ANARKISME ILMU PENGETAHUAN (Analisis Terhadap Konstruksi Epistemologi Paul Karl Feyerabend, 1924-1994

)

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Untuk Memenuhi sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S-1) Filsafat Islam

Disusun Oleh: FATHORRAHMAN NIM. 0051 0251

JURUSAN AQIDAH FILSAFAT FAKULTAS USHULUDDIN UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2005

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini terdapat perhatian yang semakin besar terhadap filsafat ilmu. Dinamika perkembangan ilmu yang begitu pesat dan cepat serta pengaruhnya yang cukup signifikan terhadap kehidupan masyarakat, menuntut intensitas pemikiran kita untuk mempelajari berbagai metode cabang ilmu secara terpadu dan berkesinambungan. Hakikat ilmu sebagai suatu kumpulan pengetahuan berdaya guna memberikan dorongan bagi kita dalam menjelaskan, meramalkan dan mengontrol gejala-gejala alam. Pengetahuan yang merupakan produk kegiatan berpikir merupakan obo r peradaban telah memungkinkan manusia menemukan jati dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan serta merta dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan jalan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya. Proses penemuan dan penerapan itulah yang menghasilkan kapak dan batu zaman dulu sampai komputer hari ini. Berbagai masalah memasuki benak pemikiran manusia dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, dan beragam buah pemikiran telah dihasilkan sebagai bagian dari sejarah kebudayaannya. Meskipun tampak betapa banyak dan beraneka ragamnya buah pemikiran itu, namun pada hakikatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok, yakni: Apakah yang ingin kita ketahui?

Bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? dan Apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita?1 Hal ini juga sesuai dengan dimensi utama filsafat ilmu itu sendiri sebagai sebuah proses penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Sebab filsafat ilmu itu sendiri bersinggungan pula dengan bagian-bagian filsafat sistematik lainnya, seperti filsafat pengetahuan (hakikat serta otentisitas pengetahuan), ontologi (ciri-ciri serta susunan kenyataan) dan filsafat kesusilaan (nilai-nilai serta tanggungjawab).2 Pertanyaan itu kelihatannya sederhana namun mencakup permasalahan yang sangat azasi. Lahirnya sejumlah karya pemikiran besar pun sebenarnya merupakan wujud nyata dari keseriusan kaum intelektual dalam rangka merumuskan format penafsiran baru yang lebih bermutu atas ketiga pertanyaan tersebut di atas. Pemikiran-pemikiran besar dalam sejarah kebudayaan manusia dapat dicirikan dan dibedakan dari cara mereka menjawab dan menyikapi pertanyaan-pertanyaan itu yang merupakan titik tolak dalam pengemban gan pemikiran selanjutnya. Ilmu merupakan salah satu bentuk manifestasi dari pengetahuan manusia yang pada abad modern ini telah merasuki setiap sudut kehidupan manusia. Salah satu pandangan kontemporer tentang ilmu yang paling menantang dan provokatif adalah pandangan yang dikemukakan dan dibela secara gemilang oleh Paul Karl Feyerabend. Ia mengajukan pandangan yang sangat menantang dan baru dalam filsafat ilmu. Baginya, tidak ada penilaian mengenai watak dan status
Jujun Suparjan Suriasumantri (penyunting), Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999), hlm. 2. Beerling, et.al., Pengantar Filsafat Ilmu, alih bahasa Soejono Soemargono, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), hlm. xii.
2 1

Paul Karl Feyerabend ingin melihat mengapa pada abad modern ini ilmu pengetahuan diberi penghargaan tinggi . Demikian juga sebaliknya dengan mereka yang memalingkan muka dari ilmu. Adalah ketinggi hatian yang tidak mempunyai dasar sama sekali.ilmu akan lengkap tanpa suatu usaha untuk memahaminya secara integral dan holistik. Menghadapi dua pola pendapat yang ekstrem ini seyogianya kita harus bersikap lapang dan bijak dengan menyadari bahwa meskipun ilmu memang memberikan gambaran konseptual tentang hakikat kebenaran. namun kebenaran keilmuan bukanlah satu-satunya sumber kebenaran dalam hidup kita ini. namun juga membuka mata kita terhadap berbagai kekurangan yang dikandungnya. sehingga hal tersebut bukan saja akan meningkatkan apresiasi kita terhadap ilmu itu sendiri. kepicikan seperti itu kemungkinan besar disebabkan karena mereka kurang mengenal hakikat ilmu yang seb enarnya. jika kita beranggapan bahwa ilmulah alpha dan omega dari segala kebenaran yang ada. Mereka yang mendewa-dewakan ilmu sebagai satu-satunya sumber kebenaran biasanya tidak mengetahui hakikat ilmu yang sebenarnya. Terdapat berbagai model kebenaran lain yang memperkaya khazanah kehidupan kita. dan tidak mau melihat kenyataan bahwa ilmu telah mampu membentuk peradaban seperti apa yang kita saksikan sekarang ini. Kehidupan terlalu rumit untuk dianalisis hanya oleh satu jalan pemikiran saja. Untuk bisa menghargai ilmu sebagaimana mestinya sesungguhnya kita harus mengerti apakah hakikat ilmu itu sebenarnya secara mendalam. Dalam konteks pemikiran inilah.

A. 47. Chalmers. and that it has no illusory results. µRational reconstructions¶ take µbasic scientific wisdom¶ for granted. tidak ada secuil pun argumentasi yang dikemukakannya. hlm. or to Aristotelian science. Namun. Secara kritis Feyerabend menulis tentang Imre Lakatos yang dianggapnya sebagai rekan anarkis karena metodologinya tidak menyediakan hukum -hukum untuk memilih teori atau program: "Setelah menyelesaikan rekonstruksinya tentang ilmu modern. 4 3 . 149.W. tetapi tidak dibuktikan bahwa a lebih i baik daripada 'kearifan' para ahli sihir dan tukang -tukang sulap. ia (Lakatos) mengalihkannya ke bidang -bidang lain seolaholah telah mapan bahwa ilmu modern lebih ung daripada sihir-sihir atau ilmu gul Aristotelian. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya (Jakarta: Hasta Mitra. 1982). dan bahwa ia tidak mempunyai hasil-hasil ilusif. hlm. Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. Feyerabend menggambarkan hal tersebut dengan pernyataan berikut: Having finished his µreconstruction¶ of modern science. there is not a shared of an argument of this kind. dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting).dalam masyarakat dibandingkan bidang-bidang lainnya.3 Feyerabend menyesalkan pembela-pembela ilmu yang secara tipikal menilai ilmu adalah superior atas bentuk-bentuk pengetahuan lain tanpa melakukan penyelidikan yang layak mengenai be ntuk-bentuk pengetahuan lain.F. they Prasetya T.4 Ia mengemukakan bahwa banyak kaum metodologis sudah menganggap benar tanpa argumentasi.. bahwa ilmu (fisika) membentuk paradigma rasionalitas. However. 'Rekonstruksi rasional' menganggap 'kearifan ilmiah' sudah benar. he turns it against other fields as if it had already been established that modern science is superior to magic. 1993). Seolah-olah kini ilmu pengetahuan bersifat "anarkis". "Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend".

pembicaraan serta surat-surat pribadi. Secara meyakinkan Feyerabend mengemukakan bahwa metodologi-metodologi ilmu gagal menyediakan hukum hukum yang memadai untuk membimbing aktivitas para ilmuwan. Ia mengatakan. Apabila ilmu hendak diperbandingkan dengan bentuk -bentuk pengetahuan lain. letters. karena hal semacam itu hanya akan membenarkan tentang adanya suatu fenomena ³ penjajahan intelektual´ secara terselubung. hlm. tulisan-tulisan orisinal. 5 Feyerabend tidak bersedia menerima keharusan superioritas ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain. Menurut 5 Paul Karl Feyerabend. hlm. and like´. 205. Dari segi tesisnya tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. Hal ini harus dilakukan dengan meneliti "catatan-catatan sejarah. ia juga menolak ide bahwa akan bisa lahir suatu argumen menentukan yang menguntungkan ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain. buku-buku pelajaran. 6 Ibid.6 Ia pun tidak bisa sekedar asumsi tanpa penelitian lebih jauh. Feyerabend meyakini bahwa tidak ada metodologi ilmu yang ada selama ini yang bisa bertahan dari perubahan. bahwa suatu bentuk pengetahuan yang sedang diteliti itu harus sesuai dengan hukum -hukum logika. 1975). we shall have study historical records²texbooks. records of meetings and private conversations. 253.do not show that it is better than the µbasic wisdom¶ of witches and warlocks.. dan sebagainya". maka diperlukan penyelidikan terhadap watak. ³« that is. original papers. . tujuan dan metode dari ilmu itu serta bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. sebagaimana yang biasanya dipahami oleh para filsuf dan rasionalis kontemporer.

tidak mungkinlah merumuskan keterangan observasi yang sama dalam suatu konteks yang berbeda. Perbedaan dua teori atau Akhyar Yusuf Lubis. kebenaran universal yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. Maksudnya. Baik rasionalisme maupun empirisme mendukung rasionalitas yang menurutnya universal dengan cara yang berbeda. maka tidak masuk akal untuk mengharapkan ilmu dapat diterangkan hanya atas dasar beberapa hukum metodologi yang terlalu simplistik (sederhana) dan superfisial (dangkal). 7 . terlepas dari subyektivitas. mengingat kompleksitas sejarah. bersifat universal. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. yang merupakan pedoman untuk menilai suatu teori lebih baik daripada yang lainnya. 2003). Feyerabend menyangkal adanya rasionalitas yang universal dan historis. Seperti halnya Kuhn yang berasumsi bahwa tidak ada suatu teori apa pun yang bertahan dalam sejarah. Konsekuensi logisnya adalah. konteks dan historisitas.7 Kesamaan Feyerabend dengan Kuhn terletak pada tesis keduanya yang menyatakan bahwa ilmu-ilmu atau teori-teori tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. Feyerabend beranggapan bahwa makna dan interpretasi tentang keterangan observasi tergantung pada konteks teoretis. ia ingin menentang pandangan yang memisahkan teori dan observasi.Feyerabend. Idealisme berpendapat bahwa rasionalitas adalah agung. Feyerabend adalah penganjur pluralisme metodolog yang i menolak pandangan idealisme dan naturalisme. hlm. 119 dan 116. Dengan begitu.

is both unrealistic and pernicious. for it takes too simple a view of the talents of man and of the circumstances which encourage. op. Menurutnya: ³the methodology of research programmes provides standar that aid the scientist in ds evaluating the historical situation in which he makes his decisions. karena usaha untuk memberlakukan hukum-hukum itu cenderung meningkatkan kualifikasi profesional kita yang mengorbankan rasa kemanusiaan. be run according to fixed and universal rules. karena ia mengabaikan kondisi fisik dan historis yang kompleks yang mempengaruhi perubahan ilmiah. Ia menyebabkan ilmu semakin kurang bisa dikelola dan semakin dogmatik«Semua metodologi mempunyai keterbatasannya dan satu-satunya 'hukum' yang survive adalah 'apa saja boleh']. It makes our science less adaptable and more dogmatic«All methodologies have their limitations.. It is unrealistic.cit. Dan ia merusak. Ia tidak realistis. Feyerabend mengatakan: The idea that science can.M. Kasus Feyerabend yang menentang metode. adalah tidak realistis dan juga merusak. for the attempt to enforce the rules is bound to increase our professional qualifications at the expense of our humanity. karena terlalu menyederhanakan bakat manusia dan keadaan lingkungan yang mendorong atau menyebabkan perkembangan. for it neglects the complex physical and historical conditions which influence scientific change. hlm. Selain itu. In addition. 1991). ide itu pun merugikan ilmu. 9 [Ide bahwa ilmu dapat dan harus berjalan sesuai dengan hukum-hukum universal yang mapan. .lebih cukup mendasar. it does not Christiaan R. And it is pernicious. or cause.O. sehingga tidak mungkin saling membandingkan teori teori rival secara logis. Verhaak dan Robert Haryono Imam. the idea is detrimental to science. 9 8 Paul Karl Feyerabend.8 Dalam sebuah kutipan yang agak panjang. 167-168. their development. 295-6. and should. and the only rule that survives is µanything goes¶. memukul metodologi - metodologi yang dianggap telah memberikan hukum-hukum untuk membimbing para ilmuwan ini ternyata ditunjang dengan alasan yang kuat. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. hlm.

"Metodologi dan program program riset menyediakan standar-standar yang membantu ilmuwan menilai situasi historis untuk mengambil keputusan-keputusannya. Ibid. Feyerabend menyetujui usaha meningkatkan kebebasan menuju ke kehidupan yang penuh dan produktif. hlm. pemikiran anarkis Feyerabend tentang ilmu mendapatkan dasar pembenarannya. ia senantiasa mendorong semangat kebebasan bagi para individu untuk memilih antara ilmu dan bentuk -bentuk 10 11 Ibid.11 Dari sudut pandang kemanusiawian ini. Feyerabend menyatakan bahwa. Ia mendukung Mill dalam membela "pembinaan individualitas yang secara pribadi mampu berproduksi sendiri. well-developed human beings¶.. 20. hlm.contain rules that tell him what to do´. . karena di dalam ilmu ia memang diarahkan guna meningkatkan kebebasan i dividu dengan memacu n penyingkiran segala macam kungkungan metodologis. or can produce. Feyerabend membela apa yang ia sebut sebagai "sikap kemanusiawian" yang memandang bahwa manusia individual harus bebas dan memiliki kebebasan sebagaimana yang diperjuangkan John Stuart Mill. 186. bahwa para ilmuwan dalam melakukan pemilihan-pemilihan dan keputusan-keputusan terikat oleh hukum-hukum yang diatur atau terkandung di dalam metodologi-metodologi ilmu. atau dapat memproduksi manusia -manusia yang maju". ia tidak berisi hukumhukum yang mendikte apa yang harus diperbuat ilmuwan´.10 Maksudnya. It is in conflict µwith cultivation of individuality which alone produces. Maka tidaklah bijaksana.. Dalam konteks yang lebih luas.

.pengetahuan lain. Feyerabend hendak mendobrak anggapan bahwa ada keteraturan dalam perkembangan ilmu yang hendak diwujudkan dalam hukum dan sistem. Sebab pada dasarnya ilmu pengetahuan dan perkembangannya tidak bisa dierangkan t ataupun diatur oleh segala macam aturan dan sistem maupun hukum yang berlaku. bahwa Feyerabend menolak sikap otoriter dalam bentuk apapun juga. tulis Feyerabend. 307. . persis seperti nenek moyang kita membebaskan kita dari kungkungan 'agama satu-satunya' yang benar". namun justru menguasai dan memperbudak manusia. ³let us free society from the strangling hold of an ideologically petrified science just as our ancestors freed us from the strangling hold of the One True Religion!´. 12 12 Ibid. Jadi jelas sekali. perkembangan ilmu di dalam masyarakat kita tidak lagi konsisten dengan sikap kemanusiawian. Pendapat Feyerabend ini juga harus dilihat sehubungan dengan analisisnya tentang masyarakat. Dengan kata lain. adalah lah "membebaskan masyarakat dari kungkungan ilmu yang membatu secara ideologis. Apa yang perlu kita lakukan dalam masa ini. Ilmu pengetahuan memiliki kuasa mutlak. hlm. Di kalangan masyarakat kita dewasa ini. Ia menyatakan. ilmu pengetahuan tidak lagi berfungsi membebaskan manusia. ilmu pengetahuan menduduki posisi yang sama dengan posisi agama seperti halnya pada masa Abad Pertengahan. Dalam perspektif Paul Karl Feyerabend. Ia harus bebas karena memang kegiatan ilmiah atau ilmu pengetahuan merupakan suatu upaya yang anarkistik.

Feyerabend mengkritik ilmu dari dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. jumlah uang yang bisa diperolehnya. teman-teman mainnya²lelaki atau perempuan²ia dibatasi oleh banyak sekali kekangan fisik. Setidaknya ia menyadari hal semacam ini dan dalam satu bagian tentang kebebasan riset. the attitude of his colleagues. the intelligence of his assistants. Kebebasan yang dimiliki seorang individu akan tergantung pada posisi yang ia duduki di dalam struktur sosial tersebut. Seluruh pembicaraan dan perdebatan tentang pemikiran Paul Karl Feyerabend tersebut di atas tersimpul dalam sebuah mainstream yang padat makna. physiological. sikap rekan-rekannya.. Feyerabend menulis: ³The scientist is still restricted by the properties of his instruments. anarkisme ilmu pengetahuan. 13 Ibid. "Ilmuwan masih dibatasi oleh sifat-sifat dari instrumeninstrumennya. sosiologis dan historis". kecakapan para asistennya. historical contraints 13 ´. sebagai suatu kritik yang diajukan dan ditujukan untuk semakin dapat menemukan wajah ilmu pengetahuan yang sebenarnya. hlm. the amount of money available. Artinya bahwa. psikologis.Hal ini perlu ditempuh karena menurut citra Feyerabend. 187. dan dalam pengertian itu. masyarakat itu bukanlah pilihannya yang bebas. Atas nama kebebasan individu. suatu analisa tentang struktur sosial bersangkutan merupakan prasyarat untuk mengerti tentang kebebasan sang individu. setiap individu dilahirkan ke dalam suatu masyarakat yang sudah eksis lebih dulu. his playmets²he or she²is restricted by innumerable physical. dan oleh karena itu. . sociological.

Kemudian. op.cit.Yang pertama. dan juga dapat membawahi semua fakta dan penelitian.. Feyerabend menyimpulkan bahwa. mitos. Ilmu pengetahuan sebagaimana tinjauan historis Feyerabend. Dengan posisi seperti ini. lebih merupakan suatu perkembangan dari berjuta-juta alternatif. fungsi dan kedudukan ilmu pengetahuan dalam masyarakat yang kerapkali melampaui maksud utamanya. atas nama kebebasan yang sama. voodoo. satu dengan yang lain tidak selalu terdapat konsistensi atau kesepadanan. ia hendak melawan ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap lebih unggul daripada bidang-bidang atau bentuk-bentuk pengetahuan lain semisal sihir. dan sebagainya. Feyerabend ingin mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu bukanlah ideologi yang berisi omong kosong belaka yang dipropagandakan oleh para ilmuwan. . hlm. sains maupun rasionalitas bukanlah ukuran unggul yang universal. dengan memegang semboyan anti metode - (Against Method). Fe yerabend mempunyai sikap anti-ilmu pengetahuan (Against Science) sebagai kritik terhadap praktek ilmiah. magi. kekuasaan. Ia memilih istilah realisme imiah yang l 14 Akhyar Yusuf Lubis. Feyerabend ingin melawan batang tubuh beserta metode ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap mempunyai satu metode yang baku dan universal serta tahan sepanjang masa. 130. Keduanya adalah tradisi partikular yang tidak menyadari latar historisnya sendiri.14 Maksud dari semua itu sebenarnya adalah.

melainkan juga berpotensi untuk menggali hakikat realitas yang menjadi cita-cita dari pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Sebab pada kenyataannya istilah ekstrem itu dimaksudkan untuk memberikan kritik eksternal terhadap metode dan praktek ilmu pengetahuan yang acapkali mengaburkan karakter dan tujuan dasar utamanya. Dalam pengertian ini berarti ilmu pengetahuan tidak hanya sanggup menghasilkan prediksi-prediksi saja. Adanya klaim bahwa anarkisme ilmu pengetahuan sebagai bentuk kesewenang-wenangan epistemologis Feyerabend perlu kiranya dimengerti dalam porsi pemahaman yang tepat dan seimbang. sistem pemikiran. bukan sekedar sebagai skema-skema bagi setiap proses kejadian yang kodratnya ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan eksternal.dalam salah satu bentuknya berupa aktivitas-aktivitas kita mengumpulkan pengetahuan sebagai jalan terbaik untuk memahami dunia. Pada akhir kegelisahan intelektualnya. tetapi sekaligus juga bertindak sebagai penentu orientasi keilmuan yang telah dirancangnya. kurang lebih seperti yang diproyeksikan dan diidealisasikan oleh Feyerabend. Realisme ini akan bisa terwujud pada saat teori-teori. Feyerabend menawarkan terma anarkisme sebagai obat mujarab dalam menyembuhkan epistemologi dari sakitnya. Sebagai obat bukan berarti ilmu pengetahuan harus menjadi anarkis. dan kerangka-kerangka pandang diterapkan dalam bentuknya yang paling kuat. Tetapi hal itu mungkin bisa dipahami karena memang seorang anarkis . namun baik epistemologi maupun filsafat ilmu pengetahuan harus menerima anarkisme agar dengan demikian kita akan kembali kepada bentuk -bentuk rasionalitas yang lebih jelas dan bebas.

juga telah dianggap berhasil memecahkan kebuntuan . Maka berkaitan dengan persoalan itu pula. dalam tulisan ini penulis ingin melacak dan mengurai sejauhmana konsistensi dari seluruh sistem pemikiran Feyerabend dalam alur sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dengan berbagai tawaran metodis yang disodorkannya. Feyerabend melontarkan gagasan kritis-progresif yang sayangnya sampai saat ini masih relatif kurang bisa dibaca. yang selain disinyalir menjadi tonggak kebangkitan era filsafat ilmu pengetahuan baru pasca dominasi aliran Positivisme Logis. yang dalam rekaan awal penulis. Secara khusus. Namun setelah melalui proses studi yang runut dan seksama. Sebagai sebuah kajian serius tentang tokoh filsafat ilmu pengetahuan baru.di bidang ilmu pengetahuan oleh Feyerabend diistilahkan ²mengutip pendapat Hans Richter²sebagai dadais yang anti terhadap segala bentuk kemapanan. skripsi ini diangkat guna menelaah lebih jauh mengenai beberapa pokok pemikiran Feyerabend beserta aspek penting lain yang terdapat di dalamnya. ternyata penulis menemukan beberapa endapan gagasan vital dan relatif belum banyak diperbincangkan muatan-muatan filosofisnya. Mungkin hal inilah yang kemudian menjadi latar dari pemilihan tokoh dan pembahasan topik Paul Karl Feyerabend. dipelajari dan diakses lebih jauh oleh para peminat filsafat pada khususnya serta kalangan dunia akademis pada umumnya. beberapa pandangan ilmu pengetahuannya tidak lebih hanya sekedar reaksi keilmuan mengenai presuposisi-presuposisi akan adanya berbagai deviasi (penyimpangan) nilai-nilai etis-praktis ilmu pengetahuan yang diterapkan oleh para ilmuwan kala itu saja.

yang telah beralih fungsi menjadi semacam arogansi intelektual. Tidak satupun yang diterima sebagai fakta. Maka dengan pluri-metodologi dan pandangan konstruktivis-kontekstualis seperti yang dinyatakan oleh Feyerabend. atau kesimpulan yang sele sai atau final. validitas) hanya dapat dimengerti dan diperdebatkan dalam konteks dan dalam paradigma atau komunitas tertentu pula. atau terkesan hanya menjadi menara gading. teori. penulis pun berketetapan hati untuk menempatkan segi-segi fundamental filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend tersebut sebagai starting point dan landasan pemikiran dalam menggali dan mengolah ide-ide dasar ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend secara lebih jelas dan obyektif. dan pada akhirnya berujung pada retorika serta ideologi tertutup yang penuh kedangkalan makna dan kepentingan-kepentingan tertentu. Pondasi ilmu pengetahuan Feyerabend yang berusaha mendobrak keangkuhan format dan prosedur-prosedur sains modern ini telah menggugah kesadaran kolektif kita untuk merefleksikan ulang tentang asumsi-asumsi ilmiah sebagai simbol kemajuan peradaban modern. Dengan mengacu pada realitas historis seperti itu. paling tidak urgensi . Harapannya. tanpa terikat oleh hukum hukum positivistik-logis yang berkembang sebelum masa Feyerabend.monometodologi ilmu pengetahuan untuk direinterpretasikan dan direformulasikan secara paradigmatik dan anarkistik. kebenaran. sebab penerimaan atas pluri-metodologi Feyerabend ini memang mengandaikan adanya berbagai standar kebenaran. kita jadi mafhum bahwa semua klaim pengetahuan (fakta.

agar alur pembahasan ini tepat sasaran. ada beberapa kata kunci yang perlu kiranya dicermati dari pola pemikiran yang dibangun oleh tokoh utama dalam fokus kajian skripsi ini. Banyak jalinan ide penting Feyerabend yang saling berhubungan dalam membentuk konsep -konsep penting lainnya sehingga semakin memperkokoh landasan teoretis yang dituangkan semasa hidupnya. yakni Paul Karl Feyerabend. yaitu: 1. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Adapun tujuan dan kegunaan penelitian ini adalah: 1. Oleh karena itu.topik dalam penulisan karya ilmiah ini bisa menambah koleksi seri tokoh filsafat ilmu di masa mendatang. Bagaimana corak pemikiran anarkisme ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend? C. terarah dan sesuai dengan maksud dan tujuan penulisan skripsi ini. B. Rumusan Masalah Dari deskripsi umum di atas. Mengetahui prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend secara utuh dan mendalam. maka tentu saja ruang lingkup masalah yang akan dijadikan sumber acuan nantinya terbatas dan terumus dalam masalah-masalah berikut. Bagaimana prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend dalam filsafat ilmu pengetahuannya? 2. .

jurnal. 1990). dan sebagainya. sedangkan data sekunder adalah berupa karya -karya Feyerabend lainnya yang dilengkapi pula dengan tulisan atau karya ilmiah para ahli yang secara khusus mengkaji dan membahas tentang pemikiran Paul Karl Feyerabend. Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi (Yogyakarta: Fak. 2002). Anton Bakker dan A. penulis berusaha menyelami pikiran. karya d latar belakang historis yang an melingkupi sejarah kehidupan dan keilmuannya. 61. Mengetahui corak pemikiran anarkisme ilmu pengetahuan yang digunakan oleh Paul Karl Feyerabend secara jelas dan memadai. D. metodologi penelitan merupakan i 15 serangkaian metode yang saling melengkapi dalam melakukan penelitian. 9.2. Metodologi Penelitian Filsafat (Yogyakarta: Kanisius. hlm. 16 15 . Sifat dari penelitian ini sendiri adalah kajian kepustakaan (Library Research) yang memuat data-data dan bahan-bahan yang mendukung dan melengkapi terhadap isi pembahasan ini baik berupa buku. Disamping itu. penelitian ini juga merupakan penelitian historis-faktual mengenai seorang tokoh16. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. ensiklopedi. Dalam kaitan ini. Charris Zubair. penulis berusaha untuk menghimpun data primer maupun sekunder yang sekiranya ada kaitannya dengan pokok pembicaraan dalam skripsi ini. Data primer itu berupa buku masterpiece Paul Karl Feyerabend sendiri yang berjudul Against Method. Selanjutnya dalam proses pengumpulan data-data tersebut. dalam hal ini Paul Karl Feyerabend. hlm. Metodologi Penelitian Menurut sumber bacaan yang ada. Ushuluddin. artikel.

maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode-metode khusus. .Untuk mempermudah prosedur pengolahan data itu. sifat. op. peneliti menguraikan dan membahas secara sistematis dan terperinci seluruh konsepsi pemikiran tokoh yang bersangkutan. hlm. hlm.. diharapkan nantinya akan bisa diperoleh suatu pemahaman yang benar pula tentang ciri.17 Dalam konteks ini.. Metodologi Penelitian Filsafat (Jakarta: Raja Grafindo Persada.cit. 63. penulis akan merinci istilah-istilah atau pendapat-pendapat tokoh (Feyerabend) ke dalam bagian-bagian khusus tertentu sehingga dapat dilakukan pemeriksaan atas arti yang dikandungnya. E. Tinjauan Pustaka Diantara para filsuf sezamannya. Dengan cara ini. Dengan metode ini. yang terutama didasarkan pada karya 17 Ibid. yaitu: (1) Deskriptif. 65. Lihat juga dalam Anton Bakker dan A. 1996). hlm.19 Dengan begitu. (3) Analisis. Feyerabend dinilai paling kontroversial.. paling berani dan paling ekstrem. hlm. (2) Interpretatif. Charris Zubair. 60. Dalam hal ini. peneliti berusaha menyelami karya tokoh untuk menangkap 18 kandungan arti dan nuansa yang dimaksudkan secara spesifik. 19 Ibid. 18 Sudarto. 98. latar belakang dan ide-ide dasar Feyerabend itu sendiri. penulis akan menggambarkan dan menguraikan sepenuhnya dengan memakai analisis filosofis tentang konstruksi filsafat ilmu pengetahuan Feye rabend dan beberapa gagasan penting lainnya secara lebih lengkap dan jelas. dengan maksud untuk memperoleh kejelasan tentang arti yang sebenar-benarnya.

Newton-Smith20 menilai bahwa tidak ada kritik terhadap ilmu pengetahuan setegar dan selantang kritik Feyerabend. 22 Prasetya T. Newton-Smith. Selain itu pula. Kritik yang disampaikan melalui buku itu telah menggambarkan panggung filsafat pada tahun 70-an21 yang banyak mengundang polemik dan perdebatan sengit. buku yang secara representatif dalam menampilkan dan menanggapi urgensi pemikiran Feyerabend juga diungkapkan oleh A. 1987). 1993). dalam Fokus.. Dalam buku itu juga. The Rationality of Science (Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd.W. yang termaktub dalam bukunya Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian 20 W. 1981). dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting). Chalmers dalam sub-topik bahasan. yang berjudul ³Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend´. Feyerabend: Rasionalitas Ilmu Yang Goyah. Sudah ada beberapa literatur yang mengupas jejak-jejak pemikiran Feyerabend.. . baik dalam versi Bahasa Indonesia maupun asing. Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. yang dimuat dalam antologi buku Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu. W. Misalnya tulisan Prasetya T. dijelaskan tentang definisi dari anti-metode dan anti-ilmu pengetahuan yang menjadi kritik utama dalam pemikiran Feyerabend.F. hlm. ³Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend´.monumentalnya.H. Februari 1989. 21 Kees Bertens. 34. sebagaimana yang dikutip oleh Endro Witj. 17. di dalamnya diuraikan seluk -beluk kemunculan Feyerabend dalam ranah filsafat ilmu pengetahuan serta sejarah awal perjalanannya menjadi seorang anarkis. Panorama Filsafat Modern (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. ³Teori Anarkistis Feyerabend Tentang Pengetahuan´.22 Secara lengkap dan padat.H. Against Method..W.

H. Buku lain yang membicarakan sisi-sisi pemikiran Feyerabend adalah The Rationality of Science.25 Seri pengantar tokoh filsafat ini memberikan garis-garis besar haluan sebagai gambaran awal yang sistematis tentang sosok filsuf Paul Karl Feyerabend yang kerapkali mendera sains dengan kritik-kritik kerasnya. W. seperti pandangan Feyerabend tentang prosedur kontra-induksi. 1981). karya W.H. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode..F. Ia tidak menawarkan metodologi apapun sebagai ganti induksi yang selama ini dijadikan panduan utama cara kerja ilmiah. . Chalmers. Satu lagi buku rujukan yang berkaitan dengan fenomena pemikiran Feyerabend adalah apa yang ditulis oleh Akhyar Yusuf Lubis dalam bukunya. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya (Jakarta: Hasta Mitra. The Rationality of Science (Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd. Feyerabend justru memproklamirkan anarkisme epistemologis yang A. dan seterusnya yang dibahas secara tuntas dan mendalam. yang berintikan tema-tema aktual dan liberal Feyerabend secara menyeluruh. Newton Smith24. Dengan lantangnya. 1982).23 Buku ini secara teliti dan akurat memberikan ringkasan tentang segi segi kunci pandangan Feyerabend yang meliputi seluruh konstruksi epistemologinya dengan disertai kritik -kritik yang cukup argumentatif-korektif. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. 25 24 23 Akhyar Yusuf Lubis. Newton-Smith. ketidaksepadanan. mulai dari konsep anti-metode yang merupakan topik utama pemikirannya sampai gagasan -gagasan vital lainnya.Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya. 2003).

berhasil membuka sumbat penyatuan metode yang selama ini diberhalakan oleh sains. Dari sekian literatur tersebut di atas, ada perbedaan yang cukup signifikan dengan maksud penelitian ini, yaitu bahwa artikel yang ditulis o Prasetya T.W. leh hanya sebatas mengenalkan sejarah awal dan garis -garis besar haluan filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend dalam pergulatannya dengan aliran Positivisme Logis. Sedangkan buku A.F. Chalmers dan W.H. Newton-Smith sekedar rangkuman dari beberapa substansi pemikiran Feyerabend tentang anarkisme ilmu pengetahuan saja yang pembahasannya terkesan ambivalen tanpa disertai jalinan sketsa ilmu pengetahuan Feyerabend dengan pemikiran tokoh -tokoh lain serta minimnya aspek historisitas mengenai kemunculan dan keterlibatan Feyerabend dalam wacana filsafat ilmu pengetahuan secara terperinci. Demikian juga dengan buku Akhyar Yusuf Lubis sebagai buku pengantar dalam memahami traktat-traktat berat filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend yang secara khusus hanya µmemandu¶ pembaca untuk mengenal ciri, sifat dan latar belakang pemikiran filsafat Feyerabend yang disisipi juga penjelasan tentang titik persinggungannya dengan model metodologi ilmu pengetahuan yang berkembang sebelumnya, semisal metodologi Galilean dan metodologi Positivisme Logis. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis secara spesifik berusaha menyelidiki pokok-pokok masalah yang menjadi sasaran kritik utama Feyerabend serta letak-letak perbedaan fundamental yang terdapat dalam corak pemikiran filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend dengan para filsuf ilmu pengetahuan

lainnya, tanpa terperangkap ke dalam pemihakan-pemihakan subyektif yang terkesan berlebihan dan kontraproduktif. Selain daripada itu, penulis juga akan mengkaji sejauhmana konsekuensikonsekuensi yang ditimbulkan dari dasar-dasar pemahaman epistemologi

Feyerabend dalam mindset sosio-kultural masyarakat yang akhir-akhir ini secara tidak kritis cenderung hanya terpaku pada satu bentuk kebenaran monologis yang bersumber dari konsepsi keilmuan tertentu.

F. Sistematika Pembahasan Untuk lebih mudah dan urutnya penulisan ini, maka pembahasan dalam skripsi ini akan dikelompokkan menjadi beberapa bab dan sub-bab, yaitu: Diawali dengan Bab I, yang mencakup latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika pembahasan. Kemudian Bab II, berisi tentang biografi singkat Paul Karl Feyerabend yang terdiri dari riwayat hidup, karya serta tokoh-tokoh yang membentuk watak dan mempengaruhi karakteristik pemikirannya. Selanjutnya Bab III, menyarikan tentang prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend yang berkisar tentang persoalan apa saja boleh (anything goes), ilmu yang tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama, ilmu tidak harus mengungguli bidang-bidang pengetahuan lain, dan kebebasan individu. Disusul dengan Bab IV, yang merupakan intisari pembahasan yang mengetengahkan tentang penafsiran Paul Karl Feyerabend terhadap makna

anarkisme sebagai kritik atas ilmu pengetahuan itu sendiri berupa anti-metode (Against Method), dan anti-ilmu pengetahuan (Against Science). Terakhir Bab V, adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran dari penulis berdasarkan seluruh hasil pembahasan yang dilakukan dan ditekuni selama dalam proses awal sampai akhir penyusunan skripsi ini. BAB II BIOGRAFI PAUL KARL FEYERABEND (1924-1994)

A. Riwayat Hidup dan Karyanya Paul Karl Feyerabend lahir pada tahun 1924 di Wina, Austria. Tahun 1945 ia belajar seni suara teater, dan sejarah teater di Institute for Production of Theater, the Methodological Reform the German Theater di Weimar. Sepanjang hidupnya ia menyukai drama dan kesenian. Ia belajar Astronomi, Matematika, Sejarah, Filsafat. Menurut pengakuannya, kalau ia mengingat masa itu, ia menggambarkan dirinya sebagai seorang rasionalis. Maksudnya, ia percaya akan keutamaan dan keunggulan ilmu pengetahuan yang memiliki hukum -hukum universal yang berlaku dalam segala tindakan yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Keyakinan rasionalitasnya pada masa itu tampak dari kiprahnya dalam Himpunan Penyelamatan Fisika Teoretis (A Club for Salvation of Theoretical Phsysics).26 Keanggotaannya dalam kelompok tersebut tentu melibatkan dirinya dengan eksperimen-eksperimen ilmu alam dan sejarah perkembangan ilmu fisika
26

Prasetya T.W., "Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend", dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting), Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 48.

Terjadinya perubahan pemikiran dalam Paul Karl Feyerabend itu setidaknya disebabkan oleh beberapa faktor. karena adanya perkembangan baru dalam ilmu fisika. sambutan para fisikawan/filsuf terhadap teori mekanika kuantum yang dianggap sebagai dukungan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. dan terutama Imre Lakatos. sangat mempengaruhi pemikiran filsafatnya. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. 101-102.D. Waktu itu ia masih tetap berpegang teguh pada keyakinan rasionalitasnya. Ia melihat bahwa fisika kuantum telah menolak beberapa patokan dasar fisika yang ketika itu dianggap modern (Newtonian) yang di atasnya prinsip-prisnip positivisme ditegakkan. Thomas S. Kuhn. . hlm. Yang Kedua. Ia telah menyatakan diri sebagai seorang ³anarkis´ yang menentang penyelidikan terhadap aturan-aturan penggantian teori dan pembangunan kembali pemikiran rasional dari kemajuan kemajuan ilmu pengetahuan. 2003).itu sendiri. Sikap Feyerabend tentang ³apa saja boleh´ dan 27 Akhyar Yusuf Lubis. Ia memperoleh gelar Ph. Dari sinilah ia melihat hubungan yang sesungguhnya antara eksperimen dengan teori yang ternyata relasi itu tidak sesederhana apa yang dibayangkan dan dijelaskan dalam buku-buku pelajaran selama ini. Gagasan Popper. terutama fisika kuantum.27 Pada permulaan tahun 50-an. ia mengikuti seminar-seminar filsafat dari Karl Raimund Popper di London. Pertama. bahkan ia berpendapat bahwa perkenalannya dengan Popper semakin memperteguh keyakinannya itu. dalam bidang fisika dari Wina University dan kemudian mengajar di California University.

Feyerabend mengajukan pertanyaan: apakah manusia tidak mengejar ilusi-ilusi kalau mencari hukum universal guna mencapai hasil dalam ilmu pengetahuan? Tahun 1958 ia menjadi guru besar Universitas California di Berkeley. µhe said. Fourth Edition (New York: Oxford University Press. Pada tahun -tahun itu pula ia mulai mengalami pertobatan pemikiran. Tahun -tahun berikutnya mengajar Estetika. why don¶t you write them down 30 ? Dalam pertobatannya itu ia melihat bahwa dalam sejarah mekanika kuantum. friend and fellow-anarchist. vii. ia menjadi pengajar di Bristol. Inggris. dan anehnya patokan itu dijunjung tinggi oleh para filsuf bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Tidak bisa tidak pertobatannya itu merupakan akibat dari perkenalannya dengan Imre Lakatos. hlm. 29 Paul Karl Feyerabend. 2001). Dalam pertobatannya itu. .bahwa sasaran dari kreativitas dalam ilmu pengetahuan itu adalah sebagai bentuk pengembangbiakan teori-teori. µPaul. Lakatoslah yang mendorongnya untuk menuliskan gagasan-gagasannya. Tahun 1964 -1965 proses John Losee. µyou have such strange ideas. Selandia Baru dan Amerika Serikat. 177.. hlm. Seperti yang pernah dikatakan Lakatos padanya. 5. bermacam-macam patokan telah dilanggar. Feyerabend mempersembahkan buku ini kepada Imre Lakatos dengan menulis To Imre Lakatos. Sejarah Ilmu Pengetahuan dan Filsafat di Austria. hlm.29 Kelak. 1975). yang meniupkan pemikiran pemikiran anarkis terhadapnya. Lagi pula seperti yang ia akui. Feyerabend menyebutkan bahwa Lakatos dianggap sebagai saha at b anarkisnya. Jerman. A Historical Introduction to the Philosophy of Science.28 Pada tahun 1953. 30 Ibid. tempat 28 ia mengajar sampai akhir hayatnya. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books.

Philosophy of Science: Contemporary Readings (London: Routledge. 141. Pertobatannya itu juga dipercepat oleh keraguannya terhadap bangunan sistem pendidikan intelektualistis di tempat ia bekerja sebagai pengajar. Maka sebagai jawaban atas kritik terhadap pemikirannya itu. Ia giat melakukan perlawanan terhadap setiap gagasan ilmu yang memiliki metodologi tersendiri untuk membatasinya dengan yang bukan ilmu dan ilmu palsu. . diskusi dan kritik yang cukup beragam corak dan pemaknaannya dari para tokoh filsafat dan kaum ilmuwan secara luas.. 2002). 49.pertobatannya dipercepat karena percakapannya dengan Carl Freither von Weizsäcker di Hamburg mengenai dasar-dasar mekanika kuantum.cit. Walaupun mulai dulu sampai sekarang banyak usahausahanya yang disia-siakan. Terbitnya buku itu ternyata mampu menyedot dan menyulut antusiasme publik dengan adanya berbagai kontroversi. Mungkin Feyerabend merupakan salah satu filsuf yang sangat provokatif pada abad ke-20. hlm.. munculnya tanggapan dari berbagai pihak itu seolah -olah justru semakin memperkokoh pemikiran anarkisnya.). tetapi usaha itu bisa dijadikan sebagai dasar persiapan yang masih layak dan berharga bagi bentuk-bentuk perlawanan lain. suatu karangan panjang yang pada tahun 1975 diolah lagi menjadi sebuah buku dengan judul yang sama pula. Namun begitu. ia pun kemudian menerbitkan lagi beberapa buku yang memuat penjelasan serta argumentasi atau perluasan gagasan yang sudah diulas dalam buku yang dikritik sebelumnya.32 32 31 Prasetya T. hlm.31 Puncak pemikiran anarkisnya tertuang dalam Against Method yang terbit pada tahun 1970. Yuri Balashov and Alex Rosenberg (eds.W. op.

Paul Karl Feyerabend dalam Wacana Filsafat Ilmu Pengetahuan Dalam menempatkan konteks pemikiran Feyerabend. 204-205. 2. 2001). seperti transmutasi spesies. hlm.34 33 Don Cupitt. panggung filsafat ilmu pengetahuan dikuasai oleh aliran Positivisme Logis. Soedjono Dirdjosisworo. Feyerabend berargumen bahwa apa yang ia sebut dengan ³teori pengetahuan anarkistik´ merupakan pemaknaan ulang terhadap pengetahuan saintifik. relativitas umum dan teori kuantum. penulis membatasi diri mulai dari tahun 1920-an sampai Feyerabend muncul di panggung filsafat.Dalam analisis Don Cupitt. 34 . After God: Masa Depan Agama. baik yang g termasuk kategori sains asli ataupun yang bukan sains sekalipun. hlm. Pengantar Epistemologi dan Logika (Bandung: Remadja Karya. Baik filsuf maupun yang lainnya berhak menetapkan dan menggambarkan apa saja yan diperbolehkan sebagai metode saintifik. Kelompok ini berusaha memperbaharui positivisme abad ke 19 yang telah dirintis oleh tokoh positivisme klasik August Comte (1798-1857) dan para pengikutnya yang dinilai diwarnai pemikiran yang bersifat dogmatis dan indoktrinasi ideologi yang mengarah kepada absolutisme. sebagai seorang filsuf sains dari California yang sangat Californian sekali. Semenjak tahun 1920. terj. Sebab beberapa usaha untuk menjalankan aturan-aturan yang ada sebelumnya hanya mengundang pertentangan seperti yang nampak jelas pada kasus konflik agama dan (menurut Feyerabend) juga berlaku pada kasus sains. Sudah banyak contoh sejarah yang mengesampingkan hal-hal semacam itu sebagai intuisi tandingan teori-teori saintifik. 1985). Abdul Qodir Shaleh (Yogyakarta: IRCiSoD.33 B.

merupakan tahap dimana manusia percaya akan kemungkinan adanya kekuatan adikodrati yang mutlak. Sebab bagi Comte.Filsafat Comte adalah anti-metafisis. tahap metafisis yang abstrak dan tahap positif-ilmiah´. Dalam tahap teologis ini terdapat tiga tahap lagi: animisme. Oleh karena itu. manusia beranggapan bahwa benda-benda itu merupakan sesuatu yang bergerak. politeisme dan monoteisme. yakni tahap teologis yang berdasarkan fantasi. yaitu savoir pour prévoir. Banyak benda disebut suci 35 Harry Hamersma. hanya ada satu hal yang penting. . manusia harus menyelidiki gejala -gejala dan hubungan-hubungan antara fenomena-fenomena fisik-faktual tersebut sehingga ia dapat memproyeksikan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Tahap teologis. Positivisme klasik hanya mengakui tentang gejala-gejala (fenomen-fenomen).35 Positivisme klasik merumuskan hukum-hukum positif itu sebagai berikut: ³Setiap perkembangan pemikiran rohani dan ilmu pengetahuan manusia secara berturut-turut melewati tiga tahap (stadia) yang berbeda. 54-55. sehingga tidak ada gunanya mencari hakikat kenyataan yang tidak mempunyai arti faktual sama sekali. Ia hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah. Tetapi lawan dari filsafat positivisme ini bukanlah suatu filsafat negatif. 1992). Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern (Jakarta: Gramedia. Berdasarkan kepercayaan animistis ini. ³mengetahui supaya siap untuk bertindak´. hlm. ³mengetahui agar manusia dapat memperkirakan apa yang akan terjadi´. melainkan filsafat spekulatif atau obyek metafisik. Hubungan hubungan antara gejala-gejala itu disebut oleh Comte dengan konsep -konsep atau hukum-hukum positif yang dapat dipersepsi oleh akal pikiran manusia.

hlm.. 37 Asmoro Achmadi. dewa lautan. dan sebagainya. .36 Kemudian dalam tahap metafisis. seperti dewa api. 1995). yakni satu keilahian yang pada akhirnya melahirkan pemikiran tentang monoteisme. 55. Mereka menganggap bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang telah diatur dan dirumuskan dalam kaidah -kaidah ilmu alam dan diperoleh dari pengamatan inderawi serta dapat diperiksa secara empiris. Filsafat Umum (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Pada tahap positif-ilmiah. Pengetahuan semacam ini yang disebutnya sebagai pengetahuan positif. 114115. Seperti halnya dengan Bacon yang mendeskripsikan semua 36 Ibid. dewa angin. kaum Positivisme Logis itu sendiri menolak filsafat yang tidak menghiraukan kenyataan dan susunan serta hasil ilmu pengetahuan empiris. dewa panen. manusia mulai sadar dan mengetahui bahwa upaya teologis dan metafisis itu tidak ada gunanya.37 Di lain pihak. artinya dapat dinyatakan atau dibuk tikan (verifiablepositive knowledge). Dari sini kemudian manusia berusaha mencari hukum-hukum alam dengan memakai kemampuan akal budi yang dimilikinya. Selanjutnya. semua gejala tersebut dikembalikan pada satu sumber kekuatan tunggal. alam pikiran manusia secara simbolis beralih kepada kekuatan-kekuatan kosmis yang abstrak.dan sakti yang biasa diidentikkan dengan dewa-dewa. diatur dalam suatu sistem sehingga menjadi paham politeisme dengan berbagai macam spesialisasinya. Aliran Positivisme Logis membagi pengetahuan hanya terbatas kepada ilmu matematika (ilmu pasti) dan ilmu-ilmu lain yang diperoleh dari gejala-gejala yang dapat diamati oleh indera. hlm.

sebab mereka menganggap bahwa ilmu formal (matematika. Pengantar Filsafat. Kattsoff. 4. (Yogyakarta: Tiara Wacana. Ilmu pengetahuan sendiri dirumuskan dan diuraikan sebagai kalkulasi aksiomatis. Hanafi. 40 . Frederick Suppe (ed. 65.40 Positivisme Logis bertitik tolak dari data empiris dan tetap setia pada sifatnya yang empiristis dengan menganggap hukum -hukum logis sebagai hubungan antara istilah-istilah. persoalan-persoalan ilmiah harus dipecahkan secara lebih tepat dan sistematis dengan menggunakan teknik -teknik logika matematika.pengetahuan atas dasar pengalaman dan pengamatan inderawi. hlm. 1974). sehingga mengakibatkan pembicaraan tentang Tuhan pun sama sekali mereka tolak.39 Bagi aliran ini. terutama mengenai sebab pertama (irst f cause). hasil pengamatan dan fakta yang dinyatakan dengan memakai ungkapan dasar dalam suatu ilmu yang bercorak empiris atau ² dalam pengertian Rudolf Carnap²³kalimat protokol´. kalangan Positivisme Logis menolak persoalan sebab-sebab terakhir (final causes) yang menjadi pokok perdebatan filsafat klasik.38 Kiranya pandangan Positivisme Logis ini mempunyai dasar -dasar persamaan ontologis dengan aliran Naturalisme yang juga menentang segala bentuk pikiran yang menyatakan adanya suatu dunia yang bersifat adialami atau transendental. 116. The Structure of Scientific Theories (Urbana University of Illionis Press. hlm. 1981). alih bahasa Soejono Soemargono. Ilmu formal sama sekali 38 A. 1996). Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat (Jakarta: Pustaka Alhusna.). 39 Louis O. logika) bukan sebagai pengetahuan yang berhubungan dengan sesuatu di luar bahasa (kenyataan). yang memberikan perangkat-perangkat hukum pada interpretasi terhadap observasi yang terbatas. hlm.

hlm. hlm.42 Positivisme sebagai sebuah pandangan filsafat mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terjadi berdasarkan hukum -hukum dapat dibuktikan dengan teknik observasi. Susunan Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Gramedia. 63. hlm. hlm. 42 Jean Piaget. Hermoyo (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1995). Filsafat Sains Bagian Pertama: Ilmu Pengetahuan Secara Umum. Sejarah Filsafat.). 1985). (Yogyakarta: Pusat Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia.tidak menyinggung tentang bukti dan data empirik (kenyataan). Yudian W. Ilmu dan Teknologi (Jakarta: Rineka Cipta. tetapi hanya menampilkan jalinan hubungan antara lambang -lambang logiko-matematis yang membuka kemungkinan pemakaian data observasi yang telah diperoleh untuk menghitung (menyusun penjabaran logis dan deduksi).44 Prinsip verifikasi sebagai sentral dalam doktrin Positivisme Logis menegaskan bahwa suatu ungkapan baru akan mempunyai makna manakala ia menunjuk pada pengalaman langsung dan konkrit. 193. 2000). 1995).41 Sebagai sebuah aliran epistemologi. 43 Burhanuddin Salam. Positivisme Logis menganggap logika dan matematika mencakup sebuah sintaksis dan semantik umum sehingga struktur-struktur matematis dan logis untuk menjelaskan himpunan. 82. . 133. terj. 44 Henry van Laer. Strukturalisme. Dan bahasa figuratif atau 41 Cornelis Anthonie van Peursen. Persoalan tentang nilai sebuah teori atau makna suatu penjelasan dianggapnya tidak berarti apa-apa karena tidak memberikan jawaban yang pasti dan terukur.43 Menurut Positivisme Logis. transformasi maupun aspek-aspek terkecil dari logika hanya merupakan struktur-struktur linguistik. Asmin (ed. eksperimen dan verifikasi. hanya apa yang nampak jelas dan berg una saja yang secara prinsipil bisa diverifikasi melalui observasi dan eksperimentasi.

kiasan juga hanya akan dianggap mempunyai akan makna apabil diterjemahkan a ke dalam bahasa literal hurufiah. Positivisme Logis menggabungkan argumen epistemologis dengan argumen semantik, persis seperti dilakukan oleh Locke dan Hobbes yang melihat kerancuan dan kekaburan kategori itu terdapat dalam penggunaan kiasan metaforis bahasa. Mereka yakin pula bahwa filsafat hanya bisa maju jika menggunakan bahasa lugas literal murni. Imbasnya lantas timbul keyakinan umum yang semakin kuat bahwa dalam dunia kebahasaan manusia sebetulnya yang berperan besar adalah memang bahasa literal itu sendiri.45 Positivisme Logis menempatkan filsafat ilmu pengetahuan sebagai logika ilmu. Pandangan semacam itu menguasai dan diterima luas oleh para filsuf ilmu pengetahuan pada zaman itu. Penerimaan secara luas ini membuat pandangan semacam itu oleh Frederick Suppe disebut The Received View.46 Sebagai tradisi intelektual yang berakar pada ilmu pengetahuan alam kodrati (natural sciences), pesatnya perkembangan kelompok yang lazim juga dinamakan empirisme neo klasik ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain karena memang kesan baik yang diberikan oleh ilmu fisika sebagai disiplin ilmu yang prestisius dengan teknik-teknik penelitian yang impresif, di samping itu juga disebabkan oleh adanya orang-orang besar dan terhormat dalam bidang ilmu pengetahuan yang terdapat dalam kelompok ini seperti Albert Einstein.47

45

I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 126-127.
46

Frederick Suppe (ed.), op.cit., hlm. 161.

47

Soeroso H. Prawirohardjo, Pengamatan Meta-Teoritis atas Ilmu Pengetahuan dan Implikasinya Bagi Program Pendidikan Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1984), hlm. 9-10.

Berdasarkan kronologi sejarahnya, Positivisme Logis muncul pertama kali sebagai suatu logika bagi ilmu-ilmu fisika. Tahun 1895, Ernst March menjabat sebagai guru besar pertama filsafat ilmu-ilmu induksi di Universitas Wina, dan pada tahun 1922, posisi itu digantikan oleh Moritz Schlick, seorang murid dari Max Planck yang pada saat itu ia memusatkan karyanya pada filsafat fisika. Kemudian pada tahun 1929, kelompok ini menerbitkan sebuah manifesto yang berisi tentang tujuan perkumpulan itu dan memberinya nama: ³ Scientific A Conception of the World: The Vienna Circle´ (Suatu Konsepsi Ilmiah Tentang Dunia: Lingkaran Wina).48 Para anggota yang ikut bergabung dalam kelompok ini adalah para kaum positivis yang kebanyakan adalah ahli ilmu alam, matematikus dan filsuf berlatar belakang matematika. Dalam tulisan Morton White disebutkan bahwa aliran Positivisme Logis ini telah dipelopori oleh Moritz Schlick yang kala itu menjabat sebagai guru besar Filsafat di Wina, dan resmi dibentuk pada tahun 1923 dengan sebutan The Vienna Circle. Secara khusus, Schlick dan Wittgenstein mengunjungi Amerika pada tahun 1929 untuk memperkenalkan aliran tersebut. Namun ketika Hitler berkuasa, mulailah aliran Positivisme Logis ini disebut-sebut sebagai gerakan pemikiran yang sangat berbahaya. Popkin & Stroll menambahkan pula bahwa para anggota Lingkaran Wina ini adalah Moritz Schlick, Hans Hahn, Friederich Waismann, Herbert Feigel, Otto Neurath dan Rudolf Carnap.49

48

Roy J. Howard, Pengantar atas Teori-teori Pemahaman Kontemporer: Hermeneutika; Wacana Analitik, Psikososial, dan Ontologis, Ninuk Kleden-Probonegoro (ed.), (Bandung: Nuansa, 2000), hlm. 51.
49

Bawengan, G.W., Sebuah Studi Tentang Filsafat (Jakarta: Pradnya Paramita, 1983), hlm. 113.

Kelompok ini pernah mengadakan seminar atau studi kelompok dengan melakukan pembahasan pada tulisan Wittgenstein yang sangat teliti serta didasarkan pada pandangan bahwa filsafat bukanlah teori, melainkan suatu aktivitas. Mereka berpedoman pada pendapat bahwa fils afat tidak mungkin menghasilkan pernyataan, baik pernyataan yang salah maupun pernyataan yang benar. Filsafat hanya memberikan penjelasan mengenai pengertian suatu

pernyataan; mengemukakannya secara ilmiah, matematik atau bahkan tidak mempunyai arti apapun. Inti pandangan mereka terletak pada keyakinan bahwa setiap pernyataan mengikuti ketentuan logika formal dan bahwa pernyataan itu harus bersifat ilmiah. Positivisme Logis ini biasa disebut sebagai hasil karya Ludwig Josef Johann Wittgenstein (1889-1951), yaitu dalam buku berjudul Tractatus LogicoPhilosophicus yang terbit pada tahun 1921, lalu berkembang ke seluruh dunia termasuk Inggris dan Amerika Serikat. Dalam tulisan tersebut, Wittgenstein menyatakan bahwa filsafat bukanlah suatu teori, melainkan suatu aktivitas atau kegiatan. Wittgenstein pun yakin bahwa teka-teki dan kekacauan filsafati akan dapat diatasi oleh analisis bahasa. Wittgenstein mensinyalir bahwa apabila suatu pernyataan dapat diajukan, maka pernyataan itu pun seyogianya dapat dijawab seca jelas dan tuntas. Tetapi ra kenyataannya, ternyata tidak semua pernyataan yang diajukan itu benarbenar bermakna. Maka agar supaya kita tidak terperangkap ke dalam persoalan persoalan filsafati yang tidak berarti, yang bersumber dari pernyataan -pernyataan yang tidak bermakna itu, maka dalam pandangan Wittgenstein harus ditemukan

Tjun Surjaman (Bandung: Remaja Rosdakarya. bagi Wittgenstein. Berbeda dengan Ayer. 51 Thomas S. . hlm. Lewat analisis bahasa. Metode itu bersifat netral. 1993). Dan untuk memahaminya kita perlu mengetahui karakteristik-karakteristik khusus dari kelompok yang menciptakan dan menggunakannya. 203. 1996). Metode analisis 50 Jan Hendrik Rapar. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. Wittgenstein menegaskan bahwa arti ditentukan oleh bagaimana suatu kata digunakan dalam konteksnya.50 Senada dengan Wittgenstein. seseorang akan dapat memperoleh kejelasan ( larify) arti bahasa c sebagaimana yang diutarakan oleh orang yang menggunakan bahasa itu. Oleh karena itu. Kuhn. tanpa pengandaian filsafati. Analisis bahasa secara logis tanpa mereduksikan sesuatu sehingga pada prinsipnya hanya sekedar membuat lebih jelas tentang maksud yang dikatakan lewat suatu ungkapan bahasa verbal. 122. Kuhn juga berpendirian bahwa pengetahuan sains seperti bahasa pada dasarnya adalah milik bersama suatu kelompok. epistemologis ataupun metafisik. hlm. kita harus mengalisis bentuk -bentuk hidup (forms of life) sampai ke dasar terdalam dari setiap permainan bahasa. Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Kanisius. seluruh ajaran filsafat Wittgenstein itu tidak lain hanya menawarkan suatu metode yang sering disebut sebagai metode analisis bahasa.peraturan-peraturan tentang permainan bahasa (language game) yang digunakan lewat ungkapan bahasa sehari-hari.51 Apabila disimak secara seksama. yang penting bukanlah mengatur bagaimana suatu ungkapan bahasa itu harus berarti atau bermakna. tetapi kita harus bisa menangkap apa arti yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa itu. terj.

Oleh karena itu.. bahasa selalu terbatas untuk mengungkapkan totalitas pengalaman. G. Interpretasi yang dilakukan setelah dipersepsi pun.cit. Pierre Duhem. sebagaimana diutarakan Feyerabend.cit. Para anggota aliran ini sendiri adalah bekas ilmuwan yang terjun ke dunia filsafat dan sebelumnya telah berhasil membentuk suatu kegiatan di Lingkaran Wina. Ia adalah seorang ahli yang terlatih dalam bidang fisika dan juga seorang logisian yang rajin bekerja keras. juga dipengaruhi oleh pengalaman dan harapan -harapan dari orang yang berusaha menafsirkan struktur realitas itu. Sedangkan pengalaman dan pemahaman itu sendiri terjadi lewat bahasa. Ernst March termasuk juga Einstein. 53 Bawengan.W.53 52 Akhyar Yusuf Lubis. hlm. yakni Rudolf Carnap.bahasa yang dikemukakan oleh Wittgenstein ini disebut juga dengan metode klarifikasi.52 Disamping itu. Helmholtz. 111-113. Jadi. Pengalaman yang kita alami senantiasa sudah terefleksikan yang dinyatakan dalam bahasa. hlm. op. . 114. Ia merupakan seorang tokoh kelahiran Jerman.. Pandangan Positivisme Logis bahwa bahasa merupakan gambaran realitas inilah yang ditolak Feyerabend. op.. fakta-fakta itu sesungguhnnya tergantung pada teori yang menjadi mediasi dalam proses pemahaman. distorsi itu tidak hanya terjadi pada waktu obyek atau peristiwa dipresepsikan. datang ke Wina pada ta hun 1927 dan ikut secara aktif di Lingkaran Wina. Bagi Feyerabend. Para ilmuwan yang terkenal itu diantaranya adalah Ludwig Boltzmann. Positivisme Logis ini juga biasa disebut sebagai Logika Empirisme dengan pelopornya yang sangat menonjol.

Disisi lain mereka juga membantah sekalgus i menyerang metafisika dan etika yang gagasan awalnya sudah mulai dilontarkan beberapa filsuf analitik yang embrionya berasal dari Lingkaran Wina itu sendiri. Pihak kedua adalah kelompok positif yang bersikap mengagumi logika dan ilmu pengetahuan. Truth and Logic (1963). Dalam perspektif Morton White. militan. yaitu agar suatu pernyataan ( statement) benar-benar penuh . setidaknya terdapat dua kutub dalam aliran Positivisme Logis yang patut juga kiranya mendapat perhatian cermat dalam diskursus perdebatan filsafat ilmu pengetahuan kontemporer. Yang pertama adalah pihak negatif. pandangan dan pengertian yang tidak memakai rumusan matematik dan empiris. mereka menolak metafisika karena mereka sependapat bahwa metafisika tidak dapat ³dipertanggungjawabkan´ secara ilmiah. Salah satu pemikir kontemporer filsafat analitik terkenal yang memiliki pengaruh cukup besar. suatu golongan yang ekstrem. penuh kritik tajam dan menganggap remeh pula pandangan -pandangan pendahulunya. empirisme dan logika tradisional. juga berupaya mengeliminasi metafisika yang didasarkan pada prinsip verifikasi. Mereka mengembangkan ajaran yang disebut ³kriteria pengertian empiris´ dan menolak setiap ajaran.Positivisme Logis sebenarnya merupakan perkawinan antara dua alira n. Tetapi sebutan positivisme kemudian diralat menjadi empirisme. Pada umumnya. sebab menghilangkan sebutan ³positivisme´ seperti kata Morton White adalah berhubungan erat dengan kritik terhadap ajaran August Comte yang menggunakan istilah ³positivisme´ juga. Alfred Jules Ayer (1910-1970) lewat bukunya Language.

Pertama. apalagi hanya sekedar dijadikan acuan untuk menerapkan prinsip ³mungkin´ atau ³bisa jadi´ benar (probability). lewat teori falsifikasinya Popper menjadi orang pertama yang meruntuhkan dominasi aliran Positivisme Logis dari Lingkaran Wina. munculnya Karl Raimund Popper menandai kreasi wacana baru dan sekaligus merupakan masa transisi bagi suatu zaman filsafat ilmu pengetahuan baru. 1998). Tokoh positivisme logika modern Inggris dan salah satu penganut empirisis logis ini menandaskan bahwa kata ³makna´ dalam positivisme logis berarti gagasan yang kebenaran dan kepalsuannya dapat ditegaskan dalam batas-batas pengalaman inderawi. Popper menentang Lingkaran Wina terutama dalam distingsi antara ungkapan yang disebut meaningful dan meaningless berdasarkan kemungkinannya untuk diverifikasi.54 Pada tahap perkembangan selanjutnya. maka pernyataan tersebut haruslah dapat diverifikasi oleh salah satu atau lebih dari kelima pancaindera. Popper membuka babak baru sekaligus sebagai masa transisi dipicu oleh adanya dua alasan penting.arti. Namun Popper sendiri dalam hal ini mengakui bahwa ia tidak pernah berasumsi dengan memaksa kesimpulan yang telah diverifikasi dapat ditetapkan sebagai sebuah jaminan kebenaran. 59. Popper mengintroduksikan suatu zaman filsafat ilmu pengetahuan baru yang dirintis oleh Thomas Samuel Kuhn. hlm. . yakni dibenarkan secara empiris. lewat pendapatnya tentang berguru pada ilmu-ilmu. Bahkan mungkin saja yang disalahkan (difalsifikasi) itu menjadi benar dalam arti verifiable (dapat diuji) secara ilmiah. terj. Muhammad Nur Mufid bin Ali (Bandung: Mizan. Falsafatuna. Oleh Popper distingsi itu diganti dengan apa yang disebut garis 54 Muhammad Baqir Ash-Shadr. Kedua.

160. perbandingan logis dari kesimpulan antar teori dalam hal konsistensi internal dari sistem yang diuji.55 Popper menegaskan bahwa suatu ungkapan bersifat empiris atau tidak. tidak dapat ditentukan berdasarkan azas pembenaran (verifiability) sebagaimana dianut oleh aliran Positivisme Logis.O.. kecuali hanya perubahan sifat pengulangan kata dari logika deduktif yang memiliki derajat kebenaran yang tidak lagi diperselisihkan.batas (demarcation) antara ungkapan yang ilmiah dan yang tidak ilmiah. Popper menyodorkan prinsip falsifiabilitas. ³.the method of falsification presupposes no inductive inference. Sebagai ganti azas pembenaran. 1968).. hlm.. Verhaak dan Robert Haryono Imam. Popper menandaskan bahwa metode falsifikasi itu mengisyaratkan tidak adanya kesimpulan deduktif. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. Christiaan R. The Logic of Scientific Discovery (New York: Harper & Row Pub. pokok demarkasi terletak pada ada tidaknya kemungkinan falsifikasi bagi ungkapan yang bersangkutan. Pokok persoalannya adalah mustahilnya pembenaran proses induksi. hlm. artinya ciri pengetahuan ilmiah adalah dapat dibuktikan salah.M. Kedua. 1991). but not only tautological transformation of deductive logic whose validity is not indispute´. penyelidikan terhadap bentuk logis dari teori dengan obyek penelitian teori tersebut untuk memastikan apakah teori tersebut mempunyai karakter suatu 55 Karl Raimund Popper. Menurut Popper. Pertama. Ia mengatakan. 56 . 40-42.56 Popper lantas menyarankan dilakukannya suatu deductive testing of theories untuk menguji kesahihan (validasi) dan ketepatan (akurasi) suatu teori ilmu pengetahuan lewat empat jalur berbeda.

1991). Tetapi jika kesimpulan tersebut negatif atau falsified (tidak dapat dibuktikan keabsahannya). suatu pernyataan tunggal dapat menghasilkan suatu prediksi kemungkinan baru yang dapat diuji (applicable) yang dideduksi dari suatu teori pengetahuan tertentu. Ketiga. Dengan itu pula. hlm. Bila cara 57 Conny R. Semiawan.57 Dengan begitu Popper dianggap berhasil memberikan pemecahan bagi masalah induksi. pengujian terhadap teori dengan cara aplikasi empiris dari kesimpulan yang berasal dari teori tersebut. Keempat. . atau juga mungkin terjadi hubungan tautologis (pengulangan kata yang mengaburkan makna) diantara teori-teori tersebut. Dari cara yang terakhir inilah. et. Apabila putusan itu positif. maka diambil suatu putusan melalui perbandingan antar pernyataan tersebut dengan hasil aplikasi praktis dan eksperimen. perbandingan dengan teori-teori lain dengan tujuan untuk menentukan apakah teori itu telah memenuhi standar mutu hip otesis umum sebagai scientific advance yang tahan dari berbagai ujian dan kritik maupun diskusibilitas publik sehingga hal itu akan semakin mengukuhkan corroboration) ( keberadaannya dalam setiap proses pencarian kebenaran ilmu pengetahuan. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu (Bandung: Rosdakarya.. 51-52. berarti kesimpulan tunggal itu acceptable (dapat diterima secara logika) atau verified (dapat dibuktikan secara empiris).al.teori empiris atau teori ilmiah. Setelah dilakukan seleksi terhadap beberapa pernyataan (prediksi). maka teori yang digunakan untuk mendeduksi teori-teori tersebut secara logis tidak dapat diterima sebagai sebuah hasil kebenaran yang sah. Popper serentak merubah seluruh pandangan tradisional atau The Received View yang dipegang oleh Lingkaran Wina.

masalah keutamaan falsifiabililtas belum cukup untuk menjajaki kebenaran suatu teori. sebab masih ada kondisi lain yang diperlukan oleh ilmu untuk dapat berkembang lebih maju. Pertanyaan-pertanyaan tentang teori seperti: ³Apakah ia falsifiable?´ ³Bagaimana tingkat falsifiabilitasnya?´ dan ³Sudahkah ia difalsifiable?´ dalam penilaian mereka kini lebih layak diganti dengan. Verhaak dan Robert Haryono Imam.kerja ilmu pengetahuan tradisional didasarkan pada prinsip verifikasi.M. dikatakan bahwa tidak hanya hipotesa melainkan juga hukum dan te yang ori kokoh dalam proses falsifikasi lalu ditinggalkan. Jadi disini berlaku pragmatisme dari suatu teori ilmiah yang merupakan racun ampuh terhadap paham determinisme yang bersifat statis dan yang sebelumnya tidak dibicarakan oleh Popper. hlm. Selanjutnya. ³Apakah teori yang baru ini memiliki daya saing untuk menggantikan teori yang ditantangnya?´.O. maka dasar yang diajukan Popper adalah prinsip falsifiabilitas. suatu cita-cita yang sebenarnya diimpikan oleh para ilmuwan tradisional yakni mendasarkan cara kerja ilmu-ilmu empiris pada logika deduktif yang ketat.cit. . op. Namun menurut kaum falsifikasionisme sofistikit. Pandangan ini lebih menekankan pentingnya manfaat relatif teori teori yang bersaing daripada manfaat suatu teori tunggal.58 Dari situ Popper meyakini 58 Christiaan R.. 161. Sedangkan pendapat Popper tentang berguru pada sejarah ilmu -ilmu juga mengintroduksikan zaman filsafat ilmu pengetahuan baru. Popper menegaskan bahwa cara kerja (berdasarkan prinsip falsifiabilitas) itu bisa dilihat secara nyata dalam proses pertumbuhan dan perkembangan sejarah ilmu -ilmu.

cit. hlm. Kita mesti belajar dari kesalahan-kesalahan kita terdahulu. dapat ditambah dan diperbaiki. hukum dan teori yang definitif dan baku. membuat deduksi tentang ketidakbenaran suatu teori lewat proses falsifikasi 59 Seperti dikutip oleh Conny R. maka ia harus falsifiable (dapat dinyatakan sebagai benar atau salah). Mengikuti cara berpikir Popper. sebab penarikan kesimpulan teori-teori universal dari keterangan observasi tidak mungkin menemukan jalan kebenaran yang diharapkan. Dalam perkembangan ilmu. Semua pengetahuan manusia sementara sifatnya. dan untuk selanjutnya setelah mengetahui bahwa dugaan kita salah. bisa difalsifikasi. op. maka lalu kita akan belajar banyak tentang model kebenaran yang lain. Jika tidak demikian. 58.. Beerling59 juga berpendapat bahwa semua hasil ilmu itu tidak sempurna. maka ilmu pengetahuan justru akan merosot menjadi ideologi tertutup dari segala kritik dan pembaruan. Semiawan. kita seharusnya memecahkan setiap persoalan yang menarik melalui dugaan yang berani melawan (dan terutama) apabila tidak lama kemudian ternyata salah daripada mengulang suatu rangkaian kebenaran yang tidak relevan lagi dengan konteks zamannya. Jadi apabila suatu hipotesis akan dijadikan bagian dari bangunan struktur ilmu.tidak ada ungkapan. maka kemudian muncul paham falsifikasionisme yang memandang ilmu sebagai suatu perangkat hipotesis yang dikemukakan lewat proses mencoba-coba (trial and error) dengan tujuan melukiskan secara akurat gejala suatu fenomena dunia atau alam semesta. Tetapi sebaliknya. . Dalam kaitannya dengan hal inilah. falsifikasi menjadi sandaran penting.

Kesalahan kita selama ini. tak ada manusia yang dapat memahami bagaimana alam bekerja´. hlm. 61 I. sebab pada dasarnya ilmu memang berkembang maju melalui berbagai percobaan dan kesalahan. 60 Ketahuilah.mungkin saja ditempuh. xviii. ³Jangan pernah menanyakan bagaimana cara kerja alam semesta. .61 60 Huston Smith. Potongan-potongan dunia itu tidak dapat divisualisasikan hanya dengan indera reseptor manusia yang memiliki standar sensibilitas terbatas. Bambang Sugiharto.cit. Kebenaran Yang Terlupakan: Kritik atas Sains dan Modernitas. Popper sendiri sebenarnya ingin menekankan tentang pentingnya kontrol intersubyektif dan kesepakatan dalam komunitas para peneliti sendiri sehubungan dengan kemunculan teori-teori baru agar kemungkinan falsifikasi atas teori-teori itu tidak semata-mata didasarkan pada koherensi logis dan linguistis belaka.. Inyiak Ridwan Muzir (Yogyakarta: IRCiSoD. 77. dan tak seorang saintis pun bisa keluar darinya dengan selamat. hlm. Paham falsifikasionisme ini dapat dipakai sebagai landasan berpikir pragmatis tanpa selalu menganggap semua teori ilmiah sudah benar secara ilmiah dalam perjalanan ilmu. sebagaimana yang diutarakan oleh Huston Smith adalah mengira sains dapat memberikan satu pandangan utuh ten tang dunia seisinya. karena pertanyaan seperti itu a kan menyeret kalian ke dalam sebuah lubang. Tapi sayangnya sains cuma mampu memperlihatkan kepada kita serpihan-serpihan dunia yang bersifat fisikal. melainkan juga atas kriteria praktis dan fungsional. bisa dikalkulasi dan diuji lewat pengamatan fakta-fakta empiris semata. op. terj. Tak heran jika menjelang wafatnya. Richard Feynman berujar kepada murid-muridnya. 2001).

Popper juga selalu mendorong tentang perlunya mengembangkan budaya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar -dasar pikiran yang berbau mitos untuk mengikis tradisi-tradisi dogmatik yang selama ini hanya selalu mengagung-agungkan kebenaran satu doktrin saja untuk selanjutnya digantikan dengan doktrin yang lebih bersifat majemuk (pluralistik) dan masing -masing mencoba menemukan kebenaran secara analisis kritis. melainkan bahwa sifat rasional itu justru dibentuk oleh adanya sikap keterbukaan terhadap kritik dan kenyataan empiris menuju suatu kebijakan dan strategi il u yang lebih m terpadu dan menyeluruh. hlm. Rasionalisme kritis memang tepat mengatakan bahwa rasionalitas suatu ilmu tidak pernah secara berat sebelah dapat dicari dan ditemukan pada kekuatan nalar ilmiah saja. seperti yang dikatakan oleh Descartes dan Leibniz. . Sebab hanya dengan demikian daya topang dan kemungkinan perkembangan ilmu-ilmu ikut tertunjang secara selaras dan seimbang. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Demikian pula terhadap pendirian empiristis dari Hume ditandaskannya tidak perlu menunggu secara pasif berulangnya gejala untuk 62 Jujun Suparjan Suriasumantri. Popper mengajukan suatu pandangan yang lebih historis dan dinamis mengenai ilmu yang harus selalu memodifikasi dan memperbaiki diri. 1995).62 Tuntutan falsifikasi Popper tersebut di atas tentu harus dipahami pula berkaitan dengan pandangan filsafatnya tentang rasionalisme kritis yang salah satu uraian pokok ajarannya menjelaskan bahwa setiap pernyataan teoretis harus disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan terbukanya peluang -peluang perbaikan lanjutan. 112. Berbeda dengan Kant.

Bambang Sugiharto. harapan-harapan. Baginya ketidakmungkinan mengeksplisitkan asumsi asusmi dasar adalah sebuah mitos yang cenderung dibesar besarkan sehingga membuat kesulitan menjadi ketidakmungkinan. kita selalu bisa keluar dari kerangka acuan dasar itu setiap saat. Sebab pada hakikatnya sifat kritis berarti bahwa kita seperti kata Kant senantiasa siap terbuka pada semua aneka bentuk perubahan yang kita hadapi dan pengalaman yang kita alami. tetapi kerangka itu pasti yang lebih baik. 83-84. Tetapi Popper menggarisbawahi bahwa akal baru sungguh -sungguh dianggap kritis apabila kita bersedia membuang rongrongan -rongrongan yang dipaksakan (imposed regularities) oleh sistem makrokosmos alam semesta ini dalam sistem mentalitas berpikir kita. sebagai generasi pasca Popper. Tetapi sebenarnya kalau saja kita mau.cit. Justru kitalah yang harus berusaha secara aktif memaksakan hukum keteraturan (regularities) kepada alam. . hlm.63 Popper menawarkan formulasi lain dalam prinsip epistemologi dengan sebuah keyakinan awal bahwa tidak ada sesuatu yang tidak bisa kita refleksikan dan kita buat eksplisit. hlm. Lalu disitu pun kita bisa saja keluar lagi untuk kemudian merefleksikan ulang tentang kerangka acuan dasar itu. pengalaman-pengalaman dan bahasa kita. Memang kita akan terperangkap dalam kerangka yang lain. Inti persoalannya adalah bahwa suatu diskusi kritis dan perbandingan berbagai kerangka acuan selalu mungkin dilakukan. semakin memantapkan permulaan suatu 63 Cornelis Anthonie van Peursen.mencari keteraturan.. 92-93. 64 I.cit..64 Sejalan dengan ide-ide awal yang provokatif tersebut. Ia memang percaya bahwa setiap saat kita ini terpenjara oleh teori-teori. tampilnya Thomas Kuhn. op. op.

Mereka ini disebut sebagai generasi filsafat ilmu pengetahuan baru karena mempunyai perhatian besar terhadap sejarah ilmu pengetahuan dan peranan sejarah ilmu pengetahuan bagi penyusunan filsafat ilmu pengetahuan yan lebih g mendekati kenyataan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Paul Karl Feyerabend. Mereka itu oleh Cornelis Anthonie van Peursen65. Kuhn memperlihatkan bahwa sepanjang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan itu pembaharuan - pembaharuan yang benar hanya terjadi dalam beberapa fase saja. 66 Dudley Shapere. dalam Ian Hacking (ed.R.cit. artinya ³susunan dasar´ ilmu alam pada zaman dan wilayah perkembangan ilmu tertentu) ke paradigma yang lain tanpa adanya hubungan logis antara keduanya. Kaplan. . Tokoh-tokoh yang disebut bersama Kuhn adalah Mihael Polanyi.). yaitu sewaktu anggapan para ahli ilmu pengetahuan pindah dari suatu paradigma (istilah teknis Kuhn. Hanson. N. 29.. Stephen Toulmin dan A. h mereka digolongkan sebagai pemikir baru yang mendasarkan pandangan filosofisnya pada sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri. Secara khusus. Meaning and Scientific Change. Ole Dudley Shapere66. op. hlm. digolongkan sebagai filsuf ilmu pengetahuan baru karena mereka melihat perkembangan ilmu pengetahuan sebagai perkembangan yang revolusioner. 10. hlm. Hal ini nampak dari cara kerja Feyerabend dalam menentang empirisme kontemporer dan teori kuantum mutakhir dari in terpretasi Kopenhagen yang menegaskan bahwa tidak mungkin untuk menyatakan posisi dan kecepatan sebuah 65 Cornelis Anthonie van Peursen. Robert Polter.zaman baru dalam proses dialektika filsafat ilmu kontemporer yang biasa disebut filsafat ilmu pengetahuan baru.

kemustahilan ini adalah kemustahilan prinsipiil. Heisenberg berkesimpulan bahwa ilmuwan tidak mungkin dapat melihat elektron dan sekaligus mengukur kecepatannya pada waktu yang bersamaan. kecepatan. dan sebaliknya. pada tingkat sub-mikroskopik kita tidak berhak untuk memberikan suatu sifat kepada entitas kecuali kita dapat membuktikannya secara eksperimental. kenyataan obyektif digambarkan secara mekanis sehingga hanya menghasilkan informasi yang terbatas dan tidak utuh. Menurut interpretasi Kopenhagen yang dipertahankan oleh ahli fisika Werner Heisenberg (1901-1976) dengan Uncertainly principle (Prinsip Ketidakpastian)-nya. Namun sayangnya. volume. Dunia nyata diasumsikan menjadi suatu sistem partikel-partikel material yang dipahami secara geometris. kekuatan dan unsur-unsur semesta atomik yang paling kecil merupakan sifat-sifat utama dari materia yang bergerak secara bebas. tekanan. posisi. tetapi alam yang tampak . Ia mengatakan bahwa para ahli fisika tidak membangun peralatan yang canggih untuk membantah hipotesis dan pondasi ilmu pengetahuan yang telah ada. peralatan kita²istilah Einstein²terlalu kasar untuk mendeteksi dan memaksa menspesifikasikan kecepatan dan arah tertentu dari partikel elektron yang lebih kecil daripada atom. Akhirnya. melainkan untuk mengembangkan dan menguatkan praktek kegiatan ilmiahnya. setiap kuantitas cahaya yang tidak mempengaruhi kecepatan tidak akan memadai untuk menyatakan posisinya. Istilah-istilah seperti massa. kemustahilan ini ditarik dari kenyataan bahwa setiap kuantitas cahaya yang cukup untuk menangkap posisinya akan merubah kecepatannya. Akibatnya. Alasannya. Berdasarkan percobaan.elektron bersama-sama. Apa yang kita amati bukanlah alam an sich.

dan karena kebebasan kita juga tidak dilaksanakan pada tingkat mikroskopik. 1989).seperti dalam metode penelitian. Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis Tentang Makhluk Paradoksal (Jakarta: Gramedia. Salahlah menjadikan kepercayaan kita akan pertanggungjawaban manusiawi itu pada jurang -jurang kekosongan yang ditemukan oleh Heisenberg dalam struktur deterministik gambar dunia fisik.67 Implikasi dari adanya fenomena tentang interpretasi Kopenhagen itu ternyata membawa sains modern kepada cara analisis yang bersifat atomistik dengan jalan memilah-milah suatu proses ke dalam proses pencarian sebab -sebab efisiensi maupun subyek-subyek aktual yang terlibat dalam rangkaian kegiatan penyelidikan ilmu pengetahuan. 176 dan 315. hlm. Dalam kegiatan-kegiatan bebas. . maka konsep inde terminisme Heisenberg tersebut tidak dapat berfungsi lagi. dan bukannya atom-atom itu sendiri. Prinsip ketidakpastian ini telah memacu fungsi imajinasi manusia untuk memunculkan ide-ide serta penemuan-penemuan baru yang merupakan refleksi 67 Louis Leahy. melainkan pada tingkat makroskopik dari kuanta. dan gerakan sub-atomik alam itu sesungguhnya tidak bisa dipastikan atau diramalkan. Sekali analisis dimulai harus dikejar dan ditelusuri sampai batas akhir. Sehingga dengan alasan bahwa teori kuanta (partikel) itu masih jauh dari kadar kepastian. kita memanipulir benda-benda yang terdiri dari bermiliar-miliar atom. karena sains baru akan merasa tahu ³bagaimana´ secara persis dari proses alami jika telah menemukan komponen-komponen fisis dasar yang menyebabkan terjadinya hukum kausalitas dalam proses kegiatan tersebut sampai kepada teori atomik sebagai pusat aktivitas saintifik.

Kalau filsafat ilmu pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 lebih difokuskan pada upaya untuk menemukan penjelasan yang radikal tentang apa. 119. melainkan manusia itu sendiri sebagai makhluk yang memiliki keistimewaan khusus. ilmu bukan lagi merupakan hasil usaha manusia semata -mata berdasarkan pengalaman empirik yang diperolehnya melalui pengamatan inderanya dan penelitian percobaannya serta pembuktiannya. Toulmin. tetapi bertujuan juga untuk meningkatkan dan membuka tabir serta mendalami realitas alam yang penuh misteri dan paradoks ini melalui perangkat dimensi kreatif ilmu pengetahuan kontemporer.). Oleh karena itu. suatu model analisis untuk menginterpretasi dunia. . Suppe secara khusus menempatkan mereka dalam kelompok analisis Weltanschaungen. yaitu dalam hal kemampuan berimajinasi. Hanson. hlm. 68 Frederick Suppe (ed. Dari sini kemudian perkembangan ilmuilmu modern telah mengakibatkan penjernihan dari prasangka -prasangka metafisika dan pencocokan lebih teliti pada data dan cara berpikir yang lebih benar.perkembangan ilmu dari masa ke masa. Popper dan Bohm sebagai pembawa pandangan alternatif ( lternatives to a the Received View).. op. maka filsafat di abad modern memperlihatkan kecenderungan menggese landasan dan obyek telaahannya. filsafat ilmu abad modern tidak lagi mengutamakan penalaran semata. bagaimana dan untuk apa gejala alam itu.cit. Oleh Frederick Suppe68. Feyerabend disebut bersama Kuhn. r Filsafat ilmu abad modern bersumber pada manusia itu sendiri yang pada perkembangan berikutnya terkesan menjadi filsafat ilmu kehidupan. Artinya.

. Yang terjadi dalam pembaruan suatu ilmu itu sebetulnya merupakan peralihan dari teori yang satu ke teori yang lain.69 Namun berbeda dengan Popper. Sebaliknya. Jika nantinya semua ini menghasilkan 69 Prasetya T. Sebab berdasarkan keyakinan Lakatos. Atau lebih jelasnya lagi. Lakatos mengatakan bahwa filsafat ilmu pengetahuan tanpa sejarah ilmu pengetahuan adalah omong kosong ilmiah belaka.W. seandainya ada gerak lawan lain yang muncul dari ranah pengalaman subyek peneliti pasti memproduk suatu teori baru. .Anehnya. terutama dalam penilaian Feyerabend terhadap empirisme kontemporer yang dianut oleh para pengikut The Received View. 52. melainkan juga karena mereka melihat adanya hubungan antara sejarah ilmu pengetahuan dengan filsafat ilmu pengetahuan. karena fakta tanpa kerangka teoretis tidak pernah dapat menjadi relevan secara ilmiah. Dikatakan bahwa filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend merupakan percobaan untuk memperkembangkan analisis Popperian. yang berlangsung sebetulnya adalah suatu program penelitian. Misalnya.cit. Mereka digolongkan sebagai filsuf ilmu pengetahuan baru bukan saja karena mendasarkan pandangan filosofisnya pada sejarah ilmu pengetahuan. yakni keadaan bahwa dengan satu falsifikasi saja bisa menghancurkan suatu teori. op. Kuhn. dan lebih sehaluan dengan Thomas S. pada posisi ini Feyerabend justru didekatkan dengan Popper. ia menyangkal kemungkinan adanya tentang experimentum crucis. hlm. sejarah filsafat tanpa sejarah ilmu pe ngetahuan adalah buta.

hlm.cit. Feyerabend juga berusaha melawan segala usaha untuk menemukan keteraturan dalam perkembangan ilmu pengetahuan.. 86. 17. Sementara disisi yang lain. maka ini bisa dikatakan seb agai program penelitian progresif. Feyerabend merasa bosan akan segala law and order yang ingin dicapai oleh para sarjana. Kompleksitas itu terdiri atas sejumlah teori ilmiah yang menurut Popper tidak dapat berlaku sekaligus (yaitu apabila teori yang baru masuk. maka yang lama dianggap gugur). hlm. hasil-hasil 70 Cornelis Anthonie van Peursen. hlm. tetapi kalau tidak dinamakan degeneratif. op.cit.cit. 71 Soedjono Dirdjosisworo. tetapi justru deretan teori-teori ilmiah itu yang dimaksud Lakatos dengan program riset ( esearch program) yang dalam r prakteknya di lapangan tidak boleh dilaksanakan secara fragmentaris.70 Lakatos menyatakan bahwa seluruh bangunan ilmu alam merupakan suatu kompleksitas makro yang intinya seharusnya melawan segala usaha untuk membuktikan salah.teori yang lebih baik. .71 Feyerabend secara tegas mengatakan bahwa antara sejarah ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu pengetahuan mempunyai keterkaitan timbal balik. Feyerabend berpendapat bahwa manusia dewasa ini terkekang oleh semua cara kerja yang telah diperincikan dengan teliti itu dengan hanya berlandaskan pada teori dan hipotesis yang kurang ditopang oleh kenyataan yang terjadi dalam masyarakat. op. khususnya Popper. op.. Dalam Against Method72. 72 Paul Karl Feyerabend. 211.. Feyerabend mengatakan bahwa para ilmuwan tidak bisa melepaskan diri dari latar belakang historis bagi hukum -hukum.

Bahkan yang kini sama sekali tidak ilmiah. 1974). Feyerabend mendesak membuka pintu bagi bermacam -macam model alternatif demi pembaruan suatu ilmu. Kaitan itu dilukiskan oleh Feyerabend sebagai sebuah perkawinan yang cocok (marriage convenience). Philosophy of Science and Historical Enquiry (Oxford: Clarendon Press. ilmu tidak 73 John Losee. prasangka-prasangka epistemologis dan sikap-sikap mereka terhadap akibat-akibat aneh dari teori-teori diterimanya. 90.74 Segala upaya dekonstruksi metodologis Feyerabend dalam filsafat ilmu modern tersebut memberikan perspektif baru tentang hakikat ilmu pengetahuan yang sebenarnya. teknik-teknik matematis. konfirmasi dan teori perbandingan yang diberikan oleh para filsuf berguna baik bagi ilmuwan maupun para pakar sejarah..cit. hlm. atau masih disebut magis sekalipun. hlm. op. Sebab bagi Feyerabend. dan sekaligus juga sebagai penentangan terhadap adanya asumsi bahwa ilmu itu adalah suatu aktivitas rasional yang beroperasi hanya berdasarkan satu atau beberapa metode tertentu. . 74 Cornelis Anthonie van Peursen. misalnya.eksperimen. dengan maksud agar lebih banyak bahan yang bervariasi sifatnya dapat dicakup dalam sistem ilmiah. dapat berfungsi sebagai ancangan alternatif yang merangsang untuk menggantikan metode ilmiah tradisional dan kaku. 4. Pandangan-pandangan maupun kritik-kritik tajam yang dilontarkannya merupakan sebuah reaksi nyata dalam menyikapi kegagalan teori teori ilmiah tradisional yang tidak dapat dibuktikan secara konklusif (meyakinkan).73 Alasannya adalah bahwa analisis-analisis terhadap kejelasan. Dengan semboyan Against Method yang disuarakannya secara ekstrem.

. Hippias.). Hal ini jelas membawa pengaruh yang tidak baik bagi kebudayaan Yunani zaman itu. sedangkan pengertian (pengamatan) awam adalah opini sebagai duplikat yang tidak sempurna.). Orang-orang Yunani merasa jemu terhadap banyak ajaran yang dikemukakan oleh para filsuf pra Sokratik. Akibatnya kebenaran diragukan dan dasar ilmu pengetahuan mulai disanggah. seperti Protagoras (± 480-411 SM. sementara obyek -obyek matematika (obyek akal) merupakan pemikiran dan bayangan yang tidak realistik dari obyek natural. Teori lain (para Sophis) menganggap obye k natural adalah sesuatu yang nyata.mempunyai segi-segi istimewa yang dapat menyatakan dirinya lebih unggul daripada cabang-cabang pengetahuan lain. Munculnya kaum Sophis itu secara tidak langsung memperlihatkan tentang mulai adanya krisis dalam pemikiran filsafat Yunani. Aristoteles menganggap bahwa opini atau hasil pengamatan (menurut Plato) itulah yang benar. Georgias (± 480-380 SM. sedangkan hasil pengetahuan rasional abstrak Plato itu adalah mimpi yang tidak berguna. Prodikos dan Kritias. Kebosanan ini kemudian melahirkan Skeptisisme sebagaimana yang dianut oleh tokoh-tokoh berpengaruh besar kaum Sophis. berasumsi bahwa kesatuan adalah nyata. Apa Saja Boleh (anything goes) Pada zaman Yunani kuno. BAB III PRINSIP-PRINSIP ILMU PENGETAHUAN PAUL KARL FEYERABEND C. Platonisme. hubungan antara kesatuan alam semesta yang teratur (kosmos) dengan pemikiran para filsuf berkembang menjadi teori teori yang berbeda.

Kaum Sophis dengan kritik-kritiknya yang bersifat menjatuhkan telah menjadikan manusia dan segala hal yang berhubungan dengan akal budi pengetahuan sebagai pusat perhatian utama. 1986). Sokrates membenarkan bahwa nilai yang berkembang dalam masyarakat memang tidak dapat tahan terhadap kritik. adalah lawan yang terbesar dari kaum Sophis. Ia membela yang benar dan baik sebagai nilai nilai obyektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua manusia. kaum Sophis menyangkal adanya nilai-nilai universal mengenai prinsip baik dan buruk atau adil dan tidak adil yang terdapat dalam suatu tatanan masyarakat. Heryadi. Semboyan Sokrates yang kemudian lebih populer dengan ungkapan ³ Gnothi 75 Martinus Anton Wesel Brouwer dan M. Tetapi ia juga merasa bahwa nilai-nilai yang ada itu pasti ada yang bergerak menuju kepada tercapainya suatu norma yang bersifat mutlak.Nilai-nilai tradisional dalam bidang agama dan moral dirubuhkan serta kecakapan berpidato di depan umum digunakan untuk memutarbalikkan kenyataan demi kepentingan pihak yang berbicara saja. Sebaliknya. absolut dan abadi. Di sisi yang lain.75 Kelompok ini menolak segala realitas serta mengingkari proposisiproposisi ilmiah dan empirikal. . Sokrates oleh lawan-lawannya dinamakan juga orang Soph meskipun ia sebetulnya is. ³Saya tidak tahu apa-apa. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena Sokrates terus bertekad untuk mempertahankan azas -azas pokok mengenai pengetahuan hidup yang hendak dirongrong dan dirusak oleh kaum Sophis. Sejarah Filsafat Barat dan Sezaman (Bandung: Alumni. sehingga tanpa ragu -ragu ia pun berujar.P. Ia sadar bahwa mengenai satu hal ia lebih tahu daripada kebanyakan orang. 22. tetapi saya juga tidak mengira mengetahui sesuatu´. Anehnya. hlm.

Aliran Sophis inilah yang pada akhirnya menimbulkan revolusi intelektual di Yunani. Sejarah Filsafat. yakni tentang µAda¶. harus diakui pula bahwa aliran Sophis mempunyai pengaruh yang positif pada kebudayaan Yunani. hlm. 2000).76 Kaum Sophis membantah adanya norma-norma moral-etis yang berlaku terus-menerus. Kaum Sophis menciptakan gaya bahasa baru yang sangat mempengaruhi para sejarawan dan penulis drama Yunani.Seauton´ (Kenalilah dirimu) ini menyiratkan bahwa ia mencintai kebijaksanaan dan bukan untuk menguasainya. Setiap persoalan digagas atau dirancang dalam satu sistem kehidupan yang dialogis dan kritis. Kesalahan mereka adalah bahwa ukuran dari nilai kebenaran yang mereka ajukan itu hanya sebatas pengamatan yang nampak dari bagian permukaan luarnya saja. Ilmu dan Teknologi (Jakarta: Rineka Cipta. 76 Burhanuddin Salam. Plato dan Aristoteles. Namun begitu. . Pemikiran Yunani sendiri ditandai oleh ketergantungan pada akal sehat (common sense) manusia (human reason) dalam memecahkan berbagai macam persoalan. Dan yang paling penting adalah mereka menyiapkan kelahiran suatu genre pemikiran filsafat baru yang direalisasikan oleh tiga mahaguru filsuf terkemuka Yunani Kuno. 42. Kaum Sophis juga menempatkan manusia sebagai obyek pemikiran filsafat dan meletakkan dasar bagi pendidikan untuk para pemuda secara sistematis. yakni Sokrates. Padahal menurut Sokrates. sehingga peranan akal sehat dan logika diakui sangat penting. kesadaran akan adanya hakikat yang mutlak itu justru berada dalam jiwa manusia yan g selalu berpikir serta berusaha mencari dan menyelidiki problem mendasar dari filsafat.

Implikasi filosofisnya. abstrak dan teknis. bahwa semua realitas yang terjadi dalam fenomena alam semesta ini dilihat dari segi kehendak Tuhan sebagai prima causa yang menggerakkan dan mengendalikan segala kejadian yang ada. Implikasi teologisnya. yang berusaha untuk mencari dasar realitas arche) dalam ( berbagai unsur kosmos atau alam raya. karena manusia dianggap . sehingga mampu melahirkan sejumlah perubahan mendasar dalam cara berpikir manusia atas dunia beserta karakteristiknya. disingkirkan oleh pandangan teosentris Abad Pertengahan melalui suatu pemahaman. Dogmatisme tersebut telah cukup untuk meluluhlantakan bermacam nilai humanisme. sehingga setiapkali terjalin hubungan dengan akal sehat. pada saat itu juga terjadi perpecahan.Sejak filsuf Yunani Kuno berusaha meruntuhkan mitos dengan mengedepankan logos. Dominasi kosmosentris yang menjadi sifat dasar Yunani Kuno. berbagai pergolakan dan sekaligus pembongkaran atas pemikiran manusia pun kemudian bermunculan sebagai suatu respons positif terhadap berbagai usaha yang dilakukan oleh para filsuf Yunani Kuno tersebut. yang memegang peran pada Abad Pertengahan ini adalah dogmatisme gerejani dengan beragam tafsir keagamaannya yang meminggirkan peran akal dalam menjelaskan dunia dengan berbagai permasalahannya. misalnya. pemikiran manusia seolah -olah mememukan eksistensinya kembali. Inilah sebenarnya awal dari kesalahan persepsi dalam perjalanan ilmu sejarah ilmu pengetahuan seakan-akan berikutnya telah yang serngkali i sedemikian menempatkan pengetahuan menjadi matematis.

Dance of God. kecuali hanya sebagai viator mundi (sekedar penziarah di muka bumi). dalam Win Usuluddin Bernadien (ed.78 Selanjutnya pada zaman Renaissance. obyektivitas dan penguraian logis. 1711-1776)´. memang ditujukan untuk menumbuhkan dan menjelaskan alam pikiran Eropa yang terjadi pada saat itu. Sebab pada awal kemunculannya.77 Meskipun banyak pihak yang menilai bahwa Abad Pertengahan sebagai masa kebodohan dan kegelapan dalam sejarah dunia filsafat. tetapi Galileo. ³Sains dan Problematika Ketuhanan Abad Pencerahan (Hampiran Empirisme Radikal David Hume. Johannes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1642)²barangkali²menjadi orang pertama yang berusaha untuk memberikan cara pandang yang relatif baru bagi perkembangan sains. Filsafat Skolastik (Jakarta: Pustka Alhusna. pendulum epsitemologis kembali pada empirisme. terutama 77 Listiyono Santoso.tidak mempunyai peran apapun di atas dunia. 82. hlm. 1983).). kategori dan analogi yang didasarkan pada ketelitian. hlm. Nikolaus Copernicus (1473-1543). dan penafsiran -penafsiran filosofis yang terdapat dalam filsafat modern pun tidak mungkin ada dan berkembang tanpa berkiblat kepada konsep awal filsafat skolastik. 84. Kepler dan Newton justru mendukungnya. Kebudayaan modern sendiri tidak dapat melepaskan diri dari kebudayaan Abad Pertengahan. namun begitu kemunculannya telah berusaha mewariskan suatu kebudayaan baru dengan ciri cirinya yang khas. Giordano Bruno. 78 A. Tarian Tuhan (Yogyakarta: Apeiron-Philotés. Hanafi. pemahaman Filsafat Skolastik (filsafat yang diajarkan di sekolah-sekolah)²yang pada Abad Pertengahan terkenal dengan nama Filsafat Eropa²tentang definisi. 2003). walaupun para ilmuwan dan filsuf Aristotelian berupaya keras bersama tokoh gereja mengecam bahwa pandangan Copernicus tidak rasional. .

bahkan pada tataran tertentu dengan penuh kepercayaan diri dan kesadaran penuh terhadap otonomi dan kebebasan alamiahnya untuk berpikir dan bertindak berdasarkan kemampuannya tersebut. 1996). yang sempat diberangus oleh dominasi otoritas gerejani Abad Pertengahan. 80 . 11. alih bahasa Soejono Soemargono. Harun Hadiwijono. Kepler mengajarkan tentang tenaga mekanis yang menghasilkan perubahan-perubahan kuantitatif. Renaissance itu sendiri adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman saat manusia merasa diri dan alam pikirannya telah dilahirkan kembali dalam keadaan bebas dan beradab berdasarkan logika serta otoritas yang utuh sebagai subyek yang berpikir. Manusia kembali kepada sumber yang murni bagi pengetahuan dan juga keindahan. 1980). dan mengajukan prinsip kelambanan. Pengantar Filsafat. yaitu prinsip yang menyatakan bahwa sebuah benda cenderung untuk diam atau bergerak di tempat ia berada.79 Secara historis. hlm. Bruno. Sedangkan Kepler menolak ajaran gerakan alami.dengan teori heliosentrisnya yang menggugurkan paham geosentris tentang pusat tata surya. subyek juga dapat 79 Louis O. 269. misalnya. kecuali apabila ia dipengaruhi oleh suatu benda yang terdapat di sekitarnya. Subyek bukan saja mempengaruhi realitas. (Yogyakarta: Tiara Wacana. hlm. Kattsoff.80 Manusia²pada abad ini²dianggap telah menemukan kembali subyektivitasnya yang menjadi titik acuan pengertian realitas. Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius. memahami alam semesta ini sebagai sesuatu yang tidak terbatas dan tidak menentu serta tidak terhitung jumlahnya dalam ruang dan waktu yang bergerak berdasarkan hukum-hukum yang sama.

³Descartes. Hiper-Realitas Kebudayaan (Yogyakarta: LKíS. Dalam terminologi Hegel (1770 -1832)81 manusia bukan lagi dipahami sebagai substansi melainkan subyek yang mempunyai pusat . sementara Kebenaran Ideal itu sendiri juga selalu dalam proses µmenjadi¶. hlm. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis (Yogyakarta: Kanisius. 19990). melainkan dari diri manusia sendiri . dalam F. kesadaran kritis untuk selalu membenturkan diri terhadap realitas dan dunia. maka pengetahuan dianggap tidak lagi berasal dari Kitab Suci atau dogma Gereja. 2002). Modernitas sebagai produk dari Filsafat Pencerahan. disebabkan ketidakpercayaan pada spirit dan hukum alam. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman (Yogyakarta: Kanisius.menciptakan realitas itu sendiri.82 Dengan pola pemikiran yang demikian itu. dan juga bukan berasal dari 83 kekuasaan feodal. Tradisi khas dari filsafat abad ini terletak pada mainstream 81 Franz von Magnis-Suseno. Hume dan Kant. . menurut Hegel melibatkan sang subyek dalam proses dialektik pembaharuan secara konstan dunia realitas. 83 Nico Syukur Dister. Mudji Sutrisno dan F. 82 Yasraf Amir Piliang. 17. 55. hlm. hlm.). Budi Hardiman (ed. subyek selalu terlibat dalam proses bergerak ke depan²subyek selalu mengacu pada nilai-nilai Kebenaran Ideal. Rasionalisme dan empirisme inilah yang kemudian menjadi arus utama filsafat yang paling dominan dalam perkembangan pemikiran manusia abad Renaissance dan dilanjutkan serta mencapai puncaknya pada abad ke-17 yang dikenal dengan Abad Pencerahan (Aufklärung). 60. 1992). Perubahan yang dihasilkan dari proses bergerak ke depan dan proses µmenjadi¶ inilah yang oleh subyek modern itu sendiri dinilai sebagai kemajuan. Tiga Tonggak Filsafat Modern´.X. Dalam penciptaan dunia obyek-obyek dan dalam pencarian nilai-nilai. yaitu melalui rasio (rasionalism) dan pengalaman (empirism).

Yang ditentang oleh aliran filsafat ini adalah suatu hierarki atas dasar wahyu Tuhan dan mendukung ideologi dari pluralisme politis dan religius. manusia dianggap sanggup mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia ini.utamanya dalam menempatkan akal atau rasio dan pengalaman manusia sebagai sumber tertinggi untuk mencapai kebenaran. Selain itu. Filsafat Pencerahan merupakan suatu ideologi yang mengiringi perkembangan tingkat borjuasi di Eropa dan sekaligus kemunduran bagi simbol budaya feodalisme. Hal itu disebabkan oleh adanya pengertian baru bahwa dengan akal dan metode ilmiah yang dimilikinya. Filsafat Pencerahan adalah suatu bentuk rasionalisme empiris yang berusaha menyangkal pendapat seperti yang sering diutarakan oleh banyak pihak bahwa Filsafat Pencerahan hanya terdiri dari sekumpulan fakta-fakta kecil yang tidak mempunyai kesatuan dan corak yang khusus. metode eksperimental dalam ilmu alam dan kimia menjadi metode utama yang sangat . Sebab dalam Filsafat Pencerahan itu terdapat dua aras pemikiran penting: orang menciptakan ilmu nyata (positif) tentang corak jiwa manusia (ilmu jiwa rasional) dengan mempelajari daya psikis. terutama bahasa. Filsafat Pencerahan juga mengusung suatu perspektif epistemologi baru dengan menempatkan ilmu pengetahuan sebagai urusan kolektif masyarakat yang tidak mempunyai batas-batas tertentu selain daripada pengamatan seluas dunia nyata yang selalu menampakkan diri sebagai realitas empirik. Disamping itu. Jadi filsafat dituntut harus kembali berpatokan pada dua nilai utama yang dianut dalam masyarakat: hal yang berguna dan kesejahteraan manusia.

86 The Liang Gie.84 Semboyan µsapere aude¶.86 84 M.dihargai dan digunakan secara silih berganti serta saling melengkapi satu sama lain. Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty. 47.A. 85 Sebagaimana dikutip oleh Harun Hadiwijono. op. 75-77. . Dengan demikian. Brouwer dan M. maka pengertian filsafat alam mulai memperoleh arti khusus sebagai penelaahan yang sistematis terhadap alam dengan menggunakan metode -metode yang diperkenalkan oleh para pembaharu dari zaman Renaissance dan awal abad ke17. bahwa paruh Abad Renaissance dan Abad Pencerahan sendiri memang telah dipenuhi dengan berbagai revolusi ilmiah yang sangat mengagumkan lewat berbagai pemikiran dan penemuan manusia secara spektakuler dan monumental. 1999). Francis Bacon dan pada abad berikutnya Rene Descartes dan Isaac Newton telah berhasil memperkenalkan metode matematik dan metode eksperimental untuk mempelajari alam.W. Heryadi. karena manusia telah merasa bebas. hlm. beranilah berpikir memberikan suatu spirit baru bagi cita-cita kemanusiaan. Voltaire85 menyebut Abad Pencerahan sebagai ³Zaman Akal¶.P.. hlm. Sebab sebagaimana kita ketahui. Dua azas itu memungkinkan kita mengerti bahwa terdapat suatu sej rah akal a manusia yang universal sejajar dengan universalitas dari pengamatan dan pengalaman. hlm. Tokoh -tokoh pembaharu dan pemikir seperti Galileo Galilei..cit. op. 13.cit. merdeka untuk menginterpretasikan setiap kejadian yang ada secara berbeda atau bahkan baru sama sekali tanpa memerlukan lagi intervensi tiap kuasa yang datang dari luar kemampuan dirinya.

cit. Galile sampai pada sebuah o kesimpulan bahwa Jupiter merupakan model miniatur dari prinsip heliosentris. melainkan memantulkan cahaya matahari seperti halnya bulan. hlm. Dimensi-dimensi kehidupan sehari-hari telah pula mengalami perubahan drastis dengan cara dan teknik yang tidak disangka sebelumnya. penemuan teleskop dari Galileo Galilei semakin memperkuat kebenaran teori heliosentrisnya Copernicus.. Galileo memastikan bahwa planet-planet tidaklah bercahaya sendiri. 88 Burhanuddin Salam. Alam hendaknya diselidiki dengan memakai pengertian matematika. Lewat pengamatan astronomis itu pula. sehingga dengan demikian ia juga telah berhasil menciptakan ilmu pengetahuan kinetika (ilmu tentang gerak) yang bersifat linear-lurus. hlm. Dengan teropong jarak jauhnya. op. van Melsen. melainkan mataharilah pusatnya. . terj. Kees Bertens (Jakarta: Gramedia. 6-7.G.88 87 A. bahwa bukan bumi sebagai pusat gerakan dari tata surya. 159.Perkembangan ilmu pengetahuan dari yang semata-mata bersifat rasionalempiris menuju ilmu pengetahuan yang bersifat rasional-eksperimental ini telah mengakibatkan ditemukannya kegunaan praktis ilmu pengetahuan dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan dan impuls-impuls baru. percepatan dan jarak yang ditempuh dalam jangka waktu tertentu. Pada sisi lain. 1992).M. setiap kenyataan pasti bersifat kualitatif dan dapat diukur.87 Galileo Galilei mengawali penjelasannya tentang suatu perkembangan baru sains ketika ia membuat suatu aliansi (pengggabungan) antara matematika dengan observasi eksperimen. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita. Galileo juga meletakkan dasar hukum-hukum yang menghubungkan kecepatan.

dan sebagainya. Melalui penemuan inilah Galileo kemudian berusaha memberikan keyakinan bahwa kebenaran pengetahuan terletak pada persoalan yang obyektif. atas dasar observasi dan hitungan matematis. Tragisnya. seolah telah menjadi awal bagi tersingkirnya doktrin keagamaan.Apa yang diintrodusir dan diwariskan oleh teori heliosentris ini adalah babak baru bagi kebenaran logis rasionalisme dan empirisme yang meruntuhkan kebenaran dogmatisme agama saat itu. Charles Darwin dengan teori evolusinya. ahli astronomi dan fisika Italia ini pada tahun 1633 justru dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Gereja Roma di bawah kekuasan Paus Urbanus VIII. seorang pastor yang meninggal pada tahun 1543. karena dituduh telah menyebarkan ajaran heliosentrisme dari Copernicus. Berbagai pendekatan dan juga penemuan sains oleh para filsuf dan ilmuwan abad ini. Pendapat dan perjuangan yang telah dirintis oleh Galileo itu kemudian disempurnakan secara sistematis oleh Isaac Newton (1642-1727) yang menjelaskan bahwa alam sebagai mesin besar yang berjalan sesuai dengan hu kum gerakan dan segenap proses yang terjadi di dalamnya ditentukan oleh massa dan posisi yang dimiliki oleh berbagai partikel materi yang terdapat di dalamnya. Prinsip mekanika tentang gerak alam ini berimplikasi logis bahwa dunia . seperti Francis Bacon (1561-1626) dengan metode induktif sebagai landasan empirismenya. Galileo Galilei dengan pengembangan prinsip heliosentrisnya Copernicus. Alam bagi Galile merupakan satuo satunya sumber pengetahuan ilmiah sehingga ia memposisikan antara alam sebagai sumber pengetahuan ilmiah dengan Kitab Suci sebagai pengetahuan teologi dalam derajat yang sama.

Melalui metode empirismenya pula. tetapi berputarputar. Fenomena ini dalam pandangan Newton tidak mungkin terjadi seandainya tidak ada kekuatan gravitasi. Newton berpendapat bahwa suatu planet bergerak 89 mengitari matahari karena adanya gaya gravitasi yang keluar dari matahari. 1996). 38. Berbagai prinsip ini pulalah yang kemudian mempengaruhi dan dijabarkan oleh 89 Joko Siswanto. Bacon menerangkan prinsip empirisme bahwa untuk menyusun ilmu pengetahuan yang diperlukan adalah pengumpulan fakta pengalaman sebanyak mungkin ya ng kemudian dianalisis mengenai kesamaan yang terdapat diantara berbagai fakta tersebut. Newton menyatakan bahwa semua benda langit saling tarik menarik dengan gaya yang berbanding lurus dengan massanya serta berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya. dan Tuhan yang semula diyakini begitu intim dengan manusia mulai dicurigai sebagai remote control yang jauh letaknya dari dunia nyata. Prinsip yang sederhana ini telah mampu menerangkan berbagai garis orbit yang sangat kompleks bagi berb agai planet di sekeliling matahari. Sementara itu.diciptakan seperti sebuah mesin dengan hukum mekanikanya. Dari gejala inilah Newton kemudian memperoleh hukum gravitasi yang menetapkan bahwa planet planet tersebut tunduk pada kekuatan sentral. Kosmologi Einstein (Yogyakarta: Tiara Wacana. Bacon mempercayai bahwa apa yang akan datang dapat diramalkan kejadiannya atas penemuan yang lampau. Francis Bacon sebagai peletak dasar Abad Renaissance merupakan tokoh yang mempertajam empirisme dengan mendasarkan semua pengetahuan dan sains atas dasar pengalaman. hlm. . jauh sebelum Isaac Newton. yaitu gravitasi. Newton melihat bahwa planet-planet tidak berjalan lurus.

³gerak mundur tak terbatas adalah mustahil´. doktrin rasional membagi pengetahuan menjadi dua macam. seperti: ³bumi itu bulat´. Secara khusus. ³benda-benda logam itu memuai oleh panas´. Pertama adalah pengetahuan intuitif. dan ³satu adalah separuh dua´. tradisi tersebut²dalam banyak hal²secara alamiah mempengaruhi cara manusia mempersepsi diri dan mendorong mereka untuk meninjau kembali hubungan dengan Realitas Tertinggi yang biasa disebut Tuhan. misalnya: ³tidak mungkin terjadi suatu peristiwa tanpa suatu sebab´.Newton dengan teori gravitasi universalnya sebagaimana yang telah penulis uraikan di atas. Dengan demikian sesungguhnya dapat dikatakan bahwa Abad Renaissance dan Pencerahan merupakan dua mata rantai perkembangan ilmu pengetahuan yang menggunakan dua arus besar dalam tradisi filsafat. ³gerak adalah sebab terjadinya panas´. ³keseluruhan lebih besar daripada sebagian´. artinya akal mesti mengetahui dan mengakui tentang kebenaran suatu proposisi tertentu tanpa harus mencari dalil pembuktiannya. Berdasarkan pandangan rasionalisme. Sejarah Tuhan. Zaimul Am (Bandung: Mizan. terj. 2001). 383. Maksud nya adalah bahwa akal tidak dapat mempercayai dan menilai kebenaran suatu proposisi. yaitu rasionalism dan empirism. Menurut Karen Amstrong90. hlm. Yang kedua adalah pengetahuan informasi dan teoretis. kecuali dengan merujuk kepada proses pemikiran dan bantuan informasi informasi pengetahuan primer lain. . kriteria pertama bagi benar salahnya setiap gagasan manusia adalah pengetahuan rasional yang bersifat pasti dan 90 Karen Amstrong.

Bahwa materi itu memilki i asal. Akhirnya mesti diingat bahwa doktrin rasional tidak bersikap masa bodoh terhadap peran eksperimen dalam penarikan kesimpulan dan pencarian hakikat pengetahuan. paham empirisme menunjukkan bahwa pengalaman adalah sumber pertama semua pengetahuan manusia. sehingga cakupan wilayah pengetahuan manusia menjadi lebih luas daripada batas-batas indera dan eksperimen. Tetapi doktrin rasional yakin bahwa eksperimen saja tidak mungkin menjadi sumber azasi dan kriteria primer bagi pengetahuan. Demikian juga halnya dengan masalah penalaran pikiran yang menurut mereka selalu berangkat dari yang khusus ke yang umum. dari yang universal ke yang partikular. Sebaliknya. bahkan sampai kepada aspek-aspek metafisis sekalipun. Perjalanan pikiran manusia. Aliran pemikiran ini menolak prinsip logika silogistik yang berpatokan dari yang . ³setiap yang berubah pasti memiliki asal´ ke proposisi partikular ³materi itu memiliki asal´. yaitu dari batas-batas eksperimen yang sempit ke hukumhukum dan prinsip-prinsip yang universal.mengandung prinsip nonkontradiksi. sebab ia merupakan metode yang bergerak dari yang partikular ke yang universal. menurut kaum rasionalis berpijak dari proposisi umum menuju ke proposisi yang lebih khusus. selalu beranjak dari realitas khusus empirikal ke realitas yang mutlak berdasarkan hasil pengalaman. Karena itu. doktrin empirisme dalam mencari dalil berpikir bersandar pada metode induksi. Ia memberikan potensi-potensi kepada pikiran manusia untuk dapat menjangkau dan merealisasikan realitas-realitas dan proposisi-proposisi di balik materi. Jadi pikiran itu bergerak dari proposisi universal. kita ketahui dari ³bahwa setiap yang berubah pasti memiliki asal´.

dan juga tentang hakikat serta peran Tuhan. dari Inggris diberikan jalan oleh Francis bahwa pengalaman merupakan sumber kebenaran yang terpercaya. Berbagai penemuan di bidang sains dan teknologi²dalam kenyataannya²memberikan kontribusi yang cukup besar bagi tumbangnya otoritas keagamaan dan mulai mengguncang paham keyakinan keagamaan manusia. Rasionalisme dan empirisme yang begitu mendominasi alam pikir Abad Renaissance itu memunculkan persoalan baru berupa ketegangan antara agama dan ilmu pengetahuan dan teknologi. yang dilanjutkan dan dirubah secara radikal oleh empirisme Abad Pencerahan seperti John Locke (1632-1704) dengan teori tabularasa-nya. Sedangkan pembukanya empirisme yang bermula Bacon. Ukuran an rasional dan empirik telah menyempitkan kesadaran kebenaran agama dan pembuktian adanya Tuhan sehingga dianggap memberikan ketidakpastian dan kebingungan. Baruch Spinoza (1632-1677) dengan ajarannya tentang satu substansi yaitu Tuhan yang dapat ditangkap oleh akal atau rasio manusia. bahwa pada mulanya rasio harus dianggap as a white paper dan . Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Descartes (1596-1650) dengan cogito ergo sum-nya. karena dalam pembuktian dan kesimpulan akhirnya ternyata tidak menghasilkan pengetahuan baru yang tidak terkandung dalam rumus premis-premis silogisme tersebut. Ia beranggapan bahwa segala kejadian di dunia ini berjalan menurut suatu proses yang logis.umum ke yang khusus. karena dalam dunia tidak ada hal yang bersifat rahasia dan akal manusia telah mencakup semuanya.

1983). Sebab kita selamanya tidak akan dapat melampaui halhal di luar batas kemampauan rasio kita sendiri. sebaiknya kita pusatkan saja perhatian kit ke alam luar sesuka a kita. C. tidak mungkin mengkonsepsikan atau menciptakan suatu gagasan tentang realitas jika gagasan itu ternyata berbeda dengan konsep-konsep dan reaksi-reaksi itu sendiri. lanjut Hume.92 Baginya. 92 . Th. Nederlandse. 1983). Berbagai cita rasa hasil dari kombinasi penangkapan. Filsafat Ensie: Eerste. yaitu David Hume (1711-1776) juga menggunakan prinsip empiristis. Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius. Systematisch.91 Tokoh empirisme yang paling radikal. Encyclopaedie (Bandung: Jemmars. pengalaman dan kesadaran itu adalah suatu perasaan atau naluri pembawaan yang berada di luar kekuasaan akal..F. Kita juga mustahil mampu menjawab persoalan dasar filsafat yang dipertentangkan oleh kaum idealis dan kaum realis. Hume tidak menerima substansi. Oleh karena itu. baik pengalaman lahiriah ( ensation) dan s pengalaman batiniah (reflexion). Hume berpendirian bahwa gambaran dan pengertian kita terhadap hubungan logis antara peristiwa-peristiwa yang terjadi secara kausal-mekanis hanya merupakan salinan yang sesuai dengan aslinya. terutama dalam hal penolakannya terhadap substansi dan kausalitas. A. sebab yang dialami hanya merupakan kesan sa tentang beberapa ciri ja yang selalu terdapat bersama-sama. Ingerichte. hlm.seluruh isinya berasal dari pengalaman. 244-245. Stockum dan Juntak S. Kepastian tentang nilai obyektif pengetahuan manusia merupakan masalah yang tidak bisa dijangkau oleh nalar. Idealisme sendiri berpendapat bahwa realitas itu ada dalam kesadaran dan pengetahuan 91 Sutardjo Adisusilo. Epping. dan biarkan imajinasi kita menjelajah langit-langit atau ujung-ujung alam semesta. 43. hlm.

. sekelompok elit.cit. Penemuan sains dan teknologi pada masyarakat Barat tersebut membawa sinyal otonomi baru 94 bahwa manusia sebagai penanggungjawab atas urusan mereka sendiri .²bahkan wahyu dari Tuhan²untuk menemukan hakikat kebenaran. dan sains yang telah ditemukan oleh para ilmuwan merupakan bukti empiriknya. hlm. ateis dan anarkis karena suka menyobek selubung -selubung 93 Muhammad Baqir Ash-Shadr. . Kepercayaan diri yang baru terhadap kekuatan alamiah manusia ini mengandung arti bahwa manusia mulai yakin bahwa mereka mampu mencapai pencerahan lewat usaha mereka sendiri. Apa yang diterima sebagai kebenaran dogma keagamaan. 384. Muhammad Nur Mufid bin Ali (Bandung: Mizan. Falsafatuna.. Mereka sudah tidak lagi merasa perlu untuk bersandar pada warisan tradisi.manusia. pada abad ini benar-benar mulai dipertanyakan dan ditinjau kembali. institusi.93 Keberhasilan pembuktian ilmiah melalui rasionalisme dan empirisme telah menggeser kedudukan otoritas pengetahuan berdasarkan kebenaran wahyu yang dianggap abstrak. 90. 386. terj. op. hlm. sementara kaum realisme menduga bahwa realitas itu ada secara obyektif dan mandiri. Paradigma sains yang demikian telah cukup menjadi pertanda konkrit betapa Abad Renaissance yang kemudian dilanjutkan oleh Abad Pencerahan telah menimbulkan ketegangan kreatif antara agama dengan filsafat. Filsafat sering dituduh sekularistik. 1998). termasuk agama dan Tuhan.95 Kekuatan alamiah yang dimiliki manusia dianggap telah cukup representatif untuk menemukan semua jenis kebenaran. hlm. 95 Ibid. 94 Karen Amstrong.

termasuk yang tersembunyi dalam pakaian yang alim sekalipun. Pada Abad Renaissance. Tetapi ia juga cukup banyak menyodorkan bukti bahwa rasionalitas itu sendiri bukanlah suatu yang mapan. bumi menjadi pusat dari bulan. Saturnus dan Venus) serta semua bintang lainnya di langit. Permasalahan di atas lantas diangkat oleh Feyerabend untuk menunju kkan bahwa perdebatan seputar rasioalisme dan empirisme telah berlangsung sepanjang pemikiran filsafat itu muncul.) tentang bumi itu bulat dan berputar tidak rasional menurut Hipparchus dan Ptolemeus. Dalam pandangan Ptolemeus. Feyerabend ingin menolak kedua posisi yang ekstrem itu. sementara pada Abad Pencerahan.ideologis berbagai kepentingan duniawi. Mars. terutama di Abad Pencerahan yang bersifat empiris. Mercury. tetapi kemudian rasional lagi pada masa Copernicus. Spirit ilmiah baru. Melalui metode empirismenya. semata-mata berdasarkan observasi dan eksperimen pada akhirnya berimplikasi logis bahwa fenomena dan problem ketuhanan pun harus diletakkan pada domain empiris. matahari dan lima bintang yang telah dikenal luas pada saat itu (Jupiter. para ilmuwan dan filsuf melakukan verifikasi atas realitas obyektif Tuhan dengan cara yang sama seperti ketika mereka membuktikan fenomena lainnya yang bisa didemonstrasikan. Misalnya ia menunjukkan bahwa teori Pythagoras (± 580-500 SM. otoritas agama benar-benar telah ditinggalkan. walaupun dalam argumen-argumennya yang menonjol adalah berupa kritik terhadap empirisme dan positivisme ilmiah. Peredaran bintangbintang yang tampak bergerak mundur dari bumi dijelaskan oleh Ptolemeus . otoritas agama dan peranan Tuhan dipertanyakan kembali.

Ketujuh. bumi setiap hari mengelilingi porosnya sendiri. Filsafat Alam Semesta (Semarang: Bintang Pelajar. tidak ada sentrum bagi seluruh bola-bola langit.cit. bola-bola planet bergerak mengelilingi matahari sebagai sentrumnya. Dalam teori ini. tetapi bukan merupakan sentrum kosmos. Keempat. Kedua.96 Sehingga tidak heran jika dari berbagai rumusan metode ilmiah yang dihasilkannya tersebut. op. bumi meskipun dipandang sebagai pusat gravitasi. Kelima.. Tesis geosentrisme (matahari beredar mengelilingi bumi dan planet) Ptolemeus ini kemudian berangsur-angsur mulai surut sejalan dengan munculnya Revolusi Copernicus yang diprakarsai oleh Copernicus yang berusaha meyakinkan semua orang bahwa sebenarnya mataharilah yang menjadi pusat orbit bintang-bintang dan bumi sendiri mengelilingi matahari sebagaimana halnya bintang-bintang lainnya. hlm.dengan teori Epicycle. Ketiga. Baca juga dalam Androngi. Pertama. 110. gerakan bumi memberikan pemahaman adanya gerakan benda -benda langit. setiap planet bergerak pada suatu lingkaran yang titik pusatnya bergerak pada suatu lingkaran lain ya pusatnya juga adalah ng bumi. Keenam. 11. Teorinya tentang bumi sebagai pusat dari peredaran bintang -bintang termasuk matahari sangat berpengaruh besar sampai pada Abad Pertengahan dan Masa Pencerahan. Copernicus berhasil menyusun tujuh hipotesis yang berkaitan dengan alam. . 1986). gerakan bumi menunjukkan lebih dari satu macam. hlm. ia kemudian dianggap ole para ahli ilmu pengetahuan h 96 Joko Siswanto. jarak antara bumi ke matahari tidak bisa diukur melalui luas cakrawala ruang angkasa.

akhirnya terungkap bahwa ilmu bumi benar dan pandangan kitab suci mengenai langit dan masalah beredarnya matahari pada bumi tidak dapat dipertahankan lagi. 2003). 1998). Tentu banyak orang dewasa ini tanpa pikir panjang akan memilih teknologi daripada kehidupan yang harmonis dengan alam. Paul Feyerabend: Penggagas Anti-Metode (Jakarta: Teraju. Akhyar Yusuf Lubis. akan memilih dan mendahulukan hubungan personal daripada hubungan abstrak seperti kepandaian ataupun efisiensi yang statistik. itu tergantung pada jenis informasi.97 dewasa ini sebagai peletak dasar dari Ilmu Bintang modern. hlm.98 Tetapi dari hasil diskusi yang membuat heboh itu. 71. hlm. Idealisme berpendapat bahwa rasionalitas 97 The Liang Gie. Walaupun di pihak yang lain. 98 . pengharapan dan cinta kasih sebagai nilai-nilai tertinggi. Mungkin kesalahan pihak Gereja Katolik pada waktu itu adalah mereka memandang kitab suci sebagai sumber dan pedoman segala ilmu dalam arti sempit dan keras. Lalu dari semua itu siapa yang benar? Menurut Feyerabend. budaya ataupun pemimpin budaya yang menggunakan informasi tersebut. 118. Tetapi bagi sebuah kebudayaan yang memusatkan perhatian manusia dan kemanusiaan pada tempat tertinggi. Padahal kitab suci adalah suara Tuhan yang mengajak umat manusia menuju iman. Lintasan Sejarah Ilmu (Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna. ia menolak pandangan idealisme dan naturalisme. Feyerabend adalah penganjur pluralisme metodologi. ³secara sah dianggap sesat´ jika dikontradiksikan dengan ajaran Kitab Suci (Bibel) dan pandangan Gereja. ternyata gagasan heliosentrisme (bumi dan planet planet beredar mengelilingi matahari) Copernicus dalam bidang sains dan filsafat tersebut .

Feyerabend mengemukakan pandangannya tentang relativisme dalam konteks ilmu pengetahuan. 2004). agung. Sehingga di dalam penjelajahan pengetahuan tidak diperlukan metode atau paradigma umum. tidak ada rasionalitas yang tidak terkait dengan konteks. Contoh -contoh yang dikemukakan oleh Feyerabend membuktikan bahwa tidak ada teori yang mengandung cacat. . Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna (Yogyakarta: Jalasutra. Baik rasionalisme maupun empirisme mendukung rasionalitas yang menurutnya universal dengan cara yang berbeda. nilai. terlepas dari subyektivitas. yang di dalamnya semua hal (pandangan. kebenaran. bersifat universal. makna) mengandung arti kebenaran relatif. keyakinan.adalah asli. konteks dan historisitas. yang berlaku dan menjadi acuan umum sebuah masyarakat peneliti. semua cara mendapatkan pengetahuan dianggap boleh. Atas dasar itu. tidak ada hal yang benar secara 99 Yasraf Amir Piliang. Artinya. 235. tidak ada teori yang sepenuhnya konsisten dengan fakta. Relativisme dalam ilmu pengetahuan memungkinkan setiap orang melakukan penelitian tanpa perlu terikat pada sebuah metode yang telah baku. yang di dalamnya semua pendekatan dan metode dianggap sah. sangat dipahami apabila Feyerabend menolak kesatuan metode ilmu pengetahuan. Tetapi anggapan ini sesungguhnya tidak dapat dibenarkan. yang di dalamnya apapun saja boleh²anything goes.99 Itulah sebenarnya penjabaran makna relativisme pengetahuan sebagai sebuah pandangan yang meyakini bahwa nilai dan keben aran ditentukan oleh pandangan hidup dan kerangka berpikir setiap individu atau masyarakat. semua pengetahuan yang dihasilkannya dianggap mengandung kebenaran. hlm.

seorang atau suatu masyarakat tertentu.absolut. menunjukkan suatu relativisme dalam hubungannya dengan individu -individu. atau apa yang dihargai oleh. ³tidak ada standar yang lebih tinggi daripada persetujuan masyarakat bersangkutan´. Sebab tujuan mencari pengetahuan akan tergantung pada apa yang penting bagi. Kaum relativis menyangkal adanya suatu standar rasionalias universal dan t a-historis yang merupakan pedoman untuk menilai suatu teori lebih baik daripada teori lainnya. ³manusia adalah ukuran segala -galanya´. Selalu mungkin bahwa eksperimen-eksperimen baru yang menyelidiki lapisan-lapisan baru dari kenyataan atau struktur realitas. Berbagai penemuan aspek eksperimental dalam bidang ilmu pengetahuan semakin meneguhkan keyakinan kita bahwa suatu teori tidak penah dapat bersifat definitif. merupakan pernyataan relativisme mengenai masyarakat. semuanya mengandung porsi kebenarannya masing-masing. masyarakat kapitalis Barat memberikan penghargaan yang sangat tinggi pada tujuan penguasaan materiil atas kekayaan alam. memaksa kita untuk merevisi teori-teori yang sudah lazim diterima. Diktum seorang filsuf Yunani Kuno. tetapi hal itu akan memperoleh status yang rendah dalam satu kultur dimana pengetahuan justru diharapkan dapat memberikan kepuasaan individual. Apa yang dianggap paling akurat atau lebih baik mengenai teoriteori ilmiah akan berbeda-beda dari individu atau mayarakat yang satu dengan yang lainnya. Protagoras. sedangkan ucapan Kuhn. Karakterisasi kemajuan dan spesifikasi kriteria untuk menilai jasa atau faedah suatu teori akan selalu relatif bagi individu atau masyarakat yang . dan sebaliknya tidak ada hal yang salah secara absolut. Misalnya.

Jadi contohnya. 33.100 Menurut Feyerabend. oleh sementara kalangan dianggap propaganda belaka. hlm.F. It may be needed to overcome the chauvinism of science that resists alternatives to the status quo. kriteria untuk menilai faedah teori-teori akan tergantung dari nilai-nilai atau kepentingan yang dianut oleh suatu individu atau masyarakat. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books. Ini boleh jadi dibutuhkan untuk menghilangkan chauvinisme sains yang menolak pemikiran lain.menginterpretasikannya. however ancient and absurd. hlm. that is not capable of improving of knowledge. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya (Jakarta: Hasta Mitra. Nor is political interference rejected. teori tentang pasang surut air laut berdasarkan pada gaya tarik bulan adalah ilmu yang berguna bagi kaum Newtonian. selain mempertahankan satus quo. Totalitas sejarah pemikiran diarsobsikan (dituangkan) ke dalam sains dan dipergunakan untuk meningkatkan setiap teori. Begitu pula tidak ada interferensi (campur tangan) politis yang ditolak. The whole history of thought is absorbed into science and is used for improving every single theory.101 Perkembangan ilmu selama berabad-abad selalu ditandai oleh cara-cara analisis dan partisipasi pengamatan terhadap terjadinya perubahan yang bergerak secara dinamis dan drastis. Hal tersebut dikemukakan oleh Feyerabend sebagai berikut: There is no idea. Paul Karl Feyerabend. tidak ada gagasan. baik yang kuno maupun yang absurd. Chalmers. sementara itu dalam masyarakat masa kini. yang tidak tidak mampu meningkatkan pengetahuan. 1975). 107-108. tetapi bagi Galileo dipandang sudah mirip dengan mistik gha ib. dengan terlebih dahulu diawali oleh introduksi suatu 100 A. 1982). Bagi seorang relativis. 101 . teori Marx tentang perubahan historis yang dipandang sebagai ilmu yang baik.

Dalam mewujudkan konsep keilmuan. tetapi juga merupakan suatu sistem terbuka yang dipengaruhi oleh 102 Martinus Anton Wesel Brouwer. ilmu bercorak positivistis (bebas dari pikiran etis). teori. evolusionistis (kecenderungan untuk melihat sejarah dari obyek yang diteliti) sehingga segala hal harus dijelaskan dengan metode kuantitatif (mengukur dan menghitung). Terjadinya perubahan tersebut ditandai oleh kriteria analisis logis maupun historis seperti yang dapat kita amati dalam penemuan Newton.perangkat konsep atau pola pengetahuan baru yang sebelumnya tidak ada. dengan pengujian ulang terhadap cara penyajian serta diseminasinya semakin memperjelas fase -fase yang kemudian diterima oleh masyarakat ilmiah sebagai suatu pertanda terjadinya perubahan yang cukup siginifikan untuk disebut evolusi atau bahkan suatu revolusi yang mampu melahirkan transformasi keilmuan fundamental. 83. rasionalistis kritis. eksperimental (merubah gejala dengan mempertahankan variabel) dengan metode observasi da n riset. hlm. Parera (penyunting). Psikologi Fenomenologis.102 Pada perkembangan selanjutnya. 1984). logis. walaupun dalam proses penemuannya bukan merupakan hasil yang lahir dari suatu krisis atau konflik. empiris. deterministis (berdasar prinsip kausalitas). adanya berbagai pengkajian ide. Pada awal pertumbuhannya. baik rasional ataupun empiris) saja. ataupun konstruktivis (ilmu berasal dan berkembang karena keseluruhan konteks. sistem atau paradigma baru sebagai titik tolak. Frans M. Darwin. kebenaran ilmiah itu tidak dapat semata-mata didasarkan atas konsep keilmuan yang bersifat rasional. Einstein dan revolusi biologi molekuler (yang berhubungan dengan molekul) serta perkembangan ilmu-ilmu bumi dewasa ini. . (Jakarta: Gramedia.

al. Thomas Kuhn juga menunjukkan bahwa bahkan dalam perkembangan ilmu yang paling positivis. dan kemudian berkembang menjadi suatu pemahaman baru yang sebelumnya tidak ada ataupun tidak diharapkan akan ada. hlm. et. . Semiawan. Setiap evolusi ilmu selalu dimulai dengan suatu latihan intelektual (intellectual exercise) oleh kelompok ilmuwan tertentu yang menumbuhkan suatu ide baru. Oleh karena itu. Semua dimensi i i bersifat nonverbal atau n 103 Conny R. empiris dan pragmatis sekalipun terdapat pula faktor-faktor lain. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu (Bandung: Rosdakarya. suatu tindakan kreatif yang bersumber dari suatu inovasi.103 Dalam kaitan ini. yang menampilkan renungan dan dialog mengenai makna dari segenap pengalaman hidup melalui dinamika perkembangan ilmu.. verbal dan matematis. 76 dan 80. Dalam pemilihan sebuah teori baru misalnya. melainkan juga cita rasa estetis. 1998). keterbukaan terhadap berbagai tuntutan modernisasi dan pengembangan ilmu yang disajikan melalui berbagai kekuatan yang datang dari luar harus diimbangi pula dengan kemampuan mengadakan penemuan. yang terlibat bukan sekedar rasio yang analitis. bertolak dari masukan ilmu yang sudah ada sebagai batu loncatan bagi penemuan dan perubahan konseptual yang signifikan.kondisi lingkungan kehidupan manusiawi dengan seluruh aspek pembangunan masyarakat spiritual maupun material ataupun dalam kaitan dengan konteks ilmu itu sendiri. nilai-nilai moral dan juga ikatan-ikatan sosial kelompok yang tidak dapat dibuktikan dan diungkapkan secara eksplisit sebagai dasar bagi terbentuknya suatu masyarakat. improvisasi dan kreasi-kreasi yang terus-menerus.

Michael Polanyi menawarkan tentang perlunya kehidupan kreatif masyarakat ilmiah yang pada gilirannya didasarkan pada kepercayaan akan kemungk inan terungkapnya kebenaran-kebenaran yang hingga kini masih tersembunyi. implisit serta tidak terukur secara matematis dan empiris. 105 Jika Polanyi berbicara tentang cita rasa estetis. Sebab masyarakat kita pada umumnya dan masyarakat ilmiah pada khususnya dewasa ini. terj. nilai-nilai moral dan ikatan-ikatan sosial. Positivisme sendiri melihat bahwa obyektivitas dalam bidang pengetahuan manusia pada umumnya dan pengetahuan ilmiah pada khususnya sebagai tujuan. melainkan juga pada pandangannya bahwa suatu masyarakat tidak dapat dibangun di atas dasar-dasar yang berakar pada cita rasa estetis. karena dianggapnya sebagai realitas subyektif semata-mata. menurut Polanyi telah mengidap suatu pandangan yang bercorak positivis. ix-x. . maka yang dimaksud disini bukan prinsip-prinsip moral universal dan abstrak dalam pengertian Kant. dalam salah satu tesis pentingnya tentang pengembangan ilmu pengetahuan. nilai nilai - 104 Michael Polanyi.simbolis. Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan. Selaras dengan apa yang dikemukakan Kuhn tersebut. tetapi menjadi faktor yang bekerja dalam proses penemuan teori atau paradigma baru dan sekaligus mengakhiri krisis menuju suatu tahap revolusi ilmiah. 1996). melainkan kebiasaan atau tradisi suatu masyarakat.104 Premis dasar ini merupakan cikal bakal kekeliruan tesis positivisme yang tidak hanya terletak pada sikapnya yang menolak cita rasa estetis dan nilai nilai moral serta ikatan-ikatan sosial105. dan tujuan itu dapat dicapai dengan syarat bahwa fakta yang diteliti. hlm. Michael Dua (Jakarta: Gramedia. metode yang dipakai untuk memahami realitas serta pembuktian yang digunakan untuk menguji kebenaran harus lepas dari personalitas manusia.

unsur-unsur lacit pengalaman knowledge²merupakan integrasi intelektual 106 Michael Polanyi. persoalan dasar epistemologi adalah bagaimana seseorang dapat memiliki suatu pengetahuan. Bagi Polanyi.. xi. Selain itu. suatu kondisi di mana cita rasa estetis dan moralitas menjadi dasar tersembunyi bagi kegiatan -kegiatan yang jelas-jelas tidak manusiawi. Penemuan yang berkesinambungan di bidang ilmu pengetahuan merupakan masalah penting dan oleh karena itu usaha mencari . Pengetahuan yang tidak terungkap atau²istilah atas Polanyi. kemurahan hati dan ikatan -ikatan sosial masyarakat. Situasi semacam ini oleh Polanyi disebut dengan inversi atau pemutarbalikan estetis dan moral. Berbeda dengan pandangan positivisme yang melihat pengetahuan yang tidak terungkap sebagai pengetahuan yang harus disingkirkan karena berada di ambang kesadaran manusia.cit. maka dalam pandangan Polanyi jenis pengetahuan ini justru dilihat sebagai dasar dari semua pengetahuan manusia. kekeliruan mendasar dari positivisme yang juga ditentang keras oleh Feyerabend dapat kita telaah dari sudut pandang epistemologi sebagai suatu cabang filsafat yang berbicara tentang aspek-aspek pengetahuan manusia. maka ia akan berubah menjadi tindakan-tindakan yang koersif. hlm.moral dan ikatan-ikatan sosial itu. . faktor-faktor yang dapat membuahkan pengetahuan baru lebih penting dari usaha 106 mencari verifikasi dengan pengukuran positif terhadap pengetahuan. op. Padahal cita rasa estetis dan moral merupakan sesuatu yang sensitif dalam diri kehidupan manusia dan yang menuntut manusia untuk menghargai keindahan. Tetapi jika cita-cita itu diganti dengan tujuan-tujuan yang sekuler semata-mata.

. dalam abad ke20 ini berkembang tiga teori yang cukup menggelisahkan dunia ilmu pengetahaun. hlm. (Jakarta: Yayasan Obo r Indonesia. Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. yakni: (1) Teori relativitas Einstein. Bosco Carvalho.108 107 James B. Hal ini perlu ditegaskan kembali oleh karena adanya kenyataan bahwa sejak awal pendekatan mekanis Galileo terhadap alam. kemudian ahli fisika sudah mulai mengalami semacam krisis intelektual yang diakibatkan oleh penemuan fakta-fakta eksperimental yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. hlm. 265. dan yang bahkan dianggapnya mustahil terjadi. Dengan begitu positivisme bukanlah satu satunya sistem penjelasan terhadap struktur pengetahuan manusia. Fisika klasik menganggap saintisnya sebagai saksi murni dari peristiwa-peristiwa alami yang tidak dipengaruhi oleh subyek..A. Sementara pemahaman atas keseluruhan realitas itu sendiri hanya bisa dicapai melalui proses integrasi personal atas fakta-fakta partikularnya. (2) Teori kuantum dari Plank.personal ke dalam kesatuan pemahaman sebagai suatu aktivitas inteligensi manusia dalam mengartikan dan memahami realitas. dengan mengandalkan dikotomi antara yang subyektif dan yang obyektif. terj. dan (3) Teori elektris tentang materi. Conant. dalam C. et. 1995).107 Pergeseran itu setidaknya disebabkan oleh adanya tiga hal penting. Qadir (penyunting).al.cit. yaitu perubahan pemikiran manusia. op. Apakah Ilmu Pengetahuan Itu?. Indikasinya. kemajuan teknologi dan lahirnya metode-metode ilmiah baru. 108 Burhanuddin Salam. fisika klasik cenderung diterima tanpa sikap kritis terhadap kategori-kategori umum yang dimuat dalam pendekatan tersebut. Baru setelah terjadi pergantian abad ke-20. 41..

adalah adanya paradoks terkenal tentang kodrat cahaya yang sampai sekarang mempunyai status yang tidak jelas.Lebih lanjut. Secara filosofis. deterministik. sederhana dan dapat diketahui secara obyektif dengan observasi dan e ksperimen ilmiah. alam yang mekanis. imbas dari berbagai inovasi pemikiran modern tersebut menyebabkan dunia fisika dewasa ini mengalami apa yang disebut ³krisis penjelasan´. Pertama. kini mulai diragukan. hukum fisika tidak akan mampu menjangkau realitas mikrokosmos atau dunia sub-atomik. adanya problem ³prinsip ketidakpastian (Uncertainly principle)´ Heisenberg tentang kemustahilan untuk menyatakan posisi dan kecepatan sebuah elektron dalam waktu yang bersamaan. Prinsip ini beranggapan bahwa dalam keadaan yang lumrah. yang dalam istilah Thomas S. Paling tidak kondisi itu dipicu oleh beberapa kejadian yang terdapat dalam dunia ilmu fisika seiring dengan kemajuan-kemajuan dan penemuan-penemuan baru yang sangat revolusioner dan di luar prediksi semula. Alam dalam pandangan Newtonian yang di atasnya prinsip positivisme ditegakkan. implikasi dari modifikasi teori fisika terutama dalam hal mekanika kuantum tersebut semakin menunjukkan betapa goyahnya pondasi atau asumsi-asumsi dasar positivisme yang menuntut ilmuwan dan filsuf merevaluasi pandangannya tentang ilmu pengetahuan. Kemudian masalah yang Kedua. Kuhn dikatakan ³perkembangan fisika abad ke-20 telah menimbulkan revolusi ilmiah yang menggulirkan paradigma baru´. Yang lazim diketahui sampai saat ini hanya lah . Perkembangan baru dalam fisika mengakibatkan perubahan pandangan dalam epistemologi.

pendapat umum bahwa cahaya itu disebarkan dalam bentuk gelombang. Dan permasalahan penting yang Ketiga, adalah adanya penemuan Max Planck mengenai kenyataan bahwa atom hanya ada dalam bentuk -bentuk energi.109 Pada tahun 1900, Plank mengemukakan teori kua ntum yang menyatakan bahwa tenaga dari sinar yang dipancarkan ataupun diserap terdiri atas kelipatan -kelipatan bulat dari suatu takaran tertentu. Dalam hemat Planck, cahaya dapat dilihat sebagai term partikel atau sebagai gelombang (term of waves). Namun tidak ada interpretasi yang secara konsisten dapat digunakan pada keseluruhan situasi dengan selalu menetapkan hukum matematika formal.110 Hal itulah yang digunakan Feyerabend untuk memperlihatkan bagaimana metodologi-metodologi yang telah ada sudah tidak sejalan atau tidak cocok lagi dengan sejarah perkembangan fisika. Ia menyangkal klaim bahwa ada metode yang mampu menjelaskan sejarah fisika. Ia juga menolak anggapan bahwa superioritas fisika atas bentuk-bentuk pengetahuan lain dapat dikukuhkan dengan bantuan suatu metode ilmiah tertentu. Pendeknya, apabila seseorang hendak memberi sumbangsih kepada kemajuan fisika, maka ia tidak perlu terlebih dahulu mengenal metodologi-metodologi ilmu kontemporer, tetapi ia memang perlu mengenal tentang beberapa teori yang terdapat dalam pengetahuan fisika. Ia menunjukkan bahwa tidaklah bijaksana jika para ilmuwan di dalam melakukan pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan terikat oleh hukum-hukum yang diatur dalam metodologi-metodologi ilmu.

109

Kenneth T. Gallagher, Epistemologi (Filsafat Pengetahuan), P. Hardono Hadi (penyunting), (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 174-175.
110

Akhyar Yusuf Lubis, op.cit., hlm. 12.

Mengingat begitu kompleksnya kenyataan yang berkembang pesat serta juga terkait dengan masa depan yang tidak dapat diramalkan secara pasti dalam rangka perkembangan ilmu pengetahuan, maka tidak logis kiranya mengharapkan metodologi dapat mendikte seorang ilmuwan. Misalnya dalam situasi te rtentu kita harus menerima teori A, menolak teori B, atau lebih menyukai teori A daripada teori B. Hukum-hukum seperti ³terimalah teori yang mendapatkan paling banyak dukungan induktif dari fakta-fakta yang diterima umum´ dan ³tolaklah teori yang tidak sesuai dengan fakta-fakta yang sudah diterima umum´, tidaklah relevan dengan episode pengembangan ilmu itu sendiri yang dianggap sebagai fase yang paling kreatif dan progresif dalam sejarah peradaban umat manusia. Dalam pengertian inilah istilah ³apa saja boleh´ itu berlaku. Prinsip apa saja boleh (anything goes) secara harfiah berarti membiarkan segala sesuatu berlangsung dan berjalan tanpa dijejali aturan-aturan dan hukum-hukum. Bahkan prinsip ini mengimplikasikan suatu perlawanan terhadap segala macam atura n atau hukum yang telah baku. Prinsip ini tidak dimaksudkan sebagai metode baru, melainkan hanya sekedar upaya agar para ilmuwan yang sudah terbiasa bekerja dengan memakai standar-standar universal harus bersedia menerima tradisi-tradisi dan praktek-praktek riset.111 Dengan ini Feyerabend ingin menegaskan bahwa semua metode yang paling jelas sekalipun mempunyai keterbatasan. Dan satu satunya hukum yang akan hidup terus dan dapat bertahan di tengah semua situasi dan dalam tahap perkembangan manusia adalah prin ini. sip

111

Prasetya T.W., "Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend", dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting), Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 57.

Sebab nyatanya, gagasan mengenai adanya keteraturan metode atau rasionalitas teori ternyata banyak sekali menyisakan pandangan yang naif tentang manusia dan keadaan sosialnya. Untuk itu barangsiapa yang melihat kekayaan bahan yang disediakan oleh sejarah, tetapi tidak sungguh-sungguh dalam menggarapnya pada gilirannya akan mengurangi kepekaan nalurinya, dan mereka sangat membutuhkan jaminan kejelasan dari cendekiawan, ketelitian,

obyektivitas, kebenaran saja, sehingga menjadi jelas bahwa tidak ada satu pun prinsip yang dapat dipertahankan dalam semua keadaan seperti itu ataupun dalam semua tingkat perkembangan manusia. Inilah prinsip: apa saja boleh. Hal tersebut dikemukakan Feyerabend sebagai berikut: [T]he idea of a fixed method, or of a fixed the of rationality, rests on ory too naive a view of man and hissocial surrounding. To those who look at the rich material provided by history, and who are not intent on impoverishing it in order to please their lower instincts, their craving for intellectual security in the form of clarity, precision, µobjectivity¶, µtruth¶, it will become clear that there is only one principle that can be defended under all circumstances and in all stages of human development. It is the principle: anything goes.112 Prinsip apa saja boleh ini juga sangat sesuai dengan pokok pikiran Feyerabend lainnya, yakni tentang kebebasan individu yang akan kami paparkan dalam sub-topik pembahasan selanjutnya. Menurut Feyerabend, jika kita ingin rasional dalam situasi-situasi konkrit sebenarnya prinsip apa saja boleh

membebaskan kita dari keharusan untuk bertindak di bawah ketentuan -ketentuan hukum dan metode yang telah disepakati bersama. Menurut prinsip ini juga, setiap orang secara bebas dapat mengikuti pilihan pradigma dan aturan teori sera boleh t juga mengikuti kecenderungan tertentu sebagai usaha untuk menumbuhkan ide -

112

Paul Karl Feyerabend, op.cit., hlm. 18-19.

107. Chalmers. ilmu pengetahuan diperoleh lewat observasi. .113 Mereka percaya bahwa: (1) Seorang pengamat sedikit banyak dapat menangkap langsung beberapa sifat dari dunia eksternal yang diobservasi. prinsip apa saja boleh bukanlah berarti bahwa apa saja boleh tanpa batas.F. niscaya akan melihat hasil yang sama pula.. 22.ide kritis. kepercayaan bahwa observasi yang sungguh -sungguh obyektif menjadi dasar yang kokoh bagi ilmu pengetahuan. Dalam pengertian ini. Pertama. Kedua. Ilmu Tidak Bisa Saling Diukur dengan Standar Yang Sama Salah satu komponen penting lain dari analisa Feyerabend tentang ilmu pengetahuan adalah pandangannya bahwa ilmu -ilmu yang tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama.. 114 Akhyar Yusuf Lubis. Dengan begitu. hlm.114 Inilah yang disanggah Feyerabend dengan alasan bahwa apa yang dilihat pengamat dalam pengalaman visual ketika memanda ng suatu obyek sangat 113 A. D. dan bukan pula kecenderungan sesaat yang tidak berarti sedikitpun. bahwa ada dua asumsi penting dalam pandangan induktivisme tentang observasi. Konsepsi Feyerabend ini berasa dari apa yang disebut l sebagai prinsip ketergantungan observasi pada teori. (2) Dua orang pengamat yang mempunyai indera yang normal akan melihat obyek atau gejala-gejala dari tempat yang sama. Sebagaimana yang kita maklumi. Namun tentu saja kebebasan yang dipraktekkannya itu bukanlah kebebasan yang liar. op. hlm.cit. tanpa aturan dan tanpa tujuan. gagasan-gagasan baru tanpa harus dikekang oleh tradisi ilmiah.cit. seorang ilmuwan perlu keberanian untuk mengajukan ide-ide. op.

Letusan gunung berapi bagi seorang ahli geologi.dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman di masa lalunya. hasil observasi itu selalu tergantung pada teori sehingga tidak dapat dijadikan dasar yang obyektif bagi penilaian tentang kelayakan sebuah teori. Prinsip ketidakterbandingkan antara satu teori atau pandangan dengan yang lainnya berkaitan dengan prinsip inkonsistensi. pengetahuan dan harapan-harapannya. letusan gunung berapi mungkin dianggap sebagai hukuman para dewa akibat dosa-dosa manusia. Fourth Edition (New York: Oxford University Press. tetapi bagi warga suku primitif. hlm. Feyerabend beranggapan bahwa arti setiap istilah yang kita pakai tergantung pada konteks teori yang digunakan. 187. Makna dan interpretasi tentang konsep-konsep dan keterangan-keterangan observasi yang digunakan akan tergantung pada konteks dimana makna dan keterangan observasi itu muncul. 2001). Jika seseorang tertarik dengan penelitian empiris dan ingin mengerti teori dalam berbagai aspek. Ia harus dapat membandingkan antara satu teori dengan teori yang lain berdasarkan hasil pengamatan serta kumpulan data dan fakta yang diperolehnya. Bagi Feyerabend. maka ia harus memahami dan mengadopsi metode yang pluralistik. . Maksudnya. dapat dijelaskan sebagai gangguan di bawah tanah. bahwa dalam satu penelitian ilmiah dapat melibatkan pendapat dan alternatif-alternatif yang bervariasi. Feyerabend menyimpulkan bahwa tingginya mutu sebuah 115 teori berdasarkan hasil pengamatan itu tidak dapat saling diukur satu sama lain. Feyerabend menerima pandangan Kuhn tentang tidak adanya kriteria bagi ilmuwan yang disebabkan oleh adanya ketidaksepadanan atau ketidakkonsistenan dalam teori ilmu pengetahuan. 115 John Losee. A Historical Introduction to the Philosophy of Science.

Dalam beberapa kasus-kasus fundamental dari dua teori rival mungkin terdapat perbedaan yang begitu signifikan. Feyerabend menulis masalah itu sebagai berikut: ³. he will compare theories with other theories rather than with µexperience¶. sehingga tidak mungkin merumuskan konsep dasar dari teori yang satu dengan standar teori yang lain. Dalam penjabarannya.will adopt a pluralistic methodology.cit. Pemecahan itu dibimbimg oleh peraturan-peraturan dalam suatu paradigma. sebab setiap paradigma itu memang memiliki asumsi dan standar yang berbeda atau bahkan saling bertentangan satu sama lain. Dalam kasus seperti itu. .116 Sebelumnya Thomas Kuhn telah menggambarkan ilmu sebagai aktivitas pemecahan teka-teki ilmu pengetahuan. tetapi juga membimbing interpretasi fenomena yang diobservasi. Kuhn secara tegas menyatakan bahwa paradigma bukan saja membimbing teknis penelitian. Ini artinya Kuhn juga mengakui ketergantungan observasi pada teori. sebab dua teori rival itu tidak akan bisa saling diukur dengan standar yang sama pula. 33. baik secara teoretis maupun eksperimental. and he will try to improve rather than discard the views that appear to lose in the competition´. 116 Paul Karl Feyerabend. setiap paradigma akan memandang dunia ini secara berlainan.. maka jelas tidak mungkin saling membandingkan ataupun mereduksi beberapa konsekuensi teori-teori rival itu secara logis..Ia harus mencoba pula untuk memperbaiki daripada membuang pandangan pandangan yang kelihatannya kehilangan daya kompetisi.. op. sebab kedua teori rival itu tidak memiliki kesamaan keterangan-observasi apapun. µdata¶. or µfacts¶. hlm.

dan P..S. James Ladyman. Itulah maksud dari penyangkalan sebagaimana yang dikemukakan oleh T. 115. 2002).. Feyerabend bahwa dua pengertian teori itu tidak bisa saling diukur dan diperbandingkan satu sama lain.. Salah satu contoh Feyerabend tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur tersebut adalah mengenai hubungan antara mekanika klasik dengan teori relativitas.K. dalam arti bahwa memang tidak ada hal yang patut untuk dibanding bandingkan..S. hlm.Hal ini tepat sekali jika dihubungkan dengan keyakinan Kuhn dan Feyerabend bahwa teori-teori itu memang tidak memiliki tolok ukur yang sama antara yang satu dengan yang lainnya. massa dan volume. teori penggerak dan mekanika Newtonian. Menurut pandangan mekanika klasik. Sifat 117 Mario Augusto Bunge. realitas yang nampak di dunia ini merupakan obyek-obyek fisik yang mempunyai bentuk.117 Kuhn dan Feyerabend berpendapat bahwa seingkali teori-teori ilmu pengetahuan itu tidak dapat saling diukur dengan beberapa teori yang lain secara bersamaan. 78. materialisme di satu pihak dan dualisme antara badan dan akal di pihak yang lain. hlm. ³Which refutes the contention of T.e. Revised Edition (New York: Transaction Publishers. i. 1998). Understanding Philosophy of Science (London: Routledge. Feyerabend that two concept are mutually ³incommensurable´. Kuhn and P. Philosophy of Science. both of whom argued that successive scientific theories are often incommensurable with each other in the sense that there is no neutral way of comparing their merits). incomparable´.K. Volume One: From Problem to Theory.118 Pasangan-pasangan teori yang tidak bisa saling diukur menurut Feyerabend adalah mekanika kuantum dan mekanika klasik. 118 . (.

Secara tegas Feyerabend menjelaskan bahwa setelah  Teori relativitas atau dikenal juga dengan teori Einstein adalah teori tentang realitas fisik yang menggambarkan fenomena alam secara kuantitatif. terpaksa akan membawa kita ke suatu aspek subyektif dalam personalitas kita juga. 27. Walaupun begitu. massa. tidak lantas berarti bahwa teori-teori tersebut tidak bisa diperbandingkan dengan cara apapun. Cara lain membandingkan teori-teori adalah seperti yang diusulkan Feyerabend dengan melibatkan pertimbangan-pertimbangan apakah teori-teori tersebut linear atau non-linear. Sedangkan dalam teori relativitas . Ia menjadi kerangka referensi dan bisa dirubah tanpa interaksi fisik apapun.. hlm. yakni ide-ide tentang ruang. Teori relativitas terdiri dari dua bagian. Isi pokok teori tersebut menyangkut ide-ide fundamental yang dipakai untuk menjelaskan alam.sifat itu eksis dalam obyek-obyek fisik dan dapat dirubah akibat adanya campur tangan fisik. gerak dan gravitasi. massa dan volume tidak eksis lagi. Akibatnya keterangan apapun mengenai obyek -obyek fisik dalam mekanika klasik akan mempunyai makna berbeda dari keterangan observasi serupa dalam teori relativitas.cit. Chalmers. waktu. yaitu teori relativitas khusus yang diciptakan Einstein pada tahun 1905 dan teori relativitas umum yang dimunculkan Einstein pada tahun 1916.cit. lalu kita catat seberapa jauh derajat masing-masing teori itu sejalan dengan situasi-situasi tersebut yang ditafsirkan menurut kondisi masing -masing teori. hlm.F. Salah satu cara untuk memperbandingkan sepasang teori adalah dengan mengkonfrontasikan teori-teori itu pada serangkaian situasi yang dapat diobservasi.. op. 119 A. Feyerabend tidak menampik bahwa hakikat ilmu yang tidak bisa saling diukur itu. koheren atau inkohern. dan lain sebagainya. . 146. sifat-sifat seperti bentuk.119 Adanya kenyataan bahwa sepasang teori rival tidak bisa saling diukur. tetapi menjadi relasi-relasi antar obyek-obyek. op. Lihat Joko Siswanto.

in short. keinginan-keinginan religius.cit.kita menyingkirkan kemungkinan pembandingan teori teori secara logis untuk membandingkannya dengan sejumlah konsekuensi deduktif. Feyerabend menunjukkan bahwa tidak ada satu metode pun yang dianggap lebih baik dari bentuk metode yang lain.121 Feyerabend mengkritik keras pandangan 120 Paul Karl Feyerabend. what remains are our subjective whises´.). 121 Paul Karl Feyerabend. religious desires. penemuan ataupun pemilihan berbagai teori yang dilakukan oleh seorang ilmuwan tentang dunia fisik yang diamati itu tidak bisa terlepas dari kondisi sosiologis. metaphysical prejudices. 1981). Dari sekian permasalahan itu sudah cukup kiranya kita jadikan dasar penolakan pandangan positivisme logis dengan argumentasi ilmiahnya tentang mutu kebenaran sebuah teori berdasarkan hasil observasi. dalam Ian Hacking (ed. prasangkaprasangka metafisis. yang dalam perjalanan sejarahnya ternyata banyak tersandung oleh kesalahan-kesalahan yang fatal. 156ff. ³. Scientific Revolutions (New York: Oxford University Press.. judgements of taste.120 Hasil penelitian. intervensi pribadi maupun interest psikologis dari subyek yang memberikan isi terhadap obyek pengamatan itu.What remains are aesthetic judgements. pendeknya. ³How to Defend Society Against Science´... Diutarakannya. hlm. Ilmu Tidak Harus Mengungguli Bidang Pengetahuan Lain Aspek lain yang penting dari anasir-anasir pokok pemikiran Feyerabend adalah menyangkut posisi ilmu dengan bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. . apa yang tersisa adalah keinginan-keinginan subyektif kita. op. E. 285. penilaian selera. hlm. maka sebenarnya yang tinggal tersisa adalah penilaian estetik.

Setiap individu dalam masyarakat industri diperbudak oleh sistem produksi dan selalu berada dalam cengkeraman masyarakat konsumsi. Husnan Aksa. 122 Endang Daruni Asdi dan A. dituntut harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini sebab ia bukan merupakan kelas yang revolusioner. . Dalam hal inilah gagasan Feyerabend memiliki kedekatan pandangan dengan Marcuse. Filsuf-filsuf Dunia dalam Gambar (Yogyakarta: Karya Kencana. Namun sebelum mengulas gagasan Feyerabend tersebut. sehingga pemikiran dan filsafat hanya berfungsi menyesuaikan diri dengan sistem lama yang telah ada. dan mahasiswa.ilmuwan dan masyarakat yang mengagung-agungkan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu tinggi. hlm. 166. Dalam masyarakat seperti itu. tetapi mereka hanya kelas yang sekedar berusaha mempertahankan hak untuk hidup. melainkan telah menjadi tujuan. kecuali kaum buruh. Produktivitas bukan lagi sebagai alat. Dalam masyarakat yang demikian itu. harapan untuk mengadakan perubahan hanya terletak pada orang-orang pinggiran (marginal men). cendekiawan.122 Marcuse mengkritik tajam asumsi positivisme dan neo-positivisme yang menurutnya mematikan pemikiran negatif (negasi). 1981). kebutuhan hidup dihambur-hamburkan hanya untuk menghabiskan hasil produksi yang meli pahruah saja. yaitu para seniman. Dan setiap m individu. perlu juga kiranya dikemukakan pendapat dari Herbert Marcuse (1898 -1979) yang menyatakan bahwa masyarakat industri telah berkembang menjadi masyarakat berdimensi satu yang berada di bawah penguasaan prinsip teknologi.

1987). . magi atau 123 Paul Karl Feyerabend. ilmuwan dapat menentukan dan membuktikan kebenaran teorinya. ilmu pengetahuan unggul karena dapat membuktikan hasil-hasl (teknologi) yang dapat diandalkan. Akibatnya seperti yang diungkapkan oleh Feyerabend. Pertama. Bahkan menurutnya tidak lebih unggul dari mitos. dan meningkatnya perbedaan budaya yang mendapat kehormatan sampai di taraf internasional berarti bahwa sebuah keragaman pada dasarnya menggambarkan adanya perbedaan gambaran tentang kenyataan alam selalu dihubungkan dengan perbedaan budaya. ³cultural variety ´. 9. Maksudnya dengan metode empiris-analitis. dan ide tentang adanya satu kebenaran obyektif mengenai realitas tunggal alam semesta pun telah be ralih menjadi kekaburan pemikiran di kalangan kaum cendekiawan.123 Kaum positivisme dan neo-positivisme mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan unggul karena dua alasan. Feyerabend menolak dengan tegas anggapan -anggapan tersebut dengan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidaklah lebih unggul dari bentuk -bentuk pengetahuan lain. ³keragaman budaya tidak dapat dijinakkan lewat pemikiran kaku tentang kebenaran obyektif sebab ia juga mengandung keragaman pemikiran serupa Katanya.Kegagalan dari program kaum positivis selama ini adalah bahwa keragaman budaya selalu dinyatakan lewat pemahaman disiplin ilmu antropologi. yang secara tiba-tiba goyah oleh dunia ilmu pengetahuan dan cendekiawan kontemporer. hlm. Kedua. cannot be tamed by a formal notion of objective truth because it contains a variety of such notion´. keunggulan metodologis. Farewell to Reason (New York: Verso.

Baginya sains bukanlah satu-satunya tradisi terbaik yang ada. Ilmu pengetahuan dalam penilaian Feyerabend telah mengam alih bil peran yang dimainkan oleh kaum agamawan. sehingga memonopoli kebenaran di tengah-tengah masyarakat luas. Galileo. Bacon. Ilmu pengetahuan dan metodenya menindas semua pandangan alternatif yang dianggap tidak relevan lagi dengan keaadan yang ada dan kenyataan yang berkembang dewasa ini. Kepler dan Newton di awal kebangkitan ilmu pengetahuan modern masih menganggap bahwa ilmu pengetahuan dan agama saling melengkapi. Feyerabend menyatakan bahwa kebenaran itu terkait dengan tradisi dan bersifat relatif. Feyerabend menyesalkan pembela-pembela ilmu yang secara tipikal menilai ilmu lebih unggul dan lebih berbobot atas bentuk -bentuk pengetahuan lainnya tanpa melakukan penyelidikan yang memadai terhadap pengetahuan pengetahuan yang lain. Misalnya Hobbes. memberikan tafsir atas segala fenomena alam yang sepenuhnya bercorak naturalis dan determinis. Bacon masih mencita-citakan bertemunya penjelasan antara ilmu dengan Kitab Suci secara harmonis. kemudian Feyerabend tidak . Ilmu pengetahuan pada masyarakat ilmiah modern telah dianggap paling benar. Pandangan inilah yang diterapkan secara radikal oleh Comte dan kaum Positivisme Logis. kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa memperlakukannya secara istimewa. Karena alasan itu pulalah. Sedangkan cita rasa yang berdasarkan pancaindera itu sama sekali subyektif.voodoo. Copernicus. berpendapat bahwa segala kejadian itu ditentukan oleh gerakan dan bentuk dari obyek yang bersifat kebendaan. Tetapi Thomas Hobbes dan para pengikutnya yang muncul kemudian.

tetapi mereka dilarang mempelajari semua yang dianggap tidak ilmiah (mitos. bahkan bebas untuk memilih tidak beragama.menerima keharusan superioritas ilmu atas bentuk -bentuk pengetahuan lain. Lebih lanjut. terutama dalam masyarakat Amerika. 127-128. Menurut Feyerabend. Semua ini dirasa tidak wajar tetapi tetap saja terjadi. Feyerabend menyarankan pemisahan ilmu pengetahuan dengan negara sebagaimana agama dipisahkan dari negara pada masa Renaissance.. Feyerabend menyerang pandangan ilmuwan yang menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai agama baru. Maka untuk mengatasi hal tersebut. ia menolak ide bahwa akan bisa lahir suatu argumen yang menentukan dan menguntungkan ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain yang tidak bisa diukur. karena para ilmuwan dan institusi pendukungnya dengan gencar selalu melakukan propaganda bahwa ilmu pengetahuan itu lebih unggul. op. orang memilih agama secara bebas. dari segi tesisnya tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur. dan tetap saja dilestarikan dengan cara-cara yang sama oleh orang-orang yang masih rendah tingkat peradabannya. voodoo).cit. Feyerabend mengungkapkan bahwa ilmu adalah satu ben ideologi saja. . tuk yang berhubungan dengan sihir dan astrologi serta bertentangan dengan 124 Akhyar Yusuf Lubis. maka sesungguhnya tidak ada perbedaan antara mitos dan logos (teori ilmiah).124 Jadi kalau saja kata mitos diartikan untuk menunjukkan gejala dan peristiwa alam atau manusia seperti yang terjadi dalam tradisi dahulu kala. hlm. Lebih jauh ia memproklamirkan bahwa tidak ada perbedaan yang prinsipil antara ilmu pengetahuan dan mitos dan voodoo. Secara khusus. dalam masyarakat Amerika.

156ff. catatan penting yang dapat kita ambil dari salah satu gagasan pokok Feyerabend ini adalah bahwa tidak ada universalitas sebuah teori yang secara mutlak lebih unggul kebenarannya dari teori yang lain. .. hlm. maka di bagian lain pandangannya tentang ilmu pengetahuan Feyerabend juga menekankan tentang pentingnya makna kebebasan individu dari berbagai macam belenggu 125 Paul Karl Feyerabend. bukan dengan memagarinya melalui peraturan tunggal atau hanya dengan menerapkan satu metode yang dianggap mapan.. sejarah ilmu pengetahuan itu memang selalu berproses untuk menyempurnakan dan mengembangkan teori-teori yang telah ada lewat pergulatan pemikiran yang simultan dan relatif µmendekati¶ hakikat sebuah kebenaran. ia dapat mengajukan bukti-bukti bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang justru karena memberinya kebebasan.hat t science is just another ideology.kebutuhan-kebutuhan yang dipertahankan oleh masyarakat. Perkembangan dunia ilmu pengetahuan lebih dimungkinkan dengan membiarkan teori-teori yang beraneka ragam secara bebas dalam mengembangkan visi intelektualitas secara kreatif. Berdasarkan analisis sejarah. along with magic and astrology. against which society needs to be defended?´125 Dengan demikian. Sebab. Ia berkata. ³How to Defend Society Against Science´. ³. Bertitik tolak dari keyakinan seperti itulah. Kebebasan Individu Kritik-kritik konstruktif Feyerabend cukup ampuh membongkar (mendekonstruksi) pandangan saintisme modern. F.

Ia menyatakan bahwa setiap orang harus mengikuti kecender ungan individualnya dan mengerjakan hal-ihwalnya sendiri. terdapat beberapa pemikiran universal tentang manusia yang digunakan untuk menetapkan beberapa . namun justru memasungnya dengan teori-teori dan aturan-aturan yang ketat dan mengikat. Dalam perspektif Feyerabend. Padahal sebenarnya seperti yang ditunjukkan oleh Feyerabend. Gagasan awal tentang kebebasan individu Feyerabend ini sendiri sebenarnya hanya merupakan uraian lanjutan dari apa yang disebut oleh John Stuart Mill (1806-1873) sebagai ³sikap kemanusiawian´ yang d alam realisasi konkritnya ditujukan untuk membebaskan dan sekaligus meningkatkan kebebasan individu menuju kehidupan yang lebih maju dan produktif. sebab pada dasarnya kegiatan ilmiah atau ilmu pengetahuan itu memang merupakan upaya yang anarkistik. Ia melihat bahwa ilmu pengetahuan memiliki kedudukan dan kuasa mutlak yang sama dengan otoritas agama pada masa Abad Pertengahan. menguasai dan bahkan memperbudak manusia.metodologis. Ilmu telah menjadi ideologi absolut-tunggal yang membatasi. Pandangan Feyerabend tersebut harus ditelusuri pula berkaitan dengan analisisnya tentang masyarakat yang dicita-citakannya. Artinya ilmu pengetahuan tidak lagi berfungsi untuk membebaskan manusia. perkembangan ilmu pengetahuan tidak dapat diterangkan ataupun diatur oleh segala macam aturan dan sistem hukum yang berlaku. Sehingga pada akhirnya Feyerabend berkesimpulan bahwa pelembagaan ilmu dalam masyarakat kita dewasa ini sudah dianggap tidak konsisten lagi dengan sikap kemanusiaan itu sendiri.

incomplete. 25. 299.127 ´ Dan bagi Feyerabend. Dalam pengertian ini. 1975).here t is some universal notion of human understanding which might be used to provide some theoretical approach to solving human conflicts as ³conceited. Negara semestinya bertugas untuk mengatur perjuangan antara ideologi-ideologi untuk menjamin setiap individu dapat mempertahankan 126 Paul Karl Feyerabend. ia melihat bahwa ilmu masih diajarkan sebagai sesuatu yang sudah semestinya. and dishonest´. ³. tetapi tetap saja warga masyarakat tidak diperkenankan untuk mempelajari ilmu sihir dan voodoo. jelas tidak ada pemisahan antara negara dan ilmu. Ia berujar.pendekatan teoretis untuk memecahkan perselisihan-perselisihan manusia yang sombong. Lagi lagi ia menampilkan contoh tentang masyarakat Amerika yang menurutnya memberikan kebebasan warganya untuk memilih agama yang mereka kehendaki. tidak sempurna dan tidak jujur. 1987). Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books.. superfisial. there is no separation between state and science. dangkal. while an American can now choose the religion he likes. negara secara ideologis adalah netral. ignorant. . misalnya. There is a separation between state and church. ³thus. tidak ada cara lain yang dapat ditempuh dalam dilema ini kecuali dengan berusaha membebaskan masyarakat itu sendiri dari pengaruh monotafsir ilmu yang secara ideologis telah dimonopoli oleh institusi negara.. he is still not permitted to demand that his children learn magic rather than science at school. Dalam masyarakat yang diimpikan oleh Feyerabend. 127 Paul Karl Feyerabend. hlm. bebal. Farewell to Reason (New York: Verso. Ia mengatakan.126 Di sekolah-sekolah. hlm.

mendalam. dengan selalu melakukan perlawanan secara kritis terhadap segala bentuk penyempitan ideologis.hak kebebasan untuk memilih tanpa adanya unsur pemaksaan ideolo tertentu gi 128 yang bertentangan dengan pilihan sadar dan kehendak hati nuraninya.F. Bermula dari eksplorasi tentang ³apa saja boleh´ dan berbagai problem teori teori keilmuan lainnya. sehingga ia mampu menghadirkan kronik pemikiran baru dalam diskursus ilmu pengetahuan modern dan postmodern yang sudah mulai banyak diperdebatkan. hlm. Sedangkan dalam komunitas akademik. Filsafat Feyerabend dapat 128 A. Surplus positif dari filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend yang mungkin dapat didedikasikan bagi masa depan umat manusia adalah bahwa ia masih diperlukan untuk mensukseskan apa yang oleh Jürgen Habermas disebut ³program pencerahan´.. Demikianlah gambaran umum tentang ide kebebasan individu dan masyarakat Feyerabend yang merupakan pertautan epsitemologis dari pemikiran pemikiran utamanya tentang anarkisme ilmu pengetahuan.cit. kritis dan berani. termasuk juga doktrin -doktrin agama yang begitu dogmatis dan tanpa kompromistis. filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend itu bisa membimbing kaum cerdik pandai untuk berpikir mandiri. Feyerabend terus berusaha µberkelit¶ dari sanjungan keberhasilan dan kemapanan sains. op. Chalmers. . 152. Salah satu peran penting filsafat Feyerabend yang berpijak pada rasionalitas dan universalisasi ilmu pengetahuan itu dalam kehidupan masyarakat luas adalah bahwa ia bisa membantu menjernihkan substansi suatu permasalahan dan menyingkirkan berbagai macam kepalsuan dan pemaksaaan ideologis.

serta menghubungkan kesenjangan pemahaman ilmu itu sendiri dengan tuntutan-tuntutan praktis kehidupan. Dalam kehidupan sosial. kritis dan kreatif. tradisitradisi dan filsafat Indonesia asli secara lebih terbuka. gagasan-gagasan filsafat Feyerabend itu setidaknya bisa membantu kita mengambil jarak sekaligus memberikan kritik tandingan terhadap klaim ideologi ilmu-ilmu empiris yang dalam opini budaya modern ini seolah-olah hanya ilmuilmu empirislah yang sanggup mendefinisikan arti kemanusiaan dan tujuan perkembangan masyarakat. filsafat Feyerabend dapat dijadikan alat untuk mendeteksi setiap kedok-kedok ideologis berbagai ketidakadilan sosial serta pelanggaran - pelanggaran terhadap martabat manusia dan hak -hak asasinya. Dengan demikian. sembari mempertanyakan ulang tentang kejelasan metode dan wawasan. dengan analisis yang bebas dan obyektif. Lantas. serta mencari pemecahan yang berorientasi pada penghormatan nilai-nilai kemanusiaan. pluralisme metodologi yang ditawarkan Feyerabend kiranya juga bisa membantu melepaskan subyektivitas keberagamaan kita dari pandangan dunia dan pembelaan agama yang berbeda untuk bersama-sama membahas tantangan yang dihadapi bangsa.pula mencegah meluasnya kantong-kantong kosong pemikiran filosofis yang lolos dari tantangan kritik. Dalam bidang agama. wawasan dan argumentasi yang universal dalam rangka men ggali kekayaan budaya. maka perluasan wacana filsafat Feyerabend ini akan memungkinkan masyarakat untuk memikirkan kembali masalah-masalah dasar hidupnya secara rasional dengan bahasa. apa kontribusi konkrit yang bisa diberikan model pembelajaran filsafat Feyerabend tersebut terhadap dunia keilmuan di Indonesia? Secara praktis. .

komandan. tidak.BAB IV ANARKISME ILMU PENGETAHUAN PAUL KARL FEYERABEND G. anarkisme berasal dari kata Yunani an archos = tanpa pemerintahan. awalan a. Dalam pengertian ini anarkisme tidak bisa disamakan dengan Nihilisme. Aliran ini berpandangan bahwa individu-individu harus mengatur diri mereka sendiri dengan cara yang disenangi demi pemenuhan kebutuhan dan idealideal mereka. Ia merupakan sebuah aliran dalam filsafat sosial yang menghendaki dihapuskannya negara atau pemerintahan serta kontrol politik dalam masyarakat. Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Tokoh-tokohnya: Gerrard Winstanley (16091660). Konotasi positif: Anarkisme adalah ideologi sosial yang menolak pemerintahan yang otoriter. Yunani. 129 Ali Mudhofir. hlm. ketua. kekurangan + anarchos. pengarah. Aliran ini didasarkan pada ajaran bahwa masyarakat yang ideal itu dapat mengatur urusannya sendiri tanpa mempergunakan kekuasaan yang berlawanan dengan paham sosialisme dan komunisme. Dalam bahasa Yunani istilah anarchos atau anarchia berarti tidak memiliki pemerintahan²keadaan tanpa penguasa). 9-10. Mikhail Bakunin (1814-1876) dan Peter Kropotkin (1842-1921). Pengertian Anarkisme Secara etimologi. 129 Anarkisme (bhs. William Goldwin (1756-1836). 1996). . kebutuhan akan. ketiadaan. seorang pengatur. orang yang berwenang.

30. . hlm. anarchism envisages a homely life devoted to unsophisti ated activity and filled with c simple pleasure. 130 Ibid. hal kesewenang-wenangan bertindak (melenyapkan undang-undang). hukum) 1. it contends. Modern anarchism probably owes not a little. 1995). Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola. Aliran ini mengajarkan penggunaan terorisme individual sebagai sebuah alat untuk meningkatkan terjadinya disorganisasi sosial dan politik. Dahlan Al-Barry. (a) seseorang yang percaya bahwa hanya keimanan. melawan. Partanto dan M.130 Kamus Ilmiah Populer dengan gamblang mendefinisikan anarkisme sebagai sebuah paham kebebasan bertindak tanpa mau diikat oleh undangundang.tetapi lebih serupa dengan libertarianisme politik dan antinomianisme . (Penganut antinomi. yang diperlukan bagi keselamatan. In an popular sense the word ³anarchy´ is often  Antinomian (bhs. 1994). 131 Pius A. nomos. 2. bukan hukum moral. hlm. anti. in an indirect way. Yunani. 17. Lihat dalam Tim Penulis Rosda..131 Sementara Dictionary of Philosophy secara terperinci memberikan pengertian anarkisme sebagai berikut: Anarchism: This doctrine advocates the abolition of political control within society: The State. to the influence of the primitivistic strain in the thought of Jean Jacques Rousseau. hlm. 13. umumnya tidak langsung terlibat dalam usaha penghapusan hukum-hukum dan struktur politik suatu masyarakat. Kamus Filsafat (Bandung: Remaja Rosdakarya. sebgai lawan dari kaum aktivis atau anarkis. Konotasi negatif: Anarkisme adalah kepercayaan yang menyangkal untuk menghormati hukum atau peraturan apapun dan secara aktif melibatkan diri dalam promosi kekacauan melalui perusakan masyarakat. (b) dalam pengertian teologis yang lebih ekstrem. Positively. dalam teologi. Thus it belong in the ³primitive tradition´ of Western culture and springs from the philosophical concept the inherent and radical goodness of human nature. is man¶s greatest enemy ²eliminate it and the evils of human life will disappear. seseorang yang menginginkan kebebasan dari aneka peraturan dan hukum dalam masyarakat. Seseorang yang ingin hidup di luar masyarakat dalam keadaan alami atau hidup dalam masyarakat dengan ikatan seminimal mungkin oleh norma-norma sosial. seseorang yang memandang rendah hukum dan batasan-batasan sosial serta meletakkan di atas segalanya soal keimanan dan pengetahuan tertentu yang menjanjikan keselamatan.

Menurutnya. 1992). but it is obvious that the word can be used in this sense only by one who denies the validity of anarchism. 9. tidak ada ukuran -ukuran yang tetap untuk memisahkan atau membedakan antara sampah dengan teori yang dapat diamati. walaupun dengan cara yang berlainan. Jelasnya. berusaha untuk mempengaruhi pandangan -pandangan kuno yang terdapat dalam pemikiran Jean Jacques Rousseau. kata ³anarki´ seringkali digunakan untuk menunjukkan adanya kekacauan sosial dalam suatu negara. . Dictionary of Philosophy (Littlefield Adams & Co. Totowa: New Jersey. 133 Ali Mudhofir. Sebab negara menurut pendapat mereka adalah musuh terbesar manusia yang jika disingkirkan akan dapat menghilangkan kejahatan -kejahatan yang ada dalam kehidupan manusia. Dalam pengertian populer. Anarkisme modern kelihatannya juga tidak jarang. hlm. anarkisme diartikan sebagai anarchy epistemological (kesewenang-wenangan epistemologis) yang digunakan dan dipopulerkan oleh Paul Karl Feyerabend.133 132 Dagobert D. hlm. Jadi ia termasuk kebiasaan kuno dari budaya Barat yang bersumber dari konsep filosofis yang telah melekat dan mengakar secara baik dalam sifat dasar manusia. Kamus Istilah Filsafat (Yogyakarta: Liberty. bahkan kata ini juga dipakai oleh seseorang yang menyangkal terhadap keabsahan anarkisme itu sendiri.. Dalam bidang ilmu pengetahuan. 1971). Runes (ed.132 Jadi yang dimaksud dengan istilah anarkisme adalah: ajaran yang menganjurkan dihapuskannya penguasaan politik dalam masyarakat.).used to denote a state of social chaos. anarkisme mengimpikan kehidupan yang bersahaja dengan menekuni kegiatan yang sederhana dan mengisinya dengan kesenangan yang wajar. 11-12.

suatu rasa sosial yang semakin meningkat di tengah masyarakat. Max Stirner. Mikhail Bakunin. 2. mengharapkan munculnya anarkisme melalui perkembangan moral manusia secara bertahap. William Goldwin. 5. berkeyakinan bahwa keberadaan anarkisme adalah pasti dalam wujud pemberontakan ²bukan revolusi² perseorangan seiring dengan adanya penumpukan dan pengembangan sikap individualisme. diantaranya: 1. Sebagai doktrin politis dan filosofis. Pertama kali digunakan oleh Proudhon dan kemudian diangkat kembali oleh Bakunin untuk menyatakan adanya aneka ragam doktrin yang berkisar seputar keyakinan bahwa negara yang teratur harus dilenyapkan. penulis politik Inggris. 4. Sedangkan mengenai cara penghapusannya berbeda-beda menurut pandangan para penganutnya: evolusioner. penulis dan aktivis politik Rusia. Dan penyebarluasan kerjasama sukarela semacam ini akan menggantikan negara. garis lunak (moderat). filsuf Jerman. garis keras (ekstrem). 3. istilah ini baru beredar pada abad ke-19. menganut doktrin revolusioner yang bermuara pada penghancuran negara. sebab ia merupakan biang keladi ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat. mendukung pertumbuhan dan perkembangan secara bertahap hubungan timbal balik atau kegotong royongan. .Disamping itu juga terdapat beberapa pandangan filsuf tentang definisi anarkisme. revolusioner. Joseph Proudhon. filsuf Perancis.

padahal konsep gotong royong tidak kalah pentingnya. apabila anarkisme politis anti terhadap kemapanan (kekuasaan. negara. 135 W.H. mengutarakan bahwa teori Darwin terlalu melebih-lebihkan kompetisi dalam evolusi. Leo Tolstoy. term anarkisme itu tidak lain adalah anarkisme epistemologis yang dipertentangkan dengan anarkisme politis atau religius.. 146-147. Sedangkan dalam analisa Feyerabend sendiri. 48-49. Dalam hal ini ia lebih cenderung mewakili pandangan anarkisme religius.. Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia.6. hlm. institusi-institusi dan ideologi-ideologi yang menopangnya). Di akhir renungannya tentang anarkisme. hlm. menganjurkan revolusi moral tanpa kekerasan yang mengarah pada pen ghapusan negara. Peter Kropotkin. Dan anarkisme 134 itu sendiri merupakan gerakan kembali kepada masyarakat alamiah. Newton-Smith. The Rationality of Science (Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd.135 134 Lorens Bagus. Dikatakannya. filsuf sosial dan pengarang Rusia. filsuf sosial dan novelis Rusia. 1996). .I hope that having read the pamphlet the reader will remember me as flippant Dadais and not as a serious anarchist. 1981).. Feyerabend sendiri secara pribadi menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang d adais yang dilukiskannya sebagai berikut: A Dadais is convinced that a worthile life will arise only when we start taking things lightly and when we remove from our speech the profound but already putrid meanings it has accumulated over the centuries. maka anarkisme epistemologis justru tidak selalu memiliki loyalitas ataupun perlawanan yang jelas terhadap semua sistem dan struktur elit tersebut. 7.

23. dan bukan sebagai anarkis yang sesungguhnya). This does not exclude the skillful defence of programmes to show the chimerical character of any defence. hlm..  Istilah dadais muncul dari dunia seni di Perancis dan Jerman setelah Perang Dunia I sekitar tahun 1916-1922. tetapi juga anti status quo. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books..Saya berharap bahwa setelah membaca selebaran ini pembaca mengenangku sebagai seorang Dadais yang sembrono.(Seorang Dadais percaya bahwa hidup yang berguna itu hanya dapat dibangun apabila kita mulai melakukan sesuatu yang gampang dan berhenti dari omong besar kecuali jika kita ingin pengertian -pengertian itu menjadi busuk karena ditumpuk-ditumpuk selama berabad-abad. 136 Paul Karl Feyerabend. Seorang anarkisme epistemologis menurut Feyerabend ibarat seorang dadais seperti yang dijelaskan oleh Hans Richter dalam bukunya Dada: Art and Anti-Art. karena tidak adanya ukuran atau aturan yang tetap dan pasti untuk menentukan antara yang ilmiah dan yang non-ilmiah. it was against all programmes¶. melainkan akhirnya juga menjadi gerakan protes terhadap segala bentuk kemapanan. Feyerabend mengutip pandangan Richter sebagai berikut: µDada¶. tetapi anti-program. Ia bukan hanya tidak punya program. 1975). Dadaisme berarti suatu gerakan protes dari dunia seni yang ditujukan bukan hanya terhadap seni yang sudah mapan. Ia pembela status quo. Hal itu ditempuh untuk memberikan kebebasan bagi perkembangan metode-metode alternatif. however µrational¶. Anarkisme Feyerabend yang demikian itu terkadang diartikan orang sebagai kesewenang-wenangan epistemologi. . µnot only had no programme.136 Maksud Feyerabend adalah bahwa dalam epistemologi terdapat bentuk anarkisme yang berupaya mempertahankan sekaligus menentang kemapanan.

bahwa sejarah ilmu pengetahuan tidak hanya berisi fakta-fakta dan kesimpulankesimpulan yang ditarik dari fakta-fakta tersebut. sehingga tidak heran andaikata sejarah dan ide -ide ilmu pengetahuan yang berkembang itu kemudian menjadi pelik. 54. 137 Prasetya T. Ia juga berisi ide-ide.Dalam posisi seperti itu. hlm.. dan sebagainya. Dengan demikian. ilmu pengetahuan secara hakiki merupakan usaha yang anarkistik mutlak. 1993).137 Situasi semacam itulah yang dilukiskan Feyerabend sebagai sakit epistemologis. Seorang anarkis di bidang ini tidak segan bahkan tidak malu untuk mempertahankan pandangan yang dianggap sudah basi dan konyol sekalipun. Menurut hemat Feyerabend anarkisme teoretis itu lebih manusiawi daripada alternatif hukum. maka tidak demikian halnya dengan anarkisme epistemologis.W. "Anarkisme Pengetahuan dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend". anarkisme. interpretasi yang bertentangan. dan obat paling mujarab untuk mengembalikan eksistensinya pada koridor semula adalah dengan prinsip anarkisme. rancu dan penuh dengan kesalahan seperti pemikiran dari para penemunya. anarkisme juga tidak bisa disebut skeptisisme. . Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu (Jakarta: Gramedia. dalam Tim Redaksi Driyarkara (penyunting). Feyerabend memberikan argumentasi historis. Lantas mengapa diksi yang ditawarkan oleh Feyerabend adalah anarkisme? Karena anarkisme epistemologis merupakan anarkisme teoretis. interpretasi terhadap fakta-fakta. Dari perspektif ini. masalah-masalah yang timbul dari kesalahan interpretasi. Feyerabend melihat bahwa para ilmuwan hanya meninjau fakta ilmu pengetahuan dari dimensi ide belaka. Jika skeptisisme berpendapat bahwa suatu pandangan bisa benar dan bisa salah atau bahkan bisa juga tidak ada penilaian berarti baginya.

Kritik pertama disebutnya sebagai anti-metode (Against Method) yang berusaha (mendekonstruksi) format metode ilmu pengetahuan yang telah dibuat dan dipahami oleh para kaum positivis dengan melakukan penyingkapan dan pembongkaran terhadap asumsi-asumsi beserta kesalahan dari teori-teori baku yang selama ini telah dikembangkannya. . Atas nama kebebasan individu.. jelas dan bebas. Feyerabend mengkritik ilmu dari dua sisi yang kaitan antar keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Pungkasan ide anarkisme Feyerabend yang secara esensial perlu kita gali maknanya dalam realitas keseharian kita adalah pernyataannya berikut ini: ³And my thesis is that anarchism helps to achieve progress in any one of the senses one cares to choose 138 ´. H. 18. fungsi dan kedudukan ilmu pengetahuan dalam kehidupan masyarakat yang dianggap memiliki standar universal yang melampaui batas-batas partikularitas dan relativitasnya. Dan kritik yang kedua dinamakannya dengan anti-ilmu pengetahuan (Against Science) yang secara lebih mendalam lagi mencoba mengoreksi tentang praktek ilmiah.cit. hlm. 138 Paul Karl Feyerabend. op.sebagaimana pengakuan Feyerabend bisa membantu kita untuk mencapai kemajuan dengan memilih salah satu pemikiran yang kita minati secara lebih rasional. seluruh pemikiran individualisme ekstrem Feyerabend tentang anarkisme di atas sebenarnya adalah suatu kritik terhadap perjala nan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang telah didominasi oleh sains positivistik. Anarkisme Sebagai Kritik atas Ilmu Pengetahuan Secara garis besar.

Menurut Feyerabend.cit. karena kenyataannya ilmu pengetahuan hanya diambil dari pandangan sederhana atas dasar kemampuan seseorang dari lingkungan tertentu.W. Prosedur ini dimaksudkan sebagai standar 139 Prasetya T. klaim itu tidak realistis dan jahat. Feyerabend ingin melawan ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap mempunyai satu metode yang baku dan universal. op. gagasan itu merusak ilmu pengetahuan dan menghambat laju perkembangannya karena mengabaikan adanya kompleksitas situasi fisik dan historis yang memungkinkan perubahan ilmu pengetahuan. memiliki resistensi terhadap kritik yang tahan sepanjang masa serta dapat pula membawahi fakta dan penelitian. Dan langkah pertama yang dilakukan Feyerabend untuk menindaklanjuti kritiknya tersebut adalah dengan mengajukan suatu prosedur yang diberi nama kontra-induksi (counterinduction). hlm.. .1) Anti-Metode (Against Method) Dengan semboyan ini. Lagi pula. Jahat. 55. Feyerabend juga menyangkal pandangan saintisme yang menganggap ilmu berada di atas segala aspek budaya lain sehingga menyebabkan ilmu pengetahuan modern menghalangi kebebasan berpikir para ilmuwan itu sendiri. karena ilmu pengetahuan berusaha memaksakan hukum -hukum yang menghalangi berkembangnya kausalitas-kausalitas profesional kita dengan mempertaruhkan sifat kemanusiaan kita.139 Dengan menunjukkan bukti bahwa sejarah ilmu pengetahuan itu selalu dipenuhi dengan pertentangan teori. Tidak realistis..

or he. even the most obvious ones. Maksud Feyerabend bukanlah mengganti seperangkat aturan-aturan dengan peraturan yang lain. Prinsip induksi berupaya mencari fakta yang mendukung dan menghindari fakta yang tidak sesuai dengan teori. is likely to regard as basic. have their limits. hlm. karena sulitnya otokritik yang berasal dari dalam tubuh ilmu pengetahuan itu sendiri. Ketika ditemukan sejumlah fakta observasi dan eksperimen yang sesuai dengan teori. Dan cara terbaik untuk menjelaskan ini adalah dengan menunjukkan batas-batas.140 Hal ini jelas berbeda dengan paradigma positivisme yang menganggap induksi sebagai satu-satunya metode yang dianggap valid ataupun juga dengan kaum induktivisme naif yang berpendapat bahwa batang tubuh ilmu pengetahuan ilmiah dibangun di atas prinsip induksi yang dasarnya cukup kuat. 23. maka teori atau hukum diperkuat atau dikorborasi. tetapi tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa semua metode yang sudah jelas sekalipun mempunyai keterbatasan. op. Melalui kontra- 140 Paul Karl Feyerabend. to convince the reader that all methodolgies. The best way to show this is to demonstrate the limits and even the irrationality of some rules which she.cit. Hal tersebut diungkapkan Feyerabend sebagai berikut: My intention is not to replace one set of general ruler by another such set: my intention is. rather.kritik dari luar yang sangat diperlukan demi kemajuan ilmu pengetahuan. Kontra-induksi yang ditawarkan Feyerabend itu adalah juga untuk mengatasi masalah kekurangan prinsip verifikasi atau falsifikasi yang sama-sama tidak menghendaki adanya fakta yang konsisten dengan teori.. . irasionalitas dari beberapa aturan yang mungkin dianggap sebagai hal yang paling mendasar.

Jadi. dan Ketiga. memperkenalkan persepsi yang bukan merupakan bagian dari dunia persepsi yang ada. melakukan kritik terhadap fakta untuk memutuskan rantai dan konsep yang sudah mapan. Feyerabend mengusulkan counterrule. karena tidak ada satu pun teori yang menarik dan sesuai dengan semua fakta yang selalu dapat diketahui dalam bidang domainnya secara pasti dan meyakinkan. Dan untuk itu semua. masalah ini tidak memerlukan pembelaan khusus. yaitu memberikan hipotesis yang tidak konsisten dengan teori yang mapan atau dengan fakta yang b ahkan tidak sesuai atau tidak terukur sekalipun. menurut Feyerabend.induksi. Semua itu merupakan langkah yang disebut oleh Feyerabend sebagai kontra-induksi. pertanyaan pokoknya bukan apakah teoriteori yang kontra-induktif ini harus diakui dalam ilmu pengetahuan atau tidak. Oleh karena itu. Itu sebabnya kontra-induksi selalu masuk akal dan selalu . mengacaukan prinsip-prinsip teoretis yang paling masuk akal. Walaupun begitu. Feyerabend kemudian merancang pertanyaan mendasar tentang apa yang seharusnya dilakukan? Pertama. tetapi apakah kesenjangan yang ada antara teori dengan fakta harus diperbesar atau diperkecil? Atau apa yang harus kita lakukan dalam menjawab persoalan ini? Maka untuk bisa menyadari dan melakukan kritik terhadap asumsi-asumsi ilmu pengetahuan diperlukan standar eksternal guna memeriksa karakteristik dari dunia nyata yang diamati. kontra-induksi yang dikemukakan oleh Feyerabend itu sesungguhnya berperan penting untuk menjembatani permasalahan teori dan fakta. Kedua.

cit. (2) mengembangkan konsekuensi-konsekuensinya.mempunyai kemungkinan untuk berhasil (counterinduction is. Prinsip pengembangbiakan ini merupakan realisasi kritik dari alternatif pemikiran Feyerabend yang pada prinsipnya bertujuan untuk mencapai tiga hal utama: (1) memberikan model abstrak tentang kritik terhadap ilmu pengetahuan. yaitu prinsip pengembangbiakan (proliferation) dan prinsip apa saja boleh (anything goes) yang telah penulis terangkan dalam bab sebelumnya. adalah untuk memperlemah kesetian kita terhadap kemantapan suasana dengan menciptakan 141 Ibid.W.H. therefore.. Berdasarkan hal yang ketiga. hlm. hlm. sehingga nantinya terbentuk suatu basis bagi kritisisme dan reformasi ilmu pengetahuan. op. Ini berarti bahwa prinsip pengembangbiakan juga menafikan adanya sikap otoritarianisme terhadap produk pemikiran manusia yang paling absurd sekalipun.. .. Newton-Smith. menurut W. 56. always reasonable and it has always a chance of success). dan (3) membandingkan konsekuensi-konsekuensi itu dengan ilmu pengetahuan.142 Siasat Feyerabend ini. Feyerabend memasukkan beberapa prinsip (bukan metode). Feyerabend mengharapkan bahwa perbandingan antara fenomenafenomena sejarah dan pandangan epistemologis mampu memberikan kriteria penilaian yang holistik terhadap struktur aktual ilmu pengetahuan.141 Sebagai ganti atas anti-metode. 142 Prasetya T. bentuk-bentuk kehidupan dan kerangka institusional yang tunggal. Maksudnya kita tidak bekerja dengan sistem pemikiran. 23. Jadi dalam dalam kaitan ini kami hanya akan membahas tentang prinsip pengembangbiakan yang secara harfiah berarti membiarkan semua berkembang sendiri.

op. aturan atau metode apapun. jelas bahwa prinsip pengembangbiakan ini bukan aturan metodologis.hal yang bertentangan dengan keadaan yang melarang kita untuk mengembangkan berbagai teori. Dengan demikian.H. especially theories incompatible with currently accepted ones´.. Dengan sikap ini. prinsip ini tidak hanya memungkinkan adanya penemuanpenemuan alternatif baru. . melainkan anti terhadap kekuasaan ilmu pengetahuan yang seringkali mengaburkan maksud dan tujuan utamanya. sebab ternyata ia juga menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan itu tidak dapat diperoleh dengan hanya mengikuti teori tunggal. hlm. Berdasarkan uraian di atas. 131. Feyerabend ingin melawan ilmu pengetahuan yang oleh para ilmuwan dianggap 143 W. melainkan dengan membiarkan teori-teori yang beraneka ragam dan berbeda satu sama lain berkembang secara bebas. ³«Feyerabend¶s strategy is to weaken our allegiance to the consistency condition by developing a case an incompatible counterrule which in this case enjoins us to proliferate theories. Newton-Smith. 2) Anti-Ilmu Pengetahuan (Against Science) Anti-ilmu pengetahuan Feyerabend ini tidak berarti ia anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.143 Prinsip pengembangbiakan berusaha menemukan dan mengembangkan teori-teori yang tidak cocok dengan pandangan yang sudah lazim diterima. tetapi juga membuka peluang bagi tampilnya kembali teori lama yang sudah tidak diakui lagi keberadaannya. Smith mengatakan. terutama teori yang bertentangan dengan satu teori yang telah diterima oleh umum pada zaman sekarang ini.cit.

cit.lebih unggul daripada bidang-bidang atau bentuk-bentuk pengetahuan lain. . 58. seperti sihir. mitos. Dari semua bentuk pengingkaran yang sangat radikal tersebut. Feyerabend ingin mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu bukanlah ideologi yang berisi omong kosong belaka. ilmu pengetahuan menjadi pemikiran tunggal-mutlak karena adanya propaganda dari para ilmuwan dan institusi terkait yang diberi wewenang untuk selalu mempengaruhi kesadaran kolektif masyarakat tentang hakikat dan ilmu pengetahuan itu sendiri. magi. Dengan begitu.144 Walaupun dewasa ini tidak ada lagi orang yang dihukum mati dengan dakwaan subversif atau ³sesat´ terhadap rumus-rumus formal ilmu pengetahuan. Semboyan extra ecclesiam nulla salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan) yang lebih dari satu abad lalu ada dalam tradisi gereja. voodoo. tetapi mereka secara hukum konvensional mendapat sanksi sosial yang justru lebih berat daripada batas-batas toleransi yang ada dalam suatu masyarakat sekalipun. Maka tidak wajar mendewa-dewakan ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya pengetahuan 144 Prasetya T. Ditegaskannya. dan pada gilirannya menjadi semacam ideologi yang menindas kebudayaan alternatif. Sehingga ilmu pengetahuan yang dianggap paling benar itu telah menguasai sistem kebenaran dunia ilmiah. op. diadopsi oleh para ilmuwan dengan mengatakan extra scientiam nulla salus (di luar ilmu pengetahuan tidak ada kebenaran).. dan lain sebagainya. hlm.. Feyerabend sejatinya ingin menyatakan bahwa ilmu pengetahuan hanya merupakan salah satu gagasan terbuka dan plural dari sekian banyak pilihan ideologi yang ada dalam masyarakat.W.

yakni semacam kebijaksanaan untuk mengakui segala keterbatasan pengetahuan kita. yaitu bagian intelektual manusia yang dapat mengandaikan adanya kompleksitas suatu obyek.yang paling unggul dan bahkan paling menentukan kehidupan masyarakat. dan kemungkinan manusia mengambil sikap terhadap obyek tersebut. tanpa kehilangan kepastian bahwa kita dapat bicara mengenai kebenaran. Mungkin situasi inilah yang dikatakan oleh Richard Rorty bahwa epistemology is dead. . Karena masalahnya terletak pada muatan ideologis dari komunitas para ilmuwan dan pihak-pihak yang selalu berusaha menciderai kemurnian citra ilmu pengetahuan dengan kepentingan-kepentingan subyektif-individual yang menyebabkan proses idealisasi ilmu pengetahuan yang sebenarnya mengalami stagnasi. Relevansi pemikiran yang dapat kita pertautkan makna aktualitasnya dari dasar-dasar epistemologi Feyerabend di atas dengan fenomena budaya akademik kita saat ini adalah bahwa kita perlu mengembangkan pola pikir²dalam bahasa filsuf John Henry Newman²illative sense. atau dalam konstruksi filsafat Feyerabend disebut sebagai anti-ilmu pengetahuan (Against Science) itu. Adanya pengakuan terhadap kompleksitas berbagai persoalan kemanusiaan dan keterbatasan kemampuan manusia menguasainya yang pada akhirnya mengandaikan keterbukaan terhadap beragam persepsi. penafsiran dan perbedaan pendapat itu tidak lantas membuat kita harus kehilangan sandaran pencarian perennial tentang adanya kemungkinan bahwa kita dapat mencapai²betapapun mencapai disini mesti ditafsirkan sebagai (makin) mendekati²hakikat kebenaran yang kita maksud. Mungkin illative sense ini mirip dengan konsep phronesis dari Aristoteles.

ilmu tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. dan kebebasan individu. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan Paul Karl Feyerabend disusun atas dasar protes terhadap proses pemapanan ilmu pengetahuan yang selama ini didominasi oleh aliran Positivisme Logis dari Lingkaran Wina (Vienna Circle) yang menempatkan dan merumuskan ilmu pe ngetahuan sebagai kalkulasi aksiomatis semata. Feyerabend juga berhasil mengembangkan sistem ilmu pengetahuan revolusioner yang menjadi suatu analisis alternatif untuk . Disamping itu. ilmu tidak mengungguli bidang pengetahuan lain. 2. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan penting sebagai berikut: 1. prinsip -prinsip ilmu pengetahuan Feyerabend juga merupakan wujud dari ketidaksetujuannya pada empirisme kontemporer dan teori mekanika kuantum mutakhir dari Interpretasi Kopenhagen untuk menunjukkan bahwa metodologi-metodologi yang telah ada sudah tidak sejalan atau tidak cocok lagi dengan sejarah perkembangan fisika.BAB V PENUTUP I. Adapun prinsip prinsip ilmu pengetahuan yang ditawarkan oleh Feyerabend itu adalah apa saja boleh (anything goes). Simpulan Dari seluruh pembahasan tentang konstruksi ep istemologis Paul Karl Feyerabend beserta persoalan-persoalan dasarnya tersebut di atas.

menginterpretasi dunia dengan metode anarkisme epistemologi yang ditujukan untuk semakin menemukan hakikat ilmu pengetahuan yang selama ini secara ideologis dianggap lebih unggul daripada bentuk pengetahuan lain lewat kritik anti-metode (Against Method) dan antiilmu pengetahuan (Against Science)nya. Selain itu. Ia berargumen bahwa selama ini para ilmuwan cenderung memakai standar-standar universal dan baku. magi. sehingga menghalangi berkembangnya kausalitas -kausalitas profesional kita dan menegasikan pula pluralisme metodologi yang pada hakikatnya bisa menjadi sarana kritisisme dan kemajuan ilmu pe ngetahuan itu sendiri. Oleh sebab itu. terlepas dari kontroversi ilmiah yang menyertainya. mitos. telah mampu memberikan perspektif baru untuk melepaskan diri dari segala bentuk otoritarianisme ilmu pengetahuan yang dianggap Feyerabend tidak ubahnya seperti sihir. dan tidak ubahnya juga seperti ³agama baru´ pada masa Abad Pertengahan yang memonopoli sistem kebenaran dalam masyarakat. ilmu pengetahuan yang dipropagandakan menjadi ideologi tunggal-mutlak yang menindas budaya ilmiah alternatif oleh para ilmuwan dan institusi terkait lain . voodoo. Corak pemikiran anarkisme ilmu pengetahuan Feyerabend. salah satu ide penting Feyerabend lainnya sebagai penjelasan lanjutan dari tesis apa saja boleh yang diusungnya adalah bahwa tidak ada keteraturan metode atau teori dalam ilmu pengetahuan.

Untuk itu. maka perdebatan filosofis tentang Feyerabend tidak hanya berkisar pada satu sketsa pemikiran saja. Sebagai sebuah pemantik dan pengenalan awal dari wacana filsafat ilmu pengetahuan Feyerabend. bahwa di masa mendatang mungkin alangkah lebih baik jika pengembangan kajian dari tulisan ini lebih difokuskan pada implikasi-implikasi sosial-praktis dari prinsip apa saja boleh (anything goes). B. ilmu tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. sebab masih banyak padanan ide dan ragam penafsiran lain yang bisa dielaborasi secara tajam dan mendalam dari tesis-tesis utama Feyerabend yang begitu kontroversial dan ekstrem itu guna memperoleh bekal pemahaman yang lebih benar dan lengkap tentang struktur fundamental dari filsafat Feyerabend itu sendiri. . Dengan begitu. dalam skripsi ini penulis hanya sebatas µmengantarkan¶ khalayak pembaca pada orientasi umum tentang anarkisme epistemologi Feyerabend yang oleh sebagian kalangan dianggap tidak memberikan tawaran metodologi yang jelas dan sistematis. Saran-saran 1. maka saran singkat yang bisa penulis sampaikan adalah.semisal negara itu menurut keyakinan Feyerabend mesti dilawan dengan penentangan metode yang anarkistik. ilmu tidak harus mengungguli bidang pengetahuan lain dan kebebasan individu Feyerabend di tengah arus liberalisasi pemikiran masyarakat kontemporer. serta tidak memiliki standar aturan yang dinilai baku untuk menentukan antara yang ilmiah dan yang non -ilmiah.

Bahkan yang lebih parah lagi. yaitu kemampuan memahami orang lain tanpa terhanyut ke dalam alam pikirannya secara total. mengajar kita untuk senantiasa meneliti. sehingga tidak jarang menimbulkan pemaknaan yang justru kontraproduktif. Namun dengan adanya unsur ³relativisme saintifik´²istilah Haidar Bagir²dalam rumpun teori ilmu pengetahuan. selain beresiko menghasilkan rumusan pemecahan masalah yang keliru. Sebab kerapkali krisis persepsi terhadap pluralitas dan kompleksitas dari setiap dialektika pemikiran membuat kita tidak bisa menangkap dan menggali muatan muatan filosofis yang menjadi asumsi dasar masalah tersebut. Oleh karena itu. tentu akan membuat kita tidak pernah merasa benar sendiri serta tidak mudah merasa puas dengan segala pengetahuan yang telah kita peroleh. kita pun cenderung bersikap fanatik²mati-matian membela pendapat kita tanpa peluang menyadari bahwa pendapat kita itu salah. mendiskusikan dan men guji kesahihan serta akuntabilitas setiap gagasan ²termasuk anarkisme ilmu pengetahuan Feyerabend²agar bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual dan ilmiah.2. Sebab studi filsafat sebagai pilar utama rekonstruksi pemikiran lewat metodologi berpikirnya yang ketat. Dalam mengkaji pemikiran filsafat Feyerabend ini kita dituntut untuk melakukan apropriasi. Evolusi ilmu pengetahuan dan kebudayaan manusia telah sampai ke zaman yang memaksa kita untuk be rpikir . batas-batas yang kita paksakan atas persoalan yang sejatinya kompleks itu sering merupakan penjelmaan dari sikap-sikap subyektif-egoistik kita.

.holistik. yang tidak bermakna anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Di samping itu juga. sebagaimana ditegaskan Feyerabend berbeda dengan anarkisme politis maupun religius. Demikian juga. sehingga kita mampu mencerna makna substansial dari setiap realitas yang ada. Anarkisme. sistemik dan refleksif-mendalam untuk memahami realitas beserta problem-problem besar yang diakibatkannya. dipakai untuk menunjukkan bahwa ada aspek relativitas teori ilmu pengetahuan yang selalu terbatas oleh adanya ketergantungan observasi pada teori. perlu kecermatan dan ketelitian dalam menelaah setiap rekonstruksi filosofis yang cukup provokatif dari Feyerab end. tidak lantas itu meniadakan atau mengganti peran dan fungsi teoretis ilmu pengetahuan yang telah dirintis oleh para ilmuwan. Maka saran akhir yang bisa penulis usulkan dan adalah dibutuhkan sikap kehati-hatian pikiran filsafat dalam ilmu memahami menyelidiki pokok-pokok pengetahuan Feyerabend dengan menghindari penafsiran yang dangkal dan terpilah-pilah. Atau Against Science. melainkan bahwa subyektivitas para ilmuwan dalam penetapan sebuah proposisi atau hipotesis ilmu pengetahuan menyebabkan praktek ilmiah tidak bisa dijadikan sebagai simbol superioritas ilmu pengetahuan atas bentuk atau bidang pengetahuan lain. 3. tetapi itu menurut Feyerabend. Juga pengertian Against Method. anything goes tidak berarti pula tanpa batas-batas fungsional yang mengikuti kecenderungan individual yang tidak berarti dan tidak bernilai.

Falsafatuna. 1986. 1984. Endang Daruni dan A. Kamus Filsafat. 1996. Sejarah Filsafat Barat dan Sezaman. 1951. Sutardjo. R. Balashov. Muhammad Nur Mufid bin Ali. Bernadien. Yogyakarta: Karya Kencana. 1997. Androngi. Beerling. Metodologi Penelitian Filsafat. Bertens. Bagus. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Pengantar Filsafat Ilmu. Parera (penyunting). Filsafat Dewasa Ini. Philosophy of Science. Jakarta: Balai Pustaka. 1998. Bandung: Alumni. Bandung: Mizan. Adisusilo. 1987. Brouwer. Tarian Tuhan. Anton dan A.DAFTAR PUSTAKA Asdi. Al-Qur¶an dan Terjemahnya. Semarang: Bintang Pelajar. Bakker. Filsafat Alam Semesta. 1981. Martinus Anton Wesel. Brouwer.).F. Yogyakarta: Apeiron Philotés. Heryadi. Revised Edition. Husnan Aksa. New York: Transaction Publishers. et. Lorens. Achmadi. Frans M. Semarang: Alwaah.). 1983. Kees. 2003. Mario Augusto. alih bahasa Soejono Soemargono. London: Routledge. 1990. Volume One: From Problem to Theory. Panorama Filasafat Modern.P.. Muhammad Baqir. Kanisius. Filsafat Umum. Charris Zubair. Beerling. Asmoro. 2002. 1993. Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan Yogyakarta: . Jakarta: Gramedia. Win Usuluddin (ed. Psikologi Fenomenologis. . Dance of God. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta: Kanisius.al. 1986. Bunge. Ash-Shadr. 1998. Jakarta: Gramedia. Filsuf-filsuf Dunia dalam Gambar. terj. Martinus Anton Wesel dan M. Yuri and Alex Rosenberg (eds. Yogyakarta: Tiara Wacana. 1995. Philosophy of Science: Contemporary Readings.

G. Harry. 1987. Harris. Yogyakarta: Liberty. Roy J.. Hardono Hadi (penyunting). 1980. La Salle. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern. 1983. New York: Verso. ³How to Defend Society Against Science´. Bandung: Epping. 1983. Pengantar Remadja Karya. Psikososial. Pengantar Filsafat Ilmu. Apa itu yang dinamakan Ilmu? Suatu Penilaian Tentang Watak dan Status Ilmu serta Metodenya. The Liang. Encyclopaedie. Farewell to Reason. Sebuah Studi Tentang Filsafat. Jakarta: Pustaka Alhusna. _______. Bandung: Jemmars. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. Epistemologi dan Logika.Chalmers. Filsafat Skolastik.. Howard.F. James Franklin. Ushuluddin. Jakarta: Hasta Mitra. Dirdjosisworo. dalam Ian Hacking (ed. Kenneth T. 1999. Yogyakarta: Fak. Structure Revolutions. __________________. New York: Oxford University Press. Nederlandse. Th.). Ingerichte. Pengantar Teori-teori Pemahaman Kontemporer: Hermeneutika. Gallagher. ____________. 1985. Lintasan Sejarah Ilmu. 2001. Ninuk KledenProbonegoro (ed). Yogyakarta: Kanisius.W. 2002. Stockum dan Juntak S. Illinois: Open Court. Jakarta: Gramedia.F. 1992. Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna. Bandung: Nuansa. Hanafi. Soedjono. dan Ontologis.. Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge. London: New Left Books.. 1997. Gie. Systematisch. 1983. A. Filsafat Ensie: Eerste. 1981. Paul Karl.. Against Relativism: A Philosophical Defense of Method. Bawengan. Jakarta: Pustaka Alhusna. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan). Feyerabend. Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat. A. 2000. P.. Harun. Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi. 1981. A. __________________. 1998. Wacana Analitik. 1982. Jakarta: Pradnya Paramita. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius. C. . Hadiwijono. Hamersma.. 1975.

2003. _________. Pengantar Filsafat Islam: Sebuah Pendekatan Tematis. Yogyakarta: U. 1996. Laer. Pengantar Filsafat. 1996. Asmin (ed. Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. Understanding Philosophy of Science. 1992. . Kamus Istilah Filsafat. Peursen.P. Yogyakarta: Pusat Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia. terj. Mudhofir. Lubis. Jakarta: Teraju. Bandung: Mizan. Feyerabend: Penggagas Anti-Metode. __________. Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi. Jakarta: Gramedia. 1988. Ali. Akhyar Yusuf. Franz von. Leaman. Yudian W. 1992. The Logic of Scientific Discovery. 1992. terj. 1974. A. 2002. Bandung: Remaja Rosdakarya. alih bahasa Soejono Soemargono. Losee. Karl Raimund. Yogyakarta: Liberty. Henry van. John.. Kattsoff. Thomas S. Yogyakarta: Tiara Wacana. Kees Bertens. New York: Harper & Row Pub. Popper. Susunan Ilmu Pengetahuan. 1984. 1993.). Jakarta: Gramedia.G.M. Ladyman. Prawirohardjo. Tjun Surjaman. terj. Filsafat Sains Bagian Pertama: Ilmu Pengetahuan Secara Umum. Oxford: Clarendon Press. 1995. Oliver. Soeroso H. A Historical Introduction to the Philosophy of Science. Cornelis Anthonie van. 2001. 1968. Gadjah Mada University Press.. Philosophy of Science and Historical Enquiry. Fourth Edition. Melsen. New York: Oxford University Press. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita. van. Magnis-Suseno. 2001. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. London: Routledge.Kuhn. Musa Kazhim dan Arif Mulyadi. Louis O.. James. Meta-Teoritis atas Ilmu Pengetahuan dan Implikasinya Bagi Program Pendidikan Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis.

H. Joko. 1996. . Yogyakarta: Kanisius. 1974. 1999. terj. Sudarto. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna . Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. Bandung: Rosdakarya. Piaget. Dagobert D. 1971. Budi Hardiman (ed. C. Michael. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hiper-Realitas Kebudayaan. et. Huston. Hermoyo. Boston: Routledge & Keagan Paul Ltd.. (ed. W. 1996. Totowa: New Jersey. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.al.). dan M.). Michael Dua. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu. Kamus Ilmiah Populer. F. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. 1981. 1995. 2001. Newton. (penyunting). The Structure of Scientific Theories. Piliang. 1995. Jan Hendrik. _______________. Conny R. Yogyakarta: Kanisius. 1996. 1996.X.. Dahlan Al-Barry. Semiawan. Suriasumantri. 1994. 1999.Partanto. Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan. Dictionary of Philosophy. Yogyakarta: Jalasutra. Mudji dan F. Yasraf Amir. Kosmologi Einstein. Yogyakarta: Tiara Wacana. 1998. Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu. Polanyi. Littlefield Adams & Co. Rapar. Suppe.).A. Metodologi Penelitian Filsafat. ____________ (penyunting). Runes. Pius A. terj. 2004. et. Smith. Kebenaran Yang Terlupakan: Kritik atas Sains dan Modernitas .al. 1995. Jujun Suparjan. Urbana University of Illionis Press. Siswanto. Yogyakarta: LKíS. Jakarta: Gramedia. Qadir. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. terj. Yogyakarta: IRCiSoD. Sutrisno. Pengantar Filsafat. terj. Bosco Carvalho. Jean. Jakarta: Raja Grafindo Persada... Inyiak Ridwan Muzir. 2002. Strukturalisme. Frederick (ed. Surabaya: Arkola. The Rationality of Science. Smith.

Tim Redaksi Driyarkara (penyunting). Tim Penulis Rosda. Verhaak.Salam. Jakarta: Gramedia.M. Ilmu dan Teknologi. 1993. Kamus Filsafat. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. 1995. Hakikat Ilmu dan Cara Kerja Ilmu-ilmu. Christiaan R. 2000. Jakarta: Rineka Cipta. Bambang. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sugiharto. 1991. Yogyakarta: Kanisius. I. 2000. dan Robert Haryono Imam. .O. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-ilmu. Sejarah Filsafat. Jakarta: Gramedia. Burhanuddin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful