239 . yang selalu diterbitkan setiap tahun. pembinaan dan pengembangan wisata remaja di empat daerah. untuk mengetahui fasilitas. sedangkan yang belum diklasifikasikan berjumlah sebanyak 792 buah dengan kamar sebanyak 18.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 adalah tempat tujuan yang beraneka ragam tanpa putus-putusnya). prosedur dan unsur-unsur lainnya yang berkaitan dengan kedatangan wisatawan asing di Indonesia. secara aktif. cabang biro perjalanan umum (CBPU) 108 buah perusahaan. Sulawesi Tengah dan Maluku. Selain itu telah pula digalakkan wisata di kalangan para remaja melalui pengadaan bahan-bahan informasi berupa buku petunjuk perjalanan wisata remaja. budaya dan alam serta wisata marina. telah diselenggarakan widya wisata. Demikian pula dengan biro perjalanan.090 buah. Jawa Timur. dalam setiap kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia sebagai negara tujuan wisata. Hal itu sekaligus merupakan kesempatan bagi industri dan perusahaanperusahaan untuk melakukan kontak dagang dengan industri pariwisata dari berbagai negara yang ikut serta. Sementara itu untuk memperkenalkan secara lebih mendalam mengenai atraksi dan fasilitas wisata Indonesia. Posisi ini tidak berbeda dengan keadaan tahun 1982. yaitu Kalimantan Barat. jumlah tempat menginap yang telah mendapatkan klasifikasi hotel mencapai sebanyak 283 buah hotel berbintang dengan kamar sebanyak 20. Bila dibandingkan dengan tahun 1982 yang baru mencapai 426 buah perusahaan. yang terdiri atas biro perjalanan umum (BPU) sebanyak 185 buah perusahaan. yaitu meliputi sejarah. yang memperoleh ijin usaha dalam tahun 1983 tercatat sebanyak 436 perusahaan. dan pemuka-pemuka organisasi dan masyarakat. Melalui kerjasama dengan KBRI di luar negeri.

Di lain pihak.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pariwisata dalam negeri pada tahun pertama Repelita IV mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Di samping itu bidang pengairan telah pula menunjang kegiatan sektor. 7.9. Selanjutnya kegiatan pemasaran dan promosi baik di dalam maupun ke luar negeri semakin ditingkatkan melalui pemasangan iklan dan penyebaran informasi mengenai atraksi dan fasilitas wisata Indonesia.sektor lainnya. dilakukan peningkatan pemasaran dan promosi yang terpadu dan agresif berdasarkan penelitian yang menyeluruh. yakni melalui usaha intensifikasi dan ekstensifikasi areal persawahan. sehingga dengan peningkatan produksi padi tersebut pada gilirannya pendapatan para petani juga dapat ditingkatkan. cipta karya dan bina marga telah menunjukkan hasil yang semakin nyata di dalam menunjang dan mendukung keberhasilan pembangunan sektor-sektor lain.1. Berbagai kebijaksanaan tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan arus wisatawan pada waktu yang akan datang.9. antara lain berupa penambahan pintu masuk penerbangan dan pintu masuk pelabuhan laut. Selain itu telah pula disempurnakan koordinasi pemanfaatan obyek wisata. bila dibandingkan dengan tahun 1982. kebijaksanaan tersebut telah menurunkan jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Singapura sebesar 38 persen dalam tahun 1983. Sementara itu guna membantu kelancaran arus wisatawan asing clari luar negeri. dan sekaligus dimaksudkan untuk memperkokoh kerangka landasan dalam pencapaian sasaran Repelita IV. Untuk menunjang perkembangan pariwisata. seperti pembangunan waduk serba guna yang dapat dimanfaatkan untuk Departemen Keuangan RI 240 . Dalam rangka itu antara lain dilakukan pembukaan areal persawahan baru terutama di luar pulau J awa. Hal tersebut tercermin antara lain dari tercapainya sasaran fisik sejak tahun pertama Pelita I sampai dengan Pelita III. kini sedang dipersiapkan Rancangan Undang-undang Kepariwisataan Nasional. dan peningkatan atraksi wisata yang akan dapat meningkatkan clara saing produk wisatawan Indonesia. yang antara lain disebabkan adanya kebijaksanaan Pemerintah untuk meningkatkan biaya fiskal perjalanan ke luar negeri. Pekerjaan umum Pembangunan di bidang pekerjaan umum yang meliputi bidang pengairan. 7. serta pelayanan telekomunikasi di tempat menginap. Pengairan Pembangunan di bidang pengairan dititikberatkan pada peningkatan produksi pangan terutama beras. Pelaksanaan pembangunan yang dilakukan dalam tahun pertama Repelita IV merupakan kesinambungan dari tahap-tahap Repelita sebelumnya.

Pamali Carnal seluas 30. Program pembangunan di bidang pengairan yang dilaksanakan dalam Pelita III mencakup masalah perbaikan dan peningkatan irigasi. Hal itu dilakukan dengan meningkatkan pelayanan produksi.500 hektar. para pemilik tanahnya juga harus menunjukkan partisiposi yang tinggi dalam program irigasi dan pencetakan sawah baru. penyelidikan dan perancangan pengembangan sumber-sumber air. telah dilakukan pengamanan terhadap daerah yang peka terhadap bencana banjir. Selain itu guna melindungi kawasan pemukiman masyarakat pedesaan dan masyarakat lainnya. Untuk menunjang kegiatan tersebut. Ciujung seluas 24. dengan prioritas utama pada lokasi-lokasi yang memenuhi persyaratan yang ditentukan. pembangunan jaringan irigasi baru.000 hektar. Hal ini terutama diterapkan pada areal transmigrasi.100 hektar.400 hektar dan 45.651 hektar. Sedangkan untuk menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan areal pertanian. pengembangan daerah rawa seluas 437.600 hektar. yang masing-masing mencakup wilayah se1uas 19. Sedangkan proyek-proyek yang sampai dengan akhir Pelita III sudah atau hampir terselesaikan antara lain berupa rehabilitasi jaringan irigasi utama Cisadane seluas 40.300 hektar. pembangunan jaringan irigasi baru dititikberatkan pada pembangunan irigasi sedang dan kecil. survai. Dalam tahun 1982/1983 telah dilakukan perbaikan dan peningkatan areal irigasi seluas 72. pengembangan daerah rawa. sehingga program pembangunan Departemen Keuangan RI 241 . Persyaratan dimaksud adalah se1ain lokasi yang bersangkutan sangat memerlukan pembangunan irigasi guna menunjang peningkatan produksi pertanian.000 hektar.271 hektar. dan kemudian dalam tahun 1983/1984 telah mencapai seluas 88.468 hektar. Madiun.271 hektar.000 hektar. Jawa Timur. serta penyelamatan hutan. sehingga mampu memberikan pelayanan yang le. Pekalen Sampean seluas 229. Se1ain itu secara intensif juga mulai dilaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi di daerah Semarang Barat dan Simalungun.000 hektar. Gambarsari seluas 20.000 hektar dan Tabo-tabo seluas 11. tanah dan air seluas 587. Sementara itu dalam tahun pertama Repelita IV te1ah dimulai pembangunan irigasi tersier dan drainase di daerah irigasi Cirebon. pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan penyediaan air industri.561 hektar. Delta Brantas seluas 32. guna mempercepat jangkauan fungsional pelayanan produksi dalam kawasan yang telah dikembangkan. Sedeku seluas 30. serta Lombok Se1atan. Adapun hasil-hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan Pelita III meliputi perbaikan dan peningkatan irigasi seluas 386. telah disediakan air baku yang memenuhi syarat-syarat kesehatan bagi daerah pemukiman.000 hektar. Dalam waktu yang sarna. pembangunan jaringan irigasi baru seluas 437. dilakukan pula penelitian. serta penyelamatan hutan. tanah dan air. Serayu.bih cepat dan tepat melalui pemanfaatan sumber-sumber clara alam yang ada.

Jambi. Jawa Tengah. juga dimaksudkan untuk memperluas dan memperbaiki daerah pemukiman penduduk. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Bengkulu.271 hektar antara lain me1iputi proyek irigasi Krueng Jrue Kiri se1uas 2. Sumatera Selatan. dan Dumoga. Sumatera Utara. Sumatera Barat. kecil dan sederhana.189 hektar.000 hektar. Bali. Way Rarem. Dalam hubungan ini standar prasarana reklamasi daerah rawa te1ah ditingkatkan. Be1itang se1uas 19. Gumbasa seluas 7. Kalimantan Timur. Jawa Timur. masing-masing adalah se1uas 108. Jambi.500 hektar. Kalimantan Barat.500 hektar. Lombok. dan Timor.400 hektar. . Adapun proyek-proyek yang masih terus ditingkatkan pembangunannya me1iputi proyek irigasi Krueng Baro. Sumatera Selatan. Se1ain dilakukan pengembangan irigasi sedang. seperti daerah Yogyakarta Se1atan. antara lain berupa penyempurnaan jaringan reklamasi daerah rawa serta perluasan dan penambahan areal pertanian baru. Bali.729 hektar. Sedangkan hasil yang dicapai selama Pelita III meliputi areal seluas 456.600 hektar dan Way Pangubuan seluas 5. Lampung.680 hektar. Selama masa Pelita III te1ah dibangun jaringan irigasi baru pada areal se1uas 437. Untuk seluruh proyek terse but sudah dapat dise1esaikan jaringan irigasi utamanya. juga dilanjutkan pembangunan prasarana irigasi baru yang lebih besar. Penyelamatan hutan. yang sebagian besar merupakan lahan yang potensial untuk usaha tani. Hasil yang telah dicapai dalam tahun terakhir Pelita III di bidang pengembangan daerah rawa meliputi areal seluas 86. te1ah dilaksanakan melalui kegiatan pengembangan pengairan posang surut di daerah Riau.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jaringan irigasi terse but sekaligus dapat menunjang keberhasilan program transmigrasi.200 hektar. Pemanfaatan daerah rawa selain ditujukan untuk memperluas areal pertanian yang ada. Sungai Dareh Sitiung. Kegiatan lain daripada program ini adalah pengembangan air tanah bagi daerahdaerah pertanian yang berlahan kering dan rawan yang langka air permukaan. Wawotobi. Lodoyo se1uas 12. Pada Waras. Kedu Selatan. Riau. Way Jepara se1uas 6.900 hektar. Hasil-hasil yang te1ah dicapai di bidang pembangunan irigasi baru se1ama dua tahun terakhir pe1aksanaan Pe1ita III. sedangkan jaringan tersier dan drainasenya sedang dalam tarat penyelesaian. Cidurian se1uas 9. dan dengan biaya peme1iharaan yang lebih rendah. agar dapat dilakukan pengaturan air dengan lebih baik. dan Kalimantan Selatan. yaitu dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984.607 hektar dan 39. Kegiatan tersebut juga mencakup proyek reklamasi rawa bukan posang surut yang terdapat di daerah Aceh. Jambu Aye. Teluk Lada. Kalimantan Barat. Dalam tahun pertama Repe1ita IV pembangunan daerah rawa masih me1anjutkan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan se1ama Pe1ita III. Ciletuh. tanah dan air dimaksudkan guna meningkatkan pengamanan Departemen Keuangan RI 242 . Batang Gadis.

perlindungan dan perkuatan tebing. sungai Arakundo.573 hektar. di antaranya yang dilakukan dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 masing-masing seluas 248. maka dilakukan pembangunan dan pengendalian kantong posir (check dam) serta tanggul. sungai Brantas dan pengendalian banjir Jakarta.698 hektar. Citanduy. baik untuk keperluan industri maupun rumah tangga. kebutuhan air bersih untuk pemukiman penduduk. Selama 5 tahun Pelita III telah berhasil dilakukan penyelamatan hutan.2. sungai Ular. Untuk menanggulangi bencana banjir lahar sebagai akibat dari meletusnya gunung-gunung berapi seperti di sekitar daerahdaerah gunung Merapi. pembuatan pintu-pintu banjir. Sehubungan dengan Departemen Keuangan RI 243 . pembuatan saluran banjir. yaitu berupa pengerukan dasar sungai. Cisanggarung. Dalam hubungan ini. pembuatan sudetan.601 hektar dan 63.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 daerah produksi pertanian. pembuatan tanggul. Pembangunan jaringan tersier dilaksanakan melalui pemanfaatan jaringan-jaringan irigasi yang telah dibangun. yang dilaksanakan secara khusus melalui proyekproyek pengaturan dan pengamanan sungai besar.9. proyek itu juga dimaksudkan untuk menunjang sektor industri.100 hektar. Proyek-proyek terse but terdiri atas proyek Bengawan Solo. dalam Pelita III telah meperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan. seperti pembangunan pembangkit tenaga listrik dan penyediaan air. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi pengaturan dan pengamanan sungai. Perumahan rakyat dan pemukiman Salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dilakukan melalui peningkatan pembangunan di bidang perumahan rakyat dan pemukiman. perluasan aliran. gunung Kelud. Selain itu program ini juga dimaksudkan untuk mengamankan sungai-sungai yang merupakan sumber-sumber air bagi jaringan irigasi yang telah ada. telah dilaksanakan pula pembangunan waduk-waduk besar. daerah pemukiman penduduk. seperti waduk Wonogiri yang sudah berfungsi dan Wadas Lintang yang sedang dalam tahap penyelesaian. 7.680. serta latihan penanggulangan banjir. yaitu tercapainya areal seluas 1. dan dewasa ini secara langsung telah dapat menunjang program intensifikasi produksi pertanian. dan daerah industri terhadap gangguan bencana banjir. Di samping itu juga ditujukan untuk mengembangkan pemanfaatan sumber-sumber air sungai yang memiliki potensi tinggi dalam memenuhi keperluan sektor pertanian. keperluan air industri untuk pembangkit tenaga listrik serta kebutuhan air di pelabuhan. Selain untuk pengendalian banjir. Pengutamaan kegiatan pada program jaringan tersier. tanah dan air seluas 587. gunung Agung dan gunung Galunggung. gunung Semeru. baik bagi para petugas maupun bagi penduduk setempat.

Adapun secara keseluruhan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah berhasil dilaksanakan perbaikan kampung seluas 17. Sehubungan dengan itu kini sedang dikembangkan suatu sistem yang lebih terarah dan terpadu. perintisan peremajaan kota.701 hektar yang dapat memberikan manfaat bagi 1.000 desa pada 200 kota. perintisan perbaikan lingkungan perumahan kota. Kebijaksanaan umum yang ditempuh di bidang ini antara lain dengan melibatkan masyarakat sebanyak mungkin. pemugaran perumahan desa dan pembinaan yang menunjang kegiatan tersebut. serta pengembangan kredit pemilikan rumah (KPR). di samping tetap memperhatikan aspek-aspek pemerataan dan keterjangkauan khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dan menengah. pembangunan perumahan rakyat dan pengembangan pemukiman penduduk diarahkan untuk dapat tersebar ke berbagai lokasi pemukiman yang meliputi sekitar 6. perbaikan kawasan pusat kota bagi kota-kota sedang dan kecil termasuk lingkungan kawasan posarnya. kesehatan lingkungan. yang dapat memberikan manfaat langsung kepada 5. Departemen Keuangan RI 244 . serta riset dan teknologi. perluasan kesempatan kerja. dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan perbaikan kampung pada 190 kala.220 orang penduduk kampung.600 penduduk di berbagai propinsi. yang sebagian besar penduduknya berpenghasilan rendah. gedung sekolah dasar. Pembangunan perumahan rakyat terutama ditujukan untuk meningkatkan perbaikan kampung/lingkungan pemukiman kota. pembinaan kesejahteraan ibu dan anak (PKK). bina usaha dan bina manusia. penanggulangan sampah lingkungan. keserasian pembangunan daerah. pertanahan. Kebijaksanaan pembangunan di bidang pemukiman rakyat sangat erat kaitannya dengan kebijaksanaan di sektor lainnya seperti kependudukan. serta kegiatan-kegiatan lainnya yang ditujukan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah perkotaan. pembuangan air limbah rumah tangga dan pengadaan air bersih. pembangunan perumahan rakyat. pemukiman serta tataguna tanah perkotaan dan pedesaan. Sehubungan dengan itu.980 hektar. terutama yang berkaitan dengan masalah pembiayaan. meliputi areal seluas 3. Kegiatan perbaikan kampung di daerah perkotaan mencakup bina lingkungan. terutama yang menyangkut peningkatan mutu kehidupan masyarakat banyak yang berpenghasilan rendah.183. yang antara lain berupa perbaikan jalan lingkungan dan jalan setapak. Pembangunan perumahan rakyat dan pemukiman tersebut pada dasarnya merupakan tanggung jawab masyarakat itu sendiri dengan mendapatkan bantuan dan pembinaan dari Pemerintah. Kegiatan tersebut juga berupa pengadaan sarana fasilitas sosial lainnya seperti Puskesmas. produksi bahan bangunan lokal. perkreditan. perbaikan saluran pembuangan air hujan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 itu.436. Program perumahan rakyat mencakup perintisan pemugaran perumahan desa.

326 1.891 2.l.718 3.500 2.518 2. 110 unit rumah sederhana.914 12.730 34 64 64 1.268 400 140 1.366 Rumah Jumlah sederhana 4. Di samping itu terdapat pula perumahan yang dibangun oleh PT Departemen Keuangan RI 245 . D.654 7. jumlah keseluruhan rumah siap huni yang telah selesai dibangun mencapai 81.953 20.946 1.020 3.963 rumah siap huni yang terdiri atas 3.552 5. 27.000 hektar.l. Tab eI VII. 24.523 unit rumah inti dan 760 unit rumah susun.230 3.580 42.250 1.594 1.090 4. 12.136 478 10 1.323 unit rumah dan 104.734 7.900 194 1. Sedangkan yang dibangun tanpa dukungan KPR masing-masing telah mencapai sebanyak 81.500 3.988 148 935 2.479 3. 18.uk rumah susun don RKTM Rumah sederhana 3.003 Propinsi I. yang bertujuan untuk membangun perumahan rakyat bagi mereka yang berpenghasilan menengah dan tinggi. 13.098 882 1. terdiri atas 787 unit rumah inti.606 15.024 unit rumah susun. Selain dengan Perum Perumnas. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juni 1984 juga telah seksai dibangun sebanyak 1. 50.846 1. 25.212 400 600 1.087 9. 8.289 unit rumah dan 104. 15.523 12. dan 640 unit rumah susun.009 1. sehingga seluruhnya berjumlah 192. 19.200 9. 7.060 1.563 unit rumah.212 1'49 1.288 Jumlah I) Angkadiperbaiki 2) Termasuk Tangerang dan Depok 3) Sejak tahun 1980/1981 pada rumah sederhana termasuk rumah susun 4) Sejak tahun 1983/1984 rumah sederhana terma.852 unit rumah. sehingga keseluruhannya berjumlah 185.872 6.742 2.774 2. 9.046 1.094 158 286 444 286 158 510 1.190 1.441 1983/1984 1) Rumah inti Jumlah 606 606 638 787 706 727 1. 26.712 29.838 134 250 - Rumah 4) Jumlah sederhana 388 13.300 2. 10. Pengadaan perumahan rakyat bagi masyarakat berpenghasilan rendah selama ini telah dilaksanakan melalui Perum Perumnas yakni berupa pemberian fasilitas KPR dari Bank Tabungan Negara (BTN).000 612 612 600 200 700 500 452 600 450 540 306 680 986 148 406 1.200 4.030 unit rumah sederhana.500 6. 16.222 768 20. Dalam tahun 1983/1984.886 unit rumah.704 1.342 1.510 7.323 unit. 22.500 444 198 21.508 830 830 4.805 27.400 4.176 8 1. 8.050 49. BTN juga mengadakan kerjasama dengan perusahaan pembangunan perumahan swasta.964 Pembangunan rumah dengan dukungan KPR dari BTN telah pula ditingkatkan dan dikembangkan hampir di seluruh ibukota propinsi dan ibukota kecamatan. Adapun selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III.466 158 304 432 238 218 806 482 281 389 8.269 unit rumah inti dan 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Hal ini berarti bahwa selama periode tersebut pelaksanaan program perbaikan kampung telah dapat melampaui target yang direncanakan dalam Repelita III seluas 15.018 4.480 1.576 4.628 3. Perum Perumnas telah membangun sebanyak 12.078 1.234 2.078 200 120 340 1.504 171 278 500 92.386 1. Selama Pelita III.014 500 1.596 1. 3. 2.504 250 282 282 4 278 200 500 300 200 500 300 300 200 200 200 356 216 572 9.230 200 11. Perkembangan jumlah perumahan yang dibangun oleh Perum Perumnas dapat dilihat pada Tabel VII. 17.1983/1984 ( dalam unit rumah ) 1979/1980 1982/1983 1980/1981 1981/1982 Rumah Rumah3) Rumah Rumah 3) Rumah Rumahh3) Rumah inti Jumlah sederhana inti Jumlah sederhana inti inti Jumlah sederhana 388 388 388 388 388 3.736 1.264 534 216 300 502 200 688 43 400 2.666 2.230 1.386 12.537 unit.192 1.314 333 1.078 1978/1979 Rumah inti 898 12.563 unit rumah.900 2.070 Sulawesi Tenggara Maluku Irian Jaya Timor Timor 49.542 1. 14.192 1.517 13. 71 PEMBANGUNAN PERUMAHAN RAY AT OLEH PERUMNAS.584 3.299 935 24. 11. Ace h Sumatern Utara Sumatern Barat Ria u J ambi Swnatern Selatan Bengkulu Lampung DK1Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.216 5.457 500 1. 5.230 1.252 1.948 368 11.412 368 500 90 23.856 746 2.610 19.680 unit rumah sederhana.032 522 300 822 522 140 58 7. terdiri atas 28.500 1.71. 20. 6.8642) 522 2.212 9.764 600 1.166 34 4.166 3.014 100 100 508 354 862 514 500 764 534 140 324 324 534 534 300 500 1.696 23.186 9. hasil yang telah dicapai oleh Perum Perumnas dan non Perumnas yang mendapat dukungan KPR masing-masing sebanyak 88. 1978/1979 .764 1.264 240 1. 21. 4. 23. Yogyakarta Jawa TImur BaIi Nusa Tenggara Barut Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Belatan Kalimantan Timur 200 Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan 1.078 200 216 216 216 500 500 216 216 300 502 304 806 200 32 120 656 656 32 688 340 400 400 400 134 480 480 2.620 8.

214 meter. motivasi. dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran. telah dilaksanakan dengan pembuatan model bangunan sederhana pengolah air yang disebut embung-embung. khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas.281 unit. yang selama Pelita III telah mencapai sebanyak 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Papan Sejahtera atas dukungan KPR. pengadaan sarana air bersihsebanyak 1.281 unit. penyediaan air bersih. pengadaan sarana mandi-cuci-kakus (MCK). perintisan pengadaan produksi bahan-bahan bangunan setempat. Adapun unit usaha pengolahan air bersih yang menggunakan Departemen Keuangan RI 246 . Kegiatan terse but antara lain berupa pembinaan umum pembangunan perumahan rakyat. juga meliputi perbaikan jalan lingkungan desa. dan pengadaan peralatan penukangan sebanyak 1. kemampuan dan keterampilan masyarakat luas.444 meter. Selain pengadaan perumahan rakyat. yang dimaksudkan untuk mencukupi keperluan air bersih di propinsi Nusa Tenggara Timur. maka dilakukan pula kegiatan-kegiatan penunjang yang bertujuan untuk memudahkan pelaksanaan program perumahan rakyat secara keseluruhan.923 desa yang terse bar di 25 propinsi kecuali propinsi OKI Jakarta dan Irian Jaya. pembangunan sarana MCK sebanyak 993 unit. di samping juga telah dilakukan di 120 desa dalam rangka penanggulangan bencana alam atau penanggulangan darurat. Pembinaan di bidang pembangunan perumahan rakyat tersebut telah dilaksanakan melalui Pusat Informasi Teknik Bangunan (PITB). Pada dasarnya kegiatan tersebut merupakan usaha gotong royong masyarakat desa yang bersangkutan dengan mendapatkan bantuan dan bimbingan dari Pemerintah. juga telah banyak memberikan sumbangannya dalam pembangunan perumahan. serta usaha-usaha lain di bidang pemukiman. Kegiatannya selain mencakup pemugaran rumah-rumah desa. pembuatan saluran pembuangan air kotor sepanjang 25. dan juga aparat Pemerintah daerah. dengan mengarahkan agar dapat dilakukan secara mandiri melalui rumah percontohan dan penyuluhan yang diberikan. Kegiatan penelitian di bidang air bersih dan kesehatan lingkungan pemukiman. Adapun perusahaan-perusahaan pembangunan perumahan swasta yang tergabung dalam perusahaan Real Estate Indonesia (REI). Pemugaran perumahan pedesaan dimaksudkan agar sebanyak mungkin rakyat desa dapat mendiami rumah dan lingkungan yang sehat. Selama Pelita III telah dilaksanakan pemugaran perumahan di 4. Sedangkan pembangunan jalan lingkungan desa telah diselesaikan sepanjang 990. pengetahuan. proyek perintis perbaikan lingkungan perumahan kota (P3LPK). perbaikan kampung dan pemugaran perumahan desa. serta perintisan unit produksi bahan bangunan setempat. serta penelitian perumahan rakyat baik yang bersifat nasional maupun regional. Selain itu juga dimaksudkan untuk menunjang pelaksanaan proyek perintis perbaikan lingkungan perumahan desa (P3LPD). peningkatan keterampilan.243 unit rumah.

221.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tanah gambut sebagai bahan pengolahannya. terus dilakukan upaya pengadaan dan penyediaan air bersih yang dapat menjangkau baik kota-kota-besar. Peningkatan status BPAM menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (POAM). Sejalan dengan makin meningkatnya kebutuhan air bersih. Sejalan dengan itu. Kegiatan program penunjang air bersih dilakukan untuk mempersiapkan.651 hidran umum yang mampu melayani 1. Dalam tahun 1983/1984 telah dapat diposang sambungan rumah sebanyak 69. telah dibangun di propinsi Kalimantan Selatan. sehingga dapat melayani penduduk dengan baik terutama berdasarkan kemampuannya sendiri. serta pembangunan sarana pembuangan air kotor dan saluran pembuangan air hujan. sedang dan kecil termasuk IKK. dan 98 sisanya melalui Inpres kesehatan. dalam Pelita III telah dilakukan peningkatan dan pemerataan pelayanan air bersih. telah mencapai 18. rnaupun kota-kota kecil. selama lima tahun pelaksanaan Repelita III jumlah sambungan rumah yang telah dipasang mencapai 227. serta sambungan ke rumah-rumah guna mencapai tingkat pelayanan penduduk semaksimal mungkin. Sehubungan dengan itu. khususnya bagi penduduk yang berpenghasilan rendah.660 jiwa penduduk di 357 kota. Sedangkan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III kapositas produksi air bersih. yang dapat melayani penduduk sebanyak 4. Hal itu dilaksanakan melalui peningkatan penyediaan dan pemasangan hidran umum.322 buah. Kegiatan terse but ditujukan untuk meningkatkan mutu lingkungan pemukiman terutama dalam mencegah berjangkitnya penyakit.137. selama Pelita III telah dilaksanakan perbaikan sarana lingkungan kota termasuk persampahan di 15 kala. Dalam tahun terakhir pelaksanaan Pelita III.254 liter per detik. dan hidran umum sebanyak 9. Pembangunan di bidang sanitasi lingkungan meliputi kegiatan kebersihan kala. Dalam hubungan ini. 139 dengan sistem BNA (basic need approach).5 liter per detik untuk kota. Di samping itU selama periode tersebut juga telah berhasil dilakukan pengadaan air di 627 IKK. dan sejalan dengan itu dilakukan pula usaha peningkatan keterampilan tenaga-tenaga teknisi air bersih. sedangkan sampai dengan tahun terakhir pelaksanaan Pelita III jumlah seluruh BPAM telah mencapai 150 buah. dalam tahun 1983/1984 telah dibentuk 28 badan pengelola air minum (BPAM).146 buah dan 2. sedangkan untuk pembangunan sarana pembuangan air kotor telah selesai dibangun instalasi pengolahan air kotor.520 jiwa di 25 propinsi kecuali Sumatera Barat dan Jawa Barat. terus diusahakan.309 buah. tersebar di 710 kota besar.082. mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan proyek air bersih di berbagai kala di seluruh propinsi. termasuk ibukota kecamatan (IKK) yang terdapat di seluruh propinsi. telah dapat dilakukan penambahan kapositas produksi air bersih sebesar 5. Dengan demikian. termasuk Departemen Keuangan RI 247 . 390 di antaranya ditangani dengan sistem IKK sepenuhnya.

Selama Pelita III telah disusun rencana tataruang kala sebanyak 176 kota. Prasarana jalan dan jembatan Pelaksanaan pembangunan jalan selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pelayanan jaringan jalan yang tersebar di seluruh Indonesia agar dapat melayani lalu lintas yang semakin berkembang. baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah maupun swasta. Di lain pihak. Untuk itu terus ditingkatkan keselamatan bangunan-bangunan umum agar tidak cepat rusak. serta untuk mendorong mobilitas manusia sekaligus mengembangkan dan meratakan pembangunan beserta hasil-hasilnya di seluruh nusantara. pedoman pelaksanaan. terutama arus-arus jalan yang mempunyai nilai sosial dan ekonomi yang tinggi.9. peningkatan jalan dan penggantian jembatan. dalam rangka tertib bangunan telah disusun berbagai peraturan antara lain mengenai standar. Kegiatan yang telah dilakukan sampai dengan tahun pertama Repelita IV meliputi programprogram rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan. Bidang rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan telah dapat memperbaiki kerusakan-kerusakan setempat pacta ruas-ruas jalan arteri dan kolektor yang telah mempunyai kondisi fisik yang mantap. tidak mudah runtuh. 7. bebas dari genangan banjir. masyarakat pemakai jalan ikut membiayai jalan-jalan baru melalui sistem tol. dan mendapatkan sinar matahari yang cukup. Di daerahdaerah yang telah menunjukkan perkembangan yang relatif tinggi. Sampai dengan tahun 1983/1984 telah dibangun saluran pembuangan air hujan di 25 kala yang tersebar di berbagai daerah. serta rencana tataruang daerah yang diperuntukkan bagi sebanyak 61 daerah yang tersebar di berbagai propinsi di seluruh Indonesia. Mengingat bahwa pembangunan gedung-gedung. serta program pembangunan jalan dan jembatao baru. serta model peraturan setempat di kola kabupaten dan kotamadya. Di sam ping itu pembinaan jaringan jalan ditujukan untuk meningkatkan pengangkutan barang dan jasa dari pusat-pusat produksi ke daerah-daerah pedesaan. aman dari bahaya kebakaran. penunjangan jalan dan jembatan. Dengan demikian prioritas utama kegiatannya diberikan kepada perbaikan dan peningkatan jalan yang menghubungkan antara pusat-pusat produksi dengan daerah-daerah pemasaran dan pelabuhan.3. serta jalan-jalan yang membuka daerah-daerah yang potensial tetapi masih terisolir. maka diperlukan pengaturan dan pembinaannya agar pelaksanaan dan pemanfaatannya dapat berdaya guna dan berhasil guna. Jakarta dan Medan. semakin meningkat. peraturan bangunan nasional.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jaringan pipanya di Tangerang. Selain itu kini sedang dilakukan juga pembangunan sarana pembuangan air kotor di kota Bandung. prosedur pengadaan bangunan negara. sehingga Departemen Keuangan RI 248 .

547 km. Sedangkan kegiatan rehabilitasi dan pemeliharaan jembatan selama Pelita III telah mencapai 41. Selama Pelita III telah dapat ditingkatkan jalan sepanjang 10.848 meter.868 meter jembatan. sehingga mampu memenuhi kebutuhan pertumbuhan lalu lintas yang terus meningkat pada arus-arus jalan tersebut. Hasil yang telah dicapai selama Pelita III meliputi peningkatan jalan sepanjang 90.488 meter dan 24. di antaranya dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984. maka pada akhir Petitt III jalan mantap telah meningkat menjadi sebesar 36 persen dan jalan tidak mantap berkurang menjadi 64 persen. termasuk di antaranya yang dicapai dalam tahun 1982/1983 sepanjang 9.212 meter dan 10.0'55 meter. Kegiatan yang dilakukan di bidang penunjangan jalan dan jembatan telah dapat memperbaiki kondisi jalan yang tidak mantap dan kritis menjadi baik. sehingga dapat melayani pertumbuhan lalu lintas dalam jangka pendek sebelum jalan tersebut ditingkatkan luasnya.971 km.412 meter. maupun dalam rangka pembukaan hubungan lalu lintas ke daerah yang terpencil.527 meter. Hasil yang telah dicapai selama Pelita III adalah meliputi pembangunan sepanjang 1. Sementara itu program peningkatan jalan dan penggantian jembatan telah dapat meningkatkan jumlah jaringan jalan arteri dan jalan kolektor ke dalam kondisi mantap.393 meter telah dilaksanakan dalam tahun 1982/1983 dan 3.448 km.887 meter daiam tahun 1983/1984. dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 15. Hasil yang dicapai dalam program tersebut selama Pelita III meliputi jalan sepanjang 31.308 meter. termasuk di antaranya yang dicapai dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 masingmasing sepanjang 8. dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 2.768 meter dan 7.059 meter. maka pada akhir Pelita III telah dapat diatasi seluruhnya. Pembangunari jalan baru ditujukan untuk dapat melayani pertumbuhan lalu lintas baik di daerah perkotaan. yaitu sepanjang 4. Apabila dalam tahun 1982/1983 Departemen Keuangan RI 249 .943 km. sedangkan secara keseluruhan selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III mencapai 42. Di lain pihak jalan mantap dan tidak mantap yang pada akhir Pelita II masing-masing adalah sebesar 13 persen dan 65 persen.841 km.381 km. sedangkan beberapa ruas jalan telah beberapa kali mengalami perbaikan. diantaranya dalam tahun 1982/1983 telah dilaksanakan sepanjang 3.384 km jalan dan 6.749 meter.272 km. di antaranya dalam tahun 1982/1983 sepanjang 18. Dalam tahun 1982/1983 dan tahun 1983/1984 telah dilakukan penggantian jembatan sepanjang 8. masing-masing mencapai 36. Sedangkan peningkatan jembatan selama Pelita III telah mencapai sepanjang 14.708 km. terisolir dan daerah pemukiman transmigrasi. selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah mencapai 141.414 km dan dalam tahun 1983/1984 sepanjang 4. Hasil yang cukup baik tersebut tampak pada kenyataan bahwa jalan kritis yang pada akhir Pelita II masih sekitar 22 persen. Adapun di bidang penunjangan jembatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jalan terse but tetap terpelihara.

Kegiatan tersebut ditingkatkan melalui penyediaan peralatan jalan dan peningkatan kemampuan teknis di lapangan. Sementara itu guna memperlancar pemasaran hasil produksi pertanian. maka dalam tahun 1983/1984 telah ditingkatkan menjadi 13. Kedua lapisan aspal tersebut digunakan untuk kondisi jalan dengan kepadatan lalu lintas sekitar 3. telah dapat digunakan untuk peningkatan jaringan jalan antara lain meliputi lapisan tipis aspal Buton murni (Latasbum) dan lapisan aspal Buton dengan batu pecah agreget (Lasbutag).943 ton dan 453.392 km. telah dilakukan bantuan penunjangan jalan kabupaten. dalam tahun 1983/1984 telah dapat diperbaiki seluruhnya. Di lain pihak.208 km dalam tahun 1982/1983 menjadi sepanjang 25.399. Dengan penggunaan cara/sistem tersebut maka dalam tahun 1982/1983 dan 1983/1984 masingmasing telah digunakan aspal Buton sebanyak 452.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 jumlah jalan mantap mencapai 12. Sementara itu penggunaan aspal Buton terus dikembangkan. Pembangunan di bidang jalan dan jembatan dapat dilihat pada Tabel VII.781 meter.396 meter dan penggantian gorong-gorong sepanjang 59. Departemen Keuangan RI 250 .568 meter.000 kendaraan per hari.044 km dalam tahun 1983/1984. Hasil penelitian yang dilakukan selama Petita III. Berhasilnya pembangunan jalan dan jembatan terse but pada gilirannya telah dapat meningkatkan kelancaran mobilitas antardaerah. 72. selain untuk meningkatkan produksi aspal dalam negeri. penunjangan jembatan sepanjang 19. terutama untuk menghapuskan ruas-ruas jalan pada kondisi kritis dengan kepadatan lalu lintas yang relatif rendah. dan penunjangan jembatan sepanjang 51.326 km. Sedangkan jalan agreget padat tahan cuaca (Japat) digunakan untuk kegiatan penunjangan jalan.633 ton. Sedangkan jumlah jalan kritis yang dalam tahun 1982/1983 mencapai sepanjang 900 km. juga ditujukan untuk mengadakan penelitian mengenai peningkatan mUlti produksi dalam negeri.383 ton dan untuk seluruh Pelita III sebanyak 1. dan sistem pengelolaannya. sistem distribusi. dalam periode yang sarna jumlah jalan tidak mantap telah diturunkan dari sepanjang 25. Hasil yang dicapai dalam tahun 1983/1984 di bidang penunjangan jalan kabupaten meliputi sepanjang 7. maupun dalam rangka penyebaran penduduk dan penghapusan isolasi daerah-daerah terpencil. dengan lebar perkerasan jalan sekitar 7 meter. baik yang menyangkut kegiatan perdagangan dan produksi. Selama 5 tahun pelaksanaan Pelita III telah berhasil ditingkatkan penunjangan jalan kabupaten sepanjang 40.956 km.418 km. perkebunan dan industri kecil di pedesaan.

387 735 47 6. 1969/1970 .502 2.943 10.730 994 684 51 4.397 1. Pemeliharaan 1) 2. pemeliharaan menjadi satu dengan rehabilitasi 2) Dalarn Pelita I dan ll.108 36.5 juta orang selama kurun waktu tersebut. Jumlah penduduk Indonesia dalam tahun 1980 adalah sebanyak 147. Keadaan penduduk tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan bidang ketenagakerjaan.356 1. terutama dalam mewujudkan lapangan kerja baru bagi angkatan kerja.651 1969/70 J a I a n (km) 1.500 - 1970/71 10. Sementara itu dengan adanya penyebaran penduduk yang kurang merata.212 4. Rehabilitas! 3.055 1984/85 157 3.580 1.075 2.399 1. antara lain melalui perluasan dan intensifikasi pelaksanaan program keluarga berencana ke seluruh wilayah dan lapisan masyarakat.1 juta. Kependudukan dan transmigrasi 7.745 1.894 3.011 5.72 PEMBANGUNAN DI BIDANG PRASARANA jALAN DAN jEMBATAN.488 1983/84 4.414 3.154 2.272 400 18.128 775 1.579 1.673 1.841 2.074 6. Pembangunan baru 5. Jika dalam periode 19601971 tingkat pertambahan penduduk adalah sebesar 2.789 4.010 125 2.464 3.1984/1985 1971/72 1972/73 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 30. dan dalam tahun 1983 telah meningkat menjadi 158.224 1.10.226 1.700 - 2.583 8.419 1. Pembangunan baru 5.1.928 4. tahun 1990 dan tahun 2000 diperkirakan akan meningkat masing-masing menjildi 165 juta jiwa.105 25.1 persen.10. Kenaikan tersebut terutama disebabkan karena masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk. Penunjangan 2) 920 746 27 4.482 4.013 3.103 1982/83 9.610 375 28.928 23.560 913 4.916 688 10.858 2.887 826 24.317 4.367 521 16. Dengan pertumbuhan yang relatif masih cukup tinggi ter3ebut. pertumbuhan yang cukup tinggi dan penyebaran yang kurang merata. Penunjangan 2) Jembatan (m) 1.448 174 15.887 829 757 145 8. Rehabilitasi 3. Peningkatan 4.0 persen. dalam periode 1971-1980 meningkat menjadi sebesar 2.825 1. penunjangan menjadi satu dengan peningkatan 3) Angka sementara 7.700 3. yang setiap tahun jumlahnya diperkirakan bertambah sekitar 1.294 916 148 2.605 920 111 18.454 27.305 8.029 2.199 1) Dalam Pelita llI. Guna mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk tersebut. dan sekaligus bertujuan untuk meningkatkan pemerataan pendapatan dan kegiatan pembangunan.566 8.515 3.5 juta.165 110 8. telah ditetapkan kebijaksanaan yang bersifat menyeluruh dan terpadu dan dititikberatkan pada perluasan kesempatan kerja yang produktif dan renumeratif.482 1. diusahakan untuk mempercepat turunnya tingkat kelahiran.602 4. Peningkatan 4.502 840 - 5. termasuk daerah-daerah pemukiman baru.390 3.834 115 26.262 60 12.381 8. sebanyak Departemen Keuangan RI 251 . sedangkan dalam periode 1980-1990 diperkirakan menurun menjadi sekitar 2.132 1.749 3.782 6.034 1. Oleh karena itu di dalam melaksanakan pembinaan dan penempatan tenaga kerja.889 936 68 21.579 - 1981/82 7.3 persen.393 2. Pemeliharaan 1) 2.787 1. 184 juta jiwa dan 223 juta jiwa.502 331 1.301 3. jumlah penduduk Indonesia dalam tahun 1985. Kependudukan Masalah pokok di bidang kependudukan dalam tahun kedua Repelita IV terutama ditandai oleh besarnya jumlah penduduk.779 546 230 2.544 507 2. Di samping itu juga oleh adanya struktur umur yang kurang seimbang serta kualitas penduduk yang relatif masih rendah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 T abe I VII.685 221 18.526 5.982 1.956 1.514 9.

Oleh karena itu guna memungkinkan pendayagunaan sumber daya alam secara optimal.7 juta orang.7 persen dari seluruh wilayah Indonesia. terutama pada seko}ah dasar (SD) dan sekolah menengah tingkat pertama (SMTP). 14 orang dan 60 orang per kilometer persegi. jumlah penduduknya hanya sebanyak 31.9 juta orang.9 juta. Demikian pula halnya dengan jumlah angkatan kerja. Tingkat kenaikan tersebut berarti masih di alas pertumbuhan penduduk dalam periode 1980-1990 yang diperkirakan mencapai sekitar 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 98. 27.8 persen.3 juta.9 persen dari seluruh angkatan kerja juga berada di pulau Jawa. Hal ini terutama disebabkan karena masih cukup tingginya tingkat kelahiran. kepadatan serta proyeksinya sampai dengan tahun 1984 dapat dilihat pada Tabel VII.90 per seribu. dan 9. 7. masing-masing diperkirakan akan meningkat menjadi 64. Sebagai akibatnya. penyebaran penduduk terutama ditujukan pada tercapainya perimbangan yang lebih serasi antara sumber daya alam dan sumber daya manusia. tahun 1990 dan tahun 2000. Kalimantan dan Sulawesi.5 persen per tahun.72 per seribu.7 juta orang atau suatu kenaikan rata-rata sebesar 2.2 juta orang.6 juta penduduk dalam tahun 1984. Sementara itu dengan adanya peningkatan penyediaan fasilitas pendidikan. Selain itu dalam rangka meningkatkan kesadaran serta pengetahuan di bidang kependudukan. Masalah lain di bidang kependudukan adalah kurang seimbangnya struktur umur penduduk.1 persen dari sebanyak 161. maka di satu pihak sumber daya alam di daerah padat penduduk mengalami tekanan eksploitasi yang berlebihan. dalam tahun 1985. dalam tahun 1988 diperkirakan akan meningkat menjadi 71. di samping dialaminya tekanan penduduk yang mencapai kepadatan 747 orang per kilometer persegi.2 juta jiwa atau 62. yaitu apabila dalam periode 19811985 tingkat kelahiran mencapai 33. atau 61. yang ditandai dengan besarnya jumlah penduduk berusia muda. yang masing-masing luasnya sekitar 26. Sebagai akibatnya apabila dalam tahun 1980 jumlah penduduk yang berumur 0-14 tahun baru mencapai sebanyak 59. sumber daya alam tidak dapat dikelola secara efektif. berada di pulau Jawa yang luas wilayahnya hanya sekitar 7 persen dari seluruh wilayah Indonesia. dalam periode 1986-1990 dan 1990-1995 masing-masing diperkirakan sebesar 31.26 per seribu dan 28. Dengan adanya ketimpangan penyebaran penduduk tersebut.6 persen. apabila dalam tahun 1983 baru mencapai 63.73.7 juta. diperkirakan sebanyak 41.6 juta dan 11.1 juta orang dan 76.0 persen per tahun. jumlah angkatan kerja dalam kelompok umur 10-14 tahun diperkirakan akan terus menurun baik secara proposional Departemen Keuangan RI 252 . Perkembangan penduduk Indonesia. di wilayah Sumatera. dikembangkan pula penelitian di bidang kependudukan yang sekaligus dimaksudkan untuk memanfaatkan sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan pembangunan. Dengan demikian kepadatan penduduknya hanya mencapai 67 orang.7 juta orang. di lain pihak di daerah yang jarang penduduknya. 69. Di lain pihak.

yaitu dari sebanyak 16. serta peningkatan penyaluran. program penyebaran tenaga kerja.801. Tenaga kerja tersebut dipekerjakan pada pembangunan jalan desa.8 juta orang meningkat menjadi 17. program pembangunan desa dilakukan melalui proyek padat karya gaya baru (PPKGB) dan proyek padat karya jaringan tersier (PPKJT). sedangkan dalam jangka panjang.2 juta orang atau 64. produktivitas tenaga kerja.325 hari kerja. Apabila dalam tahun 1983 jumlah angkatan kerja dalam kelompok umur 10-14 tahun mencapai 2. Sedangkan melalui PPKJT. antara lain dilakukan pembangunan jalanjalan desa dan prasarana desa lainnya. dalam tahun 1988 diperkirakan akan menurun menjadi 1. program latihan. dalam tahun 1982/1983 melalui PPKGB dan PPKJT telah dapat diserap tenaga kerja sebanyak 21. penyebaran dan pemanfaatan tenaga kerja khususnya tenaga kerja usia muda.9 juta orang. meliputi program pembangunan desa. perkembangan angkatan kerja yang belum tamat SD diperkirakan masih cukup besar.5 persen dari seluruh angkatan kerja yang ada masih belum tamat SD.0 persen. sedangkan yang tamat perguruan tinggi hanya sebanyak 754. Untuk itu pelaksanaan operasionalnya akan dituangkan ke dalam berbagai program.6 juta orang. perluasan kesempatan kerja. antara lain telah ditempuh kebijaksanaan di bidang ketenagakerjaan. perluasan kesempatan kerja terutama dihubungkan dengan kebutuhan tenaga kerja setelah selesainya atau berfungsinya proyek tersebut. Melalui PPKGB. yaitu akan meningkat menjadi 42. saluran air.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maupun secara absolut. Program pembangunan desa terutama ditujukan untuk mengatasi masalah kekurangan kesempatan kerja bagi tenaga-tenaga penganggur atau penganggur musiman yang kurang terampil di daerah pedesaan.000 orang. dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kerja terutama bagi penduduk yang tinggal di daerah kecamatan miskin dan padat penduduk. Selanjutnya apabila dilihat dari tingkat pendidikannya. program generasi muda dan program peranan wanita. sedangkan yang telah menamatkan perguruan tinggi hanya mencapai 657. Dalam pelaksanaannya. di samping juga ditanggulangi kekurangan kesempatan kerja sebagai akibat terjadinya bencana alam di beberapa daerah. program ini ditujukan untuk perluasan kesempatan kerja bersamaan dengan dilaksanakannya suatu proyek. Sehubungan dengan itu.5 juta orang.200 orang atau 1. Dalam jangka pendek. yakni meliputi peningkatan informasi posar kerja. dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi terhadap saluran air dan jaringan tersier. dalam periode yang sarna jumlahnya diperkrakan masih cukup besar. Dalam tahun 1985. Namun sebaliknya untuk angkatan kerja muda dalam kelompok umur 15-24 tahun.0 juta orang. Guna menanggulangi permasalahan tersebut. pembuatan beras dan Departemen Keuangan RI 253 . dalam tahun 1983 diperkirakan 41.

dengan jumlah pencari kerja sebanyak 104. Di samping melalui program TKS/BUTSI. Sementara itu pelaksanaan pogram penyebaran tenaga kerja terutama ditujukan untuk menyebarkan dan memanfaatkan tenaga kerja terdidik ke daerah pedesaan. Kemudian dalam tahun 1983/1984.010 orang. melalui pembangunan/rehabilitasi jalan desa sepanjang 3. Melalui proyek pengerahan tenaga kerja sukarela. dalam tahun 1983/1984 dengan jumlah pencari kerja yang terdaftar sebanyak 498. Dalam lokasi baru tersebut.084 kecamatan miskin dan padat penduduk. mereka diaktifkan sebagai pelopor pembaharuan dan pembangunan di daerah pedesaan yang tersebar di seluruh propinsi.720.941 orang dan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia sebanyak 23.221 orang. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. dari pembangunan/rehabilitasi prasarana dan sarana yang tersebar di 96 kecamatan miskin dan padat penduduknya telah dapat diserap tenaga kerja sebanyak 342.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 prasarana desa lainnya. keterampilan dan imbalan jasa yang. antarkerja antardaerah (AKAD) dan antarkerja antarnegara (AKAN). diberikan. baik tenaga kerja sarjana maupun sarjana muda. di samping juga ikut membantu menyebarkan teknologi tepat guna dan sistem padat karya. Sedangkan daJam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang baru mencapai 3. yang terse bar di 1.693 kilometer dan saluran tersier sepanjang 3. yang berarti telah meningkat dengan 82.302 orang dan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia seb:inyak 112.096 buah kecamatan miskin dan padat penduduk. Sehubungan dengan itu. pelaksana program kejar paket A. program penyebaran tenaga kerja juga dilaksanakan melalui kegiatan antarkerja yang ditunjang oleh informasi posar kerja yang akurat. Dengan semakin meningkatnya pembangunan. tenaga kerja yang diserap telah meningkat menjadi sebanyak 26. Di samping itu usaha penyebaran tenaga kerja juga dilaksanakan melalui program antarkerja antar lokal (AKAL). .480 orang. para tenaga kerja sukarelalbadan usaha tenaga sarjana Indonesia (TKS/BUTSI) bertugas di berbagai bidang pembangunan. antara lain sebagai tenaga penyempurna administrasi desa. pelaksanaan program AKAD diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang semakin Departemen Keuangan RI 254 .892 hari kerja.7 kilometer yang tersebar pada 1. gizi dan keluarga berencana. Melalui informasi pasar kerja.836 tenaga kerja. serta kegiatan lain yang menunjang pembangunan.815 orang.635 orang.721 hari kerja. penyuluh di bidang kesehatan. telah dapat ditempatkan sebanyak 84. Dalam hubungan ini. Dengan demikian mobilitas tenaga kerja baik antar jabatan maupun antarlokasi dapat ditingkatkan.940.antara lain dapat diketahui jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan menurut jenis pekerjaan. telah dapat ditempatkan sebanyak 15. dalam tahun 1983/1984 jumlah TKS/ BUTSI yang dikerahkan ke daerah-daerah pedesaan di seluruh Indonesia telah mencapai 5.

Departemen Keuangan RI 255 . Melalui program antarkerja tersebut.583 orang melalui AKAD dan sebanyak 30. Untuk menunjang kegiatan tersebut. Di samping itu juga diberikan kepada beberapa tenagakerja yang sudah mendapatkan lapangan kerja tertentu. BLK Pertanian (BLKP). telah dapat dilatih tenaga kerja sebanyak 1. Hal ini berartitelah terjadi kenaikan sebanyak 16. Sementara itu guna meningkatkan produktivitas tenaga kerja.734 orang melalui BLKI. pengelolaannya dilaksanakan melalui program AKAN. dengan perincian sebanyak 84. 19. Unit Produktivitas Nasional (UPN) dan Mobile Training Unit (MTU) seluruhnya mencapai 98.120 orang melalui MTU.005 orang atau 19. penyaluran tenaga kerja melalui AKAL mencapai sebanyak 15.427 orang dan 11.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 meningkat di luar Jawa.193 orang. 880 orang melalui BPMP dan sebanyak 1. terutama yang sudah mandiri. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.836 orang disalurkan melalui AKAL. tetapi produktivitas kerjanya masih rendah.635 orang.790 orang melalui AKAN. terutama dengan terbukanya kesempatan kerja di Timur Tengah. selain melalui pembangunan/rehabilitasi balai latihan kejuruan (BLK). sedangkan melalui AKAD dan AKAN masing-masing mencapai 9.138 orang. dalam tahun 1983/1984 telah dapat disalurkan tenaga kerja sebanyak 135. Balai Pengembangan Manajemen dan Produktivitas (BPMP). Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. juga karena semakin meningkatnya minat para pencari kerja untuk mengikuti latihan. juga diberikan bimbingan kepada kursus-kursus swasta sebagai bagian dari sistem latihan nasional.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang baru mencapai 82. Sedangkan guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja di luar negeri. jumlah tenaga kerja yang telah dilatih melalui BLK Industri (BLKI). Kenaikan ini selain disebabkan karena adanya penambahan tenaga instruktur dan perluasan clara tampung daripada BLK-BLK. Dalam tahun 1983/1984.346 orang. diberikan program latihan dan keterampilan tenaga kerja khususnya kepada tenaga kerja usia muda dan wanita pedesaan yang belum memiliki pengalaman dan keterampilan.209 orang.

083 1984 98.924 9.209 1976 85.989 6.072 147.700 31.070 10. balai pengobatan.048 161.70% 2.929 7. Guna melayani kegiatan. pelaksanaan transmigrasi terutama ditujukan untuk pembangunan dan rehabilitasi daerah asal.490 1981 93. sosial-ekonomi para transmigran telah dibangun pula sarana penunjang seperti gedung sekolah.13% 3.812 9.942 10.340 29. serta mendorong masyarakat agar berperanserta Departemen Keuangan RI 256 .342 1978 88. jalan desa.527 8. gedung koperasi/KUD.904 25.579 Kepadatan / Km 2 19711) 576 44 10 45 15 62 1976 633 45 11 43 17 67 1977 650 46 11 44 18 68 1978 663 47 11 46 18 70 1980 1) 690 59 12 55 19 77 1981 706 61 12 56 19 79 1982 719 63 13 58 20 81 1983 733 65 13 59 20 83 1984 747 67 14 60 20 84 Perkembangan rata .016 6.632 119.799 158.340 151.723 10. bagi daerah asal transmigran.269 28. Untuk tersedianya prasarana. Di lain pihak. rumah ibadah.28% 2.289 24.103 29.665 11.48% 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tabel VII.888 135.128 138.34% 2.086 20. serta perumahan berikut salafia air minum dan jamban keluarga. rumah petugas dan rumah pos.240 10.962 7.350 11.143 10.341 12. sarana dan fasilitas secara memadai bagi tumbuhnya kegiatan masyarakat baru.rata per tahun 1971 . Usaha-usaha tersebut pada gilirannya diharapkan akan dapat menjamin peningkatan tarat hidup. khususnya di luar pulau Jawa dan Bali.410 11. balai pertemuan/balai desa. yang kesemuanya disertai dengan perlengkapan dan peralatan. 73 PENDUDUK INDONESIA DAN KEPADATANNYA PADA TAHUN 1971 SERTA PROYEKSINYA SAMPAI DENGAN TAHUN 1984 ( dalam ribu jiwa) Pulau J awa Sumatera Kalimantan Sulawesi Lainnya Indonesia Jumlah penduduk 19711) 76.334 10. Transmigrasi Program transmigrasi terutama ditujukan untuk memperbaiki penyebaran penduduk dan tenaga kerja. untuk membuka dan mengembangkan daerah pertanian baru.927 7. lahan pertanian.887 11.567 154.028 6. baik bagi para transmigran maupun bagi masyarakat sekitarnya.724 6.10.282 5.78% 1) Angka sensus 7.315 1982 95.190 1977 87.076 24.808 5.579 19801) 91. maka di daerah pemukiman transmigrasi antara lain telah dibangun jalan penghubung.112 11.2.377 141.155 8.079 10. serta untuk menunjang pembangunan daerah.563 11.662 1983 96.893 30.1984 2.

74 HASIL PENEMPATAN TRANSMIGRAN.000 527.876 105. Perkembangan hasil penempatan transmigran dapat diikuti dalam Tabel VII.100 100 1976/1977 13.959 100 1974/1975 11.425 705.552 100.489 3.000 100.412 22.910 13.910 100 1977/1978 22.6 1982/1983 125. yang terdiri atas 367.74.000 100 1975/1976 8.010 106 Pelita IV 1984/1985 2) 125.100 8.000 48.263 KK transmigran umum.6 1970/1971 3.000 27.1984/1985 ( kepala keluarga ) Persentase Tahun Target Realisasi realisasi Pelita I 46.4 1969/1970 4.000 11.000 159. TabeI VII.5 1) Angka diperbaiki.749 KK transmigran swakarsa. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984 telah dapat ditemp atkan sebanyak 48.000 78359 104.600 4. Dengan demikian selama 5 tahun pelaksanaan Repelita III telah dapat ditempatkan transmigran sebanyak 527.268 99.056 KK transmigran swakarsa murni. 1969/1970 .949 22. Kemudian dalam tiga tahun terakhir Pelita III masing-masing telah meningkat menjadi 100.171 90.6 1979/1980 50.970 KK dan 169.127 KK transmigran umum dan 160.359 KK.5 1981/1982 100. Oleh karena itu penentuan daerah asal bagi para calon transmigran terutama diprioritaskan pada daerah yang terlalu padat.949 100 1978/1979 27.985 kepala keluarga (KK).865 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam bidang transmigrasi. dalam tahun 1980/1981 telah meningkat menjadi 78.4 1983/1984 150.000 51.000 100 Pelita III 1) 500.055 KK.985 104 1980/1981 75.200 11.7 1972/1973 11.876 KK.933 87. dae(ah aliran sungai (DAS) yang akan dihijaukan. termasuk transmigran swakarsa 2) Angka sementara Departemen Keuangan RI 257 .010 KK.959 82.055 38.566 46.414 101.552 KK.000 127.4 Jumlah 754.9 1973/1974 22.2 1971/1972 4.412 100 Pelita II 82.158 93. daerah yang terkena proyek-proyek pembangunan serta daerah yang perlu dilestarikan. 127. yang terdiri atas 29.338 112. 736 KK transmigran swakarsa berbantuan dan sebanyak 18.970 102. Apabila dalam tahun 1979/1980 jumlah transmigran yang ditempatkan baru mencapai sebanyak 51. Selama Pelita III pelaksanaan transmigrasi dari tahun ke tahun selalu menunjukkan peningkatan.

peternakan. Di samping itu guna melancarkan angkutan bagi para transmigran. Sedangkan untuk sektor perdagangan. usaha di bidang transmigrasi akan lebih menjamin tersedianya tenaga kerja dan bahan baku. Di samping itu juga belum memadainya perkembangan KUD. Di sektor pertanian. Dengan demikian diharapkan penyebaran potensi sumber daya manusia akan lebih seimbang dengan penyebaran potensi sumber alam. telah dilakukan penambahan angkutan transite. baik di pasaran lokal maupun nasional. kesehatan dan makanan bagi para transmigran. Bagi sektor industri.4 persen dari target yang telah ditetapkan dalam tahun 1984/1985 yaitU sebanyak 125. kegiatan transmigrasi akan memberikan kesempatan yang luas pada usaha-usaha penyalur hasil produksi dari daerah transmigrasi ke pasaran. Hambatan-hambatan tersebut antara lain berupa kurangnya tenaga penyuluh yang terampil. Dalam pelaksanaannya. maka dalam Pelita IV pelaksanaan program transmigrasi akan lebih dipadukan dengan pembangunan sektor-sektor lainnya. serta meningkatkan produksi dari berbagai komoditi pertanian. serta masih lemahnya pelayanan dalam angkutan. belum memadainya sarana penerangan yang ada. khususnya yang menyangkut masalah pengelolaan dan perdagangan hasil-hasil pertanian. sebagai lembaga yang diharapkan dapat mengembangkan perekonomian bagi daerah transmigrasi. seperti terlihat dari pelaksanaan dalam tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Oktober 1984 yang baru mencapai 38. sehingga membuka kemungkinan yang lebih luas bagi pengolahan hasil-hasil pertanian di daerah transmigrasi. Sedangkan untuk memenuhi kecepatan waktu dan meningkatkan mutu makanan yang lebih Departemen Keuangan RI 258 . terutama untuk lahan pertanian. Guna mengatasi hambatan-hambatan tersebut. seperti sektor pertanian.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sejalan dengan telah berhasilnya pelaksanaan program transmigrasi dalam Pelita III. pelaksanaan transmigrasi ditujukan untuk memperluas areal pertanian baru. Sebaliknya pembangunan yang dilakukan di daerah transmigrasi akan memberikan peluang bagi usaha penyalur barang dan jasa yang dibutuhkan bagi pembangunan daerah transmigrasi itu sendiri. program transmigrasi masih banyak mengalami hambatanhambatan. pendidikan dan kesehatan. perindustrian. khususnya untuk daerah-daerah kosentrasi pengumpulan yakni di kabupaten-kabupaten. Demikian juga sektor swasta belum memadai peranannya dalam menunjang perkembangan perekonomian daerah transmigrasi. belum terarahnya materi atau informasi yang disampaikan.000 KK. khusus kepada para petugas pengawal transmigran telah diberikan berbagai penataran. perkebunan. Oleh karena itu pelaksanaan kegiatan ini langsung dikaitkan dengan pemindahan penduduk dan tenaga kerja dari daerah yang radar ke daerah yang jarang penduduknya. perikanan. yang dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan di bidang keamanan dan kesehatan para transmigran.

yang terdiri dari 956 tenaga medis. maka di beberapa lokasi dan daerah asal telah diadakan dapur lapangan yang mobil. Selanjutnya usaha peningkatan transmigrasi swakarsa dilaksanakan pula dengan jalan mengikutsertakan para transmigran pada kegiatan perkebunan inti rakyat (PIR) khusus. 2. Selain ittt juga telah dilaksanakan rehabilitasi terhadap 67 lokasi lahan usaha yang kurang berhasil. maupun mengenai kelancaran hub_mgan antara daerah asal dan daerah penerima. telah dapat dilaksanakan pengadaan tenaga pembina sebanyak 6.458 orang. telah diberikan bantuan bibit tanaman dan bantuan pangan. Sementara itu guna meningkatkan pengelolaan dan pemasaran hasil-hasil produksi dari daerah transmigrasi.631 guru SO.622 guru SMTP. Guna meningkatkan dan mendorong pelaksanaan transmigrasi swakarsa. 1. Demikian pula bagi lokasi-lokasi yang kurang subur telah dilaksanakan upaya penanggulangan. dan pembinaan terhadap transmigran lama sebanyak 592. 55 dokter. baik yang menyangkut masalah pengurusan pelaksanaan administrasi. serta intensifikasi dan diversifikasi usaha tani. yaitu dengan memberikan pengapuran.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sempurna. 534 penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan 660 pembina koperasi. Sejalan dengan itu dalam tahun pertama Pelita IV. mengadakan konservasi laban. Departemen Keuangan RI 259 . telah ditingkatkan pula peranan koperasi dan usaha swasta. sampai dengan bulan Oktober 1984. Khusus kepada daerah-daerah yang terkena musim kering dan beberapa daerah yang memerlukan perawatan kesehatan.381 KK. kepada para caton transmigran swakarsa telah diberikan berbagai kemudahan. ijin dan penyediaan fasilitas di daerah penerimaan.

Sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 BAB VIII PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN SOSIAL DAN PEMBANGUNAN DAERAH 8. serta semakin meningkatnya kesejahteraan dan mutu para pendidik. serta mampu menciptakan keselarasan. Dalam kaitannya dengan pembangunan di bidang pendidikan. keserasian dan keseimbangan baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. pembangunan bidang kesehatan yang merupakan salah satu kebutuhan dasar setiap manusia terus pula dilaksanakan. sebagaimana telah dapat dirasakan dewasa ini. maupun dalam hubungannya dengan masyarakat dan alam sekitarnya. yang pada gilirannya diharapkan akan menumbuhkan manusia Indonesia yang mampu membangun dirinya sendiri. yang berarti pula makin banyak anggota masyarakat yang mempunyai kesempatan untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan. Selaras dengan itu. pembangunan di bidang agama antara lain bertujuan untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia 'yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tersedianya gedung-gedung sekolah terutama di tingkat dasar yang menyebar di seluruh pelosok tanah air. keberhasilan upaya Departemen Keuangan RI 260 .1. baik melalui pendidikan formal maupun non formal. Pendahuluan Laju pembangunan yang telah dicapai sekarang ini tidak terlepas dari peranan manusia yang berfungsi sebagai pelaksana pembangunan. namun unsur manusia dan unsur-unsur lainnya tetap mendapat perhatian yang seimbang. serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Oengan demikian dalam proses'pembangunan selanjutnya diharapkan akan dapat tercipta suatu strata masyarakat Indonesia yang berkepribadian kokoh. jangkauannya tidak hanya terbatas pada pendidikan formal melainkan meliputi pula pendidikan luar sekolah yang menuntut peran serta aktif pihak swasta. Hal ini ditandai dengan makin berkembangnya berbagai fasilitas dan saran a kesehatan. Di samping itu. Untuk itu berbagai sarana dan fasilitas pendidikan secara bertahap dan pasti terus ditingkatkan. merupakan wujud nyata dari upaya tersebut. terus pula dikembangkan seiring dengan bidang-bidang lainnya. Pembinaan di bidang agama. dan mempunyai etik moral yang kuat. Oleh karena itu walaupun prioritas pembangunan masih ditekankan pada sektor ekonomi. Sasaran yang ingin dicapai di bidang ini antara lain adalah meningkatkan kecerdasan serta menumbuhkan semangat kebangsaan yang tinggi.

serta ditunjang oleh kesadaran hukum masyarakat yang tinggi merupakan salah satu tujuan di bidang pembinaan hukum. Berbagai langkah pembinaan telah dilakukan. demi terbentuknya suatu angkatan bersenjata yang tangguh serta mampu rnelindungi seluruh turnpah darah dan segenap bangsa Indonesia. Agama Memasuki tahun pertarna Pelita IV. Dengan demikian Departemen Keuangan RI 261 . Adanya kepastian hukum yang dapat rnenjamin hak-hak setiap warga negara. diarahkan guna meningkatkan tarat kesejahteraan sosial masyarakat secara adil dan merata. pembangunan di bidang hukum berasa semakin penting. Selaras dengan itu. keluarga dan masyarakat. Pembangunan bidang kesejahteraan sosial yang merupakan bagian integral daripada kesatuan sistem pembangunan nasional. terutama bagi para penyandang perrnasalahan sosial. yang bertujuan membangkitkan motivasi serta kesadaran masyarakat akan arti pentingnya kesehatan dan keluarga berencana (KB). pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan juga semakin berasa sebagai suatu kebutuhan yang mutlak. diharapkan akan tercipta suatu kondisi sosial rnasyarakat sebagaimana diidam-idamkan. agar tercipta rasa amall. serta pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air. Hal ini tidak terlepas dari usaha untuk mewujudkan kondisi sosial yang dinamis dalam kehidupan individu. Dalam hubungannya dengan usaha untuk rnenciptakan suasana tersebut. terus digalakkan. pembangunan di bidang agama terutama ditandai dengan semakin terbinanya hidup rukun di antara sesama umat beragama. Maka dari itu. terus ditingkatkan upaya guna menjabarkan asas Trilogi Pembangunan ke dalam konsepsi yang bersifat operasional. tertib serta tenteram lahir dan batin. Dalam rangka memantapkan usaha tersebut. Di bidang pembangunan daerah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak terlepas pula dari kemampuan dan kesadaran masyarakat itu sendiri. Dengan bertumpu pada landasan tersebut. serta diiringi dengan penyediaan fasilitas yang memadai.2. Norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera sudah dapat dirasakan oleh sebagian anggota masyarakat. pelayanan kepada para akseptor KB terus ditingkatkan. 8. perlu ditingkatkan laju pertumbuhan daerah. di samping penyediaan sarana dan fasilitas yang memadai. Untuk itu berbagai upaya dan penyuluhan. Hal ini pada akhirnya diharapkan akan mampu menjamin kelangsungan pembangunan yang merata di seluruh wilayah tanah air serta kemajuan yang nyata dan ternikmati oleh segenap lapisan masyarakat. serta mampu mengikuti laju pertumbuhan-daerah. terutama para peserta KB. dinamis. Kesemuanya itu akan terwujud apabila keutuhan bangsa serta integritas teritorial terus ditingkatkan pula. di samping aparat penegak hukum yang bersih dan berwibawa.

karena melalui gedung balai nikah ini kepada para calon suami istri dapat dibina dan diberikan penyuluhan mengenai kesejahteraan keluarga sesuai dengan undang-undang perkawinan. Usaha tersebut terutama ditujukan untuk meningkatkan dan menyelaraskan pembinaan antara pendidikan dan perguruan agarna dengan pendidikan umurn. penerangan dan bimbingan hidup beragama serta peningkatan pelayanan ibadah hajj. khususnya di bidang pendidikan. mulai dari sekolah dasar sampai dengan universitas. telah dibangun 17 buah gedung pengadilan agama tingkat pertama dan 4 buah gedung pengadilan agama tingkat banding. Guna mendorong para pemeluk agarna untuk mempelajari dan mendalami agamanya. Sejalan dengan itu. pembangunan balai nikah telah mencapai sebanyak 587 buah atau 237 buah lebih banyak hila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. yang dilakukan dengan cara memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum. 290 buah. dengan perincian masing-masing setiap tahunnya sebanyak 296 buah. 316 buah dan 350 buah. juga dimaksudkan agar pelaksanaan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa benar-benar sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam waktu yang sarna juga telah ditingkatkan pembangunan gedung pengadilan agarna. 8. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.1. Pembinaan tata kehidupan beragama Pembinaan tata kehidupan beragama antara lain mencakup peningkatan sarana kehidupan beragarna. selain ditujukan agar dalam pengembangannya tidak mengarah kepada adanya pembentukan agama baru. 320 buah. yakni apabila dalarn tahun 1983/1984 telah dibangun 15 buah gedung pengadilan agama tingkat pertarna. Departemen Keuangan RI 262 . serta menciptakan suasana yang mendorong ke arah berkembangnya pola berpikir secara ilmiah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kesatuan dan persatuan bangsa dapat diperkokoh dan peranserta umat beragama dalam pembangunan dapat ditingkatkan pula. Sedangkan untuk tahun pertama Pelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984. selama 5 tahun pelaksanaan Repelita III telah dibangun balai nikah sebanyak 1.2. Salah sarti perwujudan nyata dari pada upaya tersebut adalah dilakukannya pembangunan/rehabilitasi gedung balai nikah dan gedung pengadilan agama. Untuk itu telah dikembangkan kehidupan keagamaan. Dalam pada itu telah dilakukan pula rehabilitasi terhadap 27 buah gedung pengadilan agama tingkat pertama dan sebuah gedung pengadilan agama tingkat banding. Adapun pembinaan yang dilakukan terhadap para penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini secara tidak langsung akan menunjang suksesnya program nasional kependudukan dan keluarga berencana. agar tercapai tujuan pendidikan nasional yang berlandaskan Pancasila.572 buah.

daerah-daerah yang mempunyai nilai sejarah dan yang terletak di daerah strategis. narapidana. 221 pura Hindu dan 58 buah wihara Budha. telah diberikan kepada masyarakat dari berbagai golongan agama.384 paket penyuluhan. Bantuan tersebut pada umumnya diberikan dalam bentuk biaya pembangunan/rehabilitasi. dalafu tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.500 buah kitab suci agama Protestan. serta tempat-tempat ibadah yang rusak karena bencana alam. yang terdiri dari 2. Pemberian penyuluhan agama. yang terdiri atas 844.245 buah setiap tahunnya. 89. terutama masyarakat suku berasing.000 buah brosur agama dan 36.183. Di samping itu jumlah tempat ibadah yang diberikan bantuan setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. Dampak positif dari bantuan tersebut adalah terangsangnya masyarakat untuk berswadaya dalam membangun tempat ibadah sesuai dengan kebutuhannya. sebagai salah satu pelaksanaan daripada program penerangan dan bimbingan hidup beragama.800 buah. narapidana dan kelompok lainnya. dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Agustus 1984. seperti terlihat dengan semakin banyaknya jumlah tempat ibadah dari tahun ke tahun.000 buah kitab .821 temp at ibadah. yang terdiri dari para karyawan instansi Pemerintah/swasta. dan kelompok khusus lainnya seperti tunasusila.433 buah tempat ibadah. Sehubungan dengan itu dalam tahun pertama Repelita IV telah diberikan penyuluhan agama kepada 2.000 buah Departemen Keuangan RI 263 .660 buah. 148. para transmigran. telah diberikan kepada 3. 267 gereja Katolik. daerah transmigrasi.715 tempat ibadah.000 buah kitab suci dari berbagai agama. disertai pula dengan penyediaan brosur agama masing-masing sebanyak 60. maka pada akhir Pelita III telah meningkat menjadi 577. terutarna terhadap kelompok masyarakat yang masih lemah sosial ekonominya. daerah pemukiman baru. Dalam rangka meningkatkan sarana kehidupan beragama maka telah dilaksanakan bantuan pembangunan/rehabilitasi tempat-tempat ibadah. dan disertai pula dengan pengadaan 652. Apabila pada akhir Pelita II baru terdapat sebanyak 471.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 maka terus ditingkatkan usaha penerbitan kitab suci dari berbagai agama.790 kelompok pemeluk agama Islam. telah diterbitkan sebanyak 1. Jika dalam tahun 1983/1984 telah diterbitkan sebanyak 1.suci agarna Katolik. para transmigran. 335 gereja Protestan. Apabila dalam tahun 1983/1984 bantuan pembangunan/rehabilitasi diberikan kepada 2. Dalam periode yang sarna telah diberikan pula penyuluhan kepada para pemeluk agama Protestan dan Katolik masing-masing sebanyak 300 kelompok dan 185 kelompok yang terdiri dari suku berasing.000 buah kitab suci agama Islam. sarana ibadah serta buku-buku keagamaan.834 mesjid. 132. suku berasing.300 buah kitab suci agama Hindu dan 15. para transmigran dan kelompok khusus lainnya.228.000 buah kitab suci agama Budha. atau rata-rata 21.

000 buah. seperti Banjarmasin dan Pontianak dengan luas masing-masing 1.000 buah. pembangunan asrama haji telah dapat ditingkatkan menjadi 7. Jawa Timur. baik untuk pelabuhan-pelabuhan pemberangkatan maupun pelabuhan-pelabuhan transit.Pontianak.008 orang.907 orang. antarumat beragama. maka dalam tahun 1984/1985 jumlah jemaah haji yang paling banyak berasal dari Jawa Barat. Guna menunjang program tersebut. 2. 3.097 orang. an tara lain telah dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi asrama haji. Di samping itu juga telah diberikan penataran.200 buah dan 22. Sedangkan untuk tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. dan pengadaan buku pedoman kerukunan hidup beragama.180 meter persegi untuk pelabuhan Surabaya. serta sarana lainnya seperti pembuatan film haji. DKI Jakarta dan Jawa Tengah. dengan perincian 2. di samping telah diberikan pula buku pedoman kerukunan hidup beragama sebanyak 17.200 buah.1.300 orang. dan Medan. Sedangkan untuk agama Hindu dan Budha telah diberikan penyuluhan kepada 25 kelompok transmigran dan suku berasing dengan disertai 32.800 meter persegi untuk Banjarmasin dan 2.000 buah brosur agama. Ujungpandang. sedangkan musyawarah antarumat beragama telah diikuti oleh 540 orang dan dilaksanakan pada 6 lokasi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan 22. 3.695 meter persegi. 5. Usaha peningkatan kerukunan hidup beragama dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan dengan berbagai kegiatan.615 orang dan 2. Sulawesi Selatan. Perkembangan jumlah jemaah haji dapat diikuti pada Tabel VIII. Untuk tahun 1983/1984 pembangunan asrama haji telah pula menjangkau beberapa pelabuhan transit yang jumlah jemaahnya sudah cukup banyak. Musyawarah intern umat beragamatelah dilaksanakan pada 13 lokasi dengan peserta sebanyak 1. pekan orientasi kerjasama antarumat beragama dengan Pemerintah. dengan jumlah jemaah masing-masing sebanyak 7. Surabaya.400 meter persegi. serta paket penyuluhan masing-masing sebanyak 4. yaitu Jakarta. baik kepada para petugas maupun jemaah.715 meter persegi untuk pelabuhan.200 meter persegi dan 2.783 orang. disediakan buku pedoman perjalanan dan ibadah haji. Departemen Keuangan RI 264 . Pada awal Pelita III pembangunan asrama haji dititikberatkan pada 4 kola pelabuhan udara tempat pemberangkatan jemaah. Dalam periode yang sama telah dilaksanakan pekan orientasi kerjasama antarumat beragama dengan Pemerintah pada 3 lokasi dengan peserta sebanyak 360 orang. seperti musyawarah intern umat beragama. Peningkatan pelayanan ibadah haji terutama ditujukan untuk meningkatkan pengelolaan dan pelayanan kepada masyarakat dalam melaksanakan ibadah haji. Sementara itu jika dilihat daerah asal daripada para jemaah.

681 12.781 16.039 17. pemberian alat peraga dan olah raga serta penataran guru dan tenaga pembina.978 25.589 35.305 23.317 38.845 19.035 41.897 66. serta mutu pendidikan agama pada sekolah umum. menengah dan tingkat tinggi. Dalam rangka meningkatkan mutu madrasah ibtidaiyah negeri (MIN) sebagai pendidikan agama tingkat dasar.126 572.897 66. pembangunan/rehabilitasi gedung MIN sebanyak 83 buah.960 Jumlah 9.079 Haji melalui udara 611 1. masing-masing telah mencapai 1.366 18. 51 buah dan 5 juta buah. Sedangkan guna meningkatkan mutu pendidikan agama Departemen Keuangan RI 265 .000 MIS.2.500 guru.575 9.292 14.071 15.246 48.292 22.828 45. 1969/1970 -1984/1985 (orang) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 197971980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/19851) Jumlah 1) Angka sementara Haji melalui laut 8. Untuk itu telah dilaksanakan berbagai kegiatan seperti pembangunan/ rehabilitasi gedung sekolah.072 22.449 53 . Sejalan dengan pembinaan MIN.124 119.317 38. Pembinaan pendidikan agama Pembinaan pendidikan agama dalam pelaksanaannya mencakup pendidikan agama tingkat dasar.697 74.2.035 41.344 40.612 7.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Tab e I VIII.227 2. telah dilakukan pula pembinaan terhadap madrasah ibtidaiyah swasta (MIS).039 8. penyempurnaan kurikulum. Apabila dalam tahun 1983/1984 dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi terhadap 6.246 48.520 69.126 692. dalam tahun 1983/ 1984 telah dilaksanakan penataran terhadap 3.697 74.961 55.270 73. Usaha ini ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan umum pada pendidikan dan perguruan agama.760 MIS. Demikian pula dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.351 12.500 guru.961 55.238 23. 1 JUMLAH JEMAAH HAJI.403 54. maka dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah meningkat menjadi 10.8 juta buah. serta pengadaan buku pedoman bagi guru sebanyak 5.511 6.146 73.

2 juta buah dan pengadaan alat peraga sebanyak 2.200 tenaga pembina. serta pembangunan/rehabilitasi gedung dan bengkel kerja. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan pembangunan/rehabilitasi gedung sebanyak 154 buah. terdiri dari penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan kepada 397 pondok pesantren. penyediaan alat-alat keterampilan dan alat-alat praktek. Sedangkan guna meningkatkan mutu pendidikan agama bagi SMTP. Dengan demilGan secara keseluruhan mulai awal Pelita III sampai dengan tahun pertama Repelita IV. Sementara itu terhadap pondok pesantren telah dilaksanakan pembinaan dan pengembangan melalui penataran tenaga pembina. dalam periode yang sarna juga telah disediakan buku pelajaran dan pedoman bagi guru sebanyak 706. telah dilakukan pembinaan dan pengembangan terhadap 3:734 buah pondok pesantren yang meliputi penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan bagi 2. Pondok pesantren tersebut sampai saar ini telah berhasil menyantuni korban narkotika sebanyak 100 orang. dan diberikan penataran kepada 160 orang guru agama. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. dan dinilai telah berhasil adalah kegiatan terapi non medis yang agamis terhadap korban narkotika.000 set.2 juta buah.280 orang guru agama.030 pondok pesantren. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan penataran terhadap 1. Pembinaan terhadap pendidikan agama tingkat menengah pertama terutama ditujukan untuk meningkatkan multi pendidikan umum pada madrasah tsanawiyah negeri (MTsN) dan pondok pesantren. serta pendidikan agama pada sekolah menengah tingkat pertama (SMTP). di samping telah dilaksanakan penataran terhadap 4. Pembinaan terhadap pendidikan agama tingkat menengah alas terutama ditujukan untuk meningkatkan pendidikan pada madrasah aliyah negeri (MAN).250 buah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada sekolah dasar. sehingga dapat kembali menjadi remaja yang baik. penataran terhadap 1. penyediaan alar-alar keterampilan dan praktek untuk 891 pondok pesantren dan pembangunantrehabilitasi gedung dan bengkel kerja terhadap 813 pondok pesantren.163 tenaga pembina. penyediaan buku pelajaran dan perpustakaan.200 guru dan pengadaan buku sebanyak 1. pengadaan buku sebanyak 3. bergairah serta mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri. pemberian alar-alar keterampilan dan praktek kepada 66 pondok pesantren. penataran terhadap 6. pendidikan guru agarna Departemen Keuangan RI 266 . baik dari masyarakat maupun dari Pemerintah. Khusus kepada MTsN. serta pembangunan/rehabilitasi gedung dan bengkel kerja pada 71 pondok pesantren. yang antara lain dilakukan oleh pondok pesantren Suryalaya (Jawa Barat). juga telah diberikan bantuan kepada 534 pondok pesantren. Kegiatan pondok pesantren yang banyak mendapat perhatian.

serta penelitian di berbagai daerah mengenai masalah-masalab keagarnaan dan kemasyarakatan sebanyak 29 kali. telah dilaksanakan berbagai kegiatan. kepada MAN telah dilakukan pengadaan buku sebanyak 462. pengadaan buku pelajaran dan pedoman bagi guru sebanyak 650.750 buah.150 buah. yang terdiri dari ruang kuliah. Dalam periode yang sama telah ditingkatkan pula mutu madrasah aliyah swasta (MAS). dan disediakan buku-buku ilmiah dan perpustakaan sebanyak 6. Hasil lain yang telah dicapai dalam periode yang sarna antara lain meliputi pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN) yang diikuti oleh 2. dan pengadaan buku pelajaran sebanyak 239. ruang kantor dan ruang perpustakaan. Adapun pembinaan terhadap PGAN terutama ditujukan agar lulusan PGAN benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai tenaga guru yang baik dan mampu.000 buah.000 buah.440 meterpersegi.087 meter persegi. serta peningkatan mutu pendidikan agarna pada sekolah menengah tingkat atas (SMTA). Protestan. Departemen Keuangan RI 267 .000 buah.850 buah. penataran 7. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengadaan buku sebanyak 358.000 buah serta pembangunan/perluasan 35 buah gedung PGAN Islam. peningkatan mutu tenaga pengajar serta kegiatan penelitian. Selanjutnya dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. antara lain pembangunan prasarana dan penyediaan sarana pendidikan. Untuk itu dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan penataran terhadap 7. Dalam Pelita III telah dilaksanakan pembangunan/perluasan gedung Institut Agama Islam Negeri (lAIN) seluas 56.500 guru dan pembangunan/rehabilitasi gedung MAN sebanyak 45 buah. Untuk meningkatkan mutu para pengajar dan tenaga administrasi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (PGA). Di samping itu juga dilakukan penyediaan buku-buku ilmiah dan perpustakaan sebanyak 221.500 guru agama. masing-masing sebanyak 160 orang dan 358. yaitu dengan memberikan bantuan rehabilitasi terhadap 50 buah gedung MAS. telah dilaksanakan penataran kepada 355 guru serta penyediaan buku pelajaran dan buku pedoman guru sebanyak 270. telah dilakukan pembangunan/perluasan gedung IAIN seluas 10. Dalam tahun 1983/1984. maka telah diberikan kesempatan kepada 117 dosen untuk mengikuti program posca sarjana dan program doktor. Guna meningkatkan mutu perguruan tinggi agama. Katolik dan Hindu. Dalam periode yang sarna juga telah dilaksanakan pembinaan pendidikan agama pada SMTA yang meliputi penataran guru agama dan pengadaan buku.688 mahasiswa.800 buah. dan pembangunan/rehabilitasi gedung MAN sebanyak 67 buah.

telah dan sedang ditatar sebanyak 2. serta untuk sekolah pendidikan guru/sekolah guru olah raga (SPG/SGO) sebanyak 7. Di samping itu untuk tingkat SMA juga dibangun 317 ruang perpustakaan.699. buku bacaan dan buku perpustakaan.367. untuk SPG/SGO sebanyak 1. Pendidikan dan kebudayaan 8. Di samping buku pelajaran. Dalam tahun pertama Repelita IV kebijaksanaan di bidang pendidikan terutama ditekankan dan diarahkan pada peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan.917 eksemplar. 74. yang perumusannya dilakukan melalui serangkaian kebijaksanaan pokok pembangunan di bidang pendidikan.782 ruang perpustakaan dan 1.1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 8.195. serta penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional.039 orang untuk pendidikan dasar. untuk sekolah menengah tingkat pertania (SMTP) kejuruan dan teknologi sebanyak 96. pengadaan laboratorium dan peralatan belajar.3.500 eksemplar buku Sistem Pengajaran Modul untuk SMP terbuka.963 eksemplar.892. baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah.350. serta 20. yang disertai dengan penerbitan 3. yang meliputi berbagai bidang studi dan pengelolaan. maka telah dibangun pula sebanyak 1. untuk SMP dan SMA sebanyak 14.671.240 eksemplar serta untuk pendidikan tinggi sebanyak 333. peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar dalam rangka pelaksanaan wajib belajar. untuk sekolah menengah tingkat atas (SMTA) kejuruan dan teknologi sebanyak 6. Di samping'itu juga dilakukan persiapan terhadap generasi muda dalam tugasnya sebagai penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dan sedang dilaksanakan peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan. pengadaan buku pelajaran. Pembinaan pendidikan formal dan nonformal Salah satu tujuan dari kemerdekaan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.3. dan 367 Departemen Keuangan RI 268 .509 orang untuk pendidikan guru termasuk penataran dosen. yang antara lain dilakukan melalui penataran guru/ pembina. baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Sejalan dengan pengadaan buku pelajaran dan buku bacaan.945 eksemplar. telah disediakan pula buku perpustakaan untuk tingkat pendidikan dasar sebanyak 119. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984.250 orang untuk pendidikan menengah umum.816 ruang laboratorium untuk tingkat SMP. 20. untuk sekolah menengah umum sebanyak 82.048. Penataran guru/pembina dilaksanakan pada berbagai tingkat pendidikan.292 eksemplar.291. peningkatan keterampilan serta penyempumaan kurikulum. Buku pelajaran yang disediakan untuk tingkat pendidikan dasar adalah sebanyak 260.235 eksemplar.000 eksemplar.000 eksemplar. serta pengelolaan pendidikan yang lebih berdaya guna dan berhasil guna.700 eksemplar.700.706 orang untuk pendidikan menengah kejuruan dan teknologi.

Pendidikan dasar 25.000 22.390 eksemplar.467 299.407 21.095 424 226 1.238 2.292 10.316 7. 2 PEMBINAAN MUTU PENDIDIKAN DI BERBAGAI TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL.717 20.744 .960 105.307 4. Tab e I VIII. untuk mewujudkan pelaksanaan wajib belajar pada tingkat pendidikan dasar.840 45.812 3. Perkembangan peningkatan pendidikan dapat diikuti pada Tabel VIII.000 30.600 .793 judul.Pendidikan dasar 20. dilakukan penelitian sebanyak 7.940 unit gedung SD.015 489 4. rehabilitasi gedung sekolah.000 1.Pendidikan menengah 413 979 422 1.018 17.176 6. penambahan ruang belajar pada sekolah yang ada.084 1.177 25.376 18.000 80.300 - 32.032 23.565 .811 41.000 2. penambahan ruang kelas Departemen Keuangan RI 269 .161 364.048 29.810 perangkat alat laboratorium.994 231.600 369. Selain itu juga telah dibangun sebanyak 1.Pendidikan tinggi (dosen) 945 1.500 12.960 . pelatih.855 56.393 6.000 58.053 105.000 15.505 1.512 25.Pendidikan dasar 6. masing-masing sebanyak 56 buah dan 37 buah sanggar kegiatan belajar untuk tempat latihan tenaga teknis dan pengembangan sarana belajar.Pendidikan tinggi 2) 3.468 68. Kegiatan 1974/75 1975/76 1977/78 1. penggerak olah raga dan pembina/pemuka pemuda.500 14. monitor.Pendidikan menengah 424 3. Sedangkan untuk perguruan tinggi telah dibangun )7.133 105 5. antara lain dilaksanakan melalui pembangunan gedung sekolah baru. Dalam peningkatan mutu pendidikan di luar sekolah ini termasuk juga usaha mengintegrasikan kelompok belajar (Kejar) paket A dengan pendidik.884 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ruang laboratorium serta 25 ruang laboratorium bahasa.400 .163 meterpersegi ruang laboratorium yang masing-masing dilengkapi dengan 305.271 65(SMP) 104(SMP) 3 39 76 50 273 270 .000 .606 2.Pendidikan menengah 1.140 10.813 18.823 60.360 275. angkatan guru baru.488 18.900 7.023 2.531 7.150 116. monitor.Pendidikan tinggi 19 35 1) Sejak tahun 1979{1980 termasuk buku PMP dan kurikulum 2) Termasuk dalam buku perpustakaan 3) Angka diperbaiki 4) Angka sementara 1983/84 1984/854) 304.000 88.310 buah perumahan dosen.314 8.538 46 16.852 2.Pendidikan menengah 5. Pengadaan buku perpustakaan ( ribu eksemplar ) 8. sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dan sedang dibangun melalui program bantuan Inpres sebanyak 76.480 6. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah ditatar sebanyak 383.600 4.611 eksemplar buku-buku perpustakaan dan 1.Pendidikan tinggi 11 30 4. Pengadaan buku pelajaran ( ribu eksemplar ) 1) .441 19.580 110.000 6 61 51 28 36 40 .200 11. pembina dan instruktur serta diadakan buku paket A sebanyak 71.400 106 11.157 479.795 2.200 372.262 417 Usaha peningkatan kesempatan belajar yang dikaitkan dengan pemerataan memperoleh pendidikan.675 7. serta peng. telah diselenggarakan pendidikan dan latihan bagi tenaga pendidik termasuk tutor.467 meter persegi ruang perpustakaan dan 237. Sehubungan dengan hal itu.kegiatan tersebut dalam waktu yang sama telah dibangun dan direhabilitasi. 1973/1974 -1984/1985 1973/74 1976/77 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 .420 24.258 5.000 1.088 1.840 4.524 547.284 2.521 385.800 31.946 17.040 1.072 5.0043) - 16.600 6.544 43.200 13.610. Guna menunjang kegiatan.879 4.513 724 6.Pendidikan dasar 8.2.936 tenaga teknis termasuk tutor. Penataran guru/pembinaan (orang) . Pengadaan alat peraga/praktek/ ketarampilanflaboratorium (unit) . Dalam rangka peningkatan mutu di bidang pendidikan luar sekolah termasuk kepemudaan dan keolahragaan. dan diberikan bantuan kepada perguruan tinggi swasta . an mala pencaharian serta pendidikan politik dan latihan kepemimpinan/keterampilan bagi generasi muda.

Apabila pada awal Pelita III jumlah murid baru sebanyak 2.800 buah. Bersamaan dengan itu telah dikembangkan pula sebanyak 165 buah SMTP kejuruan yang tidak diintegrasikan ke dalam SMP. yaitu sekolah luar biasa (SLB). serta dila:kukan rehabilitasi terhadap sejumlah SLB yang telah ada.1 persen atau rata-rata 15. 18.000 orang.200 orang. Hal ini disebabkan karena terjadinya kenaikan jumlah lulusan SD yang melanjutkan ke SMP yakni dari sebanyak 1. baik di tingkat nasional. Sejak tahun 1979/1980 sampai dengim bulan Agustus 1984. garaan untuk SD negeri. sebagai TKK percontohan.500 sekolah termasuk SD swasta dan madrasah ibtidaiyah. dan tahun pertama Pelita IV telah ditingkatkan dengan membangun TKK pembina. selain disediakan buku. Sejalan dengan perkembangan tingkat pendidikan dasar serta perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTP.342. Pemerintah juga telah menghapuskan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) untuk SD dan sebagai gantinya diberikan subsidi/bantuan pembiayaan penyeleng.983. Perkembangan pendidikan dasar telah menunjukkan hasil yang nyata seperti tercermin pada kenaikan angka partisiposi pendidikan.2 persen. Adapun pendidikan bagi anak-anak yang mengalami cacat fisik. telah meningkat menjadi 97. dan dilakukan rehabilitasi terhadap 1. termasuk guru agarna dan tenaga teknis. tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten/kotamadya.156. alat peraga dan penataran guru/pembina. baik yang baru maupun lanjutan. maka selmna Pelita III.8 persen sedangkan pada awal Repelita IV sarnpai dengan bulan Agustus 1984. Hal ini tercermin pada kenaikan jumlah murid yang selama 5 tahun terakhir telah meningkat sebesar 79. serta rehabilitasi sebanyak 134. Presiden telah mencanangkan gerakan wajib belajar untuk seluruh Indonesia. dilakukan melalui lembaga pendidikan khusus. juga dibangun sejumlah gedung SLB baru dengan asramanya. Sebagai kelanjutannya.732. maka sampai dengan bulan Agustus 1984 telah meningkat menjadi sebanyak 5. mental dan sosial.000 orang dalam tahun 1979/1980 menjadi 4.000 orang sampai dengan bulan Agustus 1984.919 unit sekolah baru. Sedangkan pengembangan pembinaan taman kanak-kanak (TKK) dalam Pelita III.598 gedung sekolah yang telah ada. Dalam waktu yang sarna telah dilaksanakan pengangkatan 439. Seperti diketahui.054 ruang kelas baru. pada Hari Pendidikan Nasional (Harpenas) tanggal2 Mei 1984. Selanjutnya guna menunjang Departemen Keuangan RI 270 . Perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTP tersebut telah memperlihatkan hasil yang baik.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 baru sebanyak 129.580 guru. Dalam tahun 1979/ 1980 baru mencapai 83. dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diusahakan pula peningkatan daya tampungnya. Untuk itu telah dibangun 2.8 persen per tahun.

373 siswa SMTA. Untuk itu telah dibangun sebanyak 517 unit gedung SMA baru.700 orang. maka selama Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dibangun 765. 160 putra Nusa Tenggara Timur. maka dalarn waktu yang sarna juga telah dilakukan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTA. dan dilakukan rehabilitasi terhadap 460 sekolah yang telah ada. Hal ini berarti peningkatan sebesar 89. antara lain me1alui penataan dan pemberian bantuan prasarana serta sarana.3 persen per tahun.200 orang. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencapai 2.085 meterpesegi. Untuk memperlrias kesempatan belajar kepada siswa dan mahasiswa yang berbakat dan berprestasi. sekolah menengah karawitan indonesia (SMKI). serta dilakukan pembangunan/pembinaan terhadap 8 STM Pembangunan. Kegiatan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat SMTA telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. SGO dan SGPLB. Usaha perluasan dan pemerataan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan tinggi.6 persen selama periode tersebut atau rata-rata sebesar 14.400 siswa SD. sekolah menengah industri kerajinan (SMIK). 130 putra Irian Jaya dan 320 putra Timor Timur. 22. sekolah menengah tehnologi kerumahtanggaan (SMTK). sekolah menengah kesejahteraan keluarga (SMKK). Bersamaan dengan itu pada SMTA kejuruan telah direhabilitasi/dikembangkan pula sebanyak 145 buah STM 3 tahun. Se1ama Pe1ita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diberikan bea siswa kepada 63. 39. 289 buah STM 3 tahun. Pembinaan perguruan tinggi swasta juga terus ditingkatkan. atau rata-rata sebesar 22. 44 buah SMT pertanian/khusus. Dalam tahun 1979/1980 jumlah mahasiswa baru adalah sebanyak 424.574. juga telah diberikan sejumlah bea siswa.547 meterpersegi ruang kuliah dan kantor.776 orang dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.7 persen per tahun. Guna menghadapi meningkatnya jumlah mahasiswa yang ingin melanjutkan pelajaran pada perguruan tinggi. telah dapat meningkatkan daya tampung bagi lulusan SLTA yang akan me1anjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. 37.3 persen dalam periode tersebut. 5. Hal ini tercermin dari meningkatnya daya tampung SMTA yang dalam tahun 1979/1980 baru berjumlah 1.927 siswa SLTP.733. telah dilakukan pembangunan gedung baru. Perkembangan kesempatan belajar diberbagai tingkat pendidikan formal dapat dilihat Departemen Keuangan RI 271 .085 ruang kelas baru.424 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. serta pembangunan ruang kelas dan rehabilitasi sejumlah SPG.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 perkembangan kegiatan belajar pada tingkat SMTP. Hal ini berarti suatu peningkatan sebesar 70. serta merehabilitasi gedung seluas 233.000 orang. yang meningkat menjadi 803. sekolah menengah seni rupa (SMSR). sekolah menengah pekerjaan sosial (SMPS). dan sekolah menengah musik (SMM). SMEA. Sedangkan untuk pendidikan guru.

000 buah. Untuk meningkatkan sistem pendidikan agar lebih sesuai dengan kebutuhan pembangunan. ruang ketrampilan dan ruang perpustakaan 2.219 7.Pendidikan dasar (a 3 ruang kelas) . dan menampung sebanyak 1. tennasuk ruang laboratorium. Pengangkatan/penempatan guru (orang) . 3 PENYEDIAAN SARAN A GEDUNG DAN GURU BAGI PENDIDIKAN FORMAL.075 36(SPG) - 1. kesegaran jasmani dan daya kreasi.000 155 10.000 4. selain dilakukan melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi juga dilaksanakan melalui berbagai kegiatan yang bersifat informal.000 1.151 18.000 35.900 54.000 1. Usaha ini dilakukan melalui Kejar pendidikan dasar (Paket A).000 92 24.140 878 11 2.334 15.750 20.000 1. Pembangunan ruang kelas baru . kesadaran berbangsa dan bernegara.000 - 6.000 125 1.Pendidikan menengah .000 - 10.Pendidikan dasar (ruang) .000 16.Pendidikan menengah .000 135 15.547 warga pe1ajar selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984. Penyempurnaan kurikulum dilaksanakan melalui perbaikan kurikulum lama (1975) menjadi kurikulum baru (1984) yang merupakan bagian penting dari perkembangan sistem pendidikan nasional guna memenuhi tuntutan pembangunan nasional.000 orang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pada Tabel VIII.192 10.205 37. yang telah diikuti oleh 7. Kegiatankegiatan tersebut diarahkan pada pengembangan kepemimpinan dan keterampilan.144 60.200 16.000 1.105 50. telah dilakukan berbagai kegiatan seperti penyempurnaan kurikulum tingkat pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah alas.Pendidikan menengah (ruang) 1) .000 15.400 orang mahasiswa.000 703 8.488 36.420 123.000 246 10 20. patriotisme dan idealisme.000 1.261 4.672 36. 1973/1974 -1984/1985 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/85 4) 6.946 25.Pendidikan tinggi 2.600 1.003 103.000 179 9. 725 52.610 18. Guna memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga kejuruan/teknik yang terdidik dan terampil.300 30.500 175.000 5.790 21. Se1anjutnya dalam rangka meningkatkan pendidikan masyarakat te1ah pula ditingkatkan kegiatan pendidikan di luar sekolah.404.Pendidikan tinggi (m 2) 3.225 15.000 7.194 15.184 91.000 - 10. Rehabilitasi/pengembangan (sekolah) . Angka sementara.200 610 11 19.320 21.000 390 11 22. Sedangkan dalam rangka penyempurnaan sistem pendidikan nasional.500 784 14.000 15. penyempurnaan sistem pendidikan nasional.390 10.830 19.000 60.000 162 6 15.480 32.845 23.Pendidikan tinggi (m 2) 4.683 25.435 50. o Kegiatan 1.Pendidikan menengah .460 25.Pendidikan dasar 3) .767 28.338. dewasa ini te1ah dikembangkan sekolah menengah kejuruan tingkat atas (SMTA-AKT) yang meliputi berbagai bidang dan 7 politeknik.500 15.051 1.000 286 24.020 121.000 1.202 50.085 23.100 5.380 75. Terdiri dari SMP & SMA.207 15. Termasuk guru agama daD tenaga teknis lainnya 4. dan sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mempunyai 7. SD Swasta.Pendidikan tinggi (dosen) T abel VIII. Departemen Keuangan RI 272 . Meliputi SD Negeri.000 923 67.100 12.3. jumlahnya te1ah mencapai 8.000 8.000 2.Pendidikan dasar 2) .000 - 15.150 11 13.629 50. Pembangunan gedung (unit) .000 103 27.000 1. telah disiapkan RUU sistem pendidikan nasional yang kini telah mencapai tahap penyelesaian terakhir.000 - 14.614 6. Pembinaan dan pengembangan generasi muda sebagai kader-kader penerus perjuangan dan pembangunan nasional.600 33.350 10.000 608 29.300 28. MI Swasta 3. Adapun lembaga pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat (PLSM).347 218.154 48.500 14.202 89.080 103. dan perluasan sekolah kejuruan.700 6.

serta partisipasi generasi muda dalam pembangunan. pemantapan organisasi. pembinaan terhadap 8.057 orang. yang masing-masing diikuti 300 orang. fungsi. Selain itu bantuan kepada KNPI juga telah dimanfaatkan guna meningkatkan aktivitas.576 orang dan 4. 260 orang. penataran pengelola gelanggang.360 orang.799 orang.204 orang serta pembinaan terhadap 5. pendidikan dan latihan kegrafikaan yang diikuti 6. 150 orang. penataran tingkat menengah nasional dan regional terhadap 600 orang. mutu. pembinaan dan peningkatan perencanaan serta penyempurnaan pengawasan. 22. sekolah pimpinan administrasi tingkat madya (Sepadya) dan sekolah pimpinan administrasi tingkat lanjutan (Sepala).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kepribadian dan budi pekerti luhur. yang masing-masing diikuti oleh 2. perkemahan kerja pemuda yang diikuti oleh 3. Untuk itu telah dilakukan pengembangan desa pemuda di beberapa daerah/propinsi. yang antara lain meliputi penataran tenaga nonedukatif.795 orang. Selanjutnya dalam rangka peningkatan/pengembangan wanita telah dilakukan latihan pengembangan belajar wanita yang diikuti 24. 325 orang dan 2.519 orang serta penataran tenaga teknis kebudayaan yang diikuti 2.185 eksemplar.955 orang. latihan instruktur terhadap 3.280 orang. pembinaan unit kerja produktif terhadap 1. serta pengadaan prasarana dan sarana.330 orang. yang masing-masing diikuti 3.718 meterpersegi serta pengadaan buku pramuka sebanyak 310. penataran pemuda tingkat perintis. Selain itu juga telah dilakukan latihan pemuda tingkat pemuka yang diikuti oleh 6. penyelenggaraan festival pemuda yang mengikutsertakan 44. Sementara itu dalam rangka pembinaan serta pengembangan keterampilan dan daya kreasi generasi muda antara lain dilakukan pertukaran pemuda dengan luar negeri dan antarpropinsi.855 orang.270 orang.556 orang. serta lomba desa binaan keluarga sehat dan sejahtera di 26 propinsi. Adapun pembinaan dan Departemen Keuangan RI 273 . Bantuan kepada pramuka dilakukan dengan menyelenggarakan latihan terhadap 30. Untuk peningkatan pengelolaan pendidikan agar lebih berdaya guna dan berhasil guna. penataran tingkat pelaksana terhadap 1. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan penataran P4.400 orang satuan tugas sukarela pemuda. serta latihan kepemimpinan manajemen yang mengikutsertakan 1. dan penataran tenaga teknis penilik generasi muda.970 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Poskibraka) dan Caraka Muda tingkat propinsi. Sehubungan dengan itu. lomba kreativitas pemuda. pembangunan gedung Cadika seluas 16. dan 805 orang. Penataran tenaga non edukatif telah dilakukan melalui sekolah star dan pimpinan administrasi (Sespa).825 orang. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan.192 orang.480 orang dan latihan pendamping pembina pemuda yang diikuti oleh 210 orang.

054 meterpersegi dan 30.2 Pembinaan kebudayaan Usaha pembinaan dan pengembangan budaya bangsa senantiasa ditujukan untuk menunjang pembangunan nasional. pelatih. serta memperkokoh jiwa persatuan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 peningkatan perencanaan dilaksanakan melalui berbagai kegiatan.065. memperkuat kepribadian bangsa. kesejarahan. pemantapan sistem dan mekanisme perencanaan terpadu. selaras dgn memberi arah pacta pembangunan harus dibina dan dikembangkan guna memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila. masyarakat dan penyandang cacat. Untuk itu. serta peningkatan mutu aparat pengawasan.982 meterpersegi. penyempurnaan sistem pelaporan. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pembangunan/rehabilitasi gedung kantor pusat dan kantor wilayah.175 meter persegi dan 6. serta mempercepat alih teknologi yang semakin tinggi. gedung kotamadya/kabupaten sebanyak 117 unit. serta peningkatan mutu aparat perencanaan baik di pusat maupun di daerah melalui penataran perencanaan P2 dan P1 tertulis yang masing-masing diikuti oleh 60 orang dan 1.3. gedung kantor kecamatan sebanyak 8 unit.658 orang. serta pembinaan olahraga berbakat terhadap 18. Guna menunjang berbagai kegiatan tersebut. Berkaitan dengan itu juga telah dilaksanakan penataran terhadap 8. Pembinaan di bidang olah raga ditujukan untuk mengolahragakan masyarakat. mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional. antara lain bidang ekonomi. dan pembina. mahasiswa. rumah dinas sebanyak 37 buah. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi dan menjawab tantangan zaman dalam berbagai bidang. serta pengadaan buku-buku olah raga sebanyak 143. antara lain penyempurnaan teknik dan metodologi perencanaan. Adapun peningkatan pengawasan dilakukan melalui penyempumaan sistem dan prosedur pengawasan terpadu. Untuk itu telah dilakukan survai dan perencanaan koleksi di 92 lokasi yang tersebar di 26 Departemen Keuangan RI 274 . Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan berbagai program yang antara lain berupa program kepurbakalaan. nilai-nilai dan norma budaya yang dinamis.360 orang. serta pengadaan peralatan kantor kecamatan dan sarana mobilitas.243 orang guru. dan permuseuman.657 meter persegi. pengadaan peralatan olah raga sebanyak 52. masing-masing seluas 9.573 orang pelajar. dan memasyarakatkan olah raga.583 paket.000 eksemplar. penyelenggaraan pemasalan olahraga yang mengikutsertakan 1. teknologi dan ilmu pengetahuan. masing-masing seluas 25. selama Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 antara lain telah diwujudkan pembangunan gedung olahraga dan kolam renang. 8.

Demikian pula dilaksanakan penambahan tenaga. terjemahan 16 naskah. pengadaan koleksi sebanyak 6 jenis di 26 propinsi. perpustakaan umum.351.500 eksemplar. penyelesaian rencana induk Wisma Seni Nasional. sayembara mengarang. peningkatan apresiasi sastralseni. perpustakaan keliling.636 eksemplar untuk perpustakaan wilayah. antara lain meliputi pembinaan sosio drama. serta pengadaan buku sebanyak 1. Di samping itu juga dilakukan peningkatan penghayatan seni oleh masyarakat yang mencakup 4 bidang seni. Sejalan dengan itu telah dilakukan pula penulisan dan penerbitan naskah buku bacaan populer sebanyak 720. kesusastraan. serta sayembara mengarang bacaan populer sebanyak 56 judul. serta pemberian bantuan peralatan kesenian pada kabupaten/kodya. penerbitan majalah. melanjutkan pemeliharaan Candi Borobudur serta rehabilitasi Monumen Nasional (Monas). Dalam waktu yang sama juga telah dilakukan pemugaran peninggalan sejarah dan purbakala di 379 lokasi. Untuk itu telah dilakukan berbagai kegiatan. dan editing dari 800 naskah. dan perpustakaan. Selain itu dalam bidang perpustakaan nasional juga telah dilaksanakan rekatalogisasi koleksi pustaka Indonesia dan asing. pengembangan media kebahasaan sebanyak 30 naskah. serta pengembangan perpustakaan nasional. Kegiatan tersebut antara lain berupa penyusunan/penerbitan perkamusan sebanyak 29 naskah.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 propinsi. perpustakaan desa dan perpustakaan perintis sekolah. penyempumaan. kecamatan. penyuluhan teknis kesenian. pemeliharaan dan penyelamatan 1. serta pengadaan peralatan kantor museum sebanyak 872 unit. yang tersebar di seluruh nusantara. Kegiatan inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan nasional ditujukan untuk membina Wawasan Nusantara. pameran dalam rangka pemantapan fungsi eksistensi museum dengan segenap aspeknya sebanyak 183 kali di 26 propinsi. pengadaan peralatan kantor. studi kelayakan di 133 lokasi. penyusunan naskah kebudayaan daerah Departemen Keuangan RI 275 . Pengembangan dalam bidang seni budaya ditujukan untuk meningkatkan kreativitas seniman yang sehat. dan lebih memperkaya kesenian Indonesia yang beraneka ragam. penerbitan pedoman penyuluhan perpustakaan sebanyak 6 naskah. perbukuan. dan daerah transmigrasi. pengembangan organisasi kesenian dan penyebarluasan kesenian. Untuk pengembangan kebahasaan.museum sebanyak 549 unit. Kemudian dilakukan juga penanggulangan terhadap pengaruh kebudayaan yang negatif.564 situs. pemberian bantuan kepada 60 museum daerah. pengadaan peralatan teknis. serta pembinaan bahasa Indonesia melalui TVRI dan RRI. maka sejak Pelita III dan tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengembangan bahasa serta sastra Indonesia dan daerah. serta studi kelayakan di daerah tingkat II di 127 lokasi. Sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diadakan penilaian.

Selain itu juga ditujukan pada peningkatan kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar guna perbaikan mutu lingkungan. pemerataan kesehatan masyarakat. penyakit yang hanya dapat dicegah dengan imunisasi. Sejalan dengan usaha inventarisasi dan dokumentasi sejarah nasional. Usaha lain yang dilakukan adalah meliputi penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah sebanyak 665 naskah. tokoh nasional sebanyak 120 judul. pembangunan di bidang kesehatan dalarn tahun pertama Repelita IV diarahkan pada peningkatan kemarnpuan masyarakat untuk hidup sehat dan mengatasi sendiri masalah kesehatan yang sederhana. pembangunan di bidang kesehatan dilakukan secara terpadu dengan bidang-bidang lainnya ke dalam suatu sistem kesehatan nasional. Selain itu telah dilakukan peningkatan pelayanan rumah Departemen Keuangan RI 276 . Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Pelayanan kesehatan Kegiatan yang dilakukan di bidang pelayanan kesehatan ditujukan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara lebih merata dan lebih dekat kepada masyarakat. terutama penyakit menular. usaha kesehatan sekolah (UKS). Selanjutnya juga diarahkan pada pengurangan kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh penyakit yang banyak diderita rakyat banyak.1. serta peningkatan pendidikan. terutama yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota. Selain itu juga telah diselenggarakan penataran tenaga teknis dokumentasi dan informasi kebudayaan yang diikuti 130 orang. 8. Kesehatan dan keluarga berencana Sebagai kelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan dan pemerataan pelayanan kesehatan tersebut antara lain dilakukan melalui puskesmas. latihan dan pengelolaan tenaga kesehatan masyarakat.4.4. serta penyakit yang disebabkan oleh pengaruh buruk dari bahan yang berbahaya bagi kesehatan. terutama melalui pencegahan dan penyembuhan. penelitian purbakala sebanyak 5 aspek serta penerbitan majalah arkeologi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dalam 5 aspek dengan ps:nerbitan sebanyak 372 judul. Kegiatan ini ditunjang dengan pengadaan obat yang cukup dan terjangkau oleh masyarakat. serta pembinaan bimbingan teknis operasional penelitian yang mengikutsertakan 457 orang. pelayanan kesehatan gigi dan jiwa. 8. sejarah pahlawan sebanyak 26 judul serta biografi nasional sebanyak 17 judul. maka dilakukan penelitian. penulisan. serta peningkatan pelayanan laboratorium kesehatan. dan penyusunan naskah biografi pahlawan nasional yang meliputi caton pahlawan sebanyak 36 judul. dan penyusunan naskah dad 117 penelitian.

Untuk mendukung tugas puskesmas tersebut.342 729 4.453 15.979 buah. Selain pembangunan puskesmas. B K I A 3) 1973/74 1974/75 1975/76 1976/77 1977/78 1978/79 1979/80 1980/81 1981/82 1982/83 1983/84 1984/85 2.353 12.113 7. Selanjutnya agar pelayanan kesehatan kepada rakyat dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan merata. Sedangkan bagi daerah-daerah terpencil yang jauh dari pelayanan rumah sakit.893 4. Sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah puskesmas. 5. 3.453 buah.979 2.953 10. pengobatan mala telah dikembangkan di 250 puskesmas yang tersebar di 24 propinsi. masing-masing sebanyak 15. Puskesmas 2.602 2.180 2.801 3. sehingga sarnpai dengan bulan Agustus 1984 jumlahnya telah mencapai 5. Dalam rangka pencegahan Departemen Keuangan RI 277 .124 6. telah diadakan latihan cepat bagi pembantu paramedis sebanyak 1.412 4.342 13.153 5.412 4.928 3.343 7. yang masing-masing dilengkapi 10 tempat tidur. 1973/1974 -1984/1985 1) 1984/855) 1. BaJai Pengobatan 3) 5.443 4. penarnbahan persediaan bahan-bahan dan obat-obatan.753 8. Angka diperbaiki 5). Puskesmas Pembantu 2) 3. Untuk itu. Angka kumuIatif 2). serta latihan klinis bagi 155 orang dokter dan 185 orang paramedis yang bekerja di puskesmas.479 5.6364) 1.553 7.826 puskesmas dan penggantian peralatan medis sebanyak 2.124 6. serta peningkatan pelayanan instalasi kesehatan.691 tenaga record and report (RR) terpadu. puskesmas dan rumah sakit di semua tingkat. pembangunan kesehatan masyarakat desa.4. seluruh sarana kesehatan diusahakan berada dalarn suatu sistem jaringan hubungan yang serasi dan efektif. Untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tenaga kesehatan di puskesmas.787 tenaga kesehatan melalui program Inpres. serta daerah perbatasan atau daerah yang angka kecelakaan lalu lintasnya tinggi.479 5. telah dilaksanakan penataran tenaga kesehatan terhadap 2. Sejak 1975/1976 berkurangnya jumlah BKIA dan Balai Pengobatan karena diintegrasikan 4).342 1.702 set. Perkembangan sarana pelayanan kesehatan masyarakat dapat diikuti pada Tabel VIII.180 2.670 kader/pemuka masyarakat. telah dilakukan pula perbaikan 5. Di samping itu telah diselenggarakan pula latihan kesehatan mala bagi 221 paramedis dan 1. maka jumlah dan fungsi puskesmas terus ditingkatkan.342 979 4.076 tenaga laboratorium dan 3. Selanjutnya di bidang kesehatan olah raga telah dikembangkan pusat kesehatan olah raga di 8 propinsi.979 1). Tabel VIII. telah disediakan pula 19. Puskesmas Ke1iling 4. Merupakan peningkatan dari BKlA dan Ba1ai Pengobatan 3).412 4.053 4.136 2.600 dokter puskesmas. Angka sementara Sampai dengan bulan Agustus 1984. 4 JUMLAH SARAN A PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT.180 2. telah dibangun puskesmas perawatan sebanyak 158 unit.136 buah dan 2. yang dilakukan melalui sistem rujukan antara masyarakat.416 orang. dan diperlengkapi dengan 167 set peralatan kesehatan mata dan obat-obatan mata.828 staf puskesmas.744 3. Sedangkan dalam rangka memenuhi kekurangan tenaga di puskesmas.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sakit. dalam waktu yang sarna telah dibangun pula puskesmas pembantu dan puskesmas keliling.353 604 4.

000 per tahun. di samping juga terhadap golongan khusus yang berada di 52 panti dan tersebar di 24 propinsi. Departemen Keuangan RI 278 . Sedangkan dalam rangka kesehatan gigi masyarakat desa. Bersamaan dengan itu. dengan jumlah kunjungan posien mental sekitar 40. serta penanggulangan penderita mental khususnya psikotik. telah ditempatkan sebanyak 1.426 keluarga. telah dilakukan usaha kesehatan sekolah (UKS) melalui kunjungan berkala petugas puskesmas ke sekolah-sekolah.254 puskesmas dengan membina 82. juga diberikan penyuluhan kesehatan kepada anakanak sekolah. Selama Pelita III telah dilakukan integrasi kesehatan jiwa ke 560 puskesmas.620 guru SD.347 guru SLTA.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan pengobatan penyakit pada anak-anak sekolah. Sedangkan melalui RSU. serta pembinaan kesehatan lingkungan. penyembuhan.500 orang.dan di 30 rumah sakit yang dilengkapi dengan peralatan rehabilitasi gigi (unit teknik gigi). ditingkatkan pula pelayanan kesehatan gigi kepadamasyarakat. Adapun pelaksanaannya dilakukan melalui rumah soot jiwa (RS jiwa). Di samping itu dalam rangka UKS juga telah dilakukan penataran terhadap105.191 guru yang terdiri dati 97. standarisasil metodologi terhadap' 10 daerah pelayanan. Dalam Pelita III. telah dilaksanakan di 2. dan pengembangan pelayanan kesehatan gigi integrasi terhadap 258 SD di 139 daerah tingkat II. serta peningkatan pelayanan gigi di 104 RSU kelas D yang dilengkapi dengan 104 unit klinik gigi basis.280 SLP dan 3891 SLA. Dalam Pelita III. telah diintegrasikan kesehatan jiwa ke 90 RSU. Untuk itu fungsi rumah sakit jiwa sebagai pusat rujukan pelayanan kesehatan jiwa semakin ditingkatkan. melalui usaha kesehatan gigi sekolah (UKGS) telah dilaksanakan pemanduan UKGS selektif bagi 108 SD. Selama Pelita III telah dapat dicakup sebanyak 95. Program perawatan kesehatan masyarakat sampai dengan bulan Agustus tahun 1984. Selanjutnya dalam upaya kesehatan gigi sekolah telah dilakukan penempatan sebanyak 62 set klinik gigi lapangan (KGL). di 40 RSU kelas C yang dilengkapi dengan peralatan bedah mulut sederhana.404 SD. gelandangan dan posung. imunisasi. dan pengobatan pertama bagi yang memerlukan. 9. Selain dilakukan pemeriksaan guna menemukan kelainan-kelainan kesehatan yang ada sedini mungkin.250 orang tenaga perawat gigi di 402 puskesmas.224 guru SLTP dan 2. serta pemantapan standarisasi pelayanan di rumah sakit. survai pengumpulan data kadar flour dalam posta gigi. sejak tahun 1980/1981 sampai dengan akhir Pelita III. rehabilitasi mental. dan UKGS di puskesmas-puskesmas. serta integrasi kesehatan jiwa ke puskesmas dan rumah sakit umum (RS umum). 5. Di samping itu juga dilakukan survai epidemiologi terhadap 11. telah dilakukan juga pelayanan kesehatan jiwa yang dititikberatkan pada upaya pencegahan.

Dalamwaktu yang sarna telah dilakukan pula rehabilitasi terhadap 192 buah RSU kabupaten/kotamadya. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah ditatar sekitar 3. terutama di daerahdaerah terpencil semakin ditingkatkan.076 tenaga laboratorium puskesmas. dokter-dokter ahli dari rumah rumah sakit yang tingkatannya lebih tinggi telah dikirim ke tingkatan yang lebih rendah. serta penambahan alat-alat laboratorium di 26 balai laboratorium dan 137 laboratorium kabupaten rumah sakit C. Sedangkan untuk meningkatkan pelayanan laboratorium di puskesmas. Untuk lebih meningkatkan fungsi rujukan tersebut. di bidang mikrobiologi. baik antarberbagai tingkat rumah sakit maupun antara puskesmas dengan rumah sakit. Dalam hubungan ini selama Pelita III telah dilaksanakan pembangunan gedung dan penambahan ruang pemeriksaan di 27 balai laboratorium kesehatan. patologi. Selain itu pengiriman penderita dari puskesmas ke rumah sakit kabupaten dan rumah sakit yang lebih tinggi semakin ditingkatkan. Sejalan Departemen Keuangan RI 279 . yakni melalui pemeriksaan laboratorium baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Untuk itu selama Pelita III telah ditingkatkan pula baik sarana fisik maupun tenaga kesehatannya melalui pemban_nan 11 RSU baru sebagai pengganti RSU yang telah ada. terus ditingkatkan pula pelayanan laboratorium kesehatan. 5 buah RS khusus vertikal dan sebuah Palang Merah Indonesia (PMI). 13 buah RS vertikal. Guna meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Sementara itu guna menunjang peningkatan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. 20 buah RSU di ibukota propinsi. kimia dan imunologi. pelayanan melalui rumah sakit juga terus ditingkatkan dengan penyempurnaan sistem rujukan. Untuk itu baik sarana maupun peralatan laboratorium.

262 1975/76 8.160 26.679 1) Sejak tahun 1976/1977 perawat dan bidan ditetapkan menjadi tenaga perawat kesehatan. dibentuk Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD). D okter 2.681 32.707 1976/77 8.361 1980/81 12. di 410 kecamatan dan 101 Dati II. Perkembangan tenaga kesehatan dapat diikuti pada Tabel VIII.456 31. selama Pelita III telah disediakan obat-obatan dan bahan-bahan obat antara lain untuk RSU khusus pusat.693 desa meliputi sebanyak 1. Penjenang kesehatan 1973/74 6.5. Sampai dengan akhir Pelita III.000 35. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah diberikan bantuan obatobatan kepada 40 RS propinsi. 1973/1974 -1983/1984 J enis Tenaga 1.678 kecamatan. Pemberantasan penyakit menular Pemberantasan penyakit menular mempunyai peran yang cukup penting dalam menunjang pembangunan.678 16. Dari jumlah tersebut.400 37.736 8.323 24. yang dikembangkan melalui bantuan Pemerintah meliputi sebanyak 1.000 40.4. sedangkan sisanya.221 7. kesehatan anak.113 35. yang disebut promotor kesehatan desa (Prokesa). penanggulangan bencana alam.698 1981/82 1982/83 2) 15.644 8.237 1978/79 10. melalui latihan dan bimbingan tenaga sukarelawan kesehatan desa.248 1974/75 7.931 35.647 44. dan 269 Dati II yang tersebar di seluruh propinsi. sebanyak 5. Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit menular ditujukan khususnya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular.972 1977/78 9. dan 168 Dati II merupakan hasil swadaya masyarakat.520 35. diberikan pula bantuan berupa peralatan medis dan non medis kepada 135 RSU propinsi/kabupaten.066 9.268 kecamatan. 2) Angka diperbaiki 3) Angka sementara Sementara itu guna memenuhi kebutuhan obat dalam masyarakat.805 27. yang memiliki keahlian dasar bedah. Tabel VIII. Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan daripada upaya-upaya yang telah dilakukan dalam tahun sebelumnya dan didasarkan atas ketentuan Departemen Keuangan RI 280 . PKMD tersebut telah dikembangkan di 7. kebidanan dan kandungan serta penyakit dalam.856 ) 10.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dengan meningkatnya sarana fisik tersebut. 8.577 1979/80 11.711 33. AMD (ABRI Masuk Desa) serta kegiatan sosial lainnya. Untuk itu selama Pelita III telah ditempatkan di 133 RS sebanyak 263 tenaga dokter. dan 5 RS khusus vertikal.061 35.2.926 30.985 desa. di 1. Per a w a t 1) 3.854 35. dengan pemutusan matarantai penularan penyakit.720 ) 28. Bid ani) 4. Adapun untuk menggerakkan partisipasi masyarakat dalam peningkatan derajat kesehatannya.977 28.279 9.679 1983/84 3) 17.698 desa. 5 JUMLAH BEBERAPAjENIS TENAGA KESEHATAN.693 35. Peningkatan pembangunan sarana pelayanan kesehatan tersebut telah diikuti pula dengan peningkat an jumlah tenaga kesehatan.

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

prioritas jenis penyakit yang telah ditetapkan. Sehubungan dengan itu, pemberantasannya diprioritaskan pada penyakit malaria melalui penurunan jumlah penderita, dan penanggulangan wabah yang terjadi di Jawa dan Bali, melindungi penduduk yang telah kebal dan berpindah dari Jawa dan Bali, serta menurunkan jumlah penderita di daerah yang keadaan sosial ekonominya rendah termasuk pemukiman transmigran dan pemukiman baru. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap sekitar 749 ribu sediaan darah penderita, pemberian obat kepada sekitar 798 ribu orang penderita, dan penyemprotan terhadap sekitar 75 ribu buah rumah. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 48,3 juta sediaan darah, pengobatan alas 45 juta orang dan penyemprotan 17 juta buah rumah. Pemberantasan penyakit demam berdarah (arbovirosis) dalam tahun pertama Repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984, dilakukan melalui pemberantasan jentik nyamuk pada sekitar 200 ribu rumah dan penanggulangan fokus pada 800 lokasi. Dengan demikian selama Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemberantasan jentik nyamuk terhadap 528.516 buah rumah dan penanggulangan 11.632 fokus. Pemberantasan penyakit kaki gajah (filariasis) dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 dilakukan melalui pemeriksaan terhadap 146.778 sediaan darah malam dan pengobatan terhadap 200.557 orang penderita. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diperiksa sebanyak 737.702 sediaan darah malam, dan diobati sebanyak 1.136.573 orang penderita. Dalam waktu yang sama untuk pemberantasan penyakit rabies dan pes telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 200 sediaan darah tersangka rabies dan pengobatan terhadap 1.700 orang yang digigit oleh hewan tersangka rabies. Sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984, telah dikumpulkan dan diperiksa sebanyak 8.970 sediaan darah tersangka rabies, dan diobati sebanyak 66.408 orang penderita gigitan hewan tersangka rabies. Adapun dalam rangka pemberantasan penyakit pes, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diobati sebanyak 70 orang tersangka pes, sehingga sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diobati sebanyak 1.424 orang tersangka penderita pes. Pemberantasan penyakit demam keong (scbistosomiasis) dilakukan melalui survai terhadap tikus, keong dan specimen tinja, sella pengobatan selektif terhadap penderita di daerah endemis, yaitu di sekitar danau Lindu (Sulawesi Tengah). Selama Pelita III telah dilaksanakan survai di 15 lokasi dan pengobatan terbatas terhadap 12.799 orang penderita. Di samping itu dilakukan juga pemberantasan terhadap penyakit anthrax, yakni penyakit menularyang bersumberdari binatang. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan buIan Agustus 1984 tdah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 10 sediaan dan
Departemen Keuangan RI

281

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

pengobatan terhadap 30 orang tersangka penderita anthrax. Pemberantasan penyakit tersebut dilakukan di daerah endemis yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat dan Timor Timur, sehingga sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap 361 sediaan dan pengobatan terhadap 844 orang penderita tersangka anthrax. Selain pemberantasan terhadap penyakit menular yang bersumber dari binatang, telah dilakukan pula pemberantasan penyakit yang menular secara langsung. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, pemberantasan terhadap TBC paru dilakukan melalui pemeriksaan dahak dari 19.000 orang penduduk dan pengobatan kepada 2.000 orang penderita, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984 telah. diadakan pemeriksaan dahak terhadap 1.255.846 orang tersangka TBC, dan diobati sebanyak 141. 300 orang penderita, baik dengan streptomycin maupun rifampisin. Jumlah penderita yang diobati tersebut belum termasuk penderita yang diobati oleh BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru) dan dirumah-rumah sakit. Untuk pemberantasan penyakit frambosia juga te1ah dilakukan pemeriksaan terhadap sekitar 231.000 orangpendudukdan pengobatan terhadap 4.500 orang penderita, sehingga sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diperiksa sebanyak 37.268.231 orang penduduk dan diobati sebanyak 534.903 orang..penderita. Untuk pemberantasan penyakit ke1amin, dalam tahun pertama Repe1ita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan darah terhadap sekitar 20.500 orang, pemeriksaan gonorhoe terhadap 800 orang, dan pengobatan terhadap 17.500 orang penderita. Secara keseluruhan, sejak Pe1ita III sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan pemeriksaan darah terhadap 916.940 orang, pemeriksaan gonorhoe terhadap 271.079 orang, dan pengobatan terhadap 287.893 orang penderita. Se1anjutnya untuk pemberantasan penyakit kusta yang mempunyai angka kesakitan tinggi, antara lain di daerah Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya, dalam tahun 1984 te1ah diperiksa sekitar 25 ribu anak sekolah, dan 24.900 orang kontak (orang yang mempunyai hubungan dengan penderita). Dari hasil pemeriksaan tersebut, te1ah diobati secara teratur sebanyak 15.200 orang penderita, sehingga dengan demikian secara kese1uruhan sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 te1ah diperiksa sebanyak 20.608.702 anak sekolah dan 2.134.183 orang kontak, serta pengobatan terhadap 467.510 orang penderita. Dalam tahun yang sarna juga te1ah dilakukan pemberantasan terhadap penyakit cacing tambang dan parasit lainnya, melalui pemeriksaan sediaan darah dan sediaan tinja dari 105.153 orang, serta pengobatan terhadap sekitar 5.200 orang penduduk. Dengan demikian sejak tahun 1979/1980

Departemen Keuangan RI

282

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dilakukan pemeriksaan sediaan darah dan tinja terhadap 105.153 orang, dan pengobatan terhadap 646.722 orang penduduk, Berkaitan dengan pemberantasan penyakit kholera, te1ah dikembangkan 482 puskesmas menjadi pusat rehidrasi, serta te1ah ditemukan dan diobati sebanyak 246.000 orang penderita diare dan 4.100 orang penderita tersangka kholera. Sehubungan dengan itu, sejak awal Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 te1ah dikembangkan sebanyak 811 puskesmas menjadi pusat rehidrasi, serta telah diobati penderita diare dan kholera masing-masing sebanyak 4.006.583 orang dan 1.205.192 orang. Dalam program pemberantasan penyakit menular te1ah dikembangkan pula berbagai konsep pengembangan kesehatan, antara lain kegiatan imunisasi dan epidemiologi. Berkaitan dengan kegiatan imunisasi, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan vaksinasi BCG pertama kepada 299.000 anak, vaksinasi TT (tetanus toxoid) kepada 282.000 ibu hamil dan anak, vaksinasi DPT (deptherina pertusis tetanus) kepada 282.000 anak, vaksinasi DT (depthelina tetanus) kepada 233.000 anak, vaksinasi polio kepada 97.000 anak, serta vaksinasi pencegahan penyakit campak (morbili) kepada 57.000 anak. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah diberikan vaksinasi BCG pertama kepada 5.298.918 anak, vaksinasi IT kepada 282.000 ibu hamil dan anak, vaksinasi DPT kepada 6.32L529 anak, vaksinasi DT kepada 2.064.482, anak, vaksinasi polio kepada 1.103.652 anak serta vaksinasi pencegahan penyakit campak kepada sebanyak 470.612 anak. Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyakit menular termasuk penyebaran penyakit dari satu tempat ke tempat lainnya, telah dilakukan peningkatan kesehatan terhadap pelabuhan karantina haji, pengamanan kesehatan dalam perpindahan penduduk serta isolasi penderita penyakit menular. Guna menunjang kegiatan tersebut, maka fasilitas sarana kerja dan keterampilan petugasnya terus ditingkatkan. Dalam waktu yang sarna juga telah diadakan persiapan pengamanan terhadap terjangkitnya penyakit menular di 10 lokasi transmigrasi baru, terutama penyakit malaria. Dengan demikian selama Pelita III dan tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, kegiatan tersebut secara keseluruhan telah mencakup 203 lokasi transmigrasi baru, di samping telah dilakukan pengamatan kesehatan bagi seluruh jemaah haji. Selain itu dalam tahun 1984 teiah dikembangkan pula isolasi penderita penyakit menular terhadap 11 rumah sakit di beberapa daerah, yang selain ditujukan pada penyakit yang nyatanyata menimbulkan masalah, juga terhadap penyakit menular yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan masalah. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilaksanakail pengamatan (surveillance) penyakit menular melalui survai terhadap 500

Departemen Keuangan RI

283

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

kejadian luar biasa (KLB), survai penyakit-penyakit tertentu di 255 rumah sakit, pengambilan 900 sampel, penyebaran data dalam bentuk bulletin epidemologi sebanyak 4.400 eksemplar, serta pelaksanaan survai entomologis serangga penular penyakit pada 200 lokasi. Sejak Pelita III dan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984, secara keseluruhan telah dilaksanakan penyelidikan terhadap 21.520 KLB, survai beberapa penyakit menular di 2.418 rumah sakit, pengambilan 741.495 sampel, dan penyebaran data dalam bentuk bulletin epidemiologi sebanyak 217.214 eksemplar. Untuk menunjang penurunan angka kematian anak balita dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, terutama bagi golongan rawan dan masyarakat yang berpenghasilan rendah baik di desa maupun di kota, telah dilaksanakan usaha perbaikan gizi. Kegiatan ini diarahkan untuk melanjutkan dan meningkatkan status gizi masyarakat, serta pencegahan dan penanggulangan masalah gizi khususnya terhadap penderita kurang kalori protein (KKP), kurang vitamin A, anemia gizi besi serta gondok endemik melalui peranserta aktif masyarakat. Pencegahan dan penanggulangan KKP terutama ditujukan pada anak pra-sekolah, wan ita hamil, wanita menyusui serta penduduk di daerah rawan pangan dan bencana alam. Untuk menurunkan jumlah anak yang menderita KKP, baik dalam tingkat ringan maupun sedang, telah dilakukan peningkatan dan perluasan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK). Sehubungan dengan usaha peningkatan pelayanan kesehatan bagi anak-anak penderita gizi buruk, kaitan antara UPGK dengan puskesmas juga semakin ditingkatkan. Kegiatan UPGK yang dilaksanakan secara terpadu di sektor kesehatan, pertanian, agama dan keluarga berencana, serta swadaya masyarakat tersebut antara lain mencakup penimbangan anak balita, penyuluhan gizi, pemberian paket pertolongan gizi, pemanfaatan tanaman pekarangan dan pemberian makanan tambahan. Dalam tahun pertama Repelita IV selain dilanjutkan pembinaan pada desa UPGK lama, juga te1ah dikembangkan UPGK pada 3.000 desa baru, sehingga sejak tahun 1979/1980 sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 kegiatan tersebut te1ah mencakup sebanyak 43.085 desa. Penanggulangan dan pencegahan kekurangan vitamin A pada aDak balita dalam tahun 1984/1985 sampai dengan Agustus 1984, telah dilaksanakan khusus untuk 15 propinsi rawan vitamin A yang desa-desanya belum terjangkau oleh UPGK melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi terhadap 1.550 orang anak balita. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus tahun 1984 melalui kegiatan tersebut telah dicapai sebanyak 15.017.061 orang anak balita. Se1anjutnya guna menanggulangi dan mencegah gondok endemik, dalam waktu yang sarna telah dilakukan penyuntikan larutan radium dalam minyak terhadap daerah endemik berat meliputi 1.663.000 orang, sehingga dengan demikian

Departemen Keuangan RI

284

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

sejak Pelita III hingga bulan Agustus 1984 te1ah dilakukan penyuntikan terhadap 6.279.815 orang penduduk yang tinggal di daerah-daerah pegunungan. Sedangkan untuk menanggulangi dan mencegah anemia gizi besi telah dilakukan pemberian pil zat besi, penyuluhan gizi dan pemanfaatan tanaman pekarangan, yang pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam UPGK, sehingga me1alui paket tersebut se1ama Pelita III telah dicukupi kebutuhan zat besi terhadap 1.790.650 orang ibu hamil Adapun sistem kewaspadaan pangan dan gizi yang se1ama Pelita III baru dilaksanakan di beberapa daerah pemanduan di 5 propinsi, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah diperluas ke 2 propinsi baru yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Salah satu syarat penting untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal dalam masyarakat adalah tersedianya air bersih yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan, terutama bagi penduduk yang berpenghasilan rendah baik di daerah pedesaan maupun di daerah perkotaan. Untuk itu se1ain disediakan sarana dan teknologi sederhana, terus dilakukan pula penyuluhan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memelihara sarana air bersih, serta pengawasan kualitas air minum dan pencemaran lingkungan. Adapun penentuan lokasi sarana air tersebut diprioritaskan pada daerah-daerah yang sulit memperoleh air bersih dan daerah yang tinggi angka kesakitan terhadap penyakit kholera dan penyakit perut lainnya. Sehubungan dengan itu, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 te1ah dibangun berbagai jenis sarana air minum meliputi 3 buah penampungan mata air dengan perpipaan (PP), 7 buah sumur artesis (SA), 16 buah sumur gali (SGL), 1.277 buah sumur pompa tangan dangkal (SPT DK) dan 431 buah sumur pompa tangan dalam (SPT DL). Selanjutnya dalam waktu yang sama telah dibangun pula saringan pasir sederhana sebanyak 3 buah, sarana pengolahan Fe dan Mn sebanyak 7 buah dan kran umum sebanyak 40 buah. Selain telah dibangun berbagai sarana fisik tersebut, dilakukan pula pelaksanaan survai di 146 lokasi. Dengan demikian sejak Pelita III sarnpai dengan bulan Agustus tahun 1984 telah dibangun sebanyak 628 buah PP, 250 buah SA, 13.741 buah SGL, 244.411 buah SPT DK dan 27.160 buah SPT DL. Sejalan dengan itu, telah dibangun pula saringan posir sederhana, sarana pengolahan Fe dan Mn serta kran umum, masing-masing sebanyak 3 buah, 26 buah dan 40 buah, dan juga dilakukan survai di 800 lokasi. Untuk menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat terutama bagi masyarakat kota dan masyarakat desa yang berpenghasilan rendah, dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan umum di 129lokasi, pembangunan multiple latrine sebanyak 10 buah, peningkatan sanitasi perumahan dan lingkungan di 93 lokasi, pengamatan

Departemen Keuangan RI

285

Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986

pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida di 1.660 lokasi, serta grading tempat pembuatan dan penyimpanan makanan (TP2M) sebanyak 1.180 buah. Dengan demikian sejak Pelita III sarnpai dengan bulan Agustus 1984 telah dilakukan pemeriksaan umum, peningkatan sanitasi perumahan dan lingkungan, serta pengarnatan pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida, masing-masing di 77.271lokasi, 413 lokasi dan 1.660 lokasi, di samping juga pembangunan multiple latrine dan grading TP2M, masing-masing sebanyak 428 buah dan 5.977 buah.

8.4.3. Pengadaan dan pengawasan obat, makanan dan minuman Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam tahun terakhir Pelita III di bidang pengadaan dan pengawasan obat, makanan serta minuman pada dasarnya merupakan kelanjutan dan peningkatan dari kegiatan yang dilakukan dalam tahun sebelumnya. Upaya ini meliputi pengawasan dalam produksi, distribusi dan penggunaan obat, termasuk obat tradisional, makanan dan minuman, kosmetika dan alat-alat kesehatan, serta pengawasan terhadap penyalahgunaan narkotika dan bahan obat.berbahaya lainnya. Untuk menunjang kegiatan tersebut telah ditetapkan daftar obat esensial (DOE) yang dipakai oleh semua unit kerja kesehatan dalam pengadaan obat di sektor Pemerintah. Obat yang dihasilkan di sektor Pemerintah besamya sekitar 5 persen dari seluruh obat yang beredar, sedangkan sisanya merupakan produksi sektor swasta. Selanjutnya untuk memperlancar distribusi obat, dilakukan penataan kembali pola distribusi obat, baik terhadap sektor Pemerintah maupun sektor swasta. Sejalan dengan peningkatan produksi obat, selama Pelita III telah dibangun sebanyak 134 buah gudang farmasi di seluruh kabupaten dan kotamadya, di sarnping juga telah tersedia sebanyak 283 buah pabrik farmasi. Adapun jumlah pedagang besar farmasi dan jumlah apotik masingmasing telah mencapai 912 buah dan 1.717 buah. Dalam rangka pembinaan di bidang produksi dan distribusi obat, dilakukan pengambilan 76.305 sample obat untuk seluruh propinsi dan 47.430 sample obat untuk tingkat pusat. Untuk melestarikan dan mengembangkan obat-obatan tradisional, dilakukan pengawasan melalui pendaftaran, pemberian informasi dan penyuluhan, serta evaluasi terhadap kegunaannya. Berkaitan dengan itu selama Pelita III telah terdaftar sebanyak 2.3 88 buah produk obat tradisional dari 370 buah perusahaan. Selain itu telah pula diterbitkan buku-buku dan pedoman penyuluhan yang bersifat teknis terutama mengenai jamu gendong, pemanfaatan tanaman obat tradisional dan obat keluarga serta pertemuan-pertemuan ilmiah dalam bentuk seminar dan lain-lain. Selanjutnya untuk mendapatkan keposrian mengenai keamanan, khasiat, nilai gizi,
Departemen Keuangan RI

286

425 macam dan 2. Berkaitan dengan itu selama Pelita III telah terdaftar produksi obat dalam dan luar negeri masing-masing sebanyak 4. dan mengarah kepada pengalihan tanggung jawab pengelolaan dari Pemerintah kepada masyarakat. Sejalan dengan perkembangan waktu dan pertimbangan hasil-hasil yang telah dicapai selama ini. Sedangkan untuk menjamin keselamatan pemakaian obat. 8.054 macam. Penurunan fertilitas sebesar 50 persen dari keadaan tahun 1971. Selain itu guna melaksanakan norma keluarga kecil yang bahagia dan Departemen Keuangan RI 287 .195 macam dan 3.256 macam. yang terdiri dari laboratorium tipe B di 8 propinsi dan laboratorium tipe C di 18 propinsi.4. selama Pelita III antara lain telah diterbitkan dan diundangkan peraturan tentang bahan berbahaya.467 macam dan 1. kriteria obat jadi. sampai dengan akhir Pelita III telah dilakukan perluasan dan pembangunan gedung laboratorium pengujian obat dan makanan di 26 propinsi. yang ditempuh atas dasar sukarela.516 macam dan 48 macam. penandaan obat. Oleh karena itu dalam memasuki tahun kedua Repelita IV ini. serta alat-alat kesehatan produksi dalam dan luar negeri masing-masing sebanyak 1. tujuan secara kuantitatif demografis semakin dipercepat. Sementara itu untuk mendukung kegiatan pengujian obat dan makanan. makanan dan lainnya. makanan. agar pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan cepat. dipercepat untuk dapat dicapai dalam jangka waktu 10 tahun lebih awal yaitu dalam tahun 1990. alat kesehatan dan sebagainya semakin ditingkatkan. Untuk itu sejak Pelita I sampai dengan Pelita III telah dilaksanakan program keluarga berencana (KB) nasional. Selain itu telah dilakukan pula pendaftaran terhadap produk kosmetika dalam dan luar negeri sebanyak 3. pengawasannya dilakukan melalui pengaturan izin impor bagi apotik atau badan usaha yang akan mengimpor dan mengedarkannya. Namun demikian. serta kadaluwarsa makanan yang berasal dari susu dan makanan-makanan bayi.4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kegunaan. Keluarga berencana Faktor penduduk merupakan salah satu modal dasar dan sekaligus sebagai faktor dominan dalam pembangunan nasional. Dalam hal narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya.146 macam. di samping melalui wajib daftar dan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya yang telah beredar. kegiatan pendaftaran obat. yang semula direncanakan dapat dicapai dalam tahun 2000. standar mutu dan persyaratan lain yang telah ditetapkan. serta produksi makanan dalam dan luar negeri sebanyak 8. maka perlu adanya pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk. usaha percepatan program KB nasional ditempuh melalui pendekatan kemasyarakatan baik melalui jalur formal maupun informal.

telah memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Riau dan Kalimantan Barat yang mempunyai dampak politis psikologis dinyatakan sebagai propinsi khusus. Pelaksanaan program KB ini apabila dilihat dari dimensi perluasan jangkauan kuantitatifnya yaitu jumlah peserta KB baru. Propinsi Aceh. Demikian pula halnya dengan peserta KB baru yang menggunakan metode suntikan telah meningkat dari sekitar 3 Departemen Keuangan RI 288 . Jika dalam tahun-tahun sebelumnya lebih dari 50 persen peserta KB baru menggunakan kontrasepsi pil. sehingga jumlah seluruhnya dari awal Pelita III sampai dengan bulan Juli 1984 telah mencapai sebanyak 18. Bali dan Sulawesi Utara ditetapkan sebagai pengembang program kependudukan. dikategorikan sebagai propinsi penyangga. pada akhir Pelita III dan awal Pelita IV telah menurun sampai di bawah 50 persen. Atas dasar penggarapan tersebut.4 juta peserta KB baru. juga telah diusahakan percepatan peningkatan kesejahteraan peserta KB yang dilakukan melalui program lintas sektoral dan pembangunan daerah. dan dari kebupaten/kotamadya selanjutnya diteruskan pula ke tingkat kecamatan yang potensial tanpa meninggalkan kecamatan lainnya. Pelaksanaan program KB atas dasar hasil sensus penduduk Indonesia tahun 1980. dijadikan sebagai propinsi penyangga utama. Dalam tahun terakhir Pelita III telah diperoleh peserta KB baru sebanyak 5. Safari Catur Warga dan terakhir dikenal pula Safari KB Senyum (sungguh enak dan nyaman untuk masyarakat) Terpadu. Penggunaan alat kontrasepsi diarahkan pada alat kontrasepsi yang selain lebih murah juga mempunyai clara lindung yang efektif. Maluku. Kalimantan Selatan. penggarapannya dilakukan menurut pembagian wilayah yang didasarkan pada klasifikasi propinsi sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah. seperti spiral atau IUD. Sedangkan propinsi DI Yogyakarta. maka setiap propinsi meneruskan cara-cara tersebut kepada daerah-daerah tingkat kabupaten/kotamadya yang strategis potensial. antara lain Safari Spiral.2 juta. Sulawesi Tengah. Sumatera Barat. propinsi Jawa Barat. Dengan caracara penggarapan yang taktis menurut spesifikasi propinsi tersebut. Propinsi Kalimantan Timur. Irian J aya dan Timor Timur ditetapkan sebagai propinsi penerima transmigran. Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jumlah penduduknya banyak. jumlah peserta KB baru yang menggunakan kontrasepsi IUD memperlihatkan kecenderungan meningkat yaitu dari sekitar 16 persen dalam tahun 1980/1981 menjadi sekitar 27 persen pada akhir Pelita III dan awal Pelita IV. DKI Jakarta. Bengkulu. Lampung. Jambi. pada saat ini telah mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air Indonesia. Sumatera Selatan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 sejahtera (NKKBS). Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang pasangan usia suburnya besar. Untuk itu telah dilakukan berbagai kegiatan program KB. Program KB yang sebelumnya baru meliputi 16 propinsi. Di lain pihak. Sulawesi Utara. Kemudian propinsi Sumatera Utara. Sulawesi Selatan.

9 91.30 1.7 398.7 1.1 519.3 293.229.215.369. untuk menjangkau pelayanan KB yang lebih luas kepada masyarakat dikembangkan juga kegiatan pelayanan KB melalui till KB keliling. dari segi kualitas pun menunjukkan kenaikan. Perkembangan jumlah peserta dan metode kontrasepsi yang digunakan dapat diikuti pada Tabel VIII. dan merupakan mayoritas daripada masyarakat yang berasal dari kalangan berpenghasilan rendah.90 1.5 461.1 285.6 IUD 29 76. 246 buah klinik milik instansi lainnya dan 583 buah klinik milik swasta.424. selain juga dari dukungan pelayanan dan penanggulangan efek sampingan yang dilakukan di klinik dan di rumah sakit Departemen Keuangan RI 289 .50 265.246.8 607 857.2 187.3 330.6 79.10 983.6.al ini selain didukung oleh kegiatan para petugas KB dan kesadaran masyarakat. Di samping terjadi peningkatan dalam jumlah peserta KB baru.087.90 1. pelayanan KB kepada masyarakat didukung oleh meningkatnya partisiposi para dokter dan bidan praktek swasta.5 24.10 1.051.80 1.908.9 Lain -lain 9.911 buah klinik milik Departemen Kesehatan.7 380.80 2.1984/1985 ( ribu orang) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1) Pil 14.80 3.90 2.212.4 1.885. Menurut statusnya.8 281.8 892.5 1) Angka sementara sampai dengan bulan Juli 1984 Keberhasilan pelaksanaan program KB nasior.9 24. Selain melalui klinik KB.2 317.90 2.7 280.505.966.60 2.70 3.10 2.50 1.5 433.246. baik berupa klinik KB maupun tenaga medis dan administrasinya.120.2 366.9 286.6 1.50 2.316.592.4 937.220 buah klinik yang tersebar sampai ke kecamatan-kecamatan dan desa-desa. ditunjang pula oleh penyediaan sarana pelayanan yang memadai.8 596. sehingga sampai dengan bulan Juli 1984 telah mencapai 7.9 384.20 5.6 218.1 181. Tabel VIII.055.2 252 400.593.5 405.524.20 2.4 212.966.4 1.550. Di daerah perkotaan.90 1. Sejalan dengan meningkatnya kegiatan KB. 1969/1970 . jumlah klinik KB selama ini juga terus bertambah. 480 buah klinik milik ABRI. klinik tersebut terdiri dari 5.40 335 Jumlah 53. 6 JUMLAH AKSEPTOR BARU Y Al'TG DICAPAI MENURUT METODE KONTRASEPSI. yaitu sebagian besar peserta KB baru tersebut berumur di bawah 30 tahun dan berasal dari keluarga petani.70 1.60 2. Hal ini berarti bahwa penggarapan program KB telah dapat diarahkan kepada sasaran yang mempunyai potensi melahirkan yang tinggi.80 1.078.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 persen pada awal Pelita III menjadi sekitar 28 persen pada awal Pelita IV.20 382.2 496.330.481.

Sedangkan jumlah tenaga medis yang mendukung pelayanan KB sampai dengan bulan Juni 1984 telah mencapai sebanyak 16.956 2.1 persen dari seluruh posangan usia subur.198 Tenaga administtasi klinik .235 3.970 2.7. 1969/1970 .808 3.682 6. Departemen Keuangan RI 290 . Sampai dengan bulan Juli 1984.569 2.241 3.303 4. 54.2) .425 12. 776 2.715 4.9Q.532 3. 6.096 4. PERSONALIA DAN PETUGAS LAPANGAN KELUARGA BERENCANA.198 orang pembantu bidan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 yang menjadi pusat rujukan.609 2.1984/1985 ( dalam jumlah orang.465 1.8 persen dari peserta KB aktif tersebut memakai kontrasepsi pil.000 7.568 5.959 2.041 orang.758 1.041 1) Pekerjaan administrasi dirangkap pembantu bidan 2) Belum ada tenaga PLKB (Petugas Lapangan KB ) 3) Angka diperbaiki 4) Angka sementara sid bulanJuli 1984 Sejalan dengan perluasan jangkauan program KB.930 3.722 orang dan 12.919 4.504 3.964 11. Tab el VIII.584 orang bidan dan 5. yang dilakukan sampai ke desa-desa di seluruh wilayah Indonesia.129 6.041 12. 7 JUMLAH KLINIK.3 persen memakai IUD.750 2.974 6. pelayanan kegiatan KB ini dilakukan melalui pembantu pembina keluarga berencana desa (PPKBD) dan sub-PPKBD.141 5.646 1.118 5.421 3.995 3.239 6.143 1.343 3.436 4.3 persen memakai suntikan dan sisanya memakai alat kontrasepsi lainnya. Hal ini dapat diukur melalui indikator kuantitatif. 9.975 4.186 1. Sedangkan untuk daerah pedesaan.882 3.275 1.134 5.920 3) 5.707 5.774 q.1 juta peserta KB aktif atau sebesar 57. Adapun menurut metode kontrasepsi yang dipakai.578 6. Peningkatan jumlah peserta KB aktif telah diikuti pula dengan peningkatan usaha pembinaan melalui program integrasi gizi.018 3.791 4.861 2.9 6. yang terdiri dari 4. kecuali untuk klinik KB dalam satuan ) Tahun 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/19854) Jumlah klinik 727 1.927 4.639 6.232 3.220 Dokter 421 556 791 883 1.1) 322 1.319 4525 4.594 3.544 6.584 Pembantu bidan 75 580 605 1.653 orang dokter.657 3. pembinaannya pun menunjukkan kemajuan.349 3.098 3. baik terhadap peserta KB aktif maupun peserta KB yang diaktifkan kembali setelah beristirahat menggunakan kontrasepsinya.661 4.137 2.601 4.2) 1.000 9.478 4.999 7. Perkembangan KB dan tenaga pendukungnya dapat diikuti pada Tabel VIII. Adapun jumlah tenaga administrasi klinik dan petugas lapangan masing-masing adalah sebanyak 4.392 3.609 6.667 4.476 5.586 7.620 3. jumlah peserta KB yang telah dibina mencapai 14.435 orang.722 Petugas lapangao .242 4.653 Bidan 855 1. dan yang tetap setia menggunakan kontrasepsi secara berlanjut.678 1.445 6. 28.213 4.316 2.064 7.

Sedangkan untuk lebih memberikan dukungan psikologis bagi peserta KB. Sub PPKBD atau paguyuban-paguyuban akseptor. Proses pelembagaan di dalam masyarakat ditandai dengan terus meningkatnya lembaga-Iembaga masyarakat seperti PPKBD. Setiap tahap pembangunan di bidang kesejahteraan sosial diarahkan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat' Departemen Keuangan RI 291 . Apabila dilihat dari dimensi pelembagaan/pembudayaan. Melalui lembaga masyarakat ini selain dilakukan kegiatan pemberian kontrasepsi. Sampai dengan bulan Agustus 1984. 8. yang salah satu kegiatannya adalah berupa penimbangan terhadap anak berumur di bawah lima tahun (balita).731 buah pos penimbangan balita. telah dilakukan pendekatan kepada para pemuda. keberhasilan program KB ditandai dengan makin berkembangnya partisiposi.022 desa yang tersebar di seluruh wilayah tanah air dan telah memiliki 63. Kegiatan-kegiatan ini antara lain mencakup peningkatan gizi keluarga. maka peranan dan status wan ita akan lebih potensial baik sosial maupun ekonomis. Sementara itu dalam rangka program peningkatan usia perkawinan dan program pendidikan kependudukan. Kesejahteraan sosial Pembangunan di bidang kesejahteraan sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan nasional. serta pemberian bib it kelapa hybrida kepada 500 ribu peserta KB lestari. Di samping itu telah dilakukan pula program peningkatan pendapatan keluarga yang pada saat ini telah dilaksanakan di 8.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Selain itu. dan penyuluhan makanan sehat. jumlah PPKBD dan paguyuban telah mencapai 184. telah dilakukan pemberian piagam penghargaan bagi peserta KB lestari 5 tahun. saling menunjang dan saling mengisi dengan bidang-bidang pembangunan lainnya. dan pelaksanaannya dilakukan searah. pelajar dan mahasiswa. baik dari masyarakat maupun instansi Pemerintah yang semula belum turut menjadi pelaksana. Maka dari itu dikembangkan suatu usaha bersama dalam program peningkatan pendapatan yang dilakukan melalui kelompok-kelompok peserta KB. Selain itu keterlibatan perusahaan-perusahaan untuk memberikan dukungan yang positif terhadap pelaksanaan program KB bagi buruh dan karyawannya juga semakin meningkat. 10 tahun dan 16 tahun serta kepada lembaga masyarakat pengelola program KB di tingkat pedesaan. dengan mengikuti program KB. dan pengelola program KB.5. Program gizi yang dilakukan melalui jalur program KKB ini dalam tahun 1984 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah mencakup 27.138 kelompok akseptor KB.191 buah. telah pula dilaksanakan kegiatan-kegiatan lain yang berada dalam naungan program-program kependudukan yang sifatnya mendukung program kependudukan dan keluarga berencana (KKB).

swakarsa dan swasembada dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya semaksimal mungkin. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai penanaman rasa tanggung jawab sosial yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan rasa kebersamaan masyarakat dalam kesetiakawanan sosial. pembinaan jasmani dan rohani serta kegiatan yang bersifat rekreatif. Selain itu para remaja juga dibimbing dalam berbagai kegiatan yang meliputi keterampilan ekonomis produktif.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 secara adil dan merata.800 remaja. agar dapat mencegah dan membatasi timbulnya masalah kenakalan atau kelainan tingkah laku remaja. juga lebih diutamakan pada kegiatan yang berfungsi pencegahan dan pengembangan. pembangunan di bidang kesejahteraan sosial di samping diarahkan pada kelanjutan perbaikan dan perluasan segala kegiatan yang berfungsi pelayanan.5. Untuk menunjang kegiatan-kegiatan terse but. pemberian bantuan stimulan berupa modal dan bahan usaha produktif. Kegiatan ini meliputi bimbingan dan penyuluhan sosial. Program lainnya adalah pembinaan kesejahteraan sosial. Pembinaan kesejahteraan sosial Pelaksanaan pembangunan bidang kesejahteraan sosial dilakukan melalui berbagai program pembinaan. Sejak tahun pertama Repelita IV. Sejak awal Departemen Keuangan RI 292 . 8. yang tujuannya untuk memberikan bimbingan agar dapat menyadari peranan dan tanggung jawabnya dalam menyongsong hari depan.1. telah dilakukan pembinaan dalam bidang kepemimpinan sosial. Dengan bantuan ini diharapkan dapat tumbuh dan berkembang kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial. yang bertempat tinggal di daerah minus. latihan usaha swadaya sosial masyarakat. terutama bagi para penyandang permasalahan sosial. partisipasi sosial masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan sosial semakin dikembangkan. penyuluhan dan bimbingan sosial. Sehubungan dengan itu. sampai dengan bulan Oktober 1984 telah berhasil dibina sebanyak 13. serta yang tinggal di daerah perkotaan yang padat dan miskin. Melalui wadah Karang Taruna dimaksudkan pula untuk terwujudnya penghayatan dan pengamalan Pancasiladi kalangan remaja. Dalam hubungan ini. Melalui wadah ini telah dilakukan pembinaan terhadap remaja.450 karang taruna dan 14. serta pengadaan pusat-pusat latihan kerja sebagai tempat kegiatan kerja produktif. salah satu daripadanya adalah pembinaan generasi muda yang kegiatannya meliputi pembinaan Karang Taruna. yang pada gilirannya akan mampu mengatasi atau menanggulangi berbagai permasalahan sosial di kalangan pemuda dan masyarakat. yang bertujuan memberikan bimbingan kepada para keluarga yang kondisi sosial dan ekonominya berada di batas rawan. sehingga pada gilirannya mereka akan mampu berusaha secara swaclara.

567 wanita dalam bina swadaya. me1alui stimulan perbaikan lingkungan sebanyak 716 unit yang me1ibatkan 7. serta melalui stimulan peralatan bangunan lokal sebanyak 697 unit yang me1ibatkan 6.160 wanita dalam kepemimpinan. penggalakan penghijauan.384 perumahan warga binaan yang meliputi 17 desa. Selain itu juga berupa penanaman pengetahuan dan keterampilan dalam memelihara. Usaha peningkatan peranan dan fungsi wanita ditujukan untuk mengembangkan kesejahteraan sosial wanita.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pelita III sampai dengan akhir 1983/1984. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984.970 KK. khususnya yang bertempat tinggal di daerah pedesaan.399 KK. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pembinaan kesejahteraan masyarakat berasing ditujukan pada peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat yang hidup terpencil. pe1estarian sumber-sumber alam lainnya. Di samping itu dalam waktu yang sama te1ah diberikan pula 7.908 unit stimulan dana kesejahteraan sosial yang te1ah melibatkan 79. Se1ain bimbingan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat. melalui stimulan bahan bukan lokal sebanyak 18 unit telah berhasil dibina 6. Usaha-usaha tersebut terutarna diarahkan pada wanita yang kondisi kehidupannya tergolong miskin. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. agar dapat berperan serta dalam proses pembangunan tanpa mengurangi peranannya dalam pembinaan keluarga sejahtera. Kegiatan tersebut berupa pembinaan dan bimbingan agar mereka memiliki kern au an dan kemarnpuan untuk mengembangkan kondisi sosial dan budayanya ke Departemen Keuangan RI 293 . dan 5. serta pemberian stimulan bahan bangunan bukan lokal dan peralatan kerja. khususnya dalam pemantapan kemampuan dan keterarnpilan. melalui stimulan sarana produksi telah berhasil dibina dan ditingkatkan taraf hidup para keluarga yang berpenghasilan rendah sebanyak 242.160 KK.709 keluarga bina swadaya. telah berhasil dibina sebanyak 1. telah berhasil dilakukan pembinaan me1alui potensi kesejahteraan sosial terhadap sebanyak 28. pengembangan peranserta fungsi lingkungan bagi kesejahteraan sosial masyarakat. pengaturan saluran air. Sedangkan dalam rangka pembinaan swadaya masyarakat di bidang perumahan dan lingkungan.080 kepala keluarga (KK).114 orang. dalam waktu yang sarna juga te1ah diadakan pembinaan swadaya masyarakat di bidang perumahan dan lingkungan. Kegiatan ini antara lain meliputi penye1enggaraan latihan bagi ke1uarga miskin di bidang pembangunan perumahan secara gotong royong dengan semaksimal mungkin menggunakan potensi manusia dan alam yang ada. Sarnpai dengan tahun 1983/1984 telah berhasil dibina 35. terbelakang dan berpindah-pindah. telah dapat dibina me1alui stimulan bahan bukan lokal sebanyak 24.935 Dalam bina swadaya. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984.

Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan dan bimbingan sosial. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. Dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. telah berhasil dibina 70. sosial dan berbagai keterampilan dalam bidang-bidang usaha kesejahteraan sosial. sehingga Departemen Keuangan RI 294 . melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 14. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. melalui latihan dan praktek lapangan di bidang kesejahteraan sosial te1ah dibina pekerja sosial masyarakat (PSM). Sejalan dengan itu.490 orang. Kemudian untuk tercapainya hasil-hasil pembangunan kesejahteraan sosial secara luas dan merata. Sedangkan untuk menunjang kelancaran kegiatan di bidang kesejahteraan sosial.449 KK. Untuk itu kepada para pengurus dan anggota organ isasi sosial diberikan latihan keterampilan dalam bidang manajemen dan prinsip-prinsip tehnik pendekatan sosial menurut bidang sasaran organisasi sosial. Tenaga yang dipilih dari anggota masyarakat setempat.088 orang PSM yang tersebar di seluruh propinsi. telah dapat dibina sebanyak 164 organisasi sosial. telah diadakan penyuluhan sosial terhadap 5. kepada setiap keluarga diberikan bantuan rumah sederhana. telah dibentuk tenaga kesejahteraan sosial sukarela (TKSS). yang sekaligus sebagai pendorong kegiatan yang semakin meluas secara swadaya di kalangan masyarakat. ditugaskan sebagai penggerak dan pelaksana dari peningkatan kesejahteraan sosial di lingkungan tempat tinggalnya. Selain itu diberikan pula bimbingan mental. dalam waktu yang sarna telah dibina pula sebanyak 8. serta latihan keterampilan dalam penanganan dan penanggulangan permasalahan sosial dalam masyarakat. Sementara itu telah dilakukan pula pembinaan terhadap keluarga dan remaja yang mengalami permasalahan sosial psikologis. yang terdiri atas para tokoh masyarakat dari berbagai profesi. Sarana lain untuk membina masyarakat berasing adalah melalui pemukiman di suatu lokasi yang terletak pada jalur komunikasi dan ekonomi.115 orang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 arah kehidupan sosial yang selaras dengan masyarakat Indonesia pada umumnya.347 orang. balai sosial dan sekolah sederhana. menyebarluaskan dan melembagakan partisiposi sosial masyarakat dalam pembangunan di bidang kesejahteraan sosial. Sampai dengan akhir bulan Oktober 1984 melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 13. Melalui kegiatan ini sarnpai dengan bulan Oktober 1984. yang dilengkapi dengan sarana umum seperti tempat ibadah. yang sampai dengan akhir tahun 1983/1984 telah mencapai 5. baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.350 orang kader keserasian sosial. telah dilakukan peningkatan mutu dan kemarnpuan operasional organisasi sosial. Sedangkan dalam rangka memantapkan keserasian dan kesetiakawanan masyarakat dalam mengatasi berbagai masalah. Dalarn rangka mcngembangkan. dan tanah seluas 2 hektar sehingga diharapkan taraf hidup mereka akan dapat lebih ditingkatkan.

220 anak.545 KK serta melalui pondok sosial sebanyak 600 KK.900 orang. sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing. anak-anak putus sekolah dan anak-anak dari keluarga miskin yang terhambat perkembangan sosialnya. pemukiman lokal. Dalam tahun. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan so sial terhadap 2.873 anak. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan kepada 561 orang dan 41 KK fakir miskin. pola swakarya dan pola pondok so sial. Sampai dengan akhir 1983/1984.597 orang cacat. Departemen Keuangan RI 295 . kepada mereka telah diberikan bimbingan sosial. melalui sistem rami telah dapat dibina sebanyak 15. sedangkan melalui sistem luar panti sebanyak 221.822 remaja putus sekolah. Untuk memulihkan kembali rasa harga diri. melalui kegiatan ini telah dapat dibina sebanyak 13. 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. para gelandangan dan pengemis itu disalurkan melalui kegiatan transmigrasi sosial. baik melalui sistem panti maupun sistem luar panti. telah diberikan bantuan dan penyantunan.835 KK. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984. yang meliputi anak-anak yatim piatu terlantar. telah diberikan bantuan penyantunan dan pengentasan sosial terhadap 4. sedangkan melalui Loka Bina Karya (LBK) telah dibina sebanyak 300 orang. yaitu melalui swakarya sebanyak 4.833 KK dan 14. melalui transmigrasi sosial sebanyak 5. tidak menggantungkan pada bantuan orang lain dan dapat ikut serta dalam proses pembangunan. Setelah mendapatkan bimbingan dan keterampilan tersebut. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984.765 KK.2.010 orang dan 105. melalui sistem panti dan luar panti telah berhasil dibina masing-masing sebanyak 29. Bantuan dan penyantunan sosial Dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesejahteraan sosial bagi para penyandang masalah kesejahteraan sosial. Terhadap anak terlantar. telah dilakukan pula pemberian bantuan dan penyantunan kepada para penyandang cacat. telah dilakukan berbagai kegiatan yang bertujuan agar mereka mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri. baik melalui sistem paoli maupun sistem luar panti. serta membangkitkan minat dan kecintaan bekerja bagi para gelandangan dan pengemis.222 anak. Sampai dengan Pelita III.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 melalui kegiatan ini sampai dengan akhir tahun 1983/1984 telah dibina sebanyak 8. melalui pemukiman lokal sebanyak 2. Selain kepada anak terlantar. Selain itu kepada mereka diberikan pula keterampilan yang bersifat ekonomis produktif.745 KK.5. 8. mental dan agama. Selama Pelita III.

600 orang dan melalui sistem luar panti sebanyak 3. telah dilaksanakan pembangunan panti baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten.765 orang lanjut usia.757 bekas narapidana.411 anak korban narkotika dan anak nakal. Melalui panti-panti tersebut. melalui kegiatan ini telah berhasil dibina sebanyak 1. serta kegiatan yang produktif bagi yang masih potensial. baik melalui sistem panti maupun sistem luar paoli.010 orang. telah dilakukan pula rehabilitasi bagi para bekas tahanan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Selanjutnya untuk menanggulangi kehidupan yang sesat dari kelompok wanita tunasusila (WTS). Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. sampai dengan Oktober tahun 1984 telah berhasil dibina sebanyak 4. Surabaya dan Medan. telah berhasil dibina sebanyak 6. yang terdiri dari 11 wisma tingkat propinsi. Dalam hal pemberian bantuan dan penyantunan bagi para lanjut usia/jompo yang terlantar atau kurang terurus.720 orang. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Oktober 1984. telah diberikan penyantunan dan pembinaan terhadap 4. Sampai dengan akhir Pelita III. Selain usaha rehabilitasi para WTS. telah diberikan penyantunan dan pengentasan kepada 1. kemasyarakatan dan rekreasi. Di samping itu untuk maksud yang sama telah Departemen Keuangan RI 296 .177 orang tuna sosial. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. Untuk itu telah dibangun panti rehabilitasi sosial korban narkotika di Jakarla. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Oktober 1984.610 orang. Palembang dan Semarang. dan 32 wisma tingkat kabupaten. telah dibangun 43 buah wisma. Dalam hal ini kegiatan yang dilakukan melalui LBK bertujuan agar setelah mereka dianggap mampu untuk terjun ke dalam masyarakat. Selanjutnya telah dilakukan pula usaha rehabilitasi bagi para remaja yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika. terhadap arti dan nilai-nilai kepahlawanan. Dalam kegiatan ini kepada WTS tersebut diberikan pendidikan budi pekerti dan berbagai keterampilan agar dalam kehidupan bermasyarakat kelak mereka dapat berdiri sendiri dengan menjunjung harga dirinya. sedangkan untuk rehabilitasi anak nakal telah dibangun panti rehabilitasi di Jakarta. telah dilakukan penyebarluasan gambar-garnbar dan buku-buku sejarah serta penulisan autobiografi para pahlawan dan perintis kemerdekaan. telah dilakukan usaha rehabilitasi. dengan perincian melalui sistem panti sebanyak 3.350 orang dan 2. Untuk menimbulkan kesadaran masyarakat. masing-masing sebanyak 242. khususnya generasi muda. yang pelaksanaannya dilakukan melalui sistem panti dan luar panti. guna melayani sebanyak 430 orang lanjut usia. selanjutnya dapat disalurkan ke pasaran kerja sesuai dengan bakat dan jenis keterampilannya. keperintisan para pahlawan dan perintis kemerdekaan. Melalui panti tersebut diberikan pembinaan dan pengembangan yang bersifat spiritual. Selain itu telah dilakukan pula pembinaan terhadap para lanjut usia/jompo melalui sistem luar panti dan Sasana Tresna Wredha.

Selain itu juga telah diberikan bantuan dan penyantunan perintis/pejuang kemerdekaan. masing-masing adalah sebanyak 2. para korban telah dipindahkan pula ke temp at lain. Dengan demikian dapat diciptakan ketertiban dan kepostian hukum yang pada gilirannya dapat memperlancar Departemen Keuangan RI 297 . Pembinaan dan pembaharuan hukum Pembinaan hukum merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembangunan yang tengah berlangsung.075 KK. Sampai kini jumlah perintis/pejuang kemerdekaan yang masih hidup dan yang jandanya telah mendapat pengakuan. 8. Sejak awal Pelita III sampai dengan bulan Oktober 1984. antara lain berupa bantuan usaha produktif kepada 1. obat-obatan dan pakaian. Usaha yang berkaitan dengan pemberian bantuan dan penyantunan kepada para korban bencana alam pada dasarnya bersifat darurat. dan bantuan pemugaran makam sebanyak 280 buah.606 KK.macam latihan keterampilan yang ekonomis produktif. Bersamaan dengan itu diusahakan pula peningkatan tarat hidup melalui bimbingan.6. Kegiatan ini antara lain dilakukan melalui pengadaan panti persinggahan pada daerah-daerah rawan bencana. motivasi dan berbagai . dan merupakan rehabilitasi agar kondisi sosial ekonomi para korban dapat menjadi lebih baik. Sedangkan selama Pelita III telah dilakukan pemberian bantuan bahan bangunan rumah kepada 2.388 KK. Maluku dan Bali.840 KK dan yang ditempatkan pada pemukiman lokal di luar pulau Jawa dan Bali adalah sebanyak 3.6. Selain itu melalui pemukiman lokal dan transmigrasi sosial. seperti propinsi Aceh.525 orang dan 4. latihan pembimbing dan petugas lapangan sebanyak 540 orang. di samping juga dilaksanakan melalui pemberian bantuan berupa beras.165 orang. telah dilakukan rehabilitasi sosial korban bencana alam sebanyak 35. Sehubungan dengan itu. bantuan perbaikan rumah kepada 165 orang. Selama Pelita III telah dibangun dan dipugar sebanyak 157 buah TMP dan 9 buah makam pahlawan nasional serta penulisan buku perjuangan sebanyak 10. Adapun jumlah para korban bencana alam yang ditransmigrasikan ke luar pulau Jawa dan Bali mencapai 3.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dilakukan pemeliharaan dan pemugaran makarn perintis kemerdekaan.000 eksemplar. kebijaksanaan pokok dalam pembangunan dan pembinaan hukum diarahkan agar hukum mampu memenuhi kebutuhan sesuai dengan tingkat dan perkembangan pembangunan di berbagai bidang. Sulawesi Utara. serta penyediaan panti persinggahan sebanyak 28 buah. serta pembangunan monumen kepahlawanan. Riau. makam pahlawan dan taman makam pahlawan (TMP).292 orang. Hukum dan perundang-undangan 8.1.

serta Keppres ten tang Dewan Standardisasi Nasional. Selain itu juga telah dihasilkan Peraturan Pemerintah ten tang Dewan Pers. Sementara itu dalam waktu yang sarna juga telah disahkan sebanyak 44 buah peraturan Pemerintah. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. Dalam rangka menunjang perancangan perundang-undangan. Daftar Skala Prioritas Bidang Usaha Penanaman Modal Tahun 1983/ 1984. Sedangkan yang berupa Instruksi Presiden. Penyampaian Surat Pemberitahuan. Penangguhan Pajak Penghasilan Atas Bunga Pinjaman Yang Diterima Pemerintah Dalam Rangka Pinjaman Luar Negeri. Kerjasama ini Departemen Keuangan RI 298 . serta Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Masyarakat. dan Persyaratan Pengajuan Keberatan. serta Peraturan Pemerintah tentang Pajak Atas Bunga Deposito Berjangka dan Tabungantabungan lainnya. Untuk itu telah dilaksanakan pembaharuan dan pembentukan perangkat hukum nasional. Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai 1984. antara lain Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984. Dalam tahun 1983/1984 telah dihasilkan 7 buah undang-undang. serta Inpres tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan. Asuransi Sosial Tenaga Kerja. Pelaksanaan KUHP. serta Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 1984/1985. Pemberian Nomor Wajib Pajak. serta RUU tentang Pelimpahan Teknologi. telah dilakukan kerjasama antara berbagai instansi yang ada hubungannya dengan bidang hukum. Sementara itu telah pula dihasilkan sejumlah Keputusan Presiden antara lain Keppres tentang Rencana pembangilnan Lima Tahun Keempat (Repelita IV) tahun 1984/1985-1988/1989. Koordinasi Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. antara lain Inpres tentang Pelaksanaan Penjadwalan Kembali Proyek-proyek di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi. Undang-Undang ten tang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Jam Krida Olah Raga. Perbendaharaan Negara. Koordinasi Usaha Kesejahteraan Sosial Bagi Penderita Cacat. Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Hukum Perdata Internasional. Pendaftaran.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pembangunan. Undang-Undang tentang Perhitungan Anggaran Negara Tahun 1979/1980. Penjadwalan Kembali Proyek-proyek Pembangunan yang Pembiayaannya Menggunakan Devisa Negara atau Kredit Komersial Luar Negeri. Selanjutnya dalam tahun 1983/1984 telah dibahas pula sejumlah rancangan undang-undang. Badan Administrasi Kepegawaian Negara. Grasi. Un dang-Un dang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. yang terdiri dari Undang-Undang tentang Tambahan dan Perubahan Atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1982/1983. antara lain meliputi Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Hukum Pidana. Pemberian Tunjangan Perbaikan Penghasilan Pensiun Bagi Penerima Pensiun/Tunjangan Yang Bersifat Pensiun.

aspek hukum perlindungan berkenaan dengan perluasan lokasi industri. Kotacane. serta penyempurnaan koordinasi dan kerjasama fungsional. antara lain berupa penelitian hukum. Selain itu guna meningkatkan pemerataan kesempatan dalam memperoleh keadilan. cepat. Putusibau. Gorontalo dan Watampone. aspek hukum dalam praktek pertanggungan perbankan umuk usaha pemborongan bangunan. Sungai Liat. penanggulangan kejahatan dan pembinaan narapidana.6. (KUHAP). khususnya dalam' pembinaan peradilan. Di samping itu dalam waktu yang sarna juga telah dihasilkan penulisan karya ilmiah dengan judul Perlindungan hak-hak azasi manusia dalam KUHAP serta Politik hukum baru mengenai kedudukan dan Peranan hukum adat dan hukum Islam dalam pembinaan hukum. di daerah-daerah yang wilayah pengadilan negerinya sangat luas dan sulit komunikasinya.2. dalam tahun 1983/1984 telah dibentuk 7 pengadilan negeri yang terletak di Garut. Sedangkan pertemuan ilmiah yang diselenggarakan antara lain meliputi evaluasi terhadap pembangunan hukum Pelita III menjelang Pelita IV. di Departemen Keuangan RI 299 . seminar dan simposium serta penulisan karya ilmiah dalam berbagai bidang hukum. perlindungan hukum terhadap konsumen jasa angkutan. dan 26 pengadilan tinggi yang terdapat pacta setiap propinsi kecuali Propinsi Timor Timur. pertemuan ilmiah dalam bentuk lokakarya. Selanjutnya untuk menunjang peningkatan dan penyempurnaan penegakan hukum. Penegakan hukum Kegiatan yang dilakukan dalam penegakan hukum pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan ketertiban dan kepostian hukum dalam masyarakat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berbentuk kegiatan ilmiah. harmonisasi hukum di negaranegara ASEAN. Untuk itu telah dilakukan pemantapan kedudukan dan wewenang badan-badan penegakan hukum. Pacitan. serta hukum kedokreran. masalah yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan RUU Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. serta kejahatan akibat teknologi modem. Sehubungan dengan itu. pemantapan sikap. telah diadakan tempattempat sidang pengadilan sehingga pelaksanaan tugas hakim keliling dapat berjalan lancar. terus diusahakan agar proses peradilan lebih sederhana. Dalam hubungan ini. perilaku dan kemampuan para penegak hukum. Dengan demikian sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 telah dibangun 291 pengadilan negeri yang tersebar di hampir setiap kabupaten/kotamadya. baik antarsesama aparatur penegak hukum maupun dengan instansi-instansi lain. dalam tahun 1983/1984 telah dilaksanakan berbagai penelitian antara lain atas pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. 8. peningkatan operasi yustisi untuk pengamanan hasil-hasil dan pelaksanaan pembangunan yang sedang berjalan. jujur dan dengan biaya yang terjangkau oleh pencari keadilan dalam berbagai lapisan masyarakat.

baik secara regional maupun nasional. dari 766. yang dilaksanakan dengan pemutasian hakim. dalam tahun 1983/1984 telah dibangun 7 gedung pengadilan negeri.496 perkara. Kegiatan tersebut dalam tahun 1983/1984 telah dilakukan di 2. Di samping itu. Sementara itu dalam waktu yang sarna juga telah diadakan pembinaan personal peradilan. Dalam rangka peningkatan pemerataan kesempatan untuk memperoleh keadilan bagi masyarakat. 45 tempat sidang dan 11 gedung kejaksaan negeri/tinggi. telah disediakan pula sebanyak 111 kendaraan yang terdiri atas berbagai jenis. Kegiatan tersebut sampai dengan tahun 1983/1984 telah meliputi sebanyak 45. telah dilaksanakan pula berbagai kegiatan penyuluhan hukum. Dalam rangka menunjang pembinaan peradilan. untuk menunjang pembinaan dan pelaksanaan tugas-tugas penegak hukum. Sehubungan dengan itu. dalam tahun 1983/1984 telah diberikan bantuan hukum terhadap 4. terutama bagi golongan yang kurang atau tidak mampu. 12 gedung baru pengadilan tinggi dan 373 buah tempat sidang. serta 79 gedung kejaksaan negeri/tinggi. serta rehabilitasi/penyempurnaan/perluasan 160 gedung pengadilan negeri daD gedung pengadilan tinggi serta 244 gedung kejaksaan tinggi/negeri. Sementara itu guna meningkatkan pelaksanaan penegakan hukum.238 orang. sejak tahun 1981/1982 telah dilakukan pula konsultasilbantuan hukum melalui 24 fakultas hukum negeri yang tersebar di seluruh Indonesia. wawancara di TVRI/RRI.858 kasus pidana. telah dilakukan peningkatan dalam penyediaan prasarana dan sarana hukum.450 perkara bantuan hukum. Di samping itu. terus dilakukan pemberian bantuan hukum. berupa penerangan tentang fungsi dan tugas pengadilan. sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 telah menjangkau 9. Guna meningkatkan kesadaran hukum dalam masyarakat.440 kasus konsultasi hukum dan 2. baik yang bersifat pidana maupun perdata. radio swasta serta tempat. telah ditingkatkan juga penyelesaian perkara.915 desa. yang tersebar di 26 pengadilan tinggi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 samping telah dipercepatnya proses penyelesaian perkara di temp at kasus/sengketa. Dalam tahun 1983/1984. Sehubungan dengan itu. penyuluhan pacta masyarakat dalam bentuk ceramah. Di samping itu juga telah dilakukan rehabilitasi dan perluasan/penyempurnaan 19 gedung pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Sampai dengan bulan Agustus tahun 1984/1985 jumlah hakim telah mencapai 2. sehingga sampai dengan akhir Pelita III telah diberikan bantuan hukum bagi pencari keadilan yang kurang mampu sebanyak 17. Dengan demikian.tempat umum dan publikasi media cetak lainnya. sampai dengan tahun terakhir Pelita III telah dilakukan pembangunan 127 gedung baru pengadilan negeri. antara lain melalui brosur-brosur yang disebarluaskan ke daerah-daerah.880 perkara yang ada di Departemen Keuangan RI 300 .527 desa. Sedangkan penyuluhan hukum yang dilaksanakan melalui program jaksa masuk desa.

Berkaitan dengan pembinaan pemasyarakatan. dan dari 703. keamanan dan ketertiban. produktif. taat serta menghormati hukum dan norma-norma pergaulan hidup yang berlakudalam masyarakat. keterampilan perawatan dan pelayanan masyarakat. Untuk menunjang sistem tersebut maka ditingkatkan pula pembangunan sarana penunjangnya. latihan dan penataran. baik baru maupun lanjutan. Adapun pembinaan narapidana dan anak didik dilakukan melalui pembinaan spiritual. Kegiatan ini dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus telah diikuti oleh 3. serta guna pemantapan sikap dan kepekaannya terhadap perkembangan kesadaran hukum dan rasa keadilan masyarakat. telah diadakan pendidikan di sekolah. dan agar dapat menjadi warga negara yang kreatif. telah dilaksanakan pembangunan. pendidikan keammaan. telah dapat diselesaikan 5. Selain itu dari 14.746 perkara yang ada di mahkamah agung. mampu melanjutkan kehidupannya dengan wajar dan layak dalam masyarakat. serta renovasi LP menjadi rumah tahanan (Rutan) masing-masing 73 dan 79 gedung. telah dilaksanakan pembangunan prasarana fisik berupa pembangunan baru/lanjutan masing-masing 22 dan 51 gedung lembaga pemasyarakatan (LP).705 perkara atau sekitar 97 persen. pendidikan umum.729 perkara at au sekitar 52 persen. penataran panitera/panitera pengganti sebanyak 150 orang. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Agustus 1984. keuangan dan perlengkapan sebanyak 570 orang. telah diselenggarakan berbagai kegiatan pendidikan. telah dapat diselesaikan sebanyak 7.336 perkara atau sekitar 99 persen. serta pendidikan perancang perundang-undangan sebanyak 70 orang. sistem pemasyarakatan yang ada diarahkan agar narapidana dan anak didik setelah selesai menjalani hukumannya.297 perkara yang ada pada pengadilan tinggi. serta program rekreasi/olahraga. Sedangkan dari 7. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilanaparat penegak hukum. serta perluasan/rehabilitasi gedung LP masingmasing sebanyak 162 gedung dan 224 gedung. perluasan/rehabilitasi masingmasing 24 dan 25 gedung LP.184 perkara atau sekitar 71 persen. pendidikan calon hakim sebanyak 210 orang.042 perkara yang ada di kejaksaan telah dapat diselesaikan 698. Di samping itu dalam waktu yang sarna juga telah dilakukan pembangunan balai bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak (Bispa) masingmasing 5 dan 9 gedung. Selain itu dalam periode yang sarna juga telah Departemen Keuangan RI 301 . serta keterampilan bertani. Sementara itu guna meningkatkan bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak. pendidikan tenaga peneliti hukum sebanyak 30 orang.816 orang. beternak dan berwiraswasta. bimbingan sosial. yang meliputi penataran administrasi kepegawaian. telah dapat diselesaikan 747.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 pengadilan negeri. Dalam tahun 1983/1984 dan tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984. pembinaan pramuka.

Tanjung Petak. Tanjung Priok. Dalam rangka menanggulangi subversi. pengawasan orang asing dan lalu lintas ke dan dati luar negeri terus ditingkatkan. sehingga dapat menjadi kerangka landasan yang dapat diandalkan dan tahan uji. Senggih. Surakarta. terdiri 286. Keimigrasian Sejalan dengan perkembangan ekonomi dan hubungan antar negara.047 orang asing. pengembangan pariwisata.379 orang. Liku. Jambi dan Banjarmasin. Pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan telah berkembang terus. tanpa mengabaikan segi pengawasannya agar tidak mengganggu stabilitas nasional. Sentani dan Kabil. Dalam waktu yang sarna telah dibangun pula 11 pos imigrasi yang terletak di Sinabi. Demikian juga telah dilakukan rehabilitasi dan perluasan kantor imigrasi dan asrama tahanan imigrasi. Padang.034. Pertahanan dan keamanan Pembangunan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sampai dengan Pelita III telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kokoh dalam menuju angkatan bersenjata yang modern. Banda Aceh.349 orang asing. Ubruk. Aruk. Bupul. baik masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Jagoi Babang. serta pelaksanaan ibadah keagamaan (haji dan umroh). di mana tiap-tiap warga negara berhak dan wajib Departemen Keuangan RI 302 . Dalam tahun 1983/1984 telah dilaksanakan pembangunan 8 gedung kantor imigrasi yang terletak di pelabuhan-pelabuhan Cengkareng. 8.713 orang. Sedangkan yang berangkat ke luar negeri berjumlah sebanyak 1. sehingga pembangunan ABRI akan selalu selaras dengan tingkat kemajuan pembangunan nasional. Sebatik. Di samping itu ABRI juga telah mampu mengamankan pembangunan nasional dan kedaulatan Negara RI.7.3. Dalam tahun 1983/1984.011. masing-masing sebanyak 12 gedung dan 1 gedung. maka baik frekuensi maupun volume lalu lintas orang dari dan ke luar negeri dari tahun ke tahun terus mengalarni peningkatan. Untuk mewujudkan usaha tersebut diperlukan prasarana dan sarana yang dati tahun ke tahun terus meningkat. ketenagakerjaan. orang yang masuk ke Indonesia adalah sebanyak 1. Kerangka landasan tersebut mempunyai pengertian yang seluas-luasnya.666 orang Indonesia dan 711. terdiri dari 323.030 orang Indonesia dan 725.6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dibangun 38 gedung Bispa dan renovasi LP menjadi Rutan sebanyak 152 gedung. Siding. Berkaitan dengan itu penanganan bidang keimigrasian diarahkan untuk menunjang perkembangan yang terjadi di bidang-bidang tersebut. 8.

agar ABRI dapat terus memikul tugas sejarahnya sebagai stabilisator dan dinamisator. sekaligus sebagai pengayom dan pencipta rasa tenteram dan aman bagi lingkungan masyarakat. yakni mencakup usaha untuk mendapatkan prajurit ABRI yang Departemen Keuangan RI 303 . Implementasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 dalam bidang organisasi telah dilaksanakan melalui Keputusan Presiden Nomor 46 Tahun 1983 tentang Pokok-Pokok dan Susunan Organisasi Departemen Pertahanan dan Keputusan Presiden Nomor 60 Tahun 1983 tentang Pokok-Pokok Susunan Organisasi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Selama dua Pelita yang lalu. Politik pertahanan dan keamanan dimaksudkan untuk menjamin keamanan negara serta turut memelihara perdamaian dunia pada umumnya dan keamanan di kawasan Asia Tenggara khususnya. pembangunan ABRI masih dipusatkan pada pembangunan personalnya. yang memerlukan koordinasi yang terus menerus antara semua pihak yang berkepentingan. Selama Pelita III telah berhasil dicapai tonggak baru dalam sejarah perkembangan ABRI.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 ikut serta dalam usaha pembelaan negara. Adapun pembangunan kekuatan pertahanan dan keamanan yang telah dilaksanakan adalah berupa peningkatan mutu personal. yang memberikan landasan hukum yang bersumber pada Undang-Undang Dasar 1945. Konsep pertahanan yang dikembangkan menyangkut pertahanan dan konsentrasi selektif sesuai dengan perkiraan keadaan. maka telah ditingkatkan mutu aparat kepolisian agar mampu hadir secara fisik. peralatan. termasuk di dalamnya sebagai kekuatan yang menjaga dan sekaligus menyegarkan demokrasi Pancasila. sedangkan strategi pertahanan dan keamanan ditujukan untuk mencegah dan menangkal gangguan keamanan dalam negeri. yaitu dengan telah disahkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia. Dalam hubungan ini masalah utama yang telah mendapat perhatian semua pihak adalah pendayagunaan sumber daya nasional bagi upaya pertahanan keamanan negara. Sesuai dengan doktrin dasar nasional Wawasan Nusantara. dengan inti kekuatan darat yang didukung kekuatan laut dan kekuatan udara. kekuatan yang dibangun tetap dikonsentrasikan pada kekuatan kewilayahan yang lebih mempertegas dan memantapkan prinsip kesatuan wilayah Nusantara. Dengan adanya undangundang tersebut. serta penyempumaan sistem dan manajemen. yang disertai dengan penyebaran kekuatan penangkal dan penempatan perbekalan dalam upaya menyesuaikan luas wilayah ke dalam strategi pagelaran kekuatan. Dwi fungsi ABRI harus dilaksanakan sebaik-baiknya. komando dan pengendalian. Di samping itu dalam rangka ketertiban masyarakat dan penegakan hukum. ABRI menjadi seinakin mantap dalam mengemban tugas pokoknya. yaitu menjamin tetap tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

16 Kodam. 41 Korem. 14 Heli. maka telah digalakkan industri nasional dalam pembuatan komponen atau suku cadang peralatan utama ABRI. 2 Grup Parako. Perindustrian TNI-AD (Pindad) menjadi PT Pindad.944 orang TNI-AL. telah dilakukan peningkatan kekuatan operasi untuk masing-masing angkatan dan Polri. namun mampu melaksanakan tugas-tugas yang menjadi kewajibannya. 58 kapal. yang terdiri dari 216. Unit Survai dan Pemetaan TNI-AU menjadi Perum Penas. yang antara lain meliputi penyempurnaan sistem penerimaan anggota baru ABRI. sehingga tingkat teknologi maju yang terus berkembang hams dapat dikuasai.098 orang TNI-AU. dan 1 Yon Posgat untuk TNI-AU. Usaha-usaha tersebut meliputi pengembangan Unit Industri Bahan Peledak TNI-AU menjadi Perum Dahana. dan 133. Untuk menunjang usaha tersebut telah dilakukan kegiatan-kegiatan pokok. 2 Grup Sandha.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 mewarisi jiwa dan semangat pejuang. 53 Yonban.003 orang TNI-AD . Pembangunan kekuatan ABRI tersebut dilaksanakan untuk mewujudkan ABRI sebagai kekuatan yang kecil tetapi efektif. agar mampu menjangkau seluruh pelosok tanah air. serta 102 Pesud. Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio TNI-AU menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. 6 Yonif Mar dan 10 Yonban Mar untuk TNI-AL. Selanjutnya dilakukan juga penyempurnaan sistem pendidikan dan latihan ABRI. Adapun kekuatan personal militer yang telah dimiliki sampai dengan triwulan IV tahun 1983/1984 adalah sebanyak 411. Sedangkan untuk Polri adalah mencakup 17 Kodak. 281 Kores. Untuk menunjang usaha tersebut. Adapun kekuatan operasi tersebut meliputi 2 Brigif Linud. dan yang memiliki kemampuan profesional yang cukup tinggi dalam bidangnya. Penataran TNI-AL Surabaya menjadi PT Pabrik Kapal Indonesia. sehingga pada akhirnya mampu berswasembada secara keseluruhan. Hal tersebut dimaksudkan agar mampu mengemban tugas pokok ABRI dalam lingkungan yang terus bergerak dinamis guna mengikuti gerak pertumbuhan pembangunan nasional. yang sangat penting bagi pengembangan Departemen Keuangan RI 304 .Angkatan 1945. Hal ini memerlukan daya pukul dan kecepatan bergerak yang tinggi. Untuk mengurangi ketergantungan peralatan ABRI pada luar negeri.833 orang. mulai dari pendidikan tamtama hingga pendidikan tinggi perwira. serta penyempurnaan fasilitas perawatan personal melalui pembangunan sistem pangkalan. 3.838 orang Polri. 292 Kodim dan 3215 Koramil untuk TN I-AD . serta Pabrik Roket Menang TNI-AU menjadi bagian dari divisi senjata PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. Di samping itu koordinasi antardepartemen. 33 Kowil. 36. Sampai dengan akhir tahun 1983/1984. 82 Yonif. 25.233 Kosek dan 56 Sat Brimob. 47 Heli. yaitu kecil dalam jumlah dan sederhana dalam organisasi. 25 pesawat udara (Pesud). maka secara bertahap beberapa peralatan utama ABRI telah mulai diganti dengan yang lebih maju tingkat teknologinya.

yang dilakukan melalui penambahan sarana dan prasarana penerangan. Untuk itu melalui Puspenmas diberikan penerangan dan bimbingan. memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional. pees. memasyarakatkan kebudayaan dan kepribadian Indonesia serta menggairahkan partisiposi masyarakat dalam pembangunan.8.8. 8. film. dan peningkatan jumlah frekuensi dari berbagai jenis kegiatan penerangan umum. Penerangan Pembangunan di bidang penerangan terutama ditujukan untuk meningkatkan penerangan sampai ke desa-desa. Dengan adanya kegiatan tersebut. masyarakat pedesaan diharapkan akan dapat menggali dan memanfaatkan sumber-sumber kekayaan yang ada di daerahnya. Guna meningkatkan peranan pers dalam pembangunan.1. Operasional penerangan Pembangunan operasional bidang penerangan dalam pelaksanaannya mencakup peningkatan peranan pusat penerangan masyarakat (Puspenmas). baik yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan penerangan di dalam negeri maupun di luar negeri. mengembangkan usaha bersama melalui sistem koperasi. sehingga dapat menjalankan fungsinya dalam menyebarkan informasi yang obyektif. pameran dan media tradisional. terus ditingkatkan pengembangan pers yang sehat. dengan lebih meningkatkan pendayagunaan sarana penerangan seperti radio. yang pada gilirannya akan meningkatkan pula pendapatan atau kesejahteraannya. televisi. Guna Departemen Keuangan RI 305 . bebas dan bertanggung jawab. antara lain dengan memperkenalkan teknologi yang layak dan sesuai dengan perkembangan daerah pedesaan. melakukan kontrol sosial yang konstruktif. Sejalan dengan itu. mengembangkan sistem perekonomian yang lebih baik dengan mengutamakan asas gotong royong. juga telah dimantapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 1983 tentang Pembentukan Dewan Pembina dan Pengelola Industri-industri Strategis dan Industri Pertahanan Keamanan. serta memperluas komunikasi dan partisiposi masyarakat. serta meningkatkan pemeliharaan kesehatan bagi lingkungan. Untuk itu telah dilaksanakan berbagai kegiatan penerangan terutama yang bersifat menggelorakan semangat pengabdian dan perjuangan bangsa. telah ditingkatkan pula peranserta masyarakat pedesaan dalam pembangunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 industri pertahanan keamanan. Hal ini secara tidak langsung akan mendidik masyarakat pedesaan agar tidak mudah terpengaruh pada keinginan untuk melakukan urbanisasi. 8. menyalurkan aspirasi rakyat.

hiburan dan sarasehan/pentaloka. Jawa Tengah. Sampai dengan bulan Agustus 1984 tahun pertama Repelita IV. Sumatera Selatan. Salah satu kegiatan penerangan yang dilaksanakan secara langsung adalah pameran pembangunan. Dalam waktu yang sama juga telah dilaksanakan usaha peningkatan mutu dan peranan daripada Jupen wanita. Sarnpai dengan akhir Pelita III. Jambi. yaitu bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional. dalam pembangunan gedung Puspenmas selalu dilengkapi dengan ruang aula. yang antara lain meliputi peragaan visual. Nusa Tenggara Barat. dalam meningkatkan mutu dan peranan juru penerang (Jupen) yang bertugas di kecamatan. Bali dan Sulawesi Utara. jumlah Jupen wanita yang secara aktif ikut memberikan penerangan kepada kaum wanita di daerah-daerah pedesaan mencapai 380 orang. Jawa Barat. alat-alat duplikasi dan sarana mobilitas penerangan. Hal ini merupakan suatu kegiatan terpadu antara Pemerintah dengan unsur-unsur swasta. Selain itu kegiatan tersebut juga berfungsi sebagai salah satu promosi hasil-hasil industri. yang untuk selanjutnya dapat menyebarluaskan materi siaran tersebut kepada masyarakat sebelum diterima dokumen lengkapnya. Hal ini dimaksudkan agar para Jupen tersebut dapat memonitor siaran-siaran Pemerintah. terutama industri kecil. mobil unit panggung. Dengan demikian sampai dengan tahun pertama repelita IV sampai dengan bulan Agustus 1984 pembangunan gedung Puspenmas telah mencapai 275 buah yang mencakup 27 ibu kota propinsi. Pameran pembangunan di tingkat pusat dilakukan pada setiap tanggal 20 Mei. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 sebanyak 110 orang. mobil unit suara. Sehubungan dengan itu apabila dalam tahun 1983/1984 pembangunan gedung Puspenmas baru mencapai sebanyak 11 buah. Di samping itu guna menunjang kelancaran pelaksanaan penerangan sampai ke desa-desa. juga dilengkapi dengan berbagai sarana penerangan antara lain berupa radio kaset. maupun di daerah-daerah sampai dengan tingkat kecarnatan yang dilaksanakan dengan pameran keliling. ruang perpustakaan. yang dalarn penyelenggaraannya terutarna disesuaikan dengan momentum hari-hari bersejarah. dalarn tahun 1984/1985 sarnpai dengan bulan Agustus 1984 telah menjadi sebanyak 25 buah yang tersebar pada 11 ibukota propinsi meliputi propinsi Jawa Timur. Sulawesi Selatan. dan pada periode antara tanggal 21 Juni sarnpai dengan tanggal 21 Juli Departemen Keuangan RI 306 . serta mobil unit visual mini yang terdiri alas muviani darat dan muviani air. Timor Timur.135 unit dan 300 unit. terutarna dalam rangka meningkatkan peranserta wanita dalam pembangunan. baik melalui pameran di tingkat pusat. Sebagaimana halnya dengan Puspenmas.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 menunjang usaha tersebut. Riau. telah ditingkatkan pula penyediaan sarana mobilitas bagi para Jupen. yaitu meliputi mobil unit penerangan. penyediaan muviani darat dan muviani air masing-masing telah berjumlah sebanyak 3.

Sedangkan untuk tingkat propinsi.000 eksemplar. Indonesia Elyoum sebanyak 18. OB Van dan gedung studio/pemancar. isi.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 berupa Pekan Raya Jakarta. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama dan persahabatan bagi bangsa-bangsa di kawasan ASEAN khususnya. serta penyelenggaraan siaran wanita dalam pembangunan.2. dewasa ini telah dilaksanakan pengudaraan pemancar gelombang pendek dengan kekuatan 250 kilowatt.1. Sedangkan khusus untuk Timor Timur. Radio Dalarn rangka meningkatkan frekuensi dan mutu siaran RRI. Selanjutnya guna meningkatkan kekuatan pemancar RRI. Pengembangan sarana penerangan 8. Dengan demikian minat luar negeri terhadap pelaksanaan pembangunan di Indonesia diharapkan akan semakin meningkat. jumlah serta frekuensi paket penerangan ke luar negeri yang disalurkan melalui perwakilan-perwakilan Indonesia yang berada di luar negeri. Selanjutnya pada setiap tanggal 1 Oktober. telah diberikan pembinaan. dalarn tahun 1983/1984 antara lain telah diterbitkan majalah Indonesia Today sebanyak 48. RRI telah memiliki 301 buah pemancar yang Departemen Keuangan RI 307 .2. guna meningkatkan peranserta masyarakat dalam pembangunan maka dalam waktu yang sama telah diberikan 48. terutama yang ditujukan ke daerah-daerah Indonesia bagian timur dan Posifik Selatan. perekaman. Dalam rangka meningkatkan citra Indonesia di luar negeri. perlombaan bintang radio dan televisi.8. penyebaran kaset penerangan dan penyuluhan ke daerah-daerah. bersamaan dengan peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. dilakukan pula pameran pembangunan untuk tingkat kabupaten/kotamadya. Guna menunjang kebijaksanaan tersebut. dalam tahun pertama Pelita IV antara lain telah dilaksanakan peningkatan sarana penyiaran. yang bersamaan dengan dilakukannya peringatan hari Kesaktian Pancasila.000 eksemplar. Dengan demikian sampai dengan bulan Agustus 1984. dan dunia internasional pada umumnya. terutama yang mempunyai pengaruh langsung terhadap pembangunan di Indonesia. 8. Di sarnping itu juga telah diadakan kompetisi siaran pedesaan. terus diusahakan peningkatan mutu. pameran pembangunan dilaksanakan pada setiap tanggal 17 Agustus. yang meliputi alat-alat studio/pemancar.000 eksemplar dan Indonesia Spotlight On Event sebanyak 72. baik melalui forum pertemuan/sarasehan maupun dengan pengadaan buku/brosur tentang pelaksanaan/perkembangan pembangunan di Indonesia. Demikian pula halnya kepada masyarakat Indonesia di luar negeri. dan masyarakat asing yang tinggal di Indonesia.8.000 eksemplar brosur/ majalah yang terdiri atas 25 judul.

Kegiatan pembinaan kelompok pendengar siaran pedesaan. Sehubungan dengan perluasan jangkauan siaran TVRI. Dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984.997 kilowatt. Dengan demikian dalam pembinaan selanjutnya akan terus diusahakan agar di setiap desa di seluruh Indonesia terdapat sekurang-kurangnya 1 kelompok pendengar yang tergabung dalam Kelompencapir. sampai dengan akhir Pelita III telah dapat diselesaikan pengembangan tahap pertama studio produksi TVRI di Jakarta. kemudian diikuti oleh kelompok pemuda dan kelompok wanita yang masing-masing mencapai 6.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 tersebar pada 49 stasiun di seluruh Indonesia dengan kekuatan terpasang sekitar 2. apabila dalam tahun 1983/1984 luas daerah jangkauannya baru mencapai 495. serta pembangunan 189 stasiun pemancar. terutama dalam rangka menggali potensi seni budaya bangsa yang tersebar di berbagai daerah. terdiri dari 244 jam per minggu yang disiarkan melalui 48 buah Radio Republik Indonesia (RRI) dan 240 jam per minggu yang disiarkan melalui 108 buah Radio Pemerintah Daerah (RPD). telah dibangun lagi 10 buah stasiun pemancar. 8. Dalam pada itu jumlah pendengar siaran pedesaan juga telah meningkat sebesar 5. isi maupun persentase siarannya. Di samping itu juga telah dilaksanakan intensifikasi penggunaan stasiun produksi keliling dalam bentuk mobil unit.2. Dari jumlah tersebut. Televisi Dalam rangka meningkatkan daya jangkau penerangan dan pengembangan siaran di seluruh pelosok tanah air melalui televisi.8. kelompok dewasa merupakan kelompok pendengar yang paling banyak yakni 28. Selanjutnya untuk meningkatkan sarana produksi dan jangkauan siaran TVRI.325 orang dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984.902 orang. sehingga pada gilirannya RRI akan dapat menyatu dan akrab dengan khalayak pendengarnya. Untuk itu dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984. terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan.814 orang dan 5. Medan dan Palembang. baik mengenai mutu. terus ditingkatkan siaran pedesaan baik mengenai mutu maupun isinya.609 orang. pembangunan studio warna di Ujungpandang. pengadaan 10 unit stasiun produksi keliling. dilakukan secara terpadu dengan kelompok pembaca dan pemirsa (Kelompencapir). Dengan demikian secara keseluruhan jumlah stasiun pemancar TVRI yang berhasil dibangun sampai dengan periode tersebut telah mencapai 199 buah. yaitu dari 39.4 persen. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah meningkat menjadi Departemen Keuangan RI 308 .609 kilometer.000 orang dalam tahun 1983/1984 menjadi 41.2. Untuk meningkatkan peranserta masyarakat pedesaan dalam pembangunan. jumlah jam siaran pedesaan telah ditingkatkan sehingga mencapai 484 jam dalam satu minggu.

Sehubungan dengan itu.9.160 512 25.915 17. agar film/rekaman video produksi nasional dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.572 25. Jaka Sembung.600 73 1976/77 6 34 632.435 519 25.5 9 199 5.000 419.508 17. Penduduk dalam daerah pancaran (juta orang) 1 ) Angka diperbaiki 2) Angka sementara 1969/70 2 4 80.971.965 7.439 11. Sehubungan dengan usaha regenerasi pewarisan nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa.011 18. 9 JUMLAH STUDIO.2. 1969/1970 .470 72. LUAS DAERAH DAN JUML_H PENDUDUK DALAM DAERAHPANCARAN TVRI.126.5 1983/84 1984/85 2) 9 189 5.5 1970/71 3 4 135.2 juta orang. Demikian pula jumlah penduduk yang telah terjangkau oleh siaran TVRI. Sedangkan jumlah pesawat televisi yang terdaftar pada kantor pos dan giro dalam tahun yang sama telah mencapai 5.970 1972/73 930 800 270 2.000 72. 1969/1970 .500 90 1982/83 9 186 2. Stasion pemancar (buah) 3.261 514 25. di Pusat Produksi Film Negara (PPFN) pada saat ini telah dan sedang di produksi film-film sejarah seperti Serangan Fajar. Studio (buah) 2.965 Tabel VIII.610 1.405.030 1975/76 1.1984/1985 Jam siaran Hiburan Berita/penerangan/ pendidikan /kebudayaan Lain . Kartini.578 1983/84 1984/85 1) 7.432 buah atau sebesar 1.461 731 15.719 1980/81 5.000 1973/74 2.740 534.000 34.410 600 6.940 174.323 1981/82 6. mutu. yang sekaligus terkandung penertiban judulnya. baik dalam memenuhi kebutuhan di dalam negeri maupun di luar negeri. TabeI VIII.000 22.2 8.180 229.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 534.5 1974/75 6 23 410.808 115. Pesawat televisi (buah) 4. pelaksanaannya diarahkan pada tercapainya suatu keseimbangan di antara tema-tema fIlm yang diproduksi. STASI_N PEMANCAR. terus diusahakan terciptanya mekanisme kerjasama.631 1978/79 5.500 36.6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.433. dalam periode yang sama telah meningkat dari 95. Selanjutnya dalam rangka peningkatan produksi film.680 560 6.000 85 1980/81 9 107 2. 8 JUMLAH JAM SIARAN TELEVESI MENU RUT JENIS SIARAN. seperti film drama.500 26.599. action serta film khusus untuk anak-anak dan remaja. maka kemampuan mekanisme tata peredaran film/rekaman video nasional terus ditingkatkan.906 18. Perkembangan sarana dan jumlah jam siaran TVRI menurut jenis siaran dapat diikuti pada Tabel VIII. Luas dalam jangkauan (Km2) 18.011 18.308 495. komedi.100 1977/78 3.740 4.519 17.026 2.430 75.000 24.000 87 1981/82 9 124 2.890 495.232 2. sedangkan film/rekaman video impor hanya berfungsi sebagai pelengkap.9 1977/78 9 70 895.600 95.343. saling pengertian.000 36. Perfilman nasional Peningkatan dan pembinaan bidang perfilman nasional terutama ditujukan untuk meningkatkan citra.000 400.420 7.038 1979/80 5.500 5. yang berarti telah meningkat dengan 90. PESAWAT TELEVISI.8. Lebak Membara.944 18.719 1982/83 6.020 2.504 25.433.500 40 1973/74 6 22 351. Departemen Keuangan RI 309 .435 519 25.100 40.980 1976/77 4.808 kilometer. rasa persatuan dan tanggung jawab di antara organisasi profesi.232 2.740 1970/71 800 800 300 1.600 95.700 470 4.030 650 12.5 juta orang menjadi 115.100 80.5 1971/72 4 8 190.8 dan Tabel VIII.3.000 406. Guna mewujudkan iklim yang sehat bagi perkembangan industri perfilman dan rekaman video.827 427. Nopember 1828.900 42 1975/76 6 26 542. jumlah produksi serta kelancaran peredaran dan pemasaran fIlm Indonesia.000 82 1979/80 9 89 1.900 1971/72 900 800 270 1.1984/1985 Uraian 1.780 1974/75 3.100.572 25.lain Jumlah 1) Angka sementara 1969/70 680 800 260 1.000 82 1978/79 9 82 1.5 1972/73 4 10 220.740 buah.

Pers Peningkatan pembinaan di bidang pers terutama ditandai dengan telah ditetapkannya Undang-Undang No. yang merupakan perubahan alas Un dangUndang No. te1ah diproduksi film ceritera nasional sebanyak 337 judul yang berarti rata-rata dapat diproduksi sebanyak 67 judul per tahun. London. film dokumenter nasional dan film dokumenter/iklan yang dibuat orang asing.4. sehingga dapat menampung penonton sebanyak 3 kali lebih besar dibandingkan dengan pertunjukan film yang dalam penyajiannya menggunakan teknik biasa. film-film Indonesia telah diikutsertakan dalam festival dan pekan film internasional. 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Departemen Keuangan RI 310 .Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Kamp Tawanan Wanita. disediakan 30 copy dengan perincian 27 copy untuk Daerah Tingkat I dan 3 copy untuk arsip nasional. sejak tahun 1984/1985 diproduksikan fIlm dengan menggunakan sistem Imax yaitu suatu teknologi perfilman yang menggunakan sistem proyektor 70 mm/6 sound track. yaitu suatu film yang dalam penyajiannya menggunakan layar lebar dan membentuk 180?. di sampingjuga telah diproduksi film iklan. Selama Pelita III. Hongkong. di samping juga sebagai film pendidikan bagi generasi muda. Berlin. Sedangkan untuk peredaran di luar negeri me1alui 59 kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) telah disediakan 60 copy. Sementara itu guna meningkatkan usaha promosi dan pemasaran film Indonesia ke luar negeri. yaitu ke Malaysia. terus ditingkatkan usaha menghidupkan film produksi nasional. Cannes. Selanjutnya agar film tersebut dapat mencapai peredaran di dalam negeri selama dua tahun. jumlah ekspor film Indonesia ke luar negeri telah mencapai sebanyak 22 judul. 8. Adapun film Sejarah Orde Baru dimaksudkan untuk meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap bahaya laten PKI. Sedangkan dalam tahun 1984 antara lain telah diselenggarakan Festival Film Indonesia (FFI) di Yogyakarta dan Festival Film ASEAN XIV di Jakarta. Selama Pelita III. masing-masing sebanyak 16 judul. 21 Tahun 1982.8. Dengan te1ah dilaksanakannya peningkatan di bidang pertunjukan.2. Kereta Api Terakhir dan Sejarah Orde Baru. Los Angeles dan Milano. Selanjutnya untuk lebih memperkenalkan budaya bangsa Indonesia di luar negeri. Se1anjutnya dalam rangka meningkatkan mutu penyajian film. Dalam hubungan ini. sejak tahun 1983/1984 PPFN telah diperkenalkan film Cinerama. selama Pelita III telah diikuti festival dan pekan film internasional di Manila. 76 judul dan 40 judul. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah dihasilkan 46 judul. di samping setiap tahun juga diikutsertakan dalam Festival Film Asia dan Festival Film ASEAN secara rutin. Singapura dan Brunai.

khususnya yang mempunyai hubungan secara langsung dengan tugas di bidang pembangunan desa. Sedangkan guna mengembangkan kebutuhan informasi. 8. di samping itu juga untuk mempertebal semangat dan gairah partisiposi masyarakat dalam meningkatkan hasil guna dan clara guna kegiatan pembangunan di daerah.9. kegiatan tersebut antara lain ditujukan pada pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh tanah air.000 eksemplar dari 50 penerbit dan tersebar pada 26 propinsi. daerah tingkat I dan daerah tingkat II Kebijaksanaan yang ditempuh di bidang pembangunan daerah dalam tahun 1983/ 1984 merupakan kelanjutan dan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah dapat diedarkan sebanyak 397. 44 Tahun 1967. yang kemudian ditingkatkan melalui kegiatan kerjasama dengan berbagai lembaga. terutama dalam mewujudkan adanya pers yang bebas dan bertanggung jawab.1. sedangkan dari segi kuantitas peningkatannya nampak dari penambahan jumlah oplag. Sementara itu guna meningkatkan pemerataan informasi ke daerah-daerah pedesaan. saat ini sedang dilaksanakan pembahasan rancangan perubahan mengenai Sural Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) oleh Dewan Pers. 21 Tahun 1982.675. terus ditingkatkan penyelenggaraan forumforum dialog antara Pemerintah. Sejalan dengan Trilogi Pembangunan.000 eksemplar melalui 16 penerbit. Dari segi kualitas dicerminkan dalam peningkatan kemampuan mengelola KMD melalui penataran-penataran. secara bertahap telah ditingkatkan pelaksanaan program koran masuk desa (KMD) baik kualitas maupun kuantitas. Di samping itu guna meningkatkan pelaksanaan KMD telah dibentuk pula kelompokkelompok pembaca di daerah pedesaan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Undang-Undang No. maka dalam Pdita IV pembangunan pedesaan ditujukan untuk Departemen Keuangan RI 311 .1 Tahun 1984 tentang Dewan Pers. dalam tahun 1983/1984 melalui program KMD telah dapat diedarkan koran sebanyak 8. Sesuai dengan arab pembangunan daerah tersebut. Bantuan pembangunan daerah 8. Selain itu sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No. Sehubungan dengan itu. serta dalam rangka pelaksanaan interaksi positif. sehingga dengan adanya KMD tersebut benar-benar akan dapat memberikan motivasi kepada masyarakat pedesaan untuk ikut berpatisiposi dalam pembangunan. yaitu sebuah lembaga yang akan mendampingi Pemerintah dalam membina dan mengembangkan pers nasional. Pembangunan desa. pers dan masyarakat. serta peningkatan laju pertumbuhan setiap daerah. Selanjutnya sebagai pelaksanaannya telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah No.9.

yang merupakan satu sistem terkecil dalam administrasi pemerintahan dan ekonomi. berjumlah 11. serta kursus bagi 3. baik di tingkat kabupaten/kotamadya maupun di tingkat propinsi.5 persen per tahun. Usaha ini merupakan penerapan sistem penyusunan rencana daTi bawah. Kepada desadesa yang mencapai prestasi tinggi dan menjadi pemenang perlombaan diberikan penghargaan dan hadiah dalam bentuk proyek. desa-desa di 27 propinsi yang telah menjadi pemenang perlombaan desa kini dapat mengembangkan desanya secara lebih cepat dan baik.183 TKS-BUTSI. antara lain penataran terhadap 1.7 persen per tahun. jumlah desa swasembada pada. telah diselenggarakan perlombaan desa. Hasil evaluasi dan monitoring di bidang perkembangan desa sampai dengan tahun 1984/1985 menunjukkan adanya 16. desa tingkat kecamatan dari 27 propinsi.045 kecamatan yang tersebar di 27 propinsi daerah tingkat I.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 mempercepat pertumbuhan desa.385 desa yang telah menjadi desa swasembada. sistem UDKP ini telah dilaksanakan pada 2. agar kecamalan-kecamatan tersebut dapat berkembang sesuai dengan kecamatan lainnya. baik di tingkat kabupaten/kotamadya daerah tingkat II maupun di tingkat propinsi daerah tingkat I. Melalui sistem UDKP.757 desa. Sedangkan untuk mendorong desa-desa agar lebih giat melaksanakan pembangunan desanya. atau suatu peningkatan rata-rata sebesar 3. menjadi desa swasembada. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan yang positif bagi desa-desa lainnya agar lebih giat melaksanakan pembangunan. Sejalan dengan itu telah dilaksanakan pula penempatan 1.429 kepala urusan pembangunan. serta rapat koordinasi pembangunan.093 orang camat UDKP. musyawarah LKMD. rawan. sedangkan pada Departemen Keuangan RI 312 . diskusi UDKP dan temu karya LKMD di tingkat ke carnatan . Untuk itu telah dilakukan evaluasi terhadap tingkat perkembangan desa. minus. serta berada di wilayah perbatasan/kepulauan dan radar penduduk. jumlah desa yang telah menjadi pemenang perlombaan desa. Dengan demikian kedudukan desa sebagai obyek pembangunan berubah menjadi subyek pembangunan yang berketahanan di semua bidang. dilakukan juga pembangunan desa melalui sistem Unit Daerah Kerja Pembangunan (UDKP). yang disesuaikan dengan kebutuhan dasar masyarakat desa yang berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. Sejalan dengan pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah tanah air. pembangunan di wilayah kecamatan melalui sistem UDKP tersebut diutamakan pada kecamatan yang tergolong miskin. yang pada gilirannya akan dapat memantapkan ketahanan nasional. Selain itu di wilayah kecarnatan UDKP telah dilaksanakan pula berbagai kegiatan. karena dalam jangka panjang desa-desa di seluruh Indonesia akan dikembangkan menjadi desa swasembada. terbelakang. Sampai dengan tahun 1983/1984. Sebagai hasilnya. Sampai dengan tahun 1983/1984. kecamatan UDKP rata-rata meningkat 6.

yaitu kategori posif sebanyak 10. konstruksi dan material. survai/pengkajian identifikasi masalah tatadesa di 6 kecarnatan yang meliputi 90 desa dan penyuluhan mengenai teknis pola tatadesa terhadap 216 tokoh masyarakat desa. Melalui inpres bantuan pembangunan desa.575 peserta dan kelompok kesenian rakyat.040 kecamatan.297 LKMD dan kategori aktif berfungsi sebanyak 28.755 LKMD percontohan yang diharapkan akan menjadi LKMD teladan.2 persen per tahun. Selain kegiatan tersebut. telah dilaksanakan latihan bagi pelatih/instruktur PL-LKMD yang diikuti 6.237 orang. serta melalui penerbitan dan Departemen Keuangan RI 313 . pemukiman kembali penduduk dan penciptaan lapangan kerja. dan bagi kader LKMD-KPD yang diikuti 57. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan peranserta aktif swadaya masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan hidup dan pembangunan desanya. siaran pedesaan melalui RRI dengan 41. pementasan kegiatan LKMD melalui TVRI. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan fungsi LKMD.380 kelompok pendengar. terutama untuk desa-desa yang terbelakang. Sampai dengan tahun 1983/1984. sedangkan latihan guna meningkatkan keterampilan dalam pembangunan/pemugaran perumahan desa. Dalam pada itu peningkatan jumlah proyek/program sektoral. kategori berkembang sebanyak 25.194 LKMD. pertanian. juga terkait kegiatan penerapan pola tatadesa dan pengembangan teknologi pedesaan. Jumlah tersebut menurut tingkat perkembangannya dapat dike1ompokkan ke dalam 3 kategori. Berkaitan dengan itu telah dilakukan survai pendahuluan tatadesa pada 1. Inpres. regional. telah dikembangkan pula sebanyak 4. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk latihan sosio drama yang diikuti oleh 9. telah dilaksanakan pula penyuluhan dan peningkatan motivasi. penerapan pola tatadesa di 672 desa. dan swadaya masyarakat yang mengisi kecarnatan dengan sistem UDFY terse but rata-rata adalah sebanyak 25 proyek. telah dibentuk pula lembaga ketahanan masyarakat desa (LKMD).698 LKMD atau sekitar 94.876 kecamatan. Adapun untuk pengembangan teknologi desa telah diberikan latihan kepada 734 orang anggota masyarakat.4 persen dari 66.448 desa yang ada di Indonesia. sampai dengan tahun 1983/1984 telah diberikan dana paket UDKP kepada 1. pangan. di samping juga penetapan dan pemilihan 63 orang perugas teknologi pedesaan (PL TP) dan 345 orang kader teknologi pedesaan.ertambah dengan sebesar 3. Dalam sistem UDKP tersebut. telah diikuti oleh 42. yakni meliputi bidang energi. Sedangkan guna penerapan dan pengembangan teknologi pedesaan telah dilakukan identifikasi spesifik terhadap 46 jenis teknologi pedesaan yang telah berhasil diterapkan dan dikembangkan.315 orang.488 orang.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kecamatan non UDKP rata-rata hanya b.207 LKMD. Selain itu guna mempercepat terwujudnya LKMD yang aktif berfungsi dalam pelaksanaan pembangunan. telah dibentuk sebanyak 63.

Pemerintah daerah dan swadaya masyarakat. Sedangkan dalam tahun 1984/1985 sampai dengan' bulan Agustus 1984 telah dilaksanakan latihan/kursus bagi tim penggerak PKK tingkat propinsi dan kabupaten/kotamadya. seperti jalan. penggunaan bantuan tersebut diarahkan pada proyekproyek yang dapat memperbaiki lingkungan hidup perkotaan. Untuk mencapai tujuan tersebut. Kegiatan lain yang erat kaitannya dengan pembinaan LKMD adalah pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). telah dilakukan pula penyuluhan dan latihan bagi 21 orang petugas lapangan di Tangerang. yang diikuti oleh 2.831 buah.092 buah. Berkaitan dengan pemukiman kembali penduduk desa. yakni dalam tahun 1976/1977 sampai dengan bulan Agustus 1984. Untuk daerah perkotaan.4 persen. Dalam waktu yang sarna hasil pelaksanaan Inpres pembangunan desa telah mencakup 106. yang sampai dengan tahun 1983/1984 telah diikuti oleh 290. peningkatan dan pembangunan berbagai jenis prasarana fisiko perekonomian dan lingkungan. Jawa Barat dan 32 orang di DI Yogyakarta. maupun proyek-proyek lain seperti pengembangan potensi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. 'yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di daerah-daerah bersangkutan. terutama lingkungan hidup masyarakat yang berpenghasilan Departemen Keuangan RI 314 . Proyek-proyek tersebut dibangun melalui bantuan Pemerintah pusat. pemasaran dan sosial. bendungan. telah diberikan bantuan yang besarnya didasarkan atas jumlah penduduk. sejak tahun 1972/1973 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah dimukimkan kembali penduduk sebanyak 29. yakni melalui usaha perbaikan. Sedangkan sejak dimulainya kegiatan pemugaran perumahan dan lingkungan desa. bantuan diarahkan pada pembangunan baik prasarana fisik. sehingga dalam tahun 1983/1984 sebanyak 66.6 milyar.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 penyebaran folder/poster/brosur-brosur penyuluhan. 0. Untuk meningkatkan taraf hidupdan kesejahteraan penduduk di pedesaan serta guna mempercepat pembangunan pedesaan.583 buah dan 54.437 desa telah memperoleh bantuan sebesar Rp 91. masing-masing sebesar 61. jembatan.896 lokasi/desa di 26 propinsi. Bantuan tersebut ditujukan untuk penciptaan dan perluasan lapangan kerja di daerah-daerah. 3. Di samping itu guna meningkatkan peranan masyarakat dalam menunjang program dasawarsa air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman. Untuk membantu pelaksanaan pembangunan di daerah tingkat II.430 orang meliputi 27 propinsi dan terdiri dari 54 kabupaten/kotamadya. masing-masing sebanyak 30.3 persen dan 38.890 rumah yang tersebar pada 1. perhubungan.441 proyek. gorong-gorong.598 orang. 17. dan saluran pembawa. telah dilaksanakan pemugaran 46. yang terdiri atas prasarana produksi. Untuk itu dibentuk kaderkader PKK melalui penyelenggaraan kursus-kursus PKK. terus ditingkatkan jumlah bantuan yang diberikan kepada setiap desa.3 persen.935 buah.669 KK pada 5'Ollokasi di 21 propinsi.

masing-masing sepanjang 5. jasa dan pusat pemerintahan juga semakin besar.4 hektar.315 meterpersegi. dalam tahun 1983/1984 telah berhasil dilaksanakan penunjangan jalan sepanjang 7. serta tanggul banjir dan jaringan telepon. Oleh schab itu. telah dilakukan usaha pembinaan dan pengembangan perkotaan yang bertujuan. Di samping bantuan pembangunan daerah tingkat II tersebut. serta penghijauan dan pencegahan banjir. administrasi. masing-masing seluas 38. Dengan bantuan tersebut. mulai tahun 1979/1980 diberikan pula bantuan penunjangan jalan kabupaten. Sementara itu dalam rangka pemeliharaan pengairan antara lain telah dilakukan pembangunan bangunan air sebanyak 112.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 rendah.2 kilometer. serta saluran pembawa dan pembuang.3 kilometer. 8. masing-masing sebanyak 23 buah dan 11 buah. yang ditujukan untuk membantu daerah tingkat II untuk membangun jalan yang menghubungkan daerahdaerah terpencil. peranan kota sebagai pusat pemukiman. serta penggantian gorong-gorong sepanjang 59.1 kilometer dan 3.604 buah proyek. Dalam tahun 1983/1984 telah dibangun prasarana perhubungan meliputi jalan sepanjang 17.741. politik. dan jembatan sepanjang 27.174 hektar dan 6. riol sepanjang 434. maka pelaksanaan pembangunan daerah lebih meningkat lagi sesuai dengan prioritas kebutuhannya. Selain itu juga telah dibangun pasar seluas 77.7 kilometer.748. Sejalan dengan itu telah dibangun pula fasilitas eksploitasi sebanyak 3. penunjangan jembatan sepanjang 5.6 kilometer. Tatakota dan tatadaerah Sejalan dengan proses pembangunan yang terus berlangsung. Bantuan tersebut antara lain digunakan untuk pemeliharaan jalan dan jembatan.082 buah.000.907 buah. juga dimaksudkan untuk peningkatan pelayanan umum dan perbaikan Departemen Keuangan RI 315 . saluran pembawa sepanjang 13.juta telah dibangun sebanyak 2.225.352.321. kegiatan ekonomi.916.227 meter.487 meterkubik.9.928 hektar. stasiun bus dan pelabuhan sungai. serta prasarana pengairan bernpa bendungan sejumlah 121. selain untuk pembangunan dan pengembangan terhadap kota tersebut.022 meter. sosial.415 kilometer. Sedangkan melalui dana Inpres bantuan pembangunan daerah tingkat I sebesar Rp 253.5 meter.393.707 meter.8 kilometer dan 8. selain juga untuk perbaikan dan penyempurnaan irigasi yang terdiri dari bendungan sebanyak 56 buah dan saluran sepanjang 280.2.2 kilometer dan 16. pembangunan jembatan sepanjang 14. kebudayaan.9 kilometer dan bangunan pengairan lainnya sebanyak 664 buah yang dapat mengairi areal seluas 44. masing-masing sepanjang 7.. masing-masing sepanjang 61.658 meter.414 kilometer.728.880. Dengan semakin meningkatnya bantuan kepada Dati I. yang jumlah penduduk dan tingkat produktivitasnya cukup tinggi.

Selanjutnya dalam rangka pengembangan perkotaan telah dilakukan pula pembinaan kerjasama antara kotakota di dalam negeri. telah dilaksanakan pengumpulan data/bahan-bahan yang meneakup masalah air minum di seluruh Indonesia. Sejalan dengan itu dilakukan pula persiapan penyusunan rencana kota yang dikaitkan dengan program bantuan bagi 57 kota. Di samping itu juga dilakukan peningkatan kemampuan di bidang perencanaan kota melalui kursus yang diselenggarakan oleh Badan kerjasama Antar Kota Seluruh Indonesia (BKS-AKSI). Atas dasar hasil pengumpulan data tersebut. Selain itu telah dilakukan penelitian tentang reneana pembentukan kota administratif Sarong. Tata agraria dan tataguna tanah Kegiatan program tataagraria seiring dengan program tataguna tanah ditujukan untuk meneiptakan tertib hukum pertanahan. pembinaan pengelolaan air minum dan pembinaan pemerim:ahan kota. Kota Banjar. serta rencana induk kota Tangerang. Lahat.2. Lhokseumawe dan Pariaman. Watampone. yang pengembangannya disesuaikan dengan pokok-pokok kebijaksanaan pengembangan wilayah Jabotabek. Pangkalan Brandan. penyusunan raneangan peraturan Pemerintah mengenai pembentukan kota administratif Kota Bumi. Langsa. tertib administrasi pertanahan. Untuk mencapai tujuan tersebut. Kuala Kapuas. Cibinong. Bima. pemberian bantuan teknis dan biaya dalam jumlah terbatas kepada daerah tingkat II yang akan melakukan reneana induk kotanya. pengembangan landreform serta Departemen Keuangan RI 316 . Rantau Prapat. pendaftaran tanah. tertib penggunaan tanah. dan Bekasi. telah dilakukan pula pembentukan kota administratif sebanyak 28 buah di seluruh Indonesia. Untuk itu telah dilakukan penertiban dan peningkatan pengurusan hak-hak atas tanah. 8. serta tertib pemeliharaan tanah dan lingkungan. 75 buah Badan Pengelola Air Minum (BPAM).Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 kondisi lingkunganpemukiman yang aman.3. baik dengan kota-kota di luar negeri maupun dengan organisasillembaga intemasional perkotaan di luar negeri. Palopo.005. Kota Baru dan Amuntai. tertib da sehat bagi seluruh warganya. Metro. Ujungpandang (Mamimasa Ora) dan Denpasar. Bontang. Curup. Sementara itu dalam pembinaan reneana kota telah dilakukan kegiatan pengembangan kota Metropolitan Jakarta yang meliputi penyusunan rencana induk kota DKI Jakarta tahun 1985 . Berkaitan dengan pembinaan pemerintahan kota.9. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Agustus 1984 telah terdapat sebanyak 136 buah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sampit. Dalam rangka pembinaan pengelolaan air minum. 30 buah Dinas Air Minum dan 27 buah Seksi Air Minum. Selain itu juga telah disusun kerangka acuan kerja bantuan teknik bagi kota Semarang (Semarang Raya). ditempuh kebijaksanaan yang antara lain meliputi pembinaan reneana kota.

dengan jumlah pemasukan uang kepada negara sebesar Rp 1. 78. Di samping pemetaan penggunaan tanah. pemetaan penggunaan tanah pedusunan. Sementara itu telah dilakukan pemetaan penggunaan tanah perkotaan pada 64 kotamadya/kota administratif.053 sural keputusan hak tanah dengan penerimaan negara sebesar Rp 6. dan monitoring rencana tataguna tanah Dati II di 250 kabupaten/kodya.094 hektar. 1: 100 ribu.833. masing-masing seluas 9. monitoring lokasi daerah miskin. Dengan demikian sejak Pelita III sampai dengan bulan Juli 1984 telah diselesaikan sebanyak 171. penguasaan.-.512. 194 kota kabupaten dan 485 kola kecamatan. dalam tahun 1984/1985 sampai dengan bulan Juli 1984 telah diselesaikan sebanyak 34. dan pemilikan tanah. 1:50 ribu dan 1:25 ribu. pemetaan kemampuan tanah dengan skala 1: 100 ribu dan 1:50 ribu.611. perencanaan tataguna tanah Dati II.494 ribu hektar dan 70. penyediaan sarana dan cara penataan kembali.960 ribu hektar.088 ribu hektar dan 44.-.716. serta pengendalian penggunaannya.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 proyek operasi nasional agraria (Prona). penertiban perjanjian bagi hasil pada 52 kabupaten. penyelesaian sengketa sebanyak 114 kasus. Adapun dari hasil penertiban dan peningkatan pengurusan hak-hak atas tanah. penggunaan. pengembangan tataguna tanah pada umumnya merupakan kelanjutan daripada kegiatan tahun sebelumnya yang meliputi pembuatan peta kerja. masing-masing seluas 11. Selain itu juga mencakup peningkatan inventarisasi dan evaluasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup.652. serta peningkatan tertib administrasi landreform terhadap 80. Dalam tahun 1983/1984. pemetaan kemampuan tanah. perhifungan produktivitas tanah di 199 kabupaten.760 ribu hektar. perhitungan produktivitas tanah. Hasil yang dicapai di bidang pengembangan tataguna tanah sampai dengan Pelita III meliputi pembuatan peta kerja dengan skala 1:25 ribu seluas 7.281.302 surat keputusan hak tanah. pemetaan penggunaan tanah perkotaan. Departemen Keuangan RI 317 .078 KK.160 ribu hektar. Program pembangunan tataguna tanah terutama diarahkan pada daerah-daerah minus dan padat penduduknya. serta ditujukan untuk peningkatan pelayanan terhadap penyiapan daerah transmigrasi.592 ribu hektar. serta pemetaan penggunaan tanah pedusunan dengan skala 1:200 ribu. monitoring lokasi daerah miskin di 246 kabupaten. Sedangkan hasil-hasil yang telah dicapai dalam kegiatan pengembangan land reform sampai dengan akhir Pelita III antara lain meliputi identifikasi penguasaan pemilikan tanah pertanian pedesaan di 21 desa. serta monitoring rencana tataguna tanah Dati II. juga telah diselesaikan penyusunan rencana tataguna tanah Dati II di 250 kodya/kabupaten.264 ribu hektar. 14. pelaksanaan redistribusi tanah seluas 665.

200 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Lampiran 1 PERKIRAAN PENERIMAAN NEGARA TAHUNANGGARAN 1985/1986 (dalam jutaan rupiah) JENIS PENERIMAAN A. Pajak penghasilan badan .368.Hasil potongan bunga deviden.680.Cukai tembakau .700 167.000 797.600 2.000 -98.Hasil potongan penghasilan Pekerjaan .Badan usaha swasta .Ipeda 6. Penerimaan di Luar Minyak Bumi dan Gas Alam 1.700 -226.100 70.046.400 Departemen Keuangan RI 318 .2.100 -314. Pajak Ekspor 5. Pajak Penghasilan Gas Alam II.000 -1. PENERIMAAN PEMBANGUNAN 1.677.Cukai .000 JUMLAH 18.680.900 4. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah 3. Bantuan Program 2.010. Penerimaan Bukan Pajak B.400 -294.200 3.900 4.297.900 11.276.400 1. 2. Penerimaan Minyak Bumi dan Gas Alam 1.700 9.Cukai lainnya 4.1. PENERIMAAN DALAM NEGERI I. Pajak Lainnya 7.2. royalty Dan sebagainya.666.Usaha dan pekerjaan 1.700 -658.300 101. Pajak Penghasilan 1.1. Pajak Penghasilan Minyak Bumi 2.200 23.100 963.159.479.400 96.Hasil pungutan kegiatan usaha .Badan usaha milik negara .300 -570.400 731.100 7. Bea Masuk 3.600 1.518. Pajak penghasilan perseorangan . Bea Masuk dan Cukai 3.074.300 -865. Bantuan Proyek JUMLAH 717.

1.peningkatan mutu aparat pajak.peningkatan kesadaran dari para wajib pajak.3 juta barrel minyak mentah sehari. Pajak penghasilan 1. Pajak hasil potongan penghasilan pekerjaan Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : . .peningkatan penghasilan dan kegiatan usaha perseorangan.1.2.perluasan dasar pengenaan pajak. PENERIMAAN MINYAK BUMI DAN GAS ALAM Faktor-faktor yang diperhitungkan : produksi minyak diperkirakan sebesar 1. .peningkatan penghasilan masyarakat.1. .50 per barrel. Pajak penghasilan perseorangan Faktor-faktor umum yang diperhitungkan : . maka penerimaan minyak bumi dan gas alam diperkirakan sebesar Rp'11. Pajak penghasilan usaha dan pekerjaan Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : .perluasan dasar pengenaan pajak. 319 Departemen Keuangan RI .peningkatan kegiatan penagihan atas tunggakan-tunggakan pajakpenghasilan. .penertiban dan perluasan wajib pajak. .peningkatan verifikasi sehingga dapat ditagih pajak yang seharusnya dipungut.7 milyar.7 milyar.penagihan yang lebih intensif atas tunggakan-tunggakan pajak. Berdasarkan pertimbangan di atas. . maka diperkirakan penerimaan yang berasal dari pajak hasil potongan penghasilan pekerjaan dapat mencapai Rp 570.penertiban dan perluasan wajib pajak. . .penertiban dan perluasan jumlah wajib pajak dengan intensifikasi pemungutan melalui verifikasi yang mendalam.perluasan dasar pengenaan pajak.batas pendapatan tidak kena pajak sesuai dengan UndangUndang Pajak Penghasilan. .1. . Berdasarkan hal-hat tersebut.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 DASAR PERHITUNGAN UNTUK PERKlRAAN PENERIMAAN NEGARA RAPBN 1985/1986 A. . . . 1. II. PENERIMAAN DALAM NEGERI I. PENERIMAAN DI LUAR MINYAK BUMI DAN GAS ALAM 1.timbulnya perusahaan-perusahaan baru dan perluasan perusahaan yang ada sehingga memperluas lapangan kerja.1S9.berkembangnya kegiatan usaha produksi dan perdagangan.1. dan 100 ribu barrel kondensat sehari harga rata-rata ekspor minyak mentah Indonesia diperkirakan sebesar US $ 29.

. 1. .timbulnya perusahaan-perusahaan baru.6 milyar.penertiban dan perluasan jumlab wajib pajak.peningkatan penghasilan dari badan-badan usaha swasta.010. diperkirakin pajak penghasilan badan usaha swasta sejumlah Rp 1.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 - pemeriksaan pembukuan yang lebih intensif atas jumlah laba perusahaan. maka diperkirakan dapat diperoleh pajak hasil pungutan kegiatan usaha sebesar Rp 314. diperkirakan penerimaan pajak penghasilan usaha dan pekerjaan dapat mencapai jumlah Rp 226.1 milyar.penertiban administrasi dan organisasi perusahaan .4. dividen.batas PTKP sesuai dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan.1. Pajak penghasilan badan usaha milik negara Faktor-faktor yang diperhitungkan : . 1. Berdasarkan faktor-faktor di atas.kesadaran wajib pajak yang semakin baik yang mendorong perusahaan untuk lebih terbuka dalam pembukuannya. . Pajak hasil pungutan kegiatan usaha Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : .3. 1.perluasan dasar pengenaan pajak. Pajak penghasilan badan usaha swasta Dalam penerimaan ini termasuk pula pajak penghasilan atas laba yang/diperoleh badan aging yang ada di Indonesia.0 milyar.pemeriksaan pembukuan yang lebih intensif atas jumlah laba perusahaan. .peningkatan keuntungan daripada perusahaan negara. . Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. .berkembangnya kegiatan ekonomildunia usaha. Departemen Keuangan RI 320 .berkembangnya kegiatan usaha produksi dan perdagangan. Pajak penghasilan badan Faktor-faktor umum yang diperhitungkan : .intensifikasi pemungutan pajak.2. Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas diperkirakan pajak penghasilan badan usaha milik negara sebesar Rp 658. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : .perusahaan negara.2. . Pajak hasil potongan bunga.2.naiknya penghasilan perusahaan-perusahaan. Faktor-faktor yang diperhitungkan akan mempengaruhi penerimaan : .kegiatan usaba yang memperoleh pembayaran untuk barang dan jasa dari anggaran belanja negara.kegiatan usaha di bidang impor.penagihan yang lebih intensif atas tunggakan-tunggakan pajak. . . 1. . .2. royalty dan sebagainya.2. 1. Berdasarkan faktor-faktor di atas.2.4 milyar. .penertiban dan perluasan wajib pajak.

2 milyar. .verifikasi yang lebih cermat alas perusahaan-perusahaan rokok.1 milyar. .peningkatan clara beli masyarakat dengan naiknya pendapatan nasional. 3..Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 - verifikasi yang intensif terhadap perusahaan-perusahaan dalam hal pembagian dividen. Bea masuk Perkiraan penerimaan bea masuk didasarkan alas hal-hat sebagai berikut: . maka penerimaan bea masuk diperkirakan dapat mencapai Rp717. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan adalah : . Departemen Keuangan RI 321 .2. perdagangan dan jasa. dividen.peningkatan produksi rokok dan hasil-hasil tembakau lainnya. .penyelesaian tunggakan-tunggakan cukai.tarip rata-rata bea masuk diperkirakan sebesar 13. cukai bir dan cukai alkohol sulingan.impor yang dapat dikenakan bea masuk diperkirakan sekitar US $ 5. Cukai lainnya Cukai lainnya terdiri dari cukai gula.perkembangan perekonomian khususnya pacta sektor pertanian.666.perkembangan tata niaga impor.1 milyar. . 3. .1. diharapkan dapat diterima cukai tembakau sebesar Rp 865. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan atas Barang Mewah.2.perluasan jumlah wajib pajak dan intensifikasi pemungutan melalui verifikasi yang lebih ketat atas penyerahan barang-barang dan jasa. .pencegahan dan pemberantasan pita rokok palsu dan rokok tidak berpita cukai.2.2. .0 milyar 3. royalty dan sebagainya diperkirakan akan mencapai sebesar Rp 294. Cukai tembakau Hal-hal yang dapat mempengaruhi penerimaan cukai tembakau adalah : . Berdasarkan hal-hat tersebut. . Berdasarkan hal-hat tersebut di alas. . 2. Berdasarkan hal-hal tersebut maka penerimaan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah diperkirakan mencapai Rp 1.peningkatan usaha pemungutan cukai berupa penyerasian pita cukai dengan perkembangan harga jualnya.0 persen.1. pembayaran bunga dan royalty. industri.pengenaan pajak pertambahan nilai atas penjualan bahan bakar minyak (BBM).4 milyar Bea Masuk dan Cukai 3. Cukai 3. Berdasarkan faktor-faktor di atas maka penerimaan pajak hasil potongan bunga.

peningkatan daripada nilai obyek Ipeda sejalan dengan kegiatan pembangunan.naiknya nilai kekayaan sejalan dengan naiknya penghasilan. Dengan faktor-faktor tersebut diperkirakan akan diterima penerimaan bukan pajak sebesar Rp731.3 milyar. Dengan memperhitungkan hal-hal tersebut maka penerimaan pajak lainnya diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 96. maka penerimaan pajak ekspor diperkirakan sebesar Rp 101. Pajak Lainnya Jenis penerimaan ini meliputi pajak kekayaan. Berdasarkan hal-hal tersebut. 5. 4.intensifikasi pemungutan meliputi pokok pengenaan dalam tahun berjalan dan penagihan atas tunggakan hutang Ipeda tahun-tahun sebelumnya.peningkatan batas kekayaan yang tidak kena pajak. . Departemen Keuangan RI 322 .4 milyar.penertiban administrasi perusahaan negara dan bank milik negara dalam rangka meningkatkan penerimaan. Pajak Ekspor Dasar perhitungan pajak ekspor adalah sebagai berikut : . Dengan dasar perhitungan tersebut.perluasan wajib pajak dan intensifikasi pemungutan pajak. . .peningkatan produksi gula.berkembangnya kegiatan ekonomi.7 milyar. bea meterai dan bea lelang.penyesuaian tarip pajak kekayaan dan bea meterai. .pengawasan yang lebih ketat atas pemakaian bea meterai. maka penerimaan Ipeda diperkirakan akan mencapai jumlah sebesar Rp 167. . luran Pembangunan Daerah Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan : . . .intensifikasi pemungutan cukai dan penyesuaian harga dasar sesuai dengan perkembangan ekonomi. Penerimaan Bukan Pajak Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan adalah : .verifikasi dan pengawasan yang lebih baik atas penyetoran daripada penerimaan departemen-departemen.0 milyar. . Perkiraan penerimaannya didasarkan atas hal-hal sebagai berikut : .4milyar.peningkatan kegiatan dan transaksi ekonomi yang dapat dikenakan bea meterai.usaha intensifikasi dan ekstensifikasi daripada sumber-sumber penerimaan. maka cukai lainnya diperkirakan akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp 98.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Hal-hal yang dapat meningkatkan penerimaan adalah : . . . 7.ekspor di luar minyak diperkirakan sebesar US $ 7. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. 6.penyempurnaan dan peningkatan efektivitas dalam penggunaan kantor lelang.9 milyar. .

440.355.602.2 milyar.5 4.00 6.00 13.1 5.1 1. realisasi (disbursement) dalam tahun 1985/1986 dari komitmen bantuan proyek tahun-tahun yang lalu dan tahun 1985/1986 diperkirakan sebesar Rp 4.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 B.00 31.00 15.446.754.297.00 6.377.754.00 15.6 5 5.160.1 6.00 42.00 1.2 7 Sektor/Sub Sektor SEKTOR PERTANIAN DAN PEN GAl RAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri SEKTOR PERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Sub Sektor Energi SEKTOR PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor Perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi SEKTOR REGIONAL DAN DAERAH/PEMBANGUNAN DAERAH.112.247.100.122.652.9 milyar.00 36. Lampiran 2 ANGGARAN BELANJA RUTIN 1985/1986 DIPERINCI MENU RUT SEKTOR 1 SUB SEKTOR ( dalam ribuan rupiah) Nomor Kode 1 1.952.132.979.2 4.00 40.4 4.542.920.00 2.893.398.919.2 6 6.225.636.563.00 5.00 590.878.00 13.665.075.991.534.550.00 8.00 21.464. PENERIMAAN PEMBANGUNAN Perkiraan penerimaan bantuan program dan bantuan proyek adalah sebagai berikut : bantuan program dalam tahun anggaran 1985/1986 diperkirakan sebesar Rp 70.00 Departemen Keuangan RI 323 .237.523.380.990.440.00 22.170.00 15.1 3.408.2 2 2.00 14.685.00 83.646.2 4 4.1 3 3.1 4.298.368.3 4.715. DESA DAN KOTA J umlah 50.00 405.

453.500.154.1 8 8. Pers dan Komunikasi Sosial PENELITIAN Sub Sektor Penelitian SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah Sub Sektor Lembaga Tertinggi Tinggi Negara Sub Sektor Keuangan Negara JUMLAH Jumlah 2.596.889.943.662. GENERASI MUDA.662.634.100.408.074.930.218.1 Sektor/Sub Sektor Kota SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama SEKTOR PENDIDIKAN.154.850.00 129.3 116.000.2 10.2 16.618.600. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kepencluclukan dan Keluarga Berencana SEKTOR PERUMAHAN RAKY AT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional SEKTOR PENERANGAN.00 129.00 46.649.000.158.500.1 12 12.685.00 Departemen Keuangan RI 324 .399.803.316.803. PERANAN WANITA.331.269.392.521.1 14 14.3 11 11.00 17.636.00 23. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedlinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa SEKTOR KESEHATAN. PERS DAN KOMUNlKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.00 34.500.00 4.928.00 6.510.00 9 9.295.316.3 665.1 16.196.928.00 12.1 10.00 9.1 16 16.00 6.00 16.464.00 618.848.618.00 50.155.453.00 46.1 13 13.600.00 74.521.447. KESEJAHTERAAN SOSIAL.778.1 15 15.596.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode 7.943.2 9.00 4.392.850.00 10 10.00 6.941.261.1 9.470.604.00 1.00 642.187.00 50.00 34.00 1.

486.000 900.000 217.000 691.000 136.141.000 472.971.4 4.000 58.000 365.531.320.931.679.000 12.294.739.324.359.531.704.545.2 4 4.623.5 4.000 170.195.000 68.000 62.125.000 258.000 70.350.212.1 5.289.050.000 111.000 275.913.000 1.000 789.518.000 635.000 179.000 76.993.818.000 80.000 108.000 469.000 256.430.000 28.000 68.291.623.363.000 111.580.257.392.2 2 2.000 38.194.795.000 Jumlah 1.000 274.2 4.000 95.000 Nomor Kode 1 1.000 238.000 1.000 529.000 60.462.509.301.000 209.000 543.795.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Lampiran 3 ANGGARAN BELANJA PEMBANGUNAN 1985/1986 DIPERINCI MENURUT SEKTOR/SUB SEKTOR ( dalam ribuan rupiah ) Nilai Rupiah Proyek/ Teknis.000 52.141.788.000 71.864.3 4.000 30.000 265.189.518.000 539.025.000 655.1 4.000 621.000 9.230.000 199.000.000 28.000 109.850.425.000 45.683.1 3 3.000 190.000 543.365.000 578.000 16.1 1.469.975.536.000 826.000 1.903.2 6 6.045.1 6.000 655.2 Departemen Keuangan RI 325 .040.095.6 5 5.830.012.900.043.800.1 3.000 14.000 676.000 1.000 98.000 263.462.494.658.000 128.831. Kredit Ekspor dan obligasi Sektor/Sub Sektor SEKTOR PERTANIAN DAN PENGAIRAN Sub Sektor Pertanian Sub Sektor Pengairan SEKTOR INDUSTRI Sub Sektor Industri SEKTORPERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor pertambangan Sub Sektor Energi SEKTORPERHUBUNGAN DAN PARIWISATA Sub Sektor Prasarana Jalan Sub Sektor Perhubungan Darat Sub Sektor Perhubungan Laut Sub Sektor perhubungan Udara Sub Sektor Pos dan Telekomunikasi Sub Sektor Pariwisata SEKTOR PERDAGANGAN DAN KOPERASI Sub Sektor Perdagangan Sub Sektor Koperasi SEKTOR TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Sub Sektor Tenaga Kerja Sub Sektor Transmigrasi Rupiah 957.492.532.

553.000 63.000 163.092.321.000 25.1 12 12.000 413.595.362.000 58.135.641.308.000 817. Kredit Ekspor dan obligasi 25.001.000 Nilai Rupiah Proyek/ Teknis.000 42.000 437.334.000 18. GENERASI MUDA.641.126.000 237.000 163.846.903.000 10 10.000 65.000 63.962.774.000 1.493.000 254.000 83.595.000 Departemen Keuangan RI 326 .000 100.000 80.000 16.2 10.860.1 303.219.987.219. PERANAN WANITA.595.000 9.000 1.720.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode Sektor/Sub Sektor Rupiah 7 7.1 10.867.540.000 55.3 11 11.1 8 8.409.000 203.822.000 Jumlah 868. KEBUDAYAAN NASIONAL DAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA Sub Sektor Pendidikan Umum dan Generasi Muda Sub Sektor Pendidikan Kedinasan Sub Sektor Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa SEKTOR KESEHATAN.232.2 9.092.000 817.720.3 31.334. Desa dan Kota SEKTOR AGAMA Sub Sektor Agama SEKTOR PENDlDlKAN.000 79.885.000 58.595.1 9.000 79.845. KESEJAHTERAAN SOSIAL.092.000 47.273.000 2.885.000 63.000 109.006.510. KEPENDUDUKAN DAN KELUARGABERENCANA Sub Sektor Kesehatan Sub Sektor Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita Sub Sektor Kependudukan dan Keluarga Berencana SEKTORPERUMAHAN RAKYAT DAN PEMUKIMAN Sub Sektor Perumahan Rakyat dan Pemukiman SEKTOR HUKUM Sub Sektor Hukum 842.1 9 SEKTORPEMBANGUNAN DAERAH.000.000 1.158.000 842.000 437.000 1.000 189.000 868.361.120.000 102.000 273.628.903. DESA DAN KOTA Sub Sektor Pembangunan Daerah.000 63.000 273.867.774.000 80.

000 69.000 714.064.000 229.1 15.000 18.000 34.2 16 16.000 49.800.000 259.189.242.000 176.210.200.687.555.828.000 174.361.000 133.000 138.210.000 174.000 217.000 11.572.189.383. Pers dan Komunikasi Sosial SEKTOR ILMU PENGETAHUAN.000 207.000 18.441.115.828.1 17 17.000 10.1 SEKTOR PERTAHANAN DAN KEAMANAN NASIONAL Sub Sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional SEKTOR PENERANGAN.297.349.000 93.147.873.000 318.572.064.000 49.000 67.000 4.000 6.147.000 217.1 18.274.000 229.361.313.441.523.114.000 165.647.000 39.102.000 714. 18.000.854. Kredit Eksgor dan obligasi 318.000 99.000 176.000 35.327.415.274.938. PERS DAN KOMUNIKASI SOSIAL Sub Sektor Penerangan.281.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Nomor Kode Sektor/Sub Sektor Rupiah Nitai Rupiah Bantuan Proyek/ Teknis.1 14 14.000 11.114.854.000 2.115.000 J umlah 13 13.000 74.000 67.1 15 15.000 395.000 165.327. TEKNOLOGI DAN PENELITIAN Sub Sektor Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sub Sektor Penelitian SEKTOR APARATUR PEMERINTAH Sub Sektor Aparatur Pemerintah SEKTORPENGEMBANGAN DUNIA USAHA Sub Sektor Pegembangan Dunia Usaha SEKTOR SUMBER ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Sub Sektor Sumber Alam dan Lingkungan Hidup JUMLAH 395.000 93.000 Departemen Keuangan RI 327 .000 259.873.687.000 2.

Mengingat : Departemen Keuangan RI 328 . Pasal 5 ayat (1). bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/ 1986 pada dasarnya merupakan rencana kerja Pemerintah dalam rangka pelaksanaan tahun kedua rencana tahunan Pembangunan Lima Tahun IV dan di samping itu dimaksudkan pula untuk memelihara dan meneruskan hasil-hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan pembangunan sejak Pembangunan Lima Tahun I sampai dengan tahun pertama Pembangunan Lima Tahun IV. terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1968 tentang Perubahan Posal 7 Indische Comptabiliteitswet (Lembaran Negara Tahun 1968 Nomor 53). 2.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 20 ayat (1). tetap disusun dengan mengikuti prioritas nasional sebagaimana ditetapkan di dalam Pola Umum Pembangunan Lima Tahun IV yang tercantum dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. Menimbang : a. dan sekaligus untuk meletakkan landasan bagi usahausaha pembangunan selanjutnya. 1. bahwa sehubungan dengan itu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 perlu diatur dengan Undang-undang. bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk Tahun Anggaran 1985/1986 sebagai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun kedua dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun IV. b. dan untuk lebih menjaga kelangsungan jalannya pembangunan maka dalam Undang-undang tersebut diatur pula ten tang saldo-anggaran-Iebih dan sisa kredit anggaran proyek-proyek pada anggaran pembangunan Tahun Anggaran 1985/1986. Indische Comptabiliteitswet (Staatsblad tahun 1925 Nomor 448) sebagaimana telah beberapa kali diubah. c. dan Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.

100.000.00. Perincian pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Jan ayat (3) berturut-turut dimuat dalam Lampiran III dan Lampiran IV.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA.000. Anggaran Belanja Pembangunan. Anggaran Belanja Pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b menurut perkiraan berjumlah Rp 10.00.000.00.900. (4) (5) Departemen Keuangan RI 329 .000.000:000.046.000. Pendapatan Pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b menurut perkiraan berjumlah Rp 4. Pasal 2 (1) Anggaran Belanja Tahun Anggaran 1985/1986 terdiri atas : a.000. Pasal l (1) Pendapatan Negara Tahun Anggaran 1985/1986 diperoleh dari : a. sedangkan perincian lebih lanjut sampai pada kegiatan ditentukan dengan Keputusan Presiden.000. b. Anggaran Belanja Rutin.399.000.000.368. (2) (3) Pendapatan Rutin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a menurut perkiraan berjumlah Rp 18.677.000. Sumber-sumber Anggaran Rutin.000. b. Jumlah seluruh pendapatan Negara Tahun Anggaran 1985/1986 menurut perkiraan berjumlah Rp 23.647. Jumlah seluruh Anggaran Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 menurut perkiraan berjumlah Rp 23. Perincian dalam Lampiran III sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memuat sektor dan sub sektor. Perincian pendapatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) berturut-turut dimuat dalam Lampiran I dan Lampiran II.000.046. Sumber-sumber Anggaran Pembangunan.000. MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/ 1986.00. (2) (3) (4) (5) (6) Anggaran Belanja Rutin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a menurut perkiraan berjumlah Rp 12.000.00.00.

Anggaran Belanja Rutin. d. Pasal 4 (5) (1) Kredit anggaran proyek-proyek pada Anggaran Belanja Pembangunan Tahun Anggaran 1985/1986 yang pada akhir Tahun Anggaran menunjukkan sisa. Anggaran Pendapatan Rutin. dengan Peraturan Pemerintah dipindahkan kepada Tahun Anggaran 1986/1987 dengan menambahkannya kepada kredit anggaran Tahun Anggaran 1986/1987. (3) (4) Dalam laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) disusun prognosa untuk 6 (enam) bulan berikutnya. Pasal 3 (1) Pada pertengahan Tahun Anggaran dibuat a. c. Kebijaksanaan Perkreditan. Sisa kredit anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebelum ditambahkan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1986/1987 terlebih dahulu diperiksa dan dinyatakan kebenarannya oleh Menteri Keuangan. sedangkan perincian lebih lanjut sampai pada proyek-proyek ditentukan dengan Keputusan Presiden. Saldo-anggaran-Iebih Tahun Anggaran 1985/1986 ditambahkan kepada anggaran Tahun Anggaran 1986/1987 dan dipergunakan untuk membiayai Anggaran Belanja Pembangunan Tahun Anggaran 1986/1987. Perkembangan Lalu-lintas Pembayaran Luar Negeri. Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyatakan pula. Anggaran Belanja Pembangunan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 (7) Perincian dalam Lampiran IV sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memuat sektor dan sub sektor. (2) Pada pertengahan Tahun Anggaran dibuat laporan realisasi mengenal : a. Penyesuaian anggaran dengan perkembangan/perubahan keadaan dibahas bersama oleh Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Anggaran Pendapatan Pembangunan. b. b. Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan Badan Pemeriksa Keuangan selambat-Iambatnya pada akhir triwulan I Tahun Anggaran 1986/1987. (2) (3) (4) (5) Departemen Keuangan RI 330 . Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dibahas bersama oleh Pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat. bahwa sisa kredit anggaran yang ditambahkan itu dikurangkan dari kredit anggaran Tahun Anggaran 1985/1986.

(2) SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI/SEKRET ARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Pasal 8 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal l April 1985. susunan.aksud dalam ayat (1) setelah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan disampaikan oleh Pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat selambat-lambatnya 3 (tiga) tahun setelah Tahun Anggaran yang bersangkutan berakhir. Perhitungan Anggaran Negara sebagaimana dim. SR. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indoneia. Disahkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 7 Ketentuan-ketentuan dalam Indische Comptabiliteitswet (Undang-undang Perbendaharaan) yang hertentangan dengan bentuk. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 6 (1) Setelah Tahun Anggaran 1985/1986 berakhir dibuat perhitungan anggaran mengenai pelaksanaan anggaran yang bersangkutan. Departemen Keuangan RI 331 . SUDHARMONO.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Pasal 5 Selambat-Iambatnya pada akhir Tahun Anggaran 1985/1986 oleh Pemerintah diajukan Rancangan Undang-undang tentang Tambahan dan Perubahan alas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 berdasarkan tambahan dan perubahan sebagai hasil penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (5) untuk mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. dan isi Undangundang ini dinyatakan tidak berlaku.

khususnya Pola Umum Pelita Keempat. prasarana jalan.1fat yang makin mampu dan bersih. seperti pengembangan sarana kesehatan. pertahanan keamanan. Keriga unsur Trilogi Pembangunan tersebut saling kaitmengkait. Selanjutnya diperlukan pula pengeluaran untuk tugas umum Pemerintahan. maka pengeluaran terutama ditujukan untuk menyelesaikan proyek-proyek. sosial budaya. Anggaran berimbang yang dinamis perlu disertai penyempurnaan pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara agar penerimaan negara makin meningkat.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 RANCANGAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TEN TANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 1985/1986 UMUM Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 adalah anggaran pendapatan dan belanja negara tahun kedua dalam rangka pelaksanaan REPELITA IV. yang akan terus dikembangkan dalam Pelitaj'elita selanjutnya. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. yakni pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. yang disertai dengan pemungutan pajak yang lebih intensif. Sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. serta bantuan pembangunan lainnya. maupun dari tahun-tahun sebelumnya. Sejalan dengan prioritas pembangunan di bidang ekonomi. dan agar saling menunjang dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh pembangunan bidang ekonomi. Peningkatan penerimaan negara diutamakan dari sumber-sumber di luar miIiyak bumi dan gas alam. Daerah Tingkat II. makin diringkatkan sepadan. pembangunan di bidang polirik. dan tahun berjalan. di samping memelihara hasil-hasil pembangunan. Adapun bantuan pembangunan kepada Desa. kebijaksanaan dalam pelaksanaan pembangunan didasarkan kepada Trilogi Pembangunan. dan lain-lain. baik industri berat maupun industri ringan. Di bidang pengeluaran. Departemen Keuangan RI 332 . sedangkan pengeluaran negara makin terkendali dan terarah. Prioritas diletakkan pada pembangunan di bidang ekonomi dengan ririk berat pada sektor pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha memantapkan swasembada pangan. dan perlu tetap dikembangkan secara serasi agar saling memperkuat. pertumbuhan ekonomi yang cukup ringgi. antara lain melalui penyempurnaan sistem perpajakan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 mengikuri prioritas nasional sebagaimana ditetapkan di dalam Pola Umum Pelita Keempat. antara lain untuk terus mendayagunakan aparatur negara agar lebih mampu melaksanakan tugas yang kian meningkat sesuai dengan perkembangan pelaksanaan pembangunan. dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri. dan Daerah Tingkat I. sehingga peranan Tabungan Pemerintab di dalam anggaran pembangunan dapat lebih ditingkatkan lagi. dan ap.

maupun dalam anggaran belanja pembangunan. terus pula dilaksanakan pembangunan di bidang pendidikan. sehingga untuk itu dibuat dalam bentuk prognosa. Departemen Keuangan RI 333 . yang diharapkan dapat menambah penyediaan dan perluasan lapangan kerja. maka penggeseran antar program dan antar kegiatan dalam anggaran belanja rutin. Ayat (2) Masalah kebijaksanaan kredit dan lalu lintas pembayaran luar negeri sebagian besar berada di sektor bukan Pemerintah. b. dan sektor penerimaan negara masih dipengaruhi oleh perekonomian dunia yang belum menunjukkan kepulihan yang berarti. sisa kredit anggaran proyekproyek pada anggaran pembangunan dan saldo-anggaran-Iebih Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 ditambahkan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1986/1987. Di samping itu. Selanjutnya. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas. serta bidangbidang lainnya. Oleh sebab itu penyusunan kebijaksanaan kredit dan devisa dalam benruk dan ani seperti anggaran rutin dan anggaran pembangunan sukar untuk dilaksanakan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 dan penghutanan kembali tanah kritis. c. tersedianyabarang-barang kebutuhan pokok sehari-hari yang cukup tersebar merata dengan harga yang stabil dan terjangkau oleh rakyat banyak. agar tercapai keserasian dan keselarasan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. serta mengurangi tekanan pengangguran. . Dalam rangka kesinambungan kegiatan pembangunan. bahwa kestabilan moneter. bahwa keadaan perekonomian Indonesia khususnya sektor perdagangan internasional. dilakukan dengan persetujuan Presiden. Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas. maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1985/1986 disusun berdasarkan asumsi-asumsi umum sebagai berikut : a. baik dalam anggaran belanja rutin. khususnya yang berasal dari sektor perdagangan internasional dapat mencapai target yang telah ditetapkan. Pasal 2 Cukup jelas. dilanjutkan sehingga secara keseluruhan dapat terus menggerakkan dan meratakan pembangunan daerah. sedangkan penggeseran antar sektor dan antar sub sektor. serta antar program dan antar proyek dalam anggaran belanja pembangunan. dilakukan dengan Undang-undang. agar biaya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal sesuai dengan kebijaksanaan anggaran. dapat terus dipertahankan bahwa penerimaan negara.

Departemen Keuangan RI 334 . Pasal 8 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 6 Perhitungan Anggaran Negara sebagaimana dimaksud dalam Posal ini disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dalam benruk dan susunan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan persetujuan Badan Pemeriksa Keuangan.Nota Keuangan dan APBN Tahun 1985/1986 Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. maka pengajuannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan selambat-lambatnya pada akhir Tahun Anggaran 1985/1986. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 5 Pasal ini menentukan bahwa jika diperlukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tambahan dan Peru bahan. Pasal 4 Cukup jelas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful