SYARAT SEKOLAH STANDAR NASIONAL

Standar Nasional Pendidikan Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional Pendidikan terdiri dari : * Standar Kompetensi Lulusan * Standar Isi * Standar Proses * Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan * Standar Sarana dan Prasarana * Standar Pengelolaan * Standar Pembiayaan Pendidikan * Standar Penilaian Pendidikan

Fungsi dan Tujuan Standar * Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu * Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. * Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Standar Kompetensi Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Standar Kompetensi Lulusan tersebut meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 23 Tahun 2006 menetapkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Lampiran Permen ini meliputi: * SKL Satuan Pendidikan & Kelompok Mata Pelajaran * SKL Mata Pelajaran SD-MI * SKL Mata Pelajaran SMP-MTs * SKL Mata Pelajaran SMA-MA * SKL Mata Pelajaran PLB ABDE * SKL Mata Pelajaran SMK-MAK

Pelaksanaan SI-SKL Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 24 Tahun 2006 menetapkan tentang pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Panduan Penyusunan KTSP Buku Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah ini dimaksudkan sebagai pedoman sekolah/madrasah dalam mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, setiap sekolah/madrasah mengembangkan kurikulum berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) dan berpedoman kepada panduan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Panduan Penyusunan KTSP terdiri atas dua bagian, yaitu bagian pertama berupa Panduan Umum dan bagian kedua berupa Model KTSP.

dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Selain itu. serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. dan juga sekolah/madrasah lain yang mempunyai kemampuan. SMP-MTs. Program Paket B dan Program Paket C Standar Proses Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif. dan kemandirian sesuai dengan bakat. Program Paket B. * Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 3 Tahun 2008 tentang Standar Proses Pendidikan Kesetaraan Program Paket A. Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran. dalam proses pembelajaran pendidik memberikan keteladanan. SDLB.Satuan Pendidikan yang telah melakukan uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh diperkirakan mampu secara mandiri mengembangkan kurikulumnya berdasarkan SKL. Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. kreativitas. minat. Standar Isi Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. SMA-MA. model kurikulum diperlukan bagi satuan pendidik yang saat ini belum mampu mengembangkan kurikulum secara mandiri. SMKMAK) Standar Isi Kesetaraan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 14 Tahun 2007 tentang Standar Isi untuk Program Paket A. menantang. untuk mengembangkan kurikulum mulai tahun ajaran 2006/2007. penilaian hasil pembelajaran. Perubahan Permen No 24 Tahun 2006 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 6 Tahun 2007 tentang Perubahan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang berkaitan dengan Standar Proses Pendidikan. kurikulum tingkat satuan pendidikan. dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. dan kalender pendidikan. * Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. inspiratif. Bagian kedua Panduan Penyusunan KTSP akan segera menyusul dan diharapkan akan dapat diterbitkan sebelum tahun ajaran baru 2006/2007. Berikut ini. Bagi satuan pendidikan ini. SI dan Panduan Umum. Waktu penyiapan yang lebih lama disebabkan karena banyaknya ragam satuan pendidikan dan model kurikulum yang perlu dikembangkan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. SMALB. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif. beban belajar. Selain dari pada itu. Untuk itu Panduan Umum diterbitkan lebih dahulu agar memungkinkan satuan pendidikan tersebut. mempunyai waktu sampai dengan tiga tahun untuk mengembangkan kurikulumnya. menyenangkan. sehat jasmani dan . dan Program Paket C. pelaksanaan proses pembelajaran. menetapkan: * Standar Isi * Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SD-MI. Standar isi tersebut memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum. SMPLB. yaitu selambat-lambatnya pada tahun ajaran 2009/2010.

ruang bengkel kerja. ruang kantin. SDLB/SMPLB/SMALB. teknisi. Pendidik meliputi pendidik pada TK/RA. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang berkaitan dengan Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan. serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. SMA/MA. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. yakni standar pengelolaan oleh satuan pendidikan. tenaga perpustakaan. Berikut ini. * Kompetensi kepribadian. peralatan pendidikan. tempat beribadah. * Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 25 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah. ruang unit produksi. * Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah. SMK/MAK. SMP/MTs. instalasi daya dan jasa. media pendidikan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang berkaitan dengan Standar Sarana dan Prasarana. * Kompetensi profesional. ruang pimpinan satuan pendidikan. standar pengelolaan oleh Pemerintah Daerah dan standar pengelolaan oleh Pemerintah. * Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI). SD/MI. pengawas satuan pendidikan. * Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 27 Tahun 2008 tentang Standar Kulifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor. . tempat berolahraga. ruang pendidik. Tenaga kependidikan meliputi kepala sekolah/madrasah. tempat bermain. pengelola kelompok belajar.rohani. pamong belajar. tenaga administrasi. * Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 40 Tahun 2008 tentang Standar Sarana Prasarana untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). ruang kelas. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: * Kompetensi pedagogik. * Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. * Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. * Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. tenaga laboratorium. Standar Sarana dan Prasarana Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot. bahan habis pakai. dan tenaga kebersihan. Berikut ini. ruang perpustakaan. dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). dan * Kompetensi sosial. dan pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan. ruang laboratorium. Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs). buku dan sumber belajar lainnya. Standar Pengelolaan Standar Pengelolaan terdiri dari 3 (tiga) bagian. ruang tata usaha. tempat berkreasi. Kualifikasi akademik yang dimaksudkan di atas adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Paket B dan Paket C. satuan pendidikan Paket A.

air. * Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. . pengembangan sumberdaya manusia. asuransi. * Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. dan biaya personal. Biaya personal sebagaimana dimaksud pada di atas meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud di atas diatur oleh masing-masing perguruan tinggi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.Berikut ini. Biaya operasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud di atas meliputi: * Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji. Berikut ini. dan * Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah. dan * Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan tinggi. uang lembur. jasa telekomunikasi. Standar Pembiayaan Pendidikan Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi. * Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang berkaitan dengan Standar Penilaian Pendidikan. Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi terdiri atas: * Penilaian hasil belajar oleh pendidik. * Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai. pajak. transportasi. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang berkaitan dengan Standar Pengelolaan. Standar Penilaian Pendidikan Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: * Penilaian hasil belajar oleh pendidik. dan * Biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya. dan modal kerja tetap. biaya operasi. konsumsi. pemeliharaan sarana dan prasarana. dan lain sebagainya. Biaya investasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud di atas meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana.

mungkin saja dalam satu kabupaten/kota terdapat lebih dari satu SMP yang memenuhi kriteria sebagai SSN. Pendidikan termasuk salah satu sektor yang diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah daerah. SSN pada dasarnya dapat berfungsi sebagai sekolah model. pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dalam kerangka itu. Sekolah Standar Nasional (SSN) pada dasarnya merupakan sekolah yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SMP). 2005 : 37). Upaya mewujudkan tujuan tersebut. pengelolaan. yang berarti memenuhi tuntutan SPM sehingga diharapkan mampu memberikan layanan pendidikan yang standar dan menghasilkan lulusan dengan kompetensi sesuai dengan standar nasional yang ditetapkan. SNP sebagai acuan perkembangan dan pengendalian pendidikan. antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi guru. Latar Belakang Masalah Dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 alinea 4 dinyatakan bahwa Negara bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. vang dikembangkan dari SMP yang telah ada di daerah yang bersangkutan. Pada hal. Dalam hal ini diharapkan dapat menjadi contoh wujud nyata dari sekolah yang dimaksudkan dalam SNP dan menjadi acuan atau rujukan sekolah lain dalam mengembangkan diri. Bertolak dari kemungkinan-kemungkinan di atas. bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. maupun standar pendidikan yang ditetapkan pada SNP. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 35 tentang Kewenangan Pusat dan Daerah. Untuk itu diperlukan tahapan seleksi terhadap sekolah yang akan dijadikan sekolah standar nasional. Implikasi desentralisasi manajemen pendidikan adalah pemberian kewenangan yang lebih besar diberikan kepada kabupaten dan kota untuk mengelola pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan potensi dan kebutuhan daerahnya (Sa¶ud dan Makmun. Walaupun pengelolaan pendidikan menjadi kewenangan kabupaten/kota. Setiap kabupaten/kota diharapkan minimal terdapat sebuah SSN. yaitu walaupun belum memenuhi standar yang ditetapkan SPM. sehingga jika dipandang dari sudut kualitas harus disediakan gedung sekolah. khususnya pendidikan dasar dan pendidikan menengah. menyenangkan sekaligns mencerdaskan. Permasalahan pendidikan yang merupakan salah satu yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidik. sekolah yang bersangkutan harus mengembangkan diri sehingga benar-benar dapat menjadi model sekolah dengan standar nasional dan jajaran birokrasi di pusat/ propinsi/kabupaten/kota harus melakukan pembinaan secara berkelanjutan. Namun demikian berbagai indikator mutu pendidikan dalam menunjukkan peningkatan. Seleksi diperlukan guna menentukan sekolah mana yang sesuai dan layak untuk menjadi sekolah standar nasional di kabupaten/kota tertentu. SSN telah mampu memberikan layanan pendidikan kepada anak didik. sekolah dapat dikategorikan yaitu sebagai SSN jika sudah memenuhi sebagian besar tuntutan SPM dan dari perkembangan yang terjadi selama ini. sesuai dongan standar minimal yang telah ditetapkan. Dengan pengertian tersebut. Sebaliknya mungkin ada kabupaten/kota yang tidak memiliki sekolah yang memenuhi kriteria sebagai SSN. biaya pendidikan dan tenaga guru dalam jumlah yang memadai. Sedangkan dari sudut kualitas yang saat ini menjadi banyak perhatian umum adalah masalah mutu pendidikan. tenaga kependidikan. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (Dit. Secara operasional. sarana dan prasarana.BAB I PENDAHULUAN A. implementasinya tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kompleksitas masalah pendidikan menjadi semakin terasa. tentunya juga merupakan standar yang dinamik. pada tahap rintisan ini digunakan prinsip kedua. PLP) melakukan rintisan pengembangan Sekolah Standar Nasional (SSN). Dengan kata lain. setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan pengajaran seperti tercantum pada Pasal 31 ayat 1 UUD 1945. telah mendorong perubahan besar pada sistem pengelolaan pendidikan di Indonesia. Selain itu perkembangan jaman juga berpengaruh terhadap pendidikan. Artinya. diharapkan pada setiap kabupaten/kota diharapkan terdapat minimal satu SSN. artinya dapat dijadikan model bagaimana menyelenggarakan sekolah sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan secara nasional. Dengan demikian SPM yang ditetapkan dalam pendidikan. berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh pusat melalui pedoman seleksi. Sekolah lain sejenis diharapkan dapat bercermin untuk memperbaiki diri dalam menciptakan iklim psikp-sosial sekolah untuk menjamin terselenggaranya proses pendidikan yang bermakna. 2. Setelah terpilih satu atau dua sekolah sebagai SSN. SSN diharapkan juga berfungsi sebagai patok duga (bench mark) bagi sekolah dalam mengembangkan diri menuju layanan pendidikan yang baik. pengadaan buku-buku dan alat pengajaran. Terkait dengan itu pasal 35 UU No. diharapkan sekolah sekolah lain yang berada pada daerah yang sama dapat terpacu untuk terus mengembangkan diri dan mencapai prestasi dalam berbagai bidang yang sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing sekolah. sesuai dengan standar nasional. diyakini akan segera mencapai . antara lain pengembangan kurikulum. sebagai suatu langkah rintisan. sehingga mengakibatkan iklim pendidikan juga akan berubah. bab III ayat 5. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan agar kita memiliki Standar Nasional Pendidikan (SNP). Perlu diingat bahwa standar merupakan kriteria dinamik dan bukan statis. Selain itu dengan adanya SSN. Oleh karena itu. namun sebaliknya sekolah yang berada di daerah masih memprehatinkan. sementara pemerintah pusat sebatas menyusun acuan dan standar yang bersifat nasional. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. tetapi pengelolaan tersebut harus mengacu pada standar yang ditetapkan secara nasional dalam konteks desentralisasi pendidikan. perbaikan sarana dan prasarana pendidikan serta peningkatan mutu manajemen sekolah. yang ditentukan berdasarkan kesepakatan dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada situasi tertentu.

Namun kondisi tersebut belum terwujud yang berarti belum mampu memberikan layanan pendidikan yang memuaskan. 1.02. Sebagai sekolah yang termasuk daerah pinggiran. C. Untuk mengetahui komponen proses dalam rangka pencapaian Sekolah Standar Nasional di SMP Negeri 1 Tawangmangu. B. Bagaimanakah komponen ouput dalam rangka pencapaian Sekolah Standar Nasional di SMP Negeri 1 Tawangmangu ? 4. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan memiliki sumbangan teoritis dalam khasanah pengetahuan tentang faktor-faktor strategik dalam pencapaian sekolah standar nasional. Manfaat Praktis . Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan memiliki signifikansi teoritis dan praktis.84. Untuk mengetahui aspek pengembangan Sekolah Standar Nasional di SMP Negeri 1 Tawangmangu. dan output yang seharusnya dihasilkan oleh sekolah. proses dan output (Depdikbud. 4. pembatasan masalah penelitian difokuskan pada persoalan yang diasumsikan terkait langsung dengan peningkatan mutu belajar pada mapel yang di UAN kan. Atas konsistensi prestasi yang dicapai tersebut. Bagaimana aspek pengembangan SSN Sekolah Standar Nasional di SMP Negeri 1 Tawangmangu ? D. dan output). kekurangan tersebut dapat dipenuhi dan sekolah benar-benar memenuhi SNP. pencapaian prestasi belajar pada siswanya dalam Ujian Akhir Nasional cukup membanggakan. Bagaimanakah outcome dalam pencapaian Sekolah Standar Nasional di SMP Negeri 1 Tawangmangu ? 5. sehingga diyakini dalam waktu pendek. proses. proses yang seharusnya terjadi di sekolah.standar yang ditentukan pada SPM. Sekolah dikatakan mampu memberikan layanan pendidikan yang baik (input. Identifikasi Masalah Manajemen sekolah hakikatnya merupakan usaha/tindakan untuk melaksanakan gugusan kegiatan administrasi sekolah. Oleh karena itu rumusan masalahnya sebagai berikut: 1. Bagaimanakah komponen proses dalam rangka pencapaian Sekolah Standar Nasional di SMP Negeri 1 Tawangmangu ? 3. Dengan cara ini diharapkan pada setiap kabupaten/kota akan dapat dipilih minimal sebuah SSN. Untuk mengetahui komponen input dalam rangka pencapaian Sekolah Standar Nasional di SMP Negeri 1 Tawangmangu. 2. standar layanan pendidikan tentunya mengacu pada aspek input. proses sehingga menghasilkan output yang seharusnya dihasilkan oleh sekolah. pengguna lulusan. Artinya layanan harus secara utuh mulai dari input yang seharusnya disediakan oleh sekolah.50 untuk 3 mapel yang di UAN kan sedangkan pada tahun 2004/2005 mencapai rata-rata 7. proses maupun output. Dalam buku petunjuk administrasi pendidikan di sekolah disebutkan bahwa sekolah standar nasional sebagai suatu sistem pendidikan. SMP Negeri 1 Tawangmangu mampu memanajemen input. Untuk mengetahui outcome dalam pencapaian Sekolah Standar Nasional di SMP Negeri 1 Tawangmangu. Tentu saja kekurangan terhadap standar yang ditentukan oleh SPM tidak boleh terlalu banyak. E. Sebagai suatu bentuk layanan kepada masyarakat mutu layanan pendidikan seringkali dikaitkan dengan tingkat kepuasan stakeholder. SMP Negeri 1 Tawangmangu mendapat status sebagai sekolah SSN. Hasil nilai tersebut untuk sekolah seperti SMP Negeri 1 Tawangmangu masuk kategori sangat bagus mengingat input siswa yang hanya berasal dari wilayah Tawangmangu ditambah dari wilayah Jatiyoso yang merupakan daerah terpencil. yaitu siswa. Oleh karena itu. orang tua siswa. manajemen sekolah tidak dapat dipisahkan dengan administrasi sekolah. Untuk mengetahui komponen output dalam rangka pencapaian Sekolah Standar Nasional di SMP Negeri 1 Tawangmangu. 3. Menurut Mulyasa (2005 : 58) bahwa kondisi sekolah pada saat krisis sekarang ini sangat bervariasi dilihat dari segi kualitas. 5. Dalam pengertian kedua ini. SMP Negeri 1 Tawangmangu sebagai sekolah yang berada pada level kota kecamatan dalam kenyataannya berhasil meraih status sebagai sekolah standar nasional. Tahun pelajaran 2002/2003 rata-rata nilai pada 6 mata pelajaran yang di UAN kan adalah 7. Bagaimanakah komponen input dalam rangka pencapaian Sekolah Standar Nasional di SMP Negeri 1 Tawangmangu? 2. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah. SSN diartikan sebagai proses menjadi dan bukan kondisi yang ada saat ini. jika sudah mampu memberikan layanan yang memuaskan stakeholder sekolah. lokasi sekolah dan parsisipasi masyarakat (orang tua). artinya menjadi model bagaimana suatu sekolah berproses menjadi sekolah yang mencapai standar pelayan pendidikan yang ditentukan oleh SPM. dan kelompok masyarakat lainnya. Atas pencapaian yang telah diperoleh SMP Negeri 1 Tawangmangu tersebut di atas maka dapat diasumsikan bahwa sebagai sekolah SSN. Kualifikasi sekolah bervariasi dari sekolah yang sangat maju sampai sekolah yang sangat ketinggalanm sedangkan lokasi sekolah bervariasi dari sekolah yang terletak di perkotaan sampai sekolah yang letaknya di daerah terpencil. Kondisi tersebut tidak lepas dari kemampuan sekolah dalam memberikan layanan kepada anak didik mencakup aspek input. agar berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. 2. 2004). Dikaitkan dengan makna sekolah inti dalam pengertian SSN yang kedua ini lebih berdimensi proses. tahun 2003/2004 mencapai rata-rata 6. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian yang diharapkan dapat dicapai melalui kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.

a. Bagi stakeholders pendidikan. Sebagai masukan informasi bagi praktisi pendidikan (guru dan kepala sekolah) mengenai pentingnya input. proses dan ouput dalam pencapaian sekolah standar nasional. sebagai bahan kaji untuk rujukan pengambilan keputusan. b. . terutama yang terkait langsung dengan persoalan kegiatan belajar mengajar di sekolah guna pencapaian sekolah standar nasional.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful