ANARKISME ILMU PENGETAHUAN (Analisis Terhadap Konstruksi Epistemologi Paul Karl Feyerabend, 1924-1994

)

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Untuk Memenuhi sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S-1) Filsafat Islam

Disusun Oleh: FATHORRAHMAN NIM. 0051 0251

JURUSAN AQIDAH FILSAFAT FAKULTAS USHULUDDIN UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2005

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini terdapat perhatian yang semakin besar terhadap filsafat ilmu. Dinamika perkembangan ilmu yang begitu pesat dan cepat serta pengaruhnya yang cukup signifikan terhadap kehidupan masyarakat, menuntut intensitas pemikiran kita untuk mempelajari berbagai metode cabang ilmu secara terpadu dan berkesinambungan. Hakikat ilmu sebagai suatu kumpulan pengetahuan berdaya guna memberikan dorongan bagi kita dalam menjelaskan, meramalkan dan mengontrol gejala-gejala alam. Pengetahuan yang merupakan produk kegiatan berpikir merupakan obo r peradaban telah memungkinkan manusia menemukan jati dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan serta merta dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan jalan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya. Proses penemuan dan penerapan itulah yang menghasilkan kapak dan batu zaman dulu sampai komputer hari ini. Berbagai masalah memasuki benak pemikiran manusia dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, dan beragam buah pemikiran telah dihasilkan sebagai bagian dari sejarah kebudayaannya. Meskipun tampak betapa banyak dan beraneka ragamnya buah pemikiran itu, namun pada hakikatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok, yakni: Apakah yang ingin kita ketahui?

Bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? dan Apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita?1 Hal ini juga sesuai dengan dimensi utama filsafat ilmu itu sendiri sebagai sebuah proses penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Sebab filsafat ilmu itu sendiri bersinggungan pula dengan bagian-bagian filsafat sistematik lainnya, seperti filsafat pengetahuan (hakikat serta otentisitas pengetahuan), ontologi (ciri-ciri serta susunan kenyataan) dan filsafat kesusilaan (nilai-nilai serta tanggungjawab).2 Pertanyaan itu kelihatannya sederhana namun mencakup permasalahan yang sangat azasi. Lahirnya sejumlah karya pemikiran besar pun sebenarnya merupakan wujud nyata dari keseriusan kaum intelektual dalam rangka merumuskan format penafsiran baru yang lebih bermutu atas ketiga pertanyaan tersebut di atas. Pemikiran-pemikiran besar dalam sejarah kebudayaan manusia dapat dicirikan dan dibedakan dari cara mereka menjawab dan menyikapi pertanyaan-pertanyaan itu yang merupakan titik tolak dalam pengemban gan pemikiran selanjutnya. Ilmu merupakan salah satu bentuk manifestasi dari pengetahuan manusia yang pada abad modern ini telah merasuki setiap sudut kehidupan manusia. Salah satu pandangan kontemporer tentang ilmu yang paling menantang dan provokatif adalah pandangan yang dikemukakan dan dibela secara gemilang oleh Paul Karl Feyerabend. Ia mengajukan pandangan yang sangat menantang dan baru dalam filsafat ilmu. Baginya, tidak ada penilaian mengenai watak dan status
Jujun Suparjan Suriasumantri (penyunting), Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999), hlm. 2. Beerling, et.al., Pengantar Filsafat Ilmu, alih bahasa Soejono Soemargono, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), hlm. xii.
2 1

ilmu akan lengkap tanpa suatu usaha untuk memahaminya secara integral dan holistik. Demikian juga sebaliknya dengan mereka yang memalingkan muka dari ilmu. Kehidupan terlalu rumit untuk dianalisis hanya oleh satu jalan pemikiran saja. Terdapat berbagai model kebenaran lain yang memperkaya khazanah kehidupan kita. namun kebenaran keilmuan bukanlah satu-satunya sumber kebenaran dalam hidup kita ini. kepicikan seperti itu kemungkinan besar disebabkan karena mereka kurang mengenal hakikat ilmu yang seb enarnya. Adalah ketinggi hatian yang tidak mempunyai dasar sama sekali. Untuk bisa menghargai ilmu sebagaimana mestinya sesungguhnya kita harus mengerti apakah hakikat ilmu itu sebenarnya secara mendalam. Paul Karl Feyerabend ingin melihat mengapa pada abad modern ini ilmu pengetahuan diberi penghargaan tinggi . Mereka yang mendewa-dewakan ilmu sebagai satu-satunya sumber kebenaran biasanya tidak mengetahui hakikat ilmu yang sebenarnya. sehingga hal tersebut bukan saja akan meningkatkan apresiasi kita terhadap ilmu itu sendiri. dan tidak mau melihat kenyataan bahwa ilmu telah mampu membentuk peradaban seperti apa yang kita saksikan sekarang ini. Dalam konteks pemikiran inilah. namun juga membuka mata kita terhadap berbagai kekurangan yang dikandungnya. jika kita beranggapan bahwa ilmulah alpha dan omega dari segala kebenaran yang ada. Menghadapi dua pola pendapat yang ekstrem ini seyogianya kita harus bersikap lapang dan bijak dengan menyadari bahwa meskipun ilmu memang memberikan gambaran konseptual tentang hakikat kebenaran.

Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. Chalmers. and that it has no illusory results. 1993). A. "Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend". hlm. they Prasetya T. tetapi tidak dibuktikan bahwa a lebih i baik daripada 'kearifan' para ahli sihir dan tukang -tukang sulap.W. Secara kritis Feyerabend menulis tentang Imre Lakatos yang dianggapnya sebagai rekan anarkis karena metodologinya tidak menyediakan hukum -hukum untuk memilih teori atau program: "Setelah menyelesaikan rekonstruksinya tentang ilmu modern.. 47. he turns it against other fields as if it had already been established that modern science is superior to magic. dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting). there is not a shared of an argument of this kind. bahwa ilmu (fisika) membentuk paradigma rasionalitas. 4 3 . 'Rekonstruksi rasional' menganggap 'kearifan ilmiah' sudah benar. µRational reconstructions¶ take µbasic scientific wisdom¶ for granted. 1982).dalam masyarakat dibandingkan bidang-bidang lainnya. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya (Jakarta: Hasta Mitra. Namun. Feyerabend menggambarkan hal tersebut dengan pernyataan berikut: Having finished his µreconstruction¶ of modern science.3 Feyerabend menyesalkan pembela-pembela ilmu yang secara tipikal menilai ilmu adalah superior atas bentuk-bentuk pengetahuan lain tanpa melakukan penyelidikan yang layak mengenai be ntuk-bentuk pengetahuan lain. 149. dan bahwa ia tidak mempunyai hasil-hasil ilusif. tidak ada secuil pun argumentasi yang dikemukakannya. or to Aristotelian science. However. hlm.4 Ia mengemukakan bahwa banyak kaum metodologis sudah menganggap benar tanpa argumentasi. ia (Lakatos) mengalihkannya ke bidang -bidang lain seolaholah telah mapan bahwa ilmu modern lebih ung daripada sihir-sihir atau ilmu gul Aristotelian.F. Seolah-olah kini ilmu pengetahuan bersifat "anarkis".

Apabila ilmu hendak diperbandingkan dengan bentuk -bentuk pengetahuan lain. original papers. Dari segi tesisnya tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur. we shall have study historical records²texbooks. bahwa suatu bentuk pengetahuan yang sedang diteliti itu harus sesuai dengan hukum -hukum logika. 253. dan sebagainya". Secara meyakinkan Feyerabend mengemukakan bahwa metodologi-metodologi ilmu gagal menyediakan hukum hukum yang memadai untuk membimbing aktivitas para ilmuwan. and like´. ia juga menolak ide bahwa akan bisa lahir suatu argumen menentukan yang menguntungkan ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain. buku-buku pelajaran. hlm. tulisan-tulisan orisinal. 205. hlm.do not show that it is better than the µbasic wisdom¶ of witches and warlocks. records of meetings and private conversations. Hal ini harus dilakukan dengan meneliti "catatan-catatan sejarah. Feyerabend meyakini bahwa tidak ada metodologi ilmu yang ada selama ini yang bisa bertahan dari perubahan. maka diperlukan penyelidikan terhadap watak. tujuan dan metode dari ilmu itu serta bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. 1975).. sebagaimana yang biasanya dipahami oleh para filsuf dan rasionalis kontemporer.6 Ia pun tidak bisa sekedar asumsi tanpa penelitian lebih jauh. letters. Menurut 5 Paul Karl Feyerabend. . karena hal semacam itu hanya akan membenarkan tentang adanya suatu fenomena ³ penjajahan intelektual´ secara terselubung. pembicaraan serta surat-surat pribadi. Ia mengatakan. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. 6 Ibid. ³« that is. 5 Feyerabend tidak bersedia menerima keharusan superioritas ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain.

maka tidak masuk akal untuk mengharapkan ilmu dapat diterangkan hanya atas dasar beberapa hukum metodologi yang terlalu simplistik (sederhana) dan superfisial (dangkal). hlm. tidak mungkinlah merumuskan keterangan observasi yang sama dalam suatu konteks yang berbeda. Feyerabend adalah penganjur pluralisme metodolog yang i menolak pandangan idealisme dan naturalisme. mengingat kompleksitas sejarah. Feyerabend beranggapan bahwa makna dan interpretasi tentang keterangan observasi tergantung pada konteks teoretis. Maksudnya. Seperti halnya Kuhn yang berasumsi bahwa tidak ada suatu teori apa pun yang bertahan dalam sejarah. kebenaran universal yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju.7 Kesamaan Feyerabend dengan Kuhn terletak pada tesis keduanya yang menyatakan bahwa ilmu-ilmu atau teori-teori tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. Konsekuensi logisnya adalah. konteks dan historisitas. 119 dan 116. 2003). 7 . terlepas dari subyektivitas. Dengan begitu.Feyerabend. bersifat universal. Perbedaan dua teori atau Akhyar Yusuf Lubis. Feyerabend menyangkal adanya rasionalitas yang universal dan historis. Idealisme berpendapat bahwa rasionalitas adalah agung. ia ingin menentang pandangan yang memisahkan teori dan observasi. Baik rasionalisme maupun empirisme mendukung rasionalitas yang menurutnya universal dengan cara yang berbeda. yang merupakan pedoman untuk menilai suatu teori lebih baik daripada yang lainnya.

and should. for it takes too simple a view of the talents of man and of the circumstances which encourage. 167-168. be run according to fixed and universal rules. 295-6. It is unrealistic. adalah tidak realistis dan juga merusak. It makes our science less adaptable and more dogmatic«All methodologies have their limitations. 1991). ide itu pun merugikan ilmu. op. Ia menyebabkan ilmu semakin kurang bisa dikelola dan semakin dogmatik«Semua metodologi mempunyai keterbatasannya dan satu-satunya 'hukum' yang survive adalah 'apa saja boleh']. or cause. In addition. and the only rule that survives is µanything goes¶. 9 8 Paul Karl Feyerabend. their development.. Kasus Feyerabend yang menentang metode. hlm. Verhaak dan Robert Haryono Imam.M. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. And it is pernicious. Selain itu.cit. hlm. Ia tidak realistis. Dan ia merusak.lebih cukup mendasar. sehingga tidak mungkin saling membandingkan teori teori rival secara logis. karena ia mengabaikan kondisi fisik dan historis yang kompleks yang mempengaruhi perubahan ilmiah. . 9 [Ide bahwa ilmu dapat dan harus berjalan sesuai dengan hukum-hukum universal yang mapan. the idea is detrimental to science. Menurutnya: ³the methodology of research programmes provides standar that aid the scientist in ds evaluating the historical situation in which he makes his decisions. it does not Christiaan R. Feyerabend mengatakan: The idea that science can.8 Dalam sebuah kutipan yang agak panjang. for the attempt to enforce the rules is bound to increase our professional qualifications at the expense of our humanity. for it neglects the complex physical and historical conditions which influence scientific change. karena usaha untuk memberlakukan hukum-hukum itu cenderung meningkatkan kualifikasi profesional kita yang mengorbankan rasa kemanusiaan. is both unrealistic and pernicious. karena terlalu menyederhanakan bakat manusia dan keadaan lingkungan yang mendorong atau menyebabkan perkembangan.O. memukul metodologi - metodologi yang dianggap telah memberikan hukum-hukum untuk membimbing para ilmuwan ini ternyata ditunjang dengan alasan yang kuat.

karena di dalam ilmu ia memang diarahkan guna meningkatkan kebebasan i dividu dengan memacu n penyingkiran segala macam kungkungan metodologis. . hlm. ia senantiasa mendorong semangat kebebasan bagi para individu untuk memilih antara ilmu dan bentuk -bentuk 10 11 Ibid. Maka tidaklah bijaksana.10 Maksudnya.11 Dari sudut pandang kemanusiawian ini. Feyerabend menyetujui usaha meningkatkan kebebasan menuju ke kehidupan yang penuh dan produktif. well-developed human beings¶. 186. hlm.contain rules that tell him what to do´. or can produce. "Metodologi dan program program riset menyediakan standar-standar yang membantu ilmuwan menilai situasi historis untuk mengambil keputusan-keputusannya. pemikiran anarkis Feyerabend tentang ilmu mendapatkan dasar pembenarannya. ia tidak berisi hukumhukum yang mendikte apa yang harus diperbuat ilmuwan´. It is in conflict µwith cultivation of individuality which alone produces. Feyerabend membela apa yang ia sebut sebagai "sikap kemanusiawian" yang memandang bahwa manusia individual harus bebas dan memiliki kebebasan sebagaimana yang diperjuangkan John Stuart Mill. Ia mendukung Mill dalam membela "pembinaan individualitas yang secara pribadi mampu berproduksi sendiri. atau dapat memproduksi manusia -manusia yang maju".. Feyerabend menyatakan bahwa. Ibid. bahwa para ilmuwan dalam melakukan pemilihan-pemilihan dan keputusan-keputusan terikat oleh hukum-hukum yang diatur atau terkandung di dalam metodologi-metodologi ilmu.. 20. Dalam konteks yang lebih luas.

Ia harus bebas karena memang kegiatan ilmiah atau ilmu pengetahuan merupakan suatu upaya yang anarkistik. Pendapat Feyerabend ini juga harus dilihat sehubungan dengan analisisnya tentang masyarakat. bahwa Feyerabend menolak sikap otoriter dalam bentuk apapun juga. ilmu pengetahuan menduduki posisi yang sama dengan posisi agama seperti halnya pada masa Abad Pertengahan. adalah lah "membebaskan masyarakat dari kungkungan ilmu yang membatu secara ideologis. perkembangan ilmu di dalam masyarakat kita tidak lagi konsisten dengan sikap kemanusiawian. Ia menyatakan.pengetahuan lain. ³let us free society from the strangling hold of an ideologically petrified science just as our ancestors freed us from the strangling hold of the One True Religion!´. Dengan kata lain. Di kalangan masyarakat kita dewasa ini. Sebab pada dasarnya ilmu pengetahuan dan perkembangannya tidak bisa dierangkan t ataupun diatur oleh segala macam aturan dan sistem maupun hukum yang berlaku. Apa yang perlu kita lakukan dalam masa ini.. Jadi jelas sekali. namun justru menguasai dan memperbudak manusia. hlm. 12 12 Ibid. 307. Feyerabend hendak mendobrak anggapan bahwa ada keteraturan dalam perkembangan ilmu yang hendak diwujudkan dalam hukum dan sistem. tulis Feyerabend. . Dalam perspektif Paul Karl Feyerabend. Ilmu pengetahuan memiliki kuasa mutlak. ilmu pengetahuan tidak lagi berfungsi membebaskan manusia. persis seperti nenek moyang kita membebaskan kita dari kungkungan 'agama satu-satunya' yang benar".

jumlah uang yang bisa diperolehnya. 13 Ibid. the amount of money available. masyarakat itu bukanlah pilihannya yang bebas. suatu analisa tentang struktur sosial bersangkutan merupakan prasyarat untuk mengerti tentang kebebasan sang individu. kecakapan para asistennya. dan dalam pengertian itu. . sebagai suatu kritik yang diajukan dan ditujukan untuk semakin dapat menemukan wajah ilmu pengetahuan yang sebenarnya. dan oleh karena itu..Hal ini perlu ditempuh karena menurut citra Feyerabend. setiap individu dilahirkan ke dalam suatu masyarakat yang sudah eksis lebih dulu. Artinya bahwa. the attitude of his colleagues. his playmets²he or she²is restricted by innumerable physical. sikap rekan-rekannya. historical contraints 13 ´. Atas nama kebebasan individu. Setidaknya ia menyadari hal semacam ini dan dalam satu bagian tentang kebebasan riset. physiological. sosiologis dan historis". Feyerabend mengkritik ilmu dari dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. "Ilmuwan masih dibatasi oleh sifat-sifat dari instrumeninstrumennya. Seluruh pembicaraan dan perdebatan tentang pemikiran Paul Karl Feyerabend tersebut di atas tersimpul dalam sebuah mainstream yang padat makna. psikologis. Kebebasan yang dimiliki seorang individu akan tergantung pada posisi yang ia duduki di dalam struktur sosial tersebut. sociological. the intelligence of his assistants. hlm. 187. anarkisme ilmu pengetahuan. Feyerabend menulis: ³The scientist is still restricted by the properties of his instruments. teman-teman mainnya²lelaki atau perempuan²ia dibatasi oleh banyak sekali kekangan fisik.

voodoo. Ilmu pengetahuan sebagaimana tinjauan historis Feyerabend. Feyerabend ingin melawan batang tubuh beserta metode ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap mempunyai satu metode yang baku dan universal serta tahan sepanjang masa. sains maupun rasionalitas bukanlah ukuran unggul yang universal. hlm. fungsi dan kedudukan ilmu pengetahuan dalam masyarakat yang kerapkali melampaui maksud utamanya.. atas nama kebebasan yang sama.14 Maksud dari semua itu sebenarnya adalah. dan juga dapat membawahi semua fakta dan penelitian. lebih merupakan suatu perkembangan dari berjuta-juta alternatif. . Ia memilih istilah realisme imiah yang l 14 Akhyar Yusuf Lubis. kekuasaan. Dengan posisi seperti ini. magi. Kemudian.Yang pertama. mitos. Feyerabend ingin mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu bukanlah ideologi yang berisi omong kosong belaka yang dipropagandakan oleh para ilmuwan. Feyerabend menyimpulkan bahwa. Keduanya adalah tradisi partikular yang tidak menyadari latar historisnya sendiri. op. dan sebagainya. ia hendak melawan ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap lebih unggul daripada bidang-bidang atau bentuk-bentuk pengetahuan lain semisal sihir. 130. satu dengan yang lain tidak selalu terdapat konsistensi atau kesepadanan. dengan memegang semboyan anti metode - (Against Method).cit. Fe yerabend mempunyai sikap anti-ilmu pengetahuan (Against Science) sebagai kritik terhadap praktek ilmiah.

bukan sekedar sebagai skema-skema bagi setiap proses kejadian yang kodratnya ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan eksternal. kurang lebih seperti yang diproyeksikan dan diidealisasikan oleh Feyerabend. Tetapi hal itu mungkin bisa dipahami karena memang seorang anarkis . Sebab pada kenyataannya istilah ekstrem itu dimaksudkan untuk memberikan kritik eksternal terhadap metode dan praktek ilmu pengetahuan yang acapkali mengaburkan karakter dan tujuan dasar utamanya. melainkan juga berpotensi untuk menggali hakikat realitas yang menjadi cita-cita dari pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Feyerabend menawarkan terma anarkisme sebagai obat mujarab dalam menyembuhkan epistemologi dari sakitnya. sistem pemikiran. Sebagai obat bukan berarti ilmu pengetahuan harus menjadi anarkis. dan kerangka-kerangka pandang diterapkan dalam bentuknya yang paling kuat. tetapi sekaligus juga bertindak sebagai penentu orientasi keilmuan yang telah dirancangnya. Pada akhir kegelisahan intelektualnya. Adanya klaim bahwa anarkisme ilmu pengetahuan sebagai bentuk kesewenang-wenangan epistemologis Feyerabend perlu kiranya dimengerti dalam porsi pemahaman yang tepat dan seimbang. Realisme ini akan bisa terwujud pada saat teori-teori.dalam salah satu bentuknya berupa aktivitas-aktivitas kita mengumpulkan pengetahuan sebagai jalan terbaik untuk memahami dunia. Dalam pengertian ini berarti ilmu pengetahuan tidak hanya sanggup menghasilkan prediksi-prediksi saja. namun baik epistemologi maupun filsafat ilmu pengetahuan harus menerima anarkisme agar dengan demikian kita akan kembali kepada bentuk -bentuk rasionalitas yang lebih jelas dan bebas.

Sebagai sebuah kajian serius tentang tokoh filsafat ilmu pengetahuan baru. ternyata penulis menemukan beberapa endapan gagasan vital dan relatif belum banyak diperbincangkan muatan-muatan filosofisnya. dipelajari dan diakses lebih jauh oleh para peminat filsafat pada khususnya serta kalangan dunia akademis pada umumnya. Feyerabend melontarkan gagasan kritis-progresif yang sayangnya sampai saat ini masih relatif kurang bisa dibaca. juga telah dianggap berhasil memecahkan kebuntuan . Maka berkaitan dengan persoalan itu pula. dalam tulisan ini penulis ingin melacak dan mengurai sejauhmana konsistensi dari seluruh sistem pemikiran Feyerabend dalam alur sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dengan berbagai tawaran metodis yang disodorkannya. Secara khusus. Namun setelah melalui proses studi yang runut dan seksama. yang selain disinyalir menjadi tonggak kebangkitan era filsafat ilmu pengetahuan baru pasca dominasi aliran Positivisme Logis. yang dalam rekaan awal penulis. skripsi ini diangkat guna menelaah lebih jauh mengenai beberapa pokok pemikiran Feyerabend beserta aspek penting lain yang terdapat di dalamnya. Mungkin hal inilah yang kemudian menjadi latar dari pemilihan tokoh dan pembahasan topik Paul Karl Feyerabend.di bidang ilmu pengetahuan oleh Feyerabend diistilahkan ²mengutip pendapat Hans Richter²sebagai dadais yang anti terhadap segala bentuk kemapanan. beberapa pandangan ilmu pengetahuannya tidak lebih hanya sekedar reaksi keilmuan mengenai presuposisi-presuposisi akan adanya berbagai deviasi (penyimpangan) nilai-nilai etis-praktis ilmu pengetahuan yang diterapkan oleh para ilmuwan kala itu saja.

atau kesimpulan yang sele sai atau final. Dengan mengacu pada realitas historis seperti itu. dan pada akhirnya berujung pada retorika serta ideologi tertutup yang penuh kedangkalan makna dan kepentingan-kepentingan tertentu. kita jadi mafhum bahwa semua klaim pengetahuan (fakta. penulis pun berketetapan hati untuk menempatkan segi-segi fundamental filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend tersebut sebagai starting point dan landasan pemikiran dalam menggali dan mengolah ide-ide dasar ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend secara lebih jelas dan obyektif. validitas) hanya dapat dimengerti dan diperdebatkan dalam konteks dan dalam paradigma atau komunitas tertentu pula. Pondasi ilmu pengetahuan Feyerabend yang berusaha mendobrak keangkuhan format dan prosedur-prosedur sains modern ini telah menggugah kesadaran kolektif kita untuk merefleksikan ulang tentang asumsi-asumsi ilmiah sebagai simbol kemajuan peradaban modern. Tidak satupun yang diterima sebagai fakta. teori. paling tidak urgensi . kebenaran. sebab penerimaan atas pluri-metodologi Feyerabend ini memang mengandaikan adanya berbagai standar kebenaran.monometodologi ilmu pengetahuan untuk direinterpretasikan dan direformulasikan secara paradigmatik dan anarkistik. Harapannya. Maka dengan pluri-metodologi dan pandangan konstruktivis-kontekstualis seperti yang dinyatakan oleh Feyerabend. atau terkesan hanya menjadi menara gading. tanpa terikat oleh hukum hukum positivistik-logis yang berkembang sebelum masa Feyerabend. yang telah beralih fungsi menjadi semacam arogansi intelektual.

Rumusan Masalah Dari deskripsi umum di atas. Banyak jalinan ide penting Feyerabend yang saling berhubungan dalam membentuk konsep -konsep penting lainnya sehingga semakin memperkokoh landasan teoretis yang dituangkan semasa hidupnya. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Adapun tujuan dan kegunaan penelitian ini adalah: 1. terarah dan sesuai dengan maksud dan tujuan penulisan skripsi ini.topik dalam penulisan karya ilmiah ini bisa menambah koleksi seri tokoh filsafat ilmu di masa mendatang. yakni Paul Karl Feyerabend. agar alur pembahasan ini tepat sasaran. Mengetahui prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend secara utuh dan mendalam. Bagaimana prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend dalam filsafat ilmu pengetahuannya? 2. yaitu: 1. B. ada beberapa kata kunci yang perlu kiranya dicermati dari pola pemikiran yang dibangun oleh tokoh utama dalam fokus kajian skripsi ini. . maka tentu saja ruang lingkup masalah yang akan dijadikan sumber acuan nantinya terbatas dan terumus dalam masalah-masalah berikut. Oleh karena itu. Bagaimana corak pemikiran anarkisme ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend? C.

hlm. Data primer itu berupa buku masterpiece Paul Karl Feyerabend sendiri yang berjudul Against Method. Metodologi Penelitian Menurut sumber bacaan yang ada. penulis berusaha untuk menghimpun data primer maupun sekunder yang sekiranya ada kaitannya dengan pokok pembicaraan dalam skripsi ini. Mengetahui corak pemikiran anarkisme ilmu pengetahuan yang digunakan oleh Paul Karl Feyerabend secara jelas dan memadai. Disamping itu. penelitian ini juga merupakan penelitian historis-faktual mengenai seorang tokoh16. dan sebagainya. Ushuluddin.2. jurnal. Dalam kaitan ini. 9. 16 15 . metodologi penelitan merupakan i 15 serangkaian metode yang saling melengkapi dalam melakukan penelitian. 1990). karya d latar belakang historis yang an melingkupi sejarah kehidupan dan keilmuannya. 2002). Charris Zubair. Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi (Yogyakarta: Fak. Anton Bakker dan A. D. sedangkan data sekunder adalah berupa karya -karya Feyerabend lainnya yang dilengkapi pula dengan tulisan atau karya ilmiah para ahli yang secara khusus mengkaji dan membahas tentang pemikiran Paul Karl Feyerabend. 61. Sifat dari penelitian ini sendiri adalah kajian kepustakaan (Library Research) yang memuat data-data dan bahan-bahan yang mendukung dan melengkapi terhadap isi pembahasan ini baik berupa buku. hlm. ensiklopedi. dalam hal ini Paul Karl Feyerabend. penulis berusaha menyelami pikiran. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. artikel. Metodologi Penelitian Filsafat (Yogyakarta: Kanisius. Selanjutnya dalam proses pengumpulan data-data tersebut.

Dengan cara ini. op. 63. penulis akan merinci istilah-istilah atau pendapat-pendapat tokoh (Feyerabend) ke dalam bagian-bagian khusus tertentu sehingga dapat dilakukan pemeriksaan atas arti yang dikandungnya.19 Dengan begitu.. hlm. latar belakang dan ide-ide dasar Feyerabend itu sendiri. 1996). peneliti berusaha menyelami karya tokoh untuk menangkap 18 kandungan arti dan nuansa yang dimaksudkan secara spesifik. Feyerabend dinilai paling kontroversial. Lihat juga dalam Anton Bakker dan A. (3) Analisis. Tinjauan Pustaka Diantara para filsuf sezamannya. 65. Dengan metode ini. yang terutama didasarkan pada karya 17 Ibid. hlm. 98. dengan maksud untuk memperoleh kejelasan tentang arti yang sebenar-benarnya. 18 Sudarto. (2) Interpretatif. maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode-metode khusus.Untuk mempermudah prosedur pengolahan data itu. Dalam hal ini. Metodologi Penelitian Filsafat (Jakarta: Raja Grafindo Persada. .17 Dalam konteks ini. diharapkan nantinya akan bisa diperoleh suatu pemahaman yang benar pula tentang ciri. hlm. penulis akan menggambarkan dan menguraikan sepenuhnya dengan memakai analisis filosofis tentang konstruksi filsafat ilmu pengetahuan Feye rabend dan beberapa gagasan penting lainnya secara lebih lengkap dan jelas. 19 Ibid. 60. hlm. yaitu: (1) Deskriptif. E. sifat.cit.. peneliti menguraikan dan membahas secara sistematis dan terperinci seluruh konsepsi pemikiran tokoh yang bersangkutan.. Charris Zubair. paling berani dan paling ekstrem.

. Sudah ada beberapa literatur yang mengupas jejak-jejak pemikiran Feyerabend. Dalam buku itu juga. sebagaimana yang dikutip oleh Endro Witj.H. Misalnya tulisan Prasetya T. 1987). . ³Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend´. Feyerabend: Rasionalitas Ilmu Yang Goyah.monumentalnya. hlm. baik dalam versi Bahasa Indonesia maupun asing. dijelaskan tentang definisi dari anti-metode dan anti-ilmu pengetahuan yang menjadi kritik utama dalam pemikiran Feyerabend.. yang berjudul ³Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend´. hlm. yang termaktub dalam bukunya Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian 20 W. Februari 1989. Kritik yang disampaikan melalui buku itu telah menggambarkan panggung filsafat pada tahun 70-an21 yang banyak mengundang polemik dan perdebatan sengit. Newton-Smith. The Rationality of Science (Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd. di dalamnya diuraikan seluk -beluk kemunculan Feyerabend dalam ranah filsafat ilmu pengetahuan serta sejarah awal perjalanannya menjadi seorang anarkis. ³Teori Anarkistis Feyerabend Tentang Pengetahuan´. 22 Prasetya T. 34. 1993). Against Method. Chalmers dalam sub-topik bahasan.22 Secara lengkap dan padat.H. Newton-Smith20 menilai bahwa tidak ada kritik terhadap ilmu pengetahuan setegar dan selantang kritik Feyerabend. 1981). W. 17.W. dalam Fokus. Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. yang dimuat dalam antologi buku Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu. Selain itu pula..W.F. 21 Kees Bertens. buku yang secara representatif dalam menampilkan dan menanggapi urgensi pemikiran Feyerabend juga diungkapkan oleh A. dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting). Panorama Filsafat Modern (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

H.. dan seterusnya yang dibahas secara tuntas dan mendalam. Buku lain yang membicarakan sisi-sisi pemikiran Feyerabend adalah The Rationality of Science. 2003).F. ketidaksepadanan. 25 24 23 Akhyar Yusuf Lubis. Newton Smith24. W. Newton-Smith.23 Buku ini secara teliti dan akurat memberikan ringkasan tentang segi segi kunci pandangan Feyerabend yang meliputi seluruh konstruksi epistemologinya dengan disertai kritik -kritik yang cukup argumentatif-korektif. Satu lagi buku rujukan yang berkaitan dengan fenomena pemikiran Feyerabend adalah apa yang ditulis oleh Akhyar Yusuf Lubis dalam bukunya. The Rationality of Science (Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode. mulai dari konsep anti-metode yang merupakan topik utama pemikirannya sampai gagasan -gagasan vital lainnya. Chalmers. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. karya W. 1982). Feyerabend justru memproklamirkan anarkisme epistemologis yang A.25 Seri pengantar tokoh filsafat ini memberikan garis-garis besar haluan sebagai gambaran awal yang sistematis tentang sosok filsuf Paul Karl Feyerabend yang kerapkali mendera sains dengan kritik-kritik kerasnya. 1981). seperti pandangan Feyerabend tentang prosedur kontra-induksi. Dengan lantangnya.Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya.H. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya (Jakarta: Hasta Mitra. . Ia tidak menawarkan metodologi apapun sebagai ganti induksi yang selama ini dijadikan panduan utama cara kerja ilmiah. yang berintikan tema-tema aktual dan liberal Feyerabend secara menyeluruh.

berhasil membuka sumbat penyatuan metode yang selama ini diberhalakan oleh sains. Dari sekian literatur tersebut di atas, ada perbedaan yang cukup signifikan dengan maksud penelitian ini, yaitu bahwa artikel yang ditulis o Prasetya T.W. leh hanya sebatas mengenalkan sejarah awal dan garis -garis besar haluan filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend dalam pergulatannya dengan aliran Positivisme Logis. Sedangkan buku A.F. Chalmers dan W.H. Newton-Smith sekedar rangkuman dari beberapa substansi pemikiran Feyerabend tentang anarkisme ilmu pengetahuan saja yang pembahasannya terkesan ambivalen tanpa disertai jalinan sketsa ilmu pengetahuan Feyerabend dengan pemikiran tokoh -tokoh lain serta minimnya aspek historisitas mengenai kemunculan dan keterlibatan Feyerabend dalam wacana filsafat ilmu pengetahuan secara terperinci. Demikian juga dengan buku Akhyar Yusuf Lubis sebagai buku pengantar dalam memahami traktat-traktat berat filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend yang secara khusus hanya µmemandu¶ pembaca untuk mengenal ciri, sifat dan latar belakang pemikiran filsafat Feyerabend yang disisipi juga penjelasan tentang titik persinggungannya dengan model metodologi ilmu pengetahuan yang berkembang sebelumnya, semisal metodologi Galilean dan metodologi Positivisme Logis. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis secara spesifik berusaha menyelidiki pokok-pokok masalah yang menjadi sasaran kritik utama Feyerabend serta letak-letak perbedaan fundamental yang terdapat dalam corak pemikiran filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend dengan para filsuf ilmu pengetahuan

lainnya, tanpa terperangkap ke dalam pemihakan-pemihakan subyektif yang terkesan berlebihan dan kontraproduktif. Selain daripada itu, penulis juga akan mengkaji sejauhmana konsekuensikonsekuensi yang ditimbulkan dari dasar-dasar pemahaman epistemologi

Feyerabend dalam mindset sosio-kultural masyarakat yang akhir-akhir ini secara tidak kritis cenderung hanya terpaku pada satu bentuk kebenaran monologis yang bersumber dari konsepsi keilmuan tertentu.

F. Sistematika Pembahasan Untuk lebih mudah dan urutnya penulisan ini, maka pembahasan dalam skripsi ini akan dikelompokkan menjadi beberapa bab dan sub-bab, yaitu: Diawali dengan Bab I, yang mencakup latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika pembahasan. Kemudian Bab II, berisi tentang biografi singkat Paul Karl Feyerabend yang terdiri dari riwayat hidup, karya serta tokoh-tokoh yang membentuk watak dan mempengaruhi karakteristik pemikirannya. Selanjutnya Bab III, menyarikan tentang prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend yang berkisar tentang persoalan apa saja boleh (anything goes), ilmu yang tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama, ilmu tidak harus mengungguli bidang-bidang pengetahuan lain, dan kebebasan individu. Disusul dengan Bab IV, yang merupakan intisari pembahasan yang mengetengahkan tentang penafsiran Paul Karl Feyerabend terhadap makna

anarkisme sebagai kritik atas ilmu pengetahuan itu sendiri berupa anti-metode (Against Method), dan anti-ilmu pengetahuan (Against Science). Terakhir Bab V, adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran dari penulis berdasarkan seluruh hasil pembahasan yang dilakukan dan ditekuni selama dalam proses awal sampai akhir penyusunan skripsi ini. BAB II BIOGRAFI PAUL KARL FEYERABEND (1924-1994)

A. Riwayat Hidup dan Karyanya Paul Karl Feyerabend lahir pada tahun 1924 di Wina, Austria. Tahun 1945 ia belajar seni suara teater, dan sejarah teater di Institute for Production of Theater, the Methodological Reform the German Theater di Weimar. Sepanjang hidupnya ia menyukai drama dan kesenian. Ia belajar Astronomi, Matematika, Sejarah, Filsafat. Menurut pengakuannya, kalau ia mengingat masa itu, ia menggambarkan dirinya sebagai seorang rasionalis. Maksudnya, ia percaya akan keutamaan dan keunggulan ilmu pengetahuan yang memiliki hukum -hukum universal yang berlaku dalam segala tindakan yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Keyakinan rasionalitasnya pada masa itu tampak dari kiprahnya dalam Himpunan Penyelamatan Fisika Teoretis (A Club for Salvation of Theoretical Phsysics).26 Keanggotaannya dalam kelompok tersebut tentu melibatkan dirinya dengan eksperimen-eksperimen ilmu alam dan sejarah perkembangan ilmu fisika
26

Prasetya T.W., "Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend", dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting), Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 48.

sangat mempengaruhi pemikiran filsafatnya. Yang Kedua. dalam bidang fisika dari Wina University dan kemudian mengajar di California University. bahkan ia berpendapat bahwa perkenalannya dengan Popper semakin memperteguh keyakinannya itu. sambutan para fisikawan/filsuf terhadap teori mekanika kuantum yang dianggap sebagai dukungan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.27 Pada permulaan tahun 50-an. Thomas S. 2003). Ia melihat bahwa fisika kuantum telah menolak beberapa patokan dasar fisika yang ketika itu dianggap modern (Newtonian) yang di atasnya prinsip-prisnip positivisme ditegakkan. Dari sinilah ia melihat hubungan yang sesungguhnya antara eksperimen dengan teori yang ternyata relasi itu tidak sesederhana apa yang dibayangkan dan dijelaskan dalam buku-buku pelajaran selama ini.itu sendiri. 101-102. Gagasan Popper. ia mengikuti seminar-seminar filsafat dari Karl Raimund Popper di London. Waktu itu ia masih tetap berpegang teguh pada keyakinan rasionalitasnya.D. Terjadinya perubahan pemikiran dalam Paul Karl Feyerabend itu setidaknya disebabkan oleh beberapa faktor. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. Ia memperoleh gelar Ph. Pertama. hlm. Sikap Feyerabend tentang ³apa saja boleh´ dan 27 Akhyar Yusuf Lubis. terutama fisika kuantum. . Kuhn. Ia telah menyatakan diri sebagai seorang ³anarkis´ yang menentang penyelidikan terhadap aturan-aturan penggantian teori dan pembangunan kembali pemikiran rasional dari kemajuan kemajuan ilmu pengetahuan. dan terutama Imre Lakatos. karena adanya perkembangan baru dalam ilmu fisika.

Feyerabend mengajukan pertanyaan: apakah manusia tidak mengejar ilusi-ilusi kalau mencari hukum universal guna mencapai hasil dalam ilmu pengetahuan? Tahun 1958 ia menjadi guru besar Universitas California di Berkeley. Sejarah Ilmu Pengetahuan dan Filsafat di Austria. Selandia Baru dan Amerika Serikat. why don¶t you write them down 30 ? Dalam pertobatannya itu ia melihat bahwa dalam sejarah mekanika kuantum. A Historical Introduction to the Philosophy of Science. Fourth Edition (New York: Oxford University Press. Tidak bisa tidak pertobatannya itu merupakan akibat dari perkenalannya dengan Imre Lakatos. Lagi pula seperti yang ia akui. Feyerabend menyebutkan bahwa Lakatos dianggap sebagai saha at b anarkisnya. 30 Ibid. Dalam pertobatannya itu. bermacam-macam patokan telah dilanggar. tempat 28 ia mengajar sampai akhir hayatnya. friend and fellow-anarchist. 1975). ia menjadi pengajar di Bristol.. Tahun -tahun berikutnya mengajar Estetika. µyou have such strange ideas. hlm. 5. Inggris. 177. Jerman. .29 Kelak. µPaul. 2001). Pada tahun -tahun itu pula ia mulai mengalami pertobatan pemikiran. hlm. µhe said. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. yang meniupkan pemikiran pemikiran anarkis terhadapnya. 29 Paul Karl Feyerabend. Tahun 1964 -1965 proses John Losee. Seperti yang pernah dikatakan Lakatos padanya. Lakatoslah yang mendorongnya untuk menuliskan gagasan-gagasannya. dan anehnya patokan itu dijunjung tinggi oleh para filsuf bagi perkembangan ilmu pengetahuan.bahwa sasaran dari kreativitas dalam ilmu pengetahuan itu adalah sebagai bentuk pengembangbiakan teori-teori. vii. hlm.28 Pada tahun 1953. Feyerabend mempersembahkan buku ini kepada Imre Lakatos dengan menulis To Imre Lakatos.

Maka sebagai jawaban atas kritik terhadap pemikirannya itu. diskusi dan kritik yang cukup beragam corak dan pemaknaannya dari para tokoh filsafat dan kaum ilmuwan secara luas.).cit. Mungkin Feyerabend merupakan salah satu filsuf yang sangat provokatif pada abad ke-20. ia pun kemudian menerbitkan lagi beberapa buku yang memuat penjelasan serta argumentasi atau perluasan gagasan yang sudah diulas dalam buku yang dikritik sebelumnya. Walaupun mulai dulu sampai sekarang banyak usahausahanya yang disia-siakan. Namun begitu.pertobatannya dipercepat karena percakapannya dengan Carl Freither von Weizsäcker di Hamburg mengenai dasar-dasar mekanika kuantum. 2002). suatu karangan panjang yang pada tahun 1975 diolah lagi menjadi sebuah buku dengan judul yang sama pula.31 Puncak pemikiran anarkisnya tertuang dalam Against Method yang terbit pada tahun 1970. 141. tetapi usaha itu bisa dijadikan sebagai dasar persiapan yang masih layak dan berharga bagi bentuk-bentuk perlawanan lain. Pertobatannya itu juga dipercepat oleh keraguannya terhadap bangunan sistem pendidikan intelektualistis di tempat ia bekerja sebagai pengajar.. Ia giat melakukan perlawanan terhadap setiap gagasan ilmu yang memiliki metodologi tersendiri untuk membatasinya dengan yang bukan ilmu dan ilmu palsu. 49. Philosophy of Science: Contemporary Readings (London: Routledge..W. Yuri Balashov and Alex Rosenberg (eds. . op.32 32 31 Prasetya T. hlm. munculnya tanggapan dari berbagai pihak itu seolah -olah justru semakin memperkokoh pemikiran anarkisnya. Terbitnya buku itu ternyata mampu menyedot dan menyulut antusiasme publik dengan adanya berbagai kontroversi. hlm.

Dalam analisis Don Cupitt. Abdul Qodir Shaleh (Yogyakarta: IRCiSoD. 204-205. After God: Masa Depan Agama. Paul Karl Feyerabend dalam Wacana Filsafat Ilmu Pengetahuan Dalam menempatkan konteks pemikiran Feyerabend. baik yang g termasuk kategori sains asli ataupun yang bukan sains sekalipun. 2. Kelompok ini berusaha memperbaharui positivisme abad ke 19 yang telah dirintis oleh tokoh positivisme klasik August Comte (1798-1857) dan para pengikutnya yang dinilai diwarnai pemikiran yang bersifat dogmatis dan indoktrinasi ideologi yang mengarah kepada absolutisme. panggung filsafat ilmu pengetahuan dikuasai oleh aliran Positivisme Logis. 1985). terj. penulis membatasi diri mulai dari tahun 1920-an sampai Feyerabend muncul di panggung filsafat.34 33 Don Cupitt. 34 . Sebab beberapa usaha untuk menjalankan aturan-aturan yang ada sebelumnya hanya mengundang pertentangan seperti yang nampak jelas pada kasus konflik agama dan (menurut Feyerabend) juga berlaku pada kasus sains. seperti transmutasi spesies. hlm. relativitas umum dan teori kuantum. Pengantar Epistemologi dan Logika (Bandung: Remadja Karya. Soedjono Dirdjosisworo. Feyerabend berargumen bahwa apa yang ia sebut dengan ³teori pengetahuan anarkistik´ merupakan pemaknaan ulang terhadap pengetahuan saintifik. Sudah banyak contoh sejarah yang mengesampingkan hal-hal semacam itu sebagai intuisi tandingan teori-teori saintifik. 2001). hlm.33 B. Baik filsuf maupun yang lainnya berhak menetapkan dan menggambarkan apa saja yan diperbolehkan sebagai metode saintifik. sebagai seorang filsuf sains dari California yang sangat Californian sekali. Semenjak tahun 1920.

1992). hlm. Ia hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah. 54-55. Banyak benda disebut suci 35 Harry Hamersma. Tetapi lawan dari filsafat positivisme ini bukanlah suatu filsafat negatif. Hubungan hubungan antara gejala-gejala itu disebut oleh Comte dengan konsep -konsep atau hukum-hukum positif yang dapat dipersepsi oleh akal pikiran manusia. merupakan tahap dimana manusia percaya akan kemungkinan adanya kekuatan adikodrati yang mutlak. Tahap teologis. Dalam tahap teologis ini terdapat tiga tahap lagi: animisme. tahap metafisis yang abstrak dan tahap positif-ilmiah´. . Positivisme klasik hanya mengakui tentang gejala-gejala (fenomen-fenomen). sehingga tidak ada gunanya mencari hakikat kenyataan yang tidak mempunyai arti faktual sama sekali. Oleh karena itu.35 Positivisme klasik merumuskan hukum-hukum positif itu sebagai berikut: ³Setiap perkembangan pemikiran rohani dan ilmu pengetahuan manusia secara berturut-turut melewati tiga tahap (stadia) yang berbeda. manusia beranggapan bahwa benda-benda itu merupakan sesuatu yang bergerak. melainkan filsafat spekulatif atau obyek metafisik. ³mengetahui supaya siap untuk bertindak´. politeisme dan monoteisme. manusia harus menyelidiki gejala -gejala dan hubungan-hubungan antara fenomena-fenomena fisik-faktual tersebut sehingga ia dapat memproyeksikan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern (Jakarta: Gramedia. yaitu savoir pour prévoir.Filsafat Comte adalah anti-metafisis. ³mengetahui agar manusia dapat memperkirakan apa yang akan terjadi´. Sebab bagi Comte. Berdasarkan kepercayaan animistis ini. hanya ada satu hal yang penting. yakni tahap teologis yang berdasarkan fantasi.

Seperti halnya dengan Bacon yang mendeskripsikan semua 36 Ibid. manusia mulai sadar dan mengetahui bahwa upaya teologis dan metafisis itu tidak ada gunanya. Filsafat Umum (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Dari sini kemudian manusia berusaha mencari hukum-hukum alam dengan memakai kemampuan akal budi yang dimilikinya. dewa lautan. semua gejala tersebut dikembalikan pada satu sumber kekuatan tunggal. Pada tahap positif-ilmiah. alam pikiran manusia secara simbolis beralih kepada kekuatan-kekuatan kosmis yang abstrak. Aliran Positivisme Logis membagi pengetahuan hanya terbatas kepada ilmu matematika (ilmu pasti) dan ilmu-ilmu lain yang diperoleh dari gejala-gejala yang dapat diamati oleh indera. Selanjutnya.36 Kemudian dalam tahap metafisis. artinya dapat dinyatakan atau dibuk tikan (verifiablepositive knowledge). . 114115. Pengetahuan semacam ini yang disebutnya sebagai pengetahuan positif. 37 Asmoro Achmadi. seperti dewa api.. 55. hlm. dan sebagainya. dewa panen.37 Di lain pihak. diatur dalam suatu sistem sehingga menjadi paham politeisme dengan berbagai macam spesialisasinya. yakni satu keilahian yang pada akhirnya melahirkan pemikiran tentang monoteisme. dewa angin. hlm.dan sakti yang biasa diidentikkan dengan dewa-dewa. Mereka menganggap bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang telah diatur dan dirumuskan dalam kaidah -kaidah ilmu alam dan diperoleh dari pengamatan inderawi serta dapat diperiksa secara empiris. kaum Positivisme Logis itu sendiri menolak filsafat yang tidak menghiraukan kenyataan dan susunan serta hasil ilmu pengetahuan empiris. 1995).

).40 Positivisme Logis bertitik tolak dari data empiris dan tetap setia pada sifatnya yang empiristis dengan menganggap hukum -hukum logis sebagai hubungan antara istilah-istilah. Ilmu formal sama sekali 38 A. 40 . sehingga mengakibatkan pembicaraan tentang Tuhan pun sama sekali mereka tolak. terutama mengenai sebab pertama (irst f cause). logika) bukan sebagai pengetahuan yang berhubungan dengan sesuatu di luar bahasa (kenyataan). Hanafi. 1974). (Yogyakarta: Tiara Wacana. 4. The Structure of Scientific Theories (Urbana University of Illionis Press.pengetahuan atas dasar pengalaman dan pengamatan inderawi. hasil pengamatan dan fakta yang dinyatakan dengan memakai ungkapan dasar dalam suatu ilmu yang bercorak empiris atau ² dalam pengertian Rudolf Carnap²³kalimat protokol´. sebab mereka menganggap bahwa ilmu formal (matematika. hlm. kalangan Positivisme Logis menolak persoalan sebab-sebab terakhir (final causes) yang menjadi pokok perdebatan filsafat klasik. 1981). yang memberikan perangkat-perangkat hukum pada interpretasi terhadap observasi yang terbatas. Ilmu pengetahuan sendiri dirumuskan dan diuraikan sebagai kalkulasi aksiomatis. Kattsoff.39 Bagi aliran ini. Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat (Jakarta: Pustaka Alhusna. Frederick Suppe (ed. 39 Louis O. Pengantar Filsafat. 65. hlm. hlm. 1996).38 Kiranya pandangan Positivisme Logis ini mempunyai dasar -dasar persamaan ontologis dengan aliran Naturalisme yang juga menentang segala bentuk pikiran yang menyatakan adanya suatu dunia yang bersifat adialami atau transendental. alih bahasa Soejono Soemargono. persoalan-persoalan ilmiah harus dipecahkan secara lebih tepat dan sistematis dengan menggunakan teknik -teknik logika matematika. 116.

terj. Persoalan tentang nilai sebuah teori atau makna suatu penjelasan dianggapnya tidak berarti apa-apa karena tidak memberikan jawaban yang pasti dan terukur. 1995). Filsafat Sains Bagian Pertama: Ilmu Pengetahuan Secara Umum. 42 Jean Piaget. hlm. Asmin (ed. 63.). Dan bahasa figuratif atau 41 Cornelis Anthonie van Peursen.43 Menurut Positivisme Logis. hanya apa yang nampak jelas dan berg una saja yang secara prinsipil bisa diverifikasi melalui observasi dan eksperimentasi.44 Prinsip verifikasi sebagai sentral dalam doktrin Positivisme Logis menegaskan bahwa suatu ungkapan baru akan mempunyai makna manakala ia menunjuk pada pengalaman langsung dan konkrit. 193.41 Sebagai sebuah aliran epistemologi. eksperimen dan verifikasi. tetapi hanya menampilkan jalinan hubungan antara lambang -lambang logiko-matematis yang membuka kemungkinan pemakaian data observasi yang telah diperoleh untuk menghitung (menyusun penjabaran logis dan deduksi). Yudian W. (Yogyakarta: Pusat Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia. 1995). 1985). 43 Burhanuddin Salam. Hermoyo (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hlm. Susunan Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Gramedia. 2000). 44 Henry van Laer. Ilmu dan Teknologi (Jakarta: Rineka Cipta. 82. Positivisme Logis menganggap logika dan matematika mencakup sebuah sintaksis dan semantik umum sehingga struktur-struktur matematis dan logis untuk menjelaskan himpunan. Strukturalisme.42 Positivisme sebagai sebuah pandangan filsafat mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terjadi berdasarkan hukum -hukum dapat dibuktikan dengan teknik observasi. Sejarah Filsafat. . 133. hlm. transformasi maupun aspek-aspek terkecil dari logika hanya merupakan struktur-struktur linguistik.tidak menyinggung tentang bukti dan data empirik (kenyataan). hlm.

kiasan juga hanya akan dianggap mempunyai akan makna apabil diterjemahkan a ke dalam bahasa literal hurufiah. Positivisme Logis menggabungkan argumen epistemologis dengan argumen semantik, persis seperti dilakukan oleh Locke dan Hobbes yang melihat kerancuan dan kekaburan kategori itu terdapat dalam penggunaan kiasan metaforis bahasa. Mereka yakin pula bahwa filsafat hanya bisa maju jika menggunakan bahasa lugas literal murni. Imbasnya lantas timbul keyakinan umum yang semakin kuat bahwa dalam dunia kebahasaan manusia sebetulnya yang berperan besar adalah memang bahasa literal itu sendiri.45 Positivisme Logis menempatkan filsafat ilmu pengetahuan sebagai logika ilmu. Pandangan semacam itu menguasai dan diterima luas oleh para filsuf ilmu pengetahuan pada zaman itu. Penerimaan secara luas ini membuat pandangan semacam itu oleh Frederick Suppe disebut The Received View.46 Sebagai tradisi intelektual yang berakar pada ilmu pengetahuan alam kodrati (natural sciences), pesatnya perkembangan kelompok yang lazim juga dinamakan empirisme neo klasik ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain karena memang kesan baik yang diberikan oleh ilmu fisika sebagai disiplin ilmu yang prestisius dengan teknik-teknik penelitian yang impresif, di samping itu juga disebabkan oleh adanya orang-orang besar dan terhormat dalam bidang ilmu pengetahuan yang terdapat dalam kelompok ini seperti Albert Einstein.47

45

I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 126-127.
46

Frederick Suppe (ed.), op.cit., hlm. 161.

47

Soeroso H. Prawirohardjo, Pengamatan Meta-Teoritis atas Ilmu Pengetahuan dan Implikasinya Bagi Program Pendidikan Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1984), hlm. 9-10.

Berdasarkan kronologi sejarahnya, Positivisme Logis muncul pertama kali sebagai suatu logika bagi ilmu-ilmu fisika. Tahun 1895, Ernst March menjabat sebagai guru besar pertama filsafat ilmu-ilmu induksi di Universitas Wina, dan pada tahun 1922, posisi itu digantikan oleh Moritz Schlick, seorang murid dari Max Planck yang pada saat itu ia memusatkan karyanya pada filsafat fisika. Kemudian pada tahun 1929, kelompok ini menerbitkan sebuah manifesto yang berisi tentang tujuan perkumpulan itu dan memberinya nama: ³ Scientific A Conception of the World: The Vienna Circle´ (Suatu Konsepsi Ilmiah Tentang Dunia: Lingkaran Wina).48 Para anggota yang ikut bergabung dalam kelompok ini adalah para kaum positivis yang kebanyakan adalah ahli ilmu alam, matematikus dan filsuf berlatar belakang matematika. Dalam tulisan Morton White disebutkan bahwa aliran Positivisme Logis ini telah dipelopori oleh Moritz Schlick yang kala itu menjabat sebagai guru besar Filsafat di Wina, dan resmi dibentuk pada tahun 1923 dengan sebutan The Vienna Circle. Secara khusus, Schlick dan Wittgenstein mengunjungi Amerika pada tahun 1929 untuk memperkenalkan aliran tersebut. Namun ketika Hitler berkuasa, mulailah aliran Positivisme Logis ini disebut-sebut sebagai gerakan pemikiran yang sangat berbahaya. Popkin & Stroll menambahkan pula bahwa para anggota Lingkaran Wina ini adalah Moritz Schlick, Hans Hahn, Friederich Waismann, Herbert Feigel, Otto Neurath dan Rudolf Carnap.49

48

Roy J. Howard, Pengantar atas Teori-teori Pemahaman Kontemporer: Hermeneutika; Wacana Analitik, Psikososial, dan Ontologis, Ninuk Kleden-Probonegoro (ed.), (Bandung: Nuansa, 2000), hlm. 51.
49

Bawengan, G.W., Sebuah Studi Tentang Filsafat (Jakarta: Pradnya Paramita, 1983), hlm. 113.

Kelompok ini pernah mengadakan seminar atau studi kelompok dengan melakukan pembahasan pada tulisan Wittgenstein yang sangat teliti serta didasarkan pada pandangan bahwa filsafat bukanlah teori, melainkan suatu aktivitas. Mereka berpedoman pada pendapat bahwa fils afat tidak mungkin menghasilkan pernyataan, baik pernyataan yang salah maupun pernyataan yang benar. Filsafat hanya memberikan penjelasan mengenai pengertian suatu

pernyataan; mengemukakannya secara ilmiah, matematik atau bahkan tidak mempunyai arti apapun. Inti pandangan mereka terletak pada keyakinan bahwa setiap pernyataan mengikuti ketentuan logika formal dan bahwa pernyataan itu harus bersifat ilmiah. Positivisme Logis ini biasa disebut sebagai hasil karya Ludwig Josef Johann Wittgenstein (1889-1951), yaitu dalam buku berjudul Tractatus LogicoPhilosophicus yang terbit pada tahun 1921, lalu berkembang ke seluruh dunia termasuk Inggris dan Amerika Serikat. Dalam tulisan tersebut, Wittgenstein menyatakan bahwa filsafat bukanlah suatu teori, melainkan suatu aktivitas atau kegiatan. Wittgenstein pun yakin bahwa teka-teki dan kekacauan filsafati akan dapat diatasi oleh analisis bahasa. Wittgenstein mensinyalir bahwa apabila suatu pernyataan dapat diajukan, maka pernyataan itu pun seyogianya dapat dijawab seca jelas dan tuntas. Tetapi ra kenyataannya, ternyata tidak semua pernyataan yang diajukan itu benarbenar bermakna. Maka agar supaya kita tidak terperangkap ke dalam persoalan persoalan filsafati yang tidak berarti, yang bersumber dari pernyataan -pernyataan yang tidak bermakna itu, maka dalam pandangan Wittgenstein harus ditemukan

Lewat analisis bahasa. Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Kanisius. Wittgenstein menegaskan bahwa arti ditentukan oleh bagaimana suatu kata digunakan dalam konteksnya. terj. . 51 Thomas S. seseorang akan dapat memperoleh kejelasan ( larify) arti bahasa c sebagaimana yang diutarakan oleh orang yang menggunakan bahasa itu. 203. Dan untuk memahaminya kita perlu mengetahui karakteristik-karakteristik khusus dari kelompok yang menciptakan dan menggunakannya. Kuhn. seluruh ajaran filsafat Wittgenstein itu tidak lain hanya menawarkan suatu metode yang sering disebut sebagai metode analisis bahasa. bagi Wittgenstein. Tjun Surjaman (Bandung: Remaja Rosdakarya. tetapi kita harus bisa menangkap apa arti yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa itu. Analisis bahasa secara logis tanpa mereduksikan sesuatu sehingga pada prinsipnya hanya sekedar membuat lebih jelas tentang maksud yang dikatakan lewat suatu ungkapan bahasa verbal. kita harus mengalisis bentuk -bentuk hidup (forms of life) sampai ke dasar terdalam dari setiap permainan bahasa. Kuhn juga berpendirian bahwa pengetahuan sains seperti bahasa pada dasarnya adalah milik bersama suatu kelompok. 122. Berbeda dengan Ayer. 1993). epistemologis ataupun metafisik.51 Apabila disimak secara seksama. yang penting bukanlah mengatur bagaimana suatu ungkapan bahasa itu harus berarti atau bermakna. 1996). tanpa pengandaian filsafati. Metode analisis 50 Jan Hendrik Rapar. Metode itu bersifat netral. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. hlm. hlm.50 Senada dengan Wittgenstein. Oleh karena itu.peraturan-peraturan tentang permainan bahasa (language game) yang digunakan lewat ungkapan bahasa sehari-hari.

sebagaimana diutarakan Feyerabend. Interpretasi yang dilakukan setelah dipersepsi pun. op. Pengalaman yang kita alami senantiasa sudah terefleksikan yang dinyatakan dalam bahasa. Para ilmuwan yang terkenal itu diantaranya adalah Ludwig Boltzmann. bahasa selalu terbatas untuk mengungkapkan totalitas pengalaman. . Oleh karena itu. 114. Sedangkan pengalaman dan pemahaman itu sendiri terjadi lewat bahasa. juga dipengaruhi oleh pengalaman dan harapan -harapan dari orang yang berusaha menafsirkan struktur realitas itu.bahasa yang dikemukakan oleh Wittgenstein ini disebut juga dengan metode klarifikasi. Para anggota aliran ini sendiri adalah bekas ilmuwan yang terjun ke dunia filsafat dan sebelumnya telah berhasil membentuk suatu kegiatan di Lingkaran Wina. distorsi itu tidak hanya terjadi pada waktu obyek atau peristiwa dipresepsikan. 111-113.W.52 Disamping itu. Bagi Feyerabend. Ernst March termasuk juga Einstein..cit.. Helmholtz. hlm. Ia merupakan seorang tokoh kelahiran Jerman. Jadi.cit. fakta-fakta itu sesungguhnnya tergantung pada teori yang menjadi mediasi dalam proses pemahaman. G. Pierre Duhem.53 52 Akhyar Yusuf Lubis. hlm. yakni Rudolf Carnap.. Positivisme Logis ini juga biasa disebut sebagai Logika Empirisme dengan pelopornya yang sangat menonjol. datang ke Wina pada ta hun 1927 dan ikut secara aktif di Lingkaran Wina. Pandangan Positivisme Logis bahwa bahasa merupakan gambaran realitas inilah yang ditolak Feyerabend. Ia adalah seorang ahli yang terlatih dalam bidang fisika dan juga seorang logisian yang rajin bekerja keras. op. 53 Bawengan.

mereka menolak metafisika karena mereka sependapat bahwa metafisika tidak dapat ³dipertanggungjawabkan´ secara ilmiah. pandangan dan pengertian yang tidak memakai rumusan matematik dan empiris. empirisme dan logika tradisional. setidaknya terdapat dua kutub dalam aliran Positivisme Logis yang patut juga kiranya mendapat perhatian cermat dalam diskursus perdebatan filsafat ilmu pengetahuan kontemporer. sebab menghilangkan sebutan ³positivisme´ seperti kata Morton White adalah berhubungan erat dengan kritik terhadap ajaran August Comte yang menggunakan istilah ³positivisme´ juga.Positivisme Logis sebenarnya merupakan perkawinan antara dua alira n. Salah satu pemikir kontemporer filsafat analitik terkenal yang memiliki pengaruh cukup besar. Pihak kedua adalah kelompok positif yang bersikap mengagumi logika dan ilmu pengetahuan. Truth and Logic (1963). Pada umumnya. Tetapi sebutan positivisme kemudian diralat menjadi empirisme. militan. suatu golongan yang ekstrem. yaitu agar suatu pernyataan ( statement) benar-benar penuh . penuh kritik tajam dan menganggap remeh pula pandangan -pandangan pendahulunya. Dalam perspektif Morton White. Disisi lain mereka juga membantah sekalgus i menyerang metafisika dan etika yang gagasan awalnya sudah mulai dilontarkan beberapa filsuf analitik yang embrionya berasal dari Lingkaran Wina itu sendiri. juga berupaya mengeliminasi metafisika yang didasarkan pada prinsip verifikasi. Alfred Jules Ayer (1910-1970) lewat bukunya Language. Mereka mengembangkan ajaran yang disebut ³kriteria pengertian empiris´ dan menolak setiap ajaran. Yang pertama adalah pihak negatif.

Kedua.54 Pada tahap perkembangan selanjutnya. apalagi hanya sekedar dijadikan acuan untuk menerapkan prinsip ³mungkin´ atau ³bisa jadi´ benar (probability). Pertama. Popper menentang Lingkaran Wina terutama dalam distingsi antara ungkapan yang disebut meaningful dan meaningless berdasarkan kemungkinannya untuk diverifikasi. yakni dibenarkan secara empiris. hlm. lewat pendapatnya tentang berguru pada ilmu-ilmu. munculnya Karl Raimund Popper menandai kreasi wacana baru dan sekaligus merupakan masa transisi bagi suatu zaman filsafat ilmu pengetahuan baru. Falsafatuna. 1998). maka pernyataan tersebut haruslah dapat diverifikasi oleh salah satu atau lebih dari kelima pancaindera. Namun Popper sendiri dalam hal ini mengakui bahwa ia tidak pernah berasumsi dengan memaksa kesimpulan yang telah diverifikasi dapat ditetapkan sebagai sebuah jaminan kebenaran. Popper mengintroduksikan suatu zaman filsafat ilmu pengetahuan baru yang dirintis oleh Thomas Samuel Kuhn. Muhammad Nur Mufid bin Ali (Bandung: Mizan. Bahkan mungkin saja yang disalahkan (difalsifikasi) itu menjadi benar dalam arti verifiable (dapat diuji) secara ilmiah. Popper membuka babak baru sekaligus sebagai masa transisi dipicu oleh adanya dua alasan penting. lewat teori falsifikasinya Popper menjadi orang pertama yang meruntuhkan dominasi aliran Positivisme Logis dari Lingkaran Wina. Tokoh positivisme logika modern Inggris dan salah satu penganut empirisis logis ini menandaskan bahwa kata ³makna´ dalam positivisme logis berarti gagasan yang kebenaran dan kepalsuannya dapat ditegaskan dalam batas-batas pengalaman inderawi. terj. Oleh Popper distingsi itu diganti dengan apa yang disebut garis 54 Muhammad Baqir Ash-Shadr.arti. . 59.

artinya ciri pengetahuan ilmiah adalah dapat dibuktikan salah. Verhaak dan Robert Haryono Imam.. hlm. perbandingan logis dari kesimpulan antar teori dalam hal konsistensi internal dari sistem yang diuji. 40-42. Ia mengatakan..O. ³. Pokok persoalannya adalah mustahilnya pembenaran proses induksi. The Logic of Scientific Discovery (New York: Harper & Row Pub.M. tidak dapat ditentukan berdasarkan azas pembenaran (verifiability) sebagaimana dianut oleh aliran Positivisme Logis. Sebagai ganti azas pembenaran. Kedua. 160.batas (demarcation) antara ungkapan yang ilmiah dan yang tidak ilmiah. but not only tautological transformation of deductive logic whose validity is not indispute´. penyelidikan terhadap bentuk logis dari teori dengan obyek penelitian teori tersebut untuk memastikan apakah teori tersebut mempunyai karakter suatu 55 Karl Raimund Popper. 56 . hlm. Popper menyodorkan prinsip falsifiabilitas. pokok demarkasi terletak pada ada tidaknya kemungkinan falsifikasi bagi ungkapan yang bersangkutan.the method of falsification presupposes no inductive inference. kecuali hanya perubahan sifat pengulangan kata dari logika deduktif yang memiliki derajat kebenaran yang tidak lagi diperselisihkan.55 Popper menegaskan bahwa suatu ungkapan bersifat empiris atau tidak. 1968). Popper menandaskan bahwa metode falsifikasi itu mengisyaratkan tidak adanya kesimpulan deduktif. 1991).. Christiaan R. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. Menurut Popper. Pertama.56 Popper lantas menyarankan dilakukannya suatu deductive testing of theories untuk menguji kesahihan (validasi) dan ketepatan (akurasi) suatu teori ilmu pengetahuan lewat empat jalur berbeda.

Setelah dilakukan seleksi terhadap beberapa pernyataan (prediksi). Keempat. Dari cara yang terakhir inilah. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu (Bandung: Rosdakarya.al.57 Dengan begitu Popper dianggap berhasil memberikan pemecahan bagi masalah induksi. Tetapi jika kesimpulan tersebut negatif atau falsified (tidak dapat dibuktikan keabsahannya). suatu pernyataan tunggal dapat menghasilkan suatu prediksi kemungkinan baru yang dapat diuji (applicable) yang dideduksi dari suatu teori pengetahuan tertentu. Ketiga.teori empiris atau teori ilmiah. berarti kesimpulan tunggal itu acceptable (dapat diterima secara logika) atau verified (dapat dibuktikan secara empiris). et. maka teori yang digunakan untuk mendeduksi teori-teori tersebut secara logis tidak dapat diterima sebagai sebuah hasil kebenaran yang sah. Dengan itu pula. 1991). Semiawan. . perbandingan dengan teori-teori lain dengan tujuan untuk menentukan apakah teori itu telah memenuhi standar mutu hip otesis umum sebagai scientific advance yang tahan dari berbagai ujian dan kritik maupun diskusibilitas publik sehingga hal itu akan semakin mengukuhkan corroboration) ( keberadaannya dalam setiap proses pencarian kebenaran ilmu pengetahuan. Apabila putusan itu positif. hlm. 51-52. pengujian terhadap teori dengan cara aplikasi empiris dari kesimpulan yang berasal dari teori tersebut. Popper serentak merubah seluruh pandangan tradisional atau The Received View yang dipegang oleh Lingkaran Wina. maka diambil suatu putusan melalui perbandingan antar pernyataan tersebut dengan hasil aplikasi praktis dan eksperimen. atau juga mungkin terjadi hubungan tautologis (pengulangan kata yang mengaburkan makna) diantara teori-teori tersebut.. Bila cara 57 Conny R.

hlm. Jadi disini berlaku pragmatisme dari suatu teori ilmiah yang merupakan racun ampuh terhadap paham determinisme yang bersifat statis dan yang sebelumnya tidak dibicarakan oleh Popper.. 161. Sedangkan pendapat Popper tentang berguru pada sejarah ilmu -ilmu juga mengintroduksikan zaman filsafat ilmu pengetahuan baru. dikatakan bahwa tidak hanya hipotesa melainkan juga hukum dan te yang ori kokoh dalam proses falsifikasi lalu ditinggalkan. op.M.cit. Selanjutnya. ³Apakah teori yang baru ini memiliki daya saing untuk menggantikan teori yang ditantangnya?´. Pandangan ini lebih menekankan pentingnya manfaat relatif teori teori yang bersaing daripada manfaat suatu teori tunggal.58 Dari situ Popper meyakini 58 Christiaan R. Pertanyaan-pertanyaan tentang teori seperti: ³Apakah ia falsifiable?´ ³Bagaimana tingkat falsifiabilitasnya?´ dan ³Sudahkah ia difalsifiable?´ dalam penilaian mereka kini lebih layak diganti dengan. Popper menegaskan bahwa cara kerja (berdasarkan prinsip falsifiabilitas) itu bisa dilihat secara nyata dalam proses pertumbuhan dan perkembangan sejarah ilmu -ilmu.kerja ilmu pengetahuan tradisional didasarkan pada prinsip verifikasi.O. sebab masih ada kondisi lain yang diperlukan oleh ilmu untuk dapat berkembang lebih maju. suatu cita-cita yang sebenarnya diimpikan oleh para ilmuwan tradisional yakni mendasarkan cara kerja ilmu-ilmu empiris pada logika deduktif yang ketat. masalah keutamaan falsifiabililtas belum cukup untuk menjajaki kebenaran suatu teori. Verhaak dan Robert Haryono Imam. maka dasar yang diajukan Popper adalah prinsip falsifiabilitas. Namun menurut kaum falsifikasionisme sofistikit. .

membuat deduksi tentang ketidakbenaran suatu teori lewat proses falsifikasi 59 Seperti dikutip oleh Conny R. Kita mesti belajar dari kesalahan-kesalahan kita terdahulu. sebab penarikan kesimpulan teori-teori universal dari keterangan observasi tidak mungkin menemukan jalan kebenaran yang diharapkan. Dalam perkembangan ilmu. Jika tidak demikian. Semua pengetahuan manusia sementara sifatnya.tidak ada ungkapan. Beerling59 juga berpendapat bahwa semua hasil ilmu itu tidak sempurna. 58. Mengikuti cara berpikir Popper. . maka lalu kita akan belajar banyak tentang model kebenaran yang lain. dan untuk selanjutnya setelah mengetahui bahwa dugaan kita salah. falsifikasi menjadi sandaran penting. op. maka kemudian muncul paham falsifikasionisme yang memandang ilmu sebagai suatu perangkat hipotesis yang dikemukakan lewat proses mencoba-coba (trial and error) dengan tujuan melukiskan secara akurat gejala suatu fenomena dunia atau alam semesta. Dalam kaitannya dengan hal inilah. kita seharusnya memecahkan setiap persoalan yang menarik melalui dugaan yang berani melawan (dan terutama) apabila tidak lama kemudian ternyata salah daripada mengulang suatu rangkaian kebenaran yang tidak relevan lagi dengan konteks zamannya. dapat ditambah dan diperbaiki. Semiawan. Jadi apabila suatu hipotesis akan dijadikan bagian dari bangunan struktur ilmu.. Tetapi sebaliknya. hukum dan teori yang definitif dan baku. maka ia harus falsifiable (dapat dinyatakan sebagai benar atau salah). hlm.cit. bisa difalsifikasi. maka ilmu pengetahuan justru akan merosot menjadi ideologi tertutup dari segala kritik dan pembaruan.

Kebenaran Yang Terlupakan: Kritik atas Sains dan Modernitas. melainkan juga atas kriteria praktis dan fungsional. 77. bisa dikalkulasi dan diuji lewat pengamatan fakta-fakta empiris semata.. xviii. 2001). Inyiak Ridwan Muzir (Yogyakarta: IRCiSoD. 60 Ketahuilah. Paham falsifikasionisme ini dapat dipakai sebagai landasan berpikir pragmatis tanpa selalu menganggap semua teori ilmiah sudah benar secara ilmiah dalam perjalanan ilmu. Richard Feynman berujar kepada murid-muridnya. sebab pada dasarnya ilmu memang berkembang maju melalui berbagai percobaan dan kesalahan.61 60 Huston Smith. Tapi sayangnya sains cuma mampu memperlihatkan kepada kita serpihan-serpihan dunia yang bersifat fisikal. Bambang Sugiharto. Popper sendiri sebenarnya ingin menekankan tentang pentingnya kontrol intersubyektif dan kesepakatan dalam komunitas para peneliti sendiri sehubungan dengan kemunculan teori-teori baru agar kemungkinan falsifikasi atas teori-teori itu tidak semata-mata didasarkan pada koherensi logis dan linguistis belaka. Tak heran jika menjelang wafatnya. hlm. op. terj. tak ada manusia yang dapat memahami bagaimana alam bekerja´. ³Jangan pernah menanyakan bagaimana cara kerja alam semesta. .mungkin saja ditempuh.cit. hlm. sebagaimana yang diutarakan oleh Huston Smith adalah mengira sains dapat memberikan satu pandangan utuh ten tang dunia seisinya. Potongan-potongan dunia itu tidak dapat divisualisasikan hanya dengan indera reseptor manusia yang memiliki standar sensibilitas terbatas. dan tak seorang saintis pun bisa keluar darinya dengan selamat. karena pertanyaan seperti itu a kan menyeret kalian ke dalam sebuah lubang. 61 I. Kesalahan kita selama ini.

Berbeda dengan Kant. 1995).Popper juga selalu mendorong tentang perlunya mengembangkan budaya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar -dasar pikiran yang berbau mitos untuk mengikis tradisi-tradisi dogmatik yang selama ini hanya selalu mengagung-agungkan kebenaran satu doktrin saja untuk selanjutnya digantikan dengan doktrin yang lebih bersifat majemuk (pluralistik) dan masing -masing mencoba menemukan kebenaran secara analisis kritis. 112. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.62 Tuntutan falsifikasi Popper tersebut di atas tentu harus dipahami pula berkaitan dengan pandangan filsafatnya tentang rasionalisme kritis yang salah satu uraian pokok ajarannya menjelaskan bahwa setiap pernyataan teoretis harus disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan terbukanya peluang -peluang perbaikan lanjutan. seperti yang dikatakan oleh Descartes dan Leibniz. Sebab hanya dengan demikian daya topang dan kemungkinan perkembangan ilmu-ilmu ikut tertunjang secara selaras dan seimbang. . Demikian pula terhadap pendirian empiristis dari Hume ditandaskannya tidak perlu menunggu secara pasif berulangnya gejala untuk 62 Jujun Suparjan Suriasumantri. Popper mengajukan suatu pandangan yang lebih historis dan dinamis mengenai ilmu yang harus selalu memodifikasi dan memperbaiki diri. melainkan bahwa sifat rasional itu justru dibentuk oleh adanya sikap keterbukaan terhadap kritik dan kenyataan empiris menuju suatu kebijakan dan strategi il u yang lebih m terpadu dan menyeluruh. Rasionalisme kritis memang tepat mengatakan bahwa rasionalitas suatu ilmu tidak pernah secara berat sebelah dapat dicari dan ditemukan pada kekuatan nalar ilmiah saja. hlm.

tetapi kerangka itu pasti yang lebih baik.cit. Tetapi Popper menggarisbawahi bahwa akal baru sungguh -sungguh dianggap kritis apabila kita bersedia membuang rongrongan -rongrongan yang dipaksakan (imposed regularities) oleh sistem makrokosmos alam semesta ini dalam sistem mentalitas berpikir kita. semakin memantapkan permulaan suatu 63 Cornelis Anthonie van Peursen. op. 83-84. Bambang Sugiharto. Lalu disitu pun kita bisa saja keluar lagi untuk kemudian merefleksikan ulang tentang kerangka acuan dasar itu. 92-93. harapan-harapan. Tetapi sebenarnya kalau saja kita mau. Justru kitalah yang harus berusaha secara aktif memaksakan hukum keteraturan (regularities) kepada alam. . tampilnya Thomas Kuhn. Memang kita akan terperangkap dalam kerangka yang lain. hlm. Baginya ketidakmungkinan mengeksplisitkan asumsi asusmi dasar adalah sebuah mitos yang cenderung dibesar besarkan sehingga membuat kesulitan menjadi ketidakmungkinan. Inti persoalannya adalah bahwa suatu diskusi kritis dan perbandingan berbagai kerangka acuan selalu mungkin dilakukan.cit. 64 I.64 Sejalan dengan ide-ide awal yang provokatif tersebut. Sebab pada hakikatnya sifat kritis berarti bahwa kita seperti kata Kant senantiasa siap terbuka pada semua aneka bentuk perubahan yang kita hadapi dan pengalaman yang kita alami. kita selalu bisa keluar dari kerangka acuan dasar itu setiap saat. sebagai generasi pasca Popper..63 Popper menawarkan formulasi lain dalam prinsip epistemologi dengan sebuah keyakinan awal bahwa tidak ada sesuatu yang tidak bisa kita refleksikan dan kita buat eksplisit. Ia memang percaya bahwa setiap saat kita ini terpenjara oleh teori-teori. hlm. pengalaman-pengalaman dan bahasa kita..mencari keteraturan. op.

Hanson. digolongkan sebagai filsuf ilmu pengetahuan baru karena mereka melihat perkembangan ilmu pengetahuan sebagai perkembangan yang revolusioner. op. Ole Dudley Shapere66. 66 Dudley Shapere. Meaning and Scientific Change. artinya ³susunan dasar´ ilmu alam pada zaman dan wilayah perkembangan ilmu tertentu) ke paradigma yang lain tanpa adanya hubungan logis antara keduanya. h mereka digolongkan sebagai pemikir baru yang mendasarkan pandangan filosofisnya pada sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri. hlm. 29. dalam Ian Hacking (ed. yaitu sewaktu anggapan para ahli ilmu pengetahuan pindah dari suatu paradigma (istilah teknis Kuhn. Paul Karl Feyerabend. N. Mereka itu oleh Cornelis Anthonie van Peursen65. Robert Polter. Stephen Toulmin dan A.cit..R. Mereka ini disebut sebagai generasi filsafat ilmu pengetahuan baru karena mempunyai perhatian besar terhadap sejarah ilmu pengetahuan dan peranan sejarah ilmu pengetahuan bagi penyusunan filsafat ilmu pengetahuan yan lebih g mendekati kenyataan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Kaplan. hlm. 10. Hal ini nampak dari cara kerja Feyerabend dalam menentang empirisme kontemporer dan teori kuantum mutakhir dari in terpretasi Kopenhagen yang menegaskan bahwa tidak mungkin untuk menyatakan posisi dan kecepatan sebuah 65 Cornelis Anthonie van Peursen.).zaman baru dalam proses dialektika filsafat ilmu kontemporer yang biasa disebut filsafat ilmu pengetahuan baru. Tokoh-tokoh yang disebut bersama Kuhn adalah Mihael Polanyi. Kuhn memperlihatkan bahwa sepanjang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan itu pembaharuan - pembaharuan yang benar hanya terjadi dalam beberapa fase saja. . Secara khusus.

kecepatan. Alasannya. Akibatnya. peralatan kita²istilah Einstein²terlalu kasar untuk mendeteksi dan memaksa menspesifikasikan kecepatan dan arah tertentu dari partikel elektron yang lebih kecil daripada atom. Istilah-istilah seperti massa. Heisenberg berkesimpulan bahwa ilmuwan tidak mungkin dapat melihat elektron dan sekaligus mengukur kecepatannya pada waktu yang bersamaan.elektron bersama-sama. kenyataan obyektif digambarkan secara mekanis sehingga hanya menghasilkan informasi yang terbatas dan tidak utuh. posisi. Ia mengatakan bahwa para ahli fisika tidak membangun peralatan yang canggih untuk membantah hipotesis dan pondasi ilmu pengetahuan yang telah ada. pada tingkat sub-mikroskopik kita tidak berhak untuk memberikan suatu sifat kepada entitas kecuali kita dapat membuktikannya secara eksperimental. kemustahilan ini adalah kemustahilan prinsipiil. tekanan. Menurut interpretasi Kopenhagen yang dipertahankan oleh ahli fisika Werner Heisenberg (1901-1976) dengan Uncertainly principle (Prinsip Ketidakpastian)-nya. setiap kuantitas cahaya yang tidak mempengaruhi kecepatan tidak akan memadai untuk menyatakan posisinya. dan sebaliknya. volume. kekuatan dan unsur-unsur semesta atomik yang paling kecil merupakan sifat-sifat utama dari materia yang bergerak secara bebas. Akhirnya. kemustahilan ini ditarik dari kenyataan bahwa setiap kuantitas cahaya yang cukup untuk menangkap posisinya akan merubah kecepatannya. Namun sayangnya. melainkan untuk mengembangkan dan menguatkan praktek kegiatan ilmiahnya. Apa yang kita amati bukanlah alam an sich. Berdasarkan percobaan. Dunia nyata diasumsikan menjadi suatu sistem partikel-partikel material yang dipahami secara geometris. tetapi alam yang tampak .

Salahlah menjadikan kepercayaan kita akan pertanggungjawaban manusiawi itu pada jurang -jurang kekosongan yang ditemukan oleh Heisenberg dalam struktur deterministik gambar dunia fisik.67 Implikasi dari adanya fenomena tentang interpretasi Kopenhagen itu ternyata membawa sains modern kepada cara analisis yang bersifat atomistik dengan jalan memilah-milah suatu proses ke dalam proses pencarian sebab -sebab efisiensi maupun subyek-subyek aktual yang terlibat dalam rangkaian kegiatan penyelidikan ilmu pengetahuan. karena sains baru akan merasa tahu ³bagaimana´ secara persis dari proses alami jika telah menemukan komponen-komponen fisis dasar yang menyebabkan terjadinya hukum kausalitas dalam proses kegiatan tersebut sampai kepada teori atomik sebagai pusat aktivitas saintifik.seperti dalam metode penelitian. dan bukannya atom-atom itu sendiri. kita memanipulir benda-benda yang terdiri dari bermiliar-miliar atom. melainkan pada tingkat makroskopik dari kuanta. dan gerakan sub-atomik alam itu sesungguhnya tidak bisa dipastikan atau diramalkan. Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis Tentang Makhluk Paradoksal (Jakarta: Gramedia. . maka konsep inde terminisme Heisenberg tersebut tidak dapat berfungsi lagi. 176 dan 315. hlm. 1989). Dalam kegiatan-kegiatan bebas. Prinsip ketidakpastian ini telah memacu fungsi imajinasi manusia untuk memunculkan ide-ide serta penemuan-penemuan baru yang merupakan refleksi 67 Louis Leahy. Sekali analisis dimulai harus dikejar dan ditelusuri sampai batas akhir. dan karena kebebasan kita juga tidak dilaksanakan pada tingkat mikroskopik. Sehingga dengan alasan bahwa teori kuanta (partikel) itu masih jauh dari kadar kepastian.

melainkan manusia itu sendiri sebagai makhluk yang memiliki keistimewaan khusus. op. 68 Frederick Suppe (ed. Artinya.perkembangan ilmu dari masa ke masa.cit. Hanson.). r Filsafat ilmu abad modern bersumber pada manusia itu sendiri yang pada perkembangan berikutnya terkesan menjadi filsafat ilmu kehidupan. Popper dan Bohm sebagai pembawa pandangan alternatif ( lternatives to a the Received View). ilmu bukan lagi merupakan hasil usaha manusia semata -mata berdasarkan pengalaman empirik yang diperolehnya melalui pengamatan inderanya dan penelitian percobaannya serta pembuktiannya.. Oleh karena itu. hlm. . Toulmin. Dari sini kemudian perkembangan ilmuilmu modern telah mengakibatkan penjernihan dari prasangka -prasangka metafisika dan pencocokan lebih teliti pada data dan cara berpikir yang lebih benar. bagaimana dan untuk apa gejala alam itu. suatu model analisis untuk menginterpretasi dunia. yaitu dalam hal kemampuan berimajinasi. Feyerabend disebut bersama Kuhn. Suppe secara khusus menempatkan mereka dalam kelompok analisis Weltanschaungen. Kalau filsafat ilmu pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 lebih difokuskan pada upaya untuk menemukan penjelasan yang radikal tentang apa. Oleh Frederick Suppe68. maka filsafat di abad modern memperlihatkan kecenderungan menggese landasan dan obyek telaahannya. filsafat ilmu abad modern tidak lagi mengutamakan penalaran semata. tetapi bertujuan juga untuk meningkatkan dan membuka tabir serta mendalami realitas alam yang penuh misteri dan paradoks ini melalui perangkat dimensi kreatif ilmu pengetahuan kontemporer. 119.

Misalnya. ia menyangkal kemungkinan adanya tentang experimentum crucis..W. Atau lebih jelasnya lagi. dan lebih sehaluan dengan Thomas S. op. yang berlangsung sebetulnya adalah suatu program penelitian. pada posisi ini Feyerabend justru didekatkan dengan Popper. Yang terjadi dalam pembaruan suatu ilmu itu sebetulnya merupakan peralihan dari teori yang satu ke teori yang lain. .cit. Kuhn. sejarah filsafat tanpa sejarah ilmu pe ngetahuan adalah buta. terutama dalam penilaian Feyerabend terhadap empirisme kontemporer yang dianut oleh para pengikut The Received View. hlm. Sebab berdasarkan keyakinan Lakatos. seandainya ada gerak lawan lain yang muncul dari ranah pengalaman subyek peneliti pasti memproduk suatu teori baru. Sebaliknya. Dikatakan bahwa filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend merupakan percobaan untuk memperkembangkan analisis Popperian.69 Namun berbeda dengan Popper.Anehnya. Mereka digolongkan sebagai filsuf ilmu pengetahuan baru bukan saja karena mendasarkan pandangan filosofisnya pada sejarah ilmu pengetahuan. yakni keadaan bahwa dengan satu falsifikasi saja bisa menghancurkan suatu teori. Jika nantinya semua ini menghasilkan 69 Prasetya T. melainkan juga karena mereka melihat adanya hubungan antara sejarah ilmu pengetahuan dengan filsafat ilmu pengetahuan. karena fakta tanpa kerangka teoretis tidak pernah dapat menjadi relevan secara ilmiah. Lakatos mengatakan bahwa filsafat ilmu pengetahuan tanpa sejarah ilmu pengetahuan adalah omong kosong ilmiah belaka. 52.

hlm. hlm. Feyerabend juga berusaha melawan segala usaha untuk menemukan keteraturan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. 72 Paul Karl Feyerabend.. maka yang lama dianggap gugur). . 86.71 Feyerabend secara tegas mengatakan bahwa antara sejarah ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu pengetahuan mempunyai keterkaitan timbal balik. khususnya Popper. 71 Soedjono Dirdjosisworo.cit. tetapi kalau tidak dinamakan degeneratif. Feyerabend berpendapat bahwa manusia dewasa ini terkekang oleh semua cara kerja yang telah diperincikan dengan teliti itu dengan hanya berlandaskan pada teori dan hipotesis yang kurang ditopang oleh kenyataan yang terjadi dalam masyarakat.. tetapi justru deretan teori-teori ilmiah itu yang dimaksud Lakatos dengan program riset ( esearch program) yang dalam r prakteknya di lapangan tidak boleh dilaksanakan secara fragmentaris. maka ini bisa dikatakan seb agai program penelitian progresif. op.70 Lakatos menyatakan bahwa seluruh bangunan ilmu alam merupakan suatu kompleksitas makro yang intinya seharusnya melawan segala usaha untuk membuktikan salah. Feyerabend mengatakan bahwa para ilmuwan tidak bisa melepaskan diri dari latar belakang historis bagi hukum -hukum. Sementara disisi yang lain. hlm. 211.teori yang lebih baik. op. Feyerabend merasa bosan akan segala law and order yang ingin dicapai oleh para sarjana. Kompleksitas itu terdiri atas sejumlah teori ilmiah yang menurut Popper tidak dapat berlaku sekaligus (yaitu apabila teori yang baru masuk. Dalam Against Method72. 17. hasil-hasil 70 Cornelis Anthonie van Peursen.cit.. op.cit.

op. Philosophy of Science and Historical Enquiry (Oxford: Clarendon Press. konfirmasi dan teori perbandingan yang diberikan oleh para filsuf berguna baik bagi ilmuwan maupun para pakar sejarah. Bahkan yang kini sama sekali tidak ilmiah. ilmu tidak 73 John Losee. dan sekaligus juga sebagai penentangan terhadap adanya asumsi bahwa ilmu itu adalah suatu aktivitas rasional yang beroperasi hanya berdasarkan satu atau beberapa metode tertentu.73 Alasannya adalah bahwa analisis-analisis terhadap kejelasan. hlm. misalnya. 1974). dengan maksud agar lebih banyak bahan yang bervariasi sifatnya dapat dicakup dalam sistem ilmiah. dapat berfungsi sebagai ancangan alternatif yang merangsang untuk menggantikan metode ilmiah tradisional dan kaku.cit. hlm.74 Segala upaya dekonstruksi metodologis Feyerabend dalam filsafat ilmu modern tersebut memberikan perspektif baru tentang hakikat ilmu pengetahuan yang sebenarnya. teknik-teknik matematis. . Feyerabend mendesak membuka pintu bagi bermacam -macam model alternatif demi pembaruan suatu ilmu. prasangka-prasangka epistemologis dan sikap-sikap mereka terhadap akibat-akibat aneh dari teori-teori diterimanya. 4. Kaitan itu dilukiskan oleh Feyerabend sebagai sebuah perkawinan yang cocok (marriage convenience). 90. atau masih disebut magis sekalipun.eksperimen. Dengan semboyan Against Method yang disuarakannya secara ekstrem. Sebab bagi Feyerabend. Pandangan-pandangan maupun kritik-kritik tajam yang dilontarkannya merupakan sebuah reaksi nyata dalam menyikapi kegagalan teori teori ilmiah tradisional yang tidak dapat dibuktikan secara konklusif (meyakinkan).. 74 Cornelis Anthonie van Peursen.

sementara obyek -obyek matematika (obyek akal) merupakan pemikiran dan bayangan yang tidak realistik dari obyek natural. . Kebosanan ini kemudian melahirkan Skeptisisme sebagaimana yang dianut oleh tokoh-tokoh berpengaruh besar kaum Sophis.mempunyai segi-segi istimewa yang dapat menyatakan dirinya lebih unggul daripada cabang-cabang pengetahuan lain. Platonisme. Georgias (± 480-380 SM. sedangkan hasil pengetahuan rasional abstrak Plato itu adalah mimpi yang tidak berguna. Munculnya kaum Sophis itu secara tidak langsung memperlihatkan tentang mulai adanya krisis dalam pemikiran filsafat Yunani. Hal ini jelas membawa pengaruh yang tidak baik bagi kebudayaan Yunani zaman itu. berasumsi bahwa kesatuan adalah nyata. Orang-orang Yunani merasa jemu terhadap banyak ajaran yang dikemukakan oleh para filsuf pra Sokratik. Hippias. Apa Saja Boleh (anything goes) Pada zaman Yunani kuno. Teori lain (para Sophis) menganggap obye k natural adalah sesuatu yang nyata.). hubungan antara kesatuan alam semesta yang teratur (kosmos) dengan pemikiran para filsuf berkembang menjadi teori teori yang berbeda. BAB III PRINSIP-PRINSIP ILMU PENGETAHUAN PAUL KARL FEYERABEND C. Prodikos dan Kritias. seperti Protagoras (± 480-411 SM.). sedangkan pengertian (pengamatan) awam adalah opini sebagai duplikat yang tidak sempurna. Aristoteles menganggap bahwa opini atau hasil pengamatan (menurut Plato) itulah yang benar. Akibatnya kebenaran diragukan dan dasar ilmu pengetahuan mulai disanggah.

75 Kelompok ini menolak segala realitas serta mengingkari proposisiproposisi ilmiah dan empirikal. ³Saya tidak tahu apa-apa. 1986). 22.P. sehingga tanpa ragu -ragu ia pun berujar.Nilai-nilai tradisional dalam bidang agama dan moral dirubuhkan serta kecakapan berpidato di depan umum digunakan untuk memutarbalikkan kenyataan demi kepentingan pihak yang berbicara saja. . Hal ini mungkin disebabkan oleh karena Sokrates terus bertekad untuk mempertahankan azas -azas pokok mengenai pengetahuan hidup yang hendak dirongrong dan dirusak oleh kaum Sophis. Sejarah Filsafat Barat dan Sezaman (Bandung: Alumni. Sokrates oleh lawan-lawannya dinamakan juga orang Soph meskipun ia sebetulnya is. tetapi saya juga tidak mengira mengetahui sesuatu´. Di sisi yang lain. Ia membela yang benar dan baik sebagai nilai nilai obyektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua manusia. Anehnya. Semboyan Sokrates yang kemudian lebih populer dengan ungkapan ³ Gnothi 75 Martinus Anton Wesel Brouwer dan M. Sokrates membenarkan bahwa nilai yang berkembang dalam masyarakat memang tidak dapat tahan terhadap kritik. Kaum Sophis dengan kritik-kritiknya yang bersifat menjatuhkan telah menjadikan manusia dan segala hal yang berhubungan dengan akal budi pengetahuan sebagai pusat perhatian utama. adalah lawan yang terbesar dari kaum Sophis. Sebaliknya. kaum Sophis menyangkal adanya nilai-nilai universal mengenai prinsip baik dan buruk atau adil dan tidak adil yang terdapat dalam suatu tatanan masyarakat. hlm. Ia sadar bahwa mengenai satu hal ia lebih tahu daripada kebanyakan orang. Tetapi ia juga merasa bahwa nilai-nilai yang ada itu pasti ada yang bergerak menuju kepada tercapainya suatu norma yang bersifat mutlak. Heryadi. absolut dan abadi.

76 Burhanuddin Salam. Pemikiran Yunani sendiri ditandai oleh ketergantungan pada akal sehat (common sense) manusia (human reason) dalam memecahkan berbagai macam persoalan. sehingga peranan akal sehat dan logika diakui sangat penting. Namun begitu.76 Kaum Sophis membantah adanya norma-norma moral-etis yang berlaku terus-menerus. Setiap persoalan digagas atau dirancang dalam satu sistem kehidupan yang dialogis dan kritis. 42.Seauton´ (Kenalilah dirimu) ini menyiratkan bahwa ia mencintai kebijaksanaan dan bukan untuk menguasainya. hlm. Sejarah Filsafat. yakni tentang µAda¶. Kesalahan mereka adalah bahwa ukuran dari nilai kebenaran yang mereka ajukan itu hanya sebatas pengamatan yang nampak dari bagian permukaan luarnya saja. Aliran Sophis inilah yang pada akhirnya menimbulkan revolusi intelektual di Yunani. yakni Sokrates. Ilmu dan Teknologi (Jakarta: Rineka Cipta. Kaum Sophis menciptakan gaya bahasa baru yang sangat mempengaruhi para sejarawan dan penulis drama Yunani. Padahal menurut Sokrates. Kaum Sophis juga menempatkan manusia sebagai obyek pemikiran filsafat dan meletakkan dasar bagi pendidikan untuk para pemuda secara sistematis. Dan yang paling penting adalah mereka menyiapkan kelahiran suatu genre pemikiran filsafat baru yang direalisasikan oleh tiga mahaguru filsuf terkemuka Yunani Kuno. 2000). Plato dan Aristoteles. kesadaran akan adanya hakikat yang mutlak itu justru berada dalam jiwa manusia yan g selalu berpikir serta berusaha mencari dan menyelidiki problem mendasar dari filsafat. . harus diakui pula bahwa aliran Sophis mempunyai pengaruh yang positif pada kebudayaan Yunani.

sehingga setiapkali terjalin hubungan dengan akal sehat. Implikasi filosofisnya. karena manusia dianggap . Implikasi teologisnya. misalnya. Inilah sebenarnya awal dari kesalahan persepsi dalam perjalanan ilmu sejarah ilmu pengetahuan seakan-akan berikutnya telah yang serngkali i sedemikian menempatkan pengetahuan menjadi matematis. yang berusaha untuk mencari dasar realitas arche) dalam ( berbagai unsur kosmos atau alam raya. pada saat itu juga terjadi perpecahan. sehingga mampu melahirkan sejumlah perubahan mendasar dalam cara berpikir manusia atas dunia beserta karakteristiknya.Sejak filsuf Yunani Kuno berusaha meruntuhkan mitos dengan mengedepankan logos. Dominasi kosmosentris yang menjadi sifat dasar Yunani Kuno. pemikiran manusia seolah -olah mememukan eksistensinya kembali. yang memegang peran pada Abad Pertengahan ini adalah dogmatisme gerejani dengan beragam tafsir keagamaannya yang meminggirkan peran akal dalam menjelaskan dunia dengan berbagai permasalahannya. abstrak dan teknis. berbagai pergolakan dan sekaligus pembongkaran atas pemikiran manusia pun kemudian bermunculan sebagai suatu respons positif terhadap berbagai usaha yang dilakukan oleh para filsuf Yunani Kuno tersebut. Dogmatisme tersebut telah cukup untuk meluluhlantakan bermacam nilai humanisme. bahwa semua realitas yang terjadi dalam fenomena alam semesta ini dilihat dari segi kehendak Tuhan sebagai prima causa yang menggerakkan dan mengendalikan segala kejadian yang ada. disingkirkan oleh pandangan teosentris Abad Pertengahan melalui suatu pemahaman.

kategori dan analogi yang didasarkan pada ketelitian. Filsafat Skolastik (Jakarta: Pustka Alhusna. obyektivitas dan penguraian logis. Nikolaus Copernicus (1473-1543). dan penafsiran -penafsiran filosofis yang terdapat dalam filsafat modern pun tidak mungkin ada dan berkembang tanpa berkiblat kepada konsep awal filsafat skolastik. tetapi Galileo. namun begitu kemunculannya telah berusaha mewariskan suatu kebudayaan baru dengan ciri cirinya yang khas.77 Meskipun banyak pihak yang menilai bahwa Abad Pertengahan sebagai masa kebodohan dan kegelapan dalam sejarah dunia filsafat. 1711-1776)´. 2003).78 Selanjutnya pada zaman Renaissance. Dance of God. Johannes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1642)²barangkali²menjadi orang pertama yang berusaha untuk memberikan cara pandang yang relatif baru bagi perkembangan sains. ³Sains dan Problematika Ketuhanan Abad Pencerahan (Hampiran Empirisme Radikal David Hume. Tarian Tuhan (Yogyakarta: Apeiron-Philotés. Giordano Bruno. hlm. 78 A. dalam Win Usuluddin Bernadien (ed. terutama 77 Listiyono Santoso. hlm. Kepler dan Newton justru mendukungnya. Sebab pada awal kemunculannya. Hanafi. pemahaman Filsafat Skolastik (filsafat yang diajarkan di sekolah-sekolah)²yang pada Abad Pertengahan terkenal dengan nama Filsafat Eropa²tentang definisi. . pendulum epsitemologis kembali pada empirisme. 84. Kebudayaan modern sendiri tidak dapat melepaskan diri dari kebudayaan Abad Pertengahan. kecuali hanya sebagai viator mundi (sekedar penziarah di muka bumi). memang ditujukan untuk menumbuhkan dan menjelaskan alam pikiran Eropa yang terjadi pada saat itu. 82. walaupun para ilmuwan dan filsuf Aristotelian berupaya keras bersama tokoh gereja mengecam bahwa pandangan Copernicus tidak rasional.tidak mempunyai peran apapun di atas dunia. 1983).).

Harun Hadiwijono. Renaissance itu sendiri adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman saat manusia merasa diri dan alam pikirannya telah dilahirkan kembali dalam keadaan bebas dan beradab berdasarkan logika serta otoritas yang utuh sebagai subyek yang berpikir. (Yogyakarta: Tiara Wacana.dengan teori heliosentrisnya yang menggugurkan paham geosentris tentang pusat tata surya. 80 . 1996). alih bahasa Soejono Soemargono. Manusia kembali kepada sumber yang murni bagi pengetahuan dan juga keindahan. Pengantar Filsafat. 1980). hlm. Bruno. memahami alam semesta ini sebagai sesuatu yang tidak terbatas dan tidak menentu serta tidak terhitung jumlahnya dalam ruang dan waktu yang bergerak berdasarkan hukum-hukum yang sama. Subyek bukan saja mempengaruhi realitas. bahkan pada tataran tertentu dengan penuh kepercayaan diri dan kesadaran penuh terhadap otonomi dan kebebasan alamiahnya untuk berpikir dan bertindak berdasarkan kemampuannya tersebut. yang sempat diberangus oleh dominasi otoritas gerejani Abad Pertengahan.80 Manusia²pada abad ini²dianggap telah menemukan kembali subyektivitasnya yang menjadi titik acuan pengertian realitas. yaitu prinsip yang menyatakan bahwa sebuah benda cenderung untuk diam atau bergerak di tempat ia berada. Kepler mengajarkan tentang tenaga mekanis yang menghasilkan perubahan-perubahan kuantitatif. 11. Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius. hlm. 269. dan mengajukan prinsip kelambanan.79 Secara historis. Sedangkan Kepler menolak ajaran gerakan alami. subyek juga dapat 79 Louis O. kecuali apabila ia dipengaruhi oleh suatu benda yang terdapat di sekitarnya. Kattsoff. misalnya.

83 Nico Syukur Dister. Hiper-Realitas Kebudayaan (Yogyakarta: LKíS. Tiga Tonggak Filsafat Modern´.X. 2002). disebabkan ketidakpercayaan pada spirit dan hukum alam. 1992). 19990). Dalam penciptaan dunia obyek-obyek dan dalam pencarian nilai-nilai. Budi Hardiman (ed.menciptakan realitas itu sendiri. 60. Hume dan Kant. menurut Hegel melibatkan sang subyek dalam proses dialektik pembaharuan secara konstan dunia realitas. Rasionalisme dan empirisme inilah yang kemudian menjadi arus utama filsafat yang paling dominan dalam perkembangan pemikiran manusia abad Renaissance dan dilanjutkan serta mencapai puncaknya pada abad ke-17 yang dikenal dengan Abad Pencerahan (Aufklärung). maka pengetahuan dianggap tidak lagi berasal dari Kitab Suci atau dogma Gereja. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis (Yogyakarta: Kanisius. Modernitas sebagai produk dari Filsafat Pencerahan.). Dalam terminologi Hegel (1770 -1832)81 manusia bukan lagi dipahami sebagai substansi melainkan subyek yang mempunyai pusat . Tradisi khas dari filsafat abad ini terletak pada mainstream 81 Franz von Magnis-Suseno. . Perubahan yang dihasilkan dari proses bergerak ke depan dan proses µmenjadi¶ inilah yang oleh subyek modern itu sendiri dinilai sebagai kemajuan. sementara Kebenaran Ideal itu sendiri juga selalu dalam proses µmenjadi¶. kesadaran kritis untuk selalu membenturkan diri terhadap realitas dan dunia. hlm. dan juga bukan berasal dari 83 kekuasaan feodal. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman (Yogyakarta: Kanisius. 17. 55.82 Dengan pola pemikiran yang demikian itu. melainkan dari diri manusia sendiri . dalam F. ³Descartes. hlm. hlm. 82 Yasraf Amir Piliang. Mudji Sutrisno dan F. subyek selalu terlibat dalam proses bergerak ke depan²subyek selalu mengacu pada nilai-nilai Kebenaran Ideal. yaitu melalui rasio (rasionalism) dan pengalaman (empirism).

Jadi filsafat dituntut harus kembali berpatokan pada dua nilai utama yang dianut dalam masyarakat: hal yang berguna dan kesejahteraan manusia. Filsafat Pencerahan juga mengusung suatu perspektif epistemologi baru dengan menempatkan ilmu pengetahuan sebagai urusan kolektif masyarakat yang tidak mempunyai batas-batas tertentu selain daripada pengamatan seluas dunia nyata yang selalu menampakkan diri sebagai realitas empirik. Selain itu. Filsafat Pencerahan adalah suatu bentuk rasionalisme empiris yang berusaha menyangkal pendapat seperti yang sering diutarakan oleh banyak pihak bahwa Filsafat Pencerahan hanya terdiri dari sekumpulan fakta-fakta kecil yang tidak mempunyai kesatuan dan corak yang khusus. Sebab dalam Filsafat Pencerahan itu terdapat dua aras pemikiran penting: orang menciptakan ilmu nyata (positif) tentang corak jiwa manusia (ilmu jiwa rasional) dengan mempelajari daya psikis. Disamping itu. metode eksperimental dalam ilmu alam dan kimia menjadi metode utama yang sangat . manusia dianggap sanggup mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia ini. Yang ditentang oleh aliran filsafat ini adalah suatu hierarki atas dasar wahyu Tuhan dan mendukung ideologi dari pluralisme politis dan religius. Filsafat Pencerahan merupakan suatu ideologi yang mengiringi perkembangan tingkat borjuasi di Eropa dan sekaligus kemunduran bagi simbol budaya feodalisme. Hal itu disebabkan oleh adanya pengertian baru bahwa dengan akal dan metode ilmiah yang dimilikinya. terutama bahasa.utamanya dalam menempatkan akal atau rasio dan pengalaman manusia sebagai sumber tertinggi untuk mencapai kebenaran.

op. .. Dengan demikian.dihargai dan digunakan secara silih berganti serta saling melengkapi satu sama lain. 1999). karena manusia telah merasa bebas. 86 The Liang Gie. Heryadi. Voltaire85 menyebut Abad Pencerahan sebagai ³Zaman Akal¶. 75-77. hlm. Tokoh -tokoh pembaharu dan pemikir seperti Galileo Galilei.cit. 13.84 Semboyan µsapere aude¶. hlm. op.cit. hlm. 85 Sebagaimana dikutip oleh Harun Hadiwijono. bahwa paruh Abad Renaissance dan Abad Pencerahan sendiri memang telah dipenuhi dengan berbagai revolusi ilmiah yang sangat mengagumkan lewat berbagai pemikiran dan penemuan manusia secara spektakuler dan monumental.86 84 M. Brouwer dan M. Dua azas itu memungkinkan kita mengerti bahwa terdapat suatu sej rah akal a manusia yang universal sejajar dengan universalitas dari pengamatan dan pengalaman. maka pengertian filsafat alam mulai memperoleh arti khusus sebagai penelaahan yang sistematis terhadap alam dengan menggunakan metode -metode yang diperkenalkan oleh para pembaharu dari zaman Renaissance dan awal abad ke17. Francis Bacon dan pada abad berikutnya Rene Descartes dan Isaac Newton telah berhasil memperkenalkan metode matematik dan metode eksperimental untuk mempelajari alam. Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty. Sebab sebagaimana kita ketahui. merdeka untuk menginterpretasikan setiap kejadian yang ada secara berbeda atau bahkan baru sama sekali tanpa memerlukan lagi intervensi tiap kuasa yang datang dari luar kemampuan dirinya. beranilah berpikir memberikan suatu spirit baru bagi cita-cita kemanusiaan..P.A. 47.W.

Kees Bertens (Jakarta: Gramedia.87 Galileo Galilei mengawali penjelasannya tentang suatu perkembangan baru sains ketika ia membuat suatu aliansi (pengggabungan) antara matematika dengan observasi eksperimen. 1992). 159. terj. 6-7. melainkan memantulkan cahaya matahari seperti halnya bulan. Galileo juga meletakkan dasar hukum-hukum yang menghubungkan kecepatan. setiap kenyataan pasti bersifat kualitatif dan dapat diukur. Dimensi-dimensi kehidupan sehari-hari telah pula mengalami perubahan drastis dengan cara dan teknik yang tidak disangka sebelumnya. Galile sampai pada sebuah o kesimpulan bahwa Jupiter merupakan model miniatur dari prinsip heliosentris. Dengan teropong jarak jauhnya.88 87 A. hlm. melainkan mataharilah pusatnya. bahwa bukan bumi sebagai pusat gerakan dari tata surya.Perkembangan ilmu pengetahuan dari yang semata-mata bersifat rasionalempiris menuju ilmu pengetahuan yang bersifat rasional-eksperimental ini telah mengakibatkan ditemukannya kegunaan praktis ilmu pengetahuan dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan dan impuls-impuls baru. percepatan dan jarak yang ditempuh dalam jangka waktu tertentu.. sehingga dengan demikian ia juga telah berhasil menciptakan ilmu pengetahuan kinetika (ilmu tentang gerak) yang bersifat linear-lurus. op. penemuan teleskop dari Galileo Galilei semakin memperkuat kebenaran teori heliosentrisnya Copernicus.cit. van Melsen. Lewat pengamatan astronomis itu pula. hlm.M. 88 Burhanuddin Salam.G. Galileo memastikan bahwa planet-planet tidaklah bercahaya sendiri. Alam hendaknya diselidiki dengan memakai pengertian matematika. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita. . Pada sisi lain.

Melalui penemuan inilah Galileo kemudian berusaha memberikan keyakinan bahwa kebenaran pengetahuan terletak pada persoalan yang obyektif. dan sebagainya. karena dituduh telah menyebarkan ajaran heliosentrisme dari Copernicus. ahli astronomi dan fisika Italia ini pada tahun 1633 justru dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Gereja Roma di bawah kekuasan Paus Urbanus VIII. Prinsip mekanika tentang gerak alam ini berimplikasi logis bahwa dunia . atas dasar observasi dan hitungan matematis. seolah telah menjadi awal bagi tersingkirnya doktrin keagamaan. seorang pastor yang meninggal pada tahun 1543. Berbagai pendekatan dan juga penemuan sains oleh para filsuf dan ilmuwan abad ini. Charles Darwin dengan teori evolusinya. Pendapat dan perjuangan yang telah dirintis oleh Galileo itu kemudian disempurnakan secara sistematis oleh Isaac Newton (1642-1727) yang menjelaskan bahwa alam sebagai mesin besar yang berjalan sesuai dengan hu kum gerakan dan segenap proses yang terjadi di dalamnya ditentukan oleh massa dan posisi yang dimiliki oleh berbagai partikel materi yang terdapat di dalamnya.Apa yang diintrodusir dan diwariskan oleh teori heliosentris ini adalah babak baru bagi kebenaran logis rasionalisme dan empirisme yang meruntuhkan kebenaran dogmatisme agama saat itu. Tragisnya. Alam bagi Galile merupakan satuo satunya sumber pengetahuan ilmiah sehingga ia memposisikan antara alam sebagai sumber pengetahuan ilmiah dengan Kitab Suci sebagai pengetahuan teologi dalam derajat yang sama. seperti Francis Bacon (1561-1626) dengan metode induktif sebagai landasan empirismenya. Galileo Galilei dengan pengembangan prinsip heliosentrisnya Copernicus.

Berbagai prinsip ini pulalah yang kemudian mempengaruhi dan dijabarkan oleh 89 Joko Siswanto. Prinsip yang sederhana ini telah mampu menerangkan berbagai garis orbit yang sangat kompleks bagi berb agai planet di sekeliling matahari. 38. Bacon mempercayai bahwa apa yang akan datang dapat diramalkan kejadiannya atas penemuan yang lampau.diciptakan seperti sebuah mesin dengan hukum mekanikanya. Kosmologi Einstein (Yogyakarta: Tiara Wacana. Newton melihat bahwa planet-planet tidak berjalan lurus. . Newton berpendapat bahwa suatu planet bergerak 89 mengitari matahari karena adanya gaya gravitasi yang keluar dari matahari. hlm. 1996). yaitu gravitasi. tetapi berputarputar. jauh sebelum Isaac Newton. Bacon menerangkan prinsip empirisme bahwa untuk menyusun ilmu pengetahuan yang diperlukan adalah pengumpulan fakta pengalaman sebanyak mungkin ya ng kemudian dianalisis mengenai kesamaan yang terdapat diantara berbagai fakta tersebut. Francis Bacon sebagai peletak dasar Abad Renaissance merupakan tokoh yang mempertajam empirisme dengan mendasarkan semua pengetahuan dan sains atas dasar pengalaman. Sementara itu. Dari gejala inilah Newton kemudian memperoleh hukum gravitasi yang menetapkan bahwa planet planet tersebut tunduk pada kekuatan sentral. Newton menyatakan bahwa semua benda langit saling tarik menarik dengan gaya yang berbanding lurus dengan massanya serta berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya. Melalui metode empirismenya pula. dan Tuhan yang semula diyakini begitu intim dengan manusia mulai dicurigai sebagai remote control yang jauh letaknya dari dunia nyata. Fenomena ini dalam pandangan Newton tidak mungkin terjadi seandainya tidak ada kekuatan gravitasi.

dan ³satu adalah separuh dua´. seperti: ³bumi itu bulat´. Yang kedua adalah pengetahuan informasi dan teoretis. 2001). tradisi tersebut²dalam banyak hal²secara alamiah mempengaruhi cara manusia mempersepsi diri dan mendorong mereka untuk meninjau kembali hubungan dengan Realitas Tertinggi yang biasa disebut Tuhan. kecuali dengan merujuk kepada proses pemikiran dan bantuan informasi informasi pengetahuan primer lain. Secara khusus. Maksud nya adalah bahwa akal tidak dapat mempercayai dan menilai kebenaran suatu proposisi. terj. ³benda-benda logam itu memuai oleh panas´. 383. Dengan demikian sesungguhnya dapat dikatakan bahwa Abad Renaissance dan Pencerahan merupakan dua mata rantai perkembangan ilmu pengetahuan yang menggunakan dua arus besar dalam tradisi filsafat. yaitu rasionalism dan empirism. ³gerak mundur tak terbatas adalah mustahil´. doktrin rasional membagi pengetahuan menjadi dua macam. . hlm. ³gerak adalah sebab terjadinya panas´. Menurut Karen Amstrong90. Sejarah Tuhan. ³keseluruhan lebih besar daripada sebagian´. Pertama adalah pengetahuan intuitif. artinya akal mesti mengetahui dan mengakui tentang kebenaran suatu proposisi tertentu tanpa harus mencari dalil pembuktiannya. Berdasarkan pandangan rasionalisme. Zaimul Am (Bandung: Mizan. misalnya: ³tidak mungkin terjadi suatu peristiwa tanpa suatu sebab´. kriteria pertama bagi benar salahnya setiap gagasan manusia adalah pengetahuan rasional yang bersifat pasti dan 90 Karen Amstrong.Newton dengan teori gravitasi universalnya sebagaimana yang telah penulis uraikan di atas.

sebab ia merupakan metode yang bergerak dari yang partikular ke yang universal. sehingga cakupan wilayah pengetahuan manusia menjadi lebih luas daripada batas-batas indera dan eksperimen. paham empirisme menunjukkan bahwa pengalaman adalah sumber pertama semua pengetahuan manusia. Bahwa materi itu memilki i asal. Sebaliknya. menurut kaum rasionalis berpijak dari proposisi umum menuju ke proposisi yang lebih khusus. Jadi pikiran itu bergerak dari proposisi universal. doktrin empirisme dalam mencari dalil berpikir bersandar pada metode induksi. Ia memberikan potensi-potensi kepada pikiran manusia untuk dapat menjangkau dan merealisasikan realitas-realitas dan proposisi-proposisi di balik materi.mengandung prinsip nonkontradiksi. dari yang universal ke yang partikular. bahkan sampai kepada aspek-aspek metafisis sekalipun. Karena itu. Tetapi doktrin rasional yakin bahwa eksperimen saja tidak mungkin menjadi sumber azasi dan kriteria primer bagi pengetahuan. selalu beranjak dari realitas khusus empirikal ke realitas yang mutlak berdasarkan hasil pengalaman. ³setiap yang berubah pasti memiliki asal´ ke proposisi partikular ³materi itu memiliki asal´. Perjalanan pikiran manusia. kita ketahui dari ³bahwa setiap yang berubah pasti memiliki asal´. Demikian juga halnya dengan masalah penalaran pikiran yang menurut mereka selalu berangkat dari yang khusus ke yang umum. yaitu dari batas-batas eksperimen yang sempit ke hukumhukum dan prinsip-prinsip yang universal. Akhirnya mesti diingat bahwa doktrin rasional tidak bersikap masa bodoh terhadap peran eksperimen dalam penarikan kesimpulan dan pencarian hakikat pengetahuan. Aliran pemikiran ini menolak prinsip logika silogistik yang berpatokan dari yang .

Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Descartes (1596-1650) dengan cogito ergo sum-nya. Ukuran an rasional dan empirik telah menyempitkan kesadaran kebenaran agama dan pembuktian adanya Tuhan sehingga dianggap memberikan ketidakpastian dan kebingungan. Berbagai penemuan di bidang sains dan teknologi²dalam kenyataannya²memberikan kontribusi yang cukup besar bagi tumbangnya otoritas keagamaan dan mulai mengguncang paham keyakinan keagamaan manusia. dari Inggris diberikan jalan oleh Francis bahwa pengalaman merupakan sumber kebenaran yang terpercaya. yang dilanjutkan dan dirubah secara radikal oleh empirisme Abad Pencerahan seperti John Locke (1632-1704) dengan teori tabularasa-nya. Rasionalisme dan empirisme yang begitu mendominasi alam pikir Abad Renaissance itu memunculkan persoalan baru berupa ketegangan antara agama dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Baruch Spinoza (1632-1677) dengan ajarannya tentang satu substansi yaitu Tuhan yang dapat ditangkap oleh akal atau rasio manusia. Sedangkan pembukanya empirisme yang bermula Bacon. karena dalam dunia tidak ada hal yang bersifat rahasia dan akal manusia telah mencakup semuanya. bahwa pada mulanya rasio harus dianggap as a white paper dan . karena dalam pembuktian dan kesimpulan akhirnya ternyata tidak menghasilkan pengetahuan baru yang tidak terkandung dalam rumus premis-premis silogisme tersebut.umum ke yang khusus. Ia beranggapan bahwa segala kejadian di dunia ini berjalan menurut suatu proses yang logis. dan juga tentang hakikat serta peran Tuhan.

Sebab kita selamanya tidak akan dapat melampaui halhal di luar batas kemampauan rasio kita sendiri.. 244-245. yaitu David Hume (1711-1776) juga menggunakan prinsip empiristis. C.91 Tokoh empirisme yang paling radikal. hlm. sebab yang dialami hanya merupakan kesan sa tentang beberapa ciri ja yang selalu terdapat bersama-sama. Encyclopaedie (Bandung: Jemmars. Hume berpendirian bahwa gambaran dan pengertian kita terhadap hubungan logis antara peristiwa-peristiwa yang terjadi secara kausal-mekanis hanya merupakan salinan yang sesuai dengan aslinya. 1983). Stockum dan Juntak S. Nederlandse. 1983). Hume tidak menerima substansi. Kepastian tentang nilai obyektif pengetahuan manusia merupakan masalah yang tidak bisa dijangkau oleh nalar.F. pengalaman dan kesadaran itu adalah suatu perasaan atau naluri pembawaan yang berada di luar kekuasaan akal. Ingerichte. A. Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius. Idealisme sendiri berpendapat bahwa realitas itu ada dalam kesadaran dan pengetahuan 91 Sutardjo Adisusilo. tidak mungkin mengkonsepsikan atau menciptakan suatu gagasan tentang realitas jika gagasan itu ternyata berbeda dengan konsep-konsep dan reaksi-reaksi itu sendiri. 92 . Berbagai cita rasa hasil dari kombinasi penangkapan. baik pengalaman lahiriah ( ensation) dan s pengalaman batiniah (reflexion). terutama dalam hal penolakannya terhadap substansi dan kausalitas.92 Baginya. sebaiknya kita pusatkan saja perhatian kit ke alam luar sesuka a kita. Filsafat Ensie: Eerste. Th. dan biarkan imajinasi kita menjelajah langit-langit atau ujung-ujung alam semesta. Systematisch. lanjut Hume. Epping. Oleh karena itu.seluruh isinya berasal dari pengalaman. Kita juga mustahil mampu menjawab persoalan dasar filsafat yang dipertentangkan oleh kaum idealis dan kaum realis. 43. hlm.

90. Penemuan sains dan teknologi pada masyarakat Barat tersebut membawa sinyal otonomi baru 94 bahwa manusia sebagai penanggungjawab atas urusan mereka sendiri . 1998). Kepercayaan diri yang baru terhadap kekuatan alamiah manusia ini mengandung arti bahwa manusia mulai yakin bahwa mereka mampu mencapai pencerahan lewat usaha mereka sendiri. termasuk agama dan Tuhan. hlm. Falsafatuna. 94 Karen Amstrong.95 Kekuatan alamiah yang dimiliki manusia dianggap telah cukup representatif untuk menemukan semua jenis kebenaran. institusi. Paradigma sains yang demikian telah cukup menjadi pertanda konkrit betapa Abad Renaissance yang kemudian dilanjutkan oleh Abad Pencerahan telah menimbulkan ketegangan kreatif antara agama dengan filsafat.. 386.93 Keberhasilan pembuktian ilmiah melalui rasionalisme dan empirisme telah menggeser kedudukan otoritas pengetahuan berdasarkan kebenaran wahyu yang dianggap abstrak.. terj. Apa yang diterima sebagai kebenaran dogma keagamaan. hlm. ateis dan anarkis karena suka menyobek selubung -selubung 93 Muhammad Baqir Ash-Shadr. op. 95 Ibid. 384. Filsafat sering dituduh sekularistik. dan sains yang telah ditemukan oleh para ilmuwan merupakan bukti empiriknya. Muhammad Nur Mufid bin Ali (Bandung: Mizan. sementara kaum realisme menduga bahwa realitas itu ada secara obyektif dan mandiri. sekelompok elit.²bahkan wahyu dari Tuhan²untuk menemukan hakikat kebenaran. .cit.manusia. pada abad ini benar-benar mulai dipertanyakan dan ditinjau kembali. hlm. Mereka sudah tidak lagi merasa perlu untuk bersandar pada warisan tradisi.

para ilmuwan dan filsuf melakukan verifikasi atas realitas obyektif Tuhan dengan cara yang sama seperti ketika mereka membuktikan fenomena lainnya yang bisa didemonstrasikan. terutama di Abad Pencerahan yang bersifat empiris. Tetapi ia juga cukup banyak menyodorkan bukti bahwa rasionalitas itu sendiri bukanlah suatu yang mapan. tetapi kemudian rasional lagi pada masa Copernicus. sementara pada Abad Pencerahan. Mars. otoritas agama dan peranan Tuhan dipertanyakan kembali. Pada Abad Renaissance. walaupun dalam argumen-argumennya yang menonjol adalah berupa kritik terhadap empirisme dan positivisme ilmiah.) tentang bumi itu bulat dan berputar tidak rasional menurut Hipparchus dan Ptolemeus. Dalam pandangan Ptolemeus. Feyerabend ingin menolak kedua posisi yang ekstrem itu. Melalui metode empirismenya. matahari dan lima bintang yang telah dikenal luas pada saat itu (Jupiter. Permasalahan di atas lantas diangkat oleh Feyerabend untuk menunju kkan bahwa perdebatan seputar rasioalisme dan empirisme telah berlangsung sepanjang pemikiran filsafat itu muncul.ideologis berbagai kepentingan duniawi. Saturnus dan Venus) serta semua bintang lainnya di langit. bumi menjadi pusat dari bulan. Peredaran bintangbintang yang tampak bergerak mundur dari bumi dijelaskan oleh Ptolemeus . Spirit ilmiah baru. termasuk yang tersembunyi dalam pakaian yang alim sekalipun. otoritas agama benar-benar telah ditinggalkan. Misalnya ia menunjukkan bahwa teori Pythagoras (± 580-500 SM. Mercury. semata-mata berdasarkan observasi dan eksperimen pada akhirnya berimplikasi logis bahwa fenomena dan problem ketuhanan pun harus diletakkan pada domain empiris.

tidak ada sentrum bagi seluruh bola-bola langit. ia kemudian dianggap ole para ahli ilmu pengetahuan h 96 Joko Siswanto. Teorinya tentang bumi sebagai pusat dari peredaran bintang -bintang termasuk matahari sangat berpengaruh besar sampai pada Abad Pertengahan dan Masa Pencerahan. Keenam. Ketiga. gerakan bumi menunjukkan lebih dari satu macam. Filsafat Alam Semesta (Semarang: Bintang Pelajar. setiap planet bergerak pada suatu lingkaran yang titik pusatnya bergerak pada suatu lingkaran lain ya pusatnya juga adalah ng bumi.. 1986). hlm. Kelima. Copernicus berhasil menyusun tujuh hipotesis yang berkaitan dengan alam.cit.96 Sehingga tidak heran jika dari berbagai rumusan metode ilmiah yang dihasilkannya tersebut. bumi setiap hari mengelilingi porosnya sendiri. Keempat. jarak antara bumi ke matahari tidak bisa diukur melalui luas cakrawala ruang angkasa. bola-bola planet bergerak mengelilingi matahari sebagai sentrumnya. tetapi bukan merupakan sentrum kosmos. hlm. Kedua. Dalam teori ini. 11. 110. Pertama. Ketujuh. Tesis geosentrisme (matahari beredar mengelilingi bumi dan planet) Ptolemeus ini kemudian berangsur-angsur mulai surut sejalan dengan munculnya Revolusi Copernicus yang diprakarsai oleh Copernicus yang berusaha meyakinkan semua orang bahwa sebenarnya mataharilah yang menjadi pusat orbit bintang-bintang dan bumi sendiri mengelilingi matahari sebagaimana halnya bintang-bintang lainnya. op.dengan teori Epicycle. Baca juga dalam Androngi. gerakan bumi memberikan pemahaman adanya gerakan benda -benda langit. bumi meskipun dipandang sebagai pusat gravitasi. .

98 . Tetapi bagi sebuah kebudayaan yang memusatkan perhatian manusia dan kemanusiaan pada tempat tertinggi. 1998). 71. 118. hlm. ternyata gagasan heliosentrisme (bumi dan planet planet beredar mengelilingi matahari) Copernicus dalam bidang sains dan filsafat tersebut . budaya ataupun pemimpin budaya yang menggunakan informasi tersebut.97 dewasa ini sebagai peletak dasar dari Ilmu Bintang modern. itu tergantung pada jenis informasi. hlm. akhirnya terungkap bahwa ilmu bumi benar dan pandangan kitab suci mengenai langit dan masalah beredarnya matahari pada bumi tidak dapat dipertahankan lagi. 2003). akan memilih dan mendahulukan hubungan personal daripada hubungan abstrak seperti kepandaian ataupun efisiensi yang statistik. Padahal kitab suci adalah suara Tuhan yang mengajak umat manusia menuju iman. Lintasan Sejarah Ilmu (Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna.98 Tetapi dari hasil diskusi yang membuat heboh itu. ³secara sah dianggap sesat´ jika dikontradiksikan dengan ajaran Kitab Suci (Bibel) dan pandangan Gereja. pengharapan dan cinta kasih sebagai nilai-nilai tertinggi. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. Mungkin kesalahan pihak Gereja Katolik pada waktu itu adalah mereka memandang kitab suci sebagai sumber dan pedoman segala ilmu dalam arti sempit dan keras. Idealisme berpendapat bahwa rasionalitas 97 The Liang Gie. Tentu banyak orang dewasa ini tanpa pikir panjang akan memilih teknologi daripada kehidupan yang harmonis dengan alam. Walaupun di pihak yang lain. Akhyar Yusuf Lubis. Feyerabend adalah penganjur pluralisme metodologi. Lalu dari semua itu siapa yang benar? Menurut Feyerabend. ia menolak pandangan idealisme dan naturalisme.

kebenaran. keyakinan. Feyerabend mengemukakan pandangannya tentang relativisme dalam konteks ilmu pengetahuan. semua cara mendapatkan pengetahuan dianggap boleh. konteks dan historisitas.adalah asli. Artinya.99 Itulah sebenarnya penjabaran makna relativisme pengetahuan sebagai sebuah pandangan yang meyakini bahwa nilai dan keben aran ditentukan oleh pandangan hidup dan kerangka berpikir setiap individu atau masyarakat. agung. terlepas dari subyektivitas. tidak ada teori yang sepenuhnya konsisten dengan fakta. bersifat universal. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna (Yogyakarta: Jalasutra. Sehingga di dalam penjelajahan pengetahuan tidak diperlukan metode atau paradigma umum. Tetapi anggapan ini sesungguhnya tidak dapat dibenarkan. 235. semua pengetahuan yang dihasilkannya dianggap mengandung kebenaran. Atas dasar itu. . sangat dipahami apabila Feyerabend menolak kesatuan metode ilmu pengetahuan. hlm. Baik rasionalisme maupun empirisme mendukung rasionalitas yang menurutnya universal dengan cara yang berbeda. 2004). yang di dalamnya apapun saja boleh²anything goes. nilai. Contoh -contoh yang dikemukakan oleh Feyerabend membuktikan bahwa tidak ada teori yang mengandung cacat. makna) mengandung arti kebenaran relatif. yang berlaku dan menjadi acuan umum sebuah masyarakat peneliti. yang di dalamnya semua hal (pandangan. tidak ada rasionalitas yang tidak terkait dengan konteks. Relativisme dalam ilmu pengetahuan memungkinkan setiap orang melakukan penelitian tanpa perlu terikat pada sebuah metode yang telah baku. tidak ada hal yang benar secara 99 Yasraf Amir Piliang. yang di dalamnya semua pendekatan dan metode dianggap sah.

Berbagai penemuan aspek eksperimental dalam bidang ilmu pengetahuan semakin meneguhkan keyakinan kita bahwa suatu teori tidak penah dapat bersifat definitif. Karakterisasi kemajuan dan spesifikasi kriteria untuk menilai jasa atau faedah suatu teori akan selalu relatif bagi individu atau masyarakat yang . seorang atau suatu masyarakat tertentu. masyarakat kapitalis Barat memberikan penghargaan yang sangat tinggi pada tujuan penguasaan materiil atas kekayaan alam. Apa yang dianggap paling akurat atau lebih baik mengenai teoriteori ilmiah akan berbeda-beda dari individu atau mayarakat yang satu dengan yang lainnya. menunjukkan suatu relativisme dalam hubungannya dengan individu -individu. Misalnya. merupakan pernyataan relativisme mengenai masyarakat. Diktum seorang filsuf Yunani Kuno. Kaum relativis menyangkal adanya suatu standar rasionalias universal dan t a-historis yang merupakan pedoman untuk menilai suatu teori lebih baik daripada teori lainnya. semuanya mengandung porsi kebenarannya masing-masing. tetapi hal itu akan memperoleh status yang rendah dalam satu kultur dimana pengetahuan justru diharapkan dapat memberikan kepuasaan individual. sedangkan ucapan Kuhn. memaksa kita untuk merevisi teori-teori yang sudah lazim diterima. atau apa yang dihargai oleh. dan sebaliknya tidak ada hal yang salah secara absolut. Selalu mungkin bahwa eksperimen-eksperimen baru yang menyelidiki lapisan-lapisan baru dari kenyataan atau struktur realitas. Protagoras.absolut. ³manusia adalah ukuran segala -galanya´. ³tidak ada standar yang lebih tinggi daripada persetujuan masyarakat bersangkutan´. Sebab tujuan mencari pengetahuan akan tergantung pada apa yang penting bagi.

Jadi contohnya. oleh sementara kalangan dianggap propaganda belaka.F. Paul Karl Feyerabend. The whole history of thought is absorbed into science and is used for improving every single theory. sementara itu dalam masyarakat masa kini. Chalmers. yang tidak tidak mampu meningkatkan pengetahuan. 107-108. kriteria untuk menilai faedah teori-teori akan tergantung dari nilai-nilai atau kepentingan yang dianut oleh suatu individu atau masyarakat. dengan terlebih dahulu diawali oleh introduksi suatu 100 A. tetapi bagi Galileo dipandang sudah mirip dengan mistik gha ib. Hal tersebut dikemukakan oleh Feyerabend sebagai berikut: There is no idea.100 Menurut Feyerabend. Nor is political interference rejected. Totalitas sejarah pemikiran diarsobsikan (dituangkan) ke dalam sains dan dipergunakan untuk meningkatkan setiap teori. 33. 1982). that is not capable of improving of knowledge. Bagi seorang relativis.menginterpretasikannya. 101 . hlm. baik yang kuno maupun yang absurd. hlm. selain mempertahankan satus quo. Begitu pula tidak ada interferensi (campur tangan) politis yang ditolak. Ini boleh jadi dibutuhkan untuk menghilangkan chauvinisme sains yang menolak pemikiran lain. tidak ada gagasan. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya (Jakarta: Hasta Mitra.101 Perkembangan ilmu selama berabad-abad selalu ditandai oleh cara-cara analisis dan partisipasi pengamatan terhadap terjadinya perubahan yang bergerak secara dinamis dan drastis. teori Marx tentang perubahan historis yang dipandang sebagai ilmu yang baik. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. It may be needed to overcome the chauvinism of science that resists alternatives to the status quo. teori tentang pasang surut air laut berdasarkan pada gaya tarik bulan adalah ilmu yang berguna bagi kaum Newtonian. however ancient and absurd. 1975).

logis. ataupun konstruktivis (ilmu berasal dan berkembang karena keseluruhan konteks. rasionalistis kritis. deterministis (berdasar prinsip kausalitas).102 Pada perkembangan selanjutnya. sistem atau paradigma baru sebagai titik tolak. dengan pengujian ulang terhadap cara penyajian serta diseminasinya semakin memperjelas fase -fase yang kemudian diterima oleh masyarakat ilmiah sebagai suatu pertanda terjadinya perubahan yang cukup siginifikan untuk disebut evolusi atau bahkan suatu revolusi yang mampu melahirkan transformasi keilmuan fundamental. hlm. Darwin. tetapi juga merupakan suatu sistem terbuka yang dipengaruhi oleh 102 Martinus Anton Wesel Brouwer. empiris. Pada awal pertumbuhannya. (Jakarta: Gramedia. kebenaran ilmiah itu tidak dapat semata-mata didasarkan atas konsep keilmuan yang bersifat rasional.perangkat konsep atau pola pengetahuan baru yang sebelumnya tidak ada. 1984). Psikologi Fenomenologis. teori. adanya berbagai pengkajian ide. Parera (penyunting). evolusionistis (kecenderungan untuk melihat sejarah dari obyek yang diteliti) sehingga segala hal harus dijelaskan dengan metode kuantitatif (mengukur dan menghitung). Frans M. baik rasional ataupun empiris) saja. . eksperimental (merubah gejala dengan mempertahankan variabel) dengan metode observasi da n riset. Dalam mewujudkan konsep keilmuan. 83. ilmu bercorak positivistis (bebas dari pikiran etis). Einstein dan revolusi biologi molekuler (yang berhubungan dengan molekul) serta perkembangan ilmu-ilmu bumi dewasa ini. Terjadinya perubahan tersebut ditandai oleh kriteria analisis logis maupun historis seperti yang dapat kita amati dalam penemuan Newton. walaupun dalam proses penemuannya bukan merupakan hasil yang lahir dari suatu krisis atau konflik.

keterbukaan terhadap berbagai tuntutan modernisasi dan pengembangan ilmu yang disajikan melalui berbagai kekuatan yang datang dari luar harus diimbangi pula dengan kemampuan mengadakan penemuan. et. Dalam pemilihan sebuah teori baru misalnya. nilai-nilai moral dan juga ikatan-ikatan sosial kelompok yang tidak dapat dibuktikan dan diungkapkan secara eksplisit sebagai dasar bagi terbentuknya suatu masyarakat.kondisi lingkungan kehidupan manusiawi dengan seluruh aspek pembangunan masyarakat spiritual maupun material ataupun dalam kaitan dengan konteks ilmu itu sendiri.. Thomas Kuhn juga menunjukkan bahwa bahkan dalam perkembangan ilmu yang paling positivis. Semiawan. Oleh karena itu. dan kemudian berkembang menjadi suatu pemahaman baru yang sebelumnya tidak ada ataupun tidak diharapkan akan ada. melainkan juga cita rasa estetis. yang menampilkan renungan dan dialog mengenai makna dari segenap pengalaman hidup melalui dinamika perkembangan ilmu. . yang terlibat bukan sekedar rasio yang analitis. Setiap evolusi ilmu selalu dimulai dengan suatu latihan intelektual (intellectual exercise) oleh kelompok ilmuwan tertentu yang menumbuhkan suatu ide baru. Semua dimensi i i bersifat nonverbal atau n 103 Conny R. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu (Bandung: Rosdakarya. 1998). verbal dan matematis. bertolak dari masukan ilmu yang sudah ada sebagai batu loncatan bagi penemuan dan perubahan konseptual yang signifikan. hlm. suatu tindakan kreatif yang bersumber dari suatu inovasi. improvisasi dan kreasi-kreasi yang terus-menerus. 76 dan 80.103 Dalam kaitan ini.al. empiris dan pragmatis sekalipun terdapat pula faktor-faktor lain.

Sebab masyarakat kita pada umumnya dan masyarakat ilmiah pada khususnya dewasa ini. maka yang dimaksud disini bukan prinsip-prinsip moral universal dan abstrak dalam pengertian Kant. ix-x. metode yang dipakai untuk memahami realitas serta pembuktian yang digunakan untuk menguji kebenaran harus lepas dari personalitas manusia. . Michael Dua (Jakarta: Gramedia. Michael Polanyi menawarkan tentang perlunya kehidupan kreatif masyarakat ilmiah yang pada gilirannya didasarkan pada kepercayaan akan kemungk inan terungkapnya kebenaran-kebenaran yang hingga kini masih tersembunyi. 1996). menurut Polanyi telah mengidap suatu pandangan yang bercorak positivis. implisit serta tidak terukur secara matematis dan empiris. terj. dalam salah satu tesis pentingnya tentang pengembangan ilmu pengetahuan. Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan. melainkan kebiasaan atau tradisi suatu masyarakat. tetapi menjadi faktor yang bekerja dalam proses penemuan teori atau paradigma baru dan sekaligus mengakhiri krisis menuju suatu tahap revolusi ilmiah. Selaras dengan apa yang dikemukakan Kuhn tersebut. nilai-nilai moral dan ikatan-ikatan sosial. karena dianggapnya sebagai realitas subyektif semata-mata. nilai nilai - 104 Michael Polanyi. 105 Jika Polanyi berbicara tentang cita rasa estetis.simbolis. hlm.104 Premis dasar ini merupakan cikal bakal kekeliruan tesis positivisme yang tidak hanya terletak pada sikapnya yang menolak cita rasa estetis dan nilai nilai moral serta ikatan-ikatan sosial105. melainkan juga pada pandangannya bahwa suatu masyarakat tidak dapat dibangun di atas dasar-dasar yang berakar pada cita rasa estetis. dan tujuan itu dapat dicapai dengan syarat bahwa fakta yang diteliti. Positivisme sendiri melihat bahwa obyektivitas dalam bidang pengetahuan manusia pada umumnya dan pengetahuan ilmiah pada khususnya sebagai tujuan.

op. maka ia akan berubah menjadi tindakan-tindakan yang koersif. suatu kondisi di mana cita rasa estetis dan moralitas menjadi dasar tersembunyi bagi kegiatan -kegiatan yang jelas-jelas tidak manusiawi. unsur-unsur lacit pengalaman knowledge²merupakan integrasi intelektual 106 Michael Polanyi. Bagi Polanyi.cit. Pengetahuan yang tidak terungkap atau²istilah atas Polanyi. kekeliruan mendasar dari positivisme yang juga ditentang keras oleh Feyerabend dapat kita telaah dari sudut pandang epistemologi sebagai suatu cabang filsafat yang berbicara tentang aspek-aspek pengetahuan manusia. Selain itu. hlm. xi. faktor-faktor yang dapat membuahkan pengetahuan baru lebih penting dari usaha 106 mencari verifikasi dengan pengukuran positif terhadap pengetahuan. kemurahan hati dan ikatan -ikatan sosial masyarakat. . persoalan dasar epistemologi adalah bagaimana seseorang dapat memiliki suatu pengetahuan. Penemuan yang berkesinambungan di bidang ilmu pengetahuan merupakan masalah penting dan oleh karena itu usaha mencari . Padahal cita rasa estetis dan moral merupakan sesuatu yang sensitif dalam diri kehidupan manusia dan yang menuntut manusia untuk menghargai keindahan. maka dalam pandangan Polanyi jenis pengetahuan ini justru dilihat sebagai dasar dari semua pengetahuan manusia. Tetapi jika cita-cita itu diganti dengan tujuan-tujuan yang sekuler semata-mata.. Situasi semacam ini oleh Polanyi disebut dengan inversi atau pemutarbalikan estetis dan moral.moral dan ikatan-ikatan sosial itu. Berbeda dengan pandangan positivisme yang melihat pengetahuan yang tidak terungkap sebagai pengetahuan yang harus disingkirkan karena berada di ambang kesadaran manusia.

1995). hlm. Sementara pemahaman atas keseluruhan realitas itu sendiri hanya bisa dicapai melalui proses integrasi personal atas fakta-fakta partikularnya. Qadir (penyunting). (2) Teori kuantum dari Plank. Fisika klasik menganggap saintisnya sebagai saksi murni dari peristiwa-peristiwa alami yang tidak dipengaruhi oleh subyek. fisika klasik cenderung diterima tanpa sikap kritis terhadap kategori-kategori umum yang dimuat dalam pendekatan tersebut. kemudian ahli fisika sudah mulai mengalami semacam krisis intelektual yang diakibatkan oleh penemuan fakta-fakta eksperimental yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. 265. yakni: (1) Teori relativitas Einstein.A. dan (3) Teori elektris tentang materi. Baru setelah terjadi pergantian abad ke-20.107 Pergeseran itu setidaknya disebabkan oleh adanya tiga hal penting. 108 Burhanuddin Salam. . 41.108 107 James B. Hal ini perlu ditegaskan kembali oleh karena adanya kenyataan bahwa sejak awal pendekatan mekanis Galileo terhadap alam. terj.al. Bosco Carvalho. dalam C. op. dalam abad ke20 ini berkembang tiga teori yang cukup menggelisahkan dunia ilmu pengetahaun. (Jakarta: Yayasan Obo r Indonesia. Conant. et...cit. dengan mengandalkan dikotomi antara yang subyektif dan yang obyektif. yaitu perubahan pemikiran manusia. Indikasinya. hlm. dan yang bahkan dianggapnya mustahil terjadi. Dengan begitu positivisme bukanlah satu satunya sistem penjelasan terhadap struktur pengetahuan manusia. Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. kemajuan teknologi dan lahirnya metode-metode ilmiah baru.personal ke dalam kesatuan pemahaman sebagai suatu aktivitas inteligensi manusia dalam mengartikan dan memahami realitas. Apakah Ilmu Pengetahuan Itu?.

alam yang mekanis. hukum fisika tidak akan mampu menjangkau realitas mikrokosmos atau dunia sub-atomik. adanya problem ³prinsip ketidakpastian (Uncertainly principle)´ Heisenberg tentang kemustahilan untuk menyatakan posisi dan kecepatan sebuah elektron dalam waktu yang bersamaan. Yang lazim diketahui sampai saat ini hanya lah . Alam dalam pandangan Newtonian yang di atasnya prinsip positivisme ditegakkan. deterministik. adalah adanya paradoks terkenal tentang kodrat cahaya yang sampai sekarang mempunyai status yang tidak jelas.Lebih lanjut. Kemudian masalah yang Kedua. kini mulai diragukan. Kuhn dikatakan ³perkembangan fisika abad ke-20 telah menimbulkan revolusi ilmiah yang menggulirkan paradigma baru´. Perkembangan baru dalam fisika mengakibatkan perubahan pandangan dalam epistemologi. Prinsip ini beranggapan bahwa dalam keadaan yang lumrah. implikasi dari modifikasi teori fisika terutama dalam hal mekanika kuantum tersebut semakin menunjukkan betapa goyahnya pondasi atau asumsi-asumsi dasar positivisme yang menuntut ilmuwan dan filsuf merevaluasi pandangannya tentang ilmu pengetahuan. Paling tidak kondisi itu dipicu oleh beberapa kejadian yang terdapat dalam dunia ilmu fisika seiring dengan kemajuan-kemajuan dan penemuan-penemuan baru yang sangat revolusioner dan di luar prediksi semula. sederhana dan dapat diketahui secara obyektif dengan observasi dan e ksperimen ilmiah. imbas dari berbagai inovasi pemikiran modern tersebut menyebabkan dunia fisika dewasa ini mengalami apa yang disebut ³krisis penjelasan´. Pertama. yang dalam istilah Thomas S. Secara filosofis.

pendapat umum bahwa cahaya itu disebarkan dalam bentuk gelombang. Dan permasalahan penting yang Ketiga, adalah adanya penemuan Max Planck mengenai kenyataan bahwa atom hanya ada dalam bentuk -bentuk energi.109 Pada tahun 1900, Plank mengemukakan teori kua ntum yang menyatakan bahwa tenaga dari sinar yang dipancarkan ataupun diserap terdiri atas kelipatan -kelipatan bulat dari suatu takaran tertentu. Dalam hemat Planck, cahaya dapat dilihat sebagai term partikel atau sebagai gelombang (term of waves). Namun tidak ada interpretasi yang secara konsisten dapat digunakan pada keseluruhan situasi dengan selalu menetapkan hukum matematika formal.110 Hal itulah yang digunakan Feyerabend untuk memperlihatkan bagaimana metodologi-metodologi yang telah ada sudah tidak sejalan atau tidak cocok lagi dengan sejarah perkembangan fisika. Ia menyangkal klaim bahwa ada metode yang mampu menjelaskan sejarah fisika. Ia juga menolak anggapan bahwa superioritas fisika atas bentuk-bentuk pengetahuan lain dapat dikukuhkan dengan bantuan suatu metode ilmiah tertentu. Pendeknya, apabila seseorang hendak memberi sumbangsih kepada kemajuan fisika, maka ia tidak perlu terlebih dahulu mengenal metodologi-metodologi ilmu kontemporer, tetapi ia memang perlu mengenal tentang beberapa teori yang terdapat dalam pengetahuan fisika. Ia menunjukkan bahwa tidaklah bijaksana jika para ilmuwan di dalam melakukan pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan terikat oleh hukum-hukum yang diatur dalam metodologi-metodologi ilmu.

109

Kenneth T. Gallagher, Epistemologi (Filsafat Pengetahuan), P. Hardono Hadi (penyunting), (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 174-175.
110

Akhyar Yusuf Lubis, op.cit., hlm. 12.

Mengingat begitu kompleksnya kenyataan yang berkembang pesat serta juga terkait dengan masa depan yang tidak dapat diramalkan secara pasti dalam rangka perkembangan ilmu pengetahuan, maka tidak logis kiranya mengharapkan metodologi dapat mendikte seorang ilmuwan. Misalnya dalam situasi te rtentu kita harus menerima teori A, menolak teori B, atau lebih menyukai teori A daripada teori B. Hukum-hukum seperti ³terimalah teori yang mendapatkan paling banyak dukungan induktif dari fakta-fakta yang diterima umum´ dan ³tolaklah teori yang tidak sesuai dengan fakta-fakta yang sudah diterima umum´, tidaklah relevan dengan episode pengembangan ilmu itu sendiri yang dianggap sebagai fase yang paling kreatif dan progresif dalam sejarah peradaban umat manusia. Dalam pengertian inilah istilah ³apa saja boleh´ itu berlaku. Prinsip apa saja boleh (anything goes) secara harfiah berarti membiarkan segala sesuatu berlangsung dan berjalan tanpa dijejali aturan-aturan dan hukum-hukum. Bahkan prinsip ini mengimplikasikan suatu perlawanan terhadap segala macam atura n atau hukum yang telah baku. Prinsip ini tidak dimaksudkan sebagai metode baru, melainkan hanya sekedar upaya agar para ilmuwan yang sudah terbiasa bekerja dengan memakai standar-standar universal harus bersedia menerima tradisi-tradisi dan praktek-praktek riset.111 Dengan ini Feyerabend ingin menegaskan bahwa semua metode yang paling jelas sekalipun mempunyai keterbatasan. Dan satu satunya hukum yang akan hidup terus dan dapat bertahan di tengah semua situasi dan dalam tahap perkembangan manusia adalah prin ini. sip

111

Prasetya T.W., "Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend", dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting), Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 57.

Sebab nyatanya, gagasan mengenai adanya keteraturan metode atau rasionalitas teori ternyata banyak sekali menyisakan pandangan yang naif tentang manusia dan keadaan sosialnya. Untuk itu barangsiapa yang melihat kekayaan bahan yang disediakan oleh sejarah, tetapi tidak sungguh-sungguh dalam menggarapnya pada gilirannya akan mengurangi kepekaan nalurinya, dan mereka sangat membutuhkan jaminan kejelasan dari cendekiawan, ketelitian,

obyektivitas, kebenaran saja, sehingga menjadi jelas bahwa tidak ada satu pun prinsip yang dapat dipertahankan dalam semua keadaan seperti itu ataupun dalam semua tingkat perkembangan manusia. Inilah prinsip: apa saja boleh. Hal tersebut dikemukakan Feyerabend sebagai berikut: [T]he idea of a fixed method, or of a fixed the of rationality, rests on ory too naive a view of man and hissocial surrounding. To those who look at the rich material provided by history, and who are not intent on impoverishing it in order to please their lower instincts, their craving for intellectual security in the form of clarity, precision, µobjectivity¶, µtruth¶, it will become clear that there is only one principle that can be defended under all circumstances and in all stages of human development. It is the principle: anything goes.112 Prinsip apa saja boleh ini juga sangat sesuai dengan pokok pikiran Feyerabend lainnya, yakni tentang kebebasan individu yang akan kami paparkan dalam sub-topik pembahasan selanjutnya. Menurut Feyerabend, jika kita ingin rasional dalam situasi-situasi konkrit sebenarnya prinsip apa saja boleh

membebaskan kita dari keharusan untuk bertindak di bawah ketentuan -ketentuan hukum dan metode yang telah disepakati bersama. Menurut prinsip ini juga, setiap orang secara bebas dapat mengikuti pilihan pradigma dan aturan teori sera boleh t juga mengikuti kecenderungan tertentu sebagai usaha untuk menumbuhkan ide -

112

Paul Karl Feyerabend, op.cit., hlm. 18-19.

Chalmers. Dengan begitu. op. niscaya akan melihat hasil yang sama pula. hlm. Konsepsi Feyerabend ini berasa dari apa yang disebut l sebagai prinsip ketergantungan observasi pada teori.cit.ide kritis.cit. dan bukan pula kecenderungan sesaat yang tidak berarti sedikitpun. prinsip apa saja boleh bukanlah berarti bahwa apa saja boleh tanpa batas. ilmu pengetahuan diperoleh lewat observasi. Namun tentu saja kebebasan yang dipraktekkannya itu bukanlah kebebasan yang liar. bahwa ada dua asumsi penting dalam pandangan induktivisme tentang observasi. op. seorang ilmuwan perlu keberanian untuk mengajukan ide-ide. Dalam pengertian ini. Ilmu Tidak Bisa Saling Diukur dengan Standar Yang Sama Salah satu komponen penting lain dari analisa Feyerabend tentang ilmu pengetahuan adalah pandangannya bahwa ilmu -ilmu yang tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. Sebagaimana yang kita maklumi.113 Mereka percaya bahwa: (1) Seorang pengamat sedikit banyak dapat menangkap langsung beberapa sifat dari dunia eksternal yang diobservasi.. (2) Dua orang pengamat yang mempunyai indera yang normal akan melihat obyek atau gejala-gejala dari tempat yang sama. 107. 22.F. kepercayaan bahwa observasi yang sungguh -sungguh obyektif menjadi dasar yang kokoh bagi ilmu pengetahuan. Kedua. Pertama. D.. 114 Akhyar Yusuf Lubis. gagasan-gagasan baru tanpa harus dikekang oleh tradisi ilmiah. hlm. .114 Inilah yang disanggah Feyerabend dengan alasan bahwa apa yang dilihat pengamat dalam pengalaman visual ketika memanda ng suatu obyek sangat 113 A. tanpa aturan dan tanpa tujuan.

A Historical Introduction to the Philosophy of Science. Ia harus dapat membandingkan antara satu teori dengan teori yang lain berdasarkan hasil pengamatan serta kumpulan data dan fakta yang diperolehnya. 2001). Prinsip ketidakterbandingkan antara satu teori atau pandangan dengan yang lainnya berkaitan dengan prinsip inkonsistensi. 115 John Losee. Feyerabend menyimpulkan bahwa tingginya mutu sebuah 115 teori berdasarkan hasil pengamatan itu tidak dapat saling diukur satu sama lain. Feyerabend menerima pandangan Kuhn tentang tidak adanya kriteria bagi ilmuwan yang disebabkan oleh adanya ketidaksepadanan atau ketidakkonsistenan dalam teori ilmu pengetahuan. . 187. Fourth Edition (New York: Oxford University Press. hasil observasi itu selalu tergantung pada teori sehingga tidak dapat dijadikan dasar yang obyektif bagi penilaian tentang kelayakan sebuah teori. Makna dan interpretasi tentang konsep-konsep dan keterangan-keterangan observasi yang digunakan akan tergantung pada konteks dimana makna dan keterangan observasi itu muncul. bahwa dalam satu penelitian ilmiah dapat melibatkan pendapat dan alternatif-alternatif yang bervariasi. Jika seseorang tertarik dengan penelitian empiris dan ingin mengerti teori dalam berbagai aspek. hlm. Maksudnya. Bagi Feyerabend. Feyerabend beranggapan bahwa arti setiap istilah yang kita pakai tergantung pada konteks teori yang digunakan. tetapi bagi warga suku primitif. letusan gunung berapi mungkin dianggap sebagai hukuman para dewa akibat dosa-dosa manusia. Letusan gunung berapi bagi seorang ahli geologi. dapat dijelaskan sebagai gangguan di bawah tanah. pengetahuan dan harapan-harapannya. maka ia harus memahami dan mengadopsi metode yang pluralistik.dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman di masa lalunya.

. maka jelas tidak mungkin saling membandingkan ataupun mereduksi beberapa konsekuensi teori-teori rival itu secara logis. op. setiap paradigma akan memandang dunia ini secara berlainan.cit. baik secara teoretis maupun eksperimental.will adopt a pluralistic methodology. tetapi juga membimbing interpretasi fenomena yang diobservasi. and he will try to improve rather than discard the views that appear to lose in the competition´. Pemecahan itu dibimbimg oleh peraturan-peraturan dalam suatu paradigma. he will compare theories with other theories rather than with µexperience¶. sebab kedua teori rival itu tidak memiliki kesamaan keterangan-observasi apapun. . hlm. Dalam penjabarannya. µdata¶. sebab dua teori rival itu tidak akan bisa saling diukur dengan standar yang sama pula. 116 Paul Karl Feyerabend.116 Sebelumnya Thomas Kuhn telah menggambarkan ilmu sebagai aktivitas pemecahan teka-teki ilmu pengetahuan. sehingga tidak mungkin merumuskan konsep dasar dari teori yang satu dengan standar teori yang lain.. 33. Dalam beberapa kasus-kasus fundamental dari dua teori rival mungkin terdapat perbedaan yang begitu signifikan.. Dalam kasus seperti itu. Feyerabend menulis masalah itu sebagai berikut: ³. sebab setiap paradigma itu memang memiliki asumsi dan standar yang berbeda atau bahkan saling bertentangan satu sama lain.Ia harus mencoba pula untuk memperbaiki daripada membuang pandangan pandangan yang kelihatannya kehilangan daya kompetisi. or µfacts¶. Kuhn secara tegas menyatakan bahwa paradigma bukan saja membimbing teknis penelitian. Ini artinya Kuhn juga mengakui ketergantungan observasi pada teori.

Kuhn and P.S. dalam arti bahwa memang tidak ada hal yang patut untuk dibanding bandingkan. 115. dan P. hlm. Feyerabend bahwa dua pengertian teori itu tidak bisa saling diukur dan diperbandingkan satu sama lain. hlm. Salah satu contoh Feyerabend tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur tersebut adalah mengenai hubungan antara mekanika klasik dengan teori relativitas. Sifat 117 Mario Augusto Bunge.117 Kuhn dan Feyerabend berpendapat bahwa seingkali teori-teori ilmu pengetahuan itu tidak dapat saling diukur dengan beberapa teori yang lain secara bersamaan. Understanding Philosophy of Science (London: Routledge. Feyerabend that two concept are mutually ³incommensurable´.. Revised Edition (New York: Transaction Publishers. incomparable´. ³Which refutes the contention of T. (.. 118 . 78. 1998).Hal ini tepat sekali jika dihubungkan dengan keyakinan Kuhn dan Feyerabend bahwa teori-teori itu memang tidak memiliki tolok ukur yang sama antara yang satu dengan yang lainnya.e. realitas yang nampak di dunia ini merupakan obyek-obyek fisik yang mempunyai bentuk. Menurut pandangan mekanika klasik. materialisme di satu pihak dan dualisme antara badan dan akal di pihak yang lain. both of whom argued that successive scientific theories are often incommensurable with each other in the sense that there is no neutral way of comparing their merits). i. James Ladyman. massa dan volume.S. Itulah maksud dari penyangkalan sebagaimana yang dikemukakan oleh T.118 Pasangan-pasangan teori yang tidak bisa saling diukur menurut Feyerabend adalah mekanika kuantum dan mekanika klasik. 2002).K. teori penggerak dan mekanika Newtonian...K. Philosophy of Science. Volume One: From Problem to Theory.

Lihat Joko Siswanto. Feyerabend tidak menampik bahwa hakikat ilmu yang tidak bisa saling diukur itu. yaitu teori relativitas khusus yang diciptakan Einstein pada tahun 1905 dan teori relativitas umum yang dimunculkan Einstein pada tahun 1916. koheren atau inkohern. op. 27. hlm.cit. 146. Salah satu cara untuk memperbandingkan sepasang teori adalah dengan mengkonfrontasikan teori-teori itu pada serangkaian situasi yang dapat diobservasi..119 Adanya kenyataan bahwa sepasang teori rival tidak bisa saling diukur. Teori relativitas terdiri dari dua bagian. gerak dan gravitasi. yakni ide-ide tentang ruang. Chalmers. Walaupun begitu. 119 A. waktu. terpaksa akan membawa kita ke suatu aspek subyektif dalam personalitas kita juga. sifat-sifat seperti bentuk. .sifat itu eksis dalam obyek-obyek fisik dan dapat dirubah akibat adanya campur tangan fisik. hlm. massa dan volume tidak eksis lagi. Secara tegas Feyerabend menjelaskan bahwa setelah  Teori relativitas atau dikenal juga dengan teori Einstein adalah teori tentang realitas fisik yang menggambarkan fenomena alam secara kuantitatif. Ia menjadi kerangka referensi dan bisa dirubah tanpa interaksi fisik apapun. tetapi menjadi relasi-relasi antar obyek-obyek. Cara lain membandingkan teori-teori adalah seperti yang diusulkan Feyerabend dengan melibatkan pertimbangan-pertimbangan apakah teori-teori tersebut linear atau non-linear. dan lain sebagainya. lalu kita catat seberapa jauh derajat masing-masing teori itu sejalan dengan situasi-situasi tersebut yang ditafsirkan menurut kondisi masing -masing teori.cit. Isi pokok teori tersebut menyangkut ide-ide fundamental yang dipakai untuk menjelaskan alam. op. tidak lantas berarti bahwa teori-teori tersebut tidak bisa diperbandingkan dengan cara apapun.F. Sedangkan dalam teori relativitas . Akibatnya keterangan apapun mengenai obyek -obyek fisik dalam mekanika klasik akan mempunyai makna berbeda dari keterangan observasi serupa dalam teori relativitas.. massa.

156ff.kita menyingkirkan kemungkinan pembandingan teori teori secara logis untuk membandingkannya dengan sejumlah konsekuensi deduktif. pendeknya. 285. Ilmu Tidak Harus Mengungguli Bidang Pengetahuan Lain Aspek lain yang penting dari anasir-anasir pokok pemikiran Feyerabend adalah menyangkut posisi ilmu dengan bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. 1981). religious desires. maka sebenarnya yang tinggal tersisa adalah penilaian estetik. intervensi pribadi maupun interest psikologis dari subyek yang memberikan isi terhadap obyek pengamatan itu.. Dari sekian permasalahan itu sudah cukup kiranya kita jadikan dasar penolakan pandangan positivisme logis dengan argumentasi ilmiahnya tentang mutu kebenaran sebuah teori berdasarkan hasil observasi. keinginan-keinginan religius.. in short. Diutarakannya. op. prasangkaprasangka metafisis. ³. ³How to Defend Society Against Science´. Scientific Revolutions (New York: Oxford University Press. penilaian selera. Feyerabend menunjukkan bahwa tidak ada satu metode pun yang dianggap lebih baik dari bentuk metode yang lain. . metaphysical prejudices. 121 Paul Karl Feyerabend.120 Hasil penelitian. judgements of taste.cit. hlm. E. yang dalam perjalanan sejarahnya ternyata banyak tersandung oleh kesalahan-kesalahan yang fatal. apa yang tersisa adalah keinginan-keinginan subyektif kita. what remains are our subjective whises´.). hlm.121 Feyerabend mengkritik keras pandangan 120 Paul Karl Feyerabend..What remains are aesthetic judgements. dalam Ian Hacking (ed. penemuan ataupun pemilihan berbagai teori yang dilakukan oleh seorang ilmuwan tentang dunia fisik yang diamati itu tidak bisa terlepas dari kondisi sosiologis.

perlu juga kiranya dikemukakan pendapat dari Herbert Marcuse (1898 -1979) yang menyatakan bahwa masyarakat industri telah berkembang menjadi masyarakat berdimensi satu yang berada di bawah penguasaan prinsip teknologi. Setiap individu dalam masyarakat industri diperbudak oleh sistem produksi dan selalu berada dalam cengkeraman masyarakat konsumsi. cendekiawan. Dalam masyarakat seperti itu. yaitu para seniman. Dalam hal inilah gagasan Feyerabend memiliki kedekatan pandangan dengan Marcuse. dituntut harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini sebab ia bukan merupakan kelas yang revolusioner. Filsuf-filsuf Dunia dalam Gambar (Yogyakarta: Karya Kencana. sehingga pemikiran dan filsafat hanya berfungsi menyesuaikan diri dengan sistem lama yang telah ada. kecuali kaum buruh. Dalam masyarakat yang demikian itu. 1981). Namun sebelum mengulas gagasan Feyerabend tersebut. Husnan Aksa.122 Marcuse mengkritik tajam asumsi positivisme dan neo-positivisme yang menurutnya mematikan pemikiran negatif (negasi). . harapan untuk mengadakan perubahan hanya terletak pada orang-orang pinggiran (marginal men). tetapi mereka hanya kelas yang sekedar berusaha mempertahankan hak untuk hidup.ilmuwan dan masyarakat yang mengagung-agungkan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu tinggi. dan mahasiswa. hlm. Produktivitas bukan lagi sebagai alat. kebutuhan hidup dihambur-hamburkan hanya untuk menghabiskan hasil produksi yang meli pahruah saja. Dan setiap m individu. melainkan telah menjadi tujuan. 122 Endang Daruni Asdi dan A. 166.

magi atau 123 Paul Karl Feyerabend. ilmu pengetahuan unggul karena dapat membuktikan hasil-hasl (teknologi) yang dapat diandalkan. 9. dan meningkatnya perbedaan budaya yang mendapat kehormatan sampai di taraf internasional berarti bahwa sebuah keragaman pada dasarnya menggambarkan adanya perbedaan gambaran tentang kenyataan alam selalu dihubungkan dengan perbedaan budaya.Kegagalan dari program kaum positivis selama ini adalah bahwa keragaman budaya selalu dinyatakan lewat pemahaman disiplin ilmu antropologi. Pertama. ³keragaman budaya tidak dapat dijinakkan lewat pemikiran kaku tentang kebenaran obyektif sebab ia juga mengandung keragaman pemikiran serupa Katanya. yang secara tiba-tiba goyah oleh dunia ilmu pengetahuan dan cendekiawan kontemporer. Maksudnya dengan metode empiris-analitis. keunggulan metodologis.123 Kaum positivisme dan neo-positivisme mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan unggul karena dua alasan. hlm. ³cultural variety ´. Farewell to Reason (New York: Verso. 1987). Bahkan menurutnya tidak lebih unggul dari mitos. cannot be tamed by a formal notion of objective truth because it contains a variety of such notion´. Akibatnya seperti yang diungkapkan oleh Feyerabend. Feyerabend menolak dengan tegas anggapan -anggapan tersebut dengan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidaklah lebih unggul dari bentuk -bentuk pengetahuan lain. Kedua. ilmuwan dapat menentukan dan membuktikan kebenaran teorinya. . dan ide tentang adanya satu kebenaran obyektif mengenai realitas tunggal alam semesta pun telah be ralih menjadi kekaburan pemikiran di kalangan kaum cendekiawan.

Bacon. memberikan tafsir atas segala fenomena alam yang sepenuhnya bercorak naturalis dan determinis. Tetapi Thomas Hobbes dan para pengikutnya yang muncul kemudian. Ilmu pengetahuan pada masyarakat ilmiah modern telah dianggap paling benar. Galileo. Kepler dan Newton di awal kebangkitan ilmu pengetahuan modern masih menganggap bahwa ilmu pengetahuan dan agama saling melengkapi. Ilmu pengetahuan dan metodenya menindas semua pandangan alternatif yang dianggap tidak relevan lagi dengan keaadan yang ada dan kenyataan yang berkembang dewasa ini. Misalnya Hobbes. Baginya sains bukanlah satu-satunya tradisi terbaik yang ada. berpendapat bahwa segala kejadian itu ditentukan oleh gerakan dan bentuk dari obyek yang bersifat kebendaan. Feyerabend menyesalkan pembela-pembela ilmu yang secara tipikal menilai ilmu lebih unggul dan lebih berbobot atas bentuk -bentuk pengetahuan lainnya tanpa melakukan penyelidikan yang memadai terhadap pengetahuan pengetahuan yang lain. Ilmu pengetahuan dalam penilaian Feyerabend telah mengam alih bil peran yang dimainkan oleh kaum agamawan. Bacon masih mencita-citakan bertemunya penjelasan antara ilmu dengan Kitab Suci secara harmonis. Karena alasan itu pulalah. Sedangkan cita rasa yang berdasarkan pancaindera itu sama sekali subyektif. Feyerabend menyatakan bahwa kebenaran itu terkait dengan tradisi dan bersifat relatif. kemudian Feyerabend tidak .voodoo. kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa memperlakukannya secara istimewa. sehingga memonopoli kebenaran di tengah-tengah masyarakat luas. Pandangan inilah yang diterapkan secara radikal oleh Comte dan kaum Positivisme Logis. Copernicus.

bahkan bebas untuk memilih tidak beragama. dalam masyarakat Amerika. Maka untuk mengatasi hal tersebut. dan tetap saja dilestarikan dengan cara-cara yang sama oleh orang-orang yang masih rendah tingkat peradabannya. maka sesungguhnya tidak ada perbedaan antara mitos dan logos (teori ilmiah). karena para ilmuwan dan institusi pendukungnya dengan gencar selalu melakukan propaganda bahwa ilmu pengetahuan itu lebih unggul.. Feyerabend mengungkapkan bahwa ilmu adalah satu ben ideologi saja. Secara khusus. Feyerabend menyarankan pemisahan ilmu pengetahuan dengan negara sebagaimana agama dipisahkan dari negara pada masa Renaissance. tuk yang berhubungan dengan sihir dan astrologi serta bertentangan dengan 124 Akhyar Yusuf Lubis.cit. terutama dalam masyarakat Amerika. . Menurut Feyerabend. Lebih jauh ia memproklamirkan bahwa tidak ada perbedaan yang prinsipil antara ilmu pengetahuan dan mitos dan voodoo. tetapi mereka dilarang mempelajari semua yang dianggap tidak ilmiah (mitos. Lebih lanjut.menerima keharusan superioritas ilmu atas bentuk -bentuk pengetahuan lain. ia menolak ide bahwa akan bisa lahir suatu argumen yang menentukan dan menguntungkan ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain yang tidak bisa diukur. Feyerabend menyerang pandangan ilmuwan yang menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai agama baru. hlm. voodoo). 127-128. orang memilih agama secara bebas. op. dari segi tesisnya tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur.124 Jadi kalau saja kata mitos diartikan untuk menunjukkan gejala dan peristiwa alam atau manusia seperti yang terjadi dalam tradisi dahulu kala. Semua ini dirasa tidak wajar tetapi tetap saja terjadi.

156ff. ia dapat mengajukan bukti-bukti bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang justru karena memberinya kebebasan. Berdasarkan analisis sejarah. ³How to Defend Society Against Science´. Sebab. hlm. Perkembangan dunia ilmu pengetahuan lebih dimungkinkan dengan membiarkan teori-teori yang beraneka ragam secara bebas dalam mengembangkan visi intelektualitas secara kreatif. Bertitik tolak dari keyakinan seperti itulah. F. against which society needs to be defended?´125 Dengan demikian.hat t science is just another ideology.kebutuhan-kebutuhan yang dipertahankan oleh masyarakat. . ³. sejarah ilmu pengetahuan itu memang selalu berproses untuk menyempurnakan dan mengembangkan teori-teori yang telah ada lewat pergulatan pemikiran yang simultan dan relatif µmendekati¶ hakikat sebuah kebenaran. Kebebasan Individu Kritik-kritik konstruktif Feyerabend cukup ampuh membongkar (mendekonstruksi) pandangan saintisme modern. catatan penting yang dapat kita ambil dari salah satu gagasan pokok Feyerabend ini adalah bahwa tidak ada universalitas sebuah teori yang secara mutlak lebih unggul kebenarannya dari teori yang lain. bukan dengan memagarinya melalui peraturan tunggal atau hanya dengan menerapkan satu metode yang dianggap mapan.. maka di bagian lain pandangannya tentang ilmu pengetahuan Feyerabend juga menekankan tentang pentingnya makna kebebasan individu dari berbagai macam belenggu 125 Paul Karl Feyerabend.. along with magic and astrology. Ia berkata.

Ia melihat bahwa ilmu pengetahuan memiliki kedudukan dan kuasa mutlak yang sama dengan otoritas agama pada masa Abad Pertengahan. Pandangan Feyerabend tersebut harus ditelusuri pula berkaitan dengan analisisnya tentang masyarakat yang dicita-citakannya. sebab pada dasarnya kegiatan ilmiah atau ilmu pengetahuan itu memang merupakan upaya yang anarkistik. Gagasan awal tentang kebebasan individu Feyerabend ini sendiri sebenarnya hanya merupakan uraian lanjutan dari apa yang disebut oleh John Stuart Mill (1806-1873) sebagai ³sikap kemanusiawian´ yang d alam realisasi konkritnya ditujukan untuk membebaskan dan sekaligus meningkatkan kebebasan individu menuju kehidupan yang lebih maju dan produktif. namun justru memasungnya dengan teori-teori dan aturan-aturan yang ketat dan mengikat. menguasai dan bahkan memperbudak manusia. perkembangan ilmu pengetahuan tidak dapat diterangkan ataupun diatur oleh segala macam aturan dan sistem hukum yang berlaku. Padahal sebenarnya seperti yang ditunjukkan oleh Feyerabend. terdapat beberapa pemikiran universal tentang manusia yang digunakan untuk menetapkan beberapa . Ilmu telah menjadi ideologi absolut-tunggal yang membatasi. Artinya ilmu pengetahuan tidak lagi berfungsi untuk membebaskan manusia. Ia menyatakan bahwa setiap orang harus mengikuti kecender ungan individualnya dan mengerjakan hal-ihwalnya sendiri.metodologis. Sehingga pada akhirnya Feyerabend berkesimpulan bahwa pelembagaan ilmu dalam masyarakat kita dewasa ini sudah dianggap tidak konsisten lagi dengan sikap kemanusiaan itu sendiri. Dalam perspektif Feyerabend.

superfisial. hlm. There is a separation between state and church. while an American can now choose the religion he likes. Negara semestinya bertugas untuk mengatur perjuangan antara ideologi-ideologi untuk menjamin setiap individu dapat mempertahankan 126 Paul Karl Feyerabend.pendekatan teoretis untuk memecahkan perselisihan-perselisihan manusia yang sombong. ³thus.here t is some universal notion of human understanding which might be used to provide some theoretical approach to solving human conflicts as ³conceited. tidak sempurna dan tidak jujur. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. tidak ada cara lain yang dapat ditempuh dalam dilema ini kecuali dengan berusaha membebaskan masyarakat itu sendiri dari pengaruh monotafsir ilmu yang secara ideologis telah dimonopoli oleh institusi negara. 1975). 127 Paul Karl Feyerabend. ..126 Di sekolah-sekolah. 299. Lagi lagi ia menampilkan contoh tentang masyarakat Amerika yang menurutnya memberikan kebebasan warganya untuk memilih agama yang mereka kehendaki. Ia berujar. and dishonest´. hlm. misalnya. Dalam masyarakat yang diimpikan oleh Feyerabend. tetapi tetap saja warga masyarakat tidak diperkenankan untuk mempelajari ilmu sihir dan voodoo. negara secara ideologis adalah netral. he is still not permitted to demand that his children learn magic rather than science at school.127 ´ Dan bagi Feyerabend. ³. Farewell to Reason (New York: Verso. Dalam pengertian ini. Ia mengatakan. jelas tidak ada pemisahan antara negara dan ilmu. 1987). dangkal. 25. ia melihat bahwa ilmu masih diajarkan sebagai sesuatu yang sudah semestinya. incomplete. there is no separation between state and science. ignorant.. bebal.

Bermula dari eksplorasi tentang ³apa saja boleh´ dan berbagai problem teori teori keilmuan lainnya. filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend itu bisa membimbing kaum cerdik pandai untuk berpikir mandiri.cit. Salah satu peran penting filsafat Feyerabend yang berpijak pada rasionalitas dan universalisasi ilmu pengetahuan itu dalam kehidupan masyarakat luas adalah bahwa ia bisa membantu menjernihkan substansi suatu permasalahan dan menyingkirkan berbagai macam kepalsuan dan pemaksaaan ideologis. Surplus positif dari filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend yang mungkin dapat didedikasikan bagi masa depan umat manusia adalah bahwa ia masih diperlukan untuk mensukseskan apa yang oleh Jürgen Habermas disebut ³program pencerahan´. hlm.. termasuk juga doktrin -doktrin agama yang begitu dogmatis dan tanpa kompromistis. sehingga ia mampu menghadirkan kronik pemikiran baru dalam diskursus ilmu pengetahuan modern dan postmodern yang sudah mulai banyak diperdebatkan. mendalam. kritis dan berani. op. 152. Feyerabend terus berusaha µberkelit¶ dari sanjungan keberhasilan dan kemapanan sains. Sedangkan dalam komunitas akademik. Filsafat Feyerabend dapat 128 A. dengan selalu melakukan perlawanan secara kritis terhadap segala bentuk penyempitan ideologis. . Demikianlah gambaran umum tentang ide kebebasan individu dan masyarakat Feyerabend yang merupakan pertautan epsitemologis dari pemikiran pemikiran utamanya tentang anarkisme ilmu pengetahuan.F.hak kebebasan untuk memilih tanpa adanya unsur pemaksaan ideolo tertentu gi 128 yang bertentangan dengan pilihan sadar dan kehendak hati nuraninya. Chalmers.

pula mencegah meluasnya kantong-kantong kosong pemikiran filosofis yang lolos dari tantangan kritik. apa kontribusi konkrit yang bisa diberikan model pembelajaran filsafat Feyerabend tersebut terhadap dunia keilmuan di Indonesia? Secara praktis. kritis dan kreatif. Dalam bidang agama. pluralisme metodologi yang ditawarkan Feyerabend kiranya juga bisa membantu melepaskan subyektivitas keberagamaan kita dari pandangan dunia dan pembelaan agama yang berbeda untuk bersama-sama membahas tantangan yang dihadapi bangsa. serta menghubungkan kesenjangan pemahaman ilmu itu sendiri dengan tuntutan-tuntutan praktis kehidupan. Dalam kehidupan sosial. . maka perluasan wacana filsafat Feyerabend ini akan memungkinkan masyarakat untuk memikirkan kembali masalah-masalah dasar hidupnya secara rasional dengan bahasa. serta mencari pemecahan yang berorientasi pada penghormatan nilai-nilai kemanusiaan. Lantas. Dengan demikian. tradisitradisi dan filsafat Indonesia asli secara lebih terbuka. wawasan dan argumentasi yang universal dalam rangka men ggali kekayaan budaya. filsafat Feyerabend dapat dijadikan alat untuk mendeteksi setiap kedok-kedok ideologis berbagai ketidakadilan sosial serta pelanggaran - pelanggaran terhadap martabat manusia dan hak -hak asasinya. gagasan-gagasan filsafat Feyerabend itu setidaknya bisa membantu kita mengambil jarak sekaligus memberikan kritik tandingan terhadap klaim ideologi ilmu-ilmu empiris yang dalam opini budaya modern ini seolah-olah hanya ilmuilmu empirislah yang sanggup mendefinisikan arti kemanusiaan dan tujuan perkembangan masyarakat. dengan analisis yang bebas dan obyektif. sembari mempertanyakan ulang tentang kejelasan metode dan wawasan.

hlm. kebutuhan akan. anarkisme berasal dari kata Yunani an archos = tanpa pemerintahan. 129 Ali Mudhofir. Mikhail Bakunin (1814-1876) dan Peter Kropotkin (1842-1921). 1996). ketiadaan. ketua. kekurangan + anarchos. Aliran ini didasarkan pada ajaran bahwa masyarakat yang ideal itu dapat mengatur urusannya sendiri tanpa mempergunakan kekuasaan yang berlawanan dengan paham sosialisme dan komunisme. Konotasi positif: Anarkisme adalah ideologi sosial yang menolak pemerintahan yang otoriter. Tokoh-tokohnya: Gerrard Winstanley (16091660). Dalam bahasa Yunani istilah anarchos atau anarchia berarti tidak memiliki pemerintahan²keadaan tanpa penguasa). Aliran ini berpandangan bahwa individu-individu harus mengatur diri mereka sendiri dengan cara yang disenangi demi pemenuhan kebutuhan dan idealideal mereka. komandan. Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Yunani. Ia merupakan sebuah aliran dalam filsafat sosial yang menghendaki dihapuskannya negara atau pemerintahan serta kontrol politik dalam masyarakat. seorang pengatur. 9-10. awalan a. William Goldwin (1756-1836). . pengarah. Dalam pengertian ini anarkisme tidak bisa disamakan dengan Nihilisme. 129 Anarkisme (bhs. Pengertian Anarkisme Secara etimologi. orang yang berwenang.BAB IV ANARKISME ILMU PENGETAHUAN PAUL KARL FEYERABEND G. tidak.

hlm. hlm. Konotasi negatif: Anarkisme adalah kepercayaan yang menyangkal untuk menghormati hukum atau peraturan apapun dan secara aktif melibatkan diri dalam promosi kekacauan melalui perusakan masyarakat. anti.130 Kamus Ilmiah Populer dengan gamblang mendefinisikan anarkisme sebagai sebuah paham kebebasan bertindak tanpa mau diikat oleh undangundang. 131 Pius A. hukum) 1. Thus it belong in the ³primitive tradition´ of Western culture and springs from the philosophical concept the inherent and radical goodness of human nature. nomos. Seseorang yang ingin hidup di luar masyarakat dalam keadaan alami atau hidup dalam masyarakat dengan ikatan seminimal mungkin oleh norma-norma sosial.131 Sementara Dictionary of Philosophy secara terperinci memberikan pengertian anarkisme sebagai berikut: Anarchism: This doctrine advocates the abolition of political control within society: The State. 30. Partanto dan M. Lihat dalam Tim Penulis Rosda. (a) seseorang yang percaya bahwa hanya keimanan. anarchism envisages a homely life devoted to unsophisti ated activity and filled with c simple pleasure. 130 Ibid. is man¶s greatest enemy ²eliminate it and the evils of human life will disappear. 2. 1995). hlm. 13. in an indirect way. seseorang yang menginginkan kebebasan dari aneka peraturan dan hukum dalam masyarakat. to the influence of the primitivistic strain in the thought of Jean Jacques Rousseau. hal kesewenang-wenangan bertindak (melenyapkan undang-undang). it contends. Aliran ini mengajarkan penggunaan terorisme individual sebagai sebuah alat untuk meningkatkan terjadinya disorganisasi sosial dan politik. bukan hukum moral. Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola. (Penganut antinomi. 1994). seseorang yang memandang rendah hukum dan batasan-batasan sosial serta meletakkan di atas segalanya soal keimanan dan pengetahuan tertentu yang menjanjikan keselamatan. Positively.. Dahlan Al-Barry. (b) dalam pengertian teologis yang lebih ekstrem. 17.tetapi lebih serupa dengan libertarianisme politik dan antinomianisme . sebgai lawan dari kaum aktivis atau anarkis. Kamus Filsafat (Bandung: Remaja Rosdakarya. Yunani. melawan. Modern anarchism probably owes not a little. yang diperlukan bagi keselamatan. umumnya tidak langsung terlibat dalam usaha penghapusan hukum-hukum dan struktur politik suatu masyarakat. . dalam teologi. In an popular sense the word ³anarchy´ is often  Antinomian (bhs.

anarkisme diartikan sebagai anarchy epistemological (kesewenang-wenangan epistemologis) yang digunakan dan dipopulerkan oleh Paul Karl Feyerabend.used to denote a state of social chaos. Anarkisme modern kelihatannya juga tidak jarang. kata ³anarki´ seringkali digunakan untuk menunjukkan adanya kekacauan sosial dalam suatu negara. anarkisme mengimpikan kehidupan yang bersahaja dengan menekuni kegiatan yang sederhana dan mengisinya dengan kesenangan yang wajar. Menurutnya.132 Jadi yang dimaksud dengan istilah anarkisme adalah: ajaran yang menganjurkan dihapuskannya penguasaan politik dalam masyarakat. Sebab negara menurut pendapat mereka adalah musuh terbesar manusia yang jika disingkirkan akan dapat menghilangkan kejahatan -kejahatan yang ada dalam kehidupan manusia. Dalam bidang ilmu pengetahuan. walaupun dengan cara yang berlainan. 1971). hlm. Runes (ed. Jelasnya. Dictionary of Philosophy (Littlefield Adams & Co. tidak ada ukuran -ukuran yang tetap untuk memisahkan atau membedakan antara sampah dengan teori yang dapat diamati.). but it is obvious that the word can be used in this sense only by one who denies the validity of anarchism. Kamus Istilah Filsafat (Yogyakarta: Liberty.. bahkan kata ini juga dipakai oleh seseorang yang menyangkal terhadap keabsahan anarkisme itu sendiri. 133 Ali Mudhofir. berusaha untuk mempengaruhi pandangan -pandangan kuno yang terdapat dalam pemikiran Jean Jacques Rousseau.133 132 Dagobert D. . hlm. Dalam pengertian populer. 1992). Jadi ia termasuk kebiasaan kuno dari budaya Barat yang bersumber dari konsep filosofis yang telah melekat dan mengakar secara baik dalam sifat dasar manusia. Totowa: New Jersey. 9. 11-12.

Mikhail Bakunin. Joseph Proudhon. menganut doktrin revolusioner yang bermuara pada penghancuran negara. filsuf Jerman. istilah ini baru beredar pada abad ke-19. suatu rasa sosial yang semakin meningkat di tengah masyarakat. filsuf Perancis.Disamping itu juga terdapat beberapa pandangan filsuf tentang definisi anarkisme. garis lunak (moderat). sebab ia merupakan biang keladi ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat. 3. Max Stirner. Sebagai doktrin politis dan filosofis. penulis dan aktivis politik Rusia. berkeyakinan bahwa keberadaan anarkisme adalah pasti dalam wujud pemberontakan ²bukan revolusi² perseorangan seiring dengan adanya penumpukan dan pengembangan sikap individualisme. penulis politik Inggris. 2. mendukung pertumbuhan dan perkembangan secara bertahap hubungan timbal balik atau kegotong royongan. garis keras (ekstrem). diantaranya: 1. revolusioner. . Sedangkan mengenai cara penghapusannya berbeda-beda menurut pandangan para penganutnya: evolusioner. 5. William Goldwin. Dan penyebarluasan kerjasama sukarela semacam ini akan menggantikan negara. mengharapkan munculnya anarkisme melalui perkembangan moral manusia secara bertahap. Pertama kali digunakan oleh Proudhon dan kemudian diangkat kembali oleh Bakunin untuk menyatakan adanya aneka ragam doktrin yang berkisar seputar keyakinan bahwa negara yang teratur harus dilenyapkan. 4.

1981).. 48-49. hlm. Sedangkan dalam analisa Feyerabend sendiri. menganjurkan revolusi moral tanpa kekerasan yang mengarah pada pen ghapusan negara.135 134 Lorens Bagus. padahal konsep gotong royong tidak kalah pentingnya. hlm. 146-147. Newton-Smith. The Rationality of Science (Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd. filsuf sosial dan novelis Rusia. 135 W. maka anarkisme epistemologis justru tidak selalu memiliki loyalitas ataupun perlawanan yang jelas terhadap semua sistem dan struktur elit tersebut.. Peter Kropotkin.6. term anarkisme itu tidak lain adalah anarkisme epistemologis yang dipertentangkan dengan anarkisme politis atau religius.I hope that having read the pamphlet the reader will remember me as flippant Dadais and not as a serious anarchist. apabila anarkisme politis anti terhadap kemapanan (kekuasaan. mengutarakan bahwa teori Darwin terlalu melebih-lebihkan kompetisi dalam evolusi. Feyerabend sendiri secara pribadi menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang d adais yang dilukiskannya sebagai berikut: A Dadais is convinced that a worthile life will arise only when we start taking things lightly and when we remove from our speech the profound but already putrid meanings it has accumulated over the centuries. Dikatakannya. Dalam hal ini ia lebih cenderung mewakili pandangan anarkisme religius.. . Di akhir renungannya tentang anarkisme. 1996). institusi-institusi dan ideologi-ideologi yang menopangnya). negara. 7. Leo Tolstoy. Dan anarkisme 134 itu sendiri merupakan gerakan kembali kepada masyarakat alamiah. filsuf sosial dan pengarang Rusia. Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia.H.

23. it was against all programmes¶. dan bukan sebagai anarkis yang sesungguhnya).. Dadaisme berarti suatu gerakan protes dari dunia seni yang ditujukan bukan hanya terhadap seni yang sudah mapan.. 1975). . Feyerabend mengutip pandangan Richter sebagai berikut: µDada¶. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books.Saya berharap bahwa setelah membaca selebaran ini pembaca mengenangku sebagai seorang Dadais yang sembrono. Ia bukan hanya tidak punya program. Anarkisme Feyerabend yang demikian itu terkadang diartikan orang sebagai kesewenang-wenangan epistemologi. hlm. 136 Paul Karl Feyerabend. Hal itu ditempuh untuk memberikan kebebasan bagi perkembangan metode-metode alternatif.(Seorang Dadais percaya bahwa hidup yang berguna itu hanya dapat dibangun apabila kita mulai melakukan sesuatu yang gampang dan berhenti dari omong besar kecuali jika kita ingin pengertian -pengertian itu menjadi busuk karena ditumpuk-ditumpuk selama berabad-abad.  Istilah dadais muncul dari dunia seni di Perancis dan Jerman setelah Perang Dunia I sekitar tahun 1916-1922. tetapi juga anti status quo.136 Maksud Feyerabend adalah bahwa dalam epistemologi terdapat bentuk anarkisme yang berupaya mempertahankan sekaligus menentang kemapanan. Seorang anarkisme epistemologis menurut Feyerabend ibarat seorang dadais seperti yang dijelaskan oleh Hans Richter dalam bukunya Dada: Art and Anti-Art. Ia pembela status quo. melainkan akhirnya juga menjadi gerakan protes terhadap segala bentuk kemapanan. This does not exclude the skillful defence of programmes to show the chimerical character of any defence. however µrational¶. karena tidak adanya ukuran atau aturan yang tetap dan pasti untuk menentukan antara yang ilmiah dan yang non-ilmiah. tetapi anti-program. µnot only had no programme.

W. Menurut hemat Feyerabend anarkisme teoretis itu lebih manusiawi daripada alternatif hukum. Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. dan obat paling mujarab untuk mengembalikan eksistensinya pada koridor semula adalah dengan prinsip anarkisme. Jika skeptisisme berpendapat bahwa suatu pandangan bisa benar dan bisa salah atau bahkan bisa juga tidak ada penilaian berarti baginya. maka tidak demikian halnya dengan anarkisme epistemologis. hlm. interpretasi yang bertentangan. Feyerabend melihat bahwa para ilmuwan hanya meninjau fakta ilmu pengetahuan dari dimensi ide belaka. Dengan demikian. 54. 1993). Seorang anarkis di bidang ini tidak segan bahkan tidak malu untuk mempertahankan pandangan yang dianggap sudah basi dan konyol sekalipun. Ia juga berisi ide-ide. 137 Prasetya T. Dari perspektif ini. anarkisme. dan sebagainya. interpretasi terhadap fakta-fakta. Feyerabend memberikan argumentasi historis. dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting). . masalah-masalah yang timbul dari kesalahan interpretasi. anarkisme juga tidak bisa disebut skeptisisme. "Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend". ilmu pengetahuan secara hakiki merupakan usaha yang anarkistik mutlak. sehingga tidak heran andaikata sejarah dan ide -ide ilmu pengetahuan yang berkembang itu kemudian menjadi pelik..137 Situasi semacam itulah yang dilukiskan Feyerabend sebagai sakit epistemologis. bahwa sejarah ilmu pengetahuan tidak hanya berisi fakta-fakta dan kesimpulankesimpulan yang ditarik dari fakta-fakta tersebut.Dalam posisi seperti itu. Lantas mengapa diksi yang ditawarkan oleh Feyerabend adalah anarkisme? Karena anarkisme epistemologis merupakan anarkisme teoretis. rancu dan penuh dengan kesalahan seperti pemikiran dari para penemunya.

jelas dan bebas. 138 Paul Karl Feyerabend. fungsi dan kedudukan ilmu pengetahuan dalam kehidupan masyarakat yang dianggap memiliki standar universal yang melampaui batas-batas partikularitas dan relativitasnya. Anarkisme Sebagai Kritik atas Ilmu Pengetahuan Secara garis besar. Kritik pertama disebutnya sebagai anti-metode (Against Method) yang berusaha (mendekonstruksi) format metode ilmu pengetahuan yang telah dibuat dan dipahami oleh para kaum positivis dengan melakukan penyingkapan dan pembongkaran terhadap asumsi-asumsi beserta kesalahan dari teori-teori baku yang selama ini telah dikembangkannya. . H. Feyerabend mengkritik ilmu dari dua sisi yang kaitan antar keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.sebagaimana pengakuan Feyerabend bisa membantu kita untuk mencapai kemajuan dengan memilih salah satu pemikiran yang kita minati secara lebih rasional. 18. hlm. Atas nama kebebasan individu. op.cit.. Pungkasan ide anarkisme Feyerabend yang secara esensial perlu kita gali maknanya dalam realitas keseharian kita adalah pernyataannya berikut ini: ³And my thesis is that anarchism helps to achieve progress in any one of the senses one cares to choose 138 ´. seluruh pemikiran individualisme ekstrem Feyerabend tentang anarkisme di atas sebenarnya adalah suatu kritik terhadap perjala nan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang telah didominasi oleh sains positivistik. Dan kritik yang kedua dinamakannya dengan anti-ilmu pengetahuan (Against Science) yang secara lebih mendalam lagi mencoba mengoreksi tentang praktek ilmiah.

hlm. Lagi pula. Jahat. Prosedur ini dimaksudkan sebagai standar 139 Prasetya T. Dan langkah pertama yang dilakukan Feyerabend untuk menindaklanjuti kritiknya tersebut adalah dengan mengajukan suatu prosedur yang diberi nama kontra-induksi (counterinduction). Feyerabend juga menyangkal pandangan saintisme yang menganggap ilmu berada di atas segala aspek budaya lain sehingga menyebabkan ilmu pengetahuan modern menghalangi kebebasan berpikir para ilmuwan itu sendiri. ..W.cit. gagasan itu merusak ilmu pengetahuan dan menghambat laju perkembangannya karena mengabaikan adanya kompleksitas situasi fisik dan historis yang memungkinkan perubahan ilmu pengetahuan.. 55. Tidak realistis. karena kenyataannya ilmu pengetahuan hanya diambil dari pandangan sederhana atas dasar kemampuan seseorang dari lingkungan tertentu. karena ilmu pengetahuan berusaha memaksakan hukum -hukum yang menghalangi berkembangnya kausalitas-kausalitas profesional kita dengan mempertaruhkan sifat kemanusiaan kita.139 Dengan menunjukkan bukti bahwa sejarah ilmu pengetahuan itu selalu dipenuhi dengan pertentangan teori. memiliki resistensi terhadap kritik yang tahan sepanjang masa serta dapat pula membawahi fakta dan penelitian. klaim itu tidak realistis dan jahat.1) Anti-Metode (Against Method) Dengan semboyan ini. Menurut Feyerabend. op. Feyerabend ingin melawan ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap mempunyai satu metode yang baku dan universal.

23. Maksud Feyerabend bukanlah mengganti seperangkat aturan-aturan dengan peraturan yang lain. Melalui kontra- 140 Paul Karl Feyerabend. rather.kritik dari luar yang sangat diperlukan demi kemajuan ilmu pengetahuan.cit. The best way to show this is to demonstrate the limits and even the irrationality of some rules which she. Hal tersebut diungkapkan Feyerabend sebagai berikut: My intention is not to replace one set of general ruler by another such set: my intention is.140 Hal ini jelas berbeda dengan paradigma positivisme yang menganggap induksi sebagai satu-satunya metode yang dianggap valid ataupun juga dengan kaum induktivisme naif yang berpendapat bahwa batang tubuh ilmu pengetahuan ilmiah dibangun di atas prinsip induksi yang dasarnya cukup kuat. irasionalitas dari beberapa aturan yang mungkin dianggap sebagai hal yang paling mendasar. is likely to regard as basic.. or he. even the most obvious ones. karena sulitnya otokritik yang berasal dari dalam tubuh ilmu pengetahuan itu sendiri. op. Dan cara terbaik untuk menjelaskan ini adalah dengan menunjukkan batas-batas. to convince the reader that all methodolgies. have their limits. Prinsip induksi berupaya mencari fakta yang mendukung dan menghindari fakta yang tidak sesuai dengan teori. . hlm. tetapi tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa semua metode yang sudah jelas sekalipun mempunyai keterbatasan. Ketika ditemukan sejumlah fakta observasi dan eksperimen yang sesuai dengan teori. Kontra-induksi yang ditawarkan Feyerabend itu adalah juga untuk mengatasi masalah kekurangan prinsip verifikasi atau falsifikasi yang sama-sama tidak menghendaki adanya fakta yang konsisten dengan teori. maka teori atau hukum diperkuat atau dikorborasi.

karena tidak ada satu pun teori yang menarik dan sesuai dengan semua fakta yang selalu dapat diketahui dalam bidang domainnya secara pasti dan meyakinkan. Jadi. Feyerabend kemudian merancang pertanyaan mendasar tentang apa yang seharusnya dilakukan? Pertama. yaitu memberikan hipotesis yang tidak konsisten dengan teori yang mapan atau dengan fakta yang b ahkan tidak sesuai atau tidak terukur sekalipun. Oleh karena itu. Itu sebabnya kontra-induksi selalu masuk akal dan selalu . Semua itu merupakan langkah yang disebut oleh Feyerabend sebagai kontra-induksi. masalah ini tidak memerlukan pembelaan khusus. Feyerabend mengusulkan counterrule. tetapi apakah kesenjangan yang ada antara teori dengan fakta harus diperbesar atau diperkecil? Atau apa yang harus kita lakukan dalam menjawab persoalan ini? Maka untuk bisa menyadari dan melakukan kritik terhadap asumsi-asumsi ilmu pengetahuan diperlukan standar eksternal guna memeriksa karakteristik dari dunia nyata yang diamati.induksi. kontra-induksi yang dikemukakan oleh Feyerabend itu sesungguhnya berperan penting untuk menjembatani permasalahan teori dan fakta. mengacaukan prinsip-prinsip teoretis yang paling masuk akal. pertanyaan pokoknya bukan apakah teoriteori yang kontra-induktif ini harus diakui dalam ilmu pengetahuan atau tidak. dan Ketiga. memperkenalkan persepsi yang bukan merupakan bagian dari dunia persepsi yang ada. menurut Feyerabend. Kedua. melakukan kritik terhadap fakta untuk memutuskan rantai dan konsep yang sudah mapan. Walaupun begitu. Dan untuk itu semua.

adalah untuk memperlemah kesetian kita terhadap kemantapan suasana dengan menciptakan 141 Ibid. Prinsip pengembangbiakan ini merupakan realisasi kritik dari alternatif pemikiran Feyerabend yang pada prinsipnya bertujuan untuk mencapai tiga hal utama: (1) memberikan model abstrak tentang kritik terhadap ilmu pengetahuan. . 56.cit. Jadi dalam dalam kaitan ini kami hanya akan membahas tentang prinsip pengembangbiakan yang secara harfiah berarti membiarkan semua berkembang sendiri. op. sehingga nantinya terbentuk suatu basis bagi kritisisme dan reformasi ilmu pengetahuan. Newton-Smith. 142 Prasetya T. Feyerabend memasukkan beberapa prinsip (bukan metode). yaitu prinsip pengembangbiakan (proliferation) dan prinsip apa saja boleh (anything goes) yang telah penulis terangkan dalam bab sebelumnya. hlm.. menurut W. 23. Ini berarti bahwa prinsip pengembangbiakan juga menafikan adanya sikap otoritarianisme terhadap produk pemikiran manusia yang paling absurd sekalipun.W..141 Sebagai ganti atas anti-metode. (2) mengembangkan konsekuensi-konsekuensinya. Feyerabend mengharapkan bahwa perbandingan antara fenomenafenomena sejarah dan pandangan epistemologis mampu memberikan kriteria penilaian yang holistik terhadap struktur aktual ilmu pengetahuan. always reasonable and it has always a chance of success). bentuk-bentuk kehidupan dan kerangka institusional yang tunggal. Maksudnya kita tidak bekerja dengan sistem pemikiran.. therefore. dan (3) membandingkan konsekuensi-konsekuensi itu dengan ilmu pengetahuan.H.mempunyai kemungkinan untuk berhasil (counterinduction is.142 Siasat Feyerabend ini. hlm. Berdasarkan hal yang ketiga.

especially theories incompatible with currently accepted ones´. tetapi juga membuka peluang bagi tampilnya kembali teori lama yang sudah tidak diakui lagi keberadaannya. Feyerabend ingin melawan ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap 143 W.hal yang bertentangan dengan keadaan yang melarang kita untuk mengembangkan berbagai teori.H.cit. Dengan sikap ini. prinsip ini tidak hanya memungkinkan adanya penemuanpenemuan alternatif baru. Dengan demikian.143 Prinsip pengembangbiakan berusaha menemukan dan mengembangkan teori-teori yang tidak cocok dengan pandangan yang sudah lazim diterima. terutama teori yang bertentangan dengan satu teori yang telah diterima oleh umum pada zaman sekarang ini.. hlm. op. melainkan dengan membiarkan teori-teori yang beraneka ragam dan berbeda satu sama lain berkembang secara bebas. ³«Feyerabend¶s strategy is to weaken our allegiance to the consistency condition by developing a case an incompatible counterrule which in this case enjoins us to proliferate theories. jelas bahwa prinsip pengembangbiakan ini bukan aturan metodologis. Berdasarkan uraian di atas. 2) Anti-Ilmu Pengetahuan (Against Science) Anti-ilmu pengetahuan Feyerabend ini tidak berarti ia anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. sebab ternyata ia juga menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan itu tidak dapat diperoleh dengan hanya mengikuti teori tunggal. aturan atau metode apapun. melainkan anti terhadap kekuasaan ilmu pengetahuan yang seringkali mengaburkan maksud dan tujuan utamanya. 131. Newton-Smith. . Smith mengatakan.

cit. Maka tidak wajar mendewa-dewakan ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya pengetahuan 144 Prasetya T. ilmu pengetahuan menjadi pemikiran tunggal-mutlak karena adanya propaganda dari para ilmuwan dan institusi terkait yang diberi wewenang untuk selalu mempengaruhi kesadaran kolektif masyarakat tentang hakikat dan ilmu pengetahuan itu sendiri.lebih unggul daripada bidang-bidang atau bentuk-bentuk pengetahuan lain.144 Walaupun dewasa ini tidak ada lagi orang yang dihukum mati dengan dakwaan subversif atau ³sesat´ terhadap rumus-rumus formal ilmu pengetahuan.W. seperti sihir. dan pada gilirannya menjadi semacam ideologi yang menindas kebudayaan alternatif. Dengan begitu. tetapi mereka secara hukum konvensional mendapat sanksi sosial yang justru lebih berat daripada batas-batas toleransi yang ada dalam suatu masyarakat sekalipun.. 58. Dari semua bentuk pengingkaran yang sangat radikal tersebut. Feyerabend ingin mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu bukanlah ideologi yang berisi omong kosong belaka.. diadopsi oleh para ilmuwan dengan mengatakan extra scientiam nulla salus (di luar ilmu pengetahuan tidak ada kebenaran). magi. mitos. . Feyerabend sejatinya ingin menyatakan bahwa ilmu pengetahuan hanya merupakan salah satu gagasan terbuka dan plural dari sekian banyak pilihan ideologi yang ada dalam masyarakat. Sehingga ilmu pengetahuan yang dianggap paling benar itu telah menguasai sistem kebenaran dunia ilmiah. voodoo. dan lain sebagainya. Ditegaskannya. hlm. op. Semboyan extra ecclesiam nulla salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan) yang lebih dari satu abad lalu ada dalam tradisi gereja.

Relevansi pemikiran yang dapat kita pertautkan makna aktualitasnya dari dasar-dasar epistemologi Feyerabend di atas dengan fenomena budaya akademik kita saat ini adalah bahwa kita perlu mengembangkan pola pikir²dalam bahasa filsuf John Henry Newman²illative sense. yakni semacam kebijaksanaan untuk mengakui segala keterbatasan pengetahuan kita. penafsiran dan perbedaan pendapat itu tidak lantas membuat kita harus kehilangan sandaran pencarian perennial tentang adanya kemungkinan bahwa kita dapat mencapai²betapapun mencapai disini mesti ditafsirkan sebagai (makin) mendekati²hakikat kebenaran yang kita maksud. tanpa kehilangan kepastian bahwa kita dapat bicara mengenai kebenaran. yaitu bagian intelektual manusia yang dapat mengandaikan adanya kompleksitas suatu obyek. Mungkin situasi inilah yang dikatakan oleh Richard Rorty bahwa epistemology is dead. atau dalam konstruksi filsafat Feyerabend disebut sebagai anti-ilmu pengetahuan (Against Science) itu. Karena masalahnya terletak pada muatan ideologis dari komunitas para ilmuwan dan pihak-pihak yang selalu berusaha menciderai kemurnian citra ilmu pengetahuan dengan kepentingan-kepentingan subyektif-individual yang menyebabkan proses idealisasi ilmu pengetahuan yang sebenarnya mengalami stagnasi. dan kemungkinan manusia mengambil sikap terhadap obyek tersebut. Mungkin illative sense ini mirip dengan konsep phronesis dari Aristoteles.yang paling unggul dan bahkan paling menentukan kehidupan masyarakat. . Adanya pengakuan terhadap kompleksitas berbagai persoalan kemanusiaan dan keterbatasan kemampuan manusia menguasainya yang pada akhirnya mengandaikan keterbukaan terhadap beragam persepsi.

BAB V PENUTUP I. Disamping itu. Simpulan Dari seluruh pembahasan tentang konstruksi ep istemologis Paul Karl Feyerabend beserta persoalan-persoalan dasarnya tersebut di atas. ilmu tidak mengungguli bidang pengetahuan lain. Feyerabend juga berhasil mengembangkan sistem ilmu pengetahuan revolusioner yang menjadi suatu analisis alternatif untuk . Adapun prinsip prinsip ilmu pengetahuan yang ditawarkan oleh Feyerabend itu adalah apa saja boleh (anything goes). prinsip -prinsip ilmu pengetahuan Feyerabend juga merupakan wujud dari ketidaksetujuannya pada empirisme kontemporer dan teori mekanika kuantum mutakhir dari Interpretasi Kopenhagen untuk menunjukkan bahwa metodologi-metodologi yang telah ada sudah tidak sejalan atau tidak cocok lagi dengan sejarah perkembangan fisika. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend disusun atas dasar protes terhadap proses pemapanan ilmu pengetahuan yang selama ini didominasi oleh aliran Positivisme Logis dari Lingkaran Wina (Vienna Circle) yang menempatkan dan merumuskan ilmu pe ngetahuan sebagai kalkulasi aksiomatis semata. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan penting sebagai berikut: 1. ilmu tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. dan kebebasan individu. 2.

terlepas dari kontroversi ilmiah yang menyertainya. sehingga menghalangi berkembangnya kausalitas -kausalitas profesional kita dan menegasikan pula pluralisme metodologi yang pada hakikatnya bisa menjadi sarana kritisisme dan kemajuan ilmu pe ngetahuan itu sendiri. Ia berargumen bahwa selama ini para ilmuwan cenderung memakai standar-standar universal dan baku. mitos. ilmu pengetahuan yang dipropagandakan menjadi ideologi tunggal-mutlak yang menindas budaya ilmiah alternatif oleh para ilmuwan dan institusi terkait lain . telah mampu memberikan perspektif baru untuk melepaskan diri dari segala bentuk otoritarianisme ilmu pengetahuan yang dianggap Feyerabend tidak ubahnya seperti sihir. Selain itu.menginterpretasi dunia dengan metode anarkisme epistemologi yang ditujukan untuk semakin menemukan hakikat ilmu pengetahuan yang selama ini secara ideologis dianggap lebih unggul daripada bentuk pengetahuan lain lewat kritik anti-metode (Against Method) dan antiilmu pengetahuan (Against Science)nya. Oleh sebab itu. salah satu ide penting Feyerabend lainnya sebagai penjelasan lanjutan dari tesis apa saja boleh yang diusungnya adalah bahwa tidak ada keteraturan metode atau teori dalam ilmu pengetahuan. dan tidak ubahnya juga seperti ³agama baru´ pada masa Abad Pertengahan yang memonopoli sistem kebenaran dalam masyarakat. voodoo. Corak pemikiran anarkisme ilmu pengetahuan Feyerabend. magi.

maka perdebatan filosofis tentang Feyerabend tidak hanya berkisar pada satu sketsa pemikiran saja.semisal negara itu menurut keyakinan Feyerabend mesti dilawan dengan penentangan metode yang anarkistik. sebab masih banyak padanan ide dan ragam penafsiran lain yang bisa dielaborasi secara tajam dan mendalam dari tesis-tesis utama Feyerabend yang begitu kontroversial dan ekstrem itu guna memperoleh bekal pemahaman yang lebih benar dan lengkap tentang struktur fundamental dari filsafat Feyerabend itu sendiri. Dengan begitu. dalam skripsi ini penulis hanya sebatas µmengantarkan¶ khalayak pembaca pada orientasi umum tentang anarkisme epistemologi Feyerabend yang oleh sebagian kalangan dianggap tidak memberikan tawaran metodologi yang jelas dan sistematis. B. Sebagai sebuah pemantik dan pengenalan awal dari wacana filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend. Saran-saran 1. ilmu tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. Untuk itu. maka saran singkat yang bisa penulis sampaikan adalah. ilmu tidak harus mengungguli bidang pengetahuan lain dan kebebasan individu Feyerabend di tengah arus liberalisasi pemikiran masyarakat kontemporer. bahwa di masa mendatang mungkin alangkah lebih baik jika pengembangan kajian dari tulisan ini lebih difokuskan pada implikasi-implikasi sosial-praktis dari prinsip apa saja boleh (anything goes). serta tidak memiliki standar aturan yang dinilai baku untuk menentukan antara yang ilmiah dan yang non -ilmiah. .

2. batas-batas yang kita paksakan atas persoalan yang sejatinya kompleks itu sering merupakan penjelmaan dari sikap-sikap subyektif-egoistik kita. mendiskusikan dan men guji kesahihan serta akuntabilitas setiap gagasan ²termasuk anarkisme ilmu pengetahuan Feyerabend²agar bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual dan ilmiah. kita pun cenderung bersikap fanatik²mati-matian membela pendapat kita tanpa peluang menyadari bahwa pendapat kita itu salah. selain beresiko menghasilkan rumusan pemecahan masalah yang keliru. Oleh karena itu. sehingga tidak jarang menimbulkan pemaknaan yang justru kontraproduktif. Sebab studi filsafat sebagai pilar utama rekonstruksi pemikiran lewat metodologi berpikirnya yang ketat. Bahkan yang lebih parah lagi. Sebab kerapkali krisis persepsi terhadap pluralitas dan kompleksitas dari setiap dialektika pemikiran membuat kita tidak bisa menangkap dan menggali muatan muatan filosofis yang menjadi asumsi dasar masalah tersebut. Namun dengan adanya unsur ³relativisme saintifik´²istilah Haidar Bagir²dalam rumpun teori ilmu pengetahuan. Evolusi ilmu pengetahuan dan kebudayaan manusia telah sampai ke zaman yang memaksa kita untuk be rpikir . mengajar kita untuk senantiasa meneliti. tentu akan membuat kita tidak pernah merasa benar sendiri serta tidak mudah merasa puas dengan segala pengetahuan yang telah kita peroleh. Dalam mengkaji pemikiran filsafat Feyerabend ini kita dituntut untuk melakukan apropriasi. yaitu kemampuan memahami orang lain tanpa terhanyut ke dalam alam pikirannya secara total.

Demikian juga. perlu kecermatan dan ketelitian dalam menelaah setiap rekonstruksi filosofis yang cukup provokatif dari Feyerab end. sebagaimana ditegaskan Feyerabend berbeda dengan anarkisme politis maupun religius. melainkan bahwa subyektivitas para ilmuwan dalam penetapan sebuah proposisi atau hipotesis ilmu pengetahuan menyebabkan praktek ilmiah tidak bisa dijadikan sebagai simbol superioritas ilmu pengetahuan atas bentuk atau bidang pengetahuan lain. Atau Against Science. sistemik dan refleksif-mendalam untuk memahami realitas beserta problem-problem besar yang diakibatkannya. tetapi itu menurut Feyerabend. sehingga kita mampu mencerna makna substansial dari setiap realitas yang ada. . yang tidak bermakna anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.holistik. Anarkisme. 3. tidak lantas itu meniadakan atau mengganti peran dan fungsi teoretis ilmu pengetahuan yang telah dirintis oleh para ilmuwan. anything goes tidak berarti pula tanpa batas-batas fungsional yang mengikuti kecenderungan individual yang tidak berarti dan tidak bernilai. Di samping itu juga. Maka saran akhir yang bisa penulis usulkan dan adalah dibutuhkan sikap kehati-hatian pikiran filsafat dalam ilmu memahami menyelidiki pokok-pokok pengetahuan Feyerabend dengan menghindari penafsiran yang dangkal dan terpilah-pilah. Juga pengertian Against Method. dipakai untuk menunjukkan bahwa ada aspek relativitas teori ilmu pengetahuan yang selalu terbatas oleh adanya ketergantungan observasi pada teori.

Parera (penyunting). Husnan Aksa. Panorama Filasafat Modern. Semarang: Bintang Pelajar. Adisusilo. Win Usuluddin (ed.al. Yuri and Alex Rosenberg (eds. Beerling. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Bunge. Semarang: Alwaah. Volume One: From Problem to Theory. alih bahasa Soejono Soemargono.P. Heryadi. Asmoro. 1998. Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan Yogyakarta: . Al-Qur¶an dan Terjemahnya. Bertens. Balashov. Kanisius. Jakarta: Gramedia. Kamus Filsafat. 1983. Achmadi. terj. Revised Edition. Martinus Anton Wesel dan M. Metodologi Penelitian Filsafat. Brouwer. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Jakarta: Gramedia. Jakarta: Balai Pustaka. Filsafat Alam Semesta. Bernadien. 1951.F. Filsafat Dewasa Ini. Filsuf-filsuf Dunia dalam Gambar. 2003. Brouwer. Muhammad Baqir. 1997. Muhammad Nur Mufid bin Ali. Androngi. New York: Transaction Publishers. Endang Daruni dan A. 1987. 2002. 1986. Bandung: Alumni. Bagus. Kees.). Martinus Anton Wesel. . Lorens. Yogyakarta: Tiara Wacana. 1986. 1996. Pengantar Filsafat Ilmu. et.). Beerling. Yogyakarta: Apeiron Philotés. Psikologi Fenomenologis. Tarian Tuhan. R. Dance of God. 1984. Philosophy of Science: Contemporary Readings. Mario Augusto. Anton dan A. Yogyakarta: Karya Kencana. 1995. Ash-Shadr. Frans M. London: Routledge. Bandung: Mizan. Bakker. 1981. Philosophy of Science. 1990. Sejarah Filsafat Barat dan Sezaman..DAFTAR PUSTAKA Asdi. Sutardjo. Yogyakarta: Kanisius. Charris Zubair. Filsafat Umum. 1993. Falsafatuna. 1998.

The Liang.W. Filsafat Ensie: Eerste. Epistemologi dan Logika. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Feyerabend. La Salle. Gie. Dirdjosisworo.. 1998. Gallagher. Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna. _______. London: New Left Books. G.. Jakarta: Pustaka Alhusna. Yogyakarta: Kanisius. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge. . Jakarta: Hasta Mitra. 1992. Psikososial. Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat. Farewell to Reason. dalam Ian Hacking (ed. A. Jakarta: Gramedia. New York: Oxford University Press. Hardono Hadi (penyunting). Epistemologi (Filsafat Pengetahuan). 1975. Harun. P. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga.. Illinois: Open Court. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern. Bandung: Epping. ³How to Defend Society Against Science´. 2001. Filsafat Skolastik.F. Pengantar Remadja Karya.Chalmers.. Hadiwijono. 2002. Paul Karl. Sebuah Studi Tentang Filsafat. Bawengan. dan Ontologis. 1999. Ninuk KledenProbonegoro (ed). __________________. Kenneth T. Harry. Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi. A. Nederlandse. ____________. __________________. Jakarta: Pustaka Alhusna. Roy J. Ingerichte. Harris. Soedjono. 1983. Wacana Analitik. 1987. Pengantar Teori-teori Pemahaman Kontemporer: Hermeneutika. A. Bandung: Nuansa.F. Systematisch. Th. Hamersma.. Yogyakarta: Liberty. James Franklin. Pengantar Filsafat Ilmu. 1981. Yogyakarta: Kanisius. Against Relativism: A Philosophical Defense of Method. 1980. 1983. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya. 1981.. 1997. 1985. 1982. Encyclopaedie. 1983. Stockum dan Juntak S. C. Hanafi. Yogyakarta: Fak. 2000. Jakarta: Pradnya Paramita.). Howard. Ushuluddin. Structure Revolutions. Lintasan Sejarah Ilmu. New York: Verso. Bandung: Jemmars..

Understanding Philosophy of Science.P. Jakarta: Teraju. Gadjah Mada University Press. Kattsoff. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. 2001. Popper. London: Routledge. 1992. Kees Bertens. Thomas S. Indonesia... Bandung: Remaja Rosdakarya. Philosophy of Science and Historical Enquiry. Akhyar Yusuf. van. alih bahasa Soejono Soemargono. Soeroso H. 1992. Leaman. Laer. Jakarta: Gramedia. Prawirohardjo. John. 1992. 1993. Ladyman. Oxford: Clarendon Press. Pengantar Filsafat. . Meta-Teoritis atas Ilmu Pengetahuan dan Implikasinya Bagi Program Pendidikan Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Karl Raimund. A. A Historical Introduction to the Philosophy of Science. Susunan Ilmu Pengetahuan. Asmin (ed. Pengantar Filsafat Islam: Sebuah Pendekatan Tematis.). terj. Henry van. 2003.Kuhn. Lubis. New York: Harper & Row Pub. Yogyakarta: Pusat Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia. 1995. Yogyakarta: Liberty. terj. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita. Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi. 2002. Oliver. Yudian W.G. Ali. Losee. Yogyakarta: Kanisius. Franz von. Jakarta: Gramedia. Tjun Surjaman. Cornelis Anthonie van. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Bandung: Mizan. Louis O.. 1968. 2001. Musa Kazhim dan Arif Mulyadi. The Logic of Scientific Discovery. 1996. Mudhofir. 1996. Filsafat Sains Bagian Pertama: Ilmu Pengetahuan Secara Umum. Yogyakarta: Tiara Wacana. Kamus Istilah Filsafat. __________. 1984. Melsen. Magnis-Suseno. New York: Oxford University Press.M. Fourth Edition. 1974. Peursen. 1988. James. _________. Feyerabend: Penggagas Anti-Metode. terj. Yogyakarta: U.

Smith. Rapar. Kamus Ilmiah Populer. 1995. Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Kanisius.). Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu. Huston. Sudarto. Semiawan. Dahlan Al-Barry. Dagobert D. Polanyi. (ed. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Pengantar Filsafat. Joko. Budi Hardiman (ed. Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. terj.Partanto. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Strukturalisme. Surabaya: Arkola. 1971. Yogyakarta: Kanisius.. 2004. C. 1999. 1995. ____________ (penyunting).H. Totowa: New Jersey. _______________.. Metodologi Penelitian Filsafat. Qadir. The Structure of Scientific Theories. Yogyakarta: IRCiSoD. 1996. Siswanto. Bandung: Rosdakarya. et. Jujun Suparjan. 2001. 1996.. Jan Hendrik. Frederick (ed. dan M. Michael Dua. Piliang. Pius A. Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd. Smith. 1996. Yogyakarta: LKíS.X.al. Hermoyo. Kosmologi Einstein. et. terj. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman. 1999. . Bosco Carvalho. (penyunting). Newton.A. Conny R. Mudji dan F. Jean. Dictionary of Philosophy. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. F. Suriasumantri. Michael. 2002. Yogyakarta: Tiara Wacana. terj. Sutrisno. Yogyakarta: Jalasutra. Runes.al. Urbana University of Illionis Press. 1981. 1996. 1974. Littlefield Adams & Co. Jakarta: Gramedia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Piaget. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna . Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu. terj. 1998. 1995. Hiper-Realitas Kebudayaan. Yasraf Amir.). Inyiak Ridwan Muzir. The Rationality of Science. Suppe. W.. 1994. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Kebenaran Yang Terlupakan: Kritik atas Sains dan Modernitas .).

Sugiharto. Christiaan R. Jakarta: Gramedia.O. Hakikat Ilmu dan Cara Kerja Ilmu-ilmu. 2000. . Jakarta: Gramedia. 1993. Tim Penulis Rosda. 1991. Kamus Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. Bambang. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-ilmu. 1995. Sejarah Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya. Tim Redaksi Driyarkara (penyunting). Jakarta: Rineka Cipta. 2000.M. Burhanuddin.Salam. dan Robert Haryono Imam. I. Ilmu dan Teknologi. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Verhaak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful