Panduan Pengenalan

MANGROVE
di Indonesia

Oleh: Yus Rusila Noor M. Khazali I N.N. Suryadiputra

Bogor, Oktober 2006

Ditjen. PHKA

Indonesia Programme

i3

This publication has been made possible with funding from the CY 98 Environment Component of the World Bank/Netherlands Partnership Programme, through the IUCN Regional Biodiversity Programme for South and Southeast Asia. Publikasi ini dibuat atas dukungan biaya dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998, lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara.

THE WORLD BANK

This publication is adapted from: Publikasi ini merupakan saduran dari: Giesen, W., Stephan Wulffraat, Max Zieren & Liesbeth Schoelten. A Field Guide of Indonesian Mangrove. WI-IP (in prep.).

Cetakan pertama tahun 1999

Pencetakan ulang (kedua) tahun 2006, didukung oleh:

Green Coast
For nature and people after the tsunami

Dibiayai oleh:

Pustaka: Rusila Noor, Y., M. Khazali, dan I N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP, Bogor.

4ii

© Wetlands International – Indonesia Programme, 1999 Hak cipta dilindungi Undang-undang ISBN: 979-95899-0-8

Desain dan tata letak: Triana Ilustrasi: Wahyu Gumelar dan Tilla Visser Foto: Hidayat S., I N.N. Suryadiputra, Jennifer Dudley, Kitamura, Marcel J. Silvius, Wendy Suryadiputra, Wim Giesen

Pendapat dan saran yang dikemukakan dalam buku ini adalah semata-mata pendapat dan saran dari penulis/ penyadur dan tidak selalu mencerminkan kebijakan resmi dari Wetlands International dan Ditjen PHKA.

iii3

baik karena beratnya buku-buku tersebut maupun harganya yang mahal. bagi yang ingin secara serius mempelajari mangrove haruslah mengacu kepada berbagai publikasi lainnya. yang sayangnya belum bisa segera diterbitkan karena kendala biaya. manfaat. dan bagian kedua secara spesifik menjelaskan jenis-jenis mangrove di Indonesia (di dalamnya meliputi cara mengidentifikasi.KATA PENGANTAR Indonesia dikarunia memiliki mangrove yang terluas di dunia dan juga memiliki keragaman hayati yang terbesar serta strukturnya paling bervariasi. Warisan alam yang sangat luar biasa ini memberikan tanggung jawab yang besar bagi Indonesia untuk melestarikannya. Oleh karena itu. Buku ini dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama berisikan tentang gambaran umum mangrove (di dalamnnya tercakup habitat. WI-IP telah menyelesaikan suatu manuskrip pengenalan mangrove Indonesia dalam Bahasa Inggris. 1975). saran dan kritik pemakai buku ini sangat diharapkan. sebaran serta kebijakan/peraturan tentang mangrove di Indonesia). 1989). sangat sedikit pustaka yang berhubungan dengan mangrove di Indonesia. Buku ini tidak ditujukan sebagai edisi akhir yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam identifikasi mangrove di Indonesia. Namun atas dukungan biaya oleh pihak sponsor (Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998) manuskrip tersebut kini telah berhasil disadur kedalam Bahasa Indonesia dengan beberapa tambahan dan perbaikan data. termasuk Flora Malesiana. Untuk melengkapi pustaka tersebut. kelimpahan serta manfaatnya bagi umat manusia). sekaligus memberikan kesempatan yang berharga bagi mereka yang bermaksud mempelajari dan menikmati habitat ini. hal ini dirasakan cukup menyulitkan dan kurang praktis. Untuk mengisi kekosongan tersebut. Penyadur 4iv 3iv . seperti untuk Malaysia (Watson. Tujuan ditulisnya buku ini adalah untuk memberikan suatu panduan sederhana pengenalan tumbuhan mangrove bagi mereka yang tertarik pada konservasi dan pengelolaan mangrove di Indonesia. akan tetapi banyak mengandung kelemahan. PNG (Percival & Womersley. dan Australia (Wightman. sehingga bagi yang ingin mempelajari mangrove Indonesia terpaksa harus mengacu kepada pustaka mengenai negara-negara tetangga. Namun. Meskipun dalam beberapa hal pustaka tersebut bermanfaat. baik karena beberapa jenis tidak terdapat di Indonesia atau karena titik berat pustaka tersebut hanya pada pohon dan belukar. ekologi. Hingga saat ini. 1928).

Indonesia Programme dibawah koordinator Laksmi A. Publikasi ini dapat diselesaikan berkat dukungan dana dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998.UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara. Penyadur kedua dan ketiga memperbaiki dan menambah informasi dan data terbaru yang lebih sesuai untuk edisi ini. Dr. sedangkan pendisainan dan tata letak dilakukan oleh Triana. Cecep Kusmana memberikan masukan yang sangat berharga dalam persiapan awal publikasi. Savitri. Ilustrasi hitam putih digambar oleh tangan terampil Wahyu Gumelar dan Tilla Visser.al. Atsuo Ida. Indonesia) Penyelesaian publikasi ini dilakukan oleh suatu tim dari Wetlands International . Max Zieren. v3 . Scott Perkin sebagai Ketua Program telah sangat berperan dalam memungkinkan penyaluran dana. Beberapa foto berwarna juga diambil dari Handbook of Mangroves in Indonesia (oleh Kitamura et. Silvius sangat berperanan dalam persiapan awal penerbitan buku ini serta menyediakan beberapa slide-nya untuk digunakan. untuk itu Dr. Jennifer Dudley dan Wendy Suryadiputra. Marcel J. Foto-foto berwarna diambil oleh para penyadur juga oleh Hidayat Sunarsyah. Dr. Penghargaan dan ucapan terima kasih akhirnya disampaikan kepada Wim Giesen. serta kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Wahyu Gumelar. Stephan Wulffraat. Liesbeth Schoelten dan tim produksi manuskrip Bahasa Inggris yang menjadi sumber utama publikasi ini. Penerjemahan dan penyaduran dari manuskrip Bahasa Inggris dilakukan oleh penyadur pertama.) yang diproduksi oleh JICA-ISME (1997) melalui ijin yang diberikan oleh pimpinan proyek mangrove JICA di Bali.

sehingga pengerjaan buku ini agak terbengkalai. Pada akhir 1993. berpusat di Okinawa.UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. pengerjaan kemudian dilakukan sedikit demi sedikit sampai kemudian Koordinator proyek lanjutan inipun.J Afriastini yang telah membantu identifikasi tumbuhan herbarium. Hennipman (Institute of Systematic Botany. Ellecom. dan Bea Tolboom yang telah mengumpulkan pustaka. Inggris) Banyak pihak yang terlibat dalam penyelesaian secara bertahap buku ini. Produksi buku ini pada awalnya didukung oleh Stichting FONA. E. Dra. Max Zieren. the International Society for Mangrove Ecosystems (ISME. Terima kasih juga disampaikan kepada staf perpustakaan Herbarium Bogor atas bantuan dan kesabarannya dalam memberikan pustaka yang diperlukan. Ellecom. Lebih dari itu. The Netherlands. Terakhir. berkenan untuk memberikan sumbangan dana yang memungkinkan dilanjutkannya proses penyelesaian akhir dan editing buku ini oleh penulis dan editor utamanya. Stichting Pro Natura. Wim Giesen. Jepang). Max van Balgooij (Rijkherbarium Leiden) dan Dr. Liesbeth Schoelten untuk ketekunan dan kemampuannya dalam memberikan pertelaan jenis. Yus Rusila Noor. 4vi 3vi . The Netherlands. terutama juga karena kurangnya dana pendukung. terima kasih tak terhingga untuk Herbarium Bogor dan Rijkherbarium Leiden yang telkah memberikan kemudahan untuk menggunakan koleksi herbariumnya. University of Utrecht. selama kurun waktu 1991 – 1993. The Netherlands). Tilla Visser untuk gambargambarnya yang luar biasa. khususnya Stephan Wulffraat (yang membuat daftar jenis dan memulai seluruh proses). J. Syukurlah. PHPA (sekarang PHKA) dan AWB (sekarang Wetlands International) sangat berterima kasih kepada sejumlah sukarelawan yang telah memberikan sumbangannya kepada penyelesaian buku ini. Terlepas dari masalah dana tersebut. Wim Giesen. The Netherlands dan Stichting Ludovica. meskipun penyelesaian buku ini sangat terlambat. termasuk Almarhum “Doc” Kostermans (Herbarium Bogor). Dr. sehingga dapat digunakan dalam pembuatan gambar buku ini. sayangnya harus meninggalkan Indonesia. Koordinator proyek yang pertama. Penyelesaian akhir buku ini kemudian dilanjutkan oleh Koordinator berikutnya. kami juga menghaturkan terima kasih kepada pihak luar yang teah memberikan komentar dan masukan yang sangat berharga. Cecillia Luttrell yang telah mencoba kunci identifikasi di lapangan dan memeriksa spesimen di lapangan. Kami sangat berterima kasih kepada para sponsor yang memberikan dukungan. harus meninggalkan Indonesia pada awal 1995. Arnhem.

2 Pemanfaatan mangrove Fungsi mangrove IV.3 Kondisi fisik Tipe vegetasi mangrove Fauna mangrove III.1 5.5 Pemetaan sumberdaya Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Peraturan yang berkaitan dengan konservasi mangrove Perkembangan terakhir vii3 .4 5.3 II.DAFTAR ISI Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Daftar Isi I.3 5. Inggris) iv v vi vii 1 1 1 3 5 5 8 12 17 17 21 23 23 27 30 30 31 33 34 35 Bagian I Habitat Mangrove 2.2 5.1 1.2 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Penyebab penurunan luas mangrove V.1 2.2 1. Status Mangrove Indonesia 4.1 3. Manfaat Mangrove 3.2 2. Indonesia) (Edisi B.1 4. Kebijakan dan Peraturan Menyangkut Mangrove 5. Apakah mangrove itu? Gambaran umum mangrove Indonesia Cakupan buku panduan (Edisi B. Pendahuluan 1.

4 7.2 7.1 6. Jenis mangrove.1 7.3 Mangrove dan sistem kawasan lindung Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Pemeliharaan keanekaragaman hayati mangrove 37 37 39 41 43 43 43 44 45 45 46 VII.2 6.VI.5 7. nama lain/sinonim. sumber gambar & foto Lampiran 2.6 Pustaka penting Petunjuk untuk pengamatan lapangan Spesimen tumbuhan mangrove Studi vegetasi Studi fauna Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Lampiran Lampiran 1.3 7. Areal Mangrove yang Dilindungi 6. Beberapa Petunjuk Studi Mangrove bagi Pemula 7. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan Daftar Pustaka Glosari Indeks 190 198 201 212 219 Bagian II JENIS-JENIS MANGROVE SEJATI JENIS-JENIS MANGROVE IKUTAN 47 143 4 3 viii .

5% (Spalding. Dalam beberapa hal.1 Apakah mangrove itu ? Asal kata “mangrove” tidak diketahui secara jelas dan terdapat berbagai pendapat mengenai asal-usul katanya. Scyphyphora dan Nypa. Excoecaria. 1994) sampai 41. dkk. luas mangrove diperkirakan antara 32 % (Thurairaja. bahkan Groombridge (1992) menyebutkan 19. isitilah “mangrove” secara umum digunakan mengacu pada habitat. dan terdiri atas jenis-jenis pohon Aicennia. Sonneratia. menurut Wightman (1989) yang lebih penting untuk diketahui pada saat bekerja dengan komunitas mangrove adalah menentukan mana yang termasuk dan mana yang tidak termasuk mangrove. Dalam buku panduan ini. termasuk jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di pinggiran mangrove seperti formasi Barringtonia dan formasi Pes-caprae. Rhizophora. Ceriops.2 Gambaran umum mangrove Indonesia Perkiraan luas mangrove di seluruh dunia sangat beragam. PENDAHULUAN 1. 1. 1988) menyebutkan bahwa luas mangrove di seluruh dunia adalah sekitar 15 juta hektar. Untuk kawasan Asia. Beberapa ahli mendefinisikan istilah “mangrove” secara berbeda-beda. dkk (1997) menyebutkan 18. Bruguiera. Sementara itu Soerianegara (1987) mendefinisikan hutan mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Sementara itu. Beberapa peneliti seperti Lanly (dalam Ogino & Chihara. Aegiceras. dkk.I. 1983). sedangkan Spalding. 1997) mangrove dunia. Xylocarpus. 13 .1 juta hektar. Macnae (1968) menyebutkan kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur. namun pada dasarnya merujuk pada hal yang sama. Lumnitzera. Tomlinson (1986) dan Wightman (1989) mendefinisikan mangrove baik sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas.9 juta hektar. Dia menyarankan seluruh tumbuhan vaskular yang terdapat di daerah yang dipengaruhi pasang surut termasuk mangrove. istilah “mangrove” digunakan untuk jenis tumbuhannya. Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung (Saenger. Pada dasarnya.

seperti kondisi tanah yang tergenang. mangrove di Indonesia lebih bervariasi bila dibandingkan dengan daerah lainnya. 44 jenis herba tanah. perkembangan yang paling pesat tercatat di daerah tersebut. mangrove tumbuh dan berkembang dengan baik pada pantai yang memiliki sungai yang besar dan terlindung. Ceriops dan Rhizophora. beberapa jenis mangrove berkembang dengan buah yang sudah berkecambah sewaktu masih di pohon induknya (vivipar). Mangrove terluas terdapat di Irian Jaya sekitar 1. seperti Kandelia. 5 jenis palma. 42 .3 juta ha). 43 jenis (diantaranya 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai mangrove sejati (true mangrove). sementara yang lainnya mengembangkan sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya.5 juta hektar. Bina Program INTAG.2 meter pada pantai yang tergenang air laut. Sejauh ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis tumbuhan mangrove. 19 jenis pemanjat.Di Indonesia perkiraan luas mangrove juga sangat beragam. sementara itu di sepanjang sungai yang memiliki kadar salinitas yang lebih rendah umumnya ditemukan Nypa fruticans dan Sonneratia caseolaris. Dapat ditemukan mulai dari tegakan Avicennia marina dengan ketinggian 1 . Dengan kondisi lingkungan seperti itu. 44 jenis epifit dan 1 jenis paku. Walaupun mangrove dapat tumbuh di sistem lingkungan lain di daerah pesisir. dkk. beberapa jenis mangrove mengembangkan mekanisme yang memungkinkan secara aktif mengeluarkan garam dari jaringan. hingga tegakan campuran BruguieraRhizophora-Ceriops dengan ketinggian lebih dari 30 meter (misalnya. dapat ditemukan Sonneratia alba dan Avicennia alba.300 ha (19%) (Dit.97 juta ha) (Spalding. Dengan areal seluas 3. Indonesia merupakan tempat mangrove terluas di dunia (18 . Dit. Dari 202 jenis tersebut. Saenger. sementara jenis lain ditemukan disekitar mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove ikutan (asociate asociate). dkk (1983) mencatat sebanyak 60 jenis tumbuhan mangrove sejati.200 ha (28 %) dan Sumatera 673. Di seluruh dunia.23%) melebihi Brazil (1. Umumnya tegakan mangrove jarang ditemukan yang rendah kecuali mangrove anakan dan beberapa jenis semak seperti Acanthus ilicifolius dan Acrostichum aureum. Dengan demikian terlihat bahwa Indonesia memiliki keragaman jenis yang tinggi. Di daerahdaerah ini dan juga daerah lainnya. Umumnya mangrove dapat ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia (Gambar 1). 1996). Bruguiera. Kalimantan 978. Bina Program INTAG (1996) menyebutkan 3. Dalam hal struktur. Dalam hal lain. Di daerah pantai yang terbuka. dkk (1997) menyebutkan seluas 4. 1997). Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ekstrim.600 ha (38%).5 juta hektar (dalam buku panduan ini).1 juta ha) dan Australia (0. kadar garam yang tinggi serta kondisi tanah yang kurang stabil.5 juta hektar dan Spalding.350. Giesen (1993) menyebutkan luas mangrove Indonesia 2. meliputi 89 jenis pohon. Nigeria (1.5 juta hektar. di Sulawesi Selatan).

khususnya berkenaan dengan dosis yang akan dipakai. dkk. Dalam bagian pertama ini juga disajikan informasi mengenai manfaat yang dapat digali dari mangrove. Inti dari buku panduan ini terdapat pada bagian dua. jenis mangrove yang dideskripsikan hanya mencakup 60 jenis.H. M. Bagian pertama berupa pendahuluan dan pengenalan terhadap mangrove secara umum. Selain itu..3 Cakupan buku panduan Buku panduan ini terdiri dari dua bagian. serta uraian mengenai habitat mangrove. Dibagian ini ditampilkan panduan identifikasi jenis-jenis tumbuhan mangrove disertai ilustrasi dan/atau foto. termasuk beberapa uraian singkat mengenai tanah. disajikan panduan ringkas mengenai tekhnik dasar penelitian mangrove serta daftar nama dan alamat organisasi penting yang bergerak dibidang penelitian dan pengelolaan mangrove di Indonesia. 1992). tipe vegetasi serta faunanya. status dan kondisi mangrove di Indonesia dibandingkan dengan bagian dunia lainnya. namun pembaca diharapkan untuk berhati-hati dalam pemanfaatannya. meliputi 43 jenis mangrove sejati dan 17 jenis mangrove ikutan. 1. para pembaca sangat dianjurkan untuk mengacu buku-buku lain yang khusus membahas jenis-jenis tanaman obat (misalnya Wijayakusuma. dilampirkan beberapa peta yang berkaitan dengan penyebaran mangrove dan kawasan lindung mangrove yang penting di Indonesia dan panduan ringkas bergambar identifikasi mangrove. juga diuraikan informasi mengenai peraturan serta perundang-undangan mengenai mangrove di Indonesia. termasuk definisi mengenai mangrove.Seluruh jenis mangrove tersebut telah dideskripsikan dalam manuskrip Bahasa Inggris dari panduan ini. 33 . Dalam panduan edisi Bahasa Indonesia ini. Untuk mereka yang bermaksud melakukan penelitian mengenai mangrove. Meskipun pada bagian dua tercantum juga aspek manfaat dari mangrove sebagai obatobatan. Untuk hal demikian. Selain itu.

44 Gambar 1. Peta penyebaran mangrove di Indonesia .

1981) menyatakan bahwa hal tersebut berkaitan erat dengan tipe tanah (lumpur. 1958). Stylosa pada salinitas 55 o/oo. marina mampu tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90 o/oo (MacNae. 1976a). Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. 1989). terutama di daerah dimana endapan lumpur terakumulasi (Chapman. pohon tumbuh kerdil dan kemampuan menghasilkan buah hilang. kerang dan bagian-bagian dari Halimeda (Ding Hou. R. Pada kondisi tertentu.1968). Jenis-jenis Sonneratia umumnya ditemui hidup di daerah dengan salinitas tanah mendekati salinitas air laut. Amerika Serikat (Chapman. salinitas serta pengaruh pasang surut. 1976a). caseolaris yang tumbuh pada salinitas kurang dari 10 o/oo. kecuali S. 1977 & Bunt & Williams. Avicennia merupakan marga yang memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lainnya. stylosa dan Sonneratia alba tumbuh pada pantai yang berpasir. bahkan pada pulau karang yang memiliki substrat berupa pecahan karang. Kint (1934) melaporkan bahwa di Indonesia. Substrat mangrove berupa tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi (62%) juga dilaporkan ditemukan di Kepulauan Seribu. Pada salinitas ekstrim. Beberapa ahli (seperti Chapman. 1977). Beberapa jenis lain juga dapat tumbuh pada salinitas tinggi seperti Aegiceras corniculatum pada salinitas 20 – 40 o/oo. HABITAT MANGROVE 2. Sulawesi Selatan. 1991). dkk. Di Indonesia. atau bahkan pada pantai berbatu. Ceriops tagal pada salinitas 60 o/oo dan pada kondisi ekstrim ini tumbuh kerdil. bahkan Lumnitzera racemosa dapat tumbuh sampai salinitas 90 o/oo (Chapman. Rhizopora mucronata dan R. 1934). dimana mangrove tumbuh pada gambut dalam (>3m) yang bercampur dengan lapisan pasir dangkal (0.1 Kondisi fisik Vegetasi mangrove secara khas memperlihatkan adanya pola zonasi (misalnya terlihat dalam Gambar 2). substrat berlumpur ini sangat baik untuk tegakan Rhizophora mucronata and Avicennia marina (Kint. A. Di Indonesia. Sebagian besar jenis-jenis mangrove tumbuh dengan baik pada tanah berlumpur. Jenis-jenis Bruguiera umumnya tumbuh pada 53 . sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya.II.5 m) (Giesen. Teluk Jakarta (Hardjowigeno. pasir atau gambut). Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. Jenis-jenis lain seperti Rhizopora stylosa tumbuh dengan baik pada substrat berpasir. mangrove dapat juga tumbuh pada daerah pantai bergambut. 1966. misalnya di Florida. kondisi ini ditemukan di utara Teluk Bone dan di sepanjang Larian – Lumu. Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya. keterbukaan (terhadap hempasan gelombang).

MacNae (1968) menyebutkan bahwa kadar salinitas optimum untuk B. panjang hamparan mangrove kadang-kadang mencapai puluhan kilometer seperti di Sungai Barito. gymnorrhiza adalah 10 – 25 o/oo. dkk. parviflora adalah 20 o/oo. 1978a). pemasukan dan pengeluaran material kedalam dan dari sungai. Adapun pada daerah pantai yang tererosi dan curam. Pada umumnya.daerah dengan salinitas di bawah 25 o/oo. Di Indonesia. 1989). lebar zona mangrove jarang melebihi 50 meter. Beberapa penulis melaporkan adanya korelasi antara zonasi mangrove dengan tinggi rendahnya pasang surut dan frekuensi banjir (van Steenis. sementara B. sedangkan areal yang digenangi hanya pada saat pasang tertinggi (hanya beberapa hari dalam sebulan) umumnya didominasi oleh Bruguiera sexangula dan Lumnitzera littorea. Untuk daerah di sepanjang sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut. kecuali pada beberapa estuari serta teluk yang dangkal dan tertutup. yang mana areal ini lebih ke daratan. serta kecuramannya. Kalimantan Selatan. Areal yang digenangi oleh pasang sedang didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora. Zona vegetasi mangrove nampaknya berkaitan erat dengan pasang surut. 1990) atau bahkan lebih dari 30 kilometer seperti di Teluk Bintuni. 1958 & Chapman. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt. umumnya didominasi oleh jenisjenis Bruguiera dan Xylocarpus granatum. Irian Jaya (Erftemeijer. areal yang selalu digenangi walaupun pada saat pasang rendah umumnya didominasi oleh Avicennia alba atau Sonneratia alba. Panjang hamparan ini bergantung pada intrusi air laut yang sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pasang surut. Pada daerah seperti ini lebar zona mangrove dapat mencapai 18 kilometer seperti di Sungai Sembilang. Adapun areal yang digenangi hanya pada saat pasang tinggi. lebar zona mangrove jarang melebihi 4 kilometer. 46 .

Gambar 2. 1989). Aa Ac Bc Bg Bp Ct - Avicennia alba Aegiceras corniculatum Bruguiera cylindrica B. mucronata Sarcolobus banksii Xylocarpus granatum 73 . dkk. gymnorrhiza B. Jawa Tengah (diadaptasi dari White. Contoh zonasi mangrove di Cilacap. parviflora Ceriops tagal Dh Ra Rm Sb Xg - Derris heterophylla Rhizophora apiculata R.

Xylocarpus granatum dan X. Van Steenis (1958) melaporkan bahwa S. B. eriopetala. S. b) Mangrove tengah Mangrove di zona ini terletak dibelakang mangrove zona terbuka. Gluta renghas. di zona ini didominasi oleh S. Di jalur-jalur tersebut sering sekali ditemukan tegakan N. alba. Namun. seperti di Pulau Kaget dan Pulau Kembang di mulut Sungai Barito di Kalimantan Selatan atau di mulut Sungai Singkil di Aceh.2. Maluku. komunitas N. sementara Avicennia marina dan Rhizophora mucronata cenderung untuk mendominasi daerah yang lebih berlumpur (Van Steenis. Komiyama. alba merupakan jenis-jenis ko-dominan pada areal pantai yang sangat tergenang ini. Samingan (1980) menemukan di Karang Agung didominasi oleh Bruguiera cylindrica. Meskipun demikian. Di Karang Agung. mucronata. Jenis-jenis penting lainnya yang ditemukan di Karang Agung adalah B.fruticans yang bersambung dengan vegetasi yang terdiri dari Cerbera sp. fruticans terdapat pada jalur yang sempit di sepanjang sebagian besar sungai. alba dan A.Nypa lebih sering ditemukan. Sumatera Selatan. di zona ini didominasi oleh Sonneratia alba yang tumbuh pada areal yang betul-betul dipengaruhi oleh air laut. 1993). Di zona ini biasanya didominasi oleh komunitas Nypa atau Sonneratia. daerah yang memiliki sungai berair payau sampai hampir tawar. 1991). Sonneratia caseolaris lebih dominan terutama di bagian estuari yang berair hampir tawar (Giesen & van Balen. Komposisi floristik dari komunitas di zona terbuka sangat bergantung pada substratnya. Sonneratia akan berasosiasi dengan Avicennia jika tanah lumpurnya kaya akan bahan organik (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. 1958).2 Tipe vegetasi mangrove Struktur Secara sederhana. dkk (1988) menemukan bahwa di Halmahera. Stenochlaena palustris dan Xylocarpus granatum. alba cenderung untuk mendominasi daerah berpasir. c) Mangrove payau Mangrove berada disepanjang sungai berair payau hingga hampir tawar. gymnorrhiza. Excoecaria agallocha. moluccensis. a) Mangrove terbuka Mangrove berada pada bagian yang berhadapan dengan laut. R. Di sebagian besar daerah lainnya. mangrove umumnya tumbuh dalam 4 zona. Di zona ini biasanya didominasi oleh jenis Rhizophora. yaitu pada daerah terbuka. Samingan (1980) menemukan bahwa di Karang Agung. daerah tengah. serta daerah ke arah daratan yang memiliki air tawar. 48 . Ke arah pantai. campuran komunitas Sonneratia .

1983). N. terdapat perbedaan dalam hal keragaman jenis mangrove antara satu pulau dengan pulau lainnya. Cyperaceae. 142 jenis di Irian Jaya. Lumnitzera racemosa. Amerika Timur/Karibea dan Afrika Barat hanya memiliki 7 jenis serta Afrika Timur 9 jenis (Saenger. dan Xylocarpus moluccensis (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Banyak formasi serta zona vegetasi yang tumpang tindih dan bercampur serta seringkali struktur dan korelasi yang nampak di suatu daerah tidak selalu dapat diaplikasikan di daerah yang lain. namun kenyataan di lapangan tidaklah sesederhana itu. Zona ini memiliki kekayaan jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan zona lainnya. fruticans. Pengecualian untuk Pulau Jawa. 157 jenis di Sumatera. Tabel 1 memberikan gambaran mengenai penyebaran seluruh jenis mangrove sejati di 6 negara di kawasan Samudera Hindia bagian utara/Pasifik barat laut. akan tetapi sebagian besar dari jenis-jenis yang tercatat berupa jenis-jenis gulma (seperti Chenopodiaceae. Dari 202 jenis mangrove yang telah diketahui. 1993). Jenis-jenis yang umum ditemukan pada zona ini termasuk Ficus microcarpus (F. akan tetapi juga untuk taxa yang lainnya. 133 jenis di Maluku dan 120 jenis di Kepulauan Sunda Kecil. Meskipun daftar ini mungkin tidak terlalu komprehensif. Intsia bijuga. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman jenis mangrove yang paling tinggi di dunia. meskipun memiliki keragaman jenis yang paling tinggi. Selain itu. Flora & keragamannya Kawasan Samudera India bagian utara dan Pasifik barat daya (memanjang dari Laut Merah sampai Jepang dan Indonesia) merupakan tempat keanekaragaman jenis mangrove tertinggi di dunia. Sementara di kawasan Amerika Barat/Pasifik Timur. 135 jenis di Sulawesi. penelitian mangrove lebih intensif dilakukan di pulau ini dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya.d) Mangrove daratan Mangrove berada di zona perairan payau atau hampir tawar di belakang jalur hijau mangrove yang sebenarnya. Pandanus sp. Dari 50 jenis mangrove sejati yang ada. dkk (1983) mencatat dua kawasan tersebut mewakili masing-masing 44 dan 38 jenis dari 60 jenis mangrove sejati yang tercatat di dunia. akan tetapi dapat memberikan gambaran urutan penyebaran jenis mangrove di pulau-pulau Indonesia. setidaknya tercatat 40 jenis berada di Indonesia. Kekayaan tersebut tidak hanya dalam hal kelompok tumbuhan Angiospermae. Saenger. Tanaka dan Chihara (1988) dalam penelitiannya mengenai makroalga di Indonesia Timur menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat penyebaran makroalga di dunia yang berasosiasi dengan tumbuhan mangrove. 150 jenis di Kalimantan. dkk. Satu hal yang harus 93 . retusa). 166 jenis terdapat di Jawa. Poaceae). Di Indonesia sendiri. Meskipun kelihatannya terdapat zonasi dalam vegetasi mangrove.

tagal + Cynometra ramiflora + Excoecaria agallocha + Heritiera fomes + H. Hal ini berarti jenis-jenis yang tercatat dalam daftar diatas kemungkinan sebenarnya sudah tidak ditemukan di pulau tertentu. sexangula Campnosperma philippinensis C. volubilis Aegilitis annulata A.. marina + A. floridum Avicennia alba + A.diperhatikan adalah bahwa pembangunan yang mengakibatkan kerusakan dan peralihan peruntukan lahan mangrove telah terjadi di mana-mana. 1983) Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P. schultzii Ceriops decandra + C. eucalyptifolia A. hainesii B. dkk.N. Tabel 1. litoralis + + + + + + + + + + + + + + + ?+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 410 . integra A. lanata A. Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Acanthus ebracteatus + A.G. ilicifolius + A. exaristata B. intermedia A. retundifolia + Aegiceras corniculatum + A. gymnorrhiza + B. officinalis + A. parviflora + B. rumphiana Bruguiera cylindrica + B. Penyebaran jenis-jenis mangrove sejati di kawasan Indo-Australia (Saenger.

Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Kandelia candel Lumnitzera littorea L. Tomlinson & Womersley (1976) : Tomlinson & Womersley (1976). mekongensis X.N. lamarckii R. recemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phoenix paludosa Rhizophora apiculata R. ovata Xylocarpus australasicus X. caseolaris S. apetala S. parvifolius J UM L A H Referensi: India Bangladesh Vietnam Indonesia Papua New Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 27 19 30 39 33 28 : Chaudhuri & Choudhury (1994) : Das & Siddiqi (1985) : Hong & Sen (1993) : Publikasi ini Guinea : Percival & Womersley (1975). stylosa Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S. moluccensis X. griffithii S.G. mucronata R.Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P. Wightman (1989) 113 . granatum X.

Dua diantaranya. Moluska sangat banyak ditemukan pada areal mangrove di Indonesia. 2. sehingga memerlukan pengelolaan khusus untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Jenis-jenis tersebut adalah Amyema anisomeres. A. sehingga berstatus rentan dan memerlukan perhatian khusus untuk pengelolaannya. Quassia indica. Eleocharis spiralis dan Scirpus litoralis. yaitu Ixora timorensis (Rubiaceae) yang merupakan jenis tumbuhan kecil yang diketahui berada di Pulau Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil. sehingga secara global tidak memerlukan pengelolaan khusus. Empat jenis sisanya berstatus langka secara global. Beberapa dari 91 jenis kelompok moluska tersebut diketahui hidup di dalam tanah. hanya satu terkoleksi). Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena buah mangrove mudah terbawa oleh gelombang dan tumbuh di tempat lain. anisomeres dan N.acutifolia hanya terkoleksi satu kali. Maluku. Sporobolus virginicus. Bagi berbagai jenis ikan dan udang. Jenis-jenisnya adalah Ceriops decandra. masih terdapat 2 jenis endemik lainnya (mangrove ikutan). jenis-jenis yang bersifat langka dan endemik haruslah diberi perhatian lebih. Oberonia rhizophoreti. Scyphiphora hydrophyllacea. akan tetapi juga sering mengunjungi daerah mangrove. Jenis-jenis tersebut adalah Eleocharis parvula. sementara yang lainnya ada yang hidup di permukaan 412 . Jumlah tersebut termasuk 33 jenis yang biasanya terdapat pada karang. Kandelia candel dan Nephrolepis acutifolia. sehingga hanya diketahui tipe setempat saja. Sonneratia ovata. perairan mangrove merupakan tempat ideal sebagai daerah asuhan.Jenis tumbuhan langka dan endemik Untuk kepentingan konservasi serta pengelolaan sumberdaya alam. Selain Amyema anisomeres (mangrove sejati). Lima jenis yang langka di Indonesia tetapi umum di tempat lainnya. tempat mencari makan dan tempat pembesaran anak. reptilia dan burung. di Indonesia terdapat 14 jenis mangrove yang langka. mangrove juga merupakan tempat berkembang biak bagi burung air. Selain sebagai tempat berlindung dan mencari makan. Hanya sedikit jenis mangrove yang bersifat endemik di Indonesia. Rhododendron brookeanum (dari 2 sub-jenis. yaitu: Lima jenis umum setempat tetapi langka secara global. Dalam hal kelangkaan. serta Rhododendron brookeanum (Ericaceae) yang merupakan epifit berkayu yang diketahui berada di Sumatera dan Kalimantan. Fimbristylis sieberiana. Budiman (1985) mencatat sebanyak 91 jenis moluska hanya dari satu tempat saja di Seram.3 Fauna mangrove Mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa liar seperti primata.

1984) mencatat sebanyak 28 jenis krustasea. 1984). Dalam kaitannya dengan makanan. dan Ambasis buruensis (Erftemeijer. Sasekumar. Metaplax. sebagai contoh Giesen. dkk (1991) mencatat sebanyak 14 jenis udang termasuk Macrobrachium (8 jenis). Mangrove juga merupakan habitat penting bagi berbagai jenis krustasea lainnya. mangrove juga merupakan tempat pembesaran anak-anak ikan. Malaysia. Giesen. Lebih dari 100 jenis kepiting mangrove diketahui hidup di Malaysia dan 76 jenis di Singapura. Hal yang sama dapat dilihat di Segara Anakan. Liza subvirldis. Di lokasi lain.70 ekor kepiting (Macintosh. 1993). khususnya jenis-jenis penggali dari genus Cleistocoeloma. termasuk berbagai jenis udang-udangan yang memiliki nilai komersial penting. 1984). Butis butis. Burhanuddin (1993) mencatat sebanyak 62 jenis ikan hidup di daerah mangrove di Pulau Panaitan. tercatat lebih dari 60 % ikan yang tertangkap merupakan ikan muda (Wahyuni. dkk (1992) mencatat sebanyak 119 jenis ikan hidup pada sungai-sungai kecil di daerah mangrove di Selangor. 1989).dan ada pula yang hidup menempel pada tumbuh-tumbuhan. Taman Nasional Ujung Kulon. Beberapa jenis ikan yang ditemukan di areal mangrove antara lain Tetraodon erythrotaenia. sedangkan 133 . Kepiting juga umum ditemukan di daerah mangrove. sementara Budiman (1988) menemukan 40 jenis di Halmahera. khususnya ikan predator. Sebagai tempat pemijahan. Teluk Jakarta. seperti kepiting dan serangga. Ilyoplax. keragaman jenis moluska tidak sebanyak di Seram. Ikan menjadikan areal mangrove sebagai tempat untuk pemijahan. Dua jenis yang paling umum ditemukan adalah Thalassina anomala dan Uca dussumieri. dkk (1991) mencatat 74 jenis moluska pada mangrove di Sulawesi Selatan. Macrophthalmus. Sayangnya. 1989). Kepiting Mangrove Scylla serrata merupakan kepiting yang hidup di daerah mangrove yang bernilai ekonomi tinggi (Delsman. Pilonobutis microns. yang sebagian besar diantaranya merupakan anakan. hutan mangrove menyediakan makanan bagi ikan dalam bentuk material organik yang terbentuk dari jatuhan daun serta berbagai jenis hewan invertebrata. Sebanyak 24 jenis dari 40 jenis yang ditemukan Budiman (1988) merupakan jenis-jenis yang hidup di daerah mangrove. Giesen. Di Indonesia. Metapeneus (2 jenis) dan Palaemonetes (2 jenis) pada mangrove di Sulawesi Selatan. dimana sebagian besar diantaranya masih berupa anakan. sehingga dapat dikatakan sebagian besar dari jenis-jenis moluska tersebut hidup di daerah mangrove. Toro (dalam Manuputty. dkk. areal mangrove berperan penting karena menyediakan tempat naungan serta mengurangi tekanan predator. habitat permanen atau tempat berbiak (Aksornkoae. dkk. dkk (1991) mencatat sebanyak 28 jenis kepiting di mangrove Sulawesi Selatan didominasi oleh genus Sesarma dan Uca. dkk (1992) mencatat sebanyak 9 jenis udang di sungai-sungai kecil di mangrove Selangor. dkk. Sesarma dan Uca (Wada & Wowor. Sasekumar. pengetahuan mengenai kepiting mangrove di Indonesia sangat sedikit sekali dipelajari. termasuk 8 jenis udang pada habitat mangrove di Pulau Pari. Dari setiap meter persegi dapat ditemukan 10 . 1989 & Sasekumar. 1972). Malaysia. Selain itu. Ikan yang dominan ditemukan adalah Mugil cephalus yang bersifat herbivora.

Ikan gelodok (Periopthalmus spp. biawak (Varanus salvator). Verheught.. Ular tambak (Cerberus rhynchops). terutama karena minimnya gangguan yang ditimbulkan oleh predator.jenis-jenis lain yang juga umum ditemukan adalah Caranx kalla. purpureomaculatus (MacNae. Keng & Tat-Mong. limnocharis (MacNae. beberapa daerah lain di Kalimantan. Rusila 1991. mangrove menyediakan tenggeran serta sumber makanan yang berlimpah. dkk. 1989. Lutjanus fulviflamma dan Plotosus canius yang bersifat karnivora. seperti kelompok burung Raja Udang (Alcedinidae). yaitu Rana cancrivora and R. Mangrove tidak hanya sebagai tempat perhentian. ular air (Enhydris enhydris). Maluku bahwa sebagian besar serangga yang ditemukan berasal dari ordo Hymenoptera. Bagi berbagai jenis burung air migran (khususnya Charadriidae dan Scolopacidae). Jenis-jenis burung yang hidup di daerah mangrove tampaknya tidak terlalu berbeda dengan jenis-jenis yang hidup di daerah hutan sekitarnya. akan tetapi juga sebagai tempat perlindungan dan mencari makan. Scartelaos spp. Diptera and Psocoptera. 1988 dan Rusila 1987) dan Pantai Barat Sulawesi Selatan (Baltzer. Bagi jenis-jenis pemakan ikan. Giesen. Giesen. 1968). serta Toxotes jaculator yang bersifat insektivora. Balen (1988) mencatat sebanyak 167 jenis burung terestrial di hutan mangrove Pulau Jawa. daerah mangrove menyediakan ruang yang memadai untuk membuat sarang. Bagi beberapa jenis burung air.. 1991. 1993). akan tetapi masih diperlukan survey yang lebih mendalam untuk membuktikan hal tersebut. Meskipun demikian. 1990 dan Giesen. 1968) merupakan ikan yang sering sekali terlihat “berenang” pada genangan air berlumpur atau menempel pada akar mangrove. ular mangrove (Boiga dendrophila). mangrove memainkan peranan yang sangat penting dalam migrasi mereka. dijelaskan oleh Abe (1988) dalam penelitiannya di Halmahera. Jenis-jenis Reptilia yang umum ditemukan di daerah mangrove di Indonesia diantaranya adalah buaya muara (Crocodylus porosus). Sulawesi dan Irian kemungkinan juga merupakan lokasi-lokasi yang penting. dkk (1993) menemukan sebanyak 120 jenis burung (atau 414 . Sementara itu. Mereka menggunakan mangrove sebagai habitat untuk mencari makan. berbiak atau sekedar beristirahat. Trimeresurus wagler dan T. MacNae. Sangat sedikit sekali Amphibia dapat ditemukan bertahan hidup pada lingkungan yang berair asin seperti lingkungan mangrove. termasuk serangga. 2 jenis amphibia telah diketahui dapat bertahan hidup pada lingkungan demikian.). 1989. Holocentrum rubrum. merupakan 34 % dari seluruh jenis burung yang telah tercatat di Pulau Jawa (Andrew. 1992). Beberapa lokasi yang sangat penting bagi burung bermigrasi diantaranya adalah Pantai Timur Sumatera (Danielsen & Verheugt. Untuk kelompok Arthropoda terbang yang hidup di mangrove. Bangau (Ciconiidae) atau Pecuk (Phalacrocoracidae). 1968. seperti Kuntul (Egretta spp). Seluruh jenis reptilia tersebut dapat juga ditemukan pada lingkungan air tawar atau di daratan. Pantai Utara Jawa (Erftemeijer & Djuharsa. 1991).

1987). dkk. Jambi dan Riau) dan beberapa kawasan hutan bakau di Delta Sungai Brantas dan Bengawan Solo. Jenis ini telah dianggap sebagai salah satu jenis bangau yang paling terancam di seluruh dunia (Verheught. seluruhnya di Sumatera Selatan (Danielsen.Ciconiidae). Di Sulawesi Selatan.Cuculidae). dkk (1991) menemukan 64 jenis burung hidup di hutan mangrove diantara 90 jenis yang ditemukan di teluk Bintuni (71% atau 10% dari seluruh burung di Irian Jaya).Sunda Coucal . 1987 dan Rose & Scott. Bagi jenis yang tergolong vulnerable ini. Erftmeijer. 1990). Jumlah ini mewakili 13% dari seluruh jenis burung yang ada di Indonesia (Andrew. Indramayu dan Segara Anakan (Andrew. Mangrove juga merupakan habitat yang baik bagi beberapa jenis burung yang telah langka atau terancam kepunahan.Milky Stork . pantai utara Jawa (Erftmeijer & Djuharsa. 1994). 1988). Bubut hitam (Centropus nigrorufus . 1986 dan Rusila. Pangkalan Data Lahan Basah (Wetland Data Base) mencatat setidaknya 200 jenis burung hidup bergantung pada habitat mangrove. 153 .150 jenis jika termasuk daerah lumpur disekitar hutan mangrove) di daerah limpasan banjir dan pasang surut di Sumatera Selatan (56% dari total burung yang ditemukan di daerah tersebut atau 25% dari seluruh jenis burung di Sumatera). Populasi mereka sebagian besar terdapat di pantai timur Sumatera (Sumatera Selatan. dkk. 1991). terutama di Sumatera dan Jawa. dari 17% total jumlah burung yang tercatat di Pulau Sumba. dimana lebih dari 90% diantaranya ditemukan di daerah hutan bakau di Indonesia. 1988) serta hutan mangrove di Segara Anakan yang merupakan hutan mangrove terbesar yang saat ini tersisa di Pulau Jawa (Erftmeijer. Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus . sebanyak 81 jenis ditemukan di hutan mangrove (58 % atau 21 % dari seluruh burung di Sulawesi). Disamping itu.Lesser Adjutant . 1992).6000 ekor saja (Verheught. 1994). Tanjung Koyan. 27 jenis ditemukan di daerah Mangrove Pulau Sumba (Zieren. dkk. Pada saat ini. seperti: Wilwo (Mycteria cinerea . Di Jawa jenis ini hanya diketahui berbiak di hutan bakau Pulau Rambut (Allport & Wilson. Baltzer (1990) melaporkan dari 141 jenis burung yang ditemukan di lahan basah propinsi tersebut. 1987). 1990). Merupakan jenis endemik Pulau Jawa. 1989). Mereka hanya diketahui berbiak di hutan mangrove di Hutan Bakau Pantai Timur (Danielsen dan Skov. hutan mangrove merupakan habitat penting untuk bersarang atau mencari makan (Silvius & Verheught. Populasinya diperkirakan hanya tinggal berjumlah 5000 . hutan bakau Tanjung Selokan dan hutan bakau Semenanjung Banyuasin.Ciconiidae). Sementara itu. jenis ini diperkirakan hanya bertahan hidup di kawasan hutan mangrove dan rawa sekitar Tanjung Karawang. Jenis ini telah tercantum dalam Red Data Book dalam kategori Vulnerable. di Irian Jaya. dkk.

Dari empat jenis berangberang yaitu Aonyx cinerea. Lutra lutra. 1993). Sulawesi Selatan (Giesen.Mamalia yang umum ditemukan pada habitat mangrove diantaranya adalah babi liar (Sus scrofa). Lutra sumatrana dan Lutra perspicillata yang diketahui hidup di Indonesia juga ditemukan di hutan mangrove. sedangkan mamalia udara yang sering ditemukan adalah Pteropus vampirus. kelelawar (Pteropus spp. Bekantan (Nasalis larvatus. kancil (Tragulus spp. Macaca ochreata ochreata (endemik Sulawesi) pada masa lalu umum terlihat di daerah mangrove dekat Malili. dkk. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatranus) masih ditemukan di wilayah Sungai Sembilang. dimana jika areal ini digabungkan dengan areal Taman Nasional Berbak di Jambi. Payne. endemik Kalimantan) dan kucing bakau (Felis viverrina) (MacNae. lutung (Trachypithecus aurata).). dkk. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt. dkk. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) umum ditemukan di daerah mangrove dan sering terlihat mencari makan pada hamparan lumpur di sekitar mangrove. Melisch. 1985). Dari kelompok mamalia air. 1991). 416 . dua jenis lumba-lumba yaitu Orcella brevirostris dan Sousa chinensis juga ditemukan di daerah muara sekitar hutan bakau. Tidak satupun dari mamalia diatas hidup secara eksklusif di mangrove. 1989). 1985. Bekantan tadinya dianggap hanya hidup pada habitat mangrove. kemudian diketahui bahwa mereka juga menggunakan hutan rawa gambut (Payne. 1968. 1992). dapat dianggap sebagai tempat hidup harimau Sumatera yang terbaik (Frazier. Teluk Bone.) berang-berang (Lutra perspicillata dan Amblyonyx cinerea). Francis & Phillipps.

Martosubroto & Naamin (dalam Djamali. Akhir-akhir ini. MANFAAT MANGROVE Mangrove memiliki berbagai macam manfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya. pemanfaatan mangrove untuk berbagai tujuan telah dilakukan sejak lama. diantaranya: kayu bakar. Berbagai produk dari mangrove dapat dihasilkan baik secara langsung maupun tidak langsung. obat-obatan dan perikanan (Tabel 2). 1990). perikanan pantai yang sangat dipengaruhi oleh keberadaan mangrove. peranan mangrove bagi lingkungan sekitarnya dirasakan sangat besar setelah berbagai dampak merugikan dirasakan diberbagai tempat akibat hilangnya mangrove.1 Pemanfaatan mangrove Mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif. Bagi masyarakat pesisir. 1991) beberapa jenis udang penaeid di Indonesia sangat tergantung pada ekosistem mangrove. 3. merupakan produk yang secara tidak langsung mempengaruhi taraf hidup dan perekonomian desa-desa nelayan. 1992 dan Burhanuddin. kulit. dkk. Nampaknya produk yang paling memiliki nilai ekonomis tinggi dari ekosistem mangrove adalah perikanan pesisir. Bahkan pemanfaatan mangrove untuk tujuan komersial seperti ekspor kayu. 173 . Contohnya. Eksplotasi mangrove dalam skala besar di Indonesia nampaknya dimulai awal abad ini. sejumlah 14 perusahaan telah diberikan ijin pengusahaan hutan yang mencakup sejumlah 877. terutama di Jawa dan Sumatera (van Bodegom. 1936). kertas. 1929. Sejarah pemanfaatan mangrove secara tradisional oleh masyarakat untuk kayu bakar dan bangunan telah berlangsung sejak lama. 1990). keperluan rumah tangga. 1993). Menurut Unar (dalam Djamali. Banyak jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi menghabiskan sebagian siklus hidupnya pada habitat mangrove (Sasekumar. Melihat beragamnya manfaat mangrove. Kakap (Lates calcacifer).200 hektar areal mangrove. dimana makin luas hutan mangrove makin tinggi produksi udangnya dan sebaliknya. bahan bangunan. atau sekitar 35% dari areal mangrove yang tersisa (Dephut & FAO. Boon. Hal ini didukung oleh berbagai penelitian di negara-negara lain (Tabel 3).III. kepiting mangrove (Scylla serrata) serta ikan salmon (Polynemus sheridani) merupakan jenis ikan yang secara langsung bergantung kepada habitat mangrove (Griffin. maka tingkat dan laju perekonomian pedesaan yang berada di kawasan pesisir seringkali sangat bergantung pada habitat mangrove yang ada di sekitarnya. meskipun eksplotasi sesungguhnya dengan menggunakan mesin-mesin berat nampaknya baru dimulai pada tahun 1972 (Dephut & FAO. Pembuatan arang mangrove telah berlangsung sejak abad yang lalu di Riau dan masih berlangsung hingga kini. Pada tahun 1985. 1985). kulit (untuk tanin) dan arang juga memiliki sejarah yang panjang. 1991) mengemukakan adanya hubungan linier positif antara luas hutan mangrove dengan produksi udang.

atap . 1984). Bruguiera. Eleocharis dulcis Scolopia macrophylla terutama Rhizophoraceae Cycas rumphii Kategori Bahan bakar: 418 . Sebaliknya.alkohol Bahan bangunan: .alas lantai . Bruguiera.Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. Di Indonesia hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial seperti di perairan sebelah timur Sumatera. Acrostichum speciosum Cyperus malaccensis. pantai selatan dan timur Kalimantan.tiang bangunan . 1998). Rhizophora. Rhizophora spp.arang kayu . Sebagian besar kegiatan penangkapan ikan di Indonesia berlangsung di dekat pantai. dimana sebelum perang dunia II merupakan penghasil ikan utama di Indonesia bahkan sebagai salah satu penghasil ikan utama di dunia. Lumnitzera Lumnitzera spp. Rhizophora spp. pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya yang kesemuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan (Soewito. PRODUK VEGETASI Tipe pemanfaatan .pertambangan .bantalan rel KA . Rhizophora spp.papan . menurunnya produksi perikanan di Bagansiapiapi. Oncosperma tigillaria Nypa fruticans. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh komunitas nelayan setempat dengan pola yang tradisional atau oleh nelayan modern yang datang dari kota pelabuhan besar. Tabel 2.6 juta ton yang melibatkan tidak kurang dari 478.kayu bakar .alas dok . Ceriops spp.250 keluarga (BPS. kayu tiang . Rhizophora. Bruguiera spp. Livistona saribus.pembuatan perahu .kayu. salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Kasry.lem Contoh jenis yang dimanfaatkan sebagian besar jenis pohon sebagian besar jenis pohon Nypa fruticans Bruguiera. 1984). Produk yang dihasilkan mangrove A.lantai . Pada tahun 1998 total produksi perikanan laut Indonesia adalah sekitar 3. pipa .konstruksi berat (jembatan) .pagar.

tiliaceus Pemphis acidula.pembuatan kain Pertanian: . indica. Cerbera floribunda Rhizophoraceae Stenochlaena palustris.kancing 193 .pewarna kain . Eleocharis dulcis Paspalum vaginatum. rayon) . Camptostemon schultzii Avicennia marina. kulit .parfum . Peltophorum pterocarpum terutama Rhizophora. Crinum asiaticum Tristellateia australasiae Horsfieldia irya Drymoglossum piloselloides. Camptostemon schultzii banyak jenis tumbuhan berkayu X.tanaman hias .pupuk Produk kertas: . Colocasia esculenta Avicennia marina.peralatan .berbagai jenis kertas Keperluan rumah tangga .hiasan .minyak rambut . S.pengawetan kulit .penahan perahu Ceriops spp.isi bantal .fiber sintetis (mis. Excoecaria indica (bijinya) Cerbera manghas (insektisida) Cryptocoryne ciliata.tiang pancing .berbagai jenis kertas . X. H.racun .perekat jala . Nypa fruticans Cycas rumphii Xylocarpus mekongensis Phymatodes scolopendria Dolichandrone spathacea.mebel . granatum Typha angustifolia Cyperus malaccensis. alba Derris trifoliata. Drynaria rigidula Osbornia octodonta. Lumnitzera spp.pelampung .lem . Rhizophora apiculata Atuna racemosa. Osbornia octodonta terutama Rhizophoraceae E. Scaevola taccada.racun ikan .lilin . Scirpus grossus Dolichandrone spathacea (topeng).anti nyamuk .Perikanan: .jangkar .mainan .tali . Dolichandrone spathacea.obat-obatan . Quassia indica Nypa fruticans Tekstil. granatum.keranjang .

minuman fermentasi .Makanan. Chanos chanos Penaeus spp.alkohol . gymnorrhiza daun Stenochlaena palustris.pengganti tembakau Nypa fruticans Nypa fruticans biji Terminalia catappa Rhizophora stylosa Bruguiera cylindrica. 1984 Boesch & Turner.2 – 5 Luas Mangrove Korelasi (n) 0.2 – 15 0 – 25 10 – 1. 1985 Jothy.lainnya Contoh jenis yang dimanfaatkan Lates calcarifer. Tabel 3. Kategori Lain-lain: Diadaptasi dari Saenger. Hubungan antara luas hutan mangrove dengan jumlah tangkapan udang (per tahun) (dalam Nirarita.975 (15) 0.Krustasea .kertas rokok . Avicennia. buah atau daun) .reptilia .mammalia .76 (6) 0.1 – 0. B.8 0 – 50 1 – 1.42 Koefisien Sumber 0. 1984 Pauly & Ingles. 1986 420 .ikan . buah Inocarpus fagifer epidermis daun Nypa Loxogramma involuta B.000 1 . Crocodylus porosus Rana spp. 1993) Lokasi (ton) Australia Malaysia Teluk Meksiko Filipina Hasil Tangkapan (ha) 0. minuman dan obat : .sayuran (dari propagula.minyak goreng .kerang . dkk (1983) serta tambahan informasi dari Knox and Miyabara (1984) dan Fong (1984). Scylla serrata kerang-kerangan Apis dorsata terutama burung air terutama Sus scrofa Varanus salvator. PRODUK HEWANI Tipe pemanfaatan .74 (7) 0..madu dan lilin .burung .000 0.gula .62 (6) Staples et al.daging manis (dari propagula) .

1986). bangunan dan pertanian dari angin kencang atau intrusi air laut. pemerintah Bangladesh kemudian melakukan penanaman seluas 25. sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge.3. pada bulan Juni 1985 sebanyak 40. dimana jika terdapat mangrove otomatis akan terdapat tanah timbul (Steup. Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. dkk. 1993 dan Othman. 1994). Peranan mangrove dalam menunjang kegiatan perikanan pantai dapat disarikan dalam dua hal. Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. 1993). Pada awalnya. mangrove berperan penting dalam siklus hidup berbagai jenis ikan. Kedua. Sedangkan beberapa dusun yang berbatasan dengan kedua dusun ini yang tidak mempunyai mangrove yang cukup tebal mengalami kerusakan yang cukup parah. proses pengikatan sedimen oleh mangrove dianggap sebagai suatu proses yang aktif. Sulawesi Selatan yang memiliki barisan mangrove yang tebal di pantai terlindung dari gelombang pasang (Tsunami) di pulau Flores pada akhir tahun 1993.2 Fungsi Mangrove Mangrove memiliki peranan penting dalam melindungi pantai dari gelombang. karena lingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk kedalam rantai makanan. 1958 dan Chapman. angin dan badai. Di Bangladesh. Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. 1977) kemudian menyebutkan bahwa proses pengikatan dan penstabilan tersebut ternyata hanya terjadi pada pantai yang telah berkembang. 1974). pada pulau yang hilang mangrovenya. 1941). Sinjai. 213 . terutama dari ombak dan arus laut. Dusun Tongke-tongke dan Pangasa. mangrove merupakan pemasok bahan organik.000 hektar areal pantai dengan vegetasi mangrove (Maltby. 1982). produksi serasah mangrove berkisar antara 7 – 8 ton/ha/ tahun (Nontji. 1980). sehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yang hidup pada perairan sekitarnya (Mann. Sebaliknya. udang dan moluska (Davies & Claridge. Pertama. Di Indonesia. Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove mempunyai peranan yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah dikolonisasinya. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur. pulau tersebut mudah disapu ombak dan arus musiman (Chambers. pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus.000 penduduk yang tinggal di pesisir dihantam badai. 1987). Berbagai penelitian (van Steenis. Mengetahui manfaat mangrove dalam menahan gempuran badai. peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan pulau tersebut. Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman. Mangrove juga terbukti memainkan peran penting dalam melindungi pesisir dari gempuran badai.

422 Gambar 3. 1992) . Jaring-jaring makanan dan pemanfaatan mangrove di Indonesia (diadaptasi dari AWB-Indonesia.

mulai dari 1. Untuk menghitung luas asal mangrove yang telah mengalami perubahan digunakan ektrapolasi dari data yang tersedia pada peta.54 juta hektar yang berasal dari ISME (Spalding. jika sistem lahan khas habitat mangrove (KAJAPAH.13 juta hektar. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Giesen (1993) mencoba menghitung luas areal asal mangrove berdasarkan seri RePPProT (1985-1989) dari peta Status Hutan. kemudian luas total mangrove untuk masingmasing propinsi dihitung. kenyataannya memperoleh data yang memadai mengenai luas mangrove pada masa yang lalu dan saat ini tidak terlalu mudah (di Indonesia data dimulai sejak 1930-an.000) yang diproduksi oleh Departemen Transmigrasi. 1987) di peta ternyata ditemukan secara faktual berada di luar atau berdekatan dengan kawasan mangrove yang ada saat ini. RePPProT. Departemen Kehutanan (1997) menyebutkan luas yang diambil dari berbagai sumber berkisar antara 2. 1996). Meskipun mangrove tidak terlalu sulit untuk dikenali dari foto penginderaan jarak jauh dan dipetakan. Tata Guna Lahan dan Sistem Lahan (skala 1 : 250. terdapat jumlah luasan mangrove yang lain yaitu 4. 1997) dan 3. STATUS MANGROVE INDONESIA 4.38 -2. 233 . 1982). Namun. sehingga data yang sebenarnya telah kadaluwarsa diacu berulangulang (misalnya: Burbridge & Koesoebiono. Perbedaan perkiraan luas tersebut setidaknya dipengaruhi oleh tiga halo. lihat Kint. adanya perbedaan metoda yang digunakan dalam menduga luasan mangrove. Hal ini kembali disebabkan kurang tersedianya data serta peta yang memadai. nipah dan nibung (Hx) disatukan menjadi “habitat mangrove”. Bina Program INT AG.1 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Saat ini di seluruh dunia terjadi peningkatan hilangnya sumberdaya mangrove yang disebabkan adanya pemanfaatan yang tidak berkelanjutan serta pengalihan peruntukan (Aksornkoae. hutan primer yang dieksploitasi kayunya (Ht) dan hutan pasang surut yang tidak dibedakan. Kedua. 1934). Dari tiga kategori yang dibuat oleh RePPProT.53 juta hekar yang berasal dari Proyek Inventarisasi Hutan Nasional (Dit. Dengan menggunakan metoda seperti diatas. termasuk bakau. Pertama. perkiraan luas untuk Irian jaya yang merupakan komponen luasan terbesar sangat berbeda antara satu penulis dengan penulis lainnya. 1980 dan Dit. sangat sedikit sekali dilakukannya penghitungan areal mangrove berdasarkan kondisi yang sebenarnya di alam.IV. dkk.49 -4. maka areal tersebut dianggap dulunya adalah hutan mangrove. 1993).25 juta hektar. diketahui bahwa luas asal mangrove Indonesia seluas 4. Ketiga. Bina Program Dephut bersama FAO/UNDP.94 juta hektar. Data perkiraan luas areal mangrove di Indonesia sangat beragam sehingga sulit untuk mengetahui secara pasti seberapa besar penurunan luas areal mangrove tersebut. yaitu hutan bakau (Hv).

tetapi sebagian dari areal tersebut sebenarnya merupakan areal hutan mangrove yang telah mengalami gangguan dan dalam proses untuk dijadikan tambak. Riau. Mereka memperkirakan jumlah areal hutan mangrove yang belum terganggu di Sulawesi Selatan hanya sekitar 23. laju hilangnya mangrove hingga tahun 1990 juga sangat beragam. Sejalan dengan hal tersebut. Data untuk 10 Propinsi lainnya diambil dari RePPProT (1985-1989). termasuk dinamika data untuk Propinsi yang telah mengalami pemekaran. namun belum dilakukan analisa laju perubahan luas mangrove. Sulawesi Tengah.49 juta hektar (60%). Penghitungan tersebut didasarkan pada citra satelit SPOT dah SLAR.-an. Berdasarkan penghitungan diatas.Selanjutnya dihitung luas areal mangrove yang tersisa berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi.000 hektar hutan mangrove masih terdapat di Sulawesi Selatan. 424 . Gambaran lebih rinci mengenai data asal dan sisa mangrove dapat dilihat di Tabel 4. Kalimantan Selatan. Dari penghitungan diketahui luas mangrove yang tersisa pada tahun 1990 hanya sekitar 2. dkk (1991) melaporkan meskipun 34.1991). antara hampir 10% di Papua hingga hampir 100% di Jawa Timur. maka hal tersebut berarti bahwa pada akhir tahun 1980. Sumatera Selatan dan Lampung dihitung berdasarkan data yang diperoleh selama kegiatan pengkajian lapangan yang dilaksanakan oleh AWB/PHPA pada tahun 1990 -1992. Luas areal mangrove yang ada di Propinsi Sumatera Utara. sementara data untuk Sulawesi Selatan diambil dari hasil penelitian Giesen. dan hanya 11% tersisa di Jawa. 58% diantaranya terdapat di Papua. kemungkinan luasan mangrove tersebut sudah berkurang. Untuk Propinsi Kalimantan Barat. Pada saat cetak-ulang ini dibuat. Kalimantan Timur. Sulawesi Utara. Hal yang perlu dicatat dari uraian diatas adalah mungkin luas areal mangrove yang dihitung merupakan jumlah yang optimistis. Untuk Propinsi Aceh dan Bengkulu. data yang digunakan untuk penghitungan hingga tahun 1990 tersebut. Sumatera Barat. saat itu telah berusia 3 7 tahun serta areal yang dipetakan dan dianggap sebagai mangrove hanya sebagian yang tercakup oleh tipe ini. luas areal mangrove yang peruntukannya telah dialihkan menjadi tambak dihitung dari luas total areal mangrove yang terdapat pada peta RePPProT. jika perkiraan luas areal mangrove yang tersisa di Indonesia sekitar 2. Sulawesi Tenggara dan Maluku digunakan data yang berasal dari Ditjen Perikanan (. Meskipun data tersebut telah disajikan dalam edisi cetak-ulang ini. telah tersedia data yang diambil dari Peta Penutupan Lahan yang dibuat oleh BAPLAN – DEPHUT dengan menggunakan Citra Satelit untuk Tahun 2002 – 2003. Giesen. Dengan melihat kondisi lapangan saat ini. dkk (1991). Seperti yang telah disebutkan. Sebagai contoh. Indonesia telah kehilangan sekitar 40% areal mangrovenya.49 juta hektar (19871990) dapat diterima. yang berarti jumlah areal mangrove yang hilang semakin bertambah. Data luas mangrove di Jawa Tengan diadopsi dari White. Jambi.000 hektar. dkk (1989). Dari luasan areal mangrove yang tersisa tersebut.

000 84. Data Tambak diambil dari kategori “Tambak” Berdasarkan klasifikasi sistem lahan RePPProT (1985 – 89).000 4.826 0 192 40 325 0 (4) 94 2.000 195.405 6.000 0 3 2. Baltzer dan Baruadi (1991).000 64.088 65 0 (4) 95 268.000 1.300 48.500 0 (4) 2.098.000 2.650 266.000 110.000 28.000 0 (5) 3.000 13.251.500 (3) 18.000 (5) 1.000 128.107 861 6.000 89.500 0 (4) 46.000 5.000 0 276.622.000 56.dephut.476 1.577 7.000 109.678 1.000 213.000 5.000 65.330 0 (4) 30. kecuali Sulawesi selatan.500 354.335 60.500.500 60.913 626 4.000 0 (4) 0 17.000 34.000 (5) 0 (4) 0 750.000 0 (4) 20.go.000 8.000 19.830 40.780 775.000 680.000 19.000 (5) 63.500 1.000 26.497 47.000 27.000 25.800 0 29. sebelum pemekaran Data setelah pemekaran Propinsi (2) (3) (4) (5) 253 .450 363.000 17.235.000 66.000 50.017 hektar pada tahun 1929 Masih merupakan bagian dari Propinsi lain.000 3.700 INTAG (1993) BAPLAN 2005 (data 2002/3) (1) 18.440 8.740 120.943.608 0 (4) 13.000 16.050 13.636 590 0 (4) 73. dan luas areal untuk masing-masing sistem lahan per propinsi berdasarkan Giesen.030 148.850 221.780 194.000 128.710 0 (4) 1.3 0 (4) 110.000 0 (4) 55.000 Jumlah Areal Asal (2) 60.000 500 500 0 21. (1987) 55.163.000 197.000 0 34.000 27.382.000 53.833 0 (4) 66.000 44.939 50.900 800 0 10.000 10.000 95.000 11. Luas mangrove per Propinsi di Indonesia (ha) Mangrove Propinsi Bina Program (1982) 54. Van Bodegom (1929) melaporkan bahwa seluruh areal mangrove di Riau telah dipetakan dan diukur secara planimetris seluas 182.id/INFORMASI/INTAG/Peta%20Tematik/PL&Veg/VEG_2003.000 137.Tabel 4.500 66.000 0 470. Data Mangrove diambil dari kategori “Hutan Mangrove Primer” dan “Hutan Mangrove Sekunder”.000 43.000 91.970 98.000 259.500 29.700 6.000 90.000 58.000 3.000 38.000 3.250 http://www.840 38.000 9.340 4.000 4.000 4.000 (5) 15.000 0 13.000 0 (4) 2.003 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Jawa Barat & DKI Banten Jawa Tengah & DIY Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Selatan Maluku Maluku Utara Papua T o t a l Keterangan: (1) 102.950 3.000 3.000 367.000 10.000 20.000 0 25.326.000 15.700 0 (4) 1.000 9.000 3.150 0 (4) 104.000 5.990 3.200 0 (4) 18.000 46.640 37.683 73.000 1.000 2.000 0 2.000 12.750 1.500 0 (4) 1.000 99.000 100.996 550 32 0 1.000 4.500 Tambak Ditjen BAPLAN Perikanan 2005 (data (1991) 2002/3) (1) 39.000 Silvius dkk.430 0 (4) 520 49.500 57.000 1.000 60.HTM.765.000 750.000 235.500 0 (4) 1.000 208.640 70.000 115.000 (5) 42.

Perbandingan luas mangrove asal dan yang tersisa di Indonesia (1986-1990) .426 Gambar 4.

Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para pembuka lahan. yang berarti lebih dari 18 kg.000 hektar tersebut sama dengan 23 % dari luas asal areal mangrove pada tahun yang sama.c). lebih dari 75 tahun yang lalu.700 hektar (Bailey. Kegiatan pembangunan utama yang memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal mangrove di Indonesia adalah pengambilan kayu untuk keperluan komersial serta peralihan peruntukan untuk tambak dan areal pertanian (khususnya padi dan kelapa). 1997) dan menjadi 750.b. 1991). 390. Sementara itu. 1990).200 hektar areal mangrove berada dalam konsesi pengusahaan hutan untuk diambil kayunya (Dep.182 ha pada tahun 1997 (Ditjen Perikanan. 1991) serta berkurangnya anakan untuk keperluan perkembangan ikan (Wardoyo & Rasyid. kemudian berkembang ke Aceh.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. Kehutanan & FAG. kecuali di Segara Anakan dan Teluk Pangong (dekat selat Bali). Jauh sebelumnya. kemudian bertambah menjadi 269. 1988). Dalam banyak kasus. pestisida per hektar per bulan (asumsi seluruhnya digunakan di Sulawesi Selatan). 2005). pestisida dan antibiotika juga kerap kali digunakan.000 hektar (Ditjen Perikanan. Sumatera Utara dan Lampung (Giesen.2 Penyebab penurunan luas mangrove Pembangunan di areal mangrove Konversi dan hilangnya mangrove tampaknya bukan merupakan sesuatu yang baru terjadi pada dekade terakhir ini saja.4. 1990).559 ton pestisida digunakan untuk tambak selama tahun 1990 (BPS. Pada tahun 1982. Meskipun demikian. Dampak yang ditimbulkan oleh pestisida terhadap lingkungan dijelaskan oleh Primarvera (1991) dan Baird (1994). Di SM Karang Gading Langkat Timur Laut. ini tidak termasuk tambak-tambak yang telah ditinggalkan dan tidak diusahakan lagi yang di beberapa lokasi cukup luas. 1991 a. Berarti terjadi penambahan areal tambak lebih dari 350% dalam kurun waktu 20 tahun. terdapat sekitar 2. misalnya. tidak bercampurnya tanah (Giesen. 1991). bahkan untuk tambak tradisional. Areal tambak yang tercatat pada tahun 2002/03 seluas hampir 750. kehadiran tambak tidak selalu 273 . 1986). seperti pengasaman tanah (Hassan & Ti. data tahun 1985 menunjukkan seluas 877.500 hektar tambak yang tidak diusahakan dan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum (Giesen & Sukotjo. 1991). Pada tahun 1990. 2005). Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan.000 hektar pada tahun 1990 (Ditjen Peri kanan. perkiraan luas tambak di Indonesia seluas 193. Meindersma (1923) melaporkan sangat sulit untuk menemukan mangrove yang alami dan tidak terganggu di Pulau Jawa. 1985). luas areal tambak yang terpantau sekitar 269. dkk. Perlu dicatat. Sejarah pembangunan tambak diawali di Jawa dan Sulawesi selatan. yang kemudian meningkat menjadi 750. Statistik perikanan untuk Sulawesi Selatan menunjukkan sekitar 16.

berarti hilangnya mangrove. Hal ini dapat dilihat pada pola tambak yang masih menyisakan pohon mangrove, yang dipraktekkan di beberapa tempat di Jawa. Pada pola ini, mangrove ditanam di bagian tengah tambak. Sistem ini sangat baik untuk diterapkan karena selain melindungi dan mempertahankan mangrove, juga dapat dimanfaatkan oleh burung air. Kegiatan pengambilan kayu sering terlihat di Riau, Kalimantan dan Papua. Luas areal konsesi pengusahaan hutan meningkat dari 455.000 hektar pada tahun 1978 (Burbridge & Koesoebiomo, 1980) menjadi 877.200 hektar pada tahun 1985 (Oepartemen Kehutanan dan FAO, 1990), atau sekitar 35% dari luas areal mangrove yang tersisa pada awal tahun 1990-an (data Giesen, 1993). Sayangnya, dampak yang ditimbulkan oleh pengambilan kayu terhadap hilangnya luasan areal mangrove sangat sulit untuk dirinci. Pada beberapa kasus, dampak lain dari pengambilan kayu mangrove adalah penurunan kualitas tegakannya. Nurkin (1979) menjelaskan bagaimana areal mangrove yang telah ditebangi di Sulawesi Selatan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum, selanjutnya menghambat terjadinya regenerasi tumbuhan mangrove. Di daerah lain, mangrove ternyata juga dapat tumbuh sendiri setelah tumbuhannya ditebang, misalnya di Riau Tenggara (Giesen, 1991 b), serta di areal mangrove di Sei Kecil, Kalimantan Barat (Abdulhadi & Suhardjono, 1994). Meskipun dalam beberapa kasus mangrove dapat tumbuh kembali, akan tetapi tidak berarti bahwa tumbuhan yang baru tersebut akan selalu sarna dengan jenis seberumnya, bahkan seringkali justru jenis tumbuhan yang kurang diminati yang kemudian menjadi dominan, seperti Xylocarpus granatum di Pulau Bakung, Riau (Giesen, 1991 b), Excoecaria agallocha dan Bruguiera parviflora di Karang Gading Langkat Timur Laut, Sumatera Utara (Giesen & Sukotjo, 1991). Penduduk juga memberikan sumbangan terhadap penurunan luas manrove di Indonesia. Seperti diketahui, penduduk setempat telah memanfaatkan mangrove dalam kurun waktu yang lama, namun diyakini bahwa kegiatan mereka tidak sampai menimbulkan kerusakan yang berarti pada ekosistem ini. Akan tetapi, hal tersebut telah berubah dalam dekade terakhir ini seiring dengan adanya pertambahan populasi penduduk, baik karena pertambahan alami maupun perpindahan dari luar. Kegiatan masyarakat yang menyebabkan hilangnya mangrove ini terutama adalah pemanfaatan areal mangrove untuk pembangunan tambak. Fiselier, dkk (1990) bahkan menyatakan: “Reklamasi untuk keperluan budidaya perikanan dan pertanian tampaknya saat ini dianggap sebagai suatu kegiatan pembangunan utama yang berlangsung di areal mangrove. Kegiatan reklamasi tersebut sebenarnya berbiaya tinggi dan acapkali tidak berkelanjutan, serta sering menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap lingkungan. Keuntungan yang dihasilkan sebagian besar diraup oleh mereka yang datang dari luar, dan hanya sebagian kecil saja yang dinikmati oleh penduduk setempat, berupa hasil penangkapan ikan dan pengumpulan hasil hutan yang dilaksanakan secara tradisional”. Pernyataan ini didukung oleh Ong (1982) yang membahas mengenai konversi mangrove di Malaysia dan menyimpulkan bahwa pembangunan budidaya perikanan berkaitan, baik secara ekonomis maupun secara ekologis.

428

Telah disebutkan didepan bahwa pembangunan tambak memberikan sumbangan terhadap hilangnya mangrove. Selain itu, data juga menunjukan bahwa mangrove yang tersisa juga mengalami ancaman berupa: a) konversi menjadi lahan pertanian, b) suksesi menjadi vegetasi sekunder non-hutan setelah terjadinya eksploitasi berlebih oleh masyarakat setempat, c) kurangnya regenerasi setelah dibabat untuk kepentingan komersial, dan d) erosi pantai. Meskipun data sangat kurang, namun nampaknya faktor yang memberi sumbangan penting terhadap hilangnya mangrove, selain konversi menjadi tambak, adalah konversi menjadi lahan pertanian dan penebangan kayu secara komersial dan dalam skala yang lebih kecil, serta eksploatasi berlebihan oleh masyarakat setempat. Kematian mangrove secara alami merupakan kejadian yang umum ditemukan dan merupakan kondisi alami, karena Iingkungan mangrove bersifat dinamik dan periodik, serta asosiasi mangrove teradaptasi dengan lingkungan tertentu melalui pertumbuhan dan kematian secara cepat (Uimenez & Lugo, 1985). Perubahan yang terjadi di alam biasanya bersifat fisik (Choy & Booth, 1994, berdasarkan contoh yang diambil di Brunei), sementara penyakit dan faktor biotis lainnya nampaknya berupa agen sekunder. Secara umum dapat dikatakan bahwa kematian mangrove secara alami tidak memberikan sumbangan yang signifikan terhadap hilangnya areal mangrove di Indonesia.

293

V. KEBIJAKAN DAN PERATURAN MENYANGKUT MANGROVE
Disadari bahwa mangrove memberikan banyak manfaat bagi manusia. Dengan demikian, mempertahankan areal-areal mangrove yang strategis, termasuk tumbuhan dan hewannya, sangat penting untuk pembangunan ekonomi dan sosial. Pada masa lalu, disaat tekanan penduduk masih rendah, hal tersebut tidak menjadi masalah karena pada tingkat lokal manfaat mangrove biasanya langsung disadari oleh masyarakat dan seringkali kawasan mangrove dilindungi oleh hukum adat. Namun selama 2 - 3 dekade lalu, tekanan penduduk semakin meningkat dengan tajam sehingga mengakibatkan permintaan akan sumberdaya pertanian meningkat pula. Pada saat yang bersamaan, kegiatan perikanan dan kehutanan juga meningkat dengan pesat dan menjadi faktor utama dalam perubahan lingkungan mangrove. Dalam kondisi demikian, aturan setempat yang berupa hukum adat seringkali terkesampingkan oleh insentif ekonomi jangka pendek. Untuk merespon hal tersebut, pemerintah kemudian mengeluarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) serta beberapa peraturan dalam berbagai tingkat yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove. Peraturan yang paling relevan diantaranya terkait dengan aturan mengenai kebijakan jalur hijau serta sistem areal perlindungan.

5.1

Pemetaan sumberdaya

Pada tahun 1982, rencana tata guna lahan hutan untuk pertama kalinya dipersiapkan oleh Departemen Pertanian (saat itu kehutanan masih direktorat di Departemen Pertanian). Tata guna lahan yang berupa Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tersebut dipersiapkan untuk setiap propinsi dengan skala peta 1 : 500.000. Sejak 1983, setelah pembentukan Departemen Kehutanan, tugas ini kemudian diambil alih oleh Ditjen Inventarisasi dan Tata Guna Hutan (INTAG). Peta TGHK membagi lahan menjadi kategori berikut : Areal Konservasi dan Perlindungan Alam Hutan Lindung Hutan Produksi (terbatas dan biasa) Hutan Konversi Tak Terklasifikasi (Hak Milik, Hak Milik Adat, Hak Pengelolaan). Berdasarkan pembagian diatas, mangrove dapat masuk kedalam seluruh kategori. Di beberapa instansi, ditambahkan pembagian lahan kategori keenam yaitu Hutan Bakau

430

(mangrove) dalam beberapa peta. Sayangnya, hal ini kemudian membingungkan karena tidak memberikan indikasi mengenai status yang sebenarnya dari sumberdaya yang penting ini. Peta TGHK tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, akan tetapi dijadikan sebagai panduan bagi pemerintah daerah dalam membuat perencanaan tata guna lahan. Status yang ada dapat saja disesuaikan dalam setiap peta. Sebagai contoh, suatu areal yang dipetakan sebagai hutan lindung pada peta dengan skala 1 : 500.000, dapat saja kemudian terbagi menjadi beberapa kategori lainnya jika dipetakan dalam peta dengan skala yang lebih rinci (misalnya 1 : 50.000). Contoh lain adalah dapat saja suatu areal dipetakan sebagai cagar alam atau areal konservasi, padahal sebenarnya belum dikukuhkan atau hanya sebagian saja yang telah dikukuhkan. Walaupun demikian, secara umum peta TGHK sangat bermanfaat. Dalam perkembangan berikutnya pada skala lokal, peta TGHK kemudian digantikan oleh peta tata ruang yang disiapkan oleh masing-masing pemerintah daerah. Pembuatan peta tersebut sebagai tindak lanjut dari Undang-undang No. 24 Tahun 1992 mengenai Tata Ruang. UU ini memerintahkan adanya perencanaan ruang yang luas pada tingkat Nasional, Propinsi sampai Kabupaten, dan mengharuskan pemerintah untuk mengembangkan program perencanaan tata ruang yang menunjukkan sumberdaya apa yang harus dilindungi, direhabilitasi ataupun harus dialokasikan untuk kepentingan pembangunan ekonomi.

5.2

Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove

Seperti di tempat lain di dunia ini, lahan di Indonesia diberi status tertentu yang memungkinkan penggunaan tertentu. Bila suatu areal lahan telah digunakan secara tradisional oleh suatu komunitas tertentu dalam masyarakat, maka biasanya pengelolaan lahan tersebut akan dialihkan kepada komunitas masyarakat tersebut dengan status Hak Milik, Hak Milik Adat atau Hak Pengelolaan. Areal lahan yang bukan merupakan areal pertanian (termasuk sebagian besar lahan hutan) pada umumnya diberi status sebagai Tanah Negara. Meskipun telah terdapat pembagian status lahan, kenyataannya masih muncul berbagai konflik menyangkut kepemilikan atau hak pengusahaan lahan. Misalnya, meskipun suatu areal mangrove telah dikelola oleh hukum adat atau merupakan tanah negara (tanah timbul), akan tetapi apabila telah dikonversi menjadi tambak, seringkali lahan tersebut berubah menjadi milik pribadi. Akibat perubahan ini, konflik lain seringkali muncul apabila pemerintah kemudian ingin mengambil kembali lahan tersebut untuk kepentingan yang lain, misalnya untuk jalur hijau. Sampai saat manuskrip ini dibuat, setidaknya telah dibuat 22 buah peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove di Indonesia. Peraturan-peraturan tersebut umumnya menyoroti hubungan antara sektor kehutanan dan sektor perikanan serta

313

Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 18. Undang-undang No. 19. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. 9. 432 . 22 Tahun 1999 mengenai pemerintahan daerah. 4. 15. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2. 16. Perikanan dan Kehutanan kepada Daerah Swatantra Tingkat I. 12. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. 32 Tahun 1990 mengenai areal lindung. 11. Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 7. 5. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 13. 10. UU yang terakhir ini memberikan wewenang yang besar kepada daerah untuk melakukan pengelolaan dan pelestarian mangrove. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa. Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1967 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Bidang Perkebunan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah.mengenai jalur hijau. Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan. Undang-undang Dasar Tahun 1945 Pasal 33 ayat 3. Beberapa peraturan yang berkait dengan pengelolaan mangrove di Indonesia 1. 8. 17. 6. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. Berkaitan dengan konservasi. 3. 5 Tahun 1990 mengenai perlindungan sumber daya hayati dan ekosistemnya dan Undang-undang No. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Agraria. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Perairan. peraturan yang paling relevan nampaknya adalah Kepres No. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan. 14.

Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. jalur mangrove pantai minimal 130 kali rata-rata pasang yang diukur ke darat dari titik terendah pada saat surut. Dalam pelaksanaannya dilapangan. Peraturan ini memberikan perlindungan yang lebih memadai terhadap zona jalur hijau. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II. Selanjutnya Dirjen Kehutanan mengeluarkan SK No. KB 550/246/ KPTS/1984 dan No. Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1989 tentang Tim koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional. Menurut SK tersebut. 22. 32 Tahun 1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung menggantikan seluruh peraturan terdahulu mengenai jalur hijau. SK ini ternyata memiliki beberapa kelemahan. Pada tahun 1984.I/4/2/18/ 1975) yang mengatur perlunya dipertahankan areal di sepanjang pantai selebar 400 meter dari rata-rata pasang rendah. Beberapa kritik yang dapat disampaikan mengenai SK ini antara lain adalah: SK ini tidak dapat diterapkan pada areal yang saat ini tidak memiliki tumbuhan mangrove lagi karena adanya eksploatasi pada masa lalu atau konversi. hendaknya diadakan penyesuaian yaitu pada areal yang awalnya hanya memiliki vegetasi mangrove. dikonversikan atau dirusak. melarang penebangan mangrove di Jawa. 333 . yang menghimbau pelestarian jalur hijau selebar 200 meter sepanjang pantai. Menurut SK tersebut. 082/KPTS-II/1984.) Dikeluarkannya SK Presiden No.20. Untuk itu.000 ha.3 Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Jalur hijau adalah zona perlindungan mangrove yang dipertahankan di sepanjang pantai dan tidak diperbolehkan untuk ditebang. 21. Fungsi jalur hijau pada prinsipnya adalah untuk mempertahankan pantai dari ancaman erosi serta untuk mempertahankan fungsi mangrove sebagai tempat berkembangbiak dan berpijah berbagai jenis ikan. serta melestarikan seluruh mangrove yang tumbuh pada pulau-pulau kecil (kurang dari 1. 60/KPTS/DJ/I/ 1978 mengenai panduan silvikultur di areal air payau. 5. jalur hijau ditetapkan selebar 10 meter di sepanjang sungai dan 50 meter di sepanjang pantai pada pasang terendah. Kebijakan pemerintah untuk merumuskan suatu jalur hijau dimulai pada tahun 1975 ketika dikeluarkan SK Dirjen Perikanan (No H. menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama No.

Permasalahan ini dapat diatasi dengan mendefenisikan pengukuran dari hutan mangrove terluar dekat laut.000 meter. tumbuhan dan ekosistem di Indonesia pada dasarnya telah tercakup dalam Undang-undang No. SK mengesampingkan adanya keterkaitan ekologis. Di beberapa daerah seperti diatas. 434 . serta areal lindung yang penting disajikan pada Bab 6. dkk (1997) melakukan studi penetuan lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta menggunakan pendekatan analisis sistem yang menghasilkan rekomendasi perkiraan lebar mangrove di daerah tersebut sekitar 1. Secara ekologis. lebar jalur hijau mangrove seyogyanya ditentukan secara spesifik untuk setiap lokasi karena setiap tempat mempunyai karakteristik lingkungan yang spesifik. Misalnya di Jawa.4 Peraturan yang berkait dengan konservasi mangrove Perlindungan satwa. Pilihan tersebut umumnya tidak memadai pada daerah yang telah memiliki pemanfaatan tradisional yang intensif. baik untuk tambak maupun berbagai bentuk pemanfaatan lainnya yang sebenarnya tidak mendukung konservasi mangrove. sehingga akan menyulitkan tercapainya suatu konsesus pengelolaan mangrove di beberapa daerah. lebar jalur hijau yang dihitung dari titik terendah saat air surut hanya berupa dataran lumpur saja dan tidak sampai ke hutan mangrovenya. 5 Tahun 1990 mengenai konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya. kelangsungan hidup jalur hijau tersebut tidak akan terjamin sepenuhnya. Peraturan ini menginstruksikan kepada seluruh gubernur dan bupati/walikotamadya di seluruh Indonesia untuk melakukan penetapan jalur hijau hutan mangrove di daerahnya masing-masing. 26 Tahun 1997 tentang Penetapan Jalur Hijau Hutan Mangrove. misalnya dengan mangrove daratan. SK ini tidak memacu adanya perlindungan terhadap mangrove secara menyeluruh maupun fungsi ekologisnya. termasuk total areanya. sumber air tawar atau dengan rawa air tawar. Misalnya. SK ini hanya memberikan pilihan untuk konservasi. hampir seluruh areal mangrove yang ada telah dimanfaatkan oleh penduduk. Informasi lebih lanjut mengenai areal mangrove yang dilindungi. Peraturan terakhir mengenai jalur hijau adalah Inmendagri No. Tanpa adanya perlindungan terhadap ekosistem pendukung secara terpadu. 5.Penentuan jalur hijau dengan menggunakan SK ini di pantai-pantai yang datar atau dataran lumpur yang luas tidak dapat digunakan secara efektif. Hilmi.

Departemen Kehutanan mengeluarkan gagasan perlunya pengembangan luasan areal kawasan lindung dari 15 juta hektar menjadi 30 juta hektar. mulai dari langkah-langkah yang diambil dilapangan sampai perencanaan tingkat pusat.5 Perkembangan terakhir Berbagai inisiatif dan gagasan telah dikembangkan berkaitan dengan kebijakan nasional dibidang pengelolaan mangrove di Indonesia. sekitar tahun 1400-an.000 hektar disampaikan oleh Asian Wetland Bureau/Wetlands International . beberapa usulan pemasukan areal baru maupun penambahan luas areal yang telah ada diajukan oleh berbagai organisasi yang bergerak dibidang pelestarian alam. Tipe kolam yang paling sederhana. dimana kondisi di pulau ini dapat menjadi model pengelolaan mangrove yang penduduknya padat. Sejarah gangguan terhadap mangrove oleh penduduk setempat di pulau Jawa seringkali dilakukan oleh nelayan. Menyambut gagasan ini. Sebagai contoh yang baik dapat dilihat di Jawa. 5. seperti perangkap ikan dan kepiting dengan membangun pematang di daerah pasang surut. 1987). mengukuhkannya menjadi suatu kawasan lindung atau dalam bentuk jalur hijau saja. Akan tetapi disadari bahwa pengelolaan mangrove yang baik tidak akan tercapai hanya dengan mengembangkan kebijakan-kebijakan. Gagasan ini juga menyangkut sejumlah besar luasan kawasan mangrove. termasuk penebangan mangrove untuk keperluan pembangunan tambak. Memasuki abad ke-20.Pada tahun 1993. Populasi penduduk yang semakin bertambah menyebabkan meningkatnya konversi lahan 353 . Usulan penambahan areal konservasi mangrove baru seluas 630. Pengelolaan juga akan sangat tergantung pada bagaimana mengakomodasikan serta mengontrol kebutuhan masyarakat yang tinggal dan hidup di sekitar mangrove. Diketahui bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat mempengaruhi upaya pengelolaan mangrove. pola ini beralih ke sistem produksi yang intensif. malah mungkin telah dilakukan lebih awal (Naamin.Indonesia Programme (1994). dimana hal ini berkaitan dengan pendapatan mereka yang rendah serta alternatif mata pencaharian yang terbatas. Kegiatan budi daya air payau di Jawa merupakan fenomena kegiatan tradisional yang telah berlangsung sejak dahulu. Yang terpenting diantaranya adalah: Kebijakan nasional dibidang pengelolaan keanekaragaman hayati lautan Strategi nasional dibidang pengelolaan mangrove Kebijakan nasional dibidang pembangunan pedesaan Strategi nasional dibidang pengelolaan jalur hijau pesisir Kebijakan-kebijakan diatas sangat bermanfaat untuk memberikan kejelasan dalam pengelolaan sumber daya mangrove.

Selain ikan. instansi pemerintah pusat dan daerah. diharapkan dalam jangka panjang manfaat dan fungsi mangrove dapat berjalan dan dirasakan kembali. upaya produksi kayu seringkali mengalami kegagalan karena pohonpohonnya jarang sekali mencapai ukuran komersial dan jumlahnya yang terbatas. jika masyarakat memperoleh hasil yang cukup dari sistem tersebut (terutama hasil ikan atau udang). Ironisnya. Upaya mengubah perbandingan ukuran luas hutan dan tambak. 436 . hutanhutan tersebut merupakan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani untuk hutan produksi. serta penduduk setempat melaksanakan berbagai program dan kegiatan penanaman mangrove. tapi sayangnya sebagian besar usaha-usaha penghutanan kembali ini tidak berhasil. hutan mangrove tersebut menjadi milik Perum Perhutani. pada tahun 1986 Perum Perhutani mulai melaksanakan program Kehutanan Sosial di areal mangrove. Di lain hal. Secara hukum. Sebenarnya. akan tetapi sistem intensif membutuhkan investasi yang jauh lebih besar. Sayangnya. dimana secara ekologis mangrove masih berfungsi secara optimal dan hasil pendapatan dari budidaya ikan layak untuk memenuhi kebutuhan hidup. dalam mencegah semakin hilangnya areal mangrove. Upaya ini baik sebagai respon terhadap terjadinya erosi di pantai maupun semakin berkurangnya cadangan anakan ikan di pantai. kemungkinan sistem tersebut dapat ditularkan ke daerah lain. hasil ikan yang diperoleh memang sangat rendah bila dibandingkan dengan sistem pengelolaan yang intensif. banyak usaha-usaha penanaman kembali mangrove dilaksanakan pada tingkat lokal. Hal ini menyebabkan hampir 90 % hutan mangrove hilang. pada beberapa tahun terakhir ini. diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan yang timbul. Program ini pada dasarnya adalah merehabilitasi lahan-lahan mangrove yang telah terdegradasi dengan penanaman pohon. Dalam beberapa tahun kemudian hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi tambak. dan membangun saluran untuk budi daya ikan dan udang. dengan sistem silvofishery ini pemanenan kayu mangrove secara berkelanjutan berpotensi tinggi. sehingga akan membatasi insentif yang dapat diperoleh dan pengembangan pengelolaan oleh masyarakat setempat. Dengan sistem ini. Polanya adalah lahan pasang surut seluas 80% sebagai hutan mangrove dan yang 20% digunakan sebagai kolam untuk budidaya ikan.mangrove untuk pembangunan tambak serta meningkatkan permintaan terhadap kayu bakar. Berbagai LSM. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengembalikan mangrove sebagai hutan produksi dari penduduk setempat. Masalah yang dihadapi kebanyakan disebabkan oleh kurang tersedianya peta-peta yang akurat dan statusnya yang tidak jelas. Dengan berkembangnya upaya-upaya penanaman mangrove. Jika ini terlaksana. yaitu memadukan kegiatan pengelolaan mangrove dengan produksi perikanan (silvofishery). Untuk mengatasi tingginya laju konversi. maka akan dapat meminimalisasi usaha gangguan terhadap hutan mangrove.

areal mangrove seluas 1. dimana pada lokasi-lokasi tersebut di dalamnya memiliki habitat mangrove.765 Status Karang GadingLangkat Timur Laut (1) Pulau Berkeh Pulau Burung Hutan Bakau Pantai Timur (2) Berbak Sumatera Selatan I Way Kambas Pulau Penaitan SUM-08 Sumut Sumatera SM SUM-14 SUM-25 SUM-36 SUM-38 SUM-48 SUM-51 JAV-01 Riau Riau Jambi Jambi Sumatera Sumatera Sumatera 01°05’S/104°00’T Sumatera 01°10’S/104°20’T 500* 200* 2. Kawasan lindung di Indonesia yang memiliki habitat mangrove Lokasi Kode Propinsi Pulau WDB (a) Posisi Luas areal Total Mangrove Area (ha) (ha) 11.600 hektar sebagai hutan suaka alam dan wisata (tidak termasuk Jawa).099.363 hektar.000 356.000 17. Bina Program INTAG (1996).400 atau 31 % dari luas areal mangrove Indonesia telah masuk dalam kawasan lindung. Tabel 5.VI. AREAL MANGROVE YANG DILINDUNGI 6.500 15.1 Mangrove dan sistem kawasan lindung Meskipun beberapa areal mangrove di Indonesia telah dimasukan kedalam suatu kawasan lindung. namun pada kenyataan di lapangan menunjukkan banyak diantaranya yang masih mendapat tekanan yang cukup berarti. Tabel 5 berikut merupakan daftar 41 lokasi kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Indonesia. Adapun data areal mangrove yang telah dilindungi yang tercatat dari setiap lokasi adalah seluas 551.800 123.700 500 200 6.500 SM CA CA TN TN TN TN Lampung/ Sumatera 05°30’S/104°15’T Bengkulu Lampung Jabar Sumatera 04°50’S/105°40’T Jawa 06°36’S/105°09’T 373 . Dari tabulasi data fungsi hutan/lahan menurut Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Lahan (RPPH/TGHK) tercatat seluas 424.700* 500* <2.000* <500* 1.800 hektar masuk dalam kategori hutan lindung dan 674.500 165. Menurut data Dit. dimana 86% diantaranya terdapat di Irian Jaya.

000 6.000 55.000* <3.000 50.000* 750 <500 <200* 300 7.000* <500 <20 <10 4.000 320.000* 10.000* 35.000 296.579 2.15 7.000 150.000 50.000 38.000 2.127 2.000 <1.000 94.600 130.000 85 60 35.000 82.026 25.499 TN CA LIPI CA CA SM CA CA TN TN CA TN TN CA TN CA TW SM TN CA CA SM TB SM SM TN SM 438 .000 10 3 18 <2 <200* <50* <1.000* <2.000 200.000 30 7 56 15.000* 7.Ujung Kulon Pulau Dua Pulau Pari Pulau Rambut Muara Angke (3) Cikepuh Leuweng Sancang Kepulauan Karimun Jawa Baluran Meru Betiri Nusa Barung Bali Barat Gunung Palung Muara Kendawangan Tanjung Puting Pulau Kaget (4) Pulau Kembang (4) Pleihari Tanah Laut Kutai Marisa Morowali Lampuko-Mampie (5) Watumohae (6) Lambale Tanjung Peropa Komodo Pulau Menipo JAV-36 JAV-03 JAV-04 JAV-05 JAV-07 JAV-14 JAV-16 JAV-21 JAV-27 JAV-31 JAV-32 JAV-33 KAL-06 KAL-07 KAL-11 KAL-18 KAL-19 KAL-21 KAL-36 SUL-03 SUL-11 SUL-28 SUL-30 SUL-33 SUL-36 NUT-06 NUT-12 Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jateng Jatim Jatim Jatim Bali Kalbar Kalbar Kalteng Kalsel Kalsel Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Sultra Sultra NTB NTB Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Bali Kalimantan Kalimantan Kalimantan 02°55’S/112°00’T Kalimantan Kalimantan 03°12’S/112°32’T Kalimantan 04°20’S/114°31’T Kalimantan 00°18’N/117°20’T Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Komodo Timor 08°35’S/119°30’T 03°25’S/119°30’T 04°30’S/122°00’T 04°45’S/123°05’T 07°15’S/106°27’T 07°45’S/107°55’T 05°48’S/110°40’T 07°50’S/114°25’T 08°21’S/113°49’T 08°27’S/113°22’T 08°10’S/114°30’T 05°58’S/106°42’T 06°01’S/106°12’T 1.4 8.100 19.000* <500 300 20 <200 3.

250 T N 500. 1991). dkk (1987).363 hektar (86% di Irian Jaya) Catatan: Kecuali disebutkan. Desember 1988.000* 301.000 304. 1994 dan Rusila.500 165. mungkin sebagian telah rusak Giesen (1991) (KGLTL) Giesen (1991) (HBPT) Jakarta Post melaporkan konversi areal. serta pengamatan penulis Pengamatan penulis. Baltzer & Baruadi (1991). Areal mangrove di SM Karang Gading Langkat Timur Laut (Sumut) hampir seluruhnya telah berubah menjadi habitat sekunder.2 Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Mangrove tidak terwakili dengan baik pada kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Sumatera. (a) * 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Kode yang tercantum pada Wetland Data Base yang dikembangkan oleh Wetlands International dan PHPA (1990 – sampai saat ini) Kondisi saat ini dari mangrove tersebut tidak jelas. akan tetapi tetap belum mewakili suatu habitat mangrove yang baik. Giesen.000 SM TN TOTAL AREAL KAWASAN MANGROVE YANG DILINDUNGI: 551.180 180. Beberapa areal lindung mangrove yang lebih kecil juga telah dikukuhkan dan penting bagi burung air (mis. Silvius & Taufik (1989) 6. 393 .500 TN SM CA Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian 1.000 1.560.000 11. seluruh data diambil dari Silvius. Kedua lokasi tersebut telah diidentifikasi sebagai habitat penting bagi burung air pengembara serta berbagai jenis burung bangau dan pelatuk besi (Giesen. sementara SM hutan Bakau Pantai Timur (Jambi) kondisinya cukup mengkhawatirkan. Pulau Berkeh dan Pulau Burung). Pengamatan penulis. Desember 1988.000 13.Manusela Pulau Baun Yamdena Lorentz Pulau Kimaam (7) Wasur & Rawa Biru MAL-09 MAL-16 MAL-17 IRI-14 IRI-17 IRI-20 Maluku Maluku Maluku Seram Aru Tanimbar 03°00’S/130°00’T 06°35’S/134°05’T <3.000 3.000 6.

000 hektar mangrove di Sulawesi telah dikukuhkan sebagai areal lindung. 1989). Jumlah seluas ini sebenarnya mengandung ketidakjelasan karena survey di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda.957 hektar (BAPPEDA Tk.000 hektar areal mangrove di kawasan Lampuko . dkk.Lumu meskipun arealnya kecil.400 hektar mangrove di utara Sungai Lariang (Giesen. 1991). Sumatera Selatan. Areal lain umumnya hanya memiliki luas yang kecil atau telah rusak. sebagian mangrove didaerah ini telah dikonversi menjadi tambak oleh masyarakat. Sekitar 7. 440 . yaitu di Sungai Sembilang. Kawasan lindung mangrove yang terluas di Jawa mungkin di Pulau Panaitan. Areal ini diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1989 dan sebenarnya telah disetujui oleh pemerintah setempat (Danielsen & Verheugt. Di Kalimantan. Tanjung Puting (Kalimantan Tengah).700 ha). 1996).Areal mangrove di Sumatera yang kondisinya masih baik adalah komplek mulut sungai antara Delta Sungai Musi dan Banyuasin. 1998). namun mengkombinasikannya sebagai kawasan konservasi dan kawasan pemanfaatan secara berkelanjutan mungkin merupakan pilihan yang terbaik (White.1990 menunjukkan bahwa 2. Mangrove di Lariang .Mampie (Sulsel) dan hampir 3. tetapi telah berkembang dengan baik dan memiliki tegakan yang telah matang. Beberapa kawasan lindung mangrove seperti CA. Rusila dkk.000 hektar mangrove terdapat di Taman Nasional Gunung Palung dan SM Muara Kendawangan (keduanya di Kalimantan Barat) dan TN. Survey di Sulawesi Selatan (Giesen.) disarankan untuk dijadikan kawasan lindung. Jawa Barat (1.000 hektar di Taman Buru Watumohai (Sultra) sebenarnya telah dikonversikan menjadi tambak. Sebuah usulan telah diajukan untuk menetapkan kawasan lindung yang di dalamnya termasuk 5. Pulau Jawa telah kehilangan sekitar 90% mangrovenya dan hanya sedikit dari areal mangrove yang tersisa masuk kedalam kawasan lindung. dkk.Berbak akan merupakan kawasan terbaik untuk perlindungan Harimau Sumatera. Areal ini telah diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1980-an.000 ha) dan Lariang . Meskipun usulan ini telah beberapa kali diajukan termasuk usulan untuk penggabungannya dengan Taman Nasional Berbak. Frazier (1992) menyatakan bahwa apabila usulan terakhir dapat diwujudkan.800 ha. sayangnya sampai saat ini belum dapat diwujudkan. Areal mangrove terluas yang ada di Jawa saat ini adalah di Segara Anakan. 1991). Cilacap yaitu 8. 1987. Pulau Rambut di Teluk Jakarta penting sebagai tempat berkembangbiaknya berbagai jenis burung air (Silvius dkk. yang berbatasan dengan Propinsi Jambi (Danielsen & Verheugt. DI TN Kutai (Kalimantan Timur). Pulau Dua di ujung barat Jawa Barat serta CA. Areal Mangrove di utara Teluk Bone (23. dkk. maka kawasan lindung Sembilang . 1987). Luas ini mewakili 8% dari luas mangrove yang ada pada tahun 1990. II Cilacap. Sekitar 1. lebih dari 15. 1991) dan di Sulawesi Tenggara pada tahun 1989 .000 hektar mangrove terdapat di bagian utara pantai Taman Nasional Ujung Kulon (Hommel. 1989 dan Verheugt. 1997 dalam PKSPL IPB. 1989).Lumu (7. dkk.

Jawa. Komodo dan SM Pulau Menipo. Dari pengamatan di lapangan. Wasur (6. Tanimbar (10. Lorentz (301.000 hektar). Luas tersebut nampaknya sudah cukup mewakili. Sulawesi Selatan.000 hektar mangrove di TN. C.000 ha. Sebanyak 32 jenis dari 39 jenis tersebut (yaitu yang terdapat di Indonesia Barat. dan SM.500 ha). Usulan untuk menjadikan areal seluas 450.000 hektar sebagai kawasan lindung.000 hektar mangrove telah dikukuhkan di Maluku yaitu di TN Manusela. Pulau Baun. CA. Pulau Kimaam (165. Areal mangrove seluas lebih dari 472.).) dan di TN.000 hektar areal mangrove telah diusulkan oleh Petocz (1983) dan kemudian diajukan pula oleh Erftemeijer. ternyata habitat rawapun tidak kurang rentannya. Heritiera globosa. CA. Seram (3. Dari jenis-jenis tersebut. Sejumlah 38 jenis tumbuhan mangrove sejati maupun mangrove ikutan terdapat hanya di Indonesia Barat. terdapat 6 jenis yang hanya tumbuh pada habitat mangrove dan kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh hilangnya areal mangrove yaitu Amyema gravis. Allen & Zuwendra (1989). 6. dimana jalur mangrove selebar lebih dari 30 kilometer dan tegakan yang matang tumbuh dengan baik. schultzii. terutama di Sumatera.000 hektar telah dikukuhkan di Irian Jaya yaitu di TN. Oberonia rhizophoreti dan Phoenix paludosa. sebagai akibat dari tekanan pembangunan (Giesen. Dari jumlah tersebut. Rusaknya mangrove di Indonesia Barat dan Sulawesi akan mengakibatkan hilangnya jenis-jenis tumbuhan mangrove. Jenis lain yaitu Amyema anisomeres diketahui hanya ada di bagian utara Teluk Bone. Yamdena.3 Pemeliharaan keanekaragamn hayati mangrove Dari uraian diatas nampak jelas bahwa secara umum mangrove belum terwakili dalam sistem areal lindung di Indonesia. yang paling rentan adalah Phoenix paludosa yang diketahui hidup di Sumatera bagian utara. kegiatan pembangunan dilaksanakan dengan pesat dan areal mangrove merupakan salah satu subjek konversi. Sekitar 14. Areal mangrove yang paling berkembang dengan baik sebenarnya terdapat di Teluk Bintuni. 413 . Kalimantan dan Sulawesi.180 ha. meskipun sebenarnya untuk kepentingan konservasi keanekaragaman hayati akan lebih baik jika areal mangrove di Kei dan Kepulauan Aru juga dilindungi. tetapi tidak hanya ditemukan di habitat mangrove).000 hektar). 1994). paling tidak setengahnya tumbuh di hutan rawa yang berdekatan dengan habitat mangrove. Kepulauan Aru (1.000 hektar). Sayangnya di Kedua lokasi tersebut. Camptostemon philippinensis.Areal mangrove di Nusa Tenggara telah masuk ke dalam kawasan lindung dengan adanya 3. termasuk 250.

3. Untuk melindungi keanekaragaman hayati tumbuhan mangrove. 3. termasuk: 1. 2. sementara A. maka diusulkan agar lokasi-lokasi dibawah ini segera dapat dilindungi : 1. 2. Lorentz dan SM. hendaknya perhatian diberikan terhadap kerentanan jenis-jenis yang bersifat endemik. 442 . Tiga jenis tumbuhan mangrove diketahui endemik untuk Indonesia. Sumatera Selatan Segara-Anakan.Terkait dengan konservasi keanekaragaman hayati. Pulau Kimaam Wildlife Identifikasi dan penambahan areal lindung mangrove di Kepulauan Kei dan Aru. Jawa Tengah Bagian utara Sungai Lariang. I. 4. yaitu Amyema anisomeres. timorensis hanya ditemukan di luar areal kawasan lindung dan hanya di lokasi yang terbatas. upaya pro-aktif nampaknya harus juga dilakukan untuk perlindungan habitat mangrove di Indonesia Timur. brookeanum juga relatif langka. Dalam jangka panjang. Pengukuhan kawasan lindung mangrove Teluk Bintuni Perbaikan pengelolaan di TN. Sungai Sembilang. dan hanya ditemukan di beberapa lokasi di Sumatera dan Kalimantan. anisomeres bahkan lebih rentan dibandingkan 2 jenis lainnya. R. Sulawesi Selatan Beberapa lokasi lain di Kalimantan (kemungkinan di Kalimantan Timur) sesuai dengan pengkajian lapangan yang lebih rinci. Rhododendron brookeanum dan Ixora timorensis.

2 Petunjuk untuk pengamatan lapangan Melakukan pengamatan di habitat mangrove memerlukan lebih dari sekedar buku panduan. pustaka yang bisa ditelusuri antara lain adalah Watson (1928) dan MacNae (1968). Saenger. Pengamatan di lingkungan mangrove seringkali harus menggunakan perahu atau sampan. Duke. kelompok jenis atau jenis tertentu. Sejak awal tahun 80-an sampai saat ini. (1984. MacNae (1968). eksploitasi serta pengelolaan mangrove di Indonesia. 433 . 1997). teropong dan alat tulis saja. sehingga memudahkan pergerakan. stamina yang baik serta ketahanan terhadap udara panas. BEBERAPA PETUNJUK STUDI MANGROVE BAGI PEMULA 7. Untuk mempelajari mangrove di Asia Tenggara. lumpur. air asin dan terutama nyamuk. keringat. persiapan yang baik adalah salah satu syarat untuk tercapainya tujuan pengamatan. Untuk menghindari panas. Beberapa karya tulis klasik yang layak untuk dibaca antara lain van Steenis (1958) yang memberikan informasi umum mengenai mangrove dalam pengantarnya terhadap makalah dari Ding Hou (1958) mengenai Rhizophoraceae. disarankan untuk mempelajari beberapa buku klasik yang menjelaskan informasi mengenai mangrove secara lebih luas. 1987).1 Pustaka penting Bagi mereka yang ingin mempelajari mangrove lebih rinci dan mendalam. melainkan juga memerlukan waktu yang cukup panjang. Diantaranya adalah menyiapkan baju lengan panjang dari bahan katun atau bahan lain yang menyerap keringat. dkk (1984) dan Duke (1992). cairan anti nyamuk dan alat-alat tulis yang tahan kondisi basah. Sebelum melakukan pengamatan. Untuk mengetahui informasi mengenai cara budidaya mangrove dapat dibaca Pedoman Pembuatan Persemaian dan Penanaman Mangrove oleh Kusmana (1998) atau Panduan Teknis Penanaman Mangrove bersama Masyarakat oleh Khazali (1999). LIPI bersama Program MAB Indonesia telah menyelenggarakan seminar ekosistem hutan mangrove yang dapat digunakan sebagai sumber informasi yang cukup memadai. dkk (1983). pada umumnya menyentuh masalah lokasi. Tomlinson (1986). dkk. Chapman (1976a). 7. Disarankan untuk tidak membawa barang yang tidak terlalu penting. Beberapa tulisan lain yang ditulis oleh penulis luar maupun ilmuwan Indonesia (misalnya Kusmana. serta bab mengenai mangrove yang ditulis oleh Whitten dkk.VII. termasuk jika sewaktu-waktu harus memanjat pohon mangrove untuk mendapatkan sampel herbarium atau keperluan lainnya. seperti Watson (1928). Studi yang komprehensif mengenai mangrove di Indonesia belum begitu banyak.

spesimen dapat disimpan dalam kantung pelastik yang tahan air dan sama sekali tidak terbuka terhadap udara luar. bahan ini cukup mahal. fauna permukaan dan dalam tanah serta tipe perakaran) kondisi ini kurang mendukung. Untuk itu perlu disediakan kantung plastik serta kotak plastik tahan air untuk menyimpan peralatan tersebut. Lihatlah daftar pasang-surut. dan buah dari pohon yang akan diidentifikasi. walaupun untuk keperluan lainnya (misalnya pengamatan tanah. tipe akar serta bunga/buahnya. 7. Untuk 25 . perlu dibuat koleksi tumbuhan.sebaiknya gunakan topi yang dapat menyerap keringat. tumbuhan pada habitat mangrove tidaklah setinggi pohon-pohon di hutan hujan tropis. atau melindungi saat kita mengambil photo pada saat hujan. tanggal.35 spesimen dibutuhkan 1 liter methylate spirit. pengamatan vegetasi di habitat mangrove relatif lebih mudah. Kelemahannya. melelahkan dan menguras keringat. Lebih dari itu. mudah terbakar dan mudah menguap. karenanya perlu perencanaan matang. sehingga pengamat harus memfokuskan perhatiannya pada perbedaan kulit kayu. Untuk perjalanan yang lebih lama. Spesimen sebaiknya disimpan diantara kertas koran yang dijepit oleh bambu atau tripleks.3 hari kemudian. Sebagian besar bentuk pohonnya memiliki kesamaan. Jika waktu pengamatan tidak memungkinkan. Meskipun demikian. karena terbatasnya jenis tumbuhan serta sifat perbungaannya yang tidak terlalu musiman. Payung kecil kadang-kadang juga sangat bermanfaat untuk melindungi diri dari panas atau hujan. tipe perakaran. pengamatan pada habitat mangrove juga memiliki kesulitan tersendiri. Biasanya dengan cara ini spesimen masih bisa diidentifikasi selama 2 . Air tinggi biasanya akan lebih memudahkan kita untuk mencapai tujuan tertentu.3 Spesimen tumbuhan mangrove Dibandingkan dengan pengamatan di hutan tropis. karena itu air minum dan makanan kecil secukupnya perlu dipersiapkan. Air laut sangat “jahat” terhadap kamera serta peralatan optis lainnya. dan kemudian ditaburi methylate spirit. Identifikasi dapat dilakukan kemudian di laboratorium dengan membuat catatan mengenai lokasi. Berperahu di lingkungan mangrove akan sangat dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. dan habitat. Hal ini berarti bahwa hampir setiap saat dapat ditemukan pohon yang memiliki bunga atau buah yang akan memudahkan identifikasi jenis pohon. yakni dengan mengambil daun. 444 . Melakukan pengamatan di habitat mangrove cukup menyita waktu. bunga.

7. Sementara untuk fauna vertebrata diantaranya disajikan dalam Sasekumar (1984) dan English et al. antara tahun 1985 1992. Jakarta. kecuali dalam metoda ini dibuat plot-plot (misalnya luas 100 m2/radius 5 m) dengan jarak antar plot pada garis (misalnya 20 m). Pengamatan di lapangan kemudian akan memberikan informasi yang lebih baik. yaitu membuat garis transek dengan panjang tertentu (misalnya 100 meter atau 500 meter) dengan lebar 10 sampai 20 meter. 453 . dan biasanya bisa diperoleh di LAPAN.5 Studi Fauna Untuk keperluan studi fauna vertebrata. 7.000 yang melingkupi hampir seluruh wilayah Indonesia.4 Studi vegetasi Untuk pengamatan vegetasi. termasuk sabuk mangrove yang umumnya memiliki kharakteristik lokasi yang berbeda. kemudian dicatat tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang di dalam dan disinggung garis tersebut. Pada metoda yang pertama. baik secara visual maupun dengan menggunakan perangkat lunak komputer tertentu. Peta tersebut mencakup Sistem Lahan serta tipe tata guna lahan dan hutan yang akan sangat bermanfaat dalam studi vegetasi. terutama karena peta serta citra saja tidak akan memberikan keterangan yang memadai mengenai kondisi yang sebenarnya di lapangan. Metoda-metoda diatas antara lain dijelaskan dengan lebih rinci oleh Chapman (1984) dan English. Khusus untuk burung air (bermigrasi) disarankan untuk menggunakan Howes (1989) dan Rusila (1999). Transek kemudian dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya. dkk (1994). yaitu transek garis (strip sampling) dan transek plot garis (line plot sampling). Untuk mengetahui informasi mengenai analisis vegetasi hutan (termasuk mangrove) dapat dibaca buku Metoda Survey Vegetasi yang disusun oleh Kusmana (1997). (1994). Peta topografi dapat diperoleh di BAKOSURTANAL. Cibinong. Bagaimanapun. sementara peta tematik yang paling memadai saat ini adalah yang diproduksi oleh RePPProT (the Regional Physcial Planning Programme for Transmigration) dengan skala 1 : 250. metoda yang dilakukan tidak banyak berbeda dengan metoda yang biasa digunakan di daratan. kemudian dicatat seluruh tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang tumbuh dalam lebar tersebut. Jawa Barat. Selain peta. Cara termudah melakukan pengamatan di lapangan adalah dengan melakukan transek. sangat membantu jika memiliki peta topografi serta peta tematik. citra inderaja juga sangat membantu perencanaan studi. gabungan kedua metoda tersebut akan memberi hasil yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pada dasarnya terdapat dua metoda transek yang dapat dipakai. Metoda kedua juga pada prinsipnya sama. serta beberapa lainnya. Pada citra inderaja yang memadai dapat membedakan zona vegetasi yang berbeda.

7. Fakultas Kehutanan IPB./Fax.6601/6602 (fax) 446 . Tel. Subdit Perairan. 16-B. Box 17. Tel. 3.O. xx. Yayasan Indonesia untuk kemajuan desa (YASIKA) Jln.81. Ditjen Perlindungan dan Konservasi Alam (PKA). Yayasan Mangrove Jl. Tel. 061-516338/535016. Bogor 16002 Tel. Tel.895. University of the Ryukyus. 0251-621086 Organisasi Internasional 1. Pancoran Indah. Jakarta. Lt. Ancol Timur. Liga Mas Indah. Tel.Pengamatan fauna invertebrata pada habitat mangrove umumnya berkaitan dengan zonasi. 021-7940403 SEAMEO-BIOTROP Southeast Asia Regional Center for Tropical Biology. densitas. 7. 0251-621244. Fax. Okinawa 903-01. P3O . Medan 20112.98. Departemen Kehutanan Gedung Manggala Wanabhakti. 0251-323848. ISME Secretariat. Bogor 16152. Bogor. Wetlands International . 021-5720227 2. Box 286 Tel. Arzimar III No. PO.: 0251-312189. North Sumatra. Laboratorium Ekologi Hutan. Jakarta. PO. Teknik yang digunakan biasanya dilakukan dengan menggunakan pengambilan sampel lumpur. 5. Gatot Subroto. Tel/fax. Box 254/BOO. km 6/P. tel.682287/683850/ 681948(fax). Fax 061-516338. 1. 0251-325755 2.6 Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Organisasi/institusi nasional 1.: 021. P. 17.LIPI Jl. 0251-621086/624815. Jl. International Society for Mangrove Ecosystems (ISME). Nishihara. 7. produktivitas. c/o College of Agriculture. A III/4. 4. Erlangga No. 6. Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan IPB. Tel. 4. Kampus IPB Darmaga. Japan. Jurusan Manajemen Hutan.O. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut IPB Gedung Marine Center Lt.Indonesia Programme Jl. pemilahan dan identifikasi jenis. Box 168 Bogor. pola distribusi vertikal (khususnya berkaitan dengan pasang surut air laut) dan fauna bawah tanah. Pasir Putih No. Indonesia. Jakarta Utara. Raya Tajur. Jl. Blok VII. pengayakan.

473 .

Panjang tandan bunga lebih pendek dari A. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A.Acanthus ebracteatus Vahl ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju putih.5 cm. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun. Ujung: meruncing. Unit & Letak: Sederhana. ebracteatus hampir sama dengan A. Ketika tumbuh bersamaan dengan A. sedangkan bunganya sendiri 2-2. A. Bunga hanya mempunyai satu pinak daun utama. ilicifolius. berlawanan.volubilis sebagai satu jenis. Berbunga pada bulan Juni. Formasi: bulir. Bentuk: lanset. Deskripsi umum : A. Manfaat : Buah digunakan sebagai “pembersih” darah serta untuk mengatasi kulit terbakar.ilicifolius dan A. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. Filipina. Catatan : 448 . Daun mengobati reumatik. ilicifolius keduanya memperlihatkan adanya karakter yang berbeda sebagaimana diuraikan dalam deskripsi. dan Kepulauan Pasifik Barat. Terdapat di seluruh Indonesia. akan tetapi sering sekali membingungkan. ilicifolius.53 cm. Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. Letak: di ujung. Ukuran: 7-20 x 4-10 cm. tetapi seluruh bagiannya lebih kecil. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. Dari India sampai Australia Tropis. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung cerah. Ukuran: Buah panjang 2.ebracteatus. ilicifolius (lihat halaman berikutnya). kadang agak putih di bagian ujungnya. karena yang sekunder biasanya cepat rontok. Daun : Pinggiran daun umumya rata kadang bergerigi seperti A. biji 5-7 mm.

b. bunga. buah. c. daun 493 .Acanthus ebracteatus daun bunga buah a c b a.

A. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. Filipina dan Kepulauan Pasifik barat. darulu. Akar udara muncul dari permukaan bawah batang horizontal. yang memiliki kemampuan untuk menyebar secara vegetatif karena perakarannya yang berasal dari batang horizontal. Cabang umumnya tegak tapi cenderung kurus sesuai dengan umurnya. Catatan : 450 . Bunga memiliki satu pinak daun penutup utama dan dua sekunder. daruyu. berlawanan. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. sangat jarang di daratan. Bentuk: lanset lebar. Daun mengobati reumatik. Terdapat di seluruh Indonesia. ebracteatus. kadang agak putih. volubilis sebagai satu jenis. Panjang tandan bunga 10-20 cm. Pohon juga dapat digunakan sebagai makanan ternak. Manfaat : Buah ditumbuk dan digunakan untuk “pembersih” darah serta mengatasi kulit terbakar. sedangkan bunganya sendiri 5-4 cm. sehingga membentuk bagian yang besar dan kukuh.Acanthus ilicifolius L. Ujung: meruncing dan berduri tajam. sampai sejauh 2 m. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung. kuat. ketinggian hingga 2m. Letak: di ujung. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A. tepi daun bervariasi: zigzag/bergerigi besar-besar seperti gergaji atau agak rata dan secara gradual menyempit menuju pangkal. Ukuran: 9-30 x 4-12 cm. biji 10 mm. Biji tertiup angin. Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. Permukaan daun halus. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. ilicifolius dan A. Di Bali berbuah sekitar Agustus. Memiliki kekhasan sebagai herba yang tumbuh rendah dan kuat. ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju hitam. Bunga kemungkinan diserbuki oleh burung dan serangga. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun. Unit & letak: sederhana. Dari India hingga Australia tropis. Daun : Dua sayap gagang daun yang berduri terletak pada tangkai. Deskripsi umum : Herba rendah.53 cm. Ukuran: buah panjang 2. agak berkayu. Pinak daun tersebut tetap menempel seumur hidup pohon. terjurai di permukaan tanah. Formasi: bulir. Biasanya pada atau dekat mangrove. Percabangan tidak banyak dan umumnya muncul dari bagian-bagian yang lebih tua.

c. b. buah. bunga. daun 513 .Acanthus ilicifolius daun bunga buah a b c a.

bercampur dengan urat yang sempit dan tipis. Ujung pinak daun yang steril dan lebih panjang membulat atau tumpul dengan ujung yang pendek.speciosum. A. Spora besar dan berbentuk tetrahedral. Terdapat di seluruh Indonesia.speciosum yang kecoklatan. Tingkat toleransi terhadap genangan air laut tidak setinggi A. Pinak daun letaknya berjauhan dan tidak teratur. Daun: Panjang 1-3 m. panjang hingga 1 cm. Ferna tahunan yang tumbuh di mangrove dan pematang tambak. PTERIDACEAE Nama setempat : Piai raya. Biasa terdapat pada habitat yang sudah rusak. hanya terdapat di bagian pangkal dari gagang. wikakas. Manfaat : Akar rimpang dan daun tua digunakan sebagai obat. Ditemukan di bagian daratan dari mangrove. Peruratan daun menyerupai jaring. jenis ini menyukai areal yang terbuka terang dan disinari matahari. ditutupi oleh urat besar. Bagian bawah dari pinak daun tertutup secara seragam oleh sporangia yang besar. sepanjang kali dan sungai payau serta saluran. tetapi dengan titik yang kecil. kala keok. tipis ujungnya. wrekas. Pinak daun terbawah selalu terletak jauh dari yang lain dan memiliki gagang yang panjangnya 3 cm. Catatan : 452 . sementara pada A. besar.aureum lebih tinggi. coklat tua dengan peruratan yang luas. Kelimpahan : Sangat melimpah setempat. Pengenalan yang paling mudah adalah dengan melihat ujung daunnya. Deskripsi umum : Ferna berbentuk tandan di tanah. seperti areal mangrove yang telah ditebangi yang kemudian akan menghambat tumbuhan mangrove untuk beregenerasi. pucat.speciosum runcing-memanjang. Daun digunakan sebagai dan alas ternak. Secara umum. Menebal di bagian pangkal. memiliki tidak lebih dari 30 pinak daun. A. Batang timbul dan lurus. Duri banyak. mangrove varen.speciosum. Sisik yang luas.speciosum.aureum pada umumnya agak tumpul. paku cai. tinggi hingga 4 m. Daun mudanya dilaporkan dimakan di Timor dan Sulawesi Utara. menebal di bagian tengah. hata diuk. berwarna hitam. Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. Tidak seperti A. dan individu mudanya lebih kemerahan dibandingkan dengan A. Seringkali keliru dengan A. Ujung daun fertil berwarna coklat seperti karat.Acrostichum aureum Linn. paku laut. krakas.

daun.Acrostichum aureum pohon b a c d a. c. spora. d. pohon 533 . ujung pinak daun. b.

Spora besar dan berbentuk tetrahedral . Di seluruh Indonesia. Khususnya tumbuh pada gundukan lumpur yang “dibangun” oleh udang dan kepiting. Sisik pada akar rimpang panjangnya hingga 8 mm. serta daun mudanya berwarna hijau-kecoklatan. pada umumnya panjangnya kurang dari 1 m dan memiliki pinak daun fertil berwarna karat pada bagian ujungnya. Peruratan daun berbentuk jaring.aureum dalam hal ukuran pinak daunnya yang lebih kecil dan ujungnya meruncing. Biasanya menyukai areal yang terlindung. hanya terdapat di bagian pangkal daun. panjang hingga 1 cm. Pinak daun berukuran kira-kira 28 x 10 cm. permukaan bagian bawah pinak daun yang fertil berwarna coklat tua dan ditutupi oleh sporangia. Daun : Sangat mencolok. 454 . Ferna tahunan. Ekologi : Penyebaran : Asia dan Australia tropis. tertutup secara seragam oleh sporangia besar. Sisik menebal di bagian tengah.Acrostichum speciosum Willd. Jenis ini berbeda dengan A.5 m. Pinak daun yang steril memiliki ujung lebih kecil dan menyempit. Tumbuh pada areal mangrove yang lebih sering tergenang oleh pasang surut. Deskripsi umum : Ferna tanah. “Kecambah” (sebenarnya “bibit spora”) berlimpah pada bulan Januari hingga April (di Jawa). Daun yang fertil dihasilkan pada bulan Agustus hingga April. membentuk tandan yang kasar dengan ketinggian hingga 1. PTERIDACEAE Nama setempat : Piai lasa. Manfaat : Daun digunakan sebagai alas kandang ternak. Kelimpahan : Melimpah setempat. Sisik luas.

pohon 553 . b. c. ujung pinak daun.Acrostichum speciosum pohon b a c d a. spora. daun. d.

Diameter batang sampai 20 cm. Burma. Maluku. Ukuran: 6-9 x 2-5 cm. bentuk tabung.November. Di Australia. Kadang-kadang memiliki akar tunjang. Kelopak Bunga: 5. Letak: di ujung tandan/ tangkai bunga. rotundifolia memiliki daerah penyebaran yang tidak bersambung. annulata dan A. Daun : Terdapat lobang longitudinal dan kelenjar garam. Biasanya memiliki akar yang menjalar pada permukaan tanah. dan ranting dengan goresan berbentuk cincin. tumpang tindih.5-3 meter. A. bengkak pada bagian pangkal dan memiliki tekstur seperti busa. Tandan bunga yang asimetris memiliki banyak bunga. 7-8 mm. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. sedangkan buah yang matang tumbuh pada bulan Januari . Gagang daun panjangnya 8 cm. Kulit kayu bagian luar berwarna hitam. umumnya memiliki ketinggian 1. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kepulauan Sunda kecil. Formasi: payung (ada banyak bunga). kadang-kadang dijumpai sebagai pohon sampai 7 meter tingginya. putih kadang abu-abu pucat. PLUMBAGINACEAE Nama setempat : Tidak tahu. memiliki 5 sudut. rotundifolia terdapat di Bangladesh. A. Kelimpahan : Umum. Bentuk: lanset seperti pedang. berwarna kemerahan ketika telah matang.Maret. Juga tumbuh pada daerah yang lebih berpasir dan berkarang serta tergenang oleh air dengan salinitas yang sama dengan air laut (pada akhir musim kering). Buah berbentuk kapsul melengkung. 456 . akan tetapi penggunaannya belum pernah dilaporkan. pada mangrove yang rendah dengan substrat lumpur. Penyerbukan dilaporkan dibantu oleh semut. perbungaan terjadi pada bulan September . Thailand dan Kepulauan Andaman. Manfaat : Catatan : Memiliki kandungan tanin yang sangat tinggi.Br. Ukuran: 3-4 x 4-5 cm. 5-8 mm. PNG dan Australia Utara. Daun Mahkota: 5.Aegialitis annulata R. Ujung: meruncing. halus dan kemudian bercelah sejalan dengan bertambahnya umur. Deskripsi umum : Semak kecil. Tumbuh pada daerah mangrove terbuka sebagai individu yang terpisah atau dalam kelompok kecil. Bunga dari kedua jenis tumbuhan ini memiliki perbedaan karakteristik yang tidak terlalu penting.

bunga. d. daun. b. c. buah. pohon 573 .Aegialitis annulata a c b d a.

permukaan halus. Kelimpahan : Umum. Papua New Guinea. Daun muda dapat dimakan. Malaysia. bercelah. Daun : Daun berkulit. Kayu untuk arang. Bunga digunakan sebagai hiasan karena wanginya. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka.7 cm. gigi gajah. Australia dan Kepulauan Solomon. Dalam buah terdapat satu biji yang membesar dan cepat rontok. serta memiliki sejumlah lentisel. seringkali bercampur warna agak kemerahan.) Blanco MYRSINACEAE Nama setempat : Teruntun. klungkum. duduk agung. kacangan. Kelopak Bunga: 5. Buah berwarna hijau hingga merah jambon (jika sudah matang). ditutupi rambut pendek halus. tanah dan cahaya yang beragam. 5-6 mm. Unit & Letak: sederhana & bersilangan.5 cm dan diameter 0. dengan masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 8-12 mm. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga.5 cm. Manfaat : Kulit kayu yang berisi saponin digunakan untuk racun ikan. seringkali tumbuh dalam kelompok besar. Ukuran: panjang 5-7. 458 . Ukuran: 11 x 7. Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips. Formasi: payung. putih. Memiliki toleransi yang tinggi terhadap salinitas. Biasanya segera tumbuh sekelompok anakan di bawah pohon dewasa. seluruh Indonesia. dan kemungkinan diserbuki oleh serangga. kayu sila. dimana embrio muncul melalui kulit buah ketika buah yang membesar rontok. Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian pohon mencapai 6 m. kacang-kacangan. Cina selatan. tudung laut. teruntung. Buah dan biji telah teradaptasi dengan baik terhadap penyebaran melalui air. Daun Mahkota: 5.. Biji tumbuh secara semi-vivipar. putih . Kulit kayu bagian luar abu-abu hingga coklat kemerahan. membengkok seperti sabit.Aegiceras corniculatum (L.hijau. Ujung: membundar. Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion. Akar menjalar di permukaan tanah. Mereka umum tumbuh di tepi daratan daerah mangrove yang tergenang oleh pasang naik yang normal. perepat tudung. perpat kecil. serta di bagian tepi dari jalur air yang bersifat payau secara musiman. di beberapa daerah agak melimpah. terang. berwarna hijau mengkilat pada bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. gedangan.

c. bunga. d. buah. pohon 593 . daun. b.Aegiceras corniculatum daun bunga buah a c b d a.

Bentuk: bulat telur terbalik. Jawa Timur. MYRSINACEAE Nama setempat : Mange-kasihan Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian mencapai 4 m.7 cm. bagian bawah hijau pucat kadang kemerahan. Ukuran: panjang 3 cm dan diameter 0. bagian atas terang dan hijau mengkilat. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan Utara. Manfaat : Tidak tahu. ditutupi rambut pendek halus. Kulit kayu bagian luar berwarna abu-abu hingga coklat. bercelah dan memiliki sejumlah lentisel. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Tumbuh di daerah mangrove. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. Ukuran: 3-6 cm Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 4-6 mm. Formasi: payung. tercatat pula tumbuh pada substrat berkarang. Maluku. Ujung: membundar.hijau. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga.Aegiceras floridum R. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Pengetahuan tentang jenis ini sangat terbatas. Kelopak bunga: 5. putih. bentuk agak lurus. Daun Mahkota: 5. Sulawesi. 4 mm. Daun : Berkulit. putih. Buah berisi satu biji memanjang dan cepat rontok. pada tepi pantai berpasir hingga tepi sungai. Akar menjalar di permukaan tanah. 460 . Kelimpahan : Jarang dan tersebar. Buah berwarna hijau hingga merah. Bali. seluruh Filipina hingga Indo Cina.& S.

buah. c.Aegiceras floridum daun & buah bunga a b c a. b. bunga. daun 613 .

Satu dari sedikit tumbuhan mangorve endemik di Indonesia. panjang 2.5 mm. Daun : Daun tersebar. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Mungkin sangat terbatas. karena hanya terkolesi satu kali di Kampung Lato-u dekat Malili. Deskripsi umum : Epifit parasit.5 mm. Daun Mahkota: merah muda.10 mm. Kelopak Bunga: berbentuk corong.Amyema anisomeres Dans. halus. Mungkin endemik di Sulawesi.5-8. Ukuran: 5. memiliki percabangan bulat. Tandan bunga terdapat secara tunggal atau berpasangan. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Mungkin sangat langka. pangkal daun menyempit pada gagang yang panjangnya 8 . Formasi: payung (3 bunga). Sulawesi Selatan. kepala sari bulat panjang. Gagang bunga bulat. Benang sari: panjangnya 1.5 mm. panjang 19-20 mm. Letak: di ketiak daun. hampir silindris. Ujung: meruncing.5 x 1. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu.5-3 cm. dengan 4 atau 5 daun mahkota tumpul berukuran 3. Tidak diketahui Hanya terkoleksi satu kali pada pohon Rhizophora. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. 462 . Manfaat : Catatan : Tidak tahu. panjang 4-7 mm.

Amyena anisomeres b a c a. daun 633 . b. bunga. c. buah.

Ukuran: panjang hingga 5 cm. Bentuk: bulat telur terbalik. panjangnya 0. Rhizophora dan Sonneratia. biasanya menggantung. Perbungaan sepanjang tahun. Kalimantan. Malaysia. Daun : Bunga : Memiliki daun yang tebal. Tandan bunga tumbuh soliter pada ketiak daun. 464 . Ujung: membundar. Tidak diketahui.Amyema gravis Dans. Daun mahkota bunga berwarna merah serta pangkal berwarna kuning-kehijauan. Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat. Setiap tandan memiliki 2-3 gagang yang berisi bunga. Deskripsi umum : Hemi-parasit.5-1 m. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Kepulauan Kangean dan Jawa Timur. Hemi-parasit pada Avicennia. Manfaat : Tidak tahu. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu.

Amyena gravis a b a c a. c. buah. bunga. b. daun 653 .

Kepala sari panjangnya 1.) Dans. Parasit eksklusif pada mangrove. Deskripsi umum : Parasit epifit dengan batang halus yang membesar pada bagian buku serta memiliki banyak cabang. dikelilingi oleh daun kelopak bunga yang berurutan.5 cm. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Australia Utara. Ukuran: 2.Amyema mackayense (Blake.5-2. Tangkai benang sari yang menopang kepala sari berukuran 3-5 mm. Ujung: membundar. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Papua New Guinea dan dekat Merauke (Irian Jaya). Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat. Warna daun mahkota bunga tidak diuraikan dalam pustaka. Buah elips. Daun : Daun berbentuk seperti sendok lebar dengan gagang daun sepanjang 6-15 cm.5 mm. Manfaat : Catatan : Tidak tahu. 466 .5-4 x 1. Bentuk: bulat telur.

Amyena mackayense a b a b c a. buah. bunga. b. c. daun 673 .

Bentuk: lanset (seperti daun akasia) kadang elips. bawahnya pucat. dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon. Daun : Permukaan halus. serta di sepanjang garis pantai. kuning cerah. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m. koak. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. mangi-mangi putih. bagian atas hijau mengkilat. Daun Mahkota: 4. boak. Ujung: meruncing. 3-4 mm. Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan. PNG dan Australia tropis. Pada bagian batang yang tua. Dari India sampai Indo Cina. Kelimpahan : Melimpah. Buah dapat dimakan. Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas tandan. Formasi: bulir (ada 10-30 bunga per tandan). Perbungaan terjadi sepanjang tahun. melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina. beberapa ditumbuhi tonjolan kecil. 468 . Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. Akar nafas biasanya tipis. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api.Avicennia alba Bl. berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. Letak: di ujung/pada tangkai bunga. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung. sementara yang lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. Benang sari: 4. Getah dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. Hijau muda kekuningan. Kelopak Bunga: 5. Seperti kerucut/cabe/mente. Ukuran: 16 x 5 cm. Ukuran: 4 x 2 cm. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah. kadangkadang ditemukan serbuk tipis.

Avicennia alba daun bunga buah a c d b a. d. b. daun. bunga. c. buah. pohon 693 .

Bunga berdiameter 3-4 mm. Manfaat : Catatan : Digunakan sebagai kayu bangunan dan kayu bakar. berlawanan. Tumbuh di pulau-pulau lepas pantai yang berkarang. dan juga pada bagian pinggir atau tengah daratan dari rawa mangrove. kuning atau merah muda. bagian luar berambut pendek. Seperti jenis lain pada genus ini. Ukuran: 4-16 cm x 1-4 cm. Setengah bagian atas dari bakal buah memiliki bulu. Daun Mahkota: warna putih. Bunganya mirip bunga Avicennia marina. Kulit kayu bagian dalam berwarna seperti jerami padi sampai coklat pucat. 470 . ex Miq. Kulit kayu luar halus bercoreng-coreng. mengelupas pada bagian-bagiannya yang tipis.Avicennia eucalyptifolia (Zipp. Benang sari: berwarna ungu tua hingga coklat. Formasi: bulir. Tandan bunga membesar di ujung dengan panjang sampai 2.5 cm. Bentuk: bulat memanjang. Daun : Permukaan bagian atas hijau muda sampai hijau tua atau hijau kecoklatan dan kuning kehijauan pada bagian bawah. Unit & Letak: sederhana. Ukuran: Panjang kurang dari 3 cm. Letak: di ujung. Buah berwarna kuning kehijauan. tidak memiliki mulut buah yang nyata.) Moldenke AVICENNIACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. berwarna coklat kekuningan atau hijau. Kelimpahan : Umum. Kelopak Bunga: hijau pucat. mereka seringkali bersifat vivipar. Deskripsi umum : Semak atau pohon dengan ketinggian mencapai 17 meter. Kayu berwarna putih sampai seperti jerami. Ujung: meruncing. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di Irian Jaya dan PNG. panjang 2-5 mm.

b. daun.Avicennia eucalyptifolia pohon a b a. pohon 713 .

Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya). Bentuk: elips. Ujung: membundar – agak meruncing. Daun : Memiliki kelenjar garam. Ukuran: sekitar 1. ujungnya berparuh pendek dan jelas. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar. bau menyengat.Februari dan berbuah antara bulan November hingga Maret.5 x 2. Kelimpahan : Tidak diketahui. Kelopak Bunga: 5. daerah yang kering dan toleran terhadap kadar garam yang tinggi. Bali. Memiliki akar nafas dan berbentuk pensil. bagian bawah daun putih kekuningan dan ada rambut halus. 4-5 mm. Kulit kayu seperti kulit ikan hiu berwarna gelap. Semenanjung Malaysia. coklat hingga hitam. Formasi: bulir (8-14 bunga). kuning pucat-jingga tua. Daun Mahkota: 4. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. 472 . Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan. Singapura.5 cm. tepi sungai. Bergerombol muncul di ujung tandan. Tumbuh pada dataran lumpur. warna hijau-agak kekuningan. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/ tandan bunga. Lombok. Diketahui (di Bali dan Lombok) berbunga pada bulan Juli . dapat mencapai ketinggian hingga 8 meter.Avicennia lanata (Ridley). Ukuran: 9 x 5 cm. Benang sari: 4 Buah seperti hati.

daun 733 . b. bunga.Avicennia lanata daun buah pohon a b c a. c. buah.

Benang sari: 4. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api putih. Daun digunakan sebagai makanan ternak.) Vierh.5 cm. Australia. melalui lapisan dorsal. akar nafas tegak dengan sejumlah lentisel. Kelimpahan : Melimpah. bulat telur terbalik. nyapi. Formasi: bulir (2-12 bunga per tandan). pejapi. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Polynesia dan Selandia Baru. Ujung: meruncing hingga membundar. Ranting muda dan tangkai daun berwarna kuning. Sedang dilakukan revisi taksonomi. sia-sia putih. Akarnya sering dilaporkan membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan tanah timbul. Manfaat : Daun digunakan untuk mengatasi kulit yang terbakar. Daun : Bagian atas permukaan daun ditutupi bintik-bintik kelenjar berbentuk cekung. Ditemukan di seluruh Indonesia. tidak berbulu. Catatan : 474 . Buah membuka pada saat telah matang. api-api abang. Buah dapat dimakan. Ukuran: sekitar 1. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di Afrika. Kulit kayu halus dengan burik-burik hijau-abu dan terkelupas dalam bagian-bagian kecil.Avicennia marina (Forsk. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Kelopak Bunga: 5. Amerika Selatan. Kayu menghasilkan bahan kertas berkualitas tinggi. Ukuran: 9 x 4. sie-sie. Resin yang keluar dari kulit kayu digunakan sebagai alat kontrasepsi. 5-8 mm.5x2. Jenis ini dapat juga bergerombol membentuk suatu kelompok pada habitat tertentu. Bentuk: elips.5 cm. bulat memanjang. Berbuah sepanjang tahun. Daun Mahkota: 4. Asia. Seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan. Memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit dan berbentuk pensil (atau berbentuk asparagus). Buah agak membulat. Jenis ini merupakan salah satu jenis tumbuhan yang paling umum ditemukan di habitat pasang-surut. ketinggian pohon mencapai 30 meter. memiliki kemampuan menempati dan tumbuh pada berbagai habitat pasang-surut. Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya) dan ujung buah agak tajam seperti paruh. pai. hajusia. bau menyengat. Merupakan tumbuhan pionir pada lahan pantai yang terlindung. Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar. Bagian bawah daun putih.) Bakh.abu-abu muda. nektar banyak. kadang-kadang bersifat vivipar. berwarna hijau agak keabu-abuan. intermedia (Griff. Buah dapat juga terbuka karena dimakan semut atau setelah terjadi penyerapan air. kuning pucat-jingga tua. Backer & Bakhuizen van den Brink (19638) hanya menyebutkan varietas A. bahkan di tempat asin sekalipun.

b. c. daun. d. bunga. buah.Avicennia marina daun bunga buah a c d b a. pohon 753 .

Daun : Berwarna hijau tua pada permukaan atas dan hijau-kekuningan atau abu-abukehijauan di bagian bawah. bau menyengat. khususnya di sepanjang sungai yang dipengaruhi pasang surut dan mulut sungai. Getah kayu dapat digunakan sebagai bahan alat kontrasepsi. 1015 mm. seringkali tertutup oleh rambut halus dan pendek pada kedua permukaannya. Deskripsi umum : Pohon. semakin tua warnanya semakin hitam. Kelimpahan : Umum. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tersebar di seluruh Indonesia. berbentuk jari dan ditutupi oleh sejumlah lentisel. Juga tersebar dari India selatan sampai Malaysia dan Indonesia hingga PNG dan Australia timur. Bentuk seperti hati. Susunan seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan. Daun Mahkota: 4. Kelopak Bunga: 5. Ujung: membundar. Ukuran: 12. Kulit kayu bagian luar memiliki permukaan yang halus berwarna hijau-keabu-abuan sampai abu-abu-kecoklatan serta memiliki lentisel.5 x 6 cm. bulat memanjang-bulat telur terbalik atau elipsbulat memanjang. Benang sari: 4. Kayunya dapat digunakan sebagai kayu bakar. api-api daun lebar. Pada umumnya memiliki akar tunjang dan akar nafas yang tipis. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Permukaan atas daun ditutupi oleh sejumlah bintikbintik kelenjar berbentuk cekung. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Permukaan buah agak keriput dan ditutupi rapat oleh rambut-rambaut halus yang pendek. ujungnya berparuh pendek. menyempit ke arah gagang. lebih panjang dari daun mahkota bunga. papi.Avicennia officinalis L. Manfaat : Buah dapat dimakan. marahuf. bahkan kadang-kadang sampai 20 m. biasanya memiliki ketinggian sampai 12 m. Formasi: bulir (2-10 bunga per tandan). Ukuran: Sekitar 2x3 cm. Daun mahkota bunga terbuka tidak beraturan. kuning-jingga. Tumbuh di bagian pinggir daratan rawa mangrove. Berbunga sepanjang tahun. sia-sia putih. warna kuning kehijauan. api-api ludat. 476 . merahu. api-api kacang. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api.

b. pohon 773 . d. c. daun.Avicennia officinalis buah daun & bunga a c b d a. buah. bunga.

Para nelayan tidak menggunakan kayunya untuk kepentingan penangkapan ikan karena kayu tersebut mengeluarkan bau yang menyebabkan ikan tidak mau mendekat. ketinggian pohon kadang-kadang mencapai 23 meter. atau di bagian tengah vegetasi mangrove kearah laut. bius. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Asia Tenggara dan Australia. Bentuk: elips. tanjang sukim. lindur. muncul di ujung tandan (panjang tandan: 1-2 cm).Bruguiera cylindrica (L. Hipokotil (seringkali disalah artikan sebagai “buah”) berbentuk silindris memanjang. Pangkal buah menempel pada kelopak bunga. bawahnya seperti tabung. 34 mm. Kelopak Bunga: 8. Kelimpahan : Umum. Memiliki buah yang ringan dan mengapung sehinggga penyebarannya dapat dibantu oleh arus air. biasanya pada tanah liat di belakang zona Avicennia. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Burus. Jenis ini juga memiliki kemampuan untuk tumbuh pada tanah/substrat yang baru terbentuk dan tidak cocok untuk jenis lainnya. Tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. tanjang sukun. Di beberapa daerah. relatif halus dan memiliki sejumlah lentisel kecil. 478 . Ukuran: Hipokotil: panjang 8-15 cm dan diameter 5-10 mm. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. berakar lutut dan akar papan yang melebar ke samping di bagian pangkal pohon. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Ukuran: 7-17 x 2-8 cm. tanjang putih. Bunga mengelompok.) Bl. akar muda dari embrionya dimakan dengan gula dan kelapa. seluruh Indonesia. tapi pertumbuhannya lambat. lengadai. tanjang. hijau kekuningan. lalu menjadi coklat ketika umur bertambah. Daun Mahkota: putih. Warna hijau didekat pangkal buah dan hijau keunguan di bagian ujung. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Manfaat : Untuk kayu bakar. termasuk Irian Jaya. Kulit kayu abu-abu. Kemampuan tumbuhnya pada tanah liat membuat pohon jenis ini sangat bergantung kepada akar nafas untuk memperoleh pasokan oksigen yang cukup. Ujung: agak meruncing. Daun : Permukaan atas daun hijau cerah bagian bawahnya hijau agak kekuningan. dan oleh karena itu sangat responsif terhadap penggenangan yang berkepanjangan. Sisi luar bunga bagian bawah biasanya memiliki rambut putih. sering juga berbentuk kurva. Formasi: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga.

b. c. buah.Bruguiera cylindrica bunga buah pohon a c b a. bunga. daun 793 .

Hipokotil relatif kecil dan mudah tersebar oleh pasang surut atau banjir.5-11. tepi daun mahkota memiliki rambut berwarna putih dan kemudian akan rontok. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Penyebaran terbatas. Diketahui dari Timor. Daun mahkota: 8-10. Kelimpahan : Cukup umum.Bruguiera exaristata Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tidak tahu. silindris agak menggelembung. Ujung: meruncing. sexangula sering dikelirukan dengan jenis ini. panjang 10-15 mm. Bentuk: bulat memanjang. Pada masa lalu B. Formasi: soliter. Deskripsi umum : Semak atau pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 10 m. Kelopak bunga: 8-10. pangkal batang menonjol. Anakan tumbuh tidak baik di bawah lindungan. Hipokotil berbentuk tumpul. Irian Jaya Selatan dan Australia Utara.5 x 2. 480 . Ukuran: Hipokotil: panjang 5-7 cm dan diameter 6-8 mm Tumbuh di sepanjang jalur air atau menuju bagian belakang lokasi mangrove. Manfaat : Catatan : Tidak tahu. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. Kulit kayu berwarna abu-abu tua. bagian bawah memiliki bercak-bercak. Unit & letak: sederhana & berlawanan. dan memiliki sejumlah besar akar nafas berbentuk lutut.5 x4. tepi daun sering tergulung ke dalam. Letak: di ketiak daun. Daun : Permukaan atas daun berwarna hitam. Substrat yang cocok adalah tanah liat dan pasir. Ukuran: 5. Kadang-kadang ditemukan suatu kelompok yang hanya terdiri dari jenis tersebut. menggantung. panjang 10-13 mm. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. Bunga hijau-kekuningan.5 cm.

bunga. buah. b.Bruguiera exaristata a c b a. daun 813 . c.

tergantung. menggantung. Tumbuh di areal dengan salinitas rendah dan kering. panjang 13-16 mm. sala-sala. mutut besar. serta tanah yang memiliki aerasi yang baik. Buah melingkar spiral. Jenis ini toleran terhadap daerah terlindung maupun yang mendapat sinar matahari langsung. tenggel. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. kandeka. Mereka juga tumbuh pada tepi daratan dari mangrove. Bunga bergelantungan dengan panjang tangkai bunga antara 9-25 mm. Malaysia dan Indonesia menuju wilayah Pasifik Barat dan Australia Tropis. Substrat-nya terdiri dari lumpur. tongke. hal tersebut dimungkinkan karena buahnya terbawa arus air atau gelombang pasang. totongkek. tomo. Hipokotil lurus. serta tahap awal dalam transisi menjadi tipe vegetasi daratan. Formasi: soliter. Kulit kayu memiliki lentisel. tanjang. wako. panjang 30-50. Regenerasinya seringkali hanya dalam jumlah terbatas. Ukuran: Hipokotil: panjang 12-30 cm dan diameter 1. bangko. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. sarau. taheup. tanjang merah. dan mengundang burung untuk melakukan penyerbukan. dau. Kayunya yang berwarna merah digunakan sebagai kayu bakar dan untuk membuat arang. Daun Mahkota: 10-14. tumu. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Pertut. pasir dan kadang-kadang tanah gambut hitam. Akarnya seperti papan melebar ke samping di bagian pangkal pohon. permukaannya halus hingga kasar. warna merah muda hingga merah. Manfaat : Bagian dalam hipokotil dimakan (manisan kandeka). Bunga relatif besar. mangimangi. Kelopak Bunga: 10-14. Bentuk: elips sampai elips-lanset. Kadang-kadang juga ditemukan di pinggir sungai yang kurang terpengaruh air laut.5-22 cm. Letak: di ketiak daun. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur dan Madagaskar hingga Sri Lanka.5 cm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Daun : Daun berkulit. dicampur dengan gula. Ujung: meruncing Ukuran: 4. panjang 2-2. lindur. berwarna abu-abu tua sampai coklat (warna berubah-ubah). memiliki kelopak bunga berwarna kemerahan. Kelimpahan : Umum dan tersebar luas. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan pada bagian bawahnya dengan bercak-bercak hitam (ada juga yang tidak).5-2 cm.5-7 x 8. bako. sepanjang tambak serta sungai pasang surut dan payau. putut. Merupakan jenis yang dominan pada hutan mangrove yang tinggi dan merupakan ciri dari perkembangan tahap akhir dari hutan pantai. bundar melintang. Ditemukan di tepi pantai hanya jika terjadi erosi pada lahan di hadapannya.) Lamk. putih dan coklat jika tua. tumpul dan berwarna hijau tua keunguan. 482 . juga memiliki sejumlah akar lutut.Bruguiera gymnorrhiza (L.

b. daun 833 . c.Bruguiera gymnorrhiza daun & bunga hipokotil a c b a. bunga. hipokotil.

Kulit kayu berwarna coklat hingga abu-abu. Daun : Daun berkulit. Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove pada areal yang relatif kering dan hanya tergenang selama beberapa jam sehari pada saat terjadi pasang tinggi. Bentuk: elips sampai bulat memanjang. seluruh Indonesia dan Papua New Guinea. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan di bawahnya. Manfaat : Tidak tahu. 484 . Hipokotil berbentuk cerutu atau agak melengkung dan menebal menuju bagian ujung.G. Unit & Letak: sederhana & berlawanan.Bruguiera hainessii C. Daun Mahkota: putih. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Burma. Kelimpahan : Agak kurang umum. panjangnya 5 mm. dengan lentisel besar berwarna coklat-kekuningan dari pangkal hingga puncak. Formasi: kelompok (2-3 bunga per tandan. Berambut pada tepi bawah dan agak berambut pada bagian atas cuping. Kelopak Bunga: 10. bagian bawah berbentuk tabung. Thailand. Ujung: meruncing. panjang 7-9 mm. hijau pucat. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 30 meter dan batang berdiameter sekitar 70 cm.Rogers RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus mata buaya. Ukuran: 9-16 x 4-7 cm. Ukuran: Hipokotil: panjang 9 cm dan diameter 1 cm. Malaysia. Letak: Di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga (panjang tandan: 18-22 cm).

Bruguiera hainessii c d b a a. bunga. b. d. buah/hipokotil. pohon 853 . c. daun.

Berambut pada tepinya. mengelangan.5-13 x 2-4. Substrat yang cocok termasuk lumpur.5 cm. Buah melingkar spiral. Ukuran: 5. permukaannya halus. yang merupakan ciri khasnya. Bentuk: elips. Ujung: meruncing. tanjang. Giesen & Sukotjo. Ukuran: Hipokotil: panjang 815 cm dan diameter 0. agak melengkung. Kelopak Bunga: 8. tanah payau dan bersalinitas tinggi. dan berbuah dari bulan September hingga Desember. Manfaat : Karena ukuran kayunya yang kecil.) W. Daun mahkota: 8. Dapat menjadi sangat dominan di areal yang telah diambil kayunya (misalnya Karang Gading-Langkat Timur Laut di Sumatera Utara. tongi. Hipokotil silindris. Jenis ini membentuk tegakan monospesifik pada areal yang tidak sering tergenang. bagian bawah berbentuk tabung. lenggadai. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Bangladesh hingga Samoa. 1991).& A. 486 . warna hijau kekuningan. Di Australia. Akar lutut dapat mencapai 30 cm tingginya. pasir. paproti. panjang 2 cm. bercelah dan agak membengkak di bagian pangkal pohon.Bruguiera parviflora (Roxb. Seluruh Indonesia. putihhijau kekuningan.5-1 cm. Bunga dibuahi oleh serangga yang terbang pada siang hari. Daunnya berlekuk-lekuk. jenis ini jarang digunakan untuk keperluan lain. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Langgade. sia-sia. Kelimpahan : Tersebar. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. tetapi melimpah setempat. panjangnya 7-9 mm. panjang 1. berwarna abu-abu hingga coklat tua. menggelembung. mou. Kulit kayu burik. Daun : Terdapat bercak hitam di bagian bawah daun dan berubah menjadi hijaukekuningan ketika usianya bertambah. Letak: di ketiak daun. tinggi (meskipun jarang) dapat mencapai 20 m. Formasi: kelompok (3-10 bunga per tandan). seperti kupu-kupu. perbungaan tercatat dari bulan Juni hingga September. Bunga mengelompok di ujung tandan (panjang tandan: 2 cm). Deskripsi umum : Berupa semak atau pohon kecil yang selalu hijau. Hipokotilnya yang ringan mudah untuk disebarkan melalui air.5-2mm. disebabkan oleh gangguan serangga. Individu yang terisolasi juga ditemukan tumbuh di sepanjang alur air dan tambak tepi pantai. warna hijau kekuningan. dan nampaknya tumbuh dengan baik pada areal yang menerima cahaya matahari yang sedang hingga cukup. kecuali untuk kayu bakar. bius. ex Griff.

Bruguiera parviflora bunga buah pohon c a b a. c. daun 873 . b. buah/hipokotil. bunga.

) Poir. exaristata dan B. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Busing. tongke perampuan. Bentuk: elips. Bunganya yang besar diserbuki oleh burung. halus hingga kasar. Buahnya dilaporkan digunakan untuk mengobati penyakit herpes. gymnorrhiza. tanjang.Bruguiera sexangula (Lour. sarau. Kelimpahan : Umum. Kelopak bunga: 10-12. Hipokotil menyempit di kedua ujung. Manfaat : Untuk kayu bakar. akar serta daunnya digunakan untuk mengatasi kulit terbakar. Identifikasi yang terbaik adalah melalui daun mahkota. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. mata buaya. gymnorrhiza. warna kuning kehijauan atau kemerahan atau kecoklatan. Ujung: meruncing. Daun : Daun agak tebal. Seluruh Asia Tenggara (termasuk Indonesia) hingga Australia utara. Di Sulawesi buahnya dimakan setelah direndam dan dididihkan. ting. payau dan tawar. Hipokotil disebarkan melalui air. Ukuran: 8-16 x 3-6 cm. dan memiliki bercak hitam di bagian bawah. Toleran terhadap kondisi air asin. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India. Tumbuh di sepanjang jalur air dan tambak pantai. berkulit. tumu. Ukuran: Hipokotil: panjang 6-12 cm dan diameter 1. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. mutut kecil. ai bon. memiliki sejumlah lentisel berukuran besar. Formasi: soliter (1 bunga per tandan). busung. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Biasanya tumbuh pada kondisi yang lebih basah dibanding B. pada berbagai tipe substrat yang tidak sering tergenang. panjang tabung 10-15 mm. Kadang berambut halus pada tepinya. panjang 15mm. putih dan kecoklatan jika tua. lindur. Letak: Di ketiak daun. tiang dan arang. Kulit kayu coklat muda-abu-abu.5 cm. dan di masa lalu seringkali dikelirukan dengan kedua jenis tersebut. dan kadangkadang akar papan. Kadang-kadang terdapat pada pantai berpasir. dan pangkal batang yang membengkak. Catatan : 488 . Daun makhota: 10-11. Akar lutut. bakau tampusing. tancang sukun. Sama dengan B.

bunga. daun 893 . b. c.Bruguiera sexangula daun bunga buah a c b a. buah/hipokotil.

Daun mahkota bunga berwarna putih. pangkalnya sempit. Bentuk: lanset-elips. Menurut Tomlinson (1986). Kalimantan dan Sulawesi. Kelimpahan : Tidak terlalu umum. kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan. Ujung: membundar. 490 .Camptostemon philippinense (Vidal) Becc. BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. Letak: di ketiak daun dan batang. Benang sari: 5. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. berupa semak atau pohon yang selalu hijau. Kulit kayu berwarna abu-abu dan memiliki celah/retakan longitudinal serta pangkal batang yang bergalur. Daun mahkota: putih. bersisik. Daun : Bunga : Permukaan daun bersisik. dan memiliki akar nafas yang menonjol. Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak. bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek. - Buah : Ekologi : Penyebaran : Filipina. Formasi: bulir. Ukuran: panjang buah 1 cm. panjang biji 9mm. kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m. Buah bundar berbentuk kapsul. dan memiliki daun kelopak bunga dan kelopak tambahan yang berurutan. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. Manfaat : Catatan : Tidak diketahui. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Ukuran: 6-9 x 2-4 cm.

buah.Camptostemon philippinense c b a a. c. bunga. daun 913 . b.

coklat atau coklat-keabu-abuan dan memiliki celah/retakan longitudinal dan lentisel serta pangkal batang yang bergalur. Kelimpahan : Relatif umum. Buah bundar berbentuk kapsul. Benang sari: 20. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. sementara bijinya yang berbulu disebarkan oleh air maupun angin. Menurut Tomlinson (1986). Ujung: membundar. Bentuk: lansetelips. Formasi: bulir. Daun Makhota: putih. Kelopak bunga: seperti cangkir. Mungkin diserbuki oleh serangga dan angin. cuping panjangnya 6 mm. Daun mahkota bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek berwarna putih. PNG dan Australia Utara. bagian bawah bersisik. bersisik. Manfaat : Catatan : Kayu dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas yang cukup kuat. berupa semak atau pohon yang selalu hijau. Berbunga pada bulan Juni sampai Oktober. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat dari Kalimantan. panjang biji 9mm. Daun : Daun berumbai-rumbai terletak pada akhir cabang. Maluku. Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak. Ukuran: panjang buah 1 cm. kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan. kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m dengan kulit kayu berwarna kuning pucat. buah matang pada bulan Oktober sampai Februari (di Australia). Buah dapat disebarkan melalui air (dengan kisaran gelombang sedang). Letak: Di ketiak daun dan cabang.Camptostemon schultzii Masters BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. dan memiliki daun kelopak bunga yang bagian luarnya berurutan dan bersisik. Tumbuh lebih baik di pantai berbatu dan terbuka dibandingkan dengan mangrove di mulut sungai. Umumnya tumbuh pada pantai berpasir yang berada pada kisaran areal pasang surut. dan memiliki akar nafas yang menonjol. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. Ukuran: 6-16 x 2-5 cm. 492 . bagian atas halus. pangkalnya sempit.

buah. b. bunga. pohon 933 . daun. d.Camptostemon schultzii a b c d a. c.

Ukuran: Hipokotil: panjang 15 cm dan diameter 8-12 mm. tebal dan bertakik. Malaysia. Kadang berambut halus pada tepinya. Letak: di ketiak daun. Sulawesi. sama atau lebih pendek dari kepala sari. Bentuk: elipsbulat memanjang. bantalan rel kereta api. parun. Leher kotilodon jadi merah tua jika sudah matang/ dewasa. kenyonyong. Jawa. luru. Deskripsi umum : Pohon atau semak kecil dengan ketinggian hingga 15 m. menempel dengan gagang yang pendek. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. tinci. tingi. palun. Kelopak bunga: 5.) Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengal. akan tetapi lebih umum pada bagian daratan dari perairan pasang surut dan berbatasan dengan tambak pantai. Kulit kayu merupakan sumber yang bagus untuk tanin serta bahan pewarna. Bangka. jarang berwarna abu-abu atau putih kotor. Kulit kayu berwarna coklat. Kalimantan. permukaan halus. warna hijau. Maluku. warna hijau hingga coklat. Ujung: membundar. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Papua New Guinea. ada lentisel dan berbintil.5 cm. Daun : Bunga : Daun hijau mengkilap. putih dan kecoklatan jika tua. tengar. Hipokotil berbentuk silinder. Benang sari: tangkai benang sari pendek. Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Indocina.5-4mm. rapuh dan menggelembung di bagian pangkal. Kelimpahan : Relatif jarang. ujungnya menggelembung tajam dan berbintil. Formasi: kelompok (2-4 bunga per kelompok). Catatan : 494 . serta pegangan berbagai perkakas bangunan. Ukuran: 3-10 x 1-4. bido-bido. Tumbuh tersebar di sepanjang hutan pasang surut. Bentuk dan ukuran daun sangat beragam bergantung kepada kadar cahaya dan air dimana suatu individu tumbuh. Bunga mengelompok. Daun mahkota: 5.Ceriops decandra (Griff. panjang 2. Manfaat : Jenis Ceriops memiliki kayu yang paling tahan/kuat diantara jenis-jenis mangrove lainnya dan digunakan sebagai bahan bangunan. Menyukai substrat pasir atau lumpur. Irian Jaya. Filipina dan Australia.

b. d. daun.Ceriops decandra daun bunga buah & hipokotil a c b d a. pohon 953 . c. bunga. buah/hipokotil.

Deskripsi umum : Pohon kecil atau semak dengan ketinggian mencapai 25 m. dan pegangan perkakas. tinci. tingih. Menyukai substrat tanah liat. Letak: di ketiak daun. Daun mahkota: 5. Juga terdapat di sepanjang tambak. berkulit halus. berresin pada ujung cabang baru atau pada ketiak cabang yang lebih tua. Dilaporkan bahwa anakan jenis ini dapat membelah menjadi dua. tengar. termasuk Australia Utara.decandra. warna hijau.Ceriops tagal (Perr. bido-bido. dan regenerasi mereka dapat terjadi melalui salah satu anakan tersebut. tangar. Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok). mange darat. Manfaat : Ekstrak kulit kayu bermanfaat untuk persalinan. kadang-kadang coklat. Ukuran: 1-10 x 2-3. Ujung: membundar. Catatan : 496 . lonro. panjang 45mm.Rob. tabung 2mm. wanggo. karena ketahanannya jika direndam dalam air garam. Daun : Daun hijau mengkilap dan sering memiliki pinggiran yang melingkar ke dalam. dan kemungkinan berdampingan dengan C.) C.B.5-2 cm. Leher kotilodon menjadi kuning jika sudah matang/dewasa. agak menggelembung dan seringkali agak pendek. bantalan rel kereta api. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. tengah. Malaysia dan Indonesia. Pohon seringkali memiliki akar tunjang yang kecil. Pewarna dihasilkan dari kulit kayu dan kayu. Benang sari: tangkai benang sari lebih panjang dari kepala sarinya yang tumpul. tingi. Buah panjangnya 1. mentigi. putih dan kemudian jadi coklat. Bunga mengelompok di ujung tandan. Kayu bermanfaat untuk bahan bangunan. Kelimpahan : Umum. palun. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengar. Membentuk belukar yang rapat pada pinggir daratan dari hutan pasang surut dan/atau pada areal yang tergenang oleh pasang tinggi dengan tanah memiliki sistem pengeringan baik. Kulit kayu berwarna abu-abu. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Mozambik hingga Pasifik Barat. Hipokotil berbintil. Ukuran: Hipokotil: panjang 4-25 cm dan diameter 8-12 mm. Tanin dihasilkan dari kulit kayu.5 cm. Bahan kayu bakar yang baik serta merupakan salah satu kayu terkuat diantara jenis-jenis mangrove. halus dan pangkalnya menggelembung. parun. dengan tabung kelopak yang melengkung. Kelopak bunga: 5. Gagang bunga panjang dan tipis. Bentuk: bulat telur terbalik-elips.

c. bunga. b. daun 973 .Ceriops tagal bunga buah & hipokotil a c b a. buah/hipokotil.

tetapi memiliki bintil. berisi biji berwarna coklat tua. Formasi: bulir. Batang. bersilangan. dan menyebar di sepanjang tandan. Jenis ini juga ditemukan tumbuh di sepanjang pinggiran danau asin (90% air laut) di pulau vulkanis Satonda. bebutah. khususnya lebah. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. akan tetapi wanginya akan hilang beberapa tahun kemudian. Benang sari: 3. Kayu tidak bisa digunakan sebagai kayu bakar karena bau wanginya tidak sedap bagi masakan. Catatan : 498 . misalnya di Suaka Margasatwa. Manfaat : Akar dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi dan pembengkakan. sesuai dengan namanya.5-10. Bentuk: elips. Kayu digunakan untuk bahan ukiran. goro-goro raci. Kelopak bunga: hijau kekuningan. dahan dan daun memiliki getah (warna putih dan lengket) yang dapat mengganggu kulit dan mata. warejit. Deskripsi umum : Pohon merangas kecil dengan ketinggian mencapai 15 m. kuning. tidak pernah keduanya. Kelimpahan : Melimpah setempat. Ukuran: diameter 5-7mm. Getah digunakan untuk membunuh ikan. yaitu buta-buta. EUPHORBIACEAE Nama setempat : Buta-buta. Kayu dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas yang bermutu baik. Kayunya kadang-kadang dijual karena wanginya. atau kadang-kadang di atas batas air pasang. berwarna hijau dan panjangnya mencapai 11 cm. Ujung: meruncing.Excoecaria agallocha L. Bentuk seperti bola dengan 3 tonjolan. Getah putihnya beracun dan dapat menyebabkan kebutaan sementara. kalibuda. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di sebagian besar wilayah Asia Tropis. kalapinrang. Umumnya ditemukan pada bagian pinggir mangrove di bagian daratan. menengan. ada 2 kelenjar pada pangkal daun. Sumatera Utara. Mereka umum ditemukan sebagai jenis yang tumbuh kemudian pada beberapa hutan yang telah ditebang. Kulit kayu berwarna abu-abu. Memiliki bunga jantan atau betina saja. halus. tersebar. termasuk di Indonesia. dekat Medan. Bunga jantan (tanpa gagang) lebih kecil dari betina. mata huli. warna hijau. seringkali berbentuk kusut dan ditutupi oleh lentisel. sambuta. betuh. makasuta. Tumbuhan ini sepanjang tahun memerlukan masukan air tawar dalam jumlah besar. Unit & Letak: sederhana. Penyerbukan dilakukan oleh serangga. Tandan bunga jantan berbau. Letak: di ketiak daun.5-5 cm. dan di Australia. kayu wuta. sebelah utara Sumbawa. madengan. Hal ini terutama diperkirakan terjadi karena adanya serbuk sari yang tebal serta kehadiran nektar yang memproduksi kelenjar pada ujung pinak daun di bawah bunga.5 x 3. Akar menjalar di sepanjang permukaan tanah. Karang-Gading Langkat Timur Laut. Daun : Hijau tua dan akan berubah menjadi merah bata sebelum rontok. Daun mahkota: hijau & putih. pinggiran bergerigi halus. Ukuran: 6. permukaan seperti kulit.

c. bunga.Excoearia agallocha bunga buah daun c a b d a. buah/hipokotil. b. daun. d. pohon 993 .

Gymnanthera paludosa

(Bl.) K.Schum.

ASCLEPIADACEAE

Nama setempat : Tidak tahu. Deskripsi umum : Semak pemanjat, hingga 4 m. Batang ditutupi oleh tonjolan. Pada umumnya tidak berambut, tetapi memiliki rambut pendek, halus di bagian atas. Daun : Bunga : Daun halus, tipis. Unit & Letak: sederhana, bersilangan. Bentuk: elips-bulat memanjang. Ujung: meruncing. Ukuran: 3-5,5 x 1-2 cm. Di antara pasangan tangkai daun, panjang tangkai bunga kurang dari 2 cm. Formasi: kelompok. Daun mahkota: halus, hijau kekuningan, memiliki tabung memanjang 7-8 mm, diameter 16-18 mm. Buah tipis, berpasangan dan berpengait di ujungnya. Biji berlunas dan halus tetapi memiliki rambut panjangnya 2-2,5 cm. Ukuran: panjang biji 5mm, panjang buah 10,5-12 cm. Tumbuh di mangrove. Bunga dari Oktober - Maret. Tercatat dari Jawa dan Madura, tetapi kemungkinan ditemukan di seluruh Indonesia.

Buah :

Ekologi : Distribusi :

Kelimpahan : Tidak tahu. Manfaat : Tidak tahu.

4100

Gymnanthera paludosa

daun & buah

a

c

b

a. bunga; b. buah; c. daun

1013

Heritiera globosa

Kostermans

STERCULIACEAE

Nama setempat : Dungun. Deskripsi umum : Sangat menyerupai Heritiera littoralis (lihat deskripsi berikut), perbedaannya terletak pada buah yang bundar dan tangkai daun yang lebih panjang. Memiliki ujung daun ventral yang dangkal, memanjang pada ujung jauh menuju mulut atau sayapnya, dimana sayap selalu agak melengkung yang merupakan kekhasannya. Gagang daun lebih panjang dari 2 cm dan mungkin lebih dari 4 cm. Akar papan berkembang baik dan menyerupai ular, memanjang 2-4 m dari pangkal batang. Ekologi : Tumbuh di belakang zona jalur mangrove, tetapi juga telah dikoleksi di tempat sejauh 70 km dari laut, pada sistem sungai air tawar yang dipengaruhi oleh pasang surut.

Penyebaran : Sarawak, Sabah dan Kalimantan, akan tetapi kemungkinan memiliki penyebaran yang lebih luas. Kelimpahan : Relatif umum setempat. Manfaat : Memiliki kayu yang kuat dan berat.

4102

Heritiera globosa

a

b

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1033

atau pantai berkarang. Tandan bunga berambut (terutama pada bagian ketiak daun dan ujung cabang). Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. Dari Afrika timur dan Madagaskar hingga Australia dan Pasifik sejauh Kaledonia baru. rumah. Kayu tahan lama dan digunakan untuk bahan perahu. Daun mahkota: ungu dan coklat. Buah berwarna hijau hingga coklat mengkilat. cerlang laut. Buah digunakan untuk mengobati diare dan disentri. atung laut. Kelimpahan : Umum. Unit & letak: sederhana. bersilangan. berkulit. Ujung: meruncing. 4104 . panjang 4-5 mm. bersisik dan bercelah. tiang telepon. tetapi lebih kecil dibanding bunga betina (pada pohon yang berbeda !). rumung. dan mungkin juga menempati bagian tepi atau berdekatan dengan hutan dataran rendah. Ukuran: 10-20 x 5-10 cm. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 25 m.Ait. lawanan kete. Gagang daun panjangnya 0.5-2 cm. lebar 5-6 cm. Formasi: bergerombol bebas. Sangat umum tumbuh di tepi daratan hutan mangrove. STERCULIACEAE Nama setempat : Dungu. Nampaknya tidak toleran terhadap salinitas yang tinggi dan tidak tumbuh pada lokasi yang sangat terbuka atau kurang adanya pengeringan. kemerahan dan berambut. Individu pohon memiliki salah satu bunga betina atau jantan. belohila. rurun. lulun. seperti mangkok. Warna daun hijau gelap bagian atas dan putih-keabu-abuan di bagian bawah karena adanya lapisan yang bertumpang-tindih. Ukuran: panjang 6-8 cm. Bentuk: bulat telur-elips. Manfaat : Kayu bakar yang baik. berkelompok pada ujung cabang. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Akar papan berkembang sangat jelas. dungun. Daun : Kukuh. ex W. kadang sampai 30 x 15-18 cm. Memiliki 1 biji dan masak pada tandan yang tergantung. Kelopak bunga: 4-5. balang pasisir. Bunga jantan lebih banyak. Letak: di ujung atau di ketiak. lawang.Heritiera littoralis Dryand. Kulit kayu gelap atau abu-abu. blakangabu. bayur laut. Biji digunakan untuk pengolahan ikan. berkayu.

buah. daun 1053 . bunga.Heritiera littoralis buah muda bunga buah tua pohon a a c b a. b. c.

Berwarna hijau berbentuk oval. Kalimantan Barat dan Utara. 4106 . beras-beras. tinggi hingga 7 meter dengan pangkal batang lebih tebal. Kulit kayu berwarna keabu-abuan hingga coklat-kemerahan. Umumnya tanpa akar nafas. India.5-2.) Druce RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus-berus.Kandelia candel (L. Daun : Bunga : Tepi daun mengkerut kedalam. Buah : Ekologi : Penyebaran : Timur Laut Sumatera. Tumbuh secara sporadis pada pematang sungai pasang surut. Indo Cina. Daun mahkota: panjangnya 14 mm. panjangnya 1. panjang 1. Bentuk: elips-bulat memanjang. Cina. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. beus. Ujung: membundar hingga sedikit runcing. permukaan halus dan memiliki lentisel. Taiwan. Menempati relung yang sempit. memiliki 4 dan kadang-kadang 9 bunga berwarna putih. Benang sari: banyak dan berbentuk filamen.5-2 cm. pulut-pulut. Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil. Hipokotil silindris panjangnya 15-40 cm. Tandan bunga bercabang dua. Burma. Kelimpahan : Sangat terbatas dan jarang. Thailand. Jepang Selatan dan Malaysia.5 cm. pisang-pisang Laut. Kelopak bunga: tabung daun kelopak bunga melebihi bakal buah dan memiliki cuping sejajar yang melengkung ketika bunga mekar penuh. Manfaat : Utamanya untuk kayu bakar.

bunga. b.Kandelia candel daun & bunga buah/hipokotil a c b a. c. daun 1073 . buah/hipokotil.

Benang sari: <10. Manfaat : Kayunya kuat dan sangat tahan terhadap air. merah. tandan 2-3 cm. duduk gedeh. warna bunga serta morfologi dan lokasinya menunjukkan bahwa penyerbukannya dibantu oleh burung. dan berumpun pada ujung dahan. Unit & Letak: sederhana. Memiliki dua buah pinak daun berbentuk bulat telur dan berukuran 1 mm pada bagian pangkalnya. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Daerah tropis Asia. maka kayunya sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan lemari dan furnitur lainnya. Indonesia. berwarna merah cerah. Daun mahkota: 5. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. Daun : Daun agak tebal berdaging. Tidak terdapat.Lumnitzera littorea (Jack) Voigt COMBRETACEAE Nama setempat : Teruntum (merah). atau kalaupun ada. Panjang tangkai bunga mencapai 3 mm. Buah yang ringan dan dapat mengapung sangat menunjang penyebaran mereka melalui air. harum. Kelopak bunga: 5. meskipun pada umumnya lebih rendah. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. bersilangan. sesak. berwarna coklat tua dan kulit kayu memiliki celah/retakan membujur (longitudinal). keras/kaku. agak keras dan bertulang. Sayangnya. kedukduk. Diameter 4-5 mm. ketinggian pohon dapat mencapai 25 m. L. Mereka juga terdapat pada jalur air yang memiliki pasokan air tawar yang kuat dan tetap. Letak: di ujung. Menyukai substrat halus dan berlumpur pada bagian pinggir daratan di daerah mangrove. api-api uding. dimana penggenangan jarang terjadi. 4-6 x 1.5-2 mm. Buah berbentuk seperti pot/jambangan tempat bunga/elips. dan dipenuhi oleh nektar. Ukuran: 2-8 x 1-2. geriting. Produksi nektar. Dengan penampilannya yang menarik dan memiliki wangi seperti mawar. Formasi: bulir. Catatan : 4108 . hijau 1 x-12 mm. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Ujung: membundar. welompelong. riang laut. Akar nafas berbentuk lutut. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. Ukuran: panjang 9-20mm. Bunga biseksual. Australia Utara dan Polinesia. ma gorago. Kelimpahan : Melimpah setempat dan kadang-kadang tumbuh dalam bentuk kelompok. taruntung. Bentuk: bulat telur terbalik. kayu berukuran besar sangat jarang ditemukan. sesop. berwarna hijau keunguan.5 cm. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau dan tumbuh tersebar. Panjang benang sari dua kali ukuran daun mahkota. Panjang tangkai daun mencapai 5 mm. duduk agung. sangat jarang dijumpai di pantai-pantai di Jawa. randai. posi-posi. littorea dan L.

pohon 1093 . bunga. b.Lumnitzera littorea daun bunga buah c a b a b d a. buah. c. d. daun.

Panjang tangkai daun mencapai 10 mm. Unit & Letak: sederhana. Mereka juga terdapat di sepanjang jalur air yang dipengaruhi oleh air tawar. Hampir tidak ditemukan di sepanjang pantai yang menghadap Samudera India. Kulit kayu kadang-kadang digunakan sebagai bahan pelapis. selalu hijau dengan ketinggian mencapai 8 m. Buah berbentuk kembung/elips. Daun : Daun agak tebal berdaging. 2-4 x 7-8 mm. diserbuki oleh serangga. aduadu. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. truntun. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. Catatan : 4110 .5 cm. Ukurannya lebih kecil dari L. duduk. Bunga putih. Bentuk: bulat telur menyempit. Panjang tandan 1-2 cm.5 mm pada bagian pangkalnya. Daun mahkota: 5. api-api jambu. memiliki celah/retakan longitudinal (khususnya pada batang yang sudah tua). dipenuhi oleh nektar. dan tidak memiliki akar nafas. Australia utara dan Polinesia. teruntum. keras/kaku. Kelopak bunga: 5. susup. L. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari bagian timur Afrika tropis dan Madagaskar sampai Malaysia. PNG dan Filipina. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. putih. Cuping daun kelopak bunga dengan ujung berkelenjar ditemukan di Irian Jaya. littorea.Lumnitzera racemosa Willd. racemosa COMBRETACEAE Nama setempat : Api-api balah. Bunga biseksual. seperti jembatan. PNG. kapal. Manfaat : Kayunya keras dan tahan lama. Formasi: bulir. agak harum dan kaya akan nektar. berwarna putih cerah. var. berserat. dan berumpun pada ujung dahan. lasi. Kelimpahan : Agak umum. Letak: di ujung atau di ketiak. berkayu dan padat. duduk laki-laki. furnitur dan sebagainya. hijau (6-8 mm). Ujung: membundar. Benang sari: <10. littorea dan L. Tumbuh di sepanjang tepi vegetasi mangrove. Ukuran: panjang 7-12 mm. Ukuran: 2-10 x 1-2. knias. berwarna hijau kekuningan. Kulit kayu berwarna coklat-kemerahan. bersilangan. Memiliki dua pinak daun berbentuk bulat telur. Deskripsi umum : Belukar atau pohon kecil. tanpa gagang. panjangnya 1. Menyukai substrat berlumpur padat. saman-sigi. Buah berserat teradaptasi untuk penyebaran melalui air. kedukduk. Bahan bakar yang baik. di seluruh Indonesia. Panjang benang sari sama atau sedikit lebih panjang dari daun mahkota. sehingga sangat jarang ditemukan kayu yang berukuran besar. Diameter 3-5 mm. cocok untuk berbagai keperluan bahan bangunan.

Lumnitzera racemosa daun bunga buah a d c b a. buah. c. bunga. d. pohon 1113 . daun. b.

produksi gula yang dihasilkan lebih baik dibandingkan dengan gula tebu. Tandan bunga biseksual tumbuh dari dekat puncak batang pada gagang sepanjang 1-2 m. Australia dan Pasifik Barat. Serbuk sari lengket dan penyerbukan nampaknya dibantu oleh lalat Drosophila. Tumbuh pada substrat yang halus. Ujung: meruncing. lipa. 65-70 juta tahun yang lalu. Pada setiap buah terdapat satu biji berbentuk telur. Biji dapat dimakan. serat gagang daun juga dapat dibuat tali dan bulu sikat. Kadang-kadang bersifat vivipar. pada bagian tepi atas dari jalan air. Catatan : 4112 . Jarang terdapat di luar zona pantai. Jika dikelola dengan baik. Bunga jantan kuning cerah. Bunga betina membentuk kepala melingkar berdiameter 25-30 cm. Diameter biji: 4-5 cm. kaku dan berserat. keranjang dan kertas rokok.Nypa fruticans Wurmb. berwarna hijau mengkilat di permukaan atas dan berserbuk di bagian bawah. Terdapat 100 . serta memiliki kandungan sukrosa yang lebih tinggi. seluruh Indonesia. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. Panjang tandan/gagang daun 4 . Nypa telah dikenal di Australia sejak awal jaman Tertiary. Memiliki sistem perakaran yang rapat dan kuat yang tersesuaikan lebih baik terhadap perubahan masukan air. sangat umum setempat. Filipina. ARECACEAE Nama setempat : Nipah. Ukuran: diameter kepala buah: sampai 45 cm. Buah yang berserat serta adanya rongga udara pada biji membantu penyebaran mereka melalui air. warna coklat. Manfaat : Sirup manis dalam jumlah yang cukup banyak dapat dibuat dari batangnya. Malaysia. Biasanya tumbuh pada tegakan yang berkelompok. Digunakan untuk memproduksi alkohol dan gula. dibandingkan dengan sebagian besar jenis tumbuhan mangrove lainnya. terletak di bawah kepala bunganya.9 m. Serbuk sari dari jenis ini telah ditemukan sejak jaman Cretaceous atas. Buah berbentuk bulat. Setelah diolah. Batang terdapat di bawah tanah. tikar. Papua New Guinea. Daun digunakan untuk bahan pembuatan payung. Asia Tenggara. Memerlukan masukan air tawar tahunan yang tinggi. Deskripsi umum : Palma tanpa batang di permukaan. jika bunga diambil pada saat yang tepat. Daun : Seperti susunan daun kelapa. kuat dan menggarpu. Ukuran: 60-130 x 5-8 cm. buyuk. Bentuk: lanset. tangkal daon. topi. Tinggi dapat mencapai 4-9 m.120 pinak daun pada setiap tandan daun. membentuk rumpun.

Nypa fruticans buah bunga pohon 1133 .

Buah disebarkan lewat air dan terapung di air karena adanya rambutrambut yang dapat memerangkap udara. Kepulauan Sunda Kecil).5-5 x 1-3 cm. dan dapat ditemukan pada lumpur halus. Benang sari: berwarna putih hingga kuning. Ukuran: 2. Tidak memiliki ketergantungan khusus terhadap substrat tumbuh. Ukuran: panjang 5-10 mm.v. Tumbuh di tempat yang lebih terbuka pada tepi daratan di daerah mangrove atau pada pinggiran alur air yang dipengaruhi oleh pasang surut. Australia Tropis. berbentuk datar dan bulat telur terbalik. Biji berjumlah 1-2. hijau (3-6 mm). 4114 . Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia (Irian Jaya. Biseksual. Manfaat : Para nelayan menggunakan daunnya untuk mengusir serangga. Filipina. Daun : Berkulit tipis. panjang 6 mm.Osbornia octodonta F. Kulit kayu berwarna coklat atau abu-abu. Ujung: membundar. Letak: di ketiak daun. Kelimpahan : Tidak tahu. Sulawesi. Terdapat 2 pinak daun berbentuk elips. Dalam satu tandan terdapat 1-3 bunga yang bergerombol. Jawa Timur. bunga tidak bertangkai tapi langsung menempel pada tandan. berserat dan berserabut. Buah ditutupi oleh cuping kelopak bunga dan kelopak tidak membuka pada saat telah matang. diameter 5 mm. Papua New Guinea. Kelopak bunga: 8.M. Pinak daun tersebut kemudian rontok. jumlahnya sampai 48 helai. Formasi: kelompok. dan pasir. selalu hijau. Kulit kayu kadangkadang digunakan untuk menambal perahu dan kayunya tahan lama. Kalimantan Utara. Ranting halus berwarna abu-abu pucat dan berbentuk segi empat pada saat muda. tangkai/dahannya tunggal atau berjumlah banyak. Bunga diserbuki oleh serangga. jenis tumbuhan ini tidak ditemukan tumbuh pada daerah yang kerap tergenang oleh air tawar. menimbulkan aroma pada saat disentuh. MYRTACEAE Nama setempat : Baru-baru. bersilangan. terletak pada pangkal gagang bunga. ada kelenjar minyak yang tembus cahaya dan berukuran kecil serta ada pembengkakan pada gagang daun sepanjang 2 mm yang berwarna merah. Deskripsi umum : Berupa pohon atau belukar dengan ketinggian dapat mencapai 7 meter. ukurannya lebih panjang dibanding cuping kelopak bunga. Individu yang lebih besar memiliki batang yang berlubang di tengahnya. Kadang-kadang memiliki akar nafas. Bentuk: bulat telur terbalik. Di Australia jenis ini ditemukan berbunga dari bulan Juni sampai Desember dengan puncaknya pada bulan November dan berbuah pada bulan Februari. batuan. Unit & Letak: sederhana. Daun mahkota: Tidak ada. Meskipun demikian.

c. b. daun. d.Osbornia octodonta bunga buah a d c b b a. buah. bunga. pohon 1153 .

dengan ketinggian hingga 3 m. Kelopak bunga: 12. Letak: di ketiak daun. Deskripsi umum : Pohon/belukar. Sering dijumpai tumbuh pada pantai berpasir. berwarna hijau. Ujung: membundar hingga menajam tumpul. Akar nafas tidak terlalu berkembang. Berbentuk seperti mangkuk es krim. warna coklat. 4116 . Bentuk: elip hingga bulat telur terbalik. di dalamnya terdapat 20-30 biji yang sangat kecil. Kelimpahan : Tidak diketahui. Manfaat : Tidak diketahui. bagian tengahnya agak keunguan-kekuningan. Benang sari: jumlahnya 12 . Daun : Tebal (hingga 3 mm) berdaging.Phemphis acidula LYTHRACEAE Nama setempat : Sentigi. Daun mahkota: 6. Kulit kayu berwarna abu-abu hingga coklat. kaku. Ukuran: diameter buah 3-5 mm. Formasi: berkelompok (ada 1 hingga beberapa bunga per kelompok). pada tepi/lereng pematang tambak atau tepi saluran air yang masih terkena jangkauan pasang surut. permukaannya berambut. cantinggi. menyebar rimbun/melebar di permukaan tanah. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan.18. Berbentuk lonceng. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. mentigi. Setidaknya tercatat di Bali dan Lombok. panjang 10 mm. berkulit dan agak melengkung/tertekuk ke dalam. centigi. Ukuran: panjang 1-3 cm. putih bersih.

buah & bunga pohon c b a d a.Phemphis acidula daun. b. bunga. buah. d. c. pohon 1173 . daun.

akik. panjang 2-3. donggo akit. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka. Benang sari: 11-12. Ukuran: 7-19 x 3. berbintil. berwarna hijau jingga. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. dalam dan tergenang pada saat pasang normal. abat. Biseksual. slengkreng. bangka minyak. bakau akik. parai. Bentuk: elips menyempit. Tumbuh pada tanah berlumpur. jankar. tinjang. Letak: Di ketiak daun.5-8 cm. Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering). kuning kecoklatan. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. Ujung: meruncing. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. Ukuran: Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. berisi satu biji fertil. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. bakau kacang. tidak ada rambut. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. kayu bakar dan arang. Unit & Letak: sederhana & berlawanan.5 cm. bakau puteh. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan. tersebar jarang di Australia. warna coklat. Tumbuh lambat. bakau tandok. 4118 . panjangnya 9-11 mm. dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. melengkung. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau minyak. kuning-putih. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. mangi-mangi. Kelopak bunga: 4. Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. Daun mahkota: 4. halus. bakau leutik. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah.Rhizophora apiculata Bl. tak bertangkai. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. Hipokotil silindris. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). Daun : Berkulit. wako.

bunga. buah. d.Rhizophora apiculata daun bunga buah & hipokotil a c b d a. b. pohon 1193 . daun. c.

Kelopak bunga: 4. Gagang kepala bunga seperti cagak. panjang 2.putih. Anakan yang telah dikeringkan dibawah naungan untuk beberapa hari akan lebih tahan terhadap gangguan kepiting. Merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang paling penting dan paling tersebar luas. Asia tenggara. bakau merah. Ukuran: Hipokotil: panjang 36-70 cm dan diameter 2-3 cm. berbiji tunggal. jankar. jarang sekali tumbuh pada daerah yang jauh dari air pasang surut.5-5 cm. seluruh Malaysia dan Indonesia. Formasi: Kelompok (4-8 bunga per kelompok). Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh dari percabangan bagian bawah. Ukuran: 11-23 x 5-13 cm. Buah lonjong/panjang hingga berbentuk telur berukuran 5-7 cm. Letak: di ketiak daun. Anakan seringkali dimakan oleh kepiting. Dibawa dan ditanam di Hawaii. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 27 m.5 cm. 4120 . serta pada tanah yang kaya akan humus. Leher kotilodon kuning ketika matang. Bentuk: elips melebar hingga bulat memanjang. Hipokotil silindris. Pertumbuhan optimal terjadi pada areal yang tergenang dalam. Di areal yang sama dengan R. Tanin dari kulit kayu digunakan untuk pewarnaan. berwarna hijaukecoklatan. Benang sari: 8.Rhizophora mucronata Lmk. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bangka itam. kuning pucat. Manfaat : Kayu digunakan sebagai bahan bakar dan arang. jarang melebihi 30 m. lenggayong. Madagaskar. lolaro. ada rambut. dan kadang-kadang digunakan sebagai obat dalam kasus hematuria (perdarahan pada air seni).5-5. Gagang daun berwarna hijau. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Mauritania. Melanesia dan Mikronesia.5-8. Ujung: meruncing.5 cm. bakau hitam. Pinak daun terletak pada pangkal gagang daun berukuran 5. Daun mahkota: 4. Daun : Daun berkulit. bakau korap. Batang memiliki diameter hingga 70 cm dengan kulit kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah horizontal. sehingga menghambat pertumbuhan mereka. belukap. bersifat biseksual. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Afrika Timur. 9 mm. seringkali kasar di bagian pangkal. dekat atau pada pematang sungai pasang surut dan di muara sungai. kasar dan berbintil.apiculata tetapi lebih toleran terhadap substrat yang lebih keras dan pasir. Kadang-kadang ditanam di sepanjang tambak untuk melindungi pematang. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. Hal tersebut mungkin dikarenakan adanya akumulasi tanin dalam jaringan yang kemudian melindungi mereka. panjangnya 13-19 mm. Pada umumnya tumbuh dalam kelompok. dongoh korap. tak bertangkai.

Rhizophora mucronata daun bunga c buah & hipokotil a b d a. bunga. d. c. pohon 1213 . buah. b. daun.

Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Taiwan. bangko. 8 mm. Kulit kayu halus. Sumba. dan sebuah tangkai putik. bercelah. Malaysia. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau. tombak serta berbagai obyek upacara.0 cm. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. berisi 1 biji fertil. Menghasilkan bunga dan buah sepanjang tahun. sepanjang Indonesia. Leher kotilodon kuning kehijauan ketika matang. wako. berbintik teratur di lapisan bawah.5 cm. dan arang. Jumlah bunga per kelompok dari jenis R. Letak: di ketiak daun. Bali.5-5 cm. Ukuran: Hipokotil: panjang 20-35 cm (kadang sampai 50 cm) dan diameter 1. Benang sari: 8. berbintil agak halus. pasir dan batu. bako-kurap. putih. Papua New Guinea dan Australia Tropis. Bentuk: elips melebar. kuning hijau. Hipokotil silindris. Catatan : 4122 . Kelopak bunga: 4. biseksual. tongke besar. Deskripsi umum : Pohon dengan satu atau banyak batang. Formasi: kelompok (8-16 bunga per kelompok).5-4 cm. Tercatat dari Jawa. berwarna abu-abu hingga hitam. ada rambut. Sumbawa. Daun : Daun berkulit. Ukuran: meruncing. berbentuk buah pir. Manfaat : Sebagai bahan bangunan. Panjangnya 2. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Ujung: meruncing. Anggur ringan serta minuman untuk mengobati hematuria (pendarahan pada air seni) dapat dibuat dari buahnya. Gagang daun berwarna hijau. slindur. panjangnya 13-19 mm. Sulawesi. dengan pinak daun panjang 4-6 cm. Menyukai pematang sungai pasang surut. berwarna coklat. tetapi juga sebagai jenis pionir di lingkungan pesisir atau pada bagian daratan dari mangrove. panjang gagang 1-3. Satu jenis relung khas yang bisa ditempatinya adalah tepian mangrove pada pulau/substrat karang. Masyarakat Aborigin di Australia menggunakan kayu jenis ini untuk pembuatan bumerang. Memiliki akar tunjang dengan panjang hingga 3 m. panjang 4-6 mm. stylosa lebih banyak daripada R. kayu bakar. Daun mahkota: 4. Sumatera.Rhizophora stylosa Griff. Filipina. Gagang kepala bunga seperti cagak. Maluku dan Irian Jaya. Lombok. Kemungkinan diserbuki oleh angin. Kelimpahan : Umum. mucronata. Tumbuh pada habitat yang beragam di daerah pasang surut: lumpur. dan akar udara yang tumbuh dari cabang bawah.5-2. tinggi hingga 10 m.

pohon 1233 .Rhizophora stylosa daun & bunga buah c b a d a. bunga. b. d. daun. c. buah.

Tumbuh pada mangrove berlumpur. & S. Kelopak bunga: 5 terdapat kelenjar di dalamnya. Manfaat : Tidak tahu. panjang gagang bunga 0. Daun mahkota: 5. berwarna coklat. maka biji tersebut akan tenggelam. Ujung: meruncing.Sarcolobus globosa R. Daun agak tebal. berbintil. Apabila sayapnya dicopot. Berwarna coklat. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Tidak tahu. Tercatat di Jawa.5 mm. Biji yang memiliki tepian seperti sayap dapat terapung di permukaan air. Bentuk: bulat memanjang. elips melebar dengan pangkal yang tidak merata. dan memiliki batang yang halus. Buah memiliki gagang yang tebal. Letak: di ketiak daun. berukuran 13-15 x 8-9 mm.5-2 cm. Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok). sebagian besar soliter. dikelilingi oleh tepian yang menyerupai sayap. 4124 . terletak diatas tabung yang panjangnya 2. Bagian dalam bunga ditutupi rambut-rambut pendek. Biji berjumlah banyak. Deskripsi umum : Semak pemanjat dengan ketinggian hingga 4 m. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. khususnya di bagian urat daun. Berwarna kuning dengan garis-garis memanjang berwarna jingga. tetapi kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia.5 cm. Bunga terdapat pada tandan yang padat. panjang gagang 2-30 mm. Ukuran: 4-9 x 3-5. Kepala sari: Ujungnya tumpul. kaya akan cairan yang menyerupai susu. diameter 12-14 mm. ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Daun : Permukaan atas daun ditutupi oleh rambut. biji: 20-25 x 16-18 mm. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. permukaannya rata dan bentuknya bulat telur terbalik. Ukuran: buah: 8-9 x 7-8 cm.

daun 1253 . c. bunga.Sarcolobus globosa a b c a. buah. b.

Scyphiphora hydrophyllacea

Gaertn.

RUBIACEAE

Nama setempat : Perepat lanang, cingam, duduk perempuan, duduk rayap, duduk rambat, dandulit. Deskripsi umum : Semak tegak, selalu hijau, seringkali memiliki banyak cabang, ketinggian mencapai 3 m. Kulit kayu kasar berwarna coklat, cabang muda memiliki resin, kadang-kadang terdapat akar tunjang pada individu yang besar. Daun : Daun berkulit dan mengkilap. Pinak daun berkelenjar, terletak pada pangkal gagang daun membentuk tutup berambut. Gagang daun lurus panjangnya hingga 13 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 4-9 x 2-5 cm. Warna putih, hampir tak bertangkai, biseksual, terdapat pada tandan yang panjangnya hingga 15 mm. Letak: di ketiak daun. Formasi: kelompok (3-7 bunga per kelompok). Daun mahkota: 4-5; putih-agak merah, elips, 2-4 x 22,5 mm, mulut berambut kasar. Kelopak bunga: 4-5; berbentuk mangkok, bawahnya seperti tabung (panjang 5mm). Benang sari: 4-5. Silindris, berwarna hijau hingga coklat, berurat memanjang dan memiliki sisa daun kelopak bunga. Tidak membuka ketika matang. Terdapat 4 biji silindris. Ukuran: buah: panjang 8 mm, biji: 1 x 2 mm. Tumbuh pada substrat lumpur, pasir dan karang pada tepi daratan mangrove atau pada pematang dan dekat jalur air. Nampaknya tidak toleran terhadap penggenangan air tawar dalam waktu yang lama dan biasanya menempati lokasi yang kerap tergenang oleh pasang surut. Dilaporkan tumbuh pada lokasi yang tidak cocok untuk dikolonisasi oleh jenis tumbuhan mangrove lainnya. Perbungaan terdapat sepanjang tahun, kemungkinan diserbuki sendiri atau oleh serangga. Nektar diproduksi oleh cakram kelenjar pada pangkal mahkota bunga. Banyak buah yang dihasilkan, akan tetapi pembiakan biji relatif rendah. Buah teradaptasi dengan baik untuk penyebaran oleh air karena kulit buahnya yang ringan dan mengapung.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : India, Sri Lanka, Malaysia, seluruh Indonesia, Papua New Guinea, Filipina, Kepulauan Solomon dan Australia Tropis. Kelimpahan : Tersebar, dan secara keseluruhan relatif jarang. Manfaat : Catatan : Kayu kemungkinan dapat digunakan untuk peralatan makan, seperti sendok. Daun dapat digunakan untuk mengatasi sakit perut. Sangat menyerupai Lumnitzera, tetapi daun Lumnitzera letaknya bersilangan.

4126

Scyphiphora hydrophyllaceae

daun

bunga

buah

b a

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1273

Sonneratia alba

J.E. Smith

SONNERATIACEAE

Nama setempat : Pedada, perepat, pidada, bogem, bidada, posi-posi, wahat, putih, beropak, bangka, susup, kedada, muntu, sopo, barapak, pupat, mange-mange. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau, tumbuh tersebar, ketinggian kadang-kadang hingga 15 m. Kulit kayu berwarna putih tua hingga coklat, dengan celah longitudinal yang halus. Akar berbentuk kabel di bawah tanah dan muncul kepermukaan sebagai akar nafas yang berbentuk kerucut tumpul dan tingginya mencapai 25 cm. Daun : Daun berkulit, memiliki kelenjar yang tidak berkembang pada bagian pangkal gagang daun. Gagang daun panjangnya 6-15 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 5-12,5 x 3-9 cm. Biseksual; gagang bunga tumpul panjangnya 1 cm. Letak: di ujung atau pada cabang kecil. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). Daun mahkota: putih, mudah rontok. Kelopak bunga: 6-8; berkulit, bagian luar hijau, di dalam kemerahan. Seperti lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. Benang sari: banyak, ujungnya putih dan pangkalnya kuning, mudah rontok. Seperti bola, ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Buah mengandung banyak biji (150-200 biji) dan tidak akan membuka pada saat telah matang. Ukuran: buah: diameter 3,5-4,5 cm. Jenis pionir, tidak toleran terhadap air tawar dalam periode yang lama. Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan karang. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai. Di lokasi dimana jenis tumbuhan lain telah ditebang, maka jenis ini dapat membentuk tegakan yang padat. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga hidup tidak terlalu lama dan mengembang penuh di malam hari, mungkin diserbuki oleh ngengat, burung dan kelelawar pemakan buah. Di jalur pesisir yang berkarang mereka tersebar secara vegetatif. Kunang-kunang sering menempel pada pohon ini dikala malam. Buah mengapung karena adanya jaringan yang mengandung air pada bijinya. Akar nafas tidak terdapat pada pohon yang tumbuh pada substrat yang keras.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : Dari Afrika Utara dan Madagaskar hingga Asia Tenggara, seluruh Indonesia, Malaysia, Filipina, Australia Tropis, Kepulauan Pasifik barat dan Oceania Barat Daya. Kelimpahan : Umum. Melimpah setempat. Manfaat : Buahnya asam dapat dimakan. Di Sulawesi, kayu dibuat untuk perahu dan bahan bangunan, atau sebagai bahan bakar ketika tidak ada bahan bakar lain. Akar nafas digunakan oleh orang Irian untuk gabus dan pelampung.

4128

Sonneratia alba

daun

bunga

buah

b

c

b

a

d

a. bunga; b. buah; c. daun; d. pohon

1293

5-3. bunga berisi banyak nektar. rambai. biasanya tanpa urat. bijinya lebih banyak (800-1200). hingga Australia tropis. akar nafas dapat digunakan untuk mengganti gabus. Seperti bola. mudah rontok. perepat.alba.Sonneratia caseolaris (L. Daun : Gagang/tangkai daun kemerahan. 5-13 x 2-5 cm. dan melimpah setempat. Ketika mekar penuh. Deskripsi umum : Pohon. di dalam putih kekuningan hingga kehijauan. Daun mahkota: merah. Juga tumbuh di sepanjang sungai. Ukuran lebih besar dari S. Tumbuh di bagian yang kurang asin di hutan mangrove. Pucuk bunga bulat telur. Manfaat : Buah asam dapat dimakan (dirujak). ukuran 17-35 x 1. lebar dan sangat pendek. Ujung: membundar. ketinggian mencapai 15 m. Malaysia. jarang mencapai 20 m. Ukuran: buah: diameter 6-8 cm. Ketika bunga berkembang penuh (setelah jam 20. Ukuran: bervariasi. pidada. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Sri Lanka. Ujung cabang/ranting terkulai.) Engl. Memiliki akar nafas vertikal seperti kerucut (tinggi hingga 1 m) yang banyak dan sangat kuat. wahat merah. dan Kepulauan Solomon. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga.5 mm. serta di areal yang masih didominasi oleh air tawar. dan berbentuk segi empat pada saat muda. Setelah direndam dalam air mendidih. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Benang sari: banyak. mudah rontok. Kelopak bunga: 6-8. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. berkulit. Letak: di ujung. pada tanah lumpur yang dalam. Kelimpahan : Umum. seluruh Asia Tenggara. bogem. Tidak toleran terhadap naungan. Selama hujan lebat. tabung kelopak bunga berbentuk mangkok. termasuk Indonesia. SONNERATIACEAE Nama setempat : Pedada. ujungnya putih dan pangkalnya merah. posi-posi merah. Tidak pernah tumbuh pada pematang/ daerah berkarang. bidada. Bentuk: bulat memanjang. mulai dari bagian hulu dimana pengaruh pasang surut masih terasa. Filipina. Biji mengapung. 4130 . Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). kecenderungan pertumbuhan daun akan berubah dari horizontal menjadi vertikal. bagian luar hijau. Kayu dapat digunakan sebagai kayu bakar jika kayu bakar yang lebih baik tidak diperoleh. seringkali sepanjang sungai kecil dengan air yang mengalir pelan dan terpengaruh oleh pasang surut.00 malam).

d. buah. c. b.Sonneratia caseolaris bunga kuncup daun buah bunga mekar a c b d a. bunga. daun. pohon 1313 .

Kelopak bunga: bagian dalam merah. Sumatra. tetapi secara keseluruhan agak jarang. panjang 1-2 cm. Tabung seperti mangkok. Ujung: membundar.5 cm. Daun : Bunga : Gagang/tangkai daun panjangnya 2-15 mm. Formasi: soliter-kelompok (ada 1-3 bunga per kelompok). kadang-kadang mencapai 20 m. Buah muda dapat dimakan sebagai rujakan. Daun mahkota: tidak ada. Pucuk bunga berbentuk bulat telur lebar dan ditutupi oleh tonjolan kecil. Gagang/tangkai bunga lurus. Sulawesi. Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Thailand. Bentuk: bulat telur. Letak: di ujung. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. 4132 . Kepulauan Riau.5 4. Panjangnya 2. Ukuran: buah: diameter 3-5 cm. Jawa. atau kadang-kadang tidak ada. dan Papua New Guinea. Seperti bola. Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove yang airnya kurang asin.Sonneratia ovata Back. dengan cabang muda berbentuk segi empat serta akar nafas vertikal. biasanya hingga 5 m. Maluku. kedabu. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Tidak pernah tumbuh pada substrat karang. muncul dari gagang yang pendek. Manfaat : Kayu bakar. Malaysia. Ukuran hampir sama dengan S. Benang sari: banyak. Kelimpahan : Umum setempat. SONNERATIACEAE Nama setempat : Bogem. tanah berlumpur dan di sepanjang sungai kecil yang terkena pasang surut. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil atau sedang.alba. warnanya putih dan mudah rontok. Ukuran: 4-10 x 3-9 cm. Sungai Sebangau/Kalimantan Tengah.

bunga. daun.Sonneratia ovata bunga buah c a b d a. buah. b. pohon 1333 . c. d.

nyiri udang. lonjong. kuning muda. Sumatera.9 cm. nyiri hutan. Daun : Agak tebal. Individu yang telah tua seringkali ditumbuhi oleh epifit. Madura. bulu putih. pohon kira-kira. Daun mahkota: 4. Ukuran: buah: diameter 10-20 cm. Kulit kayu berwarna coklat muda-kekuningan. khususnya pada area bekas tebangan hutan dan gangguan lainnya.17 cm x 2. kadang-kadang digunakan sebagai bahan pembuatan perahu. berkayu dan berbentuk tetrahedral. nilih. buli. Tumbuh di sepanjang pinggiran sungai pasang surut. Ukuran: 4. tipis dan mengelupas. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian 10-20 m. dan lingkungan payau lainnya yang tidak terlalu asin. Manfaat : Kayunya hanya tersedia dalam ukuran kecil. nyireh bunga. nyiri. Buahnya bergelantungan pada dahan yang dekat permukaan tanah dan agak tersembunyi.5 . Di dalam buah terdapat 6-16 biji besar-besar. Irian Jaya. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. siri. Maluku dan Sumba. Kelopak bunga: 4 cuping. 4134 . banang-banang. Letak: di ketiak.Xylocarpus granatum Koen MELIACEAE Nama setempat : Niri. Kalimantan. Susunan biji di dalam buah membingungkan seperti teka-teki (dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘puzzle fruit’). meliuk-liuk dan membentuk celahan-celahan. kabau. nipa. warna hijau kecoklatan. Bunga terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. buli hitam. susunan daun berpasangan (umumnya 2 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia tumbuh di Jawa. panjang 3 mm. Ujung: membundar. panjang 5-7 mm. sementara pada cabang yang muda. berkulit. Kelimpahan : Melimpah setempat. jombok gading. khususnya pada pohon yang lebih tua. nyuru. Bentuk: elips bulat telur terbalik. Batang seringkali berlubang. pinggir daratan dari mangrove. berat bisa 1-2 kg. tepinya bundar.5 . mokmof. kulit kayu berkeriput. Memiliki akar papan yang melebar ke samping. inggili. Seperti bola (kelapa). Sulawesi. Tandan bunga (panjang 2-7 cm) muncul dari dasar (ketiak) tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 4-8 mm. niumiri-kara. putih kehijauan. Kulit kayu dikumpulkan karena kandungan taninnya yang tinggi (>24% berat kering). Buah akan pecah pada saat kering. Benang sari: berwarna putih krem dan menyatu di dalam tabung. Formasi: gerombol acak (8-20 bunga per gerombol). Seringkali tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. Bali. Kepulauan Karimun Jawa. nyireh. jomba.

bunga.Xylocarpus granatum bunga buah a c d b a. d. daun. b. kulit kayu 1353 . c. buah.

4136 . Ujung: membundar. Benang sari: tabung benang sari berbentuk seperti kendi. Seperti bola dan terbagi atas beberapa bagian kepingan. Formasi: gerombol acak (9-35 bunga per gerombol). Daun mahkota: berbentuk lonjong lebar.Xylocarpus mekongensis Pierre MELIACEAE Nama setempat : Tidak tahu. berwarna putihkekuningan dan panjang 5 x 2 mm. Australia Barat. Asia Tenggara.5 cm. Mereka menyukai daerah yang memperoleh masukan air tawar selama beberapa kali dalam setahun. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di PNG. Manfaat : Bahan bangunan. Kelopak bunga: berwarna hijau. Jamu dari pohon ini digunakan untuk mengobati kolera. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. biji: diameter 6. Kepala sari panjangnya 1 mm. Ukuran: panjang bisa mencapai 20 cm. dengan ujung tajam atau tumpul dengan panjang 2-4 mm. Ukuran: buah: diameter 5-10 cm. Bentuk: elips . dengan ukuran 4. mengelupas secara longitudinal. panjang 5 mm. Letak: di ketiak.5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 6-10 mm. minyak untuk penerangan dan minyak rambut serta untuk pewarnaan (di PNG). dan memiliki garis-garis sempit. Substrat tumbuhnya terdiri dari pasir dan lumpur. Deskripsi umum : Pohon yang kuat. berbentuk tiang dengan mahkota berbentuk kerucut. Tandan bunga (panjang 4-6.5-12 x 2-7. Afrika Timur. Daun : Pinak daun berbentuk lonjong. ketinggian sampai 15 m. dan mungkin saja tumbuh di Irian Jaya Kelimpahan : Ditemukan secara berkala tetapi tidak pernah dalam kelimpahan yang tinggi.5 cm.bulat telur terbalik. Kulit kayu berwarna coklat muda. Pohon jenis ini ditemukan di tepi hutan yang berbatasan dengan perairan pasang surut dan pada bagian tepi daratan di daerah mangrove. panjang 2 mm. kayu bakar.

Xylocarpus mekongensis a b c d e a. c. buah. e. b. kulit kayu. bunga. akar 1373 . daun. d.

Benang sari: 8. parasar. Bali. bulat seperti jambu bangkok. susunan daun berpasangan (umumnya 2-3 ps pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. Letak: di ketiak. Daun : Lebih tipis dari X. nyiri gundik. hijau kekuningan. Deskripsi umum : Pohon tingginya antara 5-20 m. Biji digunakan sebagai obat sakit perut.5cm. Kulit kayu halus. pamuli. miumeri-mee. Kalimantan. mojong tihulu. nyirih. Unit & letak: majemuk & berlawanan. Kelimpahan : Umum setempat. Tandan bunga (panjang 6-18. Daun mahkota: 4. jombok. Jamu yang berasal dari buah dipakai untuk obat habis bersalin dan meningkatkan nafsu makan. permukaan berkulit dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral. serta tampak sepanjang pantai. Irian Jaya.5 mm. banang-banang. Memiliki akar nafas mengerucut berbentuk cawan. Jenis mangrove sejati di hutan pasang surut. 4138 . Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. Sulawesi. Ukuran: buah: diameter 8-15 cm. Ukuran: 4-12 cm x 2-6. panjang nya 6-7 mm. tepinya bundar. Formasi: gerombol acak (10-35 bunga per gerombol). menyatu. perahu dan kadang-kadang untuk gagang keris. lonjong. nyuru. pematang sungai pasang surut.granatum. Warna hijau. NTT. siri. Kelopak bunga: 4 cuping.5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 2-10 mm.bulat telur terbalik. loleso. Bentuk: elips . putih krem dan tingginya sekitar 2 mm. MELIACEAE Nama setempat : Niri/nyirih batu. Maluku. sementara pada batang utama memiliki guratan-guratan permukaan yang tergores dalam. Ujung: meruncing. panjang sekitar 1. Tanin kulit kayu digunakan untuk membuat jala serta sebagai obat pencernaan.Xylocarpus moluccensis (Lamk) Roem. kabau. membuat rumah. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa. putih kekuningan. Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. raru.

kulit kayu. d. daun. bunga. akar 1393 . b. c.Xylocarpus moluccensis buah bunga c a b d a.

Bentuk: bulat telur-bulat memanjang. Daun mahkota: 4. Daun : Susunan daun berpasangan (umumnya 3-4 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. banang-banang.) Mabb. putih krem.Xylocarpus rumphii (Kostel. Terdapat di pantai berpasir atau berbatu. hijau kekuningan. siri. Kelimpahan : Tidak diketahui. Kelopak bunga: 4 cuping. Ukuran: buah: diameter 8 cm (lebih kecil dari X. Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. di belakang atau sedikit di atas garis pasang tinggi. Warna hijau. jombok. MELIACEAE Nama setempat : Nyirih. krem-putih kehijauan. Benang sari: menyatu membentuk tabung. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa dan Bali. Letak: di ketiak. permukaan licin berkilauan dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral. Formasi: Gerombol acak. nyirih batu. niri. Ukuran: 7 x 12 cm. Ujung: meruncing. Deskripsi umum : Pohon tingginya dapat mencapai 6 m. Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. membuat rumah dan perahu. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. Memiliki akar udara tapi tidak jelas. bulat seperti jambu bangkok. granatum). Kulit kayu kasar berwarna coklat dan mengelupas seperti guratan-guratan kecil dan sempit. 4140 . Warna hijau tua. Jenis mangrove sejati.

Xylocarpus rumphii daun buah pohon a c b a. daun 1413 . bunga. b. c. buah.

1433 .

Ujung: agak membundar.asiatica memiliki daun yang lebih berdaging. Bali. Ukuran: 15-45 x 9-20 cm. Manfaat : Kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias. Jenis ini seringkali dikelirukan dengan Terminalia catappa atau Fagraea crenulata. berkulit dan urat daun nampak jelas. Mereka mengapung dan dapat tumbuh setelah menempuh perjalanan yang jauh. Tumbuh sama baiknya di daratan. Buah berwarna hijau (kadang tersamar oleh warna daunnya) lalu berubah menjadi cokelat. butong. menggantung seperti payung. Benangsari: banyak dan panjang. Buah sering terlihat mengapung sepanjang pantai. Mahkota pohon berdaun besar dan rimbun.catappa. Berisi satu biji berukuran besar. Pohon dan bijinya mengandung saponin yang dapat digunakan sebagai racun ikan. sehingga hanya terbuka satu malam saja. Ranting tebal. Bentuk: bulat telur terbalik. Bunga terbuka setelah matahari tenggelam dan rontok menjelang pagi. Kalimantan. Penyerbukan kemungkinan dilakukan oleh ngengat besar. Sulawesi. warnanya merah di bagian ujung dan putih di dekat pangkal. Tumbuh di hutan pantai. termasuk Sumatera.) Kurz LECYTHIDACEAE Nama setempat : Sea putat. Daun : Berwarna hijau tua. Catatan : 4144 . Biji yang digunakan sebagai racun ikan seringkali dicampur dengan tuba (Derris – rotenon).Barringtonia asiatica (L. tumpul. crenulata memiliki daun yang tumbuh berpasangan serta memiliki duri di sepanjang batangnya. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. bogem. serta untuk membunuh ekto-parasit. Di Jawa. Ketika masih muda daun berwarna agak merah muda. putat laut. Jawa. Meskipun demikian. F. putih dan kuning. agak tebal. talise. pertun. Menggantung. permukaan halus dan berbentuk tetrahedral/piramid seperti buah delima. lebih mengkilat dan ujung yang lebih runcing dibandingkan dengan T. Ukuran: diameter buah 1015 cm. Formasi: bergerombol. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh dari Madagaskar hingga Pasifik Barat. B. kadang-kadang di mangrove. Kelimpahan : Umum. diameternya sampai 10 cm dan harum. Daun mahkota: 4. Sunda Kecil dan Maluku. berukuran sangat besar. Kulit kayu abu-abu agak merah muda dan halus. bitung. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil hingga sedang dengan ketinggian 7-20 (-30) m dan diameter 25-100 cm. Kelopak bunga: berwarna putih kehijauan. seperti lintah. ketika tua berwarna kuning atau merah muda pucat. Minyak yang berwarna kemerahan dapat diperoleh dengan memanaskan dan memeras bijinya. cairan yang diperoleh dari bijinya dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan payung . Besar. hutun. Tercatat di seluruh Indonesia. pantai dan pantai berkarang. butun.

daun 1453 . bunga. b. buah. c.Barringtonia asiatica buah pohon a a c b a.

Biseksual. Kelimpahan : Umum. dengan satu atau lebih saat puncaknya. hingga ketinggian 200 m. Benangsari: banyak. nyamplung.Calophyllum inophyllum L. ketinggian 10-30 m. Deskripsi umum : Pohon berwarna gelap. Tercatat di Sumatera di sepanjang Danau Singkarak pada ketinggian 386 m. Dapat digunakan sebagai bahan pewarna. dan dimasukan ke Pasifik. Bentuk: elips hingga bulat memanjang. Letak: di ketiak. putih dan kuning. Malaysia dan Indonesia (Bali) sering ditanam sebagai pohon peneduh. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur hingga Polinesia. Formasi: bergerombol. Ukuran: diameter buah 2. tercatat di Sumatera. condong atau bahkan sejajar dengan tanah. bintanguru. Bali. Kalimantan dan Irian Jaya. Di Bali. Kadang-kadang tumbuh pada lokasi mangrove. ukuran diameter 2-3 cm. Di Australia. berdaun rimbun. Perbungaan nampaknya terjadi terus menerus sepanjang tahun. biasanya tumbuh agak bengkok. Daun mahkota: 4. Manfaat : Buah mudanya digarami untuk makanan. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan.5 x 6-11 cm. Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Ukuran: 10-21.5-4 cm. agak mirip dengan daun Rhizopora mucronata (jenis bakau). naga. 4146 . menaga. bintangur laut. harum. Memiliki getah lekat berwarna putih atau kuning. Ujung: membundar. Kelopak bunga: 4. dua dari kelopak bunga berwarna putih. buahnya yang sudah tua dipakai bermain oleh anak-anak sebagai kelereng atau bola pingpong kecil. Penyerbukan hampir pasti dilakukan oleh serangga. GUTTIFERAE Nama setempat : Camplung. atau oleh kelelawar yang memakan bagian luar buah yang berdaging. Tumbuh pada habitat bukan rawa dan pantai berpasir. minyak. benaga. memiliki tempurung kuat dan di dalamnya terdapat 1 biji. Bagian atas daun berwarna hijau tua dan mengkilap. Berbentuk bulat seperti bola pingpong kecil. kayu dan obat-obatan. bagian bawahnya hijau agak kekuningan. biasanya pada habitat transisi. menggantung seperti payung. tandan bunga panjangnya hingga 15 cm serta memiliki 5-15 bunga per tandan. Jawa. Daun : Memiliki banyak urat dengan posisi lateral paralel dan halus. Buah disebarkan melalui arus laut.

buah. c. b. daun. d. bunga.Calophyllum inophyllum bunga & buah pohon c a a d b a. bentuk urat daun 1473 .

Berbentuk bulat seperti kapsul dan di dalamnya terdapat banyak biji-biji yang permukaannya berambut halus.Calotropis gigantea L. ketinggian mencapai 3 m. Letak: pada ketiak daun. Umumnya dijumpai di lahan-lahan pantai yang terbengkalai dan terbuka (mendapat sinar matahari penuh). widuri. Dryander ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Biduri. daun dan bunganya sering digunakan sebagai makanan jangkrik. Bentuk: bulat telur melebar. Memiliki tandan dan tangkai/gagang bunga yang panjang. Deskripsi umum : Herba rendah/semak.5-5. Memiliki banyak getah. mendori. 4148 . Manfaat : Di Bali. Kelopak bunga: 5. Tumbuh pada habitat yang tidak tergenang air. Ukuran: 10-20 x 3. Formasi: seperti payung yang sedang dibuka. seperti piramid. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Ukuran: diameter buah 10-15 mm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. kekar dan kaku. Kelimpahan : Umum. Daun : Posisi daun horizontal. hingga ketinggian sekitar 300 m. berwarna ungu agak putih. Ujung: membundar. Di Bali dijumpai mulai pada daerah pantai yang gersang dan udaranya panas hingga ke lereng gunung Agung yang suhu udaranya sejuk. permukaan daun (atas maupun bawah) dilapisi oleh rambut-rambut halus yang berwarna agak putih seperti tepung. Daun mahkota: putih agak ungu. menori. ukuran diameter 6-10 mm. diameter 3-4 cm. modori. tercatat di Bali dan Jawa. pantai berpasir dan lahan berbatu.5 cm.

buah. b. bunga. c.Calotropis gigantea bunga pohon b a c a. daun 1493 .

Kelopak bunga: 5. Ukuran: diameter buah 6-8 cm. Formasi: berkelompok secara tidak beraturan. goro-goro. berwarna abu-abu hingga cokelat. Biasanya tumbuh di bagian tepi daratan dari mangrove. putih bersih dengan bagian pusat berwarna jingga hingga merah muda-merah. kayu kurita. kenyen putih. Selintas bentuknya menyerupai buah mangga. Letak: di ujung cabang. Kayu digunakan sebagai kayu bakar dan bahan arang. Kepulauan Bismarck dan seluruh Kepulauan Solomon. Belakangan ini banyak dipakai sebagai tanaman hias/peneduh di dalam kompleks perumahan. Sulawesi Utara. Kulit kayu bercelah. Jawa. Tersebar di PNG. Bentuk: bulat memanjang atau lanset. APOCYNACEAE Nama setempat : Bintan. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Benang sari: tidak bergagang. Akar menjalar di permukaan tanah. Sumatera Barat.p. mengkilat dan berdaging.l). putih kehijauan. serta pilek. tetapi kurang memiliki akar udara dan akar nafas. Kelimpahan : Umum. Biasanya terdapat 20 –30 bunga pada setiap tandan. Berpotensi sebagai obat farmakologi karena pengaruh kardiovaskular-nya. Tumbuh di hutan rawa pesisir atau di pantai hingga jauh ke darat (400 m d. bilu tasi. menyukai tanah pasir yang memiliki sistem pengeringan yang baik. Kulit kayu dan daun digunakan sebagai obat pencahar. kadong. koyandan. kayu susu. seperti daun mangga. bintaro. kenyeri putih. jabal. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Daun mahkota: 5. jaraknya agak jauh dari daun mahkota. Ujung: meruncing. Ukuran: 10-28 x 2-8 cm. Maluku. reumatik. Daun : Agak gelap. Timor dan Irian Jaya. Minyak biji dapat digunakan untuk meracuni ikan (di Burma juga digunakan sebagai insektisida). hijau hingga hijau kemerahan. menempel pada mulut tabung. terbuka terhadap udara dari laut serta tempat yang tidak teratur tergenang oleh pasang surut. Catatan : 4150 . memiliki lentisel dan cairan putih susu. mangga brabu. hijau mengkilap di bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. Tercatat di Bali.Cerbera manghas L. Manfaat : Minyak yang diperas dari biji dan buah mudanya dapat digunakan untuk mengatasi gatal-gatal. Deskripsi umum : Pohon atau belukar dengan ketinggian mencapai 20 m. Berbentuk bulat. badak. waba. Perpanjangan dari masing-masing benang sari yang berambut dan berbentuk seperti taji menutupi kerongkongan tabung mahkota bunga.

bunga. b.Cerbera manghas bunga buah pohon c a b a. buah. c. daun 1513 .

Daun : Hijau tua mengkilap di bagian atas. 4152 . Kelopak bunga: hijau dan jaraknya agak jauh dari daun mahkota. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Letak: di ketiak daun. Daun mahkota: 5. Ujung: meruncing. kaku dan tertekuk ke dalam.Clerodendrum inerme Gaertn VERBENACEAE Nama setempat : Kayu tulang. Bentuk: elip. Ukuran: diameter buah 7-10 mm. Manfaat : Tidak diketahui. menjalar melebar di permukaan tanah. putih bersih. Setidaknya tercatat di Jawa dan Bali. Berbentuk bulat telur. dadap-laut. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Berbentuk lonceng. Kelimpahan : Umum. Tumbuh subur pada daerah lumpur kering atau lumpur berpasir di belakang kawasan hutan mangrove. permukaannya seperti kulit. Benang sari: terjurai sangat panjang jika dibandingkan dengan mahkota bunganya. bulat memanjang. mengkilat dan berdaging. kwanji. bagian bawahnya bertangkai panjang. warnanya merah keunguan. Deskripsi umum : Belukar. keranji. warna hijau hingga kecoklatan. Ukuran: panjang 3-4 cm. dengan ketinggian kurang dari 2 m. Formasi: berkelompok (3 bunga per kelompok).

bunga & buah c a b a. c. b. buah.Clerodendrum inerme daun. bunga. daun 1533 .

Batang yang lebih muda berwarna merah tua. Deskripsi Umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu. Racun ikan yang dijual secara komersial (rotenone) dihasilkan dari akar jenis lain. Bentuk: bulat telur atau elips. Batangnya sangat tahan lama dan dapat digunakan sebagai tali. hampir bundar. Ujung: meruncing. tuba abal. bergerombol. gadel. Kulit kayu coklat tua. tuba laut. Letak: di ketiak batang yang tumbuh horizontal sepanjang permukaan tanah. Ukuran: buah 2-4. sementara 9 lainnya bersatu. Tumbuh pada substrat berpasir dan berlumpur pada bagian tepi daratan dari habitat mangrove. yaitu Derris elliptica. Satu atau dua biji berkeriput. Biji dan polong teradaptasi dengan penyebaran melalui air. kambingan. panjang 15 m atau lebih. Unit & Letak: majemuk dan bersilangan. Menyukai areal yang mendapat pasokan air tawar. Mereka mungkin juga disebarkan melalui angin. biji 12 x 11 mm.Derris trifoliata Lour. tergenang secara tidak teratur oleh air pasang surut. Indonesia. Daun mahkota: ungu agak putih-merah muda pucat. Catatan : 4154 . Polong berkulit. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Melalui Asia Tenggara. panjangnya sekitar 1 cm. LEGUMINOSAE Nama setempat : Ambung. Manfaat : Penggunaan jenis ini untuk meracuni ikan sudah banyak diketahui. Formasi: bulir. memiliki banyak lentisel.5 cm. Bunga muncul pada bulan September – November. tipis/pipih. areuy ki tonggeret. Daun : Memiliki 3-7 pinak daun. Biseksual. halus dengan lentisel merah muda. Ukuran: 6-13 x 2-6 cm. kamulut. tandan bunga panjangnya 7-20 cm dan gagang bunga panjangnya 2 mm.5 x 2. Australia.5-3. sementara buah pada bulan November sampai Desember (di Australia). Masyarakat di Indonesia Timur menanam varietas sendiri yang kemudian dicampur dengan bahan kimia untuk meracuni (membius) ikan. Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas. toweran. Benangsari: bagian atas tumbuh sendiri. hijau-perunggu ketika kering. tuwa areuy. permukaan atas berwarna hijau mengkilat dan bagian bawah abu-abu-hijau. Cina hingga India dan Afrika. bulat memanjang atau hampir bundar.

b. buah. daun 1553 .Derris trifolia buah bunga a c b a. bunga. c.

Buah berpasangan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Bentuk seperti kapsul atau seperti kantung perut ayam. 4156 . Dijumpai pada kawasan mangrove yang terbuka.5 cm.Finlaysonia maritima Backer ex Heyne. Bentuk: elips hingga bulat telur terbalik. waktu masih muda berwarna hijau tapi jika sudah matang warnanya kemerahan. Ukuran: 8-13 x 3.5-3. Daun : Tebal berdaging. mengandung getah berwarna putih. Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas. Putih dan merah muda. ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Basang siap.7 – 1.5-5 cm.0 cm. Manfaat : Tidak diketahui. Deskripsi umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu. Ujung: membundar. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. warna hijau cerah. panjangnya sekitar 0. Ukuran: buah 7-8 x 2. kadang-kadang dijumpai lebih ke arah pantai.

daun 1573 . buah. b.Finlaysonia maritima daun & buah b a a.

Formasi: soliter atau berkelompok (2-5). Ukuran: Bunga : Buah : Ekologi : Merupakan tumbuhan khas di sepanjang pantai tropis dan seringkali berasosiasi dengan mangrove. molowahu. Kayu digunakan sebagai bahan pembuatan bagian dalam perahu (Lombok). waru lengis. Juga umum di sepanjang pinggiran sungai di kawasan dataran rendah. Akarnya digunakan sebagai obat demam. iwal. Deskripsi umum : Pohon yang tumbuh tersebar dengan ketinggian hingga mencapai 15 m.5 cm. Penyebaran : Di seluruh Indonesia. Kelimpahan : Tersebar luas dan umum. siron. baru. waru lenga. Berbentuk lonceng. Perbedaannya dengan Thespesia populnea dirinci pada halaman berikutnya. Letak: di ketiak daun.Hibiscus tiliaceus L. Daun mahkota: kuning. MALVACEAE Nama setempat : Waru laut. kabaru. bergerigi. Perbungaan sepanjang tahun. lalu keesokan harinya keseluruhan bunga jadi jingga dan rontok. Daun : Agak tipis (jika dibanding Thespesia populnea). Ujung: meruncing. Tangkai putik: ada 5 (tidak menyatu). kelenjar pengeluar gula seringkali berwarna hitam karena diserang jamur. diameter 5-7 cm. Dasar dari gagang tandan bunga yang memanjang ditutupi oleh pinak daun yang kemudian akan jatuh dan menyisakan tonjolan berbentung cincin. Kulit kayu halus. burik-burik.5-15 x 7. Bentuk: seperti hati. Manfaat : Ditanam sebagai pohon peneduh di taman.514. waru langit. bahu. waru langkong. diameter buah sekitar 2 cm. setidaknya di penyemaian. Pan-tropis. Saat mekar (sore hari) berwarna kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. berwarna cokelat keabu-abuan. Ukuran: 7. Penyebaran geografis serta sifat ekologi alami belum diketahui secara pasti. Kelopak bunga: 5. Biji mengapung dan dapat tumbuh meskipun dimasuki air laut. Serat kayu digunakan sebagai tali. Catatan : 4158 . Daun kadang-kadang digunakan sebagai makanan ternak. wakati. Pada daun tua. dan memiliki biji khas yang berambut. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. berkulit dan permukaan bawah berambut halus dan berwarna agak putih. dengan kepala putik berwarna ungu kecoklatan Membuka menjadi 5 bagian. waru lot. kasjanaf. fau.

Hibiscus tiliaceus daun & bunga pohon b c a d a. d. pohon 1593 . bunga. b. c. daun. buah.

Berbentuk kapsul bundar hingga agak datar dengan empat biji berwarna hitam dan berambut rapat. serta kadang-kadang pada saluran air. Daunnya untuk obat reumatik/nyeri persendian/pegal-pegal. Berwarna merah muda . tilalade. dolodoi. CONVOLVULACEAE Nama setempat : Batata pantai. licin dan mengkilat. akar tumbuh pada ruas batang. pescaprae yang memiliki cuping daun yang dalam. andali arana. Kelimpahan : Sangat umum. meskipun anak jenis yang terakhir hanya diketahui dari Sumatera Barat dan Pulau Krakatau. Ukuran: 3-10 x 3-10. pes-caprae ssp. pes-caprae ssp. Letak bunga: di ketiak daun pada gagang yang panjangnya 3-16 cm. ketepeng. panjang 3-5 cm. Keduanya terdapat di Indonesia. leleri. Ukuran: buah 12-17 mm. dalere. tetapi juga tepat pada garis pantai.) Sweet.ungu dan agak gelap di bagian pangkal bunga. watata ruruan. brasiliensis yang memiliki takik pada ujung daun. loloro. Catatan : 4160 . wasir dan korengan. Cairan dari batangnya digunakan untuk mengobati gigitan dan sengatan binatang. Daun mahkota: berbentuk seperti terompet/corong. daun katang. mari-mari. Deskripsi umum : Herba tahunan dengan akar yang tebal. daun barah. Ujung: membundar membelah (bertakik). biasanya di pantai berpasir. daredei. biji 6-10 mm. alere. Manfaat : Bijinya dilaporkan sebagai obat yang baik untuk sakit perut dan kram. Batang berbentuk bulat. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. balim-balim. Formasi: soliter. Dua anak jenis dikenali oleh beberapa penulis. lalu menguncup setelah lewat tengah hari. sedangkan akarnya sebagai obat sakit gigi dan eksim. dan I. Bentuk: bulat telur seperti tapak kuda.Ipomoea pes-caprae (L. kabai-kabai.5 cm. diameter pada saat membuka penuh sekitar 10 cm. wedule. tati raui. basah dan berwarna hijau kecoklatan. tapak kuda. Wanita hamil dilarang memakai tanaman obat ini. Daun : Tunggal. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. yaitu I. wedor. tebal. Bunga membuka penuh sebelum tengah hari. daun kacang. bulalingo. katang-katang. Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 600 m. Batang panjangnya 5-30 m dan menjalar.

c. bunga. buah. daun 1613 .Ipomoea pes-caprae daun & bunga a c b a. b.

keracunan oleh singkong. jika sudah matang akan merekah dan terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen (bagian). 4162 . Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia. Berbentuk kapsul bulat. Kelimpahan : Sangat umum. pembekuan dalam pembuluh darah. hepatitis. lahan terlantar. setiap kelompok ada 2-3 bunga. Daun : Tebal. pada permukaan daun terdapat tiga tulang daun yang jelas dan memanjang lurus seperti garis (longitudinal) kearah ujung daun. Warna ungu kemerahan. daunnya yang masih muda sebagai sayur/lalab. mulai dari pantai yang berlumpur. warnyanya hijau hingga hijau kekuningan. disentri basiler. Biji kecil sekali berupa bintik-bintik berwarna coklat. Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 1650 m. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. senggani. Daun mahkota: jumlahnya 4-18. Tangkai putik: warnanya kuning keputihan. Biasanya muncul bersama tanaman semak lainnya. kemanden Deskripsi umum : Perdu. Ukuran: 2-20 x 0. harendong. Manfaat : Buahnya enak dimakan. lapangan terbuka. sariawan. Akar. daun dan seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat gangguan pencernaan.5 – 4 m. wasir berdarah.5 cm. bisul dan memperlancar air susu ibu. Ujung: meruncing lancip.5 cm. Ukuran: diameter buah 8-10 mm. kluruk. tinggi sekitar 0. kaku. membuka penuh secara horizontal. keputihan. Letak: di ujung cabang. Urat daun menyirip rapat secara lateral.5-6. Don MELASTOMATACEAE Nama setempat : Senduduk. pinggir jalan hingga lereng gunung. panjangnya 8-17 mm. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup. tandan dan gagang bunga berwarna hijau kecoklatan. diameter saat membuka penuh 4. cabangnya banyak. diare. warna ungu tua kemerahan.75-8. mimisan.Melastoma candidum D. Kelopak bunga: berbentuk tabung dengan bentuk cuping bergerigi 5. Formasi: berkelompok.

Melastoma candidum bunga & buah a b c a. b. buah. c. bunga. daun 1633 .

Ukuran: 10-40 x 5-17 cm. Warna putih. mulai dari pantai berpasir hingga berlumpur. cangkudu. lahan terlantar. keumudee. tibah. kudu. pace. eoru. buah setengan matang untuk rujak. Urat daun menyirip kearah pinggiran daun dan tampak sangat jelas. 4164 . daun. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. sakit pinggang. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mulai dari Asia Tropis hingga Polynesia. Daun : Tebal. eodu. Formasi: payung dengan 5-8 bunga.bangkudu. lapangan terbuka. sakit lever. cacingan. disentri. bakulu. bunga atau kulit batang tanaman ini dapat juga digunakan sebagai obat batuk. warna putih. sariawan. labanau. lengkudu. akar. ketika matang agak kekuningan. cacar air. Biji kecil-kecil. Tumbuh liar di pantai hingga 500 m d. tinggi 3-8 m. Deskripsi umum : Perdu atau pohon kecil yang tumbuh membengkok. pinggir jalan hingga jauh ke darat. ai kombo. Ukuran: panjang 5-10 cm. Bentuk: bulat telur hingga elips. neteu. melancarkan kencing. Manfaat : Akarnya untuk mewarnai batik dan anyaman pandan. coklat kehitaman dan banyak. Kelimpahan : Sangat umum. warnyanya hijau tua mengkilap. tepi daun rata. ladang atau ditanam di pekarangan sebagai tanaman sayur atau tanaman obat. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup hingga sedikit ternaungi. Lonjong bulat telur seperti kapsul dan penuh dengan benjolan. radang empedu. lembek dan berair. bertangkai pendek. pamarai. sakit perut . mangkudu. Buah muda direbus untuk lalab. Di Indonesia banyak ditemukan dari dataran rendah (dekat pesisir pantai).p. buah. dll. wungkudu. RUBIACEAE Nama setempat : Mengkudu. harum dan mudah rontok. Selain itu. banyak cabang dengan ranting segi empat.l. Ketika masih mentah berwarna hijau muda. Letak: di ketiak daun. tekanan darah tinggi.Morinda citrifolia L. Ujung: meruncing. hutan. daun muda biasa dikukus dan direbus sebagai sayuran atau untuk membungkus ikan. kemudu. Daun mahkota: jumlahnya 5. dan yang matang untuk membersihkan karat pada logam atau untuk keramas.

c.Morinda citrifolia buah & bunga b a c a. b. daun 1653 . bunga. buah.

PANDANACEAE Nama setempat : pandan. Benangsari: banyak. Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia.5 – 2. Letak: di ujung. Formasi: payung. Panjang antara 0. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m. Kelimpahan : Sangat umum.Pandanus odoratissima. 4166 . Manfaat : Sebagai tanaman hias dan tanaman pagar. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam. terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai. Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai. Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya merah.0 meter.

Pandanus odoratissima buah pohon a b a. buah. b. daun 1673 .

Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya kuning jeruk. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam. Manfaat : Dapat sebagai tanaman pagar. Parkinson ex Z. Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai. terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai. PANDANACEAE Nama setempat : Pandan. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m. 4168 . Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia.Pandanus tectorius. Benangsari: banyak.0 meter Warna merah-ungu. Bunganya dimanfaatkan untuk wangi-wangian dan hiasan pada acara pernikahan.5 – 2. Formasi: payung. Kelimpahan : Sangat umum. Panjang antara 0. Letak: di ujung.

Pandanus tectorius buah pohon b a a. b. buah. pohon 1693 .

moteti. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Berasal dari Amerika Tropis dan di Indonesia tumbuh secara liar. remugak. Formasi: soliter. Kulit buah hijau jika mentah dan menjadi getas dan kuning ketika matang.) LEGUMINOSAE Nama setempat : Gegambo. Ujung: meruncing. rajutan.5-5 m. Seluruh bagian tanaman juga dapat digunakan sebagai obat batuk. pacean. Ukuran: 5-13 x 4-12 cm. permot. kencing berlemak dan pembesaran kelenjar limfa di leher. Memiliki alat pembelit yang beruntaian seperti spiral. buahnya enak dimakan (manis seperti markisa. kadang agak lonjong. panjang 1.0 cm. tapi agak sedikit pahit). lebar menjari dengan tiga lekukan. lemanas. Benang sari: banyak. Warna agak putih hingga ungu muda/pucat. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik. kaap. koreng. Daun : Berwarna hijau kekuningan hingga hijau muda mengkilat seperti ada lapisan lilin. pada bagian tengahnya jauh lebih ungu. Tumbuh liar di dekat pantai berpasir yang bukan rawa.Passiflora foetida (L. kileuleur. Ukuran: diameter buah 1. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Kelimpahan : Umum. 4170 . ceplukan blungsun. Bulat seperti kelereng. bertangkai 2-10 cm. berambut halus. borok. Di dalam buah banyak dijumpai biji. merambat di pagar dan menyenangi lokasi yang mendapat cahaya matahari yang kuat. bungan pulir.5-3. tanah lapang terlantar. Bentuk: seperti jantung. putih dan panjangnya dapat melampaui ukuran panjang mahkota bunga. Deskripsi umum : Terna merambat. buah pitri. Buah dibungkus oleh serabut yang berambut banyak. Letak: di ketiak tangkai daun. diameter hingga 5 cm. kaceprek. Manfaat : Daun muda dapat digunakan sebagai sayur.

buah. daun 1713 .Passiflora foetida buah pohon b a a. b.

panjangnya 4-5 mm. Tumbuh di pantai berpasir yang bukan rawa. padat dan memiliki sebuah biji. Kelopak bunga: berbentuk cangkir. Unit & Letak: majemuk dan bersilangan. kranji. Daun : Tersusun dalam dua deret. dengan 3-7 pinak daun yang terletak secara bersilangan. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian hingga 15 m. bangkong. Letak: di ketiak daun. Kadang-kadang ditanam sebagai pohon peneduh di sepanjang jalan. Polong berkulit tebal dan berparuh. Kelimpahan : Umum. ki pahang laut. ditutupi oleh rambut yang pendek dan halus serta memiliki gigi tumpul yang sangat pendek. asawali.5 x 2. panjang 11-18 mm. Umum ditanam di areal pesisir kawasan tropis karena sifatnya yang tahan terhadap salinitas dan udara yang terbuka. memiliki gagang pendek di atas goresan daun mahkota bunga. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. tangi. Polong tidak membuka ketika masak.5-15 cm. Manfaat : Daun digunakan sebagai makanan ternak. Bentuk: bulat telur hingga elips. Bunga seringkali berubah bentuk menjadi kantung bundar yang bisa dikelirukan dengan buahnya. klengkeng.Pongamia pinnata (L. Ukuran: 5-22. Seperti kacang. Ujung: meruncing.) Pierre LEGUMINOSAE Nama setempat : Kacang kayu laut. Formasi: bergerombol secara acak. mengkilat dan warnanya hijau tua. dan kadang-kadang di bagian tepi daratan dari mangrove. 4172 . Biji beracun untuk manusia. Bunga terletak berpasangan di sepanjang tandan bunga yang panjangnya 6-27 cm. dan memiliki goresan yang menyerupai bintil berdekatan dengan pinak daun pada pangkal gagang daun. Tersebar luas di Asia Tropis. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. awakal. marauwen. Warna buah hijau kecoklatan. Ukuran: 5-7 x 2-3 cm. Gagang bunga berukuran 7-15 mm ditutupi oleh pinak daun yang halus dan berambut pendek. warna ungu pucat. Cabang pada umumnya tidak memiliki rambut atau urat. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik .

bunga. buah. b. c. daun 1733 .Pongamia pinnata daun & buah pohon a b c a a.

alale. Satu tandan dapat berisikan sekitar 30 – 40 buah. lulang. ketowang. Bentuk: menjari dengan jumlah jari 7 – 9. luluk. paku ton. tapi tepinya bergerigi. kelumpuhan otot muka. Deskripsi umum : Perdu tegak dapat mencapai ketinggian hingga 3 m. lana-lana. kalalei. dulang. Kelimpahan : Umum. tetanga. Ujung: meruncing. Akar dipakai sebagai obat rematik. jarak.Ricinus communis Linn. 4174 . Ukuran: diameter 10-40 cm. Warna buah hijau dan bergerombol pada tandan yang panjang. kolonyan. malasai. lutur bal. koreng dan infeksi jamur. berwarna kuning oranye dan berkelamin satu. bronchitis. epilepsi. gangguan jiwa (schizophrenia). batuk dan hernia. kohongiang. Daun : Seperti daun singkong. Unit & Letak: sederhana tunggal dan bersilangan. Warna daun hijau tua di permukaan atas dan hijau muda di permukaan bawah. TBC kelenjar. pedas. Majemuk. Tumbuh liar di hutan. Tangkai daun panjang berwarna hijau hingga merah bata. Bentuknya bulat bersegmen (ada 3 segmen) dan berambut (seperti buah rambutan). Manfaat : Bijinya terasa manis. eksim. luka terpukul. bisul. dulang jai. paku penuai. urat daunnya rapat dan jelas. sepanjang pantai atau ditanam sebagai komoditi perkebunan pada ketinggian antara 0 – 800 m dari permukaan laut. jarak jawa. kalikih alang. kaliki. EUPHORBIACEAE Nama setempat : Gloah. tanah kosong. tetanus. lafandru. balacai. kilale. Daunnya untuk obat koreng. Akar jarak tidak tahan terhadap adanya genangan air. jarag. Dapat tumbuh di areal yang kurang subur asal pH tanahnya sekitar 6-7 dan drainase airnya baik. netral dan digunakan untuk mengobati kanker mulut rahim dan kulit. jarak jitun. gatal. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. kaleke.

daun 1753 . b.Ricinus communis pohon bunga & buah a b a. buah.

Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mungkin ditemukan di seluruh Indonesia. berwarna hijau kekuningan dan mengkilat. Ukuran: diameter buah 8-12 mm. Formasi: mengelompok. bulat. bako-bakoan. babakoan. Dijumpai secara soliter di bagian tepi daratan dari mangrove. sering pada bagian dalamnya terdapat strip/garis berwarna jingga. dapat mencapai ketinggian hingga 3 m.5-9. Manfaat : Tidak tahu.5 cm. 4176 .Scaevola taccada (Gaertn. Letak bunga: di ketiak daun. Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips. Berbentuk kapsul. Tangkai Putik: membengkok. Ukuran: 16. lalu menjadi putih ketika sudah matang. Daun mahkota: putih bersih. Daun : Melebar kearah atas. GOODENIACEAE Nama setempat : Bakung-bakung. Ketika muda berwarna hijau muda. gegabusan. Deskripsi umum : Herba rendah/semak/pohon. Kelimpahan : Tidak diketahui.5-30 x 7. Ujung: membundar. tepinya melengkung dan permukaan daun seperti berlapis lilin. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. pada tepi pematang yang tidak terkena pengaruh pasang surut atau di daerah yang sistem drainasenya baik dan lokasinya terbuka terhadap cahaya.) Roxb.

bunga. b. bunga & buah c a b a.Scaevola taccada buah & bunga daun. daun 1773 . c. buah.

5 mm. panjang melintang kira-kira 8 mm. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. krokot. halus dan panjangnya 1. warna ungu. gelan-pasir. bundar dan halus. seringkali memiliki banyak cabang. MOLLUGINACEAE / AIZOACEAE Nama setempat : Gelang (-laut). Kecil. Sulawesi dan Sumatera. Benangsari: banyak dan 3-4 tangkai putik.Sesuvium portulacastrum (L. Terdapat beberapa biji hitam berbentuk kacang. sepanjang pematang tambak dan kali pasang surut. Letak bunga: di ketiak daun. halus dan ditumbuhi akar pada ruasnya. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Panjangnya hingga 1 m dengan batang berwarna merah cerah. Seringkali ditemukan di sepanjang bagian tepi daratan dari mangrove. Berbentuk kapsul. Deskripsi umum : Herba tahunan. Formasi: soliter. Biji tidak mengapung. Substrat tumbuh berupa pasir. Juga ditemukan di pantai berkarang. Manfaat : Daun dapat dimakan setelah berulangkali dicuci dan dimasak. Daun mahkota: 5 cuping. Daun : Bunga : Tebal berdaging. sesepi.) L. Ujung: membundar. pada hamparan lumpur dan gundukan pasir. menjalar. saruni air. pada areal yang secara tidak teratur digenangi oleh pasang surut. Ukuran: 2. lumpur dan tanah liat. Bunga diserbuki kumbang kecil pengumpul madu serta ngengat yang terbang siang. Madura. 4178 . Juga digunakan sebagai makanan kambing. Buah : Ekologi : Penyebaran : Jenis Pan-tropis.5-1. panjang 6-9 mm.5-7 x 0. memiliki tangkai panjangnya 3-15 mm dan tabung panjangnya 3 mm. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. ditemukan di sepanjang pesisir Jawa. Kelimpahan : Tidak diketahui.5 cm.

b. c. daun 1793 .Sesuvium portulacastrum pohon c a b a. bunga. buah.

Bentuk: bulat telur. Manfaat : Sering dipelihara sebagai tanaman pagar hidup karena memiliki manfaat sebagai bahan obat-obatan. rumjarum.5-6 x 1. Formasi: bulir pada tandan yang panjang. tidak berambut. tumbuh tegak terburai ke samping membentuk semak. Ukuran: 2. pada lokasi terbuka dan kering serta mendapat pencahayaan matahari yang kuat. hamparan lahan yang terbengkalai. Dijumpai pada pematang tambak. jarongan. Daun : Permukaan daun kasar dan guratan – guratan / lekukan di permukaannya tampak jelas. keputihan dan hepatitis A. Letak: di ketiak daun. ukurannya kecil berwarna ungu kebiruan dan putih. reumatik. sekar laru. datang haid tidak teratur. Kelimpahan : Tidak diketahui. tepi bergerigi.Stachytarpheta jamaicensis (L. sakit tenggorokan. VERBENACEAE Nama setempat : Pecut kuda. Ujung: meruncing. bunga duduk tanpa tangkai. ki meurit beureum. jarong lalaki. tinggi mencapai 1 meter. ngadi rengga. biron. remek getih. misalnya untuk mengobati infeksi dan adanya batu pada saluran kencing. laler mengeng. 4180 .) Vahl. jarong. Bunga : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. Deskripsi umum : Terna tahunan.0-3. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Terdapat pada tandan yang panjangnya mencapai 4-20 cm seperti pecut.5 cm. pembersih darah. Bunga mekar tidak serentak.

bunga.Stachytarpheta jamaicensis pohon a b a. b. daun 1813 .

tiliho. Daun kerap digunakan untuk mengobati reumatik. Kayu berwarna merah dan memiliki kualitas yang baik. Sebagian besar dari bunga merupakan bunga jantan.5 cm. Bentuk: bulat telur terbalik. Australia Utara dan Polinesia. COMBRETACEAE Nama setempat : Ketapang. kemudian berubah menjadi merah tua. klis. wewa. sabrise. Cabang muda tebal dan ditutupi dengan rapat oleh rambut yang kemudian akan rontok. tasi. Letak: di ketiak daun. Ukuran 5-7 cm x 4x5. suatu kondisi yang terutama terlihat jelas pada pohon yang masih muda. lisa. Manfaat : Sering ditanam sebagai pohon peneduh jalanan. umumnya memiliki 6-9 pasang urat yang jaraknya berjauhan. lisa. 4182 . Mahkota pohon berlapis secara horizontal. Pohon menggugurkan daunnya (ketika warnanya berubah merah) sekali waktu. Formasi: bulir. Sebarannya sangat luas. seringkali mendominasi vegetasi pantai. talisei. Deskripsi umum : Pohon meluruh dengan ketinggian 10-35 m. Bunga berwarna putih atau hijau pucat dan tidak bergagang. sirisal. dengan sebuah kelenjar terletak pada salah satu bagian dasar dari urat tengah. Ukuran: 825 x 5-14 cm (kadang panjangnya sampai 30 cm). Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia. Biji buahnya dapat dimakan dan mengandung minyak yang berlemak dan bening. Penampilan seperti buah almond. Daun berubah menjadi merah muda atau merah beberapa saat sebelum rontok. Tumbuh di pantai berpasir atau berkarang dan bagian tepi daratan dari mangrove hingga jauh ke darat. Kelimpahan : Umum. sehingga kanopi pohon tampak berwarna merah. Ujung: membundar. klihi. kilaula. sarisa. Unit & Letak: s e d e r h a n a dan bersilangan. indian or singapore almond.Terminalia catappa L. Tandan bunga (panjangnya 8-16 cm) ditutupi oleh rambut yang halus. dumpajang. sadina. biasanya dua kali setahun (di Jawa pada bulan Januari atau Februari dan Juli atau Agustus). luumpoyang. Daun : Sangat lebar. Penyebaran buah dilakukan melalui air atau oleh kelelawar pemakan buah. Tumbuh di bagian tropis Asia. digunakan sebagai bahan bangunan dan pembuatan perahu. ketapas. sarisei. beowa. dengan atau tanpa tangkai putik yang pendek. Bersabut dan cangkangnya sangat keras. Kelopak bunga: halus di bagian dalam. Tanin digunakan untuk mengatasi disentri serta untuk penyamakan kulit. tetapi agak jarang di Sumatera dan Kalimantan. Kulit buah berwarna hijau hingga hijau kekuningan (mengkilat) di bagian tengahnya.

bunga & buah pohon a c b a. daun 1833 . bunga. b. buah. c.Terminalia catappa daun.

ex Correa MALVACEAE Nama setempat : Waru laut. Ukuran: 7-24 x 5-16 cm. Tumbuh di pantai. Terdapat 3-8 pinak daun di bagian luar kelopak bunga. Kelimpahan : Umum. Perbedaan antara Hibiscus tiliaceus dengan Thespesia populnea adalah sbb: Bagian tanaman Daun kelopak bunga Daun muda Urat utama pada daun Urat coklat pada daun muda Buah siap membuka di pohon Hibiscus tiliaceus bercuping 5 biasanya terdapat 9-11 tidak terdapat ya Thespesia populnea tidak bercuping tidak terdapat 7 terdapat tidak 4184 . Pada masa lalu kulit kayu digunakan sebagai bahan serat. berkulit dan permukaannya halus. di pematang-pematang tambak dan bagian tepi daratan dari mangrove. waru lot. diameter 2. Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. Buah seperti bola dan bersegmen. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Daun dan buah digunakan sebagai obat. Bentuk: seperti hati. Manfaat : Catatan : Kayunya ringan.Thespesia populnea (L. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian 2-10 m. kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. di seluruh Indonesia. berwarna kuning dan ujungnya tumpul.5-4. Terdapat 3-4 biji pada setiap ruang/segmen buah yang padat ditutupi oleh rambut pendek . Daun : Bunga : Tebal. Bakal buah juga memiliki cairan berwarna kuning. Ujung: meruncing.5 cm. Tangkai putik menyatu. salimuli. Berbentuk lonceng. waru pantai. Bunga berisi cairan seperti susu berwarna kuning yang kemudian akan berubah menjadi merah.) Soland.

Thespesia populnea daun & bunga a c b a. daun 1853 . buah. c. bunga. b.

pinggir sungai dan hutan sekunder. Akar digunakan untuk obat penyakit kelamin. Daun : Bunga : Tepi daun bergerigi. terutama untuk penggunaan luar. Ukuran: 3-17 x 1-12 cm.5 cm. 4186 .) DC. berjumlah 20-30. Dapat juga tumbuh di perkebunan kelapa.5-2. Mengobati luka terpotong atau terkena gigitan. ditutupi oleh rambut.Wedelia biflora (L. serunai laut. Deskripsi umum : Ferna tahunan. bunga batang. Memiliki kekhasan berupa bunga komposit dengan delapan “daun mahkota” (sesungguhnya adalah bunga terpisah berbentuk seperti bendera) dan cakram bunga (betina). Kepala bunga biasanya soliter. Letak: bersilangan. sawah kering. Kelimpahan : Umum di mangrove.5-5 m dengan batang yang kurus.5-4 cm. diameter 1. Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. dengan gagang daun panjangnya 0. ASTERACEAE Nama setempat : Sernai. Bentuk: bulat telur. Gagang bunga panjangnya 1-7 cm. panjang 1. Tumbuh terutama sepanjang atau dekat pantai. Digunakan sebagai tumbuhan penutup tanah di perkebunan dengan tujuan untuk menghindari erosi serta mencegah kehilangan air. pada pantai berpasir dan pinggiran mangrove. Dari Afrika Timur hingga Kepulauan Pasifik. Beberapa rambut tumbuh pada kedua sisi permukaan daun dan pada batang. Kadang-kadang ditanam. pokok serunai. berwarna kuning cerah. Cairan yang diambil dari daunnya dapat digunakan untuk mengobati sakit perut atau digunakan untuk ibu yang baru bersalin. terletak pada bagian atas ketiak bunga atau kadang-kadang dalam pasangan. seruni. Manfaat : Daunnya memiliki kepentingan untuk obat. seremai.

b. bunga. daun 1873 .Wedelia biflora daun & bunga a a b a.

1893

Lampiran 1.

Jenis mangrove, nama lain/sinonim, sumber gambar dan foto, yang tercantum atau dipakai dalam buku panduan ini.
S I N O N I M

JENIS MANGROVE

MANGROVE SEJATI: Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis Bruguiera cylindrica A. intermedia, A. mindanaense A. tomentosa B. caryophylloides, B. malabarica, Mangium minus, M. caryophylloies, Rhizophora cylindrica, R. caryophylloides, R. ceratophylloides, Kanilia caryophylloides Loranthus obovatus Loranthus mackayensis, Amyema cycnei-sinus, L. cycneisinus, A. mackayense ssp. cycnei-sinus A. marina var. alba A. officinalis var eucalyptifolia A. neo-guineensis Chrysodium aureum, C. inaequale, C. vulgare, Acrostichum spectabile, A. inaequale, A. obliquum Chrysodium speciosum Aegialites annulata A. majus, A. fragrans A. nigricans

Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza B. capensis, B. conjugata, B. cylindrica, B. gymnorrhiza, B. rheedii, B. rhumpii,B. wightii, B. zippelii, Mangiumcelsum, M. minus, Rhizophora gymnorrhiza, R. palun, R. rheedii, R. tinctoria Rhizophora caryophylloides

Bruguiera hainessii

4190

SUMBER GAMBAR

SUMBER FOTO

Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Piggott (1988), Holttum (1954), dan material hidup Wightman (1988) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Specimen herbarium Herbarium Bogor Danser (1931) Barlow dalam Henty (1981) Wahyu Gumelar Percival & Womersley

Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley & Nyoman Suryadiputra (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Silvius, M. Kitamura et. al. (1997)

Percival & Womersley (1975), Tomlinson (1986), Wightman (1989) Wahyu Gumelar Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

Jennifer Dudley (1999) Hidayat (1999) Kitamura et. al. (1997)

Ding Hou (1958), Wightman (1989) Ding Hou (1958), Tomlinson (1986), Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra

Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

1913

JENIS MANGROVE

S I N O N I M

Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula

B. ritchiei, Rhizophora parviflora, R. cylinrica, Kanilia parviflora B. eriopetala, B. sexangularis, B. australis, B. parietosa, B. angulata, B. oxyphylla, B. malabarica, B. cylindrica, Mangium digitatum, Rhizophora sexangula, R. polyandra, R. plicata, R. australis, R. eriopetala Neesia altissima, Cumingia philippinensis C. aruense C. roxbhurgiana, C. zippeliana, Bruguiera decandra, Rhizophora gromerulata, R. decandra C. candolleana, C. pauciflora, C. forsteniana, C. boviniana, C. lucida, C. timoriensis, C. somalensis, Rhizophora tagal, R. timoriensis, R. candel Stillingia agallocha Dicerolepis paludosa

Camptostemon philippinense Camptostemon schultzii Ceriops decandra Ceriops tagal

Excoecaria agallocha Gymnanthera paludosa Heritiera globosa Heritiera littoralis Kandelia candel Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phemphis acidula Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sarcolobus globosa

H. minor, Balanopteris minor, B. tothila Rhizophora candel, K. rheedei L. coccinea, Problastes cuneifolia, Pyrrhantus littoreus, Laguncularia purpurea L. racemosa, Languncularia rosea, Lumnitzera rosea, Petaloma alba, L. racemosa var. pubescens N. fructicans

Mangium candelarium, R. mangle, R. candelaria, R. conjugata R. mangle, R. macrorrhiza, R. longissima,R. latifolia, R. mucronata var. typica R. mucronata var. stylosa S. banksii

4192

Tomlinson (1986). (1997) Silvius. Wightman (1989) Polunin (1988) Tomlinson (1986). Jennifer Dudley Hidayat (1999) Kitamura et. Tomlinson (1986). Kitamura (1997) Kitamura et. (1997) 1933 . al. al. Kitamura et. Tomlinson (1986). Tomlinson (1986). Percival & Womersley (1975). (1997) Kitamura et. Tomlinson (1986) Ding Hou (1958) Percival & Womersley (1975) Exell (1954). Tomlinson (1986). Tomlinson (1986). Kitamura et. Hidayat (1999) Hidayat (1999). Kitamura et.al (1997). Wightman (1989) Ding Hou (1958). Hidayat (1999). al. Wightman (1989) Ding Hou (1958). (1997) Ding Hou (1958). al. Wightman (1989) Hidayat (1999) I Nyoman Suryadiputra Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Kostermans (1959) Kostermans (1959). Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Wendy Suryadiputra (1999). Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra (1999). (1997) Jennifer Dudley (1999). al. Tomlinson (1986). (1997) Hidayat (1999) Hidayat (1999). M. Wightman (1989) Ding Hou (1958). Wightman (1989) Ding Hou (1958). Kitamura et. Tomlinson (1986) Ding Hou (1958).SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Ding Hou (1958). Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999). (1997) Bakhuizen van den Brink (1924) Percival & Womersley (1975). Wightman (1989) Kitamura et. al. al.

iriomotensis. pes-caprae. Soldanella marina indica. C. lanceolata. Convolvulus bilobatus. Ixora manila. M. C. uliginosa. maritima. S. pagatpat S. pagatpat. S. C. C. alba Carapa abovate. M. evenia. biloba. brasiliensis. minor. Mangium caseolare album. lactaria B. D. mossambicensis. Blatti caseolaris. S. S. maritimus. B. S. S. C. M. Dalbergia heterophylla C.JENIS MANGROVE Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S I N O N I M H. Mangium caseolare rubrum. maritima. S. heterophylla. S. S. ovalis. granatum Xylocarpus australasicus Carapa moluccensis Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii MANGROVE IKUTAN: Barringtonia asiatica Callophyllum inophyllum Calotropis gigantea Cerbera manghas Clerodendrum inerme Derris trifoliata Finlaysonia maritima Hibiscus tiliaceus Ipomoea pes-caprae Novella repens. acida. Aubletia caseolaris. I. griffithii. S. hydrophylacea S. neglecta. brasiliensis. S. rubra. palyanthum D.Rhizophora caseolaris Chiratia leucantha. Rhizophora caseolaris. S. rubra I. obovata. speciosa Melastoma candidum Morinda citrifolia Pandanus odoratissima 4194 . tothila. malabathricum. affine. B. Balanopteris minor. I. caseolaris. N.

van Ooststroom (1953) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999) 1953 . Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951). Tomlinson (1986). Tomlinson (1986). Wightman (1989) Backer (1918). Wightman (1989) SUMBER FOTO Hidayat (1999) Wendy Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999). Kitamura et. al. Corner (1988). Wightman (1989) Wightman (1989) Walker (1976) Walker (1976) Wim Giesen I Nyoman Suryadiputra Hidayat (1999) Kitamura (1997) Keng (1987).SUMBER GAMBAR Tomlinson (1986). Polunin (1988) Tomlinson (1986) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999) The Common Littoral Plants of Taiwan I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley (1999) Icones Rijksherbarium Leiden I Nyoman Suryadiputra & Hidayat (1999) Hidayat (1999) Tomlinson (1986). (1997) Backer & van Steenis (1951) Tomlinson (1986). Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951).

marginata. mauritiana. viridis. inermis. Croton spinosa L. T. macrophylla. Pyxipoma polyandrum. catappa var. S. speciosus. S. dan chlorocarpa. jamaicensis T. repens. Trianthema polyandrum. urticifolia. V. glabrata P.JENIS MANGROVE S I N O N I M Pandanus tectorius Passiflora foetida Pongamia pinnata Ricinus communis Scaevola taccada Sesuvium portulacastrum Stachytarpheta jamaicensis Terminalia catappa Crithmus indicus. T. latifoilia. rhodocarpa. R. moluccana. macrocarpa. Thespesia populnea Wedelia biflora 4196 . S. polyandrum. pilosiuscula. Verbena indica. S. T. villosa. S. Myrobalanus catappa T. Bupariti populnea W. S. R. glabra R. Portulaca portulacastrum.

SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Tomlinson (1986) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wightman (1989) Kitamura et. (1997) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Tomlinson (1986). Wightman (1989) Material hidup I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) 1973 . al.

parviflora. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. caseolaris. tagal. Gymnanthera paludosa. sexangula. Rhizophora apiculata. A. Acanthus ilicifolius Barringtonia asiatica Amyema gravis. sexangula. Ceriops decandra. Xylocarpus granatum. B. R. S. moluccensis.stylosa. Cerbera manghas. L. ilicifolius. Nypa fruticans. parviflora. ovata. ovata Camptostemon philippinense. Kandelia candel. DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Airy Shaw (1975) Backer & Bakhuizen van den Brink (1963-8) Excoecaria agallocha Avicennia alba. Terminalia catappa. Scyphiphora hydrophyllacea. Derris trifoliata. S. Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Sonneratia alba. mucronata. Kandelia candel. Thespesia populnea. L. Excoearia agallocha. marina. A. Wedelia biflora. exaristata. caseolaris. B. Xylocarpus granatum. Sesuvium portulacastrum. Aegialitis annulata.C. Sonneratia alba. A. C. A. tagal. Lumnitzera littorea. Avicennia eucalyptifolia. racemosa Sonneratia ovata Excoecaria agallocha Backer (1918) Backer & van Steenis (1951) Bakhuizen van den Brink Baltzer & Baruadi (1991) Burkill (1935) Corner (1988) Danser (1931) Ding Hou (1958) Excell (1954) Giesen (1991) Giesen & Rudyanto (1994) 4198 . racemosa. Aegiceras corniculatum. officinalis. gymnorrhiza. Hibiscus tiliaceus. schultzii Xylocarpus granatum Wedelia biflora. R. X. mucronata. R. stylosa Terminalia catappa. A. R. B. Calophyllum inophyllum. Bruguiera cylindrica. Aegiceras corniculatum. Ceriops decandra. Pongamia pinnata. Acanthus ebracteatus. B. marina. S. Osbornia octodonta. A. floridum. B. Sarcolobus globosa. gymnorrhiza. B. Lumnitzera littorea. Rhizophora apiculata. B. A. hainessii. Heritiera littoralis. anisomeres Bruguiera cylindrica. S. B. officinalis.Lampiran 2. C.

Cerbera manghas. X. Heritiera littoralis. Pandanus tectorius. Xylocarpus rumphii Acrostichum aureum. moluccensis.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Giesen & Sukotjo ( 1991) Henty (1981) Heyne (1950) Excoecaria agallocha Amyema mackayense Barringtonia asiatica. Xylocarpus granatum. caseolaris. Scyphiphora hydrophyllacea. S. Ceriops decandra. A. H. Derris trifoliata. ovata. R. A. Rhizophora apiculata. speciosum Avicennia eucalyptifolia Calotropis gigantea. Cerbera manghas. Finlaysonia maritima. Calophyllum inophyllum. Sonneratia alba. Aegiceras corniculatum. Camptostemon schultzii. eucalyptifolia. Heritiera littoralis. S. Thespesia populnea. tagal. Aegiceras corniculatum.Sonneratia alba. Thespesia populnea Holttum (1966) Johnstone & Frodin (1982) Kitamura et. Nypa fruticans Wedelia biflora Acrostichum aureum Barringtonia asiatica Aegialitis annulata Avicennia officinalis. Hibiscus tiliaceus. A. A. caseolaris. Acanthus ilicifolius. A. al (1997) Kostermans (1959) Percival & Womersley (1975) Perray & Metzger (1980) Piggott (1988) Polunin (1988) Prakash & Lim (1995) Said (1990) 1993 . Avicennia alba. C. mucronata. Excoearia agallocha. Aegialitis annulata. Kandelia candel. marina. S. Cerbera manghas. stylosa. Excoecaria agallocha. marina. Sesuvium portulacastrum. Osbornia octodonta. Bruguiera cylindrica. Scaevola taccada Heritiera globosa. Excoearia agallocha. littoralis Avicennia alba. R. officinalis. officinalis. Scyphiphora hydrophyllacea. A. Ipomoea pescaprae. Acrostichum aureum.

R. Sonneratia alba. B. B. A. Ceriops decandra. Aegialitis annulata Acanthus ebracteatus. gymnorrhiza. Aegiceras corniculatum. moluccensis. Osbornia octodonta. Calophyllum inophyllum. speciosum Barringtonia asiatica Van Osststroom (1953) Van Steenis (1936) Watson (1928) Whitemore. R. A. Aegialitis annulata. B. Hibiscus tiliaceus. stylosa. Rhizophora apiculata. A. officinalis. floridum. Excoearia agallocha. littoralis. Scyphiphora hydrophyllacea. Xylocarpus granatum. officinalis. stylosa.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Tomlinson (1986) Avicennia alba. Thespesia populnea. Acanthus ebracteatus. gymnorrhiza. Lumnitzera littorea. Sonneratia alba. C. racemosa. C. sexangula. Bruguiera cylindrica. A. R.al. mucronata. A. Ceriops decandra. Acrostichum speciosum. schultzii. Aegialitis annulata. marina. A. et. Hibiscus tiliaceus. Derris trifoliata. Thespesia pupulnea. Xylocarpus granatum. Camptostostemon philippinense. L. Acrostichum aureum. X. Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Osbornia octodonta. X. Aegiceras corniculatum. B. Stachytarpheta jamaicensis Wijayakusuma. H. A. tagal. hainessii. ovata. R. A. B. B. Heritiera Globosa. H. parviflora. eucalyptifolia. Tantra & Sutisna (1990) Whitmore (1972) Wightman (1989) Calophyllum inophyllum Avicennia marina. Scyphiphora hydrophyllacea. Camptostemon schultzii. Pongamia pinnata. Ricinus communis. B. Sesuvium portulacastrum. ilicifolius. Acrostichum aureum. S. mucronata. Rhizophora apiculata. Cerbera manghas. Nypa fruticans Ipomoea pes-capre. Bruguiera exaristata. ilicifolius. speciosum. S. X. tagal. parviflora. Osbornia octodonta. Melastoma candidum. Derris trifoliata. sexangula. mekongensis. A. caseolaris. C. (1992) 4200 . mekongensis.

Ballen. Statistik Indonesia. Aksornkoae. C. 11: 31-44. 5: 27-55.P. 2013 .J. Hydrobiologia. Indonesian Ornithological Society.C. 1951. Ehime University. Thailand. Sonneratiaceae. 1984. Backer. Flora of Java. Bogor. Hal. & R. Proposed Wetland Conservation Areas: New & Extensions of Existing Reserves. Flora Malesiana. V. R. S. Jakarta. A Report on The Wetland Avifauna of South Sulawesi. 1988. Dalam Simposium on Mangrove Management: Its Ecological and Economic Consideration. N. The Terrestrial Mangroves Birds of Java. Abe. 83 hal. seri III vol. 141-151. A checklist (Peters’ Sequence).. 1994. The Birds of Indonesia. Biro Pusat Statistik. Backer. The Netherlands. M. Bailey. Andrew.G. Leiden. Ecology & Management of Mangrove.V. Bangkok. Jakarta. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment: Restoration & Management. R. The Remnant Mangroves of Sei Kecil. & Suhardjono. The Occurrence of Crustaceans in the Tanjung Bungin Mangrove Forest. 1921. S. 1994. Bakhuizen van den Brink.III. 1998.G. 1993.A. 285: 249-255. Biro Pusat Statistik. IUCN Wetlands Programme. Toro. IUCN. P. 1990. South Sumatra. 1963-1968. Revisio Generis Avicenniae. Indonesia. van Steenis. I. Indonesia. Bakhuizen van den Brink. Indonesia. 1988. Sukristiyono & V. Dalam Biological System of Mangroves. Thailand. & C. 3 Volumes. 176 hal. IUCN. Bangkok. Dalam Bulletin du Jardin Botanique Buitenzorg. Statistik Indonesia. C. P. Ser. The Social Consequences of Tropical Shrimp Mariculture Development. K. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. C. Kukila. Jakarta. Japan. AWB-Indonesia/PHPA. West Kalimantan. Noordhoff. Ocean & Shoreline Management. Ecology and Management of Mangroves.C. 1990. Simpang Hilir.A. 1992. 1988. Adiwiryono. S.DAFTAR PUSTAKA Abdulhadi. Andrew. AWB-Indonesia. Bogor. 241-257. Hal. Baltzer. 4: 286-289. Arboreal Arthropod Community of Mangrove Forest in Halmahera. 1990.

Chapman. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. 1980. 4202 .S. 4: 349-359. Mangrove Vegetation. Vloed. 2 volume. Hal. Monograph on Oceanological Methodology 8. August 26-30. Pergamon Press.. Ceram. Mangrove Monograph No. I.Becking J. Ehime University. 1993.R. 1977. 428 hal. Williams. Management of Mangrove Exploitation in Indonesia. P. A. Chapman. Boon. Burbridge. J. Ecol. Univ. Dalam Tectona XV. A Dictionary of The Economic Products of the Malay Peninsula. editor.H. A. UNESCO. Marine Ecology . V. Hal.T. Chambers. Darwin. Budiman. Ipoh. Hal. D.J. Hal 10911095. Budiman. Malaysia. 49-57.. Dalam The mangrove Ecosystem: Research Methods. Chapman. V. London. 447 hal. Chapman. Bunt. 1988. den Berger & H. V. Elsevier Scientific Publishing Company.J. L.W. De inrichting van de voor exploitatie in aanmerking komende bosschen in de afdeeling Bengkalis. The Molluscan Fauna in Reef Associated Mangrove Forests in Elpaputih and Wallale. 29: 344-373. Dev. 1922. Tectona. & W. 292 hal. 1981. J. Hal. Ecosystems of the World: 1. The Environment and Geomorphology of Deltaic Sedimentation (some examples from Indonesia) Trop. Burhanuddin. Cramer. Meindersma. A Study on Mangrove Fish at Handeuleum Group and Panaitan Island of Ujung Kulon National Park. Nat. Burkill. & Koesoebiono. hal. 251-258. Austr.A.Progress Series.-Indië. M. Indonesia. Coastal Vegetation. Paris. 1985. Crabs and Molluscs #2: Ecological Distribution of Molluscs. Ecology and Behaviour of Benthic Fauna. 1980. Wet Coastal Ecosystems.J. 53-80. Valduz. 1976b. Crown Agents for the Colonies. V. 1. Dalam Prosiding Lokakarya Mangrove Fisheries and Connections.of mangrovebosschen in Ned. 740-760. Botanical Surveys in Mangrove Communities. Vegetational Relationships in The Mangroves of Tropical Australia. J. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment. Japan. benevens eenige opmerkingen omtrent de samenstelling der terplaatse voorkomende moerasbosschen. 2402 hal. 1984.J. 173182.H. 1936. 1976a.G. 1991. Dalam Biological System of Mangroves. 1935.

1994. Aust. Tectona 24: 39-76. Bot. M. 5: 429-493. AWB.T. Verheugt.. 1997. 1991. Bull. F. H. 1931. 285: 237-247. Danielsen. Danielsen. Bogor. J.Choy. 1984. Skov. Bunt & W. De Tropische Natuur. PHPA. Flora Malesiana. M. 1991. PPLH-UNSRI and the Danish Ornithological Society.C. OEC. Direktorat Jenderal Perikanan. Waterbird Study Results From South East Sumatra. Danielsen. Hydrobiologia. Bull.H. Cilacap. S. & W. XI: 233-519. 1972. Skov & W. Departemen Pertanian. de Haan. International Waterfowl & Wetlands Research Bureau. Rhizophoraceae. Jakarta. Ser. A.I. Jakarta. Breeding habitat of Milky Stork Mycteria cinerea in South Sumatera Indonesia. 1987. The Potential for Wetlands to Support and Maintain Development. III vol. F. 1991. Claridge. Departemen Kehutanan. Jakarta Ding Hou. Purwoko. 210 hal. 1997. Het een en ander over de Tjilatjap’sche vloedbosschen. Ser. Prolongued Inundation and Ecological Changes in An Avicennia Mangrove: Implications for Conservation and Management. B. F. Hal 175. J. Observations on The Floral and Vegetative Phenologies of North-eastern Australian Mangroves. 32: 87-99. J. 1990. 1958. Danser. The Loranthaceae of the Netherlands Indies. Jawa Tengah. 2033 . Indonesia. Wetlands for the America’s. Bogor. Bot. & H. J. 45 hal. Williams. Wetland Benefits. 16: 155-160. Jard.S. 3: 8-11. Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove di Indonesia. Djamali. Radjoengans. Indonesia. de Buiten zorg. Jakarta. Departemen Pertanian. Dalam Prosiding Seminar IV Ekosistem Mangrove. Verheugt. Davies. J. Booth. 1993.. H. & G. Silvius. Asian Wetland Bureau.. A.E. N. & W.C.C. 1931. Duke. Telaah Ekologis Kelimpahan Juwana Udang Jerbung (Penaeus merquiensis de Haan) di Perairan Sekitar Mangrove Sungai Donan. Indonesia. Integrating Conservation With Land-use Planning in The Coastal Region of South Sumatra. Delsman. H. Statistik Perikanan Statistik Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan. J.

Bogor. 6. Exell.. Djuharsa. Ser. 1157-1161. 119 hal. Foo. 1934. Erftemeijer.W. A.C. Spaans. Laporan No. East Java (Indonesia). Australian Institute of Marince Science. Hal.A. West Sumatra. S. Wong. Bogor. 4: 533-589. Baker. 45 hal. P. H. Baal. Fiselier.M. C.. Bogor. PHPA/ AWB. 1990. Australia. Riau (Pulau Bakung. PHPA.Restoration & Management. W. G. 1984.L.T.. Bab 4. 299303. Erftemeijer. 63-100. 1982. 151 hal. Skov & R. A. F. Preliminary Resource Inventory of Bintuni Bay and Recommendations for Conservation and Management. & E. Djuharsa. Rome. PHPA-AWB/ INTERWADER. 1984: 663-671.S.A. Over mangrove Culturen. Mangrove Swamp and Fisheries in Sabah. Tiger Data in Wetland Data Base and a Recommendation to Enhance the Chances of Tiger Survival. Indonesia. Living off the Tides. Leiden. & J. 92 hal. Centre for Environmental Studies.I. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. Dalam Tropical Ecology & Development. A. Verheugt. Environmental Database on Wetland Interventions (EDWIN). F. 1989. Allen & Zuwendra. Survey of Coastal Wetlands and Waterbirds in the Brantas and Solo Deltas. Management and Utilization of Mangroves in Asia and the Pacific. Indonesia. Ecol. 1991a. S.O. Indonesia. B. Frazier. AWB/INTERWADER & Catholic University of Nijmegen. 1992. N.Duke. 1988. F. 22-26 November 1992. Lokakarya Harimau Sumatera. Kuala Lumpur. Mangrove Floristics and Biogeography. van Balen & E. D. 59 hal. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . Combretaceae. Danielsen.T. Soc. Wilkinson & V. 1954. The Importance of Segara Anakan for Nature Conservation. Trop. Townsville. J. P.W. 4204 .. the Netherlands. 1988. 1994. P. G. F. hal. W. Dalam Tectona XXVII.. Indonesia. Altenburg. Padang. Flora Malesiana. Giesen. H. 1992. Fernandes. Purwoko. Bakung Island. FAO Environment Paper 3. Hal.A Neglected Mangrove Resource. 368 hal. Fong. English. 1980. Kadarisman. W. Pulau Basu). Dalam Tropical Mangrove Ecosystems (Volume 41).J. With Special Reference to Its Avifauna. 11. Survey Manual for Tropical Marine Resources. Bogor. Int. Erftemeijer.M. van den Top. Nipa Swamp .

1993. Karang Gading-Langkat Timur Laut Wildlife Reserve (North Sumatra). Chapman & Hall. E. 1991. Dalam Prosiding Simposium Pertama mengenai Berang-berang di Indonesia. W. Ti. 1992. Giesen. 1991. & T. Ambon. Baltzer & R. Mangrove Soils of Indonesia. Indonesia’s Mangroves: An Update on Remaining Area and Main Management Issues. Hal. 10. Hal. 1991. August 9-11. R. Giesen. 1989. 26. Malayan Nature Journal. Notes and Observations. 34 hal. B. 2053 . editor. Observations on Acid Runoff and Iron in Brackishwater Fishponds. Several Short Surveys of Sumatran Wetlands. W. 1981. W. editor. Bogor. Giesen. Lae. Jambi. Bogor. Hassan. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetlands No. 585 hal. 46: 265-266. Sumbawa. Department of Fisheries. Handbooks of the Flora of Papua New Guinea. of Agriculture.L.E. PHPA/AWB-Indonesia. 257-265. Giesen. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. Indonesia. Integrating Conservation with Land-use Development in Wetlands of South Sulawesi. 17 hal. 7 April 1994. 98 hal. 14 hal. Volume II. 240 hal. Bogor. 48 hal. Perubahan Habitat Lahan Basah di Kepulauan Sunda Besar dan Implikasinya terhadap Keragaman Hayati [Habitat Changes in Wetlands of the Greater Sunda’s and Implications for Biodiversity]. Hutan Bakau Pantai Timur Nature Reserve. Henty.B. M. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. Global Biodiversity. Giesen. Giesen. Problems and Implications. Groombridge. Bogor. van Balen. Dalam prosiding simposium Mangrove Management: its Ecological and Economic Considerations. 17. Dalam Seminar “Coastal Zone Management of Small Island Ecosystems”. Baruadi. W. 1994. & Rudyanto. Publikasi PHPA/AWB. W. Bogor. Satonda Island. W. PHPA / AWB.Giesen. 1993. 10 hal. 7-10 April 1993. W. Sumatra. Min. 45-55. Giesen. Peranan Berang-berang Bagi Manusia. 1988. S. & B. Hardjowigeno. Bogor. 1986. W. Status of the Earth’s Living Resources. 1991. Government of Papua New Guinea. Mass Feeding of Dog-faced Water Snakes (Cerberus rhynchops) on Sumatran Mudflats.. & Sukotjo. and Its Unique Stromatolites. 1994.

#1: Floristic Composition and Stand Structure. 1985. Bogor. Anwar. JICA & ISME. Hal. Ogino. Baba. 1997. T. C. with Special Reference to Indonesia. C. 206 hal. G. Pengenalan Jenis Pohon Mangrove di Teluk Bintuni. Prawiroatmodjo. 47 hal. A. UNESCO Regional Office for Science & Technology for Southeast Asia. 1984. Forest as an Ecosystem. Indonesia). Biotropica. 124 hal. Irian Jaya. 1997. 182 hal. De luchtfoto en de topografische terreingesteldheid in de mangrove. Tropical Press.A. Kusmana..W. Lugo.. P. A.G. Moriya. 17: 177.An Introduction.F. Dalam Biological System of Mangroves. 4: 256-62. Khazali. Chaniago & S. Kuala Lumpur. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. H. C. A. Pengelolaan Hutan DAS Rokan . Bogor. in Indonesia. Miyabara. Landscape-ecology of Ujung Kulon (West Java. Bogor. Komiyama. 11-13 September 1993. De Tropische Natuur. Its Structure and Function.Hutan Mangrove Kabupaten Bengkalis dan Kemunduran Perikanan di Bagan Siapi-api dan Sekitarnya.J.. PhD thesis. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Keng. 1997. Prosiding Lokakarya Pemantapan Strategi Pengelolaan Lingkungan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua. S. Bogor. Kostermans. 1984. 4206 . Ehime University. 1988. Kusmana. Kusmana & Suhendra. Jiménez. Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove.J.185.L.L. 23: 173-189. 1959. Hal 41. C & Onrizal. Reinwardtia. Fascinating Snakes of Southeast Asia . IPB Press.A. IPB Press. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986.Hilmi. Japan. 85-96. Tree Mortality in Mangrove Forests. & T. & A.M. 1989. A. Kasry.E. Tesis Program Pasca Sarjana IPB. 1999. Tat-Mong. M. 1993. 1987. Coastal Zone Resource Development and Conservation in Southeast Asia. Wetlands International – Indonesia Programme. Kapal Kerinci. Studi lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta. A. Agricultural University of Wageningen. Panduan Teknis Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat. (Sterculiaceae). Bali & Lombok.L. 1997. Monograph of the Genus Heritiera Aitn. Metoda Survey Vegetasi. F. Kint. the Netherlands. Jakarta. Kitamura. Handbook of Mangroves Knox. J. S. 1934. & M. Tomi & K. (tidak dipublikasikan) Hommel. Jakarta.

Biol. 1974. Fakultas Kehutanan IPB. R. A. PHPA/AWB. 39-46. 1999. & E. Vol. Kuala Mepham.Kusmana.99 Meindersma. Nirarita. 1994. B. mar. Jakarta. Blackwell Scientific Publications. 1985: 77. Giesen. Pedoman Pembuatan Persemaian Jenis-Jenis Pohon Mangrove.S. S. 1968. & J. 12: 25-31. Lumpur. 1.H. De Tropische Natuur. Situation and Outlook of the Forestry Sector in Indonesia. Nurkin. Ecology of Coastal Waters. Djambatan. 1: 265-268.H. A Systems Approach. Jakarta. 70-77.Restoration & Management. Noor. Beberapa Catatan Tentang Aspek Pengusahaan Hutan Mangrove di Sulawesi Selatan. 322 hal. 2 No. 8. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . A. The Flora of Tidal Forests. Dalam Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove. Indonesia.E. Ecology and Productivity of Malaysian Mangrove Crab Populations (Decapoda: Brachyura). Some Notes on The Crustacean Fauna Around Mangrove Area of Pancer Balok. R. Manuputty. 1997. D. Cimanuk River Estuary. 1984. 1984: 231-240. Volume 2: Forest Resource Base. W. 1990. 1. 2073 . Hal 5. Vol.W. An Assessment of the Importance of Rawa Danau for Nature Conservation and An Evaluation of Resource Use. Adv.R. Res.J. 6: 73-270. The Detritus Based Food Web of An Estuarine Mangrove Community. 1987. (tidak dipublikasikan) Macintosh. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . 1923. W.W.. Hanafia & Rudyanto.Restoration & Management. Nontji. Ch. Warta Konservasi Lahan Basah. 1982. W. 1979. E. Mangrove: The Forgotten Forest Between Land and Sea. Eenige bijzonderheden over mangrove. Studies in Ecology. Malaysia.. 1984: 354-377. West Java.bosschen. Mastaller.W. Bogor. 1985. Estua. Odum. MacNae. Departemen Kehutanan & FAO. J. UTF/INS/065/INS: Forestry Studies. Hutan Mangrove: Antara Nilai Ekonomi dan Fungsi Ekologi. Y. Bot. 1984. 1993.Afr. Laut Nusantara (Marine Nusantara). Jakarta.a Rationalization of The Use of The Term Mangrove. E. Mann. Bogor. Technical Report No. 97 hal. A General Account of the Fauna and Flora of Mangrove Swamps and Forests in the Indo-West-Pacific Region. E. Heald. Mepham. H.J. M. C. K. Melisch.

Lim. Reeve & Co. 20 (1): 28-33. N. Davie. E.J. 383 hal. Indonesia. Percival. 1990. 1988. 74: 11-15. Ambio. Bogor.N. A Field Guide to the Mammals of Borneo. 1982. Francis & K. Botany Bulletin No. Y. Othman. Bandung.A. with particular reference to those having socio-economic value.M. 1998..S. IV Rusila Noor. 1987. Department of Forests. Mangroves and Aquaculture. Hegerl & J. Phillipps. 12. J. 285: 277-282. Payne. Intensive Prawn Farming in the Philippines: Ecological. 11: 252. 6 No. Ehime University. IUCN Commission on Ecology Papers No. SIS Newsletter Vol. H. 332 hal. & J.L. Japan. Ambio. 1993. PHPA/Asian Wetland Bureau. Chihara. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. 67a. Laporan Penyigian Burung Air di Sumatera Selatan dan Jambi. Monocotyledones.M. 88 hal.D. 1983.H. 1995. London. P.. Skripsi. 181 hal. Biological System of Mangroves. Floristics and Ecology of The Mangrove Vegetation of Papua New Guinea. 1994. Buku I Kondisi & Potensi Biofisik Kawasan. Hydrobiologia. A List of Wetland Plant Species of Peninsular Malaysia. & A. and Economic Implications. Value of Mangroves in Coastal Protection. the Enigmatic Mangrove. Lae. J. 1985. 8.UNPAD.S. Y. West Java. 1924. The Sabah Society with World Wildlife Fund Malaysia. Ridley.. editor. Hal 1. Jurusan Biologi . Rancangan Rencana Pengelolaan Kawasan Segara Anakan. 96 hal.E. Ong. Social. 1975. J. M. 1991. Y.. Papua New Guines National Herbarium. Ltd. 1991. 4208 . M. Sibuea & Rudyanto. Said. Milky Stork Banding at Pulau Rambut. Rusila Noor. Primavera. I. C. The Systematic Position of Aegialitis. Wallaceana. Bogor..Ogino. K. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir & Laut IPB. The Flora of the Malay Peninsula. Kuala Lumpur. & M. 3. Womersley. AWB publikasi no. Prakash.257. Saenger. Th. Studi Populasi Burung Air Kaitannya dengan Usaha Konservasi di Daerah Pantai Indramayu dan Cirebon. Global Status of Mangrove Ecosystems. Vol. Rusila Noor.

191-211. Soewito.C. Laporan PHPA .T. Bogor. E. Chong. PHPA. Silvius. Spalding. Bogor. Iskandar.J. 1986. I. D’Cruz. World Mangrove Atlas. Notes on The Vegetation of The Tidal Areas of South Sumatra. Field editor. Survey of Coastal Wetlands in Sumatra Selatan and Jambi. Indonesia. D’Cruz & M. Hal. Conservation and Land-use of Kimaam Island.T. Dalam International Social Tropical Ecologi. Verheught. Verheugt & J. 2 volume. Silvius.C. M. Chong.J. Taufik. 1989. Masalah Penentuan Batas Lebar Jalur Hijau Hutan Mangrove.Samingan. Hal 39. J. 101 hal. 1992.U. with Special Reference to Karang Agung. E. Berczy. Jakarta. Soerianegara. Jakarta.. Silvius. 1987. 1996. & A. Bogor. M. F. M. V. 1984.M. Cambridge. Prosiding Seminar III Ekosistem Mangrove. Djuharsa & A..M. The Indonesian Wetland Inventory. 1986. Savitri. Hydrobiologia. Sasekumar. Leh. Prosiding Seminar Tahunan ke12 the Malaysian Society of Marine Sciences. Blasco & C. Khazali. 247: 195-207. Kuala Lumpur. Indonesia. Wetlands International – Indonesia Programme. Kukila No. 2093 .W. Ibises & Spoonbills in Indonesia.L. Taufik.D.J. Silvius. 1980. Audrey. A. M. L. Indonesia. A & M. hal 124-125. M. V. Bogor.J. The Sungai Pulai (Johor): A Unique Mangrove Estuary.U. A Preliminary Compilation of Existing Information on Wetlands of Indonesia. AWB/INTERWADER. M. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. A. Laporan Survey Sumatran Waterbird Laporan Studi ICBP No. 1987. M. 1989. 1.. Japan. A Survey Report and Compilation of Existing Information. M. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir: Pengalaman Pengembangan Tambak Ramah Lingkungan dan Rehabilitasi Mangrove di Karangsong Indramayu. 1999. 1107-1112. Silvius.P.J.INTERWADER No. Steeman. Leh & R. Status Ekosistem Hutan Mangrove dalam Kaitannya dengan Kepentingan Perikanan di Indonesia dan Kemungkinan Pengembangannya. W.J & W. Hal. The Status of Storks. International Society for Mangrove Ecosystems.D. Okinawa.J. 9. Coastal Wetlands Inventory of South East Sumatra. R. EDWIN. PHPA-Asian Wetland Bureau. Hal.. 4: 163-164. Mangroves as a Habitat For Fish and Prawns.. Indonesia. M. M. 1989. 121 & 268. A. Sasekumar.

J. 419 hal. H. Hal 211-220. 1994.F..441. J. Maritime Studies. I. Bull. van Steenis. Introduction to Account of the Rhizophoraceae by Ding Hou. 1988. 237 hal.B.G. & D. Outline of Vegetation Types in Indonesia and Some Adjacent Regions. M. Tomlinson. 193-205. V. Ser.. Landscape and Urban Planning. Kustaanwas en Mangrove. Mus. Flora Malesiana.G. Mar. Ser. 4: 107-112. 37. van Bodegom. Ecol. BIOTROP Special Publication No. A. 1989. Sci. M. 26: 194-6. A. C.H. S. 1936. W. van Steenis. IV: 61-97. Biol. Tokyo. 1986. South Sumatra Province. Cambridge. een weinig bekende mangrove-boom. Macroalgae in Indonesian Mangrove Forests. Malayan Animal Life.K. Ser.G.G. De Tropische Natuur. Chihara. F. Natn. Longman Malaysia. Verheught. Skov & R. The Terrestrial Mangrove Birds of Java.M.. 1989. 14: 93-106. 22: 1302-1332. Danielsen. Kadarisman. C. J. Flora Malesiana. 20: 85-94. U. Coastal Resources Development Options in the Southeast Asia and Pacific Regions: Economic Valuation Methodologies and Applications in Mangrove Development. De vloedbosschen in het gewest Riouw en onderhoorigheden.L. Exp. Tectona. W. Indonesia. The Botany of Mangroves. Indië. 1957. 1941. Wada. Colonial Waterbirds.I.J. 1929. Tanaka. van Steenis.Steup. & M.J. Ecology of Mangroves. van Steenis. 1954.G. Cambridge University Press. F. Harrison. 1949.J. Conservation Status and Action Program for the milky stork (Mycteria cinerea). Osbornia octodonta. 134: 89-100. Purwoko. K. Plumbaginaceae. 79: 1-13. van Balen. J. Integrating Mangrove and Swamp Forests Conservation with Coastal Lowland Development. P.G. Natuurwetenschappelijk Tijdschrift voor Ned.K. 4210 . Wowor. Foraging on Mangrove Pneumatophores by Ocypodid Crabs. Verheugt. C.. Thurairaja. Vol. hal. 12: 353-355. & J. 1991. C. the Banyuasin Sembilang Swamps Case Study.G. 1958. 5: 431.G. 1987. Tweedie. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Management: Its Ecological and Economic Considerations’. B. Prosiding the 8th Pacific Science Congress.W.

A.. S. T. Anwar & N. 2113 . 1984. Whitten. 7. S. 1992. Wirian. Kuala Lumpur. Sumber Benih Baru di Indonesia Timur untuk Menanggulangi Masalah Perkembangan Tambak. Wijayakusuma. M. 1993. Y.J. H. I. N.. Palms of Malaya. P. Maros. G. Australia. Yaputra & B. A. Jakarta.. 1995. Pustaka Kartini. S.M. Whitmore. The Coastal Environmental Profile of Segara Anakan-Cilacap. M. S.C. 275 hal. T. Oxford University Press. Walker. Mangroves of the Northern Territory. Rasyid. Malayan Forest Records No. M. 1976. ICLARM Technical Reports 25. Pustaka Kartini. The Ecology of Sumatra.. Gajah Mada University Press. Hal 358. Indonesia. Hisyam. M.H. Wibowo. East Nusa Tenggara. & F. 583 hal. Editor. 1996. 1985. & S. The Ecology of Sulawesi. S. Singapore. Pustaka Kartini. M. Zieren. A. Wijayakusuma. Watson. Wightman. S.S.. Damanik. International Center for Living Aquatic Resources Management. Tanaman Berkhasiat Obat Wijayakusuma.Wahyuni. M. E. Baltzer and N. 82 hal. Pustaka Kartini. Wetlands of Sumba.S. Dalimartha & A. Jakarta. 1928. 1984. Henderson. Gajah Mada University Press. Martosubroto & M. Palmerston.J. Yogyakarta. Wirian. PHPA/AWB Bogor. Yogyakarta.E. Jakarta. Conservation Commission of the Northern Territory. Wibowo.. Jakarta. 777 hal. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. 1988. 1: 1-8. 1989. Wijayakusuma. Dalimartha & A. M. Rusila Noor.G. 1989. Saleh. Manila.T. J. Philippines. Flora of Okinawa and the Southern Ryukyu Islands.. H. Federated Malay States Government. Northern Territory Botanical Bulletin No. S. H.T. H. 132 hal. Nuraini. 1973. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-3. T.. White. di Indonesia Jilid ke-2. South Java. Mustafa & G. 1990. Yaputra & B. Sulawesi Selatan. Whitten. Jawul Penelitian Budidaya Pantai.M. 6. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-4. J. Wardoyo. Jakarta. Beberapa Jenis Hasil Perairan Segara Anakan Cilacap yang telah Dimanfaatkan Penduduk Sekitarnya.J. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid I. Sadorra. Mangrove Forests of the Malay Peninsula.

Parasit (Parasite) KELOMPOK TUMBUHAN Belukar (Shrub) Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar. Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama. tidak bercabang sampai daun pertama. Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu. dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun. dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai. Dapat hidup tanpa inang. namun tidak menyerupai rumput. Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit. Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai. lurus dan biasanya tinggi.GL OSSARY GEOGRAFIS Dunia lama (Old World) Pan-tropis (Pan-tropical) Eurasia dan Afrika Terdapat di seluruh daerah tropis di seluruh dunia KEBIASAAN HIDUP Hemi-parasit (Hemi-parasite) Tumbuhan yang sebagian hidupnya bergantung kepada inangnya. biasanya memiliki bunga yang menyolok. Tumbuhan yang hidupnya bergantung kepada inangnya. tetapi mampu untuk melakukan fotosintesa sendiri. tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun. biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu. Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar. Tumbuhan yang merambat ditanah. Tumbuhan yang memiliki kayu besar. Epifit (Epiphyte) Paku-pakuan (Fern) Palma (Palm) Pemanjat (Climber) Pohon (Tree) Terna (Herb) 4212 . Daunnya tidak panjang dan lurus.

berupa struktur eksternal yang menyerupai piring. keluar dari batang. Lentisel (Lenticel) Sisik (Scales) AKAR Akar udara (Aerial root) Struktur yang menyerupai akar. Cairan yang pekat seperti susu.BATANG/KULIT KAYU Bercelah (Fissured) Getah (Latex) Hipokotil (Hypocotyl) Goresan yang dalam pada batang pohon atau kulit kayu. Akar berbentuk seperti papan miring yang tumbuh pada bagian bawah batang dan berfungsi sebagai penunjang pohon. Beberapa kadang-kadang menyerupai struktur akar yang dimiliki oleh famili Rhizophoraceae. Akar banir/papan (Buttress) Akar lutut (Knee root) Akar nafas (Pneumatophore) Akar Tunjang (Stilt-root) akar udara akar banir/papan akar lutut akar nafas akar tunjang Gambar bentuk-bentuk akar 2133 . Akar yang muncul dari tanah kemudian melengkung ke bawah sehingga bentuknya menyerupai lutut. muncul dari dalam tanah. berukuran kecil dan hanya bisa terlihat baik dengan menggunakan kaca pembesar. terbentuk dari epidermis. Bagian dari kecambah yang akan tumbuh menjadi pangkal batang yang akan berhubungan dengan pangkal akar. Bentukan pada pohon yang berbentuk datar. Tonjolan pada kulit yang memungkinkan udara luar memasuki jaringan di dalamnya. menggantung di udara dan bila sampai ke tanah dapat tumbuh seperti akar biasa. pada kulitnya terdapat celah-celah kecil yang berguna untuk pernafasan. Akar yang tumbuhnya tegak. Akar yang tumbuh dari batang diatas permukaan dan kemudian memasuki tanah. biasanya berfungsi untuk penunjang mekanis.

Panjang daun 2 kali lebarnya. Bulat telur (Ovate) Bulat telur terbalik (Obovate) Elips (Elliptic) Lanset (Lanceolate) Bentuk daun melebar dibagian tengah. Kelompok tumbuhan yang daunnya berguguran/rontok secara periodik (misalnya pada musim kering). Titik sudut antara sisi atas dan batang tempat daun. Pada tiap buku-buku batang hanya terdapat 1 daun. Majemuk (Compound) Susunan Berlawanan/berhadapan (Opposite) Bersilangan (Spiral/Alternate) Bentuk Bulat memanjang (Oblong) Panjang daun 2 – 3 kali lebarnya. bagian pangkal dan ujung daun runcing. melebar dibagian tengah dan kedua ujungnya berukuran hampir sama. Bentuk daun seperti telur terbalik. bagian pangkal lebar dan bagian ujung runcing. Tumbuhan yang berdaun sepanjang tahun. Panjang daun 3 – 5 kali lebarnya. kebanyakan berbentuk elips. misalnya pada permukaan daun. Pada tangkai daun yang bercabang-cabang terdapat lebih dari satu helaian daun. Urat bagian tengah pada daun. Bagian sisi dari daun.DAUN Kelenjar (Gland) Ketiak (Axil) Meranggas (Deciduous) Anak/pinak daun (Leaflet) Selalu hijau (Evergreen) Tepi/sisi (Margin) Urat (Vein) Urat tengah (Midrib) Unit Sederhana/tunggal (Simple) Pada tangkai daun hanya terdapat satu helaian daun saja. Struktur pada tumbuhan yang mengeluarkan cairan lekat atau berminyak. 4214 . Bagian yang mirip daun pada daun majemuk. posisi normal untuk tunas lateral. Pada tiap buku-buku batang terdapat 2 daun yang berseberangan pada ranting. Tonjolan vaskular yang biasanya terlihat dari luar.

BUNGA Daun kelopak (Sepal) Kelopak bunga (Calyx) Struktur berwarna hijau menyerupai daun atau hijaukekuningan. Pinak daun yang terletak pada dasar bunga. biasanya berwarnawarni untuk menarik perhatian serangga penyerbuk.elliptic oblong lanceolate ovate obovate spathulate Gambar bentuk-bentuk daun Ujung Membundar (Rounded) Ujung daun membulat atau hampir tidak terbentuk sudut sama sekali. terletak pada bagian luar perhiasan bunga. Kelopak tambahan (Epicalyx) Mahkota bunga (Corolla) Daun mahkota (Petal) 2153 . Meruncing (Pointed/Acute/ Ujung daun membentuk suatu sudut lancip atau ujung Acuminate) daun sempit memanjang dan runcing. Suatu struktur menyerupai daun yang terletak pada bagian dalam perhiasan bunga. Istilah untuk seluruh daun mahkota pada bunga. Bagian terluar suatu bunga yang biasanya terdiri atas struktur seperti daun yang dalam tahap kuncup membungkus dan melindungi bagian-bagian bunga lainnya. berfungsi untuk menarik perhatian serangga penyerbuk. Tumpul (Blunt) Ujung daun membentuk sudut yang tumpul. diluar kelopak bunga. Merupakan terminologi yang digunakan untuk semua daun kelopak (sepal) pada bunga.

Bagian yang menunjang benang sari. Berkelamin tunggal (Unisexual) Pada bunga terdapat hanya salah satu dari dua macam alat kelaminnya. dimana masing-masing bagian mengandung kantung tepung sari.Benangsari (Stamen) Kepala sari (Anther) Alat kelamin jantan. Bagian organ betina pada bunga yang biasanya bersifat lengket. 4216 . Gametofit jantan dari tumbuhan berbiji. Tiang jaringan langsing yang timbul dari jaringan bakal buah tempat tumbuh tabung tepung sari. putik benang sari Tangkai benang sari (Filament) Tepung sari (Pollen) Kepala putik (Stigma) Tangkai putik (Style) daun mahkota daun kelopak/ kelopak bunga dasar bunga tangkai bunga Gambar bunga dengan bagian-bagiannya Nektar/madu (Nectar) Berkelamin dua (Bisexual) Cairan manis. Butir tepung sari melengket disini dan kemudian berkecambah. lekat yang dikeluarkan oleh tumbuhan. Pada bunga terdapat benang sari maupun putik. Struktur yang terdapat pada ujung filamen dan terdiri atas dua bagian.

BUAH Spora (Spore) Vivipar (Viviparous) Keping benih (Cotyledon) Sel reproduksi dari tumbuhan ferna. Hipokotil (Hypocotyl) 2173 . Bagian dari kecambah/benih yang terletak diantara bakal cabang dan bakal akar. yang pada beberapa tanaman berperan penting sebagai bahan makanan. Bentuk perbungaan dimana tangkai bunga utamanya panjang dan tangkai anak bunga sangat pendek. Malai/bergerombol acak (Panicle) Bunga majemuk yang ibu tangkainya bercabang-cabang dan cabang-cabangnya dapat bercabang lagi. Bunga terletak atau muncul diujung cabang. Biji yang berkecambah dalam buah (misalnya pada banyak jenis Rhizophoraceae).Letak Di ketiak (Axillary) Di ujung (Terminal) Formasi Soliter (Solitary/Single) Payung (Umbrella) Bunga muncul secara tunggal. Bakal daun didalam biji/biji benih yang kemudian berkembang menjadi daun pertama dari kecambah/ benih. tangkai. dari ujung ibu tangkalnya mengeluarkan cabang-cabang yang sama panjangnya dan masing-masing cabang tersebut mempunyai 1 daun pelindung pada tangkalnya. sehingga bungan tidak terdapat pada ibu tangkainya. tandan atau batang. tidak dalam kelompok. sehingga anak bunganya duduk. Bunga majemuk tidak terbatas. Bunga terletak atau muncul dari ketiak daun. demikian pula cabang-cabang yang terdapat di ibu tangkainya ditutupi suatu bunga diujungnya. Bulir (Spike) Berbatas/kelompok (cyme) Bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya ditutupi dengan suatu bunga.

terdapat dalam famili Rhizophoraceae (Bruguiera. Ceriops dan Rhizophora). Buah berbentuk seperti kacang dengan berbagai macam bentuk. tangkai buah kelopak buah buah keping benih Bola/bulat (Ball) Kacang (Bean like) plumulae hipokotil radicle Gambar buah dengan bagian-bagiannya (Rhizophora apiculata) 4218 .Bentuk Silinder (Cylindrical) Buah berbentuk seperti tongkat atau galah. Buah berbentuk seperti bola atau bulat. terutama ditemukan pada Xylocarpus dan Sonneratia. terutama ditemukan pada Avicennia.

INDEKS A Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis 48 50 52 54 56 58 60 62 64 66 68 70 72 74 76 C Calophyllum inophyllum Calotropis gigantea 146 148 Camptostemon philippinense 90 Camptostemon schultzii Cerbera manghas Ceriops decandra Ceriops tagal Clerodendrum inerme 92 150 94 96 152 D Derris trifolia 154 E Excoecaria agallocha 98 F B Barringtonia asiatica Bruguiera cylindrica Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza Bruguiera hainessii Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula 144 78 80 82 84 86 88 Finlaysonia maritima 156 G Gymnanthera paludosa 100 H Heritiera globosa Heritiera littoralis Hibiscus tiliaceus 102 104 158 2193 .

I Ipomoea pes-caprae 160 R Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata 118 120 122 174 K Kandelia candel 106 Rhizophora stylosa Ricinus communis L Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa 108 110 S Sarcolobus globosa Scaevola taccada 124 176 Scyphiphora hydrophyllacea 126 M Melastoma candidum Morinda citrifolia 162 164 Sesuvium portulacastrum Sonneratia alba Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata 178 128 130 132 180 N Nypa fruticans 112 Stachytarpheta jamaicensis T O Osbornia octodonta 114 Terminalia catappa Thespesia populnea 182 184 P Pandanus odoratissima Pandanus tectorius Passiflora foetida Phemphis acidula Pongamia pinnata 166 168 170 116 172 X Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii 134 136 138 140 W Wedelia biflora 186 4220 .