P. 1
DEKOMPENSASI KORDIS

DEKOMPENSASI KORDIS

|Views: 1,634|Likes:
Published by rakatsu

More info:

Published by: rakatsu on Feb 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2013

pdf

text

original

DEKOMPENSASI KORDIS

DEKOMPENSASI KORDIS
Decompensasi cordis adalah kegagalan jantung dalam upaya untuk mempertahankan peredaran darah sesuai dengan kebutuhan tubuh.(Dr. Ahmad ramali.1994) Dekompensasi kordis adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan kemampuan fungsi kontraktilitas yang berakibat pada penurunan fungsi pompa jantung (Tabrani, 1998; Price, 1995).

Faktor yang dapat menimbulkan penyakit jantung adalah kolesterol darah tinggi, tekanan darah tinggi, merokok, gula darah tinggi (diabetes mellitus), kegemukan, dan stres. Akibat lanjut jika penyakit jantung tidak ditangani maka akan mengakibatkan gagal jantung, kerusakan otot jantung hingga 40% dan kematian. Menurut data yang diperoleh penulis hingga sekarang penyakit jantung merupakan pembunuh nomor satu (Sampurno,1993). WHO menyebutkan rasio penderita gagal jantung di dunia adalah satu sampai lima orang setiap 1000 penduduk. Penderita penyakit jantung di Indonesia kini diperkirakan mencapai 20 juta atau sekitar 10% dari jumlah penduduk di Nusantara (www.depkes.go.id). 

Jenis-Jenis Gagal Jantung 1. Gagal Jantung Backward & Forward 2. Gagal Jantung Right-Sided & Left-Sided 3. Gagal Janung Low-Output & High-Output 4. Gagal Jantung Akut & Menahun 5. Gagal Jantung Sistolik & Diastolik 

Etiologi Mekanisme fisiologis yang menyebabkan timbulnya dekompensasi kordis adalah keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal, beban akhir atau yang menurunkan kontraktilitas miokardium. Keadaan yang meningkatkan beban awal seperti regurgitasi aorta, dan cacat septum ventrikel. Beban akhir meningkat pada keadaan dimana terjadi stenosis aorta atau hipertensi sistemik. Kontraktilitas miokardium dapat menurun pada infark miokard atau kardiomyopati. Faktor lain yang dapat menyebabkan jantung gagal sebagai pompa adalah gangguan pengisisan ventrikel (stenosis katup atrioventrikuler), gangguan pada pengisian dan ejeksi ventrikel (perikarditis konstriktif dan temponade jantung). Dari seluruh penyebab tersebut diduga yang paling mungkin terjadi adalah pada setiap kondisi tersebut mengakibatkan pada gangguan penghantaran kalsium di dalam sarkomer, atau di dalam sistesis atau fungsi protein kontraktil ( Price. Sylvia A, 1995). 

Patofisiologi Kelainan intrinsik pada kontraktilitas myokard yang khas pada gagal jantung akibat penyakit jantung iskemik, mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel yang efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi curah sekuncup, dan meningkatkan volume residu ventrikel. Sebagai respon terhadap gagal jantung, ada tiga mekanisme primer yang dapat di lihat :
1. Meningkatnya aktivitas adrenergic simpatik. 2. Meningkatnya beban awal akibat aktivasi system rennin angiotensin aldosteron, dan 3. Hipertrofi ventrikel.

Ketiga respon kompensatorik ini mencerminkan usaha untuk mempertahankan curah jantung. 

Manifestasi Klinis Dampak dari cardiak output dan kongesti yang terjadi sisitem vena atau sistem pulmonal antara lain : Lelah Angina pectoris Cemas Oliguri. Penurunan aktifitas GI Kulit dingin dan pucat Tanda dan gejala yang disebakan oleh kongesti balik dari ventrikel kiri, antara lain : Dyppnea Batuk Orthopea Reles paru Hasil x-ray memperlihatkan kongesti paru.

Tanda-tanda dan gejala kongesti balik ventrikel kanan : Edema perifer Distensi vena leher Hati membesar Peningkatan central venous pressure (CPV) Komplikasi Komplikasi dari decompensatio cordis adalah: Syok kardiogenik. Episode tromboemboli. Efusi dan tamporiade perikardium 

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan fisik EKG untuk melihat ada tidaknya infark myocardial akut, dan guna mengkaji kompensaai sepperti hipertropi ventrikel 2. Echocardiografi dapat membantu evaluasi miokard yang iskemik atau nekrotik pada penyakit jantung kotoner 3. Film X-ray thorak untuk melihat adanya kongesti pada paru dan pembesaran jantung 4. esho-cardiogram, gated pool imaging, dan kateterisasi arteri pulmonal.untuk menyajikan data tentang fungsi jantung 

Pencegahan

Pencegahan gagal jantung, harus selalu menjadi hal yang diutamakan, terutama pada kelompok dengan risiko tinggi. Obati penyebab potensial dari kerusakan miokard. Pengobatan infark jantung segera di triase, serta pencegahan infark ulangan. Pengobatan hipertensi yang agresif. Koreksi kelainan kongenital serta penyakit katup jantung. Memerlukan pembahasan khusus. Bila sudah ada disfungsi miokard, upayakan eliminasi penyebab yang mendasari. 

Penatalaksanaan Penatalaksanaan dari dekompensasi kordis pada dasarnya diberikan hanya untuk menunggu saat terbaik untuk melakukan tindakan bedah pada penderita yang potentially curable. Dasar pengobatan dekompensasi kordis dapat dibagi menjadi : 1. Non medikamentosa. Dalam pengobatan non medikamentosa yang ditekankan adalah istirahat, dimana kerja jantung dalam keadaan dekompensasi harus dikurangi benar benar dengan tirah baring (bed rest) mengingat konsumsi oksigen yang relatif meningkat. Sering tampak gejala gejala jantung jauh berkurang hanya dengan istirahat saja. Diet umumnya berupa makanan lunak dengan rendah garam. Jumlah kalori sesuai dengan kebutuhan. Penderita dengan gizi kurang diberi makanan tinggi kalori dan tinggi protein. Cairan diberikan sebanyak 80 100 ml/kgbb/hari dengan maksimal 1500 ml/hari.

2. Medikamentosa Pengobatan dengan cara medikamentosa masih digunakan diuretik oral maupun parenteral yang masih merupakan ujung tombak pengobatan gagal jantung. Sampai edema atau asites hilang (tercapai euvolemik). ACE-inhibitor atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB) dosis kecil dapat dimulai setelah euvolemik sampai dosis optimal. Penyekat beta dosis kecil sampai optimal dapat dimulai setelah diuretik dan ACEinhibitor tersebut diberikan. 3. Tindakan Pembedahan/Operasi

A. Pengkajian 1. Aktivitas dan Istirahat o Gejala : Mengeluh lemah, cepat lelah, pusing, rasa berdenyut dan berdebar. Mengeluh sulit tidur (keringat malam hari). o Tanda: Takikardia, perubahan tekanan darah, pingsan karena kerja, takpineu, dispneu. 2. Sirkulasi o Gejala: Menyatakan memiliki riwayat demam reumatik hipertensi, kongenital: kerusakan arteial septal, trauma dada, riwayat murmur jantung dan palpitasi, serak, hemoptisisi, batuk dengan/tanpa sputum, riwayat anemia, riwayat shock hipovolemik. o Tanda: Getaran sistolik pada apek, bunyi jantung; S1 keras, pembukaan yang keras, takikardia. Irama tidak teratur; fibrilasi arterial.

3. Integritas Ego o Tanda: Menunjukan kecemasan; gelisah, pucat, berkeringat, gemetar. Takut akan kematian, keinginan mengakhiri hidup, merasa tidak berguna, kepribadian neurotik. 4. Makanan / Cairan o Gejala: Mengeluh terjadi perubahan berat badan, sering penggunaan diuretik. o Tanda: Edema umum, hepatomegali dan asistes, pernafasan payah dan bising terdengar krakela dan mengi. 5. Neurosensoris o Gejala: Mengeluh kesemutan, pusing o Tanda: Kelemahan 6. Pernafasan o Gejala: Mengeluh sesak, batuk menetap atau nokturnal. o Tanda: Takipneu, bunyi nafas; krekels, mengi, sputum berwarna bercak darah, gelisah.

7. Keamanan o Gejala: Proses infeksi/sepsis, riwayat operasi o Tanda: Kelemahan tubuh 8. Penyuluhan / pembelajaran o Gejala: Menanyakan tentang keadaan penyakitnya. o Tanda: Menunjukan kurang informasi.

B. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul a. Kerusakan pertukaran gas b.d kongesti paru sekunder, perubahan membran kapiler alveoli dan retensi cairan interstisial. b. Penurunan curah jantung b.d penurunan pengisian ventrikel kiri, peningkatan atrium dan kongesti vena.

C. Intervensi Diagnosa Keperawatan 1) : Kerusakan pertukaran gas b.d kongesti paru sekunder perubahan membran kapiler alveoli dan retensi cairan interstisiil Tujuan : Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi secara adekuat, PH darah normal, PO2 80-100 mmHg, PCO2 35-45 mm Hg, HCO3 3 1,2 Tindakan: a. Kaji kerja pernafasan (frekwensi, irama , bunyi dan dalamnya) b. Berikan tambahan O2 6 lt/mnt c. Pantau saturasi (oksimetri) PH, BE, HCO3 (dengan BGA) d. Koreksi kesimbangan asam basa e. Beri posisi yang memudahkan klien meningkatkan ekpansi paru.(semi fowler) f. Cegah atelektasis dengan melatih batuk efektif dan nafas dalam g. Lakukan balance cairan h. Batasi intake cairan i. Evaluasi kongesti paru lewat radiografi k. Kolaborasi : RL 500 cc/24 jam Digoxin 1-0-0 Furosemid 2-1-0

Rasional a. Untuk mengetahui tingkat efektivitas fungsi pertukaran gas. b. Untuk meningkatkan konsentrasi O2 dalam proses pertukaran gas. c. Untuk mengetahui tingkat oksigenasi pada jaringan sebagai dampak adekuat tidaknya proses pertukaran gas. d. Mencegah asidosis yang dapat memperberat fungsi pernafasan. e. Meningkatkan ekpansi paru f. Kongesti yang berat akan memperburuk proses perukaran gas sehingga berdampak pada timbulnya hipoksia. g. Meningkatkan kontraktilitas otot jantung sehingga dapat meguranngi timbulnya odem sehingga dapat mecegah ganggun pertukaran gas. h. Membantu mencegah terjadinya retensi cairan dengan menghambat ADH.

D. Implementasi Implementasi ini disusun menurut Patricia A. Potter (2005) Implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana tindakan keperawatan yang telah disusun / ditemukan, yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal dapat terlaksana dengan baik dilakukan oleh pasien itu sendiri ataupun perawat secara mandiri dan juga dapat bekerjasama dengan anggota tim kesehatan lainnya seperti ahli gizi dan fisioterapis. Perawat memilih intervensi keperawatan yang akan diberikan kepada pasien. Berikut ini metode dan langkah persiapan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan yang dapat dilakukan oleh perawat : 1. Memahami rencana keperawatan yang telah ditentukan 2. Menyiapkan tenaga dan alat yang diperlukan 3. Menyiapkan lingkungan terapeutik 4. Membantu dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari 5. Memberikan asuhan keperawatan langsung 6. Mengkonsulkan dan memberi penyuluhan pada klien dan keluarganya.

E. Evaluasi Evaluasi keperawatan ini disusun menurut Patricia A. Potter (2005) Evaluasi merupakan proses yang dilakuakn untuk menilai pencapaian tujuan atau menilai respon klien terhadap tindakan leperawatan seberapa jauh tujuan keperawatan telah terpenuhi. Pada umumnya evaluasi dibedakan menjadi dua yaitu evaluasi kuantitatif dan evaluasi kualitatif. Dalam evalusi kuantitatif yang dinilai adalah kuatitas atau jumlah kegiatan keperawatan yang telah ditentukan sedangkan evaluasi kualitatif difokoskan pada masalah satu dari tiga dimensi struktur atau sumber, dimensi proses dan dimensi hasil tindakan yang dilakukan. Adapun langkah-langkah evaluasi keperawatan adalah sebagai berikut : 1. Mengumpulkan data keperawatan pasien. 2. Menafsirkan (menginterpretasikan) perkembangan pasien. 3. Membandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dengan menggunakan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. 4. Mengukur dan membandingkan perkembangan pasien dengan standar normal yang berlaku.

Hasil yang diharapkan: 1. Mengalami penurunan kelelahan dan dispnea. Mampu beristirahat secara adekuat baik fisik maupun emosional. Berada pada posisi yang tepat yang dapat mengurangi kelelahan dan dispnu. Mematuhi aturan pengobatan. 2. Mengalami penurunan kecemasan. Menghindari situasi yang menimbulkan stress. Tidur nyenyak di malam hari. Melaporkan penurunan stres dan kecemasan. 3. Mencapai perfusi jaringan yang normal. Mampu beristirahat dengan cukup. Melakukan aktivitas yang memperbaiki aliran balik vena; latihan harian sedang; rentang gerak ekstremitas aktif bila tidak bisa berjalan atau harus berbaring dalam waktu lama, mengenakan kaus kaki penyokong. Kulit hangat dan kering dengan warna normal. Tidak memperlihatkan edema perifer. 4. Mematuhi aturan perawatan diri

.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->