P. 1
doc

doc

|Views: 579|Likes:
Published by Yujie Yusoff

More info:

Published by: Yujie Yusoff on Feb 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Latar Belakang Masalah
  • B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah
  • C. Perumusan Masalah
  • D. Tujuan Penelitian
  • E. Kegunaan Penelitian
  • F. Sistematika Penelitian Skripsi
  • A. Tata Tertib Sekolah
  • B. Pendidikan Moral
  • C. Hubungan Tata Tertib Sekolah dan Pendidikan Moral
  • D. Sarana Pendidikan Moral
  • Gambar 3 Bagan Kerangka Berpikir
  • A. Dasar Penelitian
  • B. Fokus Penelitian
  • C. Sumber Data Penelitian
  • D. Alat dan Teknik Pengumpulan Data
  • E. Objektivitas dan Keabsahan Data
  • F. Metode Analisis Data
  • G. Prosedur Penelitian
  • HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • A. Hasil Penelitian
  • Semarang
  • B. Pembahasan
  • A. Simpulan
  • B. Saran

TATA TERTIB SEKOLAH SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) NEGERI 5 SEMARANG

SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Giri Harto Wiratomo NIM 3401403057

FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN 2007

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada: Hari Tanggal : Kamis : 19 Juli 2007

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Makmuri NIP. 130675638

Drs. AT. Sugeng Priyanto, M.Si NIP. 131813668

Mengetahui, Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan

Drs. Slamet Sumarto, M.Pd NIP. 131570070

iii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : Sabtu : 4 Agustus 2007

Penguji Skripsi

Drs. Suprayogi, M.Pd NIP. 131474095 Anggota I Anggota II

Drs. Makmuri NIP. 130675638

Drs. AT. Sugeng Priyanto, M.Si NIP. 131813668

Mengetahui, Dekan Fakultas Ilmu Sosial

Drs. Sunardi, M.M NIP. 130367998

iv

19 Juli 2007 Peneliti Giri Harto Wiratomo NIM. bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. baik sebagian atau seluruhnya.PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar – benar hasil karya saya sendiri. Semarang. 3401403057 v . Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (Al Baqarah:45) Hidup hanya sekali jadikanlah lebih berarti bagi diri dengan hiasan prestasi (Peneliti) PERSEMBAHAN Ayah dan Ibu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat.Pd dan Anton Sundargo.MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.Pd Adikku Kopral Taruna Pramudyo Wardani di Akademi Militer Magelang vi . S. Kakakku Lilian Maharani. S.

vii . 3. DR.Pd. Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Peneliti menyadari bahwa dengan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak penulisan skripsi ini tidak dapat terwujud.Si. Oleh karena itu peneliti mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada: 1. Rektor Universitas Negeri Semarang. Drs.PRAKATA Segala rasa syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT Raab semesta alam atas limpahan rahmat. hidayah serta karunia sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan lancar dan tepat pada waktunya dengan judul ”Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang”. Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan peneliti untuk berkarya dan menyelesaikan studi di Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Sudijono Sastroatmodjo. M. Sunardi. Drs. M.M. Penyusunan skripsi ini dilakukan adalah sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi Strata Satu (S1) pada Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. M. 2. Prof. Slamet Sumarto.

Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang yang telah bersedia memberikan kemudahan dan perizinan dalam penyusunan skripsi ini. AT. Drs. ”Tak ada gading yang tak retak” serta sebagai insan biasa. Saidi. M. 5. peneliti menyadari atas kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. 19 Juli 2007 Peneliti viii . Teman – teman seperjuangan ”Almamater Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Angkatan 2003”. Ayah dan Ibu yang selalu memelukku dalam ruang sandaran hati dan kasih sayang yang tiada hentinya dengan segala dorongan motivasinya. 8. 6. 7. Semua pihak – pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu atas bantuan yang diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk penyelesaian skripsi ini. Pembimbing Skripsi I yang dengan keikhlasan dan ketelitian memberikan bimbingan baik berupa motivasi dan masukan bagi penyusunan skripsi ini. Drs. 9. Pembimbing Skripsi II yang dengan kesabaran membimbing dan mengarahkan peneliti baik saran dan petunjuk dari awal hingga akhir guna penyusunan skripsi ini. M. Sugeng Priyanto. Semoga peyusunan skripsi dapat memberikan manfaat khususnya bagi diri peneliti dan pembaca pada umumnya. Drs. Makmuri.4.Si. H. Kritik dan saran yang sifatnya membangun selalu peneliti harapkan demi perbaikan di masa depan. Amin Semarang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran terhadap tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang tergolong tinggi. yaitu: (1) Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral adalah pada isi tata tertib sekolah (content). Pendidikan Moral Kondisi akhir – akhir ini menunjukkan telah terjadi degradasi moral pada kualitas personal bangsa Indonesia terutama generasi muda. berkelahi. Kata Kunci: Tata Tertib. berperan sebagai alat pencegah (preventif) dan sanksi yang mendidik. (2) Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. dan (3) Kendala – kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. 125h. sedang. Pelanggaran tata tertib sekolah tersebut meliputi tidak masuk tanpa keterangan (alpa). Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah benar tertib sekolah berisi muatan sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?.SARI Giri Harto Wiratomo. (2) Bagaimana pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?. Sarana. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang menggunakan sistem credit poin. Dasar penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif. Ada 2 (dua) variabel yang dikaji dalam penelitian ini. Upaya – upaya ix . mencorat – coret seragam sekolah. baju tidak dimasukkan. Berdasarkan penelitian pendidikan moral selain diajarkan melalui bentuk formal dalam mata pelajaran juga dapat diberikan dalam bentuk informal melalui bentuk – bentuk lain seperti adanya tata tertib sekolah. Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Faktor – faktor penyebab siswa melanggar tata tertib sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang adalah faktor internal dan eksternal. meninggalkan pelajaran tanpa izin. (3) Bagaimana kendala – kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?. 2007. tidak segera menempuh atau menyelesaikan remidi. Pendidikan moral pada intinya adalah mengajarkan dan melatih siswa terhadap kesadaran moral. Banyak faktor yang mempengaruhi gejala – gejala degradasi moral tersebut. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk dan cara menggunakannya. Kendala – kendala utama yang dihadapi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang adalah kurangnya konsistensi Guru dalam penegakan tata tertib sekolah. dan berat. Bentuk – bentuk pelanggaran tata tertib sekolah bersifat ringan.

Kepala Sekolah hendaknya terus berkomitmen dan lebih intensif mengadakan penegakan kedisiplinan siswa serta fasilitas pendukung dalam upaya menekan tingkat pelanggaran siswa terhadap tata tertib sekolah. kuratif atau rehabilitatif dan represif. Guru hendaknya terus melakukan kontrol terhadap pelanggaran tata tertib sekolah terutama membina kedisiplinan siswa.sekolah dalam penegakan tata tertib sekolah adalah secara preventif. Siswa hendaknya dengan penuh kesadaran diri untuk mematuhi tata tertib sekolah. orang tua dan masyarakat. x . Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi sekolah. Orang tua hendaknya ikut serta melakukan pembinaan moral anaknya agar patuh dan taat terhadap tata tertib sekolah.

................................................. iii PERNYATAAN ......... Perumusan Masalah ...... 10 F........................ x DAFTAR TABEL ............................ 18 xi ............................... vi SARI ........... 13 A................................................................................................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................. i PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................................................ Kegunaan Penelitian .................... Identifikasi dan Pembatasan Masalah ........................................ iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ..... 7 C.................................................... 1 A.............................. viii DAFTAR ISI ................................ xiii DAFTAR GAMBAR ............................................. 9 E.......................................................... Tujuan Penelitian ............. xiv DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................................................................................... 13 B.............................................................................................. Sistematika Penulisan Skripsi .......................................................................................................................................... v PRAKATA .............................................................................................................................................................................................. xv BAB I PENDAHULUAN .................. ii PENGESAHAN KELULUSAN ................. Latar Belakang Masalah ...................................................... Tata Tertib Sekolah .......... 11 BAB II LANDASAN TEORI ...................................................... 8 D........................................... 1 B............................................................................................ Pendidikan Moral .........

..... Fokus Penelitian ............................ 57 G............................. Keadaan Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ............................................................................ Sarana Pendidikan Moral ............................. 48 D.............................. 40 E................................... 44 BAB III METODE PENELITIAN ..................... 61 1.............................. 61 2........................................ Dasar Penelitian ........................... 35 D......... Prosedur Penelitian . Hasil Penelitian .................................................... 61 A....................... Sumber Data Penelitian .......... 47 C............................. 60 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................................................. 46 A.................. Tingkat Kedisiplinan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ............... 50 E.................................................................................................................... 54 F........... 65 4.................................................. 67 xii ... Alat dan Teknik Pengumpulan Data ..................... Hubungan Tata Tertib Sekolah dan Pendidikan Moral ... Gambaran Umum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang .........................................................................................................................C....... 64 3..................... Keadaan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang .. Objektivitas dan Keabsahan Data .............. 46 B.... Kerangka Berpikir.... Metode Analisis Data ...............

...... Isi Tata Tertib Sekolah Kaitannya Dengan Pelaksanaan Pendidikan Moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ..... 73 2........................................................................................... LAMPIRAN ............. 73 1....... 70 B.................................................. Pembahasan ..................................... 105 A................................5......... 106 DAFTAR PUSTAKA ........................ 98 BAB V PENUTUP ............... Kendala – Kendala Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang........................................................................................... Saran ......................................................................................................................................................................................................... xiii ........................... Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ................. Simpulan .................................. 105 B......................

............................. 66 3..................... 69 5................. Tabel 5 Perbandingan Penerapan Sistem Credit Poin ..................................... 65 2...... Tabel 1 Jumlah Siswa SMK Negeri 5 Semarang .........DAFTAR TABEL 1..... 67 4. Tabel 4 Jenis Pelanggaran Tata Tertib Sekolah SMK Negeri 5 Semarang ... 86 xiv ................................................................... Tabel 3 Data Guru Produktif SMK Negeri 5 Semarang ........ Tabel 2 Data Guru Normatif/Adaptif SMK Negeri 5 Semarang .....

.. 34 2..................... Gambar 1 Bagan components of good character ..................... 81 6....... Gambar 3 Bagan Kerangka Berpikir ...................DAFTAR GAMBAR 1..... Gambar 4 Bagan Metode Analisis Data .. Gambar 2 Hubungan Moral..... Etika dan Hukum ......... 44 4....................... Gambar 6 Faktor – Faktor Mempengaruhi Moral Siswa ................................ Gambar 5 Pola Pembinaan Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah .................... 93 xv ........... 59 5............... 37 3........................................

Pola Umum Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang 11. Foto – Foto Wawancara 5. Daftar Nama Guru dan Karyawan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang xvi . Jadwal Piket Pembinaan Ketertiban Guru dan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang 8. Struktur Organisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang 10. Tata Tertib Siswa 7. Instrumen Wawancara 2. Hasil Wawancara 3. Analisis Tugas.DAFTAR LAMPIRAN 1. Surat Penelitian 6. Wewenang dan Tanggung Jawab Komponen Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang 9. Daftar Nama Responden 4.

Remaja merupakan usia atau tahap seorang siswa mencari jati diri yang dilakukan melalui peniruan diri atau imitasi. Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana. Banyak anggapan dari siswa selama ini bahwa tata tertib sekolah hanya membatasi kebebasan mereka sehingga berakibat pelanggaran terhadap peraturan itu sendiri. Tanpa disadari bahwa kebebasan yang kurang bertanggung jawab akan merugikan diri sendiri. pornografi dan lain – lain. tawuran pelajar. Pendidikan moral kepada anak diawali saat mereka berada pada lingkungan keluarga terutama orang tua melalui proses sosialisasi norma dan aturan moral dalam keluarga sendiri serta lingkungan dekat pergaulan sosial anak. sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. keluarga dan masyarakat. 1 . Latar Belakang Masalah Merebaknya isu – isu moral di kalangan remaja seperti penggunaan obat – obat terlarang (narkoba). Kemudian saat anak masuk ke sekolah mulai diperkenalkan dan diajarkan sesuatu yang baru yang tidak diajarkan dalam keluarga.BAB I PENDAHULUAN A. Pergaulan remaja yang tanpa arah dan pengawasan terhadap tingkah laku mereka akan mempunyai kecenderungan mengarah pada pergaulan remaja yang negatif. Sekolah. karena tindakan – tindakan tersebut sudah menjurus kepada tindakan – tindakan yang bersifat kriminal.

Penanaman kebiasaan bersikap dan berbuat baik atau sebaliknya bersikap dan berbuat buruk. Subjek didik tidak begitu saja lahir sebagai pribadi bermoral atau berakhlak mulia. Lingkungan sekolah merupakan lembaga pendidikan yang dapat menunjang terjadinya rekonstruksi sosial ke arah masyarakat yang lebih baik. mandiri dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab. dan mengemban misi membentuk watak yang baik dari anak bangsa. pada tahap awal pertumbuhannya. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. sehat. anak dapat sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah tempat ia belajar. sehingga berperan besar dalam menumbuhkan kesadaran moral diri anak.2 sebagai tempat sosialisasi kedua setelah keluarga serta tempat anak ditatapkan kepada kebiasaan dan cara hidup bersama yang lebih luas lingkupnya serta ada kemungkinan berbeda dengan kebiasaan dan cara hidup dalam keluarganya. cakap. kreatif. Pembukaan UUD 1945 alinea keempat tentang tujuan negara Indonesia menyatakan dengan jelas “ Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. mencerdaskan kehidupan bangsa. berilmu. perdamaian abadi dan keadilan sosial ”. Mencerdaskan kehidupan bangsa . Pada aspek tujuan pendidikan nasional yang terdapat dalam pasal 3 Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berakhlak mulia.

Status kelembagaan. Manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan nasional. 6. 2004:32) menyatakan bahwa: ”pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin. Pendidikan harus dipahami sebagai bagian dari proses pembudayaan subjek didik sehingga bukan hanya pengalihan dan penguasaan ilmu pengetahuan serta pelatihan serta penguasaan keterampilan – keterampilan teknis tertentu. 2. dan tubuh anak”. Sumber daya yang belum profesional. Menurunnya akhlak peserta didik. Pemerataan kesempatan belajar. Terjadinya degradasi moral peserta didik. Berkaitan dengan Pendidikan. Pandangan Ki Hajar Dewantara (Munib.3 merupakan lingkup filosofis serta yuridis arti pendidikan yang melandasi pendidikan di Indonesia. 5. pikiran (intelek). . 4. Masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan. Tilaar dalam Mulyasa (2002) mengemukakan bahwa Pendidikan Nasional dewasa ini sedikitnya ada tujuh masalah pokok Sistem Pendidikan Nasional: 1. karakter). namun juga perlu dipahami sebagai penumbuhan dan pengembangan subjek didik menjadi pribadi manusia yang berbudaya dan beradab. Tujuan menjadi pribadi manusia yang berbudaya dan beradab adalah mewujudkan personal yang tidak hanya cerdas dalam segi kognitif akan tetapi mampu mengembangkan dan menanamkan kemampuan tertinggi dalam mengaktualisasikan budaya yang dimiliki suatu bangsa agar tidak kehilangan jati diri sebagai suatu bangsa akibat tergerus oleh perubahan zaman. 3. 7.

pendidikan moral perlu secara khusus mendapat perhatian para Guru dan pendidik di sekolah. entah ia akan meneruskan kebiasaan yang selama ini telah ditanamkan dalam keluarganya atau mengambil jarak terhadapnya dan lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya di sekolah. berbuat baik dan mengalami proses pembentukan identitas diri moral mereka. tempat remaja masih dalam proses pembiasaan diri mengenal dan mematuhi aturan hidup bersama yang berlaku dalam masyarakatnya. Meski tugas dan tanggung jawab utama untuk melakukan pendidikan moral terhadap anak terletak di pundak orang tua dalam lingkungan keluarga tempat anak itu lahir dan dibesarkan. berlatih displin. namun itu tidak berarti sekolah tidak mempunyai tanggung jawab untuk melakukan pendidikan moral khususnya pada tahap pendidikan dasar dan menengah. Peraturan .4 Pada saat remaja inilah masa anak berhadapan dengan cara bertindak dan cara bernalar berbeda dengan apa yang selama ini sudah menjadi kebiasaannya. Salah satu komponen sekolah yang menjadi sarana pendidikan moral tersebut adalah tata tertib sekolah. Tata tertib sekolah sebagai bentuk peraturan dalam tingkatan hierarki terendah tata perundang – undangan memuat adanya aspek pendidikan moral dan rule of law. anak mulai ditantang untuk memilih dan mengambil keputusan sendiri. Kondisi saat ini adalah ketika anak berada pada masa memulai pilihan dirinya akan pendewasaan diri dari masa anak – anak ke masa dewasa. Di sekolah banyak sekali ditemui komponen yang bisa menjadi sarana dari pendidikan moral.

berkelahi. mencorat – coret seragam sekolah. Sekolah memegang peran yang sangat penting dalam menanamkan dan menumbuhkan . Dari hasil pengamatan awal lapangan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang oleh peneliti. diketahui kasus atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah masih sering dilakukan siswa. tidak segera menempuh atau menyelesaikan remidi dan lain – lain. Pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang khususnya.5 yang dibuat tidak hanya legal formal akan tetapi menuntut adanya penerapan moral di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kasus atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah yang dilakukan oleh siswa masih cukup tinggi. diketahui pula pada periode tahun pelajaran 2003/2004 terjadi sebanyak 162 kasus atau pelanggaran kemudian tahun pelajaran 2004/2005 meningkat sebanyak 430 kasus atau pelanggaran dan pada tahun pelajaran 2005/2006 sebanyak 209 kasus atau pelanggaran yang meliputi antara lain tidak masuk tanpa keterangan (alpa). Hubungan tersebut erat kaitannya dengan hakikat dan isi dari pembuatan peraturan. Internalisasi nilai – nilai moral kepada subjek didik diperlukan upaya yang optimal dalam rangka menegakkan tata tertib sehingga pelaksanaan tidak hanya bersifat rule of law saja akan tetapi didasari oleh esensi adanya pendidikan moral. Pelanggaran terhadap tata tertib sekolah menunjukkan siswa kurang patuh terhadap peraturan sekolah. meninggalkan pelajaran tanpa izin. Berbagai upaya yang telah dilaksanakan di sekolah sering kurang dihargai dan diperhatikan oleh siswa. baju tidak dimasukkan.

maka peneliti ingin mengetahui tentang pelaksanaan dan kendala – kendala yang dihadapi Guru serta sekolah dalam menerapkan peraturan sebagai implementasi atau penerapan . Berkaitan dengan hal tersebut diatas peneliti memilih Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang sebagai objek yang akan diteliti karena: (1) Kasus atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah yang masih tinggi terutama sebagai penerapan konsep pendidikan moral. keinsyafan. Berdasarkan uraian tersebut diatas. minat.6 aspek pendidikan moral. (2) Aspek pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan kurang diperhatikan karena dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan digabung dengan Sejarah sehingga kurang optimal. Kasus atau pelanggaran tata tertib sekolah tersebut terkait dengan karakteristik siswa seperti perbedaan – perbedaan yang dimiliki setiap individu yang dipengaruhi oleh sikap. pengetahuan dan faktor lain yang mempengaruhinya. Kepatuhan terhadap tata tertib sekolah adalah sebuah kesiapan yang harus ditanamkan kepada siswa di sekolah agar mempunyai sikap dan perbuatan sesuai dengan norma – norma yang berlaku di masyarakat. (3) Sekolah Menengah Kejuruan mempersiapkan siswa untuk siap bekerja di masyarakat sehingga diperlukan nilai – nilai moral dalam bekerja dan letak sekolah yang strategis mudah dijangkau peneliti serta dapat memudahkan peneliti untuk memperoleh data – data dalam melakukan penelitian. Seseorang akan patuh atau sadar dalam mematuhi peraturan atau hukum berkaitan pula dengan faktor peraturan atau hukum itu sendiri.

B. perbenturan antara nilai lokal dan nilai global menyebabkan kondisi dan situasi yang sangat rawan terhadap pembentukan serta perkembangan moral siswa yang baik.7 konseptualisasi pendidikan moral di sekolah maka peneliti mengambil judul penelitian: “ TATA TERTIB SEKOLAH SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) NEGERI 5 SEMARANG ”. Siswa adalah bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari sekolah. kemudahan akses teknologi yang sedemikian maju. harus ada paparan tentang sistem pengelolaan tata tertib sekolah yang dijadikan rujukan guna penanganan masalah – masalah ketertiban. . Identifikasi Masalah Pada lingkup tahap siswa merupakan masa yang penuh gejolak. Penyimpangan tingkah laku siswa mencerminkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Identifikasi dan Pembatasan Masalah 1. Perubahan sosial yang begitu cepat. Menemukan pendekatan dan strategi itulah diperlukan suatu penelitian yang memadai sehingga dapat memberikan bahan pertimbangan yang diperlukan seperti masih adanya hal – hal yang berkaitan dengan tata tertib sekolah yang belum tertangani dengan baik. Pendidikan adalah upaya untuk mendewasakan manusia yang memiliki identitas sebagai manusia sebenarnya.

yaitu sebagai berikut: 1. 3. Ketaatan dalam melaksanakan tata tertib sekolah juga akan menumbuhkan dampak nuansa yang mendukung pembelajaran yang lebih optimal pada diri siswa dan pihak sekolah. Kenyataan tersebut menimbulkan berbagai . Tata tertib sekolah dalam penelitian ini dibatasi pada tata tertib yang berlaku bagi siswa. 2. Pembatasan Masalah Berkaitan dengan luasnya permasalahan serta agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menanggapi isi atau uraian dalam lingkup pembahasan ini. Perumusan Masalah Kenyataan di sekolah masih ditemui banyak kasus atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. maka berikut ini akan dijelaskan beberapa fokus utama dan indikator yang disajikan dalam penelitian ini. latar belakang sosial keluarga dan lingkungan banyak memberikan pengaruh terhadap ketaatan melaksanakan tata tertib sekolah.8 Ketertiban sekolah sering dijadikan indikasi keberhasilan pembinaan mental dan tingkah laku siswa. Tata tertib sekolah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sejumlah aturan yang ditetapkan sekolah yang harus dipatuhi oleh siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. C. 2. Hal – hal yang berkaitan dengan pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai media dalam maksud atau tujuan mencapai pendidikan moral.

Untuk mengetahui implementasi konsep tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Untuk mengetahui pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. 2. Sesuai dengan pembatasan masalah diatas maka penelitian ini mengambil rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kendala – kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? D. Untuk mengetahui kendala – kendala yang dihadapi sekolah terutama terhadap tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Tujuan Penelitian Berdasarkan mempunyai tujuan yaitu: 1.9 persoalan dan permasalahan mengenai pelaksanaan pendidikan moral. 3. Apakah benar tata tertib sekolah berisi muatan sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? 2. Bagaimana pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? 3. rumusan masalah diatas maka penelitian ini .

Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan Praktis b Bagi Guru. e Bagi Sekolah. d Bagi Orang tua. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kajian – kajian dan teori – teori yang berkaitan dengan persoalan tersebut. sebagai bahan pertimbangan untuk lebih meningkatkan kualitas dalam mendidik dan memupuk pendidikan moral khususnya di lingkungan keluarga. Kegunaan Teoritis Penelitian ini dapat dipergunakan untuk menambah khasanah pengembangan pustaka ilmu pengetahuan secara umum dan secara khusus pada kajian lingkup pendidikan moral serta dapat digunakan sebagai referensi bagi yang akan melakukan penelitian sejenis.10 E. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berharga dalam upaya meningkatkan pendidikan moral terutama di sekolah. diharapkan dapat memberikan masukan yang digunakan untuk melaksanakan tata tertib sebagai sarana pendidikan moral di sekolah dan menerapkan kebijakan – kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan pendidikan moral khususnya kepada siswa. . Oleh karena itu. c Bagi Siswa. sebagai motivasi untuk meningkatkan sikap dan tingkah lakunya dalam mematuhi tata tertib yang dibuat oleh sekolah. 2.

Batasan Moral. Tahap – Tahap Perkembangan Moral Manusia. Tujuan Penelitian. Sarana Pendidikan Moral. Sumber Data Penelitian. Kegunaan Penelitian dan Sistematika Penelitian Skripsi. Nilai dan Moral. Bab III Metode Penelitian merupakan bab yang berisi Dasar Penelitian. 2. Objektivitas dan Keabsahan Data. Fokus Penelitian. Bab II Landasan Teori berisi bab yang menguraikan tentang Pengertian Tata Tertib Sekolah. Prinsip – Prinsip Pendidikan Moral.11 F. Bagian Pendahuluan skripsi. (b) Abstrak. Perumusan Masalah. (i) Daftar Lampiran. Metode Analisis Data dan Prosedur Penelitian. Tujuan Tata Tertib Sekolah. (d) Halaman Pengesahan. Tipe – Tipe Kepatuhan Siswa Terhadap Tata Tertib Sekolah. Identifikasi dan Pembatasan Masalah. Sistematika Penelitian Skripsi Sistematika skripsi adalah pokok persoalan yang akan disajikan dalam bab – bab yang terangkum dalam suatu skripsi. Hubungan Antara Tata Tertib Sekolah dan Pendidikan Moral. (e) Halaman Motto dan Persembahan. Bagian Inti skripsi terdiri atas Bab I Pendahuluan berisi Latar Belakang Masalah. (f) Prakata. (c) Halaman Persetujuan. Alat dan Teknik Pengumpulan Data. (g) Daftar Isi. terdiri atas: (a) Halaman Judul. Tujuan Pendidikan Moral. . Adapun sistematika skripsi yang akan dibahas sebagai berikut: 1. Pengertian Pendidikan Moral. (h) Daftar Gambar / Foto. Isi Tata Tertib Sekolah.

. Bagian Akhir skripsi berisi Daftar Pustaka.12 Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan menguraikan tentang Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian. 3. Bab V Penutup berisi Simpulan dan Saran. Lampiran – lampiran.

1989:146) mengartikan tata tertib sekolah: sebagai kesediaan mematuhi ketentuan berupa peraturan – peraturan tentang kehidupan sekolah sehari – 13 . Tata tertib sekolah merupakan patokan atau standar untuk hal – hal tertentu. Pengertian Tata Tertib Sekolah (Mulyono. (Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang. Ketertiban sekolah tersebut dituangkan dalam sebuah tata tertib sekolah. Tata Tertib Sekolah 1.BAB II LANDASAN TEORI A.81 Tanggal 24 September 1981 (Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang. (Dekdikbud. 1989:145) ketertiban berarti kondisi dinamis yang menimbulkan keserasian. keselarasan dan keseimbangan dalam tata hidup bersama makhluk Tuhan Yang Maha Esa. 2000:14) tata tertib adalah kumpulan aturan – aturan yang dibuat secara tertulis dan mengikat anggota masyarakat. keharusan dan larangan – larangan. Sesuai dengan keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 158/C/Kep/T. meliputi kewajiban. Aturan – aturan ketertiban dalam keteraturan terhadap tata tertib sekolah. 1989:37) tata tertib sekolah adalah aturan atau peraturan yang baik dan merupakan hasil pelaksanaan yang konsisten (tatap azas) dari peraturan yang ada.

Tujuan Tata Tertib Sekolah Secara umum dibuatnya tata tertib sekolah mempunyai tujuan utama agar semua warga sekolah mengetahui apa tugas. . dianjurkan dan ada yang tidak boleh dilakukan dalam pergaulan di lingkungan sekolah. 2. Guru dan karyawan administrasi. kurangnya dukungan dari siswa akan mengakibatkan kurang berartinya tata tertib sekolah yang diterapkan di sekolah. Tata tertib sekolah disusun secara operasional guna mengatur tingkah laku dan sikap hidup siswa. Pelaksanaan tata tertib sekolah akan dapat berjalan dengan baik jika Guru. hak dan kewajiban serta melaksanakan dengan baik sehingga kegiatan sekolah dapat berjalan dengan lancar. Secara umum tata tertib sekolah dapat diartikan sebagai ikatan atau aturan yang harus dipatuhi setiap warga sekolah tempat berlangsungnya proses belajar mengajar.14 hari. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa tata tertib sekolah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain sebagai aturan yang berlaku di sekolah agar proses pendidikan dapat berlangsung dengan efektif dan efisien. aparat sekolah dan siswa telah saling mendukung terhadap tata tertib sekolah itu sendiri. Peraturan sekolah yang berupa tata tertib sekolah merupakan kumpulan aturan – aturan yang dibuat secara tertulis dan mengikat di lingkungan sekolah. Prinsip tata tertib sekolah adalah diharuskan.

Menjatuhkan hukuman sebagai jalan keluar terakhir. harus dipertimbangkan perkembangan siswa. Sehingga perkembangan jiwa siswa tidak dan jangan sampai dirugikan. Larangan – larangan bagi para siswa. Dalam kegiatan intra kurikuler. c. 3. Tata tertib sekolah dibuat dengan tujuan sebagai berikut: a b Agar siswa mengetahui tugas. Isi Tata Tertib Sekolah Tata tertib sekolah sebagaimana tercantum di dalam Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 14/4/1974 Tanggal 1 Mei 1974 (Nawawi. c Agar siswa mengetahui dan melaksanakan dengan baik dan sungguh – sungguh seluruh kegiatan yang telah diprogramkan oleh sekolah baik intrakurikuler maupun ektrakurikuler. Tata tertib sekolah termasuk dalam administrasi ko – kurikulum yaitu merupakan kegiatan – kegiatan yang diselenggarakan di sekolah untuk menunjang dan meningkatkan daya dan hasil guna kegiatan b.15 Tata tertib sekolah harus ada sanksi atau hukuman bagi yang melanggarnya. hak dan kewajibannya. 2). 1986:161) mencakup aspek – aspek sebagai berikut: a. Tugas dan kewajiban. Agar siswa mengetahui hal – hal yang diperbolehkan dan kreatifitas meningkat serta terhindar dari masalah – masalah yang dapat menyulitkan dirinya. Sanksi – sanksi bagi siswa. Dalam kegiatam ekstra kurikuler. . 1).

Cara atau prosedur untuk menyampaikan peraturan kepada subjek yang dikenai tata tertib sekolah tersebut. maka sekolah pada umumnya menyusun pedoman tata tertib sekolah bagi semua pihak yang terkait baik Guru. Sehubungan dengan hal tersebut. Akibat atau sanksi yang menjadi tanggung jawab pelaku atau pelanggar peraturan. mengerjakan tugas rumah. mengikuti upacara bendera. Tata tertib sekolah menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya khusus yang harus dipenuhi oleh siswa. pembayaran SPP dan sebagainya. seperti penggunaan pakaian seragam. 1990:123 – 124) yaitu: a b c Perbuatan atau tingkah laku yang diharuskan dan yang dilarang. Tata tertib sekolah bukan hanya sekedar kelengkapan dari sekolah. (Arikunto. Isi tata tertib sekolah secara garis besar adalah berupa tugas dan kewajiban siswa yang harus dilaksanakan. Misalnya peraturan tentang kondisi yang harus dipenuhi oleh siswa di dalam kelas pada waktu pelajaran sedang berlangsung. 1990:123) berpendapat batasan antara peraturan dan tata tertib sekolah sebagai berikut: a Peraturan menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya umum yang harus dipenuhi oleh siswa.16 kurikulum. terutama dari pelajar atau siswa itu sendiri. tetapi merupakan kebutuhan yang harus mendapat perhatian dari semua pihak yang terkait. penggunaan laboratorium. larangan dan sanksi. b 4. Tipe – Tipe Kepatuhan Siswa Terhadap Tata Tertib Sekolah . Tata tertib sekolah menunjuk pada patokan atau standar untuk aktifitas khusus. tenaga administrasi maupun siswa. Pada hakikatnya tata tertib sekolah baik yang berlaku umum maupun khusus meliputi tiga unsur (Arikunto.

c. Integralist. Suatu kepatuhan tanpa reserve atau kepatuhan yang ikut – ikutan. b. Fenomenalist. Dari keempat faktor yang menjadi dasar kepatuhan setiap individu tentu saja yang kita harapkan adalah kepatuhan yang bersifat normativist. Selanjutnya dikatakan bahwa kepatuhan ini terdapat dalam tiga bentuk. d. yaitu. Hedonist. yaitu kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekadar basa basi. . tanpa memedulikan apakah tingkah laku itu menguntungkan untuk dirinya atau tidak. (3) Kepatuhan pada hasilnya atau tujuan yang diharapkannya dari peraturan itu. (2) Kepatuhan pada proses tanpa memedulikan normanya sendiri. Selanjutnya dalam sumber yang sama dijelaskan. yaitu: a. 2006:272 – 273) melihat empat faktor yang merupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu. dari empat faktor ini terdapat lima tipe kepatuhan: a. yaitu kepatuhan berdasarkan kepentingan diri sendiri. Normativist. Otoritarian. yaitu kepatuhan yang didasarkan pada kesadaran dengan pertimbangan – pertimbangan yang rasional. (1) Kepatuhan terhadap nilai atau norma itu sendiri. sebab kepatuhan semacam ini adalah kepatuhan didasari kesadaran akan nilai.17 Graham (Sanjaya. Biasanya kepatuhan pada norma – norma hukum.

Compulsive deviant. Karena itu maka nilai diungkapkan dalam bentuk norma dan norma ini mengatur tingkah laku manusia. Pengertian nilai adalah (Daroeso. Nilai . Supramoralist. d. ada nilai etik. yang dapat dasar penentu tingkah laku seseorang. atau merupakan suatu sistem keyakinan (belief) Di antara beberapa macam nilai. memuaskan (satifying). Hedonik psikopatik. dan (3) conformist integral.18 b. yaitu: (1) conformist directed. karena sesuatu atau hal itu menyenangkan (pleasant). yaitu kepatuhan pada kekayaan tanpa memperhitungkan kepentingan orang lain. yakni kepatuhan yang berorientasi pada “untung – rugi”. berguna (usefull). Pendidikan Moral 1. sifatnya universal tidak tergantung waktu. c. ruang dan keadaan. Kepatuhan yang tidak konsisten. (2) conformist hedonist. Conformist. Nilai dan Moral Nilai merupakan ukuran atau pedoman perbuatan manusia. memberi kualitas perbuatan manusia yang bersifat susila. yaitu penyesuaian diri terhadap masyarakat atau orang lain. Kepatuhan karena keyakinan yang tinggi terhadap nilai – nilai moral. menarik (interest). adalah kepatuhan yang menyesuaikan kepentingan diri sendiri dengan kepentingan masyarakat. menguntungkan (profitable). 1986:20): Nilai adalah suatu penghargaan atau kualitas terhadap sesuatu atau hal. Nilai etik atau nilai yang bersifat susila. Kepatuhan tipe ini mempunyai tiga bentuk. B. e.

terhadap diri sendiri. 2000:80). Norma moral merupakan landasan perbuatan manusia. yang sifatnya tergantung pada tempat. Penilaian moral dari perbuatan manusia ini meliputi semua penghidupan. Karena itulah nilai etis menjadi pedoman tingkah laku dan perbuatan manusia dalam kehidupan sehari – hari. tergantung pada manusianya. tabiat atau kelakuan: ajaran kesusilaan. terhadap masyarakat maupun terhadap alam. Perbuatan susila adalah merupakan wujud dari norma moral dan norma moral merupakan ungkapan dari nilai etis (Daroeso. 1986:28). Sehingga norma moral itu dapat berubah – ubah sesuai dengan waktu. Batasan Moral Moral berarti kesusilaan. motif. Nilai etis bersifat normatif dan tingkah laku perbuatan manusia mengarah kepadanya. tempat dan keadaannya. menimbulkan suatu proses dalam diri individu yang dapat berupa suatu kebutuhan. 2. Driyakara mengatakan bahwa “moral atau kesusilaan” adalah nilai yang sebenarnya bagi manusia. dalam hal ini hubungan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Perbuatan manusia dinilai secara moral bilamana perbuatan itu didasarkan pada kesadaran moral. Dengan kata lain moral atau kesusilaan adalah . perhatian dan pengambilan keputusan. Pelaksanaan norma moral yang merupakan perwujudan dari nilai etik itu. Moralitas berarti hal mengenai kesusilaan (Salam.19 etik tersebut diwujudkan dalam norma moral. waktu dan keadaan. Adanya nilai – nilai yang merupakn rangsangan (stimulus) diterima oleh pancaindera. perasaan.

Moral sebagai perangkat ide – ide tentang tingkah laku hidup. 1986:22) mengatakan: kita dapat memahami moral dengan tiga cara: a. Pengertian lain tentang moral berasal dari P. bahwa ia terikat oleh keharusan untuk mencapai yang baik sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam lingkungannya. c. dengan warna dasar tertentu yang dipegang oleh sekelompok manusia di dalam lingkungan tertentu. dapat dilihat bahwa moral memegang peran penting dalam kehidupan manusia yang berhubungan dengan baik buruk terhadap tingkah laku manusia. dan jika sebaliknya. Ciri khas yang menandai . Dari beberapa pengertian moral. Dengan demikian moral selalu berhubungan dengan nilai – nilai. Moral sebagai tingkah laku hidup manusia. b. yang mendasarkan diri pada kesadaraan. Tingkah laku ini mendasarkan diri pada norma – norma yang berlaku dalam masyarakat. Bouman yang mengatakan bahwa ”moral adalah suatu perbuatan atau tingkah laku manusia yang timbul karena adanya interaksi antara individu – individu di dalam pergaulan”. J. Seseorang dikatakan bermoral. ia disebut jelek secara moral (immoral). Huky (Daroeso. 1986:22). bilamana orang tersebut bertingkah laku sesuai dengan norma – norma yang terdapat dalam masyarakat. Moral adalah ajaran tentang tingkah laku hidup yang baik berdasarkan pandangan hidup atau agama tertentu. Seorang individu yang tingkah lakunya mentaati kaidah – kaidah yang berlaku dalam masyarakatnya disebut baik secara moral.20 kesempurnaan sebagai manusia atau kesusilaan adalah tuntutan kodrat manusia (Daroeso.

Dengan demikian. secara mau dan tahu. (Daryono. perbuatan manusia. 1986:32) menyatakan pendidikan moral seperti pendidikan intelektual mempunyai basis pada berfikir aktif mengenai masalah – masalah moral dan keputusan – keputusan . Dalam melaksanakan perbuatan tersebut manusia didorong oleh tiga unsur. c. Perwujudan dari kehendak yang berbentuk cara melakukan perbuatan dalam segala situasi dan kondisi. Pengertian Pendidikan Moral Pendidikan moral adalah upaya dari orang dewasa dalam membentuk tingkah laku yang baik. Kehendak yaitu pendorong pada jiwa manusia yang memberi alasan pada manusia untuk melakukan perbuatan. Dewey (Daroeso. yaitu: a. 2000:74). 1998:13) mengemukakan bahwa: ”Pendidikan moral adalah merupakan suatu usaha sadar untuk menanamkan nilai – nilai moral pada anak didik sehingga anak bisa bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai – nilai moral tersebut”. baik secara individual maupun secara kelompok (Daroeso.21 nilai moral yaitu tindakan manusia yang dilakukan secara sengaja. 1986:26). tindakan manusia. Perbuatan tersebut dilakukan dengan sadar dan kesadaran inilah yang memberikan corak dan warna perbuatan tersebut. dan tindakan itu secara langsung berkenaan dengan nilai pribadi (person) manusia dan masyarakat Indonesia (Salam. moral adalah keseluruhan norma yang mengatur tingkah laku manusia di masyarakat untuk melaksanakan perbuatan yang baik dan benar. yaitu tingkah laku yang sesuai dengan harapan masyarakat yang dilakukan secara sadar. Objek moral adalah tingkah laku manusia. b. 3.

berpendapat tentang pendidikan moral bahwa: “pendidikan moral adalah pendidikan yang menyangkut aspek dari pada watak seseorang yang sama pendidikannya. 1986:45). yaitu bahwa dirinya berada dalam masyarakat dan ke arah pandangan yang lebih mendalam mengenai diri sendiri (Salam. sebagai bagian pendidikan nilai. 004:108) menyatakan bahwa pendidikan moral pada umumnya. ke arah pandangan yang lebih luas. (Daroeso. Pendidikan moral dapat dirumuskan sebagai: suatu proses yang disengaja di mana para warga muda dari masyarakat dibantu supaya berkembang dari orientasi yang berpusat pada diri sendiri mengenai hak – hak dan kewajiban mereka. tetapi manusia tidak bebas sepenuhnya. Sementara itu (Sudarminta. watak itu tidak baru dimulai pada saat ia masuk sekolah”. baik secara perorangan maupun bersama – sama dalam suatu masyarakat. dan menghayati nilai – nilai moral yang seharusnya dijadikan panduan bagi sikap dan tingkah lakunya sebagai manusia. Ketentuan – ketentuan itu menurut Daroeso (1986:23) sebagai berikut: 1. Kehidupan manusia terkait oleh ketentuan – ketentuan yang ada dalam masyarakat. 2000:76).22 selanjutnya ia mengatakan tujuan pendidikan adalah pertumbuhan atau perkembangan moral dan intelektual. adalah upaya untuk membantu subjek didik mengenal. Kehidupan manusia memang mempunyai otonomi. menyadari pentingnya. ketentuan agama yang berdasarkan wahyu. . baik di dalam keluarga maupun di sekolah.

Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral itu ada dan terjadi di dalam hati sanubari manusia. Diungkapkan oleh Magnis (Daroeso. dimanapun dan kapanpun juga. Pandangan Wilson tentang esensi dari pendidikan moral adalah menanamkan pilihan – pilihan yang benar dan klarifikasi akan perasaan dan disposisi tersebut. 1986:27) bahwa: berkesadaran moral tidak lain adalah merasa wajib untuk melakukan tindakan yang bermoral. Dalam pendidikan moral senantiasa melibatkan stimulasi perkembangan melalui tahap – tahap. dan tingkah laku (action). termasuk didalamya ketentuan moral universal yaitu moral yang seharusnya. siapapun. Kohlberg melihat pendidikan moral adalah kegiatan untuk membantu peserta didik menuju kearah yang sesuai dengan kesiapan mereka. Kohlberg seorang pakar Perkembangan Moral secara Kognitif (Cognitive Moral Development) memandang pendidikan moral adalah pendidikan mengenai prinsip – prinsip umum tentang moralitas dengan menggunakan metode pertimbangan moral atau cara – cara memberi pertimbangan moral. Secara umum pendidikan moral berkenaan dengan aturan – aturan (moral rules). 4. ketentuan kodrat yang terutama dalam diri manusia. dan tidak sekedar mengajarkan kebenaran – kebenaran yang sudah baku. ketentuan hukum buatan manusia. Pendidikan moral umumnya lebih menunjuk kepada . 3. baik berbentuk adat istiadat atau hukum negara.23 2. Prinsip – prinsip moralitas adalah prinsip mengenai pilihan. dan tidak memaksakan pola – pola eksternal terhadapnya. sikap – sikap (behavior). ketentuan adat istiadat buatan manusia termasuk didalamnya ketentuan moral yang sedang berlaku pada suatu waktu.

Pandangan Salam (2000: 80) tentang tujuan pendidikan moral adalah: membimbing para generasi muda untuk memahami dan menghayati Pancasila secara keseluruhan dan setiap sila. . Tujuan secara khusus pendidikan moral: untuk berkembangnya siswa dalam penalaran moral (moral reasioning) dan melaksanakan nilai – nilai moral (Salam. Timbulnya empati atau rasa salah. 2000:9). Tingkah laku yang sesuai dengan norma – norma sosial. Tujuan Pendidikan Moral Sasaran dari moral adalah keselarasan dari perbuatan manusia dengan aturan – aturan yang mengenai perbuatan – perbuatan manusia itu (Salam. memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan. antara lain: a b c d e f Tingkah laku membantu orang lain. Tujuan akhirnya adalah agar dapat menumbuhkan manusia – manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama – bersama bertanggungjawab atas pembangunan Ditambahkan bahwa tujuan pendidikan moral adalah: (1) Meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. atau bahkan keduanya.24 pengembangan konsepsi keadilan yang begitu dipengaruhi oleh pemikiran – pemikiran Kant (Haricahyono. 2000:77). Internaliasasi norma – norma sosial. Tujuan utama pendidikan moral adalah untuk meningkatkan kapasitas berpikir secara moral dan mengambil keputusan moral. dan Memperhatikan kepentingan orang lain. 1995:210) moralitas mencakup makna yang begitu luas. Penalaran tentang keadilan. 4. (2) Meningkatkan kecerdasan dan keterampilan dan mempertinggi budi pekerti.

1998:31) yaitu: meneruskan dan mengembangkan jiwa semangat dan nilai – nilai yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945 kepada generasi muda. Adapun pendidikan moral memiliki tujuan dan sasaran sebagai berikut: 1. merangsang ilham. dan menyeimbangkan kepribadian peserta didik Tujuan Pendidikan moral perlu diefektifkan. Membina warga negara yang bertanggung jawab. yaitu kebijakan dan kebaikan. 1986:43).25 mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan moral ditekankan pada metode pertimbangan moral dan untuk membantu anak – anak untuk mengenal apa yang menjadi dasar untuk menerima suatu nilai. 3. manusia yang sehat jasmani dan rohani. sekolah. 2000:85) mengemukakan tentang dua tujuan utama pendidikan moral. dengan menekankan ranah sikap dan nilai – nilai yang mendorong semangat. Membangun manusia seutuhnya adalah masalah dan tugas pendidikan di lingkungan keluarga. Selain itu sebagai intrakulikuler dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) tujuan pendidikan moral (Daryono. Lickona (Koyan. karena adanya kecenderungan remaja bertingkah laku menyimpang. Perkembangan anak seutuhnya. 2. Selain itu tujuan pendidikan moral adalah untuk mengusahakan perkembangan yang optimal bagi setiap individu. Mengembangkan rasa hormat menghormati martabat individu dan kesucian hak asasi manusia. manusia yang seimbang dalam perkembangannya sebagai insan sosial yang adil (Daroeso. . lingkungan manusia seutuhnya adalah tugas untuk membantu manusia dalam perkembangannya menjadi manusia insan kamil/manusia yang sempurna.

Keller dan Reuss (Haricahyono. Mengenai prinsip – prinsip moral. Prinsip – Prinsip Pendidikan Moral Pendidikan moral memang menanamkan prinsip moral yang lazim disebut sosialisasi moral. 1995:207) menegaskan adanya empat prinsip yang mendasari moral. yang tidak harus berkaitan satu sama lain antara lain. mengerti perbedaan. (3) Moralitas adalah suatu sistem aturan tingkah laku tertentu merefleksikan realitas moral dari masyarakat tertentu dimana aturan – aturan tersebut disertai dengan otoritas dan sanksi berdasarkan kepentingan masyarakat yang bersangkutan (Haricahyono. Dengan demikian. dalam pendidikan moral. (2) Pernyataan tentang prinsip – prinsip moral tidak berakar dalam naluri individualistik. Mengembangkan toleransi. Mengembangkan cara hidup dan berpikir demokratis. Menanamkan patriotisme dan integrasi nasional. 8. prinsip – prinsip moral itu adalah subjek dan sekaligus konteks yang esensial bagi pendidikan moral. Durkheim menjelaskan sebagai berikut : (1) Pada dasarnya tidak ada seperangkat prinsip – prinsip moral dalam artian serangkaian pernyataan apriori dapat dianggap universal dan menentukan kehidupan moral semua makhluk manusia. Mengembangkan persaudaraan. 1995:96 – 102).26 4. Mendorong tumbuhnya iman. 5. . 9. 5. 7. yang sekaligus merupakan prinsip utama yang dibenarkan dalam eksistensi manusia. Menanamkan prinsip moral. 6. akan tetapi lebih berakar dalam masyarakat beserta sifat – sifat sosial manusianya.

akan tetapi harus diarahkan kepada pensosialisasian individu secara moral agar bisa bertindak dengan cara – cara tertentu sesuai dengan norma – norma yang berlaku dalam masyarakat. sementara penalaran dianggap mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam proses penting tersebut. mengajarkan proses penalaran moral semata – mata. . Menemukan hakikat hidup. Pengembangan atribut – atribut sosial (nilai – nilai yang dijunjung tinggi).27 a Prinsip justifikasi. c Prinsip konsekuensi. Pengembangan personal yang diinginkan. b. d Prinsip universalitas. yang mengimplikasikan adanya kepentingan untuk menjustifikasi perbagai tindakan yang menarik perhatian kita. yang mengandung implikasi bahwa setiap orang harus mengatasi konsekuensi dari tindakan atau pun kelalaiannya. yang menjamin keseimbangan secara adil dalam mendistribusikan perbagai usaha dan pengorbanan. c. Memperoleh prinsip moral sebagai bahan membuat pertimbangan dan putusan moral. Prinsip moral menginginkan agar manusia atau personal individu bertanggungjawab terhadap antara lain: a. 1995:337) memandang pendidikan moral berkaitan dengan sosialisasi moral. Durkheim (Haricahyono. Dalam pendidikan moral. b Prinsip kejujuran. d. yang berimplikasi adanya konsistensi dalam pertimbangan dan kehendak untuk mengambil peranan dari pribadi – pribadi yang menarik.

Dalam tahap ini anak sudah mempunyai pemikiran akan perlunya memodifikasi aturan – aturan untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Tahap –Tahap Perkembangan Moral Manusia Tahap – tahap perkembangan moral manusia ditinjau melalui pendekatan kognitif Piaget dalam Haricahyono (1995) adalah terkait dengan aspek mental dan kognitif. dan mengetahui alasan tertentu akan tingkah lakunya secara otonom. Tahap yang kedua disebut Autonomous Morality atau Independensi Moral. bahwa pribadi yang terdidik secara moral akan bertindak sesuai dengan iklim dan budaya masyarakat. 1986:29 – 30) menyimpulkan empat tahapan perkembangan moral yaitu: a Anomi (without law).28 Supaya menjadi bermoral. adalah anak belum memiliki perasaan moral dan belum ada perasaan untuk menaati peraturan – peraturan yang ada. 6. maka harus menghargai disiplin. Piaget mengemukakan adanya dua tahap yang harus dilewati setiap individu. Dengan demikian akan tampak. . menempatkan diri dalam kelompok masyarakat. Yang pertama disebut tahap Heteronomous atau Realisme Moral. Tahap perkembangan moral Bull (Daroeso. Dalam tahap ini anak cenderung menerima begitu saja aturan – aturan yang diberikan oleh orang – orang yang dianggap kompeten untuk itu. Tentang tahap perkembangan moral sendiri.

1). Tingkat prakonvesional Pada tingkat ini setiap individu memandang moral berdasarkan kepentingannya sendiri. adalah tahap moralitas terbentuk karena pengaruh luar (external morality). c Sosionomi (law driving from society). Tahap perkembangan lainnya dikemukakan oleh Kohlberg terdiri dari tiga tingkatan perkembangan moral yang masing – masing tingkat memuat pula dua tahap perkembangan yaitu: a.29 b Heternomi (law imposed by others). menjadi individu sadar bahwa dirinya merupakan anggota kelompok. karena itulah peraturan tersebut di atas. Artinya. pertimbangan moral didasarkan pada pandangannya secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan aturan yang dibuat oleh masyarakat. kekuatan atau paksaan. Orientasi hukuman dan kepatuhan . d Autonomi (law driving from self). dengan pengawasan. Pembentukan moral dari individu bersumber pada diri individu sendiri. Pada tingkat prakonvensional ini terdiri dari dua tahap. termasuk di dalamnya pengawasan tingkah laku moral individu tersebut. Pada heternomi peraturan dipaksakan oleh orang lain. adalah suatu kenyataan adanya kerjasama antar individu. adalah tahapan perkembangan pertimbangan moral yang paling tinggi.

setiap peraturan harus dipatuhi agar tidak menimbulkan konsekuensi negatif. 2). Tingkat konvensional Pada tahap ini anak mendekati masalah didasarkan pada hubungan individu – masyarakat. Kesadaran dalam diri anak mulai tumbuh bahwa tingkah laku itu harus sesuai dengan norma – norma dan aturan yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian tingkah laku itu didasarkan kepada saling menolong dan saling memberi. Artinya. anak hanya berpikir bahwa tingkah laku yang benar itu adalah tingkah laku yang tidak mengakibatkan hukuman. Pada tingkat konvensional itu mempunyai dua tahap sebagai lanjutan dari tahap yang ada pada tingkat prakonvensional. . b. Dikatakan adil manakala orang membalas tingkah laku kita yang anggap baik.30 Pada tahap ini tingkah laku anak didasarkan kepada konsekuensi fisik yang akan terjadi. yaitu tahap keselarasan interpersonal serta tahap sistem sosial dan kata hati. pemecahan masalah itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak. Orientasi instrumental – relatif Pada tahap ini tingkah laku anak didasarkan kepada rasa ”adil” berdasarkan aturan permainan yang telah disepakati. Dengan demikian. Dengan demikian.

c. 2).31 1). Kontrak sosial . Seperti pada tingkat sebelumnya. anak sadar bahwa ada hubungan antara dirinya dengan orang lain. anak sudah menerima adanya sistem sosial yang mengatur tingkah laku individu. pada tingkat ini juga terdiri dua tahap: 1). akan tetapi didasari oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai – nilai yang dimilikinya secara individu. Ini berarti telah terjadi pergeseran dari kesadaran individu kepada kesadaran sosial. Sistem sosial dan kata hati Pada tahap ini tingkah laku individu bukan didasarkan pada dorongan untuk memenuhi harapan orang lain yang dihormatinya. Keselarasan interpersonal Pada tahap ini ditandai dengan setiap tingkah laku yang ditampilkan individu didorong oleh keinginan untuk memenuhi harapan orang lain. Dan. Kesadaran individu mulai tumbuh bahwa ada orang lain di luar dirinya untuk bertingkah laku sesuai dengan harapannya. akan tetapi didasarkan pada tuntutan dan harapan masyarakat. Artinya. hubungan itu tidak boleh dirusak. Tingkat postkonvensional Pada tingkat ini tingkah laku bukan hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma – norma masyarakat yang berlaku. Artinya.

kesadaran individu untuk bertingkah laku tumbuh karena kesadaran untuk menerapkan prinsip – prinsip sosial. tingkah laku manusia didasarkan pada prinsip – prinsip universal. 7. Pertolongan yang diberikan bukan didasarkan pada alasan subjektif. akan tetapi didasarkan pada suatu kewajiban sebagai manusia. 2). Prinsip etis yang universal aturan – aturan Pada tahap terakhir. apakah orang itu sebagai orang yang kita benci atau tidak. Muatan Pendidikan Moral Pendidikan moral pada tiap – tiap negara berbeda satu dengan yang lainnya. bukan sekadar pemenuhan sistem nilai. orang yang kita suka atau tidak. Dalam negara yang menjadikan agama sebagai hukum dasarnya maka pendidikan moral bersumber pada agama yang berlaku di negara itu.32 Pada tahap ini tingkah laku individu didasarkan pada kebenaran – kebenaran yang diakui oleh masyarakat. akan tetapi didasarkan pada kesadaran yang bersifat universal. Segala macam tindakan bukan hanya didasarkan sebagai kontrak sosial yang harus dipatuhi. kewajiban moral dipandang sebagai kontrak sosial yang harus dipatuhi. Dengan demikian. Bagi masyarakat Indonesia mengenai dasar pendidikan moral . Setiap individu wajib menolong orang lain.

paling tidak. Fenomena dimaksud adalah serangkaian aturan yang dapat dibatasi secara jelas dan spesifik. dan . akan tetapi pribadi – pribadi semacam ini. demikian Durkheim. ”Morality is not a system of abstract truth which can be derived from some fundamental notion. Di dalam kehidupan bermasyarakat.. ”. adat istiadat dan kebudayaan Indonesia yaitu Pancasila. atau tingkah laku – tingkah laku tertentu. Mengacu pada pandangan di atas Durkheim melihat adanya satu fenomena dalam kehidupan manusia yang menduduki rangking teratas. 1986:55). Moral sesuatu masyarakat adalah merupakan identitas bagi masyarakat itu (Daroeso.norma yang mengatur tingkah laku anggotanya.it belongs to the realm of life. of practical imperatives which have grown up historically under the influence of specific social necessities” (Durkheim. 1961:34). (2) norma – norma hukum. 1995:327) terhadap muatan moralitas pada dasarnya berkaitan dengan isi. posited as self – efident”. Lebih lanjut dikemukakan. berdasarkan religi. not to speculation.33 sudah jelas. aturan – aturan. It is a set of rules of conduct.. tindakan. Dalam konteks ini pribadi yang bermoral tidak lantas dikaitkan dengan kesediaan yang bersangkutan untuk selalu memenuhi prosedur – prosedur tertentu. Dalam hubungan ini. yaitu : (1) peraturan sopan santun atau kebiasaan. terdapat norma . Von Magnis membedakan tiga macam norma kelakuan umum. mampu bertindak sesuai dengan aturan – aturan atau norma – norma yang berlaku. Pandangan Durkheim (Haricahyono. F.

Perspective – taking 4. Self – esteem 3. Competence 2. Knowing moral values 3. Self – control 6. Empathy 4. Conscience 2. Moral awareness 2. Decision making 6. Habit Gambar 1. Bagan components of good character Sumber: Lickona (Koyan. Will 3. Moral reasioning 5. Humility MORAL ACTION 1. Loving the good 5. 2000:86) . Muatan pendidikan moral dapat dilihat pada gambar 1 sebagai berikut: MORAL KNOWING 1. Self knowledge MORAL FEELING 1.34 norma – norma moral.

Hubungan Tata Tertib Sekolah dan Pendidikan Moral Hubungan antara kenyataan hukum atau tata tertib sekolah dan moralitas atau pendidikan moral yang efektif sangat intensif. Moralitas yang bersifat intrinsik berasal dari diri manusia itu sendiri. karena di dalamnya terdapat unsur – unsur keyakinan dan sikap batin dan bukan hanya sekedar penyesuaian diri dengan aturan dari luar diri manusia. Moralitas adalah keseluruhan norma – norma.35 C. emosi dan kecenderungan manusia. hukum itu berubah – ubah secara lebih langsung sebagai suatu fungsi dari perubahan – perubahan moralitas (Johnson. Gerakannya dikekang oleh generalisasi dan penentuan kebutuhannya. sedangkan aturan pelaksanaanya merupakan aturan praktis tingkah laku yang tunduk pada sejumlah pertimbangan dan konversi lainnya (Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang. pada hakikatnya karena hukum itu hanya penglogisan dari nilai – nilai moral. Moralitas yang bersifat ekstrinsik penilaiannya didasarkan pada peraturan hukum yang berlaku. Nilai – nilai moral itu berada dalam suatu wadah yang disebut moralitas. 1989:211). Moralitas intrinsik ini esensinya terdapat dalam perbuatan diri manusia itu sendiri. baik yang bersifat perintah maupun larangan. Moralitas dapat bersifat intrinsik dan ekstrinsik. . Moral berkaitan dengan disiplin dan kemajuan kualitas perasaan. nilai – nilai dan sikap moral seseorang atau sebuah masyarakat. 2003:6). sehingga perbuatan manusia itu baik atau buruk terlepas atau tidak dipengaruhi oleh peraturan hukum yang ada (Tedjosaputro. 2006:286).

sanksi dan peraturan – peraturan. Ilmu hukum (pidana) normatif pada hakikatnya bukan semata – mata ilmu tentang norma. Beliau mengatakan sebagai berikut: Nilai adalah ukuran yang disadari atau tidak disadari oleh suatu masyarakat atau golongan untuk menetapkan apa yang benar. Aspek norma merupakan aspek luar atau aspek lahiriah yang tampak dan terwujud dalam perumusan perundang – undangan atau tata tertib.36 Moralitas yang bersifat ekstrinsik ini merupakan realitas bahwa manusia terikat pada nilai – nilai atau norma – norma yang diberlakukan dalam kehidupan bersama (Tedjosaputro. Keduanya bersifat saling menunjang secara terpadu. maka masyarakat atau golongan itu mengadakan sanksi dan penguat. sedangkan aspek nilai merupakan aspek dalam atau aspek batiniah/kejiwaan yang ada di balik atau di belakang norma. kesopanan maupun hukum. justru ilmu tentang nilai. norma. Hubungan tata tertib sekolah dan pendidikan moral lebih jelas pada gambar 2 sebagai berikut: . yang baik dan sebagainya. Norma adalah anggapan bagaimana seseorang harus berbuat. Agar normanya dipatuhi. baik norma agama. Sudarto (Tedjosaputro. 2003:31) mengatakan bahwa ada hubungan erat antara nilai. Nilai selalu menjiwai secara konsisten berbagai norma yang berlaku di dalam masyarakat. 2003:7). moral (etika).

Hubungan Moral. diadakanlah aturan – aturan yang semuanya justru untuk .37 MORAL ETIKA HUKUM Gambar 2. 2000: 67) bahwa pikiran manusia menjadi semakin hormat pada peraturan. Etika dan Hukum Sumber: Marpaung (1996:3) Piaget (Salam. Dalam masyarakat yang hendak teratur dan tertib. Manusia mempunyai daya tahu (budi) dan daya memilih karena adanya dua macam daya inilah timbul penilaian etis atau moral terhadap tingkah laku manusia.

38 melindungi kemanusiaan. aturan untuk ketertiban hidup manusia dalam masyarakat. tidak pasti baik dan benar bagi orang lain. Dengan demikian moral atau kesusilaan adalah keseluruhan norma yang mengatur tingkah laku manusia di masyarakat untuk melaksanakan perbuatan baik dan benar. Karena itulah diperlukan adanya prinsip – prinsip kesusilaan/moral yang dapat berlaku umum. sehingga dengan demikian dapatlah terbentuk . adalah memenuhi salah satu ketentuan kodrat yaitu adanya kehendak yang baik. Perlu diingat baik dan benar menurut seseorang. Kesusilaan harus diajarkan dengan contoh yang baik. yang telah diakui kebaikan dan kebenarannya oleh semua orang. Meskipun pada dasarnya manusia itu selalu cenderung berbuat baik. Sedangkan syarat untuk menjadi manusia yang bermoral. Jadi predikat moral mensyaratkan adanya kebaikan yang berkesinambungan. Seseorang dikatakan bermoral. tetapi kesadaran tidak datang dengan sendirinya. Moral dipakai untuk memberikan penilaian atau predikat terhadap tingkah laku seseorang. ukuran manusia yang baik adalah yang mampu memenuhi ketentuan – ketentuan kodrat yang tertanam dalam dirinya sendiri. Dengan sendirinya menurut indentitas. Ukuran ini tentunya tidak bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Kehendak yang baik ini mensyaratkan adanya bertingkah laku dan tujuan yang baik pula. mulai munculnya kehendak yang baik sampai dengan tingkah laku dalam mencapai tujuan yang juga baik. bilamana orang tersebut bertingkah laku sesuai dengan norma – norma yang terdapat dalam masyarakat.

Tata tertib sekolah berisikan perintah – perintah dan larangan – larangan agar tingkah laku manusia tidak melanggar aturan – aturan tertulis maupun tidak tertulis. Sedangkan pendidikan moral memerintahkan manusia untuk berbuat apa yang berguna dan melarang segala yang tidak baik. Norma moral memberikan memberi kewajiban moral pada manusia agar kepentingan hukum dan kepentingan umum jangan dilanggar. Pokok pembicaraan tata tertib sekolah dan pendidikan moral ini adalah perbuatan manusia dengan tujuan yang hampir sama. Sedangkan pendidikan moral mempunyai tujuan mengatur tingkah laku manusia sebagai manusia. Tata tertib sekolah sebagai aturan hukum di . Lingkungan pendidikan moral lebih luas daripada lingkungan tata tertib sekolah. Pendidikan moral bukan sesuatu entitas abstraksi ide semata namun nyata dalam kehidupan sehari – hari yang harus diajarkan pada manusia. Kalau tujuan tata tertib sekolah mengatur adalah mengatur tata – tertib masyarakat dan tingkah laku warga masyarakat dalam bermasyarakat dan bernegara sesuai dengan aturan – aturan hukum yang berlaku. mengajar dan melatih siswa agar mempunyai sikap dan berbuat atau bertingkah laku sesuai dengan nilai – nilai moral dan norma – norma yang ada di masyarakat. Tata tertib sekolah mengatur dan memberi petunjuk pedoman aturan atau hukum tingkah laku siswa terhadap moral yang baik. Karakter atau watak warga negara yang bermoral salah satunya bisa dilakukan melalui jalur pendidikan di sekolah. Pendidikan moral merupakan suatu wadah bagi sekolah untuk mendidik.39 manusia susila lahir dan batin.

hukuman. Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi – kondisi yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik. ancaman. Sarana Pendidikan Moral Pandangan Daryanto (2001:51) tentang sarana pendidikan moral adalah seperti alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan. Suwarno (Daryanto. Alat pendidikan yang preventif ialah alat – alat pendidikan yang bersifat pencegahan yaitu untuk mencegah masuknya pengaruh – pengaruh buruk dari luar ke dalam diri siswa. ganjaran. Alat pendidikan preventif diartikan sebagai jika maksudnya mencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik. Kewajiban pendidik adalah mendidik . pujian. jika maksudnya memperbaiki karena anak telah melanggar ketertiban atau berbuat sesuatu yang buruk. Sarana pendidikan moral dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai alat pendidikan. tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan diri sebagai perbuatan atau situasi mana. dicita – citakan dengan tegas. Kedua adalah alat pendidikan korektif.40 dalamnya terkandung makna implementasi pendidikan moral untuk siswa dalam bertingkah laku. Alat pendidikan ialah suatu tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. D. untuk mencapai tujuan pendidikan. misalnya: celaan. misalnya contoh: pembiasaan perintah. 2001:141) membedakan alat pendidikan dari bermacam – macam segi salah satunya adalah alat pendidikan preventif dan korektif.

di satu sisi dapat berdampak positif namun di sisi lain menimbulkan pengaruh yang berdampak negatif. anjuran. suka mengejek. suka mengambil barang milik orang lain. E. Gejala – gejala negatif tersebut merupakan tantangan bagi sekolah untuk lebih memperhatikan siswanya dan lebih menggiatkan pelaksanaan pendidikan moral di lingkungan sekolah secara khusus. Selain melalui komponen kurikulum komponen formal seperti Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Pendidikan Agama juga lewat jalur .41 siswa menjadi anak yang baik dan mencegah/membentengi siswa dari masuknya pengaruh – pengaruh yang buruk ke dalam dirinya. Gejala – gejala pengaruh negatif itu. suka mengganggu dan sebagainya. seperti suka berkelahi. terutama nilai – nilai budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai – nilai luhur budaya bangsa. Kerangka Berpikir Perkembangan dan perubahan masyarakat yang berlangsung cepat dan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. perintah. suka menghina. disiplin dan semisalnya. Hal – hal yang diperbaiki (korektif) adalah perbuatan – perbuatan jelek yang sudah menjadi kebiasaan diperbuat siswa. Jenis alat – alat pendidikan preventif yang abstrak seperti tata tertib. khususnya kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi. kini telah tampak di kalangan generasi muda. suka bertengkar. terutama di kota – kota besar di Indonesia. larangan.

42 hidden curriculum. Sekolah memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian. Namun harus dipahami salah satu usaha untuk melaksanakan pendidikan moral secara intensif dan komprehensif di sekolah adalah melalui hidden curriculum antara lain seperti penegakkan aturan moral melalui tata tertib sekolah. Baik dan buruknya moral siswa tergantung pada berhasil atau tidaknya pendidikan moral di sekolah dan penegakan tata tertib sekolah. Pelaksanaan tata tertib sekolah tersebut tentunya bergantung pada kemampuan sekolah dalam implementasi pendidikan moral yang banyak ditemui kendala – kendala sehingga dirasa belum optimal guna menekan tingkat pelanggaran tata tertib sekolah. Tata tertib sekolah memberikan bentuk nyata dari pendidikan moral yang harus diberikan pada siswa yang berisikan nilai – nilai moral. mentransmisi dan mentransformasi nilai – nilai moral. Belum optimalnya pelaksanaan tata tertib sekolah tersebut dapat dilihat melalui profil pribadi siswa sehari – hari . serta seleksi dan pra aloksi tenaga kerja. Moral siswa yang baik dapat diketahui dari indikator berupa taat dan patuh pada tata tertib sekolah yang dapat dilihat melalui pengamatan berupa aturan moral. Menurut konsep pendidikan dewasa ini. Pelaksanaan pendidikan moral harus dimulai dari dalam lingkungan keluarga. sikap dan tingkah laku atau tingkah laku yang mencerminkan nilai – nilai moral yang sesuai dengan kehidupan masyarakat. karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama di dalam kehidupan manusia. bahwa pendidikan berlangsung sepanjang hayat dan pendidikan untuk semua (education for all).

Untuk mempermudah dalam memahami penelitian ini maka disajikan gambar 3 sebagai berikut: . Interaksi antar siswa dengan Guru dan lingkungan ikut mempengaruhi dan membentuk tingkah laku siswa.43 baik di sekolah. Pemberian muatan moral terhadap tingkah laku siswa kadang hanya sebatas bersifat temporal tidak bersifat kontiunitas. Apabila tingkah laku siswa tanpa kontrol dan penanganan secara tidak serius maka akan dapat menimbulkan tingkah laku yang menyimpang bahkan cenderung menuju tindakan kriminalitas. perlu diciptakan dan ditemukan metode yang tepat sehingga bisa menjangkau seluruh aspek kehidupan manusia. Mengingat kompleksnya kehidupan manusia. maka dalam pelaksanaan pendidikan moral. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mempunyai kecenderungan yang besar untuk berbuat penyimpangan. Kontrol dari pihak sekolah yang lemah mengakibatkan siswa cenderung mengabaikan aturan moral atau tata tertib sekolah. keluarga maupun masyarakat sudah menunjukan tingkah laku yang mencerminkan pribadi – pribadi yang bermoral atau sebaliknya. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mendidik siswa agar memiliki keterampilan atau keahlian (skill) tertentu. Indikasi ini diakibatkan oleh karakteristik siswa yang berbeda dan stimuli siswa untuk langsung mendapatkan pekerjaan (ready work) sehingga menimbulkan dampak tidak terlalu memedulikan aspek moralitas diri sendiri. Tentu saja sebagai lanjutan tingkah laku siswa yang menyimpang akan dapat merugikan tidak hanya baik diri sendiri akan tetapi keluarga serta lingkungan masyarakat.

44 Sistem Pendidikan Nasional Tujuan Pendidikan Nasional Moral Siswa SMK NEGERI 5 SEMARANG Kurikulum Guru Siswa Fasilitas Pendidikan Moral Tata Tertib Sekolah Aturan Sikap Tingkah Laku Baik Buruk Keterangan: : Proses distribusi : Proses kontrol Gambar 3 Bagan Kerangka Berpikir .

Tingkah laku siswa yang baik atau buruk akan mencerminkan dan menentukan pandangan masyarakat terhadap kadar moralitas siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. moralitas yang baik. Pada komponen sekolah yang berperan dalam mewujudkan cita – cita tersebut salah satunya melalui komponen pendidikan moral dan tata tertib sekolah. . Oleh karena itu Sistem Pendidikan Nasional yang tercantum pada tujuan pendidikan nasional menghendaki agar siswa tumbuh dan berkembang dari sisi akhlak.45 Keterangan: Pendidikan diartikan tidak hanya sebagai formal transfer of knowledge namun bagaimana membentuk pribadi – pribadi manusia yang memiliki nilai moralitas yang tinggi. sekolah dan masyarakat. Moral siswa yang baik atau buruk tercermin dari tingkah laku siswa baik di rumah. Tentunya sekolah terutama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyai tanggung jawab terhadap pembentukan moral siswa tersebut. Guru mengontrol tingkah laku siswa melalui tata tertib sekolah.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Dasar Penelitian Suatu penelitian untuk mendapatkan hasil yang optimal harus menggunakan metode penelitian yang tepat. Ditinjau dari permasalahan penelitian ini yaitu tentang pelaksanaan dan kendala – kendala tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang maka penelitian ini bersifat non eksperimen yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Karl dan Milles (Moleong, 2002:3), penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan kepada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang tersebut. Di samping itu penelitian deskriptif yaitu merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan

menginterprestasikan objek sesuai dengan apa adanya. Dengan metode deskriptif, peneliti memungkinkan untuk melakukan hubungan antara variabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki validitas universal. Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif yaitu mengamati, mencatat, dan mendokumentasi

46

47

pelaksanaan dan kendala – kendala tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Peneliti berinteraksi dengan lingkungan sekolah dan berusaha memahaminya. Dimana dalam penelitian tersebut memiliki ciri – ciri sebagai berikut: 1. Sumber data langsung berupa tata situasi alami dan peneliti adalah instrumen kunci. 2. Bersifat deskriptif dimana data yang dikumpulkan umumnya berbentuk kata – kata, gambar – gambar dan bukan angka – angka, kalaupun ada angka – angka sifatnya hanya sebagai penunjang. 3. Lebih menekankan pada makna proses ketimbang hasil. 4. Analisis data bersifat induktif. 5. Makna merupakan perhatian utama dalam pendekatan penelitian (Sudarwan, 2002:6).

B. Fokus Penelitian Di dalam penelitian kualitatif deskriptif menghendaki ditetapkannya batas atas dasar fokus penelitian. Dalam pemikiran fokus terliput di dalamnya perumusan latar belakang, studi permasalahan, fokus juga berarti penentuan keluasan (scope) permasalahan dan batas penelitian. Penentuan fokus memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Menentukan keterikatan studi, ketentuan lokasi studi. 2. Menentukan kriteria inklusi dan eksklusi bagi informasi baru. Fokus membantu bagi penelitian kualitatif deskriptif membuat keputusan untuk membuang atau menyimpan informasi yang diperolehnya (Rachman, 1999:121). Fokus penelitian merupakan pokok persoalan apa yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian. Fokus dalam penelitian ini adalah tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan

48

(SMK) Negeri 5 Semarang. Sebagai indikator dari fokus tersebut di atas adalah: 1. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. 2. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. 3. Kendala – kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang.

C. Sumber Data Penelitian Data adalah bentuk jamak dari datum. Data merupakan keterangan – keterangan tentang suatu hal, dapat berupa sesuatu yang diketahui atau yang dianggap. Atau suatu fakta yang digambarkan lewat angka, simbol, kode dan lain – lain. Data perlu dikelompok – kelompokkan terlebih dahulu sebelum dipakai dalam proses analisis. Pengelompokkan data disesuaikan dengan karakteristik yang menyertainya (Hasan, 2002:82). Sumber data penelitian adalah subjek di mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2002:107). Berdasarkan sumber pengambilannya, data dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut: 1. Data Primer

Data sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber – sumber yang telah ada. termasuk dalam kategori data sekunder. Data yang diperoleh peneliti melalui responden. Responden orang yang diminta keterangan tentang suatu fakta atau pendapat. Responden dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah. 2002:122). Sebagaimana data yang diperoleh melalui informan di atas sehingga data sifatnya juga masih asli dan baru. yaitu ketika mengisi angket. 2. Data primer ini disebut juga data asli atau data baru. Sumber data primer diperoleh peneliti melalui wawancara dengan responden. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan. Data ini biasanya diperoleh dari perpustakaan atau dari .49 Data primer adalah data yang dikumpulkan atau diperoleh langsung di lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan. Guru bidang Bimbingan Konseling (BK) dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang atau yang terkait dengan pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral. keterangan dapat disampaikan dalam bentuk tulisan. atau lisan ketika menjawab wawancara (Arikunto. 2002:122). Guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Sumber data primer yaitu kata – kata atau tindakan orang yang diamati atau diwawancarai (Arikunto.

a. 2002:113). sehingga peneliti berada bersama objek yang diselidiki. observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistemik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Data sekunder disebut juga data tersedia (Hasan. Berkaitan dengan jenis observasi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah menggunakan metode . wawancara (interviu) dan dokumentasi. dan literatur lain yang ada hubungan dengan masalah yang akan diteliti. Alat dan Teknik Pengumpulan Data 1.50 laporan – laporan penelitian terdahulu. rangkaian slide atau rangkaian foto (Rachman. Dokumen adalah setiap bahan yang tertulis maupun film (Moleong. buku – buku. 2002:82). Observasi Dalam penelitian ini. D. disebut observasi langsung. Sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya peristiwa tersebut diamati melalui film. Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek ditempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa. Tujuannya adalah data didapatkan berupa data tambahan yang merupakan data sekunder. Dokumen dalam penelitian ini berupa tata tertib siswa. 1999:77). Alat Pegumpulan Data Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi.

83). Selain itu wawancara dilakukan melalui wawancara tak berstruktur yaitu wawancara dilakukan secara informal. 2002:135). yaitu wawancara yang mengajak pertanyaan – pertanyaan dan yang diwawancarai memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong. untuk dijawab secara lisan pula (Rachman. Wawancara merupakan data informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan lisan. Penelitian ini menggunakan alat pengumpul data berupa pedoman atau instrumen wawancara yaitu berbentuk pertanyaan yang diajukan kepada subjek penelitian. Sedangkan wawancara yang diterapkan adalah wawancara berstruktur. . dimana pertanyaan tentang pandangan sikap. Wawancara berstruktur. keyakinan subjek atau tentang keterangan lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang yang diajukan secara bebas kepada subjek penelitian. yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check – list (Arikunto. 1999. percakapan itu dilakukan oleh dua pihak. b. 2002:20).51 observasi secara langsung dan tidak langsung yaitu di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Wawancara (Interviu) Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.

5). surat kabar. prasasti. 2. 2002:206). notulen. Pembatasan – pembatasan dapat dilakukan secara langsung. 4). c. Memungkinkan peneliti untuk mendapatkan keterangan dengan lebih cepat. Teknik Pengumpulan Data Guna mendapatkan informasi yang diharapkan penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan melalui: . Ada keyakinan bahwa penafsiran responden terhadap pertanyaan yang diajukan adalah tepat. buku. agenda dan sebagainya (Arikunto.52 Di samping itu wawancara ini dapat dikembangkan apabila diperlukan untuk melengkapi data – data yang masih kurang. Dokumentasi Dokumentasi yaitu metode yang digunakan untuk mencari data mengenai hal – hal atau variabel yang berupa catatan. (Soekanto. majalah. 3). surat. apabila jawaban yang diberikan melewati batas ruang lingkup masalah yang diteliti. Melalui wawancara ini diharapkan peneliti mendapatkan gambaran mengenai pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Kebenaran jawaban dapat diperiksa secara langsung. Sifatnya lebih luas. transkrip. 1984:25) Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa wawancara adalah untuk mendapatkan gambaran yang sejelas – jelasnya dan informasi yang selengkap – lengkapnya. lengger. 2). Kelebihan tersebut wawancara tak berstruktur antara lain: 1).

Teknik Observasi Berkaitan dengan teknik observasi (Kartono. Dalam pelaksanaannya peneliti menggunakan teknik komunikasi langsung yaitu teknik pengumpulan data dengan mempergunakan wawancara atau interviu sebagai alatnya. 1996:57) mengemukakan. b. Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi yang menerapkan observasi sistematis. dimana dokumen yang . yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai intrumen pengamatan. Ditambahkan bahwa observasi ialah pengujian secara internasional atau bertujuan suatu hal.53 a. adalah 2002:88) teknik teknik dokumentasi pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada subjek penelitian. c. 1999:82). namun melalui dokumen. Teknik Dokumentasi Berkaitan mengemukakan teknik bahwa dokumentasi (Hasan. observasi adalah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala – gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Teknik Komunikasi Teknik komunikasi adalah cara mengumpulkan data melalui kontak atau hubungan pribadi antara pengumpul data dengan sumber data (Rachman. khususnya untuk maksud mengumpulkan data.

karena teknik dokumentasi dapat memberikan cara yang terbaik untuk memberikan data – data masa lalu yang berkaitan dengan objek yang akan diteliti. Apabila peneliti melaksanakan objektivitas terhadap keabsahaan data . Objektivitas dan Keabsahan Data 1. untuk mengetahui derajat kepercayaan dari hasil penelitian yang dilakukan. catatan kasus dalam pekerjaan sosial dan dokumen lainnya. laporan. d. Objektivitas Data Objektivitas terhadap keabsahan data merupakan salah satu bagian yang penting di dalam penelitian kualitatif deskriptif. E. maka studi dokumentasi dapat memberikan jalan untuk melakukan penelitian (Hasan. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi sebagai metode ketiga disamping observasi dan wawancara. Teknik Studi Pustaka Teknik studi pustaka diperlukan dalam penelitian ini sebagai acuan terhadap permasalahan yang di lapangan dengan buku – buku literatur tentang tata tertib sekolah dan lingkup yang terkait dengan pendidikan moral. Di samping itu untuk subjek penelitian tertentu yang sukar atau tidak mungkin dijangkau.54 digunakan dapat berupa buku harian. 2002:88). notulen rapat. surat pribadi.

2002:178). 2002:175) untuk memeriksa data pada penelitian kualitatif deskriptif antara lain digunakan taraf kepercayaan data (Credibility). 2002:178). Lincoln dan Guba (Moleong. 2002:178): . Teknik Triangulasi adalah teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong. Keabsahan Data Keabsahan data diterapkan dalam rangka membuktikan kebenaran temuan hasil penelitian dengan kenyataan di lapangan.55 secara cermat dengan teknik yang tepat dapat diperoleh hasil penelitian yang benar – benar dapat dipertanggungjawabkan dari berbagai segi. Dari beberapa teknik triangulasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut Denzin (Moleong. Teknik Triangulasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber dan metode artinya bahwa teknik pemeriksaan dengan membandingkan atau mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda (Moleong. Teknik Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi yang memanfaatkan penggunaan sumber dan metode yaitu pemeriksaan keabsahaan data dengan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara dan dokumentasi serta dengan pengecekan penemuan hasil penelitian. Teknik yang digunakan untuk melacak Credibility dalam penelitian ini yaitu Teknik Triangulasi (Triangulation). 2.

4).56 a. Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian dengan beberapa teknik pengumpulan data. Triangulasi dengan metode terdapat dua strategi yaitu: 1). Membandingkan hasil wawancara dengan isi sesuatu dokumen yang berkaitan. Membandingkan apa yang dikatakan orang – orang tentang situasi penelitian dengan yang dikatakan sepanjang waktu. Pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dan metode yang sama. . Membandingkan data hasil wawancara. karena kedua teknik triangulasi di atas sangat sesuai dengan penelitian yang bersifat kualitatif deskriptif. 2). 2). Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi. Hal ini dicapai dengan jalan: 1). b. Dengan menggunakan kedua teknik triangulasi di atas akan dapat diperoleh hasil penelitian yang benar – benar sahih. 3). 5). Membandingkan keadaan pada perspektif seseorang dengan berbagai pendapat orang lain. Triangulasi dengan memanfaatkan sumber berarti membandingkan dan mengecek bahwa derajat kepercayaan sesuatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda.

hal ini tergantung pada datanya. Sedangkan Bogdan dan Taylor (Hasan. Metode Analisis Data 1. . seperti pada pengecekan data dan tabulasi. yang disebut juga sebagai analisis kualitatif deskriptif yaitu analisis yang tidak menggunakan model matematik. 2002:97) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha formal untuk menemukan tema dan merumusakan hipotesis (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu. 2002:97) mengemukakan analisis data adalah proses mengatur urutan data mengorganisasikannya ke dalam suatu pola. dalam hal ini sekedar membaca tabel – tabel. Bentuk dan Cara Melakukan Analisis Data Pada prinsipnya analisis data ada dua cara yaitu analisis statistik dan analisis non statistik. kategori satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dirumusakan hipotesis kerja seperti yang dirumuskan data. Adapun analisis data non statistik. grafik – grafik atau angka – angka yang tersedia kemudian melakukan uraian dan penafsiran (Hasan.57 F. model statistik dan ekonometrik atau model – model tertentu lainnya. 2. kategori dan satuan uraian dasar. Tinjauan Metode Analisis Data Patton (Hasan. 2002:98). Moleong (2002) menyatakan bahwa yang dimaksud analisis data adalah proses mengorganisasikan dan menGurutkan data ke dalam pola. Analisis data dilakukan terbatas pada teknik pengolahan datanya.

3). sajian data. Penyusunan data dilakukan dengan pertimbangan penyusunan data sebagai berikut: 1). Pengumpulan data Pengumpulan data ialah mencari. c. Hanya memasukan data yang penting dan benar – benar dibutuhkan. b. mencatat dan mengumpulkan semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan yaitu pencatatan data yang diperlukan terhadap berbagai jenis data dan berbagai bentuk data yang ada di lapangan yang diturunkan peneliti serta melakukan pencatatan di lapangan. dimana komponen reduksi data. 2). Kemudian data ini diorganisasikan untuk mendapatkan kesimpulan data sebagai bahan penyajian data. 1999:103). Reduksi data Data yang telah terkumpul dipilih dan dikelompokkan berdasarkan data yang mirip atau sama. Hanya memasukan data yang benar – benar objektif. penarikan kesimpulan) berinteraksi. Membedakan antara data informasi dengan pesan pribadi responden (Rachman. Penyajian data . 4). dan sajian data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data setelah data terkumpul maka. Langkah – langkah analisis kualitatif deskriptif adalah sebagai berikut: a. tiga komponen analisis (reduksi data.58 Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif deskriptif non statistik. Hanya memasukan data yang autentik. Ini untuk menjawab permasalahan pertama dari penelitian.

d. selanjutnya data disajikan dalam uraian – uraian naratif disertai dengan bagan atau tabel untuk memperjelas penyajian data. maka dilakukan lebih penarikan proses atau verifikasi. Bagan Metode Analisis Data Sumber: Miles dan Huberman (1994:20) . Untuk jelasnya pengumpulan data. penyajian data. serta interaksi dari ketiga komponen dapat dilihat pada gambar 4 sebagai berikut: Pengumpulan Data Penyajian Data Reduksi Data Penarikan Kesimpulan/Verifikasi Gambar 4. Penarikan kesimpulan atau verifikasi Setelah kesimpulan data disajikan. reduksi data. dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.59 Setelah diorganisasikan.

Pada tahap ini peneliti melaksanakan beberapa alur yaitu memilih masalah. (Arikunto. Tahap pembuatan rancangan Tahap ini merupakan langkah awal dan pertama peneliti mempersiapkan segala macam yang dibutuhkan sebelum memasuki tahap selanjutnya terjun dalam kegiatan penelitian. merumuskan masalah. serta prosedurnya pun diketahui orang lain pula sehingga dapat mengecek kebenaran pekerjaan penelitian tersebut. Tahap penyusunan laporan Kegiatan penelitian menuntut agar hasilnya disusun.60 G. 2002:20) . memilih pendekatan. 3. 2. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian yang ditempuh dalam penelitian ini meliputi tiga tahapan yaitu: 1. dengan melaksanakan pengumpulan data melalui observasi. menemukan variabel dan sumber data serta menentukan dan menyusun instrumen. wawancara dan pencatatan. Tahap pelaksanaan penelitian Peneliti melaksanakan penelitian. Kemudian melaksanakan analisis data dengan semua data yang telah diperoleh di lapangan dianalisis dan dicek atau diperiksa kebenarannya menggunakan teknik triangulasi. ditulis dalam bentuk laporan penelitian agar hasilnya diketahui orang lain. studi pendahuluan.

Bapak Dimiyati Prasojo yang pada waktu itu menjabat Kepala STM 2 Semarang.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Berdasarkan Surat 61 . Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang berdiri atas dukungan Guru – Guru teknik dan direstui oleh Kepala Diktek Propinsi Jawa Tengah. Hasil Penelitian 1. Hal ini berbeda dengan kecakapan yang diprioritaskan pada Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu lebih menekankan pada academic skill (kemampuan akademik). mempelopori dan merintis jalan terwujudnya cita – cita tersebut yaitu terbentuknya sekolah teknologi lagi guna melengkapi STM yang telah sebelumnya. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam pembelajarannya ditekankan pada bagaimana persiapan siswa menguasai keterampilan atau keahlian praktis yang diterapkan dalam lingkungan pekerjaan. Gambaran Umum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan lembaga pendidikan tingkat lanjut menengah yang memiliki karakteristik berbeda dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) karena bertugas mempersiapkan siswa untuk mengutamakan berkembangnya kompetensi vocational skill (kecakapan/kemampuan kejuruan) yaitu kecakapan yang dikaitkan dengan pekerjaan tertentu.

Mesin. Untuk melaksanakan proses belajar mengajar terpaksa diselenggarakan siang hari dan menumpang pada sekolah negeri lain yang secara berurutan bertempat di STM 2 Semarang beralamat di Jalan Sompok 43A Kelurahan Peterongan Kecamatan Semarang Timur.62 Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. Terhitung sejak tanggal 18 Agustus 1965 sampai dengan 30 Juli 1977 yang pada waktu itu karena kekurangan ruang sebagian kelas yang menempati STM 1 – 3 Semarang di Jalan Cinde Raya Semarang (sekarang ditempati SMP 8 Semarang). Kemudian berurutan kembali yaitu berada di STM 1 – 3 Semarang yang beralamat Jalan Dr. 85/DIRPT/BI/65 Tanggal 5 Agustus 1965 diresmikan oleh Kepala Inspeksi Daerah Pendidikan Teknologi Propinsi Jawa Tengah pada tanggal 17 Agustus 1965 Sekolah Tinggi Menegah 5 Semarang dengan jurusan Bangunan Gedung. Pada awal berdirinya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang berstatus sekolah negeri yang belum mempunyai gedung sendiri. Berdasarkan Surat Keputusan Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah Tanggal 22 November 1977 No. Listrik yang berada di STM 2 Jalan Sompok 43A Semarang. 107/Kep/1977 tentang penunjukan tempat bangunan dan Surat Keputusan Kepala Bidang Pendidikan Menengah . Cipto 93 Semarang Kelurahan Karangkojo Kecamatan Semarang Utara terhitung sejak tanggal 1 Juli 1977 sampai dengan 30 Juni 1979.

5/R. Dr. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyai visi menjadi pusat pendidikan dan latihan kejuruan yang berstandar nasional. Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang bernama Drs.a/1979 terhitung sejak tanggal 1 Juni 1979 STM 5 Semarang secara resmi menempati gedung sendiri.com berstatus sebagai sekolah negeri. E – Mail smk05_smg@yahoo.63 Kejuruan Propinsi Jawa Tengah Tanggal 1 Juni 1979 No.2/23/2002 Tanggal 28 Agustus 2002 No.Saidi dengan Nomor Induk Pegawai (NIP) 130935750 Nomor SK Pengangkatan 821. Misi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang yang pertama adalah mendidik dan melatih siswa dalam program keahlian teknik gambar bangunan.612 m2 yang berdampingan dengan SMK (SMEA) 1 yang dulunya adalah juga lokasi STM 5 Semarang. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang menempati luas tanah sekolah 10. 121 Semarang 50124 Kelurahan Karangturi Kecamatan Semarang Timur dengan nomor telepon (024) 8416335 – 8447476. M. 542/I03. H. Cipto No. Nomor Statistik Sekolah (NSS) 321036308805 beralamat di Jl. teknik pemanfaatan tenaga . Rekening Sekolah Bank BRI Cabang Semarang Pandanaran 0325 – 01 – 031142 – 50 – 4. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang merupakan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Semarang mempunyai Nomor Identitas Sekolah (NIS) 400050.

Keadaan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Sumber siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang berasal dari SMP/MTs Negeri/Swasta Se Kota Semarang dan SMP/MTs Negeri Swasta di sekitar perbatasan Kabupaten Kendal. berwirausaha maupun memasuki dinas dan militer.64 listrik. teknik komputer jaringan. Data keadaan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang dari hasil observasi dan wawancara memiliki jumlah siswa yang dominan laki – laki sebanyak 886 orang sedangkan siswa wanita berjumlah 30 orang terbagi dalam beberapa jurusan. melanjutkan studi. nasional dan regional. Kedua adalah mendidik dan melatih siswa untuk dipersiapkan menjadi tenaga kerja profesional siap memasuki lapangan kerja di dunia usaha dan industri global. Kabupaten Grobogan. Data jumlah keseluruhan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang terbagi menjadi beberapa jurusan pada tabel 1 yaitu: . teknik transmisi telkom. teknik pemesinan dan teknik mekanik otomotif. 2. Kabupaten Demak. Kabupaten Semarang.

5. 6. Idealnya berdasarkan aturan seorang Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah sejumlah 110 orang. Program Keahlian I Teknik Gambar Bangunan Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik Teknik Mesin Perkakas Teknik Mekanik Otomotif Teknik Transmisi Telkom Teknik Komputer Jaringan JUMLAH Sumber: data SMK Negeri 5 Semarang 72 67 71 70 35 37 352 Jumlah II 60 52 55 59 30 34 290 III 34 61 52 66 26 35 274 166 180 178 195 91 106 916 Total 3. Guru Normatif/Adaptif yaitu mengajar pada mata pelajaran non kejuruan/umum sedangkan Guru Produktif yaitu mengajar pada mata . 2. 3. 1. 4. Keadaan Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Keadaan Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang terdiri dari dua yaitu Guru Normatif/Adaptif dan Guru produktif. Dari hasil observasi didapatkan bahwa Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyai jam mengajar 50 jam sehari sedang menurut aturan yaitu 20 jam sehari.65 Tabel 1 Jumlah Siswa SMK Negeri 5 Semarang No.

Matematika Bahasa Inggris Fisika Kimia Komputer / KKPI Kewirausahaan Bimbingan Konseling 4 3 1 4 2 5 31 3 2 1 1 1 11 7 5 2 5 1 2 5 42 Status Tetap TT 3 4 3 2 2 1 1 1 Jumlah 3 1 1 4 3 2 3 JUMLAH Sumber: data SMK Negeri 5 Semarang . 11. 4.66 pelajaran kejuruan/khusus program keahlian pada tabel 2 dan tabel 3 sebagai berikut: Tabel 2 Data Guru Normatif/Adaptif SMK Negeri 5 Semarang No 1. 9. 10. 14. 3. Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam Pendidikan Agama Kristen Pendidikan Agama Katolik Bahasa Indonesia PPKN Sejarah Pendidikan Jasmani & Kesehatan 8. 6. 12. 7. 13. 2. 5.

67 Tabel 3 Data Guru Produktif SMK Negeri 5 Semarang No. berkelahi. 2. 5. 4. 1. baju tidak dimasukkan dan mencorat – coret seragam sekolah. meninggalkan pelajaran tanpa izin. 6. Guru Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan Teknik Pemanfaatan Listrik Teknik Mesin Perkakas Teknik Mekanik Otomotif Teknik Transmisi Telkom Teknik Komputer Jaringan JUMLAH Sumber: data SMK Negeri 5 Semarang 8 8 4 3 2 25 Status Tetap TT 1 2 2 4 8 8 4 4 2 4 31 Jumlah 4. . Tingkat Kedisiplinan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Pelanggaran tata tertib sekolah paling banyak dilakukan oleh siwa berjenis kelamin laki – laki. Dari pelanggaran tata tertib sekolah tersebut tidak masuk tanpa keterangan (alpa) dan keterlambatan datang ke sekolah (lihat gambar 8) menempati urutan teratas pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. tidak segera menempuh atau menyelesaikan remidi (lihat gambar 7). 3. Pelanggaran tata tertib sekolah yang sering dilakukan oleh siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang beragam terdiri dari tidak masuk tanpa keterangan (alpa).

setelah itu siswa mengeluarkan bajunya kembali. Karakteristik siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang pada umumnya memiliki rasa tanggung jawab kurang karena motivasi belajar yang kurang. diperoleh data sebagaimana pada tabel 4 sebagai berikut: . Siswa kadang hanya memasukkan baju saat bertemu Guru dan ingin masuk ruang Guru.68 Observasi secara langsung mendapatkan bahwa kasus atau pelanggaran yang paling tampak adalah ketertiban mengenai baju yang tidak dimasukkan dan tidak memakai atau membawa atribut sekolah seperti bagde sekolah dan sabuk (lihat gambar 9). Guru sering memberikan teguran dan nasehat agar baju dimasukkan tapi siswa kadang tidak memperhatikan dan menyepelekan ajuran Guru tersebut. Alasan siswa mengenai baju yang tidak dimasukkan adalah karena gaya/trend anak remaja masa kini. Data kedisiplinan tata tertib sekolah dapat dilihat salah satunya melalui jenis – jenis pelanggaran siswa yang berupa hasil obeservasi dan wawancara.

69

Tabel 4 Jenis Pelanggaran Tata Tertib Sekolah SMK Negeri 5 Semarang No Jenis Pelanggaran 2003 - 2004 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Alpa Bolos Merokok Berkelahi Berjudi Remidiasi Keluarga Ekonomi Kesulitan Belajar Pribadi JUMLAH 63 16 9 10 25 16 4 9 12 8 172 Tahun Pelajaran 2004 - 2005 145 85 12 38 19 36 6 12 58 27 438 2005 - 2006 80 49 4 5 14 7 3 15 35 16 228

Sumber: data SMK Negeri 5 Semarang

Dari observasi dan wawancara jenis – jenis pelanggaran tata tertib sekolah dapat diperinci sebagai berikut: 1. Alpa atau tidak masuk tanpa ijin adalah perbuatan pergi meninggalkan sekolah tanpa sepengetahuan orang tua disebabkan oleh aspek luar akibat pergaulan dengan teman sepermainan. 2. Bolos dilakukan siswa dengan sendiri maupun berkelompok tanpa tujuan, dan mudah menimbulkan perbuatan yang iseng negatif. Bolos dari mengikuti pelajaran dilakukan saat jam pelajaran berlangsung

70

disebabkan siswa merasa kurang bisa mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Guru. 3. Merokok dilakukan siswa di saat jam istirahat biasanya bertempat di kamar mandi sekolah dengan adanya faktor pengaruh dari teman. 4. Berkelahi di dalamnya termasuk tawuran disebabkan oleh masalah individu dan salah paham antar siswa. 5. Berjudi dilakukan siswa dengan alasan iseng tidak ada kerjaan di sekolah untuk mengisi waktu dan adanya pengaruh dari teman. 6. Remidiasi adalah bagi siswa yang mempunyai nilai mata pelajaran tidak sesuai standar disarankan mengkuti remidiasi pelajaran. Namun siswa sering tidak mengkuti remidiasi dengan berbagai alasan seperti malas untuk mengikutinya bahkan ada yang sampai satu tahun pelajaran tapi belum mengkuti remidiasi. 7. Keluarga, disebabkan hubungan keluarga tidak harmonis yang mengganggu siswa di sekolah. 8. Ekonomi, biasanya yang sering adalah siswa belum membayar SPP sampai beberapa kali hingga menunggak pembayaran. 9. Kesulitan belajar, siswa mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran sehingga sering mengganggu situasi pembelajaran di kelas. 10. Pribadi adalah terkait dengan personal individu siswa yaitu interaksi dengan siswa lain. 5. Isi Tata Tertib Sekolah Kaitannya Dengan Pelaksanaan Pendidikan Moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang

71

Pendidikan moral di sekolah diberikan melalui 2 (dua) program yaitu program intrakulikuler dan program ekstrakulikuler. Pendidikan moral melalui program intrakulikuler terdapat pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah, Agama, Kesenian dan Olahraga sedangkan pada mata pelajaran yang lain diterapkan dan disesuaikan dengan kajian pembahasan oleh masing – masing Guru. Program yang bersifat ekstrakulikuler dilakukan melalui kegiatan selain program intrakulikuler antara lain sebagai suatu lembaga pendidikan formal, sekolah berperan dalam penumbuhan keutuhan pribadi siswa melalui situasi budaya di lingkungan sekolah dan penanaman nilai – nilai luhur, etika dan budaya bagi siswa. Program ekstrakulikuler dilaksanakan melalui kegiatan organisasi di sekolah seperti Organisasi Intra Sekolah (OSIS), Pramuka, Pencinta Alam dan olahraga. Dalam kaitannya dengan pengamalan nilai – nilai hidup, maka moral merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai – nilai hidup yang dimaksud. Nilai moral yang diharapkan oleh sekolah sekurang- kurangnya seperti yang dirumuskan dalam SKL (Standar Kompetensi Lulusan) baik yang terdapat dalam pendidikan agama, PKNS, kesenian dan olahraga. Misalkan mengembangkan nilai religiositas, nilai sosialitas, nilai keadilan, nilai demokrasi, nilai kejujuran, nilai kemandirian, nilai daya juang, nilai tanggung jawab dan nilai penghargaan terhadap lingkungan alam. Salah satu nilai religiositas pada tata tertib sekolah adalah waktu pelajaran pertama akan dimulai dan

Nilai tanggung jawab adalah piket kelas bertanggungjawab atas alat-alat olah raga yang digunakan. konsultasi. Peran dari Kepala Sekolah adalah menyusun tata tertib sekolah. Pegawasan terhadap tata tertib sekolah diserahkan pada Bidang Kesiswaan baik mengenai personil. Nilai penghargaan terhadap lingkungan alam setiap siswa wajib menjaga kebersihan lingkungan sekolah. memanggil orang tua. Menyusun petugas tata tertib sekolah. seperti . semua siswa melakukan acara berdoa yang dipimpin ketua kelas. menyusun mekanisme kerja petugas tata tertib sekolah dan melakukan kontrol terhadap pelaksanaan tata tertib sekolah. penanganan sanksi dan pendataan pelanggaran – pelanggaran. setiap siswa wajib menjaga keindahan lingkungan sekolah. setiap siswa wajib menjaga keutuhan barang-barang milik sekolah. norma sosial maupun norma hukum. BK/BP membuat surat skors. sopan dan patuh kepada Guru. seminggu sekali mengecek ketertiban siswa. Tata tertib sekolah dapat menjadi sarana pendidikan moral dikarenakan juga dalam penyusunannya memperhatikan norma – norma/kaidah – kaidah baik berupa norma agama. Macam – macam tata tertib sekolah untuk unit-unit kegiatan di sekolah itu. Nilai sosialitas antara lain setiap siswa wajib mengikuti pelajaran dengan baik. Tugas BP/BK yaitu mendata file khusus yang berisi siswa yang ditangani.72 pelajaran terakhir akan selesai. melakukan pengontrolan terhadap pelaksanaan tata tertib sekolah. menyusun mekanisme kerja petugas tata tertib sekolah.

Sesuatu prinsip moral barulah menjadi suatu kekuatan yang mengikat (imperatif) jika mampu menumbuhkan kesediaan seseorang untuk menerimanya sebagai pemandu tingkah lakunya. dari hasil penelitian dapat digunakan sebagai salah . Tata tertib sekolah di samping sebagai aturan hukum yang diterapkan di sekolah. dalam suatu proses yang bercirikan oleh pendayagunaan penalaran. kantin sekolah. keterampilan sekaligus kepribadiannya secara utuh. yang pada hakikatnya preskripsi universal (sekedar menganjurkan atau mensugesti tingkah laku – tingkah laku yang dimaksudkan) dari tingkah laku berjustifikasi. tetapi juga terletak secara implisit pada situasi di sekolah tersebut. laboratorium. Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah Sebagai Saraan Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Pendidikan adalah usaha sadar untuk membantu siswa di dalam mengembangkan pengetahuan. Situasi moral adalah situasi di mana siswa akan memilih dan menentukan tingkah lakunya berdasar serangkaian alternatif tingkah laku. B. Dalam memilih dan menentukan tingkah laku yang akan diambil.73 perpustakaan sekolah. Pembahasan 1. fasilitas olah raga. seseorang akan dibimbing oleh serangkaian prinsip – prinsip atau aturan – aturan moral. sikap. dan sebagainya. Sekolah dapat membantu perkembangan moral yang tidak hanya eksplisit dalam kurikulum.

misalnya adat kebiasaan dan sopan santun. Pemberian moral tersebut substansinya pada penekanan nilai – nilai kehidupan yang dihargai oleh masyarakat yang melembaga melalui norma – norma. Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang bahwa ”tata tertib sekolah disusun berdasarkan kaidah – kaidah hukum formal dan norma – norma sosial maupun norma agama” (wawancara: 29 Mei 2007). Tata tertib sekolah memiliki sifat memaksa yang di dalamnya memuat tugas dan kewajiban. Nilai – nilai kehidupan adalah norma – norma yang berlaku dalam masyarakat. Diungkapkan H. norma kesusilaan dan norma kesopanan. Lebih lanjut dalam rangka . baik norma agama.74 satu sarana pendidikan moral. Tata tertib sekolah mengatur tingkah laku siswa di sekolah. larangan – larangan serta sanksi.M Saidi. Tata tertib sekolah menjadi efektif karena setiap pelanggaran tata tertib sekolah mengandung sanksi. 2005:199) tujuan pemberian hukuman dalam perspektif pedagogis. dan suatu perbuatan yang dinilai tidak baik perlu dihindari. Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu diperlukan. Norma selalu terkait dengan aspek moral jadi merupakan salah satu moral yang harus dimiliki oleh siswa semisal norma agama. otomatis tata tertib sekolah adalah sebagai suatu norma. norma hukum maupun norma sosial. sanksi berupa hukuman dilaksanakan dengan tujuan untuk melicinkan jalan tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran. (Djamarah. Sebenarnya hakikat pendidikan moral adalah bagaimana mengajarkan pada siswa tentang moral sendiri.

yang tepat digunakan adalah pendekatan pedagogis. 1994:141) moral adalah ajaran tenggang baik buruk. Sumber acuan moral antara lain dapat berasal dari agama. Pada prinsipnya pendidikan moral merupakan tanggung jawab setiap elemen sekolah. Karena kondisi sekolah yang kondusif akan mendukung terciptanya moral siswa yang baik. hukum positif dan kodrat manusia. tidak hanya larangan tapi menyadarkan anak terhadap peraturan. Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian moral merupakan kendali dalam bertingkah laku. 1986:128) mengatakan sekolah hendaknya diusahakan menjadi lapangan yang baik bagi penumbuhan dan pengembangan mental dan moral anak . Zakiyah (Daroeso. Tata tertib sekolah yang baik adalah yang mampu dilaksanakan. Diungkapkan Purwodarminto (Sunarto. siswa mampu melakukan tata tertib sekolah sesuai dengan kesadaran pribadi masing – masing. Mampu menyadari pentingnya tata tertib sekolah sendiri. perbuatan kelakuan. tidak hanya sekedar takut pada aturan tapi membuat siswa sadar. adat – istiadat. akhlak.75 pembinaan siswa. kewajiban dan sebagainya. siswa menjadi butuh atau kebutuhan/kebiasaan dalam diri siswa. baik pendekatan hukum maupun pendekatan sosioantropologis kurang baik digunakan. Pendidikan moral juga mengajarkan antara lain disiplin. kriterianya membatasi atau mengikat semua siswa secara keseluruhan. otonomi diri dan interaksi dengan lingkungan.

Pendidikan moral adalah upaya untuk memberi motivasi. berjudi. seperti dilarang minum minuman keras. Di lingkungan sekolah mengalami bertemunya berbagai macam . pendidikan keterampilan dan pengembangan bakat dan kecerdasan. Tata tertib sekolah adalah ketentuan yang mengikat yang bertujuan untuk menjamin terselenggaranya proses pendidikan yang baik. Tata tertib sekolah disusun berdasarkan kaidah – kaidah hukum formal dan norma – norma sosial maupun agama. pegawai. Hendaknya segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran (baik Guru. peraturan dan alat – alat) dapat membawa siswa kepada pembinaan mental yang sehat. memberi nilai – nilai tentang kaidah – kaidah/norma – norma baik norma agama. moral yang tinggi dan pengembangan bakat. sehingga siswa dapat lega dan tenang dalam pertumbuhan dan jiwanya tidak goncang.76 didik. Tata tertib sekolah menjadi efektif karena setiap pelanggarannya mengandung sanksi yang bersifat memaksa. Impelementasi pendidikan moral tercermin pada pelaksanaan tata tertib sekolah. Kegoncangan jiwa dapat meyebabkan mudah terpengaruh oleh tingkah laku yang kurang baik. buku. Isi pendidikan moral pada tata tertib sekolah terdapat pada setiap poin yang diatur dalam tata tertib sekolah seperti. norma hukum formal. di samping tempat pemberian pengetahuan. Nilai – nilai pendidikan moral terdapat pada tingkat ketertiban siswa dalam lingkungan sekolah. memberi keteladanan. norma sosial yang semuanya ditujukan untuk membangun moral siswa.

Mengharapkan kestabilan beberapa tingkah laku dan kebiasaan yang telah ada di masyarakat seperti berpakaian rapi. Moral Education in Asia (Haricahyono. dan lain – lain. meliputi rendah hati. menghormati orang lain. Nilai – nilai kenegaraan – mondial. menghormati martabat manusia. menegaskan adanya 4 (empat) macam nilai. dan lain – lain. c. Masyarakat menginginkan adanya nilai – nilai yang stabil dihargai atau dengan kata lain nilai – nilai yang diharapkan dan sesuai dengan masyarakat. APEID – NIER Regional Project. tanggung jawab sosial. persaudaraan. kebajikan. meliputi kesadaran nasional. kesadaran ketergantungan antar bangsa. Nilai – nilai sosial. b. tertib. . suka damai. ketaatan kepada pemerintah. disiplin. kebersihan lingkungan. suka perdamaian (tenang). persaudaraan yang mondial. Sehingga diperlukan adanya pedoman dalam bertingkah laku terhadap nilai – nilai masyarkat mengenai apa yang dilarang atau diperbolehkan. Berbicara tentang nilai – nilai yang bisa ditanamkan melalui pendidikan moral. meliputi kerjasama. patriotisme. dapat dipercaya. 1995:403 – 404). kebersihan. menghormati hak asasi manusia. dan lain – lain. berbicara dengan sopan dan hormat pada Guru. Nilai – nilai personal.77 tingkah laku siswa. kemanusiaan. toleran. yaitu: a. persaudaraan. melalui salah satu publikasinya. keadilan sosial.

yaitu nilai – nilai sosial. Proses tersebut dinamakan proses pelembagaan (institutionalization) yang dimaksud ialah sampai norma itu oleh . dalam bentuk – bentuk sesuai dengan perkembangan remaja. Obyek pendidikan moral yang menekankan pada Pancasila pada hakikatnya adalah nilai – nilai yang dijabarkan oleh Pancasila. nilai – nilai estetik. sehingga barangsiapa yang melanggarnya dapat dikenakan sanksi hukum. meliputi pendekatan ilmiah terhadap kenyataan. Pelanggaran tata tertib sekolah. Nilai – nilai prosesual. personal. merupakan pelanggaran norma hukum dan sekaligus norma moral. kenegaraan – mondial. penangguhan pengadilan. mencari kebenaran. dan lain – lain. Nilai – nilai itulah sebenarnya yang ingin ditumbuhkembangkan dalam diri pribadi masing – masing siswa. Selain itu nilai – nilai kehidupan juga bisa dikembangkan dengan nilai – nilai Pancasila seperti nilai – nilai keagamaan. dan prosesual. Tetapi norma moral dapat menjadi norma hukum. nilai – nilai kemanusiaan dan nilai perikeadilan. setelah mengalami suatu proses pada akhirnya akan menjadi bagian tertentu dari lembaga kemasyarakatan. Norma tersebut. Nilai – nilai tersebut mencakup nilai – nilai yang dikualifikasikan ke dalam 4 (empat) kelompok nilai di atas. nilai – nilai etik dan nilai – nilai intelektual. Pendidikan Moral Pancasila pada hakikatnya adalah pendidikan yang secara sadar ingin mengarahkan sikap dan tingkah laku siswa kearah hal – hal yang baik dan positif.78 d.

Aturan normatif perilaku (normative rules of conduct). diakui. . b. yang di dalamnya menjadi suara hati atau mata hati atau hati nurani ”the conscience of man”. Maksudnya adalah suatu taraf perkembangan di mana para anggota masyarakat dengan sendirinya ingin bertingkah laku sejalan dengan tingkah laku yang memang sebenarnya memenuhi kebutuhan masyarakat. tetapi menjadi internalized. Suara batin ini tidak berkembang secara otomatis. Menyebut suara batin itu sebagai suatu panggilan luhur hendak meningkatkan kesadaran manusia setinggi – tingginya. nilai – nilai moral adalah nilai yang berada dalam lubuk hati serta menyatu dengan raga. dan. Proses pelembagaan sebenarnya tidak berhenti sedemikian saja. Sidharta (2006:77) menyatakan sebagai suatu kompleks dari nilai – nilai (sistem nilai) atau kumpulan moral. akan tetapi dapat berlangsung lebih jauh lagi hingga suatu norma kemasyarakatan tidak hanya menjadi institutionalized dalam masyarakat. yakni: a. tetapi harus dikembangkan melalui pendidikan sepanjang hayat terutama terhadap sosialiasi moral di lingkungan sekolah. dihargai dan kemudian ditaati dalam kehidupan sehari – hari. Dalam kaitan ini. Sebagai standar normatif evaluatif (normative standards of evaluation). moralitas pada diri seseorang atau suatu masyarakat digunakan dalam 2 (dua) hal.79 masyarakat dikenal.

adil dan jahat. di dalam mana kita melihat diri kita sendiri dalam berhadapan dengan baik – buruk. Dalam hal ini manusia dapat membedakan antara yang halal dan yang haram.80 Nilai – nilai terlebih dahulu harus dikenal kemudian dihayati dan didorong oleh moral. yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dalam kehidupan bersama memunculkan tata nilai atau aturan – aturan yang dianut atau diberlakukan serta harus dipatuhi oleh para anggota kelompoknya. Tata nilai tersebut tidak lepas dari penilaian baik dan buruk. tertib dan tidak tertib dan sebagainya. Norma moral adalah norma untuk mengukur betul – salahnya tindakan manusia sebagai manusia. baru akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai – nilai tersebut dan pada akhirnya terwujud tingkah laku sesuai dengan nilai – nilai yang dimaksud. benar dan salah. Pelaksanaan tata tertib sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang dapat dilihat pada gambar 5 yaitu: . Kesadaran moral adalah kesadaran manusia tentang diri sendiri. meskipun dapat dilakukan.

81 Unsur Luar Kepala Sekolah Waka Kesiswaan STP2K Siswa BK/BP Penyusunan Penerapan Evaluasi Credit Poin Tahu Moral Perasaan Moral Tugas dan Kewajian Tindakan Moral Larangan Larangan Sanksi Tata Tertib Sekolah Gambar 5. Pola Pembinaan Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah .

.. Guru koordinator Bimbingan Konseling Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang”..” (wawancara: 25 Mei 2007). donor darah dan zakat fitrah....misalkan pada pembelajaran cinta tanah air siswa diberikan contoh untuk menjaga kebersihan di sekolah...” (wawancara: 26 Mei 2007)....” (wawancara: 25 Mei 2007).tata tertib sekolah bisa dijadikan sarana pendidikan moral sebagai alat pencegahan atau preventif. Guru Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ”... Ditambahkan Warsito dalam pembelajaran di kelas dilakukan dengan memberikan contoh – contoh riil nilai – nilai moral yang ada di masyarakat ”. Sebagai sarana pendidikan moral adalah suatu tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan..82 Pendidikan moral yang dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang antara lain disampaikan Warsito. bakti sosial..... peringatan hari – hari besar nasional. sholat jum’at yang rutin dilakukan.. Alat pendidikan yang preventif ialah alat – alat pendidikan yang bersifat pencegahan yaitu untuk mencegah masuknya pengaruh – pengaruh buruk dari luar ke dalam diri siswa.. Alat pendidikan preventif diartikan sebagai jika maksudnya mencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik....melalui peringatan hari – hari besar keagamaan. Tata tertib sekolah merupakan salah satu diantara pendidikan moral yang bersifat pencegahan atau preventif diungkapkan oleh Siti Bulqis. ..

dapat ditinjau berdasarkan tiga sudut pandang. yaitu (Djamarah.83 Tindakan pendidikan yang merupakan alat pendidikan. 2005:210 – 211): a. b. 2). Akibat tindakan terhadap perasaan siswa: menyenangkan siswa. Yang bersifat negatif mendorong siswa untuk menjauhi serta menghentikan tingkah laku tertentu. tidak menyenangkan atau menyebabkan siswa menderita. Yang bersifat positif mendorong siswa untuk melakukan serta meneruskan tingkah laku tertentu. cara masuk saat datang terlambat masuk ke kelas dan saat berkomunikasi antara Guru dan siswa. c. Pengaruh tindakan terhadap tingkah laku siswa. Bersifat melindungi siswa yaitu mencegah atau mengarahkan dan memperbaiki. Sudarminta (2004:114 – 117) mengklasifikasi langkah – langkah pendidikan moral di sekolah yang mau menumbuhkembangkan kecerdasan moral atau sikap dan tingkah laku yang baik dalam diri siswa memperhatikan antara lain: a. Segi norma agama dan norma hukum dalam tata tertib sekolah seperti siswa dilarang minum minuman beralkohol. Salah satu materi dari tata tertib sekolah adalah mengenai norma kesopanan seperti cara berpakaian. 1). Pendidikan moral dilakukan dengan menciptakan suasana dan iklim di sekolah secara keseluruhan yang kondusif bagi sosialisasi . judi dan berkelahi.

Tata tertib sekolah dapat meningkatkan pendidikan moral bagi siswa didasarkan pada indikator tata tertib sekolah yang baik harus mampu untuk dipahami dan dilaksanakan oleh siswa. Sistem Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang merupakan hasil dari penggalian antara unsur – unsur kebutuhan siswa dan sekolah. Semua pendidik di sekolah. c. Tata . maupun masyarakat. perlu jeli melihat peluang yang ada. Kriteria tata tertib sekolah yang baik adalah dapat membatasi atau mengikat semua siswa secara keseluruhan. b.84 terhadap nilai – nilai moral yang mau dikenalkan dan ditumbuhkan kesadaran akan pentingnya serta penghayatannya dalam tingkah laku siswa. baik dalam keluarga. Tindakan nyata dan penghayatan hidup dari para pendidik atau sikap keteladanan mereka dalam menghayati nilai – nilai moral yang diajarkan akan dapat secara instinktif mengimbas dan efektif berpengaruh pada siswa. baik secara kulikuler maupun non ekstrakulikuler. siswa tidak hanya sekedar takut pada tata tertib sekolah namun dapat membuat siswa sadar akan pentingnya bertingkah laku yang baik dan tata tertib sekolah yang baik tidak hanya memuat larangan saja akan tetapi menyadarkan siswa terhadap tata tertib sekolah. untuk menyadarkan pentingnya sikap dan tingkah laku positif dalam hidup bersama dengan orang lain. sekolah. terutama Guru.

oleh. Bagi siswa yang telah masuk atau melebihi bobot angka tersebut akan dikenai sanksi sesuai dengan yang telah diatur dalam tata tertib sekolah. Guru dan siswa harus dimintai pendapatnya tentang tata tertib tersebut. Orangtua pun harus memperoleh penjelasan secara terbuka tentang tata tertib sekolah itu.85 tertib sekolah sangat perlu diadakan sebagai aturan yang harus diikuti oleh mereka dengan penuh kesadaran. Tata tertib sekolah pada hakikatnya dibuat dari. Komite Sekolah akan lebih baik jika dimintai pendapatnya tentang tata tertib sekolah tersebut. Sanksi akan diberikan sesuai dengan derajat kesalahan yang telah ditentukan dalam tata tertib sekolah. dan untuk warga sekolah. atau bahkan oleh dinas pendidikan semata-mata. Penerapan tata tertib sekolah dengan menggunakan sistem credit poin dapat dilihat dalam 2 (dua) tipe yaitu dari sisi positif dan sisi negatif pada tabel 5 yaitu: . Poin atau bobot angka ini nantinya akan ditotal menjadi laporan pada tiap akhir tahun pelajaran. bukan karena tekanan atau paksaan. Kalaupun konsep tata tertib sekolah itu telah dibuat oleh kepala sekolah atau dinas pendidikan. maka konsep itu harus mendapatkan persetujuan dari semua pemangku kepentingan di sekolah. Pemberian sanksi pelanggaran tata tertib sekolah berdasarkan poin angka (credit poin) maksudnya setiap pelanggaran tata tertib sekolah akan diberikan poin atau bobot angka yang menunjukan kesalahan yang diperbuat. Tata tertib sekolah tidak dapat ditentukan oleh kepala sekolah sendiri.

1. sanksi akan berdampak siswa akan mengacuhkan pemberian poin tersebut . Sanksi Lebih spesifik tegas dan Kurang memberikan impelementasi pendidikan cenderung ke moral sanksi yang bersifat fisik 4.86 Tabel 5 Perbandingan Penerapan Sistem Credit Poin No. Aturan Dibuat kesepakatan dengan Adanya sifat yang antara membatasi dan memaksa sekolah dan siswa 3. Personil Guru mudah setiap siswa penggunaan standarisasi poin akan dapat penggunaan poin yang kurang konsisten dan mengontrol pelanggaran dengan tegas oleh Guru dalam pendataan. Perbandingan Kriteria Bersifat Positif menciptakan Negatif Bersifat top down suasana ketertiban dan kedisiplinan 2.

Tata tertib sekolah apa saja yang harus dibuat itu sudah barang tentu amat ditentukan oleh kepentingan sekolah. Dengan tata tertib sekolah tersebut.87 Penyusunan tata tertib sekolah dilakukan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dengan staf dipimpin oleh Kepala Sekolah dengan menerima masukan – masukan dari berbagai elemen sekolah seperti Guru Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah (PKNS). Penggunaan tata tertib sekolah diharapkan dapat mengembangkan pola sikap dan tingkah laku yang lebih disiplin dan produktif dari siswa. program. 2001:42). dan kegiatan sekolah. Tata tertib sekolah sangat penting sebagai aturan yang harus dipatuhi oleh peserta didik. bahwa tata tertib sekolah dapat menciptakan disiplin dan orientasi akademis warga sekolah pada khususnya. high-achieving school. Mujis (2001:42) mengemukakan bahwa: School effectiveness research has long pointed to the importance of school-wide behavior policies in creating the academically oriented. siswa memiliki pedoman dan acuan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam melaksanakan kebijakan. It can often be fruitful to involve students in the making of rules in order to encourage a sense of ownership and shared responsibility and shared responsibility over them and to involved (especially older) students in policing rules and procedures as well Seperti diketahui. Tata tertib sekolah yang baik adalah memberikan jaminan menimbulkan suasana yang kondusif sehingga mendukung penyelenggaraan pendidikan. Guru Agama dan Guru Bimbingan dan Penyuluhan/Bimbingan dan Konseling. . dan meningkatkan capaian sekolah pada umumnya (Mujis.

Bentuk – Bentuk Pelanggaran Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang adalah bersifat ringan. sidak/pemeriksaan mendadak ke kelas – kelas. Kategori ringan yaitu Bentuk penegakan tata tertib sekolah untuk kasus atau pelanggaran tersebut adalah ditegur atau dinasehati dengan pembinaan secara insidental. sengaja melanggar aturan kebersihan corat – coret tembok dan bangku. bekerjasama dengan kepolisian jika terjadi pelanggaran berat. sosialisasi tata tertib sekolah melalui kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) dan pada saat upacara. pekan tata tertib sekolah. Bentuk pelanggaran yang bersifat sedang adalah terbukti membuat/menggunakan surat keterangan ijin tidak dari orang tua/wali.88 Penegakan tata tertib sekolah dengan menggunakan langkah – langkah berupa pemasangan di ruang – ruang belajar atau tempat yang strategis sehingga siswa dapat melihat dan membaca. sedang dan berat. Bentuk pelanggaran yang bersifat berat antara lain bermain judi di sekolah. melakukan tindakan asusila di lingkungan sekolah. terbukti membawa rokok dan merokok. Siswa yang menaati tata tertib sekolah dapat dikatakan mempunyai moral yang baik karena mempunyai kesadaran diri akan arti penting tingkah laku yang diperlihatkan pada pelaksanaan di sekolah. mengambil barang milik sekolah atau orang lain . pengontrolan siswa setiap hari. ancaman terhadap Guru/Karyawan. berkelahi dengan teman sekolah.

Sanksi digunakan untuk menghukum perbuatan/tingkah laku dianggap tidak sesuai dengan norma. tahap 2 (kedua) jumlah . dan memperkuat kemauannya untuk selalu berbuat baik dan menghindari kejahatan. hukuman dan sebagainya memaksa orang. Sanksi – sanksi terhadap pelanggaran tata tertib sekolah menurut sistem credit poin menggunakan bobot sanksi dengan aturan setiap pelanggaran akan dijumlahkan untuk satu tahun pelajaran. bobot tahun sebelumnya akan diteruskan dengan perhitungan 25 % nya. Sanksi adalah tanggungan berupa tindakan. mencemarkan nama baik Guru.89 tanpa seijin pemilik. menginsyafkan siswa terhadap perbuatannya yang salah. Stern (Djamarah. Karyawan maupun sekolah. 2005:204) mengatakan bahwa pemberian hukuman memperhatikan tingkat perkembangan siswa yang menerima hukuman melalui hukuman normatif yaitu hukuman yang memperbaiki moral siswa. siswa yang melanggar akan dibina dengan tahapan sebagai berikut tahap 1 (satu) jumlah bobot 20 siswa diberi peringatan lisan. Pemberian sanksi bisa berupa hadiah dan juga bisa berupa hukuman terhadap siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Dengan hukuman ini Guru berusaha mempengaruhi kata hati siswa. untuk menepati janji atau menaati apa – apa yang telah ditentukan. Sanksi dilaksanakan sekolah dalam rangka komformitas dan kontrol. berkelahi dengan siswa sekolah lain sehingga melibatkan nama sekolah dan penganiayaan terhadap Guru dan Karyawan. terlibat perkara yang ditangani oleh Kepolisian.

Sedangkan yang termasuk dalam lingkungan eksternal adalah lingkungan instrumental. pembinaan. tahap 3 (tiga) jumlah bobot 75 panggilan orang tua/wali dengan surat pernyataan. Faktor – Faktor Penyebab Pelanggaran Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang adalah karena dua faktor utama yaitu faktor bawaan (internal) siswa dan faktor lingkungan (eksternal) siswa. paling tidak terdapat faktor pendidik. tahap (empat) jumlah bobot 120 siswa dikembalikan pada orang tua/wali. memanggil orang tua dengan Bimbingan dan Penyuluhan/Bimbingan dan Konseling. dikeluarkan dari kelas. Sanksi akademis yaitu teguran lisan. materi pendidikan. namun penggunaanya dengan memperhatikan sifat mendidik bagi siswa antara lain tugas membersihkan kelas. kamar mandi dan taman kelas. alat dan metode pendidikan. seperti faktor intelegensi. Yang termasuk dalam lingkungan internal adalah faktor yang berhubungan dengan potensi bawaan siswa itu sendiri. Sanksi yang diberikan kepada siswa yang melanggar tata tertib sekolah selain sanksi yang tertulis ada sanksi yang tidak tertulis. bakat maupun dorongan instrinsiknya atau motif.90 bobot 50 panggilan dan pemberitahuan kepada orang tua/wali. serta . Setiap pelanggaran dengan bobot lebih besar dari 10 (sepuluh) atau melakukan pelanggaran yang sama dengan yang pernah dilakukan di samping mendapat tambahan nilai juga harus mengerjakan tugas cinta lingkungan.

penyesuaian diri dengan kelompok masih penting. sikap membimbing dari Guru dan kondisi dukungan keluarga. Masalah moral yang terjadi pada proses remaja ditandai oleh adanya ketidakmampuan remaja membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Periode perubahan sikap dan perilaku yang sejajar dengan perubahan fisik. 2006:98). Kesadaran yang tumbuh di kalangan siswa tidak lepas dari bagaimana proses pendidikan siswa. c. Hal ini disebabkan oleh ketidakkonsistenan dalam konsep benar dan salah yang ditemukan dalam kehidupan sehari – hari (Mugiarso. pemahaman terhadap tata tertib sekolah.91 sistem komunikasi antara pendidik dan siswa. Lingkungan sosial budaya. lingkungan teman sebaya (peer group). keutuhan keluarga. Faktor yang bersifat internal pada diri siswa yaitu terjadi karena siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan tahap fase adolesen yang mempunyai kecenderungan siswa tidak terikat pada aturan dan mencoba – coba untuk melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Terbentuknya kesadaran siswa disebabkan oleh beberapa faktor yang . Periode yang penting karena berakibat langsung terhadap sikap dan tingkah laku. paling tidak ada akan terdapat lingkungan tempat tinggal. Mencari identitas. keharmonisan keluarga dan interaksinya dengan lingkungan masyarakat secara umum. b. kondisi status sosial ekonomi keluarga. Soeparwoto (2006:62 – 63) masa remaja adalah masa umur antara 13/14 sampai 18 tahun dengan ciri – ciri: a. pada tahun – tahun awal masa remaja. kemudian mereka mendambakan identitas diri.

Pendidikan moral yang diberikan melalui tata tertib sekolah adalah berupa kontrak sosial dibuat antara kesepakatan sekolah dan siswa dengan mempertimbangkan masukan – masukan dari berbagai pihak. Tujuannya kebijakan tersebut agar dapat diterapkan dan diterima secara umum oleh masyarakat dan siswa. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) termasuk tahap perkembangan Autonomous Morality atau Independensi Morality dalam tingkat perkembangan Postkonvensional. Tentunya sikap dan berperilaku yang baik itu merupakan prinsip etis yang universal terhadap aturan – aturan. Tingkat kesadaran siswa untuk mematuhi tata tertib sekolah yaitu ada 3 (tiga) kategori yaitu baik. kedewasaan siswa. cukup dan kurang.92 mempengaruhi yaitu Guru. peraturan itu sendiri. kewibawaaan Guru. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor proses pendidikan. Faktor yang kedua adalah faktor eksternal artinya bahwa tingkah laku siswa yang tidak sesuai dengan tata tertib sekolah terjadi karena unsur lingkungan di luar diri siswa terbagi lagi menjadi 3 kategori yaitu yang pertama kondisi sosial ekonomi orang tua siswa yaitu secara umum siswa . kondisi sosial ekonomi keluarga dan faktor tata tertib sekolah. keluarga dan lingkugan sekitar. Dengan tata tertib sekolah diharapkan siswa mampu menyadari arti penting tata tertib sekolah. menjadi suatu kebutuhan atau kebiasaan dalam diri siswa. keluarga. mampu melaksanakan tata tertib sekolah sesuai dengan kesadaran pribadi masing – masing siswa.

93

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyai kondisi sosial hubungan dalam keluarga yang kurang nyaman. Seperti yang disampaikan oleh Romadhon siswa kelas 12 (dua belas) melakukan pelanggaran karena “di rumah orang tua kurang memperhatikan sehingga ke sekolah ingin hiburan” (wawancara: 25 Mei 2007). Dari faktor – faktor yang mempengaruhi siswa dalam bertingkah laku sesuai dengan moral pada gambar 6 sebagai berikut:

Kesadaran Diri

Lingkungan Pergaulan Moral Siswa Keluarga

Tata Tertib Sekolah

Gambar 6. Faktor – Faktor Mempengaruhi Moral Siswa

94

Selain itu, dari segi ekonomi termasuk ke dalam kategori menengah ke bawah. Diungkapkan Siti Bulqis bahwa faktor ekonomi termasuk keluarga menengah ke bawah, kemudian latar belakang pendidikan orang tua, rumah yang hanya berukuran 2 X 3 dan 3 X 3, 75 % siswa SMK N 5 Semarang termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah. Anak sering bermain di luar, tidak kerasaan di rumah dan banyak yang rumahnya jauh bahkan ada yang dari luar kota prosentasenya 90% (wawancara: 26 Mei 2007). Kondisi ekonomi keluarga dapat diketahui melalui home visit oleh Guru Bimbingan Konseling (BK) didapatkan bahwa siswa yang sering melakukan pelanggaran tata tertib sekolah kecenderungan mempunyai kondisi ekonomi yang lemah. Mugiarso (2006:88) mengungkapkan bahwa Kunjungan Rumah (Home Visit) mempunyai fungsi untuk pemahaman dan pengentasan masalah siswa yang meliputi pengambilan data/keterangan yaitu: a. Kondisi rumah tangga dan orang tua. b. Fasilitas belajar yang ada di rumah. c. Hubungan antara anggota. d. Sikap dan kebiasaan siswa di rumah. e. Berbagai pendapat orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam perkembangan anak dan pengentasan masalah siswa. f. Komitmen orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam perkembangan siswa dan pengentasan masalah siswa.

95

Kondisi ekonomi keluarga turut mempengaruhi pergaulan siswa, siswa cenderung tidak merasa nyaman di rumah. Hal ini disebabkan oleh kondisi rumah yang tidak nyaman untuk ditempati, sehingga siswa cenderung mencari hiburan di luar rumah. Pergaulan dengan lingkungan luar mempunyai dampak pada sikap dan tingkah laku sehari – hari. Faktor yang lain adalah keadaan keluarga mengenai hubungan antar keluarga, ketidakcocokan dengan keinginan siswa dengan program keahlian yang dipilih. Solusi dari pihak sekolah adalah dengan memberikan beasiswa melalui BAZIS sekolah yang dikumpulkan setiap hari Jum’at. Guru dalam penanganan pelanggaran tata tertib sekolah terhadap siswa berbeda antara siswa kelas 10 (sepuluh), 11 (sebelas) dan 12 (duabelas). Mengingat perbedaan perkembangan siswa yang memiliki kelas yang lebih tinggi diungkapkan oleh Moehadjir (Daroeso, 1986:75) “semakin rendah tingkat/kelas semakin besar aspek moralnya dan semakin tinggi tingkat/kelas semakin besar aspek yuridis konstitusionalnya.....oleh karena itu aspek moral pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bersifat pemeliharaan dan pemupukan”. Pemeliharaan dan pemupukan aspek moral tersebut pada kelas 12 (duabelas) seperti yang dikatakan oleh Warsito “berbeda penanganan terhadap tiap kelas, misalkan pada kelas 12 memberikan pujian…..lah nang ngono luweh ganteng, luweh bagus nek klambine dilebokna daripada ditakno…..(nah begitu kelihatan lebih bagus, kelihatan lebih baik kalau bajunya dimasukan daripada dikeluarkan)” (wawancara: tanggal 25 Mei 2007).

menunjukan tingkah laku yang kurang baik.96 Suatu faktor yang cukup berpengaruh terhadap tingkah laku siswa di sekolah adalah hubungan orang tua dan anak di rumah. 1989:65) mengemukakan 4 (empat) macam tindakan siswa yang sering dilakukan terhadap sekolah: pertama situasional withdrawal yaitu siswa tidak menerima sanksi berupa hukuman yang diberikan sekolah pada siswa. Jika sebaliknya antara di sekolah dan di rumah bertentangan atau tidak sejalan maka akan menimbulkan konflik pada diri siswa (discontunity). Siswa yang berasal dari keluarga yang konsisten dan mempunyai kebiasaan yang teratur memperlihatkan tingkah laku baik di sekolah. Sebaliknya siswa yang berasal dari keluarga yang sulit menanamkan kebiasan teratur di rumah memperlihatkan tingkah laku yang jelek di sekolah. Konflik tersebut akan berakibat siswa mempunyai kecenderungan untuk melakukan penyimpangan atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. jarang bertemu dengan orang tua karena sibuk bekerja. Orang tua yang mengajarkan norma – norma dan di sekolah Guru – Guru juga mengajarkan norma – norma pula maka apabila norma yang diterima siswa di sekolah adalah merupakan kelanjutan dari atau sama dengan yang diperoleh siswa di lingkungan keluarga berdampak pola hubungan keluarga dan sekolah akan selaras dan serasi (contunity). tujuannya adalah agar membatalkan sanksi yang diberikan sekolah kepadanya. kedua . Siswa yang kurang mempunyai bimbingan yang serasi. dan siswa menentang dan bahkan mengabaikannya seperti tidak mengkuti remidiasi. Goffman (Bahar.

siswa menolak untuk menerima dan mematuhi tata tertib sekolah dan melawan dengan beraksi. siswa mengganggap bahwa sekolah tidak banyak membantu dalam pemenuhan keinginan dan harapan mereka. suatu bahaya dalam hal ini adalah bahwa siswa merasa bebas dari hukuman sekalipun mereka berbuat salah. tempat untuk dapat bergaul dengan teman seperti lebih baik pergi ke sekolah daripada main – main di jalanan. sekolah hanya sebagai tempat bermain. Semestinya semua komponen di sekolah tutur bertanggung jawab terhadap pemberian moral yang baik terutama Guru mata pelajaran.97 intransigence yaitu merupakan perlawanan (menentang) secara terang – terangan terhadap otorotitas sekolah atau kelas tertentu. Faktor sekolah turut serta memberikan penyebab siswa melakukan pelanggaran tata tertib sekolah yaitu ketetapan dari Kepala Sekolah yang menginstruksikan kepada Guru agar penanganan terhadap kasus atau pelanggaran tata tertib sekolah diserahkan pada Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan yang membentuk STP2K (Satuan Tugas Pembinaan dan Penegakan Kedisiplinan) yang dibantu oleh Bimbingan Konseling (BK). ketiga colonization yaitu merupakan respon yang dilakukan siswa yang merasa bahwa tidak ada yang dapat mereka kerjakan di sekolah. Guru baik secara formal maupun informal memberitahu . keempat conversion yaitu siswa menerima menerima segala tata tertib sekolah seperti sekolah dengan siswanya lebih banyak laki – laki daripada wanitanya tata tertib sekolah sering dilanggar.

2. Kendala – Kendala Penegakan Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Unsur kendala – kendala yang dihadapi dalam penegakan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang yaitu Guru dalam penegakan tata tertib sekolah kurang bisa seirama dalam penegakan tata tertib sekolah. kerjasama dengan pihak Kepolisian dalam penanganan kasus atau pelanggaran tersebut. bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang memiliki citra sebagai salah satu sekolah yang sering tawuran. Tergantung dari individu Guru masing – masing ada Guru yang konsisten dan ada Guru yang kadang – kadang konsisten dan adapula yang tidak .98 tentang tata tertib sekolah dan sanksi – sanksi yang akan didapatkan siswa bila melanggar tata tertib sekolah. Tawuran tersebut cenderung untuk berkurang karena disebabkan beberapa hal antara lain sudah berkurangnya aktivitas praktikum yang dilakukan di luar sekolah. Faktor yang lain adalah adanya stigma dari siswa. Namun mulai tahun 2007 ke bawah atau sejak 3 (tiga) tahun terakhir tawuran tersebut sudah tidak ada lagi. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyai sejarah negatif berupa image akan tawuran sehingga berdampak sampai sekarang persepsi itu masih melekat. adanya sanksi yang tegas dari sekolah bagi yang melakukan tawuran dikeluarkan dari sekolah.

Kendala yang bersifat internal adalah kurang konsistennya petugas maupun Guru di dalam melaksanakan kontrol terhadap tingkah laku siswa yang melakukan pelanggaran. Penyebabnya adalah tindakan dari sekolah yang tegas untuk mengeluarkan siswa yang bermasalah dari sekolah. Salah satu sebab .99 peduli sama sekali terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Pelanggaran tata tertib sekolah yang dilakukan oleh siswa dari hasil pengamatan mengalami penurunan dari kuantitas terutama tawuran antara sekolah. Kurang konsisten dari Guru menyebabkan siswa tidak menghargai teguran dari Guru. Kendala yang bersifat eksternal adalah diakibatkan oleh faktor luar dari sekolah seperti siswa yang dipukul terlebih dahulu oleh siswa sekolah lain. Tidak semua Guru melakukan penegakan tata tertib sekolah/lemahnya monitoring karena yang bertugas hanya BP/BK dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan. Kendala – kendala yang dihadapi oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral terdiri dari dua unsur kendala yaitu bersifat internal dan eksternal. faktor kegiatan praktik masih ada yang di luar yaitu bengkel Balai Latihan Pendidikan Teknik) sehingga kurang kontrol namun sejak tahun 2002 sekolah sudah membuat bengkel sendiri mudah dalam pengawasan siswa sehingga sekolah bisa mengawasi. Kendala – kendala yang lain adalah adanya beberapa siswa yang memang sudah mempunyai potensi untuk melanggar tata tertib sekolah.

75 % siswa merupakan dari keluraga tidak mampu (wawancara: 26 Mei 2007). Penilaian tersebut lazim sebagai penilaian afektif siswa yang tidak hanya didasarkan pada ranah kognitif saja namun Guru dalam memberikan evaluasi juga memperhatikan tingkah laku siswa. Penghargaan atau reward dari Guru terhadap siswa yang moralnya baik adalah dengan penilaian terhadap nilai rapor yang berbeda antara siswa yang sering melakukan pelanggaran tata tertib sekolah dengan siswa yang taat pada tata tertib sekolah. 11 dan 12 dari hasil observasi dan wawancara didapatkan perbedaan karakteristik siswa. Penghargaan yang lain adalah pemberian beasiswa terhadap siswa yang kurang mampu akan diprioritaskan pada siswa yang memiliki tingkah laku atau moral yang baik dengan indikasi bahwa tidak pernah melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Antara siswa kelas 10.100 frekuensi penurunan pelanggaran tata tertib sekolah disebabkan terjadi pergantian bidang kesiswaan dengan penajaman pembentukan satuan tugas STP2K yang melakukan penanganan terhadap pelanggaran tata tertib sekolah dan tegas dalam pelaksanaan tata tertib sekolah. Siswa kelas 11 sudah mengalami perubahan karena sudah mengenal lingkungan sekolah . Siswa kelas 10 cenderung untuk taat dan patuh pada tata tertib sekolah karena masih ada rasa takut dan masih mengenal lingkungan sekolahnya. Siti Bulqis dari wawancara mengatakan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang yang mendapatkan beasiswa dari GAKI di kelas 10 sebanyak 148 orang.

Kendala – kendala tersebut secara umum akan mencakup dari fasilitas yang dimiliki sekolah. Usaha pembinaan siswa. Tahap tindakan preventif yaitu berupa upaya pencegahan sebelum pelanggaran tata tertib sekolah terjadi dibedakan menjadi 2 (dua) bagian yaitu: a. 3). Berusaha mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas siswa. Disebabkan Guru sudah memberikan pemahaman kepada siswa bahwa mereka nantinya akan menghadapi ujian akhir nasional. Berbeda dengan kelas 12 yang semakin dewasa untuk mengurangi pelanggaran tata tertib sekolah. Akibat yang ditimbulkan adalah rasa ketidakpercayaan yang dialami oleh siswa dalam melalui tahap – tahap perkembangan moral. 2006:213).101 dan tidak memikirkan ujian akhir nasional sehingga unsur coba – coba semakin besar. 2). personil yang menangani kebutuhan siswa dan implementasi tujuan pendidikan moral melalui tata tertib sekolah yang kadang kurang tepat disampaikan oleh Guru. yang meliputi: . Mengetahui kesulitan – kesulitan yang secara umum dialami oleh siswa. Upaya – upaya sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah ada 3 (tiga) tahap yaitu tindakan preventif. tindakan kuratif dan tindakan represif (Soeparwoto. Usaha pencegahan timbulnya pelanggaran tata tertib sekolah secara umum dengan langkah – langkah 1).

Menguatkan sikap mental siswa supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. d). Guru Pembimbing. baik dari Guru yang bersangkutan dengan . Siswa mempunyai kewajiban membaca dan mematuhi tata tertib sekolah. Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan pengetahuan dan keterampila. penyuluhan psikologi dan hukum yang bekerjasama dengan psikolog dan Polres Semarang Timur. Tahap kuratif atau rehabilitasi yaitu dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap perlu mengubah tingkah laku siswa yang melanggar dengan cara membina siswa yang selalu melanggar tata tertib sekolah. b. namun juga pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama.102 a). b). c). Usaha memperbaiki keadaan lingkungan sekitar. budi pekerti dan etika. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang dalam tindakan preventif antara lain melalui kegiatan keagamaan. nasehat setiap upacara. atau psikolog sekolah bersama para pendidik lainnya. Uapaya sekolah dalam menyadarkan siswa yang melanggar tata tertib sekolah dengan memberikan pembinaan akan tata tertib sekolah kepada siswa. Usaha pencegahan timbulnya pelanggaran tata tertib sekolah secara khusus yang dilaksanakan oleh Guru. Menyediakan sarana – sarana dan menciptakan suasana yang optimal demi perkembangan pribadi yang wajar.

103 bekerjasama Bimbingan dan Penyuluhan/Bimbingan dan Konseling atau wali kelas intensif mengawasi tingkah laku siswa yang dianggap melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Upaya ini ditindaklanjuti dengan pemantauan khusus kepada keseluruhan siswa maupun siswa yang berpotensi untuk melakukan pelanggaran tata tertib sekolah dari unsur – unsur sekolah tersebut. tindakan represif dilaksanakan apabila tingkah laku siswa sudah melewati batas toleransi dari norma sosial atau kadar angka poin yang telah ditentukan oleh pihak sekolah. Di sekolah yang yang berwenang memberikan hukuman represif ini adalah Kepala Sekolah. akibat yang ditimbulkan bila melanggar tata tertib sekolah kemudian diadministrasi atau didata diteruskan membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan dan tugas secara fisik yang bersifat mendidik. Selain itu perorangan dari Guru bagi yang membolos dikumpulkan diberi pemahaman kesalahan. Tahap tindakan represif berupa pengambilan tindakan bagi pelanggaran yang telah berulang kali atau termasuk kategori pelanggaran berat terhadap tata tertib sekolah. Guru dan staf pembimbing bertugas menyampaikan data mengenai pelanggaran maupun akibatnya. Langkah – langkah pihak sekolah antara lain . Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang pada tahun pelajaran 2003/2004 ada 2 siswa yang terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena tersangkut kriminal dan tawuran antar sekolah. Soeparwoto (2006:215) dalam usaha menindak pelanggaran tata tertib sekolah.

.104 memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kemudian memanggil orang tua ke sekolah.

nilai demokrasi. Tata tertib sekolah dapat menjadi sarana pendidikan moral yang mempunyai fungsi pencegahan atau preventif bagi tingkah laku siswa agar tidak melanggar atau menyimpang dari moral masyarakat. nilai tanggung jawab dan nilai penghargaan terhadap lingkungan alam. Nilai – nilai moral tersebut harus dilembagakan melalui norma – norma/kaidah – kaidah dalam lingkungan sekolah yang disesuaikan dengan masyarakat. nilai kemandirian. nilai daya juang. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang menggunakan sistem credit poin yaitu setiap pelanggaran tata tertib sekolah 105 . nilai keadilan. Pendidikan moral selain diajarkan melalui bentuk formal dalam mata pelajaran juga dapat diberikan melalui bentuk – bentuk lain seperti adanya tata tertib sekolah. 2. nilai sosialitas. nilai gender. Dari hasil penelitian dan pembahasan didapatkan simpulan yaitu: 1. Simpulan Pendidikan moral pada intinya adalah mengajarkan dan melatih siswa terhadap kesadaran moral. nilai kejujuran.BAB V PENUTUP A. Sanksi bagi siswa yang melanggar adalah bersifat mendidik siswa terutama untuk menanamkan pendidikan moral. Pendidikan moral yang diajarkan dan dilatihkan tersebut disesuaikan dengan nilai – nilai identitas masyarakat atau nilai – nilai moral seperti nilai religiositas.

Faktor internal dari diri siswa adalah potensi bawaan siswa itu sendiri. Upaya – upaya sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah adalah bersifat preventif. 3. Kurangnya pengawasan dari Guru menyebabkan siswa banyak yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. paling tidak ada akan terdapat lingkungan tempat tinggal. B. Kendala – kendala utama yang dihadapi sekolah adalah kurang konsistennya Guru dalam menegakan tata tertib sekolah meliputi dari tidak secara komperehensif hanya dilakukan oleh Guru yang masih peduli terhadap moral siswa dan adanya pengaruh dari pergaulan siswa yang kurang baik. Faktor – faktor penyebab siswa melanggar tata tertib sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang adalah faktor internal dan eksternal. Penggunaan credit poin dengan mempertimbangkan segi tahap – tahap perkembangan siswa dan sanksi yang mendidik. keutuhan keluarga. lingkungan teman sebaya (peer group).106 mendapatkan poin tertentu. kuratif dan represif. seperti faktor intelegensi. keharmonisan keluarga dan interaksinya dengan lingkungan masyarakat secara umum. bakat maupun dorongan instrinsiknya atau motif. kondisi status sosial ekonomi keluarga. Saran Saran yang merupakan masukan yang dapat disampaikan berkaitan penelitian ini adalah: . Faktor eksternal adalah lingkungan sosial budaya.

107 1. . 4. 3. Orang tua hendaknya ikut serta melakukan pembinaan moral anaknya agar patuh dan taat terhadap tata tertib sekolah. Guru hendaknya terus melakukan kontrol terhadap pelanggaran tata tertib sekolah dan meningkatkan kebersamaan guna membina kedisiplinan siswa. Kepala Sekolah hendaknya terus berkomitmen dan lebih intensif mengadakan penegakan kedisiplinan siswa serta fasilitas pendukung dalam upaya menekan tingkat pelanggaran siswa terhadap tata tertib sekolah. 2. Siswa hendaknya dengan penuh kesadaran diri untuk mematuhi tata tertib sekolah.

Sosiologi Hukum. 1986. Dasar – Dasar Kependidikan. Syaiful Bahri. Jakarta: Sinar Grafika Moleong. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Marpaung. I Wayan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya 108 . Jakarta: PT Rineka Cipta Bahar. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Rineka Cipta Daryono. Pengantar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Daroeso. 1990. Alvin S. 2001. Jakarta: Ghalian Indonesia Johnson. 2002. Aswandi. Pengantar Metodologi Riset Sosial. 2001. Semarang: IKIP Semarang Press Hasan.M. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Lexy J. 1998. Frans – Suseno. Bambang. Jakarta: PT Rineka Cipta Djamarah. Mandar Maju Koyan. Semarang: Aneka Ilmu Daryanto H. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. 1989. 2006. Kartini. Suharsimi. Administrasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta Kartono. Pokok – Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Magnis. Suharsimi. dkk. 1996. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Pendidikan Moral Pendekatan Lintas Budaya. Etika Politik (Prinsip – Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern). Kejahatan Terhadap Kesusilaan dan Masalah Prevensinya. 1996. Iqbal. 2005. Jakarta: PT Rineka Cipta Arikunto. Jakarta: CV. Dimensi – Dimensi Pendidikan Moral. Leden. Jakarta: PT Rineka Cipta Haricahyono. 2002.DAFTAR PUSTAKA Arikunto. 2000. 1995. 2002. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Cheppy.

Burhanudin. Pengantar Ilmu Pendidikan. Administrasi Pendidikan. dkk. 2001. 2002. 1986. Jakarta: PT Rineka Cipta Sanjaya. 1998. Etika Profesi dan Profesi Hukum. Bandung: Angkasa Munib. Semarang: UPT MKK Unnes Nawawi. 1989. Kesadaran Berbangsa. 1999. Heru dkk. Semarang: UNNES Press Sunarto dan Agung Hartono. Jakarta: Buku Kompas . Bandung: PT Remaja Rosdakarya Mulyono. Metode Penelitian Penelitian Kualitatif Dasar Teori dan Terapannya dalam Penelitian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sutopo. Psikologi Perkembangan. Surakarta: UNS Press Tedjosaputro. David. Tonny D. 1994. Hadari dkk. Effective Teaching. 2006. Moralitas Profesi Hukum. 2004. 1989. Semarang: UNNES Press Muijs. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Malang: IKIP Malang Press Widiastono. E. Bimbingan dan Konseling. 2004. Perkembangan Peserta Didik. Maman.B. Jakarta: Kencana Sidharta. Achmad dkk. Disiplin Murid SMTA di Lingkungan Formal Pada Beberapa Propinsi di Indonesia. 2006. 2000. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang. Daniel dan Reynolds. Administrasi Pendidikan. Bandung: PT Refika Aditama Soeparwoto. Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral. London: Paul Chapman Publishing Mulyasa. Jakarta: Ghalia Indonesia Rachman. Pendidikan Manusia Indonesia (Kumpulan Artikel). 2003. 2006. Evidence and Practice. Semarang: CV Aneka Ilmu Tim Depdikbud. 2002. 2006. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Wina. H.109 Mugiarso. Liliana. Semarang: IKIP Press Salam. Strategi dan Langkah –Langkah Penelitian.

b. d. a.110 PEDOMAN INSTRUMEN WAWANCARA BAGI KEPALA SEKOLAH Nama Usia Alamat : : : 1. a. Bagaimana kesopanan siswa dengan lingkungan masyarakat sekitar sekolah? g. Bagaimana interaksi antar sesama siswa dalam lingkungan sekolah serta terhadap masyarakat sekitar? e. Apakah yang anda ketahui tentang tata tertib sekolah? Apakah yang anda ketahui tentang pendidikan moral? Siapakah yang bertugas menyusun tata tertib sekolah? Apakah peran kepala sekolah dalam penegakan tata tertib sekolah? . Bagaimana respon orang tua terhadap pelanggaran tata tertib sekolah? f. Bagaimana kesopanan siswa terhadap guru saat di kelas maupun di luar kelas? d. Apa saja pelanggaran tata tertib sekolah yang sering dilakukan oleh siswa? 2. Bagaimana tingkat kedisiplinan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? b. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Bagaimana ketertiban siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? c. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. c.

Bagaimana bentuk – bentuk penegakan tata tertib sekolah? Bagaimana upaya – upaya sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah? m. Bagaimana sistem tata tertib sekolah yang diterapkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? j. bagaimana moral siswa yang diharapkan oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? i. Bagaimanakah tata tertib sekolah yang baik tersebut? Apakah tata tertib sekolah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang sudah mengandung nilai – nilai moral? g. Bagaimana penyusunan tata tertib sekolah yang dilaksanakan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? k. f. l. Apa saja kendala – kendala dalam penegakan tata tertib sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? . h.111 e. Apakah tata tertib sekolah dapat meningkatkan pendidikan moral? Menurut anda.

Apa saja yang termasuk dalam pelanggaran terhadap tata tertib sekolah? j. Apakah tata tertib sekolah dapat meningkatkan moral siswa?apa indikatornya? i. Bagaimana ketertiban siswa di lingkungan sekolah? c. Apa saja nilai – nilai moral yang diajarkan pada siswa? g. . Apa saja kategori siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah? k. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Bagaimana penegakan tata tertib sekolah pada saat kegiatan belajar mengajar? 2. a. Apakah siswa sering tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru? d. Bagaimana tingkat kedisiplinan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? b. Apakah siswa sering tawuran atau berkelahi di lingkungan sekolah? e.112 PEDOMAN INSTRUMEN WAWANCARA BAGI GURU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Nama Usia Alamat : : : 1. Bagaimana cara yang anda lakukan untuk memberikan nilai – nilai moral tersebut? h. Bagaimana melakukan kontrol terhadap ketertiban yang sesuai dengan moral? f.

Apa saja kendala – kendala dalam penegakan tata tertib sekolah? l. Apakah yang anda ketahui tentang tata tertib sekolah? b. Apa faktor – faktor pendukung tata tertib sekolah dalam implementasi pendidikan moral? j. Hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam penyusunan tata tertib sekolah? k. Apakah yang anda ketahui tentang pendidikan moral? c. Bagaimana pembelajaran pendidikan moral di kelas? h. Apakah tata tertib sekolah dapat menjadi sarana pendidikan moral Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?apa saja indikasinya? d. Apa sanksi yang diberikan terhadap siswa yang melanggar tata tertib sekolah? i. Apakah tata tertib sekolah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mengandung pendidikan moral? e. Apakah siswa memahami tata tertib sekolah yang dibuat oleh sekolah? g. Bagaimana upaya mengatasi siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah? . Bagaimana peran guru Pendidikan Kewarganegaraan dalam penegakan tata tertib sekolah? f.113 a.

Apakah tata tertib sekolah dapat menjadi sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?apa saja indikasinya? . Bagaimana ketertiban siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? c. Bagaimana kesopanan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? d. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Apakah ada perbedaan karakteristik siswa pada setiap kelas atau jurusan dan angkatan?apa saja perbedaan tersebut? 2.114 PEDOMAN INSTRUMEN WAWANCARA BAGI GURU BIMBINGAN KONSELING Nama Usia Alamat : : : 1. a. a. Apakah yang anda ketahui tentang tata tertib sekolah? b. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Bagaimana tingkat kedisiplinan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? b. Apa saja pelanggaran tata tertib sekolah yang sering dilakukan oleh siswa? e. Bagaimana persepsi masyarakat sekitar terhadap ketertiban siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? f. Apakah yang anda ketahui tentang pendidikan moral? c.

Bagaimana sistem tata tertib yang diterapkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? f. Apa saja faktor – faktor yang menyebabkan siswa melanggar tata tertib sekolah? p. Apakah tata tertib sekolah dapat meningkatkan pendidikan moral?apa saja indikatornya? g. Apakah pemberian sanksi membuat siswa menjadi jera untuk tidak mengulangi pelanggaran tata tertib sekolah yang sama? l. Apa saja peran guru bimbingan konseling dalam penegakan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral? j.115 d. Bagaimana upaya – upaya bimbingan sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah? q. Apa saja motif – motif siswa melakukan pelanggaran tata tertib sekolah? o. Apakah kelebihan penggunaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral? m. Apakah tata tertib sekolah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mengandung pendidikan moral? e. Bagaimana peran orang tua dalam masalah pelanggaran tata tertib sekolah? . Bagaimana mengatasi siswa yang melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah? n. Apakah sanksi yang diberikan terhadap siswa yang melanggar tata tertib sekolah? k. Bagaimana prosedur pemberian sanksi bagi siswa yang melanggar tata tertib sekolah? h. Apakah penegakan tata tertib sekolah sering dilakukan?apa saja bentuknya? i.

116 PEDOMAN INSTRUMEN WAWANCARA BAGI SISWA Nama Usia : : Kelas/Jurusan : Alamat : 1. Kamu melakukannya karena diri sendiri atau diajak teman? e. bagaimana kedisiplinan siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? . Apakah kamu dengan tata tertib sekolah menjadi jera untuk tidak mengulangi pelanggaran tata tertib sekolah? g. Apakah kamu merasa berat jika harus taat terhadap tata tertib sekolah? h. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang a. Menurut kamu. Apakah kamu tidak merasa malu jika orang tua kamu dipanggil ke sekolah dan guru mengatakan bahwa kamu sering melanggar tata tertib sekolah? i. Apakah kamu tidak malu dengan guru tentang pelanggaraan tata tertib sekolah yang kamu lakukan? f. Apakah kamu pernah diajak teman kamu untuk berbuat immoral? c. Bagaimana perasaan kamu jika melihat temanmu memakai baju seragam rapi. datang ke sekolah tepat waktu dan taat pada tata tertib sekolah? j. Mengapa kamu melakukan pelanggaran tata tertib sekolah? b. Apa saja pelanggaran yang kamu lakukan tersebut?berapa kali? d.

Apakah yang kamu ketahui tentang pendidikan moral? c. Apakah orang tua kamu sering memberi nasihat jika kamu melanggar tata tertib sekolah dari guru kamu? l. Apakah kamu tahu kesalahan yang telah diperbuat dirimu? g. Apakah penegakan tata tertib sekolah sering dilakukan oleh pihak sekolah? j. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Apakah kamu tahu tujuan dibuatnya tata tertib sekolah? d. Apakah yang kamu ketahui tentang tata tertib sekolah? b. Apakah kamu pernah ditegur dan dinasehati oleh guru karena melanggar tata tertib sekolah? k. Apa sanksi yang diberikan guru terhadap pelanggaran tata tertib sekolah? i. Apakah kamu di sekolah termasuk siswa yang mematuhi tata tertib sekolah? e.117 2. Bagaimana perasaan orang tua kamu terhadap pelanggaran tata tertib sekolah tersebut? . Apakah jika kamu membolos dan berkelahi tidak dimarahi oleh orang tua kamu? m. Apakah kamu dijelaskan tentang tata tertib sekolah oleh guru? f. a. Apakah kamu dijelaskan oleh guru tentang kesalahan yang diperbuat dalam pelanggaran tata tertib sekolah? h.

Drs. Nama Drs. 9. Saidi Jabatan Kepala Sekolah Usia 53 Tahun Alamat Jl. Fangga Siswa kelas 10 16 Tahun Banyumanik 48 Tahun 26 Tahun Kaligarang Dr. Cipto . Medoho RT 3 RW 4 11. Cipto 121 46 Tahun 44 Tahun Karangjati Ungaran Dr. Asrul Siswa kelas 11 17 Tahun Jl. Warsito Guru Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah 5. M. Dra. Kendeng No. Romadhon Koordinator BP/BK Guru Pendidikan Jasmani dan Rekreasi Penjaga Sekolah Penjaga Sekolah Siswa kelas 12 57 Tahun 60 Tahun 19 Tahun Medoho Medoho Kaligawe Kampung Pondok RT 3 RW 9 10. Drs. 6. S. 8. H. Darmawan SB Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum 3.. Siti Bulqis Dwi Puji B. M.118 DAFTAR NAMA RESPONDEN No.Pd 7. Heru Usadajati Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan 4. 1. Wardi Ngadiyono M. Cipto 52 Tahun Dr. 332 2. Drs.

Bahwa sesungguhnya tata tertib siswa bukan sekedar kelengkapan sekolah. SMK Negeri 5 Semarang memberlakukan sangsi pelanggaran tata tertib siswa ini dalam bentuk bobot pelanggaran. mental dan karakter. Bagi siswa yang melanggar tata tertib akan dikenai bobot angka tertentu sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.1.Cipto 121 (024) 8416335 – 8447476 Semarang 50124 TATA TERTIB SISWA SMK NEGERI 5 SEMARANG Bahwa sesungguhnya siswa adalah warga negara yang terdidik.00 WIB. loyal. tertib dan pantas dicontoh. untuk menjadi manusia pembangunan yang ber Pancasila. kecuali jam pelajaran yang ditentukan lain. A. Oleh karena itu sudah seharusnya merupakan warga negara yang baik. Maka sehubungan dengan hal tersebut di atas disusunlah pedoman tata tertib siswa SMK Negeri 5 Semarang sebagai berikut : I.119 PEMERINTAH KOTA SEMARANG DINAS PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 5 SEMARANG Jalan Dr. Setiap siswa memasuki ruangan dengan teratur dan tertib. WAKTU PELAJARAN BERLANGSUNG A. Bahwa kehidupan siswa adalah masa yang paling baik dalam pembentukan fisik.2. Apabila bobot sangsi telah melampui jumlah tertentu maka pengambilan tindakan sesuai dengan ketetapan terhadap pelanggaran tata tertib ini. Setiap siswa wajib datang 10 menit di sekolah sebelum pelajaran dimulai pada jam 07. Untuk menciptakan kedisiplinan siswa dan menekan angka pelanggaran terhadap tata tertib siswa. KEGIATAN INTRA SEKOLAH A. . tetapi merupakan bagian dari kehidupan siswa dan merupakan kebutuhan dari siswa itu sendiri.

Siswa yang datang terlambat.1. WAKTU TIDAK ADA PELAJARAN B. Sebelum tiap pelajaran dimulai.3. Pada waktu pelajaran pertama akan dimulai dan pelajaran terakhir akan selesai.2. .3. A. Pada jam bebas. B. Dianjurkan untuk memanfaatkan perpustakaan. Setiap siswa wajib menjaga agar pelaksanaan upacara bendera berlangsung tertib.120 A. wajib lapor guru piket. Setiap siswa dianjurkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh sekolah. B. semua siswa harus sudah siap mengikuti pelajaran selanjutnya. sopan dan patuh kepada guru. khidmat dan lancar.6. KEGIATAN ESKTRA KURIKULER A. B.4. semua siswa melakukan acara berdoa yang dipimpin ketua kelas. Setiap siswa wajib menjadi anggota OSIS A.1. II. Pada jam istirahat. siswa dianjurkan berada diluar kelas dan tidak diperbolehkan keluar dari halaman sekolah. A. B. Pada saat upacara bendera setiap siswa wajib memakai seragam OSIS lengkap kecuali ditentukan lain. B. Setiap siswa wajib mengikuti pelajaran dengan baik.5.2. Upacara Bendera B. siswa tidak boleh meninggalkan halaman sekolah.3. Kegiatan Ekstra Kurikuler A. A. Setiap siswa wajib mengikuti upacara bendera di sekolah B.2.1. Apabila guru yang bersangkutan berhalangan hadir maka ketua kelas melaporkan kepada guru piket dan ketua kelas bertanggungjawab pada ketenangan serta ketertiban kelas.

1.121 C. Setiap siswa harus berpakaian seragam olah raga yang telah ditentukan dan bersepatu.2. Piket kelas bertanggungjawab atas alat-alat olah raga yang digunakan.1. Setiap siswa wajib menjaga kebersihan lingkungan sekolah D.3.3.1. Ketertiban dan Kebersihan D. Setiap siswa wajib menghormati dan menjunjung tinggi jiwa olah raga A. A. D. Setiap siswa wajib menjaga keindahan lingkungan sekolah D.2. Setiap siswa wajib menjaga keutuhan barang-barang milik sekolah III.3. Apabila tidak memakai seragam maka tidak boleh mengikuti pelajaran tersebut pada saat itu. TATA TERTIB KHUSUS A.5. Bimbingan dan Konseling C. Setiap siswa wajib mentaati peraturan permainan dan petunjuk guru . C.2. OLAH RAGA A. Dilarang menggunakan alat-alat olah raga tanpa izin guru olah raga A. Setiap permasalahan yang dialami oleh siswa akan dipegang teguh kerahasiaannya. A. Setiap siswa wajib memberikan keterangan-keterangan yang dipelrukan dengan sebenar-benarnya.4. Setiap siswa yang mempunyai maslaah-masalah pada dirinya dianjurkan untuk berkonsultasi dengan guru pembimbing (bimbingan dan konseling ) C.

C.122 B. KEAMANAN DI SEKOLAH D.3. Siswa yang sakit b. B.2.1. minuman keras.2. Untuk keperluan resmi / dispensasi C. Siswa yang membawa kendaraan atau sepeda motor wajib mematikan mesin saat memasuki pintu gerbang/pintu parkir di tempat yang telah disediakan serta dikunci. MENINGGALKAN SEKOLAH / TIDAK MASUK SEKOLAH C. Bila akan meninggalkan sekolah waktu pelajaran belum selesai. Apabila terjadi kerusakan/kehilangan sepda motor.2. Setiap siswa wajib menjaga nama baik sekolah. Setiap siswa wajib menjaga keselamatan hak milik sendiri. Ada suatu keperluan yang tak dapat ditinggalkan yang dibuktikan dengan surat keterangan orang tua/wali c. Setiap siswa wajib memiliki alat-alat pelajaran dengan lengkap D. serta uang dalam jumlah banyak. diberi izin untuk berobat ke UKS.3.4. C.3. D. C. Setiap siswa pulang sekolah setelah jam pelajaran usai. helm. baik di lingkungan sekolah maupun diluar sekolah. wajib minta izin kepada guru pengajar dan guru piket. . maka resiko ditanggung siswa sendiri. Setiap siswa tidak boleh membawa barang-barang terlarang disekolah antara lain : Senjata tajam. B.1. Setiap siswa tidak diperkenankan membawa atau merokok di lingkungan sekolah. D. ganja. Yang diizinkan adalah : a. serta makan/minum di dalam kelas.1. Siswa yang sakit pada saat mengikuti pelajaran. Siswa yang berhalangan hadir harus minta izin dengan surat keterangan / surat pemberitahuan. narkotik dan sejenisnya. buku/majalah dan alat-alat yang asusila. LAIN-LAIN B. ke puskesmas atau istirahat di rumah.

5 cm di atas kerah baju. Pada saat pelajaran Olah Raga siswa wajib mengenakan pakaian olah raga dengan baik. baju dimasukkan. Setiap siswa putrid tidak diperbolehkan memakai perhiasan dan berdandan yang berlebihan.3.1.4.1. F. Setiap siswa tidak diperbolehkan melakukan kegiatan-kegiatan yang mengganggu ketenangan dan ketertiban sekolah. TERTIB ADMINISTRASI F. PAKAIAN DAN CARA BERDANDAN E.2. kalung. E. Wajib memakai kaos kaki yang panjang minimal di atas mata kaki dan memakai ikat pinggang. Badge Lokasi Sekolah.4. Setiap siswa wajib mengatur rambut. Wajib bersepatu hitam tidak boleh memakai sepatu sandal dan sejenisnya.2.Setiap siswa yang tidak naik tingkat dua kali berturut-turut dikeluarkan dari sekolah. .3. anting dan perhiasan. Buku rapor harus ditandatangani orang tua/wali masing dan segera dikembalikan kepada wali kelas. E. E. Setiap siswa wajib berpakaian seragam sesuai ketentuan sekolah lengkap dengan badge dan atribut yang terdiri dari : Bagde OSIS. Setiap siswa tidak diperbolehkan menikah selama menjadi siswa. siswa putra tidak boleh berambut panjang. Untuk siswa putra tidak diperbolehkan memakai gelang.123 E. kuku dan pakaian dengan rapi dan bersih. F. E. F. sekurang-kurangnya 1.5. F. menjunjung tinggi sportivitas dan menaati peraturan yang berlaku.6.5. F. E. Pada saat praktek mengenakan pakaian praktek yang telah ditentukan. Setiap siswa wajib membayar Uang BP3 dan Iuran lain yang ditentukan sekolah selambat-lambatnya tanggal 10 setiap bulannya.

Saidi NIP. menghayati serta melaksanakan Pedoman Tata Tertib ini. Setiap siswa diwajibkan memiliki. Ditetapkan di : SEMARANG Tanggal : 18 Juli 2005 Kepala Sekolah.124 G. Drs. H. memahami.130935750 . Segala sesuatu yang belum tercantum dalam tata tertib ini akan ditentukan kemudian B. P E N U T U P A.M. mengingat.

125 Pola Umum Bimbingan dan Konseling SMK Negeri 5 Semarang BK Bimbingan Pribadi Bimbingan Sosial Bimbingan Belajar Bimbingan Karier Layanan Orientasi Layanan Penempatan/ Penyaluran Layanan Konseling/ Individual Layanan Konseling Keluarga Layanan Informasi Layanan Pembelajaran Layanan Bimbingan Kelompok Instrumentasi BP/BK Konferensi kasus Alih Tugas Kasus Himpunan Data Kunjungan Rumah .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->