P. 1
Panduan Pengenalan Mangrove (2006)

Panduan Pengenalan Mangrove (2006)

5.0

|Views: 1,609|Likes:
Published by Muhammad Falah

More info:

Published by: Muhammad Falah on Feb 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2013

pdf

text

original

Panduan Pengenalan

MANGROVE
di Indonesia

Oleh: Yus Rusila Noor M. Khazali I N.N. Suryadiputra

Bogor, Oktober 2006

Ditjen. PHKA

Indonesia Programme

i3

This publication has been made possible with funding from the CY 98 Environment Component of the World Bank/Netherlands Partnership Programme, through the IUCN Regional Biodiversity Programme for South and Southeast Asia. Publikasi ini dibuat atas dukungan biaya dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998, lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara.

THE WORLD BANK

This publication is adapted from: Publikasi ini merupakan saduran dari: Giesen, W., Stephan Wulffraat, Max Zieren & Liesbeth Schoelten. A Field Guide of Indonesian Mangrove. WI-IP (in prep.).

Cetakan pertama tahun 1999

Pencetakan ulang (kedua) tahun 2006, didukung oleh:

Green Coast
For nature and people after the tsunami

Dibiayai oleh:

Pustaka: Rusila Noor, Y., M. Khazali, dan I N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP, Bogor.

4ii

© Wetlands International – Indonesia Programme, 1999 Hak cipta dilindungi Undang-undang ISBN: 979-95899-0-8

Desain dan tata letak: Triana Ilustrasi: Wahyu Gumelar dan Tilla Visser Foto: Hidayat S., I N.N. Suryadiputra, Jennifer Dudley, Kitamura, Marcel J. Silvius, Wendy Suryadiputra, Wim Giesen

Pendapat dan saran yang dikemukakan dalam buku ini adalah semata-mata pendapat dan saran dari penulis/ penyadur dan tidak selalu mencerminkan kebijakan resmi dari Wetlands International dan Ditjen PHKA.

iii3

akan tetapi banyak mengandung kelemahan. dan bagian kedua secara spesifik menjelaskan jenis-jenis mangrove di Indonesia (di dalamnya meliputi cara mengidentifikasi. ekologi. Buku ini tidak ditujukan sebagai edisi akhir yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam identifikasi mangrove di Indonesia. PNG (Percival & Womersley. kelimpahan serta manfaatnya bagi umat manusia). sekaligus memberikan kesempatan yang berharga bagi mereka yang bermaksud mempelajari dan menikmati habitat ini. WI-IP telah menyelesaikan suatu manuskrip pengenalan mangrove Indonesia dalam Bahasa Inggris. sangat sedikit pustaka yang berhubungan dengan mangrove di Indonesia. Oleh karena itu. Tujuan ditulisnya buku ini adalah untuk memberikan suatu panduan sederhana pengenalan tumbuhan mangrove bagi mereka yang tertarik pada konservasi dan pengelolaan mangrove di Indonesia. hal ini dirasakan cukup menyulitkan dan kurang praktis. baik karena beratnya buku-buku tersebut maupun harganya yang mahal. sehingga bagi yang ingin mempelajari mangrove Indonesia terpaksa harus mengacu kepada pustaka mengenai negara-negara tetangga. yang sayangnya belum bisa segera diterbitkan karena kendala biaya. Namun atas dukungan biaya oleh pihak sponsor (Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998) manuskrip tersebut kini telah berhasil disadur kedalam Bahasa Indonesia dengan beberapa tambahan dan perbaikan data. Penyadur 4iv 3iv . Hingga saat ini. 1975). Meskipun dalam beberapa hal pustaka tersebut bermanfaat. Namun. saran dan kritik pemakai buku ini sangat diharapkan. termasuk Flora Malesiana. sebaran serta kebijakan/peraturan tentang mangrove di Indonesia). Untuk melengkapi pustaka tersebut. 1928). Buku ini dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama berisikan tentang gambaran umum mangrove (di dalamnnya tercakup habitat. manfaat. bagi yang ingin secara serius mempelajari mangrove haruslah mengacu kepada berbagai publikasi lainnya. baik karena beberapa jenis tidak terdapat di Indonesia atau karena titik berat pustaka tersebut hanya pada pohon dan belukar. Untuk mengisi kekosongan tersebut. Warisan alam yang sangat luar biasa ini memberikan tanggung jawab yang besar bagi Indonesia untuk melestarikannya. 1989). seperti untuk Malaysia (Watson. dan Australia (Wightman.KATA PENGANTAR Indonesia dikarunia memiliki mangrove yang terluas di dunia dan juga memiliki keragaman hayati yang terbesar serta strukturnya paling bervariasi.

Publikasi ini dapat diselesaikan berkat dukungan dana dari Komponen Lingkungan Bank Dunia/Program Kemitraan Belanda tahun fiskal 1998.UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. Cecep Kusmana memberikan masukan yang sangat berharga dalam persiapan awal publikasi. Dr.al. Liesbeth Schoelten dan tim produksi manuskrip Bahasa Inggris yang menjadi sumber utama publikasi ini. Stephan Wulffraat. Marcel J. Silvius sangat berperanan dalam persiapan awal penerbitan buku ini serta menyediakan beberapa slide-nya untuk digunakan. serta kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Penghargaan dan ucapan terima kasih akhirnya disampaikan kepada Wim Giesen. lewat Program Keanekaragaman Hayati Regional IUCN untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara. Penerjemahan dan penyaduran dari manuskrip Bahasa Inggris dilakukan oleh penyadur pertama.) yang diproduksi oleh JICA-ISME (1997) melalui ijin yang diberikan oleh pimpinan proyek mangrove JICA di Bali. Ilustrasi hitam putih digambar oleh tangan terampil Wahyu Gumelar dan Tilla Visser. Indonesia) Penyelesaian publikasi ini dilakukan oleh suatu tim dari Wetlands International . Wahyu Gumelar. Atsuo Ida. Foto-foto berwarna diambil oleh para penyadur juga oleh Hidayat Sunarsyah.Indonesia Programme dibawah koordinator Laksmi A. Savitri. Jennifer Dudley dan Wendy Suryadiputra. Scott Perkin sebagai Ketua Program telah sangat berperan dalam memungkinkan penyaluran dana. Beberapa foto berwarna juga diambil dari Handbook of Mangroves in Indonesia (oleh Kitamura et. sedangkan pendisainan dan tata letak dilakukan oleh Triana. v3 . untuk itu Dr. Dr. Max Zieren. Penyadur kedua dan ketiga memperbaiki dan menambah informasi dan data terbaru yang lebih sesuai untuk edisi ini.

terima kasih tak terhingga untuk Herbarium Bogor dan Rijkherbarium Leiden yang telkah memberikan kemudahan untuk menggunakan koleksi herbariumnya. Tilla Visser untuk gambargambarnya yang luar biasa. berkenan untuk memberikan sumbangan dana yang memungkinkan dilanjutkannya proses penyelesaian akhir dan editing buku ini oleh penulis dan editor utamanya. meskipun penyelesaian buku ini sangat terlambat. PHPA (sekarang PHKA) dan AWB (sekarang Wetlands International) sangat berterima kasih kepada sejumlah sukarelawan yang telah memberikan sumbangannya kepada penyelesaian buku ini. Jepang). Max van Balgooij (Rijkherbarium Leiden) dan Dr. kami juga menghaturkan terima kasih kepada pihak luar yang teah memberikan komentar dan masukan yang sangat berharga. the International Society for Mangrove Ecosystems (ISME. The Netherlands. pengerjaan kemudian dilakukan sedikit demi sedikit sampai kemudian Koordinator proyek lanjutan inipun. Hennipman (Institute of Systematic Botany. Koordinator proyek yang pertama. Ellecom. Arnhem. khususnya Stephan Wulffraat (yang membuat daftar jenis dan memulai seluruh proses).J Afriastini yang telah membantu identifikasi tumbuhan herbarium. termasuk Almarhum “Doc” Kostermans (Herbarium Bogor). dan Bea Tolboom yang telah mengumpulkan pustaka. Kami sangat berterima kasih kepada para sponsor yang memberikan dukungan. E. Terlepas dari masalah dana tersebut. Yus Rusila Noor. Wim Giesen. sayangnya harus meninggalkan Indonesia. harus meninggalkan Indonesia pada awal 1995. sehingga pengerjaan buku ini agak terbengkalai. Cecillia Luttrell yang telah mencoba kunci identifikasi di lapangan dan memeriksa spesimen di lapangan. Max Zieren. The Netherlands. 4vi 3vi . selama kurun waktu 1991 – 1993. Penyelesaian akhir buku ini kemudian dilanjutkan oleh Koordinator berikutnya. Dr. Lebih dari itu. Syukurlah. Ellecom. Dra. Pada akhir 1993. berpusat di Okinawa. Stichting Pro Natura. terutama juga karena kurangnya dana pendukung. Wim Giesen. J. The Netherlands dan Stichting Ludovica. Inggris) Banyak pihak yang terlibat dalam penyelesaian secara bertahap buku ini. University of Utrecht. Liesbeth Schoelten untuk ketekunan dan kemampuannya dalam memberikan pertelaan jenis. Produksi buku ini pada awalnya didukung oleh Stichting FONA.UCAPAN TERIMA KASIH (Edisi B. Terima kasih juga disampaikan kepada staf perpustakaan Herbarium Bogor atas bantuan dan kesabarannya dalam memberikan pustaka yang diperlukan. sehingga dapat digunakan dalam pembuatan gambar buku ini. Terakhir. The Netherlands).

1 4. Pendahuluan 1.2 1. Manfaat Mangrove 3.3 II.1 2.DAFTAR ISI Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Daftar Isi I.4 5. Inggris) iv v vi vii 1 1 1 3 5 5 8 12 17 17 21 23 23 27 30 30 31 33 34 35 Bagian I Habitat Mangrove 2.2 2.1 3.1 5. Indonesia) (Edisi B.2 Pemanfaatan mangrove Fungsi mangrove IV. Kebijakan dan Peraturan Menyangkut Mangrove 5.3 5.3 Kondisi fisik Tipe vegetasi mangrove Fauna mangrove III.2 5.5 Pemetaan sumberdaya Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Peraturan yang berkaitan dengan konservasi mangrove Perkembangan terakhir vii3 . Status Mangrove Indonesia 4.2 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Penyebab penurunan luas mangrove V. Apakah mangrove itu? Gambaran umum mangrove Indonesia Cakupan buku panduan (Edisi B.1 1.

nama lain/sinonim. Beberapa Petunjuk Studi Mangrove bagi Pemula 7.5 7. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan Daftar Pustaka Glosari Indeks 190 198 201 212 219 Bagian II JENIS-JENIS MANGROVE SEJATI JENIS-JENIS MANGROVE IKUTAN 47 143 4 3 viii .3 7.1 6.2 6.4 7.2 7. Jenis mangrove. Areal Mangrove yang Dilindungi 6.3 Mangrove dan sistem kawasan lindung Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Pemeliharaan keanekaragaman hayati mangrove 37 37 39 41 43 43 43 44 45 45 46 VII. sumber gambar & foto Lampiran 2.VI.1 7.6 Pustaka penting Petunjuk untuk pengamatan lapangan Spesimen tumbuhan mangrove Studi vegetasi Studi fauna Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Lampiran Lampiran 1.

1. Sementara itu. Dia menyarankan seluruh tumbuhan vaskular yang terdapat di daerah yang dipengaruhi pasang surut termasuk mangrove. Beberapa ahli mendefinisikan istilah “mangrove” secara berbeda-beda.I.1 juta hektar. isitilah “mangrove” secara umum digunakan mengacu pada habitat. Scyphyphora dan Nypa. Aegiceras. Dalam buku panduan ini. Tomlinson (1986) dan Wightman (1989) mendefinisikan mangrove baik sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas. dkk. Excoecaria. Dalam beberapa hal. Xylocarpus. termasuk jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di pinggiran mangrove seperti formasi Barringtonia dan formasi Pes-caprae. 1997) mangrove dunia. 13 . dan terdiri atas jenis-jenis pohon Aicennia. menurut Wightman (1989) yang lebih penting untuk diketahui pada saat bekerja dengan komunitas mangrove adalah menentukan mana yang termasuk dan mana yang tidak termasuk mangrove. 1994) sampai 41. Untuk kawasan Asia. Sementara itu Soerianegara (1987) mendefinisikan hutan mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. PENDAHULUAN 1. Sonneratia. Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung (Saenger. dkk.2 Gambaran umum mangrove Indonesia Perkiraan luas mangrove di seluruh dunia sangat beragam. Lumnitzera. dkk (1997) menyebutkan 18. Ceriops. Macnae (1968) menyebutkan kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. Beberapa peneliti seperti Lanly (dalam Ogino & Chihara. Pada dasarnya. luas mangrove diperkirakan antara 32 % (Thurairaja. sedangkan Spalding. menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur. 1983). 1988) menyebutkan bahwa luas mangrove di seluruh dunia adalah sekitar 15 juta hektar. Rhizophora. bahkan Groombridge (1992) menyebutkan 19. istilah “mangrove” digunakan untuk jenis tumbuhannya. namun pada dasarnya merujuk pada hal yang sama. Bruguiera.9 juta hektar.1 Apakah mangrove itu ? Asal kata “mangrove” tidak diketahui secara jelas dan terdapat berbagai pendapat mengenai asal-usul katanya.5% (Spalding.

Giesen (1993) menyebutkan luas mangrove Indonesia 2. Saenger. Umumnya tegakan mangrove jarang ditemukan yang rendah kecuali mangrove anakan dan beberapa jenis semak seperti Acanthus ilicifolius dan Acrostichum aureum. Kalimantan 978. Dapat ditemukan mulai dari tegakan Avicennia marina dengan ketinggian 1 . Bruguiera. Mangrove terluas terdapat di Irian Jaya sekitar 1. 44 jenis herba tanah. hingga tegakan campuran BruguieraRhizophora-Ceriops dengan ketinggian lebih dari 30 meter (misalnya.350.3 juta ha).600 ha (38%). 42 . Nigeria (1. Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ekstrim. 1997). Di daerah pantai yang terbuka. Walaupun mangrove dapat tumbuh di sistem lingkungan lain di daerah pesisir.2 meter pada pantai yang tergenang air laut. kadar garam yang tinggi serta kondisi tanah yang kurang stabil. Dalam hal lain.300 ha (19%) (Dit. 19 jenis pemanjat. dkk. dkk (1997) menyebutkan seluas 4.5 juta hektar dan Spalding.5 juta hektar. Bina Program INTAG (1996) menyebutkan 3.1 juta ha) dan Australia (0. Dengan demikian terlihat bahwa Indonesia memiliki keragaman jenis yang tinggi. Di seluruh dunia. beberapa jenis mangrove mengembangkan mekanisme yang memungkinkan secara aktif mengeluarkan garam dari jaringan. sementara jenis lain ditemukan disekitar mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove ikutan (asociate asociate). beberapa jenis mangrove berkembang dengan buah yang sudah berkecambah sewaktu masih di pohon induknya (vivipar). Di daerahdaerah ini dan juga daerah lainnya. Dalam hal struktur. Indonesia merupakan tempat mangrove terluas di dunia (18 . sementara itu di sepanjang sungai yang memiliki kadar salinitas yang lebih rendah umumnya ditemukan Nypa fruticans dan Sonneratia caseolaris.Di Indonesia perkiraan luas mangrove juga sangat beragam.200 ha (28 %) dan Sumatera 673. 43 jenis (diantaranya 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai mangrove sejati (true mangrove). dkk (1983) mencatat sebanyak 60 jenis tumbuhan mangrove sejati. Dengan areal seluas 3.23%) melebihi Brazil (1.97 juta ha) (Spalding. sementara yang lainnya mengembangkan sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya. 5 jenis palma. Dengan kondisi lingkungan seperti itu. mangrove di Indonesia lebih bervariasi bila dibandingkan dengan daerah lainnya. Sejauh ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis tumbuhan mangrove. seperti Kandelia. Ceriops dan Rhizophora.5 juta hektar. Bina Program INTAG. di Sulawesi Selatan). 1996). Dari 202 jenis tersebut. mangrove tumbuh dan berkembang dengan baik pada pantai yang memiliki sungai yang besar dan terlindung. 44 jenis epifit dan 1 jenis paku. dapat ditemukan Sonneratia alba dan Avicennia alba. Dit. seperti kondisi tanah yang tergenang.5 juta hektar (dalam buku panduan ini). Umumnya mangrove dapat ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia (Gambar 1). meliputi 89 jenis pohon. perkembangan yang paling pesat tercatat di daerah tersebut.

1992). jenis mangrove yang dideskripsikan hanya mencakup 60 jenis.3 Cakupan buku panduan Buku panduan ini terdiri dari dua bagian. dkk.Seluruh jenis mangrove tersebut telah dideskripsikan dalam manuskrip Bahasa Inggris dari panduan ini. Dibagian ini ditampilkan panduan identifikasi jenis-jenis tumbuhan mangrove disertai ilustrasi dan/atau foto. Inti dari buku panduan ini terdapat pada bagian dua. Untuk mereka yang bermaksud melakukan penelitian mengenai mangrove. namun pembaca diharapkan untuk berhati-hati dalam pemanfaatannya. dilampirkan beberapa peta yang berkaitan dengan penyebaran mangrove dan kawasan lindung mangrove yang penting di Indonesia dan panduan ringkas bergambar identifikasi mangrove. termasuk definisi mengenai mangrove. Bagian pertama berupa pendahuluan dan pengenalan terhadap mangrove secara umum. Selain itu. Dalam panduan edisi Bahasa Indonesia ini. status dan kondisi mangrove di Indonesia dibandingkan dengan bagian dunia lainnya.. khususnya berkenaan dengan dosis yang akan dipakai. para pembaca sangat dianjurkan untuk mengacu buku-buku lain yang khusus membahas jenis-jenis tanaman obat (misalnya Wijayakusuma. meliputi 43 jenis mangrove sejati dan 17 jenis mangrove ikutan. Selain itu. M. serta uraian mengenai habitat mangrove. juga diuraikan informasi mengenai peraturan serta perundang-undangan mengenai mangrove di Indonesia. Untuk hal demikian. Dalam bagian pertama ini juga disajikan informasi mengenai manfaat yang dapat digali dari mangrove. termasuk beberapa uraian singkat mengenai tanah.H. tipe vegetasi serta faunanya. 33 . Meskipun pada bagian dua tercantum juga aspek manfaat dari mangrove sebagai obatobatan. disajikan panduan ringkas mengenai tekhnik dasar penelitian mangrove serta daftar nama dan alamat organisasi penting yang bergerak dibidang penelitian dan pengelolaan mangrove di Indonesia. 1.

Peta penyebaran mangrove di Indonesia .44 Gambar 1.

II. Sulawesi Selatan. bahkan pada pulau karang yang memiliki substrat berupa pecahan karang. Pada kondisi tertentu. HABITAT MANGROVE 2. A. Avicennia merupakan marga yang memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lainnya. Teluk Jakarta (Hardjowigeno. pohon tumbuh kerdil dan kemampuan menghasilkan buah hilang. keterbukaan (terhadap hempasan gelombang). Kint (1934) melaporkan bahwa di Indonesia. kondisi ini ditemukan di utara Teluk Bone dan di sepanjang Larian – Lumu. terutama di daerah dimana endapan lumpur terakumulasi (Chapman. Jenis-jenis Bruguiera umumnya tumbuh pada 53 . atau bahkan pada pantai berbatu. sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya. stylosa dan Sonneratia alba tumbuh pada pantai yang berpasir. Substrat mangrove berupa tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi (62%) juga dilaporkan ditemukan di Kepulauan Seribu. 1934). 1981) menyatakan bahwa hal tersebut berkaitan erat dengan tipe tanah (lumpur. mangrove dapat juga tumbuh pada daerah pantai bergambut. Amerika Serikat (Chapman. Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya. Jenis-jenis Sonneratia umumnya ditemui hidup di daerah dengan salinitas tanah mendekati salinitas air laut. Di Indonesia. 1991). Di Indonesia. 1976a). kecuali S. dimana mangrove tumbuh pada gambut dalam (>3m) yang bercampur dengan lapisan pasir dangkal (0. Beberapa ahli (seperti Chapman.5 m) (Giesen. 1976a). R. misalnya di Florida. Beberapa jenis lain juga dapat tumbuh pada salinitas tinggi seperti Aegiceras corniculatum pada salinitas 20 – 40 o/oo. dkk. Ceriops tagal pada salinitas 60 o/oo dan pada kondisi ekstrim ini tumbuh kerdil. 1958). marina mampu tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90 o/oo (MacNae.1968). Sebagian besar jenis-jenis mangrove tumbuh dengan baik pada tanah berlumpur. 1977 & Bunt & Williams. 1989). Stylosa pada salinitas 55 o/oo. 1977). pasir atau gambut). substrat berlumpur ini sangat baik untuk tegakan Rhizophora mucronata and Avicennia marina (Kint.1 Kondisi fisik Vegetasi mangrove secara khas memperlihatkan adanya pola zonasi (misalnya terlihat dalam Gambar 2). Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. caseolaris yang tumbuh pada salinitas kurang dari 10 o/oo. salinitas serta pengaruh pasang surut. 1966. kerang dan bagian-bagian dari Halimeda (Ding Hou. bahkan Lumnitzera racemosa dapat tumbuh sampai salinitas 90 o/oo (Chapman. Jenis-jenis lain seperti Rhizopora stylosa tumbuh dengan baik pada substrat berpasir. Pada salinitas ekstrim. Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. Rhizopora mucronata dan R.

Untuk daerah di sepanjang sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut. Adapun pada daerah pantai yang tererosi dan curam. Zona vegetasi mangrove nampaknya berkaitan erat dengan pasang surut. Pada daerah seperti ini lebar zona mangrove dapat mencapai 18 kilometer seperti di Sungai Sembilang. Beberapa penulis melaporkan adanya korelasi antara zonasi mangrove dengan tinggi rendahnya pasang surut dan frekuensi banjir (van Steenis. 1958 & Chapman. kecuali pada beberapa estuari serta teluk yang dangkal dan tertutup. Pada umumnya. Di Indonesia. Areal yang digenangi oleh pasang sedang didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora. 46 .daerah dengan salinitas di bawah 25 o/oo. gymnorrhiza adalah 10 – 25 o/oo. MacNae (1968) menyebutkan bahwa kadar salinitas optimum untuk B. Panjang hamparan ini bergantung pada intrusi air laut yang sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pasang surut. 1989). panjang hamparan mangrove kadang-kadang mencapai puluhan kilometer seperti di Sungai Barito. parviflora adalah 20 o/oo. sedangkan areal yang digenangi hanya pada saat pasang tertinggi (hanya beberapa hari dalam sebulan) umumnya didominasi oleh Bruguiera sexangula dan Lumnitzera littorea. 1978a). 1990) atau bahkan lebih dari 30 kilometer seperti di Teluk Bintuni. serta kecuramannya. lebar zona mangrove jarang melebihi 50 meter. dkk. umumnya didominasi oleh jenisjenis Bruguiera dan Xylocarpus granatum. Irian Jaya (Erftemeijer. lebar zona mangrove jarang melebihi 4 kilometer. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt. areal yang selalu digenangi walaupun pada saat pasang rendah umumnya didominasi oleh Avicennia alba atau Sonneratia alba. sementara B. yang mana areal ini lebih ke daratan. Adapun areal yang digenangi hanya pada saat pasang tinggi. Kalimantan Selatan. pemasukan dan pengeluaran material kedalam dan dari sungai.

Contoh zonasi mangrove di Cilacap. 1989). gymnorrhiza B. Aa Ac Bc Bg Bp Ct - Avicennia alba Aegiceras corniculatum Bruguiera cylindrica B.Gambar 2. parviflora Ceriops tagal Dh Ra Rm Sb Xg - Derris heterophylla Rhizophora apiculata R. mucronata Sarcolobus banksii Xylocarpus granatum 73 . Jawa Tengah (diadaptasi dari White. dkk.

S. Excoecaria agallocha. komunitas N. Gluta renghas. campuran komunitas Sonneratia . daerah yang memiliki sungai berair payau sampai hampir tawar. R. alba cenderung untuk mendominasi daerah berpasir. di zona ini didominasi oleh Sonneratia alba yang tumbuh pada areal yang betul-betul dipengaruhi oleh air laut. Komiyama. Di Karang Agung. 48 . Jenis-jenis penting lainnya yang ditemukan di Karang Agung adalah B. di zona ini didominasi oleh S. b) Mangrove tengah Mangrove di zona ini terletak dibelakang mangrove zona terbuka. alba. Di jalur-jalur tersebut sering sekali ditemukan tegakan N. 1993). Sonneratia akan berasosiasi dengan Avicennia jika tanah lumpurnya kaya akan bahan organik (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Xylocarpus granatum dan X. 1958). moluccensis. dkk (1988) menemukan bahwa di Halmahera. B. Komposisi floristik dari komunitas di zona terbuka sangat bergantung pada substratnya. Di zona ini biasanya didominasi oleh jenis Rhizophora. alba merupakan jenis-jenis ko-dominan pada areal pantai yang sangat tergenang ini. 1991). fruticans terdapat pada jalur yang sempit di sepanjang sebagian besar sungai. mangrove umumnya tumbuh dalam 4 zona. Meskipun demikian. gymnorrhiza. eriopetala.Nypa lebih sering ditemukan. Stenochlaena palustris dan Xylocarpus granatum. Namun. serta daerah ke arah daratan yang memiliki air tawar. Samingan (1980) menemukan di Karang Agung didominasi oleh Bruguiera cylindrica. daerah tengah. a) Mangrove terbuka Mangrove berada pada bagian yang berhadapan dengan laut. mucronata. Maluku. sementara Avicennia marina dan Rhizophora mucronata cenderung untuk mendominasi daerah yang lebih berlumpur (Van Steenis. Di zona ini biasanya didominasi oleh komunitas Nypa atau Sonneratia. Sumatera Selatan. Ke arah pantai. alba dan A.fruticans yang bersambung dengan vegetasi yang terdiri dari Cerbera sp. c) Mangrove payau Mangrove berada disepanjang sungai berair payau hingga hampir tawar. Van Steenis (1958) melaporkan bahwa S. Samingan (1980) menemukan bahwa di Karang Agung.2 Tipe vegetasi mangrove Struktur Secara sederhana. Di sebagian besar daerah lainnya. Sonneratia caseolaris lebih dominan terutama di bagian estuari yang berair hampir tawar (Giesen & van Balen. seperti di Pulau Kaget dan Pulau Kembang di mulut Sungai Barito di Kalimantan Selatan atau di mulut Sungai Singkil di Aceh.2. yaitu pada daerah terbuka.

133 jenis di Maluku dan 120 jenis di Kepulauan Sunda Kecil. 157 jenis di Sumatera. meskipun memiliki keragaman jenis yang paling tinggi. Selain itu. Amerika Timur/Karibea dan Afrika Barat hanya memiliki 7 jenis serta Afrika Timur 9 jenis (Saenger. akan tetapi juga untuk taxa yang lainnya. 1983). Banyak formasi serta zona vegetasi yang tumpang tindih dan bercampur serta seringkali struktur dan korelasi yang nampak di suatu daerah tidak selalu dapat diaplikasikan di daerah yang lain. Jenis-jenis yang umum ditemukan pada zona ini termasuk Ficus microcarpus (F. Tabel 1 memberikan gambaran mengenai penyebaran seluruh jenis mangrove sejati di 6 negara di kawasan Samudera Hindia bagian utara/Pasifik barat laut. Pandanus sp. 142 jenis di Irian Jaya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman jenis mangrove yang paling tinggi di dunia. dkk. Meskipun kelihatannya terdapat zonasi dalam vegetasi mangrove.d) Mangrove daratan Mangrove berada di zona perairan payau atau hampir tawar di belakang jalur hijau mangrove yang sebenarnya. namun kenyataan di lapangan tidaklah sesederhana itu. 150 jenis di Kalimantan. 166 jenis terdapat di Jawa. Tanaka dan Chihara (1988) dalam penelitiannya mengenai makroalga di Indonesia Timur menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat penyebaran makroalga di dunia yang berasosiasi dengan tumbuhan mangrove. Dari 202 jenis mangrove yang telah diketahui. Poaceae). Intsia bijuga. Sementara di kawasan Amerika Barat/Pasifik Timur. fruticans. akan tetapi sebagian besar dari jenis-jenis yang tercatat berupa jenis-jenis gulma (seperti Chenopodiaceae. Di Indonesia sendiri. setidaknya tercatat 40 jenis berada di Indonesia. N. Saenger. Satu hal yang harus 93 . penelitian mangrove lebih intensif dilakukan di pulau ini dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Kekayaan tersebut tidak hanya dalam hal kelompok tumbuhan Angiospermae. akan tetapi dapat memberikan gambaran urutan penyebaran jenis mangrove di pulau-pulau Indonesia. 135 jenis di Sulawesi. Cyperaceae. retusa). 1993). Meskipun daftar ini mungkin tidak terlalu komprehensif. Zona ini memiliki kekayaan jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan zona lainnya. Lumnitzera racemosa. dan Xylocarpus moluccensis (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Flora & keragamannya Kawasan Samudera India bagian utara dan Pasifik barat daya (memanjang dari Laut Merah sampai Jepang dan Indonesia) merupakan tempat keanekaragaman jenis mangrove tertinggi di dunia. dkk (1983) mencatat dua kawasan tersebut mewakili masing-masing 44 dan 38 jenis dari 60 jenis mangrove sejati yang tercatat di dunia. terdapat perbedaan dalam hal keragaman jenis mangrove antara satu pulau dengan pulau lainnya. Pengecualian untuk Pulau Jawa. Dari 50 jenis mangrove sejati yang ada.

volubilis Aegilitis annulata A. eucalyptifolia A. rumphiana Bruguiera cylindrica + B. integra A. sexangula Campnosperma philippinensis C. dkk. parviflora + B. litoralis + + + + + + + + + + + + + + + ?+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 410 . tagal + Cynometra ramiflora + Excoecaria agallocha + Heritiera fomes + H. marina + A. ilicifolius + A. 1983) Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P. intermedia A. schultzii Ceriops decandra + C.. hainesii B. Penyebaran jenis-jenis mangrove sejati di kawasan Indo-Australia (Saenger. Tabel 1. exaristata B. gymnorrhiza + B.N. officinalis + A. Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Acanthus ebracteatus + A.diperhatikan adalah bahwa pembangunan yang mengakibatkan kerusakan dan peralihan peruntukan lahan mangrove telah terjadi di mana-mana. lanata A.G. floridum Avicennia alba + A. retundifolia + Aegiceras corniculatum + A. Hal ini berarti jenis-jenis yang tercatat dalam daftar diatas kemungkinan sebenarnya sudah tidak ditemukan di pulau tertentu.

granatum X.G. Wightman (1989) 113 . lamarckii R. parvifolius J UM L A H Referensi: India Bangladesh Vietnam Indonesia Papua New Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 27 19 30 39 33 28 : Chaudhuri & Choudhury (1994) : Das & Siddiqi (1985) : Hong & Sen (1993) : Publikasi ini Guinea : Percival & Womersley (1975). griffithii S. stylosa Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S.Jenis India Bangladesh Vietnam Indonesia P. recemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phoenix paludosa Rhizophora apiculata R. caseolaris S. mekongensis X. mucronata R. ovata Xylocarpus australasicus X. Australia + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Kandelia candel Lumnitzera littorea L. moluccensis X. Tomlinson & Womersley (1976) : Tomlinson & Womersley (1976). apetala S.N.

Jenis-jenisnya adalah Ceriops decandra. yaitu Ixora timorensis (Rubiaceae) yang merupakan jenis tumbuhan kecil yang diketahui berada di Pulau Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil. Jumlah tersebut termasuk 33 jenis yang biasanya terdapat pada karang. jenis-jenis yang bersifat langka dan endemik haruslah diberi perhatian lebih. reptilia dan burung. A. Jenis-jenis tersebut adalah Amyema anisomeres. Hanya sedikit jenis mangrove yang bersifat endemik di Indonesia. Eleocharis spiralis dan Scirpus litoralis. Scyphiphora hydrophyllacea. 2. Beberapa dari 91 jenis kelompok moluska tersebut diketahui hidup di dalam tanah. Sonneratia ovata. mangrove juga merupakan tempat berkembang biak bagi burung air. Bagi berbagai jenis ikan dan udang.Jenis tumbuhan langka dan endemik Untuk kepentingan konservasi serta pengelolaan sumberdaya alam. Jenis-jenis tersebut adalah Eleocharis parvula. Empat jenis sisanya berstatus langka secara global. Dalam hal kelangkaan. Dua diantaranya. Selain sebagai tempat berlindung dan mencari makan. Selain Amyema anisomeres (mangrove sejati). Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena buah mangrove mudah terbawa oleh gelombang dan tumbuh di tempat lain. Maluku. Sporobolus virginicus. sementara yang lainnya ada yang hidup di permukaan 412 . masih terdapat 2 jenis endemik lainnya (mangrove ikutan). sehingga memerlukan pengelolaan khusus untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Rhododendron brookeanum (dari 2 sub-jenis. tempat mencari makan dan tempat pembesaran anak. perairan mangrove merupakan tempat ideal sebagai daerah asuhan. Moluska sangat banyak ditemukan pada areal mangrove di Indonesia. akan tetapi juga sering mengunjungi daerah mangrove. Budiman (1985) mencatat sebanyak 91 jenis moluska hanya dari satu tempat saja di Seram. anisomeres dan N. Lima jenis yang langka di Indonesia tetapi umum di tempat lainnya. serta Rhododendron brookeanum (Ericaceae) yang merupakan epifit berkayu yang diketahui berada di Sumatera dan Kalimantan. Oberonia rhizophoreti. sehingga hanya diketahui tipe setempat saja.acutifolia hanya terkoleksi satu kali. Quassia indica. hanya satu terkoleksi). sehingga secara global tidak memerlukan pengelolaan khusus. yaitu: Lima jenis umum setempat tetapi langka secara global. Kandelia candel dan Nephrolepis acutifolia. Fimbristylis sieberiana. di Indonesia terdapat 14 jenis mangrove yang langka.3 Fauna mangrove Mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa liar seperti primata. sehingga berstatus rentan dan memerlukan perhatian khusus untuk pengelolaannya.

Toro (dalam Manuputty. termasuk 8 jenis udang pada habitat mangrove di Pulau Pari. Liza subvirldis. 1989 & Sasekumar. Sebanyak 24 jenis dari 40 jenis yang ditemukan Budiman (1988) merupakan jenis-jenis yang hidup di daerah mangrove. Sayangnya. dan Ambasis buruensis (Erftemeijer. Taman Nasional Ujung Kulon. yang sebagian besar diantaranya merupakan anakan. dkk (1991) mencatat sebanyak 14 jenis udang termasuk Macrobrachium (8 jenis). Giesen. 1993). Ikan yang dominan ditemukan adalah Mugil cephalus yang bersifat herbivora. dkk (1992) mencatat sebanyak 119 jenis ikan hidup pada sungai-sungai kecil di daerah mangrove di Selangor. keragaman jenis moluska tidak sebanyak di Seram.dan ada pula yang hidup menempel pada tumbuh-tumbuhan. Malaysia. 1984) mencatat sebanyak 28 jenis krustasea. Macrophthalmus. Mangrove juga merupakan habitat penting bagi berbagai jenis krustasea lainnya. sedangkan 133 . Sasekumar. Pilonobutis microns. pengetahuan mengenai kepiting mangrove di Indonesia sangat sedikit sekali dipelajari. Di Indonesia. Sesarma dan Uca (Wada & Wowor. khususnya jenis-jenis penggali dari genus Cleistocoeloma. sementara Budiman (1988) menemukan 40 jenis di Halmahera. Kepiting Mangrove Scylla serrata merupakan kepiting yang hidup di daerah mangrove yang bernilai ekonomi tinggi (Delsman. 1984). termasuk berbagai jenis udang-udangan yang memiliki nilai komersial penting. sebagai contoh Giesen. dkk. Ilyoplax. Sebagai tempat pemijahan. Dalam kaitannya dengan makanan. dkk. mangrove juga merupakan tempat pembesaran anak-anak ikan. habitat permanen atau tempat berbiak (Aksornkoae. Di lokasi lain. Malaysia. Dua jenis yang paling umum ditemukan adalah Thalassina anomala dan Uca dussumieri. 1989). Hal yang sama dapat dilihat di Segara Anakan. Teluk Jakarta. dkk (1991) mencatat 74 jenis moluska pada mangrove di Sulawesi Selatan. seperti kepiting dan serangga. 1989).70 ekor kepiting (Macintosh. Lebih dari 100 jenis kepiting mangrove diketahui hidup di Malaysia dan 76 jenis di Singapura. 1972). Beberapa jenis ikan yang ditemukan di areal mangrove antara lain Tetraodon erythrotaenia. Sasekumar. tercatat lebih dari 60 % ikan yang tertangkap merupakan ikan muda (Wahyuni. dkk (1991) mencatat sebanyak 28 jenis kepiting di mangrove Sulawesi Selatan didominasi oleh genus Sesarma dan Uca. Dari setiap meter persegi dapat ditemukan 10 . Burhanuddin (1993) mencatat sebanyak 62 jenis ikan hidup di daerah mangrove di Pulau Panaitan. Kepiting juga umum ditemukan di daerah mangrove. dkk. Metapeneus (2 jenis) dan Palaemonetes (2 jenis) pada mangrove di Sulawesi Selatan. Giesen. areal mangrove berperan penting karena menyediakan tempat naungan serta mengurangi tekanan predator. Ikan menjadikan areal mangrove sebagai tempat untuk pemijahan. Metaplax. hutan mangrove menyediakan makanan bagi ikan dalam bentuk material organik yang terbentuk dari jatuhan daun serta berbagai jenis hewan invertebrata. Selain itu. Butis butis. 1984). sehingga dapat dikatakan sebagian besar dari jenis-jenis moluska tersebut hidup di daerah mangrove. dkk (1992) mencatat sebanyak 9 jenis udang di sungai-sungai kecil di mangrove Selangor. dimana sebagian besar diantaranya masih berupa anakan. khususnya ikan predator.

Bagi beberapa jenis burung air. Ular tambak (Cerberus rhynchops). merupakan 34 % dari seluruh jenis burung yang telah tercatat di Pulau Jawa (Andrew. Sangat sedikit sekali Amphibia dapat ditemukan bertahan hidup pada lingkungan yang berair asin seperti lingkungan mangrove. daerah mangrove menyediakan ruang yang memadai untuk membuat sarang. Giesen. Sementara itu. dkk. 1990 dan Giesen. MacNae. Mangrove tidak hanya sebagai tempat perhentian. 1992). ular mangrove (Boiga dendrophila). Rusila 1991. biawak (Varanus salvator). yaitu Rana cancrivora and R. terutama karena minimnya gangguan yang ditimbulkan oleh predator. Mereka menggunakan mangrove sebagai habitat untuk mencari makan. ular air (Enhydris enhydris). Ikan gelodok (Periopthalmus spp. 1989. 1968) merupakan ikan yang sering sekali terlihat “berenang” pada genangan air berlumpur atau menempel pada akar mangrove. 1993). 1988 dan Rusila 1987) dan Pantai Barat Sulawesi Selatan (Baltzer. Untuk kelompok Arthropoda terbang yang hidup di mangrove.. dkk (1993) menemukan sebanyak 120 jenis burung (atau 414 . Bagi jenis-jenis pemakan ikan. Meskipun demikian. termasuk serangga. Holocentrum rubrum. dijelaskan oleh Abe (1988) dalam penelitiannya di Halmahera. Verheught. Jenis-jenis Reptilia yang umum ditemukan di daerah mangrove di Indonesia diantaranya adalah buaya muara (Crocodylus porosus). seperti Kuntul (Egretta spp). Bangau (Ciconiidae) atau Pecuk (Phalacrocoracidae). 2 jenis amphibia telah diketahui dapat bertahan hidup pada lingkungan demikian. serta Toxotes jaculator yang bersifat insektivora. akan tetapi masih diperlukan survey yang lebih mendalam untuk membuktikan hal tersebut. Jenis-jenis burung yang hidup di daerah mangrove tampaknya tidak terlalu berbeda dengan jenis-jenis yang hidup di daerah hutan sekitarnya. Bagi berbagai jenis burung air migran (khususnya Charadriidae dan Scolopacidae). Seluruh jenis reptilia tersebut dapat juga ditemukan pada lingkungan air tawar atau di daratan. mangrove menyediakan tenggeran serta sumber makanan yang berlimpah.. mangrove memainkan peranan yang sangat penting dalam migrasi mereka. 1968). Scartelaos spp. Trimeresurus wagler dan T. Giesen. Balen (1988) mencatat sebanyak 167 jenis burung terestrial di hutan mangrove Pulau Jawa. Beberapa lokasi yang sangat penting bagi burung bermigrasi diantaranya adalah Pantai Timur Sumatera (Danielsen & Verheugt. akan tetapi juga sebagai tempat perlindungan dan mencari makan. seperti kelompok burung Raja Udang (Alcedinidae). Maluku bahwa sebagian besar serangga yang ditemukan berasal dari ordo Hymenoptera. 1989. Diptera and Psocoptera. 1991).jenis-jenis lain yang juga umum ditemukan adalah Caranx kalla. Keng & Tat-Mong.). Sulawesi dan Irian kemungkinan juga merupakan lokasi-lokasi yang penting. 1991. berbiak atau sekedar beristirahat. limnocharis (MacNae. beberapa daerah lain di Kalimantan. 1968. purpureomaculatus (MacNae. Lutjanus fulviflamma dan Plotosus canius yang bersifat karnivora. Pantai Utara Jawa (Erftemeijer & Djuharsa.

dkk. dkk.Milky Stork . dimana lebih dari 90% diantaranya ditemukan di daerah hutan bakau di Indonesia. 1990). 1994). 1989). 1987). Populasinya diperkirakan hanya tinggal berjumlah 5000 . hutan mangrove merupakan habitat penting untuk bersarang atau mencari makan (Silvius & Verheught. sebanyak 81 jenis ditemukan di hutan mangrove (58 % atau 21 % dari seluruh burung di Sulawesi).Ciconiidae). 153 .Ciconiidae). 1987 dan Rose & Scott.6000 ekor saja (Verheught.Cuculidae). dari 17% total jumlah burung yang tercatat di Pulau Sumba. Sementara itu. pantai utara Jawa (Erftmeijer & Djuharsa. 1991). jenis ini diperkirakan hanya bertahan hidup di kawasan hutan mangrove dan rawa sekitar Tanjung Karawang. Mangrove juga merupakan habitat yang baik bagi beberapa jenis burung yang telah langka atau terancam kepunahan. 1986 dan Rusila. Bagi jenis yang tergolong vulnerable ini. Jambi dan Riau) dan beberapa kawasan hutan bakau di Delta Sungai Brantas dan Bengawan Solo. Jumlah ini mewakili 13% dari seluruh jenis burung yang ada di Indonesia (Andrew. di Irian Jaya. Jenis ini telah tercantum dalam Red Data Book dalam kategori Vulnerable. Tanjung Koyan. 1992). Populasi mereka sebagian besar terdapat di pantai timur Sumatera (Sumatera Selatan. 1988). Di Sulawesi Selatan. dkk. Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus . Disamping itu. hutan bakau Tanjung Selokan dan hutan bakau Semenanjung Banyuasin. terutama di Sumatera dan Jawa. Bubut hitam (Centropus nigrorufus . 1994). 27 jenis ditemukan di daerah Mangrove Pulau Sumba (Zieren. Merupakan jenis endemik Pulau Jawa. Pada saat ini. Erftmeijer. dkk. seperti: Wilwo (Mycteria cinerea . Jenis ini telah dianggap sebagai salah satu jenis bangau yang paling terancam di seluruh dunia (Verheught. 1987). Indramayu dan Segara Anakan (Andrew. 1988) serta hutan mangrove di Segara Anakan yang merupakan hutan mangrove terbesar yang saat ini tersisa di Pulau Jawa (Erftmeijer. 1990). Pangkalan Data Lahan Basah (Wetland Data Base) mencatat setidaknya 200 jenis burung hidup bergantung pada habitat mangrove.150 jenis jika termasuk daerah lumpur disekitar hutan mangrove) di daerah limpasan banjir dan pasang surut di Sumatera Selatan (56% dari total burung yang ditemukan di daerah tersebut atau 25% dari seluruh jenis burung di Sumatera). seluruhnya di Sumatera Selatan (Danielsen. Baltzer (1990) melaporkan dari 141 jenis burung yang ditemukan di lahan basah propinsi tersebut.Lesser Adjutant .Sunda Coucal . dkk (1991) menemukan 64 jenis burung hidup di hutan mangrove diantara 90 jenis yang ditemukan di teluk Bintuni (71% atau 10% dari seluruh burung di Irian Jaya). Mereka hanya diketahui berbiak di hutan mangrove di Hutan Bakau Pantai Timur (Danielsen dan Skov. Di Jawa jenis ini hanya diketahui berbiak di hutan bakau Pulau Rambut (Allport & Wilson.

Dari empat jenis berangberang yaitu Aonyx cinerea. Teluk Bone. Tidak satupun dari mamalia diatas hidup secara eksklusif di mangrove. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatranus) masih ditemukan di wilayah Sungai Sembilang. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) umum ditemukan di daerah mangrove dan sering terlihat mencari makan pada hamparan lumpur di sekitar mangrove. sedangkan mamalia udara yang sering ditemukan adalah Pteropus vampirus. 1992). endemik Kalimantan) dan kucing bakau (Felis viverrina) (MacNae. 416 . Sulawesi Selatan (Giesen. dapat dianggap sebagai tempat hidup harimau Sumatera yang terbaik (Frazier. kancil (Tragulus spp. Sumatera Selatan (Danielsen & Verheugt.). Lutra lutra. kemudian diketahui bahwa mereka juga menggunakan hutan rawa gambut (Payne. Payne. lutung (Trachypithecus aurata). 1985). Macaca ochreata ochreata (endemik Sulawesi) pada masa lalu umum terlihat di daerah mangrove dekat Malili. Francis & Phillipps. dkk. Bekantan tadinya dianggap hanya hidup pada habitat mangrove. dkk. Bekantan (Nasalis larvatus. 1968. 1985. dua jenis lumba-lumba yaitu Orcella brevirostris dan Sousa chinensis juga ditemukan di daerah muara sekitar hutan bakau. dimana jika areal ini digabungkan dengan areal Taman Nasional Berbak di Jambi. 1989). 1993). Lutra sumatrana dan Lutra perspicillata yang diketahui hidup di Indonesia juga ditemukan di hutan mangrove. 1991).Mamalia yang umum ditemukan pada habitat mangrove diantaranya adalah babi liar (Sus scrofa).) berang-berang (Lutra perspicillata dan Amblyonyx cinerea). kelelawar (Pteropus spp. Melisch. dkk. Dari kelompok mamalia air.

diantaranya: kayu bakar. 1990). kulit. Banyak jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi menghabiskan sebagian siklus hidupnya pada habitat mangrove (Sasekumar. Bahkan pemanfaatan mangrove untuk tujuan komersial seperti ekspor kayu. bahan bangunan. 1990). 1985). Kakap (Lates calcacifer). terutama di Jawa dan Sumatera (van Bodegom. MANFAAT MANGROVE Mangrove memiliki berbagai macam manfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya. Sejarah pemanfaatan mangrove secara tradisional oleh masyarakat untuk kayu bakar dan bangunan telah berlangsung sejak lama.1 Pemanfaatan mangrove Mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif. 173 . 1991) mengemukakan adanya hubungan linier positif antara luas hutan mangrove dengan produksi udang. 3. Martosubroto & Naamin (dalam Djamali. kepiting mangrove (Scylla serrata) serta ikan salmon (Polynemus sheridani) merupakan jenis ikan yang secara langsung bergantung kepada habitat mangrove (Griffin. dimana makin luas hutan mangrove makin tinggi produksi udangnya dan sebaliknya. Hal ini didukung oleh berbagai penelitian di negara-negara lain (Tabel 3). Contohnya. sejumlah 14 perusahaan telah diberikan ijin pengusahaan hutan yang mencakup sejumlah 877. Nampaknya produk yang paling memiliki nilai ekonomis tinggi dari ekosistem mangrove adalah perikanan pesisir. dkk. Melihat beragamnya manfaat mangrove. Menurut Unar (dalam Djamali. pemanfaatan mangrove untuk berbagai tujuan telah dilakukan sejak lama. kertas. keperluan rumah tangga. maka tingkat dan laju perekonomian pedesaan yang berada di kawasan pesisir seringkali sangat bergantung pada habitat mangrove yang ada di sekitarnya. perikanan pantai yang sangat dipengaruhi oleh keberadaan mangrove. obat-obatan dan perikanan (Tabel 2). 1936). Berbagai produk dari mangrove dapat dihasilkan baik secara langsung maupun tidak langsung. 1993). 1991) beberapa jenis udang penaeid di Indonesia sangat tergantung pada ekosistem mangrove. Pada tahun 1985. merupakan produk yang secara tidak langsung mempengaruhi taraf hidup dan perekonomian desa-desa nelayan. Bagi masyarakat pesisir. kulit (untuk tanin) dan arang juga memiliki sejarah yang panjang. 1929. atau sekitar 35% dari areal mangrove yang tersisa (Dephut & FAO. Boon. peranan mangrove bagi lingkungan sekitarnya dirasakan sangat besar setelah berbagai dampak merugikan dirasakan diberbagai tempat akibat hilangnya mangrove. meskipun eksplotasi sesungguhnya dengan menggunakan mesin-mesin berat nampaknya baru dimulai pada tahun 1972 (Dephut & FAO.III. 1992 dan Burhanuddin.200 hektar areal mangrove. Eksplotasi mangrove dalam skala besar di Indonesia nampaknya dimulai awal abad ini. Akhir-akhir ini. Pembuatan arang mangrove telah berlangsung sejak abad yang lalu di Riau dan masih berlangsung hingga kini.

salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Kasry. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh komunitas nelayan setempat dengan pola yang tradisional atau oleh nelayan modern yang datang dari kota pelabuhan besar. menurunnya produksi perikanan di Bagansiapiapi. Rhizophora spp. Bruguiera. 1984).atap . PRODUK VEGETASI Tipe pemanfaatan .pembuatan perahu . Lumnitzera Lumnitzera spp. Di Indonesia hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial seperti di perairan sebelah timur Sumatera.konstruksi berat (jembatan) . kayu tiang .bantalan rel KA . pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya yang kesemuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan (Soewito. Sebaliknya.arang kayu . Rhizophora spp.6 juta ton yang melibatkan tidak kurang dari 478.pagar. 1984). Acrostichum speciosum Cyperus malaccensis. Sebagian besar kegiatan penangkapan ikan di Indonesia berlangsung di dekat pantai.papan .alas lantai . Rhizophora.lantai . Ceriops spp. Produk yang dihasilkan mangrove A. dimana sebelum perang dunia II merupakan penghasil ikan utama di Indonesia bahkan sebagai salah satu penghasil ikan utama di dunia.alkohol Bahan bangunan: .tiang bangunan . Tabel 2. Eleocharis dulcis Scolopia macrophylla terutama Rhizophoraceae Cycas rumphii Kategori Bahan bakar: 418 . 1998).pertambangan .kayu bakar .lem Contoh jenis yang dimanfaatkan sebagian besar jenis pohon sebagian besar jenis pohon Nypa fruticans Bruguiera.kayu. pantai selatan dan timur Kalimantan. Oncosperma tigillaria Nypa fruticans.Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. Rhizophora spp. Bruguiera. Bruguiera spp. Pada tahun 1998 total produksi perikanan laut Indonesia adalah sekitar 3.250 keluarga (BPS.alas dok . Rhizophora. pipa . Livistona saribus.

Drynaria rigidula Osbornia octodonta. Crinum asiaticum Tristellateia australasiae Horsfieldia irya Drymoglossum piloselloides. Peltophorum pterocarpum terutama Rhizophora.tali .peralatan .fiber sintetis (mis. Nypa fruticans Cycas rumphii Xylocarpus mekongensis Phymatodes scolopendria Dolichandrone spathacea.perekat jala . kulit .pengawetan kulit . Quassia indica Nypa fruticans Tekstil.Perikanan: . Camptostemon schultzii banyak jenis tumbuhan berkayu X. granatum. indica. H. Excoecaria indica (bijinya) Cerbera manghas (insektisida) Cryptocoryne ciliata.mebel .hiasan .anti nyamuk .lilin .obat-obatan .tiang pancing . S. Scirpus grossus Dolichandrone spathacea (topeng).minyak rambut . alba Derris trifoliata. tiliaceus Pemphis acidula. Dolichandrone spathacea. Scaevola taccada. Rhizophora apiculata Atuna racemosa. Lumnitzera spp. X.penahan perahu Ceriops spp. Eleocharis dulcis Paspalum vaginatum. Cerbera floribunda Rhizophoraceae Stenochlaena palustris.keranjang .pewarna kain .lem . Osbornia octodonta terutama Rhizophoraceae E. Colocasia esculenta Avicennia marina.racun . Camptostemon schultzii Avicennia marina. rayon) .parfum .pupuk Produk kertas: .pembuatan kain Pertanian: .mainan .berbagai jenis kertas .jangkar .tanaman hias .pelampung .racun ikan .berbagai jenis kertas Keperluan rumah tangga .kancing 193 . granatum Typha angustifolia Cyperus malaccensis.isi bantal .

8 0 – 50 1 – 1.kertas rokok . 1984 Pauly & Ingles.gula .kerang .reptilia .000 1 ..madu dan lilin . Kategori Lain-lain: Diadaptasi dari Saenger.lainnya Contoh jenis yang dimanfaatkan Lates calcarifer. minuman dan obat : . 1984 Boesch & Turner. buah Inocarpus fagifer epidermis daun Nypa Loxogramma involuta B. 1993) Lokasi (ton) Australia Malaysia Teluk Meksiko Filipina Hasil Tangkapan (ha) 0.minyak goreng .ikan . B. 1986 420 .mammalia .2 – 15 0 – 25 10 – 1.62 (6) Staples et al. dkk (1983) serta tambahan informasi dari Knox and Miyabara (1984) dan Fong (1984).Makanan. gymnorrhiza daun Stenochlaena palustris.minuman fermentasi .Krustasea .daging manis (dari propagula) . 1985 Jothy.975 (15) 0.000 0.pengganti tembakau Nypa fruticans Nypa fruticans biji Terminalia catappa Rhizophora stylosa Bruguiera cylindrica.alkohol .76 (6) 0.1 – 0.2 – 5 Luas Mangrove Korelasi (n) 0.74 (7) 0.42 Koefisien Sumber 0. PRODUK HEWANI Tipe pemanfaatan . Scylla serrata kerang-kerangan Apis dorsata terutama burung air terutama Sus scrofa Varanus salvator. Avicennia. Tabel 3.burung . Hubungan antara luas hutan mangrove dengan jumlah tangkapan udang (per tahun) (dalam Nirarita.sayuran (dari propagula. buah atau daun) . Crocodylus porosus Rana spp. Chanos chanos Penaeus spp.

1980). Sinjai. 1958 dan Chapman. Mengetahui manfaat mangrove dalam menahan gempuran badai.000 penduduk yang tinggal di pesisir dihantam badai. 1993 dan Othman. Pertama. Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove.000 hektar areal pantai dengan vegetasi mangrove (Maltby. karena lingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk kedalam rantai makanan. Dusun Tongke-tongke dan Pangasa. mangrove merupakan pemasok bahan organik. pada bulan Juni 1985 sebanyak 40. Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove mempunyai peranan yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah dikolonisasinya. produksi serasah mangrove berkisar antara 7 – 8 ton/ha/ tahun (Nontji. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur. Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. Sulawesi Selatan yang memiliki barisan mangrove yang tebal di pantai terlindung dari gelombang pasang (Tsunami) di pulau Flores pada akhir tahun 1993. 1941). Pada awalnya. 1987). Kedua. udang dan moluska (Davies & Claridge. angin dan badai. 1977) kemudian menyebutkan bahwa proses pengikatan dan penstabilan tersebut ternyata hanya terjadi pada pantai yang telah berkembang. Sebaliknya. bangunan dan pertanian dari angin kencang atau intrusi air laut. Mangrove juga terbukti memainkan peran penting dalam melindungi pesisir dari gempuran badai. Di Indonesia. 1986). pada pulau yang hilang mangrovenya. pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus. 1993). Berbagai penelitian (van Steenis. pulau tersebut mudah disapu ombak dan arus musiman (Chambers.2 Fungsi Mangrove Mangrove memiliki peranan penting dalam melindungi pantai dari gelombang. sehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yang hidup pada perairan sekitarnya (Mann. 1974). dimana jika terdapat mangrove otomatis akan terdapat tanah timbul (Steup. mangrove berperan penting dalam siklus hidup berbagai jenis ikan. terutama dari ombak dan arus laut. sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge. peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan pulau tersebut. Sedangkan beberapa dusun yang berbatasan dengan kedua dusun ini yang tidak mempunyai mangrove yang cukup tebal mengalami kerusakan yang cukup parah. pemerintah Bangladesh kemudian melakukan penanaman seluas 25. 1994). Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman. 1982).3. dkk. Peranan mangrove dalam menunjang kegiatan perikanan pantai dapat disarikan dalam dua hal. proses pengikatan sedimen oleh mangrove dianggap sebagai suatu proses yang aktif. 213 . Di Bangladesh.

422 Gambar 3. 1992) . Jaring-jaring makanan dan pemanfaatan mangrove di Indonesia (diadaptasi dari AWB-Indonesia.

termasuk bakau. 1987) di peta ternyata ditemukan secara faktual berada di luar atau berdekatan dengan kawasan mangrove yang ada saat ini. jika sistem lahan khas habitat mangrove (KAJAPAH. maka areal tersebut dianggap dulunya adalah hutan mangrove. 233 . dkk.53 juta hekar yang berasal dari Proyek Inventarisasi Hutan Nasional (Dit. RePPProT. adanya perbedaan metoda yang digunakan dalam menduga luasan mangrove. diketahui bahwa luas asal mangrove Indonesia seluas 4. yaitu hutan bakau (Hv). Bina Program Dephut bersama FAO/UNDP. Meskipun mangrove tidak terlalu sulit untuk dikenali dari foto penginderaan jarak jauh dan dipetakan.38 -2. Kedua. Untuk menghitung luas asal mangrove yang telah mengalami perubahan digunakan ektrapolasi dari data yang tersedia pada peta. Perbedaan perkiraan luas tersebut setidaknya dipengaruhi oleh tiga halo. 1996). Dengan menggunakan metoda seperti diatas. kenyataannya memperoleh data yang memadai mengenai luas mangrove pada masa yang lalu dan saat ini tidak terlalu mudah (di Indonesia data dimulai sejak 1930-an. Ketiga. 1982). STATUS MANGROVE INDONESIA 4. mulai dari 1.IV. 1997) dan 3. Data perkiraan luas areal mangrove di Indonesia sangat beragam sehingga sulit untuk mengetahui secara pasti seberapa besar penurunan luas areal mangrove tersebut. Hal ini kembali disebabkan kurang tersedianya data serta peta yang memadai. 1980 dan Dit. Pertama. Bina Program INT AG.13 juta hektar. lihat Kint. Tata Guna Lahan dan Sistem Lahan (skala 1 : 250. hutan primer yang dieksploitasi kayunya (Ht) dan hutan pasang surut yang tidak dibedakan. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Departemen Kehutanan (1997) menyebutkan luas yang diambil dari berbagai sumber berkisar antara 2. sehingga data yang sebenarnya telah kadaluwarsa diacu berulangulang (misalnya: Burbridge & Koesoebiono. sangat sedikit sekali dilakukannya penghitungan areal mangrove berdasarkan kondisi yang sebenarnya di alam.94 juta hektar. Giesen (1993) mencoba menghitung luas areal asal mangrove berdasarkan seri RePPProT (1985-1989) dari peta Status Hutan. nipah dan nibung (Hx) disatukan menjadi “habitat mangrove”. 1993).1 Luas areal mangrove dulu dan saat ini Saat ini di seluruh dunia terjadi peningkatan hilangnya sumberdaya mangrove yang disebabkan adanya pemanfaatan yang tidak berkelanjutan serta pengalihan peruntukan (Aksornkoae.49 -4.000) yang diproduksi oleh Departemen Transmigrasi. kemudian luas total mangrove untuk masingmasing propinsi dihitung. 1934). perkiraan luas untuk Irian jaya yang merupakan komponen luasan terbesar sangat berbeda antara satu penulis dengan penulis lainnya.54 juta hektar yang berasal dari ISME (Spalding. Dari tiga kategori yang dibuat oleh RePPProT.25 juta hektar. Namun. terdapat jumlah luasan mangrove yang lain yaitu 4.

sementara data untuk Sulawesi Selatan diambil dari hasil penelitian Giesen. Sebagai contoh. Sumatera Selatan dan Lampung dihitung berdasarkan data yang diperoleh selama kegiatan pengkajian lapangan yang dilaksanakan oleh AWB/PHPA pada tahun 1990 -1992. telah tersedia data yang diambil dari Peta Penutupan Lahan yang dibuat oleh BAPLAN – DEPHUT dengan menggunakan Citra Satelit untuk Tahun 2002 – 2003. luas areal mangrove yang peruntukannya telah dialihkan menjadi tambak dihitung dari luas total areal mangrove yang terdapat pada peta RePPProT. 58% diantaranya terdapat di Papua. Data luas mangrove di Jawa Tengan diadopsi dari White. Penghitungan tersebut didasarkan pada citra satelit SPOT dah SLAR. Dari luasan areal mangrove yang tersisa tersebut. dkk (1991). laju hilangnya mangrove hingga tahun 1990 juga sangat beragam.000 hektar hutan mangrove masih terdapat di Sulawesi Selatan. Sulawesi Tenggara dan Maluku digunakan data yang berasal dari Ditjen Perikanan (. termasuk dinamika data untuk Propinsi yang telah mengalami pemekaran. Giesen. data yang digunakan untuk penghitungan hingga tahun 1990 tersebut. 424 . Untuk Propinsi Kalimantan Barat. dkk (1989). Sumatera Barat. Seperti yang telah disebutkan. namun belum dilakukan analisa laju perubahan luas mangrove. Data untuk 10 Propinsi lainnya diambil dari RePPProT (1985-1989).000 hektar. Berdasarkan penghitungan diatas. Sulawesi Utara. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tengah. maka hal tersebut berarti bahwa pada akhir tahun 1980. dkk (1991) melaporkan meskipun 34. Kalimantan Timur. Dari penghitungan diketahui luas mangrove yang tersisa pada tahun 1990 hanya sekitar 2. Untuk Propinsi Aceh dan Bengkulu.49 juta hektar (60%). Dengan melihat kondisi lapangan saat ini. Mereka memperkirakan jumlah areal hutan mangrove yang belum terganggu di Sulawesi Selatan hanya sekitar 23.Selanjutnya dihitung luas areal mangrove yang tersisa berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi. Pada saat cetak-ulang ini dibuat. antara hampir 10% di Papua hingga hampir 100% di Jawa Timur. saat itu telah berusia 3 7 tahun serta areal yang dipetakan dan dianggap sebagai mangrove hanya sebagian yang tercakup oleh tipe ini. kemungkinan luasan mangrove tersebut sudah berkurang. Luas areal mangrove yang ada di Propinsi Sumatera Utara. Jambi. Meskipun data tersebut telah disajikan dalam edisi cetak-ulang ini. dan hanya 11% tersisa di Jawa. Riau.1991). Gambaran lebih rinci mengenai data asal dan sisa mangrove dapat dilihat di Tabel 4.49 juta hektar (19871990) dapat diterima. Hal yang perlu dicatat dari uraian diatas adalah mungkin luas areal mangrove yang dihitung merupakan jumlah yang optimistis. Sejalan dengan hal tersebut. tetapi sebagian dari areal tersebut sebenarnya merupakan areal hutan mangrove yang telah mengalami gangguan dan dalam proses untuk dijadikan tambak. yang berarti jumlah areal mangrove yang hilang semakin bertambah.-an. Indonesia telah kehilangan sekitar 40% areal mangrovenya. jika perkiraan luas areal mangrove yang tersisa di Indonesia sekitar 2.

098.000 4.780 775.000 53.000 Jumlah Areal Asal (2) 60.000 91. Data Mangrove diambil dari kategori “Hutan Mangrove Primer” dan “Hutan Mangrove Sekunder”.000 0 25.765.107 861 6.700 INTAG (1993) BAPLAN 2005 (data 2002/3) (1) 18.000 3.000 50.000 3.830 40.030 148.000 0 (4) 0 17.000 0 (4) 55.382.000 750.000 46.000 500 500 0 21.000 (5) 15.000 26.000 137.000 3.500 354.500.000 109.000 0 276.000 64. Data Tambak diambil dari kategori “Tambak” Berdasarkan klasifikasi sistem lahan RePPProT (1985 – 89).000 60.500 0 (4) 1.943.850 221. Baltzer dan Baruadi (1991).913 626 4.000 367.440 8.000 56.000 0 34.000 3.000 13.640 37.000 5.000 10.000 208.000 0 470.000 84.000 27.250 http://www.800 0 29.000 5.000 0 13.3 0 (4) 110.000 66.000 58. sebelum pemekaran Data setelah pemekaran Propinsi (2) (3) (4) (5) 253 .000 110.000 2.000 89.335 60.000 19.HTM.710 0 (4) 1.000 34.430 0 (4) 520 49.500 (3) 18.500 60.000 38.088 65 0 (4) 95 268.000 0 (4) 20. Van Bodegom (1929) melaporkan bahwa seluruh areal mangrove di Riau telah dipetakan dan diukur secara planimetris seluas 182.000 90.000 (5) 63.000 1.000 10.497 47.330 0 (4) 30.476 1.000 (5) 0 (4) 0 750.000 19.000 17.id/INFORMASI/INTAG/Peta%20Tematik/PL&Veg/VEG_2003.000 195.990 3.000 0 2. Luas mangrove per Propinsi di Indonesia (ha) Mangrove Propinsi Bina Program (1982) 54.950 3.000 9.650 266.740 120.000 100.678 1.000 (5) 42. kecuali Sulawesi selatan.000 1.000 259.000 4.000 8.500 29.700 6.996 550 32 0 1.000 235.405 6. dan luas areal untuk masing-masing sistem lahan per propinsi berdasarkan Giesen.050 13.000 28.000 197.000 4.000 115.000 128.163.000 11.000 95.000 44.000 0 3 2.970 98.dephut.577 7.003 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Jawa Barat & DKI Banten Jawa Tengah & DIY Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Selatan Maluku Maluku Utara Papua T o t a l Keterangan: (1) 102.017 hektar pada tahun 1929 Masih merupakan bagian dari Propinsi lain.000 0 (5) 3.900 800 0 10.500 0 (4) 2.150 0 (4) 104.000 128.300 48.000 65.608 0 (4) 13.700 0 (4) 1.000 2.340 4.000 20.000 43.939 50.000 3.000 16.go.000 9.750 1.500 66.000 5.000 12.000 1.000 680.450 363.235.840 38.500 1.000 27.000 15.Tabel 4.636 590 0 (4) 73.500 Tambak Ditjen BAPLAN Perikanan 2005 (data (1991) 2002/3) (1) 39.500 57.000 0 (4) 2.780 194.000 213.326.251.683 73.000 (5) 1.622. (1987) 55.000 Silvius dkk.200 0 (4) 18.500 0 (4) 1.000 99.000 25.826 0 192 40 325 0 (4) 94 2.500 0 (4) 46.640 70.833 0 (4) 66.000 4.

Perbandingan luas mangrove asal dan yang tersisa di Indonesia (1986-1990) .426 Gambar 4.

pestisida per hektar per bulan (asumsi seluruhnya digunakan di Sulawesi Selatan). 1991).200 hektar areal mangrove berada dalam konsesi pengusahaan hutan untuk diambil kayunya (Dep. 2005). 1991) serta berkurangnya anakan untuk keperluan perkembangan ikan (Wardoyo & Rasyid. pestisida dan antibiotika juga kerap kali digunakan. 1986).c). Perlu dicatat.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan.500 hektar tambak yang tidak diusahakan dan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum (Giesen & Sukotjo. tidak bercampurnya tanah (Giesen. 1997) dan menjadi 750.559 ton pestisida digunakan untuk tambak selama tahun 1990 (BPS. kehadiran tambak tidak selalu 273 . dkk. seperti pengasaman tanah (Hassan & Ti. lebih dari 75 tahun yang lalu. data tahun 1985 menunjukkan seluas 877.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan.000 hektar (Ditjen Perikanan. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para pembuka lahan. 1991 a. Dampak yang ditimbulkan oleh pestisida terhadap lingkungan dijelaskan oleh Primarvera (1991) dan Baird (1994). Sementara itu. 2005). Jauh sebelumnya. bahkan untuk tambak tradisional. Pada tahun 1982. kemudian bertambah menjadi 269. Sejarah pembangunan tambak diawali di Jawa dan Sulawesi selatan. Di SM Karang Gading Langkat Timur Laut. 1988). Meindersma (1923) melaporkan sangat sulit untuk menemukan mangrove yang alami dan tidak terganggu di Pulau Jawa. 390. Dalam banyak kasus. Sumatera Utara dan Lampung (Giesen. 1991). ini tidak termasuk tambak-tambak yang telah ditinggalkan dan tidak diusahakan lagi yang di beberapa lokasi cukup luas.b. Pada tahun 1990. 1990).4. 1991). Statistik perikanan untuk Sulawesi Selatan menunjukkan sekitar 16. kecuali di Segara Anakan dan Teluk Pangong (dekat selat Bali). Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah. misalnya. luas areal tambak yang terpantau sekitar 269. perkiraan luas tambak di Indonesia seluas 193. Meskipun demikian.000 hektar tersebut sama dengan 23 % dari luas asal areal mangrove pada tahun yang sama. Kehutanan & FAG. kemudian berkembang ke Aceh.182 ha pada tahun 1997 (Ditjen Perikanan. Kegiatan pembangunan utama yang memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal mangrove di Indonesia adalah pengambilan kayu untuk keperluan komersial serta peralihan peruntukan untuk tambak dan areal pertanian (khususnya padi dan kelapa). 1985). 1990). terdapat sekitar 2.2 Penyebab penurunan luas mangrove Pembangunan di areal mangrove Konversi dan hilangnya mangrove tampaknya bukan merupakan sesuatu yang baru terjadi pada dekade terakhir ini saja.000 hektar pada tahun 1990 (Ditjen Peri kanan. Berarti terjadi penambahan areal tambak lebih dari 350% dalam kurun waktu 20 tahun. yang kemudian meningkat menjadi 750. Areal tambak yang tercatat pada tahun 2002/03 seluas hampir 750. yang berarti lebih dari 18 kg.700 hektar (Bailey.

berarti hilangnya mangrove. Hal ini dapat dilihat pada pola tambak yang masih menyisakan pohon mangrove, yang dipraktekkan di beberapa tempat di Jawa. Pada pola ini, mangrove ditanam di bagian tengah tambak. Sistem ini sangat baik untuk diterapkan karena selain melindungi dan mempertahankan mangrove, juga dapat dimanfaatkan oleh burung air. Kegiatan pengambilan kayu sering terlihat di Riau, Kalimantan dan Papua. Luas areal konsesi pengusahaan hutan meningkat dari 455.000 hektar pada tahun 1978 (Burbridge & Koesoebiomo, 1980) menjadi 877.200 hektar pada tahun 1985 (Oepartemen Kehutanan dan FAO, 1990), atau sekitar 35% dari luas areal mangrove yang tersisa pada awal tahun 1990-an (data Giesen, 1993). Sayangnya, dampak yang ditimbulkan oleh pengambilan kayu terhadap hilangnya luasan areal mangrove sangat sulit untuk dirinci. Pada beberapa kasus, dampak lain dari pengambilan kayu mangrove adalah penurunan kualitas tegakannya. Nurkin (1979) menjelaskan bagaimana areal mangrove yang telah ditebangi di Sulawesi Selatan kemudian ditumbuhi oleh Acrostichum aureum, selanjutnya menghambat terjadinya regenerasi tumbuhan mangrove. Di daerah lain, mangrove ternyata juga dapat tumbuh sendiri setelah tumbuhannya ditebang, misalnya di Riau Tenggara (Giesen, 1991 b), serta di areal mangrove di Sei Kecil, Kalimantan Barat (Abdulhadi & Suhardjono, 1994). Meskipun dalam beberapa kasus mangrove dapat tumbuh kembali, akan tetapi tidak berarti bahwa tumbuhan yang baru tersebut akan selalu sarna dengan jenis seberumnya, bahkan seringkali justru jenis tumbuhan yang kurang diminati yang kemudian menjadi dominan, seperti Xylocarpus granatum di Pulau Bakung, Riau (Giesen, 1991 b), Excoecaria agallocha dan Bruguiera parviflora di Karang Gading Langkat Timur Laut, Sumatera Utara (Giesen & Sukotjo, 1991). Penduduk juga memberikan sumbangan terhadap penurunan luas manrove di Indonesia. Seperti diketahui, penduduk setempat telah memanfaatkan mangrove dalam kurun waktu yang lama, namun diyakini bahwa kegiatan mereka tidak sampai menimbulkan kerusakan yang berarti pada ekosistem ini. Akan tetapi, hal tersebut telah berubah dalam dekade terakhir ini seiring dengan adanya pertambahan populasi penduduk, baik karena pertambahan alami maupun perpindahan dari luar. Kegiatan masyarakat yang menyebabkan hilangnya mangrove ini terutama adalah pemanfaatan areal mangrove untuk pembangunan tambak. Fiselier, dkk (1990) bahkan menyatakan: “Reklamasi untuk keperluan budidaya perikanan dan pertanian tampaknya saat ini dianggap sebagai suatu kegiatan pembangunan utama yang berlangsung di areal mangrove. Kegiatan reklamasi tersebut sebenarnya berbiaya tinggi dan acapkali tidak berkelanjutan, serta sering menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap lingkungan. Keuntungan yang dihasilkan sebagian besar diraup oleh mereka yang datang dari luar, dan hanya sebagian kecil saja yang dinikmati oleh penduduk setempat, berupa hasil penangkapan ikan dan pengumpulan hasil hutan yang dilaksanakan secara tradisional”. Pernyataan ini didukung oleh Ong (1982) yang membahas mengenai konversi mangrove di Malaysia dan menyimpulkan bahwa pembangunan budidaya perikanan berkaitan, baik secara ekonomis maupun secara ekologis.

428

Telah disebutkan didepan bahwa pembangunan tambak memberikan sumbangan terhadap hilangnya mangrove. Selain itu, data juga menunjukan bahwa mangrove yang tersisa juga mengalami ancaman berupa: a) konversi menjadi lahan pertanian, b) suksesi menjadi vegetasi sekunder non-hutan setelah terjadinya eksploitasi berlebih oleh masyarakat setempat, c) kurangnya regenerasi setelah dibabat untuk kepentingan komersial, dan d) erosi pantai. Meskipun data sangat kurang, namun nampaknya faktor yang memberi sumbangan penting terhadap hilangnya mangrove, selain konversi menjadi tambak, adalah konversi menjadi lahan pertanian dan penebangan kayu secara komersial dan dalam skala yang lebih kecil, serta eksploatasi berlebihan oleh masyarakat setempat. Kematian mangrove secara alami merupakan kejadian yang umum ditemukan dan merupakan kondisi alami, karena Iingkungan mangrove bersifat dinamik dan periodik, serta asosiasi mangrove teradaptasi dengan lingkungan tertentu melalui pertumbuhan dan kematian secara cepat (Uimenez & Lugo, 1985). Perubahan yang terjadi di alam biasanya bersifat fisik (Choy & Booth, 1994, berdasarkan contoh yang diambil di Brunei), sementara penyakit dan faktor biotis lainnya nampaknya berupa agen sekunder. Secara umum dapat dikatakan bahwa kematian mangrove secara alami tidak memberikan sumbangan yang signifikan terhadap hilangnya areal mangrove di Indonesia.

293

V. KEBIJAKAN DAN PERATURAN MENYANGKUT MANGROVE
Disadari bahwa mangrove memberikan banyak manfaat bagi manusia. Dengan demikian, mempertahankan areal-areal mangrove yang strategis, termasuk tumbuhan dan hewannya, sangat penting untuk pembangunan ekonomi dan sosial. Pada masa lalu, disaat tekanan penduduk masih rendah, hal tersebut tidak menjadi masalah karena pada tingkat lokal manfaat mangrove biasanya langsung disadari oleh masyarakat dan seringkali kawasan mangrove dilindungi oleh hukum adat. Namun selama 2 - 3 dekade lalu, tekanan penduduk semakin meningkat dengan tajam sehingga mengakibatkan permintaan akan sumberdaya pertanian meningkat pula. Pada saat yang bersamaan, kegiatan perikanan dan kehutanan juga meningkat dengan pesat dan menjadi faktor utama dalam perubahan lingkungan mangrove. Dalam kondisi demikian, aturan setempat yang berupa hukum adat seringkali terkesampingkan oleh insentif ekonomi jangka pendek. Untuk merespon hal tersebut, pemerintah kemudian mengeluarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) serta beberapa peraturan dalam berbagai tingkat yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove. Peraturan yang paling relevan diantaranya terkait dengan aturan mengenai kebijakan jalur hijau serta sistem areal perlindungan.

5.1

Pemetaan sumberdaya

Pada tahun 1982, rencana tata guna lahan hutan untuk pertama kalinya dipersiapkan oleh Departemen Pertanian (saat itu kehutanan masih direktorat di Departemen Pertanian). Tata guna lahan yang berupa Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tersebut dipersiapkan untuk setiap propinsi dengan skala peta 1 : 500.000. Sejak 1983, setelah pembentukan Departemen Kehutanan, tugas ini kemudian diambil alih oleh Ditjen Inventarisasi dan Tata Guna Hutan (INTAG). Peta TGHK membagi lahan menjadi kategori berikut : Areal Konservasi dan Perlindungan Alam Hutan Lindung Hutan Produksi (terbatas dan biasa) Hutan Konversi Tak Terklasifikasi (Hak Milik, Hak Milik Adat, Hak Pengelolaan). Berdasarkan pembagian diatas, mangrove dapat masuk kedalam seluruh kategori. Di beberapa instansi, ditambahkan pembagian lahan kategori keenam yaitu Hutan Bakau

430

(mangrove) dalam beberapa peta. Sayangnya, hal ini kemudian membingungkan karena tidak memberikan indikasi mengenai status yang sebenarnya dari sumberdaya yang penting ini. Peta TGHK tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, akan tetapi dijadikan sebagai panduan bagi pemerintah daerah dalam membuat perencanaan tata guna lahan. Status yang ada dapat saja disesuaikan dalam setiap peta. Sebagai contoh, suatu areal yang dipetakan sebagai hutan lindung pada peta dengan skala 1 : 500.000, dapat saja kemudian terbagi menjadi beberapa kategori lainnya jika dipetakan dalam peta dengan skala yang lebih rinci (misalnya 1 : 50.000). Contoh lain adalah dapat saja suatu areal dipetakan sebagai cagar alam atau areal konservasi, padahal sebenarnya belum dikukuhkan atau hanya sebagian saja yang telah dikukuhkan. Walaupun demikian, secara umum peta TGHK sangat bermanfaat. Dalam perkembangan berikutnya pada skala lokal, peta TGHK kemudian digantikan oleh peta tata ruang yang disiapkan oleh masing-masing pemerintah daerah. Pembuatan peta tersebut sebagai tindak lanjut dari Undang-undang No. 24 Tahun 1992 mengenai Tata Ruang. UU ini memerintahkan adanya perencanaan ruang yang luas pada tingkat Nasional, Propinsi sampai Kabupaten, dan mengharuskan pemerintah untuk mengembangkan program perencanaan tata ruang yang menunjukkan sumberdaya apa yang harus dilindungi, direhabilitasi ataupun harus dialokasikan untuk kepentingan pembangunan ekonomi.

5.2

Peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove

Seperti di tempat lain di dunia ini, lahan di Indonesia diberi status tertentu yang memungkinkan penggunaan tertentu. Bila suatu areal lahan telah digunakan secara tradisional oleh suatu komunitas tertentu dalam masyarakat, maka biasanya pengelolaan lahan tersebut akan dialihkan kepada komunitas masyarakat tersebut dengan status Hak Milik, Hak Milik Adat atau Hak Pengelolaan. Areal lahan yang bukan merupakan areal pertanian (termasuk sebagian besar lahan hutan) pada umumnya diberi status sebagai Tanah Negara. Meskipun telah terdapat pembagian status lahan, kenyataannya masih muncul berbagai konflik menyangkut kepemilikan atau hak pengusahaan lahan. Misalnya, meskipun suatu areal mangrove telah dikelola oleh hukum adat atau merupakan tanah negara (tanah timbul), akan tetapi apabila telah dikonversi menjadi tambak, seringkali lahan tersebut berubah menjadi milik pribadi. Akibat perubahan ini, konflik lain seringkali muncul apabila pemerintah kemudian ingin mengambil kembali lahan tersebut untuk kepentingan yang lain, misalnya untuk jalur hijau. Sampai saat manuskrip ini dibuat, setidaknya telah dibuat 22 buah peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove di Indonesia. Peraturan-peraturan tersebut umumnya menyoroti hubungan antara sektor kehutanan dan sektor perikanan serta

313

8. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan. UU yang terakhir ini memberikan wewenang yang besar kepada daerah untuk melakukan pengelolaan dan pelestarian mangrove. 5 Tahun 1990 mengenai perlindungan sumber daya hayati dan ekosistemnya dan Undang-undang No. Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 13. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Perairan. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. 16. 5. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. 15. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan. Perikanan dan Kehutanan kepada Daerah Swatantra Tingkat I. Beberapa peraturan yang berkait dengan pengelolaan mangrove di Indonesia 1. 6. 12. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Agraria. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan. Berkaitan dengan konservasi. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. 22 Tahun 1999 mengenai pemerintahan daerah. Undang-undang Dasar Tahun 1945 Pasal 33 ayat 3. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 2. 11. 9. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. 3. 17. 7. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. 19. peraturan yang paling relevan nampaknya adalah Kepres No. 32 Tahun 1990 mengenai areal lindung. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. 18. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa. Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 14. Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1967 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Bidang Perkebunan. 432 .mengenai jalur hijau. 10. 4. Undang-undang No.

hendaknya diadakan penyesuaian yaitu pada areal yang awalnya hanya memiliki vegetasi mangrove. 32 Tahun 1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung menggantikan seluruh peraturan terdahulu mengenai jalur hijau. 5.000 ha. SK ini ternyata memiliki beberapa kelemahan. Fungsi jalur hijau pada prinsipnya adalah untuk mempertahankan pantai dari ancaman erosi serta untuk mempertahankan fungsi mangrove sebagai tempat berkembangbiak dan berpijah berbagai jenis ikan.I/4/2/18/ 1975) yang mengatur perlunya dipertahankan areal di sepanjang pantai selebar 400 meter dari rata-rata pasang rendah.) Dikeluarkannya SK Presiden No. 333 . jalur mangrove pantai minimal 130 kali rata-rata pasang yang diukur ke darat dari titik terendah pada saat surut. Beberapa kritik yang dapat disampaikan mengenai SK ini antara lain adalah: SK ini tidak dapat diterapkan pada areal yang saat ini tidak memiliki tumbuhan mangrove lagi karena adanya eksploatasi pada masa lalu atau konversi. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Selanjutnya Dirjen Kehutanan mengeluarkan SK No. 22.20. 60/KPTS/DJ/I/ 1978 mengenai panduan silvikultur di areal air payau. 082/KPTS-II/1984. Menurut SK tersebut.3 Kebijakan jalur hijau dan rencana tata ruang Jalur hijau adalah zona perlindungan mangrove yang dipertahankan di sepanjang pantai dan tidak diperbolehkan untuk ditebang. Menurut SK tersebut. melarang penebangan mangrove di Jawa. dikonversikan atau dirusak. Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1989 tentang Tim koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II. jalur hijau ditetapkan selebar 10 meter di sepanjang sungai dan 50 meter di sepanjang pantai pada pasang terendah. yang menghimbau pelestarian jalur hijau selebar 200 meter sepanjang pantai. KB 550/246/ KPTS/1984 dan No. serta melestarikan seluruh mangrove yang tumbuh pada pulau-pulau kecil (kurang dari 1. Pada tahun 1984. Untuk itu. Kebijakan pemerintah untuk merumuskan suatu jalur hijau dimulai pada tahun 1975 ketika dikeluarkan SK Dirjen Perikanan (No H. 21. Dalam pelaksanaannya dilapangan. Peraturan ini memberikan perlindungan yang lebih memadai terhadap zona jalur hijau. menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama No.

SK ini hanya memberikan pilihan untuk konservasi. lebar jalur hijau mangrove seyogyanya ditentukan secara spesifik untuk setiap lokasi karena setiap tempat mempunyai karakteristik lingkungan yang spesifik. Di beberapa daerah seperti diatas. sehingga akan menyulitkan tercapainya suatu konsesus pengelolaan mangrove di beberapa daerah. Peraturan ini menginstruksikan kepada seluruh gubernur dan bupati/walikotamadya di seluruh Indonesia untuk melakukan penetapan jalur hijau hutan mangrove di daerahnya masing-masing. SK mengesampingkan adanya keterkaitan ekologis. Secara ekologis. hampir seluruh areal mangrove yang ada telah dimanfaatkan oleh penduduk.000 meter. Peraturan terakhir mengenai jalur hijau adalah Inmendagri No. sumber air tawar atau dengan rawa air tawar. SK ini tidak memacu adanya perlindungan terhadap mangrove secara menyeluruh maupun fungsi ekologisnya. termasuk total areanya. Informasi lebih lanjut mengenai areal mangrove yang dilindungi. Tanpa adanya perlindungan terhadap ekosistem pendukung secara terpadu. kelangsungan hidup jalur hijau tersebut tidak akan terjamin sepenuhnya. serta areal lindung yang penting disajikan pada Bab 6. 26 Tahun 1997 tentang Penetapan Jalur Hijau Hutan Mangrove. tumbuhan dan ekosistem di Indonesia pada dasarnya telah tercakup dalam Undang-undang No. Pilihan tersebut umumnya tidak memadai pada daerah yang telah memiliki pemanfaatan tradisional yang intensif. misalnya dengan mangrove daratan.Penentuan jalur hijau dengan menggunakan SK ini di pantai-pantai yang datar atau dataran lumpur yang luas tidak dapat digunakan secara efektif. Misalnya di Jawa.4 Peraturan yang berkait dengan konservasi mangrove Perlindungan satwa. dkk (1997) melakukan studi penetuan lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta menggunakan pendekatan analisis sistem yang menghasilkan rekomendasi perkiraan lebar mangrove di daerah tersebut sekitar 1. lebar jalur hijau yang dihitung dari titik terendah saat air surut hanya berupa dataran lumpur saja dan tidak sampai ke hutan mangrovenya. Hilmi. 434 . Permasalahan ini dapat diatasi dengan mendefenisikan pengukuran dari hutan mangrove terluar dekat laut. baik untuk tambak maupun berbagai bentuk pemanfaatan lainnya yang sebenarnya tidak mendukung konservasi mangrove. Misalnya. 5. 5 Tahun 1990 mengenai konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya.

pola ini beralih ke sistem produksi yang intensif.Pada tahun 1993. Memasuki abad ke-20.Indonesia Programme (1994). Pengelolaan juga akan sangat tergantung pada bagaimana mengakomodasikan serta mengontrol kebutuhan masyarakat yang tinggal dan hidup di sekitar mangrove. Usulan penambahan areal konservasi mangrove baru seluas 630. Tipe kolam yang paling sederhana. Gagasan ini juga menyangkut sejumlah besar luasan kawasan mangrove.5 Perkembangan terakhir Berbagai inisiatif dan gagasan telah dikembangkan berkaitan dengan kebijakan nasional dibidang pengelolaan mangrove di Indonesia. dimana kondisi di pulau ini dapat menjadi model pengelolaan mangrove yang penduduknya padat. Kegiatan budi daya air payau di Jawa merupakan fenomena kegiatan tradisional yang telah berlangsung sejak dahulu. Populasi penduduk yang semakin bertambah menyebabkan meningkatnya konversi lahan 353 . termasuk penebangan mangrove untuk keperluan pembangunan tambak. Akan tetapi disadari bahwa pengelolaan mangrove yang baik tidak akan tercapai hanya dengan mengembangkan kebijakan-kebijakan. Yang terpenting diantaranya adalah: Kebijakan nasional dibidang pengelolaan keanekaragaman hayati lautan Strategi nasional dibidang pengelolaan mangrove Kebijakan nasional dibidang pembangunan pedesaan Strategi nasional dibidang pengelolaan jalur hijau pesisir Kebijakan-kebijakan diatas sangat bermanfaat untuk memberikan kejelasan dalam pengelolaan sumber daya mangrove. seperti perangkap ikan dan kepiting dengan membangun pematang di daerah pasang surut. Sebagai contoh yang baik dapat dilihat di Jawa. Diketahui bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat mempengaruhi upaya pengelolaan mangrove. dimana hal ini berkaitan dengan pendapatan mereka yang rendah serta alternatif mata pencaharian yang terbatas. beberapa usulan pemasukan areal baru maupun penambahan luas areal yang telah ada diajukan oleh berbagai organisasi yang bergerak dibidang pelestarian alam. mengukuhkannya menjadi suatu kawasan lindung atau dalam bentuk jalur hijau saja. Menyambut gagasan ini. malah mungkin telah dilakukan lebih awal (Naamin. 5. sekitar tahun 1400-an. Sejarah gangguan terhadap mangrove oleh penduduk setempat di pulau Jawa seringkali dilakukan oleh nelayan.000 hektar disampaikan oleh Asian Wetland Bureau/Wetlands International . mulai dari langkah-langkah yang diambil dilapangan sampai perencanaan tingkat pusat. Departemen Kehutanan mengeluarkan gagasan perlunya pengembangan luasan areal kawasan lindung dari 15 juta hektar menjadi 30 juta hektar. 1987).

Jika ini terlaksana. diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan yang timbul. Sebenarnya. hutanhutan tersebut merupakan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani untuk hutan produksi. Dengan berkembangnya upaya-upaya penanaman mangrove. Selain ikan. upaya produksi kayu seringkali mengalami kegagalan karena pohonpohonnya jarang sekali mencapai ukuran komersial dan jumlahnya yang terbatas. sehingga akan membatasi insentif yang dapat diperoleh dan pengembangan pengelolaan oleh masyarakat setempat. Ironisnya. pada beberapa tahun terakhir ini. dengan sistem silvofishery ini pemanenan kayu mangrove secara berkelanjutan berpotensi tinggi. Hal ini menyebabkan hampir 90 % hutan mangrove hilang. hutan mangrove tersebut menjadi milik Perum Perhutani. pada tahun 1986 Perum Perhutani mulai melaksanakan program Kehutanan Sosial di areal mangrove. hasil ikan yang diperoleh memang sangat rendah bila dibandingkan dengan sistem pengelolaan yang intensif. Untuk mengatasi tingginya laju konversi. kemungkinan sistem tersebut dapat ditularkan ke daerah lain. Secara hukum. banyak usaha-usaha penanaman kembali mangrove dilaksanakan pada tingkat lokal. maka akan dapat meminimalisasi usaha gangguan terhadap hutan mangrove. Dengan sistem ini. Polanya adalah lahan pasang surut seluas 80% sebagai hutan mangrove dan yang 20% digunakan sebagai kolam untuk budidaya ikan. Program ini pada dasarnya adalah merehabilitasi lahan-lahan mangrove yang telah terdegradasi dengan penanaman pohon. serta penduduk setempat melaksanakan berbagai program dan kegiatan penanaman mangrove. dalam mencegah semakin hilangnya areal mangrove. Dalam beberapa tahun kemudian hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi tambak. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengembalikan mangrove sebagai hutan produksi dari penduduk setempat. dimana secara ekologis mangrove masih berfungsi secara optimal dan hasil pendapatan dari budidaya ikan layak untuk memenuhi kebutuhan hidup.mangrove untuk pembangunan tambak serta meningkatkan permintaan terhadap kayu bakar. Berbagai LSM. diharapkan dalam jangka panjang manfaat dan fungsi mangrove dapat berjalan dan dirasakan kembali. Masalah yang dihadapi kebanyakan disebabkan oleh kurang tersedianya peta-peta yang akurat dan statusnya yang tidak jelas. dan membangun saluran untuk budi daya ikan dan udang. tapi sayangnya sebagian besar usaha-usaha penghutanan kembali ini tidak berhasil. yaitu memadukan kegiatan pengelolaan mangrove dengan produksi perikanan (silvofishery). Upaya ini baik sebagai respon terhadap terjadinya erosi di pantai maupun semakin berkurangnya cadangan anakan ikan di pantai. Di lain hal. jika masyarakat memperoleh hasil yang cukup dari sistem tersebut (terutama hasil ikan atau udang). instansi pemerintah pusat dan daerah. Sayangnya. 436 . akan tetapi sistem intensif membutuhkan investasi yang jauh lebih besar. Upaya mengubah perbandingan ukuran luas hutan dan tambak.

400 atau 31 % dari luas areal mangrove Indonesia telah masuk dalam kawasan lindung.500 SM CA CA TN TN TN TN Lampung/ Sumatera 05°30’S/104°15’T Bengkulu Lampung Jabar Sumatera 04°50’S/105°40’T Jawa 06°36’S/105°09’T 373 .000 356.500 165.500 15.VI. Menurut data Dit. dimana 86% diantaranya terdapat di Irian Jaya.363 hektar.099. AREAL MANGROVE YANG DILINDUNGI 6. Tabel 5 berikut merupakan daftar 41 lokasi kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Indonesia. dimana pada lokasi-lokasi tersebut di dalamnya memiliki habitat mangrove.000 17.700* 500* <2. Tabel 5.1 Mangrove dan sistem kawasan lindung Meskipun beberapa areal mangrove di Indonesia telah dimasukan kedalam suatu kawasan lindung.000* <500* 1. areal mangrove seluas 1. Bina Program INTAG (1996).600 hektar sebagai hutan suaka alam dan wisata (tidak termasuk Jawa). Adapun data areal mangrove yang telah dilindungi yang tercatat dari setiap lokasi adalah seluas 551. namun pada kenyataan di lapangan menunjukkan banyak diantaranya yang masih mendapat tekanan yang cukup berarti.700 500 200 6. Dari tabulasi data fungsi hutan/lahan menurut Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Lahan (RPPH/TGHK) tercatat seluas 424. Kawasan lindung di Indonesia yang memiliki habitat mangrove Lokasi Kode Propinsi Pulau WDB (a) Posisi Luas areal Total Mangrove Area (ha) (ha) 11.800 123.800 hektar masuk dalam kategori hutan lindung dan 674.765 Status Karang GadingLangkat Timur Laut (1) Pulau Berkeh Pulau Burung Hutan Bakau Pantai Timur (2) Berbak Sumatera Selatan I Way Kambas Pulau Penaitan SUM-08 Sumut Sumatera SM SUM-14 SUM-25 SUM-36 SUM-38 SUM-48 SUM-51 JAV-01 Riau Riau Jambi Jambi Sumatera Sumatera Sumatera 01°05’S/104°00’T Sumatera 01°10’S/104°20’T 500* 200* 2.

000 94.000* <500 <20 <10 4.000* 750 <500 <200* 300 7.499 TN CA LIPI CA CA SM CA CA TN TN CA TN TN CA TN CA TW SM TN CA CA SM TB SM SM TN SM 438 .000 30 7 56 15.000 38.000* 10.026 25.579 2.000 150.100 19.4 8.000 320.000 50.000* <3.000* <500 300 20 <200 3.127 2.000* 35.15 7.Ujung Kulon Pulau Dua Pulau Pari Pulau Rambut Muara Angke (3) Cikepuh Leuweng Sancang Kepulauan Karimun Jawa Baluran Meru Betiri Nusa Barung Bali Barat Gunung Palung Muara Kendawangan Tanjung Puting Pulau Kaget (4) Pulau Kembang (4) Pleihari Tanah Laut Kutai Marisa Morowali Lampuko-Mampie (5) Watumohae (6) Lambale Tanjung Peropa Komodo Pulau Menipo JAV-36 JAV-03 JAV-04 JAV-05 JAV-07 JAV-14 JAV-16 JAV-21 JAV-27 JAV-31 JAV-32 JAV-33 KAL-06 KAL-07 KAL-11 KAL-18 KAL-19 KAL-21 KAL-36 SUL-03 SUL-11 SUL-28 SUL-30 SUL-33 SUL-36 NUT-06 NUT-12 Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jabar Jateng Jatim Jatim Jatim Bali Kalbar Kalbar Kalteng Kalsel Kalsel Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Sultra Sultra NTB NTB Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Bali Kalimantan Kalimantan Kalimantan 02°55’S/112°00’T Kalimantan Kalimantan 03°12’S/112°32’T Kalimantan 04°20’S/114°31’T Kalimantan 00°18’N/117°20’T Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Komodo Timor 08°35’S/119°30’T 03°25’S/119°30’T 04°30’S/122°00’T 04°45’S/123°05’T 07°15’S/106°27’T 07°45’S/107°55’T 05°48’S/110°40’T 07°50’S/114°25’T 08°21’S/113°49’T 08°27’S/113°22’T 08°10’S/114°30’T 05°58’S/106°42’T 06°01’S/106°12’T 1.000* <2.000 200.000* 7.000 50.600 130.000 82.000 55.000 10 3 18 <2 <200* <50* <1.000 85 60 35.000 <1.000 296.000 6.000 2.

Silvius & Taufik (1989) 6.2 Deskripsi kawasan lindung mangrove per pulau Mangrove tidak terwakili dengan baik pada kawasan lindung yang telah dikukuhkan di Sumatera. akan tetapi tetap belum mewakili suatu habitat mangrove yang baik.500 TN SM CA Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian Irian Jaya Irian 1. Desember 1988.000 11. Pulau Berkeh dan Pulau Burung). 1994 dan Rusila.000 304.560. Pengamatan penulis.Manusela Pulau Baun Yamdena Lorentz Pulau Kimaam (7) Wasur & Rawa Biru MAL-09 MAL-16 MAL-17 IRI-14 IRI-17 IRI-20 Maluku Maluku Maluku Seram Aru Tanimbar 03°00’S/130°00’T 06°35’S/134°05’T <3. serta pengamatan penulis Pengamatan penulis.180 180. 1991). Giesen.363 hektar (86% di Irian Jaya) Catatan: Kecuali disebutkan.250 T N 500. Areal mangrove di SM Karang Gading Langkat Timur Laut (Sumut) hampir seluruhnya telah berubah menjadi habitat sekunder. Kedua lokasi tersebut telah diidentifikasi sebagai habitat penting bagi burung air pengembara serta berbagai jenis burung bangau dan pelatuk besi (Giesen. Desember 1988.000 13. sementara SM hutan Bakau Pantai Timur (Jambi) kondisinya cukup mengkhawatirkan.500 165.000 6. 393 . (a) * 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Kode yang tercantum pada Wetland Data Base yang dikembangkan oleh Wetlands International dan PHPA (1990 – sampai saat ini) Kondisi saat ini dari mangrove tersebut tidak jelas. Beberapa areal lindung mangrove yang lebih kecil juga telah dikukuhkan dan penting bagi burung air (mis.000 3.000* 301. seluruh data diambil dari Silvius.000 SM TN TOTAL AREAL KAWASAN MANGROVE YANG DILINDUNGI: 551. Baltzer & Baruadi (1991).000 1. dkk (1987). mungkin sebagian telah rusak Giesen (1991) (KGLTL) Giesen (1991) (HBPT) Jakarta Post melaporkan konversi areal.

Cilacap yaitu 8. Rusila dkk.000 ha) dan Lariang . 1987. Sebuah usulan telah diajukan untuk menetapkan kawasan lindung yang di dalamnya termasuk 5. 1989). Sumatera Selatan. Mangrove di Lariang . Areal ini diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1989 dan sebenarnya telah disetujui oleh pemerintah setempat (Danielsen & Verheugt. Di Kalimantan.000 hektar di Taman Buru Watumohai (Sultra) sebenarnya telah dikonversikan menjadi tambak. 1991) dan di Sulawesi Tenggara pada tahun 1989 . lebih dari 15.1990 menunjukkan bahwa 2. Sekitar 7. 1989 dan Verheugt.Areal mangrove di Sumatera yang kondisinya masih baik adalah komplek mulut sungai antara Delta Sungai Musi dan Banyuasin. 1987). Areal ini telah diusulkan untuk dilindungi sejak tahun 1980-an. Tanjung Puting (Kalimantan Tengah). yaitu di Sungai Sembilang. Frazier (1992) menyatakan bahwa apabila usulan terakhir dapat diwujudkan.Lumu meskipun arealnya kecil. Survey di Sulawesi Selatan (Giesen. dkk. II Cilacap. 440 .Lumu (7. Areal Mangrove di utara Teluk Bone (23. dkk. Sekitar 1. namun mengkombinasikannya sebagai kawasan konservasi dan kawasan pemanfaatan secara berkelanjutan mungkin merupakan pilihan yang terbaik (White. sayangnya sampai saat ini belum dapat diwujudkan. Pulau Dua di ujung barat Jawa Barat serta CA.) disarankan untuk dijadikan kawasan lindung. Pulau Jawa telah kehilangan sekitar 90% mangrovenya dan hanya sedikit dari areal mangrove yang tersisa masuk kedalam kawasan lindung. Jumlah seluas ini sebenarnya mengandung ketidakjelasan karena survey di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. dkk. sebagian mangrove didaerah ini telah dikonversi menjadi tambak oleh masyarakat. Pulau Rambut di Teluk Jakarta penting sebagai tempat berkembangbiaknya berbagai jenis burung air (Silvius dkk. Luas ini mewakili 8% dari luas mangrove yang ada pada tahun 1990.000 hektar mangrove di Sulawesi telah dikukuhkan sebagai areal lindung.800 ha.700 ha).000 hektar mangrove terdapat di Taman Nasional Gunung Palung dan SM Muara Kendawangan (keduanya di Kalimantan Barat) dan TN. maka kawasan lindung Sembilang . Kawasan lindung mangrove yang terluas di Jawa mungkin di Pulau Panaitan. Areal mangrove terluas yang ada di Jawa saat ini adalah di Segara Anakan. 1991). 1996).957 hektar (BAPPEDA Tk. yang berbatasan dengan Propinsi Jambi (Danielsen & Verheugt.Mampie (Sulsel) dan hampir 3. dkk. 1991).400 hektar mangrove di utara Sungai Lariang (Giesen. Areal lain umumnya hanya memiliki luas yang kecil atau telah rusak. 1989). DI TN Kutai (Kalimantan Timur). tetapi telah berkembang dengan baik dan memiliki tegakan yang telah matang.Berbak akan merupakan kawasan terbaik untuk perlindungan Harimau Sumatera. Jawa Barat (1. Beberapa kawasan lindung mangrove seperti CA.000 hektar areal mangrove di kawasan Lampuko . Meskipun usulan ini telah beberapa kali diajukan termasuk usulan untuk penggabungannya dengan Taman Nasional Berbak. 1998). 1997 dalam PKSPL IPB.000 hektar mangrove terdapat di bagian utara pantai Taman Nasional Ujung Kulon (Hommel.

ternyata habitat rawapun tidak kurang rentannya.180 ha. Heritiera globosa. Allen & Zuwendra (1989).000 hektar telah dikukuhkan di Irian Jaya yaitu di TN. Sayangnya di Kedua lokasi tersebut. Dari jumlah tersebut. C. Sebanyak 32 jenis dari 39 jenis tersebut (yaitu yang terdapat di Indonesia Barat. Jenis lain yaitu Amyema anisomeres diketahui hanya ada di bagian utara Teluk Bone. Dari jenis-jenis tersebut.500 ha). Oberonia rhizophoreti dan Phoenix paludosa. 1994). Jawa. CA.000 hektar mangrove telah dikukuhkan di Maluku yaitu di TN Manusela. Sulawesi Selatan.000 hektar). Luas tersebut nampaknya sudah cukup mewakili. yang paling rentan adalah Phoenix paludosa yang diketahui hidup di Sumatera bagian utara. terutama di Sumatera. 413 . tetapi tidak hanya ditemukan di habitat mangrove). Kepulauan Aru (1. Komodo dan SM Pulau Menipo. paling tidak setengahnya tumbuh di hutan rawa yang berdekatan dengan habitat mangrove. kegiatan pembangunan dilaksanakan dengan pesat dan areal mangrove merupakan salah satu subjek konversi. Tanimbar (10. sebagai akibat dari tekanan pembangunan (Giesen. Wasur (6. Pulau Baun. CA. Areal mangrove seluas lebih dari 472.000 hektar). Sejumlah 38 jenis tumbuhan mangrove sejati maupun mangrove ikutan terdapat hanya di Indonesia Barat.). Areal mangrove yang paling berkembang dengan baik sebenarnya terdapat di Teluk Bintuni.000 hektar areal mangrove telah diusulkan oleh Petocz (1983) dan kemudian diajukan pula oleh Erftemeijer. schultzii.000 hektar sebagai kawasan lindung. Yamdena. Seram (3. Usulan untuk menjadikan areal seluas 450. 6. terdapat 6 jenis yang hanya tumbuh pada habitat mangrove dan kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh hilangnya areal mangrove yaitu Amyema gravis. Camptostemon philippinensis. dan SM.3 Pemeliharaan keanekaragamn hayati mangrove Dari uraian diatas nampak jelas bahwa secara umum mangrove belum terwakili dalam sistem areal lindung di Indonesia. Rusaknya mangrove di Indonesia Barat dan Sulawesi akan mengakibatkan hilangnya jenis-jenis tumbuhan mangrove.Areal mangrove di Nusa Tenggara telah masuk ke dalam kawasan lindung dengan adanya 3. dimana jalur mangrove selebar lebih dari 30 kilometer dan tegakan yang matang tumbuh dengan baik. Sekitar 14. termasuk 250. Kalimantan dan Sulawesi.) dan di TN.000 hektar mangrove di TN.000 hektar). meskipun sebenarnya untuk kepentingan konservasi keanekaragaman hayati akan lebih baik jika areal mangrove di Kei dan Kepulauan Aru juga dilindungi. Pulau Kimaam (165.000 ha. Dari pengamatan di lapangan. Lorentz (301.

Terkait dengan konservasi keanekaragaman hayati. 4. Sungai Sembilang. 2. maka diusulkan agar lokasi-lokasi dibawah ini segera dapat dilindungi : 1. Rhododendron brookeanum dan Ixora timorensis. brookeanum juga relatif langka. R. sementara A. anisomeres bahkan lebih rentan dibandingkan 2 jenis lainnya. yaitu Amyema anisomeres. 442 . Tiga jenis tumbuhan mangrove diketahui endemik untuk Indonesia. Pulau Kimaam Wildlife Identifikasi dan penambahan areal lindung mangrove di Kepulauan Kei dan Aru. termasuk: 1. timorensis hanya ditemukan di luar areal kawasan lindung dan hanya di lokasi yang terbatas. dan hanya ditemukan di beberapa lokasi di Sumatera dan Kalimantan. Lorentz dan SM. hendaknya perhatian diberikan terhadap kerentanan jenis-jenis yang bersifat endemik. upaya pro-aktif nampaknya harus juga dilakukan untuk perlindungan habitat mangrove di Indonesia Timur. 2. Jawa Tengah Bagian utara Sungai Lariang. Dalam jangka panjang. I. Pengukuhan kawasan lindung mangrove Teluk Bintuni Perbaikan pengelolaan di TN. Untuk melindungi keanekaragaman hayati tumbuhan mangrove. Sulawesi Selatan Beberapa lokasi lain di Kalimantan (kemungkinan di Kalimantan Timur) sesuai dengan pengkajian lapangan yang lebih rinci. 3. 3. Sumatera Selatan Segara-Anakan.

VII. Untuk menghindari panas. BEBERAPA PETUNJUK STUDI MANGROVE BAGI PEMULA 7. seperti Watson (1928). sehingga memudahkan pergerakan. Diantaranya adalah menyiapkan baju lengan panjang dari bahan katun atau bahan lain yang menyerap keringat. cairan anti nyamuk dan alat-alat tulis yang tahan kondisi basah. air asin dan terutama nyamuk. pada umumnya menyentuh masalah lokasi. disarankan untuk mempelajari beberapa buku klasik yang menjelaskan informasi mengenai mangrove secara lebih luas. persiapan yang baik adalah salah satu syarat untuk tercapainya tujuan pengamatan. Saenger. 433 . Beberapa tulisan lain yang ditulis oleh penulis luar maupun ilmuwan Indonesia (misalnya Kusmana. pustaka yang bisa ditelusuri antara lain adalah Watson (1928) dan MacNae (1968). LIPI bersama Program MAB Indonesia telah menyelenggarakan seminar ekosistem hutan mangrove yang dapat digunakan sebagai sumber informasi yang cukup memadai. Chapman (1976a). 1997). eksploitasi serta pengelolaan mangrove di Indonesia. Disarankan untuk tidak membawa barang yang tidak terlalu penting. keringat. Beberapa karya tulis klasik yang layak untuk dibaca antara lain van Steenis (1958) yang memberikan informasi umum mengenai mangrove dalam pengantarnya terhadap makalah dari Ding Hou (1958) mengenai Rhizophoraceae. Duke. kelompok jenis atau jenis tertentu. Untuk mempelajari mangrove di Asia Tenggara. 1987). lumpur. melainkan juga memerlukan waktu yang cukup panjang.2 Petunjuk untuk pengamatan lapangan Melakukan pengamatan di habitat mangrove memerlukan lebih dari sekedar buku panduan. termasuk jika sewaktu-waktu harus memanjat pohon mangrove untuk mendapatkan sampel herbarium atau keperluan lainnya. Untuk mengetahui informasi mengenai cara budidaya mangrove dapat dibaca Pedoman Pembuatan Persemaian dan Penanaman Mangrove oleh Kusmana (1998) atau Panduan Teknis Penanaman Mangrove bersama Masyarakat oleh Khazali (1999). Sejak awal tahun 80-an sampai saat ini. teropong dan alat tulis saja. MacNae (1968). dkk.1 Pustaka penting Bagi mereka yang ingin mempelajari mangrove lebih rinci dan mendalam. Pengamatan di lingkungan mangrove seringkali harus menggunakan perahu atau sampan. Studi yang komprehensif mengenai mangrove di Indonesia belum begitu banyak. stamina yang baik serta ketahanan terhadap udara panas. dkk (1984) dan Duke (1992). serta bab mengenai mangrove yang ditulis oleh Whitten dkk. dkk (1983). (1984. 7. Sebelum melakukan pengamatan. Tomlinson (1986).

tumbuhan pada habitat mangrove tidaklah setinggi pohon-pohon di hutan hujan tropis. fauna permukaan dan dalam tanah serta tipe perakaran) kondisi ini kurang mendukung. pengamatan pada habitat mangrove juga memiliki kesulitan tersendiri. tanggal. Untuk perjalanan yang lebih lama. dan buah dari pohon yang akan diidentifikasi. mudah terbakar dan mudah menguap. walaupun untuk keperluan lainnya (misalnya pengamatan tanah. Untuk itu perlu disediakan kantung plastik serta kotak plastik tahan air untuk menyimpan peralatan tersebut. perlu dibuat koleksi tumbuhan. bunga. pengamatan vegetasi di habitat mangrove relatif lebih mudah.35 spesimen dibutuhkan 1 liter methylate spirit. Untuk 25 . Jika waktu pengamatan tidak memungkinkan. dan kemudian ditaburi methylate spirit. dan habitat. Berperahu di lingkungan mangrove akan sangat dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.sebaiknya gunakan topi yang dapat menyerap keringat. Hal ini berarti bahwa hampir setiap saat dapat ditemukan pohon yang memiliki bunga atau buah yang akan memudahkan identifikasi jenis pohon. Air laut sangat “jahat” terhadap kamera serta peralatan optis lainnya. sehingga pengamat harus memfokuskan perhatiannya pada perbedaan kulit kayu. spesimen dapat disimpan dalam kantung pelastik yang tahan air dan sama sekali tidak terbuka terhadap udara luar. karena terbatasnya jenis tumbuhan serta sifat perbungaannya yang tidak terlalu musiman. Biasanya dengan cara ini spesimen masih bisa diidentifikasi selama 2 . 444 . Sebagian besar bentuk pohonnya memiliki kesamaan. Lihatlah daftar pasang-surut. Identifikasi dapat dilakukan kemudian di laboratorium dengan membuat catatan mengenai lokasi. Spesimen sebaiknya disimpan diantara kertas koran yang dijepit oleh bambu atau tripleks. bahan ini cukup mahal. atau melindungi saat kita mengambil photo pada saat hujan. Meskipun demikian.3 Spesimen tumbuhan mangrove Dibandingkan dengan pengamatan di hutan tropis. melelahkan dan menguras keringat. Kelemahannya. yakni dengan mengambil daun. Lebih dari itu. karena itu air minum dan makanan kecil secukupnya perlu dipersiapkan. karenanya perlu perencanaan matang.3 hari kemudian. Payung kecil kadang-kadang juga sangat bermanfaat untuk melindungi diri dari panas atau hujan. Melakukan pengamatan di habitat mangrove cukup menyita waktu. tipe akar serta bunga/buahnya. tipe perakaran. 7. Air tinggi biasanya akan lebih memudahkan kita untuk mencapai tujuan tertentu.

kemudian dicatat tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang di dalam dan disinggung garis tersebut.000 yang melingkupi hampir seluruh wilayah Indonesia. gabungan kedua metoda tersebut akan memberi hasil yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Transek kemudian dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya. Selain peta. Peta topografi dapat diperoleh di BAKOSURTANAL. Cara termudah melakukan pengamatan di lapangan adalah dengan melakukan transek. sangat membantu jika memiliki peta topografi serta peta tematik. baik secara visual maupun dengan menggunakan perangkat lunak komputer tertentu. Pada dasarnya terdapat dua metoda transek yang dapat dipakai. serta beberapa lainnya. Bagaimanapun. Jakarta. citra inderaja juga sangat membantu perencanaan studi. (1994). Sementara untuk fauna vertebrata diantaranya disajikan dalam Sasekumar (1984) dan English et al. yaitu membuat garis transek dengan panjang tertentu (misalnya 100 meter atau 500 meter) dengan lebar 10 sampai 20 meter. termasuk sabuk mangrove yang umumnya memiliki kharakteristik lokasi yang berbeda. dan biasanya bisa diperoleh di LAPAN. Metoda kedua juga pada prinsipnya sama. metoda yang dilakukan tidak banyak berbeda dengan metoda yang biasa digunakan di daratan. 7. Peta tersebut mencakup Sistem Lahan serta tipe tata guna lahan dan hutan yang akan sangat bermanfaat dalam studi vegetasi. sementara peta tematik yang paling memadai saat ini adalah yang diproduksi oleh RePPProT (the Regional Physcial Planning Programme for Transmigration) dengan skala 1 : 250.5 Studi Fauna Untuk keperluan studi fauna vertebrata. kemudian dicatat seluruh tumbuhan (jenis dan jumlah individu) yang tumbuh dalam lebar tersebut. Pada metoda yang pertama. kecuali dalam metoda ini dibuat plot-plot (misalnya luas 100 m2/radius 5 m) dengan jarak antar plot pada garis (misalnya 20 m). Pada citra inderaja yang memadai dapat membedakan zona vegetasi yang berbeda. 453 . Jawa Barat. dkk (1994).4 Studi vegetasi Untuk pengamatan vegetasi. Metoda-metoda diatas antara lain dijelaskan dengan lebih rinci oleh Chapman (1984) dan English. yaitu transek garis (strip sampling) dan transek plot garis (line plot sampling). Khusus untuk burung air (bermigrasi) disarankan untuk menggunakan Howes (1989) dan Rusila (1999). antara tahun 1985 1992.7. Pengamatan di lapangan kemudian akan memberikan informasi yang lebih baik. Cibinong. terutama karena peta serta citra saja tidak akan memberikan keterangan yang memadai mengenai kondisi yang sebenarnya di lapangan. Untuk mengetahui informasi mengenai analisis vegetasi hutan (termasuk mangrove) dapat dibaca buku Metoda Survey Vegetasi yang disusun oleh Kusmana (1997).

Japan. Box 168 Bogor. 0251-621244. 021-7940403 SEAMEO-BIOTROP Southeast Asia Regional Center for Tropical Biology. Fakultas Kehutanan IPB. Tel. 3. Laboratorium Ekologi Hutan. Bogor 16152. 7. Jakarta.6601/6602 (fax) 446 . 4. 0251-621086 Organisasi Internasional 1. Gatot Subroto. Arzimar III No. Yayasan Mangrove Jl. Jakarta.Pengamatan fauna invertebrata pada habitat mangrove umumnya berkaitan dengan zonasi. Fax. Tel. pemilahan dan identifikasi jenis. Departemen Kehutanan Gedung Manggala Wanabhakti. PO. Teknik yang digunakan biasanya dilakukan dengan menggunakan pengambilan sampel lumpur. Ditjen Perlindungan dan Konservasi Alam (PKA).81. Tel. Box 254/BOO. Ancol Timur. Lt. km 6/P.6 Alamat-alamat penting terkait dengan kegiatan di lingkungan mangrove Organisasi/institusi nasional 1. Blok VII. Jakarta Utara. 4. pola distribusi vertikal (khususnya berkaitan dengan pasang surut air laut) dan fauna bawah tanah. 5. xx. Box 17. Pancoran Indah. 7. University of the Ryukyus. PO. P3O . Nishihara.O. A III/4. Tel. North Sumatra. Raya Tajur. Tel. 0251-323848. 7. 021-5720227 2.895.LIPI Jl.98. Liga Mas Indah. Jl. 6. Tel. Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan IPB. Indonesia. Erlangga No. Kampus IPB Darmaga.O. International Society for Mangrove Ecosystems (ISME). 1. Medan 20112. Box 286 Tel.: 0251-312189. 0251-621086/624815. Yayasan Indonesia untuk kemajuan desa (YASIKA) Jln. tel. pengayakan. Pasir Putih No. Tel/fax. Wetlands International . Bogor. ISME Secretariat. 061-516338/535016.: 021. c/o College of Agriculture. 0251-325755 2. densitas./Fax. 16-B. Okinawa 903-01.682287/683850/ 681948(fax). Jurusan Manajemen Hutan. Jl. P. Fax 061-516338. Bogor 16002 Tel. Subdit Perairan. 17. produktivitas.Indonesia Programme Jl. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut IPB Gedung Marine Center Lt.

473 .

ebracteatus. Bunga hanya mempunyai satu pinak daun utama. sedangkan bunganya sendiri 2-2. ilicifolius. Daun : Pinggiran daun umumya rata kadang bergerigi seperti A. Deskripsi umum : A. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat.volubilis sebagai satu jenis. Panjang tandan bunga lebih pendek dari A. ilicifolius (lihat halaman berikutnya). biji 5-7 mm. Dari India sampai Australia Tropis. Daun mengobati reumatik. Ketika tumbuh bersamaan dengan A.ilicifolius dan A. kadang agak putih di bagian ujungnya. karena yang sekunder biasanya cepat rontok. Berbunga pada bulan Juni. ebracteatus hampir sama dengan A. Formasi: bulir. berlawanan. ilicifolius. Ukuran: 7-20 x 4-10 cm. Manfaat : Buah digunakan sebagai “pembersih” darah serta untuk mengatasi kulit terbakar. Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung cerah. Letak: di ujung.5 cm. A. akan tetapi sering sekali membingungkan. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun. Unit & Letak: Sederhana.Acanthus ebracteatus Vahl ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju putih. Catatan : 448 . Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. ilicifolius keduanya memperlihatkan adanya karakter yang berbeda sebagaimana diuraikan dalam deskripsi.53 cm. Terdapat di seluruh Indonesia. Ukuran: Buah panjang 2. Ujung: meruncing. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. tetapi seluruh bagiannya lebih kecil. dan Kepulauan Pasifik Barat. Bentuk: lanset. Filipina.

daun 493 . buah. b. c.Acanthus ebracteatus daun bunga buah a c b a. bunga.

Biji tertiup angin. Biasanya pada atau dekat mangrove. sangat jarang di daratan. Formasi: bulir. sampai sejauh 2 m. Catatan : 450 . agak berkayu. Cabang umumnya tegak tapi cenderung kurus sesuai dengan umurnya. daruyu. Daun mengobati reumatik. Percabangan tidak banyak dan umumnya muncul dari bagian-bagian yang lebih tua. Terdapat kecenderungan untuk memperlakukan A. Bentuk: lanset lebar.Acanthus ilicifolius L. darulu. yang memiliki kemampuan untuk menyebar secara vegetatif karena perakarannya yang berasal dari batang horizontal. Ukuran: buah panjang 2. Deskripsi umum : Herba rendah. biji 10 mm. Panjang tandan bunga 10-20 cm. berlawanan. A. Biji konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung. Di Bali berbuah sekitar Agustus. Filipina dan Kepulauan Pasifik barat. Unit & letak: sederhana. Terdapat di seluruh Indonesia. ACANTHACEAE Nama setempat : Jeruju hitam. Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. ebracteatus. Bunga memiliki satu pinak daun penutup utama dan dua sekunder.53 cm. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. volubilis sebagai satu jenis. Memiliki kekhasan sebagai herba yang tumbuh rendah dan kuat. Dari India hingga Australia tropis. sehingga membentuk bagian yang besar dan kukuh. tepi daun bervariasi: zigzag/bergerigi besar-besar seperti gergaji atau agak rata dan secara gradual menyempit menuju pangkal. kadang agak putih. ilicifolius dan A. Letak: di ujung. Pinak daun tersebut tetap menempel seumur hidup pohon. Bunga kemungkinan diserbuki oleh burung dan serangga. Akar udara muncul dari permukaan bawah batang horizontal. ketinggian hingga 2m. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. Daun : Dua sayap gagang daun yang berduri terletak pada tangkai. kuat. sedangkan bunganya sendiri 5-4 cm. Pohon juga dapat digunakan sebagai makanan ternak. terjurai di permukaan tanah. Perasan buah atau akar kadang-kadang digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun. Manfaat : Buah ditumbuk dan digunakan untuk “pembersih” darah serta mengatasi kulit terbakar. Permukaan daun halus. Ujung: meruncing dan berduri tajam. Ukuran: 9-30 x 4-12 cm.

Acanthus ilicifolius daun bunga buah a b c a. buah. b. bunga. daun 513 . c.

wrekas. Daun digunakan sebagai dan alas ternak. berwarna hitam.speciosum. dan individu mudanya lebih kemerahan dibandingkan dengan A. Terdapat di seluruh Indonesia. Seringkali keliru dengan A. paku cai. seperti areal mangrove yang telah ditebangi yang kemudian akan menghambat tumbuhan mangrove untuk beregenerasi. Kelimpahan : Sangat melimpah setempat. hata diuk. sementara pada A. Pinak daun letaknya berjauhan dan tidak teratur.speciosum. A.bercampur dengan urat yang sempit dan tipis. Daun mudanya dilaporkan dimakan di Timor dan Sulawesi Utara. Pengenalan yang paling mudah adalah dengan melihat ujung daunnya. Batang timbul dan lurus.aureum lebih tinggi. mangrove varen. krakas. menebal di bagian tengah. PTERIDACEAE Nama setempat : Piai raya. tipis ujungnya.speciosum yang kecoklatan. Secara umum. Pinak daun terbawah selalu terletak jauh dari yang lain dan memiliki gagang yang panjangnya 3 cm. Menebal di bagian pangkal.speciosum runcing-memanjang. Ujung daun fertil berwarna coklat seperti karat.aureum pada umumnya agak tumpul. Daun: Panjang 1-3 m. Ujung pinak daun yang steril dan lebih panjang membulat atau tumpul dengan ujung yang pendek.Acrostichum aureum Linn. Spora besar dan berbentuk tetrahedral. Manfaat : Akar rimpang dan daun tua digunakan sebagai obat. coklat tua dengan peruratan yang luas. A. Sisik yang luas. hanya terdapat di bagian pangkal dari gagang. sepanjang kali dan sungai payau serta saluran. Peruratan daun menyerupai jaring. Ditemukan di bagian daratan dari mangrove. panjang hingga 1 cm.speciosum. jenis ini menyukai areal yang terbuka terang dan disinari matahari. pucat. kala keok. memiliki tidak lebih dari 30 pinak daun. paku laut. Tidak seperti A. tinggi hingga 4 m. Bagian bawah dari pinak daun tertutup secara seragam oleh sporangia yang besar. tetapi dengan titik yang kecil. besar. Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. Tingkat toleransi terhadap genangan air laut tidak setinggi A. Catatan : 452 . Deskripsi umum : Ferna berbentuk tandan di tanah. ditutupi oleh urat besar. Ferna tahunan yang tumbuh di mangrove dan pematang tambak. wikakas. Duri banyak. Biasa terdapat pada habitat yang sudah rusak.

daun.Acrostichum aureum pohon b a c d a. ujung pinak daun. pohon 533 . d. b. spora. c.

Tumbuh pada areal mangrove yang lebih sering tergenang oleh pasang surut. panjang hingga 1 cm. Kelimpahan : Melimpah setempat. Pinak daun berukuran kira-kira 28 x 10 cm. pada umumnya panjangnya kurang dari 1 m dan memiliki pinak daun fertil berwarna karat pada bagian ujungnya. Peruratan daun berbentuk jaring. Jenis ini berbeda dengan A. Manfaat : Daun digunakan sebagai alas kandang ternak.aureum dalam hal ukuran pinak daunnya yang lebih kecil dan ujungnya meruncing. permukaan bagian bawah pinak daun yang fertil berwarna coklat tua dan ditutupi oleh sporangia. tertutup secara seragam oleh sporangia besar. Sisik luas. membentuk tandan yang kasar dengan ketinggian hingga 1. Biasanya menyukai areal yang terlindung. Deskripsi umum : Ferna tanah. Spora besar dan berbentuk tetrahedral . “Kecambah” (sebenarnya “bibit spora”) berlimpah pada bulan Januari hingga April (di Jawa). Daun : Sangat mencolok. Khususnya tumbuh pada gundukan lumpur yang “dibangun” oleh udang dan kepiting. Sisik menebal di bagian tengah. Pinak daun yang steril memiliki ujung lebih kecil dan menyempit. Ekologi : Penyebaran : Asia dan Australia tropis.Acrostichum speciosum Willd.5 m. serta daun mudanya berwarna hijau-kecoklatan. Di seluruh Indonesia. Sisik pada akar rimpang panjangnya hingga 8 mm. Ferna tahunan. Daun yang fertil dihasilkan pada bulan Agustus hingga April. 454 . hanya terdapat di bagian pangkal daun. PTERIDACEAE Nama setempat : Piai lasa.

d. spora. pohon 553 .Acrostichum speciosum pohon b a c d a. daun. ujung pinak daun. b. c.

Formasi: payung (ada banyak bunga). Kelopak Bunga: 5. Kelimpahan : Umum. Kadang-kadang memiliki akar tunjang. Daun Mahkota: 5. Diameter batang sampai 20 cm. bentuk tabung. Bunga dari kedua jenis tumbuhan ini memiliki perbedaan karakteristik yang tidak terlalu penting. sedangkan buah yang matang tumbuh pada bulan Januari . memiliki 5 sudut. A. Gagang daun panjangnya 8 cm.5-3 meter. Tandan bunga yang asimetris memiliki banyak bunga. Juga tumbuh pada daerah yang lebih berpasir dan berkarang serta tergenang oleh air dengan salinitas yang sama dengan air laut (pada akhir musim kering). Daun : Terdapat lobang longitudinal dan kelenjar garam. bengkak pada bagian pangkal dan memiliki tekstur seperti busa. akan tetapi penggunaannya belum pernah dilaporkan. Di Australia.Maret.November. Ukuran: 6-9 x 2-5 cm. PLUMBAGINACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Letak: di ujung tandan/ tangkai bunga. tumpang tindih. halus dan kemudian bercelah sejalan dengan bertambahnya umur. Maluku. Burma. Tumbuh pada daerah mangrove terbuka sebagai individu yang terpisah atau dalam kelompok kecil. Biasanya memiliki akar yang menjalar pada permukaan tanah. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. 456 . perbungaan terjadi pada bulan September . A. annulata dan A. Ujung: meruncing. pada mangrove yang rendah dengan substrat lumpur. putih kadang abu-abu pucat. 5-8 mm. rotundifolia memiliki daerah penyebaran yang tidak bersambung. Manfaat : Catatan : Memiliki kandungan tanin yang sangat tinggi. umumnya memiliki ketinggian 1. 7-8 mm. Thailand dan Kepulauan Andaman. Kulit kayu bagian luar berwarna hitam. dan ranting dengan goresan berbentuk cincin. Bentuk: lanset seperti pedang.Br. Buah berbentuk kapsul melengkung. Ukuran: 3-4 x 4-5 cm. kadang-kadang dijumpai sebagai pohon sampai 7 meter tingginya. PNG dan Australia Utara. Penyerbukan dilaporkan dibantu oleh semut. rotundifolia terdapat di Bangladesh. Deskripsi umum : Semak kecil.Aegialitis annulata R. berwarna kemerahan ketika telah matang. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kepulauan Sunda kecil.

buah. c. bunga. daun. d.Aegialitis annulata a c b d a. pohon 573 . b.

ditutupi rambut pendek halus. Buah berwarna hijau hingga merah jambon (jika sudah matang). Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka. bercelah.Aegiceras corniculatum (L. Kulit kayu bagian luar abu-abu hingga coklat kemerahan. tudung laut. Daun muda dapat dimakan.) Blanco MYRSINACEAE Nama setempat : Teruntun. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. serta memiliki sejumlah lentisel. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga. serta di bagian tepi dari jalur air yang bersifat payau secara musiman. Australia dan Kepulauan Solomon. Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips. Dalam buah terdapat satu biji yang membesar dan cepat rontok. permukaan halus.5 cm. kacangan. gedangan. Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian pohon mencapai 6 m. seluruh Indonesia.7 cm. duduk agung. gigi gajah. perpat kecil. Malaysia. klungkum. tanah dan cahaya yang beragam. seringkali bercampur warna agak kemerahan. terang. dengan masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 8-12 mm. 5-6 mm. Kelimpahan : Umum. Kelopak Bunga: 5. Biji tumbuh secara semi-vivipar. Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion. Daun Mahkota: 5. Memiliki toleransi yang tinggi terhadap salinitas. kacang-kacangan. Akar menjalar di permukaan tanah. Papua New Guinea. Bunga digunakan sebagai hiasan karena wanginya. teruntung. dan kemungkinan diserbuki oleh serangga. membengkok seperti sabit.. Kayu untuk arang. putih. Buah dan biji telah teradaptasi dengan baik terhadap penyebaran melalui air.5 cm dan diameter 0. Ukuran: 11 x 7. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. Ukuran: panjang 5-7. Formasi: payung. Ujung: membundar. 458 . berwarna hijau mengkilat pada bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. Cina selatan. kayu sila. putih . perepat tudung. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Manfaat : Kulit kayu yang berisi saponin digunakan untuk racun ikan.hijau. seringkali tumbuh dalam kelompok besar. Mereka umum tumbuh di tepi daratan daerah mangrove yang tergenang oleh pasang naik yang normal. Biasanya segera tumbuh sekelompok anakan di bawah pohon dewasa. dimana embrio muncul melalui kulit buah ketika buah yang membesar rontok. di beberapa daerah agak melimpah. Daun : Daun berkulit.

bunga. buah. c. pohon 593 .Aegiceras corniculatum daun bunga buah a c b d a. b. d. daun.

hijau. bentuk agak lurus. Jawa Timur. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. tercatat pula tumbuh pada substrat berkarang. putih. Pengetahuan tentang jenis ini sangat terbatas. Ukuran: 3-6 cm Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 4-6 mm. Tumbuh di daerah mangrove. Sulawesi. Kelimpahan : Jarang dan tersebar. bagian bawah hijau pucat kadang kemerahan. 460 . Buah berwarna hijau hingga merah. Daun Mahkota: 5. Kulit kayu bagian luar berwarna abu-abu hingga coklat. Letak: di ujung tandan/tangkai bunga. Unit & Letak: sederhana & bersilangan.Aegiceras floridum R. seluruh Filipina hingga Indo Cina. Kelopak bunga: 5. Ukuran: panjang 3 cm dan diameter 0. pada tepi pantai berpasir hingga tepi sungai. Maluku. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan Utara. bagian atas terang dan hijau mengkilat. Formasi: payung. Manfaat : Tidak tahu. bercelah dan memiliki sejumlah lentisel.7 cm. 4 mm. Ujung: membundar. Daun : Berkulit. Bali. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. putih. Bentuk: bulat telur terbalik. Akar menjalar di permukaan tanah. MYRSINACEAE Nama setempat : Mange-kasihan Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian mencapai 4 m. ditutupi rambut pendek halus.& S. Buah berisi satu biji memanjang dan cepat rontok.

b.Aegiceras floridum daun & buah bunga a b c a. bunga. daun 613 . buah. c.

5 mm. panjang 4-7 mm. Kelopak Bunga: berbentuk corong. Formasi: payung (3 bunga). 462 . Letak: di ketiak daun. Ukuran: 5. Unit & Letak: sederhana & bersilangan. memiliki percabangan bulat. Manfaat : Catatan : Tidak tahu.5-3 cm. Tandan bunga terdapat secara tunggal atau berpasangan.5 x 1. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. panjang 19-20 mm. Mungkin endemik di Sulawesi. Gagang bunga bulat. kepala sari bulat panjang. panjang 2. Ujung: meruncing.5 mm. Tidak diketahui Hanya terkoleksi satu kali pada pohon Rhizophora.10 mm. karena hanya terkolesi satu kali di Kampung Lato-u dekat Malili. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Mungkin sangat langka.Amyema anisomeres Dans. Benang sari: panjangnya 1. Mungkin sangat terbatas. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Satu dari sedikit tumbuhan mangorve endemik di Indonesia. Daun Mahkota: merah muda. Daun : Daun tersebar.5 mm. Deskripsi umum : Epifit parasit. Sulawesi Selatan. hampir silindris. dengan 4 atau 5 daun mahkota tumpul berukuran 3.5-8. halus. pangkal daun menyempit pada gagang yang panjangnya 8 .

buah. daun 633 . b. c. bunga.Amyena anisomeres b a c a.

biasanya menggantung. 464 . Daun mahkota bunga berwarna merah serta pangkal berwarna kuning-kehijauan. Ujung: membundar.5-1 m. panjangnya 0. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Hemi-parasit pada Avicennia. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu. Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat. Tandan bunga tumbuh soliter pada ketiak daun. Setiap tandan memiliki 2-3 gagang yang berisi bunga. Malaysia. Tidak diketahui. Manfaat : Tidak tahu. Daun : Bunga : Memiliki daun yang tebal. Rhizophora dan Sonneratia. Deskripsi umum : Hemi-parasit. Kepulauan Kangean dan Jawa Timur. Ukuran: panjang hingga 5 cm. Bentuk: bulat telur terbalik. Perbungaan sepanjang tahun. Kalimantan.Amyema gravis Dans.

bunga. b. buah.Amyena gravis a b a c a. c. daun 653 .

Ujung: membundar.) Dans. Deskripsi umum : Parasit epifit dengan batang halus yang membesar pada bagian buku serta memiliki banyak cabang. Bentuk: bulat telur. Manfaat : Catatan : Tidak tahu.5-2. Ukuran: 2. Papua New Guinea dan dekat Merauke (Irian Jaya). dikelilingi oleh daun kelopak bunga yang berurutan. 466 . Warna daun mahkota bunga tidak diuraikan dalam pustaka.Amyema mackayense (Blake.5 cm. Australia Utara. Kepala sari panjangnya 1. Buah elips. Tangkai benang sari yang menopang kepala sari berukuran 3-5 mm. Daun : Daun berbentuk seperti sendok lebar dengan gagang daun sepanjang 6-15 cm. Parasit eksklusif pada mangrove.5 mm. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Melimpah setempat. Unit & Letak: sederhana & bersilangan.5-4 x 1. LORANTHACEAE Nama setempat : Tidak tahu.

daun 673 . bunga. buah. b.Amyena mackayense a b a b c a. c.

Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan. Ukuran: 4 x 2 cm. serta di sepanjang garis pantai. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Buah dapat dimakan. mangi-mangi putih. Akar nafas biasanya tipis. Dari India sampai Indo Cina. kuning cerah. bagian atas hijau mengkilat. PNG dan Australia tropis. Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. Formasi: bulir (ada 10-30 bunga per tandan). 3-4 mm. boak. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. Bentuk: lanset (seperti daun akasia) kadang elips. Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung. 468 . Benang sari: 4.Avicennia alba Bl. sementara yang lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. Hijau muda kekuningan. koak. Getah dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. bawahnya pucat. dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah. kadangkadang ditemukan serbuk tipis. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m. Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas tandan. Letak: di ujung/pada tangkai bunga. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. Kelimpahan : Melimpah. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar. juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut. Kelopak Bunga: 5. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Seperti kerucut/cabe/mente. beberapa ditumbuhi tonjolan kecil. Daun : Permukaan halus. Ukuran: 16 x 5 cm. Ujung: meruncing. Daun Mahkota: 4. Pada bagian batang yang tua. melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina.

d.Avicennia alba daun bunga buah a c d b a. c. b. pohon 693 . buah. bunga. daun.

Setengah bagian atas dari bakal buah memiliki bulu. Daun Mahkota: warna putih. 470 . Manfaat : Catatan : Digunakan sebagai kayu bangunan dan kayu bakar. Kulit kayu bagian dalam berwarna seperti jerami padi sampai coklat pucat. ex Miq. Buah berwarna kuning kehijauan. Ukuran: Panjang kurang dari 3 cm. Kelimpahan : Umum. berwarna coklat kekuningan atau hijau. Letak: di ujung. Benang sari: berwarna ungu tua hingga coklat.) Moldenke AVICENNIACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. dan juga pada bagian pinggir atau tengah daratan dari rawa mangrove. Ukuran: 4-16 cm x 1-4 cm. Tumbuh di pulau-pulau lepas pantai yang berkarang. Bunga berdiameter 3-4 mm. Unit & Letak: sederhana. Kulit kayu luar halus bercoreng-coreng. kuning atau merah muda. tidak memiliki mulut buah yang nyata. Bentuk: bulat memanjang. panjang 2-5 mm. Deskripsi umum : Semak atau pohon dengan ketinggian mencapai 17 meter. Kelopak Bunga: hijau pucat. Kayu berwarna putih sampai seperti jerami.5 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di Irian Jaya dan PNG. Bunganya mirip bunga Avicennia marina. Daun : Permukaan bagian atas hijau muda sampai hijau tua atau hijau kecoklatan dan kuning kehijauan pada bagian bawah. Formasi: bulir. mengelupas pada bagian-bagiannya yang tipis. Tandan bunga membesar di ujung dengan panjang sampai 2. bagian luar berambut pendek. Seperti jenis lain pada genus ini. mereka seringkali bersifat vivipar. berlawanan. Ujung: meruncing.Avicennia eucalyptifolia (Zipp.

pohon 713 .Avicennia eucalyptifolia pohon a b a. daun. b.

Avicennia lanata (Ridley). daerah yang kering dan toleran terhadap kadar garam yang tinggi. Kulit kayu seperti kulit ikan hiu berwarna gelap. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/ tandan bunga. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan. Ukuran: 9 x 5 cm. kuning pucat-jingga tua. Lombok. Memiliki akar nafas dan berbentuk pensil. bau menyengat. Tumbuh pada dataran lumpur. warna hijau-agak kekuningan. Kelimpahan : Tidak diketahui. Daun : Memiliki kelenjar garam. 472 . ujungnya berparuh pendek dan jelas. 4-5 mm. coklat hingga hitam. Formasi: bulir (8-14 bunga). Kelopak Bunga: 5. bagian bawah daun putih kekuningan dan ada rambut halus. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar. Benang sari: 4 Buah seperti hati.Februari dan berbuah antara bulan November hingga Maret. Semenanjung Malaysia. Ujung: membundar – agak meruncing. Daun Mahkota: 4. Diketahui (di Bali dan Lombok) berbunga pada bulan Juli . dapat mencapai ketinggian hingga 8 meter.5 cm. Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya). Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kalimantan. tepi sungai. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: elips. Ukuran: sekitar 1.5 x 2. Bali. Singapura. Bergerombol muncul di ujung tandan.

b. buah. c. bunga. daun 733 .Avicennia lanata daun buah pohon a b c a.

api-api abang. Backer & Bakhuizen van den Brink (19638) hanya menyebutkan varietas A. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di Afrika. Merupakan tumbuhan pionir pada lahan pantai yang terlindung. Buah dapat dimakan.) Bakh. pai. Manfaat : Daun digunakan untuk mengatasi kulit yang terbakar. akar nafas tegak dengan sejumlah lentisel.5 cm.abu-abu muda. Jenis ini merupakan salah satu jenis tumbuhan yang paling umum ditemukan di habitat pasang-surut. pejapi. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Bagian bawah daun putih. kadang-kadang bersifat vivipar. bahkan di tempat asin sekalipun. Berbuah sepanjang tahun. Buah membuka pada saat telah matang. Seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan. Akarnya sering dilaporkan membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan tanah timbul. Buah agak membulat. Ditemukan di seluruh Indonesia.) Vierh. Ranting muda dan tangkai daun berwarna kuning. kuning pucat-jingga tua. tidak berbulu. sie-sie. Buah dapat juga terbuka karena dimakan semut atau setelah terjadi penyerapan air. ketinggian pohon mencapai 30 meter. intermedia (Griff. Ujung: meruncing hingga membundar. Kayu menghasilkan bahan kertas berkualitas tinggi. Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya) dan ujung buah agak tajam seperti paruh. 5-8 mm. bau menyengat. Daun : Bagian atas permukaan daun ditutupi bintik-bintik kelenjar berbentuk cekung. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Ukuran: sekitar 1. melalui lapisan dorsal. berwarna hijau agak keabu-abuan. Resin yang keluar dari kulit kayu digunakan sebagai alat kontrasepsi. nektar banyak. Formasi: bulir (2-12 bunga per tandan). Polynesia dan Selandia Baru. Bentuk: elips. Sedang dilakukan revisi taksonomi. bulat memanjang. Kelimpahan : Melimpah. Amerika Selatan. Australia. Jenis ini dapat juga bergerombol membentuk suatu kelompok pada habitat tertentu. hajusia. Memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit dan berbentuk pensil (atau berbentuk asparagus). Kulit kayu halus dengan burik-burik hijau-abu dan terkelupas dalam bagian-bagian kecil. Benang sari: 4. memiliki kemampuan menempati dan tumbuh pada berbagai habitat pasang-surut. Ukuran: 9 x 4.5x2. Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar.Avicennia marina (Forsk. Kelopak Bunga: 5.5 cm. Catatan : 474 . Daun Mahkota: 4. Daun digunakan sebagai makanan ternak. nyapi. sia-sia putih. bulat telur terbalik. Asia. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api putih.

pohon 753 .Avicennia marina daun bunga buah a c d b a. bunga. daun. buah. c. b. d.

Permukaan buah agak keriput dan ditutupi rapat oleh rambut-rambaut halus yang pendek. seringkali tertutup oleh rambut halus dan pendek pada kedua permukaannya. bau menyengat. khususnya di sepanjang sungai yang dipengaruhi pasang surut dan mulut sungai. Susunan seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan. merahu. Bentuk: bulat telur terbalik. Tumbuh di bagian pinggir daratan rawa mangrove. 476 . Daun mahkota bunga terbuka tidak beraturan. Getah kayu dapat digunakan sebagai bahan alat kontrasepsi. sia-sia putih. Berbunga sepanjang tahun. Deskripsi umum : Pohon. biasanya memiliki ketinggian sampai 12 m. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Kelimpahan : Umum. bulat memanjang-bulat telur terbalik atau elipsbulat memanjang. semakin tua warnanya semakin hitam. Daun : Berwarna hijau tua pada permukaan atas dan hijau-kekuningan atau abu-abukehijauan di bagian bawah. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tersebar di seluruh Indonesia. Daun Mahkota: 4. Ujung: membundar. Formasi: bulir (2-10 bunga per tandan). Kelopak Bunga: 5.5 x 6 cm. Kulit kayu bagian luar memiliki permukaan yang halus berwarna hijau-keabu-abuan sampai abu-abu-kecoklatan serta memiliki lentisel. Ukuran: 12. api-api kacang. api-api daun lebar. Permukaan atas daun ditutupi oleh sejumlah bintikbintik kelenjar berbentuk cekung. Manfaat : Buah dapat dimakan. Kayunya dapat digunakan sebagai kayu bakar. Ukuran: Sekitar 2x3 cm. warna kuning kehijauan. ujungnya berparuh pendek. berbentuk jari dan ditutupi oleh sejumlah lentisel. kuning-jingga. Pada umumnya memiliki akar tunjang dan akar nafas yang tipis. papi. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Juga tersebar dari India selatan sampai Malaysia dan Indonesia hingga PNG dan Australia timur. api-api ludat. menyempit ke arah gagang. 1015 mm. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga.Avicennia officinalis L. lebih panjang dari daun mahkota bunga. Benang sari: 4. Bentuk seperti hati. bahkan kadang-kadang sampai 20 m. marahuf.

b. c. pohon 773 . buah.Avicennia officinalis buah daun & bunga a c b d a. d. daun. bunga.

Bentuk: elips. bius. Memiliki buah yang ringan dan mengapung sehinggga penyebarannya dapat dibantu oleh arus air. tapi pertumbuhannya lambat. berakar lutut dan akar papan yang melebar ke samping di bagian pangkal pohon. hijau kekuningan. biasanya pada tanah liat di belakang zona Avicennia. Tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. Warna hijau didekat pangkal buah dan hijau keunguan di bagian ujung. Kelopak Bunga: 8. lalu menjadi coklat ketika umur bertambah. lindur. akar muda dari embrionya dimakan dengan gula dan kelapa. Kemampuan tumbuhnya pada tanah liat membuat pohon jenis ini sangat bergantung kepada akar nafas untuk memperoleh pasokan oksigen yang cukup. Manfaat : Untuk kayu bakar. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Burus.) Bl. Ukuran: Hipokotil: panjang 8-15 cm dan diameter 5-10 mm. Pangkal buah menempel pada kelopak bunga. Jenis ini juga memiliki kemampuan untuk tumbuh pada tanah/substrat yang baru terbentuk dan tidak cocok untuk jenis lainnya. Bunga mengelompok. muncul di ujung tandan (panjang tandan: 1-2 cm). Formasi: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. 34 mm. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau. atau di bagian tengah vegetasi mangrove kearah laut. Para nelayan tidak menggunakan kayunya untuk kepentingan penangkapan ikan karena kayu tersebut mengeluarkan bau yang menyebabkan ikan tidak mau mendekat. Ujung: agak meruncing. Kulit kayu abu-abu. seluruh Indonesia. relatif halus dan memiliki sejumlah lentisel kecil. tanjang sukun. termasuk Irian Jaya. Hipokotil (seringkali disalah artikan sebagai “buah”) berbentuk silindris memanjang. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Asia Tenggara dan Australia. Daun : Permukaan atas daun hijau cerah bagian bawahnya hijau agak kekuningan. Di beberapa daerah. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. 478 . bawahnya seperti tabung. sering juga berbentuk kurva. ketinggian pohon kadang-kadang mencapai 23 meter. dan oleh karena itu sangat responsif terhadap penggenangan yang berkepanjangan. tanjang. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. tanjang sukim. Ukuran: 7-17 x 2-8 cm. Daun Mahkota: putih.Bruguiera cylindrica (L. Sisi luar bunga bagian bawah biasanya memiliki rambut putih. lengadai. tanjang putih. Kelimpahan : Umum.

buah. c. daun 793 . bunga.Bruguiera cylindrica bunga buah pohon a c b a. b.

Bentuk: bulat memanjang. 480 . Unit & letak: sederhana & berlawanan. Formasi: soliter. tepi daun mahkota memiliki rambut berwarna putih dan kemudian akan rontok. dan memiliki sejumlah besar akar nafas berbentuk lutut. Ukuran: 5. Manfaat : Catatan : Tidak tahu. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Penyebaran terbatas. panjang 10-13 mm. Deskripsi umum : Semak atau pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 10 m. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. sexangula sering dikelirukan dengan jenis ini. Daun : Permukaan atas daun berwarna hitam. Ujung: meruncing. Hipokotil relatif kecil dan mudah tersebar oleh pasang surut atau banjir. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. Kadang-kadang ditemukan suatu kelompok yang hanya terdiri dari jenis tersebut. Diketahui dari Timor. Kelopak bunga: 8-10. panjang 10-15 mm. Anakan tumbuh tidak baik di bawah lindungan.5-11. menggantung.5 x 2. tepi daun sering tergulung ke dalam.5 x4. Hipokotil berbentuk tumpul. Bunga hijau-kekuningan. pangkal batang menonjol. Daun mahkota: 8-10.Bruguiera exaristata Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tidak tahu.5 cm. Letak: di ketiak daun. Irian Jaya Selatan dan Australia Utara. Pada masa lalu B. Ukuran: Hipokotil: panjang 5-7 cm dan diameter 6-8 mm Tumbuh di sepanjang jalur air atau menuju bagian belakang lokasi mangrove. bagian bawah memiliki bercak-bercak. silindris agak menggelembung. Kulit kayu berwarna abu-abu tua. Substrat yang cocok adalah tanah liat dan pasir. Kelimpahan : Cukup umum.

daun 813 .Bruguiera exaristata a c b a. bunga. buah. b. c.

Malaysia dan Indonesia menuju wilayah Pasifik Barat dan Australia Tropis. serta tanah yang memiliki aerasi yang baik. Kadang-kadang juga ditemukan di pinggir sungai yang kurang terpengaruh air laut. Kelimpahan : Umum dan tersebar luas. putut. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. wako. bangko. tumpul dan berwarna hijau tua keunguan. bundar melintang. panjang 2-2. sala-sala. Buah melingkar spiral.) Lamk. dicampur dengan gula. tanjang. sepanjang tambak serta sungai pasang surut dan payau. bako. tongke.5-22 cm. permukaannya halus hingga kasar. totongkek. memiliki kelopak bunga berwarna kemerahan. 482 . Substrat-nya terdiri dari lumpur. Ditemukan di tepi pantai hanya jika terjadi erosi pada lahan di hadapannya.5-2 cm. Bentuk: elips sampai elips-lanset. Ujung: meruncing Ukuran: 4. hal tersebut dimungkinkan karena buahnya terbawa arus air atau gelombang pasang. tergantung. serta tahap awal dalam transisi menjadi tipe vegetasi daratan. Tumbuh di areal dengan salinitas rendah dan kering. mutut besar. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan pada bagian bawahnya dengan bercak-bercak hitam (ada juga yang tidak). Formasi: soliter. putih dan coklat jika tua. Kulit kayu memiliki lentisel. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. Regenerasinya seringkali hanya dalam jumlah terbatas. kandeka. sarau. Letak: di ketiak daun.Bruguiera gymnorrhiza (L.5-7 x 8. warna merah muda hingga merah. Bunga relatif besar. Jenis ini toleran terhadap daerah terlindung maupun yang mendapat sinar matahari langsung. Kayunya yang berwarna merah digunakan sebagai kayu bakar dan untuk membuat arang. panjang 30-50. pasir dan kadang-kadang tanah gambut hitam. Daun Mahkota: 10-14. taheup. mangimangi.5 cm. tumu. Hipokotil lurus. dan mengundang burung untuk melakukan penyerbukan. Kelopak Bunga: 10-14. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur dan Madagaskar hingga Sri Lanka. Merupakan jenis yang dominan pada hutan mangrove yang tinggi dan merupakan ciri dari perkembangan tahap akhir dari hutan pantai. Mereka juga tumbuh pada tepi daratan dari mangrove. panjang 13-16 mm. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Pertut. Akarnya seperti papan melebar ke samping di bagian pangkal pohon. Manfaat : Bagian dalam hipokotil dimakan (manisan kandeka). berwarna abu-abu tua sampai coklat (warna berubah-ubah). Daun : Daun berkulit. Bunga bergelantungan dengan panjang tangkai bunga antara 9-25 mm. dau. tanjang merah. lindur. tomo. Ukuran: Hipokotil: panjang 12-30 cm dan diameter 1. menggantung. juga memiliki sejumlah akar lutut. tenggel.

daun 833 . hipokotil. b. bunga. c.Bruguiera gymnorrhiza daun & bunga hipokotil a c b a.

Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Hipokotil berbentuk cerutu atau agak melengkung dan menebal menuju bagian ujung. bagian bawah berbentuk tabung. panjangnya 5 mm. Kelopak Bunga: 10. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 30 meter dan batang berdiameter sekitar 70 cm. Manfaat : Tidak tahu. Daun : Daun berkulit. Kulit kayu berwarna coklat hingga abu-abu. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan di bawahnya. 484 . seluruh Indonesia dan Papua New Guinea. hijau pucat. Ukuran: Hipokotil: panjang 9 cm dan diameter 1 cm. Thailand. Letak: Di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga (panjang tandan: 18-22 cm). Bentuk: elips sampai bulat memanjang. Formasi: kelompok (2-3 bunga per tandan.G. Ujung: meruncing. Daun Mahkota: putih. dengan lentisel besar berwarna coklat-kekuningan dari pangkal hingga puncak. Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove pada areal yang relatif kering dan hanya tergenang selama beberapa jam sehari pada saat terjadi pasang tinggi.Bruguiera hainessii C.Rogers RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus mata buaya. Berambut pada tepi bawah dan agak berambut pada bagian atas cuping. panjang 7-9 mm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Burma. Malaysia. Ukuran: 9-16 x 4-7 cm. Kelimpahan : Agak kurang umum.

pohon 853 . b. bunga. d. daun.Bruguiera hainessii c d b a a. buah/hipokotil. c.

5 cm. Jenis ini membentuk tegakan monospesifik pada areal yang tidak sering tergenang. agak melengkung. dan nampaknya tumbuh dengan baik pada areal yang menerima cahaya matahari yang sedang hingga cukup. tanjang. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Bangladesh hingga Samoa. tetapi melimpah setempat. lenggadai.5-1 cm. Ujung: meruncing. Deskripsi umum : Berupa semak atau pohon kecil yang selalu hijau. Dapat menjadi sangat dominan di areal yang telah diambil kayunya (misalnya Karang Gading-Langkat Timur Laut di Sumatera Utara. Daun : Terdapat bercak hitam di bagian bawah daun dan berubah menjadi hijaukekuningan ketika usianya bertambah. menggelembung. 1991). Giesen & Sukotjo. Substrat yang cocok termasuk lumpur. Hipokotilnya yang ringan mudah untuk disebarkan melalui air. Kulit kayu burik. Ukuran: 5. tinggi (meskipun jarang) dapat mencapai 20 m. Manfaat : Karena ukuran kayunya yang kecil. warna hijau kekuningan. yang merupakan ciri khasnya. Bentuk: elips. Ukuran: Hipokotil: panjang 815 cm dan diameter 0. panjangnya 7-9 mm. Bunga mengelompok di ujung tandan (panjang tandan: 2 cm). bagian bawah berbentuk tabung. tongi. seperti kupu-kupu. disebabkan oleh gangguan serangga. Daunnya berlekuk-lekuk. sia-sia. bercelah dan agak membengkak di bagian pangkal pohon. Seluruh Indonesia. Akar lutut dapat mencapai 30 cm tingginya. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. panjang 1. berwarna abu-abu hingga coklat tua. bius. mengelangan. Letak: di ketiak daun. tanah payau dan bersalinitas tinggi. putihhijau kekuningan. 486 . Bunga dibuahi oleh serangga yang terbang pada siang hari. Hipokotil silindris. pasir.& A. dan berbuah dari bulan September hingga Desember. Individu yang terisolasi juga ditemukan tumbuh di sepanjang alur air dan tambak tepi pantai. paproti. warna hijau kekuningan. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Langgade. ex Griff.5-13 x 2-4. permukaannya halus. perbungaan tercatat dari bulan Juni hingga September. jenis ini jarang digunakan untuk keperluan lain. Formasi: kelompok (3-10 bunga per tandan). Di Australia. Kelimpahan : Tersebar. Berambut pada tepinya. kecuali untuk kayu bakar.5-2mm.) W. Buah melingkar spiral. Kelopak Bunga: 8. mou. panjang 2 cm. Daun mahkota: 8.Bruguiera parviflora (Roxb.

Bruguiera parviflora bunga buah pohon c a b a. buah/hipokotil. b. daun 873 . c. bunga.

Bruguiera sexangula (Lour. Identifikasi yang terbaik adalah melalui daun mahkota. dan kadangkadang akar papan. mata buaya. putih dan kecoklatan jika tua. Formasi: soliter (1 bunga per tandan). Catatan : 488 . exaristata dan B. Ukuran: Hipokotil: panjang 6-12 cm dan diameter 1. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. gymnorrhiza. akar serta daunnya digunakan untuk mengatasi kulit terbakar. Ukuran: 8-16 x 3-6 cm. busung. Bunganya yang besar diserbuki oleh burung. Akar lutut. Kadang berambut halus pada tepinya. dan memiliki bercak hitam di bagian bawah. Letak: Di ketiak daun. lindur. Kelopak bunga: 10-12. tiang dan arang. dan pangkal batang yang membengkak. halus hingga kasar. Hipokotil menyempit di kedua ujung. Di Sulawesi buahnya dimakan setelah direndam dan dididihkan. Kelimpahan : Umum. payau dan tawar. Daun makhota: 10-11. gymnorrhiza. Bentuk: elips. dan di masa lalu seringkali dikelirukan dengan kedua jenis tersebut. Kulit kayu coklat muda-abu-abu. bakau tampusing. Buahnya dilaporkan digunakan untuk mengobati penyakit herpes. berkulit. Ujung: meruncing.5 cm. Hipokotil disebarkan melalui air. mutut kecil. Kadang-kadang terdapat pada pantai berpasir. panjang 15mm. ai bon. tanjang. Sama dengan B. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. Biasanya tumbuh pada kondisi yang lebih basah dibanding B. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India. tancang sukun. Daun : Daun agak tebal. Toleran terhadap kondisi air asin. tumu. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Busing. warna kuning kehijauan atau kemerahan atau kecoklatan. Tumbuh di sepanjang jalur air dan tambak pantai.) Poir. tongke perampuan. memiliki sejumlah lentisel berukuran besar. Manfaat : Untuk kayu bakar. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. sarau. pada berbagai tipe substrat yang tidak sering tergenang. panjang tabung 10-15 mm. ting. Seluruh Asia Tenggara (termasuk Indonesia) hingga Australia utara.

daun 893 . bunga.Bruguiera sexangula daun bunga buah a c b a. c. b. buah/hipokotil.

Ukuran: 6-9 x 2-4 cm. Daun mahkota: putih. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. Kalimantan dan Sulawesi. Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak. Ujung: membundar. dan memiliki daun kelopak bunga dan kelopak tambahan yang berurutan. Benang sari: 5. Daun mahkota bunga berwarna putih. Daun : Bunga : Permukaan daun bersisik. panjang biji 9mm. - Buah : Ekologi : Penyebaran : Filipina. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Ukuran: panjang buah 1 cm. bersisik. Manfaat : Catatan : Tidak diketahui. Menurut Tomlinson (1986).Camptostemon philippinense (Vidal) Becc. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. pangkalnya sempit. Kulit kayu berwarna abu-abu dan memiliki celah/retakan longitudinal serta pangkal batang yang bergalur. bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek. kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m. Kelimpahan : Tidak terlalu umum. berupa semak atau pohon yang selalu hijau. Bentuk: lanset-elips. Buah bundar berbentuk kapsul. Formasi: bulir. Letak: di ketiak daun dan batang. dan memiliki akar nafas yang menonjol. kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan. BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. 490 .

daun 913 . bunga. buah. b. c.Camptostemon philippinense c b a a.

panjang biji 9mm. Bentuk: lansetelips. bersisik. cuping panjangnya 6 mm.Camptostemon schultzii Masters BOMBACACEAE Nama setempat : Tidak diketahui. Daun Makhota: putih. kadang-kadang memiliki ketinggian hingga 30 m dengan kulit kayu berwarna kuning pucat. Kelimpahan : Relatif umum. bagian bawah bersisik. coklat atau coklat-keabu-abuan dan memiliki celah/retakan longitudinal dan lentisel serta pangkal batang yang bergalur. Letak: Di ketiak daun dan cabang. Benang sari: 20. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Buah dapat disebarkan melalui air (dengan kisaran gelombang sedang). sementara bijinya yang berbulu disebarkan oleh air maupun angin. PNG dan Australia Utara. Mungkin diserbuki oleh serangga dan angin. Buah terdiri dari dua biji berbulu padat. Ukuran: 6-16 x 2-5 cm. Kelopak bunga: seperti cangkir. Umumnya tumbuh pada pantai berpasir yang berada pada kisaran areal pasang surut. Daun mahkota bersisik dan ditutupi oleh rambut pendek berwarna putih. Buah bundar berbentuk kapsul. Menurut Tomlinson (1986). dan memiliki akar nafas yang menonjol. dan memiliki daun kelopak bunga yang bagian luarnya berurutan dan bersisik. Ukuran: panjang buah 1 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat dari Kalimantan. Berbunga pada bulan Juni sampai Oktober. buah matang pada bulan Oktober sampai Februari (di Australia). Formasi: bulir. Tumbuh lebih baik di pantai berbatu dan terbuka dibandingkan dengan mangrove di mulut sungai. pangkalnya sempit. kulit kayu dari jenis ini bersisik dan tanpa celah/ retakan. Maluku. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah. berupa semak atau pohon yang selalu hijau. Manfaat : Catatan : Kayu dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas yang cukup kuat. 492 . Daun : Daun berumbai-rumbai terletak pada akhir cabang. Deskripsi umum : Tumbuhan berkayu lunak. Ujung: membundar. bagian atas halus.

d. b. buah. pohon 933 .Camptostemon schultzii a b c d a. c. daun. bunga.

warna hijau hingga coklat. tebal dan bertakik. Tumbuh tersebar di sepanjang hutan pasang surut. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Daun : Bunga : Daun hijau mengkilap. tengar. Deskripsi umum : Pohon atau semak kecil dengan ketinggian hingga 15 m. Leher kotilodon jadi merah tua jika sudah matang/ dewasa. Letak: di ketiak daun. Filipina dan Australia. sama atau lebih pendek dari kepala sari. Papua New Guinea. Bentuk dan ukuran daun sangat beragam bergantung kepada kadar cahaya dan air dimana suatu individu tumbuh. kenyonyong. Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari India hingga Indocina. Kelopak bunga: 5. menempel dengan gagang yang pendek. Sulawesi. putih dan kecoklatan jika tua. Daun mahkota: 5. Kulit kayu berwarna coklat. ada lentisel dan berbintil. jarang berwarna abu-abu atau putih kotor. tingi. Malaysia. Benang sari: tangkai benang sari pendek. rapuh dan menggelembung di bagian pangkal. Ukuran: 3-10 x 1-4. panjang 2. Bentuk: elipsbulat memanjang.Ceriops decandra (Griff. Catatan : 494 . Kelimpahan : Relatif jarang. Kadang berambut halus pada tepinya.) Ding Hou RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengal. akan tetapi lebih umum pada bagian daratan dari perairan pasang surut dan berbatasan dengan tambak pantai.5 cm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Hipokotil berbentuk silinder. Jawa. Maluku. Bangka. Ujung: membundar. Bunga mengelompok.5-4mm. tinci. warna hijau. serta pegangan berbagai perkakas bangunan. Kalimantan. Menyukai substrat pasir atau lumpur. Ukuran: Hipokotil: panjang 15 cm dan diameter 8-12 mm. bido-bido. Manfaat : Jenis Ceriops memiliki kayu yang paling tahan/kuat diantara jenis-jenis mangrove lainnya dan digunakan sebagai bahan bangunan. Irian Jaya. Kulit kayu merupakan sumber yang bagus untuk tanin serta bahan pewarna. parun. palun. Formasi: kelompok (2-4 bunga per kelompok). permukaan halus. ujungnya menggelembung tajam dan berbintil. bantalan rel kereta api. luru.

b. daun. c. bunga. d.Ceriops decandra daun bunga buah & hipokotil a c b d a. buah/hipokotil. pohon 953 .

Juga terdapat di sepanjang tambak. Tanin dihasilkan dari kulit kayu. Benang sari: tangkai benang sari lebih panjang dari kepala sarinya yang tumpul. dan pegangan perkakas. tingih. Unit & Letak: sederhana & berlawanan.5-2 cm. palun. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Kelimpahan : Umum. Bahan kayu bakar yang baik serta merupakan salah satu kayu terkuat diantara jenis-jenis mangrove. Pewarna dihasilkan dari kulit kayu dan kayu. panjang 45mm. tingi. warna hijau. dan regenerasi mereka dapat terjadi melalui salah satu anakan tersebut. Pohon seringkali memiliki akar tunjang yang kecil. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Tengar. Dilaporkan bahwa anakan jenis ini dapat membelah menjadi dua. Manfaat : Ekstrak kulit kayu bermanfaat untuk persalinan. Catatan : 496 .Ceriops tagal (Perr. Deskripsi umum : Pohon kecil atau semak dengan ketinggian mencapai 25 m. Gagang bunga panjang dan tipis.B. Daun : Daun hijau mengkilap dan sering memiliki pinggiran yang melingkar ke dalam. Daun mahkota: 5. tabung 2mm. Menyukai substrat tanah liat. Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok). agak menggelembung dan seringkali agak pendek. mange darat. dengan tabung kelopak yang melengkung. tinci. bido-bido. Letak: di ketiak daun. tengah.Rob. wanggo.) C. dan kemungkinan berdampingan dengan C. Hipokotil berbintil. termasuk Australia Utara. mentigi. Bentuk: bulat telur terbalik-elips. karena ketahanannya jika direndam dalam air garam. putih dan kemudian jadi coklat. Kulit kayu berwarna abu-abu. Buah panjangnya 1. berkulit halus. Kelopak bunga: 5. halus dan pangkalnya menggelembung. Bunga mengelompok di ujung tandan. Malaysia dan Indonesia.5 cm. kadang-kadang coklat. Membentuk belukar yang rapat pada pinggir daratan dari hutan pasang surut dan/atau pada areal yang tergenang oleh pasang tinggi dengan tanah memiliki sistem pengeringan baik. bantalan rel kereta api. Kayu bermanfaat untuk bahan bangunan. Ukuran: Hipokotil: panjang 4-25 cm dan diameter 8-12 mm. berresin pada ujung cabang baru atau pada ketiak cabang yang lebih tua. Leher kotilodon menjadi kuning jika sudah matang/dewasa.decandra. Ujung: membundar. parun. lonro. Ukuran: 1-10 x 2-3. tangar. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Mozambik hingga Pasifik Barat. tengar.

buah/hipokotil. daun 973 .Ceriops tagal bunga buah & hipokotil a c b a. bunga. c. b.

Tumbuhan ini sepanjang tahun memerlukan masukan air tawar dalam jumlah besar. Karang-Gading Langkat Timur Laut. Batang. khususnya lebah. berisi biji berwarna coklat tua. dan di Australia. Kayu tidak bisa digunakan sebagai kayu bakar karena bau wanginya tidak sedap bagi masakan. termasuk di Indonesia. Jenis ini juga ditemukan tumbuh di sepanjang pinggiran danau asin (90% air laut) di pulau vulkanis Satonda. bersilangan. Kulit kayu berwarna abu-abu. kalapinrang. permukaan seperti kulit. dan menyebar di sepanjang tandan. Letak: di ketiak daun. Akar menjalar di sepanjang permukaan tanah. sesuai dengan namanya. bebutah. Kayu dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas yang bermutu baik. mata huli. makasuta. Tandan bunga jantan berbau. EUPHORBIACEAE Nama setempat : Buta-buta. Penyerbukan dilakukan oleh serangga. Daun : Hijau tua dan akan berubah menjadi merah bata sebelum rontok. Unit & Letak: sederhana. Ukuran: diameter 5-7mm.Excoecaria agallocha L. Catatan : 498 . Formasi: bulir. seringkali berbentuk kusut dan ditutupi oleh lentisel. kayu wuta. Bunga jantan (tanpa gagang) lebih kecil dari betina. Sumatera Utara. Bentuk seperti bola dengan 3 tonjolan. Mereka umum ditemukan sebagai jenis yang tumbuh kemudian pada beberapa hutan yang telah ditebang. Kelopak bunga: hijau kekuningan. warna hijau. Bentuk: elips. Kayunya kadang-kadang dijual karena wanginya. Daun mahkota: hijau & putih. Hal ini terutama diperkirakan terjadi karena adanya serbuk sari yang tebal serta kehadiran nektar yang memproduksi kelenjar pada ujung pinak daun di bawah bunga. Getah putihnya beracun dan dapat menyebabkan kebutaan sementara. ada 2 kelenjar pada pangkal daun. tetapi memiliki bintil. Deskripsi umum : Pohon merangas kecil dengan ketinggian mencapai 15 m. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh di sebagian besar wilayah Asia Tropis. kuning. misalnya di Suaka Margasatwa. Getah digunakan untuk membunuh ikan. atau kadang-kadang di atas batas air pasang. dahan dan daun memiliki getah (warna putih dan lengket) yang dapat mengganggu kulit dan mata. halus.5-10. Memiliki bunga jantan atau betina saja. menengan. Umumnya ditemukan pada bagian pinggir mangrove di bagian daratan. tersebar. Benang sari: 3. kalibuda. yaitu buta-buta. akan tetapi wanginya akan hilang beberapa tahun kemudian. warejit. Manfaat : Akar dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi dan pembengkakan. pinggiran bergerigi halus. Kelimpahan : Melimpah setempat. Kayu digunakan untuk bahan ukiran. goro-goro raci. madengan. sambuta. Ukuran: 6. Ujung: meruncing. berwarna hijau dan panjangnya mencapai 11 cm. dekat Medan.5 x 3. sebelah utara Sumbawa.5-5 cm. tidak pernah keduanya. betuh. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.

buah/hipokotil. c. pohon 993 . d. bunga. daun.Excoearia agallocha bunga buah daun c a b d a. b.

Gymnanthera paludosa

(Bl.) K.Schum.

ASCLEPIADACEAE

Nama setempat : Tidak tahu. Deskripsi umum : Semak pemanjat, hingga 4 m. Batang ditutupi oleh tonjolan. Pada umumnya tidak berambut, tetapi memiliki rambut pendek, halus di bagian atas. Daun : Bunga : Daun halus, tipis. Unit & Letak: sederhana, bersilangan. Bentuk: elips-bulat memanjang. Ujung: meruncing. Ukuran: 3-5,5 x 1-2 cm. Di antara pasangan tangkai daun, panjang tangkai bunga kurang dari 2 cm. Formasi: kelompok. Daun mahkota: halus, hijau kekuningan, memiliki tabung memanjang 7-8 mm, diameter 16-18 mm. Buah tipis, berpasangan dan berpengait di ujungnya. Biji berlunas dan halus tetapi memiliki rambut panjangnya 2-2,5 cm. Ukuran: panjang biji 5mm, panjang buah 10,5-12 cm. Tumbuh di mangrove. Bunga dari Oktober - Maret. Tercatat dari Jawa dan Madura, tetapi kemungkinan ditemukan di seluruh Indonesia.

Buah :

Ekologi : Distribusi :

Kelimpahan : Tidak tahu. Manfaat : Tidak tahu.

4100

Gymnanthera paludosa

daun & buah

a

c

b

a. bunga; b. buah; c. daun

1013

Heritiera globosa

Kostermans

STERCULIACEAE

Nama setempat : Dungun. Deskripsi umum : Sangat menyerupai Heritiera littoralis (lihat deskripsi berikut), perbedaannya terletak pada buah yang bundar dan tangkai daun yang lebih panjang. Memiliki ujung daun ventral yang dangkal, memanjang pada ujung jauh menuju mulut atau sayapnya, dimana sayap selalu agak melengkung yang merupakan kekhasannya. Gagang daun lebih panjang dari 2 cm dan mungkin lebih dari 4 cm. Akar papan berkembang baik dan menyerupai ular, memanjang 2-4 m dari pangkal batang. Ekologi : Tumbuh di belakang zona jalur mangrove, tetapi juga telah dikoleksi di tempat sejauh 70 km dari laut, pada sistem sungai air tawar yang dipengaruhi oleh pasang surut.

Penyebaran : Sarawak, Sabah dan Kalimantan, akan tetapi kemungkinan memiliki penyebaran yang lebih luas. Kelimpahan : Relatif umum setempat. Manfaat : Memiliki kayu yang kuat dan berat.

4102

Heritiera globosa

a

b

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1033

Tandan bunga berambut (terutama pada bagian ketiak daun dan ujung cabang). bersilangan. Ujung: meruncing. Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 25 m. cerlang laut. ex W. Warna daun hijau gelap bagian atas dan putih-keabu-abuan di bagian bawah karena adanya lapisan yang bertumpang-tindih. Daun : Kukuh. seperti mangkok. balang pasisir. berkayu. Bunga jantan lebih banyak. tiang telepon. Kulit kayu gelap atau abu-abu. panjang 4-5 mm. Gagang daun panjangnya 0. rumah. bersisik dan bercelah. Buah digunakan untuk mengobati diare dan disentri. Formasi: bergerombol bebas.Heritiera littoralis Dryand. tetapi lebih kecil dibanding bunga betina (pada pohon yang berbeda !). STERCULIACEAE Nama setempat : Dungu. Akar papan berkembang sangat jelas. berkulit. Letak: di ujung atau di ketiak. bayur laut. lulun. berkelompok pada ujung cabang. lebar 5-6 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. Memiliki 1 biji dan masak pada tandan yang tergantung. rurun. Unit & letak: sederhana. Kayu tahan lama dan digunakan untuk bahan perahu. Buah berwarna hijau hingga coklat mengkilat.Ait. Sangat umum tumbuh di tepi daratan hutan mangrove. belohila. lawang. atau pantai berkarang. Ukuran: 10-20 x 5-10 cm. Nampaknya tidak toleran terhadap salinitas yang tinggi dan tidak tumbuh pada lokasi yang sangat terbuka atau kurang adanya pengeringan. Daun mahkota: ungu dan coklat. Individu pohon memiliki salah satu bunga betina atau jantan. Bentuk: bulat telur-elips. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.5-2 cm. dan mungkin juga menempati bagian tepi atau berdekatan dengan hutan dataran rendah. blakangabu. Kelopak bunga: 4-5. Ukuran: panjang 6-8 cm. 4104 . kadang sampai 30 x 15-18 cm. Biji digunakan untuk pengolahan ikan. Kelimpahan : Umum. atung laut. Manfaat : Kayu bakar yang baik. dungun. rumung. lawanan kete. Dari Afrika timur dan Madagaskar hingga Australia dan Pasifik sejauh Kaledonia baru. kemerahan dan berambut.

buah. c.Heritiera littoralis buah muda bunga buah tua pohon a a c b a. bunga. daun 1053 . b.

Thailand. permukaan halus dan memiliki lentisel. panjang 1. Burma. Kalimantan Barat dan Utara. Daun mahkota: panjangnya 14 mm. Hipokotil silindris panjangnya 15-40 cm. Manfaat : Utamanya untuk kayu bakar. India. Berwarna hijau berbentuk oval. Kelimpahan : Sangat terbatas dan jarang. Kelopak bunga: tabung daun kelopak bunga melebihi bakal buah dan memiliki cuping sejajar yang melengkung ketika bunga mekar penuh. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Daun : Bunga : Tepi daun mengkerut kedalam. tinggi hingga 7 meter dengan pangkal batang lebih tebal. Menempati relung yang sempit.5-2. Tandan bunga bercabang dua. Benang sari: banyak dan berbentuk filamen. Deskripsi umum : Semak atau pohon kecil. memiliki 4 dan kadang-kadang 9 bunga berwarna putih. Buah : Ekologi : Penyebaran : Timur Laut Sumatera. pisang-pisang Laut. pulut-pulut.) Druce RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Berus-berus. Tumbuh secara sporadis pada pematang sungai pasang surut. Indo Cina. Bentuk: elips-bulat memanjang. beus. Umumnya tanpa akar nafas.5-2 cm. panjangnya 1. Cina. 4106 . Kulit kayu berwarna keabu-abuan hingga coklat-kemerahan.5 cm. Taiwan.Kandelia candel (L. beras-beras. Jepang Selatan dan Malaysia. Ujung: membundar hingga sedikit runcing.

buah/hipokotil. b.Kandelia candel daun & bunga buah/hipokotil a c b a. daun 1073 . bunga. c.

berwarna coklat tua dan kulit kayu memiliki celah/retakan membujur (longitudinal). agak keras dan bertulang. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau dan tumbuh tersebar. berwarna merah cerah. Ukuran: panjang 9-20mm. sesop. Mereka juga terdapat pada jalur air yang memiliki pasokan air tawar yang kuat dan tetap. Daun : Daun agak tebal berdaging. Buah yang ringan dan dapat mengapung sangat menunjang penyebaran mereka melalui air. Sayangnya. ketinggian pohon dapat mencapai 25 m. Panjang tangkai bunga mencapai 3 mm.5-2 mm. Kelimpahan : Melimpah setempat dan kadang-kadang tumbuh dalam bentuk kelompok. kayu berukuran besar sangat jarang ditemukan. Tidak terdapat. dan berumpun pada ujung dahan. dan dipenuhi oleh nektar. Formasi: bulir. Panjang benang sari dua kali ukuran daun mahkota. geriting.5 cm. Unit & Letak: sederhana. merah. Australia Utara dan Polinesia. Kelopak bunga: 5. randai. 4-6 x 1. bersilangan. api-api uding. tandan 2-3 cm. riang laut. Menyukai substrat halus dan berlumpur pada bagian pinggir daratan di daerah mangrove. keras/kaku. littorea dan L. welompelong. Panjang tangkai daun mencapai 5 mm. dimana penggenangan jarang terjadi. meskipun pada umumnya lebih rendah. duduk agung. harum. posi-posi. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. Indonesia. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Dengan penampilannya yang menarik dan memiliki wangi seperti mawar. Daun mahkota: 5. kedukduk. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Daerah tropis Asia. Letak: di ujung. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. sangat jarang dijumpai di pantai-pantai di Jawa. Akar nafas berbentuk lutut. Benang sari: <10. sesak. duduk gedeh. Bentuk: bulat telur terbalik. warna bunga serta morfologi dan lokasinya menunjukkan bahwa penyerbukannya dibantu oleh burung. Ujung: membundar. hijau 1 x-12 mm. Diameter 4-5 mm. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. L. Buah berbentuk seperti pot/jambangan tempat bunga/elips. atau kalaupun ada.Lumnitzera littorea (Jack) Voigt COMBRETACEAE Nama setempat : Teruntum (merah). ma gorago. maka kayunya sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan lemari dan furnitur lainnya. Manfaat : Kayunya kuat dan sangat tahan terhadap air. taruntung. Bunga biseksual. Memiliki dua buah pinak daun berbentuk bulat telur dan berukuran 1 mm pada bagian pangkalnya. berwarna hijau keunguan. Ukuran: 2-8 x 1-2. Produksi nektar. Catatan : 4108 .

buah. d.Lumnitzera littorea daun bunga buah c a b a b d a. c. bunga. pohon 1093 . daun. b.

duduk laki-laki. memiliki celah/retakan longitudinal (khususnya pada batang yang sudah tua). selalu hijau dengan ketinggian mencapai 8 m. Panjang tangkai daun mencapai 10 mm. knias. Deskripsi umum : Belukar atau pohon kecil. agak harum dan kaya akan nektar. var. Buah berserat teradaptasi untuk penyebaran melalui air. Panjang tandan 1-2 cm. cocok untuk berbagai keperluan bahan bangunan. Memiliki dua pinak daun berbentuk bulat telur. berserat. berwarna putih cerah. Bahan bakar yang baik. Meskipun ditemukan di seluruh Malaysia dan Indonesia. kapal. Bentuk: bulat telur menyempit. bersilangan. Letak: di ujung atau di ketiak. littorea dan L. PNG dan Filipina. Kelimpahan : Agak umum. saman-sigi. 2-4 x 7-8 mm. Penyebab persis dari perbedaan karakter ekologis tersebut sampai saat ini belum diketahui. Ukurannya lebih kecil dari L.5 mm pada bagian pangkalnya. diserbuki oleh serangga. Benang sari: <10. Diameter 3-5 mm. api-api jambu. PNG. di seluruh Indonesia. duduk. Manfaat : Kayunya keras dan tahan lama. tanpa gagang. dipenuhi oleh nektar. putih. Ujung: membundar. sehingga sangat jarang ditemukan kayu yang berukuran besar. dan tidak memiliki akar nafas.5 cm. seperti jembatan. lasi. Daun mahkota: 5. Buah berbentuk kembung/elips. keras/kaku. Bunga putih. Kulit kayu berwarna coklat-kemerahan. Kelopak bunga: 5. hijau (6-8 mm). Menyukai substrat berlumpur padat. racemosa tidak pernah ditemukan pada habitat dan lokasi yang sama. Panjang benang sari sama atau sedikit lebih panjang dari daun mahkota. teruntum. Formasi: bulir. Bunga biseksual. Mereka juga terdapat di sepanjang jalur air yang dipengaruhi oleh air tawar. Ukuran: panjang 7-12 mm. susup. racemosa COMBRETACEAE Nama setempat : Api-api balah. Tumbuh di sepanjang tepi vegetasi mangrove. Hampir tidak ditemukan di sepanjang pantai yang menghadap Samudera India. berkayu dan padat. panjangnya 1. Cuping daun kelopak bunga dengan ujung berkelenjar ditemukan di Irian Jaya. L. Catatan : 4110 . Ukuran: 2-10 x 1-2. berwarna hijau kekuningan. truntun. furnitur dan sebagainya. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari bagian timur Afrika tropis dan Madagaskar sampai Malaysia. Australia utara dan Polinesia. Kulit kayu kadang-kadang digunakan sebagai bahan pelapis. littorea. Unit & Letak: sederhana. dan berumpun pada ujung dahan.Lumnitzera racemosa Willd. aduadu. Daun : Daun agak tebal berdaging. kedukduk.

Lumnitzera racemosa daun bunga buah a d c b a. daun. buah. c. d. bunga. pohon 1113 . b.

produksi gula yang dihasilkan lebih baik dibandingkan dengan gula tebu. ARECACEAE Nama setempat : Nipah. topi. Bunga jantan kuning cerah. membentuk rumpun. Serbuk sari lengket dan penyerbukan nampaknya dibantu oleh lalat Drosophila. Nypa telah dikenal di Australia sejak awal jaman Tertiary. 65-70 juta tahun yang lalu. Jika dikelola dengan baik. Serbuk sari dari jenis ini telah ditemukan sejak jaman Cretaceous atas. Panjang tandan/gagang daun 4 . Setelah diolah. berwarna hijau mengkilat di permukaan atas dan berserbuk di bagian bawah. sangat umum setempat. Digunakan untuk memproduksi alkohol dan gula.120 pinak daun pada setiap tandan daun. Ukuran: diameter kepala buah: sampai 45 cm. Tumbuh pada substrat yang halus. Bentuk: lanset. Bunga betina membentuk kepala melingkar berdiameter 25-30 cm. tangkal daon. Biasanya tumbuh pada tegakan yang berkelompok. Ukuran: 60-130 x 5-8 cm. seluruh Indonesia. Malaysia. Tandan bunga biseksual tumbuh dari dekat puncak batang pada gagang sepanjang 1-2 m. kuat dan menggarpu.9 m. dibandingkan dengan sebagian besar jenis tumbuhan mangrove lainnya. jika bunga diambil pada saat yang tepat. Buah yang berserat serta adanya rongga udara pada biji membantu penyebaran mereka melalui air. Papua New Guinea. keranjang dan kertas rokok. Catatan : 4112 . pada bagian tepi atas dari jalan air. serta memiliki kandungan sukrosa yang lebih tinggi. serat gagang daun juga dapat dibuat tali dan bulu sikat. buyuk. Kadang-kadang bersifat vivipar. Memerlukan masukan air tawar tahunan yang tinggi. Tinggi dapat mencapai 4-9 m. Diameter biji: 4-5 cm. Batang terdapat di bawah tanah. lipa. Daun : Seperti susunan daun kelapa. Daun digunakan untuk bahan pembuatan payung. warna coklat. Terdapat 100 .Nypa fruticans Wurmb. terletak di bawah kepala bunganya. Asia Tenggara. Australia dan Pasifik Barat. Deskripsi umum : Palma tanpa batang di permukaan. Biji dapat dimakan. Filipina. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Umum. tikar. kaku dan berserat. Buah berbentuk bulat. Memiliki sistem perakaran yang rapat dan kuat yang tersesuaikan lebih baik terhadap perubahan masukan air. Jarang terdapat di luar zona pantai. Pada setiap buah terdapat satu biji berbentuk telur. Ujung: meruncing. Manfaat : Sirup manis dalam jumlah yang cukup banyak dapat dibuat dari batangnya.

Nypa fruticans buah bunga pohon 1133 .

terletak pada pangkal gagang bunga. bunga tidak bertangkai tapi langsung menempel pada tandan. Bunga diserbuki oleh serangga.5-5 x 1-3 cm. Kalimantan Utara. Papua New Guinea. Ukuran: 2.Osbornia octodonta F. panjang 6 mm. selalu hijau. Kelopak bunga: 8. Kadang-kadang memiliki akar nafas. dan pasir. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia (Irian Jaya. Dalam satu tandan terdapat 1-3 bunga yang bergerombol. Kepulauan Sunda Kecil).M. Buah ditutupi oleh cuping kelopak bunga dan kelopak tidak membuka pada saat telah matang. tangkai/dahannya tunggal atau berjumlah banyak. dan dapat ditemukan pada lumpur halus. Biji berjumlah 1-2. berbentuk datar dan bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Sulawesi. Manfaat : Para nelayan menggunakan daunnya untuk mengusir serangga. Formasi: kelompok. Deskripsi umum : Berupa pohon atau belukar dengan ketinggian dapat mencapai 7 meter. Di Australia jenis ini ditemukan berbunga dari bulan Juni sampai Desember dengan puncaknya pada bulan November dan berbuah pada bulan Februari. menimbulkan aroma pada saat disentuh. Benang sari: berwarna putih hingga kuning. hijau (3-6 mm). Kulit kayu kadangkadang digunakan untuk menambal perahu dan kayunya tahan lama. Daun mahkota: Tidak ada. MYRTACEAE Nama setempat : Baru-baru. jenis tumbuhan ini tidak ditemukan tumbuh pada daerah yang kerap tergenang oleh air tawar. Filipina. Unit & Letak: sederhana. berserat dan berserabut. Meskipun demikian. ukurannya lebih panjang dibanding cuping kelopak bunga. Bentuk: bulat telur terbalik. Jawa Timur. Biseksual. diameter 5 mm. bersilangan. Letak: di ketiak daun. Individu yang lebih besar memiliki batang yang berlubang di tengahnya. Kulit kayu berwarna coklat atau abu-abu. jumlahnya sampai 48 helai. Daun : Berkulit tipis. Ranting halus berwarna abu-abu pucat dan berbentuk segi empat pada saat muda. Australia Tropis. Kelimpahan : Tidak tahu. 4114 .v. ada kelenjar minyak yang tembus cahaya dan berukuran kecil serta ada pembengkakan pada gagang daun sepanjang 2 mm yang berwarna merah. batuan. Tumbuh di tempat yang lebih terbuka pada tepi daratan di daerah mangrove atau pada pinggiran alur air yang dipengaruhi oleh pasang surut. Buah disebarkan lewat air dan terapung di air karena adanya rambutrambut yang dapat memerangkap udara. Tidak memiliki ketergantungan khusus terhadap substrat tumbuh. Pinak daun tersebut kemudian rontok. Terdapat 2 pinak daun berbentuk elips. Ukuran: panjang 5-10 mm.

pohon 1153 . b. d. buah. c. daun.Osbornia octodonta bunga buah a d c b b a. bunga.

Kelopak bunga: 12. Deskripsi umum : Pohon/belukar. Manfaat : Tidak diketahui. cantinggi. Daun : Tebal (hingga 3 mm) berdaging. Setidaknya tercatat di Bali dan Lombok. menyebar rimbun/melebar di permukaan tanah. Kelimpahan : Tidak diketahui. panjang 10 mm. Formasi: berkelompok (ada 1 hingga beberapa bunga per kelompok). berkulit dan agak melengkung/tertekuk ke dalam. 4116 .Phemphis acidula LYTHRACEAE Nama setempat : Sentigi. Ukuran: panjang 1-3 cm. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Sering dijumpai tumbuh pada pantai berpasir. dengan ketinggian hingga 3 m. kaku. Benang sari: jumlahnya 12 . Letak: di ketiak daun. pada tepi/lereng pematang tambak atau tepi saluran air yang masih terkena jangkauan pasang surut. Kulit kayu berwarna abu-abu hingga coklat. bagian tengahnya agak keunguan-kekuningan. centigi. permukaannya berambut. Berbentuk lonceng. Akar nafas tidak terlalu berkembang. putih bersih.18. di dalamnya terdapat 20-30 biji yang sangat kecil. Ukuran: diameter buah 3-5 mm. Ujung: membundar hingga menajam tumpul. warna coklat. Daun mahkota: 6. berwarna hijau. mentigi. Bentuk: elip hingga bulat telur terbalik. Berbentuk seperti mangkuk es krim.

d. buah. daun. b. bunga.Phemphis acidula daun. c. pohon 1173 . buah & bunga pohon c b a d a.

jankar. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. 4118 . Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan. panjang 2-3. Tumbuh pada tanah berlumpur. akik. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Sri Lanka. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia. mangi-mangi. berisi satu biji fertil. Bentuk: elips menyempit. dalam dan tergenang pada saat pasang normal. Letak: Di ketiak daun. bakau kacang. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). kuning-putih. abat.5 cm. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. bakau leutik. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah. Kelopak bunga: 4. Daun mahkota: 4. warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. berbintil. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. bakau akik. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. tak bertangkai. Biseksual. Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. parai. Benang sari: 11-12. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. donggo akit. Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering). bakau tandok. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. slengkreng. Tumbuh lambat. Ukuran: 7-19 x 3. Ujung: meruncing. berwarna hijau jingga. halus. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau minyak. Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir. Daun : Berkulit. tersebar jarang di Australia. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan.5-8 cm.Rhizophora apiculata Bl. wako. bangka minyak. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. panjangnya 9-11 mm. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. tidak ada rambut. tinjang. Ukuran: Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. kayu bakar dan arang. warna coklat. Hipokotil silindris. Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. bakau puteh. kuning kecoklatan. melengkung.

buah. d.Rhizophora apiculata daun bunga buah & hipokotil a c b d a. daun. b. bunga. pohon 1193 . c.

tak bertangkai. Pada umumnya tumbuh dalam kelompok.Rhizophora mucronata Lmk. panjang 2. Pertumbuhan optimal terjadi pada areal yang tergenang dalam. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 27 m.5-5. Buah lonjong/panjang hingga berbentuk telur berukuran 5-7 cm. serta pada tanah yang kaya akan humus. bakau hitam. jarang melebihi 30 m.apiculata tetapi lebih toleran terhadap substrat yang lebih keras dan pasir. Ukuran: 11-23 x 5-13 cm. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Afrika Timur. Daun : Daun berkulit. Kadang-kadang ditanam di sepanjang tambak untuk melindungi pematang. Ukuran: Hipokotil: panjang 36-70 cm dan diameter 2-3 cm. 9 mm. Benang sari: 8. Merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang paling penting dan paling tersebar luas. lolaro. Bentuk: elips melebar hingga bulat memanjang. bakau korap. Madagaskar. ada rambut. Daun mahkota: 4. Letak: di ketiak daun. Kelopak bunga: 4. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Formasi: Kelompok (4-8 bunga per kelompok). Mauritania. Anakan yang telah dikeringkan dibawah naungan untuk beberapa hari akan lebih tahan terhadap gangguan kepiting. Tanin dari kulit kayu digunakan untuk pewarnaan. Melanesia dan Mikronesia. belukap. Anakan seringkali dimakan oleh kepiting. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bangka itam. Gagang daun berwarna hijau.putih. Asia tenggara. 4120 . Pinak daun terletak pada pangkal gagang daun berukuran 5. berwarna hijaukecoklatan. dongoh korap.5 cm. Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh dari percabangan bagian bawah.5-8. dekat atau pada pematang sungai pasang surut dan di muara sungai. Leher kotilodon kuning ketika matang. jarang sekali tumbuh pada daerah yang jauh dari air pasang surut. Dibawa dan ditanam di Hawaii. Di areal yang sama dengan R. Hal tersebut mungkin dikarenakan adanya akumulasi tanin dalam jaringan yang kemudian melindungi mereka. bersifat biseksual. Ujung: meruncing.5-5 cm. dan kadang-kadang digunakan sebagai obat dalam kasus hematuria (perdarahan pada air seni).5 cm. seluruh Malaysia dan Indonesia. panjangnya 13-19 mm. sehingga menghambat pertumbuhan mereka. jankar. bakau merah. Batang memiliki diameter hingga 70 cm dengan kulit kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah horizontal. lenggayong. kuning pucat. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. Hipokotil silindris. kasar dan berbintil. Manfaat : Kayu digunakan sebagai bahan bakar dan arang. berbiji tunggal. seringkali kasar di bagian pangkal. Gagang kepala bunga seperti cagak.

bunga. buah. daun. b. c. d. pohon 1213 .Rhizophora mucronata daun bunga c buah & hipokotil a b d a.

Sumba. tongke besar.5 cm. Ukuran: meruncing. tinggi hingga 10 m. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. wako. Daun mahkota: 4. Bentuk: elips melebar. slindur. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau. Anggur ringan serta minuman untuk mengobati hematuria (pendarahan pada air seni) dapat dibuat dari buahnya. Satu jenis relung khas yang bisa ditempatinya adalah tepian mangrove pada pulau/substrat karang. berwarna abu-abu hingga hitam. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Taiwan. Kulit kayu halus. Memiliki akar tunjang dengan panjang hingga 3 m. Kelimpahan : Umum. kayu bakar. Tumbuh pada habitat yang beragam di daerah pasang surut: lumpur. Gagang kepala bunga seperti cagak. Sumbawa.Rhizophora stylosa Griff. Leher kotilodon kuning kehijauan ketika matang. mucronata. Bali. Gagang daun berwarna hijau. Sumatera. Menghasilkan bunga dan buah sepanjang tahun. Daun : Daun berkulit. Panjangnya 2. dan akar udara yang tumbuh dari cabang bawah. Maluku dan Irian Jaya. berbintik teratur di lapisan bawah. biseksual. Papua New Guinea dan Australia Tropis. panjangnya 13-19 mm. Kemungkinan diserbuki oleh angin. Menyukai pematang sungai pasang surut. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. Malaysia. berisi 1 biji fertil. Ukuran: Hipokotil: panjang 20-35 cm (kadang sampai 50 cm) dan diameter 1. 8 mm.5-2. bercelah.5-5 cm. Manfaat : Sebagai bahan bangunan. Ujung: meruncing. Deskripsi umum : Pohon dengan satu atau banyak batang.0 cm. kuning hijau. Tercatat dari Jawa. bako-kurap. Formasi: kelompok (8-16 bunga per kelompok). tombak serta berbagai obyek upacara. berbintil agak halus. Jumlah bunga per kelompok dari jenis R. Kelopak bunga: 4. Sulawesi. Benang sari: 8. Catatan : 4122 . sepanjang Indonesia. berbentuk buah pir. tetapi juga sebagai jenis pionir di lingkungan pesisir atau pada bagian daratan dari mangrove. Lombok. ada rambut. Hipokotil silindris. berwarna coklat. bangko. Filipina. putih.5-4 cm. Masyarakat Aborigin di Australia menggunakan kayu jenis ini untuk pembuatan bumerang. dan sebuah tangkai putik. Letak: di ketiak daun. pasir dan batu. dan arang. panjang 4-6 mm. dengan pinak daun panjang 4-6 cm. stylosa lebih banyak daripada R. panjang gagang 1-3.

bunga. d. buah.Rhizophora stylosa daun & bunga buah c b a d a. b. c. daun. pohon 1233 .

Biji yang memiliki tepian seperti sayap dapat terapung di permukaan air. Buah memiliki gagang yang tebal. Kepala sari: Ujungnya tumpul. Ukuran: 4-9 x 3-5. maka biji tersebut akan tenggelam. berbintil. Apabila sayapnya dicopot. Berwarna kuning dengan garis-garis memanjang berwarna jingga. Tercatat di Jawa. elips melebar dengan pangkal yang tidak merata. Daun : Permukaan atas daun ditutupi oleh rambut.5-2 cm. Kelopak bunga: 5 terdapat kelenjar di dalamnya. panjang gagang 2-30 mm. Ujung: meruncing. Bunga : Buah : Ekologi : Distribusi : Kelimpahan : Tidak tahu. dan memiliki batang yang halus. diameter 12-14 mm. Bunga terdapat pada tandan yang padat. Bagian dalam bunga ditutupi rambut-rambut pendek. panjang gagang bunga 0. Daun agak tebal. Unit & Letak: sederhana & berlawanan.5 cm. biji: 20-25 x 16-18 mm. Tumbuh pada mangrove berlumpur. Ukuran: buah: 8-9 x 7-8 cm. sebagian besar soliter. & S. 4124 . Berwarna coklat. dikelilingi oleh tepian yang menyerupai sayap. Biji berjumlah banyak.Sarcolobus globosa R. ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Tidak tahu. permukaannya rata dan bentuknya bulat telur terbalik. Bentuk: bulat memanjang. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.5 mm. khususnya di bagian urat daun. kaya akan cairan yang menyerupai susu. Letak: di ketiak daun. Manfaat : Tidak tahu. Daun mahkota: 5. berukuran 13-15 x 8-9 mm. terletak diatas tabung yang panjangnya 2. Formasi: kelompok (5-10 bunga per kelompok). tetapi kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Deskripsi umum : Semak pemanjat dengan ketinggian hingga 4 m. berwarna coklat.

daun 1253 . bunga. c. buah.Sarcolobus globosa a b c a. b.

Scyphiphora hydrophyllacea

Gaertn.

RUBIACEAE

Nama setempat : Perepat lanang, cingam, duduk perempuan, duduk rayap, duduk rambat, dandulit. Deskripsi umum : Semak tegak, selalu hijau, seringkali memiliki banyak cabang, ketinggian mencapai 3 m. Kulit kayu kasar berwarna coklat, cabang muda memiliki resin, kadang-kadang terdapat akar tunjang pada individu yang besar. Daun : Daun berkulit dan mengkilap. Pinak daun berkelenjar, terletak pada pangkal gagang daun membentuk tutup berambut. Gagang daun lurus panjangnya hingga 13 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 4-9 x 2-5 cm. Warna putih, hampir tak bertangkai, biseksual, terdapat pada tandan yang panjangnya hingga 15 mm. Letak: di ketiak daun. Formasi: kelompok (3-7 bunga per kelompok). Daun mahkota: 4-5; putih-agak merah, elips, 2-4 x 22,5 mm, mulut berambut kasar. Kelopak bunga: 4-5; berbentuk mangkok, bawahnya seperti tabung (panjang 5mm). Benang sari: 4-5. Silindris, berwarna hijau hingga coklat, berurat memanjang dan memiliki sisa daun kelopak bunga. Tidak membuka ketika matang. Terdapat 4 biji silindris. Ukuran: buah: panjang 8 mm, biji: 1 x 2 mm. Tumbuh pada substrat lumpur, pasir dan karang pada tepi daratan mangrove atau pada pematang dan dekat jalur air. Nampaknya tidak toleran terhadap penggenangan air tawar dalam waktu yang lama dan biasanya menempati lokasi yang kerap tergenang oleh pasang surut. Dilaporkan tumbuh pada lokasi yang tidak cocok untuk dikolonisasi oleh jenis tumbuhan mangrove lainnya. Perbungaan terdapat sepanjang tahun, kemungkinan diserbuki sendiri atau oleh serangga. Nektar diproduksi oleh cakram kelenjar pada pangkal mahkota bunga. Banyak buah yang dihasilkan, akan tetapi pembiakan biji relatif rendah. Buah teradaptasi dengan baik untuk penyebaran oleh air karena kulit buahnya yang ringan dan mengapung.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : India, Sri Lanka, Malaysia, seluruh Indonesia, Papua New Guinea, Filipina, Kepulauan Solomon dan Australia Tropis. Kelimpahan : Tersebar, dan secara keseluruhan relatif jarang. Manfaat : Catatan : Kayu kemungkinan dapat digunakan untuk peralatan makan, seperti sendok. Daun dapat digunakan untuk mengatasi sakit perut. Sangat menyerupai Lumnitzera, tetapi daun Lumnitzera letaknya bersilangan.

4126

Scyphiphora hydrophyllaceae

daun

bunga

buah

b a

c

a. bunga; b. buah; c. daun

1273

Sonneratia alba

J.E. Smith

SONNERATIACEAE

Nama setempat : Pedada, perepat, pidada, bogem, bidada, posi-posi, wahat, putih, beropak, bangka, susup, kedada, muntu, sopo, barapak, pupat, mange-mange. Deskripsi umum : Pohon selalu hijau, tumbuh tersebar, ketinggian kadang-kadang hingga 15 m. Kulit kayu berwarna putih tua hingga coklat, dengan celah longitudinal yang halus. Akar berbentuk kabel di bawah tanah dan muncul kepermukaan sebagai akar nafas yang berbentuk kerucut tumpul dan tingginya mencapai 25 cm. Daun : Daun berkulit, memiliki kelenjar yang tidak berkembang pada bagian pangkal gagang daun. Gagang daun panjangnya 6-15 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 5-12,5 x 3-9 cm. Biseksual; gagang bunga tumpul panjangnya 1 cm. Letak: di ujung atau pada cabang kecil. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). Daun mahkota: putih, mudah rontok. Kelopak bunga: 6-8; berkulit, bagian luar hijau, di dalam kemerahan. Seperti lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. Benang sari: banyak, ujungnya putih dan pangkalnya kuning, mudah rontok. Seperti bola, ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Buah mengandung banyak biji (150-200 biji) dan tidak akan membuka pada saat telah matang. Ukuran: buah: diameter 3,5-4,5 cm. Jenis pionir, tidak toleran terhadap air tawar dalam periode yang lama. Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan karang. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai. Di lokasi dimana jenis tumbuhan lain telah ditebang, maka jenis ini dapat membentuk tegakan yang padat. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga hidup tidak terlalu lama dan mengembang penuh di malam hari, mungkin diserbuki oleh ngengat, burung dan kelelawar pemakan buah. Di jalur pesisir yang berkarang mereka tersebar secara vegetatif. Kunang-kunang sering menempel pada pohon ini dikala malam. Buah mengapung karena adanya jaringan yang mengandung air pada bijinya. Akar nafas tidak terdapat pada pohon yang tumbuh pada substrat yang keras.

Bunga :

Buah :

Ekologi :

Penyebaran : Dari Afrika Utara dan Madagaskar hingga Asia Tenggara, seluruh Indonesia, Malaysia, Filipina, Australia Tropis, Kepulauan Pasifik barat dan Oceania Barat Daya. Kelimpahan : Umum. Melimpah setempat. Manfaat : Buahnya asam dapat dimakan. Di Sulawesi, kayu dibuat untuk perahu dan bahan bangunan, atau sebagai bahan bakar ketika tidak ada bahan bakar lain. Akar nafas digunakan oleh orang Irian untuk gabus dan pelampung.

4128

Sonneratia alba

daun

bunga

buah

b

c

b

a

d

a. bunga; b. buah; c. daun; d. pohon

1293

Malaysia. Ujung: membundar. bogem. ukuran 17-35 x 1. Ketika bunga berkembang penuh (setelah jam 20. tabung kelopak bunga berbentuk mangkok. dan berbentuk segi empat pada saat muda. jarang mencapai 20 m. seringkali sepanjang sungai kecil dengan air yang mengalir pelan dan terpengaruh oleh pasang surut. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.5 mm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Tidak toleran terhadap naungan. Daun mahkota: merah. mulai dari bagian hulu dimana pengaruh pasang surut masih terasa. perepat. Selama hujan lebat. Ukuran: buah: diameter 6-8 cm. 4130 . Tidak pernah tumbuh pada pematang/ daerah berkarang. Ujung cabang/ranting terkulai. bijinya lebih banyak (800-1200). Deskripsi umum : Pohon. Juga tumbuh di sepanjang sungai. bagian luar hijau. 5-13 x 2-5 cm. dan Kepulauan Solomon. Daun : Gagang/tangkai daun kemerahan. berkulit. dan melimpah setempat. ketinggian mencapai 15 m. SONNERATIACEAE Nama setempat : Pedada. pada tanah lumpur yang dalam. Bentuk: bulat memanjang.00 malam). wahat merah. Manfaat : Buah asam dapat dimakan (dirujak). mudah rontok. hingga Australia tropis. Seperti bola. Kelopak bunga: 6-8. Biji mengapung. Memiliki akar nafas vertikal seperti kerucut (tinggi hingga 1 m) yang banyak dan sangat kuat.Sonneratia caseolaris (L. termasuk Indonesia. posi-posi merah. Filipina. Kayu dapat digunakan sebagai kayu bakar jika kayu bakar yang lebih baik tidak diperoleh. bunga berisi banyak nektar. biasanya tanpa urat. Letak: di ujung. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Sri Lanka. Ketika mekar penuh. lebar dan sangat pendek. akar nafas dapat digunakan untuk mengganti gabus.5-3. Ukuran: bervariasi.) Engl. seluruh Asia Tenggara. rambai. Tumbuh di bagian yang kurang asin di hutan mangrove. serta di areal yang masih didominasi oleh air tawar. kecenderungan pertumbuhan daun akan berubah dari horizontal menjadi vertikal. Benang sari: banyak. Kelimpahan : Umum. bidada. di dalam putih kekuningan hingga kehijauan. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. ujungnya putih dan pangkalnya merah. Pucuk bunga bulat telur. mudah rontok. Setelah direndam dalam air mendidih. Ukuran lebih besar dari S. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok).alba. pidada.

daun. buah. b. pohon 1313 . d.Sonneratia caseolaris bunga kuncup daun buah bunga mekar a c b d a. bunga. c.

SONNERATIACEAE Nama setempat : Bogem. Formasi: soliter-kelompok (ada 1-3 bunga per kelompok). tanah berlumpur dan di sepanjang sungai kecil yang terkena pasang surut.5 4. kedabu. Daun : Bunga : Gagang/tangkai daun panjangnya 2-15 mm. Sungai Sebangau/Kalimantan Tengah. Seperti bola. Panjangnya 2. Letak: di ujung. ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Tidak pernah tumbuh pada substrat karang. Kepulauan Riau. Ukuran: 4-10 x 3-9 cm. Benang sari: banyak. dengan cabang muda berbentuk segi empat serta akar nafas vertikal. Ukuran: buah: diameter 3-5 cm. warnanya putih dan mudah rontok. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. panjang 1-2 cm. biasanya hingga 5 m. Sumatra. Jawa. dan Papua New Guinea. Kelimpahan : Umum setempat. Malaysia. Kelopak bunga: bagian dalam merah. Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove yang airnya kurang asin.alba. Gagang/tangkai bunga lurus. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil atau sedang. Ukuran hampir sama dengan S. Maluku.5 cm.Sonneratia ovata Back. Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Thailand. atau kadang-kadang tidak ada. kadang-kadang mencapai 20 m. Ujung: membundar. Buah muda dapat dimakan sebagai rujakan. Pucuk bunga berbentuk bulat telur lebar dan ditutupi oleh tonjolan kecil. 4132 . Sulawesi. Tabung seperti mangkok. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. muncul dari gagang yang pendek. Manfaat : Kayu bakar. tetapi secara keseluruhan agak jarang. Bentuk: bulat telur. Daun mahkota: tidak ada.

Sonneratia ovata bunga buah c a b d a. b. buah. pohon 1333 . c. daun. bunga. d.

Irian Jaya. khususnya pada area bekas tebangan hutan dan gangguan lainnya. Kelimpahan : Melimpah setempat. nyireh. susunan daun berpasangan (umumnya 2 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. tipis dan mengelupas. Buah akan pecah pada saat kering. berat bisa 1-2 kg. Sumatera. jomba. buli hitam. nyiri hutan. Bali.Xylocarpus granatum Koen MELIACEAE Nama setempat : Niri. Kulit kayu berwarna coklat muda-kekuningan.5 . jombok gading. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian 10-20 m. khususnya pada pohon yang lebih tua. Bentuk: elips bulat telur terbalik. berkayu dan berbentuk tetrahedral. Benang sari: berwarna putih krem dan menyatu di dalam tabung. Madura. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia tumbuh di Jawa. Bunga terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. meliuk-liuk dan membentuk celahan-celahan. warna hijau kecoklatan. Individu yang telah tua seringkali ditumbuhi oleh epifit. mokmof. panjang 5-7 mm. Susunan biji di dalam buah membingungkan seperti teka-teki (dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘puzzle fruit’). panjang 3 mm. Ujung: membundar. kuning muda. buli. nyuru. pohon kira-kira. Daun mahkota: 4. 4134 . Tandan bunga (panjang 2-7 cm) muncul dari dasar (ketiak) tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 4-8 mm. Kepulauan Karimun Jawa. Kulit kayu dikumpulkan karena kandungan taninnya yang tinggi (>24% berat kering). bulu putih. pinggir daratan dari mangrove. nilih. Seringkali tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. Ukuran: 4. nyiri. kadang-kadang digunakan sebagai bahan pembuatan perahu. Di dalam buah terdapat 6-16 biji besar-besar. nyiri udang. Manfaat : Kayunya hanya tersedia dalam ukuran kecil. siri. Formasi: gerombol acak (8-20 bunga per gerombol). Letak: di ketiak. Maluku dan Sumba. kabau. Batang seringkali berlubang. banang-banang. Kalimantan. Daun : Agak tebal. Tumbuh di sepanjang pinggiran sungai pasang surut. niumiri-kara. putih kehijauan. Buahnya bergelantungan pada dahan yang dekat permukaan tanah dan agak tersembunyi. Kelopak bunga: 4 cuping. Memiliki akar papan yang melebar ke samping. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. berkulit. tepinya bundar. Seperti bola (kelapa). kulit kayu berkeriput. dan lingkungan payau lainnya yang tidak terlalu asin.17 cm x 2. Sulawesi. Ukuran: buah: diameter 10-20 cm.9 cm.5 . sementara pada cabang yang muda. nyireh bunga. nipa. lonjong. inggili.

b. bunga.Xylocarpus granatum bunga buah a c d b a. d. daun. c. buah. kulit kayu 1353 .

Manfaat : Bahan bangunan. mengelupas secara longitudinal.5 cm. Substrat tumbuhnya terdiri dari pasir dan lumpur. Benang sari: tabung benang sari berbentuk seperti kendi. biji: diameter 6. berwarna putihkekuningan dan panjang 5 x 2 mm. Afrika Timur. Seperti bola dan terbagi atas beberapa bagian kepingan. panjang 5 mm. 4136 . Australia Barat. Asia Tenggara. berbentuk tiang dengan mahkota berbentuk kerucut. dengan ujung tajam atau tumpul dengan panjang 2-4 mm. panjang 2 mm. Kulit kayu berwarna coklat muda. Ukuran: panjang bisa mencapai 20 cm. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. ketinggian sampai 15 m. Ujung: membundar. Daun : Pinak daun berbentuk lonjong. dengan ukuran 4. Bentuk: elips . Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tercatat di PNG. Daun mahkota: berbentuk lonjong lebar.bulat telur terbalik. Jamu dari pohon ini digunakan untuk mengobati kolera. kayu bakar. Ukuran: buah: diameter 5-10 cm.5 cm. Formasi: gerombol acak (9-35 bunga per gerombol). Kelopak bunga: berwarna hijau. Kepala sari panjangnya 1 mm.Xylocarpus mekongensis Pierre MELIACEAE Nama setempat : Tidak tahu.5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 6-10 mm. Pohon jenis ini ditemukan di tepi hutan yang berbatasan dengan perairan pasang surut dan pada bagian tepi daratan di daerah mangrove. dan mungkin saja tumbuh di Irian Jaya Kelimpahan : Ditemukan secara berkala tetapi tidak pernah dalam kelimpahan yang tinggi.5-12 x 2-7. Letak: di ketiak. Mereka menyukai daerah yang memperoleh masukan air tawar selama beberapa kali dalam setahun. dan memiliki garis-garis sempit. Tandan bunga (panjang 4-6. minyak untuk penerangan dan minyak rambut serta untuk pewarnaan (di PNG). Deskripsi umum : Pohon yang kuat.

d. bunga. c.Xylocarpus mekongensis a b c d e a. b. e. kulit kayu. daun. buah. akar 1373 .

Daun : Lebih tipis dari X. Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. Jenis mangrove sejati di hutan pasang surut. nyuru. MELIACEAE Nama setempat : Niri/nyirih batu. nyiri gundik. hijau kekuningan. pamuli. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa. banang-banang. jombok. Kelopak bunga: 4 cuping. susunan daun berpasangan (umumnya 2-3 ps pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. Warna hijau. Memiliki akar nafas mengerucut berbentuk cawan. siri. Bentuk: elips . Bali.5 mm. tepinya bundar. Kelimpahan : Umum setempat. putih kekuningan. raru. menyatu. Unit & letak: majemuk & berlawanan.Xylocarpus moluccensis (Lamk) Roem. Tandan bunga (panjang 6-18. Kalimantan. panjang nya 6-7 mm. Formasi: gerombol acak (10-35 bunga per gerombol). Biji digunakan sebagai obat sakit perut. perahu dan kadang-kadang untuk gagang keris. pematang sungai pasang surut. loleso.granatum. bulat seperti jambu bangkok. lonjong. kabau. Sulawesi. nyirih. Letak: di ketiak. Jamu yang berasal dari buah dipakai untuk obat habis bersalin dan meningkatkan nafsu makan. Daun mahkota: 4. putih krem dan tingginya sekitar 2 mm. NTT. serta tampak sepanjang pantai. sementara pada batang utama memiliki guratan-guratan permukaan yang tergores dalam. Maluku. Benang sari: 8. permukaan berkulit dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral.5cm. mojong tihulu.bulat telur terbalik. Deskripsi umum : Pohon tingginya antara 5-20 m. Ukuran: 4-12 cm x 2-6. membuat rumah. Tanin kulit kayu digunakan untuk membuat jala serta sebagai obat pencernaan. Ujung: meruncing. parasar. miumeri-mee.5 cm) muncul dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga panjangnya 2-10 mm. 4138 . Irian Jaya. panjang sekitar 1. Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. Ukuran: buah: diameter 8-15 cm. Kulit kayu halus.

akar 1393 . bunga. b. daun. d.Xylocarpus moluccensis buah bunga c a b d a. kulit kayu. c.

jombok. Daun : Susunan daun berpasangan (umumnya 3-4 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. Memiliki akar udara tapi tidak jelas. membuat rumah dan perahu. Kulit kayu kasar berwarna coklat dan mengelupas seperti guratan-guratan kecil dan sempit. Manfaat : Kayu dipakai untuk kayu bakar. bulat seperti jambu bangkok. Jenis mangrove sejati. krem-putih kehijauan. Letak: di ketiak. Kelopak bunga: 4 cuping. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa dan Bali. Ukuran: 7 x 12 cm. Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja.) Mabb. Bentuk: bulat telur-bulat memanjang. Ukuran: buah: diameter 8 cm (lebih kecil dari X.Xylocarpus rumphii (Kostel. hijau kekuningan. siri. granatum). Benang sari: menyatu membentuk tabung. Kelimpahan : Tidak diketahui. Terdapat di pantai berpasir atau berbatu. 4140 . Daun mahkota: 4. Ujung: meruncing. MELIACEAE Nama setempat : Nyirih. nyirih batu. Warna hijau tua. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. Formasi: Gerombol acak. Warna hijau. banang-banang. Deskripsi umum : Pohon tingginya dapat mencapai 6 m. di belakang atau sedikit di atas garis pasang tinggi. putih krem. niri. permukaan licin berkilauan dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral.

buah. c. b.Xylocarpus rumphii daun buah pohon a c b a. daun 1413 . bunga.

1433 .

Daun : Berwarna hijau tua.asiatica memiliki daun yang lebih berdaging. Bentuk: bulat telur terbalik. crenulata memiliki daun yang tumbuh berpasangan serta memiliki duri di sepanjang batangnya. tumpul. lebih mengkilat dan ujung yang lebih runcing dibandingkan dengan T. Besar. termasuk Sumatera. talise.catappa.Barringtonia asiatica (L. seperti lintah. Kulit kayu abu-abu agak merah muda dan halus. Tercatat di seluruh Indonesia. Di Jawa. hutun. bitung. Buah berwarna hijau (kadang tersamar oleh warna daunnya) lalu berubah menjadi cokelat. cairan yang diperoleh dari bijinya dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan payung . Ketika masih muda daun berwarna agak merah muda. Penyerbukan kemungkinan dilakukan oleh ngengat besar. agak tebal. Buah sering terlihat mengapung sepanjang pantai. Jawa. Deskripsi umum : Pohon berukuran kecil hingga sedang dengan ketinggian 7-20 (-30) m dan diameter 25-100 cm. Tumbuh di hutan pantai.) Kurz LECYTHIDACEAE Nama setempat : Sea putat. kadang-kadang di mangrove. serta untuk membunuh ekto-parasit. butun. Mereka mengapung dan dapat tumbuh setelah menempuh perjalanan yang jauh. Ranting tebal. Ujung: agak membundar. Catatan : 4144 . putat laut. Sunda Kecil dan Maluku. permukaan halus dan berbentuk tetrahedral/piramid seperti buah delima. Kalimantan. warnanya merah di bagian ujung dan putih di dekat pangkal. Bunga terbuka setelah matahari tenggelam dan rontok menjelang pagi. B. Benangsari: banyak dan panjang. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Tumbuh dari Madagaskar hingga Pasifik Barat. ketika tua berwarna kuning atau merah muda pucat. Biji yang digunakan sebagai racun ikan seringkali dicampur dengan tuba (Derris – rotenon). Kelopak bunga: berwarna putih kehijauan. Kelimpahan : Umum. putih dan kuning. F. Ukuran: 15-45 x 9-20 cm. menggantung seperti payung. Menggantung. pertun. Sulawesi. Manfaat : Kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias. Meskipun demikian. Pohon dan bijinya mengandung saponin yang dapat digunakan sebagai racun ikan. berukuran sangat besar. Ukuran: diameter buah 1015 cm. Tumbuh sama baiknya di daratan. bogem. Formasi: bergerombol. sehingga hanya terbuka satu malam saja. Minyak yang berwarna kemerahan dapat diperoleh dengan memanaskan dan memeras bijinya. diameternya sampai 10 cm dan harum. Mahkota pohon berdaun besar dan rimbun. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. berkulit dan urat daun nampak jelas. Bali. Berisi satu biji berukuran besar. Jenis ini seringkali dikelirukan dengan Terminalia catappa atau Fagraea crenulata. pantai dan pantai berkarang. butong. Daun mahkota: 4.

b. daun 1453 . c.Barringtonia asiatica buah pohon a a c b a. buah. bunga.

Calophyllum inophyllum L. Memiliki getah lekat berwarna putih atau kuning. ukuran diameter 2-3 cm. kayu dan obat-obatan. Manfaat : Buah mudanya digarami untuk makanan. ketinggian 10-30 m. GUTTIFERAE Nama setempat : Camplung. bagian bawahnya hijau agak kekuningan. 4146 . menggantung seperti payung. Letak: di ketiak. menaga. nyamplung. Jawa. Di Australia. bintangur laut. minyak. benaga. biasanya tumbuh agak bengkok. Ukuran: 10-21. tercatat di Sumatera. Malaysia dan Indonesia (Bali) sering ditanam sebagai pohon peneduh. Bagian atas daun berwarna hijau tua dan mengkilap. Berbentuk bulat seperti bola pingpong kecil. bintanguru. Dapat digunakan sebagai bahan pewarna. Daun mahkota: 4. dengan satu atau lebih saat puncaknya. naga. condong atau bahkan sejajar dengan tanah. Penyerbukan hampir pasti dilakukan oleh serangga. tandan bunga panjangnya hingga 15 cm serta memiliki 5-15 bunga per tandan. Biseksual.5-4 cm. Kadang-kadang tumbuh pada lokasi mangrove. Daun : Memiliki banyak urat dengan posisi lateral paralel dan halus. Ukuran: diameter buah 2. berdaun rimbun.5 x 6-11 cm. dua dari kelopak bunga berwarna putih. agak mirip dengan daun Rhizopora mucronata (jenis bakau). Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Tumbuh pada habitat bukan rawa dan pantai berpasir. biasanya pada habitat transisi. Perbungaan nampaknya terjadi terus menerus sepanjang tahun. Tercatat di Sumatera di sepanjang Danau Singkarak pada ketinggian 386 m. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Dari Afrika Timur hingga Polinesia. Buah disebarkan melalui arus laut. Bali. buahnya yang sudah tua dipakai bermain oleh anak-anak sebagai kelereng atau bola pingpong kecil. Ujung: membundar. Formasi: bergerombol. Di Bali. dan dimasukan ke Pasifik. atau oleh kelelawar yang memakan bagian luar buah yang berdaging. harum. Bentuk: elips hingga bulat memanjang. Kelimpahan : Umum. Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Deskripsi umum : Pohon berwarna gelap. putih dan kuning. memiliki tempurung kuat dan di dalamnya terdapat 1 biji. Kalimantan dan Irian Jaya. hingga ketinggian 200 m. Benangsari: banyak. Kelopak bunga: 4.

b. buah. daun. c. d. bentuk urat daun 1473 . bunga.Calophyllum inophyllum bunga & buah pohon c a a d b a.

widuri. Daun mahkota: putih agak ungu. Ujung: membundar. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. berwarna ungu agak putih. tercatat di Bali dan Jawa. Di Bali dijumpai mulai pada daerah pantai yang gersang dan udaranya panas hingga ke lereng gunung Agung yang suhu udaranya sejuk. modori. pantai berpasir dan lahan berbatu.Calotropis gigantea L. ketinggian mencapai 3 m. Daun : Posisi daun horizontal. Ukuran: 10-20 x 3. Tumbuh pada habitat yang tidak tergenang air. seperti piramid. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Letak: pada ketiak daun. Memiliki banyak getah. diameter 3-4 cm. Kelopak bunga: 5. Kelimpahan : Umum.5 cm. Ukuran: diameter buah 10-15 mm. Bentuk: bulat telur melebar. hingga ketinggian sekitar 300 m. Berbentuk bulat seperti kapsul dan di dalamnya terdapat banyak biji-biji yang permukaannya berambut halus. menori. Formasi: seperti payung yang sedang dibuka. Memiliki tandan dan tangkai/gagang bunga yang panjang. Deskripsi umum : Herba rendah/semak. Umumnya dijumpai di lahan-lahan pantai yang terbengkalai dan terbuka (mendapat sinar matahari penuh). ukuran diameter 6-10 mm. mendori. kekar dan kaku.5-5. permukaan daun (atas maupun bawah) dilapisi oleh rambut-rambut halus yang berwarna agak putih seperti tepung. 4148 . daun dan bunganya sering digunakan sebagai makanan jangkrik. Manfaat : Di Bali. Dryander ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Biduri.

bunga.Calotropis gigantea bunga pohon b a c a. c. b. buah. daun 1493 .

Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Berpotensi sebagai obat farmakologi karena pengaruh kardiovaskular-nya. Kulit kayu bercelah.p. Ukuran: diameter buah 6-8 cm. Formasi: berkelompok secara tidak beraturan. berwarna abu-abu hingga cokelat. Letak: di ujung cabang. Tumbuh di hutan rawa pesisir atau di pantai hingga jauh ke darat (400 m d. hijau mengkilap di bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. kayu susu. Deskripsi umum : Pohon atau belukar dengan ketinggian mencapai 20 m. seperti daun mangga. mengkilat dan berdaging. kayu kurita. serta pilek. hijau hingga hijau kemerahan. putih bersih dengan bagian pusat berwarna jingga hingga merah muda-merah. Daun : Agak gelap. Biasanya tumbuh di bagian tepi daratan dari mangrove. badak. Kulit kayu dan daun digunakan sebagai obat pencahar. Sumatera Barat. Timor dan Irian Jaya. kenyen putih. Akar menjalar di permukaan tanah. Kayu digunakan sebagai kayu bakar dan bahan arang. Tersebar di PNG. Perpanjangan dari masing-masing benang sari yang berambut dan berbentuk seperti taji menutupi kerongkongan tabung mahkota bunga. Ujung: meruncing. kenyeri putih. bintaro. Selintas bentuknya menyerupai buah mangga. menyukai tanah pasir yang memiliki sistem pengeringan yang baik. jabal. mangga brabu. memiliki lentisel dan cairan putih susu. reumatik. bilu tasi. Ukuran: 10-28 x 2-8 cm. putih kehijauan.l). Maluku. Berbentuk bulat. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. Jawa. APOCYNACEAE Nama setempat : Bintan.Cerbera manghas L. Daun mahkota: 5. Manfaat : Minyak yang diperas dari biji dan buah mudanya dapat digunakan untuk mengatasi gatal-gatal. Belakangan ini banyak dipakai sebagai tanaman hias/peneduh di dalam kompleks perumahan. menempel pada mulut tabung. Catatan : 4150 . Kepulauan Bismarck dan seluruh Kepulauan Solomon. Benang sari: tidak bergagang. tetapi kurang memiliki akar udara dan akar nafas. goro-goro. Minyak biji dapat digunakan untuk meracuni ikan (di Burma juga digunakan sebagai insektisida). Biasanya terdapat 20 –30 bunga pada setiap tandan. terbuka terhadap udara dari laut serta tempat yang tidak teratur tergenang oleh pasang surut. waba. Sulawesi Utara. Bentuk: bulat memanjang atau lanset. kadong. Kelopak bunga: 5. Kelimpahan : Umum. jaraknya agak jauh dari daun mahkota. koyandan. Tercatat di Bali.

buah. bunga. b. daun 1513 . c.Cerbera manghas bunga buah pohon c a b a.

Clerodendrum inerme Gaertn VERBENACEAE Nama setempat : Kayu tulang. 4152 . warnanya merah keunguan. Ujung: meruncing. Setidaknya tercatat di Jawa dan Bali. bagian bawahnya bertangkai panjang. Kelimpahan : Umum. kaku dan tertekuk ke dalam. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan di seluruh Indonesia. dengan ketinggian kurang dari 2 m. Ukuran: panjang 3-4 cm. Benang sari: terjurai sangat panjang jika dibandingkan dengan mahkota bunganya. Berbentuk bulat telur. permukaannya seperti kulit. Deskripsi umum : Belukar. Letak: di ketiak daun. Manfaat : Tidak diketahui. warna hijau hingga kecoklatan. bulat memanjang. Kelopak bunga: hijau dan jaraknya agak jauh dari daun mahkota. Daun : Hijau tua mengkilap di bagian atas. kwanji. mengkilat dan berdaging. Bentuk: elip. Formasi: berkelompok (3 bunga per kelompok). menjalar melebar di permukaan tanah. Berbentuk lonceng. Daun mahkota: 5. Tumbuh subur pada daerah lumpur kering atau lumpur berpasir di belakang kawasan hutan mangrove. dadap-laut. keranji. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Ukuran: diameter buah 7-10 mm. putih bersih.

buah. b. c.Clerodendrum inerme daun. daun 1533 . bunga. bunga & buah c a b a.

Bunga muncul pada bulan September – November.5 cm. gadel. Bentuk: bulat telur atau elips. bulat memanjang atau hampir bundar.5-3. Menyukai areal yang mendapat pasokan air tawar. tuba abal. Ujung: meruncing. Deskripsi Umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu. hampir bundar. Masyarakat di Indonesia Timur menanam varietas sendiri yang kemudian dicampur dengan bahan kimia untuk meracuni (membius) ikan. halus dengan lentisel merah muda. hijau-perunggu ketika kering. toweran. memiliki banyak lentisel. tuba laut. Daun : Memiliki 3-7 pinak daun. biji 12 x 11 mm. Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas. Manfaat : Penggunaan jenis ini untuk meracuni ikan sudah banyak diketahui. Formasi: bulir. sementara 9 lainnya bersatu. Daun mahkota: ungu agak putih-merah muda pucat. kambingan. Letak: di ketiak batang yang tumbuh horizontal sepanjang permukaan tanah. Polong berkulit.5 x 2. tergenang secara tidak teratur oleh air pasang surut. areuy ki tonggeret. Ukuran: 6-13 x 2-6 cm. tandan bunga panjangnya 7-20 cm dan gagang bunga panjangnya 2 mm. Satu atau dua biji berkeriput. Unit & Letak: majemuk dan bersilangan. sementara buah pada bulan November sampai Desember (di Australia). Australia. bergerombol. Tumbuh pada substrat berpasir dan berlumpur pada bagian tepi daratan dari habitat mangrove. LEGUMINOSAE Nama setempat : Ambung. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Melalui Asia Tenggara. Cina hingga India dan Afrika. Biji dan polong teradaptasi dengan penyebaran melalui air. Benangsari: bagian atas tumbuh sendiri. tipis/pipih. permukaan atas berwarna hijau mengkilat dan bagian bawah abu-abu-hijau. Batang yang lebih muda berwarna merah tua. Indonesia. Mereka mungkin juga disebarkan melalui angin. yaitu Derris elliptica. Racun ikan yang dijual secara komersial (rotenone) dihasilkan dari akar jenis lain. tuwa areuy. kamulut. Ukuran: buah 2-4. panjang 15 m atau lebih. Batangnya sangat tahan lama dan dapat digunakan sebagai tali.Derris trifoliata Lour. Biseksual. panjangnya sekitar 1 cm. Catatan : 4154 . Kulit kayu coklat tua.

daun 1553 . bunga. b. c.Derris trifolia buah bunga a c b a. buah.

7 – 1. Ukuran: buah 7-8 x 2.Finlaysonia maritima Backer ex Heyne. mengandung getah berwarna putih.5 cm.5-3. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. panjangnya sekitar 0. Buah berpasangan. Kelimpahan : Tidak umum tetapi tersebar luas. Ukuran: 8-13 x 3. kadang-kadang dijumpai lebih ke arah pantai. ASCLEPIADACEAE Nama setempat : Basang siap. Ujung: membundar. 4156 . Deskripsi umum : Tumbuhan pemanjat/perambat berkayu. Daun : Tebal berdaging. Dijumpai pada kawasan mangrove yang terbuka. Bentuk seperti kapsul atau seperti kantung perut ayam. Manfaat : Tidak diketahui.5-5 cm.0 cm. Putih dan merah muda. Bentuk: elips hingga bulat telur terbalik. warna hijau cerah. waktu masih muda berwarna hijau tapi jika sudah matang warnanya kemerahan.

b. buah. daun 1573 .Finlaysonia maritima daun & buah b a a.

Pada daun tua. Bentuk: seperti hati. Kayu digunakan sebagai bahan pembuatan bagian dalam perahu (Lombok). Daun mahkota: kuning.514. molowahu. berkulit dan permukaan bawah berambut halus dan berwarna agak putih. Ukuran: Bunga : Buah : Ekologi : Merupakan tumbuhan khas di sepanjang pantai tropis dan seringkali berasosiasi dengan mangrove. Ujung: meruncing. waru langkong. baru. Daun : Agak tipis (jika dibanding Thespesia populnea). Kulit kayu halus. wakati. Manfaat : Ditanam sebagai pohon peneduh di taman. Daun kadang-kadang digunakan sebagai makanan ternak. Perbedaannya dengan Thespesia populnea dirinci pada halaman berikutnya. siron. Formasi: soliter atau berkelompok (2-5). Akarnya digunakan sebagai obat demam. kabaru. lalu keesokan harinya keseluruhan bunga jadi jingga dan rontok. bahu. iwal. kelenjar pengeluar gula seringkali berwarna hitam karena diserang jamur. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. dengan kepala putik berwarna ungu kecoklatan Membuka menjadi 5 bagian.Hibiscus tiliaceus L. waru lot. waru lenga. Berbentuk lonceng.5 cm. Perbungaan sepanjang tahun.5-15 x 7. waru langit. MALVACEAE Nama setempat : Waru laut. Dasar dari gagang tandan bunga yang memanjang ditutupi oleh pinak daun yang kemudian akan jatuh dan menyisakan tonjolan berbentung cincin. berwarna cokelat keabu-abuan. Ukuran: 7. kasjanaf. Penyebaran geografis serta sifat ekologi alami belum diketahui secara pasti. Kelimpahan : Tersebar luas dan umum. Catatan : 4158 . fau. bergerigi. Serat kayu digunakan sebagai tali. diameter 5-7 cm. Tangkai putik: ada 5 (tidak menyatu). Penyebaran : Di seluruh Indonesia. burik-burik. Deskripsi umum : Pohon yang tumbuh tersebar dengan ketinggian hingga mencapai 15 m. Kelopak bunga: 5. Biji mengapung dan dapat tumbuh meskipun dimasuki air laut. Pan-tropis. Letak: di ketiak daun. waru lengis. setidaknya di penyemaian. Juga umum di sepanjang pinggiran sungai di kawasan dataran rendah. diameter buah sekitar 2 cm. dan memiliki biji khas yang berambut. Saat mekar (sore hari) berwarna kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar.

Hibiscus tiliaceus daun & bunga pohon b c a d a. daun. d. b. bunga. buah. c. pohon 1593 .

Manfaat : Bijinya dilaporkan sebagai obat yang baik untuk sakit perut dan kram. brasiliensis yang memiliki takik pada ujung daun. Bunga membuka penuh sebelum tengah hari. dan I. pes-caprae ssp. dalere. sedangkan akarnya sebagai obat sakit gigi dan eksim.Ipomoea pes-caprae (L. tetapi juga tepat pada garis pantai.) Sweet. tapak kuda. daun katang. balim-balim.5 cm. Batang berbentuk bulat. Berbentuk kapsul bundar hingga agak datar dengan empat biji berwarna hitam dan berambut rapat. kabai-kabai. katang-katang. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. mari-mari. wedule. panjang 3-5 cm.ungu dan agak gelap di bagian pangkal bunga. basah dan berwarna hijau kecoklatan. Keduanya terdapat di Indonesia. Batang panjangnya 5-30 m dan menjalar. loloro. Daun : Tunggal. Kelimpahan : Sangat umum. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. Formasi: soliter. alere. leleri. pes-caprae ssp. wedor. Bentuk: bulat telur seperti tapak kuda. akar tumbuh pada ruas batang. Wanita hamil dilarang memakai tanaman obat ini. Letak bunga: di ketiak daun pada gagang yang panjangnya 3-16 cm. Ujung: membundar membelah (bertakik). watata ruruan. CONVOLVULACEAE Nama setempat : Batata pantai. daun kacang. licin dan mengkilat. Daunnya untuk obat reumatik/nyeri persendian/pegal-pegal. ketepeng. bulalingo. Berwarna merah muda . Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 600 m. tilalade. wasir dan korengan. biji 6-10 mm. biasanya di pantai berpasir. andali arana. dolodoi. lalu menguncup setelah lewat tengah hari. diameter pada saat membuka penuh sekitar 10 cm. daun barah. meskipun anak jenis yang terakhir hanya diketahui dari Sumatera Barat dan Pulau Krakatau. tati raui. Catatan : 4160 . tebal. serta kadang-kadang pada saluran air. yaitu I. Cairan dari batangnya digunakan untuk mengobati gigitan dan sengatan binatang. Deskripsi umum : Herba tahunan dengan akar yang tebal. Daun mahkota: berbentuk seperti terompet/corong. Ukuran: buah 12-17 mm. daredei. Ukuran: 3-10 x 3-10. Dua anak jenis dikenali oleh beberapa penulis. pescaprae yang memiliki cuping daun yang dalam.

bunga.Ipomoea pes-caprae daun & bunga a c b a. c. b. daun 1613 . buah.

jika sudah matang akan merekah dan terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen (bagian).Melastoma candidum D.5 cm. lahan terlantar.5 – 4 m. kemanden Deskripsi umum : Perdu. Warna ungu kemerahan. Letak: di ujung cabang. 4162 .75-8. warnyanya hijau hingga hijau kekuningan. Tangkai putik: warnanya kuning keputihan. hepatitis. pinggir jalan hingga lereng gunung. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. tinggi sekitar 0. keputihan. Kelopak bunga: berbentuk tabung dengan bentuk cuping bergerigi 5. Ukuran: 2-20 x 0. pembekuan dalam pembuluh darah. setiap kelompok ada 2-3 bunga. Berbentuk kapsul bulat. Don MELASTOMATACEAE Nama setempat : Senduduk.5 cm. diameter saat membuka penuh 4. Daun mahkota: jumlahnya 4-18. wasir berdarah. Biasanya muncul bersama tanaman semak lainnya. Ukuran: diameter buah 8-10 mm. kaku. daun dan seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat gangguan pencernaan. tandan dan gagang bunga berwarna hijau kecoklatan. Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 1650 m. senggani. Urat daun menyirip rapat secara lateral. keracunan oleh singkong. warna ungu tua kemerahan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia. diare. Biji kecil sekali berupa bintik-bintik berwarna coklat. Manfaat : Buahnya enak dimakan. mulai dari pantai yang berlumpur. membuka penuh secara horizontal. daunnya yang masih muda sebagai sayur/lalab. Daun : Tebal. panjangnya 8-17 mm. Formasi: berkelompok. bisul dan memperlancar air susu ibu. kluruk.5-6. pada permukaan daun terdapat tiga tulang daun yang jelas dan memanjang lurus seperti garis (longitudinal) kearah ujung daun. harendong. cabangnya banyak. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup. mimisan. sariawan. disentri basiler. Kelimpahan : Sangat umum. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Ujung: meruncing lancip. lapangan terbuka. Akar.

c. buah. daun 1633 . bunga.Melastoma candidum bunga & buah a b c a. b.

Urat daun menyirip kearah pinggiran daun dan tampak sangat jelas. lahan terlantar. cacar air. kemudu. bunga atau kulit batang tanaman ini dapat juga digunakan sebagai obat batuk. Formasi: payung dengan 5-8 bunga. lapangan terbuka. tekanan darah tinggi. buah. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mulai dari Asia Tropis hingga Polynesia. tinggi 3-8 m. cacingan. Ukuran: 10-40 x 5-17 cm.l. Ketika masih mentah berwarna hijau muda. tibah. ketika matang agak kekuningan. radang empedu.p. disentri. Letak: di ketiak daun. dan yang matang untuk membersihkan karat pada logam atau untuk keramas.Morinda citrifolia L. daun muda biasa dikukus dan direbus sebagai sayuran atau untuk membungkus ikan. Warna putih. sariawan. bertangkai pendek. cangkudu. lengkudu. sakit perut . sakit pinggang. Daun mahkota: jumlahnya 5. wungkudu. harum dan mudah rontok. akar. neteu. Buah muda direbus untuk lalab. hutan. pace. daun. Bentuk: bulat telur hingga elips. eodu. coklat kehitaman dan banyak. kudu. mangkudu. Di Indonesia banyak ditemukan dari dataran rendah (dekat pesisir pantai). Daun : Tebal. RUBIACEAE Nama setempat : Mengkudu. Lonjong bulat telur seperti kapsul dan penuh dengan benjolan. eoru. warnyanya hijau tua mengkilap. pamarai. dll. keumudee. pinggir jalan hingga jauh ke darat. mulai dari pantai berpasir hingga berlumpur. labanau. ladang atau ditanam di pekarangan sebagai tanaman sayur atau tanaman obat. Kelimpahan : Sangat umum. 4164 . banyak cabang dengan ranting segi empat. buah setengan matang untuk rujak. warna putih.bangkudu. lembek dan berair. Ujung: meruncing. sakit lever. melancarkan kencing. Deskripsi umum : Perdu atau pohon kecil yang tumbuh membengkok. Manfaat : Akarnya untuk mewarnai batik dan anyaman pandan. ai kombo. tepi daun rata. Ukuran: panjang 5-10 cm. Tumbuh liar di pantai hingga 500 m d. bakulu. Selain itu. yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup hingga sedikit ternaungi. Biji kecil-kecil. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan.

bunga. buah.Morinda citrifolia buah & bunga b a c a. b. daun 1653 . c.

Pandanus odoratissima.0 meter. Formasi: payung. Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya merah. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m.5 – 2. PANDANACEAE Nama setempat : pandan. Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai. 4166 . Kelimpahan : Sangat umum. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam. Panjang antara 0. Letak: di ujung. Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Benangsari: banyak. Manfaat : Sebagai tanaman hias dan tanaman pagar. terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai.

buah. daun 1673 .Pandanus odoratissima buah pohon a b a. b.

PANDANACEAE Nama setempat : Pandan.0 meter Warna merah-ungu. terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai. Kelimpahan : Sangat umum. 4168 .5 – 2. Bunganya dimanfaatkan untuk wangi-wangian dan hiasan pada acara pernikahan. Formasi: payung. Penyebaran : Diduga terdapat di seluruh Indonesia. Parkinson ex Z. Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan garis pantai. Manfaat : Dapat sebagai tanaman pagar. Panjang antara 0. Deskripsi umum : Pohon dapat mencapai ketinggian hingga 6 m.Pandanus tectorius. Letak: di ujung. Daun : Bunga : Buah : Ekologi : Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam. Benangsari: banyak. Seperti buah nenas dan ketika matang warnanya kuning jeruk.

Pandanus tectorius buah pohon b a a. pohon 1693 . buah. b.

Letak: di ketiak tangkai daun. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Berasal dari Amerika Tropis dan di Indonesia tumbuh secara liar. diameter hingga 5 cm. Kulit buah hijau jika mentah dan menjadi getas dan kuning ketika matang. merambat di pagar dan menyenangi lokasi yang mendapat cahaya matahari yang kuat. kileuleur. kadang agak lonjong. kaceprek. ceplukan blungsun.5-5 m. bertangkai 2-10 cm. rajutan.5-3. Seluruh bagian tanaman juga dapat digunakan sebagai obat batuk. Bulat seperti kelereng. Di dalam buah banyak dijumpai biji. 4170 . koreng. berambut halus. Bentuk: seperti jantung. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Memiliki alat pembelit yang beruntaian seperti spiral. buahnya enak dimakan (manis seperti markisa. Tumbuh liar di dekat pantai berpasir yang bukan rawa. Buah dibungkus oleh serabut yang berambut banyak. bungan pulir. Daun : Berwarna hijau kekuningan hingga hijau muda mengkilat seperti ada lapisan lilin. moteti. Deskripsi umum : Terna merambat. lebar menjari dengan tiga lekukan. tapi agak sedikit pahit). tanah lapang terlantar. putih dan panjangnya dapat melampaui ukuran panjang mahkota bunga. borok. pacean. Manfaat : Daun muda dapat digunakan sebagai sayur.) LEGUMINOSAE Nama setempat : Gegambo. Benang sari: banyak. kaap. Formasi: soliter.Passiflora foetida (L. panjang 1. buah pitri. Ukuran: diameter buah 1. lemanas. Kelimpahan : Umum. Warna agak putih hingga ungu muda/pucat. Ujung: meruncing. Ukuran: 5-13 x 4-12 cm. kencing berlemak dan pembesaran kelenjar limfa di leher.0 cm. permot. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik. remugak. pada bagian tengahnya jauh lebih ungu.

Passiflora foetida buah pohon b a a. b. buah. daun 1713 .

Ukuran: 5-22. Formasi: bergerombol secara acak. Polong berkulit tebal dan berparuh. dan kadang-kadang di bagian tepi daratan dari mangrove. Tersebar luas di Asia Tropis. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Biji beracun untuk manusia.5 x 2. ditutupi oleh rambut yang pendek dan halus serta memiliki gigi tumpul yang sangat pendek. Daun : Tersusun dalam dua deret. ki pahang laut. Gagang bunga berukuran 7-15 mm ditutupi oleh pinak daun yang halus dan berambut pendek.) Pierre LEGUMINOSAE Nama setempat : Kacang kayu laut.5-15 cm. Kelopak bunga: berbentuk cangkir. Umum ditanam di areal pesisir kawasan tropis karena sifatnya yang tahan terhadap salinitas dan udara yang terbuka. 4172 . klengkeng. Bentuk: bulat telur hingga elips. kranji. dan memiliki goresan yang menyerupai bintil berdekatan dengan pinak daun pada pangkal gagang daun. mengkilat dan warnanya hijau tua. Unit & Letak: majemuk dan bersilangan. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. awakal. Daun mahkota: berbentuk bulat telur terbalik . Letak: di ketiak daun. Kelimpahan : Umum. bangkong. Tumbuh di pantai berpasir yang bukan rawa. Manfaat : Daun digunakan sebagai makanan ternak. Cabang pada umumnya tidak memiliki rambut atau urat. asawali. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian hingga 15 m. marauwen. padat dan memiliki sebuah biji.Pongamia pinnata (L. panjangnya 4-5 mm. Ukuran: 5-7 x 2-3 cm. Kadang-kadang ditanam sebagai pohon peneduh di sepanjang jalan. warna ungu pucat. Polong tidak membuka ketika masak. memiliki gagang pendek di atas goresan daun mahkota bunga. Seperti kacang. Warna buah hijau kecoklatan. Ujung: meruncing. Bunga seringkali berubah bentuk menjadi kantung bundar yang bisa dikelirukan dengan buahnya. panjang 11-18 mm. Bunga terletak berpasangan di sepanjang tandan bunga yang panjangnya 6-27 cm. dengan 3-7 pinak daun yang terletak secara bersilangan. tangi.

c. bunga. buah. daun 1733 .Pongamia pinnata daun & buah pohon a b c a a. b.

Akar dipakai sebagai obat rematik. eksim. urat daunnya rapat dan jelas. Deskripsi umum : Perdu tegak dapat mencapai ketinggian hingga 3 m. bisul. jarak. lutur bal. Manfaat : Bijinya terasa manis. kilale. kelumpuhan otot muka. balacai. gangguan jiwa (schizophrenia). dulang jai. tapi tepinya bergerigi. ketowang.Ricinus communis Linn. netral dan digunakan untuk mengobati kanker mulut rahim dan kulit. Bentuk: menjari dengan jumlah jari 7 – 9. bronchitis. koreng dan infeksi jamur. kaleke. pedas. jarag. kohongiang. paku ton. epilepsi. Akar jarak tidak tahan terhadap adanya genangan air. lulang. 4174 . tetanus. dulang. Ukuran: diameter 10-40 cm. batuk dan hernia. Dapat tumbuh di areal yang kurang subur asal pH tanahnya sekitar 6-7 dan drainase airnya baik. lafandru. sepanjang pantai atau ditanam sebagai komoditi perkebunan pada ketinggian antara 0 – 800 m dari permukaan laut. berwarna kuning oranye dan berkelamin satu. Warna buah hijau dan bergerombol pada tandan yang panjang. Ujung: meruncing. luka terpukul. malasai. kaliki. lana-lana. Tangkai daun panjang berwarna hijau hingga merah bata. kalikih alang. kolonyan. kalalei. Satu tandan dapat berisikan sekitar 30 – 40 buah. paku penuai. Daunnya untuk obat koreng. Bentuknya bulat bersegmen (ada 3 segmen) dan berambut (seperti buah rambutan). Majemuk. EUPHORBIACEAE Nama setempat : Gloah. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Terdapat di seluruh Indonesia. jarak jawa. Warna daun hijau tua di permukaan atas dan hijau muda di permukaan bawah. TBC kelenjar. luluk. Unit & Letak: sederhana tunggal dan bersilangan. tetanga. alale. Tumbuh liar di hutan. Kelimpahan : Umum. gatal. jarak jitun. Daun : Seperti daun singkong. tanah kosong.

Ricinus communis pohon bunga & buah a b a. b. daun 1753 . buah.

5-9. Ketika muda berwarna hijau muda. babakoan. pada tepi pematang yang tidak terkena pengaruh pasang surut atau di daerah yang sistem drainasenya baik dan lokasinya terbuka terhadap cahaya. Letak bunga: di ketiak daun. berwarna hijau kekuningan dan mengkilat. dapat mencapai ketinggian hingga 3 m. Daun mahkota: putih bersih. Bentuk: bulat telur terbalik hingga elips. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Ukuran: diameter buah 8-12 mm. Tangkai Putik: membengkok. Ukuran: 16. tepinya melengkung dan permukaan daun seperti berlapis lilin. gegabusan. Kelimpahan : Tidak diketahui. sering pada bagian dalamnya terdapat strip/garis berwarna jingga. Deskripsi umum : Herba rendah/semak/pohon.) Roxb.5-30 x 7. Ujung: membundar. Dijumpai secara soliter di bagian tepi daratan dari mangrove. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Mungkin ditemukan di seluruh Indonesia. Berbentuk kapsul. Manfaat : Tidak tahu. Formasi: mengelompok. lalu menjadi putih ketika sudah matang. GOODENIACEAE Nama setempat : Bakung-bakung. Daun : Melebar kearah atas. bulat.Scaevola taccada (Gaertn.5 cm. bako-bakoan. 4176 .

daun 1773 . c. bunga. buah.Scaevola taccada buah & bunga daun. b. bunga & buah c a b a.

5 mm. halus dan ditumbuhi akar pada ruasnya. pada hamparan lumpur dan gundukan pasir. Seringkali ditemukan di sepanjang bagian tepi daratan dari mangrove. Daun mahkota: 5 cuping. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Kelimpahan : Tidak diketahui. krokot.) L. memiliki tangkai panjangnya 3-15 mm dan tabung panjangnya 3 mm. Ukuran: 2. Ujung: membundar. bundar dan halus. halus dan panjangnya 1. Manfaat : Daun dapat dimakan setelah berulangkali dicuci dan dimasak.Sesuvium portulacastrum (L. Madura. Panjangnya hingga 1 m dengan batang berwarna merah cerah. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. warna ungu. Deskripsi umum : Herba tahunan. Kecil. sesepi.5 cm. Biji tidak mengapung. Sulawesi dan Sumatera. lumpur dan tanah liat. Berbentuk kapsul. 4178 . Benangsari: banyak dan 3-4 tangkai putik. gelan-pasir. sepanjang pematang tambak dan kali pasang surut. Juga digunakan sebagai makanan kambing. saruni air. Bunga diserbuki kumbang kecil pengumpul madu serta ngengat yang terbang siang. ditemukan di sepanjang pesisir Jawa. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset.5-7 x 0. Daun : Bunga : Tebal berdaging. pada areal yang secara tidak teratur digenangi oleh pasang surut. MOLLUGINACEAE / AIZOACEAE Nama setempat : Gelang (-laut). Terdapat beberapa biji hitam berbentuk kacang. panjang melintang kira-kira 8 mm. menjalar.5-1. Buah : Ekologi : Penyebaran : Jenis Pan-tropis. seringkali memiliki banyak cabang. Substrat tumbuh berupa pasir. Juga ditemukan di pantai berkarang. panjang 6-9 mm. Formasi: soliter. Letak bunga: di ketiak daun.

b. daun 1793 . buah.Sesuvium portulacastrum pohon c a b a. bunga. c.

Bunga : Ekologi : Penyebaran : Seluruh Indonesia. Daun : Permukaan daun kasar dan guratan – guratan / lekukan di permukaannya tampak jelas. tinggi mencapai 1 meter. jarongan. Manfaat : Sering dipelihara sebagai tanaman pagar hidup karena memiliki manfaat sebagai bahan obat-obatan. Dijumpai pada pematang tambak. Letak: di ketiak daun. Bentuk: bulat telur. datang haid tidak teratur.Stachytarpheta jamaicensis (L. Ujung: meruncing.) Vahl. rumjarum.5 cm. sekar laru. misalnya untuk mengobati infeksi dan adanya batu pada saluran kencing. pada lokasi terbuka dan kering serta mendapat pencahayaan matahari yang kuat.5-6 x 1. VERBENACEAE Nama setempat : Pecut kuda. Terdapat pada tandan yang panjangnya mencapai 4-20 cm seperti pecut. tepi bergerigi.0-3. Ukuran: 2. Kelimpahan : Tidak diketahui. Deskripsi umum : Terna tahunan. Bunga mekar tidak serentak. ki meurit beureum. reumatik. bunga duduk tanpa tangkai. biron. jarong lalaki. tumbuh tegak terburai ke samping membentuk semak. pembersih darah. keputihan dan hepatitis A. ngadi rengga. jarong. 4180 . hamparan lahan yang terbengkalai. ukurannya kecil berwarna ungu kebiruan dan putih. sakit tenggorokan. tidak berambut. Unit & Letak: sederhana dan berlawanan. Formasi: bulir pada tandan yang panjang. laler mengeng. remek getih.

Stachytarpheta jamaicensis pohon a b a. b. bunga. daun 1813 .

tasi. Kayu berwarna merah dan memiliki kualitas yang baik. Ukuran: 825 x 5-14 cm (kadang panjangnya sampai 30 cm). Mahkota pohon berlapis secara horizontal. Ukuran 5-7 cm x 4x5.5 cm. suatu kondisi yang terutama terlihat jelas pada pohon yang masih muda. umumnya memiliki 6-9 pasang urat yang jaraknya berjauhan. indian or singapore almond. Daun : Sangat lebar. COMBRETACEAE Nama setempat : Ketapang. Kelopak bunga: halus di bagian dalam. Bunga : Buah : Ekologi : Penyebaran : Di seluruh Indonesia. dengan sebuah kelenjar terletak pada salah satu bagian dasar dari urat tengah. Australia Utara dan Polinesia. Unit & Letak: s e d e r h a n a dan bersilangan. sirisal. wewa. Bersabut dan cangkangnya sangat keras. Daun kerap digunakan untuk mengobati reumatik. kilaula. klihi. kemudian berubah menjadi merah tua. Tanin digunakan untuk mengatasi disentri serta untuk penyamakan kulit. Formasi: bulir. Sebarannya sangat luas. dengan atau tanpa tangkai putik yang pendek. beowa. 4182 . Bentuk: bulat telur terbalik. Tumbuh di pantai berpasir atau berkarang dan bagian tepi daratan dari mangrove hingga jauh ke darat. luumpoyang. seringkali mendominasi vegetasi pantai. sadina. Tumbuh di bagian tropis Asia. sarisa. lisa. Kulit buah berwarna hijau hingga hijau kekuningan (mengkilat) di bagian tengahnya. klis. Sebagian besar dari bunga merupakan bunga jantan. Ujung: membundar. Kelimpahan : Umum.Terminalia catappa L. digunakan sebagai bahan bangunan dan pembuatan perahu. tetapi agak jarang di Sumatera dan Kalimantan. biasanya dua kali setahun (di Jawa pada bulan Januari atau Februari dan Juli atau Agustus). Deskripsi umum : Pohon meluruh dengan ketinggian 10-35 m. Letak: di ketiak daun. Pohon menggugurkan daunnya (ketika warnanya berubah merah) sekali waktu. Cabang muda tebal dan ditutupi dengan rapat oleh rambut yang kemudian akan rontok. sarisei. Penyebaran buah dilakukan melalui air atau oleh kelelawar pemakan buah. Tandan bunga (panjangnya 8-16 cm) ditutupi oleh rambut yang halus. Biji buahnya dapat dimakan dan mengandung minyak yang berlemak dan bening. sehingga kanopi pohon tampak berwarna merah. Daun berubah menjadi merah muda atau merah beberapa saat sebelum rontok. dumpajang. ketapas. Bunga berwarna putih atau hijau pucat dan tidak bergagang. talisei. Penampilan seperti buah almond. Manfaat : Sering ditanam sebagai pohon peneduh jalanan. sabrise. tiliho. lisa.

daun 1833 . buah. b.Terminalia catappa daun. c. bunga. bunga & buah pohon a c b a.

ex Correa MALVACEAE Nama setempat : Waru laut. Terdapat 3-4 biji pada setiap ruang/segmen buah yang padat ditutupi oleh rambut pendek . waru pantai. Daun dan buah digunakan sebagai obat.Thespesia populnea (L. waru lot. di pematang-pematang tambak dan bagian tepi daratan dari mangrove. Bunga berisi cairan seperti susu berwarna kuning yang kemudian akan berubah menjadi merah. Buah seperti bola dan bersegmen. Terdapat 3-8 pinak daun di bagian luar kelopak bunga. Manfaat : Catatan : Kayunya ringan. Ujung: meruncing. kuning muda dengan warna jingga/gelap di bagian tengah dasar. Kelimpahan : Umum. berkulit dan permukaannya halus. Daun : Bunga : Tebal. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan.) Soland. diameter 2. Buah : Ekologi : Penyebaran : Pan-tropis. Ukuran: 7-24 x 5-16 cm.5-4. di seluruh Indonesia. Perbedaan antara Hibiscus tiliaceus dengan Thespesia populnea adalah sbb: Bagian tanaman Daun kelopak bunga Daun muda Urat utama pada daun Urat coklat pada daun muda Buah siap membuka di pohon Hibiscus tiliaceus bercuping 5 biasanya terdapat 9-11 tidak terdapat ya Thespesia populnea tidak bercuping tidak terdapat 7 terdapat tidak 4184 .5 cm. Tangkai putik menyatu. Pada masa lalu kulit kayu digunakan sebagai bahan serat. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian 2-10 m. salimuli. berwarna kuning dan ujungnya tumpul. Berbentuk lonceng. Bakal buah juga memiliki cairan berwarna kuning. Tumbuh di pantai. Bentuk: seperti hati.

b. buah.Thespesia populnea daun & bunga a c b a. daun 1853 . bunga. c.

Tumbuh terutama sepanjang atau dekat pantai.5 cm. 4186 . pokok serunai. Dapat juga tumbuh di perkebunan kelapa. Daun : Bunga : Tepi daun bergerigi. Bentuk: bulat telur. terletak pada bagian atas ketiak bunga atau kadang-kadang dalam pasangan. seremai. berwarna kuning cerah.Wedelia biflora (L. Deskripsi umum : Ferna tahunan. serunai laut. Digunakan sebagai tumbuhan penutup tanah di perkebunan dengan tujuan untuk menghindari erosi serta mencegah kehilangan air. bunga batang. Gagang bunga panjangnya 1-7 cm.5-2. Dari Afrika Timur hingga Kepulauan Pasifik. diameter 1. Ukuran: 3-17 x 1-12 cm. seruni. Ekologi : Penyebaran : Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia. Cairan yang diambil dari daunnya dapat digunakan untuk mengobati sakit perut atau digunakan untuk ibu yang baru bersalin. panjang 1. Kelimpahan : Umum di mangrove. terutama untuk penggunaan luar.5-4 cm. Mengobati luka terpotong atau terkena gigitan.) DC. Letak: bersilangan. pinggir sungai dan hutan sekunder. berjumlah 20-30. Memiliki kekhasan berupa bunga komposit dengan delapan “daun mahkota” (sesungguhnya adalah bunga terpisah berbentuk seperti bendera) dan cakram bunga (betina). Kepala bunga biasanya soliter. Beberapa rambut tumbuh pada kedua sisi permukaan daun dan pada batang. pada pantai berpasir dan pinggiran mangrove.5-5 m dengan batang yang kurus. Kadang-kadang ditanam. ditutupi oleh rambut. sawah kering. ASTERACEAE Nama setempat : Sernai. Manfaat : Daunnya memiliki kepentingan untuk obat. dengan gagang daun panjangnya 0. Akar digunakan untuk obat penyakit kelamin.

bunga.Wedelia biflora daun & bunga a a b a. daun 1873 . b.

1893

Lampiran 1.

Jenis mangrove, nama lain/sinonim, sumber gambar dan foto, yang tercantum atau dipakai dalam buku panduan ini.
S I N O N I M

JENIS MANGROVE

MANGROVE SEJATI: Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis Bruguiera cylindrica A. intermedia, A. mindanaense A. tomentosa B. caryophylloides, B. malabarica, Mangium minus, M. caryophylloies, Rhizophora cylindrica, R. caryophylloides, R. ceratophylloides, Kanilia caryophylloides Loranthus obovatus Loranthus mackayensis, Amyema cycnei-sinus, L. cycneisinus, A. mackayense ssp. cycnei-sinus A. marina var. alba A. officinalis var eucalyptifolia A. neo-guineensis Chrysodium aureum, C. inaequale, C. vulgare, Acrostichum spectabile, A. inaequale, A. obliquum Chrysodium speciosum Aegialites annulata A. majus, A. fragrans A. nigricans

Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza B. capensis, B. conjugata, B. cylindrica, B. gymnorrhiza, B. rheedii, B. rhumpii,B. wightii, B. zippelii, Mangiumcelsum, M. minus, Rhizophora gymnorrhiza, R. palun, R. rheedii, R. tinctoria Rhizophora caryophylloides

Bruguiera hainessii

4190

SUMBER GAMBAR

SUMBER FOTO

Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Piggott (1988), Holttum (1954), dan material hidup Wightman (1988) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Tomlinson (1986), Wightman (1989) Specimen herbarium Herbarium Bogor Danser (1931) Barlow dalam Henty (1981) Wahyu Gumelar Percival & Womersley

Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley & Nyoman Suryadiputra (1999)

I Nyoman Suryadiputra (1999) Silvius, M. Kitamura et. al. (1997)

Percival & Womersley (1975), Tomlinson (1986), Wightman (1989) Wahyu Gumelar Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

Jennifer Dudley (1999) Hidayat (1999) Kitamura et. al. (1997)

Ding Hou (1958), Wightman (1989) Ding Hou (1958), Tomlinson (1986), Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra

Ding Hou (1958), Tomlinson (1986)

1913

JENIS MANGROVE

S I N O N I M

Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula

B. ritchiei, Rhizophora parviflora, R. cylinrica, Kanilia parviflora B. eriopetala, B. sexangularis, B. australis, B. parietosa, B. angulata, B. oxyphylla, B. malabarica, B. cylindrica, Mangium digitatum, Rhizophora sexangula, R. polyandra, R. plicata, R. australis, R. eriopetala Neesia altissima, Cumingia philippinensis C. aruense C. roxbhurgiana, C. zippeliana, Bruguiera decandra, Rhizophora gromerulata, R. decandra C. candolleana, C. pauciflora, C. forsteniana, C. boviniana, C. lucida, C. timoriensis, C. somalensis, Rhizophora tagal, R. timoriensis, R. candel Stillingia agallocha Dicerolepis paludosa

Camptostemon philippinense Camptostemon schultzii Ceriops decandra Ceriops tagal

Excoecaria agallocha Gymnanthera paludosa Heritiera globosa Heritiera littoralis Kandelia candel Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa Nypa fruticans Osbornia octodonta Phemphis acidula Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Sarcolobus globosa

H. minor, Balanopteris minor, B. tothila Rhizophora candel, K. rheedei L. coccinea, Problastes cuneifolia, Pyrrhantus littoreus, Laguncularia purpurea L. racemosa, Languncularia rosea, Lumnitzera rosea, Petaloma alba, L. racemosa var. pubescens N. fructicans

Mangium candelarium, R. mangle, R. candelaria, R. conjugata R. mangle, R. macrorrhiza, R. longissima,R. latifolia, R. mucronata var. typica R. mucronata var. stylosa S. banksii

4192

(1997) Hidayat (1999) Hidayat (1999). Tomlinson (1986) Ding Hou (1958). al. Jennifer Dudley Hidayat (1999) Kitamura et. (1997) Ding Hou (1958). Kitamura et. Wightman (1989) Ding Hou (1958). Kitamura et. Tomlinson (1986). (1997) Kitamura et. Wightman (1989) Ding Hou (1958). Wightman (1989) Polunin (1988) Tomlinson (1986). Hidayat (1999) Hidayat (1999). (1997) Jennifer Dudley (1999). Hidayat (1999) Jennifer Dudley (1999). Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Wendy Suryadiputra (1999). Tomlinson (1986). Wightman (1989) Hidayat (1999) I Nyoman Suryadiputra Wightman (1989) Specimen Herbarium Bogor Kostermans (1959) Kostermans (1959). Tomlinson (1986). Percival & Womersley (1975). Wightman (1989) Ding Hou (1958). Tomlinson (1986) Ding Hou (1958) Percival & Womersley (1975) Exell (1954). Kitamura (1997) Kitamura et. al. Wightman (1989) I Nyoman Suryadiputra (1999). Wightman (1989) Kitamura et. Tomlinson (1986). al. (1997) Bakhuizen van den Brink (1924) Percival & Womersley (1975). Wightman (1989) Ding Hou (1958). M. Kitamura et. al. Kitamura et. Tomlinson (1986). al. (1997) Silvius. (1997) 1933 . Hidayat (1999). Tomlinson (1986). al.SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Ding Hou (1958). al. Tomlinson (1986).al (1997).

tothila. Mangium caseolare rubrum. I.JENIS MANGROVE Scyphiphora hydrophyllacea Sonneratia alba S I N O N I M H. pagatpat S. biloba. Blatti caseolaris. evenia. malabathricum. Dalbergia heterophylla C. uliginosa. Aubletia caseolaris. acida. lanceolata. B. C. C. neglecta. lactaria B. Convolvulus bilobatus. affine. pes-caprae. ovalis. hydrophylacea S. minor. brasiliensis. S. C. S. M. caseolaris. obovata. S. maritima. M.Rhizophora caseolaris Chiratia leucantha. S. Rhizophora caseolaris. S. rubra I. D. alba Carapa abovate. pagatpat. S. S. heterophylla. S. mossambicensis. granatum Xylocarpus australasicus Carapa moluccensis Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii MANGROVE IKUTAN: Barringtonia asiatica Callophyllum inophyllum Calotropis gigantea Cerbera manghas Clerodendrum inerme Derris trifoliata Finlaysonia maritima Hibiscus tiliaceus Ipomoea pes-caprae Novella repens. maritima. maritimus. brasiliensis. Balanopteris minor. Mangium caseolare album. rubra. griffithii. N. Soldanella marina indica. S. iriomotensis. C. palyanthum D. M. speciosa Melastoma candidum Morinda citrifolia Pandanus odoratissima 4194 . S. S. S. I. Ixora manila. B. C.

Wightman (1989) Backer (1918). Corner (1988). Wightman (1989) SUMBER FOTO Hidayat (1999) Wendy Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999). Polunin (1988) Tomlinson (1986) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wendy Suryadiputra (1999) The Common Littoral Plants of Taiwan I Nyoman Suryadiputra (1999) Jennifer Dudley (1999) Icones Rijksherbarium Leiden I Nyoman Suryadiputra & Hidayat (1999) Hidayat (1999) Tomlinson (1986). van Ooststroom (1953) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Hidayat (1999) 1953 . Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951). Tomlinson (1986). Wightman (1989) Backer & van Steenis (1951). Tomlinson (1986). al. Kitamura et.SUMBER GAMBAR Tomlinson (1986). Wightman (1989) Wightman (1989) Walker (1976) Walker (1976) Wim Giesen I Nyoman Suryadiputra Hidayat (1999) Kitamura (1997) Keng (1987). (1997) Backer & van Steenis (1951) Tomlinson (1986).

macrophylla. villosa. Bupariti populnea W. pilosiuscula. latifoilia.JENIS MANGROVE S I N O N I M Pandanus tectorius Passiflora foetida Pongamia pinnata Ricinus communis Scaevola taccada Sesuvium portulacastrum Stachytarpheta jamaicensis Terminalia catappa Crithmus indicus. S. moluccana. rhodocarpa. V. speciosus. T. Pyxipoma polyandrum. Myrobalanus catappa T. viridis. Portulaca portulacastrum. Croton spinosa L. catappa var. mauritiana. T. Trianthema polyandrum. marginata. R. Thespesia populnea Wedelia biflora 4196 . glabra R. S. inermis. S. macrocarpa. Verbena indica. S. S. repens. dan chlorocarpa. T. R. polyandrum. urticifolia. jamaicensis T. glabrata P. S.

SUMBER GAMBAR SUMBER FOTO Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Tomlinson (1986) Wahyu Gumelar Wahyu Gumelar Wightman (1989) Kitamura et. al. Wightman (1989) Material hidup I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) 1973 . (1997) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) I Nyoman Suryadiputra (1999) Tomlinson (1986).

Ceriops decandra. Kandelia candel. racemosa Sonneratia ovata Excoecaria agallocha Backer (1918) Backer & van Steenis (1951) Bakhuizen van den Brink Baltzer & Baruadi (1991) Burkill (1935) Corner (1988) Danser (1931) Ding Hou (1958) Excell (1954) Giesen (1991) Giesen & Rudyanto (1994) 4198 . parviflora. Gymnanthera paludosa. R. Excoearia agallocha.Lampiran 2. Terminalia catappa. R. Aegialitis annulata. C. B. stylosa Terminalia catappa. Sesuvium portulacastrum. B. B. L. caseolaris. floridum. Cerbera manghas. officinalis. A. ilicifolius. Osbornia octodonta. Hibiscus tiliaceus. Rhizophora apiculata. B. racemosa.stylosa. tagal. Sonneratia alba. DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Airy Shaw (1975) Backer & Bakhuizen van den Brink (1963-8) Excoecaria agallocha Avicennia alba. Acanthus ebracteatus. moluccensis. ovata Camptostemon philippinense. Avicennia eucalyptifolia.C. Lumnitzera littorea. Kandelia candel. Heritiera littoralis. S. A. Bruguiera cylindrica. B. anisomeres Bruguiera cylindrica. S. A. X. A. Nypa fruticans. Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Sonneratia alba. Acanthus ilicifolius Barringtonia asiatica Amyema gravis. marina. hainessii. Xylocarpus granatum. Wedelia biflora. S. gymnorrhiza. sexangula. L. Xylocarpus granatum. R. schultzii Xylocarpus granatum Wedelia biflora. B. Daftar pustaka yang dapat dipakai sebagai acuan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Derris trifoliata. C. caseolaris. sexangula. R. Aegiceras corniculatum. officinalis. ovata. Thespesia populnea. S. A. A. Lumnitzera littorea. gymnorrhiza. tagal. Ceriops decandra. mucronata. exaristata. B. Rhizophora apiculata. Scyphiphora hydrophyllacea. A. Calophyllum inophyllum. Sarcolobus globosa. Pongamia pinnata. parviflora. marina. B. Aegiceras corniculatum. mucronata.

officinalis. Rhizophora apiculata. Finlaysonia maritima. speciosum Avicennia eucalyptifolia Calotropis gigantea. Scaevola taccada Heritiera globosa. Excoecaria agallocha. Hibiscus tiliaceus. Acrostichum aureum. Acanthus ilicifolius. R. Bruguiera cylindrica. Camptostemon schultzii. S. Avicennia alba. Ceriops decandra. tagal. Scyphiphora hydrophyllacea. X. A. A. Thespesia populnea. A. moluccensis. Heritiera littoralis. Cerbera manghas. Ipomoea pescaprae. R. Thespesia populnea Holttum (1966) Johnstone & Frodin (1982) Kitamura et. Kandelia candel. H. S. A. S. Derris trifoliata. Aegiceras corniculatum. Cerbera manghas. Excoearia agallocha. Excoearia agallocha. C. ovata. littoralis Avicennia alba. A. Xylocarpus rumphii Acrostichum aureum.Sonneratia alba. Nypa fruticans Wedelia biflora Acrostichum aureum Barringtonia asiatica Aegialitis annulata Avicennia officinalis. Aegialitis annulata. caseolaris.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Giesen & Sukotjo ( 1991) Henty (1981) Heyne (1950) Excoecaria agallocha Amyema mackayense Barringtonia asiatica. eucalyptifolia. marina. Sesuvium portulacastrum. Cerbera manghas. stylosa. Sonneratia alba. Aegiceras corniculatum. Xylocarpus granatum. Pandanus tectorius. A. Scyphiphora hydrophyllacea. Calophyllum inophyllum. caseolaris. Heritiera littoralis. officinalis. al (1997) Kostermans (1959) Percival & Womersley (1975) Perray & Metzger (1980) Piggott (1988) Polunin (1988) Prakash & Lim (1995) Said (1990) 1993 . mucronata. Osbornia octodonta. marina.

C. Rhizophora apiculata. Acrostichum aureum. S. Hibiscus tiliaceus. speciosum Barringtonia asiatica Van Osststroom (1953) Van Steenis (1936) Watson (1928) Whitemore. ilicifolius. C. S. B. et. Stachytarpheta jamaicensis Wijayakusuma. Sonneratia alba. Pongamia pinnata. officinalis. Xylocarpus granatum. H. B. Aegialitis annulata. Lumnitzera littorea. tagal. mucronata. A. Thespesia pupulnea. Scyphiphora hydrophyllacea. ilicifolius. Xylocarpus rumphii Ipomoea pes-caprae Osbornia octodonta. A. Calophyllum inophyllum. B. Rhizophora apiculata. A. Aegiceras corniculatum. parviflora. Sonneratia alba. X. Aegialitis annulata. mekongensis. stylosa. stylosa. Ricinus communis. R. Acrostichum aureum. R. A. Thespesia populnea. floridum.al. littoralis. B. X. gymnorrhiza. Tantra & Sutisna (1990) Whitmore (1972) Wightman (1989) Calophyllum inophyllum Avicennia marina. Bruguiera cylindrica. B. Sesuvium portulacastrum. A. R. Osbornia octodonta. Acrostichum speciosum. Aegialitis annulata Acanthus ebracteatus. Bruguiera exaristata. hainessii. A. eucalyptifolia. Osbornia octodonta. mekongensis. sexangula. tagal.DAFTAR PUSTAKA JENIS MANGROVE Tomlinson (1986) Avicennia alba. A. A. Ceriops decandra. gymnorrhiza. Ceriops decandra. racemosa. Melastoma candidum. Excoearia agallocha. Nypa fruticans Ipomoea pes-capre. Acanthus ebracteatus. B. (1992) 4200 . X. parviflora. H. Heritiera Globosa. speciosum. Derris trifoliata. C. Camptostemon schultzii. Aegiceras corniculatum. ovata. Cerbera manghas. moluccensis. B. sexangula. mucronata. A. Xylocarpus granatum. L. caseolaris. schultzii. Scyphiphora hydrophyllacea. marina. R. Hibiscus tiliaceus. officinalis. Derris trifoliata. Camptostostemon philippinense.

Kukila. Bailey. N. Biro Pusat Statistik.C. Andrew. V. C. Hydrobiologia. Hal. The Birds of Indonesia. Abe. Jakarta. 3 Volumes. M. The Netherlands. Biro Pusat Statistik.A. 1990. Indonesia. 2013 . 285: 249-255. Proposed Wetland Conservation Areas: New & Extensions of Existing Reserves. Andrew.III.G. Bogor. Sonneratiaceae. Backer. 176 hal. 4: 286-289. C. IUCN Wetlands Programme. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. 1988. Indonesia. Simpang Hilir. 83 hal. Ballen. The Occurrence of Crustaceans in the Tanjung Bungin Mangrove Forest. 1963-1968. & C. 1994. 1988. Ocean & Shoreline Management. Ehime University. S. Backer.C. S. Bogor. Thailand. Leiden. Dalam Simposium on Mangrove Management: Its Ecological and Economic Consideration. & Suhardjono. Bakhuizen van den Brink. Bangkok. The Remnant Mangroves of Sei Kecil. 1951. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment: Restoration & Management. 11: 31-44. 241-257. 1994. 1984. K.G. Ser. 1990. 1990. & R. Statistik Indonesia. van Steenis.DAFTAR PUSTAKA Abdulhadi. West Kalimantan. Noordhoff. Ecology & Management of Mangrove.A. Jakarta. Sukristiyono & V. Bakhuizen van den Brink. Flora Malesiana. IUCN. P. 1921. C. Thailand. IUCN. Statistik Indonesia.J. 141-151. AWB-Indonesia. Indonesia. 1998. Toro. P. The Terrestrial Mangroves Birds of Java. Ecology and Management of Mangroves. 5: 27-55. Baltzer. South Sumatra. Jakarta. S. seri III vol. 1993. A Report on The Wetland Avifauna of South Sulawesi.P. Arboreal Arthropod Community of Mangrove Forest in Halmahera. 1988. R. The Social Consequences of Tropical Shrimp Mariculture Development. Aksornkoae. 1992. Hal. Adiwiryono. Dalam Bulletin du Jardin Botanique Buitenzorg. Indonesian Ornithological Society. I. A checklist (Peters’ Sequence). Revisio Generis Avicenniae. Dalam Biological System of Mangroves. Bangkok. Flora of Java. R. AWB-Indonesia/PHPA. Japan.V..

Mangrove Vegetation. Indonesia. August 26-30. Ceram. Budiman. Williams. Hal. Dev.of mangrovebosschen in Ned. De inrichting van de voor exploitatie in aanmerking komende bosschen in de afdeeling Bengkalis. L. Wet Coastal Ecosystems. 173182. Japan. 1976a. 1936. V. 1980. The Environment and Geomorphology of Deltaic Sedimentation (some examples from Indonesia) Trop.J. Darwin. Hal. D. Chapman. Burhanuddin. UNESCO.H. 1922. Chambers. Coastal Vegetation. V.J. Ehime University. Hal 10911095. J. Tectona. Dalam Biological System of Mangroves. Crown Agents for the Colonies. Chapman. 1976b. 2 volume. den Berger & H. Valduz.. Univ.G. J. Cramer. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. editor. Bunt. 1977. Malaysia. 428 hal. Meindersma.S.J. 49-57. Crabs and Molluscs #2: Ecological Distribution of Molluscs. Mangrove Monograph No. 1985. Boon. 4202 . 740-760. Marine Ecology . 292 hal. 1935. Management of Mangrove Exploitation in Indonesia. Ipoh. hal. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment. Botanical Surveys in Mangrove Communities. Chapman. Burkill.A. benevens eenige opmerkingen omtrent de samenstelling der terplaatse voorkomende moerasbosschen. 1984. 1988. Dalam Prosiding Lokakarya Mangrove Fisheries and Connections. & W. 29: 344-373.W. A Study on Mangrove Fish at Handeuleum Group and Panaitan Island of Ujung Kulon National Park. V. Vloed. I.T. Austr. M. Dalam Tectona XV.Becking J. Paris.-Indië. A Dictionary of The Economic Products of the Malay Peninsula. Pergamon Press. Monograph on Oceanological Methodology 8. 1980. 447 hal. The Molluscan Fauna in Reef Associated Mangrove Forests in Elpaputih and Wallale. Ecosystems of the World: 1. Hal. & Koesoebiono. P. 4: 349-359.H.R. Elsevier Scientific Publishing Company. Hal. 1993.J. 1981. 2402 hal. A. Vegetational Relationships in The Mangroves of Tropical Australia. 53-80.. V. Budiman. 1. London. A. Chapman.Progress Series. Dalam The mangrove Ecosystem: Research Methods. Ecology and Behaviour of Benthic Fauna. J. 1991. Burbridge. Ecol. 251-258. Nat.

Bull. Danielsen. Bogor. 1991. J. Jakarta. B.Choy. Het een en ander over de Tjilatjap’sche vloedbosschen. J. Departemen Kehutanan. AWB. 285: 237-247. Integrating Conservation With Land-use Planning in The Coastal Region of South Sumatra. 32: 87-99. de Haan.T.I. International Waterfowl & Wetlands Research Bureau. Tectona 24: 39-76. Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove di Indonesia. 1990. 1993. PPLH-UNSRI and the Danish Ornithological Society. Rhizophoraceae. 1994. Indonesia.S. Danser. The Loranthaceae of the Netherlands Indies. J. Hal 175. Duke. 1972. Departemen Pertanian. Ser. 2033 . Dalam Prosiding Seminar IV Ekosistem Mangrove. H. Jawa Tengah. Departemen Pertanian. Danielsen. Skov. J. J. PHPA. 16: 155-160. 5: 429-493. Ser. & G. Indonesia. Indonesia. F.C. F. Asian Wetland Bureau. Radjoengans. Bot. Jard. Jakarta. A.E. Breeding habitat of Milky Stork Mycteria cinerea in South Sumatera Indonesia. Davies. Direktorat Jenderal Perikanan. Telaah Ekologis Kelimpahan Juwana Udang Jerbung (Penaeus merquiensis de Haan) di Perairan Sekitar Mangrove Sungai Donan.C. 1991. De Tropische Natuur. M. Bot. 1991. The Potential for Wetlands to Support and Maintain Development. Delsman.. 45 hal. Claridge. Williams. Djamali.. 1997. H. Waterbird Study Results From South East Sumatra.C. Prolongued Inundation and Ecological Changes in An Avicennia Mangrove: Implications for Conservation and Management. Observations on The Floral and Vegetative Phenologies of North-eastern Australian Mangroves. J. A. OEC. Bogor. de Buiten zorg. Verheugt.. III vol. Jakarta Ding Hou. Skov & W. Purwoko. Cilacap. F. 210 hal. 1931. Verheugt. & W. Danielsen. H. Jakarta. 1984. Silvius. Aust. Statistik Perikanan Statistik Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan. Booth. N. Bull. 1931. XI: 233-519.H. & H. Bunt & W. Wetlands for the America’s. S. Wetland Benefits. 1997. Hydrobiologia. & W. M. 3: 8-11. Flora Malesiana. 1987. 1958.

Restoration & Management. S. Kadarisman. Foo. Giesen.Duke. W. P. FAO Environment Paper 3. Verheugt. 59 hal.M. H. Int. Padang. Kuala Lumpur. Purwoko. W. The Importance of Segara Anakan for Nature Conservation. H. Indonesia. Bogor. 1994. Australian Institute of Marince Science. F. hal.. Baker. AWB/INTERWADER & Catholic University of Nijmegen. West Sumatra. Indonesia. Skov & R.O. Management and Utilization of Mangroves in Asia and the Pacific.W. Bogor.J. Environmental Database on Wetland Interventions (EDWIN). 1991a.M.T..W. van den Top. van Balen & E. Mangrove Floristics and Biogeography. G. W. 1982. Erftemeijer. Baal. Wilkinson & V. PHPA-AWB/ INTERWADER. G. Altenburg. 1992. 4: 533-589. Preliminary Resource Inventory of Bintuni Bay and Recommendations for Conservation and Management. Fong. Hal. C. Ecol. Survey of Coastal Wetlands and Waterbirds in the Brantas and Solo Deltas. Combretaceae. S. F. 45 hal. 1157-1161. P. Danielsen. P. B. Townsville. 92 hal. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. the Netherlands. Djuharsa.. 1984. 11.T. Erftemeijer. Erftemeijer. 299303. Fernandes. Survey Manual for Tropical Marine Resources. Fiselier.. F. & J. Ser. Allen & Zuwendra. Indonesia. Rome. 1984: 663-671. 1980. Laporan No. Flora Malesiana. Over mangrove Culturen. With Special Reference to Its Avifauna. A. English. 1990.A. Pulau Basu). 4204 . Frazier. & E. Leiden. PHPA. Living off the Tides. Wong. Soc. Hal. N. J. 119 hal. Nipa Swamp . PHPA/ AWB. Centre for Environmental Studies. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . Exell. Bogor. 1954. 1988.A Neglected Mangrove Resource. 6. 368 hal.A.S. 1988. Australia. East Java (Indonesia). Trop. D. 1989. 63-100. Mangrove Swamp and Fisheries in Sabah. 22-26 November 1992. Indonesia. Djuharsa. Dalam Tectona XXVII.. Tiger Data in Wetland Data Base and a Recommendation to Enhance the Chances of Tiger Survival. Lokakarya Harimau Sumatera. A. Riau (Pulau Bakung. Bakung Island. Spaans. Bogor.L. A. 151 hal. Dalam Tropical Ecology & Development. 1992. Dalam Tropical Mangrove Ecosystems (Volume 41).C. 1934. F.I. Bab 4.

1993. Dalam prosiding simposium Mangrove Management: its Ecological and Economic Considerations. Sumbawa. Giesen. Giesen. 1992. Bogor. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetlands No. Hassan. 1989. & B. W. 34 hal. Peranan Berang-berang Bagi Manusia. Mass Feeding of Dog-faced Water Snakes (Cerberus rhynchops) on Sumatran Mudflats. Henty. W. Hal. Baruadi. Bogor. 46: 265-266. Department of Fisheries. Integrating Conservation with Land-use Development in Wetlands of South Sulawesi. 1991. Lae. editor. Indonesia. Ti. S. W. Ambon. Giesen. Observations on Acid Runoff and Iron in Brackishwater Fishponds. Indonesia’s Mangroves: An Update on Remaining Area and Main Management Issues.Giesen.E. 1991. Bogor. Chapman & Hall. Giesen. Karang Gading-Langkat Timur Laut Wildlife Reserve (North Sumatra). Jambi. 1986. R. editor. 1994.. W. Giesen. Hardjowigeno. Dalam Seminar “Coastal Zone Management of Small Island Ecosystems”. 1991. Baltzer & R. Bogor. Giesen. and Its Unique Stromatolites. Handbooks of the Flora of Papua New Guinea. 14 hal. 257-265. Problems and Implications. E. Mangrove Soils of Indonesia. 1991. Groombridge. & T. Hutan Bakau Pantai Timur Nature Reserve. W. Min. Several Short Surveys of Sumatran Wetlands. 26. Volume II. 17 hal. 1988. Laporan proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No. 98 hal. Malayan Nature Journal. Status of the Earth’s Living Resources. W. & Rudyanto. Publikasi PHPA/AWB. 1994. Satonda Island. Government of Papua New Guinea. W. August 9-11. 48 hal. Global Biodiversity. M. Perubahan Habitat Lahan Basah di Kepulauan Sunda Besar dan Implikasinya terhadap Keragaman Hayati [Habitat Changes in Wetlands of the Greater Sunda’s and Implications for Biodiversity]. 240 hal. Hal. Laporan Proyek PHPA/AWB Sumatra Wetland No.L. 10 hal. W. 7-10 April 1993. 17. of Agriculture.B. 1981. 1993. Bogor. 45-55. Sumatra. Bogor. & Sukotjo. Notes and Observations. Dalam Prosiding Simposium Pertama mengenai Berang-berang di Indonesia. 2053 . 10. Giesen. B. 7 April 1994. van Balen. PHPA / AWB. 585 hal. PHPA/AWB-Indonesia.

1997. Tat-Mong. A. 1987. 1985. in Indonesia. 4206 . Hal 41. Wetlands International – Indonesia Programme. Irian Jaya. 1988. Studi lebar jalur hijau mangrove di Angke Kapuk Jakarta. H. & M. C & Onrizal.185. & T. Kusmana & Suhendra.W. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. J. UNESCO Regional Office for Science & Technology for Southeast Asia..L. F. (tidak dipublikasikan) Hommel.Hutan Mangrove Kabupaten Bengkalis dan Kemunduran Perikanan di Bagan Siapi-api dan Sekitarnya.A. Coastal Zone Resource Development and Conservation in Southeast Asia.An Introduction. 17: 177.J.A. Pengenalan Jenis Pohon Mangrove di Teluk Bintuni.J. 1984. Biotropica. & A. Kasry. Pengelolaan Hutan DAS Rokan . Bali & Lombok. Japan. 11-13 September 1993. Anwar. De Tropische Natuur. Prawiroatmodjo. #1: Floristic Composition and Stand Structure. Prosiding Lokakarya Pemantapan Strategi Pengelolaan Lingkungan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua. Bogor. 1959. Panduan Teknis Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat. Moriya. C. M. (Sterculiaceae). Tesis Program Pasca Sarjana IPB. Kitamura. Khazali. 47 hal. Forest as an Ecosystem. Lugo. 1989. Ehime University. Kusmana. A. Jakarta.M. Tree Mortality in Mangrove Forests. P. Hal. Its Structure and Function. IPB Press. Baba. Ogino.. Metoda Survey Vegetasi. Landscape-ecology of Ujung Kulon (West Java. 1934. 124 hal. Kuala Lumpur. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. C. Monograph of the Genus Heritiera Aitn. Handbook of Mangroves Knox.. Jakarta. IPB Press. 4: 256-62. Bogor. Bogor. Jiménez. Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove. 1997.L. 1997. Kostermans. C. S. Fascinating Snakes of Southeast Asia . A. Dalam Biological System of Mangroves. A. 1984. S. Keng. 23: 173-189. 85-96. 1997.E. Kapal Kerinci. Agricultural University of Wageningen. Kint. Komiyama. De luchtfoto en de topografische terreingesteldheid in de mangrove. A.G. Tropical Press. 1993. Miyabara.Hilmi. Indonesia).F. G. Tomi & K. Chaniago & S.L. Bogor. 206 hal. 1999. JICA & ISME. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. with Special Reference to Indonesia. Reinwardtia. Kusmana. T. 182 hal. the Netherlands. PhD thesis.

Nurkin. Giesen. 1984.Restoration & Management. Manuputty. De Tropische Natuur. Bot. 1984: 231-240. 1985: 77. 1982.H. C. Dalam Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove. Odum. Mepham. An Assessment of the Importance of Rawa Danau for Nature Conservation and An Evaluation of Resource Use. 1999.Restoration & Management.S. Blackwell Scientific Publications. Indonesia. 1985. A. 1984. Kuala Mepham. Technical Report No. Jakarta. Nontji. Departemen Kehutanan & FAO. Hanafia & Rudyanto. Djambatan. 97 hal. Laut Nusantara (Marine Nusantara). Mastaller. Hal 5. 12: 25-31. E.Kusmana. & J. Ch. Mangrove: The Forgotten Forest Between Land and Sea. 1. Ecology of Coastal Waters. W. 1984: 354-377. 1923. 1994. Nirarita. 8. Some Notes on The Crustacean Fauna Around Mangrove Area of Pancer Balok. MacNae.H. W. Res.J. 1993. Malaysia.Afr. J. Biol. mar. Pedoman Pembuatan Persemaian Jenis-Jenis Pohon Mangrove. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment .W. B. Lumpur. Beberapa Catatan Tentang Aspek Pengusahaan Hutan Mangrove di Sulawesi Selatan. 1990. 1: 265-268.99 Meindersma. The Flora of Tidal Forests. Eenige bijzonderheden over mangrove. PHPA/AWB. Bogor. Noor.a Rationalization of The Use of The Term Mangrove. W. Volume 2: Forest Resource Base. 2073 . 1968. Melisch. Heald. Cimanuk River Estuary.J. West Java. D. 322 hal. Warta Konservasi Lahan Basah. (tidak dipublikasikan) Macintosh. The Detritus Based Food Web of An Estuarine Mangrove Community. 1979. 1987. Hutan Mangrove: Antara Nilai Ekonomi dan Fungsi Ekologi. 1997. Adv. Studies in Ecology.W. 6: 73-270. Fakultas Kehutanan IPB. Y. & E. A. Vol. Bogor. Mann. A Systems Approach.R. S.E. A General Account of the Fauna and Flora of Mangrove Swamps and Forests in the Indo-West-Pacific Region. Jakarta. Situation and Outlook of the Forestry Sector in Indonesia. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Environment . R. K.bosschen. 39-46. M. 1. E. R. Vol. UTF/INS/065/INS: Forestry Studies.W. 2 No.. Jakarta. E. 1974. 70-77.. Ecology and Productivity of Malaysian Mangrove Crab Populations (Decapoda: Brachyura). H. Estua.

. A Field Guide to the Mammals of Borneo. 11: 252. Ambio.L. 285: 277-282.UNPAD. Ong. A List of Wetland Plant Species of Peninsular Malaysia. The Flora of the Malay Peninsula. 1993. Reeve & Co.D. 1991.. London. with particular reference to those having socio-economic value. Payne. Laporan Penyigian Burung Air di Sumatera Selatan dan Jambi. PHPA/Asian Wetland Bureau.S. Japan. J.N. & M.A. Phillipps. Mangroves and Aquaculture. 74: 11-15. 181 hal.Ogino.H. Ltd. AWB publikasi no. 1924. Ehime University. 1991. Bogor. Ambio. Lim. J. J. Y. IUCN Commission on Ecology Papers No. 8. Monocotyledones.M. Hal 1. Th.E.J. 1987.S. Ridley.. Francis & K. Hegerl & J. 1994. Y. 6 No. 1975. 1998. K.. Rusila Noor. Jurusan Biologi . 67a. & J. 12. Prakash. 1990. 1988. Kuala Lumpur. I. Sibuea & Rudyanto. Bandung. N. 20 (1): 28-33. Vol. Wallaceana. and Economic Implications. the Enigmatic Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir & Laut IPB. editor. 3. Department of Forests. M. 96 hal. Milky Stork Banding at Pulau Rambut. Bogor. 1982. Global Status of Mangrove Ecosystems. 88 hal. P. Social. E. Rusila Noor. Hydrobiologia. SIS Newsletter Vol.M. West Java. Othman. Skripsi. 332 hal. Womersley. H. Y. Davie. Saenger. 1983. Rancangan Rencana Pengelolaan Kawasan Segara Anakan. Intensive Prawn Farming in the Philippines: Ecological. Value of Mangroves in Coastal Protection. The Sabah Society with World Wildlife Fund Malaysia. 4208 . The Systematic Position of Aegialitis. & A. IV Rusila Noor.. Floristics and Ecology of The Mangrove Vegetation of Papua New Guinea. Papua New Guines National Herbarium. M. Indonesia. Laporan Ekspedisi Mangrove Indonesia Timur tahun 1986. Buku I Kondisi & Potensi Biofisik Kawasan. Botany Bulletin No. Biological System of Mangroves. 1995. 383 hal. Said. C. Studi Populasi Burung Air Kaitannya dengan Usaha Konservasi di Daerah Pantai Indramayu dan Cirebon. Lae. Primavera. Percival. 1985. Chihara.257.

International Society for Mangrove Ecosystems. Japan. Prosiding Seminar Tahunan ke12 the Malaysian Society of Marine Sciences. 4: 163-164.. Bogor. Chong. Savitri. 1984. EDWIN. PHPA..J. Taufik. 1989.. Soerianegara. 1986. 121 & 268.C.U. D’Cruz & M. Wetlands International – Indonesia Programme. Masalah Penentuan Batas Lebar Jalur Hijau Hutan Mangrove. 2093 . W.J & W.J.M. Djuharsa & A. Audrey. Hal. A Preliminary Compilation of Existing Information on Wetlands of Indonesia. M. Iskandar. Kukila No. hal 124-125. 2 volume. Hydrobiologia.Samingan. 1. M. Prosiding Seminar III Ekosistem Mangrove. D’Cruz. 1986.D. Notes on The Vegetation of The Tidal Areas of South Sumatra. Indonesia. F. M. with Special Reference to Karang Agung.T.M. 191-211. Silvius.L.W. PHPA-Asian Wetland Bureau.P. Sasekumar. Taufik. Bogor. Hal. Verheugt & J. Bogor. V. Laporan Survey Sumatran Waterbird Laporan Studi ICBP No. Steeman. Leh. A & M. 1107-1112. Jakarta. Jakarta. 1989. M. Khazali. M. Status Ekosistem Hutan Mangrove dalam Kaitannya dengan Kepentingan Perikanan di Indonesia dan Kemungkinan Pengembangannya.C.J. M. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove.J. Silvius. I. 1999. AWB/INTERWADER.U.. M. Conservation and Land-use of Kimaam Island. R. E. A. V. 1992. Silvius. The Sungai Pulai (Johor): A Unique Mangrove Estuary. & A. Hal 39.INTERWADER No. M. M.D. E. 1987. 247: 195-207. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir: Pengalaman Pengembangan Tambak Ramah Lingkungan dan Rehabilitasi Mangrove di Karangsong Indramayu. A Survey Report and Compilation of Existing Information. Okinawa. Silvius. J. Spalding. Field editor. Blasco & C. The Status of Storks. 9.J. Laporan PHPA . Chong. Leh & R. Dalam International Social Tropical Ecologi. Indonesia. 1989. Indonesia. Sasekumar. Cambridge. L. A. 1996. World Mangrove Atlas. The Indonesian Wetland Inventory. A. Kuala Lumpur. Survey of Coastal Wetlands in Sumatra Selatan and Jambi.J. Hal. Bogor. Ibises & Spoonbills in Indonesia. Verheught. Soewito. 1987. Indonesia. 1980. Berczy. M. Mangroves as a Habitat For Fish and Prawns.T. Silvius. 101 hal. Coastal Wetlands Inventory of South East Sumatra..

Steup.K. Chihara. Ser. W. Kustaanwas en Mangrove. Ecol. & J. J. 1987. Hal 211-220. Landscape and Urban Planning. C.G. Longman Malaysia. B. 1958. Indonesia. Ecology of Mangroves. Danielsen. Conservation Status and Action Program for the milky stork (Mycteria cinerea). the Banyuasin Sembilang Swamps Case Study. South Sumatra Province. & D. 26: 194-6.M.L. 1929. Biol. 237 hal. M. U. hal. C. van Balen. Vol. een weinig bekende mangrove-boom. Wowor. Verheugt. Coastal Resources Development Options in the Southeast Asia and Pacific Regions: Economic Valuation Methodologies and Applications in Mangrove Development. Mus.I.F. C.W. 134: 89-100. Osbornia octodonta.J. Skov & R. 4: 107-112. van Steenis. van Steenis. I. van Steenis.. Tomlinson. 4210 . V. Tweedie. Wada. H. Outline of Vegetation Types in Indonesia and Some Adjacent Regions. 1936. BIOTROP Special Publication No.. Prosiding the 8th Pacific Science Congress. 1988. F. Dalam Prosiding Simposium Mangrove Management: Its Ecological and Economic Considerations’. 5: 431. 1941. De Tropische Natuur.G. K. 79: 1-13.G. 1986.G. Bull. Kadarisman.. Ser. Tokyo. Mar. S. van Steenis. 14: 93-106. W. Colonial Waterbirds. Thurairaja. Integrating Mangrove and Swamp Forests Conservation with Coastal Lowland Development. The Botany of Mangroves. 1989.441.B.G. Purwoko. C. Maritime Studies. 1954. Natuurwetenschappelijk Tijdschrift voor Ned..G. A. 20: 85-94. M. Flora Malesiana. P. Introduction to Account of the Rhizophoraceae by Ding Hou. Harrison. The Terrestrial Mangrove Birds of Java. A. 37. Cambridge University Press. 419 hal. J. Tectona. 193-205.G. Tanaka. & M. F.H. Plumbaginaceae. Ser. Flora Malesiana. Malayan Animal Life. Macroalgae in Indonesian Mangrove Forests. 1994. 22: 1302-1332. Verheught. J. Foraging on Mangrove Pneumatophores by Ocypodid Crabs. 12: 353-355. Sci. 1949. van Bodegom.J.J. Exp.J. Cambridge. 1991. 1957. Natn.G. De vloedbosschen in het gewest Riouw en onderhoorigheden. Indië.K. 1989. IV: 61-97.

Wirian. & F. S. E. Hisyam. H. Palmerston. Jawul Penelitian Budidaya Pantai. T. Hal 358. Oxford University Press. Kuala Lumpur. International Center for Living Aquatic Resources Management. Rasyid. G. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-4. Dalam Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. Philippines. Henderson. Yogyakarta. M. 2113 . Wijayakusuma. Jakarta. East Nusa Tenggara. Australia. S. Martosubroto & M.H. Wibowo. Pustaka Kartini. 1996. Pustaka Kartini. T. 1973. M. S. 1993. 1928. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid ke-3. Yogyakarta. A. Wijayakusuma. S. Wibowo. Mangroves of the Northern Territory. S.T. 132 hal.J. Rusila Noor. The Ecology of Sumatra. 1985. 1990. M. 1984. J.. Dalimartha & A. Wightman.E. Walker.. Pustaka Kartini. Sumber Benih Baru di Indonesia Timur untuk Menanggulangi Masalah Perkembangan Tambak. Wijayakusuma.Wahyuni. A. Wirian.M.J. South Java. Whitten. S.C. di Indonesia Jilid ke-2. 1989. 6.T. T.S. Maros. H. Watson. Dalimartha & A. 1984. Whitmore. Saleh. 1988. Mustafa & G. White. Jakarta. Nuraini. ICLARM Technical Reports 25. J. Indonesia. Yaputra & B. Jakarta.M. Beberapa Jenis Hasil Perairan Segara Anakan Cilacap yang telah Dimanfaatkan Penduduk Sekitarnya. 1992. Conservation Commission of the Northern Territory. H. S. Damanik. Y. Singapore.. Whitten. Sadorra. & S. PHPA/AWB Bogor. Federated Malay States Government. The Coastal Environmental Profile of Segara Anakan-Cilacap. Gajah Mada University Press. I.. H. 1989. 82 hal. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid I. 777 hal. Tanaman Berkhasiat Obat Wijayakusuma. 7.J. Jakarta. N. Sulawesi Selatan. Gajah Mada University Press. 275 hal. Malayan Forest Records No. M. Editor. 1976. Wardoyo. Yaputra & B. Anwar & N. P. Flora of Okinawa and the Southern Ryukyu Islands. Pustaka Kartini. Mangrove Forests of the Malay Peninsula.G. M. The Ecology of Sulawesi. Palms of Malaya. Wetlands of Sumba. Manila.S. 1: 1-8. Northern Territory Botanical Bulletin No... M. Baltzer and N.. A. Jakarta. 1995. Zieren.. 583 hal. M.

Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Tumbuhan yang merambat ditanah. Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit. Epifit (Epiphyte) Paku-pakuan (Fern) Palma (Palm) Pemanjat (Climber) Pohon (Tree) Terna (Herb) 4212 . Daunnya tidak panjang dan lurus. tetapi mampu untuk melakukan fotosintesa sendiri. Parasit (Parasite) KELOMPOK TUMBUHAN Belukar (Shrub) Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar. Tumbuhan yang memiliki kayu besar. biasanya memiliki bunga yang menyolok. tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama. Dapat hidup tanpa inang. lurus dan biasanya tinggi. biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu. Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar. namun tidak menyerupai rumput. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun.GL OSSARY GEOGRAFIS Dunia lama (Old World) Pan-tropis (Pan-tropical) Eurasia dan Afrika Terdapat di seluruh daerah tropis di seluruh dunia KEBIASAAN HIDUP Hemi-parasit (Hemi-parasite) Tumbuhan yang sebagian hidupnya bergantung kepada inangnya. Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai. tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras. Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu. dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun. Tumbuhan yang hidupnya bergantung kepada inangnya. dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai. tidak bercabang sampai daun pertama.

BATANG/KULIT KAYU Bercelah (Fissured) Getah (Latex) Hipokotil (Hypocotyl) Goresan yang dalam pada batang pohon atau kulit kayu. Akar yang tumbuh dari batang diatas permukaan dan kemudian memasuki tanah. Akar berbentuk seperti papan miring yang tumbuh pada bagian bawah batang dan berfungsi sebagai penunjang pohon. Akar yang tumbuhnya tegak. Akar banir/papan (Buttress) Akar lutut (Knee root) Akar nafas (Pneumatophore) Akar Tunjang (Stilt-root) akar udara akar banir/papan akar lutut akar nafas akar tunjang Gambar bentuk-bentuk akar 2133 . Bentukan pada pohon yang berbentuk datar. Tonjolan pada kulit yang memungkinkan udara luar memasuki jaringan di dalamnya. pada kulitnya terdapat celah-celah kecil yang berguna untuk pernafasan. biasanya berfungsi untuk penunjang mekanis. Akar yang muncul dari tanah kemudian melengkung ke bawah sehingga bentuknya menyerupai lutut. menggantung di udara dan bila sampai ke tanah dapat tumbuh seperti akar biasa. berupa struktur eksternal yang menyerupai piring. keluar dari batang. muncul dari dalam tanah. berukuran kecil dan hanya bisa terlihat baik dengan menggunakan kaca pembesar. Lentisel (Lenticel) Sisik (Scales) AKAR Akar udara (Aerial root) Struktur yang menyerupai akar. Beberapa kadang-kadang menyerupai struktur akar yang dimiliki oleh famili Rhizophoraceae. Cairan yang pekat seperti susu. terbentuk dari epidermis. Bagian dari kecambah yang akan tumbuh menjadi pangkal batang yang akan berhubungan dengan pangkal akar.

Struktur pada tumbuhan yang mengeluarkan cairan lekat atau berminyak. Pada tangkai daun yang bercabang-cabang terdapat lebih dari satu helaian daun. 4214 . melebar dibagian tengah dan kedua ujungnya berukuran hampir sama. Panjang daun 2 kali lebarnya. Bentuk daun seperti telur terbalik. bagian pangkal dan ujung daun runcing. kebanyakan berbentuk elips. Bagian yang mirip daun pada daun majemuk. posisi normal untuk tunas lateral. Panjang daun 3 – 5 kali lebarnya. Pada tiap buku-buku batang hanya terdapat 1 daun. Tumbuhan yang berdaun sepanjang tahun. Pada tiap buku-buku batang terdapat 2 daun yang berseberangan pada ranting. Bulat telur (Ovate) Bulat telur terbalik (Obovate) Elips (Elliptic) Lanset (Lanceolate) Bentuk daun melebar dibagian tengah. Kelompok tumbuhan yang daunnya berguguran/rontok secara periodik (misalnya pada musim kering). Bagian sisi dari daun. Urat bagian tengah pada daun. bagian pangkal lebar dan bagian ujung runcing. misalnya pada permukaan daun.DAUN Kelenjar (Gland) Ketiak (Axil) Meranggas (Deciduous) Anak/pinak daun (Leaflet) Selalu hijau (Evergreen) Tepi/sisi (Margin) Urat (Vein) Urat tengah (Midrib) Unit Sederhana/tunggal (Simple) Pada tangkai daun hanya terdapat satu helaian daun saja. Tonjolan vaskular yang biasanya terlihat dari luar. Majemuk (Compound) Susunan Berlawanan/berhadapan (Opposite) Bersilangan (Spiral/Alternate) Bentuk Bulat memanjang (Oblong) Panjang daun 2 – 3 kali lebarnya. Titik sudut antara sisi atas dan batang tempat daun.

terletak pada bagian luar perhiasan bunga. biasanya berwarnawarni untuk menarik perhatian serangga penyerbuk. diluar kelopak bunga. Suatu struktur menyerupai daun yang terletak pada bagian dalam perhiasan bunga. Kelopak tambahan (Epicalyx) Mahkota bunga (Corolla) Daun mahkota (Petal) 2153 . Tumpul (Blunt) Ujung daun membentuk sudut yang tumpul. Merupakan terminologi yang digunakan untuk semua daun kelopak (sepal) pada bunga. Bagian terluar suatu bunga yang biasanya terdiri atas struktur seperti daun yang dalam tahap kuncup membungkus dan melindungi bagian-bagian bunga lainnya. BUNGA Daun kelopak (Sepal) Kelopak bunga (Calyx) Struktur berwarna hijau menyerupai daun atau hijaukekuningan. Pinak daun yang terletak pada dasar bunga. Istilah untuk seluruh daun mahkota pada bunga. berfungsi untuk menarik perhatian serangga penyerbuk. Meruncing (Pointed/Acute/ Ujung daun membentuk suatu sudut lancip atau ujung Acuminate) daun sempit memanjang dan runcing.elliptic oblong lanceolate ovate obovate spathulate Gambar bentuk-bentuk daun Ujung Membundar (Rounded) Ujung daun membulat atau hampir tidak terbentuk sudut sama sekali.

Bagian organ betina pada bunga yang biasanya bersifat lengket. Gametofit jantan dari tumbuhan berbiji. Struktur yang terdapat pada ujung filamen dan terdiri atas dua bagian. putik benang sari Tangkai benang sari (Filament) Tepung sari (Pollen) Kepala putik (Stigma) Tangkai putik (Style) daun mahkota daun kelopak/ kelopak bunga dasar bunga tangkai bunga Gambar bunga dengan bagian-bagiannya Nektar/madu (Nectar) Berkelamin dua (Bisexual) Cairan manis. Tiang jaringan langsing yang timbul dari jaringan bakal buah tempat tumbuh tabung tepung sari. Berkelamin tunggal (Unisexual) Pada bunga terdapat hanya salah satu dari dua macam alat kelaminnya. 4216 . dimana masing-masing bagian mengandung kantung tepung sari. Pada bunga terdapat benang sari maupun putik.Benangsari (Stamen) Kepala sari (Anther) Alat kelamin jantan. Butir tepung sari melengket disini dan kemudian berkecambah. Bagian yang menunjang benang sari. lekat yang dikeluarkan oleh tumbuhan.

sehingga anak bunganya duduk. Biji yang berkecambah dalam buah (misalnya pada banyak jenis Rhizophoraceae). Bunga terletak atau muncul dari ketiak daun. Bagian dari kecambah/benih yang terletak diantara bakal cabang dan bakal akar. sehingga bungan tidak terdapat pada ibu tangkainya. Bulir (Spike) Berbatas/kelompok (cyme) Bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya ditutupi dengan suatu bunga. Hipokotil (Hypocotyl) 2173 . yang pada beberapa tanaman berperan penting sebagai bahan makanan. demikian pula cabang-cabang yang terdapat di ibu tangkainya ditutupi suatu bunga diujungnya. tandan atau batang. Bakal daun didalam biji/biji benih yang kemudian berkembang menjadi daun pertama dari kecambah/ benih. tidak dalam kelompok. Bunga majemuk tidak terbatas. Malai/bergerombol acak (Panicle) Bunga majemuk yang ibu tangkainya bercabang-cabang dan cabang-cabangnya dapat bercabang lagi.Letak Di ketiak (Axillary) Di ujung (Terminal) Formasi Soliter (Solitary/Single) Payung (Umbrella) Bunga muncul secara tunggal. Bentuk perbungaan dimana tangkai bunga utamanya panjang dan tangkai anak bunga sangat pendek. tangkai. BUAH Spora (Spore) Vivipar (Viviparous) Keping benih (Cotyledon) Sel reproduksi dari tumbuhan ferna. dari ujung ibu tangkalnya mengeluarkan cabang-cabang yang sama panjangnya dan masing-masing cabang tersebut mempunyai 1 daun pelindung pada tangkalnya. Bunga terletak atau muncul diujung cabang.

Buah berbentuk seperti kacang dengan berbagai macam bentuk. Ceriops dan Rhizophora). Buah berbentuk seperti bola atau bulat.Bentuk Silinder (Cylindrical) Buah berbentuk seperti tongkat atau galah. terdapat dalam famili Rhizophoraceae (Bruguiera. terutama ditemukan pada Avicennia. tangkai buah kelopak buah buah keping benih Bola/bulat (Ball) Kacang (Bean like) plumulae hipokotil radicle Gambar buah dengan bagian-bagiannya (Rhizophora apiculata) 4218 . terutama ditemukan pada Xylocarpus dan Sonneratia.

INDEKS A Acanthus ebracteatus Acanthus ilicifolius Acrostichum aureum Acrostichum speciosum Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Aegiceras floridum Amyema anisomeres Amyema gravis Amyema mackayense Avicennia alba Avicennia eucalyptifolia Avicennia lanata Avicennia marina Avicennia officinalis 48 50 52 54 56 58 60 62 64 66 68 70 72 74 76 C Calophyllum inophyllum Calotropis gigantea 146 148 Camptostemon philippinense 90 Camptostemon schultzii Cerbera manghas Ceriops decandra Ceriops tagal Clerodendrum inerme 92 150 94 96 152 D Derris trifolia 154 E Excoecaria agallocha 98 F B Barringtonia asiatica Bruguiera cylindrica Bruguiera exaristata Bruguiera gymnorrhiza Bruguiera hainessii Bruguiera parviflora Bruguiera sexangula 144 78 80 82 84 86 88 Finlaysonia maritima 156 G Gymnanthera paludosa 100 H Heritiera globosa Heritiera littoralis Hibiscus tiliaceus 102 104 158 2193 .

I Ipomoea pes-caprae 160 R Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata 118 120 122 174 K Kandelia candel 106 Rhizophora stylosa Ricinus communis L Lumnitzera littorea Lumnitzera racemosa 108 110 S Sarcolobus globosa Scaevola taccada 124 176 Scyphiphora hydrophyllacea 126 M Melastoma candidum Morinda citrifolia 162 164 Sesuvium portulacastrum Sonneratia alba Sonneratia caseolaris Sonneratia ovata 178 128 130 132 180 N Nypa fruticans 112 Stachytarpheta jamaicensis T O Osbornia octodonta 114 Terminalia catappa Thespesia populnea 182 184 P Pandanus odoratissima Pandanus tectorius Passiflora foetida Phemphis acidula Pongamia pinnata 166 168 170 116 172 X Xylocarpus granatum Xylocarpus mekongensis Xylocarpus moluccensis Xylocarpus rumphii 134 136 138 140 W Wedelia biflora 186 4220 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->