P. 1
Merakit Sistem Pengendali

Merakit Sistem Pengendali

|Views: 8,540|Likes:
Published by Arif Rustianto
Teknik
Teknik

More info:

Published by: Arif Rustianto on Feb 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/03/2013

pdf

text

original

Sections

MODUL

:

SISTEM PENGENDALI ELEKTRONIKA

KLS. XII EI

DISUSUN OLEH :

ARIF RUSTIANTO, S.Pd.T NIP. 19760925 200801 1 006

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA KABUPATEN GUNUNGKIDUL SMKN 3 WONOSARI TAHUN 2010
Tgl. Diperiksa Paraf

SMK TEKNOLOGI
Untuk Kalangan sendiri
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

BAB. I PENDAHULUAN
A. Deskripsi
Diktat Sistem Pengendali Elektronik ini berisikan system pengendali yang menggunakan peralatan elektronik, kemudian dimanfaatkan pada mesin produksi sehingga cara mengoperasikan mesin produksi akan lebih aman dan praktis. Setelah menguasai modul ini peserta DikLat memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap bagaimana cara mengendalikan mesin produksi dengan menggunakan kendali elektronik.

B. Petunjuk Penggunaan Modul
1. Petunjuk bagi Peserta DikLat Sebelum mempelajari materi pada bahan ajar ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: a. Memahami tujuan pembelajaran system dengan kompetensi yang harus dicapai. b. Membaca tahap demi tahap seluruh materi yang disajikan. c. Materi bahan modul ini bersifat konsep dasar system pengendali elektronik, yang pelaksanaan prakteknya dapat dilakukan diruangan praktek sedangkan untuk pengembangannya dapat dilakukan di industri. d. Untuk meyakinkan pemahaman materi bahan ajar ini, peserta DikLat harus menyelesaikan semua tugas pada lembaran tugas di akhir modul ini dan diserahkan pada guru pembimbing secara individu/ perseorangan. e. Jika nilai hasil belajar kurang dari 80% Anda belum berhasil dan harus mengulang lagi seluruh materi pada kegiatan belajar tersebut. f. Jika melaksanakan kegiatan praktek ikutilah prosedur petunjuk yang ditentukan pada lembar kerja dan bertanyalah pada guru pembimbing setiap ada kesulitan. 2. Petunjuk bagi Guru Pembimbing Guru pembimbing berperan sebagai motivator, evaluator, serta administator sebagai berikut: a. Membantu siswa/peserta DikLat dalam melaksanakan proses belajar.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

b. Membimbing siswa/peserta DikLat melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar. c. Membantu siswa/peserta DikLat dalam memahami konsep-konsep teori maupun praktek melalui dialog/tanya jawab. d. Membantu siswa/peserta DikLat untuk menambah wawasan melalui pengalaman membaca buku-buku referensi atau melalui nara sumber dari luar sekolah misal dari DUDI. e. Merencanakan perangkatnya. f. Menjelaskan tentang kompetensi yang harus dikuasai serta merencanakan pembelajaran selanjutnya. g. Mencatat pencapaian kemajuan siswa. dan melaksanakan penilaian serta menyiapkan

C. Tujuan Akhir
Pada akhir pembahasan/pembelajaran peserta didik diharapkan dapat: 1. Menggambar rangkaian mesin produksi dengan kendali elektronik. 2. Menjelaskan cara kerja rangkaian mesin prodiksi dengan kendali elektronik. 3. Mengidentifikasikan komponen pada rangkaian mesin produksi dengan kendali elektronik. 4. Membuat rangkaian kendali mesin produksi dengan kendali elektronik 5. Mengoperasikan mesin produksi dengan kendali elektronik. 6. Membuat laporan mengoperasikan mesin produksi dengan kendali elektronik.

D. Cek Kemampuan
Pelajari dan coba jawab pertanyaan–pertanyaan dibawah ini secara lengkap! Jika merasa telah menguasai dan mampu, Anda bisa langsung mengajukan uji kompetensi assessor internal atau eksternal melalui guru pembimbing. 1. Tuliskan 2 fungsi transistor? 2. Gambarkan symbol transistor jenis PNP dan NPN? 3. Apakah yang dimaksud transistor dalam keadaan saturasi? 4. Jelaskan bagaimana cara menentukan kaki basis pada transistor? 5. Gambarkan symbol dari sebuah SCR? 6. Jelaskan bagaimana cara menentukan kaki gate pada SCR?
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

7. Tuliskan 3 macam type SCR yang Anda ketahui? 8. Singkatan dari apakah UJT? 9. Gambarkan symbol TRIAC lengkap dengan notasi dari ketiga 10. Apakah fungsi dari DIAC? kakinya?

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

BAB. II PEMELAJARAN
A. Rencana Belajar Peserta DikLat

Jenis Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat Belajar

Alasan Perubahan

Tanda Tangan

B. Kegiatan Belajar Peserta Diklat
KEGIATAN BELAJAR 1. Transistor
a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran 1, peserta DikLat akan dapat: 1. Menjelaskan susunan bahan dan symbol transistor. 2. Mejelaskan cara kerja transistor sebagai switch. 3. Mengidentifikasi komponen-komponen pada pengendali beban

menggunakan transistor. 4. Memahami dasar kerja latching. b. Uraian materi 1. Susunan Bahan dan Symbol Transistor Kata transistor berasal dari dua kata transfer dan resistor ini

menandakan bahwa transistor ialah alat yang dapat memindahkan daya
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

dari suatu rangkaian ke rangkaian lain. Pada saat berfungsi sebagai resistor non linear, transistor yang paling digunakan adalah junction transistor, yang akan dibahas dalam job ini. Gambar di bawah ini merupakan susunan bahan dari transistor.

P

N

P

N

P

N

Kolektor Emitter

Base Emitter

Base Kolektor Gambar 1b. Transistor NPN

Gambar 1a. Transistor PNP

Transistor junction sama sederhananya dengan dioda junction. Seperti terlihat pada gambar 1a & 1b, transistor junction terbentuk dari dua cara menempatkan lempeng bahan type-N. Diantara bahan type-P atau lempeng bahan type-P atau diantara bahan lempeng type-N. Setelah itu dua kali terpasang pada dua sisi dan satu kaki di sisi lainnya. Untuk membuat hubungan dengan rangkaian luar. Jika emitter dan kolektor terbuat dari bahan type-N, maka disebut transistor NPN. Jika emitter dan kolektor terbuat dari bahan tipe-P maka disebut transistor PNP. Keduanya digunakan pada system pengontrolan.

Kolektor Base Emitter Base

Kolektor

Emitter

Gambar1c. Simbol Transistor PNP

Gambar 1d. Simbol Transistor NPN

Transistor bekerja berdasarkan arus basis yang masuk pada junction jika basis diberi arus positif atau negatif sesuai dengan jenisnya, maka emitter dan kolektor akan konduk dan dapat memberikan arus pada beban.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

2. Transistor sebagai Switch a. Kondisi CUT-OFF Transistor Gambar2a. dibawah ini memperlihatkan transistor yang dirangkai sedemikian rupa (rangkaian Common-Emitter), dimana tahanan beban RL dianggap terhubung seri dengan lainnya. Tegangan total yang terdapat pada ujung-ujung rangkaian seri ini sama dengan tegangan catunya (UCC) dan diberi notasi UR dan UCE.

RL

IC.RL=0

RL

RL

IC.RL=Ucc

RL

Uce=Ucc

IB

Uce=0

Gambar 2a. Rangkaian Commen – Emitter

Menurut hukum Kirchoff: UCC = UCE + UR Arus kolektor IC mengalir melalui RL dan drop tegangannya adalah IC.RL sehingga UCC = UCE + IC . RL Misalkan basis memperoleh bias negatif (reverse) yang Sedemikian besar sehingga memutuskan (cut-off) arus kolektor, dan untuk keadaan ini arus kolektor sama dengan nol. IC . RL = 0 sehingga UCC = UCE

Bila transistor kita anggap sebagai switch, maka pada keadaan ini switch tersebut akan ada dalam keadaan terbuka (OFF).

b. Kondisi Saturasi Transistor Bila sekarang basis diberi bias arus maju (forward) sampai pada titik dimana seluruh tegangan UCC muncul sebagai drop tegangan pada RL, maka pada keadaan ini dapat ditulis: IC . RL = UCC

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

Dari persamaan: UCC = IC . RL + UCE UCE = UCC – IC . RL Karena IC . RL = UCC maka dan UCC – IC . RL = 0 UCE = 0

Dengan demikian bila IC diperbesar pada suatu titik dimana seluruh tegangan UCC muncul pada RL, maka tidak tersisa tegangan pada kolektor. Keadaan seperti ini dikatakan kondisi saturasi (jenuh) dari transistor tersebut. Dan jika transistor dianggap sebagai sakelar (switch), maka pada kondisi ini switch tersebut dalam keadaan tertutup (ON).

c. Dasar Latching Dua buah transistor dari tipe PNP dan NPN dikatakan komplement jika mempunyai karakteristik yang serupa. Gambar 2c & 2d. memperlihatkan cara menghubungkan transistor yang komplementer tadi sedemikian rupa sehingga membentuk rangkaian Cascade.

+ Ucc

TR1 TR2

RL

TR1 Picu TR2

Gambar 2 c.

Gambar 2d.

Rangkaian ini bila diberi catu daya sedemikian rupa seperti yang terlihat pada gambar 2c & 2d, dan dimana basis dalam keadaan terbuka serta dengan suatu kancing (latch). Dalam keadaan demikian ini transistor tidak bekerja (cut-off), atau sama saja dengan switch dalam keadaan terbuka.
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

Dengan mengabaikan arus bocor, maka dapat dikatakan I C = 0. Salah satu cara guna menutup latch ini adalah dengan system penyulutan (triggering) pada elektroda basis dari salah satu transistor tersebut. Misal trigger positif diberikan pada basis dari Q2 ini berarti emitter basis Q2 memperoleh forward bias dan Q2 mulai menghantar. Karena kolektor Q2 dihubungkan langsung dengan basis Q1 maka Q1 memperoleh input dan selanjutnya akan memberikan penguatan sehingga timbul IC pada Q1 dan arus ini merupakan input bagi Q2 dan akan diperkuat lagi oleh Q2 tersebut. Proses penguatan ini berlangsung terus sehingga transistor-transistor tersebut mencapai keadaan saturasi, dan dalam keadaan saturasi ini transistor akan merupakan rangkaian hubung singkat sehingga tegangan pada latch akan sama dengan nol dan arus yang mengalir adalah: IC = UCC RL Guna menutup latch tersebut dapat juga dilakukan dengan memberi trigger negatif pada basis Q1 yang mana akan menyebabkan forward bias pada Q1. Cara lain adalah dengan memberi tegangan UCC sedemikian besar sehingga melampaui tegangan break-down dari dioda kolektor salah satu dari transistor tersebut. Dengan terjadinya break-down ini, maka timbul kolektor yang akan diterima basis transistor berikutnya dan diperkuat dan cara ini disebut sebagai “Break Over System”. Guna membuka latch tersebut ada beberapa cara, yaitu:  Mengurangi tegangan catu UCC sehingga arus beban berkurang.  Memperbesar nilai RL atau sama sekali mencabutnya. c. Rangkuman Transistor selain digunakan sebagai penguat juga dapat digunakan sebagai switch yang disebut Switch Statis. Switch statis berbeda dengan switch/sakelar manual atau sakelar

elektromagnetik dimana pada sakelar manual atau saklar elektromagnetik hanya mengenal dua keadaan yaitu ON dan OFF.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

Pada transistor selain beban dapat dijalankan dan dimatikan juga dayanya dapat diatur dengan mengatur arus yang masuk ke basis dari transistor tersebut. Pengaturan arus basis tersebut dapat dilakukan dengan

menggunakan potensiometer atau tahanan sebagai Drop Devider.

d. Tugas 1. Buat gambar rangkaian pengontrolan pintu garasi menggunakan trasistor dengan sensor cahaya! 2. Bawalah lima buah trasistor lengkap dengan jenis dan spesifikasinya!

e. Tes Formatif 1. Jelaskan bagaimana cara memberi penyulutan pada trasistor jenis PNP? 2. Apakah yang akan terjadi jika kaki basis transisor jenis NPN diberi polaritas negatif? 3. Gambar dan jelaskan dua buah trasistor yang digunakan sebagai latching? 4. Apakah yang membedakan antara transistor jenis PNP dengan transistor jenis NPN? 5. Apakah keuntungan pengontrolan beban menggunakan transistor

dibandingkan sakelar mekanik?

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

f. Lembar Kerja 1. Pengaturan Putaran Motor Menggunakan Transistor a. Alat dan Bahan 1) Power Supplay 12V/ 3A……………………………………. 1 buah 2) Transistor C 1060……………………………………………. 1 buah 3) Potensiometer 100KΩ/1W…………………………………. 1 buah 4) Tahanan 10KΩ/5W…………………………………………….1 buah 5) Motor DC 12V………………………………………………….1 buah 6) Kabel Penghubung…………………………………………secukupnya

b. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan kompenen lain dengan baik! 2) Periksalah peralatan dan kompenen sebelum digunakan. 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan pada saat membuat dan membongkar rangkaian pengawatan. 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja!

c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 1a. 3) Yakinkan sakelar (S) pada posisi OFF dan potensiometer pada tahanan maximum!
Motor DC

10K
+

12V

S 100K

TR

Gambar 1a. Pengaturan Putaran Motor menggunakan Transistor 4) Gerakkan sakelar (S) pada posisi ON! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan yang jatuh pada: a) Motor b) Emiter – Kolektor c) Emitter – Basis
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

5) Atur potensiometer pada tahanan ½ maximum! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Motor b) Emitter – Kolektor c) Emitter – Basis 6) Atur potensiometer pada tahanan minimum! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Motor b) Emitter – Kolektor c) Emitter – Basis 7) Dengan mengatur tahanan potensiometer. Apakah putaran motor dapat diatur? Jelaskan! 8) Dari hasil pengukurani langkah 2.4. s/d 2.6. Masukan pada tabel 1a. 9) Matikan sakelar (S). Lepaskan semua rangkaian! Kembalikan semua peralatan pada tempat semula! Tabel 1a. Tegangan pada Potensiometer Motor Maximum E-B E-K Keadaan Motor

½ Maximum

Minimum

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

2. Membalik Arah Putaran Motor DC Menggunakan Transistor a. Alat dan Bahan 1) Transformator CT, 220V/12V, 3A………………………. 1 Buah

2) Dioda IN4002………………………………………………….4 Buah 3) Transistor A 971 ……………………………………………….2 Buah 4) Tahanan 1KΩ…………………………………………........... Buah 5) Tahanan 1.5KΩ………………………………………………. Buah 6) Kapasitor 470μF……………………………………………….2 Buah 7) Motor DC 12V………………………………………………….1 Buah 2 1

b. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan pada saat membuat rangkaian pengawatan! 4) Ikuti langkah kerja!

c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 1b. 3) Yakinkan sakelar SPDT pada posisi OFF! 4) Masukan sumber AC.! Apakah yang terjadi pada motor? 5) Gerakkan sakelar SPDT pada posisi 1! Amati arah putaran motor? Ukur tergangan pada: a) Emitter – Kolektor Transistor 1 b) Emitter – Kleoktor Transistor 2 c) Motor

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

MCB

D1 D2
470uF/ 50V

1K

+

220V AC

220V

1 2V 1 2V

CT D3 D4
470uF/ 50V

1 OFF 2

1.5 K

TR1

+

1.5 K

TR2 Motor DC

Gambar 1b. Membalik Putaran Motor DC Menggunakan Transistor 6) Gerakkan sakelar SPDT pada posisi OFF, sampai motor berhenti berputar! 7) Gerakan sakelar SPDT pada posisi 2! Amati arah putaran motor! Ukur tegangan pada: a) Emiter – Kolektor Transistor 1 b) Emiter – Kolektor Transistor 2 c) Motor 8) Gerakkan sakelar SPST pada posisi OFF, dan lepaskan sumber AC! 9) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb! 10) Dari data hasil pengukuran masukan pada table 1b. 11) Lepaskan semua rangkaian! Kembalikan alat pada tempat semula! Tabel 1b. Tegangan pada Emitter Sakelar SPDT TR1 OFF POSISI 1 POSISI 2 Kolektor TR2 Tegangan pada Motor Arah putaran Motor

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

3. Pengontrolan Start pada dua buah Motor secara Berurutan a. Alat dan Bahan 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Transformator 220V/12V, 3A ............................. 1 Buah

Dioda IN4002…………………………………………………4 Buah Kapasitor 470μF/50V……………………………………… 1 Buah Kapasitor 500 μF/50V……………………………………. 1 Buah Transistor 2N404……………………………………………1 Buah Relay 12VDC………………………………………………….2 Buah Potensiometer 1M/1W……………………………………. 1 Buah Potensiometer 100 KΩ……………………………………. 1 Buah Tahanan 27 KΩ………………………………………………1 Buah

10) Tahanan 150 Ω………………………………………………1 Buah 11) Tahanan 47 Ω…………………………………………………1 Buah 12) Switch SPDT…………………………………………………..1 Buah 13) Motor Universal 220V/75W……………………………… 1 Buah 14) Motor Shaded Pole 220V/25W………………………… 1 Buah

15) Kabel Penghubung………………………………………secukupnya

b. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan pada saat membuat rangkaian pengawatan! 4) Ikuti langkah kerja!

c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 1c. 3) Yakinkan sakelar (S) pada posisi OFF, potensiometer 1 pada tahanan minimum dan potensiometer 2 pada tahanan ¼ maximum, siapkan sebuah AVO meter pada range 50VDC dimana jack positif dari AVO meter terhubung pada kaki kolektor dan jack negatif AVO meter pada negatif sumber tegangan (tegangan pada CR2).

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

1A

S
CR1 CR2 Trafo 12VAC 47 Bridge Diode P2 100K 500uF/50V P1 1M
+

150

220V AC

L1

L2
Motor Shaded Pole

Motor Universal

470uF/ 50V

+

TR

CR1

CR2

27K

Gambar 1c. Pengontrolan Start Pada Dua Buah Motor Secara Berurutan 4) Gerakkan sakelar (S) pada posisi ON! Pada saat sakelar (S) ON, lakukan pengamatan pada gerakan jarum meter, dan dengan menggunakan stop watch catat selisih waktu start dari motor shaded pole dengan motor universal! 5) Matikan sakelar (S)! Atur potensiometer 1 pada tahanan minimum dan potensiometer 2 pada tahanan maximum! Ulangi langkah 3.3 s/d 3.4. 6) Matikan sakelar (S)! Atur potensiometer 1 pada tahanan maximum dan potensiometer 2 pada tahanan minimum! Ulangi langkah 33 s/d 3.4 7) Matikan sakelar (S), dan lepaskan sumber tegangan gantilah kondensator 500µF/50V (C2), dengan kapasitor 1100µF/50V! 8) Ulangi langkah 3.3 s/d 3.6. Masukan data hasil pengukuran table 1e. 9) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb. Tabel 1c. Potensiometer (1) Maximum Minimum Maximum Minimum Minimum Minimum Potensiometer (2)
14 Maximum

pada

Kapasitor 500F 500F 500F 1100F 1100F 1100F

Penundaan Waktu

Maximum Minimum Mzximum
14 Maximum

Minimum

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

4. Pengontrolan Level Air Secara Otomatis a. Alat dan Bahan 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Tranformator 220V/12V,3A…………………………….. 1 Buah

Motor induksi 3 Fasa, 2HP, 220V……………………… 1 Buah Tangki air………………………………………………………1 Buah Sekering, 10A…………………………………………………3 Buah MCB 1 Fasa, 3A……………………………………………..1 Buah Kontaktormagnit 220V, 10A…………………………… 1 Buah

Relay 12V, 2NO, 2NC………………………………………2 Buah Transistor 2N1008………………………………………… 1 Buah Sakelar Pelampung………………………………………...1 Buah 1 Buah

10) Elektroda/ Level Kontrol ………………………………

11) Lampu Indikator ……………………………………….. … 3 Buah 12) Over Load, 2A ………………………………………… ….1 Buah 13) Dioda IN5402………………………………………………..1 Buah 14) Dioda IN4003 …………………………………………….. 4 Buah 15) Tahanan 220Ω/1W ………………………………………. 1 Buah 16) Potensiometer, 200Ω/1W …………………………….. 17) Sakelar SPST ………………………………………… 1 Buah 1 Buah

b. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan, pada saat membuat rangkaian pengawatan. 4) Lakukan percobaan sesuai langkah kerja!

c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 1d. 3) Yakinkan sakelar SPST pada posisi OFF, tangki air dalam keadaan kosong,potensiometer pada posisi ½ maximum dan jarak kedua elektroda 10 Cm! 4) Gerakkan sakelar SPST pada posisi ON! Apakah yang terjadi pada motor pompa air (motor 3 fasa)? Ukur tegangan pada
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

a) Transistor b) Relay 1 c) Relay 2 d) Kontaktormagnit 5) Masukan air ke dalam tangki sampai permukaan air menyentuh sakelar pelampung (batas minimum), sehingga kontaknya terdorong ke atas. Apakah yang terjadi pada motor pompa? Ukur tegangan pada: a) Transistor b) Relay 1 c) Relay 2 d) Kontaktormagnit 6) Masukan kembali air ke dalam tangki sampai permukaan air menyentuh elektroda (batas maximum). Apakah yang terjadi pada motor pompa? Ukur tegangan pada: a) Transistor b) Relay 1 c) Relay 2 d) Kontaktormagnit
MCB

S
12V
Bridge Diode

Relay 1 CR1

D1

220V AC

Hi jau

220V/ 2W

+

-

2N1008

TR

200

NC CR1 R NO CR2 S T

NO

CR2
Batas Maximum

Level Control

Relay 2 CR2

Merah

220V/ 2W

K

Batas Mini mum

Tangki Air

OL

95 96

97 98 Kuning

220V/ 2W

Motor 3 Fasa

Gambar 1d. Pengontrolan Level Air Secara Otomatis.
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

7) Kosongkan air sampai permukaan air tidak menyentuh elektroda! Apakah yang terjadi pada motor pompa? Ukur tegangan pada: a) Transistor b) Relay 1 c) Relay 2 d) Kontaktor 8) Kosongkan air sampai permukaan air tidak menyentuh sakelar pelampung! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Transistor b) Relay 1 c) Relay 2 d) Kontaktormagnit 9) Data hasil pengukura dari langkah 3.4 s/d 3.7 masukan pada table 1d. 10) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb. Tabel 1d. KeadaanTangki Air Tegangan pada Relay 1 Kosong Batas Minimum Batas Maximum Batas Minimum Tegangan pada Relay 2 Tegangan pada Emiter-Kolektor Keadaan Motor 3Fasa

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

KEGIATAN BELAJAR 2. Silicon Controlled Rectifier (SCR) dan Uni Junction Transistor (UJT)
a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran Setelah mempelajari kegiatan belajar 2, peserte DikLat akan dapat: 1. Menjelaskan susunan fisis dan prinsip kerja SCR. 2. Mejelaskan cara kerja SCR sebagai switch. 3. Mengidentifikasi komponen-komponen pada pengendali beban menggunakan SCR. 4. Memahami cara memberi peyulutan pada SCR. 5. Menjelaskan cara kerja rangkaian pengedali menggunakan SCR 6. Memahami dasar kerja dan fungsi UJT. 7. UJT sebagai relaxation oscillator.

b. Uraian Materi 1. Susunan Fisis dan Prinsip Kerja SCR Pengembangan elektronika akhir-akhir ini maju dengan sangat pesat setelah ditemukan beberapa jenis rumpun Solid State diantaranya Transistor. Dioda, UJT, dll. Beberapa laboratorium elektronika berusah menemukan suatu jenis Solid State yang dapat dipergunakan untuk mengendalikan daya listrik sebagai pengganti tabung air raksa yang biasa dikenal dengan nama

THYRATRON. Ternyata keinginan ini telah dicapai dengan ditemukannya apa yang disebut ”THYRISTOR” Nama telah diambil dari gabungan Thyaratron dan Transistor. Pada tahun 1957 Thyristor telah direproduksi dan telah dipasarkan pula. Thyristor dibuat dari susunan bahan silicon dan sifat-sifatnya yang hampir mirip dengan silicon rectifier juga dengan dioda 4 lapis. Keistimewaan dari Thyristor dibanding dengan silicon rectifier, adanya tambahan elektroda yang disebut Gate. Gate ini merupakan tempat dimana Thyristor dikendalikan (controlled) karena itu Thyristor juga disebut “Silicon Controlled Rectifier” disingkat menjadi SCR. Pada saat sekarang ini penggunaan SCR sangat luas karena SCR dapat mengendalikan arus listrik yang cukup besar dan dapat pula dipergunakan langsung untuk jaringan arus tukar (AC). Penggunaan yang nyata pada saat sekarang ini
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

adalah untuk switching daya listrik yang besar yang dapat mengendalikan pengaturan beban putaran motor listrik, pengaturan alat pemanas listrik, pengatur lampu penerangan, relay dan alat-alat alarm yang sangat peka. Bahkan dalam industri-industri sekarang ini SCR digunakan sebagai sarana pelengkap automat yang menggantikan alat-alat yang sangat peka.
A A

G G K K

Gambar 1.1a. Susunan Fisis SCR

Gambar 1.1b. Symbol SCR

a. Sifat-Sifat SCR 1) Dalam keadaan gate tidak diberikan picu (trigger), SCR tidak menghantrakan arus, istilahnya dalam keadaan demikian ini “OFF” atau “Blocked”. Hal ini dapat dipersamakan (antara anoda dan katoda) dengan switch dalam keadaan terbuka. 2) Apabila tegangan picu (meskipun hanya sesaat) diberikan pada gate, maka SCR akan menghantar atau “ON”. Jadi, SCR akan bekerja sebagai silicon dioda biasa yang dapat menghantar arus pada jurusan dari anoda ke katoda, akan tetapi ”blocked” pada jurusan yang sebaliknya. 3) Sewaktu SCR telah “ON”, kemudian secara mendadak tegangan positif pada gate kita putuskan, maka SCR tetap ON. Jelasnya untuk membuat SCR dapat ON cukup dengan memberikan tegangan positif dalam waktu yang pendek karena da;am pemakain tegangan (DC), SCR akan bekerja terus-menerus seperti halnya silicon rectifier biasa bahkan kita dapat melakukan pengendalian SCR dengan memberikan pulse positif pada gatenya. 4) Hubungan antara gate dan katoda pada SCR bersifat seperti dioda silicon, sehingga antara gate dan katoda berimpedansi rendah pada rah forward (conduct). Pengendalian tegangan gate dibutuhkan antara 1-2 volt saja dengan arus gate beberapa puluh miliampere,
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

tegangan dan arus ini sudah cukup untuk membuat SCR yang berkemampuan menghantar arus sebesar beberapa puluh ampere (arus anoda-katoda). 5) Apabila SCR telag dalam keadaan ON, cara untuk meng-OFF kan kembali tak dapat dilakukan melalui gate, melainkan kita harus menurunkan besarnya arus anoda-katoda sampai batas dibawah nilai Ih “holding current” (nilai mendekati nol). Apabila sekarang SCR digunakan untuk keperluan arus tukar AC, kita tak mendapat kesulitan sebab setiap setengah periode positif akhir, tegangan arus AC akan menurun dan kemudian nol sahingga SCR secara otomtis OFF dengan sendirinya. Dalam pemakain SCR dapat dipergunakan oleh pemakai/beban. Rangkaian untuk keperluan tersebut dapat mempergunakan DC maupun AC.

b. Sistim picu gate Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, bahwa Thyristor merupakan kompenen break over, khususnya SCR dan triac adalah kompenen break over yang tinggi tegangan konduknya, tetapi dengan mengatur melalui sinyal picu yang diberikan pada gate, sehinggga dengan tegangan yang kecil komponen tsb dapat mengalirkan arus (konduk). Di dalam rangkaian kenverter AC, Thyristor merupakan komponen utama melalui pengontrolan lebar sudut konduk (conduction angle) atau sudut penundaan picu (firing delay angle). Rangkaian dasar SCR dan Triac beban dan sumber tegangan diperlihatkan pada gambar 1.3b. dan gambar 1.3c. memperlihatkan sudut konduk SCR 120o maka sudut picunya 60o dan bila sudut konduknya 45o, sudut picunya 135o. Selanjutnya gambar 1.2e. memperlihatkan sudut konduk dan sudut picu.
SCR Load

AC

Pemicu

Load

AC

Pemicu

Triac

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

Gambar 1.3a. Rangkain Dasar Pengontrol dengan SCR dan Triac
AK

UAK 60
o

135o

t

t

URL

URL

120o

45o

Gambar 1.3b. Sudut Konduk dan Sudut Penyalaan pada Rangkian SCR

UTriac = 150o

UTriac = 60o

= 30o =120o

Gambar 1.2c. Sudut Konduk dan Sudut Penyalaan pada Rangkaian Triac

Pengaturan sudut konduk/sudut picu dilakukan melalui pengaturan sinyal picu, pengatur ini dapat dilaksanakan dengan 2 sistem: a) Dengan mengatur besarnya arus picu (IG) yang diberikan pada gate. Makin besar IG makin rendah UBRF sehingga makin lebar sudut konduk atau maakin sempit sudut picunya. b) Dengan mengatur waktu (saat) diberikannya sudut picu. Dalam hal ini besarnya IG agar UBRF ~ 0 volt langsung dipenuhi, hanya waktu
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

pemberian picunya diatur, makin awal datangnya sinyal picu makin lebar sudut konduknya dan sebaliknya makin tertunda sinyal picu maikn sempit sudut konduknya. Di dalam praktek pada umumnya menggunakan cara ke-2 dan sinyal picunya menggunakan sinyal berbentuk pulsa atau tegangan tajam (spike voltage).

2. UNI JUNCTION TRANSISTOR (UJT) a. Symbol dan Konsrtuksi dari UJT UJT disimbolkan sebagai gambar 2.1a. dan konsrtuksinya diperlihatkan pada gambar 2.1b. dimana sebatang bahan semikonduktor silicon didop ringan dengan unsur dari golongan 5 sehingga menjadi tipe N. Ujung batang ini menjadi B1 dan B2 dengan nilai resistansi antara B1 dan B2 cukup besar kira-kira 10KΩ. Kira-kira ditengah-tengah batang B1 dan B2 diberikan dope agak berat dari unsur golongan 3 sehingga terbentuk tipe P yang berfungsi sebagai emitter (E). Rangkian ekuivalen dari UJT yang sederhana dapat dilihat pada gambar 2.1c. Antara emitter ke persambungan (junction) basis tampak sebagai sebuah PN dioda. Tahanan antara basis RBB dari batang silicon tipe N, merupakan dua buah resistor RB1 dan RB2. Jika ada arus yang mengalir dari emitter ke basis 1 dan UJT akan “ON” dimana RB1 nilainya kan turun secara tajam.
B2 B2 E E

P

N

B1 B1

Gambar 2.1a. Symbol dari UJT

Gambar 2.1b. Konstruksi dari UJT
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

Nilai tahanan RB1 akan berubah-ubah tergantung dari besarnya arus emitter yang mengalir.

B2 RB1 E + Up RB2 B1
Gambar 2.1c. Rangkaian Ekuivalen dari UJT

UBB

Sejak terjadi penghantaran, RB1 merupakan fungsi dari arus emitter, variasi tahahan RB1 disebabkan oleh perubahan arus emitter dan dalam hal ini disebut sebagai “Conductivity Modulation”. Jika tidak terdapat aliran arus emitter IE tegangan UAB1 dari titik A ke B1 dapat ditulis sebagai berikut: RB1 UAB1 = UBB x RB1 + RB2 RB1 = ไ UBB = UBB x

RBB Dimana : UBB adalah tegangan antara basis RB1 adalah tahanan basis 1 RBB adalah tahanan antara basis, dan ไ adalah instrinsic standar off ratio UJT = RB1 RBB Harga ไ terletak antara 0.51 sampai 0.81. Jika tegangan bias U E lebih rendah dari UBB, maka junction emitter ke basis adalah reverse bias dan pada keadaan ini arus emitter tidak mengalir kecuali arus bocornya saja. Jika pemberian tegangan UE lebih besar daripada ไ UBB, junction emitter ke basis 1 adalah forward bias dan arus emitter akan mengalir. Karakteristik konduktivitas emitter adalah sebagai berikut:

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

Jika IE naik, tegangan emitter ke basis 1 turun dan dapat dilihat pada gambar 2.1d.

UP

IP

VALLEY

UV IEO

POINT

Saturasi

IV EMITTER CURRENT

UEB1

Gambar 2.1d. Karakteristik Konduktivitas Emitter Pada daerah sebelah kiri dari UP, emitter ke basis adalah reverese bias dan pada saat ini tidak ada arus emitter dan daerahnya disebut daerah cut-off. Pada daerah sebelah kanan dari UP, emitter ke basis adalah forward bias dan IE mengalir. Daerah sebelah kanan dari UV disebut daerah saturasi. Tegangan puncak UP memenuhi persamaan: UP = ไ UBB + UD dimana UD = ± 0.70

Dari persamaan tersebut tampak bahwa UP tergantung pada tegangan antara basis UBB dan pada tegangan forward yang melewati dioda emitter ke basis. Stabilisasi UP dapat dicapai dengan cara memasang R2 seri pada base 2 seperti yang terlihat pada gambar 2.1e.
R2
+

Us R1

Gambar 2.1e. Stabilisasi UP dapat dicapai dengan cara memasang R2 seri pada Base 2
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

Dalam rangkaian ini R1, RBB dan R2 merupakan pembagi tegangan. Dalam hal ini agar UJT dapat “ON” maka tegangan UE harus menyamai UP dan IE juga harus lebih besar daripada IP-nya. b. UJT Sebagai Relaxation Oscilator Dalam gambar 2.2a. memperlihatkan UJT yang dihubungkan sebagai Relaxion Oscilator dimana rangkaian ini dapat membangkitkan bentuk gelombang tegangan UB1 yang dapat digunakan sebagai pemicu gate sebuah SCR.
S R2
+

R3 A

Us UB1 R1 UE

+

C1

B

UB1

Gambar 2.2a. Relaxation Oscilator UJT

Prinsip kerja rangkaian ini adalah: Jika sakelar (S) ditutup maka sumber akan melayani rangkaian tersebut. CE mulai diisi secara eksopnensial lewat RE sehingga mencapai tegangan U1. Tegangan yang mengisi CE adalah tegangan UE yang digunakan emitter UJT. Jika CE sudah diisi sehingga mencapai UP maka UJT akan “ON” tahanan RB1 akan turun dengan cepat. Pulsa tajam dari arus IE mengalir dari emitter ke basis 1 dan merupakan arus pengosongan dari CE. Jika tegangan CE jatuh mendekati 2 volt maka UJT akan “OFF” dan periode ini akan berulang. Bentuk gelombang pada gambar diatas merupakan tegangan gigi gergaji (saw-tooth) dan dibangkitkan pada pengisian CE dan pulsa output UB1 dibangkitkan lewat R1.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

UB1 adalah pulsa yang digunakan untuk memicu SCR. Frekuensi dari Oscilator ini tergantung pada konstanta waktu CE.RE dan pada karakteristik UJT-nya. Untuk R1 = 100Ω perioda dari oscillator T dapat diambil dengan rumus pendekatan: T= 1 1-ไ untuk ไ = ± 0.60 T = RE.CE Jadi, FRO.UJT = 1 RE.CE Gambar 2b.2. dibawah ini memperlihatkan contoh penggunaan Relaxion Oscilator dalam rangkaian pengontrol SCR. = RE.CE ln f 1

R1
LOAD

DC FULL WAVE

P1 Z1 C1
+

R2 B2 UJT B1 R3

SCR

Gambar 2b.2. Pengontrol SCR dengan UJT
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

c. Rangkuman SCR disebut juga dioda empat lapis, berpungsi sebagai pengontrol juga sebagai penyearah jika digunakan untuk mengontrol tegangan AC. SCR mempunyai tiga kaki atau tiga elektroda yang diberi notasi anoda, katoda dan gate. Kaki gate pada SCR berfungsi sebagai pengatur arus yang akan mengalir dari anoda ke katoda, dengan mengatur arus dapat mengatur daya pada beban juga dapat diatur dengan cara megatur sudut kerja dari SCR tsb. Penguturan sudut keja dari SCR dapat dilakukan dengan menggunakan tahanan, kapasior atau UJT.

d. Tugas 1. Berikan dua buah SCR lengkap dengan spesifisinya? 2. Buat gambar rgkaian pengaturan cahaya lampu menggunakan dengan penyulutan UJT? SCR

e. Tes Formatif 1. Apakah singkatan dari SCR? 2. Terbuat dari apakah bahan SCR itu? 3. Gambarkan symbol SCR lengkap dengan notasi kaki-kakinya? 4. Tuliskan dua fungsi dari SCR? 5. Jelaskan! Bagaimana kerja SCR jika digunakan untuk mengontrol tegangan DC? 6. Apakah yang dimaksud dengan holding current? 7. Jelaskan! Bagaimana cara memberikan penyulutan pada kaki-kaki SCR? 8. Jelaskan! Kenapa SCR jika digunakan untuk mengontrol tegangan DC, dengan sekali trigger SCR akan terus bekerja? 9. Gambarkan simbol dari UJT? 10. Jelaskan! Keuntungan penyulutan menggunakan UJT pada SCR?

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

f. Lembar Kerja 1. Mengoperasikan Motor Universal menggunakan SCR dengan tegangan AC a. Alat dan Bahan 1) SCR, TIC101 D…………………………………………………1 Buah 2) Tahanan 10 KΩ…………………………………………………1 Buah 3) Potensiomeer 1KΩ/ 5W………………………………………1 Buah 4) Sakelar SPST 250 V/ 3A…………………………………… 1 Buah 5) Motor universal 220V…………………………………………1 Buah 6) MCB, 2A…………………………………………………………1 Buah 7) Kabel penghubung…………………………………………secukupnya

b. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan, pada saat membuat rangkaian pengawatan. 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja.

c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat gambar ranngkaian seperti gambar 2a.
MCB 33K 5. 6K 33K A

1 2

S
SCR

220V AC

1K
B Motor Universal

Gambar 2a. Mengoperasikan Motor Universal menggunakn SCR dengan Tegangan AC

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

3) Yakinkan sakelar (S) pada posisi OFF dan tahanan potensiometer pada tahanan maximum (posisi” B”)! 4) Gerakkan sakelar (S) pada posisi 1, kemudian masukan sumber AC. Apakah yang terjadi pada motor! Amati putaran motor! Ukur tegangan pada: a) Anoda – Katoda ( VDC ) b) Motor ( VDC ) 5) Gerakkan sakelar (S) pada posisi OFF! Sampai motor berhenti berputar, kemudian gerakan sakelar (S) pada posisi 2!. Apakah yang terjadi pada motor, Amati putaran motor (bandingkan putaran motor tsb dengan putaran pada langkah 3.4) Jelaskan? Ukur tegangan pada: a) Anoda – Katoda (VAC) b) Motor (VAC). 6) Lepaskan sumber AC, juga pengawatan pada rangkaian! 7) Kembalikan alat-alat pada tempat semula! 8) Buat kesimpulan dari hasil percoban tsb.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

2. Mengoperasikan

Motor

Universal

menggunakan

SCR

dengan

Tegangan DC Gelomgang Penuh a. Alat dan Bahan 1) SCR, TIC101 D…………………………………………………1 Buah 2) Dioda, IN5404…………………………………………………4 Buah 3) Kapasitor 500V/250V…………………………………………1 Buah 4) Tahanan 10KΩ/5W……………………………………………1 Buah 5) Potensiometer 1KΩ/5W…………………………………… 1 Buah 6) Sakelar SPST, 250V/3A………………………………………1 Buah 7) Motor universal 220V…………………………………………1 Buah 8) MCB 2A…………………………………………………………1 Buah 9) Kabel penghubung…………………………………………secukupnya b. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan, pada saat membuat rangkaian pengawatan. 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja! c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 2b.
2A
Motor Universal

220V AC

-

+
500uF/ 250V
+

100K

S

5. 6K 33K 1K B

SCR

A

Gambar 2b. Mengoperasikan Motor Universal menggunakan SCR dengan tegangan DC Gelombang Penuh.

3) Yakinkan

sakelar

SPST

pada

posisi

OFF

dan

tahanan

potensiometer pada tahanan maximum (posisi “B”)!
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

4) Masukan sumber 220V AC, Gerakan sakelar SPST pada posisi ON! Apakah yang terjadi pada motor! Amati putaran motor dan ukur tegangan pada: a) Anoda – Katoda. ( VDC) b) Motor. ( VDC ) 5) Gerakan sakelar SPST pada posisi OFF! Apakah yang terjadi pada motor? Jelaskan! Ukur tegangan pada: a) Anoda – Katoda ( VDC ). b) Motor. ( VDC ). 6) Lepaskan sumber AC 220V dan pengawatannya! Kembalikan semula peralatan pada tempat semula . 7) Masukan data hasil percobaan pada table 2b. 8) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb!

Tabel 2b.

Posisi Sakelar SPST ON OF ON

Tegangan Pada Anoda-Katoda Motor

Keadaan Motor

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

3. Pengontrolan Permukaan Air Secara Otomatis a. Alat dan Bahan 1) Trafo step down 220V/12V, 1A …………………………. 1 Buah

2) Dioda IN4001…………………………………………………4 Buah 3) Transistor BC 547……………………………………………..1 Buah 4) SCR SS3288……………………………………………….…..1 Buah 5) Relay 12V DC…………………………………………………..1 Buah 6) Motor kapasitor 125W/220V`…………………………….. 1 Buah

7) Fuse 2A…………………………………………………….……1 Buah 8) Tahanan 1KΩ……………………………………………………1 Buah 9) Kapasitor 470µF/25V……………………………………………1 Buah 10) Plat sebagai elektroda…………………………….………Secukupnya 11) Kabel penghubung…………………………………………Secukupnya

b. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan, pada saat membuat rangkaian pengawatan. 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja.!

c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2) Buat rangkaian seperti gambar 3c.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

1K
Q2 BC547

Fuse 2A

S3

SCR

Relay 12 V

220V AC

S2

Water
S1
25V

Q1 BC547

Motor

470F 1 0uF/
+

D1-D4 IN4001

Trafo 220V /12V /1A

S

12V

220V

Gambar 3c. Pengontrolan Permukaan Air secara Otomatis 3) Yakinkan sakelar (S) pada posisi OFF dan tangki air dalam keadaan kosong.! 4) Masukan sumber AC 220V, Gerakan sakelar (S) pada posisi ON.! Apakah pada motor? Jelaskan! Dengan menggunakan AVO meter pada skala 50V DC. Ukur tegangan pada: a) Transistor 1. b) Transistor 2. c) SCR. d) Relay. 5) Masukan air ke dalam tangki sampai permukaan air menyentuh elektroda 1! Apakah motor berputar? Jelaskan! Ukur tegangan pada: a) Transistor 1. b) Transistor 2. c) SCR. d) Relay. 6) Masukan kembali air ke dalam tangki sampai permukaan air menyentuh elektroda 2! Jelaskan! Apakah motor berputar? Ukur tegangan pada: a) Transistor 1. b) Transistor 2. c) SCR. d) Relay.
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

7) Masukan kembali air ke dalam tangki sampai permukaan air menyentuh elektroda 3! Apakah yang terjadi pada motor? Jelaskan! Ukur tegangan pada: a) Transistor 1. b) Transistor 2. c) SCR. d) Relay. 8) Kosongkan air di dalam tangki sampai permukaan air tidak menyentuh elektroda 3! Apakah yang terjadi pada mtor? Jelaskan! 9) Lepaskan sumber AC dan pengawatan pada rangkaian, dan kembalikan alat-alat pada tempat semula! 10) Dari data hasil pengukuran masukan pada table 3h. 11) Buat kesimpulan dari percobaan tsb!

Tabel 3c.

Keadaan Air

Teganga n Pd TR 1

Teganga n Pd TR 2

Teganga n Pd SCR

Teganga n Pd Relay

Keadaa n Motor

Kosong Menyentuh elektroda 1 Menyentuh Elektroda 2 Menyentuh Elektroda 3

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

4. Pengaturan Putaran Motor AC menggunakan SCR a. Alat dan Bahan 1) SCR, GE – C30B………………………………………………..1 Buah 2) Dioda, 3A…………………………………………………………4 Buah 3) Kapasitor 0,1μF………………………………………………..1 Buah 4) Tahanan 100KΩ/5W………………………………………….1 Buah 5) Tahanan 33KΩ/5W…………………………………………….1 Buah 6) Tahanan 9.1K………………………………………………..1 Buah 7) Tahanan 2.7 K……………………………………………….1 Buah 8) Potensiometer 250 KΩ/5W……………………………….. 1 Buah 9) Sakelar SPST, 250V/………………………………………….1 Buah 10) Motor universal 220V……………………………………….. 1 Buah 11) Ampere meter 0 – 5A …………………………………….. 1 Buah 12) Fuse, 2A ………………………………………………………..1 Buah 13) Kabel penghubung…………………………………………Secukupnya

b. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan, pada saat membuat rangkaian pengawatan! 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja!

c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2) Buat gambar rangkaian percobaan seperti gambar 2d. 3) Yakinkan sakelar (s) pada posisi OFF dan tahanan potensiometer pada tahanan maximum (posisi “B”)!

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

Motor 1 Fasa Kapasi tor

S
A

C

Start Run

100K

9.1K

220V AC

-

+

SCRac Tri

A 250K B
2. 7K

33K

0.1uF

Gambar 2d. pengaturan Putaran Motor AC menggunakan SCR

4) Masukkan sumber 220 AC dan gerakan sakelar (s) pada posisi ON! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: 1) Anoda – Katoda (VDC) 2) Motor (VAC) 3) Gate – Katoda (VDC) 4) Arus beban 5) Atur potensiometer pada ½ maximum! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Anoda – Katoda (VDC) b) Motor ( VAC ) c) Gate – Katoda ( VDC ) d) Arus beban 6) Atur potensiometer pada tahanan minimum (posisi “A”)! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Anoda – Katoda (VDC) b) Motor (VAC) c) Gate – Katoda (VDC) d) Arus beban 7) Dari data hasil percobaan, masukan pada table 2d. 8) Lepaskan sumber 220V AC, kembalikan alat-alat pada tempat semula. 9) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb.!

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

Tabel 2d.

Posisi Potensiometer Minimum ½ Maximum Maximum

Tegangan Tegangan Tegangan Arus Pd A - K Pd Motor Pd G - K Beban

Keadaan Motor

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

KEGIATAN BELAJAR 3. Diac, Triac, Quadrac
a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran Setelah mempelajari kegiatan belajar 3, peserta DikLat akan dapat: 1. Menjelaskan susunan fisis dan simbol Diac. 2. Mejelaskan fungsi dari Diac. 3. Menjelaskan susunan fisi dan symbol Triac. 4. Menjelaskan fungsi Triac. 5. Memahami cara memberi peyulutan pada Triac. 6. Mengidentifikasi komponen-komponen pada pengendali beban menggunakan Diac dan Triac. 7. Menjelaskan cara kerja rangkaian pengedali menggunakan Diac dan Triac. 8. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Quadrac.

b. Uraian Materi 1. Diac Kecuali SCR, masih banyak kompenen-kompenen elektronika yang lainnya yang termasuk dalam keluarga Thyristor. Diantaranya yang paling banyak digunakan adalah DIAC, TRIAC, dan QUADRAC. Komponenkompenen tersebut bekerja atas dasar prinsip kerja dioda 4 lapis dan SCR. Susunan fisis DIAC merupakan dua buah dioda 4 lapis yang digabung secara paralel terbalik. DIAC adalah piranti elektronik yang termasuk jenis dari bi-directional thyristor disebut juga sebagai trigger dioda. Rangkaian ekuivalen dari DIAC dapat digambarkan seperti gambar 1a. dan juga dapat dianggap sebagai susunan dua buah lacth seperti terlihat pada gambar 1b.
T1 A K T1

K T2

A

T2

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

Gambar 1a.

Gambar 1b.

DIAC tidak mempunyai polaritas atau dianggap sebagai homopolar atau juga non-polar sehingga dalam penggunaannya sangat mudah. Untuk mengetahui prinsip kerja DIAC maka kita anggap DIAC tersebut diberi catu daya dengan polaritas seperti yang terlihat pada gambar 1.1a. Bila tegangan yang diberikab pada DIAC menyamai atau melewati tegangan Break Over-nya maka lacth sebelah kiri akan menutup dan arus akan mengalir demikian jika sebaliknya, maka latch yang sebelah kanan akan menutup. Untuk membuka kembali latch tersebut adalah dengan cara mengurangi arus latch sehingga dibawah ini nilai holding currentnya (I h). Symbol Diac adalah seperti terlihat pada gambar 1.1c.
T2

T1

Gambar 1.1c. Symbol Diac

2. Triac Susunan fisis TRIAC merupakan gabungan dari dua buah SCR yang terpasang secara paralel terbalik. Rangkaian ekuivalen TRIAC

sebagaimana terlihat pada gambar 1.2a. TRIAC dapat ditrigger dengan menberikan arus gate positif atau negatif. TRIAC disimbolkan seperti terlihat pada gambar 1.2b.
T2 T2

Ga te G T1 T1

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

Gambar 1.2a. Rangkaian Ekuivalen TRIAC

Gambar 1.2b. Simbol TRIAC

Efek arus gate pada tegangan Braek Over sebuah TRIAC adalah sama seperti pada SCR. Pada umumnya rangkaian pengontrol dengan TRIAC lebih ekonomis dan menguntungkan untuk pengaturan daya arus bolak-balik. Dengan mengatur arus gate, maka daya AC pada beban dapat diatur besar kecilnya dan karena tegangan sumber AC tidak perlu disearahkan terlebih dahulu, maka rangkainnya jauh lebih sederhana dibandingkan dengan SCR.

3. QUADRAC QUADRAC adalah gabungan antara TRIAC dan DIAC yang dibuat dalam satu chip sehingga lebih efisien dalam penggunaannya. Simbolnya digambarkan seperti terlihat pada gambar 3a. Sedangkan contoh dari QUADRAC sepertterlihat pada gambar 3b. dimana QUADRAC mempunyai tiga buah terminal yaitu Main terminal 1, Main Terminal 2 dan Gate.

c. Rangkuman DIAC merupakan piranti elektronik yang susunan fisisnya merupakan dioda empat lapis yang tersambung secara paralel terbalik. DIAC tergolong pada komponen bi-directional yang dapat mengalirkan dari dua arah yang berfungsi sebagai trigger(penyulut) pada TRIAC. TRIAC merupakan keluarga thyristor, yang berfungsi sebagai alat pengendali (pengontrol) yang mengalirkan arus dari dua arah, untuk itu TRIAC banyak

digunakan untuk mengontrol tegangan arus bolak-balik. Beban yang dikontrol menggunakan TRIAC dapat diatur dayanya dengan cara mengatur arus gatenya. Gabungan dari Triac dengan Diac yang sudah kemas dalam satu chip disebut QUADRAC.

d. Tugas 1. Berikan 3 buah contoh DIAC lengkap dengan spesifikasinya? 2. Berikan 2 buah contoh TRIAC lengkap dengan spesifikasinya? 3. Berikan 2 buah contoh QUADRAC lengkap dengan spesifikasinya?
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

e. Tes Formatif 1. Gambarkan susunan fisis dan symbol TRIAC? 2. Apakah fungsi Triac? 3. Jelaskan,Bagaimana cara mengatur daya pada beban yang dikontrol dengan TRIAC? 4. Apakah fungsi dari DIAC? 5. Apakah yang dimaksud dengan komponen bi-directional? 6. Apakah perbedaan antara TRIAC dengan SCR, jika digunakan untuk mengontrol tegangan A 7. Apakah keuntungan beban yang kontrol menggunakan TRIAC jika dibandingkan dengan SCR? 8. Apakah yang disebut dengan QUADRAC?

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

f. Lembar Kerja 1. Pengontrolan Putaran Motor Menggunakan Triac Dengan Cahaya a. Alat dan bahan 1) Triac Pic 123……………………………………………………1 Buah 2) Potensiometer 50Ω/5W…………………………………… 1 Buah 3) Transformator 220V/6V, 1A……………………………… 1 Buah Sensor

4) Motor 1 Fasa, 125W, 220V AC…………………………… 1 Buah 5) Sakelar SPST 250V,2A……………………………………… 1 Buah 6) LDR 10KΩ…………………………………………………………1 Buah 7) Lampu 12V/2W…………………………………………………1 Buah 8) Kabel penghubung…………………………………………Secukupnya

b. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan, pada saat membuat rangkaian pengawatan. 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja!

c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 3a.

Motor 1 Fasa Kapasi tor C Start Run
33K

S
P
S 12V

220V AC

Tri ac LDR

A 100K B

220V 33K

Gambar 3a. Pengaturan Putaran Motor Menggunakan Triac Dengan Sensor Cahaya.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

3) Yakinkan sakelar SPST pada posisi OFF, Masukan sumber AC 220V dan atur potensiometer sampai motor tidak berputar! Dengan menggunakan AVO meter, ukur tegangan: a) T1 – T2. b) Motor. 4) Tutup permukaan LDR. Apakah yang terjadi pada motor! Ukur tegangan pada: a) T1 – T2. b) Motor. 5) Gerakan sakelar SPST pada posisi ON! Sinari permukaan LDR dengan lampu! Apakah yang terjadi pada motor.! Ukur tegangan pada: a) T1 – T2. b) Motor. 6) Dengan cara mendekatkan dan menjauhkan cahaya lampu pada permukaan LDR, Apakah yang terjadi pada putaran motor? 7) Lepaskan sumber AC 220V dan pengawatan pada rangkaian! 8) Kembalikan peralatan pada tempat semula! 9) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb!

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

2. Pengontrolan Dua Buah Motor Secara Berganian (Interlocking) a. Alat dan bahan 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Triac Q4004L3 ............................................. 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah Potensiometer 250KΩ/5W ............................. Transistor 2N235 Transistor 2N204 ......................................... .........................................

Kapasitor 500μF/250V .................................. SCR S4003LS3 ............................................ Dioda IN15401 ............................................ Tahanan 4.7KΩ/5W ...................................... Tahanan 3.3KΩ/5W ......................................

10) Tahanan 68KΩ/5W ....................................... 11) Tahanan 47KΩ/5W ....................................... 12) Motor Universal220V .................................... 13) Motor Shaded Pole 220V ............................... 14) Fuse 2A ...................................................... 15) Sakelar SPST 250V/2A .................................. 16) Kabel penghubung

....................................... Secukupnya

b. Keselamatan Kerja 1) 2) 3) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! Matikan terlebih dahulu sumber tegangan, pada saat membuat rangkaian pengawatan. 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja!

c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 3b!

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

Fuse

2A

S
100K D1 68K

+

-

C 47K

220V AC

SCR

TR1

4. 7K

A
250K

B

3. 3K

TR2 Motor Shaded Pole

Tri ac

Motor Uni versal

Gambar 3b. Pengontrolan dua buah motor secara bergantian

3) Yakinkan sakelar SPST pada posisi OFF dan atur potensiomete pada posisi di tengah – tengah! 4) Masukan sumber AC 220V! Apakah yang terjadi pada motor universal dan motor shaded pole! Ukur tegangan pada: a) Triac (VAC). b) SCR (VAC). c) Motor universal (VAC). d) Motor shaded pole. (VAC) 5) Atur potensiometer pada posisi “A”! Motor manakah yang berputar! Ukur tegangan pada: a) Triac (VAC). b) SCR (VDC). c) Motor universal (VDC). d) Motor shaded pole. (VAC). 6) Atur potensiometer pada posisi “B”! Motor manakah yang berputar! Ukur tegangan pada: a) Triac (VAC). b) SCR (VAC). c) Motor universal (VAC). d) Motor shaded pole (VAC). 7) Dengan mengatur potensiometer, Apakah kedua motor dapat bekerja secara bersamaan? Apakah nama sistim pengontrolan tsb? 8) Lepaskan sumber AC 220V dan pengawatan pada rangkaian!
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

9) Kembalikan alat – alat pada tempat semula! 10) Dari data hasil percobaan masukan pada table 3b. 11) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb!

Tabel 3b.

Posisi Potensiometer

Tegangan Pada SCR

Tegangan Pada Triac

Tegangan pada Motor Universal

Tegangan pada Motor Shade Pole

Keadaan Motor

Di tengah – te ngah

A

B

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

3. Pengereman Dinamik dan Pengontrolan Putaran Pada Motor Shaded Pole a. Alat dan Bahan 1) Transformator 1 phasa 220V/12V, 1A .............. 2) Dioda IN5401 4) Relay 12V DC 5) Triac PIC123 6) Diac GE – X13 8) Kapasitor 0.1μF 10)Tahanan 10 KΩ 12)Tahanan 220Ω/W 13)Diada IN5501 ................................................ 3) Sakelar DPDT 250V/3A ................................... ................................................. .................................................. ................................................ ....................................... 1 Buah 4 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah

7) Kapasior 500μF/50V

..............................................

9) Potensiometer 20KΩ/5W ................................. .............................................. ........................................ ........................................... 11)Tahanan 270 Ω/1W

.................................................

14)Motor Shaded Pole 220V .................................

15)Kabel Penghubung .......................................... Secukupnya

b. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan, pada saat membuat rangkaian pengawatan. 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja!

c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 3c.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

B
Run Brake OFF 33K 12V
CR 220 220

A

220V AC

220V

P

S 12V

Tri ac Di ac

2.7K

-

+
500uF/50V
+

20K

33K

0.1uF

Motor Shaded Pole

Gambar 3c. Pengereman Dinamik Dan Pengaturan Putaran Motor Shaded Pole.

3) Yakinkan sakelar DPDT pada posisi OFF dan potensiometer pada posisi “B”! Masukan sumber 220V AC. Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Triac. b) Motor. c) Relay. 4) Gerakan sakelar DPDT pada posisi “B”! Apakah yangterjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Triac. b) Motor. c) Relay. 5) Atur potensiomeer pada posisi ½ maximum! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Triac. b) Motor. c) Relay. 6) Atur potensiometer pada posisi “A”! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Triac. b) Motor.
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

c) Relay 7) Pada saat sakelar DPDT posisi “B”, pada putaran motor cepat. Gerakan sakelar DPDT pada posisi OFF! Catat waktu yang diperlukan sampai putaran motor berhenti? 8) Pada saat sakelar DPDT posisi “B” dan putaran motor cepat. Gerakan sakelar DPDT pada posisi “A” Catat waktu yang diperlukan sampai putaran motor berhenti! Apakah putaran motor berhenti lebih cepat. Jelaskan! 9) Gerakan sakelar DPDT pada posisi OFF, lepaskan sumber 220V AC dan pengawatan pada rangkaian! 10) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb!

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

4. Pengontrolan Phase Gelombang Penuh Pada Motor Induksi. a. Alat dan Bahan 1) Dioda 1N5060 2) Triac Q4004L4 3) SCR C106D 4) UJT 2N2646 ................................................ ................................................ 5 Buah. 1 Buah. 1 Buah. 1 Buah. 1 Buah. 1 Buah. 2 Buah. 2 Buah. 1 Buah. 1 Buah. 1 Buah. 1 Buah. 1 Buah.

.................................................... ...................................................

5) Zener Dioda Z4X16 ......................................... 6) Potensiometer 100K/1W .................................. 7) Kapasitor 0,1μF 8) Tahanan 15K/5W 9) Tahanan 470Ω 10)Tahanan 47Ω 11)Tahanan 10Ω 12)Tahanan 22Ω 13)Tahanan 100Ω .............................................. ............................................

................................................ ................................................. ................................................. ................................................. ................................................

b. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan, pada saat membuat rangkaian pengawatan. 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja!

c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 3d.
Motor Induksi

15K D1 D2

15K D5

220V AC

S

IN5060

A B

100K

470 UJT

SCR

10

22 100

D3

D4

24x16

0. 14F

D6

Triac

47

0. 14F

Gambar 3d. Pengontrolan phase Gelombang Penuh pada Motor induksi.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

3) Yakinkan

sakelar

(S)

pada

posisi

OFF

dan

tahanan

potensiometer pada tahanan maximum (posisi “B”)! 4) Masukan sumber AC dan gerakan sakelar (S) pada posisi ON! Apakah yang terjadi pada motor? Dengan menggunakan AVO meter pada skala 120V DC. Ukur tegangan pada: a) Gate - Katoda b) SCR ( Anoda – Katoda ). c) Triac ( T1 – T2 ). d) Motor. 5) Dengan menggunakan oscilooscope. Ukur bentuk gelombang pada a) Gate – Katoda. b) Anoda – Katoda. c) T1 – T2. d) Motor. 6) Atur potensiometer pada posisi ½ maximum.! Ukur tegangan pada a) Gate – Katoda. b) Anoda – Katoda. c) T1 – T2. d) Motor. 7) Dengan menggunakan oscilooscope. Ukur bentuk gelombang pada a) Gate – Katoda. b) Anoda – Katoda. c) T1 – T2. d) Motor. 8) Atur potensiometer pada tahanan minimum (posisi “A”)! Ukur tegangan pada: a) Gate – Katoda. b) Anoda – Katoda. c) T1 – T2. d) Motor.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

9) Dengan menggunakan oscilooscope. Ukur bentuk gelombang pada a) Gate – Katoda. b) Anoda – Katoda. c) T1 – T2. d) Motor. 10) Gerakan sakelar (S) pada posisi OFF dan lepaskan sumber tegangan AC 220V. Lepaskan pengawatan pada rangkaian. 11) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb!

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

KUNCI JAWABAN
TES FORMATIF
A. Kegiatan Belajar 1
1. Cara memberi penyulutan pada transistor PNP adalah: a. Emiter harus mendapatkan polarias positif. b. Basis harus mendapatkan polaritas negatif. c. Kolektor harus mendapatkan polaritas lebih negatif 2. Transistor tidak akan mengalirkan arus dari emitter ke kolektor 3. Gambar dua buah transistor yang bekerja sebagai latching
+ Ucc

TR1 TR2

Cara kerja dua buah transistor yang bekerja Sebagai laching adalah: Jika transistor 2 diberi trigger positif, berarti emiter transistor2 mendapatkan forward bias dan transistor2 mulai bekerja karena transistor 2 terhubung

langsung dengan kolektor transistor 2 dengan basis transistor1 maka transist juga Akan bekerja yang akan memberikan penguatan pada transistor 2 4. Yang membedakan dari kedua jenis transistor, yaitu susunan bahannya, sehingga cara memberikan penyulutan pada kedua transistor tsb menjadi berbeda. 5. Daya beban dapat diatur dari nol sampai maximal.

B. Kegiatan Belajar 2 1. SCR singkatan dari Silicon Controlled Rectifier. 2. SCR terbuat dari bahan silicon. 3. Simbol SCR

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

A G K

4. Dua fungsi SCR adalah: a. Sebagai switch/pengontrol. b. Sebagai penyearah/rectifier. 5. Jika SCR digunakan untuk mengontrol tegangan DC, SCR akan terus konduk dengan sekali trigger. 6. Holding current adalah arus genggam atau arus yang harus dipertahankan supaya SCR terus bekerja. 7. Cara memberikan penyulutan pada SCR yaitu: a. Anoda harus mendapatkan polaritas positif. b. Katoda harus mendapatkan polaritas negatif. c. Gate harus mendapatkan polaritas positif. 8. Tegangan DC merupakan tegangan yang tidak berubah-ubah dan besar tegangan tsb selalu sama di atas daerah holding current, dengan demikian ma ka, SCR dengan sekali trigger akan terus kunduk/bekerja. 9. Simbol UJT

10. Gambar rangkaian pengaturan cahaya lampu

R1

DC FULL WAVE

P1 Z1

R2 UJT B2 B1 SCR

+

C1

R3

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

C. Kegiatan Belajar 3
1. Susunan fisis dan symbol Triac.
T2 T2

Ga te G T1 T1

2. Fungsi TRIAC adalah sebagai pengontrol (pengendali). 3. Beban dipasang seri dengan terminal (TI) atau terminal (T2). Daya pada beban dapat dikontrol dengan mengatur arus yang masuk gatenya. 4. DIAC merupakan piranti elektronik yang tidak mempunyai polaritas dan berfungsi sebagai penyulut pada gate TRIAC. 5. Bi-directional artinya komponen yang dapat melalukan arus dari dua arah. 6. SCR merupakan komponen elektronik yang dapat melalukan arus hanya satu arah saja, hampir sama dengan sebuah dioda. Jika beban dikontrol oleh SCR, maka tegangan yang jatuh pada beban merupakan tegangan DC setengah gelombang. Sedangkan jika beban dikontrol menggunakan TRIAC, tegangan yang jatuh pada beban masih merupakan tegangan arus bolak-balik. 7. Beban yang dikontrol menggunakan Triac dayanya hampir tidak mengalami perubahan sedangkan jika menggunakan Scr daya pada beban akan berkurang. 8. QUADRAC merupakan gabungan dari DIAC dan TRIAC yang sudah dikemas dalam satu chip.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

BAB. III EVALUASI
A. TES TERTULIS Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan jelas! 1. Tuliskan dua fungsi transistor? 2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan switch statis? 3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan keadaan cut off pada transisor? 4. Jelaskan apa yang disebut dengan laching? 5. Tuliskan persamaan tegangan kondisi saturasi pada transistor? 6. Tuliskan 3 komponen yang tergolong pada keluarga thyristor? 7. Jelaskan kenapa SCR jika digunakan untuk mengontrol tegangan DC dengan sekali triger, SCR akan terus konduk? 8. Jelaskan bagaimana bekerjanya SCR yang dipicu menggunakan UJT? 9. Buat gambar rangkaian pengaturan cahaya lampu mengunakan SCR? 10. Apakah keuntungan pengontrolan beban menggunakan Triac dengan SCR? dibandingkan

B. TES PRAKTEK Buat rangkaian pengontrolan motor induksi 3 fasa, 2HP, 220V/380V;∆/Y, yang dikontrol menggunakan TRIAC, disulut oleh SCR dan UJT mengunakann sensor cahaya dengan urutan kerja sbb: 1. Jika LDR disinari maka motor 3 induksi 3 fasa akan bekerja. 2. Jika permukaan LDR ditutup maka motor induksi 3 fasa akan mati. 3. Dalam keadaan stand by, hanya lampu hijau yang menyala. 4. Dalam keadaan beroperasi, hanya lampu merah yang menyala 5. Jika terjadi over load, hanya lampu kuning yang menyala. Rangkaian pengontrolan ini dilengkapi dengan dua pengaman, yaitu Sikering

(MCB) dan over load. Tentukan besarnya sikering dan over load sehingga motor akan aman jika terjadi gangguan.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

KUNCI JAWABAN
Tes Tertulis
1. Dua fungsi transistor adalah: a. Merupakan alat yang berfungsi sebagai penguat. b. Merupakan alat/komponen yang berfungsi sebagai pengontrol (switch statis). 2. Switch statis adalah dimana switch tsb pada saat ON maupun OFF bagian yang bergerak dari alat tsb. 3. Yang dimaksud dengan kondisi cut off pada transistor adalah dimana tran sistor tsb tidak dalam mengalirkan arus dari emiter ke kolektor atau jikadiumpamakan sakelar dimana sakelar tsb dalam keadaan membuka (off). 4. Yang dimaksud dengan Laching disebut juga kancing, adalah dua buah transistor yang dihubungkan sedemikian rupa yang jika salah satu transistor tsb diberi penyulutan maka akan terjadi aliran arus dari kedua transistor tsb. 5. Persamaan tegangan pada trasistor dalam keadaan saturasi adalah : IC . RL = UCC, dari persamaan UCC = IC . RL + UCE UCE = UCC – IC . RL Karena : IC . RL = UCC, maka UCC – IC . RL = 0 Dan UCE = 0. 6. Komponen-komponen Yang termasuk keluarga Thyristor adalah : a. SCR. b. Triac. c. Quadrac. 7. Tegangan DC adalah tegangan yang setiap saat harganya sama (DC murni), jika SCR di gunakan untuk mengontrol tegangan DC maka arus genggam (holding Current) harganya akan selalu di bawah harga arus/tegangan DC tsb (tegangan DC tidak mengalami harga nol). Untuk itu jika SCR digunakan untuk mengontrol tegangan DC dengan sekali triger maka SCR akan terus konduk. 8. Jika SCR dipicu menggunakan UJT, tegangan/arus yang dikeluarkan oleh UJT kemudian masuk pada gate SCR. Bentuk tegangan/arus yang masuk tsb berupa gigi gergaji sehingga sudut kerja SCR akan lebih kecil, dengan demikian maka daya pada beban akan lebih besar.
Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

tidak ada

9. Rangkaian pengaturan cahaya lampu menggunakan SCR. 10. Keuntungan pengontrolan beban menggunakan TRIAC dibandingkan SCR adalah tegangan/arus yang jatuh pada beban akan tetap berupa arus bolak-balik sedangkan jika menggunakan SCR maka tegangan yang jatuh pada beban akan menjadi DC ½ gelombang.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

Lembar Penilaian Tes Praktek
Nama Peserta No. Induk Program Keahlian : : :

Nama Jenis Pekerjaan : PEDOMAN PENILAIAN
Skor No.
1

Skor Perolehan
4

Aspek Penilaian
2

Maks.
3

Keterangan
5

I

Perencanaan 1.1. Persiapan alat dan bahan 1.2. Membaca gambar rangkaian Sub total 5 5 10

II

Proses ( Sistematika & Cara Kerja ) 2.1. Penempatan komponen /Alat 2.2. Pengawatan rangkaian kontrol. 2.3. Pengawatan rangkaian tenaga. 2.4. Penggunaan alat ukur. Sub total 5 10 10 5 30

111 Hasil Kerja. 3.1. Rangkaian pengendali. 3.2. Rangkaian tenaga. 3.3. Kerapihan & tata letak komponen. 3.4. Hasil pengukuran. 15 15 5 5

Sub total

40

1V

Sikap Kerja.

4.1. Penggunaan alat. 4.2. Keselatan kerja.
VI Laporan 6.1. Sistimatika penyusunan laporan 6.2. Kelengkapan bukti fisik Sub total Total

5 5 10

4 6 10 100

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

KRITERIA PENILAIAN
No. I Aspek Penilaian Perencanaan 1.1. Persiapan alat dan bahan

Kriteria Penilaian

Skor

Alat dan bahan disiapkan sesuai kebutuhan

5

Alat dan bahan disiapkan tidak sesuai kebutuhan.

1

1.2. Membaca gambar rangkaian.

Menjelaskan cara kerja rangkai an dengan benar.

5

Tidak dapat menjelaskan cara kerja rangkaian dengan benar

1

II

Proses (Sistematika & Cara kerja ) 2.1. Penempatan komponen.

Komponen ditempatkan pada tempat yang benar.

5

Komponen ditempatkan pada tempat yang salah.

1

2.2. Pengawatan rangkaian pengontrol.

Pengawatan rangkaian kontrol dibuat dengan benar.

10

Pengawatan rangkaian kontrol salah.

2

2.3. Pengawatan rangkaian tenaga

Pengawatan rangkaian tenaga dibuat dengan benar.

10

Pengawatan rangkaian tenaga dibuat salah.

2

2.4. Penggunaan alat ukur.

Alat ukur digunakan dengan benar.

5

Alat ukur digunakan dengan cara yang salah.

1

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

III

Hasil Kerja. 3.1. Rangkaian pengontrol

Cara benar.

kerja

rangkaian

kontrol

15

Cara salah.

kerja

rangkaian

kontrol

3

3.2. Rangkaian tenaga.

Cara benar.

kerja

rangkaian

tenaga

15

Cara kerja rangkaian tenaga salah

3

3.3. Kerapihan & tata letak komponen

Komponen ditata dengan rapih.

5

Komponen ditata tidak rapih.

1

3.4. Hasil pengukuran.

 

Hasil pengukuran benar. Hasil pengukuran sa

5 1

V

Sikap/Etos Kerja 5.1. Tanggung jawab

Membereskan kembali alat dan bahan yang dipergunakan

2

Tidak membereskan alat dan bahan yang dipergunakan

1

5.2. Ketelitian

Tidak banyak melakukan kesalahan kerja 3

Banyak melakukan kesalahan kerja 1

5.3. Inisiatif

 

Memiliki inisiatif bekerja Kurang/tidak memiliki inisiatif kerja 3 1

5.4. Kemandirian

Bekerja tanpa banyak diperintah Bekerja dengan banyak diperintah 2

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

1 VI Laporan 6.1. Sistimatika penyusunan laporan
 

Laporan disusun sesuai sistimatika yang telah ditentukan Laporan disusun tanpa sistimatika

4

1

6.2. Kelengkapan bukti fisik

Melampirkan bukti fisik hasil penyusunan

6

Tidak melampirkan bukti fisik

2

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

BAB. IV PENUTUP
Setelah menyelesaikan modul ini, maka Anda berhak untuk mengikuti tes praktik untuk menguji kompetensi yang telah dipelajari. Dan apabila Anda dinyatakan memenuhi syarat kelulusan dari hasil evalusi dalam modul ini, maka Anda berhak untuk melanjutkan ke topik/modul berikutnya.

Mintalah pada pengajar/instruktur untuk melakukan uji kompetensi dengan sistem penilaiannya dilakukan langsung dari pihak dunia industri atau asosiasi profesi yang berkompeten apabila Anda telah menyelesaikan suatu kompetensi tertentu. Atau apabila Anda telah menyelesaikan seluruh evaluasi dari setiap modul, maka hasil yang berupa nilai dari instruktur atau berupa porto folio dapat dijadikan sebagai bahan verifikasi bagi pihak industri atau asosiasi profesi.

Kemudian selanjutnya hasil tersebut dapat dijadikan sebagai penentu standard pemenuhan kompetensi tertentu dan bila memenuhi syarat Anda berhak

mendapatkan sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh dunia industri atau asosiasi profesi.

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

DAFTAR PUSTAKA
1. B.K SIXSMITH, J.E, FUNDAMENTALS OF ELECTRICAL CONTROL.

2. FARDO AND PATRICK, ELECTRICAL POWER SYSTEMS.

3. MC INTYRE, ELECTRICAL MOTOR CONTROL FUNDAMENTAL THIRD EDITION.

4. MORRIS TISCHLER, BS, MA, INSTRUCTION MANUAL FOR INDUSTRIAL MOTOR CONTROL ELEKTRONIC AIDS, INC.

5. ROBERT ROSENBERG, ELECTRICAL MOTOR REPAIR, SECOND EDITION.

6. ELMER S. McKEE. PH.D. INDUSTRIAL CONTROL SYSTEMS.

7. D. R. Grafhan dan J. C. Hey. SCR MANUAL FIFTH EDITION. –

8. TECH/

ECA

ASIA–PACIFIC

EDITION,

UP–

TO

DATE

WORRDS,

TRANSISTOR– DIODA, THYRISTOR & IC’S

Sistem Pengendali Elka/ EI/ Arif Rustianto, S.Pd.T

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->