Panduan Pengenalan

MANGROVE
di Indonesia

Oleh: Yus Rusila Noor M. Khazali I N.N. Suryadiputra

Bogor, Oktober 2006

Ditjen. PHKA

Indonesia Programme

i3

This publication has been made possible with funding from the CY 98 Environment Component of the World Bank/Netherlands Partnership Programme, through the IUCN Regional Biodiversity Programme for South and Southeast Asia. Publikasi ini dibuat atas dukungan biaya dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998, lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara.

THE WORLD BANK

This publication is adapted from: Publikasi ini merupakan saduran dari: Giesen, W., Stephan Wulffraat, Max Zieren & Liesbeth Schoelten. A Field Guide of Indonesian Mangrove. WI-IP (in prep.).

Cetakan pertama tahun 1999

Pencetakan ulang (kedua) tahun 2006, didukung oleh:

Green Coast
For nature and people after the tsunami

Dibiayai oleh:

Pustaka: Rusila Noor, Y., M. Khazali, dan I N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP, Bogor.

4ii

© Wetlands International – Indonesia Programme, 1999 Hak cipta dilindungi Undang-undang ISBN: 979-95899-0-8

Desain dan tata letak: Triana Ilustrasi: Wahyu Gumelar dan Tilla Visser Foto: Hidayat S., I N.N. Suryadiputra, Jennifer Dudley, Kitamura, Marcel J. Silvius, Wendy Suryadiputra, Wim Giesen

Pendapat dan saran yang dikemukakan dalam buku ini adalah semata-mata pendapat dan saran dari penulis/ penyadur dan tidak selalu mencerminkan kebijakan resmi dari Wetlands International dan Ditjen PHKA.

iii3

WI-IP telah menyelesaikan suatu manuskrip pengenalan mangrove Indonesia dalam Bahasa Inggris. seperti untuk Malaysia (Watson. sebaran serta kebijakan/peraturan tentang mangrove di Indonesia). sekaligus memberikan kesempatan yang berharga bagi mereka yang bermaksud mempelajari dan menikmati habitat ini. 1989). Meskipun dalam beberapa hal pustaka tersebut bermanfaat. 1975). Untuk mengisi kekosongan tersebut.KATA PENGANTAR Indonesia dikarunia memiliki mangrove yang terluas di dunia dan juga memiliki keragaman hayati yang terbesar serta strukturnya paling bervariasi. termasuk Flora Malesiana. Buku ini dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama berisikan tentang gambaran umum mangrove (di dalamnnya tercakup habitat. manfaat. kelimpahan serta manfaatnya bagi umat manusia). baik karena beberapa jenis tidak terdapat di Indonesia atau karena titik berat pustaka tersebut hanya pada pohon dan belukar. ekologi. sangat sedikit pustaka yang berhubungan dengan mangrove di Indonesia. hal ini dirasakan cukup menyulitkan dan kurang praktis. Namun. dan bagian kedua secara spesifik menjelaskan jenis-jenis mangrove di Indonesia (di dalamnya meliputi cara mengidentifikasi. sehingga bagi yang ingin mempelajari mangrove Indonesia terpaksa harus mengacu kepada pustaka mengenai negara-negara tetangga. Untuk melengkapi pustaka tersebut. dan Australia (Wightman. akan tetapi banyak mengandung kelemahan. Namun atas dukungan biaya oleh pihak sponsor (Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998) manuskrip tersebut kini telah berhasil disadur kedalam Bahasa Indonesia dengan beberapa tambahan dan perbaikan data. 1928). Warisan alam yang sangat luar biasa ini memberikan tanggung jawab yang besar bagi Indonesia untuk melestarikannya. baik karena beratnya buku-buku tersebut maupun harganya yang mahal. Buku ini tidak ditujukan sebagai edisi akhir yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam identifikasi mangrove di Indonesia. saran dan kritik pemakai buku ini sangat diharapkan. Tujuan ditulisnya buku ini adalah untuk memberikan suatu panduan sederhana pengenalan tumbuhan mangrove bagi mereka yang tertarik pada konservasi dan pengelolaan mangrove di Indonesia. Oleh karena itu. bagi yang ingin secara serius mempelajari mangrove haruslah mengacu kepada berbagai publikasi lainnya. Penyadur 4iv 3iv . PNG (Percival & Womersley. Hingga saat ini. yang sayangnya belum bisa segera diterbitkan karena kendala biaya.

Scott Perkin sebagai Ketua Program telah sangat berperan dalam memungkinkan penyaluran dana. Silvius sangat berperanan dalam persiapan awal penerbitan buku ini serta menyediakan beberapa slide-nya untuk digunakan. Penghargaan dan ucapan terima kasih akhirnya disampaikan kepada Wim Giesen. Cecep Kusmana memberikan masukan yang sangat berharga dalam persiapan awal publikasi. Jennifer Dudley dan Wendy Suryadiputra. Publikasi ini dapat diselesaikan berkat dukungan dana dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998. Penyadur kedua dan ketiga memperbaiki dan menambah informasi dan data terbaru yang lebih sesuai untuk edisi ini.UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. Dr. sedangkan pendisainan dan tata letak dilakukan oleh Triana. untuk itu Dr. Dr. Penerjemahan dan penyaduran dari manuskrip Bahasa Inggris dilakukan oleh penyadur pertama. Indonesia) Penyelesaian publikasi ini dilakukan oleh suatu tim dari Wetlands International . Beberapa foto berwarna juga diambil dari Handbook of Mangroves in Indonesia (oleh Kitamura et.Indonesia Programme dibawah koordinator Laksmi A.al. Atsuo Ida. Stephan Wulffraat. Ilustrasi hitam putih digambar oleh tangan terampil Wahyu Gumelar dan Tilla Visser.) yang diproduksi oleh JICA-ISME (1997) melalui ijin yang diberikan oleh pimpinan proyek mangrove JICA di Bali. v3 . Max Zieren. Marcel J. Savitri. Liesbeth Schoelten dan tim produksi manuskrip Bahasa Inggris yang menjadi sumber utama publikasi ini. Foto-foto berwarna diambil oleh para penyadur juga oleh Hidayat Sunarsyah. Wahyu Gumelar. serta kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara.

berpusat di Okinawa. Syukurlah. Stichting Pro Natura. Arnhem. Ellecom. E. Terakhir. The Netherlands. terima kasih tak terhingga untuk Herbarium Bogor dan Rijkherbarium Leiden yang telkah memberikan kemudahan untuk menggunakan koleksi herbariumnya. meskipun penyelesaian buku ini sangat terlambat. 4vi 3vi . The Netherlands). Wim Giesen. Cecillia Luttrell yang telah mencoba kunci identifikasi di lapangan dan memeriksa spesimen di lapangan. PHPA (sekarang PHKA) dan AWB (sekarang Wetlands International) sangat berterima kasih kepada sejumlah sukarelawan yang telah memberikan sumbangannya kepada penyelesaian buku ini. Max van Balgooij (Rijkherbarium Leiden) dan Dr. khususnya Stephan Wulffraat (yang membuat daftar jenis dan memulai seluruh proses). berkenan untuk memberikan sumbangan dana yang memungkinkan dilanjutkannya proses penyelesaian akhir dan editing buku ini oleh penulis dan editor utamanya. Pada akhir 1993. Tilla Visser untuk gambargambarnya yang luar biasa. University of Utrecht. Terlepas dari masalah dana tersebut. Inggris) Banyak pihak yang terlibat dalam penyelesaian secara bertahap buku ini. Jepang). Dra. The Netherlands. Dr. Produksi buku ini pada awalnya didukung oleh Stichting FONA. kami juga menghaturkan terima kasih kepada pihak luar yang teah memberikan komentar dan masukan yang sangat berharga. sehingga pengerjaan buku ini agak terbengkalai. Kami sangat berterima kasih kepada para sponsor yang memberikan dukungan. dan Bea Tolboom yang telah mengumpulkan pustaka. Penyelesaian akhir buku ini kemudian dilanjutkan oleh Koordinator berikutnya. the International Society for Mangrove Ecosystems (ISME. Liesbeth Schoelten untuk ketekunan dan kemampuannya dalam memberikan pertelaan jenis. Max Zieren. J. terutama juga karena kurangnya dana pendukung. Wim Giesen.J Afriastini yang telah membantu identifikasi tumbuhan herbarium. Yus Rusila Noor. sehingga dapat digunakan dalam pembuatan gambar buku ini. sayangnya harus meninggalkan Indonesia. harus meninggalkan Indonesia pada awal 1995. Lebih dari itu. termasuk Almarhum “Doc” Kostermans (Herbarium Bogor). Terima kasih juga disampaikan kepada staf perpustakaan Herbarium Bogor atas bantuan dan kesabarannya dalam memberikan pustaka yang diperlukan. pengerjaan kemudian dilakukan sedikit demi sedikit sampai kemudian Koordinator proyek lanjutan inipun. The Netherlands dan Stichting Ludovica. Hennipman (Institute of Systematic Botany. selama kurun waktu 1991 – 1993.UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. Ellecom. Koordinator proyek yang pertama.

1 4.3 II. Status Mangrove Indonesia 4. Pendahuluan 1.1 5.1 2.DAFTAR ISI Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Daftar Isi I. Indonesia) (Edisi B.3 Kondisi fisik Tipe vegetasi mangrove Fauna mangrove III.5 Pemetaan sumberdaya Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Peraturan yang berkaitan dengan konservasi mangrove Perkembangan terakhir vii3 .3 5.1 1.4 5. Inggris) iv v vi vii 1 1 1 3 5 5 8 12 17 17 21 23 23 27 30 30 31 33 34 35 Bagian I Habitat Mangrove 2.2 1. Manfaat Mangrove 3.2 Pemanfaatan mangrove Fungsi mangrove IV.1 3.2 5.2 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Penyebab penurunan luas mangrove V. Apakah mangrove itu? Gambaran umum mangrove Indonesia Cakupan buku panduan (Edisi B.2 2. Kebijakan dan Peraturan Menyangkut Mangrove 5.

VI. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan Daftar Pustaka Glosari Indeks 190 198 201 212 219 Bagian II JENIS-JENIS MANGROVE SEJATI JENIS-JENIS MANGROVE IKUTAN 47 143 4 3 viii .1 7. Beberapa Petunjuk Studi Mangrove bagi Pemula 7.4 7. nama lain/sinonim.2 7.5 7.1 6. sumber gambar & foto Lampiran 2.6 Pustaka penting Petunjuk untuk pengamatan lapangan Spesimen tumbuhan mangrove Studi vegetasi Studi fauna Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Lampiran Lampiran 1. Areal Mangrove yang Dilindungi 6.2 6. Jenis mangrove.3 7.3 Mangrove dan sistem kawasan lindung Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Pemeliharaan keanekaragaman hayati mangrove 37 37 39 41 43 43 43 44 45 45 46 VII.

1 Apakah mangrove itu ? Asal kata “mangrove” tidak diketahui secara jelas dan terdapat berbagai pendapat mengenai asal-usul katanya. Dia menyarankan seluruh tumbuhan vaskular yang terdapat di daerah yang dipengaruhi pasang surut termasuk mangrove. 1983). Scyphyphora dan Nypa. luas mangrove diperkirakan antara 32 % (Thurairaja.2 Gambaran umum mangrove Indonesia Perkiraan luas mangrove di seluruh dunia sangat beragam. PENDAHULUAN 1. Pada dasarnya. istilah “mangrove” digunakan untuk jenis tumbuhannya. dkk (1997) menyebutkan 18.I. isitilah “mangrove” secara umum digunakan mengacu pada habitat. Tomlinson (1986) dan Wightman (1989) mendefinisikan mangrove baik sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas. 13 .1 juta hektar. dan terdiri atas jenis-jenis pohon Aicennia. sedangkan Spalding. Aegiceras. 1. Beberapa peneliti seperti Lanly (dalam Ogino & Chihara. menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur. dkk. Dalam beberapa hal. Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung (Saenger. Sementara itu Soerianegara (1987) mendefinisikan hutan mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Xylocarpus. Rhizophora. 1988) menyebutkan bahwa luas mangrove di seluruh dunia adalah sekitar 15 juta hektar. namun pada dasarnya merujuk pada hal yang sama. Sonneratia. Untuk kawasan Asia. Macnae (1968) menyebutkan kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. Beberapa ahli mendefinisikan istilah “mangrove” secara berbeda-beda. menurut Wightman (1989) yang lebih penting untuk diketahui pada saat bekerja dengan komunitas mangrove adalah menentukan mana yang termasuk dan mana yang tidak termasuk mangrove. Lumnitzera. 1997) mangrove dunia.5% (Spalding. Ceriops.9 juta hektar. 1994) sampai 41. bahkan Groombridge (1992) menyebutkan 19. termasuk jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di pinggiran mangrove seperti formasi Barringtonia dan formasi Pes-caprae. Dalam buku panduan ini. dkk. Sementara itu. Bruguiera. Excoecaria.

dkk. Ceriops dan Rhizophora. Dengan kondisi lingkungan seperti itu.5 juta hektar. Dalam hal struktur. perkembangan yang paling pesat tercatat di daerah tersebut. meliputi 89 jenis pohon. Bina Program INTAG (1996) menyebutkan 3. Indonesia merupakan tempat mangrove terluas di dunia (18 . Dalam hal lain. 44 jenis herba tanah. Nigeria (1.300 ha (19%) (Dit. 19 jenis pemanjat.600 ha (38%).350. Di daerah pantai yang terbuka.3 juta ha). 1997). Giesen (1993) menyebutkan luas mangrove Indonesia 2. 42 .Di Indonesia perkiraan luas mangrove juga sangat beragam.97 juta ha) (Spalding. mangrove di Indonesia lebih bervariasi bila dibandingkan dengan daerah lainnya. Kalimantan 978. kadar garam yang tinggi serta kondisi tanah yang kurang stabil. sementara yang lainnya mengembangkan sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya. Dit. dapat ditemukan Sonneratia alba dan Avicennia alba. Saenger. seperti Kandelia. Bina Program INTAG. Dapat ditemukan mulai dari tegakan Avicennia marina dengan ketinggian 1 . beberapa jenis mangrove berkembang dengan buah yang sudah berkecambah sewaktu masih di pohon induknya (vivipar). di Sulawesi Selatan). beberapa jenis mangrove mengembangkan mekanisme yang memungkinkan secara aktif mengeluarkan garam dari jaringan.200 ha (28 %) dan Sumatera 673. Bruguiera.2 meter pada pantai yang tergenang air laut. Di seluruh dunia. 5 jenis palma. hingga tegakan campuran BruguieraRhizophora-Ceriops dengan ketinggian lebih dari 30 meter (misalnya. Dari 202 jenis tersebut. Umumnya mangrove dapat ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia (Gambar 1). Walaupun mangrove dapat tumbuh di sistem lingkungan lain di daerah pesisir. Sejauh ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis tumbuhan mangrove. mangrove tumbuh dan berkembang dengan baik pada pantai yang memiliki sungai yang besar dan terlindung. 1996). Mangrove terluas terdapat di Irian Jaya sekitar 1. 43 jenis (diantaranya 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai mangrove sejati (true mangrove). dkk (1997) menyebutkan seluas 4.5 juta hektar (dalam buku panduan ini). 44 jenis epifit dan 1 jenis paku. sementara jenis lain ditemukan disekitar mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove ikutan (asociate asociate). dkk (1983) mencatat sebanyak 60 jenis tumbuhan mangrove sejati.23%) melebihi Brazil (1. Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ekstrim. Dengan areal seluas 3.5 juta hektar. seperti kondisi tanah yang tergenang. Di daerahdaerah ini dan juga daerah lainnya. Dengan demikian terlihat bahwa Indonesia memiliki keragaman jenis yang tinggi.5 juta hektar dan Spalding. Umumnya tegakan mangrove jarang ditemukan yang rendah kecuali mangrove anakan dan beberapa jenis semak seperti Acanthus ilicifolius dan Acrostichum aureum.1 juta ha) dan Australia (0. sementara itu di sepanjang sungai yang memiliki kadar salinitas yang lebih rendah umumnya ditemukan Nypa fruticans dan Sonneratia caseolaris.

namun pembaca diharapkan untuk berhati-hati dalam pemanfaatannya. jenis mangrove yang dideskripsikan hanya mencakup 60 jenis. Dalam panduan edisi Bahasa Indonesia ini. serta uraian mengenai habitat mangrove. M. Selain itu. termasuk definisi mengenai mangrove. Untuk hal demikian. termasuk beberapa uraian singkat mengenai tanah.. Inti dari buku panduan ini terdapat pada bagian dua. juga diuraikan informasi mengenai peraturan serta perundang-undangan mengenai mangrove di Indonesia. para pembaca sangat dianjurkan untuk mengacu buku-buku lain yang khusus membahas jenis-jenis tanaman obat (misalnya Wijayakusuma. tipe vegetasi serta faunanya. meliputi 43 jenis mangrove sejati dan 17 jenis mangrove ikutan. 1992).H. Dalam bagian pertama ini juga disajikan informasi mengenai manfaat yang dapat digali dari mangrove. dkk. 33 . Meskipun pada bagian dua tercantum juga aspek manfaat dari mangrove sebagai obatobatan. Untuk mereka yang bermaksud melakukan penelitian mengenai mangrove. status dan kondisi mangrove di Indonesia dibandingkan dengan bagian dunia lainnya. Bagian pertama berupa pendahuluan dan pengenalan terhadap mangrove secara umum. Selain itu.3 Cakupan buku panduan Buku panduan ini terdiri dari dua bagian. Dibagian ini ditampilkan panduan identifikasi jenis-jenis tumbuhan mangrove disertai ilustrasi dan/atau foto. dilampirkan beberapa peta yang berkaitan dengan penyebaran mangrove dan kawasan lindung mangrove yang penting di Indonesia dan panduan ringkas bergambar identifikasi mangrove. 1. khususnya berkenaan dengan dosis yang akan dipakai. disajikan panduan ringkas mengenai tekhnik dasar penelitian mangrove serta daftar nama dan alamat organisasi penting yang bergerak dibidang penelitian dan pengelolaan mangrove di Indonesia.Seluruh jenis mangrove tersebut telah dideskripsikan dalam manuskrip Bahasa Inggris dari panduan ini.

Peta penyebaran mangrove di Indonesia .44 Gambar 1.

Sulawesi Selatan. Teluk Jakarta (Hardjowigeno. salinitas serta pengaruh pasang surut. Sebagian besar jenis-jenis mangrove tumbuh dengan baik pada tanah berlumpur. caseolaris yang tumbuh pada salinitas kurang dari 10 o/oo.1 Kondisi fisik Vegetasi mangrove secara khas memperlihatkan adanya pola zonasi (misalnya terlihat dalam Gambar 2). mangrove dapat juga tumbuh pada daerah pantai bergambut. terutama di daerah dimana endapan lumpur terakumulasi (Chapman. 1977). 1989).1968). Di Indonesia. sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya. Pada kondisi tertentu. 1976a). atau bahkan pada pantai berbatu.II. Rhizopora mucronata dan R. Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. kondisi ini ditemukan di utara Teluk Bone dan di sepanjang Larian – Lumu. Kint (1934) melaporkan bahwa di Indonesia. A. 1977 & Bunt & Williams. kerang dan bagian-bagian dari Halimeda (Ding Hou. 1981) menyatakan bahwa hal tersebut berkaitan erat dengan tipe tanah (lumpur. keterbukaan (terhadap hempasan gelombang). Amerika Serikat (Chapman. 1934). Ceriops tagal pada salinitas 60 o/oo dan pada kondisi ekstrim ini tumbuh kerdil. pohon tumbuh kerdil dan kemampuan menghasilkan buah hilang. bahkan Lumnitzera racemosa dapat tumbuh sampai salinitas 90 o/oo (Chapman. Di Indonesia. Jenis-jenis lain seperti Rhizopora stylosa tumbuh dengan baik pada substrat berpasir. Beberapa jenis lain juga dapat tumbuh pada salinitas tinggi seperti Aegiceras corniculatum pada salinitas 20 – 40 o/oo. Stylosa pada salinitas 55 o/oo. kecuali S. 1991). Substrat mangrove berupa tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi (62%) juga dilaporkan ditemukan di Kepulauan Seribu. substrat berlumpur ini sangat baik untuk tegakan Rhizophora mucronata and Avicennia marina (Kint. 1966. Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. marina mampu tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90 o/oo (MacNae. 1976a). Jenis-jenis Sonneratia umumnya ditemui hidup di daerah dengan salinitas tanah mendekati salinitas air laut. Jenis-jenis Bruguiera umumnya tumbuh pada 53 . dimana mangrove tumbuh pada gambut dalam (>3m) yang bercampur dengan lapisan pasir dangkal (0.5 m) (Giesen. stylosa dan Sonneratia alba tumbuh pada pantai yang berpasir. HABITAT MANGROVE 2. Avicennia merupakan marga yang memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lainnya. Beberapa ahli (seperti Chapman. dkk. Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya. 1958). bahkan pada pulau karang yang memiliki substrat berupa pecahan karang. misalnya di Florida. Pada salinitas ekstrim. R. pasir atau gambut).

kecuali pada beberapa estuari serta teluk yang dangkal dan tertutup. Panjang hamparan ini bergantung pada intrusi air laut yang sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pasang surut. MacNae (1968) menyebutkan bahwa kadar salinitas optimum untuk B. Irian Jaya (Erftemeijer. 46 . lebar zona mangrove jarang melebihi 4 kilometer. gymnorrhiza adalah 10 – 25 o/oo. panjang hamparan mangrove kadang-kadang mencapai puluhan kilometer seperti di Sungai Barito. sementara B. Pada daerah seperti ini lebar zona mangrove dapat mencapai 18 kilometer seperti di Sungai Sembilang. Untuk daerah di sepanjang sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut. Pada umumnya. Kalimantan Selatan. lebar zona mangrove jarang melebihi 50 meter. serta kecuramannya. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt. Beberapa penulis melaporkan adanya korelasi antara zonasi mangrove dengan tinggi rendahnya pasang surut dan frekuensi banjir (van Steenis. Areal yang digenangi oleh pasang sedang didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora.daerah dengan salinitas di bawah 25 o/oo. dkk. 1978a). Adapun pada daerah pantai yang tererosi dan curam. umumnya didominasi oleh jenisjenis Bruguiera dan Xylocarpus granatum. 1989). yang mana areal ini lebih ke daratan. Di Indonesia. Zona vegetasi mangrove nampaknya berkaitan erat dengan pasang surut. Adapun areal yang digenangi hanya pada saat pasang tinggi. 1990) atau bahkan lebih dari 30 kilometer seperti di Teluk Bintuni. sedangkan areal yang digenangi hanya pada saat pasang tertinggi (hanya beberapa hari dalam sebulan) umumnya didominasi oleh Bruguiera sexangula dan Lumnitzera littorea. parviflora adalah 20 o/oo. 1958 & Chapman. pemasukan dan pengeluaran material kedalam dan dari sungai. areal yang selalu digenangi walaupun pada saat pasang rendah umumnya didominasi oleh Avicennia alba atau Sonneratia alba.

Jawa Tengah (diadaptasi dari White. gymnorrhiza B. Aa Ac Bc Bg Bp Ct - Avicennia alba Aegiceras corniculatum Bruguiera cylindrica B. parviflora Ceriops tagal Dh Ra Rm Sb Xg - Derris heterophylla Rhizophora apiculata R.Gambar 2. Contoh zonasi mangrove di Cilacap. mucronata Sarcolobus banksii Xylocarpus granatum 73 . dkk. 1989).

Xylocarpus granatum dan X. Di Karang Agung. campuran komunitas Sonneratia . 48 . Stenochlaena palustris dan Xylocarpus granatum. Gluta renghas. alba cenderung untuk mendominasi daerah berpasir. serta daerah ke arah daratan yang memiliki air tawar. Sonneratia akan berasosiasi dengan Avicennia jika tanah lumpurnya kaya akan bahan organik (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Namun. Samingan (1980) menemukan bahwa di Karang Agung. 1991). di zona ini didominasi oleh S. daerah yang memiliki sungai berair payau sampai hampir tawar. Jenis-jenis penting lainnya yang ditemukan di Karang Agung adalah B. a) Mangrove terbuka Mangrove berada pada bagian yang berhadapan dengan laut. Komiyama.Nypa lebih sering ditemukan. mucronata. mangrove umumnya tumbuh dalam 4 zona. Meskipun demikian. b) Mangrove tengah Mangrove di zona ini terletak dibelakang mangrove zona terbuka. alba dan A. Di zona ini biasanya didominasi oleh komunitas Nypa atau Sonneratia. komunitas N. daerah tengah.fruticans yang bersambung dengan vegetasi yang terdiri dari Cerbera sp. 1958). fruticans terdapat pada jalur yang sempit di sepanjang sebagian besar sungai. seperti di Pulau Kaget dan Pulau Kembang di mulut Sungai Barito di Kalimantan Selatan atau di mulut Sungai Singkil di Aceh. gymnorrhiza. c) Mangrove payau Mangrove berada disepanjang sungai berair payau hingga hampir tawar. Excoecaria agallocha. moluccensis. Maluku. yaitu pada daerah terbuka. Komposisi floristik dari komunitas di zona terbuka sangat bergantung pada substratnya.2. di zona ini didominasi oleh Sonneratia alba yang tumbuh pada areal yang betul-betul dipengaruhi oleh air laut. S. eriopetala. R. Di zona ini biasanya didominasi oleh jenis Rhizophora. Sonneratia caseolaris lebih dominan terutama di bagian estuari yang berair hampir tawar (Giesen & van Balen. alba. Ke arah pantai. Di sebagian besar daerah lainnya. sementara Avicennia marina dan Rhizophora mucronata cenderung untuk mendominasi daerah yang lebih berlumpur (Van Steenis.2 Tipe vegetasi mangrove Struktur Secara sederhana. 1993). alba merupakan jenis-jenis ko-dominan pada areal pantai yang sangat tergenang ini. dkk (1988) menemukan bahwa di Halmahera. B. Samingan (1980) menemukan di Karang Agung didominasi oleh Bruguiera cylindrica. Sumatera Selatan. Di jalur-jalur tersebut sering sekali ditemukan tegakan N. Van Steenis (1958) melaporkan bahwa S.

Banyak formasi serta zona vegetasi yang tumpang tindih dan bercampur serta seringkali struktur dan korelasi yang nampak di suatu daerah tidak selalu dapat diaplikasikan di daerah yang lain. Dari 202 jenis mangrove yang telah diketahui. Meskipun daftar ini mungkin tidak terlalu komprehensif. Intsia bijuga. Lumnitzera racemosa. 1993). terdapat perbedaan dalam hal keragaman jenis mangrove antara satu pulau dengan pulau lainnya. dkk. namun kenyataan di lapangan tidaklah sesederhana itu. Tanaka dan Chihara (1988) dalam penelitiannya mengenai makroalga di Indonesia Timur menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat penyebaran makroalga di dunia yang berasosiasi dengan tumbuhan mangrove. fruticans. Zona ini memiliki kekayaan jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan zona lainnya. Pandanus sp.d) Mangrove daratan Mangrove berada di zona perairan payau atau hampir tawar di belakang jalur hijau mangrove yang sebenarnya. akan tetapi dapat memberikan gambaran urutan penyebaran jenis mangrove di pulau-pulau Indonesia. 157 jenis di Sumatera. Dari 50 jenis mangrove sejati yang ada. Di Indonesia sendiri. 150 jenis di Kalimantan. setidaknya tercatat 40 jenis berada di Indonesia. Poaceae). Saenger. Jenis-jenis yang umum ditemukan pada zona ini termasuk Ficus microcarpus (F. akan tetapi juga untuk taxa yang lainnya. 133 jenis di Maluku dan 120 jenis di Kepulauan Sunda Kecil. 135 jenis di Sulawesi. Sementara di kawasan Amerika Barat/Pasifik Timur. penelitian mangrove lebih intensif dilakukan di pulau ini dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Tabel 1 memberikan gambaran mengenai penyebaran seluruh jenis mangrove sejati di 6 negara di kawasan Samudera Hindia bagian utara/Pasifik barat laut. Pengecualian untuk Pulau Jawa. akan tetapi sebagian besar dari jenis-jenis yang tercatat berupa jenis-jenis gulma (seperti Chenopodiaceae. dkk (1983) mencatat dua kawasan tersebut mewakili masing-masing 44 dan 38 jenis dari 60 jenis mangrove sejati yang tercatat di dunia. 1983). retusa). Flora & keragamannya Kawasan Samudera India bagian utara dan Pasifik barat daya (memanjang dari Laut Merah sampai Jepang dan Indonesia) merupakan tempat keanekaragaman jenis mangrove tertinggi di dunia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman jenis mangrove yang paling tinggi di dunia. Kekayaan tersebut tidak hanya dalam hal kelompok tumbuhan Angiospermae. Amerika Timur/Karibea dan Afrika Barat hanya memiliki 7 jenis serta Afrika Timur 9 jenis (Saenger. 142 jenis di Irian Jaya. Selain itu. 166 jenis terdapat di Jawa. Meskipun kelihatannya terdapat zonasi dalam vegetasi mangrove. N. Satu hal yang harus 93 . Cyperaceae. dan Xylocarpus moluccensis (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. meskipun memiliki keragaman jenis yang paling tinggi.

N.G. lanata A. Hal ini berarti jenis-jenis yang tercatat dalam daftar diatas kemungkinan sebenarnya sudah tidak ditemukan di pulau tertentu. officinalis + A. marina + A.diperhatikan adalah bahwa pembangunan yang mengakibatkan kerusakan dan peralihan peruntukan lahan mangrove telah terjadi di mana-mana. sexangula Campnosperma philippinensis C. integra A. ilicifolius + A. Penyebaran jenis-jenis mangrove sejati di kawasan Indo-Australia (Saenger. rumphiana Bruguiera cylindrica + B. gymnorrhiza + B. litoralis + + + + + + + + + + + + + + + ?+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 410 . tagal + Cynometra ramiflora + Excoecaria agallocha + Heritiera fomes + H. eucalyptifolia A. Tabel 1. hainesii B. schultzii Ceriops decandra + C. Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Acanthus ebracteatus + A. 1983) Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P. exaristata B.. retundifolia + Aegiceras corniculatum + A. parviflora + B. dkk. floridum Avicennia alba + A. intermedia A. volubilis Aegilitis annulata A.

Wightman (1989) 113 . mucronata R. recemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phoenix paludosa Rhizophora apiculata R. granatum X. lamarckii R. ovata Xylocarpus australasicus X. stylosa Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S. griffithii S. apetala S. Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Kandelia candel Lumnitzera littorea L. moluccensis X.N. parvifolius J UM L A H Referensi: India Bangladesh Vietnam Indonesia Papua New Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 27 19 30 39 33 28 : Chaudhuri & Choudhury (1994) : Das & Siddiqi (1985) : Hong & Sen (1993) : Publikasi ini Guinea : Percival & Womersley (1975). Tomlinson & Womersley (1976) : Tomlinson & Womersley (1976). caseolaris S.G. mekongensis X.Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P.

Jumlah tersebut termasuk 33 jenis yang biasanya terdapat pada karang.Jenis tumbuhan langka dan endemik Untuk kepentingan konservasi serta pengelolaan sumberdaya alam. yaitu: Lima jenis umum setempat tetapi langka secara global.3 Fauna mangrove Mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa liar seperti primata. Rhododendron brookeanum (dari 2 sub-jenis. Budiman (1985) mencatat sebanyak 91 jenis moluska hanya dari satu tempat saja di Seram. Scyphiphora hydrophyllacea. A. Jenis-jenisnya adalah Ceriops decandra. sehingga berstatus rentan dan memerlukan perhatian khusus untuk pengelolaannya. masih terdapat 2 jenis endemik lainnya (mangrove ikutan). Jenis-jenis tersebut adalah Amyema anisomeres. Oberonia rhizophoreti. Jenis-jenis tersebut adalah Eleocharis parvula. reptilia dan burung. Selain sebagai tempat berlindung dan mencari makan. perairan mangrove merupakan tempat ideal sebagai daerah asuhan. Selain Amyema anisomeres (mangrove sejati). sehingga hanya diketahui tipe setempat saja. Dalam hal kelangkaan. jenis-jenis yang bersifat langka dan endemik haruslah diberi perhatian lebih. mangrove juga merupakan tempat berkembang biak bagi burung air. Beberapa dari 91 jenis kelompok moluska tersebut diketahui hidup di dalam tanah. Fimbristylis sieberiana. sehingga secara global tidak memerlukan pengelolaan khusus. Eleocharis spiralis dan Scirpus litoralis. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena buah mangrove mudah terbawa oleh gelombang dan tumbuh di tempat lain. hanya satu terkoleksi). sehingga memerlukan pengelolaan khusus untuk menjamin kelangsungan hidupnya. akan tetapi juga sering mengunjungi daerah mangrove. Quassia indica. Sonneratia ovata. sementara yang lainnya ada yang hidup di permukaan 412 . yaitu Ixora timorensis (Rubiaceae) yang merupakan jenis tumbuhan kecil yang diketahui berada di Pulau Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil. Sporobolus virginicus. di Indonesia terdapat 14 jenis mangrove yang langka. tempat mencari makan dan tempat pembesaran anak. Bagi berbagai jenis ikan dan udang. Kandelia candel dan Nephrolepis acutifolia. Moluska sangat banyak ditemukan pada areal mangrove di Indonesia. Maluku. 2. anisomeres dan N. Dua diantaranya. Lima jenis yang langka di Indonesia tetapi umum di tempat lainnya. Empat jenis sisanya berstatus langka secara global. Hanya sedikit jenis mangrove yang bersifat endemik di Indonesia. serta Rhododendron brookeanum (Ericaceae) yang merupakan epifit berkayu yang diketahui berada di Sumatera dan Kalimantan.acutifolia hanya terkoleksi satu kali.

Ilyoplax. 1989 & Sasekumar. Kepiting juga umum ditemukan di daerah mangrove. Burhanuddin (1993) mencatat sebanyak 62 jenis ikan hidup di daerah mangrove di Pulau Panaitan. Kepiting Mangrove Scylla serrata merupakan kepiting yang hidup di daerah mangrove yang bernilai ekonomi tinggi (Delsman. Sesarma dan Uca (Wada & Wowor. 1989). dkk (1992) mencatat sebanyak 9 jenis udang di sungai-sungai kecil di mangrove Selangor. dkk (1991) mencatat sebanyak 14 jenis udang termasuk Macrobrachium (8 jenis). 1984). 1993). 1984). mangrove juga merupakan tempat pembesaran anak-anak ikan. Taman Nasional Ujung Kulon. khususnya jenis-jenis penggali dari genus Cleistocoeloma. Malaysia. Malaysia. Metapeneus (2 jenis) dan Palaemonetes (2 jenis) pada mangrove di Sulawesi Selatan. Di Indonesia. Sebagai tempat pemijahan. Beberapa jenis ikan yang ditemukan di areal mangrove antara lain Tetraodon erythrotaenia. pengetahuan mengenai kepiting mangrove di Indonesia sangat sedikit sekali dipelajari. Dua jenis yang paling umum ditemukan adalah Thalassina anomala dan Uca dussumieri. Pilonobutis microns. Giesen. dan Ambasis buruensis (Erftemeijer. sedangkan 133 . Teluk Jakarta. dimana sebagian besar diantaranya masih berupa anakan. dkk (1992) mencatat sebanyak 119 jenis ikan hidup pada sungai-sungai kecil di daerah mangrove di Selangor. dkk. yang sebagian besar diantaranya merupakan anakan.dan ada pula yang hidup menempel pada tumbuh-tumbuhan. termasuk berbagai jenis udang-udangan yang memiliki nilai komersial penting. 1989). sebagai contoh Giesen. Sayangnya. dkk. tercatat lebih dari 60 % ikan yang tertangkap merupakan ikan muda (Wahyuni. termasuk 8 jenis udang pada habitat mangrove di Pulau Pari. Selain itu. Lebih dari 100 jenis kepiting mangrove diketahui hidup di Malaysia dan 76 jenis di Singapura. Butis butis. sehingga dapat dikatakan sebagian besar dari jenis-jenis moluska tersebut hidup di daerah mangrove. Liza subvirldis. Giesen. sementara Budiman (1988) menemukan 40 jenis di Halmahera. Mangrove juga merupakan habitat penting bagi berbagai jenis krustasea lainnya. Sasekumar. habitat permanen atau tempat berbiak (Aksornkoae. Dalam kaitannya dengan makanan. keragaman jenis moluska tidak sebanyak di Seram. Sebanyak 24 jenis dari 40 jenis yang ditemukan Budiman (1988) merupakan jenis-jenis yang hidup di daerah mangrove. Macrophthalmus. dkk (1991) mencatat sebanyak 28 jenis kepiting di mangrove Sulawesi Selatan didominasi oleh genus Sesarma dan Uca. dkk (1991) mencatat 74 jenis moluska pada mangrove di Sulawesi Selatan. Toro (dalam Manuputty. Metaplax. Ikan menjadikan areal mangrove sebagai tempat untuk pemijahan. khususnya ikan predator. hutan mangrove menyediakan makanan bagi ikan dalam bentuk material organik yang terbentuk dari jatuhan daun serta berbagai jenis hewan invertebrata. seperti kepiting dan serangga. areal mangrove berperan penting karena menyediakan tempat naungan serta mengurangi tekanan predator. Hal yang sama dapat dilihat di Segara Anakan. Dari setiap meter persegi dapat ditemukan 10 . 1984) mencatat sebanyak 28 jenis krustasea. Ikan yang dominan ditemukan adalah Mugil cephalus yang bersifat herbivora.70 ekor kepiting (Macintosh. Sasekumar. 1972). dkk. Di lokasi lain.

1991). Bagi jenis-jenis pemakan ikan. 1968) merupakan ikan yang sering sekali terlihat “berenang” pada genangan air berlumpur atau menempel pada akar mangrove. beberapa daerah lain di Kalimantan. serta Toxotes jaculator yang bersifat insektivora. Meskipun demikian. mangrove memainkan peranan yang sangat penting dalam migrasi mereka. Keng & Tat-Mong. dkk (1993) menemukan sebanyak 120 jenis burung (atau 414 . ular mangrove (Boiga dendrophila). Verheught. Giesen. seperti Kuntul (Egretta spp). 1989. purpureomaculatus (MacNae. 2 jenis amphibia telah diketahui dapat bertahan hidup pada lingkungan demikian. Balen (1988) mencatat sebanyak 167 jenis burung terestrial di hutan mangrove Pulau Jawa. Rusila 1991. Beberapa lokasi yang sangat penting bagi burung bermigrasi diantaranya adalah Pantai Timur Sumatera (Danielsen & Verheugt. Maluku bahwa sebagian besar serangga yang ditemukan berasal dari ordo Hymenoptera. merupakan 34 % dari seluruh jenis burung yang telah tercatat di Pulau Jawa (Andrew. Lutjanus fulviflamma dan Plotosus canius yang bersifat karnivora. 1968. Seluruh jenis reptilia tersebut dapat juga ditemukan pada lingkungan air tawar atau di daratan. Giesen. Mangrove tidak hanya sebagai tempat perhentian. akan tetapi masih diperlukan survey yang lebih mendalam untuk membuktikan hal tersebut. Bagi beberapa jenis burung air. MacNae. akan tetapi juga sebagai tempat perlindungan dan mencari makan. Untuk kelompok Arthropoda terbang yang hidup di mangrove. Scartelaos spp.). Bangau (Ciconiidae) atau Pecuk (Phalacrocoracidae). Mereka menggunakan mangrove sebagai habitat untuk mencari makan..jenis-jenis lain yang juga umum ditemukan adalah Caranx kalla. 1993). 1989. Jenis-jenis burung yang hidup di daerah mangrove tampaknya tidak terlalu berbeda dengan jenis-jenis yang hidup di daerah hutan sekitarnya. 1992). berbiak atau sekedar beristirahat. Holocentrum rubrum. dijelaskan oleh Abe (1988) dalam penelitiannya di Halmahera. 1968). 1991. Pantai Utara Jawa (Erftemeijer & Djuharsa. Trimeresurus wagler dan T. mangrove menyediakan tenggeran serta sumber makanan yang berlimpah. Bagi berbagai jenis burung air migran (khususnya Charadriidae dan Scolopacidae).. Ikan gelodok (Periopthalmus spp. Sementara itu. yaitu Rana cancrivora and R. biawak (Varanus salvator). Diptera and Psocoptera. 1990 dan Giesen. terutama karena minimnya gangguan yang ditimbulkan oleh predator. seperti kelompok burung Raja Udang (Alcedinidae). Sangat sedikit sekali Amphibia dapat ditemukan bertahan hidup pada lingkungan yang berair asin seperti lingkungan mangrove. limnocharis (MacNae. daerah mangrove menyediakan ruang yang memadai untuk membuat sarang. ular air (Enhydris enhydris). Jenis-jenis Reptilia yang umum ditemukan di daerah mangrove di Indonesia diantaranya adalah buaya muara (Crocodylus porosus). 1988 dan Rusila 1987) dan Pantai Barat Sulawesi Selatan (Baltzer. dkk. Sulawesi dan Irian kemungkinan juga merupakan lokasi-lokasi yang penting. Ular tambak (Cerberus rhynchops). termasuk serangga.

dkk. 1994). Disamping itu. Di Jawa jenis ini hanya diketahui berbiak di hutan bakau Pulau Rambut (Allport & Wilson. 1994).Milky Stork . terutama di Sumatera dan Jawa. 1989). Pada saat ini. Mereka hanya diketahui berbiak di hutan mangrove di Hutan Bakau Pantai Timur (Danielsen dan Skov.150 jenis jika termasuk daerah lumpur disekitar hutan mangrove) di daerah limpasan banjir dan pasang surut di Sumatera Selatan (56% dari total burung yang ditemukan di daerah tersebut atau 25% dari seluruh jenis burung di Sumatera).Ciconiidae). pantai utara Jawa (Erftmeijer & Djuharsa.Lesser Adjutant . 1987). 1986 dan Rusila. Jumlah ini mewakili 13% dari seluruh jenis burung yang ada di Indonesia (Andrew. 1987 dan Rose & Scott. Merupakan jenis endemik Pulau Jawa. Jenis ini telah tercantum dalam Red Data Book dalam kategori Vulnerable.Cuculidae). dari 17% total jumlah burung yang tercatat di Pulau Sumba. 1990).6000 ekor saja (Verheught.Sunda Coucal . 1987). Bubut hitam (Centropus nigrorufus .Ciconiidae). 1990). jenis ini diperkirakan hanya bertahan hidup di kawasan hutan mangrove dan rawa sekitar Tanjung Karawang. Jambi dan Riau) dan beberapa kawasan hutan bakau di Delta Sungai Brantas dan Bengawan Solo. hutan mangrove merupakan habitat penting untuk bersarang atau mencari makan (Silvius & Verheught. 27 jenis ditemukan di daerah Mangrove Pulau Sumba (Zieren. dkk. 1991). dimana lebih dari 90% diantaranya ditemukan di daerah hutan bakau di Indonesia. Populasi mereka sebagian besar terdapat di pantai timur Sumatera (Sumatera Selatan. dkk (1991) menemukan 64 jenis burung hidup di hutan mangrove diantara 90 jenis yang ditemukan di teluk Bintuni (71% atau 10% dari seluruh burung di Irian Jaya). 153 . Sementara itu. Indramayu dan Segara Anakan (Andrew. Mangrove juga merupakan habitat yang baik bagi beberapa jenis burung yang telah langka atau terancam kepunahan. seluruhnya di Sumatera Selatan (Danielsen. di Irian Jaya. hutan bakau Tanjung Selokan dan hutan bakau Semenanjung Banyuasin. Di Sulawesi Selatan. Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus . Tanjung Koyan. Bagi jenis yang tergolong vulnerable ini. seperti: Wilwo (Mycteria cinerea . dkk. Pangkalan Data Lahan Basah (Wetland Data Base) mencatat setidaknya 200 jenis burung hidup bergantung pada habitat mangrove. Baltzer (1990) melaporkan dari 141 jenis burung yang ditemukan di lahan basah propinsi tersebut. 1988) serta hutan mangrove di Segara Anakan yang merupakan hutan mangrove terbesar yang saat ini tersisa di Pulau Jawa (Erftmeijer. 1988). Erftmeijer. 1992). Populasinya diperkirakan hanya tinggal berjumlah 5000 . dkk. Jenis ini telah dianggap sebagai salah satu jenis bangau yang paling terancam di seluruh dunia (Verheught. sebanyak 81 jenis ditemukan di hutan mangrove (58 % atau 21 % dari seluruh burung di Sulawesi).

1992). 1993). Lutra sumatrana dan Lutra perspicillata yang diketahui hidup di Indonesia juga ditemukan di hutan mangrove. dimana jika areal ini digabungkan dengan areal Taman Nasional Berbak di Jambi.). endemik Kalimantan) dan kucing bakau (Felis viverrina) (MacNae. Tidak satupun dari mamalia diatas hidup secara eksklusif di mangrove. Bekantan tadinya dianggap hanya hidup pada habitat mangrove. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) umum ditemukan di daerah mangrove dan sering terlihat mencari makan pada hamparan lumpur di sekitar mangrove. Sulawesi Selatan (Giesen. 1985). Bekantan (Nasalis larvatus. 1989). dkk. 1991).Mamalia yang umum ditemukan pada habitat mangrove diantaranya adalah babi liar (Sus scrofa). kancil (Tragulus spp. dua jenis lumba-lumba yaitu Orcella brevirostris dan Sousa chinensis juga ditemukan di daerah muara sekitar hutan bakau. kelelawar (Pteropus spp. Macaca ochreata ochreata (endemik Sulawesi) pada masa lalu umum terlihat di daerah mangrove dekat Malili. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt. Melisch. dkk. kemudian diketahui bahwa mereka juga menggunakan hutan rawa gambut (Payne. 1985. Dari empat jenis berangberang yaitu Aonyx cinerea. lutung (Trachypithecus aurata). dkk.) berang-berang (Lutra perspicillata dan Amblyonyx cinerea). dapat dianggap sebagai tempat hidup harimau Sumatera yang terbaik (Frazier. 1968. Payne. Dari kelompok mamalia air. 416 . Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatranus) masih ditemukan di wilayah Sungai Sembilang. sedangkan mamalia udara yang sering ditemukan adalah Pteropus vampirus. Francis & Phillipps. Lutra lutra. Teluk Bone.

Melihat beragamnya manfaat mangrove. Contohnya. 1929. Pembuatan arang mangrove telah berlangsung sejak abad yang lalu di Riau dan masih berlangsung hingga kini. Kakap (Lates calcacifer).1 Pemanfaatan mangrove Mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif. sejumlah 14 perusahaan telah diberikan ijin pengusahaan hutan yang mencakup sejumlah 877. 1991) beberapa jenis udang penaeid di Indonesia sangat tergantung pada ekosistem mangrove. 173 . meskipun eksplotasi sesungguhnya dengan menggunakan mesin-mesin berat nampaknya baru dimulai pada tahun 1972 (Dephut & FAO. 1985).III. Bahkan pemanfaatan mangrove untuk tujuan komersial seperti ekspor kayu. kepiting mangrove (Scylla serrata) serta ikan salmon (Polynemus sheridani) merupakan jenis ikan yang secara langsung bergantung kepada habitat mangrove (Griffin. Akhir-akhir ini. bahan bangunan.200 hektar areal mangrove. Pada tahun 1985. merupakan produk yang secara tidak langsung mempengaruhi taraf hidup dan perekonomian desa-desa nelayan. kulit. 1992 dan Burhanuddin. 1936). Eksplotasi mangrove dalam skala besar di Indonesia nampaknya dimulai awal abad ini. diantaranya: kayu bakar. peranan mangrove bagi lingkungan sekitarnya dirasakan sangat besar setelah berbagai dampak merugikan dirasakan diberbagai tempat akibat hilangnya mangrove. terutama di Jawa dan Sumatera (van Bodegom. MANFAAT MANGROVE Mangrove memiliki berbagai macam manfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya. Sejarah pemanfaatan mangrove secara tradisional oleh masyarakat untuk kayu bakar dan bangunan telah berlangsung sejak lama. 1990). atau sekitar 35% dari areal mangrove yang tersisa (Dephut & FAO. kertas. Nampaknya produk yang paling memiliki nilai ekonomis tinggi dari ekosistem mangrove adalah perikanan pesisir. maka tingkat dan laju perekonomian pedesaan yang berada di kawasan pesisir seringkali sangat bergantung pada habitat mangrove yang ada di sekitarnya. keperluan rumah tangga. 1990). 3. 1991) mengemukakan adanya hubungan linier positif antara luas hutan mangrove dengan produksi udang. Martosubroto & Naamin (dalam Djamali. pemanfaatan mangrove untuk berbagai tujuan telah dilakukan sejak lama. Boon. 1993). dkk. Banyak jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi menghabiskan sebagian siklus hidupnya pada habitat mangrove (Sasekumar. kulit (untuk tanin) dan arang juga memiliki sejarah yang panjang. Bagi masyarakat pesisir. dimana makin luas hutan mangrove makin tinggi produksi udangnya dan sebaliknya. Menurut Unar (dalam Djamali. Hal ini didukung oleh berbagai penelitian di negara-negara lain (Tabel 3). obat-obatan dan perikanan (Tabel 2). perikanan pantai yang sangat dipengaruhi oleh keberadaan mangrove. Berbagai produk dari mangrove dapat dihasilkan baik secara langsung maupun tidak langsung.

250 keluarga (BPS.konstruksi berat (jembatan) . 1984).Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. kayu tiang . Eleocharis dulcis Scolopia macrophylla terutama Rhizophoraceae Cycas rumphii Kategori Bahan bakar: 418 .kayu bakar .arang kayu . Rhizophora spp. PRODUK VEGETASI Tipe pemanfaatan . Livistona saribus. pipa .kayu. Pada tahun 1998 total produksi perikanan laut Indonesia adalah sekitar 3. 1998).6 juta ton yang melibatkan tidak kurang dari 478.papan .pagar.lantai .pembuatan perahu . Bruguiera spp.alkohol Bahan bangunan: .bantalan rel KA .lem Contoh jenis yang dimanfaatkan sebagian besar jenis pohon sebagian besar jenis pohon Nypa fruticans Bruguiera. Sebaliknya. Ceriops spp. Bruguiera.alas dok . 1984). Rhizophora. Acrostichum speciosum Cyperus malaccensis. Di Indonesia hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial seperti di perairan sebelah timur Sumatera.atap . Produk yang dihasilkan mangrove A. salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Kasry. Tabel 2. Rhizophora spp. Rhizophora. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh komunitas nelayan setempat dengan pola yang tradisional atau oleh nelayan modern yang datang dari kota pelabuhan besar. menurunnya produksi perikanan di Bagansiapiapi.pertambangan . Rhizophora spp. Oncosperma tigillaria Nypa fruticans.tiang bangunan .alas lantai . Sebagian besar kegiatan penangkapan ikan di Indonesia berlangsung di dekat pantai. pantai selatan dan timur Kalimantan. Lumnitzera Lumnitzera spp. pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya yang kesemuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan (Soewito. Bruguiera. dimana sebelum perang dunia II merupakan penghasil ikan utama di Indonesia bahkan sebagai salah satu penghasil ikan utama di dunia.

lem . Lumnitzera spp.tanaman hias . Dolichandrone spathacea.peralatan . granatum Typha angustifolia Cyperus malaccensis.mebel .berbagai jenis kertas Keperluan rumah tangga .berbagai jenis kertas . Scirpus grossus Dolichandrone spathacea (topeng). Scaevola taccada. Camptostemon schultzii banyak jenis tumbuhan berkayu X. Crinum asiaticum Tristellateia australasiae Horsfieldia irya Drymoglossum piloselloides. Peltophorum pterocarpum terutama Rhizophora. X.penahan perahu Ceriops spp.keranjang .racun ikan .parfum . Excoecaria indica (bijinya) Cerbera manghas (insektisida) Cryptocoryne ciliata. Eleocharis dulcis Paspalum vaginatum.jangkar .anti nyamuk .racun .pupuk Produk kertas: .minyak rambut . indica. rayon) .Perikanan: .hiasan .kancing 193 .perekat jala . kulit . H. Colocasia esculenta Avicennia marina. Camptostemon schultzii Avicennia marina.isi bantal .pembuatan kain Pertanian: . Osbornia octodonta terutama Rhizophoraceae E. alba Derris trifoliata. Cerbera floribunda Rhizophoraceae Stenochlaena palustris. Rhizophora apiculata Atuna racemosa. Nypa fruticans Cycas rumphii Xylocarpus mekongensis Phymatodes scolopendria Dolichandrone spathacea.pelampung .fiber sintetis (mis.mainan . Quassia indica Nypa fruticans Tekstil.tali .pengawetan kulit . tiliaceus Pemphis acidula.pewarna kain . Drynaria rigidula Osbornia octodonta. granatum.obat-obatan .tiang pancing .lilin . S.

76 (6) 0.pengganti tembakau Nypa fruticans Nypa fruticans biji Terminalia catappa Rhizophora stylosa Bruguiera cylindrica.daging manis (dari propagula) . 1984 Boesch & Turner.42 Koefisien Sumber 0.8 0 – 50 1 – 1. dkk (1983) serta tambahan informasi dari Knox and Miyabara (1984) dan Fong (1984). 1985 Jothy. Tabel 3.madu dan lilin .kerang .mammalia . 1984 Pauly & Ingles. buah atau daun) . Scylla serrata kerang-kerangan Apis dorsata terutama burung air terutama Sus scrofa Varanus salvator. Crocodylus porosus Rana spp.alkohol .2 – 15 0 – 25 10 – 1.minuman fermentasi .000 1 .ikan . Kategori Lain-lain: Diadaptasi dari Saenger.burung .lainnya Contoh jenis yang dimanfaatkan Lates calcarifer.2 – 5 Luas Mangrove Korelasi (n) 0. buah Inocarpus fagifer epidermis daun Nypa Loxogramma involuta B..000 0. gymnorrhiza daun Stenochlaena palustris. Chanos chanos Penaeus spp. Hubungan antara luas hutan mangrove dengan jumlah tangkapan udang (per tahun) (dalam Nirarita.sayuran (dari propagula. minuman dan obat : .kertas rokok . Avicennia.minyak goreng . 1986 420 .Krustasea .1 – 0.74 (7) 0.62 (6) Staples et al.gula . PRODUK HEWANI Tipe pemanfaatan . B.975 (15) 0.reptilia .Makanan. 1993) Lokasi (ton) Australia Malaysia Teluk Meksiko Filipina Hasil Tangkapan (ha) 0.

pada pulau yang hilang mangrovenya. 1974). Kedua. 1994). pulau tersebut mudah disapu ombak dan arus musiman (Chambers. peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan pulau tersebut. 1980). Berbagai penelitian (van Steenis.000 hektar areal pantai dengan vegetasi mangrove (Maltby. Sinjai. 1977) kemudian menyebutkan bahwa proses pengikatan dan penstabilan tersebut ternyata hanya terjadi pada pantai yang telah berkembang.000 penduduk yang tinggal di pesisir dihantam badai. mangrove berperan penting dalam siklus hidup berbagai jenis ikan. dimana jika terdapat mangrove otomatis akan terdapat tanah timbul (Steup. udang dan moluska (Davies & Claridge. dkk. 1958 dan Chapman. 1993). Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove mempunyai peranan yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah dikolonisasinya. Di Indonesia. Sedangkan beberapa dusun yang berbatasan dengan kedua dusun ini yang tidak mempunyai mangrove yang cukup tebal mengalami kerusakan yang cukup parah. 1993 dan Othman. Di Bangladesh. Peranan mangrove dalam menunjang kegiatan perikanan pantai dapat disarikan dalam dua hal. 1987). 1986). pemerintah Bangladesh kemudian melakukan penanaman seluas 25. Mangrove juga terbukti memainkan peran penting dalam melindungi pesisir dari gempuran badai. Sebaliknya. sehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yang hidup pada perairan sekitarnya (Mann. Pada awalnya. Mengetahui manfaat mangrove dalam menahan gempuran badai. Sulawesi Selatan yang memiliki barisan mangrove yang tebal di pantai terlindung dari gelombang pasang (Tsunami) di pulau Flores pada akhir tahun 1993. karena lingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk kedalam rantai makanan. proses pengikatan sedimen oleh mangrove dianggap sebagai suatu proses yang aktif. sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge. Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. bangunan dan pertanian dari angin kencang atau intrusi air laut. Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum.3. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur. 1941). pada bulan Juni 1985 sebanyak 40. produksi serasah mangrove berkisar antara 7 – 8 ton/ha/ tahun (Nontji. mangrove merupakan pemasok bahan organik. pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus. terutama dari ombak dan arus laut. Dusun Tongke-tongke dan Pangasa. Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman. 1982).2 Fungsi Mangrove Mangrove memiliki peranan penting dalam melindungi pantai dari gelombang. Pertama. angin dan badai. 213 .

422 Gambar 3. Jaring-jaring makanan dan pemanfaatan mangrove di Indonesia (diadaptasi dari AWB-Indonesia. 1992) .

Hal ini kembali disebabkan kurang tersedianya data serta peta yang memadai.38 -2.49 -4.1 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Saat ini di seluruh dunia terjadi peningkatan hilangnya sumberdaya mangrove yang disebabkan adanya pemanfaatan yang tidak berkelanjutan serta pengalihan peruntukan (Aksornkoae. Giesen (1993) mencoba menghitung luas areal asal mangrove berdasarkan seri RePPProT (1985-1989) dari peta Status Hutan. Meskipun mangrove tidak terlalu sulit untuk dikenali dari foto penginderaan jarak jauh dan dipetakan. terdapat jumlah luasan mangrove yang lain yaitu 4.25 juta hektar. Untuk menghitung luas asal mangrove yang telah mengalami perubahan digunakan ektrapolasi dari data yang tersedia pada peta. diketahui bahwa luas asal mangrove Indonesia seluas 4. termasuk bakau. STATUS MANGROVE INDONESIA 4. 1993). Bina Program INT AG. 233 . 1997) dan 3. Bina Program Dephut bersama FAO/UNDP. Dengan menggunakan metoda seperti diatas. lihat Kint. jika sistem lahan khas habitat mangrove (KAJAPAH. maka areal tersebut dianggap dulunya adalah hutan mangrove. Namun.54 juta hektar yang berasal dari ISME (Spalding. Dari tiga kategori yang dibuat oleh RePPProT. Departemen Kehutanan (1997) menyebutkan luas yang diambil dari berbagai sumber berkisar antara 2.94 juta hektar. adanya perbedaan metoda yang digunakan dalam menduga luasan mangrove. yaitu hutan bakau (Hv). 1934).13 juta hektar. 1982). Tata Guna Lahan dan Sistem Lahan (skala 1 : 250. sangat sedikit sekali dilakukannya penghitungan areal mangrove berdasarkan kondisi yang sebenarnya di alam. Ketiga.000) yang diproduksi oleh Departemen Transmigrasi. mulai dari 1. perkiraan luas untuk Irian jaya yang merupakan komponen luasan terbesar sangat berbeda antara satu penulis dengan penulis lainnya. 1987) di peta ternyata ditemukan secara faktual berada di luar atau berdekatan dengan kawasan mangrove yang ada saat ini. dkk. nipah dan nibung (Hx) disatukan menjadi “habitat mangrove”. kenyataannya memperoleh data yang memadai mengenai luas mangrove pada masa yang lalu dan saat ini tidak terlalu mudah (di Indonesia data dimulai sejak 1930-an. 1996). RePPProT.53 juta hekar yang berasal dari Proyek Inventarisasi Hutan Nasional (Dit.IV. Perbedaan perkiraan luas tersebut setidaknya dipengaruhi oleh tiga halo. 1980 dan Dit. Kedua. kemudian luas total mangrove untuk masingmasing propinsi dihitung. sehingga data yang sebenarnya telah kadaluwarsa diacu berulangulang (misalnya: Burbridge & Koesoebiono. Data perkiraan luas areal mangrove di Indonesia sangat beragam sehingga sulit untuk mengetahui secara pasti seberapa besar penurunan luas areal mangrove tersebut. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. hutan primer yang dieksploitasi kayunya (Ht) dan hutan pasang surut yang tidak dibedakan. Pertama.

namun belum dilakukan analisa laju perubahan luas mangrove. Kalimantan Timur.1991). Kalimantan Selatan. Sumatera Selatan dan Lampung dihitung berdasarkan data yang diperoleh selama kegiatan pengkajian lapangan yang dilaksanakan oleh AWB/PHPA pada tahun 1990 -1992. maka hal tersebut berarti bahwa pada akhir tahun 1980. yang berarti jumlah areal mangrove yang hilang semakin bertambah. Riau. dkk (1991) melaporkan meskipun 34. Dengan melihat kondisi lapangan saat ini. Dari luasan areal mangrove yang tersisa tersebut.Selanjutnya dihitung luas areal mangrove yang tersisa berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi. Sulawesi Utara. antara hampir 10% di Papua hingga hampir 100% di Jawa Timur. Giesen. Seperti yang telah disebutkan. Penghitungan tersebut didasarkan pada citra satelit SPOT dah SLAR. Jambi. Gambaran lebih rinci mengenai data asal dan sisa mangrove dapat dilihat di Tabel 4. Luas areal mangrove yang ada di Propinsi Sumatera Utara. telah tersedia data yang diambil dari Peta Penutupan Lahan yang dibuat oleh BAPLAN – DEPHUT dengan menggunakan Citra Satelit untuk Tahun 2002 – 2003. Meskipun data tersebut telah disajikan dalam edisi cetak-ulang ini. Data untuk 10 Propinsi lainnya diambil dari RePPProT (1985-1989). termasuk dinamika data untuk Propinsi yang telah mengalami pemekaran. Berdasarkan penghitungan diatas. Untuk Propinsi Aceh dan Bengkulu. saat itu telah berusia 3 7 tahun serta areal yang dipetakan dan dianggap sebagai mangrove hanya sebagian yang tercakup oleh tipe ini. data yang digunakan untuk penghitungan hingga tahun 1990 tersebut. luas areal mangrove yang peruntukannya telah dialihkan menjadi tambak dihitung dari luas total areal mangrove yang terdapat pada peta RePPProT. Dari penghitungan diketahui luas mangrove yang tersisa pada tahun 1990 hanya sekitar 2. Data luas mangrove di Jawa Tengan diadopsi dari White. Indonesia telah kehilangan sekitar 40% areal mangrovenya. Sumatera Barat.49 juta hektar (19871990) dapat diterima. sementara data untuk Sulawesi Selatan diambil dari hasil penelitian Giesen. tetapi sebagian dari areal tersebut sebenarnya merupakan areal hutan mangrove yang telah mengalami gangguan dan dalam proses untuk dijadikan tambak. kemungkinan luasan mangrove tersebut sudah berkurang. dkk (1989). 58% diantaranya terdapat di Papua. Sebagai contoh.-an. dan hanya 11% tersisa di Jawa. Pada saat cetak-ulang ini dibuat. Untuk Propinsi Kalimantan Barat. Sulawesi Tengah. Mereka memperkirakan jumlah areal hutan mangrove yang belum terganggu di Sulawesi Selatan hanya sekitar 23.000 hektar. 424 . Sulawesi Tenggara dan Maluku digunakan data yang berasal dari Ditjen Perikanan (. Sejalan dengan hal tersebut.49 juta hektar (60%). dkk (1991). Hal yang perlu dicatat dari uraian diatas adalah mungkin luas areal mangrove yang dihitung merupakan jumlah yang optimistis. laju hilangnya mangrove hingga tahun 1990 juga sangat beragam.000 hektar hutan mangrove masih terdapat di Sulawesi Selatan. jika perkiraan luas areal mangrove yang tersisa di Indonesia sekitar 2.

700 0 (4) 1.000 8.107 861 6.000 109.000 19.500 29.000 4.000 4.000 0 (4) 0 17.405 6.000 195.000 19.HTM.000 0 3 2.000 56.300 48.000 43.000 84.000 11. Data Mangrove diambil dari kategori “Hutan Mangrove Primer” dan “Hutan Mangrove Sekunder”.000 0 (4) 20.000 44.330 0 (4) 30.000 64.000 27.850 221.000 3.950 3.440 8.000 27.970 98.000 91.996 550 32 0 1.800 0 29.326.000 128.780 775.000 0 470.050 13.088 65 0 (4) 95 268.913 626 4.000 0 25.608 0 (4) 13.826 0 192 40 325 0 (4) 94 2.500 (3) 18.000 15.622.000 20.500 1.000 1.000 115.500 0 (4) 2.000 38.000 3.500 Tambak Ditjen BAPLAN Perikanan 2005 (data (1991) 2002/3) (1) 39.235.000 213.577 7.840 38.476 1.500 0 (4) 1.000 50.000 1.683 73.497 47. Data Tambak diambil dari kategori “Tambak” Berdasarkan klasifikasi sistem lahan RePPProT (1985 – 89).000 367.833 0 (4) 66.500 57.000 95.000 3.000 4. (1987) 55.000 2.000 58.000 Silvius dkk.765.000 2.000 16.098.939 50.000 5.430 0 (4) 520 49.000 208. Luas mangrove per Propinsi di Indonesia (ha) Mangrove Propinsi Bina Program (1982) 54.000 Jumlah Areal Asal (2) 60.500 354.000 259.900 800 0 10.250 http://www.000 13.000 0 276.000 5.000 26.000 99.640 37.000 0 (5) 3.000 500 500 0 21.640 70.678 1.000 137.000 750.000 110.450 363.3 0 (4) 110.500 0 (4) 46.000 680.990 3.003 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Jawa Barat & DKI Banten Jawa Tengah & DIY Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Selatan Maluku Maluku Utara Papua T o t a l Keterangan: (1) 102.000 12.000 1.000 0 (4) 2.340 4.000 5.335 60.500 60.030 148.000 89.943.000 34.000 (5) 1.163.000 17.000 10.000 (5) 42.000 53.000 0 13.500 66.000 66. dan luas areal untuk masing-masing sistem lahan per propinsi berdasarkan Giesen. sebelum pemekaran Data setelah pemekaran Propinsi (2) (3) (4) (5) 253 .dephut.251.000 46.000 25.000 4.750 1.700 6.000 9.Tabel 4.000 3.000 28.000 65.000 (5) 15.000 10.000 3.382.000 (5) 63.000 0 34. Van Bodegom (1929) melaporkan bahwa seluruh areal mangrove di Riau telah dipetakan dan diukur secara planimetris seluas 182. kecuali Sulawesi selatan.500 0 (4) 1.650 266.017 hektar pada tahun 1929 Masih merupakan bagian dari Propinsi lain.740 120.000 100.000 0 2.830 40.000 128.go.000 (5) 0 (4) 0 750.780 194.200 0 (4) 18.700 INTAG (1993) BAPLAN 2005 (data 2002/3) (1) 18.636 590 0 (4) 73.500.000 60.710 0 (4) 1.000 197.000 90.000 235.000 9.id/INFORMASI/INTAG/Peta%20Tematik/PL&Veg/VEG_2003. Baltzer dan Baruadi (1991).150 0 (4) 104.000 0 (4) 55.

426 Gambar 4. Perbandingan luas mangrove asal dan yang tersisa di Indonesia (1986-1990) .

200 hektar areal mangrove berada dalam konsesi pengusahaan hutan untuk diambil kayunya (Dep. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para pembuka lahan. 1986). Kehutanan & FAG. 1991). yang berarti lebih dari 18 kg. lebih dari 75 tahun yang lalu. pestisida per hektar per bulan (asumsi seluruhnya digunakan di Sulawesi Selatan). Sejarah pembangunan tambak diawali di Jawa dan Sulawesi selatan. Meskipun demikian. Sumatera Utara dan Lampung (Giesen. Pada tahun 1982. dkk. seperti pengasaman tanah (Hassan & Ti. kecuali di Segara Anakan dan Teluk Pangong (dekat selat Bali).559 ton pestisida digunakan untuk tambak selama tahun 1990 (BPS. Dalam banyak kasus. kemudian berkembang ke Aceh. 1985). 1991).4. bahkan untuk tambak tradisional. Dampak yang ditimbulkan oleh pestisida terhadap lingkungan dijelaskan oleh Primarvera (1991) dan Baird (1994). 1991).000 hektar (Ditjen Perikanan. Statistik perikanan untuk Sulawesi Selatan menunjukkan sekitar 16. Kegiatan pembangunan utama yang memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal mangrove di Indonesia adalah pengambilan kayu untuk keperluan komersial serta peralihan peruntukan untuk tambak dan areal pertanian (khususnya padi dan kelapa). Jauh sebelumnya. 390. 2005). Sementara itu. yang kemudian meningkat menjadi 750. luas areal tambak yang terpantau sekitar 269.700 hektar (Bailey. ini tidak termasuk tambak-tambak yang telah ditinggalkan dan tidak diusahakan lagi yang di beberapa lokasi cukup luas. Pada tahun 1990. 2005). kemudian bertambah menjadi 269.000 hektar tersebut sama dengan 23 % dari luas asal areal mangrove pada tahun yang sama. misalnya.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. 1997) dan menjadi 750. data tahun 1985 menunjukkan seluas 877. Di SM Karang Gading Langkat Timur Laut. 1991 a. Berarti terjadi penambahan areal tambak lebih dari 350% dalam kurun waktu 20 tahun. pestisida dan antibiotika juga kerap kali digunakan.500 hektar tambak yang tidak diusahakan dan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum (Giesen & Sukotjo. terdapat sekitar 2.b. 1988).000 hektar pada tahun 1990 (Ditjen Peri kanan. Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah. Perlu dicatat. 1991) serta berkurangnya anakan untuk keperluan perkembangan ikan (Wardoyo & Rasyid. Areal tambak yang tercatat pada tahun 2002/03 seluas hampir 750.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. perkiraan luas tambak di Indonesia seluas 193. Meindersma (1923) melaporkan sangat sulit untuk menemukan mangrove yang alami dan tidak terganggu di Pulau Jawa.2 Penyebab penurunan luas mangrove Pembangunan di areal mangrove Konversi dan hilangnya mangrove tampaknya bukan merupakan sesuatu yang baru terjadi pada dekade terakhir ini saja. tidak bercampurnya tanah (Giesen. 1990).c). 1990). kehadiran tambak tidak selalu 273 .182 ha pada tahun 1997 (Ditjen Perikanan.

berarti hilangnya mangrove. Hal ini dapat dilihat pada pola tambak yang masih menyisakan pohon mangrove, yang dipraktekkan di beberapa tempat di Jawa. Pada pola ini, mangrove ditanam di bagian tengah tambak. Sistem ini sangat baik untuk diterapkan karena selain melindungi dan mempertahankan mangrove, juga dapat dimanfaatkan oleh burung air. Kegiatan pengambilan kayu sering terlihat di Riau, Kalimantan dan Papua. Luas areal konsesi pengusahaan hutan meningkat dari 455.000 hektar pada tahun 1978 (Burbridge & Koesoebiomo, 1980) menjadi 877.200 hektar pada tahun 1985 (Oepartemen Kehutanan dan FAO, 1990), atau sekitar 35% dari luas areal mangrove yang tersisa pada awal tahun 1990-an (data Giesen, 1993). Sayangnya, dampak yang ditimbulkan oleh pengambilan kayu terhadap hilangnya luasan areal mangrove sangat sulit untuk dirinci. Pada beberapa kasus, dampak lain dari pengambilan kayu mangrove adalah penurunan kualitas tegakannya. Nurkin (1979) menjelaskan bagaimana areal mangrove yang telah ditebangi di Sulawesi Selatan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum, selanjutnya menghambat terjadinya regenerasi tumbuhan mangrove. Di daerah lain, mangrove ternyata juga dapat tumbuh sendiri setelah tumbuhannya ditebang, misalnya di Riau Tenggara (Giesen, 1991 b), serta di areal mangrove di Sei Kecil, Kalimantan Barat (Abdulhadi & Suhardjono, 1994). Meskipun dalam beberapa kasus mangrove dapat tumbuh kembali, akan tetapi tidak berarti bahwa tumbuhan yang baru tersebut akan selalu sarna dengan jenis seberumnya, bahkan seringkali justru jenis tumbuhan yang kurang diminati yang kemudian menjadi dominan, seperti Xylocarpus granatum di Pulau Bakung, Riau (Giesen, 1991 b), Excoecaria agallocha dan Bruguiera parviflora di Karang Gading Langkat Timur Laut, Sumatera Utara (Giesen & Sukotjo, 1991). Penduduk juga memberikan sumbangan terhadap penurunan luas manrove di Indonesia. Seperti diketahui, penduduk setempat telah memanfaatkan mangrove dalam kurun waktu yang lama, namun diyakini bahwa kegiatan mereka tidak sampai menimbulkan kerusakan yang berarti pada ekosistem ini. Akan tetapi, hal tersebut telah berubah dalam dekade terakhir ini seiring dengan adanya pertambahan populasi penduduk, baik karena pertambahan alami maupun perpindahan dari luar. Kegiatan masyarakat yang menyebabkan hilangnya mangrove ini terutama adalah pemanfaatan areal mangrove untuk pembangunan tambak. Fiselier, dkk (1990) bahkan menyatakan: “Reklamasi untuk keperluan budidaya perikanan dan pertanian tampaknya saat ini dianggap sebagai suatu kegiatan pembangunan utama yang berlangsung di areal mangrove. Kegiatan reklamasi tersebut sebenarnya berbiaya tinggi dan acapkali tidak berkelanjutan, serta sering menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap lingkungan. Keuntungan yang dihasilkan sebagian besar diraup oleh mereka yang datang dari luar, dan hanya sebagian kecil saja yang dinikmati oleh penduduk setempat, berupa hasil penangkapan ikan dan pengumpulan hasil hutan yang dilaksanakan secara tradisional”. Pernyataan ini didukung oleh Ong (1982) yang membahas mengenai konversi mangrove di Malaysia dan menyimpulkan bahwa pembangunan budidaya perikanan berkaitan, baik secara ekonomis maupun secara ekologis.

428

Telah disebutkan didepan bahwa pembangunan tambak memberikan sumbangan terhadap hilangnya mangrove. Selain itu, data juga menunjukan bahwa mangrove yang tersisa juga mengalami ancaman berupa: a) konversi menjadi lahan pertanian, b) suksesi menjadi vegetasi sekunder non-hutan setelah terjadinya eksploitasi berlebih oleh masyarakat setempat, c) kurangnya regenerasi setelah dibabat untuk kepentingan komersial, dan d) erosi pantai. Meskipun data sangat kurang, namun nampaknya faktor yang memberi sumbangan penting terhadap hilangnya mangrove, selain konversi menjadi tambak, adalah konversi menjadi lahan pertanian dan penebangan kayu secara komersial dan dalam skala yang lebih kecil, serta eksploatasi berlebihan oleh masyarakat setempat. Kematian mangrove secara alami merupakan kejadian yang umum ditemukan dan merupakan kondisi alami, karena Iingkungan mangrove bersifat dinamik dan periodik, serta asosiasi mangrove teradaptasi dengan lingkungan tertentu melalui pertumbuhan dan kematian secara cepat (Uimenez & Lugo, 1985). Perubahan yang terjadi di alam biasanya bersifat fisik (Choy & Booth, 1994, berdasarkan contoh yang diambil di Brunei), sementara penyakit dan faktor biotis lainnya nampaknya berupa agen sekunder. Secara umum dapat dikatakan bahwa kematian mangrove secara alami tidak memberikan sumbangan yang signifikan terhadap hilangnya areal mangrove di Indonesia.

293

V. KEBIJAKAN DAN PERATURAN MENYANGKUT MANGROVE
Disadari bahwa mangrove memberikan banyak manfaat bagi manusia. Dengan demikian, mempertahankan areal-areal mangrove yang strategis, termasuk tumbuhan dan hewannya, sangat penting untuk pembangunan ekonomi dan sosial. Pada masa lalu, disaat tekanan penduduk masih rendah, hal tersebut tidak menjadi masalah karena pada tingkat lokal manfaat mangrove biasanya langsung disadari oleh masyarakat dan seringkali kawasan mangrove dilindungi oleh hukum adat. Namun selama 2 - 3 dekade lalu, tekanan penduduk semakin meningkat dengan tajam sehingga mengakibatkan permintaan akan sumberdaya pertanian meningkat pula. Pada saat yang bersamaan, kegiatan perikanan dan kehutanan juga meningkat dengan pesat dan menjadi faktor utama dalam perubahan lingkungan mangrove. Dalam kondisi demikian, aturan setempat yang berupa hukum adat seringkali terkesampingkan oleh insentif ekonomi jangka pendek. Untuk merespon hal tersebut, pemerintah kemudian mengeluarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) serta beberapa peraturan dalam berbagai tingkat yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove. Peraturan yang paling relevan diantaranya terkait dengan aturan mengenai kebijakan jalur hijau serta sistem areal perlindungan.

5.1

Pemetaan sumberdaya

Pada tahun 1982, rencana tata guna lahan hutan untuk pertama kalinya dipersiapkan oleh Departemen Pertanian (saat itu kehutanan masih direktorat di Departemen Pertanian). Tata guna lahan yang berupa Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tersebut dipersiapkan untuk setiap propinsi dengan skala peta 1 : 500.000. Sejak 1983, setelah pembentukan Departemen Kehutanan, tugas ini kemudian diambil alih oleh Ditjen Inventarisasi dan Tata Guna Hutan (INTAG). Peta TGHK membagi lahan menjadi kategori berikut : Areal Konservasi dan Perlindungan Alam Hutan Lindung Hutan Produksi (terbatas dan biasa) Hutan Konversi Tak Terklasifikasi (Hak Milik, Hak Milik Adat, Hak Pengelolaan). Berdasarkan pembagian diatas, mangrove dapat masuk kedalam seluruh kategori. Di beberapa instansi, ditambahkan pembagian lahan kategori keenam yaitu Hutan Bakau

430

(mangrove) dalam beberapa peta. Sayangnya, hal ini kemudian membingungkan karena tidak memberikan indikasi mengenai status yang sebenarnya dari sumberdaya yang penting ini. Peta TGHK tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, akan tetapi dijadikan sebagai panduan bagi pemerintah daerah dalam membuat perencanaan tata guna lahan. Status yang ada dapat saja disesuaikan dalam setiap peta. Sebagai contoh, suatu areal yang dipetakan sebagai hutan lindung pada peta dengan skala 1 : 500.000, dapat saja kemudian terbagi menjadi beberapa kategori lainnya jika dipetakan dalam peta dengan skala yang lebih rinci (misalnya 1 : 50.000). Contoh lain adalah dapat saja suatu areal dipetakan sebagai cagar alam atau areal konservasi, padahal sebenarnya belum dikukuhkan atau hanya sebagian saja yang telah dikukuhkan. Walaupun demikian, secara umum peta TGHK sangat bermanfaat. Dalam perkembangan berikutnya pada skala lokal, peta TGHK kemudian digantikan oleh peta tata ruang yang disiapkan oleh masing-masing pemerintah daerah. Pembuatan peta tersebut sebagai tindak lanjut dari Undang-undang No. 24 Tahun 1992 mengenai Tata Ruang. UU ini memerintahkan adanya perencanaan ruang yang luas pada tingkat Nasional, Propinsi sampai Kabupaten, dan mengharuskan pemerintah untuk mengembangkan program perencanaan tata ruang yang menunjukkan sumberdaya apa yang harus dilindungi, direhabilitasi ataupun harus dialokasikan untuk kepentingan pembangunan ekonomi.

5.2

Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove

Seperti di tempat lain di dunia ini, lahan di Indonesia diberi status tertentu yang memungkinkan penggunaan tertentu. Bila suatu areal lahan telah digunakan secara tradisional oleh suatu komunitas tertentu dalam masyarakat, maka biasanya pengelolaan lahan tersebut akan dialihkan kepada komunitas masyarakat tersebut dengan status Hak Milik, Hak Milik Adat atau Hak Pengelolaan. Areal lahan yang bukan merupakan areal pertanian (termasuk sebagian besar lahan hutan) pada umumnya diberi status sebagai Tanah Negara. Meskipun telah terdapat pembagian status lahan, kenyataannya masih muncul berbagai konflik menyangkut kepemilikan atau hak pengusahaan lahan. Misalnya, meskipun suatu areal mangrove telah dikelola oleh hukum adat atau merupakan tanah negara (tanah timbul), akan tetapi apabila telah dikonversi menjadi tambak, seringkali lahan tersebut berubah menjadi milik pribadi. Akibat perubahan ini, konflik lain seringkali muncul apabila pemerintah kemudian ingin mengambil kembali lahan tersebut untuk kepentingan yang lain, misalnya untuk jalur hijau. Sampai saat manuskrip ini dibuat, setidaknya telah dibuat 22 buah peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove di Indonesia. Peraturan-peraturan tersebut umumnya menyoroti hubungan antara sektor kehutanan dan sektor perikanan serta

313

Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Perairan. 9. 5 Tahun 1990 mengenai perlindungan sumber daya hayati dan ekosistemnya dan Undang-undang No. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Agraria. Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 32 Tahun 1990 mengenai areal lindung. Undang-undang No. 16. UU yang terakhir ini memberikan wewenang yang besar kepada daerah untuk melakukan pengelolaan dan pelestarian mangrove.mengenai jalur hijau. 432 . 8. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan. 15. 19. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan. 12. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 13. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. 10. Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1967 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Bidang Perkebunan. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. 6. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai. Berkaitan dengan konservasi. 22 Tahun 1999 mengenai pemerintahan daerah. Beberapa peraturan yang berkait dengan pengelolaan mangrove di Indonesia 1. 11. Undang-undang Dasar Tahun 1945 Pasal 33 ayat 3. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. 18. 4. Perikanan dan Kehutanan kepada Daerah Swatantra Tingkat I. 17. 7. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. 2. peraturan yang paling relevan nampaknya adalah Kepres No. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan. 14.

3 Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Jalur hijau adalah zona perlindungan mangrove yang dipertahankan di sepanjang pantai dan tidak diperbolehkan untuk ditebang.) Dikeluarkannya SK Presiden No. Untuk itu. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. 5. menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama No. 60/KPTS/DJ/I/ 1978 mengenai panduan silvikultur di areal air payau.20. yang menghimbau pelestarian jalur hijau selebar 200 meter sepanjang pantai. Dalam pelaksanaannya dilapangan. Menurut SK tersebut. Kebijakan pemerintah untuk merumuskan suatu jalur hijau dimulai pada tahun 1975 ketika dikeluarkan SK Dirjen Perikanan (No H. hendaknya diadakan penyesuaian yaitu pada areal yang awalnya hanya memiliki vegetasi mangrove. Selanjutnya Dirjen Kehutanan mengeluarkan SK No. 333 . melarang penebangan mangrove di Jawa. Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1989 tentang Tim koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional. 082/KPTS-II/1984. 32 Tahun 1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung menggantikan seluruh peraturan terdahulu mengenai jalur hijau. Fungsi jalur hijau pada prinsipnya adalah untuk mempertahankan pantai dari ancaman erosi serta untuk mempertahankan fungsi mangrove sebagai tempat berkembangbiak dan berpijah berbagai jenis ikan. KB 550/246/ KPTS/1984 dan No. serta melestarikan seluruh mangrove yang tumbuh pada pulau-pulau kecil (kurang dari 1. Peraturan ini memberikan perlindungan yang lebih memadai terhadap zona jalur hijau. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II.I/4/2/18/ 1975) yang mengatur perlunya dipertahankan areal di sepanjang pantai selebar 400 meter dari rata-rata pasang rendah. jalur hijau ditetapkan selebar 10 meter di sepanjang sungai dan 50 meter di sepanjang pantai pada pasang terendah. Pada tahun 1984. jalur mangrove pantai minimal 130 kali rata-rata pasang yang diukur ke darat dari titik terendah pada saat surut.000 ha. dikonversikan atau dirusak. SK ini ternyata memiliki beberapa kelemahan. Beberapa kritik yang dapat disampaikan mengenai SK ini antara lain adalah: SK ini tidak dapat diterapkan pada areal yang saat ini tidak memiliki tumbuhan mangrove lagi karena adanya eksploatasi pada masa lalu atau konversi. 22. Menurut SK tersebut. 21.

Permasalahan ini dapat diatasi dengan mendefenisikan pengukuran dari hutan mangrove terluar dekat laut. SK ini hanya memberikan pilihan untuk konservasi.4 Peraturan yang berkait dengan konservasi mangrove Perlindungan satwa. Misalnya di Jawa. Informasi lebih lanjut mengenai areal mangrove yang dilindungi. serta areal lindung yang penting disajikan pada Bab 6. lebar jalur hijau yang dihitung dari titik terendah saat air surut hanya berupa dataran lumpur saja dan tidak sampai ke hutan mangrovenya. 434 . Misalnya. hampir seluruh areal mangrove yang ada telah dimanfaatkan oleh penduduk. Tanpa adanya perlindungan terhadap ekosistem pendukung secara terpadu. lebar jalur hijau mangrove seyogyanya ditentukan secara spesifik untuk setiap lokasi karena setiap tempat mempunyai karakteristik lingkungan yang spesifik.000 meter. Peraturan terakhir mengenai jalur hijau adalah Inmendagri No. dkk (1997) melakukan studi penetuan lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta menggunakan pendekatan analisis sistem yang menghasilkan rekomendasi perkiraan lebar mangrove di daerah tersebut sekitar 1. misalnya dengan mangrove daratan. sehingga akan menyulitkan tercapainya suatu konsesus pengelolaan mangrove di beberapa daerah. tumbuhan dan ekosistem di Indonesia pada dasarnya telah tercakup dalam Undang-undang No. Pilihan tersebut umumnya tidak memadai pada daerah yang telah memiliki pemanfaatan tradisional yang intensif. kelangsungan hidup jalur hijau tersebut tidak akan terjamin sepenuhnya. SK mengesampingkan adanya keterkaitan ekologis.Penentuan jalur hijau dengan menggunakan SK ini di pantai-pantai yang datar atau dataran lumpur yang luas tidak dapat digunakan secara efektif. SK ini tidak memacu adanya perlindungan terhadap mangrove secara menyeluruh maupun fungsi ekologisnya. 26 Tahun 1997 tentang Penetapan Jalur Hijau Hutan Mangrove. termasuk total areanya. Peraturan ini menginstruksikan kepada seluruh gubernur dan bupati/walikotamadya di seluruh Indonesia untuk melakukan penetapan jalur hijau hutan mangrove di daerahnya masing-masing. Di beberapa daerah seperti diatas. Hilmi. Secara ekologis. 5. baik untuk tambak maupun berbagai bentuk pemanfaatan lainnya yang sebenarnya tidak mendukung konservasi mangrove. 5 Tahun 1990 mengenai konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya. sumber air tawar atau dengan rawa air tawar.

pola ini beralih ke sistem produksi yang intensif. Tipe kolam yang paling sederhana. mulai dari langkah-langkah yang diambil dilapangan sampai perencanaan tingkat pusat. Pengelolaan juga akan sangat tergantung pada bagaimana mengakomodasikan serta mengontrol kebutuhan masyarakat yang tinggal dan hidup di sekitar mangrove. seperti perangkap ikan dan kepiting dengan membangun pematang di daerah pasang surut. Memasuki abad ke-20.Indonesia Programme (1994). beberapa usulan pemasukan areal baru maupun penambahan luas areal yang telah ada diajukan oleh berbagai organisasi yang bergerak dibidang pelestarian alam. Sejarah gangguan terhadap mangrove oleh penduduk setempat di pulau Jawa seringkali dilakukan oleh nelayan. mengukuhkannya menjadi suatu kawasan lindung atau dalam bentuk jalur hijau saja. Akan tetapi disadari bahwa pengelolaan mangrove yang baik tidak akan tercapai hanya dengan mengembangkan kebijakan-kebijakan. Kegiatan budi daya air payau di Jawa merupakan fenomena kegiatan tradisional yang telah berlangsung sejak dahulu. Populasi penduduk yang semakin bertambah menyebabkan meningkatnya konversi lahan 353 .000 hektar disampaikan oleh Asian Wetland Bureau/Wetlands International . Usulan penambahan areal konservasi mangrove baru seluas 630. Diketahui bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat mempengaruhi upaya pengelolaan mangrove. 1987). Menyambut gagasan ini. malah mungkin telah dilakukan lebih awal (Naamin. termasuk penebangan mangrove untuk keperluan pembangunan tambak. Yang terpenting diantaranya adalah: Kebijakan nasional dibidang pengelolaan keanekaragaman hayati lautan Strategi nasional dibidang pengelolaan mangrove Kebijakan nasional dibidang pembangunan pedesaan Strategi nasional dibidang pengelolaan jalur hijau pesisir Kebijakan-kebijakan diatas sangat bermanfaat untuk memberikan kejelasan dalam pengelolaan sumber daya mangrove. 5. dimana kondisi di pulau ini dapat menjadi model pengelolaan mangrove yang penduduknya padat. sekitar tahun 1400-an. Departemen Kehutanan mengeluarkan gagasan perlunya pengembangan luasan areal kawasan lindung dari 15 juta hektar menjadi 30 juta hektar. dimana hal ini berkaitan dengan pendapatan mereka yang rendah serta alternatif mata pencaharian yang terbatas. Gagasan ini juga menyangkut sejumlah besar luasan kawasan mangrove.Pada tahun 1993.5 Perkembangan terakhir Berbagai inisiatif dan gagasan telah dikembangkan berkaitan dengan kebijakan nasional dibidang pengelolaan mangrove di Indonesia. Sebagai contoh yang baik dapat dilihat di Jawa.

Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengembalikan mangrove sebagai hutan produksi dari penduduk setempat. tapi sayangnya sebagian besar usaha-usaha penghutanan kembali ini tidak berhasil. instansi pemerintah pusat dan daerah. maka akan dapat meminimalisasi usaha gangguan terhadap hutan mangrove. banyak usaha-usaha penanaman kembali mangrove dilaksanakan pada tingkat lokal. upaya produksi kayu seringkali mengalami kegagalan karena pohonpohonnya jarang sekali mencapai ukuran komersial dan jumlahnya yang terbatas. Masalah yang dihadapi kebanyakan disebabkan oleh kurang tersedianya peta-peta yang akurat dan statusnya yang tidak jelas. Sebenarnya. Sayangnya. diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan yang timbul. serta penduduk setempat melaksanakan berbagai program dan kegiatan penanaman mangrove. Secara hukum.mangrove untuk pembangunan tambak serta meningkatkan permintaan terhadap kayu bakar. sehingga akan membatasi insentif yang dapat diperoleh dan pengembangan pengelolaan oleh masyarakat setempat. Ironisnya. Dengan sistem ini. hutan mangrove tersebut menjadi milik Perum Perhutani. pada tahun 1986 Perum Perhutani mulai melaksanakan program Kehutanan Sosial di areal mangrove. Program ini pada dasarnya adalah merehabilitasi lahan-lahan mangrove yang telah terdegradasi dengan penanaman pohon. dimana secara ekologis mangrove masih berfungsi secara optimal dan hasil pendapatan dari budidaya ikan layak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini menyebabkan hampir 90 % hutan mangrove hilang. 436 . kemungkinan sistem tersebut dapat ditularkan ke daerah lain. Upaya mengubah perbandingan ukuran luas hutan dan tambak. diharapkan dalam jangka panjang manfaat dan fungsi mangrove dapat berjalan dan dirasakan kembali. dan membangun saluran untuk budi daya ikan dan udang. Berbagai LSM. Upaya ini baik sebagai respon terhadap terjadinya erosi di pantai maupun semakin berkurangnya cadangan anakan ikan di pantai. jika masyarakat memperoleh hasil yang cukup dari sistem tersebut (terutama hasil ikan atau udang). Dalam beberapa tahun kemudian hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi tambak. akan tetapi sistem intensif membutuhkan investasi yang jauh lebih besar. pada beberapa tahun terakhir ini. dengan sistem silvofishery ini pemanenan kayu mangrove secara berkelanjutan berpotensi tinggi. yaitu memadukan kegiatan pengelolaan mangrove dengan produksi perikanan (silvofishery). dalam mencegah semakin hilangnya areal mangrove. Dengan berkembangnya upaya-upaya penanaman mangrove. Jika ini terlaksana. Polanya adalah lahan pasang surut seluas 80% sebagai hutan mangrove dan yang 20% digunakan sebagai kolam untuk budidaya ikan. Untuk mengatasi tingginya laju konversi. hasil ikan yang diperoleh memang sangat rendah bila dibandingkan dengan sistem pengelolaan yang intensif. Di lain hal. Selain ikan. hutanhutan tersebut merupakan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani untuk hutan produksi.

000* <500* 1.500 SM CA CA TN TN TN TN Lampung/ Sumatera 05°30’S/104°15’T Bengkulu Lampung Jabar Sumatera 04°50’S/105°40’T Jawa 06°36’S/105°09’T 373 . Tabel 5. AREAL MANGROVE YANG DILINDUNGI 6.800 hektar masuk dalam kategori hutan lindung dan 674.600 hektar sebagai hutan suaka alam dan wisata (tidak termasuk Jawa).000 356.765 Status Karang GadingLangkat Timur Laut (1) Pulau Berkeh Pulau Burung Hutan Bakau Pantai Timur (2) Berbak Sumatera Selatan I Way Kambas Pulau Penaitan SUM-08 Sumut Sumatera SM SUM-14 SUM-25 SUM-36 SUM-38 SUM-48 SUM-51 JAV-01 Riau Riau Jambi Jambi Sumatera Sumatera Sumatera 01°05’S/104°00’T Sumatera 01°10’S/104°20’T 500* 200* 2.099.800 123. namun pada kenyataan di lapangan menunjukkan banyak diantaranya yang masih mendapat tekanan yang cukup berarti. Menurut data Dit.VI.1 Mangrove dan sistem kawasan lindung Meskipun beberapa areal mangrove di Indonesia telah dimasukan kedalam suatu kawasan lindung.700* 500* <2.500 15. dimana pada lokasi-lokasi tersebut di dalamnya memiliki habitat mangrove. Dari tabulasi data fungsi hutan/lahan menurut Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Lahan (RPPH/TGHK) tercatat seluas 424.700 500 200 6. areal mangrove seluas 1. dimana 86% diantaranya terdapat di Irian Jaya.500 165. Kawasan lindung di Indonesia yang memiliki habitat mangrove Lokasi Kode Propinsi Pulau WDB (a) Posisi Luas areal Total Mangrove Area (ha) (ha) 11. Bina Program INTAG (1996).400 atau 31 % dari luas areal mangrove Indonesia telah masuk dalam kawasan lindung.363 hektar. Adapun data areal mangrove yang telah dilindungi yang tercatat dari setiap lokasi adalah seluas 551. Tabel 5 berikut merupakan daftar 41 lokasi kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Indonesia.000 17.

026 25.499 TN CA LIPI CA CA SM CA CA TN TN CA TN TN CA TN CA TW SM TN CA CA SM TB SM SM TN SM 438 .127 2.Ujung Kulon Pulau Dua Pulau Pari Pulau Rambut Muara Angke (3) Cikepuh Leuweng Sancang Kepulauan Karimun Jawa Baluran Meru Betiri Nusa Barung Bali Barat Gunung Palung Muara Kendawangan Tanjung Puting Pulau Kaget (4) Pulau Kembang (4) Pleihari Tanah Laut Kutai Marisa Morowali Lampuko-Mampie (5) Watumohae (6) Lambale Tanjung Peropa Komodo Pulau Menipo JAV-36 JAV-03 JAV-04 JAV-05 JAV-07 JAV-14 JAV-16 JAV-21 JAV-27 JAV-31 JAV-32 JAV-33 KAL-06 KAL-07 KAL-11 KAL-18 KAL-19 KAL-21 KAL-36 SUL-03 SUL-11 SUL-28 SUL-30 SUL-33 SUL-36 NUT-06 NUT-12 Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jateng Jatim Jatim Jatim Bali Kalbar Kalbar Kalteng Kalsel Kalsel Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Sultra Sultra NTB NTB Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Bali Kalimantan Kalimantan Kalimantan 02°55’S/112°00’T Kalimantan Kalimantan 03°12’S/112°32’T Kalimantan 04°20’S/114°31’T Kalimantan 00°18’N/117°20’T Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Komodo Timor 08°35’S/119°30’T 03°25’S/119°30’T 04°30’S/122°00’T 04°45’S/123°05’T 07°15’S/106°27’T 07°45’S/107°55’T 05°48’S/110°40’T 07°50’S/114°25’T 08°21’S/113°49’T 08°27’S/113°22’T 08°10’S/114°30’T 05°58’S/106°42’T 06°01’S/106°12’T 1.000* 10.000* <500 <20 <10 4.15 7.000* <2.4 8.000* 7.000 94.000* <3.000 85 60 35.000 <1.000 10 3 18 <2 <200* <50* <1.000 50.100 19.000 30 7 56 15.000* 750 <500 <200* 300 7.579 2.000 38.000 296.000 320.600 130.000 6.000 50.000 2.000 200.000 55.000* 35.000* <500 300 20 <200 3.000 150.000 82.

000 3.180 180.2 Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Mangrove tidak terwakili dengan baik pada kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Sumatera. Baltzer & Baruadi (1991). 1994 dan Rusila.000 6. Areal mangrove di SM Karang Gading Langkat Timur Laut (Sumut) hampir seluruhnya telah berubah menjadi habitat sekunder. sementara SM hutan Bakau Pantai Timur (Jambi) kondisinya cukup mengkhawatirkan.000 11.000 304. 1991). (a) * 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Kode yang tercantum pada Wetland Data Base yang dikembangkan oleh Wetlands International dan PHPA (1990 – sampai saat ini) Kondisi saat ini dari mangrove tersebut tidak jelas. serta pengamatan penulis Pengamatan penulis.Manusela Pulau Baun Yamdena Lorentz Pulau Kimaam (7) Wasur & Rawa Biru MAL-09 MAL-16 MAL-17 IRI-14 IRI-17 IRI-20 Maluku Maluku Maluku Seram Aru Tanimbar 03°00’S/130°00’T 06°35’S/134°05’T <3.000* 301. Desember 1988.363 hektar (86% di Irian Jaya) Catatan: Kecuali disebutkan.500 TN SM CA Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian 1. 393 . Kedua lokasi tersebut telah diidentifikasi sebagai habitat penting bagi burung air pengembara serta berbagai jenis burung bangau dan pelatuk besi (Giesen. akan tetapi tetap belum mewakili suatu habitat mangrove yang baik. Pengamatan penulis. Silvius & Taufik (1989) 6. mungkin sebagian telah rusak Giesen (1991) (KGLTL) Giesen (1991) (HBPT) Jakarta Post melaporkan konversi areal. Pulau Berkeh dan Pulau Burung).000 13. Desember 1988.000 SM TN TOTAL AREAL KAWASAN MANGROVE YANG DILINDUNGI: 551.560.000 1. Giesen.250 T N 500.500 165. seluruh data diambil dari Silvius. dkk (1987). Beberapa areal lindung mangrove yang lebih kecil juga telah dikukuhkan dan penting bagi burung air (mis.

Sekitar 1. Sumatera Selatan. sebagian mangrove didaerah ini telah dikonversi menjadi tambak oleh masyarakat.000 ha) dan Lariang . 1991).Mampie (Sulsel) dan hampir 3.) disarankan untuk dijadikan kawasan lindung. Areal mangrove terluas yang ada di Jawa saat ini adalah di Segara Anakan. namun mengkombinasikannya sebagai kawasan konservasi dan kawasan pemanfaatan secara berkelanjutan mungkin merupakan pilihan yang terbaik (White.Berbak akan merupakan kawasan terbaik untuk perlindungan Harimau Sumatera. Frazier (1992) menyatakan bahwa apabila usulan terakhir dapat diwujudkan. maka kawasan lindung Sembilang . lebih dari 15. Meskipun usulan ini telah beberapa kali diajukan termasuk usulan untuk penggabungannya dengan Taman Nasional Berbak. Sekitar 7.000 hektar areal mangrove di kawasan Lampuko . Survey di Sulawesi Selatan (Giesen. Areal ini diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1989 dan sebenarnya telah disetujui oleh pemerintah setempat (Danielsen & Verheugt. Pulau Dua di ujung barat Jawa Barat serta CA. Beberapa kawasan lindung mangrove seperti CA. 1998). Sebuah usulan telah diajukan untuk menetapkan kawasan lindung yang di dalamnya termasuk 5. 1989). Tanjung Puting (Kalimantan Tengah).000 hektar mangrove terdapat di Taman Nasional Gunung Palung dan SM Muara Kendawangan (keduanya di Kalimantan Barat) dan TN. 1989). Kawasan lindung mangrove yang terluas di Jawa mungkin di Pulau Panaitan. 440 . 1996).400 hektar mangrove di utara Sungai Lariang (Giesen. Cilacap yaitu 8. dkk.Lumu meskipun arealnya kecil.Areal mangrove di Sumatera yang kondisinya masih baik adalah komplek mulut sungai antara Delta Sungai Musi dan Banyuasin. Areal ini telah diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1980-an. 1987. yang berbatasan dengan Propinsi Jambi (Danielsen & Verheugt.000 hektar mangrove terdapat di bagian utara pantai Taman Nasional Ujung Kulon (Hommel. 1997 dalam PKSPL IPB. dkk. Di Kalimantan. Pulau Jawa telah kehilangan sekitar 90% mangrovenya dan hanya sedikit dari areal mangrove yang tersisa masuk kedalam kawasan lindung.957 hektar (BAPPEDA Tk. 1991) dan di Sulawesi Tenggara pada tahun 1989 . yaitu di Sungai Sembilang. dkk.800 ha.1990 menunjukkan bahwa 2. 1989 dan Verheugt. Luas ini mewakili 8% dari luas mangrove yang ada pada tahun 1990.Lumu (7. 1987). Areal lain umumnya hanya memiliki luas yang kecil atau telah rusak. DI TN Kutai (Kalimantan Timur). Jawa Barat (1. Mangrove di Lariang . dkk. 1991). tetapi telah berkembang dengan baik dan memiliki tegakan yang telah matang. Pulau Rambut di Teluk Jakarta penting sebagai tempat berkembangbiaknya berbagai jenis burung air (Silvius dkk. Rusila dkk. II Cilacap.000 hektar mangrove di Sulawesi telah dikukuhkan sebagai areal lindung.000 hektar di Taman Buru Watumohai (Sultra) sebenarnya telah dikonversikan menjadi tambak. Jumlah seluas ini sebenarnya mengandung ketidakjelasan karena survey di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda.700 ha). sayangnya sampai saat ini belum dapat diwujudkan. Areal Mangrove di utara Teluk Bone (23.

Jenis lain yaitu Amyema anisomeres diketahui hanya ada di bagian utara Teluk Bone. Jawa. Tanimbar (10. Areal mangrove seluas lebih dari 472. Rusaknya mangrove di Indonesia Barat dan Sulawesi akan mengakibatkan hilangnya jenis-jenis tumbuhan mangrove. paling tidak setengahnya tumbuh di hutan rawa yang berdekatan dengan habitat mangrove. dimana jalur mangrove selebar lebih dari 30 kilometer dan tegakan yang matang tumbuh dengan baik. Kalimantan dan Sulawesi.000 hektar mangrove telah dikukuhkan di Maluku yaitu di TN Manusela.000 hektar areal mangrove telah diusulkan oleh Petocz (1983) dan kemudian diajukan pula oleh Erftemeijer. Areal mangrove yang paling berkembang dengan baik sebenarnya terdapat di Teluk Bintuni. 413 . dan SM. Seram (3. Sulawesi Selatan. Yamdena. Usulan untuk menjadikan areal seluas 450. CA.Areal mangrove di Nusa Tenggara telah masuk ke dalam kawasan lindung dengan adanya 3. Dari jenis-jenis tersebut. terdapat 6 jenis yang hanya tumbuh pada habitat mangrove dan kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh hilangnya areal mangrove yaitu Amyema gravis. Sekitar 14.) dan di TN. Dari jumlah tersebut. Pulau Kimaam (165. Allen & Zuwendra (1989). Wasur (6. meskipun sebenarnya untuk kepentingan konservasi keanekaragaman hayati akan lebih baik jika areal mangrove di Kei dan Kepulauan Aru juga dilindungi. tetapi tidak hanya ditemukan di habitat mangrove). kegiatan pembangunan dilaksanakan dengan pesat dan areal mangrove merupakan salah satu subjek konversi. Heritiera globosa.000 hektar mangrove di TN. Camptostemon philippinensis.500 ha).). Sayangnya di Kedua lokasi tersebut. Sebanyak 32 jenis dari 39 jenis tersebut (yaitu yang terdapat di Indonesia Barat. schultzii. Oberonia rhizophoreti dan Phoenix paludosa. Luas tersebut nampaknya sudah cukup mewakili. Sejumlah 38 jenis tumbuhan mangrove sejati maupun mangrove ikutan terdapat hanya di Indonesia Barat. 6. ternyata habitat rawapun tidak kurang rentannya. termasuk 250.3 Pemeliharaan keanekaragamn hayati mangrove Dari uraian diatas nampak jelas bahwa secara umum mangrove belum terwakili dalam sistem areal lindung di Indonesia. 1994). Dari pengamatan di lapangan.000 hektar sebagai kawasan lindung. C. yang paling rentan adalah Phoenix paludosa yang diketahui hidup di Sumatera bagian utara.000 hektar). Kepulauan Aru (1.000 hektar). Pulau Baun.180 ha.000 hektar). Komodo dan SM Pulau Menipo. sebagai akibat dari tekanan pembangunan (Giesen. Lorentz (301. terutama di Sumatera.000 hektar telah dikukuhkan di Irian Jaya yaitu di TN. CA.000 ha.

442 . 2. Dalam jangka panjang. maka diusulkan agar lokasi-lokasi dibawah ini segera dapat dilindungi : 1. anisomeres bahkan lebih rentan dibandingkan 2 jenis lainnya. timorensis hanya ditemukan di luar areal kawasan lindung dan hanya di lokasi yang terbatas. I. termasuk: 1. 3. 2. Tiga jenis tumbuhan mangrove diketahui endemik untuk Indonesia. dan hanya ditemukan di beberapa lokasi di Sumatera dan Kalimantan. upaya pro-aktif nampaknya harus juga dilakukan untuk perlindungan habitat mangrove di Indonesia Timur. Sumatera Selatan Segara-Anakan. 3. Rhododendron brookeanum dan Ixora timorensis. hendaknya perhatian diberikan terhadap kerentanan jenis-jenis yang bersifat endemik. Sungai Sembilang. Pulau Kimaam Wildlife Identifikasi dan penambahan areal lindung mangrove di Kepulauan Kei dan Aru. yaitu Amyema anisomeres. brookeanum juga relatif langka. Untuk melindungi keanekaragaman hayati tumbuhan mangrove. Lorentz dan SM. Jawa Tengah Bagian utara Sungai Lariang. 4. Pengukuhan kawasan lindung mangrove Teluk Bintuni Perbaikan pengelolaan di TN. Sulawesi Selatan Beberapa lokasi lain di Kalimantan (kemungkinan di Kalimantan Timur) sesuai dengan pengkajian lapangan yang lebih rinci.Terkait dengan konservasi keanekaragaman hayati. R. sementara A.

dkk (1984) dan Duke (1992). MacNae (1968). 1997). keringat. 433 . Saenger. Sebelum melakukan pengamatan. termasuk jika sewaktu-waktu harus memanjat pohon mangrove untuk mendapatkan sampel herbarium atau keperluan lainnya. melainkan juga memerlukan waktu yang cukup panjang. sehingga memudahkan pergerakan. persiapan yang baik adalah salah satu syarat untuk tercapainya tujuan pengamatan. Beberapa tulisan lain yang ditulis oleh penulis luar maupun ilmuwan Indonesia (misalnya Kusmana. Untuk mengetahui informasi mengenai cara budidaya mangrove dapat dibaca Pedoman Pembuatan Persemaian dan Penanaman Mangrove oleh Kusmana (1998) atau Panduan Teknis Penanaman Mangrove bersama Masyarakat oleh Khazali (1999). seperti Watson (1928). Untuk menghindari panas. pustaka yang bisa ditelusuri antara lain adalah Watson (1928) dan MacNae (1968). dkk (1983). Sejak awal tahun 80-an sampai saat ini. cairan anti nyamuk dan alat-alat tulis yang tahan kondisi basah. teropong dan alat tulis saja. eksploitasi serta pengelolaan mangrove di Indonesia. Disarankan untuk tidak membawa barang yang tidak terlalu penting. air asin dan terutama nyamuk. Diantaranya adalah menyiapkan baju lengan panjang dari bahan katun atau bahan lain yang menyerap keringat. serta bab mengenai mangrove yang ditulis oleh Whitten dkk. Beberapa karya tulis klasik yang layak untuk dibaca antara lain van Steenis (1958) yang memberikan informasi umum mengenai mangrove dalam pengantarnya terhadap makalah dari Ding Hou (1958) mengenai Rhizophoraceae. Duke.2 Petunjuk untuk pengamatan lapangan Melakukan pengamatan di habitat mangrove memerlukan lebih dari sekedar buku panduan. BEBERAPA PETUNJUK STUDI MANGROVE BAGI PEMULA 7. 1987). Untuk mempelajari mangrove di Asia Tenggara. stamina yang baik serta ketahanan terhadap udara panas.VII. pada umumnya menyentuh masalah lokasi. Studi yang komprehensif mengenai mangrove di Indonesia belum begitu banyak. Chapman (1976a). Pengamatan di lingkungan mangrove seringkali harus menggunakan perahu atau sampan. lumpur. kelompok jenis atau jenis tertentu. 7. Tomlinson (1986). dkk. LIPI bersama Program MAB Indonesia telah menyelenggarakan seminar ekosistem hutan mangrove yang dapat digunakan sebagai sumber informasi yang cukup memadai. (1984.1 Pustaka penting Bagi mereka yang ingin mempelajari mangrove lebih rinci dan mendalam. disarankan untuk mempelajari beberapa buku klasik yang menjelaskan informasi mengenai mangrove secara lebih luas.

Payung kecil kadang-kadang juga sangat bermanfaat untuk melindungi diri dari panas atau hujan. tipe akar serta bunga/buahnya.3 Spesimen tumbuhan mangrove Dibandingkan dengan pengamatan di hutan tropis. Air laut sangat “jahat” terhadap kamera serta peralatan optis lainnya. Identifikasi dapat dilakukan kemudian di laboratorium dengan membuat catatan mengenai lokasi. tumbuhan pada habitat mangrove tidaklah setinggi pohon-pohon di hutan hujan tropis. dan habitat. Hal ini berarti bahwa hampir setiap saat dapat ditemukan pohon yang memiliki bunga atau buah yang akan memudahkan identifikasi jenis pohon. walaupun untuk keperluan lainnya (misalnya pengamatan tanah. dan buah dari pohon yang akan diidentifikasi. Untuk 25 . pengamatan pada habitat mangrove juga memiliki kesulitan tersendiri. 444 . karenanya perlu perencanaan matang. Biasanya dengan cara ini spesimen masih bisa diidentifikasi selama 2 .3 hari kemudian. fauna permukaan dan dalam tanah serta tipe perakaran) kondisi ini kurang mendukung. bahan ini cukup mahal. Kelemahannya. Berperahu di lingkungan mangrove akan sangat dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. karena terbatasnya jenis tumbuhan serta sifat perbungaannya yang tidak terlalu musiman. Air tinggi biasanya akan lebih memudahkan kita untuk mencapai tujuan tertentu. Jika waktu pengamatan tidak memungkinkan. Untuk itu perlu disediakan kantung plastik serta kotak plastik tahan air untuk menyimpan peralatan tersebut. tanggal. dan kemudian ditaburi methylate spirit. Untuk perjalanan yang lebih lama.sebaiknya gunakan topi yang dapat menyerap keringat. Spesimen sebaiknya disimpan diantara kertas koran yang dijepit oleh bambu atau tripleks. tipe perakaran. spesimen dapat disimpan dalam kantung pelastik yang tahan air dan sama sekali tidak terbuka terhadap udara luar. melelahkan dan menguras keringat. atau melindungi saat kita mengambil photo pada saat hujan. Meskipun demikian. pengamatan vegetasi di habitat mangrove relatif lebih mudah. sehingga pengamat harus memfokuskan perhatiannya pada perbedaan kulit kayu. Sebagian besar bentuk pohonnya memiliki kesamaan. Lebih dari itu. yakni dengan mengambil daun. karena itu air minum dan makanan kecil secukupnya perlu dipersiapkan. bunga.35 spesimen dibutuhkan 1 liter methylate spirit. 7. Melakukan pengamatan di habitat mangrove cukup menyita waktu. mudah terbakar dan mudah menguap. perlu dibuat koleksi tumbuhan. Lihatlah daftar pasang-surut.

dkk (1994). kecuali dalam metoda ini dibuat plot-plot (misalnya luas 100 m2/radius 5 m) dengan jarak antar plot pada garis (misalnya 20 m). Peta topografi dapat diperoleh di BAKOSURTANAL. Metoda kedua juga pada prinsipnya sama. citra inderaja juga sangat membantu perencanaan studi. (1994). Jawa Barat. Pada metoda yang pertama. termasuk sabuk mangrove yang umumnya memiliki kharakteristik lokasi yang berbeda. baik secara visual maupun dengan menggunakan perangkat lunak komputer tertentu. Sementara untuk fauna vertebrata diantaranya disajikan dalam Sasekumar (1984) dan English et al.000 yang melingkupi hampir seluruh wilayah Indonesia.4 Studi vegetasi Untuk pengamatan vegetasi. Selain peta. Metoda-metoda diatas antara lain dijelaskan dengan lebih rinci oleh Chapman (1984) dan English. Bagaimanapun. 453 . dan biasanya bisa diperoleh di LAPAN. Peta tersebut mencakup Sistem Lahan serta tipe tata guna lahan dan hutan yang akan sangat bermanfaat dalam studi vegetasi. Untuk mengetahui informasi mengenai analisis vegetasi hutan (termasuk mangrove) dapat dibaca buku Metoda Survey Vegetasi yang disusun oleh Kusmana (1997). sementara peta tematik yang paling memadai saat ini adalah yang diproduksi oleh RePPProT (the Regional Physcial Planning Programme for Transmigration) dengan skala 1 : 250. Cibinong. kemudian dicatat tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang di dalam dan disinggung garis tersebut. 7. Pada dasarnya terdapat dua metoda transek yang dapat dipakai. kemudian dicatat seluruh tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang tumbuh dalam lebar tersebut. yaitu membuat garis transek dengan panjang tertentu (misalnya 100 meter atau 500 meter) dengan lebar 10 sampai 20 meter.5 Studi Fauna Untuk keperluan studi fauna vertebrata. Pengamatan di lapangan kemudian akan memberikan informasi yang lebih baik. Cara termudah melakukan pengamatan di lapangan adalah dengan melakukan transek. metoda yang dilakukan tidak banyak berbeda dengan metoda yang biasa digunakan di daratan. serta beberapa lainnya. terutama karena peta serta citra saja tidak akan memberikan keterangan yang memadai mengenai kondisi yang sebenarnya di lapangan.7. Jakarta. Khusus untuk burung air (bermigrasi) disarankan untuk menggunakan Howes (1989) dan Rusila (1999). sangat membantu jika memiliki peta topografi serta peta tematik. antara tahun 1985 1992. Transek kemudian dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya. gabungan kedua metoda tersebut akan memberi hasil yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pada citra inderaja yang memadai dapat membedakan zona vegetasi yang berbeda. yaitu transek garis (strip sampling) dan transek plot garis (line plot sampling).

c/o College of Agriculture. Yayasan Mangrove Jl. Raya Tajur. University of the Ryukyus. pengayakan. Box 17. 4.6 Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Organisasi/institusi nasional 1. Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan IPB.O. ISME Secretariat. Tel.895. Subdit Perairan. pemilahan dan identifikasi jenis. Tel. Liga Mas Indah. 6. Tel. 0251-621086 Organisasi Internasional 1. 0251-621244. 021-7940403 SEAMEO-BIOTROP Southeast Asia Regional Center for Tropical Biology.682287/683850/ 681948(fax). 7. produktivitas. 16-B. Fax. Lt. Jakarta. Bogor 16152. Nishihara. 061-516338/535016. Tel. Jl. P3O .: 021. International Society for Mangrove Ecosystems (ISME). km 6/P. 3. Jakarta./Fax. 7. Jurusan Manajemen Hutan. Box 254/BOO. Fax 061-516338. 4. pola distribusi vertikal (khususnya berkaitan dengan pasang surut air laut) dan fauna bawah tanah.81. Ancol Timur. Kampus IPB Darmaga. densitas. PO. Ditjen Perlindungan dan Konservasi Alam (PKA). Departemen Kehutanan Gedung Manggala Wanabhakti. 5. Erlangga No. Yayasan Indonesia untuk kemajuan desa (YASIKA) Jln. Teknik yang digunakan biasanya dilakukan dengan menggunakan pengambilan sampel lumpur. Laboratorium Ekologi Hutan. 0251-323848.Pengamatan fauna invertebrata pada habitat mangrove umumnya berkaitan dengan zonasi. P. 0251-325755 2. Tel. A III/4. 7. Fakultas Kehutanan IPB. Indonesia. xx.O.98. Bogor. North Sumatra. 17. PO. 021-5720227 2. Jl. Tel/fax.Indonesia Programme Jl. Medan 20112. tel. Box 168 Bogor. 1. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut IPB Gedung Marine Center Lt. Japan. Box 286 Tel. Tel. Pasir Putih No. 0251-621086/624815. Okinawa 903-01.6601/6602 (fax) 446 . Bogor 16002 Tel. Jakarta Utara. Wetlands International .: 0251-312189. Gatot Subroto. Blok VII. Arzimar III No. Pancoran Indah.LIPI Jl.

473 .

Dari India sampai Australia Tropis.5 cm. biji 5-7 mm. Bentuk: lanset. tetapi seluruh bagiannya lebih kecil.Acanthus ebracteatus Vahl ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju putih. Terdapat di seluruh Indonesia. ilicifolius. Ukuran: 7-20 x 4-10 cm. sedangkan bunganya sendiri 2-2. dan Kepulauan Pasifik Barat. Deskripsi umum : A. Filipina. Bunga hanya mempunyai satu pinak daun utama. Daun : Pinggiran daun umumya rata kadang bergerigi seperti A. Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. Ukuran: Buah panjang 2. Unit & Letak: Sederhana. ilicifolius (lihat halaman berikutnya). A. Ujung: meruncing. akan tetapi sering sekali membingungkan.ebracteatus. Daun mengobati reumatik. karena yang sekunder biasanya cepat rontok. Berbunga pada bulan Juni. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun. Manfaat : Buah digunakan sebagai “pembersih” darah serta untuk mengatasi kulit terbakar. Catatan : 448 . Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung cerah. Formasi: bulir. berlawanan.ilicifolius dan A. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo.volubilis sebagai satu jenis. Letak: di ujung. ilicifolius. Panjang tandan bunga lebih pendek dari A. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum.53 cm. kadang agak putih di bagian ujungnya. ilicifolius keduanya memperlihatkan adanya karakter yang berbeda sebagaimana diuraikan dalam deskripsi. ebracteatus hampir sama dengan A. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. Ketika tumbuh bersamaan dengan A.

bunga. daun 493 . c. b.Acanthus ebracteatus daun bunga buah a c b a. buah.

Memiliki kekhasan sebagai herba yang tumbuh rendah dan kuat. daruyu. darulu. Panjang tandan bunga 10-20 cm. sampai sejauh 2 m. Pohon juga dapat digunakan sebagai makanan ternak. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A. A. Terdapat di seluruh Indonesia. Pinak daun tersebut tetap menempel seumur hidup pohon. Cabang umumnya tegak tapi cenderung kurus sesuai dengan umurnya. Ukuran: buah panjang 2. tepi daun bervariasi: zigzag/bergerigi besar-besar seperti gergaji atau agak rata dan secara gradual menyempit menuju pangkal. Percabangan tidak banyak dan umumnya muncul dari bagian-bagian yang lebih tua. agak berkayu. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun. Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. Bentuk: lanset lebar. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. Ujung: meruncing dan berduri tajam. ilicifolius dan A.Acanthus ilicifolius L. ketinggian hingga 2m. Biji tertiup angin. Akar udara muncul dari permukaan bawah batang horizontal. ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju hitam. sehingga membentuk bagian yang besar dan kukuh. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. ebracteatus. Letak: di ujung. Biasanya pada atau dekat mangrove.53 cm. kuat. Catatan : 450 . berlawanan. sedangkan bunganya sendiri 5-4 cm. Ukuran: 9-30 x 4-12 cm. Bunga memiliki satu pinak daun penutup utama dan dua sekunder. Permukaan daun halus. Di Bali berbuah sekitar Agustus. biji 10 mm. Bunga kemungkinan diserbuki oleh burung dan serangga. sangat jarang di daratan. Daun : Dua sayap gagang daun yang berduri terletak pada tangkai. Filipina dan Kepulauan Pasifik barat. Formasi: bulir. Manfaat : Buah ditumbuk dan digunakan untuk “pembersih” darah serta mengatasi kulit terbakar. kadang agak putih. volubilis sebagai satu jenis. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. terjurai di permukaan tanah. Unit & letak: sederhana. Daun mengobati reumatik. yang memiliki kemampuan untuk menyebar secara vegetatif karena perakarannya yang berasal dari batang horizontal. Deskripsi umum : Herba rendah. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung. Dari India hingga Australia tropis.

c. daun 513 . buah. b. bunga.Acanthus ilicifolius daun bunga buah a b c a.

Terdapat di seluruh Indonesia. wrekas. Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. Duri banyak.speciosum. Tingkat toleransi terhadap genangan air laut tidak setinggi A. ditutupi oleh urat besar. kala keok. pucat. paku cai. tipis ujungnya. hanya terdapat di bagian pangkal dari gagang.speciosum runcing-memanjang. paku laut.speciosum. wikakas. Secara umum. Menebal di bagian pangkal. jenis ini menyukai areal yang terbuka terang dan disinari matahari. Seringkali keliru dengan A. Sisik yang luas. krakas. panjang hingga 1 cm. besar. berwarna hitam. Pengenalan yang paling mudah adalah dengan melihat ujung daunnya. Tidak seperti A. Catatan : 452 . A. tetapi dengan titik yang kecil. coklat tua dengan peruratan yang luas. memiliki tidak lebih dari 30 pinak daun. Ditemukan di bagian daratan dari mangrove. Kelimpahan : Sangat melimpah setempat. PTERIDACEAE Nama setempat : Piai raya. sepanjang kali dan sungai payau serta saluran. Peruratan daun menyerupai jaring. seperti areal mangrove yang telah ditebangi yang kemudian akan menghambat tumbuhan mangrove untuk beregenerasi. sementara pada A. Ujung pinak daun yang steril dan lebih panjang membulat atau tumpul dengan ujung yang pendek.aureum pada umumnya agak tumpul. mangrove varen. Ujung daun fertil berwarna coklat seperti karat. Pinak daun terbawah selalu terletak jauh dari yang lain dan memiliki gagang yang panjangnya 3 cm. Manfaat : Akar rimpang dan daun tua digunakan sebagai obat. Ferna tahunan yang tumbuh di mangrove dan pematang tambak. Biasa terdapat pada habitat yang sudah rusak. Deskripsi umum : Ferna berbentuk tandan di tanah.Acrostichum aureum Linn. Daun digunakan sebagai dan alas ternak.speciosum yang kecoklatan.aureum lebih tinggi. Pinak daun letaknya berjauhan dan tidak teratur.speciosum. hata diuk. Daun mudanya dilaporkan dimakan di Timor dan Sulawesi Utara. dan individu mudanya lebih kemerahan dibandingkan dengan A. menebal di bagian tengah. tinggi hingga 4 m. A. Batang timbul dan lurus. Spora besar dan berbentuk tetrahedral. Bagian bawah dari pinak daun tertutup secara seragam oleh sporangia yang besar. Daun: Panjang 1-3 m.bercampur dengan urat yang sempit dan tipis.

pohon 533 . ujung pinak daun. daun.Acrostichum aureum pohon b a c d a. c. spora. b. d.

Peruratan daun berbentuk jaring. permukaan bagian bawah pinak daun yang fertil berwarna coklat tua dan ditutupi oleh sporangia.aureum dalam hal ukuran pinak daunnya yang lebih kecil dan ujungnya meruncing. hanya terdapat di bagian pangkal daun. Sisik luas. Sisik menebal di bagian tengah. Kelimpahan : Melimpah setempat. Jenis ini berbeda dengan A. Biasanya menyukai areal yang terlindung.5 m. 454 . Tumbuh pada areal mangrove yang lebih sering tergenang oleh pasang surut. PTERIDACEAE Nama setempat : Piai lasa. membentuk tandan yang kasar dengan ketinggian hingga 1. Di seluruh Indonesia. Spora besar dan berbentuk tetrahedral . Ferna tahunan. “Kecambah” (sebenarnya “bibit spora”) berlimpah pada bulan Januari hingga April (di Jawa). Pinak daun yang steril memiliki ujung lebih kecil dan menyempit. tertutup secara seragam oleh sporangia besar. panjang hingga 1 cm. Manfaat : Daun digunakan sebagai alas kandang ternak. serta daun mudanya berwarna hijau-kecoklatan. Sisik pada akar rimpang panjangnya hingga 8 mm. Daun yang fertil dihasilkan pada bulan Agustus hingga April. Pinak daun berukuran kira-kira 28 x 10 cm. Daun : Sangat mencolok. Deskripsi umum : Ferna tanah. Khususnya tumbuh pada gundukan lumpur yang “dibangun” oleh udang dan kepiting. Ekologi : Penyebaran : Asia dan Australia tropis.Acrostichum speciosum Willd. pada umumnya panjangnya kurang dari 1 m dan memiliki pinak daun fertil berwarna karat pada bagian ujungnya.

d. b. c. ujung pinak daun. daun. spora. pohon 553 .Acrostichum speciosum pohon b a c d a.

Tumbuh pada daerah mangrove terbuka sebagai individu yang terpisah atau dalam kelompok kecil. Kulit kayu bagian luar berwarna hitam. Penyerbukan dilaporkan dibantu oleh semut. rotundifolia memiliki daerah penyebaran yang tidak bersambung. Ukuran: 6-9 x 2-5 cm. bengkak pada bagian pangkal dan memiliki tekstur seperti busa. akan tetapi penggunaannya belum pernah dilaporkan. Juga tumbuh pada daerah yang lebih berpasir dan berkarang serta tergenang oleh air dengan salinitas yang sama dengan air laut (pada akhir musim kering). Bentuk: lanset seperti pedang. Burma. A. Deskripsi umum : Semak kecil. Formasi: payung (ada banyak bunga). A. Letak: di ujung tandan/ tangkai bunga. Daun Mahkota: 5. Bunga dari kedua jenis tumbuhan ini memiliki perbedaan karakteristik yang tidak terlalu penting. annulata dan A. dan ranting dengan goresan berbentuk cincin. kadang-kadang dijumpai sebagai pohon sampai 7 meter tingginya. berwarna kemerahan ketika telah matang. Di Australia. Maluku. Kelimpahan : Umum. pada mangrove yang rendah dengan substrat lumpur. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. tumpang tindih. memiliki 5 sudut. Ujung: meruncing. umumnya memiliki ketinggian 1. PNG dan Australia Utara. PLUMBAGINACEAE Nama setempat : Tidak tahu.Aegialitis annulata R. Daun : Terdapat lobang longitudinal dan kelenjar garam. Ukuran: 3-4 x 4-5 cm. bentuk tabung.Maret. Gagang daun panjangnya 8 cm.November. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kepulauan Sunda kecil. Kadang-kadang memiliki akar tunjang. Diameter batang sampai 20 cm. 5-8 mm. sedangkan buah yang matang tumbuh pada bulan Januari . putih kadang abu-abu pucat. 456 . halus dan kemudian bercelah sejalan dengan bertambahnya umur. Manfaat : Catatan : Memiliki kandungan tanin yang sangat tinggi. Tandan bunga yang asimetris memiliki banyak bunga. rotundifolia terdapat di Bangladesh. 7-8 mm. Buah berbentuk kapsul melengkung.5-3 meter. Biasanya memiliki akar yang menjalar pada permukaan tanah. Thailand dan Kepulauan Andaman. Kelopak Bunga: 5. perbungaan terjadi pada bulan September .Br.

Aegialitis annulata a c b d a. b. c. bunga. pohon 573 . buah. d. daun.

teruntung. Kulit kayu bagian luar abu-abu hingga coklat kemerahan. Ukuran: 11 x 7. terang. Formasi: payung. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga. Australia dan Kepulauan Solomon. Mereka umum tumbuh di tepi daratan daerah mangrove yang tergenang oleh pasang naik yang normal. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka.7 cm. Buah dan biji telah teradaptasi dengan baik terhadap penyebaran melalui air. Kayu untuk arang. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. dengan masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 8-12 mm. serta memiliki sejumlah lentisel. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.. Memiliki toleransi yang tinggi terhadap salinitas. tanah dan cahaya yang beragam. Kelopak Bunga: 5. klungkum. 458 . Buah berwarna hijau hingga merah jambon (jika sudah matang).5 cm. perpat kecil. seringkali bercampur warna agak kemerahan. putih. kayu sila. dan kemungkinan diserbuki oleh serangga. bercelah. serta di bagian tepi dari jalur air yang bersifat payau secara musiman. Malaysia. Ujung: membundar. permukaan halus. Kelimpahan : Umum. Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion. Daun muda dapat dimakan. berwarna hijau mengkilat pada bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. kacangan. seringkali tumbuh dalam kelompok besar. tudung laut. Ukuran: panjang 5-7.Aegiceras corniculatum (L. Daun : Daun berkulit. di beberapa daerah agak melimpah. gedangan. Akar menjalar di permukaan tanah. 5-6 mm. dimana embrio muncul melalui kulit buah ketika buah yang membesar rontok. kacang-kacangan. Biasanya segera tumbuh sekelompok anakan di bawah pohon dewasa. seluruh Indonesia. Bunga digunakan sebagai hiasan karena wanginya. Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips.) Blanco MYRSINACEAE Nama setempat : Teruntun. gigi gajah. Dalam buah terdapat satu biji yang membesar dan cepat rontok. Manfaat : Kulit kayu yang berisi saponin digunakan untuk racun ikan. Biji tumbuh secara semi-vivipar.hijau. ditutupi rambut pendek halus. Daun Mahkota: 5. Papua New Guinea. Cina selatan. Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian pohon mencapai 6 m. membengkok seperti sabit. duduk agung. putih . perepat tudung.5 cm dan diameter 0.

bunga. c. daun. b.Aegiceras corniculatum daun bunga buah a c b d a. pohon 593 . d. buah.

Buah berisi satu biji memanjang dan cepat rontok. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Kelimpahan : Jarang dan tersebar. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. putih. tercatat pula tumbuh pada substrat berkarang. bentuk agak lurus. bagian atas terang dan hijau mengkilat.hijau. Bentuk: bulat telur terbalik. Kelopak bunga: 5.7 cm. Sulawesi. Daun Mahkota: 5. putih. Tumbuh di daerah mangrove. pada tepi pantai berpasir hingga tepi sungai. ditutupi rambut pendek halus. Toleran terhadap salinitas yang tinggi.& S. Jawa Timur. MYRSINACEAE Nama setempat : Mange-kasihan Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian mencapai 4 m. 4 mm. bagian bawah hijau pucat kadang kemerahan. Akar menjalar di permukaan tanah. seluruh Filipina hingga Indo Cina. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan Utara. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Buah berwarna hijau hingga merah. Formasi: payung. bercelah dan memiliki sejumlah lentisel. Manfaat : Tidak tahu.Aegiceras floridum R. Pengetahuan tentang jenis ini sangat terbatas. Maluku. Ukuran: 3-6 cm Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 4-6 mm. Kulit kayu bagian luar berwarna abu-abu hingga coklat. Ukuran: panjang 3 cm dan diameter 0. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga. Bali. 460 . Ujung: membundar. Daun : Berkulit.

daun 613 . buah. b. c. bunga.Aegiceras floridum daun & buah bunga a b c a.

5 mm.5 mm. halus. Ukuran: 5. pangkal daun menyempit pada gagang yang panjangnya 8 . Daun : Daun tersebar. panjang 19-20 mm. memiliki percabangan bulat.Amyema anisomeres Dans. Manfaat : Catatan : Tidak tahu. panjang 2. Formasi: payung (3 bunga). Unit & Letak: sederhana & bersilangan. 462 . Letak: di ketiak daun.5-3 cm.5 mm. karena hanya terkolesi satu kali di Kampung Lato-u dekat Malili. Gagang bunga bulat. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Mungkin sangat langka. Tidak diketahui Hanya terkoleksi satu kali pada pohon Rhizophora. Benang sari: panjangnya 1.10 mm. Mungkin endemik di Sulawesi.5 x 1.5-8. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Satu dari sedikit tumbuhan mangorve endemik di Indonesia. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Ujung: meruncing. Mungkin sangat terbatas. kepala sari bulat panjang. Daun Mahkota: merah muda. dengan 4 atau 5 daun mahkota tumpul berukuran 3. Sulawesi Selatan. Deskripsi umum : Epifit parasit. hampir silindris. Tandan bunga terdapat secara tunggal atau berpasangan. Kelopak Bunga: berbentuk corong. panjang 4-7 mm.

c. bunga.Amyena anisomeres b a c a. daun 633 . b. buah.

Kepulauan Kangean dan Jawa Timur. Deskripsi umum : Hemi-parasit. Ujung: membundar. Rhizophora dan Sonneratia. Kalimantan. Hemi-parasit pada Avicennia. Daun mahkota bunga berwarna merah serta pangkal berwarna kuning-kehijauan. Bentuk: bulat telur terbalik. Perbungaan sepanjang tahun. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. biasanya menggantung. Malaysia. panjangnya 0. Tidak diketahui. Manfaat : Tidak tahu. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu.Amyema gravis Dans.5-1 m. Daun : Bunga : Memiliki daun yang tebal. Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat. Ukuran: panjang hingga 5 cm. Setiap tandan memiliki 2-3 gagang yang berisi bunga. 464 . Tandan bunga tumbuh soliter pada ketiak daun.

bunga. daun 653 . buah. b. c.Amyena gravis a b a c a.

Ukuran: 2. Daun : Daun berbentuk seperti sendok lebar dengan gagang daun sepanjang 6-15 cm.5 cm. Tangkai benang sari yang menopang kepala sari berukuran 3-5 mm. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. 466 . Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Ujung: membundar.) Dans. Papua New Guinea dan dekat Merauke (Irian Jaya). dikelilingi oleh daun kelopak bunga yang berurutan. Bentuk: bulat telur. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat. Kepala sari panjangnya 1. Australia Utara. Warna daun mahkota bunga tidak diuraikan dalam pustaka.5-2. Parasit eksklusif pada mangrove. Deskripsi umum : Parasit epifit dengan batang halus yang membesar pada bagian buku serta memiliki banyak cabang.5-4 x 1.5 mm.Amyema mackayense (Blake. Buah elips. Manfaat : Catatan : Tidak tahu.

daun 673 . bunga. b. buah.Amyena mackayense a b a b c a. c.

Kelimpahan : Melimpah. Kelopak Bunga: 5. Benang sari: 4. berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Ukuran: 4 x 2 cm. Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. 468 . Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. bagian atas hijau mengkilat. Bentuk: lanset (seperti daun akasia) kadang elips. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah. Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas tandan. Dari India sampai Indo Cina. Buah dapat dimakan. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. kuning cerah. melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina. Getah dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. PNG dan Australia tropis. Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung. juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut. Hijau muda kekuningan. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. serta di sepanjang garis pantai. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar. Formasi: bulir (ada 10-30 bunga per tandan). sementara yang lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. bawahnya pucat. koak. beberapa ditumbuhi tonjolan kecil. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m. Ukuran: 16 x 5 cm. Ujung: meruncing. Pada bagian batang yang tua. Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan.Avicennia alba Bl. 3-4 mm. Akar nafas biasanya tipis. Letak: di ujung/pada tangkai bunga. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Seperti kerucut/cabe/mente. Daun Mahkota: 4. Daun : Permukaan halus. kadangkadang ditemukan serbuk tipis. boak. dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon. mangi-mangi putih.

Avicennia alba daun bunga buah a c d b a. b. c. bunga. buah. d. pohon 693 . daun.

) Moldenke AVICENNIACEAE Nama setempat : Tidak diketahui.5 cm. berlawanan. mengelupas pada bagian-bagiannya yang tipis. Formasi: bulir. Daun Mahkota: warna putih. 470 . Buah berwarna kuning kehijauan. Unit & Letak: sederhana. mereka seringkali bersifat vivipar. panjang 2-5 mm. Ukuran: Panjang kurang dari 3 cm. Tumbuh di pulau-pulau lepas pantai yang berkarang. Bunganya mirip bunga Avicennia marina. bagian luar berambut pendek. Tandan bunga membesar di ujung dengan panjang sampai 2.Avicennia eucalyptifolia (Zipp. Bunga berdiameter 3-4 mm. Seperti jenis lain pada genus ini. kuning atau merah muda. Deskripsi umum : Semak atau pohon dengan ketinggian mencapai 17 meter. Setengah bagian atas dari bakal buah memiliki bulu. Kelopak Bunga: hijau pucat. tidak memiliki mulut buah yang nyata. Daun : Permukaan bagian atas hijau muda sampai hijau tua atau hijau kecoklatan dan kuning kehijauan pada bagian bawah. berwarna coklat kekuningan atau hijau. Bentuk: bulat memanjang. Ujung: meruncing. Benang sari: berwarna ungu tua hingga coklat. Manfaat : Catatan : Digunakan sebagai kayu bangunan dan kayu bakar. Kulit kayu bagian dalam berwarna seperti jerami padi sampai coklat pucat. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di Irian Jaya dan PNG. dan juga pada bagian pinggir atau tengah daratan dari rawa mangrove. Kelimpahan : Umum. Kulit kayu luar halus bercoreng-coreng. Kayu berwarna putih sampai seperti jerami. Letak: di ujung. Ukuran: 4-16 cm x 1-4 cm. ex Miq.

Avicennia eucalyptifolia pohon a b a. b. daun. pohon 713 .

Formasi: bulir (8-14 bunga). kuning pucat-jingga tua. 4-5 mm. Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya). Benang sari: 4 Buah seperti hati. Tumbuh pada dataran lumpur. daerah yang kering dan toleran terhadap kadar garam yang tinggi.5 x 2. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. bau menyengat. bagian bawah daun putih kekuningan dan ada rambut halus. Ujung: membundar – agak meruncing. Ukuran: sekitar 1. dapat mencapai ketinggian hingga 8 meter. Semenanjung Malaysia. Bali. Kelimpahan : Tidak diketahui. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan. Bentuk: elips. Kelopak Bunga: 5. coklat hingga hitam. Daun Mahkota: 4. Diketahui (di Bali dan Lombok) berbunga pada bulan Juli . 472 . Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Ukuran: 9 x 5 cm.Avicennia lanata (Ridley). tepi sungai.Februari dan berbuah antara bulan November hingga Maret. Bergerombol muncul di ujung tandan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan. Kulit kayu seperti kulit ikan hiu berwarna gelap. Daun : Memiliki kelenjar garam. Memiliki akar nafas dan berbentuk pensil. Lombok. Singapura. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/ tandan bunga. warna hijau-agak kekuningan. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar.5 cm. ujungnya berparuh pendek dan jelas.

Avicennia lanata daun buah pohon a b c a. buah. c. b. daun 733 . bunga.

kuning pucat-jingga tua. pejapi. Jenis ini dapat juga bergerombol membentuk suatu kelompok pada habitat tertentu. Kelimpahan : Melimpah. Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya) dan ujung buah agak tajam seperti paruh.) Bakh. melalui lapisan dorsal.) Vierh. akar nafas tegak dengan sejumlah lentisel. Ukuran: 9 x 4. hajusia. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api putih. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Catatan : 474 . Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar. Daun Mahkota: 4. ketinggian pohon mencapai 30 meter. Australia. bulat memanjang. Ranting muda dan tangkai daun berwarna kuning. Buah agak membulat. Polynesia dan Selandia Baru. Jenis ini merupakan salah satu jenis tumbuhan yang paling umum ditemukan di habitat pasang-surut. Formasi: bulir (2-12 bunga per tandan). memiliki kemampuan menempati dan tumbuh pada berbagai habitat pasang-surut. nyapi. Bentuk: elips. pai. Buah dapat dimakan.5x2. bau menyengat.abu-abu muda. Merupakan tumbuhan pionir pada lahan pantai yang terlindung. berwarna hijau agak keabu-abuan. sia-sia putih. Buah membuka pada saat telah matang. kadang-kadang bersifat vivipar.5 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di Afrika. api-api abang. Berbuah sepanjang tahun. Daun digunakan sebagai makanan ternak. Ujung: meruncing hingga membundar. Ukuran: sekitar 1. Benang sari: 4. Kelopak Bunga: 5. Akarnya sering dilaporkan membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan tanah timbul. sie-sie. Resin yang keluar dari kulit kayu digunakan sebagai alat kontrasepsi. Seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan. Amerika Selatan. Asia. Manfaat : Daun digunakan untuk mengatasi kulit yang terbakar. Daun : Bagian atas permukaan daun ditutupi bintik-bintik kelenjar berbentuk cekung. Buah dapat juga terbuka karena dimakan semut atau setelah terjadi penyerapan air. Ditemukan di seluruh Indonesia. Kayu menghasilkan bahan kertas berkualitas tinggi. 5-8 mm.Avicennia marina (Forsk. nektar banyak. Kulit kayu halus dengan burik-burik hijau-abu dan terkelupas dalam bagian-bagian kecil. bulat telur terbalik. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. bahkan di tempat asin sekalipun. Backer & Bakhuizen van den Brink (19638) hanya menyebutkan varietas A. tidak berbulu. intermedia (Griff. Memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit dan berbentuk pensil (atau berbentuk asparagus). Bagian bawah daun putih.5 cm. Sedang dilakukan revisi taksonomi.

buah. d. daun. c.Avicennia marina daun bunga buah a c d b a. b. bunga. pohon 753 .

Tumbuh di bagian pinggir daratan rawa mangrove. Formasi: bulir (2-10 bunga per tandan). Bentuk seperti hati. Juga tersebar dari India selatan sampai Malaysia dan Indonesia hingga PNG dan Australia timur. 476 . seringkali tertutup oleh rambut halus dan pendek pada kedua permukaannya. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Benang sari: 4. api-api ludat. 1015 mm. biasanya memiliki ketinggian sampai 12 m.5 x 6 cm. Manfaat : Buah dapat dimakan. lebih panjang dari daun mahkota bunga. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. bau menyengat. Berbunga sepanjang tahun. semakin tua warnanya semakin hitam. warna kuning kehijauan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tersebar di seluruh Indonesia. Permukaan buah agak keriput dan ditutupi rapat oleh rambut-rambaut halus yang pendek. sia-sia putih. api-api kacang. Ukuran: Sekitar 2x3 cm. Kelopak Bunga: 5. Pada umumnya memiliki akar tunjang dan akar nafas yang tipis. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga.Avicennia officinalis L. berbentuk jari dan ditutupi oleh sejumlah lentisel. Daun : Berwarna hijau tua pada permukaan atas dan hijau-kekuningan atau abu-abukehijauan di bagian bawah. Kelimpahan : Umum. kuning-jingga. Kulit kayu bagian luar memiliki permukaan yang halus berwarna hijau-keabu-abuan sampai abu-abu-kecoklatan serta memiliki lentisel. papi. khususnya di sepanjang sungai yang dipengaruhi pasang surut dan mulut sungai. Kayunya dapat digunakan sebagai kayu bakar. api-api daun lebar. Deskripsi umum : Pohon. ujungnya berparuh pendek. menyempit ke arah gagang. Daun mahkota bunga terbuka tidak beraturan. bulat memanjang-bulat telur terbalik atau elipsbulat memanjang. bahkan kadang-kadang sampai 20 m. Bentuk: bulat telur terbalik. Ukuran: 12. Ujung: membundar. merahu. Susunan seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan. marahuf. Permukaan atas daun ditutupi oleh sejumlah bintikbintik kelenjar berbentuk cekung. Getah kayu dapat digunakan sebagai bahan alat kontrasepsi. Daun Mahkota: 4.

pohon 773 . b. d. daun. c.Avicennia officinalis buah daun & bunga a c b d a. buah. bunga.

bius. Kemampuan tumbuhnya pada tanah liat membuat pohon jenis ini sangat bergantung kepada akar nafas untuk memperoleh pasokan oksigen yang cukup. Memiliki buah yang ringan dan mengapung sehinggga penyebarannya dapat dibantu oleh arus air. Jenis ini juga memiliki kemampuan untuk tumbuh pada tanah/substrat yang baru terbentuk dan tidak cocok untuk jenis lainnya. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Asia Tenggara dan Australia. tanjang sukim. ketinggian pohon kadang-kadang mencapai 23 meter. dan oleh karena itu sangat responsif terhadap penggenangan yang berkepanjangan. hijau kekuningan. Ujung: agak meruncing. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. 34 mm. Bunga mengelompok. Daun Mahkota: putih. biasanya pada tanah liat di belakang zona Avicennia. Sisi luar bunga bagian bawah biasanya memiliki rambut putih. berakar lutut dan akar papan yang melebar ke samping di bagian pangkal pohon. Kulit kayu abu-abu.Bruguiera cylindrica (L. Kelimpahan : Umum. tanjang sukun. lindur. tanjang putih. lalu menjadi coklat ketika umur bertambah. akar muda dari embrionya dimakan dengan gula dan kelapa. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Para nelayan tidak menggunakan kayunya untuk kepentingan penangkapan ikan karena kayu tersebut mengeluarkan bau yang menyebabkan ikan tidak mau mendekat. Bentuk: elips. Warna hijau didekat pangkal buah dan hijau keunguan di bagian ujung. Manfaat : Untuk kayu bakar. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Burus. 478 . tapi pertumbuhannya lambat. Pangkal buah menempel pada kelopak bunga. relatif halus dan memiliki sejumlah lentisel kecil. muncul di ujung tandan (panjang tandan: 1-2 cm). Deskripsi umum : Pohon selalu hijau. Formasi: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. bawahnya seperti tabung. tanjang. Daun : Permukaan atas daun hijau cerah bagian bawahnya hijau agak kekuningan. Di beberapa daerah. termasuk Irian Jaya. sering juga berbentuk kurva. seluruh Indonesia. lengadai. Kelopak Bunga: 8. Tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. Ukuran: Hipokotil: panjang 8-15 cm dan diameter 5-10 mm.) Bl. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Hipokotil (seringkali disalah artikan sebagai “buah”) berbentuk silindris memanjang. atau di bagian tengah vegetasi mangrove kearah laut. Ukuran: 7-17 x 2-8 cm.

b. bunga. daun 793 . c.Bruguiera cylindrica bunga buah pohon a c b a. buah.

Ukuran: Hipokotil: panjang 5-7 cm dan diameter 6-8 mm Tumbuh di sepanjang jalur air atau menuju bagian belakang lokasi mangrove. Formasi: soliter. Diketahui dari Timor. Hipokotil berbentuk tumpul. Pada masa lalu B. Manfaat : Catatan : Tidak tahu. Kadang-kadang ditemukan suatu kelompok yang hanya terdiri dari jenis tersebut. panjang 10-15 mm. Substrat yang cocok adalah tanah liat dan pasir.Bruguiera exaristata Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tidak tahu. sexangula sering dikelirukan dengan jenis ini. Hipokotil relatif kecil dan mudah tersebar oleh pasang surut atau banjir. Ukuran: 5. Daun : Permukaan atas daun berwarna hitam.5-11. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Penyebaran terbatas. 480 . Kulit kayu berwarna abu-abu tua.5 cm. Ujung: meruncing. tepi daun sering tergulung ke dalam. Anakan tumbuh tidak baik di bawah lindungan. panjang 10-13 mm. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. silindris agak menggelembung. menggantung. Deskripsi umum : Semak atau pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 10 m. tepi daun mahkota memiliki rambut berwarna putih dan kemudian akan rontok. dan memiliki sejumlah besar akar nafas berbentuk lutut. Kelimpahan : Cukup umum. Bentuk: bulat memanjang. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. Bunga hijau-kekuningan. Daun mahkota: 8-10. Irian Jaya Selatan dan Australia Utara. Letak: di ketiak daun.5 x4. bagian bawah memiliki bercak-bercak. pangkal batang menonjol.5 x 2. Kelopak bunga: 8-10. Unit & letak: sederhana & berlawanan.

bunga. c. daun 813 .Bruguiera exaristata a c b a. b. buah.

serta tanah yang memiliki aerasi yang baik. berwarna abu-abu tua sampai coklat (warna berubah-ubah). putih dan coklat jika tua. tenggel. bundar melintang.) Lamk.5-22 cm. tanjang. sepanjang tambak serta sungai pasang surut dan payau. Ditemukan di tepi pantai hanya jika terjadi erosi pada lahan di hadapannya. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Regenerasinya seringkali hanya dalam jumlah terbatas. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan pada bagian bawahnya dengan bercak-bercak hitam (ada juga yang tidak). Bentuk: elips sampai elips-lanset. Kulit kayu memiliki lentisel. Daun : Daun berkulit. dan mengundang burung untuk melakukan penyerbukan.Bruguiera gymnorrhiza (L. sarau. menggantung. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Pertut. Buah melingkar spiral. panjang 30-50. tumpul dan berwarna hijau tua keunguan. Hipokotil lurus. Kelopak Bunga: 10-14. tumu. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. putut. Daun Mahkota: 10-14. Mereka juga tumbuh pada tepi daratan dari mangrove. 482 . Jenis ini toleran terhadap daerah terlindung maupun yang mendapat sinar matahari langsung. mutut besar. Formasi: soliter. wako. serta tahap awal dalam transisi menjadi tipe vegetasi daratan. panjang 2-2. Tumbuh di areal dengan salinitas rendah dan kering. taheup. Akarnya seperti papan melebar ke samping di bagian pangkal pohon. warna merah muda hingga merah. dicampur dengan gula. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. Merupakan jenis yang dominan pada hutan mangrove yang tinggi dan merupakan ciri dari perkembangan tahap akhir dari hutan pantai. bangko. dau. Bunga bergelantungan dengan panjang tangkai bunga antara 9-25 mm. Substrat-nya terdiri dari lumpur. Ujung: meruncing Ukuran: 4. Kelimpahan : Umum dan tersebar luas. lindur. hal tersebut dimungkinkan karena buahnya terbawa arus air atau gelombang pasang. kandeka. panjang 13-16 mm. mangimangi. memiliki kelopak bunga berwarna kemerahan. Manfaat : Bagian dalam hipokotil dimakan (manisan kandeka). bako.5-2 cm. tergantung. tomo.5 cm. Kadang-kadang juga ditemukan di pinggir sungai yang kurang terpengaruh air laut. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur dan Madagaskar hingga Sri Lanka. juga memiliki sejumlah akar lutut.5-7 x 8. Ukuran: Hipokotil: panjang 12-30 cm dan diameter 1. sala-sala. Bunga relatif besar. Kayunya yang berwarna merah digunakan sebagai kayu bakar dan untuk membuat arang. Malaysia dan Indonesia menuju wilayah Pasifik Barat dan Australia Tropis. tanjang merah. totongkek. pasir dan kadang-kadang tanah gambut hitam. tongke. Letak: di ketiak daun. permukaannya halus hingga kasar.

c. bunga. hipokotil.Bruguiera gymnorrhiza daun & bunga hipokotil a c b a. b. daun 833 .

berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan di bawahnya. hijau pucat. Kelimpahan : Agak kurang umum. Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove pada areal yang relatif kering dan hanya tergenang selama beberapa jam sehari pada saat terjadi pasang tinggi. Formasi: kelompok (2-3 bunga per tandan. dengan lentisel besar berwarna coklat-kekuningan dari pangkal hingga puncak. Kulit kayu berwarna coklat hingga abu-abu. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Burma. Ukuran: 9-16 x 4-7 cm. Ukuran: Hipokotil: panjang 9 cm dan diameter 1 cm. seluruh Indonesia dan Papua New Guinea.Bruguiera hainessii C. Berambut pada tepi bawah dan agak berambut pada bagian atas cuping. 484 . panjang 7-9 mm. Manfaat : Tidak tahu. Kelopak Bunga: 10. Daun Mahkota: putih.G. Malaysia. Thailand. Unit & Letak: sederhana & berlawanan.Rogers RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus mata buaya. panjangnya 5 mm. Ujung: meruncing. Letak: Di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga (panjang tandan: 18-22 cm). bagian bawah berbentuk tabung. Bentuk: elips sampai bulat memanjang. Hipokotil berbentuk cerutu atau agak melengkung dan menebal menuju bagian ujung. Daun : Daun berkulit. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 30 meter dan batang berdiameter sekitar 70 cm.

bunga. d. pohon 853 . daun. c. buah/hipokotil. b.Bruguiera hainessii c d b a a.

bagian bawah berbentuk tabung. Hipokotilnya yang ringan mudah untuk disebarkan melalui air. paproti. Manfaat : Karena ukuran kayunya yang kecil. tinggi (meskipun jarang) dapat mencapai 20 m. Kelopak Bunga: 8.5-13 x 2-4.Bruguiera parviflora (Roxb. 1991). 486 . berwarna abu-abu hingga coklat tua. yang merupakan ciri khasnya. panjangnya 7-9 mm. perbungaan tercatat dari bulan Juni hingga September. Di Australia. tetapi melimpah setempat. bius. Akar lutut dapat mencapai 30 cm tingginya. panjang 1. putihhijau kekuningan. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Langgade. Bunga dibuahi oleh serangga yang terbang pada siang hari. permukaannya halus. Substrat yang cocok termasuk lumpur. Letak: di ketiak daun. Kulit kayu burik. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. menggelembung. kecuali untuk kayu bakar. seperti kupu-kupu. Daun mahkota: 8. Individu yang terisolasi juga ditemukan tumbuh di sepanjang alur air dan tambak tepi pantai. Buah melingkar spiral. Kelimpahan : Tersebar. warna hijau kekuningan.) W.5-1 cm. Hipokotil silindris. sia-sia. Berambut pada tepinya. Dapat menjadi sangat dominan di areal yang telah diambil kayunya (misalnya Karang Gading-Langkat Timur Laut di Sumatera Utara. lenggadai.5 cm. warna hijau kekuningan. agak melengkung. Daun : Terdapat bercak hitam di bagian bawah daun dan berubah menjadi hijaukekuningan ketika usianya bertambah. tongi. Formasi: kelompok (3-10 bunga per tandan). Ujung: meruncing. Daunnya berlekuk-lekuk. Bentuk: elips. Deskripsi umum : Berupa semak atau pohon kecil yang selalu hijau. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Bangladesh hingga Samoa. tanjang. Bunga mengelompok di ujung tandan (panjang tandan: 2 cm). dan berbuah dari bulan September hingga Desember. Seluruh Indonesia. disebabkan oleh gangguan serangga. Ukuran: Hipokotil: panjang 815 cm dan diameter 0. bercelah dan agak membengkak di bagian pangkal pohon. dan nampaknya tumbuh dengan baik pada areal yang menerima cahaya matahari yang sedang hingga cukup.& A.5-2mm. ex Griff. Giesen & Sukotjo. panjang 2 cm. mengelangan. pasir. Jenis ini membentuk tegakan monospesifik pada areal yang tidak sering tergenang. Ukuran: 5. jenis ini jarang digunakan untuk keperluan lain. mou. tanah payau dan bersalinitas tinggi.

daun 873 . buah/hipokotil. bunga.Bruguiera parviflora bunga buah pohon c a b a. c. b.

Seluruh Asia Tenggara (termasuk Indonesia) hingga Australia utara. Biasanya tumbuh pada kondisi yang lebih basah dibanding B. Identifikasi yang terbaik adalah melalui daun mahkota. dan kadangkadang akar papan. warna kuning kehijauan atau kemerahan atau kecoklatan. Kulit kayu coklat muda-abu-abu. dan pangkal batang yang membengkak. exaristata dan B. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. putih dan kecoklatan jika tua. Hipokotil disebarkan melalui air. Toleran terhadap kondisi air asin. tumu. Ujung: meruncing. Hipokotil menyempit di kedua ujung. gymnorrhiza. tanjang. Ukuran: 8-16 x 3-6 cm. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. dan memiliki bercak hitam di bagian bawah. berkulit. memiliki sejumlah lentisel berukuran besar. Daun makhota: 10-11.Bruguiera sexangula (Lour. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Busing. tancang sukun. payau dan tawar. Kelimpahan : Umum. Akar lutut. lindur.5 cm. Daun : Daun agak tebal. panjang tabung 10-15 mm. sarau. Kelopak bunga: 10-12. Sama dengan B. busung. dan di masa lalu seringkali dikelirukan dengan kedua jenis tersebut. tongke perampuan. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Tumbuh di sepanjang jalur air dan tambak pantai. Manfaat : Untuk kayu bakar. pada berbagai tipe substrat yang tidak sering tergenang. ai bon. akar serta daunnya digunakan untuk mengatasi kulit terbakar. Bentuk: elips. Letak: Di ketiak daun. halus hingga kasar. panjang 15mm. mata buaya. tiang dan arang. gymnorrhiza. Kadang-kadang terdapat pada pantai berpasir. Di Sulawesi buahnya dimakan setelah direndam dan dididihkan. bakau tampusing. Ukuran: Hipokotil: panjang 6-12 cm dan diameter 1.) Poir. Bunganya yang besar diserbuki oleh burung. Catatan : 488 . Kadang berambut halus pada tepinya. Formasi: soliter (1 bunga per tandan). Buahnya dilaporkan digunakan untuk mengobati penyakit herpes. ting. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India. mutut kecil.

b. daun 893 . bunga. buah/hipokotil. c.Bruguiera sexangula daun bunga buah a c b a.

kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m. Kelimpahan : Tidak terlalu umum. bersisik. panjang biji 9mm. bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek. Daun mahkota bunga berwarna putih. Ujung: membundar. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. Bentuk: lanset-elips. Buah bundar berbentuk kapsul. Daun mahkota: putih. Ukuran: panjang buah 1 cm. berupa semak atau pohon yang selalu hijau. Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak. Ukuran: 6-9 x 2-4 cm. Daun : Bunga : Permukaan daun bersisik. Kalimantan dan Sulawesi. kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan. Kulit kayu berwarna abu-abu dan memiliki celah/retakan longitudinal serta pangkal batang yang bergalur. Menurut Tomlinson (1986). pangkalnya sempit.Camptostemon philippinense (Vidal) Becc. Benang sari: 5. 490 . dan memiliki akar nafas yang menonjol. Formasi: bulir. dan memiliki daun kelopak bunga dan kelopak tambahan yang berurutan. Letak: di ketiak daun dan batang. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. - Buah : Ekologi : Penyebaran : Filipina. Manfaat : Catatan : Tidak diketahui.

daun 913 . bunga.Camptostemon philippinense c b a a. b. buah. c.

Manfaat : Catatan : Kayu dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas yang cukup kuat. Daun Makhota: putih. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. pangkalnya sempit. sementara bijinya yang berbulu disebarkan oleh air maupun angin. kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m dengan kulit kayu berwarna kuning pucat. Menurut Tomlinson (1986). Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak. Ukuran: 6-16 x 2-5 cm. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Umumnya tumbuh pada pantai berpasir yang berada pada kisaran areal pasang surut. Bentuk: lansetelips. Buah bundar berbentuk kapsul. Benang sari: 20. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat dari Kalimantan. kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan. Kelopak bunga: seperti cangkir. Berbunga pada bulan Juni sampai Oktober. bersisik. Buah dapat disebarkan melalui air (dengan kisaran gelombang sedang). Kelimpahan : Relatif umum. bagian atas halus. dan memiliki daun kelopak bunga yang bagian luarnya berurutan dan bersisik. Formasi: bulir. Mungkin diserbuki oleh serangga dan angin. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. dan memiliki akar nafas yang menonjol. Tumbuh lebih baik di pantai berbatu dan terbuka dibandingkan dengan mangrove di mulut sungai. buah matang pada bulan Oktober sampai Februari (di Australia). 492 . PNG dan Australia Utara. Letak: Di ketiak daun dan cabang. coklat atau coklat-keabu-abuan dan memiliki celah/retakan longitudinal dan lentisel serta pangkal batang yang bergalur. panjang biji 9mm. Ujung: membundar. berupa semak atau pohon yang selalu hijau. Ukuran: panjang buah 1 cm. Daun mahkota bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek berwarna putih. Daun : Daun berumbai-rumbai terletak pada akhir cabang. Maluku.Camptostemon schultzii Masters BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. bagian bawah bersisik. cuping panjangnya 6 mm.

d. pohon 933 . c. daun. bunga. buah. b.Camptostemon schultzii a b c d a.

Manfaat : Jenis Ceriops memiliki kayu yang paling tahan/kuat diantara jenis-jenis mangrove lainnya dan digunakan sebagai bahan bangunan. jarang berwarna abu-abu atau putih kotor. warna hijau. Kelimpahan : Relatif jarang. Catatan : 494 . Formasi: kelompok (2-4 bunga per kelompok). tinci. Letak: di ketiak daun. Bunga mengelompok. Leher kotilodon jadi merah tua jika sudah matang/ dewasa. Irian Jaya. bido-bido. Benang sari: tangkai benang sari pendek. kenyonyong. serta pegangan berbagai perkakas bangunan. putih dan kecoklatan jika tua. Ukuran: Hipokotil: panjang 15 cm dan diameter 8-12 mm. luru. Kelopak bunga: 5.) Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengal. tingi. Filipina dan Australia. permukaan halus. ujungnya menggelembung tajam dan berbintil. Sulawesi. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Malaysia. palun. Bentuk dan ukuran daun sangat beragam bergantung kepada kadar cahaya dan air dimana suatu individu tumbuh. warna hijau hingga coklat. Bentuk: elipsbulat memanjang. Ujung: membundar. parun. Ukuran: 3-10 x 1-4. rapuh dan menggelembung di bagian pangkal. Papua New Guinea. Bangka. ada lentisel dan berbintil. Menyukai substrat pasir atau lumpur.Ceriops decandra (Griff. menempel dengan gagang yang pendek. Kulit kayu merupakan sumber yang bagus untuk tanin serta bahan pewarna. Daun : Bunga : Daun hijau mengkilap. Kadang berambut halus pada tepinya. Maluku. Kulit kayu berwarna coklat. Daun mahkota: 5. tengar. tebal dan bertakik. akan tetapi lebih umum pada bagian daratan dari perairan pasang surut dan berbatasan dengan tambak pantai. Hipokotil berbentuk silinder. Kalimantan. Deskripsi umum : Pohon atau semak kecil dengan ketinggian hingga 15 m. Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Indocina.5 cm. Tumbuh tersebar di sepanjang hutan pasang surut.5-4mm. panjang 2. sama atau lebih pendek dari kepala sari. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Jawa. bantalan rel kereta api.

buah/hipokotil. bunga. c. pohon 953 . daun. d.Ceriops decandra daun bunga buah & hipokotil a c b d a. b.

Malaysia dan Indonesia. mange darat. Kelopak bunga: 5. Ukuran: 1-10 x 2-3. Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok). parun. agak menggelembung dan seringkali agak pendek.Ceriops tagal (Perr. bido-bido. tabung 2mm. Ujung: membundar.) C. putih dan kemudian jadi coklat. Bunga mengelompok di ujung tandan. dengan tabung kelopak yang melengkung. Juga terdapat di sepanjang tambak. Manfaat : Ekstrak kulit kayu bermanfaat untuk persalinan. Tanin dihasilkan dari kulit kayu. Deskripsi umum : Pohon kecil atau semak dengan ketinggian mencapai 25 m. tengah. tinci. lonro. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengar. dan kemungkinan berdampingan dengan C. dan pegangan perkakas. karena ketahanannya jika direndam dalam air garam. tengar. Catatan : 496 . wanggo. tingih. Letak: di ketiak daun. Benang sari: tangkai benang sari lebih panjang dari kepala sarinya yang tumpul.5 cm. palun. Bentuk: bulat telur terbalik-elips. tingi. dan regenerasi mereka dapat terjadi melalui salah satu anakan tersebut. mentigi.5-2 cm. Bahan kayu bakar yang baik serta merupakan salah satu kayu terkuat diantara jenis-jenis mangrove. Ukuran: Hipokotil: panjang 4-25 cm dan diameter 8-12 mm. Leher kotilodon menjadi kuning jika sudah matang/dewasa. Gagang bunga panjang dan tipis. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Mozambik hingga Pasifik Barat. Pewarna dihasilkan dari kulit kayu dan kayu. Buah panjangnya 1. tangar. Kelimpahan : Umum. Kulit kayu berwarna abu-abu. Kayu bermanfaat untuk bahan bangunan. Membentuk belukar yang rapat pada pinggir daratan dari hutan pasang surut dan/atau pada areal yang tergenang oleh pasang tinggi dengan tanah memiliki sistem pengeringan baik. warna hijau. berkulit halus. halus dan pangkalnya menggelembung. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Daun : Daun hijau mengkilap dan sering memiliki pinggiran yang melingkar ke dalam. kadang-kadang coklat. Menyukai substrat tanah liat. panjang 45mm.decandra.Rob. termasuk Australia Utara. Daun mahkota: 5. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. bantalan rel kereta api. berresin pada ujung cabang baru atau pada ketiak cabang yang lebih tua.B. Pohon seringkali memiliki akar tunjang yang kecil. Dilaporkan bahwa anakan jenis ini dapat membelah menjadi dua. Hipokotil berbintil.

daun 973 . c. b.Ceriops tagal bunga buah & hipokotil a c b a. buah/hipokotil. bunga.

Bentuk: elips. permukaan seperti kulit. Letak: di ketiak daun. Kayu digunakan untuk bahan ukiran. warejit. madengan. bersilangan. Umumnya ditemukan pada bagian pinggir mangrove di bagian daratan. betuh. tersebar.Excoecaria agallocha L. Deskripsi umum : Pohon merangas kecil dengan ketinggian mencapai 15 m. Getah digunakan untuk membunuh ikan. Bentuk seperti bola dengan 3 tonjolan. dekat Medan. Hal ini terutama diperkirakan terjadi karena adanya serbuk sari yang tebal serta kehadiran nektar yang memproduksi kelenjar pada ujung pinak daun di bawah bunga. Formasi: bulir. Getah putihnya beracun dan dapat menyebabkan kebutaan sementara. Mereka umum ditemukan sebagai jenis yang tumbuh kemudian pada beberapa hutan yang telah ditebang. Daun : Hijau tua dan akan berubah menjadi merah bata sebelum rontok. Kayunya kadang-kadang dijual karena wanginya. warna hijau. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. akan tetapi wanginya akan hilang beberapa tahun kemudian. Tumbuhan ini sepanjang tahun memerlukan masukan air tawar dalam jumlah besar. pinggiran bergerigi halus. makasuta. goro-goro raci. kalibuda. Penyerbukan dilakukan oleh serangga. halus. mata huli. Sumatera Utara. Unit & Letak: sederhana. Manfaat : Akar dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi dan pembengkakan. atau kadang-kadang di atas batas air pasang. Daun mahkota: hijau & putih.5-5 cm. sesuai dengan namanya. Kayu tidak bisa digunakan sebagai kayu bakar karena bau wanginya tidak sedap bagi masakan. sebelah utara Sumbawa. berisi biji berwarna coklat tua. Kulit kayu berwarna abu-abu. Kelimpahan : Melimpah setempat. Akar menjalar di sepanjang permukaan tanah.5 x 3. Ukuran: 6. Kelopak bunga: hijau kekuningan. dahan dan daun memiliki getah (warna putih dan lengket) yang dapat mengganggu kulit dan mata. ada 2 kelenjar pada pangkal daun.5-10. Ukuran: diameter 5-7mm. kayu wuta. dan di Australia. misalnya di Suaka Margasatwa. tidak pernah keduanya. Batang. berwarna hijau dan panjangnya mencapai 11 cm. Catatan : 498 . bebutah. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di sebagian besar wilayah Asia Tropis. menengan. khususnya lebah. seringkali berbentuk kusut dan ditutupi oleh lentisel. tetapi memiliki bintil. Benang sari: 3. Karang-Gading Langkat Timur Laut. yaitu buta-buta. Jenis ini juga ditemukan tumbuh di sepanjang pinggiran danau asin (90% air laut) di pulau vulkanis Satonda. Ujung: meruncing. Memiliki bunga jantan atau betina saja. Bunga jantan (tanpa gagang) lebih kecil dari betina. dan menyebar di sepanjang tandan. termasuk di Indonesia. Tandan bunga jantan berbau. EUPHORBIACEAE Nama setempat : Buta-buta. kuning. kalapinrang. Kayu dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas yang bermutu baik. sambuta.

b. daun. pohon 993 . buah/hipokotil. d.Excoearia agallocha bunga buah daun c a b d a. bunga. c.

Gymnanthera paludosa

(Bl.) K.Schum.

ASCLEPIADACEAE

Nama setempat : Tidak tahu. Deskripsi umum : Semak pemanjat, hingga 4 m. Batang ditutupi oleh tonjolan. Pada umumnya tidak berambut, tetapi memiliki rambut pendek, halus di bagian atas. Daun : Bunga : Daun halus, tipis. Unit & Letak: sederhana, bersilangan. Bentuk: elips-bulat memanjang. Ujung: meruncing. Ukuran: 3-5,5 x 1-2 cm. Di antara pasangan tangkai daun, panjang tangkai bunga kurang dari 2 cm. Formasi: kelompok. Daun mahkota: halus, hijau kekuningan, memiliki tabung memanjang 7-8 mm, diameter 16-18 mm. Buah tipis, berpasangan dan berpengait di ujungnya. Biji berlunas dan halus tetapi memiliki rambut panjangnya 2-2,5 cm. Ukuran: panjang biji 5mm, panjang buah 10,5-12 cm. Tumbuh di mangrove. Bunga dari Oktober - Maret. Tercatat dari Jawa dan Madura, tetapi kemungkinan ditemukan di seluruh Indonesia.

Buah :

Ekologi : Distribusi :

Kelimpahan : Tidak tahu. Manfaat : Tidak tahu.

4100

Gymnanthera paludosa

daun & buah

a

c

b

a. bunga; b. buah; c. daun

1013

Heritiera globosa

Kostermans

STERCULIACEAE

Nama setempat : Dungun. Deskripsi umum : Sangat menyerupai Heritiera littoralis (lihat deskripsi berikut), perbedaannya terletak pada buah yang bundar dan tangkai daun yang lebih panjang. Memiliki ujung daun ventral yang dangkal, memanjang pada ujung jauh menuju mulut atau sayapnya, dimana sayap selalu agak melengkung yang merupakan kekhasannya. Gagang daun lebih panjang dari 2 cm dan mungkin lebih dari 4 cm. Akar papan berkembang baik dan menyerupai ular, memanjang 2-4 m dari pangkal batang. Ekologi : Tumbuh di belakang zona jalur mangrove, tetapi juga telah dikoleksi di tempat sejauh 70 km dari laut, pada sistem sungai air tawar yang dipengaruhi oleh pasang surut.

Penyebaran : Sarawak, Sabah dan Kalimantan, akan tetapi kemungkinan memiliki penyebaran yang lebih luas. Kelimpahan : Relatif umum setempat. Manfaat : Memiliki kayu yang kuat dan berat.

4102

Heritiera globosa

a

b

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1033

Sangat umum tumbuh di tepi daratan hutan mangrove. Nampaknya tidak toleran terhadap salinitas yang tinggi dan tidak tumbuh pada lokasi yang sangat terbuka atau kurang adanya pengeringan. lulun. Ujung: meruncing. Bunga jantan lebih banyak. Tandan bunga berambut (terutama pada bagian ketiak daun dan ujung cabang). atau pantai berkarang. seperti mangkok. dungun. Kelopak bunga: 4-5. Individu pohon memiliki salah satu bunga betina atau jantan. tetapi lebih kecil dibanding bunga betina (pada pohon yang berbeda !). Buah digunakan untuk mengobati diare dan disentri. kemerahan dan berambut. panjang 4-5 mm. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. rurun. Gagang daun panjangnya 0. Warna daun hijau gelap bagian atas dan putih-keabu-abuan di bagian bawah karena adanya lapisan yang bertumpang-tindih. rumah. Daun : Kukuh. dan mungkin juga menempati bagian tepi atau berdekatan dengan hutan dataran rendah.Heritiera littoralis Dryand. STERCULIACEAE Nama setempat : Dungu. lawanan kete. bayur laut. 4104 . Kayu tahan lama dan digunakan untuk bahan perahu. balang pasisir.5-2 cm. atung laut. Biji digunakan untuk pengolahan ikan. lebar 5-6 cm. bersisik dan bercelah. Kelimpahan : Umum. Unit & letak: sederhana. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 25 m. belohila. Bentuk: bulat telur-elips. Kulit kayu gelap atau abu-abu. blakangabu. rumung. berkulit. tiang telepon. ex W. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. kadang sampai 30 x 15-18 cm. Dari Afrika timur dan Madagaskar hingga Australia dan Pasifik sejauh Kaledonia baru. Daun mahkota: ungu dan coklat. bersilangan. cerlang laut. Letak: di ujung atau di ketiak. Formasi: bergerombol bebas. lawang. berkayu. Buah berwarna hijau hingga coklat mengkilat. berkelompok pada ujung cabang.Ait. Memiliki 1 biji dan masak pada tandan yang tergantung. Manfaat : Kayu bakar yang baik. Akar papan berkembang sangat jelas. Ukuran: 10-20 x 5-10 cm. Ukuran: panjang 6-8 cm.

Heritiera littoralis buah muda bunga buah tua pohon a a c b a. buah. b. daun 1053 . bunga. c.

panjang 1. India. Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil. Berwarna hijau berbentuk oval. Manfaat : Utamanya untuk kayu bakar.5-2 cm. Kelimpahan : Sangat terbatas dan jarang. beus.5-2. Hipokotil silindris panjangnya 15-40 cm. 4106 . Kelopak bunga: tabung daun kelopak bunga melebihi bakal buah dan memiliki cuping sejajar yang melengkung ketika bunga mekar penuh. Kulit kayu berwarna keabu-abuan hingga coklat-kemerahan. Umumnya tanpa akar nafas. Tumbuh secara sporadis pada pematang sungai pasang surut. pulut-pulut. Menempati relung yang sempit. permukaan halus dan memiliki lentisel. Daun mahkota: panjangnya 14 mm. Thailand.5 cm. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Buah : Ekologi : Penyebaran : Timur Laut Sumatera. tinggi hingga 7 meter dengan pangkal batang lebih tebal. pisang-pisang Laut. Taiwan. memiliki 4 dan kadang-kadang 9 bunga berwarna putih. Indo Cina. Kalimantan Barat dan Utara.) Druce RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus-berus. Ujung: membundar hingga sedikit runcing.Kandelia candel (L. Daun : Bunga : Tepi daun mengkerut kedalam. Jepang Selatan dan Malaysia. Benang sari: banyak dan berbentuk filamen. Burma. Tandan bunga bercabang dua. Cina. panjangnya 1. beras-beras. Bentuk: elips-bulat memanjang.

c. bunga. daun 1073 . buah/hipokotil. b.Kandelia candel daun & bunga buah/hipokotil a c b a.

dan berumpun pada ujung dahan. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. taruntung. Catatan : 4108 . Panjang tangkai daun mencapai 5 mm. Produksi nektar. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. Sayangnya. Benang sari: <10. geriting. berwarna merah cerah. sesak. bersilangan. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. duduk agung. hijau 1 x-12 mm. randai. keras/kaku. Panjang tangkai bunga mencapai 3 mm. Dengan penampilannya yang menarik dan memiliki wangi seperti mawar. Tidak terdapat. dimana penggenangan jarang terjadi. sangat jarang dijumpai di pantai-pantai di Jawa. Ukuran: 2-8 x 1-2. Diameter 4-5 mm. Bentuk: bulat telur terbalik. maka kayunya sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan lemari dan furnitur lainnya.5-2 mm. L. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Daerah tropis Asia. Indonesia. dan dipenuhi oleh nektar. Daun : Daun agak tebal berdaging. riang laut. warna bunga serta morfologi dan lokasinya menunjukkan bahwa penyerbukannya dibantu oleh burung. tandan 2-3 cm. Ukuran: panjang 9-20mm. littorea dan L. Daun mahkota: 5. ma gorago. kayu berukuran besar sangat jarang ditemukan. Bunga biseksual. berwarna hijau keunguan. Buah yang ringan dan dapat mengapung sangat menunjang penyebaran mereka melalui air. Menyukai substrat halus dan berlumpur pada bagian pinggir daratan di daerah mangrove. Ujung: membundar. posi-posi. Mereka juga terdapat pada jalur air yang memiliki pasokan air tawar yang kuat dan tetap. welompelong. agak keras dan bertulang. Unit & Letak: sederhana. kedukduk. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. Manfaat : Kayunya kuat dan sangat tahan terhadap air. api-api uding. Kelimpahan : Melimpah setempat dan kadang-kadang tumbuh dalam bentuk kelompok. duduk gedeh. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau dan tumbuh tersebar. merah. ketinggian pohon dapat mencapai 25 m. Buah berbentuk seperti pot/jambangan tempat bunga/elips. Kelopak bunga: 5. harum. meskipun pada umumnya lebih rendah. Memiliki dua buah pinak daun berbentuk bulat telur dan berukuran 1 mm pada bagian pangkalnya. berwarna coklat tua dan kulit kayu memiliki celah/retakan membujur (longitudinal). sesop. Australia Utara dan Polinesia. Akar nafas berbentuk lutut. atau kalaupun ada. 4-6 x 1.Lumnitzera littorea (Jack) Voigt COMBRETACEAE Nama setempat : Teruntum (merah).5 cm. Formasi: bulir. Letak: di ujung. Panjang benang sari dua kali ukuran daun mahkota.

pohon 1093 . bunga. buah. d. b. c.Lumnitzera littorea daun bunga buah c a b a b d a. daun.

L. dan tidak memiliki akar nafas. Kulit kayu kadang-kadang digunakan sebagai bahan pelapis. Bentuk: bulat telur menyempit. seperti jembatan.Lumnitzera racemosa Willd. aduadu. hijau (6-8 mm). Cuping daun kelopak bunga dengan ujung berkelenjar ditemukan di Irian Jaya. berkayu dan padat. Bahan bakar yang baik.5 cm. Kelopak bunga: 5. keras/kaku. sehingga sangat jarang ditemukan kayu yang berukuran besar. berwarna hijau kekuningan. tanpa gagang. dan berumpun pada ujung dahan. Panjang benang sari sama atau sedikit lebih panjang dari daun mahkota. Menyukai substrat berlumpur padat. berserat. Ukurannya lebih kecil dari L. Letak: di ujung atau di ketiak. Diameter 3-5 mm. Manfaat : Kayunya keras dan tahan lama. Deskripsi umum : Belukar atau pohon kecil. knias. Buah berserat teradaptasi untuk penyebaran melalui air. Catatan : 4110 . kedukduk. Formasi: bulir. memiliki celah/retakan longitudinal (khususnya pada batang yang sudah tua). Bunga biseksual. bersilangan. di seluruh Indonesia. PNG dan Filipina. Unit & Letak: sederhana. Benang sari: <10. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. Tumbuh di sepanjang tepi vegetasi mangrove. selalu hijau dengan ketinggian mencapai 8 m. putih. Ukuran: 2-10 x 1-2. Kulit kayu berwarna coklat-kemerahan. Kelimpahan : Agak umum. furnitur dan sebagainya. Panjang tangkai daun mencapai 10 mm. var. teruntum. truntun. Mereka juga terdapat di sepanjang jalur air yang dipengaruhi oleh air tawar. Bunga putih. Daun : Daun agak tebal berdaging. panjangnya 1. lasi. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari bagian timur Afrika tropis dan Madagaskar sampai Malaysia. Panjang tandan 1-2 cm. littorea dan L. duduk. berwarna putih cerah. Ujung: membundar. kapal. susup. Buah berbentuk kembung/elips. dipenuhi oleh nektar. Daun mahkota: 5. cocok untuk berbagai keperluan bahan bangunan. 2-4 x 7-8 mm. littorea. Hampir tidak ditemukan di sepanjang pantai yang menghadap Samudera India. agak harum dan kaya akan nektar. Ukuran: panjang 7-12 mm. duduk laki-laki. Australia utara dan Polinesia. racemosa COMBRETACEAE Nama setempat : Api-api balah. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. PNG. diserbuki oleh serangga. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. saman-sigi. Memiliki dua pinak daun berbentuk bulat telur.5 mm pada bagian pangkalnya. api-api jambu.

b. d.Lumnitzera racemosa daun bunga buah a d c b a. bunga. c. buah. daun. pohon 1113 .

Tumbuh pada substrat yang halus. Australia dan Pasifik Barat. sangat umum setempat. Catatan : 4112 . Ukuran: 60-130 x 5-8 cm.9 m. terletak di bawah kepala bunganya. Diameter biji: 4-5 cm. Bentuk: lanset. Buah yang berserat serta adanya rongga udara pada biji membantu penyebaran mereka melalui air. Nypa telah dikenal di Australia sejak awal jaman Tertiary. Asia Tenggara. jika bunga diambil pada saat yang tepat. Ujung: meruncing. pada bagian tepi atas dari jalan air. 65-70 juta tahun yang lalu. Biji dapat dimakan. dibandingkan dengan sebagian besar jenis tumbuhan mangrove lainnya. Memiliki sistem perakaran yang rapat dan kuat yang tersesuaikan lebih baik terhadap perubahan masukan air. Serbuk sari dari jenis ini telah ditemukan sejak jaman Cretaceous atas. berwarna hijau mengkilat di permukaan atas dan berserbuk di bagian bawah. Setelah diolah. serat gagang daun juga dapat dibuat tali dan bulu sikat. Digunakan untuk memproduksi alkohol dan gula.Nypa fruticans Wurmb. lipa. serta memiliki kandungan sukrosa yang lebih tinggi. Tinggi dapat mencapai 4-9 m. topi. Deskripsi umum : Palma tanpa batang di permukaan. warna coklat. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. Jika dikelola dengan baik. tangkal daon. tikar. Batang terdapat di bawah tanah. Serbuk sari lengket dan penyerbukan nampaknya dibantu oleh lalat Drosophila. ARECACEAE Nama setempat : Nipah. Memerlukan masukan air tawar tahunan yang tinggi. Bunga betina membentuk kepala melingkar berdiameter 25-30 cm. Manfaat : Sirup manis dalam jumlah yang cukup banyak dapat dibuat dari batangnya. buyuk. Daun digunakan untuk bahan pembuatan payung. Terdapat 100 . seluruh Indonesia. kaku dan berserat. produksi gula yang dihasilkan lebih baik dibandingkan dengan gula tebu. Malaysia. Ukuran: diameter kepala buah: sampai 45 cm. Panjang tandan/gagang daun 4 . Biasanya tumbuh pada tegakan yang berkelompok. Papua New Guinea. Kadang-kadang bersifat vivipar. Tandan bunga biseksual tumbuh dari dekat puncak batang pada gagang sepanjang 1-2 m. Filipina. Daun : Seperti susunan daun kelapa.120 pinak daun pada setiap tandan daun. membentuk rumpun. Buah berbentuk bulat. Jarang terdapat di luar zona pantai. kuat dan menggarpu. Bunga jantan kuning cerah. Pada setiap buah terdapat satu biji berbentuk telur. keranjang dan kertas rokok.

Nypa fruticans buah bunga pohon 1133 .

Letak: di ketiak daun. Buah disebarkan lewat air dan terapung di air karena adanya rambutrambut yang dapat memerangkap udara. terletak pada pangkal gagang bunga. Biseksual. Kelopak bunga: 8. Deskripsi umum : Berupa pohon atau belukar dengan ketinggian dapat mencapai 7 meter. Bentuk: bulat telur terbalik. Dalam satu tandan terdapat 1-3 bunga yang bergerombol. Kepulauan Sunda Kecil). MYRTACEAE Nama setempat : Baru-baru. Individu yang lebih besar memiliki batang yang berlubang di tengahnya. 4114 . Meskipun demikian. Kulit kayu kadangkadang digunakan untuk menambal perahu dan kayunya tahan lama. Kulit kayu berwarna coklat atau abu-abu. berserat dan berserabut. Daun mahkota: Tidak ada. Buah ditutupi oleh cuping kelopak bunga dan kelopak tidak membuka pada saat telah matang. Papua New Guinea. Kelimpahan : Tidak tahu. Australia Tropis. Filipina. Unit & Letak: sederhana. Ukuran: panjang 5-10 mm.Osbornia octodonta F. dan pasir. dan dapat ditemukan pada lumpur halus.5-5 x 1-3 cm. Ukuran: 2. panjang 6 mm. Terdapat 2 pinak daun berbentuk elips. Bunga diserbuki oleh serangga. ada kelenjar minyak yang tembus cahaya dan berukuran kecil serta ada pembengkakan pada gagang daun sepanjang 2 mm yang berwarna merah. berbentuk datar dan bulat telur terbalik. diameter 5 mm.M. Ranting halus berwarna abu-abu pucat dan berbentuk segi empat pada saat muda. bunga tidak bertangkai tapi langsung menempel pada tandan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia (Irian Jaya. jumlahnya sampai 48 helai. Sulawesi. Kadang-kadang memiliki akar nafas. batuan. Tidak memiliki ketergantungan khusus terhadap substrat tumbuh. Daun : Berkulit tipis. menimbulkan aroma pada saat disentuh. jenis tumbuhan ini tidak ditemukan tumbuh pada daerah yang kerap tergenang oleh air tawar. Tumbuh di tempat yang lebih terbuka pada tepi daratan di daerah mangrove atau pada pinggiran alur air yang dipengaruhi oleh pasang surut. Kalimantan Utara. Manfaat : Para nelayan menggunakan daunnya untuk mengusir serangga. Ujung: membundar. Formasi: kelompok. Jawa Timur. Di Australia jenis ini ditemukan berbunga dari bulan Juni sampai Desember dengan puncaknya pada bulan November dan berbuah pada bulan Februari. Biji berjumlah 1-2.v. Pinak daun tersebut kemudian rontok. tangkai/dahannya tunggal atau berjumlah banyak. ukurannya lebih panjang dibanding cuping kelopak bunga. selalu hijau. Benang sari: berwarna putih hingga kuning. bersilangan. hijau (3-6 mm).

Osbornia octodonta bunga buah a d c b b a. d. b. pohon 1153 . daun. c. buah. bunga.

Ujung: membundar hingga menajam tumpul. menyebar rimbun/melebar di permukaan tanah. Berbentuk lonceng. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. warna coklat. panjang 10 mm. Ukuran: diameter buah 3-5 mm. Kelopak bunga: 12. berkulit dan agak melengkung/tertekuk ke dalam. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. kaku. Bentuk: elip hingga bulat telur terbalik. Daun mahkota: 6. berwarna hijau. Manfaat : Tidak diketahui. 4116 . Daun : Tebal (hingga 3 mm) berdaging. cantinggi. putih bersih. Letak: di ketiak daun. Ukuran: panjang 1-3 cm. dengan ketinggian hingga 3 m. pada tepi/lereng pematang tambak atau tepi saluran air yang masih terkena jangkauan pasang surut. Berbentuk seperti mangkuk es krim. Kelimpahan : Tidak diketahui. Benang sari: jumlahnya 12 . Formasi: berkelompok (ada 1 hingga beberapa bunga per kelompok). centigi.18. bagian tengahnya agak keunguan-kekuningan. di dalamnya terdapat 20-30 biji yang sangat kecil. Setidaknya tercatat di Bali dan Lombok. Sering dijumpai tumbuh pada pantai berpasir. mentigi.Phemphis acidula LYTHRACEAE Nama setempat : Sentigi. Akar nafas tidak terlalu berkembang. Deskripsi umum : Pohon/belukar. Kulit kayu berwarna abu-abu hingga coklat. permukaannya berambut.

d. buah & bunga pohon c b a d a. c. daun.Phemphis acidula daun. b. buah. bunga. pohon 1173 .

Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. bakau puteh. Biseksual. bakau kacang. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Letak: Di ketiak daun. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. abat. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. jankar. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter. dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Ujung: meruncing. kayu bakar dan arang. bangka minyak. halus. Daun : Berkulit.5-8 cm. bakau akik. Hipokotil silindris. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan. berbintil. Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. tersebar jarang di Australia. Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering). warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. Benang sari: 11-12. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). kuning kecoklatan. Daun mahkota: 4. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. Kelopak bunga: 4. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka. panjang 2-3. Tumbuh lambat. berisi satu biji fertil. donggo akit. bakau leutik. kuning-putih. Ukuran: Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Ukuran: 7-19 x 3. berwarna hijau jingga. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. Bentuk: elips menyempit. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah. panjangnya 9-11 mm. Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. tinjang. wako. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. melengkung. slengkreng.Rhizophora apiculata Bl. dalam dan tergenang pada saat pasang normal. 4118 . Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. Tumbuh pada tanah berlumpur. akik. parai. mangi-mangi. bakau tandok. warna coklat. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau minyak. tidak ada rambut.5 cm. tak bertangkai. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan.

b.Rhizophora apiculata daun bunga buah & hipokotil a c b d a. d. c. pohon 1193 . bunga. buah. daun.

5-8. ada rambut. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 27 m. 4120 . Anakan seringkali dimakan oleh kepiting. Anakan yang telah dikeringkan dibawah naungan untuk beberapa hari akan lebih tahan terhadap gangguan kepiting. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Afrika Timur. Hipokotil silindris. jarang melebihi 30 m. Pinak daun terletak pada pangkal gagang daun berukuran 5. berwarna hijaukecoklatan. Gagang kepala bunga seperti cagak. Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh dari percabangan bagian bawah. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bangka itam. berbiji tunggal. belukap. Mauritania. Kadang-kadang ditanam di sepanjang tambak untuk melindungi pematang. Gagang daun berwarna hijau. bersifat biseksual.5-5. panjangnya 13-19 mm. serta pada tanah yang kaya akan humus. tak bertangkai. lolaro. lenggayong. Bentuk: elips melebar hingga bulat memanjang. Di areal yang sama dengan R. Benang sari: 8. kasar dan berbintil. Ujung: meruncing. Daun mahkota: 4.5 cm. Letak: di ketiak daun. Hal tersebut mungkin dikarenakan adanya akumulasi tanin dalam jaringan yang kemudian melindungi mereka. panjang 2. bakau hitam. bakau korap. Asia tenggara. Kelopak bunga: 4. dongoh korap.putih. Manfaat : Kayu digunakan sebagai bahan bakar dan arang. Merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang paling penting dan paling tersebar luas. Buah lonjong/panjang hingga berbentuk telur berukuran 5-7 cm. dan kadang-kadang digunakan sebagai obat dalam kasus hematuria (perdarahan pada air seni). Tanin dari kulit kayu digunakan untuk pewarnaan.5 cm.apiculata tetapi lebih toleran terhadap substrat yang lebih keras dan pasir. Batang memiliki diameter hingga 70 cm dengan kulit kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah horizontal.Rhizophora mucronata Lmk. sehingga menghambat pertumbuhan mereka. Pada umumnya tumbuh dalam kelompok. jarang sekali tumbuh pada daerah yang jauh dari air pasang surut. bakau merah. Melanesia dan Mikronesia. Daun : Daun berkulit.5-5 cm. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Madagaskar. Ukuran: 11-23 x 5-13 cm. dekat atau pada pematang sungai pasang surut dan di muara sungai. jankar. seluruh Malaysia dan Indonesia. Leher kotilodon kuning ketika matang. Dibawa dan ditanam di Hawaii. kuning pucat. Pertumbuhan optimal terjadi pada areal yang tergenang dalam. 9 mm. Ukuran: Hipokotil: panjang 36-70 cm dan diameter 2-3 cm. seringkali kasar di bagian pangkal. Formasi: Kelompok (4-8 bunga per kelompok).

pohon 1213 . bunga.Rhizophora mucronata daun bunga c buah & hipokotil a b d a. daun. d. b. c. buah.

tetapi juga sebagai jenis pionir di lingkungan pesisir atau pada bagian daratan dari mangrove. berwarna abu-abu hingga hitam. Malaysia.5-4 cm. tongke besar. Kemungkinan diserbuki oleh angin. Ujung: meruncing. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. Sulawesi. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Taiwan. kuning hijau. wako. Deskripsi umum : Pohon dengan satu atau banyak batang. Menghasilkan bunga dan buah sepanjang tahun. Tercatat dari Jawa. Menyukai pematang sungai pasang surut. Kelimpahan : Umum. Benang sari: 8. Catatan : 4122 . stylosa lebih banyak daripada R. bako-kurap. Kulit kayu halus. kayu bakar. Bali. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Ukuran: meruncing. Sumba. ada rambut. Jumlah bunga per kelompok dari jenis R. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau. pasir dan batu.5 cm. tombak serta berbagai obyek upacara.0 cm. Bentuk: elips melebar. Kelopak bunga: 4. slindur. berwarna coklat. Masyarakat Aborigin di Australia menggunakan kayu jenis ini untuk pembuatan bumerang. Manfaat : Sebagai bahan bangunan. berisi 1 biji fertil. Sumbawa. bercelah. Papua New Guinea dan Australia Tropis.5-2. berbintik teratur di lapisan bawah. sepanjang Indonesia. bangko. Panjangnya 2. dan arang. putih. Anggur ringan serta minuman untuk mengobati hematuria (pendarahan pada air seni) dapat dibuat dari buahnya. berbentuk buah pir. Memiliki akar tunjang dengan panjang hingga 3 m. Leher kotilodon kuning kehijauan ketika matang. Daun mahkota: 4. dengan pinak daun panjang 4-6 cm. Gagang daun berwarna hijau. biseksual. Formasi: kelompok (8-16 bunga per kelompok). Maluku dan Irian Jaya.Rhizophora stylosa Griff. Satu jenis relung khas yang bisa ditempatinya adalah tepian mangrove pada pulau/substrat karang. Tumbuh pada habitat yang beragam di daerah pasang surut: lumpur. Lombok. berbintil agak halus. panjang 4-6 mm. Hipokotil silindris. dan akar udara yang tumbuh dari cabang bawah. Filipina. Letak: di ketiak daun. tinggi hingga 10 m. panjang gagang 1-3. Sumatera. mucronata. Daun : Daun berkulit.5-5 cm. panjangnya 13-19 mm. dan sebuah tangkai putik. Gagang kepala bunga seperti cagak. 8 mm. Ukuran: Hipokotil: panjang 20-35 cm (kadang sampai 50 cm) dan diameter 1.

pohon 1233 . b. daun. c. buah. bunga. d.Rhizophora stylosa daun & bunga buah c b a d a.

elips melebar dengan pangkal yang tidak merata. 4124 . Tumbuh pada mangrove berlumpur. Berwarna coklat. Ujung: meruncing. Kepala sari: Ujungnya tumpul. panjang gagang bunga 0. diameter 12-14 mm. Daun agak tebal. Daun mahkota: 5.5 mm. biji: 20-25 x 16-18 mm.5-2 cm.Sarcolobus globosa R. dan memiliki batang yang halus. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.5 cm. Ukuran: buah: 8-9 x 7-8 cm. Biji berjumlah banyak. Bagian dalam bunga ditutupi rambut-rambut pendek. Bunga terdapat pada tandan yang padat. ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Tidak tahu. khususnya di bagian urat daun. Daun : Permukaan atas daun ditutupi oleh rambut. Apabila sayapnya dicopot. dikelilingi oleh tepian yang menyerupai sayap. Ukuran: 4-9 x 3-5. Manfaat : Tidak tahu. panjang gagang 2-30 mm. sebagian besar soliter. berukuran 13-15 x 8-9 mm. Berwarna kuning dengan garis-garis memanjang berwarna jingga. permukaannya rata dan bentuknya bulat telur terbalik. Buah memiliki gagang yang tebal. terletak diatas tabung yang panjangnya 2. & S. Kelopak bunga: 5 terdapat kelenjar di dalamnya. berwarna coklat. Bentuk: bulat memanjang. tetapi kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Tidak tahu. Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok). maka biji tersebut akan tenggelam. Letak: di ketiak daun. berbintil. kaya akan cairan yang menyerupai susu. Deskripsi umum : Semak pemanjat dengan ketinggian hingga 4 m. Biji yang memiliki tepian seperti sayap dapat terapung di permukaan air. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Tercatat di Jawa.

b. buah. c. bunga.Sarcolobus globosa a b c a. daun 1253 .

Scyphiphora hydrophyllacea

Gaertn.

RUBIACEAE

Nama setempat : Perepat lanang, cingam, duduk perempuan, duduk rayap, duduk rambat, dandulit. Deskripsi umum : Semak tegak, selalu hijau, seringkali memiliki banyak cabang, ketinggian mencapai 3 m. Kulit kayu kasar berwarna coklat, cabang muda memiliki resin, kadang-kadang terdapat akar tunjang pada individu yang besar. Daun : Daun berkulit dan mengkilap. Pinak daun berkelenjar, terletak pada pangkal gagang daun membentuk tutup berambut. Gagang daun lurus panjangnya hingga 13 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 4-9 x 2-5 cm. Warna putih, hampir tak bertangkai, biseksual, terdapat pada tandan yang panjangnya hingga 15 mm. Letak: di ketiak daun. Formasi: kelompok (3-7 bunga per kelompok). Daun mahkota: 4-5; putih-agak merah, elips, 2-4 x 22,5 mm, mulut berambut kasar. Kelopak bunga: 4-5; berbentuk mangkok, bawahnya seperti tabung (panjang 5mm). Benang sari: 4-5. Silindris, berwarna hijau hingga coklat, berurat memanjang dan memiliki sisa daun kelopak bunga. Tidak membuka ketika matang. Terdapat 4 biji silindris. Ukuran: buah: panjang 8 mm, biji: 1 x 2 mm. Tumbuh pada substrat lumpur, pasir dan karang pada tepi daratan mangrove atau pada pematang dan dekat jalur air. Nampaknya tidak toleran terhadap penggenangan air tawar dalam waktu yang lama dan biasanya menempati lokasi yang kerap tergenang oleh pasang surut. Dilaporkan tumbuh pada lokasi yang tidak cocok untuk dikolonisasi oleh jenis tumbuhan mangrove lainnya. Perbungaan terdapat sepanjang tahun, kemungkinan diserbuki sendiri atau oleh serangga. Nektar diproduksi oleh cakram kelenjar pada pangkal mahkota bunga. Banyak buah yang dihasilkan, akan tetapi pembiakan biji relatif rendah. Buah teradaptasi dengan baik untuk penyebaran oleh air karena kulit buahnya yang ringan dan mengapung.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : India, Sri Lanka, Malaysia, seluruh Indonesia, Papua New Guinea, Filipina, Kepulauan Solomon dan Australia Tropis. Kelimpahan : Tersebar, dan secara keseluruhan relatif jarang. Manfaat : Catatan : Kayu kemungkinan dapat digunakan untuk peralatan makan, seperti sendok. Daun dapat digunakan untuk mengatasi sakit perut. Sangat menyerupai Lumnitzera, tetapi daun Lumnitzera letaknya bersilangan.

4126

Scyphiphora hydrophyllaceae

daun

bunga

buah

b a

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1273

Sonneratia alba

J.E. Smith

SONNERATIACEAE

Nama setempat : Pedada, perepat, pidada, bogem, bidada, posi-posi, wahat, putih, beropak, bangka, susup, kedada, muntu, sopo, barapak, pupat, mange-mange. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau, tumbuh tersebar, ketinggian kadang-kadang hingga 15 m. Kulit kayu berwarna putih tua hingga coklat, dengan celah longitudinal yang halus. Akar berbentuk kabel di bawah tanah dan muncul kepermukaan sebagai akar nafas yang berbentuk kerucut tumpul dan tingginya mencapai 25 cm. Daun : Daun berkulit, memiliki kelenjar yang tidak berkembang pada bagian pangkal gagang daun. Gagang daun panjangnya 6-15 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 5-12,5 x 3-9 cm. Biseksual; gagang bunga tumpul panjangnya 1 cm. Letak: di ujung atau pada cabang kecil. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). Daun mahkota: putih, mudah rontok. Kelopak bunga: 6-8; berkulit, bagian luar hijau, di dalam kemerahan. Seperti lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. Benang sari: banyak, ujungnya putih dan pangkalnya kuning, mudah rontok. Seperti bola, ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Buah mengandung banyak biji (150-200 biji) dan tidak akan membuka pada saat telah matang. Ukuran: buah: diameter 3,5-4,5 cm. Jenis pionir, tidak toleran terhadap air tawar dalam periode yang lama. Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan karang. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai. Di lokasi dimana jenis tumbuhan lain telah ditebang, maka jenis ini dapat membentuk tegakan yang padat. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga hidup tidak terlalu lama dan mengembang penuh di malam hari, mungkin diserbuki oleh ngengat, burung dan kelelawar pemakan buah. Di jalur pesisir yang berkarang mereka tersebar secara vegetatif. Kunang-kunang sering menempel pada pohon ini dikala malam. Buah mengapung karena adanya jaringan yang mengandung air pada bijinya. Akar nafas tidak terdapat pada pohon yang tumbuh pada substrat yang keras.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : Dari Afrika Utara dan Madagaskar hingga Asia Tenggara, seluruh Indonesia, Malaysia, Filipina, Australia Tropis, Kepulauan Pasifik barat dan Oceania Barat Daya. Kelimpahan : Umum. Melimpah setempat. Manfaat : Buahnya asam dapat dimakan. Di Sulawesi, kayu dibuat untuk perahu dan bahan bangunan, atau sebagai bahan bakar ketika tidak ada bahan bakar lain. Akar nafas digunakan oleh orang Irian untuk gabus dan pelampung.

4128

Sonneratia alba

daun

bunga

buah

b

c

b

a

d

a. bunga; b. buah; c. daun; d. pohon

1293

Sonneratia caseolaris (L. Malaysia. ketinggian mencapai 15 m. Kelimpahan : Umum. bijinya lebih banyak (800-1200). biasanya tanpa urat. jarang mencapai 20 m. Tidak toleran terhadap naungan. wahat merah. bagian luar hijau. berkulit. Pucuk bunga bulat telur. Filipina. Deskripsi umum : Pohon. mudah rontok. pidada. perepat.alba. Setelah direndam dalam air mendidih. kecenderungan pertumbuhan daun akan berubah dari horizontal menjadi vertikal. di dalam putih kekuningan hingga kehijauan. Manfaat : Buah asam dapat dimakan (dirujak). Ketika mekar penuh.00 malam). 5-13 x 2-5 cm.5 mm.) Engl. dan Kepulauan Solomon. Memiliki akar nafas vertikal seperti kerucut (tinggi hingga 1 m) yang banyak dan sangat kuat. Ujung: membundar. Letak: di ujung. 4130 . Juga tumbuh di sepanjang sungai. Daun mahkota: merah. Ukuran lebih besar dari S. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. tabung kelopak bunga berbentuk mangkok. Daun : Gagang/tangkai daun kemerahan. Tumbuh di bagian yang kurang asin di hutan mangrove. SONNERATIACEAE Nama setempat : Pedada. Kelopak bunga: 6-8. mudah rontok. Ukuran: buah: diameter 6-8 cm. dan berbentuk segi empat pada saat muda. lebar dan sangat pendek. ukuran 17-35 x 1. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Biji mengapung. Selama hujan lebat. akar nafas dapat digunakan untuk mengganti gabus. hingga Australia tropis. termasuk Indonesia. Ukuran: bervariasi.5-3. seluruh Asia Tenggara. bunga berisi banyak nektar. seringkali sepanjang sungai kecil dengan air yang mengalir pelan dan terpengaruh oleh pasang surut. ujungnya putih dan pangkalnya merah. Benang sari: banyak. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). posi-posi merah. mulai dari bagian hulu dimana pengaruh pasang surut masih terasa. serta di areal yang masih didominasi oleh air tawar. Ketika bunga berkembang penuh (setelah jam 20. Kayu dapat digunakan sebagai kayu bakar jika kayu bakar yang lebih baik tidak diperoleh. Tidak pernah tumbuh pada pematang/ daerah berkarang. dan melimpah setempat. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat memanjang. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Sri Lanka. Seperti bola. bidada. pada tanah lumpur yang dalam. rambai. bogem. Ujung cabang/ranting terkulai.

d. buah. pohon 1313 . daun. c. bunga. b.Sonneratia caseolaris bunga kuncup daun buah bunga mekar a c b d a.

Panjangnya 2. Gagang/tangkai bunga lurus. Letak: di ujung. Jawa. Kepulauan Riau. Manfaat : Kayu bakar. Ukuran: 4-10 x 3-9 cm. tetapi secara keseluruhan agak jarang. Ukuran: buah: diameter 3-5 cm. Kelimpahan : Umum setempat. 4132 . Daun : Bunga : Gagang/tangkai daun panjangnya 2-15 mm.5 cm.Sonneratia ovata Back. Malaysia. atau kadang-kadang tidak ada. Seperti bola. Daun mahkota: tidak ada. biasanya hingga 5 m. kadang-kadang mencapai 20 m. Sumatra. Sungai Sebangau/Kalimantan Tengah. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil atau sedang. Buah muda dapat dimakan sebagai rujakan. Sulawesi. Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Thailand. SONNERATIACEAE Nama setempat : Bogem. Formasi: soliter-kelompok (ada 1-3 bunga per kelompok). Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Tidak pernah tumbuh pada substrat karang. warnanya putih dan mudah rontok. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga.5 4. Bentuk: bulat telur. panjang 1-2 cm. Pucuk bunga berbentuk bulat telur lebar dan ditutupi oleh tonjolan kecil. Ujung: membundar. Maluku. kedabu. dengan cabang muda berbentuk segi empat serta akar nafas vertikal. Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove yang airnya kurang asin. Kelopak bunga: bagian dalam merah. Benang sari: banyak. Tabung seperti mangkok. Ukuran hampir sama dengan S. tanah berlumpur dan di sepanjang sungai kecil yang terkena pasang surut. muncul dari gagang yang pendek.alba. dan Papua New Guinea.

buah. daun. pohon 1333 .Sonneratia ovata bunga buah c a b d a. c. d. b. bunga.

Susunan biji di dalam buah membingungkan seperti teka-teki (dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘puzzle fruit’). Individu yang telah tua seringkali ditumbuhi oleh epifit. Manfaat : Kayunya hanya tersedia dalam ukuran kecil. kabau. Seperti bola (kelapa). Daun mahkota: 4. Tumbuh di sepanjang pinggiran sungai pasang surut. nyiri udang. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian 10-20 m. nilih. tipis dan mengelupas. nyiri hutan. mokmof. sementara pada cabang yang muda.17 cm x 2. buli. putih kehijauan. dan lingkungan payau lainnya yang tidak terlalu asin. Kelimpahan : Melimpah setempat. Irian Jaya. Seringkali tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. meliuk-liuk dan membentuk celahan-celahan. Daun : Agak tebal. lonjong. Maluku dan Sumba. Ukuran: 4. Kulit kayu berwarna coklat muda-kekuningan. buli hitam. bulu putih. siri. Bentuk: elips bulat telur terbalik. berkulit. Batang seringkali berlubang. banang-banang. Ujung: membundar. warna hijau kecoklatan.9 cm. berat bisa 1-2 kg. Formasi: gerombol acak (8-20 bunga per gerombol). Buah akan pecah pada saat kering. nyireh bunga. khususnya pada area bekas tebangan hutan dan gangguan lainnya. panjang 5-7 mm. 4134 . jombok gading. panjang 3 mm.5 . Bunga terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. berkayu dan berbentuk tetrahedral. Bali. kadang-kadang digunakan sebagai bahan pembuatan perahu. Ukuran: buah: diameter 10-20 cm. jomba. Kulit kayu dikumpulkan karena kandungan taninnya yang tinggi (>24% berat kering). nyireh.Xylocarpus granatum Koen MELIACEAE Nama setempat : Niri. Letak: di ketiak. Sulawesi. niumiri-kara. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia tumbuh di Jawa. khususnya pada pohon yang lebih tua.5 . Buahnya bergelantungan pada dahan yang dekat permukaan tanah dan agak tersembunyi. kulit kayu berkeriput. Kelopak bunga: 4 cuping. Kalimantan. nipa. inggili. Kepulauan Karimun Jawa. Memiliki akar papan yang melebar ke samping. tepinya bundar. Madura. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. nyiri. Di dalam buah terdapat 6-16 biji besar-besar. pohon kira-kira. Sumatera. nyuru. Tandan bunga (panjang 2-7 cm) muncul dari dasar (ketiak) tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 4-8 mm. susunan daun berpasangan (umumnya 2 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. Benang sari: berwarna putih krem dan menyatu di dalam tabung. pinggir daratan dari mangrove. kuning muda.

daun. bunga. buah. kulit kayu 1353 . d. c. b.Xylocarpus granatum bunga buah a c d b a.

Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di PNG. 4136 . berwarna putihkekuningan dan panjang 5 x 2 mm. Formasi: gerombol acak (9-35 bunga per gerombol). Bentuk: elips . berbentuk tiang dengan mahkota berbentuk kerucut.5 cm. Kelopak bunga: berwarna hijau. dengan ukuran 4. Letak: di ketiak. Tandan bunga (panjang 4-6. dengan ujung tajam atau tumpul dengan panjang 2-4 mm.5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 6-10 mm. Jamu dari pohon ini digunakan untuk mengobati kolera. Ukuran: panjang bisa mencapai 20 cm. Australia Barat. Daun mahkota: berbentuk lonjong lebar.5 cm. Kulit kayu berwarna coklat muda. Mereka menyukai daerah yang memperoleh masukan air tawar selama beberapa kali dalam setahun. biji: diameter 6. Ujung: membundar. Kepala sari panjangnya 1 mm. Afrika Timur. Pohon jenis ini ditemukan di tepi hutan yang berbatasan dengan perairan pasang surut dan pada bagian tepi daratan di daerah mangrove.Xylocarpus mekongensis Pierre MELIACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Deskripsi umum : Pohon yang kuat. Ukuran: buah: diameter 5-10 cm. Asia Tenggara. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. Manfaat : Bahan bangunan.5-12 x 2-7. panjang 2 mm. mengelupas secara longitudinal. Seperti bola dan terbagi atas beberapa bagian kepingan. Substrat tumbuhnya terdiri dari pasir dan lumpur. panjang 5 mm. dan mungkin saja tumbuh di Irian Jaya Kelimpahan : Ditemukan secara berkala tetapi tidak pernah dalam kelimpahan yang tinggi. dan memiliki garis-garis sempit. ketinggian sampai 15 m. minyak untuk penerangan dan minyak rambut serta untuk pewarnaan (di PNG). kayu bakar. Benang sari: tabung benang sari berbentuk seperti kendi. Daun : Pinak daun berbentuk lonjong.bulat telur terbalik.

kulit kayu. e. akar 1373 . d. b. buah. bunga. c. daun.Xylocarpus mekongensis a b c d e a.

hijau kekuningan. Kalimantan. Maluku. Deskripsi umum : Pohon tingginya antara 5-20 m. Unit & letak: majemuk & berlawanan. MELIACEAE Nama setempat : Niri/nyirih batu. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa. menyatu. Jamu yang berasal dari buah dipakai untuk obat habis bersalin dan meningkatkan nafsu makan. putih kekuningan. susunan daun berpasangan (umumnya 2-3 ps pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. Benang sari: 8. kabau. Ukuran: 4-12 cm x 2-6. jombok. Warna hijau. Sulawesi. Daun mahkota: 4. raru. Formasi: gerombol acak (10-35 bunga per gerombol). Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. Bentuk: elips .granatum. sementara pada batang utama memiliki guratan-guratan permukaan yang tergores dalam. permukaan berkulit dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral. pematang sungai pasang surut. Tandan bunga (panjang 6-18. serta tampak sepanjang pantai. nyirih. Tanin kulit kayu digunakan untuk membuat jala serta sebagai obat pencernaan. siri. mojong tihulu. Irian Jaya. Jenis mangrove sejati di hutan pasang surut. loleso. perahu dan kadang-kadang untuk gagang keris. parasar. putih krem dan tingginya sekitar 2 mm.bulat telur terbalik. nyiri gundik. Ukuran: buah: diameter 8-15 cm.Xylocarpus moluccensis (Lamk) Roem. lonjong. pamuli.5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 2-10 mm. Memiliki akar nafas mengerucut berbentuk cawan. 4138 . Kelimpahan : Umum setempat. Daun : Lebih tipis dari X. Kelopak bunga: 4 cuping. bulat seperti jambu bangkok. panjang nya 6-7 mm. tepinya bundar. Kulit kayu halus. Bali. panjang sekitar 1. Biji digunakan sebagai obat sakit perut. nyuru. Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. Letak: di ketiak. banang-banang.5cm.5 mm. miumeri-mee. NTT. membuat rumah. Ujung: meruncing.

bunga. kulit kayu. daun. b. d. akar 1393 . c.Xylocarpus moluccensis buah bunga c a b d a.

Terdapat di pantai berpasir atau berbatu. Bentuk: bulat telur-bulat memanjang. Kelimpahan : Tidak diketahui. putih krem. krem-putih kehijauan. Ujung: meruncing.) Mabb. Letak: di ketiak. bulat seperti jambu bangkok. Ukuran: 7 x 12 cm. Kelopak bunga: 4 cuping. membuat rumah dan perahu. niri. granatum). Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. hijau kekuningan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa dan Bali. Kulit kayu kasar berwarna coklat dan mengelupas seperti guratan-guratan kecil dan sempit. permukaan licin berkilauan dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral. jombok.Xylocarpus rumphii (Kostel. Deskripsi umum : Pohon tingginya dapat mencapai 6 m. Benang sari: menyatu membentuk tabung. Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. MELIACEAE Nama setempat : Nyirih. Formasi: Gerombol acak. Warna hijau. siri. 4140 . banang-banang. di belakang atau sedikit di atas garis pasang tinggi. Memiliki akar udara tapi tidak jelas. Ukuran: buah: diameter 8 cm (lebih kecil dari X. Daun : Susunan daun berpasangan (umumnya 3-4 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. nyirih batu. Jenis mangrove sejati. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. Warna hijau tua. Daun mahkota: 4.

bunga. buah. daun 1413 . c.Xylocarpus rumphii daun buah pohon a c b a. b.

1433 .

Kelopak bunga: berwarna putih kehijauan.) Kurz LECYTHIDACEAE Nama setempat : Sea putat. bogem.Barringtonia asiatica (L. Pohon dan bijinya mengandung saponin yang dapat digunakan sebagai racun ikan. kadang-kadang di mangrove. Manfaat : Kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias. Jawa. ketika tua berwarna kuning atau merah muda pucat. Bunga terbuka setelah matahari tenggelam dan rontok menjelang pagi. butong. hutun. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil hingga sedang dengan ketinggian 7-20 (-30) m dan diameter 25-100 cm. seperti lintah. bitung. Buah berwarna hijau (kadang tersamar oleh warna daunnya) lalu berubah menjadi cokelat. Tumbuh di hutan pantai. Sulawesi. putat laut. Ranting tebal. permukaan halus dan berbentuk tetrahedral/piramid seperti buah delima. Kelimpahan : Umum. Jenis ini seringkali dikelirukan dengan Terminalia catappa atau Fagraea crenulata. Biji yang digunakan sebagai racun ikan seringkali dicampur dengan tuba (Derris – rotenon). Benangsari: banyak dan panjang. B. Ukuran: 15-45 x 9-20 cm. menggantung seperti payung.catappa. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Formasi: bergerombol. Buah sering terlihat mengapung sepanjang pantai. Meskipun demikian. Daun : Berwarna hijau tua. Minyak yang berwarna kemerahan dapat diperoleh dengan memanaskan dan memeras bijinya. pantai dan pantai berkarang. Ujung: agak membundar. termasuk Sumatera. butun. pertun. Catatan : 4144 . Kalimantan. Mahkota pohon berdaun besar dan rimbun. Tercatat di seluruh Indonesia. Bentuk: bulat telur terbalik. crenulata memiliki daun yang tumbuh berpasangan serta memiliki duri di sepanjang batangnya. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh dari Madagaskar hingga Pasifik Barat. Kulit kayu abu-abu agak merah muda dan halus. Ketika masih muda daun berwarna agak merah muda. warnanya merah di bagian ujung dan putih di dekat pangkal. Sunda Kecil dan Maluku. cairan yang diperoleh dari bijinya dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan payung .asiatica memiliki daun yang lebih berdaging. tumpul. Berisi satu biji berukuran besar. putih dan kuning. Menggantung. diameternya sampai 10 cm dan harum. Di Jawa. berkulit dan urat daun nampak jelas. F. Tumbuh sama baiknya di daratan. Bali. Ukuran: diameter buah 1015 cm. serta untuk membunuh ekto-parasit. Besar. Daun mahkota: 4. agak tebal. talise. sehingga hanya terbuka satu malam saja. berukuran sangat besar. Penyerbukan kemungkinan dilakukan oleh ngengat besar. lebih mengkilat dan ujung yang lebih runcing dibandingkan dengan T. Mereka mengapung dan dapat tumbuh setelah menempuh perjalanan yang jauh.

Barringtonia asiatica buah pohon a a c b a. buah. b. bunga. daun 1453 . c.

memiliki tempurung kuat dan di dalamnya terdapat 1 biji. Malaysia dan Indonesia (Bali) sering ditanam sebagai pohon peneduh. biasanya tumbuh agak bengkok.5-4 cm. nyamplung. bintanguru. Deskripsi umum : Pohon berwarna gelap. menggantung seperti payung. Perbungaan nampaknya terjadi terus menerus sepanjang tahun. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur hingga Polinesia. Kadang-kadang tumbuh pada lokasi mangrove.5 x 6-11 cm. biasanya pada habitat transisi. bagian bawahnya hijau agak kekuningan. ketinggian 10-30 m. Daun mahkota: 4. Bali. Penyerbukan hampir pasti dilakukan oleh serangga. tandan bunga panjangnya hingga 15 cm serta memiliki 5-15 bunga per tandan. dua dari kelopak bunga berwarna putih. bintangur laut. Kelimpahan : Umum. benaga. Ukuran: 10-21. Tercatat di Sumatera di sepanjang Danau Singkarak pada ketinggian 386 m. 4146 . minyak. Benangsari: banyak. Daun : Memiliki banyak urat dengan posisi lateral paralel dan halus. kayu dan obat-obatan. ukuran diameter 2-3 cm. Bagian atas daun berwarna hijau tua dan mengkilap. naga. hingga ketinggian 200 m. menaga. Ukuran: diameter buah 2. atau oleh kelelawar yang memakan bagian luar buah yang berdaging. condong atau bahkan sejajar dengan tanah. Ujung: membundar. berdaun rimbun.Calophyllum inophyllum L. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Letak: di ketiak. Dapat digunakan sebagai bahan pewarna. dan dimasukan ke Pasifik. putih dan kuning. Kelopak bunga: 4. Bentuk: elips hingga bulat memanjang. Kalimantan dan Irian Jaya. GUTTIFERAE Nama setempat : Camplung. Manfaat : Buah mudanya digarami untuk makanan. buahnya yang sudah tua dipakai bermain oleh anak-anak sebagai kelereng atau bola pingpong kecil. Berbentuk bulat seperti bola pingpong kecil. Di Bali. Buah disebarkan melalui arus laut. Formasi: bergerombol. Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Memiliki getah lekat berwarna putih atau kuning. agak mirip dengan daun Rhizopora mucronata (jenis bakau). Jawa. tercatat di Sumatera. harum. dengan satu atau lebih saat puncaknya. Tumbuh pada habitat bukan rawa dan pantai berpasir. Biseksual. Di Australia.

bunga. buah. b. d. c. daun. bentuk urat daun 1473 .Calophyllum inophyllum bunga & buah pohon c a a d b a.

kekar dan kaku. Tumbuh pada habitat yang tidak tergenang air. Di Bali dijumpai mulai pada daerah pantai yang gersang dan udaranya panas hingga ke lereng gunung Agung yang suhu udaranya sejuk. Formasi: seperti payung yang sedang dibuka. Ujung: membundar. Memiliki tandan dan tangkai/gagang bunga yang panjang. Bentuk: bulat telur melebar. Ukuran: 10-20 x 3. 4148 . Letak: pada ketiak daun. diameter 3-4 cm. Umumnya dijumpai di lahan-lahan pantai yang terbengkalai dan terbuka (mendapat sinar matahari penuh). Daun : Posisi daun horizontal. widuri. pantai berpasir dan lahan berbatu. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. permukaan daun (atas maupun bawah) dilapisi oleh rambut-rambut halus yang berwarna agak putih seperti tepung. daun dan bunganya sering digunakan sebagai makanan jangkrik. ukuran diameter 6-10 mm. Deskripsi umum : Herba rendah/semak. Manfaat : Di Bali. Kelopak bunga: 5. mendori. menori.Calotropis gigantea L. modori. Kelimpahan : Umum.5 cm. Ukuran: diameter buah 10-15 mm. seperti piramid. tercatat di Bali dan Jawa. hingga ketinggian sekitar 300 m. ketinggian mencapai 3 m. Berbentuk bulat seperti kapsul dan di dalamnya terdapat banyak biji-biji yang permukaannya berambut halus. Dryander ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Biduri. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Memiliki banyak getah.5-5. Daun mahkota: putih agak ungu. berwarna ungu agak putih.

b. bunga. c.Calotropis gigantea bunga pohon b a c a. daun 1493 . buah.

reumatik. serta pilek. Tersebar di PNG. memiliki lentisel dan cairan putih susu. kadong. Biasanya tumbuh di bagian tepi daratan dari mangrove. Jawa. Bentuk: bulat memanjang atau lanset. hijau hingga hijau kemerahan. Ukuran: 10-28 x 2-8 cm. Berbentuk bulat. Daun mahkota: 5. Benang sari: tidak bergagang.l). Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. putih kehijauan.p. Perpanjangan dari masing-masing benang sari yang berambut dan berbentuk seperti taji menutupi kerongkongan tabung mahkota bunga. Timor dan Irian Jaya. Catatan : 4150 . goro-goro. Biasanya terdapat 20 –30 bunga pada setiap tandan. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Manfaat : Minyak yang diperas dari biji dan buah mudanya dapat digunakan untuk mengatasi gatal-gatal. kenyeri putih. Kulit kayu dan daun digunakan sebagai obat pencahar. tetapi kurang memiliki akar udara dan akar nafas. Kepulauan Bismarck dan seluruh Kepulauan Solomon. menempel pada mulut tabung. hijau mengkilap di bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. Kayu digunakan sebagai kayu bakar dan bahan arang. bilu tasi. Belakangan ini banyak dipakai sebagai tanaman hias/peneduh di dalam kompleks perumahan. kenyen putih. jaraknya agak jauh dari daun mahkota. koyandan. Ujung: meruncing. Daun : Agak gelap. Akar menjalar di permukaan tanah. jabal. Formasi: berkelompok secara tidak beraturan. Berpotensi sebagai obat farmakologi karena pengaruh kardiovaskular-nya. mangga brabu. Tercatat di Bali. Tumbuh di hutan rawa pesisir atau di pantai hingga jauh ke darat (400 m d. Kulit kayu bercelah. Minyak biji dapat digunakan untuk meracuni ikan (di Burma juga digunakan sebagai insektisida).Cerbera manghas L. seperti daun mangga. waba. Ukuran: diameter buah 6-8 cm. berwarna abu-abu hingga cokelat. APOCYNACEAE Nama setempat : Bintan. Sulawesi Utara. Kelopak bunga: 5. Letak: di ujung cabang. Maluku. menyukai tanah pasir yang memiliki sistem pengeringan yang baik. Selintas bentuknya menyerupai buah mangga. Kelimpahan : Umum. putih bersih dengan bagian pusat berwarna jingga hingga merah muda-merah. terbuka terhadap udara dari laut serta tempat yang tidak teratur tergenang oleh pasang surut. bintaro. badak. mengkilat dan berdaging. Deskripsi umum : Pohon atau belukar dengan ketinggian mencapai 20 m. Sumatera Barat. kayu susu. kayu kurita.

b.Cerbera manghas bunga buah pohon c a b a. daun 1513 . c. bunga. buah.

Deskripsi umum : Belukar. kaku dan tertekuk ke dalam. Kelimpahan : Umum. bagian bawahnya bertangkai panjang.Clerodendrum inerme Gaertn VERBENACEAE Nama setempat : Kayu tulang. Letak: di ketiak daun. Ukuran: diameter buah 7-10 mm. Ukuran: panjang 3-4 cm. Ujung: meruncing. keranji. menjalar melebar di permukaan tanah. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Daun : Hijau tua mengkilap di bagian atas. Tumbuh subur pada daerah lumpur kering atau lumpur berpasir di belakang kawasan hutan mangrove. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Daun mahkota: 5. permukaannya seperti kulit. Manfaat : Tidak diketahui. Benang sari: terjurai sangat panjang jika dibandingkan dengan mahkota bunganya. Berbentuk bulat telur. 4152 . dengan ketinggian kurang dari 2 m. Berbentuk lonceng. Kelopak bunga: hijau dan jaraknya agak jauh dari daun mahkota. warna hijau hingga kecoklatan. bulat memanjang. mengkilat dan berdaging. kwanji. warnanya merah keunguan. putih bersih. Formasi: berkelompok (3 bunga per kelompok). dadap-laut. Setidaknya tercatat di Jawa dan Bali. Bentuk: elip.

daun 1533 . bunga & buah c a b a. b.Clerodendrum inerme daun. bunga. c. buah.

LEGUMINOSAE Nama setempat : Ambung. Batang yang lebih muda berwarna merah tua. areuy ki tonggeret. Cina hingga India dan Afrika. Bunga muncul pada bulan September – November. Formasi: bulir. Australia. Benangsari: bagian atas tumbuh sendiri. panjangnya sekitar 1 cm.5-3. Indonesia. tuwa areuy. Ukuran: 6-13 x 2-6 cm. Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas. sementara 9 lainnya bersatu. bulat memanjang atau hampir bundar. Ujung: meruncing. tandan bunga panjangnya 7-20 cm dan gagang bunga panjangnya 2 mm. permukaan atas berwarna hijau mengkilat dan bagian bawah abu-abu-hijau. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Melalui Asia Tenggara. Tumbuh pada substrat berpasir dan berlumpur pada bagian tepi daratan dari habitat mangrove. Unit & Letak: majemuk dan bersilangan. Letak: di ketiak batang yang tumbuh horizontal sepanjang permukaan tanah. hampir bundar. Biji dan polong teradaptasi dengan penyebaran melalui air. Manfaat : Penggunaan jenis ini untuk meracuni ikan sudah banyak diketahui. kambingan. biji 12 x 11 mm. tipis/pipih. Daun : Memiliki 3-7 pinak daun. Ukuran: buah 2-4. Batangnya sangat tahan lama dan dapat digunakan sebagai tali. tuba laut. Biseksual. panjang 15 m atau lebih. Mereka mungkin juga disebarkan melalui angin. tergenang secara tidak teratur oleh air pasang surut. Deskripsi Umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu.5 x 2. Daun mahkota: ungu agak putih-merah muda pucat. bergerombol.Derris trifoliata Lour. Polong berkulit. Bentuk: bulat telur atau elips. toweran. Satu atau dua biji berkeriput. hijau-perunggu ketika kering. yaitu Derris elliptica. Kulit kayu coklat tua. Menyukai areal yang mendapat pasokan air tawar. kamulut. gadel. tuba abal. halus dengan lentisel merah muda. memiliki banyak lentisel. Catatan : 4154 . Masyarakat di Indonesia Timur menanam varietas sendiri yang kemudian dicampur dengan bahan kimia untuk meracuni (membius) ikan. sementara buah pada bulan November sampai Desember (di Australia).5 cm. Racun ikan yang dijual secara komersial (rotenone) dihasilkan dari akar jenis lain.

daun 1553 . buah.Derris trifolia buah bunga a c b a. b. c. bunga.

Daun : Tebal berdaging.7 – 1. Ukuran: buah 7-8 x 2. mengandung getah berwarna putih. warna hijau cerah. Bentuk: elips hingga bulat telur terbalik. Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas.5-5 cm.0 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. waktu masih muda berwarna hijau tapi jika sudah matang warnanya kemerahan. Deskripsi umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu. Bentuk seperti kapsul atau seperti kantung perut ayam. Ukuran: 8-13 x 3. Manfaat : Tidak diketahui. kadang-kadang dijumpai lebih ke arah pantai. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. panjangnya sekitar 0.5-3. Putih dan merah muda. 4156 .Finlaysonia maritima Backer ex Heyne. ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Basang siap. Ujung: membundar. Dijumpai pada kawasan mangrove yang terbuka.5 cm. Buah berpasangan.

b. daun 1573 . buah.Finlaysonia maritima daun & buah b a a.

Letak: di ketiak daun. Saat mekar (sore hari) berwarna kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. Perbungaan sepanjang tahun. waru langit. kabaru. Kayu digunakan sebagai bahan pembuatan bagian dalam perahu (Lombok). Akarnya digunakan sebagai obat demam. MALVACEAE Nama setempat : Waru laut. Juga umum di sepanjang pinggiran sungai di kawasan dataran rendah. bergerigi. diameter buah sekitar 2 cm. siron. Ukuran: 7. Pada daun tua. Berbentuk lonceng. Dasar dari gagang tandan bunga yang memanjang ditutupi oleh pinak daun yang kemudian akan jatuh dan menyisakan tonjolan berbentung cincin. Biji mengapung dan dapat tumbuh meskipun dimasuki air laut. molowahu.514. Tangkai putik: ada 5 (tidak menyatu). berwarna cokelat keabu-abuan. dan memiliki biji khas yang berambut.5 cm. Formasi: soliter atau berkelompok (2-5). Pan-tropis. setidaknya di penyemaian. Daun mahkota: kuning. Kulit kayu halus. Catatan : 4158 . Daun : Agak tipis (jika dibanding Thespesia populnea). Manfaat : Ditanam sebagai pohon peneduh di taman. iwal. lalu keesokan harinya keseluruhan bunga jadi jingga dan rontok. berkulit dan permukaan bawah berambut halus dan berwarna agak putih. baru. waru lot. burik-burik. Perbedaannya dengan Thespesia populnea dirinci pada halaman berikutnya. fau. waru lenga. bahu. Daun kadang-kadang digunakan sebagai makanan ternak. Penyebaran geografis serta sifat ekologi alami belum diketahui secara pasti. Ujung: meruncing. kasjanaf. diameter 5-7 cm. Penyebaran : Di seluruh Indonesia. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Ukuran: Bunga : Buah : Ekologi : Merupakan tumbuhan khas di sepanjang pantai tropis dan seringkali berasosiasi dengan mangrove. waru langkong.Hibiscus tiliaceus L. Kelopak bunga: 5. Deskripsi umum : Pohon yang tumbuh tersebar dengan ketinggian hingga mencapai 15 m.5-15 x 7. wakati. dengan kepala putik berwarna ungu kecoklatan Membuka menjadi 5 bagian. Kelimpahan : Tersebar luas dan umum. waru lengis. kelenjar pengeluar gula seringkali berwarna hitam karena diserang jamur. Bentuk: seperti hati. Serat kayu digunakan sebagai tali.

daun.Hibiscus tiliaceus daun & bunga pohon b c a d a. d. buah. pohon 1593 . bunga. b. c.

wedor. wasir dan korengan. daun kacang. bulalingo. CONVOLVULACEAE Nama setempat : Batata pantai. Berwarna merah muda . ketepeng. mari-mari. daredei. daun katang. Berbentuk kapsul bundar hingga agak datar dengan empat biji berwarna hitam dan berambut rapat. Dua anak jenis dikenali oleh beberapa penulis. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. Catatan : 4160 . Keduanya terdapat di Indonesia. tebal.ungu dan agak gelap di bagian pangkal bunga. dan I. wedule. Letak bunga: di ketiak daun pada gagang yang panjangnya 3-16 cm. Batang berbentuk bulat. serta kadang-kadang pada saluran air. Bentuk: bulat telur seperti tapak kuda. biji 6-10 mm. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. katang-katang. Formasi: soliter. watata ruruan. Deskripsi umum : Herba tahunan dengan akar yang tebal. Daunnya untuk obat reumatik/nyeri persendian/pegal-pegal. sedangkan akarnya sebagai obat sakit gigi dan eksim. Ujung: membundar membelah (bertakik).) Sweet. pes-caprae ssp. meskipun anak jenis yang terakhir hanya diketahui dari Sumatera Barat dan Pulau Krakatau. Daun mahkota: berbentuk seperti terompet/corong. pes-caprae ssp. tapak kuda. kabai-kabai. balim-balim. loloro.5 cm.Ipomoea pes-caprae (L. leleri. akar tumbuh pada ruas batang. Daun : Tunggal. tetapi juga tepat pada garis pantai. dolodoi. Ukuran: 3-10 x 3-10. biasanya di pantai berpasir. diameter pada saat membuka penuh sekitar 10 cm. brasiliensis yang memiliki takik pada ujung daun. Wanita hamil dilarang memakai tanaman obat ini. Kelimpahan : Sangat umum. pescaprae yang memiliki cuping daun yang dalam. alere. lalu menguncup setelah lewat tengah hari. basah dan berwarna hijau kecoklatan. Bunga membuka penuh sebelum tengah hari. Batang panjangnya 5-30 m dan menjalar. daun barah. tati raui. yaitu I. Manfaat : Bijinya dilaporkan sebagai obat yang baik untuk sakit perut dan kram. Ukuran: buah 12-17 mm. Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 600 m. panjang 3-5 cm. tilalade. Cairan dari batangnya digunakan untuk mengobati gigitan dan sengatan binatang. andali arana. dalere. licin dan mengkilat.

bunga. b.Ipomoea pes-caprae daun & bunga a c b a. daun 1613 . buah. c.

Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 1650 m.5 – 4 m. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. disentri basiler. setiap kelompok ada 2-3 bunga. Ukuran: 2-20 x 0. Warna ungu kemerahan. lahan terlantar. pembekuan dalam pembuluh darah.5 cm. wasir berdarah. sariawan. panjangnya 8-17 mm.5-6. kluruk. 4162 . tinggi sekitar 0. jika sudah matang akan merekah dan terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen (bagian). Akar. Formasi: berkelompok. Letak: di ujung cabang. daun dan seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat gangguan pencernaan. hepatitis. Manfaat : Buahnya enak dimakan. Biji kecil sekali berupa bintik-bintik berwarna coklat. daunnya yang masih muda sebagai sayur/lalab. Berbentuk kapsul bulat. pinggir jalan hingga lereng gunung. Ukuran: diameter buah 8-10 mm. keracunan oleh singkong. kaku. warna ungu tua kemerahan. Ujung: meruncing lancip. Biasanya muncul bersama tanaman semak lainnya. harendong. Urat daun menyirip rapat secara lateral. Daun mahkota: jumlahnya 4-18. membuka penuh secara horizontal. keputihan.Melastoma candidum D. kemanden Deskripsi umum : Perdu. warnyanya hijau hingga hijau kekuningan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia.75-8. Don MELASTOMATACEAE Nama setempat : Senduduk.5 cm. lapangan terbuka. Daun : Tebal. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup. pada permukaan daun terdapat tiga tulang daun yang jelas dan memanjang lurus seperti garis (longitudinal) kearah ujung daun. Kelimpahan : Sangat umum. mulai dari pantai yang berlumpur. cabangnya banyak. tandan dan gagang bunga berwarna hijau kecoklatan. Tangkai putik: warnanya kuning keputihan. diameter saat membuka penuh 4. bisul dan memperlancar air susu ibu. senggani. Kelopak bunga: berbentuk tabung dengan bentuk cuping bergerigi 5. diare. mimisan.

buah. b. c.Melastoma candidum bunga & buah a b c a. daun 1633 . bunga.

lengkudu. buah setengan matang untuk rujak. mulai dari pantai berpasir hingga berlumpur. akar. tinggi 3-8 m. keumudee. Deskripsi umum : Perdu atau pohon kecil yang tumbuh membengkok. ladang atau ditanam di pekarangan sebagai tanaman sayur atau tanaman obat. ketika matang agak kekuningan. Ketika masih mentah berwarna hijau muda. warna putih. kudu. lahan terlantar. pamarai. Ujung: meruncing. dan yang matang untuk membersihkan karat pada logam atau untuk keramas. coklat kehitaman dan banyak. bakulu. Daun mahkota: jumlahnya 5. wungkudu. lembek dan berair. cacingan. buah. Bentuk: bulat telur hingga elips.l. ai kombo. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. labanau. Selain itu. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup hingga sedikit ternaungi.Morinda citrifolia L. Manfaat : Akarnya untuk mewarnai batik dan anyaman pandan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mulai dari Asia Tropis hingga Polynesia. mangkudu. daun. eoru. bertangkai pendek. Formasi: payung dengan 5-8 bunga. Ukuran: 10-40 x 5-17 cm. cangkudu.p. banyak cabang dengan ranting segi empat. radang empedu. pinggir jalan hingga jauh ke darat. sariawan. Warna putih. tibah. Kelimpahan : Sangat umum. bunga atau kulit batang tanaman ini dapat juga digunakan sebagai obat batuk. disentri. Biji kecil-kecil. eodu. Letak: di ketiak daun. pace. sakit lever. harum dan mudah rontok. Ukuran: panjang 5-10 cm. RUBIACEAE Nama setempat : Mengkudu. lapangan terbuka. dll. Lonjong bulat telur seperti kapsul dan penuh dengan benjolan. 4164 . hutan. tepi daun rata. sakit pinggang. Di Indonesia banyak ditemukan dari dataran rendah (dekat pesisir pantai). Buah muda direbus untuk lalab. warnyanya hijau tua mengkilap. kemudu. daun muda biasa dikukus dan direbus sebagai sayuran atau untuk membungkus ikan. Tumbuh liar di pantai hingga 500 m d. melancarkan kencing. tekanan darah tinggi.bangkudu. sakit perut . Urat daun menyirip kearah pinggiran daun dan tampak sangat jelas. Daun : Tebal. cacar air. neteu.

b. buah. daun 1653 . bunga. c.Morinda citrifolia buah & bunga b a c a.

0 meter. terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai. PANDANACEAE Nama setempat : pandan. Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Letak: di ujung. Kelimpahan : Sangat umum. Benangsari: banyak. Panjang antara 0. 4166 . Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai. Manfaat : Sebagai tanaman hias dan tanaman pagar.5 – 2. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam.Pandanus odoratissima. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m. Formasi: payung. Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya merah.

b. daun 1673 . buah.Pandanus odoratissima buah pohon a b a.

terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam. Parkinson ex Z. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m. Panjang antara 0. Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Letak: di ujung. Kelimpahan : Sangat umum. Formasi: payung. Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya kuning jeruk. PANDANACEAE Nama setempat : Pandan. Bunganya dimanfaatkan untuk wangi-wangian dan hiasan pada acara pernikahan. Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai.Pandanus tectorius. Benangsari: banyak.0 meter Warna merah-ungu. 4168 .5 – 2. Manfaat : Dapat sebagai tanaman pagar.

pohon 1693 . buah.Pandanus tectorius buah pohon b a a. b.

bertangkai 2-10 cm. Bulat seperti kelereng. Di dalam buah banyak dijumpai biji. pacean. Ukuran: diameter buah 1. Bentuk: seperti jantung. koreng. remugak. tanah lapang terlantar. kadang agak lonjong.5-3. tapi agak sedikit pahit). panjang 1. bungan pulir. lemanas. Kulit buah hijau jika mentah dan menjadi getas dan kuning ketika matang. permot.5-5 m. Seluruh bagian tanaman juga dapat digunakan sebagai obat batuk. Daun : Berwarna hijau kekuningan hingga hijau muda mengkilat seperti ada lapisan lilin. 4170 . borok. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik. putih dan panjangnya dapat melampaui ukuran panjang mahkota bunga. Buah dibungkus oleh serabut yang berambut banyak. kileuleur. rajutan. buahnya enak dimakan (manis seperti markisa.Passiflora foetida (L. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Berasal dari Amerika Tropis dan di Indonesia tumbuh secara liar. Deskripsi umum : Terna merambat. Kelimpahan : Umum. Manfaat : Daun muda dapat digunakan sebagai sayur. Benang sari: banyak. Ujung: meruncing. merambat di pagar dan menyenangi lokasi yang mendapat cahaya matahari yang kuat. moteti. kaap. Formasi: soliter. kencing berlemak dan pembesaran kelenjar limfa di leher. diameter hingga 5 cm. Letak: di ketiak tangkai daun. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Tumbuh liar di dekat pantai berpasir yang bukan rawa. Memiliki alat pembelit yang beruntaian seperti spiral. berambut halus. Warna agak putih hingga ungu muda/pucat. ceplukan blungsun.0 cm. buah pitri. lebar menjari dengan tiga lekukan. Ukuran: 5-13 x 4-12 cm.) LEGUMINOSAE Nama setempat : Gegambo. kaceprek. pada bagian tengahnya jauh lebih ungu.

Passiflora foetida buah pohon b a a. b. buah. daun 1713 .

kranji. Daun : Tersusun dalam dua deret. Polong tidak membuka ketika masak. Formasi: bergerombol secara acak. Letak: di ketiak daun. panjang 11-18 mm. Kadang-kadang ditanam sebagai pohon peneduh di sepanjang jalan. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik . tangi. Kelimpahan : Umum. Biji beracun untuk manusia. Kelopak bunga: berbentuk cangkir. Polong berkulit tebal dan berparuh. awakal. 4172 . Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian hingga 15 m. dengan 3-7 pinak daun yang terletak secara bersilangan. dan kadang-kadang di bagian tepi daratan dari mangrove. klengkeng. ki pahang laut. Tersebar luas di Asia Tropis. Unit & Letak: majemuk dan bersilangan.5-15 cm. Bunga terletak berpasangan di sepanjang tandan bunga yang panjangnya 6-27 cm. Seperti kacang.5 x 2. Ukuran: 5-22. asawali. mengkilat dan warnanya hijau tua. Ukuran: 5-7 x 2-3 cm.Pongamia pinnata (L. Gagang bunga berukuran 7-15 mm ditutupi oleh pinak daun yang halus dan berambut pendek.) Pierre LEGUMINOSAE Nama setempat : Kacang kayu laut. Ujung: meruncing. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. ditutupi oleh rambut yang pendek dan halus serta memiliki gigi tumpul yang sangat pendek. Bentuk: bulat telur hingga elips. padat dan memiliki sebuah biji. marauwen. bangkong. Tumbuh di pantai berpasir yang bukan rawa. Bunga seringkali berubah bentuk menjadi kantung bundar yang bisa dikelirukan dengan buahnya. panjangnya 4-5 mm. warna ungu pucat. memiliki gagang pendek di atas goresan daun mahkota bunga. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. Cabang pada umumnya tidak memiliki rambut atau urat. Umum ditanam di areal pesisir kawasan tropis karena sifatnya yang tahan terhadap salinitas dan udara yang terbuka. Manfaat : Daun digunakan sebagai makanan ternak. dan memiliki goresan yang menyerupai bintil berdekatan dengan pinak daun pada pangkal gagang daun. Warna buah hijau kecoklatan.

c. b. bunga. buah.Pongamia pinnata daun & buah pohon a b c a a. daun 1733 .

tetanga.Ricinus communis Linn. Ukuran: diameter 10-40 cm. EUPHORBIACEAE Nama setempat : Gloah. Unit & Letak: sederhana tunggal dan bersilangan. bisul. kolonyan. lutur bal. Manfaat : Bijinya terasa manis. jarag. sepanjang pantai atau ditanam sebagai komoditi perkebunan pada ketinggian antara 0 – 800 m dari permukaan laut. kilale. kalikih alang. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. Tumbuh liar di hutan. lafandru. epilepsi. netral dan digunakan untuk mengobati kanker mulut rahim dan kulit. Akar jarak tidak tahan terhadap adanya genangan air. alale. Satu tandan dapat berisikan sekitar 30 – 40 buah. urat daunnya rapat dan jelas. ketowang. luka terpukul. jarak. 4174 . kalalei. malasai. kelumpuhan otot muka. dulang. berwarna kuning oranye dan berkelamin satu. paku ton. pedas. Deskripsi umum : Perdu tegak dapat mencapai ketinggian hingga 3 m. bronchitis. kaleke. Dapat tumbuh di areal yang kurang subur asal pH tanahnya sekitar 6-7 dan drainase airnya baik. eksim. lulang. Bentuk: menjari dengan jumlah jari 7 – 9. Daunnya untuk obat koreng. paku penuai. dulang jai. kohongiang. batuk dan hernia. gatal. Majemuk. TBC kelenjar. luluk. Warna daun hijau tua di permukaan atas dan hijau muda di permukaan bawah. kaliki. Daun : Seperti daun singkong. balacai. Tangkai daun panjang berwarna hijau hingga merah bata. koreng dan infeksi jamur. lana-lana. Akar dipakai sebagai obat rematik. Kelimpahan : Umum. gangguan jiwa (schizophrenia). tanah kosong. jarak jitun. tapi tepinya bergerigi. Warna buah hijau dan bergerombol pada tandan yang panjang. Ujung: meruncing. jarak jawa. tetanus. Bentuknya bulat bersegmen (ada 3 segmen) dan berambut (seperti buah rambutan).

buah. daun 1753 .Ricinus communis pohon bunga & buah a b a. b.

Dijumpai secara soliter di bagian tepi daratan dari mangrove. Tangkai Putik: membengkok. Berbentuk kapsul. sering pada bagian dalamnya terdapat strip/garis berwarna jingga. gegabusan. Kelimpahan : Tidak diketahui. Daun mahkota: putih bersih. Letak bunga: di ketiak daun. dapat mencapai ketinggian hingga 3 m. Manfaat : Tidak tahu. Formasi: mengelompok. Ketika muda berwarna hijau muda.) Roxb. 4176 .5-9.Scaevola taccada (Gaertn. Daun : Melebar kearah atas. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Deskripsi umum : Herba rendah/semak/pohon. tepinya melengkung dan permukaan daun seperti berlapis lilin. bulat. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mungkin ditemukan di seluruh Indonesia. Ukuran: 16. bako-bakoan.5-30 x 7. Ujung: membundar. GOODENIACEAE Nama setempat : Bakung-bakung. Ukuran: diameter buah 8-12 mm. Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips.5 cm. lalu menjadi putih ketika sudah matang. berwarna hijau kekuningan dan mengkilat. babakoan. pada tepi pematang yang tidak terkena pengaruh pasang surut atau di daerah yang sistem drainasenya baik dan lokasinya terbuka terhadap cahaya.

c. buah.Scaevola taccada buah & bunga daun. daun 1773 . bunga & buah c a b a. bunga. b.

krokot. Buah : Ekologi : Penyebaran : Jenis Pan-tropis. panjang melintang kira-kira 8 mm. Sulawesi dan Sumatera. Berbentuk kapsul. panjang 6-9 mm. sesepi. pada areal yang secara tidak teratur digenangi oleh pasang surut. Panjangnya hingga 1 m dengan batang berwarna merah cerah. Daun mahkota: 5 cuping. Juga ditemukan di pantai berkarang. memiliki tangkai panjangnya 3-15 mm dan tabung panjangnya 3 mm. Madura. Deskripsi umum : Herba tahunan.5 mm.5-1. warna ungu. Terdapat beberapa biji hitam berbentuk kacang. Letak bunga: di ketiak daun. saruni air. Seringkali ditemukan di sepanjang bagian tepi daratan dari mangrove. Formasi: soliter. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. lumpur dan tanah liat.5-7 x 0.5 cm. Ukuran: 2. seringkali memiliki banyak cabang. Ujung: membundar. Kelimpahan : Tidak diketahui. Juga digunakan sebagai makanan kambing. bundar dan halus. menjalar. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Substrat tumbuh berupa pasir. MOLLUGINACEAE / AIZOACEAE Nama setempat : Gelang (-laut). Benangsari: banyak dan 3-4 tangkai putik. Daun : Bunga : Tebal berdaging.) L. 4178 . Kecil.Sesuvium portulacastrum (L. halus dan ditumbuhi akar pada ruasnya. halus dan panjangnya 1. pada hamparan lumpur dan gundukan pasir. Manfaat : Daun dapat dimakan setelah berulangkali dicuci dan dimasak. ditemukan di sepanjang pesisir Jawa. sepanjang pematang tambak dan kali pasang surut. Bunga diserbuki kumbang kecil pengumpul madu serta ngengat yang terbang siang. Biji tidak mengapung. gelan-pasir. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset.

c.Sesuvium portulacastrum pohon c a b a. bunga. daun 1793 . buah. b.

Deskripsi umum : Terna tahunan. tinggi mencapai 1 meter. ki meurit beureum. sakit tenggorokan. misalnya untuk mengobati infeksi dan adanya batu pada saluran kencing. hamparan lahan yang terbengkalai. ukurannya kecil berwarna ungu kebiruan dan putih. Ukuran: 2. bunga duduk tanpa tangkai. VERBENACEAE Nama setempat : Pecut kuda. reumatik.5 cm. Daun : Permukaan daun kasar dan guratan – guratan / lekukan di permukaannya tampak jelas. tumbuh tegak terburai ke samping membentuk semak. ngadi rengga. jarong. Bunga : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. Letak: di ketiak daun. Terdapat pada tandan yang panjangnya mencapai 4-20 cm seperti pecut. jarong lalaki. tepi bergerigi. Ujung: meruncing. Bunga mekar tidak serentak. Dijumpai pada pematang tambak. Formasi: bulir pada tandan yang panjang. rumjarum. biron. laler mengeng. datang haid tidak teratur. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. sekar laru. keputihan dan hepatitis A.Stachytarpheta jamaicensis (L. pembersih darah. Bentuk: bulat telur.5-6 x 1. Kelimpahan : Tidak diketahui. 4180 . Manfaat : Sering dipelihara sebagai tanaman pagar hidup karena memiliki manfaat sebagai bahan obat-obatan.) Vahl.0-3. tidak berambut. remek getih. jarongan. pada lokasi terbuka dan kering serta mendapat pencahayaan matahari yang kuat.

bunga. b.Stachytarpheta jamaicensis pohon a b a. daun 1813 .

klihi. tiliho. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia. Bentuk: bulat telur terbalik. Kayu berwarna merah dan memiliki kualitas yang baik. Tumbuh di pantai berpasir atau berkarang dan bagian tepi daratan dari mangrove hingga jauh ke darat. Mahkota pohon berlapis secara horizontal.5 cm. seringkali mendominasi vegetasi pantai. 4182 . dengan sebuah kelenjar terletak pada salah satu bagian dasar dari urat tengah. Tumbuh di bagian tropis Asia. lisa. Bersabut dan cangkangnya sangat keras. COMBRETACEAE Nama setempat : Ketapang. Cabang muda tebal dan ditutupi dengan rapat oleh rambut yang kemudian akan rontok. kilaula. suatu kondisi yang terutama terlihat jelas pada pohon yang masih muda. sarisa. Penampilan seperti buah almond. sabrise. sirisal. Penyebaran buah dilakukan melalui air atau oleh kelelawar pemakan buah. sehingga kanopi pohon tampak berwarna merah.Terminalia catappa L. tasi. kemudian berubah menjadi merah tua. Tanin digunakan untuk mengatasi disentri serta untuk penyamakan kulit. wewa. sadina. Ukuran 5-7 cm x 4x5. lisa. Australia Utara dan Polinesia. Pohon menggugurkan daunnya (ketika warnanya berubah merah) sekali waktu. Sebagian besar dari bunga merupakan bunga jantan. Kulit buah berwarna hijau hingga hijau kekuningan (mengkilat) di bagian tengahnya. Letak: di ketiak daun. luumpoyang. Daun : Sangat lebar. Daun kerap digunakan untuk mengobati reumatik. Manfaat : Sering ditanam sebagai pohon peneduh jalanan. Biji buahnya dapat dimakan dan mengandung minyak yang berlemak dan bening. umumnya memiliki 6-9 pasang urat yang jaraknya berjauhan. Kelimpahan : Umum. Kelopak bunga: halus di bagian dalam. Deskripsi umum : Pohon meluruh dengan ketinggian 10-35 m. Formasi: bulir. Tandan bunga (panjangnya 8-16 cm) ditutupi oleh rambut yang halus. tetapi agak jarang di Sumatera dan Kalimantan. indian or singapore almond. Ujung: membundar. Ukuran: 825 x 5-14 cm (kadang panjangnya sampai 30 cm). beowa. Sebarannya sangat luas. biasanya dua kali setahun (di Jawa pada bulan Januari atau Februari dan Juli atau Agustus). talisei. dumpajang. sarisei. klis. Unit & Letak: s e d e r h a n a dan bersilangan. ketapas. Bunga berwarna putih atau hijau pucat dan tidak bergagang. digunakan sebagai bahan bangunan dan pembuatan perahu. Daun berubah menjadi merah muda atau merah beberapa saat sebelum rontok. dengan atau tanpa tangkai putik yang pendek.

bunga & buah pohon a c b a. daun 1833 . bunga. buah.Terminalia catappa daun. c. b.

Daun : Bunga : Tebal. Daun dan buah digunakan sebagai obat. Tumbuh di pantai. diameter 2. Tangkai putik menyatu. berkulit dan permukaannya halus. Manfaat : Catatan : Kayunya ringan. waru lot. Ukuran: 7-24 x 5-16 cm. kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. Buah seperti bola dan bersegmen. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Ujung: meruncing. Bentuk: seperti hati. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian 2-10 m. di pematang-pematang tambak dan bagian tepi daratan dari mangrove. Perbedaan antara Hibiscus tiliaceus dengan Thespesia populnea adalah sbb: Bagian tanaman Daun kelopak bunga Daun muda Urat utama pada daun Urat coklat pada daun muda Buah siap membuka di pohon Hibiscus tiliaceus bercuping 5 biasanya terdapat 9-11 tidak terdapat ya Thespesia populnea tidak bercuping tidak terdapat 7 terdapat tidak 4184 . ex Correa MALVACEAE Nama setempat : Waru laut. Kelimpahan : Umum. salimuli. berwarna kuning dan ujungnya tumpul.5 cm. Terdapat 3-4 biji pada setiap ruang/segmen buah yang padat ditutupi oleh rambut pendek . Terdapat 3-8 pinak daun di bagian luar kelopak bunga. Berbentuk lonceng.) Soland. Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. waru pantai. Bunga berisi cairan seperti susu berwarna kuning yang kemudian akan berubah menjadi merah. Bakal buah juga memiliki cairan berwarna kuning.5-4. di seluruh Indonesia.Thespesia populnea (L. Pada masa lalu kulit kayu digunakan sebagai bahan serat.

daun 1853 . c. bunga. b. buah.Thespesia populnea daun & bunga a c b a.

Kepala bunga biasanya soliter.Wedelia biflora (L. Kelimpahan : Umum di mangrove. Tumbuh terutama sepanjang atau dekat pantai. ditutupi oleh rambut. pinggir sungai dan hutan sekunder. Ukuran: 3-17 x 1-12 cm.) DC. terletak pada bagian atas ketiak bunga atau kadang-kadang dalam pasangan. Daun : Bunga : Tepi daun bergerigi. Mengobati luka terpotong atau terkena gigitan. Digunakan sebagai tumbuhan penutup tanah di perkebunan dengan tujuan untuk menghindari erosi serta mencegah kehilangan air.5-2. 4186 . dengan gagang daun panjangnya 0. bunga batang. Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Dari Afrika Timur hingga Kepulauan Pasifik. berjumlah 20-30. Letak: bersilangan. diameter 1.5 cm. Bentuk: bulat telur. Dapat juga tumbuh di perkebunan kelapa. seruni. berwarna kuning cerah. Cairan yang diambil dari daunnya dapat digunakan untuk mengobati sakit perut atau digunakan untuk ibu yang baru bersalin. pokok serunai. Memiliki kekhasan berupa bunga komposit dengan delapan “daun mahkota” (sesungguhnya adalah bunga terpisah berbentuk seperti bendera) dan cakram bunga (betina). Akar digunakan untuk obat penyakit kelamin. Deskripsi umum : Ferna tahunan. Kadang-kadang ditanam. terutama untuk penggunaan luar. Gagang bunga panjangnya 1-7 cm. panjang 1. Beberapa rambut tumbuh pada kedua sisi permukaan daun dan pada batang. seremai. serunai laut.5-5 m dengan batang yang kurus. pada pantai berpasir dan pinggiran mangrove.5-4 cm. Manfaat : Daunnya memiliki kepentingan untuk obat. sawah kering. ASTERACEAE Nama setempat : Sernai.

bunga.Wedelia biflora daun & bunga a a b a. b. daun 1873 .

1893

Lampiran 1.

Jenis mangrove, nama lain/sinonim, sumber gambar dan foto, yang tercantum atau dipakai dalam buku panduan ini.
S I N O N I M

JENIS MANGROVE

MANGROVE SEJATI: Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis Bruguiera cylindrica A. intermedia, A. mindanaense A. tomentosa B. caryophylloides, B. malabarica, Mangium minus, M. caryophylloies, Rhizophora cylindrica, R. caryophylloides, R. ceratophylloides, Kanilia caryophylloides Loranthus obovatus Loranthus mackayensis, Amyema cycnei-sinus, L. cycneisinus, A. mackayense ssp. cycnei-sinus A. marina var. alba A. officinalis var eucalyptifolia A. neo-guineensis Chrysodium aureum, C. inaequale, C. vulgare, Acrostichum spectabile, A. inaequale, A. obliquum Chrysodium speciosum Aegialites annulata A. majus, A. fragrans A. nigricans

Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza B. capensis, B. conjugata, B. cylindrica, B. gymnorrhiza, B. rheedii, B. rhumpii,B. wightii, B. zippelii, Mangiumcelsum, M. minus, Rhizophora gymnorrhiza, R. palun, R. rheedii, R. tinctoria Rhizophora caryophylloides

Bruguiera hainessii

4190

SUMBER GAMBAR

SUMBER FOTO

Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Piggott (1988), Holttum (1954), dan material hidup Wightman (1988) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Specimen herbarium Herbarium Bogor Danser (1931) Barlow dalam Henty (1981) Wahyu Gumelar Percival & Womersley

Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley & Nyoman Suryadiputra (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Silvius, M. Kitamura et. al. (1997)

Percival & Womersley (1975), Tomlinson (1986), Wightman (1989) Wahyu Gumelar Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

Jennifer Dudley (1999) Hidayat (1999) Kitamura et. al. (1997)

Ding Hou (1958), Wightman (1989) Ding Hou (1958), Tomlinson (1986), Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra

Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

1913

JENIS MANGROVE

S I N O N I M

Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula

B. ritchiei, Rhizophora parviflora, R. cylinrica, Kanilia parviflora B. eriopetala, B. sexangularis, B. australis, B. parietosa, B. angulata, B. oxyphylla, B. malabarica, B. cylindrica, Mangium digitatum, Rhizophora sexangula, R. polyandra, R. plicata, R. australis, R. eriopetala Neesia altissima, Cumingia philippinensis C. aruense C. roxbhurgiana, C. zippeliana, Bruguiera decandra, Rhizophora gromerulata, R. decandra C. candolleana, C. pauciflora, C. forsteniana, C. boviniana, C. lucida, C. timoriensis, C. somalensis, Rhizophora tagal, R. timoriensis, R. candel Stillingia agallocha Dicerolepis paludosa

Camptostemon philippinense Camptostemon schultzii Ceriops decandra Ceriops tagal

Excoecaria agallocha Gymnanthera paludosa Heritiera globosa Heritiera littoralis Kandelia candel Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phemphis acidula Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sarcolobus globosa

H. minor, Balanopteris minor, B. tothila Rhizophora candel, K. rheedei L. coccinea, Problastes cuneifolia, Pyrrhantus littoreus, Laguncularia purpurea L. racemosa, Languncularia rosea, Lumnitzera rosea, Petaloma alba, L. racemosa var. pubescens N. fructicans

Mangium candelarium, R. mangle, R. candelaria, R. conjugata R. mangle, R. macrorrhiza, R. longissima,R. latifolia, R. mucronata var. typica R. mucronata var. stylosa S. banksii

4192

al. (1997) Ding Hou (1958). (1997) Hidayat (1999) Hidayat (1999). Wightman (1989) Hidayat (1999) I Nyoman Suryadiputra Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Kostermans (1959) Kostermans (1959). Hidayat (1999). Wightman (1989) Kitamura et. Kitamura et. al. Jennifer Dudley Hidayat (1999) Kitamura et. Tomlinson (1986). Hidayat (1999) Hidayat (1999). Kitamura et. Tomlinson (1986) Ding Hou (1958). Kitamura (1997) Kitamura et. Wightman (1989) Ding Hou (1958). Wightman (1989) Ding Hou (1958). Kitamura et. (1997) Kitamura et. (1997) Bakhuizen van den Brink (1924) Percival & Womersley (1975). (1997) Silvius. Wightman (1989) Polunin (1988) Tomlinson (1986). Kitamura et. Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Wendy Suryadiputra (1999). Tomlinson (1986). al. Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra (1999). Wightman (1989) Ding Hou (1958). al. M.SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Ding Hou (1958). Tomlinson (1986) Ding Hou (1958) Percival & Womersley (1975) Exell (1954). Tomlinson (1986).al (1997). Tomlinson (1986). al. Tomlinson (1986). Tomlinson (1986). Tomlinson (1986). Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999). al. al. (1997) Jennifer Dudley (1999). Percival & Womersley (1975). (1997) 1933 . Wightman (1989) Ding Hou (1958).

S. affine. Balanopteris minor. I.JENIS MANGROVE Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S I N O N I M H. M. S. pagatpat. speciosa Melastoma candidum Morinda citrifolia Pandanus odoratissima 4194 . Rhizophora caseolaris. M. C. tothila. Dalbergia heterophylla C. C. B. ovalis. rubra. N. biloba. evenia. S. S. pagatpat S. neglecta. brasiliensis. S. B. palyanthum D. C. S. mossambicensis. S. S. M. granatum Xylocarpus australasicus Carapa moluccensis Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii MANGROVE IKUTAN: Barringtonia asiatica Callophyllum inophyllum Calotropis gigantea Cerbera manghas Clerodendrum inerme Derris trifoliata Finlaysonia maritima Hibiscus tiliaceus Ipomoea pes-caprae Novella repens. heterophylla. Blatti caseolaris. Soldanella marina indica. Mangium caseolare album. malabathricum. C. acida. minor. iriomotensis. obovata. D. brasiliensis. pes-caprae. caseolaris. S. I. Ixora manila. hydrophylacea S. S. maritimus. lactaria B. rubra I. maritima. uliginosa. Mangium caseolare rubrum. lanceolata. Convolvulus bilobatus. maritima. alba Carapa abovate. S. griffithii. C. S. Aubletia caseolaris.Rhizophora caseolaris Chiratia leucantha.

SUMBER GAMBAR Tomlinson (1986). Tomlinson (1986). van Ooststroom (1953) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999) 1953 . Wightman (1989) Wightman (1989) Walker (1976) Walker (1976) Wim Giesen I Nyoman Suryadiputra Hidayat (1999) Kitamura (1997) Keng (1987). Corner (1988). Wightman (1989) Backer (1918). Kitamura et. Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951). Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951). Polunin (1988) Tomlinson (1986) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999) The Common Littoral Plants of Taiwan I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley (1999) Icones Rijksherbarium Leiden I Nyoman Suryadiputra & Hidayat (1999) Hidayat (1999) Tomlinson (1986). Tomlinson (1986). al. Wightman (1989) SUMBER FOTO Hidayat (1999) Wendy Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999). (1997) Backer & van Steenis (1951) Tomlinson (1986).

macrophylla. Croton spinosa L. villosa. S. marginata. dan chlorocarpa. Pyxipoma polyandrum. T. urticifolia. speciosus. S. Thespesia populnea Wedelia biflora 4196 . mauritiana. rhodocarpa. macrocarpa. viridis. jamaicensis T. T. V. inermis. repens. Myrobalanus catappa T. Bupariti populnea W. pilosiuscula. S. S. polyandrum. Verbena indica. Portulaca portulacastrum. R. latifoilia.JENIS MANGROVE S I N O N I M Pandanus tectorius Passiflora foetida Pongamia pinnata Ricinus communis Scaevola taccada Sesuvium portulacastrum Stachytarpheta jamaicensis Terminalia catappa Crithmus indicus. glabra R. T. glabrata P. R. S. moluccana. catappa var. Trianthema polyandrum. S.

SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Tomlinson (1986) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wightman (1989) Kitamura et. Wightman (1989) Material hidup I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) 1973 . (1997) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Tomlinson (1986). al.

officinalis. racemosa Sonneratia ovata Excoecaria agallocha Backer (1918) Backer & van Steenis (1951) Bakhuizen van den Brink Baltzer & Baruadi (1991) Burkill (1935) Corner (1988) Danser (1931) Ding Hou (1958) Excell (1954) Giesen (1991) Giesen & Rudyanto (1994) 4198 . exaristata. R. Rhizophora apiculata. racemosa. tagal. L. C.C. Aegiceras corniculatum. floridum. Bruguiera cylindrica. DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Airy Shaw (1975) Backer & Bakhuizen van den Brink (1963-8) Excoecaria agallocha Avicennia alba. caseolaris. officinalis. A. R. Rhizophora apiculata. parviflora. ovata. gymnorrhiza. Ceriops decandra. stylosa Terminalia catappa. Thespesia populnea. Terminalia catappa. B. Lumnitzera littorea. Calophyllum inophyllum. Sesuvium portulacastrum. hainessii. S. B. Excoearia agallocha. Heritiera littoralis. S. Aegiceras corniculatum. Gymnanthera paludosa. Lumnitzera littorea. X. Ceriops decandra. sexangula. Sonneratia alba. Sarcolobus globosa. Derris trifoliata. Pongamia pinnata. marina. Osbornia octodonta. Scyphiphora hydrophyllacea. B. A. moluccensis. Kandelia candel. S. A. B. gymnorrhiza. Acanthus ebracteatus. Cerbera manghas. Hibiscus tiliaceus. Aegialitis annulata. A. Acanthus ilicifolius Barringtonia asiatica Amyema gravis. Kandelia candel. Nypa fruticans. mucronata. Xylocarpus granatum. caseolaris. B. B. R. A. ovata Camptostemon philippinense. schultzii Xylocarpus granatum Wedelia biflora. C. A. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. parviflora. B.stylosa. ilicifolius. Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Sonneratia alba. S. mucronata. Avicennia eucalyptifolia. Wedelia biflora. marina. anisomeres Bruguiera cylindrica.Lampiran 2. A. Xylocarpus granatum. L. R. B. sexangula. tagal.

C. Heritiera littoralis. Thespesia populnea Holttum (1966) Johnstone & Frodin (1982) Kitamura et. A. mucronata. Cerbera manghas. Ipomoea pescaprae. Aegiceras corniculatum. Kandelia candel. Excoecaria agallocha. officinalis.Sonneratia alba. Acanthus ilicifolius. stylosa. marina. A. littoralis Avicennia alba. Aegialitis annulata. caseolaris. eucalyptifolia. Xylocarpus granatum. Avicennia alba. Osbornia octodonta. caseolaris. Calophyllum inophyllum.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Giesen & Sukotjo ( 1991) Henty (1981) Heyne (1950) Excoecaria agallocha Amyema mackayense Barringtonia asiatica. moluccensis. Scyphiphora hydrophyllacea. A. R. S. X. Derris trifoliata. Bruguiera cylindrica. Sesuvium portulacastrum. ovata. S. Excoearia agallocha. al (1997) Kostermans (1959) Percival & Womersley (1975) Perray & Metzger (1980) Piggott (1988) Polunin (1988) Prakash & Lim (1995) Said (1990) 1993 . officinalis. Scaevola taccada Heritiera globosa. A. Nypa fruticans Wedelia biflora Acrostichum aureum Barringtonia asiatica Aegialitis annulata Avicennia officinalis. Thespesia populnea. S. H. Hibiscus tiliaceus. R. A. Aegiceras corniculatum. Heritiera littoralis. Excoearia agallocha. tagal. Cerbera manghas. Cerbera manghas. Scyphiphora hydrophyllacea. Pandanus tectorius. Ceriops decandra. speciosum Avicennia eucalyptifolia Calotropis gigantea. Sonneratia alba. Xylocarpus rumphii Acrostichum aureum. Rhizophora apiculata. marina. Acrostichum aureum. Camptostemon schultzii. A. Finlaysonia maritima.

Aegialitis annulata. Ceriops decandra. A. X. C. X.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Tomlinson (1986) Avicennia alba. littoralis. Derris trifoliata. X. mekongensis. C. Acanthus ebracteatus. A. Melastoma candidum. A. Nypa fruticans Ipomoea pes-capre. parviflora. mekongensis. hainessii. A. tagal. marina. gymnorrhiza. Scyphiphora hydrophyllacea. A. parviflora. eucalyptifolia. officinalis. Ricinus communis. ilicifolius. Camptostostemon philippinense. Osbornia octodonta. Acrostichum speciosum. floridum. Aegialitis annulata. Acrostichum aureum. Scyphiphora hydrophyllacea. ilicifolius. H. Hibiscus tiliaceus. A. C. Thespesia populnea. Calophyllum inophyllum. Acrostichum aureum. racemosa. Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Osbornia octodonta. B. moluccensis.al. Hibiscus tiliaceus. S. Xylocarpus granatum. et. Stachytarpheta jamaicensis Wijayakusuma. Xylocarpus granatum. Pongamia pinnata. Tantra & Sutisna (1990) Whitmore (1972) Wightman (1989) Calophyllum inophyllum Avicennia marina. speciosum Barringtonia asiatica Van Osststroom (1953) Van Steenis (1936) Watson (1928) Whitemore. officinalis. Bruguiera exaristata. L. Derris trifoliata. Cerbera manghas. B. Thespesia pupulnea. Aegiceras corniculatum. sexangula. sexangula. A. R. B. Sesuvium portulacastrum. mucronata. R. A. Aegialitis annulata Acanthus ebracteatus. R. A. Excoearia agallocha. S. Sonneratia alba. schultzii. ovata. (1992) 4200 . R. B. stylosa. Aegiceras corniculatum. Lumnitzera littorea. Rhizophora apiculata. Osbornia octodonta. mucronata. Sonneratia alba. Heritiera Globosa. Rhizophora apiculata. B. caseolaris. gymnorrhiza. H. Ceriops decandra. tagal. stylosa. Bruguiera cylindrica. B. speciosum. Camptostemon schultzii. B.

III. Thailand. Hal. Bogor.A. R. Indonesia. Dalam Simposium on Mangrove Management: Its Ecological and Economic Consideration. Thailand. Ecology & Management of Mangrove. Dalam Biological System of Mangroves. Backer. 1988. A checklist (Peters’ Sequence). Indonesian Ornithological Society. N. The Netherlands. 2013 . 1998. K. 3 Volumes.C.. 1921. Bangkok. IUCN. 1990. Sonneratiaceae. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Abdulhadi. 1990. Ser. The Occurrence of Crustaceans in the Tanjung Bungin Mangrove Forest. 1992. 141-151. Ehime University. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment: Restoration & Management. & R. C. West Kalimantan. P. 1990. Jakarta. The Remnant Mangroves of Sei Kecil. V. Revisio Generis Avicenniae. 83 hal.V. 1951. Ballen. The Social Consequences of Tropical Shrimp Mariculture Development. South Sumatra. AWB-Indonesia/PHPA. Indonesia. 176 hal. 1994. & C. The Birds of Indonesia.J. S. 11: 31-44. Flora Malesiana. 1994. P. Backer. Biro Pusat Statistik. Bailey. Hydrobiologia. Proposed Wetland Conservation Areas: New & Extensions of Existing Reserves. Arboreal Arthropod Community of Mangrove Forest in Halmahera. Indonesia. C.P. Toro. AWB-Indonesia. Ecology and Management of Mangroves. Leiden. 1988. Bakhuizen van den Brink. Andrew. Biro Pusat Statistik. 4: 286-289. Dalam Bulletin du Jardin Botanique Buitenzorg. M. Simpang Hilir. The Terrestrial Mangroves Birds of Java.C. 1993. Ocean & Shoreline Management. S. IUCN Wetlands Programme. Hal. S. Baltzer. 285: 249-255. 1963-1968. Bakhuizen van den Brink. A Report on The Wetland Avifauna of South Sulawesi. Japan. Sukristiyono & V. Adiwiryono.A. Abe. seri III vol. Statistik Indonesia. Kukila.G. Bogor. Andrew. IUCN. Aksornkoae. C. R. I. van Steenis. Statistik Indonesia. Noordhoff. 1988. 5: 27-55. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986.G. 241-257. & Suhardjono. Jakarta. Flora of Java. 1984. Bangkok.

J. 2402 hal. August 26-30. Ceram. & Koesoebiono. J. 1981. Coastal Vegetation.Becking J. De inrichting van de voor exploitatie in aanmerking komende bosschen in de afdeeling Bengkalis. editor. 1993.G. Austr. The Environment and Geomorphology of Deltaic Sedimentation (some examples from Indonesia) Trop. Burkill. Dalam Biological System of Mangroves.W.T. Vegetational Relationships in The Mangroves of Tropical Australia. Dalam Tectona XV. Hal. 173182.-Indië. 1977. Hal.. 4202 . Dalam The mangrove Ecosystem: Research Methods. den Berger & H. 1. Monograph on Oceanological Methodology 8. 4: 349-359. Valduz. Williams. 1980. D. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment. A Study on Mangrove Fish at Handeuleum Group and Panaitan Island of Ujung Kulon National Park. 1976b.H. Chapman. Budiman. Dev. Wet Coastal Ecosystems. V. Vloed. Mangrove Vegetation. Hal. hal. Chapman. 740-760.J. Hal 10911095.J. 292 hal. Budiman. Ipoh.H. 1980. Boon. Elsevier Scientific Publishing Company. Burbridge. Nat. A. Cramer. 1984. & W. V. Bunt. 1936. J.J. UNESCO.R.S. Mangrove Monograph No. 447 hal. Botanical Surveys in Mangrove Communities.J.Progress Series. 49-57. Ecology and Behaviour of Benthic Fauna. 251-258. 428 hal. Hal. 53-80. A Dictionary of The Economic Products of the Malay Peninsula. Meindersma. Crabs and Molluscs #2: Ecological Distribution of Molluscs. 1976a. P. L. Management of Mangrove Exploitation in Indonesia. Ehime University. Pergamon Press. Crown Agents for the Colonies. Darwin. Dalam Prosiding Lokakarya Mangrove Fisheries and Connections. Chambers. benevens eenige opmerkingen omtrent de samenstelling der terplaatse voorkomende moerasbosschen. Ecol. Tectona. Indonesia. I. 1922. Malaysia. 1988.. V.of mangrovebosschen in Ned. Ecosystems of the World: 1. Chapman. Marine Ecology . 1985. M. Paris. London. 1991. 2 volume. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986.A. Univ. 29: 344-373. V. Chapman. 1935. Burhanuddin. Japan. The Molluscan Fauna in Reef Associated Mangrove Forests in Elpaputih and Wallale. A.

Bot. III vol. 1931. Statistik Perikanan Statistik Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan. Integrating Conservation With Land-use Planning in The Coastal Region of South Sumatra. International Waterfowl & Wetlands Research Bureau. Verheugt. Rhizophoraceae. Bogor. J. Direktorat Jenderal Perikanan. 1991. J. 1997. H. Bull. F. The Potential for Wetlands to Support and Maintain Development. Observations on The Floral and Vegetative Phenologies of North-eastern Australian Mangroves. Departemen Pertanian. Djamali. J. Booth. Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove di Indonesia. Danser. Ser. Aust. 210 hal. 2033 .C.. Purwoko. Bull. Prolongued Inundation and Ecological Changes in An Avicennia Mangrove: Implications for Conservation and Management. F. Skov. De Tropische Natuur. 1993. Breeding habitat of Milky Stork Mycteria cinerea in South Sumatera Indonesia. B. & W. 1990. 1958. H. Waterbird Study Results From South East Sumatra. Wetland Benefits. Wetlands for the America’s. F. Hal 175. de Haan. Danielsen. 1987. 1997. Indonesia.H. Bot. 1972. Indonesia. Jard. Claridge. M.. Flora Malesiana.Choy. Jakarta. 1991. OEC. J. A. Indonesia.T. Telaah Ekologis Kelimpahan Juwana Udang Jerbung (Penaeus merquiensis de Haan) di Perairan Sekitar Mangrove Sungai Donan. S.C. J. 1931. PHPA. Davies. Skov & W. Departemen Pertanian. PPLH-UNSRI and the Danish Ornithological Society. & G. Het een en ander over de Tjilatjap’sche vloedbosschen. 45 hal. Dalam Prosiding Seminar IV Ekosistem Mangrove. AWB. 1991. Verheugt. The Loranthaceae of the Netherlands Indies. & H.S. Jakarta. Silvius..C.I. 32: 87-99. Williams. Cilacap. Jakarta Ding Hou. J. 3: 8-11. 1984. N. Bunt & W. Departemen Kehutanan. XI: 233-519. Jakarta. 1994. Asian Wetland Bureau. Duke. Tectona 24: 39-76. Danielsen. A. Danielsen. Jawa Tengah. & W. M. Hydrobiologia. 285: 237-247. Radjoengans. 5: 429-493. H. de Buiten zorg. Bogor. 16: 155-160. Delsman. Ser.E.

A.C. Hal. G. Flora Malesiana. Allen & Zuwendra. Hal. PHPA/ AWB. 92 hal. 119 hal. F.I. H.A. Bogor. 1984: 663-671. East Java (Indonesia). N. 1988. Verheugt. Foo. Soc. G. Combretaceae. Baker. 1934. Bogor. S. Erftemeijer. 1990. A. 1988.O.Restoration & Management. S. Erftemeijer. Management and Utilization of Mangroves in Asia and the Pacific. Living off the Tides. Bogor. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No.S. 1984. Mangrove Swamp and Fisheries in Sabah. 1992. 299303.A. H. W.Duke. The Importance of Segara Anakan for Nature Conservation. & E. 1982. Environmental Database on Wetland Interventions (EDWIN). Preliminary Resource Inventory of Bintuni Bay and Recommendations for Conservation and Management. Dalam Tropical Ecology & Development.T.T. Ecol. Purwoko.W. the Netherlands. 1157-1161. Bakung Island. Trop. Giesen. Fong. Over mangrove Culturen. Townsville. P..A Neglected Mangrove Resource. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . P.. W. AWB/INTERWADER & Catholic University of Nijmegen. F. 22-26 November 1992. Fiselier.M. Mangrove Floristics and Biogeography. 4204 . Leiden. Frazier.. Fernandes. Int. PHPA. Australian Institute of Marince Science. PHPA-AWB/ INTERWADER. With Special Reference to Its Avifauna. 59 hal.. Ser. Kuala Lumpur. Centre for Environmental Studies. Indonesia. Altenburg. Kadarisman. West Sumatra. 6. C. 1989. Lokakarya Harimau Sumatera. Bab 4. Tiger Data in Wetland Data Base and a Recommendation to Enhance the Chances of Tiger Survival. Laporan No. & J.J.M. 11. A. van den Top. Djuharsa. Riau (Pulau Bakung. Survey Manual for Tropical Marine Resources. Erftemeijer. 151 hal.W. Wilkinson & V. Nipa Swamp . hal. Danielsen. 1954.. F. 1991a. Skov & R. Indonesia. P. Bogor. Dalam Tropical Mangrove Ecosystems (Volume 41). 1980. Australia. 4: 533-589. Djuharsa. 1992. J. Padang. Rome. Dalam Tectona XXVII. F. Spaans. Indonesia.L. van Balen & E. W. Wong. 1994. FAO Environment Paper 3. Pulau Basu). 45 hal. 63-100. D. Baal. Exell. 368 hal. B. Survey of Coastal Wetlands and Waterbirds in the Brantas and Solo Deltas. Indonesia. English.

L. 1993. August 9-11. Ti. Publikasi PHPA/AWB. Bogor. 1981. Bogor. Jambi. Handbooks of the Flora of Papua New Guinea. 1994.B. & Sukotjo. & T. 46: 265-266. Hassan. Mass Feeding of Dog-faced Water Snakes (Cerberus rhynchops) on Sumatran Mudflats. 14 hal. Sumbawa. Perubahan Habitat Lahan Basah di Kepulauan Sunda Besar dan Implikasinya terhadap Keragaman Hayati [Habitat Changes in Wetlands of the Greater Sunda’s and Implications for Biodiversity]. Hal. Min. & Rudyanto. Karang Gading-Langkat Timur Laut Wildlife Reserve (North Sumatra). Bogor. Global Biodiversity. Lae. 45-55. W. B. Bogor. 7-10 April 1993. 2053 . 1994. Several Short Surveys of Sumatran Wetlands. PHPA/AWB-Indonesia. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No.E. Observations on Acid Runoff and Iron in Brackishwater Fishponds. Dalam Seminar “Coastal Zone Management of Small Island Ecosystems”. W. 48 hal. 10. R. Status of the Earth’s Living Resources. W. Giesen. Giesen. 10 hal. van Balen. Notes and Observations. Baruadi. Dalam Prosiding Simposium Pertama mengenai Berang-berang di Indonesia. Problems and Implications. Bogor. Sumatra. 34 hal. M. W. Groombridge. Giesen. Indonesia’s Mangroves: An Update on Remaining Area and Main Management Issues. Mangrove Soils of Indonesia. 1991. 257-265. 585 hal. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetlands No. 1988. Baltzer & R. PHPA / AWB. 1991.Giesen. editor. Satonda Island. Giesen. W. W. 1991. Giesen. Volume II. Ambon. 17. Dalam prosiding simposium Mangrove Management: its Ecological and Economic Considerations. Henty. of Agriculture. 1989. 98 hal. Chapman & Hall. 1986. & B. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. W. Giesen. and Its Unique Stromatolites. Peranan Berang-berang Bagi Manusia.. 1992. 7 April 1994. Hutan Bakau Pantai Timur Nature Reserve. Government of Papua New Guinea. Bogor. Hardjowigeno. Department of Fisheries. Hal. Integrating Conservation with Land-use Development in Wetlands of South Sulawesi. editor. Giesen. Indonesia. W. 1993. Malayan Nature Journal. E. 1991. 240 hal. 17 hal. S. 26.

Prosiding Lokakarya Pemantapan Strategi Pengelolaan Lingkungan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua. 206 hal.A. Fascinating Snakes of Southeast Asia ..W. 23: 173-189. 1999. Ehime University. Studi lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. Miyabara. Kapal Kerinci. 1984. J. A. in Indonesia. A.L. F. C. Panduan Teknis Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat. C. Biotropica. Jakarta. IPB Press. Anwar. 47 hal. Moriya. Indonesia). T. 1988. Coastal Zone Resource Development and Conservation in Southeast Asia. Lugo. Hal. C. Tropical Press.G. Kint. H.J. Irian Jaya. Keng. A. Metoda Survey Vegetasi. JICA & ISME. IPB Press. A. Wetlands International – Indonesia Programme. Bogor. Prawiroatmodjo. S. S. 124 hal. 1984. & A.. 1989. De Tropische Natuur. P. Agricultural University of Wageningen. Japan. Monograph of the Genus Heritiera Aitn.185. Handbook of Mangroves Knox. 1987. 1997. 182 hal. 4: 256-62.L. Kitamura. Chaniago & S. Pengenalan Jenis Pohon Mangrove di Teluk Bintuni. Forest as an Ecosystem. Bogor. (tidak dipublikasikan) Hommel. 1993. Bogor. M. UNESCO Regional Office for Science & Technology for Southeast Asia. 1997. 17: 177. 1997. Kusmana. 11-13 September 1993. G. Bogor. Dalam Biological System of Mangroves. Tat-Mong. Tesis Program Pasca Sarjana IPB. Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove. Komiyama. 1997.. 4206 . Kuala Lumpur.Hilmi.An Introduction. 1934. Baba.E. PhD thesis. & T. Kostermans. Khazali. (Sterculiaceae).M. Tomi & K. 1985. Its Structure and Function. Hal 41. 1959. Kusmana & Suhendra. Jiménez. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. A.F. with Special Reference to Indonesia. Kusmana. Jakarta. 85-96. & M. C & Onrizal.A. Ogino. Tree Mortality in Mangrove Forests. #1: Floristic Composition and Stand Structure. Bali & Lombok.J.Hutan Mangrove Kabupaten Bengkalis dan Kemunduran Perikanan di Bagan Siapi-api dan Sekitarnya. Pengelolaan Hutan DAS Rokan . Reinwardtia.L. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kasry. De luchtfoto en de topografische terreingesteldheid in de mangrove. the Netherlands. Landscape-ecology of Ujung Kulon (West Java.

70-77. 1923. 2073 . Ch. 39-46. Vol. Beberapa Catatan Tentang Aspek Pengusahaan Hutan Mangrove di Sulawesi Selatan. Noor.. Lumpur. A Systems Approach. 1979. Hutan Mangrove: Antara Nilai Ekonomi dan Fungsi Ekologi. Laut Nusantara (Marine Nusantara). Mepham.Restoration & Management. Manuputty.. Odum.S. West Java. J. Djambatan.Kusmana. Mangrove: The Forgotten Forest Between Land and Sea. Y. 1974. Vol. W. The Detritus Based Food Web of An Estuarine Mangrove Community.W. M. R. Ecology and Productivity of Malaysian Mangrove Crab Populations (Decapoda: Brachyura). 97 hal. Adv.Afr. 1990. 1987. Nurkin. Bogor. (tidak dipublikasikan) Macintosh. PHPA/AWB. Melisch. 1. De Tropische Natuur. 12: 25-31. Pedoman Pembuatan Persemaian Jenis-Jenis Pohon Mangrove. A. Hal 5. 322 hal. Some Notes on The Crustacean Fauna Around Mangrove Area of Pancer Balok. 1.J. 1985: 77. Warta Konservasi Lahan Basah. Studies in Ecology. 8. 6: 73-270.Restoration & Management.E. Giesen.H. 1984. Biol. Mann. Jakarta. 1997. Malaysia. 2 No. 1982. Bogor. mar. A. Fakultas Kehutanan IPB. Situation and Outlook of the Forestry Sector in Indonesia.99 Meindersma. Bot. Nontji.a Rationalization of The Use of The Term Mangrove. 1999. 1984.H. A General Account of the Fauna and Flora of Mangrove Swamps and Forests in the Indo-West-Pacific Region. 1994. Ecology of Coastal Waters. MacNae. Cimanuk River Estuary. Dalam Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove. Eenige bijzonderheden over mangrove. Nirarita. & J. Volume 2: Forest Resource Base. C.J. Heald. B. 1993. 1: 265-268. An Assessment of the Importance of Rawa Danau for Nature Conservation and An Evaluation of Resource Use. Departemen Kehutanan & FAO. Jakarta. S. Mastaller. The Flora of Tidal Forests. E. K.bosschen. Hanafia & Rudyanto. Jakarta. Blackwell Scientific Publications. R. Estua. & E. W. W. 1985. 1984: 354-377.W. Kuala Mepham. E. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . Res.W. UTF/INS/065/INS: Forestry Studies. H. E. Technical Report No. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment .R. 1968. D. 1984: 231-240. Indonesia.

and Economic Implications. 4208 .. Studi Populasi Burung Air Kaitannya dengan Usaha Konservasi di Daerah Pantai Indramayu dan Cirebon. Said. J. Primavera. 1994. Davie. 96 hal. & J. editor. Prakash. West Java.. P. Womersley. Value of Mangroves in Coastal Protection. Floristics and Ecology of The Mangrove Vegetation of Papua New Guinea. E. Hegerl & J. & A. Reeve & Co. Chihara.J. 1975. Vol. Japan. Ambio. London. C. AWB publikasi no. Hydrobiologia. Ehime University. 12. Mangroves and Aquaculture. Buku I Kondisi & Potensi Biofisik Kawasan. J. 88 hal. Th. M. A List of Wetland Plant Species of Peninsular Malaysia. The Sabah Society with World Wildlife Fund Malaysia. Ambio.257. Rancangan Rencana Pengelolaan Kawasan Segara Anakan. the Enigmatic Mangrove. 383 hal. Ltd. 11: 252. I.E. Francis & K. Sibuea & Rudyanto. Jurusan Biologi . Laporan Penyigian Burung Air di Sumatera Selatan dan Jambi. Ong. K. 3. 1988. Percival.S. & M. 1998. Global Status of Mangrove Ecosystems. 1995. Lim.S. Department of Forests. M. Rusila Noor. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. A Field Guide to the Mammals of Borneo. 285: 277-282. Bogor.. Lae. Indonesia. Bandung. Rusila Noor. Intensive Prawn Farming in the Philippines: Ecological.. 20 (1): 28-33. 332 hal. Botany Bulletin No. IV Rusila Noor. IUCN Commission on Ecology Papers No. 1991.D. Monocotyledones. Y.N. Wallaceana. Milky Stork Banding at Pulau Rambut. 1985. 181 hal. 1993. Ridley. Kuala Lumpur. 8. 6 No. Bogor. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir & Laut IPB. Skripsi.Ogino. Papua New Guines National Herbarium. J.H.A.UNPAD. 1991.. 1983. N. 1982. SIS Newsletter Vol. Social. Y. 1924. 67a. Payne. The Flora of the Malay Peninsula. Y. Phillipps. H. 1990. The Systematic Position of Aegialitis. 1987.M. PHPA/Asian Wetland Bureau. Biological System of Mangroves. Othman. Hal 1.L.M. Saenger. 74: 11-15. with particular reference to those having socio-economic value.

Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir: Pengalaman Pengembangan Tambak Ramah Lingkungan dan Rehabilitasi Mangrove di Karangsong Indramayu. 9. D’Cruz.J. E. The Indonesian Wetland Inventory. Laporan PHPA . Hal. 101 hal. Bogor.U. Dalam International Social Tropical Ecologi. Verheught. 247: 195-207..C. 1989. Hal.Samingan. Soerianegara. Chong.T. Survey of Coastal Wetlands in Sumatra Selatan and Jambi. Hal 39. V. hal 124-125.J. Hal.INTERWADER No. Taufik. Field editor. Bogor. 2 volume. A.P. 1986. Prosiding Seminar III Ekosistem Mangrove. 1987.M. PHPA. AWB/INTERWADER. Bogor. 1999. E. Iskandar. Coastal Wetlands Inventory of South East Sumatra. Verheugt & J. M. M.J. Indonesia. Sasekumar. Kukila No. The Status of Storks.J & W. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. J. 1989. Jakarta. A. Japan. Sasekumar. F. Silvius. Chong. World Mangrove Atlas. A & M. Audrey.M. 1992.. 1107-1112..W. W. M.J. Mangroves as a Habitat For Fish and Prawns. Khazali. PHPA-Asian Wetland Bureau. Djuharsa & A. Prosiding Seminar Tahunan ke12 the Malaysian Society of Marine Sciences. 1989. M. Leh.. 1. Leh & R. & A. M. V. Silvius.D. I.D. Hydrobiologia. L. Indonesia. Masalah Penentuan Batas Lebar Jalur Hijau Hutan Mangrove. 1986. 1980.J. Wetlands International – Indonesia Programme. M. Conservation and Land-use of Kimaam Island. M. A. with Special Reference to Karang Agung. Indonesia. 121 & 268. Soewito. Savitri. International Society for Mangrove Ecosystems.T.C. Blasco & C. A Preliminary Compilation of Existing Information on Wetlands of Indonesia. Silvius. Taufik. Notes on The Vegetation of The Tidal Areas of South Sumatra. 2093 . D’Cruz & M. Berczy. M. Bogor. Silvius.J. Okinawa. Indonesia.U. Jakarta. Kuala Lumpur. 1996. Cambridge. M. M. The Sungai Pulai (Johor): A Unique Mangrove Estuary. A Survey Report and Compilation of Existing Information. EDWIN. Laporan Survey Sumatran Waterbird Laporan Studi ICBP No. 1984.L. 4: 163-164. 1987. R. Ibises & Spoonbills in Indonesia. Silvius. Spalding. Steeman. Status Ekosistem Hutan Mangrove dalam Kaitannya dengan Kepentingan Perikanan di Indonesia dan Kemungkinan Pengembangannya. 191-211..

W. C. van Steenis. Ser. H.J. 4: 107-112. Exp. J. Macroalgae in Indonesian Mangrove Forests. Colonial Waterbirds. The Terrestrial Mangrove Birds of Java. W.L. S. M. Maritime Studies. 1949. Ser. Outline of Vegetation Types in Indonesia and Some Adjacent Regions. Mus.G.I. Chihara.F. Tectona. Skov & R. Wowor. South Sumatra Province. Malayan Animal Life. 79: 1-13. the Banyuasin Sembilang Swamps Case Study. Tomlinson. 1954. Osbornia octodonta. Integrating Mangrove and Swamp Forests Conservation with Coastal Lowland Development. 1957. 419 hal. 5: 431. 20: 85-94. 4210 . & D.J. Coastal Resources Development Options in the Southeast Asia and Pacific Regions: Economic Valuation Methodologies and Applications in Mangrove Development.G. 1989. F. 1989. & M. 1929. Biol. J. van Bodegom.K. Cambridge University Press. 1936.B. Bull. Conservation Status and Action Program for the milky stork (Mycteria cinerea). Natuurwetenschappelijk Tijdschrift voor Ned. & J. Ser. 1987. B. 1988. Plumbaginaceae. Thurairaja. Wada.Steup. Flora Malesiana. The Botany of Mangroves. 37. Tanaka. 237 hal.H. van Steenis. Ecology of Mangroves.G. M.G. 26: 194-6.G. K. IV: 61-97. 12: 353-355. Kadarisman.K.G. Cambridge. I. Tweedie.J. Prosiding the 8th Pacific Science Congress. een weinig bekende mangrove-boom. C.. 14: 93-106. J. 1958. W. Danielsen.441. U.. De Tropische Natuur. 134: 89-100. 193-205. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Management: Its Ecological and Economic Considerations’. A. Flora Malesiana. Hal 211-220.. Vol. C. F. 22: 1302-1332. van Steenis. Longman Malaysia. Verheught. Kustaanwas en Mangrove.G. C.J. Introduction to Account of the Rhizophoraceae by Ding Hou. Verheugt. Tokyo. Mar. Sci. Indonesia. 1941. 1994. van Balen.. Indië. 1986. De vloedbosschen in het gewest Riouw en onderhoorigheden. P. hal.M.G. 1991. Landscape and Urban Planning. Purwoko. van Steenis. A. Foraging on Mangrove Pneumatophores by Ocypodid Crabs. V. Harrison. Natn. BIOTROP Special Publication No. Ecol.

J. Mangroves of the Northern Territory. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-3. Flora of Okinawa and the Southern Ryukyu Islands. M. G. Philippines.H. Hal 358.J.M. Pustaka Kartini.Wahyuni.. Palms of Malaya.. Yaputra & B. 7.S. S. Whitmore. Rasyid. 1985. Yogyakarta. Damanik. Wibowo. Baltzer and N. 1988. M. Jakarta. Palmerston. Gajah Mada University Press. Yaputra & B. & S. Northern Territory Botanical Bulletin No. S. T. 1976. 1989. Gajah Mada University Press. Watson. The Ecology of Sulawesi. East Nusa Tenggara. Jakarta. 1973.C. Zieren. I. 1928. Wijayakusuma. 1984. Whitten. 1996.T. Wirian. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-4. Rusila Noor. Walker..G. Tanaman Berkhasiat Obat Wijayakusuma. 583 hal.T. Wightman. 1993.J. 1989. Whitten. H. ICLARM Technical Reports 25. The Coastal Environmental Profile of Segara Anakan-Cilacap. Pustaka Kartini. Oxford University Press. Editor. Pustaka Kartini. Indonesia. E. Hisyam. Nuraini. M. Dalimartha & A. South Java. 82 hal. Beberapa Jenis Hasil Perairan Segara Anakan Cilacap yang telah Dimanfaatkan Penduduk Sekitarnya. M. The Ecology of Sumatra. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid I. Wetlands of Sumba. Maros. Sumber Benih Baru di Indonesia Timur untuk Menanggulangi Masalah Perkembangan Tambak. H. S. Martosubroto & M. Jakarta. Kuala Lumpur. Jakarta... S. International Center for Living Aquatic Resources Management.E. H. Mustafa & G. PHPA/AWB Bogor. Sulawesi Selatan. S. Sadorra.M. 1: 1-8. A. Manila. Anwar & N. A. Wibowo.. M. di Indonesia Jilid ke-2. 132 hal. Dalimartha & A. 6. 1990. 777 hal.J. Henderson. H. Yogyakarta. & F. T. Wardoyo. Pustaka Kartini. Conservation Commission of the Northern Territory. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove.S. P. White. Wijayakusuma. S. 1992. S. 1995.. Malayan Forest Records No. Y. Jakarta. Australia. 2113 .. Wijayakusuma. M. Wirian. Jawul Penelitian Budidaya Pantai. 275 hal. Saleh. 1984. J. T. Singapore. M. Federated Malay States Government. A. N. Mangrove Forests of the Malay Peninsula.

biasanya memiliki bunga yang menyolok. Tumbuhan yang merambat ditanah. namun tidak menyerupai rumput. biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun. Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai. lurus dan biasanya tinggi. Parasit (Parasite) KELOMPOK TUMBUHAN Belukar (Shrub) Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar. Daunnya tidak panjang dan lurus. tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras. Dapat hidup tanpa inang. Tumbuhan yang memiliki kayu besar. Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit.GL OSSARY GEOGRAFIS Dunia lama (Old World) Pan-tropis (Pan-tropical) Eurasia dan Afrika Terdapat di seluruh daerah tropis di seluruh dunia KEBIASAAN HIDUP Hemi-parasit (Hemi-parasite) Tumbuhan yang sebagian hidupnya bergantung kepada inangnya. tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama. Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar. dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun. Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Tumbuhan yang hidupnya bergantung kepada inangnya. dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai. tetapi mampu untuk melakukan fotosintesa sendiri. Epifit (Epiphyte) Paku-pakuan (Fern) Palma (Palm) Pemanjat (Climber) Pohon (Tree) Terna (Herb) 4212 . tidak bercabang sampai daun pertama. Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu.

Akar berbentuk seperti papan miring yang tumbuh pada bagian bawah batang dan berfungsi sebagai penunjang pohon. Akar yang tumbuh dari batang diatas permukaan dan kemudian memasuki tanah. muncul dari dalam tanah. Bentukan pada pohon yang berbentuk datar. berukuran kecil dan hanya bisa terlihat baik dengan menggunakan kaca pembesar. Cairan yang pekat seperti susu. berupa struktur eksternal yang menyerupai piring. Lentisel (Lenticel) Sisik (Scales) AKAR Akar udara (Aerial root) Struktur yang menyerupai akar. Beberapa kadang-kadang menyerupai struktur akar yang dimiliki oleh famili Rhizophoraceae. Akar banir/papan (Buttress) Akar lutut (Knee root) Akar nafas (Pneumatophore) Akar Tunjang (Stilt-root) akar udara akar banir/papan akar lutut akar nafas akar tunjang Gambar bentuk-bentuk akar 2133 . Akar yang tumbuhnya tegak.BATANG/KULIT KAYU Bercelah (Fissured) Getah (Latex) Hipokotil (Hypocotyl) Goresan yang dalam pada batang pohon atau kulit kayu. Tonjolan pada kulit yang memungkinkan udara luar memasuki jaringan di dalamnya. pada kulitnya terdapat celah-celah kecil yang berguna untuk pernafasan. terbentuk dari epidermis. Bagian dari kecambah yang akan tumbuh menjadi pangkal batang yang akan berhubungan dengan pangkal akar. keluar dari batang. biasanya berfungsi untuk penunjang mekanis. Akar yang muncul dari tanah kemudian melengkung ke bawah sehingga bentuknya menyerupai lutut. menggantung di udara dan bila sampai ke tanah dapat tumbuh seperti akar biasa.

melebar dibagian tengah dan kedua ujungnya berukuran hampir sama. misalnya pada permukaan daun. Tumbuhan yang berdaun sepanjang tahun. Panjang daun 3 – 5 kali lebarnya. Pada tangkai daun yang bercabang-cabang terdapat lebih dari satu helaian daun. Pada tiap buku-buku batang hanya terdapat 1 daun. Bagian sisi dari daun. kebanyakan berbentuk elips. Majemuk (Compound) Susunan Berlawanan/berhadapan (Opposite) Bersilangan (Spiral/Alternate) Bentuk Bulat memanjang (Oblong) Panjang daun 2 – 3 kali lebarnya. bagian pangkal dan ujung daun runcing. Struktur pada tumbuhan yang mengeluarkan cairan lekat atau berminyak. Tonjolan vaskular yang biasanya terlihat dari luar. Urat bagian tengah pada daun. Bentuk daun seperti telur terbalik.DAUN Kelenjar (Gland) Ketiak (Axil) Meranggas (Deciduous) Anak/pinak daun (Leaflet) Selalu hijau (Evergreen) Tepi/sisi (Margin) Urat (Vein) Urat tengah (Midrib) Unit Sederhana/tunggal (Simple) Pada tangkai daun hanya terdapat satu helaian daun saja. Kelompok tumbuhan yang daunnya berguguran/rontok secara periodik (misalnya pada musim kering). Pada tiap buku-buku batang terdapat 2 daun yang berseberangan pada ranting. Panjang daun 2 kali lebarnya. Bulat telur (Ovate) Bulat telur terbalik (Obovate) Elips (Elliptic) Lanset (Lanceolate) Bentuk daun melebar dibagian tengah. Bagian yang mirip daun pada daun majemuk. Titik sudut antara sisi atas dan batang tempat daun. posisi normal untuk tunas lateral. bagian pangkal lebar dan bagian ujung runcing. 4214 .

BUNGA Daun kelopak (Sepal) Kelopak bunga (Calyx) Struktur berwarna hijau menyerupai daun atau hijaukekuningan. berfungsi untuk menarik perhatian serangga penyerbuk.elliptic oblong lanceolate ovate obovate spathulate Gambar bentuk-bentuk daun Ujung Membundar (Rounded) Ujung daun membulat atau hampir tidak terbentuk sudut sama sekali. Kelopak tambahan (Epicalyx) Mahkota bunga (Corolla) Daun mahkota (Petal) 2153 . Tumpul (Blunt) Ujung daun membentuk sudut yang tumpul. diluar kelopak bunga. Istilah untuk seluruh daun mahkota pada bunga. terletak pada bagian luar perhiasan bunga. Suatu struktur menyerupai daun yang terletak pada bagian dalam perhiasan bunga. Bagian terluar suatu bunga yang biasanya terdiri atas struktur seperti daun yang dalam tahap kuncup membungkus dan melindungi bagian-bagian bunga lainnya. biasanya berwarnawarni untuk menarik perhatian serangga penyerbuk. Meruncing (Pointed/Acute/ Ujung daun membentuk suatu sudut lancip atau ujung Acuminate) daun sempit memanjang dan runcing. Pinak daun yang terletak pada dasar bunga. Merupakan terminologi yang digunakan untuk semua daun kelopak (sepal) pada bunga.

Tiang jaringan langsing yang timbul dari jaringan bakal buah tempat tumbuh tabung tepung sari. lekat yang dikeluarkan oleh tumbuhan. dimana masing-masing bagian mengandung kantung tepung sari. Bagian yang menunjang benang sari. Butir tepung sari melengket disini dan kemudian berkecambah. 4216 . Bagian organ betina pada bunga yang biasanya bersifat lengket. Struktur yang terdapat pada ujung filamen dan terdiri atas dua bagian. Gametofit jantan dari tumbuhan berbiji. Berkelamin tunggal (Unisexual) Pada bunga terdapat hanya salah satu dari dua macam alat kelaminnya. Pada bunga terdapat benang sari maupun putik.Benangsari (Stamen) Kepala sari (Anther) Alat kelamin jantan. putik benang sari Tangkai benang sari (Filament) Tepung sari (Pollen) Kepala putik (Stigma) Tangkai putik (Style) daun mahkota daun kelopak/ kelopak bunga dasar bunga tangkai bunga Gambar bunga dengan bagian-bagiannya Nektar/madu (Nectar) Berkelamin dua (Bisexual) Cairan manis.

Bakal daun didalam biji/biji benih yang kemudian berkembang menjadi daun pertama dari kecambah/ benih. yang pada beberapa tanaman berperan penting sebagai bahan makanan. Bunga terletak atau muncul dari ketiak daun. Bagian dari kecambah/benih yang terletak diantara bakal cabang dan bakal akar. Bunga majemuk tidak terbatas. Bulir (Spike) Berbatas/kelompok (cyme) Bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya ditutupi dengan suatu bunga. demikian pula cabang-cabang yang terdapat di ibu tangkainya ditutupi suatu bunga diujungnya. sehingga bungan tidak terdapat pada ibu tangkainya. tangkai.Letak Di ketiak (Axillary) Di ujung (Terminal) Formasi Soliter (Solitary/Single) Payung (Umbrella) Bunga muncul secara tunggal. Malai/bergerombol acak (Panicle) Bunga majemuk yang ibu tangkainya bercabang-cabang dan cabang-cabangnya dapat bercabang lagi. Biji yang berkecambah dalam buah (misalnya pada banyak jenis Rhizophoraceae). dari ujung ibu tangkalnya mengeluarkan cabang-cabang yang sama panjangnya dan masing-masing cabang tersebut mempunyai 1 daun pelindung pada tangkalnya. BUAH Spora (Spore) Vivipar (Viviparous) Keping benih (Cotyledon) Sel reproduksi dari tumbuhan ferna. Bunga terletak atau muncul diujung cabang. tidak dalam kelompok. sehingga anak bunganya duduk. tandan atau batang. Bentuk perbungaan dimana tangkai bunga utamanya panjang dan tangkai anak bunga sangat pendek. Hipokotil (Hypocotyl) 2173 .

terutama ditemukan pada Xylocarpus dan Sonneratia. terutama ditemukan pada Avicennia. terdapat dalam famili Rhizophoraceae (Bruguiera.Bentuk Silinder (Cylindrical) Buah berbentuk seperti tongkat atau galah. Buah berbentuk seperti kacang dengan berbagai macam bentuk. Ceriops dan Rhizophora). Buah berbentuk seperti bola atau bulat. tangkai buah kelopak buah buah keping benih Bola/bulat (Ball) Kacang (Bean like) plumulae hipokotil radicle Gambar buah dengan bagian-bagiannya (Rhizophora apiculata) 4218 .

INDEKS A Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis 48 50 52 54 56 58 60 62 64 66 68 70 72 74 76 C Calophyllum inophyllum Calotropis gigantea 146 148 Camptostemon philippinense 90 Camptostemon schultzii Cerbera manghas Ceriops decandra Ceriops tagal Clerodendrum inerme 92 150 94 96 152 D Derris trifolia 154 E Excoecaria agallocha 98 F B Barringtonia asiatica Bruguiera cylindrica Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza Bruguiera hainessii Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula 144 78 80 82 84 86 88 Finlaysonia maritima 156 G Gymnanthera paludosa 100 H Heritiera globosa Heritiera littoralis Hibiscus tiliaceus 102 104 158 2193 .

I Ipomoea pes-caprae 160 R Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata 118 120 122 174 K Kandelia candel 106 Rhizophora stylosa Ricinus communis L Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa 108 110 S Sarcolobus globosa Scaevola taccada 124 176 Scyphiphora hydrophyllacea 126 M Melastoma candidum Morinda citrifolia 162 164 Sesuvium portulacastrum Sonneratia alba Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata 178 128 130 132 180 N Nypa fruticans 112 Stachytarpheta jamaicensis T O Osbornia octodonta 114 Terminalia catappa Thespesia populnea 182 184 P Pandanus odoratissima Pandanus tectorius Passiflora foetida Phemphis acidula Pongamia pinnata 166 168 170 116 172 X Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii 134 136 138 140 W Wedelia biflora 186 4220 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful