P. 1
Anarkisme Ilmu Pengetauan (Analisis Terhadap Konstruksi Epistimologi Paul Karl Feyerabend 1924-19

Anarkisme Ilmu Pengetauan (Analisis Terhadap Konstruksi Epistimologi Paul Karl Feyerabend 1924-19

|Views: 796|Likes:
Published by whizverage

More info:

Published by: whizverage on Feb 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

ANARKISME ILMU PENGETAHUAN (Analisis Terhadap Konstruksi Epistemologi Paul Karl Feyerabend, 1924-1994

)

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Untuk Memenuhi sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S-1) Filsafat Islam

Disusun Oleh: FATHORRAHMAN NIM. 0051 0251

JURUSAN AQIDAH FILSAFAT FAKULTAS USHULUDDIN UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2005

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini terdapat perhatian yang semakin besar terhadap filsafat ilmu. Dinamika perkembangan ilmu yang begitu pesat dan cepat serta pengaruhnya yang cukup signifikan terhadap kehidupan masyarakat, menuntut intensitas pemikiran kita untuk mempelajari berbagai metode cabang ilmu secara terpadu dan berkesinambungan. Hakikat ilmu sebagai suatu kumpulan pengetahuan berdaya guna memberikan dorongan bagi kita dalam menjelaskan, meramalkan dan mengontrol gejala-gejala alam. Pengetahuan yang merupakan produk kegiatan berpikir merupakan obo r peradaban telah memungkinkan manusia menemukan jati dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan serta merta dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan jalan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya. Proses penemuan dan penerapan itulah yang menghasilkan kapak dan batu zaman dulu sampai komputer hari ini. Berbagai masalah memasuki benak pemikiran manusia dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, dan beragam buah pemikiran telah dihasilkan sebagai bagian dari sejarah kebudayaannya. Meskipun tampak betapa banyak dan beraneka ragamnya buah pemikiran itu, namun pada hakikatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok, yakni: Apakah yang ingin kita ketahui?

Bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? dan Apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita?1 Hal ini juga sesuai dengan dimensi utama filsafat ilmu itu sendiri sebagai sebuah proses penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Sebab filsafat ilmu itu sendiri bersinggungan pula dengan bagian-bagian filsafat sistematik lainnya, seperti filsafat pengetahuan (hakikat serta otentisitas pengetahuan), ontologi (ciri-ciri serta susunan kenyataan) dan filsafat kesusilaan (nilai-nilai serta tanggungjawab).2 Pertanyaan itu kelihatannya sederhana namun mencakup permasalahan yang sangat azasi. Lahirnya sejumlah karya pemikiran besar pun sebenarnya merupakan wujud nyata dari keseriusan kaum intelektual dalam rangka merumuskan format penafsiran baru yang lebih bermutu atas ketiga pertanyaan tersebut di atas. Pemikiran-pemikiran besar dalam sejarah kebudayaan manusia dapat dicirikan dan dibedakan dari cara mereka menjawab dan menyikapi pertanyaan-pertanyaan itu yang merupakan titik tolak dalam pengemban gan pemikiran selanjutnya. Ilmu merupakan salah satu bentuk manifestasi dari pengetahuan manusia yang pada abad modern ini telah merasuki setiap sudut kehidupan manusia. Salah satu pandangan kontemporer tentang ilmu yang paling menantang dan provokatif adalah pandangan yang dikemukakan dan dibela secara gemilang oleh Paul Karl Feyerabend. Ia mengajukan pandangan yang sangat menantang dan baru dalam filsafat ilmu. Baginya, tidak ada penilaian mengenai watak dan status
Jujun Suparjan Suriasumantri (penyunting), Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999), hlm. 2. Beerling, et.al., Pengantar Filsafat Ilmu, alih bahasa Soejono Soemargono, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), hlm. xii.
2 1

Paul Karl Feyerabend ingin melihat mengapa pada abad modern ini ilmu pengetahuan diberi penghargaan tinggi . namun kebenaran keilmuan bukanlah satu-satunya sumber kebenaran dalam hidup kita ini. Terdapat berbagai model kebenaran lain yang memperkaya khazanah kehidupan kita. Mereka yang mendewa-dewakan ilmu sebagai satu-satunya sumber kebenaran biasanya tidak mengetahui hakikat ilmu yang sebenarnya. Menghadapi dua pola pendapat yang ekstrem ini seyogianya kita harus bersikap lapang dan bijak dengan menyadari bahwa meskipun ilmu memang memberikan gambaran konseptual tentang hakikat kebenaran. namun juga membuka mata kita terhadap berbagai kekurangan yang dikandungnya.ilmu akan lengkap tanpa suatu usaha untuk memahaminya secara integral dan holistik. kepicikan seperti itu kemungkinan besar disebabkan karena mereka kurang mengenal hakikat ilmu yang seb enarnya. dan tidak mau melihat kenyataan bahwa ilmu telah mampu membentuk peradaban seperti apa yang kita saksikan sekarang ini. Kehidupan terlalu rumit untuk dianalisis hanya oleh satu jalan pemikiran saja. Dalam konteks pemikiran inilah. Demikian juga sebaliknya dengan mereka yang memalingkan muka dari ilmu. Adalah ketinggi hatian yang tidak mempunyai dasar sama sekali. jika kita beranggapan bahwa ilmulah alpha dan omega dari segala kebenaran yang ada. sehingga hal tersebut bukan saja akan meningkatkan apresiasi kita terhadap ilmu itu sendiri. Untuk bisa menghargai ilmu sebagaimana mestinya sesungguhnya kita harus mengerti apakah hakikat ilmu itu sebenarnya secara mendalam.

A. Chalmers. dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting).dalam masyarakat dibandingkan bidang-bidang lainnya. 149. hlm. Secara kritis Feyerabend menulis tentang Imre Lakatos yang dianggapnya sebagai rekan anarkis karena metodologinya tidak menyediakan hukum -hukum untuk memilih teori atau program: "Setelah menyelesaikan rekonstruksinya tentang ilmu modern. "Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend".W. Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. they Prasetya T. tetapi tidak dibuktikan bahwa a lebih i baik daripada 'kearifan' para ahli sihir dan tukang -tukang sulap. tidak ada secuil pun argumentasi yang dikemukakannya.. 'Rekonstruksi rasional' menganggap 'kearifan ilmiah' sudah benar. bahwa ilmu (fisika) membentuk paradigma rasionalitas.3 Feyerabend menyesalkan pembela-pembela ilmu yang secara tipikal menilai ilmu adalah superior atas bentuk-bentuk pengetahuan lain tanpa melakukan penyelidikan yang layak mengenai be ntuk-bentuk pengetahuan lain. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya (Jakarta: Hasta Mitra. However. he turns it against other fields as if it had already been established that modern science is superior to magic. 1993). and that it has no illusory results.F. Feyerabend menggambarkan hal tersebut dengan pernyataan berikut: Having finished his µreconstruction¶ of modern science. 47. ia (Lakatos) mengalihkannya ke bidang -bidang lain seolaholah telah mapan bahwa ilmu modern lebih ung daripada sihir-sihir atau ilmu gul Aristotelian. Seolah-olah kini ilmu pengetahuan bersifat "anarkis". there is not a shared of an argument of this kind.4 Ia mengemukakan bahwa banyak kaum metodologis sudah menganggap benar tanpa argumentasi. 4 3 . 1982). µRational reconstructions¶ take µbasic scientific wisdom¶ for granted. dan bahwa ia tidak mempunyai hasil-hasil ilusif. Namun. hlm. or to Aristotelian science.

dan sebagainya". hlm.do not show that it is better than the µbasic wisdom¶ of witches and warlocks. 1975). tujuan dan metode dari ilmu itu serta bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. tulisan-tulisan orisinal. and like´. Secara meyakinkan Feyerabend mengemukakan bahwa metodologi-metodologi ilmu gagal menyediakan hukum hukum yang memadai untuk membimbing aktivitas para ilmuwan. bahwa suatu bentuk pengetahuan yang sedang diteliti itu harus sesuai dengan hukum -hukum logika. Feyerabend meyakini bahwa tidak ada metodologi ilmu yang ada selama ini yang bisa bertahan dari perubahan. karena hal semacam itu hanya akan membenarkan tentang adanya suatu fenomena ³ penjajahan intelektual´ secara terselubung. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. buku-buku pelajaran. Dari segi tesisnya tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur. sebagaimana yang biasanya dipahami oleh para filsuf dan rasionalis kontemporer. original papers. we shall have study historical records²texbooks. . maka diperlukan penyelidikan terhadap watak. 205. ia juga menolak ide bahwa akan bisa lahir suatu argumen menentukan yang menguntungkan ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain. Ia mengatakan. pembicaraan serta surat-surat pribadi. records of meetings and private conversations. 6 Ibid. Hal ini harus dilakukan dengan meneliti "catatan-catatan sejarah. 5 Feyerabend tidak bersedia menerima keharusan superioritas ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain..6 Ia pun tidak bisa sekedar asumsi tanpa penelitian lebih jauh. 253. ³« that is. Menurut 5 Paul Karl Feyerabend. Apabila ilmu hendak diperbandingkan dengan bentuk -bentuk pengetahuan lain. hlm. letters.

tidak mungkinlah merumuskan keterangan observasi yang sama dalam suatu konteks yang berbeda.Feyerabend. Feyerabend adalah penganjur pluralisme metodolog yang i menolak pandangan idealisme dan naturalisme. mengingat kompleksitas sejarah. yang merupakan pedoman untuk menilai suatu teori lebih baik daripada yang lainnya. Baik rasionalisme maupun empirisme mendukung rasionalitas yang menurutnya universal dengan cara yang berbeda. 119 dan 116. Feyerabend beranggapan bahwa makna dan interpretasi tentang keterangan observasi tergantung pada konteks teoretis. konteks dan historisitas. bersifat universal. kebenaran universal yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. Maksudnya. terlepas dari subyektivitas. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. hlm. Konsekuensi logisnya adalah. maka tidak masuk akal untuk mengharapkan ilmu dapat diterangkan hanya atas dasar beberapa hukum metodologi yang terlalu simplistik (sederhana) dan superfisial (dangkal). 7 . Dengan begitu. ia ingin menentang pandangan yang memisahkan teori dan observasi.7 Kesamaan Feyerabend dengan Kuhn terletak pada tesis keduanya yang menyatakan bahwa ilmu-ilmu atau teori-teori tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. Idealisme berpendapat bahwa rasionalitas adalah agung. 2003). Perbedaan dua teori atau Akhyar Yusuf Lubis. Seperti halnya Kuhn yang berasumsi bahwa tidak ada suatu teori apa pun yang bertahan dalam sejarah. Feyerabend menyangkal adanya rasionalitas yang universal dan historis.

the idea is detrimental to science. It makes our science less adaptable and more dogmatic«All methodologies have their limitations. 9 [Ide bahwa ilmu dapat dan harus berjalan sesuai dengan hukum-hukum universal yang mapan. Menurutnya: ³the methodology of research programmes provides standar that aid the scientist in ds evaluating the historical situation in which he makes his decisions. karena terlalu menyederhanakan bakat manusia dan keadaan lingkungan yang mendorong atau menyebabkan perkembangan. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. 167-168. 295-6. or cause. 9 8 Paul Karl Feyerabend. memukul metodologi - metodologi yang dianggap telah memberikan hukum-hukum untuk membimbing para ilmuwan ini ternyata ditunjang dengan alasan yang kuat. Ia menyebabkan ilmu semakin kurang bisa dikelola dan semakin dogmatik«Semua metodologi mempunyai keterbatasannya dan satu-satunya 'hukum' yang survive adalah 'apa saja boleh'].lebih cukup mendasar. It is unrealistic. karena ia mengabaikan kondisi fisik dan historis yang kompleks yang mempengaruhi perubahan ilmiah. and the only rule that survives is µanything goes¶. their development. for it neglects the complex physical and historical conditions which influence scientific change. hlm. .cit.. And it is pernicious. op. and should. Verhaak dan Robert Haryono Imam.M. Dan ia merusak. ide itu pun merugikan ilmu. sehingga tidak mungkin saling membandingkan teori teori rival secara logis. be run according to fixed and universal rules. hlm. for it takes too simple a view of the talents of man and of the circumstances which encourage. adalah tidak realistis dan juga merusak. In addition. Ia tidak realistis.O. is both unrealistic and pernicious. Feyerabend mengatakan: The idea that science can. karena usaha untuk memberlakukan hukum-hukum itu cenderung meningkatkan kualifikasi profesional kita yang mengorbankan rasa kemanusiaan. it does not Christiaan R. for the attempt to enforce the rules is bound to increase our professional qualifications at the expense of our humanity. 1991).8 Dalam sebuah kutipan yang agak panjang. Selain itu. Kasus Feyerabend yang menentang metode.

ia senantiasa mendorong semangat kebebasan bagi para individu untuk memilih antara ilmu dan bentuk -bentuk 10 11 Ibid. It is in conflict µwith cultivation of individuality which alone produces. Dalam konteks yang lebih luas. ia tidak berisi hukumhukum yang mendikte apa yang harus diperbuat ilmuwan´. or can produce. hlm. . well-developed human beings¶...contain rules that tell him what to do´. Ia mendukung Mill dalam membela "pembinaan individualitas yang secara pribadi mampu berproduksi sendiri. Feyerabend menyetujui usaha meningkatkan kebebasan menuju ke kehidupan yang penuh dan produktif. atau dapat memproduksi manusia -manusia yang maju".11 Dari sudut pandang kemanusiawian ini. pemikiran anarkis Feyerabend tentang ilmu mendapatkan dasar pembenarannya.10 Maksudnya. bahwa para ilmuwan dalam melakukan pemilihan-pemilihan dan keputusan-keputusan terikat oleh hukum-hukum yang diatur atau terkandung di dalam metodologi-metodologi ilmu. "Metodologi dan program program riset menyediakan standar-standar yang membantu ilmuwan menilai situasi historis untuk mengambil keputusan-keputusannya. karena di dalam ilmu ia memang diarahkan guna meningkatkan kebebasan i dividu dengan memacu n penyingkiran segala macam kungkungan metodologis. hlm. Feyerabend menyatakan bahwa. Ibid. 186. Feyerabend membela apa yang ia sebut sebagai "sikap kemanusiawian" yang memandang bahwa manusia individual harus bebas dan memiliki kebebasan sebagaimana yang diperjuangkan John Stuart Mill. Maka tidaklah bijaksana. 20.

Dalam perspektif Paul Karl Feyerabend. Dengan kata lain. persis seperti nenek moyang kita membebaskan kita dari kungkungan 'agama satu-satunya' yang benar". 307.. perkembangan ilmu di dalam masyarakat kita tidak lagi konsisten dengan sikap kemanusiawian. Ia menyatakan. ilmu pengetahuan tidak lagi berfungsi membebaskan manusia. Ilmu pengetahuan memiliki kuasa mutlak. hlm. ³let us free society from the strangling hold of an ideologically petrified science just as our ancestors freed us from the strangling hold of the One True Religion!´. Apa yang perlu kita lakukan dalam masa ini. Feyerabend hendak mendobrak anggapan bahwa ada keteraturan dalam perkembangan ilmu yang hendak diwujudkan dalam hukum dan sistem. Pendapat Feyerabend ini juga harus dilihat sehubungan dengan analisisnya tentang masyarakat. Di kalangan masyarakat kita dewasa ini. Sebab pada dasarnya ilmu pengetahuan dan perkembangannya tidak bisa dierangkan t ataupun diatur oleh segala macam aturan dan sistem maupun hukum yang berlaku. Jadi jelas sekali. Ia harus bebas karena memang kegiatan ilmiah atau ilmu pengetahuan merupakan suatu upaya yang anarkistik.pengetahuan lain. tulis Feyerabend. ilmu pengetahuan menduduki posisi yang sama dengan posisi agama seperti halnya pada masa Abad Pertengahan. adalah lah "membebaskan masyarakat dari kungkungan ilmu yang membatu secara ideologis. . 12 12 Ibid. bahwa Feyerabend menolak sikap otoriter dalam bentuk apapun juga. namun justru menguasai dan memperbudak manusia.

his playmets²he or she²is restricted by innumerable physical. Seluruh pembicaraan dan perdebatan tentang pemikiran Paul Karl Feyerabend tersebut di atas tersimpul dalam sebuah mainstream yang padat makna. Setidaknya ia menyadari hal semacam ini dan dalam satu bagian tentang kebebasan riset.. . setiap individu dilahirkan ke dalam suatu masyarakat yang sudah eksis lebih dulu. masyarakat itu bukanlah pilihannya yang bebas. hlm. 187. 13 Ibid. sebagai suatu kritik yang diajukan dan ditujukan untuk semakin dapat menemukan wajah ilmu pengetahuan yang sebenarnya. physiological. the amount of money available. suatu analisa tentang struktur sosial bersangkutan merupakan prasyarat untuk mengerti tentang kebebasan sang individu. Atas nama kebebasan individu. "Ilmuwan masih dibatasi oleh sifat-sifat dari instrumeninstrumennya. sociological. Feyerabend menulis: ³The scientist is still restricted by the properties of his instruments. Artinya bahwa. anarkisme ilmu pengetahuan. dan dalam pengertian itu. the attitude of his colleagues. kecakapan para asistennya. psikologis. dan oleh karena itu.Hal ini perlu ditempuh karena menurut citra Feyerabend. Feyerabend mengkritik ilmu dari dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. teman-teman mainnya²lelaki atau perempuan²ia dibatasi oleh banyak sekali kekangan fisik. historical contraints 13 ´. Kebebasan yang dimiliki seorang individu akan tergantung pada posisi yang ia duduki di dalam struktur sosial tersebut. sikap rekan-rekannya. the intelligence of his assistants. sosiologis dan historis". jumlah uang yang bisa diperolehnya.

hlm. Kemudian. sains maupun rasionalitas bukanlah ukuran unggul yang universal. atas nama kebebasan yang sama.. kekuasaan. Feyerabend ingin melawan batang tubuh beserta metode ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap mempunyai satu metode yang baku dan universal serta tahan sepanjang masa. dan juga dapat membawahi semua fakta dan penelitian. ia hendak melawan ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap lebih unggul daripada bidang-bidang atau bentuk-bentuk pengetahuan lain semisal sihir. lebih merupakan suatu perkembangan dari berjuta-juta alternatif. Fe yerabend mempunyai sikap anti-ilmu pengetahuan (Against Science) sebagai kritik terhadap praktek ilmiah. magi.cit. fungsi dan kedudukan ilmu pengetahuan dalam masyarakat yang kerapkali melampaui maksud utamanya. Keduanya adalah tradisi partikular yang tidak menyadari latar historisnya sendiri. Feyerabend menyimpulkan bahwa.Yang pertama. Dengan posisi seperti ini.14 Maksud dari semua itu sebenarnya adalah. Ilmu pengetahuan sebagaimana tinjauan historis Feyerabend. satu dengan yang lain tidak selalu terdapat konsistensi atau kesepadanan. Ia memilih istilah realisme imiah yang l 14 Akhyar Yusuf Lubis. 130. dan sebagainya. voodoo. op. mitos. . dengan memegang semboyan anti metode - (Against Method). Feyerabend ingin mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu bukanlah ideologi yang berisi omong kosong belaka yang dipropagandakan oleh para ilmuwan.

Adanya klaim bahwa anarkisme ilmu pengetahuan sebagai bentuk kesewenang-wenangan epistemologis Feyerabend perlu kiranya dimengerti dalam porsi pemahaman yang tepat dan seimbang. Dalam pengertian ini berarti ilmu pengetahuan tidak hanya sanggup menghasilkan prediksi-prediksi saja. Pada akhir kegelisahan intelektualnya. Sebagai obat bukan berarti ilmu pengetahuan harus menjadi anarkis. Feyerabend menawarkan terma anarkisme sebagai obat mujarab dalam menyembuhkan epistemologi dari sakitnya. sistem pemikiran. tetapi sekaligus juga bertindak sebagai penentu orientasi keilmuan yang telah dirancangnya. dan kerangka-kerangka pandang diterapkan dalam bentuknya yang paling kuat. kurang lebih seperti yang diproyeksikan dan diidealisasikan oleh Feyerabend. Realisme ini akan bisa terwujud pada saat teori-teori. namun baik epistemologi maupun filsafat ilmu pengetahuan harus menerima anarkisme agar dengan demikian kita akan kembali kepada bentuk -bentuk rasionalitas yang lebih jelas dan bebas.dalam salah satu bentuknya berupa aktivitas-aktivitas kita mengumpulkan pengetahuan sebagai jalan terbaik untuk memahami dunia. bukan sekedar sebagai skema-skema bagi setiap proses kejadian yang kodratnya ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan eksternal. melainkan juga berpotensi untuk menggali hakikat realitas yang menjadi cita-cita dari pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Sebab pada kenyataannya istilah ekstrem itu dimaksudkan untuk memberikan kritik eksternal terhadap metode dan praktek ilmu pengetahuan yang acapkali mengaburkan karakter dan tujuan dasar utamanya. Tetapi hal itu mungkin bisa dipahami karena memang seorang anarkis .

Sebagai sebuah kajian serius tentang tokoh filsafat ilmu pengetahuan baru. Mungkin hal inilah yang kemudian menjadi latar dari pemilihan tokoh dan pembahasan topik Paul Karl Feyerabend.di bidang ilmu pengetahuan oleh Feyerabend diistilahkan ²mengutip pendapat Hans Richter²sebagai dadais yang anti terhadap segala bentuk kemapanan. Feyerabend melontarkan gagasan kritis-progresif yang sayangnya sampai saat ini masih relatif kurang bisa dibaca. Secara khusus. dalam tulisan ini penulis ingin melacak dan mengurai sejauhmana konsistensi dari seluruh sistem pemikiran Feyerabend dalam alur sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dengan berbagai tawaran metodis yang disodorkannya. yang selain disinyalir menjadi tonggak kebangkitan era filsafat ilmu pengetahuan baru pasca dominasi aliran Positivisme Logis. dipelajari dan diakses lebih jauh oleh para peminat filsafat pada khususnya serta kalangan dunia akademis pada umumnya. beberapa pandangan ilmu pengetahuannya tidak lebih hanya sekedar reaksi keilmuan mengenai presuposisi-presuposisi akan adanya berbagai deviasi (penyimpangan) nilai-nilai etis-praktis ilmu pengetahuan yang diterapkan oleh para ilmuwan kala itu saja. juga telah dianggap berhasil memecahkan kebuntuan . Maka berkaitan dengan persoalan itu pula. skripsi ini diangkat guna menelaah lebih jauh mengenai beberapa pokok pemikiran Feyerabend beserta aspek penting lain yang terdapat di dalamnya. Namun setelah melalui proses studi yang runut dan seksama. ternyata penulis menemukan beberapa endapan gagasan vital dan relatif belum banyak diperbincangkan muatan-muatan filosofisnya. yang dalam rekaan awal penulis.

atau terkesan hanya menjadi menara gading. kebenaran. yang telah beralih fungsi menjadi semacam arogansi intelektual. kita jadi mafhum bahwa semua klaim pengetahuan (fakta.monometodologi ilmu pengetahuan untuk direinterpretasikan dan direformulasikan secara paradigmatik dan anarkistik. dan pada akhirnya berujung pada retorika serta ideologi tertutup yang penuh kedangkalan makna dan kepentingan-kepentingan tertentu. Pondasi ilmu pengetahuan Feyerabend yang berusaha mendobrak keangkuhan format dan prosedur-prosedur sains modern ini telah menggugah kesadaran kolektif kita untuk merefleksikan ulang tentang asumsi-asumsi ilmiah sebagai simbol kemajuan peradaban modern. teori. sebab penerimaan atas pluri-metodologi Feyerabend ini memang mengandaikan adanya berbagai standar kebenaran. Maka dengan pluri-metodologi dan pandangan konstruktivis-kontekstualis seperti yang dinyatakan oleh Feyerabend. Tidak satupun yang diterima sebagai fakta. atau kesimpulan yang sele sai atau final. paling tidak urgensi . tanpa terikat oleh hukum hukum positivistik-logis yang berkembang sebelum masa Feyerabend. penulis pun berketetapan hati untuk menempatkan segi-segi fundamental filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend tersebut sebagai starting point dan landasan pemikiran dalam menggali dan mengolah ide-ide dasar ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend secara lebih jelas dan obyektif. Dengan mengacu pada realitas historis seperti itu. validitas) hanya dapat dimengerti dan diperdebatkan dalam konteks dan dalam paradigma atau komunitas tertentu pula. Harapannya.

yakni Paul Karl Feyerabend. terarah dan sesuai dengan maksud dan tujuan penulisan skripsi ini. maka tentu saja ruang lingkup masalah yang akan dijadikan sumber acuan nantinya terbatas dan terumus dalam masalah-masalah berikut. ada beberapa kata kunci yang perlu kiranya dicermati dari pola pemikiran yang dibangun oleh tokoh utama dalam fokus kajian skripsi ini. agar alur pembahasan ini tepat sasaran. Bagaimana prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend dalam filsafat ilmu pengetahuannya? 2. Bagaimana corak pemikiran anarkisme ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend? C. Banyak jalinan ide penting Feyerabend yang saling berhubungan dalam membentuk konsep -konsep penting lainnya sehingga semakin memperkokoh landasan teoretis yang dituangkan semasa hidupnya.topik dalam penulisan karya ilmiah ini bisa menambah koleksi seri tokoh filsafat ilmu di masa mendatang. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Adapun tujuan dan kegunaan penelitian ini adalah: 1. . Oleh karena itu. yaitu: 1. B. Rumusan Masalah Dari deskripsi umum di atas. Mengetahui prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend secara utuh dan mendalam.

dalam hal ini Paul Karl Feyerabend. artikel. 1990). hlm. Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi (Yogyakarta: Fak. D. karya d latar belakang historis yang an melingkupi sejarah kehidupan dan keilmuannya. Ushuluddin. metodologi penelitan merupakan i 15 serangkaian metode yang saling melengkapi dalam melakukan penelitian. Selanjutnya dalam proses pengumpulan data-data tersebut. penulis berusaha untuk menghimpun data primer maupun sekunder yang sekiranya ada kaitannya dengan pokok pembicaraan dalam skripsi ini. 9. Sifat dari penelitian ini sendiri adalah kajian kepustakaan (Library Research) yang memuat data-data dan bahan-bahan yang mendukung dan melengkapi terhadap isi pembahasan ini baik berupa buku. Metodologi Penelitian Menurut sumber bacaan yang ada. 2002). 61. ensiklopedi. jurnal. Metodologi Penelitian Filsafat (Yogyakarta: Kanisius. penelitian ini juga merupakan penelitian historis-faktual mengenai seorang tokoh16. Dalam kaitan ini. Mengetahui corak pemikiran anarkisme ilmu pengetahuan yang digunakan oleh Paul Karl Feyerabend secara jelas dan memadai. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. 16 15 . Charris Zubair.2. Data primer itu berupa buku masterpiece Paul Karl Feyerabend sendiri yang berjudul Against Method. Disamping itu. hlm. Anton Bakker dan A. penulis berusaha menyelami pikiran. dan sebagainya. sedangkan data sekunder adalah berupa karya -karya Feyerabend lainnya yang dilengkapi pula dengan tulisan atau karya ilmiah para ahli yang secara khusus mengkaji dan membahas tentang pemikiran Paul Karl Feyerabend.

sifat. hlm. peneliti menguraikan dan membahas secara sistematis dan terperinci seluruh konsepsi pemikiran tokoh yang bersangkutan... yaitu: (1) Deskriptif. Dalam hal ini. penulis akan menggambarkan dan menguraikan sepenuhnya dengan memakai analisis filosofis tentang konstruksi filsafat ilmu pengetahuan Feye rabend dan beberapa gagasan penting lainnya secara lebih lengkap dan jelas. peneliti berusaha menyelami karya tokoh untuk menangkap 18 kandungan arti dan nuansa yang dimaksudkan secara spesifik. latar belakang dan ide-ide dasar Feyerabend itu sendiri. hlm. (3) Analisis. Tinjauan Pustaka Diantara para filsuf sezamannya.. penulis akan merinci istilah-istilah atau pendapat-pendapat tokoh (Feyerabend) ke dalam bagian-bagian khusus tertentu sehingga dapat dilakukan pemeriksaan atas arti yang dikandungnya. Lihat juga dalam Anton Bakker dan A.17 Dalam konteks ini. 65. yang terutama didasarkan pada karya 17 Ibid. . Dengan cara ini. 98. Charris Zubair. 63. Dengan metode ini. diharapkan nantinya akan bisa diperoleh suatu pemahaman yang benar pula tentang ciri. paling berani dan paling ekstrem. 60. hlm.cit. 18 Sudarto. maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode-metode khusus. (2) Interpretatif. 19 Ibid. E. dengan maksud untuk memperoleh kejelasan tentang arti yang sebenar-benarnya. hlm.Untuk mempermudah prosedur pengolahan data itu.19 Dengan begitu. Metodologi Penelitian Filsafat (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1996). op. Feyerabend dinilai paling kontroversial.

Misalnya tulisan Prasetya T. di dalamnya diuraikan seluk -beluk kemunculan Feyerabend dalam ranah filsafat ilmu pengetahuan serta sejarah awal perjalanannya menjadi seorang anarkis. Panorama Filsafat Modern (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.. Kritik yang disampaikan melalui buku itu telah menggambarkan panggung filsafat pada tahun 70-an21 yang banyak mengundang polemik dan perdebatan sengit. sebagaimana yang dikutip oleh Endro Witj.F. dalam Fokus.monumentalnya.H. . 1987). hlm. hlm. Feyerabend: Rasionalitas Ilmu Yang Goyah. dijelaskan tentang definisi dari anti-metode dan anti-ilmu pengetahuan yang menjadi kritik utama dalam pemikiran Feyerabend. yang dimuat dalam antologi buku Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu. 1981).H. 22 Prasetya T. 1993). 17.W. Newton-Smith20 menilai bahwa tidak ada kritik terhadap ilmu pengetahuan setegar dan selantang kritik Feyerabend.. Selain itu pula. W. Sudah ada beberapa literatur yang mengupas jejak-jejak pemikiran Feyerabend. buku yang secara representatif dalam menampilkan dan menanggapi urgensi pemikiran Feyerabend juga diungkapkan oleh A. Dalam buku itu juga. yang berjudul ³Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend´. 34. The Rationality of Science (Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd. 21 Kees Bertens.22 Secara lengkap dan padat. Chalmers dalam sub-topik bahasan. Newton-Smith. ³Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend´. yang termaktub dalam bukunya Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian 20 W. ³Teori Anarkistis Feyerabend Tentang Pengetahuan´.W. Februari 1989. dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting).. baik dalam versi Bahasa Indonesia maupun asing. Against Method. Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia.

yang berintikan tema-tema aktual dan liberal Feyerabend secara menyeluruh. 25 24 23 Akhyar Yusuf Lubis. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. karya W. Dengan lantangnya.23 Buku ini secara teliti dan akurat memberikan ringkasan tentang segi segi kunci pandangan Feyerabend yang meliputi seluruh konstruksi epistemologinya dengan disertai kritik -kritik yang cukup argumentatif-korektif. . Ia tidak menawarkan metodologi apapun sebagai ganti induksi yang selama ini dijadikan panduan utama cara kerja ilmiah. Buku lain yang membicarakan sisi-sisi pemikiran Feyerabend adalah The Rationality of Science. The Rationality of Science (Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya (Jakarta: Hasta Mitra. mulai dari konsep anti-metode yang merupakan topik utama pemikirannya sampai gagasan -gagasan vital lainnya. dan seterusnya yang dibahas secara tuntas dan mendalam.H. Feyerabend justru memproklamirkan anarkisme epistemologis yang A. Newton-Smith. seperti pandangan Feyerabend tentang prosedur kontra-induksi. 1981). 1982). 2003). Newton Smith24. Satu lagi buku rujukan yang berkaitan dengan fenomena pemikiran Feyerabend adalah apa yang ditulis oleh Akhyar Yusuf Lubis dalam bukunya.H.. Chalmers.F.25 Seri pengantar tokoh filsafat ini memberikan garis-garis besar haluan sebagai gambaran awal yang sistematis tentang sosok filsuf Paul Karl Feyerabend yang kerapkali mendera sains dengan kritik-kritik kerasnya. W. ketidaksepadanan. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode.Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya.

berhasil membuka sumbat penyatuan metode yang selama ini diberhalakan oleh sains. Dari sekian literatur tersebut di atas, ada perbedaan yang cukup signifikan dengan maksud penelitian ini, yaitu bahwa artikel yang ditulis o Prasetya T.W. leh hanya sebatas mengenalkan sejarah awal dan garis -garis besar haluan filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend dalam pergulatannya dengan aliran Positivisme Logis. Sedangkan buku A.F. Chalmers dan W.H. Newton-Smith sekedar rangkuman dari beberapa substansi pemikiran Feyerabend tentang anarkisme ilmu pengetahuan saja yang pembahasannya terkesan ambivalen tanpa disertai jalinan sketsa ilmu pengetahuan Feyerabend dengan pemikiran tokoh -tokoh lain serta minimnya aspek historisitas mengenai kemunculan dan keterlibatan Feyerabend dalam wacana filsafat ilmu pengetahuan secara terperinci. Demikian juga dengan buku Akhyar Yusuf Lubis sebagai buku pengantar dalam memahami traktat-traktat berat filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend yang secara khusus hanya µmemandu¶ pembaca untuk mengenal ciri, sifat dan latar belakang pemikiran filsafat Feyerabend yang disisipi juga penjelasan tentang titik persinggungannya dengan model metodologi ilmu pengetahuan yang berkembang sebelumnya, semisal metodologi Galilean dan metodologi Positivisme Logis. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis secara spesifik berusaha menyelidiki pokok-pokok masalah yang menjadi sasaran kritik utama Feyerabend serta letak-letak perbedaan fundamental yang terdapat dalam corak pemikiran filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend dengan para filsuf ilmu pengetahuan

lainnya, tanpa terperangkap ke dalam pemihakan-pemihakan subyektif yang terkesan berlebihan dan kontraproduktif. Selain daripada itu, penulis juga akan mengkaji sejauhmana konsekuensikonsekuensi yang ditimbulkan dari dasar-dasar pemahaman epistemologi

Feyerabend dalam mindset sosio-kultural masyarakat yang akhir-akhir ini secara tidak kritis cenderung hanya terpaku pada satu bentuk kebenaran monologis yang bersumber dari konsepsi keilmuan tertentu.

F. Sistematika Pembahasan Untuk lebih mudah dan urutnya penulisan ini, maka pembahasan dalam skripsi ini akan dikelompokkan menjadi beberapa bab dan sub-bab, yaitu: Diawali dengan Bab I, yang mencakup latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika pembahasan. Kemudian Bab II, berisi tentang biografi singkat Paul Karl Feyerabend yang terdiri dari riwayat hidup, karya serta tokoh-tokoh yang membentuk watak dan mempengaruhi karakteristik pemikirannya. Selanjutnya Bab III, menyarikan tentang prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend yang berkisar tentang persoalan apa saja boleh (anything goes), ilmu yang tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama, ilmu tidak harus mengungguli bidang-bidang pengetahuan lain, dan kebebasan individu. Disusul dengan Bab IV, yang merupakan intisari pembahasan yang mengetengahkan tentang penafsiran Paul Karl Feyerabend terhadap makna

anarkisme sebagai kritik atas ilmu pengetahuan itu sendiri berupa anti-metode (Against Method), dan anti-ilmu pengetahuan (Against Science). Terakhir Bab V, adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran dari penulis berdasarkan seluruh hasil pembahasan yang dilakukan dan ditekuni selama dalam proses awal sampai akhir penyusunan skripsi ini. BAB II BIOGRAFI PAUL KARL FEYERABEND (1924-1994)

A. Riwayat Hidup dan Karyanya Paul Karl Feyerabend lahir pada tahun 1924 di Wina, Austria. Tahun 1945 ia belajar seni suara teater, dan sejarah teater di Institute for Production of Theater, the Methodological Reform the German Theater di Weimar. Sepanjang hidupnya ia menyukai drama dan kesenian. Ia belajar Astronomi, Matematika, Sejarah, Filsafat. Menurut pengakuannya, kalau ia mengingat masa itu, ia menggambarkan dirinya sebagai seorang rasionalis. Maksudnya, ia percaya akan keutamaan dan keunggulan ilmu pengetahuan yang memiliki hukum -hukum universal yang berlaku dalam segala tindakan yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Keyakinan rasionalitasnya pada masa itu tampak dari kiprahnya dalam Himpunan Penyelamatan Fisika Teoretis (A Club for Salvation of Theoretical Phsysics).26 Keanggotaannya dalam kelompok tersebut tentu melibatkan dirinya dengan eksperimen-eksperimen ilmu alam dan sejarah perkembangan ilmu fisika
26

Prasetya T.W., "Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend", dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting), Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 48.

Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. Pertama. Ia telah menyatakan diri sebagai seorang ³anarkis´ yang menentang penyelidikan terhadap aturan-aturan penggantian teori dan pembangunan kembali pemikiran rasional dari kemajuan kemajuan ilmu pengetahuan. sambutan para fisikawan/filsuf terhadap teori mekanika kuantum yang dianggap sebagai dukungan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. bahkan ia berpendapat bahwa perkenalannya dengan Popper semakin memperteguh keyakinannya itu. Ia melihat bahwa fisika kuantum telah menolak beberapa patokan dasar fisika yang ketika itu dianggap modern (Newtonian) yang di atasnya prinsip-prisnip positivisme ditegakkan. Dari sinilah ia melihat hubungan yang sesungguhnya antara eksperimen dengan teori yang ternyata relasi itu tidak sesederhana apa yang dibayangkan dan dijelaskan dalam buku-buku pelajaran selama ini. Terjadinya perubahan pemikiran dalam Paul Karl Feyerabend itu setidaknya disebabkan oleh beberapa faktor. karena adanya perkembangan baru dalam ilmu fisika. Yang Kedua. Ia memperoleh gelar Ph. Kuhn. Thomas S. ia mengikuti seminar-seminar filsafat dari Karl Raimund Popper di London. hlm. sangat mempengaruhi pemikiran filsafatnya. dan terutama Imre Lakatos. Gagasan Popper. 2003). . 101-102. terutama fisika kuantum.itu sendiri.27 Pada permulaan tahun 50-an.D. Waktu itu ia masih tetap berpegang teguh pada keyakinan rasionalitasnya. dalam bidang fisika dari Wina University dan kemudian mengajar di California University. Sikap Feyerabend tentang ³apa saja boleh´ dan 27 Akhyar Yusuf Lubis.

5. Sejarah Ilmu Pengetahuan dan Filsafat di Austria. Lagi pula seperti yang ia akui. Pada tahun -tahun itu pula ia mulai mengalami pertobatan pemikiran. yang meniupkan pemikiran pemikiran anarkis terhadapnya. Tahun 1964 -1965 proses John Losee. µhe said. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. Seperti yang pernah dikatakan Lakatos padanya. tempat 28 ia mengajar sampai akhir hayatnya. µyou have such strange ideas. Lakatoslah yang mendorongnya untuk menuliskan gagasan-gagasannya. Feyerabend menyebutkan bahwa Lakatos dianggap sebagai saha at b anarkisnya. ia menjadi pengajar di Bristol. 2001). Fourth Edition (New York: Oxford University Press. A Historical Introduction to the Philosophy of Science.28 Pada tahun 1953. 177. 1975). bermacam-macam patokan telah dilanggar. Feyerabend mempersembahkan buku ini kepada Imre Lakatos dengan menulis To Imre Lakatos. Tahun -tahun berikutnya mengajar Estetika. vii. hlm. 29 Paul Karl Feyerabend. Jerman. hlm. friend and fellow-anarchist. Dalam pertobatannya itu. Tidak bisa tidak pertobatannya itu merupakan akibat dari perkenalannya dengan Imre Lakatos. why don¶t you write them down 30 ? Dalam pertobatannya itu ia melihat bahwa dalam sejarah mekanika kuantum.29 Kelak. Feyerabend mengajukan pertanyaan: apakah manusia tidak mengejar ilusi-ilusi kalau mencari hukum universal guna mencapai hasil dalam ilmu pengetahuan? Tahun 1958 ia menjadi guru besar Universitas California di Berkeley. Selandia Baru dan Amerika Serikat. Inggris.. µPaul. hlm. 30 Ibid.bahwa sasaran dari kreativitas dalam ilmu pengetahuan itu adalah sebagai bentuk pengembangbiakan teori-teori. dan anehnya patokan itu dijunjung tinggi oleh para filsuf bagi perkembangan ilmu pengetahuan. .

Walaupun mulai dulu sampai sekarang banyak usahausahanya yang disia-siakan.. Ia giat melakukan perlawanan terhadap setiap gagasan ilmu yang memiliki metodologi tersendiri untuk membatasinya dengan yang bukan ilmu dan ilmu palsu. Philosophy of Science: Contemporary Readings (London: Routledge. Maka sebagai jawaban atas kritik terhadap pemikirannya itu.W.32 32 31 Prasetya T. 141.. suatu karangan panjang yang pada tahun 1975 diolah lagi menjadi sebuah buku dengan judul yang sama pula. 49. Mungkin Feyerabend merupakan salah satu filsuf yang sangat provokatif pada abad ke-20. op. tetapi usaha itu bisa dijadikan sebagai dasar persiapan yang masih layak dan berharga bagi bentuk-bentuk perlawanan lain.cit. Namun begitu. hlm. munculnya tanggapan dari berbagai pihak itu seolah -olah justru semakin memperkokoh pemikiran anarkisnya.31 Puncak pemikiran anarkisnya tertuang dalam Against Method yang terbit pada tahun 1970. hlm. ia pun kemudian menerbitkan lagi beberapa buku yang memuat penjelasan serta argumentasi atau perluasan gagasan yang sudah diulas dalam buku yang dikritik sebelumnya. 2002). diskusi dan kritik yang cukup beragam corak dan pemaknaannya dari para tokoh filsafat dan kaum ilmuwan secara luas.pertobatannya dipercepat karena percakapannya dengan Carl Freither von Weizsäcker di Hamburg mengenai dasar-dasar mekanika kuantum. Pertobatannya itu juga dipercepat oleh keraguannya terhadap bangunan sistem pendidikan intelektualistis di tempat ia bekerja sebagai pengajar. Yuri Balashov and Alex Rosenberg (eds. . Terbitnya buku itu ternyata mampu menyedot dan menyulut antusiasme publik dengan adanya berbagai kontroversi.).

panggung filsafat ilmu pengetahuan dikuasai oleh aliran Positivisme Logis.Dalam analisis Don Cupitt. hlm. 2. 2001). relativitas umum dan teori kuantum. Pengantar Epistemologi dan Logika (Bandung: Remadja Karya. Paul Karl Feyerabend dalam Wacana Filsafat Ilmu Pengetahuan Dalam menempatkan konteks pemikiran Feyerabend. seperti transmutasi spesies. Soedjono Dirdjosisworo. 34 . terj. Kelompok ini berusaha memperbaharui positivisme abad ke 19 yang telah dirintis oleh tokoh positivisme klasik August Comte (1798-1857) dan para pengikutnya yang dinilai diwarnai pemikiran yang bersifat dogmatis dan indoktrinasi ideologi yang mengarah kepada absolutisme. 1985). penulis membatasi diri mulai dari tahun 1920-an sampai Feyerabend muncul di panggung filsafat. Feyerabend berargumen bahwa apa yang ia sebut dengan ³teori pengetahuan anarkistik´ merupakan pemaknaan ulang terhadap pengetahuan saintifik.33 B. 204-205. Sudah banyak contoh sejarah yang mengesampingkan hal-hal semacam itu sebagai intuisi tandingan teori-teori saintifik. Sebab beberapa usaha untuk menjalankan aturan-aturan yang ada sebelumnya hanya mengundang pertentangan seperti yang nampak jelas pada kasus konflik agama dan (menurut Feyerabend) juga berlaku pada kasus sains. baik yang g termasuk kategori sains asli ataupun yang bukan sains sekalipun. After God: Masa Depan Agama. Abdul Qodir Shaleh (Yogyakarta: IRCiSoD.34 33 Don Cupitt. Baik filsuf maupun yang lainnya berhak menetapkan dan menggambarkan apa saja yan diperbolehkan sebagai metode saintifik. sebagai seorang filsuf sains dari California yang sangat Californian sekali. hlm. Semenjak tahun 1920.

Filsafat Comte adalah anti-metafisis. Ia hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah. 1992). merupakan tahap dimana manusia percaya akan kemungkinan adanya kekuatan adikodrati yang mutlak. sehingga tidak ada gunanya mencari hakikat kenyataan yang tidak mempunyai arti faktual sama sekali. Sebab bagi Comte. Oleh karena itu. Berdasarkan kepercayaan animistis ini. hlm. politeisme dan monoteisme. tahap metafisis yang abstrak dan tahap positif-ilmiah´.35 Positivisme klasik merumuskan hukum-hukum positif itu sebagai berikut: ³Setiap perkembangan pemikiran rohani dan ilmu pengetahuan manusia secara berturut-turut melewati tiga tahap (stadia) yang berbeda. Tetapi lawan dari filsafat positivisme ini bukanlah suatu filsafat negatif. melainkan filsafat spekulatif atau obyek metafisik. . manusia beranggapan bahwa benda-benda itu merupakan sesuatu yang bergerak. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern (Jakarta: Gramedia. hanya ada satu hal yang penting. Hubungan hubungan antara gejala-gejala itu disebut oleh Comte dengan konsep -konsep atau hukum-hukum positif yang dapat dipersepsi oleh akal pikiran manusia. yakni tahap teologis yang berdasarkan fantasi. ³mengetahui agar manusia dapat memperkirakan apa yang akan terjadi´. manusia harus menyelidiki gejala -gejala dan hubungan-hubungan antara fenomena-fenomena fisik-faktual tersebut sehingga ia dapat memproyeksikan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. 54-55. Tahap teologis. Positivisme klasik hanya mengakui tentang gejala-gejala (fenomen-fenomen). Dalam tahap teologis ini terdapat tiga tahap lagi: animisme. ³mengetahui supaya siap untuk bertindak´. yaitu savoir pour prévoir. Banyak benda disebut suci 35 Harry Hamersma.

artinya dapat dinyatakan atau dibuk tikan (verifiablepositive knowledge). . Aliran Positivisme Logis membagi pengetahuan hanya terbatas kepada ilmu matematika (ilmu pasti) dan ilmu-ilmu lain yang diperoleh dari gejala-gejala yang dapat diamati oleh indera. diatur dalam suatu sistem sehingga menjadi paham politeisme dengan berbagai macam spesialisasinya. Dari sini kemudian manusia berusaha mencari hukum-hukum alam dengan memakai kemampuan akal budi yang dimilikinya. alam pikiran manusia secara simbolis beralih kepada kekuatan-kekuatan kosmis yang abstrak. yakni satu keilahian yang pada akhirnya melahirkan pemikiran tentang monoteisme. 1995). Pada tahap positif-ilmiah.36 Kemudian dalam tahap metafisis. hlm.dan sakti yang biasa diidentikkan dengan dewa-dewa. semua gejala tersebut dikembalikan pada satu sumber kekuatan tunggal..37 Di lain pihak. seperti dewa api. kaum Positivisme Logis itu sendiri menolak filsafat yang tidak menghiraukan kenyataan dan susunan serta hasil ilmu pengetahuan empiris. hlm. 114115. Seperti halnya dengan Bacon yang mendeskripsikan semua 36 Ibid. dan sebagainya. dewa angin. Filsafat Umum (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 37 Asmoro Achmadi. Pengetahuan semacam ini yang disebutnya sebagai pengetahuan positif. 55. Mereka menganggap bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang telah diatur dan dirumuskan dalam kaidah -kaidah ilmu alam dan diperoleh dari pengamatan inderawi serta dapat diperiksa secara empiris. Selanjutnya. dewa panen. manusia mulai sadar dan mengetahui bahwa upaya teologis dan metafisis itu tidak ada gunanya. dewa lautan.

1996). Hanafi. Pengantar Filsafat. sebab mereka menganggap bahwa ilmu formal (matematika.38 Kiranya pandangan Positivisme Logis ini mempunyai dasar -dasar persamaan ontologis dengan aliran Naturalisme yang juga menentang segala bentuk pikiran yang menyatakan adanya suatu dunia yang bersifat adialami atau transendental. 4. yang memberikan perangkat-perangkat hukum pada interpretasi terhadap observasi yang terbatas. hlm. 1981). sehingga mengakibatkan pembicaraan tentang Tuhan pun sama sekali mereka tolak. (Yogyakarta: Tiara Wacana. Kattsoff. 1974). Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat (Jakarta: Pustaka Alhusna. The Structure of Scientific Theories (Urbana University of Illionis Press. logika) bukan sebagai pengetahuan yang berhubungan dengan sesuatu di luar bahasa (kenyataan). hlm.).40 Positivisme Logis bertitik tolak dari data empiris dan tetap setia pada sifatnya yang empiristis dengan menganggap hukum -hukum logis sebagai hubungan antara istilah-istilah. terutama mengenai sebab pertama (irst f cause). kalangan Positivisme Logis menolak persoalan sebab-sebab terakhir (final causes) yang menjadi pokok perdebatan filsafat klasik. 65.39 Bagi aliran ini. 40 . persoalan-persoalan ilmiah harus dipecahkan secara lebih tepat dan sistematis dengan menggunakan teknik -teknik logika matematika. 39 Louis O. 116. Ilmu pengetahuan sendiri dirumuskan dan diuraikan sebagai kalkulasi aksiomatis. Frederick Suppe (ed.pengetahuan atas dasar pengalaman dan pengamatan inderawi. alih bahasa Soejono Soemargono. hlm. Ilmu formal sama sekali 38 A. hasil pengamatan dan fakta yang dinyatakan dengan memakai ungkapan dasar dalam suatu ilmu yang bercorak empiris atau ² dalam pengertian Rudolf Carnap²³kalimat protokol´.

42 Jean Piaget.tidak menyinggung tentang bukti dan data empirik (kenyataan). Yudian W. 1995). Filsafat Sains Bagian Pertama: Ilmu Pengetahuan Secara Umum. (Yogyakarta: Pusat Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia. Sejarah Filsafat. 44 Henry van Laer. Positivisme Logis menganggap logika dan matematika mencakup sebuah sintaksis dan semantik umum sehingga struktur-struktur matematis dan logis untuk menjelaskan himpunan.43 Menurut Positivisme Logis. 43 Burhanuddin Salam. 1985). Persoalan tentang nilai sebuah teori atau makna suatu penjelasan dianggapnya tidak berarti apa-apa karena tidak memberikan jawaban yang pasti dan terukur. Ilmu dan Teknologi (Jakarta: Rineka Cipta. 193. hlm. hlm. Strukturalisme. hanya apa yang nampak jelas dan berg una saja yang secara prinsipil bisa diverifikasi melalui observasi dan eksperimentasi. 2000).41 Sebagai sebuah aliran epistemologi. eksperimen dan verifikasi. Susunan Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Gramedia. Hermoyo (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. tetapi hanya menampilkan jalinan hubungan antara lambang -lambang logiko-matematis yang membuka kemungkinan pemakaian data observasi yang telah diperoleh untuk menghitung (menyusun penjabaran logis dan deduksi).). hlm. transformasi maupun aspek-aspek terkecil dari logika hanya merupakan struktur-struktur linguistik. 133.44 Prinsip verifikasi sebagai sentral dalam doktrin Positivisme Logis menegaskan bahwa suatu ungkapan baru akan mempunyai makna manakala ia menunjuk pada pengalaman langsung dan konkrit. terj. 1995).42 Positivisme sebagai sebuah pandangan filsafat mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terjadi berdasarkan hukum -hukum dapat dibuktikan dengan teknik observasi. 82. Asmin (ed. . hlm. 63. Dan bahasa figuratif atau 41 Cornelis Anthonie van Peursen.

kiasan juga hanya akan dianggap mempunyai akan makna apabil diterjemahkan a ke dalam bahasa literal hurufiah. Positivisme Logis menggabungkan argumen epistemologis dengan argumen semantik, persis seperti dilakukan oleh Locke dan Hobbes yang melihat kerancuan dan kekaburan kategori itu terdapat dalam penggunaan kiasan metaforis bahasa. Mereka yakin pula bahwa filsafat hanya bisa maju jika menggunakan bahasa lugas literal murni. Imbasnya lantas timbul keyakinan umum yang semakin kuat bahwa dalam dunia kebahasaan manusia sebetulnya yang berperan besar adalah memang bahasa literal itu sendiri.45 Positivisme Logis menempatkan filsafat ilmu pengetahuan sebagai logika ilmu. Pandangan semacam itu menguasai dan diterima luas oleh para filsuf ilmu pengetahuan pada zaman itu. Penerimaan secara luas ini membuat pandangan semacam itu oleh Frederick Suppe disebut The Received View.46 Sebagai tradisi intelektual yang berakar pada ilmu pengetahuan alam kodrati (natural sciences), pesatnya perkembangan kelompok yang lazim juga dinamakan empirisme neo klasik ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain karena memang kesan baik yang diberikan oleh ilmu fisika sebagai disiplin ilmu yang prestisius dengan teknik-teknik penelitian yang impresif, di samping itu juga disebabkan oleh adanya orang-orang besar dan terhormat dalam bidang ilmu pengetahuan yang terdapat dalam kelompok ini seperti Albert Einstein.47

45

I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 126-127.
46

Frederick Suppe (ed.), op.cit., hlm. 161.

47

Soeroso H. Prawirohardjo, Pengamatan Meta-Teoritis atas Ilmu Pengetahuan dan Implikasinya Bagi Program Pendidikan Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1984), hlm. 9-10.

Berdasarkan kronologi sejarahnya, Positivisme Logis muncul pertama kali sebagai suatu logika bagi ilmu-ilmu fisika. Tahun 1895, Ernst March menjabat sebagai guru besar pertama filsafat ilmu-ilmu induksi di Universitas Wina, dan pada tahun 1922, posisi itu digantikan oleh Moritz Schlick, seorang murid dari Max Planck yang pada saat itu ia memusatkan karyanya pada filsafat fisika. Kemudian pada tahun 1929, kelompok ini menerbitkan sebuah manifesto yang berisi tentang tujuan perkumpulan itu dan memberinya nama: ³ Scientific A Conception of the World: The Vienna Circle´ (Suatu Konsepsi Ilmiah Tentang Dunia: Lingkaran Wina).48 Para anggota yang ikut bergabung dalam kelompok ini adalah para kaum positivis yang kebanyakan adalah ahli ilmu alam, matematikus dan filsuf berlatar belakang matematika. Dalam tulisan Morton White disebutkan bahwa aliran Positivisme Logis ini telah dipelopori oleh Moritz Schlick yang kala itu menjabat sebagai guru besar Filsafat di Wina, dan resmi dibentuk pada tahun 1923 dengan sebutan The Vienna Circle. Secara khusus, Schlick dan Wittgenstein mengunjungi Amerika pada tahun 1929 untuk memperkenalkan aliran tersebut. Namun ketika Hitler berkuasa, mulailah aliran Positivisme Logis ini disebut-sebut sebagai gerakan pemikiran yang sangat berbahaya. Popkin & Stroll menambahkan pula bahwa para anggota Lingkaran Wina ini adalah Moritz Schlick, Hans Hahn, Friederich Waismann, Herbert Feigel, Otto Neurath dan Rudolf Carnap.49

48

Roy J. Howard, Pengantar atas Teori-teori Pemahaman Kontemporer: Hermeneutika; Wacana Analitik, Psikososial, dan Ontologis, Ninuk Kleden-Probonegoro (ed.), (Bandung: Nuansa, 2000), hlm. 51.
49

Bawengan, G.W., Sebuah Studi Tentang Filsafat (Jakarta: Pradnya Paramita, 1983), hlm. 113.

Kelompok ini pernah mengadakan seminar atau studi kelompok dengan melakukan pembahasan pada tulisan Wittgenstein yang sangat teliti serta didasarkan pada pandangan bahwa filsafat bukanlah teori, melainkan suatu aktivitas. Mereka berpedoman pada pendapat bahwa fils afat tidak mungkin menghasilkan pernyataan, baik pernyataan yang salah maupun pernyataan yang benar. Filsafat hanya memberikan penjelasan mengenai pengertian suatu

pernyataan; mengemukakannya secara ilmiah, matematik atau bahkan tidak mempunyai arti apapun. Inti pandangan mereka terletak pada keyakinan bahwa setiap pernyataan mengikuti ketentuan logika formal dan bahwa pernyataan itu harus bersifat ilmiah. Positivisme Logis ini biasa disebut sebagai hasil karya Ludwig Josef Johann Wittgenstein (1889-1951), yaitu dalam buku berjudul Tractatus LogicoPhilosophicus yang terbit pada tahun 1921, lalu berkembang ke seluruh dunia termasuk Inggris dan Amerika Serikat. Dalam tulisan tersebut, Wittgenstein menyatakan bahwa filsafat bukanlah suatu teori, melainkan suatu aktivitas atau kegiatan. Wittgenstein pun yakin bahwa teka-teki dan kekacauan filsafati akan dapat diatasi oleh analisis bahasa. Wittgenstein mensinyalir bahwa apabila suatu pernyataan dapat diajukan, maka pernyataan itu pun seyogianya dapat dijawab seca jelas dan tuntas. Tetapi ra kenyataannya, ternyata tidak semua pernyataan yang diajukan itu benarbenar bermakna. Maka agar supaya kita tidak terperangkap ke dalam persoalan persoalan filsafati yang tidak berarti, yang bersumber dari pernyataan -pernyataan yang tidak bermakna itu, maka dalam pandangan Wittgenstein harus ditemukan

Wittgenstein menegaskan bahwa arti ditentukan oleh bagaimana suatu kata digunakan dalam konteksnya. yang penting bukanlah mengatur bagaimana suatu ungkapan bahasa itu harus berarti atau bermakna. Dan untuk memahaminya kita perlu mengetahui karakteristik-karakteristik khusus dari kelompok yang menciptakan dan menggunakannya. Metode itu bersifat netral. Oleh karena itu. Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Kanisius. kita harus mengalisis bentuk -bentuk hidup (forms of life) sampai ke dasar terdalam dari setiap permainan bahasa. Analisis bahasa secara logis tanpa mereduksikan sesuatu sehingga pada prinsipnya hanya sekedar membuat lebih jelas tentang maksud yang dikatakan lewat suatu ungkapan bahasa verbal.peraturan-peraturan tentang permainan bahasa (language game) yang digunakan lewat ungkapan bahasa sehari-hari. Tjun Surjaman (Bandung: Remaja Rosdakarya. . epistemologis ataupun metafisik. hlm. seseorang akan dapat memperoleh kejelasan ( larify) arti bahasa c sebagaimana yang diutarakan oleh orang yang menggunakan bahasa itu. Kuhn.50 Senada dengan Wittgenstein. 1996). seluruh ajaran filsafat Wittgenstein itu tidak lain hanya menawarkan suatu metode yang sering disebut sebagai metode analisis bahasa. 1993). Kuhn juga berpendirian bahwa pengetahuan sains seperti bahasa pada dasarnya adalah milik bersama suatu kelompok. tanpa pengandaian filsafati. bagi Wittgenstein. 122. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains.51 Apabila disimak secara seksama. 203. Berbeda dengan Ayer. tetapi kita harus bisa menangkap apa arti yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa itu. hlm. Lewat analisis bahasa. 51 Thomas S. terj. Metode analisis 50 Jan Hendrik Rapar.

Ernst March termasuk juga Einstein. .. G.52 Disamping itu. 114. datang ke Wina pada ta hun 1927 dan ikut secara aktif di Lingkaran Wina. Para ilmuwan yang terkenal itu diantaranya adalah Ludwig Boltzmann. Bagi Feyerabend.. Pengalaman yang kita alami senantiasa sudah terefleksikan yang dinyatakan dalam bahasa.53 52 Akhyar Yusuf Lubis..cit. Helmholtz.W. yakni Rudolf Carnap.cit. Interpretasi yang dilakukan setelah dipersepsi pun. hlm. sebagaimana diutarakan Feyerabend. distorsi itu tidak hanya terjadi pada waktu obyek atau peristiwa dipresepsikan. Oleh karena itu. fakta-fakta itu sesungguhnnya tergantung pada teori yang menjadi mediasi dalam proses pemahaman. 111-113. op. Ia merupakan seorang tokoh kelahiran Jerman. Positivisme Logis ini juga biasa disebut sebagai Logika Empirisme dengan pelopornya yang sangat menonjol. Pierre Duhem.bahasa yang dikemukakan oleh Wittgenstein ini disebut juga dengan metode klarifikasi. Pandangan Positivisme Logis bahwa bahasa merupakan gambaran realitas inilah yang ditolak Feyerabend. Para anggota aliran ini sendiri adalah bekas ilmuwan yang terjun ke dunia filsafat dan sebelumnya telah berhasil membentuk suatu kegiatan di Lingkaran Wina. bahasa selalu terbatas untuk mengungkapkan totalitas pengalaman. op. juga dipengaruhi oleh pengalaman dan harapan -harapan dari orang yang berusaha menafsirkan struktur realitas itu. Ia adalah seorang ahli yang terlatih dalam bidang fisika dan juga seorang logisian yang rajin bekerja keras. 53 Bawengan. hlm. Jadi. Sedangkan pengalaman dan pemahaman itu sendiri terjadi lewat bahasa.

Mereka mengembangkan ajaran yang disebut ³kriteria pengertian empiris´ dan menolak setiap ajaran. mereka menolak metafisika karena mereka sependapat bahwa metafisika tidak dapat ³dipertanggungjawabkan´ secara ilmiah. Dalam perspektif Morton White. juga berupaya mengeliminasi metafisika yang didasarkan pada prinsip verifikasi. Salah satu pemikir kontemporer filsafat analitik terkenal yang memiliki pengaruh cukup besar. Pada umumnya. empirisme dan logika tradisional. Disisi lain mereka juga membantah sekalgus i menyerang metafisika dan etika yang gagasan awalnya sudah mulai dilontarkan beberapa filsuf analitik yang embrionya berasal dari Lingkaran Wina itu sendiri. militan. Truth and Logic (1963). pandangan dan pengertian yang tidak memakai rumusan matematik dan empiris.Positivisme Logis sebenarnya merupakan perkawinan antara dua alira n. setidaknya terdapat dua kutub dalam aliran Positivisme Logis yang patut juga kiranya mendapat perhatian cermat dalam diskursus perdebatan filsafat ilmu pengetahuan kontemporer. yaitu agar suatu pernyataan ( statement) benar-benar penuh . Pihak kedua adalah kelompok positif yang bersikap mengagumi logika dan ilmu pengetahuan. Tetapi sebutan positivisme kemudian diralat menjadi empirisme. sebab menghilangkan sebutan ³positivisme´ seperti kata Morton White adalah berhubungan erat dengan kritik terhadap ajaran August Comte yang menggunakan istilah ³positivisme´ juga. penuh kritik tajam dan menganggap remeh pula pandangan -pandangan pendahulunya. Yang pertama adalah pihak negatif. Alfred Jules Ayer (1910-1970) lewat bukunya Language. suatu golongan yang ekstrem.

lewat pendapatnya tentang berguru pada ilmu-ilmu. Kedua. Bahkan mungkin saja yang disalahkan (difalsifikasi) itu menjadi benar dalam arti verifiable (dapat diuji) secara ilmiah. apalagi hanya sekedar dijadikan acuan untuk menerapkan prinsip ³mungkin´ atau ³bisa jadi´ benar (probability). terj. Popper mengintroduksikan suatu zaman filsafat ilmu pengetahuan baru yang dirintis oleh Thomas Samuel Kuhn. lewat teori falsifikasinya Popper menjadi orang pertama yang meruntuhkan dominasi aliran Positivisme Logis dari Lingkaran Wina. . 1998).arti. Pertama. munculnya Karl Raimund Popper menandai kreasi wacana baru dan sekaligus merupakan masa transisi bagi suatu zaman filsafat ilmu pengetahuan baru. yakni dibenarkan secara empiris. hlm. Popper menentang Lingkaran Wina terutama dalam distingsi antara ungkapan yang disebut meaningful dan meaningless berdasarkan kemungkinannya untuk diverifikasi. Oleh Popper distingsi itu diganti dengan apa yang disebut garis 54 Muhammad Baqir Ash-Shadr. Tokoh positivisme logika modern Inggris dan salah satu penganut empirisis logis ini menandaskan bahwa kata ³makna´ dalam positivisme logis berarti gagasan yang kebenaran dan kepalsuannya dapat ditegaskan dalam batas-batas pengalaman inderawi. 59. Namun Popper sendiri dalam hal ini mengakui bahwa ia tidak pernah berasumsi dengan memaksa kesimpulan yang telah diverifikasi dapat ditetapkan sebagai sebuah jaminan kebenaran. Popper membuka babak baru sekaligus sebagai masa transisi dipicu oleh adanya dua alasan penting.54 Pada tahap perkembangan selanjutnya. Muhammad Nur Mufid bin Ali (Bandung: Mizan. Falsafatuna. maka pernyataan tersebut haruslah dapat diverifikasi oleh salah satu atau lebih dari kelima pancaindera.

55 Popper menegaskan bahwa suatu ungkapan bersifat empiris atau tidak. but not only tautological transformation of deductive logic whose validity is not indispute´. hlm. 56 . Ia mengatakan. Sebagai ganti azas pembenaran. Pokok persoalannya adalah mustahilnya pembenaran proses induksi.O. Christiaan R.M. perbandingan logis dari kesimpulan antar teori dalam hal konsistensi internal dari sistem yang diuji. 1991). kecuali hanya perubahan sifat pengulangan kata dari logika deduktif yang memiliki derajat kebenaran yang tidak lagi diperselisihkan. 160. 1968). ³....the method of falsification presupposes no inductive inference. Popper menyodorkan prinsip falsifiabilitas. Menurut Popper. Pertama. penyelidikan terhadap bentuk logis dari teori dengan obyek penelitian teori tersebut untuk memastikan apakah teori tersebut mempunyai karakter suatu 55 Karl Raimund Popper. The Logic of Scientific Discovery (New York: Harper & Row Pub. Popper menandaskan bahwa metode falsifikasi itu mengisyaratkan tidak adanya kesimpulan deduktif. Kedua. hlm. Verhaak dan Robert Haryono Imam. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. pokok demarkasi terletak pada ada tidaknya kemungkinan falsifikasi bagi ungkapan yang bersangkutan. tidak dapat ditentukan berdasarkan azas pembenaran (verifiability) sebagaimana dianut oleh aliran Positivisme Logis.batas (demarcation) antara ungkapan yang ilmiah dan yang tidak ilmiah. 40-42.56 Popper lantas menyarankan dilakukannya suatu deductive testing of theories untuk menguji kesahihan (validasi) dan ketepatan (akurasi) suatu teori ilmu pengetahuan lewat empat jalur berbeda. artinya ciri pengetahuan ilmiah adalah dapat dibuktikan salah.

Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu (Bandung: Rosdakarya. maka teori yang digunakan untuk mendeduksi teori-teori tersebut secara logis tidak dapat diterima sebagai sebuah hasil kebenaran yang sah. berarti kesimpulan tunggal itu acceptable (dapat diterima secara logika) atau verified (dapat dibuktikan secara empiris). perbandingan dengan teori-teori lain dengan tujuan untuk menentukan apakah teori itu telah memenuhi standar mutu hip otesis umum sebagai scientific advance yang tahan dari berbagai ujian dan kritik maupun diskusibilitas publik sehingga hal itu akan semakin mengukuhkan corroboration) ( keberadaannya dalam setiap proses pencarian kebenaran ilmu pengetahuan.teori empiris atau teori ilmiah. pengujian terhadap teori dengan cara aplikasi empiris dari kesimpulan yang berasal dari teori tersebut. . Bila cara 57 Conny R. Dengan itu pula.. Semiawan. 1991). suatu pernyataan tunggal dapat menghasilkan suatu prediksi kemungkinan baru yang dapat diuji (applicable) yang dideduksi dari suatu teori pengetahuan tertentu. et. Ketiga. Tetapi jika kesimpulan tersebut negatif atau falsified (tidak dapat dibuktikan keabsahannya).al. atau juga mungkin terjadi hubungan tautologis (pengulangan kata yang mengaburkan makna) diantara teori-teori tersebut. maka diambil suatu putusan melalui perbandingan antar pernyataan tersebut dengan hasil aplikasi praktis dan eksperimen. Popper serentak merubah seluruh pandangan tradisional atau The Received View yang dipegang oleh Lingkaran Wina. Dari cara yang terakhir inilah.57 Dengan begitu Popper dianggap berhasil memberikan pemecahan bagi masalah induksi. hlm. 51-52. Setelah dilakukan seleksi terhadap beberapa pernyataan (prediksi). Keempat. Apabila putusan itu positif.

.58 Dari situ Popper meyakini 58 Christiaan R. sebab masih ada kondisi lain yang diperlukan oleh ilmu untuk dapat berkembang lebih maju. Pertanyaan-pertanyaan tentang teori seperti: ³Apakah ia falsifiable?´ ³Bagaimana tingkat falsifiabilitasnya?´ dan ³Sudahkah ia difalsifiable?´ dalam penilaian mereka kini lebih layak diganti dengan.M.O. Popper menegaskan bahwa cara kerja (berdasarkan prinsip falsifiabilitas) itu bisa dilihat secara nyata dalam proses pertumbuhan dan perkembangan sejarah ilmu -ilmu. dikatakan bahwa tidak hanya hipotesa melainkan juga hukum dan te yang ori kokoh dalam proses falsifikasi lalu ditinggalkan. ³Apakah teori yang baru ini memiliki daya saing untuk menggantikan teori yang ditantangnya?´. op. Pandangan ini lebih menekankan pentingnya manfaat relatif teori teori yang bersaing daripada manfaat suatu teori tunggal.kerja ilmu pengetahuan tradisional didasarkan pada prinsip verifikasi. . hlm. Sedangkan pendapat Popper tentang berguru pada sejarah ilmu -ilmu juga mengintroduksikan zaman filsafat ilmu pengetahuan baru. Namun menurut kaum falsifikasionisme sofistikit. Jadi disini berlaku pragmatisme dari suatu teori ilmiah yang merupakan racun ampuh terhadap paham determinisme yang bersifat statis dan yang sebelumnya tidak dibicarakan oleh Popper. maka dasar yang diajukan Popper adalah prinsip falsifiabilitas. Verhaak dan Robert Haryono Imam.cit. Selanjutnya. suatu cita-cita yang sebenarnya diimpikan oleh para ilmuwan tradisional yakni mendasarkan cara kerja ilmu-ilmu empiris pada logika deduktif yang ketat. 161. masalah keutamaan falsifiabililtas belum cukup untuk menjajaki kebenaran suatu teori.

membuat deduksi tentang ketidakbenaran suatu teori lewat proses falsifikasi 59 Seperti dikutip oleh Conny R. 58. maka ia harus falsifiable (dapat dinyatakan sebagai benar atau salah). dan untuk selanjutnya setelah mengetahui bahwa dugaan kita salah. op. Semiawan. sebab penarikan kesimpulan teori-teori universal dari keterangan observasi tidak mungkin menemukan jalan kebenaran yang diharapkan.. hukum dan teori yang definitif dan baku. maka kemudian muncul paham falsifikasionisme yang memandang ilmu sebagai suatu perangkat hipotesis yang dikemukakan lewat proses mencoba-coba (trial and error) dengan tujuan melukiskan secara akurat gejala suatu fenomena dunia atau alam semesta. kita seharusnya memecahkan setiap persoalan yang menarik melalui dugaan yang berani melawan (dan terutama) apabila tidak lama kemudian ternyata salah daripada mengulang suatu rangkaian kebenaran yang tidak relevan lagi dengan konteks zamannya.tidak ada ungkapan. Tetapi sebaliknya. falsifikasi menjadi sandaran penting. hlm. maka ilmu pengetahuan justru akan merosot menjadi ideologi tertutup dari segala kritik dan pembaruan. Jadi apabila suatu hipotesis akan dijadikan bagian dari bangunan struktur ilmu. Beerling59 juga berpendapat bahwa semua hasil ilmu itu tidak sempurna. maka lalu kita akan belajar banyak tentang model kebenaran yang lain. Dalam kaitannya dengan hal inilah. Mengikuti cara berpikir Popper. Kita mesti belajar dari kesalahan-kesalahan kita terdahulu. dapat ditambah dan diperbaiki. Jika tidak demikian. . bisa difalsifikasi. Semua pengetahuan manusia sementara sifatnya. Dalam perkembangan ilmu.cit.

Potongan-potongan dunia itu tidak dapat divisualisasikan hanya dengan indera reseptor manusia yang memiliki standar sensibilitas terbatas. xviii. 61 I. 2001). sebab pada dasarnya ilmu memang berkembang maju melalui berbagai percobaan dan kesalahan. Inyiak Ridwan Muzir (Yogyakarta: IRCiSoD. Kesalahan kita selama ini. terj. Popper sendiri sebenarnya ingin menekankan tentang pentingnya kontrol intersubyektif dan kesepakatan dalam komunitas para peneliti sendiri sehubungan dengan kemunculan teori-teori baru agar kemungkinan falsifikasi atas teori-teori itu tidak semata-mata didasarkan pada koherensi logis dan linguistis belaka. karena pertanyaan seperti itu a kan menyeret kalian ke dalam sebuah lubang. . bisa dikalkulasi dan diuji lewat pengamatan fakta-fakta empiris semata. Kebenaran Yang Terlupakan: Kritik atas Sains dan Modernitas. 60 Ketahuilah. Tapi sayangnya sains cuma mampu memperlihatkan kepada kita serpihan-serpihan dunia yang bersifat fisikal. op. 77. Tak heran jika menjelang wafatnya. melainkan juga atas kriteria praktis dan fungsional. ³Jangan pernah menanyakan bagaimana cara kerja alam semesta. tak ada manusia yang dapat memahami bagaimana alam bekerja´.61 60 Huston Smith. hlm. Paham falsifikasionisme ini dapat dipakai sebagai landasan berpikir pragmatis tanpa selalu menganggap semua teori ilmiah sudah benar secara ilmiah dalam perjalanan ilmu. Richard Feynman berujar kepada murid-muridnya. sebagaimana yang diutarakan oleh Huston Smith adalah mengira sains dapat memberikan satu pandangan utuh ten tang dunia seisinya. Bambang Sugiharto.mungkin saja ditempuh.cit.. hlm. dan tak seorang saintis pun bisa keluar darinya dengan selamat.

Demikian pula terhadap pendirian empiristis dari Hume ditandaskannya tidak perlu menunggu secara pasif berulangnya gejala untuk 62 Jujun Suparjan Suriasumantri. . seperti yang dikatakan oleh Descartes dan Leibniz. melainkan bahwa sifat rasional itu justru dibentuk oleh adanya sikap keterbukaan terhadap kritik dan kenyataan empiris menuju suatu kebijakan dan strategi il u yang lebih m terpadu dan menyeluruh.Popper juga selalu mendorong tentang perlunya mengembangkan budaya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar -dasar pikiran yang berbau mitos untuk mengikis tradisi-tradisi dogmatik yang selama ini hanya selalu mengagung-agungkan kebenaran satu doktrin saja untuk selanjutnya digantikan dengan doktrin yang lebih bersifat majemuk (pluralistik) dan masing -masing mencoba menemukan kebenaran secara analisis kritis. 1995). hlm. Rasionalisme kritis memang tepat mengatakan bahwa rasionalitas suatu ilmu tidak pernah secara berat sebelah dapat dicari dan ditemukan pada kekuatan nalar ilmiah saja. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Popper mengajukan suatu pandangan yang lebih historis dan dinamis mengenai ilmu yang harus selalu memodifikasi dan memperbaiki diri. 112.62 Tuntutan falsifikasi Popper tersebut di atas tentu harus dipahami pula berkaitan dengan pandangan filsafatnya tentang rasionalisme kritis yang salah satu uraian pokok ajarannya menjelaskan bahwa setiap pernyataan teoretis harus disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan terbukanya peluang -peluang perbaikan lanjutan. Sebab hanya dengan demikian daya topang dan kemungkinan perkembangan ilmu-ilmu ikut tertunjang secara selaras dan seimbang. Berbeda dengan Kant.

92-93. Tetapi sebenarnya kalau saja kita mau. tampilnya Thomas Kuhn. hlm. 83-84.63 Popper menawarkan formulasi lain dalam prinsip epistemologi dengan sebuah keyakinan awal bahwa tidak ada sesuatu yang tidak bisa kita refleksikan dan kita buat eksplisit. pengalaman-pengalaman dan bahasa kita. Inti persoalannya adalah bahwa suatu diskusi kritis dan perbandingan berbagai kerangka acuan selalu mungkin dilakukan.64 Sejalan dengan ide-ide awal yang provokatif tersebut. semakin memantapkan permulaan suatu 63 Cornelis Anthonie van Peursen. op. Bambang Sugiharto. Lalu disitu pun kita bisa saja keluar lagi untuk kemudian merefleksikan ulang tentang kerangka acuan dasar itu. hlm. Memang kita akan terperangkap dalam kerangka yang lain.cit. Baginya ketidakmungkinan mengeksplisitkan asumsi asusmi dasar adalah sebuah mitos yang cenderung dibesar besarkan sehingga membuat kesulitan menjadi ketidakmungkinan.mencari keteraturan. Sebab pada hakikatnya sifat kritis berarti bahwa kita seperti kata Kant senantiasa siap terbuka pada semua aneka bentuk perubahan yang kita hadapi dan pengalaman yang kita alami. harapan-harapan. . Tetapi Popper menggarisbawahi bahwa akal baru sungguh -sungguh dianggap kritis apabila kita bersedia membuang rongrongan -rongrongan yang dipaksakan (imposed regularities) oleh sistem makrokosmos alam semesta ini dalam sistem mentalitas berpikir kita. sebagai generasi pasca Popper. Ia memang percaya bahwa setiap saat kita ini terpenjara oleh teori-teori. 64 I. Justru kitalah yang harus berusaha secara aktif memaksakan hukum keteraturan (regularities) kepada alam. tetapi kerangka itu pasti yang lebih baik. kita selalu bisa keluar dari kerangka acuan dasar itu setiap saat...cit. op.

Stephen Toulmin dan A. h mereka digolongkan sebagai pemikir baru yang mendasarkan pandangan filosofisnya pada sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri. Ole Dudley Shapere66.. Hal ini nampak dari cara kerja Feyerabend dalam menentang empirisme kontemporer dan teori kuantum mutakhir dari in terpretasi Kopenhagen yang menegaskan bahwa tidak mungkin untuk menyatakan posisi dan kecepatan sebuah 65 Cornelis Anthonie van Peursen. Mereka ini disebut sebagai generasi filsafat ilmu pengetahuan baru karena mempunyai perhatian besar terhadap sejarah ilmu pengetahuan dan peranan sejarah ilmu pengetahuan bagi penyusunan filsafat ilmu pengetahuan yan lebih g mendekati kenyataan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Hanson. 29. Mereka itu oleh Cornelis Anthonie van Peursen65. Kuhn memperlihatkan bahwa sepanjang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan itu pembaharuan - pembaharuan yang benar hanya terjadi dalam beberapa fase saja. hlm. 10. Kaplan.zaman baru dalam proses dialektika filsafat ilmu kontemporer yang biasa disebut filsafat ilmu pengetahuan baru.R. Meaning and Scientific Change.cit. .). Robert Polter. yaitu sewaktu anggapan para ahli ilmu pengetahuan pindah dari suatu paradigma (istilah teknis Kuhn. op. dalam Ian Hacking (ed. Tokoh-tokoh yang disebut bersama Kuhn adalah Mihael Polanyi. digolongkan sebagai filsuf ilmu pengetahuan baru karena mereka melihat perkembangan ilmu pengetahuan sebagai perkembangan yang revolusioner. Paul Karl Feyerabend. Secara khusus. artinya ³susunan dasar´ ilmu alam pada zaman dan wilayah perkembangan ilmu tertentu) ke paradigma yang lain tanpa adanya hubungan logis antara keduanya. 66 Dudley Shapere. N. hlm.

kekuatan dan unsur-unsur semesta atomik yang paling kecil merupakan sifat-sifat utama dari materia yang bergerak secara bebas. Menurut interpretasi Kopenhagen yang dipertahankan oleh ahli fisika Werner Heisenberg (1901-1976) dengan Uncertainly principle (Prinsip Ketidakpastian)-nya. Dunia nyata diasumsikan menjadi suatu sistem partikel-partikel material yang dipahami secara geometris. kemustahilan ini adalah kemustahilan prinsipiil. peralatan kita²istilah Einstein²terlalu kasar untuk mendeteksi dan memaksa menspesifikasikan kecepatan dan arah tertentu dari partikel elektron yang lebih kecil daripada atom. Ia mengatakan bahwa para ahli fisika tidak membangun peralatan yang canggih untuk membantah hipotesis dan pondasi ilmu pengetahuan yang telah ada. pada tingkat sub-mikroskopik kita tidak berhak untuk memberikan suatu sifat kepada entitas kecuali kita dapat membuktikannya secara eksperimental.elektron bersama-sama. Akhirnya. tekanan. kecepatan. dan sebaliknya. volume. melainkan untuk mengembangkan dan menguatkan praktek kegiatan ilmiahnya. kemustahilan ini ditarik dari kenyataan bahwa setiap kuantitas cahaya yang cukup untuk menangkap posisinya akan merubah kecepatannya. Akibatnya. Namun sayangnya. Alasannya. Istilah-istilah seperti massa. kenyataan obyektif digambarkan secara mekanis sehingga hanya menghasilkan informasi yang terbatas dan tidak utuh. Heisenberg berkesimpulan bahwa ilmuwan tidak mungkin dapat melihat elektron dan sekaligus mengukur kecepatannya pada waktu yang bersamaan. posisi. Apa yang kita amati bukanlah alam an sich. tetapi alam yang tampak . setiap kuantitas cahaya yang tidak mempengaruhi kecepatan tidak akan memadai untuk menyatakan posisinya. Berdasarkan percobaan.

dan gerakan sub-atomik alam itu sesungguhnya tidak bisa dipastikan atau diramalkan.67 Implikasi dari adanya fenomena tentang interpretasi Kopenhagen itu ternyata membawa sains modern kepada cara analisis yang bersifat atomistik dengan jalan memilah-milah suatu proses ke dalam proses pencarian sebab -sebab efisiensi maupun subyek-subyek aktual yang terlibat dalam rangkaian kegiatan penyelidikan ilmu pengetahuan. kita memanipulir benda-benda yang terdiri dari bermiliar-miliar atom. Sehingga dengan alasan bahwa teori kuanta (partikel) itu masih jauh dari kadar kepastian. karena sains baru akan merasa tahu ³bagaimana´ secara persis dari proses alami jika telah menemukan komponen-komponen fisis dasar yang menyebabkan terjadinya hukum kausalitas dalam proses kegiatan tersebut sampai kepada teori atomik sebagai pusat aktivitas saintifik. hlm. Dalam kegiatan-kegiatan bebas. dan karena kebebasan kita juga tidak dilaksanakan pada tingkat mikroskopik. 176 dan 315.seperti dalam metode penelitian. Sekali analisis dimulai harus dikejar dan ditelusuri sampai batas akhir. 1989). dan bukannya atom-atom itu sendiri. Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis Tentang Makhluk Paradoksal (Jakarta: Gramedia. maka konsep inde terminisme Heisenberg tersebut tidak dapat berfungsi lagi. . Prinsip ketidakpastian ini telah memacu fungsi imajinasi manusia untuk memunculkan ide-ide serta penemuan-penemuan baru yang merupakan refleksi 67 Louis Leahy. melainkan pada tingkat makroskopik dari kuanta. Salahlah menjadikan kepercayaan kita akan pertanggungjawaban manusiawi itu pada jurang -jurang kekosongan yang ditemukan oleh Heisenberg dalam struktur deterministik gambar dunia fisik.

filsafat ilmu abad modern tidak lagi mengutamakan penalaran semata. ilmu bukan lagi merupakan hasil usaha manusia semata -mata berdasarkan pengalaman empirik yang diperolehnya melalui pengamatan inderanya dan penelitian percobaannya serta pembuktiannya. Feyerabend disebut bersama Kuhn.perkembangan ilmu dari masa ke masa. Dari sini kemudian perkembangan ilmuilmu modern telah mengakibatkan penjernihan dari prasangka -prasangka metafisika dan pencocokan lebih teliti pada data dan cara berpikir yang lebih benar. hlm. Suppe secara khusus menempatkan mereka dalam kelompok analisis Weltanschaungen. Oleh karena itu. bagaimana dan untuk apa gejala alam itu.. melainkan manusia itu sendiri sebagai makhluk yang memiliki keistimewaan khusus. Hanson. op. Oleh Frederick Suppe68. maka filsafat di abad modern memperlihatkan kecenderungan menggese landasan dan obyek telaahannya.). Kalau filsafat ilmu pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 lebih difokuskan pada upaya untuk menemukan penjelasan yang radikal tentang apa. 119.cit. r Filsafat ilmu abad modern bersumber pada manusia itu sendiri yang pada perkembangan berikutnya terkesan menjadi filsafat ilmu kehidupan. tetapi bertujuan juga untuk meningkatkan dan membuka tabir serta mendalami realitas alam yang penuh misteri dan paradoks ini melalui perangkat dimensi kreatif ilmu pengetahuan kontemporer. 68 Frederick Suppe (ed. Toulmin. . Popper dan Bohm sebagai pembawa pandangan alternatif ( lternatives to a the Received View). Artinya. yaitu dalam hal kemampuan berimajinasi. suatu model analisis untuk menginterpretasi dunia.

69 Namun berbeda dengan Popper. sejarah filsafat tanpa sejarah ilmu pe ngetahuan adalah buta. Jika nantinya semua ini menghasilkan 69 Prasetya T. karena fakta tanpa kerangka teoretis tidak pernah dapat menjadi relevan secara ilmiah. seandainya ada gerak lawan lain yang muncul dari ranah pengalaman subyek peneliti pasti memproduk suatu teori baru. yang berlangsung sebetulnya adalah suatu program penelitian. Dikatakan bahwa filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend merupakan percobaan untuk memperkembangkan analisis Popperian. Lakatos mengatakan bahwa filsafat ilmu pengetahuan tanpa sejarah ilmu pengetahuan adalah omong kosong ilmiah belaka.cit. Kuhn.Anehnya. dan lebih sehaluan dengan Thomas S. yakni keadaan bahwa dengan satu falsifikasi saja bisa menghancurkan suatu teori. ia menyangkal kemungkinan adanya tentang experimentum crucis. 52.W. melainkan juga karena mereka melihat adanya hubungan antara sejarah ilmu pengetahuan dengan filsafat ilmu pengetahuan. Sebab berdasarkan keyakinan Lakatos. Misalnya. Yang terjadi dalam pembaruan suatu ilmu itu sebetulnya merupakan peralihan dari teori yang satu ke teori yang lain. terutama dalam penilaian Feyerabend terhadap empirisme kontemporer yang dianut oleh para pengikut The Received View. Mereka digolongkan sebagai filsuf ilmu pengetahuan baru bukan saja karena mendasarkan pandangan filosofisnya pada sejarah ilmu pengetahuan.. pada posisi ini Feyerabend justru didekatkan dengan Popper. op. Atau lebih jelasnya lagi. hlm. Sebaliknya. .

cit. maka yang lama dianggap gugur).cit. hasil-hasil 70 Cornelis Anthonie van Peursen.71 Feyerabend secara tegas mengatakan bahwa antara sejarah ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu pengetahuan mempunyai keterkaitan timbal balik. 72 Paul Karl Feyerabend. maka ini bisa dikatakan seb agai program penelitian progresif. Kompleksitas itu terdiri atas sejumlah teori ilmiah yang menurut Popper tidak dapat berlaku sekaligus (yaitu apabila teori yang baru masuk. tetapi kalau tidak dinamakan degeneratif. hlm. 71 Soedjono Dirdjosisworo. Feyerabend mengatakan bahwa para ilmuwan tidak bisa melepaskan diri dari latar belakang historis bagi hukum -hukum. . Feyerabend berpendapat bahwa manusia dewasa ini terkekang oleh semua cara kerja yang telah diperincikan dengan teliti itu dengan hanya berlandaskan pada teori dan hipotesis yang kurang ditopang oleh kenyataan yang terjadi dalam masyarakat. hlm. 211. hlm. Feyerabend juga berusaha melawan segala usaha untuk menemukan keteraturan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. 86..teori yang lebih baik. 17. Dalam Against Method72.. Feyerabend merasa bosan akan segala law and order yang ingin dicapai oleh para sarjana. Sementara disisi yang lain. op.70 Lakatos menyatakan bahwa seluruh bangunan ilmu alam merupakan suatu kompleksitas makro yang intinya seharusnya melawan segala usaha untuk membuktikan salah.. tetapi justru deretan teori-teori ilmiah itu yang dimaksud Lakatos dengan program riset ( esearch program) yang dalam r prakteknya di lapangan tidak boleh dilaksanakan secara fragmentaris.cit. op. khususnya Popper. op.

73 Alasannya adalah bahwa analisis-analisis terhadap kejelasan. .74 Segala upaya dekonstruksi metodologis Feyerabend dalam filsafat ilmu modern tersebut memberikan perspektif baru tentang hakikat ilmu pengetahuan yang sebenarnya. dengan maksud agar lebih banyak bahan yang bervariasi sifatnya dapat dicakup dalam sistem ilmiah. hlm.eksperimen. misalnya. atau masih disebut magis sekalipun. Sebab bagi Feyerabend. ilmu tidak 73 John Losee. konfirmasi dan teori perbandingan yang diberikan oleh para filsuf berguna baik bagi ilmuwan maupun para pakar sejarah. 1974). op. teknik-teknik matematis. Philosophy of Science and Historical Enquiry (Oxford: Clarendon Press. Feyerabend mendesak membuka pintu bagi bermacam -macam model alternatif demi pembaruan suatu ilmu.cit. Dengan semboyan Against Method yang disuarakannya secara ekstrem. Kaitan itu dilukiskan oleh Feyerabend sebagai sebuah perkawinan yang cocok (marriage convenience).. Bahkan yang kini sama sekali tidak ilmiah. 74 Cornelis Anthonie van Peursen. prasangka-prasangka epistemologis dan sikap-sikap mereka terhadap akibat-akibat aneh dari teori-teori diterimanya. 90. dan sekaligus juga sebagai penentangan terhadap adanya asumsi bahwa ilmu itu adalah suatu aktivitas rasional yang beroperasi hanya berdasarkan satu atau beberapa metode tertentu. Pandangan-pandangan maupun kritik-kritik tajam yang dilontarkannya merupakan sebuah reaksi nyata dalam menyikapi kegagalan teori teori ilmiah tradisional yang tidak dapat dibuktikan secara konklusif (meyakinkan). dapat berfungsi sebagai ancangan alternatif yang merangsang untuk menggantikan metode ilmiah tradisional dan kaku. hlm. 4.

). Orang-orang Yunani merasa jemu terhadap banyak ajaran yang dikemukakan oleh para filsuf pra Sokratik. seperti Protagoras (± 480-411 SM.mempunyai segi-segi istimewa yang dapat menyatakan dirinya lebih unggul daripada cabang-cabang pengetahuan lain. . sedangkan pengertian (pengamatan) awam adalah opini sebagai duplikat yang tidak sempurna. Teori lain (para Sophis) menganggap obye k natural adalah sesuatu yang nyata.). Apa Saja Boleh (anything goes) Pada zaman Yunani kuno. BAB III PRINSIP-PRINSIP ILMU PENGETAHUAN PAUL KARL FEYERABEND C. sementara obyek -obyek matematika (obyek akal) merupakan pemikiran dan bayangan yang tidak realistik dari obyek natural. sedangkan hasil pengetahuan rasional abstrak Plato itu adalah mimpi yang tidak berguna. Hal ini jelas membawa pengaruh yang tidak baik bagi kebudayaan Yunani zaman itu. Kebosanan ini kemudian melahirkan Skeptisisme sebagaimana yang dianut oleh tokoh-tokoh berpengaruh besar kaum Sophis. berasumsi bahwa kesatuan adalah nyata. Prodikos dan Kritias. Akibatnya kebenaran diragukan dan dasar ilmu pengetahuan mulai disanggah. hubungan antara kesatuan alam semesta yang teratur (kosmos) dengan pemikiran para filsuf berkembang menjadi teori teori yang berbeda. Munculnya kaum Sophis itu secara tidak langsung memperlihatkan tentang mulai adanya krisis dalam pemikiran filsafat Yunani. Hippias. Platonisme. Georgias (± 480-380 SM. Aristoteles menganggap bahwa opini atau hasil pengamatan (menurut Plato) itulah yang benar.

Heryadi. Di sisi yang lain. Anehnya.P.Nilai-nilai tradisional dalam bidang agama dan moral dirubuhkan serta kecakapan berpidato di depan umum digunakan untuk memutarbalikkan kenyataan demi kepentingan pihak yang berbicara saja. kaum Sophis menyangkal adanya nilai-nilai universal mengenai prinsip baik dan buruk atau adil dan tidak adil yang terdapat dalam suatu tatanan masyarakat. tetapi saya juga tidak mengira mengetahui sesuatu´. Sejarah Filsafat Barat dan Sezaman (Bandung: Alumni. Semboyan Sokrates yang kemudian lebih populer dengan ungkapan ³ Gnothi 75 Martinus Anton Wesel Brouwer dan M. Ia sadar bahwa mengenai satu hal ia lebih tahu daripada kebanyakan orang. . hlm. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena Sokrates terus bertekad untuk mempertahankan azas -azas pokok mengenai pengetahuan hidup yang hendak dirongrong dan dirusak oleh kaum Sophis. adalah lawan yang terbesar dari kaum Sophis. Sokrates oleh lawan-lawannya dinamakan juga orang Soph meskipun ia sebetulnya is. ³Saya tidak tahu apa-apa. sehingga tanpa ragu -ragu ia pun berujar. Sebaliknya. Tetapi ia juga merasa bahwa nilai-nilai yang ada itu pasti ada yang bergerak menuju kepada tercapainya suatu norma yang bersifat mutlak. absolut dan abadi. 1986). Ia membela yang benar dan baik sebagai nilai nilai obyektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua manusia. Sokrates membenarkan bahwa nilai yang berkembang dalam masyarakat memang tidak dapat tahan terhadap kritik. 22.75 Kelompok ini menolak segala realitas serta mengingkari proposisiproposisi ilmiah dan empirikal. Kaum Sophis dengan kritik-kritiknya yang bersifat menjatuhkan telah menjadikan manusia dan segala hal yang berhubungan dengan akal budi pengetahuan sebagai pusat perhatian utama.

76 Burhanuddin Salam. Pemikiran Yunani sendiri ditandai oleh ketergantungan pada akal sehat (common sense) manusia (human reason) dalam memecahkan berbagai macam persoalan. Kaum Sophis menciptakan gaya bahasa baru yang sangat mempengaruhi para sejarawan dan penulis drama Yunani. sehingga peranan akal sehat dan logika diakui sangat penting. Sejarah Filsafat. Plato dan Aristoteles. Dan yang paling penting adalah mereka menyiapkan kelahiran suatu genre pemikiran filsafat baru yang direalisasikan oleh tiga mahaguru filsuf terkemuka Yunani Kuno. Ilmu dan Teknologi (Jakarta: Rineka Cipta. 42. Namun begitu. yakni tentang µAda¶.Seauton´ (Kenalilah dirimu) ini menyiratkan bahwa ia mencintai kebijaksanaan dan bukan untuk menguasainya. yakni Sokrates. harus diakui pula bahwa aliran Sophis mempunyai pengaruh yang positif pada kebudayaan Yunani. Padahal menurut Sokrates. Setiap persoalan digagas atau dirancang dalam satu sistem kehidupan yang dialogis dan kritis. Kaum Sophis juga menempatkan manusia sebagai obyek pemikiran filsafat dan meletakkan dasar bagi pendidikan untuk para pemuda secara sistematis. Kesalahan mereka adalah bahwa ukuran dari nilai kebenaran yang mereka ajukan itu hanya sebatas pengamatan yang nampak dari bagian permukaan luarnya saja. 2000). Aliran Sophis inilah yang pada akhirnya menimbulkan revolusi intelektual di Yunani.76 Kaum Sophis membantah adanya norma-norma moral-etis yang berlaku terus-menerus. kesadaran akan adanya hakikat yang mutlak itu justru berada dalam jiwa manusia yan g selalu berpikir serta berusaha mencari dan menyelidiki problem mendasar dari filsafat. . hlm.

Sejak filsuf Yunani Kuno berusaha meruntuhkan mitos dengan mengedepankan logos. Implikasi teologisnya. yang memegang peran pada Abad Pertengahan ini adalah dogmatisme gerejani dengan beragam tafsir keagamaannya yang meminggirkan peran akal dalam menjelaskan dunia dengan berbagai permasalahannya. Implikasi filosofisnya. misalnya. pada saat itu juga terjadi perpecahan. Dominasi kosmosentris yang menjadi sifat dasar Yunani Kuno. Inilah sebenarnya awal dari kesalahan persepsi dalam perjalanan ilmu sejarah ilmu pengetahuan seakan-akan berikutnya telah yang serngkali i sedemikian menempatkan pengetahuan menjadi matematis. sehingga setiapkali terjalin hubungan dengan akal sehat. yang berusaha untuk mencari dasar realitas arche) dalam ( berbagai unsur kosmos atau alam raya. pemikiran manusia seolah -olah mememukan eksistensinya kembali. bahwa semua realitas yang terjadi dalam fenomena alam semesta ini dilihat dari segi kehendak Tuhan sebagai prima causa yang menggerakkan dan mengendalikan segala kejadian yang ada. karena manusia dianggap . abstrak dan teknis. berbagai pergolakan dan sekaligus pembongkaran atas pemikiran manusia pun kemudian bermunculan sebagai suatu respons positif terhadap berbagai usaha yang dilakukan oleh para filsuf Yunani Kuno tersebut. Dogmatisme tersebut telah cukup untuk meluluhlantakan bermacam nilai humanisme. disingkirkan oleh pandangan teosentris Abad Pertengahan melalui suatu pemahaman. sehingga mampu melahirkan sejumlah perubahan mendasar dalam cara berpikir manusia atas dunia beserta karakteristiknya.

2003).78 Selanjutnya pada zaman Renaissance.). Hanafi. 78 A. dan penafsiran -penafsiran filosofis yang terdapat dalam filsafat modern pun tidak mungkin ada dan berkembang tanpa berkiblat kepada konsep awal filsafat skolastik. Sebab pada awal kemunculannya. Dance of God. 1711-1776)´. . ³Sains dan Problematika Ketuhanan Abad Pencerahan (Hampiran Empirisme Radikal David Hume. Filsafat Skolastik (Jakarta: Pustka Alhusna. 82. hlm.77 Meskipun banyak pihak yang menilai bahwa Abad Pertengahan sebagai masa kebodohan dan kegelapan dalam sejarah dunia filsafat. pemahaman Filsafat Skolastik (filsafat yang diajarkan di sekolah-sekolah)²yang pada Abad Pertengahan terkenal dengan nama Filsafat Eropa²tentang definisi. Giordano Bruno. memang ditujukan untuk menumbuhkan dan menjelaskan alam pikiran Eropa yang terjadi pada saat itu. kecuali hanya sebagai viator mundi (sekedar penziarah di muka bumi). 84. Tarian Tuhan (Yogyakarta: Apeiron-Philotés. 1983). kategori dan analogi yang didasarkan pada ketelitian.tidak mempunyai peran apapun di atas dunia. walaupun para ilmuwan dan filsuf Aristotelian berupaya keras bersama tokoh gereja mengecam bahwa pandangan Copernicus tidak rasional. pendulum epsitemologis kembali pada empirisme. namun begitu kemunculannya telah berusaha mewariskan suatu kebudayaan baru dengan ciri cirinya yang khas. hlm. terutama 77 Listiyono Santoso. Nikolaus Copernicus (1473-1543). Kebudayaan modern sendiri tidak dapat melepaskan diri dari kebudayaan Abad Pertengahan. tetapi Galileo. dalam Win Usuluddin Bernadien (ed. obyektivitas dan penguraian logis. Johannes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1642)²barangkali²menjadi orang pertama yang berusaha untuk memberikan cara pandang yang relatif baru bagi perkembangan sains. Kepler dan Newton justru mendukungnya.

80 Manusia²pada abad ini²dianggap telah menemukan kembali subyektivitasnya yang menjadi titik acuan pengertian realitas. 11. kecuali apabila ia dipengaruhi oleh suatu benda yang terdapat di sekitarnya. Sedangkan Kepler menolak ajaran gerakan alami. 269. Bruno. Renaissance itu sendiri adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman saat manusia merasa diri dan alam pikirannya telah dilahirkan kembali dalam keadaan bebas dan beradab berdasarkan logika serta otoritas yang utuh sebagai subyek yang berpikir. 1980). Kattsoff. Subyek bukan saja mempengaruhi realitas. Pengantar Filsafat. bahkan pada tataran tertentu dengan penuh kepercayaan diri dan kesadaran penuh terhadap otonomi dan kebebasan alamiahnya untuk berpikir dan bertindak berdasarkan kemampuannya tersebut. memahami alam semesta ini sebagai sesuatu yang tidak terbatas dan tidak menentu serta tidak terhitung jumlahnya dalam ruang dan waktu yang bergerak berdasarkan hukum-hukum yang sama. yaitu prinsip yang menyatakan bahwa sebuah benda cenderung untuk diam atau bergerak di tempat ia berada.79 Secara historis. Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius. hlm. alih bahasa Soejono Soemargono. 1996). subyek juga dapat 79 Louis O. Kepler mengajarkan tentang tenaga mekanis yang menghasilkan perubahan-perubahan kuantitatif.dengan teori heliosentrisnya yang menggugurkan paham geosentris tentang pusat tata surya. 80 . misalnya. (Yogyakarta: Tiara Wacana. Harun Hadiwijono. yang sempat diberangus oleh dominasi otoritas gerejani Abad Pertengahan. dan mengajukan prinsip kelambanan. Manusia kembali kepada sumber yang murni bagi pengetahuan dan juga keindahan. hlm.

55. hlm.X. hlm. sementara Kebenaran Ideal itu sendiri juga selalu dalam proses µmenjadi¶. hlm. Modernitas sebagai produk dari Filsafat Pencerahan. maka pengetahuan dianggap tidak lagi berasal dari Kitab Suci atau dogma Gereja. melainkan dari diri manusia sendiri . 83 Nico Syukur Dister.82 Dengan pola pemikiran yang demikian itu. Tradisi khas dari filsafat abad ini terletak pada mainstream 81 Franz von Magnis-Suseno. 2002). Perubahan yang dihasilkan dari proses bergerak ke depan dan proses µmenjadi¶ inilah yang oleh subyek modern itu sendiri dinilai sebagai kemajuan. Dalam penciptaan dunia obyek-obyek dan dalam pencarian nilai-nilai. 17. subyek selalu terlibat dalam proses bergerak ke depan²subyek selalu mengacu pada nilai-nilai Kebenaran Ideal.). 60. Hume dan Kant. Hiper-Realitas Kebudayaan (Yogyakarta: LKíS. 1992). Para Filsuf Penentu Gerak Zaman (Yogyakarta: Kanisius. Tiga Tonggak Filsafat Modern´. 19990). dalam F. disebabkan ketidakpercayaan pada spirit dan hukum alam. Budi Hardiman (ed. . Dalam terminologi Hegel (1770 -1832)81 manusia bukan lagi dipahami sebagai substansi melainkan subyek yang mempunyai pusat . 82 Yasraf Amir Piliang. kesadaran kritis untuk selalu membenturkan diri terhadap realitas dan dunia. menurut Hegel melibatkan sang subyek dalam proses dialektik pembaharuan secara konstan dunia realitas. Mudji Sutrisno dan F. ³Descartes. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis (Yogyakarta: Kanisius. Rasionalisme dan empirisme inilah yang kemudian menjadi arus utama filsafat yang paling dominan dalam perkembangan pemikiran manusia abad Renaissance dan dilanjutkan serta mencapai puncaknya pada abad ke-17 yang dikenal dengan Abad Pencerahan (Aufklärung). dan juga bukan berasal dari 83 kekuasaan feodal. yaitu melalui rasio (rasionalism) dan pengalaman (empirism).menciptakan realitas itu sendiri.

Filsafat Pencerahan juga mengusung suatu perspektif epistemologi baru dengan menempatkan ilmu pengetahuan sebagai urusan kolektif masyarakat yang tidak mempunyai batas-batas tertentu selain daripada pengamatan seluas dunia nyata yang selalu menampakkan diri sebagai realitas empirik. Disamping itu. terutama bahasa. Filsafat Pencerahan adalah suatu bentuk rasionalisme empiris yang berusaha menyangkal pendapat seperti yang sering diutarakan oleh banyak pihak bahwa Filsafat Pencerahan hanya terdiri dari sekumpulan fakta-fakta kecil yang tidak mempunyai kesatuan dan corak yang khusus. Hal itu disebabkan oleh adanya pengertian baru bahwa dengan akal dan metode ilmiah yang dimilikinya. Selain itu. Sebab dalam Filsafat Pencerahan itu terdapat dua aras pemikiran penting: orang menciptakan ilmu nyata (positif) tentang corak jiwa manusia (ilmu jiwa rasional) dengan mempelajari daya psikis. Yang ditentang oleh aliran filsafat ini adalah suatu hierarki atas dasar wahyu Tuhan dan mendukung ideologi dari pluralisme politis dan religius. Filsafat Pencerahan merupakan suatu ideologi yang mengiringi perkembangan tingkat borjuasi di Eropa dan sekaligus kemunduran bagi simbol budaya feodalisme. metode eksperimental dalam ilmu alam dan kimia menjadi metode utama yang sangat . manusia dianggap sanggup mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia ini. Jadi filsafat dituntut harus kembali berpatokan pada dua nilai utama yang dianut dalam masyarakat: hal yang berguna dan kesejahteraan manusia.utamanya dalam menempatkan akal atau rasio dan pengalaman manusia sebagai sumber tertinggi untuk mencapai kebenaran.

bahwa paruh Abad Renaissance dan Abad Pencerahan sendiri memang telah dipenuhi dengan berbagai revolusi ilmiah yang sangat mengagumkan lewat berbagai pemikiran dan penemuan manusia secara spektakuler dan monumental.P. Dua azas itu memungkinkan kita mengerti bahwa terdapat suatu sej rah akal a manusia yang universal sejajar dengan universalitas dari pengamatan dan pengalaman. hlm. hlm. Francis Bacon dan pada abad berikutnya Rene Descartes dan Isaac Newton telah berhasil memperkenalkan metode matematik dan metode eksperimental untuk mempelajari alam. merdeka untuk menginterpretasikan setiap kejadian yang ada secara berbeda atau bahkan baru sama sekali tanpa memerlukan lagi intervensi tiap kuasa yang datang dari luar kemampuan dirinya. Brouwer dan M. 85 Sebagaimana dikutip oleh Harun Hadiwijono. maka pengertian filsafat alam mulai memperoleh arti khusus sebagai penelaahan yang sistematis terhadap alam dengan menggunakan metode -metode yang diperkenalkan oleh para pembaharu dari zaman Renaissance dan awal abad ke17.dihargai dan digunakan secara silih berganti serta saling melengkapi satu sama lain. Tokoh -tokoh pembaharu dan pemikir seperti Galileo Galilei. Heryadi. op.. 75-77.A. 13. karena manusia telah merasa bebas.86 84 M. Sebab sebagaimana kita ketahui. hlm. Voltaire85 menyebut Abad Pencerahan sebagai ³Zaman Akal¶. 86 The Liang Gie. Dengan demikian. op. 1999).W.84 Semboyan µsapere aude¶. beranilah berpikir memberikan suatu spirit baru bagi cita-cita kemanusiaan..cit. . 47. Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty.cit.

sehingga dengan demikian ia juga telah berhasil menciptakan ilmu pengetahuan kinetika (ilmu tentang gerak) yang bersifat linear-lurus. Kees Bertens (Jakarta: Gramedia. penemuan teleskop dari Galileo Galilei semakin memperkuat kebenaran teori heliosentrisnya Copernicus. 6-7. hlm.M.G. Galileo juga meletakkan dasar hukum-hukum yang menghubungkan kecepatan.88 87 A. Alam hendaknya diselidiki dengan memakai pengertian matematika. percepatan dan jarak yang ditempuh dalam jangka waktu tertentu. setiap kenyataan pasti bersifat kualitatif dan dapat diukur. terj. 88 Burhanuddin Salam. Galileo memastikan bahwa planet-planet tidaklah bercahaya sendiri. op. bahwa bukan bumi sebagai pusat gerakan dari tata surya. Galile sampai pada sebuah o kesimpulan bahwa Jupiter merupakan model miniatur dari prinsip heliosentris. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita. Dengan teropong jarak jauhnya. 1992).cit. 159.87 Galileo Galilei mengawali penjelasannya tentang suatu perkembangan baru sains ketika ia membuat suatu aliansi (pengggabungan) antara matematika dengan observasi eksperimen. melainkan memantulkan cahaya matahari seperti halnya bulan.. Dimensi-dimensi kehidupan sehari-hari telah pula mengalami perubahan drastis dengan cara dan teknik yang tidak disangka sebelumnya. melainkan mataharilah pusatnya. . Lewat pengamatan astronomis itu pula. van Melsen. Pada sisi lain. hlm.Perkembangan ilmu pengetahuan dari yang semata-mata bersifat rasionalempiris menuju ilmu pengetahuan yang bersifat rasional-eksperimental ini telah mengakibatkan ditemukannya kegunaan praktis ilmu pengetahuan dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan dan impuls-impuls baru.

atas dasar observasi dan hitungan matematis. Prinsip mekanika tentang gerak alam ini berimplikasi logis bahwa dunia . Alam bagi Galile merupakan satuo satunya sumber pengetahuan ilmiah sehingga ia memposisikan antara alam sebagai sumber pengetahuan ilmiah dengan Kitab Suci sebagai pengetahuan teologi dalam derajat yang sama. ahli astronomi dan fisika Italia ini pada tahun 1633 justru dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Gereja Roma di bawah kekuasan Paus Urbanus VIII. Charles Darwin dengan teori evolusinya. Berbagai pendekatan dan juga penemuan sains oleh para filsuf dan ilmuwan abad ini. Melalui penemuan inilah Galileo kemudian berusaha memberikan keyakinan bahwa kebenaran pengetahuan terletak pada persoalan yang obyektif. seperti Francis Bacon (1561-1626) dengan metode induktif sebagai landasan empirismenya. dan sebagainya. seolah telah menjadi awal bagi tersingkirnya doktrin keagamaan. Pendapat dan perjuangan yang telah dirintis oleh Galileo itu kemudian disempurnakan secara sistematis oleh Isaac Newton (1642-1727) yang menjelaskan bahwa alam sebagai mesin besar yang berjalan sesuai dengan hu kum gerakan dan segenap proses yang terjadi di dalamnya ditentukan oleh massa dan posisi yang dimiliki oleh berbagai partikel materi yang terdapat di dalamnya. karena dituduh telah menyebarkan ajaran heliosentrisme dari Copernicus. Tragisnya. Galileo Galilei dengan pengembangan prinsip heliosentrisnya Copernicus.Apa yang diintrodusir dan diwariskan oleh teori heliosentris ini adalah babak baru bagi kebenaran logis rasionalisme dan empirisme yang meruntuhkan kebenaran dogmatisme agama saat itu. seorang pastor yang meninggal pada tahun 1543.

dan Tuhan yang semula diyakini begitu intim dengan manusia mulai dicurigai sebagai remote control yang jauh letaknya dari dunia nyata. Newton menyatakan bahwa semua benda langit saling tarik menarik dengan gaya yang berbanding lurus dengan massanya serta berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya. . Newton melihat bahwa planet-planet tidak berjalan lurus. yaitu gravitasi. Fenomena ini dalam pandangan Newton tidak mungkin terjadi seandainya tidak ada kekuatan gravitasi. Berbagai prinsip ini pulalah yang kemudian mempengaruhi dan dijabarkan oleh 89 Joko Siswanto. Francis Bacon sebagai peletak dasar Abad Renaissance merupakan tokoh yang mempertajam empirisme dengan mendasarkan semua pengetahuan dan sains atas dasar pengalaman. Newton berpendapat bahwa suatu planet bergerak 89 mengitari matahari karena adanya gaya gravitasi yang keluar dari matahari. Prinsip yang sederhana ini telah mampu menerangkan berbagai garis orbit yang sangat kompleks bagi berb agai planet di sekeliling matahari. 38. Melalui metode empirismenya pula. jauh sebelum Isaac Newton. Dari gejala inilah Newton kemudian memperoleh hukum gravitasi yang menetapkan bahwa planet planet tersebut tunduk pada kekuatan sentral. Kosmologi Einstein (Yogyakarta: Tiara Wacana. 1996). tetapi berputarputar. hlm. Sementara itu. Bacon menerangkan prinsip empirisme bahwa untuk menyusun ilmu pengetahuan yang diperlukan adalah pengumpulan fakta pengalaman sebanyak mungkin ya ng kemudian dianalisis mengenai kesamaan yang terdapat diantara berbagai fakta tersebut. Bacon mempercayai bahwa apa yang akan datang dapat diramalkan kejadiannya atas penemuan yang lampau.diciptakan seperti sebuah mesin dengan hukum mekanikanya.

Berdasarkan pandangan rasionalisme. dan ³satu adalah separuh dua´. Pertama adalah pengetahuan intuitif. . 383. Zaimul Am (Bandung: Mizan. seperti: ³bumi itu bulat´. tradisi tersebut²dalam banyak hal²secara alamiah mempengaruhi cara manusia mempersepsi diri dan mendorong mereka untuk meninjau kembali hubungan dengan Realitas Tertinggi yang biasa disebut Tuhan. kriteria pertama bagi benar salahnya setiap gagasan manusia adalah pengetahuan rasional yang bersifat pasti dan 90 Karen Amstrong. Dengan demikian sesungguhnya dapat dikatakan bahwa Abad Renaissance dan Pencerahan merupakan dua mata rantai perkembangan ilmu pengetahuan yang menggunakan dua arus besar dalam tradisi filsafat. hlm. ³gerak mundur tak terbatas adalah mustahil´. ³keseluruhan lebih besar daripada sebagian´. Menurut Karen Amstrong90. Maksud nya adalah bahwa akal tidak dapat mempercayai dan menilai kebenaran suatu proposisi. misalnya: ³tidak mungkin terjadi suatu peristiwa tanpa suatu sebab´. Sejarah Tuhan. ³benda-benda logam itu memuai oleh panas´. artinya akal mesti mengetahui dan mengakui tentang kebenaran suatu proposisi tertentu tanpa harus mencari dalil pembuktiannya. Secara khusus. 2001).Newton dengan teori gravitasi universalnya sebagaimana yang telah penulis uraikan di atas. ³gerak adalah sebab terjadinya panas´. Yang kedua adalah pengetahuan informasi dan teoretis. terj. yaitu rasionalism dan empirism. doktrin rasional membagi pengetahuan menjadi dua macam. kecuali dengan merujuk kepada proses pemikiran dan bantuan informasi informasi pengetahuan primer lain.

Jadi pikiran itu bergerak dari proposisi universal. Demikian juga halnya dengan masalah penalaran pikiran yang menurut mereka selalu berangkat dari yang khusus ke yang umum. Ia memberikan potensi-potensi kepada pikiran manusia untuk dapat menjangkau dan merealisasikan realitas-realitas dan proposisi-proposisi di balik materi. Aliran pemikiran ini menolak prinsip logika silogistik yang berpatokan dari yang . sebab ia merupakan metode yang bergerak dari yang partikular ke yang universal. menurut kaum rasionalis berpijak dari proposisi umum menuju ke proposisi yang lebih khusus. selalu beranjak dari realitas khusus empirikal ke realitas yang mutlak berdasarkan hasil pengalaman. dari yang universal ke yang partikular. sehingga cakupan wilayah pengetahuan manusia menjadi lebih luas daripada batas-batas indera dan eksperimen. yaitu dari batas-batas eksperimen yang sempit ke hukumhukum dan prinsip-prinsip yang universal. Akhirnya mesti diingat bahwa doktrin rasional tidak bersikap masa bodoh terhadap peran eksperimen dalam penarikan kesimpulan dan pencarian hakikat pengetahuan. Bahwa materi itu memilki i asal. bahkan sampai kepada aspek-aspek metafisis sekalipun. Perjalanan pikiran manusia. ³setiap yang berubah pasti memiliki asal´ ke proposisi partikular ³materi itu memiliki asal´. kita ketahui dari ³bahwa setiap yang berubah pasti memiliki asal´. Karena itu. doktrin empirisme dalam mencari dalil berpikir bersandar pada metode induksi. Tetapi doktrin rasional yakin bahwa eksperimen saja tidak mungkin menjadi sumber azasi dan kriteria primer bagi pengetahuan.mengandung prinsip nonkontradiksi. paham empirisme menunjukkan bahwa pengalaman adalah sumber pertama semua pengetahuan manusia. Sebaliknya.

Berbagai penemuan di bidang sains dan teknologi²dalam kenyataannya²memberikan kontribusi yang cukup besar bagi tumbangnya otoritas keagamaan dan mulai mengguncang paham keyakinan keagamaan manusia. Rasionalisme dan empirisme yang begitu mendominasi alam pikir Abad Renaissance itu memunculkan persoalan baru berupa ketegangan antara agama dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Descartes (1596-1650) dengan cogito ergo sum-nya. dan juga tentang hakikat serta peran Tuhan. yang dilanjutkan dan dirubah secara radikal oleh empirisme Abad Pencerahan seperti John Locke (1632-1704) dengan teori tabularasa-nya. karena dalam pembuktian dan kesimpulan akhirnya ternyata tidak menghasilkan pengetahuan baru yang tidak terkandung dalam rumus premis-premis silogisme tersebut. bahwa pada mulanya rasio harus dianggap as a white paper dan . Ukuran an rasional dan empirik telah menyempitkan kesadaran kebenaran agama dan pembuktian adanya Tuhan sehingga dianggap memberikan ketidakpastian dan kebingungan. Baruch Spinoza (1632-1677) dengan ajarannya tentang satu substansi yaitu Tuhan yang dapat ditangkap oleh akal atau rasio manusia. Ia beranggapan bahwa segala kejadian di dunia ini berjalan menurut suatu proses yang logis. Sedangkan pembukanya empirisme yang bermula Bacon. karena dalam dunia tidak ada hal yang bersifat rahasia dan akal manusia telah mencakup semuanya. dari Inggris diberikan jalan oleh Francis bahwa pengalaman merupakan sumber kebenaran yang terpercaya.umum ke yang khusus.

tidak mungkin mengkonsepsikan atau menciptakan suatu gagasan tentang realitas jika gagasan itu ternyata berbeda dengan konsep-konsep dan reaksi-reaksi itu sendiri. hlm. Filsafat Ensie: Eerste. 43. Stockum dan Juntak S. yaitu David Hume (1711-1776) juga menggunakan prinsip empiristis.seluruh isinya berasal dari pengalaman.F. dan biarkan imajinasi kita menjelajah langit-langit atau ujung-ujung alam semesta. Berbagai cita rasa hasil dari kombinasi penangkapan.. Oleh karena itu. pengalaman dan kesadaran itu adalah suatu perasaan atau naluri pembawaan yang berada di luar kekuasaan akal. terutama dalam hal penolakannya terhadap substansi dan kausalitas. Nederlandse. 1983). Th. A. 92 .91 Tokoh empirisme yang paling radikal. Epping. C. Kepastian tentang nilai obyektif pengetahuan manusia merupakan masalah yang tidak bisa dijangkau oleh nalar. Sebab kita selamanya tidak akan dapat melampaui halhal di luar batas kemampauan rasio kita sendiri. Kita juga mustahil mampu menjawab persoalan dasar filsafat yang dipertentangkan oleh kaum idealis dan kaum realis. Ingerichte. 244-245. Hume tidak menerima substansi. lanjut Hume. Encyclopaedie (Bandung: Jemmars. sebaiknya kita pusatkan saja perhatian kit ke alam luar sesuka a kita. sebab yang dialami hanya merupakan kesan sa tentang beberapa ciri ja yang selalu terdapat bersama-sama. Hume berpendirian bahwa gambaran dan pengertian kita terhadap hubungan logis antara peristiwa-peristiwa yang terjadi secara kausal-mekanis hanya merupakan salinan yang sesuai dengan aslinya.92 Baginya. 1983). baik pengalaman lahiriah ( ensation) dan s pengalaman batiniah (reflexion). Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius. hlm. Idealisme sendiri berpendapat bahwa realitas itu ada dalam kesadaran dan pengetahuan 91 Sutardjo Adisusilo. Systematisch.

terj.. sekelompok elit. 90. 94 Karen Amstrong. ateis dan anarkis karena suka menyobek selubung -selubung 93 Muhammad Baqir Ash-Shadr. Filsafat sering dituduh sekularistik.cit. pada abad ini benar-benar mulai dipertanyakan dan ditinjau kembali. 1998). dan sains yang telah ditemukan oleh para ilmuwan merupakan bukti empiriknya. Mereka sudah tidak lagi merasa perlu untuk bersandar pada warisan tradisi. Falsafatuna.93 Keberhasilan pembuktian ilmiah melalui rasionalisme dan empirisme telah menggeser kedudukan otoritas pengetahuan berdasarkan kebenaran wahyu yang dianggap abstrak. hlm. Paradigma sains yang demikian telah cukup menjadi pertanda konkrit betapa Abad Renaissance yang kemudian dilanjutkan oleh Abad Pencerahan telah menimbulkan ketegangan kreatif antara agama dengan filsafat. op.. hlm. Kepercayaan diri yang baru terhadap kekuatan alamiah manusia ini mengandung arti bahwa manusia mulai yakin bahwa mereka mampu mencapai pencerahan lewat usaha mereka sendiri. 386.95 Kekuatan alamiah yang dimiliki manusia dianggap telah cukup representatif untuk menemukan semua jenis kebenaran. hlm. institusi. 384. 95 Ibid. termasuk agama dan Tuhan.manusia. Apa yang diterima sebagai kebenaran dogma keagamaan. Penemuan sains dan teknologi pada masyarakat Barat tersebut membawa sinyal otonomi baru 94 bahwa manusia sebagai penanggungjawab atas urusan mereka sendiri . Muhammad Nur Mufid bin Ali (Bandung: Mizan. sementara kaum realisme menduga bahwa realitas itu ada secara obyektif dan mandiri. .²bahkan wahyu dari Tuhan²untuk menemukan hakikat kebenaran.

Misalnya ia menunjukkan bahwa teori Pythagoras (± 580-500 SM. terutama di Abad Pencerahan yang bersifat empiris. Tetapi ia juga cukup banyak menyodorkan bukti bahwa rasionalitas itu sendiri bukanlah suatu yang mapan. Pada Abad Renaissance. Spirit ilmiah baru. matahari dan lima bintang yang telah dikenal luas pada saat itu (Jupiter. otoritas agama benar-benar telah ditinggalkan. bumi menjadi pusat dari bulan. Mercury. termasuk yang tersembunyi dalam pakaian yang alim sekalipun. tetapi kemudian rasional lagi pada masa Copernicus.ideologis berbagai kepentingan duniawi. semata-mata berdasarkan observasi dan eksperimen pada akhirnya berimplikasi logis bahwa fenomena dan problem ketuhanan pun harus diletakkan pada domain empiris. sementara pada Abad Pencerahan. Dalam pandangan Ptolemeus. Saturnus dan Venus) serta semua bintang lainnya di langit. walaupun dalam argumen-argumennya yang menonjol adalah berupa kritik terhadap empirisme dan positivisme ilmiah. Permasalahan di atas lantas diangkat oleh Feyerabend untuk menunju kkan bahwa perdebatan seputar rasioalisme dan empirisme telah berlangsung sepanjang pemikiran filsafat itu muncul. Melalui metode empirismenya. Peredaran bintangbintang yang tampak bergerak mundur dari bumi dijelaskan oleh Ptolemeus .) tentang bumi itu bulat dan berputar tidak rasional menurut Hipparchus dan Ptolemeus. otoritas agama dan peranan Tuhan dipertanyakan kembali. Feyerabend ingin menolak kedua posisi yang ekstrem itu. Mars. para ilmuwan dan filsuf melakukan verifikasi atas realitas obyektif Tuhan dengan cara yang sama seperti ketika mereka membuktikan fenomena lainnya yang bisa didemonstrasikan.

Ketujuh.96 Sehingga tidak heran jika dari berbagai rumusan metode ilmiah yang dihasilkannya tersebut. . Keempat. tidak ada sentrum bagi seluruh bola-bola langit. tetapi bukan merupakan sentrum kosmos. Copernicus berhasil menyusun tujuh hipotesis yang berkaitan dengan alam. 11. Baca juga dalam Androngi. Teorinya tentang bumi sebagai pusat dari peredaran bintang -bintang termasuk matahari sangat berpengaruh besar sampai pada Abad Pertengahan dan Masa Pencerahan. hlm. hlm. jarak antara bumi ke matahari tidak bisa diukur melalui luas cakrawala ruang angkasa.dengan teori Epicycle.. setiap planet bergerak pada suatu lingkaran yang titik pusatnya bergerak pada suatu lingkaran lain ya pusatnya juga adalah ng bumi. bumi setiap hari mengelilingi porosnya sendiri. bola-bola planet bergerak mengelilingi matahari sebagai sentrumnya. Filsafat Alam Semesta (Semarang: Bintang Pelajar. Tesis geosentrisme (matahari beredar mengelilingi bumi dan planet) Ptolemeus ini kemudian berangsur-angsur mulai surut sejalan dengan munculnya Revolusi Copernicus yang diprakarsai oleh Copernicus yang berusaha meyakinkan semua orang bahwa sebenarnya mataharilah yang menjadi pusat orbit bintang-bintang dan bumi sendiri mengelilingi matahari sebagaimana halnya bintang-bintang lainnya. bumi meskipun dipandang sebagai pusat gravitasi. gerakan bumi memberikan pemahaman adanya gerakan benda -benda langit. Kelima. Pertama. ia kemudian dianggap ole para ahli ilmu pengetahuan h 96 Joko Siswanto. op. Kedua. Ketiga. gerakan bumi menunjukkan lebih dari satu macam. 1986). Dalam teori ini.cit. 110. Keenam.

itu tergantung pada jenis informasi. Idealisme berpendapat bahwa rasionalitas 97 The Liang Gie. Tetapi bagi sebuah kebudayaan yang memusatkan perhatian manusia dan kemanusiaan pada tempat tertinggi. hlm. 2003). Walaupun di pihak yang lain. 118. ia menolak pandangan idealisme dan naturalisme. 98 . budaya ataupun pemimpin budaya yang menggunakan informasi tersebut. Lintasan Sejarah Ilmu (Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna. 71. akan memilih dan mendahulukan hubungan personal daripada hubungan abstrak seperti kepandaian ataupun efisiensi yang statistik.97 dewasa ini sebagai peletak dasar dari Ilmu Bintang modern. ternyata gagasan heliosentrisme (bumi dan planet planet beredar mengelilingi matahari) Copernicus dalam bidang sains dan filsafat tersebut . Lalu dari semua itu siapa yang benar? Menurut Feyerabend.98 Tetapi dari hasil diskusi yang membuat heboh itu. 1998). Feyerabend adalah penganjur pluralisme metodologi. Padahal kitab suci adalah suara Tuhan yang mengajak umat manusia menuju iman. pengharapan dan cinta kasih sebagai nilai-nilai tertinggi. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. Tentu banyak orang dewasa ini tanpa pikir panjang akan memilih teknologi daripada kehidupan yang harmonis dengan alam. hlm. Mungkin kesalahan pihak Gereja Katolik pada waktu itu adalah mereka memandang kitab suci sebagai sumber dan pedoman segala ilmu dalam arti sempit dan keras. ³secara sah dianggap sesat´ jika dikontradiksikan dengan ajaran Kitab Suci (Bibel) dan pandangan Gereja. akhirnya terungkap bahwa ilmu bumi benar dan pandangan kitab suci mengenai langit dan masalah beredarnya matahari pada bumi tidak dapat dipertahankan lagi. Akhyar Yusuf Lubis.

Feyerabend mengemukakan pandangannya tentang relativisme dalam konteks ilmu pengetahuan. kebenaran.adalah asli. Sehingga di dalam penjelajahan pengetahuan tidak diperlukan metode atau paradigma umum. semua cara mendapatkan pengetahuan dianggap boleh. tidak ada hal yang benar secara 99 Yasraf Amir Piliang. hlm. yang di dalamnya apapun saja boleh²anything goes. Relativisme dalam ilmu pengetahuan memungkinkan setiap orang melakukan penelitian tanpa perlu terikat pada sebuah metode yang telah baku. agung. 235. terlepas dari subyektivitas. Baik rasionalisme maupun empirisme mendukung rasionalitas yang menurutnya universal dengan cara yang berbeda. Atas dasar itu. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna (Yogyakarta: Jalasutra. 2004). keyakinan. sangat dipahami apabila Feyerabend menolak kesatuan metode ilmu pengetahuan. tidak ada teori yang sepenuhnya konsisten dengan fakta. Artinya. tidak ada rasionalitas yang tidak terkait dengan konteks.99 Itulah sebenarnya penjabaran makna relativisme pengetahuan sebagai sebuah pandangan yang meyakini bahwa nilai dan keben aran ditentukan oleh pandangan hidup dan kerangka berpikir setiap individu atau masyarakat. yang di dalamnya semua hal (pandangan. bersifat universal. yang berlaku dan menjadi acuan umum sebuah masyarakat peneliti. makna) mengandung arti kebenaran relatif. Tetapi anggapan ini sesungguhnya tidak dapat dibenarkan. semua pengetahuan yang dihasilkannya dianggap mengandung kebenaran. konteks dan historisitas. . Contoh -contoh yang dikemukakan oleh Feyerabend membuktikan bahwa tidak ada teori yang mengandung cacat. yang di dalamnya semua pendekatan dan metode dianggap sah. nilai.

memaksa kita untuk merevisi teori-teori yang sudah lazim diterima. Misalnya. Kaum relativis menyangkal adanya suatu standar rasionalias universal dan t a-historis yang merupakan pedoman untuk menilai suatu teori lebih baik daripada teori lainnya. Apa yang dianggap paling akurat atau lebih baik mengenai teoriteori ilmiah akan berbeda-beda dari individu atau mayarakat yang satu dengan yang lainnya. ³manusia adalah ukuran segala -galanya´. merupakan pernyataan relativisme mengenai masyarakat. Sebab tujuan mencari pengetahuan akan tergantung pada apa yang penting bagi. Diktum seorang filsuf Yunani Kuno. Karakterisasi kemajuan dan spesifikasi kriteria untuk menilai jasa atau faedah suatu teori akan selalu relatif bagi individu atau masyarakat yang . Selalu mungkin bahwa eksperimen-eksperimen baru yang menyelidiki lapisan-lapisan baru dari kenyataan atau struktur realitas. Protagoras. sedangkan ucapan Kuhn. tetapi hal itu akan memperoleh status yang rendah dalam satu kultur dimana pengetahuan justru diharapkan dapat memberikan kepuasaan individual. dan sebaliknya tidak ada hal yang salah secara absolut.absolut. ³tidak ada standar yang lebih tinggi daripada persetujuan masyarakat bersangkutan´. masyarakat kapitalis Barat memberikan penghargaan yang sangat tinggi pada tujuan penguasaan materiil atas kekayaan alam. seorang atau suatu masyarakat tertentu. semuanya mengandung porsi kebenarannya masing-masing. atau apa yang dihargai oleh. Berbagai penemuan aspek eksperimental dalam bidang ilmu pengetahuan semakin meneguhkan keyakinan kita bahwa suatu teori tidak penah dapat bersifat definitif. menunjukkan suatu relativisme dalam hubungannya dengan individu -individu.

however ancient and absurd. yang tidak tidak mampu meningkatkan pengetahuan. Begitu pula tidak ada interferensi (campur tangan) politis yang ditolak. 107-108.100 Menurut Feyerabend. selain mempertahankan satus quo. dengan terlebih dahulu diawali oleh introduksi suatu 100 A. baik yang kuno maupun yang absurd.F. The whole history of thought is absorbed into science and is used for improving every single theory. oleh sementara kalangan dianggap propaganda belaka. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya (Jakarta: Hasta Mitra. sementara itu dalam masyarakat masa kini. Chalmers. Bagi seorang relativis. tetapi bagi Galileo dipandang sudah mirip dengan mistik gha ib. 1975). 1982). Hal tersebut dikemukakan oleh Feyerabend sebagai berikut: There is no idea.menginterpretasikannya. teori tentang pasang surut air laut berdasarkan pada gaya tarik bulan adalah ilmu yang berguna bagi kaum Newtonian. Paul Karl Feyerabend. 33. Totalitas sejarah pemikiran diarsobsikan (dituangkan) ke dalam sains dan dipergunakan untuk meningkatkan setiap teori. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books.101 Perkembangan ilmu selama berabad-abad selalu ditandai oleh cara-cara analisis dan partisipasi pengamatan terhadap terjadinya perubahan yang bergerak secara dinamis dan drastis. It may be needed to overcome the chauvinism of science that resists alternatives to the status quo. kriteria untuk menilai faedah teori-teori akan tergantung dari nilai-nilai atau kepentingan yang dianut oleh suatu individu atau masyarakat. hlm. teori Marx tentang perubahan historis yang dipandang sebagai ilmu yang baik. Nor is political interference rejected. Ini boleh jadi dibutuhkan untuk menghilangkan chauvinisme sains yang menolak pemikiran lain. that is not capable of improving of knowledge. tidak ada gagasan. 101 . hlm. Jadi contohnya.

Einstein dan revolusi biologi molekuler (yang berhubungan dengan molekul) serta perkembangan ilmu-ilmu bumi dewasa ini. . rasionalistis kritis. eksperimental (merubah gejala dengan mempertahankan variabel) dengan metode observasi da n riset. Frans M. ataupun konstruktivis (ilmu berasal dan berkembang karena keseluruhan konteks. ilmu bercorak positivistis (bebas dari pikiran etis). teori.perangkat konsep atau pola pengetahuan baru yang sebelumnya tidak ada. Parera (penyunting). Psikologi Fenomenologis. empiris. (Jakarta: Gramedia. Dalam mewujudkan konsep keilmuan. walaupun dalam proses penemuannya bukan merupakan hasil yang lahir dari suatu krisis atau konflik. deterministis (berdasar prinsip kausalitas). kebenaran ilmiah itu tidak dapat semata-mata didasarkan atas konsep keilmuan yang bersifat rasional. tetapi juga merupakan suatu sistem terbuka yang dipengaruhi oleh 102 Martinus Anton Wesel Brouwer. 83. dengan pengujian ulang terhadap cara penyajian serta diseminasinya semakin memperjelas fase -fase yang kemudian diterima oleh masyarakat ilmiah sebagai suatu pertanda terjadinya perubahan yang cukup siginifikan untuk disebut evolusi atau bahkan suatu revolusi yang mampu melahirkan transformasi keilmuan fundamental. Darwin. baik rasional ataupun empiris) saja. Pada awal pertumbuhannya. evolusionistis (kecenderungan untuk melihat sejarah dari obyek yang diteliti) sehingga segala hal harus dijelaskan dengan metode kuantitatif (mengukur dan menghitung). Terjadinya perubahan tersebut ditandai oleh kriteria analisis logis maupun historis seperti yang dapat kita amati dalam penemuan Newton. hlm. 1984). sistem atau paradigma baru sebagai titik tolak. logis.102 Pada perkembangan selanjutnya. adanya berbagai pengkajian ide.

improvisasi dan kreasi-kreasi yang terus-menerus. Semiawan. bertolak dari masukan ilmu yang sudah ada sebagai batu loncatan bagi penemuan dan perubahan konseptual yang signifikan. . nilai-nilai moral dan juga ikatan-ikatan sosial kelompok yang tidak dapat dibuktikan dan diungkapkan secara eksplisit sebagai dasar bagi terbentuknya suatu masyarakat. keterbukaan terhadap berbagai tuntutan modernisasi dan pengembangan ilmu yang disajikan melalui berbagai kekuatan yang datang dari luar harus diimbangi pula dengan kemampuan mengadakan penemuan.103 Dalam kaitan ini. empiris dan pragmatis sekalipun terdapat pula faktor-faktor lain. Dalam pemilihan sebuah teori baru misalnya. Setiap evolusi ilmu selalu dimulai dengan suatu latihan intelektual (intellectual exercise) oleh kelompok ilmuwan tertentu yang menumbuhkan suatu ide baru. Oleh karena itu. Semua dimensi i i bersifat nonverbal atau n 103 Conny R. 76 dan 80. Thomas Kuhn juga menunjukkan bahwa bahkan dalam perkembangan ilmu yang paling positivis.kondisi lingkungan kehidupan manusiawi dengan seluruh aspek pembangunan masyarakat spiritual maupun material ataupun dalam kaitan dengan konteks ilmu itu sendiri. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu (Bandung: Rosdakarya. hlm. verbal dan matematis. dan kemudian berkembang menjadi suatu pemahaman baru yang sebelumnya tidak ada ataupun tidak diharapkan akan ada.. suatu tindakan kreatif yang bersumber dari suatu inovasi. melainkan juga cita rasa estetis. 1998). et. yang terlibat bukan sekedar rasio yang analitis.al. yang menampilkan renungan dan dialog mengenai makna dari segenap pengalaman hidup melalui dinamika perkembangan ilmu.

menurut Polanyi telah mengidap suatu pandangan yang bercorak positivis.104 Premis dasar ini merupakan cikal bakal kekeliruan tesis positivisme yang tidak hanya terletak pada sikapnya yang menolak cita rasa estetis dan nilai nilai moral serta ikatan-ikatan sosial105. nilai nilai - 104 Michael Polanyi. maka yang dimaksud disini bukan prinsip-prinsip moral universal dan abstrak dalam pengertian Kant. Michael Polanyi menawarkan tentang perlunya kehidupan kreatif masyarakat ilmiah yang pada gilirannya didasarkan pada kepercayaan akan kemungk inan terungkapnya kebenaran-kebenaran yang hingga kini masih tersembunyi. melainkan juga pada pandangannya bahwa suatu masyarakat tidak dapat dibangun di atas dasar-dasar yang berakar pada cita rasa estetis. ix-x. . metode yang dipakai untuk memahami realitas serta pembuktian yang digunakan untuk menguji kebenaran harus lepas dari personalitas manusia. dan tujuan itu dapat dicapai dengan syarat bahwa fakta yang diteliti. implisit serta tidak terukur secara matematis dan empiris. terj. Michael Dua (Jakarta: Gramedia. nilai-nilai moral dan ikatan-ikatan sosial. karena dianggapnya sebagai realitas subyektif semata-mata. Selaras dengan apa yang dikemukakan Kuhn tersebut. 105 Jika Polanyi berbicara tentang cita rasa estetis. dalam salah satu tesis pentingnya tentang pengembangan ilmu pengetahuan.simbolis. hlm. 1996). Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan. Positivisme sendiri melihat bahwa obyektivitas dalam bidang pengetahuan manusia pada umumnya dan pengetahuan ilmiah pada khususnya sebagai tujuan. melainkan kebiasaan atau tradisi suatu masyarakat. tetapi menjadi faktor yang bekerja dalam proses penemuan teori atau paradigma baru dan sekaligus mengakhiri krisis menuju suatu tahap revolusi ilmiah. Sebab masyarakat kita pada umumnya dan masyarakat ilmiah pada khususnya dewasa ini.

kekeliruan mendasar dari positivisme yang juga ditentang keras oleh Feyerabend dapat kita telaah dari sudut pandang epistemologi sebagai suatu cabang filsafat yang berbicara tentang aspek-aspek pengetahuan manusia. kemurahan hati dan ikatan -ikatan sosial masyarakat. persoalan dasar epistemologi adalah bagaimana seseorang dapat memiliki suatu pengetahuan. Padahal cita rasa estetis dan moral merupakan sesuatu yang sensitif dalam diri kehidupan manusia dan yang menuntut manusia untuk menghargai keindahan.cit. Berbeda dengan pandangan positivisme yang melihat pengetahuan yang tidak terungkap sebagai pengetahuan yang harus disingkirkan karena berada di ambang kesadaran manusia. Selain itu. op. Situasi semacam ini oleh Polanyi disebut dengan inversi atau pemutarbalikan estetis dan moral. Tetapi jika cita-cita itu diganti dengan tujuan-tujuan yang sekuler semata-mata. Pengetahuan yang tidak terungkap atau²istilah atas Polanyi. hlm. Bagi Polanyi.. Penemuan yang berkesinambungan di bidang ilmu pengetahuan merupakan masalah penting dan oleh karena itu usaha mencari . maka dalam pandangan Polanyi jenis pengetahuan ini justru dilihat sebagai dasar dari semua pengetahuan manusia. faktor-faktor yang dapat membuahkan pengetahuan baru lebih penting dari usaha 106 mencari verifikasi dengan pengukuran positif terhadap pengetahuan. . unsur-unsur lacit pengalaman knowledge²merupakan integrasi intelektual 106 Michael Polanyi.moral dan ikatan-ikatan sosial itu. maka ia akan berubah menjadi tindakan-tindakan yang koersif. xi. suatu kondisi di mana cita rasa estetis dan moralitas menjadi dasar tersembunyi bagi kegiatan -kegiatan yang jelas-jelas tidak manusiawi.

(2) Teori kuantum dari Plank. Apakah Ilmu Pengetahuan Itu?.al. Hal ini perlu ditegaskan kembali oleh karena adanya kenyataan bahwa sejak awal pendekatan mekanis Galileo terhadap alam. 41. op. Bosco Carvalho.. dan (3) Teori elektris tentang materi. dalam C.A. terj. 265.. kemajuan teknologi dan lahirnya metode-metode ilmiah baru. yaitu perubahan pemikiran manusia.cit. yakni: (1) Teori relativitas Einstein. 1995). hlm. 108 Burhanuddin Salam. Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. Qadir (penyunting). fisika klasik cenderung diterima tanpa sikap kritis terhadap kategori-kategori umum yang dimuat dalam pendekatan tersebut. (Jakarta: Yayasan Obo r Indonesia. et. Baru setelah terjadi pergantian abad ke-20. Dengan begitu positivisme bukanlah satu satunya sistem penjelasan terhadap struktur pengetahuan manusia. kemudian ahli fisika sudah mulai mengalami semacam krisis intelektual yang diakibatkan oleh penemuan fakta-fakta eksperimental yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. Indikasinya. . dan yang bahkan dianggapnya mustahil terjadi. hlm. Sementara pemahaman atas keseluruhan realitas itu sendiri hanya bisa dicapai melalui proses integrasi personal atas fakta-fakta partikularnya. dalam abad ke20 ini berkembang tiga teori yang cukup menggelisahkan dunia ilmu pengetahaun. Fisika klasik menganggap saintisnya sebagai saksi murni dari peristiwa-peristiwa alami yang tidak dipengaruhi oleh subyek. dengan mengandalkan dikotomi antara yang subyektif dan yang obyektif. Conant.108 107 James B.107 Pergeseran itu setidaknya disebabkan oleh adanya tiga hal penting.personal ke dalam kesatuan pemahaman sebagai suatu aktivitas inteligensi manusia dalam mengartikan dan memahami realitas.

adalah adanya paradoks terkenal tentang kodrat cahaya yang sampai sekarang mempunyai status yang tidak jelas. yang dalam istilah Thomas S. Yang lazim diketahui sampai saat ini hanya lah . alam yang mekanis. Kuhn dikatakan ³perkembangan fisika abad ke-20 telah menimbulkan revolusi ilmiah yang menggulirkan paradigma baru´. sederhana dan dapat diketahui secara obyektif dengan observasi dan e ksperimen ilmiah. Perkembangan baru dalam fisika mengakibatkan perubahan pandangan dalam epistemologi. Pertama. Prinsip ini beranggapan bahwa dalam keadaan yang lumrah. Secara filosofis. Kemudian masalah yang Kedua. adanya problem ³prinsip ketidakpastian (Uncertainly principle)´ Heisenberg tentang kemustahilan untuk menyatakan posisi dan kecepatan sebuah elektron dalam waktu yang bersamaan. hukum fisika tidak akan mampu menjangkau realitas mikrokosmos atau dunia sub-atomik. implikasi dari modifikasi teori fisika terutama dalam hal mekanika kuantum tersebut semakin menunjukkan betapa goyahnya pondasi atau asumsi-asumsi dasar positivisme yang menuntut ilmuwan dan filsuf merevaluasi pandangannya tentang ilmu pengetahuan. imbas dari berbagai inovasi pemikiran modern tersebut menyebabkan dunia fisika dewasa ini mengalami apa yang disebut ³krisis penjelasan´. Paling tidak kondisi itu dipicu oleh beberapa kejadian yang terdapat dalam dunia ilmu fisika seiring dengan kemajuan-kemajuan dan penemuan-penemuan baru yang sangat revolusioner dan di luar prediksi semula. Alam dalam pandangan Newtonian yang di atasnya prinsip positivisme ditegakkan. deterministik.Lebih lanjut. kini mulai diragukan.

pendapat umum bahwa cahaya itu disebarkan dalam bentuk gelombang. Dan permasalahan penting yang Ketiga, adalah adanya penemuan Max Planck mengenai kenyataan bahwa atom hanya ada dalam bentuk -bentuk energi.109 Pada tahun 1900, Plank mengemukakan teori kua ntum yang menyatakan bahwa tenaga dari sinar yang dipancarkan ataupun diserap terdiri atas kelipatan -kelipatan bulat dari suatu takaran tertentu. Dalam hemat Planck, cahaya dapat dilihat sebagai term partikel atau sebagai gelombang (term of waves). Namun tidak ada interpretasi yang secara konsisten dapat digunakan pada keseluruhan situasi dengan selalu menetapkan hukum matematika formal.110 Hal itulah yang digunakan Feyerabend untuk memperlihatkan bagaimana metodologi-metodologi yang telah ada sudah tidak sejalan atau tidak cocok lagi dengan sejarah perkembangan fisika. Ia menyangkal klaim bahwa ada metode yang mampu menjelaskan sejarah fisika. Ia juga menolak anggapan bahwa superioritas fisika atas bentuk-bentuk pengetahuan lain dapat dikukuhkan dengan bantuan suatu metode ilmiah tertentu. Pendeknya, apabila seseorang hendak memberi sumbangsih kepada kemajuan fisika, maka ia tidak perlu terlebih dahulu mengenal metodologi-metodologi ilmu kontemporer, tetapi ia memang perlu mengenal tentang beberapa teori yang terdapat dalam pengetahuan fisika. Ia menunjukkan bahwa tidaklah bijaksana jika para ilmuwan di dalam melakukan pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan terikat oleh hukum-hukum yang diatur dalam metodologi-metodologi ilmu.

109

Kenneth T. Gallagher, Epistemologi (Filsafat Pengetahuan), P. Hardono Hadi (penyunting), (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 174-175.
110

Akhyar Yusuf Lubis, op.cit., hlm. 12.

Mengingat begitu kompleksnya kenyataan yang berkembang pesat serta juga terkait dengan masa depan yang tidak dapat diramalkan secara pasti dalam rangka perkembangan ilmu pengetahuan, maka tidak logis kiranya mengharapkan metodologi dapat mendikte seorang ilmuwan. Misalnya dalam situasi te rtentu kita harus menerima teori A, menolak teori B, atau lebih menyukai teori A daripada teori B. Hukum-hukum seperti ³terimalah teori yang mendapatkan paling banyak dukungan induktif dari fakta-fakta yang diterima umum´ dan ³tolaklah teori yang tidak sesuai dengan fakta-fakta yang sudah diterima umum´, tidaklah relevan dengan episode pengembangan ilmu itu sendiri yang dianggap sebagai fase yang paling kreatif dan progresif dalam sejarah peradaban umat manusia. Dalam pengertian inilah istilah ³apa saja boleh´ itu berlaku. Prinsip apa saja boleh (anything goes) secara harfiah berarti membiarkan segala sesuatu berlangsung dan berjalan tanpa dijejali aturan-aturan dan hukum-hukum. Bahkan prinsip ini mengimplikasikan suatu perlawanan terhadap segala macam atura n atau hukum yang telah baku. Prinsip ini tidak dimaksudkan sebagai metode baru, melainkan hanya sekedar upaya agar para ilmuwan yang sudah terbiasa bekerja dengan memakai standar-standar universal harus bersedia menerima tradisi-tradisi dan praktek-praktek riset.111 Dengan ini Feyerabend ingin menegaskan bahwa semua metode yang paling jelas sekalipun mempunyai keterbatasan. Dan satu satunya hukum yang akan hidup terus dan dapat bertahan di tengah semua situasi dan dalam tahap perkembangan manusia adalah prin ini. sip

111

Prasetya T.W., "Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend", dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting), Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 57.

Sebab nyatanya, gagasan mengenai adanya keteraturan metode atau rasionalitas teori ternyata banyak sekali menyisakan pandangan yang naif tentang manusia dan keadaan sosialnya. Untuk itu barangsiapa yang melihat kekayaan bahan yang disediakan oleh sejarah, tetapi tidak sungguh-sungguh dalam menggarapnya pada gilirannya akan mengurangi kepekaan nalurinya, dan mereka sangat membutuhkan jaminan kejelasan dari cendekiawan, ketelitian,

obyektivitas, kebenaran saja, sehingga menjadi jelas bahwa tidak ada satu pun prinsip yang dapat dipertahankan dalam semua keadaan seperti itu ataupun dalam semua tingkat perkembangan manusia. Inilah prinsip: apa saja boleh. Hal tersebut dikemukakan Feyerabend sebagai berikut: [T]he idea of a fixed method, or of a fixed the of rationality, rests on ory too naive a view of man and hissocial surrounding. To those who look at the rich material provided by history, and who are not intent on impoverishing it in order to please their lower instincts, their craving for intellectual security in the form of clarity, precision, µobjectivity¶, µtruth¶, it will become clear that there is only one principle that can be defended under all circumstances and in all stages of human development. It is the principle: anything goes.112 Prinsip apa saja boleh ini juga sangat sesuai dengan pokok pikiran Feyerabend lainnya, yakni tentang kebebasan individu yang akan kami paparkan dalam sub-topik pembahasan selanjutnya. Menurut Feyerabend, jika kita ingin rasional dalam situasi-situasi konkrit sebenarnya prinsip apa saja boleh

membebaskan kita dari keharusan untuk bertindak di bawah ketentuan -ketentuan hukum dan metode yang telah disepakati bersama. Menurut prinsip ini juga, setiap orang secara bebas dapat mengikuti pilihan pradigma dan aturan teori sera boleh t juga mengikuti kecenderungan tertentu sebagai usaha untuk menumbuhkan ide -

112

Paul Karl Feyerabend, op.cit., hlm. 18-19.

(2) Dua orang pengamat yang mempunyai indera yang normal akan melihat obyek atau gejala-gejala dari tempat yang sama. kepercayaan bahwa observasi yang sungguh -sungguh obyektif menjadi dasar yang kokoh bagi ilmu pengetahuan. Chalmers. op. D. dan bukan pula kecenderungan sesaat yang tidak berarti sedikitpun. tanpa aturan dan tanpa tujuan. hlm.113 Mereka percaya bahwa: (1) Seorang pengamat sedikit banyak dapat menangkap langsung beberapa sifat dari dunia eksternal yang diobservasi.F. gagasan-gagasan baru tanpa harus dikekang oleh tradisi ilmiah. Dalam pengertian ini.114 Inilah yang disanggah Feyerabend dengan alasan bahwa apa yang dilihat pengamat dalam pengalaman visual ketika memanda ng suatu obyek sangat 113 A. Pertama..ide kritis.cit. Dengan begitu. op. Sebagaimana yang kita maklumi. niscaya akan melihat hasil yang sama pula. seorang ilmuwan perlu keberanian untuk mengajukan ide-ide. 22.cit. hlm. Konsepsi Feyerabend ini berasa dari apa yang disebut l sebagai prinsip ketergantungan observasi pada teori. 107. Ilmu Tidak Bisa Saling Diukur dengan Standar Yang Sama Salah satu komponen penting lain dari analisa Feyerabend tentang ilmu pengetahuan adalah pandangannya bahwa ilmu -ilmu yang tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. ilmu pengetahuan diperoleh lewat observasi. 114 Akhyar Yusuf Lubis. Namun tentu saja kebebasan yang dipraktekkannya itu bukanlah kebebasan yang liar. bahwa ada dua asumsi penting dalam pandangan induktivisme tentang observasi. Kedua.. prinsip apa saja boleh bukanlah berarti bahwa apa saja boleh tanpa batas. .

letusan gunung berapi mungkin dianggap sebagai hukuman para dewa akibat dosa-dosa manusia.dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman di masa lalunya. 187. Letusan gunung berapi bagi seorang ahli geologi. dapat dijelaskan sebagai gangguan di bawah tanah. Prinsip ketidakterbandingkan antara satu teori atau pandangan dengan yang lainnya berkaitan dengan prinsip inkonsistensi. bahwa dalam satu penelitian ilmiah dapat melibatkan pendapat dan alternatif-alternatif yang bervariasi. Ia harus dapat membandingkan antara satu teori dengan teori yang lain berdasarkan hasil pengamatan serta kumpulan data dan fakta yang diperolehnya. Feyerabend menyimpulkan bahwa tingginya mutu sebuah 115 teori berdasarkan hasil pengamatan itu tidak dapat saling diukur satu sama lain. tetapi bagi warga suku primitif. 2001). Bagi Feyerabend. Feyerabend menerima pandangan Kuhn tentang tidak adanya kriteria bagi ilmuwan yang disebabkan oleh adanya ketidaksepadanan atau ketidakkonsistenan dalam teori ilmu pengetahuan. maka ia harus memahami dan mengadopsi metode yang pluralistik. . A Historical Introduction to the Philosophy of Science. Maksudnya. pengetahuan dan harapan-harapannya. 115 John Losee. Fourth Edition (New York: Oxford University Press. Makna dan interpretasi tentang konsep-konsep dan keterangan-keterangan observasi yang digunakan akan tergantung pada konteks dimana makna dan keterangan observasi itu muncul. hasil observasi itu selalu tergantung pada teori sehingga tidak dapat dijadikan dasar yang obyektif bagi penilaian tentang kelayakan sebuah teori. hlm. Feyerabend beranggapan bahwa arti setiap istilah yang kita pakai tergantung pada konteks teori yang digunakan. Jika seseorang tertarik dengan penelitian empiris dan ingin mengerti teori dalam berbagai aspek.

.116 Sebelumnya Thomas Kuhn telah menggambarkan ilmu sebagai aktivitas pemecahan teka-teki ilmu pengetahuan. Dalam kasus seperti itu. sebab kedua teori rival itu tidak memiliki kesamaan keterangan-observasi apapun. Ini artinya Kuhn juga mengakui ketergantungan observasi pada teori. Kuhn secara tegas menyatakan bahwa paradigma bukan saja membimbing teknis penelitian. and he will try to improve rather than discard the views that appear to lose in the competition´. 116 Paul Karl Feyerabend. µdata¶. baik secara teoretis maupun eksperimental. Pemecahan itu dibimbimg oleh peraturan-peraturan dalam suatu paradigma. or µfacts¶. sebab setiap paradigma itu memang memiliki asumsi dan standar yang berbeda atau bahkan saling bertentangan satu sama lain.will adopt a pluralistic methodology. sehingga tidak mungkin merumuskan konsep dasar dari teori yang satu dengan standar teori yang lain. hlm. Dalam beberapa kasus-kasus fundamental dari dua teori rival mungkin terdapat perbedaan yang begitu signifikan. 33.Ia harus mencoba pula untuk memperbaiki daripada membuang pandangan pandangan yang kelihatannya kehilangan daya kompetisi. setiap paradigma akan memandang dunia ini secara berlainan. maka jelas tidak mungkin saling membandingkan ataupun mereduksi beberapa konsekuensi teori-teori rival itu secara logis.. Dalam penjabarannya. tetapi juga membimbing interpretasi fenomena yang diobservasi. sebab dua teori rival itu tidak akan bisa saling diukur dengan standar yang sama pula..cit. he will compare theories with other theories rather than with µexperience¶. op. Feyerabend menulis masalah itu sebagai berikut: ³..

massa dan volume. 2002). Understanding Philosophy of Science (London: Routledge. 1998).117 Kuhn dan Feyerabend berpendapat bahwa seingkali teori-teori ilmu pengetahuan itu tidak dapat saling diukur dengan beberapa teori yang lain secara bersamaan. realitas yang nampak di dunia ini merupakan obyek-obyek fisik yang mempunyai bentuk. incomparable´. teori penggerak dan mekanika Newtonian. dalam arti bahwa memang tidak ada hal yang patut untuk dibanding bandingkan.. hlm. Itulah maksud dari penyangkalan sebagaimana yang dikemukakan oleh T.Hal ini tepat sekali jika dihubungkan dengan keyakinan Kuhn dan Feyerabend bahwa teori-teori itu memang tidak memiliki tolok ukur yang sama antara yang satu dengan yang lainnya. Revised Edition (New York: Transaction Publishers. ³Which refutes the contention of T. 78. (.. Menurut pandangan mekanika klasik. both of whom argued that successive scientific theories are often incommensurable with each other in the sense that there is no neutral way of comparing their merits). Salah satu contoh Feyerabend tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur tersebut adalah mengenai hubungan antara mekanika klasik dengan teori relativitas. Feyerabend bahwa dua pengertian teori itu tidak bisa saling diukur dan diperbandingkan satu sama lain. Philosophy of Science.e.S. James Ladyman. Kuhn and P..S. Sifat 117 Mario Augusto Bunge. hlm. dan P. Feyerabend that two concept are mutually ³incommensurable´. Volume One: From Problem to Theory.118 Pasangan-pasangan teori yang tidak bisa saling diukur menurut Feyerabend adalah mekanika kuantum dan mekanika klasik. materialisme di satu pihak dan dualisme antara badan dan akal di pihak yang lain. i.K..K. 115. 118 .

hlm. yaitu teori relativitas khusus yang diciptakan Einstein pada tahun 1905 dan teori relativitas umum yang dimunculkan Einstein pada tahun 1916. op. yakni ide-ide tentang ruang. tetapi menjadi relasi-relasi antar obyek-obyek. Teori relativitas terdiri dari dua bagian.. op.F. Secara tegas Feyerabend menjelaskan bahwa setelah  Teori relativitas atau dikenal juga dengan teori Einstein adalah teori tentang realitas fisik yang menggambarkan fenomena alam secara kuantitatif. Salah satu cara untuk memperbandingkan sepasang teori adalah dengan mengkonfrontasikan teori-teori itu pada serangkaian situasi yang dapat diobservasi. dan lain sebagainya. Feyerabend tidak menampik bahwa hakikat ilmu yang tidak bisa saling diukur itu.cit. hlm.cit. koheren atau inkohern. Ia menjadi kerangka referensi dan bisa dirubah tanpa interaksi fisik apapun. tidak lantas berarti bahwa teori-teori tersebut tidak bisa diperbandingkan dengan cara apapun. Lihat Joko Siswanto. waktu. Isi pokok teori tersebut menyangkut ide-ide fundamental yang dipakai untuk menjelaskan alam. gerak dan gravitasi. Cara lain membandingkan teori-teori adalah seperti yang diusulkan Feyerabend dengan melibatkan pertimbangan-pertimbangan apakah teori-teori tersebut linear atau non-linear. massa dan volume tidak eksis lagi..119 Adanya kenyataan bahwa sepasang teori rival tidak bisa saling diukur. . lalu kita catat seberapa jauh derajat masing-masing teori itu sejalan dengan situasi-situasi tersebut yang ditafsirkan menurut kondisi masing -masing teori. terpaksa akan membawa kita ke suatu aspek subyektif dalam personalitas kita juga.sifat itu eksis dalam obyek-obyek fisik dan dapat dirubah akibat adanya campur tangan fisik. 146. 27. Sedangkan dalam teori relativitas . Chalmers. 119 A. Walaupun begitu. Akibatnya keterangan apapun mengenai obyek -obyek fisik dalam mekanika klasik akan mempunyai makna berbeda dari keterangan observasi serupa dalam teori relativitas. sifat-sifat seperti bentuk. massa.

121 Feyerabend mengkritik keras pandangan 120 Paul Karl Feyerabend.. 285.). 121 Paul Karl Feyerabend. dalam Ian Hacking (ed. Ilmu Tidak Harus Mengungguli Bidang Pengetahuan Lain Aspek lain yang penting dari anasir-anasir pokok pemikiran Feyerabend adalah menyangkut posisi ilmu dengan bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. hlm. what remains are our subjective whises´. 1981). penilaian selera.. 156ff. metaphysical prejudices. E. keinginan-keinginan religius. judgements of taste. op. maka sebenarnya yang tinggal tersisa adalah penilaian estetik. hlm. Dari sekian permasalahan itu sudah cukup kiranya kita jadikan dasar penolakan pandangan positivisme logis dengan argumentasi ilmiahnya tentang mutu kebenaran sebuah teori berdasarkan hasil observasi.cit. religious desires.kita menyingkirkan kemungkinan pembandingan teori teori secara logis untuk membandingkannya dengan sejumlah konsekuensi deduktif. Feyerabend menunjukkan bahwa tidak ada satu metode pun yang dianggap lebih baik dari bentuk metode yang lain. intervensi pribadi maupun interest psikologis dari subyek yang memberikan isi terhadap obyek pengamatan itu.120 Hasil penelitian. apa yang tersisa adalah keinginan-keinginan subyektif kita. ³. prasangkaprasangka metafisis. penemuan ataupun pemilihan berbagai teori yang dilakukan oleh seorang ilmuwan tentang dunia fisik yang diamati itu tidak bisa terlepas dari kondisi sosiologis. . Scientific Revolutions (New York: Oxford University Press. Diutarakannya. pendeknya. in short. ³How to Defend Society Against Science´.What remains are aesthetic judgements.. yang dalam perjalanan sejarahnya ternyata banyak tersandung oleh kesalahan-kesalahan yang fatal.

hlm. Husnan Aksa. Produktivitas bukan lagi sebagai alat. perlu juga kiranya dikemukakan pendapat dari Herbert Marcuse (1898 -1979) yang menyatakan bahwa masyarakat industri telah berkembang menjadi masyarakat berdimensi satu yang berada di bawah penguasaan prinsip teknologi. dan mahasiswa. Namun sebelum mengulas gagasan Feyerabend tersebut. yaitu para seniman. cendekiawan. Dalam masyarakat yang demikian itu. kecuali kaum buruh. melainkan telah menjadi tujuan. dituntut harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini sebab ia bukan merupakan kelas yang revolusioner. .ilmuwan dan masyarakat yang mengagung-agungkan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu tinggi. sehingga pemikiran dan filsafat hanya berfungsi menyesuaikan diri dengan sistem lama yang telah ada. Setiap individu dalam masyarakat industri diperbudak oleh sistem produksi dan selalu berada dalam cengkeraman masyarakat konsumsi. kebutuhan hidup dihambur-hamburkan hanya untuk menghabiskan hasil produksi yang meli pahruah saja. Dan setiap m individu. Dalam masyarakat seperti itu. 166. Dalam hal inilah gagasan Feyerabend memiliki kedekatan pandangan dengan Marcuse. 1981). Filsuf-filsuf Dunia dalam Gambar (Yogyakarta: Karya Kencana. tetapi mereka hanya kelas yang sekedar berusaha mempertahankan hak untuk hidup. 122 Endang Daruni Asdi dan A.122 Marcuse mengkritik tajam asumsi positivisme dan neo-positivisme yang menurutnya mematikan pemikiran negatif (negasi). harapan untuk mengadakan perubahan hanya terletak pada orang-orang pinggiran (marginal men).

magi atau 123 Paul Karl Feyerabend. ilmuwan dapat menentukan dan membuktikan kebenaran teorinya. ³cultural variety ´. keunggulan metodologis. cannot be tamed by a formal notion of objective truth because it contains a variety of such notion´. 9. 1987). Maksudnya dengan metode empiris-analitis. .123 Kaum positivisme dan neo-positivisme mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan unggul karena dua alasan. Feyerabend menolak dengan tegas anggapan -anggapan tersebut dengan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidaklah lebih unggul dari bentuk -bentuk pengetahuan lain. Akibatnya seperti yang diungkapkan oleh Feyerabend. Kedua. Farewell to Reason (New York: Verso. dan ide tentang adanya satu kebenaran obyektif mengenai realitas tunggal alam semesta pun telah be ralih menjadi kekaburan pemikiran di kalangan kaum cendekiawan. dan meningkatnya perbedaan budaya yang mendapat kehormatan sampai di taraf internasional berarti bahwa sebuah keragaman pada dasarnya menggambarkan adanya perbedaan gambaran tentang kenyataan alam selalu dihubungkan dengan perbedaan budaya. ³keragaman budaya tidak dapat dijinakkan lewat pemikiran kaku tentang kebenaran obyektif sebab ia juga mengandung keragaman pemikiran serupa Katanya. ilmu pengetahuan unggul karena dapat membuktikan hasil-hasl (teknologi) yang dapat diandalkan. Pertama. Bahkan menurutnya tidak lebih unggul dari mitos. hlm. yang secara tiba-tiba goyah oleh dunia ilmu pengetahuan dan cendekiawan kontemporer.Kegagalan dari program kaum positivis selama ini adalah bahwa keragaman budaya selalu dinyatakan lewat pemahaman disiplin ilmu antropologi.

Feyerabend menyatakan bahwa kebenaran itu terkait dengan tradisi dan bersifat relatif. berpendapat bahwa segala kejadian itu ditentukan oleh gerakan dan bentuk dari obyek yang bersifat kebendaan. Feyerabend menyesalkan pembela-pembela ilmu yang secara tipikal menilai ilmu lebih unggul dan lebih berbobot atas bentuk -bentuk pengetahuan lainnya tanpa melakukan penyelidikan yang memadai terhadap pengetahuan pengetahuan yang lain. Kepler dan Newton di awal kebangkitan ilmu pengetahuan modern masih menganggap bahwa ilmu pengetahuan dan agama saling melengkapi. Tetapi Thomas Hobbes dan para pengikutnya yang muncul kemudian. Bacon. Misalnya Hobbes. memberikan tafsir atas segala fenomena alam yang sepenuhnya bercorak naturalis dan determinis. Ilmu pengetahuan pada masyarakat ilmiah modern telah dianggap paling benar.voodoo. Copernicus. Bacon masih mencita-citakan bertemunya penjelasan antara ilmu dengan Kitab Suci secara harmonis. Baginya sains bukanlah satu-satunya tradisi terbaik yang ada. kemudian Feyerabend tidak . sehingga memonopoli kebenaran di tengah-tengah masyarakat luas. Ilmu pengetahuan dan metodenya menindas semua pandangan alternatif yang dianggap tidak relevan lagi dengan keaadan yang ada dan kenyataan yang berkembang dewasa ini. Pandangan inilah yang diterapkan secara radikal oleh Comte dan kaum Positivisme Logis. Sedangkan cita rasa yang berdasarkan pancaindera itu sama sekali subyektif. Karena alasan itu pulalah. Galileo. kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa memperlakukannya secara istimewa. Ilmu pengetahuan dalam penilaian Feyerabend telah mengam alih bil peran yang dimainkan oleh kaum agamawan.

dalam masyarakat Amerika.menerima keharusan superioritas ilmu atas bentuk -bentuk pengetahuan lain. Lebih lanjut. op. voodoo). hlm. Secara khusus. Feyerabend menyerang pandangan ilmuwan yang menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai agama baru. orang memilih agama secara bebas. dan tetap saja dilestarikan dengan cara-cara yang sama oleh orang-orang yang masih rendah tingkat peradabannya.cit. Semua ini dirasa tidak wajar tetapi tetap saja terjadi. maka sesungguhnya tidak ada perbedaan antara mitos dan logos (teori ilmiah).. 127-128. Menurut Feyerabend. Lebih jauh ia memproklamirkan bahwa tidak ada perbedaan yang prinsipil antara ilmu pengetahuan dan mitos dan voodoo. Feyerabend menyarankan pemisahan ilmu pengetahuan dengan negara sebagaimana agama dipisahkan dari negara pada masa Renaissance. bahkan bebas untuk memilih tidak beragama. tetapi mereka dilarang mempelajari semua yang dianggap tidak ilmiah (mitos. Feyerabend mengungkapkan bahwa ilmu adalah satu ben ideologi saja. . karena para ilmuwan dan institusi pendukungnya dengan gencar selalu melakukan propaganda bahwa ilmu pengetahuan itu lebih unggul. tuk yang berhubungan dengan sihir dan astrologi serta bertentangan dengan 124 Akhyar Yusuf Lubis. terutama dalam masyarakat Amerika. Maka untuk mengatasi hal tersebut. ia menolak ide bahwa akan bisa lahir suatu argumen yang menentukan dan menguntungkan ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain yang tidak bisa diukur.124 Jadi kalau saja kata mitos diartikan untuk menunjukkan gejala dan peristiwa alam atau manusia seperti yang terjadi dalam tradisi dahulu kala. dari segi tesisnya tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur.

along with magic and astrology.. ³. against which society needs to be defended?´125 Dengan demikian.kebutuhan-kebutuhan yang dipertahankan oleh masyarakat. Bertitik tolak dari keyakinan seperti itulah. ia dapat mengajukan bukti-bukti bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang justru karena memberinya kebebasan. catatan penting yang dapat kita ambil dari salah satu gagasan pokok Feyerabend ini adalah bahwa tidak ada universalitas sebuah teori yang secara mutlak lebih unggul kebenarannya dari teori yang lain. maka di bagian lain pandangannya tentang ilmu pengetahuan Feyerabend juga menekankan tentang pentingnya makna kebebasan individu dari berbagai macam belenggu 125 Paul Karl Feyerabend. F. Kebebasan Individu Kritik-kritik konstruktif Feyerabend cukup ampuh membongkar (mendekonstruksi) pandangan saintisme modern. Sebab. ³How to Defend Society Against Science´. 156ff. Ia berkata. Perkembangan dunia ilmu pengetahuan lebih dimungkinkan dengan membiarkan teori-teori yang beraneka ragam secara bebas dalam mengembangkan visi intelektualitas secara kreatif. bukan dengan memagarinya melalui peraturan tunggal atau hanya dengan menerapkan satu metode yang dianggap mapan. sejarah ilmu pengetahuan itu memang selalu berproses untuk menyempurnakan dan mengembangkan teori-teori yang telah ada lewat pergulatan pemikiran yang simultan dan relatif µmendekati¶ hakikat sebuah kebenaran..hat t science is just another ideology. hlm. . Berdasarkan analisis sejarah.

Padahal sebenarnya seperti yang ditunjukkan oleh Feyerabend. Ilmu telah menjadi ideologi absolut-tunggal yang membatasi. menguasai dan bahkan memperbudak manusia. perkembangan ilmu pengetahuan tidak dapat diterangkan ataupun diatur oleh segala macam aturan dan sistem hukum yang berlaku. Dalam perspektif Feyerabend. Sehingga pada akhirnya Feyerabend berkesimpulan bahwa pelembagaan ilmu dalam masyarakat kita dewasa ini sudah dianggap tidak konsisten lagi dengan sikap kemanusiaan itu sendiri. namun justru memasungnya dengan teori-teori dan aturan-aturan yang ketat dan mengikat. Artinya ilmu pengetahuan tidak lagi berfungsi untuk membebaskan manusia.metodologis. Gagasan awal tentang kebebasan individu Feyerabend ini sendiri sebenarnya hanya merupakan uraian lanjutan dari apa yang disebut oleh John Stuart Mill (1806-1873) sebagai ³sikap kemanusiawian´ yang d alam realisasi konkritnya ditujukan untuk membebaskan dan sekaligus meningkatkan kebebasan individu menuju kehidupan yang lebih maju dan produktif. Ia menyatakan bahwa setiap orang harus mengikuti kecender ungan individualnya dan mengerjakan hal-ihwalnya sendiri. sebab pada dasarnya kegiatan ilmiah atau ilmu pengetahuan itu memang merupakan upaya yang anarkistik. terdapat beberapa pemikiran universal tentang manusia yang digunakan untuk menetapkan beberapa . Ia melihat bahwa ilmu pengetahuan memiliki kedudukan dan kuasa mutlak yang sama dengan otoritas agama pada masa Abad Pertengahan. Pandangan Feyerabend tersebut harus ditelusuri pula berkaitan dengan analisisnya tentang masyarakat yang dicita-citakannya.

³thus. hlm. ³. 299. incomplete. jelas tidak ada pemisahan antara negara dan ilmu. 1975). Farewell to Reason (New York: Verso. tidak sempurna dan tidak jujur. while an American can now choose the religion he likes. dangkal. tetapi tetap saja warga masyarakat tidak diperkenankan untuk mempelajari ilmu sihir dan voodoo. negara secara ideologis adalah netral. 25. hlm. Negara semestinya bertugas untuk mengatur perjuangan antara ideologi-ideologi untuk menjamin setiap individu dapat mempertahankan 126 Paul Karl Feyerabend. .here t is some universal notion of human understanding which might be used to provide some theoretical approach to solving human conflicts as ³conceited. superfisial. 1987).127 ´ Dan bagi Feyerabend.126 Di sekolah-sekolah. tidak ada cara lain yang dapat ditempuh dalam dilema ini kecuali dengan berusaha membebaskan masyarakat itu sendiri dari pengaruh monotafsir ilmu yang secara ideologis telah dimonopoli oleh institusi negara. Ia mengatakan. ia melihat bahwa ilmu masih diajarkan sebagai sesuatu yang sudah semestinya. Lagi lagi ia menampilkan contoh tentang masyarakat Amerika yang menurutnya memberikan kebebasan warganya untuk memilih agama yang mereka kehendaki. Dalam masyarakat yang diimpikan oleh Feyerabend.. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books.pendekatan teoretis untuk memecahkan perselisihan-perselisihan manusia yang sombong. misalnya. Dalam pengertian ini. and dishonest´. he is still not permitted to demand that his children learn magic rather than science at school. 127 Paul Karl Feyerabend.. bebal. ignorant. there is no separation between state and science. There is a separation between state and church. Ia berujar.

dengan selalu melakukan perlawanan secara kritis terhadap segala bentuk penyempitan ideologis.. Demikianlah gambaran umum tentang ide kebebasan individu dan masyarakat Feyerabend yang merupakan pertautan epsitemologis dari pemikiran pemikiran utamanya tentang anarkisme ilmu pengetahuan. hlm.hak kebebasan untuk memilih tanpa adanya unsur pemaksaan ideolo tertentu gi 128 yang bertentangan dengan pilihan sadar dan kehendak hati nuraninya. . Filsafat Feyerabend dapat 128 A. Bermula dari eksplorasi tentang ³apa saja boleh´ dan berbagai problem teori teori keilmuan lainnya.cit. Surplus positif dari filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend yang mungkin dapat didedikasikan bagi masa depan umat manusia adalah bahwa ia masih diperlukan untuk mensukseskan apa yang oleh Jürgen Habermas disebut ³program pencerahan´. termasuk juga doktrin -doktrin agama yang begitu dogmatis dan tanpa kompromistis. 152. filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend itu bisa membimbing kaum cerdik pandai untuk berpikir mandiri. Salah satu peran penting filsafat Feyerabend yang berpijak pada rasionalitas dan universalisasi ilmu pengetahuan itu dalam kehidupan masyarakat luas adalah bahwa ia bisa membantu menjernihkan substansi suatu permasalahan dan menyingkirkan berbagai macam kepalsuan dan pemaksaaan ideologis.F. Chalmers. Feyerabend terus berusaha µberkelit¶ dari sanjungan keberhasilan dan kemapanan sains. sehingga ia mampu menghadirkan kronik pemikiran baru dalam diskursus ilmu pengetahuan modern dan postmodern yang sudah mulai banyak diperdebatkan. kritis dan berani. Sedangkan dalam komunitas akademik. mendalam. op.

. Dalam kehidupan sosial. maka perluasan wacana filsafat Feyerabend ini akan memungkinkan masyarakat untuk memikirkan kembali masalah-masalah dasar hidupnya secara rasional dengan bahasa. Lantas. pluralisme metodologi yang ditawarkan Feyerabend kiranya juga bisa membantu melepaskan subyektivitas keberagamaan kita dari pandangan dunia dan pembelaan agama yang berbeda untuk bersama-sama membahas tantangan yang dihadapi bangsa. sembari mempertanyakan ulang tentang kejelasan metode dan wawasan. serta menghubungkan kesenjangan pemahaman ilmu itu sendiri dengan tuntutan-tuntutan praktis kehidupan. filsafat Feyerabend dapat dijadikan alat untuk mendeteksi setiap kedok-kedok ideologis berbagai ketidakadilan sosial serta pelanggaran - pelanggaran terhadap martabat manusia dan hak -hak asasinya. serta mencari pemecahan yang berorientasi pada penghormatan nilai-nilai kemanusiaan. dengan analisis yang bebas dan obyektif. Dalam bidang agama. wawasan dan argumentasi yang universal dalam rangka men ggali kekayaan budaya. apa kontribusi konkrit yang bisa diberikan model pembelajaran filsafat Feyerabend tersebut terhadap dunia keilmuan di Indonesia? Secara praktis. gagasan-gagasan filsafat Feyerabend itu setidaknya bisa membantu kita mengambil jarak sekaligus memberikan kritik tandingan terhadap klaim ideologi ilmu-ilmu empiris yang dalam opini budaya modern ini seolah-olah hanya ilmuilmu empirislah yang sanggup mendefinisikan arti kemanusiaan dan tujuan perkembangan masyarakat. kritis dan kreatif. tradisitradisi dan filsafat Indonesia asli secara lebih terbuka.pula mencegah meluasnya kantong-kantong kosong pemikiran filosofis yang lolos dari tantangan kritik. Dengan demikian.

ketua. ketiadaan. Aliran ini didasarkan pada ajaran bahwa masyarakat yang ideal itu dapat mengatur urusannya sendiri tanpa mempergunakan kekuasaan yang berlawanan dengan paham sosialisme dan komunisme. komandan. 129 Ali Mudhofir. William Goldwin (1756-1836). Dalam pengertian ini anarkisme tidak bisa disamakan dengan Nihilisme. awalan a. 1996). 9-10. orang yang berwenang. anarkisme berasal dari kata Yunani an archos = tanpa pemerintahan. Ia merupakan sebuah aliran dalam filsafat sosial yang menghendaki dihapuskannya negara atau pemerintahan serta kontrol politik dalam masyarakat. Pengertian Anarkisme Secara etimologi. Aliran ini berpandangan bahwa individu-individu harus mengatur diri mereka sendiri dengan cara yang disenangi demi pemenuhan kebutuhan dan idealideal mereka. Tokoh-tokohnya: Gerrard Winstanley (16091660). 129 Anarkisme (bhs. kebutuhan akan. Konotasi positif: Anarkisme adalah ideologi sosial yang menolak pemerintahan yang otoriter. . hlm. kekurangan + anarchos. Dalam bahasa Yunani istilah anarchos atau anarchia berarti tidak memiliki pemerintahan²keadaan tanpa penguasa). tidak.BAB IV ANARKISME ILMU PENGETAHUAN PAUL KARL FEYERABEND G. pengarah. Mikhail Bakunin (1814-1876) dan Peter Kropotkin (1842-1921). seorang pengatur. Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Yunani.

(Penganut antinomi. hlm. to the influence of the primitivistic strain in the thought of Jean Jacques Rousseau. yang diperlukan bagi keselamatan. Seseorang yang ingin hidup di luar masyarakat dalam keadaan alami atau hidup dalam masyarakat dengan ikatan seminimal mungkin oleh norma-norma sosial. bukan hukum moral. 13. nomos. 30. is man¶s greatest enemy ²eliminate it and the evils of human life will disappear. 1994). 130 Ibid. hal kesewenang-wenangan bertindak (melenyapkan undang-undang). 17. anti. (b) dalam pengertian teologis yang lebih ekstrem. Modern anarchism probably owes not a little. anarchism envisages a homely life devoted to unsophisti ated activity and filled with c simple pleasure. 2. in an indirect way. (a) seseorang yang percaya bahwa hanya keimanan.130 Kamus Ilmiah Populer dengan gamblang mendefinisikan anarkisme sebagai sebuah paham kebebasan bertindak tanpa mau diikat oleh undangundang. seseorang yang memandang rendah hukum dan batasan-batasan sosial serta meletakkan di atas segalanya soal keimanan dan pengetahuan tertentu yang menjanjikan keselamatan. Thus it belong in the ³primitive tradition´ of Western culture and springs from the philosophical concept the inherent and radical goodness of human nature. 131 Pius A. dalam teologi. . In an popular sense the word ³anarchy´ is often  Antinomian (bhs. 1995). it contends. sebgai lawan dari kaum aktivis atau anarkis. hlm. umumnya tidak langsung terlibat dalam usaha penghapusan hukum-hukum dan struktur politik suatu masyarakat. hukum) 1. seseorang yang menginginkan kebebasan dari aneka peraturan dan hukum dalam masyarakat. Partanto dan M. melawan. Positively.131 Sementara Dictionary of Philosophy secara terperinci memberikan pengertian anarkisme sebagai berikut: Anarchism: This doctrine advocates the abolition of political control within society: The State. Konotasi negatif: Anarkisme adalah kepercayaan yang menyangkal untuk menghormati hukum atau peraturan apapun dan secara aktif melibatkan diri dalam promosi kekacauan melalui perusakan masyarakat. hlm. Kamus Filsafat (Bandung: Remaja Rosdakarya.tetapi lebih serupa dengan libertarianisme politik dan antinomianisme . Dahlan Al-Barry. Yunani. Lihat dalam Tim Penulis Rosda. Aliran ini mengajarkan penggunaan terorisme individual sebagai sebuah alat untuk meningkatkan terjadinya disorganisasi sosial dan politik.. Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola.

Dalam bidang ilmu pengetahuan. Jelasnya. Runes (ed. 11-12. hlm. Sebab negara menurut pendapat mereka adalah musuh terbesar manusia yang jika disingkirkan akan dapat menghilangkan kejahatan -kejahatan yang ada dalam kehidupan manusia. Jadi ia termasuk kebiasaan kuno dari budaya Barat yang bersumber dari konsep filosofis yang telah melekat dan mengakar secara baik dalam sifat dasar manusia.133 132 Dagobert D.). Kamus Istilah Filsafat (Yogyakarta: Liberty. hlm. berusaha untuk mempengaruhi pandangan -pandangan kuno yang terdapat dalam pemikiran Jean Jacques Rousseau. walaupun dengan cara yang berlainan. Dalam pengertian populer. Menurutnya. 1992). bahkan kata ini juga dipakai oleh seseorang yang menyangkal terhadap keabsahan anarkisme itu sendiri. Dictionary of Philosophy (Littlefield Adams & Co. 9. kata ³anarki´ seringkali digunakan untuk menunjukkan adanya kekacauan sosial dalam suatu negara. 133 Ali Mudhofir. anarkisme mengimpikan kehidupan yang bersahaja dengan menekuni kegiatan yang sederhana dan mengisinya dengan kesenangan yang wajar. 1971).used to denote a state of social chaos. but it is obvious that the word can be used in this sense only by one who denies the validity of anarchism. . Anarkisme modern kelihatannya juga tidak jarang. anarkisme diartikan sebagai anarchy epistemological (kesewenang-wenangan epistemologis) yang digunakan dan dipopulerkan oleh Paul Karl Feyerabend. tidak ada ukuran -ukuran yang tetap untuk memisahkan atau membedakan antara sampah dengan teori yang dapat diamati. Totowa: New Jersey..132 Jadi yang dimaksud dengan istilah anarkisme adalah: ajaran yang menganjurkan dihapuskannya penguasaan politik dalam masyarakat.

William Goldwin. menganut doktrin revolusioner yang bermuara pada penghancuran negara. garis lunak (moderat).Disamping itu juga terdapat beberapa pandangan filsuf tentang definisi anarkisme. sebab ia merupakan biang keladi ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat. diantaranya: 1. mendukung pertumbuhan dan perkembangan secara bertahap hubungan timbal balik atau kegotong royongan. filsuf Perancis. Dan penyebarluasan kerjasama sukarela semacam ini akan menggantikan negara. garis keras (ekstrem). . berkeyakinan bahwa keberadaan anarkisme adalah pasti dalam wujud pemberontakan ²bukan revolusi² perseorangan seiring dengan adanya penumpukan dan pengembangan sikap individualisme. 3. Max Stirner. Joseph Proudhon. suatu rasa sosial yang semakin meningkat di tengah masyarakat. Sedangkan mengenai cara penghapusannya berbeda-beda menurut pandangan para penganutnya: evolusioner. 4. penulis politik Inggris. istilah ini baru beredar pada abad ke-19. mengharapkan munculnya anarkisme melalui perkembangan moral manusia secara bertahap. filsuf Jerman. 2. penulis dan aktivis politik Rusia. revolusioner. Pertama kali digunakan oleh Proudhon dan kemudian diangkat kembali oleh Bakunin untuk menyatakan adanya aneka ragam doktrin yang berkisar seputar keyakinan bahwa negara yang teratur harus dilenyapkan. 5. Sebagai doktrin politis dan filosofis. Mikhail Bakunin.

Newton-Smith. Dikatakannya. negara. Dalam hal ini ia lebih cenderung mewakili pandangan anarkisme religius.. 7. apabila anarkisme politis anti terhadap kemapanan (kekuasaan. 135 W. Feyerabend sendiri secara pribadi menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang d adais yang dilukiskannya sebagai berikut: A Dadais is convinced that a worthile life will arise only when we start taking things lightly and when we remove from our speech the profound but already putrid meanings it has accumulated over the centuries.135 134 Lorens Bagus.6. Peter Kropotkin. maka anarkisme epistemologis justru tidak selalu memiliki loyalitas ataupun perlawanan yang jelas terhadap semua sistem dan struktur elit tersebut. term anarkisme itu tidak lain adalah anarkisme epistemologis yang dipertentangkan dengan anarkisme politis atau religius.I hope that having read the pamphlet the reader will remember me as flippant Dadais and not as a serious anarchist. 146-147. menganjurkan revolusi moral tanpa kekerasan yang mengarah pada pen ghapusan negara. 1981). The Rationality of Science (Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd. mengutarakan bahwa teori Darwin terlalu melebih-lebihkan kompetisi dalam evolusi. padahal konsep gotong royong tidak kalah pentingnya.. Sedangkan dalam analisa Feyerabend sendiri. institusi-institusi dan ideologi-ideologi yang menopangnya). 48-49. Leo Tolstoy. 1996).. hlm. Di akhir renungannya tentang anarkisme. filsuf sosial dan pengarang Rusia.H. hlm. filsuf sosial dan novelis Rusia. . Dan anarkisme 134 itu sendiri merupakan gerakan kembali kepada masyarakat alamiah. Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia.

23. Ia bukan hanya tidak punya program. dan bukan sebagai anarkis yang sesungguhnya).  Istilah dadais muncul dari dunia seni di Perancis dan Jerman setelah Perang Dunia I sekitar tahun 1916-1922. 1975). karena tidak adanya ukuran atau aturan yang tetap dan pasti untuk menentukan antara yang ilmiah dan yang non-ilmiah. 136 Paul Karl Feyerabend. . Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. it was against all programmes¶. however µrational¶. µnot only had no programme.. tetapi juga anti status quo. Ia pembela status quo. Anarkisme Feyerabend yang demikian itu terkadang diartikan orang sebagai kesewenang-wenangan epistemologi. hlm. tetapi anti-program.136 Maksud Feyerabend adalah bahwa dalam epistemologi terdapat bentuk anarkisme yang berupaya mempertahankan sekaligus menentang kemapanan. melainkan akhirnya juga menjadi gerakan protes terhadap segala bentuk kemapanan. Hal itu ditempuh untuk memberikan kebebasan bagi perkembangan metode-metode alternatif. Feyerabend mengutip pandangan Richter sebagai berikut: µDada¶. Dadaisme berarti suatu gerakan protes dari dunia seni yang ditujukan bukan hanya terhadap seni yang sudah mapan. Seorang anarkisme epistemologis menurut Feyerabend ibarat seorang dadais seperti yang dijelaskan oleh Hans Richter dalam bukunya Dada: Art and Anti-Art.. This does not exclude the skillful defence of programmes to show the chimerical character of any defence.(Seorang Dadais percaya bahwa hidup yang berguna itu hanya dapat dibangun apabila kita mulai melakukan sesuatu yang gampang dan berhenti dari omong besar kecuali jika kita ingin pengertian -pengertian itu menjadi busuk karena ditumpuk-ditumpuk selama berabad-abad.Saya berharap bahwa setelah membaca selebaran ini pembaca mengenangku sebagai seorang Dadais yang sembrono.

ilmu pengetahuan secara hakiki merupakan usaha yang anarkistik mutlak. hlm. Feyerabend memberikan argumentasi historis. maka tidak demikian halnya dengan anarkisme epistemologis. dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting). dan sebagainya. Dari perspektif ini. Dengan demikian. sehingga tidak heran andaikata sejarah dan ide -ide ilmu pengetahuan yang berkembang itu kemudian menjadi pelik. Seorang anarkis di bidang ini tidak segan bahkan tidak malu untuk mempertahankan pandangan yang dianggap sudah basi dan konyol sekalipun. anarkisme. Feyerabend melihat bahwa para ilmuwan hanya meninjau fakta ilmu pengetahuan dari dimensi ide belaka. "Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend". bahwa sejarah ilmu pengetahuan tidak hanya berisi fakta-fakta dan kesimpulankesimpulan yang ditarik dari fakta-fakta tersebut. Ia juga berisi ide-ide. Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. Lantas mengapa diksi yang ditawarkan oleh Feyerabend adalah anarkisme? Karena anarkisme epistemologis merupakan anarkisme teoretis. interpretasi terhadap fakta-fakta.137 Situasi semacam itulah yang dilukiskan Feyerabend sebagai sakit epistemologis. 1993). anarkisme juga tidak bisa disebut skeptisisme.. dan obat paling mujarab untuk mengembalikan eksistensinya pada koridor semula adalah dengan prinsip anarkisme.Dalam posisi seperti itu. masalah-masalah yang timbul dari kesalahan interpretasi.W. 54. 137 Prasetya T. Jika skeptisisme berpendapat bahwa suatu pandangan bisa benar dan bisa salah atau bahkan bisa juga tidak ada penilaian berarti baginya. . Menurut hemat Feyerabend anarkisme teoretis itu lebih manusiawi daripada alternatif hukum. rancu dan penuh dengan kesalahan seperti pemikiran dari para penemunya. interpretasi yang bertentangan.

Feyerabend mengkritik ilmu dari dua sisi yang kaitan antar keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Dan kritik yang kedua dinamakannya dengan anti-ilmu pengetahuan (Against Science) yang secara lebih mendalam lagi mencoba mengoreksi tentang praktek ilmiah. jelas dan bebas. hlm. op.. Anarkisme Sebagai Kritik atas Ilmu Pengetahuan Secara garis besar. Pungkasan ide anarkisme Feyerabend yang secara esensial perlu kita gali maknanya dalam realitas keseharian kita adalah pernyataannya berikut ini: ³And my thesis is that anarchism helps to achieve progress in any one of the senses one cares to choose 138 ´.cit. 18.sebagaimana pengakuan Feyerabend bisa membantu kita untuk mencapai kemajuan dengan memilih salah satu pemikiran yang kita minati secara lebih rasional. Kritik pertama disebutnya sebagai anti-metode (Against Method) yang berusaha (mendekonstruksi) format metode ilmu pengetahuan yang telah dibuat dan dipahami oleh para kaum positivis dengan melakukan penyingkapan dan pembongkaran terhadap asumsi-asumsi beserta kesalahan dari teori-teori baku yang selama ini telah dikembangkannya. seluruh pemikiran individualisme ekstrem Feyerabend tentang anarkisme di atas sebenarnya adalah suatu kritik terhadap perjala nan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang telah didominasi oleh sains positivistik. fungsi dan kedudukan ilmu pengetahuan dalam kehidupan masyarakat yang dianggap memiliki standar universal yang melampaui batas-batas partikularitas dan relativitasnya. 138 Paul Karl Feyerabend. H. . Atas nama kebebasan individu.

Lagi pula.cit. 55.139 Dengan menunjukkan bukti bahwa sejarah ilmu pengetahuan itu selalu dipenuhi dengan pertentangan teori. memiliki resistensi terhadap kritik yang tahan sepanjang masa serta dapat pula membawahi fakta dan penelitian.W.1) Anti-Metode (Against Method) Dengan semboyan ini.. Dan langkah pertama yang dilakukan Feyerabend untuk menindaklanjuti kritiknya tersebut adalah dengan mengajukan suatu prosedur yang diberi nama kontra-induksi (counterinduction). Menurut Feyerabend. gagasan itu merusak ilmu pengetahuan dan menghambat laju perkembangannya karena mengabaikan adanya kompleksitas situasi fisik dan historis yang memungkinkan perubahan ilmu pengetahuan. Prosedur ini dimaksudkan sebagai standar 139 Prasetya T. klaim itu tidak realistis dan jahat. hlm. op. . karena ilmu pengetahuan berusaha memaksakan hukum -hukum yang menghalangi berkembangnya kausalitas-kausalitas profesional kita dengan mempertaruhkan sifat kemanusiaan kita. Feyerabend juga menyangkal pandangan saintisme yang menganggap ilmu berada di atas segala aspek budaya lain sehingga menyebabkan ilmu pengetahuan modern menghalangi kebebasan berpikir para ilmuwan itu sendiri.. Jahat. Feyerabend ingin melawan ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap mempunyai satu metode yang baku dan universal. Tidak realistis. karena kenyataannya ilmu pengetahuan hanya diambil dari pandangan sederhana atas dasar kemampuan seseorang dari lingkungan tertentu.

cit. irasionalitas dari beberapa aturan yang mungkin dianggap sebagai hal yang paling mendasar. Dan cara terbaik untuk menjelaskan ini adalah dengan menunjukkan batas-batas.kritik dari luar yang sangat diperlukan demi kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika ditemukan sejumlah fakta observasi dan eksperimen yang sesuai dengan teori. op. maka teori atau hukum diperkuat atau dikorborasi. hlm. have their limits. 23. Prinsip induksi berupaya mencari fakta yang mendukung dan menghindari fakta yang tidak sesuai dengan teori.. to convince the reader that all methodolgies. even the most obvious ones. Maksud Feyerabend bukanlah mengganti seperangkat aturan-aturan dengan peraturan yang lain. is likely to regard as basic. or he. Kontra-induksi yang ditawarkan Feyerabend itu adalah juga untuk mengatasi masalah kekurangan prinsip verifikasi atau falsifikasi yang sama-sama tidak menghendaki adanya fakta yang konsisten dengan teori. The best way to show this is to demonstrate the limits and even the irrationality of some rules which she. Hal tersebut diungkapkan Feyerabend sebagai berikut: My intention is not to replace one set of general ruler by another such set: my intention is. . karena sulitnya otokritik yang berasal dari dalam tubuh ilmu pengetahuan itu sendiri. Melalui kontra- 140 Paul Karl Feyerabend. tetapi tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa semua metode yang sudah jelas sekalipun mempunyai keterbatasan. rather.140 Hal ini jelas berbeda dengan paradigma positivisme yang menganggap induksi sebagai satu-satunya metode yang dianggap valid ataupun juga dengan kaum induktivisme naif yang berpendapat bahwa batang tubuh ilmu pengetahuan ilmiah dibangun di atas prinsip induksi yang dasarnya cukup kuat.

karena tidak ada satu pun teori yang menarik dan sesuai dengan semua fakta yang selalu dapat diketahui dalam bidang domainnya secara pasti dan meyakinkan. yaitu memberikan hipotesis yang tidak konsisten dengan teori yang mapan atau dengan fakta yang b ahkan tidak sesuai atau tidak terukur sekalipun. masalah ini tidak memerlukan pembelaan khusus. Feyerabend kemudian merancang pertanyaan mendasar tentang apa yang seharusnya dilakukan? Pertama. Itu sebabnya kontra-induksi selalu masuk akal dan selalu . Walaupun begitu. kontra-induksi yang dikemukakan oleh Feyerabend itu sesungguhnya berperan penting untuk menjembatani permasalahan teori dan fakta. melakukan kritik terhadap fakta untuk memutuskan rantai dan konsep yang sudah mapan. menurut Feyerabend. tetapi apakah kesenjangan yang ada antara teori dengan fakta harus diperbesar atau diperkecil? Atau apa yang harus kita lakukan dalam menjawab persoalan ini? Maka untuk bisa menyadari dan melakukan kritik terhadap asumsi-asumsi ilmu pengetahuan diperlukan standar eksternal guna memeriksa karakteristik dari dunia nyata yang diamati. Oleh karena itu. Semua itu merupakan langkah yang disebut oleh Feyerabend sebagai kontra-induksi. Jadi. memperkenalkan persepsi yang bukan merupakan bagian dari dunia persepsi yang ada. Kedua.induksi. Dan untuk itu semua. mengacaukan prinsip-prinsip teoretis yang paling masuk akal. pertanyaan pokoknya bukan apakah teoriteori yang kontra-induktif ini harus diakui dalam ilmu pengetahuan atau tidak. Feyerabend mengusulkan counterrule. dan Ketiga.

Ini berarti bahwa prinsip pengembangbiakan juga menafikan adanya sikap otoritarianisme terhadap produk pemikiran manusia yang paling absurd sekalipun. op. dan (3) membandingkan konsekuensi-konsekuensi itu dengan ilmu pengetahuan.. Maksudnya kita tidak bekerja dengan sistem pemikiran. adalah untuk memperlemah kesetian kita terhadap kemantapan suasana dengan menciptakan 141 Ibid. . therefore. Feyerabend memasukkan beberapa prinsip (bukan metode)..W. Prinsip pengembangbiakan ini merupakan realisasi kritik dari alternatif pemikiran Feyerabend yang pada prinsipnya bertujuan untuk mencapai tiga hal utama: (1) memberikan model abstrak tentang kritik terhadap ilmu pengetahuan. menurut W.mempunyai kemungkinan untuk berhasil (counterinduction is.H. 23. Berdasarkan hal yang ketiga.141 Sebagai ganti atas anti-metode. hlm. (2) mengembangkan konsekuensi-konsekuensinya.cit. bentuk-bentuk kehidupan dan kerangka institusional yang tunggal. Jadi dalam dalam kaitan ini kami hanya akan membahas tentang prinsip pengembangbiakan yang secara harfiah berarti membiarkan semua berkembang sendiri. Feyerabend mengharapkan bahwa perbandingan antara fenomenafenomena sejarah dan pandangan epistemologis mampu memberikan kriteria penilaian yang holistik terhadap struktur aktual ilmu pengetahuan. yaitu prinsip pengembangbiakan (proliferation) dan prinsip apa saja boleh (anything goes) yang telah penulis terangkan dalam bab sebelumnya. 56. Newton-Smith. always reasonable and it has always a chance of success). sehingga nantinya terbentuk suatu basis bagi kritisisme dan reformasi ilmu pengetahuan. 142 Prasetya T.142 Siasat Feyerabend ini.. hlm.

hal yang bertentangan dengan keadaan yang melarang kita untuk mengembangkan berbagai teori. sebab ternyata ia juga menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan itu tidak dapat diperoleh dengan hanya mengikuti teori tunggal.. op. 2) Anti-Ilmu Pengetahuan (Against Science) Anti-ilmu pengetahuan Feyerabend ini tidak berarti ia anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Smith mengatakan. prinsip ini tidak hanya memungkinkan adanya penemuanpenemuan alternatif baru. Newton-Smith. Feyerabend ingin melawan ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap 143 W.H. terutama teori yang bertentangan dengan satu teori yang telah diterima oleh umum pada zaman sekarang ini. tetapi juga membuka peluang bagi tampilnya kembali teori lama yang sudah tidak diakui lagi keberadaannya. aturan atau metode apapun. especially theories incompatible with currently accepted ones´. Dengan demikian. melainkan anti terhadap kekuasaan ilmu pengetahuan yang seringkali mengaburkan maksud dan tujuan utamanya. Dengan sikap ini. Berdasarkan uraian di atas. 131. melainkan dengan membiarkan teori-teori yang beraneka ragam dan berbeda satu sama lain berkembang secara bebas.143 Prinsip pengembangbiakan berusaha menemukan dan mengembangkan teori-teori yang tidak cocok dengan pandangan yang sudah lazim diterima. ³«Feyerabend¶s strategy is to weaken our allegiance to the consistency condition by developing a case an incompatible counterrule which in this case enjoins us to proliferate theories. jelas bahwa prinsip pengembangbiakan ini bukan aturan metodologis. hlm.cit. .

. Semboyan extra ecclesiam nulla salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan) yang lebih dari satu abad lalu ada dalam tradisi gereja. 58. voodoo. Feyerabend ingin mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu bukanlah ideologi yang berisi omong kosong belaka. Maka tidak wajar mendewa-dewakan ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya pengetahuan 144 Prasetya T. ilmu pengetahuan menjadi pemikiran tunggal-mutlak karena adanya propaganda dari para ilmuwan dan institusi terkait yang diberi wewenang untuk selalu mempengaruhi kesadaran kolektif masyarakat tentang hakikat dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Dengan begitu. hlm. dan pada gilirannya menjadi semacam ideologi yang menindas kebudayaan alternatif. tetapi mereka secara hukum konvensional mendapat sanksi sosial yang justru lebih berat daripada batas-batas toleransi yang ada dalam suatu masyarakat sekalipun. dan lain sebagainya.lebih unggul daripada bidang-bidang atau bentuk-bentuk pengetahuan lain.. mitos.. diadopsi oleh para ilmuwan dengan mengatakan extra scientiam nulla salus (di luar ilmu pengetahuan tidak ada kebenaran).144 Walaupun dewasa ini tidak ada lagi orang yang dihukum mati dengan dakwaan subversif atau ³sesat´ terhadap rumus-rumus formal ilmu pengetahuan. Dari semua bentuk pengingkaran yang sangat radikal tersebut. op. seperti sihir. Feyerabend sejatinya ingin menyatakan bahwa ilmu pengetahuan hanya merupakan salah satu gagasan terbuka dan plural dari sekian banyak pilihan ideologi yang ada dalam masyarakat. Sehingga ilmu pengetahuan yang dianggap paling benar itu telah menguasai sistem kebenaran dunia ilmiah.cit.W. magi. Ditegaskannya.

Relevansi pemikiran yang dapat kita pertautkan makna aktualitasnya dari dasar-dasar epistemologi Feyerabend di atas dengan fenomena budaya akademik kita saat ini adalah bahwa kita perlu mengembangkan pola pikir²dalam bahasa filsuf John Henry Newman²illative sense. . Karena masalahnya terletak pada muatan ideologis dari komunitas para ilmuwan dan pihak-pihak yang selalu berusaha menciderai kemurnian citra ilmu pengetahuan dengan kepentingan-kepentingan subyektif-individual yang menyebabkan proses idealisasi ilmu pengetahuan yang sebenarnya mengalami stagnasi. tanpa kehilangan kepastian bahwa kita dapat bicara mengenai kebenaran. Adanya pengakuan terhadap kompleksitas berbagai persoalan kemanusiaan dan keterbatasan kemampuan manusia menguasainya yang pada akhirnya mengandaikan keterbukaan terhadap beragam persepsi. atau dalam konstruksi filsafat Feyerabend disebut sebagai anti-ilmu pengetahuan (Against Science) itu.yang paling unggul dan bahkan paling menentukan kehidupan masyarakat. dan kemungkinan manusia mengambil sikap terhadap obyek tersebut. yakni semacam kebijaksanaan untuk mengakui segala keterbatasan pengetahuan kita. Mungkin situasi inilah yang dikatakan oleh Richard Rorty bahwa epistemology is dead. penafsiran dan perbedaan pendapat itu tidak lantas membuat kita harus kehilangan sandaran pencarian perennial tentang adanya kemungkinan bahwa kita dapat mencapai²betapapun mencapai disini mesti ditafsirkan sebagai (makin) mendekati²hakikat kebenaran yang kita maksud. Mungkin illative sense ini mirip dengan konsep phronesis dari Aristoteles. yaitu bagian intelektual manusia yang dapat mengandaikan adanya kompleksitas suatu obyek.

Disamping itu. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan penting sebagai berikut: 1. ilmu tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. Adapun prinsip prinsip ilmu pengetahuan yang ditawarkan oleh Feyerabend itu adalah apa saja boleh (anything goes). Simpulan Dari seluruh pembahasan tentang konstruksi ep istemologis Paul Karl Feyerabend beserta persoalan-persoalan dasarnya tersebut di atas. dan kebebasan individu. prinsip -prinsip ilmu pengetahuan Feyerabend juga merupakan wujud dari ketidaksetujuannya pada empirisme kontemporer dan teori mekanika kuantum mutakhir dari Interpretasi Kopenhagen untuk menunjukkan bahwa metodologi-metodologi yang telah ada sudah tidak sejalan atau tidak cocok lagi dengan sejarah perkembangan fisika. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend disusun atas dasar protes terhadap proses pemapanan ilmu pengetahuan yang selama ini didominasi oleh aliran Positivisme Logis dari Lingkaran Wina (Vienna Circle) yang menempatkan dan merumuskan ilmu pe ngetahuan sebagai kalkulasi aksiomatis semata. 2. ilmu tidak mengungguli bidang pengetahuan lain. Feyerabend juga berhasil mengembangkan sistem ilmu pengetahuan revolusioner yang menjadi suatu analisis alternatif untuk .BAB V PENUTUP I.

ilmu pengetahuan yang dipropagandakan menjadi ideologi tunggal-mutlak yang menindas budaya ilmiah alternatif oleh para ilmuwan dan institusi terkait lain . Ia berargumen bahwa selama ini para ilmuwan cenderung memakai standar-standar universal dan baku. Selain itu. Oleh sebab itu. sehingga menghalangi berkembangnya kausalitas -kausalitas profesional kita dan menegasikan pula pluralisme metodologi yang pada hakikatnya bisa menjadi sarana kritisisme dan kemajuan ilmu pe ngetahuan itu sendiri. dan tidak ubahnya juga seperti ³agama baru´ pada masa Abad Pertengahan yang memonopoli sistem kebenaran dalam masyarakat. voodoo. salah satu ide penting Feyerabend lainnya sebagai penjelasan lanjutan dari tesis apa saja boleh yang diusungnya adalah bahwa tidak ada keteraturan metode atau teori dalam ilmu pengetahuan. mitos.menginterpretasi dunia dengan metode anarkisme epistemologi yang ditujukan untuk semakin menemukan hakikat ilmu pengetahuan yang selama ini secara ideologis dianggap lebih unggul daripada bentuk pengetahuan lain lewat kritik anti-metode (Against Method) dan antiilmu pengetahuan (Against Science)nya. terlepas dari kontroversi ilmiah yang menyertainya. Corak pemikiran anarkisme ilmu pengetahuan Feyerabend. magi. telah mampu memberikan perspektif baru untuk melepaskan diri dari segala bentuk otoritarianisme ilmu pengetahuan yang dianggap Feyerabend tidak ubahnya seperti sihir.

Dengan begitu. maka saran singkat yang bisa penulis sampaikan adalah. bahwa di masa mendatang mungkin alangkah lebih baik jika pengembangan kajian dari tulisan ini lebih difokuskan pada implikasi-implikasi sosial-praktis dari prinsip apa saja boleh (anything goes). B. . Untuk itu. Saran-saran 1. serta tidak memiliki standar aturan yang dinilai baku untuk menentukan antara yang ilmiah dan yang non -ilmiah. ilmu tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. maka perdebatan filosofis tentang Feyerabend tidak hanya berkisar pada satu sketsa pemikiran saja. Sebagai sebuah pemantik dan pengenalan awal dari wacana filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend. dalam skripsi ini penulis hanya sebatas µmengantarkan¶ khalayak pembaca pada orientasi umum tentang anarkisme epistemologi Feyerabend yang oleh sebagian kalangan dianggap tidak memberikan tawaran metodologi yang jelas dan sistematis.semisal negara itu menurut keyakinan Feyerabend mesti dilawan dengan penentangan metode yang anarkistik. sebab masih banyak padanan ide dan ragam penafsiran lain yang bisa dielaborasi secara tajam dan mendalam dari tesis-tesis utama Feyerabend yang begitu kontroversial dan ekstrem itu guna memperoleh bekal pemahaman yang lebih benar dan lengkap tentang struktur fundamental dari filsafat Feyerabend itu sendiri. ilmu tidak harus mengungguli bidang pengetahuan lain dan kebebasan individu Feyerabend di tengah arus liberalisasi pemikiran masyarakat kontemporer.

Sebab studi filsafat sebagai pilar utama rekonstruksi pemikiran lewat metodologi berpikirnya yang ketat. Dalam mengkaji pemikiran filsafat Feyerabend ini kita dituntut untuk melakukan apropriasi. sehingga tidak jarang menimbulkan pemaknaan yang justru kontraproduktif. Namun dengan adanya unsur ³relativisme saintifik´²istilah Haidar Bagir²dalam rumpun teori ilmu pengetahuan.2. yaitu kemampuan memahami orang lain tanpa terhanyut ke dalam alam pikirannya secara total. tentu akan membuat kita tidak pernah merasa benar sendiri serta tidak mudah merasa puas dengan segala pengetahuan yang telah kita peroleh. mengajar kita untuk senantiasa meneliti. selain beresiko menghasilkan rumusan pemecahan masalah yang keliru. Evolusi ilmu pengetahuan dan kebudayaan manusia telah sampai ke zaman yang memaksa kita untuk be rpikir . batas-batas yang kita paksakan atas persoalan yang sejatinya kompleks itu sering merupakan penjelmaan dari sikap-sikap subyektif-egoistik kita. mendiskusikan dan men guji kesahihan serta akuntabilitas setiap gagasan ²termasuk anarkisme ilmu pengetahuan Feyerabend²agar bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual dan ilmiah. Oleh karena itu. Sebab kerapkali krisis persepsi terhadap pluralitas dan kompleksitas dari setiap dialektika pemikiran membuat kita tidak bisa menangkap dan menggali muatan muatan filosofis yang menjadi asumsi dasar masalah tersebut. kita pun cenderung bersikap fanatik²mati-matian membela pendapat kita tanpa peluang menyadari bahwa pendapat kita itu salah. Bahkan yang lebih parah lagi.

sehingga kita mampu mencerna makna substansial dari setiap realitas yang ada. sebagaimana ditegaskan Feyerabend berbeda dengan anarkisme politis maupun religius. Di samping itu juga. yang tidak bermakna anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Demikian juga. 3. tetapi itu menurut Feyerabend. Anarkisme. sistemik dan refleksif-mendalam untuk memahami realitas beserta problem-problem besar yang diakibatkannya. anything goes tidak berarti pula tanpa batas-batas fungsional yang mengikuti kecenderungan individual yang tidak berarti dan tidak bernilai.holistik. . perlu kecermatan dan ketelitian dalam menelaah setiap rekonstruksi filosofis yang cukup provokatif dari Feyerab end. Atau Against Science. tidak lantas itu meniadakan atau mengganti peran dan fungsi teoretis ilmu pengetahuan yang telah dirintis oleh para ilmuwan. Juga pengertian Against Method. dipakai untuk menunjukkan bahwa ada aspek relativitas teori ilmu pengetahuan yang selalu terbatas oleh adanya ketergantungan observasi pada teori. melainkan bahwa subyektivitas para ilmuwan dalam penetapan sebuah proposisi atau hipotesis ilmu pengetahuan menyebabkan praktek ilmiah tidak bisa dijadikan sebagai simbol superioritas ilmu pengetahuan atas bentuk atau bidang pengetahuan lain. Maka saran akhir yang bisa penulis usulkan dan adalah dibutuhkan sikap kehati-hatian pikiran filsafat dalam ilmu memahami menyelidiki pokok-pokok pengetahuan Feyerabend dengan menghindari penafsiran yang dangkal dan terpilah-pilah.

Balashov. et.P. Pengantar Filsafat Ilmu.. Bunge. 1983. 1995. Jakarta: Gramedia. 1997. Martinus Anton Wesel dan M. Frans M. 1981. Al-Qur¶an dan Terjemahnya. Psikologi Fenomenologis. Bandung: Mizan. . Androngi. Beerling. Falsafatuna. Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan Yogyakarta: .DAFTAR PUSTAKA Asdi. 2003. Achmadi.F. Anton dan A. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Sejarah Filsafat Barat dan Sezaman. Filsafat Alam Semesta. Yuri and Alex Rosenberg (eds. 2002. Muhammad Nur Mufid bin Ali. Asmoro. 1990. Jakarta: Balai Pustaka. Bagus.al. 1998. Metodologi Penelitian Filsafat. 1987. Endang Daruni dan A. Bakker. Bernadien. R. 1996. Brouwer. Philosophy of Science. 1951. alih bahasa Soejono Soemargono. Heryadi. Filsafat Dewasa Ini. Panorama Filasafat Modern. Semarang: Alwaah. Parera (penyunting).). 1993. Dance of God. London: Routledge. Filsuf-filsuf Dunia dalam Gambar. Brouwer. Yogyakarta: Kanisius. 1998. Bandung: Alumni. Filsafat Umum. Husnan Aksa. terj. Bertens. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Adisusilo. Semarang: Bintang Pelajar. Yogyakarta: Tiara Wacana. Muhammad Baqir. Charris Zubair. Volume One: From Problem to Theory. New York: Transaction Publishers. 1986.). Win Usuluddin (ed. Martinus Anton Wesel. Yogyakarta: Apeiron Philotés. Kees. Mario Augusto. Yogyakarta: Karya Kencana. Kamus Filsafat. Tarian Tuhan. 1986. Philosophy of Science: Contemporary Readings. Revised Edition. Lorens. Ash-Shadr. Sutardjo. Kanisius. Beerling. Jakarta: Gramedia. 1984.

1983. Gie.W.). Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi. Wacana Analitik. Psikososial. Stockum dan Juntak S. 1982. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern. Sebuah Studi Tentang Filsafat. 1981. Systematisch. G. Pengantar Teori-teori Pemahaman Kontemporer: Hermeneutika. Harun. Structure Revolutions. _______. La Salle. James Franklin. Encyclopaedie.Chalmers. 2002. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge..F. A. P. Lintasan Sejarah Ilmu. Bandung: Nuansa. Feyerabend. Gallagher. . 1998. Bandung: Jemmars. Pengantar Remadja Karya. C. Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat. dalam Ian Hacking (ed. Dirdjosisworo. Bawengan. Illinois: Open Court. 1992. ____________. Hanafi. 2001. Th. 1983. dan Ontologis. 1980. 1985.. New York: Oxford University Press. Against Relativism: A Philosophical Defense of Method. Bandung: Epping. Jakarta: Pradnya Paramita. Filsafat Ensie: Eerste. Roy J. Pengantar Filsafat Ilmu. Nederlandse. 1987. Jakarta: Pustaka Alhusna. Hamersma. Hadiwijono. New York: Verso. The Liang. Jakarta: Pustaka Alhusna. Kenneth T.. London: New Left Books. __________________. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. Ushuluddin. Farewell to Reason. A. Yogyakarta: Fak. A. Paul Karl.. Harris.. 1999. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Liberty. 1983. Hardono Hadi (penyunting). Epistemologi (Filsafat Pengetahuan). Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna. Yogyakarta: Kanisius. 1981. Jakarta: Gramedia. 1975. Harry... 1997. Yogyakarta: Kanisius. ³How to Defend Society Against Science´. Epistemologi dan Logika. Ingerichte. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya. Filsafat Skolastik. Ninuk KledenProbonegoro (ed). 2000. __________________.F. Soedjono. Jakarta: Hasta Mitra. Howard.

Thomas S. 1968. Henry van. 2002. Yudian W. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis.M. Kees Bertens. Jakarta: Gramedia. terj. New York: Oxford University Press. terj. 1992. Indonesia. Magnis-Suseno. Bandung: Mizan. Susunan Ilmu Pengetahuan. terj. Jakarta: Gramedia. A.. Melsen. Pengantar Filsafat. Lubis.. Prawirohardjo. London: Routledge. Filsafat Sains Bagian Pertama: Ilmu Pengetahuan Secara Umum. Jakarta: Teraju. Soeroso H. Ali. Popper. Pengantar Filsafat Islam: Sebuah Pendekatan Tematis. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita. Laer. Louis O. 2001. Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi.P. New York: Harper & Row Pub. Mudhofir. Tjun Surjaman. Asmin (ed. Ladyman. Yogyakarta: Kanisius. _________. Losee. 1996. 1974. Peursen. Kattsoff. 1996. Musa Kazhim dan Arif Mulyadi. 1995. __________. Leaman. A Historical Introduction to the Philosophy of Science. The Logic of Scientific Discovery. Yogyakarta: Tiara Wacana. Cornelis Anthonie van. Karl Raimund. Oxford: Clarendon Press. 1988.). Kamus Istilah Filsafat.Kuhn. 1992. 2001. Yogyakarta: U. 1992. Meta-Teoritis atas Ilmu Pengetahuan dan Implikasinya Bagi Program Pendidikan Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains.. van. Feyerabend: Penggagas Anti-Metode. Franz von. 1984. Understanding Philosophy of Science. Gadjah Mada University Press. Bandung: Remaja Rosdakarya. Oliver. . alih bahasa Soejono Soemargono. Philosophy of Science and Historical Enquiry. Fourth Edition. Yogyakarta: Liberty. James. 2003.G. 1993. John. Yogyakarta: Pusat Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia. Akhyar Yusuf.

Yasraf Amir.. Surabaya: Arkola. Jean. Suriasumantri. Yogyakarta: IRCiSoD. et. Totowa: New Jersey. 1999. The Rationality of Science. Semiawan. terj. Yogyakarta: Jalasutra. C. Frederick (ed. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman.al. Joko.. Kosmologi Einstein. _______________. Yogyakarta: Kanisius.al. F. Metodologi Penelitian Filsafat. 2002. Inyiak Ridwan Muzir. 1996. Yogyakarta: Kanisius. terj.H. Urbana University of Illionis Press. Jan Hendrik. terj. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu. W. Pius A. dan M. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 1996. et. 2001. Kebenaran Yang Terlupakan: Kritik atas Sains dan Modernitas . Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1995.Partanto. Bosco Carvalho. Kamus Ilmiah Populer. Jakarta: Gramedia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1995. Hermoyo. Rapar. Sutrisno. 1971. Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan. Suppe. Polanyi. (penyunting). 2004. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.). Newton. Piaget. Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu. 1994. Hiper-Realitas Kebudayaan. 1996. ____________ (penyunting). Piliang. 1999. 1995. Budi Hardiman (ed. Littlefield Adams & Co. Runes. Mudji dan F. Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd. 1998. Dictionary of Philosophy. Dahlan Al-Barry. Smith. Jujun Suparjan. Pengantar Filsafat. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna . 1996. .A. The Structure of Scientific Theories. Yogyakarta: LKíS. Yogyakarta: Tiara Wacana. Qadir. Smith. Michael Dua. Strukturalisme. Siswanto.X. Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. Huston.)... terj. 1981. Bandung: Rosdakarya. Sudarto. Michael. Jakarta: Raja Grafindo Persada.). (ed. Conny R. 1974. Dagobert D.

Salam. . Tim Redaksi Driyarkara (penyunting). 1993. Kamus Filsafat. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta. 2000. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hakikat Ilmu dan Cara Kerja Ilmu-ilmu. Sugiharto. Jakarta: Gramedia. Sejarah Filsafat. I. Christiaan R. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-ilmu. dan Robert Haryono Imam. Burhanuddin. 2000.O. Bambang. 1991. Ilmu dan Teknologi. Yogyakarta: Kanisius. 1995.M. Jakarta: Gramedia. Tim Penulis Rosda. Verhaak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->