Panduan Pengenalan

MANGROVE
di Indonesia

Oleh: Yus Rusila Noor M. Khazali I N.N. Suryadiputra

Bogor, Oktober 2006

Ditjen. PHKA

Indonesia Programme

i3

This publication has been made possible with funding from the CY 98 Environment Component of the World Bank/Netherlands Partnership Programme, through the IUCN Regional Biodiversity Programme for South and Southeast Asia. Publikasi ini dibuat atas dukungan biaya dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998, lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara.

THE WORLD BANK

This publication is adapted from: Publikasi ini merupakan saduran dari: Giesen, W., Stephan Wulffraat, Max Zieren & Liesbeth Schoelten. A Field Guide of Indonesian Mangrove. WI-IP (in prep.).

Cetakan pertama tahun 1999

Pencetakan ulang (kedua) tahun 2006, didukung oleh:

Green Coast
For nature and people after the tsunami

Dibiayai oleh:

Pustaka: Rusila Noor, Y., M. Khazali, dan I N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP, Bogor.

4ii

© Wetlands International – Indonesia Programme, 1999 Hak cipta dilindungi Undang-undang ISBN: 979-95899-0-8

Desain dan tata letak: Triana Ilustrasi: Wahyu Gumelar dan Tilla Visser Foto: Hidayat S., I N.N. Suryadiputra, Jennifer Dudley, Kitamura, Marcel J. Silvius, Wendy Suryadiputra, Wim Giesen

Pendapat dan saran yang dikemukakan dalam buku ini adalah semata-mata pendapat dan saran dari penulis/ penyadur dan tidak selalu mencerminkan kebijakan resmi dari Wetlands International dan Ditjen PHKA.

iii3

sangat sedikit pustaka yang berhubungan dengan mangrove di Indonesia. WI-IP telah menyelesaikan suatu manuskrip pengenalan mangrove Indonesia dalam Bahasa Inggris. baik karena beratnya buku-buku tersebut maupun harganya yang mahal. Hingga saat ini. 1975). Namun.KATA PENGANTAR Indonesia dikarunia memiliki mangrove yang terluas di dunia dan juga memiliki keragaman hayati yang terbesar serta strukturnya paling bervariasi. 1928). yang sayangnya belum bisa segera diterbitkan karena kendala biaya. 1989). termasuk Flora Malesiana. sehingga bagi yang ingin mempelajari mangrove Indonesia terpaksa harus mengacu kepada pustaka mengenai negara-negara tetangga. kelimpahan serta manfaatnya bagi umat manusia). Buku ini tidak ditujukan sebagai edisi akhir yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam identifikasi mangrove di Indonesia. sekaligus memberikan kesempatan yang berharga bagi mereka yang bermaksud mempelajari dan menikmati habitat ini. bagi yang ingin secara serius mempelajari mangrove haruslah mengacu kepada berbagai publikasi lainnya. baik karena beberapa jenis tidak terdapat di Indonesia atau karena titik berat pustaka tersebut hanya pada pohon dan belukar. Untuk mengisi kekosongan tersebut. hal ini dirasakan cukup menyulitkan dan kurang praktis. Buku ini dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama berisikan tentang gambaran umum mangrove (di dalamnnya tercakup habitat. ekologi. sebaran serta kebijakan/peraturan tentang mangrove di Indonesia). dan bagian kedua secara spesifik menjelaskan jenis-jenis mangrove di Indonesia (di dalamnya meliputi cara mengidentifikasi. Oleh karena itu. Tujuan ditulisnya buku ini adalah untuk memberikan suatu panduan sederhana pengenalan tumbuhan mangrove bagi mereka yang tertarik pada konservasi dan pengelolaan mangrove di Indonesia. Untuk melengkapi pustaka tersebut. Namun atas dukungan biaya oleh pihak sponsor (Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998) manuskrip tersebut kini telah berhasil disadur kedalam Bahasa Indonesia dengan beberapa tambahan dan perbaikan data. seperti untuk Malaysia (Watson. dan Australia (Wightman. akan tetapi banyak mengandung kelemahan. manfaat. saran dan kritik pemakai buku ini sangat diharapkan. Penyadur 4iv 3iv . Warisan alam yang sangat luar biasa ini memberikan tanggung jawab yang besar bagi Indonesia untuk melestarikannya. PNG (Percival & Womersley. Meskipun dalam beberapa hal pustaka tersebut bermanfaat.

Dr. Penyadur kedua dan ketiga memperbaiki dan menambah informasi dan data terbaru yang lebih sesuai untuk edisi ini.Indonesia Programme dibawah koordinator Laksmi A. Beberapa foto berwarna juga diambil dari Handbook of Mangroves in Indonesia (oleh Kitamura et. sedangkan pendisainan dan tata letak dilakukan oleh Triana. Indonesia) Penyelesaian publikasi ini dilakukan oleh suatu tim dari Wetlands International . Dr. Max Zieren. Atsuo Ida. lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara. Cecep Kusmana memberikan masukan yang sangat berharga dalam persiapan awal publikasi. Scott Perkin sebagai Ketua Program telah sangat berperan dalam memungkinkan penyaluran dana.UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. Jennifer Dudley dan Wendy Suryadiputra. Publikasi ini dapat diselesaikan berkat dukungan dana dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998. Liesbeth Schoelten dan tim produksi manuskrip Bahasa Inggris yang menjadi sumber utama publikasi ini. Marcel J. untuk itu Dr.al. Savitri. serta kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.) yang diproduksi oleh JICA-ISME (1997) melalui ijin yang diberikan oleh pimpinan proyek mangrove JICA di Bali. Penerjemahan dan penyaduran dari manuskrip Bahasa Inggris dilakukan oleh penyadur pertama. v3 . Ilustrasi hitam putih digambar oleh tangan terampil Wahyu Gumelar dan Tilla Visser. Foto-foto berwarna diambil oleh para penyadur juga oleh Hidayat Sunarsyah. Penghargaan dan ucapan terima kasih akhirnya disampaikan kepada Wim Giesen. Silvius sangat berperanan dalam persiapan awal penerbitan buku ini serta menyediakan beberapa slide-nya untuk digunakan. Stephan Wulffraat. Wahyu Gumelar.

PHPA (sekarang PHKA) dan AWB (sekarang Wetlands International) sangat berterima kasih kepada sejumlah sukarelawan yang telah memberikan sumbangannya kepada penyelesaian buku ini. meskipun penyelesaian buku ini sangat terlambat. Koordinator proyek yang pertama. Inggris) Banyak pihak yang terlibat dalam penyelesaian secara bertahap buku ini. Pada akhir 1993. berkenan untuk memberikan sumbangan dana yang memungkinkan dilanjutkannya proses penyelesaian akhir dan editing buku ini oleh penulis dan editor utamanya. the International Society for Mangrove Ecosystems (ISME. Wim Giesen. sehingga dapat digunakan dalam pembuatan gambar buku ini. Penyelesaian akhir buku ini kemudian dilanjutkan oleh Koordinator berikutnya. Wim Giesen. Terlepas dari masalah dana tersebut. Liesbeth Schoelten untuk ketekunan dan kemampuannya dalam memberikan pertelaan jenis. Ellecom. The Netherlands. dan Bea Tolboom yang telah mengumpulkan pustaka. Hennipman (Institute of Systematic Botany. J. Kami sangat berterima kasih kepada para sponsor yang memberikan dukungan. sayangnya harus meninggalkan Indonesia. terima kasih tak terhingga untuk Herbarium Bogor dan Rijkherbarium Leiden yang telkah memberikan kemudahan untuk menggunakan koleksi herbariumnya. The Netherlands. Arnhem. Produksi buku ini pada awalnya didukung oleh Stichting FONA. Dra. khususnya Stephan Wulffraat (yang membuat daftar jenis dan memulai seluruh proses). Dr. Yus Rusila Noor. Terima kasih juga disampaikan kepada staf perpustakaan Herbarium Bogor atas bantuan dan kesabarannya dalam memberikan pustaka yang diperlukan. termasuk Almarhum “Doc” Kostermans (Herbarium Bogor). The Netherlands).UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. The Netherlands dan Stichting Ludovica. E. Syukurlah. Cecillia Luttrell yang telah mencoba kunci identifikasi di lapangan dan memeriksa spesimen di lapangan. harus meninggalkan Indonesia pada awal 1995. Jepang). University of Utrecht.J Afriastini yang telah membantu identifikasi tumbuhan herbarium. sehingga pengerjaan buku ini agak terbengkalai. Max van Balgooij (Rijkherbarium Leiden) dan Dr. Ellecom. Max Zieren. Stichting Pro Natura. 4vi 3vi . kami juga menghaturkan terima kasih kepada pihak luar yang teah memberikan komentar dan masukan yang sangat berharga. selama kurun waktu 1991 – 1993. berpusat di Okinawa. Terakhir. Tilla Visser untuk gambargambarnya yang luar biasa. pengerjaan kemudian dilakukan sedikit demi sedikit sampai kemudian Koordinator proyek lanjutan inipun. Lebih dari itu. terutama juga karena kurangnya dana pendukung.

Pendahuluan 1.2 1. Kebijakan dan Peraturan Menyangkut Mangrove 5.4 5.1 4.1 5.DAFTAR ISI Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Daftar Isi I.1 1.2 2.2 5.1 2.2 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Penyebab penurunan luas mangrove V.3 II. Inggris) iv v vi vii 1 1 1 3 5 5 8 12 17 17 21 23 23 27 30 30 31 33 34 35 Bagian I Habitat Mangrove 2. Indonesia) (Edisi B.5 Pemetaan sumberdaya Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Peraturan yang berkaitan dengan konservasi mangrove Perkembangan terakhir vii3 .3 Kondisi fisik Tipe vegetasi mangrove Fauna mangrove III. Manfaat Mangrove 3. Apakah mangrove itu? Gambaran umum mangrove Indonesia Cakupan buku panduan (Edisi B.3 5. Status Mangrove Indonesia 4.2 Pemanfaatan mangrove Fungsi mangrove IV.1 3.

1 6.4 7. Areal Mangrove yang Dilindungi 6.3 7.VI. sumber gambar & foto Lampiran 2. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan Daftar Pustaka Glosari Indeks 190 198 201 212 219 Bagian II JENIS-JENIS MANGROVE SEJATI JENIS-JENIS MANGROVE IKUTAN 47 143 4 3 viii . Jenis mangrove. nama lain/sinonim.1 7.3 Mangrove dan sistem kawasan lindung Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Pemeliharaan keanekaragaman hayati mangrove 37 37 39 41 43 43 43 44 45 45 46 VII. Beberapa Petunjuk Studi Mangrove bagi Pemula 7.5 7.6 Pustaka penting Petunjuk untuk pengamatan lapangan Spesimen tumbuhan mangrove Studi vegetasi Studi fauna Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Lampiran Lampiran 1.2 6.2 7.

Tomlinson (1986) dan Wightman (1989) mendefinisikan mangrove baik sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas. dan terdiri atas jenis-jenis pohon Aicennia.I. termasuk jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di pinggiran mangrove seperti formasi Barringtonia dan formasi Pes-caprae. dkk (1997) menyebutkan 18.9 juta hektar. Rhizophora.2 Gambaran umum mangrove Indonesia Perkiraan luas mangrove di seluruh dunia sangat beragam. dkk. bahkan Groombridge (1992) menyebutkan 19. 1994) sampai 41. Macnae (1968) menyebutkan kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. Excoecaria.5% (Spalding. Bruguiera. isitilah “mangrove” secara umum digunakan mengacu pada habitat. 1. Xylocarpus. istilah “mangrove” digunakan untuk jenis tumbuhannya. Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung (Saenger. namun pada dasarnya merujuk pada hal yang sama. Pada dasarnya. Beberapa ahli mendefinisikan istilah “mangrove” secara berbeda-beda. Untuk kawasan Asia.1 Apakah mangrove itu ? Asal kata “mangrove” tidak diketahui secara jelas dan terdapat berbagai pendapat mengenai asal-usul katanya. sedangkan Spalding. Beberapa peneliti seperti Lanly (dalam Ogino & Chihara. Sementara itu Soerianegara (1987) mendefinisikan hutan mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. 1997) mangrove dunia. Sementara itu. Sonneratia. menurut Wightman (1989) yang lebih penting untuk diketahui pada saat bekerja dengan komunitas mangrove adalah menentukan mana yang termasuk dan mana yang tidak termasuk mangrove. luas mangrove diperkirakan antara 32 % (Thurairaja. Aegiceras. Dalam beberapa hal. 1983).1 juta hektar. Scyphyphora dan Nypa. Dalam buku panduan ini. 13 . dkk. menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur. PENDAHULUAN 1. 1988) menyebutkan bahwa luas mangrove di seluruh dunia adalah sekitar 15 juta hektar. Lumnitzera. Dia menyarankan seluruh tumbuhan vaskular yang terdapat di daerah yang dipengaruhi pasang surut termasuk mangrove. Ceriops.

5 juta hektar. Dapat ditemukan mulai dari tegakan Avicennia marina dengan ketinggian 1 . beberapa jenis mangrove mengembangkan mekanisme yang memungkinkan secara aktif mengeluarkan garam dari jaringan. Saenger. Dalam hal lain. dapat ditemukan Sonneratia alba dan Avicennia alba. 44 jenis herba tanah. mangrove tumbuh dan berkembang dengan baik pada pantai yang memiliki sungai yang besar dan terlindung. 1997). 5 jenis palma. Dengan areal seluas 3. mangrove di Indonesia lebih bervariasi bila dibandingkan dengan daerah lainnya. Bina Program INTAG. Dengan demikian terlihat bahwa Indonesia memiliki keragaman jenis yang tinggi. sementara jenis lain ditemukan disekitar mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove ikutan (asociate asociate). kadar garam yang tinggi serta kondisi tanah yang kurang stabil.600 ha (38%).23%) melebihi Brazil (1. Dalam hal struktur.200 ha (28 %) dan Sumatera 673. meliputi 89 jenis pohon. perkembangan yang paling pesat tercatat di daerah tersebut. hingga tegakan campuran BruguieraRhizophora-Ceriops dengan ketinggian lebih dari 30 meter (misalnya. Di daerah pantai yang terbuka.5 juta hektar (dalam buku panduan ini). di Sulawesi Selatan). Walaupun mangrove dapat tumbuh di sistem lingkungan lain di daerah pesisir. Bina Program INTAG (1996) menyebutkan 3. Dit. Dengan kondisi lingkungan seperti itu.3 juta ha).Di Indonesia perkiraan luas mangrove juga sangat beragam. seperti kondisi tanah yang tergenang.5 juta hektar dan Spalding.5 juta hektar. Mangrove terluas terdapat di Irian Jaya sekitar 1. Kalimantan 978. Ceriops dan Rhizophora.2 meter pada pantai yang tergenang air laut. Umumnya tegakan mangrove jarang ditemukan yang rendah kecuali mangrove anakan dan beberapa jenis semak seperti Acanthus ilicifolius dan Acrostichum aureum. 1996). Di seluruh dunia. 44 jenis epifit dan 1 jenis paku. Dari 202 jenis tersebut. dkk (1997) menyebutkan seluas 4. Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ekstrim. sementara itu di sepanjang sungai yang memiliki kadar salinitas yang lebih rendah umumnya ditemukan Nypa fruticans dan Sonneratia caseolaris. seperti Kandelia. Sejauh ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis tumbuhan mangrove.1 juta ha) dan Australia (0. 19 jenis pemanjat. Bruguiera.350. Nigeria (1. beberapa jenis mangrove berkembang dengan buah yang sudah berkecambah sewaktu masih di pohon induknya (vivipar). 43 jenis (diantaranya 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai mangrove sejati (true mangrove). 42 . Umumnya mangrove dapat ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia (Gambar 1). dkk (1983) mencatat sebanyak 60 jenis tumbuhan mangrove sejati.300 ha (19%) (Dit.97 juta ha) (Spalding. Indonesia merupakan tempat mangrove terluas di dunia (18 . dkk. sementara yang lainnya mengembangkan sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya. Di daerahdaerah ini dan juga daerah lainnya. Giesen (1993) menyebutkan luas mangrove Indonesia 2.

jenis mangrove yang dideskripsikan hanya mencakup 60 jenis. tipe vegetasi serta faunanya.H. Meskipun pada bagian dua tercantum juga aspek manfaat dari mangrove sebagai obatobatan. Dibagian ini ditampilkan panduan identifikasi jenis-jenis tumbuhan mangrove disertai ilustrasi dan/atau foto. disajikan panduan ringkas mengenai tekhnik dasar penelitian mangrove serta daftar nama dan alamat organisasi penting yang bergerak dibidang penelitian dan pengelolaan mangrove di Indonesia. status dan kondisi mangrove di Indonesia dibandingkan dengan bagian dunia lainnya. 1992).. Untuk hal demikian. Inti dari buku panduan ini terdapat pada bagian dua. Untuk mereka yang bermaksud melakukan penelitian mengenai mangrove. Bagian pertama berupa pendahuluan dan pengenalan terhadap mangrove secara umum. dilampirkan beberapa peta yang berkaitan dengan penyebaran mangrove dan kawasan lindung mangrove yang penting di Indonesia dan panduan ringkas bergambar identifikasi mangrove. juga diuraikan informasi mengenai peraturan serta perundang-undangan mengenai mangrove di Indonesia. termasuk beberapa uraian singkat mengenai tanah. dkk. khususnya berkenaan dengan dosis yang akan dipakai. namun pembaca diharapkan untuk berhati-hati dalam pemanfaatannya. 1. M. termasuk definisi mengenai mangrove. para pembaca sangat dianjurkan untuk mengacu buku-buku lain yang khusus membahas jenis-jenis tanaman obat (misalnya Wijayakusuma. Dalam bagian pertama ini juga disajikan informasi mengenai manfaat yang dapat digali dari mangrove. Selain itu. 33 .Seluruh jenis mangrove tersebut telah dideskripsikan dalam manuskrip Bahasa Inggris dari panduan ini. meliputi 43 jenis mangrove sejati dan 17 jenis mangrove ikutan. serta uraian mengenai habitat mangrove.3 Cakupan buku panduan Buku panduan ini terdiri dari dua bagian. Selain itu. Dalam panduan edisi Bahasa Indonesia ini.

44 Gambar 1. Peta penyebaran mangrove di Indonesia .

1968). stylosa dan Sonneratia alba tumbuh pada pantai yang berpasir. Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya. caseolaris yang tumbuh pada salinitas kurang dari 10 o/oo. bahkan pada pulau karang yang memiliki substrat berupa pecahan karang. bahkan Lumnitzera racemosa dapat tumbuh sampai salinitas 90 o/oo (Chapman. Beberapa jenis lain juga dapat tumbuh pada salinitas tinggi seperti Aegiceras corniculatum pada salinitas 20 – 40 o/oo. Teluk Jakarta (Hardjowigeno. kerang dan bagian-bagian dari Halimeda (Ding Hou. 1966. marina mampu tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90 o/oo (MacNae. salinitas serta pengaruh pasang surut. Ceriops tagal pada salinitas 60 o/oo dan pada kondisi ekstrim ini tumbuh kerdil. Jenis-jenis Sonneratia umumnya ditemui hidup di daerah dengan salinitas tanah mendekati salinitas air laut. 1977). Sulawesi Selatan. sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya. 1976a). kondisi ini ditemukan di utara Teluk Bone dan di sepanjang Larian – Lumu. Beberapa ahli (seperti Chapman. Pada salinitas ekstrim. 1981) menyatakan bahwa hal tersebut berkaitan erat dengan tipe tanah (lumpur.II. atau bahkan pada pantai berbatu. pohon tumbuh kerdil dan kemampuan menghasilkan buah hilang. Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. terutama di daerah dimana endapan lumpur terakumulasi (Chapman. 1991). misalnya di Florida. 1958). substrat berlumpur ini sangat baik untuk tegakan Rhizophora mucronata and Avicennia marina (Kint. HABITAT MANGROVE 2. kecuali S. 1977 & Bunt & Williams. 1934). Stylosa pada salinitas 55 o/oo. Di Indonesia. Avicennia merupakan marga yang memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lainnya. Di Indonesia. dkk. Rhizopora mucronata dan R. R. Jenis-jenis lain seperti Rhizopora stylosa tumbuh dengan baik pada substrat berpasir. 1976a). dimana mangrove tumbuh pada gambut dalam (>3m) yang bercampur dengan lapisan pasir dangkal (0. Amerika Serikat (Chapman. Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. Kint (1934) melaporkan bahwa di Indonesia. mangrove dapat juga tumbuh pada daerah pantai bergambut. Jenis-jenis Bruguiera umumnya tumbuh pada 53 . pasir atau gambut).5 m) (Giesen. A. Pada kondisi tertentu.1 Kondisi fisik Vegetasi mangrove secara khas memperlihatkan adanya pola zonasi (misalnya terlihat dalam Gambar 2). Substrat mangrove berupa tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi (62%) juga dilaporkan ditemukan di Kepulauan Seribu. keterbukaan (terhadap hempasan gelombang). Sebagian besar jenis-jenis mangrove tumbuh dengan baik pada tanah berlumpur. 1989).

1958 & Chapman. 1978a). umumnya didominasi oleh jenisjenis Bruguiera dan Xylocarpus granatum. Adapun pada daerah pantai yang tererosi dan curam. Untuk daerah di sepanjang sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut. MacNae (1968) menyebutkan bahwa kadar salinitas optimum untuk B. Irian Jaya (Erftemeijer. Pada daerah seperti ini lebar zona mangrove dapat mencapai 18 kilometer seperti di Sungai Sembilang. dkk. pemasukan dan pengeluaran material kedalam dan dari sungai. areal yang selalu digenangi walaupun pada saat pasang rendah umumnya didominasi oleh Avicennia alba atau Sonneratia alba. Panjang hamparan ini bergantung pada intrusi air laut yang sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pasang surut. Di Indonesia. Beberapa penulis melaporkan adanya korelasi antara zonasi mangrove dengan tinggi rendahnya pasang surut dan frekuensi banjir (van Steenis. Zona vegetasi mangrove nampaknya berkaitan erat dengan pasang surut. Kalimantan Selatan. gymnorrhiza adalah 10 – 25 o/oo. kecuali pada beberapa estuari serta teluk yang dangkal dan tertutup. yang mana areal ini lebih ke daratan. panjang hamparan mangrove kadang-kadang mencapai puluhan kilometer seperti di Sungai Barito. sementara B. 46 . 1989). sedangkan areal yang digenangi hanya pada saat pasang tertinggi (hanya beberapa hari dalam sebulan) umumnya didominasi oleh Bruguiera sexangula dan Lumnitzera littorea. parviflora adalah 20 o/oo. serta kecuramannya. Adapun areal yang digenangi hanya pada saat pasang tinggi. lebar zona mangrove jarang melebihi 4 kilometer.daerah dengan salinitas di bawah 25 o/oo. Pada umumnya. 1990) atau bahkan lebih dari 30 kilometer seperti di Teluk Bintuni. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt. lebar zona mangrove jarang melebihi 50 meter. Areal yang digenangi oleh pasang sedang didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora.

Gambar 2. mucronata Sarcolobus banksii Xylocarpus granatum 73 . parviflora Ceriops tagal Dh Ra Rm Sb Xg - Derris heterophylla Rhizophora apiculata R. 1989). Aa Ac Bc Bg Bp Ct - Avicennia alba Aegiceras corniculatum Bruguiera cylindrica B. Jawa Tengah (diadaptasi dari White. Contoh zonasi mangrove di Cilacap. gymnorrhiza B. dkk.

2 Tipe vegetasi mangrove Struktur Secara sederhana. daerah yang memiliki sungai berair payau sampai hampir tawar. R.Nypa lebih sering ditemukan. Samingan (1980) menemukan bahwa di Karang Agung. b) Mangrove tengah Mangrove di zona ini terletak dibelakang mangrove zona terbuka. komunitas N. Maluku. Van Steenis (1958) melaporkan bahwa S. daerah tengah. Di Karang Agung.fruticans yang bersambung dengan vegetasi yang terdiri dari Cerbera sp.2. mucronata. alba dan A. a) Mangrove terbuka Mangrove berada pada bagian yang berhadapan dengan laut. seperti di Pulau Kaget dan Pulau Kembang di mulut Sungai Barito di Kalimantan Selatan atau di mulut Sungai Singkil di Aceh. Sumatera Selatan. Xylocarpus granatum dan X. moluccensis. Samingan (1980) menemukan di Karang Agung didominasi oleh Bruguiera cylindrica. Excoecaria agallocha. serta daerah ke arah daratan yang memiliki air tawar. eriopetala. yaitu pada daerah terbuka. Sonneratia caseolaris lebih dominan terutama di bagian estuari yang berair hampir tawar (Giesen & van Balen. Ke arah pantai. Di zona ini biasanya didominasi oleh komunitas Nypa atau Sonneratia. fruticans terdapat pada jalur yang sempit di sepanjang sebagian besar sungai. Meskipun demikian. S. Gluta renghas. Namun. Di sebagian besar daerah lainnya. Di jalur-jalur tersebut sering sekali ditemukan tegakan N. 1958). dkk (1988) menemukan bahwa di Halmahera. 1993). Jenis-jenis penting lainnya yang ditemukan di Karang Agung adalah B. alba merupakan jenis-jenis ko-dominan pada areal pantai yang sangat tergenang ini. Komiyama. alba cenderung untuk mendominasi daerah berpasir. di zona ini didominasi oleh S. Komposisi floristik dari komunitas di zona terbuka sangat bergantung pada substratnya. B. Di zona ini biasanya didominasi oleh jenis Rhizophora. gymnorrhiza. mangrove umumnya tumbuh dalam 4 zona. campuran komunitas Sonneratia . di zona ini didominasi oleh Sonneratia alba yang tumbuh pada areal yang betul-betul dipengaruhi oleh air laut. sementara Avicennia marina dan Rhizophora mucronata cenderung untuk mendominasi daerah yang lebih berlumpur (Van Steenis. 48 . c) Mangrove payau Mangrove berada disepanjang sungai berair payau hingga hampir tawar. Stenochlaena palustris dan Xylocarpus granatum. alba. Sonneratia akan berasosiasi dengan Avicennia jika tanah lumpurnya kaya akan bahan organik (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. 1991).

Banyak formasi serta zona vegetasi yang tumpang tindih dan bercampur serta seringkali struktur dan korelasi yang nampak di suatu daerah tidak selalu dapat diaplikasikan di daerah yang lain. 142 jenis di Irian Jaya. 1993). Di Indonesia sendiri. Tabel 1 memberikan gambaran mengenai penyebaran seluruh jenis mangrove sejati di 6 negara di kawasan Samudera Hindia bagian utara/Pasifik barat laut. Pengecualian untuk Pulau Jawa. 166 jenis terdapat di Jawa. Meskipun daftar ini mungkin tidak terlalu komprehensif. dan Xylocarpus moluccensis (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman jenis mangrove yang paling tinggi di dunia. Saenger. Amerika Timur/Karibea dan Afrika Barat hanya memiliki 7 jenis serta Afrika Timur 9 jenis (Saenger. Kekayaan tersebut tidak hanya dalam hal kelompok tumbuhan Angiospermae. fruticans. Cyperaceae. Jenis-jenis yang umum ditemukan pada zona ini termasuk Ficus microcarpus (F. Flora & keragamannya Kawasan Samudera India bagian utara dan Pasifik barat daya (memanjang dari Laut Merah sampai Jepang dan Indonesia) merupakan tempat keanekaragaman jenis mangrove tertinggi di dunia. retusa). Poaceae). 157 jenis di Sumatera. setidaknya tercatat 40 jenis berada di Indonesia. 1983). N. Selain itu. Zona ini memiliki kekayaan jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan zona lainnya. Satu hal yang harus 93 . Sementara di kawasan Amerika Barat/Pasifik Timur. Meskipun kelihatannya terdapat zonasi dalam vegetasi mangrove. meskipun memiliki keragaman jenis yang paling tinggi.d) Mangrove daratan Mangrove berada di zona perairan payau atau hampir tawar di belakang jalur hijau mangrove yang sebenarnya. akan tetapi sebagian besar dari jenis-jenis yang tercatat berupa jenis-jenis gulma (seperti Chenopodiaceae. akan tetapi dapat memberikan gambaran urutan penyebaran jenis mangrove di pulau-pulau Indonesia. dkk. namun kenyataan di lapangan tidaklah sesederhana itu. dkk (1983) mencatat dua kawasan tersebut mewakili masing-masing 44 dan 38 jenis dari 60 jenis mangrove sejati yang tercatat di dunia. penelitian mangrove lebih intensif dilakukan di pulau ini dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. akan tetapi juga untuk taxa yang lainnya. Intsia bijuga. Dari 202 jenis mangrove yang telah diketahui. 133 jenis di Maluku dan 120 jenis di Kepulauan Sunda Kecil. Tanaka dan Chihara (1988) dalam penelitiannya mengenai makroalga di Indonesia Timur menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat penyebaran makroalga di dunia yang berasosiasi dengan tumbuhan mangrove. Lumnitzera racemosa. 135 jenis di Sulawesi. Dari 50 jenis mangrove sejati yang ada. terdapat perbedaan dalam hal keragaman jenis mangrove antara satu pulau dengan pulau lainnya. 150 jenis di Kalimantan. Pandanus sp.

G. Hal ini berarti jenis-jenis yang tercatat dalam daftar diatas kemungkinan sebenarnya sudah tidak ditemukan di pulau tertentu. lanata A. gymnorrhiza + B. floridum Avicennia alba + A. rumphiana Bruguiera cylindrica + B. retundifolia + Aegiceras corniculatum + A.diperhatikan adalah bahwa pembangunan yang mengakibatkan kerusakan dan peralihan peruntukan lahan mangrove telah terjadi di mana-mana. Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Acanthus ebracteatus + A. Tabel 1. integra A. exaristata B. intermedia A. Penyebaran jenis-jenis mangrove sejati di kawasan Indo-Australia (Saenger. litoralis + + + + + + + + + + + + + + + ?+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 410 . eucalyptifolia A. schultzii Ceriops decandra + C. sexangula Campnosperma philippinensis C. officinalis + A.. tagal + Cynometra ramiflora + Excoecaria agallocha + Heritiera fomes + H. dkk. 1983) Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P. parviflora + B. hainesii B. volubilis Aegilitis annulata A.N. ilicifolius + A. marina + A.

stylosa Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S. ovata Xylocarpus australasicus X.Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P. Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Kandelia candel Lumnitzera littorea L. lamarckii R. granatum X. Wightman (1989) 113 . mucronata R.G. parvifolius J UM L A H Referensi: India Bangladesh Vietnam Indonesia Papua New Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 27 19 30 39 33 28 : Chaudhuri & Choudhury (1994) : Das & Siddiqi (1985) : Hong & Sen (1993) : Publikasi ini Guinea : Percival & Womersley (1975). apetala S. mekongensis X. moluccensis X. caseolaris S.N. griffithii S. Tomlinson & Womersley (1976) : Tomlinson & Womersley (1976). recemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phoenix paludosa Rhizophora apiculata R.

Moluska sangat banyak ditemukan pada areal mangrove di Indonesia.acutifolia hanya terkoleksi satu kali. yaitu Ixora timorensis (Rubiaceae) yang merupakan jenis tumbuhan kecil yang diketahui berada di Pulau Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil. reptilia dan burung. Jenis-jenisnya adalah Ceriops decandra. serta Rhododendron brookeanum (Ericaceae) yang merupakan epifit berkayu yang diketahui berada di Sumatera dan Kalimantan. masih terdapat 2 jenis endemik lainnya (mangrove ikutan). Jumlah tersebut termasuk 33 jenis yang biasanya terdapat pada karang. jenis-jenis yang bersifat langka dan endemik haruslah diberi perhatian lebih. Maluku. akan tetapi juga sering mengunjungi daerah mangrove. Jenis-jenis tersebut adalah Amyema anisomeres. Kandelia candel dan Nephrolepis acutifolia. Empat jenis sisanya berstatus langka secara global. Bagi berbagai jenis ikan dan udang.Jenis tumbuhan langka dan endemik Untuk kepentingan konservasi serta pengelolaan sumberdaya alam. 2. Fimbristylis sieberiana. Eleocharis spiralis dan Scirpus litoralis. hanya satu terkoleksi). perairan mangrove merupakan tempat ideal sebagai daerah asuhan. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena buah mangrove mudah terbawa oleh gelombang dan tumbuh di tempat lain. Selain Amyema anisomeres (mangrove sejati). Sonneratia ovata. Scyphiphora hydrophyllacea. Dalam hal kelangkaan. tempat mencari makan dan tempat pembesaran anak. A. anisomeres dan N. Quassia indica. Jenis-jenis tersebut adalah Eleocharis parvula. sehingga secara global tidak memerlukan pengelolaan khusus. sehingga berstatus rentan dan memerlukan perhatian khusus untuk pengelolaannya. Lima jenis yang langka di Indonesia tetapi umum di tempat lainnya. Oberonia rhizophoreti. Sporobolus virginicus. di Indonesia terdapat 14 jenis mangrove yang langka.3 Fauna mangrove Mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa liar seperti primata. Dua diantaranya. mangrove juga merupakan tempat berkembang biak bagi burung air. Beberapa dari 91 jenis kelompok moluska tersebut diketahui hidup di dalam tanah. Hanya sedikit jenis mangrove yang bersifat endemik di Indonesia. Selain sebagai tempat berlindung dan mencari makan. sehingga hanya diketahui tipe setempat saja. sehingga memerlukan pengelolaan khusus untuk menjamin kelangsungan hidupnya. sementara yang lainnya ada yang hidup di permukaan 412 . Budiman (1985) mencatat sebanyak 91 jenis moluska hanya dari satu tempat saja di Seram. yaitu: Lima jenis umum setempat tetapi langka secara global. Rhododendron brookeanum (dari 2 sub-jenis.

dkk (1992) mencatat sebanyak 9 jenis udang di sungai-sungai kecil di mangrove Selangor. Teluk Jakarta. Malaysia. 1993). Pilonobutis microns. Kepiting juga umum ditemukan di daerah mangrove. Taman Nasional Ujung Kulon. Sasekumar. dkk. Sebanyak 24 jenis dari 40 jenis yang ditemukan Budiman (1988) merupakan jenis-jenis yang hidup di daerah mangrove. Giesen. Sasekumar. seperti kepiting dan serangga. dkk (1992) mencatat sebanyak 119 jenis ikan hidup pada sungai-sungai kecil di daerah mangrove di Selangor. habitat permanen atau tempat berbiak (Aksornkoae. Metaplax. Dalam kaitannya dengan makanan. mangrove juga merupakan tempat pembesaran anak-anak ikan. Mangrove juga merupakan habitat penting bagi berbagai jenis krustasea lainnya. areal mangrove berperan penting karena menyediakan tempat naungan serta mengurangi tekanan predator. tercatat lebih dari 60 % ikan yang tertangkap merupakan ikan muda (Wahyuni. Giesen. Liza subvirldis. Metapeneus (2 jenis) dan Palaemonetes (2 jenis) pada mangrove di Sulawesi Selatan. Butis butis. termasuk berbagai jenis udang-udangan yang memiliki nilai komersial penting. sehingga dapat dikatakan sebagian besar dari jenis-jenis moluska tersebut hidup di daerah mangrove. Burhanuddin (1993) mencatat sebanyak 62 jenis ikan hidup di daerah mangrove di Pulau Panaitan. 1989 & Sasekumar. dkk (1991) mencatat 74 jenis moluska pada mangrove di Sulawesi Selatan. 1984) mencatat sebanyak 28 jenis krustasea. dkk (1991) mencatat sebanyak 28 jenis kepiting di mangrove Sulawesi Selatan didominasi oleh genus Sesarma dan Uca. Kepiting Mangrove Scylla serrata merupakan kepiting yang hidup di daerah mangrove yang bernilai ekonomi tinggi (Delsman. Di Indonesia. Dari setiap meter persegi dapat ditemukan 10 . yang sebagian besar diantaranya merupakan anakan. Beberapa jenis ikan yang ditemukan di areal mangrove antara lain Tetraodon erythrotaenia. Sesarma dan Uca (Wada & Wowor. sedangkan 133 . khususnya jenis-jenis penggali dari genus Cleistocoeloma. Sebagai tempat pemijahan. Malaysia. sebagai contoh Giesen. dkk.dan ada pula yang hidup menempel pada tumbuh-tumbuhan. dkk. hutan mangrove menyediakan makanan bagi ikan dalam bentuk material organik yang terbentuk dari jatuhan daun serta berbagai jenis hewan invertebrata. 1989). dkk (1991) mencatat sebanyak 14 jenis udang termasuk Macrobrachium (8 jenis). keragaman jenis moluska tidak sebanyak di Seram. Ilyoplax. dimana sebagian besar diantaranya masih berupa anakan. Hal yang sama dapat dilihat di Segara Anakan. 1984).70 ekor kepiting (Macintosh. 1972). sementara Budiman (1988) menemukan 40 jenis di Halmahera. Sayangnya. Lebih dari 100 jenis kepiting mangrove diketahui hidup di Malaysia dan 76 jenis di Singapura. Di lokasi lain. termasuk 8 jenis udang pada habitat mangrove di Pulau Pari. Selain itu. dan Ambasis buruensis (Erftemeijer. 1984). Macrophthalmus. Ikan yang dominan ditemukan adalah Mugil cephalus yang bersifat herbivora. khususnya ikan predator. Ikan menjadikan areal mangrove sebagai tempat untuk pemijahan. pengetahuan mengenai kepiting mangrove di Indonesia sangat sedikit sekali dipelajari. Toro (dalam Manuputty. Dua jenis yang paling umum ditemukan adalah Thalassina anomala dan Uca dussumieri. 1989).

Jenis-jenis Reptilia yang umum ditemukan di daerah mangrove di Indonesia diantaranya adalah buaya muara (Crocodylus porosus). 1992). 1991. akan tetapi masih diperlukan survey yang lebih mendalam untuk membuktikan hal tersebut. seperti Kuntul (Egretta spp). Ikan gelodok (Periopthalmus spp. mangrove memainkan peranan yang sangat penting dalam migrasi mereka. ular air (Enhydris enhydris). Ular tambak (Cerberus rhynchops). Bagi jenis-jenis pemakan ikan. Untuk kelompok Arthropoda terbang yang hidup di mangrove. daerah mangrove menyediakan ruang yang memadai untuk membuat sarang. biawak (Varanus salvator). 1989. 1989. Meskipun demikian. Bagi berbagai jenis burung air migran (khususnya Charadriidae dan Scolopacidae). 2 jenis amphibia telah diketahui dapat bertahan hidup pada lingkungan demikian.. terutama karena minimnya gangguan yang ditimbulkan oleh predator. Balen (1988) mencatat sebanyak 167 jenis burung terestrial di hutan mangrove Pulau Jawa.. termasuk serangga. dkk (1993) menemukan sebanyak 120 jenis burung (atau 414 . Beberapa lokasi yang sangat penting bagi burung bermigrasi diantaranya adalah Pantai Timur Sumatera (Danielsen & Verheugt. 1991). Sangat sedikit sekali Amphibia dapat ditemukan bertahan hidup pada lingkungan yang berair asin seperti lingkungan mangrove. MacNae. Sementara itu. ular mangrove (Boiga dendrophila). purpureomaculatus (MacNae. Bagi beberapa jenis burung air. merupakan 34 % dari seluruh jenis burung yang telah tercatat di Pulau Jawa (Andrew. Lutjanus fulviflamma dan Plotosus canius yang bersifat karnivora. seperti kelompok burung Raja Udang (Alcedinidae). Rusila 1991. 1968. Giesen.jenis-jenis lain yang juga umum ditemukan adalah Caranx kalla. Holocentrum rubrum. Sulawesi dan Irian kemungkinan juga merupakan lokasi-lokasi yang penting. 1988 dan Rusila 1987) dan Pantai Barat Sulawesi Selatan (Baltzer. Trimeresurus wagler dan T. 1968). Mangrove tidak hanya sebagai tempat perhentian. Giesen. Pantai Utara Jawa (Erftemeijer & Djuharsa. Seluruh jenis reptilia tersebut dapat juga ditemukan pada lingkungan air tawar atau di daratan. Bangau (Ciconiidae) atau Pecuk (Phalacrocoracidae). Scartelaos spp. mangrove menyediakan tenggeran serta sumber makanan yang berlimpah. Maluku bahwa sebagian besar serangga yang ditemukan berasal dari ordo Hymenoptera. Verheught. serta Toxotes jaculator yang bersifat insektivora. Mereka menggunakan mangrove sebagai habitat untuk mencari makan. dkk. 1968) merupakan ikan yang sering sekali terlihat “berenang” pada genangan air berlumpur atau menempel pada akar mangrove. beberapa daerah lain di Kalimantan. 1990 dan Giesen. 1993). Keng & Tat-Mong. limnocharis (MacNae. yaitu Rana cancrivora and R.). dijelaskan oleh Abe (1988) dalam penelitiannya di Halmahera. Diptera and Psocoptera. berbiak atau sekedar beristirahat. Jenis-jenis burung yang hidup di daerah mangrove tampaknya tidak terlalu berbeda dengan jenis-jenis yang hidup di daerah hutan sekitarnya. akan tetapi juga sebagai tempat perlindungan dan mencari makan.

Populasi mereka sebagian besar terdapat di pantai timur Sumatera (Sumatera Selatan. Pada saat ini.Milky Stork . Merupakan jenis endemik Pulau Jawa. Di Jawa jenis ini hanya diketahui berbiak di hutan bakau Pulau Rambut (Allport & Wilson. Bagi jenis yang tergolong vulnerable ini. seperti: Wilwo (Mycteria cinerea .Lesser Adjutant . sebanyak 81 jenis ditemukan di hutan mangrove (58 % atau 21 % dari seluruh burung di Sulawesi). pantai utara Jawa (Erftmeijer & Djuharsa. Sementara itu. Populasinya diperkirakan hanya tinggal berjumlah 5000 . 1992). 1991). Baltzer (1990) melaporkan dari 141 jenis burung yang ditemukan di lahan basah propinsi tersebut. Jenis ini telah dianggap sebagai salah satu jenis bangau yang paling terancam di seluruh dunia (Verheught. terutama di Sumatera dan Jawa.Sunda Coucal . dkk. 153 . Erftmeijer. dkk. Mangrove juga merupakan habitat yang baik bagi beberapa jenis burung yang telah langka atau terancam kepunahan. 1994). Indramayu dan Segara Anakan (Andrew. 1987). 1987). Jenis ini telah tercantum dalam Red Data Book dalam kategori Vulnerable. 1986 dan Rusila. jenis ini diperkirakan hanya bertahan hidup di kawasan hutan mangrove dan rawa sekitar Tanjung Karawang. dari 17% total jumlah burung yang tercatat di Pulau Sumba. Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus . hutan bakau Tanjung Selokan dan hutan bakau Semenanjung Banyuasin. Mereka hanya diketahui berbiak di hutan mangrove di Hutan Bakau Pantai Timur (Danielsen dan Skov. seluruhnya di Sumatera Selatan (Danielsen.Cuculidae). 1990). 1988). 1990). 27 jenis ditemukan di daerah Mangrove Pulau Sumba (Zieren. dkk (1991) menemukan 64 jenis burung hidup di hutan mangrove diantara 90 jenis yang ditemukan di teluk Bintuni (71% atau 10% dari seluruh burung di Irian Jaya).150 jenis jika termasuk daerah lumpur disekitar hutan mangrove) di daerah limpasan banjir dan pasang surut di Sumatera Selatan (56% dari total burung yang ditemukan di daerah tersebut atau 25% dari seluruh jenis burung di Sumatera). Pangkalan Data Lahan Basah (Wetland Data Base) mencatat setidaknya 200 jenis burung hidup bergantung pada habitat mangrove.6000 ekor saja (Verheught. 1987 dan Rose & Scott. 1994). Jambi dan Riau) dan beberapa kawasan hutan bakau di Delta Sungai Brantas dan Bengawan Solo. Tanjung Koyan. Jumlah ini mewakili 13% dari seluruh jenis burung yang ada di Indonesia (Andrew. Disamping itu. Di Sulawesi Selatan. dkk. dimana lebih dari 90% diantaranya ditemukan di daerah hutan bakau di Indonesia. 1989). Bubut hitam (Centropus nigrorufus .Ciconiidae). dkk. 1988) serta hutan mangrove di Segara Anakan yang merupakan hutan mangrove terbesar yang saat ini tersisa di Pulau Jawa (Erftmeijer. di Irian Jaya.Ciconiidae). hutan mangrove merupakan habitat penting untuk bersarang atau mencari makan (Silvius & Verheught.

dua jenis lumba-lumba yaitu Orcella brevirostris dan Sousa chinensis juga ditemukan di daerah muara sekitar hutan bakau.Mamalia yang umum ditemukan pada habitat mangrove diantaranya adalah babi liar (Sus scrofa). Lutra lutra. Lutra sumatrana dan Lutra perspicillata yang diketahui hidup di Indonesia juga ditemukan di hutan mangrove. Tidak satupun dari mamalia diatas hidup secara eksklusif di mangrove. Melisch.) berang-berang (Lutra perspicillata dan Amblyonyx cinerea). Payne. dkk. kemudian diketahui bahwa mereka juga menggunakan hutan rawa gambut (Payne. dapat dianggap sebagai tempat hidup harimau Sumatera yang terbaik (Frazier. Teluk Bone. 1993). 1968. lutung (Trachypithecus aurata). Sulawesi Selatan (Giesen. 1991). kelelawar (Pteropus spp. dkk. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatranus) masih ditemukan di wilayah Sungai Sembilang. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) umum ditemukan di daerah mangrove dan sering terlihat mencari makan pada hamparan lumpur di sekitar mangrove. Bekantan tadinya dianggap hanya hidup pada habitat mangrove. dkk. Dari empat jenis berangberang yaitu Aonyx cinerea. 1985). 1989). kancil (Tragulus spp.). sedangkan mamalia udara yang sering ditemukan adalah Pteropus vampirus. 416 . 1985. Dari kelompok mamalia air. dimana jika areal ini digabungkan dengan areal Taman Nasional Berbak di Jambi. Bekantan (Nasalis larvatus. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt. 1992). Francis & Phillipps. Macaca ochreata ochreata (endemik Sulawesi) pada masa lalu umum terlihat di daerah mangrove dekat Malili. endemik Kalimantan) dan kucing bakau (Felis viverrina) (MacNae.

Nampaknya produk yang paling memiliki nilai ekonomis tinggi dari ekosistem mangrove adalah perikanan pesisir. 1991) mengemukakan adanya hubungan linier positif antara luas hutan mangrove dengan produksi udang. kulit (untuk tanin) dan arang juga memiliki sejarah yang panjang. 1992 dan Burhanuddin. peranan mangrove bagi lingkungan sekitarnya dirasakan sangat besar setelah berbagai dampak merugikan dirasakan diberbagai tempat akibat hilangnya mangrove. Pembuatan arang mangrove telah berlangsung sejak abad yang lalu di Riau dan masih berlangsung hingga kini. dkk. meskipun eksplotasi sesungguhnya dengan menggunakan mesin-mesin berat nampaknya baru dimulai pada tahun 1972 (Dephut & FAO. 1985). 173 . obat-obatan dan perikanan (Tabel 2). 1993). perikanan pantai yang sangat dipengaruhi oleh keberadaan mangrove.200 hektar areal mangrove. MANFAAT MANGROVE Mangrove memiliki berbagai macam manfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya. kulit. merupakan produk yang secara tidak langsung mempengaruhi taraf hidup dan perekonomian desa-desa nelayan. Sejarah pemanfaatan mangrove secara tradisional oleh masyarakat untuk kayu bakar dan bangunan telah berlangsung sejak lama.1 Pemanfaatan mangrove Mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif. bahan bangunan. Banyak jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi menghabiskan sebagian siklus hidupnya pada habitat mangrove (Sasekumar. 1991) beberapa jenis udang penaeid di Indonesia sangat tergantung pada ekosistem mangrove. Contohnya. pemanfaatan mangrove untuk berbagai tujuan telah dilakukan sejak lama. dimana makin luas hutan mangrove makin tinggi produksi udangnya dan sebaliknya. kertas. 1936). Hal ini didukung oleh berbagai penelitian di negara-negara lain (Tabel 3). Pada tahun 1985. Martosubroto & Naamin (dalam Djamali. 3. Melihat beragamnya manfaat mangrove. Boon. kepiting mangrove (Scylla serrata) serta ikan salmon (Polynemus sheridani) merupakan jenis ikan yang secara langsung bergantung kepada habitat mangrove (Griffin. Berbagai produk dari mangrove dapat dihasilkan baik secara langsung maupun tidak langsung. atau sekitar 35% dari areal mangrove yang tersisa (Dephut & FAO. Eksplotasi mangrove dalam skala besar di Indonesia nampaknya dimulai awal abad ini. 1990). Bahkan pemanfaatan mangrove untuk tujuan komersial seperti ekspor kayu. terutama di Jawa dan Sumatera (van Bodegom. 1990). sejumlah 14 perusahaan telah diberikan ijin pengusahaan hutan yang mencakup sejumlah 877. diantaranya: kayu bakar.III. Kakap (Lates calcacifer). keperluan rumah tangga. Bagi masyarakat pesisir. Akhir-akhir ini. maka tingkat dan laju perekonomian pedesaan yang berada di kawasan pesisir seringkali sangat bergantung pada habitat mangrove yang ada di sekitarnya. 1929. Menurut Unar (dalam Djamali.

Tabel 2. 1984). Rhizophora.pertambangan . 1984). Lumnitzera Lumnitzera spp. Acrostichum speciosum Cyperus malaccensis.6 juta ton yang melibatkan tidak kurang dari 478. pipa .lantai . Rhizophora spp. Oncosperma tigillaria Nypa fruticans. Rhizophora spp.tiang bangunan .kayu. pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya yang kesemuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan (Soewito. Livistona saribus. Rhizophora. Di Indonesia hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial seperti di perairan sebelah timur Sumatera. PRODUK VEGETASI Tipe pemanfaatan . salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Kasry. Pada tahun 1998 total produksi perikanan laut Indonesia adalah sekitar 3.alas lantai . dimana sebelum perang dunia II merupakan penghasil ikan utama di Indonesia bahkan sebagai salah satu penghasil ikan utama di dunia. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh komunitas nelayan setempat dengan pola yang tradisional atau oleh nelayan modern yang datang dari kota pelabuhan besar. Rhizophora spp. Produk yang dihasilkan mangrove A.papan . Eleocharis dulcis Scolopia macrophylla terutama Rhizophoraceae Cycas rumphii Kategori Bahan bakar: 418 . Bruguiera spp.pembuatan perahu .alas dok .arang kayu . Bruguiera.250 keluarga (BPS.alkohol Bahan bangunan: .pagar. pantai selatan dan timur Kalimantan.atap .Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. Sebagian besar kegiatan penangkapan ikan di Indonesia berlangsung di dekat pantai. Sebaliknya. Ceriops spp.bantalan rel KA . 1998).kayu bakar .konstruksi berat (jembatan) . kayu tiang .lem Contoh jenis yang dimanfaatkan sebagian besar jenis pohon sebagian besar jenis pohon Nypa fruticans Bruguiera. Bruguiera. menurunnya produksi perikanan di Bagansiapiapi.

kancing 193 . Quassia indica Nypa fruticans Tekstil.pembuatan kain Pertanian: .jangkar . Peltophorum pterocarpum terutama Rhizophora.tali . Cerbera floribunda Rhizophoraceae Stenochlaena palustris. Eleocharis dulcis Paspalum vaginatum. Camptostemon schultzii Avicennia marina.obat-obatan . H. Excoecaria indica (bijinya) Cerbera manghas (insektisida) Cryptocoryne ciliata. indica.isi bantal .berbagai jenis kertas . Camptostemon schultzii banyak jenis tumbuhan berkayu X. S. rayon) .mebel . granatum Typha angustifolia Cyperus malaccensis. Osbornia octodonta terutama Rhizophoraceae E.mainan .pewarna kain .pengawetan kulit .perekat jala .pupuk Produk kertas: .keranjang .racun ikan .hiasan .lilin .fiber sintetis (mis.peralatan . Dolichandrone spathacea.tanaman hias .minyak rambut .penahan perahu Ceriops spp. Rhizophora apiculata Atuna racemosa.Perikanan: .pelampung . Nypa fruticans Cycas rumphii Xylocarpus mekongensis Phymatodes scolopendria Dolichandrone spathacea.lem .berbagai jenis kertas Keperluan rumah tangga . granatum. Lumnitzera spp. Crinum asiaticum Tristellateia australasiae Horsfieldia irya Drymoglossum piloselloides.racun . alba Derris trifoliata. kulit .tiang pancing . Scaevola taccada. X. Drynaria rigidula Osbornia octodonta. tiliaceus Pemphis acidula. Colocasia esculenta Avicennia marina.anti nyamuk . Scirpus grossus Dolichandrone spathacea (topeng).parfum .

sayuran (dari propagula.ikan . gymnorrhiza daun Stenochlaena palustris. minuman dan obat : .lainnya Contoh jenis yang dimanfaatkan Lates calcarifer.kerang . Tabel 3. buah Inocarpus fagifer epidermis daun Nypa Loxogramma involuta B.8 0 – 50 1 – 1. Crocodylus porosus Rana spp.mammalia .74 (7) 0. Kategori Lain-lain: Diadaptasi dari Saenger.76 (6) 0. buah atau daun) .2 – 15 0 – 25 10 – 1.pengganti tembakau Nypa fruticans Nypa fruticans biji Terminalia catappa Rhizophora stylosa Bruguiera cylindrica. 1986 420 . Hubungan antara luas hutan mangrove dengan jumlah tangkapan udang (per tahun) (dalam Nirarita.burung .2 – 5 Luas Mangrove Korelasi (n) 0.gula . PRODUK HEWANI Tipe pemanfaatan .Krustasea . 1993) Lokasi (ton) Australia Malaysia Teluk Meksiko Filipina Hasil Tangkapan (ha) 0.madu dan lilin .975 (15) 0.000 1 .000 0.Makanan. 1984 Pauly & Ingles.62 (6) Staples et al.1 – 0.kertas rokok . B.reptilia .42 Koefisien Sumber 0.minuman fermentasi . Avicennia. dkk (1983) serta tambahan informasi dari Knox and Miyabara (1984) dan Fong (1984). 1985 Jothy.daging manis (dari propagula) ..minyak goreng .alkohol . Scylla serrata kerang-kerangan Apis dorsata terutama burung air terutama Sus scrofa Varanus salvator. 1984 Boesch & Turner. Chanos chanos Penaeus spp.

Sebaliknya. sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge. peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan pulau tersebut. pada pulau yang hilang mangrovenya. Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman. proses pengikatan sedimen oleh mangrove dianggap sebagai suatu proses yang aktif. pulau tersebut mudah disapu ombak dan arus musiman (Chambers. Sedangkan beberapa dusun yang berbatasan dengan kedua dusun ini yang tidak mempunyai mangrove yang cukup tebal mengalami kerusakan yang cukup parah. Mangrove juga terbukti memainkan peran penting dalam melindungi pesisir dari gempuran badai. Sulawesi Selatan yang memiliki barisan mangrove yang tebal di pantai terlindung dari gelombang pasang (Tsunami) di pulau Flores pada akhir tahun 1993. terutama dari ombak dan arus laut. 1982). Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. Pertama. pada bulan Juni 1985 sebanyak 40. angin dan badai. 1941). Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur. Peranan mangrove dalam menunjang kegiatan perikanan pantai dapat disarikan dalam dua hal. pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus.2 Fungsi Mangrove Mangrove memiliki peranan penting dalam melindungi pantai dari gelombang.000 hektar areal pantai dengan vegetasi mangrove (Maltby. 1986). pemerintah Bangladesh kemudian melakukan penanaman seluas 25. udang dan moluska (Davies & Claridge. bangunan dan pertanian dari angin kencang atau intrusi air laut. dkk. 1974). mangrove berperan penting dalam siklus hidup berbagai jenis ikan. dimana jika terdapat mangrove otomatis akan terdapat tanah timbul (Steup. Di Indonesia. Dusun Tongke-tongke dan Pangasa.3. mangrove merupakan pemasok bahan organik. karena lingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk kedalam rantai makanan. Di Bangladesh. sehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yang hidup pada perairan sekitarnya (Mann. 1958 dan Chapman. 213 . Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. Sinjai. produksi serasah mangrove berkisar antara 7 – 8 ton/ha/ tahun (Nontji. 1993 dan Othman. Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove mempunyai peranan yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah dikolonisasinya. Pada awalnya. 1993). Kedua. Berbagai penelitian (van Steenis. 1980). Mengetahui manfaat mangrove dalam menahan gempuran badai. 1987).000 penduduk yang tinggal di pesisir dihantam badai. 1994). 1977) kemudian menyebutkan bahwa proses pengikatan dan penstabilan tersebut ternyata hanya terjadi pada pantai yang telah berkembang.

1992) .422 Gambar 3. Jaring-jaring makanan dan pemanfaatan mangrove di Indonesia (diadaptasi dari AWB-Indonesia.

perkiraan luas untuk Irian jaya yang merupakan komponen luasan terbesar sangat berbeda antara satu penulis dengan penulis lainnya. nipah dan nibung (Hx) disatukan menjadi “habitat mangrove”.53 juta hekar yang berasal dari Proyek Inventarisasi Hutan Nasional (Dit. kenyataannya memperoleh data yang memadai mengenai luas mangrove pada masa yang lalu dan saat ini tidak terlalu mudah (di Indonesia data dimulai sejak 1930-an. Pertama. lihat Kint. 1934). Perbedaan perkiraan luas tersebut setidaknya dipengaruhi oleh tiga halo. 1997) dan 3. RePPProT. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Dengan menggunakan metoda seperti diatas. 1982). Tata Guna Lahan dan Sistem Lahan (skala 1 : 250. adanya perbedaan metoda yang digunakan dalam menduga luasan mangrove.25 juta hektar. 1996). sehingga data yang sebenarnya telah kadaluwarsa diacu berulangulang (misalnya: Burbridge & Koesoebiono. Namun. 1987) di peta ternyata ditemukan secara faktual berada di luar atau berdekatan dengan kawasan mangrove yang ada saat ini. termasuk bakau.000) yang diproduksi oleh Departemen Transmigrasi. Data perkiraan luas areal mangrove di Indonesia sangat beragam sehingga sulit untuk mengetahui secara pasti seberapa besar penurunan luas areal mangrove tersebut. maka areal tersebut dianggap dulunya adalah hutan mangrove. Ketiga.1 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Saat ini di seluruh dunia terjadi peningkatan hilangnya sumberdaya mangrove yang disebabkan adanya pemanfaatan yang tidak berkelanjutan serta pengalihan peruntukan (Aksornkoae. 1980 dan Dit. kemudian luas total mangrove untuk masingmasing propinsi dihitung.38 -2. Untuk menghitung luas asal mangrove yang telah mengalami perubahan digunakan ektrapolasi dari data yang tersedia pada peta. Dari tiga kategori yang dibuat oleh RePPProT. Giesen (1993) mencoba menghitung luas areal asal mangrove berdasarkan seri RePPProT (1985-1989) dari peta Status Hutan. terdapat jumlah luasan mangrove yang lain yaitu 4.IV. Departemen Kehutanan (1997) menyebutkan luas yang diambil dari berbagai sumber berkisar antara 2.13 juta hektar. Hal ini kembali disebabkan kurang tersedianya data serta peta yang memadai. dkk.54 juta hektar yang berasal dari ISME (Spalding. jika sistem lahan khas habitat mangrove (KAJAPAH. Bina Program INT AG. 233 . sangat sedikit sekali dilakukannya penghitungan areal mangrove berdasarkan kondisi yang sebenarnya di alam. hutan primer yang dieksploitasi kayunya (Ht) dan hutan pasang surut yang tidak dibedakan. 1993). STATUS MANGROVE INDONESIA 4. Kedua.49 -4. diketahui bahwa luas asal mangrove Indonesia seluas 4.94 juta hektar. mulai dari 1. Bina Program Dephut bersama FAO/UNDP. Meskipun mangrove tidak terlalu sulit untuk dikenali dari foto penginderaan jarak jauh dan dipetakan. yaitu hutan bakau (Hv).

Mereka memperkirakan jumlah areal hutan mangrove yang belum terganggu di Sulawesi Selatan hanya sekitar 23. Dengan melihat kondisi lapangan saat ini. jika perkiraan luas areal mangrove yang tersisa di Indonesia sekitar 2. Untuk Propinsi Aceh dan Bengkulu. Giesen. Sumatera Selatan dan Lampung dihitung berdasarkan data yang diperoleh selama kegiatan pengkajian lapangan yang dilaksanakan oleh AWB/PHPA pada tahun 1990 -1992.49 juta hektar (19871990) dapat diterima. Berdasarkan penghitungan diatas. 424 .000 hektar. data yang digunakan untuk penghitungan hingga tahun 1990 tersebut. telah tersedia data yang diambil dari Peta Penutupan Lahan yang dibuat oleh BAPLAN – DEPHUT dengan menggunakan Citra Satelit untuk Tahun 2002 – 2003. Indonesia telah kehilangan sekitar 40% areal mangrovenya. Kalimantan Timur. Hal yang perlu dicatat dari uraian diatas adalah mungkin luas areal mangrove yang dihitung merupakan jumlah yang optimistis.Selanjutnya dihitung luas areal mangrove yang tersisa berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi.000 hektar hutan mangrove masih terdapat di Sulawesi Selatan. namun belum dilakukan analisa laju perubahan luas mangrove.-an. dkk (1991) melaporkan meskipun 34. Sejalan dengan hal tersebut. saat itu telah berusia 3 7 tahun serta areal yang dipetakan dan dianggap sebagai mangrove hanya sebagian yang tercakup oleh tipe ini. Gambaran lebih rinci mengenai data asal dan sisa mangrove dapat dilihat di Tabel 4. yang berarti jumlah areal mangrove yang hilang semakin bertambah. dkk (1989). Untuk Propinsi Kalimantan Barat. Sumatera Barat. laju hilangnya mangrove hingga tahun 1990 juga sangat beragam. Sulawesi Utara. Luas areal mangrove yang ada di Propinsi Sumatera Utara. Meskipun data tersebut telah disajikan dalam edisi cetak-ulang ini. tetapi sebagian dari areal tersebut sebenarnya merupakan areal hutan mangrove yang telah mengalami gangguan dan dalam proses untuk dijadikan tambak. luas areal mangrove yang peruntukannya telah dialihkan menjadi tambak dihitung dari luas total areal mangrove yang terdapat pada peta RePPProT. Riau. 58% diantaranya terdapat di Papua. dan hanya 11% tersisa di Jawa. kemungkinan luasan mangrove tersebut sudah berkurang. Pada saat cetak-ulang ini dibuat. Data untuk 10 Propinsi lainnya diambil dari RePPProT (1985-1989). Sulawesi Tenggara dan Maluku digunakan data yang berasal dari Ditjen Perikanan (. maka hal tersebut berarti bahwa pada akhir tahun 1980. Kalimantan Selatan.1991). sementara data untuk Sulawesi Selatan diambil dari hasil penelitian Giesen. antara hampir 10% di Papua hingga hampir 100% di Jawa Timur. Jambi.49 juta hektar (60%). Sulawesi Tengah. Dari luasan areal mangrove yang tersisa tersebut. termasuk dinamika data untuk Propinsi yang telah mengalami pemekaran. Dari penghitungan diketahui luas mangrove yang tersisa pada tahun 1990 hanya sekitar 2. Seperti yang telah disebutkan. Sebagai contoh. Data luas mangrove di Jawa Tengan diadopsi dari White. Penghitungan tersebut didasarkan pada citra satelit SPOT dah SLAR. dkk (1991).

000 9.000 0 34.017 hektar pada tahun 1929 Masih merupakan bagian dari Propinsi lain.900 800 0 10.000 115.476 1.000 110.000 4.000 (5) 15.826 0 192 40 325 0 (4) 94 2.163.000 26.000 (5) 42.577 7.000 259.000 750.497 47.440 8.000 4.000 99.000 13.000 19.000 84.000 213.700 0 (4) 1.000 11.335 60.636 590 0 (4) 73.300 48.235.030 148.500 0 (4) 1.990 3.740 120.000 89.000 5.000 43.500 0 (4) 46.833 0 (4) 66.000 50.430 0 (4) 520 49.000 109.710 0 (4) 1.939 50.000 100.000 0 13.000 0 470.000 34.000 60.840 38.000 44.000 (5) 0 (4) 0 750.000 66.000 58. sebelum pemekaran Data setelah pemekaran Propinsi (2) (3) (4) (5) 253 .000 (5) 1.340 4.996 550 32 0 1.000 0 (5) 3. Van Bodegom (1929) melaporkan bahwa seluruh areal mangrove di Riau telah dipetakan dan diukur secara planimetris seluas 182.088 65 0 (4) 95 268.000 91.000 1.000 128.000 19.251.000 9.500 0 (4) 2.500 1.HTM.107 861 6.640 70.000 0 (4) 2.000 25.000 5.id/INFORMASI/INTAG/Peta%20Tematik/PL&Veg/VEG_2003.000 27.200 0 (4) 18.000 195.000 10.780 775.678 1.500 66.000 2.683 73.000 53.450 363.850 221.700 6.500 354.500 (3) 18.3 0 (4) 110.000 1.970 98. dan luas areal untuk masing-masing sistem lahan per propinsi berdasarkan Giesen.326.050 13.500.000 5.000 137.000 1.000 0 276. Data Mangrove diambil dari kategori “Hutan Mangrove Primer” dan “Hutan Mangrove Sekunder”.000 3.500 57.000 235.780 194.dephut. Baltzer dan Baruadi (1991).000 197.000 3.000 3.750 1.500 60.000 208.000 4.000 0 25. (1987) 55.000 65.700 INTAG (1993) BAPLAN 2005 (data 2002/3) (1) 18.000 0 (4) 20.000 10.000 0 (4) 55.000 95.000 8.943.000 15.000 2. Data Tambak diambil dari kategori “Tambak” Berdasarkan klasifikasi sistem lahan RePPProT (1985 – 89).go.330 0 (4) 30.000 17. Luas mangrove per Propinsi di Indonesia (ha) Mangrove Propinsi Bina Program (1982) 54.382.000 56.000 Silvius dkk.000 38.000 3.608 0 (4) 13.000 28.640 37.000 27.000 0 2.000 12.000 128.000 20.500 Tambak Ditjen BAPLAN Perikanan 2005 (data (1991) 2002/3) (1) 39.622.000 3.250 http://www.650 266.Tabel 4.000 Jumlah Areal Asal (2) 60.405 6.003 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Jawa Barat & DKI Banten Jawa Tengah & DIY Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Selatan Maluku Maluku Utara Papua T o t a l Keterangan: (1) 102.800 0 29.000 4.000 46.500 29.000 680.830 40. kecuali Sulawesi selatan.098.000 0 (4) 0 17.950 3.000 0 3 2.913 626 4.000 (5) 63.000 16.000 90.150 0 (4) 104.000 500 500 0 21.765.000 64.500 0 (4) 1.000 367.

426 Gambar 4. Perbandingan luas mangrove asal dan yang tersisa di Indonesia (1986-1990) .

1986). Dalam banyak kasus. kecuali di Segara Anakan dan Teluk Pangong (dekat selat Bali). tidak bercampurnya tanah (Giesen. Kehutanan & FAG. Sumatera Utara dan Lampung (Giesen.700 hektar (Bailey. perkiraan luas tambak di Indonesia seluas 193.182 ha pada tahun 1997 (Ditjen Perikanan. yang kemudian meningkat menjadi 750. 1990). misalnya.000 hektar pada tahun 1990 (Ditjen Peri kanan. Dampak yang ditimbulkan oleh pestisida terhadap lingkungan dijelaskan oleh Primarvera (1991) dan Baird (1994). ini tidak termasuk tambak-tambak yang telah ditinggalkan dan tidak diusahakan lagi yang di beberapa lokasi cukup luas. 390. 1991) serta berkurangnya anakan untuk keperluan perkembangan ikan (Wardoyo & Rasyid. Sejarah pembangunan tambak diawali di Jawa dan Sulawesi selatan. 1997) dan menjadi 750. pestisida per hektar per bulan (asumsi seluruhnya digunakan di Sulawesi Selatan). bahkan untuk tambak tradisional. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para pembuka lahan. Berarti terjadi penambahan areal tambak lebih dari 350% dalam kurun waktu 20 tahun. Areal tambak yang tercatat pada tahun 2002/03 seluas hampir 750.000 hektar (Ditjen Perikanan. Pada tahun 1982. 1991 a. 1991).c). 2005). Perlu dicatat. Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah. Kegiatan pembangunan utama yang memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal mangrove di Indonesia adalah pengambilan kayu untuk keperluan komersial serta peralihan peruntukan untuk tambak dan areal pertanian (khususnya padi dan kelapa). 1988). kehadiran tambak tidak selalu 273 . terdapat sekitar 2.559 ton pestisida digunakan untuk tambak selama tahun 1990 (BPS. kemudian berkembang ke Aceh. Jauh sebelumnya.b.000 hektar tersebut sama dengan 23 % dari luas asal areal mangrove pada tahun yang sama. dkk. seperti pengasaman tanah (Hassan & Ti.4.2 Penyebab penurunan luas mangrove Pembangunan di areal mangrove Konversi dan hilangnya mangrove tampaknya bukan merupakan sesuatu yang baru terjadi pada dekade terakhir ini saja. 1991). Di SM Karang Gading Langkat Timur Laut. yang berarti lebih dari 18 kg.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. 1985). Meindersma (1923) melaporkan sangat sulit untuk menemukan mangrove yang alami dan tidak terganggu di Pulau Jawa. Sementara itu. 2005). data tahun 1985 menunjukkan seluas 877. lebih dari 75 tahun yang lalu.200 hektar areal mangrove berada dalam konsesi pengusahaan hutan untuk diambil kayunya (Dep. luas areal tambak yang terpantau sekitar 269. pestisida dan antibiotika juga kerap kali digunakan.500 hektar tambak yang tidak diusahakan dan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum (Giesen & Sukotjo.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. Pada tahun 1990. kemudian bertambah menjadi 269. 1991). 1990). Statistik perikanan untuk Sulawesi Selatan menunjukkan sekitar 16. Meskipun demikian.

berarti hilangnya mangrove. Hal ini dapat dilihat pada pola tambak yang masih menyisakan pohon mangrove, yang dipraktekkan di beberapa tempat di Jawa. Pada pola ini, mangrove ditanam di bagian tengah tambak. Sistem ini sangat baik untuk diterapkan karena selain melindungi dan mempertahankan mangrove, juga dapat dimanfaatkan oleh burung air. Kegiatan pengambilan kayu sering terlihat di Riau, Kalimantan dan Papua. Luas areal konsesi pengusahaan hutan meningkat dari 455.000 hektar pada tahun 1978 (Burbridge & Koesoebiomo, 1980) menjadi 877.200 hektar pada tahun 1985 (Oepartemen Kehutanan dan FAO, 1990), atau sekitar 35% dari luas areal mangrove yang tersisa pada awal tahun 1990-an (data Giesen, 1993). Sayangnya, dampak yang ditimbulkan oleh pengambilan kayu terhadap hilangnya luasan areal mangrove sangat sulit untuk dirinci. Pada beberapa kasus, dampak lain dari pengambilan kayu mangrove adalah penurunan kualitas tegakannya. Nurkin (1979) menjelaskan bagaimana areal mangrove yang telah ditebangi di Sulawesi Selatan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum, selanjutnya menghambat terjadinya regenerasi tumbuhan mangrove. Di daerah lain, mangrove ternyata juga dapat tumbuh sendiri setelah tumbuhannya ditebang, misalnya di Riau Tenggara (Giesen, 1991 b), serta di areal mangrove di Sei Kecil, Kalimantan Barat (Abdulhadi & Suhardjono, 1994). Meskipun dalam beberapa kasus mangrove dapat tumbuh kembali, akan tetapi tidak berarti bahwa tumbuhan yang baru tersebut akan selalu sarna dengan jenis seberumnya, bahkan seringkali justru jenis tumbuhan yang kurang diminati yang kemudian menjadi dominan, seperti Xylocarpus granatum di Pulau Bakung, Riau (Giesen, 1991 b), Excoecaria agallocha dan Bruguiera parviflora di Karang Gading Langkat Timur Laut, Sumatera Utara (Giesen & Sukotjo, 1991). Penduduk juga memberikan sumbangan terhadap penurunan luas manrove di Indonesia. Seperti diketahui, penduduk setempat telah memanfaatkan mangrove dalam kurun waktu yang lama, namun diyakini bahwa kegiatan mereka tidak sampai menimbulkan kerusakan yang berarti pada ekosistem ini. Akan tetapi, hal tersebut telah berubah dalam dekade terakhir ini seiring dengan adanya pertambahan populasi penduduk, baik karena pertambahan alami maupun perpindahan dari luar. Kegiatan masyarakat yang menyebabkan hilangnya mangrove ini terutama adalah pemanfaatan areal mangrove untuk pembangunan tambak. Fiselier, dkk (1990) bahkan menyatakan: “Reklamasi untuk keperluan budidaya perikanan dan pertanian tampaknya saat ini dianggap sebagai suatu kegiatan pembangunan utama yang berlangsung di areal mangrove. Kegiatan reklamasi tersebut sebenarnya berbiaya tinggi dan acapkali tidak berkelanjutan, serta sering menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap lingkungan. Keuntungan yang dihasilkan sebagian besar diraup oleh mereka yang datang dari luar, dan hanya sebagian kecil saja yang dinikmati oleh penduduk setempat, berupa hasil penangkapan ikan dan pengumpulan hasil hutan yang dilaksanakan secara tradisional”. Pernyataan ini didukung oleh Ong (1982) yang membahas mengenai konversi mangrove di Malaysia dan menyimpulkan bahwa pembangunan budidaya perikanan berkaitan, baik secara ekonomis maupun secara ekologis.

428

Telah disebutkan didepan bahwa pembangunan tambak memberikan sumbangan terhadap hilangnya mangrove. Selain itu, data juga menunjukan bahwa mangrove yang tersisa juga mengalami ancaman berupa: a) konversi menjadi lahan pertanian, b) suksesi menjadi vegetasi sekunder non-hutan setelah terjadinya eksploitasi berlebih oleh masyarakat setempat, c) kurangnya regenerasi setelah dibabat untuk kepentingan komersial, dan d) erosi pantai. Meskipun data sangat kurang, namun nampaknya faktor yang memberi sumbangan penting terhadap hilangnya mangrove, selain konversi menjadi tambak, adalah konversi menjadi lahan pertanian dan penebangan kayu secara komersial dan dalam skala yang lebih kecil, serta eksploatasi berlebihan oleh masyarakat setempat. Kematian mangrove secara alami merupakan kejadian yang umum ditemukan dan merupakan kondisi alami, karena Iingkungan mangrove bersifat dinamik dan periodik, serta asosiasi mangrove teradaptasi dengan lingkungan tertentu melalui pertumbuhan dan kematian secara cepat (Uimenez & Lugo, 1985). Perubahan yang terjadi di alam biasanya bersifat fisik (Choy & Booth, 1994, berdasarkan contoh yang diambil di Brunei), sementara penyakit dan faktor biotis lainnya nampaknya berupa agen sekunder. Secara umum dapat dikatakan bahwa kematian mangrove secara alami tidak memberikan sumbangan yang signifikan terhadap hilangnya areal mangrove di Indonesia.

293

V. KEBIJAKAN DAN PERATURAN MENYANGKUT MANGROVE
Disadari bahwa mangrove memberikan banyak manfaat bagi manusia. Dengan demikian, mempertahankan areal-areal mangrove yang strategis, termasuk tumbuhan dan hewannya, sangat penting untuk pembangunan ekonomi dan sosial. Pada masa lalu, disaat tekanan penduduk masih rendah, hal tersebut tidak menjadi masalah karena pada tingkat lokal manfaat mangrove biasanya langsung disadari oleh masyarakat dan seringkali kawasan mangrove dilindungi oleh hukum adat. Namun selama 2 - 3 dekade lalu, tekanan penduduk semakin meningkat dengan tajam sehingga mengakibatkan permintaan akan sumberdaya pertanian meningkat pula. Pada saat yang bersamaan, kegiatan perikanan dan kehutanan juga meningkat dengan pesat dan menjadi faktor utama dalam perubahan lingkungan mangrove. Dalam kondisi demikian, aturan setempat yang berupa hukum adat seringkali terkesampingkan oleh insentif ekonomi jangka pendek. Untuk merespon hal tersebut, pemerintah kemudian mengeluarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) serta beberapa peraturan dalam berbagai tingkat yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove. Peraturan yang paling relevan diantaranya terkait dengan aturan mengenai kebijakan jalur hijau serta sistem areal perlindungan.

5.1

Pemetaan sumberdaya

Pada tahun 1982, rencana tata guna lahan hutan untuk pertama kalinya dipersiapkan oleh Departemen Pertanian (saat itu kehutanan masih direktorat di Departemen Pertanian). Tata guna lahan yang berupa Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tersebut dipersiapkan untuk setiap propinsi dengan skala peta 1 : 500.000. Sejak 1983, setelah pembentukan Departemen Kehutanan, tugas ini kemudian diambil alih oleh Ditjen Inventarisasi dan Tata Guna Hutan (INTAG). Peta TGHK membagi lahan menjadi kategori berikut : Areal Konservasi dan Perlindungan Alam Hutan Lindung Hutan Produksi (terbatas dan biasa) Hutan Konversi Tak Terklasifikasi (Hak Milik, Hak Milik Adat, Hak Pengelolaan). Berdasarkan pembagian diatas, mangrove dapat masuk kedalam seluruh kategori. Di beberapa instansi, ditambahkan pembagian lahan kategori keenam yaitu Hutan Bakau

430

(mangrove) dalam beberapa peta. Sayangnya, hal ini kemudian membingungkan karena tidak memberikan indikasi mengenai status yang sebenarnya dari sumberdaya yang penting ini. Peta TGHK tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, akan tetapi dijadikan sebagai panduan bagi pemerintah daerah dalam membuat perencanaan tata guna lahan. Status yang ada dapat saja disesuaikan dalam setiap peta. Sebagai contoh, suatu areal yang dipetakan sebagai hutan lindung pada peta dengan skala 1 : 500.000, dapat saja kemudian terbagi menjadi beberapa kategori lainnya jika dipetakan dalam peta dengan skala yang lebih rinci (misalnya 1 : 50.000). Contoh lain adalah dapat saja suatu areal dipetakan sebagai cagar alam atau areal konservasi, padahal sebenarnya belum dikukuhkan atau hanya sebagian saja yang telah dikukuhkan. Walaupun demikian, secara umum peta TGHK sangat bermanfaat. Dalam perkembangan berikutnya pada skala lokal, peta TGHK kemudian digantikan oleh peta tata ruang yang disiapkan oleh masing-masing pemerintah daerah. Pembuatan peta tersebut sebagai tindak lanjut dari Undang-undang No. 24 Tahun 1992 mengenai Tata Ruang. UU ini memerintahkan adanya perencanaan ruang yang luas pada tingkat Nasional, Propinsi sampai Kabupaten, dan mengharuskan pemerintah untuk mengembangkan program perencanaan tata ruang yang menunjukkan sumberdaya apa yang harus dilindungi, direhabilitasi ataupun harus dialokasikan untuk kepentingan pembangunan ekonomi.

5.2

Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove

Seperti di tempat lain di dunia ini, lahan di Indonesia diberi status tertentu yang memungkinkan penggunaan tertentu. Bila suatu areal lahan telah digunakan secara tradisional oleh suatu komunitas tertentu dalam masyarakat, maka biasanya pengelolaan lahan tersebut akan dialihkan kepada komunitas masyarakat tersebut dengan status Hak Milik, Hak Milik Adat atau Hak Pengelolaan. Areal lahan yang bukan merupakan areal pertanian (termasuk sebagian besar lahan hutan) pada umumnya diberi status sebagai Tanah Negara. Meskipun telah terdapat pembagian status lahan, kenyataannya masih muncul berbagai konflik menyangkut kepemilikan atau hak pengusahaan lahan. Misalnya, meskipun suatu areal mangrove telah dikelola oleh hukum adat atau merupakan tanah negara (tanah timbul), akan tetapi apabila telah dikonversi menjadi tambak, seringkali lahan tersebut berubah menjadi milik pribadi. Akibat perubahan ini, konflik lain seringkali muncul apabila pemerintah kemudian ingin mengambil kembali lahan tersebut untuk kepentingan yang lain, misalnya untuk jalur hijau. Sampai saat manuskrip ini dibuat, setidaknya telah dibuat 22 buah peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove di Indonesia. Peraturan-peraturan tersebut umumnya menyoroti hubungan antara sektor kehutanan dan sektor perikanan serta

313

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Agraria. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa. 15. 2. Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 17. Undang-undang No. 4. Perikanan dan Kehutanan kepada Daerah Swatantra Tingkat I. Undang-undang Dasar Tahun 1945 Pasal 33 ayat 3. 13. 32 Tahun 1990 mengenai areal lindung. 6. 22 Tahun 1999 mengenai pemerintahan daerah. UU yang terakhir ini memberikan wewenang yang besar kepada daerah untuk melakukan pengelolaan dan pelestarian mangrove. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Perairan. 18. 5 Tahun 1990 mengenai perlindungan sumber daya hayati dan ekosistemnya dan Undang-undang No. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. 3. 432 . 5. 16. Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1967 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Bidang Perkebunan. 8.mengenai jalur hijau. 19. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. peraturan yang paling relevan nampaknya adalah Kepres No. 11. Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Berkaitan dengan konservasi. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. 7. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan. 14. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan. 10. 12. Beberapa peraturan yang berkait dengan pengelolaan mangrove di Indonesia 1. 9. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan.

jalur hijau ditetapkan selebar 10 meter di sepanjang sungai dan 50 meter di sepanjang pantai pada pasang terendah.) Dikeluarkannya SK Presiden No.20. Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1989 tentang Tim koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional. Peraturan ini memberikan perlindungan yang lebih memadai terhadap zona jalur hijau. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II. 21. Fungsi jalur hijau pada prinsipnya adalah untuk mempertahankan pantai dari ancaman erosi serta untuk mempertahankan fungsi mangrove sebagai tempat berkembangbiak dan berpijah berbagai jenis ikan. 32 Tahun 1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung menggantikan seluruh peraturan terdahulu mengenai jalur hijau. Beberapa kritik yang dapat disampaikan mengenai SK ini antara lain adalah: SK ini tidak dapat diterapkan pada areal yang saat ini tidak memiliki tumbuhan mangrove lagi karena adanya eksploatasi pada masa lalu atau konversi. 333 . 5. KB 550/246/ KPTS/1984 dan No.000 ha.I/4/2/18/ 1975) yang mengatur perlunya dipertahankan areal di sepanjang pantai selebar 400 meter dari rata-rata pasang rendah. 60/KPTS/DJ/I/ 1978 mengenai panduan silvikultur di areal air payau. jalur mangrove pantai minimal 130 kali rata-rata pasang yang diukur ke darat dari titik terendah pada saat surut. SK ini ternyata memiliki beberapa kelemahan. menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama No. Untuk itu. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Menurut SK tersebut. 082/KPTS-II/1984. melarang penebangan mangrove di Jawa. 22. hendaknya diadakan penyesuaian yaitu pada areal yang awalnya hanya memiliki vegetasi mangrove.3 Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Jalur hijau adalah zona perlindungan mangrove yang dipertahankan di sepanjang pantai dan tidak diperbolehkan untuk ditebang. Dalam pelaksanaannya dilapangan. Selanjutnya Dirjen Kehutanan mengeluarkan SK No. Menurut SK tersebut. Pada tahun 1984. dikonversikan atau dirusak. Kebijakan pemerintah untuk merumuskan suatu jalur hijau dimulai pada tahun 1975 ketika dikeluarkan SK Dirjen Perikanan (No H. yang menghimbau pelestarian jalur hijau selebar 200 meter sepanjang pantai. serta melestarikan seluruh mangrove yang tumbuh pada pulau-pulau kecil (kurang dari 1.

SK ini hanya memberikan pilihan untuk konservasi. SK ini tidak memacu adanya perlindungan terhadap mangrove secara menyeluruh maupun fungsi ekologisnya. misalnya dengan mangrove daratan. Tanpa adanya perlindungan terhadap ekosistem pendukung secara terpadu. kelangsungan hidup jalur hijau tersebut tidak akan terjamin sepenuhnya. Peraturan ini menginstruksikan kepada seluruh gubernur dan bupati/walikotamadya di seluruh Indonesia untuk melakukan penetapan jalur hijau hutan mangrove di daerahnya masing-masing. Misalnya. 434 .4 Peraturan yang berkait dengan konservasi mangrove Perlindungan satwa. 5.Penentuan jalur hijau dengan menggunakan SK ini di pantai-pantai yang datar atau dataran lumpur yang luas tidak dapat digunakan secara efektif. dkk (1997) melakukan studi penetuan lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta menggunakan pendekatan analisis sistem yang menghasilkan rekomendasi perkiraan lebar mangrove di daerah tersebut sekitar 1. Di beberapa daerah seperti diatas. Pilihan tersebut umumnya tidak memadai pada daerah yang telah memiliki pemanfaatan tradisional yang intensif. 5 Tahun 1990 mengenai konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya. Hilmi. Peraturan terakhir mengenai jalur hijau adalah Inmendagri No. Informasi lebih lanjut mengenai areal mangrove yang dilindungi. Permasalahan ini dapat diatasi dengan mendefenisikan pengukuran dari hutan mangrove terluar dekat laut. baik untuk tambak maupun berbagai bentuk pemanfaatan lainnya yang sebenarnya tidak mendukung konservasi mangrove. lebar jalur hijau mangrove seyogyanya ditentukan secara spesifik untuk setiap lokasi karena setiap tempat mempunyai karakteristik lingkungan yang spesifik. sumber air tawar atau dengan rawa air tawar. termasuk total areanya. SK mengesampingkan adanya keterkaitan ekologis. Secara ekologis. 26 Tahun 1997 tentang Penetapan Jalur Hijau Hutan Mangrove. Misalnya di Jawa. tumbuhan dan ekosistem di Indonesia pada dasarnya telah tercakup dalam Undang-undang No.000 meter. lebar jalur hijau yang dihitung dari titik terendah saat air surut hanya berupa dataran lumpur saja dan tidak sampai ke hutan mangrovenya. sehingga akan menyulitkan tercapainya suatu konsesus pengelolaan mangrove di beberapa daerah. hampir seluruh areal mangrove yang ada telah dimanfaatkan oleh penduduk. serta areal lindung yang penting disajikan pada Bab 6.

pola ini beralih ke sistem produksi yang intensif.000 hektar disampaikan oleh Asian Wetland Bureau/Wetlands International . seperti perangkap ikan dan kepiting dengan membangun pematang di daerah pasang surut. sekitar tahun 1400-an. mulai dari langkah-langkah yang diambil dilapangan sampai perencanaan tingkat pusat. beberapa usulan pemasukan areal baru maupun penambahan luas areal yang telah ada diajukan oleh berbagai organisasi yang bergerak dibidang pelestarian alam. mengukuhkannya menjadi suatu kawasan lindung atau dalam bentuk jalur hijau saja. dimana hal ini berkaitan dengan pendapatan mereka yang rendah serta alternatif mata pencaharian yang terbatas. Populasi penduduk yang semakin bertambah menyebabkan meningkatnya konversi lahan 353 . Kegiatan budi daya air payau di Jawa merupakan fenomena kegiatan tradisional yang telah berlangsung sejak dahulu. Tipe kolam yang paling sederhana. dimana kondisi di pulau ini dapat menjadi model pengelolaan mangrove yang penduduknya padat. Sebagai contoh yang baik dapat dilihat di Jawa. 5. Memasuki abad ke-20. Sejarah gangguan terhadap mangrove oleh penduduk setempat di pulau Jawa seringkali dilakukan oleh nelayan. Menyambut gagasan ini.Pada tahun 1993. malah mungkin telah dilakukan lebih awal (Naamin.5 Perkembangan terakhir Berbagai inisiatif dan gagasan telah dikembangkan berkaitan dengan kebijakan nasional dibidang pengelolaan mangrove di Indonesia. Departemen Kehutanan mengeluarkan gagasan perlunya pengembangan luasan areal kawasan lindung dari 15 juta hektar menjadi 30 juta hektar.Indonesia Programme (1994). Akan tetapi disadari bahwa pengelolaan mangrove yang baik tidak akan tercapai hanya dengan mengembangkan kebijakan-kebijakan. Gagasan ini juga menyangkut sejumlah besar luasan kawasan mangrove. 1987). termasuk penebangan mangrove untuk keperluan pembangunan tambak. Pengelolaan juga akan sangat tergantung pada bagaimana mengakomodasikan serta mengontrol kebutuhan masyarakat yang tinggal dan hidup di sekitar mangrove. Diketahui bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat mempengaruhi upaya pengelolaan mangrove. Usulan penambahan areal konservasi mangrove baru seluas 630. Yang terpenting diantaranya adalah: Kebijakan nasional dibidang pengelolaan keanekaragaman hayati lautan Strategi nasional dibidang pengelolaan mangrove Kebijakan nasional dibidang pembangunan pedesaan Strategi nasional dibidang pengelolaan jalur hijau pesisir Kebijakan-kebijakan diatas sangat bermanfaat untuk memberikan kejelasan dalam pengelolaan sumber daya mangrove.

hutanhutan tersebut merupakan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani untuk hutan produksi. diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan yang timbul.mangrove untuk pembangunan tambak serta meningkatkan permintaan terhadap kayu bakar. Di lain hal. hutan mangrove tersebut menjadi milik Perum Perhutani. instansi pemerintah pusat dan daerah. Masalah yang dihadapi kebanyakan disebabkan oleh kurang tersedianya peta-peta yang akurat dan statusnya yang tidak jelas. Selain ikan. 436 . jika masyarakat memperoleh hasil yang cukup dari sistem tersebut (terutama hasil ikan atau udang). Dalam beberapa tahun kemudian hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi tambak. pada tahun 1986 Perum Perhutani mulai melaksanakan program Kehutanan Sosial di areal mangrove. hasil ikan yang diperoleh memang sangat rendah bila dibandingkan dengan sistem pengelolaan yang intensif. Dengan sistem ini. Polanya adalah lahan pasang surut seluas 80% sebagai hutan mangrove dan yang 20% digunakan sebagai kolam untuk budidaya ikan. sehingga akan membatasi insentif yang dapat diperoleh dan pengembangan pengelolaan oleh masyarakat setempat. Dengan berkembangnya upaya-upaya penanaman mangrove. Berbagai LSM. banyak usaha-usaha penanaman kembali mangrove dilaksanakan pada tingkat lokal. Upaya ini baik sebagai respon terhadap terjadinya erosi di pantai maupun semakin berkurangnya cadangan anakan ikan di pantai. Hal ini menyebabkan hampir 90 % hutan mangrove hilang. dengan sistem silvofishery ini pemanenan kayu mangrove secara berkelanjutan berpotensi tinggi. dalam mencegah semakin hilangnya areal mangrove. pada beberapa tahun terakhir ini. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengembalikan mangrove sebagai hutan produksi dari penduduk setempat. kemungkinan sistem tersebut dapat ditularkan ke daerah lain. serta penduduk setempat melaksanakan berbagai program dan kegiatan penanaman mangrove. Sebenarnya. Untuk mengatasi tingginya laju konversi. dimana secara ekologis mangrove masih berfungsi secara optimal dan hasil pendapatan dari budidaya ikan layak untuk memenuhi kebutuhan hidup. dan membangun saluran untuk budi daya ikan dan udang. maka akan dapat meminimalisasi usaha gangguan terhadap hutan mangrove. Jika ini terlaksana. akan tetapi sistem intensif membutuhkan investasi yang jauh lebih besar. yaitu memadukan kegiatan pengelolaan mangrove dengan produksi perikanan (silvofishery). Program ini pada dasarnya adalah merehabilitasi lahan-lahan mangrove yang telah terdegradasi dengan penanaman pohon. Upaya mengubah perbandingan ukuran luas hutan dan tambak. Secara hukum. tapi sayangnya sebagian besar usaha-usaha penghutanan kembali ini tidak berhasil. upaya produksi kayu seringkali mengalami kegagalan karena pohonpohonnya jarang sekali mencapai ukuran komersial dan jumlahnya yang terbatas. Sayangnya. diharapkan dalam jangka panjang manfaat dan fungsi mangrove dapat berjalan dan dirasakan kembali. Ironisnya.

namun pada kenyataan di lapangan menunjukkan banyak diantaranya yang masih mendapat tekanan yang cukup berarti.500 165.765 Status Karang GadingLangkat Timur Laut (1) Pulau Berkeh Pulau Burung Hutan Bakau Pantai Timur (2) Berbak Sumatera Selatan I Way Kambas Pulau Penaitan SUM-08 Sumut Sumatera SM SUM-14 SUM-25 SUM-36 SUM-38 SUM-48 SUM-51 JAV-01 Riau Riau Jambi Jambi Sumatera Sumatera Sumatera 01°05’S/104°00’T Sumatera 01°10’S/104°20’T 500* 200* 2. Tabel 5 berikut merupakan daftar 41 lokasi kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Indonesia.600 hektar sebagai hutan suaka alam dan wisata (tidak termasuk Jawa).800 123. Kawasan lindung di Indonesia yang memiliki habitat mangrove Lokasi Kode Propinsi Pulau WDB (a) Posisi Luas areal Total Mangrove Area (ha) (ha) 11. Adapun data areal mangrove yang telah dilindungi yang tercatat dari setiap lokasi adalah seluas 551.800 hektar masuk dalam kategori hutan lindung dan 674.000* <500* 1. dimana pada lokasi-lokasi tersebut di dalamnya memiliki habitat mangrove.400 atau 31 % dari luas areal mangrove Indonesia telah masuk dalam kawasan lindung.500 15.000 356. Dari tabulasi data fungsi hutan/lahan menurut Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Lahan (RPPH/TGHK) tercatat seluas 424.700* 500* <2. AREAL MANGROVE YANG DILINDUNGI 6.1 Mangrove dan sistem kawasan lindung Meskipun beberapa areal mangrove di Indonesia telah dimasukan kedalam suatu kawasan lindung. Bina Program INTAG (1996). dimana 86% diantaranya terdapat di Irian Jaya.099. Tabel 5.363 hektar.500 SM CA CA TN TN TN TN Lampung/ Sumatera 05°30’S/104°15’T Bengkulu Lampung Jabar Sumatera 04°50’S/105°40’T Jawa 06°36’S/105°09’T 373 .000 17.700 500 200 6. areal mangrove seluas 1. Menurut data Dit.VI.

000 320.000 55.000 6.Ujung Kulon Pulau Dua Pulau Pari Pulau Rambut Muara Angke (3) Cikepuh Leuweng Sancang Kepulauan Karimun Jawa Baluran Meru Betiri Nusa Barung Bali Barat Gunung Palung Muara Kendawangan Tanjung Puting Pulau Kaget (4) Pulau Kembang (4) Pleihari Tanah Laut Kutai Marisa Morowali Lampuko-Mampie (5) Watumohae (6) Lambale Tanjung Peropa Komodo Pulau Menipo JAV-36 JAV-03 JAV-04 JAV-05 JAV-07 JAV-14 JAV-16 JAV-21 JAV-27 JAV-31 JAV-32 JAV-33 KAL-06 KAL-07 KAL-11 KAL-18 KAL-19 KAL-21 KAL-36 SUL-03 SUL-11 SUL-28 SUL-30 SUL-33 SUL-36 NUT-06 NUT-12 Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jateng Jatim Jatim Jatim Bali Kalbar Kalbar Kalteng Kalsel Kalsel Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Sultra Sultra NTB NTB Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Bali Kalimantan Kalimantan Kalimantan 02°55’S/112°00’T Kalimantan Kalimantan 03°12’S/112°32’T Kalimantan 04°20’S/114°31’T Kalimantan 00°18’N/117°20’T Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Komodo Timor 08°35’S/119°30’T 03°25’S/119°30’T 04°30’S/122°00’T 04°45’S/123°05’T 07°15’S/106°27’T 07°45’S/107°55’T 05°48’S/110°40’T 07°50’S/114°25’T 08°21’S/113°49’T 08°27’S/113°22’T 08°10’S/114°30’T 05°58’S/106°42’T 06°01’S/106°12’T 1.000 38.127 2.000* <500 <20 <10 4.4 8.000 85 60 35.000 296.600 130.499 TN CA LIPI CA CA SM CA CA TN TN CA TN TN CA TN CA TW SM TN CA CA SM TB SM SM TN SM 438 .000* <3.026 25.000 50.100 19.000* 750 <500 <200* 300 7.000* 10.000* <2.000 10 3 18 <2 <200* <50* <1.000* 35.000 200.000 30 7 56 15.000 94.000* 7.000 50.15 7.000 <1.000 150.000* <500 300 20 <200 3.000 2.579 2.000 82.

000 3. Pengamatan penulis. akan tetapi tetap belum mewakili suatu habitat mangrove yang baik.000 1. sementara SM hutan Bakau Pantai Timur (Jambi) kondisinya cukup mengkhawatirkan.000 13.250 T N 500. Kedua lokasi tersebut telah diidentifikasi sebagai habitat penting bagi burung air pengembara serta berbagai jenis burung bangau dan pelatuk besi (Giesen. Pulau Berkeh dan Pulau Burung).363 hektar (86% di Irian Jaya) Catatan: Kecuali disebutkan.180 180.000* 301. Desember 1988. dkk (1987). Silvius & Taufik (1989) 6. 393 .000 SM TN TOTAL AREAL KAWASAN MANGROVE YANG DILINDUNGI: 551. (a) * 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Kode yang tercantum pada Wetland Data Base yang dikembangkan oleh Wetlands International dan PHPA (1990 – sampai saat ini) Kondisi saat ini dari mangrove tersebut tidak jelas. serta pengamatan penulis Pengamatan penulis. 1991). Beberapa areal lindung mangrove yang lebih kecil juga telah dikukuhkan dan penting bagi burung air (mis.000 11.000 6.560. 1994 dan Rusila. Areal mangrove di SM Karang Gading Langkat Timur Laut (Sumut) hampir seluruhnya telah berubah menjadi habitat sekunder. Desember 1988. Baltzer & Baruadi (1991). Giesen.2 Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Mangrove tidak terwakili dengan baik pada kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Sumatera.Manusela Pulau Baun Yamdena Lorentz Pulau Kimaam (7) Wasur & Rawa Biru MAL-09 MAL-16 MAL-17 IRI-14 IRI-17 IRI-20 Maluku Maluku Maluku Seram Aru Tanimbar 03°00’S/130°00’T 06°35’S/134°05’T <3.500 165. mungkin sebagian telah rusak Giesen (1991) (KGLTL) Giesen (1991) (HBPT) Jakarta Post melaporkan konversi areal.000 304.500 TN SM CA Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian 1. seluruh data diambil dari Silvius.

Areal mangrove di Sumatera yang kondisinya masih baik adalah komplek mulut sungai antara Delta Sungai Musi dan Banyuasin.1990 menunjukkan bahwa 2. Pulau Dua di ujung barat Jawa Barat serta CA. Sekitar 1. 1989 dan Verheugt. Areal ini telah diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1980-an. Pulau Jawa telah kehilangan sekitar 90% mangrovenya dan hanya sedikit dari areal mangrove yang tersisa masuk kedalam kawasan lindung. 1987. Survey di Sulawesi Selatan (Giesen. 1998). 440 . 1989).000 hektar mangrove terdapat di bagian utara pantai Taman Nasional Ujung Kulon (Hommel. Jumlah seluas ini sebenarnya mengandung ketidakjelasan karena survey di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Areal Mangrove di utara Teluk Bone (23. Meskipun usulan ini telah beberapa kali diajukan termasuk usulan untuk penggabungannya dengan Taman Nasional Berbak. dkk. Areal lain umumnya hanya memiliki luas yang kecil atau telah rusak. Pulau Rambut di Teluk Jakarta penting sebagai tempat berkembangbiaknya berbagai jenis burung air (Silvius dkk. namun mengkombinasikannya sebagai kawasan konservasi dan kawasan pemanfaatan secara berkelanjutan mungkin merupakan pilihan yang terbaik (White. dkk. Cilacap yaitu 8.000 ha) dan Lariang . 1991).) disarankan untuk dijadikan kawasan lindung.700 ha).000 hektar mangrove terdapat di Taman Nasional Gunung Palung dan SM Muara Kendawangan (keduanya di Kalimantan Barat) dan TN. sayangnya sampai saat ini belum dapat diwujudkan. Areal ini diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1989 dan sebenarnya telah disetujui oleh pemerintah setempat (Danielsen & Verheugt. 1991) dan di Sulawesi Tenggara pada tahun 1989 . Sebuah usulan telah diajukan untuk menetapkan kawasan lindung yang di dalamnya termasuk 5. sebagian mangrove didaerah ini telah dikonversi menjadi tambak oleh masyarakat.Lumu meskipun arealnya kecil.Mampie (Sulsel) dan hampir 3. 1997 dalam PKSPL IPB. II Cilacap. Sumatera Selatan. 1996).000 hektar areal mangrove di kawasan Lampuko . Mangrove di Lariang . dkk. Beberapa kawasan lindung mangrove seperti CA. tetapi telah berkembang dengan baik dan memiliki tegakan yang telah matang. Tanjung Puting (Kalimantan Tengah).957 hektar (BAPPEDA Tk. Rusila dkk. maka kawasan lindung Sembilang .000 hektar di Taman Buru Watumohai (Sultra) sebenarnya telah dikonversikan menjadi tambak.000 hektar mangrove di Sulawesi telah dikukuhkan sebagai areal lindung. dkk. lebih dari 15. Kawasan lindung mangrove yang terluas di Jawa mungkin di Pulau Panaitan. Areal mangrove terluas yang ada di Jawa saat ini adalah di Segara Anakan. 1989).400 hektar mangrove di utara Sungai Lariang (Giesen. Sekitar 7. Jawa Barat (1. Di Kalimantan. 1987).Berbak akan merupakan kawasan terbaik untuk perlindungan Harimau Sumatera.Lumu (7. yaitu di Sungai Sembilang.800 ha. DI TN Kutai (Kalimantan Timur). yang berbatasan dengan Propinsi Jambi (Danielsen & Verheugt. 1991). Frazier (1992) menyatakan bahwa apabila usulan terakhir dapat diwujudkan. Luas ini mewakili 8% dari luas mangrove yang ada pada tahun 1990.

1994). meskipun sebenarnya untuk kepentingan konservasi keanekaragaman hayati akan lebih baik jika areal mangrove di Kei dan Kepulauan Aru juga dilindungi. Wasur (6. C. Kalimantan dan Sulawesi. Pulau Baun.000 hektar). Usulan untuk menjadikan areal seluas 450. terutama di Sumatera. Camptostemon philippinensis. Kepulauan Aru (1. schultzii. Sebanyak 32 jenis dari 39 jenis tersebut (yaitu yang terdapat di Indonesia Barat. Pulau Kimaam (165.500 ha). Sayangnya di Kedua lokasi tersebut. Dari pengamatan di lapangan. Sekitar 14. Komodo dan SM Pulau Menipo. Heritiera globosa.000 hektar).000 hektar mangrove telah dikukuhkan di Maluku yaitu di TN Manusela.000 hektar sebagai kawasan lindung. Lorentz (301. Seram (3. Rusaknya mangrove di Indonesia Barat dan Sulawesi akan mengakibatkan hilangnya jenis-jenis tumbuhan mangrove. Yamdena.000 hektar mangrove di TN. terdapat 6 jenis yang hanya tumbuh pada habitat mangrove dan kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh hilangnya areal mangrove yaitu Amyema gravis.000 hektar). Tanimbar (10. 6. kegiatan pembangunan dilaksanakan dengan pesat dan areal mangrove merupakan salah satu subjek konversi. termasuk 250. Areal mangrove seluas lebih dari 472. CA.3 Pemeliharaan keanekaragamn hayati mangrove Dari uraian diatas nampak jelas bahwa secara umum mangrove belum terwakili dalam sistem areal lindung di Indonesia. paling tidak setengahnya tumbuh di hutan rawa yang berdekatan dengan habitat mangrove.180 ha. ternyata habitat rawapun tidak kurang rentannya. CA.) dan di TN. tetapi tidak hanya ditemukan di habitat mangrove). Jawa. Sejumlah 38 jenis tumbuhan mangrove sejati maupun mangrove ikutan terdapat hanya di Indonesia Barat.). dan SM. Dari jumlah tersebut. Luas tersebut nampaknya sudah cukup mewakili. Dari jenis-jenis tersebut. 413 .000 hektar areal mangrove telah diusulkan oleh Petocz (1983) dan kemudian diajukan pula oleh Erftemeijer.000 ha. Jenis lain yaitu Amyema anisomeres diketahui hanya ada di bagian utara Teluk Bone. Oberonia rhizophoreti dan Phoenix paludosa. dimana jalur mangrove selebar lebih dari 30 kilometer dan tegakan yang matang tumbuh dengan baik. sebagai akibat dari tekanan pembangunan (Giesen. Sulawesi Selatan. Allen & Zuwendra (1989).000 hektar telah dikukuhkan di Irian Jaya yaitu di TN. Areal mangrove yang paling berkembang dengan baik sebenarnya terdapat di Teluk Bintuni. yang paling rentan adalah Phoenix paludosa yang diketahui hidup di Sumatera bagian utara.Areal mangrove di Nusa Tenggara telah masuk ke dalam kawasan lindung dengan adanya 3.

Untuk melindungi keanekaragaman hayati tumbuhan mangrove. hendaknya perhatian diberikan terhadap kerentanan jenis-jenis yang bersifat endemik. Jawa Tengah Bagian utara Sungai Lariang. I. Rhododendron brookeanum dan Ixora timorensis. dan hanya ditemukan di beberapa lokasi di Sumatera dan Kalimantan. upaya pro-aktif nampaknya harus juga dilakukan untuk perlindungan habitat mangrove di Indonesia Timur. Pulau Kimaam Wildlife Identifikasi dan penambahan areal lindung mangrove di Kepulauan Kei dan Aru. 3. Sumatera Selatan Segara-Anakan. 2. termasuk: 1.Terkait dengan konservasi keanekaragaman hayati. Sulawesi Selatan Beberapa lokasi lain di Kalimantan (kemungkinan di Kalimantan Timur) sesuai dengan pengkajian lapangan yang lebih rinci. R. 442 . 4. timorensis hanya ditemukan di luar areal kawasan lindung dan hanya di lokasi yang terbatas. sementara A. brookeanum juga relatif langka. anisomeres bahkan lebih rentan dibandingkan 2 jenis lainnya. maka diusulkan agar lokasi-lokasi dibawah ini segera dapat dilindungi : 1. 3. Sungai Sembilang. Tiga jenis tumbuhan mangrove diketahui endemik untuk Indonesia. Pengukuhan kawasan lindung mangrove Teluk Bintuni Perbaikan pengelolaan di TN. 2. yaitu Amyema anisomeres. Lorentz dan SM. Dalam jangka panjang.

kelompok jenis atau jenis tertentu. cairan anti nyamuk dan alat-alat tulis yang tahan kondisi basah. disarankan untuk mempelajari beberapa buku klasik yang menjelaskan informasi mengenai mangrove secara lebih luas. Untuk menghindari panas.2 Petunjuk untuk pengamatan lapangan Melakukan pengamatan di habitat mangrove memerlukan lebih dari sekedar buku panduan. MacNae (1968). dkk (1983). 433 . Saenger. Sebelum melakukan pengamatan. Studi yang komprehensif mengenai mangrove di Indonesia belum begitu banyak. Untuk mengetahui informasi mengenai cara budidaya mangrove dapat dibaca Pedoman Pembuatan Persemaian dan Penanaman Mangrove oleh Kusmana (1998) atau Panduan Teknis Penanaman Mangrove bersama Masyarakat oleh Khazali (1999). seperti Watson (1928). 1997).VII. 7. Beberapa karya tulis klasik yang layak untuk dibaca antara lain van Steenis (1958) yang memberikan informasi umum mengenai mangrove dalam pengantarnya terhadap makalah dari Ding Hou (1958) mengenai Rhizophoraceae. lumpur.1 Pustaka penting Bagi mereka yang ingin mempelajari mangrove lebih rinci dan mendalam. sehingga memudahkan pergerakan. Chapman (1976a). keringat. LIPI bersama Program MAB Indonesia telah menyelenggarakan seminar ekosistem hutan mangrove yang dapat digunakan sebagai sumber informasi yang cukup memadai. (1984. Tomlinson (1986). pustaka yang bisa ditelusuri antara lain adalah Watson (1928) dan MacNae (1968). Disarankan untuk tidak membawa barang yang tidak terlalu penting. teropong dan alat tulis saja. pada umumnya menyentuh masalah lokasi. serta bab mengenai mangrove yang ditulis oleh Whitten dkk. Duke. dkk (1984) dan Duke (1992). eksploitasi serta pengelolaan mangrove di Indonesia. Untuk mempelajari mangrove di Asia Tenggara. melainkan juga memerlukan waktu yang cukup panjang. air asin dan terutama nyamuk. dkk. Beberapa tulisan lain yang ditulis oleh penulis luar maupun ilmuwan Indonesia (misalnya Kusmana. BEBERAPA PETUNJUK STUDI MANGROVE BAGI PEMULA 7. Pengamatan di lingkungan mangrove seringkali harus menggunakan perahu atau sampan. persiapan yang baik adalah salah satu syarat untuk tercapainya tujuan pengamatan. stamina yang baik serta ketahanan terhadap udara panas. Diantaranya adalah menyiapkan baju lengan panjang dari bahan katun atau bahan lain yang menyerap keringat. Sejak awal tahun 80-an sampai saat ini. termasuk jika sewaktu-waktu harus memanjat pohon mangrove untuk mendapatkan sampel herbarium atau keperluan lainnya. 1987).

444 . dan kemudian ditaburi methylate spirit. walaupun untuk keperluan lainnya (misalnya pengamatan tanah. tipe perakaran. Air tinggi biasanya akan lebih memudahkan kita untuk mencapai tujuan tertentu. Berperahu di lingkungan mangrove akan sangat dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. sehingga pengamat harus memfokuskan perhatiannya pada perbedaan kulit kayu. Melakukan pengamatan di habitat mangrove cukup menyita waktu. Untuk itu perlu disediakan kantung plastik serta kotak plastik tahan air untuk menyimpan peralatan tersebut. dan buah dari pohon yang akan diidentifikasi. Identifikasi dapat dilakukan kemudian di laboratorium dengan membuat catatan mengenai lokasi. Spesimen sebaiknya disimpan diantara kertas koran yang dijepit oleh bambu atau tripleks. melelahkan dan menguras keringat. Sebagian besar bentuk pohonnya memiliki kesamaan. Kelemahannya. Air laut sangat “jahat” terhadap kamera serta peralatan optis lainnya. Hal ini berarti bahwa hampir setiap saat dapat ditemukan pohon yang memiliki bunga atau buah yang akan memudahkan identifikasi jenis pohon.3 Spesimen tumbuhan mangrove Dibandingkan dengan pengamatan di hutan tropis. tipe akar serta bunga/buahnya. dan habitat. bunga. mudah terbakar dan mudah menguap. yakni dengan mengambil daun. tanggal. spesimen dapat disimpan dalam kantung pelastik yang tahan air dan sama sekali tidak terbuka terhadap udara luar. bahan ini cukup mahal. Lihatlah daftar pasang-surut. perlu dibuat koleksi tumbuhan. Jika waktu pengamatan tidak memungkinkan. Meskipun demikian.35 spesimen dibutuhkan 1 liter methylate spirit. karena terbatasnya jenis tumbuhan serta sifat perbungaannya yang tidak terlalu musiman. fauna permukaan dan dalam tanah serta tipe perakaran) kondisi ini kurang mendukung. karena itu air minum dan makanan kecil secukupnya perlu dipersiapkan. atau melindungi saat kita mengambil photo pada saat hujan. pengamatan pada habitat mangrove juga memiliki kesulitan tersendiri. karenanya perlu perencanaan matang. Payung kecil kadang-kadang juga sangat bermanfaat untuk melindungi diri dari panas atau hujan.sebaiknya gunakan topi yang dapat menyerap keringat. Untuk 25 .3 hari kemudian. Lebih dari itu. pengamatan vegetasi di habitat mangrove relatif lebih mudah. Biasanya dengan cara ini spesimen masih bisa diidentifikasi selama 2 . 7. tumbuhan pada habitat mangrove tidaklah setinggi pohon-pohon di hutan hujan tropis. Untuk perjalanan yang lebih lama.

7. Bagaimanapun. kemudian dicatat seluruh tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang tumbuh dalam lebar tersebut. Jakarta. terutama karena peta serta citra saja tidak akan memberikan keterangan yang memadai mengenai kondisi yang sebenarnya di lapangan. gabungan kedua metoda tersebut akan memberi hasil yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Peta topografi dapat diperoleh di BAKOSURTANAL. kemudian dicatat tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang di dalam dan disinggung garis tersebut. dan biasanya bisa diperoleh di LAPAN.4 Studi vegetasi Untuk pengamatan vegetasi. Untuk mengetahui informasi mengenai analisis vegetasi hutan (termasuk mangrove) dapat dibaca buku Metoda Survey Vegetasi yang disusun oleh Kusmana (1997). Peta tersebut mencakup Sistem Lahan serta tipe tata guna lahan dan hutan yang akan sangat bermanfaat dalam studi vegetasi. 7. Metoda-metoda diatas antara lain dijelaskan dengan lebih rinci oleh Chapman (1984) dan English. Pada citra inderaja yang memadai dapat membedakan zona vegetasi yang berbeda. Pengamatan di lapangan kemudian akan memberikan informasi yang lebih baik. termasuk sabuk mangrove yang umumnya memiliki kharakteristik lokasi yang berbeda. metoda yang dilakukan tidak banyak berbeda dengan metoda yang biasa digunakan di daratan. citra inderaja juga sangat membantu perencanaan studi. serta beberapa lainnya. yaitu membuat garis transek dengan panjang tertentu (misalnya 100 meter atau 500 meter) dengan lebar 10 sampai 20 meter. Metoda kedua juga pada prinsipnya sama. sementara peta tematik yang paling memadai saat ini adalah yang diproduksi oleh RePPProT (the Regional Physcial Planning Programme for Transmigration) dengan skala 1 : 250. Selain peta. dkk (1994). Pada metoda yang pertama. 453 .5 Studi Fauna Untuk keperluan studi fauna vertebrata. Jawa Barat. Cibinong. Khusus untuk burung air (bermigrasi) disarankan untuk menggunakan Howes (1989) dan Rusila (1999). kecuali dalam metoda ini dibuat plot-plot (misalnya luas 100 m2/radius 5 m) dengan jarak antar plot pada garis (misalnya 20 m). Sementara untuk fauna vertebrata diantaranya disajikan dalam Sasekumar (1984) dan English et al. antara tahun 1985 1992. (1994).000 yang melingkupi hampir seluruh wilayah Indonesia. yaitu transek garis (strip sampling) dan transek plot garis (line plot sampling). Cara termudah melakukan pengamatan di lapangan adalah dengan melakukan transek. Transek kemudian dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya. sangat membantu jika memiliki peta topografi serta peta tematik. Pada dasarnya terdapat dua metoda transek yang dapat dipakai. baik secara visual maupun dengan menggunakan perangkat lunak komputer tertentu.

Tel. Nishihara. c/o College of Agriculture. 021-5720227 2. xx. pengayakan. Kampus IPB Darmaga. 5. PO. Jakarta. Laboratorium Ekologi Hutan.98. Tel. 1. 4.O. Fakultas Kehutanan IPB. Jurusan Manajemen Hutan. Blok VII. 021-7940403 SEAMEO-BIOTROP Southeast Asia Regional Center for Tropical Biology. Jakarta Utara. P. Japan. 6. 0251-621086 Organisasi Internasional 1. 7. Arzimar III No. 061-516338/535016. Tel. 0251-325755 2. Pasir Putih No. Ancol Timur. Indonesia. Jl.Pengamatan fauna invertebrata pada habitat mangrove umumnya berkaitan dengan zonasi. 0251-621244. PO.LIPI Jl. Fax 061-516338. densitas. Wetlands International ./Fax. Tel. 7. Tel/fax.O. International Society for Mangrove Ecosystems (ISME). 0251-323848. Ditjen Perlindungan dan Konservasi Alam (PKA). P3O . 7. km 6/P.: 0251-312189. pemilahan dan identifikasi jenis. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut IPB Gedung Marine Center Lt. A III/4. Yayasan Indonesia untuk kemajuan desa (YASIKA) Jln.81. 16-B. Pancoran Indah. Okinawa 903-01. Jl. Tel. Bogor 16152. North Sumatra. Box 17. Box 168 Bogor. Fax.: 021. Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan IPB. Jakarta. Box 254/BOO. Yayasan Mangrove Jl. ISME Secretariat. produktivitas. Tel.6 Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Organisasi/institusi nasional 1. Bogor. Liga Mas Indah.682287/683850/ 681948(fax). Gatot Subroto.6601/6602 (fax) 446 . Subdit Perairan. Lt. Raya Tajur. Bogor 16002 Tel.Indonesia Programme Jl. 0251-621086/624815. tel. Teknik yang digunakan biasanya dilakukan dengan menggunakan pengambilan sampel lumpur. Medan 20112. University of the Ryukyus. 3. Departemen Kehutanan Gedung Manggala Wanabhakti. pola distribusi vertikal (khususnya berkaitan dengan pasang surut air laut) dan fauna bawah tanah. 4. Erlangga No.895. 17. Box 286 Tel.

473 .

berlawanan. ilicifolius. dan Kepulauan Pasifik Barat.ilicifolius dan A. akan tetapi sering sekali membingungkan. ilicifolius keduanya memperlihatkan adanya karakter yang berbeda sebagaimana diuraikan dalam deskripsi. ebracteatus hampir sama dengan A. Catatan : 448 . Ukuran: 7-20 x 4-10 cm. Terdapat di seluruh Indonesia. Bentuk: lanset. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun. Unit & Letak: Sederhana. Letak: di ujung. biji 5-7 mm. Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan.volubilis sebagai satu jenis. Formasi: bulir. Daun : Pinggiran daun umumya rata kadang bergerigi seperti A. Bunga hanya mempunyai satu pinak daun utama. kadang agak putih di bagian ujungnya. Panjang tandan bunga lebih pendek dari A. ilicifolius. sedangkan bunganya sendiri 2-2. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung cerah. Ukuran: Buah panjang 2. Ujung: meruncing. A.53 cm.ebracteatus. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. Deskripsi umum : A. Berbunga pada bulan Juni. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. Manfaat : Buah digunakan sebagai “pembersih” darah serta untuk mengatasi kulit terbakar. Ketika tumbuh bersamaan dengan A.5 cm. ilicifolius (lihat halaman berikutnya).Acanthus ebracteatus Vahl ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju putih. tetapi seluruh bagiannya lebih kecil. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. Daun mengobati reumatik. karena yang sekunder biasanya cepat rontok. Filipina. Dari India sampai Australia Tropis. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A.

daun 493 . b. buah.Acanthus ebracteatus daun bunga buah a c b a. c. bunga.

Percabangan tidak banyak dan umumnya muncul dari bagian-bagian yang lebih tua. Biji tertiup angin. Deskripsi umum : Herba rendah. Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. terjurai di permukaan tanah. Letak: di ujung. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun. Terdapat di seluruh Indonesia. sangat jarang di daratan. A. Biasanya pada atau dekat mangrove. Bunga kemungkinan diserbuki oleh burung dan serangga. yang memiliki kemampuan untuk menyebar secara vegetatif karena perakarannya yang berasal dari batang horizontal. daruyu. Panjang tandan bunga 10-20 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. Bunga memiliki satu pinak daun penutup utama dan dua sekunder. biji 10 mm. agak berkayu. ebracteatus. kuat. Ukuran: buah panjang 2. Ukuran: 9-30 x 4-12 cm. Manfaat : Buah ditumbuk dan digunakan untuk “pembersih” darah serta mengatasi kulit terbakar.53 cm. Memiliki kekhasan sebagai herba yang tumbuh rendah dan kuat. ilicifolius dan A. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung. volubilis sebagai satu jenis. Akar udara muncul dari permukaan bawah batang horizontal. Filipina dan Kepulauan Pasifik barat. tepi daun bervariasi: zigzag/bergerigi besar-besar seperti gergaji atau agak rata dan secara gradual menyempit menuju pangkal. ketinggian hingga 2m.Acanthus ilicifolius L. Permukaan daun halus. Catatan : 450 . Bentuk: lanset lebar. sehingga membentuk bagian yang besar dan kukuh. berlawanan. Daun mengobati reumatik. Unit & letak: sederhana. Pohon juga dapat digunakan sebagai makanan ternak. Dari India hingga Australia tropis. darulu. Formasi: bulir. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. Di Bali berbuah sekitar Agustus. Ujung: meruncing dan berduri tajam. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. kadang agak putih. ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju hitam. Daun : Dua sayap gagang daun yang berduri terletak pada tangkai. Cabang umumnya tegak tapi cenderung kurus sesuai dengan umurnya. sampai sejauh 2 m. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A. sedangkan bunganya sendiri 5-4 cm. Pinak daun tersebut tetap menempel seumur hidup pohon.

daun 513 . c. bunga. buah.Acanthus ilicifolius daun bunga buah a b c a. b.

ditutupi oleh urat besar. paku laut. Secara umum. A. wikakas. Manfaat : Akar rimpang dan daun tua digunakan sebagai obat.speciosum. panjang hingga 1 cm.speciosum. wrekas. Sisik yang luas. krakas. Menebal di bagian pangkal. dan individu mudanya lebih kemerahan dibandingkan dengan A. Pinak daun terbawah selalu terletak jauh dari yang lain dan memiliki gagang yang panjangnya 3 cm. menebal di bagian tengah. Pinak daun letaknya berjauhan dan tidak teratur. berwarna hitam. Pengenalan yang paling mudah adalah dengan melihat ujung daunnya.speciosum. Ditemukan di bagian daratan dari mangrove. mangrove varen. hanya terdapat di bagian pangkal dari gagang. Seringkali keliru dengan A. Batang timbul dan lurus. Catatan : 452 . tipis ujungnya. PTERIDACEAE Nama setempat : Piai raya.aureum lebih tinggi. Terdapat di seluruh Indonesia. Tingkat toleransi terhadap genangan air laut tidak setinggi A.Acrostichum aureum Linn. Duri banyak. Biasa terdapat pada habitat yang sudah rusak. Daun: Panjang 1-3 m. sepanjang kali dan sungai payau serta saluran. Spora besar dan berbentuk tetrahedral. Ujung pinak daun yang steril dan lebih panjang membulat atau tumpul dengan ujung yang pendek. hata diuk. sementara pada A. Bagian bawah dari pinak daun tertutup secara seragam oleh sporangia yang besar. seperti areal mangrove yang telah ditebangi yang kemudian akan menghambat tumbuhan mangrove untuk beregenerasi.bercampur dengan urat yang sempit dan tipis. A. jenis ini menyukai areal yang terbuka terang dan disinari matahari. memiliki tidak lebih dari 30 pinak daun. besar.speciosum runcing-memanjang.aureum pada umumnya agak tumpul. Peruratan daun menyerupai jaring. Daun digunakan sebagai dan alas ternak. tinggi hingga 4 m. tetapi dengan titik yang kecil. pucat. Tidak seperti A. kala keok. Kelimpahan : Sangat melimpah setempat. paku cai. Ferna tahunan yang tumbuh di mangrove dan pematang tambak. coklat tua dengan peruratan yang luas. Deskripsi umum : Ferna berbentuk tandan di tanah. Ujung daun fertil berwarna coklat seperti karat. Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis.speciosum yang kecoklatan. Daun mudanya dilaporkan dimakan di Timor dan Sulawesi Utara.

pohon 533 . daun. ujung pinak daun.Acrostichum aureum pohon b a c d a. d. b. spora. c.

Pinak daun yang steril memiliki ujung lebih kecil dan menyempit. Kelimpahan : Melimpah setempat. Sisik pada akar rimpang panjangnya hingga 8 mm. Sisik luas. Ekologi : Penyebaran : Asia dan Australia tropis. Jenis ini berbeda dengan A.Acrostichum speciosum Willd. Tumbuh pada areal mangrove yang lebih sering tergenang oleh pasang surut. Daun : Sangat mencolok. panjang hingga 1 cm. Di seluruh Indonesia. Peruratan daun berbentuk jaring. PTERIDACEAE Nama setempat : Piai lasa.aureum dalam hal ukuran pinak daunnya yang lebih kecil dan ujungnya meruncing. Manfaat : Daun digunakan sebagai alas kandang ternak. Ferna tahunan. hanya terdapat di bagian pangkal daun. “Kecambah” (sebenarnya “bibit spora”) berlimpah pada bulan Januari hingga April (di Jawa). Sisik menebal di bagian tengah. pada umumnya panjangnya kurang dari 1 m dan memiliki pinak daun fertil berwarna karat pada bagian ujungnya. Spora besar dan berbentuk tetrahedral . permukaan bagian bawah pinak daun yang fertil berwarna coklat tua dan ditutupi oleh sporangia. Khususnya tumbuh pada gundukan lumpur yang “dibangun” oleh udang dan kepiting. Pinak daun berukuran kira-kira 28 x 10 cm. serta daun mudanya berwarna hijau-kecoklatan.5 m. 454 . Daun yang fertil dihasilkan pada bulan Agustus hingga April. membentuk tandan yang kasar dengan ketinggian hingga 1. tertutup secara seragam oleh sporangia besar. Deskripsi umum : Ferna tanah. Biasanya menyukai areal yang terlindung.

Acrostichum speciosum pohon b a c d a. b. ujung pinak daun. c. d. spora. daun. pohon 553 .

A. Daun Mahkota: 5. Kelopak Bunga: 5. Tumbuh pada daerah mangrove terbuka sebagai individu yang terpisah atau dalam kelompok kecil. bentuk tabung. sedangkan buah yang matang tumbuh pada bulan Januari . Deskripsi umum : Semak kecil. 456 . Kadang-kadang memiliki akar tunjang. putih kadang abu-abu pucat. Biasanya memiliki akar yang menjalar pada permukaan tanah. Kulit kayu bagian luar berwarna hitam. A.Aegialitis annulata R. berwarna kemerahan ketika telah matang. Letak: di ujung tandan/ tangkai bunga. rotundifolia memiliki daerah penyebaran yang tidak bersambung. kadang-kadang dijumpai sebagai pohon sampai 7 meter tingginya. 7-8 mm. Penyerbukan dilaporkan dibantu oleh semut. pada mangrove yang rendah dengan substrat lumpur. Ukuran: 3-4 x 4-5 cm.5-3 meter. Gagang daun panjangnya 8 cm. Bentuk: lanset seperti pedang. Buah berbentuk kapsul melengkung. Manfaat : Catatan : Memiliki kandungan tanin yang sangat tinggi. PLUMBAGINACEAE Nama setempat : Tidak tahu. akan tetapi penggunaannya belum pernah dilaporkan. annulata dan A. Bunga dari kedua jenis tumbuhan ini memiliki perbedaan karakteristik yang tidak terlalu penting. Daun : Terdapat lobang longitudinal dan kelenjar garam. PNG dan Australia Utara. Formasi: payung (ada banyak bunga). bengkak pada bagian pangkal dan memiliki tekstur seperti busa. 5-8 mm. Kelimpahan : Umum. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. halus dan kemudian bercelah sejalan dengan bertambahnya umur.November. Maluku. memiliki 5 sudut. dan ranting dengan goresan berbentuk cincin.Maret. Tandan bunga yang asimetris memiliki banyak bunga. tumpang tindih.Br. Burma. perbungaan terjadi pada bulan September . Diameter batang sampai 20 cm. Ujung: meruncing. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kepulauan Sunda kecil. Ukuran: 6-9 x 2-5 cm. Juga tumbuh pada daerah yang lebih berpasir dan berkarang serta tergenang oleh air dengan salinitas yang sama dengan air laut (pada akhir musim kering). rotundifolia terdapat di Bangladesh. Di Australia. umumnya memiliki ketinggian 1. Thailand dan Kepulauan Andaman.

c. buah. bunga.Aegialitis annulata a c b d a. d. daun. b. pohon 573 .

Australia dan Kepulauan Solomon. berwarna hijau mengkilat pada bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. dengan masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 8-12 mm. Papua New Guinea. putih. serta di bagian tepi dari jalur air yang bersifat payau secara musiman. 5-6 mm. bercelah.7 cm. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Kayu untuk arang. perpat kecil. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka. Cina selatan. seluruh Indonesia. klungkum. kayu sila. serta memiliki sejumlah lentisel. Biasanya segera tumbuh sekelompok anakan di bawah pohon dewasa. duduk agung. Daun muda dapat dimakan. tanah dan cahaya yang beragam. Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips. Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian pohon mencapai 6 m. 458 .. teruntung. seringkali bercampur warna agak kemerahan. Akar menjalar di permukaan tanah. Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion. Bunga digunakan sebagai hiasan karena wanginya. Manfaat : Kulit kayu yang berisi saponin digunakan untuk racun ikan. ditutupi rambut pendek halus. Biji tumbuh secara semi-vivipar. Daun : Daun berkulit. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga.Aegiceras corniculatum (L. tudung laut. gigi gajah. membengkok seperti sabit. Kulit kayu bagian luar abu-abu hingga coklat kemerahan.) Blanco MYRSINACEAE Nama setempat : Teruntun. perepat tudung. kacangan.5 cm dan diameter 0. Daun Mahkota: 5.hijau. dan kemungkinan diserbuki oleh serangga. dimana embrio muncul melalui kulit buah ketika buah yang membesar rontok. Ujung: membundar. Ukuran: 11 x 7. Kelopak Bunga: 5. Ukuran: panjang 5-7. Buah berwarna hijau hingga merah jambon (jika sudah matang). Dalam buah terdapat satu biji yang membesar dan cepat rontok. Formasi: payung.5 cm. Mereka umum tumbuh di tepi daratan daerah mangrove yang tergenang oleh pasang naik yang normal. putih . terang. Memiliki toleransi yang tinggi terhadap salinitas. di beberapa daerah agak melimpah. Kelimpahan : Umum. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. permukaan halus. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. kacang-kacangan. Malaysia. gedangan. Buah dan biji telah teradaptasi dengan baik terhadap penyebaran melalui air. seringkali tumbuh dalam kelompok besar.

d.Aegiceras corniculatum daun bunga buah a c b d a. pohon 593 . b. buah. daun. c. bunga.

Formasi: payung. Bentuk: bulat telur terbalik. Buah berwarna hijau hingga merah. Ujung: membundar. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. 4 mm. bercelah dan memiliki sejumlah lentisel. Ukuran: 3-6 cm Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 4-6 mm. Kelimpahan : Jarang dan tersebar. bagian bawah hijau pucat kadang kemerahan. Kulit kayu bagian luar berwarna abu-abu hingga coklat. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. putih. tercatat pula tumbuh pada substrat berkarang. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Tumbuh di daerah mangrove. bentuk agak lurus. Sulawesi. 460 . pada tepi pantai berpasir hingga tepi sungai.& S. Daun : Berkulit. Ukuran: panjang 3 cm dan diameter 0. Pengetahuan tentang jenis ini sangat terbatas. MYRSINACEAE Nama setempat : Mange-kasihan Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian mencapai 4 m. Manfaat : Tidak tahu. Bali. Akar menjalar di permukaan tanah. Maluku. Jawa Timur.Aegiceras floridum R. Kelopak bunga: 5. seluruh Filipina hingga Indo Cina. bagian atas terang dan hijau mengkilat. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan Utara.hijau. Buah berisi satu biji memanjang dan cepat rontok. ditutupi rambut pendek halus. Daun Mahkota: 5. putih.7 cm.

Aegiceras floridum daun & buah bunga a b c a. c. daun 613 . bunga. b. buah.

Tandan bunga terdapat secara tunggal atau berpasangan. Letak: di ketiak daun. panjang 2. dengan 4 atau 5 daun mahkota tumpul berukuran 3. panjang 19-20 mm. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Mungkin sangat langka. Formasi: payung (3 bunga).5 mm. Mungkin sangat terbatas. Kelopak Bunga: berbentuk corong. Deskripsi umum : Epifit parasit. Daun : Daun tersebar. Satu dari sedikit tumbuhan mangorve endemik di Indonesia. Mungkin endemik di Sulawesi. Benang sari: panjangnya 1. Tidak diketahui Hanya terkoleksi satu kali pada pohon Rhizophora.5-8.5-3 cm.5 x 1. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. halus.5 mm. Manfaat : Catatan : Tidak tahu. karena hanya terkolesi satu kali di Kampung Lato-u dekat Malili.10 mm. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Daun Mahkota: merah muda. panjang 4-7 mm. hampir silindris. memiliki percabangan bulat. Sulawesi Selatan.Amyema anisomeres Dans.5 mm. Ujung: meruncing. Ukuran: 5. kepala sari bulat panjang. Gagang bunga bulat. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. pangkal daun menyempit pada gagang yang panjangnya 8 . 462 .

buah. bunga.Amyena anisomeres b a c a. b. c. daun 633 .

Daun mahkota bunga berwarna merah serta pangkal berwarna kuning-kehijauan. Setiap tandan memiliki 2-3 gagang yang berisi bunga. 464 . Manfaat : Tidak tahu. biasanya menggantung. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat.Amyema gravis Dans. Malaysia.5-1 m. Rhizophora dan Sonneratia. Perbungaan sepanjang tahun. panjangnya 0. Bentuk: bulat telur terbalik. Daun : Bunga : Memiliki daun yang tebal. Ukuran: panjang hingga 5 cm. Ujung: membundar. Deskripsi umum : Hemi-parasit. Tidak diketahui. Kalimantan. Hemi-parasit pada Avicennia. Tandan bunga tumbuh soliter pada ketiak daun. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Kepulauan Kangean dan Jawa Timur.

Amyena gravis a b a c a. bunga. buah. c. b. daun 653 .

) Dans. Buah elips.5-4 x 1.5-2. Bentuk: bulat telur. 466 . Daun : Daun berbentuk seperti sendok lebar dengan gagang daun sepanjang 6-15 cm.5 mm. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat. Ukuran: 2.Amyema mackayense (Blake. Papua New Guinea dan dekat Merauke (Irian Jaya). Manfaat : Catatan : Tidak tahu.5 cm. Ujung: membundar. Warna daun mahkota bunga tidak diuraikan dalam pustaka. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Tangkai benang sari yang menopang kepala sari berukuran 3-5 mm. Deskripsi umum : Parasit epifit dengan batang halus yang membesar pada bagian buku serta memiliki banyak cabang. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Australia Utara. Kepala sari panjangnya 1. Parasit eksklusif pada mangrove. dikelilingi oleh daun kelopak bunga yang berurutan.

b. c. bunga. daun 673 . buah.Amyena mackayense a b a b c a.

Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan. Daun : Permukaan halus. kuning cerah. koak. Hijau muda kekuningan. Pada bagian batang yang tua. Buah dapat dimakan. Ukuran: 16 x 5 cm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah. Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas tandan. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Ukuran: 4 x 2 cm. Getah dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon. Kelopak Bunga: 5. bagian atas hijau mengkilat. PNG dan Australia tropis. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. Ujung: meruncing. Akar nafas biasanya tipis. Daun Mahkota: 4. juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut. Letak: di ujung/pada tangkai bunga. Seperti kerucut/cabe/mente. mangi-mangi putih. serta di sepanjang garis pantai. Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. Kelimpahan : Melimpah. Dari India sampai Indo Cina. melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m. Formasi: bulir (ada 10-30 bunga per tandan). berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. kadangkadang ditemukan serbuk tipis. 3-4 mm. Benang sari: 4. beberapa ditumbuhi tonjolan kecil. boak. Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. sementara yang lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. bawahnya pucat. Bentuk: lanset (seperti daun akasia) kadang elips. 468 .Avicennia alba Bl.

buah.Avicennia alba daun bunga buah a c d b a. d. c. bunga. daun. pohon 693 . b.

dan juga pada bagian pinggir atau tengah daratan dari rawa mangrove. Bentuk: bulat memanjang. Deskripsi umum : Semak atau pohon dengan ketinggian mencapai 17 meter. 470 .Avicennia eucalyptifolia (Zipp. kuning atau merah muda. Kayu berwarna putih sampai seperti jerami. Buah berwarna kuning kehijauan. bagian luar berambut pendek. Letak: di ujung. ex Miq. Kelimpahan : Umum. berwarna coklat kekuningan atau hijau. Kulit kayu bagian dalam berwarna seperti jerami padi sampai coklat pucat. Unit & Letak: sederhana. Daun : Permukaan bagian atas hijau muda sampai hijau tua atau hijau kecoklatan dan kuning kehijauan pada bagian bawah. Bunga berdiameter 3-4 mm. Kulit kayu luar halus bercoreng-coreng. mengelupas pada bagian-bagiannya yang tipis. Ujung: meruncing. Ukuran: 4-16 cm x 1-4 cm.5 cm. panjang 2-5 mm. Bunganya mirip bunga Avicennia marina. Tandan bunga membesar di ujung dengan panjang sampai 2. Formasi: bulir. Benang sari: berwarna ungu tua hingga coklat. berlawanan.) Moldenke AVICENNIACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. Daun Mahkota: warna putih. Tumbuh di pulau-pulau lepas pantai yang berkarang. Seperti jenis lain pada genus ini. mereka seringkali bersifat vivipar. Ukuran: Panjang kurang dari 3 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di Irian Jaya dan PNG. tidak memiliki mulut buah yang nyata. Kelopak Bunga: hijau pucat. Setengah bagian atas dari bakal buah memiliki bulu. Manfaat : Catatan : Digunakan sebagai kayu bangunan dan kayu bakar.

b. daun. pohon 713 .Avicennia eucalyptifolia pohon a b a.

Bergerombol muncul di ujung tandan. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar. Semenanjung Malaysia. ujungnya berparuh pendek dan jelas. 4-5 mm. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/ tandan bunga. Ukuran: sekitar 1. Benang sari: 4 Buah seperti hati. Memiliki akar nafas dan berbentuk pensil. bau menyengat. bagian bawah daun putih kekuningan dan ada rambut halus. Bentuk: elips. 472 . Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan. kuning pucat-jingga tua. Formasi: bulir (8-14 bunga). Daun : Memiliki kelenjar garam. warna hijau-agak kekuningan. tepi sungai. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Ujung: membundar – agak meruncing. Tumbuh pada dataran lumpur.5 cm. Diketahui (di Bali dan Lombok) berbunga pada bulan Juli . Lombok. Kelimpahan : Tidak diketahui. Singapura. dapat mencapai ketinggian hingga 8 meter. Kulit kayu seperti kulit ikan hiu berwarna gelap.Avicennia lanata (Ridley). Daun Mahkota: 4. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan. coklat hingga hitam.Februari dan berbuah antara bulan November hingga Maret. Unit & Letak: sederhana & berlawanan.5 x 2. Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya). daerah yang kering dan toleran terhadap kadar garam yang tinggi. Ukuran: 9 x 5 cm. Bali. Kelopak Bunga: 5.

Avicennia lanata daun buah pohon a b c a. bunga. daun 733 . c. buah. b.

Berbuah sepanjang tahun. hajusia. Catatan : 474 . Benang sari: 4. pejapi.abu-abu muda. bau menyengat.) Vierh. Kulit kayu halus dengan burik-burik hijau-abu dan terkelupas dalam bagian-bagian kecil. Polynesia dan Selandia Baru.) Bakh. Sedang dilakukan revisi taksonomi. berwarna hijau agak keabu-abuan. Asia. Formasi: bulir (2-12 bunga per tandan). bahkan di tempat asin sekalipun. Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar. Manfaat : Daun digunakan untuk mengatasi kulit yang terbakar. Memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit dan berbentuk pensil (atau berbentuk asparagus). Ukuran: sekitar 1. Backer & Bakhuizen van den Brink (19638) hanya menyebutkan varietas A. Kelopak Bunga: 5. Bentuk: elips. pai. Jenis ini merupakan salah satu jenis tumbuhan yang paling umum ditemukan di habitat pasang-surut. Daun : Bagian atas permukaan daun ditutupi bintik-bintik kelenjar berbentuk cekung. Ukuran: 9 x 4. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Australia. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api putih. memiliki kemampuan menempati dan tumbuh pada berbagai habitat pasang-surut.5x2. ketinggian pohon mencapai 30 meter. Resin yang keluar dari kulit kayu digunakan sebagai alat kontrasepsi. Akarnya sering dilaporkan membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan tanah timbul. sia-sia putih. Ujung: meruncing hingga membundar. Daun Mahkota: 4. kuning pucat-jingga tua. melalui lapisan dorsal. Merupakan tumbuhan pionir pada lahan pantai yang terlindung. Kayu menghasilkan bahan kertas berkualitas tinggi. Bagian bawah daun putih. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di Afrika. Ranting muda dan tangkai daun berwarna kuning. sie-sie. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. tidak berbulu. Buah membuka pada saat telah matang. Jenis ini dapat juga bergerombol membentuk suatu kelompok pada habitat tertentu. kadang-kadang bersifat vivipar. Kelimpahan : Melimpah. akar nafas tegak dengan sejumlah lentisel. Buah agak membulat. bulat memanjang.Avicennia marina (Forsk. Daun digunakan sebagai makanan ternak. Ditemukan di seluruh Indonesia. Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya) dan ujung buah agak tajam seperti paruh.5 cm. Buah dapat juga terbuka karena dimakan semut atau setelah terjadi penyerapan air. nyapi. Amerika Selatan. intermedia (Griff. Buah dapat dimakan. 5-8 mm. Seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan. api-api abang.5 cm. bulat telur terbalik. nektar banyak.

pohon 753 . buah. daun. b. bunga. d.Avicennia marina daun bunga buah a c d b a. c.

Bentuk: bulat telur terbalik. Ukuran: 12. sia-sia putih. Permukaan buah agak keriput dan ditutupi rapat oleh rambut-rambaut halus yang pendek. Daun : Berwarna hijau tua pada permukaan atas dan hijau-kekuningan atau abu-abukehijauan di bagian bawah. Daun mahkota bunga terbuka tidak beraturan. papi. marahuf. bulat memanjang-bulat telur terbalik atau elipsbulat memanjang. seringkali tertutup oleh rambut halus dan pendek pada kedua permukaannya.Avicennia officinalis L. Kelimpahan : Umum. Daun Mahkota: 4. Manfaat : Buah dapat dimakan. Pada umumnya memiliki akar tunjang dan akar nafas yang tipis. Ukuran: Sekitar 2x3 cm. kuning-jingga. Bentuk seperti hati. Permukaan atas daun ditutupi oleh sejumlah bintikbintik kelenjar berbentuk cekung.5 x 6 cm. Benang sari: 4. Tumbuh di bagian pinggir daratan rawa mangrove. Susunan seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan. Kulit kayu bagian luar memiliki permukaan yang halus berwarna hijau-keabu-abuan sampai abu-abu-kecoklatan serta memiliki lentisel. Berbunga sepanjang tahun. lebih panjang dari daun mahkota bunga. berbentuk jari dan ditutupi oleh sejumlah lentisel. api-api kacang. merahu. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. warna kuning kehijauan. Formasi: bulir (2-10 bunga per tandan). api-api daun lebar. Kelopak Bunga: 5. menyempit ke arah gagang. 476 . khususnya di sepanjang sungai yang dipengaruhi pasang surut dan mulut sungai. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tersebar di seluruh Indonesia. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. api-api ludat. Deskripsi umum : Pohon. bau menyengat. Ujung: membundar. biasanya memiliki ketinggian sampai 12 m. Getah kayu dapat digunakan sebagai bahan alat kontrasepsi. semakin tua warnanya semakin hitam. ujungnya berparuh pendek. 1015 mm. bahkan kadang-kadang sampai 20 m. Juga tersebar dari India selatan sampai Malaysia dan Indonesia hingga PNG dan Australia timur. Kayunya dapat digunakan sebagai kayu bakar.

d.Avicennia officinalis buah daun & bunga a c b d a. bunga. buah. daun. pohon 773 . b. c.

lengadai. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga.Bruguiera cylindrica (L. bius. biasanya pada tanah liat di belakang zona Avicennia. muncul di ujung tandan (panjang tandan: 1-2 cm). tanjang putih. Pangkal buah menempel pada kelopak bunga.) Bl. relatif halus dan memiliki sejumlah lentisel kecil. Kulit kayu abu-abu. 478 . tanjang sukun. tanjang. termasuk Irian Jaya. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Kelimpahan : Umum. Hipokotil (seringkali disalah artikan sebagai “buah”) berbentuk silindris memanjang. ketinggian pohon kadang-kadang mencapai 23 meter. bawahnya seperti tabung. Kelopak Bunga: 8. Para nelayan tidak menggunakan kayunya untuk kepentingan penangkapan ikan karena kayu tersebut mengeluarkan bau yang menyebabkan ikan tidak mau mendekat. Formasi: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. Sisi luar bunga bagian bawah biasanya memiliki rambut putih. Memiliki buah yang ringan dan mengapung sehinggga penyebarannya dapat dibantu oleh arus air. 34 mm. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau. Jenis ini juga memiliki kemampuan untuk tumbuh pada tanah/substrat yang baru terbentuk dan tidak cocok untuk jenis lainnya. hijau kekuningan. lindur. atau di bagian tengah vegetasi mangrove kearah laut. akar muda dari embrionya dimakan dengan gula dan kelapa. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Manfaat : Untuk kayu bakar. lalu menjadi coklat ketika umur bertambah. sering juga berbentuk kurva. Daun : Permukaan atas daun hijau cerah bagian bawahnya hijau agak kekuningan. Daun Mahkota: putih. Di beberapa daerah. seluruh Indonesia. Ukuran: 7-17 x 2-8 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Asia Tenggara dan Australia. tapi pertumbuhannya lambat. Bunga mengelompok. Ukuran: Hipokotil: panjang 8-15 cm dan diameter 5-10 mm. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Burus. dan oleh karena itu sangat responsif terhadap penggenangan yang berkepanjangan. tanjang sukim. Warna hijau didekat pangkal buah dan hijau keunguan di bagian ujung. Ujung: agak meruncing. berakar lutut dan akar papan yang melebar ke samping di bagian pangkal pohon. Bentuk: elips. Kemampuan tumbuhnya pada tanah liat membuat pohon jenis ini sangat bergantung kepada akar nafas untuk memperoleh pasokan oksigen yang cukup.

Bruguiera cylindrica bunga buah pohon a c b a. daun 793 . bunga. b. c. buah.

Daun mahkota: 8-10. Pada masa lalu B.5-11. Unit & letak: sederhana & berlawanan. Ukuran: Hipokotil: panjang 5-7 cm dan diameter 6-8 mm Tumbuh di sepanjang jalur air atau menuju bagian belakang lokasi mangrove. Hipokotil berbentuk tumpul. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. Bentuk: bulat memanjang. sexangula sering dikelirukan dengan jenis ini. silindris agak menggelembung. Kulit kayu berwarna abu-abu tua. tepi daun mahkota memiliki rambut berwarna putih dan kemudian akan rontok. Kelopak bunga: 8-10. Deskripsi umum : Semak atau pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 10 m. Manfaat : Catatan : Tidak tahu. Letak: di ketiak daun. panjang 10-13 mm.5 x4. Substrat yang cocok adalah tanah liat dan pasir.5 x 2.5 cm. tepi daun sering tergulung ke dalam. pangkal batang menonjol. menggantung. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. bagian bawah memiliki bercak-bercak. Bunga hijau-kekuningan. Kelimpahan : Cukup umum. Ujung: meruncing. Irian Jaya Selatan dan Australia Utara. 480 . Daun : Permukaan atas daun berwarna hitam. Kadang-kadang ditemukan suatu kelompok yang hanya terdiri dari jenis tersebut. Diketahui dari Timor. dan memiliki sejumlah besar akar nafas berbentuk lutut. Ukuran: 5. Hipokotil relatif kecil dan mudah tersebar oleh pasang surut atau banjir. panjang 10-15 mm.Bruguiera exaristata Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Penyebaran terbatas. Anakan tumbuh tidak baik di bawah lindungan. Formasi: soliter.

Bruguiera exaristata a c b a. c. b. buah. bunga. daun 813 .

bako.Bruguiera gymnorrhiza (L. memiliki kelopak bunga berwarna kemerahan. Bunga relatif besar. 482 . RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Pertut. sepanjang tambak serta sungai pasang surut dan payau. Substrat-nya terdiri dari lumpur. Bentuk: elips sampai elips-lanset. panjang 2-2. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan pada bagian bawahnya dengan bercak-bercak hitam (ada juga yang tidak). Ujung: meruncing Ukuran: 4. panjang 13-16 mm. tumu. wako. Daun Mahkota: 10-14. permukaannya halus hingga kasar. juga memiliki sejumlah akar lutut. Kadang-kadang juga ditemukan di pinggir sungai yang kurang terpengaruh air laut. Kelopak Bunga: 10-14. mangimangi.5-7 x 8. tumpul dan berwarna hijau tua keunguan. taheup. Kayunya yang berwarna merah digunakan sebagai kayu bakar dan untuk membuat arang. tenggel. tergantung. Manfaat : Bagian dalam hipokotil dimakan (manisan kandeka).5-22 cm. sala-sala. Jenis ini toleran terhadap daerah terlindung maupun yang mendapat sinar matahari langsung. Bunga bergelantungan dengan panjang tangkai bunga antara 9-25 mm. hal tersebut dimungkinkan karena buahnya terbawa arus air atau gelombang pasang. tomo. Hipokotil lurus. bundar melintang. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. menggantung. totongkek. putih dan coklat jika tua. Formasi: soliter. tanjang merah. berwarna abu-abu tua sampai coklat (warna berubah-ubah). Akarnya seperti papan melebar ke samping di bagian pangkal pohon. Kulit kayu memiliki lentisel. bangko.) Lamk. Merupakan jenis yang dominan pada hutan mangrove yang tinggi dan merupakan ciri dari perkembangan tahap akhir dari hutan pantai. lindur. serta tanah yang memiliki aerasi yang baik. dan mengundang burung untuk melakukan penyerbukan. serta tahap awal dalam transisi menjadi tipe vegetasi daratan. Malaysia dan Indonesia menuju wilayah Pasifik Barat dan Australia Tropis. panjang 30-50. Regenerasinya seringkali hanya dalam jumlah terbatas. pasir dan kadang-kadang tanah gambut hitam. warna merah muda hingga merah. kandeka. Buah melingkar spiral. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur dan Madagaskar hingga Sri Lanka. Ukuran: Hipokotil: panjang 12-30 cm dan diameter 1. Tumbuh di areal dengan salinitas rendah dan kering. putut.5-2 cm. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun.5 cm. tanjang. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. sarau. Ditemukan di tepi pantai hanya jika terjadi erosi pada lahan di hadapannya. dicampur dengan gula. mutut besar. Daun : Daun berkulit. Kelimpahan : Umum dan tersebar luas. Letak: di ketiak daun. tongke. dau. Mereka juga tumbuh pada tepi daratan dari mangrove.

Bruguiera gymnorrhiza daun & bunga hipokotil a c b a. c. bunga. b. hipokotil. daun 833 .

Ukuran: Hipokotil: panjang 9 cm dan diameter 1 cm. Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove pada areal yang relatif kering dan hanya tergenang selama beberapa jam sehari pada saat terjadi pasang tinggi. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 30 meter dan batang berdiameter sekitar 70 cm. hijau pucat. Ukuran: 9-16 x 4-7 cm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Berambut pada tepi bawah dan agak berambut pada bagian atas cuping. Daun : Daun berkulit. 484 . Kulit kayu berwarna coklat hingga abu-abu. bagian bawah berbentuk tabung. panjang 7-9 mm. Thailand. dengan lentisel besar berwarna coklat-kekuningan dari pangkal hingga puncak. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan di bawahnya. Malaysia.Bruguiera hainessii C.Rogers RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus mata buaya. Kelimpahan : Agak kurang umum. Ujung: meruncing. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Burma. Manfaat : Tidak tahu. panjangnya 5 mm. seluruh Indonesia dan Papua New Guinea. Letak: Di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga (panjang tandan: 18-22 cm). Formasi: kelompok (2-3 bunga per tandan. Kelopak Bunga: 10. Daun Mahkota: putih.G. Bentuk: elips sampai bulat memanjang. Hipokotil berbentuk cerutu atau agak melengkung dan menebal menuju bagian ujung.

buah/hipokotil. d.Bruguiera hainessii c d b a a. bunga. c. pohon 853 . daun. b.

Buah melingkar spiral. Bunga dibuahi oleh serangga yang terbang pada siang hari. agak melengkung. yang merupakan ciri khasnya. Bunga mengelompok di ujung tandan (panjang tandan: 2 cm).5-2mm. paproti. Formasi: kelompok (3-10 bunga per tandan). tinggi (meskipun jarang) dapat mencapai 20 m. Ukuran: 5. perbungaan tercatat dari bulan Juni hingga September. kecuali untuk kayu bakar. menggelembung. Kelimpahan : Tersebar. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Individu yang terisolasi juga ditemukan tumbuh di sepanjang alur air dan tambak tepi pantai. tongi. dan nampaknya tumbuh dengan baik pada areal yang menerima cahaya matahari yang sedang hingga cukup. warna hijau kekuningan. Bentuk: elips.Bruguiera parviflora (Roxb. warna hijau kekuningan. mou. ex Griff. Daun : Terdapat bercak hitam di bagian bawah daun dan berubah menjadi hijaukekuningan ketika usianya bertambah. Seluruh Indonesia. pasir. mengelangan. bercelah dan agak membengkak di bagian pangkal pohon. seperti kupu-kupu. Kulit kayu burik. berwarna abu-abu hingga coklat tua. Dapat menjadi sangat dominan di areal yang telah diambil kayunya (misalnya Karang Gading-Langkat Timur Laut di Sumatera Utara. 1991). Daunnya berlekuk-lekuk.& A. permukaannya halus. panjang 1. Daun mahkota: 8. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Langgade. jenis ini jarang digunakan untuk keperluan lain.5-13 x 2-4.) W. Ujung: meruncing.5 cm.5-1 cm. Akar lutut dapat mencapai 30 cm tingginya. Hipokotil silindris. disebabkan oleh gangguan serangga. tetapi melimpah setempat. panjang 2 cm. sia-sia. dan berbuah dari bulan September hingga Desember. Deskripsi umum : Berupa semak atau pohon kecil yang selalu hijau. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Bangladesh hingga Samoa. Manfaat : Karena ukuran kayunya yang kecil. tanah payau dan bersalinitas tinggi. Hipokotilnya yang ringan mudah untuk disebarkan melalui air. bagian bawah berbentuk tabung. Giesen & Sukotjo. Ukuran: Hipokotil: panjang 815 cm dan diameter 0. putihhijau kekuningan. tanjang. Berambut pada tepinya. bius. Letak: di ketiak daun. Kelopak Bunga: 8. Substrat yang cocok termasuk lumpur. panjangnya 7-9 mm. lenggadai. Di Australia. 486 . Jenis ini membentuk tegakan monospesifik pada areal yang tidak sering tergenang.

daun 873 . bunga. buah/hipokotil. c.Bruguiera parviflora bunga buah pohon c a b a. b.

dan di masa lalu seringkali dikelirukan dengan kedua jenis tersebut. Akar lutut. busung. Bentuk: elips. tancang sukun. Tumbuh di sepanjang jalur air dan tambak pantai. sarau. Daun : Daun agak tebal. mata buaya. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Toleran terhadap kondisi air asin. mutut kecil. Daun makhota: 10-11. Kulit kayu coklat muda-abu-abu.Bruguiera sexangula (Lour. Hipokotil menyempit di kedua ujung. tiang dan arang. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Busing. Kelopak bunga: 10-12. Ukuran: 8-16 x 3-6 cm. Ujung: meruncing. tumu. gymnorrhiza. tanjang. Buahnya dilaporkan digunakan untuk mengobati penyakit herpes. Seluruh Asia Tenggara (termasuk Indonesia) hingga Australia utara. Kadang-kadang terdapat pada pantai berpasir. Letak: Di ketiak daun. Catatan : 488 . berkulit. Identifikasi yang terbaik adalah melalui daun mahkota. Kadang berambut halus pada tepinya. ting. Bunganya yang besar diserbuki oleh burung. dan pangkal batang yang membengkak. putih dan kecoklatan jika tua. Ukuran: Hipokotil: panjang 6-12 cm dan diameter 1. bakau tampusing. Biasanya tumbuh pada kondisi yang lebih basah dibanding B.) Poir. gymnorrhiza. pada berbagai tipe substrat yang tidak sering tergenang.5 cm. dan kadangkadang akar papan. memiliki sejumlah lentisel berukuran besar. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India. lindur. ai bon. Hipokotil disebarkan melalui air. Formasi: soliter (1 bunga per tandan). dan memiliki bercak hitam di bagian bawah. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. Di Sulawesi buahnya dimakan setelah direndam dan dididihkan. Manfaat : Untuk kayu bakar. Sama dengan B. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. tongke perampuan. akar serta daunnya digunakan untuk mengatasi kulit terbakar. halus hingga kasar. panjang 15mm. exaristata dan B. payau dan tawar. panjang tabung 10-15 mm. warna kuning kehijauan atau kemerahan atau kecoklatan. Kelimpahan : Umum.

bunga. buah/hipokotil. daun 893 . c.Bruguiera sexangula daun bunga buah a c b a. b.

Manfaat : Catatan : Tidak diketahui. Letak: di ketiak daun dan batang. dan memiliki akar nafas yang menonjol. dan memiliki daun kelopak bunga dan kelopak tambahan yang berurutan. 490 . Kulit kayu berwarna abu-abu dan memiliki celah/retakan longitudinal serta pangkal batang yang bergalur. Formasi: bulir. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. pangkalnya sempit. Daun mahkota: putih. Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak. Ukuran: panjang buah 1 cm. Buah bundar berbentuk kapsul. - Buah : Ekologi : Penyebaran : Filipina. Ujung: membundar.Camptostemon philippinense (Vidal) Becc. kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan. Kalimantan dan Sulawesi. bersisik. Kelimpahan : Tidak terlalu umum. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. berupa semak atau pohon yang selalu hijau. Bentuk: lanset-elips. bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek. Daun mahkota bunga berwarna putih. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. panjang biji 9mm. Ukuran: 6-9 x 2-4 cm. Daun : Bunga : Permukaan daun bersisik. BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. Benang sari: 5. Menurut Tomlinson (1986). kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m.

bunga. buah. c. b. daun 913 .Camptostemon philippinense c b a a.

Bentuk: lansetelips. Daun : Daun berumbai-rumbai terletak pada akhir cabang. Menurut Tomlinson (1986). Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak. Berbunga pada bulan Juni sampai Oktober. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Umumnya tumbuh pada pantai berpasir yang berada pada kisaran areal pasang surut. Buah dapat disebarkan melalui air (dengan kisaran gelombang sedang). bagian atas halus. Maluku. pangkalnya sempit. Mungkin diserbuki oleh serangga dan angin. PNG dan Australia Utara. bersisik. Benang sari: 20. Ukuran: panjang buah 1 cm. bagian bawah bersisik. kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan. Daun Makhota: putih. Buah bundar berbentuk kapsul. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. coklat atau coklat-keabu-abuan dan memiliki celah/retakan longitudinal dan lentisel serta pangkal batang yang bergalur. Daun mahkota bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek berwarna putih. dan memiliki akar nafas yang menonjol. buah matang pada bulan Oktober sampai Februari (di Australia). kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m dengan kulit kayu berwarna kuning pucat. Kelimpahan : Relatif umum. 492 . cuping panjangnya 6 mm. Tumbuh lebih baik di pantai berbatu dan terbuka dibandingkan dengan mangrove di mulut sungai. Ujung: membundar. berupa semak atau pohon yang selalu hijau. panjang biji 9mm.Camptostemon schultzii Masters BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. Manfaat : Catatan : Kayu dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas yang cukup kuat. sementara bijinya yang berbulu disebarkan oleh air maupun angin. Ukuran: 6-16 x 2-5 cm. Kelopak bunga: seperti cangkir. Letak: Di ketiak daun dan cabang. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat dari Kalimantan. Formasi: bulir. dan memiliki daun kelopak bunga yang bagian luarnya berurutan dan bersisik.

bunga. buah. b. d. c.Camptostemon schultzii a b c d a. pohon 933 . daun.

5-4mm. akan tetapi lebih umum pada bagian daratan dari perairan pasang surut dan berbatasan dengan tambak pantai. Kulit kayu berwarna coklat. Leher kotilodon jadi merah tua jika sudah matang/ dewasa. Benang sari: tangkai benang sari pendek. warna hijau.5 cm. Kulit kayu merupakan sumber yang bagus untuk tanin serta bahan pewarna. menempel dengan gagang yang pendek. Deskripsi umum : Pohon atau semak kecil dengan ketinggian hingga 15 m. Sulawesi. Papua New Guinea. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Letak: di ketiak daun. Bangka. Daun : Bunga : Daun hijau mengkilap. Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Indocina. Kalimantan. rapuh dan menggelembung di bagian pangkal. Bentuk: elipsbulat memanjang. putih dan kecoklatan jika tua. Ukuran: Hipokotil: panjang 15 cm dan diameter 8-12 mm. Manfaat : Jenis Ceriops memiliki kayu yang paling tahan/kuat diantara jenis-jenis mangrove lainnya dan digunakan sebagai bahan bangunan. Irian Jaya.) Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengal. Kelimpahan : Relatif jarang. tebal dan bertakik. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. palun. Bunga mengelompok. Malaysia. kenyonyong. Formasi: kelompok (2-4 bunga per kelompok). Catatan : 494 . ada lentisel dan berbintil. tengar.Ceriops decandra (Griff. Tumbuh tersebar di sepanjang hutan pasang surut. warna hijau hingga coklat. tingi. luru. Ujung: membundar. Kelopak bunga: 5. Jawa. Daun mahkota: 5. Kadang berambut halus pada tepinya. Maluku. Hipokotil berbentuk silinder. serta pegangan berbagai perkakas bangunan. Filipina dan Australia. parun. sama atau lebih pendek dari kepala sari. jarang berwarna abu-abu atau putih kotor. Bentuk dan ukuran daun sangat beragam bergantung kepada kadar cahaya dan air dimana suatu individu tumbuh. permukaan halus. ujungnya menggelembung tajam dan berbintil. bido-bido. Ukuran: 3-10 x 1-4. Menyukai substrat pasir atau lumpur. tinci. panjang 2. bantalan rel kereta api.

daun.Ceriops decandra daun bunga buah & hipokotil a c b d a. pohon 953 . c. buah/hipokotil. b. d. bunga.

berkulit halus. Kelimpahan : Umum.Ceriops tagal (Perr. Kelopak bunga: 5. karena ketahanannya jika direndam dalam air garam. panjang 45mm. dan kemungkinan berdampingan dengan C.) C. Tanin dihasilkan dari kulit kayu.Rob. Pewarna dihasilkan dari kulit kayu dan kayu. dengan tabung kelopak yang melengkung. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. dan pegangan perkakas. Buah panjangnya 1. Malaysia dan Indonesia. Kayu bermanfaat untuk bahan bangunan. dan regenerasi mereka dapat terjadi melalui salah satu anakan tersebut. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Mozambik hingga Pasifik Barat. Deskripsi umum : Pohon kecil atau semak dengan ketinggian mencapai 25 m. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Catatan : 496 . Ukuran: Hipokotil: panjang 4-25 cm dan diameter 8-12 mm. Pohon seringkali memiliki akar tunjang yang kecil. Letak: di ketiak daun. Ukuran: 1-10 x 2-3. tabung 2mm. palun. mentigi. parun. putih dan kemudian jadi coklat. agak menggelembung dan seringkali agak pendek.decandra. bantalan rel kereta api. Bunga mengelompok di ujung tandan. lonro. tangar. Bentuk: bulat telur terbalik-elips.B. tengah. Menyukai substrat tanah liat. tengar. halus dan pangkalnya menggelembung. wanggo. tingih. Juga terdapat di sepanjang tambak. Leher kotilodon menjadi kuning jika sudah matang/dewasa. Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok).5-2 cm. kadang-kadang coklat. Kulit kayu berwarna abu-abu. Dilaporkan bahwa anakan jenis ini dapat membelah menjadi dua. termasuk Australia Utara. Manfaat : Ekstrak kulit kayu bermanfaat untuk persalinan.5 cm. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengar. Membentuk belukar yang rapat pada pinggir daratan dari hutan pasang surut dan/atau pada areal yang tergenang oleh pasang tinggi dengan tanah memiliki sistem pengeringan baik. tinci. Ujung: membundar. Benang sari: tangkai benang sari lebih panjang dari kepala sarinya yang tumpul. warna hijau. bido-bido. Bahan kayu bakar yang baik serta merupakan salah satu kayu terkuat diantara jenis-jenis mangrove. mange darat. berresin pada ujung cabang baru atau pada ketiak cabang yang lebih tua. Gagang bunga panjang dan tipis. tingi. Daun mahkota: 5. Daun : Daun hijau mengkilap dan sering memiliki pinggiran yang melingkar ke dalam. Hipokotil berbintil.

c. buah/hipokotil.Ceriops tagal bunga buah & hipokotil a c b a. bunga. b. daun 973 .

kalibuda. Unit & Letak: sederhana. Tumbuhan ini sepanjang tahun memerlukan masukan air tawar dalam jumlah besar. tersebar. Bunga jantan (tanpa gagang) lebih kecil dari betina. Letak: di ketiak daun. Penyerbukan dilakukan oleh serangga. sebelah utara Sumbawa. Tandan bunga jantan berbau. dan menyebar di sepanjang tandan. Mereka umum ditemukan sebagai jenis yang tumbuh kemudian pada beberapa hutan yang telah ditebang. menengan. akan tetapi wanginya akan hilang beberapa tahun kemudian.5 x 3. Memiliki bunga jantan atau betina saja. EUPHORBIACEAE Nama setempat : Buta-buta. Kayu dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas yang bermutu baik. kayu wuta. khususnya lebah. Kelimpahan : Melimpah setempat. kuning. yaitu buta-buta. Sumatera Utara. Akar menjalar di sepanjang permukaan tanah. Daun : Hijau tua dan akan berubah menjadi merah bata sebelum rontok. tetapi memiliki bintil. pinggiran bergerigi halus. seringkali berbentuk kusut dan ditutupi oleh lentisel. madengan. Karang-Gading Langkat Timur Laut. Manfaat : Akar dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi dan pembengkakan. Bentuk seperti bola dengan 3 tonjolan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di sebagian besar wilayah Asia Tropis. berisi biji berwarna coklat tua. warejit. Kayunya kadang-kadang dijual karena wanginya. Hal ini terutama diperkirakan terjadi karena adanya serbuk sari yang tebal serta kehadiran nektar yang memproduksi kelenjar pada ujung pinak daun di bawah bunga. halus. sambuta. bersilangan. Daun mahkota: hijau & putih.5-5 cm. makasuta. mata huli. betuh. Ukuran: 6. berwarna hijau dan panjangnya mencapai 11 cm. misalnya di Suaka Margasatwa. Bentuk: elips. Kayu tidak bisa digunakan sebagai kayu bakar karena bau wanginya tidak sedap bagi masakan. Umumnya ditemukan pada bagian pinggir mangrove di bagian daratan. Getah digunakan untuk membunuh ikan. Ukuran: diameter 5-7mm.Excoecaria agallocha L. dahan dan daun memiliki getah (warna putih dan lengket) yang dapat mengganggu kulit dan mata. bebutah. kalapinrang. Kulit kayu berwarna abu-abu. Jenis ini juga ditemukan tumbuh di sepanjang pinggiran danau asin (90% air laut) di pulau vulkanis Satonda. Deskripsi umum : Pohon merangas kecil dengan ketinggian mencapai 15 m.5-10. goro-goro raci. dan di Australia. permukaan seperti kulit. Kayu digunakan untuk bahan ukiran. Benang sari: 3. ada 2 kelenjar pada pangkal daun. Catatan : 498 . Kelopak bunga: hijau kekuningan. tidak pernah keduanya. warna hijau. sesuai dengan namanya. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. atau kadang-kadang di atas batas air pasang. termasuk di Indonesia. Batang. Getah putihnya beracun dan dapat menyebabkan kebutaan sementara. Ujung: meruncing. Formasi: bulir. dekat Medan.

bunga.Excoearia agallocha bunga buah daun c a b d a. buah/hipokotil. c. pohon 993 . daun. d. b.

Gymnanthera paludosa

(Bl.) K.Schum.

ASCLEPIADACEAE

Nama setempat : Tidak tahu. Deskripsi umum : Semak pemanjat, hingga 4 m. Batang ditutupi oleh tonjolan. Pada umumnya tidak berambut, tetapi memiliki rambut pendek, halus di bagian atas. Daun : Bunga : Daun halus, tipis. Unit & Letak: sederhana, bersilangan. Bentuk: elips-bulat memanjang. Ujung: meruncing. Ukuran: 3-5,5 x 1-2 cm. Di antara pasangan tangkai daun, panjang tangkai bunga kurang dari 2 cm. Formasi: kelompok. Daun mahkota: halus, hijau kekuningan, memiliki tabung memanjang 7-8 mm, diameter 16-18 mm. Buah tipis, berpasangan dan berpengait di ujungnya. Biji berlunas dan halus tetapi memiliki rambut panjangnya 2-2,5 cm. Ukuran: panjang biji 5mm, panjang buah 10,5-12 cm. Tumbuh di mangrove. Bunga dari Oktober - Maret. Tercatat dari Jawa dan Madura, tetapi kemungkinan ditemukan di seluruh Indonesia.

Buah :

Ekologi : Distribusi :

Kelimpahan : Tidak tahu. Manfaat : Tidak tahu.

4100

Gymnanthera paludosa

daun & buah

a

c

b

a. bunga; b. buah; c. daun

1013

Heritiera globosa

Kostermans

STERCULIACEAE

Nama setempat : Dungun. Deskripsi umum : Sangat menyerupai Heritiera littoralis (lihat deskripsi berikut), perbedaannya terletak pada buah yang bundar dan tangkai daun yang lebih panjang. Memiliki ujung daun ventral yang dangkal, memanjang pada ujung jauh menuju mulut atau sayapnya, dimana sayap selalu agak melengkung yang merupakan kekhasannya. Gagang daun lebih panjang dari 2 cm dan mungkin lebih dari 4 cm. Akar papan berkembang baik dan menyerupai ular, memanjang 2-4 m dari pangkal batang. Ekologi : Tumbuh di belakang zona jalur mangrove, tetapi juga telah dikoleksi di tempat sejauh 70 km dari laut, pada sistem sungai air tawar yang dipengaruhi oleh pasang surut.

Penyebaran : Sarawak, Sabah dan Kalimantan, akan tetapi kemungkinan memiliki penyebaran yang lebih luas. Kelimpahan : Relatif umum setempat. Manfaat : Memiliki kayu yang kuat dan berat.

4102

Heritiera globosa

a

b

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1033

seperti mangkok. Ujung: meruncing. Dari Afrika timur dan Madagaskar hingga Australia dan Pasifik sejauh Kaledonia baru. Bentuk: bulat telur-elips. blakangabu. Unit & letak: sederhana. tiang telepon. belohila. Ukuran: 10-20 x 5-10 cm. Letak: di ujung atau di ketiak. Buah berwarna hijau hingga coklat mengkilat. bersilangan. Biji digunakan untuk pengolahan ikan. tetapi lebih kecil dibanding bunga betina (pada pohon yang berbeda !). Bunga jantan lebih banyak. lawanan kete. Tandan bunga berambut (terutama pada bagian ketiak daun dan ujung cabang). kemerahan dan berambut. berkulit.Heritiera littoralis Dryand. kadang sampai 30 x 15-18 cm. Kayu tahan lama dan digunakan untuk bahan perahu. Kelimpahan : Umum. lawang. rurun. Warna daun hijau gelap bagian atas dan putih-keabu-abuan di bagian bawah karena adanya lapisan yang bertumpang-tindih. Formasi: bergerombol bebas. panjang 4-5 mm. Manfaat : Kayu bakar yang baik. dungun. Kulit kayu gelap atau abu-abu. Memiliki 1 biji dan masak pada tandan yang tergantung. rumah. Ukuran: panjang 6-8 cm. Kelopak bunga: 4-5. Sangat umum tumbuh di tepi daratan hutan mangrove. ex W. bersisik dan bercelah. berkayu.5-2 cm. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. Akar papan berkembang sangat jelas. cerlang laut. Buah digunakan untuk mengobati diare dan disentri. dan mungkin juga menempati bagian tepi atau berdekatan dengan hutan dataran rendah. lebar 5-6 cm. Daun : Kukuh. atau pantai berkarang. Nampaknya tidak toleran terhadap salinitas yang tinggi dan tidak tumbuh pada lokasi yang sangat terbuka atau kurang adanya pengeringan.Ait. bayur laut. lulun. atung laut. Daun mahkota: ungu dan coklat. berkelompok pada ujung cabang. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 25 m. STERCULIACEAE Nama setempat : Dungu. balang pasisir. Gagang daun panjangnya 0. rumung. Individu pohon memiliki salah satu bunga betina atau jantan. 4104 .

daun 1053 . buah. bunga.Heritiera littoralis buah muda bunga buah tua pohon a a c b a. c. b.

pulut-pulut.5-2. Kelimpahan : Sangat terbatas dan jarang. Manfaat : Utamanya untuk kayu bakar. beras-beras. Tumbuh secara sporadis pada pematang sungai pasang surut. panjangnya 1. tinggi hingga 7 meter dengan pangkal batang lebih tebal. Benang sari: banyak dan berbentuk filamen. India. Hipokotil silindris panjangnya 15-40 cm. Kelopak bunga: tabung daun kelopak bunga melebihi bakal buah dan memiliki cuping sejajar yang melengkung ketika bunga mekar penuh.5-2 cm. panjang 1. memiliki 4 dan kadang-kadang 9 bunga berwarna putih. Cina. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. pisang-pisang Laut.) Druce RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus-berus. Indo Cina. Ujung: membundar hingga sedikit runcing. Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil. Daun mahkota: panjangnya 14 mm. Tandan bunga bercabang dua. Kulit kayu berwarna keabu-abuan hingga coklat-kemerahan. Taiwan. permukaan halus dan memiliki lentisel. 4106 . Kalimantan Barat dan Utara. Bentuk: elips-bulat memanjang. Daun : Bunga : Tepi daun mengkerut kedalam. Buah : Ekologi : Penyebaran : Timur Laut Sumatera. Jepang Selatan dan Malaysia.5 cm.Kandelia candel (L. Menempati relung yang sempit. Berwarna hijau berbentuk oval. Thailand. Burma. beus. Umumnya tanpa akar nafas.

c. b.Kandelia candel daun & bunga buah/hipokotil a c b a. bunga. daun 1073 . buah/hipokotil.

5 cm. Ukuran: panjang 9-20mm.Lumnitzera littorea (Jack) Voigt COMBRETACEAE Nama setempat : Teruntum (merah). merah. atau kalaupun ada. Dengan penampilannya yang menarik dan memiliki wangi seperti mawar. Panjang benang sari dua kali ukuran daun mahkota. taruntung. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. randai. Formasi: bulir. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. agak keras dan bertulang. Indonesia. ma gorago. Diameter 4-5 mm. sesak. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau dan tumbuh tersebar. Manfaat : Kayunya kuat dan sangat tahan terhadap air. warna bunga serta morfologi dan lokasinya menunjukkan bahwa penyerbukannya dibantu oleh burung. berwarna coklat tua dan kulit kayu memiliki celah/retakan membujur (longitudinal). riang laut. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. bersilangan. Unit & Letak: sederhana. Sayangnya. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. kedukduk. dan dipenuhi oleh nektar. Mereka juga terdapat pada jalur air yang memiliki pasokan air tawar yang kuat dan tetap. tandan 2-3 cm. dimana penggenangan jarang terjadi. posi-posi. Buah berbentuk seperti pot/jambangan tempat bunga/elips.5-2 mm. maka kayunya sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan lemari dan furnitur lainnya. Produksi nektar. Kelopak bunga: 5. dan berumpun pada ujung dahan. berwarna hijau keunguan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Daerah tropis Asia. Benang sari: <10. Panjang tangkai daun mencapai 5 mm. welompelong. keras/kaku. Bentuk: bulat telur terbalik. berwarna merah cerah. Tidak terdapat. duduk gedeh. geriting. meskipun pada umumnya lebih rendah. hijau 1 x-12 mm. Menyukai substrat halus dan berlumpur pada bagian pinggir daratan di daerah mangrove. Ukuran: 2-8 x 1-2. Letak: di ujung. sangat jarang dijumpai di pantai-pantai di Jawa. Daun : Daun agak tebal berdaging. Daun mahkota: 5. Akar nafas berbentuk lutut. Kelimpahan : Melimpah setempat dan kadang-kadang tumbuh dalam bentuk kelompok. Buah yang ringan dan dapat mengapung sangat menunjang penyebaran mereka melalui air. kayu berukuran besar sangat jarang ditemukan. L. sesop. Ujung: membundar. Panjang tangkai bunga mencapai 3 mm. 4-6 x 1. duduk agung. Bunga biseksual. Australia Utara dan Polinesia. ketinggian pohon dapat mencapai 25 m. harum. littorea dan L. Memiliki dua buah pinak daun berbentuk bulat telur dan berukuran 1 mm pada bagian pangkalnya. Catatan : 4108 . api-api uding.

bunga. b.Lumnitzera littorea daun bunga buah c a b a b d a. pohon 1093 . buah. daun. c. d.

truntun. Catatan : 4110 . Mereka juga terdapat di sepanjang jalur air yang dipengaruhi oleh air tawar. saman-sigi. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. Panjang tandan 1-2 cm. api-api jambu. Bahan bakar yang baik. var. 2-4 x 7-8 mm.5 mm pada bagian pangkalnya. furnitur dan sebagainya. duduk. aduadu. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari bagian timur Afrika tropis dan Madagaskar sampai Malaysia. berwarna putih cerah. Bentuk: bulat telur menyempit. selalu hijau dengan ketinggian mencapai 8 m. Kulit kayu berwarna coklat-kemerahan. littorea. seperti jembatan. hijau (6-8 mm). Daun mahkota: 5. sehingga sangat jarang ditemukan kayu yang berukuran besar. putih. PNG. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. duduk laki-laki. berserat. Ujung: membundar. Letak: di ujung atau di ketiak. Ukuran: panjang 7-12 mm. Buah berserat teradaptasi untuk penyebaran melalui air. racemosa COMBRETACEAE Nama setempat : Api-api balah. Ukurannya lebih kecil dari L. Benang sari: <10. Manfaat : Kayunya keras dan tahan lama. tanpa gagang. Ukuran: 2-10 x 1-2. dipenuhi oleh nektar. teruntum. Australia utara dan Polinesia. Panjang benang sari sama atau sedikit lebih panjang dari daun mahkota. susup. Formasi: bulir. Tumbuh di sepanjang tepi vegetasi mangrove. Diameter 3-5 mm. Cuping daun kelopak bunga dengan ujung berkelenjar ditemukan di Irian Jaya. Kelimpahan : Agak umum. Unit & Letak: sederhana. bersilangan. lasi. memiliki celah/retakan longitudinal (khususnya pada batang yang sudah tua). Kelopak bunga: 5. diserbuki oleh serangga. littorea dan L. Panjang tangkai daun mencapai 10 mm. Buah berbentuk kembung/elips. agak harum dan kaya akan nektar.Lumnitzera racemosa Willd. kapal. Kulit kayu kadang-kadang digunakan sebagai bahan pelapis. Menyukai substrat berlumpur padat. L. dan berumpun pada ujung dahan. Bunga putih. keras/kaku. di seluruh Indonesia. berkayu dan padat. PNG dan Filipina. cocok untuk berbagai keperluan bahan bangunan. kedukduk. panjangnya 1. berwarna hijau kekuningan. knias.5 cm. Deskripsi umum : Belukar atau pohon kecil. dan tidak memiliki akar nafas. Bunga biseksual. Hampir tidak ditemukan di sepanjang pantai yang menghadap Samudera India. Memiliki dua pinak daun berbentuk bulat telur. Daun : Daun agak tebal berdaging.

pohon 1113 . c.Lumnitzera racemosa daun bunga buah a d c b a. bunga. b. daun. d. buah.

Deskripsi umum : Palma tanpa batang di permukaan. Daun : Seperti susunan daun kelapa. 65-70 juta tahun yang lalu. Memiliki sistem perakaran yang rapat dan kuat yang tersesuaikan lebih baik terhadap perubahan masukan air. Serbuk sari dari jenis ini telah ditemukan sejak jaman Cretaceous atas. berwarna hijau mengkilat di permukaan atas dan berserbuk di bagian bawah. Tinggi dapat mencapai 4-9 m. Ukuran: diameter kepala buah: sampai 45 cm. Papua New Guinea. produksi gula yang dihasilkan lebih baik dibandingkan dengan gula tebu. Biasanya tumbuh pada tegakan yang berkelompok. tikar. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. Buah berbentuk bulat. topi. Manfaat : Sirup manis dalam jumlah yang cukup banyak dapat dibuat dari batangnya. Catatan : 4112 . Bunga betina membentuk kepala melingkar berdiameter 25-30 cm. Ukuran: 60-130 x 5-8 cm. Memerlukan masukan air tawar tahunan yang tinggi. serta memiliki kandungan sukrosa yang lebih tinggi. Panjang tandan/gagang daun 4 .9 m. Setelah diolah. seluruh Indonesia. jika bunga diambil pada saat yang tepat. kaku dan berserat. Diameter biji: 4-5 cm. terletak di bawah kepala bunganya. Bentuk: lanset. warna coklat. lipa. Digunakan untuk memproduksi alkohol dan gula. Tandan bunga biseksual tumbuh dari dekat puncak batang pada gagang sepanjang 1-2 m. pada bagian tepi atas dari jalan air. Pada setiap buah terdapat satu biji berbentuk telur. membentuk rumpun. kuat dan menggarpu. Terdapat 100 . keranjang dan kertas rokok. dibandingkan dengan sebagian besar jenis tumbuhan mangrove lainnya. Tumbuh pada substrat yang halus. serat gagang daun juga dapat dibuat tali dan bulu sikat. tangkal daon. Daun digunakan untuk bahan pembuatan payung. Nypa telah dikenal di Australia sejak awal jaman Tertiary. sangat umum setempat. buyuk. Australia dan Pasifik Barat. Bunga jantan kuning cerah. ARECACEAE Nama setempat : Nipah. Malaysia. Kadang-kadang bersifat vivipar.120 pinak daun pada setiap tandan daun. Ujung: meruncing. Buah yang berserat serta adanya rongga udara pada biji membantu penyebaran mereka melalui air. Jarang terdapat di luar zona pantai. Serbuk sari lengket dan penyerbukan nampaknya dibantu oleh lalat Drosophila. Asia Tenggara. Filipina. Batang terdapat di bawah tanah. Jika dikelola dengan baik.Nypa fruticans Wurmb. Biji dapat dimakan.

Nypa fruticans buah bunga pohon 1133 .

Kepulauan Sunda Kecil). Ranting halus berwarna abu-abu pucat dan berbentuk segi empat pada saat muda. ukurannya lebih panjang dibanding cuping kelopak bunga. batuan. Deskripsi umum : Berupa pohon atau belukar dengan ketinggian dapat mencapai 7 meter. Biseksual. Terdapat 2 pinak daun berbentuk elips. 4114 . Ukuran: 2. Papua New Guinea. Ukuran: panjang 5-10 mm. Unit & Letak: sederhana. bersilangan. ada kelenjar minyak yang tembus cahaya dan berukuran kecil serta ada pembengkakan pada gagang daun sepanjang 2 mm yang berwarna merah. Kulit kayu berwarna coklat atau abu-abu. diameter 5 mm.5-5 x 1-3 cm. hijau (3-6 mm). berbentuk datar dan bulat telur terbalik. Ujung: membundar. dan pasir. jenis tumbuhan ini tidak ditemukan tumbuh pada daerah yang kerap tergenang oleh air tawar. Bunga diserbuki oleh serangga. Kelopak bunga: 8.v. Filipina. terletak pada pangkal gagang bunga.M. Meskipun demikian. Biji berjumlah 1-2. Tidak memiliki ketergantungan khusus terhadap substrat tumbuh. dan dapat ditemukan pada lumpur halus. Buah disebarkan lewat air dan terapung di air karena adanya rambutrambut yang dapat memerangkap udara. Benang sari: berwarna putih hingga kuning. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia (Irian Jaya. Buah ditutupi oleh cuping kelopak bunga dan kelopak tidak membuka pada saat telah matang. Sulawesi. selalu hijau. Pinak daun tersebut kemudian rontok. tangkai/dahannya tunggal atau berjumlah banyak. bunga tidak bertangkai tapi langsung menempel pada tandan. Daun mahkota: Tidak ada. Letak: di ketiak daun. Manfaat : Para nelayan menggunakan daunnya untuk mengusir serangga. Jawa Timur. panjang 6 mm. Formasi: kelompok. Tumbuh di tempat yang lebih terbuka pada tepi daratan di daerah mangrove atau pada pinggiran alur air yang dipengaruhi oleh pasang surut. Dalam satu tandan terdapat 1-3 bunga yang bergerombol. Bentuk: bulat telur terbalik. Kelimpahan : Tidak tahu. Australia Tropis. Kulit kayu kadangkadang digunakan untuk menambal perahu dan kayunya tahan lama. Daun : Berkulit tipis. Di Australia jenis ini ditemukan berbunga dari bulan Juni sampai Desember dengan puncaknya pada bulan November dan berbuah pada bulan Februari. Kadang-kadang memiliki akar nafas. berserat dan berserabut. Kalimantan Utara. jumlahnya sampai 48 helai.Osbornia octodonta F. Individu yang lebih besar memiliki batang yang berlubang di tengahnya. MYRTACEAE Nama setempat : Baru-baru. menimbulkan aroma pada saat disentuh.

c. d.Osbornia octodonta bunga buah a d c b b a. daun. pohon 1153 . bunga. buah. b.

Setidaknya tercatat di Bali dan Lombok.Phemphis acidula LYTHRACEAE Nama setempat : Sentigi. kaku. Daun mahkota: 6. Berbentuk lonceng. centigi. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. di dalamnya terdapat 20-30 biji yang sangat kecil. Kulit kayu berwarna abu-abu hingga coklat. mentigi. permukaannya berambut. Bentuk: elip hingga bulat telur terbalik. Kelimpahan : Tidak diketahui. Ujung: membundar hingga menajam tumpul.18. Sering dijumpai tumbuh pada pantai berpasir. Benang sari: jumlahnya 12 . Deskripsi umum : Pohon/belukar. panjang 10 mm. Akar nafas tidak terlalu berkembang. Letak: di ketiak daun. menyebar rimbun/melebar di permukaan tanah. berwarna hijau. berkulit dan agak melengkung/tertekuk ke dalam. pada tepi/lereng pematang tambak atau tepi saluran air yang masih terkena jangkauan pasang surut. bagian tengahnya agak keunguan-kekuningan. Kelopak bunga: 12. cantinggi. 4116 . putih bersih. Manfaat : Tidak diketahui. dengan ketinggian hingga 3 m. Ukuran: diameter buah 3-5 mm. warna coklat. Daun : Tebal (hingga 3 mm) berdaging. Ukuran: panjang 1-3 cm. Formasi: berkelompok (ada 1 hingga beberapa bunga per kelompok). Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Berbentuk seperti mangkuk es krim.

Phemphis acidula daun. daun. bunga. c. buah. b. pohon 1173 . buah & bunga pohon c b a d a. d.

Unit & Letak: sederhana & berlawanan. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau minyak. abat. Bentuk: elips menyempit. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). Tumbuh pada tanah berlumpur. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen.Rhizophora apiculata Bl. berwarna hijau jingga. tinjang. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. Ukuran: 7-19 x 3. slengkreng. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. bangka minyak. tidak ada rambut. Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering). Kelimpahan : Melimpah di Indonesia. panjangnya 9-11 mm. dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Benang sari: 11-12. kuning kecoklatan. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. bakau leutik. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. mangi-mangi. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter. Tumbuh lambat. melengkung. warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. halus. panjang 2-3. akik. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. Kelopak bunga: 4. Ujung: meruncing. donggo akit.5 cm. Ukuran: Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka. bakau kacang. Hipokotil silindris. Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. tak bertangkai. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Biseksual. bakau puteh. wako. kuning-putih. bakau tandok. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan. berbintil. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan. Letak: Di ketiak daun. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. parai. tersebar jarang di Australia. Daun : Berkulit. bakau akik. kayu bakar dan arang.5-8 cm. 4118 . Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir. jankar. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. dalam dan tergenang pada saat pasang normal. warna coklat. Daun mahkota: 4. berisi satu biji fertil.

bunga. pohon 1193 . buah.Rhizophora apiculata daun bunga buah & hipokotil a c b d a. c. daun. d. b.

Daun : Daun berkulit. panjangnya 13-19 mm. Kelopak bunga: 4. Bentuk: elips melebar hingga bulat memanjang. panjang 2. sehingga menghambat pertumbuhan mereka. bakau merah. tak bertangkai. Madagaskar. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Afrika Timur. Manfaat : Kayu digunakan sebagai bahan bakar dan arang. Kadang-kadang ditanam di sepanjang tambak untuk melindungi pematang. Mauritania. kuning pucat. Asia tenggara. seluruh Malaysia dan Indonesia. dongoh korap. Gagang daun berwarna hijau. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. 9 mm. Batang memiliki diameter hingga 70 cm dengan kulit kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah horizontal. Anakan yang telah dikeringkan dibawah naungan untuk beberapa hari akan lebih tahan terhadap gangguan kepiting. Gagang kepala bunga seperti cagak. Ukuran: Hipokotil: panjang 36-70 cm dan diameter 2-3 cm. Buah lonjong/panjang hingga berbentuk telur berukuran 5-7 cm. bakau korap. lenggayong. kasar dan berbintil.Rhizophora mucronata Lmk. Letak: di ketiak daun. Ukuran: 11-23 x 5-13 cm. ada rambut. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 27 m. Tanin dari kulit kayu digunakan untuk pewarnaan. jarang melebihi 30 m. Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh dari percabangan bagian bawah. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bangka itam. jarang sekali tumbuh pada daerah yang jauh dari air pasang surut. Daun mahkota: 4. Hipokotil silindris. Hal tersebut mungkin dikarenakan adanya akumulasi tanin dalam jaringan yang kemudian melindungi mereka. Benang sari: 8. berwarna hijaukecoklatan. bakau hitam. Di areal yang sama dengan R. bersifat biseksual. dekat atau pada pematang sungai pasang surut dan di muara sungai. Formasi: Kelompok (4-8 bunga per kelompok). Perbungaan terjadi sepanjang tahun. dan kadang-kadang digunakan sebagai obat dalam kasus hematuria (perdarahan pada air seni). Dibawa dan ditanam di Hawaii. Anakan seringkali dimakan oleh kepiting.5-5 cm.5 cm. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2.apiculata tetapi lebih toleran terhadap substrat yang lebih keras dan pasir. belukap.5-8. Pada umumnya tumbuh dalam kelompok. Leher kotilodon kuning ketika matang. 4120 . Melanesia dan Mikronesia.5-5. berbiji tunggal. Ujung: meruncing. seringkali kasar di bagian pangkal. Pertumbuhan optimal terjadi pada areal yang tergenang dalam. Merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang paling penting dan paling tersebar luas. jankar. serta pada tanah yang kaya akan humus. Pinak daun terletak pada pangkal gagang daun berukuran 5.putih. lolaro.5 cm.

b. d.Rhizophora mucronata daun bunga c buah & hipokotil a b d a. c. daun. buah. pohon 1213 . bunga.

kuning hijau. stylosa lebih banyak daripada R. Filipina. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau. berbentuk buah pir. putih. Menghasilkan bunga dan buah sepanjang tahun. Lombok. ada rambut. dan sebuah tangkai putik. wako. Ujung: meruncing. panjang gagang 1-3. berbintik teratur di lapisan bawah. Maluku dan Irian Jaya. Papua New Guinea dan Australia Tropis. dan arang. bangko. biseksual. Benang sari: 8. Leher kotilodon kuning kehijauan ketika matang. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Taiwan. Menyukai pematang sungai pasang surut. panjang 4-6 mm.0 cm. Kemungkinan diserbuki oleh angin. Deskripsi umum : Pohon dengan satu atau banyak batang. Hipokotil silindris. Daun : Daun berkulit. Satu jenis relung khas yang bisa ditempatinya adalah tepian mangrove pada pulau/substrat karang. sepanjang Indonesia. Sulawesi. Kulit kayu halus. Sumba. panjangnya 13-19 mm. Manfaat : Sebagai bahan bangunan. tombak serta berbagai obyek upacara. Gagang daun berwarna hijau. Gagang kepala bunga seperti cagak.Rhizophora stylosa Griff. tinggi hingga 10 m. bako-kurap. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. Bentuk: elips melebar. Daun mahkota: 4. berwarna coklat. tongke besar. Sumatera. Tercatat dari Jawa. Panjangnya 2. Anggur ringan serta minuman untuk mengobati hematuria (pendarahan pada air seni) dapat dibuat dari buahnya. Tumbuh pada habitat yang beragam di daerah pasang surut: lumpur. Kelopak bunga: 4. Letak: di ketiak daun. dengan pinak daun panjang 4-6 cm. Sumbawa. Formasi: kelompok (8-16 bunga per kelompok). Ukuran: Hipokotil: panjang 20-35 cm (kadang sampai 50 cm) dan diameter 1. tetapi juga sebagai jenis pionir di lingkungan pesisir atau pada bagian daratan dari mangrove. kayu bakar. Jumlah bunga per kelompok dari jenis R. mucronata. berisi 1 biji fertil. pasir dan batu. berbintil agak halus.5-2. berwarna abu-abu hingga hitam.5 cm. Bali. Catatan : 4122 . Malaysia. Kelimpahan : Umum.5-4 cm. slindur. Masyarakat Aborigin di Australia menggunakan kayu jenis ini untuk pembuatan bumerang.5-5 cm. Ukuran: meruncing. bercelah. Memiliki akar tunjang dengan panjang hingga 3 m. dan akar udara yang tumbuh dari cabang bawah. 8 mm.

pohon 1233 . buah. c. d. b. bunga.Rhizophora stylosa daun & bunga buah c b a d a. daun.

Berwarna coklat. Deskripsi umum : Semak pemanjat dengan ketinggian hingga 4 m. Bagian dalam bunga ditutupi rambut-rambut pendek. dan memiliki batang yang halus. Tumbuh pada mangrove berlumpur. Apabila sayapnya dicopot. Berwarna kuning dengan garis-garis memanjang berwarna jingga. diameter 12-14 mm. Ukuran: buah: 8-9 x 7-8 cm. Biji yang memiliki tepian seperti sayap dapat terapung di permukaan air.5 mm. berukuran 13-15 x 8-9 mm. dikelilingi oleh tepian yang menyerupai sayap. Letak: di ketiak daun. tetapi kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Daun : Permukaan atas daun ditutupi oleh rambut. terletak diatas tabung yang panjangnya 2.5 cm. Manfaat : Tidak tahu. khususnya di bagian urat daun. kaya akan cairan yang menyerupai susu. & S. permukaannya rata dan bentuknya bulat telur terbalik.5-2 cm. Tercatat di Jawa. Bunga terdapat pada tandan yang padat. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Tidak tahu. maka biji tersebut akan tenggelam. panjang gagang 2-30 mm. biji: 20-25 x 16-18 mm. Kelopak bunga: 5 terdapat kelenjar di dalamnya. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bentuk: bulat memanjang. Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok). Ujung: meruncing.Sarcolobus globosa R. Biji berjumlah banyak. Ukuran: 4-9 x 3-5. elips melebar dengan pangkal yang tidak merata. Daun agak tebal. Daun mahkota: 5. Buah memiliki gagang yang tebal. 4124 . Unit & Letak: sederhana & berlawanan. ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Tidak tahu. panjang gagang bunga 0. sebagian besar soliter. berwarna coklat. Kepala sari: Ujungnya tumpul. berbintil.

buah.Sarcolobus globosa a b c a. daun 1253 . b. bunga. c.

Scyphiphora hydrophyllacea

Gaertn.

RUBIACEAE

Nama setempat : Perepat lanang, cingam, duduk perempuan, duduk rayap, duduk rambat, dandulit. Deskripsi umum : Semak tegak, selalu hijau, seringkali memiliki banyak cabang, ketinggian mencapai 3 m. Kulit kayu kasar berwarna coklat, cabang muda memiliki resin, kadang-kadang terdapat akar tunjang pada individu yang besar. Daun : Daun berkulit dan mengkilap. Pinak daun berkelenjar, terletak pada pangkal gagang daun membentuk tutup berambut. Gagang daun lurus panjangnya hingga 13 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 4-9 x 2-5 cm. Warna putih, hampir tak bertangkai, biseksual, terdapat pada tandan yang panjangnya hingga 15 mm. Letak: di ketiak daun. Formasi: kelompok (3-7 bunga per kelompok). Daun mahkota: 4-5; putih-agak merah, elips, 2-4 x 22,5 mm, mulut berambut kasar. Kelopak bunga: 4-5; berbentuk mangkok, bawahnya seperti tabung (panjang 5mm). Benang sari: 4-5. Silindris, berwarna hijau hingga coklat, berurat memanjang dan memiliki sisa daun kelopak bunga. Tidak membuka ketika matang. Terdapat 4 biji silindris. Ukuran: buah: panjang 8 mm, biji: 1 x 2 mm. Tumbuh pada substrat lumpur, pasir dan karang pada tepi daratan mangrove atau pada pematang dan dekat jalur air. Nampaknya tidak toleran terhadap penggenangan air tawar dalam waktu yang lama dan biasanya menempati lokasi yang kerap tergenang oleh pasang surut. Dilaporkan tumbuh pada lokasi yang tidak cocok untuk dikolonisasi oleh jenis tumbuhan mangrove lainnya. Perbungaan terdapat sepanjang tahun, kemungkinan diserbuki sendiri atau oleh serangga. Nektar diproduksi oleh cakram kelenjar pada pangkal mahkota bunga. Banyak buah yang dihasilkan, akan tetapi pembiakan biji relatif rendah. Buah teradaptasi dengan baik untuk penyebaran oleh air karena kulit buahnya yang ringan dan mengapung.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : India, Sri Lanka, Malaysia, seluruh Indonesia, Papua New Guinea, Filipina, Kepulauan Solomon dan Australia Tropis. Kelimpahan : Tersebar, dan secara keseluruhan relatif jarang. Manfaat : Catatan : Kayu kemungkinan dapat digunakan untuk peralatan makan, seperti sendok. Daun dapat digunakan untuk mengatasi sakit perut. Sangat menyerupai Lumnitzera, tetapi daun Lumnitzera letaknya bersilangan.

4126

Scyphiphora hydrophyllaceae

daun

bunga

buah

b a

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1273

Sonneratia alba

J.E. Smith

SONNERATIACEAE

Nama setempat : Pedada, perepat, pidada, bogem, bidada, posi-posi, wahat, putih, beropak, bangka, susup, kedada, muntu, sopo, barapak, pupat, mange-mange. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau, tumbuh tersebar, ketinggian kadang-kadang hingga 15 m. Kulit kayu berwarna putih tua hingga coklat, dengan celah longitudinal yang halus. Akar berbentuk kabel di bawah tanah dan muncul kepermukaan sebagai akar nafas yang berbentuk kerucut tumpul dan tingginya mencapai 25 cm. Daun : Daun berkulit, memiliki kelenjar yang tidak berkembang pada bagian pangkal gagang daun. Gagang daun panjangnya 6-15 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 5-12,5 x 3-9 cm. Biseksual; gagang bunga tumpul panjangnya 1 cm. Letak: di ujung atau pada cabang kecil. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). Daun mahkota: putih, mudah rontok. Kelopak bunga: 6-8; berkulit, bagian luar hijau, di dalam kemerahan. Seperti lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. Benang sari: banyak, ujungnya putih dan pangkalnya kuning, mudah rontok. Seperti bola, ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Buah mengandung banyak biji (150-200 biji) dan tidak akan membuka pada saat telah matang. Ukuran: buah: diameter 3,5-4,5 cm. Jenis pionir, tidak toleran terhadap air tawar dalam periode yang lama. Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan karang. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai. Di lokasi dimana jenis tumbuhan lain telah ditebang, maka jenis ini dapat membentuk tegakan yang padat. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga hidup tidak terlalu lama dan mengembang penuh di malam hari, mungkin diserbuki oleh ngengat, burung dan kelelawar pemakan buah. Di jalur pesisir yang berkarang mereka tersebar secara vegetatif. Kunang-kunang sering menempel pada pohon ini dikala malam. Buah mengapung karena adanya jaringan yang mengandung air pada bijinya. Akar nafas tidak terdapat pada pohon yang tumbuh pada substrat yang keras.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : Dari Afrika Utara dan Madagaskar hingga Asia Tenggara, seluruh Indonesia, Malaysia, Filipina, Australia Tropis, Kepulauan Pasifik barat dan Oceania Barat Daya. Kelimpahan : Umum. Melimpah setempat. Manfaat : Buahnya asam dapat dimakan. Di Sulawesi, kayu dibuat untuk perahu dan bahan bangunan, atau sebagai bahan bakar ketika tidak ada bahan bakar lain. Akar nafas digunakan oleh orang Irian untuk gabus dan pelampung.

4128

Sonneratia alba

daun

bunga

buah

b

c

b

a

d

a. bunga; b. buah; c. daun; d. pohon

1293

bagian luar hijau. 5-13 x 2-5 cm. Tidak pernah tumbuh pada pematang/ daerah berkarang. seringkali sepanjang sungai kecil dengan air yang mengalir pelan dan terpengaruh oleh pasang surut. Kelopak bunga: 6-8. Ukuran: bervariasi. pidada. Manfaat : Buah asam dapat dimakan (dirujak). Letak: di ujung. ketinggian mencapai 15 m. perepat. Malaysia. wahat merah. Daun mahkota: merah.5-3. Filipina. Memiliki akar nafas vertikal seperti kerucut (tinggi hingga 1 m) yang banyak dan sangat kuat. Ketika bunga berkembang penuh (setelah jam 20. bidada. Kayu dapat digunakan sebagai kayu bakar jika kayu bakar yang lebih baik tidak diperoleh. bogem. di dalam putih kekuningan hingga kehijauan. pada tanah lumpur yang dalam. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. mulai dari bagian hulu dimana pengaruh pasang surut masih terasa. jarang mencapai 20 m. dan Kepulauan Solomon. lebar dan sangat pendek. Ukuran: buah: diameter 6-8 cm. ukuran 17-35 x 1. bijinya lebih banyak (800-1200).) Engl.00 malam). hingga Australia tropis. Ketika mekar penuh. Selama hujan lebat. dan melimpah setempat. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Sri Lanka. SONNERATIACEAE Nama setempat : Pedada.Sonneratia caseolaris (L. Setelah direndam dalam air mendidih. kecenderungan pertumbuhan daun akan berubah dari horizontal menjadi vertikal. akar nafas dapat digunakan untuk mengganti gabus. Benang sari: banyak. Kelimpahan : Umum. Juga tumbuh di sepanjang sungai. Tumbuh di bagian yang kurang asin di hutan mangrove. seluruh Asia Tenggara. Ujung cabang/ranting terkulai. serta di areal yang masih didominasi oleh air tawar. Bentuk: bulat memanjang. Ujung: membundar.5 mm. Seperti bola. Biji mengapung. berkulit. Ukuran lebih besar dari S. dan berbentuk segi empat pada saat muda. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Pucuk bunga bulat telur. Tidak toleran terhadap naungan. mudah rontok. Daun : Gagang/tangkai daun kemerahan. 4130 . biasanya tanpa urat. ujungnya putih dan pangkalnya merah. posi-posi merah. termasuk Indonesia. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). rambai. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. bunga berisi banyak nektar. tabung kelopak bunga berbentuk mangkok.alba. mudah rontok. Deskripsi umum : Pohon.

buah. d. daun.Sonneratia caseolaris bunga kuncup daun buah bunga mekar a c b d a. c. bunga. b. pohon 1313 .

Kepulauan Riau. 4132 . biasanya hingga 5 m. Kelopak bunga: bagian dalam merah. Daun : Bunga : Gagang/tangkai daun panjangnya 2-15 mm. Ukuran hampir sama dengan S. Buah muda dapat dimakan sebagai rujakan. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil atau sedang. muncul dari gagang yang pendek. dan Papua New Guinea. Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Thailand. Seperti bola. Kelimpahan : Umum setempat. warnanya putih dan mudah rontok.5 4.Sonneratia ovata Back. Panjangnya 2. Sungai Sebangau/Kalimantan Tengah. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. kadang-kadang mencapai 20 m. Bentuk: bulat telur. Ujung: membundar. SONNERATIACEAE Nama setempat : Bogem. atau kadang-kadang tidak ada. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga.alba. Ukuran: buah: diameter 3-5 cm. Gagang/tangkai bunga lurus. Malaysia. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Manfaat : Kayu bakar. Jawa. Ukuran: 4-10 x 3-9 cm. Maluku. tanah berlumpur dan di sepanjang sungai kecil yang terkena pasang surut.5 cm. Sulawesi. Tabung seperti mangkok. Letak: di ujung. Benang sari: banyak. Tidak pernah tumbuh pada substrat karang. Daun mahkota: tidak ada. Sumatra. dengan cabang muda berbentuk segi empat serta akar nafas vertikal. kedabu. Pucuk bunga berbentuk bulat telur lebar dan ditutupi oleh tonjolan kecil. Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove yang airnya kurang asin. Formasi: soliter-kelompok (ada 1-3 bunga per kelompok). tetapi secara keseluruhan agak jarang. panjang 1-2 cm.

b. daun. c.Sonneratia ovata bunga buah c a b d a. pohon 1333 . d. buah. bunga.

jomba. Batang seringkali berlubang. Seperti bola (kelapa). kuning muda. warna hijau kecoklatan.9 cm. Ukuran: buah: diameter 10-20 cm. Manfaat : Kayunya hanya tersedia dalam ukuran kecil. panjang 5-7 mm. dan lingkungan payau lainnya yang tidak terlalu asin. 4134 . buli hitam. jombok gading.5 . Memiliki akar papan yang melebar ke samping. tipis dan mengelupas. Ukuran: 4. Sulawesi. susunan daun berpasangan (umumnya 2 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. siri. kulit kayu berkeriput. niumiri-kara. Formasi: gerombol acak (8-20 bunga per gerombol). Benang sari: berwarna putih krem dan menyatu di dalam tabung. Daun mahkota: 4. Seringkali tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. Bentuk: elips bulat telur terbalik. Daun : Agak tebal. pinggir daratan dari mangrove. lonjong. Kelopak bunga: 4 cuping. kabau. banang-banang.17 cm x 2. berkulit. Sumatera. berkayu dan berbentuk tetrahedral. Bali. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. berat bisa 1-2 kg. Kepulauan Karimun Jawa. bulu putih.Xylocarpus granatum Koen MELIACEAE Nama setempat : Niri. tepinya bundar. Madura. meliuk-liuk dan membentuk celahan-celahan. khususnya pada area bekas tebangan hutan dan gangguan lainnya.5 . nipa. Kulit kayu berwarna coklat muda-kekuningan. Maluku dan Sumba. Kalimantan. Buah akan pecah pada saat kering. Buahnya bergelantungan pada dahan yang dekat permukaan tanah dan agak tersembunyi. Di dalam buah terdapat 6-16 biji besar-besar. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia tumbuh di Jawa. Ujung: membundar. Kelimpahan : Melimpah setempat. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian 10-20 m. inggili. Tumbuh di sepanjang pinggiran sungai pasang surut. pohon kira-kira. nyireh bunga. nyuru. nyireh. Bunga terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. nyiri udang. khususnya pada pohon yang lebih tua. kadang-kadang digunakan sebagai bahan pembuatan perahu. nyiri hutan. putih kehijauan. Letak: di ketiak. Individu yang telah tua seringkali ditumbuhi oleh epifit. Tandan bunga (panjang 2-7 cm) muncul dari dasar (ketiak) tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 4-8 mm. Kulit kayu dikumpulkan karena kandungan taninnya yang tinggi (>24% berat kering). Susunan biji di dalam buah membingungkan seperti teka-teki (dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘puzzle fruit’). mokmof. sementara pada cabang yang muda. nyiri. nilih. panjang 3 mm. Irian Jaya. buli.

kulit kayu 1353 . daun. c. b.Xylocarpus granatum bunga buah a c d b a. bunga. buah. d.

4136 . Bentuk: elips . Kelopak bunga: berwarna hijau. berwarna putihkekuningan dan panjang 5 x 2 mm. Formasi: gerombol acak (9-35 bunga per gerombol). panjang 2 mm. Ukuran: panjang bisa mencapai 20 cm. Kulit kayu berwarna coklat muda. dan memiliki garis-garis sempit.5 cm. mengelupas secara longitudinal. Ujung: membundar.5 cm. dan mungkin saja tumbuh di Irian Jaya Kelimpahan : Ditemukan secara berkala tetapi tidak pernah dalam kelimpahan yang tinggi. Seperti bola dan terbagi atas beberapa bagian kepingan. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. kayu bakar. Tandan bunga (panjang 4-6. Asia Tenggara. biji: diameter 6. minyak untuk penerangan dan minyak rambut serta untuk pewarnaan (di PNG). Mereka menyukai daerah yang memperoleh masukan air tawar selama beberapa kali dalam setahun. Benang sari: tabung benang sari berbentuk seperti kendi. Ukuran: buah: diameter 5-10 cm. Jamu dari pohon ini digunakan untuk mengobati kolera. Afrika Timur. dengan ujung tajam atau tumpul dengan panjang 2-4 mm.5-12 x 2-7. berbentuk tiang dengan mahkota berbentuk kerucut. Letak: di ketiak. dengan ukuran 4. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di PNG. Kepala sari panjangnya 1 mm. Manfaat : Bahan bangunan. ketinggian sampai 15 m. Daun : Pinak daun berbentuk lonjong. Substrat tumbuhnya terdiri dari pasir dan lumpur. Daun mahkota: berbentuk lonjong lebar. Australia Barat. panjang 5 mm. Pohon jenis ini ditemukan di tepi hutan yang berbatasan dengan perairan pasang surut dan pada bagian tepi daratan di daerah mangrove. Deskripsi umum : Pohon yang kuat.Xylocarpus mekongensis Pierre MELIACEAE Nama setempat : Tidak tahu.bulat telur terbalik.5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 6-10 mm.

buah. d. c.Xylocarpus mekongensis a b c d e a. kulit kayu. e. akar 1373 . bunga. daun. b.

siri. jombok. Jenis mangrove sejati di hutan pasang surut.Xylocarpus moluccensis (Lamk) Roem. permukaan berkulit dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral. kabau. Kelopak bunga: 4 cuping. Kalimantan.5cm. mojong tihulu. Ukuran: buah: diameter 8-15 cm. sementara pada batang utama memiliki guratan-guratan permukaan yang tergores dalam. miumeri-mee. putih krem dan tingginya sekitar 2 mm. perahu dan kadang-kadang untuk gagang keris. raru. Tanin kulit kayu digunakan untuk membuat jala serta sebagai obat pencernaan. Bentuk: elips .5 mm. Maluku. Daun : Lebih tipis dari X.bulat telur terbalik. tepinya bundar. banang-banang. loleso. susunan daun berpasangan (umumnya 2-3 ps pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. parasar. Bali. Letak: di ketiak. membuat rumah. NTT. Ukuran: 4-12 cm x 2-6. Biji digunakan sebagai obat sakit perut. nyiri gundik.granatum. Unit & letak: majemuk & berlawanan. Benang sari: 8. Kulit kayu halus. Ujung: meruncing. lonjong. pematang sungai pasang surut. bulat seperti jambu bangkok. nyirih. Daun mahkota: 4. hijau kekuningan.5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 2-10 mm. Memiliki akar nafas mengerucut berbentuk cawan. pamuli. MELIACEAE Nama setempat : Niri/nyirih batu. Jamu yang berasal dari buah dipakai untuk obat habis bersalin dan meningkatkan nafsu makan. menyatu. Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. putih kekuningan. Formasi: gerombol acak (10-35 bunga per gerombol). Kelimpahan : Umum setempat. Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. Sulawesi. nyuru. Irian Jaya. Tandan bunga (panjang 6-18. panjang nya 6-7 mm. 4138 . Warna hijau. serta tampak sepanjang pantai. Deskripsi umum : Pohon tingginya antara 5-20 m. panjang sekitar 1. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa.

c. b.Xylocarpus moluccensis buah bunga c a b d a. bunga. akar 1393 . kulit kayu. daun. d.

Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja.Xylocarpus rumphii (Kostel. 4140 . Memiliki akar udara tapi tidak jelas. granatum). putih krem. Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. MELIACEAE Nama setempat : Nyirih. Ukuran: buah: diameter 8 cm (lebih kecil dari X. Ukuran: 7 x 12 cm. Benang sari: menyatu membentuk tabung. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. banang-banang. nyirih batu. Kelopak bunga: 4 cuping. siri. Warna hijau. bulat seperti jambu bangkok. Daun : Susunan daun berpasangan (umumnya 3-4 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. Letak: di ketiak. permukaan licin berkilauan dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa dan Bali. jombok. Ujung: meruncing. Bentuk: bulat telur-bulat memanjang. krem-putih kehijauan.) Mabb. membuat rumah dan perahu. Terdapat di pantai berpasir atau berbatu. di belakang atau sedikit di atas garis pasang tinggi. Deskripsi umum : Pohon tingginya dapat mencapai 6 m. Formasi: Gerombol acak. niri. hijau kekuningan. Warna hijau tua. Kelimpahan : Tidak diketahui. Daun mahkota: 4. Kulit kayu kasar berwarna coklat dan mengelupas seperti guratan-guratan kecil dan sempit. Jenis mangrove sejati.

b.Xylocarpus rumphii daun buah pohon a c b a. daun 1413 . buah. bunga. c.

1433 .

sehingga hanya terbuka satu malam saja. berukuran sangat besar. Ukuran: 15-45 x 9-20 cm. diameternya sampai 10 cm dan harum. Meskipun demikian. cairan yang diperoleh dari bijinya dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan payung . bogem. Ukuran: diameter buah 1015 cm. serta untuk membunuh ekto-parasit. Pohon dan bijinya mengandung saponin yang dapat digunakan sebagai racun ikan. Besar. Tercatat di seluruh Indonesia. putat laut. hutun.catappa. Berisi satu biji berukuran besar. Daun mahkota: 4. B. Mahkota pohon berdaun besar dan rimbun. crenulata memiliki daun yang tumbuh berpasangan serta memiliki duri di sepanjang batangnya. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh dari Madagaskar hingga Pasifik Barat. Minyak yang berwarna kemerahan dapat diperoleh dengan memanaskan dan memeras bijinya. Ketika masih muda daun berwarna agak merah muda. Kalimantan. Di Jawa. Benangsari: banyak dan panjang. kadang-kadang di mangrove. ketika tua berwarna kuning atau merah muda pucat. Kelopak bunga: berwarna putih kehijauan. Buah berwarna hijau (kadang tersamar oleh warna daunnya) lalu berubah menjadi cokelat. agak tebal. Sunda Kecil dan Maluku. Ujung: agak membundar. Jenis ini seringkali dikelirukan dengan Terminalia catappa atau Fagraea crenulata.asiatica memiliki daun yang lebih berdaging. Menggantung. Penyerbukan kemungkinan dilakukan oleh ngengat besar. Formasi: bergerombol. F. Tumbuh sama baiknya di daratan. lebih mengkilat dan ujung yang lebih runcing dibandingkan dengan T. putih dan kuning. Ranting tebal. Manfaat : Kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias. warnanya merah di bagian ujung dan putih di dekat pangkal. berkulit dan urat daun nampak jelas. bitung. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Bentuk: bulat telur terbalik. pantai dan pantai berkarang. Kulit kayu abu-abu agak merah muda dan halus. Sulawesi. butun. Bunga terbuka setelah matahari tenggelam dan rontok menjelang pagi. Kelimpahan : Umum. menggantung seperti payung.Barringtonia asiatica (L.) Kurz LECYTHIDACEAE Nama setempat : Sea putat. Catatan : 4144 . Biji yang digunakan sebagai racun ikan seringkali dicampur dengan tuba (Derris – rotenon). Bali. pertun. talise. permukaan halus dan berbentuk tetrahedral/piramid seperti buah delima. butong. Tumbuh di hutan pantai. tumpul. Mereka mengapung dan dapat tumbuh setelah menempuh perjalanan yang jauh. seperti lintah. Jawa. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil hingga sedang dengan ketinggian 7-20 (-30) m dan diameter 25-100 cm. Daun : Berwarna hijau tua. Buah sering terlihat mengapung sepanjang pantai. termasuk Sumatera.

buah. c. daun 1453 . b. bunga.Barringtonia asiatica buah pohon a a c b a.

Penyerbukan hampir pasti dilakukan oleh serangga. harum. putih dan kuning. bintangur laut. Kadang-kadang tumbuh pada lokasi mangrove. Malaysia dan Indonesia (Bali) sering ditanam sebagai pohon peneduh. Di Australia. Kelopak bunga: 4. agak mirip dengan daun Rhizopora mucronata (jenis bakau). Formasi: bergerombol.Calophyllum inophyllum L. minyak. kayu dan obat-obatan. Dapat digunakan sebagai bahan pewarna. Bentuk: elips hingga bulat memanjang. Letak: di ketiak. Tumbuh pada habitat bukan rawa dan pantai berpasir. tandan bunga panjangnya hingga 15 cm serta memiliki 5-15 bunga per tandan. Ukuran: diameter buah 2. atau oleh kelelawar yang memakan bagian luar buah yang berdaging. menggantung seperti payung. Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia.5 x 6-11 cm. bagian bawahnya hijau agak kekuningan. condong atau bahkan sejajar dengan tanah. 4146 . Perbungaan nampaknya terjadi terus menerus sepanjang tahun. Bagian atas daun berwarna hijau tua dan mengkilap. memiliki tempurung kuat dan di dalamnya terdapat 1 biji. Memiliki getah lekat berwarna putih atau kuning. dengan satu atau lebih saat puncaknya. Kalimantan dan Irian Jaya. ukuran diameter 2-3 cm. dan dimasukan ke Pasifik. Berbentuk bulat seperti bola pingpong kecil. Ujung: membundar. hingga ketinggian 200 m. dua dari kelopak bunga berwarna putih. benaga. naga. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur hingga Polinesia. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Biseksual.5-4 cm. Jawa. menaga. tercatat di Sumatera. buahnya yang sudah tua dipakai bermain oleh anak-anak sebagai kelereng atau bola pingpong kecil. Deskripsi umum : Pohon berwarna gelap. Tercatat di Sumatera di sepanjang Danau Singkarak pada ketinggian 386 m. Benangsari: banyak. Kelimpahan : Umum. GUTTIFERAE Nama setempat : Camplung. Daun mahkota: 4. Ukuran: 10-21. bintanguru. nyamplung. Bali. Buah disebarkan melalui arus laut. Di Bali. biasanya tumbuh agak bengkok. Manfaat : Buah mudanya digarami untuk makanan. ketinggian 10-30 m. biasanya pada habitat transisi. Daun : Memiliki banyak urat dengan posisi lateral paralel dan halus. berdaun rimbun.

d. bentuk urat daun 1473 . bunga.Calophyllum inophyllum bunga & buah pohon c a a d b a. b. c. buah. daun.

hingga ketinggian sekitar 300 m. Ukuran: diameter buah 10-15 mm. modori. permukaan daun (atas maupun bawah) dilapisi oleh rambut-rambut halus yang berwarna agak putih seperti tepung. Kelimpahan : Umum. menori. daun dan bunganya sering digunakan sebagai makanan jangkrik. Berbentuk bulat seperti kapsul dan di dalamnya terdapat banyak biji-biji yang permukaannya berambut halus. berwarna ungu agak putih.5 cm. pantai berpasir dan lahan berbatu. Manfaat : Di Bali. ukuran diameter 6-10 mm. tercatat di Bali dan Jawa. Memiliki banyak getah. Ujung: membundar. Dryander ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Biduri. widuri. Tumbuh pada habitat yang tidak tergenang air. ketinggian mencapai 3 m. seperti piramid. diameter 3-4 cm. kekar dan kaku. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Di Bali dijumpai mulai pada daerah pantai yang gersang dan udaranya panas hingga ke lereng gunung Agung yang suhu udaranya sejuk. Deskripsi umum : Herba rendah/semak. Bentuk: bulat telur melebar. Letak: pada ketiak daun.5-5. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Formasi: seperti payung yang sedang dibuka.Calotropis gigantea L. 4148 . Daun mahkota: putih agak ungu. Daun : Posisi daun horizontal. mendori. Kelopak bunga: 5. Memiliki tandan dan tangkai/gagang bunga yang panjang. Ukuran: 10-20 x 3. Umumnya dijumpai di lahan-lahan pantai yang terbengkalai dan terbuka (mendapat sinar matahari penuh).

b.Calotropis gigantea bunga pohon b a c a. c. buah. bunga. daun 1493 .

Selintas bentuknya menyerupai buah mangga. berwarna abu-abu hingga cokelat. Kayu digunakan sebagai kayu bakar dan bahan arang. menyukai tanah pasir yang memiliki sistem pengeringan yang baik. bintaro. Kelimpahan : Umum. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. goro-goro. terbuka terhadap udara dari laut serta tempat yang tidak teratur tergenang oleh pasang surut. Biasanya terdapat 20 –30 bunga pada setiap tandan. jaraknya agak jauh dari daun mahkota. seperti daun mangga. badak. jabal. Kepulauan Bismarck dan seluruh Kepulauan Solomon. hijau mengkilap di bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. Biasanya tumbuh di bagian tepi daratan dari mangrove. Timor dan Irian Jaya. putih kehijauan. reumatik. Deskripsi umum : Pohon atau belukar dengan ketinggian mencapai 20 m. memiliki lentisel dan cairan putih susu. Minyak biji dapat digunakan untuk meracuni ikan (di Burma juga digunakan sebagai insektisida). menempel pada mulut tabung. Sulawesi Utara. APOCYNACEAE Nama setempat : Bintan. mengkilat dan berdaging. kayu kurita. Kulit kayu dan daun digunakan sebagai obat pencahar. kenyen putih. Jawa. Formasi: berkelompok secara tidak beraturan. Sumatera Barat. Bentuk: bulat memanjang atau lanset. Manfaat : Minyak yang diperas dari biji dan buah mudanya dapat digunakan untuk mengatasi gatal-gatal. Kulit kayu bercelah. Ujung: meruncing.l). Belakangan ini banyak dipakai sebagai tanaman hias/peneduh di dalam kompleks perumahan. putih bersih dengan bagian pusat berwarna jingga hingga merah muda-merah. Ukuran: 10-28 x 2-8 cm. Benang sari: tidak bergagang. Tersebar di PNG. Daun : Agak gelap. Berpotensi sebagai obat farmakologi karena pengaruh kardiovaskular-nya. kayu susu. Letak: di ujung cabang.p. tetapi kurang memiliki akar udara dan akar nafas. hijau hingga hijau kemerahan. waba.Cerbera manghas L. Akar menjalar di permukaan tanah. Daun mahkota: 5. bilu tasi. Berbentuk bulat. Kelopak bunga: 5. Tumbuh di hutan rawa pesisir atau di pantai hingga jauh ke darat (400 m d. kadong. koyandan. kenyeri putih. Tercatat di Bali. Perpanjangan dari masing-masing benang sari yang berambut dan berbentuk seperti taji menutupi kerongkongan tabung mahkota bunga. mangga brabu. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Catatan : 4150 . serta pilek. Ukuran: diameter buah 6-8 cm. Maluku.

Cerbera manghas bunga buah pohon c a b a. b. c. bunga. buah. daun 1513 .

Deskripsi umum : Belukar. putih bersih. Daun : Hijau tua mengkilap di bagian atas. Tumbuh subur pada daerah lumpur kering atau lumpur berpasir di belakang kawasan hutan mangrove. Setidaknya tercatat di Jawa dan Bali. Ukuran: diameter buah 7-10 mm. dengan ketinggian kurang dari 2 m. Benang sari: terjurai sangat panjang jika dibandingkan dengan mahkota bunganya. permukaannya seperti kulit. kwanji. Formasi: berkelompok (3 bunga per kelompok). Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. kaku dan tertekuk ke dalam. warnanya merah keunguan. dadap-laut. keranji. mengkilat dan berdaging. bulat memanjang. Letak: di ketiak daun. bagian bawahnya bertangkai panjang. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Kelopak bunga: hijau dan jaraknya agak jauh dari daun mahkota. warna hijau hingga kecoklatan. Ujung: meruncing. 4152 . Kelimpahan : Umum. Berbentuk lonceng. menjalar melebar di permukaan tanah. Ukuran: panjang 3-4 cm. Berbentuk bulat telur.Clerodendrum inerme Gaertn VERBENACEAE Nama setempat : Kayu tulang. Manfaat : Tidak diketahui. Bentuk: elip. Daun mahkota: 5.

buah. c. daun 1533 . b. bunga. bunga & buah c a b a.Clerodendrum inerme daun.

Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas. Benangsari: bagian atas tumbuh sendiri. Cina hingga India dan Afrika. Tumbuh pada substrat berpasir dan berlumpur pada bagian tepi daratan dari habitat mangrove. hampir bundar. Letak: di ketiak batang yang tumbuh horizontal sepanjang permukaan tanah. Indonesia. Kulit kayu coklat tua. tuwa areuy. memiliki banyak lentisel. hijau-perunggu ketika kering. Unit & Letak: majemuk dan bersilangan. Deskripsi Umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu.5 cm. Catatan : 4154 . Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Melalui Asia Tenggara. Mereka mungkin juga disebarkan melalui angin. Satu atau dua biji berkeriput. Biseksual. tuba laut. Daun mahkota: ungu agak putih-merah muda pucat. Biji dan polong teradaptasi dengan penyebaran melalui air. kamulut.5 x 2. Racun ikan yang dijual secara komersial (rotenone) dihasilkan dari akar jenis lain. LEGUMINOSAE Nama setempat : Ambung. Batangnya sangat tahan lama dan dapat digunakan sebagai tali. Ukuran: buah 2-4. Polong berkulit. Daun : Memiliki 3-7 pinak daun. bergerombol. Manfaat : Penggunaan jenis ini untuk meracuni ikan sudah banyak diketahui. areuy ki tonggeret. halus dengan lentisel merah muda. tandan bunga panjangnya 7-20 cm dan gagang bunga panjangnya 2 mm. kambingan. bulat memanjang atau hampir bundar. yaitu Derris elliptica. Masyarakat di Indonesia Timur menanam varietas sendiri yang kemudian dicampur dengan bahan kimia untuk meracuni (membius) ikan. toweran. sementara buah pada bulan November sampai Desember (di Australia). Formasi: bulir. permukaan atas berwarna hijau mengkilat dan bagian bawah abu-abu-hijau.5-3. Batang yang lebih muda berwarna merah tua. Bunga muncul pada bulan September – November. gadel. tuba abal. sementara 9 lainnya bersatu. panjangnya sekitar 1 cm. tipis/pipih. biji 12 x 11 mm.Derris trifoliata Lour. Ujung: meruncing. Australia. Ukuran: 6-13 x 2-6 cm. panjang 15 m atau lebih. Menyukai areal yang mendapat pasokan air tawar. tergenang secara tidak teratur oleh air pasang surut. Bentuk: bulat telur atau elips.

daun 1553 . buah. b. bunga. c.Derris trifolia buah bunga a c b a.

panjangnya sekitar 0.5 cm. Dijumpai pada kawasan mangrove yang terbuka. kadang-kadang dijumpai lebih ke arah pantai. 4156 . Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas. Manfaat : Tidak diketahui. Daun : Tebal berdaging. Deskripsi umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu. Bentuk: elips hingga bulat telur terbalik. Bentuk seperti kapsul atau seperti kantung perut ayam. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Buah berpasangan. Putih dan merah muda. Ujung: membundar.Finlaysonia maritima Backer ex Heyne.7 – 1. Ukuran: 8-13 x 3.0 cm. mengandung getah berwarna putih.5-3.5-5 cm. waktu masih muda berwarna hijau tapi jika sudah matang warnanya kemerahan. ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Basang siap. Ukuran: buah 7-8 x 2. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. warna hijau cerah.

Finlaysonia maritima daun & buah b a a. buah. daun 1573 . b.

diameter buah sekitar 2 cm. siron.514. waru langkong. Berbentuk lonceng. diameter 5-7 cm. berkulit dan permukaan bawah berambut halus dan berwarna agak putih. Juga umum di sepanjang pinggiran sungai di kawasan dataran rendah. dan memiliki biji khas yang berambut. bergerigi. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. kelenjar pengeluar gula seringkali berwarna hitam karena diserang jamur. Manfaat : Ditanam sebagai pohon peneduh di taman. Ujung: meruncing. dengan kepala putik berwarna ungu kecoklatan Membuka menjadi 5 bagian. baru. Kulit kayu halus. waru langit.Hibiscus tiliaceus L. Perbungaan sepanjang tahun. Ukuran: Bunga : Buah : Ekologi : Merupakan tumbuhan khas di sepanjang pantai tropis dan seringkali berasosiasi dengan mangrove. bahu. Daun kadang-kadang digunakan sebagai makanan ternak. Serat kayu digunakan sebagai tali. setidaknya di penyemaian. berwarna cokelat keabu-abuan. waru lenga. Pada daun tua. Kelimpahan : Tersebar luas dan umum. burik-burik. Letak: di ketiak daun. Biji mengapung dan dapat tumbuh meskipun dimasuki air laut. Daun : Agak tipis (jika dibanding Thespesia populnea). kasjanaf. Kelopak bunga: 5. MALVACEAE Nama setempat : Waru laut. wakati. Akarnya digunakan sebagai obat demam. waru lot. kabaru. Perbedaannya dengan Thespesia populnea dirinci pada halaman berikutnya. Saat mekar (sore hari) berwarna kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. Catatan : 4158 . fau. Bentuk: seperti hati. Penyebaran : Di seluruh Indonesia. iwal. waru lengis. lalu keesokan harinya keseluruhan bunga jadi jingga dan rontok. Deskripsi umum : Pohon yang tumbuh tersebar dengan ketinggian hingga mencapai 15 m. Pan-tropis. Penyebaran geografis serta sifat ekologi alami belum diketahui secara pasti. Formasi: soliter atau berkelompok (2-5). Ukuran: 7. Daun mahkota: kuning. molowahu. Dasar dari gagang tandan bunga yang memanjang ditutupi oleh pinak daun yang kemudian akan jatuh dan menyisakan tonjolan berbentung cincin.5 cm. Kayu digunakan sebagai bahan pembuatan bagian dalam perahu (Lombok).5-15 x 7. Tangkai putik: ada 5 (tidak menyatu).

b. buah.Hibiscus tiliaceus daun & bunga pohon b c a d a. c. daun. bunga. d. pohon 1593 .

basah dan berwarna hijau kecoklatan. Bentuk: bulat telur seperti tapak kuda. tapak kuda. Berbentuk kapsul bundar hingga agak datar dengan empat biji berwarna hitam dan berambut rapat. balim-balim. Ujung: membundar membelah (bertakik). Manfaat : Bijinya dilaporkan sebagai obat yang baik untuk sakit perut dan kram. dolodoi. dalere. leleri. Dua anak jenis dikenali oleh beberapa penulis. lalu menguncup setelah lewat tengah hari. wedor. Batang berbentuk bulat. akar tumbuh pada ruas batang. Ukuran: 3-10 x 3-10. loloro. Catatan : 4160 . biasanya di pantai berpasir. Wanita hamil dilarang memakai tanaman obat ini. mari-mari.) Sweet. Berwarna merah muda . Deskripsi umum : Herba tahunan dengan akar yang tebal. Letak bunga: di ketiak daun pada gagang yang panjangnya 3-16 cm. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. wedule. andali arana. sedangkan akarnya sebagai obat sakit gigi dan eksim. katang-katang. watata ruruan. pescaprae yang memiliki cuping daun yang dalam. Bunga membuka penuh sebelum tengah hari. Daun mahkota: berbentuk seperti terompet/corong. tebal. daredei. tilalade. CONVOLVULACEAE Nama setempat : Batata pantai. Formasi: soliter. pes-caprae ssp. daun katang. licin dan mengkilat. Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 600 m. dan I.5 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. kabai-kabai. tati raui. tetapi juga tepat pada garis pantai. biji 6-10 mm. Keduanya terdapat di Indonesia. daun barah. ketepeng. alere. Daun : Tunggal. meskipun anak jenis yang terakhir hanya diketahui dari Sumatera Barat dan Pulau Krakatau.Ipomoea pes-caprae (L. pes-caprae ssp. bulalingo. Ukuran: buah 12-17 mm.ungu dan agak gelap di bagian pangkal bunga. Cairan dari batangnya digunakan untuk mengobati gigitan dan sengatan binatang. diameter pada saat membuka penuh sekitar 10 cm. Kelimpahan : Sangat umum. panjang 3-5 cm. Daunnya untuk obat reumatik/nyeri persendian/pegal-pegal. wasir dan korengan. serta kadang-kadang pada saluran air. Batang panjangnya 5-30 m dan menjalar. daun kacang. brasiliensis yang memiliki takik pada ujung daun. yaitu I.

b. c. bunga. buah. daun 1613 .Ipomoea pes-caprae daun & bunga a c b a.

Akar. Biji kecil sekali berupa bintik-bintik berwarna coklat. Berbentuk kapsul bulat. Tangkai putik: warnanya kuning keputihan. daunnya yang masih muda sebagai sayur/lalab. kemanden Deskripsi umum : Perdu. tinggi sekitar 0. daun dan seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat gangguan pencernaan.5-6. senggani. Biasanya muncul bersama tanaman semak lainnya. Ukuran: 2-20 x 0. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Kelopak bunga: berbentuk tabung dengan bentuk cuping bergerigi 5. pada permukaan daun terdapat tiga tulang daun yang jelas dan memanjang lurus seperti garis (longitudinal) kearah ujung daun. warnyanya hijau hingga hijau kekuningan. Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 1650 m. Ukuran: diameter buah 8-10 mm. diameter saat membuka penuh 4. harendong. panjangnya 8-17 mm.5 – 4 m. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. warna ungu tua kemerahan. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup. disentri basiler. setiap kelompok ada 2-3 bunga. pinggir jalan hingga lereng gunung. lapangan terbuka. wasir berdarah.5 cm. sariawan. kaku. Kelimpahan : Sangat umum. pembekuan dalam pembuluh darah.5 cm. membuka penuh secara horizontal. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia. mimisan. keracunan oleh singkong. jika sudah matang akan merekah dan terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen (bagian). kluruk. diare. Letak: di ujung cabang.75-8. mulai dari pantai yang berlumpur. Don MELASTOMATACEAE Nama setempat : Senduduk. Daun mahkota: jumlahnya 4-18. keputihan. Daun : Tebal. 4162 . tandan dan gagang bunga berwarna hijau kecoklatan. Urat daun menyirip rapat secara lateral. Ujung: meruncing lancip. Manfaat : Buahnya enak dimakan. Warna ungu kemerahan. Formasi: berkelompok.Melastoma candidum D. lahan terlantar. hepatitis. cabangnya banyak. bisul dan memperlancar air susu ibu.

bunga. b. buah. daun 1633 .Melastoma candidum bunga & buah a b c a. c.

radang empedu. Urat daun menyirip kearah pinggiran daun dan tampak sangat jelas. ladang atau ditanam di pekarangan sebagai tanaman sayur atau tanaman obat. Ukuran: 10-40 x 5-17 cm. cacar air. Daun : Tebal. cangkudu. kemudu. daun muda biasa dikukus dan direbus sebagai sayuran atau untuk membungkus ikan. Ukuran: panjang 5-10 cm. disentri. 4164 . RUBIACEAE Nama setempat : Mengkudu. coklat kehitaman dan banyak. pace. Formasi: payung dengan 5-8 bunga. pinggir jalan hingga jauh ke darat. buah. kudu. bakulu.Morinda citrifolia L. lembek dan berair. tekanan darah tinggi. mulai dari pantai berpasir hingga berlumpur. labanau. Daun mahkota: jumlahnya 5. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Deskripsi umum : Perdu atau pohon kecil yang tumbuh membengkok. Di Indonesia banyak ditemukan dari dataran rendah (dekat pesisir pantai). tinggi 3-8 m. Biji kecil-kecil. keumudee. harum dan mudah rontok. neteu.l. eodu. melancarkan kencing. Bentuk: bulat telur hingga elips. sakit pinggang. lengkudu. banyak cabang dengan ranting segi empat. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mulai dari Asia Tropis hingga Polynesia. cacingan. Manfaat : Akarnya untuk mewarnai batik dan anyaman pandan. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup hingga sedikit ternaungi. Tumbuh liar di pantai hingga 500 m d. akar. tibah. warnyanya hijau tua mengkilap. Warna putih. pamarai. sakit lever. Buah muda direbus untuk lalab. Lonjong bulat telur seperti kapsul dan penuh dengan benjolan. sariawan. lapangan terbuka. Ujung: meruncing. Kelimpahan : Sangat umum. Ketika masih mentah berwarna hijau muda. dan yang matang untuk membersihkan karat pada logam atau untuk keramas.p. bunga atau kulit batang tanaman ini dapat juga digunakan sebagai obat batuk. mangkudu. warna putih. wungkudu. bertangkai pendek.bangkudu. dll. hutan. tepi daun rata. buah setengan matang untuk rujak. Letak: di ketiak daun. eoru. ai kombo. lahan terlantar. ketika matang agak kekuningan. sakit perut . daun. Selain itu.

c. daun 1653 . b.Morinda citrifolia buah & bunga b a c a. bunga. buah.

Benangsari: banyak.0 meter. Kelimpahan : Sangat umum.5 – 2. Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Manfaat : Sebagai tanaman hias dan tanaman pagar. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam. terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai. Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai. Formasi: payung. Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya merah. Panjang antara 0. 4166 . Letak: di ujung. PANDANACEAE Nama setempat : pandan. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m.Pandanus odoratissima.

Pandanus odoratissima buah pohon a b a. buah. b. daun 1673 .

Bunganya dimanfaatkan untuk wangi-wangian dan hiasan pada acara pernikahan. Letak: di ujung. 4168 . PANDANACEAE Nama setempat : Pandan. terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai. Formasi: payung. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam. Kelimpahan : Sangat umum.0 meter Warna merah-ungu. Benangsari: banyak. Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya kuning jeruk. Panjang antara 0. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m. Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai.5 – 2. Parkinson ex Z. Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia.Pandanus tectorius. Manfaat : Dapat sebagai tanaman pagar.

Pandanus tectorius buah pohon b a a. pohon 1693 . b. buah.

Warna agak putih hingga ungu muda/pucat.5-3. Di dalam buah banyak dijumpai biji. ceplukan blungsun. Formasi: soliter. diameter hingga 5 cm. Memiliki alat pembelit yang beruntaian seperti spiral. Ukuran: 5-13 x 4-12 cm. putih dan panjangnya dapat melampaui ukuran panjang mahkota bunga. buah pitri. merambat di pagar dan menyenangi lokasi yang mendapat cahaya matahari yang kuat.) LEGUMINOSAE Nama setempat : Gegambo. Letak: di ketiak tangkai daun. kencing berlemak dan pembesaran kelenjar limfa di leher. panjang 1. kaceprek. Buah dibungkus oleh serabut yang berambut banyak. lebar menjari dengan tiga lekukan. tanah lapang terlantar.Passiflora foetida (L. koreng. borok. Daun : Berwarna hijau kekuningan hingga hijau muda mengkilat seperti ada lapisan lilin. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Berasal dari Amerika Tropis dan di Indonesia tumbuh secara liar. Deskripsi umum : Terna merambat. tapi agak sedikit pahit). Ukuran: diameter buah 1. moteti. berambut halus. buahnya enak dimakan (manis seperti markisa. 4170 . Kulit buah hijau jika mentah dan menjadi getas dan kuning ketika matang. lemanas. pacean. kadang agak lonjong. Bulat seperti kelereng. rajutan. remugak. pada bagian tengahnya jauh lebih ungu. permot. Tumbuh liar di dekat pantai berpasir yang bukan rawa. Benang sari: banyak. Manfaat : Daun muda dapat digunakan sebagai sayur.5-5 m. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan.0 cm. Seluruh bagian tanaman juga dapat digunakan sebagai obat batuk. Ujung: meruncing. kileuleur. bertangkai 2-10 cm. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik. bungan pulir. Bentuk: seperti jantung. Kelimpahan : Umum. kaap.

Passiflora foetida buah pohon b a a. buah. daun 1713 . b.

memiliki gagang pendek di atas goresan daun mahkota bunga. Warna buah hijau kecoklatan. Polong berkulit tebal dan berparuh. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik .5-15 cm. dan memiliki goresan yang menyerupai bintil berdekatan dengan pinak daun pada pangkal gagang daun. Tumbuh di pantai berpasir yang bukan rawa. Letak: di ketiak daun. ditutupi oleh rambut yang pendek dan halus serta memiliki gigi tumpul yang sangat pendek. panjang 11-18 mm. Umum ditanam di areal pesisir kawasan tropis karena sifatnya yang tahan terhadap salinitas dan udara yang terbuka. marauwen. Ukuran: 5-22.Pongamia pinnata (L. Formasi: bergerombol secara acak. klengkeng. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian hingga 15 m. 4172 .5 x 2. Daun : Tersusun dalam dua deret. Kadang-kadang ditanam sebagai pohon peneduh di sepanjang jalan. Seperti kacang. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. tangi. Ukuran: 5-7 x 2-3 cm. Gagang bunga berukuran 7-15 mm ditutupi oleh pinak daun yang halus dan berambut pendek. kranji. Unit & Letak: majemuk dan bersilangan. dan kadang-kadang di bagian tepi daratan dari mangrove. Biji beracun untuk manusia. ki pahang laut. Kelopak bunga: berbentuk cangkir. Cabang pada umumnya tidak memiliki rambut atau urat. padat dan memiliki sebuah biji. dengan 3-7 pinak daun yang terletak secara bersilangan. Manfaat : Daun digunakan sebagai makanan ternak. Kelimpahan : Umum. Tersebar luas di Asia Tropis. bangkong. Bunga terletak berpasangan di sepanjang tandan bunga yang panjangnya 6-27 cm. awakal. warna ungu pucat. asawali. panjangnya 4-5 mm. Bentuk: bulat telur hingga elips.) Pierre LEGUMINOSAE Nama setempat : Kacang kayu laut. Ujung: meruncing. Bunga seringkali berubah bentuk menjadi kantung bundar yang bisa dikelirukan dengan buahnya. Polong tidak membuka ketika masak. mengkilat dan warnanya hijau tua.

c. daun 1733 . buah. bunga.Pongamia pinnata daun & buah pohon a b c a a. b.

gangguan jiwa (schizophrenia). EUPHORBIACEAE Nama setempat : Gloah. Ukuran: diameter 10-40 cm. Warna daun hijau tua di permukaan atas dan hijau muda di permukaan bawah. jarak jitun. dulang jai. Kelimpahan : Umum. kilale. Akar jarak tidak tahan terhadap adanya genangan air. kolonyan. urat daunnya rapat dan jelas. kaliki. tetanus. jarak jawa. bisul. Manfaat : Bijinya terasa manis. eksim. lafandru. tanah kosong. Unit & Letak: sederhana tunggal dan bersilangan. kohongiang. alale. epilepsi. malasai. lutur bal. balacai. Bentuk: menjari dengan jumlah jari 7 – 9.Ricinus communis Linn. Tangkai daun panjang berwarna hijau hingga merah bata. pedas. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. luluk. Tumbuh liar di hutan. paku penuai. Daun : Seperti daun singkong. sepanjang pantai atau ditanam sebagai komoditi perkebunan pada ketinggian antara 0 – 800 m dari permukaan laut. TBC kelenjar. bronchitis. ketowang. Akar dipakai sebagai obat rematik. Warna buah hijau dan bergerombol pada tandan yang panjang. kelumpuhan otot muka. netral dan digunakan untuk mengobati kanker mulut rahim dan kulit. koreng dan infeksi jamur. Bentuknya bulat bersegmen (ada 3 segmen) dan berambut (seperti buah rambutan). gatal. Satu tandan dapat berisikan sekitar 30 – 40 buah. jarag. jarak. 4174 . kalalei. dulang. lulang. luka terpukul. kalikih alang. kaleke. paku ton. Majemuk. tapi tepinya bergerigi. Ujung: meruncing. berwarna kuning oranye dan berkelamin satu. Deskripsi umum : Perdu tegak dapat mencapai ketinggian hingga 3 m. Dapat tumbuh di areal yang kurang subur asal pH tanahnya sekitar 6-7 dan drainase airnya baik. Daunnya untuk obat koreng. batuk dan hernia. lana-lana. tetanga.

daun 1753 . buah. b.Ricinus communis pohon bunga & buah a b a.

gegabusan. babakoan. Daun mahkota: putih bersih. Ukuran: 16. lalu menjadi putih ketika sudah matang. Berbentuk kapsul. Manfaat : Tidak tahu. tepinya melengkung dan permukaan daun seperti berlapis lilin. 4176 . Kelimpahan : Tidak diketahui.Scaevola taccada (Gaertn. Letak bunga: di ketiak daun. Ukuran: diameter buah 8-12 mm. Ujung: membundar. Ketika muda berwarna hijau muda. Formasi: mengelompok. Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips. Dijumpai secara soliter di bagian tepi daratan dari mangrove. dapat mencapai ketinggian hingga 3 m.5-30 x 7. berwarna hijau kekuningan dan mengkilat.5-9. bulat. Daun : Melebar kearah atas. Deskripsi umum : Herba rendah/semak/pohon. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. GOODENIACEAE Nama setempat : Bakung-bakung.5 cm. Tangkai Putik: membengkok. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mungkin ditemukan di seluruh Indonesia.) Roxb. sering pada bagian dalamnya terdapat strip/garis berwarna jingga. bako-bakoan. pada tepi pematang yang tidak terkena pengaruh pasang surut atau di daerah yang sistem drainasenya baik dan lokasinya terbuka terhadap cahaya.

daun 1773 . bunga. bunga & buah c a b a. c. b. buah.Scaevola taccada buah & bunga daun.

gelan-pasir. panjang melintang kira-kira 8 mm.5-1. ditemukan di sepanjang pesisir Jawa. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Seringkali ditemukan di sepanjang bagian tepi daratan dari mangrove. Letak bunga: di ketiak daun. saruni air. Juga digunakan sebagai makanan kambing. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan.) L. seringkali memiliki banyak cabang. Kecil. 4178 .5 mm.Sesuvium portulacastrum (L. Deskripsi umum : Herba tahunan. Benangsari: banyak dan 3-4 tangkai putik. Kelimpahan : Tidak diketahui. memiliki tangkai panjangnya 3-15 mm dan tabung panjangnya 3 mm. Panjangnya hingga 1 m dengan batang berwarna merah cerah. Juga ditemukan di pantai berkarang. menjalar.5 cm. pada areal yang secara tidak teratur digenangi oleh pasang surut. bundar dan halus. lumpur dan tanah liat. MOLLUGINACEAE / AIZOACEAE Nama setempat : Gelang (-laut). Daun : Bunga : Tebal berdaging. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. sesepi. panjang 6-9 mm. halus dan ditumbuhi akar pada ruasnya. Ujung: membundar. krokot. halus dan panjangnya 1. warna ungu. Sulawesi dan Sumatera. sepanjang pematang tambak dan kali pasang surut. Ukuran: 2. Bunga diserbuki kumbang kecil pengumpul madu serta ngengat yang terbang siang. Manfaat : Daun dapat dimakan setelah berulangkali dicuci dan dimasak. Substrat tumbuh berupa pasir. Biji tidak mengapung. Buah : Ekologi : Penyebaran : Jenis Pan-tropis. pada hamparan lumpur dan gundukan pasir. Madura. Berbentuk kapsul. Terdapat beberapa biji hitam berbentuk kacang. Formasi: soliter. Daun mahkota: 5 cuping.5-7 x 0.

daun 1793 . buah.Sesuvium portulacastrum pohon c a b a. b. c. bunga.

sekar laru. pembersih darah. Bentuk: bulat telur. ukurannya kecil berwarna ungu kebiruan dan putih. Deskripsi umum : Terna tahunan. Kelimpahan : Tidak diketahui. Daun : Permukaan daun kasar dan guratan – guratan / lekukan di permukaannya tampak jelas. jarongan. datang haid tidak teratur. Dijumpai pada pematang tambak.Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. keputihan dan hepatitis A.0-3. jarong. Manfaat : Sering dipelihara sebagai tanaman pagar hidup karena memiliki manfaat sebagai bahan obat-obatan. remek getih. Ukuran: 2.5-6 x 1. tepi bergerigi. jarong lalaki. ngadi rengga. sakit tenggorokan. Ujung: meruncing. laler mengeng. Bunga : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. ki meurit beureum. biron. 4180 . tinggi mencapai 1 meter. Letak: di ketiak daun. Formasi: bulir pada tandan yang panjang. pada lokasi terbuka dan kering serta mendapat pencahayaan matahari yang kuat. reumatik. Bunga mekar tidak serentak.5 cm. tidak berambut. Terdapat pada tandan yang panjangnya mencapai 4-20 cm seperti pecut. tumbuh tegak terburai ke samping membentuk semak. VERBENACEAE Nama setempat : Pecut kuda. rumjarum. bunga duduk tanpa tangkai. hamparan lahan yang terbengkalai. misalnya untuk mengobati infeksi dan adanya batu pada saluran kencing.

daun 1813 . b.Stachytarpheta jamaicensis pohon a b a. bunga.

Tandan bunga (panjangnya 8-16 cm) ditutupi oleh rambut yang halus. tiliho. Tumbuh di pantai berpasir atau berkarang dan bagian tepi daratan dari mangrove hingga jauh ke darat. tetapi agak jarang di Sumatera dan Kalimantan. biasanya dua kali setahun (di Jawa pada bulan Januari atau Februari dan Juli atau Agustus). Bunga berwarna putih atau hijau pucat dan tidak bergagang. Tumbuh di bagian tropis Asia. lisa. Ukuran: 825 x 5-14 cm (kadang panjangnya sampai 30 cm). kilaula. tasi.5 cm. Cabang muda tebal dan ditutupi dengan rapat oleh rambut yang kemudian akan rontok. ketapas. luumpoyang. sehingga kanopi pohon tampak berwarna merah. digunakan sebagai bahan bangunan dan pembuatan perahu. suatu kondisi yang terutama terlihat jelas pada pohon yang masih muda. Daun : Sangat lebar. dumpajang. Daun berubah menjadi merah muda atau merah beberapa saat sebelum rontok.Terminalia catappa L. sirisal. dengan atau tanpa tangkai putik yang pendek. Formasi: bulir. Ujung: membundar. seringkali mendominasi vegetasi pantai. Biji buahnya dapat dimakan dan mengandung minyak yang berlemak dan bening. sabrise. Kelopak bunga: halus di bagian dalam. Bentuk: bulat telur terbalik. sarisa. klihi. Mahkota pohon berlapis secara horizontal. beowa. Kelimpahan : Umum. kemudian berubah menjadi merah tua. Kayu berwarna merah dan memiliki kualitas yang baik. lisa. Manfaat : Sering ditanam sebagai pohon peneduh jalanan. Deskripsi umum : Pohon meluruh dengan ketinggian 10-35 m. Letak: di ketiak daun. Sebagian besar dari bunga merupakan bunga jantan. Pohon menggugurkan daunnya (ketika warnanya berubah merah) sekali waktu. sadina. Kulit buah berwarna hijau hingga hijau kekuningan (mengkilat) di bagian tengahnya. 4182 . Ukuran 5-7 cm x 4x5. Bersabut dan cangkangnya sangat keras. Unit & Letak: s e d e r h a n a dan bersilangan. wewa. umumnya memiliki 6-9 pasang urat yang jaraknya berjauhan. Tanin digunakan untuk mengatasi disentri serta untuk penyamakan kulit. Penampilan seperti buah almond. indian or singapore almond. Daun kerap digunakan untuk mengobati reumatik. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia. dengan sebuah kelenjar terletak pada salah satu bagian dasar dari urat tengah. Sebarannya sangat luas. Penyebaran buah dilakukan melalui air atau oleh kelelawar pemakan buah. Australia Utara dan Polinesia. klis. sarisei. talisei. COMBRETACEAE Nama setempat : Ketapang.

c. b. bunga & buah pohon a c b a. bunga. daun 1833 . buah.Terminalia catappa daun.

Berbentuk lonceng.5-4. Daun dan buah digunakan sebagai obat. berwarna kuning dan ujungnya tumpul. Tumbuh di pantai.5 cm. Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. Terdapat 3-8 pinak daun di bagian luar kelopak bunga. Bentuk: seperti hati. Terdapat 3-4 biji pada setiap ruang/segmen buah yang padat ditutupi oleh rambut pendek . Pada masa lalu kulit kayu digunakan sebagai bahan serat. Ujung: meruncing. Tangkai putik menyatu. Kelimpahan : Umum. Perbedaan antara Hibiscus tiliaceus dengan Thespesia populnea adalah sbb: Bagian tanaman Daun kelopak bunga Daun muda Urat utama pada daun Urat coklat pada daun muda Buah siap membuka di pohon Hibiscus tiliaceus bercuping 5 biasanya terdapat 9-11 tidak terdapat ya Thespesia populnea tidak bercuping tidak terdapat 7 terdapat tidak 4184 . Ukuran: 7-24 x 5-16 cm. di pematang-pematang tambak dan bagian tepi daratan dari mangrove. kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. diameter 2. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan.) Soland. Buah seperti bola dan bersegmen. waru lot. Bunga berisi cairan seperti susu berwarna kuning yang kemudian akan berubah menjadi merah. waru pantai. ex Correa MALVACEAE Nama setempat : Waru laut.Thespesia populnea (L. di seluruh Indonesia. Manfaat : Catatan : Kayunya ringan. berkulit dan permukaannya halus. Daun : Bunga : Tebal. salimuli. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian 2-10 m. Bakal buah juga memiliki cairan berwarna kuning.

bunga.Thespesia populnea daun & bunga a c b a. daun 1853 . b. c. buah.

Cairan yang diambil dari daunnya dapat digunakan untuk mengobati sakit perut atau digunakan untuk ibu yang baru bersalin. Digunakan sebagai tumbuhan penutup tanah di perkebunan dengan tujuan untuk menghindari erosi serta mencegah kehilangan air.5 cm. Memiliki kekhasan berupa bunga komposit dengan delapan “daun mahkota” (sesungguhnya adalah bunga terpisah berbentuk seperti bendera) dan cakram bunga (betina). Kadang-kadang ditanam. dengan gagang daun panjangnya 0. seruni. ASTERACEAE Nama setempat : Sernai. Manfaat : Daunnya memiliki kepentingan untuk obat. Deskripsi umum : Ferna tahunan. 4186 . Dapat juga tumbuh di perkebunan kelapa. seremai.5-5 m dengan batang yang kurus. pinggir sungai dan hutan sekunder. Bentuk: bulat telur. Mengobati luka terpotong atau terkena gigitan. Tumbuh terutama sepanjang atau dekat pantai. Akar digunakan untuk obat penyakit kelamin.) DC. ditutupi oleh rambut. bunga batang.5-4 cm. Ukuran: 3-17 x 1-12 cm. panjang 1.5-2. sawah kering. Letak: bersilangan. pada pantai berpasir dan pinggiran mangrove. serunai laut. berwarna kuning cerah. Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Kepala bunga biasanya soliter. Daun : Bunga : Tepi daun bergerigi. terletak pada bagian atas ketiak bunga atau kadang-kadang dalam pasangan.Wedelia biflora (L. Dari Afrika Timur hingga Kepulauan Pasifik. berjumlah 20-30. Gagang bunga panjangnya 1-7 cm. Kelimpahan : Umum di mangrove. Beberapa rambut tumbuh pada kedua sisi permukaan daun dan pada batang. pokok serunai. diameter 1. terutama untuk penggunaan luar.

Wedelia biflora daun & bunga a a b a. b. daun 1873 . bunga.

1893

Lampiran 1.

Jenis mangrove, nama lain/sinonim, sumber gambar dan foto, yang tercantum atau dipakai dalam buku panduan ini.
S I N O N I M

JENIS MANGROVE

MANGROVE SEJATI: Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis Bruguiera cylindrica A. intermedia, A. mindanaense A. tomentosa B. caryophylloides, B. malabarica, Mangium minus, M. caryophylloies, Rhizophora cylindrica, R. caryophylloides, R. ceratophylloides, Kanilia caryophylloides Loranthus obovatus Loranthus mackayensis, Amyema cycnei-sinus, L. cycneisinus, A. mackayense ssp. cycnei-sinus A. marina var. alba A. officinalis var eucalyptifolia A. neo-guineensis Chrysodium aureum, C. inaequale, C. vulgare, Acrostichum spectabile, A. inaequale, A. obliquum Chrysodium speciosum Aegialites annulata A. majus, A. fragrans A. nigricans

Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza B. capensis, B. conjugata, B. cylindrica, B. gymnorrhiza, B. rheedii, B. rhumpii,B. wightii, B. zippelii, Mangiumcelsum, M. minus, Rhizophora gymnorrhiza, R. palun, R. rheedii, R. tinctoria Rhizophora caryophylloides

Bruguiera hainessii

4190

SUMBER GAMBAR

SUMBER FOTO

Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Piggott (1988), Holttum (1954), dan material hidup Wightman (1988) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Specimen herbarium Herbarium Bogor Danser (1931) Barlow dalam Henty (1981) Wahyu Gumelar Percival & Womersley

Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley & Nyoman Suryadiputra (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Silvius, M. Kitamura et. al. (1997)

Percival & Womersley (1975), Tomlinson (1986), Wightman (1989) Wahyu Gumelar Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

Jennifer Dudley (1999) Hidayat (1999) Kitamura et. al. (1997)

Ding Hou (1958), Wightman (1989) Ding Hou (1958), Tomlinson (1986), Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra

Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

1913

JENIS MANGROVE

S I N O N I M

Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula

B. ritchiei, Rhizophora parviflora, R. cylinrica, Kanilia parviflora B. eriopetala, B. sexangularis, B. australis, B. parietosa, B. angulata, B. oxyphylla, B. malabarica, B. cylindrica, Mangium digitatum, Rhizophora sexangula, R. polyandra, R. plicata, R. australis, R. eriopetala Neesia altissima, Cumingia philippinensis C. aruense C. roxbhurgiana, C. zippeliana, Bruguiera decandra, Rhizophora gromerulata, R. decandra C. candolleana, C. pauciflora, C. forsteniana, C. boviniana, C. lucida, C. timoriensis, C. somalensis, Rhizophora tagal, R. timoriensis, R. candel Stillingia agallocha Dicerolepis paludosa

Camptostemon philippinense Camptostemon schultzii Ceriops decandra Ceriops tagal

Excoecaria agallocha Gymnanthera paludosa Heritiera globosa Heritiera littoralis Kandelia candel Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phemphis acidula Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sarcolobus globosa

H. minor, Balanopteris minor, B. tothila Rhizophora candel, K. rheedei L. coccinea, Problastes cuneifolia, Pyrrhantus littoreus, Laguncularia purpurea L. racemosa, Languncularia rosea, Lumnitzera rosea, Petaloma alba, L. racemosa var. pubescens N. fructicans

Mangium candelarium, R. mangle, R. candelaria, R. conjugata R. mangle, R. macrorrhiza, R. longissima,R. latifolia, R. mucronata var. typica R. mucronata var. stylosa S. banksii

4192

Tomlinson (1986). al. Tomlinson (1986). Wightman (1989) Polunin (1988) Tomlinson (1986). Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Wendy Suryadiputra (1999). (1997) Kitamura et. Hidayat (1999) Hidayat (1999). (1997) Bakhuizen van den Brink (1924) Percival & Womersley (1975). al. Kitamura et. Kitamura et. Percival & Womersley (1975). al. (1997) 1933 .SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Ding Hou (1958).al (1997). Kitamura (1997) Kitamura et. Hidayat (1999). al. Tomlinson (1986). Tomlinson (1986) Ding Hou (1958). Tomlinson (1986). Wightman (1989) Hidayat (1999) I Nyoman Suryadiputra Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Kostermans (1959) Kostermans (1959). al. al. Wightman (1989) Ding Hou (1958). M. (1997) Jennifer Dudley (1999). Tomlinson (1986). Wightman (1989) Kitamura et. Wightman (1989) Ding Hou (1958). Kitamura et. Tomlinson (1986). al. (1997) Silvius. Jennifer Dudley Hidayat (1999) Kitamura et. Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra (1999). Wightman (1989) Ding Hou (1958). Wightman (1989) Ding Hou (1958). Kitamura et. (1997) Hidayat (1999) Hidayat (1999). Tomlinson (1986). Tomlinson (1986) Ding Hou (1958) Percival & Womersley (1975) Exell (1954). (1997) Ding Hou (1958). Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999).

C. brasiliensis. caseolaris. Mangium caseolare rubrum. uliginosa. iriomotensis. S. mossambicensis. palyanthum D. pagatpat. S. rubra I.JENIS MANGROVE Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S I N O N I M H. I. Mangium caseolare album. M. rubra. acida. Ixora manila. evenia. griffithii. Dalbergia heterophylla C. C. I. C. S. M. B. C. maritimus. heterophylla. granatum Xylocarpus australasicus Carapa moluccensis Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii MANGROVE IKUTAN: Barringtonia asiatica Callophyllum inophyllum Calotropis gigantea Cerbera manghas Clerodendrum inerme Derris trifoliata Finlaysonia maritima Hibiscus tiliaceus Ipomoea pes-caprae Novella repens. obovata. S. B. Soldanella marina indica. Balanopteris minor. hydrophylacea S. biloba. tothila. D. ovalis. pes-caprae. Convolvulus bilobatus. S. N. C. Aubletia caseolaris. lanceolata.Rhizophora caseolaris Chiratia leucantha. neglecta. lactaria B. minor. maritima. brasiliensis. maritima. S. S. S. M. malabathricum. S. affine. S. Rhizophora caseolaris. speciosa Melastoma candidum Morinda citrifolia Pandanus odoratissima 4194 . alba Carapa abovate. S. Blatti caseolaris. pagatpat S. S.

Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951).SUMBER GAMBAR Tomlinson (1986). van Ooststroom (1953) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999) 1953 . Corner (1988). Wightman (1989) Backer (1918). Kitamura et. Polunin (1988) Tomlinson (1986) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999) The Common Littoral Plants of Taiwan I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley (1999) Icones Rijksherbarium Leiden I Nyoman Suryadiputra & Hidayat (1999) Hidayat (1999) Tomlinson (1986). Wightman (1989) SUMBER FOTO Hidayat (1999) Wendy Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999). Tomlinson (1986). Wightman (1989) Wightman (1989) Walker (1976) Walker (1976) Wim Giesen I Nyoman Suryadiputra Hidayat (1999) Kitamura (1997) Keng (1987). al. Tomlinson (1986). (1997) Backer & van Steenis (1951) Tomlinson (1986). Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951).

catappa var. S. S. Croton spinosa L. speciosus. urticifolia. S. T. Pyxipoma polyandrum. S. villosa. Myrobalanus catappa T. macrophylla. T. macrocarpa. Verbena indica. latifoilia. dan chlorocarpa. marginata.JENIS MANGROVE S I N O N I M Pandanus tectorius Passiflora foetida Pongamia pinnata Ricinus communis Scaevola taccada Sesuvium portulacastrum Stachytarpheta jamaicensis Terminalia catappa Crithmus indicus. Bupariti populnea W. Trianthema polyandrum. R. T. rhodocarpa. polyandrum. moluccana. Portulaca portulacastrum. glabrata P. R. pilosiuscula. S. repens. S. inermis. mauritiana. viridis. jamaicensis T. glabra R. V. Thespesia populnea Wedelia biflora 4196 .

SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Tomlinson (1986) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wightman (1989) Kitamura et. Wightman (1989) Material hidup I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) 1973 . al. (1997) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Tomlinson (1986).

Lampiran 2. racemosa Sonneratia ovata Excoecaria agallocha Backer (1918) Backer & van Steenis (1951) Bakhuizen van den Brink Baltzer & Baruadi (1991) Burkill (1935) Corner (1988) Danser (1931) Ding Hou (1958) Excell (1954) Giesen (1991) Giesen & Rudyanto (1994) 4198 . A. B. officinalis. Gymnanthera paludosa. exaristata. Wedelia biflora. Ceriops decandra. Sarcolobus globosa. ilicifolius. Avicennia eucalyptifolia. parviflora. L. C. Xylocarpus granatum. Rhizophora apiculata. A. floridum. B. schultzii Xylocarpus granatum Wedelia biflora. B. tagal. moluccensis. Nypa fruticans. R. ovata Camptostemon philippinense. S. sexangula. Acanthus ilicifolius Barringtonia asiatica Amyema gravis. Hibiscus tiliaceus. mucronata. Kandelia candel. B. S. tagal. Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Sonneratia alba. Derris trifoliata. caseolaris. parviflora. R. Sesuvium portulacastrum. DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Airy Shaw (1975) Backer & Bakhuizen van den Brink (1963-8) Excoecaria agallocha Avicennia alba. A. C. gymnorrhiza. stylosa Terminalia catappa. racemosa. Pongamia pinnata. Cerbera manghas. Calophyllum inophyllum.C. hainessii. Osbornia octodonta. B. Aegiceras corniculatum. Terminalia catappa. Heritiera littoralis. sexangula. Aegiceras corniculatum. marina. anisomeres Bruguiera cylindrica. R. Scyphiphora hydrophyllacea. Lumnitzera littorea. B. Kandelia candel. caseolaris. B. Acanthus ebracteatus. marina. B. Lumnitzera littorea. Bruguiera cylindrica. S. Rhizophora apiculata. officinalis. L. R. A. gymnorrhiza. A. S. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Sonneratia alba. A.stylosa. Ceriops decandra. Xylocarpus granatum. mucronata. Aegialitis annulata. ovata. Excoearia agallocha. X. Thespesia populnea. A.

Excoecaria agallocha. Avicennia alba.Sonneratia alba. Xylocarpus rumphii Acrostichum aureum. Calophyllum inophyllum. Sonneratia alba. al (1997) Kostermans (1959) Percival & Womersley (1975) Perray & Metzger (1980) Piggott (1988) Polunin (1988) Prakash & Lim (1995) Said (1990) 1993 . stylosa. Heritiera littoralis. Acrostichum aureum. S. S. Derris trifoliata. Acanthus ilicifolius. Heritiera littoralis. mucronata. A. Ipomoea pescaprae. Rhizophora apiculata. littoralis Avicennia alba. Sesuvium portulacastrum. moluccensis. Thespesia populnea. eucalyptifolia. Finlaysonia maritima. Excoearia agallocha. officinalis. Bruguiera cylindrica. Camptostemon schultzii. caseolaris. Aegiceras corniculatum. Aegiceras corniculatum. Osbornia octodonta. Ceriops decandra.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Giesen & Sukotjo ( 1991) Henty (1981) Heyne (1950) Excoecaria agallocha Amyema mackayense Barringtonia asiatica. Scaevola taccada Heritiera globosa. Scyphiphora hydrophyllacea. A. R. Nypa fruticans Wedelia biflora Acrostichum aureum Barringtonia asiatica Aegialitis annulata Avicennia officinalis. R. marina. A. caseolaris. C. Aegialitis annulata. tagal. H. officinalis. Scyphiphora hydrophyllacea. Hibiscus tiliaceus. Xylocarpus granatum. Thespesia populnea Holttum (1966) Johnstone & Frodin (1982) Kitamura et. ovata. Kandelia candel. A. S. X. A. Cerbera manghas. Excoearia agallocha. A. Pandanus tectorius. Cerbera manghas. marina. speciosum Avicennia eucalyptifolia Calotropis gigantea. Cerbera manghas.

Aegiceras corniculatum. Camptostemon schultzii. Cerbera manghas. speciosum Barringtonia asiatica Van Osststroom (1953) Van Steenis (1936) Watson (1928) Whitemore. mucronata. floridum. Melastoma candidum. caseolaris. tagal. Aegiceras corniculatum. C. tagal. R. Sesuvium portulacastrum. Rhizophora apiculata. X. Acanthus ebracteatus. C. Bruguiera exaristata. Tantra & Sutisna (1990) Whitmore (1972) Wightman (1989) Calophyllum inophyllum Avicennia marina. Scyphiphora hydrophyllacea. mekongensis. Lumnitzera littorea. stylosa. sexangula. H. Acrostichum aureum. Thespesia pupulnea.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Tomlinson (1986) Avicennia alba. schultzii. A. racemosa. Bruguiera cylindrica. H. Xylocarpus granatum. ovata. Ceriops decandra. B. Acrostichum aureum. Derris trifoliata. S. B. officinalis. mekongensis. moluccensis. Thespesia populnea. Osbornia octodonta. Aegialitis annulata. Sonneratia alba. (1992) 4200 . Sonneratia alba. Scyphiphora hydrophyllacea. marina. A. R. Derris trifoliata. X. B. Camptostostemon philippinense. Nypa fruticans Ipomoea pes-capre. ilicifolius. Heritiera Globosa. littoralis. Calophyllum inophyllum. parviflora. Rhizophora apiculata. S. officinalis. R. Osbornia octodonta. parviflora. ilicifolius. B. eucalyptifolia. stylosa. C. A. Hibiscus tiliaceus. speciosum. A. gymnorrhiza. hainessii. Ceriops decandra.al. B. L. A. Aegialitis annulata. gymnorrhiza. A. A. X. Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Osbornia octodonta. B. Aegialitis annulata Acanthus ebracteatus. mucronata. Ricinus communis. et. Stachytarpheta jamaicensis Wijayakusuma. sexangula. Xylocarpus granatum. Excoearia agallocha. Pongamia pinnata. B. Hibiscus tiliaceus. Acrostichum speciosum. A. R. A.

Bogor. Hydrobiologia. seri III vol. 1988. Statistik Indonesia. 241-257. 141-151.G. Thailand. Ocean & Shoreline Management. C. S.P. C.A. West Kalimantan. 1990. Hal. South Sumatra. The Social Consequences of Tropical Shrimp Mariculture Development. A Report on The Wetland Avifauna of South Sulawesi. 1998. Indonesian Ornithological Society. Jakarta. K. Indonesia. R. 2013 . IUCN. IUCN Wetlands Programme. 1984.A. 1994. Japan. 1988. The Occurrence of Crustaceans in the Tanjung Bungin Mangrove Forest. N. Sonneratiaceae. 1992. Kukila.G. 1994. 1988. S. Bogor. 1990.DAFTAR PUSTAKA Abdulhadi. Bakhuizen van den Brink. Dalam Biological System of Mangroves. 83 hal.C. 285: 249-255. AWB-Indonesia. The Remnant Mangroves of Sei Kecil. Bailey. 3 Volumes. Backer. 5: 27-55. Leiden. Biro Pusat Statistik. Baltzer. Bangkok. The Netherlands. Noordhoff. Andrew. & Suhardjono. Hal. Ehime University. 1990. Backer. Proposed Wetland Conservation Areas: New & Extensions of Existing Reserves. Indonesia. Jakarta. AWB-Indonesia/PHPA. V. 4: 286-289. Dalam Simposium on Mangrove Management: Its Ecological and Economic Consideration. M. Toro. Sukristiyono & V. Andrew. Abe. I. 1963-1968. 1921. C. Indonesia. The Terrestrial Mangroves Birds of Java. Simpang Hilir. Flora Malesiana. Statistik Indonesia.. Ballen. Bangkok. Arboreal Arthropod Community of Mangrove Forest in Halmahera. Aksornkoae. 1993. Thailand. A checklist (Peters’ Sequence). Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment: Restoration & Management. P. & C.V. S. Ecology and Management of Mangroves. Bakhuizen van den Brink. Dalam Bulletin du Jardin Botanique Buitenzorg.III. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. Jakarta. Ecology & Management of Mangrove. IUCN. P. & R.J. Flora of Java. 11: 31-44. 176 hal. The Birds of Indonesia. R. 1951. Ser. Biro Pusat Statistik. Adiwiryono. Revisio Generis Avicenniae. van Steenis.C.

V.Progress Series. Management of Mangrove Exploitation in Indonesia. 1922. 1984. 29: 344-373. Chapman. August 26-30.S. V. Malaysia. The Molluscan Fauna in Reef Associated Mangrove Forests in Elpaputih and Wallale.G. Botanical Surveys in Mangrove Communities. Chapman. 1988. Bunt. Ecol. 1976a. Ipoh. Budiman. M. Univ. editor.H. Tectona. 1981. 428 hal. Boon. Burbridge.J. Dalam The mangrove Ecosystem: Research Methods. Chapman. Elsevier Scientific Publishing Company. Chapman. hal. A Study on Mangrove Fish at Handeuleum Group and Panaitan Island of Ujung Kulon National Park. Hal 10911095. Austr. 740-760. 447 hal. A. Burhanuddin. Mangrove Vegetation. Hal. 2 volume. Williams. 173182. 49-57. & W. & Koesoebiono. L. 251-258.J. Ecosystems of the World: 1.W. Paris. Ceram. Vegetational Relationships in The Mangroves of Tropical Australia. 2402 hal. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment. 1936. Cramer. Ecology and Behaviour of Benthic Fauna. Wet Coastal Ecosystems.J. Dalam Biological System of Mangroves. 1993. Indonesia. The Environment and Geomorphology of Deltaic Sedimentation (some examples from Indonesia) Trop. 1980. D. Crabs and Molluscs #2: Ecological Distribution of Molluscs.Becking J. P. Vloed. benevens eenige opmerkingen omtrent de samenstelling der terplaatse voorkomende moerasbosschen. Marine Ecology . 1991.J. J. Japan. London.H.A. 1976b. V. Pergamon Press. Dev. Hal.. Hal. 1. J. Darwin. A.of mangrovebosschen in Ned. Monograph on Oceanological Methodology 8. Dalam Tectona XV. 1985. 292 hal. J. Coastal Vegetation. Valduz.R. 4202 . Burkill. 1935. De inrichting van de voor exploitatie in aanmerking komende bosschen in de afdeeling Bengkalis. Hal.. Mangrove Monograph No.-Indië. 4: 349-359. Crown Agents for the Colonies. Budiman. UNESCO. Ehime University. V.T. 1980. Meindersma. 53-80. 1977. den Berger & H. Dalam Prosiding Lokakarya Mangrove Fisheries and Connections. A Dictionary of The Economic Products of the Malay Peninsula. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. Chambers. Nat. I.

Jawa Tengah.C. Verheugt. H. Bogor. J. Flora Malesiana. 1984. Het een en ander over de Tjilatjap’sche vloedbosschen. PHPA. 16: 155-160. Indonesia. Danielsen. Hydrobiologia. 285: 237-247. A. Ser. B. 1997.. Departemen Pertanian. Departemen Kehutanan. Statistik Perikanan Statistik Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan. Wetlands for the America’s. Skov. N. 1972. F. J. J. Silvius.T. J. 1991. & G. Delsman. XI: 233-519. Prolongued Inundation and Ecological Changes in An Avicennia Mangrove: Implications for Conservation and Management. Bogor. Duke. Bull. 2033 . 5: 429-493. Asian Wetland Bureau. S. Telaah Ekologis Kelimpahan Juwana Udang Jerbung (Penaeus merquiensis de Haan) di Perairan Sekitar Mangrove Sungai Donan. 1993. Tectona 24: 39-76. Ser. PPLH-UNSRI and the Danish Ornithological Society. Observations on The Floral and Vegetative Phenologies of North-eastern Australian Mangroves. III vol. Cilacap. 1991. Jakarta. 210 hal. Departemen Pertanian..S. Aust. Jakarta. 1958. J. Jakarta Ding Hou. F. 1931.E. Jakarta. Booth. 32: 87-99. de Buiten zorg. De Tropische Natuur. Integrating Conservation With Land-use Planning in The Coastal Region of South Sumatra. 1991. F. 1997. OEC. Williams. Jard.H. Indonesia. The Potential for Wetlands to Support and Maintain Development. 1994. & H. Purwoko. 1931. Waterbird Study Results From South East Sumatra.Choy. Bot. Direktorat Jenderal Perikanan. M. Bull. Danielsen. International Waterfowl & Wetlands Research Bureau. 3: 8-11.C. 1987. Danielsen. A. 1990. de Haan. Indonesia. Breeding habitat of Milky Stork Mycteria cinerea in South Sumatera Indonesia. Djamali. Hal 175. AWB. The Loranthaceae of the Netherlands Indies. 45 hal. & W. Claridge. Radjoengans. Verheugt. M. H. Bunt & W. Rhizophoraceae. Dalam Prosiding Seminar IV Ekosistem Mangrove. Skov & W.I. Wetland Benefits. H. & W.. J. Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove di Indonesia. Danser.C. Davies. Bot.

PHPA/ AWB. 1157-1161. Foo.Duke. van Balen & E. 1991a. W. Erftemeijer. Verheugt. H. The Importance of Segara Anakan for Nature Conservation. P. Hal. Over mangrove Culturen. J. 1984: 663-671. Altenburg. 92 hal.L. C. 1994. 1980. Fiselier. A. 151 hal. S.I. 119 hal. Tiger Data in Wetland Data Base and a Recommendation to Enhance the Chances of Tiger Survival. Lokakarya Harimau Sumatera. Nipa Swamp .A Neglected Mangrove Resource. A.S.T. Dalam Tropical Ecology & Development. Erftemeijer.C.J. the Netherlands.M. Bogor. 22-26 November 1992. N. 45 hal. Danielsen. H. 1992. 1984... PHPA. Living off the Tides. Bogor. F. Combretaceae. Environmental Database on Wetland Interventions (EDWIN). West Sumatra. Exell. Kadarisman. & J. 59 hal. PHPA-AWB/ INTERWADER. hal. D. Djuharsa. 4: 533-589. Wilkinson & V. P. Preliminary Resource Inventory of Bintuni Bay and Recommendations for Conservation and Management. Management and Utilization of Mangroves in Asia and the Pacific. G. Mangrove Floristics and Biogeography. Fernandes. W. East Java (Indonesia). Bab 4..W. Indonesia. Townsville. S. Djuharsa. Australian Institute of Marince Science. Int.. 1989.W.Restoration & Management. Giesen. Frazier. Allen & Zuwendra. Mangrove Swamp and Fisheries in Sabah. AWB/INTERWADER & Catholic University of Nijmegen. 1934. 299303. 368 hal. 6.. G. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment .T. Laporan No. Dalam Tropical Mangrove Ecosystems (Volume 41). Hal. Kuala Lumpur. 1982. Ser. 63-100. Bogor. Survey Manual for Tropical Marine Resources. van den Top. Riau (Pulau Bakung. 1992. Wong. Indonesia. Baker. Indonesia. W. Erftemeijer. 1988. Spaans. Centre for Environmental Studies. Rome.A. Padang. Trop. F. B. Purwoko. Soc.A.O. Fong. Skov & R. 4204 . Ecol. Baal. Australia. FAO Environment Paper 3. With Special Reference to Its Avifauna. Indonesia. F. A. Survey of Coastal Wetlands and Waterbirds in the Brantas and Solo Deltas. 1954. English. Pulau Basu).M. Flora Malesiana. 1990. F. Bogor. Dalam Tectona XXVII. 1988. Bakung Island. P. 11. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. Leiden. & E.

Giesen. Giesen. Indonesia. & Rudyanto. W. editor. 7-10 April 1993.. W. 240 hal. 10. W. 2053 . Baltzer & R. Groombridge. Sumatra. B. Integrating Conservation with Land-use Development in Wetlands of South Sulawesi. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetlands No. 1986. 1993.B. Status of the Earth’s Living Resources. Giesen. 1989. Mass Feeding of Dog-faced Water Snakes (Cerberus rhynchops) on Sumatran Mudflats. M.L. 1991. 7 April 1994. Bogor. Peranan Berang-berang Bagi Manusia. Ti. S. 1991. 46: 265-266. Dalam Prosiding Simposium Pertama mengenai Berang-berang di Indonesia. Observations on Acid Runoff and Iron in Brackishwater Fishponds. & B. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. W. Giesen. 585 hal. Bogor. van Balen. Malayan Nature Journal. 257-265. 14 hal. Hutan Bakau Pantai Timur Nature Reserve. Chapman & Hall. W. Perubahan Habitat Lahan Basah di Kepulauan Sunda Besar dan Implikasinya terhadap Keragaman Hayati [Habitat Changes in Wetlands of the Greater Sunda’s and Implications for Biodiversity]. 45-55. & T. E. 1991. 1992. Satonda Island. Several Short Surveys of Sumatran Wetlands. 17 hal. Giesen. 48 hal. Dalam prosiding simposium Mangrove Management: its Ecological and Economic Considerations. R. Government of Papua New Guinea. Giesen. Notes and Observations. Mangrove Soils of Indonesia. Handbooks of the Flora of Papua New Guinea. 1994. August 9-11. Min. of Agriculture. Department of Fisheries. Bogor. 17. Karang Gading-Langkat Timur Laut Wildlife Reserve (North Sumatra). Sumbawa. 98 hal. Hal. Bogor. & Sukotjo. 1981. Baruadi. Dalam Seminar “Coastal Zone Management of Small Island Ecosystems”. 1988. 1994. Volume II. Henty. PHPA/AWB-Indonesia. editor. Giesen. W. Publikasi PHPA/AWB. Bogor. W. Global Biodiversity. 34 hal. Bogor. Lae. 26. 1993. W.Giesen. PHPA / AWB. Indonesia’s Mangroves: An Update on Remaining Area and Main Management Issues. 10 hal. Hardjowigeno. 1991. Problems and Implications.E. Hal. Ambon. Hassan. and Its Unique Stromatolites. Jambi. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No.

1997. 1989.G.L. Pengenalan Jenis Pohon Mangrove di Teluk Bintuni.J. Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove.185. Kint.J. Baba. Irian Jaya. Indonesia). #1: Floristic Composition and Stand Structure. 124 hal. 1999. Ogino. 182 hal. with Special Reference to Indonesia. Panduan Teknis Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat. 206 hal. Metoda Survey Vegetasi.Hilmi. Kusmana. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. Jakarta. Tesis Program Pasca Sarjana IPB. 85-96. 1993. JICA & ISME.M. Prawiroatmodjo. Tat-Mong. 1984. & A.F. Moriya. Bogor. IPB Press. Forest as an Ecosystem. Agricultural University of Wageningen. Biotropica. Tropical Press. Kusmana & Suhendra. 11-13 September 1993. Its Structure and Function. Chaniago & S. 1997. Wetlands International – Indonesia Programme. Tomi & K. H. A. Jiménez. Kuala Lumpur. Tree Mortality in Mangrove Forests. Studi lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta. 4: 256-62. PhD thesis. C.A. Kusmana. F. Japan. Keng. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. the Netherlands. Fascinating Snakes of Southeast Asia . & M. 1959. 1997.. T. UNESCO Regional Office for Science & Technology for Southeast Asia. 1997. in Indonesia. Kasry. A. Jakarta. Miyabara. (Sterculiaceae).. J. Bali & Lombok. S. P. (tidak dipublikasikan) Hommel. Dalam Biological System of Mangroves. Pengelolaan Hutan DAS Rokan . Kapal Kerinci. Ehime University. Komiyama. C & Onrizal. 1934. 1988. 23: 173-189. Kostermans. Monograph of the Genus Heritiera Aitn. Anwar. 1984. A. & T. De Tropische Natuur. Hal. Coastal Zone Resource Development and Conservation in Southeast Asia.A. 1985. 17: 177. Bogor.L. IPB Press. Landscape-ecology of Ujung Kulon (West Java. A. Bogor.L. S. De luchtfoto en de topografische terreingesteldheid in de mangrove. 4206 .E. 47 hal. Lugo. M. Reinwardtia.An Introduction. Hal 41. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup.W. A. Khazali. Bogor. C.Hutan Mangrove Kabupaten Bengkalis dan Kemunduran Perikanan di Bagan Siapi-api dan Sekitarnya. 1987. Handbook of Mangroves Knox. Prosiding Lokakarya Pemantapan Strategi Pengelolaan Lingkungan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua. C.. Kitamura. G.

Jakarta. M. Jakarta. 2073 . Ecology and Productivity of Malaysian Mangrove Crab Populations (Decapoda: Brachyura). Hanafia & Rudyanto. Manuputty. Warta Konservasi Lahan Basah.. 1994. Lumpur. Vol. 1984. Situation and Outlook of the Forestry Sector in Indonesia. Bogor. Nurkin. 1985. Mangrove: The Forgotten Forest Between Land and Sea. Blackwell Scientific Publications. Some Notes on The Crustacean Fauna Around Mangrove Area of Pancer Balok. 1984: 231-240. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment .W. Mepham. Laut Nusantara (Marine Nusantara). 1993. 1984. Indonesia. MacNae. Fakultas Kehutanan IPB. 1987. Y.H.E. D. W. Bot. Studies in Ecology. mar. 1999. West Java. Malaysia. Technical Report No.R. 1923. C. 6: 73-270.. 97 hal. Mastaller. Melisch. J.a Rationalization of The Use of The Term Mangrove. An Assessment of the Importance of Rawa Danau for Nature Conservation and An Evaluation of Resource Use. UTF/INS/065/INS: Forestry Studies. Dalam Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove. Pedoman Pembuatan Persemaian Jenis-Jenis Pohon Mangrove. 1. 39-46.99 Meindersma.J. S. Giesen. E. Nontji.W. Djambatan. Kuala Mepham. 1: 265-268. 70-77. 12: 25-31. (tidak dipublikasikan) Macintosh. & E. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . B. Beberapa Catatan Tentang Aspek Pengusahaan Hutan Mangrove di Sulawesi Selatan. Volume 2: Forest Resource Base. Heald. 1990. Departemen Kehutanan & FAO.S. 1982. Estua. 1968. H. The Detritus Based Food Web of An Estuarine Mangrove Community. Odum. R. 1979. Vol. W.H. K. 1974. Eenige bijzonderheden over mangrove. 8. Res. A General Account of the Fauna and Flora of Mangrove Swamps and Forests in the Indo-West-Pacific Region. Biol. E.Restoration & Management. 1984: 354-377. Nirarita. Mann. A.Afr. & J. Ecology of Coastal Waters. Noor. Jakarta. R.Kusmana. The Flora of Tidal Forests.W. Hal 5. 322 hal. PHPA/AWB. Adv. Ch. A Systems Approach. W. A. Cimanuk River Estuary. E.Restoration & Management. Bogor. 1. 1985: 77. 1997. 2 No. Hutan Mangrove: Antara Nilai Ekonomi dan Fungsi Ekologi.bosschen. De Tropische Natuur.J.

257. 1975. J. The Flora of the Malay Peninsula. Hydrobiologia. Y. I. Primavera.A. Ridley. & M. Botany Bulletin No. 1988. C. 67a. Othman. Jurusan Biologi .. Ehime University. The Sabah Society with World Wildlife Fund Malaysia. 12. M. editor. Monocotyledones. London. 1993. J. Floristics and Ecology of The Mangrove Vegetation of Papua New Guinea. J.E. N. Lae. Rusila Noor. Laporan Penyigian Burung Air di Sumatera Selatan dan Jambi. 1924. Th. with particular reference to those having socio-economic value.. Said. M. PHPA/Asian Wetland Bureau.UNPAD. Phillipps. Lim.S.Ogino. 383 hal. H. Bogor. P. Skripsi. 181 hal. 20 (1): 28-33. Papua New Guines National Herbarium. Ambio. E. Value of Mangroves in Coastal Protection. Bogor. Kuala Lumpur. Saenger. 96 hal. Womersley.S. 74: 11-15. Indonesia. and Economic Implications. K. Studi Populasi Burung Air Kaitannya dengan Usaha Konservasi di Daerah Pantai Indramayu dan Cirebon. Milky Stork Banding at Pulau Rambut. Davie. 1995. 332 hal. 1985.. 4208 .N. Payne. Sibuea & Rudyanto. IV Rusila Noor.. Ambio.J. 6 No. the Enigmatic Mangrove. 88 hal. 3. AWB publikasi no.D. West Java. Wallaceana. Reeve & Co. & J. Hegerl & J. 285: 277-282. Francis & K. Vol. Bandung. 1987. 1991. Hal 1. 1982. Mangroves and Aquaculture. 8.M. A Field Guide to the Mammals of Borneo. Social. 11: 252. Ltd. Prakash. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir & Laut IPB. Percival. A List of Wetland Plant Species of Peninsular Malaysia. SIS Newsletter Vol. Global Status of Mangrove Ecosystems. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. The Systematic Position of Aegialitis. 1998. Rancangan Rencana Pengelolaan Kawasan Segara Anakan.M. 1994. Department of Forests. 1990.. Buku I Kondisi & Potensi Biofisik Kawasan. Y. 1983. Chihara.L. & A.H. IUCN Commission on Ecology Papers No. Rusila Noor. Y. Japan. Biological System of Mangroves. 1991. Intensive Prawn Farming in the Philippines: Ecological. Ong.

Okinawa. Bogor. 1986. A. M. Silvius. M. Laporan Survey Sumatran Waterbird Laporan Studi ICBP No.C. Berczy. Hal. Survey of Coastal Wetlands in Sumatra Selatan and Jambi. 1989. Sasekumar. Mangroves as a Habitat For Fish and Prawns. Prosiding Seminar III Ekosistem Mangrove.L. Silvius. M. J. Iskandar. M.U. Kuala Lumpur. 1989. Indonesia.T. Taufik. D’Cruz. The Status of Storks.M. Savitri. I. Audrey. Steeman. Indonesia. Hal 39. Hal. Verheugt & J. Dalam International Social Tropical Ecologi. Soewito. Jakarta.C.P. E. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove.J. International Society for Mangrove Ecosystems. Jakarta.J. Silvius. F. Kukila No. 247: 195-207. Leh & R. Leh. Silvius. 1980. Status Ekosistem Hutan Mangrove dalam Kaitannya dengan Kepentingan Perikanan di Indonesia dan Kemungkinan Pengembangannya. EDWIN. PHPA-Asian Wetland Bureau. Sasekumar. D’Cruz & M. Masalah Penentuan Batas Lebar Jalur Hijau Hutan Mangrove. L. V.Samingan. The Indonesian Wetland Inventory. A Survey Report and Compilation of Existing Information. 2 volume.. R. V.J. 4: 163-164. Conservation and Land-use of Kimaam Island. 191-211.M.J.. Silvius. World Mangrove Atlas. Prosiding Seminar Tahunan ke12 the Malaysian Society of Marine Sciences. Chong. Bogor. The Sungai Pulai (Johor): A Unique Mangrove Estuary.T.J & W. hal 124-125. 1987. Verheught. & A...U. Blasco & C. 101 hal. 1986. Notes on The Vegetation of The Tidal Areas of South Sumatra.INTERWADER No. Hal. Laporan PHPA . 9. 1992. 1989. Ibises & Spoonbills in Indonesia. Cambridge. with Special Reference to Karang Agung. Taufik. 1984. 1996.J. PHPA. A. M.D. Khazali. Japan. Spalding. Bogor. 1987. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir: Pengalaman Pengembangan Tambak Ramah Lingkungan dan Rehabilitasi Mangrove di Karangsong Indramayu. A Preliminary Compilation of Existing Information on Wetlands of Indonesia. A & M. Djuharsa & A. M. 1. 1107-1112. Soerianegara. AWB/INTERWADER. Field editor. Bogor.J. E. M. Indonesia. A.. M. W. 2093 . Hydrobiologia. Chong. Coastal Wetlands Inventory of South East Sumatra.D. Wetlands International – Indonesia Programme.W. 121 & 268. Indonesia. 1999. M. M.

I. Landscape and Urban Planning. Sci. Indië. Coastal Resources Development Options in the Southeast Asia and Pacific Regions: Economic Valuation Methodologies and Applications in Mangrove Development. C. Verheught. Purwoko. Thurairaja. B. De Tropische Natuur. Danielsen. van Balen. Cambridge.441. U.F.G.G. M. H. Wada. Colonial Waterbirds. 12: 353-355. 1958. Longman Malaysia.M. Tweedie. Skov & R.J. Verheugt. Bull. 26: 194-6. Outline of Vegetation Types in Indonesia and Some Adjacent Regions. BIOTROP Special Publication No. F.J. Foraging on Mangrove Pneumatophores by Ocypodid Crabs. van Steenis.G. Ser. P. South Sumatra Province. Plumbaginaceae. the Banyuasin Sembilang Swamps Case Study. 134: 89-100. Flora Malesiana. Integrating Mangrove and Swamp Forests Conservation with Coastal Lowland Development. Indonesia. Conservation Status and Action Program for the milky stork (Mycteria cinerea). W.W. hal. Ser.G. Ecology of Mangroves. 1954.G. 1941. A. IV: 61-97.I. Mar. 1994. Malayan Animal Life. Hal 211-220.J. & J.. The Botany of Mangroves.H. Ser. 14: 93-106. 1989. een weinig bekende mangrove-boom. Ecol. Mus.Steup. 37. Macroalgae in Indonesian Mangrove Forests. The Terrestrial Mangrove Birds of Java. van Steenis. 22: 1302-1332. 1936. 20: 85-94. Natn. 1957. V. 79: 1-13. Flora Malesiana. Kustaanwas en Mangrove. Wowor. 1991. J. 1929. S. 1988. A. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Management: Its Ecological and Economic Considerations’.J. De vloedbosschen in het gewest Riouw en onderhoorigheden. Tanaka.. & M. 4210 . Tomlinson. 1989.K. F. Maritime Studies. Tectona. Osbornia octodonta. C. & D. Harrison. K. Introduction to Account of the Rhizophoraceae by Ding Hou. J. Biol. 419 hal. Tokyo. 193-205. C. Cambridge University Press. van Steenis. Exp. 237 hal. van Bodegom. 1949. Prosiding the 8th Pacific Science Congress.G. W.. C.L. 5: 431. Natuurwetenschappelijk Tijdschrift voor Ned. Kadarisman. M. 1986.K. van Steenis. J.. Vol.G.G.B. 4: 107-112. 1987. Chihara.

Yaputra & B.J..T. Sadorra. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-3. Maros. M. Wibowo. Palms of Malaya. East Nusa Tenggara.E. Sulawesi Selatan. S. M. Conservation Commission of the Northern Territory. T. Jakarta. Zieren. Kuala Lumpur. M. A. S.. White.C. Dalimartha & A. N. Anwar & N. S. PHPA/AWB Bogor. Mangrove Forests of the Malay Peninsula. The Ecology of Sulawesi. Whitten. 1990. 1985. 1976. Malayan Forest Records No.T. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-4. 777 hal. Wardoyo. Henderson. 1992. S. M. 1993. Wirian. S. E. Jakarta. Whitten. 1988. Jakarta. Yogyakarta. 1996. di Indonesia Jilid ke-2.. M. Mangroves of the Northern Territory.. H. The Ecology of Sumatra. T. Wightman. Wibowo. Yogyakarta. Dalimartha & A. South Java..H. Singapore. Manila. Watson. Hisyam. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid I. Y. Northern Territory Botanical Bulletin No. S. Hal 358. Yaputra & B. Wirian. 1: 1-8. H..M. Editor. 1995. Oxford University Press. Federated Malay States Government. 275 hal. Indonesia. Pustaka Kartini. & F. A. 1928. A. T. 132 hal.. Martosubroto & M.J. Wijayakusuma. J.M. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. Mustafa & G. J. 583 hal. Nuraini. & S. 2113 . Jakarta. 1989. 1984. Rusila Noor. 1984. Jawul Penelitian Budidaya Pantai. Pustaka Kartini.J. Damanik. 1973. I. Baltzer and N.S. Palmerston. The Coastal Environmental Profile of Segara Anakan-Cilacap. Pustaka Kartini. 6. S. Whitmore. Wijayakusuma. Rasyid. Pustaka Kartini. Philippines. ICLARM Technical Reports 25. Beberapa Jenis Hasil Perairan Segara Anakan Cilacap yang telah Dimanfaatkan Penduduk Sekitarnya. Wijayakusuma. Gajah Mada University Press. Wetlands of Sumba. Saleh. International Center for Living Aquatic Resources Management. Tanaman Berkhasiat Obat Wijayakusuma.. Flora of Okinawa and the Southern Ryukyu Islands. 1989. Walker. H.G.Wahyuni. H. M. Gajah Mada University Press. 7.S. P. Jakarta. M. G. Australia. Sumber Benih Baru di Indonesia Timur untuk Menanggulangi Masalah Perkembangan Tambak. 82 hal.

Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu. Daunnya tidak panjang dan lurus. tidak bercabang sampai daun pertama. Tumbuhan yang merambat ditanah. tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras. tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama. Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit. biasanya memiliki bunga yang menyolok. Dapat hidup tanpa inang. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun. Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar. Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai. tetapi mampu untuk melakukan fotosintesa sendiri. Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu. dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun. namun tidak menyerupai rumput.GL OSSARY GEOGRAFIS Dunia lama (Old World) Pan-tropis (Pan-tropical) Eurasia dan Afrika Terdapat di seluruh daerah tropis di seluruh dunia KEBIASAAN HIDUP Hemi-parasit (Hemi-parasite) Tumbuhan yang sebagian hidupnya bergantung kepada inangnya. Parasit (Parasite) KELOMPOK TUMBUHAN Belukar (Shrub) Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar. lurus dan biasanya tinggi. Tumbuhan yang memiliki kayu besar. dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai. Tumbuhan yang hidupnya bergantung kepada inangnya. Epifit (Epiphyte) Paku-pakuan (Fern) Palma (Palm) Pemanjat (Climber) Pohon (Tree) Terna (Herb) 4212 .

keluar dari batang. Lentisel (Lenticel) Sisik (Scales) AKAR Akar udara (Aerial root) Struktur yang menyerupai akar. Akar banir/papan (Buttress) Akar lutut (Knee root) Akar nafas (Pneumatophore) Akar Tunjang (Stilt-root) akar udara akar banir/papan akar lutut akar nafas akar tunjang Gambar bentuk-bentuk akar 2133 . berupa struktur eksternal yang menyerupai piring. Bagian dari kecambah yang akan tumbuh menjadi pangkal batang yang akan berhubungan dengan pangkal akar. terbentuk dari epidermis. Akar yang tumbuh dari batang diatas permukaan dan kemudian memasuki tanah. Beberapa kadang-kadang menyerupai struktur akar yang dimiliki oleh famili Rhizophoraceae. muncul dari dalam tanah. Akar yang tumbuhnya tegak. Cairan yang pekat seperti susu. Bentukan pada pohon yang berbentuk datar. Akar berbentuk seperti papan miring yang tumbuh pada bagian bawah batang dan berfungsi sebagai penunjang pohon.BATANG/KULIT KAYU Bercelah (Fissured) Getah (Latex) Hipokotil (Hypocotyl) Goresan yang dalam pada batang pohon atau kulit kayu. biasanya berfungsi untuk penunjang mekanis. Tonjolan pada kulit yang memungkinkan udara luar memasuki jaringan di dalamnya. Akar yang muncul dari tanah kemudian melengkung ke bawah sehingga bentuknya menyerupai lutut. menggantung di udara dan bila sampai ke tanah dapat tumbuh seperti akar biasa. berukuran kecil dan hanya bisa terlihat baik dengan menggunakan kaca pembesar. pada kulitnya terdapat celah-celah kecil yang berguna untuk pernafasan.

Titik sudut antara sisi atas dan batang tempat daun.DAUN Kelenjar (Gland) Ketiak (Axil) Meranggas (Deciduous) Anak/pinak daun (Leaflet) Selalu hijau (Evergreen) Tepi/sisi (Margin) Urat (Vein) Urat tengah (Midrib) Unit Sederhana/tunggal (Simple) Pada tangkai daun hanya terdapat satu helaian daun saja. melebar dibagian tengah dan kedua ujungnya berukuran hampir sama. Kelompok tumbuhan yang daunnya berguguran/rontok secara periodik (misalnya pada musim kering). Tonjolan vaskular yang biasanya terlihat dari luar. Urat bagian tengah pada daun. misalnya pada permukaan daun. Pada tiap buku-buku batang terdapat 2 daun yang berseberangan pada ranting. posisi normal untuk tunas lateral. Tumbuhan yang berdaun sepanjang tahun. Bagian yang mirip daun pada daun majemuk. Bentuk daun seperti telur terbalik. Pada tangkai daun yang bercabang-cabang terdapat lebih dari satu helaian daun. kebanyakan berbentuk elips. bagian pangkal lebar dan bagian ujung runcing. Panjang daun 3 – 5 kali lebarnya. Struktur pada tumbuhan yang mengeluarkan cairan lekat atau berminyak. Bulat telur (Ovate) Bulat telur terbalik (Obovate) Elips (Elliptic) Lanset (Lanceolate) Bentuk daun melebar dibagian tengah. bagian pangkal dan ujung daun runcing. Panjang daun 2 kali lebarnya. Bagian sisi dari daun. Pada tiap buku-buku batang hanya terdapat 1 daun. Majemuk (Compound) Susunan Berlawanan/berhadapan (Opposite) Bersilangan (Spiral/Alternate) Bentuk Bulat memanjang (Oblong) Panjang daun 2 – 3 kali lebarnya. 4214 .

terletak pada bagian luar perhiasan bunga. Bagian terluar suatu bunga yang biasanya terdiri atas struktur seperti daun yang dalam tahap kuncup membungkus dan melindungi bagian-bagian bunga lainnya. Istilah untuk seluruh daun mahkota pada bunga. diluar kelopak bunga. BUNGA Daun kelopak (Sepal) Kelopak bunga (Calyx) Struktur berwarna hijau menyerupai daun atau hijaukekuningan. Kelopak tambahan (Epicalyx) Mahkota bunga (Corolla) Daun mahkota (Petal) 2153 . Meruncing (Pointed/Acute/ Ujung daun membentuk suatu sudut lancip atau ujung Acuminate) daun sempit memanjang dan runcing. Pinak daun yang terletak pada dasar bunga. Tumpul (Blunt) Ujung daun membentuk sudut yang tumpul. biasanya berwarnawarni untuk menarik perhatian serangga penyerbuk. Suatu struktur menyerupai daun yang terletak pada bagian dalam perhiasan bunga. berfungsi untuk menarik perhatian serangga penyerbuk. Merupakan terminologi yang digunakan untuk semua daun kelopak (sepal) pada bunga.elliptic oblong lanceolate ovate obovate spathulate Gambar bentuk-bentuk daun Ujung Membundar (Rounded) Ujung daun membulat atau hampir tidak terbentuk sudut sama sekali.

putik benang sari Tangkai benang sari (Filament) Tepung sari (Pollen) Kepala putik (Stigma) Tangkai putik (Style) daun mahkota daun kelopak/ kelopak bunga dasar bunga tangkai bunga Gambar bunga dengan bagian-bagiannya Nektar/madu (Nectar) Berkelamin dua (Bisexual) Cairan manis. dimana masing-masing bagian mengandung kantung tepung sari. Gametofit jantan dari tumbuhan berbiji. Bagian organ betina pada bunga yang biasanya bersifat lengket. Tiang jaringan langsing yang timbul dari jaringan bakal buah tempat tumbuh tabung tepung sari. Butir tepung sari melengket disini dan kemudian berkecambah. 4216 . Bagian yang menunjang benang sari. Berkelamin tunggal (Unisexual) Pada bunga terdapat hanya salah satu dari dua macam alat kelaminnya. Struktur yang terdapat pada ujung filamen dan terdiri atas dua bagian.Benangsari (Stamen) Kepala sari (Anther) Alat kelamin jantan. lekat yang dikeluarkan oleh tumbuhan. Pada bunga terdapat benang sari maupun putik.

Letak Di ketiak (Axillary) Di ujung (Terminal) Formasi Soliter (Solitary/Single) Payung (Umbrella) Bunga muncul secara tunggal. yang pada beberapa tanaman berperan penting sebagai bahan makanan. Bunga terletak atau muncul diujung cabang. dari ujung ibu tangkalnya mengeluarkan cabang-cabang yang sama panjangnya dan masing-masing cabang tersebut mempunyai 1 daun pelindung pada tangkalnya. Bunga terletak atau muncul dari ketiak daun. Bentuk perbungaan dimana tangkai bunga utamanya panjang dan tangkai anak bunga sangat pendek. BUAH Spora (Spore) Vivipar (Viviparous) Keping benih (Cotyledon) Sel reproduksi dari tumbuhan ferna. Bagian dari kecambah/benih yang terletak diantara bakal cabang dan bakal akar. Hipokotil (Hypocotyl) 2173 . Malai/bergerombol acak (Panicle) Bunga majemuk yang ibu tangkainya bercabang-cabang dan cabang-cabangnya dapat bercabang lagi. Bakal daun didalam biji/biji benih yang kemudian berkembang menjadi daun pertama dari kecambah/ benih. tangkai. demikian pula cabang-cabang yang terdapat di ibu tangkainya ditutupi suatu bunga diujungnya. tandan atau batang. Bulir (Spike) Berbatas/kelompok (cyme) Bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya ditutupi dengan suatu bunga. Biji yang berkecambah dalam buah (misalnya pada banyak jenis Rhizophoraceae). Bunga majemuk tidak terbatas. sehingga anak bunganya duduk. sehingga bungan tidak terdapat pada ibu tangkainya. tidak dalam kelompok.

tangkai buah kelopak buah buah keping benih Bola/bulat (Ball) Kacang (Bean like) plumulae hipokotil radicle Gambar buah dengan bagian-bagiannya (Rhizophora apiculata) 4218 .Bentuk Silinder (Cylindrical) Buah berbentuk seperti tongkat atau galah. terutama ditemukan pada Avicennia. Buah berbentuk seperti kacang dengan berbagai macam bentuk. Buah berbentuk seperti bola atau bulat. terutama ditemukan pada Xylocarpus dan Sonneratia. terdapat dalam famili Rhizophoraceae (Bruguiera. Ceriops dan Rhizophora).

INDEKS A Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis 48 50 52 54 56 58 60 62 64 66 68 70 72 74 76 C Calophyllum inophyllum Calotropis gigantea 146 148 Camptostemon philippinense 90 Camptostemon schultzii Cerbera manghas Ceriops decandra Ceriops tagal Clerodendrum inerme 92 150 94 96 152 D Derris trifolia 154 E Excoecaria agallocha 98 F B Barringtonia asiatica Bruguiera cylindrica Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza Bruguiera hainessii Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula 144 78 80 82 84 86 88 Finlaysonia maritima 156 G Gymnanthera paludosa 100 H Heritiera globosa Heritiera littoralis Hibiscus tiliaceus 102 104 158 2193 .

I Ipomoea pes-caprae 160 R Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata 118 120 122 174 K Kandelia candel 106 Rhizophora stylosa Ricinus communis L Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa 108 110 S Sarcolobus globosa Scaevola taccada 124 176 Scyphiphora hydrophyllacea 126 M Melastoma candidum Morinda citrifolia 162 164 Sesuvium portulacastrum Sonneratia alba Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata 178 128 130 132 180 N Nypa fruticans 112 Stachytarpheta jamaicensis T O Osbornia octodonta 114 Terminalia catappa Thespesia populnea 182 184 P Pandanus odoratissima Pandanus tectorius Passiflora foetida Phemphis acidula Pongamia pinnata 166 168 170 116 172 X Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii 134 136 138 140 W Wedelia biflora 186 4220 .