Panduan Pengenalan

MANGROVE
di Indonesia

Oleh: Yus Rusila Noor M. Khazali I N.N. Suryadiputra

Bogor, Oktober 2006

Ditjen. PHKA

Indonesia Programme

i3

This publication has been made possible with funding from the CY 98 Environment Component of the World Bank/Netherlands Partnership Programme, through the IUCN Regional Biodiversity Programme for South and Southeast Asia. Publikasi ini dibuat atas dukungan biaya dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998, lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara.

THE WORLD BANK

This publication is adapted from: Publikasi ini merupakan saduran dari: Giesen, W., Stephan Wulffraat, Max Zieren & Liesbeth Schoelten. A Field Guide of Indonesian Mangrove. WI-IP (in prep.).

Cetakan pertama tahun 1999

Pencetakan ulang (kedua) tahun 2006, didukung oleh:

Green Coast
For nature and people after the tsunami

Dibiayai oleh:

Pustaka: Rusila Noor, Y., M. Khazali, dan I N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP, Bogor.

4ii

© Wetlands International – Indonesia Programme, 1999 Hak cipta dilindungi Undang-undang ISBN: 979-95899-0-8

Desain dan tata letak: Triana Ilustrasi: Wahyu Gumelar dan Tilla Visser Foto: Hidayat S., I N.N. Suryadiputra, Jennifer Dudley, Kitamura, Marcel J. Silvius, Wendy Suryadiputra, Wim Giesen

Pendapat dan saran yang dikemukakan dalam buku ini adalah semata-mata pendapat dan saran dari penulis/ penyadur dan tidak selalu mencerminkan kebijakan resmi dari Wetlands International dan Ditjen PHKA.

iii3

seperti untuk Malaysia (Watson. baik karena beberapa jenis tidak terdapat di Indonesia atau karena titik berat pustaka tersebut hanya pada pohon dan belukar. ekologi. dan Australia (Wightman. Warisan alam yang sangat luar biasa ini memberikan tanggung jawab yang besar bagi Indonesia untuk melestarikannya. Hingga saat ini. sangat sedikit pustaka yang berhubungan dengan mangrove di Indonesia. Untuk mengisi kekosongan tersebut. Buku ini tidak ditujukan sebagai edisi akhir yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam identifikasi mangrove di Indonesia. Namun atas dukungan biaya oleh pihak sponsor (Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998) manuskrip tersebut kini telah berhasil disadur kedalam Bahasa Indonesia dengan beberapa tambahan dan perbaikan data. Meskipun dalam beberapa hal pustaka tersebut bermanfaat. kelimpahan serta manfaatnya bagi umat manusia). akan tetapi banyak mengandung kelemahan. dan bagian kedua secara spesifik menjelaskan jenis-jenis mangrove di Indonesia (di dalamnya meliputi cara mengidentifikasi. sebaran serta kebijakan/peraturan tentang mangrove di Indonesia). yang sayangnya belum bisa segera diterbitkan karena kendala biaya. 1975). sehingga bagi yang ingin mempelajari mangrove Indonesia terpaksa harus mengacu kepada pustaka mengenai negara-negara tetangga. WI-IP telah menyelesaikan suatu manuskrip pengenalan mangrove Indonesia dalam Bahasa Inggris. bagi yang ingin secara serius mempelajari mangrove haruslah mengacu kepada berbagai publikasi lainnya. Tujuan ditulisnya buku ini adalah untuk memberikan suatu panduan sederhana pengenalan tumbuhan mangrove bagi mereka yang tertarik pada konservasi dan pengelolaan mangrove di Indonesia. sekaligus memberikan kesempatan yang berharga bagi mereka yang bermaksud mempelajari dan menikmati habitat ini. Buku ini dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama berisikan tentang gambaran umum mangrove (di dalamnnya tercakup habitat. Penyadur 4iv 3iv . Untuk melengkapi pustaka tersebut.KATA PENGANTAR Indonesia dikarunia memiliki mangrove yang terluas di dunia dan juga memiliki keragaman hayati yang terbesar serta strukturnya paling bervariasi. baik karena beratnya buku-buku tersebut maupun harganya yang mahal. Namun. termasuk Flora Malesiana. PNG (Percival & Womersley. hal ini dirasakan cukup menyulitkan dan kurang praktis. 1989). Oleh karena itu. saran dan kritik pemakai buku ini sangat diharapkan. 1928). manfaat.

UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. Atsuo Ida. Savitri.) yang diproduksi oleh JICA-ISME (1997) melalui ijin yang diberikan oleh pimpinan proyek mangrove JICA di Bali. Marcel J. Liesbeth Schoelten dan tim produksi manuskrip Bahasa Inggris yang menjadi sumber utama publikasi ini. Stephan Wulffraat. Max Zieren. Foto-foto berwarna diambil oleh para penyadur juga oleh Hidayat Sunarsyah. serta kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Publikasi ini dapat diselesaikan berkat dukungan dana dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998. Cecep Kusmana memberikan masukan yang sangat berharga dalam persiapan awal publikasi. Ilustrasi hitam putih digambar oleh tangan terampil Wahyu Gumelar dan Tilla Visser. Scott Perkin sebagai Ketua Program telah sangat berperan dalam memungkinkan penyaluran dana. Dr.Indonesia Programme dibawah koordinator Laksmi A. sedangkan pendisainan dan tata letak dilakukan oleh Triana. Dr. v3 .al. Wahyu Gumelar. Beberapa foto berwarna juga diambil dari Handbook of Mangroves in Indonesia (oleh Kitamura et. lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara. untuk itu Dr. Penghargaan dan ucapan terima kasih akhirnya disampaikan kepada Wim Giesen. Indonesia) Penyelesaian publikasi ini dilakukan oleh suatu tim dari Wetlands International . Penyadur kedua dan ketiga memperbaiki dan menambah informasi dan data terbaru yang lebih sesuai untuk edisi ini. Penerjemahan dan penyaduran dari manuskrip Bahasa Inggris dilakukan oleh penyadur pertama. Silvius sangat berperanan dalam persiapan awal penerbitan buku ini serta menyediakan beberapa slide-nya untuk digunakan. Jennifer Dudley dan Wendy Suryadiputra.

berkenan untuk memberikan sumbangan dana yang memungkinkan dilanjutkannya proses penyelesaian akhir dan editing buku ini oleh penulis dan editor utamanya. sehingga dapat digunakan dalam pembuatan gambar buku ini. Hennipman (Institute of Systematic Botany. Koordinator proyek yang pertama. Cecillia Luttrell yang telah mencoba kunci identifikasi di lapangan dan memeriksa spesimen di lapangan. meskipun penyelesaian buku ini sangat terlambat. sayangnya harus meninggalkan Indonesia. Jepang). Dra. khususnya Stephan Wulffraat (yang membuat daftar jenis dan memulai seluruh proses). Penyelesaian akhir buku ini kemudian dilanjutkan oleh Koordinator berikutnya.J Afriastini yang telah membantu identifikasi tumbuhan herbarium. Stichting Pro Natura. 4vi 3vi . Wim Giesen. Kami sangat berterima kasih kepada para sponsor yang memberikan dukungan. University of Utrecht. Yus Rusila Noor. kami juga menghaturkan terima kasih kepada pihak luar yang teah memberikan komentar dan masukan yang sangat berharga. E. terima kasih tak terhingga untuk Herbarium Bogor dan Rijkherbarium Leiden yang telkah memberikan kemudahan untuk menggunakan koleksi herbariumnya. Max van Balgooij (Rijkherbarium Leiden) dan Dr. Wim Giesen. termasuk Almarhum “Doc” Kostermans (Herbarium Bogor). the International Society for Mangrove Ecosystems (ISME. Produksi buku ini pada awalnya didukung oleh Stichting FONA. The Netherlands). sehingga pengerjaan buku ini agak terbengkalai. terutama juga karena kurangnya dana pendukung. Terlepas dari masalah dana tersebut. Ellecom. Liesbeth Schoelten untuk ketekunan dan kemampuannya dalam memberikan pertelaan jenis. Syukurlah. pengerjaan kemudian dilakukan sedikit demi sedikit sampai kemudian Koordinator proyek lanjutan inipun. Tilla Visser untuk gambargambarnya yang luar biasa. Max Zieren. J. dan Bea Tolboom yang telah mengumpulkan pustaka. The Netherlands. The Netherlands. Terima kasih juga disampaikan kepada staf perpustakaan Herbarium Bogor atas bantuan dan kesabarannya dalam memberikan pustaka yang diperlukan.UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. Inggris) Banyak pihak yang terlibat dalam penyelesaian secara bertahap buku ini. Lebih dari itu. berpusat di Okinawa. Terakhir. Ellecom. selama kurun waktu 1991 – 1993. Dr. Arnhem. Pada akhir 1993. PHPA (sekarang PHKA) dan AWB (sekarang Wetlands International) sangat berterima kasih kepada sejumlah sukarelawan yang telah memberikan sumbangannya kepada penyelesaian buku ini. harus meninggalkan Indonesia pada awal 1995. The Netherlands dan Stichting Ludovica.

1 3.3 5.3 II.1 1.2 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Penyebab penurunan luas mangrove V.1 2. Inggris) iv v vi vii 1 1 1 3 5 5 8 12 17 17 21 23 23 27 30 30 31 33 34 35 Bagian I Habitat Mangrove 2. Pendahuluan 1. Kebijakan dan Peraturan Menyangkut Mangrove 5.2 5.2 1.3 Kondisi fisik Tipe vegetasi mangrove Fauna mangrove III.4 5.1 5.5 Pemetaan sumberdaya Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Peraturan yang berkaitan dengan konservasi mangrove Perkembangan terakhir vii3 .2 2. Apakah mangrove itu? Gambaran umum mangrove Indonesia Cakupan buku panduan (Edisi B. Manfaat Mangrove 3. Indonesia) (Edisi B.DAFTAR ISI Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Daftar Isi I. Status Mangrove Indonesia 4.1 4.2 Pemanfaatan mangrove Fungsi mangrove IV.

1 6.1 7. sumber gambar & foto Lampiran 2. nama lain/sinonim. Areal Mangrove yang Dilindungi 6. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan Daftar Pustaka Glosari Indeks 190 198 201 212 219 Bagian II JENIS-JENIS MANGROVE SEJATI JENIS-JENIS MANGROVE IKUTAN 47 143 4 3 viii .5 7.3 Mangrove dan sistem kawasan lindung Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Pemeliharaan keanekaragaman hayati mangrove 37 37 39 41 43 43 43 44 45 45 46 VII. Jenis mangrove.6 Pustaka penting Petunjuk untuk pengamatan lapangan Spesimen tumbuhan mangrove Studi vegetasi Studi fauna Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Lampiran Lampiran 1.VI.4 7. Beberapa Petunjuk Studi Mangrove bagi Pemula 7.3 7.2 7.2 6.

I. 1. Dalam buku panduan ini. 13 .9 juta hektar.2 Gambaran umum mangrove Indonesia Perkiraan luas mangrove di seluruh dunia sangat beragam. Xylocarpus. Bruguiera. Dia menyarankan seluruh tumbuhan vaskular yang terdapat di daerah yang dipengaruhi pasang surut termasuk mangrove. Tomlinson (1986) dan Wightman (1989) mendefinisikan mangrove baik sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas. 1997) mangrove dunia. Sonneratia. Excoecaria. dan terdiri atas jenis-jenis pohon Aicennia. Lumnitzera. Beberapa ahli mendefinisikan istilah “mangrove” secara berbeda-beda. bahkan Groombridge (1992) menyebutkan 19. menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur. sedangkan Spalding. termasuk jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di pinggiran mangrove seperti formasi Barringtonia dan formasi Pes-caprae. 1983). 1988) menyebutkan bahwa luas mangrove di seluruh dunia adalah sekitar 15 juta hektar. Ceriops. luas mangrove diperkirakan antara 32 % (Thurairaja. dkk. Beberapa peneliti seperti Lanly (dalam Ogino & Chihara.1 juta hektar. Rhizophora. Untuk kawasan Asia. Dalam beberapa hal. Aegiceras. dkk (1997) menyebutkan 18. isitilah “mangrove” secara umum digunakan mengacu pada habitat.1 Apakah mangrove itu ? Asal kata “mangrove” tidak diketahui secara jelas dan terdapat berbagai pendapat mengenai asal-usul katanya. Scyphyphora dan Nypa. 1994) sampai 41.5% (Spalding. Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung (Saenger. Macnae (1968) menyebutkan kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. Sementara itu. Sementara itu Soerianegara (1987) mendefinisikan hutan mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. menurut Wightman (1989) yang lebih penting untuk diketahui pada saat bekerja dengan komunitas mangrove adalah menentukan mana yang termasuk dan mana yang tidak termasuk mangrove. namun pada dasarnya merujuk pada hal yang sama. Pada dasarnya. istilah “mangrove” digunakan untuk jenis tumbuhannya. dkk. PENDAHULUAN 1.

di Sulawesi Selatan). sementara jenis lain ditemukan disekitar mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove ikutan (asociate asociate). seperti Kandelia. Sejauh ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis tumbuhan mangrove. beberapa jenis mangrove berkembang dengan buah yang sudah berkecambah sewaktu masih di pohon induknya (vivipar). Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ekstrim. dkk (1997) menyebutkan seluas 4. Di daerahdaerah ini dan juga daerah lainnya. sementara yang lainnya mengembangkan sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya.5 juta hektar dan Spalding. Giesen (1993) menyebutkan luas mangrove Indonesia 2. Umumnya mangrove dapat ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia (Gambar 1).300 ha (19%) (Dit.3 juta ha). dapat ditemukan Sonneratia alba dan Avicennia alba. hingga tegakan campuran BruguieraRhizophora-Ceriops dengan ketinggian lebih dari 30 meter (misalnya.1 juta ha) dan Australia (0. Indonesia merupakan tempat mangrove terluas di dunia (18 . 5 jenis palma. sementara itu di sepanjang sungai yang memiliki kadar salinitas yang lebih rendah umumnya ditemukan Nypa fruticans dan Sonneratia caseolaris. Dit. Bina Program INTAG. Dapat ditemukan mulai dari tegakan Avicennia marina dengan ketinggian 1 . Nigeria (1. 43 jenis (diantaranya 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai mangrove sejati (true mangrove). Dengan areal seluas 3. beberapa jenis mangrove mengembangkan mekanisme yang memungkinkan secara aktif mengeluarkan garam dari jaringan. kadar garam yang tinggi serta kondisi tanah yang kurang stabil. Saenger. 42 . perkembangan yang paling pesat tercatat di daerah tersebut. Dalam hal struktur. Bina Program INTAG (1996) menyebutkan 3. dkk (1983) mencatat sebanyak 60 jenis tumbuhan mangrove sejati.600 ha (38%). 44 jenis epifit dan 1 jenis paku. Dengan kondisi lingkungan seperti itu. Di seluruh dunia. dkk. Bruguiera.5 juta hektar (dalam buku panduan ini). 1997).23%) melebihi Brazil (1.Di Indonesia perkiraan luas mangrove juga sangat beragam. Kalimantan 978. 19 jenis pemanjat. Dalam hal lain.97 juta ha) (Spalding.350.2 meter pada pantai yang tergenang air laut. seperti kondisi tanah yang tergenang. Walaupun mangrove dapat tumbuh di sistem lingkungan lain di daerah pesisir. Di daerah pantai yang terbuka. 44 jenis herba tanah. Dengan demikian terlihat bahwa Indonesia memiliki keragaman jenis yang tinggi. mangrove di Indonesia lebih bervariasi bila dibandingkan dengan daerah lainnya. 1996).200 ha (28 %) dan Sumatera 673. Umumnya tegakan mangrove jarang ditemukan yang rendah kecuali mangrove anakan dan beberapa jenis semak seperti Acanthus ilicifolius dan Acrostichum aureum. meliputi 89 jenis pohon. Mangrove terluas terdapat di Irian Jaya sekitar 1.5 juta hektar. mangrove tumbuh dan berkembang dengan baik pada pantai yang memiliki sungai yang besar dan terlindung. Dari 202 jenis tersebut. Ceriops dan Rhizophora.5 juta hektar.

Selain itu. juga diuraikan informasi mengenai peraturan serta perundang-undangan mengenai mangrove di Indonesia. Bagian pertama berupa pendahuluan dan pengenalan terhadap mangrove secara umum. Dalam bagian pertama ini juga disajikan informasi mengenai manfaat yang dapat digali dari mangrove. Meskipun pada bagian dua tercantum juga aspek manfaat dari mangrove sebagai obatobatan. Untuk mereka yang bermaksud melakukan penelitian mengenai mangrove. serta uraian mengenai habitat mangrove. dilampirkan beberapa peta yang berkaitan dengan penyebaran mangrove dan kawasan lindung mangrove yang penting di Indonesia dan panduan ringkas bergambar identifikasi mangrove. dkk. jenis mangrove yang dideskripsikan hanya mencakup 60 jenis. 1.. Dalam panduan edisi Bahasa Indonesia ini. Inti dari buku panduan ini terdapat pada bagian dua.H. para pembaca sangat dianjurkan untuk mengacu buku-buku lain yang khusus membahas jenis-jenis tanaman obat (misalnya Wijayakusuma. Selain itu. 1992). M. status dan kondisi mangrove di Indonesia dibandingkan dengan bagian dunia lainnya. Untuk hal demikian. tipe vegetasi serta faunanya. Dibagian ini ditampilkan panduan identifikasi jenis-jenis tumbuhan mangrove disertai ilustrasi dan/atau foto. termasuk definisi mengenai mangrove. disajikan panduan ringkas mengenai tekhnik dasar penelitian mangrove serta daftar nama dan alamat organisasi penting yang bergerak dibidang penelitian dan pengelolaan mangrove di Indonesia. meliputi 43 jenis mangrove sejati dan 17 jenis mangrove ikutan. namun pembaca diharapkan untuk berhati-hati dalam pemanfaatannya.3 Cakupan buku panduan Buku panduan ini terdiri dari dua bagian. 33 . khususnya berkenaan dengan dosis yang akan dipakai.Seluruh jenis mangrove tersebut telah dideskripsikan dalam manuskrip Bahasa Inggris dari panduan ini. termasuk beberapa uraian singkat mengenai tanah.

Peta penyebaran mangrove di Indonesia .44 Gambar 1.

Jenis-jenis Bruguiera umumnya tumbuh pada 53 .1968). atau bahkan pada pantai berbatu. Kint (1934) melaporkan bahwa di Indonesia. 1976a). bahkan pada pulau karang yang memiliki substrat berupa pecahan karang. 1966. Stylosa pada salinitas 55 o/oo. 1958).5 m) (Giesen. HABITAT MANGROVE 2. Substrat mangrove berupa tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi (62%) juga dilaporkan ditemukan di Kepulauan Seribu.1 Kondisi fisik Vegetasi mangrove secara khas memperlihatkan adanya pola zonasi (misalnya terlihat dalam Gambar 2). 1977). 1989). 1934). Sebagian besar jenis-jenis mangrove tumbuh dengan baik pada tanah berlumpur. salinitas serta pengaruh pasang surut. kondisi ini ditemukan di utara Teluk Bone dan di sepanjang Larian – Lumu. Di Indonesia. sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya. kerang dan bagian-bagian dari Halimeda (Ding Hou. 1991). Beberapa ahli (seperti Chapman. Amerika Serikat (Chapman. Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. Ceriops tagal pada salinitas 60 o/oo dan pada kondisi ekstrim ini tumbuh kerdil. R. 1976a). keterbukaan (terhadap hempasan gelombang). dimana mangrove tumbuh pada gambut dalam (>3m) yang bercampur dengan lapisan pasir dangkal (0. bahkan Lumnitzera racemosa dapat tumbuh sampai salinitas 90 o/oo (Chapman. misalnya di Florida. Sulawesi Selatan. A. terutama di daerah dimana endapan lumpur terakumulasi (Chapman. caseolaris yang tumbuh pada salinitas kurang dari 10 o/oo. Jenis-jenis Sonneratia umumnya ditemui hidup di daerah dengan salinitas tanah mendekati salinitas air laut. Di Indonesia. marina mampu tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90 o/oo (MacNae. stylosa dan Sonneratia alba tumbuh pada pantai yang berpasir. Pada kondisi tertentu. pasir atau gambut). Pada salinitas ekstrim. kecuali S. 1981) menyatakan bahwa hal tersebut berkaitan erat dengan tipe tanah (lumpur. Teluk Jakarta (Hardjowigeno. Rhizopora mucronata dan R. Jenis-jenis lain seperti Rhizopora stylosa tumbuh dengan baik pada substrat berpasir. Beberapa jenis lain juga dapat tumbuh pada salinitas tinggi seperti Aegiceras corniculatum pada salinitas 20 – 40 o/oo. Avicennia merupakan marga yang memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lainnya. Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. substrat berlumpur ini sangat baik untuk tegakan Rhizophora mucronata and Avicennia marina (Kint. Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya.II. dkk. mangrove dapat juga tumbuh pada daerah pantai bergambut. 1977 & Bunt & Williams. pohon tumbuh kerdil dan kemampuan menghasilkan buah hilang.

umumnya didominasi oleh jenisjenis Bruguiera dan Xylocarpus granatum. parviflora adalah 20 o/oo. serta kecuramannya. sedangkan areal yang digenangi hanya pada saat pasang tertinggi (hanya beberapa hari dalam sebulan) umumnya didominasi oleh Bruguiera sexangula dan Lumnitzera littorea. Adapun pada daerah pantai yang tererosi dan curam. Beberapa penulis melaporkan adanya korelasi antara zonasi mangrove dengan tinggi rendahnya pasang surut dan frekuensi banjir (van Steenis. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt. MacNae (1968) menyebutkan bahwa kadar salinitas optimum untuk B. 1989). lebar zona mangrove jarang melebihi 50 meter. panjang hamparan mangrove kadang-kadang mencapai puluhan kilometer seperti di Sungai Barito. Zona vegetasi mangrove nampaknya berkaitan erat dengan pasang surut. 46 . Panjang hamparan ini bergantung pada intrusi air laut yang sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pasang surut.daerah dengan salinitas di bawah 25 o/oo. dkk. 1990) atau bahkan lebih dari 30 kilometer seperti di Teluk Bintuni. Irian Jaya (Erftemeijer. Pada daerah seperti ini lebar zona mangrove dapat mencapai 18 kilometer seperti di Sungai Sembilang. Pada umumnya. Di Indonesia. Kalimantan Selatan. 1978a). 1958 & Chapman. sementara B. Areal yang digenangi oleh pasang sedang didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora. yang mana areal ini lebih ke daratan. Adapun areal yang digenangi hanya pada saat pasang tinggi. areal yang selalu digenangi walaupun pada saat pasang rendah umumnya didominasi oleh Avicennia alba atau Sonneratia alba. kecuali pada beberapa estuari serta teluk yang dangkal dan tertutup. lebar zona mangrove jarang melebihi 4 kilometer. Untuk daerah di sepanjang sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut. pemasukan dan pengeluaran material kedalam dan dari sungai. gymnorrhiza adalah 10 – 25 o/oo.

Contoh zonasi mangrove di Cilacap. Jawa Tengah (diadaptasi dari White. gymnorrhiza B. mucronata Sarcolobus banksii Xylocarpus granatum 73 . parviflora Ceriops tagal Dh Ra Rm Sb Xg - Derris heterophylla Rhizophora apiculata R. Aa Ac Bc Bg Bp Ct - Avicennia alba Aegiceras corniculatum Bruguiera cylindrica B. dkk.Gambar 2. 1989).

c) Mangrove payau Mangrove berada disepanjang sungai berair payau hingga hampir tawar. campuran komunitas Sonneratia . fruticans terdapat pada jalur yang sempit di sepanjang sebagian besar sungai.2 Tipe vegetasi mangrove Struktur Secara sederhana. Stenochlaena palustris dan Xylocarpus granatum. Sonneratia akan berasosiasi dengan Avicennia jika tanah lumpurnya kaya akan bahan organik (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Gluta renghas.Nypa lebih sering ditemukan. 48 . 1993). Di zona ini biasanya didominasi oleh jenis Rhizophora.fruticans yang bersambung dengan vegetasi yang terdiri dari Cerbera sp. moluccensis. daerah yang memiliki sungai berair payau sampai hampir tawar. Komposisi floristik dari komunitas di zona terbuka sangat bergantung pada substratnya. Samingan (1980) menemukan di Karang Agung didominasi oleh Bruguiera cylindrica. daerah tengah. Di zona ini biasanya didominasi oleh komunitas Nypa atau Sonneratia. S. Sonneratia caseolaris lebih dominan terutama di bagian estuari yang berair hampir tawar (Giesen & van Balen. Excoecaria agallocha. Maluku. seperti di Pulau Kaget dan Pulau Kembang di mulut Sungai Barito di Kalimantan Selatan atau di mulut Sungai Singkil di Aceh. sementara Avicennia marina dan Rhizophora mucronata cenderung untuk mendominasi daerah yang lebih berlumpur (Van Steenis. eriopetala. di zona ini didominasi oleh Sonneratia alba yang tumbuh pada areal yang betul-betul dipengaruhi oleh air laut. alba. alba merupakan jenis-jenis ko-dominan pada areal pantai yang sangat tergenang ini. Sumatera Selatan. 1958). serta daerah ke arah daratan yang memiliki air tawar. 1991). gymnorrhiza. Di Karang Agung. Ke arah pantai. Meskipun demikian. di zona ini didominasi oleh S. B. R. mangrove umumnya tumbuh dalam 4 zona. mucronata. b) Mangrove tengah Mangrove di zona ini terletak dibelakang mangrove zona terbuka. alba cenderung untuk mendominasi daerah berpasir. Jenis-jenis penting lainnya yang ditemukan di Karang Agung adalah B. Komiyama. yaitu pada daerah terbuka. a) Mangrove terbuka Mangrove berada pada bagian yang berhadapan dengan laut. Van Steenis (1958) melaporkan bahwa S. komunitas N. dkk (1988) menemukan bahwa di Halmahera. Namun. Di sebagian besar daerah lainnya.2. Xylocarpus granatum dan X. alba dan A. Di jalur-jalur tersebut sering sekali ditemukan tegakan N. Samingan (1980) menemukan bahwa di Karang Agung.

Banyak formasi serta zona vegetasi yang tumpang tindih dan bercampur serta seringkali struktur dan korelasi yang nampak di suatu daerah tidak selalu dapat diaplikasikan di daerah yang lain. akan tetapi sebagian besar dari jenis-jenis yang tercatat berupa jenis-jenis gulma (seperti Chenopodiaceae. Selain itu. 142 jenis di Irian Jaya. Meskipun kelihatannya terdapat zonasi dalam vegetasi mangrove. meskipun memiliki keragaman jenis yang paling tinggi. 135 jenis di Sulawesi. dan Xylocarpus moluccensis (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. akan tetapi juga untuk taxa yang lainnya. Tabel 1 memberikan gambaran mengenai penyebaran seluruh jenis mangrove sejati di 6 negara di kawasan Samudera Hindia bagian utara/Pasifik barat laut. Jenis-jenis yang umum ditemukan pada zona ini termasuk Ficus microcarpus (F. dkk. Lumnitzera racemosa. Amerika Timur/Karibea dan Afrika Barat hanya memiliki 7 jenis serta Afrika Timur 9 jenis (Saenger.d) Mangrove daratan Mangrove berada di zona perairan payau atau hampir tawar di belakang jalur hijau mangrove yang sebenarnya. N. 150 jenis di Kalimantan. terdapat perbedaan dalam hal keragaman jenis mangrove antara satu pulau dengan pulau lainnya. Di Indonesia sendiri. Pengecualian untuk Pulau Jawa. fruticans. Intsia bijuga. Zona ini memiliki kekayaan jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan zona lainnya. 166 jenis terdapat di Jawa. Pandanus sp. setidaknya tercatat 40 jenis berada di Indonesia. Meskipun daftar ini mungkin tidak terlalu komprehensif. akan tetapi dapat memberikan gambaran urutan penyebaran jenis mangrove di pulau-pulau Indonesia. namun kenyataan di lapangan tidaklah sesederhana itu. Flora & keragamannya Kawasan Samudera India bagian utara dan Pasifik barat daya (memanjang dari Laut Merah sampai Jepang dan Indonesia) merupakan tempat keanekaragaman jenis mangrove tertinggi di dunia. Dari 202 jenis mangrove yang telah diketahui. 1983). Satu hal yang harus 93 . 133 jenis di Maluku dan 120 jenis di Kepulauan Sunda Kecil. Dari 50 jenis mangrove sejati yang ada. retusa). 157 jenis di Sumatera. Kekayaan tersebut tidak hanya dalam hal kelompok tumbuhan Angiospermae. dkk (1983) mencatat dua kawasan tersebut mewakili masing-masing 44 dan 38 jenis dari 60 jenis mangrove sejati yang tercatat di dunia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman jenis mangrove yang paling tinggi di dunia. 1993). Sementara di kawasan Amerika Barat/Pasifik Timur. penelitian mangrove lebih intensif dilakukan di pulau ini dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Saenger. Cyperaceae. Poaceae). Tanaka dan Chihara (1988) dalam penelitiannya mengenai makroalga di Indonesia Timur menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat penyebaran makroalga di dunia yang berasosiasi dengan tumbuhan mangrove.

ilicifolius + A. volubilis Aegilitis annulata A. schultzii Ceriops decandra + C. Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Acanthus ebracteatus + A.diperhatikan adalah bahwa pembangunan yang mengakibatkan kerusakan dan peralihan peruntukan lahan mangrove telah terjadi di mana-mana. intermedia A. parviflora + B.N. officinalis + A. floridum Avicennia alba + A. Hal ini berarti jenis-jenis yang tercatat dalam daftar diatas kemungkinan sebenarnya sudah tidak ditemukan di pulau tertentu. 1983) Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P. tagal + Cynometra ramiflora + Excoecaria agallocha + Heritiera fomes + H. marina + A. eucalyptifolia A. Penyebaran jenis-jenis mangrove sejati di kawasan Indo-Australia (Saenger. gymnorrhiza + B. hainesii B. litoralis + + + + + + + + + + + + + + + ?+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 410 . dkk. exaristata B.G. lanata A. integra A. sexangula Campnosperma philippinensis C. rumphiana Bruguiera cylindrica + B. retundifolia + Aegiceras corniculatum + A. Tabel 1..

moluccensis X. stylosa Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S. caseolaris S. lamarckii R. recemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phoenix paludosa Rhizophora apiculata R.N. mekongensis X. parvifolius J UM L A H Referensi: India Bangladesh Vietnam Indonesia Papua New Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 27 19 30 39 33 28 : Chaudhuri & Choudhury (1994) : Das & Siddiqi (1985) : Hong & Sen (1993) : Publikasi ini Guinea : Percival & Womersley (1975). granatum X. Wightman (1989) 113 .G. mucronata R. griffithii S.Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P. Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Kandelia candel Lumnitzera littorea L. Tomlinson & Womersley (1976) : Tomlinson & Womersley (1976). apetala S. ovata Xylocarpus australasicus X.

Selain Amyema anisomeres (mangrove sejati). 2. sehingga memerlukan pengelolaan khusus untuk menjamin kelangsungan hidupnya. anisomeres dan N. Sporobolus virginicus. A. Budiman (1985) mencatat sebanyak 91 jenis moluska hanya dari satu tempat saja di Seram. Empat jenis sisanya berstatus langka secara global. Eleocharis spiralis dan Scirpus litoralis. Dalam hal kelangkaan. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena buah mangrove mudah terbawa oleh gelombang dan tumbuh di tempat lain. yaitu: Lima jenis umum setempat tetapi langka secara global. Selain sebagai tempat berlindung dan mencari makan. Bagi berbagai jenis ikan dan udang. Jenis-jenis tersebut adalah Eleocharis parvula. Rhododendron brookeanum (dari 2 sub-jenis. mangrove juga merupakan tempat berkembang biak bagi burung air. akan tetapi juga sering mengunjungi daerah mangrove. tempat mencari makan dan tempat pembesaran anak.Jenis tumbuhan langka dan endemik Untuk kepentingan konservasi serta pengelolaan sumberdaya alam. Oberonia rhizophoreti. Scyphiphora hydrophyllacea. Maluku. perairan mangrove merupakan tempat ideal sebagai daerah asuhan. yaitu Ixora timorensis (Rubiaceae) yang merupakan jenis tumbuhan kecil yang diketahui berada di Pulau Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil. Dua diantaranya. Kandelia candel dan Nephrolepis acutifolia.3 Fauna mangrove Mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa liar seperti primata. Jenis-jenisnya adalah Ceriops decandra. jenis-jenis yang bersifat langka dan endemik haruslah diberi perhatian lebih. sehingga berstatus rentan dan memerlukan perhatian khusus untuk pengelolaannya. Fimbristylis sieberiana. Quassia indica. Moluska sangat banyak ditemukan pada areal mangrove di Indonesia. Jenis-jenis tersebut adalah Amyema anisomeres. sementara yang lainnya ada yang hidup di permukaan 412 . Sonneratia ovata. Beberapa dari 91 jenis kelompok moluska tersebut diketahui hidup di dalam tanah. Jumlah tersebut termasuk 33 jenis yang biasanya terdapat pada karang. serta Rhododendron brookeanum (Ericaceae) yang merupakan epifit berkayu yang diketahui berada di Sumatera dan Kalimantan.acutifolia hanya terkoleksi satu kali. reptilia dan burung. di Indonesia terdapat 14 jenis mangrove yang langka. masih terdapat 2 jenis endemik lainnya (mangrove ikutan). Hanya sedikit jenis mangrove yang bersifat endemik di Indonesia. Lima jenis yang langka di Indonesia tetapi umum di tempat lainnya. sehingga secara global tidak memerlukan pengelolaan khusus. sehingga hanya diketahui tipe setempat saja. hanya satu terkoleksi).

Malaysia. Butis butis. Liza subvirldis. 1989 & Sasekumar. 1972). Metaplax. Burhanuddin (1993) mencatat sebanyak 62 jenis ikan hidup di daerah mangrove di Pulau Panaitan. termasuk berbagai jenis udang-udangan yang memiliki nilai komersial penting. Mangrove juga merupakan habitat penting bagi berbagai jenis krustasea lainnya. dkk (1991) mencatat 74 jenis moluska pada mangrove di Sulawesi Selatan. yang sebagian besar diantaranya merupakan anakan. Giesen. areal mangrove berperan penting karena menyediakan tempat naungan serta mengurangi tekanan predator. Ikan yang dominan ditemukan adalah Mugil cephalus yang bersifat herbivora. dan Ambasis buruensis (Erftemeijer. Selain itu. Macrophthalmus. hutan mangrove menyediakan makanan bagi ikan dalam bentuk material organik yang terbentuk dari jatuhan daun serta berbagai jenis hewan invertebrata. keragaman jenis moluska tidak sebanyak di Seram. Sesarma dan Uca (Wada & Wowor. dkk. Kepiting Mangrove Scylla serrata merupakan kepiting yang hidup di daerah mangrove yang bernilai ekonomi tinggi (Delsman. 1984) mencatat sebanyak 28 jenis krustasea. Lebih dari 100 jenis kepiting mangrove diketahui hidup di Malaysia dan 76 jenis di Singapura. tercatat lebih dari 60 % ikan yang tertangkap merupakan ikan muda (Wahyuni. Di Indonesia. khususnya ikan predator. sementara Budiman (1988) menemukan 40 jenis di Halmahera. dkk. termasuk 8 jenis udang pada habitat mangrove di Pulau Pari. khususnya jenis-jenis penggali dari genus Cleistocoeloma. Dari setiap meter persegi dapat ditemukan 10 . Teluk Jakarta. Metapeneus (2 jenis) dan Palaemonetes (2 jenis) pada mangrove di Sulawesi Selatan. Di lokasi lain. Sasekumar. sebagai contoh Giesen. Malaysia. mangrove juga merupakan tempat pembesaran anak-anak ikan. sehingga dapat dikatakan sebagian besar dari jenis-jenis moluska tersebut hidup di daerah mangrove. Dalam kaitannya dengan makanan. Pilonobutis microns. pengetahuan mengenai kepiting mangrove di Indonesia sangat sedikit sekali dipelajari. Sayangnya. habitat permanen atau tempat berbiak (Aksornkoae. Hal yang sama dapat dilihat di Segara Anakan. Giesen. 1984). Ikan menjadikan areal mangrove sebagai tempat untuk pemijahan.70 ekor kepiting (Macintosh. Ilyoplax. 1993). dkk (1991) mencatat sebanyak 28 jenis kepiting di mangrove Sulawesi Selatan didominasi oleh genus Sesarma dan Uca. dkk (1991) mencatat sebanyak 14 jenis udang termasuk Macrobrachium (8 jenis). 1989). Dua jenis yang paling umum ditemukan adalah Thalassina anomala dan Uca dussumieri. Beberapa jenis ikan yang ditemukan di areal mangrove antara lain Tetraodon erythrotaenia. seperti kepiting dan serangga. dimana sebagian besar diantaranya masih berupa anakan. dkk (1992) mencatat sebanyak 119 jenis ikan hidup pada sungai-sungai kecil di daerah mangrove di Selangor.dan ada pula yang hidup menempel pada tumbuh-tumbuhan. Taman Nasional Ujung Kulon. Kepiting juga umum ditemukan di daerah mangrove. 1984). Sebanyak 24 jenis dari 40 jenis yang ditemukan Budiman (1988) merupakan jenis-jenis yang hidup di daerah mangrove. Toro (dalam Manuputty. Sasekumar. sedangkan 133 . dkk. Sebagai tempat pemijahan. 1989). dkk (1992) mencatat sebanyak 9 jenis udang di sungai-sungai kecil di mangrove Selangor.

dkk (1993) menemukan sebanyak 120 jenis burung (atau 414 . 1992). Bagi beberapa jenis burung air. Untuk kelompok Arthropoda terbang yang hidup di mangrove. Bagi berbagai jenis burung air migran (khususnya Charadriidae dan Scolopacidae). 1968) merupakan ikan yang sering sekali terlihat “berenang” pada genangan air berlumpur atau menempel pada akar mangrove. 1991). dkk. Beberapa lokasi yang sangat penting bagi burung bermigrasi diantaranya adalah Pantai Timur Sumatera (Danielsen & Verheugt. Ular tambak (Cerberus rhynchops). mangrove memainkan peranan yang sangat penting dalam migrasi mereka. Balen (1988) mencatat sebanyak 167 jenis burung terestrial di hutan mangrove Pulau Jawa. Sementara itu. 1988 dan Rusila 1987) dan Pantai Barat Sulawesi Selatan (Baltzer. Bangau (Ciconiidae) atau Pecuk (Phalacrocoracidae). merupakan 34 % dari seluruh jenis burung yang telah tercatat di Pulau Jawa (Andrew. 2 jenis amphibia telah diketahui dapat bertahan hidup pada lingkungan demikian. Sulawesi dan Irian kemungkinan juga merupakan lokasi-lokasi yang penting. MacNae. 1989. daerah mangrove menyediakan ruang yang memadai untuk membuat sarang. 1968). seperti kelompok burung Raja Udang (Alcedinidae). termasuk serangga. serta Toxotes jaculator yang bersifat insektivora. Diptera and Psocoptera. Giesen. Ikan gelodok (Periopthalmus spp. Verheught. berbiak atau sekedar beristirahat. Lutjanus fulviflamma dan Plotosus canius yang bersifat karnivora.jenis-jenis lain yang juga umum ditemukan adalah Caranx kalla. Maluku bahwa sebagian besar serangga yang ditemukan berasal dari ordo Hymenoptera. 1990 dan Giesen. beberapa daerah lain di Kalimantan. Giesen. Scartelaos spp. mangrove menyediakan tenggeran serta sumber makanan yang berlimpah. Bagi jenis-jenis pemakan ikan. Jenis-jenis burung yang hidup di daerah mangrove tampaknya tidak terlalu berbeda dengan jenis-jenis yang hidup di daerah hutan sekitarnya. Jenis-jenis Reptilia yang umum ditemukan di daerah mangrove di Indonesia diantaranya adalah buaya muara (Crocodylus porosus). Keng & Tat-Mong. terutama karena minimnya gangguan yang ditimbulkan oleh predator. akan tetapi juga sebagai tempat perlindungan dan mencari makan. 1991. Holocentrum rubrum. Sangat sedikit sekali Amphibia dapat ditemukan bertahan hidup pada lingkungan yang berair asin seperti lingkungan mangrove. Meskipun demikian. Trimeresurus wagler dan T. akan tetapi masih diperlukan survey yang lebih mendalam untuk membuktikan hal tersebut. 1993). seperti Kuntul (Egretta spp). Seluruh jenis reptilia tersebut dapat juga ditemukan pada lingkungan air tawar atau di daratan.). yaitu Rana cancrivora and R. Mereka menggunakan mangrove sebagai habitat untuk mencari makan. purpureomaculatus (MacNae.. 1968. limnocharis (MacNae. Mangrove tidak hanya sebagai tempat perhentian. biawak (Varanus salvator). Rusila 1991. dijelaskan oleh Abe (1988) dalam penelitiannya di Halmahera.. ular mangrove (Boiga dendrophila). Pantai Utara Jawa (Erftemeijer & Djuharsa. ular air (Enhydris enhydris). 1989.

dkk. seperti: Wilwo (Mycteria cinerea . Populasinya diperkirakan hanya tinggal berjumlah 5000 . 1988) serta hutan mangrove di Segara Anakan yang merupakan hutan mangrove terbesar yang saat ini tersisa di Pulau Jawa (Erftmeijer. terutama di Sumatera dan Jawa. dkk. Tanjung Koyan.Lesser Adjutant .Cuculidae). Erftmeijer. Jenis ini telah tercantum dalam Red Data Book dalam kategori Vulnerable. 1991). Sementara itu. Pangkalan Data Lahan Basah (Wetland Data Base) mencatat setidaknya 200 jenis burung hidup bergantung pada habitat mangrove. dkk. seluruhnya di Sumatera Selatan (Danielsen. Jambi dan Riau) dan beberapa kawasan hutan bakau di Delta Sungai Brantas dan Bengawan Solo. dkk. Jumlah ini mewakili 13% dari seluruh jenis burung yang ada di Indonesia (Andrew. hutan mangrove merupakan habitat penting untuk bersarang atau mencari makan (Silvius & Verheught. dimana lebih dari 90% diantaranya ditemukan di daerah hutan bakau di Indonesia. 1986 dan Rusila. 1994). Populasi mereka sebagian besar terdapat di pantai timur Sumatera (Sumatera Selatan.Ciconiidae). Pada saat ini. 1988). 1987).150 jenis jika termasuk daerah lumpur disekitar hutan mangrove) di daerah limpasan banjir dan pasang surut di Sumatera Selatan (56% dari total burung yang ditemukan di daerah tersebut atau 25% dari seluruh jenis burung di Sumatera). Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus .6000 ekor saja (Verheught. Merupakan jenis endemik Pulau Jawa. 1989). jenis ini diperkirakan hanya bertahan hidup di kawasan hutan mangrove dan rawa sekitar Tanjung Karawang. 27 jenis ditemukan di daerah Mangrove Pulau Sumba (Zieren. Jenis ini telah dianggap sebagai salah satu jenis bangau yang paling terancam di seluruh dunia (Verheught. Indramayu dan Segara Anakan (Andrew. dari 17% total jumlah burung yang tercatat di Pulau Sumba. 1992). 153 . Baltzer (1990) melaporkan dari 141 jenis burung yang ditemukan di lahan basah propinsi tersebut. 1990). dkk (1991) menemukan 64 jenis burung hidup di hutan mangrove diantara 90 jenis yang ditemukan di teluk Bintuni (71% atau 10% dari seluruh burung di Irian Jaya). 1987). 1994).Ciconiidae). hutan bakau Tanjung Selokan dan hutan bakau Semenanjung Banyuasin. 1987 dan Rose & Scott. Di Jawa jenis ini hanya diketahui berbiak di hutan bakau Pulau Rambut (Allport & Wilson. Bubut hitam (Centropus nigrorufus . pantai utara Jawa (Erftmeijer & Djuharsa.Sunda Coucal . 1990). Mangrove juga merupakan habitat yang baik bagi beberapa jenis burung yang telah langka atau terancam kepunahan. sebanyak 81 jenis ditemukan di hutan mangrove (58 % atau 21 % dari seluruh burung di Sulawesi). Mereka hanya diketahui berbiak di hutan mangrove di Hutan Bakau Pantai Timur (Danielsen dan Skov. Di Sulawesi Selatan. Bagi jenis yang tergolong vulnerable ini.Milky Stork . di Irian Jaya. Disamping itu.

Melisch. Dari kelompok mamalia air. dimana jika areal ini digabungkan dengan areal Taman Nasional Berbak di Jambi. dkk. Tidak satupun dari mamalia diatas hidup secara eksklusif di mangrove. Bekantan (Nasalis larvatus. 416 . Dari empat jenis berangberang yaitu Aonyx cinerea. 1985. kelelawar (Pteropus spp. lutung (Trachypithecus aurata). dapat dianggap sebagai tempat hidup harimau Sumatera yang terbaik (Frazier. 1992). endemik Kalimantan) dan kucing bakau (Felis viverrina) (MacNae. 1985). dua jenis lumba-lumba yaitu Orcella brevirostris dan Sousa chinensis juga ditemukan di daerah muara sekitar hutan bakau. 1991). 1989). dkk. Teluk Bone. Macaca ochreata ochreata (endemik Sulawesi) pada masa lalu umum terlihat di daerah mangrove dekat Malili. 1968. Lutra sumatrana dan Lutra perspicillata yang diketahui hidup di Indonesia juga ditemukan di hutan mangrove. dkk. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatranus) masih ditemukan di wilayah Sungai Sembilang. sedangkan mamalia udara yang sering ditemukan adalah Pteropus vampirus. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt. 1993). kancil (Tragulus spp. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) umum ditemukan di daerah mangrove dan sering terlihat mencari makan pada hamparan lumpur di sekitar mangrove. Francis & Phillipps. Sulawesi Selatan (Giesen. Lutra lutra. kemudian diketahui bahwa mereka juga menggunakan hutan rawa gambut (Payne.Mamalia yang umum ditemukan pada habitat mangrove diantaranya adalah babi liar (Sus scrofa).) berang-berang (Lutra perspicillata dan Amblyonyx cinerea). Bekantan tadinya dianggap hanya hidup pada habitat mangrove. Payne.).

1992 dan Burhanuddin. obat-obatan dan perikanan (Tabel 2). Menurut Unar (dalam Djamali. Martosubroto & Naamin (dalam Djamali. 1929. merupakan produk yang secara tidak langsung mempengaruhi taraf hidup dan perekonomian desa-desa nelayan. Contohnya. peranan mangrove bagi lingkungan sekitarnya dirasakan sangat besar setelah berbagai dampak merugikan dirasakan diberbagai tempat akibat hilangnya mangrove. keperluan rumah tangga. Bahkan pemanfaatan mangrove untuk tujuan komersial seperti ekspor kayu. Melihat beragamnya manfaat mangrove. bahan bangunan. 1990). 1991) mengemukakan adanya hubungan linier positif antara luas hutan mangrove dengan produksi udang. Akhir-akhir ini. Sejarah pemanfaatan mangrove secara tradisional oleh masyarakat untuk kayu bakar dan bangunan telah berlangsung sejak lama. maka tingkat dan laju perekonomian pedesaan yang berada di kawasan pesisir seringkali sangat bergantung pada habitat mangrove yang ada di sekitarnya. 173 . 3. Bagi masyarakat pesisir.200 hektar areal mangrove. Pada tahun 1985. kulit. atau sekitar 35% dari areal mangrove yang tersisa (Dephut & FAO. 1985). Banyak jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi menghabiskan sebagian siklus hidupnya pada habitat mangrove (Sasekumar. terutama di Jawa dan Sumatera (van Bodegom. MANFAAT MANGROVE Mangrove memiliki berbagai macam manfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya. kepiting mangrove (Scylla serrata) serta ikan salmon (Polynemus sheridani) merupakan jenis ikan yang secara langsung bergantung kepada habitat mangrove (Griffin. kulit (untuk tanin) dan arang juga memiliki sejarah yang panjang. dimana makin luas hutan mangrove makin tinggi produksi udangnya dan sebaliknya. diantaranya: kayu bakar. Boon. 1936). Eksplotasi mangrove dalam skala besar di Indonesia nampaknya dimulai awal abad ini. Hal ini didukung oleh berbagai penelitian di negara-negara lain (Tabel 3). kertas. Pembuatan arang mangrove telah berlangsung sejak abad yang lalu di Riau dan masih berlangsung hingga kini. Berbagai produk dari mangrove dapat dihasilkan baik secara langsung maupun tidak langsung. pemanfaatan mangrove untuk berbagai tujuan telah dilakukan sejak lama. sejumlah 14 perusahaan telah diberikan ijin pengusahaan hutan yang mencakup sejumlah 877. dkk. 1990).III. Nampaknya produk yang paling memiliki nilai ekonomis tinggi dari ekosistem mangrove adalah perikanan pesisir. 1993). meskipun eksplotasi sesungguhnya dengan menggunakan mesin-mesin berat nampaknya baru dimulai pada tahun 1972 (Dephut & FAO.1 Pemanfaatan mangrove Mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif. 1991) beberapa jenis udang penaeid di Indonesia sangat tergantung pada ekosistem mangrove. perikanan pantai yang sangat dipengaruhi oleh keberadaan mangrove. Kakap (Lates calcacifer).

Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan.atap .kayu bakar . pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya yang kesemuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan (Soewito. Bruguiera spp. Sebagian besar kegiatan penangkapan ikan di Indonesia berlangsung di dekat pantai.konstruksi berat (jembatan) . Oncosperma tigillaria Nypa fruticans. Rhizophora. Produk yang dihasilkan mangrove A. menurunnya produksi perikanan di Bagansiapiapi. Bruguiera. Pada tahun 1998 total produksi perikanan laut Indonesia adalah sekitar 3. Acrostichum speciosum Cyperus malaccensis.250 keluarga (BPS.alkohol Bahan bangunan: . 1984). Sebaliknya. Di Indonesia hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial seperti di perairan sebelah timur Sumatera.lantai . Bruguiera. Ceriops spp. Rhizophora spp.lem Contoh jenis yang dimanfaatkan sebagian besar jenis pohon sebagian besar jenis pohon Nypa fruticans Bruguiera. Rhizophora. PRODUK VEGETASI Tipe pemanfaatan .pertambangan . Livistona saribus.tiang bangunan . kayu tiang .alas dok . Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh komunitas nelayan setempat dengan pola yang tradisional atau oleh nelayan modern yang datang dari kota pelabuhan besar. Tabel 2. Eleocharis dulcis Scolopia macrophylla terutama Rhizophoraceae Cycas rumphii Kategori Bahan bakar: 418 . Rhizophora spp.pembuatan perahu .kayu. 1984).pagar. 1998). salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Kasry.alas lantai . pipa .bantalan rel KA .papan . Rhizophora spp.arang kayu . dimana sebelum perang dunia II merupakan penghasil ikan utama di Indonesia bahkan sebagai salah satu penghasil ikan utama di dunia. pantai selatan dan timur Kalimantan.6 juta ton yang melibatkan tidak kurang dari 478. Lumnitzera Lumnitzera spp.

peralatan .hiasan . Excoecaria indica (bijinya) Cerbera manghas (insektisida) Cryptocoryne ciliata.tali .kancing 193 . Dolichandrone spathacea.keranjang . Drynaria rigidula Osbornia octodonta.parfum . Scirpus grossus Dolichandrone spathacea (topeng). granatum Typha angustifolia Cyperus malaccensis.berbagai jenis kertas . Rhizophora apiculata Atuna racemosa.mainan . Nypa fruticans Cycas rumphii Xylocarpus mekongensis Phymatodes scolopendria Dolichandrone spathacea.obat-obatan .isi bantal . X. granatum.tanaman hias .perekat jala . Colocasia esculenta Avicennia marina.pelampung . H.jangkar . rayon) .lem .fiber sintetis (mis. Camptostemon schultzii banyak jenis tumbuhan berkayu X. indica.Perikanan: . Crinum asiaticum Tristellateia australasiae Horsfieldia irya Drymoglossum piloselloides.penahan perahu Ceriops spp. tiliaceus Pemphis acidula.minyak rambut .racun . Scaevola taccada.tiang pancing . Eleocharis dulcis Paspalum vaginatum.pupuk Produk kertas: . Cerbera floribunda Rhizophoraceae Stenochlaena palustris.pembuatan kain Pertanian: .lilin . kulit .racun ikan . alba Derris trifoliata. Camptostemon schultzii Avicennia marina.mebel . Lumnitzera spp. Quassia indica Nypa fruticans Tekstil. S.berbagai jenis kertas Keperluan rumah tangga .pewarna kain . Osbornia octodonta terutama Rhizophoraceae E. Peltophorum pterocarpum terutama Rhizophora.pengawetan kulit .anti nyamuk .

pengganti tembakau Nypa fruticans Nypa fruticans biji Terminalia catappa Rhizophora stylosa Bruguiera cylindrica. B. PRODUK HEWANI Tipe pemanfaatan .000 0.Makanan.74 (7) 0. minuman dan obat : .minyak goreng .000 1 .lainnya Contoh jenis yang dimanfaatkan Lates calcarifer. Tabel 3.burung . 1986 420 . 1985 Jothy..8 0 – 50 1 – 1.62 (6) Staples et al.alkohol .975 (15) 0.kertas rokok . 1984 Pauly & Ingles.76 (6) 0.sayuran (dari propagula. Avicennia.gula . buah Inocarpus fagifer epidermis daun Nypa Loxogramma involuta B. dkk (1983) serta tambahan informasi dari Knox and Miyabara (1984) dan Fong (1984). Crocodylus porosus Rana spp.1 – 0. buah atau daun) .2 – 15 0 – 25 10 – 1.42 Koefisien Sumber 0. 1993) Lokasi (ton) Australia Malaysia Teluk Meksiko Filipina Hasil Tangkapan (ha) 0.madu dan lilin . Hubungan antara luas hutan mangrove dengan jumlah tangkapan udang (per tahun) (dalam Nirarita.kerang .Krustasea . 1984 Boesch & Turner.mammalia .2 – 5 Luas Mangrove Korelasi (n) 0.daging manis (dari propagula) .ikan . Kategori Lain-lain: Diadaptasi dari Saenger. Chanos chanos Penaeus spp.reptilia . gymnorrhiza daun Stenochlaena palustris. Scylla serrata kerang-kerangan Apis dorsata terutama burung air terutama Sus scrofa Varanus salvator.minuman fermentasi .

Sulawesi Selatan yang memiliki barisan mangrove yang tebal di pantai terlindung dari gelombang pasang (Tsunami) di pulau Flores pada akhir tahun 1993. 1987). Sebaliknya. Di Bangladesh. Dusun Tongke-tongke dan Pangasa. dkk. Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. 1994).000 hektar areal pantai dengan vegetasi mangrove (Maltby. Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. Peranan mangrove dalam menunjang kegiatan perikanan pantai dapat disarikan dalam dua hal. terutama dari ombak dan arus laut. Pertama. Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan pulau tersebut. 1986). Di Indonesia. Pada awalnya. karena lingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk kedalam rantai makanan. 1941). sehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yang hidup pada perairan sekitarnya (Mann.000 penduduk yang tinggal di pesisir dihantam badai. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur. pada pulau yang hilang mangrovenya. angin dan badai. Berbagai penelitian (van Steenis. Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman. 1993 dan Othman. 1980). mangrove merupakan pemasok bahan organik. sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge.2 Fungsi Mangrove Mangrove memiliki peranan penting dalam melindungi pantai dari gelombang. Mengetahui manfaat mangrove dalam menahan gempuran badai. Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove mempunyai peranan yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah dikolonisasinya. pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus. Mangrove juga terbukti memainkan peran penting dalam melindungi pesisir dari gempuran badai.3. bangunan dan pertanian dari angin kencang atau intrusi air laut. Sedangkan beberapa dusun yang berbatasan dengan kedua dusun ini yang tidak mempunyai mangrove yang cukup tebal mengalami kerusakan yang cukup parah. dimana jika terdapat mangrove otomatis akan terdapat tanah timbul (Steup. 213 . pulau tersebut mudah disapu ombak dan arus musiman (Chambers. mangrove berperan penting dalam siklus hidup berbagai jenis ikan. produksi serasah mangrove berkisar antara 7 – 8 ton/ha/ tahun (Nontji. 1993). proses pengikatan sedimen oleh mangrove dianggap sebagai suatu proses yang aktif. udang dan moluska (Davies & Claridge. 1982). Kedua. 1974). 1958 dan Chapman. pemerintah Bangladesh kemudian melakukan penanaman seluas 25. Sinjai. pada bulan Juni 1985 sebanyak 40. 1977) kemudian menyebutkan bahwa proses pengikatan dan penstabilan tersebut ternyata hanya terjadi pada pantai yang telah berkembang.

1992) . Jaring-jaring makanan dan pemanfaatan mangrove di Indonesia (diadaptasi dari AWB-Indonesia.422 Gambar 3.

Perbedaan perkiraan luas tersebut setidaknya dipengaruhi oleh tiga halo. adanya perbedaan metoda yang digunakan dalam menduga luasan mangrove. Dari tiga kategori yang dibuat oleh RePPProT. perkiraan luas untuk Irian jaya yang merupakan komponen luasan terbesar sangat berbeda antara satu penulis dengan penulis lainnya. Pertama.49 -4. sehingga data yang sebenarnya telah kadaluwarsa diacu berulangulang (misalnya: Burbridge & Koesoebiono. dkk. nipah dan nibung (Hx) disatukan menjadi “habitat mangrove”. kenyataannya memperoleh data yang memadai mengenai luas mangrove pada masa yang lalu dan saat ini tidak terlalu mudah (di Indonesia data dimulai sejak 1930-an. Untuk menghitung luas asal mangrove yang telah mengalami perubahan digunakan ektrapolasi dari data yang tersedia pada peta. STATUS MANGROVE INDONESIA 4. sangat sedikit sekali dilakukannya penghitungan areal mangrove berdasarkan kondisi yang sebenarnya di alam.IV. RePPProT. 1980 dan Dit.000) yang diproduksi oleh Departemen Transmigrasi. mulai dari 1. yaitu hutan bakau (Hv). maka areal tersebut dianggap dulunya adalah hutan mangrove.94 juta hektar. terdapat jumlah luasan mangrove yang lain yaitu 4. Namun.1 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Saat ini di seluruh dunia terjadi peningkatan hilangnya sumberdaya mangrove yang disebabkan adanya pemanfaatan yang tidak berkelanjutan serta pengalihan peruntukan (Aksornkoae.13 juta hektar. 1982). 1987) di peta ternyata ditemukan secara faktual berada di luar atau berdekatan dengan kawasan mangrove yang ada saat ini. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia.38 -2.53 juta hekar yang berasal dari Proyek Inventarisasi Hutan Nasional (Dit. Giesen (1993) mencoba menghitung luas areal asal mangrove berdasarkan seri RePPProT (1985-1989) dari peta Status Hutan. Bina Program Dephut bersama FAO/UNDP. hutan primer yang dieksploitasi kayunya (Ht) dan hutan pasang surut yang tidak dibedakan. Kedua.54 juta hektar yang berasal dari ISME (Spalding. 1997) dan 3. lihat Kint. Ketiga. 1934). 1993). diketahui bahwa luas asal mangrove Indonesia seluas 4. termasuk bakau. kemudian luas total mangrove untuk masingmasing propinsi dihitung. 1996).25 juta hektar. Dengan menggunakan metoda seperti diatas. Data perkiraan luas areal mangrove di Indonesia sangat beragam sehingga sulit untuk mengetahui secara pasti seberapa besar penurunan luas areal mangrove tersebut. Hal ini kembali disebabkan kurang tersedianya data serta peta yang memadai. jika sistem lahan khas habitat mangrove (KAJAPAH. Meskipun mangrove tidak terlalu sulit untuk dikenali dari foto penginderaan jarak jauh dan dipetakan. Departemen Kehutanan (1997) menyebutkan luas yang diambil dari berbagai sumber berkisar antara 2. Bina Program INT AG. 233 . Tata Guna Lahan dan Sistem Lahan (skala 1 : 250.

telah tersedia data yang diambil dari Peta Penutupan Lahan yang dibuat oleh BAPLAN – DEPHUT dengan menggunakan Citra Satelit untuk Tahun 2002 – 2003. Dengan melihat kondisi lapangan saat ini.1991). Gambaran lebih rinci mengenai data asal dan sisa mangrove dapat dilihat di Tabel 4. dkk (1991).000 hektar hutan mangrove masih terdapat di Sulawesi Selatan. Luas areal mangrove yang ada di Propinsi Sumatera Utara. Riau. Sebagai contoh.49 juta hektar (60%). Dari penghitungan diketahui luas mangrove yang tersisa pada tahun 1990 hanya sekitar 2. Giesen. Penghitungan tersebut didasarkan pada citra satelit SPOT dah SLAR. dkk (1989).49 juta hektar (19871990) dapat diterima. Untuk Propinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan penghitungan diatas. Kalimantan Selatan. jika perkiraan luas areal mangrove yang tersisa di Indonesia sekitar 2. namun belum dilakukan analisa laju perubahan luas mangrove. Dari luasan areal mangrove yang tersisa tersebut. termasuk dinamika data untuk Propinsi yang telah mengalami pemekaran. dan hanya 11% tersisa di Jawa. data yang digunakan untuk penghitungan hingga tahun 1990 tersebut. Seperti yang telah disebutkan. Data luas mangrove di Jawa Tengan diadopsi dari White. Sulawesi Tenggara dan Maluku digunakan data yang berasal dari Ditjen Perikanan (. Mereka memperkirakan jumlah areal hutan mangrove yang belum terganggu di Sulawesi Selatan hanya sekitar 23. 58% diantaranya terdapat di Papua. Jambi. dkk (1991) melaporkan meskipun 34. yang berarti jumlah areal mangrove yang hilang semakin bertambah. 424 . Kalimantan Timur. Sumatera Barat.000 hektar. Sulawesi Tengah.-an. Meskipun data tersebut telah disajikan dalam edisi cetak-ulang ini. Sejalan dengan hal tersebut. Sulawesi Utara. Untuk Propinsi Aceh dan Bengkulu.Selanjutnya dihitung luas areal mangrove yang tersisa berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi. kemungkinan luasan mangrove tersebut sudah berkurang. tetapi sebagian dari areal tersebut sebenarnya merupakan areal hutan mangrove yang telah mengalami gangguan dan dalam proses untuk dijadikan tambak. laju hilangnya mangrove hingga tahun 1990 juga sangat beragam. saat itu telah berusia 3 7 tahun serta areal yang dipetakan dan dianggap sebagai mangrove hanya sebagian yang tercakup oleh tipe ini. Sumatera Selatan dan Lampung dihitung berdasarkan data yang diperoleh selama kegiatan pengkajian lapangan yang dilaksanakan oleh AWB/PHPA pada tahun 1990 -1992. maka hal tersebut berarti bahwa pada akhir tahun 1980. Hal yang perlu dicatat dari uraian diatas adalah mungkin luas areal mangrove yang dihitung merupakan jumlah yang optimistis. Pada saat cetak-ulang ini dibuat. luas areal mangrove yang peruntukannya telah dialihkan menjadi tambak dihitung dari luas total areal mangrove yang terdapat pada peta RePPProT. sementara data untuk Sulawesi Selatan diambil dari hasil penelitian Giesen. Data untuk 10 Propinsi lainnya diambil dari RePPProT (1985-1989). antara hampir 10% di Papua hingga hampir 100% di Jawa Timur. Indonesia telah kehilangan sekitar 40% areal mangrovenya.

030 148.000 5.500 (3) 18.000 38.000 1.000 27.017 hektar pada tahun 1929 Masih merupakan bagian dari Propinsi lain. Data Mangrove diambil dari kategori “Hutan Mangrove Primer” dan “Hutan Mangrove Sekunder”.990 3.000 44.250 http://www.622.000 50.500.500 29.000 56.000 9.640 37.id/INFORMASI/INTAG/Peta%20Tematik/PL&Veg/VEG_2003.497 47.840 38.000 100.000 27. sebelum pemekaran Data setelah pemekaran Propinsi (2) (3) (4) (5) 253 .000 13.500 0 (4) 1.826 0 192 40 325 0 (4) 94 2.678 1.000 95.608 0 (4) 13.000 128.000 (5) 15.500 354.000 128.000 110. kecuali Sulawesi selatan.765.000 17.000 9.000 (5) 42.000 4.000 500 500 0 21.996 550 32 0 1.000 4.000 3.000 64.000 28.000 4.326.640 70.000 2.500 66.000 84.000 0 (4) 55.000 0 34.340 4.500 Tambak Ditjen BAPLAN Perikanan 2005 (data (1991) 2002/3) (1) 39.900 800 0 10.000 2.000 0 470.000 Silvius dkk.000 3.go.000 115.163.050 13.710 0 (4) 1.950 3.405 6.000 43.000 109.000 (5) 0 (4) 0 750.500 57. Van Bodegom (1929) melaporkan bahwa seluruh areal mangrove di Riau telah dipetakan dan diukur secara planimetris seluas 182.000 53. Luas mangrove per Propinsi di Indonesia (ha) Mangrove Propinsi Bina Program (1982) 54.450 363.000 65.000 4.003 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Jawa Barat & DKI Banten Jawa Tengah & DIY Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Selatan Maluku Maluku Utara Papua T o t a l Keterangan: (1) 102.000 259. dan luas areal untuk masing-masing sistem lahan per propinsi berdasarkan Giesen.500 1.000 (5) 1.3 0 (4) 110.200 0 (4) 18.000 0 276.000 66.943.000 213.300 48.000 235.000 5.000 10.577 7.000 34.850 221.098.330 0 (4) 30.335 60.dephut.Tabel 4.000 0 3 2.000 11.000 0 (4) 2.000 90.476 1.150 0 (4) 104.000 60.830 40.000 367.000 5.000 16.440 8.000 0 (4) 0 17.000 (5) 63.740 120. Baltzer dan Baruadi (1991). Data Tambak diambil dari kategori “Tambak” Berdasarkan klasifikasi sistem lahan RePPProT (1985 – 89).088 65 0 (4) 95 268.000 91.000 46.939 50.000 3.000 750.000 208.000 680.000 3.000 195.970 98.000 0 13.000 89.833 0 (4) 66.000 26.382.750 1.000 137.000 0 (4) 20.780 775.HTM.000 25.000 3.000 20.000 58.700 6.000 19.700 INTAG (1993) BAPLAN 2005 (data 2002/3) (1) 18.913 626 4. (1987) 55.000 10.800 0 29.000 12.780 194.683 73.000 8.430 0 (4) 520 49.500 60.107 861 6.500 0 (4) 1.500 0 (4) 46.251.000 0 (5) 3.000 15.000 1.000 0 2.000 0 25.000 Jumlah Areal Asal (2) 60.500 0 (4) 2.235.700 0 (4) 1.000 1.000 19.650 266.000 99.636 590 0 (4) 73.000 197.

Perbandingan luas mangrove asal dan yang tersisa di Indonesia (1986-1990) .426 Gambar 4.

c). Di SM Karang Gading Langkat Timur Laut. yang kemudian meningkat menjadi 750. 1991 a. Perlu dicatat.000 hektar (Ditjen Perikanan.000 hektar pada tahun 1990 (Ditjen Peri kanan. Kegiatan pembangunan utama yang memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal mangrove di Indonesia adalah pengambilan kayu untuk keperluan komersial serta peralihan peruntukan untuk tambak dan areal pertanian (khususnya padi dan kelapa).200 hektar areal mangrove berada dalam konsesi pengusahaan hutan untuk diambil kayunya (Dep. misalnya. seperti pengasaman tanah (Hassan & Ti. kecuali di Segara Anakan dan Teluk Pangong (dekat selat Bali). 1986). 1985). Pada tahun 1990. Dampak yang ditimbulkan oleh pestisida terhadap lingkungan dijelaskan oleh Primarvera (1991) dan Baird (1994). Meindersma (1923) melaporkan sangat sulit untuk menemukan mangrove yang alami dan tidak terganggu di Pulau Jawa. yang berarti lebih dari 18 kg. 2005).700 hektar (Bailey. tidak bercampurnya tanah (Giesen. kemudian berkembang ke Aceh. Sejarah pembangunan tambak diawali di Jawa dan Sulawesi selatan. 1997) dan menjadi 750. luas areal tambak yang terpantau sekitar 269. lebih dari 75 tahun yang lalu.559 ton pestisida digunakan untuk tambak selama tahun 1990 (BPS. pestisida per hektar per bulan (asumsi seluruhnya digunakan di Sulawesi Selatan). Pada tahun 1982. 1991) serta berkurangnya anakan untuk keperluan perkembangan ikan (Wardoyo & Rasyid.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. 2005). kemudian bertambah menjadi 269.500 hektar tambak yang tidak diusahakan dan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum (Giesen & Sukotjo. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para pembuka lahan. kehadiran tambak tidak selalu 273 . data tahun 1985 menunjukkan seluas 877. Sementara itu. Statistik perikanan untuk Sulawesi Selatan menunjukkan sekitar 16. terdapat sekitar 2.182 ha pada tahun 1997 (Ditjen Perikanan. Kehutanan & FAG. Sumatera Utara dan Lampung (Giesen. 390. 1988).000 hektar tersebut sama dengan 23 % dari luas asal areal mangrove pada tahun yang sama. ini tidak termasuk tambak-tambak yang telah ditinggalkan dan tidak diusahakan lagi yang di beberapa lokasi cukup luas. 1990). Jauh sebelumnya.b. Berarti terjadi penambahan areal tambak lebih dari 350% dalam kurun waktu 20 tahun. Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. bahkan untuk tambak tradisional. pestisida dan antibiotika juga kerap kali digunakan. perkiraan luas tambak di Indonesia seluas 193. 1991). 1991).2 Penyebab penurunan luas mangrove Pembangunan di areal mangrove Konversi dan hilangnya mangrove tampaknya bukan merupakan sesuatu yang baru terjadi pada dekade terakhir ini saja. 1990). Dalam banyak kasus. dkk. Areal tambak yang tercatat pada tahun 2002/03 seluas hampir 750.4. Meskipun demikian. 1991).

berarti hilangnya mangrove. Hal ini dapat dilihat pada pola tambak yang masih menyisakan pohon mangrove, yang dipraktekkan di beberapa tempat di Jawa. Pada pola ini, mangrove ditanam di bagian tengah tambak. Sistem ini sangat baik untuk diterapkan karena selain melindungi dan mempertahankan mangrove, juga dapat dimanfaatkan oleh burung air. Kegiatan pengambilan kayu sering terlihat di Riau, Kalimantan dan Papua. Luas areal konsesi pengusahaan hutan meningkat dari 455.000 hektar pada tahun 1978 (Burbridge & Koesoebiomo, 1980) menjadi 877.200 hektar pada tahun 1985 (Oepartemen Kehutanan dan FAO, 1990), atau sekitar 35% dari luas areal mangrove yang tersisa pada awal tahun 1990-an (data Giesen, 1993). Sayangnya, dampak yang ditimbulkan oleh pengambilan kayu terhadap hilangnya luasan areal mangrove sangat sulit untuk dirinci. Pada beberapa kasus, dampak lain dari pengambilan kayu mangrove adalah penurunan kualitas tegakannya. Nurkin (1979) menjelaskan bagaimana areal mangrove yang telah ditebangi di Sulawesi Selatan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum, selanjutnya menghambat terjadinya regenerasi tumbuhan mangrove. Di daerah lain, mangrove ternyata juga dapat tumbuh sendiri setelah tumbuhannya ditebang, misalnya di Riau Tenggara (Giesen, 1991 b), serta di areal mangrove di Sei Kecil, Kalimantan Barat (Abdulhadi & Suhardjono, 1994). Meskipun dalam beberapa kasus mangrove dapat tumbuh kembali, akan tetapi tidak berarti bahwa tumbuhan yang baru tersebut akan selalu sarna dengan jenis seberumnya, bahkan seringkali justru jenis tumbuhan yang kurang diminati yang kemudian menjadi dominan, seperti Xylocarpus granatum di Pulau Bakung, Riau (Giesen, 1991 b), Excoecaria agallocha dan Bruguiera parviflora di Karang Gading Langkat Timur Laut, Sumatera Utara (Giesen & Sukotjo, 1991). Penduduk juga memberikan sumbangan terhadap penurunan luas manrove di Indonesia. Seperti diketahui, penduduk setempat telah memanfaatkan mangrove dalam kurun waktu yang lama, namun diyakini bahwa kegiatan mereka tidak sampai menimbulkan kerusakan yang berarti pada ekosistem ini. Akan tetapi, hal tersebut telah berubah dalam dekade terakhir ini seiring dengan adanya pertambahan populasi penduduk, baik karena pertambahan alami maupun perpindahan dari luar. Kegiatan masyarakat yang menyebabkan hilangnya mangrove ini terutama adalah pemanfaatan areal mangrove untuk pembangunan tambak. Fiselier, dkk (1990) bahkan menyatakan: “Reklamasi untuk keperluan budidaya perikanan dan pertanian tampaknya saat ini dianggap sebagai suatu kegiatan pembangunan utama yang berlangsung di areal mangrove. Kegiatan reklamasi tersebut sebenarnya berbiaya tinggi dan acapkali tidak berkelanjutan, serta sering menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap lingkungan. Keuntungan yang dihasilkan sebagian besar diraup oleh mereka yang datang dari luar, dan hanya sebagian kecil saja yang dinikmati oleh penduduk setempat, berupa hasil penangkapan ikan dan pengumpulan hasil hutan yang dilaksanakan secara tradisional”. Pernyataan ini didukung oleh Ong (1982) yang membahas mengenai konversi mangrove di Malaysia dan menyimpulkan bahwa pembangunan budidaya perikanan berkaitan, baik secara ekonomis maupun secara ekologis.

428

Telah disebutkan didepan bahwa pembangunan tambak memberikan sumbangan terhadap hilangnya mangrove. Selain itu, data juga menunjukan bahwa mangrove yang tersisa juga mengalami ancaman berupa: a) konversi menjadi lahan pertanian, b) suksesi menjadi vegetasi sekunder non-hutan setelah terjadinya eksploitasi berlebih oleh masyarakat setempat, c) kurangnya regenerasi setelah dibabat untuk kepentingan komersial, dan d) erosi pantai. Meskipun data sangat kurang, namun nampaknya faktor yang memberi sumbangan penting terhadap hilangnya mangrove, selain konversi menjadi tambak, adalah konversi menjadi lahan pertanian dan penebangan kayu secara komersial dan dalam skala yang lebih kecil, serta eksploatasi berlebihan oleh masyarakat setempat. Kematian mangrove secara alami merupakan kejadian yang umum ditemukan dan merupakan kondisi alami, karena Iingkungan mangrove bersifat dinamik dan periodik, serta asosiasi mangrove teradaptasi dengan lingkungan tertentu melalui pertumbuhan dan kematian secara cepat (Uimenez & Lugo, 1985). Perubahan yang terjadi di alam biasanya bersifat fisik (Choy & Booth, 1994, berdasarkan contoh yang diambil di Brunei), sementara penyakit dan faktor biotis lainnya nampaknya berupa agen sekunder. Secara umum dapat dikatakan bahwa kematian mangrove secara alami tidak memberikan sumbangan yang signifikan terhadap hilangnya areal mangrove di Indonesia.

293

V. KEBIJAKAN DAN PERATURAN MENYANGKUT MANGROVE
Disadari bahwa mangrove memberikan banyak manfaat bagi manusia. Dengan demikian, mempertahankan areal-areal mangrove yang strategis, termasuk tumbuhan dan hewannya, sangat penting untuk pembangunan ekonomi dan sosial. Pada masa lalu, disaat tekanan penduduk masih rendah, hal tersebut tidak menjadi masalah karena pada tingkat lokal manfaat mangrove biasanya langsung disadari oleh masyarakat dan seringkali kawasan mangrove dilindungi oleh hukum adat. Namun selama 2 - 3 dekade lalu, tekanan penduduk semakin meningkat dengan tajam sehingga mengakibatkan permintaan akan sumberdaya pertanian meningkat pula. Pada saat yang bersamaan, kegiatan perikanan dan kehutanan juga meningkat dengan pesat dan menjadi faktor utama dalam perubahan lingkungan mangrove. Dalam kondisi demikian, aturan setempat yang berupa hukum adat seringkali terkesampingkan oleh insentif ekonomi jangka pendek. Untuk merespon hal tersebut, pemerintah kemudian mengeluarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) serta beberapa peraturan dalam berbagai tingkat yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove. Peraturan yang paling relevan diantaranya terkait dengan aturan mengenai kebijakan jalur hijau serta sistem areal perlindungan.

5.1

Pemetaan sumberdaya

Pada tahun 1982, rencana tata guna lahan hutan untuk pertama kalinya dipersiapkan oleh Departemen Pertanian (saat itu kehutanan masih direktorat di Departemen Pertanian). Tata guna lahan yang berupa Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tersebut dipersiapkan untuk setiap propinsi dengan skala peta 1 : 500.000. Sejak 1983, setelah pembentukan Departemen Kehutanan, tugas ini kemudian diambil alih oleh Ditjen Inventarisasi dan Tata Guna Hutan (INTAG). Peta TGHK membagi lahan menjadi kategori berikut : Areal Konservasi dan Perlindungan Alam Hutan Lindung Hutan Produksi (terbatas dan biasa) Hutan Konversi Tak Terklasifikasi (Hak Milik, Hak Milik Adat, Hak Pengelolaan). Berdasarkan pembagian diatas, mangrove dapat masuk kedalam seluruh kategori. Di beberapa instansi, ditambahkan pembagian lahan kategori keenam yaitu Hutan Bakau

430

(mangrove) dalam beberapa peta. Sayangnya, hal ini kemudian membingungkan karena tidak memberikan indikasi mengenai status yang sebenarnya dari sumberdaya yang penting ini. Peta TGHK tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, akan tetapi dijadikan sebagai panduan bagi pemerintah daerah dalam membuat perencanaan tata guna lahan. Status yang ada dapat saja disesuaikan dalam setiap peta. Sebagai contoh, suatu areal yang dipetakan sebagai hutan lindung pada peta dengan skala 1 : 500.000, dapat saja kemudian terbagi menjadi beberapa kategori lainnya jika dipetakan dalam peta dengan skala yang lebih rinci (misalnya 1 : 50.000). Contoh lain adalah dapat saja suatu areal dipetakan sebagai cagar alam atau areal konservasi, padahal sebenarnya belum dikukuhkan atau hanya sebagian saja yang telah dikukuhkan. Walaupun demikian, secara umum peta TGHK sangat bermanfaat. Dalam perkembangan berikutnya pada skala lokal, peta TGHK kemudian digantikan oleh peta tata ruang yang disiapkan oleh masing-masing pemerintah daerah. Pembuatan peta tersebut sebagai tindak lanjut dari Undang-undang No. 24 Tahun 1992 mengenai Tata Ruang. UU ini memerintahkan adanya perencanaan ruang yang luas pada tingkat Nasional, Propinsi sampai Kabupaten, dan mengharuskan pemerintah untuk mengembangkan program perencanaan tata ruang yang menunjukkan sumberdaya apa yang harus dilindungi, direhabilitasi ataupun harus dialokasikan untuk kepentingan pembangunan ekonomi.

5.2

Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove

Seperti di tempat lain di dunia ini, lahan di Indonesia diberi status tertentu yang memungkinkan penggunaan tertentu. Bila suatu areal lahan telah digunakan secara tradisional oleh suatu komunitas tertentu dalam masyarakat, maka biasanya pengelolaan lahan tersebut akan dialihkan kepada komunitas masyarakat tersebut dengan status Hak Milik, Hak Milik Adat atau Hak Pengelolaan. Areal lahan yang bukan merupakan areal pertanian (termasuk sebagian besar lahan hutan) pada umumnya diberi status sebagai Tanah Negara. Meskipun telah terdapat pembagian status lahan, kenyataannya masih muncul berbagai konflik menyangkut kepemilikan atau hak pengusahaan lahan. Misalnya, meskipun suatu areal mangrove telah dikelola oleh hukum adat atau merupakan tanah negara (tanah timbul), akan tetapi apabila telah dikonversi menjadi tambak, seringkali lahan tersebut berubah menjadi milik pribadi. Akibat perubahan ini, konflik lain seringkali muncul apabila pemerintah kemudian ingin mengambil kembali lahan tersebut untuk kepentingan yang lain, misalnya untuk jalur hijau. Sampai saat manuskrip ini dibuat, setidaknya telah dibuat 22 buah peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove di Indonesia. Peraturan-peraturan tersebut umumnya menyoroti hubungan antara sektor kehutanan dan sektor perikanan serta

313

Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1967 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Bidang Perkebunan. 32 Tahun 1990 mengenai areal lindung. 9. Undang-undang Dasar Tahun 1945 Pasal 33 ayat 3. 6. 12. 19. 14. 5 Tahun 1990 mengenai perlindungan sumber daya hayati dan ekosistemnya dan Undang-undang No. 11. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. 16. Berkaitan dengan konservasi. Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan. 17. Perikanan dan Kehutanan kepada Daerah Swatantra Tingkat I. 22 Tahun 1999 mengenai pemerintahan daerah. 8. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. UU yang terakhir ini memberikan wewenang yang besar kepada daerah untuk melakukan pengelolaan dan pelestarian mangrove. Beberapa peraturan yang berkait dengan pengelolaan mangrove di Indonesia 1. 5. 3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Agraria. Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai. 13. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. peraturan yang paling relevan nampaknya adalah Kepres No. 432 . Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Perairan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. Undang-undang No. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 7. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. 4. 10. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan. 15. 2. 18. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan.mengenai jalur hijau. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan.

jalur mangrove pantai minimal 130 kali rata-rata pasang yang diukur ke darat dari titik terendah pada saat surut. 32 Tahun 1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung menggantikan seluruh peraturan terdahulu mengenai jalur hijau. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. 21. jalur hijau ditetapkan selebar 10 meter di sepanjang sungai dan 50 meter di sepanjang pantai pada pasang terendah.20. Beberapa kritik yang dapat disampaikan mengenai SK ini antara lain adalah: SK ini tidak dapat diterapkan pada areal yang saat ini tidak memiliki tumbuhan mangrove lagi karena adanya eksploatasi pada masa lalu atau konversi. melarang penebangan mangrove di Jawa. Selanjutnya Dirjen Kehutanan mengeluarkan SK No. 60/KPTS/DJ/I/ 1978 mengenai panduan silvikultur di areal air payau.000 ha. yang menghimbau pelestarian jalur hijau selebar 200 meter sepanjang pantai. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II.) Dikeluarkannya SK Presiden No. serta melestarikan seluruh mangrove yang tumbuh pada pulau-pulau kecil (kurang dari 1. Untuk itu.I/4/2/18/ 1975) yang mengatur perlunya dipertahankan areal di sepanjang pantai selebar 400 meter dari rata-rata pasang rendah. Menurut SK tersebut. 22. Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1989 tentang Tim koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional. Peraturan ini memberikan perlindungan yang lebih memadai terhadap zona jalur hijau. 333 . 082/KPTS-II/1984. KB 550/246/ KPTS/1984 dan No. Dalam pelaksanaannya dilapangan. 5. dikonversikan atau dirusak. Fungsi jalur hijau pada prinsipnya adalah untuk mempertahankan pantai dari ancaman erosi serta untuk mempertahankan fungsi mangrove sebagai tempat berkembangbiak dan berpijah berbagai jenis ikan. Menurut SK tersebut. Kebijakan pemerintah untuk merumuskan suatu jalur hijau dimulai pada tahun 1975 ketika dikeluarkan SK Dirjen Perikanan (No H. hendaknya diadakan penyesuaian yaitu pada areal yang awalnya hanya memiliki vegetasi mangrove. Pada tahun 1984. SK ini ternyata memiliki beberapa kelemahan. menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama No.3 Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Jalur hijau adalah zona perlindungan mangrove yang dipertahankan di sepanjang pantai dan tidak diperbolehkan untuk ditebang.

Secara ekologis. tumbuhan dan ekosistem di Indonesia pada dasarnya telah tercakup dalam Undang-undang No. sumber air tawar atau dengan rawa air tawar. sehingga akan menyulitkan tercapainya suatu konsesus pengelolaan mangrove di beberapa daerah. Peraturan ini menginstruksikan kepada seluruh gubernur dan bupati/walikotamadya di seluruh Indonesia untuk melakukan penetapan jalur hijau hutan mangrove di daerahnya masing-masing. SK mengesampingkan adanya keterkaitan ekologis. misalnya dengan mangrove daratan. termasuk total areanya. Misalnya. Tanpa adanya perlindungan terhadap ekosistem pendukung secara terpadu. 26 Tahun 1997 tentang Penetapan Jalur Hijau Hutan Mangrove.4 Peraturan yang berkait dengan konservasi mangrove Perlindungan satwa. kelangsungan hidup jalur hijau tersebut tidak akan terjamin sepenuhnya. Permasalahan ini dapat diatasi dengan mendefenisikan pengukuran dari hutan mangrove terluar dekat laut. Hilmi. lebar jalur hijau yang dihitung dari titik terendah saat air surut hanya berupa dataran lumpur saja dan tidak sampai ke hutan mangrovenya.Penentuan jalur hijau dengan menggunakan SK ini di pantai-pantai yang datar atau dataran lumpur yang luas tidak dapat digunakan secara efektif. 434 . Misalnya di Jawa. 5 Tahun 1990 mengenai konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya. lebar jalur hijau mangrove seyogyanya ditentukan secara spesifik untuk setiap lokasi karena setiap tempat mempunyai karakteristik lingkungan yang spesifik. 5. serta areal lindung yang penting disajikan pada Bab 6. SK ini tidak memacu adanya perlindungan terhadap mangrove secara menyeluruh maupun fungsi ekologisnya.000 meter. Informasi lebih lanjut mengenai areal mangrove yang dilindungi. Peraturan terakhir mengenai jalur hijau adalah Inmendagri No. Di beberapa daerah seperti diatas. baik untuk tambak maupun berbagai bentuk pemanfaatan lainnya yang sebenarnya tidak mendukung konservasi mangrove. SK ini hanya memberikan pilihan untuk konservasi. hampir seluruh areal mangrove yang ada telah dimanfaatkan oleh penduduk. Pilihan tersebut umumnya tidak memadai pada daerah yang telah memiliki pemanfaatan tradisional yang intensif. dkk (1997) melakukan studi penetuan lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta menggunakan pendekatan analisis sistem yang menghasilkan rekomendasi perkiraan lebar mangrove di daerah tersebut sekitar 1.

Tipe kolam yang paling sederhana. Diketahui bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat mempengaruhi upaya pengelolaan mangrove.000 hektar disampaikan oleh Asian Wetland Bureau/Wetlands International . 1987). Sejarah gangguan terhadap mangrove oleh penduduk setempat di pulau Jawa seringkali dilakukan oleh nelayan. termasuk penebangan mangrove untuk keperluan pembangunan tambak. Memasuki abad ke-20. Usulan penambahan areal konservasi mangrove baru seluas 630. Populasi penduduk yang semakin bertambah menyebabkan meningkatnya konversi lahan 353 . Kegiatan budi daya air payau di Jawa merupakan fenomena kegiatan tradisional yang telah berlangsung sejak dahulu. Pengelolaan juga akan sangat tergantung pada bagaimana mengakomodasikan serta mengontrol kebutuhan masyarakat yang tinggal dan hidup di sekitar mangrove. mengukuhkannya menjadi suatu kawasan lindung atau dalam bentuk jalur hijau saja. Gagasan ini juga menyangkut sejumlah besar luasan kawasan mangrove.5 Perkembangan terakhir Berbagai inisiatif dan gagasan telah dikembangkan berkaitan dengan kebijakan nasional dibidang pengelolaan mangrove di Indonesia. dimana kondisi di pulau ini dapat menjadi model pengelolaan mangrove yang penduduknya padat. Menyambut gagasan ini. dimana hal ini berkaitan dengan pendapatan mereka yang rendah serta alternatif mata pencaharian yang terbatas. Yang terpenting diantaranya adalah: Kebijakan nasional dibidang pengelolaan keanekaragaman hayati lautan Strategi nasional dibidang pengelolaan mangrove Kebijakan nasional dibidang pembangunan pedesaan Strategi nasional dibidang pengelolaan jalur hijau pesisir Kebijakan-kebijakan diatas sangat bermanfaat untuk memberikan kejelasan dalam pengelolaan sumber daya mangrove. Akan tetapi disadari bahwa pengelolaan mangrove yang baik tidak akan tercapai hanya dengan mengembangkan kebijakan-kebijakan. Sebagai contoh yang baik dapat dilihat di Jawa.Indonesia Programme (1994). Departemen Kehutanan mengeluarkan gagasan perlunya pengembangan luasan areal kawasan lindung dari 15 juta hektar menjadi 30 juta hektar. malah mungkin telah dilakukan lebih awal (Naamin. pola ini beralih ke sistem produksi yang intensif. sekitar tahun 1400-an. seperti perangkap ikan dan kepiting dengan membangun pematang di daerah pasang surut.Pada tahun 1993. 5. mulai dari langkah-langkah yang diambil dilapangan sampai perencanaan tingkat pusat. beberapa usulan pemasukan areal baru maupun penambahan luas areal yang telah ada diajukan oleh berbagai organisasi yang bergerak dibidang pelestarian alam.

upaya produksi kayu seringkali mengalami kegagalan karena pohonpohonnya jarang sekali mencapai ukuran komersial dan jumlahnya yang terbatas. diharapkan dalam jangka panjang manfaat dan fungsi mangrove dapat berjalan dan dirasakan kembali. Berbagai LSM. Jika ini terlaksana. tapi sayangnya sebagian besar usaha-usaha penghutanan kembali ini tidak berhasil. Sayangnya. Program ini pada dasarnya adalah merehabilitasi lahan-lahan mangrove yang telah terdegradasi dengan penanaman pohon.mangrove untuk pembangunan tambak serta meningkatkan permintaan terhadap kayu bakar. kemungkinan sistem tersebut dapat ditularkan ke daerah lain. Polanya adalah lahan pasang surut seluas 80% sebagai hutan mangrove dan yang 20% digunakan sebagai kolam untuk budidaya ikan. diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan yang timbul. dengan sistem silvofishery ini pemanenan kayu mangrove secara berkelanjutan berpotensi tinggi. pada beberapa tahun terakhir ini. Ironisnya. dalam mencegah semakin hilangnya areal mangrove. Upaya mengubah perbandingan ukuran luas hutan dan tambak. pada tahun 1986 Perum Perhutani mulai melaksanakan program Kehutanan Sosial di areal mangrove. hutanhutan tersebut merupakan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani untuk hutan produksi. Dalam beberapa tahun kemudian hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi tambak. Dengan sistem ini. banyak usaha-usaha penanaman kembali mangrove dilaksanakan pada tingkat lokal. yaitu memadukan kegiatan pengelolaan mangrove dengan produksi perikanan (silvofishery). Secara hukum. Hal ini menyebabkan hampir 90 % hutan mangrove hilang. Di lain hal. maka akan dapat meminimalisasi usaha gangguan terhadap hutan mangrove. serta penduduk setempat melaksanakan berbagai program dan kegiatan penanaman mangrove. jika masyarakat memperoleh hasil yang cukup dari sistem tersebut (terutama hasil ikan atau udang). Dengan berkembangnya upaya-upaya penanaman mangrove. dan membangun saluran untuk budi daya ikan dan udang. akan tetapi sistem intensif membutuhkan investasi yang jauh lebih besar. hasil ikan yang diperoleh memang sangat rendah bila dibandingkan dengan sistem pengelolaan yang intensif. hutan mangrove tersebut menjadi milik Perum Perhutani. Upaya ini baik sebagai respon terhadap terjadinya erosi di pantai maupun semakin berkurangnya cadangan anakan ikan di pantai. Masalah yang dihadapi kebanyakan disebabkan oleh kurang tersedianya peta-peta yang akurat dan statusnya yang tidak jelas. dimana secara ekologis mangrove masih berfungsi secara optimal dan hasil pendapatan dari budidaya ikan layak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebenarnya. Selain ikan. instansi pemerintah pusat dan daerah. sehingga akan membatasi insentif yang dapat diperoleh dan pengembangan pengelolaan oleh masyarakat setempat. 436 . Untuk mengatasi tingginya laju konversi. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengembalikan mangrove sebagai hutan produksi dari penduduk setempat.

800 hektar masuk dalam kategori hutan lindung dan 674.765 Status Karang GadingLangkat Timur Laut (1) Pulau Berkeh Pulau Burung Hutan Bakau Pantai Timur (2) Berbak Sumatera Selatan I Way Kambas Pulau Penaitan SUM-08 Sumut Sumatera SM SUM-14 SUM-25 SUM-36 SUM-38 SUM-48 SUM-51 JAV-01 Riau Riau Jambi Jambi Sumatera Sumatera Sumatera 01°05’S/104°00’T Sumatera 01°10’S/104°20’T 500* 200* 2.000* <500* 1.363 hektar.500 165.400 atau 31 % dari luas areal mangrove Indonesia telah masuk dalam kawasan lindung. Tabel 5.000 356. AREAL MANGROVE YANG DILINDUNGI 6.000 17.800 123. Menurut data Dit.099. dimana 86% diantaranya terdapat di Irian Jaya. Kawasan lindung di Indonesia yang memiliki habitat mangrove Lokasi Kode Propinsi Pulau WDB (a) Posisi Luas areal Total Mangrove Area (ha) (ha) 11. Dari tabulasi data fungsi hutan/lahan menurut Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Lahan (RPPH/TGHK) tercatat seluas 424.600 hektar sebagai hutan suaka alam dan wisata (tidak termasuk Jawa).500 15. Adapun data areal mangrove yang telah dilindungi yang tercatat dari setiap lokasi adalah seluas 551.500 SM CA CA TN TN TN TN Lampung/ Sumatera 05°30’S/104°15’T Bengkulu Lampung Jabar Sumatera 04°50’S/105°40’T Jawa 06°36’S/105°09’T 373 . areal mangrove seluas 1. dimana pada lokasi-lokasi tersebut di dalamnya memiliki habitat mangrove. Bina Program INTAG (1996).700* 500* <2.VI.1 Mangrove dan sistem kawasan lindung Meskipun beberapa areal mangrove di Indonesia telah dimasukan kedalam suatu kawasan lindung. namun pada kenyataan di lapangan menunjukkan banyak diantaranya yang masih mendapat tekanan yang cukup berarti. Tabel 5 berikut merupakan daftar 41 lokasi kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Indonesia.700 500 200 6.

000 296.000 <1.600 130.Ujung Kulon Pulau Dua Pulau Pari Pulau Rambut Muara Angke (3) Cikepuh Leuweng Sancang Kepulauan Karimun Jawa Baluran Meru Betiri Nusa Barung Bali Barat Gunung Palung Muara Kendawangan Tanjung Puting Pulau Kaget (4) Pulau Kembang (4) Pleihari Tanah Laut Kutai Marisa Morowali Lampuko-Mampie (5) Watumohae (6) Lambale Tanjung Peropa Komodo Pulau Menipo JAV-36 JAV-03 JAV-04 JAV-05 JAV-07 JAV-14 JAV-16 JAV-21 JAV-27 JAV-31 JAV-32 JAV-33 KAL-06 KAL-07 KAL-11 KAL-18 KAL-19 KAL-21 KAL-36 SUL-03 SUL-11 SUL-28 SUL-30 SUL-33 SUL-36 NUT-06 NUT-12 Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jateng Jatim Jatim Jatim Bali Kalbar Kalbar Kalteng Kalsel Kalsel Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Sultra Sultra NTB NTB Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Bali Kalimantan Kalimantan Kalimantan 02°55’S/112°00’T Kalimantan Kalimantan 03°12’S/112°32’T Kalimantan 04°20’S/114°31’T Kalimantan 00°18’N/117°20’T Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Komodo Timor 08°35’S/119°30’T 03°25’S/119°30’T 04°30’S/122°00’T 04°45’S/123°05’T 07°15’S/106°27’T 07°45’S/107°55’T 05°48’S/110°40’T 07°50’S/114°25’T 08°21’S/113°49’T 08°27’S/113°22’T 08°10’S/114°30’T 05°58’S/106°42’T 06°01’S/106°12’T 1.000 50.000 30 7 56 15.127 2.000* <2.026 25.000 6.100 19.000* <500 <20 <10 4.000 85 60 35.000 94.000 200.499 TN CA LIPI CA CA SM CA CA TN TN CA TN TN CA TN CA TW SM TN CA CA SM TB SM SM TN SM 438 .000* 750 <500 <200* 300 7.000 320.4 8.579 2.000 50.000* 7.000* <500 300 20 <200 3.000* <3.15 7.000 55.000 38.000* 35.000 82.000 10 3 18 <2 <200* <50* <1.000 150.000 2.000* 10.

mungkin sebagian telah rusak Giesen (1991) (KGLTL) Giesen (1991) (HBPT) Jakarta Post melaporkan konversi areal.000 1. Desember 1988.000 SM TN TOTAL AREAL KAWASAN MANGROVE YANG DILINDUNGI: 551. 1994 dan Rusila. Areal mangrove di SM Karang Gading Langkat Timur Laut (Sumut) hampir seluruhnya telah berubah menjadi habitat sekunder.Manusela Pulau Baun Yamdena Lorentz Pulau Kimaam (7) Wasur & Rawa Biru MAL-09 MAL-16 MAL-17 IRI-14 IRI-17 IRI-20 Maluku Maluku Maluku Seram Aru Tanimbar 03°00’S/130°00’T 06°35’S/134°05’T <3.000 6. (a) * 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Kode yang tercantum pada Wetland Data Base yang dikembangkan oleh Wetlands International dan PHPA (1990 – sampai saat ini) Kondisi saat ini dari mangrove tersebut tidak jelas.000* 301.250 T N 500.2 Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Mangrove tidak terwakili dengan baik pada kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Sumatera. 1991). seluruh data diambil dari Silvius.000 13.363 hektar (86% di Irian Jaya) Catatan: Kecuali disebutkan. Pulau Berkeh dan Pulau Burung). akan tetapi tetap belum mewakili suatu habitat mangrove yang baik. Baltzer & Baruadi (1991).000 304. sementara SM hutan Bakau Pantai Timur (Jambi) kondisinya cukup mengkhawatirkan.180 180. Pengamatan penulis.000 3. Silvius & Taufik (1989) 6. 393 . Beberapa areal lindung mangrove yang lebih kecil juga telah dikukuhkan dan penting bagi burung air (mis.500 TN SM CA Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian 1. dkk (1987).000 11. Desember 1988. serta pengamatan penulis Pengamatan penulis. Kedua lokasi tersebut telah diidentifikasi sebagai habitat penting bagi burung air pengembara serta berbagai jenis burung bangau dan pelatuk besi (Giesen.560. Giesen.500 165.

000 hektar di Taman Buru Watumohai (Sultra) sebenarnya telah dikonversikan menjadi tambak. 1991). dkk. yang berbatasan dengan Propinsi Jambi (Danielsen & Verheugt. 1998). 440 . Areal ini telah diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1980-an. Meskipun usulan ini telah beberapa kali diajukan termasuk usulan untuk penggabungannya dengan Taman Nasional Berbak. sebagian mangrove didaerah ini telah dikonversi menjadi tambak oleh masyarakat. Jawa Barat (1.000 hektar mangrove di Sulawesi telah dikukuhkan sebagai areal lindung.1990 menunjukkan bahwa 2. Areal ini diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1989 dan sebenarnya telah disetujui oleh pemerintah setempat (Danielsen & Verheugt.000 hektar mangrove terdapat di Taman Nasional Gunung Palung dan SM Muara Kendawangan (keduanya di Kalimantan Barat) dan TN.000 hektar mangrove terdapat di bagian utara pantai Taman Nasional Ujung Kulon (Hommel. Sekitar 7. II Cilacap. Sumatera Selatan.Lumu (7. Sebuah usulan telah diajukan untuk menetapkan kawasan lindung yang di dalamnya termasuk 5. maka kawasan lindung Sembilang . Areal lain umumnya hanya memiliki luas yang kecil atau telah rusak.000 ha) dan Lariang . Di Kalimantan. 1987. namun mengkombinasikannya sebagai kawasan konservasi dan kawasan pemanfaatan secara berkelanjutan mungkin merupakan pilihan yang terbaik (White. Beberapa kawasan lindung mangrove seperti CA. 1991) dan di Sulawesi Tenggara pada tahun 1989 . Pulau Dua di ujung barat Jawa Barat serta CA. Areal mangrove terluas yang ada di Jawa saat ini adalah di Segara Anakan. Areal Mangrove di utara Teluk Bone (23. 1997 dalam PKSPL IPB.Berbak akan merupakan kawasan terbaik untuk perlindungan Harimau Sumatera. Rusila dkk. 1996). Frazier (1992) menyatakan bahwa apabila usulan terakhir dapat diwujudkan. 1989). Survey di Sulawesi Selatan (Giesen. dkk.) disarankan untuk dijadikan kawasan lindung. Pulau Rambut di Teluk Jakarta penting sebagai tempat berkembangbiaknya berbagai jenis burung air (Silvius dkk. Tanjung Puting (Kalimantan Tengah). 1991). Sekitar 1.400 hektar mangrove di utara Sungai Lariang (Giesen.Mampie (Sulsel) dan hampir 3.Lumu meskipun arealnya kecil.800 ha. dkk. DI TN Kutai (Kalimantan Timur).957 hektar (BAPPEDA Tk. Cilacap yaitu 8. Pulau Jawa telah kehilangan sekitar 90% mangrovenya dan hanya sedikit dari areal mangrove yang tersisa masuk kedalam kawasan lindung. dkk.700 ha).Areal mangrove di Sumatera yang kondisinya masih baik adalah komplek mulut sungai antara Delta Sungai Musi dan Banyuasin. 1987). 1989). 1989 dan Verheugt. yaitu di Sungai Sembilang. Mangrove di Lariang . Luas ini mewakili 8% dari luas mangrove yang ada pada tahun 1990. Jumlah seluas ini sebenarnya mengandung ketidakjelasan karena survey di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. tetapi telah berkembang dengan baik dan memiliki tegakan yang telah matang. lebih dari 15. sayangnya sampai saat ini belum dapat diwujudkan. Kawasan lindung mangrove yang terluas di Jawa mungkin di Pulau Panaitan.000 hektar areal mangrove di kawasan Lampuko .

000 hektar mangrove telah dikukuhkan di Maluku yaitu di TN Manusela. Sebanyak 32 jenis dari 39 jenis tersebut (yaitu yang terdapat di Indonesia Barat.000 hektar telah dikukuhkan di Irian Jaya yaitu di TN. terutama di Sumatera. ternyata habitat rawapun tidak kurang rentannya. Komodo dan SM Pulau Menipo. tetapi tidak hanya ditemukan di habitat mangrove).) dan di TN.3 Pemeliharaan keanekaragamn hayati mangrove Dari uraian diatas nampak jelas bahwa secara umum mangrove belum terwakili dalam sistem areal lindung di Indonesia. Wasur (6. Jenis lain yaitu Amyema anisomeres diketahui hanya ada di bagian utara Teluk Bone. kegiatan pembangunan dilaksanakan dengan pesat dan areal mangrove merupakan salah satu subjek konversi. 413 . Seram (3. yang paling rentan adalah Phoenix paludosa yang diketahui hidup di Sumatera bagian utara. Allen & Zuwendra (1989). Luas tersebut nampaknya sudah cukup mewakili. 6. Areal mangrove yang paling berkembang dengan baik sebenarnya terdapat di Teluk Bintuni. 1994). Dari pengamatan di lapangan.000 hektar mangrove di TN. Heritiera globosa.500 ha). Jawa. dimana jalur mangrove selebar lebih dari 30 kilometer dan tegakan yang matang tumbuh dengan baik. Kepulauan Aru (1. Yamdena. Camptostemon philippinensis. Sekitar 14. Oberonia rhizophoreti dan Phoenix paludosa. Dari jumlah tersebut.000 hektar). paling tidak setengahnya tumbuh di hutan rawa yang berdekatan dengan habitat mangrove. Lorentz (301. CA. Kalimantan dan Sulawesi. Sayangnya di Kedua lokasi tersebut. Areal mangrove seluas lebih dari 472. C. terdapat 6 jenis yang hanya tumbuh pada habitat mangrove dan kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh hilangnya areal mangrove yaitu Amyema gravis. Pulau Baun. Sulawesi Selatan. Rusaknya mangrove di Indonesia Barat dan Sulawesi akan mengakibatkan hilangnya jenis-jenis tumbuhan mangrove.Areal mangrove di Nusa Tenggara telah masuk ke dalam kawasan lindung dengan adanya 3. Tanimbar (10. Pulau Kimaam (165.). sebagai akibat dari tekanan pembangunan (Giesen.000 hektar). Sejumlah 38 jenis tumbuhan mangrove sejati maupun mangrove ikutan terdapat hanya di Indonesia Barat. schultzii.000 hektar areal mangrove telah diusulkan oleh Petocz (1983) dan kemudian diajukan pula oleh Erftemeijer.180 ha. Usulan untuk menjadikan areal seluas 450.000 ha.000 hektar sebagai kawasan lindung. dan SM. CA. meskipun sebenarnya untuk kepentingan konservasi keanekaragaman hayati akan lebih baik jika areal mangrove di Kei dan Kepulauan Aru juga dilindungi.000 hektar). termasuk 250. Dari jenis-jenis tersebut.

3. Sumatera Selatan Segara-Anakan. 2. timorensis hanya ditemukan di luar areal kawasan lindung dan hanya di lokasi yang terbatas. yaitu Amyema anisomeres. Tiga jenis tumbuhan mangrove diketahui endemik untuk Indonesia. 3. sementara A. maka diusulkan agar lokasi-lokasi dibawah ini segera dapat dilindungi : 1. Pulau Kimaam Wildlife Identifikasi dan penambahan areal lindung mangrove di Kepulauan Kei dan Aru. Jawa Tengah Bagian utara Sungai Lariang. Rhododendron brookeanum dan Ixora timorensis. dan hanya ditemukan di beberapa lokasi di Sumatera dan Kalimantan. Lorentz dan SM.Terkait dengan konservasi keanekaragaman hayati. termasuk: 1. R. Sungai Sembilang. 2. Pengukuhan kawasan lindung mangrove Teluk Bintuni Perbaikan pengelolaan di TN. anisomeres bahkan lebih rentan dibandingkan 2 jenis lainnya. hendaknya perhatian diberikan terhadap kerentanan jenis-jenis yang bersifat endemik. Sulawesi Selatan Beberapa lokasi lain di Kalimantan (kemungkinan di Kalimantan Timur) sesuai dengan pengkajian lapangan yang lebih rinci. brookeanum juga relatif langka. Dalam jangka panjang. Untuk melindungi keanekaragaman hayati tumbuhan mangrove. upaya pro-aktif nampaknya harus juga dilakukan untuk perlindungan habitat mangrove di Indonesia Timur. 4. 442 . I.

serta bab mengenai mangrove yang ditulis oleh Whitten dkk. kelompok jenis atau jenis tertentu. dkk (1983). Diantaranya adalah menyiapkan baju lengan panjang dari bahan katun atau bahan lain yang menyerap keringat. Sebelum melakukan pengamatan. stamina yang baik serta ketahanan terhadap udara panas. Untuk mengetahui informasi mengenai cara budidaya mangrove dapat dibaca Pedoman Pembuatan Persemaian dan Penanaman Mangrove oleh Kusmana (1998) atau Panduan Teknis Penanaman Mangrove bersama Masyarakat oleh Khazali (1999). 1987). disarankan untuk mempelajari beberapa buku klasik yang menjelaskan informasi mengenai mangrove secara lebih luas. sehingga memudahkan pergerakan. eksploitasi serta pengelolaan mangrove di Indonesia. Beberapa tulisan lain yang ditulis oleh penulis luar maupun ilmuwan Indonesia (misalnya Kusmana. LIPI bersama Program MAB Indonesia telah menyelenggarakan seminar ekosistem hutan mangrove yang dapat digunakan sebagai sumber informasi yang cukup memadai.2 Petunjuk untuk pengamatan lapangan Melakukan pengamatan di habitat mangrove memerlukan lebih dari sekedar buku panduan. air asin dan terutama nyamuk. lumpur. teropong dan alat tulis saja. MacNae (1968). seperti Watson (1928). Pengamatan di lingkungan mangrove seringkali harus menggunakan perahu atau sampan.VII.1 Pustaka penting Bagi mereka yang ingin mempelajari mangrove lebih rinci dan mendalam. melainkan juga memerlukan waktu yang cukup panjang. BEBERAPA PETUNJUK STUDI MANGROVE BAGI PEMULA 7. 433 . 1997). persiapan yang baik adalah salah satu syarat untuk tercapainya tujuan pengamatan. termasuk jika sewaktu-waktu harus memanjat pohon mangrove untuk mendapatkan sampel herbarium atau keperluan lainnya. Untuk menghindari panas. cairan anti nyamuk dan alat-alat tulis yang tahan kondisi basah. Duke. Tomlinson (1986). keringat. pada umumnya menyentuh masalah lokasi. (1984. 7. Chapman (1976a). Saenger. Sejak awal tahun 80-an sampai saat ini. pustaka yang bisa ditelusuri antara lain adalah Watson (1928) dan MacNae (1968). dkk (1984) dan Duke (1992). Untuk mempelajari mangrove di Asia Tenggara. dkk. Disarankan untuk tidak membawa barang yang tidak terlalu penting. Beberapa karya tulis klasik yang layak untuk dibaca antara lain van Steenis (1958) yang memberikan informasi umum mengenai mangrove dalam pengantarnya terhadap makalah dari Ding Hou (1958) mengenai Rhizophoraceae. Studi yang komprehensif mengenai mangrove di Indonesia belum begitu banyak.

mudah terbakar dan mudah menguap. Untuk perjalanan yang lebih lama. atau melindungi saat kita mengambil photo pada saat hujan. Melakukan pengamatan di habitat mangrove cukup menyita waktu. Air tinggi biasanya akan lebih memudahkan kita untuk mencapai tujuan tertentu. dan kemudian ditaburi methylate spirit. Jika waktu pengamatan tidak memungkinkan. melelahkan dan menguras keringat. 7. tipe akar serta bunga/buahnya. spesimen dapat disimpan dalam kantung pelastik yang tahan air dan sama sekali tidak terbuka terhadap udara luar. karenanya perlu perencanaan matang. Lebih dari itu. perlu dibuat koleksi tumbuhan. sehingga pengamat harus memfokuskan perhatiannya pada perbedaan kulit kayu. Spesimen sebaiknya disimpan diantara kertas koran yang dijepit oleh bambu atau tripleks. tipe perakaran. Sebagian besar bentuk pohonnya memiliki kesamaan. karena itu air minum dan makanan kecil secukupnya perlu dipersiapkan. walaupun untuk keperluan lainnya (misalnya pengamatan tanah. Lihatlah daftar pasang-surut.sebaiknya gunakan topi yang dapat menyerap keringat. karena terbatasnya jenis tumbuhan serta sifat perbungaannya yang tidak terlalu musiman. pengamatan pada habitat mangrove juga memiliki kesulitan tersendiri. yakni dengan mengambil daun. Air laut sangat “jahat” terhadap kamera serta peralatan optis lainnya. Biasanya dengan cara ini spesimen masih bisa diidentifikasi selama 2 . Kelemahannya. dan buah dari pohon yang akan diidentifikasi. dan habitat. Identifikasi dapat dilakukan kemudian di laboratorium dengan membuat catatan mengenai lokasi. Hal ini berarti bahwa hampir setiap saat dapat ditemukan pohon yang memiliki bunga atau buah yang akan memudahkan identifikasi jenis pohon. Meskipun demikian. tanggal. Berperahu di lingkungan mangrove akan sangat dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. pengamatan vegetasi di habitat mangrove relatif lebih mudah. bahan ini cukup mahal. fauna permukaan dan dalam tanah serta tipe perakaran) kondisi ini kurang mendukung. Untuk 25 .3 Spesimen tumbuhan mangrove Dibandingkan dengan pengamatan di hutan tropis. Payung kecil kadang-kadang juga sangat bermanfaat untuk melindungi diri dari panas atau hujan. tumbuhan pada habitat mangrove tidaklah setinggi pohon-pohon di hutan hujan tropis. bunga. Untuk itu perlu disediakan kantung plastik serta kotak plastik tahan air untuk menyimpan peralatan tersebut.35 spesimen dibutuhkan 1 liter methylate spirit.3 hari kemudian. 444 .

citra inderaja juga sangat membantu perencanaan studi. kemudian dicatat tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang di dalam dan disinggung garis tersebut. (1994).000 yang melingkupi hampir seluruh wilayah Indonesia. Peta tersebut mencakup Sistem Lahan serta tipe tata guna lahan dan hutan yang akan sangat bermanfaat dalam studi vegetasi. Bagaimanapun. kecuali dalam metoda ini dibuat plot-plot (misalnya luas 100 m2/radius 5 m) dengan jarak antar plot pada garis (misalnya 20 m). 453 . baik secara visual maupun dengan menggunakan perangkat lunak komputer tertentu. terutama karena peta serta citra saja tidak akan memberikan keterangan yang memadai mengenai kondisi yang sebenarnya di lapangan. Cibinong. Metoda kedua juga pada prinsipnya sama. Pada metoda yang pertama.5 Studi Fauna Untuk keperluan studi fauna vertebrata. kemudian dicatat seluruh tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang tumbuh dalam lebar tersebut. yaitu membuat garis transek dengan panjang tertentu (misalnya 100 meter atau 500 meter) dengan lebar 10 sampai 20 meter. serta beberapa lainnya. Pada dasarnya terdapat dua metoda transek yang dapat dipakai. Metoda-metoda diatas antara lain dijelaskan dengan lebih rinci oleh Chapman (1984) dan English. gabungan kedua metoda tersebut akan memberi hasil yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Transek kemudian dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya. Jawa Barat. 7.4 Studi vegetasi Untuk pengamatan vegetasi. metoda yang dilakukan tidak banyak berbeda dengan metoda yang biasa digunakan di daratan. Khusus untuk burung air (bermigrasi) disarankan untuk menggunakan Howes (1989) dan Rusila (1999). Pada citra inderaja yang memadai dapat membedakan zona vegetasi yang berbeda. dkk (1994). Cara termudah melakukan pengamatan di lapangan adalah dengan melakukan transek. sangat membantu jika memiliki peta topografi serta peta tematik. Peta topografi dapat diperoleh di BAKOSURTANAL. termasuk sabuk mangrove yang umumnya memiliki kharakteristik lokasi yang berbeda. Untuk mengetahui informasi mengenai analisis vegetasi hutan (termasuk mangrove) dapat dibaca buku Metoda Survey Vegetasi yang disusun oleh Kusmana (1997). yaitu transek garis (strip sampling) dan transek plot garis (line plot sampling). antara tahun 1985 1992. Sementara untuk fauna vertebrata diantaranya disajikan dalam Sasekumar (1984) dan English et al. sementara peta tematik yang paling memadai saat ini adalah yang diproduksi oleh RePPProT (the Regional Physcial Planning Programme for Transmigration) dengan skala 1 : 250.7. Selain peta. dan biasanya bisa diperoleh di LAPAN. Jakarta. Pengamatan di lapangan kemudian akan memberikan informasi yang lebih baik.

Jakarta Utara. 1. Tel. P3O . Jakarta. Indonesia. Yayasan Indonesia untuk kemajuan desa (YASIKA) Jln.Pengamatan fauna invertebrata pada habitat mangrove umumnya berkaitan dengan zonasi. Pancoran Indah. 061-516338/535016. Erlangga No. Tel/fax.: 021. 7. 7. Medan 20112. 16-B. 5. Box 17. Laboratorium Ekologi Hutan.682287/683850/ 681948(fax). Wetlands International . Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan IPB. Arzimar III No. Gatot Subroto. Kampus IPB Darmaga. ISME Secretariat. A III/4. 021-5720227 2. Pasir Putih No.81. Blok VII. Tel. PO. 0251-621244. Box 168 Bogor. Jl.895. 7./Fax.O. Tel. Departemen Kehutanan Gedung Manggala Wanabhakti. Tel. North Sumatra. Liga Mas Indah. Raya Tajur. 17. Fax.98. University of the Ryukyus. 021-7940403 SEAMEO-BIOTROP Southeast Asia Regional Center for Tropical Biology.: 0251-312189. Ditjen Perlindungan dan Konservasi Alam (PKA). pola distribusi vertikal (khususnya berkaitan dengan pasang surut air laut) dan fauna bawah tanah.Indonesia Programme Jl.LIPI Jl. Ancol Timur. pengayakan. xx. 3.6601/6602 (fax) 446 . c/o College of Agriculture.O. densitas. Teknik yang digunakan biasanya dilakukan dengan menggunakan pengambilan sampel lumpur. Box 254/BOO. Tel. P. Nishihara. Jl.6 Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Organisasi/institusi nasional 1. 0251-621086/624815. produktivitas. 4. 4. 0251-323848. Yayasan Mangrove Jl. Bogor 16152. Fakultas Kehutanan IPB. Fax 061-516338. 6. Japan. 0251-325755 2. International Society for Mangrove Ecosystems (ISME). Okinawa 903-01. Bogor. pemilahan dan identifikasi jenis. tel. Bogor 16002 Tel. Jakarta. Lt. km 6/P. 0251-621086 Organisasi Internasional 1. Tel. Subdit Perairan. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut IPB Gedung Marine Center Lt. PO. Jurusan Manajemen Hutan. Box 286 Tel.

473 .

5 cm. ilicifolius (lihat halaman berikutnya). Ujung: meruncing. Panjang tandan bunga lebih pendek dari A. Catatan : 448 . Berbunga pada bulan Juni. ilicifolius. tetapi seluruh bagiannya lebih kecil. Ukuran: Buah panjang 2. Ketika tumbuh bersamaan dengan A. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum.53 cm. Deskripsi umum : A. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. Formasi: bulir.ilicifolius dan A. ilicifolius.ebracteatus. Terdapat di seluruh Indonesia. Ukuran: 7-20 x 4-10 cm. Manfaat : Buah digunakan sebagai “pembersih” darah serta untuk mengatasi kulit terbakar. Dari India sampai Australia Tropis. akan tetapi sering sekali membingungkan. A. biji 5-7 mm. dan Kepulauan Pasifik Barat. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung cerah. Daun : Pinggiran daun umumya rata kadang bergerigi seperti A. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. Letak: di ujung. berlawanan. ebracteatus hampir sama dengan A. ilicifolius keduanya memperlihatkan adanya karakter yang berbeda sebagaimana diuraikan dalam deskripsi. Bentuk: lanset. kadang agak putih di bagian ujungnya.volubilis sebagai satu jenis. Unit & Letak: Sederhana. sedangkan bunganya sendiri 2-2. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun.Acanthus ebracteatus Vahl ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju putih. Bunga hanya mempunyai satu pinak daun utama. karena yang sekunder biasanya cepat rontok. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A. Filipina. Daun mengobati reumatik.

daun 493 . b.Acanthus ebracteatus daun bunga buah a c b a. bunga. c. buah.

Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung. Daun : Dua sayap gagang daun yang berduri terletak pada tangkai. tepi daun bervariasi: zigzag/bergerigi besar-besar seperti gergaji atau agak rata dan secara gradual menyempit menuju pangkal. biji 10 mm. Bunga kemungkinan diserbuki oleh burung dan serangga. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A. Percabangan tidak banyak dan umumnya muncul dari bagian-bagian yang lebih tua. yang memiliki kemampuan untuk menyebar secara vegetatif karena perakarannya yang berasal dari batang horizontal. Biasanya pada atau dekat mangrove. Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. kadang agak putih. Daun mengobati reumatik. kuat.53 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. sedangkan bunganya sendiri 5-4 cm. Pohon juga dapat digunakan sebagai makanan ternak. Biji tertiup angin. Terdapat di seluruh Indonesia. Bentuk: lanset lebar. A. terjurai di permukaan tanah. daruyu. volubilis sebagai satu jenis. Permukaan daun halus. Bunga memiliki satu pinak daun penutup utama dan dua sekunder. ebracteatus.Acanthus ilicifolius L. Letak: di ujung. Pinak daun tersebut tetap menempel seumur hidup pohon. Dari India hingga Australia tropis. Filipina dan Kepulauan Pasifik barat. Panjang tandan bunga 10-20 cm. agak berkayu. Catatan : 450 . Ukuran: buah panjang 2. Memiliki kekhasan sebagai herba yang tumbuh rendah dan kuat. ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju hitam. Unit & letak: sederhana. Manfaat : Buah ditumbuk dan digunakan untuk “pembersih” darah serta mengatasi kulit terbakar. berlawanan. Ukuran: 9-30 x 4-12 cm. Akar udara muncul dari permukaan bawah batang horizontal. ilicifolius dan A. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. Ujung: meruncing dan berduri tajam. Di Bali berbuah sekitar Agustus. darulu. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun. Cabang umumnya tegak tapi cenderung kurus sesuai dengan umurnya. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. sehingga membentuk bagian yang besar dan kukuh. sangat jarang di daratan. Deskripsi umum : Herba rendah. ketinggian hingga 2m. Formasi: bulir. sampai sejauh 2 m.

bunga. c. daun 513 . buah.Acanthus ilicifolius daun bunga buah a b c a. b.

Bagian bawah dari pinak daun tertutup secara seragam oleh sporangia yang besar. tetapi dengan titik yang kecil. paku cai.Acrostichum aureum Linn. memiliki tidak lebih dari 30 pinak daun. jenis ini menyukai areal yang terbuka terang dan disinari matahari. Batang timbul dan lurus. hata diuk. krakas. Pinak daun terbawah selalu terletak jauh dari yang lain dan memiliki gagang yang panjangnya 3 cm.speciosum runcing-memanjang. sepanjang kali dan sungai payau serta saluran. Peruratan daun menyerupai jaring. Daun mudanya dilaporkan dimakan di Timor dan Sulawesi Utara. sementara pada A. tipis ujungnya. Daun digunakan sebagai dan alas ternak. Seringkali keliru dengan A.bercampur dengan urat yang sempit dan tipis. Ferna tahunan yang tumbuh di mangrove dan pematang tambak. PTERIDACEAE Nama setempat : Piai raya. Daun: Panjang 1-3 m. panjang hingga 1 cm. Spora besar dan berbentuk tetrahedral. Catatan : 452 . Duri banyak. A. Kelimpahan : Sangat melimpah setempat. Sisik yang luas. coklat tua dengan peruratan yang luas.speciosum. dan individu mudanya lebih kemerahan dibandingkan dengan A. Pengenalan yang paling mudah adalah dengan melihat ujung daunnya. wrekas. seperti areal mangrove yang telah ditebangi yang kemudian akan menghambat tumbuhan mangrove untuk beregenerasi. paku laut. Pinak daun letaknya berjauhan dan tidak teratur. Tingkat toleransi terhadap genangan air laut tidak setinggi A. berwarna hitam. mangrove varen. besar. Ditemukan di bagian daratan dari mangrove. Deskripsi umum : Ferna berbentuk tandan di tanah. hanya terdapat di bagian pangkal dari gagang. ditutupi oleh urat besar.speciosum yang kecoklatan. Secara umum. tinggi hingga 4 m.aureum lebih tinggi. Manfaat : Akar rimpang dan daun tua digunakan sebagai obat. kala keok. wikakas. Ujung pinak daun yang steril dan lebih panjang membulat atau tumpul dengan ujung yang pendek.speciosum. Biasa terdapat pada habitat yang sudah rusak.speciosum. Terdapat di seluruh Indonesia. menebal di bagian tengah.aureum pada umumnya agak tumpul. Tidak seperti A. Ujung daun fertil berwarna coklat seperti karat. Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. Menebal di bagian pangkal. A. pucat.

c. pohon 533 . spora. d.Acrostichum aureum pohon b a c d a. daun. b. ujung pinak daun.

Pinak daun berukuran kira-kira 28 x 10 cm. membentuk tandan yang kasar dengan ketinggian hingga 1. Ferna tahunan. Sisik luas. Khususnya tumbuh pada gundukan lumpur yang “dibangun” oleh udang dan kepiting. serta daun mudanya berwarna hijau-kecoklatan. Sisik pada akar rimpang panjangnya hingga 8 mm. Spora besar dan berbentuk tetrahedral . Manfaat : Daun digunakan sebagai alas kandang ternak. Peruratan daun berbentuk jaring. tertutup secara seragam oleh sporangia besar. hanya terdapat di bagian pangkal daun. Deskripsi umum : Ferna tanah. Di seluruh Indonesia. 454 . Biasanya menyukai areal yang terlindung. permukaan bagian bawah pinak daun yang fertil berwarna coklat tua dan ditutupi oleh sporangia.5 m. pada umumnya panjangnya kurang dari 1 m dan memiliki pinak daun fertil berwarna karat pada bagian ujungnya. Tumbuh pada areal mangrove yang lebih sering tergenang oleh pasang surut. Pinak daun yang steril memiliki ujung lebih kecil dan menyempit. Sisik menebal di bagian tengah. Daun : Sangat mencolok. Jenis ini berbeda dengan A. “Kecambah” (sebenarnya “bibit spora”) berlimpah pada bulan Januari hingga April (di Jawa). PTERIDACEAE Nama setempat : Piai lasa. Kelimpahan : Melimpah setempat.aureum dalam hal ukuran pinak daunnya yang lebih kecil dan ujungnya meruncing. Ekologi : Penyebaran : Asia dan Australia tropis.Acrostichum speciosum Willd. Daun yang fertil dihasilkan pada bulan Agustus hingga April. panjang hingga 1 cm.

b. ujung pinak daun. spora. daun.Acrostichum speciosum pohon b a c d a. c. pohon 553 . d.

Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kepulauan Sunda kecil. halus dan kemudian bercelah sejalan dengan bertambahnya umur.November. Bunga dari kedua jenis tumbuhan ini memiliki perbedaan karakteristik yang tidak terlalu penting. annulata dan A. Maluku. Thailand dan Kepulauan Andaman. Kulit kayu bagian luar berwarna hitam. perbungaan terjadi pada bulan September . rotundifolia memiliki daerah penyebaran yang tidak bersambung. dan ranting dengan goresan berbentuk cincin. 7-8 mm. Ukuran: 6-9 x 2-5 cm. Deskripsi umum : Semak kecil. rotundifolia terdapat di Bangladesh. Penyerbukan dilaporkan dibantu oleh semut. tumpang tindih. Di Australia. bengkak pada bagian pangkal dan memiliki tekstur seperti busa. Diameter batang sampai 20 cm. putih kadang abu-abu pucat.Br. Tandan bunga yang asimetris memiliki banyak bunga.Maret. umumnya memiliki ketinggian 1. Juga tumbuh pada daerah yang lebih berpasir dan berkarang serta tergenang oleh air dengan salinitas yang sama dengan air laut (pada akhir musim kering). Kelimpahan : Umum. akan tetapi penggunaannya belum pernah dilaporkan.Aegialitis annulata R. Letak: di ujung tandan/ tangkai bunga. Daun Mahkota: 5. memiliki 5 sudut. sedangkan buah yang matang tumbuh pada bulan Januari . bentuk tabung. kadang-kadang dijumpai sebagai pohon sampai 7 meter tingginya. Kelopak Bunga: 5. 5-8 mm. Gagang daun panjangnya 8 cm. PLUMBAGINACEAE Nama setempat : Tidak tahu. 456 . Bentuk: lanset seperti pedang. Ukuran: 3-4 x 4-5 cm. Biasanya memiliki akar yang menjalar pada permukaan tanah. Buah berbentuk kapsul melengkung. pada mangrove yang rendah dengan substrat lumpur. Formasi: payung (ada banyak bunga). Tumbuh pada daerah mangrove terbuka sebagai individu yang terpisah atau dalam kelompok kecil. Burma. Kadang-kadang memiliki akar tunjang. berwarna kemerahan ketika telah matang. A. Manfaat : Catatan : Memiliki kandungan tanin yang sangat tinggi. PNG dan Australia Utara. Ujung: meruncing. A.5-3 meter. Daun : Terdapat lobang longitudinal dan kelenjar garam.

c.Aegialitis annulata a c b d a. bunga. buah. daun. pohon 573 . b. d.

perpat kecil. Memiliki toleransi yang tinggi terhadap salinitas.. 5-6 mm. membengkok seperti sabit. Formasi: payung. berwarna hijau mengkilat pada bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. serta memiliki sejumlah lentisel. Kulit kayu bagian luar abu-abu hingga coklat kemerahan. permukaan halus. Australia dan Kepulauan Solomon. seluruh Indonesia. seringkali bercampur warna agak kemerahan.7 cm. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Papua New Guinea.5 cm dan diameter 0.hijau. tanah dan cahaya yang beragam. Cina selatan. putih. seringkali tumbuh dalam kelompok besar. Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips. dimana embrio muncul melalui kulit buah ketika buah yang membesar rontok.5 cm. Daun : Daun berkulit. serta di bagian tepi dari jalur air yang bersifat payau secara musiman. Biji tumbuh secara semi-vivipar. duduk agung. gedangan. Ukuran: panjang 5-7. Dalam buah terdapat satu biji yang membesar dan cepat rontok. klungkum. Buah dan biji telah teradaptasi dengan baik terhadap penyebaran melalui air. bercelah. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka. putih . Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion. Biasanya segera tumbuh sekelompok anakan di bawah pohon dewasa. gigi gajah. teruntung. Daun muda dapat dimakan. Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian pohon mencapai 6 m. Akar menjalar di permukaan tanah. Malaysia. Buah berwarna hijau hingga merah jambon (jika sudah matang). perepat tudung. kacangan. di beberapa daerah agak melimpah. dan kemungkinan diserbuki oleh serangga. Ukuran: 11 x 7. dengan masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 8-12 mm. kayu sila. Kelopak Bunga: 5. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. ditutupi rambut pendek halus. Manfaat : Kulit kayu yang berisi saponin digunakan untuk racun ikan. Daun Mahkota: 5. kacang-kacangan. Mereka umum tumbuh di tepi daratan daerah mangrove yang tergenang oleh pasang naik yang normal. Kayu untuk arang. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga. Kelimpahan : Umum. Ujung: membundar. Bunga digunakan sebagai hiasan karena wanginya.) Blanco MYRSINACEAE Nama setempat : Teruntun. terang. 458 .Aegiceras corniculatum (L. tudung laut.

c.Aegiceras corniculatum daun bunga buah a c b d a. buah. d. b. bunga. pohon 593 . daun.

Aegiceras floridum R. MYRSINACEAE Nama setempat : Mange-kasihan Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian mencapai 4 m. pada tepi pantai berpasir hingga tepi sungai.& S. tercatat pula tumbuh pada substrat berkarang.7 cm. Maluku. Daun Mahkota: 5. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Ukuran: panjang 3 cm dan diameter 0. Sulawesi. putih. Pengetahuan tentang jenis ini sangat terbatas. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan Utara. Tumbuh di daerah mangrove. Buah berwarna hijau hingga merah. ditutupi rambut pendek halus. seluruh Filipina hingga Indo Cina. Jawa Timur. putih. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. 4 mm. Kelimpahan : Jarang dan tersebar. Ukuran: 3-6 cm Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 4-6 mm.hijau. 460 . Kulit kayu bagian luar berwarna abu-abu hingga coklat. Akar menjalar di permukaan tanah. Buah berisi satu biji memanjang dan cepat rontok. Daun : Berkulit. Formasi: payung. Manfaat : Tidak tahu. Ujung: membundar. Kelopak bunga: 5. Bali. bagian bawah hijau pucat kadang kemerahan. Bentuk: bulat telur terbalik. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga. bercelah dan memiliki sejumlah lentisel. bagian atas terang dan hijau mengkilat. bentuk agak lurus.

Aegiceras floridum daun & buah bunga a b c a. daun 613 . c. bunga. b. buah.

Gagang bunga bulat.5 mm.5-8. Satu dari sedikit tumbuhan mangorve endemik di Indonesia. hampir silindris. Sulawesi Selatan. pangkal daun menyempit pada gagang yang panjangnya 8 . Unit & Letak: sederhana & bersilangan. karena hanya terkolesi satu kali di Kampung Lato-u dekat Malili. kepala sari bulat panjang.5-3 cm. Formasi: payung (3 bunga). Mungkin endemik di Sulawesi. Manfaat : Catatan : Tidak tahu. panjang 2. 462 . Deskripsi umum : Epifit parasit. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Mungkin sangat langka. halus. Kelopak Bunga: berbentuk corong. Letak: di ketiak daun.5 mm. Ujung: meruncing. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset.Amyema anisomeres Dans.10 mm. memiliki percabangan bulat. dengan 4 atau 5 daun mahkota tumpul berukuran 3. Daun : Daun tersebar.5 mm. Benang sari: panjangnya 1. Tandan bunga terdapat secara tunggal atau berpasangan. Tidak diketahui Hanya terkoleksi satu kali pada pohon Rhizophora. panjang 19-20 mm. panjang 4-7 mm. Mungkin sangat terbatas.5 x 1. Ukuran: 5. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Daun Mahkota: merah muda.

b. daun 633 .Amyena anisomeres b a c a. buah. c. bunga.

Daun : Bunga : Memiliki daun yang tebal. Malaysia. Tidak diketahui. Deskripsi umum : Hemi-parasit. biasanya menggantung. Ujung: membundar. Kalimantan. Kepulauan Kangean dan Jawa Timur.Amyema gravis Dans.5-1 m. Perbungaan sepanjang tahun. 464 . LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Tandan bunga tumbuh soliter pada ketiak daun. Ukuran: panjang hingga 5 cm. Manfaat : Tidak tahu. Hemi-parasit pada Avicennia. Bentuk: bulat telur terbalik. Rhizophora dan Sonneratia. Daun mahkota bunga berwarna merah serta pangkal berwarna kuning-kehijauan. Setiap tandan memiliki 2-3 gagang yang berisi bunga. panjangnya 0.

c. b. buah.Amyena gravis a b a c a. bunga. daun 653 .

5-2. Ukuran: 2. 466 .Amyema mackayense (Blake.5-4 x 1. Kepala sari panjangnya 1. Deskripsi umum : Parasit epifit dengan batang halus yang membesar pada bagian buku serta memiliki banyak cabang. Australia Utara. Tangkai benang sari yang menopang kepala sari berukuran 3-5 mm.5 cm. Buah elips. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Unit & Letak: sederhana & bersilangan.) Dans. Warna daun mahkota bunga tidak diuraikan dalam pustaka. Daun : Daun berbentuk seperti sendok lebar dengan gagang daun sepanjang 6-15 cm.5 mm. Ujung: membundar. Manfaat : Catatan : Tidak tahu. Bentuk: bulat telur. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat. dikelilingi oleh daun kelopak bunga yang berurutan. Parasit eksklusif pada mangrove. Papua New Guinea dan dekat Merauke (Irian Jaya).

buah. daun 673 . bunga. b.Amyena mackayense a b a b c a. c.

Pada bagian batang yang tua. Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. Benang sari: 4. Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas tandan. koak. Daun Mahkota: 4. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut. PNG dan Australia tropis. 468 . Ukuran: 16 x 5 cm. kuning cerah. beberapa ditumbuhi tonjolan kecil. mangi-mangi putih. Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung. Akar nafas biasanya tipis. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. 3-4 mm. Ukuran: 4 x 2 cm. Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan. bawahnya pucat. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m.Avicennia alba Bl. Kelopak Bunga: 5. Kelimpahan : Melimpah. serta di sepanjang garis pantai. Getah dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. Buah dapat dimakan. Dari India sampai Indo Cina. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah. berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. bagian atas hijau mengkilat. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. Formasi: bulir (ada 10-30 bunga per tandan). Letak: di ujung/pada tangkai bunga. Hijau muda kekuningan. Daun : Permukaan halus. boak. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Seperti kerucut/cabe/mente. kadangkadang ditemukan serbuk tipis. melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina. sementara yang lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Ujung: meruncing. Bentuk: lanset (seperti daun akasia) kadang elips.

daun. pohon 693 . bunga. c.Avicennia alba daun bunga buah a c d b a. buah. d. b.

470 . Bentuk: bulat memanjang. berwarna coklat kekuningan atau hijau. Ujung: meruncing.Avicennia eucalyptifolia (Zipp. Kulit kayu bagian dalam berwarna seperti jerami padi sampai coklat pucat. Tandan bunga membesar di ujung dengan panjang sampai 2. Letak: di ujung. kuning atau merah muda. Deskripsi umum : Semak atau pohon dengan ketinggian mencapai 17 meter. tidak memiliki mulut buah yang nyata. Kulit kayu luar halus bercoreng-coreng. Manfaat : Catatan : Digunakan sebagai kayu bangunan dan kayu bakar.) Moldenke AVICENNIACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. Seperti jenis lain pada genus ini. Benang sari: berwarna ungu tua hingga coklat. panjang 2-5 mm. Setengah bagian atas dari bakal buah memiliki bulu. Kelimpahan : Umum. mereka seringkali bersifat vivipar. Buah berwarna kuning kehijauan. Kelopak Bunga: hijau pucat. bagian luar berambut pendek. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di Irian Jaya dan PNG. Ukuran: 4-16 cm x 1-4 cm.5 cm. Bunga berdiameter 3-4 mm. Daun : Permukaan bagian atas hijau muda sampai hijau tua atau hijau kecoklatan dan kuning kehijauan pada bagian bawah. mengelupas pada bagian-bagiannya yang tipis. Tumbuh di pulau-pulau lepas pantai yang berkarang. Daun Mahkota: warna putih. berlawanan. Formasi: bulir. Bunganya mirip bunga Avicennia marina. dan juga pada bagian pinggir atau tengah daratan dari rawa mangrove. Unit & Letak: sederhana. Kayu berwarna putih sampai seperti jerami. ex Miq. Ukuran: Panjang kurang dari 3 cm.

daun.Avicennia eucalyptifolia pohon a b a. pohon 713 . b.

Benang sari: 4 Buah seperti hati. tepi sungai. Kelopak Bunga: 5. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Singapura. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Ujung: membundar – agak meruncing. 472 . Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan.Avicennia lanata (Ridley). daerah yang kering dan toleran terhadap kadar garam yang tinggi. bagian bawah daun putih kekuningan dan ada rambut halus. Daun : Memiliki kelenjar garam.Februari dan berbuah antara bulan November hingga Maret. ujungnya berparuh pendek dan jelas. Ukuran: sekitar 1. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/ tandan bunga. Memiliki akar nafas dan berbentuk pensil. Kulit kayu seperti kulit ikan hiu berwarna gelap. Tumbuh pada dataran lumpur.5 x 2.5 cm. warna hijau-agak kekuningan. Bentuk: elips. Bali. Kelimpahan : Tidak diketahui. dapat mencapai ketinggian hingga 8 meter. Bergerombol muncul di ujung tandan. Formasi: bulir (8-14 bunga). Diketahui (di Bali dan Lombok) berbunga pada bulan Juli . bau menyengat. kuning pucat-jingga tua. Lombok. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar. 4-5 mm. Ukuran: 9 x 5 cm. Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya). Semenanjung Malaysia. coklat hingga hitam. Daun Mahkota: 4.

b. buah. c. daun 733 . bunga.Avicennia lanata daun buah pohon a b c a.

hajusia. nektar banyak. Daun : Bagian atas permukaan daun ditutupi bintik-bintik kelenjar berbentuk cekung. Jenis ini dapat juga bergerombol membentuk suatu kelompok pada habitat tertentu. api-api abang.Avicennia marina (Forsk. Akarnya sering dilaporkan membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan tanah timbul.5x2. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di Afrika. Daun digunakan sebagai makanan ternak. Buah agak membulat. Kelopak Bunga: 5. Buah membuka pada saat telah matang. melalui lapisan dorsal. berwarna hijau agak keabu-abuan. Jenis ini merupakan salah satu jenis tumbuhan yang paling umum ditemukan di habitat pasang-surut. Catatan : 474 . tidak berbulu. Seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan.) Vierh. Bagian bawah daun putih. Manfaat : Daun digunakan untuk mengatasi kulit yang terbakar. Formasi: bulir (2-12 bunga per tandan). kuning pucat-jingga tua. intermedia (Griff. Ditemukan di seluruh Indonesia. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. ketinggian pohon mencapai 30 meter. Ukuran: 9 x 4. nyapi. Ukuran: sekitar 1. Kulit kayu halus dengan burik-burik hijau-abu dan terkelupas dalam bagian-bagian kecil. Buah dapat dimakan. sie-sie. Australia. Polynesia dan Selandia Baru. Sedang dilakukan revisi taksonomi. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Kayu menghasilkan bahan kertas berkualitas tinggi. Backer & Bakhuizen van den Brink (19638) hanya menyebutkan varietas A. Berbuah sepanjang tahun. Ujung: meruncing hingga membundar.abu-abu muda. Asia. Bentuk: elips. Resin yang keluar dari kulit kayu digunakan sebagai alat kontrasepsi.) Bakh. Amerika Selatan.5 cm. memiliki kemampuan menempati dan tumbuh pada berbagai habitat pasang-surut. 5-8 mm. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api putih. Daun Mahkota: 4. Benang sari: 4. Memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit dan berbentuk pensil (atau berbentuk asparagus). Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar. sia-sia putih. pai. bahkan di tempat asin sekalipun. Buah dapat juga terbuka karena dimakan semut atau setelah terjadi penyerapan air. bau menyengat. pejapi. Ranting muda dan tangkai daun berwarna kuning. kadang-kadang bersifat vivipar. Merupakan tumbuhan pionir pada lahan pantai yang terlindung. bulat memanjang. Kelimpahan : Melimpah. Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya) dan ujung buah agak tajam seperti paruh.5 cm. akar nafas tegak dengan sejumlah lentisel. bulat telur terbalik.

pohon 753 . b. c. d. buah. daun.Avicennia marina daun bunga buah a c d b a. bunga.

sia-sia putih. menyempit ke arah gagang. Pada umumnya memiliki akar tunjang dan akar nafas yang tipis. merahu. Ukuran: Sekitar 2x3 cm. Getah kayu dapat digunakan sebagai bahan alat kontrasepsi. Kulit kayu bagian luar memiliki permukaan yang halus berwarna hijau-keabu-abuan sampai abu-abu-kecoklatan serta memiliki lentisel. bau menyengat. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Berbunga sepanjang tahun. Tumbuh di bagian pinggir daratan rawa mangrove. Susunan seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan. ujungnya berparuh pendek.Avicennia officinalis L. warna kuning kehijauan. lebih panjang dari daun mahkota bunga. api-api daun lebar. Ujung: membundar. Permukaan buah agak keriput dan ditutupi rapat oleh rambut-rambaut halus yang pendek. Kelimpahan : Umum. khususnya di sepanjang sungai yang dipengaruhi pasang surut dan mulut sungai. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Kelopak Bunga: 5. Bentuk: bulat telur terbalik. Kayunya dapat digunakan sebagai kayu bakar. 476 . Manfaat : Buah dapat dimakan.5 x 6 cm. berbentuk jari dan ditutupi oleh sejumlah lentisel. marahuf. kuning-jingga. Permukaan atas daun ditutupi oleh sejumlah bintikbintik kelenjar berbentuk cekung. bahkan kadang-kadang sampai 20 m. seringkali tertutup oleh rambut halus dan pendek pada kedua permukaannya. papi. Formasi: bulir (2-10 bunga per tandan). Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tersebar di seluruh Indonesia. api-api ludat. Deskripsi umum : Pohon. Daun mahkota bunga terbuka tidak beraturan. Benang sari: 4. Daun Mahkota: 4. api-api kacang. Bentuk seperti hati. Ukuran: 12. semakin tua warnanya semakin hitam. Daun : Berwarna hijau tua pada permukaan atas dan hijau-kekuningan atau abu-abukehijauan di bagian bawah. Juga tersebar dari India selatan sampai Malaysia dan Indonesia hingga PNG dan Australia timur. bulat memanjang-bulat telur terbalik atau elipsbulat memanjang. biasanya memiliki ketinggian sampai 12 m. 1015 mm.

daun. c. d. buah. pohon 773 .Avicennia officinalis buah daun & bunga a c b d a. b. bunga.

Tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. lalu menjadi coklat ketika umur bertambah. Memiliki buah yang ringan dan mengapung sehinggga penyebarannya dapat dibantu oleh arus air. dan oleh karena itu sangat responsif terhadap penggenangan yang berkepanjangan. Bentuk: elips. Sisi luar bunga bagian bawah biasanya memiliki rambut putih. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Asia Tenggara dan Australia. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. tanjang sukun. tanjang. seluruh Indonesia. tanjang sukim. Daun : Permukaan atas daun hijau cerah bagian bawahnya hijau agak kekuningan. Kemampuan tumbuhnya pada tanah liat membuat pohon jenis ini sangat bergantung kepada akar nafas untuk memperoleh pasokan oksigen yang cukup. muncul di ujung tandan (panjang tandan: 1-2 cm). biasanya pada tanah liat di belakang zona Avicennia. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Hipokotil (seringkali disalah artikan sebagai “buah”) berbentuk silindris memanjang. Pangkal buah menempel pada kelopak bunga.Bruguiera cylindrica (L. Ujung: agak meruncing. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. ketinggian pohon kadang-kadang mencapai 23 meter. Para nelayan tidak menggunakan kayunya untuk kepentingan penangkapan ikan karena kayu tersebut mengeluarkan bau yang menyebabkan ikan tidak mau mendekat. Daun Mahkota: putih. Kelimpahan : Umum. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Burus. Warna hijau didekat pangkal buah dan hijau keunguan di bagian ujung. 478 . Di beberapa daerah. lengadai. berakar lutut dan akar papan yang melebar ke samping di bagian pangkal pohon. Ukuran: 7-17 x 2-8 cm. lindur.) Bl. 34 mm. Bunga mengelompok. bawahnya seperti tabung. Manfaat : Untuk kayu bakar. relatif halus dan memiliki sejumlah lentisel kecil. sering juga berbentuk kurva. tanjang putih. Kelopak Bunga: 8. termasuk Irian Jaya. bius. tapi pertumbuhannya lambat. Kulit kayu abu-abu. hijau kekuningan. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau. Jenis ini juga memiliki kemampuan untuk tumbuh pada tanah/substrat yang baru terbentuk dan tidak cocok untuk jenis lainnya. Ukuran: Hipokotil: panjang 8-15 cm dan diameter 5-10 mm. akar muda dari embrionya dimakan dengan gula dan kelapa. Formasi: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. atau di bagian tengah vegetasi mangrove kearah laut.

buah.Bruguiera cylindrica bunga buah pohon a c b a. c. daun 793 . bunga. b.

menggantung. Ukuran: 5. Unit & letak: sederhana & berlawanan. Diketahui dari Timor. panjang 10-13 mm. Pada masa lalu B. Manfaat : Catatan : Tidak tahu. Irian Jaya Selatan dan Australia Utara. Letak: di ketiak daun. Bentuk: bulat memanjang.5 cm. Kadang-kadang ditemukan suatu kelompok yang hanya terdiri dari jenis tersebut. Kulit kayu berwarna abu-abu tua. Deskripsi umum : Semak atau pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 10 m. silindris agak menggelembung. Daun mahkota: 8-10. Anakan tumbuh tidak baik di bawah lindungan. tepi daun mahkota memiliki rambut berwarna putih dan kemudian akan rontok. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Penyebaran terbatas. Substrat yang cocok adalah tanah liat dan pasir. Ujung: meruncing. Daun : Permukaan atas daun berwarna hitam. Formasi: soliter. Ukuran: Hipokotil: panjang 5-7 cm dan diameter 6-8 mm Tumbuh di sepanjang jalur air atau menuju bagian belakang lokasi mangrove. bagian bawah memiliki bercak-bercak. Hipokotil relatif kecil dan mudah tersebar oleh pasang surut atau banjir. Bunga hijau-kekuningan. Hipokotil berbentuk tumpul. dan memiliki sejumlah besar akar nafas berbentuk lutut. sexangula sering dikelirukan dengan jenis ini. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun.5-11.5 x4. pangkal batang menonjol. tepi daun sering tergulung ke dalam.Bruguiera exaristata Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tidak tahu. panjang 10-15 mm.5 x 2. 480 . Kelopak bunga: 8-10. Kelimpahan : Cukup umum.

Bruguiera exaristata a c b a. daun 813 . buah. b. c. bunga.

Jenis ini toleran terhadap daerah terlindung maupun yang mendapat sinar matahari langsung. bako. putih dan coklat jika tua. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Pertut. tanjang merah. serta tahap awal dalam transisi menjadi tipe vegetasi daratan. tergantung. tenggel. juga memiliki sejumlah akar lutut. bangko. Formasi: soliter. dan mengundang burung untuk melakukan penyerbukan. pasir dan kadang-kadang tanah gambut hitam. tumpul dan berwarna hijau tua keunguan. dau. memiliki kelopak bunga berwarna kemerahan. permukaannya halus hingga kasar. putut. tumu. Kulit kayu memiliki lentisel. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. menggantung. Kayunya yang berwarna merah digunakan sebagai kayu bakar dan untuk membuat arang. panjang 13-16 mm. Kelopak Bunga: 10-14. Bunga relatif besar. lindur. Akarnya seperti papan melebar ke samping di bagian pangkal pohon. Ujung: meruncing Ukuran: 4. Regenerasinya seringkali hanya dalam jumlah terbatas. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan pada bagian bawahnya dengan bercak-bercak hitam (ada juga yang tidak). Mereka juga tumbuh pada tepi daratan dari mangrove. sala-sala. taheup. Kelimpahan : Umum dan tersebar luas. tanjang. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. serta tanah yang memiliki aerasi yang baik. Substrat-nya terdiri dari lumpur. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. totongkek. warna merah muda hingga merah. Bentuk: elips sampai elips-lanset. tomo. dicampur dengan gula. mutut besar. Kadang-kadang juga ditemukan di pinggir sungai yang kurang terpengaruh air laut. Bunga bergelantungan dengan panjang tangkai bunga antara 9-25 mm. Ditemukan di tepi pantai hanya jika terjadi erosi pada lahan di hadapannya. Merupakan jenis yang dominan pada hutan mangrove yang tinggi dan merupakan ciri dari perkembangan tahap akhir dari hutan pantai. Ukuran: Hipokotil: panjang 12-30 cm dan diameter 1. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur dan Madagaskar hingga Sri Lanka. sepanjang tambak serta sungai pasang surut dan payau. panjang 2-2. 482 . panjang 30-50.5-7 x 8.5 cm. kandeka. bundar melintang. mangimangi. Manfaat : Bagian dalam hipokotil dimakan (manisan kandeka).) Lamk. Hipokotil lurus. hal tersebut dimungkinkan karena buahnya terbawa arus air atau gelombang pasang. Buah melingkar spiral. Daun Mahkota: 10-14. Tumbuh di areal dengan salinitas rendah dan kering. wako. Letak: di ketiak daun. Daun : Daun berkulit. Malaysia dan Indonesia menuju wilayah Pasifik Barat dan Australia Tropis.5-2 cm.5-22 cm. sarau. tongke. berwarna abu-abu tua sampai coklat (warna berubah-ubah).Bruguiera gymnorrhiza (L.

bunga. daun 833 .Bruguiera gymnorrhiza daun & bunga hipokotil a c b a. c. b. hipokotil.

berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan di bawahnya. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Burma. Ujung: meruncing. Bentuk: elips sampai bulat memanjang. Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove pada areal yang relatif kering dan hanya tergenang selama beberapa jam sehari pada saat terjadi pasang tinggi. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 30 meter dan batang berdiameter sekitar 70 cm. hijau pucat. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Letak: Di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga (panjang tandan: 18-22 cm). bagian bawah berbentuk tabung. Manfaat : Tidak tahu. Thailand. panjang 7-9 mm. seluruh Indonesia dan Papua New Guinea. Berambut pada tepi bawah dan agak berambut pada bagian atas cuping. Kelimpahan : Agak kurang umum. dengan lentisel besar berwarna coklat-kekuningan dari pangkal hingga puncak. Ukuran: Hipokotil: panjang 9 cm dan diameter 1 cm.Bruguiera hainessii C. Kulit kayu berwarna coklat hingga abu-abu. Daun : Daun berkulit.G. Hipokotil berbentuk cerutu atau agak melengkung dan menebal menuju bagian ujung. Malaysia. Ukuran: 9-16 x 4-7 cm. Daun Mahkota: putih. panjangnya 5 mm. 484 . Formasi: kelompok (2-3 bunga per tandan.Rogers RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus mata buaya. Kelopak Bunga: 10.

c.Bruguiera hainessii c d b a a. d. daun. bunga. buah/hipokotil. b. pohon 853 .

Substrat yang cocok termasuk lumpur. Letak: di ketiak daun. 486 . Deskripsi umum : Berupa semak atau pohon kecil yang selalu hijau. Ujung: meruncing. dan nampaknya tumbuh dengan baik pada areal yang menerima cahaya matahari yang sedang hingga cukup. kecuali untuk kayu bakar. Kelopak Bunga: 8. perbungaan tercatat dari bulan Juni hingga September. Hipokotilnya yang ringan mudah untuk disebarkan melalui air.) W. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Hipokotil silindris. panjangnya 7-9 mm. yang merupakan ciri khasnya. tinggi (meskipun jarang) dapat mencapai 20 m. Jenis ini membentuk tegakan monospesifik pada areal yang tidak sering tergenang. Akar lutut dapat mencapai 30 cm tingginya. warna hijau kekuningan. agak melengkung. tongi. Manfaat : Karena ukuran kayunya yang kecil. paproti. Ukuran: Hipokotil: panjang 815 cm dan diameter 0. mengelangan. Daun mahkota: 8. bagian bawah berbentuk tabung. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Bangladesh hingga Samoa. Seluruh Indonesia. mou.5-2mm.Bruguiera parviflora (Roxb. Berambut pada tepinya. Dapat menjadi sangat dominan di areal yang telah diambil kayunya (misalnya Karang Gading-Langkat Timur Laut di Sumatera Utara. warna hijau kekuningan. permukaannya halus. seperti kupu-kupu. Ukuran: 5. bius. panjang 1. dan berbuah dari bulan September hingga Desember. pasir. lenggadai. Daunnya berlekuk-lekuk. sia-sia.5 cm. Buah melingkar spiral. Bentuk: elips. tetapi melimpah setempat. tanah payau dan bersalinitas tinggi.5-13 x 2-4. Kulit kayu burik. Bunga mengelompok di ujung tandan (panjang tandan: 2 cm). ex Griff. panjang 2 cm. bercelah dan agak membengkak di bagian pangkal pohon. Giesen & Sukotjo. berwarna abu-abu hingga coklat tua. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Langgade. Individu yang terisolasi juga ditemukan tumbuh di sepanjang alur air dan tambak tepi pantai. Daun : Terdapat bercak hitam di bagian bawah daun dan berubah menjadi hijaukekuningan ketika usianya bertambah. Kelimpahan : Tersebar. disebabkan oleh gangguan serangga. tanjang. putihhijau kekuningan. 1991).5-1 cm.& A. Di Australia. menggelembung. Bunga dibuahi oleh serangga yang terbang pada siang hari. Formasi: kelompok (3-10 bunga per tandan). jenis ini jarang digunakan untuk keperluan lain.

bunga. c. daun 873 . b.Bruguiera parviflora bunga buah pohon c a b a. buah/hipokotil.

sarau. Kulit kayu coklat muda-abu-abu. lindur. dan memiliki bercak hitam di bagian bawah. Kadang berambut halus pada tepinya. ting. Biasanya tumbuh pada kondisi yang lebih basah dibanding B. Akar lutut. tiang dan arang. tancang sukun.5 cm. berkulit. Sama dengan B. busung. warna kuning kehijauan atau kemerahan atau kecoklatan. Bunganya yang besar diserbuki oleh burung. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. putih dan kecoklatan jika tua. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. Di Sulawesi buahnya dimakan setelah direndam dan dididihkan. Daun : Daun agak tebal. mata buaya. gymnorrhiza. pada berbagai tipe substrat yang tidak sering tergenang. payau dan tawar. memiliki sejumlah lentisel berukuran besar. Ukuran: 8-16 x 3-6 cm. halus hingga kasar. Identifikasi yang terbaik adalah melalui daun mahkota. gymnorrhiza. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Busing.Bruguiera sexangula (Lour. dan kadangkadang akar papan. Catatan : 488 . akar serta daunnya digunakan untuk mengatasi kulit terbakar. dan pangkal batang yang membengkak. tumu. Daun makhota: 10-11. Kelopak bunga: 10-12. Manfaat : Untuk kayu bakar. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. panjang tabung 10-15 mm. dan di masa lalu seringkali dikelirukan dengan kedua jenis tersebut. Ujung: meruncing. Kadang-kadang terdapat pada pantai berpasir. Bentuk: elips. exaristata dan B. ai bon. Hipokotil menyempit di kedua ujung. Kelimpahan : Umum. bakau tampusing. Tumbuh di sepanjang jalur air dan tambak pantai. Seluruh Asia Tenggara (termasuk Indonesia) hingga Australia utara.) Poir. Ukuran: Hipokotil: panjang 6-12 cm dan diameter 1. tanjang. mutut kecil. Hipokotil disebarkan melalui air. panjang 15mm. Letak: Di ketiak daun. tongke perampuan. Formasi: soliter (1 bunga per tandan). Buahnya dilaporkan digunakan untuk mengobati penyakit herpes. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India. Toleran terhadap kondisi air asin.

b. bunga.Bruguiera sexangula daun bunga buah a c b a. daun 893 . buah/hipokotil. c.

Bentuk: lanset-elips. - Buah : Ekologi : Penyebaran : Filipina. Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak. Ujung: membundar. BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. Daun mahkota bunga berwarna putih. Formasi: bulir. panjang biji 9mm. 490 . kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan.Camptostemon philippinense (Vidal) Becc. bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek. dan memiliki daun kelopak bunga dan kelopak tambahan yang berurutan. Kulit kayu berwarna abu-abu dan memiliki celah/retakan longitudinal serta pangkal batang yang bergalur. Kalimantan dan Sulawesi. Kelimpahan : Tidak terlalu umum. Buah bundar berbentuk kapsul. Daun : Bunga : Permukaan daun bersisik. Benang sari: 5. Letak: di ketiak daun dan batang. bersisik. kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m. pangkalnya sempit. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. Ukuran: panjang buah 1 cm. dan memiliki akar nafas yang menonjol. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. Ukuran: 6-9 x 2-4 cm. Manfaat : Catatan : Tidak diketahui. Menurut Tomlinson (1986). Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Daun mahkota: putih. berupa semak atau pohon yang selalu hijau.

Camptostemon philippinense c b a a. bunga. daun 913 . b. buah. c.

Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat dari Kalimantan. buah matang pada bulan Oktober sampai Februari (di Australia). kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan. Kelopak bunga: seperti cangkir. bersisik. Daun : Daun berumbai-rumbai terletak pada akhir cabang. Umumnya tumbuh pada pantai berpasir yang berada pada kisaran areal pasang surut. berupa semak atau pohon yang selalu hijau. dan memiliki akar nafas yang menonjol. Mungkin diserbuki oleh serangga dan angin. dan memiliki daun kelopak bunga yang bagian luarnya berurutan dan bersisik. sementara bijinya yang berbulu disebarkan oleh air maupun angin. Buah dapat disebarkan melalui air (dengan kisaran gelombang sedang). pangkalnya sempit. Tumbuh lebih baik di pantai berbatu dan terbuka dibandingkan dengan mangrove di mulut sungai. PNG dan Australia Utara. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. bagian atas halus. Manfaat : Catatan : Kayu dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas yang cukup kuat. Menurut Tomlinson (1986). Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Bentuk: lansetelips. Daun mahkota bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek berwarna putih. Maluku. Ukuran: 6-16 x 2-5 cm. Formasi: bulir. Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak.Camptostemon schultzii Masters BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. Ujung: membundar. Buah bundar berbentuk kapsul. Benang sari: 20. Kelimpahan : Relatif umum. coklat atau coklat-keabu-abuan dan memiliki celah/retakan longitudinal dan lentisel serta pangkal batang yang bergalur. cuping panjangnya 6 mm. panjang biji 9mm. Daun Makhota: putih. bagian bawah bersisik. 492 . Letak: Di ketiak daun dan cabang. Berbunga pada bulan Juni sampai Oktober. Ukuran: panjang buah 1 cm. kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m dengan kulit kayu berwarna kuning pucat.

c. pohon 933 . d. b. buah.Camptostemon schultzii a b c d a. daun. bunga.

Menyukai substrat pasir atau lumpur. Deskripsi umum : Pohon atau semak kecil dengan ketinggian hingga 15 m. Catatan : 494 . Irian Jaya. Ujung: membundar. warna hijau hingga coklat. rapuh dan menggelembung di bagian pangkal. Maluku. Ukuran: 3-10 x 1-4. Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Indocina. Daun mahkota: 5. tebal dan bertakik.5 cm. serta pegangan berbagai perkakas bangunan. Bunga mengelompok. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Sulawesi. permukaan halus. ujungnya menggelembung tajam dan berbintil. Formasi: kelompok (2-4 bunga per kelompok). palun. ada lentisel dan berbintil. Kalimantan.) Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengal. Kulit kayu berwarna coklat. panjang 2. bantalan rel kereta api. Kulit kayu merupakan sumber yang bagus untuk tanin serta bahan pewarna.5-4mm. Malaysia. Tumbuh tersebar di sepanjang hutan pasang surut. tengar. Manfaat : Jenis Ceriops memiliki kayu yang paling tahan/kuat diantara jenis-jenis mangrove lainnya dan digunakan sebagai bahan bangunan. parun. Filipina dan Australia. Daun : Bunga : Daun hijau mengkilap. Bangka. Benang sari: tangkai benang sari pendek. sama atau lebih pendek dari kepala sari. warna hijau.Ceriops decandra (Griff. Kelimpahan : Relatif jarang. putih dan kecoklatan jika tua. akan tetapi lebih umum pada bagian daratan dari perairan pasang surut dan berbatasan dengan tambak pantai. Kelopak bunga: 5. Kadang berambut halus pada tepinya. Papua New Guinea. tinci. Bentuk: elipsbulat memanjang. jarang berwarna abu-abu atau putih kotor. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. luru. Letak: di ketiak daun. Hipokotil berbentuk silinder. tingi. Ukuran: Hipokotil: panjang 15 cm dan diameter 8-12 mm. menempel dengan gagang yang pendek. Bentuk dan ukuran daun sangat beragam bergantung kepada kadar cahaya dan air dimana suatu individu tumbuh. bido-bido. Leher kotilodon jadi merah tua jika sudah matang/ dewasa. kenyonyong. Jawa.

pohon 953 .Ceriops decandra daun bunga buah & hipokotil a c b d a. c. daun. bunga. b. buah/hipokotil. d.

Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok). Leher kotilodon menjadi kuning jika sudah matang/dewasa.Rob. Pohon seringkali memiliki akar tunjang yang kecil. termasuk Australia Utara. Daun : Daun hijau mengkilap dan sering memiliki pinggiran yang melingkar ke dalam. Bahan kayu bakar yang baik serta merupakan salah satu kayu terkuat diantara jenis-jenis mangrove. tinci. Menyukai substrat tanah liat. agak menggelembung dan seringkali agak pendek. tengah. Kulit kayu berwarna abu-abu. tangar. Ukuran: 1-10 x 2-3. Bentuk: bulat telur terbalik-elips. Deskripsi umum : Pohon kecil atau semak dengan ketinggian mencapai 25 m. tingi. mentigi. putih dan kemudian jadi coklat. berkulit halus. Tanin dihasilkan dari kulit kayu. tingih. bantalan rel kereta api. dengan tabung kelopak yang melengkung. wanggo. Gagang bunga panjang dan tipis. Kelimpahan : Umum. Daun mahkota: 5. parun.) C. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. tengar. Hipokotil berbintil. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. berresin pada ujung cabang baru atau pada ketiak cabang yang lebih tua. Ukuran: Hipokotil: panjang 4-25 cm dan diameter 8-12 mm. Dilaporkan bahwa anakan jenis ini dapat membelah menjadi dua. dan regenerasi mereka dapat terjadi melalui salah satu anakan tersebut. Buah panjangnya 1. panjang 45mm. dan kemungkinan berdampingan dengan C.Ceriops tagal (Perr. mange darat. Bunga mengelompok di ujung tandan. Membentuk belukar yang rapat pada pinggir daratan dari hutan pasang surut dan/atau pada areal yang tergenang oleh pasang tinggi dengan tanah memiliki sistem pengeringan baik.5 cm. palun. Letak: di ketiak daun. karena ketahanannya jika direndam dalam air garam. halus dan pangkalnya menggelembung. Benang sari: tangkai benang sari lebih panjang dari kepala sarinya yang tumpul. tabung 2mm. Ujung: membundar. Kayu bermanfaat untuk bahan bangunan. Catatan : 496 . bido-bido. Malaysia dan Indonesia.5-2 cm. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengar. warna hijau.B. Kelopak bunga: 5. Pewarna dihasilkan dari kulit kayu dan kayu. Manfaat : Ekstrak kulit kayu bermanfaat untuk persalinan. kadang-kadang coklat. lonro. Juga terdapat di sepanjang tambak. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Mozambik hingga Pasifik Barat.decandra. dan pegangan perkakas.

c. b. daun 973 . buah/hipokotil. bunga.Ceriops tagal bunga buah & hipokotil a c b a.

tetapi memiliki bintil. Ukuran: diameter 5-7mm. Mereka umum ditemukan sebagai jenis yang tumbuh kemudian pada beberapa hutan yang telah ditebang. permukaan seperti kulit. Getah putihnya beracun dan dapat menyebabkan kebutaan sementara. seringkali berbentuk kusut dan ditutupi oleh lentisel. Bentuk: elips. Bentuk seperti bola dengan 3 tonjolan. madengan. khususnya lebah. warna hijau. berisi biji berwarna coklat tua. warejit. dahan dan daun memiliki getah (warna putih dan lengket) yang dapat mengganggu kulit dan mata. Hal ini terutama diperkirakan terjadi karena adanya serbuk sari yang tebal serta kehadiran nektar yang memproduksi kelenjar pada ujung pinak daun di bawah bunga. Jenis ini juga ditemukan tumbuh di sepanjang pinggiran danau asin (90% air laut) di pulau vulkanis Satonda. Ukuran: 6. Memiliki bunga jantan atau betina saja. Daun mahkota: hijau & putih. Karang-Gading Langkat Timur Laut. Umumnya ditemukan pada bagian pinggir mangrove di bagian daratan. Tumbuhan ini sepanjang tahun memerlukan masukan air tawar dalam jumlah besar. Manfaat : Akar dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi dan pembengkakan. goro-goro raci. makasuta. Sumatera Utara. Letak: di ketiak daun. Catatan : 498 . dekat Medan. Kelopak bunga: hijau kekuningan. Bunga jantan (tanpa gagang) lebih kecil dari betina. betuh. termasuk di Indonesia. sambuta. atau kadang-kadang di atas batas air pasang. kayu wuta. bebutah. Batang. yaitu buta-buta. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Daun : Hijau tua dan akan berubah menjadi merah bata sebelum rontok.Excoecaria agallocha L.5 x 3. berwarna hijau dan panjangnya mencapai 11 cm. pinggiran bergerigi halus. menengan. Formasi: bulir.5-5 cm. sesuai dengan namanya. Kelimpahan : Melimpah setempat. Deskripsi umum : Pohon merangas kecil dengan ketinggian mencapai 15 m. Kulit kayu berwarna abu-abu. kuning. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di sebagian besar wilayah Asia Tropis. Kayu dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas yang bermutu baik. Ujung: meruncing. EUPHORBIACEAE Nama setempat : Buta-buta. halus. Kayu digunakan untuk bahan ukiran. Kayunya kadang-kadang dijual karena wanginya. sebelah utara Sumbawa. Akar menjalar di sepanjang permukaan tanah. Getah digunakan untuk membunuh ikan. bersilangan. tersebar. kalapinrang. akan tetapi wanginya akan hilang beberapa tahun kemudian. misalnya di Suaka Margasatwa. ada 2 kelenjar pada pangkal daun. mata huli. Kayu tidak bisa digunakan sebagai kayu bakar karena bau wanginya tidak sedap bagi masakan. dan di Australia. Benang sari: 3. tidak pernah keduanya.5-10. Tandan bunga jantan berbau. Unit & Letak: sederhana. Penyerbukan dilakukan oleh serangga. kalibuda. dan menyebar di sepanjang tandan.

c. buah/hipokotil. d.Excoearia agallocha bunga buah daun c a b d a. pohon 993 . daun. bunga. b.

Gymnanthera paludosa

(Bl.) K.Schum.

ASCLEPIADACEAE

Nama setempat : Tidak tahu. Deskripsi umum : Semak pemanjat, hingga 4 m. Batang ditutupi oleh tonjolan. Pada umumnya tidak berambut, tetapi memiliki rambut pendek, halus di bagian atas. Daun : Bunga : Daun halus, tipis. Unit & Letak: sederhana, bersilangan. Bentuk: elips-bulat memanjang. Ujung: meruncing. Ukuran: 3-5,5 x 1-2 cm. Di antara pasangan tangkai daun, panjang tangkai bunga kurang dari 2 cm. Formasi: kelompok. Daun mahkota: halus, hijau kekuningan, memiliki tabung memanjang 7-8 mm, diameter 16-18 mm. Buah tipis, berpasangan dan berpengait di ujungnya. Biji berlunas dan halus tetapi memiliki rambut panjangnya 2-2,5 cm. Ukuran: panjang biji 5mm, panjang buah 10,5-12 cm. Tumbuh di mangrove. Bunga dari Oktober - Maret. Tercatat dari Jawa dan Madura, tetapi kemungkinan ditemukan di seluruh Indonesia.

Buah :

Ekologi : Distribusi :

Kelimpahan : Tidak tahu. Manfaat : Tidak tahu.

4100

Gymnanthera paludosa

daun & buah

a

c

b

a. bunga; b. buah; c. daun

1013

Heritiera globosa

Kostermans

STERCULIACEAE

Nama setempat : Dungun. Deskripsi umum : Sangat menyerupai Heritiera littoralis (lihat deskripsi berikut), perbedaannya terletak pada buah yang bundar dan tangkai daun yang lebih panjang. Memiliki ujung daun ventral yang dangkal, memanjang pada ujung jauh menuju mulut atau sayapnya, dimana sayap selalu agak melengkung yang merupakan kekhasannya. Gagang daun lebih panjang dari 2 cm dan mungkin lebih dari 4 cm. Akar papan berkembang baik dan menyerupai ular, memanjang 2-4 m dari pangkal batang. Ekologi : Tumbuh di belakang zona jalur mangrove, tetapi juga telah dikoleksi di tempat sejauh 70 km dari laut, pada sistem sungai air tawar yang dipengaruhi oleh pasang surut.

Penyebaran : Sarawak, Sabah dan Kalimantan, akan tetapi kemungkinan memiliki penyebaran yang lebih luas. Kelimpahan : Relatif umum setempat. Manfaat : Memiliki kayu yang kuat dan berat.

4102

Heritiera globosa

a

b

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1033

atung laut. Formasi: bergerombol bebas. berkulit. Daun : Kukuh. seperti mangkok. bayur laut. Memiliki 1 biji dan masak pada tandan yang tergantung. dungun. lulun. berkayu. Gagang daun panjangnya 0. Akar papan berkembang sangat jelas. berkelompok pada ujung cabang. tetapi lebih kecil dibanding bunga betina (pada pohon yang berbeda !). Unit & letak: sederhana. lebar 5-6 cm. 4104 . lawang. Dari Afrika timur dan Madagaskar hingga Australia dan Pasifik sejauh Kaledonia baru. rumah. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. Kelopak bunga: 4-5. lawanan kete. atau pantai berkarang. Kelimpahan : Umum. kemerahan dan berambut. Manfaat : Kayu bakar yang baik.Ait. bersisik dan bercelah. Bentuk: bulat telur-elips. Warna daun hijau gelap bagian atas dan putih-keabu-abuan di bagian bawah karena adanya lapisan yang bertumpang-tindih. belohila. ex W. dan mungkin juga menempati bagian tepi atau berdekatan dengan hutan dataran rendah. Individu pohon memiliki salah satu bunga betina atau jantan. rumung. Biji digunakan untuk pengolahan ikan. panjang 4-5 mm. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. tiang telepon. Buah berwarna hijau hingga coklat mengkilat. Tandan bunga berambut (terutama pada bagian ketiak daun dan ujung cabang). rurun. balang pasisir.Heritiera littoralis Dryand. Ukuran: panjang 6-8 cm. Kulit kayu gelap atau abu-abu.5-2 cm. Letak: di ujung atau di ketiak. Sangat umum tumbuh di tepi daratan hutan mangrove. Kayu tahan lama dan digunakan untuk bahan perahu. Nampaknya tidak toleran terhadap salinitas yang tinggi dan tidak tumbuh pada lokasi yang sangat terbuka atau kurang adanya pengeringan. kadang sampai 30 x 15-18 cm. Ujung: meruncing. Daun mahkota: ungu dan coklat. blakangabu. Buah digunakan untuk mengobati diare dan disentri. Ukuran: 10-20 x 5-10 cm. cerlang laut. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 25 m. Bunga jantan lebih banyak. bersilangan. STERCULIACEAE Nama setempat : Dungu.

buah.Heritiera littoralis buah muda bunga buah tua pohon a a c b a. c. bunga. b. daun 1053 .

India. Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil. Cina. Jepang Selatan dan Malaysia. Thailand. Daun mahkota: panjangnya 14 mm. permukaan halus dan memiliki lentisel. Kalimantan Barat dan Utara.Kandelia candel (L. Indo Cina. Benang sari: banyak dan berbentuk filamen. Kelopak bunga: tabung daun kelopak bunga melebihi bakal buah dan memiliki cuping sejajar yang melengkung ketika bunga mekar penuh.5-2 cm. Manfaat : Utamanya untuk kayu bakar. Burma. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Kelimpahan : Sangat terbatas dan jarang. panjangnya 1. panjang 1. memiliki 4 dan kadang-kadang 9 bunga berwarna putih. Kulit kayu berwarna keabu-abuan hingga coklat-kemerahan. tinggi hingga 7 meter dengan pangkal batang lebih tebal. pulut-pulut.5 cm. Tandan bunga bercabang dua. Taiwan. Menempati relung yang sempit. 4106 . Daun : Bunga : Tepi daun mengkerut kedalam.) Druce RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus-berus. Berwarna hijau berbentuk oval. Buah : Ekologi : Penyebaran : Timur Laut Sumatera. Bentuk: elips-bulat memanjang. Tumbuh secara sporadis pada pematang sungai pasang surut. Ujung: membundar hingga sedikit runcing. beras-beras. Hipokotil silindris panjangnya 15-40 cm.5-2. Umumnya tanpa akar nafas. beus. pisang-pisang Laut.

buah/hipokotil. c.Kandelia candel daun & bunga buah/hipokotil a c b a. b. daun 1073 . bunga.

atau kalaupun ada. taruntung. Ujung: membundar. maka kayunya sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan lemari dan furnitur lainnya. api-api uding. sangat jarang dijumpai di pantai-pantai di Jawa. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. welompelong. Benang sari: <10.5-2 mm. kedukduk. sesop. Produksi nektar. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. randai. ma gorago. geriting. Indonesia. berwarna coklat tua dan kulit kayu memiliki celah/retakan membujur (longitudinal). Panjang benang sari dua kali ukuran daun mahkota.Lumnitzera littorea (Jack) Voigt COMBRETACEAE Nama setempat : Teruntum (merah). Mereka juga terdapat pada jalur air yang memiliki pasokan air tawar yang kuat dan tetap. Formasi: bulir. dan berumpun pada ujung dahan. L. berwarna hijau keunguan. 4-6 x 1. Tidak terdapat. Letak: di ujung. Daun : Daun agak tebal berdaging. Kelimpahan : Melimpah setempat dan kadang-kadang tumbuh dalam bentuk kelompok. bersilangan. Ukuran: panjang 9-20mm. hijau 1 x-12 mm. Catatan : 4108 . Sayangnya. Bentuk: bulat telur terbalik. Menyukai substrat halus dan berlumpur pada bagian pinggir daratan di daerah mangrove. duduk agung. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau dan tumbuh tersebar. Ukuran: 2-8 x 1-2. Memiliki dua buah pinak daun berbentuk bulat telur dan berukuran 1 mm pada bagian pangkalnya. duduk gedeh. posi-posi. Manfaat : Kayunya kuat dan sangat tahan terhadap air. Daun mahkota: 5. Unit & Letak: sederhana. harum. dan dipenuhi oleh nektar. agak keras dan bertulang. Diameter 4-5 mm. riang laut. Akar nafas berbentuk lutut. sesak. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. warna bunga serta morfologi dan lokasinya menunjukkan bahwa penyerbukannya dibantu oleh burung. Kelopak bunga: 5. meskipun pada umumnya lebih rendah. littorea dan L. ketinggian pohon dapat mencapai 25 m. Panjang tangkai bunga mencapai 3 mm. kayu berukuran besar sangat jarang ditemukan. keras/kaku. berwarna merah cerah. Buah yang ringan dan dapat mengapung sangat menunjang penyebaran mereka melalui air. Australia Utara dan Polinesia. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Daerah tropis Asia. Bunga biseksual. tandan 2-3 cm.5 cm. Buah berbentuk seperti pot/jambangan tempat bunga/elips. Panjang tangkai daun mencapai 5 mm. merah. Dengan penampilannya yang menarik dan memiliki wangi seperti mawar. dimana penggenangan jarang terjadi.

daun. b. buah.Lumnitzera littorea daun bunga buah c a b a b d a. d. c. bunga. pohon 1093 .

Ukuran: 2-10 x 1-2. Australia utara dan Polinesia. Menyukai substrat berlumpur padat. Bunga putih. Panjang tangkai daun mencapai 10 mm. teruntum. Kelopak bunga: 5. keras/kaku. Deskripsi umum : Belukar atau pohon kecil. api-api jambu. Buah berbentuk kembung/elips. Unit & Letak: sederhana. 2-4 x 7-8 mm. aduadu. Ukuran: panjang 7-12 mm. berserat. seperti jembatan. Kelimpahan : Agak umum. Mereka juga terdapat di sepanjang jalur air yang dipengaruhi oleh air tawar. Hampir tidak ditemukan di sepanjang pantai yang menghadap Samudera India. sehingga sangat jarang ditemukan kayu yang berukuran besar. furnitur dan sebagainya. Memiliki dua pinak daun berbentuk bulat telur. Daun : Daun agak tebal berdaging. duduk laki-laki. Panjang tandan 1-2 cm. berwarna hijau kekuningan. Ukurannya lebih kecil dari L. cocok untuk berbagai keperluan bahan bangunan. littorea dan L. berkayu dan padat. var.5 cm. hijau (6-8 mm). selalu hijau dengan ketinggian mencapai 8 m. Bentuk: bulat telur menyempit. berwarna putih cerah. littorea.5 mm pada bagian pangkalnya. susup. Tumbuh di sepanjang tepi vegetasi mangrove. Buah berserat teradaptasi untuk penyebaran melalui air. Daun mahkota: 5. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari bagian timur Afrika tropis dan Madagaskar sampai Malaysia. dipenuhi oleh nektar. PNG. memiliki celah/retakan longitudinal (khususnya pada batang yang sudah tua). duduk. Catatan : 4110 . Panjang benang sari sama atau sedikit lebih panjang dari daun mahkota. dan tidak memiliki akar nafas. saman-sigi. Letak: di ujung atau di ketiak. racemosa COMBRETACEAE Nama setempat : Api-api balah. dan berumpun pada ujung dahan. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. di seluruh Indonesia. L. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. Kulit kayu kadang-kadang digunakan sebagai bahan pelapis. kedukduk. PNG dan Filipina. Bunga biseksual. Manfaat : Kayunya keras dan tahan lama. kapal. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. tanpa gagang. bersilangan. Bahan bakar yang baik. truntun. Kulit kayu berwarna coklat-kemerahan.Lumnitzera racemosa Willd. Benang sari: <10. diserbuki oleh serangga. Cuping daun kelopak bunga dengan ujung berkelenjar ditemukan di Irian Jaya. lasi. agak harum dan kaya akan nektar. Diameter 3-5 mm. putih. Ujung: membundar. Formasi: bulir. knias. panjangnya 1.

pohon 1113 .Lumnitzera racemosa daun bunga buah a d c b a. buah. bunga. c. d. daun. b.

topi. terletak di bawah kepala bunganya. berwarna hijau mengkilat di permukaan atas dan berserbuk di bagian bawah. Jarang terdapat di luar zona pantai. Digunakan untuk memproduksi alkohol dan gula. Memerlukan masukan air tawar tahunan yang tinggi. Ukuran: 60-130 x 5-8 cm. Daun digunakan untuk bahan pembuatan payung. Manfaat : Sirup manis dalam jumlah yang cukup banyak dapat dibuat dari batangnya. Terdapat 100 . produksi gula yang dihasilkan lebih baik dibandingkan dengan gula tebu. pada bagian tepi atas dari jalan air. Serbuk sari lengket dan penyerbukan nampaknya dibantu oleh lalat Drosophila. 65-70 juta tahun yang lalu. tangkal daon. Ukuran: diameter kepala buah: sampai 45 cm. Malaysia. seluruh Indonesia. Jika dikelola dengan baik. Buah yang berserat serta adanya rongga udara pada biji membantu penyebaran mereka melalui air. Bunga jantan kuning cerah. Kadang-kadang bersifat vivipar. Setelah diolah. Panjang tandan/gagang daun 4 . membentuk rumpun. Batang terdapat di bawah tanah. Diameter biji: 4-5 cm. Serbuk sari dari jenis ini telah ditemukan sejak jaman Cretaceous atas. dibandingkan dengan sebagian besar jenis tumbuhan mangrove lainnya. serta memiliki kandungan sukrosa yang lebih tinggi. Ujung: meruncing. kuat dan menggarpu. kaku dan berserat. Memiliki sistem perakaran yang rapat dan kuat yang tersesuaikan lebih baik terhadap perubahan masukan air. Tandan bunga biseksual tumbuh dari dekat puncak batang pada gagang sepanjang 1-2 m. Filipina. Nypa telah dikenal di Australia sejak awal jaman Tertiary. jika bunga diambil pada saat yang tepat. keranjang dan kertas rokok. ARECACEAE Nama setempat : Nipah. Bunga betina membentuk kepala melingkar berdiameter 25-30 cm.Nypa fruticans Wurmb. tikar. Biasanya tumbuh pada tegakan yang berkelompok. Tinggi dapat mencapai 4-9 m. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. serat gagang daun juga dapat dibuat tali dan bulu sikat. sangat umum setempat. Deskripsi umum : Palma tanpa batang di permukaan. lipa. Pada setiap buah terdapat satu biji berbentuk telur. Bentuk: lanset.9 m. warna coklat. Biji dapat dimakan. buyuk. Catatan : 4112 . Australia dan Pasifik Barat. Tumbuh pada substrat yang halus. Daun : Seperti susunan daun kelapa. Buah berbentuk bulat. Papua New Guinea.120 pinak daun pada setiap tandan daun. Asia Tenggara.

Nypa fruticans buah bunga pohon 1133 .

Bentuk: bulat telur terbalik. ada kelenjar minyak yang tembus cahaya dan berukuran kecil serta ada pembengkakan pada gagang daun sepanjang 2 mm yang berwarna merah. Manfaat : Para nelayan menggunakan daunnya untuk mengusir serangga. berserat dan berserabut. Ranting halus berwarna abu-abu pucat dan berbentuk segi empat pada saat muda. Ukuran: panjang 5-10 mm. Daun : Berkulit tipis. Kulit kayu kadangkadang digunakan untuk menambal perahu dan kayunya tahan lama.Osbornia octodonta F. selalu hijau. dan dapat ditemukan pada lumpur halus. Letak: di ketiak daun. Filipina. Ujung: membundar. Jawa Timur. berbentuk datar dan bulat telur terbalik. Tumbuh di tempat yang lebih terbuka pada tepi daratan di daerah mangrove atau pada pinggiran alur air yang dipengaruhi oleh pasang surut. Dalam satu tandan terdapat 1-3 bunga yang bergerombol. Buah disebarkan lewat air dan terapung di air karena adanya rambutrambut yang dapat memerangkap udara. Papua New Guinea. Kalimantan Utara. bersilangan. Benang sari: berwarna putih hingga kuning. menimbulkan aroma pada saat disentuh. Pinak daun tersebut kemudian rontok. Bunga diserbuki oleh serangga. Formasi: kelompok. Biseksual. diameter 5 mm. terletak pada pangkal gagang bunga. MYRTACEAE Nama setempat : Baru-baru.5-5 x 1-3 cm. ukurannya lebih panjang dibanding cuping kelopak bunga. dan pasir. Kelimpahan : Tidak tahu. Biji berjumlah 1-2. tangkai/dahannya tunggal atau berjumlah banyak. Individu yang lebih besar memiliki batang yang berlubang di tengahnya. Kadang-kadang memiliki akar nafas. hijau (3-6 mm). Kelopak bunga: 8. jumlahnya sampai 48 helai. Buah ditutupi oleh cuping kelopak bunga dan kelopak tidak membuka pada saat telah matang. jenis tumbuhan ini tidak ditemukan tumbuh pada daerah yang kerap tergenang oleh air tawar. batuan. Daun mahkota: Tidak ada. Ukuran: 2. Kulit kayu berwarna coklat atau abu-abu. Di Australia jenis ini ditemukan berbunga dari bulan Juni sampai Desember dengan puncaknya pada bulan November dan berbuah pada bulan Februari.M. 4114 . panjang 6 mm. Terdapat 2 pinak daun berbentuk elips. Meskipun demikian. Sulawesi. bunga tidak bertangkai tapi langsung menempel pada tandan. Deskripsi umum : Berupa pohon atau belukar dengan ketinggian dapat mencapai 7 meter. Unit & Letak: sederhana. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia (Irian Jaya. Australia Tropis.v. Tidak memiliki ketergantungan khusus terhadap substrat tumbuh. Kepulauan Sunda Kecil).

b. c.Osbornia octodonta bunga buah a d c b b a. daun. bunga. pohon 1153 . d. buah.

kaku. 4116 . Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. berkulit dan agak melengkung/tertekuk ke dalam. Manfaat : Tidak diketahui. menyebar rimbun/melebar di permukaan tanah.18. cantinggi. berwarna hijau. putih bersih. di dalamnya terdapat 20-30 biji yang sangat kecil. centigi. Berbentuk lonceng. Sering dijumpai tumbuh pada pantai berpasir. Daun mahkota: 6. Kelopak bunga: 12. bagian tengahnya agak keunguan-kekuningan. mentigi. panjang 10 mm. Daun : Tebal (hingga 3 mm) berdaging. Bentuk: elip hingga bulat telur terbalik. Formasi: berkelompok (ada 1 hingga beberapa bunga per kelompok). Ujung: membundar hingga menajam tumpul. Kelimpahan : Tidak diketahui. Akar nafas tidak terlalu berkembang. warna coklat. Setidaknya tercatat di Bali dan Lombok. Deskripsi umum : Pohon/belukar. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. permukaannya berambut. Benang sari: jumlahnya 12 .Phemphis acidula LYTHRACEAE Nama setempat : Sentigi. Ukuran: diameter buah 3-5 mm. Letak: di ketiak daun. Kulit kayu berwarna abu-abu hingga coklat. dengan ketinggian hingga 3 m. Berbentuk seperti mangkuk es krim. pada tepi/lereng pematang tambak atau tepi saluran air yang masih terkena jangkauan pasang surut. Ukuran: panjang 1-3 cm.

b. pohon 1173 . c. bunga. daun. d. buah.Phemphis acidula daun. buah & bunga pohon c b a d a.

Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah. mangi-mangi. panjang 2-3. berbintil. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka. kuning-putih. melengkung. Tumbuh pada tanah berlumpur. Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. Letak: Di ketiak daun. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. slengkreng. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen.5-8 cm. panjangnya 9-11 mm. Daun mahkota: 4. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau minyak. Ukuran: 7-19 x 3. Biseksual. Hipokotil silindris. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. parai. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). tidak ada rambut. kuning kecoklatan. Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir.Rhizophora apiculata Bl. tersebar jarang di Australia. bakau tandok. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. donggo akit. Tumbuh lambat.5 cm. Bentuk: elips menyempit. warna coklat. 4118 . Ujung: meruncing. wako. dalam dan tergenang pada saat pasang normal. bakau kacang. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter. bakau akik. Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering). akik. Benang sari: 11-12. berisi satu biji fertil. dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. bangka minyak. bakau puteh. Ukuran: Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. Daun : Berkulit. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. Kelopak bunga: 4. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia. tak bertangkai. abat. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan. jankar. tinjang. kayu bakar dan arang. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. bakau leutik. halus. warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. berwarna hijau jingga.

d. buah. c. b. bunga. pohon 1193 .Rhizophora apiculata daun bunga buah & hipokotil a c b d a. daun.

Ukuran: 11-23 x 5-13 cm. Kadang-kadang ditanam di sepanjang tambak untuk melindungi pematang. kuning pucat.apiculata tetapi lebih toleran terhadap substrat yang lebih keras dan pasir. Letak: di ketiak daun. Ukuran: Hipokotil: panjang 36-70 cm dan diameter 2-3 cm. jarang melebihi 30 m. Manfaat : Kayu digunakan sebagai bahan bakar dan arang. Mauritania. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. lenggayong. seluruh Malaysia dan Indonesia. Daun mahkota: 4. Di areal yang sama dengan R. kasar dan berbintil. Merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang paling penting dan paling tersebar luas. Pinak daun terletak pada pangkal gagang daun berukuran 5.Rhizophora mucronata Lmk. seringkali kasar di bagian pangkal. jarang sekali tumbuh pada daerah yang jauh dari air pasang surut. berbiji tunggal. Gagang daun berwarna hijau. dekat atau pada pematang sungai pasang surut dan di muara sungai. Anakan yang telah dikeringkan dibawah naungan untuk beberapa hari akan lebih tahan terhadap gangguan kepiting. belukap. panjang 2. Batang memiliki diameter hingga 70 cm dengan kulit kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah horizontal. lolaro. Madagaskar. serta pada tanah yang kaya akan humus.5 cm. 4120 . Pada umumnya tumbuh dalam kelompok.putih. bakau hitam. Tanin dari kulit kayu digunakan untuk pewarnaan. Pertumbuhan optimal terjadi pada areal yang tergenang dalam. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bangka itam. dan kadang-kadang digunakan sebagai obat dalam kasus hematuria (perdarahan pada air seni). Leher kotilodon kuning ketika matang. ada rambut. Gagang kepala bunga seperti cagak. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 27 m. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. 9 mm. sehingga menghambat pertumbuhan mereka.5-5 cm. Formasi: Kelompok (4-8 bunga per kelompok).5 cm.5-8. panjangnya 13-19 mm.5-5. Hal tersebut mungkin dikarenakan adanya akumulasi tanin dalam jaringan yang kemudian melindungi mereka. Dibawa dan ditanam di Hawaii. tak bertangkai. Daun : Daun berkulit. bersifat biseksual. dongoh korap. Anakan seringkali dimakan oleh kepiting. Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh dari percabangan bagian bawah. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Afrika Timur. Kelopak bunga: 4. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. berwarna hijaukecoklatan. bakau korap. Hipokotil silindris. bakau merah. Ujung: meruncing. Melanesia dan Mikronesia. Asia tenggara. Buah lonjong/panjang hingga berbentuk telur berukuran 5-7 cm. jankar. Benang sari: 8. Bentuk: elips melebar hingga bulat memanjang.

pohon 1213 .Rhizophora mucronata daun bunga c buah & hipokotil a b d a. bunga. buah. daun. d. b. c.

tongke besar. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Taiwan. bangko. Menghasilkan bunga dan buah sepanjang tahun. Sumbawa. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. Papua New Guinea dan Australia Tropis. Daun mahkota: 4. slindur. biseksual. sepanjang Indonesia. panjang gagang 1-3. Manfaat : Sebagai bahan bangunan. Tercatat dari Jawa. Catatan : 4122 . tinggi hingga 10 m. Hipokotil silindris. Ukuran: Hipokotil: panjang 20-35 cm (kadang sampai 50 cm) dan diameter 1. ada rambut. Deskripsi umum : Pohon dengan satu atau banyak batang. kuning hijau. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. 8 mm. tombak serta berbagai obyek upacara. panjang 4-6 mm.0 cm. Panjangnya 2. Daun : Daun berkulit. Gagang daun berwarna hijau. Gagang kepala bunga seperti cagak. panjangnya 13-19 mm. Ujung: meruncing.5-5 cm.5-2. Sumatera. Satu jenis relung khas yang bisa ditempatinya adalah tepian mangrove pada pulau/substrat karang. pasir dan batu. berbintil agak halus. Formasi: kelompok (8-16 bunga per kelompok). Kelopak bunga: 4. Kemungkinan diserbuki oleh angin. berisi 1 biji fertil. Jumlah bunga per kelompok dari jenis R. berwarna abu-abu hingga hitam.5 cm. Leher kotilodon kuning kehijauan ketika matang. Masyarakat Aborigin di Australia menggunakan kayu jenis ini untuk pembuatan bumerang. dengan pinak daun panjang 4-6 cm. berbintik teratur di lapisan bawah.5-4 cm. Benang sari: 8. Sumba. Menyukai pematang sungai pasang surut. Malaysia. mucronata.Rhizophora stylosa Griff. dan arang. Bali. tetapi juga sebagai jenis pionir di lingkungan pesisir atau pada bagian daratan dari mangrove. bako-kurap. Bentuk: elips melebar. Anggur ringan serta minuman untuk mengobati hematuria (pendarahan pada air seni) dapat dibuat dari buahnya. Memiliki akar tunjang dengan panjang hingga 3 m. Kelimpahan : Umum. stylosa lebih banyak daripada R. Filipina. Sulawesi. dan akar udara yang tumbuh dari cabang bawah. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau. wako. Kulit kayu halus. Letak: di ketiak daun. berwarna coklat. bercelah. dan sebuah tangkai putik. Tumbuh pada habitat yang beragam di daerah pasang surut: lumpur. berbentuk buah pir. putih. Maluku dan Irian Jaya. Ukuran: meruncing. kayu bakar. Lombok.

bunga. daun.Rhizophora stylosa daun & bunga buah c b a d a. d. pohon 1233 . b. c. buah.

Unit & Letak: sederhana & berlawanan. sebagian besar soliter. dan memiliki batang yang halus. biji: 20-25 x 16-18 mm. Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok). Bunga terdapat pada tandan yang padat. ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Daun : Permukaan atas daun ditutupi oleh rambut. Bentuk: bulat memanjang. Bagian dalam bunga ditutupi rambut-rambut pendek. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Tidak tahu. elips melebar dengan pangkal yang tidak merata. Biji berjumlah banyak.5-2 cm. Kepala sari: Ujungnya tumpul. Tumbuh pada mangrove berlumpur. Apabila sayapnya dicopot. Berwarna coklat. & S. Daun mahkota: 5.5 cm. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. dikelilingi oleh tepian yang menyerupai sayap. panjang gagang bunga 0. Buah memiliki gagang yang tebal. Berwarna kuning dengan garis-garis memanjang berwarna jingga. Daun agak tebal. berbintil. Tercatat di Jawa. Ujung: meruncing. Ukuran: 4-9 x 3-5. Manfaat : Tidak tahu. 4124 . berukuran 13-15 x 8-9 mm. Kelopak bunga: 5 terdapat kelenjar di dalamnya. khususnya di bagian urat daun. Letak: di ketiak daun. Ukuran: buah: 8-9 x 7-8 cm. diameter 12-14 mm. Deskripsi umum : Semak pemanjat dengan ketinggian hingga 4 m. permukaannya rata dan bentuknya bulat telur terbalik.5 mm.Sarcolobus globosa R. berwarna coklat. terletak diatas tabung yang panjangnya 2. kaya akan cairan yang menyerupai susu. maka biji tersebut akan tenggelam. panjang gagang 2-30 mm. Biji yang memiliki tepian seperti sayap dapat terapung di permukaan air. tetapi kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia.

c.Sarcolobus globosa a b c a. b. bunga. daun 1253 . buah.

Scyphiphora hydrophyllacea

Gaertn.

RUBIACEAE

Nama setempat : Perepat lanang, cingam, duduk perempuan, duduk rayap, duduk rambat, dandulit. Deskripsi umum : Semak tegak, selalu hijau, seringkali memiliki banyak cabang, ketinggian mencapai 3 m. Kulit kayu kasar berwarna coklat, cabang muda memiliki resin, kadang-kadang terdapat akar tunjang pada individu yang besar. Daun : Daun berkulit dan mengkilap. Pinak daun berkelenjar, terletak pada pangkal gagang daun membentuk tutup berambut. Gagang daun lurus panjangnya hingga 13 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 4-9 x 2-5 cm. Warna putih, hampir tak bertangkai, biseksual, terdapat pada tandan yang panjangnya hingga 15 mm. Letak: di ketiak daun. Formasi: kelompok (3-7 bunga per kelompok). Daun mahkota: 4-5; putih-agak merah, elips, 2-4 x 22,5 mm, mulut berambut kasar. Kelopak bunga: 4-5; berbentuk mangkok, bawahnya seperti tabung (panjang 5mm). Benang sari: 4-5. Silindris, berwarna hijau hingga coklat, berurat memanjang dan memiliki sisa daun kelopak bunga. Tidak membuka ketika matang. Terdapat 4 biji silindris. Ukuran: buah: panjang 8 mm, biji: 1 x 2 mm. Tumbuh pada substrat lumpur, pasir dan karang pada tepi daratan mangrove atau pada pematang dan dekat jalur air. Nampaknya tidak toleran terhadap penggenangan air tawar dalam waktu yang lama dan biasanya menempati lokasi yang kerap tergenang oleh pasang surut. Dilaporkan tumbuh pada lokasi yang tidak cocok untuk dikolonisasi oleh jenis tumbuhan mangrove lainnya. Perbungaan terdapat sepanjang tahun, kemungkinan diserbuki sendiri atau oleh serangga. Nektar diproduksi oleh cakram kelenjar pada pangkal mahkota bunga. Banyak buah yang dihasilkan, akan tetapi pembiakan biji relatif rendah. Buah teradaptasi dengan baik untuk penyebaran oleh air karena kulit buahnya yang ringan dan mengapung.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : India, Sri Lanka, Malaysia, seluruh Indonesia, Papua New Guinea, Filipina, Kepulauan Solomon dan Australia Tropis. Kelimpahan : Tersebar, dan secara keseluruhan relatif jarang. Manfaat : Catatan : Kayu kemungkinan dapat digunakan untuk peralatan makan, seperti sendok. Daun dapat digunakan untuk mengatasi sakit perut. Sangat menyerupai Lumnitzera, tetapi daun Lumnitzera letaknya bersilangan.

4126

Scyphiphora hydrophyllaceae

daun

bunga

buah

b a

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1273

Sonneratia alba

J.E. Smith

SONNERATIACEAE

Nama setempat : Pedada, perepat, pidada, bogem, bidada, posi-posi, wahat, putih, beropak, bangka, susup, kedada, muntu, sopo, barapak, pupat, mange-mange. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau, tumbuh tersebar, ketinggian kadang-kadang hingga 15 m. Kulit kayu berwarna putih tua hingga coklat, dengan celah longitudinal yang halus. Akar berbentuk kabel di bawah tanah dan muncul kepermukaan sebagai akar nafas yang berbentuk kerucut tumpul dan tingginya mencapai 25 cm. Daun : Daun berkulit, memiliki kelenjar yang tidak berkembang pada bagian pangkal gagang daun. Gagang daun panjangnya 6-15 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 5-12,5 x 3-9 cm. Biseksual; gagang bunga tumpul panjangnya 1 cm. Letak: di ujung atau pada cabang kecil. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). Daun mahkota: putih, mudah rontok. Kelopak bunga: 6-8; berkulit, bagian luar hijau, di dalam kemerahan. Seperti lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. Benang sari: banyak, ujungnya putih dan pangkalnya kuning, mudah rontok. Seperti bola, ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Buah mengandung banyak biji (150-200 biji) dan tidak akan membuka pada saat telah matang. Ukuran: buah: diameter 3,5-4,5 cm. Jenis pionir, tidak toleran terhadap air tawar dalam periode yang lama. Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan karang. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai. Di lokasi dimana jenis tumbuhan lain telah ditebang, maka jenis ini dapat membentuk tegakan yang padat. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga hidup tidak terlalu lama dan mengembang penuh di malam hari, mungkin diserbuki oleh ngengat, burung dan kelelawar pemakan buah. Di jalur pesisir yang berkarang mereka tersebar secara vegetatif. Kunang-kunang sering menempel pada pohon ini dikala malam. Buah mengapung karena adanya jaringan yang mengandung air pada bijinya. Akar nafas tidak terdapat pada pohon yang tumbuh pada substrat yang keras.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : Dari Afrika Utara dan Madagaskar hingga Asia Tenggara, seluruh Indonesia, Malaysia, Filipina, Australia Tropis, Kepulauan Pasifik barat dan Oceania Barat Daya. Kelimpahan : Umum. Melimpah setempat. Manfaat : Buahnya asam dapat dimakan. Di Sulawesi, kayu dibuat untuk perahu dan bahan bangunan, atau sebagai bahan bakar ketika tidak ada bahan bakar lain. Akar nafas digunakan oleh orang Irian untuk gabus dan pelampung.

4128

Sonneratia alba

daun

bunga

buah

b

c

b

a

d

a. bunga; b. buah; c. daun; d. pohon

1293

bijinya lebih banyak (800-1200). Filipina. ujungnya putih dan pangkalnya merah. akar nafas dapat digunakan untuk mengganti gabus. termasuk Indonesia. dan berbentuk segi empat pada saat muda. bogem. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Sri Lanka. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. dan melimpah setempat. pada tanah lumpur yang dalam. Setelah direndam dalam air mendidih. tabung kelopak bunga berbentuk mangkok. seringkali sepanjang sungai kecil dengan air yang mengalir pelan dan terpengaruh oleh pasang surut.alba. di dalam putih kekuningan hingga kehijauan. dan Kepulauan Solomon. 4130 . Ujung cabang/ranting terkulai. Ujung: membundar. Tumbuh di bagian yang kurang asin di hutan mangrove. Ukuran: bervariasi. posi-posi merah. Memiliki akar nafas vertikal seperti kerucut (tinggi hingga 1 m) yang banyak dan sangat kuat. Daun mahkota: merah. Benang sari: banyak. Ketika bunga berkembang penuh (setelah jam 20. Malaysia. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.) Engl.00 malam). SONNERATIACEAE Nama setempat : Pedada. Biji mengapung. Daun : Gagang/tangkai daun kemerahan. ukuran 17-35 x 1. Bentuk: bulat memanjang. mulai dari bagian hulu dimana pengaruh pasang surut masih terasa. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. ketinggian mencapai 15 m. lebar dan sangat pendek. mudah rontok. Ketika mekar penuh. Ukuran lebih besar dari S. Tidak toleran terhadap naungan. seluruh Asia Tenggara. serta di areal yang masih didominasi oleh air tawar. Juga tumbuh di sepanjang sungai. Letak: di ujung. Deskripsi umum : Pohon. kecenderungan pertumbuhan daun akan berubah dari horizontal menjadi vertikal. bidada. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). Seperti bola. Pucuk bunga bulat telur. berkulit. wahat merah.Sonneratia caseolaris (L. mudah rontok. Tidak pernah tumbuh pada pematang/ daerah berkarang. Kelopak bunga: 6-8. hingga Australia tropis. Manfaat : Buah asam dapat dimakan (dirujak). pidada.5 mm. Ukuran: buah: diameter 6-8 cm. bunga berisi banyak nektar. biasanya tanpa urat. rambai. 5-13 x 2-5 cm. Kelimpahan : Umum. Kayu dapat digunakan sebagai kayu bakar jika kayu bakar yang lebih baik tidak diperoleh. jarang mencapai 20 m. bagian luar hijau. perepat. Selama hujan lebat.5-3.

d.Sonneratia caseolaris bunga kuncup daun buah bunga mekar a c b d a. b. c. daun. buah. bunga. pohon 1313 .

Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove yang airnya kurang asin. Daun mahkota: tidak ada. warnanya putih dan mudah rontok. Kepulauan Riau.5 cm. 4132 . dan Papua New Guinea. Tabung seperti mangkok. dengan cabang muda berbentuk segi empat serta akar nafas vertikal. Jawa.Sonneratia ovata Back. SONNERATIACEAE Nama setempat : Bogem. Kelopak bunga: bagian dalam merah. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Ukuran: 4-10 x 3-9 cm. kadang-kadang mencapai 20 m. Ukuran: buah: diameter 3-5 cm. muncul dari gagang yang pendek. Pucuk bunga berbentuk bulat telur lebar dan ditutupi oleh tonjolan kecil.alba. Sumatra. Seperti bola. Ukuran hampir sama dengan S. Benang sari: banyak. panjang 1-2 cm. Formasi: soliter-kelompok (ada 1-3 bunga per kelompok). Gagang/tangkai bunga lurus. Panjangnya 2. atau kadang-kadang tidak ada. Malaysia. Ujung: membundar. Letak: di ujung. Bentuk: bulat telur. Sulawesi. Manfaat : Kayu bakar. Sungai Sebangau/Kalimantan Tengah. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil atau sedang. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. tanah berlumpur dan di sepanjang sungai kecil yang terkena pasang surut. tetapi secara keseluruhan agak jarang. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Tidak pernah tumbuh pada substrat karang. Kelimpahan : Umum setempat. Daun : Bunga : Gagang/tangkai daun panjangnya 2-15 mm.5 4. Buah muda dapat dimakan sebagai rujakan. Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Thailand. Maluku. kedabu. biasanya hingga 5 m.

bunga.Sonneratia ovata bunga buah c a b d a. b. buah. d. pohon 1333 . c. daun.

Ukuran: buah: diameter 10-20 cm. Tumbuh di sepanjang pinggiran sungai pasang surut. Di dalam buah terdapat 6-16 biji besar-besar. pohon kira-kira. Manfaat : Kayunya hanya tersedia dalam ukuran kecil. buli hitam. bulu putih. berkayu dan berbentuk tetrahedral. Kulit kayu dikumpulkan karena kandungan taninnya yang tinggi (>24% berat kering). Buah akan pecah pada saat kering. Kulit kayu berwarna coklat muda-kekuningan. berat bisa 1-2 kg.17 cm x 2. nyiri udang. warna hijau kecoklatan. dan lingkungan payau lainnya yang tidak terlalu asin. panjang 3 mm. Bentuk: elips bulat telur terbalik. khususnya pada area bekas tebangan hutan dan gangguan lainnya. kadang-kadang digunakan sebagai bahan pembuatan perahu. banang-banang. Individu yang telah tua seringkali ditumbuhi oleh epifit. nyireh. meliuk-liuk dan membentuk celahan-celahan. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. Madura. Sumatera. Seringkali tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. Ujung: membundar. Kelopak bunga: 4 cuping. Batang seringkali berlubang. putih kehijauan. Seperti bola (kelapa). khususnya pada pohon yang lebih tua. buli. kuning muda. Kepulauan Karimun Jawa. 4134 . kulit kayu berkeriput. nipa. pinggir daratan dari mangrove. berkulit. niumiri-kara. Daun mahkota: 4. Bali. inggili. mokmof. susunan daun berpasangan (umumnya 2 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. kabau. nyireh bunga. Ukuran: 4. nyuru. Kelimpahan : Melimpah setempat. jomba. tepinya bundar. nyiri hutan. Bunga terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. Benang sari: berwarna putih krem dan menyatu di dalam tabung.Xylocarpus granatum Koen MELIACEAE Nama setempat : Niri. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia tumbuh di Jawa. Letak: di ketiak. nilih. tipis dan mengelupas. sementara pada cabang yang muda. Sulawesi.5 . Susunan biji di dalam buah membingungkan seperti teka-teki (dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘puzzle fruit’). panjang 5-7 mm. jombok gading. Daun : Agak tebal. Formasi: gerombol acak (8-20 bunga per gerombol).9 cm. Buahnya bergelantungan pada dahan yang dekat permukaan tanah dan agak tersembunyi. Memiliki akar papan yang melebar ke samping.5 . Maluku dan Sumba. Irian Jaya. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian 10-20 m. Kalimantan. siri. lonjong. nyiri. Tandan bunga (panjang 2-7 cm) muncul dari dasar (ketiak) tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 4-8 mm.

d. b. daun. buah. bunga. kulit kayu 1353 .Xylocarpus granatum bunga buah a c d b a. c.

ketinggian sampai 15 m. Mereka menyukai daerah yang memperoleh masukan air tawar selama beberapa kali dalam setahun. Kelopak bunga: berwarna hijau. dan mungkin saja tumbuh di Irian Jaya Kelimpahan : Ditemukan secara berkala tetapi tidak pernah dalam kelimpahan yang tinggi. Bentuk: elips . Deskripsi umum : Pohon yang kuat. Seperti bola dan terbagi atas beberapa bagian kepingan. Manfaat : Bahan bangunan. Asia Tenggara. Substrat tumbuhnya terdiri dari pasir dan lumpur. Kepala sari panjangnya 1 mm. Ujung: membundar. panjang 5 mm.5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 6-10 mm. Jamu dari pohon ini digunakan untuk mengobati kolera. Benang sari: tabung benang sari berbentuk seperti kendi. dengan ujung tajam atau tumpul dengan panjang 2-4 mm.5 cm. Kulit kayu berwarna coklat muda. Afrika Timur. Ukuran: buah: diameter 5-10 cm.5-12 x 2-7. Ukuran: panjang bisa mencapai 20 cm. dengan ukuran 4. panjang 2 mm. biji: diameter 6. berwarna putihkekuningan dan panjang 5 x 2 mm. Daun mahkota: berbentuk lonjong lebar. Pohon jenis ini ditemukan di tepi hutan yang berbatasan dengan perairan pasang surut dan pada bagian tepi daratan di daerah mangrove. berbentuk tiang dengan mahkota berbentuk kerucut. 4136 . mengelupas secara longitudinal.5 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di PNG. Australia Barat. Tandan bunga (panjang 4-6. kayu bakar.Xylocarpus mekongensis Pierre MELIACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Daun : Pinak daun berbentuk lonjong. dan memiliki garis-garis sempit. Formasi: gerombol acak (9-35 bunga per gerombol). Unit & Letak: majemuk & berlawanan.bulat telur terbalik. minyak untuk penerangan dan minyak rambut serta untuk pewarnaan (di PNG). Letak: di ketiak.

kulit kayu. b. daun. e. buah. akar 1373 . d. c.Xylocarpus mekongensis a b c d e a. bunga.

Unit & letak: majemuk & berlawanan. Daun mahkota: 4. Formasi: gerombol acak (10-35 bunga per gerombol). menyatu. Kelopak bunga: 4 cuping. sementara pada batang utama memiliki guratan-guratan permukaan yang tergores dalam. parasar. Sulawesi. miumeri-mee. banang-banang. Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. 4138 . Tandan bunga (panjang 6-18. Daun : Lebih tipis dari X. serta tampak sepanjang pantai. jombok. Jenis mangrove sejati di hutan pasang surut. Ukuran: 4-12 cm x 2-6. nyiri gundik. Benang sari: 8.5 mm. mojong tihulu. Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja.Xylocarpus moluccensis (Lamk) Roem. hijau kekuningan. Kalimantan. pematang sungai pasang surut. Deskripsi umum : Pohon tingginya antara 5-20 m. panjang sekitar 1. nyuru. bulat seperti jambu bangkok. Biji digunakan sebagai obat sakit perut. Bali. Tanin kulit kayu digunakan untuk membuat jala serta sebagai obat pencernaan. pamuli. lonjong. putih kekuningan. permukaan berkulit dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral. susunan daun berpasangan (umumnya 2-3 ps pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. Maluku. Memiliki akar nafas mengerucut berbentuk cawan. Letak: di ketiak. Irian Jaya. Jamu yang berasal dari buah dipakai untuk obat habis bersalin dan meningkatkan nafsu makan. MELIACEAE Nama setempat : Niri/nyirih batu. panjang nya 6-7 mm. NTT. raru. Ukuran: buah: diameter 8-15 cm. membuat rumah. Warna hijau.5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 2-10 mm.bulat telur terbalik. Kulit kayu halus. siri. perahu dan kadang-kadang untuk gagang keris. loleso. putih krem dan tingginya sekitar 2 mm. nyirih. Bentuk: elips . tepinya bundar. kabau. Ujung: meruncing.5cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa. Kelimpahan : Umum setempat.granatum.

d. bunga. akar 1393 .Xylocarpus moluccensis buah bunga c a b d a. b. daun. kulit kayu. c.

granatum). permukaan licin berkilauan dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral.) Mabb. hijau kekuningan. Terdapat di pantai berpasir atau berbatu. Formasi: Gerombol acak. Letak: di ketiak. Kulit kayu kasar berwarna coklat dan mengelupas seperti guratan-guratan kecil dan sempit. membuat rumah dan perahu. Benang sari: menyatu membentuk tabung. Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. 4140 . banang-banang. Deskripsi umum : Pohon tingginya dapat mencapai 6 m. bulat seperti jambu bangkok. di belakang atau sedikit di atas garis pasang tinggi. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa dan Bali. Memiliki akar udara tapi tidak jelas. Bentuk: bulat telur-bulat memanjang. putih krem. Kelopak bunga: 4 cuping. niri. Daun mahkota: 4. MELIACEAE Nama setempat : Nyirih. krem-putih kehijauan. Ukuran: buah: diameter 8 cm (lebih kecil dari X. Daun : Susunan daun berpasangan (umumnya 3-4 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. siri. jombok. Warna hijau. Warna hijau tua. nyirih batu. Jenis mangrove sejati. Ukuran: 7 x 12 cm. Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. Ujung: meruncing.Xylocarpus rumphii (Kostel. Kelimpahan : Tidak diketahui.

buah. b. c. daun 1413 . bunga.Xylocarpus rumphii daun buah pohon a c b a.

1433 .

hutun. seperti lintah. lebih mengkilat dan ujung yang lebih runcing dibandingkan dengan T. Besar. Tumbuh sama baiknya di daratan. Tercatat di seluruh Indonesia.asiatica memiliki daun yang lebih berdaging. berkulit dan urat daun nampak jelas. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil hingga sedang dengan ketinggian 7-20 (-30) m dan diameter 25-100 cm. kadang-kadang di mangrove. termasuk Sumatera. crenulata memiliki daun yang tumbuh berpasangan serta memiliki duri di sepanjang batangnya. Benangsari: banyak dan panjang. Daun mahkota: 4. Manfaat : Kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias. Sunda Kecil dan Maluku. Bunga terbuka setelah matahari tenggelam dan rontok menjelang pagi. menggantung seperti payung. Buah sering terlihat mengapung sepanjang pantai. Kalimantan. berukuran sangat besar. Ukuran: diameter buah 1015 cm. Bali. Buah berwarna hijau (kadang tersamar oleh warna daunnya) lalu berubah menjadi cokelat. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Mahkota pohon berdaun besar dan rimbun. Formasi: bergerombol. bogem. tumpul. permukaan halus dan berbentuk tetrahedral/piramid seperti buah delima. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh dari Madagaskar hingga Pasifik Barat. F. Mereka mengapung dan dapat tumbuh setelah menempuh perjalanan yang jauh. Jenis ini seringkali dikelirukan dengan Terminalia catappa atau Fagraea crenulata. Daun : Berwarna hijau tua. Pohon dan bijinya mengandung saponin yang dapat digunakan sebagai racun ikan. Ranting tebal. cairan yang diperoleh dari bijinya dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan payung . pantai dan pantai berkarang. butong. talise. Biji yang digunakan sebagai racun ikan seringkali dicampur dengan tuba (Derris – rotenon). putat laut. Catatan : 4144 . pertun. Penyerbukan kemungkinan dilakukan oleh ngengat besar. Minyak yang berwarna kemerahan dapat diperoleh dengan memanaskan dan memeras bijinya. Jawa. Meskipun demikian. sehingga hanya terbuka satu malam saja. agak tebal. Kelimpahan : Umum. serta untuk membunuh ekto-parasit. Menggantung.Barringtonia asiatica (L.) Kurz LECYTHIDACEAE Nama setempat : Sea putat. Ketika masih muda daun berwarna agak merah muda.catappa. Bentuk: bulat telur terbalik. Tumbuh di hutan pantai. bitung. Kulit kayu abu-abu agak merah muda dan halus. ketika tua berwarna kuning atau merah muda pucat. Di Jawa. Sulawesi. Ukuran: 15-45 x 9-20 cm. Kelopak bunga: berwarna putih kehijauan. B. warnanya merah di bagian ujung dan putih di dekat pangkal. diameternya sampai 10 cm dan harum. Berisi satu biji berukuran besar. Ujung: agak membundar. butun. putih dan kuning.

bunga. buah. c.Barringtonia asiatica buah pohon a a c b a. b. daun 1453 .

5 x 6-11 cm. GUTTIFERAE Nama setempat : Camplung. Kadang-kadang tumbuh pada lokasi mangrove. biasanya tumbuh agak bengkok. menggantung seperti payung. Jawa. harum. Bentuk: elips hingga bulat memanjang. bintanguru. Kalimantan dan Irian Jaya. ukuran diameter 2-3 cm. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Kelopak bunga: 4. Ukuran: 10-21. Biseksual. hingga ketinggian 200 m. bagian bawahnya hijau agak kekuningan. Bagian atas daun berwarna hijau tua dan mengkilap. ketinggian 10-30 m. dengan satu atau lebih saat puncaknya. kayu dan obat-obatan. tandan bunga panjangnya hingga 15 cm serta memiliki 5-15 bunga per tandan.5-4 cm. biasanya pada habitat transisi. atau oleh kelelawar yang memakan bagian luar buah yang berdaging. Formasi: bergerombol. Buah disebarkan melalui arus laut. berdaun rimbun. bintangur laut. memiliki tempurung kuat dan di dalamnya terdapat 1 biji. Deskripsi umum : Pohon berwarna gelap. dan dimasukan ke Pasifik. condong atau bahkan sejajar dengan tanah. Di Bali. putih dan kuning. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur hingga Polinesia. Kelimpahan : Umum. Daun mahkota: 4. Dapat digunakan sebagai bahan pewarna.Calophyllum inophyllum L. Bali. Malaysia dan Indonesia (Bali) sering ditanam sebagai pohon peneduh. tercatat di Sumatera. nyamplung. Tumbuh pada habitat bukan rawa dan pantai berpasir. menaga. Daun : Memiliki banyak urat dengan posisi lateral paralel dan halus. agak mirip dengan daun Rhizopora mucronata (jenis bakau). naga. Berbentuk bulat seperti bola pingpong kecil. Manfaat : Buah mudanya digarami untuk makanan. 4146 . Di Australia. Tercatat di Sumatera di sepanjang Danau Singkarak pada ketinggian 386 m. minyak. Memiliki getah lekat berwarna putih atau kuning. Perbungaan nampaknya terjadi terus menerus sepanjang tahun. Benangsari: banyak. Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Ujung: membundar. dua dari kelopak bunga berwarna putih. Letak: di ketiak. Penyerbukan hampir pasti dilakukan oleh serangga. Ukuran: diameter buah 2. buahnya yang sudah tua dipakai bermain oleh anak-anak sebagai kelereng atau bola pingpong kecil. benaga.

Calophyllum inophyllum bunga & buah pohon c a a d b a. d. daun. bunga. bentuk urat daun 1473 . c. buah. b.

Daun mahkota: putih agak ungu. mendori. Memiliki banyak getah. Berbentuk bulat seperti kapsul dan di dalamnya terdapat banyak biji-biji yang permukaannya berambut halus.5-5. Ukuran: diameter buah 10-15 mm. Umumnya dijumpai di lahan-lahan pantai yang terbengkalai dan terbuka (mendapat sinar matahari penuh). pantai berpasir dan lahan berbatu. kekar dan kaku. ukuran diameter 6-10 mm. Di Bali dijumpai mulai pada daerah pantai yang gersang dan udaranya panas hingga ke lereng gunung Agung yang suhu udaranya sejuk. Manfaat : Di Bali. tercatat di Bali dan Jawa. permukaan daun (atas maupun bawah) dilapisi oleh rambut-rambut halus yang berwarna agak putih seperti tepung. 4148 . Formasi: seperti payung yang sedang dibuka. Letak: pada ketiak daun. menori. widuri. ketinggian mencapai 3 m. Ukuran: 10-20 x 3. Memiliki tandan dan tangkai/gagang bunga yang panjang. Tumbuh pada habitat yang tidak tergenang air. Deskripsi umum : Herba rendah/semak. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Kelopak bunga: 5. diameter 3-4 cm. berwarna ungu agak putih. Kelimpahan : Umum. seperti piramid. Dryander ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Biduri. daun dan bunganya sering digunakan sebagai makanan jangkrik. hingga ketinggian sekitar 300 m.5 cm. Bentuk: bulat telur melebar. modori. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Daun : Posisi daun horizontal.Calotropis gigantea L. Ujung: membundar.

bunga. c. daun 1493 . buah.Calotropis gigantea bunga pohon b a c a. b.

Biasanya tumbuh di bagian tepi daratan dari mangrove. Kepulauan Bismarck dan seluruh Kepulauan Solomon. goro-goro. hijau mengkilap di bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. Sulawesi Utara. terbuka terhadap udara dari laut serta tempat yang tidak teratur tergenang oleh pasang surut. kenyen putih. bintaro. Benang sari: tidak bergagang. Minyak biji dapat digunakan untuk meracuni ikan (di Burma juga digunakan sebagai insektisida). Formasi: berkelompok secara tidak beraturan. kayu susu. Kelopak bunga: 5. Biasanya terdapat 20 –30 bunga pada setiap tandan. serta pilek. Berpotensi sebagai obat farmakologi karena pengaruh kardiovaskular-nya. Ukuran: diameter buah 6-8 cm. putih bersih dengan bagian pusat berwarna jingga hingga merah muda-merah. Kayu digunakan sebagai kayu bakar dan bahan arang. Timor dan Irian Jaya. kenyeri putih. kadong. mengkilat dan berdaging. bilu tasi. Jawa. Selintas bentuknya menyerupai buah mangga. Tersebar di PNG. Daun : Agak gelap. koyandan. jaraknya agak jauh dari daun mahkota. mangga brabu. Ukuran: 10-28 x 2-8 cm. hijau hingga hijau kemerahan.p. Catatan : 4150 . reumatik.Cerbera manghas L. APOCYNACEAE Nama setempat : Bintan. Manfaat : Minyak yang diperas dari biji dan buah mudanya dapat digunakan untuk mengatasi gatal-gatal.l). Tumbuh di hutan rawa pesisir atau di pantai hingga jauh ke darat (400 m d. Berbentuk bulat. Bentuk: bulat memanjang atau lanset. Kulit kayu bercelah. Belakangan ini banyak dipakai sebagai tanaman hias/peneduh di dalam kompleks perumahan. Letak: di ujung cabang. Maluku. waba. kayu kurita. seperti daun mangga. Perpanjangan dari masing-masing benang sari yang berambut dan berbentuk seperti taji menutupi kerongkongan tabung mahkota bunga. badak. tetapi kurang memiliki akar udara dan akar nafas. Tercatat di Bali. menyukai tanah pasir yang memiliki sistem pengeringan yang baik. Akar menjalar di permukaan tanah. Ujung: meruncing. Kelimpahan : Umum. berwarna abu-abu hingga cokelat. Sumatera Barat. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. jabal. menempel pada mulut tabung. Kulit kayu dan daun digunakan sebagai obat pencahar. putih kehijauan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Deskripsi umum : Pohon atau belukar dengan ketinggian mencapai 20 m. memiliki lentisel dan cairan putih susu. Daun mahkota: 5.

Cerbera manghas bunga buah pohon c a b a. daun 1513 . bunga. buah. b. c.

putih bersih. Tumbuh subur pada daerah lumpur kering atau lumpur berpasir di belakang kawasan hutan mangrove. menjalar melebar di permukaan tanah. Setidaknya tercatat di Jawa dan Bali. kwanji. Berbentuk bulat telur. warnanya merah keunguan. dengan ketinggian kurang dari 2 m.Clerodendrum inerme Gaertn VERBENACEAE Nama setempat : Kayu tulang. bulat memanjang. 4152 . kaku dan tertekuk ke dalam. Benang sari: terjurai sangat panjang jika dibandingkan dengan mahkota bunganya. Daun mahkota: 5. permukaannya seperti kulit. keranji. Formasi: berkelompok (3 bunga per kelompok). dadap-laut. Berbentuk lonceng. mengkilat dan berdaging. Ujung: meruncing. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Deskripsi umum : Belukar. Bentuk: elip. warna hijau hingga kecoklatan. bagian bawahnya bertangkai panjang. Ukuran: panjang 3-4 cm. Letak: di ketiak daun. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Kelimpahan : Umum. Manfaat : Tidak diketahui. Daun : Hijau tua mengkilap di bagian atas. Kelopak bunga: hijau dan jaraknya agak jauh dari daun mahkota. Ukuran: diameter buah 7-10 mm.

bunga. buah. c. daun 1533 . bunga & buah c a b a.Clerodendrum inerme daun. b.

panjang 15 m atau lebih. toweran. Polong berkulit. Batang yang lebih muda berwarna merah tua. bergerombol. permukaan atas berwarna hijau mengkilat dan bagian bawah abu-abu-hijau. Bentuk: bulat telur atau elips. panjangnya sekitar 1 cm. biji 12 x 11 mm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Melalui Asia Tenggara. Mereka mungkin juga disebarkan melalui angin. Manfaat : Penggunaan jenis ini untuk meracuni ikan sudah banyak diketahui. bulat memanjang atau hampir bundar. Deskripsi Umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu. Racun ikan yang dijual secara komersial (rotenone) dihasilkan dari akar jenis lain. memiliki banyak lentisel. Australia. halus dengan lentisel merah muda. tandan bunga panjangnya 7-20 cm dan gagang bunga panjangnya 2 mm. Biji dan polong teradaptasi dengan penyebaran melalui air. Batangnya sangat tahan lama dan dapat digunakan sebagai tali. tuba laut. Ukuran: 6-13 x 2-6 cm.5 cm. tipis/pipih.5 x 2. Letak: di ketiak batang yang tumbuh horizontal sepanjang permukaan tanah. Biseksual. Benangsari: bagian atas tumbuh sendiri. hijau-perunggu ketika kering. Ujung: meruncing. Bunga muncul pada bulan September – November. Catatan : 4154 . Daun : Memiliki 3-7 pinak daun. kamulut.5-3. tuba abal. Kulit kayu coklat tua. Cina hingga India dan Afrika. gadel. Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas. tergenang secara tidak teratur oleh air pasang surut. hampir bundar. kambingan. Ukuran: buah 2-4. LEGUMINOSAE Nama setempat : Ambung. sementara buah pada bulan November sampai Desember (di Australia). Unit & Letak: majemuk dan bersilangan. Indonesia. yaitu Derris elliptica. Masyarakat di Indonesia Timur menanam varietas sendiri yang kemudian dicampur dengan bahan kimia untuk meracuni (membius) ikan.Derris trifoliata Lour. Daun mahkota: ungu agak putih-merah muda pucat. sementara 9 lainnya bersatu. Tumbuh pada substrat berpasir dan berlumpur pada bagian tepi daratan dari habitat mangrove. Menyukai areal yang mendapat pasokan air tawar. Satu atau dua biji berkeriput. Formasi: bulir. tuwa areuy. areuy ki tonggeret.

bunga. daun 1553 . c. buah. b.Derris trifolia buah bunga a c b a.

5 cm. Daun : Tebal berdaging. Bentuk seperti kapsul atau seperti kantung perut ayam. Dijumpai pada kawasan mangrove yang terbuka. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Buah berpasangan. warna hijau cerah. Bentuk: elips hingga bulat telur terbalik. waktu masih muda berwarna hijau tapi jika sudah matang warnanya kemerahan.0 cm. Ukuran: buah 7-8 x 2.7 – 1. ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Basang siap. Ukuran: 8-13 x 3. Ujung: membundar.5-3. 4156 .Finlaysonia maritima Backer ex Heyne. mengandung getah berwarna putih. panjangnya sekitar 0.5-5 cm. kadang-kadang dijumpai lebih ke arah pantai. Deskripsi umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu. Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Manfaat : Tidak diketahui. Putih dan merah muda.

b.Finlaysonia maritima daun & buah b a a. daun 1573 . buah.

Daun mahkota: kuning.5-15 x 7. Akarnya digunakan sebagai obat demam. molowahu. wakati. waru lengis. Juga umum di sepanjang pinggiran sungai di kawasan dataran rendah. iwal. Kulit kayu halus. berkulit dan permukaan bawah berambut halus dan berwarna agak putih.514. kasjanaf.5 cm. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Formasi: soliter atau berkelompok (2-5). MALVACEAE Nama setempat : Waru laut. Pan-tropis. Daun : Agak tipis (jika dibanding Thespesia populnea). waru lenga. Perbedaannya dengan Thespesia populnea dirinci pada halaman berikutnya. Tangkai putik: ada 5 (tidak menyatu). Serat kayu digunakan sebagai tali. waru langit. Perbungaan sepanjang tahun. bahu. Berbentuk lonceng. Kayu digunakan sebagai bahan pembuatan bagian dalam perahu (Lombok). Ukuran: Bunga : Buah : Ekologi : Merupakan tumbuhan khas di sepanjang pantai tropis dan seringkali berasosiasi dengan mangrove. bergerigi. baru. Deskripsi umum : Pohon yang tumbuh tersebar dengan ketinggian hingga mencapai 15 m. Manfaat : Ditanam sebagai pohon peneduh di taman. Biji mengapung dan dapat tumbuh meskipun dimasuki air laut. Penyebaran : Di seluruh Indonesia. Letak: di ketiak daun. Kelopak bunga: 5. Ujung: meruncing. dengan kepala putik berwarna ungu kecoklatan Membuka menjadi 5 bagian. Kelimpahan : Tersebar luas dan umum. fau. kelenjar pengeluar gula seringkali berwarna hitam karena diserang jamur. setidaknya di penyemaian. waru langkong. Saat mekar (sore hari) berwarna kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. Catatan : 4158 . burik-burik. lalu keesokan harinya keseluruhan bunga jadi jingga dan rontok. Penyebaran geografis serta sifat ekologi alami belum diketahui secara pasti. kabaru.Hibiscus tiliaceus L. Pada daun tua. Dasar dari gagang tandan bunga yang memanjang ditutupi oleh pinak daun yang kemudian akan jatuh dan menyisakan tonjolan berbentung cincin. siron. berwarna cokelat keabu-abuan. waru lot. Bentuk: seperti hati. dan memiliki biji khas yang berambut. Ukuran: 7. diameter 5-7 cm. diameter buah sekitar 2 cm. Daun kadang-kadang digunakan sebagai makanan ternak.

pohon 1593 . daun. b. buah.Hibiscus tiliaceus daun & bunga pohon b c a d a. c. d. bunga.

tati raui.) Sweet. alere. loloro. Keduanya terdapat di Indonesia. Daun mahkota: berbentuk seperti terompet/corong. daun barah. tapak kuda. basah dan berwarna hijau kecoklatan. tilalade. meskipun anak jenis yang terakhir hanya diketahui dari Sumatera Barat dan Pulau Krakatau. Batang panjangnya 5-30 m dan menjalar. Wanita hamil dilarang memakai tanaman obat ini. dalere. pes-caprae ssp.ungu dan agak gelap di bagian pangkal bunga. Formasi: soliter. daun kacang. watata ruruan. sedangkan akarnya sebagai obat sakit gigi dan eksim. leleri. serta kadang-kadang pada saluran air. balim-balim. CONVOLVULACEAE Nama setempat : Batata pantai. Bunga membuka penuh sebelum tengah hari. Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 600 m. Letak bunga: di ketiak daun pada gagang yang panjangnya 3-16 cm. Deskripsi umum : Herba tahunan dengan akar yang tebal. Daun : Tunggal. katang-katang. Manfaat : Bijinya dilaporkan sebagai obat yang baik untuk sakit perut dan kram. biasanya di pantai berpasir. dolodoi. pescaprae yang memiliki cuping daun yang dalam. bulalingo. andali arana. daun katang. wedule. daredei. Ukuran: buah 12-17 mm. Ukuran: 3-10 x 3-10. pes-caprae ssp. dan I. Kelimpahan : Sangat umum. wasir dan korengan. akar tumbuh pada ruas batang. Batang berbentuk bulat. mari-mari. Catatan : 4160 . Ujung: membundar membelah (bertakik). brasiliensis yang memiliki takik pada ujung daun. kabai-kabai.Ipomoea pes-caprae (L. Bentuk: bulat telur seperti tapak kuda. wedor. tetapi juga tepat pada garis pantai. Cairan dari batangnya digunakan untuk mengobati gigitan dan sengatan binatang. lalu menguncup setelah lewat tengah hari.5 cm. ketepeng. licin dan mengkilat. panjang 3-5 cm. Dua anak jenis dikenali oleh beberapa penulis. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. yaitu I. Berbentuk kapsul bundar hingga agak datar dengan empat biji berwarna hitam dan berambut rapat. diameter pada saat membuka penuh sekitar 10 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. tebal. Berwarna merah muda . biji 6-10 mm. Daunnya untuk obat reumatik/nyeri persendian/pegal-pegal.

buah.Ipomoea pes-caprae daun & bunga a c b a. c. daun 1613 . b. bunga.

Urat daun menyirip rapat secara lateral. Ukuran: 2-20 x 0. Biasanya muncul bersama tanaman semak lainnya. kluruk. Formasi: berkelompok. keracunan oleh singkong. jika sudah matang akan merekah dan terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen (bagian). bisul dan memperlancar air susu ibu. tinggi sekitar 0. kemanden Deskripsi umum : Perdu. Ujung: meruncing lancip. pinggir jalan hingga lereng gunung. cabangnya banyak. disentri basiler. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia. diameter saat membuka penuh 4. Akar.5-6. Daun mahkota: jumlahnya 4-18.5 cm.75-8. pembekuan dalam pembuluh darah. Warna ungu kemerahan. warna ungu tua kemerahan. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup. Tangkai putik: warnanya kuning keputihan. Berbentuk kapsul bulat.5 cm. keputihan. lapangan terbuka. kaku. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Manfaat : Buahnya enak dimakan. lahan terlantar. Letak: di ujung cabang. wasir berdarah. sariawan. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. mulai dari pantai yang berlumpur. diare. Don MELASTOMATACEAE Nama setempat : Senduduk. 4162 . hepatitis. warnyanya hijau hingga hijau kekuningan. tandan dan gagang bunga berwarna hijau kecoklatan. setiap kelompok ada 2-3 bunga. daun dan seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat gangguan pencernaan.Melastoma candidum D. pada permukaan daun terdapat tiga tulang daun yang jelas dan memanjang lurus seperti garis (longitudinal) kearah ujung daun. daunnya yang masih muda sebagai sayur/lalab. membuka penuh secara horizontal. Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 1650 m. harendong. mimisan. Biji kecil sekali berupa bintik-bintik berwarna coklat.5 – 4 m. panjangnya 8-17 mm. senggani. Kelimpahan : Sangat umum. Kelopak bunga: berbentuk tabung dengan bentuk cuping bergerigi 5. Daun : Tebal. Ukuran: diameter buah 8-10 mm.

Melastoma candidum bunga & buah a b c a. buah. b. c. daun 1633 . bunga.

Selain itu. warnyanya hijau tua mengkilap. cacingan. eodu. mangkudu. Urat daun menyirip kearah pinggiran daun dan tampak sangat jelas. Daun mahkota: jumlahnya 5. bertangkai pendek. kemudu. pinggir jalan hingga jauh ke darat. hutan. Formasi: payung dengan 5-8 bunga. dll. buah setengan matang untuk rujak. disentri. wungkudu. pace. radang empedu. Kelimpahan : Sangat umum.l. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup hingga sedikit ternaungi. Di Indonesia banyak ditemukan dari dataran rendah (dekat pesisir pantai). bunga atau kulit batang tanaman ini dapat juga digunakan sebagai obat batuk.p. tekanan darah tinggi. Biji kecil-kecil. Daun : Tebal. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mulai dari Asia Tropis hingga Polynesia. lengkudu. Deskripsi umum : Perdu atau pohon kecil yang tumbuh membengkok. akar. ladang atau ditanam di pekarangan sebagai tanaman sayur atau tanaman obat. labanau. coklat kehitaman dan banyak. tepi daun rata. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. tinggi 3-8 m. Ketika masih mentah berwarna hijau muda. daun. sakit lever. RUBIACEAE Nama setempat : Mengkudu.bangkudu. Warna putih. 4164 . warna putih. pamarai. Ukuran: panjang 5-10 cm. sakit pinggang. sakit perut . ketika matang agak kekuningan. bakulu. cangkudu. tibah. Bentuk: bulat telur hingga elips. lapangan terbuka. melancarkan kencing. Buah muda direbus untuk lalab. Lonjong bulat telur seperti kapsul dan penuh dengan benjolan. cacar air. keumudee.Morinda citrifolia L. mulai dari pantai berpasir hingga berlumpur. kudu. buah. ai kombo. Ukuran: 10-40 x 5-17 cm. Manfaat : Akarnya untuk mewarnai batik dan anyaman pandan. lembek dan berair. eoru. daun muda biasa dikukus dan direbus sebagai sayuran atau untuk membungkus ikan. Tumbuh liar di pantai hingga 500 m d. Letak: di ketiak daun. sariawan. lahan terlantar. neteu. harum dan mudah rontok. Ujung: meruncing. banyak cabang dengan ranting segi empat. dan yang matang untuk membersihkan karat pada logam atau untuk keramas.

bunga. daun 1653 . b. buah. c.Morinda citrifolia buah & bunga b a c a.

Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m. Benangsari: banyak. Panjang antara 0. terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai.0 meter. Kelimpahan : Sangat umum.5 – 2.Pandanus odoratissima. Letak: di ujung. PANDANACEAE Nama setempat : pandan. Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya merah. Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam. 4166 . Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai. Formasi: payung. Manfaat : Sebagai tanaman hias dan tanaman pagar.

Pandanus odoratissima buah pohon a b a. b. buah. daun 1673 .

Letak: di ujung. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam.5 – 2. Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya kuning jeruk. Parkinson ex Z. PANDANACEAE Nama setempat : Pandan. Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai. Bunganya dimanfaatkan untuk wangi-wangian dan hiasan pada acara pernikahan. 4168 . Panjang antara 0. Benangsari: banyak. Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m. Manfaat : Dapat sebagai tanaman pagar. Formasi: payung.Pandanus tectorius.0 meter Warna merah-ungu. terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai. Kelimpahan : Sangat umum.

buah. b. pohon 1693 .Pandanus tectorius buah pohon b a a.

Ujung: meruncing. Bulat seperti kelereng. kencing berlemak dan pembesaran kelenjar limfa di leher. merambat di pagar dan menyenangi lokasi yang mendapat cahaya matahari yang kuat. bertangkai 2-10 cm. tanah lapang terlantar. kadang agak lonjong. putih dan panjangnya dapat melampaui ukuran panjang mahkota bunga. kaap. Ukuran: 5-13 x 4-12 cm. panjang 1. buahnya enak dimakan (manis seperti markisa. Deskripsi umum : Terna merambat. tapi agak sedikit pahit). lemanas. pada bagian tengahnya jauh lebih ungu. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Berasal dari Amerika Tropis dan di Indonesia tumbuh secara liar. Tumbuh liar di dekat pantai berpasir yang bukan rawa. Formasi: soliter. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan.0 cm. kileuleur. Kulit buah hijau jika mentah dan menjadi getas dan kuning ketika matang. berambut halus. Kelimpahan : Umum. Memiliki alat pembelit yang beruntaian seperti spiral. permot. Daun : Berwarna hijau kekuningan hingga hijau muda mengkilat seperti ada lapisan lilin.Passiflora foetida (L. Buah dibungkus oleh serabut yang berambut banyak. Seluruh bagian tanaman juga dapat digunakan sebagai obat batuk. lebar menjari dengan tiga lekukan. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik. 4170 .) LEGUMINOSAE Nama setempat : Gegambo. Benang sari: banyak. diameter hingga 5 cm. bungan pulir. Letak: di ketiak tangkai daun. Warna agak putih hingga ungu muda/pucat. ceplukan blungsun.5-5 m. Bentuk: seperti jantung. rajutan. kaceprek. Di dalam buah banyak dijumpai biji. Manfaat : Daun muda dapat digunakan sebagai sayur. Ukuran: diameter buah 1. moteti. koreng. pacean. borok.5-3. remugak. buah pitri.

Passiflora foetida buah pohon b a a. b. daun 1713 . buah.

memiliki gagang pendek di atas goresan daun mahkota bunga. Unit & Letak: majemuk dan bersilangan. Tersebar luas di Asia Tropis. Ujung: meruncing. Kelimpahan : Umum.5 x 2. marauwen. dan memiliki goresan yang menyerupai bintil berdekatan dengan pinak daun pada pangkal gagang daun. Cabang pada umumnya tidak memiliki rambut atau urat. Ukuran: 5-22. Formasi: bergerombol secara acak. Warna buah hijau kecoklatan. warna ungu pucat. klengkeng. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik . Perbungaan terjadi sepanjang tahun. padat dan memiliki sebuah biji. Bunga seringkali berubah bentuk menjadi kantung bundar yang bisa dikelirukan dengan buahnya. ki pahang laut. panjang 11-18 mm. mengkilat dan warnanya hijau tua. dengan 3-7 pinak daun yang terletak secara bersilangan. Letak: di ketiak daun. Umum ditanam di areal pesisir kawasan tropis karena sifatnya yang tahan terhadap salinitas dan udara yang terbuka. bangkong. asawali. Biji beracun untuk manusia. Seperti kacang. Daun : Tersusun dalam dua deret. Gagang bunga berukuran 7-15 mm ditutupi oleh pinak daun yang halus dan berambut pendek. Kadang-kadang ditanam sebagai pohon peneduh di sepanjang jalan. Manfaat : Daun digunakan sebagai makanan ternak. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. panjangnya 4-5 mm.5-15 cm. Polong berkulit tebal dan berparuh. tangi. 4172 . kranji. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian hingga 15 m. Bentuk: bulat telur hingga elips. Tumbuh di pantai berpasir yang bukan rawa. Polong tidak membuka ketika masak.) Pierre LEGUMINOSAE Nama setempat : Kacang kayu laut.Pongamia pinnata (L. Kelopak bunga: berbentuk cangkir. dan kadang-kadang di bagian tepi daratan dari mangrove. Bunga terletak berpasangan di sepanjang tandan bunga yang panjangnya 6-27 cm. Ukuran: 5-7 x 2-3 cm. awakal. ditutupi oleh rambut yang pendek dan halus serta memiliki gigi tumpul yang sangat pendek.

b. buah. bunga. c. daun 1733 .Pongamia pinnata daun & buah pohon a b c a a.

tapi tepinya bergerigi. balacai. bisul. paku ton. kelumpuhan otot muka. Kelimpahan : Umum. jarag. kaleke. kohongiang. tetanus. ketowang. Manfaat : Bijinya terasa manis. EUPHORBIACEAE Nama setempat : Gloah. paku penuai. Unit & Letak: sederhana tunggal dan bersilangan. batuk dan hernia. lana-lana. luluk. dulang jai. Tumbuh liar di hutan. kalikih alang. urat daunnya rapat dan jelas.Ricinus communis Linn. TBC kelenjar. gangguan jiwa (schizophrenia). gatal. koreng dan infeksi jamur. sepanjang pantai atau ditanam sebagai komoditi perkebunan pada ketinggian antara 0 – 800 m dari permukaan laut. lutur bal. pedas. tanah kosong. kalalei. kolonyan. dulang. Satu tandan dapat berisikan sekitar 30 – 40 buah. lafandru. tetanga. Warna daun hijau tua di permukaan atas dan hijau muda di permukaan bawah. kaliki. alale. eksim. Majemuk. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. Daunnya untuk obat koreng. Akar dipakai sebagai obat rematik. Bentuk: menjari dengan jumlah jari 7 – 9. epilepsi. luka terpukul. bronchitis. Warna buah hijau dan bergerombol pada tandan yang panjang. 4174 . Dapat tumbuh di areal yang kurang subur asal pH tanahnya sekitar 6-7 dan drainase airnya baik. Daun : Seperti daun singkong. Ujung: meruncing. malasai. Bentuknya bulat bersegmen (ada 3 segmen) dan berambut (seperti buah rambutan). Ukuran: diameter 10-40 cm. berwarna kuning oranye dan berkelamin satu. kilale. Deskripsi umum : Perdu tegak dapat mencapai ketinggian hingga 3 m. lulang. jarak. jarak jawa. jarak jitun. Akar jarak tidak tahan terhadap adanya genangan air. Tangkai daun panjang berwarna hijau hingga merah bata. netral dan digunakan untuk mengobati kanker mulut rahim dan kulit.

buah. b. daun 1753 .Ricinus communis pohon bunga & buah a b a.

lalu menjadi putih ketika sudah matang. dapat mencapai ketinggian hingga 3 m. sering pada bagian dalamnya terdapat strip/garis berwarna jingga.5-9. Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips. bako-bakoan.5 cm. babakoan. bulat. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Formasi: mengelompok. Tangkai Putik: membengkok. Kelimpahan : Tidak diketahui. Daun : Melebar kearah atas. Deskripsi umum : Herba rendah/semak/pohon. Ujung: membundar. Ukuran: 16. Manfaat : Tidak tahu. Ukuran: diameter buah 8-12 mm. Berbentuk kapsul. Letak bunga: di ketiak daun. Ketika muda berwarna hijau muda. pada tepi pematang yang tidak terkena pengaruh pasang surut atau di daerah yang sistem drainasenya baik dan lokasinya terbuka terhadap cahaya. GOODENIACEAE Nama setempat : Bakung-bakung. tepinya melengkung dan permukaan daun seperti berlapis lilin.Scaevola taccada (Gaertn. berwarna hijau kekuningan dan mengkilat. 4176 .5-30 x 7. Daun mahkota: putih bersih. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mungkin ditemukan di seluruh Indonesia. Dijumpai secara soliter di bagian tepi daratan dari mangrove. gegabusan.) Roxb.

b. buah. bunga & buah c a b a.Scaevola taccada buah & bunga daun. c. bunga. daun 1773 .

pada hamparan lumpur dan gundukan pasir. Letak bunga: di ketiak daun. Formasi: soliter. Ukuran: 2. Manfaat : Daun dapat dimakan setelah berulangkali dicuci dan dimasak. halus dan ditumbuhi akar pada ruasnya. sepanjang pematang tambak dan kali pasang surut. Bunga diserbuki kumbang kecil pengumpul madu serta ngengat yang terbang siang. gelan-pasir.Sesuvium portulacastrum (L. bundar dan halus. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.) L. MOLLUGINACEAE / AIZOACEAE Nama setempat : Gelang (-laut). Biji tidak mengapung. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. sesepi. Daun : Bunga : Tebal berdaging. Berbentuk kapsul. halus dan panjangnya 1. Kecil. Benangsari: banyak dan 3-4 tangkai putik. seringkali memiliki banyak cabang. pada areal yang secara tidak teratur digenangi oleh pasang surut. Panjangnya hingga 1 m dengan batang berwarna merah cerah. Terdapat beberapa biji hitam berbentuk kacang. Deskripsi umum : Herba tahunan. Seringkali ditemukan di sepanjang bagian tepi daratan dari mangrove. warna ungu. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Substrat tumbuh berupa pasir. Kelimpahan : Tidak diketahui. Madura.5 cm. Ujung: membundar. menjalar.5-1. memiliki tangkai panjangnya 3-15 mm dan tabung panjangnya 3 mm. panjang melintang kira-kira 8 mm. Sulawesi dan Sumatera.5 mm. Buah : Ekologi : Penyebaran : Jenis Pan-tropis. Juga ditemukan di pantai berkarang. lumpur dan tanah liat.5-7 x 0. Juga digunakan sebagai makanan kambing. Daun mahkota: 5 cuping. saruni air. ditemukan di sepanjang pesisir Jawa. 4178 . panjang 6-9 mm. krokot.

daun 1793 . b. buah.Sesuvium portulacastrum pohon c a b a. bunga. c.

bunga duduk tanpa tangkai. jarong lalaki. sekar laru.5 cm. tidak berambut. pembersih darah. biron. reumatik. keputihan dan hepatitis A. jarongan. remek getih. ngadi rengga. hamparan lahan yang terbengkalai. ukurannya kecil berwarna ungu kebiruan dan putih. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan.0-3. 4180 . misalnya untuk mengobati infeksi dan adanya batu pada saluran kencing. ki meurit beureum. Letak: di ketiak daun. Ukuran: 2. sakit tenggorokan. datang haid tidak teratur. Bentuk: bulat telur. Terdapat pada tandan yang panjangnya mencapai 4-20 cm seperti pecut. Ujung: meruncing. tepi bergerigi. tumbuh tegak terburai ke samping membentuk semak. Dijumpai pada pematang tambak. Bunga : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. laler mengeng. tinggi mencapai 1 meter. jarong. Manfaat : Sering dipelihara sebagai tanaman pagar hidup karena memiliki manfaat sebagai bahan obat-obatan. Kelimpahan : Tidak diketahui. Bunga mekar tidak serentak.5-6 x 1.Stachytarpheta jamaicensis (L. VERBENACEAE Nama setempat : Pecut kuda. Deskripsi umum : Terna tahunan.) Vahl. Daun : Permukaan daun kasar dan guratan – guratan / lekukan di permukaannya tampak jelas. Formasi: bulir pada tandan yang panjang. pada lokasi terbuka dan kering serta mendapat pencahayaan matahari yang kuat. rumjarum.

daun 1813 . b.Stachytarpheta jamaicensis pohon a b a. bunga.

sirisal. Australia Utara dan Polinesia. Tumbuh di pantai berpasir atau berkarang dan bagian tepi daratan dari mangrove hingga jauh ke darat. Ukuran 5-7 cm x 4x5. Sebarannya sangat luas. Daun : Sangat lebar. Letak: di ketiak daun. tasi. Formasi: bulir. wewa. Ujung: membundar. Daun kerap digunakan untuk mengobati reumatik. Bunga berwarna putih atau hijau pucat dan tidak bergagang. kemudian berubah menjadi merah tua. indian or singapore almond. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia. tetapi agak jarang di Sumatera dan Kalimantan. kilaula.Terminalia catappa L. Unit & Letak: s e d e r h a n a dan bersilangan. digunakan sebagai bahan bangunan dan pembuatan perahu. klis. ketapas. umumnya memiliki 6-9 pasang urat yang jaraknya berjauhan. sehingga kanopi pohon tampak berwarna merah. Biji buahnya dapat dimakan dan mengandung minyak yang berlemak dan bening. Penampilan seperti buah almond. biasanya dua kali setahun (di Jawa pada bulan Januari atau Februari dan Juli atau Agustus). Kelimpahan : Umum. suatu kondisi yang terutama terlihat jelas pada pohon yang masih muda. dengan sebuah kelenjar terletak pada salah satu bagian dasar dari urat tengah. Daun berubah menjadi merah muda atau merah beberapa saat sebelum rontok. Kulit buah berwarna hijau hingga hijau kekuningan (mengkilat) di bagian tengahnya. Kayu berwarna merah dan memiliki kualitas yang baik. tiliho. 4182 . Penyebaran buah dilakukan melalui air atau oleh kelelawar pemakan buah. sadina. luumpoyang. Bentuk: bulat telur terbalik. Ukuran: 825 x 5-14 cm (kadang panjangnya sampai 30 cm). Pohon menggugurkan daunnya (ketika warnanya berubah merah) sekali waktu. lisa. dumpajang. COMBRETACEAE Nama setempat : Ketapang. Tanin digunakan untuk mengatasi disentri serta untuk penyamakan kulit. dengan atau tanpa tangkai putik yang pendek. Kelopak bunga: halus di bagian dalam. Manfaat : Sering ditanam sebagai pohon peneduh jalanan. beowa. talisei. Sebagian besar dari bunga merupakan bunga jantan. klihi. Mahkota pohon berlapis secara horizontal. seringkali mendominasi vegetasi pantai. Bersabut dan cangkangnya sangat keras.5 cm. Deskripsi umum : Pohon meluruh dengan ketinggian 10-35 m. lisa. Cabang muda tebal dan ditutupi dengan rapat oleh rambut yang kemudian akan rontok. sarisei. Tandan bunga (panjangnya 8-16 cm) ditutupi oleh rambut yang halus. sarisa. Tumbuh di bagian tropis Asia. sabrise.

b. c. buah. daun 1833 . bunga & buah pohon a c b a. bunga.Terminalia catappa daun.

kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. Pada masa lalu kulit kayu digunakan sebagai bahan serat. di pematang-pematang tambak dan bagian tepi daratan dari mangrove. waru pantai. Bunga berisi cairan seperti susu berwarna kuning yang kemudian akan berubah menjadi merah.Thespesia populnea (L. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian 2-10 m. Daun dan buah digunakan sebagai obat. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. diameter 2. Manfaat : Catatan : Kayunya ringan. Buah seperti bola dan bersegmen. berwarna kuning dan ujungnya tumpul. Terdapat 3-8 pinak daun di bagian luar kelopak bunga. Tumbuh di pantai. berkulit dan permukaannya halus. di seluruh Indonesia. Bakal buah juga memiliki cairan berwarna kuning.5 cm. waru lot.5-4. Berbentuk lonceng. Daun : Bunga : Tebal. Terdapat 3-4 biji pada setiap ruang/segmen buah yang padat ditutupi oleh rambut pendek . Kelimpahan : Umum. salimuli. Perbedaan antara Hibiscus tiliaceus dengan Thespesia populnea adalah sbb: Bagian tanaman Daun kelopak bunga Daun muda Urat utama pada daun Urat coklat pada daun muda Buah siap membuka di pohon Hibiscus tiliaceus bercuping 5 biasanya terdapat 9-11 tidak terdapat ya Thespesia populnea tidak bercuping tidak terdapat 7 terdapat tidak 4184 . Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. Tangkai putik menyatu. Ukuran: 7-24 x 5-16 cm.) Soland. ex Correa MALVACEAE Nama setempat : Waru laut. Bentuk: seperti hati. Ujung: meruncing.

Thespesia populnea daun & bunga a c b a. bunga. c. b. daun 1853 . buah.

Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. diameter 1. berwarna kuning cerah. Ukuran: 3-17 x 1-12 cm. Daun : Bunga : Tepi daun bergerigi. Kelimpahan : Umum di mangrove. 4186 . bunga batang. pada pantai berpasir dan pinggiran mangrove. Letak: bersilangan. terletak pada bagian atas ketiak bunga atau kadang-kadang dalam pasangan. terutama untuk penggunaan luar. Mengobati luka terpotong atau terkena gigitan. serunai laut. Bentuk: bulat telur. Gagang bunga panjangnya 1-7 cm. Tumbuh terutama sepanjang atau dekat pantai. Dari Afrika Timur hingga Kepulauan Pasifik. pinggir sungai dan hutan sekunder.5-2. Memiliki kekhasan berupa bunga komposit dengan delapan “daun mahkota” (sesungguhnya adalah bunga terpisah berbentuk seperti bendera) dan cakram bunga (betina). Cairan yang diambil dari daunnya dapat digunakan untuk mengobati sakit perut atau digunakan untuk ibu yang baru bersalin. Kepala bunga biasanya soliter. seremai.5 cm. Akar digunakan untuk obat penyakit kelamin.) DC.Wedelia biflora (L. Digunakan sebagai tumbuhan penutup tanah di perkebunan dengan tujuan untuk menghindari erosi serta mencegah kehilangan air. ASTERACEAE Nama setempat : Sernai. pokok serunai.5-5 m dengan batang yang kurus. ditutupi oleh rambut. panjang 1. Beberapa rambut tumbuh pada kedua sisi permukaan daun dan pada batang. Dapat juga tumbuh di perkebunan kelapa. seruni.5-4 cm. Kadang-kadang ditanam. berjumlah 20-30. Deskripsi umum : Ferna tahunan. dengan gagang daun panjangnya 0. Manfaat : Daunnya memiliki kepentingan untuk obat. sawah kering.

b. bunga.Wedelia biflora daun & bunga a a b a. daun 1873 .

1893

Lampiran 1.

Jenis mangrove, nama lain/sinonim, sumber gambar dan foto, yang tercantum atau dipakai dalam buku panduan ini.
S I N O N I M

JENIS MANGROVE

MANGROVE SEJATI: Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis Bruguiera cylindrica A. intermedia, A. mindanaense A. tomentosa B. caryophylloides, B. malabarica, Mangium minus, M. caryophylloies, Rhizophora cylindrica, R. caryophylloides, R. ceratophylloides, Kanilia caryophylloides Loranthus obovatus Loranthus mackayensis, Amyema cycnei-sinus, L. cycneisinus, A. mackayense ssp. cycnei-sinus A. marina var. alba A. officinalis var eucalyptifolia A. neo-guineensis Chrysodium aureum, C. inaequale, C. vulgare, Acrostichum spectabile, A. inaequale, A. obliquum Chrysodium speciosum Aegialites annulata A. majus, A. fragrans A. nigricans

Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza B. capensis, B. conjugata, B. cylindrica, B. gymnorrhiza, B. rheedii, B. rhumpii,B. wightii, B. zippelii, Mangiumcelsum, M. minus, Rhizophora gymnorrhiza, R. palun, R. rheedii, R. tinctoria Rhizophora caryophylloides

Bruguiera hainessii

4190

SUMBER GAMBAR

SUMBER FOTO

Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Piggott (1988), Holttum (1954), dan material hidup Wightman (1988) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Specimen herbarium Herbarium Bogor Danser (1931) Barlow dalam Henty (1981) Wahyu Gumelar Percival & Womersley

Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley & Nyoman Suryadiputra (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Silvius, M. Kitamura et. al. (1997)

Percival & Womersley (1975), Tomlinson (1986), Wightman (1989) Wahyu Gumelar Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

Jennifer Dudley (1999) Hidayat (1999) Kitamura et. al. (1997)

Ding Hou (1958), Wightman (1989) Ding Hou (1958), Tomlinson (1986), Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra

Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

1913

JENIS MANGROVE

S I N O N I M

Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula

B. ritchiei, Rhizophora parviflora, R. cylinrica, Kanilia parviflora B. eriopetala, B. sexangularis, B. australis, B. parietosa, B. angulata, B. oxyphylla, B. malabarica, B. cylindrica, Mangium digitatum, Rhizophora sexangula, R. polyandra, R. plicata, R. australis, R. eriopetala Neesia altissima, Cumingia philippinensis C. aruense C. roxbhurgiana, C. zippeliana, Bruguiera decandra, Rhizophora gromerulata, R. decandra C. candolleana, C. pauciflora, C. forsteniana, C. boviniana, C. lucida, C. timoriensis, C. somalensis, Rhizophora tagal, R. timoriensis, R. candel Stillingia agallocha Dicerolepis paludosa

Camptostemon philippinense Camptostemon schultzii Ceriops decandra Ceriops tagal

Excoecaria agallocha Gymnanthera paludosa Heritiera globosa Heritiera littoralis Kandelia candel Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phemphis acidula Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sarcolobus globosa

H. minor, Balanopteris minor, B. tothila Rhizophora candel, K. rheedei L. coccinea, Problastes cuneifolia, Pyrrhantus littoreus, Laguncularia purpurea L. racemosa, Languncularia rosea, Lumnitzera rosea, Petaloma alba, L. racemosa var. pubescens N. fructicans

Mangium candelarium, R. mangle, R. candelaria, R. conjugata R. mangle, R. macrorrhiza, R. longissima,R. latifolia, R. mucronata var. typica R. mucronata var. stylosa S. banksii

4192

al. (1997) 1933 . Wightman (1989) Hidayat (1999) I Nyoman Suryadiputra Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Kostermans (1959) Kostermans (1959). Tomlinson (1986). Wightman (1989) Polunin (1988) Tomlinson (1986). Kitamura et. al. (1997) Bakhuizen van den Brink (1924) Percival & Womersley (1975). al. (1997) Jennifer Dudley (1999). Hidayat (1999) Hidayat (1999). Wightman (1989) Kitamura et. Tomlinson (1986). Wightman (1989) Ding Hou (1958). Tomlinson (1986). (1997) Ding Hou (1958). Tomlinson (1986) Ding Hou (1958). (1997) Kitamura et. Hidayat (1999). Percival & Womersley (1975). Kitamura et. al. Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999). Kitamura (1997) Kitamura et. Kitamura et. Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Wendy Suryadiputra (1999). al. Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra (1999).al (1997). Wightman (1989) Ding Hou (1958). Tomlinson (1986) Ding Hou (1958) Percival & Womersley (1975) Exell (1954). Tomlinson (1986).SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Ding Hou (1958). Tomlinson (1986). Jennifer Dudley Hidayat (1999) Kitamura et. Kitamura et. al. al. (1997) Hidayat (1999) Hidayat (1999). M. Wightman (1989) Ding Hou (1958). (1997) Silvius. Tomlinson (1986). Tomlinson (1986). Wightman (1989) Ding Hou (1958).

C. Mangium caseolare album. S.Rhizophora caseolaris Chiratia leucantha. lactaria B. C. S. brasiliensis. S. M. biloba. S. minor. Ixora manila. rubra. obovata. brasiliensis. Blatti caseolaris. S. C. evenia. maritima. uliginosa. Mangium caseolare rubrum. Balanopteris minor. tothila. mossambicensis. acida. neglecta. C. S. malabathricum. S. S. maritima. N. heterophylla. I.JENIS MANGROVE Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S I N O N I M H. D. S. S. pagatpat S. B. Dalbergia heterophylla C. caseolaris. Aubletia caseolaris. S. ovalis. B. Rhizophora caseolaris. M. Soldanella marina indica. pagatpat. griffithii. iriomotensis. M. pes-caprae. C. I. Convolvulus bilobatus. rubra I. hydrophylacea S. maritimus. granatum Xylocarpus australasicus Carapa moluccensis Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii MANGROVE IKUTAN: Barringtonia asiatica Callophyllum inophyllum Calotropis gigantea Cerbera manghas Clerodendrum inerme Derris trifoliata Finlaysonia maritima Hibiscus tiliaceus Ipomoea pes-caprae Novella repens. S. lanceolata. speciosa Melastoma candidum Morinda citrifolia Pandanus odoratissima 4194 . alba Carapa abovate. affine. palyanthum D.

(1997) Backer & van Steenis (1951) Tomlinson (1986). Tomlinson (1986). Kitamura et. al. Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951). Wightman (1989) Wightman (1989) Walker (1976) Walker (1976) Wim Giesen I Nyoman Suryadiputra Hidayat (1999) Kitamura (1997) Keng (1987). Corner (1988). Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951). Polunin (1988) Tomlinson (1986) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999) The Common Littoral Plants of Taiwan I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley (1999) Icones Rijksherbarium Leiden I Nyoman Suryadiputra & Hidayat (1999) Hidayat (1999) Tomlinson (1986). van Ooststroom (1953) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999) 1953 . Wightman (1989) Backer (1918). Tomlinson (1986).SUMBER GAMBAR Tomlinson (1986). Wightman (1989) SUMBER FOTO Hidayat (1999) Wendy Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999).

T. V. marginata. S. urticifolia. dan chlorocarpa. macrocarpa. mauritiana. glabrata P. catappa var. moluccana. Bupariti populnea W. R. polyandrum. S. villosa. pilosiuscula. T. latifoilia. rhodocarpa. Verbena indica. jamaicensis T. macrophylla. Myrobalanus catappa T. speciosus.JENIS MANGROVE S I N O N I M Pandanus tectorius Passiflora foetida Pongamia pinnata Ricinus communis Scaevola taccada Sesuvium portulacastrum Stachytarpheta jamaicensis Terminalia catappa Crithmus indicus. T. Trianthema polyandrum. S. S. glabra R. Thespesia populnea Wedelia biflora 4196 . Pyxipoma polyandrum. R. Croton spinosa L. S. viridis. inermis. S. Portulaca portulacastrum. repens.

Wightman (1989) Material hidup I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) 1973 . al. (1997) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Tomlinson (1986).SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Tomlinson (1986) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wightman (1989) Kitamura et.

Sesuvium portulacastrum. Kandelia candel. Gymnanthera paludosa. mucronata. Lumnitzera littorea. Lumnitzera littorea. Cerbera manghas. tagal. S. A. A. Scyphiphora hydrophyllacea. Derris trifoliata. S. exaristata. B. Nypa fruticans. R. A. stylosa Terminalia catappa. C.Lampiran 2. Thespesia populnea. ilicifolius.C. Sarcolobus globosa. Aegialitis annulata. parviflora. R. B. B. schultzii Xylocarpus granatum Wedelia biflora. sexangula. Bruguiera cylindrica. B. Ceriops decandra. Acanthus ilicifolius Barringtonia asiatica Amyema gravis. B. Xylocarpus granatum. Acanthus ebracteatus. Kandelia candel. S. DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Airy Shaw (1975) Backer & Bakhuizen van den Brink (1963-8) Excoecaria agallocha Avicennia alba. marina. Rhizophora apiculata. B. Heritiera littoralis. B. X. racemosa. Hibiscus tiliaceus. B. A. racemosa Sonneratia ovata Excoecaria agallocha Backer (1918) Backer & van Steenis (1951) Bakhuizen van den Brink Baltzer & Baruadi (1991) Burkill (1935) Corner (1988) Danser (1931) Ding Hou (1958) Excell (1954) Giesen (1991) Giesen & Rudyanto (1994) 4198 . C. Calophyllum inophyllum. Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Sonneratia alba. caseolaris. Excoearia agallocha. sexangula. L. gymnorrhiza. L. R. officinalis. ovata. S. Avicennia eucalyptifolia. R. A. gymnorrhiza. Ceriops decandra. Terminalia catappa. Aegiceras corniculatum. mucronata. A. tagal. anisomeres Bruguiera cylindrica. ovata Camptostemon philippinense. Osbornia octodonta. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. moluccensis. marina. Pongamia pinnata. Sonneratia alba. parviflora. caseolaris. Xylocarpus granatum. Rhizophora apiculata. officinalis. Wedelia biflora. hainessii.stylosa. Aegiceras corniculatum. A. floridum.

Derris trifoliata. Excoecaria agallocha. Acanthus ilicifolius. Ceriops decandra. speciosum Avicennia eucalyptifolia Calotropis gigantea. Scyphiphora hydrophyllacea. Avicennia alba. Aegialitis annulata. Excoearia agallocha. Scaevola taccada Heritiera globosa. Sonneratia alba. A.Sonneratia alba.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Giesen & Sukotjo ( 1991) Henty (1981) Heyne (1950) Excoecaria agallocha Amyema mackayense Barringtonia asiatica. tagal. Acrostichum aureum. Heritiera littoralis. Finlaysonia maritima. Thespesia populnea. moluccensis. littoralis Avicennia alba. ovata. A. A. R. Cerbera manghas. Osbornia octodonta. caseolaris. S. Bruguiera cylindrica. marina. A. A. Xylocarpus granatum. Thespesia populnea Holttum (1966) Johnstone & Frodin (1982) Kitamura et. stylosa. officinalis. Scyphiphora hydrophyllacea. Aegiceras corniculatum. Sesuvium portulacastrum. eucalyptifolia. caseolaris. A. Rhizophora apiculata. al (1997) Kostermans (1959) Percival & Womersley (1975) Perray & Metzger (1980) Piggott (1988) Polunin (1988) Prakash & Lim (1995) Said (1990) 1993 . Calophyllum inophyllum. S. R. Aegiceras corniculatum. Ipomoea pescaprae. Kandelia candel. marina. Cerbera manghas. Xylocarpus rumphii Acrostichum aureum. Pandanus tectorius. Hibiscus tiliaceus. X. Cerbera manghas. Nypa fruticans Wedelia biflora Acrostichum aureum Barringtonia asiatica Aegialitis annulata Avicennia officinalis. Excoearia agallocha. Camptostemon schultzii. mucronata. S. H. C. officinalis. Heritiera littoralis.

Stachytarpheta jamaicensis Wijayakusuma. Nypa fruticans Ipomoea pes-capre. B. Sesuvium portulacastrum. Lumnitzera littorea. A. moluccensis. mekongensis. Cerbera manghas. ovata. marina. B. Osbornia octodonta. speciosum. C. ilicifolius. Acanthus ebracteatus. R. Aegiceras corniculatum. Bruguiera cylindrica. S. B. Sonneratia alba. Hibiscus tiliaceus. R. X. A. R. stylosa. Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Osbornia octodonta. Thespesia pupulnea. H. schultzii. A. Xylocarpus granatum. Calophyllum inophyllum. Tantra & Sutisna (1990) Whitmore (1972) Wightman (1989) Calophyllum inophyllum Avicennia marina. Xylocarpus granatum. officinalis. Excoearia agallocha. sexangula. A. X. Camptostemon schultzii. S. Aegialitis annulata. parviflora. C. Camptostostemon philippinense. ilicifolius. Aegiceras corniculatum. Pongamia pinnata. mucronata. racemosa. A. Osbornia octodonta. A. C. Bruguiera exaristata. Heritiera Globosa. Acrostichum aureum. A. parviflora. officinalis.al. Scyphiphora hydrophyllacea. eucalyptifolia. tagal. Thespesia populnea. mucronata. Rhizophora apiculata. Ceriops decandra. Ceriops decandra. Derris trifoliata. stylosa. A. Ricinus communis. Scyphiphora hydrophyllacea.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Tomlinson (1986) Avicennia alba. littoralis. B. et. floridum. sexangula. hainessii. Melastoma candidum. B. gymnorrhiza. H. mekongensis. Derris trifoliata. X. B. Hibiscus tiliaceus. Aegialitis annulata Acanthus ebracteatus. B. L. Acrostichum aureum. Acrostichum speciosum. speciosum Barringtonia asiatica Van Osststroom (1953) Van Steenis (1936) Watson (1928) Whitemore. (1992) 4200 . gymnorrhiza. caseolaris. tagal. Aegialitis annulata. A. Rhizophora apiculata. Sonneratia alba. R.

Japan. Baltzer. Indonesian Ornithological Society. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. The Netherlands. 1992. S.C. 1988. Hal. The Terrestrial Mangroves Birds of Java. Jakarta. I. The Social Consequences of Tropical Shrimp Mariculture Development. Leiden. Indonesia. Hydrobiologia.A. Simpang Hilir. Ser. The Birds of Indonesia. 1990. Flora Malesiana. The Remnant Mangroves of Sei Kecil. 1988. seri III vol. 1988. AWB-Indonesia/PHPA. R. & C. A Report on The Wetland Avifauna of South Sulawesi. Toro. Jakarta. Flora of Java. K. IUCN Wetlands Programme. Ocean & Shoreline Management. C. South Sumatra. Noordhoff. & Suhardjono. Biro Pusat Statistik.. Ballen. Bangkok. A checklist (Peters’ Sequence). Thailand. P. Aksornkoae. Bogor.A.G. AWB-Indonesia. 83 hal. IUCN. Bailey. Abe. 176 hal. 241-257. Jakarta. Andrew.DAFTAR PUSTAKA Abdulhadi. 1993.P. Sukristiyono & V. Indonesia. C. Adiwiryono. Bogor. Proposed Wetland Conservation Areas: New & Extensions of Existing Reserves. S. 3 Volumes. 5: 27-55. 1990. Backer. The Occurrence of Crustaceans in the Tanjung Bungin Mangrove Forest. R. Statistik Indonesia. P. 4: 286-289. 1984. Dalam Bulletin du Jardin Botanique Buitenzorg. Bakhuizen van den Brink.III. Arboreal Arthropod Community of Mangrove Forest in Halmahera. IUCN.G. & R. Thailand. 141-151. van Steenis. S. Bangkok. C. Kukila. V. 285: 249-255. 1994. 11: 31-44. Sonneratiaceae. 1963-1968. Statistik Indonesia.C. N. West Kalimantan. Dalam Simposium on Mangrove Management: Its Ecological and Economic Consideration.J. Bakhuizen van den Brink. 1990. 2013 . 1921. Andrew. M. Backer. Ecology & Management of Mangrove. Revisio Generis Avicenniae. Biro Pusat Statistik. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment: Restoration & Management. Dalam Biological System of Mangroves. Ecology and Management of Mangroves. 1998. 1994. Hal.V. Ehime University. Indonesia. 1951.

Budiman. Monograph on Oceanological Methodology 8. Wet Coastal Ecosystems. P. Marine Ecology . Hal. Darwin. 251-258. L.H. J. Nat.J. Mangrove Monograph No. 1985.Becking J. 29: 344-373.Progress Series. 53-80. Meindersma. & Koesoebiono. A Study on Mangrove Fish at Handeuleum Group and Panaitan Island of Ujung Kulon National Park. 1980. Valduz. 292 hal. & W. Bunt. Malaysia. Tectona. Chambers. 173182. Elsevier Scientific Publishing Company. 740-760.-Indië. 4: 349-359. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. M. Budiman. Pergamon Press. Cramer. 2 volume. 428 hal. Botanical Surveys in Mangrove Communities. 1981. A.G. Paris. Chapman. Crabs and Molluscs #2: Ecological Distribution of Molluscs. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment. 1976a. Hal 10911095. Burbridge.of mangrovebosschen in Ned. The Molluscan Fauna in Reef Associated Mangrove Forests in Elpaputih and Wallale. Ceram. V. Burhanuddin. 1935. Crown Agents for the Colonies.. 1936. J. J.R. Austr. den Berger & H. UNESCO. 1977. Dev. Chapman.T. V. D. August 26-30. Burkill. Chapman. I. Indonesia. hal. V. V. Vegetational Relationships in The Mangroves of Tropical Australia. Univ. 1922. Japan. Hal.. Management of Mangrove Exploitation in Indonesia. 1988. Vloed. editor. Ehime University.J. Ecosystems of the World: 1. 1984. Dalam Biological System of Mangroves. 447 hal. 1993. 1991.S. Coastal Vegetation. The Environment and Geomorphology of Deltaic Sedimentation (some examples from Indonesia) Trop. Boon. 4202 . Hal. benevens eenige opmerkingen omtrent de samenstelling der terplaatse voorkomende moerasbosschen. 1976b. Dalam The mangrove Ecosystem: Research Methods.W.A. 49-57. Ecol. Hal. Dalam Prosiding Lokakarya Mangrove Fisheries and Connections.J. Dalam Tectona XV. Chapman.H. Ipoh. A Dictionary of The Economic Products of the Malay Peninsula. Ecology and Behaviour of Benthic Fauna. 1980. Williams. A. Mangrove Vegetation.J. De inrichting van de voor exploitatie in aanmerking komende bosschen in de afdeeling Bengkalis. 2402 hal. 1. London.

Jakarta. F. Jawa Tengah. J. Jakarta. Prolongued Inundation and Ecological Changes in An Avicennia Mangrove: Implications for Conservation and Management. & W.C. Danielsen. 285: 237-247. 1997. & H. Verheugt. 1931.C. 1991.C. J. PHPA. & G. Wetlands for the America’s. M. 45 hal. A. 3: 8-11. Dalam Prosiding Seminar IV Ekosistem Mangrove. Davies. F. de Haan. 1972. Asian Wetland Bureau. Ser. Bogor. Silvius. Claridge. Integrating Conservation With Land-use Planning in The Coastal Region of South Sumatra. III vol. Williams. Tectona 24: 39-76. 210 hal. H.. AWB. Duke. H. Verheugt. OEC. Skov. 1990. Ser. Djamali. M. Radjoengans.Choy. J. Hydrobiologia.I. Bull.. Bull. Statistik Perikanan Statistik Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan. PPLH-UNSRI and the Danish Ornithological Society. J. Bot. Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta. 1987. Danser. 1997. The Potential for Wetlands to Support and Maintain Development. The Loranthaceae of the Netherlands Indies. Indonesia. Bot. XI: 233-519. & W. 32: 87-99. 5: 429-493. Departemen Pertanian. Observations on The Floral and Vegetative Phenologies of North-eastern Australian Mangroves. Jard.. Departemen Pertanian. B. Departemen Kehutanan. Delsman. J. 2033 . S. 1994. 1993.T. 1991. Aust. Wetland Benefits. Danielsen. N. Purwoko. 1991. Bunt & W. Jakarta Ding Hou. Indonesia. Breeding habitat of Milky Stork Mycteria cinerea in South Sumatera Indonesia. Telaah Ekologis Kelimpahan Juwana Udang Jerbung (Penaeus merquiensis de Haan) di Perairan Sekitar Mangrove Sungai Donan. 1958. 1984. Danielsen. Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove di Indonesia. de Buiten zorg. International Waterfowl & Wetlands Research Bureau. Flora Malesiana.S. Het een en ander over de Tjilatjap’sche vloedbosschen. J. Indonesia. Hal 175.E. Booth. A. H.H. De Tropische Natuur. Bogor. F. Rhizophoraceae. 16: 155-160. Waterbird Study Results From South East Sumatra. Skov & W. Cilacap. 1931.

Skov & R. D. Erftemeijer. 1988. Combretaceae. Giesen. 6. East Java (Indonesia). Indonesia. Laporan No.. 119 hal. P. Ser. Hal. 92 hal. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . W. Indonesia.W. 1992. & E. 1991a.T. Indonesia. 1988. Frazier. Ecol. With Special Reference to Its Avifauna. 1984.C. the Netherlands. Australian Institute of Marince Science. AWB/INTERWADER & Catholic University of Nijmegen.J. F. Bakung Island. Padang. Erftemeijer. Fong. Trop. Tiger Data in Wetland Data Base and a Recommendation to Enhance the Chances of Tiger Survival. van Balen & E. Kuala Lumpur. G. hal. 1990. Rome. 4204 . A. PHPA-AWB/ INTERWADER.A. Townsville. Centre for Environmental Studies. FAO Environment Paper 3. West Sumatra. Purwoko. Verheugt.A. F. 45 hal. Indonesia.. Living off the Tides. 1934. Foo.. & J. 63-100. Nipa Swamp . N. 368 hal. Environmental Database on Wetland Interventions (EDWIN). Dalam Tropical Mangrove Ecosystems (Volume 41). P. PHPA. Djuharsa. 1984: 663-671. The Importance of Segara Anakan for Nature Conservation. A.Duke. Mangrove Swamp and Fisheries in Sabah. 11. H.T.S. Erftemeijer. 299303. F. J. Djuharsa. Bogor. F. W. Australia. PHPA/ AWB. 1157-1161. Bab 4. S. 4: 533-589. C. Baker. 59 hal.M. G. Int.O. 1980. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No.. 151 hal. Dalam Tectona XXVII. Flora Malesiana. Lokakarya Harimau Sumatera.W. S. Riau (Pulau Bakung. Leiden. Soc. Bogor. Preliminary Resource Inventory of Bintuni Bay and Recommendations for Conservation and Management. Wilkinson & V. English. van den Top. B. Dalam Tropical Ecology & Development. Fiselier. Survey Manual for Tropical Marine Resources.Restoration & Management. Bogor. H. 1994. 1954. W.M..L. Danielsen. Baal. A. 22-26 November 1992.I. Survey of Coastal Wetlands and Waterbirds in the Brantas and Solo Deltas. Fernandes. 1989. P. Management and Utilization of Mangroves in Asia and the Pacific.A Neglected Mangrove Resource. Kadarisman. Altenburg. Bogor. Pulau Basu). Exell. Wong. 1992. Hal. Over mangrove Culturen. Allen & Zuwendra. Mangrove Floristics and Biogeography. Spaans. 1982.

W. Notes and Observations. 585 hal. Dalam prosiding simposium Mangrove Management: its Ecological and Economic Considerations. Mass Feeding of Dog-faced Water Snakes (Cerberus rhynchops) on Sumatran Mudflats. and Its Unique Stromatolites. Integrating Conservation with Land-use Development in Wetlands of South Sulawesi. Giesen. & Rudyanto. 48 hal. Status of the Earth’s Living Resources. 2053 . Bogor. & B. W. 1994. 7 April 1994. 1993. Hardjowigeno. 1986. S. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. Satonda Island. 1989. van Balen. Peranan Berang-berang Bagi Manusia. 10 hal. Giesen. W. Bogor. Several Short Surveys of Sumatran Wetlands. 45-55. W. Giesen. editor. Karang Gading-Langkat Timur Laut Wildlife Reserve (North Sumatra). Dalam Prosiding Simposium Pertama mengenai Berang-berang di Indonesia. E. Bogor. 1992. Lae. 1994. August 9-11. & Sukotjo. 240 hal. 34 hal. Hutan Bakau Pantai Timur Nature Reserve. Government of Papua New Guinea. Giesen. W. Hal.L. Observations on Acid Runoff and Iron in Brackishwater Fishponds. Chapman & Hall. Hal. Sumatra. Ti. Hassan. 1991. 26. 1981. 1991. Henty. W. Global Biodiversity. Perubahan Habitat Lahan Basah di Kepulauan Sunda Besar dan Implikasinya terhadap Keragaman Hayati [Habitat Changes in Wetlands of the Greater Sunda’s and Implications for Biodiversity]. Dalam Seminar “Coastal Zone Management of Small Island Ecosystems”. Bogor. editor. Publikasi PHPA/AWB.E. Sumbawa. 1993. Indonesia.. & T. PHPA / AWB. 1991. Problems and Implications. 14 hal. Bogor. Volume II.B. 10. Baltzer & R. Baruadi. 17. 7-10 April 1993. 1991. Min. W. M. 1988. Ambon. Giesen. Giesen. Handbooks of the Flora of Papua New Guinea. Department of Fisheries. of Agriculture. 46: 265-266. Bogor. B. Giesen. Indonesia’s Mangroves: An Update on Remaining Area and Main Management Issues. R. PHPA/AWB-Indonesia.Giesen. Mangrove Soils of Indonesia. Jambi. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. 98 hal. Malayan Nature Journal. W. 17 hal. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetlands No. Groombridge. 257-265.

Dalam Biological System of Mangroves. JICA & ISME.J. 124 hal. Kint. Prawiroatmodjo. 23: 173-189. Reinwardtia. Landscape-ecology of Ujung Kulon (West Java.L. Kostermans. Jakarta. 1959. 1984. Kitamura. Keng. in Indonesia.F.E. Bali & Lombok. M. Khazali. Monograph of the Genus Heritiera Aitn.A.W. F. Hal.M. 1993. IPB Press. 4: 256-62. Tesis Program Pasca Sarjana IPB. Moriya. Bogor.An Introduction.185. 1987.Hutan Mangrove Kabupaten Bengkalis dan Kemunduran Perikanan di Bagan Siapi-api dan Sekitarnya. Bogor. #1: Floristic Composition and Stand Structure. Irian Jaya. A. Prosiding Lokakarya Pemantapan Strategi Pengelolaan Lingkungan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua. Anwar. 1985.Hilmi. the Netherlands. Panduan Teknis Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat. Metoda Survey Vegetasi. Jakarta. & A. & M. Ogino. 47 hal. S..L.J. J. UNESCO Regional Office for Science & Technology for Southeast Asia. Agricultural University of Wageningen. Its Structure and Function. Kusmana & Suhendra.L. Forest as an Ecosystem. 1997. Pengenalan Jenis Pohon Mangrove di Teluk Bintuni. 1997.A. (tidak dipublikasikan) Hommel. Chaniago & S. 11-13 September 1993. P. Studi lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta. Kusmana. T. 17: 177. Hal 41. Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove. A. A. Bogor. with Special Reference to Indonesia. & T. Lugo. 1988. Miyabara. 85-96. Tree Mortality in Mangrove Forests. C & Onrizal. C. Ehime University. Handbook of Mangroves Knox. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. A. Wetlands International – Indonesia Programme. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. 4206 .. Tat-Mong. (Sterculiaceae).. Indonesia). PhD thesis. Coastal Zone Resource Development and Conservation in Southeast Asia. Bogor. Tropical Press. Jiménez. C. 206 hal. Japan. Baba. De luchtfoto en de topografische terreingesteldheid in de mangrove. IPB Press. 1989. Kusmana. Kasry. Tomi & K. 1997. 1984. A. G. Kuala Lumpur. 1934. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. H. Fascinating Snakes of Southeast Asia . Biotropica. S.G. C. Pengelolaan Hutan DAS Rokan . 1997. 1999. De Tropische Natuur. Komiyama. 182 hal. Kapal Kerinci.

Mangrove: The Forgotten Forest Between Land and Sea. 1. Biol. E. Ecology and Productivity of Malaysian Mangrove Crab Populations (Decapoda: Brachyura). R. Jakarta. Giesen. 1993. Beberapa Catatan Tentang Aspek Pengusahaan Hutan Mangrove di Sulawesi Selatan. Odum. Hal 5. PHPA/AWB. 1984: 354-377. 1999. Heald. 1990. De Tropische Natuur. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . Bot. 6: 73-270. 12: 25-31. Res. D. Manuputty. & E. 97 hal..J. Vol.J. W. Estua. Mastaller. 1997. 1982. E.S. (tidak dipublikasikan) Macintosh. W. West Java. H. 1979. M. Vol. B. Technical Report No. An Assessment of the Importance of Rawa Danau for Nature Conservation and An Evaluation of Resource Use. 322 hal.H. 2073 . Noor. A Systems Approach. Volume 2: Forest Resource Base. Hanafia & Rudyanto. Jakarta. Djambatan. 1987. A.99 Meindersma.Restoration & Management. The Flora of Tidal Forests.Kusmana.a Rationalization of The Use of The Term Mangrove. & J. Nurkin. Bogor. Kuala Mepham. R.H.Afr. Cimanuk River Estuary.. Adv.W. 1985: 77. Warta Konservasi Lahan Basah. Studies in Ecology. 8. 2 No. Malaysia. Mann. A General Account of the Fauna and Flora of Mangrove Swamps and Forests in the Indo-West-Pacific Region. Departemen Kehutanan & FAO. Y. 1994.W. Melisch. S. Bogor. K. 1984: 231-240. 1923. C. Mepham. Situation and Outlook of the Forestry Sector in Indonesia. Pedoman Pembuatan Persemaian Jenis-Jenis Pohon Mangrove. Fakultas Kehutanan IPB. Laut Nusantara (Marine Nusantara). Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . E. J. Nontji. MacNae. Hutan Mangrove: Antara Nilai Ekonomi dan Fungsi Ekologi. Indonesia. 1984. Eenige bijzonderheden over mangrove.E. 1974. W. 1968.bosschen. 1985.R. Jakarta. Ch. UTF/INS/065/INS: Forestry Studies. 39-46. Dalam Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove. Some Notes on The Crustacean Fauna Around Mangrove Area of Pancer Balok. Blackwell Scientific Publications. 70-77.Restoration & Management. The Detritus Based Food Web of An Estuarine Mangrove Community. Lumpur. A. Ecology of Coastal Waters. 1984. 1: 265-268. mar. 1. Nirarita.W.

The Flora of the Malay Peninsula. M..M.L. A List of Wetland Plant Species of Peninsular Malaysia. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir & Laut IPB. Chihara. Laporan Penyigian Burung Air di Sumatera Selatan dan Jambi. A Field Guide to the Mammals of Borneo. Lim. M. N. Y. The Sabah Society with World Wildlife Fund Malaysia.H. H. Department of Forests.D. 96 hal. 285: 277-282. Hydrobiologia. and Economic Implications. Payne. Hal 1. Vol. Ehime University. Saenger. 67a. Wallaceana. Womersley. Francis & K.M. 4208 . Rusila Noor.N. 12. Phillipps. 1990. 1975. Intensive Prawn Farming in the Philippines: Ecological. IV Rusila Noor.A. the Enigmatic Mangrove. Ong. 1995. with particular reference to those having socio-economic value. E.. Japan. Value of Mangroves in Coastal Protection. 1988. London. 332 hal. 6 No..J. & A. Sibuea & Rudyanto. 1991. Monocotyledones. I. Reeve & Co. & J. J.S. 1924.257. 1985. editor. 8. Davie. Rusila Noor. Bogor. Skripsi. Primavera. West Java. 383 hal. Botany Bulletin No. Rancangan Rencana Pengelolaan Kawasan Segara Anakan. 74: 11-15. Bogor. Studi Populasi Burung Air Kaitannya dengan Usaha Konservasi di Daerah Pantai Indramayu dan Cirebon.. Percival. K. Bandung. Papua New Guines National Herbarium. Hegerl & J. PHPA/Asian Wetland Bureau. 3. 1998. J. Said. Th. Buku I Kondisi & Potensi Biofisik Kawasan. Milky Stork Banding at Pulau Rambut. Mangroves and Aquaculture. Floristics and Ecology of The Mangrove Vegetation of Papua New Guinea. Ambio. 1983. 1982. AWB publikasi no.E. C. 11: 252. 1993. P. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986.UNPAD. Biological System of Mangroves. SIS Newsletter Vol. Global Status of Mangrove Ecosystems. 20 (1): 28-33. IUCN Commission on Ecology Papers No. Social. Lae. 1991. 1994.Ogino. Kuala Lumpur. Ridley. Jurusan Biologi . Y. 1987. Ltd. 88 hal. Indonesia. The Systematic Position of Aegialitis.. 181 hal. Othman.S. Prakash. Ambio. J. Y. & M.

1989. Survey of Coastal Wetlands in Sumatra Selatan and Jambi. Verheught. Verheugt & J. Sasekumar. Field editor. 1992.C.J. Okinawa. Cambridge. E. 191-211. Iskandar.. Bogor. Notes on The Vegetation of The Tidal Areas of South Sumatra. Bogor. Coastal Wetlands Inventory of South East Sumatra.J. Savitri. International Society for Mangrove Ecosystems. A Survey Report and Compilation of Existing Information.U. Chong. Indonesia. Chong. Steeman. Kuala Lumpur.L. M. Hal. Indonesia. J. Silvius. Masalah Penentuan Batas Lebar Jalur Hijau Hutan Mangrove. 1987. 1987. 101 hal. Japan. 9. L. 4: 163-164. V. A Preliminary Compilation of Existing Information on Wetlands of Indonesia. M.J & W. Taufik. Status Ekosistem Hutan Mangrove dalam Kaitannya dengan Kepentingan Perikanan di Indonesia dan Kemungkinan Pengembangannya.. Kukila No. Silvius. Laporan PHPA . 1996. with Special Reference to Karang Agung. Hal. Indonesia.P.Samingan.J. The Indonesian Wetland Inventory. Silvius. EDWIN. M. M. Soewito. Ibises & Spoonbills in Indonesia. PHPA. Laporan Survey Sumatran Waterbird Laporan Studi ICBP No. I. PHPA-Asian Wetland Bureau. Sasekumar. 1989. Djuharsa & A. M. R. Hal 39. A & M. 1986.INTERWADER No. AWB/INTERWADER. Prosiding Seminar Tahunan ke12 the Malaysian Society of Marine Sciences. Hal. Berczy. Spalding. 1986. M.M. Audrey.C. E. 2 volume. & A. Dalam International Social Tropical Ecologi. M. M. M. W.T. Bogor.D. Jakarta. Jakarta.W. Taufik. M. 1984. Leh. F. The Status of Storks. 1107-1112.J. V. Blasco & C. Mangroves as a Habitat For Fish and Prawns. Hydrobiologia. 1999. Bogor.J. 247: 195-207. Silvius. Soerianegara. A.J. Indonesia. 1989. 2093 . Khazali. Conservation and Land-use of Kimaam Island. Prosiding Seminar III Ekosistem Mangrove. Wetlands International – Indonesia Programme. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir: Pengalaman Pengembangan Tambak Ramah Lingkungan dan Rehabilitasi Mangrove di Karangsong Indramayu.. 1.M. Silvius. The Sungai Pulai (Johor): A Unique Mangrove Estuary. 1980.D. World Mangrove Atlas. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. Leh & R. 121 & 268. A.T. hal 124-125..U. D’Cruz & M.. D’Cruz. A.

M. J. Longman Malaysia. Indië.I. van Steenis.K. van Steenis. Introduction to Account of the Rhizophoraceae by Ding Hou. V. Ser. Flora Malesiana. Natuurwetenschappelijk Tijdschrift voor Ned. Malayan Animal Life.H. Ser.F. Thurairaja. 79: 1-13. Plumbaginaceae. Biol. C. Bull. 1929. W. Chihara. 4210 . Ecol. 1989. & M. Verheugt. Prosiding the 8th Pacific Science Congress. Tomlinson.G. Landscape and Urban Planning.W. Cambridge University Press. 20: 85-94. 1994. 22: 1302-1332.G. Vol. The Terrestrial Mangrove Birds of Java. C.B. Coastal Resources Development Options in the Southeast Asia and Pacific Regions: Economic Valuation Methodologies and Applications in Mangrove Development.G. 5: 431. 14: 93-106. P.G. S. the Banyuasin Sembilang Swamps Case Study. Kustaanwas en Mangrove. M.J. van Steenis. Tweedie. Tanaka.M.K. U. Wada. 1954. Mus. Macroalgae in Indonesian Mangrove Forests. J. Integrating Mangrove and Swamp Forests Conservation with Coastal Lowland Development. Harrison. Hal 211-220. Wowor. IV: 61-97. een weinig bekende mangrove-boom. 134: 89-100. 1989. H. 37. van Bodegom. Natn. & D. 1987. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Management: Its Ecological and Economic Considerations’. South Sumatra Province. 12: 353-355. 237 hal.J. van Balen.Steup. 1991. hal.G. A.. Colonial Waterbirds.. I. 1949. 1988. Ser. W. Danielsen.L. 4: 107-112. BIOTROP Special Publication No. Flora Malesiana. C. 193-205. 1941. Purwoko. A. 26: 194-6. B.. 419 hal. 1957. 1936.G. 1986. Kadarisman. De Tropische Natuur. F. Tokyo. Maritime Studies. Sci.G. Cambridge. Skov & R. Mar. The Botany of Mangroves. & J..G. F. K. De vloedbosschen in het gewest Riouw en onderhoorigheden. Osbornia octodonta. Foraging on Mangrove Pneumatophores by Ocypodid Crabs. C. Outline of Vegetation Types in Indonesia and Some Adjacent Regions. Exp. Ecology of Mangroves. J.J. van Steenis. Tectona. Conservation Status and Action Program for the milky stork (Mycteria cinerea).J. Indonesia.441. 1958. Verheught.

Walker. Zieren. Hal 358. I. Indonesia. Dalimartha & A. H. T. Manila. Gajah Mada University Press. N. 1989. Maros. Gajah Mada University Press. ICLARM Technical Reports 25. Wijayakusuma. 1988. A. & S. H.. Wirian. Malayan Forest Records No. International Center for Living Aquatic Resources Management.T. 82 hal. Dalimartha & A.S. 1990.S. Wightman. Mangrove Forests of the Malay Peninsula. M. Tanaman Berkhasiat Obat Wijayakusuma. Y. Singapore. The Coastal Environmental Profile of Segara Anakan-Cilacap.. J. 2113 . Martosubroto & M. Wibowo. J. Whitten. S. Sulawesi Selatan.J. 1993. Rasyid. M. Jakarta. Yogyakarta. Saleh.M. E. Wibowo. The Ecology of Sulawesi. Wijayakusuma. 1973. Wirian. South Java. G. Whitten. Jawul Penelitian Budidaya Pantai. 275 hal. M. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid I. A. Yaputra & B. The Ecology of Sumatra.H.G. Wetlands of Sumba.. Rusila Noor.T. Hisyam. 1984. Flora of Okinawa and the Southern Ryukyu Islands. Damanik. H.. S. 1985. Sumber Benih Baru di Indonesia Timur untuk Menanggulangi Masalah Perkembangan Tambak. Beberapa Jenis Hasil Perairan Segara Anakan Cilacap yang telah Dimanfaatkan Penduduk Sekitarnya. Yaputra & B.. Mangroves of the Northern Territory. S. S. Pustaka Kartini. A. 1995. Pustaka Kartini. Jakarta.E. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. 583 hal. M.C. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-4.. Kuala Lumpur. & F. M. Yogyakarta. Wardoyo. Wijayakusuma. 6.M.Wahyuni. Conservation Commission of the Northern Territory. Watson. T. 132 hal. Sadorra. Jakarta. White.J. 1984. Philippines. Northern Territory Botanical Bulletin No. T. Henderson.. M. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-3. 1992. PHPA/AWB Bogor. East Nusa Tenggara. Palmerston. Oxford University Press. 1989. 1996. Australia. Mustafa & G. Jakarta. 1: 1-8. di Indonesia Jilid ke-2. P. 7. S.. 1976. 777 hal. Jakarta. Baltzer and N. Palms of Malaya. Pustaka Kartini. S. Federated Malay States Government. Anwar & N. Editor. 1928. Pustaka Kartini. Whitmore. M. S. H. Nuraini.J.

Daunnya tidak panjang dan lurus. Tumbuhan yang merambat ditanah. Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun. biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu. tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama. tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.GL OSSARY GEOGRAFIS Dunia lama (Old World) Pan-tropis (Pan-tropical) Eurasia dan Afrika Terdapat di seluruh daerah tropis di seluruh dunia KEBIASAAN HIDUP Hemi-parasit (Hemi-parasite) Tumbuhan yang sebagian hidupnya bergantung kepada inangnya. lurus dan biasanya tinggi. Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit. Dapat hidup tanpa inang. dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun. Tumbuhan yang hidupnya bergantung kepada inangnya. Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu. dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai. Parasit (Parasite) KELOMPOK TUMBUHAN Belukar (Shrub) Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar. biasanya memiliki bunga yang menyolok. Epifit (Epiphyte) Paku-pakuan (Fern) Palma (Palm) Pemanjat (Climber) Pohon (Tree) Terna (Herb) 4212 . namun tidak menyerupai rumput. tetapi mampu untuk melakukan fotosintesa sendiri. tidak bercabang sampai daun pertama. Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar. Tumbuhan yang memiliki kayu besar.

biasanya berfungsi untuk penunjang mekanis. Akar banir/papan (Buttress) Akar lutut (Knee root) Akar nafas (Pneumatophore) Akar Tunjang (Stilt-root) akar udara akar banir/papan akar lutut akar nafas akar tunjang Gambar bentuk-bentuk akar 2133 . muncul dari dalam tanah. pada kulitnya terdapat celah-celah kecil yang berguna untuk pernafasan.BATANG/KULIT KAYU Bercelah (Fissured) Getah (Latex) Hipokotil (Hypocotyl) Goresan yang dalam pada batang pohon atau kulit kayu. Akar berbentuk seperti papan miring yang tumbuh pada bagian bawah batang dan berfungsi sebagai penunjang pohon. Akar yang tumbuh dari batang diatas permukaan dan kemudian memasuki tanah. keluar dari batang. menggantung di udara dan bila sampai ke tanah dapat tumbuh seperti akar biasa. Akar yang muncul dari tanah kemudian melengkung ke bawah sehingga bentuknya menyerupai lutut. terbentuk dari epidermis. berupa struktur eksternal yang menyerupai piring. berukuran kecil dan hanya bisa terlihat baik dengan menggunakan kaca pembesar. Lentisel (Lenticel) Sisik (Scales) AKAR Akar udara (Aerial root) Struktur yang menyerupai akar. Beberapa kadang-kadang menyerupai struktur akar yang dimiliki oleh famili Rhizophoraceae. Tonjolan pada kulit yang memungkinkan udara luar memasuki jaringan di dalamnya. Bagian dari kecambah yang akan tumbuh menjadi pangkal batang yang akan berhubungan dengan pangkal akar. Akar yang tumbuhnya tegak. Cairan yang pekat seperti susu. Bentukan pada pohon yang berbentuk datar.

Tonjolan vaskular yang biasanya terlihat dari luar. bagian pangkal lebar dan bagian ujung runcing.DAUN Kelenjar (Gland) Ketiak (Axil) Meranggas (Deciduous) Anak/pinak daun (Leaflet) Selalu hijau (Evergreen) Tepi/sisi (Margin) Urat (Vein) Urat tengah (Midrib) Unit Sederhana/tunggal (Simple) Pada tangkai daun hanya terdapat satu helaian daun saja. posisi normal untuk tunas lateral. Majemuk (Compound) Susunan Berlawanan/berhadapan (Opposite) Bersilangan (Spiral/Alternate) Bentuk Bulat memanjang (Oblong) Panjang daun 2 – 3 kali lebarnya. Pada tiap buku-buku batang terdapat 2 daun yang berseberangan pada ranting. Bulat telur (Ovate) Bulat telur terbalik (Obovate) Elips (Elliptic) Lanset (Lanceolate) Bentuk daun melebar dibagian tengah. melebar dibagian tengah dan kedua ujungnya berukuran hampir sama. Bagian sisi dari daun. Pada tiap buku-buku batang hanya terdapat 1 daun. Panjang daun 3 – 5 kali lebarnya. kebanyakan berbentuk elips. misalnya pada permukaan daun. Bentuk daun seperti telur terbalik. Urat bagian tengah pada daun. Kelompok tumbuhan yang daunnya berguguran/rontok secara periodik (misalnya pada musim kering). Pada tangkai daun yang bercabang-cabang terdapat lebih dari satu helaian daun. Titik sudut antara sisi atas dan batang tempat daun. Struktur pada tumbuhan yang mengeluarkan cairan lekat atau berminyak. Bagian yang mirip daun pada daun majemuk. Tumbuhan yang berdaun sepanjang tahun. bagian pangkal dan ujung daun runcing. 4214 . Panjang daun 2 kali lebarnya.

berfungsi untuk menarik perhatian serangga penyerbuk. Merupakan terminologi yang digunakan untuk semua daun kelopak (sepal) pada bunga. Bagian terluar suatu bunga yang biasanya terdiri atas struktur seperti daun yang dalam tahap kuncup membungkus dan melindungi bagian-bagian bunga lainnya. Kelopak tambahan (Epicalyx) Mahkota bunga (Corolla) Daun mahkota (Petal) 2153 . Tumpul (Blunt) Ujung daun membentuk sudut yang tumpul. biasanya berwarnawarni untuk menarik perhatian serangga penyerbuk. Pinak daun yang terletak pada dasar bunga. BUNGA Daun kelopak (Sepal) Kelopak bunga (Calyx) Struktur berwarna hijau menyerupai daun atau hijaukekuningan.elliptic oblong lanceolate ovate obovate spathulate Gambar bentuk-bentuk daun Ujung Membundar (Rounded) Ujung daun membulat atau hampir tidak terbentuk sudut sama sekali. Istilah untuk seluruh daun mahkota pada bunga. Suatu struktur menyerupai daun yang terletak pada bagian dalam perhiasan bunga. diluar kelopak bunga. Meruncing (Pointed/Acute/ Ujung daun membentuk suatu sudut lancip atau ujung Acuminate) daun sempit memanjang dan runcing. terletak pada bagian luar perhiasan bunga.

Bagian organ betina pada bunga yang biasanya bersifat lengket. Pada bunga terdapat benang sari maupun putik. Butir tepung sari melengket disini dan kemudian berkecambah. 4216 . Berkelamin tunggal (Unisexual) Pada bunga terdapat hanya salah satu dari dua macam alat kelaminnya. Struktur yang terdapat pada ujung filamen dan terdiri atas dua bagian. putik benang sari Tangkai benang sari (Filament) Tepung sari (Pollen) Kepala putik (Stigma) Tangkai putik (Style) daun mahkota daun kelopak/ kelopak bunga dasar bunga tangkai bunga Gambar bunga dengan bagian-bagiannya Nektar/madu (Nectar) Berkelamin dua (Bisexual) Cairan manis. Bagian yang menunjang benang sari.Benangsari (Stamen) Kepala sari (Anther) Alat kelamin jantan. lekat yang dikeluarkan oleh tumbuhan. Gametofit jantan dari tumbuhan berbiji. dimana masing-masing bagian mengandung kantung tepung sari. Tiang jaringan langsing yang timbul dari jaringan bakal buah tempat tumbuh tabung tepung sari.

tandan atau batang. Hipokotil (Hypocotyl) 2173 . Bunga terletak atau muncul dari ketiak daun. Biji yang berkecambah dalam buah (misalnya pada banyak jenis Rhizophoraceae). sehingga anak bunganya duduk. tidak dalam kelompok. Bunga terletak atau muncul diujung cabang. yang pada beberapa tanaman berperan penting sebagai bahan makanan. Bakal daun didalam biji/biji benih yang kemudian berkembang menjadi daun pertama dari kecambah/ benih. sehingga bungan tidak terdapat pada ibu tangkainya. Bunga majemuk tidak terbatas. Malai/bergerombol acak (Panicle) Bunga majemuk yang ibu tangkainya bercabang-cabang dan cabang-cabangnya dapat bercabang lagi.Letak Di ketiak (Axillary) Di ujung (Terminal) Formasi Soliter (Solitary/Single) Payung (Umbrella) Bunga muncul secara tunggal. BUAH Spora (Spore) Vivipar (Viviparous) Keping benih (Cotyledon) Sel reproduksi dari tumbuhan ferna. Bentuk perbungaan dimana tangkai bunga utamanya panjang dan tangkai anak bunga sangat pendek. tangkai. demikian pula cabang-cabang yang terdapat di ibu tangkainya ditutupi suatu bunga diujungnya. Bulir (Spike) Berbatas/kelompok (cyme) Bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya ditutupi dengan suatu bunga. Bagian dari kecambah/benih yang terletak diantara bakal cabang dan bakal akar. dari ujung ibu tangkalnya mengeluarkan cabang-cabang yang sama panjangnya dan masing-masing cabang tersebut mempunyai 1 daun pelindung pada tangkalnya.

Bentuk Silinder (Cylindrical) Buah berbentuk seperti tongkat atau galah. terutama ditemukan pada Xylocarpus dan Sonneratia. Buah berbentuk seperti kacang dengan berbagai macam bentuk. terdapat dalam famili Rhizophoraceae (Bruguiera. Buah berbentuk seperti bola atau bulat. Ceriops dan Rhizophora). terutama ditemukan pada Avicennia. tangkai buah kelopak buah buah keping benih Bola/bulat (Ball) Kacang (Bean like) plumulae hipokotil radicle Gambar buah dengan bagian-bagiannya (Rhizophora apiculata) 4218 .

INDEKS A Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis 48 50 52 54 56 58 60 62 64 66 68 70 72 74 76 C Calophyllum inophyllum Calotropis gigantea 146 148 Camptostemon philippinense 90 Camptostemon schultzii Cerbera manghas Ceriops decandra Ceriops tagal Clerodendrum inerme 92 150 94 96 152 D Derris trifolia 154 E Excoecaria agallocha 98 F B Barringtonia asiatica Bruguiera cylindrica Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza Bruguiera hainessii Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula 144 78 80 82 84 86 88 Finlaysonia maritima 156 G Gymnanthera paludosa 100 H Heritiera globosa Heritiera littoralis Hibiscus tiliaceus 102 104 158 2193 .

I Ipomoea pes-caprae 160 R Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata 118 120 122 174 K Kandelia candel 106 Rhizophora stylosa Ricinus communis L Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa 108 110 S Sarcolobus globosa Scaevola taccada 124 176 Scyphiphora hydrophyllacea 126 M Melastoma candidum Morinda citrifolia 162 164 Sesuvium portulacastrum Sonneratia alba Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata 178 128 130 132 180 N Nypa fruticans 112 Stachytarpheta jamaicensis T O Osbornia octodonta 114 Terminalia catappa Thespesia populnea 182 184 P Pandanus odoratissima Pandanus tectorius Passiflora foetida Phemphis acidula Pongamia pinnata 166 168 170 116 172 X Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii 134 136 138 140 W Wedelia biflora 186 4220 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful