DEGENERASI DAN PENUAAN

LAPORAN TUTORIAL diajukan untuk memenuhi tugas tutorial Blok DMF II yang dibina oleh drg. Supriyadi, M. Kes.

Oleh Kelompok Tutorial 5

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER 2010

Anggota Kelompok Tutorial 5 :
1. Avira Rizqiana 2. Armada Eka Fredian 3. Iga Tri Budiarti

(09-005) (09-013) (09-017) (09-041) (09-056) (09-062) (09-066) (09-067) (09-079) (09-080) (09-091) (09-094)

4. Putu PG Ari Merdana Putra (09-028)
5. Luthfiya Nur I. 6. Eva Latifah

7. Karina Anggi Hardiani
8. Yunia Alfi Nurdina 9. Iriana Fitiariski 10. Sekti Anggara 11. Gracecia Wongso P. 12. Dimas Ananta 13. Dita Nur Ekasari

Tutorial Minggu ke-3 Ketua Scriber Papan Scriber Meja Pembimbing : Armada Eka Fredian : Gracecia Wongso P. : Yunia Alfi Nurdina : drg. Supriyadi, M. Kes.

KATA PENGANTAR Pertama,Puji syukur kehadirat Illahi Robbi, Tuhan Yang Maha Esa , karena atas segala bimbingan dan petunjuk-Nya , serta berkat rahmat, nikmat, dan karuniaNya sehingga kami diberi kesempatan untuk menyelesaikan Laporan tutorial yang berjudul “Degenerasi dan Penuaan”. Laporan tutorial yang kami buat ini sebagai salah satu sarana untuk lebih mendalami materi tentang penyakit degeneratif yang ada pada manusia . Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Drg. Supriyadi, M. Kes. yang telah memberi kami kesempatan dan bimbingan

untuk lebih mendalami materi dengan pembuatan laporan tutorial ini.
2. Teman-teman kelompok tutorial 5 yang telah berperan aktif dalam pembuatan

laporan tutorial ini. Kami menyadari bahwa laporan tutorial ini mengandung banyak kekurangan,baik dari segi isi maupun sistematika. Oleh karena itu, kami mohon maaf jika ada kesalahan karena kami masih dalam proses pembelajaran. Kami juga berharap laporan tutorial ini pendalaman pada blok ini. yang telah kami buat ini dapat bermanfaat untuk

Jember, 23 Oktober 2010 Penulis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penuaan merupakan kejadian yang alamiah, adalah proses degenerasi yang berlangsung pada setiap orang. Proses menua disebabkan oleh faktor intrinsik, yang berarti terjadi perubahan struktur anatomik dan fungsi sel maupun jaringan disebabkan oleh penyimpangan didalam sel/jaringan dan bukan oleh faktor luar (penyakit). Menghambat penuaan berarti mempertahankan struktur anatomi pada suatu tahapan kehidupan tertentu sepanjang mungkin maka untuk ini diperlukan penguasaan ilmu anatomi. Terjadinya perubahan anatomik pada sel maupun jaringan tiap saat dalam tahapan kehidupan menunjukan bahwa anatomi adalah ilmu yang dinamis. Banyak sekali keluhan-keluhan yang dialami oleh para manula yang mengalami degenerasi. Diantaranya masalah musculoskeletal (misalnya osteoporosis), pada wanita periode haid yang tidak teratur, sensasi semburan panas (Hot Flashes), masalah seksual, rasa lesu dan gangguan tidur, perubahan perasaan, perubahan bentuk tubuh, dan keluhan lain seperti nyeri kepala, gangguan daya ingat (pelupa), nyeri persendian dan kaku otot, serta gangguan konsentrasi dalam berpikir. Untuk lebih jelasnya mengenai degenerasi dan mengetahui mengenai penyebab, tanda-tanda, pemeriksaan, dll, dibahas secara lengkap pada makalah ini.

patogenesis.3 Tujuan Penulisan 1.3. tulang TMJ gigi (pulpa) salivary gland e. lidah mukosa Jaringan periodontal . c.2. c. patogenesis. dan pemeriksaan radologis. klinis. f. d.2 Rumusan Masalah 1.2 Mengetahui etiologi. b.1 Mengetahui klasifikasi dan HPA dari degenerasi 1. g. lidah mukosa Jaringan periodontal 1. dan HPA dari : a.1 Bagaimana klasifikasi dan HPA dari degenerasi ? 1. dan pemeriksaan radologis.3. tulang TMJ gigi (pulpa) e.1.2 Bagaimana etiologi. gambaran klinis. klinis. gambaran klinis.2. b. f. dan HPA dari : a. g.

1 Degenerasi Degenerasi dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu pembengkakan sel dan perubahan perlemakan. Sedangkan perubahan perlemakan bermanifestasi sebagai vakuola-vakuola lemak di dalam sitoplasma dan terjadi karena hipoksia atau bahan toksik. Secara miokroskopik organ yang mengalami degenerasi hidrofik menjadi lebih besar dan lebih berat daripada normal dsan juga nampak lebih pucat. salivary gland BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Etiologinya sama dengan pembengkakan sel hanya intensitas rangsangan patologik lebih berat dan jangka waktu terpapar rangsangan patologik lebih lama. Degenerasi Hidrofik Degenerasi hidrofik merupakan jejas sel yang reversible dengan penimbunan intraselular yang lebih parah jika dengan degenerasi albumin. Degenerasi Lemak . (Janti Sudiono.d. Nampak juga vakuola-vakuola kecil sampai besar dalam sitoplasma 2. Perubahan perlemakan dijumpai pada sel yang tergantung pada metabolism lemak seperti sel hepatosit dan sel miokard. 2003 : 13) 1. Pembengkakan sel timbul jika sel tidak dapat mengatur keseimbangan ion dan cairan yang menyebabkan hidrasi sel.

dan anoksia. kental. Jika tidak terlalu banyak timbunan lemak. Degenerasi Mukoid Mucus adalah substansi kompleks yang cerah. diabetes mellitus. 4. . Akibat perubahan perlemakan tergantung dari banyaknya timbunan lemak. cerah dan berwarna merah muda dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin. Degenerasi Zenker Dahulu dikenal sebagai degenerasi hialin pada otot sadar yang mengalami nekrosis. tetapi jika timbunan lemak berlebihan. tidak menyebabkan gangguan fungsi sel. malnutrisi protein. Degenerasi Hyalin Istilah hyaline digunakan untuk istilah deskriprif histologik dan bukan sebagai tanda adanya jejas sel.Degenerasi lemak dan perubahan perlemakan (fatty change) menggambarkan adanya penimbunan abnormal trigliserid dalam sel parenkim. Perubahan perlemakan sering terjadi di hepar karena hepar merupakan organ utama dalam metabolism lemak selain organ jantung. Etiologi dari degenerasi lemak adalah toksin. akan timbul penimbunan trigliserid yang berlebihan. terjadi perubahan perlemakan yang menyebabkan nekrosis. otot dan ginjal. Umumnya perubahan hyaline merupakan perubahan dalam sel atau rongga ekstraseluler yang memberikan gambaran homogeny. Otot yang mengalami degenerasi zenker adalah otot rektus abdominis dan diafragma. obesitas. Kedaan ini terbentuk akibat berbagai perubahan dan tidak menunjukkan suatu bentuk penimbunan yang spesifik. 3. Jika terjadi gangguan dalam proses metabolism lemak. 5. dan berlendir dengan komposisi yang bermacam-macam dan pada keadaan normal disekresi oleh sel epitel serta dapat pula sebagai bagian dari matriks jaringan ikat longgar tertentu.

2. Musin tersebut akan mendesak inti ke tepi sehingga sel menyerupai cincin dinamakan Signet Ring Cell. Degenerasi pada TMJ Osteoartritis (OA) adalah bentuk dari arthritis yang berhubungan dengan degenerasi tulang dan kartilago yang paling sering terjadi pada usia lanjut. osteoartrosis. dan mendesak inti ke tepi seperti pada adenokarsinoma gaster yang memberikan gambaran difus terdiri atas sel-sel gaster yang memiliki sifat ganas dan mengandung musin. Osteoporosis termasuk penyakit gangguan metabolism.2 DEGENRASI PADA JARINGAN KERAS 1. dan bahan-bahan lainnya. dahulu dinamakan degenerasi miksomatosa. Musin di jaringan ikat. 2003 : 14-20) 2. Keadaan ini menunjukkan adanya musin di daerah interselular dan memisahkan sel-sel Stelata (Stellate Cell/ Star Cell). artritis degeneratif. phospat. Yang ditandai oleh berkurangnya massa dan mineral tulang sehingga menyebabkan kondisi tulang menjadi rapuh. (Janti Sudiono. Proses pengurangan ini terjadi di seluruh tulang dan berkelanjutan sepanjang kehidupan. merupakan salah satu masalah . dimana tubuh tidak mampu menyerap dan menggunakan bahan-bahan untuk proses pertulangan secara normal. tulang lebih ringan dan lebih rapuh. Meskipun mungkin zat-zat dan mineral untuk pemebentuk tulang di dalam darah masih dalam batas nilai normal. Atau dengan bahasa awam. Osteoartritis. mungkin idiopatik atau sekunder terhadap penyakit lain. Pada keadaan ini terjadi pengurangan masa/ jaringan tulang dibandingkan dengan keadaan normal. Degenerasi pada tulang (Osteoporosis) Osteoporosis merupakan penipisan tulang yang abnormal. yang juga disebut dengan penyakit sendi degeneratif. seperti zat kapur = Kalsium. atau artritis hipertrofik. keropos dan mudah patah.Musin dapat dijumpai di dalam sel.

Degenerasi pada kelenjar saliva (Xerostomia) . Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi yang karakteristik dengan menipisnya rawan sendi secara progresif. disertai dengan pembentukan tulang baru pada trabekula subkondral dan terbentuknya rawan sendi dan tulang baru pada tepi sendi (osteofit). dan pulpa bereaksi secara normal terhadap tes listrik dan tes termal. meskipun suatu kavitas atau tumpatan mungkin dijumpai pada gigi yang terpengaruh. degenerasi juga dapat disebabkan oleh iritasi ringan yang persisten pada gigi orang muda. Tingkat awal degenerasi pulpa biasnya tidak menyebabkan gejala klinis nyata. seperti pada degenerasi kalsifik pulpa. Gigi tidak berubah warna . Lebih dari sepertiga orang dengan usia lebih dari 45 tahun mengeluhkan gejala persendian yang bervariasi mulai sensasi kekakuan sendi tertentu dan rasa nyeri intermiten yang berhubungan dengan aktivitas. biasanya dirasakan akibat deformitas dan ketidakstabilan sendi. lebih sering mengenai wanita.3 DEGENERASI PADA JARINGAN LUNAK 1.kedokteran yang paling sering terjadi dan menimbulkan gejala pada orang – orang usia lanjut maupun setengah baya. sampai kelumpuhan anggota gerak dan nyeri hebat yang menetap. Bila degenerasi pulpa berkembang gigi mungkin berubah warna dan pulpa tidak bereaksi terhadap stimulasi. 2. dan merupakan penyebab tersering disabilitas jangka panjang pada pasien dengan usia lebih dari 65 tahun. Degenerasi umumnya dijumpai pada gigi orang tua. Terjadi pada orang dari segala etnis. Degenerasi pada gigi (Pulpa) Degenerasi pulpa merupakan kemunduran jaringan pulpa yang bukan diakibatkan karena suatu keradangan. Degenerasi tidak berhubungan dengan infeksi atau karies. 3.

berbicara terlalu lama. yang merangsang ujung saraf nyeri.. Keluhan ini dapat disebabkan karena dengan bertambahnya usia mempengaruhi kepekaan rasa akibat berkurangnya jumlah pengecap pada lidah. penyakit ginjal dan penyakit radang selaput otak.Xerostomia : mulut kering akibat produksi kelenjar ludah yang berkurang.Keluhan mulut kering dapat terjadi akut atau kronis. Gangguan tersebut diatas dapat terjadi oleh karena rasa takut / cemas. seperti radiasi pada daerah leher dan kepala. stress dapat menyebabkan keluhan mulut kering. 1991). bernafas melalui mulut. obat-obatan tertentu. namun indera pembau juga sangat berperan pada persepsi pengecap. juga berperan pada pengecap. 2. Degenerasi pada lidah (Taste Disorder) Pengecap merupakan fungsi utama taste buds dalam rongga mulut. kehilangan unsur-unsur reseptor pengecap juga dapat mengurangi fungsional yang dapat mempengaruhi turunnya sensasi rasa. Keadaan-keadaan fisiologis seperti berolahraga. penyakit kencing manis. Selain itu. Mulut kering juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Gangguan produksi kelenjar ludah tersebut dapat diakibatkan oleh gangguan / penyakit pada pusat ludah. depresi. tekstur makanan seperti yang dideteksi oleh indera pengecap taktil dari rongga mulut dan keberadaan elemen dalam makanan seperti merica. tergantung dari penyebabmya. tumor otak. syaraf pembawa rangsang ludah ataupun oleh perubahan komposisi faali elektrolit ludah. perubahan ini harus diingat orang tua mengenai berkurangnya kenikmatan pada saat makan (Papas AS et al. Penyebab yang paling penting diketahui adalah adanya gangguan pada kelenjar saliva yang dapat menyebabkan penurunan produksi saliva. Dalam bentuk apa keluhan mulut kering timbul. sementara atau permanen dan kurang atau agak sempurna. penyakit lokal pada kelenjar saliva dan lain-lain. 3. Degenerasi pada mukosa . Biasanya orang tua mengeluh tidak adanya rasa makanan.

Mukosa menjadi peka akibat penurunan drastis produksi saliva (hiposaliva). kelenjar lemak meningkat dan permukaan mukosa tampak halus serta pembuluh darah lingual menonjol. . menyebabkan penipisan mukosa. Degenerasi jaringan periodontal Selama proses me-nua.• Secara klinis terlihat atrofi mukosa dan warna yang lebih pucat pada lapisan epitel. mukosa mengalami pengasaran serabut kolagen dan kemunduran elastisitas. kemampuan mitosis berkurang disertai pergantian epitel yang lambat • Proses keratinisasi berlangsung lambat dan lapisan epitel terlihat tipis pada lamina propria dan submukosa terjadi perubahan yang mirip dengan lapisan dermis • Sel-sel mengalami perubahan terutama sel fibroblas • Serat elastin dan kolagen bertambah tebal dan memadat Patogenesis : Penurunan proloferasi epitel . pengasaran serabut kolagen Pemeriksaan HPA : Pada lamina Propria dan lapisan submukosa trjadi perubahan yang mirip dengan lapisan dermis. ini mungkin ber-hubungan dengan menipisnya epitel mukosa karena menurunnya proliferasi sel. 4. Selain itu.

sehingga sel menjadi bengkak dan sakit. dapat terjadi pada hepar. ginjal. yang normal tidak tampak dalam jumlah sedikit.BAB III PEMBAHASAN 3. Degenerasi lemak Ialah timbunan lemak yang abnormal dalam sel yang sakit. Perubahan perlemakan dijumpai pada sel yang tergantung pada metabolisme lemak seperti sel hepatosit dan selmiokard. Sedangkan perubahan perlemakan bermanifestasi sebagai vakuola-vakuola lemak di dalam sitoplasma dan terjadi karena hipoksia atau bahan toksik. bishmath. dan pulpa. phospor. arsen) • Mal nutrisi • Diabetes melitus . jantung. Etiologi : • Anoxia • Infeksi • Intoksikasi zat kimia (chlour. Macam-macam degenerasi: 1. Degenerasi dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu pembengkakan sel dan perubahan perlemakan.1 Klasifikasi degenerasi Degenerasi merupakan kemunduran sel oleh karena padanya terjadi gangguan metabolisme sehingga tertimbun (akumulasi) bahan-bahan metabolit. Pembengkakan sel timbul jika sel timbul jika sel tidak dapat mengatur keseimbangan ion dan cairan yang menyebabkan hidrasi sel.

pada obesitas. • Degenerasi miksomatik Pada degenerasi miksomatik. pankreas). Degenerasi lendir Bahan lendir tubuh : • Diproduksi oleh jaringan ikat oleh fibroblast mucopoliy sacharida/myxoid • Myxoid adalah zat perekat antar sel jaringan ikat yang berfungsi sebagai shock absorber dan sebagai pertahanan jaringan ikat (menstion serangan kuman). dan berwarna merah muda dengan pewarnaan HE. Musin tersebut akan mendesak inti ke tepi sehingga sel menyerupai cincin dan damakan signet ring sel. cerah. Etiologinya . musin tertimbun di jaringan ikat. Keadaan ini menunjukkan adanya musin di daerah interseluler dan memisahkan sel-sel stelata.Infiltrasi lemak/jaringan lemak ialah timbunan lemak diantara jaringan ikat (jantung. Keadaan ini terbentuk akibat berbagai perubahan dan tidak menunukkan suatu bentuk penimbunan yang spesifik. Degenerasi hyaline Umumnya perubahan hialin merupakan perubahan dalam sel atau rongga ekstraselular yang memberikan gambaran homogen. • Degenerasi lendir dibagi dua. 4. yaitu : • Degenerasi mukoid Musin dapat dijumpai pada sel dan mendesak inti ke tepi seperti pada adenokarsinoma gaster yang memberikan gambaran difus terdiri atas selsel gaster yang memiliki sifat ganas dan mengandung musin. tidak menyebabkan gangguan fungsi. Degenerasi hidrofik Degenerasi hidropik merupakan jejas yang reversible dengan penimbuna intraselular yang lebih parah jika dibandingkan degenerasi albumin. 3. 2.

5. Hal ini dapat disebabkan oleh kerusakan mitokondria yang nyata. Degenerasi ini ditemukan pada pneunomia dan tifus abdominalis stadium terminal. Selain itu dapat disebkan oleh gangguan air dan elektrolit yang berat. terseduh. 6. terhentinya produksi ATP dan kegagalan dari “pompa natrium”. Krakteristik dengan penumpukan air lanjut dalam sel. contohnya luka baker. Degenerasi amiloid memiliki sifat diantaranya memberikan reaksi khusus pada . Keadaaan efektif dan setelah cloudy swelling. khususnya kehilangan kalium. Bahan-bahan fisiko-kimiawi. akan timbul vakuola-vakuola kecil dan nampak cerah dalam sitoplasmik. Gambaran makroskopis organ yang mengalami degenerasi hidrofik menjadi lebih besar dan lebih berat daripada normal dan juga tampak lebih pucat. Otot yang mengalami degenerasi zenker adalah otot rectus abdominis dan diafragma. Degenerasi Amiloid Degenerasi amiloid ini memiliki kesamaan dengan degenerasi hyaline. kloroform dan karbon tetraklorida.jika berlangsung lama. yang menyebabkan peningkatan tekanan osmotic dalam sel. Sehingga nampak vakuola-vakuola kecil sampai besar pada sitoplasma. Degenerasi zenker Degenerasi zenker dikenal sebagai degenerasi hialin pada otot sadar yang mengalami nekrosis.dianggap sama dengan pembengkakan sel. Gambaran mikroskopik menunjukkan sel membengkak menyebabkan desakan pada kapiler-kapiler organ seperti kapiler pada sinusoid hati. Perubahan dalam permeabilitas membran sel terhadap zat lain dapat ditimbulkan oleh bahan-bahantoksik. Degenerasi hidropik ini biasanya terdapat pada sel hepar dan tubulus kontortus ginjal. hanya intensitas rangsang patologik lebih berat dan jangka waktu terpapar rangsangan patologik tersebut lebih lama. Bila pada penimbunan air dalam sel berlanjut karena jejas terhadap sel semakin berat.

d. Pada umumnya 30% kasus multiple myeloma disertai amilodosis primer. serat-serat otot diganti / ditimbun bahan amiloid. c. Amilodosis Lokal Amilodosis local terjadi pada tempat-tempat tertentu. osteo myelitis khronis supurativa. Amilodosis pada Multiple Myeloma (tumor pada myeloma) Multiple myeloma adalah tumor ganas yang HPA mengandung banyak sel plasma. tumor ganas. Macam Amilodosis : a. Amilodosis primer Ini tidak diketahui penyebabnya yang jelas (idiopatik). Organ yang terkena antara lain limpa. dan ditemukan pada organ-organ yang termasuk RES. jantung dan lidah. hati. Amilodosis sekunder Terjadi secara sekunder. selektif dalam deposisinta (ada dua bagian tubuh yang terpilih/ tidak seluruhnya/selektif). sebagai komplikasi penyakit lain (didahului oleh penyakit lain). b. Dasar etiologinya adalah reaksi imunologi. tract digostricus. Patogenesis : • • • Merupakan permulaan dari amilodosis primer yang umum (menyeluruh) Pada penderita dengan penyakit lain misalnya diabetes militus (pada lympha / kelopak mata) Penderita yang lanjut usia (pada pancreas) . ada hubungan dengan penyakit tertentu. dan sel getah bening. ginjal dan anak ginjal.pengecatan. Organ yang terkena antaralain jaringan otot. lepra. Komplikasinya yaitu pada otot. Misal oleh penyakit tuberkolusa.

Degenerasi pada Tulang Klasifikasi a. Osteoporosis sekunder Sedangkan osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan : • Cushing's disease • Hyperthyroidism • Hyperparathyroidism • Hypogonadism • Kelainan hepar • Kegagalan ginjal kronis • Kurang gerak • Kebiasaan minum alkohol • Pemakai obat-obatan/corticosteroid • Kelebihan kafein • Merokok Etiologi : . Osteoporosis primer Osteoporosis primer sering menyerang wanitapaska menopause dan juga pada pria usia lanjut dengan penyebab yang belum diketahui.2 Penyakit Degenerasi 1. b.• Penyakit trachoma (timbul bintil-bintil pada kelopak mata amiloid tumor) 3.

Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder. tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Jika kepadatan tulang sangat berkurang . yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obatobatan.Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia diantara 51-75 tahun. yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita.Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita). barbiturat. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal. Gejala Klinis Kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan ini. anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan). Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal. paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid. Beberapa penderita tidak memiliki gejala. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala.

setelah tulang baru disetorkan oleh sel osteoblas. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul. terdapat matrik konstan remodeling tulang. Selain itu. Patogenesis Mekanisme yang mendasari dalam semua kasus osteoporosis adalah ketidakseimbangan antara resorpsi tulang dan pembentukan tulang.[1] Tulang diresorpsi oleh sel osteoklas (yang diturunkan dari sumsum tulang). Dalam tulang normal. Jika beberapa tulang belakang hancur. Kolaps tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami kolaps secara spontan atau karena cedera ringan. Proses pengambilan tempat dalam satuan-satuan multiseluler tulang (bone multicellular units (BMUs)) pertama kali dijelaskan oleh Frost tahun 1963. yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. daerah tersebut akan terasa sakit. Tulang lainnya bisa patah. Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu dari punggung. kerusakan tubuh atau arsitektur tulang sehingga tulang mudah patah. pada penderita osteoporosis. Osteoporosis adalah suatu penyakit kelainan pada tulang yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang. maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk Dowager). yang seringkali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh. yang menyebabkan ketegangan otot dan sakit. Yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan. . tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. patah tulang cenderung menyembuh secara perlahan. Jika disentuh.sehingga tulang menjadi kolaps atau hancur. hingga 10% dari seluruh massa tulang mungkin mengalami remodeling pada saat titik waktu tertentu. yang disebut fraktur Colles.

Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya penurunan massa tulang yang berakibat pada osteoporosis. Tapi Osteoporosis bisa dihindari atau dicegah agar jangan terjadi akibat yang lebih fatal yaitu patah tulang. Setiap saat terjadi remodeling tulang di tulang manusia. dimana pada saat proses pembentukan tulang sampai umur 30 – 35 tahun. membentuk lengkung atau arkus dari kri ke kanan yang bila ditilik dari garis tengah memiliki struktur simetris di bagian kiri dan kanan. Kejadian ini adalah suatu keadaan yang normal. Tulang mandibula adalah tulang yang unik. tapi setelah berumur 35 tahun keadaan ini tidak berjalan dengan seimbang lagi dimana jumlah tulang yang diserap lebih besar dari jumlah tulang baru yang menggantikan. Mandibula Rahang bawah dibentuk oleh tulang mandibula yang merupakan struktur tulang paling kokoh pada wajah. yaitu suatu proses pergantian tulang yang sudah tua untuk diganti dengan tulang yang baru. b.Osteoporosis adalah penyakit degeneratif yaitu suatu penyakit yang berhubungan dengan usia. kemudian tulang yang sudah diserap itu tadi akan diisi oleh tulang yang baru dengan bantuan sel tulang yang bernama osteoblas. Tulang alveolar : . c. jumlah tulang yang diserap atau diresorpsi sama dengan jumlah tulang baru yang mengisi atau menggantikan sehingga terbentuk puncak massa tulang. Proses remodeling ini dimulai dengan terjadinya resorpsi atau penyerapan atau penarikan tulang oleh sel tulang yaitu osteoklas. Penuaan pada mandibula Penuaan pada mandibula terjadi karena adanya resobsi alveolar sampai setinggi 1cm. Hal ini sudah terjadi pada saat pembentukan tulang mulai berlangsung sampai selama kita hidup. terutama pada rahang tanpa gigi atau setelah pencabutan. Macam degenerasi pada tulang : a. Secara normal di tubuh kita terjadi suatu tahapan yang disebut remodelling tulang.

Penuaaan mengakibatkan kehilangan kontak oklusal sehingga mengacaukan fungsi kunyah. yang mengakibatkan batas bawah wajah menjadi kurang jelas. Hilangnya keseluruhan volume mandibula mungkin juga berkontribusi terhadap penuruna dari lapisan lemak bukal. 2. membatasi ruang gerak dan menutup mandibula. Hal ini menyebabkan kerja sendi lebih kompleks. serta wajah menjadi keriput. sehingga : tinggi wajah berkurang. Pada proses penuaan ini lapisan tulang rawan sendi yang terdapat pada rongga sendi menipis. Resobsi tulang alveolar menyebabkan pengurangan jumlah tulang akibat kerusakan tulang karena adanya peningkatan osteoklas. Hilangnya volume mandibula juga mempengaruhi penuaan leher yang berkontribusi memberikan kelenturan plathysma dan jaringan lunak leher. Terjadi resobsi pada caput mandibula. terutama setelah pencabutan gigi. Perubahan tulang ini dapat menghasikan suatu tampilan yaitu berkurangnya proyeksi dan tinggi wajah bagian bawah yang ditemukan seiring bertambahnya umur. Sudut rahang meningkat dengan usia. Baik panjang maupun tinggi mandibula berkurang secara signifikan untuk kedua jenis kelamin. Akibat penuaan mengakibatkan kontraksi otot bertambah panjang saat menutup mulut.Terjadi resobsi pada processus alveolaris. Hasil ini menunjukkan bahwa mandibula berubah secara dramatis dengan bertambahnya usia. Hal ini terjadi dalam waktu yang lama . pipi dan labium oris tidak terdukung. Unsur-unsur tulang mandibula berubah secara signifikan dengan bertambahnya usia untuk kedua jenis kelamin dan bahwa perubahan ini. ditambah dengan perubahan jaringan lunak menyebabkan tampilan pada usia yang lebih rendah sepertiga dari wajahnya. Degenerasi pada TMJ Osteoartritis adalah proses degenerasi atau penuaan sendi. sehingga jarak antara dua tulang saling bedekatan. sehingga terjadi proses osteolisis dan peningkatan vaskularisasi.

Reaksi lain yang timbul akibat dari beradunya dua tulang tersebut membuat jaringan tulang manjadi kasar dan timbul berduri (spur).membuat rasa ngilu pada sendi bila digerakan. Cartilage adalah senyawa protein yang melayani sebagai "bantal" antara tulang-tulang dari sendi-sendi. Osteoarthritis adalah tipe dari arthritis yang disebabkan oleh kerusakan atau penguraian dan akhirnya kehilangan tulang muda (cartilage) dari satu atau lebih sendi-sendi. Osteoarthritis juga dikenal sebagai degenerative .

1. . Etiologi.arthritis.

Pada kasus yang lebih jarang. Patogenesis tulang rawan KONDROSIT mengalami degenerasi tulang rawan tipis (matriks dan struktur) retakan pada sendi . dan otot – otot yang bekerja melalui sendi. penyakit ini dapat berkembang pada dewasa muda. perkembangan. dan bahkan anak-anak. infeksi. atau variasi herediter. dan pembentukan osteofit. osteoartritis dapat terjadi akibat trauma pada sendi. maka dari itu. Sebaliknya. terdapat hubungan yang kuat antara osteoartritis primer dengan umur. tulang subchondral. kelainan metabolik dan neurologik.Osteoartritis seringkali terjadi tanpa diketahui sebabnya. ligamen. tetapi perubahan primer meliputi kerusakan rawan sendi. termasuk rawan sendi. yang disebut denganosteoartritis idiopatik.. remodeling tulang subchondral. kapsul sendi. seperti halnya pada orang tua. yang disebut dengan osteoartritis sekunder. Osteoartritis biasanya melibatkan semua jaringan yang membentuk sendi sinovial. 2. Onset usia pada osteoartritis sekunder tergantung pada penyebabnya. synovium. tulang metafise.

kapsul sendi. proses reparasi juga melambat . jaringan sinovial. tendon dan tulang rawan) kekakuan sendi Perubahan jaringan synovial • • • cairan synovial akan berkurang  mempengaruhi kelancaran akibat lebih lanjut  terjadi krepitasi pada gerak sendi pada keadaan lebih parah dapat merobek atau merusak diskus pergerakan dari diskus artikularis artikularis Perubahan pada ligamentum sendi • • pengurangan ketebalan kapsula sendi pengurangan daya tahan regangan dari serat kolagen yang membentuk ligamentum TMJ  penurunan keleluasaan artikulasi sendi TMJ • Sintesa kolagen juga akan menurun  bila tjd kerusakan ligamentum.tulang rapuh permukaan tulang rawan kasar dan berlubang sendi tidak bisa bergerak dengan halus semua komponen dalam sendi (tulang.

meskipun suatu kavitas atau tumpatan mungkin dijumpai pada gigi yang terpengaruh. Degenerasi pada Gigi (pulpa) Degenarasi pulpa ini jarang ditemukan namun perlu diikutkan pada suatu deskripsi penyakit pulpa. Pada degenerasi kalsifik. dan terletak tidak terikat di dalam badan pulpa. Perubahan pulpa • • • volume ruangpulpa menyempit ok/dentin reparative jumlah sel berkurang. Kadang-kadang dapat juga ditemukan pada penderita muda seperti pengapuran. Bahan mengapur mempunyai struktur berlamina seperti kulit bawang. Degenerasi pulpa ini tidak perlu berhubungan dengan infeksi atau karies. sebagian jaingan pulpa digantikan oleh bahan mengkapur. degenerasi atrofik.3. Ada beberapa macam degenerasi pulpa yaitu degenerasi kalsifik. dan pulpa bereaksi secara normal tehadap tes listrik dan tes termal. Gigi tidak berubah warna. degenerasi fibrous. jumlah saraf bertambah secara histologis. yaitu terbentuk batu pulpa atau dentikel. Tingkat awal degenerasi pulpa biasanya tidak menyebabkan gejala klinis yang nyata. Kalsifikasi dapat terjadi baik di dalam kamar pulpa ataupun saluran akar. tapi umumnya dijumpai pada kamar pulpa. jaringan pulpa terlihat lebih padat dapat terjadi pengapuran yang tida teratur (pulp stones) tjd pengurangan jumlah dan penurunan kualitas dinding pembuluh >reaktifitas berkurang Degenerasi kalsifik. Dentikel atau batu pulpa demikian dapat menjadi cukup besar untuk memberikan suatu bekas pada kavitas pulpa bila masa mengapur . Degenerasi pulpa pada umunya ditemui pada penderita usia lanjut yang dapat disebabkan oleh iritasi ringan yang persisten.

Kemungkinan ini adalah suatu artifak yang disebabkan karena fiksasi jelek spesimen jaringan. pulpa demikian punya penampila khusus serabut keras. Pada pengambilan dari saluran akar. Jaringan pulpa kurang sensitif daripada normal. Tidak terdapat diagnosis klinis. Tidak selalu mungkin untuk membedakan satu jenis lain pada radiograf. Degenerasi lemak pulpa. Artifak Pulpa Pernah diperkirakan bahwa vakuolisasi odontoblas adalah suatu jenis degenerasi pulpa ditandai dengan ruang kosong yang sebelumnya diisi oleh odontoblas. Pada jienis kalsifikasi lain. dijumpai lebih sedikit sel-sel stelat. Degenerasi Fibrous Bentuk degenerasi pulpa ini ditandai dengan pergantian elemen seluler oleh jaringan penghubung fibrous. Diduga bahwa dentikel dijumpai pada lebih dari 60% orang dewasa. dan cairan interseluler meningkat. Degenerasi Atrofik Pada pasien degenerasi ini. bersama-sama dengan atrofi . meskipun rasa sakit yang. menyebar (referred pain) pada beberapa pasien dianggap berasal dari kalsifikasi ini pada pulpa.tersebut dihilangkan. Penyakit ini tidak menyebabkan gejala khusus untuk membantu dalam diagnosis klinis. Batu pulpa dianggap sebagai pengerasan yang tidak berbahaya. bahan mengapur terikat pada dinding kavitas pulpa dan merupakan suatu bagian utuh darinya. yang diamati secara histologis pada pulpa orang tua. Yang disebut “Atrofi retikular” adalah suatu artifak (artifact) dihasilkan oleh penundaan bahan fiksatif dalam mencapai pulpa dan hendaknya tidak dikelirukan dengan degenerasi atrofik.

Mekanisme terjadinya keterlibatan pulpa demikian pada kebanyakan kasus adalah perluasan local langsung dari rahang. hidung dan pharynx. Dari kelenjar-kelenjar ludah tersebut. paringitis sicca dan bahkan laryngitis sicca. Pada tiap keadaan tersebut terlihat mukosa yang kering. Satu laporan mencatat keterlibatan pulpa gigi molar pada pasien berusia 11 tahun dengan kondromiksosarkoma rahang bawah. semuanya mungkin artifak dengan sebab sama. Dari 39 pasien yang diperiksa dengan tumor maligna di dalam mulut. maka sindrom Sicca sering digunakan untuk keadaan ini. dalam beberapa menit saja. Metastasis sel-sel tumor Metastasis sel-sel tumor ke pulpa gigi jarang terjadi. yaitu fiksasi yang tidak memuaskan. mempunyai peranan penting. Degenerasi pada Kelenjar Ludah (Xerostomia) Xerostomia merupakan istilah untuk keadaan mulut yang kering. mulut. kekeringan tersebut hanya bersifat subyektif. tetapi pemotongan salah satu kelenjar . hanya satu di mana ditemuka sel-sel tumor di dalam pulpa. Bila dikeringkan dengan sepotong kasa akan terlihat butiran cairan dari kelenjar local.retikuler dan vakuolisasi. Kelenjar ini. Daerah-daerah mulut yang kering dapat disebut keratokonjungtivitis sicca. 4. sama seperti xeroptalmia yang digunakan untuk mata yang kering dan xerodermia untuk kulit yang kering. sebagian besar diantaranya diproduksi oleh kelenjar ludah mayor. kelenjar parotid merupakan yang paling penting. walaupun pada sebagian besar keadaan. walaupun hanya menghasilkan sebagian kecil dari seluruh cairan pelumas mulut. seperti pada mata. Bila mukosa pada beberapa daerah kering. Pada mukosa mulut normalnya basah serta mengkilat. Kedua kelenjar submandibula dapat dipotong tanpa kesulitan yang berarti setelah operasi. kecuali mungkin pada tingkat akhir. rhinitis sicca.

Atau mungkin juga berupa . terdapat berbagai macam keadaan yang ikut berpengaruh disini. yang merangsang terjadinya efek simpatik dari sistem saraf autonom dan menghalangi sistem parasimpatik. penyebab penyumbatan hidung yang paling sering terlihat adalah pembesaran tonsil nasoparingeal (adenoid). Bernafas melalui mulut yang terjadi pada saat olah raga.parotis atau hilangnya sekresi dari kelenjar ini. karena pasien biasanya sukar menerima penggunaan gigi tiruan. Sebagian besar orang mengalami sensasi mulut kering sebelum melakukan Tanya jawab yang penting atau sebelum pidato. polip hidung atau hipertropi rhinitis. Semua keadaan tersebut menyebabkan pasien bernafas dari mulut. Agenesis dari kelenjar ludah : Sangat jarang terjadi. Kecepatan pembentukan karies sangat meningkat. Pada keadaan ini ada dua faktor yang ikut berperan. Hasil sialografi menunjukkan cacat yang besar dari kelenjar ludah. Pada orang dewasa terdapat berbagai macam penyebab. Gejala ringan yang timbul meliputi sulit mengunyah makanan yang kering. Selain itu. Usaha mempertahankan gigigigi. dengan lidah yang merah. dari penyimpangan keadaan hidung. serta rasa kering pada mulut yang terus menerus. dapat menyebabkan mulut terasa kering. Etiologi dan patogenesis Xerostomia 1. mukosa terlihat kering. Karena penyumbatan hidung : Pada anak-anak. 2. juga dapat member efek kering pada mulut. tanpa penyumbatan hidung. 3. berbicara atau menyanyi. Fisiologi : Sensasi mulut kering yang subjektif terjadi setelah bicara yang berlebihan dan selama berolahraga. Selain itu. berperan penting. tetapi kadang-kadang pasien memang mempunyai keadaan mulut yang kering sejak lahir. juga ada komponen emosional. Pada keadaan lebih lanjut. meradang tapi kering. sehingga menyebabkan berkurangnya aliran ludah dan mulut menjadi kering.

yang mengeluh tentang berbagai sensasi pada mulutnya. mulut menjadi kering dengan bertambahnya umur. Bila daerah pendukung gigi tiruan telah terasa nyeri. Faktor penuaan dan psikologi : normalnya. biasanya gigi seri yang protrusi (maloklusi Angle klas III divisi 1) atau bibir yang lemah serta kurang berfungsi. mengkilat. salah satunya rasa kering pada mulut. Apapun penyebabnya. Gingival dapat menjadi merah. karena gagal untuk membentuk selapis tipis mucous untuk tempat gigi tiruan melayang pada permukaannya. Kadua faktor tersebut dapat terlihat bersamaan. tetapi pria pada kelompok umur yang sama juga tidak jarang terserang. biasanya keadaan tersebut kurang tidak begitu mengganggu pasien dan dapat diperingan dengan beberapa teguk air. mulut kering . dan dengan tegangan permukaan yang berkurang untuk retensi gigi tiruan dalam menahan tekanan kunyah. Sangat mengherankan bahwa banyak obat yang kurang bermanfaat untuk keadaan tersebut. 5. atau kesulitan dalam menggunakan gigi tiruan. Keadaan mulut yang kering dapat terlihat berupa kesulitan mengunyah dan menelan. Perawatan untuk pasien ini dengan antidepresan atau obat penenang. Tipe pasien lain mempunyai tanda-tanda psikiatrik yang rumit dari depresi ringan maupun kecemasan. akibatnya sama yaitu rasa kering yang bersifat subjektif pada mulut dan hyperplasia dari jaringan gingiva yang kering di sekitar gigi-gigi seri atas pada permukaan labial. terbukti bahwa banyak orang lanjut usia yang menemukan bahwa mulutnya bereaksi dengan cara yang sama.maloklusi gigi-gigi seri. Pada pemeriksaan pasien tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda mulut kering yang objektif. Seringkali wanita menopause terserang xerostomia. 4. trauma dapat berlangsung terus. dan sering mudah berdarah. Xerostomia pada keadaan demam serta infeksi pernafasan : Kadang-kadang demam dapat menimbulkan keadaan mulut yang kering. Mukosa yang kering menyebabkan pemakaian gigi tiruan tidak menyenangkan. Pada pasien yang tidak sehat.

6. dalam periode menopause serta menderita penyakit auto-imun. yang menyebabkan terjadinya akut supuratif parotitis. Radiasi parotis jarang diperlukan. penyakit-penyakit kelenjar ludah jarang menimbulkan xerostomia. Kebrsihan mulut sanagt penting peranannya dalam mencegah infeksi sekunder. mulut menjadi sangat kering dengan deposit mucous di sekitar gigi-giginya. Setelah Radioterapi : Dengan teknik radioterapi yang baru dan lebih baik. ia menghirup udara dengan mulut. Mukosa-mukosa selain mukosa mulut dapat terserang. Kebersihan mulut dapat ditingkatkan dengan menjaga mulut selalu dalam keadaan basah. Bronchitis. Bahkan setelah dilakukan radiasi kelenjar parotis unilateral. kelenjar ludah tetap dapat dilindungi untuk menghalangi terjadinya kerusakan. dan karena usaha pasien untuk menghirup nafas sebesarbesarnya. Penyakit harus mengenai kedua kelenjar parotis secara bergantian untuk dapat menimbulkan kerusakan yang menyeluruh. terutama rheumatoid artritis. Terutama pada pasien asma. atau mengkilat dengan lidah berlobus yang khas. Pada infeksi saluran pernafasan bagian atas. akan terlihat adanya perubahan besar. Mukosa mulut terlihat keriput. 8. Pada pasien . bahkan untuk radiasi mulut. Infeksi pernafasan biasanya menyebabkan mulut terasa kering. Penyakit kelenjar ludah menimbulkan xerostomia : Selain syndrome Sjogren. Sindron Sicca (Sindron Sjogren) : Merupakan penyebab xerostomia yang paling penting dan tanda-tandanya telah dibahas sebelumnya. penyumbatan hidung menyebabkan pasien bernafas melalui mulut. Biasanya penderita seorang wanita. Infeksi paroris juga dapat menimbulkan xerostomia. serta kemungkinan terjadinya infeksi kelenjar parotis.mudah terserang infeksi sekunder dengan candida albicans. 7. asma dan pneumonia dapat meningkatkan kecepatan pernafasan.

hipnotik. yang mempunyai pola perpindahan neurohumoral yang sama dengan ganglia simpatik. Perokok juga mula-mula mengalami ptialism. 10. yang setelah beberapa jam kemudian berubah menjadi mulut yang kering. Obat yang bekerja pada daerah otak yang tinggi. narkotik. 9. Ada beberapa obat dari tiap kelompok. dapat menyebabkan xerostomia. keadaan-keadaan tersebut dapat bervariasi. a.yang lebih muda. Keadaan-keadaan lain yang menimbulkan xerostomia : Diabetes mellitus yang sering tidak terkontrol serta berhubungan dengan polidipsia dan poliuria. berupa xerostomia. Semua obat yang menghalangi aktivitas pusat otak yang tinggi juga dapat menghalangi sistem saraf simpatik dan parasimpatik. Jadi secara teoritis dapat dikatakan bahwa . Diabetes inspidus karena sifat dehidrasi yang dimilikinya. Yang termasuk kelompok tersebut adalah semua obat yang termasuk kategori obat penenang. Biasanya karies tersebut terletak di servikal dan dapat mengenai semua gigi. yang dibicarakan disini dalam hubungannya dengan xerostomia. Dehidrasi medis atau operasi dari penyebab apapun dapat member efek serupa. diikuti dengan efek penyumbatan. Untuk menyebutkan semua obat yang menimbulkan rasa kering pada mulut. Obat yang bekerja pada ganglia autonomic Aksi obat ini berjalan melalui ganglia parasimpatik. dan penghilang rasa sakit. Nikotin dapat menyebabkan rangsang permulaan pada penggunaan dosis tinggi. insiden karies gigi meningkat cepat. b. dapat menyebabkan mulut kering. dari perdarahan sampai hiperparatiroidism. Efek antisialogogik sama dengan berkurangnya aliran ludah selama pasien tidur. kita perlu menyebutkan hampir semua obat yang terdapat pada farmakope. Obat yang merangsang xerostomia : Ada sejumlah obat yang salah satu efek sampingnya. Uremia tidak hanya menimbulkan mulut berbau tetapi juga menimbulkan xerostomia.

seperti propantelin (probanten) dan poldin (nakton). dan orphenadrin. Kerena depresi endogenus sendiri dapat menyebabkan xerostomia. Epedrin. juga dapat menyebabkan mulut terasa kering bila diberikan secara sistemis. d. bertujuan untuk mengurangi ketegangan bronkus. dapat menyebabkan mulut terasa kering. Anggapan tersebut memang selalu didukung bukti-klinis. amitriptylin. . Atropine. Obat yang bekerja pada daerah pertemuan adrenergic neuro-efektor Ampetamin dan derivatnya yang digunakan sebagai obat perangsang atau obat penurun nafsu makan dapat mengurangi aliran ludah.perokok berat selalu mengalami xerostomia. Keadaan yang serupa berlaku juga untuk beberapa obat yang digunakan untuk perawatan Parkisonism. seperti benzhexol. tapi berapa besar c. Ada sejumlah obat yang digunakan sebagai spasmolitik. sulit untuk menentukan apakah penyakit atau cara perawatannya yang menimbulkan mulut kering. Derivate penotiasin juga mempunyai efek yang sama. suatu alkaloid beladona. Bahkan pada dasarnya. Obat yang bekerja pada pertemuan parasimpatik neuro-efektor Sebagian besar obat yang menimbulkan xerostomia bekerja pada daerah ini dengan cara memblokir efek muskarinik dari asetilkolin. hiosin dan produk-produk ammonium quartenari lainnya. benztropin. Semua antihistamin mempunyai efek samping kolinergiok serta dapat mengurangi aliran ludah. Untungnya pembesaran bronkus terjadi dengan efek yang lebih khusus dan aksi yang lebih kecil terhadap kelenjar ludah. yang masih sering digunakan untuk perawatan asma. Obat trisilik anti depresi seperti imipramin. bersama dengan substansi lain yang berhubungan dengannya. bebrapa antihistamin merupakan derivate penotiasin. mempunyai efek sama. dan untuk mengurangi sekresi gastric. seperti hemotropin. dan komponen yang berhubungan dengannya. juga mempunyai efek serupa.

Oleh nervus glossofaringeus yang bercabang pada ganglion otikum dan di lanjutkan menuju kelenjar parotis. di lanjutkan oleh nervus glossofaringeus & nervus fasialis. lining sel duktus intermediate mengalami atropi. Persoalan dengan protesa 5. Mukosa mulut kering. Sukar berbicara 3. Sedangkan nervus facialis bercabang pada traktus solitaries menbawa rangsangn tersebut ke ganglion submandibularis menuju ke kelenjar submandibularis. sekresi dari saliva menurun sehingga rongga mulut menjadi kering. Bertambahnya usia → terjadi perubahan dan kemunduran fungsi kelenjar saliva. Jika lidah mengalami atrofi pada papillanya.Patogenesis Xerostomia a. Nervus glossofaringeus membawa rangsangan menuju traktus solitaries yang di dalamnya terdapat nervus solitarius superior dan inferior. Keadaan ini mengakibatkan pengurangan Gambaran Klinis Xerostomia 1. dimana kelenjar parenkim hilang yang digantikan oleh jaringan lemak dan penyambung. maka lidah tidak mampu menghantarkan simpul-simpul rangsangannya. mudah teriritasi 2. Secara umum (Hubungan sekresi saliva dengan xerostomia) Pada lidah terdapat nervus-nervus penghantar yakni nervus glossofaringeus yang bercabang menuju traktus solitarius. Akibatnya. Saat lidah menerima rangsangan taktil dan pengecapan. Sukar mengunyah dan menelan 4. b. Penimbunan lendir Rasa seperti terbakar 6. sehingga rangsangan tersebut tidak sampai pada glandula saliva yang berfungsi untuk memproduksi saliva sebagai respon atas rangsangan yang di hantarkan. Gangguan pengecapan .

sulit makan dan menelan. Pergeseran dalam mikroflora mulut 9. Gambaran HPA Secara histologis. Radang periodonsium 11. 13. Tes Curry tersebut merupakan studi terhadap aliran parotis dan dapat menunjukkan jumlah produksi saliva yang normal. Mulut kering selanjutnya dapat dibedakan apakah sejati atau palsu. Kesukaran dalam memakai gigi palsu. lashley cup. Perubahan jaringan lunak 8. Mulut terasa seperti terbakar dan sebagainya. terdapat keratosis putih karena tembakau. diantaranya : Proflow sialometer. Ada beberapa alat untuk mengumpulkan saliva dan dapat membantu dalam menegakkan diagnose terhadap pasien xerostomia . Pembuktian ini dapat dilakukan tes curry. Bibir lekat pada . kondisi mulut pasien dapat dinilai dengan menggunakan kaca mulut yang ditempelkan ke pipi pasien.kelenjar liur major dan minor menunjukkan atropi dan infiltrasi oleh limfosit dan sel-sel plasma. dan halitosis. Halitosis 12. Kepekaan terhadap rasa berkurang. Alat pengumpul saliva tersebut harus sesui dengan standard an dapat dipercaya. Cara lain untuk memeriksa yaitu pada penderita tampak bibir pecah-pecah atau kering. Kesulitan bicara. Biasanya pada penderita stomatitis nikotina. dan slurp collection cuip. salivette. pada mukosa palatal terdapat papula-papula merah. Selain dengan penggunaan alat tersebut . jika kaca menempel dapat di pastikan pasien menderita xerostomia. 14.7. Karies gigi meningkat 10. kecil. Saliva yang kental yang menempel pada kaca mulut jika ditarik juga menandakan keadaan xerostomia pada pasien. Pemeriksaan Penting untuk membuktikan secara objektif jumlah saliva yang dihasilkan.

pada proses menua terjadi penurunan fungsi tubuh secara berangsur-angsur dan akhirnya menjadi manusia dengan usia lanjut (Wasjudi. Proses menua merupakan proses yang terjadi di dalam tubuh yang berjalan perlahan-lahan tapi pasti. kehilangan unsur-unsur reseptor pengecap juga dapat mengurangi fungsional yang dapat mempengaruhi turunnya sensasi rasa. baik pada jaringan keras ataupun jaringan lunak rongga mulut. karies akan terus meningkat meskipun OH baik. 5. maka dapat dipahami bahwa golongan usia lanjut merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit dan cacat karena terjadinya perubahan organobiologik tubuh akibat proses degeneratif alamiah. 2002). baik itu pada jaringan keras ataupun jaringan lunak rongga mulut. 2000) Proses menua dapat menimbulkan keluhan atau kelainan. dengan menurunnya nafsu makan. Keluhan ini dapat disebabkan karena dengan bertambahnya usia mempengaruhi kepekaan rasa akibat berkurangnya jumlah pengecap pada lidah. Pada manusia proses menua itu sebenarnya telah terjadi sejak manusia dilahirkan dan berlangsung terus sampai mati. dapat dipahami bahwa golongan usia lanjut merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit dan cacat karena perubahan organobiologik tubuh akibat proses degeneratif alamiah. 2002). Murjiah dan Dinarto. Menurunnya fungsi faali serta parameter metabolisme seiring dengan meningkatnya usia akan mengganggu penggunaan zat gizi (Axell. Ketika bertambah tua. Murjiah dan Dinarto. 1992. Ketika bertambah tua. Degenerasi pada Lidah (Taste Disorder) Sudah merupakan hukum alam bahwa setiap makhluk di dunia ini akan mengalami proses menua. di tambah dengan menurunnya nafsu makan. Menurunnya fungsi faali serta parameter metabolisme seiring dengan meningkatnya usia akan mengganggu penggunaan zat gizi (Axell. Proses menua dapat menimbulkan keluhan atau kelainan. Pada kasus ini.gigi (Lip Stick and Tongue Blade Signs) karena sel-sel epitelnya melekat pada email yang kering sehingga menyebabkan erosi dan karies pada permukaan akar dan ujung cusp. Biasanya orang tua mengeluh tidak adanya rasa makanan. . 1992.

. Sel pengecap tetap mengalami perubahan pada pertumbuhan. 2005). Apabila pada bagian lidah tersebut tidak terdapat papilla lidah menjadi tidak sensitif terhadap rasa (Lynch et al. . Membran plasma mikrovili mengandung reseptor yang berikatan secara selektif dengan molekul zat kimia. dan permukaannya tidak rata karena ada tonjolan-tonjolan yang disebut dengan papilla. Sel pengecap mengalami perubahan pada pertumbuhan.. Budi. 1997). 1991). 1994. Sensasi rasa pengecap timbul akibat deteksi zat kimia oleh resepor khusus di ujung sel pengecap (taste buds) yang terdapat di permukaan lidah dan palatum molle. Proses ini bergantung dari pengaruh saraf sensoris karena jika saraf tersebut dipotong . Ganong. Sel reseptor pengecap adalah sel epitel termodifikasi dengan banyak lipatan permukaan atau mikrovili. beberapa di antaranya disebut sel sustentakular dan lainnya disebut sel pengecap. Boron . 2004). mati dan regenerasi (Budi.perubahan ini harus diingat orang tua mengenai berkurangnya kenikmatan pada saat makan (Papas AS et al. Hanya zat kimia dalam larutan atau zat padat yang telah larut dalam air liur yang dapat berikatan dengan sel reseptor (Amerongen. sedikit menonjol melalui poripori pengecap untuk meningkatkan luas permukaan sel yang terpajan dalam mulut. 1998. tekstur makanan seperti yang dideteksi oleh indera pengecap taktil dari rongga mulut dan keberadaan elemen dalam makanan seperti merica. Indera pengecap kurang lebih terdiri dari 50 sel epitel yang termodifikasi. Selain itu. sehingga beberapa diantaranya adalah sel muda dan lainnya adalah sel matang yang terletakke arah bagian tengah indera dan akan segera terurai dan larut (Guyton. juga berperan pada pengecap. Lidah mempunyai lapisan mukosa yang menutupi bagian atas lidah. Pengecap merupakan fungsi utama taste buds dalam rongga mulut. . yang merangsang ujung saraf nyeri. mati dan regenerasi. 2004. pada papilla ini terdapat reseptor untuk membedakan rasa makanan. . 1991). namun indera pembau juga sangat berperan pada persepsi pengecap. Sel pengecap terus menerus digantikan melalui pembelahan mitosis dari sel disekitarnya.

Facialis (N.maka akan terjadi degenerasi pada pengecap. 3. 2005).VII) (Ganong. 1998. circumvalata : post. Boron. fungiformis : 2/3 anterior lidah Pp. Gambar Lidah dan Pembagian Papilla Keterangan papilla pada lidah: 1. foliata : post-lateral lidah . Taste buds yang dilayani oleh serat saraf sensoris adalah taste buds pada 2/3 lidah bagian anterior (papilla filiformis dan sebagian papilla fungiformis) dilayani oleh chorda tympani cabang dari N. depan sulkus terminalis Pp. Pp. 2.lidah.

Penelitian dengan mikroelektroda pada satu taste buds memperlihatkan bahwa setiap taste buds biasanya hanya merespon terhadap satu dari empat rangsang kecap primer.Masing-masing papilla pengecap dipersarafi 50 serat saraf dan setiap serat saraf menerima masukan dari rata-rata 5 papilla pengecap. biasanya terletak di sisi papilla. pahit (kinin). kecut/asam (lar. Ganong. 1998). Mineral Zn . Pada orang usia lanjut.1997. The Drop Technique Digunakan 4 macam rasa manis (gula pasir). tiga atau bahkan empat rangsang pengecap primer dan juga oleh beberapa rangsang pengecap yang lain yang tidak termasuk dalam kategori primer (Diah Savitri. Asam cuka) dan asin (larutan garam). tetapi karena terbatasnya data maka disebutkan ada sekitar 200-250 taste buds per papilla circumvalata pada setiap individu dibawah usia 20 tahun. bila substansi pengecap berada dalam konsentrasi rendah. 1998). Elektrogustometri Tes pengecapan secara kuantitatif. Pemeriksaan Penunjang yang dilakukan untuk mendeteksi gangguan pengecapan ialah: 1. Perubahan histopatologi pada lidah menunjukkan adanya atrofi papilla yang sering dimulai dari ujung lidah dan sisi lateral. 2. Penderita diminta utk mengidentifikasi rasa dari bahan tes yang diletakkan diatas lidah sambil menutup hidung. Beberapa peneliti melaporkan jumlah taste buds yang terdapat pada papilla circumvalata berkurang yang menyebabkan menurunnya sensitivitas rasa (Sayuti. dan kurang lebih 100 taste buds menjelang usia 75 tahun. sebagian besar taste buds dapat dirangsang oleh dua. Pada konsentrasi tinggi. permukaan dorsal lidah cenderung menjadi lebih licin karena atrofi papilla lidah. dan menurun hingga 200 taste buds atau kurang menjelang maturitas. Papilla circumvalata yang lebih besar masing-masing mengandung sampai 100 papilla pengecap.

misalnya makanan yang berasal dari protein hewani mengandung banyak mineral Zn.Salah satu perubahan yang terjadi pada air ludah penderita dengan gangguan pengecapan adalah berkurangnya kadar Zn di dalam air ludah. berkurangnya kelenturan dan berkurangnya tunika propia. Mukosa tampak seperti lilin atau satin. Degenerasi pada Jaringan Periodontal . Kadar Zn pada air ludah orang dewasa berkisar 90-120 ìg/100 ml. 7. Kadar Zn di dalam air ludah ditentukan oleh diet/ makanan yang dikonsumsi. Degenerasi pada mukosa rongga mulut Pada mukosa rongga mulut terjadi atrofi. sedangkan sebaliknya makanan yang berasal dari protein tumbuh-tumbuhan mengandung sedikit Zn. kimiawi. atau iritasi kuman. Jaringan penyambung lebih sukar menutup bila terjadi luka. atau kelihatan sembab. Pada mereka yang menjadi vegetarian (mengkonsumsi makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan) dan padamereka yang tidak nafsu makan karena gangguan kejiwaan (anoreksia nervosa) dapat mengakibatkan kurangnya mineral Zn sehingga hal ini perlu mendapat perhatian jika mengalami gangguan pengecapan. Mineral Zn berperanan di dalam fungsi berbagai indera seperti melihat. 6. Aliran saliva biasanya sangat berkurang sehingga mukosa menjadi kering dan tidak lentur. Lapisan sel berkeratin yang biasanya melindungi mukosa tidak ada lagi sehingga lebih mudah terjadi cedera bila ada iritasi mekanis. mencium bau dan mengecap. Sering terdapat perasaan terbakar dan fungsi indera pengecap sangat menurun.

Sebagian besar penyakit periodontal bersifat inflamasi dengan penyebab utamanya adalah plak dan bakteri yang didukung oleh beberapa faktor lokal dan sistemik dan sangat sulit membedakan antara kerusakan patologi dengan kerusakan fisiologis suatu jaringan pada manula. Pada ligamen periodontal Pada ligamen periodontal dapat timbul penambahan serat elastis. Beberapa jaringan mengalami perubahankarena penuaan dan hal itu mungkin karena efek dari penyakit periodontal. penurunan mitosis. Perubahan jaringan periodontal yang berhubungan dengan usia lanjut meliuti gingiva. c. bertambahnya serat kolagen. Pada sementum Pada sementum terjadi deposisi terus menerus sesuai dengan bertambahnya usia Tanda-tanda klinis yang berhubungan dengan jaringan periodontal pada manula adalah atrisi. ligamen periodontal. Penurunan vaskularisasi. meningkatnya daya resorpsi. Pada jaringan gingiva Terjadi resesi. resesi. turunnya metabolisme dan oksidasi jaringan b. tulang alveolar dan sementum. . Pada tulang alveolar kemampuan metabolisme serta kapasitas penyembuhan dan Pada tulang alveolar terjadi atropi. Beberapa perubahan jaringan periodontal pada manula yaitu a. osteoporosis. atropi sel epitel. berkurangnya jaringan ikat.Prevalensi penyakit periodontal. kegoyangan gigi dan tanggalnya gigi. kerusakan jaringan dan kehilangan gigi lebih banyak diakibatkan oleh bertambahnya usia. berkurangnya vaskularisasi. gigi yang mengalami migrasi. menurunnya d. hilangnya retepeg.

penurunan kekuatan jaringan. serta laju endap darah masih dalam batas normal. Alkalin phosphate lebih tinggi dari kadar normal d. 2. Kadar alkalin phosphate darah masih normal kecuali bila sudah terjadi patah tulang c. Etiologi : usia dan penyakit sistemik dll Pathogenesis terjadi osteoporosis ada 4 tahap : a. kapasitas kekuatan jaringan tersebut. dan nyeri pada tulang .BAB IV PENUTUP KESIMPULAN 1. Kadar Ca dan P. Pada umumnya pathogenesis degenerasi lunak maupun keras merupakan akibat dari penurunan usia dan ini mengakibatkan penimbunan sel dan lipid sehingga terjadi secara bertahap. serta PTH (para thyroid hormone) dalam darah biasanya normal. Kadar zat kapur (Ca) dan pospat. b. Pemeriksaan bisa dilakukan dengan rontgenologis maupun laboratorium Gejala klinis: sering capek dan daya tahan tubuh berkurang. Pada skenario didapatka adanya 2 degenerasi yaitu degenerasi jaringan lunak dan degenerasi jaringan keras. Osteoporosis merupakan suatu penyakit dimana massa tulang menjadi rapuh dan berkurang (matriks penyusunnya). Degenerasi jaringan lunak misalnya degenerasi pulpa Degenerasi jaringan keras misalnya degenerasi sendi Faktor etiologi dari degeneras: usia.

Estrogen merupakan salah satu hormon yang dihasilkan oleh oleh kelenjar gonadotropin pada wanita. stress dll Pathogenesis dari xerostomia dijelaskan sesuai dengan etiologi xerostomia misalnya saja pada usia semakin tua usia seseorang maka daya tahan aliran saliva yang berasal dari kelenjar saliva dan duktusnya mengalami kemunduruan. mati dan regenerasi.Klasifikasi osteoporosis: a. Pemerikasaannya bisa menggunakan sialograf dan pemeriksaan palpasi dan penentuan vsikositas komposisi dari saliva. Xerostomia merupakan suatu penyakit dimana terdapat kekeringan saliva dalam rongga mulut. obat obatan. taste disosder dll. Osteoporosis sekunder c. Menopause disebut juga sebagai “syndrom menghilangnya estrogen”. Osteoporosis pada usia anak anak d. Sel pengecap tetap mengalami perubahan pada pertumbuhan. sinar radiasi (pada kepala dan leher). Osteoporosis pada usia muda 3. Taste disosder : Sensasi rasa pengecap timbul akibat deteksi zat kimia oleh resepor khusus di ujung sel pengecap (taste buds) yang terdapat di permukaan lidah dan palatum molle.Pada dasarnya menopause juga terjadi pada laki-laki tetapi hanya berbeda istilah yang biasanya disebut . Etiologi xerostomia : usia. 5. ada sensasi terbakar. Gejala klinis : terdapat karies. terdapat manifestasi oral candida. obat obatan juga merangsang saraf otonom yang dapat menyebabkan aliran saliva berkurang. Osteoporosis primer b. 4. Pada keadaan menopause produksi estrogen berkurang drastis dan pada akhirnya akan terhenti sama sekali.

Teks dan Atlas. 1982. J. 1.V. 1997. Ed. Alih bahasa. Gordon. C Roland. editor. Editor. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Ed. Jan Tambayong. Jakarta: EGC Gayford. Jakarta: EGC Leeson. Anatomi Gigi. Faisal. Ed 5. Jakarta: EGC Herbert. Alih bahasa. Jakarta: Pustaka Populer Obor Robbins. 1997. 9. Narland Sumawinata. Outlines of Patology. 2007. Jakarta: EGC Pedersen. 1991. Alih bahasa. Jan Tambayong. 1996. Staf Pengajar Laboratorium Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Alih bahasa. Alih bahasa. Irawati Setiawan. Histologi Dasar. Editor. 1990. Jan Tambayong. Alih bahasa. America: C. luiz. Arthur C. dkk. DAFTAR PUSTAKA Fawcet.. Osteoporosis (Penyakit Kerapuhan Tulang) pada Manula. Narland Sumawinata. Ed. Jakarta: EGC Guyton. Ny. Penyakit Mulut. Alih bahasa. 2002. 12. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Lilian Yuwono. Buku Ajar Histologi. Itjiningsih. Jonatan Oswari. 1995. Jakarta: EGC W. 2000. Ed. Mosby Company Junqueira. Lilian Yuwono. 1996. Kedua keadaan ini biasa disebut sebagai gonadopause.2. Richard E. Jakarta: EGC Walton. J. Don W. Jakarta: EGC Yatim. editor. Jakarta: EGC .dengan andropause hanya saja datangnya lebih lambat dibandingkan dengan wanita. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsi. Buku Ajar Patologi. editor. Purwanto Basoeseno. Frans Dany. 1997. Ed.H. 4. Buku Teks Histologi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful