Panduan Pengenalan

MANGROVE
di Indonesia

Oleh: Yus Rusila Noor M. Khazali I N.N. Suryadiputra

Bogor, Oktober 2006

Ditjen. PHKA

Indonesia Programme

i3

This publication has been made possible with funding from the CY 98 Environment Component of the World Bank/Netherlands Partnership Programme, through the IUCN Regional Biodiversity Programme for South and Southeast Asia. Publikasi ini dibuat atas dukungan biaya dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998, lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara.

THE WORLD BANK

This publication is adapted from: Publikasi ini merupakan saduran dari: Giesen, W., Stephan Wulffraat, Max Zieren & Liesbeth Schoelten. A Field Guide of Indonesian Mangrove. WI-IP (in prep.).

Cetakan pertama tahun 1999

Pencetakan ulang (kedua) tahun 2006, didukung oleh:

Green Coast
For nature and people after the tsunami

Dibiayai oleh:

Pustaka: Rusila Noor, Y., M. Khazali, dan I N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP, Bogor.

4ii

© Wetlands International – Indonesia Programme, 1999 Hak cipta dilindungi Undang-undang ISBN: 979-95899-0-8

Desain dan tata letak: Triana Ilustrasi: Wahyu Gumelar dan Tilla Visser Foto: Hidayat S., I N.N. Suryadiputra, Jennifer Dudley, Kitamura, Marcel J. Silvius, Wendy Suryadiputra, Wim Giesen

Pendapat dan saran yang dikemukakan dalam buku ini adalah semata-mata pendapat dan saran dari penulis/ penyadur dan tidak selalu mencerminkan kebijakan resmi dari Wetlands International dan Ditjen PHKA.

iii3

Oleh karena itu. baik karena beberapa jenis tidak terdapat di Indonesia atau karena titik berat pustaka tersebut hanya pada pohon dan belukar. hal ini dirasakan cukup menyulitkan dan kurang praktis. Buku ini tidak ditujukan sebagai edisi akhir yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam identifikasi mangrove di Indonesia. manfaat. akan tetapi banyak mengandung kelemahan. ekologi. Warisan alam yang sangat luar biasa ini memberikan tanggung jawab yang besar bagi Indonesia untuk melestarikannya. seperti untuk Malaysia (Watson. Untuk mengisi kekosongan tersebut. bagi yang ingin secara serius mempelajari mangrove haruslah mengacu kepada berbagai publikasi lainnya. WI-IP telah menyelesaikan suatu manuskrip pengenalan mangrove Indonesia dalam Bahasa Inggris. sangat sedikit pustaka yang berhubungan dengan mangrove di Indonesia. Hingga saat ini. sebaran serta kebijakan/peraturan tentang mangrove di Indonesia). dan Australia (Wightman. sekaligus memberikan kesempatan yang berharga bagi mereka yang bermaksud mempelajari dan menikmati habitat ini. saran dan kritik pemakai buku ini sangat diharapkan. dan bagian kedua secara spesifik menjelaskan jenis-jenis mangrove di Indonesia (di dalamnya meliputi cara mengidentifikasi. Meskipun dalam beberapa hal pustaka tersebut bermanfaat. termasuk Flora Malesiana.KATA PENGANTAR Indonesia dikarunia memiliki mangrove yang terluas di dunia dan juga memiliki keragaman hayati yang terbesar serta strukturnya paling bervariasi. PNG (Percival & Womersley. Namun atas dukungan biaya oleh pihak sponsor (Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998) manuskrip tersebut kini telah berhasil disadur kedalam Bahasa Indonesia dengan beberapa tambahan dan perbaikan data. yang sayangnya belum bisa segera diterbitkan karena kendala biaya. kelimpahan serta manfaatnya bagi umat manusia). baik karena beratnya buku-buku tersebut maupun harganya yang mahal. 1975). 1928). Untuk melengkapi pustaka tersebut. Tujuan ditulisnya buku ini adalah untuk memberikan suatu panduan sederhana pengenalan tumbuhan mangrove bagi mereka yang tertarik pada konservasi dan pengelolaan mangrove di Indonesia. Namun. 1989). sehingga bagi yang ingin mempelajari mangrove Indonesia terpaksa harus mengacu kepada pustaka mengenai negara-negara tetangga. Buku ini dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama berisikan tentang gambaran umum mangrove (di dalamnnya tercakup habitat. Penyadur 4iv 3iv .

serta kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara.UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. Marcel J.Indonesia Programme dibawah koordinator Laksmi A. Jennifer Dudley dan Wendy Suryadiputra. Penyadur kedua dan ketiga memperbaiki dan menambah informasi dan data terbaru yang lebih sesuai untuk edisi ini.al. Penerjemahan dan penyaduran dari manuskrip Bahasa Inggris dilakukan oleh penyadur pertama. Stephan Wulffraat. sedangkan pendisainan dan tata letak dilakukan oleh Triana.) yang diproduksi oleh JICA-ISME (1997) melalui ijin yang diberikan oleh pimpinan proyek mangrove JICA di Bali. Indonesia) Penyelesaian publikasi ini dilakukan oleh suatu tim dari Wetlands International . Dr. Dr. Wahyu Gumelar. v3 . Foto-foto berwarna diambil oleh para penyadur juga oleh Hidayat Sunarsyah. Ilustrasi hitam putih digambar oleh tangan terampil Wahyu Gumelar dan Tilla Visser. untuk itu Dr. Silvius sangat berperanan dalam persiapan awal penerbitan buku ini serta menyediakan beberapa slide-nya untuk digunakan. Scott Perkin sebagai Ketua Program telah sangat berperan dalam memungkinkan penyaluran dana. Publikasi ini dapat diselesaikan berkat dukungan dana dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998. Savitri. Penghargaan dan ucapan terima kasih akhirnya disampaikan kepada Wim Giesen. Atsuo Ida. Beberapa foto berwarna juga diambil dari Handbook of Mangroves in Indonesia (oleh Kitamura et. Cecep Kusmana memberikan masukan yang sangat berharga dalam persiapan awal publikasi. Liesbeth Schoelten dan tim produksi manuskrip Bahasa Inggris yang menjadi sumber utama publikasi ini. Max Zieren.

dan Bea Tolboom yang telah mengumpulkan pustaka. Jepang). Yus Rusila Noor. Arnhem. Hennipman (Institute of Systematic Botany. Inggris) Banyak pihak yang terlibat dalam penyelesaian secara bertahap buku ini. The Netherlands dan Stichting Ludovica. terima kasih tak terhingga untuk Herbarium Bogor dan Rijkherbarium Leiden yang telkah memberikan kemudahan untuk menggunakan koleksi herbariumnya. Wim Giesen. sehingga dapat digunakan dalam pembuatan gambar buku ini. The Netherlands. sayangnya harus meninggalkan Indonesia. Stichting Pro Natura. Dr. The Netherlands. Ellecom. Produksi buku ini pada awalnya didukung oleh Stichting FONA. The Netherlands). khususnya Stephan Wulffraat (yang membuat daftar jenis dan memulai seluruh proses). Terima kasih juga disampaikan kepada staf perpustakaan Herbarium Bogor atas bantuan dan kesabarannya dalam memberikan pustaka yang diperlukan. Kami sangat berterima kasih kepada para sponsor yang memberikan dukungan. pengerjaan kemudian dilakukan sedikit demi sedikit sampai kemudian Koordinator proyek lanjutan inipun. University of Utrecht. the International Society for Mangrove Ecosystems (ISME. harus meninggalkan Indonesia pada awal 1995. terutama juga karena kurangnya dana pendukung. berpusat di Okinawa. Lebih dari itu. Penyelesaian akhir buku ini kemudian dilanjutkan oleh Koordinator berikutnya. Syukurlah. termasuk Almarhum “Doc” Kostermans (Herbarium Bogor). meskipun penyelesaian buku ini sangat terlambat. Terlepas dari masalah dana tersebut. Liesbeth Schoelten untuk ketekunan dan kemampuannya dalam memberikan pertelaan jenis. PHPA (sekarang PHKA) dan AWB (sekarang Wetlands International) sangat berterima kasih kepada sejumlah sukarelawan yang telah memberikan sumbangannya kepada penyelesaian buku ini. Max van Balgooij (Rijkherbarium Leiden) dan Dr. Terakhir. Pada akhir 1993. Tilla Visser untuk gambargambarnya yang luar biasa. Cecillia Luttrell yang telah mencoba kunci identifikasi di lapangan dan memeriksa spesimen di lapangan.UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. selama kurun waktu 1991 – 1993.J Afriastini yang telah membantu identifikasi tumbuhan herbarium. 4vi 3vi . kami juga menghaturkan terima kasih kepada pihak luar yang teah memberikan komentar dan masukan yang sangat berharga. J. Wim Giesen. Dra. E. Koordinator proyek yang pertama. Max Zieren. berkenan untuk memberikan sumbangan dana yang memungkinkan dilanjutkannya proses penyelesaian akhir dan editing buku ini oleh penulis dan editor utamanya. sehingga pengerjaan buku ini agak terbengkalai. Ellecom.

1 2. Indonesia) (Edisi B. Manfaat Mangrove 3.2 2. Inggris) iv v vi vii 1 1 1 3 5 5 8 12 17 17 21 23 23 27 30 30 31 33 34 35 Bagian I Habitat Mangrove 2.3 5.3 II.1 1. Kebijakan dan Peraturan Menyangkut Mangrove 5.2 1.DAFTAR ISI Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Daftar Isi I.1 5.2 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Penyebab penurunan luas mangrove V.2 5.2 Pemanfaatan mangrove Fungsi mangrove IV. Pendahuluan 1.4 5.3 Kondisi fisik Tipe vegetasi mangrove Fauna mangrove III. Apakah mangrove itu? Gambaran umum mangrove Indonesia Cakupan buku panduan (Edisi B.1 3.5 Pemetaan sumberdaya Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Peraturan yang berkaitan dengan konservasi mangrove Perkembangan terakhir vii3 . Status Mangrove Indonesia 4.1 4.

Areal Mangrove yang Dilindungi 6. nama lain/sinonim. Jenis mangrove.1 6. Beberapa Petunjuk Studi Mangrove bagi Pemula 7.2 7.VI.3 7.2 6.1 7.5 7.4 7.3 Mangrove dan sistem kawasan lindung Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Pemeliharaan keanekaragaman hayati mangrove 37 37 39 41 43 43 43 44 45 45 46 VII. sumber gambar & foto Lampiran 2.6 Pustaka penting Petunjuk untuk pengamatan lapangan Spesimen tumbuhan mangrove Studi vegetasi Studi fauna Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Lampiran Lampiran 1. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan Daftar Pustaka Glosari Indeks 190 198 201 212 219 Bagian II JENIS-JENIS MANGROVE SEJATI JENIS-JENIS MANGROVE IKUTAN 47 143 4 3 viii .

menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur.1 Apakah mangrove itu ? Asal kata “mangrove” tidak diketahui secara jelas dan terdapat berbagai pendapat mengenai asal-usul katanya. Excoecaria. Lumnitzera. 1988) menyebutkan bahwa luas mangrove di seluruh dunia adalah sekitar 15 juta hektar. Rhizophora. dan terdiri atas jenis-jenis pohon Aicennia.5% (Spalding. bahkan Groombridge (1992) menyebutkan 19. istilah “mangrove” digunakan untuk jenis tumbuhannya. 1997) mangrove dunia. Sementara itu Soerianegara (1987) mendefinisikan hutan mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. 1983). isitilah “mangrove” secara umum digunakan mengacu pada habitat. Bruguiera.2 Gambaran umum mangrove Indonesia Perkiraan luas mangrove di seluruh dunia sangat beragam. namun pada dasarnya merujuk pada hal yang sama. dkk (1997) menyebutkan 18.I. Xylocarpus. Aegiceras.1 juta hektar. 1994) sampai 41. Untuk kawasan Asia. Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung (Saenger. 1. Sonneratia. menurut Wightman (1989) yang lebih penting untuk diketahui pada saat bekerja dengan komunitas mangrove adalah menentukan mana yang termasuk dan mana yang tidak termasuk mangrove. termasuk jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di pinggiran mangrove seperti formasi Barringtonia dan formasi Pes-caprae. 13 . dkk. Pada dasarnya. Dalam beberapa hal. Dalam buku panduan ini. Ceriops. Beberapa peneliti seperti Lanly (dalam Ogino & Chihara. Tomlinson (1986) dan Wightman (1989) mendefinisikan mangrove baik sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas. Beberapa ahli mendefinisikan istilah “mangrove” secara berbeda-beda. dkk. Sementara itu. Macnae (1968) menyebutkan kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove.9 juta hektar. sedangkan Spalding. Scyphyphora dan Nypa. luas mangrove diperkirakan antara 32 % (Thurairaja. Dia menyarankan seluruh tumbuhan vaskular yang terdapat di daerah yang dipengaruhi pasang surut termasuk mangrove. PENDAHULUAN 1.

2 meter pada pantai yang tergenang air laut. Bina Program INTAG. sementara yang lainnya mengembangkan sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya. Kalimantan 978. Dengan demikian terlihat bahwa Indonesia memiliki keragaman jenis yang tinggi.5 juta hektar (dalam buku panduan ini). Nigeria (1. Indonesia merupakan tempat mangrove terluas di dunia (18 . Umumnya tegakan mangrove jarang ditemukan yang rendah kecuali mangrove anakan dan beberapa jenis semak seperti Acanthus ilicifolius dan Acrostichum aureum. meliputi 89 jenis pohon. Di daerahdaerah ini dan juga daerah lainnya. hingga tegakan campuran BruguieraRhizophora-Ceriops dengan ketinggian lebih dari 30 meter (misalnya. dkk (1983) mencatat sebanyak 60 jenis tumbuhan mangrove sejati. Sejauh ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis tumbuhan mangrove. Ceriops dan Rhizophora.600 ha (38%). Bruguiera. Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ekstrim. di Sulawesi Selatan).200 ha (28 %) dan Sumatera 673. 42 . Mangrove terluas terdapat di Irian Jaya sekitar 1. Walaupun mangrove dapat tumbuh di sistem lingkungan lain di daerah pesisir.5 juta hektar. 43 jenis (diantaranya 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai mangrove sejati (true mangrove). Dit. perkembangan yang paling pesat tercatat di daerah tersebut.5 juta hektar. seperti kondisi tanah yang tergenang. Dapat ditemukan mulai dari tegakan Avicennia marina dengan ketinggian 1 . Dengan areal seluas 3. Saenger. 44 jenis herba tanah. Dalam hal struktur. Umumnya mangrove dapat ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia (Gambar 1). dapat ditemukan Sonneratia alba dan Avicennia alba. dkk.300 ha (19%) (Dit. 44 jenis epifit dan 1 jenis paku.1 juta ha) dan Australia (0. Di seluruh dunia. kadar garam yang tinggi serta kondisi tanah yang kurang stabil. beberapa jenis mangrove berkembang dengan buah yang sudah berkecambah sewaktu masih di pohon induknya (vivipar). Dalam hal lain.Di Indonesia perkiraan luas mangrove juga sangat beragam.3 juta ha). Bina Program INTAG (1996) menyebutkan 3. mangrove di Indonesia lebih bervariasi bila dibandingkan dengan daerah lainnya.350. dkk (1997) menyebutkan seluas 4. 19 jenis pemanjat. mangrove tumbuh dan berkembang dengan baik pada pantai yang memiliki sungai yang besar dan terlindung.23%) melebihi Brazil (1. Giesen (1993) menyebutkan luas mangrove Indonesia 2.5 juta hektar dan Spalding. 1997). Di daerah pantai yang terbuka. beberapa jenis mangrove mengembangkan mekanisme yang memungkinkan secara aktif mengeluarkan garam dari jaringan. seperti Kandelia. 1996). sementara itu di sepanjang sungai yang memiliki kadar salinitas yang lebih rendah umumnya ditemukan Nypa fruticans dan Sonneratia caseolaris. Dari 202 jenis tersebut. 5 jenis palma.97 juta ha) (Spalding. Dengan kondisi lingkungan seperti itu. sementara jenis lain ditemukan disekitar mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove ikutan (asociate asociate).

serta uraian mengenai habitat mangrove. Dalam bagian pertama ini juga disajikan informasi mengenai manfaat yang dapat digali dari mangrove. Untuk mereka yang bermaksud melakukan penelitian mengenai mangrove. para pembaca sangat dianjurkan untuk mengacu buku-buku lain yang khusus membahas jenis-jenis tanaman obat (misalnya Wijayakusuma. namun pembaca diharapkan untuk berhati-hati dalam pemanfaatannya. Inti dari buku panduan ini terdapat pada bagian dua. khususnya berkenaan dengan dosis yang akan dipakai. Selain itu. disajikan panduan ringkas mengenai tekhnik dasar penelitian mangrove serta daftar nama dan alamat organisasi penting yang bergerak dibidang penelitian dan pengelolaan mangrove di Indonesia. 33 . Untuk hal demikian. juga diuraikan informasi mengenai peraturan serta perundang-undangan mengenai mangrove di Indonesia. dkk. Dibagian ini ditampilkan panduan identifikasi jenis-jenis tumbuhan mangrove disertai ilustrasi dan/atau foto. 1992). Bagian pertama berupa pendahuluan dan pengenalan terhadap mangrove secara umum. jenis mangrove yang dideskripsikan hanya mencakup 60 jenis. status dan kondisi mangrove di Indonesia dibandingkan dengan bagian dunia lainnya.Seluruh jenis mangrove tersebut telah dideskripsikan dalam manuskrip Bahasa Inggris dari panduan ini. Selain itu. Meskipun pada bagian dua tercantum juga aspek manfaat dari mangrove sebagai obatobatan. M.H. termasuk beberapa uraian singkat mengenai tanah.. meliputi 43 jenis mangrove sejati dan 17 jenis mangrove ikutan. tipe vegetasi serta faunanya.3 Cakupan buku panduan Buku panduan ini terdiri dari dua bagian. termasuk definisi mengenai mangrove. dilampirkan beberapa peta yang berkaitan dengan penyebaran mangrove dan kawasan lindung mangrove yang penting di Indonesia dan panduan ringkas bergambar identifikasi mangrove. Dalam panduan edisi Bahasa Indonesia ini. 1.

44 Gambar 1. Peta penyebaran mangrove di Indonesia .

1991). Sebagian besar jenis-jenis mangrove tumbuh dengan baik pada tanah berlumpur. pasir atau gambut). 1977). Beberapa jenis lain juga dapat tumbuh pada salinitas tinggi seperti Aegiceras corniculatum pada salinitas 20 – 40 o/oo. 1989). Sulawesi Selatan.1 Kondisi fisik Vegetasi mangrove secara khas memperlihatkan adanya pola zonasi (misalnya terlihat dalam Gambar 2). Ceriops tagal pada salinitas 60 o/oo dan pada kondisi ekstrim ini tumbuh kerdil. bahkan Lumnitzera racemosa dapat tumbuh sampai salinitas 90 o/oo (Chapman. Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. Stylosa pada salinitas 55 o/oo. bahkan pada pulau karang yang memiliki substrat berupa pecahan karang. Jenis-jenis Bruguiera umumnya tumbuh pada 53 . 1976a). Jenis-jenis Sonneratia umumnya ditemui hidup di daerah dengan salinitas tanah mendekati salinitas air laut. 1976a). pohon tumbuh kerdil dan kemampuan menghasilkan buah hilang. kerang dan bagian-bagian dari Halimeda (Ding Hou. sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya. Teluk Jakarta (Hardjowigeno. kondisi ini ditemukan di utara Teluk Bone dan di sepanjang Larian – Lumu. dimana mangrove tumbuh pada gambut dalam (>3m) yang bercampur dengan lapisan pasir dangkal (0. R.II. Rhizopora mucronata dan R. caseolaris yang tumbuh pada salinitas kurang dari 10 o/oo. 1958). substrat berlumpur ini sangat baik untuk tegakan Rhizophora mucronata and Avicennia marina (Kint. Kint (1934) melaporkan bahwa di Indonesia.5 m) (Giesen. stylosa dan Sonneratia alba tumbuh pada pantai yang berpasir. dkk. keterbukaan (terhadap hempasan gelombang). Substrat mangrove berupa tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi (62%) juga dilaporkan ditemukan di Kepulauan Seribu. 1966. salinitas serta pengaruh pasang surut. Jenis-jenis lain seperti Rhizopora stylosa tumbuh dengan baik pada substrat berpasir. 1934). Amerika Serikat (Chapman. Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya. Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. mangrove dapat juga tumbuh pada daerah pantai bergambut. HABITAT MANGROVE 2. 1977 & Bunt & Williams. misalnya di Florida. kecuali S. Di Indonesia. Pada salinitas ekstrim. Avicennia merupakan marga yang memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lainnya. Di Indonesia.1968). terutama di daerah dimana endapan lumpur terakumulasi (Chapman. Beberapa ahli (seperti Chapman. atau bahkan pada pantai berbatu. Pada kondisi tertentu. 1981) menyatakan bahwa hal tersebut berkaitan erat dengan tipe tanah (lumpur. marina mampu tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90 o/oo (MacNae. A.

Irian Jaya (Erftemeijer. lebar zona mangrove jarang melebihi 50 meter. Adapun pada daerah pantai yang tererosi dan curam. Kalimantan Selatan. yang mana areal ini lebih ke daratan. Untuk daerah di sepanjang sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut. parviflora adalah 20 o/oo. lebar zona mangrove jarang melebihi 4 kilometer. 46 . pemasukan dan pengeluaran material kedalam dan dari sungai. 1978a). Panjang hamparan ini bergantung pada intrusi air laut yang sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pasang surut. 1989). serta kecuramannya. Beberapa penulis melaporkan adanya korelasi antara zonasi mangrove dengan tinggi rendahnya pasang surut dan frekuensi banjir (van Steenis. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt. 1958 & Chapman. dkk. MacNae (1968) menyebutkan bahwa kadar salinitas optimum untuk B. Di Indonesia. 1990) atau bahkan lebih dari 30 kilometer seperti di Teluk Bintuni. umumnya didominasi oleh jenisjenis Bruguiera dan Xylocarpus granatum.daerah dengan salinitas di bawah 25 o/oo. Adapun areal yang digenangi hanya pada saat pasang tinggi. panjang hamparan mangrove kadang-kadang mencapai puluhan kilometer seperti di Sungai Barito. sementara B. Pada umumnya. sedangkan areal yang digenangi hanya pada saat pasang tertinggi (hanya beberapa hari dalam sebulan) umumnya didominasi oleh Bruguiera sexangula dan Lumnitzera littorea. areal yang selalu digenangi walaupun pada saat pasang rendah umumnya didominasi oleh Avicennia alba atau Sonneratia alba. Areal yang digenangi oleh pasang sedang didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora. Pada daerah seperti ini lebar zona mangrove dapat mencapai 18 kilometer seperti di Sungai Sembilang. gymnorrhiza adalah 10 – 25 o/oo. kecuali pada beberapa estuari serta teluk yang dangkal dan tertutup. Zona vegetasi mangrove nampaknya berkaitan erat dengan pasang surut.

Contoh zonasi mangrove di Cilacap. Jawa Tengah (diadaptasi dari White. dkk. gymnorrhiza B. parviflora Ceriops tagal Dh Ra Rm Sb Xg - Derris heterophylla Rhizophora apiculata R. Aa Ac Bc Bg Bp Ct - Avicennia alba Aegiceras corniculatum Bruguiera cylindrica B.Gambar 2. 1989). mucronata Sarcolobus banksii Xylocarpus granatum 73 .

komunitas N. a) Mangrove terbuka Mangrove berada pada bagian yang berhadapan dengan laut. di zona ini didominasi oleh S. Meskipun demikian. mucronata. dkk (1988) menemukan bahwa di Halmahera. Excoecaria agallocha.2 Tipe vegetasi mangrove Struktur Secara sederhana. Maluku. alba merupakan jenis-jenis ko-dominan pada areal pantai yang sangat tergenang ini. Sonneratia caseolaris lebih dominan terutama di bagian estuari yang berair hampir tawar (Giesen & van Balen.Nypa lebih sering ditemukan. mangrove umumnya tumbuh dalam 4 zona. 1993). Jenis-jenis penting lainnya yang ditemukan di Karang Agung adalah B. seperti di Pulau Kaget dan Pulau Kembang di mulut Sungai Barito di Kalimantan Selatan atau di mulut Sungai Singkil di Aceh. di zona ini didominasi oleh Sonneratia alba yang tumbuh pada areal yang betul-betul dipengaruhi oleh air laut. S. alba cenderung untuk mendominasi daerah berpasir. Stenochlaena palustris dan Xylocarpus granatum. Van Steenis (1958) melaporkan bahwa S. serta daerah ke arah daratan yang memiliki air tawar. Komiyama. Di jalur-jalur tersebut sering sekali ditemukan tegakan N. Sumatera Selatan. sementara Avicennia marina dan Rhizophora mucronata cenderung untuk mendominasi daerah yang lebih berlumpur (Van Steenis. 48 .fruticans yang bersambung dengan vegetasi yang terdiri dari Cerbera sp. moluccensis. c) Mangrove payau Mangrove berada disepanjang sungai berair payau hingga hampir tawar. Di Karang Agung. campuran komunitas Sonneratia . 1958). gymnorrhiza. Di zona ini biasanya didominasi oleh jenis Rhizophora.2. Sonneratia akan berasosiasi dengan Avicennia jika tanah lumpurnya kaya akan bahan organik (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. daerah tengah. B. eriopetala. 1991). alba dan A. Gluta renghas. Samingan (1980) menemukan bahwa di Karang Agung. yaitu pada daerah terbuka. Samingan (1980) menemukan di Karang Agung didominasi oleh Bruguiera cylindrica. Di sebagian besar daerah lainnya. Di zona ini biasanya didominasi oleh komunitas Nypa atau Sonneratia. b) Mangrove tengah Mangrove di zona ini terletak dibelakang mangrove zona terbuka. R. daerah yang memiliki sungai berair payau sampai hampir tawar. alba. fruticans terdapat pada jalur yang sempit di sepanjang sebagian besar sungai. Xylocarpus granatum dan X. Ke arah pantai. Namun. Komposisi floristik dari komunitas di zona terbuka sangat bergantung pada substratnya.

157 jenis di Sumatera. 133 jenis di Maluku dan 120 jenis di Kepulauan Sunda Kecil. 166 jenis terdapat di Jawa. penelitian mangrove lebih intensif dilakukan di pulau ini dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Tabel 1 memberikan gambaran mengenai penyebaran seluruh jenis mangrove sejati di 6 negara di kawasan Samudera Hindia bagian utara/Pasifik barat laut.d) Mangrove daratan Mangrove berada di zona perairan payau atau hampir tawar di belakang jalur hijau mangrove yang sebenarnya. Banyak formasi serta zona vegetasi yang tumpang tindih dan bercampur serta seringkali struktur dan korelasi yang nampak di suatu daerah tidak selalu dapat diaplikasikan di daerah yang lain. fruticans. terdapat perbedaan dalam hal keragaman jenis mangrove antara satu pulau dengan pulau lainnya. namun kenyataan di lapangan tidaklah sesederhana itu. akan tetapi sebagian besar dari jenis-jenis yang tercatat berupa jenis-jenis gulma (seperti Chenopodiaceae. 1993). Tanaka dan Chihara (1988) dalam penelitiannya mengenai makroalga di Indonesia Timur menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat penyebaran makroalga di dunia yang berasosiasi dengan tumbuhan mangrove. dan Xylocarpus moluccensis (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Di Indonesia sendiri. Lumnitzera racemosa. akan tetapi dapat memberikan gambaran urutan penyebaran jenis mangrove di pulau-pulau Indonesia. Pengecualian untuk Pulau Jawa. meskipun memiliki keragaman jenis yang paling tinggi. 142 jenis di Irian Jaya. Dari 50 jenis mangrove sejati yang ada. retusa). Poaceae). Flora & keragamannya Kawasan Samudera India bagian utara dan Pasifik barat daya (memanjang dari Laut Merah sampai Jepang dan Indonesia) merupakan tempat keanekaragaman jenis mangrove tertinggi di dunia. Meskipun daftar ini mungkin tidak terlalu komprehensif. Kekayaan tersebut tidak hanya dalam hal kelompok tumbuhan Angiospermae. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman jenis mangrove yang paling tinggi di dunia. Satu hal yang harus 93 . dkk (1983) mencatat dua kawasan tersebut mewakili masing-masing 44 dan 38 jenis dari 60 jenis mangrove sejati yang tercatat di dunia. Zona ini memiliki kekayaan jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan zona lainnya. 150 jenis di Kalimantan. Intsia bijuga. Pandanus sp. Amerika Timur/Karibea dan Afrika Barat hanya memiliki 7 jenis serta Afrika Timur 9 jenis (Saenger. 135 jenis di Sulawesi. Sementara di kawasan Amerika Barat/Pasifik Timur. Meskipun kelihatannya terdapat zonasi dalam vegetasi mangrove. 1983). Jenis-jenis yang umum ditemukan pada zona ini termasuk Ficus microcarpus (F. N. Dari 202 jenis mangrove yang telah diketahui. setidaknya tercatat 40 jenis berada di Indonesia. Saenger. dkk. Cyperaceae. akan tetapi juga untuk taxa yang lainnya. Selain itu.

tagal + Cynometra ramiflora + Excoecaria agallocha + Heritiera fomes + H.diperhatikan adalah bahwa pembangunan yang mengakibatkan kerusakan dan peralihan peruntukan lahan mangrove telah terjadi di mana-mana. ilicifolius + A. integra A. 1983) Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P. intermedia A. schultzii Ceriops decandra + C. dkk.N. lanata A. sexangula Campnosperma philippinensis C. Hal ini berarti jenis-jenis yang tercatat dalam daftar diatas kemungkinan sebenarnya sudah tidak ditemukan di pulau tertentu. officinalis + A. retundifolia + Aegiceras corniculatum + A.. Tabel 1. exaristata B. hainesii B. eucalyptifolia A. parviflora + B. Penyebaran jenis-jenis mangrove sejati di kawasan Indo-Australia (Saenger. gymnorrhiza + B. Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Acanthus ebracteatus + A.G. floridum Avicennia alba + A. marina + A. rumphiana Bruguiera cylindrica + B. volubilis Aegilitis annulata A. litoralis + + + + + + + + + + + + + + + ?+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 410 .

N. parvifolius J UM L A H Referensi: India Bangladesh Vietnam Indonesia Papua New Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 27 19 30 39 33 28 : Chaudhuri & Choudhury (1994) : Das & Siddiqi (1985) : Hong & Sen (1993) : Publikasi ini Guinea : Percival & Womersley (1975). apetala S. griffithii S. Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Kandelia candel Lumnitzera littorea L. mekongensis X. mucronata R. granatum X. Tomlinson & Womersley (1976) : Tomlinson & Womersley (1976). recemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phoenix paludosa Rhizophora apiculata R. moluccensis X. lamarckii R.Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P.G. Wightman (1989) 113 . ovata Xylocarpus australasicus X. stylosa Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S. caseolaris S.

masih terdapat 2 jenis endemik lainnya (mangrove ikutan). Empat jenis sisanya berstatus langka secara global. A. yaitu: Lima jenis umum setempat tetapi langka secara global. sehingga secara global tidak memerlukan pengelolaan khusus.acutifolia hanya terkoleksi satu kali. sehingga berstatus rentan dan memerlukan perhatian khusus untuk pengelolaannya. Beberapa dari 91 jenis kelompok moluska tersebut diketahui hidup di dalam tanah. Jenis-jenisnya adalah Ceriops decandra.Jenis tumbuhan langka dan endemik Untuk kepentingan konservasi serta pengelolaan sumberdaya alam. Maluku. reptilia dan burung.3 Fauna mangrove Mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa liar seperti primata. jenis-jenis yang bersifat langka dan endemik haruslah diberi perhatian lebih. anisomeres dan N. Sporobolus virginicus. Dua diantaranya. Hanya sedikit jenis mangrove yang bersifat endemik di Indonesia. Selain sebagai tempat berlindung dan mencari makan. Quassia indica. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena buah mangrove mudah terbawa oleh gelombang dan tumbuh di tempat lain. mangrove juga merupakan tempat berkembang biak bagi burung air. Oberonia rhizophoreti. Dalam hal kelangkaan. Rhododendron brookeanum (dari 2 sub-jenis. Fimbristylis sieberiana. serta Rhododendron brookeanum (Ericaceae) yang merupakan epifit berkayu yang diketahui berada di Sumatera dan Kalimantan. hanya satu terkoleksi). di Indonesia terdapat 14 jenis mangrove yang langka. Sonneratia ovata. perairan mangrove merupakan tempat ideal sebagai daerah asuhan. akan tetapi juga sering mengunjungi daerah mangrove. Scyphiphora hydrophyllacea. sehingga hanya diketahui tipe setempat saja. 2. Budiman (1985) mencatat sebanyak 91 jenis moluska hanya dari satu tempat saja di Seram. Lima jenis yang langka di Indonesia tetapi umum di tempat lainnya. Selain Amyema anisomeres (mangrove sejati). Jenis-jenis tersebut adalah Amyema anisomeres. sementara yang lainnya ada yang hidup di permukaan 412 . Bagi berbagai jenis ikan dan udang. tempat mencari makan dan tempat pembesaran anak. yaitu Ixora timorensis (Rubiaceae) yang merupakan jenis tumbuhan kecil yang diketahui berada di Pulau Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil. sehingga memerlukan pengelolaan khusus untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Moluska sangat banyak ditemukan pada areal mangrove di Indonesia. Eleocharis spiralis dan Scirpus litoralis. Jumlah tersebut termasuk 33 jenis yang biasanya terdapat pada karang. Jenis-jenis tersebut adalah Eleocharis parvula. Kandelia candel dan Nephrolepis acutifolia.

sedangkan 133 . Macrophthalmus. tercatat lebih dari 60 % ikan yang tertangkap merupakan ikan muda (Wahyuni. dkk. seperti kepiting dan serangga. Sesarma dan Uca (Wada & Wowor. yang sebagian besar diantaranya merupakan anakan. Teluk Jakarta. Giesen. Metapeneus (2 jenis) dan Palaemonetes (2 jenis) pada mangrove di Sulawesi Selatan. dkk (1991) mencatat sebanyak 28 jenis kepiting di mangrove Sulawesi Selatan didominasi oleh genus Sesarma dan Uca. termasuk berbagai jenis udang-udangan yang memiliki nilai komersial penting. Selain itu. Lebih dari 100 jenis kepiting mangrove diketahui hidup di Malaysia dan 76 jenis di Singapura. Dalam kaitannya dengan makanan. Liza subvirldis. sementara Budiman (1988) menemukan 40 jenis di Halmahera. dkk (1992) mencatat sebanyak 119 jenis ikan hidup pada sungai-sungai kecil di daerah mangrove di Selangor. Malaysia. Taman Nasional Ujung Kulon. dkk (1991) mencatat sebanyak 14 jenis udang termasuk Macrobrachium (8 jenis). Toro (dalam Manuputty. dan Ambasis buruensis (Erftemeijer. termasuk 8 jenis udang pada habitat mangrove di Pulau Pari. Butis butis. hutan mangrove menyediakan makanan bagi ikan dalam bentuk material organik yang terbentuk dari jatuhan daun serta berbagai jenis hewan invertebrata. Di lokasi lain. Dari setiap meter persegi dapat ditemukan 10 . Metaplax. 1972). sebagai contoh Giesen. Giesen. Beberapa jenis ikan yang ditemukan di areal mangrove antara lain Tetraodon erythrotaenia. 1989). 1989). Burhanuddin (1993) mencatat sebanyak 62 jenis ikan hidup di daerah mangrove di Pulau Panaitan. dkk. Ikan menjadikan areal mangrove sebagai tempat untuk pemijahan. Sebanyak 24 jenis dari 40 jenis yang ditemukan Budiman (1988) merupakan jenis-jenis yang hidup di daerah mangrove. dimana sebagian besar diantaranya masih berupa anakan. sehingga dapat dikatakan sebagian besar dari jenis-jenis moluska tersebut hidup di daerah mangrove. Kepiting juga umum ditemukan di daerah mangrove. Sayangnya. Sebagai tempat pemijahan.dan ada pula yang hidup menempel pada tumbuh-tumbuhan. Sasekumar. keragaman jenis moluska tidak sebanyak di Seram. dkk (1992) mencatat sebanyak 9 jenis udang di sungai-sungai kecil di mangrove Selangor. Mangrove juga merupakan habitat penting bagi berbagai jenis krustasea lainnya. Ikan yang dominan ditemukan adalah Mugil cephalus yang bersifat herbivora. pengetahuan mengenai kepiting mangrove di Indonesia sangat sedikit sekali dipelajari. 1993). Malaysia. Hal yang sama dapat dilihat di Segara Anakan. dkk. dkk (1991) mencatat 74 jenis moluska pada mangrove di Sulawesi Selatan. 1984) mencatat sebanyak 28 jenis krustasea. 1989 & Sasekumar. areal mangrove berperan penting karena menyediakan tempat naungan serta mengurangi tekanan predator. Pilonobutis microns. Dua jenis yang paling umum ditemukan adalah Thalassina anomala dan Uca dussumieri. Kepiting Mangrove Scylla serrata merupakan kepiting yang hidup di daerah mangrove yang bernilai ekonomi tinggi (Delsman. 1984). khususnya jenis-jenis penggali dari genus Cleistocoeloma. Ilyoplax. 1984). khususnya ikan predator. habitat permanen atau tempat berbiak (Aksornkoae.70 ekor kepiting (Macintosh. mangrove juga merupakan tempat pembesaran anak-anak ikan. Di Indonesia. Sasekumar.

1988 dan Rusila 1987) dan Pantai Barat Sulawesi Selatan (Baltzer. Verheught. 1989. Mereka menggunakan mangrove sebagai habitat untuk mencari makan. Meskipun demikian.. Lutjanus fulviflamma dan Plotosus canius yang bersifat karnivora. Diptera and Psocoptera. MacNae. Sulawesi dan Irian kemungkinan juga merupakan lokasi-lokasi yang penting. Ular tambak (Cerberus rhynchops).jenis-jenis lain yang juga umum ditemukan adalah Caranx kalla. ular air (Enhydris enhydris). Maluku bahwa sebagian besar serangga yang ditemukan berasal dari ordo Hymenoptera. mangrove menyediakan tenggeran serta sumber makanan yang berlimpah. seperti kelompok burung Raja Udang (Alcedinidae). Holocentrum rubrum. Beberapa lokasi yang sangat penting bagi burung bermigrasi diantaranya adalah Pantai Timur Sumatera (Danielsen & Verheugt. Balen (1988) mencatat sebanyak 167 jenis burung terestrial di hutan mangrove Pulau Jawa. termasuk serangga. akan tetapi masih diperlukan survey yang lebih mendalam untuk membuktikan hal tersebut. dkk (1993) menemukan sebanyak 120 jenis burung (atau 414 . Keng & Tat-Mong. Bagi jenis-jenis pemakan ikan. beberapa daerah lain di Kalimantan. dkk. Scartelaos spp. Jenis-jenis Reptilia yang umum ditemukan di daerah mangrove di Indonesia diantaranya adalah buaya muara (Crocodylus porosus).). Sangat sedikit sekali Amphibia dapat ditemukan bertahan hidup pada lingkungan yang berair asin seperti lingkungan mangrove. 1968) merupakan ikan yang sering sekali terlihat “berenang” pada genangan air berlumpur atau menempel pada akar mangrove. Bangau (Ciconiidae) atau Pecuk (Phalacrocoracidae). Untuk kelompok Arthropoda terbang yang hidup di mangrove. 1991). Giesen. limnocharis (MacNae. Giesen. 1993). seperti Kuntul (Egretta spp). dijelaskan oleh Abe (1988) dalam penelitiannya di Halmahera. Seluruh jenis reptilia tersebut dapat juga ditemukan pada lingkungan air tawar atau di daratan. berbiak atau sekedar beristirahat. 1989. Bagi berbagai jenis burung air migran (khususnya Charadriidae dan Scolopacidae). Pantai Utara Jawa (Erftemeijer & Djuharsa. ular mangrove (Boiga dendrophila). purpureomaculatus (MacNae. serta Toxotes jaculator yang bersifat insektivora. Jenis-jenis burung yang hidup di daerah mangrove tampaknya tidak terlalu berbeda dengan jenis-jenis yang hidup di daerah hutan sekitarnya. 2 jenis amphibia telah diketahui dapat bertahan hidup pada lingkungan demikian. 1992). akan tetapi juga sebagai tempat perlindungan dan mencari makan. daerah mangrove menyediakan ruang yang memadai untuk membuat sarang. terutama karena minimnya gangguan yang ditimbulkan oleh predator. 1991. 1990 dan Giesen. 1968). 1968.. Trimeresurus wagler dan T. yaitu Rana cancrivora and R. merupakan 34 % dari seluruh jenis burung yang telah tercatat di Pulau Jawa (Andrew. biawak (Varanus salvator). Mangrove tidak hanya sebagai tempat perhentian. mangrove memainkan peranan yang sangat penting dalam migrasi mereka. Ikan gelodok (Periopthalmus spp. Rusila 1991. Sementara itu. Bagi beberapa jenis burung air.

Di Jawa jenis ini hanya diketahui berbiak di hutan bakau Pulau Rambut (Allport & Wilson.Lesser Adjutant .Ciconiidae). dkk (1991) menemukan 64 jenis burung hidup di hutan mangrove diantara 90 jenis yang ditemukan di teluk Bintuni (71% atau 10% dari seluruh burung di Irian Jaya). Populasi mereka sebagian besar terdapat di pantai timur Sumatera (Sumatera Selatan. Mereka hanya diketahui berbiak di hutan mangrove di Hutan Bakau Pantai Timur (Danielsen dan Skov. Disamping itu.Ciconiidae). Bubut hitam (Centropus nigrorufus . dimana lebih dari 90% diantaranya ditemukan di daerah hutan bakau di Indonesia. 1988). Populasinya diperkirakan hanya tinggal berjumlah 5000 . Erftmeijer. dkk. Di Sulawesi Selatan.Sunda Coucal . Pangkalan Data Lahan Basah (Wetland Data Base) mencatat setidaknya 200 jenis burung hidup bergantung pada habitat mangrove. Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus . Jumlah ini mewakili 13% dari seluruh jenis burung yang ada di Indonesia (Andrew. 1986 dan Rusila. di Irian Jaya. 1988) serta hutan mangrove di Segara Anakan yang merupakan hutan mangrove terbesar yang saat ini tersisa di Pulau Jawa (Erftmeijer. Merupakan jenis endemik Pulau Jawa. Jenis ini telah tercantum dalam Red Data Book dalam kategori Vulnerable. terutama di Sumatera dan Jawa. sebanyak 81 jenis ditemukan di hutan mangrove (58 % atau 21 % dari seluruh burung di Sulawesi). 1990). pantai utara Jawa (Erftmeijer & Djuharsa. 1987). 1994). Jambi dan Riau) dan beberapa kawasan hutan bakau di Delta Sungai Brantas dan Bengawan Solo. hutan mangrove merupakan habitat penting untuk bersarang atau mencari makan (Silvius & Verheught. Sementara itu. seluruhnya di Sumatera Selatan (Danielsen. Baltzer (1990) melaporkan dari 141 jenis burung yang ditemukan di lahan basah propinsi tersebut. 1990). seperti: Wilwo (Mycteria cinerea . jenis ini diperkirakan hanya bertahan hidup di kawasan hutan mangrove dan rawa sekitar Tanjung Karawang. 1991). 1987 dan Rose & Scott. Bagi jenis yang tergolong vulnerable ini. Mangrove juga merupakan habitat yang baik bagi beberapa jenis burung yang telah langka atau terancam kepunahan. 1994).150 jenis jika termasuk daerah lumpur disekitar hutan mangrove) di daerah limpasan banjir dan pasang surut di Sumatera Selatan (56% dari total burung yang ditemukan di daerah tersebut atau 25% dari seluruh jenis burung di Sumatera). dkk. 1992). Tanjung Koyan.Milky Stork .Cuculidae). Jenis ini telah dianggap sebagai salah satu jenis bangau yang paling terancam di seluruh dunia (Verheught.6000 ekor saja (Verheught. 1989). Pada saat ini. dkk. dari 17% total jumlah burung yang tercatat di Pulau Sumba. 1987). dkk. Indramayu dan Segara Anakan (Andrew. hutan bakau Tanjung Selokan dan hutan bakau Semenanjung Banyuasin. 27 jenis ditemukan di daerah Mangrove Pulau Sumba (Zieren. 153 .

). endemik Kalimantan) dan kucing bakau (Felis viverrina) (MacNae. lutung (Trachypithecus aurata). 1993). Sulawesi Selatan (Giesen.) berang-berang (Lutra perspicillata dan Amblyonyx cinerea). Teluk Bone. 1991). Payne. kelelawar (Pteropus spp. Melisch. 1985). kemudian diketahui bahwa mereka juga menggunakan hutan rawa gambut (Payne. Macaca ochreata ochreata (endemik Sulawesi) pada masa lalu umum terlihat di daerah mangrove dekat Malili. Bekantan (Nasalis larvatus. dapat dianggap sebagai tempat hidup harimau Sumatera yang terbaik (Frazier. dkk.Mamalia yang umum ditemukan pada habitat mangrove diantaranya adalah babi liar (Sus scrofa). 1985. dkk. sedangkan mamalia udara yang sering ditemukan adalah Pteropus vampirus. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatranus) masih ditemukan di wilayah Sungai Sembilang. Lutra lutra. 1989). Dari empat jenis berangberang yaitu Aonyx cinerea. Dari kelompok mamalia air. Francis & Phillipps. 1968. 1992). dimana jika areal ini digabungkan dengan areal Taman Nasional Berbak di Jambi. Bekantan tadinya dianggap hanya hidup pada habitat mangrove. 416 . dua jenis lumba-lumba yaitu Orcella brevirostris dan Sousa chinensis juga ditemukan di daerah muara sekitar hutan bakau. dkk. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) umum ditemukan di daerah mangrove dan sering terlihat mencari makan pada hamparan lumpur di sekitar mangrove. kancil (Tragulus spp. Tidak satupun dari mamalia diatas hidup secara eksklusif di mangrove. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt. Lutra sumatrana dan Lutra perspicillata yang diketahui hidup di Indonesia juga ditemukan di hutan mangrove.

peranan mangrove bagi lingkungan sekitarnya dirasakan sangat besar setelah berbagai dampak merugikan dirasakan diberbagai tempat akibat hilangnya mangrove. Menurut Unar (dalam Djamali. maka tingkat dan laju perekonomian pedesaan yang berada di kawasan pesisir seringkali sangat bergantung pada habitat mangrove yang ada di sekitarnya.III. 1929. kepiting mangrove (Scylla serrata) serta ikan salmon (Polynemus sheridani) merupakan jenis ikan yang secara langsung bergantung kepada habitat mangrove (Griffin. MANFAAT MANGROVE Mangrove memiliki berbagai macam manfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya. Martosubroto & Naamin (dalam Djamali. atau sekitar 35% dari areal mangrove yang tersisa (Dephut & FAO. Pada tahun 1985. Boon. 1991) beberapa jenis udang penaeid di Indonesia sangat tergantung pada ekosistem mangrove. 1990). Akhir-akhir ini. kulit (untuk tanin) dan arang juga memiliki sejarah yang panjang.200 hektar areal mangrove. kulit. Melihat beragamnya manfaat mangrove. merupakan produk yang secara tidak langsung mempengaruhi taraf hidup dan perekonomian desa-desa nelayan. 1990). diantaranya: kayu bakar. 1985). bahan bangunan. 173 . Eksplotasi mangrove dalam skala besar di Indonesia nampaknya dimulai awal abad ini. Banyak jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi menghabiskan sebagian siklus hidupnya pada habitat mangrove (Sasekumar. 3. dkk. Pembuatan arang mangrove telah berlangsung sejak abad yang lalu di Riau dan masih berlangsung hingga kini. 1936). Berbagai produk dari mangrove dapat dihasilkan baik secara langsung maupun tidak langsung. 1993). perikanan pantai yang sangat dipengaruhi oleh keberadaan mangrove. terutama di Jawa dan Sumatera (van Bodegom. 1992 dan Burhanuddin. Hal ini didukung oleh berbagai penelitian di negara-negara lain (Tabel 3). obat-obatan dan perikanan (Tabel 2). dimana makin luas hutan mangrove makin tinggi produksi udangnya dan sebaliknya. Sejarah pemanfaatan mangrove secara tradisional oleh masyarakat untuk kayu bakar dan bangunan telah berlangsung sejak lama. Nampaknya produk yang paling memiliki nilai ekonomis tinggi dari ekosistem mangrove adalah perikanan pesisir.1 Pemanfaatan mangrove Mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif. Bahkan pemanfaatan mangrove untuk tujuan komersial seperti ekspor kayu. Contohnya. keperluan rumah tangga. sejumlah 14 perusahaan telah diberikan ijin pengusahaan hutan yang mencakup sejumlah 877. meskipun eksplotasi sesungguhnya dengan menggunakan mesin-mesin berat nampaknya baru dimulai pada tahun 1972 (Dephut & FAO. Kakap (Lates calcacifer). pemanfaatan mangrove untuk berbagai tujuan telah dilakukan sejak lama. Bagi masyarakat pesisir. kertas. 1991) mengemukakan adanya hubungan linier positif antara luas hutan mangrove dengan produksi udang.

Eleocharis dulcis Scolopia macrophylla terutama Rhizophoraceae Cycas rumphii Kategori Bahan bakar: 418 . Rhizophora.konstruksi berat (jembatan) . Sebagian besar kegiatan penangkapan ikan di Indonesia berlangsung di dekat pantai. 1998). Rhizophora spp.pembuatan perahu .6 juta ton yang melibatkan tidak kurang dari 478.kayu bakar . pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya yang kesemuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan (Soewito.pagar.Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan.250 keluarga (BPS. Rhizophora spp. Produk yang dihasilkan mangrove A. 1984). Di Indonesia hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial seperti di perairan sebelah timur Sumatera.atap .tiang bangunan . Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh komunitas nelayan setempat dengan pola yang tradisional atau oleh nelayan modern yang datang dari kota pelabuhan besar. Oncosperma tigillaria Nypa fruticans. menurunnya produksi perikanan di Bagansiapiapi. Bruguiera spp. Pada tahun 1998 total produksi perikanan laut Indonesia adalah sekitar 3.papan . kayu tiang .bantalan rel KA . 1984). dimana sebelum perang dunia II merupakan penghasil ikan utama di Indonesia bahkan sebagai salah satu penghasil ikan utama di dunia. Livistona saribus. Lumnitzera Lumnitzera spp.pertambangan . Bruguiera. Rhizophora spp. PRODUK VEGETASI Tipe pemanfaatan .kayu.lantai .lem Contoh jenis yang dimanfaatkan sebagian besar jenis pohon sebagian besar jenis pohon Nypa fruticans Bruguiera.alas dok . pipa .alkohol Bahan bangunan: . Ceriops spp. Rhizophora.alas lantai . Acrostichum speciosum Cyperus malaccensis. Sebaliknya. Bruguiera. pantai selatan dan timur Kalimantan.arang kayu . Tabel 2. salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Kasry.

Rhizophora apiculata Atuna racemosa.perekat jala .mainan .peralatan . Scirpus grossus Dolichandrone spathacea (topeng).pengawetan kulit . Colocasia esculenta Avicennia marina. Scaevola taccada.tiang pancing . Cerbera floribunda Rhizophoraceae Stenochlaena palustris.mebel . Lumnitzera spp.lem .pupuk Produk kertas: . indica.kancing 193 . Crinum asiaticum Tristellateia australasiae Horsfieldia irya Drymoglossum piloselloides. granatum Typha angustifolia Cyperus malaccensis.penahan perahu Ceriops spp.racun ikan . Eleocharis dulcis Paspalum vaginatum.jangkar .lilin . Dolichandrone spathacea.hiasan .obat-obatan .berbagai jenis kertas Keperluan rumah tangga .fiber sintetis (mis.tanaman hias . granatum.pelampung .minyak rambut . Camptostemon schultzii Avicennia marina. H.tali .isi bantal . X.parfum . kulit . Drynaria rigidula Osbornia octodonta.pewarna kain . Osbornia octodonta terutama Rhizophoraceae E. alba Derris trifoliata. Peltophorum pterocarpum terutama Rhizophora.Perikanan: . Excoecaria indica (bijinya) Cerbera manghas (insektisida) Cryptocoryne ciliata.keranjang .anti nyamuk . Nypa fruticans Cycas rumphii Xylocarpus mekongensis Phymatodes scolopendria Dolichandrone spathacea. tiliaceus Pemphis acidula.racun .pembuatan kain Pertanian: . S.berbagai jenis kertas . Camptostemon schultzii banyak jenis tumbuhan berkayu X. Quassia indica Nypa fruticans Tekstil. rayon) .

1986 420 .42 Koefisien Sumber 0.000 0. Scylla serrata kerang-kerangan Apis dorsata terutama burung air terutama Sus scrofa Varanus salvator. 1985 Jothy.62 (6) Staples et al.kertas rokok .madu dan lilin . Tabel 3. Chanos chanos Penaeus spp.Krustasea .74 (7) 0.alkohol .975 (15) 0.sayuran (dari propagula.minyak goreng .Makanan.1 – 0.000 1 . Crocodylus porosus Rana spp. gymnorrhiza daun Stenochlaena palustris.burung . Avicennia. B. Kategori Lain-lain: Diadaptasi dari Saenger.minuman fermentasi . 1993) Lokasi (ton) Australia Malaysia Teluk Meksiko Filipina Hasil Tangkapan (ha) 0. buah atau daun) . PRODUK HEWANI Tipe pemanfaatan .8 0 – 50 1 – 1.pengganti tembakau Nypa fruticans Nypa fruticans biji Terminalia catappa Rhizophora stylosa Bruguiera cylindrica.2 – 15 0 – 25 10 – 1. buah Inocarpus fagifer epidermis daun Nypa Loxogramma involuta B.gula . minuman dan obat : .76 (6) 0.kerang . Hubungan antara luas hutan mangrove dengan jumlah tangkapan udang (per tahun) (dalam Nirarita.reptilia .ikan .lainnya Contoh jenis yang dimanfaatkan Lates calcarifer. 1984 Pauly & Ingles.mammalia ..daging manis (dari propagula) . 1984 Boesch & Turner.2 – 5 Luas Mangrove Korelasi (n) 0. dkk (1983) serta tambahan informasi dari Knox and Miyabara (1984) dan Fong (1984).

Sebaliknya.3.2 Fungsi Mangrove Mangrove memiliki peranan penting dalam melindungi pantai dari gelombang. Di Indonesia. mangrove merupakan pemasok bahan organik.000 penduduk yang tinggal di pesisir dihantam badai. Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. Kedua. 1987). Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman. dkk. Sedangkan beberapa dusun yang berbatasan dengan kedua dusun ini yang tidak mempunyai mangrove yang cukup tebal mengalami kerusakan yang cukup parah. dimana jika terdapat mangrove otomatis akan terdapat tanah timbul (Steup. bangunan dan pertanian dari angin kencang atau intrusi air laut. pemerintah Bangladesh kemudian melakukan penanaman seluas 25. 1994). 1986). Sinjai. pada pulau yang hilang mangrovenya. 1958 dan Chapman. 1974). 1982). terutama dari ombak dan arus laut. Pada awalnya. Berbagai penelitian (van Steenis. angin dan badai. 1977) kemudian menyebutkan bahwa proses pengikatan dan penstabilan tersebut ternyata hanya terjadi pada pantai yang telah berkembang. Mengetahui manfaat mangrove dalam menahan gempuran badai. pada bulan Juni 1985 sebanyak 40. Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur.000 hektar areal pantai dengan vegetasi mangrove (Maltby. 1993). pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus. produksi serasah mangrove berkisar antara 7 – 8 ton/ha/ tahun (Nontji. sehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yang hidup pada perairan sekitarnya (Mann. Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. 1980). Dusun Tongke-tongke dan Pangasa. mangrove berperan penting dalam siklus hidup berbagai jenis ikan. karena lingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk kedalam rantai makanan. Sulawesi Selatan yang memiliki barisan mangrove yang tebal di pantai terlindung dari gelombang pasang (Tsunami) di pulau Flores pada akhir tahun 1993. proses pengikatan sedimen oleh mangrove dianggap sebagai suatu proses yang aktif. Pertama. 213 . Mangrove juga terbukti memainkan peran penting dalam melindungi pesisir dari gempuran badai. udang dan moluska (Davies & Claridge. sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge. 1993 dan Othman. peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan pulau tersebut. pulau tersebut mudah disapu ombak dan arus musiman (Chambers. Di Bangladesh. Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove mempunyai peranan yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah dikolonisasinya. Peranan mangrove dalam menunjang kegiatan perikanan pantai dapat disarikan dalam dua hal. 1941).

Jaring-jaring makanan dan pemanfaatan mangrove di Indonesia (diadaptasi dari AWB-Indonesia.422 Gambar 3. 1992) .

233 . terdapat jumlah luasan mangrove yang lain yaitu 4. 1934). Dengan menggunakan metoda seperti diatas.49 -4.25 juta hektar. 1997) dan 3. Bina Program Dephut bersama FAO/UNDP. jika sistem lahan khas habitat mangrove (KAJAPAH.1 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Saat ini di seluruh dunia terjadi peningkatan hilangnya sumberdaya mangrove yang disebabkan adanya pemanfaatan yang tidak berkelanjutan serta pengalihan peruntukan (Aksornkoae. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. lihat Kint. Perbedaan perkiraan luas tersebut setidaknya dipengaruhi oleh tiga halo. 1996). kemudian luas total mangrove untuk masingmasing propinsi dihitung. Data perkiraan luas areal mangrove di Indonesia sangat beragam sehingga sulit untuk mengetahui secara pasti seberapa besar penurunan luas areal mangrove tersebut. maka areal tersebut dianggap dulunya adalah hutan mangrove. sangat sedikit sekali dilakukannya penghitungan areal mangrove berdasarkan kondisi yang sebenarnya di alam. perkiraan luas untuk Irian jaya yang merupakan komponen luasan terbesar sangat berbeda antara satu penulis dengan penulis lainnya. Departemen Kehutanan (1997) menyebutkan luas yang diambil dari berbagai sumber berkisar antara 2. Namun. yaitu hutan bakau (Hv).38 -2. mulai dari 1.13 juta hektar. 1982). 1993). adanya perbedaan metoda yang digunakan dalam menduga luasan mangrove. 1980 dan Dit. diketahui bahwa luas asal mangrove Indonesia seluas 4.94 juta hektar. RePPProT. kenyataannya memperoleh data yang memadai mengenai luas mangrove pada masa yang lalu dan saat ini tidak terlalu mudah (di Indonesia data dimulai sejak 1930-an. Giesen (1993) mencoba menghitung luas areal asal mangrove berdasarkan seri RePPProT (1985-1989) dari peta Status Hutan. STATUS MANGROVE INDONESIA 4.IV. nipah dan nibung (Hx) disatukan menjadi “habitat mangrove”. Ketiga. Untuk menghitung luas asal mangrove yang telah mengalami perubahan digunakan ektrapolasi dari data yang tersedia pada peta. Bina Program INT AG. Pertama.54 juta hektar yang berasal dari ISME (Spalding.000) yang diproduksi oleh Departemen Transmigrasi. Tata Guna Lahan dan Sistem Lahan (skala 1 : 250. sehingga data yang sebenarnya telah kadaluwarsa diacu berulangulang (misalnya: Burbridge & Koesoebiono. termasuk bakau. Meskipun mangrove tidak terlalu sulit untuk dikenali dari foto penginderaan jarak jauh dan dipetakan. Dari tiga kategori yang dibuat oleh RePPProT. dkk.53 juta hekar yang berasal dari Proyek Inventarisasi Hutan Nasional (Dit. Kedua. 1987) di peta ternyata ditemukan secara faktual berada di luar atau berdekatan dengan kawasan mangrove yang ada saat ini. hutan primer yang dieksploitasi kayunya (Ht) dan hutan pasang surut yang tidak dibedakan. Hal ini kembali disebabkan kurang tersedianya data serta peta yang memadai.

Dari penghitungan diketahui luas mangrove yang tersisa pada tahun 1990 hanya sekitar 2. Giesen. Meskipun data tersebut telah disajikan dalam edisi cetak-ulang ini. Kalimantan Timur. kemungkinan luasan mangrove tersebut sudah berkurang. luas areal mangrove yang peruntukannya telah dialihkan menjadi tambak dihitung dari luas total areal mangrove yang terdapat pada peta RePPProT. Gambaran lebih rinci mengenai data asal dan sisa mangrove dapat dilihat di Tabel 4. Sumatera Selatan dan Lampung dihitung berdasarkan data yang diperoleh selama kegiatan pengkajian lapangan yang dilaksanakan oleh AWB/PHPA pada tahun 1990 -1992. Untuk Propinsi Kalimantan Barat. Dengan melihat kondisi lapangan saat ini. Dari luasan areal mangrove yang tersisa tersebut. antara hampir 10% di Papua hingga hampir 100% di Jawa Timur. Sulawesi Utara. 58% diantaranya terdapat di Papua. Seperti yang telah disebutkan. 424 . Sulawesi Tenggara dan Maluku digunakan data yang berasal dari Ditjen Perikanan (. dkk (1991). yang berarti jumlah areal mangrove yang hilang semakin bertambah.49 juta hektar (60%). laju hilangnya mangrove hingga tahun 1990 juga sangat beragam. Kalimantan Selatan. Sumatera Barat. dan hanya 11% tersisa di Jawa. Mereka memperkirakan jumlah areal hutan mangrove yang belum terganggu di Sulawesi Selatan hanya sekitar 23. sementara data untuk Sulawesi Selatan diambil dari hasil penelitian Giesen. Penghitungan tersebut didasarkan pada citra satelit SPOT dah SLAR.000 hektar hutan mangrove masih terdapat di Sulawesi Selatan. Data untuk 10 Propinsi lainnya diambil dari RePPProT (1985-1989).1991). tetapi sebagian dari areal tersebut sebenarnya merupakan areal hutan mangrove yang telah mengalami gangguan dan dalam proses untuk dijadikan tambak.Selanjutnya dihitung luas areal mangrove yang tersisa berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi. maka hal tersebut berarti bahwa pada akhir tahun 1980. data yang digunakan untuk penghitungan hingga tahun 1990 tersebut. termasuk dinamika data untuk Propinsi yang telah mengalami pemekaran. Data luas mangrove di Jawa Tengan diadopsi dari White.-an. namun belum dilakukan analisa laju perubahan luas mangrove. Untuk Propinsi Aceh dan Bengkulu. saat itu telah berusia 3 7 tahun serta areal yang dipetakan dan dianggap sebagai mangrove hanya sebagian yang tercakup oleh tipe ini. Berdasarkan penghitungan diatas. jika perkiraan luas areal mangrove yang tersisa di Indonesia sekitar 2. dkk (1989). Pada saat cetak-ulang ini dibuat. Hal yang perlu dicatat dari uraian diatas adalah mungkin luas areal mangrove yang dihitung merupakan jumlah yang optimistis. Riau. Luas areal mangrove yang ada di Propinsi Sumatera Utara. Jambi. telah tersedia data yang diambil dari Peta Penutupan Lahan yang dibuat oleh BAPLAN – DEPHUT dengan menggunakan Citra Satelit untuk Tahun 2002 – 2003. Sebagai contoh. Sejalan dengan hal tersebut. Sulawesi Tengah. dkk (1991) melaporkan meskipun 34.49 juta hektar (19871990) dapat diterima. Indonesia telah kehilangan sekitar 40% areal mangrovenya.000 hektar.

683 73.000 (5) 0 (4) 0 750. Baltzer dan Baruadi (1991).000 3.000 (5) 1.840 38.000 3.000 0 (5) 3.500 57.000 84.go.163.000 19.000 0 470.000 (5) 63.405 6.000 17.000 213.996 550 32 0 1.000 43.000 0 3 2.000 128.HTM.000 0 (4) 20.850 221.000 11.710 0 (4) 1.000 0 34.000 3.000 0 (4) 0 17.000 109.000 8.000 58.000 12.000 3.000 28.000 56.500 0 (4) 46.003 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Jawa Barat & DKI Banten Jawa Tengah & DIY Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Selatan Maluku Maluku Utara Papua T o t a l Keterangan: (1) 102.250 http://www.500 66.326.382.050 13.780 775.970 98.000 4.990 3.800 0 29.000 1. Van Bodegom (1929) melaporkan bahwa seluruh areal mangrove di Riau telah dipetakan dan diukur secara planimetris seluas 182.000 9.939 50.950 3.000 53.000 20.000 90.000 208.650 266.000 4.000 5.000 27.000 0 13.826 0 192 40 325 0 (4) 94 2.000 99.000 44. Data Mangrove diambil dari kategori “Hutan Mangrove Primer” dan “Hutan Mangrove Sekunder”.640 37.000 1.000 137.000 50.000 46.000 259.000 (5) 42.000 500 500 0 21.335 60.000 100.740 120.000 197. kecuali Sulawesi selatan.Tabel 4.500. Luas mangrove per Propinsi di Indonesia (ha) Mangrove Propinsi Bina Program (1982) 54.750 1.500 29.497 47.id/INFORMASI/INTAG/Peta%20Tematik/PL&Veg/VEG_2003.088 65 0 (4) 95 268.000 195.000 0 25.000 Silvius dkk.098.000 15.000 4.000 10.000 (5) 15.000 27.000 680.833 0 (4) 66.000 26.500 60.765.000 2.330 0 (4) 30.000 Jumlah Areal Asal (2) 60.017 hektar pada tahun 1929 Masih merupakan bagian dari Propinsi lain.700 0 (4) 1. (1987) 55.430 0 (4) 520 49.300 48.340 4.000 128.000 95.000 0 (4) 55.500 0 (4) 2. sebelum pemekaran Data setelah pemekaran Propinsi (2) (3) (4) (5) 253 .235.000 4.476 1.107 861 6.500 354.500 (3) 18.440 8.251.000 5.943.000 91.150 0 (4) 104.000 10.000 5.000 34.000 0 (4) 2.000 65.636 590 0 (4) 73.000 750.450 363.000 19.000 3.000 60.830 40.000 64.577 7. Data Tambak diambil dari kategori “Tambak” Berdasarkan klasifikasi sistem lahan RePPProT (1985 – 89).500 0 (4) 1.000 38.500 0 (4) 1.030 148.500 Tambak Ditjen BAPLAN Perikanan 2005 (data (1991) 2002/3) (1) 39.640 70.000 13.000 367.780 194.000 89.500 1.608 0 (4) 13.dephut.000 16.622.000 66.000 0 2.000 115.700 6.000 9.000 25.000 1. dan luas areal untuk masing-masing sistem lahan per propinsi berdasarkan Giesen.000 0 276.3 0 (4) 110.678 1.700 INTAG (1993) BAPLAN 2005 (data 2002/3) (1) 18.900 800 0 10.000 110.913 626 4.200 0 (4) 18.000 235.000 2.

Perbandingan luas mangrove asal dan yang tersisa di Indonesia (1986-1990) .426 Gambar 4.

1991). kemudian bertambah menjadi 269. 1985). terdapat sekitar 2. 2005). perkiraan luas tambak di Indonesia seluas 193. 1986). 1991 a. Dalam banyak kasus.2 Penyebab penurunan luas mangrove Pembangunan di areal mangrove Konversi dan hilangnya mangrove tampaknya bukan merupakan sesuatu yang baru terjadi pada dekade terakhir ini saja. dkk. yang kemudian meningkat menjadi 750. 1991). 1997) dan menjadi 750. Berarti terjadi penambahan areal tambak lebih dari 350% dalam kurun waktu 20 tahun. Pada tahun 1990. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para pembuka lahan. Meindersma (1923) melaporkan sangat sulit untuk menemukan mangrove yang alami dan tidak terganggu di Pulau Jawa.000 hektar tersebut sama dengan 23 % dari luas asal areal mangrove pada tahun yang sama.c). Kehutanan & FAG. pestisida dan antibiotika juga kerap kali digunakan. 1990). Statistik perikanan untuk Sulawesi Selatan menunjukkan sekitar 16. data tahun 1985 menunjukkan seluas 877. ini tidak termasuk tambak-tambak yang telah ditinggalkan dan tidak diusahakan lagi yang di beberapa lokasi cukup luas. Dampak yang ditimbulkan oleh pestisida terhadap lingkungan dijelaskan oleh Primarvera (1991) dan Baird (1994). lebih dari 75 tahun yang lalu. Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah.4. seperti pengasaman tanah (Hassan & Ti. Sejarah pembangunan tambak diawali di Jawa dan Sulawesi selatan. kehadiran tambak tidak selalu 273 . bahkan untuk tambak tradisional. yang berarti lebih dari 18 kg. Di SM Karang Gading Langkat Timur Laut. Pada tahun 1982.182 ha pada tahun 1997 (Ditjen Perikanan. Perlu dicatat. Kegiatan pembangunan utama yang memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal mangrove di Indonesia adalah pengambilan kayu untuk keperluan komersial serta peralihan peruntukan untuk tambak dan areal pertanian (khususnya padi dan kelapa). kemudian berkembang ke Aceh. 2005).559 ton pestisida digunakan untuk tambak selama tahun 1990 (BPS. 390. Meskipun demikian. Sementara itu. pestisida per hektar per bulan (asumsi seluruhnya digunakan di Sulawesi Selatan). Sumatera Utara dan Lampung (Giesen. 1990).700 hektar (Bailey.500 hektar tambak yang tidak diusahakan dan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum (Giesen & Sukotjo. luas areal tambak yang terpantau sekitar 269.000 hektar pada tahun 1990 (Ditjen Peri kanan. 1991) serta berkurangnya anakan untuk keperluan perkembangan ikan (Wardoyo & Rasyid.000 hektar (Ditjen Perikanan.b. kecuali di Segara Anakan dan Teluk Pangong (dekat selat Bali). 1988). 1991). Areal tambak yang tercatat pada tahun 2002/03 seluas hampir 750. Jauh sebelumnya.200 hektar areal mangrove berada dalam konsesi pengusahaan hutan untuk diambil kayunya (Dep.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. tidak bercampurnya tanah (Giesen.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. misalnya.

berarti hilangnya mangrove. Hal ini dapat dilihat pada pola tambak yang masih menyisakan pohon mangrove, yang dipraktekkan di beberapa tempat di Jawa. Pada pola ini, mangrove ditanam di bagian tengah tambak. Sistem ini sangat baik untuk diterapkan karena selain melindungi dan mempertahankan mangrove, juga dapat dimanfaatkan oleh burung air. Kegiatan pengambilan kayu sering terlihat di Riau, Kalimantan dan Papua. Luas areal konsesi pengusahaan hutan meningkat dari 455.000 hektar pada tahun 1978 (Burbridge & Koesoebiomo, 1980) menjadi 877.200 hektar pada tahun 1985 (Oepartemen Kehutanan dan FAO, 1990), atau sekitar 35% dari luas areal mangrove yang tersisa pada awal tahun 1990-an (data Giesen, 1993). Sayangnya, dampak yang ditimbulkan oleh pengambilan kayu terhadap hilangnya luasan areal mangrove sangat sulit untuk dirinci. Pada beberapa kasus, dampak lain dari pengambilan kayu mangrove adalah penurunan kualitas tegakannya. Nurkin (1979) menjelaskan bagaimana areal mangrove yang telah ditebangi di Sulawesi Selatan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum, selanjutnya menghambat terjadinya regenerasi tumbuhan mangrove. Di daerah lain, mangrove ternyata juga dapat tumbuh sendiri setelah tumbuhannya ditebang, misalnya di Riau Tenggara (Giesen, 1991 b), serta di areal mangrove di Sei Kecil, Kalimantan Barat (Abdulhadi & Suhardjono, 1994). Meskipun dalam beberapa kasus mangrove dapat tumbuh kembali, akan tetapi tidak berarti bahwa tumbuhan yang baru tersebut akan selalu sarna dengan jenis seberumnya, bahkan seringkali justru jenis tumbuhan yang kurang diminati yang kemudian menjadi dominan, seperti Xylocarpus granatum di Pulau Bakung, Riau (Giesen, 1991 b), Excoecaria agallocha dan Bruguiera parviflora di Karang Gading Langkat Timur Laut, Sumatera Utara (Giesen & Sukotjo, 1991). Penduduk juga memberikan sumbangan terhadap penurunan luas manrove di Indonesia. Seperti diketahui, penduduk setempat telah memanfaatkan mangrove dalam kurun waktu yang lama, namun diyakini bahwa kegiatan mereka tidak sampai menimbulkan kerusakan yang berarti pada ekosistem ini. Akan tetapi, hal tersebut telah berubah dalam dekade terakhir ini seiring dengan adanya pertambahan populasi penduduk, baik karena pertambahan alami maupun perpindahan dari luar. Kegiatan masyarakat yang menyebabkan hilangnya mangrove ini terutama adalah pemanfaatan areal mangrove untuk pembangunan tambak. Fiselier, dkk (1990) bahkan menyatakan: “Reklamasi untuk keperluan budidaya perikanan dan pertanian tampaknya saat ini dianggap sebagai suatu kegiatan pembangunan utama yang berlangsung di areal mangrove. Kegiatan reklamasi tersebut sebenarnya berbiaya tinggi dan acapkali tidak berkelanjutan, serta sering menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap lingkungan. Keuntungan yang dihasilkan sebagian besar diraup oleh mereka yang datang dari luar, dan hanya sebagian kecil saja yang dinikmati oleh penduduk setempat, berupa hasil penangkapan ikan dan pengumpulan hasil hutan yang dilaksanakan secara tradisional”. Pernyataan ini didukung oleh Ong (1982) yang membahas mengenai konversi mangrove di Malaysia dan menyimpulkan bahwa pembangunan budidaya perikanan berkaitan, baik secara ekonomis maupun secara ekologis.

428

Telah disebutkan didepan bahwa pembangunan tambak memberikan sumbangan terhadap hilangnya mangrove. Selain itu, data juga menunjukan bahwa mangrove yang tersisa juga mengalami ancaman berupa: a) konversi menjadi lahan pertanian, b) suksesi menjadi vegetasi sekunder non-hutan setelah terjadinya eksploitasi berlebih oleh masyarakat setempat, c) kurangnya regenerasi setelah dibabat untuk kepentingan komersial, dan d) erosi pantai. Meskipun data sangat kurang, namun nampaknya faktor yang memberi sumbangan penting terhadap hilangnya mangrove, selain konversi menjadi tambak, adalah konversi menjadi lahan pertanian dan penebangan kayu secara komersial dan dalam skala yang lebih kecil, serta eksploatasi berlebihan oleh masyarakat setempat. Kematian mangrove secara alami merupakan kejadian yang umum ditemukan dan merupakan kondisi alami, karena Iingkungan mangrove bersifat dinamik dan periodik, serta asosiasi mangrove teradaptasi dengan lingkungan tertentu melalui pertumbuhan dan kematian secara cepat (Uimenez & Lugo, 1985). Perubahan yang terjadi di alam biasanya bersifat fisik (Choy & Booth, 1994, berdasarkan contoh yang diambil di Brunei), sementara penyakit dan faktor biotis lainnya nampaknya berupa agen sekunder. Secara umum dapat dikatakan bahwa kematian mangrove secara alami tidak memberikan sumbangan yang signifikan terhadap hilangnya areal mangrove di Indonesia.

293

V. KEBIJAKAN DAN PERATURAN MENYANGKUT MANGROVE
Disadari bahwa mangrove memberikan banyak manfaat bagi manusia. Dengan demikian, mempertahankan areal-areal mangrove yang strategis, termasuk tumbuhan dan hewannya, sangat penting untuk pembangunan ekonomi dan sosial. Pada masa lalu, disaat tekanan penduduk masih rendah, hal tersebut tidak menjadi masalah karena pada tingkat lokal manfaat mangrove biasanya langsung disadari oleh masyarakat dan seringkali kawasan mangrove dilindungi oleh hukum adat. Namun selama 2 - 3 dekade lalu, tekanan penduduk semakin meningkat dengan tajam sehingga mengakibatkan permintaan akan sumberdaya pertanian meningkat pula. Pada saat yang bersamaan, kegiatan perikanan dan kehutanan juga meningkat dengan pesat dan menjadi faktor utama dalam perubahan lingkungan mangrove. Dalam kondisi demikian, aturan setempat yang berupa hukum adat seringkali terkesampingkan oleh insentif ekonomi jangka pendek. Untuk merespon hal tersebut, pemerintah kemudian mengeluarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) serta beberapa peraturan dalam berbagai tingkat yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove. Peraturan yang paling relevan diantaranya terkait dengan aturan mengenai kebijakan jalur hijau serta sistem areal perlindungan.

5.1

Pemetaan sumberdaya

Pada tahun 1982, rencana tata guna lahan hutan untuk pertama kalinya dipersiapkan oleh Departemen Pertanian (saat itu kehutanan masih direktorat di Departemen Pertanian). Tata guna lahan yang berupa Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tersebut dipersiapkan untuk setiap propinsi dengan skala peta 1 : 500.000. Sejak 1983, setelah pembentukan Departemen Kehutanan, tugas ini kemudian diambil alih oleh Ditjen Inventarisasi dan Tata Guna Hutan (INTAG). Peta TGHK membagi lahan menjadi kategori berikut : Areal Konservasi dan Perlindungan Alam Hutan Lindung Hutan Produksi (terbatas dan biasa) Hutan Konversi Tak Terklasifikasi (Hak Milik, Hak Milik Adat, Hak Pengelolaan). Berdasarkan pembagian diatas, mangrove dapat masuk kedalam seluruh kategori. Di beberapa instansi, ditambahkan pembagian lahan kategori keenam yaitu Hutan Bakau

430

(mangrove) dalam beberapa peta. Sayangnya, hal ini kemudian membingungkan karena tidak memberikan indikasi mengenai status yang sebenarnya dari sumberdaya yang penting ini. Peta TGHK tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, akan tetapi dijadikan sebagai panduan bagi pemerintah daerah dalam membuat perencanaan tata guna lahan. Status yang ada dapat saja disesuaikan dalam setiap peta. Sebagai contoh, suatu areal yang dipetakan sebagai hutan lindung pada peta dengan skala 1 : 500.000, dapat saja kemudian terbagi menjadi beberapa kategori lainnya jika dipetakan dalam peta dengan skala yang lebih rinci (misalnya 1 : 50.000). Contoh lain adalah dapat saja suatu areal dipetakan sebagai cagar alam atau areal konservasi, padahal sebenarnya belum dikukuhkan atau hanya sebagian saja yang telah dikukuhkan. Walaupun demikian, secara umum peta TGHK sangat bermanfaat. Dalam perkembangan berikutnya pada skala lokal, peta TGHK kemudian digantikan oleh peta tata ruang yang disiapkan oleh masing-masing pemerintah daerah. Pembuatan peta tersebut sebagai tindak lanjut dari Undang-undang No. 24 Tahun 1992 mengenai Tata Ruang. UU ini memerintahkan adanya perencanaan ruang yang luas pada tingkat Nasional, Propinsi sampai Kabupaten, dan mengharuskan pemerintah untuk mengembangkan program perencanaan tata ruang yang menunjukkan sumberdaya apa yang harus dilindungi, direhabilitasi ataupun harus dialokasikan untuk kepentingan pembangunan ekonomi.

5.2

Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove

Seperti di tempat lain di dunia ini, lahan di Indonesia diberi status tertentu yang memungkinkan penggunaan tertentu. Bila suatu areal lahan telah digunakan secara tradisional oleh suatu komunitas tertentu dalam masyarakat, maka biasanya pengelolaan lahan tersebut akan dialihkan kepada komunitas masyarakat tersebut dengan status Hak Milik, Hak Milik Adat atau Hak Pengelolaan. Areal lahan yang bukan merupakan areal pertanian (termasuk sebagian besar lahan hutan) pada umumnya diberi status sebagai Tanah Negara. Meskipun telah terdapat pembagian status lahan, kenyataannya masih muncul berbagai konflik menyangkut kepemilikan atau hak pengusahaan lahan. Misalnya, meskipun suatu areal mangrove telah dikelola oleh hukum adat atau merupakan tanah negara (tanah timbul), akan tetapi apabila telah dikonversi menjadi tambak, seringkali lahan tersebut berubah menjadi milik pribadi. Akibat perubahan ini, konflik lain seringkali muncul apabila pemerintah kemudian ingin mengambil kembali lahan tersebut untuk kepentingan yang lain, misalnya untuk jalur hijau. Sampai saat manuskrip ini dibuat, setidaknya telah dibuat 22 buah peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove di Indonesia. Peraturan-peraturan tersebut umumnya menyoroti hubungan antara sektor kehutanan dan sektor perikanan serta

313

14. 7. 13. 2. 18. Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1967 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Bidang Perkebunan. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 4. Undang-undang Dasar Tahun 1945 Pasal 33 ayat 3. 9. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 22 Tahun 1999 mengenai pemerintahan daerah. Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 16. 8. 11. 32 Tahun 1990 mengenai areal lindung. UU yang terakhir ini memberikan wewenang yang besar kepada daerah untuk melakukan pengelolaan dan pelestarian mangrove. 10. 15. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa. Berkaitan dengan konservasi. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Perairan. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan. 19.mengenai jalur hijau. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. 12. Beberapa peraturan yang berkait dengan pengelolaan mangrove di Indonesia 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. 6. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan. Undang-undang No. Perikanan dan Kehutanan kepada Daerah Swatantra Tingkat I. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai. 432 . 5. 5 Tahun 1990 mengenai perlindungan sumber daya hayati dan ekosistemnya dan Undang-undang No. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Agraria. 3. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. peraturan yang paling relevan nampaknya adalah Kepres No. 17.

Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II. Untuk itu. Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1989 tentang Tim koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional. 22. 5. jalur mangrove pantai minimal 130 kali rata-rata pasang yang diukur ke darat dari titik terendah pada saat surut.000 ha. Peraturan ini memberikan perlindungan yang lebih memadai terhadap zona jalur hijau.3 Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Jalur hijau adalah zona perlindungan mangrove yang dipertahankan di sepanjang pantai dan tidak diperbolehkan untuk ditebang. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. 333 .20. 32 Tahun 1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung menggantikan seluruh peraturan terdahulu mengenai jalur hijau.) Dikeluarkannya SK Presiden No. Beberapa kritik yang dapat disampaikan mengenai SK ini antara lain adalah: SK ini tidak dapat diterapkan pada areal yang saat ini tidak memiliki tumbuhan mangrove lagi karena adanya eksploatasi pada masa lalu atau konversi. KB 550/246/ KPTS/1984 dan No. yang menghimbau pelestarian jalur hijau selebar 200 meter sepanjang pantai. Menurut SK tersebut. menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama No. Pada tahun 1984. Kebijakan pemerintah untuk merumuskan suatu jalur hijau dimulai pada tahun 1975 ketika dikeluarkan SK Dirjen Perikanan (No H. SK ini ternyata memiliki beberapa kelemahan. serta melestarikan seluruh mangrove yang tumbuh pada pulau-pulau kecil (kurang dari 1. Dalam pelaksanaannya dilapangan.I/4/2/18/ 1975) yang mengatur perlunya dipertahankan areal di sepanjang pantai selebar 400 meter dari rata-rata pasang rendah. dikonversikan atau dirusak. 21. 60/KPTS/DJ/I/ 1978 mengenai panduan silvikultur di areal air payau. melarang penebangan mangrove di Jawa. 082/KPTS-II/1984. Selanjutnya Dirjen Kehutanan mengeluarkan SK No. jalur hijau ditetapkan selebar 10 meter di sepanjang sungai dan 50 meter di sepanjang pantai pada pasang terendah. Menurut SK tersebut. Fungsi jalur hijau pada prinsipnya adalah untuk mempertahankan pantai dari ancaman erosi serta untuk mempertahankan fungsi mangrove sebagai tempat berkembangbiak dan berpijah berbagai jenis ikan. hendaknya diadakan penyesuaian yaitu pada areal yang awalnya hanya memiliki vegetasi mangrove.

Informasi lebih lanjut mengenai areal mangrove yang dilindungi. misalnya dengan mangrove daratan.4 Peraturan yang berkait dengan konservasi mangrove Perlindungan satwa. lebar jalur hijau yang dihitung dari titik terendah saat air surut hanya berupa dataran lumpur saja dan tidak sampai ke hutan mangrovenya. 434 . Pilihan tersebut umumnya tidak memadai pada daerah yang telah memiliki pemanfaatan tradisional yang intensif. Misalnya di Jawa. serta areal lindung yang penting disajikan pada Bab 6. Hilmi.000 meter. SK ini tidak memacu adanya perlindungan terhadap mangrove secara menyeluruh maupun fungsi ekologisnya. baik untuk tambak maupun berbagai bentuk pemanfaatan lainnya yang sebenarnya tidak mendukung konservasi mangrove. Peraturan ini menginstruksikan kepada seluruh gubernur dan bupati/walikotamadya di seluruh Indonesia untuk melakukan penetapan jalur hijau hutan mangrove di daerahnya masing-masing. dkk (1997) melakukan studi penetuan lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta menggunakan pendekatan analisis sistem yang menghasilkan rekomendasi perkiraan lebar mangrove di daerah tersebut sekitar 1. termasuk total areanya. Tanpa adanya perlindungan terhadap ekosistem pendukung secara terpadu.Penentuan jalur hijau dengan menggunakan SK ini di pantai-pantai yang datar atau dataran lumpur yang luas tidak dapat digunakan secara efektif. 5. Di beberapa daerah seperti diatas. SK ini hanya memberikan pilihan untuk konservasi. Secara ekologis. Permasalahan ini dapat diatasi dengan mendefenisikan pengukuran dari hutan mangrove terluar dekat laut. lebar jalur hijau mangrove seyogyanya ditentukan secara spesifik untuk setiap lokasi karena setiap tempat mempunyai karakteristik lingkungan yang spesifik. 5 Tahun 1990 mengenai konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya. sumber air tawar atau dengan rawa air tawar. Misalnya. SK mengesampingkan adanya keterkaitan ekologis. 26 Tahun 1997 tentang Penetapan Jalur Hijau Hutan Mangrove. Peraturan terakhir mengenai jalur hijau adalah Inmendagri No. sehingga akan menyulitkan tercapainya suatu konsesus pengelolaan mangrove di beberapa daerah. hampir seluruh areal mangrove yang ada telah dimanfaatkan oleh penduduk. kelangsungan hidup jalur hijau tersebut tidak akan terjamin sepenuhnya. tumbuhan dan ekosistem di Indonesia pada dasarnya telah tercakup dalam Undang-undang No.

Yang terpenting diantaranya adalah: Kebijakan nasional dibidang pengelolaan keanekaragaman hayati lautan Strategi nasional dibidang pengelolaan mangrove Kebijakan nasional dibidang pembangunan pedesaan Strategi nasional dibidang pengelolaan jalur hijau pesisir Kebijakan-kebijakan diatas sangat bermanfaat untuk memberikan kejelasan dalam pengelolaan sumber daya mangrove.Indonesia Programme (1994). sekitar tahun 1400-an.000 hektar disampaikan oleh Asian Wetland Bureau/Wetlands International . dimana hal ini berkaitan dengan pendapatan mereka yang rendah serta alternatif mata pencaharian yang terbatas. seperti perangkap ikan dan kepiting dengan membangun pematang di daerah pasang surut. Tipe kolam yang paling sederhana. dimana kondisi di pulau ini dapat menjadi model pengelolaan mangrove yang penduduknya padat. 5. Pengelolaan juga akan sangat tergantung pada bagaimana mengakomodasikan serta mengontrol kebutuhan masyarakat yang tinggal dan hidup di sekitar mangrove.Pada tahun 1993. Sebagai contoh yang baik dapat dilihat di Jawa. Memasuki abad ke-20. 1987). Akan tetapi disadari bahwa pengelolaan mangrove yang baik tidak akan tercapai hanya dengan mengembangkan kebijakan-kebijakan. Kegiatan budi daya air payau di Jawa merupakan fenomena kegiatan tradisional yang telah berlangsung sejak dahulu. malah mungkin telah dilakukan lebih awal (Naamin. beberapa usulan pemasukan areal baru maupun penambahan luas areal yang telah ada diajukan oleh berbagai organisasi yang bergerak dibidang pelestarian alam. Usulan penambahan areal konservasi mangrove baru seluas 630. pola ini beralih ke sistem produksi yang intensif. mulai dari langkah-langkah yang diambil dilapangan sampai perencanaan tingkat pusat. mengukuhkannya menjadi suatu kawasan lindung atau dalam bentuk jalur hijau saja. Departemen Kehutanan mengeluarkan gagasan perlunya pengembangan luasan areal kawasan lindung dari 15 juta hektar menjadi 30 juta hektar. Populasi penduduk yang semakin bertambah menyebabkan meningkatnya konversi lahan 353 .5 Perkembangan terakhir Berbagai inisiatif dan gagasan telah dikembangkan berkaitan dengan kebijakan nasional dibidang pengelolaan mangrove di Indonesia. Sejarah gangguan terhadap mangrove oleh penduduk setempat di pulau Jawa seringkali dilakukan oleh nelayan. termasuk penebangan mangrove untuk keperluan pembangunan tambak. Diketahui bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat mempengaruhi upaya pengelolaan mangrove. Gagasan ini juga menyangkut sejumlah besar luasan kawasan mangrove. Menyambut gagasan ini.

dimana secara ekologis mangrove masih berfungsi secara optimal dan hasil pendapatan dari budidaya ikan layak untuk memenuhi kebutuhan hidup. hutanhutan tersebut merupakan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani untuk hutan produksi. Selain ikan. Dalam beberapa tahun kemudian hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi tambak. Berbagai LSM. Dengan berkembangnya upaya-upaya penanaman mangrove. kemungkinan sistem tersebut dapat ditularkan ke daerah lain. pada beberapa tahun terakhir ini. dengan sistem silvofishery ini pemanenan kayu mangrove secara berkelanjutan berpotensi tinggi. Sayangnya. Masalah yang dihadapi kebanyakan disebabkan oleh kurang tersedianya peta-peta yang akurat dan statusnya yang tidak jelas. Dengan sistem ini.mangrove untuk pembangunan tambak serta meningkatkan permintaan terhadap kayu bakar. Jika ini terlaksana. sehingga akan membatasi insentif yang dapat diperoleh dan pengembangan pengelolaan oleh masyarakat setempat. Sebenarnya. Upaya mengubah perbandingan ukuran luas hutan dan tambak. serta penduduk setempat melaksanakan berbagai program dan kegiatan penanaman mangrove. 436 . Upaya ini baik sebagai respon terhadap terjadinya erosi di pantai maupun semakin berkurangnya cadangan anakan ikan di pantai. yaitu memadukan kegiatan pengelolaan mangrove dengan produksi perikanan (silvofishery). Hal ini menyebabkan hampir 90 % hutan mangrove hilang. Ironisnya. Di lain hal. Secara hukum. instansi pemerintah pusat dan daerah. diharapkan dalam jangka panjang manfaat dan fungsi mangrove dapat berjalan dan dirasakan kembali. Program ini pada dasarnya adalah merehabilitasi lahan-lahan mangrove yang telah terdegradasi dengan penanaman pohon. hutan mangrove tersebut menjadi milik Perum Perhutani. tapi sayangnya sebagian besar usaha-usaha penghutanan kembali ini tidak berhasil. upaya produksi kayu seringkali mengalami kegagalan karena pohonpohonnya jarang sekali mencapai ukuran komersial dan jumlahnya yang terbatas. dan membangun saluran untuk budi daya ikan dan udang. Polanya adalah lahan pasang surut seluas 80% sebagai hutan mangrove dan yang 20% digunakan sebagai kolam untuk budidaya ikan. jika masyarakat memperoleh hasil yang cukup dari sistem tersebut (terutama hasil ikan atau udang). banyak usaha-usaha penanaman kembali mangrove dilaksanakan pada tingkat lokal. dalam mencegah semakin hilangnya areal mangrove. Untuk mengatasi tingginya laju konversi. diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan yang timbul. akan tetapi sistem intensif membutuhkan investasi yang jauh lebih besar. pada tahun 1986 Perum Perhutani mulai melaksanakan program Kehutanan Sosial di areal mangrove. hasil ikan yang diperoleh memang sangat rendah bila dibandingkan dengan sistem pengelolaan yang intensif. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengembalikan mangrove sebagai hutan produksi dari penduduk setempat. maka akan dapat meminimalisasi usaha gangguan terhadap hutan mangrove.

areal mangrove seluas 1.600 hektar sebagai hutan suaka alam dan wisata (tidak termasuk Jawa).VI. Dari tabulasi data fungsi hutan/lahan menurut Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Lahan (RPPH/TGHK) tercatat seluas 424.363 hektar. AREAL MANGROVE YANG DILINDUNGI 6. Tabel 5.800 123.000 356. dimana pada lokasi-lokasi tersebut di dalamnya memiliki habitat mangrove. namun pada kenyataan di lapangan menunjukkan banyak diantaranya yang masih mendapat tekanan yang cukup berarti.400 atau 31 % dari luas areal mangrove Indonesia telah masuk dalam kawasan lindung.099. Bina Program INTAG (1996).000 17.500 165.800 hektar masuk dalam kategori hutan lindung dan 674. Menurut data Dit.000* <500* 1.500 15.765 Status Karang GadingLangkat Timur Laut (1) Pulau Berkeh Pulau Burung Hutan Bakau Pantai Timur (2) Berbak Sumatera Selatan I Way Kambas Pulau Penaitan SUM-08 Sumut Sumatera SM SUM-14 SUM-25 SUM-36 SUM-38 SUM-48 SUM-51 JAV-01 Riau Riau Jambi Jambi Sumatera Sumatera Sumatera 01°05’S/104°00’T Sumatera 01°10’S/104°20’T 500* 200* 2.500 SM CA CA TN TN TN TN Lampung/ Sumatera 05°30’S/104°15’T Bengkulu Lampung Jabar Sumatera 04°50’S/105°40’T Jawa 06°36’S/105°09’T 373 .1 Mangrove dan sistem kawasan lindung Meskipun beberapa areal mangrove di Indonesia telah dimasukan kedalam suatu kawasan lindung. Tabel 5 berikut merupakan daftar 41 lokasi kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Indonesia. Kawasan lindung di Indonesia yang memiliki habitat mangrove Lokasi Kode Propinsi Pulau WDB (a) Posisi Luas areal Total Mangrove Area (ha) (ha) 11. dimana 86% diantaranya terdapat di Irian Jaya. Adapun data areal mangrove yang telah dilindungi yang tercatat dari setiap lokasi adalah seluas 551.700* 500* <2.700 500 200 6.

000* <3.15 7.Ujung Kulon Pulau Dua Pulau Pari Pulau Rambut Muara Angke (3) Cikepuh Leuweng Sancang Kepulauan Karimun Jawa Baluran Meru Betiri Nusa Barung Bali Barat Gunung Palung Muara Kendawangan Tanjung Puting Pulau Kaget (4) Pulau Kembang (4) Pleihari Tanah Laut Kutai Marisa Morowali Lampuko-Mampie (5) Watumohae (6) Lambale Tanjung Peropa Komodo Pulau Menipo JAV-36 JAV-03 JAV-04 JAV-05 JAV-07 JAV-14 JAV-16 JAV-21 JAV-27 JAV-31 JAV-32 JAV-33 KAL-06 KAL-07 KAL-11 KAL-18 KAL-19 KAL-21 KAL-36 SUL-03 SUL-11 SUL-28 SUL-30 SUL-33 SUL-36 NUT-06 NUT-12 Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jateng Jatim Jatim Jatim Bali Kalbar Kalbar Kalteng Kalsel Kalsel Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Sultra Sultra NTB NTB Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Bali Kalimantan Kalimantan Kalimantan 02°55’S/112°00’T Kalimantan Kalimantan 03°12’S/112°32’T Kalimantan 04°20’S/114°31’T Kalimantan 00°18’N/117°20’T Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Komodo Timor 08°35’S/119°30’T 03°25’S/119°30’T 04°30’S/122°00’T 04°45’S/123°05’T 07°15’S/106°27’T 07°45’S/107°55’T 05°48’S/110°40’T 07°50’S/114°25’T 08°21’S/113°49’T 08°27’S/113°22’T 08°10’S/114°30’T 05°58’S/106°42’T 06°01’S/106°12’T 1.000* <2.127 2.000* 7.000 82.000 50.499 TN CA LIPI CA CA SM CA CA TN TN CA TN TN CA TN CA TW SM TN CA CA SM TB SM SM TN SM 438 .000 94.026 25.000 296.000* 35.000 38.000* 750 <500 <200* 300 7.000 200.000 6.4 8.000* <500 <20 <10 4.000 55.000 10 3 18 <2 <200* <50* <1.000 320.000* 10.100 19.600 130.000 50.000 150.000 2.000 30 7 56 15.579 2.000 <1.000 85 60 35.000* <500 300 20 <200 3.

1991).250 T N 500. Baltzer & Baruadi (1991). Pengamatan penulis. Beberapa areal lindung mangrove yang lebih kecil juga telah dikukuhkan dan penting bagi burung air (mis. 393 .363 hektar (86% di Irian Jaya) Catatan: Kecuali disebutkan. mungkin sebagian telah rusak Giesen (1991) (KGLTL) Giesen (1991) (HBPT) Jakarta Post melaporkan konversi areal. Areal mangrove di SM Karang Gading Langkat Timur Laut (Sumut) hampir seluruhnya telah berubah menjadi habitat sekunder.000 1.000 304.560. Kedua lokasi tersebut telah diidentifikasi sebagai habitat penting bagi burung air pengembara serta berbagai jenis burung bangau dan pelatuk besi (Giesen.000 13.000 SM TN TOTAL AREAL KAWASAN MANGROVE YANG DILINDUNGI: 551. Desember 1988.000 11.000 6. seluruh data diambil dari Silvius.Manusela Pulau Baun Yamdena Lorentz Pulau Kimaam (7) Wasur & Rawa Biru MAL-09 MAL-16 MAL-17 IRI-14 IRI-17 IRI-20 Maluku Maluku Maluku Seram Aru Tanimbar 03°00’S/130°00’T 06°35’S/134°05’T <3. akan tetapi tetap belum mewakili suatu habitat mangrove yang baik.500 165. Silvius & Taufik (1989) 6.000* 301. 1994 dan Rusila.2 Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Mangrove tidak terwakili dengan baik pada kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Sumatera.000 3. sementara SM hutan Bakau Pantai Timur (Jambi) kondisinya cukup mengkhawatirkan.180 180. Pulau Berkeh dan Pulau Burung). dkk (1987). Giesen. (a) * 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Kode yang tercantum pada Wetland Data Base yang dikembangkan oleh Wetlands International dan PHPA (1990 – sampai saat ini) Kondisi saat ini dari mangrove tersebut tidak jelas.500 TN SM CA Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian 1. Desember 1988. serta pengamatan penulis Pengamatan penulis.

Lumu meskipun arealnya kecil. 440 .000 hektar di Taman Buru Watumohai (Sultra) sebenarnya telah dikonversikan menjadi tambak. Frazier (1992) menyatakan bahwa apabila usulan terakhir dapat diwujudkan. 1997 dalam PKSPL IPB.) disarankan untuk dijadikan kawasan lindung. Cilacap yaitu 8. Meskipun usulan ini telah beberapa kali diajukan termasuk usulan untuk penggabungannya dengan Taman Nasional Berbak. 1991) dan di Sulawesi Tenggara pada tahun 1989 . 1991). 1987).Areal mangrove di Sumatera yang kondisinya masih baik adalah komplek mulut sungai antara Delta Sungai Musi dan Banyuasin. Tanjung Puting (Kalimantan Tengah). Areal lain umumnya hanya memiliki luas yang kecil atau telah rusak. sayangnya sampai saat ini belum dapat diwujudkan.1990 menunjukkan bahwa 2.000 ha) dan Lariang . Jumlah seluas ini sebenarnya mengandung ketidakjelasan karena survey di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda.Mampie (Sulsel) dan hampir 3.Berbak akan merupakan kawasan terbaik untuk perlindungan Harimau Sumatera. namun mengkombinasikannya sebagai kawasan konservasi dan kawasan pemanfaatan secara berkelanjutan mungkin merupakan pilihan yang terbaik (White. dkk. Mangrove di Lariang . Rusila dkk. II Cilacap. DI TN Kutai (Kalimantan Timur). dkk. lebih dari 15. yang berbatasan dengan Propinsi Jambi (Danielsen & Verheugt. Kawasan lindung mangrove yang terluas di Jawa mungkin di Pulau Panaitan. Areal Mangrove di utara Teluk Bone (23. dkk.700 ha). 1987. 1989 dan Verheugt. Pulau Dua di ujung barat Jawa Barat serta CA. maka kawasan lindung Sembilang . Sumatera Selatan. Sebuah usulan telah diajukan untuk menetapkan kawasan lindung yang di dalamnya termasuk 5. Jawa Barat (1.800 ha. Di Kalimantan. Sekitar 7. Pulau Jawa telah kehilangan sekitar 90% mangrovenya dan hanya sedikit dari areal mangrove yang tersisa masuk kedalam kawasan lindung. 1989).400 hektar mangrove di utara Sungai Lariang (Giesen. 1996). sebagian mangrove didaerah ini telah dikonversi menjadi tambak oleh masyarakat. Pulau Rambut di Teluk Jakarta penting sebagai tempat berkembangbiaknya berbagai jenis burung air (Silvius dkk. Areal ini telah diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1980-an.000 hektar areal mangrove di kawasan Lampuko .000 hektar mangrove terdapat di Taman Nasional Gunung Palung dan SM Muara Kendawangan (keduanya di Kalimantan Barat) dan TN. Sekitar 1. tetapi telah berkembang dengan baik dan memiliki tegakan yang telah matang.Lumu (7. Areal mangrove terluas yang ada di Jawa saat ini adalah di Segara Anakan. yaitu di Sungai Sembilang. Beberapa kawasan lindung mangrove seperti CA.000 hektar mangrove terdapat di bagian utara pantai Taman Nasional Ujung Kulon (Hommel. Luas ini mewakili 8% dari luas mangrove yang ada pada tahun 1990. 1998).000 hektar mangrove di Sulawesi telah dikukuhkan sebagai areal lindung. 1991). dkk. 1989). Areal ini diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1989 dan sebenarnya telah disetujui oleh pemerintah setempat (Danielsen & Verheugt. Survey di Sulawesi Selatan (Giesen.957 hektar (BAPPEDA Tk.

Sejumlah 38 jenis tumbuhan mangrove sejati maupun mangrove ikutan terdapat hanya di Indonesia Barat. 6.000 hektar telah dikukuhkan di Irian Jaya yaitu di TN. paling tidak setengahnya tumbuh di hutan rawa yang berdekatan dengan habitat mangrove. Kepulauan Aru (1. Allen & Zuwendra (1989). Heritiera globosa. kegiatan pembangunan dilaksanakan dengan pesat dan areal mangrove merupakan salah satu subjek konversi.000 hektar). Jenis lain yaitu Amyema anisomeres diketahui hanya ada di bagian utara Teluk Bone. sebagai akibat dari tekanan pembangunan (Giesen. Sayangnya di Kedua lokasi tersebut.) dan di TN. yang paling rentan adalah Phoenix paludosa yang diketahui hidup di Sumatera bagian utara.000 ha. Pulau Kimaam (165.500 ha).3 Pemeliharaan keanekaragamn hayati mangrove Dari uraian diatas nampak jelas bahwa secara umum mangrove belum terwakili dalam sistem areal lindung di Indonesia. termasuk 250.000 hektar). Tanimbar (10. Dari jumlah tersebut.000 hektar mangrove di TN. Wasur (6. Luas tersebut nampaknya sudah cukup mewakili. 1994). schultzii. terutama di Sumatera.000 hektar sebagai kawasan lindung. C. Pulau Baun. ternyata habitat rawapun tidak kurang rentannya. Seram (3. Kalimantan dan Sulawesi. Camptostemon philippinensis. Komodo dan SM Pulau Menipo. Usulan untuk menjadikan areal seluas 450.). CA. dan SM. Rusaknya mangrove di Indonesia Barat dan Sulawesi akan mengakibatkan hilangnya jenis-jenis tumbuhan mangrove.000 hektar).Areal mangrove di Nusa Tenggara telah masuk ke dalam kawasan lindung dengan adanya 3. CA. Yamdena. 413 .000 hektar areal mangrove telah diusulkan oleh Petocz (1983) dan kemudian diajukan pula oleh Erftemeijer.000 hektar mangrove telah dikukuhkan di Maluku yaitu di TN Manusela. Areal mangrove seluas lebih dari 472. Sebanyak 32 jenis dari 39 jenis tersebut (yaitu yang terdapat di Indonesia Barat. Dari jenis-jenis tersebut. dimana jalur mangrove selebar lebih dari 30 kilometer dan tegakan yang matang tumbuh dengan baik. Dari pengamatan di lapangan. terdapat 6 jenis yang hanya tumbuh pada habitat mangrove dan kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh hilangnya areal mangrove yaitu Amyema gravis. Oberonia rhizophoreti dan Phoenix paludosa. Jawa. tetapi tidak hanya ditemukan di habitat mangrove). Sekitar 14. Areal mangrove yang paling berkembang dengan baik sebenarnya terdapat di Teluk Bintuni. Lorentz (301. meskipun sebenarnya untuk kepentingan konservasi keanekaragaman hayati akan lebih baik jika areal mangrove di Kei dan Kepulauan Aru juga dilindungi.180 ha. Sulawesi Selatan.

Sulawesi Selatan Beberapa lokasi lain di Kalimantan (kemungkinan di Kalimantan Timur) sesuai dengan pengkajian lapangan yang lebih rinci. timorensis hanya ditemukan di luar areal kawasan lindung dan hanya di lokasi yang terbatas. sementara A. maka diusulkan agar lokasi-lokasi dibawah ini segera dapat dilindungi : 1. termasuk: 1. brookeanum juga relatif langka. yaitu Amyema anisomeres.Terkait dengan konservasi keanekaragaman hayati. Tiga jenis tumbuhan mangrove diketahui endemik untuk Indonesia. 3. Jawa Tengah Bagian utara Sungai Lariang. 4. 2. Pulau Kimaam Wildlife Identifikasi dan penambahan areal lindung mangrove di Kepulauan Kei dan Aru. Rhododendron brookeanum dan Ixora timorensis. Sungai Sembilang. 3. I. R. Dalam jangka panjang. dan hanya ditemukan di beberapa lokasi di Sumatera dan Kalimantan. 2. upaya pro-aktif nampaknya harus juga dilakukan untuk perlindungan habitat mangrove di Indonesia Timur. Pengukuhan kawasan lindung mangrove Teluk Bintuni Perbaikan pengelolaan di TN. Sumatera Selatan Segara-Anakan. Untuk melindungi keanekaragaman hayati tumbuhan mangrove. 442 . anisomeres bahkan lebih rentan dibandingkan 2 jenis lainnya. hendaknya perhatian diberikan terhadap kerentanan jenis-jenis yang bersifat endemik. Lorentz dan SM.

kelompok jenis atau jenis tertentu. Saenger. Diantaranya adalah menyiapkan baju lengan panjang dari bahan katun atau bahan lain yang menyerap keringat. Disarankan untuk tidak membawa barang yang tidak terlalu penting. pada umumnya menyentuh masalah lokasi.2 Petunjuk untuk pengamatan lapangan Melakukan pengamatan di habitat mangrove memerlukan lebih dari sekedar buku panduan. Tomlinson (1986). termasuk jika sewaktu-waktu harus memanjat pohon mangrove untuk mendapatkan sampel herbarium atau keperluan lainnya. (1984. seperti Watson (1928). BEBERAPA PETUNJUK STUDI MANGROVE BAGI PEMULA 7. 1987). Untuk mempelajari mangrove di Asia Tenggara. Chapman (1976a). Sebelum melakukan pengamatan. melainkan juga memerlukan waktu yang cukup panjang. LIPI bersama Program MAB Indonesia telah menyelenggarakan seminar ekosistem hutan mangrove yang dapat digunakan sebagai sumber informasi yang cukup memadai. sehingga memudahkan pergerakan. Pengamatan di lingkungan mangrove seringkali harus menggunakan perahu atau sampan. Beberapa karya tulis klasik yang layak untuk dibaca antara lain van Steenis (1958) yang memberikan informasi umum mengenai mangrove dalam pengantarnya terhadap makalah dari Ding Hou (1958) mengenai Rhizophoraceae. serta bab mengenai mangrove yang ditulis oleh Whitten dkk. MacNae (1968). eksploitasi serta pengelolaan mangrove di Indonesia. lumpur. air asin dan terutama nyamuk. stamina yang baik serta ketahanan terhadap udara panas. Studi yang komprehensif mengenai mangrove di Indonesia belum begitu banyak. dkk (1983). pustaka yang bisa ditelusuri antara lain adalah Watson (1928) dan MacNae (1968). disarankan untuk mempelajari beberapa buku klasik yang menjelaskan informasi mengenai mangrove secara lebih luas. 433 . cairan anti nyamuk dan alat-alat tulis yang tahan kondisi basah.VII. Untuk menghindari panas. Sejak awal tahun 80-an sampai saat ini. dkk (1984) dan Duke (1992). 1997).1 Pustaka penting Bagi mereka yang ingin mempelajari mangrove lebih rinci dan mendalam. 7. Untuk mengetahui informasi mengenai cara budidaya mangrove dapat dibaca Pedoman Pembuatan Persemaian dan Penanaman Mangrove oleh Kusmana (1998) atau Panduan Teknis Penanaman Mangrove bersama Masyarakat oleh Khazali (1999). persiapan yang baik adalah salah satu syarat untuk tercapainya tujuan pengamatan. Beberapa tulisan lain yang ditulis oleh penulis luar maupun ilmuwan Indonesia (misalnya Kusmana. keringat. dkk. teropong dan alat tulis saja. Duke.

Untuk 25 . Untuk itu perlu disediakan kantung plastik serta kotak plastik tahan air untuk menyimpan peralatan tersebut. tanggal. atau melindungi saat kita mengambil photo pada saat hujan. dan habitat. pengamatan vegetasi di habitat mangrove relatif lebih mudah. bahan ini cukup mahal. bunga. Payung kecil kadang-kadang juga sangat bermanfaat untuk melindungi diri dari panas atau hujan. Lihatlah daftar pasang-surut. karenanya perlu perencanaan matang. Air tinggi biasanya akan lebih memudahkan kita untuk mencapai tujuan tertentu. karena terbatasnya jenis tumbuhan serta sifat perbungaannya yang tidak terlalu musiman. perlu dibuat koleksi tumbuhan.3 hari kemudian. yakni dengan mengambil daun. melelahkan dan menguras keringat.sebaiknya gunakan topi yang dapat menyerap keringat. pengamatan pada habitat mangrove juga memiliki kesulitan tersendiri. fauna permukaan dan dalam tanah serta tipe perakaran) kondisi ini kurang mendukung. 444 . sehingga pengamat harus memfokuskan perhatiannya pada perbedaan kulit kayu. Melakukan pengamatan di habitat mangrove cukup menyita waktu.35 spesimen dibutuhkan 1 liter methylate spirit. dan kemudian ditaburi methylate spirit. Berperahu di lingkungan mangrove akan sangat dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Spesimen sebaiknya disimpan diantara kertas koran yang dijepit oleh bambu atau tripleks. tipe akar serta bunga/buahnya. walaupun untuk keperluan lainnya (misalnya pengamatan tanah. mudah terbakar dan mudah menguap. Kelemahannya. spesimen dapat disimpan dalam kantung pelastik yang tahan air dan sama sekali tidak terbuka terhadap udara luar. Sebagian besar bentuk pohonnya memiliki kesamaan. Meskipun demikian. Hal ini berarti bahwa hampir setiap saat dapat ditemukan pohon yang memiliki bunga atau buah yang akan memudahkan identifikasi jenis pohon. karena itu air minum dan makanan kecil secukupnya perlu dipersiapkan. Identifikasi dapat dilakukan kemudian di laboratorium dengan membuat catatan mengenai lokasi. Lebih dari itu. dan buah dari pohon yang akan diidentifikasi. Jika waktu pengamatan tidak memungkinkan. Untuk perjalanan yang lebih lama. tumbuhan pada habitat mangrove tidaklah setinggi pohon-pohon di hutan hujan tropis. tipe perakaran.3 Spesimen tumbuhan mangrove Dibandingkan dengan pengamatan di hutan tropis. Biasanya dengan cara ini spesimen masih bisa diidentifikasi selama 2 . 7. Air laut sangat “jahat” terhadap kamera serta peralatan optis lainnya.

Cara termudah melakukan pengamatan di lapangan adalah dengan melakukan transek. baik secara visual maupun dengan menggunakan perangkat lunak komputer tertentu. Khusus untuk burung air (bermigrasi) disarankan untuk menggunakan Howes (1989) dan Rusila (1999). Transek kemudian dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya. serta beberapa lainnya. 453 . sementara peta tematik yang paling memadai saat ini adalah yang diproduksi oleh RePPProT (the Regional Physcial Planning Programme for Transmigration) dengan skala 1 : 250. kemudian dicatat tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang di dalam dan disinggung garis tersebut. Selain peta. Jakarta. (1994). terutama karena peta serta citra saja tidak akan memberikan keterangan yang memadai mengenai kondisi yang sebenarnya di lapangan.5 Studi Fauna Untuk keperluan studi fauna vertebrata. Cibinong. sangat membantu jika memiliki peta topografi serta peta tematik. Jawa Barat. gabungan kedua metoda tersebut akan memberi hasil yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.000 yang melingkupi hampir seluruh wilayah Indonesia. dan biasanya bisa diperoleh di LAPAN. citra inderaja juga sangat membantu perencanaan studi. Peta tersebut mencakup Sistem Lahan serta tipe tata guna lahan dan hutan yang akan sangat bermanfaat dalam studi vegetasi. kemudian dicatat seluruh tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang tumbuh dalam lebar tersebut. metoda yang dilakukan tidak banyak berbeda dengan metoda yang biasa digunakan di daratan. kecuali dalam metoda ini dibuat plot-plot (misalnya luas 100 m2/radius 5 m) dengan jarak antar plot pada garis (misalnya 20 m). Peta topografi dapat diperoleh di BAKOSURTANAL. antara tahun 1985 1992. Pada citra inderaja yang memadai dapat membedakan zona vegetasi yang berbeda. yaitu membuat garis transek dengan panjang tertentu (misalnya 100 meter atau 500 meter) dengan lebar 10 sampai 20 meter. Metoda-metoda diatas antara lain dijelaskan dengan lebih rinci oleh Chapman (1984) dan English. Untuk mengetahui informasi mengenai analisis vegetasi hutan (termasuk mangrove) dapat dibaca buku Metoda Survey Vegetasi yang disusun oleh Kusmana (1997). Metoda kedua juga pada prinsipnya sama. Pada metoda yang pertama.7. 7. termasuk sabuk mangrove yang umumnya memiliki kharakteristik lokasi yang berbeda. dkk (1994). Pengamatan di lapangan kemudian akan memberikan informasi yang lebih baik. Sementara untuk fauna vertebrata diantaranya disajikan dalam Sasekumar (1984) dan English et al. Bagaimanapun. yaitu transek garis (strip sampling) dan transek plot garis (line plot sampling). Pada dasarnya terdapat dua metoda transek yang dapat dipakai.4 Studi vegetasi Untuk pengamatan vegetasi.

A III/4. pola distribusi vertikal (khususnya berkaitan dengan pasang surut air laut) dan fauna bawah tanah.6 Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Organisasi/institusi nasional 1. c/o College of Agriculture. Pasir Putih No. Bogor. 7. Jl. PO.81. Lt. tel. Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan IPB. km 6/P. Tel. Box 17.Indonesia Programme Jl. Tel. Bogor 16002 Tel. produktivitas. Tel. 4. 061-516338/535016. Subdit Perairan. ISME Secretariat. Jurusan Manajemen Hutan. Japan. Fax 061-516338. Indonesia. 16-B. Teknik yang digunakan biasanya dilakukan dengan menggunakan pengambilan sampel lumpur. 3.895. Laboratorium Ekologi Hutan./Fax. 7. Okinawa 903-01. Ancol Timur. 7. Blok VII. Medan 20112. North Sumatra.: 021. Tel.682287/683850/ 681948(fax). Fax. 021-7940403 SEAMEO-BIOTROP Southeast Asia Regional Center for Tropical Biology.Pengamatan fauna invertebrata pada habitat mangrove umumnya berkaitan dengan zonasi. 1. Fakultas Kehutanan IPB. Kampus IPB Darmaga. Nishihara. pengayakan. 021-5720227 2. Erlangga No.O. Yayasan Indonesia untuk kemajuan desa (YASIKA) Jln. International Society for Mangrove Ecosystems (ISME). xx.98. P3O . pemilahan dan identifikasi jenis.LIPI Jl. Departemen Kehutanan Gedung Manggala Wanabhakti. 6. 0251-621086 Organisasi Internasional 1. Tel/fax. P. 17. Jakarta. Pancoran Indah. 0251-621244. Jl. 4. Ditjen Perlindungan dan Konservasi Alam (PKA). Raya Tajur. Box 168 Bogor. Gatot Subroto.6601/6602 (fax) 446 .O. Bogor 16152. Tel. Arzimar III No. Jakarta. Yayasan Mangrove Jl.: 0251-312189. Liga Mas Indah. 0251-325755 2. Box 286 Tel. Jakarta Utara. Tel. 0251-621086/624815. University of the Ryukyus. 0251-323848. densitas. PO. Wetlands International . Box 254/BOO. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut IPB Gedung Marine Center Lt. 5.

473 .

Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung cerah. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun. Terdapat di seluruh Indonesia. Deskripsi umum : A. Unit & Letak: Sederhana. A. karena yang sekunder biasanya cepat rontok. Formasi: bulir. akan tetapi sering sekali membingungkan. ilicifolius. Ketika tumbuh bersamaan dengan A.Acanthus ebracteatus Vahl ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju putih. sedangkan bunganya sendiri 2-2. tetapi seluruh bagiannya lebih kecil. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. Catatan : 448 . Dari India sampai Australia Tropis. Ujung: meruncing.ebracteatus. ilicifolius keduanya memperlihatkan adanya karakter yang berbeda sebagaimana diuraikan dalam deskripsi. Ukuran: 7-20 x 4-10 cm. ebracteatus hampir sama dengan A. kadang agak putih di bagian ujungnya. Bentuk: lanset. biji 5-7 mm. dan Kepulauan Pasifik Barat. ilicifolius. ilicifolius (lihat halaman berikutnya). Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. berlawanan. Bunga hanya mempunyai satu pinak daun utama.volubilis sebagai satu jenis. Filipina. Manfaat : Buah digunakan sebagai “pembersih” darah serta untuk mengatasi kulit terbakar. Daun : Pinggiran daun umumya rata kadang bergerigi seperti A.5 cm. Letak: di ujung. Panjang tandan bunga lebih pendek dari A. Berbunga pada bulan Juni. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. Ukuran: Buah panjang 2.53 cm. Daun mengobati reumatik.ilicifolius dan A.

bunga. c.Acanthus ebracteatus daun bunga buah a c b a. buah. daun 493 . b.

Pinak daun tersebut tetap menempel seumur hidup pohon. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A. Biji tertiup angin. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum.Acanthus ilicifolius L. Cabang umumnya tegak tapi cenderung kurus sesuai dengan umurnya. volubilis sebagai satu jenis. agak berkayu. Panjang tandan bunga 10-20 cm. berlawanan. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. Bunga kemungkinan diserbuki oleh burung dan serangga. biji 10 mm. sangat jarang di daratan. Memiliki kekhasan sebagai herba yang tumbuh rendah dan kuat. Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. Catatan : 450 . Bunga memiliki satu pinak daun penutup utama dan dua sekunder. Akar udara muncul dari permukaan bawah batang horizontal. Bentuk: lanset lebar. sedangkan bunganya sendiri 5-4 cm. kadang agak putih. Unit & letak: sederhana. sampai sejauh 2 m. Daun : Dua sayap gagang daun yang berduri terletak pada tangkai. Biasanya pada atau dekat mangrove. ilicifolius dan A. darulu. Ukuran: buah panjang 2. ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju hitam. Percabangan tidak banyak dan umumnya muncul dari bagian-bagian yang lebih tua. Manfaat : Buah ditumbuk dan digunakan untuk “pembersih” darah serta mengatasi kulit terbakar. Letak: di ujung. tepi daun bervariasi: zigzag/bergerigi besar-besar seperti gergaji atau agak rata dan secara gradual menyempit menuju pangkal. A. daruyu. Permukaan daun halus. Ukuran: 9-30 x 4-12 cm. sehingga membentuk bagian yang besar dan kukuh. Filipina dan Kepulauan Pasifik barat. yang memiliki kemampuan untuk menyebar secara vegetatif karena perakarannya yang berasal dari batang horizontal. ketinggian hingga 2m. Pohon juga dapat digunakan sebagai makanan ternak. Deskripsi umum : Herba rendah. terjurai di permukaan tanah. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun. Ujung: meruncing dan berduri tajam. ebracteatus. kuat.53 cm. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung. Terdapat di seluruh Indonesia. Dari India hingga Australia tropis. Di Bali berbuah sekitar Agustus. Formasi: bulir. Daun mengobati reumatik.

bunga. daun 513 . b. c.Acanthus ilicifolius daun bunga buah a b c a. buah.

Daun digunakan sebagai dan alas ternak. Pinak daun terbawah selalu terletak jauh dari yang lain dan memiliki gagang yang panjangnya 3 cm. jenis ini menyukai areal yang terbuka terang dan disinari matahari. kala keok. hanya terdapat di bagian pangkal dari gagang.bercampur dengan urat yang sempit dan tipis. Biasa terdapat pada habitat yang sudah rusak. Daun: Panjang 1-3 m. pucat. coklat tua dengan peruratan yang luas. Daun mudanya dilaporkan dimakan di Timor dan Sulawesi Utara. tipis ujungnya.speciosum. Ferna tahunan yang tumbuh di mangrove dan pematang tambak. menebal di bagian tengah. hata diuk. Deskripsi umum : Ferna berbentuk tandan di tanah. Tingkat toleransi terhadap genangan air laut tidak setinggi A. ditutupi oleh urat besar.speciosum. Menebal di bagian pangkal.speciosum.aureum lebih tinggi. Ujung pinak daun yang steril dan lebih panjang membulat atau tumpul dengan ujung yang pendek. dan individu mudanya lebih kemerahan dibandingkan dengan A. A. Seringkali keliru dengan A. Ditemukan di bagian daratan dari mangrove. krakas. besar. Manfaat : Akar rimpang dan daun tua digunakan sebagai obat. tinggi hingga 4 m. Bagian bawah dari pinak daun tertutup secara seragam oleh sporangia yang besar. Sisik yang luas. Tidak seperti A.speciosum yang kecoklatan. Pengenalan yang paling mudah adalah dengan melihat ujung daunnya. Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. tetapi dengan titik yang kecil. Terdapat di seluruh Indonesia. berwarna hitam. Duri banyak. panjang hingga 1 cm. Kelimpahan : Sangat melimpah setempat. A. Catatan : 452 . paku laut. wikakas. wrekas. Spora besar dan berbentuk tetrahedral.speciosum runcing-memanjang. PTERIDACEAE Nama setempat : Piai raya. sementara pada A. Batang timbul dan lurus.Acrostichum aureum Linn. Pinak daun letaknya berjauhan dan tidak teratur. Ujung daun fertil berwarna coklat seperti karat. Secara umum.aureum pada umumnya agak tumpul. memiliki tidak lebih dari 30 pinak daun. paku cai. mangrove varen. sepanjang kali dan sungai payau serta saluran. Peruratan daun menyerupai jaring. seperti areal mangrove yang telah ditebangi yang kemudian akan menghambat tumbuhan mangrove untuk beregenerasi.

d. c. b. spora. daun.Acrostichum aureum pohon b a c d a. ujung pinak daun. pohon 533 .

Acrostichum speciosum Willd. Ferna tahunan. Kelimpahan : Melimpah setempat. Sisik menebal di bagian tengah. Biasanya menyukai areal yang terlindung. hanya terdapat di bagian pangkal daun. “Kecambah” (sebenarnya “bibit spora”) berlimpah pada bulan Januari hingga April (di Jawa). Deskripsi umum : Ferna tanah.5 m. Sisik luas. membentuk tandan yang kasar dengan ketinggian hingga 1. tertutup secara seragam oleh sporangia besar. Di seluruh Indonesia. Peruratan daun berbentuk jaring. Tumbuh pada areal mangrove yang lebih sering tergenang oleh pasang surut. Spora besar dan berbentuk tetrahedral .aureum dalam hal ukuran pinak daunnya yang lebih kecil dan ujungnya meruncing. Sisik pada akar rimpang panjangnya hingga 8 mm. 454 . Khususnya tumbuh pada gundukan lumpur yang “dibangun” oleh udang dan kepiting. Jenis ini berbeda dengan A. Manfaat : Daun digunakan sebagai alas kandang ternak. Pinak daun berukuran kira-kira 28 x 10 cm. Daun : Sangat mencolok. pada umumnya panjangnya kurang dari 1 m dan memiliki pinak daun fertil berwarna karat pada bagian ujungnya. panjang hingga 1 cm. Pinak daun yang steril memiliki ujung lebih kecil dan menyempit. serta daun mudanya berwarna hijau-kecoklatan. Daun yang fertil dihasilkan pada bulan Agustus hingga April. permukaan bagian bawah pinak daun yang fertil berwarna coklat tua dan ditutupi oleh sporangia. Ekologi : Penyebaran : Asia dan Australia tropis. PTERIDACEAE Nama setempat : Piai lasa.

pohon 553 . b. spora. daun. c.Acrostichum speciosum pohon b a c d a. ujung pinak daun. d.

Maluku. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. kadang-kadang dijumpai sebagai pohon sampai 7 meter tingginya. Formasi: payung (ada banyak bunga).5-3 meter. sedangkan buah yang matang tumbuh pada bulan Januari . Deskripsi umum : Semak kecil. 456 . Daun Mahkota: 5. perbungaan terjadi pada bulan September . Bunga dari kedua jenis tumbuhan ini memiliki perbedaan karakteristik yang tidak terlalu penting. bentuk tabung. bengkak pada bagian pangkal dan memiliki tekstur seperti busa. Buah berbentuk kapsul melengkung. tumpang tindih. Biasanya memiliki akar yang menjalar pada permukaan tanah. putih kadang abu-abu pucat. A. A. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kepulauan Sunda kecil. Tandan bunga yang asimetris memiliki banyak bunga.Maret. Tumbuh pada daerah mangrove terbuka sebagai individu yang terpisah atau dalam kelompok kecil. Letak: di ujung tandan/ tangkai bunga. 5-8 mm. rotundifolia terdapat di Bangladesh. Manfaat : Catatan : Memiliki kandungan tanin yang sangat tinggi. Diameter batang sampai 20 cm. Kulit kayu bagian luar berwarna hitam. akan tetapi penggunaannya belum pernah dilaporkan. Thailand dan Kepulauan Andaman. Penyerbukan dilaporkan dibantu oleh semut. memiliki 5 sudut.Br. Ukuran: 6-9 x 2-5 cm. dan ranting dengan goresan berbentuk cincin. Daun : Terdapat lobang longitudinal dan kelenjar garam. annulata dan A. 7-8 mm. berwarna kemerahan ketika telah matang. Kelopak Bunga: 5. Ujung: meruncing. Bentuk: lanset seperti pedang. PNG dan Australia Utara. halus dan kemudian bercelah sejalan dengan bertambahnya umur. Juga tumbuh pada daerah yang lebih berpasir dan berkarang serta tergenang oleh air dengan salinitas yang sama dengan air laut (pada akhir musim kering). pada mangrove yang rendah dengan substrat lumpur. Gagang daun panjangnya 8 cm. Kelimpahan : Umum. Kadang-kadang memiliki akar tunjang.Aegialitis annulata R. Burma. PLUMBAGINACEAE Nama setempat : Tidak tahu. rotundifolia memiliki daerah penyebaran yang tidak bersambung. Ukuran: 3-4 x 4-5 cm.November. umumnya memiliki ketinggian 1. Di Australia.

d. buah. c. pohon 573 .Aegialitis annulata a c b d a. b. daun. bunga.

hijau. Bunga digunakan sebagai hiasan karena wanginya. permukaan halus. teruntung. di beberapa daerah agak melimpah. Akar menjalar di permukaan tanah. seluruh Indonesia. dimana embrio muncul melalui kulit buah ketika buah yang membesar rontok. Cina selatan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka. Papua New Guinea. dan kemungkinan diserbuki oleh serangga. tudung laut. Ukuran: 11 x 7. Ujung: membundar. kacang-kacangan. tanah dan cahaya yang beragam. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. duduk agung. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga. Australia dan Kepulauan Solomon. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Daun : Daun berkulit. 458 . kacangan. Kelimpahan : Umum. Kelopak Bunga: 5. perpat kecil. kayu sila. Buah berwarna hijau hingga merah jambon (jika sudah matang). terang. Ukuran: panjang 5-7. ditutupi rambut pendek halus. 5-6 mm.. Daun Mahkota: 5. perepat tudung. Daun muda dapat dimakan. Buah dan biji telah teradaptasi dengan baik terhadap penyebaran melalui air. Biasanya segera tumbuh sekelompok anakan di bawah pohon dewasa. Malaysia. berwarna hijau mengkilat pada bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian pohon mencapai 6 m. membengkok seperti sabit. serta di bagian tepi dari jalur air yang bersifat payau secara musiman. gedangan. Memiliki toleransi yang tinggi terhadap salinitas. Manfaat : Kulit kayu yang berisi saponin digunakan untuk racun ikan. serta memiliki sejumlah lentisel.Aegiceras corniculatum (L.) Blanco MYRSINACEAE Nama setempat : Teruntun. Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips. seringkali tumbuh dalam kelompok besar. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Kayu untuk arang.7 cm. Formasi: payung. klungkum. Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion. dengan masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 8-12 mm. bercelah. Mereka umum tumbuh di tepi daratan daerah mangrove yang tergenang oleh pasang naik yang normal. putih. Dalam buah terdapat satu biji yang membesar dan cepat rontok. Kulit kayu bagian luar abu-abu hingga coklat kemerahan. seringkali bercampur warna agak kemerahan.5 cm dan diameter 0. gigi gajah.5 cm. putih . Biji tumbuh secara semi-vivipar.

bunga. buah. c. daun. d. pohon 593 . b.Aegiceras corniculatum daun bunga buah a c b d a.

Formasi: payung. 4 mm.hijau. ditutupi rambut pendek halus. Daun : Berkulit. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. putih. bagian atas terang dan hijau mengkilat. Jawa Timur. MYRSINACEAE Nama setempat : Mange-kasihan Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian mencapai 4 m. seluruh Filipina hingga Indo Cina. Tumbuh di daerah mangrove.& S. tercatat pula tumbuh pada substrat berkarang. Kelimpahan : Jarang dan tersebar. Buah berisi satu biji memanjang dan cepat rontok. Ujung: membundar.Aegiceras floridum R. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga. Buah berwarna hijau hingga merah. putih. Bentuk: bulat telur terbalik. bagian bawah hijau pucat kadang kemerahan. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Sulawesi. bentuk agak lurus. bercelah dan memiliki sejumlah lentisel. pada tepi pantai berpasir hingga tepi sungai. Kelopak bunga: 5. Daun Mahkota: 5. Kulit kayu bagian luar berwarna abu-abu hingga coklat. Manfaat : Tidak tahu. Maluku. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Akar menjalar di permukaan tanah. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan Utara. Ukuran: panjang 3 cm dan diameter 0. Ukuran: 3-6 cm Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 4-6 mm. Bali. Pengetahuan tentang jenis ini sangat terbatas. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.7 cm. 460 .

daun 613 .Aegiceras floridum daun & buah bunga a b c a. buah. b. c. bunga.

dengan 4 atau 5 daun mahkota tumpul berukuran 3. karena hanya terkolesi satu kali di Kampung Lato-u dekat Malili. panjang 2. Letak: di ketiak daun.Amyema anisomeres Dans. Tidak diketahui Hanya terkoleksi satu kali pada pohon Rhizophora. panjang 19-20 mm. Ukuran: 5. Deskripsi umum : Epifit parasit.5 x 1. kepala sari bulat panjang. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset.5 mm. Formasi: payung (3 bunga). Mungkin sangat terbatas.5-8. Gagang bunga bulat. panjang 4-7 mm. Ujung: meruncing. halus. hampir silindris. pangkal daun menyempit pada gagang yang panjangnya 8 . Daun : Daun tersebar. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Satu dari sedikit tumbuhan mangorve endemik di Indonesia.5-3 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Mungkin sangat langka.10 mm.5 mm. Kelopak Bunga: berbentuk corong.5 mm. 462 . Benang sari: panjangnya 1. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. memiliki percabangan bulat. Mungkin endemik di Sulawesi. Manfaat : Catatan : Tidak tahu. Tandan bunga terdapat secara tunggal atau berpasangan. Sulawesi Selatan. Daun Mahkota: merah muda.

Amyena anisomeres b a c a. daun 633 . b. bunga. c. buah.

Ukuran: panjang hingga 5 cm.5-1 m. Kalimantan. Malaysia. biasanya menggantung. Hemi-parasit pada Avicennia. Rhizophora dan Sonneratia. Ujung: membundar.Amyema gravis Dans. Daun : Bunga : Memiliki daun yang tebal. Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat. Kepulauan Kangean dan Jawa Timur. panjangnya 0. Bentuk: bulat telur terbalik. Daun mahkota bunga berwarna merah serta pangkal berwarna kuning-kehijauan. Tandan bunga tumbuh soliter pada ketiak daun. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Setiap tandan memiliki 2-3 gagang yang berisi bunga. Perbungaan sepanjang tahun. Deskripsi umum : Hemi-parasit. 464 . Manfaat : Tidak tahu. Tidak diketahui.

daun 653 . buah. c. bunga. b.Amyena gravis a b a c a.

Manfaat : Catatan : Tidak tahu.Amyema mackayense (Blake. Unit & Letak: sederhana & bersilangan.5 cm. Australia Utara.5 mm.5-4 x 1. Tangkai benang sari yang menopang kepala sari berukuran 3-5 mm. 466 . Deskripsi umum : Parasit epifit dengan batang halus yang membesar pada bagian buku serta memiliki banyak cabang. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat. Bentuk: bulat telur. Daun : Daun berbentuk seperti sendok lebar dengan gagang daun sepanjang 6-15 cm. Warna daun mahkota bunga tidak diuraikan dalam pustaka. Kepala sari panjangnya 1. Buah elips. Ujung: membundar. dikelilingi oleh daun kelopak bunga yang berurutan. Ukuran: 2.) Dans. Papua New Guinea dan dekat Merauke (Irian Jaya). LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu.5-2. Parasit eksklusif pada mangrove.

b. daun 673 . c. buah.Amyena mackayense a b a b c a. bunga.

Ukuran: 4 x 2 cm. Dari India sampai Indo Cina. juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut. Kelimpahan : Melimpah. Getah dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar. kuning cerah. Akar nafas biasanya tipis. Pada bagian batang yang tua. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. sementara yang lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung. Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas tandan. 3-4 mm. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m. Daun : Permukaan halus. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. bagian atas hijau mengkilat. Formasi: bulir (ada 10-30 bunga per tandan). Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah. Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan. Kelopak Bunga: 5. Bentuk: lanset (seperti daun akasia) kadang elips. dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon. Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. beberapa ditumbuhi tonjolan kecil. koak.Avicennia alba Bl. melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina. serta di sepanjang garis pantai. Benang sari: 4. Ujung: meruncing. kadangkadang ditemukan serbuk tipis. Ukuran: 16 x 5 cm. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. Letak: di ujung/pada tangkai bunga. boak. Hijau muda kekuningan. Seperti kerucut/cabe/mente. PNG dan Australia tropis. mangi-mangi putih. bawahnya pucat. 468 . Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. Buah dapat dimakan. Daun Mahkota: 4.

b. c. pohon 693 . d.Avicennia alba daun bunga buah a c d b a. buah. daun. bunga.

Ukuran: 4-16 cm x 1-4 cm. kuning atau merah muda. Benang sari: berwarna ungu tua hingga coklat. Formasi: bulir. Bentuk: bulat memanjang. berwarna coklat kekuningan atau hijau. Tandan bunga membesar di ujung dengan panjang sampai 2. Setengah bagian atas dari bakal buah memiliki bulu. mengelupas pada bagian-bagiannya yang tipis. Buah berwarna kuning kehijauan. Letak: di ujung. 470 . Kulit kayu luar halus bercoreng-coreng. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di Irian Jaya dan PNG.Avicennia eucalyptifolia (Zipp. Daun Mahkota: warna putih. Ukuran: Panjang kurang dari 3 cm. Kelopak Bunga: hijau pucat. Seperti jenis lain pada genus ini. ex Miq. Deskripsi umum : Semak atau pohon dengan ketinggian mencapai 17 meter. mereka seringkali bersifat vivipar. tidak memiliki mulut buah yang nyata. bagian luar berambut pendek. Tumbuh di pulau-pulau lepas pantai yang berkarang.) Moldenke AVICENNIACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. Ujung: meruncing. dan juga pada bagian pinggir atau tengah daratan dari rawa mangrove. Unit & Letak: sederhana. Kulit kayu bagian dalam berwarna seperti jerami padi sampai coklat pucat. Daun : Permukaan bagian atas hijau muda sampai hijau tua atau hijau kecoklatan dan kuning kehijauan pada bagian bawah. panjang 2-5 mm. Kayu berwarna putih sampai seperti jerami. Kelimpahan : Umum. Bunga berdiameter 3-4 mm. Bunganya mirip bunga Avicennia marina.5 cm. Manfaat : Catatan : Digunakan sebagai kayu bangunan dan kayu bakar. berlawanan.

daun. pohon 713 . b.Avicennia eucalyptifolia pohon a b a.

Daun Mahkota: 4. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Kelopak Bunga: 5. Daun : Memiliki kelenjar garam. Kulit kayu seperti kulit ikan hiu berwarna gelap. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Diketahui (di Bali dan Lombok) berbunga pada bulan Juli . Lombok. bagian bawah daun putih kekuningan dan ada rambut halus. Benang sari: 4 Buah seperti hati. Bentuk: elips. Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya).5 cm. Semenanjung Malaysia. warna hijau-agak kekuningan. Bergerombol muncul di ujung tandan.5 x 2. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan. ujungnya berparuh pendek dan jelas. Ujung: membundar – agak meruncing. dapat mencapai ketinggian hingga 8 meter. bau menyengat. coklat hingga hitam. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/ tandan bunga. Ukuran: sekitar 1. Kelimpahan : Tidak diketahui.Februari dan berbuah antara bulan November hingga Maret. kuning pucat-jingga tua. Memiliki akar nafas dan berbentuk pensil.Avicennia lanata (Ridley). sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar. Bali. Singapura. 4-5 mm. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan. Formasi: bulir (8-14 bunga). Tumbuh pada dataran lumpur. 472 . Ukuran: 9 x 5 cm. tepi sungai. daerah yang kering dan toleran terhadap kadar garam yang tinggi.

buah. daun 733 . b. c.Avicennia lanata daun buah pohon a b c a. bunga.

Akarnya sering dilaporkan membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan tanah timbul. Sedang dilakukan revisi taksonomi. akar nafas tegak dengan sejumlah lentisel. ketinggian pohon mencapai 30 meter. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Catatan : 474 . Resin yang keluar dari kulit kayu digunakan sebagai alat kontrasepsi. api-api abang. memiliki kemampuan menempati dan tumbuh pada berbagai habitat pasang-surut. Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar. Kulit kayu halus dengan burik-burik hijau-abu dan terkelupas dalam bagian-bagian kecil.) Bakh. Memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit dan berbentuk pensil (atau berbentuk asparagus). Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di Afrika. Ukuran: 9 x 4. Buah membuka pada saat telah matang. hajusia. Manfaat : Daun digunakan untuk mengatasi kulit yang terbakar. kuning pucat-jingga tua. Asia.5 cm. Buah agak membulat. Merupakan tumbuhan pionir pada lahan pantai yang terlindung. sia-sia putih. pejapi. Kelopak Bunga: 5. Benang sari: 4. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api putih. Buah dapat juga terbuka karena dimakan semut atau setelah terjadi penyerapan air. nektar banyak. bulat telur terbalik. Daun Mahkota: 4.Avicennia marina (Forsk. bau menyengat. 5-8 mm. Backer & Bakhuizen van den Brink (19638) hanya menyebutkan varietas A. Jenis ini merupakan salah satu jenis tumbuhan yang paling umum ditemukan di habitat pasang-surut. Kelimpahan : Melimpah. Kayu menghasilkan bahan kertas berkualitas tinggi. bahkan di tempat asin sekalipun. Buah dapat dimakan. Bagian bawah daun putih. melalui lapisan dorsal. kadang-kadang bersifat vivipar. sie-sie. bulat memanjang. Daun : Bagian atas permukaan daun ditutupi bintik-bintik kelenjar berbentuk cekung.5x2.abu-abu muda. intermedia (Griff. Ditemukan di seluruh Indonesia. berwarna hijau agak keabu-abuan. Ukuran: sekitar 1. Ujung: meruncing hingga membundar. Bentuk: elips. Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya) dan ujung buah agak tajam seperti paruh. pai.5 cm.) Vierh. Seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan. Berbuah sepanjang tahun. Ranting muda dan tangkai daun berwarna kuning. Australia. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. nyapi. Jenis ini dapat juga bergerombol membentuk suatu kelompok pada habitat tertentu. Daun digunakan sebagai makanan ternak. Amerika Selatan. Formasi: bulir (2-12 bunga per tandan). tidak berbulu. Polynesia dan Selandia Baru.

daun. bunga.Avicennia marina daun bunga buah a c d b a. b. buah. pohon 753 . c. d.

marahuf. Formasi: bulir (2-10 bunga per tandan). Daun Mahkota: 4. Kayunya dapat digunakan sebagai kayu bakar. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Pada umumnya memiliki akar tunjang dan akar nafas yang tipis.5 x 6 cm. 476 . bau menyengat. Bentuk seperti hati. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Permukaan atas daun ditutupi oleh sejumlah bintikbintik kelenjar berbentuk cekung. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. bulat memanjang-bulat telur terbalik atau elipsbulat memanjang. Deskripsi umum : Pohon. menyempit ke arah gagang. berbentuk jari dan ditutupi oleh sejumlah lentisel. api-api ludat. Juga tersebar dari India selatan sampai Malaysia dan Indonesia hingga PNG dan Australia timur. kuning-jingga. papi. Ujung: membundar. Daun mahkota bunga terbuka tidak beraturan. Daun : Berwarna hijau tua pada permukaan atas dan hijau-kekuningan atau abu-abukehijauan di bagian bawah. Benang sari: 4. Ukuran: 12. Ukuran: Sekitar 2x3 cm. warna kuning kehijauan. Kelopak Bunga: 5. Susunan seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan. Kelimpahan : Umum. Berbunga sepanjang tahun. semakin tua warnanya semakin hitam. Getah kayu dapat digunakan sebagai bahan alat kontrasepsi. bahkan kadang-kadang sampai 20 m. Bentuk: bulat telur terbalik. Manfaat : Buah dapat dimakan. api-api kacang. Kulit kayu bagian luar memiliki permukaan yang halus berwarna hijau-keabu-abuan sampai abu-abu-kecoklatan serta memiliki lentisel. ujungnya berparuh pendek. biasanya memiliki ketinggian sampai 12 m. Tumbuh di bagian pinggir daratan rawa mangrove. seringkali tertutup oleh rambut halus dan pendek pada kedua permukaannya. khususnya di sepanjang sungai yang dipengaruhi pasang surut dan mulut sungai. lebih panjang dari daun mahkota bunga. Permukaan buah agak keriput dan ditutupi rapat oleh rambut-rambaut halus yang pendek. merahu. sia-sia putih.Avicennia officinalis L. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tersebar di seluruh Indonesia. api-api daun lebar. 1015 mm.

Avicennia officinalis buah daun & bunga a c b d a. bunga. d. daun. buah. pohon 773 . c. b.

Tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. 34 mm. Manfaat : Untuk kayu bakar. berakar lutut dan akar papan yang melebar ke samping di bagian pangkal pohon. Warna hijau didekat pangkal buah dan hijau keunguan di bagian ujung. Para nelayan tidak menggunakan kayunya untuk kepentingan penangkapan ikan karena kayu tersebut mengeluarkan bau yang menyebabkan ikan tidak mau mendekat. Di beberapa daerah. Formasi: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. ketinggian pohon kadang-kadang mencapai 23 meter. termasuk Irian Jaya. atau di bagian tengah vegetasi mangrove kearah laut. muncul di ujung tandan (panjang tandan: 1-2 cm). bius. hijau kekuningan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Asia Tenggara dan Australia. tanjang putih. Kulit kayu abu-abu. Daun : Permukaan atas daun hijau cerah bagian bawahnya hijau agak kekuningan. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau. Hipokotil (seringkali disalah artikan sebagai “buah”) berbentuk silindris memanjang. sering juga berbentuk kurva. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Jenis ini juga memiliki kemampuan untuk tumbuh pada tanah/substrat yang baru terbentuk dan tidak cocok untuk jenis lainnya. akar muda dari embrionya dimakan dengan gula dan kelapa. tanjang sukim. Kelimpahan : Umum. biasanya pada tanah liat di belakang zona Avicennia. Pangkal buah menempel pada kelopak bunga. seluruh Indonesia. bawahnya seperti tabung. lindur. lengadai. 478 . Daun Mahkota: putih.) Bl. Ukuran: 7-17 x 2-8 cm. Kemampuan tumbuhnya pada tanah liat membuat pohon jenis ini sangat bergantung kepada akar nafas untuk memperoleh pasokan oksigen yang cukup. tapi pertumbuhannya lambat. Bunga mengelompok. tanjang sukun. relatif halus dan memiliki sejumlah lentisel kecil. Ujung: agak meruncing. Kelopak Bunga: 8. Memiliki buah yang ringan dan mengapung sehinggga penyebarannya dapat dibantu oleh arus air. lalu menjadi coklat ketika umur bertambah. dan oleh karena itu sangat responsif terhadap penggenangan yang berkepanjangan. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. tanjang. Sisi luar bunga bagian bawah biasanya memiliki rambut putih.Bruguiera cylindrica (L. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Burus. Bentuk: elips. Ukuran: Hipokotil: panjang 8-15 cm dan diameter 5-10 mm.

b. bunga. daun 793 .Bruguiera cylindrica bunga buah pohon a c b a. c. buah.

Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. panjang 10-13 mm. Toleran terhadap salinitas yang tinggi.Bruguiera exaristata Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tidak tahu.5 x4. Kelimpahan : Cukup umum. 480 . dan memiliki sejumlah besar akar nafas berbentuk lutut. bagian bawah memiliki bercak-bercak. Unit & letak: sederhana & berlawanan. Ukuran: Hipokotil: panjang 5-7 cm dan diameter 6-8 mm Tumbuh di sepanjang jalur air atau menuju bagian belakang lokasi mangrove. Substrat yang cocok adalah tanah liat dan pasir. Ujung: meruncing. tepi daun sering tergulung ke dalam. tepi daun mahkota memiliki rambut berwarna putih dan kemudian akan rontok.5 cm. Hipokotil berbentuk tumpul. menggantung. panjang 10-15 mm. silindris agak menggelembung. Deskripsi umum : Semak atau pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 10 m.5-11.5 x 2. Bunga hijau-kekuningan. Irian Jaya Selatan dan Australia Utara. Formasi: soliter. Bentuk: bulat memanjang. Daun mahkota: 8-10. pangkal batang menonjol. Kelopak bunga: 8-10. Hipokotil relatif kecil dan mudah tersebar oleh pasang surut atau banjir. Anakan tumbuh tidak baik di bawah lindungan. Ukuran: 5. Pada masa lalu B. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Penyebaran terbatas. Letak: di ketiak daun. Kadang-kadang ditemukan suatu kelompok yang hanya terdiri dari jenis tersebut. Kulit kayu berwarna abu-abu tua. Manfaat : Catatan : Tidak tahu. sexangula sering dikelirukan dengan jenis ini. Daun : Permukaan atas daun berwarna hitam. Diketahui dari Timor.

b. daun 813 . c. bunga. buah.Bruguiera exaristata a c b a.

Tumbuh di areal dengan salinitas rendah dan kering. putut. Bentuk: elips sampai elips-lanset. Regenerasinya seringkali hanya dalam jumlah terbatas. tergantung.5 cm. tanjang. menggantung. dan mengundang burung untuk melakukan penyerbukan. kandeka. Kelimpahan : Umum dan tersebar luas. berwarna abu-abu tua sampai coklat (warna berubah-ubah). Manfaat : Bagian dalam hipokotil dimakan (manisan kandeka). dau. panjang 30-50. Akarnya seperti papan melebar ke samping di bagian pangkal pohon. mangimangi. Formasi: soliter.Bruguiera gymnorrhiza (L. tomo. panjang 2-2.) Lamk. Merupakan jenis yang dominan pada hutan mangrove yang tinggi dan merupakan ciri dari perkembangan tahap akhir dari hutan pantai. wako. Bunga relatif besar. 482 .5-2 cm. bangko. Buah melingkar spiral. Unit & Letak: sederhana & berlawanan.5-7 x 8. serta tahap awal dalam transisi menjadi tipe vegetasi daratan. Daun Mahkota: 10-14. panjang 13-16 mm. Ditemukan di tepi pantai hanya jika terjadi erosi pada lahan di hadapannya. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan pada bagian bawahnya dengan bercak-bercak hitam (ada juga yang tidak). taheup. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. Hipokotil lurus. pasir dan kadang-kadang tanah gambut hitam. Letak: di ketiak daun. bako. Bunga bergelantungan dengan panjang tangkai bunga antara 9-25 mm. hal tersebut dimungkinkan karena buahnya terbawa arus air atau gelombang pasang. Substrat-nya terdiri dari lumpur. warna merah muda hingga merah. Ukuran: Hipokotil: panjang 12-30 cm dan diameter 1. dicampur dengan gula. Kayunya yang berwarna merah digunakan sebagai kayu bakar dan untuk membuat arang. tenggel. Malaysia dan Indonesia menuju wilayah Pasifik Barat dan Australia Tropis. sarau. lindur. Ujung: meruncing Ukuran: 4. permukaannya halus hingga kasar. Kelopak Bunga: 10-14. sala-sala. bundar melintang. Mereka juga tumbuh pada tepi daratan dari mangrove. mutut besar. Kadang-kadang juga ditemukan di pinggir sungai yang kurang terpengaruh air laut. Daun : Daun berkulit. tongke. memiliki kelopak bunga berwarna kemerahan.5-22 cm. serta tanah yang memiliki aerasi yang baik. Kulit kayu memiliki lentisel. tanjang merah. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Pertut. Jenis ini toleran terhadap daerah terlindung maupun yang mendapat sinar matahari langsung. tumpul dan berwarna hijau tua keunguan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur dan Madagaskar hingga Sri Lanka. juga memiliki sejumlah akar lutut. putih dan coklat jika tua. totongkek. sepanjang tambak serta sungai pasang surut dan payau. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. tumu.

Bruguiera gymnorrhiza daun & bunga hipokotil a c b a. c. hipokotil. bunga. b. daun 833 .

Ujung: meruncing.Rogers RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus mata buaya. Letak: Di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga (panjang tandan: 18-22 cm). Hipokotil berbentuk cerutu atau agak melengkung dan menebal menuju bagian ujung. Ukuran: Hipokotil: panjang 9 cm dan diameter 1 cm. dengan lentisel besar berwarna coklat-kekuningan dari pangkal hingga puncak. Manfaat : Tidak tahu. Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove pada areal yang relatif kering dan hanya tergenang selama beberapa jam sehari pada saat terjadi pasang tinggi. hijau pucat. Ukuran: 9-16 x 4-7 cm. panjang 7-9 mm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Burma. Bentuk: elips sampai bulat memanjang. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 30 meter dan batang berdiameter sekitar 70 cm. Berambut pada tepi bawah dan agak berambut pada bagian atas cuping. 484 . Daun Mahkota: putih. Kulit kayu berwarna coklat hingga abu-abu. Formasi: kelompok (2-3 bunga per tandan. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan di bawahnya.Bruguiera hainessii C. seluruh Indonesia dan Papua New Guinea. Kelopak Bunga: 10. bagian bawah berbentuk tabung. Thailand. panjangnya 5 mm. Daun : Daun berkulit. Kelimpahan : Agak kurang umum.G. Malaysia. Unit & Letak: sederhana & berlawanan.

c. buah/hipokotil. pohon 853 . d.Bruguiera hainessii c d b a a. daun. b. bunga.

tanah payau dan bersalinitas tinggi. sia-sia. panjang 2 cm. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Langgade. seperti kupu-kupu.) W.5 cm. Formasi: kelompok (3-10 bunga per tandan). Bentuk: elips. Giesen & Sukotjo.& A.5-13 x 2-4. paproti. perbungaan tercatat dari bulan Juni hingga September. Kulit kayu burik. Berambut pada tepinya. pasir. kecuali untuk kayu bakar. Daun mahkota: 8. warna hijau kekuningan. jenis ini jarang digunakan untuk keperluan lain. Di Australia. tongi. Kelimpahan : Tersebar. disebabkan oleh gangguan serangga. ex Griff. Individu yang terisolasi juga ditemukan tumbuh di sepanjang alur air dan tambak tepi pantai. 1991). mou. Dapat menjadi sangat dominan di areal yang telah diambil kayunya (misalnya Karang Gading-Langkat Timur Laut di Sumatera Utara. dan berbuah dari bulan September hingga Desember. permukaannya halus. Substrat yang cocok termasuk lumpur. Bunga dibuahi oleh serangga yang terbang pada siang hari. berwarna abu-abu hingga coklat tua. Hipokotil silindris. bagian bawah berbentuk tabung. tinggi (meskipun jarang) dapat mencapai 20 m. Akar lutut dapat mencapai 30 cm tingginya. bius. lenggadai. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. mengelangan. Daun : Terdapat bercak hitam di bagian bawah daun dan berubah menjadi hijaukekuningan ketika usianya bertambah. yang merupakan ciri khasnya. putihhijau kekuningan. Kelopak Bunga: 8. Hipokotilnya yang ringan mudah untuk disebarkan melalui air. panjang 1. dan nampaknya tumbuh dengan baik pada areal yang menerima cahaya matahari yang sedang hingga cukup. Seluruh Indonesia. Manfaat : Karena ukuran kayunya yang kecil. Deskripsi umum : Berupa semak atau pohon kecil yang selalu hijau. tetapi melimpah setempat.5-2mm. Ukuran: 5.5-1 cm. agak melengkung. panjangnya 7-9 mm. 486 . Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Bangladesh hingga Samoa. menggelembung. Daunnya berlekuk-lekuk. bercelah dan agak membengkak di bagian pangkal pohon. Jenis ini membentuk tegakan monospesifik pada areal yang tidak sering tergenang. tanjang. Letak: di ketiak daun. Buah melingkar spiral. Bunga mengelompok di ujung tandan (panjang tandan: 2 cm). Ujung: meruncing. warna hijau kekuningan. Ukuran: Hipokotil: panjang 815 cm dan diameter 0.Bruguiera parviflora (Roxb.

bunga. c. b.Bruguiera parviflora bunga buah pohon c a b a. buah/hipokotil. daun 873 .

warna kuning kehijauan atau kemerahan atau kecoklatan. Formasi: soliter (1 bunga per tandan). payau dan tawar. Hipokotil disebarkan melalui air. Ujung: meruncing. Toleran terhadap kondisi air asin. Unit & Letak: sederhana & berlawanan.) Poir. panjang tabung 10-15 mm. putih dan kecoklatan jika tua. Catatan : 488 . panjang 15mm. dan kadangkadang akar papan. Kadang-kadang terdapat pada pantai berpasir. mutut kecil. Identifikasi yang terbaik adalah melalui daun mahkota. Akar lutut. Seluruh Asia Tenggara (termasuk Indonesia) hingga Australia utara. Manfaat : Untuk kayu bakar. Kelopak bunga: 10-12. dan memiliki bercak hitam di bagian bawah. dan di masa lalu seringkali dikelirukan dengan kedua jenis tersebut. Di Sulawesi buahnya dimakan setelah direndam dan dididihkan. Kadang berambut halus pada tepinya. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. berkulit. Daun : Daun agak tebal. Hipokotil menyempit di kedua ujung. exaristata dan B. ting.Bruguiera sexangula (Lour. halus hingga kasar. Sama dengan B. pada berbagai tipe substrat yang tidak sering tergenang. Biasanya tumbuh pada kondisi yang lebih basah dibanding B. Kelimpahan : Umum. lindur. Bunganya yang besar diserbuki oleh burung. akar serta daunnya digunakan untuk mengatasi kulit terbakar. tiang dan arang. tanjang. tumu. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. Tumbuh di sepanjang jalur air dan tambak pantai. Ukuran: Hipokotil: panjang 6-12 cm dan diameter 1. mata buaya. busung. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India. Daun makhota: 10-11. Buahnya dilaporkan digunakan untuk mengobati penyakit herpes. memiliki sejumlah lentisel berukuran besar. ai bon. tongke perampuan. Bentuk: elips.5 cm. gymnorrhiza. bakau tampusing. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Busing. tancang sukun. Letak: Di ketiak daun. gymnorrhiza. Ukuran: 8-16 x 3-6 cm. Kulit kayu coklat muda-abu-abu. sarau. dan pangkal batang yang membengkak.

c. bunga. buah/hipokotil. daun 893 .Bruguiera sexangula daun bunga buah a c b a. b.

Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak. Kelimpahan : Tidak terlalu umum. Benang sari: 5. dan memiliki akar nafas yang menonjol. kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m. Letak: di ketiak daun dan batang. Bentuk: lanset-elips. Buah bundar berbentuk kapsul. bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek. BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. Daun : Bunga : Permukaan daun bersisik. Manfaat : Catatan : Tidak diketahui. Ukuran: 6-9 x 2-4 cm. kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan. pangkalnya sempit. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Daun mahkota bunga berwarna putih. bersisik. panjang biji 9mm. Ukuran: panjang buah 1 cm. dan memiliki daun kelopak bunga dan kelopak tambahan yang berurutan. - Buah : Ekologi : Penyebaran : Filipina. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. Daun mahkota: putih. 490 . Kalimantan dan Sulawesi. Formasi: bulir. Ujung: membundar. Menurut Tomlinson (1986). Kulit kayu berwarna abu-abu dan memiliki celah/retakan longitudinal serta pangkal batang yang bergalur. berupa semak atau pohon yang selalu hijau.Camptostemon philippinense (Vidal) Becc.

daun 913 .Camptostemon philippinense c b a a. buah. b. bunga. c.

sementara bijinya yang berbulu disebarkan oleh air maupun angin. Formasi: bulir. kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m dengan kulit kayu berwarna kuning pucat. bagian bawah bersisik. cuping panjangnya 6 mm. Benang sari: 20. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat dari Kalimantan. Umumnya tumbuh pada pantai berpasir yang berada pada kisaran areal pasang surut. Ukuran: 6-16 x 2-5 cm. panjang biji 9mm. bersisik. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. dan memiliki akar nafas yang menonjol. kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan. bagian atas halus. coklat atau coklat-keabu-abuan dan memiliki celah/retakan longitudinal dan lentisel serta pangkal batang yang bergalur. berupa semak atau pohon yang selalu hijau. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Daun mahkota bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek berwarna putih. Kelopak bunga: seperti cangkir. Tumbuh lebih baik di pantai berbatu dan terbuka dibandingkan dengan mangrove di mulut sungai. Ukuran: panjang buah 1 cm. Kelimpahan : Relatif umum. Menurut Tomlinson (1986). buah matang pada bulan Oktober sampai Februari (di Australia). pangkalnya sempit. Buah bundar berbentuk kapsul. Ujung: membundar. Daun Makhota: putih. 492 . Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak. dan memiliki daun kelopak bunga yang bagian luarnya berurutan dan bersisik. Buah dapat disebarkan melalui air (dengan kisaran gelombang sedang). Daun : Daun berumbai-rumbai terletak pada akhir cabang.Camptostemon schultzii Masters BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. Berbunga pada bulan Juni sampai Oktober. Bentuk: lansetelips. Manfaat : Catatan : Kayu dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas yang cukup kuat. PNG dan Australia Utara. Mungkin diserbuki oleh serangga dan angin. Maluku. Letak: Di ketiak daun dan cabang.

buah. b. d. bunga. c. pohon 933 .Camptostemon schultzii a b c d a. daun.

) Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengal. parun. warna hijau hingga coklat. serta pegangan berbagai perkakas bangunan. Catatan : 494 . Hipokotil berbentuk silinder. kenyonyong. Menyukai substrat pasir atau lumpur. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. ujungnya menggelembung tajam dan berbintil. Benang sari: tangkai benang sari pendek. tingi. Kulit kayu merupakan sumber yang bagus untuk tanin serta bahan pewarna. Bentuk dan ukuran daun sangat beragam bergantung kepada kadar cahaya dan air dimana suatu individu tumbuh. Sulawesi. ada lentisel dan berbintil. Bunga mengelompok. Maluku. Daun : Bunga : Daun hijau mengkilap. menempel dengan gagang yang pendek. tengar. Papua New Guinea. Ukuran: Hipokotil: panjang 15 cm dan diameter 8-12 mm. Formasi: kelompok (2-4 bunga per kelompok). tinci. Kulit kayu berwarna coklat. Letak: di ketiak daun. Bentuk: elipsbulat memanjang. jarang berwarna abu-abu atau putih kotor. Ukuran: 3-10 x 1-4. bido-bido. palun. Deskripsi umum : Pohon atau semak kecil dengan ketinggian hingga 15 m. permukaan halus. Kadang berambut halus pada tepinya. sama atau lebih pendek dari kepala sari. tebal dan bertakik. Ujung: membundar. akan tetapi lebih umum pada bagian daratan dari perairan pasang surut dan berbatasan dengan tambak pantai. Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Indocina.Ceriops decandra (Griff. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Kelopak bunga: 5. Kalimantan. bantalan rel kereta api. Tumbuh tersebar di sepanjang hutan pasang surut. Bangka. luru. putih dan kecoklatan jika tua. Kelimpahan : Relatif jarang. rapuh dan menggelembung di bagian pangkal. Irian Jaya. Leher kotilodon jadi merah tua jika sudah matang/ dewasa. Jawa. warna hijau. Manfaat : Jenis Ceriops memiliki kayu yang paling tahan/kuat diantara jenis-jenis mangrove lainnya dan digunakan sebagai bahan bangunan. Daun mahkota: 5. Malaysia. panjang 2. Filipina dan Australia.5-4mm.5 cm.

pohon 953 . d.Ceriops decandra daun bunga buah & hipokotil a c b d a. buah/hipokotil. daun. c. b. bunga.

halus dan pangkalnya menggelembung. Bahan kayu bakar yang baik serta merupakan salah satu kayu terkuat diantara jenis-jenis mangrove.5 cm. parun. berkulit halus. warna hijau. Bunga mengelompok di ujung tandan. dan kemungkinan berdampingan dengan C. Letak: di ketiak daun. Pohon seringkali memiliki akar tunjang yang kecil. Juga terdapat di sepanjang tambak. Buah panjangnya 1. Ukuran: Hipokotil: panjang 4-25 cm dan diameter 8-12 mm. agak menggelembung dan seringkali agak pendek. mentigi. karena ketahanannya jika direndam dalam air garam. berresin pada ujung cabang baru atau pada ketiak cabang yang lebih tua. dan pegangan perkakas. panjang 45mm. Catatan : 496 . Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Mozambik hingga Pasifik Barat.) C. tengar.B. tingi. tangar. Membentuk belukar yang rapat pada pinggir daratan dari hutan pasang surut dan/atau pada areal yang tergenang oleh pasang tinggi dengan tanah memiliki sistem pengeringan baik. Kelimpahan : Umum. tinci. Manfaat : Ekstrak kulit kayu bermanfaat untuk persalinan. Tanin dihasilkan dari kulit kayu. Deskripsi umum : Pohon kecil atau semak dengan ketinggian mencapai 25 m. bido-bido. Malaysia dan Indonesia. Leher kotilodon menjadi kuning jika sudah matang/dewasa. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. tingih. lonro. Hipokotil berbintil. tengah. dan regenerasi mereka dapat terjadi melalui salah satu anakan tersebut. Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok).Rob. Kayu bermanfaat untuk bahan bangunan. Kelopak bunga: 5. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengar. palun. Bentuk: bulat telur terbalik-elips. Ukuran: 1-10 x 2-3. dengan tabung kelopak yang melengkung. kadang-kadang coklat. wanggo. putih dan kemudian jadi coklat. Gagang bunga panjang dan tipis.5-2 cm. bantalan rel kereta api. Daun : Daun hijau mengkilap dan sering memiliki pinggiran yang melingkar ke dalam.decandra. Daun mahkota: 5. Kulit kayu berwarna abu-abu. Pewarna dihasilkan dari kulit kayu dan kayu. mange darat. Benang sari: tangkai benang sari lebih panjang dari kepala sarinya yang tumpul. Ujung: membundar.Ceriops tagal (Perr. tabung 2mm. Menyukai substrat tanah liat. Dilaporkan bahwa anakan jenis ini dapat membelah menjadi dua. termasuk Australia Utara. Unit & Letak: sederhana & berlawanan.

daun 973 . bunga. buah/hipokotil. b.Ceriops tagal bunga buah & hipokotil a c b a. c.

Kulit kayu berwarna abu-abu. bersilangan. Formasi: bulir. tersebar. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di sebagian besar wilayah Asia Tropis. Umumnya ditemukan pada bagian pinggir mangrove di bagian daratan. ada 2 kelenjar pada pangkal daun. Batang. warna hijau. Penyerbukan dilakukan oleh serangga. Karang-Gading Langkat Timur Laut. EUPHORBIACEAE Nama setempat : Buta-buta. Akar menjalar di sepanjang permukaan tanah. Kayu dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas yang bermutu baik. akan tetapi wanginya akan hilang beberapa tahun kemudian. Mereka umum ditemukan sebagai jenis yang tumbuh kemudian pada beberapa hutan yang telah ditebang. sambuta. tetapi memiliki bintil. Daun : Hijau tua dan akan berubah menjadi merah bata sebelum rontok. Letak: di ketiak daun. dekat Medan. Kayu digunakan untuk bahan ukiran. Kayu tidak bisa digunakan sebagai kayu bakar karena bau wanginya tidak sedap bagi masakan. kalibuda. Getah putihnya beracun dan dapat menyebabkan kebutaan sementara. warejit. Sumatera Utara. bebutah. betuh. kayu wuta. Manfaat : Akar dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi dan pembengkakan. Bentuk: elips. dan di Australia.5-10. berisi biji berwarna coklat tua. Tumbuhan ini sepanjang tahun memerlukan masukan air tawar dalam jumlah besar. Unit & Letak: sederhana. Ukuran: diameter 5-7mm. seringkali berbentuk kusut dan ditutupi oleh lentisel. Memiliki bunga jantan atau betina saja. Benang sari: 3. kuning. Ukuran: 6. kalapinrang. goro-goro raci. sebelah utara Sumbawa. halus. Daun mahkota: hijau & putih. Tandan bunga jantan berbau. Kayunya kadang-kadang dijual karena wanginya. tidak pernah keduanya. makasuta. pinggiran bergerigi halus. berwarna hijau dan panjangnya mencapai 11 cm. permukaan seperti kulit. Kelimpahan : Melimpah setempat. dan menyebar di sepanjang tandan. sesuai dengan namanya. Catatan : 498 . Hal ini terutama diperkirakan terjadi karena adanya serbuk sari yang tebal serta kehadiran nektar yang memproduksi kelenjar pada ujung pinak daun di bawah bunga. Kelopak bunga: hijau kekuningan. madengan. Bentuk seperti bola dengan 3 tonjolan. mata huli. Bunga jantan (tanpa gagang) lebih kecil dari betina. misalnya di Suaka Margasatwa. yaitu buta-buta. Getah digunakan untuk membunuh ikan. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. atau kadang-kadang di atas batas air pasang. khususnya lebah.5-5 cm.Excoecaria agallocha L. dahan dan daun memiliki getah (warna putih dan lengket) yang dapat mengganggu kulit dan mata. Deskripsi umum : Pohon merangas kecil dengan ketinggian mencapai 15 m. termasuk di Indonesia. Jenis ini juga ditemukan tumbuh di sepanjang pinggiran danau asin (90% air laut) di pulau vulkanis Satonda. menengan.5 x 3. Ujung: meruncing.

c. b.Excoearia agallocha bunga buah daun c a b d a. daun. bunga. pohon 993 . d. buah/hipokotil.

Gymnanthera paludosa

(Bl.) K.Schum.

ASCLEPIADACEAE

Nama setempat : Tidak tahu. Deskripsi umum : Semak pemanjat, hingga 4 m. Batang ditutupi oleh tonjolan. Pada umumnya tidak berambut, tetapi memiliki rambut pendek, halus di bagian atas. Daun : Bunga : Daun halus, tipis. Unit & Letak: sederhana, bersilangan. Bentuk: elips-bulat memanjang. Ujung: meruncing. Ukuran: 3-5,5 x 1-2 cm. Di antara pasangan tangkai daun, panjang tangkai bunga kurang dari 2 cm. Formasi: kelompok. Daun mahkota: halus, hijau kekuningan, memiliki tabung memanjang 7-8 mm, diameter 16-18 mm. Buah tipis, berpasangan dan berpengait di ujungnya. Biji berlunas dan halus tetapi memiliki rambut panjangnya 2-2,5 cm. Ukuran: panjang biji 5mm, panjang buah 10,5-12 cm. Tumbuh di mangrove. Bunga dari Oktober - Maret. Tercatat dari Jawa dan Madura, tetapi kemungkinan ditemukan di seluruh Indonesia.

Buah :

Ekologi : Distribusi :

Kelimpahan : Tidak tahu. Manfaat : Tidak tahu.

4100

Gymnanthera paludosa

daun & buah

a

c

b

a. bunga; b. buah; c. daun

1013

Heritiera globosa

Kostermans

STERCULIACEAE

Nama setempat : Dungun. Deskripsi umum : Sangat menyerupai Heritiera littoralis (lihat deskripsi berikut), perbedaannya terletak pada buah yang bundar dan tangkai daun yang lebih panjang. Memiliki ujung daun ventral yang dangkal, memanjang pada ujung jauh menuju mulut atau sayapnya, dimana sayap selalu agak melengkung yang merupakan kekhasannya. Gagang daun lebih panjang dari 2 cm dan mungkin lebih dari 4 cm. Akar papan berkembang baik dan menyerupai ular, memanjang 2-4 m dari pangkal batang. Ekologi : Tumbuh di belakang zona jalur mangrove, tetapi juga telah dikoleksi di tempat sejauh 70 km dari laut, pada sistem sungai air tawar yang dipengaruhi oleh pasang surut.

Penyebaran : Sarawak, Sabah dan Kalimantan, akan tetapi kemungkinan memiliki penyebaran yang lebih luas. Kelimpahan : Relatif umum setempat. Manfaat : Memiliki kayu yang kuat dan berat.

4102

Heritiera globosa

a

b

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1033

Heritiera littoralis Dryand. lebar 5-6 cm. Gagang daun panjangnya 0. Warna daun hijau gelap bagian atas dan putih-keabu-abuan di bagian bawah karena adanya lapisan yang bertumpang-tindih.5-2 cm. lawanan kete. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. Kelimpahan : Umum. seperti mangkok. lulun. Manfaat : Kayu bakar yang baik. blakangabu. belohila. Letak: di ujung atau di ketiak. tiang telepon. Ukuran: panjang 6-8 cm. Sangat umum tumbuh di tepi daratan hutan mangrove. tetapi lebih kecil dibanding bunga betina (pada pohon yang berbeda !). Daun mahkota: ungu dan coklat. ex W. Kayu tahan lama dan digunakan untuk bahan perahu. cerlang laut. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 25 m. STERCULIACEAE Nama setempat : Dungu. Buah berwarna hijau hingga coklat mengkilat. Unit & letak: sederhana. Dari Afrika timur dan Madagaskar hingga Australia dan Pasifik sejauh Kaledonia baru. berkulit. Memiliki 1 biji dan masak pada tandan yang tergantung. lawang. berkelompok pada ujung cabang. rumah. Bentuk: bulat telur-elips. rurun. bayur laut. atung laut. Ukuran: 10-20 x 5-10 cm.Ait. balang pasisir. rumung. Biji digunakan untuk pengolahan ikan. Ujung: meruncing. kemerahan dan berambut. 4104 . Kulit kayu gelap atau abu-abu. bersisik dan bercelah. Buah digunakan untuk mengobati diare dan disentri. kadang sampai 30 x 15-18 cm. Daun : Kukuh. dungun. panjang 4-5 mm. Nampaknya tidak toleran terhadap salinitas yang tinggi dan tidak tumbuh pada lokasi yang sangat terbuka atau kurang adanya pengeringan. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Kelopak bunga: 4-5. Individu pohon memiliki salah satu bunga betina atau jantan. Akar papan berkembang sangat jelas. Bunga jantan lebih banyak. Tandan bunga berambut (terutama pada bagian ketiak daun dan ujung cabang). dan mungkin juga menempati bagian tepi atau berdekatan dengan hutan dataran rendah. berkayu. Formasi: bergerombol bebas. atau pantai berkarang. bersilangan.

Heritiera littoralis buah muda bunga buah tua pohon a a c b a. daun 1053 . c. b. bunga. buah.

Bentuk: elips-bulat memanjang. Thailand. Burma.5-2 cm. Taiwan. beras-beras. Manfaat : Utamanya untuk kayu bakar. Cina.) Druce RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus-berus. Umumnya tanpa akar nafas. Indo Cina. Kalimantan Barat dan Utara. Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil. Tumbuh secara sporadis pada pematang sungai pasang surut. Buah : Ekologi : Penyebaran : Timur Laut Sumatera. pisang-pisang Laut. Jepang Selatan dan Malaysia. Berwarna hijau berbentuk oval.5 cm. Daun : Bunga : Tepi daun mengkerut kedalam. Ujung: membundar hingga sedikit runcing. panjangnya 1.5-2. Benang sari: banyak dan berbentuk filamen.Kandelia candel (L. 4106 . Kelimpahan : Sangat terbatas dan jarang. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. memiliki 4 dan kadang-kadang 9 bunga berwarna putih. Tandan bunga bercabang dua. Menempati relung yang sempit. Daun mahkota: panjangnya 14 mm. beus. pulut-pulut. Kulit kayu berwarna keabu-abuan hingga coklat-kemerahan. Kelopak bunga: tabung daun kelopak bunga melebihi bakal buah dan memiliki cuping sejajar yang melengkung ketika bunga mekar penuh. Hipokotil silindris panjangnya 15-40 cm. India. permukaan halus dan memiliki lentisel. tinggi hingga 7 meter dengan pangkal batang lebih tebal. panjang 1.

b.Kandelia candel daun & bunga buah/hipokotil a c b a. bunga. c. buah/hipokotil. daun 1073 .

Manfaat : Kayunya kuat dan sangat tahan terhadap air. Bunga biseksual. Daun mahkota: 5. maka kayunya sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan lemari dan furnitur lainnya. Kelimpahan : Melimpah setempat dan kadang-kadang tumbuh dalam bentuk kelompok. Kelopak bunga: 5. warna bunga serta morfologi dan lokasinya menunjukkan bahwa penyerbukannya dibantu oleh burung. Benang sari: <10. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau dan tumbuh tersebar.Lumnitzera littorea (Jack) Voigt COMBRETACEAE Nama setempat : Teruntum (merah). duduk agung. atau kalaupun ada. Unit & Letak: sederhana. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. welompelong. Menyukai substrat halus dan berlumpur pada bagian pinggir daratan di daerah mangrove. Sayangnya. merah. Mereka juga terdapat pada jalur air yang memiliki pasokan air tawar yang kuat dan tetap. geriting. bersilangan. dan dipenuhi oleh nektar.5 cm. randai. kayu berukuran besar sangat jarang ditemukan. Buah berbentuk seperti pot/jambangan tempat bunga/elips. Tidak terdapat. Produksi nektar. meskipun pada umumnya lebih rendah. Diameter 4-5 mm. Daun : Daun agak tebal berdaging. L. Ukuran: 2-8 x 1-2. sangat jarang dijumpai di pantai-pantai di Jawa. kedukduk. berwarna coklat tua dan kulit kayu memiliki celah/retakan membujur (longitudinal). dan berumpun pada ujung dahan. duduk gedeh. 4-6 x 1. Panjang tangkai bunga mencapai 3 mm. dimana penggenangan jarang terjadi. Australia Utara dan Polinesia. Ujung: membundar. Dengan penampilannya yang menarik dan memiliki wangi seperti mawar. taruntung. ketinggian pohon dapat mencapai 25 m. Panjang tangkai daun mencapai 5 mm. tandan 2-3 cm. sesak. Catatan : 4108 . agak keras dan bertulang. Letak: di ujung. Memiliki dua buah pinak daun berbentuk bulat telur dan berukuran 1 mm pada bagian pangkalnya. ma gorago. Buah yang ringan dan dapat mengapung sangat menunjang penyebaran mereka melalui air. sesop. Indonesia. littorea dan L. hijau 1 x-12 mm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Daerah tropis Asia. Akar nafas berbentuk lutut. Bentuk: bulat telur terbalik.5-2 mm. harum. posi-posi. berwarna merah cerah. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. keras/kaku. Panjang benang sari dua kali ukuran daun mahkota. Formasi: bulir. api-api uding. berwarna hijau keunguan. riang laut. Ukuran: panjang 9-20mm. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.

pohon 1093 .Lumnitzera littorea daun bunga buah c a b a b d a. c. daun. b. buah. d. bunga.

furnitur dan sebagainya. 2-4 x 7-8 mm. Menyukai substrat berlumpur padat. agak harum dan kaya akan nektar. Bentuk: bulat telur menyempit. Panjang tangkai daun mencapai 10 mm. Panjang benang sari sama atau sedikit lebih panjang dari daun mahkota. saman-sigi. Kelopak bunga: 5. tanpa gagang. aduadu. Kulit kayu kadang-kadang digunakan sebagai bahan pelapis. lasi. memiliki celah/retakan longitudinal (khususnya pada batang yang sudah tua). teruntum. dan berumpun pada ujung dahan. cocok untuk berbagai keperluan bahan bangunan. Mereka juga terdapat di sepanjang jalur air yang dipengaruhi oleh air tawar. truntun. littorea. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. panjangnya 1. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari bagian timur Afrika tropis dan Madagaskar sampai Malaysia. Deskripsi umum : Belukar atau pohon kecil. Ukurannya lebih kecil dari L. Memiliki dua pinak daun berbentuk bulat telur. racemosa COMBRETACEAE Nama setempat : Api-api balah. Formasi: bulir. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. Ukuran: 2-10 x 1-2. Bahan bakar yang baik.5 mm pada bagian pangkalnya. sehingga sangat jarang ditemukan kayu yang berukuran besar. Manfaat : Kayunya keras dan tahan lama. Buah berbentuk kembung/elips. berkayu dan padat. duduk laki-laki. seperti jembatan. Diameter 3-5 mm. api-api jambu. var. susup. putih. PNG dan Filipina. Kelimpahan : Agak umum. selalu hijau dengan ketinggian mencapai 8 m. keras/kaku. berwarna putih cerah. Kulit kayu berwarna coklat-kemerahan. Ukuran: panjang 7-12 mm. L. diserbuki oleh serangga. bersilangan. duduk. Bunga biseksual. berserat. berwarna hijau kekuningan. knias. PNG. hijau (6-8 mm). dipenuhi oleh nektar. kedukduk. littorea dan L. Unit & Letak: sederhana. kapal. Bunga putih. Panjang tandan 1-2 cm. Letak: di ujung atau di ketiak. di seluruh Indonesia.5 cm. Benang sari: <10. Australia utara dan Polinesia. Catatan : 4110 .Lumnitzera racemosa Willd. Daun mahkota: 5. Tumbuh di sepanjang tepi vegetasi mangrove. Buah berserat teradaptasi untuk penyebaran melalui air. dan tidak memiliki akar nafas. Cuping daun kelopak bunga dengan ujung berkelenjar ditemukan di Irian Jaya. Daun : Daun agak tebal berdaging. Ujung: membundar. Hampir tidak ditemukan di sepanjang pantai yang menghadap Samudera India.

pohon 1113 . buah. b. c. daun. bunga.Lumnitzera racemosa daun bunga buah a d c b a. d.

seluruh Indonesia. pada bagian tepi atas dari jalan air. terletak di bawah kepala bunganya. sangat umum setempat. tikar. Ujung: meruncing.Nypa fruticans Wurmb. Terdapat 100 . Memerlukan masukan air tawar tahunan yang tinggi. Bunga betina membentuk kepala melingkar berdiameter 25-30 cm. Pada setiap buah terdapat satu biji berbentuk telur. Bentuk: lanset. Filipina. Jika dikelola dengan baik. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. ARECACEAE Nama setempat : Nipah. Buah berbentuk bulat. Tumbuh pada substrat yang halus. Jarang terdapat di luar zona pantai. produksi gula yang dihasilkan lebih baik dibandingkan dengan gula tebu. tangkal daon. Diameter biji: 4-5 cm. Memiliki sistem perakaran yang rapat dan kuat yang tersesuaikan lebih baik terhadap perubahan masukan air. keranjang dan kertas rokok. lipa. Biji dapat dimakan. Asia Tenggara. Kadang-kadang bersifat vivipar. 65-70 juta tahun yang lalu. Tinggi dapat mencapai 4-9 m. Manfaat : Sirup manis dalam jumlah yang cukup banyak dapat dibuat dari batangnya. Australia dan Pasifik Barat. berwarna hijau mengkilat di permukaan atas dan berserbuk di bagian bawah. Malaysia. kuat dan menggarpu. Daun : Seperti susunan daun kelapa. warna coklat. Buah yang berserat serta adanya rongga udara pada biji membantu penyebaran mereka melalui air. Papua New Guinea. Tandan bunga biseksual tumbuh dari dekat puncak batang pada gagang sepanjang 1-2 m. Digunakan untuk memproduksi alkohol dan gula. serta memiliki kandungan sukrosa yang lebih tinggi. Ukuran: 60-130 x 5-8 cm. Daun digunakan untuk bahan pembuatan payung. serat gagang daun juga dapat dibuat tali dan bulu sikat. jika bunga diambil pada saat yang tepat. topi. Setelah diolah. Nypa telah dikenal di Australia sejak awal jaman Tertiary. Ukuran: diameter kepala buah: sampai 45 cm. Batang terdapat di bawah tanah. Biasanya tumbuh pada tegakan yang berkelompok. buyuk. Deskripsi umum : Palma tanpa batang di permukaan. Serbuk sari lengket dan penyerbukan nampaknya dibantu oleh lalat Drosophila. Catatan : 4112 . membentuk rumpun. Panjang tandan/gagang daun 4 .9 m. Bunga jantan kuning cerah. dibandingkan dengan sebagian besar jenis tumbuhan mangrove lainnya. kaku dan berserat. Serbuk sari dari jenis ini telah ditemukan sejak jaman Cretaceous atas.120 pinak daun pada setiap tandan daun.

Nypa fruticans buah bunga pohon 1133 .

Australia Tropis. Biji berjumlah 1-2. Daun mahkota: Tidak ada. Formasi: kelompok. Ukuran: 2. batuan. dan dapat ditemukan pada lumpur halus. MYRTACEAE Nama setempat : Baru-baru. Pinak daun tersebut kemudian rontok.M. Unit & Letak: sederhana. Jawa Timur. Filipina. Deskripsi umum : Berupa pohon atau belukar dengan ketinggian dapat mencapai 7 meter. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia (Irian Jaya. bunga tidak bertangkai tapi langsung menempel pada tandan. Ujung: membundar. selalu hijau. Letak: di ketiak daun. Dalam satu tandan terdapat 1-3 bunga yang bergerombol. Meskipun demikian. Manfaat : Para nelayan menggunakan daunnya untuk mengusir serangga. Kulit kayu berwarna coklat atau abu-abu. Kalimantan Utara. terletak pada pangkal gagang bunga. Kadang-kadang memiliki akar nafas. ukurannya lebih panjang dibanding cuping kelopak bunga. 4114 . berserat dan berserabut. Kelopak bunga: 8. Kelimpahan : Tidak tahu. Sulawesi. tangkai/dahannya tunggal atau berjumlah banyak. hijau (3-6 mm). Kulit kayu kadangkadang digunakan untuk menambal perahu dan kayunya tahan lama. Daun : Berkulit tipis. menimbulkan aroma pada saat disentuh. Papua New Guinea. Buah ditutupi oleh cuping kelopak bunga dan kelopak tidak membuka pada saat telah matang. Terdapat 2 pinak daun berbentuk elips. panjang 6 mm. Kepulauan Sunda Kecil). berbentuk datar dan bulat telur terbalik. Di Australia jenis ini ditemukan berbunga dari bulan Juni sampai Desember dengan puncaknya pada bulan November dan berbuah pada bulan Februari. jenis tumbuhan ini tidak ditemukan tumbuh pada daerah yang kerap tergenang oleh air tawar. Benang sari: berwarna putih hingga kuning. Biseksual. Buah disebarkan lewat air dan terapung di air karena adanya rambutrambut yang dapat memerangkap udara. bersilangan.Osbornia octodonta F. Tumbuh di tempat yang lebih terbuka pada tepi daratan di daerah mangrove atau pada pinggiran alur air yang dipengaruhi oleh pasang surut. jumlahnya sampai 48 helai. ada kelenjar minyak yang tembus cahaya dan berukuran kecil serta ada pembengkakan pada gagang daun sepanjang 2 mm yang berwarna merah.v. Tidak memiliki ketergantungan khusus terhadap substrat tumbuh. diameter 5 mm. Bentuk: bulat telur terbalik.5-5 x 1-3 cm. Ukuran: panjang 5-10 mm. Ranting halus berwarna abu-abu pucat dan berbentuk segi empat pada saat muda. dan pasir. Bunga diserbuki oleh serangga. Individu yang lebih besar memiliki batang yang berlubang di tengahnya.

d. buah. bunga. b. c. pohon 1153 .Osbornia octodonta bunga buah a d c b b a. daun.

Ujung: membundar hingga menajam tumpul. Bentuk: elip hingga bulat telur terbalik. permukaannya berambut. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Kelimpahan : Tidak diketahui. centigi. Kulit kayu berwarna abu-abu hingga coklat. Formasi: berkelompok (ada 1 hingga beberapa bunga per kelompok). kaku. Letak: di ketiak daun. dengan ketinggian hingga 3 m. Berbentuk lonceng. Daun : Tebal (hingga 3 mm) berdaging. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. panjang 10 mm. warna coklat. 4116 . Sering dijumpai tumbuh pada pantai berpasir. Ukuran: panjang 1-3 cm.18. Ukuran: diameter buah 3-5 mm. berkulit dan agak melengkung/tertekuk ke dalam. di dalamnya terdapat 20-30 biji yang sangat kecil. Deskripsi umum : Pohon/belukar. Benang sari: jumlahnya 12 . bagian tengahnya agak keunguan-kekuningan. menyebar rimbun/melebar di permukaan tanah. cantinggi.Phemphis acidula LYTHRACEAE Nama setempat : Sentigi. Setidaknya tercatat di Bali dan Lombok. Kelopak bunga: 12. berwarna hijau. Berbentuk seperti mangkuk es krim. Daun mahkota: 6. putih bersih. Akar nafas tidak terlalu berkembang. Manfaat : Tidak diketahui. pada tepi/lereng pematang tambak atau tepi saluran air yang masih terkena jangkauan pasang surut. mentigi.

buah. bunga. buah & bunga pohon c b a d a. d. daun. c. b. pohon 1173 .Phemphis acidula daun.

bakau puteh. tak bertangkai. panjang 2-3. bakau leutik. Daun mahkota: 4. bangka minyak. berbintil. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah. Kelopak bunga: 4. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. halus. Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering). Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan. Ukuran: 7-19 x 3. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. dalam dan tergenang pada saat pasang normal. Biseksual. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan. panjangnya 9-11 mm. tersebar jarang di Australia. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. wako. bakau akik.5-8 cm. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). Daun : Berkulit. Tumbuh pada tanah berlumpur. slengkreng. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. Ukuran: Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. bakau kacang. melengkung. jankar. kayu bakar dan arang. Benang sari: 11-12. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau minyak. Letak: Di ketiak daun.Rhizophora apiculata Bl. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. 4118 . Bentuk: elips menyempit. Tumbuh lambat. Ujung: meruncing. donggo akit. warna coklat. akik. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. tidak ada rambut. bakau tandok. parai. berisi satu biji fertil. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka. mangi-mangi. Hipokotil silindris. Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. kuning kecoklatan. tinjang. warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter.5 cm. kuning-putih. abat. berwarna hijau jingga.

buah. pohon 1193 .Rhizophora apiculata daun bunga buah & hipokotil a c b d a. c. daun. bunga. b. d.

Leher kotilodon kuning ketika matang. tak bertangkai. Buah lonjong/panjang hingga berbentuk telur berukuran 5-7 cm. Bentuk: elips melebar hingga bulat memanjang. Pada umumnya tumbuh dalam kelompok. Letak: di ketiak daun. Manfaat : Kayu digunakan sebagai bahan bakar dan arang. Kadang-kadang ditanam di sepanjang tambak untuk melindungi pematang. Gagang kepala bunga seperti cagak. jankar. sehingga menghambat pertumbuhan mereka. Anakan seringkali dimakan oleh kepiting.5 cm. serta pada tanah yang kaya akan humus. Madagaskar.Rhizophora mucronata Lmk. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 27 m. Asia tenggara.5-8.5-5. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Afrika Timur. lenggayong. kuning pucat. seringkali kasar di bagian pangkal. Merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang paling penting dan paling tersebar luas. belukap. jarang sekali tumbuh pada daerah yang jauh dari air pasang surut. Formasi: Kelompok (4-8 bunga per kelompok). Pertumbuhan optimal terjadi pada areal yang tergenang dalam.5 cm. Ukuran: Hipokotil: panjang 36-70 cm dan diameter 2-3 cm. seluruh Malaysia dan Indonesia. bakau korap. Melanesia dan Mikronesia. Ujung: meruncing. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. 9 mm. Anakan yang telah dikeringkan dibawah naungan untuk beberapa hari akan lebih tahan terhadap gangguan kepiting. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Hipokotil silindris. dekat atau pada pematang sungai pasang surut dan di muara sungai. 4120 .5-5 cm. Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh dari percabangan bagian bawah.putih. panjangnya 13-19 mm. bersifat biseksual. jarang melebihi 30 m. Batang memiliki diameter hingga 70 cm dengan kulit kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah horizontal. Daun mahkota: 4. Benang sari: 8. Daun : Daun berkulit. Kelopak bunga: 4. dan kadang-kadang digunakan sebagai obat dalam kasus hematuria (perdarahan pada air seni). dongoh korap.apiculata tetapi lebih toleran terhadap substrat yang lebih keras dan pasir. Di areal yang sama dengan R. panjang 2. Pinak daun terletak pada pangkal gagang daun berukuran 5. lolaro. kasar dan berbintil. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bangka itam. Tanin dari kulit kayu digunakan untuk pewarnaan. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. berbiji tunggal. Hal tersebut mungkin dikarenakan adanya akumulasi tanin dalam jaringan yang kemudian melindungi mereka. bakau merah. Gagang daun berwarna hijau. bakau hitam. berwarna hijaukecoklatan. Dibawa dan ditanam di Hawaii. ada rambut. Mauritania. Ukuran: 11-23 x 5-13 cm.

b.Rhizophora mucronata daun bunga c buah & hipokotil a b d a. c. pohon 1213 . daun. buah. d. bunga.

Kelimpahan : Umum. Sumatera. pasir dan batu.5 cm. Letak: di ketiak daun. Papua New Guinea dan Australia Tropis. berbentuk buah pir. Daun mahkota: 4. mucronata. panjang gagang 1-3. Sulawesi. Menyukai pematang sungai pasang surut. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau. Malaysia. stylosa lebih banyak daripada R. Kulit kayu halus.5-4 cm. tinggi hingga 10 m. Satu jenis relung khas yang bisa ditempatinya adalah tepian mangrove pada pulau/substrat karang. berbintik teratur di lapisan bawah. bako-kurap. Lombok.5-2. kuning hijau. Kelopak bunga: 4. Formasi: kelompok (8-16 bunga per kelompok). Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Taiwan. Deskripsi umum : Pohon dengan satu atau banyak batang. berisi 1 biji fertil. berwarna abu-abu hingga hitam. Ukuran: Hipokotil: panjang 20-35 cm (kadang sampai 50 cm) dan diameter 1. Daun : Daun berkulit. putih. Benang sari: 8. Menghasilkan bunga dan buah sepanjang tahun. tongke besar. Panjangnya 2. Bentuk: elips melebar. panjang 4-6 mm. Anggur ringan serta minuman untuk mengobati hematuria (pendarahan pada air seni) dapat dibuat dari buahnya. kayu bakar. Catatan : 4122 . Tercatat dari Jawa. Bali. Gagang daun berwarna hijau. Hipokotil silindris. Manfaat : Sebagai bahan bangunan. wako. berbintil agak halus. biseksual. ada rambut. dengan pinak daun panjang 4-6 cm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. dan sebuah tangkai putik.0 cm.5-5 cm. berwarna coklat. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. Ujung: meruncing. Filipina. dan arang. bercelah. Ukuran: meruncing.Rhizophora stylosa Griff. dan akar udara yang tumbuh dari cabang bawah. Maluku dan Irian Jaya. Tumbuh pada habitat yang beragam di daerah pasang surut: lumpur. slindur. 8 mm. Jumlah bunga per kelompok dari jenis R. Leher kotilodon kuning kehijauan ketika matang. Sumba. Masyarakat Aborigin di Australia menggunakan kayu jenis ini untuk pembuatan bumerang. Kemungkinan diserbuki oleh angin. bangko. tombak serta berbagai obyek upacara. sepanjang Indonesia. Gagang kepala bunga seperti cagak. Sumbawa. tetapi juga sebagai jenis pionir di lingkungan pesisir atau pada bagian daratan dari mangrove. panjangnya 13-19 mm. Memiliki akar tunjang dengan panjang hingga 3 m.

buah. d. pohon 1233 . b. c.Rhizophora stylosa daun & bunga buah c b a d a. daun. bunga.

Daun : Permukaan atas daun ditutupi oleh rambut. Buah memiliki gagang yang tebal. Daun agak tebal. Berwarna coklat. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Tidak tahu. Bagian dalam bunga ditutupi rambut-rambut pendek. Berwarna kuning dengan garis-garis memanjang berwarna jingga. Ukuran: buah: 8-9 x 7-8 cm. ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Tidak tahu. sebagian besar soliter.5 cm.5 mm. panjang gagang bunga 0. dikelilingi oleh tepian yang menyerupai sayap. Daun mahkota: 5. permukaannya rata dan bentuknya bulat telur terbalik. biji: 20-25 x 16-18 mm. Biji berjumlah banyak. Ujung: meruncing. panjang gagang 2-30 mm. Bentuk: bulat memanjang. berukuran 13-15 x 8-9 mm. elips melebar dengan pangkal yang tidak merata.5-2 cm. Ukuran: 4-9 x 3-5. Tumbuh pada mangrove berlumpur. 4124 . Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok). tetapi kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Letak: di ketiak daun. Kepala sari: Ujungnya tumpul. Apabila sayapnya dicopot. berbintil. Biji yang memiliki tepian seperti sayap dapat terapung di permukaan air. Deskripsi umum : Semak pemanjat dengan ketinggian hingga 4 m. kaya akan cairan yang menyerupai susu. Manfaat : Tidak tahu. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bunga terdapat pada tandan yang padat. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. terletak diatas tabung yang panjangnya 2. berwarna coklat. dan memiliki batang yang halus. Tercatat di Jawa. & S.Sarcolobus globosa R. maka biji tersebut akan tenggelam. Kelopak bunga: 5 terdapat kelenjar di dalamnya. khususnya di bagian urat daun. diameter 12-14 mm.

bunga. daun 1253 . b.Sarcolobus globosa a b c a. c. buah.

Scyphiphora hydrophyllacea

Gaertn.

RUBIACEAE

Nama setempat : Perepat lanang, cingam, duduk perempuan, duduk rayap, duduk rambat, dandulit. Deskripsi umum : Semak tegak, selalu hijau, seringkali memiliki banyak cabang, ketinggian mencapai 3 m. Kulit kayu kasar berwarna coklat, cabang muda memiliki resin, kadang-kadang terdapat akar tunjang pada individu yang besar. Daun : Daun berkulit dan mengkilap. Pinak daun berkelenjar, terletak pada pangkal gagang daun membentuk tutup berambut. Gagang daun lurus panjangnya hingga 13 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 4-9 x 2-5 cm. Warna putih, hampir tak bertangkai, biseksual, terdapat pada tandan yang panjangnya hingga 15 mm. Letak: di ketiak daun. Formasi: kelompok (3-7 bunga per kelompok). Daun mahkota: 4-5; putih-agak merah, elips, 2-4 x 22,5 mm, mulut berambut kasar. Kelopak bunga: 4-5; berbentuk mangkok, bawahnya seperti tabung (panjang 5mm). Benang sari: 4-5. Silindris, berwarna hijau hingga coklat, berurat memanjang dan memiliki sisa daun kelopak bunga. Tidak membuka ketika matang. Terdapat 4 biji silindris. Ukuran: buah: panjang 8 mm, biji: 1 x 2 mm. Tumbuh pada substrat lumpur, pasir dan karang pada tepi daratan mangrove atau pada pematang dan dekat jalur air. Nampaknya tidak toleran terhadap penggenangan air tawar dalam waktu yang lama dan biasanya menempati lokasi yang kerap tergenang oleh pasang surut. Dilaporkan tumbuh pada lokasi yang tidak cocok untuk dikolonisasi oleh jenis tumbuhan mangrove lainnya. Perbungaan terdapat sepanjang tahun, kemungkinan diserbuki sendiri atau oleh serangga. Nektar diproduksi oleh cakram kelenjar pada pangkal mahkota bunga. Banyak buah yang dihasilkan, akan tetapi pembiakan biji relatif rendah. Buah teradaptasi dengan baik untuk penyebaran oleh air karena kulit buahnya yang ringan dan mengapung.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : India, Sri Lanka, Malaysia, seluruh Indonesia, Papua New Guinea, Filipina, Kepulauan Solomon dan Australia Tropis. Kelimpahan : Tersebar, dan secara keseluruhan relatif jarang. Manfaat : Catatan : Kayu kemungkinan dapat digunakan untuk peralatan makan, seperti sendok. Daun dapat digunakan untuk mengatasi sakit perut. Sangat menyerupai Lumnitzera, tetapi daun Lumnitzera letaknya bersilangan.

4126

Scyphiphora hydrophyllaceae

daun

bunga

buah

b a

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1273

Sonneratia alba

J.E. Smith

SONNERATIACEAE

Nama setempat : Pedada, perepat, pidada, bogem, bidada, posi-posi, wahat, putih, beropak, bangka, susup, kedada, muntu, sopo, barapak, pupat, mange-mange. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau, tumbuh tersebar, ketinggian kadang-kadang hingga 15 m. Kulit kayu berwarna putih tua hingga coklat, dengan celah longitudinal yang halus. Akar berbentuk kabel di bawah tanah dan muncul kepermukaan sebagai akar nafas yang berbentuk kerucut tumpul dan tingginya mencapai 25 cm. Daun : Daun berkulit, memiliki kelenjar yang tidak berkembang pada bagian pangkal gagang daun. Gagang daun panjangnya 6-15 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 5-12,5 x 3-9 cm. Biseksual; gagang bunga tumpul panjangnya 1 cm. Letak: di ujung atau pada cabang kecil. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). Daun mahkota: putih, mudah rontok. Kelopak bunga: 6-8; berkulit, bagian luar hijau, di dalam kemerahan. Seperti lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. Benang sari: banyak, ujungnya putih dan pangkalnya kuning, mudah rontok. Seperti bola, ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Buah mengandung banyak biji (150-200 biji) dan tidak akan membuka pada saat telah matang. Ukuran: buah: diameter 3,5-4,5 cm. Jenis pionir, tidak toleran terhadap air tawar dalam periode yang lama. Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan karang. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai. Di lokasi dimana jenis tumbuhan lain telah ditebang, maka jenis ini dapat membentuk tegakan yang padat. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga hidup tidak terlalu lama dan mengembang penuh di malam hari, mungkin diserbuki oleh ngengat, burung dan kelelawar pemakan buah. Di jalur pesisir yang berkarang mereka tersebar secara vegetatif. Kunang-kunang sering menempel pada pohon ini dikala malam. Buah mengapung karena adanya jaringan yang mengandung air pada bijinya. Akar nafas tidak terdapat pada pohon yang tumbuh pada substrat yang keras.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : Dari Afrika Utara dan Madagaskar hingga Asia Tenggara, seluruh Indonesia, Malaysia, Filipina, Australia Tropis, Kepulauan Pasifik barat dan Oceania Barat Daya. Kelimpahan : Umum. Melimpah setempat. Manfaat : Buahnya asam dapat dimakan. Di Sulawesi, kayu dibuat untuk perahu dan bahan bangunan, atau sebagai bahan bakar ketika tidak ada bahan bakar lain. Akar nafas digunakan oleh orang Irian untuk gabus dan pelampung.

4128

Sonneratia alba

daun

bunga

buah

b

c

b

a

d

a. bunga; b. buah; c. daun; d. pohon

1293

alba. seringkali sepanjang sungai kecil dengan air yang mengalir pelan dan terpengaruh oleh pasang surut. lebar dan sangat pendek. hingga Australia tropis. jarang mencapai 20 m. 4130 . Manfaat : Buah asam dapat dimakan (dirujak). Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). bijinya lebih banyak (800-1200). Benang sari: banyak. posi-posi merah. biasanya tanpa urat. perepat. Ujung: membundar. ujungnya putih dan pangkalnya merah. pada tanah lumpur yang dalam. serta di areal yang masih didominasi oleh air tawar. dan melimpah setempat. Juga tumbuh di sepanjang sungai. Kelimpahan : Umum. Daun : Gagang/tangkai daun kemerahan. rambai. bogem. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. bidada. Ukuran: buah: diameter 6-8 cm. SONNERATIACEAE Nama setempat : Pedada. akar nafas dapat digunakan untuk mengganti gabus. ukuran 17-35 x 1.) Engl. Kelopak bunga: 6-8. Tidak toleran terhadap naungan. seluruh Asia Tenggara. wahat merah. Daun mahkota: merah. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Sri Lanka. mulai dari bagian hulu dimana pengaruh pasang surut masih terasa. bagian luar hijau. Biji mengapung.5-3. Malaysia. dan Kepulauan Solomon. termasuk Indonesia. Pucuk bunga bulat telur. Letak: di ujung. bunga berisi banyak nektar. Ketika mekar penuh. Ujung cabang/ranting terkulai. pidada. Bentuk: bulat memanjang. 5-13 x 2-5 cm. di dalam putih kekuningan hingga kehijauan. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Setelah direndam dalam air mendidih. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. berkulit. Tidak pernah tumbuh pada pematang/ daerah berkarang. ketinggian mencapai 15 m. Ketika bunga berkembang penuh (setelah jam 20.00 malam).Sonneratia caseolaris (L. Memiliki akar nafas vertikal seperti kerucut (tinggi hingga 1 m) yang banyak dan sangat kuat. dan berbentuk segi empat pada saat muda. tabung kelopak bunga berbentuk mangkok. Tumbuh di bagian yang kurang asin di hutan mangrove. kecenderungan pertumbuhan daun akan berubah dari horizontal menjadi vertikal. Selama hujan lebat.5 mm. mudah rontok. Seperti bola. Kayu dapat digunakan sebagai kayu bakar jika kayu bakar yang lebih baik tidak diperoleh. Deskripsi umum : Pohon. mudah rontok. Filipina. Ukuran: bervariasi. Ukuran lebih besar dari S.

daun. buah. d. c. bunga. b.Sonneratia caseolaris bunga kuncup daun buah bunga mekar a c b d a. pohon 1313 .

Sonneratia ovata Back. tanah berlumpur dan di sepanjang sungai kecil yang terkena pasang surut. Seperti bola. Sulawesi. Gagang/tangkai bunga lurus. Kepulauan Riau. Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Thailand.5 4. atau kadang-kadang tidak ada. Ukuran hampir sama dengan S. kadang-kadang mencapai 20 m. Tidak pernah tumbuh pada substrat karang. Daun mahkota: tidak ada. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove yang airnya kurang asin. dan Papua New Guinea. Maluku. Daun : Bunga : Gagang/tangkai daun panjangnya 2-15 mm. Kelopak bunga: bagian dalam merah. Buah muda dapat dimakan sebagai rujakan. Jawa.5 cm. Sungai Sebangau/Kalimantan Tengah. SONNERATIACEAE Nama setempat : Bogem. Formasi: soliter-kelompok (ada 1-3 bunga per kelompok). kedabu. muncul dari gagang yang pendek. Malaysia.alba. Ukuran: buah: diameter 3-5 cm. Tabung seperti mangkok. Manfaat : Kayu bakar. Ujung: membundar. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil atau sedang. panjang 1-2 cm. warnanya putih dan mudah rontok. Letak: di ujung. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Benang sari: banyak. tetapi secara keseluruhan agak jarang. dengan cabang muda berbentuk segi empat serta akar nafas vertikal. Ukuran: 4-10 x 3-9 cm. Pucuk bunga berbentuk bulat telur lebar dan ditutupi oleh tonjolan kecil. Kelimpahan : Umum setempat. 4132 . Sumatra. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Bentuk: bulat telur. biasanya hingga 5 m. Panjangnya 2.

buah. c. d. bunga. daun. pohon 1333 . b.Sonneratia ovata bunga buah c a b d a.

banang-banang. warna hijau kecoklatan. lonjong. Batang seringkali berlubang. nyuru. Seringkali tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. Memiliki akar papan yang melebar ke samping. kulit kayu berkeriput. niumiri-kara. nyiri hutan. inggili. pohon kira-kira. Irian Jaya. panjang 5-7 mm. mokmof. Kalimantan. Kelimpahan : Melimpah setempat. Daun mahkota: 4. Bali. meliuk-liuk dan membentuk celahan-celahan. buli hitam. Formasi: gerombol acak (8-20 bunga per gerombol). Ukuran: 4. Sulawesi. Maluku dan Sumba. bulu putih. kadang-kadang digunakan sebagai bahan pembuatan perahu. khususnya pada area bekas tebangan hutan dan gangguan lainnya. Kulit kayu dikumpulkan karena kandungan taninnya yang tinggi (>24% berat kering). Unit & Letak: majemuk & berlawanan. nilih. berat bisa 1-2 kg. nyireh bunga. berkulit. Ujung: membundar. nyireh. siri. Buahnya bergelantungan pada dahan yang dekat permukaan tanah dan agak tersembunyi. nipa. Benang sari: berwarna putih krem dan menyatu di dalam tabung. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian 10-20 m. Tumbuh di sepanjang pinggiran sungai pasang surut. putih kehijauan. Seperti bola (kelapa). panjang 3 mm. Kelopak bunga: 4 cuping.5 .9 cm. nyiri. Bentuk: elips bulat telur terbalik. pinggir daratan dari mangrove. Di dalam buah terdapat 6-16 biji besar-besar. Tandan bunga (panjang 2-7 cm) muncul dari dasar (ketiak) tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 4-8 mm. kabau. jombok gading. susunan daun berpasangan (umumnya 2 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. Bunga terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. jomba. tepinya bundar. Daun : Agak tebal.Xylocarpus granatum Koen MELIACEAE Nama setempat : Niri. Manfaat : Kayunya hanya tersedia dalam ukuran kecil. Kulit kayu berwarna coklat muda-kekuningan. sementara pada cabang yang muda. buli. Letak: di ketiak. Ukuran: buah: diameter 10-20 cm. tipis dan mengelupas.5 . 4134 . Buah akan pecah pada saat kering. nyiri udang. dan lingkungan payau lainnya yang tidak terlalu asin. Madura. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia tumbuh di Jawa.17 cm x 2. berkayu dan berbentuk tetrahedral. Kepulauan Karimun Jawa. kuning muda. Susunan biji di dalam buah membingungkan seperti teka-teki (dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘puzzle fruit’). khususnya pada pohon yang lebih tua. Individu yang telah tua seringkali ditumbuhi oleh epifit. Sumatera.

c. bunga. kulit kayu 1353 . d. daun.Xylocarpus granatum bunga buah a c d b a. b. buah.

Xylocarpus mekongensis Pierre MELIACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Substrat tumbuhnya terdiri dari pasir dan lumpur. Jamu dari pohon ini digunakan untuk mengobati kolera. Tandan bunga (panjang 4-6.bulat telur terbalik. biji: diameter 6. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di PNG. Kelopak bunga: berwarna hijau. dan memiliki garis-garis sempit.5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 6-10 mm. Ujung: membundar. Australia Barat. Seperti bola dan terbagi atas beberapa bagian kepingan. Benang sari: tabung benang sari berbentuk seperti kendi. Kepala sari panjangnya 1 mm. minyak untuk penerangan dan minyak rambut serta untuk pewarnaan (di PNG). Formasi: gerombol acak (9-35 bunga per gerombol).5 cm. Letak: di ketiak. Ukuran: buah: diameter 5-10 cm. Bentuk: elips . Asia Tenggara. Afrika Timur. dengan ujung tajam atau tumpul dengan panjang 2-4 mm. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. berwarna putihkekuningan dan panjang 5 x 2 mm. 4136 .5 cm. panjang 2 mm. Deskripsi umum : Pohon yang kuat. Manfaat : Bahan bangunan. mengelupas secara longitudinal. panjang 5 mm. Daun mahkota: berbentuk lonjong lebar. berbentuk tiang dengan mahkota berbentuk kerucut. dengan ukuran 4. Pohon jenis ini ditemukan di tepi hutan yang berbatasan dengan perairan pasang surut dan pada bagian tepi daratan di daerah mangrove. Kulit kayu berwarna coklat muda.5-12 x 2-7. kayu bakar. dan mungkin saja tumbuh di Irian Jaya Kelimpahan : Ditemukan secara berkala tetapi tidak pernah dalam kelimpahan yang tinggi. ketinggian sampai 15 m. Ukuran: panjang bisa mencapai 20 cm. Daun : Pinak daun berbentuk lonjong. Mereka menyukai daerah yang memperoleh masukan air tawar selama beberapa kali dalam setahun.

b. e. c. daun. buah. kulit kayu.Xylocarpus mekongensis a b c d e a. akar 1373 . d. bunga.

pematang sungai pasang surut. NTT. Maluku. menyatu. susunan daun berpasangan (umumnya 2-3 ps pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. Sulawesi. permukaan berkulit dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral. Benang sari: 8. perahu dan kadang-kadang untuk gagang keris. lonjong. Daun mahkota: 4.Xylocarpus moluccensis (Lamk) Roem. Tandan bunga (panjang 6-18.granatum. MELIACEAE Nama setempat : Niri/nyirih batu. Formasi: gerombol acak (10-35 bunga per gerombol). Ukuran: buah: diameter 8-15 cm. nyirih. sementara pada batang utama memiliki guratan-guratan permukaan yang tergores dalam. tepinya bundar. Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa. Kelimpahan : Umum setempat. miumeri-mee.5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 2-10 mm. mojong tihulu.5cm. Bentuk: elips . 4138 .bulat telur terbalik. Irian Jaya. Ukuran: 4-12 cm x 2-6. Ujung: meruncing. Kulit kayu halus. loleso. Bali. Warna hijau. Biji digunakan sebagai obat sakit perut. parasar. Kalimantan. jombok. nyuru. pamuli. panjang nya 6-7 mm. Unit & letak: majemuk & berlawanan. Memiliki akar nafas mengerucut berbentuk cawan. raru. Jamu yang berasal dari buah dipakai untuk obat habis bersalin dan meningkatkan nafsu makan. membuat rumah. hijau kekuningan. banang-banang. Jenis mangrove sejati di hutan pasang surut. panjang sekitar 1. Letak: di ketiak. Tanin kulit kayu digunakan untuk membuat jala serta sebagai obat pencernaan. Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. siri. bulat seperti jambu bangkok. serta tampak sepanjang pantai. Deskripsi umum : Pohon tingginya antara 5-20 m. Kelopak bunga: 4 cuping. Daun : Lebih tipis dari X. putih kekuningan. kabau. putih krem dan tingginya sekitar 2 mm.5 mm. nyiri gundik.

b. kulit kayu. d. bunga. daun.Xylocarpus moluccensis buah bunga c a b d a. akar 1393 . c.

di belakang atau sedikit di atas garis pasang tinggi. niri. Jenis mangrove sejati. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa dan Bali. Daun mahkota: 4. Kelopak bunga: 4 cuping. MELIACEAE Nama setempat : Nyirih. Ujung: meruncing. Ukuran: buah: diameter 8 cm (lebih kecil dari X. Formasi: Gerombol acak. Deskripsi umum : Pohon tingginya dapat mencapai 6 m. permukaan licin berkilauan dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral. Ukuran: 7 x 12 cm. 4140 . Bentuk: bulat telur-bulat memanjang. Kelimpahan : Tidak diketahui. siri. banang-banang. Warna hijau. putih krem. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. Daun : Susunan daun berpasangan (umumnya 3-4 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. granatum). Benang sari: menyatu membentuk tabung. Letak: di ketiak. Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. Warna hijau tua. Kulit kayu kasar berwarna coklat dan mengelupas seperti guratan-guratan kecil dan sempit. hijau kekuningan. bulat seperti jambu bangkok. Terdapat di pantai berpasir atau berbatu. krem-putih kehijauan.) Mabb. membuat rumah dan perahu. jombok. nyirih batu. Memiliki akar udara tapi tidak jelas.Xylocarpus rumphii (Kostel.

buah.Xylocarpus rumphii daun buah pohon a c b a. c. daun 1413 . bunga. b.

1433 .

catappa. menggantung seperti payung. seperti lintah. cairan yang diperoleh dari bijinya dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan payung . sehingga hanya terbuka satu malam saja. Formasi: bergerombol. berukuran sangat besar. Buah berwarna hijau (kadang tersamar oleh warna daunnya) lalu berubah menjadi cokelat. Menggantung. Berisi satu biji berukuran besar. Kelopak bunga: berwarna putih kehijauan. lebih mengkilat dan ujung yang lebih runcing dibandingkan dengan T. Benangsari: banyak dan panjang. Manfaat : Kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias. putih dan kuning. Pohon dan bijinya mengandung saponin yang dapat digunakan sebagai racun ikan. putat laut. bogem. Tumbuh sama baiknya di daratan. serta untuk membunuh ekto-parasit. Kelimpahan : Umum. hutun. F. Kalimantan. Ujung: agak membundar. kadang-kadang di mangrove. Penyerbukan kemungkinan dilakukan oleh ngengat besar. Kulit kayu abu-abu agak merah muda dan halus. Meskipun demikian. Buah sering terlihat mengapung sepanjang pantai. B. termasuk Sumatera. Catatan : 4144 . talise. Ketika masih muda daun berwarna agak merah muda.Barringtonia asiatica (L.) Kurz LECYTHIDACEAE Nama setempat : Sea putat. Ukuran: diameter buah 1015 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh dari Madagaskar hingga Pasifik Barat. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil hingga sedang dengan ketinggian 7-20 (-30) m dan diameter 25-100 cm. Daun mahkota: 4. butong. diameternya sampai 10 cm dan harum. bitung. Besar.asiatica memiliki daun yang lebih berdaging. pertun. butun. permukaan halus dan berbentuk tetrahedral/piramid seperti buah delima. Sunda Kecil dan Maluku. ketika tua berwarna kuning atau merah muda pucat. pantai dan pantai berkarang. Tercatat di seluruh Indonesia. Sulawesi. Tumbuh di hutan pantai. Jenis ini seringkali dikelirukan dengan Terminalia catappa atau Fagraea crenulata. Biji yang digunakan sebagai racun ikan seringkali dicampur dengan tuba (Derris – rotenon). berkulit dan urat daun nampak jelas. Bentuk: bulat telur terbalik. Mahkota pohon berdaun besar dan rimbun. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Ukuran: 15-45 x 9-20 cm. Di Jawa. Ranting tebal. Daun : Berwarna hijau tua. Mereka mengapung dan dapat tumbuh setelah menempuh perjalanan yang jauh. Minyak yang berwarna kemerahan dapat diperoleh dengan memanaskan dan memeras bijinya. crenulata memiliki daun yang tumbuh berpasangan serta memiliki duri di sepanjang batangnya. tumpul. warnanya merah di bagian ujung dan putih di dekat pangkal. Bali. Bunga terbuka setelah matahari tenggelam dan rontok menjelang pagi. agak tebal. Jawa.

daun 1453 . buah. bunga. c. b.Barringtonia asiatica buah pohon a a c b a.

Jawa. ukuran diameter 2-3 cm. benaga. 4146 . Kadang-kadang tumbuh pada lokasi mangrove. Bentuk: elips hingga bulat memanjang. nyamplung. Perbungaan nampaknya terjadi terus menerus sepanjang tahun. Daun mahkota: 4. agak mirip dengan daun Rhizopora mucronata (jenis bakau). Penyerbukan hampir pasti dilakukan oleh serangga. putih dan kuning. ketinggian 10-30 m. Formasi: bergerombol. biasanya tumbuh agak bengkok. bagian bawahnya hijau agak kekuningan. Biseksual. Berbentuk bulat seperti bola pingpong kecil. Benangsari: banyak. buahnya yang sudah tua dipakai bermain oleh anak-anak sebagai kelereng atau bola pingpong kecil. kayu dan obat-obatan. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. naga. Malaysia dan Indonesia (Bali) sering ditanam sebagai pohon peneduh. Ukuran: diameter buah 2. berdaun rimbun. hingga ketinggian 200 m. GUTTIFERAE Nama setempat : Camplung. Bali. Tercatat di Sumatera di sepanjang Danau Singkarak pada ketinggian 386 m. Manfaat : Buah mudanya digarami untuk makanan. Ukuran: 10-21. dan dimasukan ke Pasifik. Dapat digunakan sebagai bahan pewarna. dengan satu atau lebih saat puncaknya. Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. memiliki tempurung kuat dan di dalamnya terdapat 1 biji. Ujung: membundar. atau oleh kelelawar yang memakan bagian luar buah yang berdaging. Kalimantan dan Irian Jaya. tandan bunga panjangnya hingga 15 cm serta memiliki 5-15 bunga per tandan. bintangur laut. Daun : Memiliki banyak urat dengan posisi lateral paralel dan halus. dua dari kelopak bunga berwarna putih.Calophyllum inophyllum L. Tumbuh pada habitat bukan rawa dan pantai berpasir. Kelopak bunga: 4. Bagian atas daun berwarna hijau tua dan mengkilap.5-4 cm. Di Bali. Di Australia. condong atau bahkan sejajar dengan tanah. menggantung seperti payung. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur hingga Polinesia. Memiliki getah lekat berwarna putih atau kuning. menaga. Letak: di ketiak.5 x 6-11 cm. tercatat di Sumatera. minyak. biasanya pada habitat transisi. Buah disebarkan melalui arus laut. Deskripsi umum : Pohon berwarna gelap. Kelimpahan : Umum. bintanguru. harum.

bunga. buah. daun. d. b.Calophyllum inophyllum bunga & buah pohon c a a d b a. c. bentuk urat daun 1473 .

Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Daun mahkota: putih agak ungu. berwarna ungu agak putih. Ujung: membundar. Ukuran: diameter buah 10-15 mm. ketinggian mencapai 3 m.5-5. pantai berpasir dan lahan berbatu. kekar dan kaku.5 cm. 4148 . widuri. menori. Formasi: seperti payung yang sedang dibuka. mendori. Berbentuk bulat seperti kapsul dan di dalamnya terdapat banyak biji-biji yang permukaannya berambut halus. Kelimpahan : Umum. modori. diameter 3-4 cm. Dryander ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Biduri. Letak: pada ketiak daun. Manfaat : Di Bali. ukuran diameter 6-10 mm. Umumnya dijumpai di lahan-lahan pantai yang terbengkalai dan terbuka (mendapat sinar matahari penuh). Kelopak bunga: 5. seperti piramid. Tumbuh pada habitat yang tidak tergenang air. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. hingga ketinggian sekitar 300 m. Ukuran: 10-20 x 3. Di Bali dijumpai mulai pada daerah pantai yang gersang dan udaranya panas hingga ke lereng gunung Agung yang suhu udaranya sejuk. Deskripsi umum : Herba rendah/semak. permukaan daun (atas maupun bawah) dilapisi oleh rambut-rambut halus yang berwarna agak putih seperti tepung. tercatat di Bali dan Jawa. Daun : Posisi daun horizontal.Calotropis gigantea L. Bentuk: bulat telur melebar. daun dan bunganya sering digunakan sebagai makanan jangkrik. Memiliki tandan dan tangkai/gagang bunga yang panjang. Memiliki banyak getah.

c. bunga. buah. daun 1493 . b.Calotropis gigantea bunga pohon b a c a.

terbuka terhadap udara dari laut serta tempat yang tidak teratur tergenang oleh pasang surut. jabal. kadong. Biasanya tumbuh di bagian tepi daratan dari mangrove. Ukuran: diameter buah 6-8 cm. Berbentuk bulat. bintaro. Tercatat di Bali. memiliki lentisel dan cairan putih susu. Kelimpahan : Umum. koyandan. putih kehijauan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Minyak biji dapat digunakan untuk meracuni ikan (di Burma juga digunakan sebagai insektisida). Kayu digunakan sebagai kayu bakar dan bahan arang. kayu kurita. Jawa. Perpanjangan dari masing-masing benang sari yang berambut dan berbentuk seperti taji menutupi kerongkongan tabung mahkota bunga. Deskripsi umum : Pohon atau belukar dengan ketinggian mencapai 20 m. Biasanya terdapat 20 –30 bunga pada setiap tandan. Daun mahkota: 5. hijau hingga hijau kemerahan. Maluku. mangga brabu. putih bersih dengan bagian pusat berwarna jingga hingga merah muda-merah. Benang sari: tidak bergagang. Daun : Agak gelap. Selintas bentuknya menyerupai buah mangga.Cerbera manghas L. Ujung: meruncing. Kepulauan Bismarck dan seluruh Kepulauan Solomon. Formasi: berkelompok secara tidak beraturan. Ukuran: 10-28 x 2-8 cm.p. Kulit kayu bercelah. Timor dan Irian Jaya. Sumatera Barat. Manfaat : Minyak yang diperas dari biji dan buah mudanya dapat digunakan untuk mengatasi gatal-gatal. jaraknya agak jauh dari daun mahkota. serta pilek. Sulawesi Utara. waba. APOCYNACEAE Nama setempat : Bintan. goro-goro. Letak: di ujung cabang. menempel pada mulut tabung. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. tetapi kurang memiliki akar udara dan akar nafas. badak. Tumbuh di hutan rawa pesisir atau di pantai hingga jauh ke darat (400 m d. kenyeri putih. mengkilat dan berdaging. Catatan : 4150 . Kelopak bunga: 5. Bentuk: bulat memanjang atau lanset. reumatik. hijau mengkilap di bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. Akar menjalar di permukaan tanah. Kulit kayu dan daun digunakan sebagai obat pencahar. Belakangan ini banyak dipakai sebagai tanaman hias/peneduh di dalam kompleks perumahan. berwarna abu-abu hingga cokelat. kenyen putih. Berpotensi sebagai obat farmakologi karena pengaruh kardiovaskular-nya. bilu tasi. kayu susu.l). Tersebar di PNG. seperti daun mangga. menyukai tanah pasir yang memiliki sistem pengeringan yang baik.

Cerbera manghas bunga buah pohon c a b a. b. buah. c. bunga. daun 1513 .

kaku dan tertekuk ke dalam. Daun : Hijau tua mengkilap di bagian atas. dadap-laut. 4152 . Deskripsi umum : Belukar. Benang sari: terjurai sangat panjang jika dibandingkan dengan mahkota bunganya. Manfaat : Tidak diketahui. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. bagian bawahnya bertangkai panjang. mengkilat dan berdaging. Tumbuh subur pada daerah lumpur kering atau lumpur berpasir di belakang kawasan hutan mangrove. Ukuran: diameter buah 7-10 mm. Berbentuk lonceng. dengan ketinggian kurang dari 2 m. permukaannya seperti kulit.Clerodendrum inerme Gaertn VERBENACEAE Nama setempat : Kayu tulang. Ujung: meruncing. Setidaknya tercatat di Jawa dan Bali. keranji. menjalar melebar di permukaan tanah. kwanji. Bentuk: elip. Daun mahkota: 5. Ukuran: panjang 3-4 cm. Kelimpahan : Umum. Formasi: berkelompok (3 bunga per kelompok). putih bersih. Berbentuk bulat telur. Letak: di ketiak daun. warnanya merah keunguan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Kelopak bunga: hijau dan jaraknya agak jauh dari daun mahkota. warna hijau hingga kecoklatan. bulat memanjang.

daun 1533 . buah. bunga.Clerodendrum inerme daun. b. bunga & buah c a b a. c.

biji 12 x 11 mm. bulat memanjang atau hampir bundar. Ujung: meruncing. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Melalui Asia Tenggara. Cina hingga India dan Afrika. areuy ki tonggeret. Mereka mungkin juga disebarkan melalui angin. tuba laut. Tumbuh pada substrat berpasir dan berlumpur pada bagian tepi daratan dari habitat mangrove. permukaan atas berwarna hijau mengkilat dan bagian bawah abu-abu-hijau. LEGUMINOSAE Nama setempat : Ambung. panjangnya sekitar 1 cm.5 x 2. kambingan. tergenang secara tidak teratur oleh air pasang surut. Racun ikan yang dijual secara komersial (rotenone) dihasilkan dari akar jenis lain. Batangnya sangat tahan lama dan dapat digunakan sebagai tali. tuba abal. kamulut. toweran. Bentuk: bulat telur atau elips. Batang yang lebih muda berwarna merah tua.Derris trifoliata Lour. hampir bundar. Indonesia. yaitu Derris elliptica.5 cm. Masyarakat di Indonesia Timur menanam varietas sendiri yang kemudian dicampur dengan bahan kimia untuk meracuni (membius) ikan. Satu atau dua biji berkeriput. Kulit kayu coklat tua. bergerombol. tandan bunga panjangnya 7-20 cm dan gagang bunga panjangnya 2 mm. Biseksual. Catatan : 4154 . Polong berkulit. Ukuran: 6-13 x 2-6 cm. Benangsari: bagian atas tumbuh sendiri. Daun mahkota: ungu agak putih-merah muda pucat. Australia. panjang 15 m atau lebih. tipis/pipih. halus dengan lentisel merah muda. Unit & Letak: majemuk dan bersilangan.5-3. Daun : Memiliki 3-7 pinak daun. hijau-perunggu ketika kering. Bunga muncul pada bulan September – November. Menyukai areal yang mendapat pasokan air tawar. memiliki banyak lentisel. gadel. Letak: di ketiak batang yang tumbuh horizontal sepanjang permukaan tanah. Manfaat : Penggunaan jenis ini untuk meracuni ikan sudah banyak diketahui. Ukuran: buah 2-4. Biji dan polong teradaptasi dengan penyebaran melalui air. tuwa areuy. Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas. Formasi: bulir. Deskripsi Umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu. sementara 9 lainnya bersatu. sementara buah pada bulan November sampai Desember (di Australia).

Derris trifolia buah bunga a c b a. b. buah. daun 1553 . c. bunga.

ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Basang siap. Dijumpai pada kawasan mangrove yang terbuka. Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas.5-3.5 cm. Manfaat : Tidak diketahui. panjangnya sekitar 0. Putih dan merah muda. Deskripsi umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu. Ukuran: buah 7-8 x 2.5-5 cm. Bentuk: elips hingga bulat telur terbalik. waktu masih muda berwarna hijau tapi jika sudah matang warnanya kemerahan.0 cm. 4156 . mengandung getah berwarna putih. Ukuran: 8-13 x 3. Buah berpasangan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia.Finlaysonia maritima Backer ex Heyne. Ujung: membundar. kadang-kadang dijumpai lebih ke arah pantai. Bentuk seperti kapsul atau seperti kantung perut ayam.7 – 1. warna hijau cerah. Daun : Tebal berdaging. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan.

b. buah. daun 1573 .Finlaysonia maritima daun & buah b a a.

514. Ujung: meruncing. Ukuran: Bunga : Buah : Ekologi : Merupakan tumbuhan khas di sepanjang pantai tropis dan seringkali berasosiasi dengan mangrove. setidaknya di penyemaian. Bentuk: seperti hati. Kulit kayu halus. Perbungaan sepanjang tahun. bahu. lalu keesokan harinya keseluruhan bunga jadi jingga dan rontok. waru langit. berkulit dan permukaan bawah berambut halus dan berwarna agak putih.5-15 x 7. Deskripsi umum : Pohon yang tumbuh tersebar dengan ketinggian hingga mencapai 15 m. waru lenga. Juga umum di sepanjang pinggiran sungai di kawasan dataran rendah. bergerigi. Letak: di ketiak daun. waru lengis. diameter 5-7 cm. dengan kepala putik berwarna ungu kecoklatan Membuka menjadi 5 bagian. Serat kayu digunakan sebagai tali. Ukuran: 7. berwarna cokelat keabu-abuan. iwal. siron. Perbedaannya dengan Thespesia populnea dirinci pada halaman berikutnya. kabaru. Berbentuk lonceng. Tangkai putik: ada 5 (tidak menyatu). Formasi: soliter atau berkelompok (2-5).Hibiscus tiliaceus L.5 cm. Kelimpahan : Tersebar luas dan umum. molowahu. Daun mahkota: kuning. Pada daun tua. Saat mekar (sore hari) berwarna kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. burik-burik. Akarnya digunakan sebagai obat demam. waru lot. Kelopak bunga: 5. Penyebaran : Di seluruh Indonesia. waru langkong. fau. baru. kasjanaf. Daun kadang-kadang digunakan sebagai makanan ternak. kelenjar pengeluar gula seringkali berwarna hitam karena diserang jamur. Manfaat : Ditanam sebagai pohon peneduh di taman. MALVACEAE Nama setempat : Waru laut. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. wakati. Catatan : 4158 . Kayu digunakan sebagai bahan pembuatan bagian dalam perahu (Lombok). diameter buah sekitar 2 cm. dan memiliki biji khas yang berambut. Biji mengapung dan dapat tumbuh meskipun dimasuki air laut. Daun : Agak tipis (jika dibanding Thespesia populnea). Pan-tropis. Dasar dari gagang tandan bunga yang memanjang ditutupi oleh pinak daun yang kemudian akan jatuh dan menyisakan tonjolan berbentung cincin. Penyebaran geografis serta sifat ekologi alami belum diketahui secara pasti.

pohon 1593 . bunga. buah.Hibiscus tiliaceus daun & bunga pohon b c a d a. c. daun. b. d.

panjang 3-5 cm. katang-katang. sedangkan akarnya sebagai obat sakit gigi dan eksim. tetapi juga tepat pada garis pantai. balim-balim. tapak kuda. brasiliensis yang memiliki takik pada ujung daun. Daun mahkota: berbentuk seperti terompet/corong. Wanita hamil dilarang memakai tanaman obat ini. Letak bunga: di ketiak daun pada gagang yang panjangnya 3-16 cm. Manfaat : Bijinya dilaporkan sebagai obat yang baik untuk sakit perut dan kram. ketepeng. watata ruruan. CONVOLVULACEAE Nama setempat : Batata pantai. Dua anak jenis dikenali oleh beberapa penulis.5 cm. daun katang. Batang panjangnya 5-30 m dan menjalar. dan I. dolodoi. licin dan mengkilat. Keduanya terdapat di Indonesia. akar tumbuh pada ruas batang. mari-mari. pes-caprae ssp. daredei. tati raui. Deskripsi umum : Herba tahunan dengan akar yang tebal. Daunnya untuk obat reumatik/nyeri persendian/pegal-pegal. pescaprae yang memiliki cuping daun yang dalam. Formasi: soliter. biasanya di pantai berpasir. alere. wasir dan korengan. diameter pada saat membuka penuh sekitar 10 cm.Ipomoea pes-caprae (L. Ujung: membundar membelah (bertakik). biji 6-10 mm. Bunga membuka penuh sebelum tengah hari.ungu dan agak gelap di bagian pangkal bunga. Daun : Tunggal. yaitu I. basah dan berwarna hijau kecoklatan.) Sweet. Berbentuk kapsul bundar hingga agak datar dengan empat biji berwarna hitam dan berambut rapat. tilalade. daun kacang. Ukuran: buah 12-17 mm. tebal. Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 600 m. Batang berbentuk bulat. Catatan : 4160 . bulalingo. Berwarna merah muda . Kelimpahan : Sangat umum. Ukuran: 3-10 x 3-10. kabai-kabai. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. dalere. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. meskipun anak jenis yang terakhir hanya diketahui dari Sumatera Barat dan Pulau Krakatau. pes-caprae ssp. andali arana. daun barah. serta kadang-kadang pada saluran air. loloro. Bentuk: bulat telur seperti tapak kuda. wedor. wedule. Cairan dari batangnya digunakan untuk mengobati gigitan dan sengatan binatang. lalu menguncup setelah lewat tengah hari. leleri.

bunga. buah. daun 1613 .Ipomoea pes-caprae daun & bunga a c b a. b. c.

wasir berdarah. pada permukaan daun terdapat tiga tulang daun yang jelas dan memanjang lurus seperti garis (longitudinal) kearah ujung daun. Ukuran: diameter buah 8-10 mm. Formasi: berkelompok. Kelimpahan : Sangat umum. disentri basiler. Biasanya muncul bersama tanaman semak lainnya. kaku.5-6. Daun : Tebal. mulai dari pantai yang berlumpur. setiap kelompok ada 2-3 bunga. kemanden Deskripsi umum : Perdu. warna ungu tua kemerahan. hepatitis. sariawan. lapangan terbuka. keracunan oleh singkong. mimisan.5 cm.75-8. diare. Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 1650 m. harendong. Ukuran: 2-20 x 0. Kelopak bunga: berbentuk tabung dengan bentuk cuping bergerigi 5. warnyanya hijau hingga hijau kekuningan. Don MELASTOMATACEAE Nama setempat : Senduduk. Warna ungu kemerahan. panjangnya 8-17 mm. membuka penuh secara horizontal. Biji kecil sekali berupa bintik-bintik berwarna coklat. jika sudah matang akan merekah dan terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen (bagian).5 – 4 m. pinggir jalan hingga lereng gunung. Berbentuk kapsul bulat. kluruk. Tangkai putik: warnanya kuning keputihan. pembekuan dalam pembuluh darah. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Akar. Urat daun menyirip rapat secara lateral. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup. Letak: di ujung cabang. tinggi sekitar 0. keputihan. senggani. daun dan seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat gangguan pencernaan. Daun mahkota: jumlahnya 4-18. daunnya yang masih muda sebagai sayur/lalab. Manfaat : Buahnya enak dimakan. cabangnya banyak.5 cm. diameter saat membuka penuh 4. tandan dan gagang bunga berwarna hijau kecoklatan. 4162 . Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Ujung: meruncing lancip. bisul dan memperlancar air susu ibu.Melastoma candidum D. lahan terlantar. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia.

daun 1633 .Melastoma candidum bunga & buah a b c a. buah. bunga. c. b.

radang empedu. Bentuk: bulat telur hingga elips. pinggir jalan hingga jauh ke darat. labanau. ai kombo. lembek dan berair.p. eodu. buah setengan matang untuk rujak. sakit perut . Ketika masih mentah berwarna hijau muda. sariawan. Buah muda direbus untuk lalab. neteu. bertangkai pendek. pamarai. Ukuran: 10-40 x 5-17 cm. Warna putih. Deskripsi umum : Perdu atau pohon kecil yang tumbuh membengkok. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. bakulu. banyak cabang dengan ranting segi empat.bangkudu.l. 4164 . dll. warnyanya hijau tua mengkilap. Formasi: payung dengan 5-8 bunga. hutan. Daun : Tebal. harum dan mudah rontok. daun muda biasa dikukus dan direbus sebagai sayuran atau untuk membungkus ikan. ketika matang agak kekuningan. bunga atau kulit batang tanaman ini dapat juga digunakan sebagai obat batuk. buah. Di Indonesia banyak ditemukan dari dataran rendah (dekat pesisir pantai). Ujung: meruncing. kudu. pace. warna putih. daun. cacar air. Urat daun menyirip kearah pinggiran daun dan tampak sangat jelas. Biji kecil-kecil. keumudee. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup hingga sedikit ternaungi. eoru. Ukuran: panjang 5-10 cm. mulai dari pantai berpasir hingga berlumpur. dan yang matang untuk membersihkan karat pada logam atau untuk keramas. Daun mahkota: jumlahnya 5.Morinda citrifolia L. cacingan. Lonjong bulat telur seperti kapsul dan penuh dengan benjolan. sakit lever. RUBIACEAE Nama setempat : Mengkudu. melancarkan kencing. tinggi 3-8 m. kemudu. Kelimpahan : Sangat umum. wungkudu. mangkudu. tibah. Selain itu. coklat kehitaman dan banyak. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mulai dari Asia Tropis hingga Polynesia. disentri. Manfaat : Akarnya untuk mewarnai batik dan anyaman pandan. lahan terlantar. ladang atau ditanam di pekarangan sebagai tanaman sayur atau tanaman obat. Letak: di ketiak daun. tepi daun rata. Tumbuh liar di pantai hingga 500 m d. lapangan terbuka. sakit pinggang. akar. cangkudu. lengkudu. tekanan darah tinggi.

bunga. b. buah. daun 1653 . c.Morinda citrifolia buah & bunga b a c a.

5 – 2. terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai. 4166 . Manfaat : Sebagai tanaman hias dan tanaman pagar. Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai. Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya merah. Letak: di ujung. Formasi: payung.0 meter. Benangsari: banyak. PANDANACEAE Nama setempat : pandan. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam. Panjang antara 0. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m. Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia.Pandanus odoratissima. Kelimpahan : Sangat umum.

b. daun 1673 . buah.Pandanus odoratissima buah pohon a b a.

Formasi: payung. 4168 . Parkinson ex Z. Kelimpahan : Sangat umum. Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya kuning jeruk. Manfaat : Dapat sebagai tanaman pagar. Letak: di ujung. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam. Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m.0 meter Warna merah-ungu.5 – 2. Bunganya dimanfaatkan untuk wangi-wangian dan hiasan pada acara pernikahan. Panjang antara 0.Pandanus tectorius. terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai. Benangsari: banyak. PANDANACEAE Nama setempat : Pandan.

buah. b. pohon 1693 .Pandanus tectorius buah pohon b a a.

bungan pulir. Manfaat : Daun muda dapat digunakan sebagai sayur. Memiliki alat pembelit yang beruntaian seperti spiral.0 cm. lebar menjari dengan tiga lekukan. Tumbuh liar di dekat pantai berpasir yang bukan rawa. Ukuran: 5-13 x 4-12 cm. Bulat seperti kelereng. merambat di pagar dan menyenangi lokasi yang mendapat cahaya matahari yang kuat. Kelimpahan : Umum. kaap. Buah dibungkus oleh serabut yang berambut banyak. Warna agak putih hingga ungu muda/pucat. berambut halus. tapi agak sedikit pahit). Di dalam buah banyak dijumpai biji. buah pitri. koreng.5-3. diameter hingga 5 cm.5-5 m. rajutan. kaceprek. pada bagian tengahnya jauh lebih ungu. Ukuran: diameter buah 1. kadang agak lonjong.) LEGUMINOSAE Nama setempat : Gegambo. permot. pacean. Deskripsi umum : Terna merambat. borok. Formasi: soliter. kileuleur. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Berasal dari Amerika Tropis dan di Indonesia tumbuh secara liar.Passiflora foetida (L. Kulit buah hijau jika mentah dan menjadi getas dan kuning ketika matang. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. buahnya enak dimakan (manis seperti markisa. Ujung: meruncing. moteti. panjang 1. Daun : Berwarna hijau kekuningan hingga hijau muda mengkilat seperti ada lapisan lilin. lemanas. ceplukan blungsun. tanah lapang terlantar. kencing berlemak dan pembesaran kelenjar limfa di leher. Bentuk: seperti jantung. Seluruh bagian tanaman juga dapat digunakan sebagai obat batuk. putih dan panjangnya dapat melampaui ukuran panjang mahkota bunga. Letak: di ketiak tangkai daun. 4170 . Benang sari: banyak. bertangkai 2-10 cm. remugak. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik.

Passiflora foetida buah pohon b a a. buah. daun 1713 . b.

Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. Daun : Tersusun dalam dua deret. ki pahang laut. marauwen. Biji beracun untuk manusia. tangi. Umum ditanam di areal pesisir kawasan tropis karena sifatnya yang tahan terhadap salinitas dan udara yang terbuka. ditutupi oleh rambut yang pendek dan halus serta memiliki gigi tumpul yang sangat pendek. Ukuran: 5-7 x 2-3 cm. Polong tidak membuka ketika masak. Cabang pada umumnya tidak memiliki rambut atau urat. Ujung: meruncing. kranji. Warna buah hijau kecoklatan. awakal. Ukuran: 5-22. Gagang bunga berukuran 7-15 mm ditutupi oleh pinak daun yang halus dan berambut pendek. Kadang-kadang ditanam sebagai pohon peneduh di sepanjang jalan. Manfaat : Daun digunakan sebagai makanan ternak. dengan 3-7 pinak daun yang terletak secara bersilangan. Tumbuh di pantai berpasir yang bukan rawa. klengkeng. Kelimpahan : Umum. Polong berkulit tebal dan berparuh. Seperti kacang.5-15 cm. dan kadang-kadang di bagian tepi daratan dari mangrove. dan memiliki goresan yang menyerupai bintil berdekatan dengan pinak daun pada pangkal gagang daun. asawali. warna ungu pucat. Bentuk: bulat telur hingga elips. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian hingga 15 m. memiliki gagang pendek di atas goresan daun mahkota bunga. Kelopak bunga: berbentuk cangkir. Tersebar luas di Asia Tropis.Pongamia pinnata (L. 4172 . Letak: di ketiak daun. panjangnya 4-5 mm.5 x 2. Formasi: bergerombol secara acak. bangkong. panjang 11-18 mm. mengkilat dan warnanya hijau tua. Unit & Letak: majemuk dan bersilangan. Bunga seringkali berubah bentuk menjadi kantung bundar yang bisa dikelirukan dengan buahnya.) Pierre LEGUMINOSAE Nama setempat : Kacang kayu laut. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. padat dan memiliki sebuah biji. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik . Bunga terletak berpasangan di sepanjang tandan bunga yang panjangnya 6-27 cm.

buah. daun 1733 . bunga. c.Pongamia pinnata daun & buah pohon a b c a a. b.

bisul. lana-lana. lafandru. kaliki. Dapat tumbuh di areal yang kurang subur asal pH tanahnya sekitar 6-7 dan drainase airnya baik. pedas. Majemuk. Akar dipakai sebagai obat rematik. urat daunnya rapat dan jelas. batuk dan hernia. EUPHORBIACEAE Nama setempat : Gloah. Unit & Letak: sederhana tunggal dan bersilangan. tetanus. ketowang. paku penuai. Satu tandan dapat berisikan sekitar 30 – 40 buah. berwarna kuning oranye dan berkelamin satu. Kelimpahan : Umum. Ukuran: diameter 10-40 cm. lulang. Tangkai daun panjang berwarna hijau hingga merah bata. Daun : Seperti daun singkong. jarag.Ricinus communis Linn. jarak jitun. eksim. Tumbuh liar di hutan. kelumpuhan otot muka. gatal. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. TBC kelenjar. luluk. balacai. tanah kosong. Warna daun hijau tua di permukaan atas dan hijau muda di permukaan bawah. netral dan digunakan untuk mengobati kanker mulut rahim dan kulit. Bentuknya bulat bersegmen (ada 3 segmen) dan berambut (seperti buah rambutan). koreng dan infeksi jamur. Daunnya untuk obat koreng. sepanjang pantai atau ditanam sebagai komoditi perkebunan pada ketinggian antara 0 – 800 m dari permukaan laut. kalalei. kilale. kaleke. Akar jarak tidak tahan terhadap adanya genangan air. epilepsi. malasai. gangguan jiwa (schizophrenia). lutur bal. kalikih alang. jarak jawa. dulang. alale. Ujung: meruncing. Deskripsi umum : Perdu tegak dapat mencapai ketinggian hingga 3 m. 4174 . Bentuk: menjari dengan jumlah jari 7 – 9. kolonyan. bronchitis. paku ton. luka terpukul. tapi tepinya bergerigi. Warna buah hijau dan bergerombol pada tandan yang panjang. tetanga. dulang jai. Manfaat : Bijinya terasa manis. kohongiang. jarak.

buah.Ricinus communis pohon bunga & buah a b a. daun 1753 . b.

Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips. sering pada bagian dalamnya terdapat strip/garis berwarna jingga. Daun mahkota: putih bersih. Ketika muda berwarna hijau muda. Ukuran: 16. Formasi: mengelompok. Daun : Melebar kearah atas.5-9.) Roxb. Deskripsi umum : Herba rendah/semak/pohon. Ukuran: diameter buah 8-12 mm. lalu menjadi putih ketika sudah matang.5-30 x 7. Berbentuk kapsul. dapat mencapai ketinggian hingga 3 m. Dijumpai secara soliter di bagian tepi daratan dari mangrove. 4176 . babakoan. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Manfaat : Tidak tahu.5 cm. Kelimpahan : Tidak diketahui. berwarna hijau kekuningan dan mengkilat. gegabusan.Scaevola taccada (Gaertn. pada tepi pematang yang tidak terkena pengaruh pasang surut atau di daerah yang sistem drainasenya baik dan lokasinya terbuka terhadap cahaya. tepinya melengkung dan permukaan daun seperti berlapis lilin. Letak bunga: di ketiak daun. GOODENIACEAE Nama setempat : Bakung-bakung. bulat. Tangkai Putik: membengkok. bako-bakoan. Ujung: membundar. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mungkin ditemukan di seluruh Indonesia.

bunga & buah c a b a. c. daun 1773 .Scaevola taccada buah & bunga daun. bunga. buah. b.

5 mm.Sesuvium portulacastrum (L. Juga ditemukan di pantai berkarang. Formasi: soliter. Substrat tumbuh berupa pasir. Sulawesi dan Sumatera. Manfaat : Daun dapat dimakan setelah berulangkali dicuci dan dimasak. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan.5-7 x 0. krokot. Daun : Bunga : Tebal berdaging. Ujung: membundar. MOLLUGINACEAE / AIZOACEAE Nama setempat : Gelang (-laut). halus dan panjangnya 1. 4178 . pada hamparan lumpur dan gundukan pasir. Deskripsi umum : Herba tahunan.5 cm. lumpur dan tanah liat. warna ungu. Berbentuk kapsul. memiliki tangkai panjangnya 3-15 mm dan tabung panjangnya 3 mm. Bunga diserbuki kumbang kecil pengumpul madu serta ngengat yang terbang siang. gelan-pasir. Biji tidak mengapung. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. pada areal yang secara tidak teratur digenangi oleh pasang surut. Ukuran: 2. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Terdapat beberapa biji hitam berbentuk kacang. panjang melintang kira-kira 8 mm. menjalar. halus dan ditumbuhi akar pada ruasnya. sesepi. panjang 6-9 mm. Kecil.) L. Madura. ditemukan di sepanjang pesisir Jawa. Daun mahkota: 5 cuping. bundar dan halus. Kelimpahan : Tidak diketahui. Benangsari: banyak dan 3-4 tangkai putik. Letak bunga: di ketiak daun. Juga digunakan sebagai makanan kambing.5-1. saruni air. sepanjang pematang tambak dan kali pasang surut. Buah : Ekologi : Penyebaran : Jenis Pan-tropis. Seringkali ditemukan di sepanjang bagian tepi daratan dari mangrove. seringkali memiliki banyak cabang. Panjangnya hingga 1 m dengan batang berwarna merah cerah.

b.Sesuvium portulacastrum pohon c a b a. c. daun 1793 . bunga. buah.

Stachytarpheta jamaicensis (L. Letak: di ketiak daun. tepi bergerigi. jarong lalaki. remek getih. Formasi: bulir pada tandan yang panjang. biron. keputihan dan hepatitis A. Terdapat pada tandan yang panjangnya mencapai 4-20 cm seperti pecut. sekar laru. tidak berambut. tinggi mencapai 1 meter. VERBENACEAE Nama setempat : Pecut kuda. tumbuh tegak terburai ke samping membentuk semak. laler mengeng. reumatik. Bunga : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. misalnya untuk mengobati infeksi dan adanya batu pada saluran kencing. 4180 .) Vahl. Bunga mekar tidak serentak. jarong. sakit tenggorokan. Bentuk: bulat telur. pada lokasi terbuka dan kering serta mendapat pencahayaan matahari yang kuat. jarongan.0-3. Daun : Permukaan daun kasar dan guratan – guratan / lekukan di permukaannya tampak jelas. Ukuran: 2.5-6 x 1. ngadi rengga. Manfaat : Sering dipelihara sebagai tanaman pagar hidup karena memiliki manfaat sebagai bahan obat-obatan. Dijumpai pada pematang tambak.5 cm. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. bunga duduk tanpa tangkai. rumjarum. Ujung: meruncing. Kelimpahan : Tidak diketahui. ukurannya kecil berwarna ungu kebiruan dan putih. datang haid tidak teratur. Deskripsi umum : Terna tahunan. pembersih darah. ki meurit beureum. hamparan lahan yang terbengkalai.

daun 1813 . bunga.Stachytarpheta jamaicensis pohon a b a. b.

Pohon menggugurkan daunnya (ketika warnanya berubah merah) sekali waktu. Sebagian besar dari bunga merupakan bunga jantan. Bunga berwarna putih atau hijau pucat dan tidak bergagang. indian or singapore almond. umumnya memiliki 6-9 pasang urat yang jaraknya berjauhan. kemudian berubah menjadi merah tua. tiliho. sadina. tasi. lisa. suatu kondisi yang terutama terlihat jelas pada pohon yang masih muda. Kelopak bunga: halus di bagian dalam. seringkali mendominasi vegetasi pantai. dengan sebuah kelenjar terletak pada salah satu bagian dasar dari urat tengah. tetapi agak jarang di Sumatera dan Kalimantan. Biji buahnya dapat dimakan dan mengandung minyak yang berlemak dan bening. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia. Ujung: membundar. Tanin digunakan untuk mengatasi disentri serta untuk penyamakan kulit. Mahkota pohon berlapis secara horizontal. talisei. Tumbuh di bagian tropis Asia. Penampilan seperti buah almond. sirisal. Kayu berwarna merah dan memiliki kualitas yang baik. digunakan sebagai bahan bangunan dan pembuatan perahu. Sebarannya sangat luas. Australia Utara dan Polinesia. biasanya dua kali setahun (di Jawa pada bulan Januari atau Februari dan Juli atau Agustus). Bersabut dan cangkangnya sangat keras. Tumbuh di pantai berpasir atau berkarang dan bagian tepi daratan dari mangrove hingga jauh ke darat. Daun : Sangat lebar. Letak: di ketiak daun. kilaula. Formasi: bulir. 4182 . Unit & Letak: s e d e r h a n a dan bersilangan. Deskripsi umum : Pohon meluruh dengan ketinggian 10-35 m. Daun berubah menjadi merah muda atau merah beberapa saat sebelum rontok.5 cm. Daun kerap digunakan untuk mengobati reumatik. Kelimpahan : Umum. Cabang muda tebal dan ditutupi dengan rapat oleh rambut yang kemudian akan rontok. Manfaat : Sering ditanam sebagai pohon peneduh jalanan. Tandan bunga (panjangnya 8-16 cm) ditutupi oleh rambut yang halus. Penyebaran buah dilakukan melalui air atau oleh kelelawar pemakan buah. klis. Ukuran: 825 x 5-14 cm (kadang panjangnya sampai 30 cm). sehingga kanopi pohon tampak berwarna merah. COMBRETACEAE Nama setempat : Ketapang. luumpoyang. dengan atau tanpa tangkai putik yang pendek. Ukuran 5-7 cm x 4x5. sabrise. sarisei. ketapas. Kulit buah berwarna hijau hingga hijau kekuningan (mengkilat) di bagian tengahnya. Bentuk: bulat telur terbalik. wewa. sarisa. lisa. dumpajang. beowa. klihi.Terminalia catappa L.

bunga & buah pohon a c b a. bunga. b. c.Terminalia catappa daun. buah. daun 1833 .

berwarna kuning dan ujungnya tumpul. Daun : Bunga : Tebal. Tangkai putik menyatu. Tumbuh di pantai.Thespesia populnea (L.5-4. ex Correa MALVACEAE Nama setempat : Waru laut. Ukuran: 7-24 x 5-16 cm. diameter 2. Pada masa lalu kulit kayu digunakan sebagai bahan serat.5 cm. Bunga berisi cairan seperti susu berwarna kuning yang kemudian akan berubah menjadi merah. Bakal buah juga memiliki cairan berwarna kuning. Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. waru lot. Daun dan buah digunakan sebagai obat. Terdapat 3-4 biji pada setiap ruang/segmen buah yang padat ditutupi oleh rambut pendek . Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. di pematang-pematang tambak dan bagian tepi daratan dari mangrove. Kelimpahan : Umum. Terdapat 3-8 pinak daun di bagian luar kelopak bunga. berkulit dan permukaannya halus. kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. Bentuk: seperti hati.) Soland. di seluruh Indonesia. Perbedaan antara Hibiscus tiliaceus dengan Thespesia populnea adalah sbb: Bagian tanaman Daun kelopak bunga Daun muda Urat utama pada daun Urat coklat pada daun muda Buah siap membuka di pohon Hibiscus tiliaceus bercuping 5 biasanya terdapat 9-11 tidak terdapat ya Thespesia populnea tidak bercuping tidak terdapat 7 terdapat tidak 4184 . Buah seperti bola dan bersegmen. salimuli. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian 2-10 m. Ujung: meruncing. waru pantai. Berbentuk lonceng. Manfaat : Catatan : Kayunya ringan.

bunga. daun 1853 .Thespesia populnea daun & bunga a c b a. c. buah. b.

Deskripsi umum : Ferna tahunan. sawah kering. seruni. Akar digunakan untuk obat penyakit kelamin. serunai laut. Bentuk: bulat telur. Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Mengobati luka terpotong atau terkena gigitan. Kadang-kadang ditanam. Daun : Bunga : Tepi daun bergerigi. Beberapa rambut tumbuh pada kedua sisi permukaan daun dan pada batang. Letak: bersilangan. 4186 . pokok serunai. panjang 1. pada pantai berpasir dan pinggiran mangrove.5-2. Memiliki kekhasan berupa bunga komposit dengan delapan “daun mahkota” (sesungguhnya adalah bunga terpisah berbentuk seperti bendera) dan cakram bunga (betina). Gagang bunga panjangnya 1-7 cm. ASTERACEAE Nama setempat : Sernai. Cairan yang diambil dari daunnya dapat digunakan untuk mengobati sakit perut atau digunakan untuk ibu yang baru bersalin. terletak pada bagian atas ketiak bunga atau kadang-kadang dalam pasangan. terutama untuk penggunaan luar. diameter 1. pinggir sungai dan hutan sekunder. Tumbuh terutama sepanjang atau dekat pantai.5-4 cm. Digunakan sebagai tumbuhan penutup tanah di perkebunan dengan tujuan untuk menghindari erosi serta mencegah kehilangan air. Kelimpahan : Umum di mangrove. berjumlah 20-30.5 cm. Dapat juga tumbuh di perkebunan kelapa. Ukuran: 3-17 x 1-12 cm. bunga batang. ditutupi oleh rambut. Dari Afrika Timur hingga Kepulauan Pasifik. Kepala bunga biasanya soliter. seremai.Wedelia biflora (L. berwarna kuning cerah.5-5 m dengan batang yang kurus. dengan gagang daun panjangnya 0. Manfaat : Daunnya memiliki kepentingan untuk obat.) DC.

b. bunga.Wedelia biflora daun & bunga a a b a. daun 1873 .

1893

Lampiran 1.

Jenis mangrove, nama lain/sinonim, sumber gambar dan foto, yang tercantum atau dipakai dalam buku panduan ini.
S I N O N I M

JENIS MANGROVE

MANGROVE SEJATI: Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis Bruguiera cylindrica A. intermedia, A. mindanaense A. tomentosa B. caryophylloides, B. malabarica, Mangium minus, M. caryophylloies, Rhizophora cylindrica, R. caryophylloides, R. ceratophylloides, Kanilia caryophylloides Loranthus obovatus Loranthus mackayensis, Amyema cycnei-sinus, L. cycneisinus, A. mackayense ssp. cycnei-sinus A. marina var. alba A. officinalis var eucalyptifolia A. neo-guineensis Chrysodium aureum, C. inaequale, C. vulgare, Acrostichum spectabile, A. inaequale, A. obliquum Chrysodium speciosum Aegialites annulata A. majus, A. fragrans A. nigricans

Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza B. capensis, B. conjugata, B. cylindrica, B. gymnorrhiza, B. rheedii, B. rhumpii,B. wightii, B. zippelii, Mangiumcelsum, M. minus, Rhizophora gymnorrhiza, R. palun, R. rheedii, R. tinctoria Rhizophora caryophylloides

Bruguiera hainessii

4190

SUMBER GAMBAR

SUMBER FOTO

Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Piggott (1988), Holttum (1954), dan material hidup Wightman (1988) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Specimen herbarium Herbarium Bogor Danser (1931) Barlow dalam Henty (1981) Wahyu Gumelar Percival & Womersley

Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley & Nyoman Suryadiputra (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Silvius, M. Kitamura et. al. (1997)

Percival & Womersley (1975), Tomlinson (1986), Wightman (1989) Wahyu Gumelar Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

Jennifer Dudley (1999) Hidayat (1999) Kitamura et. al. (1997)

Ding Hou (1958), Wightman (1989) Ding Hou (1958), Tomlinson (1986), Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra

Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

1913

JENIS MANGROVE

S I N O N I M

Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula

B. ritchiei, Rhizophora parviflora, R. cylinrica, Kanilia parviflora B. eriopetala, B. sexangularis, B. australis, B. parietosa, B. angulata, B. oxyphylla, B. malabarica, B. cylindrica, Mangium digitatum, Rhizophora sexangula, R. polyandra, R. plicata, R. australis, R. eriopetala Neesia altissima, Cumingia philippinensis C. aruense C. roxbhurgiana, C. zippeliana, Bruguiera decandra, Rhizophora gromerulata, R. decandra C. candolleana, C. pauciflora, C. forsteniana, C. boviniana, C. lucida, C. timoriensis, C. somalensis, Rhizophora tagal, R. timoriensis, R. candel Stillingia agallocha Dicerolepis paludosa

Camptostemon philippinense Camptostemon schultzii Ceriops decandra Ceriops tagal

Excoecaria agallocha Gymnanthera paludosa Heritiera globosa Heritiera littoralis Kandelia candel Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phemphis acidula Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sarcolobus globosa

H. minor, Balanopteris minor, B. tothila Rhizophora candel, K. rheedei L. coccinea, Problastes cuneifolia, Pyrrhantus littoreus, Laguncularia purpurea L. racemosa, Languncularia rosea, Lumnitzera rosea, Petaloma alba, L. racemosa var. pubescens N. fructicans

Mangium candelarium, R. mangle, R. candelaria, R. conjugata R. mangle, R. macrorrhiza, R. longissima,R. latifolia, R. mucronata var. typica R. mucronata var. stylosa S. banksii

4192

(1997) Silvius. Wightman (1989) Ding Hou (1958). Wightman (1989) Ding Hou (1958). Kitamura et. Kitamura et. al. (1997) Hidayat (1999) Hidayat (1999). Wightman (1989) Ding Hou (1958). Kitamura et. Tomlinson (1986). (1997) Jennifer Dudley (1999). Percival & Womersley (1975). (1997) Bakhuizen van den Brink (1924) Percival & Womersley (1975). Wightman (1989) Ding Hou (1958). Tomlinson (1986). Tomlinson (1986). al. Kitamura (1997) Kitamura et. Tomlinson (1986). Kitamura et. M. Wightman (1989) Kitamura et. al. al. (1997) Ding Hou (1958). Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999). Wightman (1989) Polunin (1988) Tomlinson (1986). Tomlinson (1986). Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra (1999). Tomlinson (1986) Ding Hou (1958). al. Wightman (1989) Hidayat (1999) I Nyoman Suryadiputra Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Kostermans (1959) Kostermans (1959). (1997) Kitamura et. al. Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Wendy Suryadiputra (1999). Tomlinson (1986). Tomlinson (1986).al (1997). Tomlinson (1986) Ding Hou (1958) Percival & Womersley (1975) Exell (1954).SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Ding Hou (1958). Hidayat (1999) Hidayat (1999). (1997) 1933 . al. Hidayat (1999). Jennifer Dudley Hidayat (1999) Kitamura et.

Mangium caseolare rubrum. Ixora manila. C. ovalis. S. maritima. C. Dalbergia heterophylla C. acida. uliginosa. C. maritimus. minor. M. S. biloba. lanceolata. I. S. neglecta. iriomotensis. S. pagatpat S. malabathricum. N. evenia. M.JENIS MANGROVE Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S I N O N I M H. tothila. S. affine. palyanthum D. Blatti caseolaris. mossambicensis. B. speciosa Melastoma candidum Morinda citrifolia Pandanus odoratissima 4194 . alba Carapa abovate. obovata. D. C. Mangium caseolare album. S. rubra I. maritima. pes-caprae. B. Soldanella marina indica. C. brasiliensis. lactaria B. granatum Xylocarpus australasicus Carapa moluccensis Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii MANGROVE IKUTAN: Barringtonia asiatica Callophyllum inophyllum Calotropis gigantea Cerbera manghas Clerodendrum inerme Derris trifoliata Finlaysonia maritima Hibiscus tiliaceus Ipomoea pes-caprae Novella repens. heterophylla. S.Rhizophora caseolaris Chiratia leucantha. Balanopteris minor. rubra. S. S. I. brasiliensis. S. Convolvulus bilobatus. hydrophylacea S. Rhizophora caseolaris. S. Aubletia caseolaris. pagatpat. M. S. griffithii. caseolaris.

SUMBER GAMBAR Tomlinson (1986). Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951). Corner (1988). Tomlinson (1986). al. Kitamura et. Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951). (1997) Backer & van Steenis (1951) Tomlinson (1986). Polunin (1988) Tomlinson (1986) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999) The Common Littoral Plants of Taiwan I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley (1999) Icones Rijksherbarium Leiden I Nyoman Suryadiputra & Hidayat (1999) Hidayat (1999) Tomlinson (1986). Wightman (1989) Backer (1918). Wightman (1989) Wightman (1989) Walker (1976) Walker (1976) Wim Giesen I Nyoman Suryadiputra Hidayat (1999) Kitamura (1997) Keng (1987). van Ooststroom (1953) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999) 1953 . Wightman (1989) SUMBER FOTO Hidayat (1999) Wendy Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999). Tomlinson (1986).

polyandrum. moluccana. viridis. marginata. speciosus. T. Pyxipoma polyandrum. S. Croton spinosa L. jamaicensis T. S. R. Trianthema polyandrum. S. glabrata P. Verbena indica. rhodocarpa. S. R. dan chlorocarpa. inermis. glabra R.JENIS MANGROVE S I N O N I M Pandanus tectorius Passiflora foetida Pongamia pinnata Ricinus communis Scaevola taccada Sesuvium portulacastrum Stachytarpheta jamaicensis Terminalia catappa Crithmus indicus. Portulaca portulacastrum. Thespesia populnea Wedelia biflora 4196 . S. macrophylla. T. latifoilia. repens. catappa var. Myrobalanus catappa T. pilosiuscula. urticifolia. V. macrocarpa. Bupariti populnea W. T. mauritiana. villosa. S.

Wightman (1989) Material hidup I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) 1973 .SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Tomlinson (1986) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wightman (1989) Kitamura et. al. (1997) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Tomlinson (1986).

Ceriops decandra. stylosa Terminalia catappa. A. Gymnanthera paludosa. L. tagal. B. S. Wedelia biflora. mucronata. anisomeres Bruguiera cylindrica. officinalis. Aegiceras corniculatum. Scyphiphora hydrophyllacea. Avicennia eucalyptifolia. S. R. marina. B. gymnorrhiza. Lumnitzera littorea. Lumnitzera littorea. sexangula. S. Heritiera littoralis. C.C.stylosa. sexangula. Terminalia catappa. Bruguiera cylindrica. Acanthus ebracteatus. A. R. B. DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Airy Shaw (1975) Backer & Bakhuizen van den Brink (1963-8) Excoecaria agallocha Avicennia alba. A. A. C. caseolaris. ilicifolius. Sesuvium portulacastrum. Aegialitis annulata. marina. parviflora. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Derris trifoliata. floridum. Xylocarpus granatum. A. Kandelia candel. officinalis. moluccensis. B. schultzii Xylocarpus granatum Wedelia biflora. B. Xylocarpus granatum. B. S. Osbornia octodonta. X. caseolaris. L. Pongamia pinnata. racemosa. Rhizophora apiculata. Acanthus ilicifolius Barringtonia asiatica Amyema gravis. Ceriops decandra. Excoearia agallocha. A. gymnorrhiza. Aegiceras corniculatum.Lampiran 2. A. Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Sonneratia alba. R. hainessii. Sarcolobus globosa. ovata Camptostemon philippinense. R. Calophyllum inophyllum. racemosa Sonneratia ovata Excoecaria agallocha Backer (1918) Backer & van Steenis (1951) Bakhuizen van den Brink Baltzer & Baruadi (1991) Burkill (1935) Corner (1988) Danser (1931) Ding Hou (1958) Excell (1954) Giesen (1991) Giesen & Rudyanto (1994) 4198 . Sonneratia alba. B. parviflora. Thespesia populnea. exaristata. tagal. B. mucronata. Nypa fruticans. Cerbera manghas. Hibiscus tiliaceus. Kandelia candel. Rhizophora apiculata. ovata.

Scyphiphora hydrophyllacea. Excoecaria agallocha. Ipomoea pescaprae. Aegialitis annulata. Acrostichum aureum. Cerbera manghas. Aegiceras corniculatum. Heritiera littoralis. caseolaris. Bruguiera cylindrica. Cerbera manghas. Aegiceras corniculatum. Xylocarpus granatum. Scyphiphora hydrophyllacea.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Giesen & Sukotjo ( 1991) Henty (1981) Heyne (1950) Excoecaria agallocha Amyema mackayense Barringtonia asiatica. littoralis Avicennia alba. A. S. Finlaysonia maritima. Excoearia agallocha. Acanthus ilicifolius. Pandanus tectorius. tagal. A. R. A. officinalis. Osbornia octodonta. X. stylosa. officinalis. Kandelia candel. Sonneratia alba. moluccensis. Sesuvium portulacastrum. Ceriops decandra. Scaevola taccada Heritiera globosa. Hibiscus tiliaceus. R. A. mucronata. A. C. Xylocarpus rumphii Acrostichum aureum. Rhizophora apiculata. S.Sonneratia alba. Excoearia agallocha. Camptostemon schultzii. speciosum Avicennia eucalyptifolia Calotropis gigantea. Nypa fruticans Wedelia biflora Acrostichum aureum Barringtonia asiatica Aegialitis annulata Avicennia officinalis. ovata. Calophyllum inophyllum. Derris trifoliata. H. eucalyptifolia. Thespesia populnea Holttum (1966) Johnstone & Frodin (1982) Kitamura et. al (1997) Kostermans (1959) Percival & Womersley (1975) Perray & Metzger (1980) Piggott (1988) Polunin (1988) Prakash & Lim (1995) Said (1990) 1993 . A. Heritiera littoralis. S. Thespesia populnea. marina. Cerbera manghas. Avicennia alba. caseolaris. marina.

hainessii. H. schultzii. A. Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Osbornia octodonta. B. Cerbera manghas. ilicifolius. mekongensis. A. floridum. Aegialitis annulata. Bruguiera cylindrica. R. Rhizophora apiculata. littoralis. A. A. Aegiceras corniculatum. Heritiera Globosa. A. sexangula. Acrostichum aureum. moluccensis. Rhizophora apiculata. R. Camptostemon schultzii. Camptostostemon philippinense. Osbornia octodonta. eucalyptifolia. Pongamia pinnata. Sonneratia alba. Sesuvium portulacastrum. officinalis. Lumnitzera littorea. S. Ceriops decandra. sexangula. Hibiscus tiliaceus. stylosa. R. X. Sonneratia alba. tagal. Nypa fruticans Ipomoea pes-capre. B. C. tagal. S. Acrostichum aureum. Tantra & Sutisna (1990) Whitmore (1972) Wightman (1989) Calophyllum inophyllum Avicennia marina.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Tomlinson (1986) Avicennia alba. marina. A. ovata. Derris trifoliata. B. Thespesia pupulnea. (1992) 4200 . Aegialitis annulata. Aegialitis annulata Acanthus ebracteatus. A. Ceriops decandra. Bruguiera exaristata. Thespesia populnea. Acanthus ebracteatus. parviflora. H. speciosum Barringtonia asiatica Van Osststroom (1953) Van Steenis (1936) Watson (1928) Whitemore. B. Osbornia octodonta. Hibiscus tiliaceus. gymnorrhiza. B. A. X. Derris trifoliata. Acrostichum speciosum. ilicifolius. B.al. Melastoma candidum. Xylocarpus granatum. speciosum. Ricinus communis. mekongensis. Scyphiphora hydrophyllacea. Calophyllum inophyllum. Stachytarpheta jamaicensis Wijayakusuma. gymnorrhiza. mucronata. Excoearia agallocha. C. officinalis. parviflora. R. L. caseolaris. et. racemosa. Aegiceras corniculatum. stylosa. X. B. mucronata. A. Xylocarpus granatum. C. Scyphiphora hydrophyllacea.

1994. Ecology and Management of Mangroves.A. Bakhuizen van den Brink. Jakarta. van Steenis. & Suhardjono.C. AWB-Indonesia/PHPA. The Occurrence of Crustaceans in the Tanjung Bungin Mangrove Forest. S. Biro Pusat Statistik. Bogor. seri III vol. Andrew. 1921. 1992. Ecology & Management of Mangrove. 1988. AWB-Indonesia. The Birds of Indonesia. Kukila. 11: 31-44. 1988. IUCN Wetlands Programme. Bakhuizen van den Brink. Jakarta. Thailand. The Remnant Mangroves of Sei Kecil. IUCN. A checklist (Peters’ Sequence). Andrew. V. Thailand. South Sumatra. 1994. Aksornkoae. Proposed Wetland Conservation Areas: New & Extensions of Existing Reserves. Toro. West Kalimantan. Baltzer.C. Leiden. K. 1990. 1951. Flora Malesiana. M.G. Ocean & Shoreline Management. Dalam Simposium on Mangrove Management: Its Ecological and Economic Consideration. Statistik Indonesia. 1963-1968.III. Dalam Bulletin du Jardin Botanique Buitenzorg. A Report on The Wetland Avifauna of South Sulawesi. Indonesia. 141-151. 3 Volumes. R. Ehime University. Hydrobiologia. 1998. Ser. 1984. Biro Pusat Statistik. Ballen. C. Dalam Biological System of Mangroves.V. Flora of Java. Japan. C. & R. Arboreal Arthropod Community of Mangrove Forest in Halmahera. N. Hal. Bangkok. R. 1988. 4: 286-289.G. 5: 27-55.A. IUCN. 176 hal. P. S. Simpang Hilir. P. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment: Restoration & Management. 1993. Adiwiryono. Indonesia.. Indonesian Ornithological Society. Revisio Generis Avicenniae. 285: 249-255. The Netherlands. Sukristiyono & V. Jakarta. Bogor. 241-257. Bailey. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986.P. The Terrestrial Mangroves Birds of Java. The Social Consequences of Tropical Shrimp Mariculture Development. Statistik Indonesia. Backer. 1990. 83 hal. & C. Indonesia. Noordhoff. Sonneratiaceae. Backer. Hal. S. 1990.J. I. C. 2013 . Abe. Bangkok.DAFTAR PUSTAKA Abdulhadi.

A. Management of Mangrove Exploitation in Indonesia. 447 hal.H. Darwin. Chapman. Dev. 1988. Crown Agents for the Colonies. Dalam Biological System of Mangroves. Botanical Surveys in Mangrove Communities. & Koesoebiono. The Molluscan Fauna in Reef Associated Mangrove Forests in Elpaputih and Wallale. J. 251-258. Williams. 53-80.H. P.J. A. London. Chapman. benevens eenige opmerkingen omtrent de samenstelling der terplaatse voorkomende moerasbosschen. V. Ecol. Chapman. 4202 . Malaysia. Valduz. Vloed.J. V. Indonesia. Boon. Wet Coastal Ecosystems. UNESCO. editor. 1976b. J. 1980.T. Nat. Dalam Tectona XV. Marine Ecology . Elsevier Scientific Publishing Company. Tectona. A Study on Mangrove Fish at Handeuleum Group and Panaitan Island of Ujung Kulon National Park. Burbridge. Chapman. D. 1.S. 4: 349-359. I.-Indië.Becking J. Ceram.J. 1991. Chambers. 292 hal. hal. De inrichting van de voor exploitatie in aanmerking komende bosschen in de afdeeling Bengkalis. J. & W. August 26-30. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment. 1993. 740-760. V. 173182. Paris. Vegetational Relationships in The Mangroves of Tropical Australia. 1976a. Austr. Hal. 1985. 1977. Hal. Budiman. 1935. 2 volume. Hal 10911095.W. Burkill. 1936.. A Dictionary of The Economic Products of the Malay Peninsula. Bunt. L.R. 428 hal. Cramer. Crabs and Molluscs #2: Ecological Distribution of Molluscs. Meindersma. Mangrove Monograph No. Dalam The mangrove Ecosystem: Research Methods. den Berger & H. Hal. V. Burhanuddin. Mangrove Vegetation. Monograph on Oceanological Methodology 8.. 29: 344-373. Budiman.Progress Series. The Environment and Geomorphology of Deltaic Sedimentation (some examples from Indonesia) Trop.A. Ehime University. Ecosystems of the World: 1. 1922. Ecology and Behaviour of Benthic Fauna. Japan. Hal. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. 1981. 2402 hal. Dalam Prosiding Lokakarya Mangrove Fisheries and Connections. M. 1984. Pergamon Press. Ipoh. 1980.of mangrovebosschen in Ned. Coastal Vegetation.J. Univ.G. 49-57.

45 hal. Jakarta Ding Hou. 285: 237-247. 1997. Departemen Pertanian. 1991.H. Prolongued Inundation and Ecological Changes in An Avicennia Mangrove: Implications for Conservation and Management. & W. Danielsen. & W.. 1997. PPLH-UNSRI and the Danish Ornithological Society. de Buiten zorg. Danielsen. Bogor. Radjoengans. Indonesia. 32: 87-99. Ser. Skov. Telaah Ekologis Kelimpahan Juwana Udang Jerbung (Penaeus merquiensis de Haan) di Perairan Sekitar Mangrove Sungai Donan. J.T.. Departemen Kehutanan. Jakarta. & H. Hal 175. PHPA. 1991. XI: 233-519. AWB. Direktorat Jenderal Perikanan. Danielsen. H. J. Dalam Prosiding Seminar IV Ekosistem Mangrove. 1931. 3: 8-11. 1990. Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove di Indonesia. Integrating Conservation With Land-use Planning in The Coastal Region of South Sumatra. S. B. Wetland Benefits. Jakarta. Bot. Statistik Perikanan Statistik Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan. 1972. Breeding habitat of Milky Stork Mycteria cinerea in South Sumatera Indonesia. Rhizophoraceae.S. H. 5: 429-493. J. Bull. H. Bull. Jard. De Tropische Natuur. Delsman. 16: 155-160. Observations on The Floral and Vegetative Phenologies of North-eastern Australian Mangroves. M. 2033 . Ser. F. Asian Wetland Bureau. Indonesia. Purwoko. Booth. de Haan. & G. Jawa Tengah. Silvius. OEC. A. Aust. Danser. Bogor. Waterbird Study Results From South East Sumatra. Claridge. Wetlands for the America’s. Tectona 24: 39-76. 1994. Cilacap. Skov & W. F. J.C. F. Bot. III vol. Jakarta. 210 hal. 1984. 1958. Davies. Departemen Pertanian. M. Verheugt. 1931. J. Hydrobiologia. Flora Malesiana.C.E..Choy. The Loranthaceae of the Netherlands Indies. Williams. Djamali. Het een en ander over de Tjilatjap’sche vloedbosschen. International Waterfowl & Wetlands Research Bureau. N.I. 1993. Duke. Bunt & W. Verheugt. 1991. J. The Potential for Wetlands to Support and Maintain Development.C. Indonesia. 1987. A.

F. W.A. 1984: 663-671. 63-100. English. Combretaceae. Environmental Database on Wetland Interventions (EDWIN). Allen & Zuwendra. Trop. Exell. Lokakarya Harimau Sumatera. Wilkinson & V. Mangrove Floristics and Biogeography. 1954. Int. B. & E. Indonesia. 22-26 November 1992. Australia. Survey Manual for Tropical Marine Resources. D. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment .M. Foo.A Neglected Mangrove Resource. 119 hal. 1989. West Sumatra. Tiger Data in Wetland Data Base and a Recommendation to Enhance the Chances of Tiger Survival. Erftemeijer. P. Erftemeijer. PHPA. Bogor. 368 hal. G. Fernandes. Management and Utilization of Mangroves in Asia and the Pacific. van Balen & E.J.O. & J. Baal. Fong. 1994. Pulau Basu). AWB/INTERWADER & Catholic University of Nijmegen. Nipa Swamp . Mangrove Swamp and Fisheries in Sabah. Spaans. Bab 4. S.. 151 hal. FAO Environment Paper 3. PHPA-AWB/ INTERWADER. Soc. Flora Malesiana. Verheugt. F. G. Kadarisman. Preliminary Resource Inventory of Bintuni Bay and Recommendations for Conservation and Management. Bogor. Indonesia. N. 299303. Hal. Bakung Island. Riau (Pulau Bakung. W. Laporan No. Survey of Coastal Wetlands and Waterbirds in the Brantas and Solo Deltas. The Importance of Segara Anakan for Nature Conservation. 1157-1161. 59 hal. Fiselier. 1990. Indonesia. H. Purwoko.. A.M.Restoration & Management. 92 hal. 1988. Dalam Tropical Mangrove Ecosystems (Volume 41).C.W. Dalam Tectona XXVII. Hal. 1991a. 1992.Duke. hal. Ecol. Baker.A. Djuharsa. Indonesia. F. P. Dalam Tropical Ecology & Development. 11. 4204 . 1982. Centre for Environmental Studies. 45 hal. 4: 533-589.. Townsville. A. 1934.W. 1984. J. 1992. Padang. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. P. S. Erftemeijer. Rome. A. Living off the Tides.T. Bogor. 1988.L.. Giesen. 6. Australian Institute of Marince Science. Leiden. Skov & R. Kuala Lumpur. With Special Reference to Its Avifauna. East Java (Indonesia). 1980. Ser. van den Top. Over mangrove Culturen.T. Djuharsa.S.I.. the Netherlands. Bogor. Wong. W. Altenburg. F. Danielsen. PHPA/ AWB. H. C. Frazier.

Hassan. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. 1993. 1991.. W. PHPA/AWB-Indonesia. Malayan Nature Journal. W. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. van Balen. W. & Sukotjo. Min. Bogor. & T. Sumbawa. & Rudyanto.E. 1981. 1991. 45-55. Volume II. editor. 48 hal. of Agriculture. 2053 . Department of Fisheries. Ti. Mass Feeding of Dog-faced Water Snakes (Cerberus rhynchops) on Sumatran Mudflats. Handbooks of the Flora of Papua New Guinea. & B. 1991. Baltzer & R. Giesen. Publikasi PHPA/AWB. Bogor. 34 hal. Peranan Berang-berang Bagi Manusia. 17. August 9-11. Government of Papua New Guinea. Sumatra. 26. 1989. Groombridge. 46: 265-266. Baruadi. Giesen. Ambon. Giesen. E. 1993. Indonesia. 98 hal. W. Dalam Prosiding Simposium Pertama mengenai Berang-berang di Indonesia. 585 hal. Giesen. 240 hal. Henty. W. W. Global Biodiversity. 14 hal. Integrating Conservation with Land-use Development in Wetlands of South Sulawesi. Bogor. 257-265. Giesen. W. Problems and Implications. 1988. Chapman & Hall. Satonda Island. Perubahan Habitat Lahan Basah di Kepulauan Sunda Besar dan Implikasinya terhadap Keragaman Hayati [Habitat Changes in Wetlands of the Greater Sunda’s and Implications for Biodiversity]. Giesen. Giesen. 10. Status of the Earth’s Living Resources. 1994. editor. Hardjowigeno.L. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetlands No. W. Jambi. S. 10 hal. Bogor. 17 hal. Bogor. 1991. 1992. Dalam Seminar “Coastal Zone Management of Small Island Ecosystems”. 7-10 April 1993. and Its Unique Stromatolites. Dalam prosiding simposium Mangrove Management: its Ecological and Economic Considerations. 1994. Hutan Bakau Pantai Timur Nature Reserve. B. Mangrove Soils of Indonesia. Notes and Observations. Several Short Surveys of Sumatran Wetlands. M. 7 April 1994. Hal. Indonesia’s Mangroves: An Update on Remaining Area and Main Management Issues.Giesen. Lae. Karang Gading-Langkat Timur Laut Wildlife Reserve (North Sumatra). Hal.B. PHPA / AWB. Bogor. 1986. Observations on Acid Runoff and Iron in Brackishwater Fishponds. R.

Agricultural University of Wageningen. IPB Press. Hal. UNESCO Regional Office for Science & Technology for Southeast Asia. A. 4: 256-62. the Netherlands. 4206 . PhD thesis. 1997. Studi lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta. 1989. Prosiding Lokakarya Pemantapan Strategi Pengelolaan Lingkungan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua. Tat-Mong. Indonesia). Kostermans. Kusmana. Kuala Lumpur.L. 1997. #1: Floristic Composition and Stand Structure. 1984. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. S. & M..J. M. Irian Jaya. IPB Press. G. J. 23: 173-189. Ogino. Komiyama. A. Pengelolaan Hutan DAS Rokan . A. Bogor. 1987. A. S. Kusmana. Jakarta. Tree Mortality in Mangrove Forests. & A.E. Lugo. A. De Tropische Natuur. Chaniago & S. Khazali.An Introduction. Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove. (Sterculiaceae). Bogor. Kitamura. Fascinating Snakes of Southeast Asia .L.L. F. C. Japan.F.A. Hal 41. in Indonesia. 1988. Coastal Zone Resource Development and Conservation in Southeast Asia. 1997.Hutan Mangrove Kabupaten Bengkalis dan Kemunduran Perikanan di Bagan Siapi-api dan Sekitarnya. 11-13 September 1993.. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Tomi & K. Monograph of the Genus Heritiera Aitn. Baba. T. Bogor. 1984. 1999. 17: 177. Wetlands International – Indonesia Programme. Panduan Teknis Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat. C. C & Onrizal. Forest as an Ecosystem.W. Jakarta. Bogor.M.Hilmi. Moriya. 182 hal. 1993. 1959. 1997. Pengenalan Jenis Pohon Mangrove di Teluk Bintuni. Jiménez. & T. Miyabara. Landscape-ecology of Ujung Kulon (West Java. Anwar.185. C.A. 1934. 85-96. 47 hal. 124 hal. Biotropica. with Special Reference to Indonesia. Dalam Biological System of Mangroves. Handbook of Mangroves Knox. Kapal Kerinci. (tidak dipublikasikan) Hommel. Tesis Program Pasca Sarjana IPB. Tropical Press. Kasry. Keng. Bali & Lombok.G. De luchtfoto en de topografische terreingesteldheid in de mangrove.J. P. 206 hal. Metoda Survey Vegetasi. H. Kusmana & Suhendra. Its Structure and Function. 1985. JICA & ISME. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. Reinwardtia. Ehime University.. Prawiroatmodjo. Kint.

Res. Mepham. 322 hal. Jakarta. Djambatan. Kuala Mepham. The Detritus Based Food Web of An Estuarine Mangrove Community. A. Heald.W. Volume 2: Forest Resource Base. Ecology and Productivity of Malaysian Mangrove Crab Populations (Decapoda: Brachyura). Hutan Mangrove: Antara Nilai Ekonomi dan Fungsi Ekologi. MacNae. West Java. 1987. (tidak dipublikasikan) Macintosh. Mangrove: The Forgotten Forest Between Land and Sea. 70-77.S. 1997. Jakarta. 1984. 1993. De Tropische Natuur. Mann. H. PHPA/AWB.Afr. Eenige bijzonderheden over mangrove. Technical Report No. W. D. 1985: 77. Cimanuk River Estuary. Some Notes on The Crustacean Fauna Around Mangrove Area of Pancer Balok. Laut Nusantara (Marine Nusantara). 1: 265-268.R. E.H. 1985. K. Manuputty. W. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . Indonesia. 1994. Nontji. A General Account of the Fauna and Flora of Mangrove Swamps and Forests in the Indo-West-Pacific Region. & E.Restoration & Management. S. Lumpur. Melisch. 1923. 12: 25-31. Mastaller. Nurkin.bosschen.W. Hanafia & Rudyanto. Bogor. 6: 73-270. B. Y. Studies in Ecology. Biol. & J. 1979. Vol. Dalam Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove. Vol. 1. The Flora of Tidal Forests. 97 hal. E. Adv. 1990. Warta Konservasi Lahan Basah. An Assessment of the Importance of Rawa Danau for Nature Conservation and An Evaluation of Resource Use. 1999. Jakarta. Bot. R. C. 1984. Estua.E. 1982. Departemen Kehutanan & FAO. 1974.H. Hal 5.J.. Nirarita. 1968. R. 2073 .Kusmana. Ecology of Coastal Waters. 39-46.Restoration & Management. mar. 1. W. Ch.a Rationalization of The Use of The Term Mangrove.W. Pedoman Pembuatan Persemaian Jenis-Jenis Pohon Mangrove. Fakultas Kehutanan IPB.. A Systems Approach.99 Meindersma. A. Odum. 8. Blackwell Scientific Publications. UTF/INS/065/INS: Forestry Studies. 1984: 231-240.J. 1984: 354-377. J. Malaysia. Situation and Outlook of the Forestry Sector in Indonesia. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . Giesen. E. Beberapa Catatan Tentang Aspek Pengusahaan Hutan Mangrove di Sulawesi Selatan. Noor. 2 No. Bogor. M.

the Enigmatic Mangrove..S. 20 (1): 28-33. E. Milky Stork Banding at Pulau Rambut. Skripsi.H. K. London. Th. Y. 1987. 383 hal. 4208 .M. Ambio. 1991. 1988. Ltd. 11: 252. Bandung. Womersley. N. Botany Bulletin No.A. SIS Newsletter Vol. C.J. Ong. 1991. & A. Primavera. J. 88 hal. Y. Jurusan Biologi . Othman. 1983..UNPAD. 1985. Rusila Noor. Intensive Prawn Farming in the Philippines: Ecological.. Japan. editor. Saenger. Ambio. Percival. Lim. West Java. with particular reference to those having socio-economic value. M. 6 No. Prakash. IV Rusila Noor. Papua New Guines National Herbarium. Value of Mangroves in Coastal Protection. 67a. Francis & K. Chihara.E. 96 hal. Bogor. The Systematic Position of Aegialitis. & J. 1982. Hegerl & J.N. PHPA/Asian Wetland Bureau. P. Reeve & Co.257. Ehime University. The Flora of the Malay Peninsula. 1975. Floristics and Ecology of The Mangrove Vegetation of Papua New Guinea.M. Vol. Y. Laporan Penyigian Burung Air di Sumatera Selatan dan Jambi. Bogor. Hydrobiologia. H. Davie. Biological System of Mangroves. Payne. Hal 1. Sibuea & Rudyanto. The Sabah Society with World Wildlife Fund Malaysia. M. AWB publikasi no. & M. Global Status of Mangrove Ecosystems. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir & Laut IPB. Kuala Lumpur.Ogino. 1998. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. Phillipps. J. J. Said. Indonesia. 285: 277-282.S. Wallaceana. Monocotyledones. 181 hal. I.. 1995. Rancangan Rencana Pengelolaan Kawasan Segara Anakan.. 3. Mangroves and Aquaculture. Department of Forests. Buku I Kondisi & Potensi Biofisik Kawasan. IUCN Commission on Ecology Papers No. A List of Wetland Plant Species of Peninsular Malaysia. 12. 1993. 1994. 74: 11-15. Rusila Noor. 332 hal. 1924. and Economic Implications. 8. Studi Populasi Burung Air Kaitannya dengan Usaha Konservasi di Daerah Pantai Indramayu dan Cirebon. Lae. 1990.D.L. A Field Guide to the Mammals of Borneo. Ridley. Social.

D. 1989. Taufik. The Status of Storks. Blasco & C. Hal. M. 1980. Coastal Wetlands Inventory of South East Sumatra.L. M. V. M. 1992.J. Soewito. EDWIN. Indonesia. AWB/INTERWADER. 1996. Japan. Taufik. 1999.J.J. Hal. Verheught. 101 hal. Sasekumar. 1107-1112. Audrey. 1989. Dalam International Social Tropical Ecologi. Status Ekosistem Hutan Mangrove dalam Kaitannya dengan Kepentingan Perikanan di Indonesia dan Kemungkinan Pengembangannya. Silvius.J.M. The Indonesian Wetland Inventory.. 247: 195-207. E. Laporan PHPA . 191-211. Prosiding Seminar III Ekosistem Mangrove.C. Ibises & Spoonbills in Indonesia. A. Hal 39. Bogor. Masalah Penentuan Batas Lebar Jalur Hijau Hutan Mangrove. Chong. Laporan Survey Sumatran Waterbird Laporan Studi ICBP No. Silvius. Hydrobiologia. Mangroves as a Habitat For Fish and Prawns.INTERWADER No. PHPA-Asian Wetland Bureau. M. Silvius. A. A.M. Cambridge.. M. 1986. Djuharsa & A. D’Cruz & M.. L. 9. Spalding. Survey of Coastal Wetlands in Sumatra Selatan and Jambi. A Preliminary Compilation of Existing Information on Wetlands of Indonesia. 4: 163-164. Leh & R. with Special Reference to Karang Agung. Prosiding Seminar Tahunan ke12 the Malaysian Society of Marine Sciences. Hal. Bogor. International Society for Mangrove Ecosystems.C. M. M.J & W.. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir: Pengalaman Pengembangan Tambak Ramah Lingkungan dan Rehabilitasi Mangrove di Karangsong Indramayu. A Survey Report and Compilation of Existing Information. Jakarta. 1987. Jakarta.T.Samingan. W. Verheugt & J.T. Notes on The Vegetation of The Tidal Areas of South Sumatra.. Savitri. Indonesia. World Mangrove Atlas.D. 1. Khazali. Sasekumar. E.P. 2 volume.U. Iskandar. Bogor. J. Silvius. M. Berczy. M. Kukila No. R. I. Conservation and Land-use of Kimaam Island. 2093 . M. Field editor.U. 1989. Silvius. Steeman.J. Kuala Lumpur. D’Cruz. Indonesia. 121 & 268. Soerianegara. 1987. Wetlands International – Indonesia Programme. Indonesia. V. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. Leh. F. A & M.W. 1984. The Sungai Pulai (Johor): A Unique Mangrove Estuary. hal 124-125. & A. 1986.J. Okinawa. PHPA. Bogor. Chong.

BIOTROP Special Publication No. Longman Malaysia.B. Integrating Mangrove and Swamp Forests Conservation with Coastal Lowland Development. 1941. Thurairaja. Conservation Status and Action Program for the milky stork (Mycteria cinerea). 1989. Indië. Mar. Ser. 1986. Indonesia. 1929.G. & J. C. van Bodegom. Mus. 237 hal. Danielsen. 1949.G. Vol. 22: 1302-1332. U.Steup.K. H. 5: 431. hal. S. Verheugt. The Botany of Mangroves. Flora Malesiana.J. Tweedie. F. 1958. Harrison. Cambridge.. Ser. Macroalgae in Indonesian Mangrove Forests. C. Bull. Kustaanwas en Mangrove. Purwoko. Plumbaginaceae. the Banyuasin Sembilang Swamps Case Study. Kadarisman.H. 134: 89-100. Cambridge University Press.G. F. Ecol.L.G. A.J. 4: 107-112. 1989. M. The Terrestrial Mangrove Birds of Java. Outline of Vegetation Types in Indonesia and Some Adjacent Regions. 4210 . De Tropische Natuur.G. 20: 85-94. van Steenis.F. South Sumatra Province. K.I.W. Flora Malesiana. 37. Tokyo.G. van Steenis. een weinig bekende mangrove-boom. 1994. van Steenis. 193-205. 1957.441. 1987. 1988. W. A. Tomlinson. Hal 211-220. 12: 353-355. J. van Balen. Exp.. 1991. Verheught. Natuurwetenschappelijk Tijdschrift voor Ned. V. De vloedbosschen in het gewest Riouw en onderhoorigheden. Natn. Ecology of Mangroves. J. & M. IV: 61-97. 1936. C. B. Wowor. 419 hal. 79: 1-13. Colonial Waterbirds.G. Foraging on Mangrove Pneumatophores by Ocypodid Crabs. Tanaka. Osbornia octodonta.K. 1954. M. Wada. Coastal Resources Development Options in the Southeast Asia and Pacific Regions: Economic Valuation Methodologies and Applications in Mangrove Development. Ser. & D. Biol.G. van Steenis.. Maritime Studies. Prosiding the 8th Pacific Science Congress. 26: 194-6. 14: 93-106. Skov & R. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Management: Its Ecological and Economic Considerations’. Tectona. P. J. I. W. Sci. Chihara. Landscape and Urban Planning. Malayan Animal Life.M. Introduction to Account of the Rhizophoraceae by Ding Hou..J. C.J.

East Nusa Tenggara.M. 1984. di Indonesia Jilid ke-2. 1976. Yaputra & B. 2113 . Philippines. Wibowo.Wahyuni. PHPA/AWB Bogor. The Coastal Environmental Profile of Segara Anakan-Cilacap. A. T. Yogyakarta. Mangroves of the Northern Territory. Wijayakusuma. Whitmore. Sadorra. Australia. S. 1988.M. Sumber Benih Baru di Indonesia Timur untuk Menanggulangi Masalah Perkembangan Tambak.. E. A. ICLARM Technical Reports 25. Pustaka Kartini. S.. T.S. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-4.T.. H. Indonesia. G. H. Oxford University Press. Wardoyo. I. Conservation Commission of the Northern Territory. The Ecology of Sumatra. 6. Palms of Malaya. 1973. 583 hal. Jakarta.H. 7.. 1995. M. J. Baltzer and N. Rusila Noor.J.T. 132 hal. Wijayakusuma.G. Northern Territory Botanical Bulletin No. 1992. N. Zieren. 1993. Y. Jakarta. & F. Walker. Watson. H. Whitten. Hisyam. 1989. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid I. M. Rasyid. 777 hal. Pustaka Kartini. Jakarta. Sulawesi Selatan. Mustafa & G. Jakarta. Wirian. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-3. Gajah Mada University Press. 1984. 1985. Nuraini. The Ecology of Sulawesi. Editor. S. J. Palmerston. M. Beberapa Jenis Hasil Perairan Segara Anakan Cilacap yang telah Dimanfaatkan Penduduk Sekitarnya. International Center for Living Aquatic Resources Management. Wirian. S... 1990. T. Yogyakarta. Wightman. P. Flora of Okinawa and the Southern Ryukyu Islands. Hal 358. Dalimartha & A.E. Saleh. 275 hal. 1: 1-8. Damanik. Wijayakusuma. Federated Malay States Government. S. S. M. Anwar & N. Kuala Lumpur. White. Jakarta. S. Jawul Penelitian Budidaya Pantai.S.. South Java. M. 1996. 1928. Singapore. 1989. Henderson. Gajah Mada University Press. Pustaka Kartini.C. M. Dalimartha & A. M. 82 hal. H. Martosubroto & M. Pustaka Kartini. Whitten.J. Wetlands of Sumba. Maros. Yaputra & B. Wibowo. Tanaman Berkhasiat Obat Wijayakusuma. Mangrove Forests of the Malay Peninsula. & S.J. A.. Manila. Malayan Forest Records No. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove.

biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu. tidak bercabang sampai daun pertama. Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun. Tumbuhan yang merambat ditanah. Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu. Tumbuhan yang hidupnya bergantung kepada inangnya. Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar. dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai. Tumbuhan yang memiliki kayu besar. Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). tetapi mampu untuk melakukan fotosintesa sendiri. Daunnya tidak panjang dan lurus. Parasit (Parasite) KELOMPOK TUMBUHAN Belukar (Shrub) Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar. Epifit (Epiphyte) Paku-pakuan (Fern) Palma (Palm) Pemanjat (Climber) Pohon (Tree) Terna (Herb) 4212 . namun tidak menyerupai rumput. dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun. biasanya memiliki bunga yang menyolok. Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai. Dapat hidup tanpa inang. tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.GL OSSARY GEOGRAFIS Dunia lama (Old World) Pan-tropis (Pan-tropical) Eurasia dan Afrika Terdapat di seluruh daerah tropis di seluruh dunia KEBIASAAN HIDUP Hemi-parasit (Hemi-parasite) Tumbuhan yang sebagian hidupnya bergantung kepada inangnya. tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama. lurus dan biasanya tinggi.

Akar banir/papan (Buttress) Akar lutut (Knee root) Akar nafas (Pneumatophore) Akar Tunjang (Stilt-root) akar udara akar banir/papan akar lutut akar nafas akar tunjang Gambar bentuk-bentuk akar 2133 . Bagian dari kecambah yang akan tumbuh menjadi pangkal batang yang akan berhubungan dengan pangkal akar. biasanya berfungsi untuk penunjang mekanis. Beberapa kadang-kadang menyerupai struktur akar yang dimiliki oleh famili Rhizophoraceae. Lentisel (Lenticel) Sisik (Scales) AKAR Akar udara (Aerial root) Struktur yang menyerupai akar.BATANG/KULIT KAYU Bercelah (Fissured) Getah (Latex) Hipokotil (Hypocotyl) Goresan yang dalam pada batang pohon atau kulit kayu. menggantung di udara dan bila sampai ke tanah dapat tumbuh seperti akar biasa. Akar yang muncul dari tanah kemudian melengkung ke bawah sehingga bentuknya menyerupai lutut. keluar dari batang. Cairan yang pekat seperti susu. Akar berbentuk seperti papan miring yang tumbuh pada bagian bawah batang dan berfungsi sebagai penunjang pohon. Tonjolan pada kulit yang memungkinkan udara luar memasuki jaringan di dalamnya. pada kulitnya terdapat celah-celah kecil yang berguna untuk pernafasan. Bentukan pada pohon yang berbentuk datar. Akar yang tumbuh dari batang diatas permukaan dan kemudian memasuki tanah. berukuran kecil dan hanya bisa terlihat baik dengan menggunakan kaca pembesar. berupa struktur eksternal yang menyerupai piring. muncul dari dalam tanah. terbentuk dari epidermis. Akar yang tumbuhnya tegak.

Panjang daun 3 – 5 kali lebarnya. bagian pangkal dan ujung daun runcing. Panjang daun 2 kali lebarnya. Struktur pada tumbuhan yang mengeluarkan cairan lekat atau berminyak. Bulat telur (Ovate) Bulat telur terbalik (Obovate) Elips (Elliptic) Lanset (Lanceolate) Bentuk daun melebar dibagian tengah. Titik sudut antara sisi atas dan batang tempat daun. Pada tiap buku-buku batang terdapat 2 daun yang berseberangan pada ranting. misalnya pada permukaan daun. kebanyakan berbentuk elips. Bagian yang mirip daun pada daun majemuk. Urat bagian tengah pada daun. Pada tangkai daun yang bercabang-cabang terdapat lebih dari satu helaian daun. Bagian sisi dari daun. Majemuk (Compound) Susunan Berlawanan/berhadapan (Opposite) Bersilangan (Spiral/Alternate) Bentuk Bulat memanjang (Oblong) Panjang daun 2 – 3 kali lebarnya. Tonjolan vaskular yang biasanya terlihat dari luar. posisi normal untuk tunas lateral. Kelompok tumbuhan yang daunnya berguguran/rontok secara periodik (misalnya pada musim kering). bagian pangkal lebar dan bagian ujung runcing. melebar dibagian tengah dan kedua ujungnya berukuran hampir sama. 4214 . Pada tiap buku-buku batang hanya terdapat 1 daun.DAUN Kelenjar (Gland) Ketiak (Axil) Meranggas (Deciduous) Anak/pinak daun (Leaflet) Selalu hijau (Evergreen) Tepi/sisi (Margin) Urat (Vein) Urat tengah (Midrib) Unit Sederhana/tunggal (Simple) Pada tangkai daun hanya terdapat satu helaian daun saja. Tumbuhan yang berdaun sepanjang tahun. Bentuk daun seperti telur terbalik.

Pinak daun yang terletak pada dasar bunga. terletak pada bagian luar perhiasan bunga. Suatu struktur menyerupai daun yang terletak pada bagian dalam perhiasan bunga. Merupakan terminologi yang digunakan untuk semua daun kelopak (sepal) pada bunga. berfungsi untuk menarik perhatian serangga penyerbuk. BUNGA Daun kelopak (Sepal) Kelopak bunga (Calyx) Struktur berwarna hijau menyerupai daun atau hijaukekuningan. Kelopak tambahan (Epicalyx) Mahkota bunga (Corolla) Daun mahkota (Petal) 2153 . Bagian terluar suatu bunga yang biasanya terdiri atas struktur seperti daun yang dalam tahap kuncup membungkus dan melindungi bagian-bagian bunga lainnya. Tumpul (Blunt) Ujung daun membentuk sudut yang tumpul. Istilah untuk seluruh daun mahkota pada bunga. biasanya berwarnawarni untuk menarik perhatian serangga penyerbuk. Meruncing (Pointed/Acute/ Ujung daun membentuk suatu sudut lancip atau ujung Acuminate) daun sempit memanjang dan runcing. diluar kelopak bunga.elliptic oblong lanceolate ovate obovate spathulate Gambar bentuk-bentuk daun Ujung Membundar (Rounded) Ujung daun membulat atau hampir tidak terbentuk sudut sama sekali.

dimana masing-masing bagian mengandung kantung tepung sari. Pada bunga terdapat benang sari maupun putik. Gametofit jantan dari tumbuhan berbiji. Bagian yang menunjang benang sari. 4216 . Tiang jaringan langsing yang timbul dari jaringan bakal buah tempat tumbuh tabung tepung sari. lekat yang dikeluarkan oleh tumbuhan. Bagian organ betina pada bunga yang biasanya bersifat lengket. Butir tepung sari melengket disini dan kemudian berkecambah. Struktur yang terdapat pada ujung filamen dan terdiri atas dua bagian. Berkelamin tunggal (Unisexual) Pada bunga terdapat hanya salah satu dari dua macam alat kelaminnya.Benangsari (Stamen) Kepala sari (Anther) Alat kelamin jantan. putik benang sari Tangkai benang sari (Filament) Tepung sari (Pollen) Kepala putik (Stigma) Tangkai putik (Style) daun mahkota daun kelopak/ kelopak bunga dasar bunga tangkai bunga Gambar bunga dengan bagian-bagiannya Nektar/madu (Nectar) Berkelamin dua (Bisexual) Cairan manis.

Biji yang berkecambah dalam buah (misalnya pada banyak jenis Rhizophoraceae). Bakal daun didalam biji/biji benih yang kemudian berkembang menjadi daun pertama dari kecambah/ benih.Letak Di ketiak (Axillary) Di ujung (Terminal) Formasi Soliter (Solitary/Single) Payung (Umbrella) Bunga muncul secara tunggal. Bentuk perbungaan dimana tangkai bunga utamanya panjang dan tangkai anak bunga sangat pendek. tidak dalam kelompok. Bunga majemuk tidak terbatas. demikian pula cabang-cabang yang terdapat di ibu tangkainya ditutupi suatu bunga diujungnya. sehingga anak bunganya duduk. tandan atau batang. yang pada beberapa tanaman berperan penting sebagai bahan makanan. dari ujung ibu tangkalnya mengeluarkan cabang-cabang yang sama panjangnya dan masing-masing cabang tersebut mempunyai 1 daun pelindung pada tangkalnya. Bulir (Spike) Berbatas/kelompok (cyme) Bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya ditutupi dengan suatu bunga. Bagian dari kecambah/benih yang terletak diantara bakal cabang dan bakal akar. Bunga terletak atau muncul diujung cabang. BUAH Spora (Spore) Vivipar (Viviparous) Keping benih (Cotyledon) Sel reproduksi dari tumbuhan ferna. tangkai. Hipokotil (Hypocotyl) 2173 . Bunga terletak atau muncul dari ketiak daun. Malai/bergerombol acak (Panicle) Bunga majemuk yang ibu tangkainya bercabang-cabang dan cabang-cabangnya dapat bercabang lagi. sehingga bungan tidak terdapat pada ibu tangkainya.

Buah berbentuk seperti bola atau bulat. tangkai buah kelopak buah buah keping benih Bola/bulat (Ball) Kacang (Bean like) plumulae hipokotil radicle Gambar buah dengan bagian-bagiannya (Rhizophora apiculata) 4218 . Ceriops dan Rhizophora). terdapat dalam famili Rhizophoraceae (Bruguiera.Bentuk Silinder (Cylindrical) Buah berbentuk seperti tongkat atau galah. terutama ditemukan pada Xylocarpus dan Sonneratia. terutama ditemukan pada Avicennia. Buah berbentuk seperti kacang dengan berbagai macam bentuk.

INDEKS A Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis 48 50 52 54 56 58 60 62 64 66 68 70 72 74 76 C Calophyllum inophyllum Calotropis gigantea 146 148 Camptostemon philippinense 90 Camptostemon schultzii Cerbera manghas Ceriops decandra Ceriops tagal Clerodendrum inerme 92 150 94 96 152 D Derris trifolia 154 E Excoecaria agallocha 98 F B Barringtonia asiatica Bruguiera cylindrica Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza Bruguiera hainessii Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula 144 78 80 82 84 86 88 Finlaysonia maritima 156 G Gymnanthera paludosa 100 H Heritiera globosa Heritiera littoralis Hibiscus tiliaceus 102 104 158 2193 .

I Ipomoea pes-caprae 160 R Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata 118 120 122 174 K Kandelia candel 106 Rhizophora stylosa Ricinus communis L Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa 108 110 S Sarcolobus globosa Scaevola taccada 124 176 Scyphiphora hydrophyllacea 126 M Melastoma candidum Morinda citrifolia 162 164 Sesuvium portulacastrum Sonneratia alba Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata 178 128 130 132 180 N Nypa fruticans 112 Stachytarpheta jamaicensis T O Osbornia octodonta 114 Terminalia catappa Thespesia populnea 182 184 P Pandanus odoratissima Pandanus tectorius Passiflora foetida Phemphis acidula Pongamia pinnata 166 168 170 116 172 X Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii 134 136 138 140 W Wedelia biflora 186 4220 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful