Panduan Pengenalan

MANGROVE
di Indonesia

Oleh: Yus Rusila Noor M. Khazali I N.N. Suryadiputra

Bogor, Oktober 2006

Ditjen. PHKA

Indonesia Programme

i3

This publication has been made possible with funding from the CY 98 Environment Component of the World Bank/Netherlands Partnership Programme, through the IUCN Regional Biodiversity Programme for South and Southeast Asia. Publikasi ini dibuat atas dukungan biaya dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998, lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara.

THE WORLD BANK

This publication is adapted from: Publikasi ini merupakan saduran dari: Giesen, W., Stephan Wulffraat, Max Zieren & Liesbeth Schoelten. A Field Guide of Indonesian Mangrove. WI-IP (in prep.).

Cetakan pertama tahun 1999

Pencetakan ulang (kedua) tahun 2006, didukung oleh:

Green Coast
For nature and people after the tsunami

Dibiayai oleh:

Pustaka: Rusila Noor, Y., M. Khazali, dan I N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP, Bogor.

4ii

© Wetlands International – Indonesia Programme, 1999 Hak cipta dilindungi Undang-undang ISBN: 979-95899-0-8

Desain dan tata letak: Triana Ilustrasi: Wahyu Gumelar dan Tilla Visser Foto: Hidayat S., I N.N. Suryadiputra, Jennifer Dudley, Kitamura, Marcel J. Silvius, Wendy Suryadiputra, Wim Giesen

Pendapat dan saran yang dikemukakan dalam buku ini adalah semata-mata pendapat dan saran dari penulis/ penyadur dan tidak selalu mencerminkan kebijakan resmi dari Wetlands International dan Ditjen PHKA.

iii3

1928). 1975). Namun atas dukungan biaya oleh pihak sponsor (Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998) manuskrip tersebut kini telah berhasil disadur kedalam Bahasa Indonesia dengan beberapa tambahan dan perbaikan data. baik karena beratnya buku-buku tersebut maupun harganya yang mahal. sehingga bagi yang ingin mempelajari mangrove Indonesia terpaksa harus mengacu kepada pustaka mengenai negara-negara tetangga. 1989). dan bagian kedua secara spesifik menjelaskan jenis-jenis mangrove di Indonesia (di dalamnya meliputi cara mengidentifikasi. saran dan kritik pemakai buku ini sangat diharapkan. Oleh karena itu. sekaligus memberikan kesempatan yang berharga bagi mereka yang bermaksud mempelajari dan menikmati habitat ini. Tujuan ditulisnya buku ini adalah untuk memberikan suatu panduan sederhana pengenalan tumbuhan mangrove bagi mereka yang tertarik pada konservasi dan pengelolaan mangrove di Indonesia. kelimpahan serta manfaatnya bagi umat manusia). akan tetapi banyak mengandung kelemahan. Penyadur 4iv 3iv . Namun. manfaat. PNG (Percival & Womersley. baik karena beberapa jenis tidak terdapat di Indonesia atau karena titik berat pustaka tersebut hanya pada pohon dan belukar. ekologi. Warisan alam yang sangat luar biasa ini memberikan tanggung jawab yang besar bagi Indonesia untuk melestarikannya. Untuk mengisi kekosongan tersebut. WI-IP telah menyelesaikan suatu manuskrip pengenalan mangrove Indonesia dalam Bahasa Inggris. hal ini dirasakan cukup menyulitkan dan kurang praktis. termasuk Flora Malesiana. bagi yang ingin secara serius mempelajari mangrove haruslah mengacu kepada berbagai publikasi lainnya. Hingga saat ini. Buku ini tidak ditujukan sebagai edisi akhir yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam identifikasi mangrove di Indonesia. Buku ini dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama berisikan tentang gambaran umum mangrove (di dalamnnya tercakup habitat. sebaran serta kebijakan/peraturan tentang mangrove di Indonesia). seperti untuk Malaysia (Watson.KATA PENGANTAR Indonesia dikarunia memiliki mangrove yang terluas di dunia dan juga memiliki keragaman hayati yang terbesar serta strukturnya paling bervariasi. dan Australia (Wightman. sangat sedikit pustaka yang berhubungan dengan mangrove di Indonesia. Meskipun dalam beberapa hal pustaka tersebut bermanfaat. yang sayangnya belum bisa segera diterbitkan karena kendala biaya. Untuk melengkapi pustaka tersebut.

UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. Publikasi ini dapat diselesaikan berkat dukungan dana dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998.Indonesia Programme dibawah koordinator Laksmi A. Scott Perkin sebagai Ketua Program telah sangat berperan dalam memungkinkan penyaluran dana. untuk itu Dr. Marcel J. Jennifer Dudley dan Wendy Suryadiputra. Liesbeth Schoelten dan tim produksi manuskrip Bahasa Inggris yang menjadi sumber utama publikasi ini. Stephan Wulffraat. Max Zieren. Savitri. Ilustrasi hitam putih digambar oleh tangan terampil Wahyu Gumelar dan Tilla Visser. Wahyu Gumelar. Penerjemahan dan penyaduran dari manuskrip Bahasa Inggris dilakukan oleh penyadur pertama. Atsuo Ida.al. Beberapa foto berwarna juga diambil dari Handbook of Mangroves in Indonesia (oleh Kitamura et. lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara. Foto-foto berwarna diambil oleh para penyadur juga oleh Hidayat Sunarsyah. Silvius sangat berperanan dalam persiapan awal penerbitan buku ini serta menyediakan beberapa slide-nya untuk digunakan. Penyadur kedua dan ketiga memperbaiki dan menambah informasi dan data terbaru yang lebih sesuai untuk edisi ini. Dr.) yang diproduksi oleh JICA-ISME (1997) melalui ijin yang diberikan oleh pimpinan proyek mangrove JICA di Bali. Penghargaan dan ucapan terima kasih akhirnya disampaikan kepada Wim Giesen. sedangkan pendisainan dan tata letak dilakukan oleh Triana. Cecep Kusmana memberikan masukan yang sangat berharga dalam persiapan awal publikasi. v3 . Indonesia) Penyelesaian publikasi ini dilakukan oleh suatu tim dari Wetlands International . Dr. serta kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

terutama juga karena kurangnya dana pendukung. Dr. Arnhem. Cecillia Luttrell yang telah mencoba kunci identifikasi di lapangan dan memeriksa spesimen di lapangan.UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. Jepang). Ellecom. khususnya Stephan Wulffraat (yang membuat daftar jenis dan memulai seluruh proses). Hennipman (Institute of Systematic Botany. Terlepas dari masalah dana tersebut. kami juga menghaturkan terima kasih kepada pihak luar yang teah memberikan komentar dan masukan yang sangat berharga. Dra. sayangnya harus meninggalkan Indonesia. harus meninggalkan Indonesia pada awal 1995. Koordinator proyek yang pertama. terima kasih tak terhingga untuk Herbarium Bogor dan Rijkherbarium Leiden yang telkah memberikan kemudahan untuk menggunakan koleksi herbariumnya. selama kurun waktu 1991 – 1993. Ellecom. University of Utrecht. meskipun penyelesaian buku ini sangat terlambat. Stichting Pro Natura. Terima kasih juga disampaikan kepada staf perpustakaan Herbarium Bogor atas bantuan dan kesabarannya dalam memberikan pustaka yang diperlukan. J. Produksi buku ini pada awalnya didukung oleh Stichting FONA. Inggris) Banyak pihak yang terlibat dalam penyelesaian secara bertahap buku ini. The Netherlands dan Stichting Ludovica. PHPA (sekarang PHKA) dan AWB (sekarang Wetlands International) sangat berterima kasih kepada sejumlah sukarelawan yang telah memberikan sumbangannya kepada penyelesaian buku ini. Terakhir. sehingga pengerjaan buku ini agak terbengkalai.J Afriastini yang telah membantu identifikasi tumbuhan herbarium. Wim Giesen. E. Penyelesaian akhir buku ini kemudian dilanjutkan oleh Koordinator berikutnya. dan Bea Tolboom yang telah mengumpulkan pustaka. berkenan untuk memberikan sumbangan dana yang memungkinkan dilanjutkannya proses penyelesaian akhir dan editing buku ini oleh penulis dan editor utamanya. Wim Giesen. Yus Rusila Noor. the International Society for Mangrove Ecosystems (ISME. pengerjaan kemudian dilakukan sedikit demi sedikit sampai kemudian Koordinator proyek lanjutan inipun. The Netherlands). The Netherlands. Kami sangat berterima kasih kepada para sponsor yang memberikan dukungan. Liesbeth Schoelten untuk ketekunan dan kemampuannya dalam memberikan pertelaan jenis. Syukurlah. termasuk Almarhum “Doc” Kostermans (Herbarium Bogor). Tilla Visser untuk gambargambarnya yang luar biasa. 4vi 3vi . sehingga dapat digunakan dalam pembuatan gambar buku ini. The Netherlands. Lebih dari itu. Max van Balgooij (Rijkherbarium Leiden) dan Dr. Pada akhir 1993. Max Zieren. berpusat di Okinawa.

2 5. Pendahuluan 1.5 Pemetaan sumberdaya Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Peraturan yang berkaitan dengan konservasi mangrove Perkembangan terakhir vii3 .1 4.DAFTAR ISI Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Daftar Isi I.3 5.2 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Penyebab penurunan luas mangrove V.3 II.1 3. Apakah mangrove itu? Gambaran umum mangrove Indonesia Cakupan buku panduan (Edisi B. Status Mangrove Indonesia 4. Indonesia) (Edisi B.2 1.1 2.2 Pemanfaatan mangrove Fungsi mangrove IV. Inggris) iv v vi vii 1 1 1 3 5 5 8 12 17 17 21 23 23 27 30 30 31 33 34 35 Bagian I Habitat Mangrove 2.2 2. Manfaat Mangrove 3.3 Kondisi fisik Tipe vegetasi mangrove Fauna mangrove III.4 5. Kebijakan dan Peraturan Menyangkut Mangrove 5.1 5.1 1.

nama lain/sinonim.5 7. Areal Mangrove yang Dilindungi 6.1 7.2 7.1 6. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan Daftar Pustaka Glosari Indeks 190 198 201 212 219 Bagian II JENIS-JENIS MANGROVE SEJATI JENIS-JENIS MANGROVE IKUTAN 47 143 4 3 viii . sumber gambar & foto Lampiran 2. Jenis mangrove.6 Pustaka penting Petunjuk untuk pengamatan lapangan Spesimen tumbuhan mangrove Studi vegetasi Studi fauna Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Lampiran Lampiran 1.3 7.4 7.2 6.3 Mangrove dan sistem kawasan lindung Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Pemeliharaan keanekaragaman hayati mangrove 37 37 39 41 43 43 43 44 45 45 46 VII. Beberapa Petunjuk Studi Mangrove bagi Pemula 7.VI.

Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung (Saenger. Sonneratia. Dalam beberapa hal. Beberapa peneliti seperti Lanly (dalam Ogino & Chihara. 1.I. Sementara itu. dan terdiri atas jenis-jenis pohon Aicennia. Rhizophora. istilah “mangrove” digunakan untuk jenis tumbuhannya.2 Gambaran umum mangrove Indonesia Perkiraan luas mangrove di seluruh dunia sangat beragam. Beberapa ahli mendefinisikan istilah “mangrove” secara berbeda-beda. 1994) sampai 41. 13 . menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur. sedangkan Spalding. luas mangrove diperkirakan antara 32 % (Thurairaja. bahkan Groombridge (1992) menyebutkan 19. Excoecaria. PENDAHULUAN 1. Dalam buku panduan ini. Ceriops.1 Apakah mangrove itu ? Asal kata “mangrove” tidak diketahui secara jelas dan terdapat berbagai pendapat mengenai asal-usul katanya. dkk (1997) menyebutkan 18. Lumnitzera. 1983). termasuk jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di pinggiran mangrove seperti formasi Barringtonia dan formasi Pes-caprae.9 juta hektar. Aegiceras. Xylocarpus. menurut Wightman (1989) yang lebih penting untuk diketahui pada saat bekerja dengan komunitas mangrove adalah menentukan mana yang termasuk dan mana yang tidak termasuk mangrove. 1997) mangrove dunia. Scyphyphora dan Nypa. namun pada dasarnya merujuk pada hal yang sama. Bruguiera. Sementara itu Soerianegara (1987) mendefinisikan hutan mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Tomlinson (1986) dan Wightman (1989) mendefinisikan mangrove baik sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas.1 juta hektar. Untuk kawasan Asia.5% (Spalding. isitilah “mangrove” secara umum digunakan mengacu pada habitat. Macnae (1968) menyebutkan kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. Pada dasarnya. 1988) menyebutkan bahwa luas mangrove di seluruh dunia adalah sekitar 15 juta hektar. dkk. Dia menyarankan seluruh tumbuhan vaskular yang terdapat di daerah yang dipengaruhi pasang surut termasuk mangrove. dkk.

di Sulawesi Selatan). Kalimantan 978.600 ha (38%). 44 jenis epifit dan 1 jenis paku. Bina Program INTAG. sementara yang lainnya mengembangkan sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya. dkk (1983) mencatat sebanyak 60 jenis tumbuhan mangrove sejati.2 meter pada pantai yang tergenang air laut. Bruguiera. Dit.200 ha (28 %) dan Sumatera 673. hingga tegakan campuran BruguieraRhizophora-Ceriops dengan ketinggian lebih dari 30 meter (misalnya. 1996). Dalam hal lain. Ceriops dan Rhizophora. 19 jenis pemanjat. dkk (1997) menyebutkan seluas 4. Dari 202 jenis tersebut. Indonesia merupakan tempat mangrove terluas di dunia (18 .5 juta hektar dan Spalding. 5 jenis palma. sementara itu di sepanjang sungai yang memiliki kadar salinitas yang lebih rendah umumnya ditemukan Nypa fruticans dan Sonneratia caseolaris. 42 . beberapa jenis mangrove berkembang dengan buah yang sudah berkecambah sewaktu masih di pohon induknya (vivipar). Dengan kondisi lingkungan seperti itu. Sejauh ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis tumbuhan mangrove. Di daerahdaerah ini dan juga daerah lainnya.1 juta ha) dan Australia (0.5 juta hektar. seperti kondisi tanah yang tergenang.5 juta hektar (dalam buku panduan ini). mangrove di Indonesia lebih bervariasi bila dibandingkan dengan daerah lainnya. dkk. dapat ditemukan Sonneratia alba dan Avicennia alba. Dengan areal seluas 3.23%) melebihi Brazil (1. 43 jenis (diantaranya 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai mangrove sejati (true mangrove).3 juta ha). Giesen (1993) menyebutkan luas mangrove Indonesia 2. sementara jenis lain ditemukan disekitar mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove ikutan (asociate asociate).5 juta hektar. Umumnya mangrove dapat ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia (Gambar 1).Di Indonesia perkiraan luas mangrove juga sangat beragam. kadar garam yang tinggi serta kondisi tanah yang kurang stabil. 1997). beberapa jenis mangrove mengembangkan mekanisme yang memungkinkan secara aktif mengeluarkan garam dari jaringan. Walaupun mangrove dapat tumbuh di sistem lingkungan lain di daerah pesisir. Di daerah pantai yang terbuka.97 juta ha) (Spalding. Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ekstrim. Nigeria (1. perkembangan yang paling pesat tercatat di daerah tersebut. seperti Kandelia. Di seluruh dunia.300 ha (19%) (Dit. Bina Program INTAG (1996) menyebutkan 3. Dapat ditemukan mulai dari tegakan Avicennia marina dengan ketinggian 1 . meliputi 89 jenis pohon. Dalam hal struktur. Saenger. Umumnya tegakan mangrove jarang ditemukan yang rendah kecuali mangrove anakan dan beberapa jenis semak seperti Acanthus ilicifolius dan Acrostichum aureum. mangrove tumbuh dan berkembang dengan baik pada pantai yang memiliki sungai yang besar dan terlindung. Dengan demikian terlihat bahwa Indonesia memiliki keragaman jenis yang tinggi. 44 jenis herba tanah.350. Mangrove terluas terdapat di Irian Jaya sekitar 1.

Selain itu. Untuk hal demikian. dilampirkan beberapa peta yang berkaitan dengan penyebaran mangrove dan kawasan lindung mangrove yang penting di Indonesia dan panduan ringkas bergambar identifikasi mangrove. Untuk mereka yang bermaksud melakukan penelitian mengenai mangrove.Seluruh jenis mangrove tersebut telah dideskripsikan dalam manuskrip Bahasa Inggris dari panduan ini. namun pembaca diharapkan untuk berhati-hati dalam pemanfaatannya. 33 . Meskipun pada bagian dua tercantum juga aspek manfaat dari mangrove sebagai obatobatan. 1992).3 Cakupan buku panduan Buku panduan ini terdiri dari dua bagian. khususnya berkenaan dengan dosis yang akan dipakai. juga diuraikan informasi mengenai peraturan serta perundang-undangan mengenai mangrove di Indonesia.. dkk. status dan kondisi mangrove di Indonesia dibandingkan dengan bagian dunia lainnya. meliputi 43 jenis mangrove sejati dan 17 jenis mangrove ikutan. termasuk beberapa uraian singkat mengenai tanah. Bagian pertama berupa pendahuluan dan pengenalan terhadap mangrove secara umum. Dalam bagian pertama ini juga disajikan informasi mengenai manfaat yang dapat digali dari mangrove. para pembaca sangat dianjurkan untuk mengacu buku-buku lain yang khusus membahas jenis-jenis tanaman obat (misalnya Wijayakusuma. Inti dari buku panduan ini terdapat pada bagian dua. jenis mangrove yang dideskripsikan hanya mencakup 60 jenis. termasuk definisi mengenai mangrove.H. 1. serta uraian mengenai habitat mangrove. disajikan panduan ringkas mengenai tekhnik dasar penelitian mangrove serta daftar nama dan alamat organisasi penting yang bergerak dibidang penelitian dan pengelolaan mangrove di Indonesia. Dibagian ini ditampilkan panduan identifikasi jenis-jenis tumbuhan mangrove disertai ilustrasi dan/atau foto. tipe vegetasi serta faunanya. M. Dalam panduan edisi Bahasa Indonesia ini. Selain itu.

44 Gambar 1. Peta penyebaran mangrove di Indonesia .

1981) menyatakan bahwa hal tersebut berkaitan erat dengan tipe tanah (lumpur. pasir atau gambut). 1934).5 m) (Giesen. 1977). 1958). terutama di daerah dimana endapan lumpur terakumulasi (Chapman. caseolaris yang tumbuh pada salinitas kurang dari 10 o/oo.1 Kondisi fisik Vegetasi mangrove secara khas memperlihatkan adanya pola zonasi (misalnya terlihat dalam Gambar 2). misalnya di Florida. stylosa dan Sonneratia alba tumbuh pada pantai yang berpasir. Beberapa jenis lain juga dapat tumbuh pada salinitas tinggi seperti Aegiceras corniculatum pada salinitas 20 – 40 o/oo. mangrove dapat juga tumbuh pada daerah pantai bergambut. Jenis-jenis lain seperti Rhizopora stylosa tumbuh dengan baik pada substrat berpasir. kondisi ini ditemukan di utara Teluk Bone dan di sepanjang Larian – Lumu. Kint (1934) melaporkan bahwa di Indonesia. 1977 & Bunt & Williams. Di Indonesia. Beberapa ahli (seperti Chapman. Jenis-jenis Bruguiera umumnya tumbuh pada 53 . marina mampu tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90 o/oo (MacNae. Pada salinitas ekstrim. Jenis-jenis Sonneratia umumnya ditemui hidup di daerah dengan salinitas tanah mendekati salinitas air laut. 1976a). R. bahkan Lumnitzera racemosa dapat tumbuh sampai salinitas 90 o/oo (Chapman. 1991). salinitas serta pengaruh pasang surut. atau bahkan pada pantai berbatu. kecuali S. kerang dan bagian-bagian dari Halimeda (Ding Hou. Substrat mangrove berupa tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi (62%) juga dilaporkan ditemukan di Kepulauan Seribu. Amerika Serikat (Chapman. A. Teluk Jakarta (Hardjowigeno. Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. Di Indonesia. 1989).II. 1976a). Avicennia merupakan marga yang memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lainnya. substrat berlumpur ini sangat baik untuk tegakan Rhizophora mucronata and Avicennia marina (Kint.1968). Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. HABITAT MANGROVE 2. Rhizopora mucronata dan R. bahkan pada pulau karang yang memiliki substrat berupa pecahan karang. Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya. 1966. Stylosa pada salinitas 55 o/oo. sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya. Sulawesi Selatan. Sebagian besar jenis-jenis mangrove tumbuh dengan baik pada tanah berlumpur. Pada kondisi tertentu. pohon tumbuh kerdil dan kemampuan menghasilkan buah hilang. keterbukaan (terhadap hempasan gelombang). dkk. Ceriops tagal pada salinitas 60 o/oo dan pada kondisi ekstrim ini tumbuh kerdil. dimana mangrove tumbuh pada gambut dalam (>3m) yang bercampur dengan lapisan pasir dangkal (0.

lebar zona mangrove jarang melebihi 50 meter. Adapun pada daerah pantai yang tererosi dan curam. sementara B. Pada umumnya. MacNae (1968) menyebutkan bahwa kadar salinitas optimum untuk B. kecuali pada beberapa estuari serta teluk yang dangkal dan tertutup. serta kecuramannya. gymnorrhiza adalah 10 – 25 o/oo. yang mana areal ini lebih ke daratan. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt. dkk. Irian Jaya (Erftemeijer. Areal yang digenangi oleh pasang sedang didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora. panjang hamparan mangrove kadang-kadang mencapai puluhan kilometer seperti di Sungai Barito. lebar zona mangrove jarang melebihi 4 kilometer. 1989). Di Indonesia.daerah dengan salinitas di bawah 25 o/oo. 1990) atau bahkan lebih dari 30 kilometer seperti di Teluk Bintuni. Beberapa penulis melaporkan adanya korelasi antara zonasi mangrove dengan tinggi rendahnya pasang surut dan frekuensi banjir (van Steenis. Untuk daerah di sepanjang sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut. parviflora adalah 20 o/oo. Zona vegetasi mangrove nampaknya berkaitan erat dengan pasang surut. Panjang hamparan ini bergantung pada intrusi air laut yang sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pasang surut. Adapun areal yang digenangi hanya pada saat pasang tinggi. Pada daerah seperti ini lebar zona mangrove dapat mencapai 18 kilometer seperti di Sungai Sembilang. 1958 & Chapman. umumnya didominasi oleh jenisjenis Bruguiera dan Xylocarpus granatum. pemasukan dan pengeluaran material kedalam dan dari sungai. Kalimantan Selatan. areal yang selalu digenangi walaupun pada saat pasang rendah umumnya didominasi oleh Avicennia alba atau Sonneratia alba. 46 . 1978a). sedangkan areal yang digenangi hanya pada saat pasang tertinggi (hanya beberapa hari dalam sebulan) umumnya didominasi oleh Bruguiera sexangula dan Lumnitzera littorea.

mucronata Sarcolobus banksii Xylocarpus granatum 73 . Contoh zonasi mangrove di Cilacap. parviflora Ceriops tagal Dh Ra Rm Sb Xg - Derris heterophylla Rhizophora apiculata R.Gambar 2. gymnorrhiza B. Aa Ac Bc Bg Bp Ct - Avicennia alba Aegiceras corniculatum Bruguiera cylindrica B. dkk. 1989). Jawa Tengah (diadaptasi dari White.

alba. daerah tengah. Komiyama. Sumatera Selatan. c) Mangrove payau Mangrove berada disepanjang sungai berair payau hingga hampir tawar. campuran komunitas Sonneratia . alba dan A. Sonneratia akan berasosiasi dengan Avicennia jika tanah lumpurnya kaya akan bahan organik (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Sonneratia caseolaris lebih dominan terutama di bagian estuari yang berair hampir tawar (Giesen & van Balen. a) Mangrove terbuka Mangrove berada pada bagian yang berhadapan dengan laut. Van Steenis (1958) melaporkan bahwa S. Di Karang Agung. sementara Avicennia marina dan Rhizophora mucronata cenderung untuk mendominasi daerah yang lebih berlumpur (Van Steenis. di zona ini didominasi oleh Sonneratia alba yang tumbuh pada areal yang betul-betul dipengaruhi oleh air laut. moluccensis. daerah yang memiliki sungai berair payau sampai hampir tawar. Xylocarpus granatum dan X. B. alba cenderung untuk mendominasi daerah berpasir. seperti di Pulau Kaget dan Pulau Kembang di mulut Sungai Barito di Kalimantan Selatan atau di mulut Sungai Singkil di Aceh. Samingan (1980) menemukan bahwa di Karang Agung. mangrove umumnya tumbuh dalam 4 zona. Gluta renghas. Komposisi floristik dari komunitas di zona terbuka sangat bergantung pada substratnya. Di sebagian besar daerah lainnya. Ke arah pantai. gymnorrhiza. Di zona ini biasanya didominasi oleh jenis Rhizophora. di zona ini didominasi oleh S. 1991).fruticans yang bersambung dengan vegetasi yang terdiri dari Cerbera sp. Namun. Excoecaria agallocha. 48 .2. yaitu pada daerah terbuka. Meskipun demikian. Maluku.Nypa lebih sering ditemukan. S. eriopetala. Jenis-jenis penting lainnya yang ditemukan di Karang Agung adalah B. Samingan (1980) menemukan di Karang Agung didominasi oleh Bruguiera cylindrica. Di jalur-jalur tersebut sering sekali ditemukan tegakan N. serta daerah ke arah daratan yang memiliki air tawar. 1993). b) Mangrove tengah Mangrove di zona ini terletak dibelakang mangrove zona terbuka. komunitas N. alba merupakan jenis-jenis ko-dominan pada areal pantai yang sangat tergenang ini. mucronata. R.2 Tipe vegetasi mangrove Struktur Secara sederhana. Di zona ini biasanya didominasi oleh komunitas Nypa atau Sonneratia. Stenochlaena palustris dan Xylocarpus granatum. fruticans terdapat pada jalur yang sempit di sepanjang sebagian besar sungai. dkk (1988) menemukan bahwa di Halmahera. 1958).

Meskipun kelihatannya terdapat zonasi dalam vegetasi mangrove. Lumnitzera racemosa. Pandanus sp. akan tetapi dapat memberikan gambaran urutan penyebaran jenis mangrove di pulau-pulau Indonesia. Tabel 1 memberikan gambaran mengenai penyebaran seluruh jenis mangrove sejati di 6 negara di kawasan Samudera Hindia bagian utara/Pasifik barat laut. Jenis-jenis yang umum ditemukan pada zona ini termasuk Ficus microcarpus (F. fruticans. Cyperaceae. retusa). terdapat perbedaan dalam hal keragaman jenis mangrove antara satu pulau dengan pulau lainnya. Poaceae). 157 jenis di Sumatera. Amerika Timur/Karibea dan Afrika Barat hanya memiliki 7 jenis serta Afrika Timur 9 jenis (Saenger. namun kenyataan di lapangan tidaklah sesederhana itu. Banyak formasi serta zona vegetasi yang tumpang tindih dan bercampur serta seringkali struktur dan korelasi yang nampak di suatu daerah tidak selalu dapat diaplikasikan di daerah yang lain. 135 jenis di Sulawesi. Tanaka dan Chihara (1988) dalam penelitiannya mengenai makroalga di Indonesia Timur menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat penyebaran makroalga di dunia yang berasosiasi dengan tumbuhan mangrove. dan Xylocarpus moluccensis (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. 166 jenis terdapat di Jawa. Zona ini memiliki kekayaan jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan zona lainnya. Saenger. penelitian mangrove lebih intensif dilakukan di pulau ini dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Satu hal yang harus 93 . dkk (1983) mencatat dua kawasan tersebut mewakili masing-masing 44 dan 38 jenis dari 60 jenis mangrove sejati yang tercatat di dunia. Dari 50 jenis mangrove sejati yang ada. akan tetapi sebagian besar dari jenis-jenis yang tercatat berupa jenis-jenis gulma (seperti Chenopodiaceae. Selain itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman jenis mangrove yang paling tinggi di dunia. 150 jenis di Kalimantan. Kekayaan tersebut tidak hanya dalam hal kelompok tumbuhan Angiospermae. akan tetapi juga untuk taxa yang lainnya. Flora & keragamannya Kawasan Samudera India bagian utara dan Pasifik barat daya (memanjang dari Laut Merah sampai Jepang dan Indonesia) merupakan tempat keanekaragaman jenis mangrove tertinggi di dunia. Dari 202 jenis mangrove yang telah diketahui. 1993). dkk. Pengecualian untuk Pulau Jawa. Meskipun daftar ini mungkin tidak terlalu komprehensif. 1983). Intsia bijuga. meskipun memiliki keragaman jenis yang paling tinggi.d) Mangrove daratan Mangrove berada di zona perairan payau atau hampir tawar di belakang jalur hijau mangrove yang sebenarnya. 142 jenis di Irian Jaya. setidaknya tercatat 40 jenis berada di Indonesia. 133 jenis di Maluku dan 120 jenis di Kepulauan Sunda Kecil. Di Indonesia sendiri. Sementara di kawasan Amerika Barat/Pasifik Timur. N.

N. marina + A. hainesii B. litoralis + + + + + + + + + + + + + + + ?+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 410 . sexangula Campnosperma philippinensis C. schultzii Ceriops decandra + C. eucalyptifolia A. rumphiana Bruguiera cylindrica + B.G.diperhatikan adalah bahwa pembangunan yang mengakibatkan kerusakan dan peralihan peruntukan lahan mangrove telah terjadi di mana-mana. volubilis Aegilitis annulata A. Hal ini berarti jenis-jenis yang tercatat dalam daftar diatas kemungkinan sebenarnya sudah tidak ditemukan di pulau tertentu. tagal + Cynometra ramiflora + Excoecaria agallocha + Heritiera fomes + H. lanata A. Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Acanthus ebracteatus + A. ilicifolius + A. retundifolia + Aegiceras corniculatum + A. dkk. intermedia A. officinalis + A. integra A. Penyebaran jenis-jenis mangrove sejati di kawasan Indo-Australia (Saenger. parviflora + B. Tabel 1. floridum Avicennia alba + A. gymnorrhiza + B. exaristata B.. 1983) Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P.

griffithii S. parvifolius J UM L A H Referensi: India Bangladesh Vietnam Indonesia Papua New Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 27 19 30 39 33 28 : Chaudhuri & Choudhury (1994) : Das & Siddiqi (1985) : Hong & Sen (1993) : Publikasi ini Guinea : Percival & Womersley (1975). lamarckii R. Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Kandelia candel Lumnitzera littorea L.Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P.G.N. caseolaris S. granatum X. Tomlinson & Womersley (1976) : Tomlinson & Womersley (1976). Wightman (1989) 113 . recemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phoenix paludosa Rhizophora apiculata R. ovata Xylocarpus australasicus X. mekongensis X. mucronata R. moluccensis X. stylosa Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S. apetala S.

3 Fauna mangrove Mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa liar seperti primata. jenis-jenis yang bersifat langka dan endemik haruslah diberi perhatian lebih. Empat jenis sisanya berstatus langka secara global. sementara yang lainnya ada yang hidup di permukaan 412 . anisomeres dan N. Jumlah tersebut termasuk 33 jenis yang biasanya terdapat pada karang. masih terdapat 2 jenis endemik lainnya (mangrove ikutan). Kandelia candel dan Nephrolepis acutifolia. Selain sebagai tempat berlindung dan mencari makan. Oberonia rhizophoreti. Sporobolus virginicus. perairan mangrove merupakan tempat ideal sebagai daerah asuhan. yaitu: Lima jenis umum setempat tetapi langka secara global. Fimbristylis sieberiana. mangrove juga merupakan tempat berkembang biak bagi burung air.acutifolia hanya terkoleksi satu kali. Hanya sedikit jenis mangrove yang bersifat endemik di Indonesia. Jenis-jenisnya adalah Ceriops decandra. di Indonesia terdapat 14 jenis mangrove yang langka. Beberapa dari 91 jenis kelompok moluska tersebut diketahui hidup di dalam tanah. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena buah mangrove mudah terbawa oleh gelombang dan tumbuh di tempat lain. Selain Amyema anisomeres (mangrove sejati). yaitu Ixora timorensis (Rubiaceae) yang merupakan jenis tumbuhan kecil yang diketahui berada di Pulau Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil. tempat mencari makan dan tempat pembesaran anak. sehingga memerlukan pengelolaan khusus untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Lima jenis yang langka di Indonesia tetapi umum di tempat lainnya. reptilia dan burung. 2. Eleocharis spiralis dan Scirpus litoralis. sehingga hanya diketahui tipe setempat saja. Dalam hal kelangkaan. Budiman (1985) mencatat sebanyak 91 jenis moluska hanya dari satu tempat saja di Seram. Jenis-jenis tersebut adalah Eleocharis parvula. sehingga secara global tidak memerlukan pengelolaan khusus. Moluska sangat banyak ditemukan pada areal mangrove di Indonesia. Quassia indica. Rhododendron brookeanum (dari 2 sub-jenis. akan tetapi juga sering mengunjungi daerah mangrove. Dua diantaranya. Sonneratia ovata. Scyphiphora hydrophyllacea. Maluku. Bagi berbagai jenis ikan dan udang. A. sehingga berstatus rentan dan memerlukan perhatian khusus untuk pengelolaannya. serta Rhododendron brookeanum (Ericaceae) yang merupakan epifit berkayu yang diketahui berada di Sumatera dan Kalimantan. Jenis-jenis tersebut adalah Amyema anisomeres. hanya satu terkoleksi).Jenis tumbuhan langka dan endemik Untuk kepentingan konservasi serta pengelolaan sumberdaya alam.

Macrophthalmus. dan Ambasis buruensis (Erftemeijer. 1984). Butis butis. Sebagai tempat pemijahan. 1989). dkk (1991) mencatat sebanyak 28 jenis kepiting di mangrove Sulawesi Selatan didominasi oleh genus Sesarma dan Uca. khususnya jenis-jenis penggali dari genus Cleistocoeloma. Ilyoplax. Selain itu. habitat permanen atau tempat berbiak (Aksornkoae. Liza subvirldis. dkk. Kepiting Mangrove Scylla serrata merupakan kepiting yang hidup di daerah mangrove yang bernilai ekonomi tinggi (Delsman. hutan mangrove menyediakan makanan bagi ikan dalam bentuk material organik yang terbentuk dari jatuhan daun serta berbagai jenis hewan invertebrata. Metaplax. Taman Nasional Ujung Kulon. Di Indonesia. Kepiting juga umum ditemukan di daerah mangrove.dan ada pula yang hidup menempel pada tumbuh-tumbuhan. Mangrove juga merupakan habitat penting bagi berbagai jenis krustasea lainnya. Hal yang sama dapat dilihat di Segara Anakan. mangrove juga merupakan tempat pembesaran anak-anak ikan. Toro (dalam Manuputty. Beberapa jenis ikan yang ditemukan di areal mangrove antara lain Tetraodon erythrotaenia. areal mangrove berperan penting karena menyediakan tempat naungan serta mengurangi tekanan predator. tercatat lebih dari 60 % ikan yang tertangkap merupakan ikan muda (Wahyuni. Dua jenis yang paling umum ditemukan adalah Thalassina anomala dan Uca dussumieri. Ikan menjadikan areal mangrove sebagai tempat untuk pemijahan. 1989 & Sasekumar. dkk (1992) mencatat sebanyak 9 jenis udang di sungai-sungai kecil di mangrove Selangor. Lebih dari 100 jenis kepiting mangrove diketahui hidup di Malaysia dan 76 jenis di Singapura. Sebanyak 24 jenis dari 40 jenis yang ditemukan Budiman (1988) merupakan jenis-jenis yang hidup di daerah mangrove. sedangkan 133 . dkk (1991) mencatat sebanyak 14 jenis udang termasuk Macrobrachium (8 jenis). termasuk 8 jenis udang pada habitat mangrove di Pulau Pari. Malaysia. termasuk berbagai jenis udang-udangan yang memiliki nilai komersial penting. sementara Budiman (1988) menemukan 40 jenis di Halmahera. Sasekumar. 1984). Giesen. seperti kepiting dan serangga. khususnya ikan predator. Pilonobutis microns. dkk. 1972). Giesen. 1984) mencatat sebanyak 28 jenis krustasea. Burhanuddin (1993) mencatat sebanyak 62 jenis ikan hidup di daerah mangrove di Pulau Panaitan. sebagai contoh Giesen. yang sebagian besar diantaranya merupakan anakan. Sayangnya. dimana sebagian besar diantaranya masih berupa anakan. keragaman jenis moluska tidak sebanyak di Seram. Malaysia. 1989). Teluk Jakarta. Ikan yang dominan ditemukan adalah Mugil cephalus yang bersifat herbivora. dkk (1992) mencatat sebanyak 119 jenis ikan hidup pada sungai-sungai kecil di daerah mangrove di Selangor. pengetahuan mengenai kepiting mangrove di Indonesia sangat sedikit sekali dipelajari. dkk (1991) mencatat 74 jenis moluska pada mangrove di Sulawesi Selatan. Di lokasi lain. Dari setiap meter persegi dapat ditemukan 10 . Dalam kaitannya dengan makanan. 1993). Metapeneus (2 jenis) dan Palaemonetes (2 jenis) pada mangrove di Sulawesi Selatan. Sasekumar. sehingga dapat dikatakan sebagian besar dari jenis-jenis moluska tersebut hidup di daerah mangrove. dkk.70 ekor kepiting (Macintosh. Sesarma dan Uca (Wada & Wowor.

). 2 jenis amphibia telah diketahui dapat bertahan hidup pada lingkungan demikian. Bagi beberapa jenis burung air. Maluku bahwa sebagian besar serangga yang ditemukan berasal dari ordo Hymenoptera. seperti kelompok burung Raja Udang (Alcedinidae). Sulawesi dan Irian kemungkinan juga merupakan lokasi-lokasi yang penting. MacNae. Balen (1988) mencatat sebanyak 167 jenis burung terestrial di hutan mangrove Pulau Jawa. akan tetapi juga sebagai tempat perlindungan dan mencari makan. daerah mangrove menyediakan ruang yang memadai untuk membuat sarang. 1968).. Diptera and Psocoptera. Rusila 1991. mangrove menyediakan tenggeran serta sumber makanan yang berlimpah. Seluruh jenis reptilia tersebut dapat juga ditemukan pada lingkungan air tawar atau di daratan. Holocentrum rubrum. Bagi berbagai jenis burung air migran (khususnya Charadriidae dan Scolopacidae). limnocharis (MacNae. Pantai Utara Jawa (Erftemeijer & Djuharsa. Bagi jenis-jenis pemakan ikan. 1991. Sementara itu. 1990 dan Giesen. berbiak atau sekedar beristirahat. 1968) merupakan ikan yang sering sekali terlihat “berenang” pada genangan air berlumpur atau menempel pada akar mangrove.jenis-jenis lain yang juga umum ditemukan adalah Caranx kalla. terutama karena minimnya gangguan yang ditimbulkan oleh predator. 1989. Trimeresurus wagler dan T. Giesen. mangrove memainkan peranan yang sangat penting dalam migrasi mereka. Keng & Tat-Mong. Bangau (Ciconiidae) atau Pecuk (Phalacrocoracidae). Jenis-jenis Reptilia yang umum ditemukan di daerah mangrove di Indonesia diantaranya adalah buaya muara (Crocodylus porosus). Giesen. 1968. 1991). 1988 dan Rusila 1987) dan Pantai Barat Sulawesi Selatan (Baltzer. yaitu Rana cancrivora and R. purpureomaculatus (MacNae. Untuk kelompok Arthropoda terbang yang hidup di mangrove. 1992). ular air (Enhydris enhydris). akan tetapi masih diperlukan survey yang lebih mendalam untuk membuktikan hal tersebut. Jenis-jenis burung yang hidup di daerah mangrove tampaknya tidak terlalu berbeda dengan jenis-jenis yang hidup di daerah hutan sekitarnya. ular mangrove (Boiga dendrophila). Scartelaos spp. Meskipun demikian. dijelaskan oleh Abe (1988) dalam penelitiannya di Halmahera. 1993). Ular tambak (Cerberus rhynchops). Beberapa lokasi yang sangat penting bagi burung bermigrasi diantaranya adalah Pantai Timur Sumatera (Danielsen & Verheugt.. beberapa daerah lain di Kalimantan. dkk. Ikan gelodok (Periopthalmus spp. serta Toxotes jaculator yang bersifat insektivora. merupakan 34 % dari seluruh jenis burung yang telah tercatat di Pulau Jawa (Andrew. Sangat sedikit sekali Amphibia dapat ditemukan bertahan hidup pada lingkungan yang berair asin seperti lingkungan mangrove. termasuk serangga. biawak (Varanus salvator). Verheught. Mangrove tidak hanya sebagai tempat perhentian. Mereka menggunakan mangrove sebagai habitat untuk mencari makan. dkk (1993) menemukan sebanyak 120 jenis burung (atau 414 . seperti Kuntul (Egretta spp). 1989. Lutjanus fulviflamma dan Plotosus canius yang bersifat karnivora.

dimana lebih dari 90% diantaranya ditemukan di daerah hutan bakau di Indonesia. Bubut hitam (Centropus nigrorufus . 1989). terutama di Sumatera dan Jawa. dkk. seluruhnya di Sumatera Selatan (Danielsen. 1988) serta hutan mangrove di Segara Anakan yang merupakan hutan mangrove terbesar yang saat ini tersisa di Pulau Jawa (Erftmeijer. 1992).Ciconiidae). Pada saat ini.Ciconiidae). Jenis ini telah dianggap sebagai salah satu jenis bangau yang paling terancam di seluruh dunia (Verheught. 1987). dkk (1991) menemukan 64 jenis burung hidup di hutan mangrove diantara 90 jenis yang ditemukan di teluk Bintuni (71% atau 10% dari seluruh burung di Irian Jaya). pantai utara Jawa (Erftmeijer & Djuharsa. di Irian Jaya. sebanyak 81 jenis ditemukan di hutan mangrove (58 % atau 21 % dari seluruh burung di Sulawesi).Lesser Adjutant . Di Jawa jenis ini hanya diketahui berbiak di hutan bakau Pulau Rambut (Allport & Wilson. Tanjung Koyan. Mereka hanya diketahui berbiak di hutan mangrove di Hutan Bakau Pantai Timur (Danielsen dan Skov. Erftmeijer. Di Sulawesi Selatan. Populasi mereka sebagian besar terdapat di pantai timur Sumatera (Sumatera Selatan. Pangkalan Data Lahan Basah (Wetland Data Base) mencatat setidaknya 200 jenis burung hidup bergantung pada habitat mangrove. Disamping itu. 1987 dan Rose & Scott. 27 jenis ditemukan di daerah Mangrove Pulau Sumba (Zieren. 1991). Populasinya diperkirakan hanya tinggal berjumlah 5000 . 1987).150 jenis jika termasuk daerah lumpur disekitar hutan mangrove) di daerah limpasan banjir dan pasang surut di Sumatera Selatan (56% dari total burung yang ditemukan di daerah tersebut atau 25% dari seluruh jenis burung di Sumatera). 1988). Mangrove juga merupakan habitat yang baik bagi beberapa jenis burung yang telah langka atau terancam kepunahan. 1990).6000 ekor saja (Verheught. Bagi jenis yang tergolong vulnerable ini. 153 . Indramayu dan Segara Anakan (Andrew.Sunda Coucal . Merupakan jenis endemik Pulau Jawa. jenis ini diperkirakan hanya bertahan hidup di kawasan hutan mangrove dan rawa sekitar Tanjung Karawang. seperti: Wilwo (Mycteria cinerea .Cuculidae). dari 17% total jumlah burung yang tercatat di Pulau Sumba. Jambi dan Riau) dan beberapa kawasan hutan bakau di Delta Sungai Brantas dan Bengawan Solo. dkk. Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus . 1986 dan Rusila. 1994). hutan mangrove merupakan habitat penting untuk bersarang atau mencari makan (Silvius & Verheught. Sementara itu. Jenis ini telah tercantum dalam Red Data Book dalam kategori Vulnerable. dkk. 1994). dkk. hutan bakau Tanjung Selokan dan hutan bakau Semenanjung Banyuasin. 1990).Milky Stork . Baltzer (1990) melaporkan dari 141 jenis burung yang ditemukan di lahan basah propinsi tersebut. Jumlah ini mewakili 13% dari seluruh jenis burung yang ada di Indonesia (Andrew.

1968. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt. dkk. Dari empat jenis berangberang yaitu Aonyx cinerea. Lutra lutra. 416 . dkk. 1985. Macaca ochreata ochreata (endemik Sulawesi) pada masa lalu umum terlihat di daerah mangrove dekat Malili. Payne. endemik Kalimantan) dan kucing bakau (Felis viverrina) (MacNae. 1985). dkk. Bekantan (Nasalis larvatus.). 1992). Francis & Phillipps. lutung (Trachypithecus aurata). Dari kelompok mamalia air. dapat dianggap sebagai tempat hidup harimau Sumatera yang terbaik (Frazier. Lutra sumatrana dan Lutra perspicillata yang diketahui hidup di Indonesia juga ditemukan di hutan mangrove. dimana jika areal ini digabungkan dengan areal Taman Nasional Berbak di Jambi. Tidak satupun dari mamalia diatas hidup secara eksklusif di mangrove. 1991). Teluk Bone. 1993). Sulawesi Selatan (Giesen. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatranus) masih ditemukan di wilayah Sungai Sembilang. dua jenis lumba-lumba yaitu Orcella brevirostris dan Sousa chinensis juga ditemukan di daerah muara sekitar hutan bakau. sedangkan mamalia udara yang sering ditemukan adalah Pteropus vampirus.) berang-berang (Lutra perspicillata dan Amblyonyx cinerea). Bekantan tadinya dianggap hanya hidup pada habitat mangrove. Melisch. kelelawar (Pteropus spp. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) umum ditemukan di daerah mangrove dan sering terlihat mencari makan pada hamparan lumpur di sekitar mangrove. kancil (Tragulus spp. 1989).Mamalia yang umum ditemukan pada habitat mangrove diantaranya adalah babi liar (Sus scrofa). kemudian diketahui bahwa mereka juga menggunakan hutan rawa gambut (Payne.

173 . 1992 dan Burhanuddin. perikanan pantai yang sangat dipengaruhi oleh keberadaan mangrove. 1993). Bahkan pemanfaatan mangrove untuk tujuan komersial seperti ekspor kayu. maka tingkat dan laju perekonomian pedesaan yang berada di kawasan pesisir seringkali sangat bergantung pada habitat mangrove yang ada di sekitarnya. 1929. keperluan rumah tangga. dkk. Boon. Menurut Unar (dalam Djamali. dimana makin luas hutan mangrove makin tinggi produksi udangnya dan sebaliknya. Bagi masyarakat pesisir.200 hektar areal mangrove. 3. Kakap (Lates calcacifer). Pada tahun 1985. 1991) mengemukakan adanya hubungan linier positif antara luas hutan mangrove dengan produksi udang. kulit. terutama di Jawa dan Sumatera (van Bodegom. Martosubroto & Naamin (dalam Djamali. Berbagai produk dari mangrove dapat dihasilkan baik secara langsung maupun tidak langsung. Akhir-akhir ini. Nampaknya produk yang paling memiliki nilai ekonomis tinggi dari ekosistem mangrove adalah perikanan pesisir. meskipun eksplotasi sesungguhnya dengan menggunakan mesin-mesin berat nampaknya baru dimulai pada tahun 1972 (Dephut & FAO.1 Pemanfaatan mangrove Mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif. bahan bangunan. 1985). 1990). MANFAAT MANGROVE Mangrove memiliki berbagai macam manfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya. pemanfaatan mangrove untuk berbagai tujuan telah dilakukan sejak lama. Melihat beragamnya manfaat mangrove. sejumlah 14 perusahaan telah diberikan ijin pengusahaan hutan yang mencakup sejumlah 877. 1991) beberapa jenis udang penaeid di Indonesia sangat tergantung pada ekosistem mangrove. peranan mangrove bagi lingkungan sekitarnya dirasakan sangat besar setelah berbagai dampak merugikan dirasakan diberbagai tempat akibat hilangnya mangrove. Banyak jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi menghabiskan sebagian siklus hidupnya pada habitat mangrove (Sasekumar. Pembuatan arang mangrove telah berlangsung sejak abad yang lalu di Riau dan masih berlangsung hingga kini. 1990). 1936). merupakan produk yang secara tidak langsung mempengaruhi taraf hidup dan perekonomian desa-desa nelayan. Sejarah pemanfaatan mangrove secara tradisional oleh masyarakat untuk kayu bakar dan bangunan telah berlangsung sejak lama. kulit (untuk tanin) dan arang juga memiliki sejarah yang panjang. diantaranya: kayu bakar. atau sekitar 35% dari areal mangrove yang tersisa (Dephut & FAO. Hal ini didukung oleh berbagai penelitian di negara-negara lain (Tabel 3). Contohnya. Eksplotasi mangrove dalam skala besar di Indonesia nampaknya dimulai awal abad ini. kepiting mangrove (Scylla serrata) serta ikan salmon (Polynemus sheridani) merupakan jenis ikan yang secara langsung bergantung kepada habitat mangrove (Griffin. kertas.III. obat-obatan dan perikanan (Tabel 2).

Pada tahun 1998 total produksi perikanan laut Indonesia adalah sekitar 3.pertambangan .kayu. PRODUK VEGETASI Tipe pemanfaatan .atap .lantai . pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya yang kesemuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan (Soewito. 1984). Rhizophora spp. dimana sebelum perang dunia II merupakan penghasil ikan utama di Indonesia bahkan sebagai salah satu penghasil ikan utama di dunia. Oncosperma tigillaria Nypa fruticans. kayu tiang . menurunnya produksi perikanan di Bagansiapiapi.pagar.bantalan rel KA . Lumnitzera Lumnitzera spp.konstruksi berat (jembatan) .papan .arang kayu . Rhizophora spp.tiang bangunan .kayu bakar . Rhizophora spp. Livistona saribus. Sebaliknya. Sebagian besar kegiatan penangkapan ikan di Indonesia berlangsung di dekat pantai. 1984).Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. Rhizophora. pipa . Bruguiera. Ceriops spp. Tabel 2. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh komunitas nelayan setempat dengan pola yang tradisional atau oleh nelayan modern yang datang dari kota pelabuhan besar. Bruguiera spp. Produk yang dihasilkan mangrove A.alkohol Bahan bangunan: . 1998). salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Kasry.alas dok . Acrostichum speciosum Cyperus malaccensis.alas lantai . pantai selatan dan timur Kalimantan.lem Contoh jenis yang dimanfaatkan sebagian besar jenis pohon sebagian besar jenis pohon Nypa fruticans Bruguiera. Bruguiera. Rhizophora.pembuatan perahu . Eleocharis dulcis Scolopia macrophylla terutama Rhizophoraceae Cycas rumphii Kategori Bahan bakar: 418 .250 keluarga (BPS.6 juta ton yang melibatkan tidak kurang dari 478. Di Indonesia hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial seperti di perairan sebelah timur Sumatera.

hiasan . S.pewarna kain . Colocasia esculenta Avicennia marina.Perikanan: .fiber sintetis (mis. Peltophorum pterocarpum terutama Rhizophora. granatum. X. Eleocharis dulcis Paspalum vaginatum. Osbornia octodonta terutama Rhizophoraceae E. Scirpus grossus Dolichandrone spathacea (topeng).tali .berbagai jenis kertas Keperluan rumah tangga .pelampung . Drynaria rigidula Osbornia octodonta. tiliaceus Pemphis acidula. alba Derris trifoliata.isi bantal .pupuk Produk kertas: .pengawetan kulit .keranjang .perekat jala . Camptostemon schultzii Avicennia marina. H. rayon) .lilin . kulit . Dolichandrone spathacea. granatum Typha angustifolia Cyperus malaccensis. indica.obat-obatan .minyak rambut . Nypa fruticans Cycas rumphii Xylocarpus mekongensis Phymatodes scolopendria Dolichandrone spathacea.tanaman hias . Lumnitzera spp. Scaevola taccada.kancing 193 .anti nyamuk .jangkar .racun ikan . Camptostemon schultzii banyak jenis tumbuhan berkayu X.racun .mebel . Crinum asiaticum Tristellateia australasiae Horsfieldia irya Drymoglossum piloselloides.peralatan . Rhizophora apiculata Atuna racemosa.parfum .tiang pancing .mainan .pembuatan kain Pertanian: . Excoecaria indica (bijinya) Cerbera manghas (insektisida) Cryptocoryne ciliata. Quassia indica Nypa fruticans Tekstil.berbagai jenis kertas .penahan perahu Ceriops spp.lem . Cerbera floribunda Rhizophoraceae Stenochlaena palustris.

minuman fermentasi .sayuran (dari propagula.mammalia . 1984 Pauly & Ingles.ikan .2 – 5 Luas Mangrove Korelasi (n) 0. Tabel 3. 1985 Jothy.74 (7) 0. buah atau daun) ..burung .000 1 .madu dan lilin .pengganti tembakau Nypa fruticans Nypa fruticans biji Terminalia catappa Rhizophora stylosa Bruguiera cylindrica. 1984 Boesch & Turner.alkohol .kertas rokok . Hubungan antara luas hutan mangrove dengan jumlah tangkapan udang (per tahun) (dalam Nirarita. 1993) Lokasi (ton) Australia Malaysia Teluk Meksiko Filipina Hasil Tangkapan (ha) 0. buah Inocarpus fagifer epidermis daun Nypa Loxogramma involuta B.000 0.2 – 15 0 – 25 10 – 1.62 (6) Staples et al.76 (6) 0.kerang .Krustasea . Avicennia.reptilia .daging manis (dari propagula) . 1986 420 . Scylla serrata kerang-kerangan Apis dorsata terutama burung air terutama Sus scrofa Varanus salvator.8 0 – 50 1 – 1.42 Koefisien Sumber 0.minyak goreng . Chanos chanos Penaeus spp.1 – 0.Makanan. Kategori Lain-lain: Diadaptasi dari Saenger.gula . gymnorrhiza daun Stenochlaena palustris. B. minuman dan obat : . PRODUK HEWANI Tipe pemanfaatan . dkk (1983) serta tambahan informasi dari Knox and Miyabara (1984) dan Fong (1984). Crocodylus porosus Rana spp.lainnya Contoh jenis yang dimanfaatkan Lates calcarifer.975 (15) 0.

pemerintah Bangladesh kemudian melakukan penanaman seluas 25. dimana jika terdapat mangrove otomatis akan terdapat tanah timbul (Steup. 1977) kemudian menyebutkan bahwa proses pengikatan dan penstabilan tersebut ternyata hanya terjadi pada pantai yang telah berkembang. Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. Mangrove juga terbukti memainkan peran penting dalam melindungi pesisir dari gempuran badai. 1993 dan Othman. sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge. Pada awalnya. Kedua. udang dan moluska (Davies & Claridge. terutama dari ombak dan arus laut.000 penduduk yang tinggal di pesisir dihantam badai. dkk. 1987). karena lingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk kedalam rantai makanan. 213 . 1980). peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan pulau tersebut. Pertama.2 Fungsi Mangrove Mangrove memiliki peranan penting dalam melindungi pantai dari gelombang. mangrove berperan penting dalam siklus hidup berbagai jenis ikan. Sulawesi Selatan yang memiliki barisan mangrove yang tebal di pantai terlindung dari gelombang pasang (Tsunami) di pulau Flores pada akhir tahun 1993. produksi serasah mangrove berkisar antara 7 – 8 ton/ha/ tahun (Nontji. Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman. Peranan mangrove dalam menunjang kegiatan perikanan pantai dapat disarikan dalam dua hal. 1986). mangrove merupakan pemasok bahan organik. 1994). Mengetahui manfaat mangrove dalam menahan gempuran badai. Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. proses pengikatan sedimen oleh mangrove dianggap sebagai suatu proses yang aktif. pulau tersebut mudah disapu ombak dan arus musiman (Chambers. Di Bangladesh. Dusun Tongke-tongke dan Pangasa. angin dan badai. Sedangkan beberapa dusun yang berbatasan dengan kedua dusun ini yang tidak mempunyai mangrove yang cukup tebal mengalami kerusakan yang cukup parah. pada pulau yang hilang mangrovenya. Berbagai penelitian (van Steenis. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur. 1941). bangunan dan pertanian dari angin kencang atau intrusi air laut.3. 1993). 1982). Sinjai. 1958 dan Chapman. Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove mempunyai peranan yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah dikolonisasinya. pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus.000 hektar areal pantai dengan vegetasi mangrove (Maltby. 1974). sehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yang hidup pada perairan sekitarnya (Mann. Sebaliknya. Di Indonesia. pada bulan Juni 1985 sebanyak 40.

1992) . Jaring-jaring makanan dan pemanfaatan mangrove di Indonesia (diadaptasi dari AWB-Indonesia.422 Gambar 3.

Dari tiga kategori yang dibuat oleh RePPProT. kenyataannya memperoleh data yang memadai mengenai luas mangrove pada masa yang lalu dan saat ini tidak terlalu mudah (di Indonesia data dimulai sejak 1930-an. Bina Program Dephut bersama FAO/UNDP. STATUS MANGROVE INDONESIA 4. Hal ini kembali disebabkan kurang tersedianya data serta peta yang memadai. 1982). Tata Guna Lahan dan Sistem Lahan (skala 1 : 250.1 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Saat ini di seluruh dunia terjadi peningkatan hilangnya sumberdaya mangrove yang disebabkan adanya pemanfaatan yang tidak berkelanjutan serta pengalihan peruntukan (Aksornkoae. diketahui bahwa luas asal mangrove Indonesia seluas 4. 1997) dan 3.IV. yaitu hutan bakau (Hv). perkiraan luas untuk Irian jaya yang merupakan komponen luasan terbesar sangat berbeda antara satu penulis dengan penulis lainnya. Dengan menggunakan metoda seperti diatas. Giesen (1993) mencoba menghitung luas areal asal mangrove berdasarkan seri RePPProT (1985-1989) dari peta Status Hutan. kemudian luas total mangrove untuk masingmasing propinsi dihitung.13 juta hektar. adanya perbedaan metoda yang digunakan dalam menduga luasan mangrove. Pertama.25 juta hektar. Ketiga. sangat sedikit sekali dilakukannya penghitungan areal mangrove berdasarkan kondisi yang sebenarnya di alam. 1980 dan Dit.000) yang diproduksi oleh Departemen Transmigrasi. terdapat jumlah luasan mangrove yang lain yaitu 4.54 juta hektar yang berasal dari ISME (Spalding. 1996). 1993). hutan primer yang dieksploitasi kayunya (Ht) dan hutan pasang surut yang tidak dibedakan. lihat Kint.53 juta hekar yang berasal dari Proyek Inventarisasi Hutan Nasional (Dit. jika sistem lahan khas habitat mangrove (KAJAPAH. 1934).94 juta hektar. Perbedaan perkiraan luas tersebut setidaknya dipengaruhi oleh tiga halo. nipah dan nibung (Hx) disatukan menjadi “habitat mangrove”. maka areal tersebut dianggap dulunya adalah hutan mangrove. Kedua. 1987) di peta ternyata ditemukan secara faktual berada di luar atau berdekatan dengan kawasan mangrove yang ada saat ini.49 -4. dkk.38 -2. sehingga data yang sebenarnya telah kadaluwarsa diacu berulangulang (misalnya: Burbridge & Koesoebiono. Untuk menghitung luas asal mangrove yang telah mengalami perubahan digunakan ektrapolasi dari data yang tersedia pada peta. Namun. 233 . Bina Program INT AG. Departemen Kehutanan (1997) menyebutkan luas yang diambil dari berbagai sumber berkisar antara 2. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. mulai dari 1. termasuk bakau. Meskipun mangrove tidak terlalu sulit untuk dikenali dari foto penginderaan jarak jauh dan dipetakan. Data perkiraan luas areal mangrove di Indonesia sangat beragam sehingga sulit untuk mengetahui secara pasti seberapa besar penurunan luas areal mangrove tersebut. RePPProT.

Gambaran lebih rinci mengenai data asal dan sisa mangrove dapat dilihat di Tabel 4. maka hal tersebut berarti bahwa pada akhir tahun 1980. Kalimantan Timur. saat itu telah berusia 3 7 tahun serta areal yang dipetakan dan dianggap sebagai mangrove hanya sebagian yang tercakup oleh tipe ini. Sulawesi Tengah. tetapi sebagian dari areal tersebut sebenarnya merupakan areal hutan mangrove yang telah mengalami gangguan dan dalam proses untuk dijadikan tambak. Dengan melihat kondisi lapangan saat ini. dkk (1991) melaporkan meskipun 34. namun belum dilakukan analisa laju perubahan luas mangrove. Riau. Sebagai contoh. 58% diantaranya terdapat di Papua. laju hilangnya mangrove hingga tahun 1990 juga sangat beragam.-an. yang berarti jumlah areal mangrove yang hilang semakin bertambah. antara hampir 10% di Papua hingga hampir 100% di Jawa Timur. Data untuk 10 Propinsi lainnya diambil dari RePPProT (1985-1989). Dari luasan areal mangrove yang tersisa tersebut. Dari penghitungan diketahui luas mangrove yang tersisa pada tahun 1990 hanya sekitar 2. data yang digunakan untuk penghitungan hingga tahun 1990 tersebut. dan hanya 11% tersisa di Jawa. Berdasarkan penghitungan diatas. Seperti yang telah disebutkan.1991). Luas areal mangrove yang ada di Propinsi Sumatera Utara. Jambi. Untuk Propinsi Aceh dan Bengkulu. Hal yang perlu dicatat dari uraian diatas adalah mungkin luas areal mangrove yang dihitung merupakan jumlah yang optimistis. jika perkiraan luas areal mangrove yang tersisa di Indonesia sekitar 2. telah tersedia data yang diambil dari Peta Penutupan Lahan yang dibuat oleh BAPLAN – DEPHUT dengan menggunakan Citra Satelit untuk Tahun 2002 – 2003. luas areal mangrove yang peruntukannya telah dialihkan menjadi tambak dihitung dari luas total areal mangrove yang terdapat pada peta RePPProT. termasuk dinamika data untuk Propinsi yang telah mengalami pemekaran. sementara data untuk Sulawesi Selatan diambil dari hasil penelitian Giesen.000 hektar. Pada saat cetak-ulang ini dibuat. Kalimantan Selatan.Selanjutnya dihitung luas areal mangrove yang tersisa berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi. Meskipun data tersebut telah disajikan dalam edisi cetak-ulang ini. kemungkinan luasan mangrove tersebut sudah berkurang. dkk (1991). Sulawesi Utara. Penghitungan tersebut didasarkan pada citra satelit SPOT dah SLAR. Sumatera Selatan dan Lampung dihitung berdasarkan data yang diperoleh selama kegiatan pengkajian lapangan yang dilaksanakan oleh AWB/PHPA pada tahun 1990 -1992. Giesen. dkk (1989). Mereka memperkirakan jumlah areal hutan mangrove yang belum terganggu di Sulawesi Selatan hanya sekitar 23. Indonesia telah kehilangan sekitar 40% areal mangrovenya. Sumatera Barat.49 juta hektar (19871990) dapat diterima.49 juta hektar (60%). Data luas mangrove di Jawa Tengan diadopsi dari White. Untuk Propinsi Kalimantan Barat. 424 . Sulawesi Tenggara dan Maluku digunakan data yang berasal dari Ditjen Perikanan (.000 hektar hutan mangrove masih terdapat di Sulawesi Selatan. Sejalan dengan hal tersebut.

000 (5) 15.000 213.000 235.000 0 470.000 11.000 12.000 (5) 1.000 109.000 (5) 63.200 0 (4) 18.500 29.000 5.go.000 100.003 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Jawa Barat & DKI Banten Jawa Tengah & DIY Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Selatan Maluku Maluku Utara Papua T o t a l Keterangan: (1) 102.700 0 (4) 1.000 0 (5) 3.000 1.636 590 0 (4) 73.000 99.251.577 7.850 221.050 13.Tabel 4.500 Tambak Ditjen BAPLAN Perikanan 2005 (data (1991) 2002/3) (1) 39.000 56.913 626 4.000 91.000 208.id/INFORMASI/INTAG/Peta%20Tematik/PL&Veg/VEG_2003.000 110.405 6.150 0 (4) 104.000 1. dan luas areal untuk masing-masing sistem lahan per propinsi berdasarkan Giesen.000 Silvius dkk.000 9.000 4.840 38.000 195.000 680.000 34.500 60.640 70.500 1.000 20.000 9. kecuali Sulawesi selatan.710 0 (4) 1.943.622.000 38.300 48.500 57. (1987) 55.608 0 (4) 13.000 16.990 3.700 6.500 0 (4) 46.000 10.500 66.000 4.440 8.000 44.000 3.939 50.970 98.000 115.000 10.780 194.000 0 (4) 0 17.000 60.000 0 3 2. Baltzer dan Baruadi (1991).780 775.500 0 (4) 2.dephut.000 3.678 1.500 354.500 0 (4) 1.163.000 3.000 (5) 0 (4) 0 750.030 148.000 128.000 28.450 363.000 53.996 550 32 0 1.000 2.250 http://www.000 3.000 65.000 (5) 42.000 46.700 INTAG (1993) BAPLAN 2005 (data 2002/3) (1) 18.000 197.000 259.000 0 34.340 4.000 2.497 47.000 27.000 500 500 0 21.000 1.830 40.000 66.000 367.000 0 13.000 58.650 266.000 750. Data Tambak diambil dari kategori “Tambak” Berdasarkan klasifikasi sistem lahan RePPProT (1985 – 89).750 1.098.950 3.826 0 192 40 325 0 (4) 94 2.000 0 (4) 55.000 0 (4) 2.335 60.683 73.000 50.017 hektar pada tahun 1929 Masih merupakan bagian dari Propinsi lain. Luas mangrove per Propinsi di Indonesia (ha) Mangrove Propinsi Bina Program (1982) 54.000 5.000 84.000 15.000 4.000 0 276.000 25.000 0 2.640 37.000 90.000 4. sebelum pemekaran Data setelah pemekaran Propinsi (2) (3) (4) (5) 253 .500.000 0 25.500 (3) 18.000 95.500 0 (4) 1.000 3.382.833 0 (4) 66.000 8.000 5. Van Bodegom (1929) melaporkan bahwa seluruh areal mangrove di Riau telah dipetakan dan diukur secara planimetris seluas 182.000 43.000 137.476 1.000 27.000 19.000 128.000 0 (4) 20.3 0 (4) 110.765.330 0 (4) 30.326.000 19.900 800 0 10.430 0 (4) 520 49.000 Jumlah Areal Asal (2) 60.740 120.000 64.000 13.107 861 6.000 26.800 0 29.235.000 17.HTM.000 89.088 65 0 (4) 95 268. Data Mangrove diambil dari kategori “Hutan Mangrove Primer” dan “Hutan Mangrove Sekunder”.

Perbandingan luas mangrove asal dan yang tersisa di Indonesia (1986-1990) .426 Gambar 4.

kecuali di Segara Anakan dan Teluk Pangong (dekat selat Bali).559 ton pestisida digunakan untuk tambak selama tahun 1990 (BPS. Berarti terjadi penambahan areal tambak lebih dari 350% dalam kurun waktu 20 tahun. 1997) dan menjadi 750. Statistik perikanan untuk Sulawesi Selatan menunjukkan sekitar 16. lebih dari 75 tahun yang lalu. Dampak yang ditimbulkan oleh pestisida terhadap lingkungan dijelaskan oleh Primarvera (1991) dan Baird (1994).000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. 1991 a. 1991).000 hektar pada tahun 1990 (Ditjen Peri kanan. perkiraan luas tambak di Indonesia seluas 193.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan.4. pestisida dan antibiotika juga kerap kali digunakan. 1990). Kehutanan & FAG. Sementara itu. pestisida per hektar per bulan (asumsi seluruhnya digunakan di Sulawesi Selatan). Kegiatan pembangunan utama yang memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal mangrove di Indonesia adalah pengambilan kayu untuk keperluan komersial serta peralihan peruntukan untuk tambak dan areal pertanian (khususnya padi dan kelapa). yang kemudian meningkat menjadi 750. 1986). Pada tahun 1990.000 hektar (Ditjen Perikanan.182 ha pada tahun 1997 (Ditjen Perikanan. kemudian bertambah menjadi 269. misalnya. bahkan untuk tambak tradisional. Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah. 1991) serta berkurangnya anakan untuk keperluan perkembangan ikan (Wardoyo & Rasyid. Sejarah pembangunan tambak diawali di Jawa dan Sulawesi selatan. ini tidak termasuk tambak-tambak yang telah ditinggalkan dan tidak diusahakan lagi yang di beberapa lokasi cukup luas. Meskipun demikian. luas areal tambak yang terpantau sekitar 269.b. yang berarti lebih dari 18 kg. Jauh sebelumnya.2 Penyebab penurunan luas mangrove Pembangunan di areal mangrove Konversi dan hilangnya mangrove tampaknya bukan merupakan sesuatu yang baru terjadi pada dekade terakhir ini saja. Sumatera Utara dan Lampung (Giesen. Dalam banyak kasus.c). 2005). Meindersma (1923) melaporkan sangat sulit untuk menemukan mangrove yang alami dan tidak terganggu di Pulau Jawa. seperti pengasaman tanah (Hassan & Ti. data tahun 1985 menunjukkan seluas 877. 1990).500 hektar tambak yang tidak diusahakan dan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum (Giesen & Sukotjo. kehadiran tambak tidak selalu 273 . 1991). Pada tahun 1982. tidak bercampurnya tanah (Giesen. Areal tambak yang tercatat pada tahun 2002/03 seluas hampir 750. 2005). dkk. 1991).000 hektar tersebut sama dengan 23 % dari luas asal areal mangrove pada tahun yang sama. kemudian berkembang ke Aceh. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para pembuka lahan. Perlu dicatat. terdapat sekitar 2. Di SM Karang Gading Langkat Timur Laut.700 hektar (Bailey. 1988). 390. 1985).200 hektar areal mangrove berada dalam konsesi pengusahaan hutan untuk diambil kayunya (Dep.

berarti hilangnya mangrove. Hal ini dapat dilihat pada pola tambak yang masih menyisakan pohon mangrove, yang dipraktekkan di beberapa tempat di Jawa. Pada pola ini, mangrove ditanam di bagian tengah tambak. Sistem ini sangat baik untuk diterapkan karena selain melindungi dan mempertahankan mangrove, juga dapat dimanfaatkan oleh burung air. Kegiatan pengambilan kayu sering terlihat di Riau, Kalimantan dan Papua. Luas areal konsesi pengusahaan hutan meningkat dari 455.000 hektar pada tahun 1978 (Burbridge & Koesoebiomo, 1980) menjadi 877.200 hektar pada tahun 1985 (Oepartemen Kehutanan dan FAO, 1990), atau sekitar 35% dari luas areal mangrove yang tersisa pada awal tahun 1990-an (data Giesen, 1993). Sayangnya, dampak yang ditimbulkan oleh pengambilan kayu terhadap hilangnya luasan areal mangrove sangat sulit untuk dirinci. Pada beberapa kasus, dampak lain dari pengambilan kayu mangrove adalah penurunan kualitas tegakannya. Nurkin (1979) menjelaskan bagaimana areal mangrove yang telah ditebangi di Sulawesi Selatan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum, selanjutnya menghambat terjadinya regenerasi tumbuhan mangrove. Di daerah lain, mangrove ternyata juga dapat tumbuh sendiri setelah tumbuhannya ditebang, misalnya di Riau Tenggara (Giesen, 1991 b), serta di areal mangrove di Sei Kecil, Kalimantan Barat (Abdulhadi & Suhardjono, 1994). Meskipun dalam beberapa kasus mangrove dapat tumbuh kembali, akan tetapi tidak berarti bahwa tumbuhan yang baru tersebut akan selalu sarna dengan jenis seberumnya, bahkan seringkali justru jenis tumbuhan yang kurang diminati yang kemudian menjadi dominan, seperti Xylocarpus granatum di Pulau Bakung, Riau (Giesen, 1991 b), Excoecaria agallocha dan Bruguiera parviflora di Karang Gading Langkat Timur Laut, Sumatera Utara (Giesen & Sukotjo, 1991). Penduduk juga memberikan sumbangan terhadap penurunan luas manrove di Indonesia. Seperti diketahui, penduduk setempat telah memanfaatkan mangrove dalam kurun waktu yang lama, namun diyakini bahwa kegiatan mereka tidak sampai menimbulkan kerusakan yang berarti pada ekosistem ini. Akan tetapi, hal tersebut telah berubah dalam dekade terakhir ini seiring dengan adanya pertambahan populasi penduduk, baik karena pertambahan alami maupun perpindahan dari luar. Kegiatan masyarakat yang menyebabkan hilangnya mangrove ini terutama adalah pemanfaatan areal mangrove untuk pembangunan tambak. Fiselier, dkk (1990) bahkan menyatakan: “Reklamasi untuk keperluan budidaya perikanan dan pertanian tampaknya saat ini dianggap sebagai suatu kegiatan pembangunan utama yang berlangsung di areal mangrove. Kegiatan reklamasi tersebut sebenarnya berbiaya tinggi dan acapkali tidak berkelanjutan, serta sering menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap lingkungan. Keuntungan yang dihasilkan sebagian besar diraup oleh mereka yang datang dari luar, dan hanya sebagian kecil saja yang dinikmati oleh penduduk setempat, berupa hasil penangkapan ikan dan pengumpulan hasil hutan yang dilaksanakan secara tradisional”. Pernyataan ini didukung oleh Ong (1982) yang membahas mengenai konversi mangrove di Malaysia dan menyimpulkan bahwa pembangunan budidaya perikanan berkaitan, baik secara ekonomis maupun secara ekologis.

428

Telah disebutkan didepan bahwa pembangunan tambak memberikan sumbangan terhadap hilangnya mangrove. Selain itu, data juga menunjukan bahwa mangrove yang tersisa juga mengalami ancaman berupa: a) konversi menjadi lahan pertanian, b) suksesi menjadi vegetasi sekunder non-hutan setelah terjadinya eksploitasi berlebih oleh masyarakat setempat, c) kurangnya regenerasi setelah dibabat untuk kepentingan komersial, dan d) erosi pantai. Meskipun data sangat kurang, namun nampaknya faktor yang memberi sumbangan penting terhadap hilangnya mangrove, selain konversi menjadi tambak, adalah konversi menjadi lahan pertanian dan penebangan kayu secara komersial dan dalam skala yang lebih kecil, serta eksploatasi berlebihan oleh masyarakat setempat. Kematian mangrove secara alami merupakan kejadian yang umum ditemukan dan merupakan kondisi alami, karena Iingkungan mangrove bersifat dinamik dan periodik, serta asosiasi mangrove teradaptasi dengan lingkungan tertentu melalui pertumbuhan dan kematian secara cepat (Uimenez & Lugo, 1985). Perubahan yang terjadi di alam biasanya bersifat fisik (Choy & Booth, 1994, berdasarkan contoh yang diambil di Brunei), sementara penyakit dan faktor biotis lainnya nampaknya berupa agen sekunder. Secara umum dapat dikatakan bahwa kematian mangrove secara alami tidak memberikan sumbangan yang signifikan terhadap hilangnya areal mangrove di Indonesia.

293

V. KEBIJAKAN DAN PERATURAN MENYANGKUT MANGROVE
Disadari bahwa mangrove memberikan banyak manfaat bagi manusia. Dengan demikian, mempertahankan areal-areal mangrove yang strategis, termasuk tumbuhan dan hewannya, sangat penting untuk pembangunan ekonomi dan sosial. Pada masa lalu, disaat tekanan penduduk masih rendah, hal tersebut tidak menjadi masalah karena pada tingkat lokal manfaat mangrove biasanya langsung disadari oleh masyarakat dan seringkali kawasan mangrove dilindungi oleh hukum adat. Namun selama 2 - 3 dekade lalu, tekanan penduduk semakin meningkat dengan tajam sehingga mengakibatkan permintaan akan sumberdaya pertanian meningkat pula. Pada saat yang bersamaan, kegiatan perikanan dan kehutanan juga meningkat dengan pesat dan menjadi faktor utama dalam perubahan lingkungan mangrove. Dalam kondisi demikian, aturan setempat yang berupa hukum adat seringkali terkesampingkan oleh insentif ekonomi jangka pendek. Untuk merespon hal tersebut, pemerintah kemudian mengeluarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) serta beberapa peraturan dalam berbagai tingkat yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove. Peraturan yang paling relevan diantaranya terkait dengan aturan mengenai kebijakan jalur hijau serta sistem areal perlindungan.

5.1

Pemetaan sumberdaya

Pada tahun 1982, rencana tata guna lahan hutan untuk pertama kalinya dipersiapkan oleh Departemen Pertanian (saat itu kehutanan masih direktorat di Departemen Pertanian). Tata guna lahan yang berupa Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tersebut dipersiapkan untuk setiap propinsi dengan skala peta 1 : 500.000. Sejak 1983, setelah pembentukan Departemen Kehutanan, tugas ini kemudian diambil alih oleh Ditjen Inventarisasi dan Tata Guna Hutan (INTAG). Peta TGHK membagi lahan menjadi kategori berikut : Areal Konservasi dan Perlindungan Alam Hutan Lindung Hutan Produksi (terbatas dan biasa) Hutan Konversi Tak Terklasifikasi (Hak Milik, Hak Milik Adat, Hak Pengelolaan). Berdasarkan pembagian diatas, mangrove dapat masuk kedalam seluruh kategori. Di beberapa instansi, ditambahkan pembagian lahan kategori keenam yaitu Hutan Bakau

430

(mangrove) dalam beberapa peta. Sayangnya, hal ini kemudian membingungkan karena tidak memberikan indikasi mengenai status yang sebenarnya dari sumberdaya yang penting ini. Peta TGHK tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, akan tetapi dijadikan sebagai panduan bagi pemerintah daerah dalam membuat perencanaan tata guna lahan. Status yang ada dapat saja disesuaikan dalam setiap peta. Sebagai contoh, suatu areal yang dipetakan sebagai hutan lindung pada peta dengan skala 1 : 500.000, dapat saja kemudian terbagi menjadi beberapa kategori lainnya jika dipetakan dalam peta dengan skala yang lebih rinci (misalnya 1 : 50.000). Contoh lain adalah dapat saja suatu areal dipetakan sebagai cagar alam atau areal konservasi, padahal sebenarnya belum dikukuhkan atau hanya sebagian saja yang telah dikukuhkan. Walaupun demikian, secara umum peta TGHK sangat bermanfaat. Dalam perkembangan berikutnya pada skala lokal, peta TGHK kemudian digantikan oleh peta tata ruang yang disiapkan oleh masing-masing pemerintah daerah. Pembuatan peta tersebut sebagai tindak lanjut dari Undang-undang No. 24 Tahun 1992 mengenai Tata Ruang. UU ini memerintahkan adanya perencanaan ruang yang luas pada tingkat Nasional, Propinsi sampai Kabupaten, dan mengharuskan pemerintah untuk mengembangkan program perencanaan tata ruang yang menunjukkan sumberdaya apa yang harus dilindungi, direhabilitasi ataupun harus dialokasikan untuk kepentingan pembangunan ekonomi.

5.2

Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove

Seperti di tempat lain di dunia ini, lahan di Indonesia diberi status tertentu yang memungkinkan penggunaan tertentu. Bila suatu areal lahan telah digunakan secara tradisional oleh suatu komunitas tertentu dalam masyarakat, maka biasanya pengelolaan lahan tersebut akan dialihkan kepada komunitas masyarakat tersebut dengan status Hak Milik, Hak Milik Adat atau Hak Pengelolaan. Areal lahan yang bukan merupakan areal pertanian (termasuk sebagian besar lahan hutan) pada umumnya diberi status sebagai Tanah Negara. Meskipun telah terdapat pembagian status lahan, kenyataannya masih muncul berbagai konflik menyangkut kepemilikan atau hak pengusahaan lahan. Misalnya, meskipun suatu areal mangrove telah dikelola oleh hukum adat atau merupakan tanah negara (tanah timbul), akan tetapi apabila telah dikonversi menjadi tambak, seringkali lahan tersebut berubah menjadi milik pribadi. Akibat perubahan ini, konflik lain seringkali muncul apabila pemerintah kemudian ingin mengambil kembali lahan tersebut untuk kepentingan yang lain, misalnya untuk jalur hijau. Sampai saat manuskrip ini dibuat, setidaknya telah dibuat 22 buah peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove di Indonesia. Peraturan-peraturan tersebut umumnya menyoroti hubungan antara sektor kehutanan dan sektor perikanan serta

313

Perikanan dan Kehutanan kepada Daerah Swatantra Tingkat I. 9. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Agraria. Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 12. Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 15. UU yang terakhir ini memberikan wewenang yang besar kepada daerah untuk melakukan pengelolaan dan pelestarian mangrove. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan. Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1967 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Bidang Perkebunan. 5. 32 Tahun 1990 mengenai areal lindung. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Perairan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. 7. Berkaitan dengan konservasi. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup.mengenai jalur hijau. Undang-undang Dasar Tahun 1945 Pasal 33 ayat 3. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 17. 3. 8. 22 Tahun 1999 mengenai pemerintahan daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. 11. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 14. 10. 432 . Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. 16. Beberapa peraturan yang berkait dengan pengelolaan mangrove di Indonesia 1. peraturan yang paling relevan nampaknya adalah Kepres No. 19. Undang-undang No. 2. 18. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan. 6. 4. 5 Tahun 1990 mengenai perlindungan sumber daya hayati dan ekosistemnya dan Undang-undang No. 13.

5. SK ini ternyata memiliki beberapa kelemahan. Fungsi jalur hijau pada prinsipnya adalah untuk mempertahankan pantai dari ancaman erosi serta untuk mempertahankan fungsi mangrove sebagai tempat berkembangbiak dan berpijah berbagai jenis ikan. menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama No. Selanjutnya Dirjen Kehutanan mengeluarkan SK No. KB 550/246/ KPTS/1984 dan No. Menurut SK tersebut. Beberapa kritik yang dapat disampaikan mengenai SK ini antara lain adalah: SK ini tidak dapat diterapkan pada areal yang saat ini tidak memiliki tumbuhan mangrove lagi karena adanya eksploatasi pada masa lalu atau konversi. 21. Menurut SK tersebut. 082/KPTS-II/1984.) Dikeluarkannya SK Presiden No. melarang penebangan mangrove di Jawa. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II. jalur mangrove pantai minimal 130 kali rata-rata pasang yang diukur ke darat dari titik terendah pada saat surut. Peraturan ini memberikan perlindungan yang lebih memadai terhadap zona jalur hijau. Kebijakan pemerintah untuk merumuskan suatu jalur hijau dimulai pada tahun 1975 ketika dikeluarkan SK Dirjen Perikanan (No H. Pada tahun 1984. Dalam pelaksanaannya dilapangan. hendaknya diadakan penyesuaian yaitu pada areal yang awalnya hanya memiliki vegetasi mangrove. dikonversikan atau dirusak.000 ha. yang menghimbau pelestarian jalur hijau selebar 200 meter sepanjang pantai.3 Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Jalur hijau adalah zona perlindungan mangrove yang dipertahankan di sepanjang pantai dan tidak diperbolehkan untuk ditebang. 32 Tahun 1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung menggantikan seluruh peraturan terdahulu mengenai jalur hijau. 333 . jalur hijau ditetapkan selebar 10 meter di sepanjang sungai dan 50 meter di sepanjang pantai pada pasang terendah.20. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1989 tentang Tim koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional. Untuk itu. serta melestarikan seluruh mangrove yang tumbuh pada pulau-pulau kecil (kurang dari 1. 22. 60/KPTS/DJ/I/ 1978 mengenai panduan silvikultur di areal air payau.I/4/2/18/ 1975) yang mengatur perlunya dipertahankan areal di sepanjang pantai selebar 400 meter dari rata-rata pasang rendah.

Misalnya. 26 Tahun 1997 tentang Penetapan Jalur Hijau Hutan Mangrove. sumber air tawar atau dengan rawa air tawar.4 Peraturan yang berkait dengan konservasi mangrove Perlindungan satwa. sehingga akan menyulitkan tercapainya suatu konsesus pengelolaan mangrove di beberapa daerah. dkk (1997) melakukan studi penetuan lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta menggunakan pendekatan analisis sistem yang menghasilkan rekomendasi perkiraan lebar mangrove di daerah tersebut sekitar 1. SK ini tidak memacu adanya perlindungan terhadap mangrove secara menyeluruh maupun fungsi ekologisnya. 5 Tahun 1990 mengenai konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya. serta areal lindung yang penting disajikan pada Bab 6. kelangsungan hidup jalur hijau tersebut tidak akan terjamin sepenuhnya. lebar jalur hijau mangrove seyogyanya ditentukan secara spesifik untuk setiap lokasi karena setiap tempat mempunyai karakteristik lingkungan yang spesifik. 5. termasuk total areanya. Peraturan terakhir mengenai jalur hijau adalah Inmendagri No. Secara ekologis. misalnya dengan mangrove daratan. Misalnya di Jawa. baik untuk tambak maupun berbagai bentuk pemanfaatan lainnya yang sebenarnya tidak mendukung konservasi mangrove. SK mengesampingkan adanya keterkaitan ekologis.000 meter.Penentuan jalur hijau dengan menggunakan SK ini di pantai-pantai yang datar atau dataran lumpur yang luas tidak dapat digunakan secara efektif. Peraturan ini menginstruksikan kepada seluruh gubernur dan bupati/walikotamadya di seluruh Indonesia untuk melakukan penetapan jalur hijau hutan mangrove di daerahnya masing-masing. Di beberapa daerah seperti diatas. lebar jalur hijau yang dihitung dari titik terendah saat air surut hanya berupa dataran lumpur saja dan tidak sampai ke hutan mangrovenya. Tanpa adanya perlindungan terhadap ekosistem pendukung secara terpadu. SK ini hanya memberikan pilihan untuk konservasi. Hilmi. hampir seluruh areal mangrove yang ada telah dimanfaatkan oleh penduduk. Informasi lebih lanjut mengenai areal mangrove yang dilindungi. 434 . Pilihan tersebut umumnya tidak memadai pada daerah yang telah memiliki pemanfaatan tradisional yang intensif. Permasalahan ini dapat diatasi dengan mendefenisikan pengukuran dari hutan mangrove terluar dekat laut. tumbuhan dan ekosistem di Indonesia pada dasarnya telah tercakup dalam Undang-undang No.

Diketahui bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat mempengaruhi upaya pengelolaan mangrove. Sejarah gangguan terhadap mangrove oleh penduduk setempat di pulau Jawa seringkali dilakukan oleh nelayan.5 Perkembangan terakhir Berbagai inisiatif dan gagasan telah dikembangkan berkaitan dengan kebijakan nasional dibidang pengelolaan mangrove di Indonesia. mengukuhkannya menjadi suatu kawasan lindung atau dalam bentuk jalur hijau saja. Gagasan ini juga menyangkut sejumlah besar luasan kawasan mangrove.Indonesia Programme (1994). Sebagai contoh yang baik dapat dilihat di Jawa.000 hektar disampaikan oleh Asian Wetland Bureau/Wetlands International . Pengelolaan juga akan sangat tergantung pada bagaimana mengakomodasikan serta mengontrol kebutuhan masyarakat yang tinggal dan hidup di sekitar mangrove. Akan tetapi disadari bahwa pengelolaan mangrove yang baik tidak akan tercapai hanya dengan mengembangkan kebijakan-kebijakan. Kegiatan budi daya air payau di Jawa merupakan fenomena kegiatan tradisional yang telah berlangsung sejak dahulu. dimana kondisi di pulau ini dapat menjadi model pengelolaan mangrove yang penduduknya padat. Departemen Kehutanan mengeluarkan gagasan perlunya pengembangan luasan areal kawasan lindung dari 15 juta hektar menjadi 30 juta hektar. Memasuki abad ke-20. beberapa usulan pemasukan areal baru maupun penambahan luas areal yang telah ada diajukan oleh berbagai organisasi yang bergerak dibidang pelestarian alam. dimana hal ini berkaitan dengan pendapatan mereka yang rendah serta alternatif mata pencaharian yang terbatas. mulai dari langkah-langkah yang diambil dilapangan sampai perencanaan tingkat pusat. seperti perangkap ikan dan kepiting dengan membangun pematang di daerah pasang surut. 1987). Tipe kolam yang paling sederhana. sekitar tahun 1400-an. malah mungkin telah dilakukan lebih awal (Naamin. Yang terpenting diantaranya adalah: Kebijakan nasional dibidang pengelolaan keanekaragaman hayati lautan Strategi nasional dibidang pengelolaan mangrove Kebijakan nasional dibidang pembangunan pedesaan Strategi nasional dibidang pengelolaan jalur hijau pesisir Kebijakan-kebijakan diatas sangat bermanfaat untuk memberikan kejelasan dalam pengelolaan sumber daya mangrove. 5. termasuk penebangan mangrove untuk keperluan pembangunan tambak. Usulan penambahan areal konservasi mangrove baru seluas 630. Populasi penduduk yang semakin bertambah menyebabkan meningkatnya konversi lahan 353 . Menyambut gagasan ini. pola ini beralih ke sistem produksi yang intensif.Pada tahun 1993.

Dengan sistem ini. dan membangun saluran untuk budi daya ikan dan udang. Dengan berkembangnya upaya-upaya penanaman mangrove. Hal ini menyebabkan hampir 90 % hutan mangrove hilang. Ironisnya. yaitu memadukan kegiatan pengelolaan mangrove dengan produksi perikanan (silvofishery). Sebenarnya. dalam mencegah semakin hilangnya areal mangrove. Berbagai LSM. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengembalikan mangrove sebagai hutan produksi dari penduduk setempat. pada tahun 1986 Perum Perhutani mulai melaksanakan program Kehutanan Sosial di areal mangrove. 436 . serta penduduk setempat melaksanakan berbagai program dan kegiatan penanaman mangrove. dengan sistem silvofishery ini pemanenan kayu mangrove secara berkelanjutan berpotensi tinggi. dimana secara ekologis mangrove masih berfungsi secara optimal dan hasil pendapatan dari budidaya ikan layak untuk memenuhi kebutuhan hidup. diharapkan dalam jangka panjang manfaat dan fungsi mangrove dapat berjalan dan dirasakan kembali. Untuk mengatasi tingginya laju konversi. diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan yang timbul. tapi sayangnya sebagian besar usaha-usaha penghutanan kembali ini tidak berhasil. pada beberapa tahun terakhir ini. Secara hukum. Dalam beberapa tahun kemudian hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi tambak. Program ini pada dasarnya adalah merehabilitasi lahan-lahan mangrove yang telah terdegradasi dengan penanaman pohon. banyak usaha-usaha penanaman kembali mangrove dilaksanakan pada tingkat lokal. kemungkinan sistem tersebut dapat ditularkan ke daerah lain. sehingga akan membatasi insentif yang dapat diperoleh dan pengembangan pengelolaan oleh masyarakat setempat. Upaya mengubah perbandingan ukuran luas hutan dan tambak. Polanya adalah lahan pasang surut seluas 80% sebagai hutan mangrove dan yang 20% digunakan sebagai kolam untuk budidaya ikan. jika masyarakat memperoleh hasil yang cukup dari sistem tersebut (terutama hasil ikan atau udang).mangrove untuk pembangunan tambak serta meningkatkan permintaan terhadap kayu bakar. Masalah yang dihadapi kebanyakan disebabkan oleh kurang tersedianya peta-peta yang akurat dan statusnya yang tidak jelas. akan tetapi sistem intensif membutuhkan investasi yang jauh lebih besar. upaya produksi kayu seringkali mengalami kegagalan karena pohonpohonnya jarang sekali mencapai ukuran komersial dan jumlahnya yang terbatas. Di lain hal. Selain ikan. instansi pemerintah pusat dan daerah. Upaya ini baik sebagai respon terhadap terjadinya erosi di pantai maupun semakin berkurangnya cadangan anakan ikan di pantai. Jika ini terlaksana. Sayangnya. maka akan dapat meminimalisasi usaha gangguan terhadap hutan mangrove. hutanhutan tersebut merupakan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani untuk hutan produksi. hasil ikan yang diperoleh memang sangat rendah bila dibandingkan dengan sistem pengelolaan yang intensif. hutan mangrove tersebut menjadi milik Perum Perhutani.

765 Status Karang GadingLangkat Timur Laut (1) Pulau Berkeh Pulau Burung Hutan Bakau Pantai Timur (2) Berbak Sumatera Selatan I Way Kambas Pulau Penaitan SUM-08 Sumut Sumatera SM SUM-14 SUM-25 SUM-36 SUM-38 SUM-48 SUM-51 JAV-01 Riau Riau Jambi Jambi Sumatera Sumatera Sumatera 01°05’S/104°00’T Sumatera 01°10’S/104°20’T 500* 200* 2.VI. Tabel 5 berikut merupakan daftar 41 lokasi kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Indonesia. Tabel 5.600 hektar sebagai hutan suaka alam dan wisata (tidak termasuk Jawa). namun pada kenyataan di lapangan menunjukkan banyak diantaranya yang masih mendapat tekanan yang cukup berarti.099.000 356.1 Mangrove dan sistem kawasan lindung Meskipun beberapa areal mangrove di Indonesia telah dimasukan kedalam suatu kawasan lindung.500 15.000 17. Adapun data areal mangrove yang telah dilindungi yang tercatat dari setiap lokasi adalah seluas 551.363 hektar. dimana 86% diantaranya terdapat di Irian Jaya. areal mangrove seluas 1.800 hektar masuk dalam kategori hutan lindung dan 674.700* 500* <2.000* <500* 1.500 SM CA CA TN TN TN TN Lampung/ Sumatera 05°30’S/104°15’T Bengkulu Lampung Jabar Sumatera 04°50’S/105°40’T Jawa 06°36’S/105°09’T 373 . Dari tabulasi data fungsi hutan/lahan menurut Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Lahan (RPPH/TGHK) tercatat seluas 424. Menurut data Dit.400 atau 31 % dari luas areal mangrove Indonesia telah masuk dalam kawasan lindung. AREAL MANGROVE YANG DILINDUNGI 6. Bina Program INTAG (1996). Kawasan lindung di Indonesia yang memiliki habitat mangrove Lokasi Kode Propinsi Pulau WDB (a) Posisi Luas areal Total Mangrove Area (ha) (ha) 11. dimana pada lokasi-lokasi tersebut di dalamnya memiliki habitat mangrove.800 123.700 500 200 6.500 165.

000 10 3 18 <2 <200* <50* <1.000* <2.000 50.100 19.Ujung Kulon Pulau Dua Pulau Pari Pulau Rambut Muara Angke (3) Cikepuh Leuweng Sancang Kepulauan Karimun Jawa Baluran Meru Betiri Nusa Barung Bali Barat Gunung Palung Muara Kendawangan Tanjung Puting Pulau Kaget (4) Pulau Kembang (4) Pleihari Tanah Laut Kutai Marisa Morowali Lampuko-Mampie (5) Watumohae (6) Lambale Tanjung Peropa Komodo Pulau Menipo JAV-36 JAV-03 JAV-04 JAV-05 JAV-07 JAV-14 JAV-16 JAV-21 JAV-27 JAV-31 JAV-32 JAV-33 KAL-06 KAL-07 KAL-11 KAL-18 KAL-19 KAL-21 KAL-36 SUL-03 SUL-11 SUL-28 SUL-30 SUL-33 SUL-36 NUT-06 NUT-12 Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jateng Jatim Jatim Jatim Bali Kalbar Kalbar Kalteng Kalsel Kalsel Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Sultra Sultra NTB NTB Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Bali Kalimantan Kalimantan Kalimantan 02°55’S/112°00’T Kalimantan Kalimantan 03°12’S/112°32’T Kalimantan 04°20’S/114°31’T Kalimantan 00°18’N/117°20’T Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Komodo Timor 08°35’S/119°30’T 03°25’S/119°30’T 04°30’S/122°00’T 04°45’S/123°05’T 07°15’S/106°27’T 07°45’S/107°55’T 05°48’S/110°40’T 07°50’S/114°25’T 08°21’S/113°49’T 08°27’S/113°22’T 08°10’S/114°30’T 05°58’S/106°42’T 06°01’S/106°12’T 1.000 85 60 35.000 296.4 8.000 50.000* <500 300 20 <200 3.600 130.15 7.000 38.000 150.000 <1.000 55.000 2.000 200.000 94.000* <3.000 6.000* 10.000* 35.000* <500 <20 <10 4.000* 7.000 320.026 25.000 82.499 TN CA LIPI CA CA SM CA CA TN TN CA TN TN CA TN CA TW SM TN CA CA SM TB SM SM TN SM 438 .000 30 7 56 15.127 2.000* 750 <500 <200* 300 7.579 2.

Baltzer & Baruadi (1991).000 6. serta pengamatan penulis Pengamatan penulis.000 1. dkk (1987). sementara SM hutan Bakau Pantai Timur (Jambi) kondisinya cukup mengkhawatirkan.2 Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Mangrove tidak terwakili dengan baik pada kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Sumatera. seluruh data diambil dari Silvius.000 304.363 hektar (86% di Irian Jaya) Catatan: Kecuali disebutkan.560.000* 301. Desember 1988. Beberapa areal lindung mangrove yang lebih kecil juga telah dikukuhkan dan penting bagi burung air (mis. Areal mangrove di SM Karang Gading Langkat Timur Laut (Sumut) hampir seluruhnya telah berubah menjadi habitat sekunder.180 180. 1994 dan Rusila.500 165.000 11. Silvius & Taufik (1989) 6. akan tetapi tetap belum mewakili suatu habitat mangrove yang baik. mungkin sebagian telah rusak Giesen (1991) (KGLTL) Giesen (1991) (HBPT) Jakarta Post melaporkan konversi areal. 1991). Kedua lokasi tersebut telah diidentifikasi sebagai habitat penting bagi burung air pengembara serta berbagai jenis burung bangau dan pelatuk besi (Giesen.250 T N 500. 393 .000 3. (a) * 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Kode yang tercantum pada Wetland Data Base yang dikembangkan oleh Wetlands International dan PHPA (1990 – sampai saat ini) Kondisi saat ini dari mangrove tersebut tidak jelas.500 TN SM CA Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian 1. Giesen.000 13. Desember 1988.Manusela Pulau Baun Yamdena Lorentz Pulau Kimaam (7) Wasur & Rawa Biru MAL-09 MAL-16 MAL-17 IRI-14 IRI-17 IRI-20 Maluku Maluku Maluku Seram Aru Tanimbar 03°00’S/130°00’T 06°35’S/134°05’T <3.000 SM TN TOTAL AREAL KAWASAN MANGROVE YANG DILINDUNGI: 551. Pengamatan penulis. Pulau Berkeh dan Pulau Burung).

Meskipun usulan ini telah beberapa kali diajukan termasuk usulan untuk penggabungannya dengan Taman Nasional Berbak. Sekitar 7. Sekitar 1. 1991) dan di Sulawesi Tenggara pada tahun 1989 . dkk. Survey di Sulawesi Selatan (Giesen. yaitu di Sungai Sembilang. lebih dari 15. dkk.000 ha) dan Lariang . 1996). Jawa Barat (1.Lumu meskipun arealnya kecil. Areal ini diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1989 dan sebenarnya telah disetujui oleh pemerintah setempat (Danielsen & Verheugt.Areal mangrove di Sumatera yang kondisinya masih baik adalah komplek mulut sungai antara Delta Sungai Musi dan Banyuasin. Pulau Jawa telah kehilangan sekitar 90% mangrovenya dan hanya sedikit dari areal mangrove yang tersisa masuk kedalam kawasan lindung. 1987. Areal lain umumnya hanya memiliki luas yang kecil atau telah rusak. 1989). Areal Mangrove di utara Teluk Bone (23.) disarankan untuk dijadikan kawasan lindung. DI TN Kutai (Kalimantan Timur). II Cilacap. Pulau Dua di ujung barat Jawa Barat serta CA. 1991).Lumu (7. Rusila dkk. Kawasan lindung mangrove yang terluas di Jawa mungkin di Pulau Panaitan. Beberapa kawasan lindung mangrove seperti CA. sayangnya sampai saat ini belum dapat diwujudkan.Mampie (Sulsel) dan hampir 3.000 hektar mangrove di Sulawesi telah dikukuhkan sebagai areal lindung. Luas ini mewakili 8% dari luas mangrove yang ada pada tahun 1990. 440 . 1987).000 hektar areal mangrove di kawasan Lampuko . dkk.800 ha. namun mengkombinasikannya sebagai kawasan konservasi dan kawasan pemanfaatan secara berkelanjutan mungkin merupakan pilihan yang terbaik (White.000 hektar di Taman Buru Watumohai (Sultra) sebenarnya telah dikonversikan menjadi tambak.400 hektar mangrove di utara Sungai Lariang (Giesen.957 hektar (BAPPEDA Tk. tetapi telah berkembang dengan baik dan memiliki tegakan yang telah matang. 1998). 1997 dalam PKSPL IPB.1990 menunjukkan bahwa 2. Cilacap yaitu 8. Pulau Rambut di Teluk Jakarta penting sebagai tempat berkembangbiaknya berbagai jenis burung air (Silvius dkk. Areal mangrove terluas yang ada di Jawa saat ini adalah di Segara Anakan. Areal ini telah diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1980-an. Di Kalimantan.700 ha). Mangrove di Lariang . Jumlah seluas ini sebenarnya mengandung ketidakjelasan karena survey di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Tanjung Puting (Kalimantan Tengah). Frazier (1992) menyatakan bahwa apabila usulan terakhir dapat diwujudkan. 1991). sebagian mangrove didaerah ini telah dikonversi menjadi tambak oleh masyarakat. 1989).000 hektar mangrove terdapat di bagian utara pantai Taman Nasional Ujung Kulon (Hommel.Berbak akan merupakan kawasan terbaik untuk perlindungan Harimau Sumatera. 1989 dan Verheugt. Sumatera Selatan. dkk. Sebuah usulan telah diajukan untuk menetapkan kawasan lindung yang di dalamnya termasuk 5. maka kawasan lindung Sembilang . yang berbatasan dengan Propinsi Jambi (Danielsen & Verheugt.000 hektar mangrove terdapat di Taman Nasional Gunung Palung dan SM Muara Kendawangan (keduanya di Kalimantan Barat) dan TN.

000 hektar areal mangrove telah diusulkan oleh Petocz (1983) dan kemudian diajukan pula oleh Erftemeijer.).3 Pemeliharaan keanekaragamn hayati mangrove Dari uraian diatas nampak jelas bahwa secara umum mangrove belum terwakili dalam sistem areal lindung di Indonesia. Heritiera globosa. Camptostemon philippinensis. Sayangnya di Kedua lokasi tersebut. Komodo dan SM Pulau Menipo. meskipun sebenarnya untuk kepentingan konservasi keanekaragaman hayati akan lebih baik jika areal mangrove di Kei dan Kepulauan Aru juga dilindungi. Allen & Zuwendra (1989). sebagai akibat dari tekanan pembangunan (Giesen.000 hektar). paling tidak setengahnya tumbuh di hutan rawa yang berdekatan dengan habitat mangrove. Luas tersebut nampaknya sudah cukup mewakili.000 hektar mangrove di TN. Kepulauan Aru (1. terdapat 6 jenis yang hanya tumbuh pada habitat mangrove dan kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh hilangnya areal mangrove yaitu Amyema gravis.000 hektar sebagai kawasan lindung. Areal mangrove yang paling berkembang dengan baik sebenarnya terdapat di Teluk Bintuni.000 hektar). C.000 hektar mangrove telah dikukuhkan di Maluku yaitu di TN Manusela. Sekitar 14. Rusaknya mangrove di Indonesia Barat dan Sulawesi akan mengakibatkan hilangnya jenis-jenis tumbuhan mangrove. termasuk 250. 1994). 6. Kalimantan dan Sulawesi.500 ha). Seram (3. tetapi tidak hanya ditemukan di habitat mangrove). CA. terutama di Sumatera. Tanimbar (10. yang paling rentan adalah Phoenix paludosa yang diketahui hidup di Sumatera bagian utara. ternyata habitat rawapun tidak kurang rentannya. Usulan untuk menjadikan areal seluas 450. Dari pengamatan di lapangan. Dari jumlah tersebut. 413 .000 hektar). Wasur (6.000 ha. Areal mangrove seluas lebih dari 472.Areal mangrove di Nusa Tenggara telah masuk ke dalam kawasan lindung dengan adanya 3. Jenis lain yaitu Amyema anisomeres diketahui hanya ada di bagian utara Teluk Bone.) dan di TN. dimana jalur mangrove selebar lebih dari 30 kilometer dan tegakan yang matang tumbuh dengan baik. dan SM. Pulau Baun.180 ha. Sebanyak 32 jenis dari 39 jenis tersebut (yaitu yang terdapat di Indonesia Barat. Jawa. CA. schultzii. Sulawesi Selatan. Yamdena. Oberonia rhizophoreti dan Phoenix paludosa. kegiatan pembangunan dilaksanakan dengan pesat dan areal mangrove merupakan salah satu subjek konversi. Lorentz (301. Pulau Kimaam (165. Sejumlah 38 jenis tumbuhan mangrove sejati maupun mangrove ikutan terdapat hanya di Indonesia Barat.000 hektar telah dikukuhkan di Irian Jaya yaitu di TN. Dari jenis-jenis tersebut.

2. upaya pro-aktif nampaknya harus juga dilakukan untuk perlindungan habitat mangrove di Indonesia Timur. Dalam jangka panjang. R. Sumatera Selatan Segara-Anakan. Jawa Tengah Bagian utara Sungai Lariang. brookeanum juga relatif langka. 3. timorensis hanya ditemukan di luar areal kawasan lindung dan hanya di lokasi yang terbatas. Untuk melindungi keanekaragaman hayati tumbuhan mangrove. Pengukuhan kawasan lindung mangrove Teluk Bintuni Perbaikan pengelolaan di TN. I. 442 . dan hanya ditemukan di beberapa lokasi di Sumatera dan Kalimantan. Sulawesi Selatan Beberapa lokasi lain di Kalimantan (kemungkinan di Kalimantan Timur) sesuai dengan pengkajian lapangan yang lebih rinci.Terkait dengan konservasi keanekaragaman hayati. 3. yaitu Amyema anisomeres. termasuk: 1. Pulau Kimaam Wildlife Identifikasi dan penambahan areal lindung mangrove di Kepulauan Kei dan Aru. Lorentz dan SM. anisomeres bahkan lebih rentan dibandingkan 2 jenis lainnya. sementara A. maka diusulkan agar lokasi-lokasi dibawah ini segera dapat dilindungi : 1. Tiga jenis tumbuhan mangrove diketahui endemik untuk Indonesia. 4. Sungai Sembilang. hendaknya perhatian diberikan terhadap kerentanan jenis-jenis yang bersifat endemik. Rhododendron brookeanum dan Ixora timorensis. 2.

teropong dan alat tulis saja. persiapan yang baik adalah salah satu syarat untuk tercapainya tujuan pengamatan. disarankan untuk mempelajari beberapa buku klasik yang menjelaskan informasi mengenai mangrove secara lebih luas. Disarankan untuk tidak membawa barang yang tidak terlalu penting. Sejak awal tahun 80-an sampai saat ini. termasuk jika sewaktu-waktu harus memanjat pohon mangrove untuk mendapatkan sampel herbarium atau keperluan lainnya. keringat. Pengamatan di lingkungan mangrove seringkali harus menggunakan perahu atau sampan. dkk. 433 . Untuk mengetahui informasi mengenai cara budidaya mangrove dapat dibaca Pedoman Pembuatan Persemaian dan Penanaman Mangrove oleh Kusmana (1998) atau Panduan Teknis Penanaman Mangrove bersama Masyarakat oleh Khazali (1999). eksploitasi serta pengelolaan mangrove di Indonesia. serta bab mengenai mangrove yang ditulis oleh Whitten dkk. Untuk mempelajari mangrove di Asia Tenggara. dkk (1984) dan Duke (1992). 1997). Sebelum melakukan pengamatan.1 Pustaka penting Bagi mereka yang ingin mempelajari mangrove lebih rinci dan mendalam. stamina yang baik serta ketahanan terhadap udara panas. Saenger. lumpur. BEBERAPA PETUNJUK STUDI MANGROVE BAGI PEMULA 7. MacNae (1968). pustaka yang bisa ditelusuri antara lain adalah Watson (1928) dan MacNae (1968). Duke. pada umumnya menyentuh masalah lokasi. sehingga memudahkan pergerakan. melainkan juga memerlukan waktu yang cukup panjang. Beberapa karya tulis klasik yang layak untuk dibaca antara lain van Steenis (1958) yang memberikan informasi umum mengenai mangrove dalam pengantarnya terhadap makalah dari Ding Hou (1958) mengenai Rhizophoraceae. Tomlinson (1986). seperti Watson (1928). 7.VII. Chapman (1976a). Diantaranya adalah menyiapkan baju lengan panjang dari bahan katun atau bahan lain yang menyerap keringat. Beberapa tulisan lain yang ditulis oleh penulis luar maupun ilmuwan Indonesia (misalnya Kusmana. kelompok jenis atau jenis tertentu. air asin dan terutama nyamuk. (1984. Studi yang komprehensif mengenai mangrove di Indonesia belum begitu banyak. 1987).2 Petunjuk untuk pengamatan lapangan Melakukan pengamatan di habitat mangrove memerlukan lebih dari sekedar buku panduan. LIPI bersama Program MAB Indonesia telah menyelenggarakan seminar ekosistem hutan mangrove yang dapat digunakan sebagai sumber informasi yang cukup memadai. dkk (1983). cairan anti nyamuk dan alat-alat tulis yang tahan kondisi basah. Untuk menghindari panas.

dan habitat. Melakukan pengamatan di habitat mangrove cukup menyita waktu. Payung kecil kadang-kadang juga sangat bermanfaat untuk melindungi diri dari panas atau hujan. Kelemahannya. sehingga pengamat harus memfokuskan perhatiannya pada perbedaan kulit kayu. Berperahu di lingkungan mangrove akan sangat dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. perlu dibuat koleksi tumbuhan. pengamatan vegetasi di habitat mangrove relatif lebih mudah. tipe perakaran. Air laut sangat “jahat” terhadap kamera serta peralatan optis lainnya.3 hari kemudian. Identifikasi dapat dilakukan kemudian di laboratorium dengan membuat catatan mengenai lokasi. spesimen dapat disimpan dalam kantung pelastik yang tahan air dan sama sekali tidak terbuka terhadap udara luar. Sebagian besar bentuk pohonnya memiliki kesamaan. yakni dengan mengambil daun. Air tinggi biasanya akan lebih memudahkan kita untuk mencapai tujuan tertentu. dan buah dari pohon yang akan diidentifikasi. tumbuhan pada habitat mangrove tidaklah setinggi pohon-pohon di hutan hujan tropis. Untuk 25 . 444 . 7. Spesimen sebaiknya disimpan diantara kertas koran yang dijepit oleh bambu atau tripleks. melelahkan dan menguras keringat. bunga. Hal ini berarti bahwa hampir setiap saat dapat ditemukan pohon yang memiliki bunga atau buah yang akan memudahkan identifikasi jenis pohon. fauna permukaan dan dalam tanah serta tipe perakaran) kondisi ini kurang mendukung. mudah terbakar dan mudah menguap. Meskipun demikian. tanggal. atau melindungi saat kita mengambil photo pada saat hujan.35 spesimen dibutuhkan 1 liter methylate spirit. karena itu air minum dan makanan kecil secukupnya perlu dipersiapkan. Jika waktu pengamatan tidak memungkinkan. karenanya perlu perencanaan matang. bahan ini cukup mahal. walaupun untuk keperluan lainnya (misalnya pengamatan tanah.sebaiknya gunakan topi yang dapat menyerap keringat. Biasanya dengan cara ini spesimen masih bisa diidentifikasi selama 2 . Lihatlah daftar pasang-surut. pengamatan pada habitat mangrove juga memiliki kesulitan tersendiri. Untuk perjalanan yang lebih lama. karena terbatasnya jenis tumbuhan serta sifat perbungaannya yang tidak terlalu musiman. tipe akar serta bunga/buahnya. Untuk itu perlu disediakan kantung plastik serta kotak plastik tahan air untuk menyimpan peralatan tersebut. Lebih dari itu. dan kemudian ditaburi methylate spirit.3 Spesimen tumbuhan mangrove Dibandingkan dengan pengamatan di hutan tropis.

kecuali dalam metoda ini dibuat plot-plot (misalnya luas 100 m2/radius 5 m) dengan jarak antar plot pada garis (misalnya 20 m). Transek kemudian dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya. citra inderaja juga sangat membantu perencanaan studi. Cara termudah melakukan pengamatan di lapangan adalah dengan melakukan transek. yaitu membuat garis transek dengan panjang tertentu (misalnya 100 meter atau 500 meter) dengan lebar 10 sampai 20 meter. Pada metoda yang pertama. yaitu transek garis (strip sampling) dan transek plot garis (line plot sampling). Jawa Barat. baik secara visual maupun dengan menggunakan perangkat lunak komputer tertentu. (1994).000 yang melingkupi hampir seluruh wilayah Indonesia. Cibinong. Pada citra inderaja yang memadai dapat membedakan zona vegetasi yang berbeda. kemudian dicatat seluruh tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang tumbuh dalam lebar tersebut. gabungan kedua metoda tersebut akan memberi hasil yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. antara tahun 1985 1992. Metoda-metoda diatas antara lain dijelaskan dengan lebih rinci oleh Chapman (1984) dan English. Peta tersebut mencakup Sistem Lahan serta tipe tata guna lahan dan hutan yang akan sangat bermanfaat dalam studi vegetasi. Jakarta. dan biasanya bisa diperoleh di LAPAN. Bagaimanapun. sementara peta tematik yang paling memadai saat ini adalah yang diproduksi oleh RePPProT (the Regional Physcial Planning Programme for Transmigration) dengan skala 1 : 250. Pada dasarnya terdapat dua metoda transek yang dapat dipakai. sangat membantu jika memiliki peta topografi serta peta tematik.4 Studi vegetasi Untuk pengamatan vegetasi. Untuk mengetahui informasi mengenai analisis vegetasi hutan (termasuk mangrove) dapat dibaca buku Metoda Survey Vegetasi yang disusun oleh Kusmana (1997). 453 . Peta topografi dapat diperoleh di BAKOSURTANAL.5 Studi Fauna Untuk keperluan studi fauna vertebrata. Khusus untuk burung air (bermigrasi) disarankan untuk menggunakan Howes (1989) dan Rusila (1999). terutama karena peta serta citra saja tidak akan memberikan keterangan yang memadai mengenai kondisi yang sebenarnya di lapangan. metoda yang dilakukan tidak banyak berbeda dengan metoda yang biasa digunakan di daratan. 7. Metoda kedua juga pada prinsipnya sama. termasuk sabuk mangrove yang umumnya memiliki kharakteristik lokasi yang berbeda. Pengamatan di lapangan kemudian akan memberikan informasi yang lebih baik. serta beberapa lainnya. kemudian dicatat tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang di dalam dan disinggung garis tersebut.7. Sementara untuk fauna vertebrata diantaranya disajikan dalam Sasekumar (1984) dan English et al. dkk (1994). Selain peta.

pola distribusi vertikal (khususnya berkaitan dengan pasang surut air laut) dan fauna bawah tanah. Fax. Medan 20112. P. Lt. ISME Secretariat. Kampus IPB Darmaga. Ancol Timur. Blok VII. Japan. 0251-621086/624815. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut IPB Gedung Marine Center Lt.6601/6602 (fax) 446 . International Society for Mangrove Ecosystems (ISME). Laboratorium Ekologi Hutan. 3. Pancoran Indah.Indonesia Programme Jl. Jl. 0251-325755 2.6 Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Organisasi/institusi nasional 1. Tel. 7.Pengamatan fauna invertebrata pada habitat mangrove umumnya berkaitan dengan zonasi. 0251-621244. Fakultas Kehutanan IPB.: 0251-312189. Liga Mas Indah. Departemen Kehutanan Gedung Manggala Wanabhakti. Nishihara.O. Fax 061-516338. Yayasan Indonesia untuk kemajuan desa (YASIKA) Jln. Jakarta. P3O . Yayasan Mangrove Jl. 061-516338/535016. densitas. University of the Ryukyus. Tel. Box 17. North Sumatra. Wetlands International . Tel. Bogor. xx.81. Bogor 16152. Raya Tajur. 4. Tel. Subdit Perairan. pengayakan.895. Tel.LIPI Jl. Indonesia. 021-7940403 SEAMEO-BIOTROP Southeast Asia Regional Center for Tropical Biology.O. Okinawa 903-01. 5. Arzimar III No. Bogor 16002 Tel. pemilahan dan identifikasi jenis. PO. A III/4. Jakarta Utara. km 6/P. 4. 6. Box 286 Tel. 7. Gatot Subroto. Jurusan Manajemen Hutan. 1. 17. Tel. Tel/fax./Fax. 7. Jl. 021-5720227 2. c/o College of Agriculture. Ditjen Perlindungan dan Konservasi Alam (PKA). Teknik yang digunakan biasanya dilakukan dengan menggunakan pengambilan sampel lumpur.98. Pasir Putih No. tel. Box 254/BOO. PO. 0251-621086 Organisasi Internasional 1. Erlangga No.: 021. 16-B. Jakarta. produktivitas.682287/683850/ 681948(fax). Box 168 Bogor. 0251-323848. Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan IPB.

473 .

ilicifolius dan A. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. Letak: di ujung. Ujung: meruncing. tetapi seluruh bagiannya lebih kecil. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun. berlawanan.5 cm.ebracteatus. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. ilicifolius. ilicifolius. Daun mengobati reumatik. Ukuran: Buah panjang 2. Ukuran: 7-20 x 4-10 cm. Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. Unit & Letak: Sederhana. ilicifolius keduanya memperlihatkan adanya karakter yang berbeda sebagaimana diuraikan dalam deskripsi. Catatan : 448 . Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum.53 cm. Bentuk: lanset. Dari India sampai Australia Tropis. Manfaat : Buah digunakan sebagai “pembersih” darah serta untuk mengatasi kulit terbakar. akan tetapi sering sekali membingungkan.volubilis sebagai satu jenis. ebracteatus hampir sama dengan A. Panjang tandan bunga lebih pendek dari A. Formasi: bulir. Daun : Pinggiran daun umumya rata kadang bergerigi seperti A. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung cerah. Bunga hanya mempunyai satu pinak daun utama. Filipina. biji 5-7 mm. Ketika tumbuh bersamaan dengan A. dan Kepulauan Pasifik Barat. sedangkan bunganya sendiri 2-2. Deskripsi umum : A. Berbunga pada bulan Juni. Terdapat di seluruh Indonesia. ilicifolius (lihat halaman berikutnya). karena yang sekunder biasanya cepat rontok.Acanthus ebracteatus Vahl ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju putih. kadang agak putih di bagian ujungnya. A.

Acanthus ebracteatus daun bunga buah a c b a. daun 493 . b. bunga. c. buah.

Ukuran: buah panjang 2. Cabang umumnya tegak tapi cenderung kurus sesuai dengan umurnya. Bentuk: lanset lebar. terjurai di permukaan tanah. sampai sejauh 2 m. berlawanan. Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. Manfaat : Buah ditumbuk dan digunakan untuk “pembersih” darah serta mengatasi kulit terbakar. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung. ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju hitam. Dari India hingga Australia tropis. Akar udara muncul dari permukaan bawah batang horizontal. volubilis sebagai satu jenis. kuat. Pohon juga dapat digunakan sebagai makanan ternak. Biasanya pada atau dekat mangrove. tepi daun bervariasi: zigzag/bergerigi besar-besar seperti gergaji atau agak rata dan secara gradual menyempit menuju pangkal. Daun mengobati reumatik. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. agak berkayu. sedangkan bunganya sendiri 5-4 cm. darulu. Panjang tandan bunga 10-20 cm. Ukuran: 9-30 x 4-12 cm. Terdapat di seluruh Indonesia. biji 10 mm. Pinak daun tersebut tetap menempel seumur hidup pohon. yang memiliki kemampuan untuk menyebar secara vegetatif karena perakarannya yang berasal dari batang horizontal. A. Ujung: meruncing dan berduri tajam.Acanthus ilicifolius L. ketinggian hingga 2m. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. Bunga memiliki satu pinak daun penutup utama dan dua sekunder. daruyu. Formasi: bulir. Deskripsi umum : Herba rendah. sehingga membentuk bagian yang besar dan kukuh. Letak: di ujung. Daun : Dua sayap gagang daun yang berduri terletak pada tangkai. Catatan : 450 . Unit & letak: sederhana. ilicifolius dan A. Bunga kemungkinan diserbuki oleh burung dan serangga.53 cm. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. Memiliki kekhasan sebagai herba yang tumbuh rendah dan kuat. Di Bali berbuah sekitar Agustus. Biji tertiup angin. ebracteatus. kadang agak putih. Percabangan tidak banyak dan umumnya muncul dari bagian-bagian yang lebih tua. Filipina dan Kepulauan Pasifik barat. Permukaan daun halus. sangat jarang di daratan. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun.

daun 513 . b. bunga. c.Acanthus ilicifolius daun bunga buah a b c a. buah.

speciosum.speciosum yang kecoklatan. Sisik yang luas. kala keok. Ujung daun fertil berwarna coklat seperti karat. Manfaat : Akar rimpang dan daun tua digunakan sebagai obat. ditutupi oleh urat besar.aureum lebih tinggi. paku cai.Acrostichum aureum Linn. panjang hingga 1 cm. tetapi dengan titik yang kecil.speciosum. Terdapat di seluruh Indonesia. Deskripsi umum : Ferna berbentuk tandan di tanah. tinggi hingga 4 m. Duri banyak. PTERIDACEAE Nama setempat : Piai raya. dan individu mudanya lebih kemerahan dibandingkan dengan A. Tingkat toleransi terhadap genangan air laut tidak setinggi A. krakas. Daun: Panjang 1-3 m. Pinak daun terbawah selalu terletak jauh dari yang lain dan memiliki gagang yang panjangnya 3 cm. coklat tua dengan peruratan yang luas.bercampur dengan urat yang sempit dan tipis. hanya terdapat di bagian pangkal dari gagang. mangrove varen. jenis ini menyukai areal yang terbuka terang dan disinari matahari. Kelimpahan : Sangat melimpah setempat. Seringkali keliru dengan A. Daun digunakan sebagai dan alas ternak. Pinak daun letaknya berjauhan dan tidak teratur. paku laut. A. Batang timbul dan lurus. Secara umum. Spora besar dan berbentuk tetrahedral. wikakas. Daun mudanya dilaporkan dimakan di Timor dan Sulawesi Utara. tipis ujungnya. Ujung pinak daun yang steril dan lebih panjang membulat atau tumpul dengan ujung yang pendek. hata diuk. seperti areal mangrove yang telah ditebangi yang kemudian akan menghambat tumbuhan mangrove untuk beregenerasi. Ditemukan di bagian daratan dari mangrove. Ferna tahunan yang tumbuh di mangrove dan pematang tambak. Biasa terdapat pada habitat yang sudah rusak. Catatan : 452 . besar. Pengenalan yang paling mudah adalah dengan melihat ujung daunnya.aureum pada umumnya agak tumpul.speciosum.speciosum runcing-memanjang. Menebal di bagian pangkal. wrekas. Tidak seperti A. memiliki tidak lebih dari 30 pinak daun. A. menebal di bagian tengah. sementara pada A. Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. berwarna hitam. Bagian bawah dari pinak daun tertutup secara seragam oleh sporangia yang besar. sepanjang kali dan sungai payau serta saluran. pucat. Peruratan daun menyerupai jaring.

b. daun. d. spora. ujung pinak daun. c.Acrostichum aureum pohon b a c d a. pohon 533 .

Ekologi : Penyebaran : Asia dan Australia tropis. hanya terdapat di bagian pangkal daun. PTERIDACEAE Nama setempat : Piai lasa. Daun yang fertil dihasilkan pada bulan Agustus hingga April. Kelimpahan : Melimpah setempat. pada umumnya panjangnya kurang dari 1 m dan memiliki pinak daun fertil berwarna karat pada bagian ujungnya. Spora besar dan berbentuk tetrahedral . membentuk tandan yang kasar dengan ketinggian hingga 1. Tumbuh pada areal mangrove yang lebih sering tergenang oleh pasang surut. Biasanya menyukai areal yang terlindung.aureum dalam hal ukuran pinak daunnya yang lebih kecil dan ujungnya meruncing. Sisik menebal di bagian tengah. Manfaat : Daun digunakan sebagai alas kandang ternak.5 m. Pinak daun yang steril memiliki ujung lebih kecil dan menyempit. Peruratan daun berbentuk jaring. “Kecambah” (sebenarnya “bibit spora”) berlimpah pada bulan Januari hingga April (di Jawa). Sisik luas. serta daun mudanya berwarna hijau-kecoklatan. Di seluruh Indonesia. Khususnya tumbuh pada gundukan lumpur yang “dibangun” oleh udang dan kepiting.Acrostichum speciosum Willd. 454 . Sisik pada akar rimpang panjangnya hingga 8 mm. Deskripsi umum : Ferna tanah. Pinak daun berukuran kira-kira 28 x 10 cm. tertutup secara seragam oleh sporangia besar. permukaan bagian bawah pinak daun yang fertil berwarna coklat tua dan ditutupi oleh sporangia. Daun : Sangat mencolok. Jenis ini berbeda dengan A. Ferna tahunan. panjang hingga 1 cm.

Acrostichum speciosum pohon b a c d a. daun. d. ujung pinak daun. c. b. spora. pohon 553 .

Letak: di ujung tandan/ tangkai bunga. Maluku. Manfaat : Catatan : Memiliki kandungan tanin yang sangat tinggi. Thailand dan Kepulauan Andaman. Formasi: payung (ada banyak bunga). bengkak pada bagian pangkal dan memiliki tekstur seperti busa. Diameter batang sampai 20 cm. berwarna kemerahan ketika telah matang. umumnya memiliki ketinggian 1. perbungaan terjadi pada bulan September . Kelopak Bunga: 5. A. Di Australia. akan tetapi penggunaannya belum pernah dilaporkan. Kulit kayu bagian luar berwarna hitam. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Burma. PLUMBAGINACEAE Nama setempat : Tidak tahu. bentuk tabung. Daun : Terdapat lobang longitudinal dan kelenjar garam. Tumbuh pada daerah mangrove terbuka sebagai individu yang terpisah atau dalam kelompok kecil.November. Ukuran: 6-9 x 2-5 cm. 5-8 mm. tumpang tindih. pada mangrove yang rendah dengan substrat lumpur.Br. Buah berbentuk kapsul melengkung. Kadang-kadang memiliki akar tunjang. sedangkan buah yang matang tumbuh pada bulan Januari . memiliki 5 sudut. Tandan bunga yang asimetris memiliki banyak bunga. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kepulauan Sunda kecil.5-3 meter.Aegialitis annulata R. Deskripsi umum : Semak kecil. Gagang daun panjangnya 8 cm. kadang-kadang dijumpai sebagai pohon sampai 7 meter tingginya. halus dan kemudian bercelah sejalan dengan bertambahnya umur. 7-8 mm. rotundifolia terdapat di Bangladesh. Kelimpahan : Umum. Juga tumbuh pada daerah yang lebih berpasir dan berkarang serta tergenang oleh air dengan salinitas yang sama dengan air laut (pada akhir musim kering). Biasanya memiliki akar yang menjalar pada permukaan tanah. Bunga dari kedua jenis tumbuhan ini memiliki perbedaan karakteristik yang tidak terlalu penting. Ujung: meruncing. annulata dan A. Penyerbukan dilaporkan dibantu oleh semut. Bentuk: lanset seperti pedang. 456 . Daun Mahkota: 5. dan ranting dengan goresan berbentuk cincin. Ukuran: 3-4 x 4-5 cm. A. rotundifolia memiliki daerah penyebaran yang tidak bersambung.Maret. putih kadang abu-abu pucat. PNG dan Australia Utara.

pohon 573 . d. buah.Aegialitis annulata a c b d a. bunga. daun. c. b.

Papua New Guinea. tanah dan cahaya yang beragam. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka. dimana embrio muncul melalui kulit buah ketika buah yang membesar rontok. Daun Mahkota: 5. Memiliki toleransi yang tinggi terhadap salinitas. Daun muda dapat dimakan. duduk agung. berwarna hijau mengkilat pada bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. seringkali bercampur warna agak kemerahan. perepat tudung. Cina selatan. Malaysia. Daun : Daun berkulit. Kelopak Bunga: 5. ditutupi rambut pendek halus. Kulit kayu bagian luar abu-abu hingga coklat kemerahan. Mereka umum tumbuh di tepi daratan daerah mangrove yang tergenang oleh pasang naik yang normal. teruntung. dan kemungkinan diserbuki oleh serangga. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. seluruh Indonesia.. membengkok seperti sabit. Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion. kacangan. Biasanya segera tumbuh sekelompok anakan di bawah pohon dewasa. Buah berwarna hijau hingga merah jambon (jika sudah matang). 458 . putih. Manfaat : Kulit kayu yang berisi saponin digunakan untuk racun ikan. permukaan halus. Ukuran: panjang 5-7. Ujung: membundar. Bunga digunakan sebagai hiasan karena wanginya.hijau. serta memiliki sejumlah lentisel. Kelimpahan : Umum. kacang-kacangan. tudung laut. serta di bagian tepi dari jalur air yang bersifat payau secara musiman.5 cm dan diameter 0.5 cm. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Formasi: payung.Aegiceras corniculatum (L. Biji tumbuh secara semi-vivipar. Australia dan Kepulauan Solomon. terang.) Blanco MYRSINACEAE Nama setempat : Teruntun. gigi gajah. klungkum. seringkali tumbuh dalam kelompok besar. Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian pohon mencapai 6 m.7 cm. Buah dan biji telah teradaptasi dengan baik terhadap penyebaran melalui air. 5-6 mm. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga. di beberapa daerah agak melimpah. perpat kecil. dengan masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 8-12 mm. putih . Akar menjalar di permukaan tanah. Kayu untuk arang. bercelah. gedangan. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Dalam buah terdapat satu biji yang membesar dan cepat rontok. Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips. kayu sila. Ukuran: 11 x 7.

b.Aegiceras corniculatum daun bunga buah a c b d a. daun. c. bunga. buah. pohon 593 . d.

Aegiceras floridum R.& S. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga. bercelah dan memiliki sejumlah lentisel. Manfaat : Tidak tahu. pada tepi pantai berpasir hingga tepi sungai.7 cm. 460 . Jawa Timur. Buah berwarna hijau hingga merah. Akar menjalar di permukaan tanah. bagian atas terang dan hijau mengkilat. 4 mm. bentuk agak lurus. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan Utara. Kelimpahan : Jarang dan tersebar. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Daun : Berkulit.hijau. Pengetahuan tentang jenis ini sangat terbatas. Formasi: payung. seluruh Filipina hingga Indo Cina. Kulit kayu bagian luar berwarna abu-abu hingga coklat. Kelopak bunga: 5. putih. Ujung: membundar. tercatat pula tumbuh pada substrat berkarang. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. Ukuran: 3-6 cm Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 4-6 mm. Daun Mahkota: 5. Sulawesi. Bali. Buah berisi satu biji memanjang dan cepat rontok. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Maluku. Ukuran: panjang 3 cm dan diameter 0. Bentuk: bulat telur terbalik. MYRSINACEAE Nama setempat : Mange-kasihan Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian mencapai 4 m. Tumbuh di daerah mangrove. ditutupi rambut pendek halus. bagian bawah hijau pucat kadang kemerahan. putih. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.

daun 613 . buah.Aegiceras floridum daun & buah bunga a b c a. bunga. c. b.

pangkal daun menyempit pada gagang yang panjangnya 8 . hampir silindris. Gagang bunga bulat.5 mm. Ukuran: 5. panjang 4-7 mm. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Tidak diketahui Hanya terkoleksi satu kali pada pohon Rhizophora. Letak: di ketiak daun. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu.10 mm. Tandan bunga terdapat secara tunggal atau berpasangan.5 mm. Deskripsi umum : Epifit parasit. panjang 2. Mungkin sangat terbatas. Kelopak Bunga: berbentuk corong. Formasi: payung (3 bunga). Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Mungkin sangat langka. Satu dari sedikit tumbuhan mangorve endemik di Indonesia.Amyema anisomeres Dans.5-8. Sulawesi Selatan. 462 .5-3 cm. kepala sari bulat panjang. halus. memiliki percabangan bulat. karena hanya terkolesi satu kali di Kampung Lato-u dekat Malili.5 x 1. Daun Mahkota: merah muda.5 mm. dengan 4 atau 5 daun mahkota tumpul berukuran 3. Mungkin endemik di Sulawesi. panjang 19-20 mm. Benang sari: panjangnya 1. Daun : Daun tersebar. Ujung: meruncing. Manfaat : Catatan : Tidak tahu.

buah. daun 633 .Amyena anisomeres b a c a. c. bunga. b.

Deskripsi umum : Hemi-parasit. biasanya menggantung. Daun : Bunga : Memiliki daun yang tebal. Hemi-parasit pada Avicennia. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Malaysia. Kalimantan.5-1 m. Tandan bunga tumbuh soliter pada ketiak daun. Ukuran: panjang hingga 5 cm. panjangnya 0. Perbungaan sepanjang tahun. Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat. Ujung: membundar.Amyema gravis Dans. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Rhizophora dan Sonneratia. Setiap tandan memiliki 2-3 gagang yang berisi bunga. Kepulauan Kangean dan Jawa Timur. Bentuk: bulat telur terbalik. 464 . Tidak diketahui. Daun mahkota bunga berwarna merah serta pangkal berwarna kuning-kehijauan. Manfaat : Tidak tahu.

daun 653 . b. c. bunga.Amyena gravis a b a c a. buah.

Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat.5-4 x 1. Ujung: membundar. Tangkai benang sari yang menopang kepala sari berukuran 3-5 mm. Papua New Guinea dan dekat Merauke (Irian Jaya).5 mm. 466 . Australia Utara. Daun : Daun berbentuk seperti sendok lebar dengan gagang daun sepanjang 6-15 cm.5 cm. Deskripsi umum : Parasit epifit dengan batang halus yang membesar pada bagian buku serta memiliki banyak cabang. Warna daun mahkota bunga tidak diuraikan dalam pustaka. Manfaat : Catatan : Tidak tahu.) Dans. Bentuk: bulat telur. Parasit eksklusif pada mangrove.5-2. Kepala sari panjangnya 1. Ukuran: 2.Amyema mackayense (Blake. Buah elips. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. dikelilingi oleh daun kelopak bunga yang berurutan.

Amyena mackayense a b a b c a. bunga. buah. daun 673 . b. c.

boak. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. beberapa ditumbuhi tonjolan kecil. Ukuran: 16 x 5 cm. Dari India sampai Indo Cina. 3-4 mm. Pada bagian batang yang tua. bawahnya pucat. 468 . Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. Daun : Permukaan halus. serta di sepanjang garis pantai. melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina. Bentuk: lanset (seperti daun akasia) kadang elips. Formasi: bulir (ada 10-30 bunga per tandan). Kelopak Bunga: 5. Buah dapat dimakan. koak. Ujung: meruncing. Letak: di ujung/pada tangkai bunga. Getah dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah. dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon. Seperti kerucut/cabe/mente. Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. sementara yang lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut. Akar nafas biasanya tipis. Benang sari: 4. Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan. Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas tandan. PNG dan Australia tropis. kadangkadang ditemukan serbuk tipis. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. kuning cerah. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung. berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel.Avicennia alba Bl. Hijau muda kekuningan. Ukuran: 4 x 2 cm. Kelimpahan : Melimpah. mangi-mangi putih. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Daun Mahkota: 4. bagian atas hijau mengkilat.

buah. d. c. bunga. b. daun. pohon 693 .Avicennia alba daun bunga buah a c d b a.

Kulit kayu luar halus bercoreng-coreng. Kayu berwarna putih sampai seperti jerami. tidak memiliki mulut buah yang nyata. Kulit kayu bagian dalam berwarna seperti jerami padi sampai coklat pucat. berwarna coklat kekuningan atau hijau. Ujung: meruncing. Daun : Permukaan bagian atas hijau muda sampai hijau tua atau hijau kecoklatan dan kuning kehijauan pada bagian bawah. dan juga pada bagian pinggir atau tengah daratan dari rawa mangrove.) Moldenke AVICENNIACEAE Nama setempat : Tidak diketahui.Avicennia eucalyptifolia (Zipp. Letak: di ujung. panjang 2-5 mm.5 cm. 470 . bagian luar berambut pendek. Bentuk: bulat memanjang. mengelupas pada bagian-bagiannya yang tipis. Bunga berdiameter 3-4 mm. Benang sari: berwarna ungu tua hingga coklat. Setengah bagian atas dari bakal buah memiliki bulu. Formasi: bulir. Kelopak Bunga: hijau pucat. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di Irian Jaya dan PNG. Seperti jenis lain pada genus ini. Tandan bunga membesar di ujung dengan panjang sampai 2. Daun Mahkota: warna putih. Buah berwarna kuning kehijauan. berlawanan. kuning atau merah muda. mereka seringkali bersifat vivipar. Unit & Letak: sederhana. Kelimpahan : Umum. Deskripsi umum : Semak atau pohon dengan ketinggian mencapai 17 meter. ex Miq. Ukuran: Panjang kurang dari 3 cm. Bunganya mirip bunga Avicennia marina. Manfaat : Catatan : Digunakan sebagai kayu bangunan dan kayu bakar. Ukuran: 4-16 cm x 1-4 cm. Tumbuh di pulau-pulau lepas pantai yang berkarang.

daun. pohon 713 .Avicennia eucalyptifolia pohon a b a. b.

coklat hingga hitam. Kelopak Bunga: 5. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar. tepi sungai. 4-5 mm. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/ tandan bunga. ujungnya berparuh pendek dan jelas. Ukuran: 9 x 5 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan. Formasi: bulir (8-14 bunga). Daun Mahkota: 4. Benang sari: 4 Buah seperti hati. kuning pucat-jingga tua. Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya). Kulit kayu seperti kulit ikan hiu berwarna gelap. daerah yang kering dan toleran terhadap kadar garam yang tinggi. Kelimpahan : Tidak diketahui.Avicennia lanata (Ridley). Diketahui (di Bali dan Lombok) berbunga pada bulan Juli . warna hijau-agak kekuningan. Tumbuh pada dataran lumpur. 472 . Semenanjung Malaysia. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan. Daun : Memiliki kelenjar garam.Februari dan berbuah antara bulan November hingga Maret. Bali. Singapura. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. dapat mencapai ketinggian hingga 8 meter. Lombok. Bergerombol muncul di ujung tandan. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: elips.5 cm. bagian bawah daun putih kekuningan dan ada rambut halus. Ujung: membundar – agak meruncing. Memiliki akar nafas dan berbentuk pensil. Ukuran: sekitar 1.5 x 2. bau menyengat.

Avicennia lanata daun buah pohon a b c a. c. daun 733 . b. buah. bunga.

Kayu menghasilkan bahan kertas berkualitas tinggi. kadang-kadang bersifat vivipar. Asia.) Vierh. 5-8 mm. api-api abang.5 cm. Buah dapat dimakan. akar nafas tegak dengan sejumlah lentisel. Kulit kayu halus dengan burik-burik hijau-abu dan terkelupas dalam bagian-bagian kecil. Bagian bawah daun putih. Backer & Bakhuizen van den Brink (19638) hanya menyebutkan varietas A. Benang sari: 4. pejapi. Ujung: meruncing hingga membundar. hajusia. sia-sia putih. sie-sie. Polynesia dan Selandia Baru.5x2. kuning pucat-jingga tua. Akarnya sering dilaporkan membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan tanah timbul. ketinggian pohon mencapai 30 meter. Seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan. tidak berbulu.) Bakh. nektar banyak. Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar. Ukuran: 9 x 4. Formasi: bulir (2-12 bunga per tandan). Daun digunakan sebagai makanan ternak. Manfaat : Daun digunakan untuk mengatasi kulit yang terbakar. Sedang dilakukan revisi taksonomi. Jenis ini merupakan salah satu jenis tumbuhan yang paling umum ditemukan di habitat pasang-surut. Merupakan tumbuhan pionir pada lahan pantai yang terlindung. Daun : Bagian atas permukaan daun ditutupi bintik-bintik kelenjar berbentuk cekung. Jenis ini dapat juga bergerombol membentuk suatu kelompok pada habitat tertentu. Kelopak Bunga: 5. Buah dapat juga terbuka karena dimakan semut atau setelah terjadi penyerapan air. Ukuran: sekitar 1. Daun Mahkota: 4. Kelimpahan : Melimpah. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. berwarna hijau agak keabu-abuan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di Afrika.5 cm. Bentuk: elips. Australia. Berbuah sepanjang tahun. intermedia (Griff. Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya) dan ujung buah agak tajam seperti paruh. bulat memanjang. Memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit dan berbentuk pensil (atau berbentuk asparagus). pai. bahkan di tempat asin sekalipun. Catatan : 474 . melalui lapisan dorsal. Resin yang keluar dari kulit kayu digunakan sebagai alat kontrasepsi. Ditemukan di seluruh Indonesia. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. nyapi.abu-abu muda. Buah agak membulat. Amerika Selatan. bau menyengat. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api putih. bulat telur terbalik. memiliki kemampuan menempati dan tumbuh pada berbagai habitat pasang-surut. Buah membuka pada saat telah matang.Avicennia marina (Forsk. Ranting muda dan tangkai daun berwarna kuning.

pohon 753 . daun.Avicennia marina daun bunga buah a c d b a. b. buah. d. c. bunga.

Ukuran: 12. Bentuk seperti hati. 476 .5 x 6 cm. api-api ludat. kuning-jingga. Berbunga sepanjang tahun. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Kayunya dapat digunakan sebagai kayu bakar. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Manfaat : Buah dapat dimakan.Avicennia officinalis L. seringkali tertutup oleh rambut halus dan pendek pada kedua permukaannya. Formasi: bulir (2-10 bunga per tandan). Pada umumnya memiliki akar tunjang dan akar nafas yang tipis. Kelimpahan : Umum. papi. lebih panjang dari daun mahkota bunga. Daun : Berwarna hijau tua pada permukaan atas dan hijau-kekuningan atau abu-abukehijauan di bagian bawah. api-api kacang. Kelopak Bunga: 5. 1015 mm. Juga tersebar dari India selatan sampai Malaysia dan Indonesia hingga PNG dan Australia timur. Ukuran: Sekitar 2x3 cm. bahkan kadang-kadang sampai 20 m. Getah kayu dapat digunakan sebagai bahan alat kontrasepsi. menyempit ke arah gagang. Tumbuh di bagian pinggir daratan rawa mangrove. bau menyengat. semakin tua warnanya semakin hitam. Daun mahkota bunga terbuka tidak beraturan. berbentuk jari dan ditutupi oleh sejumlah lentisel. Permukaan buah agak keriput dan ditutupi rapat oleh rambut-rambaut halus yang pendek. warna kuning kehijauan. sia-sia putih. Benang sari: 4. Permukaan atas daun ditutupi oleh sejumlah bintikbintik kelenjar berbentuk cekung. ujungnya berparuh pendek. Deskripsi umum : Pohon. merahu. Daun Mahkota: 4. Kulit kayu bagian luar memiliki permukaan yang halus berwarna hijau-keabu-abuan sampai abu-abu-kecoklatan serta memiliki lentisel. Susunan seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan. biasanya memiliki ketinggian sampai 12 m. Bentuk: bulat telur terbalik. api-api daun lebar. bulat memanjang-bulat telur terbalik atau elipsbulat memanjang. Ujung: membundar. marahuf. khususnya di sepanjang sungai yang dipengaruhi pasang surut dan mulut sungai. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tersebar di seluruh Indonesia.

d. daun. b.Avicennia officinalis buah daun & bunga a c b d a. c. bunga. buah. pohon 773 .

lalu menjadi coklat ketika umur bertambah. tanjang putih. atau di bagian tengah vegetasi mangrove kearah laut. seluruh Indonesia. Memiliki buah yang ringan dan mengapung sehinggga penyebarannya dapat dibantu oleh arus air. Bentuk: elips. bius. berakar lutut dan akar papan yang melebar ke samping di bagian pangkal pohon. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau. tanjang sukim. Manfaat : Untuk kayu bakar. 34 mm. Ukuran: Hipokotil: panjang 8-15 cm dan diameter 5-10 mm. Ukuran: 7-17 x 2-8 cm. Para nelayan tidak menggunakan kayunya untuk kepentingan penangkapan ikan karena kayu tersebut mengeluarkan bau yang menyebabkan ikan tidak mau mendekat. Sisi luar bunga bagian bawah biasanya memiliki rambut putih. tanjang. Hipokotil (seringkali disalah artikan sebagai “buah”) berbentuk silindris memanjang. lindur.) Bl. muncul di ujung tandan (panjang tandan: 1-2 cm). tapi pertumbuhannya lambat. Daun : Permukaan atas daun hijau cerah bagian bawahnya hijau agak kekuningan. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. ketinggian pohon kadang-kadang mencapai 23 meter. dan oleh karena itu sangat responsif terhadap penggenangan yang berkepanjangan. sering juga berbentuk kurva. Kemampuan tumbuhnya pada tanah liat membuat pohon jenis ini sangat bergantung kepada akar nafas untuk memperoleh pasokan oksigen yang cukup. Pangkal buah menempel pada kelopak bunga. biasanya pada tanah liat di belakang zona Avicennia.Bruguiera cylindrica (L. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. hijau kekuningan. Kelopak Bunga: 8. Tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. Kelimpahan : Umum. lengadai. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Asia Tenggara dan Australia. relatif halus dan memiliki sejumlah lentisel kecil. Kulit kayu abu-abu. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bunga mengelompok. Di beberapa daerah. Warna hijau didekat pangkal buah dan hijau keunguan di bagian ujung. termasuk Irian Jaya. Daun Mahkota: putih. akar muda dari embrionya dimakan dengan gula dan kelapa. bawahnya seperti tabung. Jenis ini juga memiliki kemampuan untuk tumbuh pada tanah/substrat yang baru terbentuk dan tidak cocok untuk jenis lainnya. Formasi: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Burus. tanjang sukun. 478 . Ujung: agak meruncing.

buah. c.Bruguiera cylindrica bunga buah pohon a c b a. bunga. daun 793 . b.

tepi daun sering tergulung ke dalam.5 x 2. Ukuran: Hipokotil: panjang 5-7 cm dan diameter 6-8 mm Tumbuh di sepanjang jalur air atau menuju bagian belakang lokasi mangrove. Daun mahkota: 8-10. menggantung. Hipokotil relatif kecil dan mudah tersebar oleh pasang surut atau banjir. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Penyebaran terbatas. 480 . Letak: di ketiak daun.5 cm. tepi daun mahkota memiliki rambut berwarna putih dan kemudian akan rontok. Deskripsi umum : Semak atau pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 10 m. Kelimpahan : Cukup umum. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. panjang 10-15 mm.5-11. Formasi: soliter.5 x4. sexangula sering dikelirukan dengan jenis ini. panjang 10-13 mm. Hipokotil berbentuk tumpul. Bentuk: bulat memanjang. Kulit kayu berwarna abu-abu tua. Manfaat : Catatan : Tidak tahu. dan memiliki sejumlah besar akar nafas berbentuk lutut. Pada masa lalu B. Ukuran: 5. bagian bawah memiliki bercak-bercak. pangkal batang menonjol. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. Ujung: meruncing. Substrat yang cocok adalah tanah liat dan pasir. Unit & letak: sederhana & berlawanan. Diketahui dari Timor. silindris agak menggelembung. Anakan tumbuh tidak baik di bawah lindungan. Bunga hijau-kekuningan. Kelopak bunga: 8-10. Daun : Permukaan atas daun berwarna hitam. Irian Jaya Selatan dan Australia Utara.Bruguiera exaristata Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Kadang-kadang ditemukan suatu kelompok yang hanya terdiri dari jenis tersebut.

buah.Bruguiera exaristata a c b a. bunga. c. daun 813 . b.

panjang 30-50. dau. sepanjang tambak serta sungai pasang surut dan payau. bako. panjang 2-2. Bunga relatif besar. tanjang. Kelopak Bunga: 10-14. Daun Mahkota: 10-14. memiliki kelopak bunga berwarna kemerahan. dan mengundang burung untuk melakukan penyerbukan. Substrat-nya terdiri dari lumpur. sala-sala. tongke. mutut besar. Letak: di ketiak daun. Tumbuh di areal dengan salinitas rendah dan kering.5-7 x 8. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan pada bagian bawahnya dengan bercak-bercak hitam (ada juga yang tidak). Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m.5-22 cm. menggantung. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. permukaannya halus hingga kasar. wako. Malaysia dan Indonesia menuju wilayah Pasifik Barat dan Australia Tropis. tergantung. lindur. tenggel. Regenerasinya seringkali hanya dalam jumlah terbatas. panjang 13-16 mm. pasir dan kadang-kadang tanah gambut hitam. dicampur dengan gula. totongkek. Kulit kayu memiliki lentisel. Bentuk: elips sampai elips-lanset. bangko. bundar melintang. serta tahap awal dalam transisi menjadi tipe vegetasi daratan. juga memiliki sejumlah akar lutut. Ditemukan di tepi pantai hanya jika terjadi erosi pada lahan di hadapannya. kandeka. Formasi: soliter. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. warna merah muda hingga merah. berwarna abu-abu tua sampai coklat (warna berubah-ubah). Daun : Daun berkulit. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur dan Madagaskar hingga Sri Lanka. Merupakan jenis yang dominan pada hutan mangrove yang tinggi dan merupakan ciri dari perkembangan tahap akhir dari hutan pantai. Mereka juga tumbuh pada tepi daratan dari mangrove. tumu. 482 .5-2 cm. Akarnya seperti papan melebar ke samping di bagian pangkal pohon. Ujung: meruncing Ukuran: 4. tanjang merah. Bunga bergelantungan dengan panjang tangkai bunga antara 9-25 mm. putih dan coklat jika tua. Ukuran: Hipokotil: panjang 12-30 cm dan diameter 1. taheup. hal tersebut dimungkinkan karena buahnya terbawa arus air atau gelombang pasang. putut.) Lamk. Manfaat : Bagian dalam hipokotil dimakan (manisan kandeka). Hipokotil lurus. Jenis ini toleran terhadap daerah terlindung maupun yang mendapat sinar matahari langsung. serta tanah yang memiliki aerasi yang baik. Kadang-kadang juga ditemukan di pinggir sungai yang kurang terpengaruh air laut. Kelimpahan : Umum dan tersebar luas. tumpul dan berwarna hijau tua keunguan. Kayunya yang berwarna merah digunakan sebagai kayu bakar dan untuk membuat arang.Bruguiera gymnorrhiza (L.5 cm. mangimangi. sarau. tomo. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Pertut. Buah melingkar spiral.

daun 833 . c. hipokotil. b.Bruguiera gymnorrhiza daun & bunga hipokotil a c b a. bunga.

Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Burma.Bruguiera hainessii C. Ukuran: 9-16 x 4-7 cm. Malaysia. panjang 7-9 mm. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 30 meter dan batang berdiameter sekitar 70 cm. Kelopak Bunga: 10. bagian bawah berbentuk tabung. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan di bawahnya. Bentuk: elips sampai bulat memanjang. Letak: Di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga (panjang tandan: 18-22 cm). Formasi: kelompok (2-3 bunga per tandan.G. Berambut pada tepi bawah dan agak berambut pada bagian atas cuping. Kelimpahan : Agak kurang umum. Kulit kayu berwarna coklat hingga abu-abu.Rogers RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus mata buaya. Daun : Daun berkulit. 484 . seluruh Indonesia dan Papua New Guinea. Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove pada areal yang relatif kering dan hanya tergenang selama beberapa jam sehari pada saat terjadi pasang tinggi. dengan lentisel besar berwarna coklat-kekuningan dari pangkal hingga puncak. Daun Mahkota: putih. Manfaat : Tidak tahu. hijau pucat. Ukuran: Hipokotil: panjang 9 cm dan diameter 1 cm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. panjangnya 5 mm. Thailand. Hipokotil berbentuk cerutu atau agak melengkung dan menebal menuju bagian ujung. Ujung: meruncing.

pohon 853 . b. buah/hipokotil. c. daun.Bruguiera hainessii c d b a a. d. bunga.

Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Bangladesh hingga Samoa. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Langgade. Ukuran: 5. Daunnya berlekuk-lekuk. bius. bagian bawah berbentuk tabung. Ujung: meruncing.& A. Substrat yang cocok termasuk lumpur. warna hijau kekuningan. pasir. mou. Daun : Terdapat bercak hitam di bagian bawah daun dan berubah menjadi hijaukekuningan ketika usianya bertambah. ex Griff. tinggi (meskipun jarang) dapat mencapai 20 m. Letak: di ketiak daun. Formasi: kelompok (3-10 bunga per tandan). Bentuk: elips.5-13 x 2-4. Seluruh Indonesia. menggelembung. tanjang. yang merupakan ciri khasnya. Manfaat : Karena ukuran kayunya yang kecil. Ukuran: Hipokotil: panjang 815 cm dan diameter 0. seperti kupu-kupu. perbungaan tercatat dari bulan Juni hingga September.5-1 cm. kecuali untuk kayu bakar. agak melengkung. warna hijau kekuningan. Kelimpahan : Tersebar. permukaannya halus. Akar lutut dapat mencapai 30 cm tingginya. Buah melingkar spiral. bercelah dan agak membengkak di bagian pangkal pohon.) W. berwarna abu-abu hingga coklat tua. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. dan berbuah dari bulan September hingga Desember. disebabkan oleh gangguan serangga. tetapi melimpah setempat. lenggadai.Bruguiera parviflora (Roxb. tongi. panjang 2 cm. Bunga dibuahi oleh serangga yang terbang pada siang hari. sia-sia. Jenis ini membentuk tegakan monospesifik pada areal yang tidak sering tergenang. panjang 1. 486 . jenis ini jarang digunakan untuk keperluan lain. tanah payau dan bersalinitas tinggi. Giesen & Sukotjo. Kelopak Bunga: 8. 1991). Daun mahkota: 8.5-2mm. paproti. Dapat menjadi sangat dominan di areal yang telah diambil kayunya (misalnya Karang Gading-Langkat Timur Laut di Sumatera Utara. panjangnya 7-9 mm. Deskripsi umum : Berupa semak atau pohon kecil yang selalu hijau. dan nampaknya tumbuh dengan baik pada areal yang menerima cahaya matahari yang sedang hingga cukup. Hipokotil silindris. Di Australia. Bunga mengelompok di ujung tandan (panjang tandan: 2 cm). putihhijau kekuningan. mengelangan.5 cm. Hipokotilnya yang ringan mudah untuk disebarkan melalui air. Kulit kayu burik. Berambut pada tepinya. Individu yang terisolasi juga ditemukan tumbuh di sepanjang alur air dan tambak tepi pantai.

b. c. bunga. buah/hipokotil. daun 873 .Bruguiera parviflora bunga buah pohon c a b a.

Kelopak bunga: 10-12. Kadang berambut halus pada tepinya. dan pangkal batang yang membengkak. Letak: Di ketiak daun. Toleran terhadap kondisi air asin. tumu. mutut kecil. payau dan tawar. panjang tabung 10-15 mm. mata buaya. akar serta daunnya digunakan untuk mengatasi kulit terbakar. Formasi: soliter (1 bunga per tandan). Seluruh Asia Tenggara (termasuk Indonesia) hingga Australia utara. pada berbagai tipe substrat yang tidak sering tergenang. panjang 15mm. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Busing. Ukuran: 8-16 x 3-6 cm. Kulit kayu coklat muda-abu-abu.5 cm. exaristata dan B. Biasanya tumbuh pada kondisi yang lebih basah dibanding B. tancang sukun. dan di masa lalu seringkali dikelirukan dengan kedua jenis tersebut. Akar lutut. tiang dan arang. ting. gymnorrhiza.Bruguiera sexangula (Lour. gymnorrhiza. Buahnya dilaporkan digunakan untuk mengobati penyakit herpes. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Ujung: meruncing. Catatan : 488 . sarau. Tumbuh di sepanjang jalur air dan tambak pantai. dan kadangkadang akar papan. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunganya yang besar diserbuki oleh burung. halus hingga kasar. Sama dengan B. ai bon. warna kuning kehijauan atau kemerahan atau kecoklatan. Manfaat : Untuk kayu bakar. Di Sulawesi buahnya dimakan setelah direndam dan dididihkan. lindur.) Poir. busung. Kadang-kadang terdapat pada pantai berpasir. tongke perampuan. berkulit. tanjang. bakau tampusing. Daun makhota: 10-11. memiliki sejumlah lentisel berukuran besar. Hipokotil disebarkan melalui air. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. Ukuran: Hipokotil: panjang 6-12 cm dan diameter 1. dan memiliki bercak hitam di bagian bawah. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India. Identifikasi yang terbaik adalah melalui daun mahkota. putih dan kecoklatan jika tua. Kelimpahan : Umum. Bentuk: elips. Daun : Daun agak tebal. Hipokotil menyempit di kedua ujung.

daun 893 . c. bunga. buah/hipokotil.Bruguiera sexangula daun bunga buah a c b a. b.

Buah bundar berbentuk kapsul. kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m. bersisik. Ukuran: panjang buah 1 cm. Formasi: bulir. pangkalnya sempit. dan memiliki daun kelopak bunga dan kelopak tambahan yang berurutan. Kulit kayu berwarna abu-abu dan memiliki celah/retakan longitudinal serta pangkal batang yang bergalur. Ujung: membundar. Menurut Tomlinson (1986). Manfaat : Catatan : Tidak diketahui. BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. - Buah : Ekologi : Penyebaran : Filipina. 490 . Bentuk: lanset-elips. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. dan memiliki akar nafas yang menonjol. Ukuran: 6-9 x 2-4 cm. berupa semak atau pohon yang selalu hijau. Daun mahkota: putih. Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. panjang biji 9mm. Kalimantan dan Sulawesi. Daun mahkota bunga berwarna putih. bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek. Kelimpahan : Tidak terlalu umum. kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan.Camptostemon philippinense (Vidal) Becc. Benang sari: 5. Daun : Bunga : Permukaan daun bersisik. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. Letak: di ketiak daun dan batang.

c. bunga. daun 913 . buah.Camptostemon philippinense c b a a. b.

Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat dari Kalimantan. 492 . Menurut Tomlinson (1986). Bentuk: lansetelips. berupa semak atau pohon yang selalu hijau. Daun mahkota bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek berwarna putih. kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan.Camptostemon schultzii Masters BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. sementara bijinya yang berbulu disebarkan oleh air maupun angin. bersisik. Buah dapat disebarkan melalui air (dengan kisaran gelombang sedang). Buah bundar berbentuk kapsul. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. Ukuran: panjang buah 1 cm. cuping panjangnya 6 mm. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. dan memiliki daun kelopak bunga yang bagian luarnya berurutan dan bersisik. Umumnya tumbuh pada pantai berpasir yang berada pada kisaran areal pasang surut. bagian atas halus. Daun : Daun berumbai-rumbai terletak pada akhir cabang. buah matang pada bulan Oktober sampai Februari (di Australia). Berbunga pada bulan Juni sampai Oktober. Kelimpahan : Relatif umum. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. Ukuran: 6-16 x 2-5 cm. pangkalnya sempit. bagian bawah bersisik. panjang biji 9mm. coklat atau coklat-keabu-abuan dan memiliki celah/retakan longitudinal dan lentisel serta pangkal batang yang bergalur. Kelopak bunga: seperti cangkir. Manfaat : Catatan : Kayu dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas yang cukup kuat. Benang sari: 20. Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak. PNG dan Australia Utara. kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m dengan kulit kayu berwarna kuning pucat. Letak: Di ketiak daun dan cabang. Ujung: membundar. dan memiliki akar nafas yang menonjol. Formasi: bulir. Maluku. Daun Makhota: putih. Tumbuh lebih baik di pantai berbatu dan terbuka dibandingkan dengan mangrove di mulut sungai. Mungkin diserbuki oleh serangga dan angin.

daun. bunga. d. c. buah. b.Camptostemon schultzii a b c d a. pohon 933 .

Malaysia. ujungnya menggelembung tajam dan berbintil. Ukuran: 3-10 x 1-4.5 cm. Kulit kayu berwarna coklat. Letak: di ketiak daun. Menyukai substrat pasir atau lumpur. Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Indocina. palun. Papua New Guinea. warna hijau. bantalan rel kereta api. jarang berwarna abu-abu atau putih kotor. Kelimpahan : Relatif jarang. Sulawesi. Jawa. Deskripsi umum : Pohon atau semak kecil dengan ketinggian hingga 15 m. putih dan kecoklatan jika tua. Irian Jaya. luru. Filipina dan Australia. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga mengelompok. Kadang berambut halus pada tepinya. Daun mahkota: 5. panjang 2. parun. Manfaat : Jenis Ceriops memiliki kayu yang paling tahan/kuat diantara jenis-jenis mangrove lainnya dan digunakan sebagai bahan bangunan. kenyonyong. tebal dan bertakik. tinci. Kalimantan. ada lentisel dan berbintil. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Kulit kayu merupakan sumber yang bagus untuk tanin serta bahan pewarna. Ujung: membundar.5-4mm. Ukuran: Hipokotil: panjang 15 cm dan diameter 8-12 mm. tengar. Bangka. serta pegangan berbagai perkakas bangunan. Tumbuh tersebar di sepanjang hutan pasang surut. Kelopak bunga: 5. Catatan : 494 . permukaan halus. Formasi: kelompok (2-4 bunga per kelompok). Daun : Bunga : Daun hijau mengkilap. Bentuk: elipsbulat memanjang. Benang sari: tangkai benang sari pendek. sama atau lebih pendek dari kepala sari. bido-bido. warna hijau hingga coklat. Maluku. Leher kotilodon jadi merah tua jika sudah matang/ dewasa. tingi. Bentuk dan ukuran daun sangat beragam bergantung kepada kadar cahaya dan air dimana suatu individu tumbuh.Ceriops decandra (Griff. menempel dengan gagang yang pendek.) Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengal. rapuh dan menggelembung di bagian pangkal. Hipokotil berbentuk silinder. akan tetapi lebih umum pada bagian daratan dari perairan pasang surut dan berbatasan dengan tambak pantai.

pohon 953 . daun. bunga. buah/hipokotil. c.Ceriops decandra daun bunga buah & hipokotil a c b d a. b. d.

halus dan pangkalnya menggelembung.Rob. panjang 45mm. Menyukai substrat tanah liat. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Mozambik hingga Pasifik Barat. Kayu bermanfaat untuk bahan bangunan. putih dan kemudian jadi coklat. palun. Juga terdapat di sepanjang tambak. Deskripsi umum : Pohon kecil atau semak dengan ketinggian mencapai 25 m. wanggo. Membentuk belukar yang rapat pada pinggir daratan dari hutan pasang surut dan/atau pada areal yang tergenang oleh pasang tinggi dengan tanah memiliki sistem pengeringan baik. parun. Manfaat : Ekstrak kulit kayu bermanfaat untuk persalinan. Malaysia dan Indonesia. bantalan rel kereta api. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengar. Daun mahkota: 5. tinci. Kulit kayu berwarna abu-abu. termasuk Australia Utara.B. Gagang bunga panjang dan tipis.) C. Buah panjangnya 1. Kelimpahan : Umum. kadang-kadang coklat. Ujung: membundar. karena ketahanannya jika direndam dalam air garam. mentigi. dan kemungkinan berdampingan dengan C. tingi. Leher kotilodon menjadi kuning jika sudah matang/dewasa. Benang sari: tangkai benang sari lebih panjang dari kepala sarinya yang tumpul. tengar.5 cm. Bunga mengelompok di ujung tandan. tingih. tabung 2mm. Catatan : 496 . lonro. dan regenerasi mereka dapat terjadi melalui salah satu anakan tersebut. Pewarna dihasilkan dari kulit kayu dan kayu. Daun : Daun hijau mengkilap dan sering memiliki pinggiran yang melingkar ke dalam. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. mange darat. Bahan kayu bakar yang baik serta merupakan salah satu kayu terkuat diantara jenis-jenis mangrove. Hipokotil berbintil. Ukuran: Hipokotil: panjang 4-25 cm dan diameter 8-12 mm. Letak: di ketiak daun. tengah. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. dan pegangan perkakas. warna hijau. Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok).Ceriops tagal (Perr.5-2 cm. Pohon seringkali memiliki akar tunjang yang kecil. tangar. Kelopak bunga: 5.decandra. berkulit halus. berresin pada ujung cabang baru atau pada ketiak cabang yang lebih tua. Ukuran: 1-10 x 2-3. Dilaporkan bahwa anakan jenis ini dapat membelah menjadi dua. bido-bido. agak menggelembung dan seringkali agak pendek. dengan tabung kelopak yang melengkung. Tanin dihasilkan dari kulit kayu. Bentuk: bulat telur terbalik-elips.

c.Ceriops tagal bunga buah & hipokotil a c b a. bunga. b. buah/hipokotil. daun 973 .

yaitu buta-buta. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Deskripsi umum : Pohon merangas kecil dengan ketinggian mencapai 15 m.5 x 3. Daun mahkota: hijau & putih. dan di Australia. khususnya lebah. Unit & Letak: sederhana. Tumbuhan ini sepanjang tahun memerlukan masukan air tawar dalam jumlah besar. Kayu tidak bisa digunakan sebagai kayu bakar karena bau wanginya tidak sedap bagi masakan. madengan. Daun : Hijau tua dan akan berubah menjadi merah bata sebelum rontok. Getah putihnya beracun dan dapat menyebabkan kebutaan sementara. tersebar. tidak pernah keduanya. termasuk di Indonesia. pinggiran bergerigi halus.5-5 cm. betuh. Letak: di ketiak daun. kalibuda. Memiliki bunga jantan atau betina saja. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di sebagian besar wilayah Asia Tropis. sambuta. kayu wuta. Kulit kayu berwarna abu-abu. Ukuran: 6. Formasi: bulir. Penyerbukan dilakukan oleh serangga. Getah digunakan untuk membunuh ikan. Bentuk seperti bola dengan 3 tonjolan. Mereka umum ditemukan sebagai jenis yang tumbuh kemudian pada beberapa hutan yang telah ditebang. dan menyebar di sepanjang tandan. dekat Medan. berisi biji berwarna coklat tua. akan tetapi wanginya akan hilang beberapa tahun kemudian. EUPHORBIACEAE Nama setempat : Buta-buta. Kayu dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas yang bermutu baik. halus. Manfaat : Akar dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi dan pembengkakan. atau kadang-kadang di atas batas air pasang. Hal ini terutama diperkirakan terjadi karena adanya serbuk sari yang tebal serta kehadiran nektar yang memproduksi kelenjar pada ujung pinak daun di bawah bunga. Ukuran: diameter 5-7mm. Jenis ini juga ditemukan tumbuh di sepanjang pinggiran danau asin (90% air laut) di pulau vulkanis Satonda. tetapi memiliki bintil. dahan dan daun memiliki getah (warna putih dan lengket) yang dapat mengganggu kulit dan mata. seringkali berbentuk kusut dan ditutupi oleh lentisel.Excoecaria agallocha L. goro-goro raci. Bunga jantan (tanpa gagang) lebih kecil dari betina. warejit. Kayunya kadang-kadang dijual karena wanginya.5-10. Akar menjalar di sepanjang permukaan tanah. berwarna hijau dan panjangnya mencapai 11 cm. Ujung: meruncing. bebutah. kuning. menengan. misalnya di Suaka Margasatwa. Sumatera Utara. bersilangan. sebelah utara Sumbawa. Karang-Gading Langkat Timur Laut. kalapinrang. Kayu digunakan untuk bahan ukiran. Umumnya ditemukan pada bagian pinggir mangrove di bagian daratan. Kelimpahan : Melimpah setempat. makasuta. warna hijau. Tandan bunga jantan berbau. sesuai dengan namanya. Catatan : 498 . ada 2 kelenjar pada pangkal daun. Batang. permukaan seperti kulit. Bentuk: elips. mata huli. Benang sari: 3. Kelopak bunga: hijau kekuningan.

pohon 993 . buah/hipokotil. daun. b. c. bunga.Excoearia agallocha bunga buah daun c a b d a. d.

Gymnanthera paludosa

(Bl.) K.Schum.

ASCLEPIADACEAE

Nama setempat : Tidak tahu. Deskripsi umum : Semak pemanjat, hingga 4 m. Batang ditutupi oleh tonjolan. Pada umumnya tidak berambut, tetapi memiliki rambut pendek, halus di bagian atas. Daun : Bunga : Daun halus, tipis. Unit & Letak: sederhana, bersilangan. Bentuk: elips-bulat memanjang. Ujung: meruncing. Ukuran: 3-5,5 x 1-2 cm. Di antara pasangan tangkai daun, panjang tangkai bunga kurang dari 2 cm. Formasi: kelompok. Daun mahkota: halus, hijau kekuningan, memiliki tabung memanjang 7-8 mm, diameter 16-18 mm. Buah tipis, berpasangan dan berpengait di ujungnya. Biji berlunas dan halus tetapi memiliki rambut panjangnya 2-2,5 cm. Ukuran: panjang biji 5mm, panjang buah 10,5-12 cm. Tumbuh di mangrove. Bunga dari Oktober - Maret. Tercatat dari Jawa dan Madura, tetapi kemungkinan ditemukan di seluruh Indonesia.

Buah :

Ekologi : Distribusi :

Kelimpahan : Tidak tahu. Manfaat : Tidak tahu.

4100

Gymnanthera paludosa

daun & buah

a

c

b

a. bunga; b. buah; c. daun

1013

Heritiera globosa

Kostermans

STERCULIACEAE

Nama setempat : Dungun. Deskripsi umum : Sangat menyerupai Heritiera littoralis (lihat deskripsi berikut), perbedaannya terletak pada buah yang bundar dan tangkai daun yang lebih panjang. Memiliki ujung daun ventral yang dangkal, memanjang pada ujung jauh menuju mulut atau sayapnya, dimana sayap selalu agak melengkung yang merupakan kekhasannya. Gagang daun lebih panjang dari 2 cm dan mungkin lebih dari 4 cm. Akar papan berkembang baik dan menyerupai ular, memanjang 2-4 m dari pangkal batang. Ekologi : Tumbuh di belakang zona jalur mangrove, tetapi juga telah dikoleksi di tempat sejauh 70 km dari laut, pada sistem sungai air tawar yang dipengaruhi oleh pasang surut.

Penyebaran : Sarawak, Sabah dan Kalimantan, akan tetapi kemungkinan memiliki penyebaran yang lebih luas. Kelimpahan : Relatif umum setempat. Manfaat : Memiliki kayu yang kuat dan berat.

4102

Heritiera globosa

a

b

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1033

rumah. bersilangan. balang pasisir. Buah digunakan untuk mengobati diare dan disentri. bersisik dan bercelah. panjang 4-5 mm. Bentuk: bulat telur-elips. Memiliki 1 biji dan masak pada tandan yang tergantung. STERCULIACEAE Nama setempat : Dungu.Ait.Heritiera littoralis Dryand. Letak: di ujung atau di ketiak. Ukuran: panjang 6-8 cm. Bunga jantan lebih banyak. 4104 . Kelimpahan : Umum. Kelopak bunga: 4-5. Unit & letak: sederhana. Gagang daun panjangnya 0. dungun. rumung. lawanan kete. atung laut. berkulit. Kayu tahan lama dan digunakan untuk bahan perahu. Manfaat : Kayu bakar yang baik. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 25 m. Warna daun hijau gelap bagian atas dan putih-keabu-abuan di bagian bawah karena adanya lapisan yang bertumpang-tindih. cerlang laut. rurun. Tandan bunga berambut (terutama pada bagian ketiak daun dan ujung cabang). berkelompok pada ujung cabang. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. lawang. Nampaknya tidak toleran terhadap salinitas yang tinggi dan tidak tumbuh pada lokasi yang sangat terbuka atau kurang adanya pengeringan. Individu pohon memiliki salah satu bunga betina atau jantan. atau pantai berkarang. Biji digunakan untuk pengolahan ikan. tetapi lebih kecil dibanding bunga betina (pada pohon yang berbeda !). seperti mangkok. Ukuran: 10-20 x 5-10 cm. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Daun mahkota: ungu dan coklat. kadang sampai 30 x 15-18 cm. Sangat umum tumbuh di tepi daratan hutan mangrove.5-2 cm. blakangabu. Kulit kayu gelap atau abu-abu. Dari Afrika timur dan Madagaskar hingga Australia dan Pasifik sejauh Kaledonia baru. Akar papan berkembang sangat jelas. tiang telepon. Formasi: bergerombol bebas. bayur laut. Ujung: meruncing. kemerahan dan berambut. lebar 5-6 cm. Daun : Kukuh. Buah berwarna hijau hingga coklat mengkilat. belohila. lulun. ex W. dan mungkin juga menempati bagian tepi atau berdekatan dengan hutan dataran rendah. berkayu.

c. buah. b. daun 1053 . bunga.Heritiera littoralis buah muda bunga buah tua pohon a a c b a.

Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil. memiliki 4 dan kadang-kadang 9 bunga berwarna putih. Daun mahkota: panjangnya 14 mm. Berwarna hijau berbentuk oval. Thailand. Burma. Jepang Selatan dan Malaysia. panjangnya 1. tinggi hingga 7 meter dengan pangkal batang lebih tebal. Indo Cina. Daun : Bunga : Tepi daun mengkerut kedalam.5 cm.5-2. pisang-pisang Laut. Kulit kayu berwarna keabu-abuan hingga coklat-kemerahan. Tandan bunga bercabang dua. Buah : Ekologi : Penyebaran : Timur Laut Sumatera. Cina. Kalimantan Barat dan Utara. Benang sari: banyak dan berbentuk filamen. beus. India. Bentuk: elips-bulat memanjang. Kelimpahan : Sangat terbatas dan jarang. pulut-pulut. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Tumbuh secara sporadis pada pematang sungai pasang surut.Kandelia candel (L.5-2 cm. panjang 1. 4106 . Manfaat : Utamanya untuk kayu bakar. Menempati relung yang sempit. Ujung: membundar hingga sedikit runcing. beras-beras. Kelopak bunga: tabung daun kelopak bunga melebihi bakal buah dan memiliki cuping sejajar yang melengkung ketika bunga mekar penuh.) Druce RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus-berus. permukaan halus dan memiliki lentisel. Taiwan. Hipokotil silindris panjangnya 15-40 cm. Umumnya tanpa akar nafas.

bunga.Kandelia candel daun & bunga buah/hipokotil a c b a. b. c. daun 1073 . buah/hipokotil.

Bentuk: bulat telur terbalik. Benang sari: <10. Panjang benang sari dua kali ukuran daun mahkota. Buah yang ringan dan dapat mengapung sangat menunjang penyebaran mereka melalui air. merah. Diameter 4-5 mm. Manfaat : Kayunya kuat dan sangat tahan terhadap air. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. welompelong. Mereka juga terdapat pada jalur air yang memiliki pasokan air tawar yang kuat dan tetap. berwarna hijau keunguan. posi-posi. Ukuran: 2-8 x 1-2. kedukduk. dan berumpun pada ujung dahan. Menyukai substrat halus dan berlumpur pada bagian pinggir daratan di daerah mangrove. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Akar nafas berbentuk lutut. Letak: di ujung. Kelopak bunga: 5. Panjang tangkai bunga mencapai 3 mm. meskipun pada umumnya lebih rendah. bersilangan. keras/kaku. Kelimpahan : Melimpah setempat dan kadang-kadang tumbuh dalam bentuk kelompok. taruntung. berwarna merah cerah. berwarna coklat tua dan kulit kayu memiliki celah/retakan membujur (longitudinal). sangat jarang dijumpai di pantai-pantai di Jawa. hijau 1 x-12 mm.5 cm. Catatan : 4108 .5-2 mm. riang laut. ketinggian pohon dapat mencapai 25 m. Unit & Letak: sederhana. Formasi: bulir. sesak. Panjang tangkai daun mencapai 5 mm. sesop. Ujung: membundar. tandan 2-3 cm. Daun : Daun agak tebal berdaging. kayu berukuran besar sangat jarang ditemukan. Buah berbentuk seperti pot/jambangan tempat bunga/elips. Memiliki dua buah pinak daun berbentuk bulat telur dan berukuran 1 mm pada bagian pangkalnya. Tidak terdapat. 4-6 x 1. L. Dengan penampilannya yang menarik dan memiliki wangi seperti mawar. warna bunga serta morfologi dan lokasinya menunjukkan bahwa penyerbukannya dibantu oleh burung. geriting.Lumnitzera littorea (Jack) Voigt COMBRETACEAE Nama setempat : Teruntum (merah). harum. atau kalaupun ada. duduk gedeh. randai. Produksi nektar. api-api uding. Indonesia. littorea dan L. Australia Utara dan Polinesia. duduk agung. Sayangnya. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. Bunga biseksual. ma gorago. Ukuran: panjang 9-20mm. maka kayunya sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan lemari dan furnitur lainnya. dimana penggenangan jarang terjadi. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Daerah tropis Asia. agak keras dan bertulang. dan dipenuhi oleh nektar. Daun mahkota: 5. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau dan tumbuh tersebar.

d. daun. buah. pohon 1093 . b. c.Lumnitzera littorea daun bunga buah c a b a b d a. bunga.

duduk. putih. saman-sigi. Bunga putih. 2-4 x 7-8 mm. Ukuran: 2-10 x 1-2. Menyukai substrat berlumpur padat. Ujung: membundar. L. Benang sari: <10. aduadu. bersilangan. furnitur dan sebagainya. Kulit kayu kadang-kadang digunakan sebagai bahan pelapis. Bentuk: bulat telur menyempit. berwarna hijau kekuningan. seperti jembatan. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. Mereka juga terdapat di sepanjang jalur air yang dipengaruhi oleh air tawar. littorea. Kelimpahan : Agak umum. memiliki celah/retakan longitudinal (khususnya pada batang yang sudah tua). littorea dan L. panjangnya 1. di seluruh Indonesia. PNG.5 mm pada bagian pangkalnya. Kelopak bunga: 5. Kulit kayu berwarna coklat-kemerahan. kedukduk. Ukuran: panjang 7-12 mm. Hampir tidak ditemukan di sepanjang pantai yang menghadap Samudera India. agak harum dan kaya akan nektar. lasi. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. Bahan bakar yang baik. knias. teruntum. Bunga biseksual.5 cm. Deskripsi umum : Belukar atau pohon kecil. Panjang benang sari sama atau sedikit lebih panjang dari daun mahkota. tanpa gagang. berkayu dan padat. berserat. Cuping daun kelopak bunga dengan ujung berkelenjar ditemukan di Irian Jaya. Diameter 3-5 mm. duduk laki-laki. api-api jambu. Ukurannya lebih kecil dari L. Australia utara dan Polinesia. Formasi: bulir. racemosa COMBRETACEAE Nama setempat : Api-api balah. hijau (6-8 mm). Daun mahkota: 5. cocok untuk berbagai keperluan bahan bangunan. kapal. berwarna putih cerah. dan berumpun pada ujung dahan. Manfaat : Kayunya keras dan tahan lama. Unit & Letak: sederhana. Tumbuh di sepanjang tepi vegetasi mangrove. Panjang tandan 1-2 cm. Memiliki dua pinak daun berbentuk bulat telur. Daun : Daun agak tebal berdaging. dipenuhi oleh nektar. Catatan : 4110 . sehingga sangat jarang ditemukan kayu yang berukuran besar. keras/kaku. Letak: di ujung atau di ketiak. PNG dan Filipina. Buah berbentuk kembung/elips. truntun. susup.Lumnitzera racemosa Willd. Panjang tangkai daun mencapai 10 mm. diserbuki oleh serangga. Buah berserat teradaptasi untuk penyebaran melalui air. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari bagian timur Afrika tropis dan Madagaskar sampai Malaysia. var. selalu hijau dengan ketinggian mencapai 8 m. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. dan tidak memiliki akar nafas.

Lumnitzera racemosa daun bunga buah a d c b a. c. buah. pohon 1113 . b. daun. d. bunga.

Asia Tenggara. Malaysia. sangat umum setempat. kuat dan menggarpu. jika bunga diambil pada saat yang tepat. Setelah diolah. Jarang terdapat di luar zona pantai. Deskripsi umum : Palma tanpa batang di permukaan. Tinggi dapat mencapai 4-9 m. lipa. Tumbuh pada substrat yang halus. serta memiliki kandungan sukrosa yang lebih tinggi. Memiliki sistem perakaran yang rapat dan kuat yang tersesuaikan lebih baik terhadap perubahan masukan air. Pada setiap buah terdapat satu biji berbentuk telur. Manfaat : Sirup manis dalam jumlah yang cukup banyak dapat dibuat dari batangnya. pada bagian tepi atas dari jalan air. Filipina. Australia dan Pasifik Barat. tangkal daon. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum.9 m. Terdapat 100 . terletak di bawah kepala bunganya.120 pinak daun pada setiap tandan daun. Buah berbentuk bulat. Batang terdapat di bawah tanah. Buah yang berserat serta adanya rongga udara pada biji membantu penyebaran mereka melalui air. berwarna hijau mengkilat di permukaan atas dan berserbuk di bagian bawah. Digunakan untuk memproduksi alkohol dan gula. Jika dikelola dengan baik. 65-70 juta tahun yang lalu. seluruh Indonesia. Diameter biji: 4-5 cm.Nypa fruticans Wurmb. Ukuran: 60-130 x 5-8 cm. serat gagang daun juga dapat dibuat tali dan bulu sikat. produksi gula yang dihasilkan lebih baik dibandingkan dengan gula tebu. dibandingkan dengan sebagian besar jenis tumbuhan mangrove lainnya. kaku dan berserat. Ukuran: diameter kepala buah: sampai 45 cm. tikar. Panjang tandan/gagang daun 4 . Bentuk: lanset. Bunga jantan kuning cerah. keranjang dan kertas rokok. Papua New Guinea. Bunga betina membentuk kepala melingkar berdiameter 25-30 cm. Ujung: meruncing. membentuk rumpun. Daun : Seperti susunan daun kelapa. Serbuk sari dari jenis ini telah ditemukan sejak jaman Cretaceous atas. Biasanya tumbuh pada tegakan yang berkelompok. Nypa telah dikenal di Australia sejak awal jaman Tertiary. Serbuk sari lengket dan penyerbukan nampaknya dibantu oleh lalat Drosophila. topi. warna coklat. Daun digunakan untuk bahan pembuatan payung. ARECACEAE Nama setempat : Nipah. Catatan : 4112 . Tandan bunga biseksual tumbuh dari dekat puncak batang pada gagang sepanjang 1-2 m. Kadang-kadang bersifat vivipar. Biji dapat dimakan. Memerlukan masukan air tawar tahunan yang tinggi. buyuk.

Nypa fruticans buah bunga pohon 1133 .

Dalam satu tandan terdapat 1-3 bunga yang bergerombol. Unit & Letak: sederhana. Ujung: membundar. Kulit kayu berwarna coklat atau abu-abu. Kadang-kadang memiliki akar nafas. hijau (3-6 mm). bersilangan. Jawa Timur. Pinak daun tersebut kemudian rontok. Daun : Berkulit tipis. MYRTACEAE Nama setempat : Baru-baru. Bunga diserbuki oleh serangga. Kalimantan Utara. Deskripsi umum : Berupa pohon atau belukar dengan ketinggian dapat mencapai 7 meter.v. jenis tumbuhan ini tidak ditemukan tumbuh pada daerah yang kerap tergenang oleh air tawar. selalu hijau. Buah disebarkan lewat air dan terapung di air karena adanya rambutrambut yang dapat memerangkap udara. Biseksual. Tumbuh di tempat yang lebih terbuka pada tepi daratan di daerah mangrove atau pada pinggiran alur air yang dipengaruhi oleh pasang surut. bunga tidak bertangkai tapi langsung menempel pada tandan.M. berbentuk datar dan bulat telur terbalik. diameter 5 mm. batuan. Manfaat : Para nelayan menggunakan daunnya untuk mengusir serangga. Filipina. Terdapat 2 pinak daun berbentuk elips. 4114 . Biji berjumlah 1-2. Di Australia jenis ini ditemukan berbunga dari bulan Juni sampai Desember dengan puncaknya pada bulan November dan berbuah pada bulan Februari. Ranting halus berwarna abu-abu pucat dan berbentuk segi empat pada saat muda. Ukuran: panjang 5-10 mm.Osbornia octodonta F. dan dapat ditemukan pada lumpur halus. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia (Irian Jaya. Ukuran: 2. Kelopak bunga: 8. Buah ditutupi oleh cuping kelopak bunga dan kelopak tidak membuka pada saat telah matang. Daun mahkota: Tidak ada. berserat dan berserabut. tangkai/dahannya tunggal atau berjumlah banyak. Tidak memiliki ketergantungan khusus terhadap substrat tumbuh. Sulawesi. Meskipun demikian. Benang sari: berwarna putih hingga kuning. Individu yang lebih besar memiliki batang yang berlubang di tengahnya. Kepulauan Sunda Kecil). ada kelenjar minyak yang tembus cahaya dan berukuran kecil serta ada pembengkakan pada gagang daun sepanjang 2 mm yang berwarna merah. Papua New Guinea. dan pasir. Kelimpahan : Tidak tahu. menimbulkan aroma pada saat disentuh. Bentuk: bulat telur terbalik. Formasi: kelompok. panjang 6 mm.5-5 x 1-3 cm. Letak: di ketiak daun. terletak pada pangkal gagang bunga. Australia Tropis. ukurannya lebih panjang dibanding cuping kelopak bunga. jumlahnya sampai 48 helai. Kulit kayu kadangkadang digunakan untuk menambal perahu dan kayunya tahan lama.

bunga. c. d. buah. b. daun. pohon 1153 .Osbornia octodonta bunga buah a d c b b a.

pada tepi/lereng pematang tambak atau tepi saluran air yang masih terkena jangkauan pasang surut.Phemphis acidula LYTHRACEAE Nama setempat : Sentigi. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. panjang 10 mm. Akar nafas tidak terlalu berkembang. Formasi: berkelompok (ada 1 hingga beberapa bunga per kelompok). kaku.18. putih bersih. berkulit dan agak melengkung/tertekuk ke dalam. bagian tengahnya agak keunguan-kekuningan. centigi. permukaannya berambut. dengan ketinggian hingga 3 m. Kelopak bunga: 12. Ukuran: panjang 1-3 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Daun mahkota: 6. Berbentuk lonceng. Kelimpahan : Tidak diketahui. berwarna hijau. Bentuk: elip hingga bulat telur terbalik. Deskripsi umum : Pohon/belukar. Benang sari: jumlahnya 12 . Letak: di ketiak daun. Ujung: membundar hingga menajam tumpul. Ukuran: diameter buah 3-5 mm. Sering dijumpai tumbuh pada pantai berpasir. 4116 . di dalamnya terdapat 20-30 biji yang sangat kecil. menyebar rimbun/melebar di permukaan tanah. Daun : Tebal (hingga 3 mm) berdaging. cantinggi. Kulit kayu berwarna abu-abu hingga coklat. Berbentuk seperti mangkuk es krim. mentigi. Setidaknya tercatat di Bali dan Lombok. warna coklat. Manfaat : Tidak diketahui.

pohon 1173 . buah & bunga pohon c b a d a. daun.Phemphis acidula daun. d. b. bunga. buah. c.

bakau leutik. akik. bakau akik. jankar. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah. Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. tak bertangkai. berbintil. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. bakau tandok. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. panjangnya 9-11 mm. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter. Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. dalam dan tergenang pada saat pasang normal. halus. panjang 2-3. Ukuran: 7-19 x 3. tidak ada rambut. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. mangi-mangi. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. Hipokotil silindris. abat. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka. warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. Daun : Berkulit. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia.Rhizophora apiculata Bl. dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Letak: Di ketiak daun. slengkreng. Biseksual. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau minyak. bangka minyak. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. Kelopak bunga: 4. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. wako. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan. kuning kecoklatan. Ukuran: Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering). tinjang. Bentuk: elips menyempit. Daun mahkota: 4. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. berisi satu biji fertil. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. parai. kayu bakar dan arang. Tumbuh pada tanah berlumpur. tersebar jarang di Australia. Ujung: meruncing. 4118 . bakau kacang. berwarna hijau jingga. Benang sari: 11-12. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. bakau puteh.5-8 cm. Tumbuh lambat. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. kuning-putih.5 cm. melengkung. warna coklat. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. donggo akit. Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan.

pohon 1193 .Rhizophora apiculata daun bunga buah & hipokotil a c b d a. d. b. buah. c. daun. bunga.

apiculata tetapi lebih toleran terhadap substrat yang lebih keras dan pasir. Madagaskar. Daun : Daun berkulit.Rhizophora mucronata Lmk.5-5 cm. jankar. ada rambut. Ukuran: Hipokotil: panjang 36-70 cm dan diameter 2-3 cm. Gagang daun berwarna hijau. Mauritania. Benang sari: 8. Ujung: meruncing. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Afrika Timur. lolaro. kuning pucat. berwarna hijaukecoklatan. Bentuk: elips melebar hingga bulat memanjang. panjang 2. panjangnya 13-19 mm. bersifat biseksual. Pertumbuhan optimal terjadi pada areal yang tergenang dalam. kasar dan berbintil. Letak: di ketiak daun. Tanin dari kulit kayu digunakan untuk pewarnaan.5 cm. bakau korap. tak bertangkai.5-8. seringkali kasar di bagian pangkal. jarang sekali tumbuh pada daerah yang jauh dari air pasang surut. bakau hitam.5 cm. lenggayong. serta pada tanah yang kaya akan humus. Merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang paling penting dan paling tersebar luas. Leher kotilodon kuning ketika matang. dongoh korap. bakau merah. Di areal yang sama dengan R. Pada umumnya tumbuh dalam kelompok. seluruh Malaysia dan Indonesia. Kadang-kadang ditanam di sepanjang tambak untuk melindungi pematang. Pinak daun terletak pada pangkal gagang daun berukuran 5. Kelopak bunga: 4. Formasi: Kelompok (4-8 bunga per kelompok). Hipokotil silindris. sehingga menghambat pertumbuhan mereka. dekat atau pada pematang sungai pasang surut dan di muara sungai. berbiji tunggal. Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh dari percabangan bagian bawah. 9 mm. Anakan seringkali dimakan oleh kepiting. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bangka itam. Daun mahkota: 4.5-5. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 27 m. Buah lonjong/panjang hingga berbentuk telur berukuran 5-7 cm.putih. Batang memiliki diameter hingga 70 cm dengan kulit kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah horizontal. belukap. Anakan yang telah dikeringkan dibawah naungan untuk beberapa hari akan lebih tahan terhadap gangguan kepiting. Dibawa dan ditanam di Hawaii. jarang melebihi 30 m. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Gagang kepala bunga seperti cagak. Ukuran: 11-23 x 5-13 cm. Asia tenggara. Melanesia dan Mikronesia. Manfaat : Kayu digunakan sebagai bahan bakar dan arang. Hal tersebut mungkin dikarenakan adanya akumulasi tanin dalam jaringan yang kemudian melindungi mereka. 4120 . dan kadang-kadang digunakan sebagai obat dalam kasus hematuria (perdarahan pada air seni).

buah. pohon 1213 .Rhizophora mucronata daun bunga c buah & hipokotil a b d a. c. daun. d. bunga. b.

slindur. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. dan akar udara yang tumbuh dari cabang bawah. Sumba.5 cm. Panjangnya 2. dengan pinak daun panjang 4-6 cm. Anggur ringan serta minuman untuk mengobati hematuria (pendarahan pada air seni) dapat dibuat dari buahnya. Menyukai pematang sungai pasang surut. pasir dan batu. Filipina. Kelimpahan : Umum. Tercatat dari Jawa. Benang sari: 8. panjang 4-6 mm. tombak serta berbagai obyek upacara. Formasi: kelompok (8-16 bunga per kelompok). tongke besar. berisi 1 biji fertil. Ukuran: meruncing. dan arang. mucronata. Lombok. Daun : Daun berkulit. stylosa lebih banyak daripada R. Sumatera. Satu jenis relung khas yang bisa ditempatinya adalah tepian mangrove pada pulau/substrat karang. Tumbuh pada habitat yang beragam di daerah pasang surut: lumpur. 8 mm. putih. panjangnya 13-19 mm. Memiliki akar tunjang dengan panjang hingga 3 m. Masyarakat Aborigin di Australia menggunakan kayu jenis ini untuk pembuatan bumerang.0 cm. Gagang kepala bunga seperti cagak. Maluku dan Irian Jaya. Sumbawa. tinggi hingga 10 m. Manfaat : Sebagai bahan bangunan. kayu bakar. bercelah. berwarna abu-abu hingga hitam. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Taiwan. Bali. berwarna coklat. Papua New Guinea dan Australia Tropis. Deskripsi umum : Pohon dengan satu atau banyak batang.5-4 cm. berbintil agak halus. biseksual. Leher kotilodon kuning kehijauan ketika matang. sepanjang Indonesia. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau. Jumlah bunga per kelompok dari jenis R. ada rambut. Kelopak bunga: 4.5-5 cm. berbintik teratur di lapisan bawah. Ukuran: Hipokotil: panjang 20-35 cm (kadang sampai 50 cm) dan diameter 1. panjang gagang 1-3. bako-kurap. Hipokotil silindris. Bentuk: elips melebar. wako. bangko. Catatan : 4122 . Malaysia. Sulawesi. Menghasilkan bunga dan buah sepanjang tahun. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. Letak: di ketiak daun. Daun mahkota: 4. Kemungkinan diserbuki oleh angin. Kulit kayu halus. Gagang daun berwarna hijau. dan sebuah tangkai putik. kuning hijau. Ujung: meruncing. tetapi juga sebagai jenis pionir di lingkungan pesisir atau pada bagian daratan dari mangrove.5-2. berbentuk buah pir.Rhizophora stylosa Griff.

daun. buah.Rhizophora stylosa daun & bunga buah c b a d a. c. pohon 1233 . d. b. bunga.

Manfaat : Tidak tahu. Letak: di ketiak daun. Bagian dalam bunga ditutupi rambut-rambut pendek. Daun agak tebal. Kelopak bunga: 5 terdapat kelenjar di dalamnya. khususnya di bagian urat daun. Biji yang memiliki tepian seperti sayap dapat terapung di permukaan air. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Ukuran: 4-9 x 3-5. Ukuran: buah: 8-9 x 7-8 cm. tetapi kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Biji berjumlah banyak. elips melebar dengan pangkal yang tidak merata.5 cm. panjang gagang 2-30 mm. Tercatat di Jawa. dikelilingi oleh tepian yang menyerupai sayap. Berwarna coklat. Berwarna kuning dengan garis-garis memanjang berwarna jingga.5 mm. Daun : Permukaan atas daun ditutupi oleh rambut.5-2 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Tidak tahu. Bentuk: bulat memanjang. Apabila sayapnya dicopot. Tumbuh pada mangrove berlumpur. sebagian besar soliter. diameter 12-14 mm. berwarna coklat. Kepala sari: Ujungnya tumpul. Deskripsi umum : Semak pemanjat dengan ketinggian hingga 4 m. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok). Ujung: meruncing.Sarcolobus globosa R. 4124 . berbintil. terletak diatas tabung yang panjangnya 2. Buah memiliki gagang yang tebal. panjang gagang bunga 0. permukaannya rata dan bentuknya bulat telur terbalik. biji: 20-25 x 16-18 mm. Daun mahkota: 5. berukuran 13-15 x 8-9 mm. dan memiliki batang yang halus. ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Tidak tahu. & S. Bunga terdapat pada tandan yang padat. kaya akan cairan yang menyerupai susu. maka biji tersebut akan tenggelam.

b. daun 1253 .Sarcolobus globosa a b c a. c. buah. bunga.

Scyphiphora hydrophyllacea

Gaertn.

RUBIACEAE

Nama setempat : Perepat lanang, cingam, duduk perempuan, duduk rayap, duduk rambat, dandulit. Deskripsi umum : Semak tegak, selalu hijau, seringkali memiliki banyak cabang, ketinggian mencapai 3 m. Kulit kayu kasar berwarna coklat, cabang muda memiliki resin, kadang-kadang terdapat akar tunjang pada individu yang besar. Daun : Daun berkulit dan mengkilap. Pinak daun berkelenjar, terletak pada pangkal gagang daun membentuk tutup berambut. Gagang daun lurus panjangnya hingga 13 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 4-9 x 2-5 cm. Warna putih, hampir tak bertangkai, biseksual, terdapat pada tandan yang panjangnya hingga 15 mm. Letak: di ketiak daun. Formasi: kelompok (3-7 bunga per kelompok). Daun mahkota: 4-5; putih-agak merah, elips, 2-4 x 22,5 mm, mulut berambut kasar. Kelopak bunga: 4-5; berbentuk mangkok, bawahnya seperti tabung (panjang 5mm). Benang sari: 4-5. Silindris, berwarna hijau hingga coklat, berurat memanjang dan memiliki sisa daun kelopak bunga. Tidak membuka ketika matang. Terdapat 4 biji silindris. Ukuran: buah: panjang 8 mm, biji: 1 x 2 mm. Tumbuh pada substrat lumpur, pasir dan karang pada tepi daratan mangrove atau pada pematang dan dekat jalur air. Nampaknya tidak toleran terhadap penggenangan air tawar dalam waktu yang lama dan biasanya menempati lokasi yang kerap tergenang oleh pasang surut. Dilaporkan tumbuh pada lokasi yang tidak cocok untuk dikolonisasi oleh jenis tumbuhan mangrove lainnya. Perbungaan terdapat sepanjang tahun, kemungkinan diserbuki sendiri atau oleh serangga. Nektar diproduksi oleh cakram kelenjar pada pangkal mahkota bunga. Banyak buah yang dihasilkan, akan tetapi pembiakan biji relatif rendah. Buah teradaptasi dengan baik untuk penyebaran oleh air karena kulit buahnya yang ringan dan mengapung.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : India, Sri Lanka, Malaysia, seluruh Indonesia, Papua New Guinea, Filipina, Kepulauan Solomon dan Australia Tropis. Kelimpahan : Tersebar, dan secara keseluruhan relatif jarang. Manfaat : Catatan : Kayu kemungkinan dapat digunakan untuk peralatan makan, seperti sendok. Daun dapat digunakan untuk mengatasi sakit perut. Sangat menyerupai Lumnitzera, tetapi daun Lumnitzera letaknya bersilangan.

4126

Scyphiphora hydrophyllaceae

daun

bunga

buah

b a

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1273

Sonneratia alba

J.E. Smith

SONNERATIACEAE

Nama setempat : Pedada, perepat, pidada, bogem, bidada, posi-posi, wahat, putih, beropak, bangka, susup, kedada, muntu, sopo, barapak, pupat, mange-mange. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau, tumbuh tersebar, ketinggian kadang-kadang hingga 15 m. Kulit kayu berwarna putih tua hingga coklat, dengan celah longitudinal yang halus. Akar berbentuk kabel di bawah tanah dan muncul kepermukaan sebagai akar nafas yang berbentuk kerucut tumpul dan tingginya mencapai 25 cm. Daun : Daun berkulit, memiliki kelenjar yang tidak berkembang pada bagian pangkal gagang daun. Gagang daun panjangnya 6-15 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 5-12,5 x 3-9 cm. Biseksual; gagang bunga tumpul panjangnya 1 cm. Letak: di ujung atau pada cabang kecil. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). Daun mahkota: putih, mudah rontok. Kelopak bunga: 6-8; berkulit, bagian luar hijau, di dalam kemerahan. Seperti lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. Benang sari: banyak, ujungnya putih dan pangkalnya kuning, mudah rontok. Seperti bola, ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Buah mengandung banyak biji (150-200 biji) dan tidak akan membuka pada saat telah matang. Ukuran: buah: diameter 3,5-4,5 cm. Jenis pionir, tidak toleran terhadap air tawar dalam periode yang lama. Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan karang. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai. Di lokasi dimana jenis tumbuhan lain telah ditebang, maka jenis ini dapat membentuk tegakan yang padat. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga hidup tidak terlalu lama dan mengembang penuh di malam hari, mungkin diserbuki oleh ngengat, burung dan kelelawar pemakan buah. Di jalur pesisir yang berkarang mereka tersebar secara vegetatif. Kunang-kunang sering menempel pada pohon ini dikala malam. Buah mengapung karena adanya jaringan yang mengandung air pada bijinya. Akar nafas tidak terdapat pada pohon yang tumbuh pada substrat yang keras.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : Dari Afrika Utara dan Madagaskar hingga Asia Tenggara, seluruh Indonesia, Malaysia, Filipina, Australia Tropis, Kepulauan Pasifik barat dan Oceania Barat Daya. Kelimpahan : Umum. Melimpah setempat. Manfaat : Buahnya asam dapat dimakan. Di Sulawesi, kayu dibuat untuk perahu dan bahan bangunan, atau sebagai bahan bakar ketika tidak ada bahan bakar lain. Akar nafas digunakan oleh orang Irian untuk gabus dan pelampung.

4128

Sonneratia alba

daun

bunga

buah

b

c

b

a

d

a. bunga; b. buah; c. daun; d. pohon

1293

Juga tumbuh di sepanjang sungai. kecenderungan pertumbuhan daun akan berubah dari horizontal menjadi vertikal. Ketika mekar penuh. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). Memiliki akar nafas vertikal seperti kerucut (tinggi hingga 1 m) yang banyak dan sangat kuat. Malaysia. 5-13 x 2-5 cm. dan melimpah setempat. SONNERATIACEAE Nama setempat : Pedada. Bentuk: bulat memanjang. mudah rontok. mudah rontok. jarang mencapai 20 m.00 malam). lebar dan sangat pendek. 4130 . dan berbentuk segi empat pada saat muda. bunga berisi banyak nektar. Daun mahkota: merah. Ujung cabang/ranting terkulai. ketinggian mencapai 15 m. di dalam putih kekuningan hingga kehijauan. Tidak pernah tumbuh pada pematang/ daerah berkarang. Manfaat : Buah asam dapat dimakan (dirujak). Tidak toleran terhadap naungan. rambai.alba. Pucuk bunga bulat telur. biasanya tanpa urat. bagian luar hijau. perepat. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.5 mm. hingga Australia tropis. akar nafas dapat digunakan untuk mengganti gabus. Kayu dapat digunakan sebagai kayu bakar jika kayu bakar yang lebih baik tidak diperoleh. bogem. Tumbuh di bagian yang kurang asin di hutan mangrove. tabung kelopak bunga berbentuk mangkok. Seperti bola. Filipina. seringkali sepanjang sungai kecil dengan air yang mengalir pelan dan terpengaruh oleh pasang surut.5-3. Kelopak bunga: 6-8. berkulit.) Engl. Ujung: membundar. pidada. ukuran 17-35 x 1. pada tanah lumpur yang dalam. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Biji mengapung. bijinya lebih banyak (800-1200). posi-posi merah. Selama hujan lebat. Deskripsi umum : Pohon.Sonneratia caseolaris (L. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Sri Lanka. ujungnya putih dan pangkalnya merah. Ukuran: bervariasi. serta di areal yang masih didominasi oleh air tawar. Kelimpahan : Umum. termasuk Indonesia. Ukuran lebih besar dari S. Ketika bunga berkembang penuh (setelah jam 20. Letak: di ujung. Daun : Gagang/tangkai daun kemerahan. mulai dari bagian hulu dimana pengaruh pasang surut masih terasa. Setelah direndam dalam air mendidih. bidada. seluruh Asia Tenggara. wahat merah. Ukuran: buah: diameter 6-8 cm. Benang sari: banyak. dan Kepulauan Solomon.

d. buah. c. bunga. daun.Sonneratia caseolaris bunga kuncup daun buah bunga mekar a c b d a. b. pohon 1313 .

Jawa. Panjangnya 2. Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Thailand. Benang sari: banyak. Formasi: soliter-kelompok (ada 1-3 bunga per kelompok).5 cm. kadang-kadang mencapai 20 m. Maluku. SONNERATIACEAE Nama setempat : Bogem. Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove yang airnya kurang asin. Letak: di ujung. Seperti bola. Tidak pernah tumbuh pada substrat karang. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Kepulauan Riau. biasanya hingga 5 m. kedabu. Daun : Bunga : Gagang/tangkai daun panjangnya 2-15 mm. Bentuk: bulat telur. Sumatra. panjang 1-2 cm. Tabung seperti mangkok. Sungai Sebangau/Kalimantan Tengah.alba. Sulawesi. Ukuran: 4-10 x 3-9 cm. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil atau sedang. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Gagang/tangkai bunga lurus. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. dengan cabang muda berbentuk segi empat serta akar nafas vertikal.Sonneratia ovata Back. dan Papua New Guinea. warnanya putih dan mudah rontok.5 4. Ukuran: buah: diameter 3-5 cm. tanah berlumpur dan di sepanjang sungai kecil yang terkena pasang surut. Pucuk bunga berbentuk bulat telur lebar dan ditutupi oleh tonjolan kecil. Daun mahkota: tidak ada. Kelimpahan : Umum setempat. Malaysia. Ukuran hampir sama dengan S. Ujung: membundar. muncul dari gagang yang pendek. Buah muda dapat dimakan sebagai rujakan. 4132 . atau kadang-kadang tidak ada. Kelopak bunga: bagian dalam merah. Manfaat : Kayu bakar. tetapi secara keseluruhan agak jarang.

Sonneratia ovata bunga buah c a b d a. d. c. buah. b. daun. pohon 1333 . bunga.

buli. niumiri-kara. Ujung: membundar. panjang 3 mm. lonjong. jombok gading. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia tumbuh di Jawa. Benang sari: berwarna putih krem dan menyatu di dalam tabung. khususnya pada area bekas tebangan hutan dan gangguan lainnya. Sumatera. susunan daun berpasangan (umumnya 2 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. sementara pada cabang yang muda. Ukuran: 4. Seperti bola (kelapa). Buah akan pecah pada saat kering.5 . banang-banang. inggili. Kalimantan. kuning muda. Memiliki akar papan yang melebar ke samping. pohon kira-kira. pinggir daratan dari mangrove. siri. Batang seringkali berlubang. kadang-kadang digunakan sebagai bahan pembuatan perahu. Maluku dan Sumba. Tumbuh di sepanjang pinggiran sungai pasang surut. bulu putih. Bunga terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. mokmof. Kulit kayu dikumpulkan karena kandungan taninnya yang tinggi (>24% berat kering). Ukuran: buah: diameter 10-20 cm.Xylocarpus granatum Koen MELIACEAE Nama setempat : Niri. nyuru. nipa. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian 10-20 m. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. Letak: di ketiak. Kepulauan Karimun Jawa. dan lingkungan payau lainnya yang tidak terlalu asin. Individu yang telah tua seringkali ditumbuhi oleh epifit. Di dalam buah terdapat 6-16 biji besar-besar. meliuk-liuk dan membentuk celahan-celahan. Seringkali tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. Irian Jaya. Madura. 4134 . Daun : Agak tebal. tipis dan mengelupas. nyireh. nilih. Tandan bunga (panjang 2-7 cm) muncul dari dasar (ketiak) tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 4-8 mm. Daun mahkota: 4. Bentuk: elips bulat telur terbalik. khususnya pada pohon yang lebih tua. Susunan biji di dalam buah membingungkan seperti teka-teki (dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘puzzle fruit’). tepinya bundar.17 cm x 2. nyiri. Sulawesi. buli hitam. nyiri udang. berkulit. kulit kayu berkeriput. warna hijau kecoklatan.9 cm. berat bisa 1-2 kg. kabau. Kelimpahan : Melimpah setempat. Buahnya bergelantungan pada dahan yang dekat permukaan tanah dan agak tersembunyi. Kelopak bunga: 4 cuping. panjang 5-7 mm. Kulit kayu berwarna coklat muda-kekuningan. jomba. nyiri hutan. nyireh bunga. berkayu dan berbentuk tetrahedral. Bali.5 . Manfaat : Kayunya hanya tersedia dalam ukuran kecil. putih kehijauan. Formasi: gerombol acak (8-20 bunga per gerombol).

kulit kayu 1353 . d. buah. b.Xylocarpus granatum bunga buah a c d b a. daun. c. bunga.

Formasi: gerombol acak (9-35 bunga per gerombol). Australia Barat. Kepala sari panjangnya 1 mm. Afrika Timur. Daun mahkota: berbentuk lonjong lebar.Xylocarpus mekongensis Pierre MELIACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Pohon jenis ini ditemukan di tepi hutan yang berbatasan dengan perairan pasang surut dan pada bagian tepi daratan di daerah mangrove. Jamu dari pohon ini digunakan untuk mengobati kolera. berbentuk tiang dengan mahkota berbentuk kerucut.5-12 x 2-7. Deskripsi umum : Pohon yang kuat. dengan ukuran 4. Ujung: membundar. panjang 5 mm. Seperti bola dan terbagi atas beberapa bagian kepingan. Kelopak bunga: berwarna hijau. Mereka menyukai daerah yang memperoleh masukan air tawar selama beberapa kali dalam setahun. mengelupas secara longitudinal. Kulit kayu berwarna coklat muda. Bentuk: elips .5 cm. dan memiliki garis-garis sempit. Benang sari: tabung benang sari berbentuk seperti kendi. Substrat tumbuhnya terdiri dari pasir dan lumpur. minyak untuk penerangan dan minyak rambut serta untuk pewarnaan (di PNG). panjang 2 mm. Tandan bunga (panjang 4-6. Manfaat : Bahan bangunan. 4136 .5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 6-10 mm. berwarna putihkekuningan dan panjang 5 x 2 mm. Unit & Letak: majemuk & berlawanan.5 cm. Daun : Pinak daun berbentuk lonjong. biji: diameter 6. kayu bakar. dan mungkin saja tumbuh di Irian Jaya Kelimpahan : Ditemukan secara berkala tetapi tidak pernah dalam kelimpahan yang tinggi. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di PNG. Ukuran: buah: diameter 5-10 cm. ketinggian sampai 15 m. Ukuran: panjang bisa mencapai 20 cm. dengan ujung tajam atau tumpul dengan panjang 2-4 mm. Letak: di ketiak.bulat telur terbalik. Asia Tenggara.

e. kulit kayu.Xylocarpus mekongensis a b c d e a. bunga. daun. akar 1373 . b. c. d. buah.

Maluku. Jamu yang berasal dari buah dipakai untuk obat habis bersalin dan meningkatkan nafsu makan. NTT. Kelopak bunga: 4 cuping. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa. Bali. Daun : Lebih tipis dari X. Benang sari: 8.5cm. banang-banang. Letak: di ketiak. menyatu. putih kekuningan. 4138 . Formasi: gerombol acak (10-35 bunga per gerombol). susunan daun berpasangan (umumnya 2-3 ps pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. panjang nya 6-7 mm. jombok. sementara pada batang utama memiliki guratan-guratan permukaan yang tergores dalam. nyuru. Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. loleso. Ukuran: 4-12 cm x 2-6. Memiliki akar nafas mengerucut berbentuk cawan.5 mm. Tandan bunga (panjang 6-18. permukaan berkulit dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral. pematang sungai pasang surut. mojong tihulu. pamuli. miumeri-mee. raru. Irian Jaya. Ujung: meruncing. lonjong. Kalimantan. serta tampak sepanjang pantai.Xylocarpus moluccensis (Lamk) Roem. hijau kekuningan. kabau. nyirih. nyiri gundik. putih krem dan tingginya sekitar 2 mm. tepinya bundar. Tanin kulit kayu digunakan untuk membuat jala serta sebagai obat pencernaan. Sulawesi. panjang sekitar 1. Ukuran: buah: diameter 8-15 cm. bulat seperti jambu bangkok. MELIACEAE Nama setempat : Niri/nyirih batu.granatum. Unit & letak: majemuk & berlawanan. Kulit kayu halus. Jenis mangrove sejati di hutan pasang surut. membuat rumah. Kelimpahan : Umum setempat. Warna hijau. Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja.5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 2-10 mm. perahu dan kadang-kadang untuk gagang keris. siri. Deskripsi umum : Pohon tingginya antara 5-20 m. Bentuk: elips . Biji digunakan sebagai obat sakit perut. Daun mahkota: 4.bulat telur terbalik. parasar.

kulit kayu. b. bunga.Xylocarpus moluccensis buah bunga c a b d a. c. akar 1393 . d. daun.

Kelimpahan : Tidak diketahui. krem-putih kehijauan. siri. Ujung: meruncing. membuat rumah dan perahu. granatum). 4140 . Letak: di ketiak. Daun mahkota: 4. putih krem. di belakang atau sedikit di atas garis pasang tinggi. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. Daun : Susunan daun berpasangan (umumnya 3-4 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. niri. Jenis mangrove sejati. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa dan Bali. hijau kekuningan. Benang sari: menyatu membentuk tabung. Terdapat di pantai berpasir atau berbatu. Kulit kayu kasar berwarna coklat dan mengelupas seperti guratan-guratan kecil dan sempit. Ukuran: 7 x 12 cm.Xylocarpus rumphii (Kostel. bulat seperti jambu bangkok. Warna hijau tua. jombok. Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. Ukuran: buah: diameter 8 cm (lebih kecil dari X. MELIACEAE Nama setempat : Nyirih.) Mabb. Kelopak bunga: 4 cuping. Memiliki akar udara tapi tidak jelas. Formasi: Gerombol acak. Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. permukaan licin berkilauan dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral. banang-banang. Deskripsi umum : Pohon tingginya dapat mencapai 6 m. Bentuk: bulat telur-bulat memanjang. Warna hijau. nyirih batu.

c. b. daun 1413 . bunga.Xylocarpus rumphii daun buah pohon a c b a. buah.

1433 .

Buah berwarna hijau (kadang tersamar oleh warna daunnya) lalu berubah menjadi cokelat. Di Jawa. putat laut. Kelopak bunga: berwarna putih kehijauan. putih dan kuning. Benangsari: banyak dan panjang. Bunga terbuka setelah matahari tenggelam dan rontok menjelang pagi. Menggantung. pertun. Meskipun demikian. Kalimantan. Ukuran: 15-45 x 9-20 cm. Mahkota pohon berdaun besar dan rimbun. Daun : Berwarna hijau tua. diameternya sampai 10 cm dan harum.Barringtonia asiatica (L. warnanya merah di bagian ujung dan putih di dekat pangkal. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil hingga sedang dengan ketinggian 7-20 (-30) m dan diameter 25-100 cm. Mereka mengapung dan dapat tumbuh setelah menempuh perjalanan yang jauh. Buah sering terlihat mengapung sepanjang pantai. Ranting tebal. Ketika masih muda daun berwarna agak merah muda. butun. Ukuran: diameter buah 1015 cm. agak tebal. lebih mengkilat dan ujung yang lebih runcing dibandingkan dengan T. F. Berisi satu biji berukuran besar. Kelimpahan : Umum. Jenis ini seringkali dikelirukan dengan Terminalia catappa atau Fagraea crenulata. Sunda Kecil dan Maluku. Tumbuh di hutan pantai. Catatan : 4144 . Formasi: bergerombol. Pohon dan bijinya mengandung saponin yang dapat digunakan sebagai racun ikan. Bentuk: bulat telur terbalik. ketika tua berwarna kuning atau merah muda pucat. tumpul.) Kurz LECYTHIDACEAE Nama setempat : Sea putat. Tumbuh sama baiknya di daratan. berkulit dan urat daun nampak jelas.catappa. menggantung seperti payung. Sulawesi. hutun. seperti lintah. Daun mahkota: 4. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. cairan yang diperoleh dari bijinya dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan payung . serta untuk membunuh ekto-parasit. Penyerbukan kemungkinan dilakukan oleh ngengat besar. Bali. permukaan halus dan berbentuk tetrahedral/piramid seperti buah delima. Biji yang digunakan sebagai racun ikan seringkali dicampur dengan tuba (Derris – rotenon). Besar. Minyak yang berwarna kemerahan dapat diperoleh dengan memanaskan dan memeras bijinya. bitung. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh dari Madagaskar hingga Pasifik Barat. kadang-kadang di mangrove.asiatica memiliki daun yang lebih berdaging. Kulit kayu abu-abu agak merah muda dan halus. bogem. Ujung: agak membundar. termasuk Sumatera. Tercatat di seluruh Indonesia. Jawa. pantai dan pantai berkarang. talise. berukuran sangat besar. sehingga hanya terbuka satu malam saja. butong. B. Manfaat : Kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias. crenulata memiliki daun yang tumbuh berpasangan serta memiliki duri di sepanjang batangnya.

bunga.Barringtonia asiatica buah pohon a a c b a. daun 1453 . b. c. buah.

memiliki tempurung kuat dan di dalamnya terdapat 1 biji. Daun mahkota: 4.Calophyllum inophyllum L. Daun : Memiliki banyak urat dengan posisi lateral paralel dan halus. nyamplung. Formasi: bergerombol. menaga. Letak: di ketiak. Kadang-kadang tumbuh pada lokasi mangrove. agak mirip dengan daun Rhizopora mucronata (jenis bakau). Tumbuh pada habitat bukan rawa dan pantai berpasir. biasanya tumbuh agak bengkok. bintanguru. dengan satu atau lebih saat puncaknya. Bagian atas daun berwarna hijau tua dan mengkilap. minyak. Perbungaan nampaknya terjadi terus menerus sepanjang tahun. Deskripsi umum : Pohon berwarna gelap. Berbentuk bulat seperti bola pingpong kecil. condong atau bahkan sejajar dengan tanah. Memiliki getah lekat berwarna putih atau kuning. atau oleh kelelawar yang memakan bagian luar buah yang berdaging. naga. GUTTIFERAE Nama setempat : Camplung. Kalimantan dan Irian Jaya. Benangsari: banyak.5 x 6-11 cm. putih dan kuning. Biseksual. dan dimasukan ke Pasifik. Ukuran: 10-21.5-4 cm. Di Bali. Jawa. Di Australia. Kelimpahan : Umum. ukuran diameter 2-3 cm. Malaysia dan Indonesia (Bali) sering ditanam sebagai pohon peneduh. Bali. tercatat di Sumatera. bintangur laut. Kelopak bunga: 4. hingga ketinggian 200 m. 4146 . menggantung seperti payung. biasanya pada habitat transisi. Bentuk: elips hingga bulat memanjang. dua dari kelopak bunga berwarna putih. ketinggian 10-30 m. Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Penyerbukan hampir pasti dilakukan oleh serangga. kayu dan obat-obatan. tandan bunga panjangnya hingga 15 cm serta memiliki 5-15 bunga per tandan. Manfaat : Buah mudanya digarami untuk makanan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur hingga Polinesia. berdaun rimbun. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. harum. Ukuran: diameter buah 2. Tercatat di Sumatera di sepanjang Danau Singkarak pada ketinggian 386 m. Buah disebarkan melalui arus laut. bagian bawahnya hijau agak kekuningan. Ujung: membundar. buahnya yang sudah tua dipakai bermain oleh anak-anak sebagai kelereng atau bola pingpong kecil. Dapat digunakan sebagai bahan pewarna. benaga.

buah. bunga. daun.Calophyllum inophyllum bunga & buah pohon c a a d b a. b. c. d. bentuk urat daun 1473 .

5-5.Calotropis gigantea L. Daun : Posisi daun horizontal. Berbentuk bulat seperti kapsul dan di dalamnya terdapat banyak biji-biji yang permukaannya berambut halus. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. modori. Formasi: seperti payung yang sedang dibuka. 4148 . Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Memiliki tandan dan tangkai/gagang bunga yang panjang. Umumnya dijumpai di lahan-lahan pantai yang terbengkalai dan terbuka (mendapat sinar matahari penuh). diameter 3-4 cm.5 cm. permukaan daun (atas maupun bawah) dilapisi oleh rambut-rambut halus yang berwarna agak putih seperti tepung. mendori. Tumbuh pada habitat yang tidak tergenang air. Ujung: membundar. daun dan bunganya sering digunakan sebagai makanan jangkrik. ukuran diameter 6-10 mm. Ukuran: 10-20 x 3. Di Bali dijumpai mulai pada daerah pantai yang gersang dan udaranya panas hingga ke lereng gunung Agung yang suhu udaranya sejuk. tercatat di Bali dan Jawa. Ukuran: diameter buah 10-15 mm. Daun mahkota: putih agak ungu. Memiliki banyak getah. hingga ketinggian sekitar 300 m. berwarna ungu agak putih. menori. kekar dan kaku. Deskripsi umum : Herba rendah/semak. Letak: pada ketiak daun. Bentuk: bulat telur melebar. pantai berpasir dan lahan berbatu. Dryander ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Biduri. seperti piramid. Kelimpahan : Umum. Manfaat : Di Bali. Kelopak bunga: 5. widuri. ketinggian mencapai 3 m.

buah. bunga. daun 1493 . b. c.Calotropis gigantea bunga pohon b a c a.

badak. seperti daun mangga. Deskripsi umum : Pohon atau belukar dengan ketinggian mencapai 20 m. Berbentuk bulat. jabal. Daun : Agak gelap. Maluku. tetapi kurang memiliki akar udara dan akar nafas. goro-goro. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Manfaat : Minyak yang diperas dari biji dan buah mudanya dapat digunakan untuk mengatasi gatal-gatal. kenyeri putih.l). berwarna abu-abu hingga cokelat. Formasi: berkelompok secara tidak beraturan. Akar menjalar di permukaan tanah. bintaro. Belakangan ini banyak dipakai sebagai tanaman hias/peneduh di dalam kompleks perumahan. memiliki lentisel dan cairan putih susu. Perpanjangan dari masing-masing benang sari yang berambut dan berbentuk seperti taji menutupi kerongkongan tabung mahkota bunga. Biasanya terdapat 20 –30 bunga pada setiap tandan. hijau hingga hijau kemerahan. Kepulauan Bismarck dan seluruh Kepulauan Solomon. serta pilek. bilu tasi. putih kehijauan. hijau mengkilap di bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. Kelopak bunga: 5. koyandan. APOCYNACEAE Nama setempat : Bintan. jaraknya agak jauh dari daun mahkota. Tumbuh di hutan rawa pesisir atau di pantai hingga jauh ke darat (400 m d. Sumatera Barat. Benang sari: tidak bergagang. Ukuran: 10-28 x 2-8 cm. Kelimpahan : Umum. menempel pada mulut tabung. Ukuran: diameter buah 6-8 cm. reumatik. Sulawesi Utara. kadong. Selintas bentuknya menyerupai buah mangga. Berpotensi sebagai obat farmakologi karena pengaruh kardiovaskular-nya. Tercatat di Bali. Catatan : 4150 . Daun mahkota: 5. Minyak biji dapat digunakan untuk meracuni ikan (di Burma juga digunakan sebagai insektisida). kenyen putih. Biasanya tumbuh di bagian tepi daratan dari mangrove. Ujung: meruncing. Timor dan Irian Jaya. kayu kurita.Cerbera manghas L. Letak: di ujung cabang. terbuka terhadap udara dari laut serta tempat yang tidak teratur tergenang oleh pasang surut.p. Kulit kayu dan daun digunakan sebagai obat pencahar. menyukai tanah pasir yang memiliki sistem pengeringan yang baik. Bentuk: bulat memanjang atau lanset. mengkilat dan berdaging. Tersebar di PNG. waba. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. mangga brabu. kayu susu. Jawa. putih bersih dengan bagian pusat berwarna jingga hingga merah muda-merah. Kayu digunakan sebagai kayu bakar dan bahan arang. Kulit kayu bercelah.

daun 1513 .Cerbera manghas bunga buah pohon c a b a. buah. b. c. bunga.

Berbentuk lonceng. menjalar melebar di permukaan tanah. mengkilat dan berdaging. warna hijau hingga kecoklatan. Berbentuk bulat telur. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Manfaat : Tidak diketahui. putih bersih. Formasi: berkelompok (3 bunga per kelompok). Bentuk: elip. keranji. Daun mahkota: 5.Clerodendrum inerme Gaertn VERBENACEAE Nama setempat : Kayu tulang. Setidaknya tercatat di Jawa dan Bali. kwanji. Tumbuh subur pada daerah lumpur kering atau lumpur berpasir di belakang kawasan hutan mangrove. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. permukaannya seperti kulit. Letak: di ketiak daun. kaku dan tertekuk ke dalam. bagian bawahnya bertangkai panjang. Deskripsi umum : Belukar. Daun : Hijau tua mengkilap di bagian atas. bulat memanjang. Kelimpahan : Umum. Ukuran: panjang 3-4 cm. warnanya merah keunguan. dadap-laut. Ujung: meruncing. Ukuran: diameter buah 7-10 mm. 4152 . Kelopak bunga: hijau dan jaraknya agak jauh dari daun mahkota. Benang sari: terjurai sangat panjang jika dibandingkan dengan mahkota bunganya. dengan ketinggian kurang dari 2 m.

buah. bunga & buah c a b a. b. c. bunga. daun 1533 .Clerodendrum inerme daun.

bulat memanjang atau hampir bundar. Australia. Mereka mungkin juga disebarkan melalui angin. Satu atau dua biji berkeriput. Batang yang lebih muda berwarna merah tua. tipis/pipih. Kulit kayu coklat tua. tuba abal. yaitu Derris elliptica. toweran. Deskripsi Umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu. kambingan. Letak: di ketiak batang yang tumbuh horizontal sepanjang permukaan tanah. halus dengan lentisel merah muda. sementara buah pada bulan November sampai Desember (di Australia). Bunga muncul pada bulan September – November. LEGUMINOSAE Nama setempat : Ambung. Indonesia. bergerombol. Racun ikan yang dijual secara komersial (rotenone) dihasilkan dari akar jenis lain. biji 12 x 11 mm. Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas. Biji dan polong teradaptasi dengan penyebaran melalui air. panjangnya sekitar 1 cm. sementara 9 lainnya bersatu. Benangsari: bagian atas tumbuh sendiri.5 x 2. Catatan : 4154 . Batangnya sangat tahan lama dan dapat digunakan sebagai tali. Masyarakat di Indonesia Timur menanam varietas sendiri yang kemudian dicampur dengan bahan kimia untuk meracuni (membius) ikan. Menyukai areal yang mendapat pasokan air tawar. areuy ki tonggeret. Ukuran: 6-13 x 2-6 cm. Cina hingga India dan Afrika. tuwa areuy. Unit & Letak: majemuk dan bersilangan. panjang 15 m atau lebih. Formasi: bulir.5-3. Daun : Memiliki 3-7 pinak daun. tergenang secara tidak teratur oleh air pasang surut.5 cm. gadel. kamulut. Bentuk: bulat telur atau elips. memiliki banyak lentisel. Daun mahkota: ungu agak putih-merah muda pucat. Ujung: meruncing. Ukuran: buah 2-4.Derris trifoliata Lour. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Melalui Asia Tenggara. tuba laut. hampir bundar. permukaan atas berwarna hijau mengkilat dan bagian bawah abu-abu-hijau. hijau-perunggu ketika kering. Tumbuh pada substrat berpasir dan berlumpur pada bagian tepi daratan dari habitat mangrove. Biseksual. Polong berkulit. tandan bunga panjangnya 7-20 cm dan gagang bunga panjangnya 2 mm. Manfaat : Penggunaan jenis ini untuk meracuni ikan sudah banyak diketahui.

daun 1553 . b. bunga.Derris trifolia buah bunga a c b a. buah. c.

0 cm.5 cm. Dijumpai pada kawasan mangrove yang terbuka. Deskripsi umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu. 4156 . Bentuk: elips hingga bulat telur terbalik. Daun : Tebal berdaging. Ukuran: buah 7-8 x 2. Ukuran: 8-13 x 3. Manfaat : Tidak diketahui. warna hijau cerah.7 – 1. Putih dan merah muda. mengandung getah berwarna putih. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. panjangnya sekitar 0.Finlaysonia maritima Backer ex Heyne. Buah berpasangan. Bentuk seperti kapsul atau seperti kantung perut ayam. waktu masih muda berwarna hijau tapi jika sudah matang warnanya kemerahan.5-3. kadang-kadang dijumpai lebih ke arah pantai. Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas.5-5 cm. ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Basang siap. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Ujung: membundar.

Finlaysonia maritima daun & buah b a a. daun 1573 . buah. b.

Saat mekar (sore hari) berwarna kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. kasjanaf. Kayu digunakan sebagai bahan pembuatan bagian dalam perahu (Lombok). Serat kayu digunakan sebagai tali.Hibiscus tiliaceus L. Kelimpahan : Tersebar luas dan umum. Tangkai putik: ada 5 (tidak menyatu). molowahu. lalu keesokan harinya keseluruhan bunga jadi jingga dan rontok. waru langit.5-15 x 7. waru lengis. Perbungaan sepanjang tahun. iwal. diameter buah sekitar 2 cm. Pada daun tua. Formasi: soliter atau berkelompok (2-5). diameter 5-7 cm. Letak: di ketiak daun. Deskripsi umum : Pohon yang tumbuh tersebar dengan ketinggian hingga mencapai 15 m. dengan kepala putik berwarna ungu kecoklatan Membuka menjadi 5 bagian. Daun mahkota: kuning. Bentuk: seperti hati. Manfaat : Ditanam sebagai pohon peneduh di taman. Daun : Agak tipis (jika dibanding Thespesia populnea). baru.514. wakati. Juga umum di sepanjang pinggiran sungai di kawasan dataran rendah. Ukuran: Bunga : Buah : Ekologi : Merupakan tumbuhan khas di sepanjang pantai tropis dan seringkali berasosiasi dengan mangrove. Ujung: meruncing. waru lot. Daun kadang-kadang digunakan sebagai makanan ternak. fau. Dasar dari gagang tandan bunga yang memanjang ditutupi oleh pinak daun yang kemudian akan jatuh dan menyisakan tonjolan berbentung cincin. waru langkong. Kulit kayu halus. siron. setidaknya di penyemaian. Biji mengapung dan dapat tumbuh meskipun dimasuki air laut. berwarna cokelat keabu-abuan. Berbentuk lonceng. Pan-tropis. Ukuran: 7. MALVACEAE Nama setempat : Waru laut. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. kelenjar pengeluar gula seringkali berwarna hitam karena diserang jamur. bahu. Akarnya digunakan sebagai obat demam. burik-burik. dan memiliki biji khas yang berambut. Penyebaran : Di seluruh Indonesia. waru lenga.5 cm. Kelopak bunga: 5. Penyebaran geografis serta sifat ekologi alami belum diketahui secara pasti. bergerigi. berkulit dan permukaan bawah berambut halus dan berwarna agak putih. Perbedaannya dengan Thespesia populnea dirinci pada halaman berikutnya. kabaru. Catatan : 4158 .

Hibiscus tiliaceus daun & bunga pohon b c a d a. daun. pohon 1593 . b. bunga. d. buah. c.

alere. wedor. akar tumbuh pada ruas batang. dan I. leleri. balim-balim. andali arana. lalu menguncup setelah lewat tengah hari. loloro. daun kacang. daun barah. tetapi juga tepat pada garis pantai.Ipomoea pes-caprae (L. CONVOLVULACEAE Nama setempat : Batata pantai. pescaprae yang memiliki cuping daun yang dalam. Manfaat : Bijinya dilaporkan sebagai obat yang baik untuk sakit perut dan kram. Formasi: soliter. pes-caprae ssp. licin dan mengkilat. Daun : Tunggal. daun katang. Letak bunga: di ketiak daun pada gagang yang panjangnya 3-16 cm. tilalade. panjang 3-5 cm.) Sweet. tapak kuda. daredei. meskipun anak jenis yang terakhir hanya diketahui dari Sumatera Barat dan Pulau Krakatau. Daunnya untuk obat reumatik/nyeri persendian/pegal-pegal. kabai-kabai. brasiliensis yang memiliki takik pada ujung daun. Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 600 m. pes-caprae ssp. dalere.ungu dan agak gelap di bagian pangkal bunga. Ujung: membundar membelah (bertakik). Kelimpahan : Sangat umum. Dua anak jenis dikenali oleh beberapa penulis. Bentuk: bulat telur seperti tapak kuda. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. ketepeng. Batang berbentuk bulat. Cairan dari batangnya digunakan untuk mengobati gigitan dan sengatan binatang. Bunga membuka penuh sebelum tengah hari. Berwarna merah muda . diameter pada saat membuka penuh sekitar 10 cm. katang-katang. sedangkan akarnya sebagai obat sakit gigi dan eksim. biji 6-10 mm. wasir dan korengan. biasanya di pantai berpasir.5 cm. Keduanya terdapat di Indonesia. Berbentuk kapsul bundar hingga agak datar dengan empat biji berwarna hitam dan berambut rapat. bulalingo. Wanita hamil dilarang memakai tanaman obat ini. tebal. tati raui. serta kadang-kadang pada saluran air. watata ruruan. Catatan : 4160 . Ukuran: 3-10 x 3-10. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. Ukuran: buah 12-17 mm. yaitu I. Daun mahkota: berbentuk seperti terompet/corong. dolodoi. Batang panjangnya 5-30 m dan menjalar. basah dan berwarna hijau kecoklatan. Deskripsi umum : Herba tahunan dengan akar yang tebal. mari-mari. wedule.

buah. daun 1613 .Ipomoea pes-caprae daun & bunga a c b a. b. bunga. c.

warna ungu tua kemerahan. Ujung: meruncing lancip. tandan dan gagang bunga berwarna hijau kecoklatan. pembekuan dalam pembuluh darah.5-6. pada permukaan daun terdapat tiga tulang daun yang jelas dan memanjang lurus seperti garis (longitudinal) kearah ujung daun. pinggir jalan hingga lereng gunung. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Don MELASTOMATACEAE Nama setempat : Senduduk. 4162 . membuka penuh secara horizontal. Letak: di ujung cabang. panjangnya 8-17 mm. tinggi sekitar 0.5 cm. Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 1650 m. kluruk. setiap kelompok ada 2-3 bunga. Ukuran: 2-20 x 0. keracunan oleh singkong. Daun : Tebal. hepatitis.75-8. mimisan. Berbentuk kapsul bulat. mulai dari pantai yang berlumpur. Akar. warnyanya hijau hingga hijau kekuningan. diameter saat membuka penuh 4. sariawan. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup. Daun mahkota: jumlahnya 4-18. Kelopak bunga: berbentuk tabung dengan bentuk cuping bergerigi 5.5 cm. bisul dan memperlancar air susu ibu. daun dan seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat gangguan pencernaan. senggani. lahan terlantar. kemanden Deskripsi umum : Perdu. daunnya yang masih muda sebagai sayur/lalab. Warna ungu kemerahan. harendong. Tangkai putik: warnanya kuning keputihan. Biji kecil sekali berupa bintik-bintik berwarna coklat. jika sudah matang akan merekah dan terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen (bagian). disentri basiler. kaku. wasir berdarah. lapangan terbuka. Urat daun menyirip rapat secara lateral. keputihan. Kelimpahan : Sangat umum. Biasanya muncul bersama tanaman semak lainnya. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan.Melastoma candidum D. Formasi: berkelompok.5 – 4 m. cabangnya banyak. Manfaat : Buahnya enak dimakan. Ukuran: diameter buah 8-10 mm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia. diare.

buah. bunga.Melastoma candidum bunga & buah a b c a. b. daun 1633 . c.

Daun : Tebal. mangkudu.Morinda citrifolia L. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mulai dari Asia Tropis hingga Polynesia. tinggi 3-8 m. ketika matang agak kekuningan. RUBIACEAE Nama setempat : Mengkudu. lembek dan berair. tekanan darah tinggi. daun muda biasa dikukus dan direbus sebagai sayuran atau untuk membungkus ikan.p. Buah muda direbus untuk lalab. pinggir jalan hingga jauh ke darat. bunga atau kulit batang tanaman ini dapat juga digunakan sebagai obat batuk. pace. tepi daun rata. harum dan mudah rontok. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan.l. eoru. labanau. radang empedu. ladang atau ditanam di pekarangan sebagai tanaman sayur atau tanaman obat. melancarkan kencing. hutan. buah. sakit perut . Selain itu. disentri. Tumbuh liar di pantai hingga 500 m d.bangkudu. daun. Lonjong bulat telur seperti kapsul dan penuh dengan benjolan. kudu. cangkudu. sakit lever. Ketika masih mentah berwarna hijau muda. 4164 . bakulu. ai kombo. banyak cabang dengan ranting segi empat. cacingan. dan yang matang untuk membersihkan karat pada logam atau untuk keramas. Warna putih. Deskripsi umum : Perdu atau pohon kecil yang tumbuh membengkok. Kelimpahan : Sangat umum. akar. Formasi: payung dengan 5-8 bunga. Manfaat : Akarnya untuk mewarnai batik dan anyaman pandan. warnyanya hijau tua mengkilap. Letak: di ketiak daun. warna putih. Di Indonesia banyak ditemukan dari dataran rendah (dekat pesisir pantai). keumudee. Daun mahkota: jumlahnya 5. Biji kecil-kecil. eodu. cacar air. Ukuran: 10-40 x 5-17 cm. Bentuk: bulat telur hingga elips. coklat kehitaman dan banyak. Urat daun menyirip kearah pinggiran daun dan tampak sangat jelas. Ukuran: panjang 5-10 cm. sariawan. pamarai. wungkudu. neteu. tibah. lengkudu. lapangan terbuka. sakit pinggang. bertangkai pendek. dll. buah setengan matang untuk rujak. mulai dari pantai berpasir hingga berlumpur. lahan terlantar. Ujung: meruncing. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup hingga sedikit ternaungi. kemudu.

b. c. buah. bunga.Morinda citrifolia buah & bunga b a c a. daun 1653 .

Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m. Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Panjang antara 0. Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai. Formasi: payung. 4166 .0 meter. terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam.Pandanus odoratissima. Benangsari: banyak. PANDANACEAE Nama setempat : pandan. Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya merah. Letak: di ujung. Kelimpahan : Sangat umum. Manfaat : Sebagai tanaman hias dan tanaman pagar.5 – 2.

Pandanus odoratissima buah pohon a b a. daun 1673 . b. buah.

5 – 2. Benangsari: banyak. terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai. Formasi: payung. Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Manfaat : Dapat sebagai tanaman pagar. Kelimpahan : Sangat umum. Bunganya dimanfaatkan untuk wangi-wangian dan hiasan pada acara pernikahan. Letak: di ujung. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m. Panjang antara 0. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam.Pandanus tectorius. PANDANACEAE Nama setempat : Pandan. Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai.0 meter Warna merah-ungu. 4168 . Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya kuning jeruk. Parkinson ex Z.

buah. pohon 1693 .Pandanus tectorius buah pohon b a a. b.

lemanas. kaap. buahnya enak dimakan (manis seperti markisa. Memiliki alat pembelit yang beruntaian seperti spiral. Deskripsi umum : Terna merambat. rajutan. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik. diameter hingga 5 cm. Tumbuh liar di dekat pantai berpasir yang bukan rawa. borok. moteti. Kulit buah hijau jika mentah dan menjadi getas dan kuning ketika matang. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Berasal dari Amerika Tropis dan di Indonesia tumbuh secara liar. Manfaat : Daun muda dapat digunakan sebagai sayur. Ujung: meruncing. tapi agak sedikit pahit). tanah lapang terlantar.5-3. panjang 1. pacean. kencing berlemak dan pembesaran kelenjar limfa di leher. lebar menjari dengan tiga lekukan. putih dan panjangnya dapat melampaui ukuran panjang mahkota bunga. Seluruh bagian tanaman juga dapat digunakan sebagai obat batuk. koreng. kadang agak lonjong.) LEGUMINOSAE Nama setempat : Gegambo.Passiflora foetida (L. remugak. Kelimpahan : Umum. kileuleur. Ukuran: 5-13 x 4-12 cm. Daun : Berwarna hijau kekuningan hingga hijau muda mengkilat seperti ada lapisan lilin. Benang sari: banyak. permot. bertangkai 2-10 cm. ceplukan blungsun. Letak: di ketiak tangkai daun. berambut halus. Bentuk: seperti jantung. kaceprek. buah pitri. Warna agak putih hingga ungu muda/pucat.5-5 m. Buah dibungkus oleh serabut yang berambut banyak. bungan pulir. Di dalam buah banyak dijumpai biji. Bulat seperti kelereng. 4170 . Formasi: soliter. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. pada bagian tengahnya jauh lebih ungu. merambat di pagar dan menyenangi lokasi yang mendapat cahaya matahari yang kuat. Ukuran: diameter buah 1.0 cm.

b. daun 1713 .Passiflora foetida buah pohon b a a. buah.

Seperti kacang. memiliki gagang pendek di atas goresan daun mahkota bunga. marauwen. ki pahang laut. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian hingga 15 m. dengan 3-7 pinak daun yang terletak secara bersilangan. Unit & Letak: majemuk dan bersilangan.5 x 2. bangkong. tangi. Warna buah hijau kecoklatan. warna ungu pucat. 4172 . Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Ujung: meruncing. Cabang pada umumnya tidak memiliki rambut atau urat. Bunga seringkali berubah bentuk menjadi kantung bundar yang bisa dikelirukan dengan buahnya. dan memiliki goresan yang menyerupai bintil berdekatan dengan pinak daun pada pangkal gagang daun. dan kadang-kadang di bagian tepi daratan dari mangrove. Ukuran: 5-7 x 2-3 cm. Formasi: bergerombol secara acak. Tersebar luas di Asia Tropis. Umum ditanam di areal pesisir kawasan tropis karena sifatnya yang tahan terhadap salinitas dan udara yang terbuka. mengkilat dan warnanya hijau tua. Bentuk: bulat telur hingga elips. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik . panjang 11-18 mm. Letak: di ketiak daun. Daun : Tersusun dalam dua deret. panjangnya 4-5 mm. Bunga terletak berpasangan di sepanjang tandan bunga yang panjangnya 6-27 cm.5-15 cm. Manfaat : Daun digunakan sebagai makanan ternak. asawali. awakal. Polong berkulit tebal dan berparuh. Biji beracun untuk manusia.) Pierre LEGUMINOSAE Nama setempat : Kacang kayu laut. Ukuran: 5-22. Kadang-kadang ditanam sebagai pohon peneduh di sepanjang jalan. ditutupi oleh rambut yang pendek dan halus serta memiliki gigi tumpul yang sangat pendek. Gagang bunga berukuran 7-15 mm ditutupi oleh pinak daun yang halus dan berambut pendek. Tumbuh di pantai berpasir yang bukan rawa.Pongamia pinnata (L. padat dan memiliki sebuah biji. Kelopak bunga: berbentuk cangkir. kranji. Kelimpahan : Umum. klengkeng. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. Polong tidak membuka ketika masak.

Pongamia pinnata daun & buah pohon a b c a a. daun 1733 . bunga. buah. b. c.

ketowang. Majemuk.Ricinus communis Linn. kohongiang. Deskripsi umum : Perdu tegak dapat mencapai ketinggian hingga 3 m. Satu tandan dapat berisikan sekitar 30 – 40 buah. Ukuran: diameter 10-40 cm. kalikih alang. Warna buah hijau dan bergerombol pada tandan yang panjang. 4174 . bisul. malasai. lana-lana. tapi tepinya bergerigi. koreng dan infeksi jamur. dulang jai. Bentuk: menjari dengan jumlah jari 7 – 9. kaleke. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. lafandru. EUPHORBIACEAE Nama setempat : Gloah. tanah kosong. gatal. sepanjang pantai atau ditanam sebagai komoditi perkebunan pada ketinggian antara 0 – 800 m dari permukaan laut. Daun : Seperti daun singkong. Bentuknya bulat bersegmen (ada 3 segmen) dan berambut (seperti buah rambutan). kolonyan. kilale. Warna daun hijau tua di permukaan atas dan hijau muda di permukaan bawah. luluk. kalalei. Tangkai daun panjang berwarna hijau hingga merah bata. Tumbuh liar di hutan. dulang. Kelimpahan : Umum. Akar jarak tidak tahan terhadap adanya genangan air. Dapat tumbuh di areal yang kurang subur asal pH tanahnya sekitar 6-7 dan drainase airnya baik. berwarna kuning oranye dan berkelamin satu. gangguan jiwa (schizophrenia). kelumpuhan otot muka. jarak jawa. Manfaat : Bijinya terasa manis. bronchitis. jarag. epilepsi. TBC kelenjar. balacai. lutur bal. Akar dipakai sebagai obat rematik. Daunnya untuk obat koreng. tetanus. alale. tetanga. paku ton. kaliki. luka terpukul. netral dan digunakan untuk mengobati kanker mulut rahim dan kulit. jarak jitun. Ujung: meruncing. paku penuai. batuk dan hernia. jarak. lulang. Unit & Letak: sederhana tunggal dan bersilangan. urat daunnya rapat dan jelas. pedas. eksim.

daun 1753 .Ricinus communis pohon bunga & buah a b a. buah. b.

Deskripsi umum : Herba rendah/semak/pohon. pada tepi pematang yang tidak terkena pengaruh pasang surut atau di daerah yang sistem drainasenya baik dan lokasinya terbuka terhadap cahaya. Letak bunga: di ketiak daun. Manfaat : Tidak tahu. Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mungkin ditemukan di seluruh Indonesia. Ketika muda berwarna hijau muda. 4176 . Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. babakoan.Scaevola taccada (Gaertn. tepinya melengkung dan permukaan daun seperti berlapis lilin. lalu menjadi putih ketika sudah matang. berwarna hijau kekuningan dan mengkilat. gegabusan. Dijumpai secara soliter di bagian tepi daratan dari mangrove. Daun : Melebar kearah atas. Kelimpahan : Tidak diketahui.) Roxb.5-30 x 7. Formasi: mengelompok. Daun mahkota: putih bersih. Ukuran: diameter buah 8-12 mm. Ujung: membundar. Ukuran: 16.5 cm.5-9. Tangkai Putik: membengkok. bako-bakoan. Berbentuk kapsul. dapat mencapai ketinggian hingga 3 m. sering pada bagian dalamnya terdapat strip/garis berwarna jingga. bulat. GOODENIACEAE Nama setempat : Bakung-bakung.

bunga & buah c a b a. daun 1773 . c. bunga. b.Scaevola taccada buah & bunga daun. buah.

Ukuran: 2. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. halus dan ditumbuhi akar pada ruasnya. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Kelimpahan : Tidak diketahui. Seringkali ditemukan di sepanjang bagian tepi daratan dari mangrove.5 mm. Bunga diserbuki kumbang kecil pengumpul madu serta ngengat yang terbang siang. Madura. sepanjang pematang tambak dan kali pasang surut. Daun : Bunga : Tebal berdaging. 4178 . Substrat tumbuh berupa pasir.5-1. Sulawesi dan Sumatera. Letak bunga: di ketiak daun. bundar dan halus. warna ungu. panjang melintang kira-kira 8 mm. ditemukan di sepanjang pesisir Jawa. Juga digunakan sebagai makanan kambing. MOLLUGINACEAE / AIZOACEAE Nama setempat : Gelang (-laut). Buah : Ekologi : Penyebaran : Jenis Pan-tropis. pada hamparan lumpur dan gundukan pasir.Sesuvium portulacastrum (L. seringkali memiliki banyak cabang. Daun mahkota: 5 cuping. panjang 6-9 mm. Benangsari: banyak dan 3-4 tangkai putik. Formasi: soliter. Juga ditemukan di pantai berkarang. halus dan panjangnya 1. menjalar. sesepi. Manfaat : Daun dapat dimakan setelah berulangkali dicuci dan dimasak. Biji tidak mengapung. gelan-pasir.5-7 x 0. Deskripsi umum : Herba tahunan. pada areal yang secara tidak teratur digenangi oleh pasang surut.5 cm. lumpur dan tanah liat.) L. Terdapat beberapa biji hitam berbentuk kacang. Kecil. Ujung: membundar. krokot. Berbentuk kapsul. memiliki tangkai panjangnya 3-15 mm dan tabung panjangnya 3 mm. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Panjangnya hingga 1 m dengan batang berwarna merah cerah. saruni air.

c. buah. b.Sesuvium portulacastrum pohon c a b a. bunga. daun 1793 .

bunga duduk tanpa tangkai. Kelimpahan : Tidak diketahui. tidak berambut. hamparan lahan yang terbengkalai. jarongan. datang haid tidak teratur. Bentuk: bulat telur. Ukuran: 2. 4180 . sakit tenggorokan. jarong lalaki. VERBENACEAE Nama setempat : Pecut kuda. remek getih. rumjarum. sekar laru. Formasi: bulir pada tandan yang panjang.5 cm.0-3. Letak: di ketiak daun. reumatik.) Vahl. Deskripsi umum : Terna tahunan. Dijumpai pada pematang tambak. laler mengeng. misalnya untuk mengobati infeksi dan adanya batu pada saluran kencing. tumbuh tegak terburai ke samping membentuk semak. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. biron. Bunga : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. pembersih darah. ukurannya kecil berwarna ungu kebiruan dan putih. keputihan dan hepatitis A. tepi bergerigi. Manfaat : Sering dipelihara sebagai tanaman pagar hidup karena memiliki manfaat sebagai bahan obat-obatan. ki meurit beureum. ngadi rengga. tinggi mencapai 1 meter. Daun : Permukaan daun kasar dan guratan – guratan / lekukan di permukaannya tampak jelas. Ujung: meruncing. Bunga mekar tidak serentak. Terdapat pada tandan yang panjangnya mencapai 4-20 cm seperti pecut. jarong.Stachytarpheta jamaicensis (L.5-6 x 1. pada lokasi terbuka dan kering serta mendapat pencahayaan matahari yang kuat.

Stachytarpheta jamaicensis pohon a b a. b. daun 1813 . bunga.

tiliho. wewa. lisa. sirisal. Cabang muda tebal dan ditutupi dengan rapat oleh rambut yang kemudian akan rontok. sadina. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia. Tandan bunga (panjangnya 8-16 cm) ditutupi oleh rambut yang halus. sarisei.5 cm. kilaula. klis. Letak: di ketiak daun. Daun kerap digunakan untuk mengobati reumatik. Pohon menggugurkan daunnya (ketika warnanya berubah merah) sekali waktu. Bersabut dan cangkangnya sangat keras. seringkali mendominasi vegetasi pantai. klihi. Sebagian besar dari bunga merupakan bunga jantan. tasi. Kulit buah berwarna hijau hingga hijau kekuningan (mengkilat) di bagian tengahnya. Ukuran: 825 x 5-14 cm (kadang panjangnya sampai 30 cm). Kelopak bunga: halus di bagian dalam. 4182 . talisei. sabrise. dengan sebuah kelenjar terletak pada salah satu bagian dasar dari urat tengah. umumnya memiliki 6-9 pasang urat yang jaraknya berjauhan. Tumbuh di pantai berpasir atau berkarang dan bagian tepi daratan dari mangrove hingga jauh ke darat. Ujung: membundar. Biji buahnya dapat dimakan dan mengandung minyak yang berlemak dan bening. Kelimpahan : Umum. indian or singapore almond. Kayu berwarna merah dan memiliki kualitas yang baik. Daun berubah menjadi merah muda atau merah beberapa saat sebelum rontok. tetapi agak jarang di Sumatera dan Kalimantan. Bunga berwarna putih atau hijau pucat dan tidak bergagang. Tumbuh di bagian tropis Asia. suatu kondisi yang terutama terlihat jelas pada pohon yang masih muda. digunakan sebagai bahan bangunan dan pembuatan perahu. Australia Utara dan Polinesia. luumpoyang. Manfaat : Sering ditanam sebagai pohon peneduh jalanan. lisa. Deskripsi umum : Pohon meluruh dengan ketinggian 10-35 m. dengan atau tanpa tangkai putik yang pendek. dumpajang.Terminalia catappa L. sehingga kanopi pohon tampak berwarna merah. COMBRETACEAE Nama setempat : Ketapang. kemudian berubah menjadi merah tua. biasanya dua kali setahun (di Jawa pada bulan Januari atau Februari dan Juli atau Agustus). Tanin digunakan untuk mengatasi disentri serta untuk penyamakan kulit. Penyebaran buah dilakukan melalui air atau oleh kelelawar pemakan buah. Formasi: bulir. Daun : Sangat lebar. ketapas. Ukuran 5-7 cm x 4x5. Sebarannya sangat luas. Mahkota pohon berlapis secara horizontal. sarisa. Penampilan seperti buah almond. Bentuk: bulat telur terbalik. Unit & Letak: s e d e r h a n a dan bersilangan. beowa.

daun 1833 . c. bunga. bunga & buah pohon a c b a.Terminalia catappa daun. buah. b.

5 cm. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Perbedaan antara Hibiscus tiliaceus dengan Thespesia populnea adalah sbb: Bagian tanaman Daun kelopak bunga Daun muda Urat utama pada daun Urat coklat pada daun muda Buah siap membuka di pohon Hibiscus tiliaceus bercuping 5 biasanya terdapat 9-11 tidak terdapat ya Thespesia populnea tidak bercuping tidak terdapat 7 terdapat tidak 4184 . di pematang-pematang tambak dan bagian tepi daratan dari mangrove. ex Correa MALVACEAE Nama setempat : Waru laut. Terdapat 3-4 biji pada setiap ruang/segmen buah yang padat ditutupi oleh rambut pendek . Tangkai putik menyatu. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian 2-10 m. Buah seperti bola dan bersegmen. di seluruh Indonesia. Terdapat 3-8 pinak daun di bagian luar kelopak bunga. kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. waru lot. Tumbuh di pantai. Daun : Bunga : Tebal. Bakal buah juga memiliki cairan berwarna kuning.5-4. berwarna kuning dan ujungnya tumpul. Ukuran: 7-24 x 5-16 cm.) Soland. waru pantai. Bunga berisi cairan seperti susu berwarna kuning yang kemudian akan berubah menjadi merah. Ujung: meruncing. Manfaat : Catatan : Kayunya ringan. Berbentuk lonceng.Thespesia populnea (L. berkulit dan permukaannya halus. salimuli. Daun dan buah digunakan sebagai obat. Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. Bentuk: seperti hati. Kelimpahan : Umum. diameter 2. Pada masa lalu kulit kayu digunakan sebagai bahan serat.

bunga. buah. c. b. daun 1853 .Thespesia populnea daun & bunga a c b a.

Letak: bersilangan. pada pantai berpasir dan pinggiran mangrove. Dapat juga tumbuh di perkebunan kelapa.5-4 cm. Gagang bunga panjangnya 1-7 cm. berwarna kuning cerah. serunai laut. 4186 . dengan gagang daun panjangnya 0. Beberapa rambut tumbuh pada kedua sisi permukaan daun dan pada batang.5 cm. seruni. Kadang-kadang ditanam.5-5 m dengan batang yang kurus.) DC. berjumlah 20-30.Wedelia biflora (L.5-2. Manfaat : Daunnya memiliki kepentingan untuk obat. Daun : Bunga : Tepi daun bergerigi. Bentuk: bulat telur. Mengobati luka terpotong atau terkena gigitan. Kelimpahan : Umum di mangrove. Akar digunakan untuk obat penyakit kelamin. pokok serunai. Ukuran: 3-17 x 1-12 cm. ditutupi oleh rambut. sawah kering. Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Cairan yang diambil dari daunnya dapat digunakan untuk mengobati sakit perut atau digunakan untuk ibu yang baru bersalin. terletak pada bagian atas ketiak bunga atau kadang-kadang dalam pasangan. ASTERACEAE Nama setempat : Sernai. terutama untuk penggunaan luar. diameter 1. Digunakan sebagai tumbuhan penutup tanah di perkebunan dengan tujuan untuk menghindari erosi serta mencegah kehilangan air. pinggir sungai dan hutan sekunder. Memiliki kekhasan berupa bunga komposit dengan delapan “daun mahkota” (sesungguhnya adalah bunga terpisah berbentuk seperti bendera) dan cakram bunga (betina). bunga batang. Tumbuh terutama sepanjang atau dekat pantai. Kepala bunga biasanya soliter. seremai. Deskripsi umum : Ferna tahunan. panjang 1. Dari Afrika Timur hingga Kepulauan Pasifik.

Wedelia biflora daun & bunga a a b a. b. bunga. daun 1873 .

1893

Lampiran 1.

Jenis mangrove, nama lain/sinonim, sumber gambar dan foto, yang tercantum atau dipakai dalam buku panduan ini.
S I N O N I M

JENIS MANGROVE

MANGROVE SEJATI: Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis Bruguiera cylindrica A. intermedia, A. mindanaense A. tomentosa B. caryophylloides, B. malabarica, Mangium minus, M. caryophylloies, Rhizophora cylindrica, R. caryophylloides, R. ceratophylloides, Kanilia caryophylloides Loranthus obovatus Loranthus mackayensis, Amyema cycnei-sinus, L. cycneisinus, A. mackayense ssp. cycnei-sinus A. marina var. alba A. officinalis var eucalyptifolia A. neo-guineensis Chrysodium aureum, C. inaequale, C. vulgare, Acrostichum spectabile, A. inaequale, A. obliquum Chrysodium speciosum Aegialites annulata A. majus, A. fragrans A. nigricans

Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza B. capensis, B. conjugata, B. cylindrica, B. gymnorrhiza, B. rheedii, B. rhumpii,B. wightii, B. zippelii, Mangiumcelsum, M. minus, Rhizophora gymnorrhiza, R. palun, R. rheedii, R. tinctoria Rhizophora caryophylloides

Bruguiera hainessii

4190

SUMBER GAMBAR

SUMBER FOTO

Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Piggott (1988), Holttum (1954), dan material hidup Wightman (1988) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Specimen herbarium Herbarium Bogor Danser (1931) Barlow dalam Henty (1981) Wahyu Gumelar Percival & Womersley

Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley & Nyoman Suryadiputra (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Silvius, M. Kitamura et. al. (1997)

Percival & Womersley (1975), Tomlinson (1986), Wightman (1989) Wahyu Gumelar Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

Jennifer Dudley (1999) Hidayat (1999) Kitamura et. al. (1997)

Ding Hou (1958), Wightman (1989) Ding Hou (1958), Tomlinson (1986), Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra

Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

1913

JENIS MANGROVE

S I N O N I M

Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula

B. ritchiei, Rhizophora parviflora, R. cylinrica, Kanilia parviflora B. eriopetala, B. sexangularis, B. australis, B. parietosa, B. angulata, B. oxyphylla, B. malabarica, B. cylindrica, Mangium digitatum, Rhizophora sexangula, R. polyandra, R. plicata, R. australis, R. eriopetala Neesia altissima, Cumingia philippinensis C. aruense C. roxbhurgiana, C. zippeliana, Bruguiera decandra, Rhizophora gromerulata, R. decandra C. candolleana, C. pauciflora, C. forsteniana, C. boviniana, C. lucida, C. timoriensis, C. somalensis, Rhizophora tagal, R. timoriensis, R. candel Stillingia agallocha Dicerolepis paludosa

Camptostemon philippinense Camptostemon schultzii Ceriops decandra Ceriops tagal

Excoecaria agallocha Gymnanthera paludosa Heritiera globosa Heritiera littoralis Kandelia candel Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phemphis acidula Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sarcolobus globosa

H. minor, Balanopteris minor, B. tothila Rhizophora candel, K. rheedei L. coccinea, Problastes cuneifolia, Pyrrhantus littoreus, Laguncularia purpurea L. racemosa, Languncularia rosea, Lumnitzera rosea, Petaloma alba, L. racemosa var. pubescens N. fructicans

Mangium candelarium, R. mangle, R. candelaria, R. conjugata R. mangle, R. macrorrhiza, R. longissima,R. latifolia, R. mucronata var. typica R. mucronata var. stylosa S. banksii

4192

Hidayat (1999). Wightman (1989) Ding Hou (1958). Kitamura et. Jennifer Dudley Hidayat (1999) Kitamura et. Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra (1999). (1997) Kitamura et. Tomlinson (1986). Tomlinson (1986). Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999). al.SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Ding Hou (1958). Tomlinson (1986). Kitamura et. Wightman (1989) Hidayat (1999) I Nyoman Suryadiputra Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Kostermans (1959) Kostermans (1959). M. Tomlinson (1986). Tomlinson (1986) Ding Hou (1958). al. Wightman (1989) Ding Hou (1958). (1997) Ding Hou (1958). Wightman (1989) Polunin (1988) Tomlinson (1986). Tomlinson (1986) Ding Hou (1958) Percival & Womersley (1975) Exell (1954). Tomlinson (1986). Tomlinson (1986). Hidayat (1999) Hidayat (1999). al. al. (1997) 1933 . (1997) Silvius. Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Wendy Suryadiputra (1999). (1997) Hidayat (1999) Hidayat (1999). (1997) Jennifer Dudley (1999).al (1997). Kitamura et. Wightman (1989) Kitamura et. Tomlinson (1986). al. al. Kitamura (1997) Kitamura et. al. (1997) Bakhuizen van den Brink (1924) Percival & Womersley (1975). Wightman (1989) Ding Hou (1958). Kitamura et. Wightman (1989) Ding Hou (1958). Percival & Womersley (1975).

obovata. S. C. Blatti caseolaris. evenia. Balanopteris minor. brasiliensis. Dalbergia heterophylla C. Mangium caseolare album. mossambicensis. Convolvulus bilobatus. biloba. hydrophylacea S. Rhizophora caseolaris. maritima. S. pagatpat S. pes-caprae. C. iriomotensis. minor. I. S. Aubletia caseolaris. pagatpat. heterophylla. rubra I. S. neglecta. S. griffithii. I. caseolaris. uliginosa. C. C. B.JENIS MANGROVE Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S I N O N I M H. S. M. Mangium caseolare rubrum. S. S. M. maritimus. speciosa Melastoma candidum Morinda citrifolia Pandanus odoratissima 4194 . S. granatum Xylocarpus australasicus Carapa moluccensis Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii MANGROVE IKUTAN: Barringtonia asiatica Callophyllum inophyllum Calotropis gigantea Cerbera manghas Clerodendrum inerme Derris trifoliata Finlaysonia maritima Hibiscus tiliaceus Ipomoea pes-caprae Novella repens. lactaria B. tothila. ovalis.Rhizophora caseolaris Chiratia leucantha. N. S. lanceolata. S. B. Soldanella marina indica. rubra. Ixora manila. acida. S. malabathricum. brasiliensis. M. alba Carapa abovate. D. maritima. affine. C. palyanthum D.

Polunin (1988) Tomlinson (1986) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999) The Common Littoral Plants of Taiwan I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley (1999) Icones Rijksherbarium Leiden I Nyoman Suryadiputra & Hidayat (1999) Hidayat (1999) Tomlinson (1986). Kitamura et. Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951). Corner (1988). Tomlinson (1986). Wightman (1989) SUMBER FOTO Hidayat (1999) Wendy Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999). Tomlinson (1986). van Ooststroom (1953) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999) 1953 . (1997) Backer & van Steenis (1951) Tomlinson (1986). Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951). Wightman (1989) Wightman (1989) Walker (1976) Walker (1976) Wim Giesen I Nyoman Suryadiputra Hidayat (1999) Kitamura (1997) Keng (1987). al.SUMBER GAMBAR Tomlinson (1986). Wightman (1989) Backer (1918).

Croton spinosa L. R. S. V. macrocarpa. mauritiana. Bupariti populnea W. Verbena indica. latifoilia. T. Pyxipoma polyandrum. jamaicensis T. S. moluccana. Thespesia populnea Wedelia biflora 4196 . polyandrum. T. Portulaca portulacastrum. S. R. marginata. repens. urticifolia. rhodocarpa. Myrobalanus catappa T. S. S. pilosiuscula. T. speciosus. viridis. glabrata P.JENIS MANGROVE S I N O N I M Pandanus tectorius Passiflora foetida Pongamia pinnata Ricinus communis Scaevola taccada Sesuvium portulacastrum Stachytarpheta jamaicensis Terminalia catappa Crithmus indicus. macrophylla. S. Trianthema polyandrum. dan chlorocarpa. inermis. catappa var. villosa. glabra R.

(1997) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Tomlinson (1986).SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Tomlinson (1986) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wightman (1989) Kitamura et. Wightman (1989) Material hidup I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) 1973 . al.

B. S. floridum. Aegiceras corniculatum. ovata Camptostemon philippinense. tagal. Aegiceras corniculatum. L. S. Calophyllum inophyllum. R. Osbornia octodonta. mucronata. Aegialitis annulata. B. sexangula. marina. officinalis. Terminalia catappa. L. schultzii Xylocarpus granatum Wedelia biflora. B. Avicennia eucalyptifolia. A. A. Ceriops decandra. Thespesia populnea. racemosa. B. Xylocarpus granatum. A. tagal. Gymnanthera paludosa. ovata. R. A. Acanthus ilicifolius Barringtonia asiatica Amyema gravis. racemosa Sonneratia ovata Excoecaria agallocha Backer (1918) Backer & van Steenis (1951) Bakhuizen van den Brink Baltzer & Baruadi (1991) Burkill (1935) Corner (1988) Danser (1931) Ding Hou (1958) Excell (1954) Giesen (1991) Giesen & Rudyanto (1994) 4198 . Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Sonneratia alba. B. Excoearia agallocha. moluccensis.stylosa. A. officinalis. Rhizophora apiculata. Sarcolobus globosa. mucronata. Acanthus ebracteatus. hainessii. ilicifolius. Heritiera littoralis. Lumnitzera littorea. S. parviflora. B. caseolaris. sexangula. Derris trifoliata.Lampiran 2. Cerbera manghas. C. S. Xylocarpus granatum. gymnorrhiza. exaristata. parviflora. Kandelia candel. B. stylosa Terminalia catappa. R. Sesuvium portulacastrum. Bruguiera cylindrica. R. Pongamia pinnata. Lumnitzera littorea. DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Airy Shaw (1975) Backer & Bakhuizen van den Brink (1963-8) Excoecaria agallocha Avicennia alba. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Scyphiphora hydrophyllacea. anisomeres Bruguiera cylindrica. Ceriops decandra. gymnorrhiza. Nypa fruticans. X. Hibiscus tiliaceus. A. C. Kandelia candel. B. Sonneratia alba. caseolaris.C. A. Rhizophora apiculata. marina. Wedelia biflora.

Hibiscus tiliaceus.Sonneratia alba. speciosum Avicennia eucalyptifolia Calotropis gigantea. Avicennia alba. caseolaris. R. A. Cerbera manghas. Pandanus tectorius. officinalis. Excoearia agallocha. Kandelia candel. Finlaysonia maritima. Aegiceras corniculatum. Ipomoea pescaprae. Xylocarpus rumphii Acrostichum aureum. mucronata. Rhizophora apiculata. Derris trifoliata. Cerbera manghas. Acanthus ilicifolius. Sesuvium portulacastrum. Thespesia populnea.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Giesen & Sukotjo ( 1991) Henty (1981) Heyne (1950) Excoecaria agallocha Amyema mackayense Barringtonia asiatica. R. Osbornia octodonta. Scyphiphora hydrophyllacea. caseolaris. A. S. Calophyllum inophyllum. Scaevola taccada Heritiera globosa. S. A. ovata. Sonneratia alba. Aegiceras corniculatum. A. H. X. Acrostichum aureum. Heritiera littoralis. S. Xylocarpus granatum. moluccensis. A. al (1997) Kostermans (1959) Percival & Womersley (1975) Perray & Metzger (1980) Piggott (1988) Polunin (1988) Prakash & Lim (1995) Said (1990) 1993 . Ceriops decandra. Bruguiera cylindrica. marina. stylosa. Heritiera littoralis. Excoecaria agallocha. Excoearia agallocha. officinalis. C. A. Camptostemon schultzii. marina. littoralis Avicennia alba. Thespesia populnea Holttum (1966) Johnstone & Frodin (1982) Kitamura et. Aegialitis annulata. tagal. eucalyptifolia. Cerbera manghas. Nypa fruticans Wedelia biflora Acrostichum aureum Barringtonia asiatica Aegialitis annulata Avicennia officinalis. Scyphiphora hydrophyllacea.

Excoearia agallocha. Scyphiphora hydrophyllacea. C. Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Osbornia octodonta. ovata. A. A. Sesuvium portulacastrum. Ceriops decandra. Aegiceras corniculatum. Derris trifoliata. officinalis. A. Ceriops decandra. A. Calophyllum inophyllum. Acrostichum speciosum. eucalyptifolia. Scyphiphora hydrophyllacea. Camptostemon schultzii. L. et. Heritiera Globosa. Thespesia populnea. Lumnitzera littorea. Pongamia pinnata. Ricinus communis. Aegiceras corniculatum. B. mucronata. C. A. Camptostostemon philippinense. C. tagal. R. B. R.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Tomlinson (1986) Avicennia alba. parviflora. B. (1992) 4200 . H. Rhizophora apiculata. Sonneratia alba. ilicifolius. H. Acrostichum aureum. stylosa. sexangula. gymnorrhiza. Bruguiera exaristata. speciosum Barringtonia asiatica Van Osststroom (1953) Van Steenis (1936) Watson (1928) Whitemore. Cerbera manghas. Osbornia octodonta. Thespesia pupulnea. Xylocarpus granatum. Rhizophora apiculata. R. Sonneratia alba. Aegialitis annulata. mekongensis. littoralis. caseolaris.al. Tantra & Sutisna (1990) Whitmore (1972) Wightman (1989) Calophyllum inophyllum Avicennia marina. Xylocarpus granatum. stylosa. B. Stachytarpheta jamaicensis Wijayakusuma. Melastoma candidum. Acanthus ebracteatus. A. A. B. ilicifolius. gymnorrhiza. B. R. Acrostichum aureum. S. speciosum. sexangula. A. schultzii. racemosa. B. parviflora. A. Derris trifoliata. Osbornia octodonta. Hibiscus tiliaceus. moluccensis. Hibiscus tiliaceus. floridum. marina. mucronata. Nypa fruticans Ipomoea pes-capre. officinalis. mekongensis. S. X. X. X. Bruguiera cylindrica. Aegialitis annulata. tagal. hainessii. Aegialitis annulata Acanthus ebracteatus.

Biro Pusat Statistik. Abe.V. S. West Kalimantan. Bailey. 1998. & Suhardjono. Dalam Simposium on Mangrove Management: Its Ecological and Economic Consideration. Leiden. 1990.. 1988. Statistik Indonesia. Andrew. The Occurrence of Crustaceans in the Tanjung Bungin Mangrove Forest. Revisio Generis Avicenniae. Biro Pusat Statistik. IUCN. & R. A checklist (Peters’ Sequence).G. Sonneratiaceae. C. Bakhuizen van den Brink. Noordhoff. Ehime University. Indonesian Ornithological Society. 1994. Japan.C. Ocean & Shoreline Management.C. 1988. Toro. 1963-1968. South Sumatra. Dalam Biological System of Mangroves. Sukristiyono & V. Dalam Bulletin du Jardin Botanique Buitenzorg. N. Arboreal Arthropod Community of Mangrove Forest in Halmahera. Ser. Flora Malesiana. 1993. Baltzer. R. Bangkok. 5: 27-55. 1990. The Terrestrial Mangroves Birds of Java. Indonesia. 241-257. 1984. Hal.P. The Netherlands. Ecology and Management of Mangroves. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment: Restoration & Management. 1990. AWB-Indonesia. 285: 249-255.J. Flora of Java. Andrew. 83 hal.G. 3 Volumes. 1951. 1921. Statistik Indonesia. The Social Consequences of Tropical Shrimp Mariculture Development. 1994. P. Indonesia. Simpang Hilir. Thailand. 11: 31-44. van Steenis. Jakarta. Adiwiryono.III. 2013 . S. 4: 286-289. seri III vol. Jakarta. C. 176 hal. M. Hydrobiologia. R. Hal. Thailand. Bangkok.A. S. AWB-Indonesia/PHPA. V. Proposed Wetland Conservation Areas: New & Extensions of Existing Reserves. The Remnant Mangroves of Sei Kecil. A Report on The Wetland Avifauna of South Sulawesi. 1988. Backer. I. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. K. Kukila. Indonesia. C. IUCN Wetlands Programme. Ballen. & C.A. Bogor. Bogor. Ecology & Management of Mangrove. Backer. Jakarta. Bakhuizen van den Brink. Aksornkoae. 1992.DAFTAR PUSTAKA Abdulhadi. The Birds of Indonesia. P. 141-151. IUCN.

Dalam Prosiding Lokakarya Mangrove Fisheries and Connections. Ecosystems of the World: 1. Management of Mangrove Exploitation in Indonesia. Dalam Biological System of Mangroves. Hal. M. Austr. Chambers.A. editor. 1922.of mangrovebosschen in Ned. Malaysia. 428 hal. benevens eenige opmerkingen omtrent de samenstelling der terplaatse voorkomende moerasbosschen. V.J.J. Cramer.H. I. V. Japan. 1976b. De inrichting van de voor exploitatie in aanmerking komende bosschen in de afdeeling Bengkalis. Ceram. Dalam The mangrove Ecosystem: Research Methods. A Study on Mangrove Fish at Handeuleum Group and Panaitan Island of Ujung Kulon National Park. 2402 hal.Becking J. J. Coastal Vegetation. Ecology and Behaviour of Benthic Fauna. P. 1984. 1. Vloed. 1988. Mangrove Monograph No. Chapman. Dev.W. Darwin. Hal 10911095. Univ.R. Elsevier Scientific Publishing Company. 1976a. Paris. Burbridge. Budiman. 173182. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. L. 1980. Crown Agents for the Colonies. Williams. Hal. Budiman. The Environment and Geomorphology of Deltaic Sedimentation (some examples from Indonesia) Trop. Pergamon Press. Tectona. & Koesoebiono. Chapman. Ehime University. J. Vegetational Relationships in The Mangroves of Tropical Australia..J. Chapman. Wet Coastal Ecosystems.T.H. Marine Ecology . Hal.-Indië. A Dictionary of The Economic Products of the Malay Peninsula. UNESCO. Monograph on Oceanological Methodology 8. 740-760.J. V. 1993. 1985. Chapman. Botanical Surveys in Mangrove Communities. D. Ecol. 4202 . Bunt. August 26-30. London. Hal. Burhanuddin. A. 1977. 1936. 292 hal. 1980.. 447 hal. Dalam Tectona XV. 251-258. den Berger & H. Nat. Valduz. Meindersma. Boon. J. 1981.G. Crabs and Molluscs #2: Ecological Distribution of Molluscs. The Molluscan Fauna in Reef Associated Mangrove Forests in Elpaputih and Wallale.S. 49-57.Progress Series. Ipoh. 29: 344-373. 1991. 2 volume. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment. Burkill. Mangrove Vegetation. 1935. 53-80. hal. 4: 349-359. Indonesia. V. A. & W.

1990. Telaah Ekologis Kelimpahan Juwana Udang Jerbung (Penaeus merquiensis de Haan) di Perairan Sekitar Mangrove Sungai Donan. 45 hal. Delsman. Indonesia. A. PPLH-UNSRI and the Danish Ornithological Society. Cilacap. Danielsen. Bogor. Wetlands for the America’s. XI: 233-519. Bot. & W. Direktorat Jenderal Perikanan. Djamali. Indonesia. 1997. F. de Buiten zorg. Danser. J. Indonesia. Silvius. 16: 155-160.C. Flora Malesiana. J.C. & G. 1997. Dalam Prosiding Seminar IV Ekosistem Mangrove. Verheugt. Departemen Pertanian. Wetland Benefits. Hydrobiologia.E. Jawa Tengah. Prolongued Inundation and Ecological Changes in An Avicennia Mangrove: Implications for Conservation and Management. Purwoko. Claridge. Jakarta. 32: 87-99.H. 1994. Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove di Indonesia. Het een en ander over de Tjilatjap’sche vloedbosschen. Bull. Breeding habitat of Milky Stork Mycteria cinerea in South Sumatera Indonesia. & W.S. 1993. 210 hal. Departemen Pertanian. Bull. A. & H. Skov & W. H. The Loranthaceae of the Netherlands Indies. OEC. AWB. 285: 237-247. H. J. Danielsen. 5: 429-493. B. Tectona 24: 39-76. Departemen Kehutanan. Jard. 1958. Waterbird Study Results From South East Sumatra. 1931.Choy. 1991.. Radjoengans. Bogor. S. 1984. F. De Tropische Natuur. 1931. Jakarta Ding Hou. Davies. Rhizophoraceae. de Haan. Aust. Skov.T.. 1972.. The Potential for Wetlands to Support and Maintain Development. J. Jakarta.C. Duke. International Waterfowl & Wetlands Research Bureau. Asian Wetland Bureau. 1991. 1987. H. Observations on The Floral and Vegetative Phenologies of North-eastern Australian Mangroves. Integrating Conservation With Land-use Planning in The Coastal Region of South Sumatra. J. Hal 175. Verheugt. Jakarta. J. M. Williams. Bot. Ser. Statistik Perikanan Statistik Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan. N. Bunt & W. Danielsen. PHPA. Ser. III vol. 1991. M. Booth. 3: 8-11.I. 2033 . F.

P. Hal.A. Djuharsa. F. Frazier. Giesen. W. Preliminary Resource Inventory of Bintuni Bay and Recommendations for Conservation and Management. 1980. B. PHPA/ AWB.T. Survey Manual for Tropical Marine Resources. 1992. F.W. East Java (Indonesia). 4: 533-589. Bogor.A. W. Foo. 299303. the Netherlands. Int. Environmental Database on Wetland Interventions (EDWIN). Australian Institute of Marince Science.A Neglected Mangrove Resource. Padang. Rome.O. Erftemeijer. 1992. Purwoko.. Bab 4. 6. Australia. Lokakarya Harimau Sumatera. 368 hal. Danielsen. Fiselier. hal.S. 119 hal. Laporan No. English. Exell. 1988. 1994. Indonesia. PHPA. van Balen & E.. van den Top. Ecol.C. Fong. C. Management and Utilization of Mangroves in Asia and the Pacific. 1988. 45 hal. 1934. AWB/INTERWADER & Catholic University of Nijmegen. W. Pulau Basu). Dalam Tropical Ecology & Development. FAO Environment Paper 3. Living off the Tides. Dalam Tectona XXVII. Bogor. H. Fernandes. The Importance of Segara Anakan for Nature Conservation. Nipa Swamp . Tiger Data in Wetland Data Base and a Recommendation to Enhance the Chances of Tiger Survival. Dalam Tropical Mangrove Ecosystems (Volume 41). Centre for Environmental Studies. Mangrove Floristics and Biogeography. Soc. 1982. Townsville.J. & J. G. Indonesia. Flora Malesiana. Indonesia. 22-26 November 1992. P... Survey of Coastal Wetlands and Waterbirds in the Brantas and Solo Deltas.. West Sumatra. Baker. Bogor. 1990.Restoration & Management. With Special Reference to Its Avifauna. 1991a. F. 1984. PHPA-AWB/ INTERWADER. Trop. A. 11. 4204 . & E.L. Kadarisman.Duke. Ser. Bakung Island. S. N. Verheugt. 151 hal. 59 hal.T.M. G. Combretaceae. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. A. Indonesia. 1984: 663-671. 92 hal. Baal. 1157-1161. Mangrove Swamp and Fisheries in Sabah. Kuala Lumpur. Erftemeijer. Riau (Pulau Bakung. P. Over mangrove Culturen. Hal. Bogor. Leiden. Wong. Skov & R.M. 63-100. 1989. Altenburg.I. D. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . Djuharsa. Wilkinson & V. A. H. Spaans. F. 1954.W. J. S. Allen & Zuwendra. Erftemeijer.

PHPA/AWB-Indonesia. 7-10 April 1993. PHPA / AWB. Giesen. Baltzer & R. & Rudyanto. Malayan Nature Journal. Bogor. van Balen. 17 hal. 14 hal. B. Groombridge. Giesen. 1991. Publikasi PHPA/AWB. Indonesia’s Mangroves: An Update on Remaining Area and Main Management Issues. Bogor. Baruadi. Satonda Island. 240 hal. Mass Feeding of Dog-faced Water Snakes (Cerberus rhynchops) on Sumatran Mudflats. W. Lae. Notes and Observations. Karang Gading-Langkat Timur Laut Wildlife Reserve (North Sumatra). Hal.L. Jambi. M. Bogor. & Sukotjo. Giesen. Giesen. August 9-11. of Agriculture. 45-55. W. Chapman & Hall. 2053 . Problems and Implications. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetlands No. 585 hal. 1994. 7 April 1994. Global Biodiversity. and Its Unique Stromatolites. Bogor. Giesen. Hassan. Dalam Seminar “Coastal Zone Management of Small Island Ecosystems”. Observations on Acid Runoff and Iron in Brackishwater Fishponds. 46: 265-266. editor. Hardjowigeno. 17. 1992. Bogor. Perubahan Habitat Lahan Basah di Kepulauan Sunda Besar dan Implikasinya terhadap Keragaman Hayati [Habitat Changes in Wetlands of the Greater Sunda’s and Implications for Biodiversity]. 1981. Sumatra. 1989. Department of Fisheries. Government of Papua New Guinea. W. 26. W. editor. & T. Henty. Handbooks of the Flora of Papua New Guinea. 1991. Indonesia. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. 10. Ti. 1991. 1993. 257-265. W. W. Bogor. Several Short Surveys of Sumatran Wetlands. S. Min. 1993. & B. R. 10 hal. 1988. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. 48 hal. 98 hal. W. Hal.Giesen. Integrating Conservation with Land-use Development in Wetlands of South Sulawesi. 1986. Giesen. E. Giesen.E. Sumbawa. W. 34 hal. Dalam prosiding simposium Mangrove Management: its Ecological and Economic Considerations.. Peranan Berang-berang Bagi Manusia. Volume II. Hutan Bakau Pantai Timur Nature Reserve. Ambon. Dalam Prosiding Simposium Pertama mengenai Berang-berang di Indonesia. 1991. Mangrove Soils of Indonesia. Status of the Earth’s Living Resources. 1994.B.

Moriya. Miyabara. in Indonesia. #1: Floristic Composition and Stand Structure. Pengelolaan Hutan DAS Rokan . 47 hal. Panduan Teknis Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat. J. PhD thesis. Reinwardtia. Prosiding Lokakarya Pemantapan Strategi Pengelolaan Lingkungan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua. 1985. S. A. the Netherlands. Tropical Press. Studi lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta. Kusmana. 1959. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. C.L. A. Jiménez. S. Kostermans. 206 hal. (tidak dipublikasikan) Hommel. Dalam Biological System of Mangroves.M. Jakarta. Jakarta. (Sterculiaceae).. Biotropica. Tesis Program Pasca Sarjana IPB. 4206 .F. Anwar. 1984. Kusmana & Suhendra.A. Landscape-ecology of Ujung Kulon (West Java. Bogor. Bali & Lombok. Komiyama. Bogor. Prawiroatmodjo. M. 17: 177. & T. P. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. Wetlands International – Indonesia Programme.W. Agricultural University of Wageningen.An Introduction.J. & A.E. Khazali.L. T. 1988. 1999.A. Its Structure and Function. with Special Reference to Indonesia.. 1997. G. Coastal Zone Resource Development and Conservation in Southeast Asia. 1997. Tree Mortality in Mangrove Forests. C & Onrizal.. A. Hal 41. Tat-Mong. Lugo. Kuala Lumpur. Kapal Kerinci. Tomi & K. C. Forest as an Ecosystem. & M.Hilmi. De Tropische Natuur. UNESCO Regional Office for Science & Technology for Southeast Asia. Japan. Kasry. Ogino. F. 1997. Kitamura. 1997. 1987. Fascinating Snakes of Southeast Asia . 1993. 124 hal. Bogor. Kusmana. 182 hal. Kint.L. 1934.G. Ehime University.Hutan Mangrove Kabupaten Bengkalis dan Kemunduran Perikanan di Bagan Siapi-api dan Sekitarnya. IPB Press. Irian Jaya. Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove. Chaniago & S. De luchtfoto en de topografische terreingesteldheid in de mangrove. Indonesia). 4: 256-62.J. Handbook of Mangroves Knox. C. 1984. H. A. Hal. 11-13 September 1993. 1989. 85-96. Monograph of the Genus Heritiera Aitn.185. Baba. A. Keng. Metoda Survey Vegetasi. Pengenalan Jenis Pohon Mangrove di Teluk Bintuni. IPB Press. JICA & ISME. Bogor. 23: 173-189. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Pedoman Pembuatan Persemaian Jenis-Jenis Pohon Mangrove. Hal 5.. 8. 12: 25-31.. 322 hal. E. K. West Java. Laut Nusantara (Marine Nusantara). 1985. E. J. 39-46. Indonesia. 1994. 1985: 77. The Flora of Tidal Forests. B.R. 1982. Heald. 1997. & E. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . Noor. Volume 2: Forest Resource Base. C. Vol.a Rationalization of The Use of The Term Mangrove. 1. Eenige bijzonderheden over mangrove. 1968. De Tropische Natuur. MacNae. Odum. 2 No. 2073 . Mastaller. 1.bosschen. Hutan Mangrove: Antara Nilai Ekonomi dan Fungsi Ekologi. Situation and Outlook of the Forestry Sector in Indonesia.J. & J. Departemen Kehutanan & FAO. A Systems Approach. 1984: 231-240.Restoration & Management. Melisch. 1984. 1990. 1984. Jakarta. Technical Report No. S. Estua. PHPA/AWB.99 Meindersma. 1987.W. A.Kusmana. (tidak dipublikasikan) Macintosh. Hanafia & Rudyanto.W.W.J. Blackwell Scientific Publications. W. Mepham. Fakultas Kehutanan IPB. Beberapa Catatan Tentang Aspek Pengusahaan Hutan Mangrove di Sulawesi Selatan. Giesen. Ecology and Productivity of Malaysian Mangrove Crab Populations (Decapoda: Brachyura). Nurkin. Lumpur. 70-77. M. UTF/INS/065/INS: Forestry Studies. Cimanuk River Estuary. Manuputty. Mangrove: The Forgotten Forest Between Land and Sea. R. W. H. Djambatan. 1974. Bot. The Detritus Based Food Web of An Estuarine Mangrove Community. 1923. 1979. Jakarta. Nontji.E. An Assessment of the Importance of Rawa Danau for Nature Conservation and An Evaluation of Resource Use. 1984: 354-377.S. Kuala Mepham. Studies in Ecology. A General Account of the Fauna and Flora of Mangrove Swamps and Forests in the Indo-West-Pacific Region. Vol. Dalam Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove. Y. 6: 73-270. Res. 97 hal. Mann. E. 1: 265-268. Bogor.Afr. Jakarta. 1999. Bogor. Ecology of Coastal Waters. Malaysia. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . Nirarita. Ch. Some Notes on The Crustacean Fauna Around Mangrove Area of Pancer Balok.H. 1993. D.Restoration & Management. Warta Konservasi Lahan Basah. Biol. R. A. Adv. W.H. mar.

Mangroves and Aquaculture. 285: 277-282. 1995. Payne. 1988. Global Status of Mangrove Ecosystems. 88 hal. Y. Monocotyledones. Vol. Y. Sibuea & Rudyanto. Ridley. 11: 252. 1993.UNPAD. IV Rusila Noor.. London. Reeve & Co.. Social. Ong. Lim. Ltd. 1991. Laporan Penyigian Burung Air di Sumatera Selatan dan Jambi..D. 20 (1): 28-33.J. 1987. A List of Wetland Plant Species of Peninsular Malaysia. PHPA/Asian Wetland Bureau. H.L.N. 74: 11-15. with particular reference to those having socio-economic value. West Java. editor. Said.. Percival. Rancangan Rencana Pengelolaan Kawasan Segara Anakan. Intensive Prawn Farming in the Philippines: Ecological. Francis & K. Th. E. Davie. 1982. Kuala Lumpur. C. Jurusan Biologi . IUCN Commission on Ecology Papers No. Milky Stork Banding at Pulau Rambut. Buku I Kondisi & Potensi Biofisik Kawasan. Wallaceana. & J. SIS Newsletter Vol. Rusila Noor.M. 383 hal. & M. 1990. P. Saenger. 12. Chihara. Floristics and Ecology of The Mangrove Vegetation of Papua New Guinea. 1983. Studi Populasi Burung Air Kaitannya dengan Usaha Konservasi di Daerah Pantai Indramayu dan Cirebon. Indonesia.Ogino. 332 hal. The Systematic Position of Aegialitis.S. Prakash.257. & A. Womersley. J. Skripsi. Hegerl & J. The Sabah Society with World Wildlife Fund Malaysia. Botany Bulletin No. Primavera. Japan. Hal 1. K. Rusila Noor.A. 1991.H. Ambio.. Papua New Guines National Herbarium. Ambio. 4208 . A Field Guide to the Mammals of Borneo. 1924. Ehime University.E. 1975. N. 8. J. M. 96 hal.M. 1998. AWB publikasi no. 67a. Bandung. 1985. 3. Hydrobiologia. 6 No. the Enigmatic Mangrove. The Flora of the Malay Peninsula. Othman. I. and Economic Implications. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. Value of Mangroves in Coastal Protection. Biological System of Mangroves. 181 hal. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir & Laut IPB. Y. 1994. Lae.S. Bogor. Bogor. M. J. Department of Forests. Phillipps.

1986. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir: Pengalaman Pengembangan Tambak Ramah Lingkungan dan Rehabilitasi Mangrove di Karangsong Indramayu. Kuala Lumpur. 191-211. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. The Status of Storks. 247: 195-207. Prosiding Seminar Tahunan ke12 the Malaysian Society of Marine Sciences.P.L. Soewito. Prosiding Seminar III Ekosistem Mangrove. F. 1989. AWB/INTERWADER.T. 1107-1112. Audrey. Dalam International Social Tropical Ecologi. Hal.Samingan. Verheught. Notes on The Vegetation of The Tidal Areas of South Sumatra. Blasco & C.J. R. E. Hal 39. Silvius. M. Mangroves as a Habitat For Fish and Prawns.. The Sungai Pulai (Johor): A Unique Mangrove Estuary. Wetlands International – Indonesia Programme. Berczy. International Society for Mangrove Ecosystems. M.. 1986. Spalding. & A. The Indonesian Wetland Inventory. Coastal Wetlands Inventory of South East Sumatra.J. 1980. World Mangrove Atlas. 1989. Japan.J. Survey of Coastal Wetlands in Sumatra Selatan and Jambi. Bogor. Taufik. A Preliminary Compilation of Existing Information on Wetlands of Indonesia. 1987. 1999. Hal. 1996.M.T. Chong. 1984. PHPA-Asian Wetland Bureau. A. A. Okinawa. Ibises & Spoonbills in Indonesia. Hal. with Special Reference to Karang Agung. 2093 . hal 124-125.. M. PHPA. 1989. Soerianegara. 1987. Bogor. 101 hal. Cambridge. E. Laporan PHPA . EDWIN. Laporan Survey Sumatran Waterbird Laporan Studi ICBP No.W.U.INTERWADER No. D’Cruz. Field editor. V. Chong. Indonesia. Indonesia. M. Sasekumar. Silvius.J. Steeman. Savitri. V. M. Iskandar.. Jakarta.U. Silvius. M. Leh. Bogor. D’Cruz & M. Djuharsa & A.J. Khazali.D. M. Conservation and Land-use of Kimaam Island.C.J. W. M. Leh & R. Silvius. Masalah Penentuan Batas Lebar Jalur Hijau Hutan Mangrove. 9. Jakarta.M. 1. A Survey Report and Compilation of Existing Information. M. 2 volume. Sasekumar.C. Verheugt & J. M.D. 1992. L. 4: 163-164.. Status Ekosistem Hutan Mangrove dalam Kaitannya dengan Kepentingan Perikanan di Indonesia dan Kemungkinan Pengembangannya. I. A & M. 121 & 268. J. Kukila No. A. Indonesia.J & W. Taufik. Indonesia. Hydrobiologia. Silvius. Bogor.

1929. Wowor. Conservation Status and Action Program for the milky stork (Mycteria cinerea). F.L. 37.J. J.G. Natn. Maritime Studies.G. 1941. een weinig bekende mangrove-boom. the Banyuasin Sembilang Swamps Case Study. hal.I. Ser. 22: 1302-1332. Foraging on Mangrove Pneumatophores by Ocypodid Crabs. Indonesia. 1994. U. 237 hal.J. van Bodegom. 1989. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Management: Its Ecological and Economic Considerations’. van Steenis. H. K. M. Landscape and Urban Planning. Ser. 4210 . J. Macroalgae in Indonesian Mangrove Forests. Outline of Vegetation Types in Indonesia and Some Adjacent Regions.W..Steup. Hal 211-220.H. Longman Malaysia. van Steenis.. C. Bull.. Exp. W. C. BIOTROP Special Publication No. Purwoko. A. 5: 431. Indië. Vol. Mar. Flora Malesiana. 134: 89-100. 419 hal. 1936. Tanaka..M. Prosiding the 8th Pacific Science Congress.G. Ecology of Mangroves. Wada. Plumbaginaceae. Coastal Resources Development Options in the Southeast Asia and Pacific Regions: Economic Valuation Methodologies and Applications in Mangrove Development.441. 1986. I.G. Ser. Flora Malesiana. De Tropische Natuur. 1988.B. Thurairaja. V. Introduction to Account of the Rhizophoraceae by Ding Hou. Malayan Animal Life. Kustaanwas en Mangrove. Colonial Waterbirds. P.G. van Steenis. De vloedbosschen in het gewest Riouw en onderhoorigheden. Mus. 26: 194-6. 1987. 1957. 12: 353-355.G. IV: 61-97.K. 4: 107-112. Natuurwetenschappelijk Tijdschrift voor Ned. Integrating Mangrove and Swamp Forests Conservation with Coastal Lowland Development. Cambridge. A.K. 1949. South Sumatra Province. Skov & R.G. 79: 1-13. Tokyo. J. Kadarisman. van Balen. 14: 93-106. F. Ecol. Harrison. The Botany of Mangroves. Danielsen.J.F. 20: 85-94. & D. B. Tomlinson. & J. W.G. The Terrestrial Mangrove Birds of Java. 193-205.J. S. 1989. Verheugt. 1991. C. 1954. & M. M. Tweedie. Verheught. Sci. C. 1958. Biol. van Steenis. Tectona. Cambridge University Press. Osbornia octodonta. Chihara.

S.. M. Damanik. 1976. Philippines. 1996. International Center for Living Aquatic Resources Management. Watson. Dalimartha & A. Hal 358. Kuala Lumpur. Yaputra & B. White. 1928. T. 1990. 1985. 1989. The Ecology of Sumatra. Nuraini. 132 hal. 1989. H. S. East Nusa Tenggara. Y. G. M.Wahyuni.M. Manila.. I. Flora of Okinawa and the Southern Ryukyu Islands. E. Mangrove Forests of the Malay Peninsula. PHPA/AWB Bogor. Indonesia. 2113 . S. 275 hal. Editor. Beberapa Jenis Hasil Perairan Segara Anakan Cilacap yang telah Dimanfaatkan Penduduk Sekitarnya. Jakarta. Wirian. M. Whitmore. 583 hal.M. 7.E. 1973. Wibowo. S. Wijayakusuma. S. Singapore. H.. Sulawesi Selatan.J. A. Saleh. Yogyakarta. H. A. Baltzer and N. A. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. Martosubroto & M. H. South Java. 1: 1-8.J. M. Jawul Penelitian Budidaya Pantai. The Ecology of Sulawesi. Palmerston. ICLARM Technical Reports 25.. Rasyid. Pustaka Kartini. J. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-4. Palms of Malaya. Australia. T. P. Wibowo. 6. Sadorra. Malayan Forest Records No. Mustafa & G. Northern Territory Botanical Bulletin No.H. 1995. N. 777 hal. Tanaman Berkhasiat Obat Wijayakusuma. Jakarta. M. Sumber Benih Baru di Indonesia Timur untuk Menanggulangi Masalah Perkembangan Tambak. T. M. Yogyakarta.. S.J.. Wijayakusuma. Wardoyo. Pustaka Kartini. Gajah Mada University Press. 82 hal. Dalimartha & A. & S. Wirian. Yaputra & B. Whitten. 1988. Pustaka Kartini. Jakarta. Anwar & N. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid I. Oxford University Press. Zieren. Jakarta. Henderson. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-3. J. Wetlands of Sumba. Maros.C. 1984.. Wightman..G. Jakarta. S. Whitten. 1993. & F. Pustaka Kartini. 1984. Hisyam. di Indonesia Jilid ke-2.T. Conservation Commission of the Northern Territory. Gajah Mada University Press.S. Wijayakusuma. The Coastal Environmental Profile of Segara Anakan-Cilacap.T. M. Rusila Noor. Federated Malay States Government. 1992. S. Mangroves of the Northern Territory. Walker.

Tumbuhan yang hidupnya bergantung kepada inangnya. Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit. Tumbuhan yang merambat ditanah. tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama. Tumbuhan yang memiliki kayu besar. Daunnya tidak panjang dan lurus. dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun. Parasit (Parasite) KELOMPOK TUMBUHAN Belukar (Shrub) Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar. dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai. Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu. tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras. tidak bercabang sampai daun pertama. Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai. Epifit (Epiphyte) Paku-pakuan (Fern) Palma (Palm) Pemanjat (Climber) Pohon (Tree) Terna (Herb) 4212 . namun tidak menyerupai rumput. tetapi mampu untuk melakukan fotosintesa sendiri. Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.GL OSSARY GEOGRAFIS Dunia lama (Old World) Pan-tropis (Pan-tropical) Eurasia dan Afrika Terdapat di seluruh daerah tropis di seluruh dunia KEBIASAAN HIDUP Hemi-parasit (Hemi-parasite) Tumbuhan yang sebagian hidupnya bergantung kepada inangnya. biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu. Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Dapat hidup tanpa inang. lurus dan biasanya tinggi. biasanya memiliki bunga yang menyolok. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun.

keluar dari batang. Bentukan pada pohon yang berbentuk datar. Akar yang tumbuhnya tegak. Akar berbentuk seperti papan miring yang tumbuh pada bagian bawah batang dan berfungsi sebagai penunjang pohon. Akar yang tumbuh dari batang diatas permukaan dan kemudian memasuki tanah. biasanya berfungsi untuk penunjang mekanis. pada kulitnya terdapat celah-celah kecil yang berguna untuk pernafasan. Cairan yang pekat seperti susu. menggantung di udara dan bila sampai ke tanah dapat tumbuh seperti akar biasa. Lentisel (Lenticel) Sisik (Scales) AKAR Akar udara (Aerial root) Struktur yang menyerupai akar. Akar yang muncul dari tanah kemudian melengkung ke bawah sehingga bentuknya menyerupai lutut. terbentuk dari epidermis.BATANG/KULIT KAYU Bercelah (Fissured) Getah (Latex) Hipokotil (Hypocotyl) Goresan yang dalam pada batang pohon atau kulit kayu. muncul dari dalam tanah. Tonjolan pada kulit yang memungkinkan udara luar memasuki jaringan di dalamnya. Beberapa kadang-kadang menyerupai struktur akar yang dimiliki oleh famili Rhizophoraceae. Bagian dari kecambah yang akan tumbuh menjadi pangkal batang yang akan berhubungan dengan pangkal akar. berupa struktur eksternal yang menyerupai piring. Akar banir/papan (Buttress) Akar lutut (Knee root) Akar nafas (Pneumatophore) Akar Tunjang (Stilt-root) akar udara akar banir/papan akar lutut akar nafas akar tunjang Gambar bentuk-bentuk akar 2133 . berukuran kecil dan hanya bisa terlihat baik dengan menggunakan kaca pembesar.

kebanyakan berbentuk elips. Tonjolan vaskular yang biasanya terlihat dari luar.DAUN Kelenjar (Gland) Ketiak (Axil) Meranggas (Deciduous) Anak/pinak daun (Leaflet) Selalu hijau (Evergreen) Tepi/sisi (Margin) Urat (Vein) Urat tengah (Midrib) Unit Sederhana/tunggal (Simple) Pada tangkai daun hanya terdapat satu helaian daun saja. Pada tangkai daun yang bercabang-cabang terdapat lebih dari satu helaian daun. Bagian yang mirip daun pada daun majemuk. Pada tiap buku-buku batang terdapat 2 daun yang berseberangan pada ranting. Majemuk (Compound) Susunan Berlawanan/berhadapan (Opposite) Bersilangan (Spiral/Alternate) Bentuk Bulat memanjang (Oblong) Panjang daun 2 – 3 kali lebarnya. Titik sudut antara sisi atas dan batang tempat daun. bagian pangkal dan ujung daun runcing. Kelompok tumbuhan yang daunnya berguguran/rontok secara periodik (misalnya pada musim kering). melebar dibagian tengah dan kedua ujungnya berukuran hampir sama. 4214 . Pada tiap buku-buku batang hanya terdapat 1 daun. Bagian sisi dari daun. Bulat telur (Ovate) Bulat telur terbalik (Obovate) Elips (Elliptic) Lanset (Lanceolate) Bentuk daun melebar dibagian tengah. bagian pangkal lebar dan bagian ujung runcing. Panjang daun 2 kali lebarnya. Bentuk daun seperti telur terbalik. Urat bagian tengah pada daun. Panjang daun 3 – 5 kali lebarnya. posisi normal untuk tunas lateral. Struktur pada tumbuhan yang mengeluarkan cairan lekat atau berminyak. Tumbuhan yang berdaun sepanjang tahun. misalnya pada permukaan daun.

Pinak daun yang terletak pada dasar bunga. diluar kelopak bunga. Bagian terluar suatu bunga yang biasanya terdiri atas struktur seperti daun yang dalam tahap kuncup membungkus dan melindungi bagian-bagian bunga lainnya. Suatu struktur menyerupai daun yang terletak pada bagian dalam perhiasan bunga. Kelopak tambahan (Epicalyx) Mahkota bunga (Corolla) Daun mahkota (Petal) 2153 . BUNGA Daun kelopak (Sepal) Kelopak bunga (Calyx) Struktur berwarna hijau menyerupai daun atau hijaukekuningan.elliptic oblong lanceolate ovate obovate spathulate Gambar bentuk-bentuk daun Ujung Membundar (Rounded) Ujung daun membulat atau hampir tidak terbentuk sudut sama sekali. Merupakan terminologi yang digunakan untuk semua daun kelopak (sepal) pada bunga. berfungsi untuk menarik perhatian serangga penyerbuk. biasanya berwarnawarni untuk menarik perhatian serangga penyerbuk. Istilah untuk seluruh daun mahkota pada bunga. Meruncing (Pointed/Acute/ Ujung daun membentuk suatu sudut lancip atau ujung Acuminate) daun sempit memanjang dan runcing. terletak pada bagian luar perhiasan bunga. Tumpul (Blunt) Ujung daun membentuk sudut yang tumpul.

putik benang sari Tangkai benang sari (Filament) Tepung sari (Pollen) Kepala putik (Stigma) Tangkai putik (Style) daun mahkota daun kelopak/ kelopak bunga dasar bunga tangkai bunga Gambar bunga dengan bagian-bagiannya Nektar/madu (Nectar) Berkelamin dua (Bisexual) Cairan manis.Benangsari (Stamen) Kepala sari (Anther) Alat kelamin jantan. Butir tepung sari melengket disini dan kemudian berkecambah. dimana masing-masing bagian mengandung kantung tepung sari. Tiang jaringan langsing yang timbul dari jaringan bakal buah tempat tumbuh tabung tepung sari. Pada bunga terdapat benang sari maupun putik. Gametofit jantan dari tumbuhan berbiji. Struktur yang terdapat pada ujung filamen dan terdiri atas dua bagian. 4216 . Bagian yang menunjang benang sari. lekat yang dikeluarkan oleh tumbuhan. Bagian organ betina pada bunga yang biasanya bersifat lengket. Berkelamin tunggal (Unisexual) Pada bunga terdapat hanya salah satu dari dua macam alat kelaminnya.

Bagian dari kecambah/benih yang terletak diantara bakal cabang dan bakal akar. tangkai. sehingga bungan tidak terdapat pada ibu tangkainya. Bunga terletak atau muncul dari ketiak daun. Bakal daun didalam biji/biji benih yang kemudian berkembang menjadi daun pertama dari kecambah/ benih. Bunga majemuk tidak terbatas. Bentuk perbungaan dimana tangkai bunga utamanya panjang dan tangkai anak bunga sangat pendek. Bunga terletak atau muncul diujung cabang. BUAH Spora (Spore) Vivipar (Viviparous) Keping benih (Cotyledon) Sel reproduksi dari tumbuhan ferna. Bulir (Spike) Berbatas/kelompok (cyme) Bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya ditutupi dengan suatu bunga. yang pada beberapa tanaman berperan penting sebagai bahan makanan.Letak Di ketiak (Axillary) Di ujung (Terminal) Formasi Soliter (Solitary/Single) Payung (Umbrella) Bunga muncul secara tunggal. sehingga anak bunganya duduk. tidak dalam kelompok. Malai/bergerombol acak (Panicle) Bunga majemuk yang ibu tangkainya bercabang-cabang dan cabang-cabangnya dapat bercabang lagi. tandan atau batang. Biji yang berkecambah dalam buah (misalnya pada banyak jenis Rhizophoraceae). Hipokotil (Hypocotyl) 2173 . dari ujung ibu tangkalnya mengeluarkan cabang-cabang yang sama panjangnya dan masing-masing cabang tersebut mempunyai 1 daun pelindung pada tangkalnya. demikian pula cabang-cabang yang terdapat di ibu tangkainya ditutupi suatu bunga diujungnya.

tangkai buah kelopak buah buah keping benih Bola/bulat (Ball) Kacang (Bean like) plumulae hipokotil radicle Gambar buah dengan bagian-bagiannya (Rhizophora apiculata) 4218 . terdapat dalam famili Rhizophoraceae (Bruguiera. Buah berbentuk seperti bola atau bulat.Bentuk Silinder (Cylindrical) Buah berbentuk seperti tongkat atau galah. terutama ditemukan pada Avicennia. Ceriops dan Rhizophora). terutama ditemukan pada Xylocarpus dan Sonneratia. Buah berbentuk seperti kacang dengan berbagai macam bentuk.

INDEKS A Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis 48 50 52 54 56 58 60 62 64 66 68 70 72 74 76 C Calophyllum inophyllum Calotropis gigantea 146 148 Camptostemon philippinense 90 Camptostemon schultzii Cerbera manghas Ceriops decandra Ceriops tagal Clerodendrum inerme 92 150 94 96 152 D Derris trifolia 154 E Excoecaria agallocha 98 F B Barringtonia asiatica Bruguiera cylindrica Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza Bruguiera hainessii Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula 144 78 80 82 84 86 88 Finlaysonia maritima 156 G Gymnanthera paludosa 100 H Heritiera globosa Heritiera littoralis Hibiscus tiliaceus 102 104 158 2193 .

I Ipomoea pes-caprae 160 R Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata 118 120 122 174 K Kandelia candel 106 Rhizophora stylosa Ricinus communis L Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa 108 110 S Sarcolobus globosa Scaevola taccada 124 176 Scyphiphora hydrophyllacea 126 M Melastoma candidum Morinda citrifolia 162 164 Sesuvium portulacastrum Sonneratia alba Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata 178 128 130 132 180 N Nypa fruticans 112 Stachytarpheta jamaicensis T O Osbornia octodonta 114 Terminalia catappa Thespesia populnea 182 184 P Pandanus odoratissima Pandanus tectorius Passiflora foetida Phemphis acidula Pongamia pinnata 166 168 170 116 172 X Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii 134 136 138 140 W Wedelia biflora 186 4220 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful