ANARKISME ILMU PENGETAHUAN (Analisis Terhadap Konstruksi Epistemologi Paul Karl Feyerabend, 1924-1994

)

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Untuk Memenuhi sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S-1) Filsafat Islam

Disusun Oleh: FATHORRAHMAN NIM. 0051 0251

JURUSAN AQIDAH FILSAFAT FAKULTAS USHULUDDIN UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2005

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini terdapat perhatian yang semakin besar terhadap filsafat ilmu. Dinamika perkembangan ilmu yang begitu pesat dan cepat serta pengaruhnya yang cukup signifikan terhadap kehidupan masyarakat, menuntut intensitas pemikiran kita untuk mempelajari berbagai metode cabang ilmu secara terpadu dan berkesinambungan. Hakikat ilmu sebagai suatu kumpulan pengetahuan berdaya guna memberikan dorongan bagi kita dalam menjelaskan, meramalkan dan mengontrol gejala-gejala alam. Pengetahuan yang merupakan produk kegiatan berpikir merupakan obo r peradaban telah memungkinkan manusia menemukan jati dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan serta merta dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan jalan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya. Proses penemuan dan penerapan itulah yang menghasilkan kapak dan batu zaman dulu sampai komputer hari ini. Berbagai masalah memasuki benak pemikiran manusia dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, dan beragam buah pemikiran telah dihasilkan sebagai bagian dari sejarah kebudayaannya. Meskipun tampak betapa banyak dan beraneka ragamnya buah pemikiran itu, namun pada hakikatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok, yakni: Apakah yang ingin kita ketahui?

Bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? dan Apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita?1 Hal ini juga sesuai dengan dimensi utama filsafat ilmu itu sendiri sebagai sebuah proses penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Sebab filsafat ilmu itu sendiri bersinggungan pula dengan bagian-bagian filsafat sistematik lainnya, seperti filsafat pengetahuan (hakikat serta otentisitas pengetahuan), ontologi (ciri-ciri serta susunan kenyataan) dan filsafat kesusilaan (nilai-nilai serta tanggungjawab).2 Pertanyaan itu kelihatannya sederhana namun mencakup permasalahan yang sangat azasi. Lahirnya sejumlah karya pemikiran besar pun sebenarnya merupakan wujud nyata dari keseriusan kaum intelektual dalam rangka merumuskan format penafsiran baru yang lebih bermutu atas ketiga pertanyaan tersebut di atas. Pemikiran-pemikiran besar dalam sejarah kebudayaan manusia dapat dicirikan dan dibedakan dari cara mereka menjawab dan menyikapi pertanyaan-pertanyaan itu yang merupakan titik tolak dalam pengemban gan pemikiran selanjutnya. Ilmu merupakan salah satu bentuk manifestasi dari pengetahuan manusia yang pada abad modern ini telah merasuki setiap sudut kehidupan manusia. Salah satu pandangan kontemporer tentang ilmu yang paling menantang dan provokatif adalah pandangan yang dikemukakan dan dibela secara gemilang oleh Paul Karl Feyerabend. Ia mengajukan pandangan yang sangat menantang dan baru dalam filsafat ilmu. Baginya, tidak ada penilaian mengenai watak dan status
Jujun Suparjan Suriasumantri (penyunting), Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999), hlm. 2. Beerling, et.al., Pengantar Filsafat Ilmu, alih bahasa Soejono Soemargono, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), hlm. xii.
2 1

namun juga membuka mata kita terhadap berbagai kekurangan yang dikandungnya. Menghadapi dua pola pendapat yang ekstrem ini seyogianya kita harus bersikap lapang dan bijak dengan menyadari bahwa meskipun ilmu memang memberikan gambaran konseptual tentang hakikat kebenaran. Adalah ketinggi hatian yang tidak mempunyai dasar sama sekali. Demikian juga sebaliknya dengan mereka yang memalingkan muka dari ilmu. sehingga hal tersebut bukan saja akan meningkatkan apresiasi kita terhadap ilmu itu sendiri. Kehidupan terlalu rumit untuk dianalisis hanya oleh satu jalan pemikiran saja. Mereka yang mendewa-dewakan ilmu sebagai satu-satunya sumber kebenaran biasanya tidak mengetahui hakikat ilmu yang sebenarnya. Paul Karl Feyerabend ingin melihat mengapa pada abad modern ini ilmu pengetahuan diberi penghargaan tinggi .ilmu akan lengkap tanpa suatu usaha untuk memahaminya secara integral dan holistik. Terdapat berbagai model kebenaran lain yang memperkaya khazanah kehidupan kita. Untuk bisa menghargai ilmu sebagaimana mestinya sesungguhnya kita harus mengerti apakah hakikat ilmu itu sebenarnya secara mendalam. jika kita beranggapan bahwa ilmulah alpha dan omega dari segala kebenaran yang ada. kepicikan seperti itu kemungkinan besar disebabkan karena mereka kurang mengenal hakikat ilmu yang seb enarnya. namun kebenaran keilmuan bukanlah satu-satunya sumber kebenaran dalam hidup kita ini. Dalam konteks pemikiran inilah. dan tidak mau melihat kenyataan bahwa ilmu telah mampu membentuk peradaban seperti apa yang kita saksikan sekarang ini.

4 Ia mengemukakan bahwa banyak kaum metodologis sudah menganggap benar tanpa argumentasi. there is not a shared of an argument of this kind. hlm. Seolah-olah kini ilmu pengetahuan bersifat "anarkis". Feyerabend menggambarkan hal tersebut dengan pernyataan berikut: Having finished his µreconstruction¶ of modern science. Secara kritis Feyerabend menulis tentang Imre Lakatos yang dianggapnya sebagai rekan anarkis karena metodologinya tidak menyediakan hukum -hukum untuk memilih teori atau program: "Setelah menyelesaikan rekonstruksinya tentang ilmu modern. Chalmers. 1993).3 Feyerabend menyesalkan pembela-pembela ilmu yang secara tipikal menilai ilmu adalah superior atas bentuk-bentuk pengetahuan lain tanpa melakukan penyelidikan yang layak mengenai be ntuk-bentuk pengetahuan lain..W. tetapi tidak dibuktikan bahwa a lebih i baik daripada 'kearifan' para ahli sihir dan tukang -tukang sulap. tidak ada secuil pun argumentasi yang dikemukakannya. However. bahwa ilmu (fisika) membentuk paradigma rasionalitas. 4 3 . they Prasetya T. dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting). ia (Lakatos) mengalihkannya ke bidang -bidang lain seolaholah telah mapan bahwa ilmu modern lebih ung daripada sihir-sihir atau ilmu gul Aristotelian. he turns it against other fields as if it had already been established that modern science is superior to magic. hlm. A. or to Aristotelian science. dan bahwa ia tidak mempunyai hasil-hasil ilusif. Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. Namun. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya (Jakarta: Hasta Mitra. 1982). µRational reconstructions¶ take µbasic scientific wisdom¶ for granted. 47.F. 'Rekonstruksi rasional' menganggap 'kearifan ilmiah' sudah benar.dalam masyarakat dibandingkan bidang-bidang lainnya. "Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend". 149. and that it has no illusory results.

original papers. Menurut 5 Paul Karl Feyerabend. records of meetings and private conversations. maka diperlukan penyelidikan terhadap watak. sebagaimana yang biasanya dipahami oleh para filsuf dan rasionalis kontemporer. dan sebagainya". letters.6 Ia pun tidak bisa sekedar asumsi tanpa penelitian lebih jauh. we shall have study historical records²texbooks. ia juga menolak ide bahwa akan bisa lahir suatu argumen menentukan yang menguntungkan ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain. karena hal semacam itu hanya akan membenarkan tentang adanya suatu fenomena ³ penjajahan intelektual´ secara terselubung. 1975). and like´. 253. . bahwa suatu bentuk pengetahuan yang sedang diteliti itu harus sesuai dengan hukum -hukum logika. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. Apabila ilmu hendak diperbandingkan dengan bentuk -bentuk pengetahuan lain. 205. Dari segi tesisnya tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur. Hal ini harus dilakukan dengan meneliti "catatan-catatan sejarah.do not show that it is better than the µbasic wisdom¶ of witches and warlocks. 6 Ibid. Secara meyakinkan Feyerabend mengemukakan bahwa metodologi-metodologi ilmu gagal menyediakan hukum hukum yang memadai untuk membimbing aktivitas para ilmuwan. hlm. tujuan dan metode dari ilmu itu serta bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. pembicaraan serta surat-surat pribadi.. Feyerabend meyakini bahwa tidak ada metodologi ilmu yang ada selama ini yang bisa bertahan dari perubahan. 5 Feyerabend tidak bersedia menerima keharusan superioritas ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain. hlm. Ia mengatakan. buku-buku pelajaran. tulisan-tulisan orisinal. ³« that is.

Baik rasionalisme maupun empirisme mendukung rasionalitas yang menurutnya universal dengan cara yang berbeda. maka tidak masuk akal untuk mengharapkan ilmu dapat diterangkan hanya atas dasar beberapa hukum metodologi yang terlalu simplistik (sederhana) dan superfisial (dangkal). Perbedaan dua teori atau Akhyar Yusuf Lubis. konteks dan historisitas. yang merupakan pedoman untuk menilai suatu teori lebih baik daripada yang lainnya. ia ingin menentang pandangan yang memisahkan teori dan observasi. 2003). Dengan begitu. 119 dan 116.Feyerabend. Maksudnya. tidak mungkinlah merumuskan keterangan observasi yang sama dalam suatu konteks yang berbeda. kebenaran universal yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. mengingat kompleksitas sejarah. Feyerabend menyangkal adanya rasionalitas yang universal dan historis. hlm. Feyerabend adalah penganjur pluralisme metodolog yang i menolak pandangan idealisme dan naturalisme.7 Kesamaan Feyerabend dengan Kuhn terletak pada tesis keduanya yang menyatakan bahwa ilmu-ilmu atau teori-teori tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. bersifat universal. 7 . Seperti halnya Kuhn yang berasumsi bahwa tidak ada suatu teori apa pun yang bertahan dalam sejarah. Feyerabend beranggapan bahwa makna dan interpretasi tentang keterangan observasi tergantung pada konteks teoretis. Konsekuensi logisnya adalah. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. terlepas dari subyektivitas. Idealisme berpendapat bahwa rasionalitas adalah agung.

. for the attempt to enforce the rules is bound to increase our professional qualifications at the expense of our humanity. op. for it neglects the complex physical and historical conditions which influence scientific change. Ia menyebabkan ilmu semakin kurang bisa dikelola dan semakin dogmatik«Semua metodologi mempunyai keterbatasannya dan satu-satunya 'hukum' yang survive adalah 'apa saja boleh']. memukul metodologi - metodologi yang dianggap telah memberikan hukum-hukum untuk membimbing para ilmuwan ini ternyata ditunjang dengan alasan yang kuat. In addition. hlm. karena usaha untuk memberlakukan hukum-hukum itu cenderung meningkatkan kualifikasi profesional kita yang mengorbankan rasa kemanusiaan.lebih cukup mendasar. 9 8 Paul Karl Feyerabend. and the only rule that survives is µanything goes¶. 167-168. And it is pernicious. Dan ia merusak. the idea is detrimental to science. Selain itu. Verhaak dan Robert Haryono Imam. Menurutnya: ³the methodology of research programmes provides standar that aid the scientist in ds evaluating the historical situation in which he makes his decisions. their development. Feyerabend mengatakan: The idea that science can.O. karena terlalu menyederhanakan bakat manusia dan keadaan lingkungan yang mendorong atau menyebabkan perkembangan. 295-6. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia.8 Dalam sebuah kutipan yang agak panjang. adalah tidak realistis dan juga merusak. for it takes too simple a view of the talents of man and of the circumstances which encourage. 1991).cit. It is unrealistic. Kasus Feyerabend yang menentang metode. be run according to fixed and universal rules. It makes our science less adaptable and more dogmatic«All methodologies have their limitations. it does not Christiaan R. or cause. Ia tidak realistis. sehingga tidak mungkin saling membandingkan teori teori rival secara logis.M. and should. hlm. ide itu pun merugikan ilmu. 9 [Ide bahwa ilmu dapat dan harus berjalan sesuai dengan hukum-hukum universal yang mapan. is both unrealistic and pernicious. . karena ia mengabaikan kondisi fisik dan historis yang kompleks yang mempengaruhi perubahan ilmiah.

or can produce. 186. hlm. bahwa para ilmuwan dalam melakukan pemilihan-pemilihan dan keputusan-keputusan terikat oleh hukum-hukum yang diatur atau terkandung di dalam metodologi-metodologi ilmu.contain rules that tell him what to do´. hlm. Ibid. ia tidak berisi hukumhukum yang mendikte apa yang harus diperbuat ilmuwan´. well-developed human beings¶. It is in conflict µwith cultivation of individuality which alone produces. Maka tidaklah bijaksana.. Dalam konteks yang lebih luas. Feyerabend membela apa yang ia sebut sebagai "sikap kemanusiawian" yang memandang bahwa manusia individual harus bebas dan memiliki kebebasan sebagaimana yang diperjuangkan John Stuart Mill. Feyerabend menyetujui usaha meningkatkan kebebasan menuju ke kehidupan yang penuh dan produktif. . Feyerabend menyatakan bahwa. atau dapat memproduksi manusia -manusia yang maju". pemikiran anarkis Feyerabend tentang ilmu mendapatkan dasar pembenarannya.11 Dari sudut pandang kemanusiawian ini. Ia mendukung Mill dalam membela "pembinaan individualitas yang secara pribadi mampu berproduksi sendiri. ia senantiasa mendorong semangat kebebasan bagi para individu untuk memilih antara ilmu dan bentuk -bentuk 10 11 Ibid. karena di dalam ilmu ia memang diarahkan guna meningkatkan kebebasan i dividu dengan memacu n penyingkiran segala macam kungkungan metodologis. 20. "Metodologi dan program program riset menyediakan standar-standar yang membantu ilmuwan menilai situasi historis untuk mengambil keputusan-keputusannya.10 Maksudnya..

Jadi jelas sekali. Dengan kata lain. perkembangan ilmu di dalam masyarakat kita tidak lagi konsisten dengan sikap kemanusiawian. adalah lah "membebaskan masyarakat dari kungkungan ilmu yang membatu secara ideologis. . persis seperti nenek moyang kita membebaskan kita dari kungkungan 'agama satu-satunya' yang benar".. Apa yang perlu kita lakukan dalam masa ini. Ilmu pengetahuan memiliki kuasa mutlak. tulis Feyerabend. ilmu pengetahuan tidak lagi berfungsi membebaskan manusia. namun justru menguasai dan memperbudak manusia. Sebab pada dasarnya ilmu pengetahuan dan perkembangannya tidak bisa dierangkan t ataupun diatur oleh segala macam aturan dan sistem maupun hukum yang berlaku. 12 12 Ibid. 307. Pendapat Feyerabend ini juga harus dilihat sehubungan dengan analisisnya tentang masyarakat. ilmu pengetahuan menduduki posisi yang sama dengan posisi agama seperti halnya pada masa Abad Pertengahan. ³let us free society from the strangling hold of an ideologically petrified science just as our ancestors freed us from the strangling hold of the One True Religion!´. bahwa Feyerabend menolak sikap otoriter dalam bentuk apapun juga. hlm. Ia menyatakan. Dalam perspektif Paul Karl Feyerabend. Ia harus bebas karena memang kegiatan ilmiah atau ilmu pengetahuan merupakan suatu upaya yang anarkistik. Feyerabend hendak mendobrak anggapan bahwa ada keteraturan dalam perkembangan ilmu yang hendak diwujudkan dalam hukum dan sistem. Di kalangan masyarakat kita dewasa ini.pengetahuan lain.

Feyerabend menulis: ³The scientist is still restricted by the properties of his instruments. Feyerabend mengkritik ilmu dari dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. sosiologis dan historis". masyarakat itu bukanlah pilihannya yang bebas. kecakapan para asistennya. the intelligence of his assistants. the amount of money available. physiological. setiap individu dilahirkan ke dalam suatu masyarakat yang sudah eksis lebih dulu. hlm. "Ilmuwan masih dibatasi oleh sifat-sifat dari instrumeninstrumennya. sikap rekan-rekannya. teman-teman mainnya²lelaki atau perempuan²ia dibatasi oleh banyak sekali kekangan fisik. psikologis. Atas nama kebebasan individu. suatu analisa tentang struktur sosial bersangkutan merupakan prasyarat untuk mengerti tentang kebebasan sang individu. Kebebasan yang dimiliki seorang individu akan tergantung pada posisi yang ia duduki di dalam struktur sosial tersebut. Seluruh pembicaraan dan perdebatan tentang pemikiran Paul Karl Feyerabend tersebut di atas tersimpul dalam sebuah mainstream yang padat makna. 187.Hal ini perlu ditempuh karena menurut citra Feyerabend. anarkisme ilmu pengetahuan.. . sociological. the attitude of his colleagues. dan oleh karena itu. Setidaknya ia menyadari hal semacam ini dan dalam satu bagian tentang kebebasan riset. Artinya bahwa. his playmets²he or she²is restricted by innumerable physical. jumlah uang yang bisa diperolehnya. dan dalam pengertian itu. 13 Ibid. historical contraints 13 ´. sebagai suatu kritik yang diajukan dan ditujukan untuk semakin dapat menemukan wajah ilmu pengetahuan yang sebenarnya.

lebih merupakan suatu perkembangan dari berjuta-juta alternatif. fungsi dan kedudukan ilmu pengetahuan dalam masyarakat yang kerapkali melampaui maksud utamanya. dan sebagainya. Kemudian. Dengan posisi seperti ini. mitos. atas nama kebebasan yang sama. Keduanya adalah tradisi partikular yang tidak menyadari latar historisnya sendiri. sains maupun rasionalitas bukanlah ukuran unggul yang universal.14 Maksud dari semua itu sebenarnya adalah. Feyerabend menyimpulkan bahwa. Feyerabend ingin melawan batang tubuh beserta metode ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap mempunyai satu metode yang baku dan universal serta tahan sepanjang masa. voodoo. hlm. op. kekuasaan. satu dengan yang lain tidak selalu terdapat konsistensi atau kesepadanan. magi. Fe yerabend mempunyai sikap anti-ilmu pengetahuan (Against Science) sebagai kritik terhadap praktek ilmiah. Ilmu pengetahuan sebagaimana tinjauan historis Feyerabend.Yang pertama..cit. dengan memegang semboyan anti metode - (Against Method). . 130. Feyerabend ingin mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu bukanlah ideologi yang berisi omong kosong belaka yang dipropagandakan oleh para ilmuwan. ia hendak melawan ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap lebih unggul daripada bidang-bidang atau bentuk-bentuk pengetahuan lain semisal sihir. dan juga dapat membawahi semua fakta dan penelitian. Ia memilih istilah realisme imiah yang l 14 Akhyar Yusuf Lubis.

Sebab pada kenyataannya istilah ekstrem itu dimaksudkan untuk memberikan kritik eksternal terhadap metode dan praktek ilmu pengetahuan yang acapkali mengaburkan karakter dan tujuan dasar utamanya. melainkan juga berpotensi untuk menggali hakikat realitas yang menjadi cita-cita dari pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Feyerabend menawarkan terma anarkisme sebagai obat mujarab dalam menyembuhkan epistemologi dari sakitnya. kurang lebih seperti yang diproyeksikan dan diidealisasikan oleh Feyerabend. Realisme ini akan bisa terwujud pada saat teori-teori. Adanya klaim bahwa anarkisme ilmu pengetahuan sebagai bentuk kesewenang-wenangan epistemologis Feyerabend perlu kiranya dimengerti dalam porsi pemahaman yang tepat dan seimbang. tetapi sekaligus juga bertindak sebagai penentu orientasi keilmuan yang telah dirancangnya. dan kerangka-kerangka pandang diterapkan dalam bentuknya yang paling kuat. Pada akhir kegelisahan intelektualnya. namun baik epistemologi maupun filsafat ilmu pengetahuan harus menerima anarkisme agar dengan demikian kita akan kembali kepada bentuk -bentuk rasionalitas yang lebih jelas dan bebas. bukan sekedar sebagai skema-skema bagi setiap proses kejadian yang kodratnya ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan eksternal. sistem pemikiran. Tetapi hal itu mungkin bisa dipahami karena memang seorang anarkis . Sebagai obat bukan berarti ilmu pengetahuan harus menjadi anarkis. Dalam pengertian ini berarti ilmu pengetahuan tidak hanya sanggup menghasilkan prediksi-prediksi saja.dalam salah satu bentuknya berupa aktivitas-aktivitas kita mengumpulkan pengetahuan sebagai jalan terbaik untuk memahami dunia.

dipelajari dan diakses lebih jauh oleh para peminat filsafat pada khususnya serta kalangan dunia akademis pada umumnya. yang dalam rekaan awal penulis. dalam tulisan ini penulis ingin melacak dan mengurai sejauhmana konsistensi dari seluruh sistem pemikiran Feyerabend dalam alur sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dengan berbagai tawaran metodis yang disodorkannya. Sebagai sebuah kajian serius tentang tokoh filsafat ilmu pengetahuan baru. Secara khusus.di bidang ilmu pengetahuan oleh Feyerabend diistilahkan ²mengutip pendapat Hans Richter²sebagai dadais yang anti terhadap segala bentuk kemapanan. skripsi ini diangkat guna menelaah lebih jauh mengenai beberapa pokok pemikiran Feyerabend beserta aspek penting lain yang terdapat di dalamnya. juga telah dianggap berhasil memecahkan kebuntuan . Namun setelah melalui proses studi yang runut dan seksama. Feyerabend melontarkan gagasan kritis-progresif yang sayangnya sampai saat ini masih relatif kurang bisa dibaca. Maka berkaitan dengan persoalan itu pula. Mungkin hal inilah yang kemudian menjadi latar dari pemilihan tokoh dan pembahasan topik Paul Karl Feyerabend. beberapa pandangan ilmu pengetahuannya tidak lebih hanya sekedar reaksi keilmuan mengenai presuposisi-presuposisi akan adanya berbagai deviasi (penyimpangan) nilai-nilai etis-praktis ilmu pengetahuan yang diterapkan oleh para ilmuwan kala itu saja. yang selain disinyalir menjadi tonggak kebangkitan era filsafat ilmu pengetahuan baru pasca dominasi aliran Positivisme Logis. ternyata penulis menemukan beberapa endapan gagasan vital dan relatif belum banyak diperbincangkan muatan-muatan filosofisnya.

paling tidak urgensi . yang telah beralih fungsi menjadi semacam arogansi intelektual. atau terkesan hanya menjadi menara gading. kita jadi mafhum bahwa semua klaim pengetahuan (fakta. penulis pun berketetapan hati untuk menempatkan segi-segi fundamental filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend tersebut sebagai starting point dan landasan pemikiran dalam menggali dan mengolah ide-ide dasar ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend secara lebih jelas dan obyektif. dan pada akhirnya berujung pada retorika serta ideologi tertutup yang penuh kedangkalan makna dan kepentingan-kepentingan tertentu. validitas) hanya dapat dimengerti dan diperdebatkan dalam konteks dan dalam paradigma atau komunitas tertentu pula. Dengan mengacu pada realitas historis seperti itu. atau kesimpulan yang sele sai atau final. Pondasi ilmu pengetahuan Feyerabend yang berusaha mendobrak keangkuhan format dan prosedur-prosedur sains modern ini telah menggugah kesadaran kolektif kita untuk merefleksikan ulang tentang asumsi-asumsi ilmiah sebagai simbol kemajuan peradaban modern. Tidak satupun yang diterima sebagai fakta. teori. sebab penerimaan atas pluri-metodologi Feyerabend ini memang mengandaikan adanya berbagai standar kebenaran. Harapannya. Maka dengan pluri-metodologi dan pandangan konstruktivis-kontekstualis seperti yang dinyatakan oleh Feyerabend.monometodologi ilmu pengetahuan untuk direinterpretasikan dan direformulasikan secara paradigmatik dan anarkistik. kebenaran. tanpa terikat oleh hukum hukum positivistik-logis yang berkembang sebelum masa Feyerabend.

Rumusan Masalah Dari deskripsi umum di atas. B. Bagaimana prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend dalam filsafat ilmu pengetahuannya? 2. yaitu: 1.topik dalam penulisan karya ilmiah ini bisa menambah koleksi seri tokoh filsafat ilmu di masa mendatang. Mengetahui prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend secara utuh dan mendalam. Banyak jalinan ide penting Feyerabend yang saling berhubungan dalam membentuk konsep -konsep penting lainnya sehingga semakin memperkokoh landasan teoretis yang dituangkan semasa hidupnya. agar alur pembahasan ini tepat sasaran. Bagaimana corak pemikiran anarkisme ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend? C. terarah dan sesuai dengan maksud dan tujuan penulisan skripsi ini. ada beberapa kata kunci yang perlu kiranya dicermati dari pola pemikiran yang dibangun oleh tokoh utama dalam fokus kajian skripsi ini. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Adapun tujuan dan kegunaan penelitian ini adalah: 1. . yakni Paul Karl Feyerabend. maka tentu saja ruang lingkup masalah yang akan dijadikan sumber acuan nantinya terbatas dan terumus dalam masalah-masalah berikut. Oleh karena itu.

Metodologi Penelitian Filsafat (Yogyakarta: Kanisius. hlm. Sifat dari penelitian ini sendiri adalah kajian kepustakaan (Library Research) yang memuat data-data dan bahan-bahan yang mendukung dan melengkapi terhadap isi pembahasan ini baik berupa buku. Data primer itu berupa buku masterpiece Paul Karl Feyerabend sendiri yang berjudul Against Method. penulis berusaha menyelami pikiran. dalam hal ini Paul Karl Feyerabend. penulis berusaha untuk menghimpun data primer maupun sekunder yang sekiranya ada kaitannya dengan pokok pembicaraan dalam skripsi ini. Selanjutnya dalam proses pengumpulan data-data tersebut. D. karya d latar belakang historis yang an melingkupi sejarah kehidupan dan keilmuannya. Charris Zubair. sedangkan data sekunder adalah berupa karya -karya Feyerabend lainnya yang dilengkapi pula dengan tulisan atau karya ilmiah para ahli yang secara khusus mengkaji dan membahas tentang pemikiran Paul Karl Feyerabend. ensiklopedi. Dalam kaitan ini. 61. metodologi penelitan merupakan i 15 serangkaian metode yang saling melengkapi dalam melakukan penelitian. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. jurnal. 1990). Ushuluddin. 9. Mengetahui corak pemikiran anarkisme ilmu pengetahuan yang digunakan oleh Paul Karl Feyerabend secara jelas dan memadai.2. Anton Bakker dan A. 16 15 . Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi (Yogyakarta: Fak. penelitian ini juga merupakan penelitian historis-faktual mengenai seorang tokoh16. dan sebagainya. 2002). hlm. Metodologi Penelitian Menurut sumber bacaan yang ada. Disamping itu. artikel.

(3) Analisis. hlm. (2) Interpretatif.19 Dengan begitu. yang terutama didasarkan pada karya 17 Ibid.cit. latar belakang dan ide-ide dasar Feyerabend itu sendiri. paling berani dan paling ekstrem. 18 Sudarto. 1996). Lihat juga dalam Anton Bakker dan A. maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode-metode khusus. 19 Ibid. penulis akan merinci istilah-istilah atau pendapat-pendapat tokoh (Feyerabend) ke dalam bagian-bagian khusus tertentu sehingga dapat dilakukan pemeriksaan atas arti yang dikandungnya. yaitu: (1) Deskriptif. Dengan metode ini. Dalam hal ini. 65. Dengan cara ini.. Feyerabend dinilai paling kontroversial. 63. . peneliti menguraikan dan membahas secara sistematis dan terperinci seluruh konsepsi pemikiran tokoh yang bersangkutan. hlm. sifat. hlm. hlm. penulis akan menggambarkan dan menguraikan sepenuhnya dengan memakai analisis filosofis tentang konstruksi filsafat ilmu pengetahuan Feye rabend dan beberapa gagasan penting lainnya secara lebih lengkap dan jelas. op.. 98. diharapkan nantinya akan bisa diperoleh suatu pemahaman yang benar pula tentang ciri.17 Dalam konteks ini. Metodologi Penelitian Filsafat (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 60. dengan maksud untuk memperoleh kejelasan tentang arti yang sebenar-benarnya. peneliti berusaha menyelami karya tokoh untuk menangkap 18 kandungan arti dan nuansa yang dimaksudkan secara spesifik. Charris Zubair.Untuk mempermudah prosedur pengolahan data itu. E. Tinjauan Pustaka Diantara para filsuf sezamannya..

Sudah ada beberapa literatur yang mengupas jejak-jejak pemikiran Feyerabend.F. Panorama Filsafat Modern (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Newton-Smith. Februari 1989. 1987). 22 Prasetya T. W. The Rationality of Science (Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd. ³Teori Anarkistis Feyerabend Tentang Pengetahuan´. yang berjudul ³Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend´. dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting). di dalamnya diuraikan seluk -beluk kemunculan Feyerabend dalam ranah filsafat ilmu pengetahuan serta sejarah awal perjalanannya menjadi seorang anarkis.H. baik dalam versi Bahasa Indonesia maupun asing. Against Method. Kritik yang disampaikan melalui buku itu telah menggambarkan panggung filsafat pada tahun 70-an21 yang banyak mengundang polemik dan perdebatan sengit. Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia.monumentalnya. 34. hlm.W.. 1993). sebagaimana yang dikutip oleh Endro Witj. . yang dimuat dalam antologi buku Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu. Selain itu pula.H. Dalam buku itu juga. buku yang secara representatif dalam menampilkan dan menanggapi urgensi pemikiran Feyerabend juga diungkapkan oleh A. dijelaskan tentang definisi dari anti-metode dan anti-ilmu pengetahuan yang menjadi kritik utama dalam pemikiran Feyerabend. dalam Fokus. 17..W. Newton-Smith20 menilai bahwa tidak ada kritik terhadap ilmu pengetahuan setegar dan selantang kritik Feyerabend. yang termaktub dalam bukunya Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian 20 W.. ³Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend´. Feyerabend: Rasionalitas Ilmu Yang Goyah. 21 Kees Bertens.22 Secara lengkap dan padat. Misalnya tulisan Prasetya T. 1981). hlm. Chalmers dalam sub-topik bahasan.

F. Buku lain yang membicarakan sisi-sisi pemikiran Feyerabend adalah The Rationality of Science. ketidaksepadanan. The Rationality of Science (Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd. 2003). dan seterusnya yang dibahas secara tuntas dan mendalam. mulai dari konsep anti-metode yang merupakan topik utama pemikirannya sampai gagasan -gagasan vital lainnya.. seperti pandangan Feyerabend tentang prosedur kontra-induksi. karya W.25 Seri pengantar tokoh filsafat ini memberikan garis-garis besar haluan sebagai gambaran awal yang sistematis tentang sosok filsuf Paul Karl Feyerabend yang kerapkali mendera sains dengan kritik-kritik kerasnya. yang berintikan tema-tema aktual dan liberal Feyerabend secara menyeluruh.Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode. Chalmers. W. Newton Smith24.H. 1982). 1981).H. 25 24 23 Akhyar Yusuf Lubis. . Dengan lantangnya. Ia tidak menawarkan metodologi apapun sebagai ganti induksi yang selama ini dijadikan panduan utama cara kerja ilmiah. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya (Jakarta: Hasta Mitra. Feyerabend justru memproklamirkan anarkisme epistemologis yang A. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju.23 Buku ini secara teliti dan akurat memberikan ringkasan tentang segi segi kunci pandangan Feyerabend yang meliputi seluruh konstruksi epistemologinya dengan disertai kritik -kritik yang cukup argumentatif-korektif. Newton-Smith. Satu lagi buku rujukan yang berkaitan dengan fenomena pemikiran Feyerabend adalah apa yang ditulis oleh Akhyar Yusuf Lubis dalam bukunya.

berhasil membuka sumbat penyatuan metode yang selama ini diberhalakan oleh sains. Dari sekian literatur tersebut di atas, ada perbedaan yang cukup signifikan dengan maksud penelitian ini, yaitu bahwa artikel yang ditulis o Prasetya T.W. leh hanya sebatas mengenalkan sejarah awal dan garis -garis besar haluan filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend dalam pergulatannya dengan aliran Positivisme Logis. Sedangkan buku A.F. Chalmers dan W.H. Newton-Smith sekedar rangkuman dari beberapa substansi pemikiran Feyerabend tentang anarkisme ilmu pengetahuan saja yang pembahasannya terkesan ambivalen tanpa disertai jalinan sketsa ilmu pengetahuan Feyerabend dengan pemikiran tokoh -tokoh lain serta minimnya aspek historisitas mengenai kemunculan dan keterlibatan Feyerabend dalam wacana filsafat ilmu pengetahuan secara terperinci. Demikian juga dengan buku Akhyar Yusuf Lubis sebagai buku pengantar dalam memahami traktat-traktat berat filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend yang secara khusus hanya µmemandu¶ pembaca untuk mengenal ciri, sifat dan latar belakang pemikiran filsafat Feyerabend yang disisipi juga penjelasan tentang titik persinggungannya dengan model metodologi ilmu pengetahuan yang berkembang sebelumnya, semisal metodologi Galilean dan metodologi Positivisme Logis. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis secara spesifik berusaha menyelidiki pokok-pokok masalah yang menjadi sasaran kritik utama Feyerabend serta letak-letak perbedaan fundamental yang terdapat dalam corak pemikiran filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend dengan para filsuf ilmu pengetahuan

lainnya, tanpa terperangkap ke dalam pemihakan-pemihakan subyektif yang terkesan berlebihan dan kontraproduktif. Selain daripada itu, penulis juga akan mengkaji sejauhmana konsekuensikonsekuensi yang ditimbulkan dari dasar-dasar pemahaman epistemologi

Feyerabend dalam mindset sosio-kultural masyarakat yang akhir-akhir ini secara tidak kritis cenderung hanya terpaku pada satu bentuk kebenaran monologis yang bersumber dari konsepsi keilmuan tertentu.

F. Sistematika Pembahasan Untuk lebih mudah dan urutnya penulisan ini, maka pembahasan dalam skripsi ini akan dikelompokkan menjadi beberapa bab dan sub-bab, yaitu: Diawali dengan Bab I, yang mencakup latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika pembahasan. Kemudian Bab II, berisi tentang biografi singkat Paul Karl Feyerabend yang terdiri dari riwayat hidup, karya serta tokoh-tokoh yang membentuk watak dan mempengaruhi karakteristik pemikirannya. Selanjutnya Bab III, menyarikan tentang prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend yang berkisar tentang persoalan apa saja boleh (anything goes), ilmu yang tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama, ilmu tidak harus mengungguli bidang-bidang pengetahuan lain, dan kebebasan individu. Disusul dengan Bab IV, yang merupakan intisari pembahasan yang mengetengahkan tentang penafsiran Paul Karl Feyerabend terhadap makna

anarkisme sebagai kritik atas ilmu pengetahuan itu sendiri berupa anti-metode (Against Method), dan anti-ilmu pengetahuan (Against Science). Terakhir Bab V, adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran dari penulis berdasarkan seluruh hasil pembahasan yang dilakukan dan ditekuni selama dalam proses awal sampai akhir penyusunan skripsi ini. BAB II BIOGRAFI PAUL KARL FEYERABEND (1924-1994)

A. Riwayat Hidup dan Karyanya Paul Karl Feyerabend lahir pada tahun 1924 di Wina, Austria. Tahun 1945 ia belajar seni suara teater, dan sejarah teater di Institute for Production of Theater, the Methodological Reform the German Theater di Weimar. Sepanjang hidupnya ia menyukai drama dan kesenian. Ia belajar Astronomi, Matematika, Sejarah, Filsafat. Menurut pengakuannya, kalau ia mengingat masa itu, ia menggambarkan dirinya sebagai seorang rasionalis. Maksudnya, ia percaya akan keutamaan dan keunggulan ilmu pengetahuan yang memiliki hukum -hukum universal yang berlaku dalam segala tindakan yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Keyakinan rasionalitasnya pada masa itu tampak dari kiprahnya dalam Himpunan Penyelamatan Fisika Teoretis (A Club for Salvation of Theoretical Phsysics).26 Keanggotaannya dalam kelompok tersebut tentu melibatkan dirinya dengan eksperimen-eksperimen ilmu alam dan sejarah perkembangan ilmu fisika
26

Prasetya T.W., "Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend", dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting), Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 48.

Ia telah menyatakan diri sebagai seorang ³anarkis´ yang menentang penyelidikan terhadap aturan-aturan penggantian teori dan pembangunan kembali pemikiran rasional dari kemajuan kemajuan ilmu pengetahuan. . Yang Kedua. ia mengikuti seminar-seminar filsafat dari Karl Raimund Popper di London. Sikap Feyerabend tentang ³apa saja boleh´ dan 27 Akhyar Yusuf Lubis.27 Pada permulaan tahun 50-an. 2003). hlm. sambutan para fisikawan/filsuf terhadap teori mekanika kuantum yang dianggap sebagai dukungan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Kuhn. Ia melihat bahwa fisika kuantum telah menolak beberapa patokan dasar fisika yang ketika itu dianggap modern (Newtonian) yang di atasnya prinsip-prisnip positivisme ditegakkan.D. 101-102. terutama fisika kuantum. Ia memperoleh gelar Ph. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. dan terutama Imre Lakatos. Thomas S. sangat mempengaruhi pemikiran filsafatnya. dalam bidang fisika dari Wina University dan kemudian mengajar di California University. Waktu itu ia masih tetap berpegang teguh pada keyakinan rasionalitasnya. karena adanya perkembangan baru dalam ilmu fisika. Terjadinya perubahan pemikiran dalam Paul Karl Feyerabend itu setidaknya disebabkan oleh beberapa faktor.itu sendiri. Dari sinilah ia melihat hubungan yang sesungguhnya antara eksperimen dengan teori yang ternyata relasi itu tidak sesederhana apa yang dibayangkan dan dijelaskan dalam buku-buku pelajaran selama ini. Pertama. Gagasan Popper. bahkan ia berpendapat bahwa perkenalannya dengan Popper semakin memperteguh keyakinannya itu.

29 Paul Karl Feyerabend. Tahun 1964 -1965 proses John Losee.. ia menjadi pengajar di Bristol. Feyerabend mengajukan pertanyaan: apakah manusia tidak mengejar ilusi-ilusi kalau mencari hukum universal guna mencapai hasil dalam ilmu pengetahuan? Tahun 1958 ia menjadi guru besar Universitas California di Berkeley. Lagi pula seperti yang ia akui. Seperti yang pernah dikatakan Lakatos padanya. Feyerabend mempersembahkan buku ini kepada Imre Lakatos dengan menulis To Imre Lakatos. vii. 5. 1975). friend and fellow-anarchist.29 Kelak. hlm. Selandia Baru dan Amerika Serikat. µPaul. Jerman. why don¶t you write them down 30 ? Dalam pertobatannya itu ia melihat bahwa dalam sejarah mekanika kuantum. µhe said. 2001). 177. A Historical Introduction to the Philosophy of Science. Inggris. bermacam-macam patokan telah dilanggar. Tidak bisa tidak pertobatannya itu merupakan akibat dari perkenalannya dengan Imre Lakatos. µyou have such strange ideas.bahwa sasaran dari kreativitas dalam ilmu pengetahuan itu adalah sebagai bentuk pengembangbiakan teori-teori. Lakatoslah yang mendorongnya untuk menuliskan gagasan-gagasannya. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. Pada tahun -tahun itu pula ia mulai mengalami pertobatan pemikiran. Dalam pertobatannya itu. Fourth Edition (New York: Oxford University Press. yang meniupkan pemikiran pemikiran anarkis terhadapnya. . hlm. tempat 28 ia mengajar sampai akhir hayatnya. Sejarah Ilmu Pengetahuan dan Filsafat di Austria. hlm. 30 Ibid. Feyerabend menyebutkan bahwa Lakatos dianggap sebagai saha at b anarkisnya. Tahun -tahun berikutnya mengajar Estetika.28 Pada tahun 1953. dan anehnya patokan itu dijunjung tinggi oleh para filsuf bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Yuri Balashov and Alex Rosenberg (eds. Pertobatannya itu juga dipercepat oleh keraguannya terhadap bangunan sistem pendidikan intelektualistis di tempat ia bekerja sebagai pengajar. 2002). op. 141.. suatu karangan panjang yang pada tahun 1975 diolah lagi menjadi sebuah buku dengan judul yang sama pula. tetapi usaha itu bisa dijadikan sebagai dasar persiapan yang masih layak dan berharga bagi bentuk-bentuk perlawanan lain. Walaupun mulai dulu sampai sekarang banyak usahausahanya yang disia-siakan. munculnya tanggapan dari berbagai pihak itu seolah -olah justru semakin memperkokoh pemikiran anarkisnya.cit. hlm. 49.W. Namun begitu. Mungkin Feyerabend merupakan salah satu filsuf yang sangat provokatif pada abad ke-20. .). Maka sebagai jawaban atas kritik terhadap pemikirannya itu. Philosophy of Science: Contemporary Readings (London: Routledge.. ia pun kemudian menerbitkan lagi beberapa buku yang memuat penjelasan serta argumentasi atau perluasan gagasan yang sudah diulas dalam buku yang dikritik sebelumnya.31 Puncak pemikiran anarkisnya tertuang dalam Against Method yang terbit pada tahun 1970. diskusi dan kritik yang cukup beragam corak dan pemaknaannya dari para tokoh filsafat dan kaum ilmuwan secara luas. Ia giat melakukan perlawanan terhadap setiap gagasan ilmu yang memiliki metodologi tersendiri untuk membatasinya dengan yang bukan ilmu dan ilmu palsu. Terbitnya buku itu ternyata mampu menyedot dan menyulut antusiasme publik dengan adanya berbagai kontroversi.pertobatannya dipercepat karena percakapannya dengan Carl Freither von Weizsäcker di Hamburg mengenai dasar-dasar mekanika kuantum. hlm.32 32 31 Prasetya T.

34 33 Don Cupitt. Paul Karl Feyerabend dalam Wacana Filsafat Ilmu Pengetahuan Dalam menempatkan konteks pemikiran Feyerabend. hlm.Dalam analisis Don Cupitt. Sudah banyak contoh sejarah yang mengesampingkan hal-hal semacam itu sebagai intuisi tandingan teori-teori saintifik. baik yang g termasuk kategori sains asli ataupun yang bukan sains sekalipun.33 B. Abdul Qodir Shaleh (Yogyakarta: IRCiSoD. panggung filsafat ilmu pengetahuan dikuasai oleh aliran Positivisme Logis. 34 . relativitas umum dan teori kuantum. 2001). seperti transmutasi spesies. Feyerabend berargumen bahwa apa yang ia sebut dengan ³teori pengetahuan anarkistik´ merupakan pemaknaan ulang terhadap pengetahuan saintifik. After God: Masa Depan Agama. 204-205. Semenjak tahun 1920. penulis membatasi diri mulai dari tahun 1920-an sampai Feyerabend muncul di panggung filsafat. Soedjono Dirdjosisworo. 2. terj. Pengantar Epistemologi dan Logika (Bandung: Remadja Karya. 1985). sebagai seorang filsuf sains dari California yang sangat Californian sekali. Sebab beberapa usaha untuk menjalankan aturan-aturan yang ada sebelumnya hanya mengundang pertentangan seperti yang nampak jelas pada kasus konflik agama dan (menurut Feyerabend) juga berlaku pada kasus sains. hlm. Kelompok ini berusaha memperbaharui positivisme abad ke 19 yang telah dirintis oleh tokoh positivisme klasik August Comte (1798-1857) dan para pengikutnya yang dinilai diwarnai pemikiran yang bersifat dogmatis dan indoktrinasi ideologi yang mengarah kepada absolutisme. Baik filsuf maupun yang lainnya berhak menetapkan dan menggambarkan apa saja yan diperbolehkan sebagai metode saintifik.

³mengetahui supaya siap untuk bertindak´. 1992). sehingga tidak ada gunanya mencari hakikat kenyataan yang tidak mempunyai arti faktual sama sekali. melainkan filsafat spekulatif atau obyek metafisik. hlm. Hubungan hubungan antara gejala-gejala itu disebut oleh Comte dengan konsep -konsep atau hukum-hukum positif yang dapat dipersepsi oleh akal pikiran manusia. 54-55. hanya ada satu hal yang penting. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern (Jakarta: Gramedia. Tahap teologis. manusia beranggapan bahwa benda-benda itu merupakan sesuatu yang bergerak. ³mengetahui agar manusia dapat memperkirakan apa yang akan terjadi´. manusia harus menyelidiki gejala -gejala dan hubungan-hubungan antara fenomena-fenomena fisik-faktual tersebut sehingga ia dapat memproyeksikan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. yakni tahap teologis yang berdasarkan fantasi.Filsafat Comte adalah anti-metafisis.35 Positivisme klasik merumuskan hukum-hukum positif itu sebagai berikut: ³Setiap perkembangan pemikiran rohani dan ilmu pengetahuan manusia secara berturut-turut melewati tiga tahap (stadia) yang berbeda. Sebab bagi Comte. Positivisme klasik hanya mengakui tentang gejala-gejala (fenomen-fenomen). . politeisme dan monoteisme. Tetapi lawan dari filsafat positivisme ini bukanlah suatu filsafat negatif. merupakan tahap dimana manusia percaya akan kemungkinan adanya kekuatan adikodrati yang mutlak. Banyak benda disebut suci 35 Harry Hamersma. yaitu savoir pour prévoir. Ia hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah. tahap metafisis yang abstrak dan tahap positif-ilmiah´. Dalam tahap teologis ini terdapat tiga tahap lagi: animisme. Oleh karena itu. Berdasarkan kepercayaan animistis ini.

Selanjutnya. Pada tahap positif-ilmiah. Aliran Positivisme Logis membagi pengetahuan hanya terbatas kepada ilmu matematika (ilmu pasti) dan ilmu-ilmu lain yang diperoleh dari gejala-gejala yang dapat diamati oleh indera. yakni satu keilahian yang pada akhirnya melahirkan pemikiran tentang monoteisme. Dari sini kemudian manusia berusaha mencari hukum-hukum alam dengan memakai kemampuan akal budi yang dimilikinya. hlm. Seperti halnya dengan Bacon yang mendeskripsikan semua 36 Ibid. dan sebagainya. artinya dapat dinyatakan atau dibuk tikan (verifiablepositive knowledge). dewa angin. seperti dewa api.36 Kemudian dalam tahap metafisis. diatur dalam suatu sistem sehingga menjadi paham politeisme dengan berbagai macam spesialisasinya. Mereka menganggap bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang telah diatur dan dirumuskan dalam kaidah -kaidah ilmu alam dan diperoleh dari pengamatan inderawi serta dapat diperiksa secara empiris.37 Di lain pihak. manusia mulai sadar dan mengetahui bahwa upaya teologis dan metafisis itu tidak ada gunanya. 1995). Pengetahuan semacam ini yang disebutnya sebagai pengetahuan positif. 55. 37 Asmoro Achmadi. kaum Positivisme Logis itu sendiri menolak filsafat yang tidak menghiraukan kenyataan dan susunan serta hasil ilmu pengetahuan empiris. Filsafat Umum (Jakarta: Raja Grafindo Persada. hlm. ..dan sakti yang biasa diidentikkan dengan dewa-dewa. dewa panen. 114115. dewa lautan. semua gejala tersebut dikembalikan pada satu sumber kekuatan tunggal. alam pikiran manusia secara simbolis beralih kepada kekuatan-kekuatan kosmis yang abstrak.

40 .pengetahuan atas dasar pengalaman dan pengamatan inderawi. persoalan-persoalan ilmiah harus dipecahkan secara lebih tepat dan sistematis dengan menggunakan teknik -teknik logika matematika.38 Kiranya pandangan Positivisme Logis ini mempunyai dasar -dasar persamaan ontologis dengan aliran Naturalisme yang juga menentang segala bentuk pikiran yang menyatakan adanya suatu dunia yang bersifat adialami atau transendental. 65. yang memberikan perangkat-perangkat hukum pada interpretasi terhadap observasi yang terbatas. sebab mereka menganggap bahwa ilmu formal (matematika. Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat (Jakarta: Pustaka Alhusna. Frederick Suppe (ed. Kattsoff.). 1996). terutama mengenai sebab pertama (irst f cause). Ilmu formal sama sekali 38 A. 39 Louis O. kalangan Positivisme Logis menolak persoalan sebab-sebab terakhir (final causes) yang menjadi pokok perdebatan filsafat klasik.40 Positivisme Logis bertitik tolak dari data empiris dan tetap setia pada sifatnya yang empiristis dengan menganggap hukum -hukum logis sebagai hubungan antara istilah-istilah. Ilmu pengetahuan sendiri dirumuskan dan diuraikan sebagai kalkulasi aksiomatis. 1974). Pengantar Filsafat. The Structure of Scientific Theories (Urbana University of Illionis Press. hlm. 1981). hlm. logika) bukan sebagai pengetahuan yang berhubungan dengan sesuatu di luar bahasa (kenyataan). hasil pengamatan dan fakta yang dinyatakan dengan memakai ungkapan dasar dalam suatu ilmu yang bercorak empiris atau ² dalam pengertian Rudolf Carnap²³kalimat protokol´. Hanafi. hlm. sehingga mengakibatkan pembicaraan tentang Tuhan pun sama sekali mereka tolak. 116.39 Bagi aliran ini. 4. alih bahasa Soejono Soemargono. (Yogyakarta: Tiara Wacana.

1995). Asmin (ed. Yudian W. hlm. 42 Jean Piaget. Dan bahasa figuratif atau 41 Cornelis Anthonie van Peursen. Hermoyo (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Persoalan tentang nilai sebuah teori atau makna suatu penjelasan dianggapnya tidak berarti apa-apa karena tidak memberikan jawaban yang pasti dan terukur. Ilmu dan Teknologi (Jakarta: Rineka Cipta.44 Prinsip verifikasi sebagai sentral dalam doktrin Positivisme Logis menegaskan bahwa suatu ungkapan baru akan mempunyai makna manakala ia menunjuk pada pengalaman langsung dan konkrit. 193. Filsafat Sains Bagian Pertama: Ilmu Pengetahuan Secara Umum.). hlm. Strukturalisme. hanya apa yang nampak jelas dan berg una saja yang secara prinsipil bisa diverifikasi melalui observasi dan eksperimentasi.tidak menyinggung tentang bukti dan data empirik (kenyataan). hlm. Susunan Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Gramedia. terj. 133. hlm. (Yogyakarta: Pusat Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia. 2000). 44 Henry van Laer. Sejarah Filsafat. 82. 63. transformasi maupun aspek-aspek terkecil dari logika hanya merupakan struktur-struktur linguistik. 43 Burhanuddin Salam. 1995). tetapi hanya menampilkan jalinan hubungan antara lambang -lambang logiko-matematis yang membuka kemungkinan pemakaian data observasi yang telah diperoleh untuk menghitung (menyusun penjabaran logis dan deduksi). 1985). .43 Menurut Positivisme Logis.41 Sebagai sebuah aliran epistemologi. eksperimen dan verifikasi.42 Positivisme sebagai sebuah pandangan filsafat mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terjadi berdasarkan hukum -hukum dapat dibuktikan dengan teknik observasi. Positivisme Logis menganggap logika dan matematika mencakup sebuah sintaksis dan semantik umum sehingga struktur-struktur matematis dan logis untuk menjelaskan himpunan.

kiasan juga hanya akan dianggap mempunyai akan makna apabil diterjemahkan a ke dalam bahasa literal hurufiah. Positivisme Logis menggabungkan argumen epistemologis dengan argumen semantik, persis seperti dilakukan oleh Locke dan Hobbes yang melihat kerancuan dan kekaburan kategori itu terdapat dalam penggunaan kiasan metaforis bahasa. Mereka yakin pula bahwa filsafat hanya bisa maju jika menggunakan bahasa lugas literal murni. Imbasnya lantas timbul keyakinan umum yang semakin kuat bahwa dalam dunia kebahasaan manusia sebetulnya yang berperan besar adalah memang bahasa literal itu sendiri.45 Positivisme Logis menempatkan filsafat ilmu pengetahuan sebagai logika ilmu. Pandangan semacam itu menguasai dan diterima luas oleh para filsuf ilmu pengetahuan pada zaman itu. Penerimaan secara luas ini membuat pandangan semacam itu oleh Frederick Suppe disebut The Received View.46 Sebagai tradisi intelektual yang berakar pada ilmu pengetahuan alam kodrati (natural sciences), pesatnya perkembangan kelompok yang lazim juga dinamakan empirisme neo klasik ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain karena memang kesan baik yang diberikan oleh ilmu fisika sebagai disiplin ilmu yang prestisius dengan teknik-teknik penelitian yang impresif, di samping itu juga disebabkan oleh adanya orang-orang besar dan terhormat dalam bidang ilmu pengetahuan yang terdapat dalam kelompok ini seperti Albert Einstein.47

45

I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 126-127.
46

Frederick Suppe (ed.), op.cit., hlm. 161.

47

Soeroso H. Prawirohardjo, Pengamatan Meta-Teoritis atas Ilmu Pengetahuan dan Implikasinya Bagi Program Pendidikan Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1984), hlm. 9-10.

Berdasarkan kronologi sejarahnya, Positivisme Logis muncul pertama kali sebagai suatu logika bagi ilmu-ilmu fisika. Tahun 1895, Ernst March menjabat sebagai guru besar pertama filsafat ilmu-ilmu induksi di Universitas Wina, dan pada tahun 1922, posisi itu digantikan oleh Moritz Schlick, seorang murid dari Max Planck yang pada saat itu ia memusatkan karyanya pada filsafat fisika. Kemudian pada tahun 1929, kelompok ini menerbitkan sebuah manifesto yang berisi tentang tujuan perkumpulan itu dan memberinya nama: ³ Scientific A Conception of the World: The Vienna Circle´ (Suatu Konsepsi Ilmiah Tentang Dunia: Lingkaran Wina).48 Para anggota yang ikut bergabung dalam kelompok ini adalah para kaum positivis yang kebanyakan adalah ahli ilmu alam, matematikus dan filsuf berlatar belakang matematika. Dalam tulisan Morton White disebutkan bahwa aliran Positivisme Logis ini telah dipelopori oleh Moritz Schlick yang kala itu menjabat sebagai guru besar Filsafat di Wina, dan resmi dibentuk pada tahun 1923 dengan sebutan The Vienna Circle. Secara khusus, Schlick dan Wittgenstein mengunjungi Amerika pada tahun 1929 untuk memperkenalkan aliran tersebut. Namun ketika Hitler berkuasa, mulailah aliran Positivisme Logis ini disebut-sebut sebagai gerakan pemikiran yang sangat berbahaya. Popkin & Stroll menambahkan pula bahwa para anggota Lingkaran Wina ini adalah Moritz Schlick, Hans Hahn, Friederich Waismann, Herbert Feigel, Otto Neurath dan Rudolf Carnap.49

48

Roy J. Howard, Pengantar atas Teori-teori Pemahaman Kontemporer: Hermeneutika; Wacana Analitik, Psikososial, dan Ontologis, Ninuk Kleden-Probonegoro (ed.), (Bandung: Nuansa, 2000), hlm. 51.
49

Bawengan, G.W., Sebuah Studi Tentang Filsafat (Jakarta: Pradnya Paramita, 1983), hlm. 113.

Kelompok ini pernah mengadakan seminar atau studi kelompok dengan melakukan pembahasan pada tulisan Wittgenstein yang sangat teliti serta didasarkan pada pandangan bahwa filsafat bukanlah teori, melainkan suatu aktivitas. Mereka berpedoman pada pendapat bahwa fils afat tidak mungkin menghasilkan pernyataan, baik pernyataan yang salah maupun pernyataan yang benar. Filsafat hanya memberikan penjelasan mengenai pengertian suatu

pernyataan; mengemukakannya secara ilmiah, matematik atau bahkan tidak mempunyai arti apapun. Inti pandangan mereka terletak pada keyakinan bahwa setiap pernyataan mengikuti ketentuan logika formal dan bahwa pernyataan itu harus bersifat ilmiah. Positivisme Logis ini biasa disebut sebagai hasil karya Ludwig Josef Johann Wittgenstein (1889-1951), yaitu dalam buku berjudul Tractatus LogicoPhilosophicus yang terbit pada tahun 1921, lalu berkembang ke seluruh dunia termasuk Inggris dan Amerika Serikat. Dalam tulisan tersebut, Wittgenstein menyatakan bahwa filsafat bukanlah suatu teori, melainkan suatu aktivitas atau kegiatan. Wittgenstein pun yakin bahwa teka-teki dan kekacauan filsafati akan dapat diatasi oleh analisis bahasa. Wittgenstein mensinyalir bahwa apabila suatu pernyataan dapat diajukan, maka pernyataan itu pun seyogianya dapat dijawab seca jelas dan tuntas. Tetapi ra kenyataannya, ternyata tidak semua pernyataan yang diajukan itu benarbenar bermakna. Maka agar supaya kita tidak terperangkap ke dalam persoalan persoalan filsafati yang tidak berarti, yang bersumber dari pernyataan -pernyataan yang tidak bermakna itu, maka dalam pandangan Wittgenstein harus ditemukan

hlm. yang penting bukanlah mengatur bagaimana suatu ungkapan bahasa itu harus berarti atau bermakna. Kuhn juga berpendirian bahwa pengetahuan sains seperti bahasa pada dasarnya adalah milik bersama suatu kelompok. Dan untuk memahaminya kita perlu mengetahui karakteristik-karakteristik khusus dari kelompok yang menciptakan dan menggunakannya.51 Apabila disimak secara seksama. 122. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. 1993). Kuhn. 1996). Tjun Surjaman (Bandung: Remaja Rosdakarya. bagi Wittgenstein. terj. seseorang akan dapat memperoleh kejelasan ( larify) arti bahasa c sebagaimana yang diutarakan oleh orang yang menggunakan bahasa itu. . Metode analisis 50 Jan Hendrik Rapar. 51 Thomas S. Lewat analisis bahasa. Wittgenstein menegaskan bahwa arti ditentukan oleh bagaimana suatu kata digunakan dalam konteksnya. Berbeda dengan Ayer. Oleh karena itu. 203.peraturan-peraturan tentang permainan bahasa (language game) yang digunakan lewat ungkapan bahasa sehari-hari. epistemologis ataupun metafisik. Analisis bahasa secara logis tanpa mereduksikan sesuatu sehingga pada prinsipnya hanya sekedar membuat lebih jelas tentang maksud yang dikatakan lewat suatu ungkapan bahasa verbal. tanpa pengandaian filsafati. tetapi kita harus bisa menangkap apa arti yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa itu. seluruh ajaran filsafat Wittgenstein itu tidak lain hanya menawarkan suatu metode yang sering disebut sebagai metode analisis bahasa. Metode itu bersifat netral.50 Senada dengan Wittgenstein. kita harus mengalisis bentuk -bentuk hidup (forms of life) sampai ke dasar terdalam dari setiap permainan bahasa. Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Kanisius. hlm.

Positivisme Logis ini juga biasa disebut sebagai Logika Empirisme dengan pelopornya yang sangat menonjol. datang ke Wina pada ta hun 1927 dan ikut secara aktif di Lingkaran Wina. Oleh karena itu. Bagi Feyerabend.52 Disamping itu. Ia adalah seorang ahli yang terlatih dalam bidang fisika dan juga seorang logisian yang rajin bekerja keras. Sedangkan pengalaman dan pemahaman itu sendiri terjadi lewat bahasa. distorsi itu tidak hanya terjadi pada waktu obyek atau peristiwa dipresepsikan. 111-113..W. Jadi. Interpretasi yang dilakukan setelah dipersepsi pun.cit.bahasa yang dikemukakan oleh Wittgenstein ini disebut juga dengan metode klarifikasi. op.53 52 Akhyar Yusuf Lubis. juga dipengaruhi oleh pengalaman dan harapan -harapan dari orang yang berusaha menafsirkan struktur realitas itu.. 114. hlm. Pengalaman yang kita alami senantiasa sudah terefleksikan yang dinyatakan dalam bahasa.cit. op.. G. hlm. bahasa selalu terbatas untuk mengungkapkan totalitas pengalaman. Pierre Duhem. Ia merupakan seorang tokoh kelahiran Jerman. Ernst March termasuk juga Einstein. yakni Rudolf Carnap. Helmholtz. Para anggota aliran ini sendiri adalah bekas ilmuwan yang terjun ke dunia filsafat dan sebelumnya telah berhasil membentuk suatu kegiatan di Lingkaran Wina. Pandangan Positivisme Logis bahwa bahasa merupakan gambaran realitas inilah yang ditolak Feyerabend. sebagaimana diutarakan Feyerabend. . fakta-fakta itu sesungguhnnya tergantung pada teori yang menjadi mediasi dalam proses pemahaman. Para ilmuwan yang terkenal itu diantaranya adalah Ludwig Boltzmann. 53 Bawengan.

setidaknya terdapat dua kutub dalam aliran Positivisme Logis yang patut juga kiranya mendapat perhatian cermat dalam diskursus perdebatan filsafat ilmu pengetahuan kontemporer. juga berupaya mengeliminasi metafisika yang didasarkan pada prinsip verifikasi. mereka menolak metafisika karena mereka sependapat bahwa metafisika tidak dapat ³dipertanggungjawabkan´ secara ilmiah. Truth and Logic (1963). Tetapi sebutan positivisme kemudian diralat menjadi empirisme. sebab menghilangkan sebutan ³positivisme´ seperti kata Morton White adalah berhubungan erat dengan kritik terhadap ajaran August Comte yang menggunakan istilah ³positivisme´ juga. Pada umumnya. Pihak kedua adalah kelompok positif yang bersikap mengagumi logika dan ilmu pengetahuan. pandangan dan pengertian yang tidak memakai rumusan matematik dan empiris. Mereka mengembangkan ajaran yang disebut ³kriteria pengertian empiris´ dan menolak setiap ajaran. yaitu agar suatu pernyataan ( statement) benar-benar penuh .Positivisme Logis sebenarnya merupakan perkawinan antara dua alira n. Alfred Jules Ayer (1910-1970) lewat bukunya Language. Salah satu pemikir kontemporer filsafat analitik terkenal yang memiliki pengaruh cukup besar. Dalam perspektif Morton White. militan. Yang pertama adalah pihak negatif. suatu golongan yang ekstrem. empirisme dan logika tradisional. Disisi lain mereka juga membantah sekalgus i menyerang metafisika dan etika yang gagasan awalnya sudah mulai dilontarkan beberapa filsuf analitik yang embrionya berasal dari Lingkaran Wina itu sendiri. penuh kritik tajam dan menganggap remeh pula pandangan -pandangan pendahulunya.

lewat teori falsifikasinya Popper menjadi orang pertama yang meruntuhkan dominasi aliran Positivisme Logis dari Lingkaran Wina. Oleh Popper distingsi itu diganti dengan apa yang disebut garis 54 Muhammad Baqir Ash-Shadr. Falsafatuna. maka pernyataan tersebut haruslah dapat diverifikasi oleh salah satu atau lebih dari kelima pancaindera. yakni dibenarkan secara empiris. . munculnya Karl Raimund Popper menandai kreasi wacana baru dan sekaligus merupakan masa transisi bagi suatu zaman filsafat ilmu pengetahuan baru. Tokoh positivisme logika modern Inggris dan salah satu penganut empirisis logis ini menandaskan bahwa kata ³makna´ dalam positivisme logis berarti gagasan yang kebenaran dan kepalsuannya dapat ditegaskan dalam batas-batas pengalaman inderawi. 59. Kedua. Popper membuka babak baru sekaligus sebagai masa transisi dipicu oleh adanya dua alasan penting. Namun Popper sendiri dalam hal ini mengakui bahwa ia tidak pernah berasumsi dengan memaksa kesimpulan yang telah diverifikasi dapat ditetapkan sebagai sebuah jaminan kebenaran. hlm.54 Pada tahap perkembangan selanjutnya. Muhammad Nur Mufid bin Ali (Bandung: Mizan. Pertama. Popper mengintroduksikan suatu zaman filsafat ilmu pengetahuan baru yang dirintis oleh Thomas Samuel Kuhn. apalagi hanya sekedar dijadikan acuan untuk menerapkan prinsip ³mungkin´ atau ³bisa jadi´ benar (probability). lewat pendapatnya tentang berguru pada ilmu-ilmu. Bahkan mungkin saja yang disalahkan (difalsifikasi) itu menjadi benar dalam arti verifiable (dapat diuji) secara ilmiah. 1998). Popper menentang Lingkaran Wina terutama dalam distingsi antara ungkapan yang disebut meaningful dan meaningless berdasarkan kemungkinannya untuk diverifikasi.arti. terj.

1991). Ia mengatakan. 1968). kecuali hanya perubahan sifat pengulangan kata dari logika deduktif yang memiliki derajat kebenaran yang tidak lagi diperselisihkan. hlm. Pertama.. Popper menyodorkan prinsip falsifiabilitas. Verhaak dan Robert Haryono Imam.56 Popper lantas menyarankan dilakukannya suatu deductive testing of theories untuk menguji kesahihan (validasi) dan ketepatan (akurasi) suatu teori ilmu pengetahuan lewat empat jalur berbeda. ³. Popper menandaskan bahwa metode falsifikasi itu mengisyaratkan tidak adanya kesimpulan deduktif. penyelidikan terhadap bentuk logis dari teori dengan obyek penelitian teori tersebut untuk memastikan apakah teori tersebut mempunyai karakter suatu 55 Karl Raimund Popper. pokok demarkasi terletak pada ada tidaknya kemungkinan falsifikasi bagi ungkapan yang bersangkutan. hlm.55 Popper menegaskan bahwa suatu ungkapan bersifat empiris atau tidak.O. Pokok persoalannya adalah mustahilnya pembenaran proses induksi.batas (demarcation) antara ungkapan yang ilmiah dan yang tidak ilmiah. but not only tautological transformation of deductive logic whose validity is not indispute´. Kedua. artinya ciri pengetahuan ilmiah adalah dapat dibuktikan salah. The Logic of Scientific Discovery (New York: Harper & Row Pub. Menurut Popper. Sebagai ganti azas pembenaran. Christiaan R. 56 . 40-42. 160..the method of falsification presupposes no inductive inference.M.. tidak dapat ditentukan berdasarkan azas pembenaran (verifiability) sebagaimana dianut oleh aliran Positivisme Logis. perbandingan logis dari kesimpulan antar teori dalam hal konsistensi internal dari sistem yang diuji. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia.

. Ketiga. Apabila putusan itu positif.57 Dengan begitu Popper dianggap berhasil memberikan pemecahan bagi masalah induksi. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu (Bandung: Rosdakarya. Keempat. Tetapi jika kesimpulan tersebut negatif atau falsified (tidak dapat dibuktikan keabsahannya). berarti kesimpulan tunggal itu acceptable (dapat diterima secara logika) atau verified (dapat dibuktikan secara empiris).al. et. perbandingan dengan teori-teori lain dengan tujuan untuk menentukan apakah teori itu telah memenuhi standar mutu hip otesis umum sebagai scientific advance yang tahan dari berbagai ujian dan kritik maupun diskusibilitas publik sehingga hal itu akan semakin mengukuhkan corroboration) ( keberadaannya dalam setiap proses pencarian kebenaran ilmu pengetahuan. Dari cara yang terakhir inilah. 1991). Popper serentak merubah seluruh pandangan tradisional atau The Received View yang dipegang oleh Lingkaran Wina. Semiawan. maka teori yang digunakan untuk mendeduksi teori-teori tersebut secara logis tidak dapat diterima sebagai sebuah hasil kebenaran yang sah. atau juga mungkin terjadi hubungan tautologis (pengulangan kata yang mengaburkan makna) diantara teori-teori tersebut. Setelah dilakukan seleksi terhadap beberapa pernyataan (prediksi). maka diambil suatu putusan melalui perbandingan antar pernyataan tersebut dengan hasil aplikasi praktis dan eksperimen. hlm..teori empiris atau teori ilmiah. Dengan itu pula. Bila cara 57 Conny R. pengujian terhadap teori dengan cara aplikasi empiris dari kesimpulan yang berasal dari teori tersebut. suatu pernyataan tunggal dapat menghasilkan suatu prediksi kemungkinan baru yang dapat diuji (applicable) yang dideduksi dari suatu teori pengetahuan tertentu. 51-52.

M. ³Apakah teori yang baru ini memiliki daya saing untuk menggantikan teori yang ditantangnya?´.O. suatu cita-cita yang sebenarnya diimpikan oleh para ilmuwan tradisional yakni mendasarkan cara kerja ilmu-ilmu empiris pada logika deduktif yang ketat. op. Pertanyaan-pertanyaan tentang teori seperti: ³Apakah ia falsifiable?´ ³Bagaimana tingkat falsifiabilitasnya?´ dan ³Sudahkah ia difalsifiable?´ dalam penilaian mereka kini lebih layak diganti dengan. .58 Dari situ Popper meyakini 58 Christiaan R.cit. sebab masih ada kondisi lain yang diperlukan oleh ilmu untuk dapat berkembang lebih maju.. Sedangkan pendapat Popper tentang berguru pada sejarah ilmu -ilmu juga mengintroduksikan zaman filsafat ilmu pengetahuan baru. hlm. maka dasar yang diajukan Popper adalah prinsip falsifiabilitas. Selanjutnya. Namun menurut kaum falsifikasionisme sofistikit. Jadi disini berlaku pragmatisme dari suatu teori ilmiah yang merupakan racun ampuh terhadap paham determinisme yang bersifat statis dan yang sebelumnya tidak dibicarakan oleh Popper. Verhaak dan Robert Haryono Imam. Pandangan ini lebih menekankan pentingnya manfaat relatif teori teori yang bersaing daripada manfaat suatu teori tunggal. Popper menegaskan bahwa cara kerja (berdasarkan prinsip falsifiabilitas) itu bisa dilihat secara nyata dalam proses pertumbuhan dan perkembangan sejarah ilmu -ilmu. dikatakan bahwa tidak hanya hipotesa melainkan juga hukum dan te yang ori kokoh dalam proses falsifikasi lalu ditinggalkan. masalah keutamaan falsifiabililtas belum cukup untuk menjajaki kebenaran suatu teori.kerja ilmu pengetahuan tradisional didasarkan pada prinsip verifikasi. 161.

falsifikasi menjadi sandaran penting. maka ia harus falsifiable (dapat dinyatakan sebagai benar atau salah).tidak ada ungkapan. dan untuk selanjutnya setelah mengetahui bahwa dugaan kita salah. 58. sebab penarikan kesimpulan teori-teori universal dari keterangan observasi tidak mungkin menemukan jalan kebenaran yang diharapkan. Dalam kaitannya dengan hal inilah. Jadi apabila suatu hipotesis akan dijadikan bagian dari bangunan struktur ilmu. maka lalu kita akan belajar banyak tentang model kebenaran yang lain. op. dapat ditambah dan diperbaiki. Semua pengetahuan manusia sementara sifatnya. maka ilmu pengetahuan justru akan merosot menjadi ideologi tertutup dari segala kritik dan pembaruan. Mengikuti cara berpikir Popper. membuat deduksi tentang ketidakbenaran suatu teori lewat proses falsifikasi 59 Seperti dikutip oleh Conny R. maka kemudian muncul paham falsifikasionisme yang memandang ilmu sebagai suatu perangkat hipotesis yang dikemukakan lewat proses mencoba-coba (trial and error) dengan tujuan melukiskan secara akurat gejala suatu fenomena dunia atau alam semesta. . Kita mesti belajar dari kesalahan-kesalahan kita terdahulu..cit. bisa difalsifikasi. Jika tidak demikian. Dalam perkembangan ilmu. hukum dan teori yang definitif dan baku. hlm. kita seharusnya memecahkan setiap persoalan yang menarik melalui dugaan yang berani melawan (dan terutama) apabila tidak lama kemudian ternyata salah daripada mengulang suatu rangkaian kebenaran yang tidak relevan lagi dengan konteks zamannya. Semiawan. Tetapi sebaliknya. Beerling59 juga berpendapat bahwa semua hasil ilmu itu tidak sempurna.

60 Ketahuilah. sebagaimana yang diutarakan oleh Huston Smith adalah mengira sains dapat memberikan satu pandangan utuh ten tang dunia seisinya. Tak heran jika menjelang wafatnya. 61 I. terj. hlm. Potongan-potongan dunia itu tidak dapat divisualisasikan hanya dengan indera reseptor manusia yang memiliki standar sensibilitas terbatas. 2001). Paham falsifikasionisme ini dapat dipakai sebagai landasan berpikir pragmatis tanpa selalu menganggap semua teori ilmiah sudah benar secara ilmiah dalam perjalanan ilmu. ³Jangan pernah menanyakan bagaimana cara kerja alam semesta.61 60 Huston Smith. Richard Feynman berujar kepada murid-muridnya. karena pertanyaan seperti itu a kan menyeret kalian ke dalam sebuah lubang. 77. tak ada manusia yang dapat memahami bagaimana alam bekerja´. op.mungkin saja ditempuh. Kesalahan kita selama ini. sebab pada dasarnya ilmu memang berkembang maju melalui berbagai percobaan dan kesalahan.cit. . Inyiak Ridwan Muzir (Yogyakarta: IRCiSoD. bisa dikalkulasi dan diuji lewat pengamatan fakta-fakta empiris semata. Tapi sayangnya sains cuma mampu memperlihatkan kepada kita serpihan-serpihan dunia yang bersifat fisikal. xviii.. Kebenaran Yang Terlupakan: Kritik atas Sains dan Modernitas. hlm. melainkan juga atas kriteria praktis dan fungsional. dan tak seorang saintis pun bisa keluar darinya dengan selamat. Popper sendiri sebenarnya ingin menekankan tentang pentingnya kontrol intersubyektif dan kesepakatan dalam komunitas para peneliti sendiri sehubungan dengan kemunculan teori-teori baru agar kemungkinan falsifikasi atas teori-teori itu tidak semata-mata didasarkan pada koherensi logis dan linguistis belaka. Bambang Sugiharto.

Popper mengajukan suatu pandangan yang lebih historis dan dinamis mengenai ilmu yang harus selalu memodifikasi dan memperbaiki diri. Demikian pula terhadap pendirian empiristis dari Hume ditandaskannya tidak perlu menunggu secara pasif berulangnya gejala untuk 62 Jujun Suparjan Suriasumantri.62 Tuntutan falsifikasi Popper tersebut di atas tentu harus dipahami pula berkaitan dengan pandangan filsafatnya tentang rasionalisme kritis yang salah satu uraian pokok ajarannya menjelaskan bahwa setiap pernyataan teoretis harus disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan terbukanya peluang -peluang perbaikan lanjutan. melainkan bahwa sifat rasional itu justru dibentuk oleh adanya sikap keterbukaan terhadap kritik dan kenyataan empiris menuju suatu kebijakan dan strategi il u yang lebih m terpadu dan menyeluruh. hlm. Rasionalisme kritis memang tepat mengatakan bahwa rasionalitas suatu ilmu tidak pernah secara berat sebelah dapat dicari dan ditemukan pada kekuatan nalar ilmiah saja. . Sebab hanya dengan demikian daya topang dan kemungkinan perkembangan ilmu-ilmu ikut tertunjang secara selaras dan seimbang. 1995). 112. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.Popper juga selalu mendorong tentang perlunya mengembangkan budaya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar -dasar pikiran yang berbau mitos untuk mengikis tradisi-tradisi dogmatik yang selama ini hanya selalu mengagung-agungkan kebenaran satu doktrin saja untuk selanjutnya digantikan dengan doktrin yang lebih bersifat majemuk (pluralistik) dan masing -masing mencoba menemukan kebenaran secara analisis kritis. seperti yang dikatakan oleh Descartes dan Leibniz. Berbeda dengan Kant.

op. Memang kita akan terperangkap dalam kerangka yang lain. harapan-harapan.63 Popper menawarkan formulasi lain dalam prinsip epistemologi dengan sebuah keyakinan awal bahwa tidak ada sesuatu yang tidak bisa kita refleksikan dan kita buat eksplisit. hlm.cit. semakin memantapkan permulaan suatu 63 Cornelis Anthonie van Peursen. Inti persoalannya adalah bahwa suatu diskusi kritis dan perbandingan berbagai kerangka acuan selalu mungkin dilakukan. Lalu disitu pun kita bisa saja keluar lagi untuk kemudian merefleksikan ulang tentang kerangka acuan dasar itu. . hlm. 92-93. Justru kitalah yang harus berusaha secara aktif memaksakan hukum keteraturan (regularities) kepada alam. Tetapi Popper menggarisbawahi bahwa akal baru sungguh -sungguh dianggap kritis apabila kita bersedia membuang rongrongan -rongrongan yang dipaksakan (imposed regularities) oleh sistem makrokosmos alam semesta ini dalam sistem mentalitas berpikir kita. 83-84. op. pengalaman-pengalaman dan bahasa kita. tetapi kerangka itu pasti yang lebih baik. Sebab pada hakikatnya sifat kritis berarti bahwa kita seperti kata Kant senantiasa siap terbuka pada semua aneka bentuk perubahan yang kita hadapi dan pengalaman yang kita alami.cit.. kita selalu bisa keluar dari kerangka acuan dasar itu setiap saat. Baginya ketidakmungkinan mengeksplisitkan asumsi asusmi dasar adalah sebuah mitos yang cenderung dibesar besarkan sehingga membuat kesulitan menjadi ketidakmungkinan. Ia memang percaya bahwa setiap saat kita ini terpenjara oleh teori-teori. Tetapi sebenarnya kalau saja kita mau. 64 I. Bambang Sugiharto.64 Sejalan dengan ide-ide awal yang provokatif tersebut. sebagai generasi pasca Popper. tampilnya Thomas Kuhn..mencari keteraturan.

Ole Dudley Shapere66. yaitu sewaktu anggapan para ahli ilmu pengetahuan pindah dari suatu paradigma (istilah teknis Kuhn. 10. Hanson. Kuhn memperlihatkan bahwa sepanjang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan itu pembaharuan - pembaharuan yang benar hanya terjadi dalam beberapa fase saja. Stephen Toulmin dan A. 66 Dudley Shapere. h mereka digolongkan sebagai pemikir baru yang mendasarkan pandangan filosofisnya pada sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri. digolongkan sebagai filsuf ilmu pengetahuan baru karena mereka melihat perkembangan ilmu pengetahuan sebagai perkembangan yang revolusioner. Hal ini nampak dari cara kerja Feyerabend dalam menentang empirisme kontemporer dan teori kuantum mutakhir dari in terpretasi Kopenhagen yang menegaskan bahwa tidak mungkin untuk menyatakan posisi dan kecepatan sebuah 65 Cornelis Anthonie van Peursen.R. hlm. Meaning and Scientific Change.zaman baru dalam proses dialektika filsafat ilmu kontemporer yang biasa disebut filsafat ilmu pengetahuan baru.. Robert Polter. artinya ³susunan dasar´ ilmu alam pada zaman dan wilayah perkembangan ilmu tertentu) ke paradigma yang lain tanpa adanya hubungan logis antara keduanya. Mereka ini disebut sebagai generasi filsafat ilmu pengetahuan baru karena mempunyai perhatian besar terhadap sejarah ilmu pengetahuan dan peranan sejarah ilmu pengetahuan bagi penyusunan filsafat ilmu pengetahuan yan lebih g mendekati kenyataan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Paul Karl Feyerabend. N. Tokoh-tokoh yang disebut bersama Kuhn adalah Mihael Polanyi.cit. Mereka itu oleh Cornelis Anthonie van Peursen65.). hlm. 29. Secara khusus. . Kaplan. op. dalam Ian Hacking (ed.

Menurut interpretasi Kopenhagen yang dipertahankan oleh ahli fisika Werner Heisenberg (1901-1976) dengan Uncertainly principle (Prinsip Ketidakpastian)-nya. posisi. Namun sayangnya. pada tingkat sub-mikroskopik kita tidak berhak untuk memberikan suatu sifat kepada entitas kecuali kita dapat membuktikannya secara eksperimental. tekanan. Alasannya. Ia mengatakan bahwa para ahli fisika tidak membangun peralatan yang canggih untuk membantah hipotesis dan pondasi ilmu pengetahuan yang telah ada. Akhirnya. Heisenberg berkesimpulan bahwa ilmuwan tidak mungkin dapat melihat elektron dan sekaligus mengukur kecepatannya pada waktu yang bersamaan. Istilah-istilah seperti massa. kecepatan. Akibatnya.elektron bersama-sama. setiap kuantitas cahaya yang tidak mempengaruhi kecepatan tidak akan memadai untuk menyatakan posisinya. Berdasarkan percobaan. melainkan untuk mengembangkan dan menguatkan praktek kegiatan ilmiahnya. dan sebaliknya. tetapi alam yang tampak . Apa yang kita amati bukanlah alam an sich. kenyataan obyektif digambarkan secara mekanis sehingga hanya menghasilkan informasi yang terbatas dan tidak utuh. Dunia nyata diasumsikan menjadi suatu sistem partikel-partikel material yang dipahami secara geometris. kekuatan dan unsur-unsur semesta atomik yang paling kecil merupakan sifat-sifat utama dari materia yang bergerak secara bebas. peralatan kita²istilah Einstein²terlalu kasar untuk mendeteksi dan memaksa menspesifikasikan kecepatan dan arah tertentu dari partikel elektron yang lebih kecil daripada atom. kemustahilan ini adalah kemustahilan prinsipiil. kemustahilan ini ditarik dari kenyataan bahwa setiap kuantitas cahaya yang cukup untuk menangkap posisinya akan merubah kecepatannya. volume.

seperti dalam metode penelitian. Salahlah menjadikan kepercayaan kita akan pertanggungjawaban manusiawi itu pada jurang -jurang kekosongan yang ditemukan oleh Heisenberg dalam struktur deterministik gambar dunia fisik. dan bukannya atom-atom itu sendiri. Sehingga dengan alasan bahwa teori kuanta (partikel) itu masih jauh dari kadar kepastian. dan gerakan sub-atomik alam itu sesungguhnya tidak bisa dipastikan atau diramalkan. hlm. Sekali analisis dimulai harus dikejar dan ditelusuri sampai batas akhir. Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis Tentang Makhluk Paradoksal (Jakarta: Gramedia. kita memanipulir benda-benda yang terdiri dari bermiliar-miliar atom. melainkan pada tingkat makroskopik dari kuanta.67 Implikasi dari adanya fenomena tentang interpretasi Kopenhagen itu ternyata membawa sains modern kepada cara analisis yang bersifat atomistik dengan jalan memilah-milah suatu proses ke dalam proses pencarian sebab -sebab efisiensi maupun subyek-subyek aktual yang terlibat dalam rangkaian kegiatan penyelidikan ilmu pengetahuan. maka konsep inde terminisme Heisenberg tersebut tidak dapat berfungsi lagi. 176 dan 315. 1989). Prinsip ketidakpastian ini telah memacu fungsi imajinasi manusia untuk memunculkan ide-ide serta penemuan-penemuan baru yang merupakan refleksi 67 Louis Leahy. . dan karena kebebasan kita juga tidak dilaksanakan pada tingkat mikroskopik. Dalam kegiatan-kegiatan bebas. karena sains baru akan merasa tahu ³bagaimana´ secara persis dari proses alami jika telah menemukan komponen-komponen fisis dasar yang menyebabkan terjadinya hukum kausalitas dalam proses kegiatan tersebut sampai kepada teori atomik sebagai pusat aktivitas saintifik.

filsafat ilmu abad modern tidak lagi mengutamakan penalaran semata. 68 Frederick Suppe (ed. Popper dan Bohm sebagai pembawa pandangan alternatif ( lternatives to a the Received View). maka filsafat di abad modern memperlihatkan kecenderungan menggese landasan dan obyek telaahannya. . yaitu dalam hal kemampuan berimajinasi. op. bagaimana dan untuk apa gejala alam itu. Kalau filsafat ilmu pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 lebih difokuskan pada upaya untuk menemukan penjelasan yang radikal tentang apa. Dari sini kemudian perkembangan ilmuilmu modern telah mengakibatkan penjernihan dari prasangka -prasangka metafisika dan pencocokan lebih teliti pada data dan cara berpikir yang lebih benar. Oleh karena itu. suatu model analisis untuk menginterpretasi dunia. melainkan manusia itu sendiri sebagai makhluk yang memiliki keistimewaan khusus. Artinya. r Filsafat ilmu abad modern bersumber pada manusia itu sendiri yang pada perkembangan berikutnya terkesan menjadi filsafat ilmu kehidupan.. hlm. 119.perkembangan ilmu dari masa ke masa.). Suppe secara khusus menempatkan mereka dalam kelompok analisis Weltanschaungen.cit. tetapi bertujuan juga untuk meningkatkan dan membuka tabir serta mendalami realitas alam yang penuh misteri dan paradoks ini melalui perangkat dimensi kreatif ilmu pengetahuan kontemporer. ilmu bukan lagi merupakan hasil usaha manusia semata -mata berdasarkan pengalaman empirik yang diperolehnya melalui pengamatan inderanya dan penelitian percobaannya serta pembuktiannya. Oleh Frederick Suppe68. Feyerabend disebut bersama Kuhn. Hanson. Toulmin.

Anehnya. Sebab berdasarkan keyakinan Lakatos. ia menyangkal kemungkinan adanya tentang experimentum crucis. karena fakta tanpa kerangka teoretis tidak pernah dapat menjadi relevan secara ilmiah. Lakatos mengatakan bahwa filsafat ilmu pengetahuan tanpa sejarah ilmu pengetahuan adalah omong kosong ilmiah belaka. terutama dalam penilaian Feyerabend terhadap empirisme kontemporer yang dianut oleh para pengikut The Received View. Kuhn.W. Yang terjadi dalam pembaruan suatu ilmu itu sebetulnya merupakan peralihan dari teori yang satu ke teori yang lain. . Misalnya. Atau lebih jelasnya lagi. op. Jika nantinya semua ini menghasilkan 69 Prasetya T. yakni keadaan bahwa dengan satu falsifikasi saja bisa menghancurkan suatu teori. hlm. pada posisi ini Feyerabend justru didekatkan dengan Popper.. yang berlangsung sebetulnya adalah suatu program penelitian.cit. melainkan juga karena mereka melihat adanya hubungan antara sejarah ilmu pengetahuan dengan filsafat ilmu pengetahuan. Sebaliknya. sejarah filsafat tanpa sejarah ilmu pe ngetahuan adalah buta. dan lebih sehaluan dengan Thomas S. seandainya ada gerak lawan lain yang muncul dari ranah pengalaman subyek peneliti pasti memproduk suatu teori baru. Dikatakan bahwa filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend merupakan percobaan untuk memperkembangkan analisis Popperian.69 Namun berbeda dengan Popper. Mereka digolongkan sebagai filsuf ilmu pengetahuan baru bukan saja karena mendasarkan pandangan filosofisnya pada sejarah ilmu pengetahuan. 52.

tetapi justru deretan teori-teori ilmiah itu yang dimaksud Lakatos dengan program riset ( esearch program) yang dalam r prakteknya di lapangan tidak boleh dilaksanakan secara fragmentaris. 17...cit. maka yang lama dianggap gugur). op.71 Feyerabend secara tegas mengatakan bahwa antara sejarah ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu pengetahuan mempunyai keterkaitan timbal balik. Dalam Against Method72. 71 Soedjono Dirdjosisworo.teori yang lebih baik..cit. Feyerabend berpendapat bahwa manusia dewasa ini terkekang oleh semua cara kerja yang telah diperincikan dengan teliti itu dengan hanya berlandaskan pada teori dan hipotesis yang kurang ditopang oleh kenyataan yang terjadi dalam masyarakat. 211. Feyerabend juga berusaha melawan segala usaha untuk menemukan keteraturan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. hlm. . Kompleksitas itu terdiri atas sejumlah teori ilmiah yang menurut Popper tidak dapat berlaku sekaligus (yaitu apabila teori yang baru masuk. op.70 Lakatos menyatakan bahwa seluruh bangunan ilmu alam merupakan suatu kompleksitas makro yang intinya seharusnya melawan segala usaha untuk membuktikan salah. hlm. 86. 72 Paul Karl Feyerabend.cit. op. khususnya Popper. hasil-hasil 70 Cornelis Anthonie van Peursen. Feyerabend merasa bosan akan segala law and order yang ingin dicapai oleh para sarjana. tetapi kalau tidak dinamakan degeneratif. maka ini bisa dikatakan seb agai program penelitian progresif. hlm. Feyerabend mengatakan bahwa para ilmuwan tidak bisa melepaskan diri dari latar belakang historis bagi hukum -hukum. Sementara disisi yang lain.

prasangka-prasangka epistemologis dan sikap-sikap mereka terhadap akibat-akibat aneh dari teori-teori diterimanya. misalnya. konfirmasi dan teori perbandingan yang diberikan oleh para filsuf berguna baik bagi ilmuwan maupun para pakar sejarah. Pandangan-pandangan maupun kritik-kritik tajam yang dilontarkannya merupakan sebuah reaksi nyata dalam menyikapi kegagalan teori teori ilmiah tradisional yang tidak dapat dibuktikan secara konklusif (meyakinkan). Philosophy of Science and Historical Enquiry (Oxford: Clarendon Press. 4.cit. op.73 Alasannya adalah bahwa analisis-analisis terhadap kejelasan. Bahkan yang kini sama sekali tidak ilmiah. Sebab bagi Feyerabend. dapat berfungsi sebagai ancangan alternatif yang merangsang untuk menggantikan metode ilmiah tradisional dan kaku. Kaitan itu dilukiskan oleh Feyerabend sebagai sebuah perkawinan yang cocok (marriage convenience). atau masih disebut magis sekalipun. Feyerabend mendesak membuka pintu bagi bermacam -macam model alternatif demi pembaruan suatu ilmu. dengan maksud agar lebih banyak bahan yang bervariasi sifatnya dapat dicakup dalam sistem ilmiah. 1974).. . 74 Cornelis Anthonie van Peursen. Dengan semboyan Against Method yang disuarakannya secara ekstrem. hlm. teknik-teknik matematis.eksperimen.74 Segala upaya dekonstruksi metodologis Feyerabend dalam filsafat ilmu modern tersebut memberikan perspektif baru tentang hakikat ilmu pengetahuan yang sebenarnya. hlm. dan sekaligus juga sebagai penentangan terhadap adanya asumsi bahwa ilmu itu adalah suatu aktivitas rasional yang beroperasi hanya berdasarkan satu atau beberapa metode tertentu. 90. ilmu tidak 73 John Losee.

Georgias (± 480-380 SM. sementara obyek -obyek matematika (obyek akal) merupakan pemikiran dan bayangan yang tidak realistik dari obyek natural. Kebosanan ini kemudian melahirkan Skeptisisme sebagaimana yang dianut oleh tokoh-tokoh berpengaruh besar kaum Sophis. Apa Saja Boleh (anything goes) Pada zaman Yunani kuno. Munculnya kaum Sophis itu secara tidak langsung memperlihatkan tentang mulai adanya krisis dalam pemikiran filsafat Yunani. Teori lain (para Sophis) menganggap obye k natural adalah sesuatu yang nyata. Platonisme.). Prodikos dan Kritias. hubungan antara kesatuan alam semesta yang teratur (kosmos) dengan pemikiran para filsuf berkembang menjadi teori teori yang berbeda. sedangkan hasil pengetahuan rasional abstrak Plato itu adalah mimpi yang tidak berguna. Orang-orang Yunani merasa jemu terhadap banyak ajaran yang dikemukakan oleh para filsuf pra Sokratik. berasumsi bahwa kesatuan adalah nyata. BAB III PRINSIP-PRINSIP ILMU PENGETAHUAN PAUL KARL FEYERABEND C.).mempunyai segi-segi istimewa yang dapat menyatakan dirinya lebih unggul daripada cabang-cabang pengetahuan lain. . sedangkan pengertian (pengamatan) awam adalah opini sebagai duplikat yang tidak sempurna. Aristoteles menganggap bahwa opini atau hasil pengamatan (menurut Plato) itulah yang benar. seperti Protagoras (± 480-411 SM. Hippias. Akibatnya kebenaran diragukan dan dasar ilmu pengetahuan mulai disanggah. Hal ini jelas membawa pengaruh yang tidak baik bagi kebudayaan Yunani zaman itu.

Sejarah Filsafat Barat dan Sezaman (Bandung: Alumni. hlm. 1986). Tetapi ia juga merasa bahwa nilai-nilai yang ada itu pasti ada yang bergerak menuju kepada tercapainya suatu norma yang bersifat mutlak. Heryadi. ³Saya tidak tahu apa-apa.P. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena Sokrates terus bertekad untuk mempertahankan azas -azas pokok mengenai pengetahuan hidup yang hendak dirongrong dan dirusak oleh kaum Sophis. tetapi saya juga tidak mengira mengetahui sesuatu´. Ia sadar bahwa mengenai satu hal ia lebih tahu daripada kebanyakan orang. adalah lawan yang terbesar dari kaum Sophis. 22.Nilai-nilai tradisional dalam bidang agama dan moral dirubuhkan serta kecakapan berpidato di depan umum digunakan untuk memutarbalikkan kenyataan demi kepentingan pihak yang berbicara saja. kaum Sophis menyangkal adanya nilai-nilai universal mengenai prinsip baik dan buruk atau adil dan tidak adil yang terdapat dalam suatu tatanan masyarakat. Di sisi yang lain. Sokrates oleh lawan-lawannya dinamakan juga orang Soph meskipun ia sebetulnya is. Kaum Sophis dengan kritik-kritiknya yang bersifat menjatuhkan telah menjadikan manusia dan segala hal yang berhubungan dengan akal budi pengetahuan sebagai pusat perhatian utama. . Sebaliknya.75 Kelompok ini menolak segala realitas serta mengingkari proposisiproposisi ilmiah dan empirikal. Sokrates membenarkan bahwa nilai yang berkembang dalam masyarakat memang tidak dapat tahan terhadap kritik. Ia membela yang benar dan baik sebagai nilai nilai obyektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua manusia. sehingga tanpa ragu -ragu ia pun berujar. Semboyan Sokrates yang kemudian lebih populer dengan ungkapan ³ Gnothi 75 Martinus Anton Wesel Brouwer dan M. Anehnya. absolut dan abadi.

Dan yang paling penting adalah mereka menyiapkan kelahiran suatu genre pemikiran filsafat baru yang direalisasikan oleh tiga mahaguru filsuf terkemuka Yunani Kuno. 2000). sehingga peranan akal sehat dan logika diakui sangat penting. Aliran Sophis inilah yang pada akhirnya menimbulkan revolusi intelektual di Yunani. harus diakui pula bahwa aliran Sophis mempunyai pengaruh yang positif pada kebudayaan Yunani. Kesalahan mereka adalah bahwa ukuran dari nilai kebenaran yang mereka ajukan itu hanya sebatas pengamatan yang nampak dari bagian permukaan luarnya saja. Setiap persoalan digagas atau dirancang dalam satu sistem kehidupan yang dialogis dan kritis. Kaum Sophis menciptakan gaya bahasa baru yang sangat mempengaruhi para sejarawan dan penulis drama Yunani. Plato dan Aristoteles. Padahal menurut Sokrates. Namun begitu.Seauton´ (Kenalilah dirimu) ini menyiratkan bahwa ia mencintai kebijaksanaan dan bukan untuk menguasainya. yakni Sokrates. Pemikiran Yunani sendiri ditandai oleh ketergantungan pada akal sehat (common sense) manusia (human reason) dalam memecahkan berbagai macam persoalan. Kaum Sophis juga menempatkan manusia sebagai obyek pemikiran filsafat dan meletakkan dasar bagi pendidikan untuk para pemuda secara sistematis. hlm. Ilmu dan Teknologi (Jakarta: Rineka Cipta.76 Kaum Sophis membantah adanya norma-norma moral-etis yang berlaku terus-menerus. . yakni tentang µAda¶. kesadaran akan adanya hakikat yang mutlak itu justru berada dalam jiwa manusia yan g selalu berpikir serta berusaha mencari dan menyelidiki problem mendasar dari filsafat. 42. Sejarah Filsafat. 76 Burhanuddin Salam.

Implikasi filosofisnya. Dominasi kosmosentris yang menjadi sifat dasar Yunani Kuno. Inilah sebenarnya awal dari kesalahan persepsi dalam perjalanan ilmu sejarah ilmu pengetahuan seakan-akan berikutnya telah yang serngkali i sedemikian menempatkan pengetahuan menjadi matematis. abstrak dan teknis. bahwa semua realitas yang terjadi dalam fenomena alam semesta ini dilihat dari segi kehendak Tuhan sebagai prima causa yang menggerakkan dan mengendalikan segala kejadian yang ada. yang memegang peran pada Abad Pertengahan ini adalah dogmatisme gerejani dengan beragam tafsir keagamaannya yang meminggirkan peran akal dalam menjelaskan dunia dengan berbagai permasalahannya. misalnya. pemikiran manusia seolah -olah mememukan eksistensinya kembali. Implikasi teologisnya. sehingga mampu melahirkan sejumlah perubahan mendasar dalam cara berpikir manusia atas dunia beserta karakteristiknya. sehingga setiapkali terjalin hubungan dengan akal sehat. disingkirkan oleh pandangan teosentris Abad Pertengahan melalui suatu pemahaman. Dogmatisme tersebut telah cukup untuk meluluhlantakan bermacam nilai humanisme. pada saat itu juga terjadi perpecahan. yang berusaha untuk mencari dasar realitas arche) dalam ( berbagai unsur kosmos atau alam raya. karena manusia dianggap .Sejak filsuf Yunani Kuno berusaha meruntuhkan mitos dengan mengedepankan logos. berbagai pergolakan dan sekaligus pembongkaran atas pemikiran manusia pun kemudian bermunculan sebagai suatu respons positif terhadap berbagai usaha yang dilakukan oleh para filsuf Yunani Kuno tersebut.

Hanafi. Tarian Tuhan (Yogyakarta: Apeiron-Philotés. memang ditujukan untuk menumbuhkan dan menjelaskan alam pikiran Eropa yang terjadi pada saat itu. Sebab pada awal kemunculannya. ³Sains dan Problematika Ketuhanan Abad Pencerahan (Hampiran Empirisme Radikal David Hume. kategori dan analogi yang didasarkan pada ketelitian. 84. dan penafsiran -penafsiran filosofis yang terdapat dalam filsafat modern pun tidak mungkin ada dan berkembang tanpa berkiblat kepada konsep awal filsafat skolastik.77 Meskipun banyak pihak yang menilai bahwa Abad Pertengahan sebagai masa kebodohan dan kegelapan dalam sejarah dunia filsafat. Nikolaus Copernicus (1473-1543). obyektivitas dan penguraian logis. Kepler dan Newton justru mendukungnya. kecuali hanya sebagai viator mundi (sekedar penziarah di muka bumi). Dance of God. dalam Win Usuluddin Bernadien (ed. 2003). 78 A. namun begitu kemunculannya telah berusaha mewariskan suatu kebudayaan baru dengan ciri cirinya yang khas.). 1983). Giordano Bruno.78 Selanjutnya pada zaman Renaissance. Kebudayaan modern sendiri tidak dapat melepaskan diri dari kebudayaan Abad Pertengahan. tetapi Galileo. hlm. 1711-1776)´. pendulum epsitemologis kembali pada empirisme. Johannes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1642)²barangkali²menjadi orang pertama yang berusaha untuk memberikan cara pandang yang relatif baru bagi perkembangan sains. walaupun para ilmuwan dan filsuf Aristotelian berupaya keras bersama tokoh gereja mengecam bahwa pandangan Copernicus tidak rasional. pemahaman Filsafat Skolastik (filsafat yang diajarkan di sekolah-sekolah)²yang pada Abad Pertengahan terkenal dengan nama Filsafat Eropa²tentang definisi. Filsafat Skolastik (Jakarta: Pustka Alhusna.tidak mempunyai peran apapun di atas dunia. . hlm. 82. terutama 77 Listiyono Santoso.

80 Manusia²pada abad ini²dianggap telah menemukan kembali subyektivitasnya yang menjadi titik acuan pengertian realitas. Harun Hadiwijono. Manusia kembali kepada sumber yang murni bagi pengetahuan dan juga keindahan.dengan teori heliosentrisnya yang menggugurkan paham geosentris tentang pusat tata surya. yaitu prinsip yang menyatakan bahwa sebuah benda cenderung untuk diam atau bergerak di tempat ia berada. Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius. bahkan pada tataran tertentu dengan penuh kepercayaan diri dan kesadaran penuh terhadap otonomi dan kebebasan alamiahnya untuk berpikir dan bertindak berdasarkan kemampuannya tersebut. kecuali apabila ia dipengaruhi oleh suatu benda yang terdapat di sekitarnya. 11. 269. Subyek bukan saja mempengaruhi realitas. memahami alam semesta ini sebagai sesuatu yang tidak terbatas dan tidak menentu serta tidak terhitung jumlahnya dalam ruang dan waktu yang bergerak berdasarkan hukum-hukum yang sama. Bruno. 1996). 80 . dan mengajukan prinsip kelambanan. misalnya. Renaissance itu sendiri adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman saat manusia merasa diri dan alam pikirannya telah dilahirkan kembali dalam keadaan bebas dan beradab berdasarkan logika serta otoritas yang utuh sebagai subyek yang berpikir. hlm. subyek juga dapat 79 Louis O. hlm. Kattsoff. Kepler mengajarkan tentang tenaga mekanis yang menghasilkan perubahan-perubahan kuantitatif. yang sempat diberangus oleh dominasi otoritas gerejani Abad Pertengahan. alih bahasa Soejono Soemargono.79 Secara historis. (Yogyakarta: Tiara Wacana. Pengantar Filsafat. Sedangkan Kepler menolak ajaran gerakan alami. 1980).

Mudji Sutrisno dan F. Rasionalisme dan empirisme inilah yang kemudian menjadi arus utama filsafat yang paling dominan dalam perkembangan pemikiran manusia abad Renaissance dan dilanjutkan serta mencapai puncaknya pada abad ke-17 yang dikenal dengan Abad Pencerahan (Aufklärung). subyek selalu terlibat dalam proses bergerak ke depan²subyek selalu mengacu pada nilai-nilai Kebenaran Ideal. 19990). Budi Hardiman (ed. hlm.X. menurut Hegel melibatkan sang subyek dalam proses dialektik pembaharuan secara konstan dunia realitas. Tiga Tonggak Filsafat Modern´. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis (Yogyakarta: Kanisius. 82 Yasraf Amir Piliang. Dalam terminologi Hegel (1770 -1832)81 manusia bukan lagi dipahami sebagai substansi melainkan subyek yang mempunyai pusat .). Tradisi khas dari filsafat abad ini terletak pada mainstream 81 Franz von Magnis-Suseno. disebabkan ketidakpercayaan pada spirit dan hukum alam. Perubahan yang dihasilkan dari proses bergerak ke depan dan proses µmenjadi¶ inilah yang oleh subyek modern itu sendiri dinilai sebagai kemajuan.menciptakan realitas itu sendiri. 17. maka pengetahuan dianggap tidak lagi berasal dari Kitab Suci atau dogma Gereja. 83 Nico Syukur Dister. Dalam penciptaan dunia obyek-obyek dan dalam pencarian nilai-nilai. kesadaran kritis untuk selalu membenturkan diri terhadap realitas dan dunia. . hlm. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman (Yogyakarta: Kanisius. sementara Kebenaran Ideal itu sendiri juga selalu dalam proses µmenjadi¶. Modernitas sebagai produk dari Filsafat Pencerahan. dalam F. dan juga bukan berasal dari 83 kekuasaan feodal. 2002). Hiper-Realitas Kebudayaan (Yogyakarta: LKíS. melainkan dari diri manusia sendiri . yaitu melalui rasio (rasionalism) dan pengalaman (empirism). ³Descartes. 1992). hlm. Hume dan Kant. 55.82 Dengan pola pemikiran yang demikian itu. 60.

Filsafat Pencerahan juga mengusung suatu perspektif epistemologi baru dengan menempatkan ilmu pengetahuan sebagai urusan kolektif masyarakat yang tidak mempunyai batas-batas tertentu selain daripada pengamatan seluas dunia nyata yang selalu menampakkan diri sebagai realitas empirik. Hal itu disebabkan oleh adanya pengertian baru bahwa dengan akal dan metode ilmiah yang dimilikinya. metode eksperimental dalam ilmu alam dan kimia menjadi metode utama yang sangat . Sebab dalam Filsafat Pencerahan itu terdapat dua aras pemikiran penting: orang menciptakan ilmu nyata (positif) tentang corak jiwa manusia (ilmu jiwa rasional) dengan mempelajari daya psikis. manusia dianggap sanggup mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia ini. Yang ditentang oleh aliran filsafat ini adalah suatu hierarki atas dasar wahyu Tuhan dan mendukung ideologi dari pluralisme politis dan religius. terutama bahasa. Filsafat Pencerahan adalah suatu bentuk rasionalisme empiris yang berusaha menyangkal pendapat seperti yang sering diutarakan oleh banyak pihak bahwa Filsafat Pencerahan hanya terdiri dari sekumpulan fakta-fakta kecil yang tidak mempunyai kesatuan dan corak yang khusus.utamanya dalam menempatkan akal atau rasio dan pengalaman manusia sebagai sumber tertinggi untuk mencapai kebenaran. Filsafat Pencerahan merupakan suatu ideologi yang mengiringi perkembangan tingkat borjuasi di Eropa dan sekaligus kemunduran bagi simbol budaya feodalisme. Selain itu. Jadi filsafat dituntut harus kembali berpatokan pada dua nilai utama yang dianut dalam masyarakat: hal yang berguna dan kesejahteraan manusia. Disamping itu.

op.W.84 Semboyan µsapere aude¶.. Francis Bacon dan pada abad berikutnya Rene Descartes dan Isaac Newton telah berhasil memperkenalkan metode matematik dan metode eksperimental untuk mempelajari alam..P.dihargai dan digunakan secara silih berganti serta saling melengkapi satu sama lain. hlm. hlm.86 84 M. 75-77. 47. 1999). merdeka untuk menginterpretasikan setiap kejadian yang ada secara berbeda atau bahkan baru sama sekali tanpa memerlukan lagi intervensi tiap kuasa yang datang dari luar kemampuan dirinya. Sebab sebagaimana kita ketahui. . op. Tokoh -tokoh pembaharu dan pemikir seperti Galileo Galilei. 13.A. Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty.cit.cit. 85 Sebagaimana dikutip oleh Harun Hadiwijono. karena manusia telah merasa bebas. bahwa paruh Abad Renaissance dan Abad Pencerahan sendiri memang telah dipenuhi dengan berbagai revolusi ilmiah yang sangat mengagumkan lewat berbagai pemikiran dan penemuan manusia secara spektakuler dan monumental. 86 The Liang Gie. maka pengertian filsafat alam mulai memperoleh arti khusus sebagai penelaahan yang sistematis terhadap alam dengan menggunakan metode -metode yang diperkenalkan oleh para pembaharu dari zaman Renaissance dan awal abad ke17. Dua azas itu memungkinkan kita mengerti bahwa terdapat suatu sej rah akal a manusia yang universal sejajar dengan universalitas dari pengamatan dan pengalaman. Dengan demikian. beranilah berpikir memberikan suatu spirit baru bagi cita-cita kemanusiaan. Brouwer dan M. hlm. Voltaire85 menyebut Abad Pencerahan sebagai ³Zaman Akal¶. Heryadi.

Pada sisi lain.87 Galileo Galilei mengawali penjelasannya tentang suatu perkembangan baru sains ketika ia membuat suatu aliansi (pengggabungan) antara matematika dengan observasi eksperimen. Galile sampai pada sebuah o kesimpulan bahwa Jupiter merupakan model miniatur dari prinsip heliosentris. 88 Burhanuddin Salam. hlm. Galileo juga meletakkan dasar hukum-hukum yang menghubungkan kecepatan. Kees Bertens (Jakarta: Gramedia.Perkembangan ilmu pengetahuan dari yang semata-mata bersifat rasionalempiris menuju ilmu pengetahuan yang bersifat rasional-eksperimental ini telah mengakibatkan ditemukannya kegunaan praktis ilmu pengetahuan dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan dan impuls-impuls baru. Dengan teropong jarak jauhnya. Alam hendaknya diselidiki dengan memakai pengertian matematika. terj.88 87 A. penemuan teleskop dari Galileo Galilei semakin memperkuat kebenaran teori heliosentrisnya Copernicus. 1992). sehingga dengan demikian ia juga telah berhasil menciptakan ilmu pengetahuan kinetika (ilmu tentang gerak) yang bersifat linear-lurus. op.. Lewat pengamatan astronomis itu pula. 6-7. bahwa bukan bumi sebagai pusat gerakan dari tata surya. setiap kenyataan pasti bersifat kualitatif dan dapat diukur.G. . Galileo memastikan bahwa planet-planet tidaklah bercahaya sendiri. 159. van Melsen. Dimensi-dimensi kehidupan sehari-hari telah pula mengalami perubahan drastis dengan cara dan teknik yang tidak disangka sebelumnya. hlm. melainkan mataharilah pusatnya. melainkan memantulkan cahaya matahari seperti halnya bulan. percepatan dan jarak yang ditempuh dalam jangka waktu tertentu.cit. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita.M.

seorang pastor yang meninggal pada tahun 1543. seolah telah menjadi awal bagi tersingkirnya doktrin keagamaan. Charles Darwin dengan teori evolusinya. Tragisnya. ahli astronomi dan fisika Italia ini pada tahun 1633 justru dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Gereja Roma di bawah kekuasan Paus Urbanus VIII.Apa yang diintrodusir dan diwariskan oleh teori heliosentris ini adalah babak baru bagi kebenaran logis rasionalisme dan empirisme yang meruntuhkan kebenaran dogmatisme agama saat itu. Prinsip mekanika tentang gerak alam ini berimplikasi logis bahwa dunia . Alam bagi Galile merupakan satuo satunya sumber pengetahuan ilmiah sehingga ia memposisikan antara alam sebagai sumber pengetahuan ilmiah dengan Kitab Suci sebagai pengetahuan teologi dalam derajat yang sama. atas dasar observasi dan hitungan matematis. seperti Francis Bacon (1561-1626) dengan metode induktif sebagai landasan empirismenya. dan sebagainya. Melalui penemuan inilah Galileo kemudian berusaha memberikan keyakinan bahwa kebenaran pengetahuan terletak pada persoalan yang obyektif. Pendapat dan perjuangan yang telah dirintis oleh Galileo itu kemudian disempurnakan secara sistematis oleh Isaac Newton (1642-1727) yang menjelaskan bahwa alam sebagai mesin besar yang berjalan sesuai dengan hu kum gerakan dan segenap proses yang terjadi di dalamnya ditentukan oleh massa dan posisi yang dimiliki oleh berbagai partikel materi yang terdapat di dalamnya. Galileo Galilei dengan pengembangan prinsip heliosentrisnya Copernicus. karena dituduh telah menyebarkan ajaran heliosentrisme dari Copernicus. Berbagai pendekatan dan juga penemuan sains oleh para filsuf dan ilmuwan abad ini.

Melalui metode empirismenya pula. Newton menyatakan bahwa semua benda langit saling tarik menarik dengan gaya yang berbanding lurus dengan massanya serta berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya. hlm. 38. Sementara itu. Newton berpendapat bahwa suatu planet bergerak 89 mengitari matahari karena adanya gaya gravitasi yang keluar dari matahari. Bacon mempercayai bahwa apa yang akan datang dapat diramalkan kejadiannya atas penemuan yang lampau. 1996). Newton melihat bahwa planet-planet tidak berjalan lurus.diciptakan seperti sebuah mesin dengan hukum mekanikanya. Bacon menerangkan prinsip empirisme bahwa untuk menyusun ilmu pengetahuan yang diperlukan adalah pengumpulan fakta pengalaman sebanyak mungkin ya ng kemudian dianalisis mengenai kesamaan yang terdapat diantara berbagai fakta tersebut. Dari gejala inilah Newton kemudian memperoleh hukum gravitasi yang menetapkan bahwa planet planet tersebut tunduk pada kekuatan sentral. yaitu gravitasi. tetapi berputarputar. Francis Bacon sebagai peletak dasar Abad Renaissance merupakan tokoh yang mempertajam empirisme dengan mendasarkan semua pengetahuan dan sains atas dasar pengalaman. Kosmologi Einstein (Yogyakarta: Tiara Wacana. Fenomena ini dalam pandangan Newton tidak mungkin terjadi seandainya tidak ada kekuatan gravitasi. Berbagai prinsip ini pulalah yang kemudian mempengaruhi dan dijabarkan oleh 89 Joko Siswanto. Prinsip yang sederhana ini telah mampu menerangkan berbagai garis orbit yang sangat kompleks bagi berb agai planet di sekeliling matahari. dan Tuhan yang semula diyakini begitu intim dengan manusia mulai dicurigai sebagai remote control yang jauh letaknya dari dunia nyata. . jauh sebelum Isaac Newton.

³gerak adalah sebab terjadinya panas´. dan ³satu adalah separuh dua´. yaitu rasionalism dan empirism. 2001). Berdasarkan pandangan rasionalisme. terj. kriteria pertama bagi benar salahnya setiap gagasan manusia adalah pengetahuan rasional yang bersifat pasti dan 90 Karen Amstrong. doktrin rasional membagi pengetahuan menjadi dua macam. artinya akal mesti mengetahui dan mengakui tentang kebenaran suatu proposisi tertentu tanpa harus mencari dalil pembuktiannya.Newton dengan teori gravitasi universalnya sebagaimana yang telah penulis uraikan di atas. misalnya: ³tidak mungkin terjadi suatu peristiwa tanpa suatu sebab´. Secara khusus. seperti: ³bumi itu bulat´. Zaimul Am (Bandung: Mizan. Sejarah Tuhan. kecuali dengan merujuk kepada proses pemikiran dan bantuan informasi informasi pengetahuan primer lain. . Pertama adalah pengetahuan intuitif. tradisi tersebut²dalam banyak hal²secara alamiah mempengaruhi cara manusia mempersepsi diri dan mendorong mereka untuk meninjau kembali hubungan dengan Realitas Tertinggi yang biasa disebut Tuhan. ³keseluruhan lebih besar daripada sebagian´. hlm. Dengan demikian sesungguhnya dapat dikatakan bahwa Abad Renaissance dan Pencerahan merupakan dua mata rantai perkembangan ilmu pengetahuan yang menggunakan dua arus besar dalam tradisi filsafat. Maksud nya adalah bahwa akal tidak dapat mempercayai dan menilai kebenaran suatu proposisi. ³benda-benda logam itu memuai oleh panas´. Yang kedua adalah pengetahuan informasi dan teoretis. ³gerak mundur tak terbatas adalah mustahil´. 383. Menurut Karen Amstrong90.

Bahwa materi itu memilki i asal.mengandung prinsip nonkontradiksi. Demikian juga halnya dengan masalah penalaran pikiran yang menurut mereka selalu berangkat dari yang khusus ke yang umum. kita ketahui dari ³bahwa setiap yang berubah pasti memiliki asal´. Sebaliknya. Ia memberikan potensi-potensi kepada pikiran manusia untuk dapat menjangkau dan merealisasikan realitas-realitas dan proposisi-proposisi di balik materi. Tetapi doktrin rasional yakin bahwa eksperimen saja tidak mungkin menjadi sumber azasi dan kriteria primer bagi pengetahuan. Perjalanan pikiran manusia. sehingga cakupan wilayah pengetahuan manusia menjadi lebih luas daripada batas-batas indera dan eksperimen. Akhirnya mesti diingat bahwa doktrin rasional tidak bersikap masa bodoh terhadap peran eksperimen dalam penarikan kesimpulan dan pencarian hakikat pengetahuan. menurut kaum rasionalis berpijak dari proposisi umum menuju ke proposisi yang lebih khusus. paham empirisme menunjukkan bahwa pengalaman adalah sumber pertama semua pengetahuan manusia. yaitu dari batas-batas eksperimen yang sempit ke hukumhukum dan prinsip-prinsip yang universal. bahkan sampai kepada aspek-aspek metafisis sekalipun. Karena itu. Jadi pikiran itu bergerak dari proposisi universal. doktrin empirisme dalam mencari dalil berpikir bersandar pada metode induksi. selalu beranjak dari realitas khusus empirikal ke realitas yang mutlak berdasarkan hasil pengalaman. sebab ia merupakan metode yang bergerak dari yang partikular ke yang universal. ³setiap yang berubah pasti memiliki asal´ ke proposisi partikular ³materi itu memiliki asal´. dari yang universal ke yang partikular. Aliran pemikiran ini menolak prinsip logika silogistik yang berpatokan dari yang .

Ia beranggapan bahwa segala kejadian di dunia ini berjalan menurut suatu proses yang logis. dari Inggris diberikan jalan oleh Francis bahwa pengalaman merupakan sumber kebenaran yang terpercaya. Ukuran an rasional dan empirik telah menyempitkan kesadaran kebenaran agama dan pembuktian adanya Tuhan sehingga dianggap memberikan ketidakpastian dan kebingungan. Baruch Spinoza (1632-1677) dengan ajarannya tentang satu substansi yaitu Tuhan yang dapat ditangkap oleh akal atau rasio manusia. yang dilanjutkan dan dirubah secara radikal oleh empirisme Abad Pencerahan seperti John Locke (1632-1704) dengan teori tabularasa-nya. karena dalam dunia tidak ada hal yang bersifat rahasia dan akal manusia telah mencakup semuanya. karena dalam pembuktian dan kesimpulan akhirnya ternyata tidak menghasilkan pengetahuan baru yang tidak terkandung dalam rumus premis-premis silogisme tersebut. Sedangkan pembukanya empirisme yang bermula Bacon. Berbagai penemuan di bidang sains dan teknologi²dalam kenyataannya²memberikan kontribusi yang cukup besar bagi tumbangnya otoritas keagamaan dan mulai mengguncang paham keyakinan keagamaan manusia.umum ke yang khusus. Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Descartes (1596-1650) dengan cogito ergo sum-nya. dan juga tentang hakikat serta peran Tuhan. bahwa pada mulanya rasio harus dianggap as a white paper dan . Rasionalisme dan empirisme yang begitu mendominasi alam pikir Abad Renaissance itu memunculkan persoalan baru berupa ketegangan antara agama dan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Filsafat Ensie: Eerste. 1983). Epping. hlm. Stockum dan Juntak S. Berbagai cita rasa hasil dari kombinasi penangkapan. 244-245. 1983).seluruh isinya berasal dari pengalaman. Kepastian tentang nilai obyektif pengetahuan manusia merupakan masalah yang tidak bisa dijangkau oleh nalar. Ingerichte. terutama dalam hal penolakannya terhadap substansi dan kausalitas.F. pengalaman dan kesadaran itu adalah suatu perasaan atau naluri pembawaan yang berada di luar kekuasaan akal. sebaiknya kita pusatkan saja perhatian kit ke alam luar sesuka a kita.. sebab yang dialami hanya merupakan kesan sa tentang beberapa ciri ja yang selalu terdapat bersama-sama. Oleh karena itu. Hume tidak menerima substansi. dan biarkan imajinasi kita menjelajah langit-langit atau ujung-ujung alam semesta. Kita juga mustahil mampu menjawab persoalan dasar filsafat yang dipertentangkan oleh kaum idealis dan kaum realis. Hume berpendirian bahwa gambaran dan pengertian kita terhadap hubungan logis antara peristiwa-peristiwa yang terjadi secara kausal-mekanis hanya merupakan salinan yang sesuai dengan aslinya. Idealisme sendiri berpendapat bahwa realitas itu ada dalam kesadaran dan pengetahuan 91 Sutardjo Adisusilo. A. Encyclopaedie (Bandung: Jemmars. hlm. baik pengalaman lahiriah ( ensation) dan s pengalaman batiniah (reflexion). tidak mungkin mengkonsepsikan atau menciptakan suatu gagasan tentang realitas jika gagasan itu ternyata berbeda dengan konsep-konsep dan reaksi-reaksi itu sendiri. Systematisch. Th. 92 . Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius. lanjut Hume. Nederlandse. Sebab kita selamanya tidak akan dapat melampaui halhal di luar batas kemampauan rasio kita sendiri. 43. yaitu David Hume (1711-1776) juga menggunakan prinsip empiristis.91 Tokoh empirisme yang paling radikal. C.92 Baginya.

Kepercayaan diri yang baru terhadap kekuatan alamiah manusia ini mengandung arti bahwa manusia mulai yakin bahwa mereka mampu mencapai pencerahan lewat usaha mereka sendiri. termasuk agama dan Tuhan. hlm. op. Apa yang diterima sebagai kebenaran dogma keagamaan..93 Keberhasilan pembuktian ilmiah melalui rasionalisme dan empirisme telah menggeser kedudukan otoritas pengetahuan berdasarkan kebenaran wahyu yang dianggap abstrak. institusi. Falsafatuna. 94 Karen Amstrong. 95 Ibid.95 Kekuatan alamiah yang dimiliki manusia dianggap telah cukup representatif untuk menemukan semua jenis kebenaran. Filsafat sering dituduh sekularistik.manusia.cit. Muhammad Nur Mufid bin Ali (Bandung: Mizan. sementara kaum realisme menduga bahwa realitas itu ada secara obyektif dan mandiri. 384. hlm.²bahkan wahyu dari Tuhan²untuk menemukan hakikat kebenaran. 90. Penemuan sains dan teknologi pada masyarakat Barat tersebut membawa sinyal otonomi baru 94 bahwa manusia sebagai penanggungjawab atas urusan mereka sendiri . terj. Mereka sudah tidak lagi merasa perlu untuk bersandar pada warisan tradisi.. sekelompok elit. dan sains yang telah ditemukan oleh para ilmuwan merupakan bukti empiriknya. pada abad ini benar-benar mulai dipertanyakan dan ditinjau kembali. . 1998). ateis dan anarkis karena suka menyobek selubung -selubung 93 Muhammad Baqir Ash-Shadr. hlm. 386. Paradigma sains yang demikian telah cukup menjadi pertanda konkrit betapa Abad Renaissance yang kemudian dilanjutkan oleh Abad Pencerahan telah menimbulkan ketegangan kreatif antara agama dengan filsafat.

otoritas agama dan peranan Tuhan dipertanyakan kembali.ideologis berbagai kepentingan duniawi. Dalam pandangan Ptolemeus. Tetapi ia juga cukup banyak menyodorkan bukti bahwa rasionalitas itu sendiri bukanlah suatu yang mapan. terutama di Abad Pencerahan yang bersifat empiris. semata-mata berdasarkan observasi dan eksperimen pada akhirnya berimplikasi logis bahwa fenomena dan problem ketuhanan pun harus diletakkan pada domain empiris. para ilmuwan dan filsuf melakukan verifikasi atas realitas obyektif Tuhan dengan cara yang sama seperti ketika mereka membuktikan fenomena lainnya yang bisa didemonstrasikan. bumi menjadi pusat dari bulan. tetapi kemudian rasional lagi pada masa Copernicus. Spirit ilmiah baru. matahari dan lima bintang yang telah dikenal luas pada saat itu (Jupiter. termasuk yang tersembunyi dalam pakaian yang alim sekalipun. Mars. Mercury. Feyerabend ingin menolak kedua posisi yang ekstrem itu. Misalnya ia menunjukkan bahwa teori Pythagoras (± 580-500 SM. Saturnus dan Venus) serta semua bintang lainnya di langit.) tentang bumi itu bulat dan berputar tidak rasional menurut Hipparchus dan Ptolemeus. Pada Abad Renaissance. Peredaran bintangbintang yang tampak bergerak mundur dari bumi dijelaskan oleh Ptolemeus . sementara pada Abad Pencerahan. walaupun dalam argumen-argumennya yang menonjol adalah berupa kritik terhadap empirisme dan positivisme ilmiah. Permasalahan di atas lantas diangkat oleh Feyerabend untuk menunju kkan bahwa perdebatan seputar rasioalisme dan empirisme telah berlangsung sepanjang pemikiran filsafat itu muncul. otoritas agama benar-benar telah ditinggalkan. Melalui metode empirismenya.

Keempat. tetapi bukan merupakan sentrum kosmos. Ketiga. setiap planet bergerak pada suatu lingkaran yang titik pusatnya bergerak pada suatu lingkaran lain ya pusatnya juga adalah ng bumi. gerakan bumi memberikan pemahaman adanya gerakan benda -benda langit. hlm. op. Tesis geosentrisme (matahari beredar mengelilingi bumi dan planet) Ptolemeus ini kemudian berangsur-angsur mulai surut sejalan dengan munculnya Revolusi Copernicus yang diprakarsai oleh Copernicus yang berusaha meyakinkan semua orang bahwa sebenarnya mataharilah yang menjadi pusat orbit bintang-bintang dan bumi sendiri mengelilingi matahari sebagaimana halnya bintang-bintang lainnya.96 Sehingga tidak heran jika dari berbagai rumusan metode ilmiah yang dihasilkannya tersebut. 11. Filsafat Alam Semesta (Semarang: Bintang Pelajar. tidak ada sentrum bagi seluruh bola-bola langit. Copernicus berhasil menyusun tujuh hipotesis yang berkaitan dengan alam. 110. . gerakan bumi menunjukkan lebih dari satu macam. Pertama. bumi setiap hari mengelilingi porosnya sendiri. jarak antara bumi ke matahari tidak bisa diukur melalui luas cakrawala ruang angkasa. Baca juga dalam Androngi. bumi meskipun dipandang sebagai pusat gravitasi. Kelima. Kedua. Dalam teori ini. bola-bola planet bergerak mengelilingi matahari sebagai sentrumnya. Keenam. ia kemudian dianggap ole para ahli ilmu pengetahuan h 96 Joko Siswanto.. Teorinya tentang bumi sebagai pusat dari peredaran bintang -bintang termasuk matahari sangat berpengaruh besar sampai pada Abad Pertengahan dan Masa Pencerahan. 1986).cit. hlm. Ketujuh.dengan teori Epicycle.

97 dewasa ini sebagai peletak dasar dari Ilmu Bintang modern. Padahal kitab suci adalah suara Tuhan yang mengajak umat manusia menuju iman. hlm. Akhyar Yusuf Lubis. 2003). ternyata gagasan heliosentrisme (bumi dan planet planet beredar mengelilingi matahari) Copernicus dalam bidang sains dan filsafat tersebut . akhirnya terungkap bahwa ilmu bumi benar dan pandangan kitab suci mengenai langit dan masalah beredarnya matahari pada bumi tidak dapat dipertahankan lagi. hlm.98 Tetapi dari hasil diskusi yang membuat heboh itu. budaya ataupun pemimpin budaya yang menggunakan informasi tersebut. Walaupun di pihak yang lain. Idealisme berpendapat bahwa rasionalitas 97 The Liang Gie. Lintasan Sejarah Ilmu (Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna. 118. Tetapi bagi sebuah kebudayaan yang memusatkan perhatian manusia dan kemanusiaan pada tempat tertinggi. Tentu banyak orang dewasa ini tanpa pikir panjang akan memilih teknologi daripada kehidupan yang harmonis dengan alam. pengharapan dan cinta kasih sebagai nilai-nilai tertinggi. itu tergantung pada jenis informasi. Mungkin kesalahan pihak Gereja Katolik pada waktu itu adalah mereka memandang kitab suci sebagai sumber dan pedoman segala ilmu dalam arti sempit dan keras. akan memilih dan mendahulukan hubungan personal daripada hubungan abstrak seperti kepandaian ataupun efisiensi yang statistik. Feyerabend adalah penganjur pluralisme metodologi. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. ia menolak pandangan idealisme dan naturalisme. 98 . ³secara sah dianggap sesat´ jika dikontradiksikan dengan ajaran Kitab Suci (Bibel) dan pandangan Gereja. 1998). Lalu dari semua itu siapa yang benar? Menurut Feyerabend. 71.

. yang berlaku dan menjadi acuan umum sebuah masyarakat peneliti. Baik rasionalisme maupun empirisme mendukung rasionalitas yang menurutnya universal dengan cara yang berbeda. Sehingga di dalam penjelajahan pengetahuan tidak diperlukan metode atau paradigma umum.adalah asli. konteks dan historisitas. yang di dalamnya semua pendekatan dan metode dianggap sah. Artinya. 235. nilai.99 Itulah sebenarnya penjabaran makna relativisme pengetahuan sebagai sebuah pandangan yang meyakini bahwa nilai dan keben aran ditentukan oleh pandangan hidup dan kerangka berpikir setiap individu atau masyarakat. semua cara mendapatkan pengetahuan dianggap boleh. semua pengetahuan yang dihasilkannya dianggap mengandung kebenaran. agung. Contoh -contoh yang dikemukakan oleh Feyerabend membuktikan bahwa tidak ada teori yang mengandung cacat. Feyerabend mengemukakan pandangannya tentang relativisme dalam konteks ilmu pengetahuan. Tetapi anggapan ini sesungguhnya tidak dapat dibenarkan. sangat dipahami apabila Feyerabend menolak kesatuan metode ilmu pengetahuan. bersifat universal. 2004). Atas dasar itu. yang di dalamnya apapun saja boleh²anything goes. yang di dalamnya semua hal (pandangan. terlepas dari subyektivitas. kebenaran. makna) mengandung arti kebenaran relatif. Relativisme dalam ilmu pengetahuan memungkinkan setiap orang melakukan penelitian tanpa perlu terikat pada sebuah metode yang telah baku. tidak ada hal yang benar secara 99 Yasraf Amir Piliang. tidak ada teori yang sepenuhnya konsisten dengan fakta. keyakinan. tidak ada rasionalitas yang tidak terkait dengan konteks. hlm. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna (Yogyakarta: Jalasutra.

dan sebaliknya tidak ada hal yang salah secara absolut. Selalu mungkin bahwa eksperimen-eksperimen baru yang menyelidiki lapisan-lapisan baru dari kenyataan atau struktur realitas. Apa yang dianggap paling akurat atau lebih baik mengenai teoriteori ilmiah akan berbeda-beda dari individu atau mayarakat yang satu dengan yang lainnya. semuanya mengandung porsi kebenarannya masing-masing. Misalnya. Kaum relativis menyangkal adanya suatu standar rasionalias universal dan t a-historis yang merupakan pedoman untuk menilai suatu teori lebih baik daripada teori lainnya. Karakterisasi kemajuan dan spesifikasi kriteria untuk menilai jasa atau faedah suatu teori akan selalu relatif bagi individu atau masyarakat yang . Diktum seorang filsuf Yunani Kuno. ³manusia adalah ukuran segala -galanya´. seorang atau suatu masyarakat tertentu. Protagoras. tetapi hal itu akan memperoleh status yang rendah dalam satu kultur dimana pengetahuan justru diharapkan dapat memberikan kepuasaan individual. merupakan pernyataan relativisme mengenai masyarakat. menunjukkan suatu relativisme dalam hubungannya dengan individu -individu. Sebab tujuan mencari pengetahuan akan tergantung pada apa yang penting bagi.absolut. sedangkan ucapan Kuhn. ³tidak ada standar yang lebih tinggi daripada persetujuan masyarakat bersangkutan´. memaksa kita untuk merevisi teori-teori yang sudah lazim diterima. masyarakat kapitalis Barat memberikan penghargaan yang sangat tinggi pada tujuan penguasaan materiil atas kekayaan alam. atau apa yang dihargai oleh. Berbagai penemuan aspek eksperimental dalam bidang ilmu pengetahuan semakin meneguhkan keyakinan kita bahwa suatu teori tidak penah dapat bersifat definitif.

Paul Karl Feyerabend. Nor is political interference rejected. however ancient and absurd. Begitu pula tidak ada interferensi (campur tangan) politis yang ditolak. 33. baik yang kuno maupun yang absurd. Jadi contohnya. tidak ada gagasan. Chalmers. yang tidak tidak mampu meningkatkan pengetahuan. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya (Jakarta: Hasta Mitra. 107-108. hlm. teori Marx tentang perubahan historis yang dipandang sebagai ilmu yang baik. sementara itu dalam masyarakat masa kini. dengan terlebih dahulu diawali oleh introduksi suatu 100 A. kriteria untuk menilai faedah teori-teori akan tergantung dari nilai-nilai atau kepentingan yang dianut oleh suatu individu atau masyarakat.100 Menurut Feyerabend. The whole history of thought is absorbed into science and is used for improving every single theory. Bagi seorang relativis.101 Perkembangan ilmu selama berabad-abad selalu ditandai oleh cara-cara analisis dan partisipasi pengamatan terhadap terjadinya perubahan yang bergerak secara dinamis dan drastis. oleh sementara kalangan dianggap propaganda belaka.F. that is not capable of improving of knowledge. 1982).menginterpretasikannya. teori tentang pasang surut air laut berdasarkan pada gaya tarik bulan adalah ilmu yang berguna bagi kaum Newtonian. 1975). Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. 101 . It may be needed to overcome the chauvinism of science that resists alternatives to the status quo. selain mempertahankan satus quo. tetapi bagi Galileo dipandang sudah mirip dengan mistik gha ib. Totalitas sejarah pemikiran diarsobsikan (dituangkan) ke dalam sains dan dipergunakan untuk meningkatkan setiap teori. Ini boleh jadi dibutuhkan untuk menghilangkan chauvinisme sains yang menolak pemikiran lain. hlm. Hal tersebut dikemukakan oleh Feyerabend sebagai berikut: There is no idea.

kebenaran ilmiah itu tidak dapat semata-mata didasarkan atas konsep keilmuan yang bersifat rasional. teori. deterministis (berdasar prinsip kausalitas). ilmu bercorak positivistis (bebas dari pikiran etis). . adanya berbagai pengkajian ide. Frans M. tetapi juga merupakan suatu sistem terbuka yang dipengaruhi oleh 102 Martinus Anton Wesel Brouwer. sistem atau paradigma baru sebagai titik tolak.102 Pada perkembangan selanjutnya. Terjadinya perubahan tersebut ditandai oleh kriteria analisis logis maupun historis seperti yang dapat kita amati dalam penemuan Newton. dengan pengujian ulang terhadap cara penyajian serta diseminasinya semakin memperjelas fase -fase yang kemudian diterima oleh masyarakat ilmiah sebagai suatu pertanda terjadinya perubahan yang cukup siginifikan untuk disebut evolusi atau bahkan suatu revolusi yang mampu melahirkan transformasi keilmuan fundamental. eksperimental (merubah gejala dengan mempertahankan variabel) dengan metode observasi da n riset. hlm. Parera (penyunting). Darwin. Psikologi Fenomenologis. empiris. (Jakarta: Gramedia. Pada awal pertumbuhannya. Dalam mewujudkan konsep keilmuan. logis. baik rasional ataupun empiris) saja. ataupun konstruktivis (ilmu berasal dan berkembang karena keseluruhan konteks. walaupun dalam proses penemuannya bukan merupakan hasil yang lahir dari suatu krisis atau konflik. evolusionistis (kecenderungan untuk melihat sejarah dari obyek yang diteliti) sehingga segala hal harus dijelaskan dengan metode kuantitatif (mengukur dan menghitung).perangkat konsep atau pola pengetahuan baru yang sebelumnya tidak ada. 1984). Einstein dan revolusi biologi molekuler (yang berhubungan dengan molekul) serta perkembangan ilmu-ilmu bumi dewasa ini. rasionalistis kritis. 83.

suatu tindakan kreatif yang bersumber dari suatu inovasi.al. Oleh karena itu.kondisi lingkungan kehidupan manusiawi dengan seluruh aspek pembangunan masyarakat spiritual maupun material ataupun dalam kaitan dengan konteks ilmu itu sendiri. bertolak dari masukan ilmu yang sudah ada sebagai batu loncatan bagi penemuan dan perubahan konseptual yang signifikan. yang terlibat bukan sekedar rasio yang analitis. . 1998). verbal dan matematis. Semua dimensi i i bersifat nonverbal atau n 103 Conny R.. Semiawan. 76 dan 80.103 Dalam kaitan ini. Dalam pemilihan sebuah teori baru misalnya. nilai-nilai moral dan juga ikatan-ikatan sosial kelompok yang tidak dapat dibuktikan dan diungkapkan secara eksplisit sebagai dasar bagi terbentuknya suatu masyarakat. empiris dan pragmatis sekalipun terdapat pula faktor-faktor lain. dan kemudian berkembang menjadi suatu pemahaman baru yang sebelumnya tidak ada ataupun tidak diharapkan akan ada. keterbukaan terhadap berbagai tuntutan modernisasi dan pengembangan ilmu yang disajikan melalui berbagai kekuatan yang datang dari luar harus diimbangi pula dengan kemampuan mengadakan penemuan. Thomas Kuhn juga menunjukkan bahwa bahkan dalam perkembangan ilmu yang paling positivis. yang menampilkan renungan dan dialog mengenai makna dari segenap pengalaman hidup melalui dinamika perkembangan ilmu. et. Setiap evolusi ilmu selalu dimulai dengan suatu latihan intelektual (intellectual exercise) oleh kelompok ilmuwan tertentu yang menumbuhkan suatu ide baru. hlm. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu (Bandung: Rosdakarya. improvisasi dan kreasi-kreasi yang terus-menerus. melainkan juga cita rasa estetis.

hlm. tetapi menjadi faktor yang bekerja dalam proses penemuan teori atau paradigma baru dan sekaligus mengakhiri krisis menuju suatu tahap revolusi ilmiah. melainkan juga pada pandangannya bahwa suatu masyarakat tidak dapat dibangun di atas dasar-dasar yang berakar pada cita rasa estetis. 1996). menurut Polanyi telah mengidap suatu pandangan yang bercorak positivis. implisit serta tidak terukur secara matematis dan empiris. Michael Dua (Jakarta: Gramedia. nilai nilai - 104 Michael Polanyi. ix-x. metode yang dipakai untuk memahami realitas serta pembuktian yang digunakan untuk menguji kebenaran harus lepas dari personalitas manusia. dan tujuan itu dapat dicapai dengan syarat bahwa fakta yang diteliti. Selaras dengan apa yang dikemukakan Kuhn tersebut. dalam salah satu tesis pentingnya tentang pengembangan ilmu pengetahuan. maka yang dimaksud disini bukan prinsip-prinsip moral universal dan abstrak dalam pengertian Kant. Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan.104 Premis dasar ini merupakan cikal bakal kekeliruan tesis positivisme yang tidak hanya terletak pada sikapnya yang menolak cita rasa estetis dan nilai nilai moral serta ikatan-ikatan sosial105. 105 Jika Polanyi berbicara tentang cita rasa estetis. karena dianggapnya sebagai realitas subyektif semata-mata. terj. Sebab masyarakat kita pada umumnya dan masyarakat ilmiah pada khususnya dewasa ini.simbolis. nilai-nilai moral dan ikatan-ikatan sosial. Positivisme sendiri melihat bahwa obyektivitas dalam bidang pengetahuan manusia pada umumnya dan pengetahuan ilmiah pada khususnya sebagai tujuan. Michael Polanyi menawarkan tentang perlunya kehidupan kreatif masyarakat ilmiah yang pada gilirannya didasarkan pada kepercayaan akan kemungk inan terungkapnya kebenaran-kebenaran yang hingga kini masih tersembunyi. melainkan kebiasaan atau tradisi suatu masyarakat. .

hlm. Penemuan yang berkesinambungan di bidang ilmu pengetahuan merupakan masalah penting dan oleh karena itu usaha mencari .. Bagi Polanyi. kemurahan hati dan ikatan -ikatan sosial masyarakat. Situasi semacam ini oleh Polanyi disebut dengan inversi atau pemutarbalikan estetis dan moral. Tetapi jika cita-cita itu diganti dengan tujuan-tujuan yang sekuler semata-mata. persoalan dasar epistemologi adalah bagaimana seseorang dapat memiliki suatu pengetahuan. kekeliruan mendasar dari positivisme yang juga ditentang keras oleh Feyerabend dapat kita telaah dari sudut pandang epistemologi sebagai suatu cabang filsafat yang berbicara tentang aspek-aspek pengetahuan manusia. Berbeda dengan pandangan positivisme yang melihat pengetahuan yang tidak terungkap sebagai pengetahuan yang harus disingkirkan karena berada di ambang kesadaran manusia. unsur-unsur lacit pengalaman knowledge²merupakan integrasi intelektual 106 Michael Polanyi. Pengetahuan yang tidak terungkap atau²istilah atas Polanyi. xi. op.moral dan ikatan-ikatan sosial itu. faktor-faktor yang dapat membuahkan pengetahuan baru lebih penting dari usaha 106 mencari verifikasi dengan pengukuran positif terhadap pengetahuan.cit. maka ia akan berubah menjadi tindakan-tindakan yang koersif. Padahal cita rasa estetis dan moral merupakan sesuatu yang sensitif dalam diri kehidupan manusia dan yang menuntut manusia untuk menghargai keindahan. suatu kondisi di mana cita rasa estetis dan moralitas menjadi dasar tersembunyi bagi kegiatan -kegiatan yang jelas-jelas tidak manusiawi. . Selain itu. maka dalam pandangan Polanyi jenis pengetahuan ini justru dilihat sebagai dasar dari semua pengetahuan manusia.

Bosco Carvalho.personal ke dalam kesatuan pemahaman sebagai suatu aktivitas inteligensi manusia dalam mengartikan dan memahami realitas. (2) Teori kuantum dari Plank. Apakah Ilmu Pengetahuan Itu?. terj. hlm. 1995). Baru setelah terjadi pergantian abad ke-20.107 Pergeseran itu setidaknya disebabkan oleh adanya tiga hal penting.cit.al. dan (3) Teori elektris tentang materi. et. dalam abad ke20 ini berkembang tiga teori yang cukup menggelisahkan dunia ilmu pengetahaun.. Sementara pemahaman atas keseluruhan realitas itu sendiri hanya bisa dicapai melalui proses integrasi personal atas fakta-fakta partikularnya.. dalam C. fisika klasik cenderung diterima tanpa sikap kritis terhadap kategori-kategori umum yang dimuat dalam pendekatan tersebut. Qadir (penyunting). yakni: (1) Teori relativitas Einstein. Indikasinya. dan yang bahkan dianggapnya mustahil terjadi. (Jakarta: Yayasan Obo r Indonesia.108 107 James B. 41. hlm. 108 Burhanuddin Salam. kemudian ahli fisika sudah mulai mengalami semacam krisis intelektual yang diakibatkan oleh penemuan fakta-fakta eksperimental yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. Fisika klasik menganggap saintisnya sebagai saksi murni dari peristiwa-peristiwa alami yang tidak dipengaruhi oleh subyek. op. kemajuan teknologi dan lahirnya metode-metode ilmiah baru. Hal ini perlu ditegaskan kembali oleh karena adanya kenyataan bahwa sejak awal pendekatan mekanis Galileo terhadap alam. dengan mengandalkan dikotomi antara yang subyektif dan yang obyektif. yaitu perubahan pemikiran manusia. Conant. . Dengan begitu positivisme bukanlah satu satunya sistem penjelasan terhadap struktur pengetahuan manusia. Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. 265.A.

Yang lazim diketahui sampai saat ini hanya lah . imbas dari berbagai inovasi pemikiran modern tersebut menyebabkan dunia fisika dewasa ini mengalami apa yang disebut ³krisis penjelasan´. Prinsip ini beranggapan bahwa dalam keadaan yang lumrah. adalah adanya paradoks terkenal tentang kodrat cahaya yang sampai sekarang mempunyai status yang tidak jelas. sederhana dan dapat diketahui secara obyektif dengan observasi dan e ksperimen ilmiah. yang dalam istilah Thomas S. Kemudian masalah yang Kedua. alam yang mekanis. implikasi dari modifikasi teori fisika terutama dalam hal mekanika kuantum tersebut semakin menunjukkan betapa goyahnya pondasi atau asumsi-asumsi dasar positivisme yang menuntut ilmuwan dan filsuf merevaluasi pandangannya tentang ilmu pengetahuan. Kuhn dikatakan ³perkembangan fisika abad ke-20 telah menimbulkan revolusi ilmiah yang menggulirkan paradigma baru´. Alam dalam pandangan Newtonian yang di atasnya prinsip positivisme ditegakkan. kini mulai diragukan.Lebih lanjut. deterministik. hukum fisika tidak akan mampu menjangkau realitas mikrokosmos atau dunia sub-atomik. adanya problem ³prinsip ketidakpastian (Uncertainly principle)´ Heisenberg tentang kemustahilan untuk menyatakan posisi dan kecepatan sebuah elektron dalam waktu yang bersamaan. Paling tidak kondisi itu dipicu oleh beberapa kejadian yang terdapat dalam dunia ilmu fisika seiring dengan kemajuan-kemajuan dan penemuan-penemuan baru yang sangat revolusioner dan di luar prediksi semula. Pertama. Secara filosofis. Perkembangan baru dalam fisika mengakibatkan perubahan pandangan dalam epistemologi.

pendapat umum bahwa cahaya itu disebarkan dalam bentuk gelombang. Dan permasalahan penting yang Ketiga, adalah adanya penemuan Max Planck mengenai kenyataan bahwa atom hanya ada dalam bentuk -bentuk energi.109 Pada tahun 1900, Plank mengemukakan teori kua ntum yang menyatakan bahwa tenaga dari sinar yang dipancarkan ataupun diserap terdiri atas kelipatan -kelipatan bulat dari suatu takaran tertentu. Dalam hemat Planck, cahaya dapat dilihat sebagai term partikel atau sebagai gelombang (term of waves). Namun tidak ada interpretasi yang secara konsisten dapat digunakan pada keseluruhan situasi dengan selalu menetapkan hukum matematika formal.110 Hal itulah yang digunakan Feyerabend untuk memperlihatkan bagaimana metodologi-metodologi yang telah ada sudah tidak sejalan atau tidak cocok lagi dengan sejarah perkembangan fisika. Ia menyangkal klaim bahwa ada metode yang mampu menjelaskan sejarah fisika. Ia juga menolak anggapan bahwa superioritas fisika atas bentuk-bentuk pengetahuan lain dapat dikukuhkan dengan bantuan suatu metode ilmiah tertentu. Pendeknya, apabila seseorang hendak memberi sumbangsih kepada kemajuan fisika, maka ia tidak perlu terlebih dahulu mengenal metodologi-metodologi ilmu kontemporer, tetapi ia memang perlu mengenal tentang beberapa teori yang terdapat dalam pengetahuan fisika. Ia menunjukkan bahwa tidaklah bijaksana jika para ilmuwan di dalam melakukan pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan terikat oleh hukum-hukum yang diatur dalam metodologi-metodologi ilmu.

109

Kenneth T. Gallagher, Epistemologi (Filsafat Pengetahuan), P. Hardono Hadi (penyunting), (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 174-175.
110

Akhyar Yusuf Lubis, op.cit., hlm. 12.

Mengingat begitu kompleksnya kenyataan yang berkembang pesat serta juga terkait dengan masa depan yang tidak dapat diramalkan secara pasti dalam rangka perkembangan ilmu pengetahuan, maka tidak logis kiranya mengharapkan metodologi dapat mendikte seorang ilmuwan. Misalnya dalam situasi te rtentu kita harus menerima teori A, menolak teori B, atau lebih menyukai teori A daripada teori B. Hukum-hukum seperti ³terimalah teori yang mendapatkan paling banyak dukungan induktif dari fakta-fakta yang diterima umum´ dan ³tolaklah teori yang tidak sesuai dengan fakta-fakta yang sudah diterima umum´, tidaklah relevan dengan episode pengembangan ilmu itu sendiri yang dianggap sebagai fase yang paling kreatif dan progresif dalam sejarah peradaban umat manusia. Dalam pengertian inilah istilah ³apa saja boleh´ itu berlaku. Prinsip apa saja boleh (anything goes) secara harfiah berarti membiarkan segala sesuatu berlangsung dan berjalan tanpa dijejali aturan-aturan dan hukum-hukum. Bahkan prinsip ini mengimplikasikan suatu perlawanan terhadap segala macam atura n atau hukum yang telah baku. Prinsip ini tidak dimaksudkan sebagai metode baru, melainkan hanya sekedar upaya agar para ilmuwan yang sudah terbiasa bekerja dengan memakai standar-standar universal harus bersedia menerima tradisi-tradisi dan praktek-praktek riset.111 Dengan ini Feyerabend ingin menegaskan bahwa semua metode yang paling jelas sekalipun mempunyai keterbatasan. Dan satu satunya hukum yang akan hidup terus dan dapat bertahan di tengah semua situasi dan dalam tahap perkembangan manusia adalah prin ini. sip

111

Prasetya T.W., "Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend", dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting), Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 57.

Sebab nyatanya, gagasan mengenai adanya keteraturan metode atau rasionalitas teori ternyata banyak sekali menyisakan pandangan yang naif tentang manusia dan keadaan sosialnya. Untuk itu barangsiapa yang melihat kekayaan bahan yang disediakan oleh sejarah, tetapi tidak sungguh-sungguh dalam menggarapnya pada gilirannya akan mengurangi kepekaan nalurinya, dan mereka sangat membutuhkan jaminan kejelasan dari cendekiawan, ketelitian,

obyektivitas, kebenaran saja, sehingga menjadi jelas bahwa tidak ada satu pun prinsip yang dapat dipertahankan dalam semua keadaan seperti itu ataupun dalam semua tingkat perkembangan manusia. Inilah prinsip: apa saja boleh. Hal tersebut dikemukakan Feyerabend sebagai berikut: [T]he idea of a fixed method, or of a fixed the of rationality, rests on ory too naive a view of man and hissocial surrounding. To those who look at the rich material provided by history, and who are not intent on impoverishing it in order to please their lower instincts, their craving for intellectual security in the form of clarity, precision, µobjectivity¶, µtruth¶, it will become clear that there is only one principle that can be defended under all circumstances and in all stages of human development. It is the principle: anything goes.112 Prinsip apa saja boleh ini juga sangat sesuai dengan pokok pikiran Feyerabend lainnya, yakni tentang kebebasan individu yang akan kami paparkan dalam sub-topik pembahasan selanjutnya. Menurut Feyerabend, jika kita ingin rasional dalam situasi-situasi konkrit sebenarnya prinsip apa saja boleh

membebaskan kita dari keharusan untuk bertindak di bawah ketentuan -ketentuan hukum dan metode yang telah disepakati bersama. Menurut prinsip ini juga, setiap orang secara bebas dapat mengikuti pilihan pradigma dan aturan teori sera boleh t juga mengikuti kecenderungan tertentu sebagai usaha untuk menumbuhkan ide -

112

Paul Karl Feyerabend, op.cit., hlm. 18-19.

hlm. Chalmers.cit. Pertama.. dan bukan pula kecenderungan sesaat yang tidak berarti sedikitpun. seorang ilmuwan perlu keberanian untuk mengajukan ide-ide. 107. 114 Akhyar Yusuf Lubis. op. Namun tentu saja kebebasan yang dipraktekkannya itu bukanlah kebebasan yang liar. gagasan-gagasan baru tanpa harus dikekang oleh tradisi ilmiah. Sebagaimana yang kita maklumi. Dengan begitu. op. ilmu pengetahuan diperoleh lewat observasi. (2) Dua orang pengamat yang mempunyai indera yang normal akan melihat obyek atau gejala-gejala dari tempat yang sama.. bahwa ada dua asumsi penting dalam pandangan induktivisme tentang observasi. prinsip apa saja boleh bukanlah berarti bahwa apa saja boleh tanpa batas. niscaya akan melihat hasil yang sama pula. hlm. .113 Mereka percaya bahwa: (1) Seorang pengamat sedikit banyak dapat menangkap langsung beberapa sifat dari dunia eksternal yang diobservasi.ide kritis. Konsepsi Feyerabend ini berasa dari apa yang disebut l sebagai prinsip ketergantungan observasi pada teori.cit. kepercayaan bahwa observasi yang sungguh -sungguh obyektif menjadi dasar yang kokoh bagi ilmu pengetahuan. Dalam pengertian ini. tanpa aturan dan tanpa tujuan.114 Inilah yang disanggah Feyerabend dengan alasan bahwa apa yang dilihat pengamat dalam pengalaman visual ketika memanda ng suatu obyek sangat 113 A. D.F. Ilmu Tidak Bisa Saling Diukur dengan Standar Yang Sama Salah satu komponen penting lain dari analisa Feyerabend tentang ilmu pengetahuan adalah pandangannya bahwa ilmu -ilmu yang tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. Kedua. 22.

Prinsip ketidakterbandingkan antara satu teori atau pandangan dengan yang lainnya berkaitan dengan prinsip inkonsistensi. 115 John Losee. bahwa dalam satu penelitian ilmiah dapat melibatkan pendapat dan alternatif-alternatif yang bervariasi. hasil observasi itu selalu tergantung pada teori sehingga tidak dapat dijadikan dasar yang obyektif bagi penilaian tentang kelayakan sebuah teori. Maksudnya. pengetahuan dan harapan-harapannya. Feyerabend menyimpulkan bahwa tingginya mutu sebuah 115 teori berdasarkan hasil pengamatan itu tidak dapat saling diukur satu sama lain. tetapi bagi warga suku primitif. Bagi Feyerabend. 2001). Jika seseorang tertarik dengan penelitian empiris dan ingin mengerti teori dalam berbagai aspek. Fourth Edition (New York: Oxford University Press. 187. Makna dan interpretasi tentang konsep-konsep dan keterangan-keterangan observasi yang digunakan akan tergantung pada konteks dimana makna dan keterangan observasi itu muncul. Ia harus dapat membandingkan antara satu teori dengan teori yang lain berdasarkan hasil pengamatan serta kumpulan data dan fakta yang diperolehnya. Letusan gunung berapi bagi seorang ahli geologi. Feyerabend beranggapan bahwa arti setiap istilah yang kita pakai tergantung pada konteks teori yang digunakan.dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman di masa lalunya. Feyerabend menerima pandangan Kuhn tentang tidak adanya kriteria bagi ilmuwan yang disebabkan oleh adanya ketidaksepadanan atau ketidakkonsistenan dalam teori ilmu pengetahuan. letusan gunung berapi mungkin dianggap sebagai hukuman para dewa akibat dosa-dosa manusia. maka ia harus memahami dan mengadopsi metode yang pluralistik. dapat dijelaskan sebagai gangguan di bawah tanah. A Historical Introduction to the Philosophy of Science. hlm. .

sebab dua teori rival itu tidak akan bisa saling diukur dengan standar yang sama pula. setiap paradigma akan memandang dunia ini secara berlainan. hlm.. baik secara teoretis maupun eksperimental.. µdata¶.will adopt a pluralistic methodology.116 Sebelumnya Thomas Kuhn telah menggambarkan ilmu sebagai aktivitas pemecahan teka-teki ilmu pengetahuan. Dalam beberapa kasus-kasus fundamental dari dua teori rival mungkin terdapat perbedaan yang begitu signifikan. Pemecahan itu dibimbimg oleh peraturan-peraturan dalam suatu paradigma. op. Dalam kasus seperti itu. 116 Paul Karl Feyerabend. or µfacts¶.cit. sehingga tidak mungkin merumuskan konsep dasar dari teori yang satu dengan standar teori yang lain. Feyerabend menulis masalah itu sebagai berikut: ³. sebab kedua teori rival itu tidak memiliki kesamaan keterangan-observasi apapun. and he will try to improve rather than discard the views that appear to lose in the competition´. sebab setiap paradigma itu memang memiliki asumsi dan standar yang berbeda atau bahkan saling bertentangan satu sama lain.. tetapi juga membimbing interpretasi fenomena yang diobservasi. Ini artinya Kuhn juga mengakui ketergantungan observasi pada teori. . Dalam penjabarannya. he will compare theories with other theories rather than with µexperience¶. 33. maka jelas tidak mungkin saling membandingkan ataupun mereduksi beberapa konsekuensi teori-teori rival itu secara logis.Ia harus mencoba pula untuk memperbaiki daripada membuang pandangan pandangan yang kelihatannya kehilangan daya kompetisi. Kuhn secara tegas menyatakan bahwa paradigma bukan saja membimbing teknis penelitian.

115.118 Pasangan-pasangan teori yang tidak bisa saling diukur menurut Feyerabend adalah mekanika kuantum dan mekanika klasik. incomparable´. 78. i. massa dan volume.S.. dan P. Feyerabend bahwa dua pengertian teori itu tidak bisa saling diukur dan diperbandingkan satu sama lain.. James Ladyman. Menurut pandangan mekanika klasik.K. both of whom argued that successive scientific theories are often incommensurable with each other in the sense that there is no neutral way of comparing their merits). ³Which refutes the contention of T. realitas yang nampak di dunia ini merupakan obyek-obyek fisik yang mempunyai bentuk. Kuhn and P. (.e. Itulah maksud dari penyangkalan sebagaimana yang dikemukakan oleh T. Sifat 117 Mario Augusto Bunge.K. 1998). dalam arti bahwa memang tidak ada hal yang patut untuk dibanding bandingkan. 118 . 2002). teori penggerak dan mekanika Newtonian. hlm. Feyerabend that two concept are mutually ³incommensurable´.. hlm. Understanding Philosophy of Science (London: Routledge. Salah satu contoh Feyerabend tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur tersebut adalah mengenai hubungan antara mekanika klasik dengan teori relativitas.Hal ini tepat sekali jika dihubungkan dengan keyakinan Kuhn dan Feyerabend bahwa teori-teori itu memang tidak memiliki tolok ukur yang sama antara yang satu dengan yang lainnya. Philosophy of Science.S. Volume One: From Problem to Theory. materialisme di satu pihak dan dualisme antara badan dan akal di pihak yang lain. Revised Edition (New York: Transaction Publishers.117 Kuhn dan Feyerabend berpendapat bahwa seingkali teori-teori ilmu pengetahuan itu tidak dapat saling diukur dengan beberapa teori yang lain secara bersamaan..

Salah satu cara untuk memperbandingkan sepasang teori adalah dengan mengkonfrontasikan teori-teori itu pada serangkaian situasi yang dapat diobservasi. 119 A. hlm. Isi pokok teori tersebut menyangkut ide-ide fundamental yang dipakai untuk menjelaskan alam. koheren atau inkohern. yakni ide-ide tentang ruang.119 Adanya kenyataan bahwa sepasang teori rival tidak bisa saling diukur. Cara lain membandingkan teori-teori adalah seperti yang diusulkan Feyerabend dengan melibatkan pertimbangan-pertimbangan apakah teori-teori tersebut linear atau non-linear. hlm.cit. Walaupun begitu.F. Sedangkan dalam teori relativitas . Teori relativitas terdiri dari dua bagian. Lihat Joko Siswanto. Chalmers. lalu kita catat seberapa jauh derajat masing-masing teori itu sejalan dengan situasi-situasi tersebut yang ditafsirkan menurut kondisi masing -masing teori. gerak dan gravitasi. op.sifat itu eksis dalam obyek-obyek fisik dan dapat dirubah akibat adanya campur tangan fisik. tetapi menjadi relasi-relasi antar obyek-obyek. massa. Akibatnya keterangan apapun mengenai obyek -obyek fisik dalam mekanika klasik akan mempunyai makna berbeda dari keterangan observasi serupa dalam teori relativitas. Feyerabend tidak menampik bahwa hakikat ilmu yang tidak bisa saling diukur itu.cit. 27. dan lain sebagainya. tidak lantas berarti bahwa teori-teori tersebut tidak bisa diperbandingkan dengan cara apapun. sifat-sifat seperti bentuk. Secara tegas Feyerabend menjelaskan bahwa setelah  Teori relativitas atau dikenal juga dengan teori Einstein adalah teori tentang realitas fisik yang menggambarkan fenomena alam secara kuantitatif. op.. 146.. terpaksa akan membawa kita ke suatu aspek subyektif dalam personalitas kita juga. waktu. massa dan volume tidak eksis lagi. Ia menjadi kerangka referensi dan bisa dirubah tanpa interaksi fisik apapun. yaitu teori relativitas khusus yang diciptakan Einstein pada tahun 1905 dan teori relativitas umum yang dimunculkan Einstein pada tahun 1916. .

cit.. 285.121 Feyerabend mengkritik keras pandangan 120 Paul Karl Feyerabend. in short. ³. op. Scientific Revolutions (New York: Oxford University Press. intervensi pribadi maupun interest psikologis dari subyek yang memberikan isi terhadap obyek pengamatan itu.120 Hasil penelitian. yang dalam perjalanan sejarahnya ternyata banyak tersandung oleh kesalahan-kesalahan yang fatal. judgements of taste. 156ff. Feyerabend menunjukkan bahwa tidak ada satu metode pun yang dianggap lebih baik dari bentuk metode yang lain. Dari sekian permasalahan itu sudah cukup kiranya kita jadikan dasar penolakan pandangan positivisme logis dengan argumentasi ilmiahnya tentang mutu kebenaran sebuah teori berdasarkan hasil observasi.What remains are aesthetic judgements.. prasangkaprasangka metafisis. dalam Ian Hacking (ed. 121 Paul Karl Feyerabend. apa yang tersisa adalah keinginan-keinginan subyektif kita. hlm. metaphysical prejudices. Ilmu Tidak Harus Mengungguli Bidang Pengetahuan Lain Aspek lain yang penting dari anasir-anasir pokok pemikiran Feyerabend adalah menyangkut posisi ilmu dengan bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. 1981).). ³How to Defend Society Against Science´. what remains are our subjective whises´.. pendeknya. keinginan-keinginan religius. maka sebenarnya yang tinggal tersisa adalah penilaian estetik. penilaian selera. penemuan ataupun pemilihan berbagai teori yang dilakukan oleh seorang ilmuwan tentang dunia fisik yang diamati itu tidak bisa terlepas dari kondisi sosiologis. religious desires. Diutarakannya. .kita menyingkirkan kemungkinan pembandingan teori teori secara logis untuk membandingkannya dengan sejumlah konsekuensi deduktif. E. hlm.

122 Endang Daruni Asdi dan A. harapan untuk mengadakan perubahan hanya terletak pada orang-orang pinggiran (marginal men).ilmuwan dan masyarakat yang mengagung-agungkan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu tinggi. 1981). Dan setiap m individu. yaitu para seniman. cendekiawan. Husnan Aksa. Namun sebelum mengulas gagasan Feyerabend tersebut.122 Marcuse mengkritik tajam asumsi positivisme dan neo-positivisme yang menurutnya mematikan pemikiran negatif (negasi). dituntut harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini sebab ia bukan merupakan kelas yang revolusioner. Produktivitas bukan lagi sebagai alat. melainkan telah menjadi tujuan. perlu juga kiranya dikemukakan pendapat dari Herbert Marcuse (1898 -1979) yang menyatakan bahwa masyarakat industri telah berkembang menjadi masyarakat berdimensi satu yang berada di bawah penguasaan prinsip teknologi. hlm. Setiap individu dalam masyarakat industri diperbudak oleh sistem produksi dan selalu berada dalam cengkeraman masyarakat konsumsi. tetapi mereka hanya kelas yang sekedar berusaha mempertahankan hak untuk hidup. 166. kecuali kaum buruh. Dalam masyarakat yang demikian itu. Dalam hal inilah gagasan Feyerabend memiliki kedekatan pandangan dengan Marcuse. sehingga pemikiran dan filsafat hanya berfungsi menyesuaikan diri dengan sistem lama yang telah ada. kebutuhan hidup dihambur-hamburkan hanya untuk menghabiskan hasil produksi yang meli pahruah saja. Filsuf-filsuf Dunia dalam Gambar (Yogyakarta: Karya Kencana. Dalam masyarakat seperti itu. . dan mahasiswa.

Maksudnya dengan metode empiris-analitis. Akibatnya seperti yang diungkapkan oleh Feyerabend. dan ide tentang adanya satu kebenaran obyektif mengenai realitas tunggal alam semesta pun telah be ralih menjadi kekaburan pemikiran di kalangan kaum cendekiawan. Feyerabend menolak dengan tegas anggapan -anggapan tersebut dengan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidaklah lebih unggul dari bentuk -bentuk pengetahuan lain. Kedua. ³keragaman budaya tidak dapat dijinakkan lewat pemikiran kaku tentang kebenaran obyektif sebab ia juga mengandung keragaman pemikiran serupa Katanya. Bahkan menurutnya tidak lebih unggul dari mitos. magi atau 123 Paul Karl Feyerabend. cannot be tamed by a formal notion of objective truth because it contains a variety of such notion´. 9. dan meningkatnya perbedaan budaya yang mendapat kehormatan sampai di taraf internasional berarti bahwa sebuah keragaman pada dasarnya menggambarkan adanya perbedaan gambaran tentang kenyataan alam selalu dihubungkan dengan perbedaan budaya. hlm. ³cultural variety ´.123 Kaum positivisme dan neo-positivisme mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan unggul karena dua alasan. ilmuwan dapat menentukan dan membuktikan kebenaran teorinya. keunggulan metodologis. Farewell to Reason (New York: Verso. . Pertama. 1987). ilmu pengetahuan unggul karena dapat membuktikan hasil-hasl (teknologi) yang dapat diandalkan. yang secara tiba-tiba goyah oleh dunia ilmu pengetahuan dan cendekiawan kontemporer.Kegagalan dari program kaum positivis selama ini adalah bahwa keragaman budaya selalu dinyatakan lewat pemahaman disiplin ilmu antropologi.

Galileo. Ilmu pengetahuan dalam penilaian Feyerabend telah mengam alih bil peran yang dimainkan oleh kaum agamawan. Copernicus. Feyerabend menyesalkan pembela-pembela ilmu yang secara tipikal menilai ilmu lebih unggul dan lebih berbobot atas bentuk -bentuk pengetahuan lainnya tanpa melakukan penyelidikan yang memadai terhadap pengetahuan pengetahuan yang lain. Pandangan inilah yang diterapkan secara radikal oleh Comte dan kaum Positivisme Logis. Karena alasan itu pulalah. memberikan tafsir atas segala fenomena alam yang sepenuhnya bercorak naturalis dan determinis. Bacon. Feyerabend menyatakan bahwa kebenaran itu terkait dengan tradisi dan bersifat relatif. Kepler dan Newton di awal kebangkitan ilmu pengetahuan modern masih menganggap bahwa ilmu pengetahuan dan agama saling melengkapi. kemudian Feyerabend tidak .voodoo. Ilmu pengetahuan dan metodenya menindas semua pandangan alternatif yang dianggap tidak relevan lagi dengan keaadan yang ada dan kenyataan yang berkembang dewasa ini. Sedangkan cita rasa yang berdasarkan pancaindera itu sama sekali subyektif. Tetapi Thomas Hobbes dan para pengikutnya yang muncul kemudian. berpendapat bahwa segala kejadian itu ditentukan oleh gerakan dan bentuk dari obyek yang bersifat kebendaan. Baginya sains bukanlah satu-satunya tradisi terbaik yang ada. Ilmu pengetahuan pada masyarakat ilmiah modern telah dianggap paling benar. Bacon masih mencita-citakan bertemunya penjelasan antara ilmu dengan Kitab Suci secara harmonis. kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa memperlakukannya secara istimewa. Misalnya Hobbes. sehingga memonopoli kebenaran di tengah-tengah masyarakat luas.

Lebih jauh ia memproklamirkan bahwa tidak ada perbedaan yang prinsipil antara ilmu pengetahuan dan mitos dan voodoo.124 Jadi kalau saja kata mitos diartikan untuk menunjukkan gejala dan peristiwa alam atau manusia seperti yang terjadi dalam tradisi dahulu kala.cit. Maka untuk mengatasi hal tersebut. dari segi tesisnya tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur. Feyerabend menyarankan pemisahan ilmu pengetahuan dengan negara sebagaimana agama dipisahkan dari negara pada masa Renaissance.. Menurut Feyerabend. terutama dalam masyarakat Amerika. op. karena para ilmuwan dan institusi pendukungnya dengan gencar selalu melakukan propaganda bahwa ilmu pengetahuan itu lebih unggul. Semua ini dirasa tidak wajar tetapi tetap saja terjadi. maka sesungguhnya tidak ada perbedaan antara mitos dan logos (teori ilmiah). tuk yang berhubungan dengan sihir dan astrologi serta bertentangan dengan 124 Akhyar Yusuf Lubis. Feyerabend mengungkapkan bahwa ilmu adalah satu ben ideologi saja. dalam masyarakat Amerika. . Secara khusus.menerima keharusan superioritas ilmu atas bentuk -bentuk pengetahuan lain. Lebih lanjut. voodoo). bahkan bebas untuk memilih tidak beragama. orang memilih agama secara bebas. hlm. 127-128. dan tetap saja dilestarikan dengan cara-cara yang sama oleh orang-orang yang masih rendah tingkat peradabannya. Feyerabend menyerang pandangan ilmuwan yang menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai agama baru. ia menolak ide bahwa akan bisa lahir suatu argumen yang menentukan dan menguntungkan ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain yang tidak bisa diukur. tetapi mereka dilarang mempelajari semua yang dianggap tidak ilmiah (mitos.

Perkembangan dunia ilmu pengetahuan lebih dimungkinkan dengan membiarkan teori-teori yang beraneka ragam secara bebas dalam mengembangkan visi intelektualitas secara kreatif. ia dapat mengajukan bukti-bukti bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang justru karena memberinya kebebasan. 156ff. along with magic and astrology. Berdasarkan analisis sejarah. . hlm.. sejarah ilmu pengetahuan itu memang selalu berproses untuk menyempurnakan dan mengembangkan teori-teori yang telah ada lewat pergulatan pemikiran yang simultan dan relatif µmendekati¶ hakikat sebuah kebenaran. bukan dengan memagarinya melalui peraturan tunggal atau hanya dengan menerapkan satu metode yang dianggap mapan.hat t science is just another ideology. against which society needs to be defended?´125 Dengan demikian. F. ³. Ia berkata. ³How to Defend Society Against Science´. Bertitik tolak dari keyakinan seperti itulah.kebutuhan-kebutuhan yang dipertahankan oleh masyarakat. catatan penting yang dapat kita ambil dari salah satu gagasan pokok Feyerabend ini adalah bahwa tidak ada universalitas sebuah teori yang secara mutlak lebih unggul kebenarannya dari teori yang lain. Kebebasan Individu Kritik-kritik konstruktif Feyerabend cukup ampuh membongkar (mendekonstruksi) pandangan saintisme modern.. maka di bagian lain pandangannya tentang ilmu pengetahuan Feyerabend juga menekankan tentang pentingnya makna kebebasan individu dari berbagai macam belenggu 125 Paul Karl Feyerabend. Sebab.

Ia menyatakan bahwa setiap orang harus mengikuti kecender ungan individualnya dan mengerjakan hal-ihwalnya sendiri. Ilmu telah menjadi ideologi absolut-tunggal yang membatasi. sebab pada dasarnya kegiatan ilmiah atau ilmu pengetahuan itu memang merupakan upaya yang anarkistik. menguasai dan bahkan memperbudak manusia. Gagasan awal tentang kebebasan individu Feyerabend ini sendiri sebenarnya hanya merupakan uraian lanjutan dari apa yang disebut oleh John Stuart Mill (1806-1873) sebagai ³sikap kemanusiawian´ yang d alam realisasi konkritnya ditujukan untuk membebaskan dan sekaligus meningkatkan kebebasan individu menuju kehidupan yang lebih maju dan produktif. Pandangan Feyerabend tersebut harus ditelusuri pula berkaitan dengan analisisnya tentang masyarakat yang dicita-citakannya. Ia melihat bahwa ilmu pengetahuan memiliki kedudukan dan kuasa mutlak yang sama dengan otoritas agama pada masa Abad Pertengahan. Sehingga pada akhirnya Feyerabend berkesimpulan bahwa pelembagaan ilmu dalam masyarakat kita dewasa ini sudah dianggap tidak konsisten lagi dengan sikap kemanusiaan itu sendiri. Artinya ilmu pengetahuan tidak lagi berfungsi untuk membebaskan manusia. terdapat beberapa pemikiran universal tentang manusia yang digunakan untuk menetapkan beberapa .metodologis. Padahal sebenarnya seperti yang ditunjukkan oleh Feyerabend. perkembangan ilmu pengetahuan tidak dapat diterangkan ataupun diatur oleh segala macam aturan dan sistem hukum yang berlaku. Dalam perspektif Feyerabend. namun justru memasungnya dengan teori-teori dan aturan-aturan yang ketat dan mengikat.

negara secara ideologis adalah netral. bebal. while an American can now choose the religion he likes. 1987). misalnya. 1975). Farewell to Reason (New York: Verso. ia melihat bahwa ilmu masih diajarkan sebagai sesuatu yang sudah semestinya. 299. tidak sempurna dan tidak jujur. Ia mengatakan. there is no separation between state and science. and dishonest´. incomplete. dangkal.127 ´ Dan bagi Feyerabend. Lagi lagi ia menampilkan contoh tentang masyarakat Amerika yang menurutnya memberikan kebebasan warganya untuk memilih agama yang mereka kehendaki. he is still not permitted to demand that his children learn magic rather than science at school.here t is some universal notion of human understanding which might be used to provide some theoretical approach to solving human conflicts as ³conceited.. . tetapi tetap saja warga masyarakat tidak diperkenankan untuk mempelajari ilmu sihir dan voodoo. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. Ia berujar. 25. ³. 127 Paul Karl Feyerabend.pendekatan teoretis untuk memecahkan perselisihan-perselisihan manusia yang sombong. Dalam masyarakat yang diimpikan oleh Feyerabend. superfisial. tidak ada cara lain yang dapat ditempuh dalam dilema ini kecuali dengan berusaha membebaskan masyarakat itu sendiri dari pengaruh monotafsir ilmu yang secara ideologis telah dimonopoli oleh institusi negara.. jelas tidak ada pemisahan antara negara dan ilmu. Negara semestinya bertugas untuk mengatur perjuangan antara ideologi-ideologi untuk menjamin setiap individu dapat mempertahankan 126 Paul Karl Feyerabend. hlm. ignorant. ³thus. Dalam pengertian ini.126 Di sekolah-sekolah. hlm. There is a separation between state and church.

Filsafat Feyerabend dapat 128 A. termasuk juga doktrin -doktrin agama yang begitu dogmatis dan tanpa kompromistis. hlm. sehingga ia mampu menghadirkan kronik pemikiran baru dalam diskursus ilmu pengetahuan modern dan postmodern yang sudah mulai banyak diperdebatkan. Salah satu peran penting filsafat Feyerabend yang berpijak pada rasionalitas dan universalisasi ilmu pengetahuan itu dalam kehidupan masyarakat luas adalah bahwa ia bisa membantu menjernihkan substansi suatu permasalahan dan menyingkirkan berbagai macam kepalsuan dan pemaksaaan ideologis. Chalmers. filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend itu bisa membimbing kaum cerdik pandai untuk berpikir mandiri. dengan selalu melakukan perlawanan secara kritis terhadap segala bentuk penyempitan ideologis. mendalam. . kritis dan berani. op. Sedangkan dalam komunitas akademik. Feyerabend terus berusaha µberkelit¶ dari sanjungan keberhasilan dan kemapanan sains. Demikianlah gambaran umum tentang ide kebebasan individu dan masyarakat Feyerabend yang merupakan pertautan epsitemologis dari pemikiran pemikiran utamanya tentang anarkisme ilmu pengetahuan.cit.hak kebebasan untuk memilih tanpa adanya unsur pemaksaan ideolo tertentu gi 128 yang bertentangan dengan pilihan sadar dan kehendak hati nuraninya.. Surplus positif dari filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend yang mungkin dapat didedikasikan bagi masa depan umat manusia adalah bahwa ia masih diperlukan untuk mensukseskan apa yang oleh Jürgen Habermas disebut ³program pencerahan´. 152. Bermula dari eksplorasi tentang ³apa saja boleh´ dan berbagai problem teori teori keilmuan lainnya.F.

Dalam kehidupan sosial. serta mencari pemecahan yang berorientasi pada penghormatan nilai-nilai kemanusiaan. Lantas. apa kontribusi konkrit yang bisa diberikan model pembelajaran filsafat Feyerabend tersebut terhadap dunia keilmuan di Indonesia? Secara praktis. sembari mempertanyakan ulang tentang kejelasan metode dan wawasan. maka perluasan wacana filsafat Feyerabend ini akan memungkinkan masyarakat untuk memikirkan kembali masalah-masalah dasar hidupnya secara rasional dengan bahasa. tradisitradisi dan filsafat Indonesia asli secara lebih terbuka. kritis dan kreatif. wawasan dan argumentasi yang universal dalam rangka men ggali kekayaan budaya. dengan analisis yang bebas dan obyektif. Dengan demikian.pula mencegah meluasnya kantong-kantong kosong pemikiran filosofis yang lolos dari tantangan kritik. Dalam bidang agama. pluralisme metodologi yang ditawarkan Feyerabend kiranya juga bisa membantu melepaskan subyektivitas keberagamaan kita dari pandangan dunia dan pembelaan agama yang berbeda untuk bersama-sama membahas tantangan yang dihadapi bangsa. . serta menghubungkan kesenjangan pemahaman ilmu itu sendiri dengan tuntutan-tuntutan praktis kehidupan. gagasan-gagasan filsafat Feyerabend itu setidaknya bisa membantu kita mengambil jarak sekaligus memberikan kritik tandingan terhadap klaim ideologi ilmu-ilmu empiris yang dalam opini budaya modern ini seolah-olah hanya ilmuilmu empirislah yang sanggup mendefinisikan arti kemanusiaan dan tujuan perkembangan masyarakat. filsafat Feyerabend dapat dijadikan alat untuk mendeteksi setiap kedok-kedok ideologis berbagai ketidakadilan sosial serta pelanggaran - pelanggaran terhadap martabat manusia dan hak -hak asasinya.

pengarah. orang yang berwenang.BAB IV ANARKISME ILMU PENGETAHUAN PAUL KARL FEYERABEND G. Pengertian Anarkisme Secara etimologi. kebutuhan akan. Mikhail Bakunin (1814-1876) dan Peter Kropotkin (1842-1921). Dalam pengertian ini anarkisme tidak bisa disamakan dengan Nihilisme. William Goldwin (1756-1836). kekurangan + anarchos. seorang pengatur. komandan. Yunani. 129 Ali Mudhofir. ketiadaan. Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 9-10. ketua. Konotasi positif: Anarkisme adalah ideologi sosial yang menolak pemerintahan yang otoriter. 129 Anarkisme (bhs. 1996). anarkisme berasal dari kata Yunani an archos = tanpa pemerintahan. Aliran ini berpandangan bahwa individu-individu harus mengatur diri mereka sendiri dengan cara yang disenangi demi pemenuhan kebutuhan dan idealideal mereka. Dalam bahasa Yunani istilah anarchos atau anarchia berarti tidak memiliki pemerintahan²keadaan tanpa penguasa). awalan a. Ia merupakan sebuah aliran dalam filsafat sosial yang menghendaki dihapuskannya negara atau pemerintahan serta kontrol politik dalam masyarakat. Aliran ini didasarkan pada ajaran bahwa masyarakat yang ideal itu dapat mengatur urusannya sendiri tanpa mempergunakan kekuasaan yang berlawanan dengan paham sosialisme dan komunisme. tidak. . hlm. Tokoh-tokohnya: Gerrard Winstanley (16091660).

is man¶s greatest enemy ²eliminate it and the evils of human life will disappear. hlm. it contends. (Penganut antinomi. Thus it belong in the ³primitive tradition´ of Western culture and springs from the philosophical concept the inherent and radical goodness of human nature. 130 Ibid. 131 Pius A. anti. Lihat dalam Tim Penulis Rosda. Modern anarchism probably owes not a little. Aliran ini mengajarkan penggunaan terorisme individual sebagai sebuah alat untuk meningkatkan terjadinya disorganisasi sosial dan politik.. hlm.130 Kamus Ilmiah Populer dengan gamblang mendefinisikan anarkisme sebagai sebuah paham kebebasan bertindak tanpa mau diikat oleh undangundang. in an indirect way. Konotasi negatif: Anarkisme adalah kepercayaan yang menyangkal untuk menghormati hukum atau peraturan apapun dan secara aktif melibatkan diri dalam promosi kekacauan melalui perusakan masyarakat. nomos. yang diperlukan bagi keselamatan. .tetapi lebih serupa dengan libertarianisme politik dan antinomianisme . melawan. 30. hukum) 1. In an popular sense the word ³anarchy´ is often  Antinomian (bhs. Dahlan Al-Barry. hal kesewenang-wenangan bertindak (melenyapkan undang-undang). to the influence of the primitivistic strain in the thought of Jean Jacques Rousseau. dalam teologi. Seseorang yang ingin hidup di luar masyarakat dalam keadaan alami atau hidup dalam masyarakat dengan ikatan seminimal mungkin oleh norma-norma sosial. anarchism envisages a homely life devoted to unsophisti ated activity and filled with c simple pleasure. 1994).131 Sementara Dictionary of Philosophy secara terperinci memberikan pengertian anarkisme sebagai berikut: Anarchism: This doctrine advocates the abolition of political control within society: The State. (a) seseorang yang percaya bahwa hanya keimanan. sebgai lawan dari kaum aktivis atau anarkis. (b) dalam pengertian teologis yang lebih ekstrem. 13. Positively. 2. bukan hukum moral. umumnya tidak langsung terlibat dalam usaha penghapusan hukum-hukum dan struktur politik suatu masyarakat. hlm. Kamus Filsafat (Bandung: Remaja Rosdakarya. Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola. seseorang yang menginginkan kebebasan dari aneka peraturan dan hukum dalam masyarakat. 17. seseorang yang memandang rendah hukum dan batasan-batasan sosial serta meletakkan di atas segalanya soal keimanan dan pengetahuan tertentu yang menjanjikan keselamatan. Partanto dan M. Yunani. 1995).

1992).133 132 Dagobert D. Menurutnya.132 Jadi yang dimaksud dengan istilah anarkisme adalah: ajaran yang menganjurkan dihapuskannya penguasaan politik dalam masyarakat. Anarkisme modern kelihatannya juga tidak jarang. Totowa: New Jersey. 1971). but it is obvious that the word can be used in this sense only by one who denies the validity of anarchism. Dictionary of Philosophy (Littlefield Adams & Co. Dalam bidang ilmu pengetahuan.. hlm. Jelasnya.used to denote a state of social chaos. walaupun dengan cara yang berlainan. Jadi ia termasuk kebiasaan kuno dari budaya Barat yang bersumber dari konsep filosofis yang telah melekat dan mengakar secara baik dalam sifat dasar manusia. Dalam pengertian populer. hlm. 133 Ali Mudhofir. Sebab negara menurut pendapat mereka adalah musuh terbesar manusia yang jika disingkirkan akan dapat menghilangkan kejahatan -kejahatan yang ada dalam kehidupan manusia. kata ³anarki´ seringkali digunakan untuk menunjukkan adanya kekacauan sosial dalam suatu negara. berusaha untuk mempengaruhi pandangan -pandangan kuno yang terdapat dalam pemikiran Jean Jacques Rousseau. Kamus Istilah Filsafat (Yogyakarta: Liberty.). . 9. tidak ada ukuran -ukuran yang tetap untuk memisahkan atau membedakan antara sampah dengan teori yang dapat diamati. bahkan kata ini juga dipakai oleh seseorang yang menyangkal terhadap keabsahan anarkisme itu sendiri. Runes (ed. 11-12. anarkisme mengimpikan kehidupan yang bersahaja dengan menekuni kegiatan yang sederhana dan mengisinya dengan kesenangan yang wajar. anarkisme diartikan sebagai anarchy epistemological (kesewenang-wenangan epistemologis) yang digunakan dan dipopulerkan oleh Paul Karl Feyerabend.

menganut doktrin revolusioner yang bermuara pada penghancuran negara. istilah ini baru beredar pada abad ke-19. Joseph Proudhon. filsuf Jerman. William Goldwin. mengharapkan munculnya anarkisme melalui perkembangan moral manusia secara bertahap. 5. Mikhail Bakunin. berkeyakinan bahwa keberadaan anarkisme adalah pasti dalam wujud pemberontakan ²bukan revolusi² perseorangan seiring dengan adanya penumpukan dan pengembangan sikap individualisme. garis lunak (moderat). sebab ia merupakan biang keladi ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat. penulis politik Inggris. 2.Disamping itu juga terdapat beberapa pandangan filsuf tentang definisi anarkisme. 3. Pertama kali digunakan oleh Proudhon dan kemudian diangkat kembali oleh Bakunin untuk menyatakan adanya aneka ragam doktrin yang berkisar seputar keyakinan bahwa negara yang teratur harus dilenyapkan. filsuf Perancis. revolusioner. 4. mendukung pertumbuhan dan perkembangan secara bertahap hubungan timbal balik atau kegotong royongan. diantaranya: 1. Max Stirner. . Sebagai doktrin politis dan filosofis. Dan penyebarluasan kerjasama sukarela semacam ini akan menggantikan negara. penulis dan aktivis politik Rusia. suatu rasa sosial yang semakin meningkat di tengah masyarakat. garis keras (ekstrem). Sedangkan mengenai cara penghapusannya berbeda-beda menurut pandangan para penganutnya: evolusioner.

146-147. term anarkisme itu tidak lain adalah anarkisme epistemologis yang dipertentangkan dengan anarkisme politis atau religius. Dalam hal ini ia lebih cenderung mewakili pandangan anarkisme religius. .I hope that having read the pamphlet the reader will remember me as flippant Dadais and not as a serious anarchist. Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia. Di akhir renungannya tentang anarkisme. Peter Kropotkin.6... filsuf sosial dan pengarang Rusia. 135 W. menganjurkan revolusi moral tanpa kekerasan yang mengarah pada pen ghapusan negara. padahal konsep gotong royong tidak kalah pentingnya. 1996). Dan anarkisme 134 itu sendiri merupakan gerakan kembali kepada masyarakat alamiah. hlm. hlm. The Rationality of Science (Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd. 1981). filsuf sosial dan novelis Rusia.. apabila anarkisme politis anti terhadap kemapanan (kekuasaan. institusi-institusi dan ideologi-ideologi yang menopangnya). Leo Tolstoy. mengutarakan bahwa teori Darwin terlalu melebih-lebihkan kompetisi dalam evolusi. Feyerabend sendiri secara pribadi menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang d adais yang dilukiskannya sebagai berikut: A Dadais is convinced that a worthile life will arise only when we start taking things lightly and when we remove from our speech the profound but already putrid meanings it has accumulated over the centuries. 7. maka anarkisme epistemologis justru tidak selalu memiliki loyalitas ataupun perlawanan yang jelas terhadap semua sistem dan struktur elit tersebut.135 134 Lorens Bagus. 48-49.H. Dikatakannya. negara. Sedangkan dalam analisa Feyerabend sendiri. Newton-Smith.

23. karena tidak adanya ukuran atau aturan yang tetap dan pasti untuk menentukan antara yang ilmiah dan yang non-ilmiah.Saya berharap bahwa setelah membaca selebaran ini pembaca mengenangku sebagai seorang Dadais yang sembrono. however µrational¶. Seorang anarkisme epistemologis menurut Feyerabend ibarat seorang dadais seperti yang dijelaskan oleh Hans Richter dalam bukunya Dada: Art and Anti-Art.136 Maksud Feyerabend adalah bahwa dalam epistemologi terdapat bentuk anarkisme yang berupaya mempertahankan sekaligus menentang kemapanan.  Istilah dadais muncul dari dunia seni di Perancis dan Jerman setelah Perang Dunia I sekitar tahun 1916-1922. hlm.. . Anarkisme Feyerabend yang demikian itu terkadang diartikan orang sebagai kesewenang-wenangan epistemologi. µnot only had no programme. tetapi anti-program. This does not exclude the skillful defence of programmes to show the chimerical character of any defence. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. melainkan akhirnya juga menjadi gerakan protes terhadap segala bentuk kemapanan. Ia bukan hanya tidak punya program.(Seorang Dadais percaya bahwa hidup yang berguna itu hanya dapat dibangun apabila kita mulai melakukan sesuatu yang gampang dan berhenti dari omong besar kecuali jika kita ingin pengertian -pengertian itu menjadi busuk karena ditumpuk-ditumpuk selama berabad-abad. it was against all programmes¶. Ia pembela status quo. Dadaisme berarti suatu gerakan protes dari dunia seni yang ditujukan bukan hanya terhadap seni yang sudah mapan. 1975). 136 Paul Karl Feyerabend. Feyerabend mengutip pandangan Richter sebagai berikut: µDada¶. tetapi juga anti status quo.. Hal itu ditempuh untuk memberikan kebebasan bagi perkembangan metode-metode alternatif. dan bukan sebagai anarkis yang sesungguhnya).

hlm.. bahwa sejarah ilmu pengetahuan tidak hanya berisi fakta-fakta dan kesimpulankesimpulan yang ditarik dari fakta-fakta tersebut. masalah-masalah yang timbul dari kesalahan interpretasi. 54. 1993). Ia juga berisi ide-ide. Dengan demikian. Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. maka tidak demikian halnya dengan anarkisme epistemologis. Dari perspektif ini. Menurut hemat Feyerabend anarkisme teoretis itu lebih manusiawi daripada alternatif hukum. sehingga tidak heran andaikata sejarah dan ide -ide ilmu pengetahuan yang berkembang itu kemudian menjadi pelik. interpretasi yang bertentangan. Feyerabend melihat bahwa para ilmuwan hanya meninjau fakta ilmu pengetahuan dari dimensi ide belaka. interpretasi terhadap fakta-fakta. anarkisme. Seorang anarkis di bidang ini tidak segan bahkan tidak malu untuk mempertahankan pandangan yang dianggap sudah basi dan konyol sekalipun. dan obat paling mujarab untuk mengembalikan eksistensinya pada koridor semula adalah dengan prinsip anarkisme. rancu dan penuh dengan kesalahan seperti pemikiran dari para penemunya. Feyerabend memberikan argumentasi historis. Lantas mengapa diksi yang ditawarkan oleh Feyerabend adalah anarkisme? Karena anarkisme epistemologis merupakan anarkisme teoretis. 137 Prasetya T. .Dalam posisi seperti itu. ilmu pengetahuan secara hakiki merupakan usaha yang anarkistik mutlak. "Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend". anarkisme juga tidak bisa disebut skeptisisme.W. dan sebagainya. dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting).137 Situasi semacam itulah yang dilukiskan Feyerabend sebagai sakit epistemologis. Jika skeptisisme berpendapat bahwa suatu pandangan bisa benar dan bisa salah atau bahkan bisa juga tidak ada penilaian berarti baginya.

sebagaimana pengakuan Feyerabend bisa membantu kita untuk mencapai kemajuan dengan memilih salah satu pemikiran yang kita minati secara lebih rasional. 138 Paul Karl Feyerabend. op. . hlm. 18. jelas dan bebas. Anarkisme Sebagai Kritik atas Ilmu Pengetahuan Secara garis besar.. Kritik pertama disebutnya sebagai anti-metode (Against Method) yang berusaha (mendekonstruksi) format metode ilmu pengetahuan yang telah dibuat dan dipahami oleh para kaum positivis dengan melakukan penyingkapan dan pembongkaran terhadap asumsi-asumsi beserta kesalahan dari teori-teori baku yang selama ini telah dikembangkannya. Dan kritik yang kedua dinamakannya dengan anti-ilmu pengetahuan (Against Science) yang secara lebih mendalam lagi mencoba mengoreksi tentang praktek ilmiah. fungsi dan kedudukan ilmu pengetahuan dalam kehidupan masyarakat yang dianggap memiliki standar universal yang melampaui batas-batas partikularitas dan relativitasnya. Atas nama kebebasan individu. seluruh pemikiran individualisme ekstrem Feyerabend tentang anarkisme di atas sebenarnya adalah suatu kritik terhadap perjala nan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang telah didominasi oleh sains positivistik. Feyerabend mengkritik ilmu dari dua sisi yang kaitan antar keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. H.cit. Pungkasan ide anarkisme Feyerabend yang secara esensial perlu kita gali maknanya dalam realitas keseharian kita adalah pernyataannya berikut ini: ³And my thesis is that anarchism helps to achieve progress in any one of the senses one cares to choose 138 ´.

cit.W. gagasan itu merusak ilmu pengetahuan dan menghambat laju perkembangannya karena mengabaikan adanya kompleksitas situasi fisik dan historis yang memungkinkan perubahan ilmu pengetahuan. Feyerabend ingin melawan ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap mempunyai satu metode yang baku dan universal. Prosedur ini dimaksudkan sebagai standar 139 Prasetya T. karena kenyataannya ilmu pengetahuan hanya diambil dari pandangan sederhana atas dasar kemampuan seseorang dari lingkungan tertentu. klaim itu tidak realistis dan jahat.. Tidak realistis. Jahat. Feyerabend juga menyangkal pandangan saintisme yang menganggap ilmu berada di atas segala aspek budaya lain sehingga menyebabkan ilmu pengetahuan modern menghalangi kebebasan berpikir para ilmuwan itu sendiri.1) Anti-Metode (Against Method) Dengan semboyan ini. hlm. . karena ilmu pengetahuan berusaha memaksakan hukum -hukum yang menghalangi berkembangnya kausalitas-kausalitas profesional kita dengan mempertaruhkan sifat kemanusiaan kita. 55.139 Dengan menunjukkan bukti bahwa sejarah ilmu pengetahuan itu selalu dipenuhi dengan pertentangan teori. Dan langkah pertama yang dilakukan Feyerabend untuk menindaklanjuti kritiknya tersebut adalah dengan mengajukan suatu prosedur yang diberi nama kontra-induksi (counterinduction). memiliki resistensi terhadap kritik yang tahan sepanjang masa serta dapat pula membawahi fakta dan penelitian. op. Menurut Feyerabend.. Lagi pula.

Prinsip induksi berupaya mencari fakta yang mendukung dan menghindari fakta yang tidak sesuai dengan teori. Kontra-induksi yang ditawarkan Feyerabend itu adalah juga untuk mengatasi masalah kekurangan prinsip verifikasi atau falsifikasi yang sama-sama tidak menghendaki adanya fakta yang konsisten dengan teori. Maksud Feyerabend bukanlah mengganti seperangkat aturan-aturan dengan peraturan yang lain. Hal tersebut diungkapkan Feyerabend sebagai berikut: My intention is not to replace one set of general ruler by another such set: my intention is. op.cit. rather. karena sulitnya otokritik yang berasal dari dalam tubuh ilmu pengetahuan itu sendiri. Dan cara terbaik untuk menjelaskan ini adalah dengan menunjukkan batas-batas. is likely to regard as basic. 23. tetapi tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa semua metode yang sudah jelas sekalipun mempunyai keterbatasan. Ketika ditemukan sejumlah fakta observasi dan eksperimen yang sesuai dengan teori.140 Hal ini jelas berbeda dengan paradigma positivisme yang menganggap induksi sebagai satu-satunya metode yang dianggap valid ataupun juga dengan kaum induktivisme naif yang berpendapat bahwa batang tubuh ilmu pengetahuan ilmiah dibangun di atas prinsip induksi yang dasarnya cukup kuat. . maka teori atau hukum diperkuat atau dikorborasi. The best way to show this is to demonstrate the limits and even the irrationality of some rules which she. have their limits. or he. to convince the reader that all methodolgies.kritik dari luar yang sangat diperlukan demi kemajuan ilmu pengetahuan.. even the most obvious ones. irasionalitas dari beberapa aturan yang mungkin dianggap sebagai hal yang paling mendasar. hlm. Melalui kontra- 140 Paul Karl Feyerabend.

Feyerabend mengusulkan counterrule. tetapi apakah kesenjangan yang ada antara teori dengan fakta harus diperbesar atau diperkecil? Atau apa yang harus kita lakukan dalam menjawab persoalan ini? Maka untuk bisa menyadari dan melakukan kritik terhadap asumsi-asumsi ilmu pengetahuan diperlukan standar eksternal guna memeriksa karakteristik dari dunia nyata yang diamati. Itu sebabnya kontra-induksi selalu masuk akal dan selalu . pertanyaan pokoknya bukan apakah teoriteori yang kontra-induktif ini harus diakui dalam ilmu pengetahuan atau tidak. kontra-induksi yang dikemukakan oleh Feyerabend itu sesungguhnya berperan penting untuk menjembatani permasalahan teori dan fakta. menurut Feyerabend. karena tidak ada satu pun teori yang menarik dan sesuai dengan semua fakta yang selalu dapat diketahui dalam bidang domainnya secara pasti dan meyakinkan. melakukan kritik terhadap fakta untuk memutuskan rantai dan konsep yang sudah mapan. mengacaukan prinsip-prinsip teoretis yang paling masuk akal. Jadi. Walaupun begitu. Oleh karena itu. Feyerabend kemudian merancang pertanyaan mendasar tentang apa yang seharusnya dilakukan? Pertama. masalah ini tidak memerlukan pembelaan khusus.induksi. yaitu memberikan hipotesis yang tidak konsisten dengan teori yang mapan atau dengan fakta yang b ahkan tidak sesuai atau tidak terukur sekalipun. memperkenalkan persepsi yang bukan merupakan bagian dari dunia persepsi yang ada. Semua itu merupakan langkah yang disebut oleh Feyerabend sebagai kontra-induksi. Kedua. dan Ketiga. Dan untuk itu semua.

always reasonable and it has always a chance of success).141 Sebagai ganti atas anti-metode. bentuk-bentuk kehidupan dan kerangka institusional yang tunggal. Feyerabend mengharapkan bahwa perbandingan antara fenomenafenomena sejarah dan pandangan epistemologis mampu memberikan kriteria penilaian yang holistik terhadap struktur aktual ilmu pengetahuan. 142 Prasetya T.mempunyai kemungkinan untuk berhasil (counterinduction is.. Ini berarti bahwa prinsip pengembangbiakan juga menafikan adanya sikap otoritarianisme terhadap produk pemikiran manusia yang paling absurd sekalipun. 23. Prinsip pengembangbiakan ini merupakan realisasi kritik dari alternatif pemikiran Feyerabend yang pada prinsipnya bertujuan untuk mencapai tiga hal utama: (1) memberikan model abstrak tentang kritik terhadap ilmu pengetahuan. op. (2) mengembangkan konsekuensi-konsekuensinya. Berdasarkan hal yang ketiga. hlm. menurut W. hlm. 56. therefore..H. Newton-Smith. Feyerabend memasukkan beberapa prinsip (bukan metode)..cit. Maksudnya kita tidak bekerja dengan sistem pemikiran. yaitu prinsip pengembangbiakan (proliferation) dan prinsip apa saja boleh (anything goes) yang telah penulis terangkan dalam bab sebelumnya.W. Jadi dalam dalam kaitan ini kami hanya akan membahas tentang prinsip pengembangbiakan yang secara harfiah berarti membiarkan semua berkembang sendiri. sehingga nantinya terbentuk suatu basis bagi kritisisme dan reformasi ilmu pengetahuan.142 Siasat Feyerabend ini. dan (3) membandingkan konsekuensi-konsekuensi itu dengan ilmu pengetahuan. adalah untuk memperlemah kesetian kita terhadap kemantapan suasana dengan menciptakan 141 Ibid. .

131. especially theories incompatible with currently accepted ones´. prinsip ini tidak hanya memungkinkan adanya penemuanpenemuan alternatif baru. Dengan sikap ini. aturan atau metode apapun. Berdasarkan uraian di atas. .hal yang bertentangan dengan keadaan yang melarang kita untuk mengembangkan berbagai teori. tetapi juga membuka peluang bagi tampilnya kembali teori lama yang sudah tidak diakui lagi keberadaannya. melainkan anti terhadap kekuasaan ilmu pengetahuan yang seringkali mengaburkan maksud dan tujuan utamanya.H. Dengan demikian. op. melainkan dengan membiarkan teori-teori yang beraneka ragam dan berbeda satu sama lain berkembang secara bebas. jelas bahwa prinsip pengembangbiakan ini bukan aturan metodologis. Newton-Smith.143 Prinsip pengembangbiakan berusaha menemukan dan mengembangkan teori-teori yang tidak cocok dengan pandangan yang sudah lazim diterima. sebab ternyata ia juga menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan itu tidak dapat diperoleh dengan hanya mengikuti teori tunggal. ³«Feyerabend¶s strategy is to weaken our allegiance to the consistency condition by developing a case an incompatible counterrule which in this case enjoins us to proliferate theories. terutama teori yang bertentangan dengan satu teori yang telah diterima oleh umum pada zaman sekarang ini. 2) Anti-Ilmu Pengetahuan (Against Science) Anti-ilmu pengetahuan Feyerabend ini tidak berarti ia anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Feyerabend ingin melawan ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap 143 W. hlm. Smith mengatakan..cit.

mitos. 58. diadopsi oleh para ilmuwan dengan mengatakan extra scientiam nulla salus (di luar ilmu pengetahuan tidak ada kebenaran). Ditegaskannya. magi.cit. Feyerabend ingin mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu bukanlah ideologi yang berisi omong kosong belaka. Semboyan extra ecclesiam nulla salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan) yang lebih dari satu abad lalu ada dalam tradisi gereja.lebih unggul daripada bidang-bidang atau bentuk-bentuk pengetahuan lain. dan pada gilirannya menjadi semacam ideologi yang menindas kebudayaan alternatif. ilmu pengetahuan menjadi pemikiran tunggal-mutlak karena adanya propaganda dari para ilmuwan dan institusi terkait yang diberi wewenang untuk selalu mempengaruhi kesadaran kolektif masyarakat tentang hakikat dan ilmu pengetahuan itu sendiri. hlm. Dengan begitu. dan lain sebagainya...144 Walaupun dewasa ini tidak ada lagi orang yang dihukum mati dengan dakwaan subversif atau ³sesat´ terhadap rumus-rumus formal ilmu pengetahuan. Feyerabend sejatinya ingin menyatakan bahwa ilmu pengetahuan hanya merupakan salah satu gagasan terbuka dan plural dari sekian banyak pilihan ideologi yang ada dalam masyarakat.W. . op. seperti sihir. tetapi mereka secara hukum konvensional mendapat sanksi sosial yang justru lebih berat daripada batas-batas toleransi yang ada dalam suatu masyarakat sekalipun. Dari semua bentuk pengingkaran yang sangat radikal tersebut. Maka tidak wajar mendewa-dewakan ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya pengetahuan 144 Prasetya T. voodoo. Sehingga ilmu pengetahuan yang dianggap paling benar itu telah menguasai sistem kebenaran dunia ilmiah.

Mungkin situasi inilah yang dikatakan oleh Richard Rorty bahwa epistemology is dead. Adanya pengakuan terhadap kompleksitas berbagai persoalan kemanusiaan dan keterbatasan kemampuan manusia menguasainya yang pada akhirnya mengandaikan keterbukaan terhadap beragam persepsi. yakni semacam kebijaksanaan untuk mengakui segala keterbatasan pengetahuan kita. tanpa kehilangan kepastian bahwa kita dapat bicara mengenai kebenaran. yaitu bagian intelektual manusia yang dapat mengandaikan adanya kompleksitas suatu obyek. Mungkin illative sense ini mirip dengan konsep phronesis dari Aristoteles. Karena masalahnya terletak pada muatan ideologis dari komunitas para ilmuwan dan pihak-pihak yang selalu berusaha menciderai kemurnian citra ilmu pengetahuan dengan kepentingan-kepentingan subyektif-individual yang menyebabkan proses idealisasi ilmu pengetahuan yang sebenarnya mengalami stagnasi. . penafsiran dan perbedaan pendapat itu tidak lantas membuat kita harus kehilangan sandaran pencarian perennial tentang adanya kemungkinan bahwa kita dapat mencapai²betapapun mencapai disini mesti ditafsirkan sebagai (makin) mendekati²hakikat kebenaran yang kita maksud. Relevansi pemikiran yang dapat kita pertautkan makna aktualitasnya dari dasar-dasar epistemologi Feyerabend di atas dengan fenomena budaya akademik kita saat ini adalah bahwa kita perlu mengembangkan pola pikir²dalam bahasa filsuf John Henry Newman²illative sense. atau dalam konstruksi filsafat Feyerabend disebut sebagai anti-ilmu pengetahuan (Against Science) itu. dan kemungkinan manusia mengambil sikap terhadap obyek tersebut.yang paling unggul dan bahkan paling menentukan kehidupan masyarakat.

BAB V PENUTUP I. Simpulan Dari seluruh pembahasan tentang konstruksi ep istemologis Paul Karl Feyerabend beserta persoalan-persoalan dasarnya tersebut di atas. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan penting sebagai berikut: 1. Disamping itu. Feyerabend juga berhasil mengembangkan sistem ilmu pengetahuan revolusioner yang menjadi suatu analisis alternatif untuk . ilmu tidak mengungguli bidang pengetahuan lain. dan kebebasan individu. prinsip -prinsip ilmu pengetahuan Feyerabend juga merupakan wujud dari ketidaksetujuannya pada empirisme kontemporer dan teori mekanika kuantum mutakhir dari Interpretasi Kopenhagen untuk menunjukkan bahwa metodologi-metodologi yang telah ada sudah tidak sejalan atau tidak cocok lagi dengan sejarah perkembangan fisika. ilmu tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. Adapun prinsip prinsip ilmu pengetahuan yang ditawarkan oleh Feyerabend itu adalah apa saja boleh (anything goes). 2. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend disusun atas dasar protes terhadap proses pemapanan ilmu pengetahuan yang selama ini didominasi oleh aliran Positivisme Logis dari Lingkaran Wina (Vienna Circle) yang menempatkan dan merumuskan ilmu pe ngetahuan sebagai kalkulasi aksiomatis semata.

dan tidak ubahnya juga seperti ³agama baru´ pada masa Abad Pertengahan yang memonopoli sistem kebenaran dalam masyarakat. Selain itu. magi. mitos. telah mampu memberikan perspektif baru untuk melepaskan diri dari segala bentuk otoritarianisme ilmu pengetahuan yang dianggap Feyerabend tidak ubahnya seperti sihir. ilmu pengetahuan yang dipropagandakan menjadi ideologi tunggal-mutlak yang menindas budaya ilmiah alternatif oleh para ilmuwan dan institusi terkait lain . sehingga menghalangi berkembangnya kausalitas -kausalitas profesional kita dan menegasikan pula pluralisme metodologi yang pada hakikatnya bisa menjadi sarana kritisisme dan kemajuan ilmu pe ngetahuan itu sendiri. terlepas dari kontroversi ilmiah yang menyertainya. Corak pemikiran anarkisme ilmu pengetahuan Feyerabend.menginterpretasi dunia dengan metode anarkisme epistemologi yang ditujukan untuk semakin menemukan hakikat ilmu pengetahuan yang selama ini secara ideologis dianggap lebih unggul daripada bentuk pengetahuan lain lewat kritik anti-metode (Against Method) dan antiilmu pengetahuan (Against Science)nya. salah satu ide penting Feyerabend lainnya sebagai penjelasan lanjutan dari tesis apa saja boleh yang diusungnya adalah bahwa tidak ada keteraturan metode atau teori dalam ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu. voodoo. Ia berargumen bahwa selama ini para ilmuwan cenderung memakai standar-standar universal dan baku.

sebab masih banyak padanan ide dan ragam penafsiran lain yang bisa dielaborasi secara tajam dan mendalam dari tesis-tesis utama Feyerabend yang begitu kontroversial dan ekstrem itu guna memperoleh bekal pemahaman yang lebih benar dan lengkap tentang struktur fundamental dari filsafat Feyerabend itu sendiri. Saran-saran 1. . ilmu tidak harus mengungguli bidang pengetahuan lain dan kebebasan individu Feyerabend di tengah arus liberalisasi pemikiran masyarakat kontemporer. maka perdebatan filosofis tentang Feyerabend tidak hanya berkisar pada satu sketsa pemikiran saja. ilmu tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. Sebagai sebuah pemantik dan pengenalan awal dari wacana filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend. dalam skripsi ini penulis hanya sebatas µmengantarkan¶ khalayak pembaca pada orientasi umum tentang anarkisme epistemologi Feyerabend yang oleh sebagian kalangan dianggap tidak memberikan tawaran metodologi yang jelas dan sistematis. Untuk itu. Dengan begitu. bahwa di masa mendatang mungkin alangkah lebih baik jika pengembangan kajian dari tulisan ini lebih difokuskan pada implikasi-implikasi sosial-praktis dari prinsip apa saja boleh (anything goes). serta tidak memiliki standar aturan yang dinilai baku untuk menentukan antara yang ilmiah dan yang non -ilmiah. maka saran singkat yang bisa penulis sampaikan adalah.semisal negara itu menurut keyakinan Feyerabend mesti dilawan dengan penentangan metode yang anarkistik. B.

yaitu kemampuan memahami orang lain tanpa terhanyut ke dalam alam pikirannya secara total. Sebab studi filsafat sebagai pilar utama rekonstruksi pemikiran lewat metodologi berpikirnya yang ketat. mengajar kita untuk senantiasa meneliti. Bahkan yang lebih parah lagi. batas-batas yang kita paksakan atas persoalan yang sejatinya kompleks itu sering merupakan penjelmaan dari sikap-sikap subyektif-egoistik kita. sehingga tidak jarang menimbulkan pemaknaan yang justru kontraproduktif. Namun dengan adanya unsur ³relativisme saintifik´²istilah Haidar Bagir²dalam rumpun teori ilmu pengetahuan. Dalam mengkaji pemikiran filsafat Feyerabend ini kita dituntut untuk melakukan apropriasi. selain beresiko menghasilkan rumusan pemecahan masalah yang keliru. Sebab kerapkali krisis persepsi terhadap pluralitas dan kompleksitas dari setiap dialektika pemikiran membuat kita tidak bisa menangkap dan menggali muatan muatan filosofis yang menjadi asumsi dasar masalah tersebut. tentu akan membuat kita tidak pernah merasa benar sendiri serta tidak mudah merasa puas dengan segala pengetahuan yang telah kita peroleh. Oleh karena itu. kita pun cenderung bersikap fanatik²mati-matian membela pendapat kita tanpa peluang menyadari bahwa pendapat kita itu salah. Evolusi ilmu pengetahuan dan kebudayaan manusia telah sampai ke zaman yang memaksa kita untuk be rpikir .2. mendiskusikan dan men guji kesahihan serta akuntabilitas setiap gagasan ²termasuk anarkisme ilmu pengetahuan Feyerabend²agar bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual dan ilmiah.

Maka saran akhir yang bisa penulis usulkan dan adalah dibutuhkan sikap kehati-hatian pikiran filsafat dalam ilmu memahami menyelidiki pokok-pokok pengetahuan Feyerabend dengan menghindari penafsiran yang dangkal dan terpilah-pilah. dipakai untuk menunjukkan bahwa ada aspek relativitas teori ilmu pengetahuan yang selalu terbatas oleh adanya ketergantungan observasi pada teori. sebagaimana ditegaskan Feyerabend berbeda dengan anarkisme politis maupun religius. Demikian juga. anything goes tidak berarti pula tanpa batas-batas fungsional yang mengikuti kecenderungan individual yang tidak berarti dan tidak bernilai. sehingga kita mampu mencerna makna substansial dari setiap realitas yang ada. .holistik. Di samping itu juga. yang tidak bermakna anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. melainkan bahwa subyektivitas para ilmuwan dalam penetapan sebuah proposisi atau hipotesis ilmu pengetahuan menyebabkan praktek ilmiah tidak bisa dijadikan sebagai simbol superioritas ilmu pengetahuan atas bentuk atau bidang pengetahuan lain. tetapi itu menurut Feyerabend. sistemik dan refleksif-mendalam untuk memahami realitas beserta problem-problem besar yang diakibatkannya. Juga pengertian Against Method. Atau Against Science. tidak lantas itu meniadakan atau mengganti peran dan fungsi teoretis ilmu pengetahuan yang telah dirintis oleh para ilmuwan. Anarkisme. perlu kecermatan dan ketelitian dalam menelaah setiap rekonstruksi filosofis yang cukup provokatif dari Feyerab end. 3.

Win Usuluddin (ed.DAFTAR PUSTAKA Asdi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Dance of God. Sutardjo. New York: Transaction Publishers. Anton dan A. Filsafat Umum. 1984. Beerling. Adisusilo. Muhammad Nur Mufid bin Ali. . 1993. Androngi. et. Panorama Filasafat Modern. London: Routledge. Asmoro. Bunge. 1983. Yogyakarta: Apeiron Philotés. Volume One: From Problem to Theory. 1986. Bakker. Semarang: Alwaah. Falsafatuna. R. Parera (penyunting). Kamus Filsafat. Martinus Anton Wesel.. Bernadien. 1951.al. Brouwer. alih bahasa Soejono Soemargono. 1997.P. Ash-Shadr. Psikologi Fenomenologis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Achmadi. Pengantar Filsafat Ilmu. Yuri and Alex Rosenberg (eds. Balashov. 2003. 1998. Muhammad Baqir. terj. Endang Daruni dan A. Metodologi Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana. Kanisius. Philosophy of Science: Contemporary Readings. Jakarta: Gramedia.). Charris Zubair. Philosophy of Science. 1990. Mario Augusto. Kees. Brouwer. 1981.). Bandung: Mizan. Tarian Tuhan. 1995. Martinus Anton Wesel dan M. Filsuf-filsuf Dunia dalam Gambar. Semarang: Bintang Pelajar. Frans M. Bandung: Alumni. Heryadi. Bertens. Filsafat Dewasa Ini. 2002. Yogyakarta: Kanisius. Revised Edition. Jakarta: Balai Pustaka. Husnan Aksa. Sejarah Filsafat Barat dan Sezaman. Lorens. Bagus. Filsafat Alam Semesta. Beerling. Al-Qur¶an dan Terjemahnya.F. Jakarta: Gramedia. 1987. 1998. 1986. Yogyakarta: Karya Kencana. Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan Yogyakarta: . 1996.

Ingerichte. New York: Oxford University Press. Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi. Farewell to Reason. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. 1975. A. . 1992. Systematisch. Kenneth T..F. Yogyakarta: Kanisius. Gie. 1981. 2001. Illinois: Open Court. Jakarta: Hasta Mitra. Stockum dan Juntak S..W. 1998. ³How to Defend Society Against Science´. The Liang. Against Relativism: A Philosophical Defense of Method. 1980. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge. dalam Ian Hacking (ed. 1985. 1982. P. ____________. Bandung: Epping. Pengantar Filsafat Ilmu. Soedjono.. C. La Salle. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern. Th. Structure Revolutions. 1983. London: New Left Books.. Yogyakarta: Liberty. Hadiwijono. Pengantar Teori-teori Pemahaman Kontemporer: Hermeneutika. Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna. Lintasan Sejarah Ilmu. James Franklin. Howard. Jakarta: Gramedia. Filsafat Skolastik.F. __________________. Ninuk KledenProbonegoro (ed). __________________. Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat. Paul Karl. Gallagher. 1981. Harry. Harris. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. Bawengan. Nederlandse. Jakarta: Pustaka Alhusna.. Filsafat Ensie: Eerste.. 1999. Roy J. 1997. Hardono Hadi (penyunting). 2000. Hamersma. 2002. Epistemologi dan Logika. Jakarta: Pradnya Paramita. Yogyakarta: Kanisius. Pengantar Remadja Karya. New York: Verso. Feyerabend. Jakarta: Pustaka Alhusna. A.. dan Ontologis. Ushuluddin. Bandung: Jemmars. G. 1983. Dirdjosisworo. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya.). Yogyakarta: Fak. Bandung: Nuansa. 1983. Hanafi. _______.Chalmers. A. Harun. Encyclopaedie. Wacana Analitik. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan). 1987. Psikososial. Sebuah Studi Tentang Filsafat.

Gadjah Mada University Press. Ali. Cornelis Anthonie van. New York: Oxford University Press. Jakarta: Gramedia. Thomas S. Susunan Ilmu Pengetahuan. 1988..G. Kees Bertens. Prawirohardjo. Pengantar Filsafat. Melsen. 2002. 1974. 1992. __________. Oliver. Feyerabend: Penggagas Anti-Metode. Akhyar Yusuf. Yogyakarta: Kanisius.P. Henry van. Kattsoff. 1992. Yogyakarta: Liberty. Oxford: Clarendon Press. London: Routledge. Jakarta: Teraju. Mudhofir. Pengantar Filsafat Islam: Sebuah Pendekatan Tematis. 1968. Yudian W. Fourth Edition.M. Lubis. Bandung: Remaja Rosdakarya. Yogyakarta: Pusat Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia. Understanding Philosophy of Science. 1984. 1996. terj. Kamus Istilah Filsafat. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. van. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Philosophy of Science and Historical Enquiry. Indonesia. alih bahasa Soejono Soemargono. Laer. _________. Losee. Meta-Teoritis atas Ilmu Pengetahuan dan Implikasinya Bagi Program Pendidikan Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 2003. Popper. Yogyakarta: Tiara Wacana. Peursen. A Historical Introduction to the Philosophy of Science. Filsafat Sains Bagian Pertama: Ilmu Pengetahuan Secara Umum.). . 1995. Musa Kazhim dan Arif Mulyadi. Yogyakarta: U. Tjun Surjaman. Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi. 1993. New York: Harper & Row Pub.Kuhn. terj. Bandung: Mizan. 1996. John... Karl Raimund. Magnis-Suseno. Ladyman. 2001. Soeroso H. Asmin (ed. James. Louis O. Jakarta: Gramedia. terj. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita. Franz von. The Logic of Scientific Discovery. Leaman. 2001. A. 1992.

Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Jakarta: Gramedia. Budi Hardiman (ed. terj. Hermoyo. Rapar. Semiawan. Huston. Jean. Jujun Suparjan. Yogyakarta: Kanisius. Smith. ____________ (penyunting). Michael Dua. . Dictionary of Philosophy. et. Joko. 1998. 1995. 1994. 1999. Kebenaran Yang Terlupakan: Kritik atas Sains dan Modernitas .H. Kamus Ilmiah Populer. Yogyakarta: IRCiSoD. 1995. Piliang. Qadir. dan M.X. Metodologi Penelitian Filsafat. (penyunting). 1995. (ed. terj. F. Suriasumantri. 1996. 1981. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman. Jan Hendrik. Bosco Carvalho.). Yasraf Amir. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd. Hiper-Realitas Kebudayaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. The Structure of Scientific Theories. Piaget. Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu. Yogyakarta: LKíS. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Sudarto. 1996. terj. Yogyakarta: Kanisius. Conny R. 1974. Kosmologi Einstein. Runes. Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. Smith. _______________. Pius A. Urbana University of Illionis Press. 1999. Jakarta: Raja Grafindo Persada. terj. Siswanto. 1996. Sutrisno. Bandung: Rosdakarya. Inyiak Ridwan Muzir. Littlefield Adams & Co. Mudji dan F.. Dahlan Al-Barry.). 1996. Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan.. Surabaya: Arkola. Polanyi.Partanto...al. W. C. Pengantar Filsafat. 1971. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Dagobert D.al. Yogyakarta: Tiara Wacana.A. Totowa: New Jersey. Yogyakarta: Jalasutra. et. Newton. Suppe. Strukturalisme. The Rationality of Science. 2001. 2002. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna .). Michael. 2004. Frederick (ed.

Burhanuddin. 2000. Sugiharto. dan Robert Haryono Imam. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. 2000. Christiaan R. Verhaak. I. Tim Penulis Rosda. Sejarah Filsafat. . Jakarta: Gramedia. 1993. Tim Redaksi Driyarkara (penyunting). Jakarta: Gramedia. Ilmu dan Teknologi. Kamus Filsafat. Bambang.Salam. Jakarta: Rineka Cipta. 1991.M. Hakikat Ilmu dan Cara Kerja Ilmu-ilmu. Bandung: Remaja Rosdakarya.O. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-ilmu. Yogyakarta: Kanisius. 1995.