P. 1
Buku Corak Tasawuf (oke)

Buku Corak Tasawuf (oke)

|Views: 983|Likes:
Published by Harapandi

More info:

Published by: Harapandi on Feb 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2013

pdf

text

original

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Muqaddimah

Aceh – sebagai salah satu daerah di Nusantara
yang memiliki banyak naskah tulisan tangan – adalah contoh yang baik dalam melihat kasus pemeliharaan naskah oleh masyarakat. Berdasarkan observasi, naskah-naskah Aceh yang dimiliki oleh masyarakat disimpan dan dipelihara dengan menempatkannya di lemari-lemari dan peti-peti sehingga kondisi fisik naskah sangat dikhawatirkan keawetannya.

Naskah-naskah Aceh memiliki banyak ragam, termasuk di dalamnya ragam yang bernuansa keagamaan, baik yang menyangkut ajaran Islam sendiri maupun tentang kehidupan yang bernafaskan keIslaman. Misalnya, naskah-naskah dalam katalog naskah Aceh yang dikompilasikan oleh Voorhoeve dan Teuku Iskandar pada tahun 1994. Satu hal yang perlu dicatat bahwa unsur tasawuf, termasuk di dalamnya tarekat turut mewarnai, jika tidak mendominasi, penulisan naskah keagamaan di wilayah ini. Naskahnaskah tasawuf Aceh menjadi terkenal terutama dengan hadirnya karya-karya besar tokoh-tokoh terbesar di antara karyanya) Hujjah al-Balighah Syamsuddin As-Sumatrâni, (berisi tentang tasawuf, Hamzah Fansûri, ‘ala Jama’ah al-Mukhasamah Nûruddin Ar-Râniri, dan Abdurrauf al-Fansûri. Selain nama-nama besar yang sudah sangat terkenal tersebut, masih banyak nama-nama lain yang –juga—tidak kalah produktipnya, sebut saja Syeikh Faqih Jalaluddin yang memiliki buah karya dalam bidang tasawuf juga dalam bidang-bidang lain seperti fiqh, tauhid, sejarah, dan lain-lain. Di antara karya-karya yang telah dihasilkan oleh Faqih Jalaluddin ialah dari yang telah disebutkan oleh Wan Mohd Shaghir Abdullah ada sebanyak lima karya, yaitu karya dalam bidang Fiqh sebanyak tiga buah dan

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

karya dalam bidang Tasawuf sebanyak dua buah. Adapun naskah Syamsu al-Ma’rifat tidak disebutkan di dilamnya. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan sebagai salah satu kontribusi bagi dunia akademik dan melengakapi berbagai koleksi terhadap karya-karya ulama Aceh. Disamping itu juga mengekspos tokoh lokal yang sejatinya sudah harus menjadi tokoh nasional karena aktivitasnya baik di bidang pendidikan maupun dunia tulis-menulis, hal tersebut dapat dibuktikan dengan beragam karya yang telah dihasilkannya. Adapun karya-karya Faqih Jalaluddin yang dapat diketahui dari tulisan Wan Mohd. Shaghir Abdullah sebagai berikut; Hidayah al-Awam1 (berisi tentang Fiqh, mengenai perintah agama), merupakan karya pertama yang di karang oleh Faqih Jalaluddin, Safinat al-Hukam fi Talkhis al-Khisham2 (berisi tentang Fiqh, 1 Naskah ‫ هـدايـــة الـعـــوام‬dimaksudkan sebagai petunjuk bagi orang-orang awam dalam berbagai persoalan keagamaan. Kitab ini sangat ringkas berbicara tentang fiqh. Pada mukadimahnya, Syeikh Faqih Jalaluddin menulis bahwa,”pada hijrah Nabi seribu seratus empat puluh, pada lima hari bulan Muharam (5 Muharam 1140 H/23 Ogos 1727 M, pen:) zaman Paduka Seri Sultan, yang besar kerajaannya, lagi yang maha tinggi darjatnya, iaitu Sultan Alauddin Ahmad Syah Johan berdaulat Zhillullah fi al-Alam, adamullahu daulatahu, Amin, maka tatkala itu meminta kepada faqir yang hina Khadim al-Ulama (yang berkhidmat pada ulama), Haji Jalaluddin oleh seorang sahabat raja itu, yang takut akan Allah Taala, bahawaku suratkan baginya suatu risalah yang simpan (maksudnya: risalah yang ringkas, pen:). Maka aku namai akan dia Hidayah al-‘Awam lihat http://www.2lisan.com/biografi/tokoh-islam/biografi-syeikhjalaluddin-al-asyi. 2 Naskah ‫ ســـفينة الحكـــام فـــي تلخيـــص الخصـــام‬dimasudkan dapat memberikan gambaran tetang bagaimana huku-hukum keislaman terangkum dalam bidang fiqh dan berorientasi pada Mazhab Syafi’ie, di dalamnya berbicara tentang berbagai istilah, peringatan untuk golongan hakim yang zalim dan beberapa kaedah, semua gambaran tersebut dapat ditemukan pada

kemungkinan merupakan karyanya yang terbesar di antara karyanya), Hujjah al-Balighah ‘ala Jama’ah alMukhasamah3 (berisi tentang Fiqh), Manzhar al-Ajla ila Martabah al-A’la4 (berisi tentang Tasawuf), Asrar asSuluk ila Malail Muluk5 (berisi tentang Tasawuf), dan syamsu al- Ma’rifat ila hadharatihi syarifati6 (berisi tentang Tasawuf). Kitab yang disebut terakhir inlah
mukadimah. Kitab ini mulai ditulis pada bulan Muharam, hari Jumaat 1153 H/1740 M. Seperti halnya kitab Hidayatul Awam juga dikarang atas perintah Sultan Alauddin Johan Syah. Kitab ini merupakan karya terbesar beliau dalam bidang fiqh. 3Naskah ‫ ,حجة البليغة على جماعة المخا صمة‬kitab ini termasuk dalam kategori ilmu. Pada mukadimah kitab ini Syeikh Faqih Jalaluddin menulis: “Ada pun kemudian dari itu, maka tatkala Hijrah Nabi s.a.w seratus lima puluh delapan tahun, kemudian daripada seribu pada empat hari bulan Muharam, waktu Dhuha, hari Sabtu (4 Muharam 1158 H/1745 M) zaman Saiyidina wa Maulana Paduka Seri Sultanah Alauddin Jauhar Syah, Syah Berdaulat Zhillullah fi al-Alam, telah meminta kepadaku setengah daripada kekasihku, salah seorang daripada pengawal sultan yang tersebut itu, bahawa ku suratkan baginya risalah yang simpan pada menyatakan dakwa, dan baiyinah, dan barang yang bergantung dengan keduanya. Ku perkenankan pintanya, dan ku suratkan baginya risalah ini ” dan dipenghujung kitab ini beliau mencatat, Tamat al-kitab Hujjah al-Balighah ‘ala Jama’ah alMukhasamah karangan faqir yang hina Faqih Jalaluddin ibnu asySyeikh Kamaluddin ibnu al-Qadhi Baginda Khathib at-Tarun Pasir… pada 27 Rabiul akhir, waktu Dhuha pada zaman Alauddin Jauhar Syah, pada hijrah seribu seratus lima puluh delapan tahun (27 Rabiul akhir 1158 H/1745 M). Dalam kitab ini syeikh Faqih Jalaluddin al-Asyi menjelaskan makna yang terkandung dalam hadits Nabi s.a.w. yang maksudnya bahwa qâdi itu tiga perkara, dua golongan menjadi isi neraka dan satu golongan menjadi isi surga. Beliau berkata: “…Maka dua golongan yang akan menjadi isi neraka itu yaitu; Pertama qâdi yang jahil, tiada baginya ilmu, jikalau mufakat hukumnya itu dengan kebenaran sekali pun tiada jua sah hukumnya itu dengan sebab meninggalkan daripada belajarnya …” dalam persoalan ini beliau kemukakan dua hadits Nabi s.a.w. yang menjadi dalilnya. Pertama; “Barangsiapa tiada guru baginya maka syaitanlah gurunya.” Sabda Nabi itu beliau tafsirkan, barangsiapa ada gurunya itu syaitan, maka tiada lagi syak akan dia isi neraka. Qâdi jenis kedua, ialah: “qâdi yang alim, namun tiada menghukum seperti yang dalam ilmunya, sementara qâdi golongan yang ketiga ialah: “qâdi yang alim, yang ia menghukum seperti hukum yang dalam ilmunya.” Sebagai kata akhir beliau adalah memberikan peringatan, “Ingat-ingat kiranya yang memberi fatwa, maka adalah bahaya

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

yang menjadi obyek dari kajian dalam penelitiaan ini. Dalam mengungkapkan melakukan jatidiri penelitian naskah ini ada

permasalahan pokok yang diajukan pertama; akan penulis sekaligus melihat bagaimana konsep pemikiran tasawuf penulis Naskah, dan kedua;bagaimana corak tasawuf yang terdapat dalam naskah tersebut. Berangkat dari dua persoalan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk untuk menghadirkan mengetahui corak diharapkan akademis dari biografi tokoh penulsi naskah dan mengetahui isi naskah tasawuf tersebut, serta Sedangkan penelitian ini manfaat yang tasawuf yang terdapat dalam naskah. adalah manfaat berupa

pengembangan khazanah ilmu-ilmu keagamaan Islam khususnya bidang tasawuf dan manfaat praktis bagi
yang besar pada memberi fatwa itu belum lagi tahqiq sesuatu masalah daripada hadis, dan dalil, atau daripada kitab segala ulama. Maka janganlah difatwakan sekali-kali akan dia. 4 Naskah ‫ منظـــر الجلء إلـــى مرتبـــة العلـــى‬ini merupakan naskah tasawuf yang juga diperintahkan oleh seorang raja ketika itu untuk menulis kitab ini, disebutkan bahwa kitab ini selesai ditulis 1152 H/1739 M. Naskah ini pernah disalin oleh Tuan Guru Haji Mahmud bin Muhammad Yusuf Terengganu, selesai penyalinan pada tahun 1273 H/1856 M. 5 Naskah ‫ أســرار الســلوك إلــى مل الملــوك‬Karya beliau dalam bidang ْ tasawuf juga. Dalam naskah tidak tersebut nama pengarang tetapi dapat dipastikan sebagai karya Faqih Jalaluddin al-Asyi berdasarkan silsilah yang tersebut dalam kalimat, “… telah mengambil zikir, dan talkin, dan khirqah, dan khalifah, fakir yang mengarang risalah ini daripada syeikhnya yang ahli az-zauq, lagi Arif Billah, iaitu Syeikh Daud ibnu Ismail qaddasallahu sirrahu, dan ia mengambil dari (Syeikh) Abdur Rauf …”, yang disebut murid Baba Daud adalah Syekh Fakih Jalaluddin al’Asyi. 6 Naskah ‫ شمس المعرفة إلى حضرته الشريفة‬kitab ini termasuk dalam kitab yang berbicara tentang tasawuf dan berbagai persoalan aplikasinya, kitab ini tergabung dalam sebuah bandel naskah dengan Tibyan Fil Ma’rifat Al Adyan (11A), Sulam Mustafidin (11E), Sulam Mustafidin (11C), dan tentang kejadian Manusia (11E).

pengambil Agama

kebijakan

dalam

hal

ini

Kementerian kualitas

dalam

rangka

meningkatkan

pemahaman dan pengamalan ajaran agama. Studi ini mengacu pada satu naskah (Codex Unicus) tulisan tangan “Syamsul Ma’rifati Ila Hadratihi al-Syarifa” dengan karya tasawuf, Syiekh maka Faqih Jalaluddin yang terkait akan metode

dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode Filologi dengan focus; Deskripsi teks,Transliterasi & Suntingan Naskah, dan terakhir melakukan kajian dan analisis terhadap teks naskah tersebut. Ketiga hal itu digunakan dalam penelitian ini

dengan tujuan agar para pembaca dapat mengetahui gambaran teks secara umum dan juga diharapkan para pembaca dapat membaca –walau bukan teks aselinya—teks sebagaimana aselinya, sementara kajian dan analisis teks bertujuan untuk memudahkan para pembaca memperoleh informasi terkait dengan isi dan kandungan teks. Selain metode digunakan pendekatan sufistik dalam Filologis rangka sebagai metode dasar dari penelitian ini, juga akan membahas naskah dari sudut konteksnya.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Sejarah Aceh;
asal muasal Aceh

SELAYANG PANDANG NANGGROE ACEH DARUSSALAM

Asal
dan

muasal Aceh terselubung kabut kerahasiaan, hampir semua sejarawan Asia Tenggara

menyatakan bahwa sulit mendapatkan sumber yang

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

akurat mengenai asal nama Aceh7. Walau demikian Denys Lombard mengungkapkan beberapa fakta mitos yang dijadikan sumber asal muasal Aceh seperti ditulis dalam bukunya “Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)”, Snouk Hurgronje berkata; “… telah mendengar cerita bahwa seseorang bernama Tengku Kutakarang, ulama dan hulubalang yang meninggal pada bulan November 1895 dan menganggap orang Aceh lahir dari percampuran orang Arab, Parsi, dan Turki…”8 Tercatat sebagai suatu di dalam negeri sejarah di Kedah, Pulau Marong Perca

Mahawangsa (+1220 M/517 H) Aceh sudah tersebut Pesisir (Sumatera). Orang Portugis Barbarosa (1516 M/922 H) adalah orang Eropa yang datang ke daerah ini menyebut “Achem” sementara dalam buku-buku sejarah Tionghoa (1618 M) terkait dengan Aceh mengatakan A –tse dalam bentuk yang lebih tua adalah Taji atau Tashi, bagi mereka berarti negeri Silam ataupun sebutan kepada negeri Pasai Pa menjadi Ta9. J. Kreemer dalam bukunya ‘Atjeh’ (Leiden 1922) mengatakan bahwa sejarah Aceh sebelum tahun 1500 sebagian besar masih dalam kegelapan. Dalam berita
7 Lihat dalam M. Hasbi Amiruddin, 2006. Aceh dan Serambi Makkah, Banda Aceh: Yayasan Pena, hal. 5-6 8 Denys Lombard , 1967, Le Sultanat d’ Atjeh au temps d’Iskandar Muda (1607-1636), (terj) oleh Winarsih Arifin, 2008. Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta:KPG. Hal. 62 9 Din Shamsuddin, Hubungan Aceh dengan Semenanjung khususnya di Utara (Prasaran pada dialog Utara VI Malaysia bagian Utara dan Sumatera bagian Utara 23- 29 Desember 1995 di Langsa. Lhoksemawe, Sigli, Banda Aceh, hal.1 dan lihat pula dalam M. Hasbi, hal. 6

yang berasal dari orang-orang Cina, orang Arab, dan orang-orang Eropa sebelum tahun tersebut yang berhasil berkunjung ke Sumatera, nama Aceh sebagai ‘Pulau Emas’ hanya sedikit mendengarnya disebut. Pendapat lain dari Kreemer bahwa Kerajaan Aceh telah erdiri sebelum tahun 1500, kerajaan tersebut meliputi seluruh wilayah Aceh dan nama itu juga dipakai sebagai nama pelabuhan yang akhirnya terkenal dengan nama Kuta Radja. Walaupun demikian asal mula nama Aceh masih tetap msiterius, tidak ada yang tahu dari mana sumbernya, namun menurut Tengku Syech Muhammad Noerdin10, pada akhir hayatnya beliau meninggalkan beberapa buah karangan dan pada salinan kepada penerbitan pemerintah menyatakan bahwa nama Aceh itu berasal dari “Ba’ (baca Bak yang berarti pohon) si aceh-aceh”. Pohon itu dilukiskan semacam pohon beringin yang besar dan rindang11.

10 Beliau ini yang pada masa hidupnya banyak membantu Prof. Snouck Hurgronye dan Prof. Husein, baik dalam mencari bahan-bahan atau dalam menyalin Hikayat-hikayat Aceh dari huruf Latin, disamping juga banyak mengumpulkan bahan-bahan tentang kehidupan, peradaban dan adat istiadat Aceh dan juga sempat diperbantukan pada Balai Pustaka. 11Abu Bakar Atjeh 1980, tentang nama Aceh dalam Ismail Sunni (Ed) Bunga rampai tentang Aceh, Jakarta:Bhatara Karya Aksara) hal.19.

istem keberagamaan masyarakat Aceh
Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Masyarakat
masyarakat

Aceh hingga saat ini masih tetap

berpenduduk 100% muslim sehingga kebanyakan Aceh mengklaim bahwa Aceh sama dengan Islam seperti halnya Makkah adalah Islam. Tentu yang dimaksudkan adalah masyarakat Aceh seperti halnya juga masyarakat muslim di kota Makkah. Klaim tersebut sangat beralasan karena Islam masuk –menurut sebagian sejarawan—melalui Aceh oleh karena Pada itulah masyarakat berikut Aceh seluruhnya untuk muslim. bagia sangat penting mendudukan persoalan tersebut, bagaimana Islam masuk ke Aceh sehingga masyarakatnya menjadikan Islam sebagai way of life nya. Dalam teori sejarah masuknya Islam ke Nusantara, Islam masuk dan datang melalui para saudagar Arab yang datang dan pergi terutama melalui pelabuhan di pesisir Aceh. Saudagar-saudagar dari tanah Arab (Suriah dan Makkah) datang bukan hanya berdagang, sambil berdagang mereka juga menyebarkan dakwah Islamiyah diamana saja mereka menetap. Proses dakwah ini mereka lakukan untuk

mengamalkan

ajaran

rasul

Allah

Saw

yang

menekankan bahwa dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim kapan dan dimanapun mereka berada. “Sampaikanlah oleh kamu sekalian apa-apa yang telah kamu terima dariku walaupun satu ayat” (Balligû Annî Walau Âyat). Pandangan lain menyatakan bahwa Islam masuk ke tanah Aceh pada abad ke 13 melalui India, namun Prof. Dr. Uka Tjandra Sasmita mengatakan bahwa teori tersebut lemah. “…Kelemahan kelompok ahli ini jelas bahwa mereka tidak menyadari adanya jalur pelayaran yang sudah ramai dan bersifat internasional jauh sebelum abad ke 13 M melalui selat Malaka dan mungkin pula pesisir Barat Sumatera. Keramaian pelayaran melalui perairan tersebut di atas dapat dibuktikan berdasarkan berita-berita baik dari orang Muslim sendiri maupun dari orang Cina. Berita Cina berasal dari abad ke-7 dan berita Jepang berasal dari abad ke-8 serta berita Chaujukua yang berasal dari abad ke-12…”12. Sir John Crowford mengatakan bahwa Islam di Aceh dibawa dari Arab, pandangan ini didasarkan pada anutan mazhab Syafi’i yang lahir di semenanjung Tanah Arab, oleh masyarakat Melayu termasuk Aceh13.
12 Lihat Mahayuddin Hj Yahaya dan A.J. Halimi, tt. Sejarah Islam, (Kuala Lumpur:Fajar Bakti Sdn. Bhd) hal.559 13 Lihat Tuanku Abdul jalil “Kerajaan Islam Perlak Poros Aceh- Demak-Ternate dan Siapa Laksamana Malahayati” dalam A. Hasjmy, 1993.Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Bandung:Al-Ma’arif. halaman. 269-270

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Meskipun demikian Crowford tidak menampik bahwa interaksi muslimin penduduk yang Nusantara dari dengan Timur kaum India berasal pantai

merupakan faktor penting dalam penyebaran Islam Nusantara14. Terdapat tiga tokoh ilmuan meyakini bahwa Islam yang datang ke tanah Aceh adalah Islam yang berasal dari tanah Arab dibawa oleh orang-orang Arab, ketiga ilmuan tersebut adalah T.W. Arnold, Syed Naguib al-Attas, dan juga Buya Hamka15. Terlepas dari beragam teori yang dikembangkan dalam melihat masuknya Islam ke Nusantara termasuk Aceh, namun perlu juga dilihat dari dimensi lain seperti dimensi ajaran teologi yang dikembangkan para penyebar Islam tersebut. Dakwah yang dikembangkan oleh para Gujarat adalah dakwah doktrin terhadap pertahanan aqidah Islamiyah dari kelompok kafir yang ingin merusak dan memurtadkan mereka kepada ajaran-ajaran nenek moyang, dakwahdakwah seperti ini mereka lakukan agar dapat mempertahankan eksistensi mereka di wilayah Aceh. Doktrin dakwah inilah yang menyebabkan rakyat Aceh selalu istiqâmah kaum dalam kafir mempertahankan seperti Portugis, serangan-serangan janjinya memberi

Belanda dan juga Jepang disaat Jepang tidak menepati kebebasan dalam menjalankan

14 Azyumardi Azra, 2005. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII & XVIII. Jakarta:Prenada Media. Halaman. 8-9 15 Uka Thandra Sasmita, Proses Kedatangan Islam dan Munculnya Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh” dalam A. Hasjmy (peny.) Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia. Bandung:Al-Ma’arif, 1993) hal.358

agamanya. Doktrin Aceh sama dengan Islam berarti memerangi orang Aceh dapat berarti memerangi Islam itu sendiri, oleh karena itu mempertahankan Aceh berarti juga mempertahankan Islam, maka perang yang mereka lancarkan melawan kaum kafir berarti perang sabil, perang suci dan mati adalah mati syahid16.

16 M. Hasbi Amiruddin, 2006. Aceh dan Serambi Makkah, Banda Aceh:Yayasan Pena Banda Aceh, hal.25-26

t Istiadat dalam Masyarakat Aceh
Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Dan

hendaklah ada sekelompok di antara kamu

yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar dan mereka itulah orang-orang yang beruntung17 Kata 'urf dan ma'ruf pada ayat itu mengacu kepada kebiasaan dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan al-khair, yakni prinsip-prinsip ajaran Islam. Pakar-pakar hukum menetapkan bahwa adat kebiasaan dalam tidak bertentangan suatu masyarakat selama dengan prinsip ajaran Islam, pertimbangan sekian pula

dapat dijadikan sebagai salah satu hukum (al-âdat yang mereka tetapkan setelah Dalam bahasa Arab,

muhakkimah). Demikian ketentuan menghimpun al-‘adat sering

banyak rincian argumentasi keagamaan. dipadankan dengan al-‘urf. Dari kata terakhir itulah, kata al-ma’ruf – yang sering disebut dalam Al-Qur’an – diderivasikan. Oleh karena itu, makna asli al-ma’ruf ialah segala sesuatu yang sesuai ini dengan adat hasil (kepantasan). Kepantasan merupakan

penilaian hati nurani18.
17 Lihat QS Ali 'Imran [3]:104. 18 Dalam masalah hati Rasulullah SAW bersabda” Alâ Wa Inna fi al-Jasadi Mudghatan Idzâ Shaluhat Shaluha al-Jasadu Kulluhû Wa Idza Fasadat Fasada al-Jasadu Kulluhu Illâ Wahiya alQalbu” Muttafaqun Âlâih. (Ketahuilah bahwa sesunggunya dalam jasad seseorang terdapat seonggok daging, jika daging tersebut baik maka baiklah seluruh anggota tubuh tersebut, namun jika sebaliknya daging tersebut rusak maka akan rusaklah seluruh anggota tubuh itu). Periksa dalam Abi Hamid Al-Ghazali,dkk.tt.

Dalam

perkembangannya,

al-‘urf

kemudian

secara general digunakan dengan makna tradisi, yang tentu saja meliputi tradisi baik (al-urf al-shahih) dan tradisi buruk (al-‘urf al-fasid). Dalam konteks ini, tentu saja al-ma’ruf bermakna segala sesuatu yang sesuai dengan tradisi yang baik. Arti “baik” disini adalah sesuai dengan tuntunan wahyu19. Amr bi al-ma’ruf berarti memerintahkan sesuai dengan sesama manusia yang untuk pantas bertindak nilai-nilai

menurut suatu masyarakat, yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai wahyu. Karakter hukum Islam yang akomodatif terhadap adat (tradisi) amat bersesuaian dengan fungsi Islam sebagai “Wajah” agama Islam universal pada (untuk seluruh dunia). dunia berbagai masyarakat

tidaklah harus sama (monolitik). Namun, keberagaman tersebut tetaplah dilingkupi oleh wihdat al-manhaj (kesatuan manhaj) yaitu al-manhaj al-Nabawiy alMuhammadiy. Bagi masyarakat Aceh hukum dan adat secara prinsip berbeda, namun dalam tataran aplikasi kedua elemen etika sosial kemasyarakatan tadi saling terkait satu sama lain. Hal tersebut terlihat dalam sebuah Hadih Maja mengatakan “Hukum ngon Adat Lagee Zat ngon sifeut” (hukum bersama adat semisal senyawa zat dengan sifat tertentu). Jadi jika disebut hukum
Tazkiyatun Nufus Wa Tarbiyatuha Kamâ Yuqarriruhû Ulamâ’a alSalaf. Beirut: Dârul Qalam. h. 27. 19 Kata baik dapat diartikan sebagai semua tuntunan yang berdasar pada al-qur’an maupun al-sunnah dan juga yang tidak bertentangan dengan hati sanubari manusia secara umum. Wahyu yang dimaksud bukan hanya sebatas ayat-ayat al-Qur’an namun juga termasuk hadits Nabi SAW.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

maka berorientasi pada hukum Syara’ yang ditetapkan Allah dan rasulNya berupa tata aturan yang bersumber al-qur’an dan al-Sunnah, tapi jika disebut adat maka bermakna tata aturan yang bersumber dari hasil olah pikir manusia. Ungkapan dalam Hadih Maja lain yang sangat popular di tengah-tengah masyarakat Aceh adalah “Adat Bak Po Teumeureuhom Hukom Bak Syiah Kuala, Qanun Bak Patroe Phang Reusam Bak Laksamana” (Pihak yang mengatur tata adat dan pemerintahan ada pada Sultan, pihak yang mengatur Syariat Islam (hukum) ada pada Ulama. Kemudian yang mengatur peraturan pelaksanaannya ada pada Putri Pahang sebagai Wazir Sultan di bidang legislative dan yang mengatur tentang Reusam/Upacara kebiasaan Adat dan perniagaan ada pada Laksamana sebagai Wazir Sultan di bidang Reusam)20.

Perkembangan pendidikan di Aceh
Seperti diketahui bahwa jaya dan majunya sebuah masyarakat sangat ditentukan oleh seberapa maju dunia pendidikannya. Aceh sebagai salah satu daerah yang terkenal dengan panatisme Kualitas masyarakatnya terhadap nilai-nilai keberagamaan,

juga, termasuk dari sisi pendidikannya.

pendidikannya dapat dilihat dari seberapa banyak produk ulama dan ilmuan yang dihasilkan, sebut saja
20 Lebih jauh tentang masalah ini periksa, M. Hasbi Amiruddin, 2006. Aceh dan Serambi Makkah, Banda Aceh:Yayasan Pena Banda Aceh, hal.34-35

misalnya Hamzah Fansuri, Abdurrauf Singkel, Nuruddin al-Raniri, Syaikh Muhammad bin Ahmad Chatib Langien, Syaikh Faqih Jalaluddin, Syaikh Muhammad Zain al-‘Asyi dan masih banyak lagi yang lain. Ulama-ulama banyak Dayah tersebut (Pesantren) juga, tidak tidak sebagai jarang hanya media mereka mentransformasi pengetahuan melainkan mendirikan pembelajaran, dalam mereka

meninggalkan buah karya yang maha dahsyat nilainya pemberdayaan beragam pengetahuan. pengetahuan Karya-karya mulai dari

aklhak/tasawuf, fiqh, al-qur’an, ilmu-ilmu alat (nahw dan Sharf), tafsir, tajwid, tauhid, sejarah dan lain sebagainya. Pendidikan Dayah pada saat itu dimulai dari pendidikan paling rendah, tingkat menengah sampai tingkat tinggi. Pembelajaran yang ada di rumah-rumah ataupun di meunasah –biasanya—pendidikan pada tingkat rendah, namun jika para ulama di undang untuk memberikan materi di rumah-rumah (privat) ada juga yang pada tingkat menengah dan tinggi, seperti mengajar terkemuka21. System pendidikan yang terbagi menjadi tiga tingkatan tersebut dapat dilihat dari system pembelajaran yang berlaku. Untuk pendidikan rendah dan menengah biasanya diajar oleh para santri yang telah mendapatkan legitimasi dari guru dan telah
21 M. Hasbi Amiruddin, 2006. Aceh dan Serambi Makkah, Banda Aceh:Yayasan Pena Banda Aceh, hal.28-29

putra-putri

uleebalang

dan

orang

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

memiliki ilmu pengetahuan tingkat tinggi. Santri-santri yang mengajar tersebut dikenal dengan sebutan teungku rangkang, sedangkan untuk teungku-teungku rangkang tadi diajarkan oleh teingku Chik (Teungku Besar) yang dikenal dengan sebutan teungku dibalee. Eksistensi dayah-dayah sampai saat ini masih tetap berjalan karena dayah-dayah tersebut mengikuti pola perkembangan zaman baik perkembangan politik maupun sosial budaya yang ada. Masa kemajuan dayah yang cukup pesat adalah pada masa kesultanan Aceh, hal ini dapat dibuktikan dengan terus bertambahnya jumlah dayah yang ada, juga, dengan bertambah banyaknya para Ulama yang eksis, selain ulama-ulama local juga banyak terdapat ulama-ulama yang di datangkan dari luar negeri. Disamping mengajar di berbagai dayah yang ada ulama-ulama, tamu tersebut juga didatangkan untuk kebutuhan kesultanan bidang hukum agama terutama ulama dari Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah. Indikator lain terhadap pertumbuhan dan perkembangan dayah pada dayah-dayah adalah banyaknya kitab-kitab baik yang dijadikan

tulisan tangan (manuscript) yang beredar dan tersebar tersebut referensi bagi pembelajaran Internasional maupun nasional dan juga lokal. Di antara ulama-ulama yang sangat popular dan mampu membuat referensi bagi dunia akademik di tingkat internasional adalah Hamzah al-Fansuri, Syamsuddin al-Sumaterani,

Nuruddin al-Raniri dan Abdurrauf al-Singkili. Sebut saja kitab tafsir lengkap 30 Juz dalam bahasa Melayu yang

saat ini sudah berbahasa Indonesia yang pertama merupakan karya monumental Abdurrauf al-Singkili. Seiring dengan terjadinya perang Belanda di Aceh, eksistensi dayah mulai surut karena banyak dayah yang terbakar dan rusak, para ulama banyak yang meningggal, dan kitab-kitab, baik yang ditulis oleh ulama asal aceh ataupun ulama asal Timur Tengah dalam berbagai disiplin ilmu tak urung menjadi sasaran kaum penjajah. Selain kehilangan banyak dayah sangat politik dan ketat, dan juga dengan kitab, eksistensi melarang yang dayahpun yang diminimalisir dilakukannya kontrol

mereka

mengajarkan dapat

beberapa materi pembelajaran terkait dengan isu materi-materi dianggap memajukan kebudayaan bangsa. Setelah banyak tekanan dari pihak Belanda dalam berbagai versinya termasuk di dalamnya mendirikan sekolah-sekolah modern versi Belanda, maka eksistensi dayah semakin menurun dan lambat laun munculnya lembaga-lembaga formal yang mengajarkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dunia kerja, akhirnya masyarakat Aceh mulai tertarik dengan system pendidikan tersebut. Akhirnya pada tahun 1928 ulama dayah berusaha mendirikan lembaga-lembaga model lain yaitu dengan pola dan system kombinasi antara pelajaran umum dan juga pelajaran agama. Ulamaulama Aceh tidak menginginkan pelajaran agama jauh dari masyarakat, oleh karena itulah sekolah apapun yang di didirikan harus dimasukkan pelajaran agama.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Walaupun demikian masih banyak sampai saat ini dayah-dayah yang tetap mempertahankan system masa lalu, tidak menerima system pembelajaran madrasah seperti dayah Ulee Titi22 dan juga dayah yang menginduk kepada dayah tersebut.

Ulama-ulama

23

Aceh

22Pondok pesantren yang berdiri semenjak sepertiga abad silam, sekarang beralamat di Desa Siron sebuah desa yang terletak di pinggiran jalan raya menuju Blang Bintang. Desa Siron termasuk dalam wilayah Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Dalam usia yang ke-78, Pondok Pesantren Ulee Titi bisa dikatagorikan salah satu pesantren tertua di tanah Aceh yang penuh dengan balutan sejarah. Lembaga yang dirintis oleh Tengku (Tgk) H.Ishaq al-Amiry2 seorang tokoh ulama karismatik yang memiliki keuletan dan ketabahan yang tak tertandingi sehingga mampu menentang ancaman dan rintangan yang menghadangnya baik dari dalam maupun dari luar pondok. Keuletan (al-mujahadah), ketabahan (alshabr) dan konsisten (alistiqamah) menjadi ciri khas yang patut kita teladani. 23 Secara bahasa, ‘ulama’ berasal dari kata kerja dasar ‘alima (telah mengetahui); berubah menjadi kata benda pelaku ‘alimun (orang yang mengetahui – mufrad/singular) dan ‘ulama (jamak taksir/irregular plural). Berdasarkan istilah, pengertian ulama dapat dirujuk pada al-Quran dan hadis. Yang sangat masyhur dalam hal ini adalah : ‘innama yakhsya Allahu min ‘ibadihi al ulama’ artinya : sesungguhnya yang paling taqwa kepada Allah diantara hambaNya adalah ulama (Fathir 28). ‘Al ulama-u waratsatu al anbiya’ artinya : ulama adalah pewaris para nabi – hadits. Secara hakikat, taqwa tidak mudah dipakai untuk kategorisasi, sebab yang mengetahui tingkat ketaqwaan seseorang hanyalah Allah. Penyebutan taqwa di sini hanya untuk memberi batasan bahwa ulama haruslah beriman kepada Allah dan secara dhahir menunjukkan tanda-tanda ketaqwaan. Jadi Islamolog yang tidak beriman kepada Allah tidak masuk dalam kategori ulama. Untuk batasan kedua, ulama adalah mereka yang mewarisi nabi. Al Maghfurllah Kiyai Ahmad Siddiq, Situbondo, menyatakan bahwa yang diwarisi ulama dari nabi adalah ilmu dan amaliyahnya yang tertera dalam al-Quran dan hadis. Dengan batasan ini, ahli-ahli ilmu lain yang tidak berhubungan dengan al-Quran dan hadis tidak masuk dalam kategori ulama. Kyai Ahmad mengistilahkan kelompok ahli itu sebagai zuama. Kata al-’ulama’ dan al-’alimun sekalipun berasal dari akar kata yang sama tapi keduanya memiliki perbedaan makna yang sangat signifikan. Perbedaan makna ini dapat ditengarai dalam Al-Qur’an ketika kata al-’ulama’ disebutkan hanya 2 (dua) kali dan kata al-’alimun sebanyak 5 (lima) kali, dan

Secara

bahasa, kata ulama adalah bentuk

jamak dari kata ‘aalim. ‘Aalim adalah isim fail dari kata dasar:’ilmu. Jadi ‘aalim adalah orang yang berilmu. Dan ‘ulama adalah orang-orang yang punya ilmu. AlQuran memberikan gambaran tentang ketinggian derajat para ulama, Allah meninggikan derajat orangorang yang beriman dan orang-orang yang diberikan ilmu (ulama) beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah: 11) Ayat tersebut menjelaskan keutamaan para ahli ilmu dan orang-orang yang senantiasa menuntut ilmu agama. Di samping karena keimanan yang dimilikinya, mereka juga diangkat derajat dan kedudukannya oleh Allah karena bertambah ilmu agama yang dapat mendekatkannya ke haribaan Ilahi Rabbi. Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah SWT mengangkat ketaatannya diperintahkan kaum untuk mukminin dari kalian Apapun mereka karena yang harus terhadap Rabb.

dilapangkan

melapangkannya ataukah melaukan kebajikan jika diperintahkan melakukannya. Dengan keutamaan ilmu yang dimilikinya Allah mengangkat derajat orangorang yang berilmu dari ahlul iman di atas kaum mukminin yang tidak diberikan ilmu, jika mereka mengamalkan apa yang mereka ketahui”. Lanjutnya beliau seraya mengutip ungkapan Imam Qatadah rahimahullah berkata:“Sesungguhnya dengan ilmu seseorang dapat memiliki keutamaan. Sesungguhnya ilmu memiliki hak atas pemilik dan hak
kata al-’alim sebanyak 13 (tiga belas) kali. Periksa, Shihab dalam Membumikan al-Qur’an, Jakarta; Lentera Hati.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

ilmu terhadap kamu wahai seorang alim adalah keutamaan. Dan Allah memberikan kepada tiap pemilik keutamaan keutamaannya.” Ayat tersebut juga menjelaskan bahwa demikian tinggi derajat dan kedudukan para ulama di atas yang lainnya. kalangan berfirman: Merekalah orang-orang ayat yang lain senantiasa Allah Swt mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Swt dan juga di manusia. Dalam ‫نرفع درجات من نشآء‬ ُ َ ْ َ ٍ َ َ َ ُ َْ َ

“Kami tinggikan derajat orang yg Kami kehendaki”. Imam Malik rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini berkata: Yaitu dengan ilmu pengetahuan.” Zaid bin Aslam rahimahullah dalam menafsirkan firman Allah Swt berkata: ‫ولقد فضلنا بعض النبيين على بعض وآتينا داود زبورا‬ ً ُ َ َ ُ َ َ ْ َ َ ٍ ْ َ ََ َ ّ ِ ّ َ ْ َ َ ْ ّ َ ْ َ ََ “Dan sesungguh telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian dan Kami berikan Zabur .” kata beliau: “yaitu dengan ilmu pengetahuan”. Asy’ats bin Syu’bah Al-Misshishi menceritakan bahwa:”Suatu hari Harun Ar-Rasyid24 pergi ke Raqqah 24Harun Ar-Rasyid lahir di Rayy pada tahun 766 dan wafat pada tanggal 24 Maret 809, di Thus, Khurasan. Harun Ar-Rasyid adalah khalifah kelima dari kekhalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786 hingga 803. Ayahnya bernama Muhammad Al-Mahdi, khalifah yang ketiga dan kakaknya, Musa Al-Hadi adalah khalifah yang keempat.Ibunya Jurasyiyah dijuluki Khayzuran berasal dari Yaman. Meski berasal dari dinasti Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid dikenal dekat dengan keluarga Barmaki dari Persia (Iran. Harun banyak belajar dari Yahya ibn Khalid Al-Barmak. Era pemerintahan Harun, yang dilanjutkan oleh Ma'mun Ar-Rasyid, dikenal sebagai masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam), di mana saat itu Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia. Di masa pemerintahannya, tercatat banyak prestasi, diantaranya:Mewujudkan keamanan, kedamaian serta kesejahteraan rakyat. Membangun kota Baghdad dengan bangunan-bangunan megah. Membangun tempat-tempat

dengan

rombongannya

termasuk

Abdullah

ibnul

Mubarak sampai sandal mereka pun terputus dan debu berterbangan. Lalu salah seorang budak wanita Amirul Mukminin mengintip dari dalam istana seraya bertanya: “Siapa ini?” Mereka menjawab: “Seorang alim dari Khurasan telah datang.” Dengan ilmulah seseorang akan mendapatkan kemuliaan dunia sebelum akhirat. Sebagaimana Allah Swt telah memilih Thalut untuk memimpin Bani Israil firman-Nya: ‫وقال لهم نبيهم إن ال قد بعث لكم طالوت ملكا‬ ً َِ َ ُ َ ْ ُ َ َ َ َ ْ َ ّ ّ ِ ْ ُ ّ ِ َ ْ ُ َ َ َ َ َ “Nabi mereka mengatakan kepada mereka:‘Sesungguh Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’” Di dalam Shahih Muslim dari ‘Amir bin Watsilah bahwa Nafi’ bin Abdil Harits bertemu ‘Umar di ‘Usfan. Ketika itu ‘Umar mengangkat beliau sebagai gubernur di Makkah. Kemudian ‘Umar bertanya: “Siapa yang engkau angkat jadi pemimpin daerah lembah?” Beliau menjawab: “Ibnu Abza.” Umar bertanya: “Siapa Ibnu Abza?” Beliau menjawab: “Dia adalah salah satu bekas budak kami.” Umar bertanya: “Engkau jadikan yg memimpin mereka dari kalangan maula?” Beliau menjawab: Lalu ‘Umar “Sesungguhnya berkata: dia mempunyai ilmu tentang kitab Allah Swt dan alim dalam ilmu warisan.” “Ketahuilah sesungguhnya

peribadatan.Membangun sarana pendidikan, kesehatan, dan perdagangan. Mendirikan Bait al- Hikmah, sebagai lembaga penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi, perpustakaan, dan penelitian. Membangun majelis Al-Muzakarah, yakni lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, mesjid-mesjid, dan istana.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Nabimu Saw telah bersabda: َ ْ ِ َ ِ ِ ُ َ ََ ً َ ْ َ َ َِ ْ َ َ ِ ُ َ ْ َ َ ّ ِ ‫إن ال يرفع بهذا الكتاب أقواما ويضع به آخرين‬ “Sesungguh Allah mengangkat sebagian kaum dgn kitab ini dan dengan Allah merendahkan yg lainnya.” Abu seseorang Darda25 yg mencari radhiallahu menganggap ilmu ‘anhu bahwa berkata: berangkat “Barangsiapa

itu bukan jihad26 maka

sungguh dia kurang akal dan fikiran.” Selain masalah ketinggian derajat para ulama, Al-Quran juga menyebutkan dari sisi mentalitas dan karakteristik, bahwa para ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah. Sebagaimana disebutkan di
25 Nama lengkapnya adalah Uwaimir bin Zaid bin Qais, seorang sahabat perawi hadist dari Anshar, dari kabilah Khajraj, ia hapal al-Quran dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Dalam perang Uhud Rasulullah bersabda mengenai dirinya “ Prajurit berkuda paling baik adalah Uwaimir” Beliau ini dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Salman Al Farisi. Dia mengikuti semua peperangan yang terjadi setelah perang Uhud. Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman, Abu Darda’ diangkat menjadi Hakim di daerah Syam, Ia adalah mufti (pemberi fatwa) penduduk Syam dan ahli Fiqh penduduk Palestina. 26 Jihad berasal dari kata jâhada, yujâhidu, jihâd. Artinya adalah saling mencurahkan usaha. Lebih jauh lagi Imam anNaisaburi dalam kitab tafsirnya menjelaskan arti kata jihad – menurut bahasa-, yaitu mencurahkan segenap tenaga untuk memperoleh maksud tertentu. Makna jihad menurut bahasa (lughawi) adalah kemampuan yang dicurahkan semaksimal mungkin; kadang-kadang berupa aktivitas fisik, baik menggunakan senjata atau tidak; kadang-kadang dengan menggunakan harta benda dan kata-kata; kadang-kadang berupa dorongan sekuat tenaga untuk meraih target tertentu; dan sejenisnya. Makna jihad secara bahasa ini bersifat umum, yaitu kerja keras. Jihad dengan makna mengerahkan segenap kekuatan untuk berperang di jalan Allah juga digunakan oleh para fuqaha. menurut mazhab Hanafi, jihad adalah mencurahkan pengorbanan dan kekuatan untuk berjuang di jalan Allah, baik dengan jiwa, harta benda, lisan dan sebagainya. Menurut mazhab Maliki, jihad berarti peperangan kaum Muslim melawan orang-orang kafir dalam rangka menegakkan kalimat Allah hingga menjadi kalimat yang paling tinggi. Para ulama mazhab Syafi’i juga berpendapat bahwa jihad berarti perang di jalan Allah. (lihat Al-Qardawi, 2010, Fiqh Jihad, Bandung:Mizan)

dalam salah satu ayat: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama [orang yang berilmu]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir: 28). Sedangkan di dalam hadits Nabi disebutkan bahwa para ulama adalah orang-orang yang dijadikan peninggalan dan warisan oleh para Nabi. Dan para ulama adalah warisan (peninggalan) para Nabi. Para Nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar (emas), dirham (perak), tetapi mereka meninggalkan warisan berupa ilmu. (HR Ibnu Hibban). Di samping sebagai perantara antara diri-Nya dengan hamba-hambaNya Allah Swt juga menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama. Sehingga dan ilmu syariat terus terpelihara pada kemurnian keasliannya sebagaimana

priodesasi awal. Oleh karena itulah besar bagi muslimin. Dalam sebuah hadits yang

kematian salah

seorang ulama memunculkan fitnah dan malapetaka diriwayatkan oleh

Abdullah bin ‘Amr ibn al-‘Ash Rasulullah Saw bersabda; ِ ْ ُ ْ َ َ ِ ّ َ ِ َ َُ ْ ِ ْ َ ِ ْ ِ ََ ِ َ ِ ْ َ ِ ُ ُ ِ َ ْ َ ً َ ِ ْ َ ْ ِ ْ ُ ِ ْ َ َ َ ّ ِ ‫إن ال ل يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد، ولكن بقببض العلمباء. حتببى إذا لبم يببق‬ ‫عالما اتخذ الناس رؤوسا جهال فسألوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا‬ َّ ََ َّ َ ٍ ْ ِ ِ ْ َ ِ ْ َ ْ َ َ ُِ ُ َ ً ّ ُ ً ْ ُ ُ ُ ّ َ َ ّ ً َِ “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu pengetahuan dari dengan hamba-hambaNya. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkan para ulama, maka ketika Allah Swt tidak menyisakan seorang alim pun maka orang-orang akan mengangkat pemimpin dari kalangan orangorang bodoh. Kemudian mereka ditanya tentang persoalan agama, dan mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu akhirnya mereka sesat dan juga

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

menyesatkan orang lain.” Ibnu Rajab27 Al-Hambali rahimahullah

mengatakan: Asy-Sya’bi berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua merupakan kiyamat”. Abdullah “Sesungguhnya datangnya orang jahil.” Eksistensi seorang ulama telah digambarkan Rasul Allah Saw sebagai sebuah kunci baik untuk membuka segala kebajikan maupun menutup semua kejahatan, hal tersebut dapat dilihat dalam sabda beliau; ّ ّ ِ ُ ْ َِ َ َ ِ ْ َ ِِ ُ ْ ِ َ َ ‫مفاتيح للخير ومغاليق للشر‬
27 Al Imam Al Hafidz dan Al Allamah Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Abdurrahman bin Al Hasan bin Muhammad bin Abu Al Barakat Mas'ud As Salami Al Baghdadi D Dimasyqi Al Hambali -rahimahullah- , yang lebih terkenal dengan nama Ibnu Rajab Al Hambali. Rajab adalah gelar kakeknya yang bernama Abdurrahman. Semua sumber yang membahas biografi Ibnu Rajab sepakat bahwa beliau -rahimahullah- dilahirkan di Bahgdad pada tahun 736 H, delapan puluh tahun setelah jatuhnya ibukota Ilmu ketika itu, Baghdad ke tangan bangsa Mongol . 28 Dia adalah seorang dari Abadilah yang faqih, ia memeluk agama Islam sebelum ayahnya, kemudian hijrah sebelum penaklukan Mekkah. Abdullah seorang ahli ibadah yang zuhud, banyak berpuasa dan shalat, sambil menekuni hadits Rasulullah SAW. Jumlah hadits yang ia riwayatkan mencapai 700 hadits, Sesudah minta izin Nabi SAW untuk menulis, ia mencatat hadits yang didengarnya dari Nabi. Mengenai hal ini Abu Hurairah berkata “ Tak ada seorangpun yang lebih hapal dariku mengenai hadits Rasulullah, kecuali Abdullah bin Amr bin al-Ash. Karena ia mencatat sedangkan aku tidak”.

tanda-tanda bin hari ‘Amr28 termasuk kiamat

akan

datangnya

hari

menegaskan tanda-tanda adalah

bahwa: akan

direndahkannya

(derajat) para ulama dan diangkatnya (menjadi mufti)

“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.” Begitu pentingnya posisi ulama dalam Islam, maka hal tersebut kemudian berkembang pesat di Aceh sebagai Serambi Makkah, pola hubungan dakwah ulama Aceh sangat dipengaruhi oleh pola dakwah yang dikembangkan oleh para ulama timur tengah. Hal tersebut tergambar dalam gerakan keagamaan yang tidak jauh berbeda dengan gerakan keagamaan yang dibangun di Timur Tengah, pada tahun 1939. Sementara bangsa Aceh pada masa kekuasaan Belanda dgn mulai mengadakan kerjasama

wilayah-wilayah lain di Indonesia dan terlibat dalam berbagai gerakan nasionalis dan politik. Sarekat Islam sebuah organisasi dagang Islam yg didirikan di Surakarta pada tahun 1912 tiba di Aceh pada sekitar tahun 1917. Ini kemudian diikuti organisasi sosial Muhammadiyah pada tahun 1923. Muhammadiyah membangun sebuah sekolah Islam di Kutaraja (kini bernama Banda Aceh) pada tahun 1929. Kemudian pada tahun 1939 Partai Indonesia Raya (Parindra) membukan cabang di Aceh menjadi partai politik pertama di sana. Pada tahun yg sama para ulama mendirikan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) sebuah organisasi anti-Belanda. PUSA berhasil menjadi penghilang dahaga penyejuk jiwa dari rakyat Aceh yang mendambakan kepemimpinan yang memihak kepada mereka. Sebab realitas politik saat Aceh dikuasai dan dijajah Belanda,

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

ditambah dengan sikap tidak berpihak beberapa golongan dari uleebalang dan juga bersikap tidak adil, rakyat (aceh) merasakan kesengsaraan lahir batin. Keberadaan ulama PUSA terus mendapat dukungan penuh dari rakyat, sehingga muncul kesan, menjadi orang Aceh harus menjadi PUSA, baik sebagai pengurus maupun hanya sebatas simpatisan. Kondisi ini tercipta karena ulama tersebut berhasil mewujudkan keinginan rakyat. Pada tahun 1942, secara bahu membahu dengan kaum uleebalang – yang sudah insaf dan kembali mendukung gerakan ulama--, ulama memberontak kepada Belanda. Namun sangat disayangkan dengan gerakan pemberontakan yang diprakarsai oleh ulama terhadap Belanda ini kemudian membuat langkah Jepang –untuk menancapkan kakinya-- lebih mudah masuk ke Aceh. Jadi masyarakat Aceh terbebas dari cengkraman Belanda masuk dalam kubangan penjajah Jepang. Ulama Aceh, seperti diketahui, selain sebagai tokoh agamawan juga merupakan tokoh kunci dalam merebut dan mengusir para penjajah dari tanah rencong dan juga bumi persada tercinta ini.

Produktivitas ulama Aceh
Seperti diketahui bahwa Ulama Aceh masa lalu cukup produktif berkarya terutama dalam bidang ilmu-

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

ilmu keagamaan seperti bidang tauhid29, fiqh30, tafsir31, tasawuf32, politik dan ketatanegaraan, ekonomi, ilmuilmu alat (Nahwu dan Sarf), dan juga dalam bidang keilmuan lain. Namun produktivitas ulama mulai terasa menurun ketika Kolonial Belanda menguasai Aceh, hal tersebut lebih disebabkan kesibukan mereka menggerakan masyarakat untuk mengusir para

29 Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas pengokohan keyakinan-keyakinan agama Islam dengan dalil-dalil naqli maupun aqli yang pasti kebenarannya sehingga dapat menghilangkan semua keraguan, ilmu yang menyingkap kebatilan orang-orang kafir, kerancuan dan kedustaan mereka. Dinamakan ilmu tauhid karena pembahasan terpenting di dalamnya adalah tentang tauhidullah (mengesakan Allah). Allah swt. berfirman: ِ َ ْ َ ْ ُْ ُ ُ ّ َ َ َ َ ِّ َ ْ َ َ ُ ْ َ َ ّ َ ْ َ َّ ِ َ ْ َِ َ ِ ُ َ َّ ُ َْ َ َ َ َ ‫أفمن يعلم أنما أنزل إليك من ربك الحق كمن هو أعمى إنما يتذكر أولوا اللباب‬ “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Ar-Ra’d: 19) 30 Pengertian Fiqh menurut Etimologi atau bahasa berarti; faham sebagaimana firman Allah SWT “Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku. Supaya mereka memahami perkataanku.” Pengertian fiqh seperti diatas juga tertera dalam ayat lain seperti; Surah Hud 91 Surah At Taubah 122 Surah An Nisa 78. Sementara makna Fiqh dalam terminologi Islam telah mengalami proses penyempitan makna; apa yang dipahami oleh generasi awal umat ini berbeda dengan apa yang populer di genersi berikutnya. Pengertian fiqh dalam terminologi generasi Awal dapat berarti pemahaman yg mendalam terhadap Islam secara utuh. Ubaidillah bin Mas’ud menyebutkan “Istilah fiqh menurut generasi pertama identik atas ilmu akhirat dan pengetahuan tentang seluk beluk kejiwaan sikap cenderung kepada akhirat dan meremehkan dunia dan aku tidak mengatakan fiqh itu sejak awal hanya mencakup fatwa dan hukum-hukum yg dhahir saja.” Sementara terminologi Mutaakhirin fiqh dimaknai sebagai Ilmu furu’ yaitu “mengetahui hukum Syara’ yang bersipat amaliah dari dalil-dalilnya yang rinci. Lebih spesifik lagi para ahli hukum dan undang-undang Islam memberikan definisi fiqh dengan; Ilmu khusus tentang hukumhukum syara’ yg furu dgn berlandaskan hujjah dan argumen. 31 ‫هو علم يعرف به فهم كتاب ال المنزل علي نبيه محمد )ص( وبيبان معبانيه وإسبتخراج أحكببامه و حكمببه‬ Ilmu yang dengannya diketahui:maksud kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw. Makna-makna alQur’an dapat dijelaskan, Hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya dapat diketahui 32 Definisi tasawuf secara lughawi maupun istilah terdapat banyak makna yang dikemukakan, namun dalam tulisan ini

penjajah. Produktivitas tersebut dapat dilihat misalnya dengan banyaknya karya-karya yang dapat dijadikan referensi bagi dunia akademis baik skala lokal, nasional, dan juga internasional. Diantara ulama-ulama yang memiliki banyak karya adalah; Hamzah Fansuri; seperti diketahui Hamzah Fansuri adalah salah satu ulama yang sangat produktif, namun karya-karya beliau banyak yang dimusnahkan terutama karya yang terkait dengan faham wujudiah, hal ini atas perintah seorang ulama Aceh lainnya Nuruddin ar-Raniri karena dianggap menyalahi konsep aqidah Islamiyah. Namun ada beberapa karya yang seperti Syarb ‘Ilmi al-Suluk masih dapat diakses baik yang berbentuk prosa maupun dalam bentuk Syair, al-‘Asyiqin, Asrar al-‘Arifin fi Bayani wa al-Tauhid atau yang dan kitab Zînatul oleh

Muwahhidin. Karya lain berupa syair empat baris bersajak AAAA, diistilahkan Syamsuddin as-Sumatrâni dengan ruba’i. Diantara Syair Hamzah Fansuri adalah Syair Perahu, Syair Burung Pinggai, dan Syair Dagang33. Syamsuddin as-Sumatrani: setelah Hamzah fansuri meninggal, kekuasaan Ulama dalam Kerajaan Aceh
dibatasi pada orang-orang yang tertarik dan intens dengan pengetahuan-pengetahuan yang terkait dengan bathin seseorang, dan orang-orang yang tertarik untuk mencari jalan atau praktek-praktek kearah kesadaran dan pencerahan diri, lihat, Harapandi, 2007, dalam Meluruskan Pemikiran tasawuf; Upaya Mengembalikan Tasawuf berdasarkan Al-qur’an dan Alsunnah, Pustaka Irfani:Jakarta 33 Lihat Sehat Ihsan Shadiqin, 2009. Tasawuf Aceh, Aceh:BP Bandar. Hal.55

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Darussalam Sumatrani, terkemuka kebesaran

dipegang dia adalah dalam

oleh salah

Syamsuddin satu Aceh tokoh dan

assufi ikut

kerajaan

memberikan andil besar dalam perkembangan dan peradabannya, sumbangannya bukan hanya dalam bidang agama, namun juga dalam bidang politik dan ekonomi kerajaan. Sejarah hidup beliau tercatat dalam beberapa Hikayat diantaranya, Hikayat Aceh, Adat Aceh, dan Kitab Bustanus Salatin. Karya-karya yang dihasilkan oleh Syamsuddin as-Sumatrani diantaranya adalah Syarh Ruba’i Hamzah Fansuri, Syarah Syair Ikan Tongkol, Kitab jauharul Haqa’iq, Tanbîhut Thullâb fi Ma’rifati Malikil Wahhab, Risalah Tubayyin Mulahazatul Muwahhidin wal Mulhidin fi Dzikr Allah, Mir’atul Mu’minin, Nur al-Daqa’iq, Thariq al-Salikin, Mir’atul Iman atau kitab Bahr al-Nur, kitab al-Harakah, dan kitab Haqiqatus Shufi. Nuruddin ar-Raniry: beliau ini diberikan tugas sebagai Mufti Tsani dalam yang kerajaan tidak lain Aceh seperti kedudukan Sultan sangat Syamsuddin as-Sumatrani, Iskandar strategis Mufti ia Muda dan juga sendiri. masa Sultan Iskandar menantu ini Kedudukan melebihi hakim,

adalah

berpengaruh sebagai

wewenang dan

Qadhi Malikul ‘Adil (perdana Menteri). Selain sebagai penulis penyanggah ajaran wujudiyah. Menurut Azra arRaniry merupakan mujaddid yang paling penting di Nusantara pada abad 1734. Hal ini dapat diketahui
34 Azra, Jaringan Ulama…, hal. 203

dengan melihat berbagai pembaharuan pemikiran keIslaman yang dilakukannya, terutama dalam masalah fikih, akidah dan keimanan umat Islam saat itu. Sampai saat ini telah ditemukan 29 karangan arRaniry35. Kitab-kitab tersebut membahas berbagai dimensi ilmu keIslaman, yang paling banyak adalah masalah tauhid, fikih dan sejarah. Beberapa kitab tersebut dimaksudkan untuk menyerang doktrin wujudiyah dan menunjukkan beberapa argument tandingannya. Shirat Diantara karya ar-raniry al-Faraid adalah Bisyarhi al-Mustaqim, Durrah

al-‘Aqaid, Hidayat al-Habib fi Targib wa Tarhib, Bustan as-Salatin fi Zikri Awwalin wa al-Akhirin, dan kitab Hilal al-Zill. Tengku Syech Muhammad Bin Ahmad Chatîb Lânġien: beliau adalah seorang ulama kharismatik terlahir dari keturunan ke-5 Smiet Bardan seorang Muballig asal Inggris. Dari sinilah lahir dua silsilah penguasa Aceh. Pertama silsilah yang melahirkan Umarâ dan kedua; silsilah yang melahirkan Ulamâ besar di kalangan masyarakat Aceh36. Beliau ini hidup pada akhir abad XIX awal abad XX, beliau dikenal juga sebagai Tgk Syik Di Tepin Raya. Selain sebagai muballiq juga sebagai pengarang yang sangat produktif, hasil-hasil karya beliau yang paling

35Syed Muhammad Naguib al-Attas, A Comentary on he Hujjat al-Shiddiq of Nur al-Din al-Raniry, (Kuala Lumpur:Ministry of Culture, 1986), hal. 8-12 36Wawancara dengan Kepala Museum Aceh Drs. Nuruddin, M.Si pada hari Selasa tanggal 31 Maret 2009 di Gedung Museum Aceh Ruang Koleksi. Menurut silsilah beliau juga termasuk keturunan Syaikh Muhammad bin Ahmad Khatib Langien.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

popular sampai saat ini dipakai di dayah-dayah seluruh Aceh adalah kitab Dawâul Qulûb yang terkumpul dalam kitab Jamu Jawâ’i' al-Mushannafât37 yang popular dengan “kitab delapan” karena terkumpul delapan kitab, dikumpulkan oleh al-Âlim al-Fâdlil al-Syaikh Ismâil Ibn ‘Abdul Muttalib al-Âsyi’. Dalam sumber lain ditemukan bahwa naskah lain yang dihasilkan oleh Tgk Muhammad bin Ahmad Khatib Langgien adalah; I’lâmul Muttaqîn Min Irsyâdul Murîdîn; hadits yang berisi tentang ilmu yang harus menuntut ilmu, juga

dipelajari, keutamaan menuntut ilmu disertai haditsmewajibkan tentang taubat baik dari dosa kecil maupun dosa besar, dan hal-hal lain. Kumpulan Karangan; Minhâjul al-tamîmî Fî Tabwîb al-Hikami;naskah ini berisi tentang ilmu yang bermanfaat, taubat, ikhlas dalam beramal, hikmah sembahyang, menjaga waktu, zikir dan persoalan riya, Ka’su al-Muhaqqiqîn; bersisi uraian dan penjelasan tentang tarekat, Uyûn al-Haqîqah Li Ahli al-Kasyf al-Musyâhadah; berisi tentang

37 Kitab tersebut mengandung 8 teks yang ditulis oleh ulama’-ulama besar Aceh seperti Hidâyatul Awâm oleh al-Allâmah Jalâluddin, kitab ini berbicara tentang berbagai persoalan dalam ilmu fiqh, Farâidul Qur’an membicarakan masalah-masalah keutamaan al-Qur’an, Kasyful al-Kirâm dan Talkhîsul Falâh oleh Âlim al-Kâmil Mukammil Syaikh Muhammad Zaini, kitab ini yang pertama berbicara tentang niat pada saat takbîrautl Ihrâm dan kitab kedua berbicara tentang hukum thalaq dan nikah dalam kajian fiqh, Syifâul Qulûb oleh Maulânâ al-Ârif billah Syaikh Abdullah, kitab ini berbicara tentang persoalan ilmu-ilmu hadits, Al-Mawâidzul Badîah oleh Wali Allah bilâ Nizâ’ Syaikh Abdurrauf al-Fanshûrî, Dawâul Qulûb oleh Tgk Syaikh Muhammad bin Ahmad Khâtib Langien, kitab ini berbicara tentang persoalan obat hati (ilmu Dzâhir Bâthin) dalam perspektif sûfî, dan I’lâmul Muttaqîn oleh Syaikh Jamâluddin.

martabat manusia serta uraian tentang 7 martabat manusia, Rubâ’î Hamzah Fansûrî dan beberapa catatan tentang Faham Wujûdiyah, Mi’rajus Sâlikîn; berisi tentang silsilah tharekat syatâriyah, cara-cara mengambil tharekat bagi seorang murid, serta pengertian Syariat, tharekat, ma’rifat dan haqiqat, Asrâru Ad-Dîn: berisi tentang rahasia-rahasia ajaran agama, Nujûmul Hudâ Li Ahlil Qurbâ, dan Jalan Salik dan jalan suluknya, hadits dan artinya (tentang tasawuf), doa tasawuf dan astrologi (tidak diketahui judulnya).

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Kelahiran
Faqih Jalaluddin merupakan seorang ulama Aceh yang hidup setelah masa Syaikh Abdurrauf Sinkil. Ia adalah murid dari Syaikh Abu Daud al-Jawi ibn Ismail ibn Agha Ali Mustafa ibn Agha Ali Rumi38 yang popular dengan Baba Daud. Wan Mohd. Shaghir Abdullah berkeyakinan bahwa Faqih Jalaluddin sempat bertemu masa dan belajar langsung kepada Abdurrauf al-Sinkili, mengingat hubungan dekat yang terjalin antara Abdurrauf dengan Baba Daud, begitu juga antara Baba Daud dengan Faqih Jalaluddin. Dengan demikian dapat diperkirakan ia hidup di sekitar akhir abad 17 sampai paruh kedua abad ke 18. Wan Mohd. Shaghir Abdullah mengutarakan adanya kekeliruan mengenai nama Ayah Faqih Jalaluddin yang terdapat di antara dua naskah, yaitu
38Teuku Iskandar, Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad, Jakarta; LIBRA, 1996. Beliau adalah salah seorang murid dari Syaikh Abdurrauf Sinkil.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

jam’u Jawami’ al-Mushannafat39 dan Hujjat al-Balighah. Pada naskah Hujjat al-Balighah disebutkan namanya ialah Faqih Jalaluddin ibnu asy-Syeikh Kamaluddin ibnu al-Qadhi Baginda Khathib at-Tarun Pasir. Sementara pada naskah jam’u Jawami’ al-Mushannafat nama Kamaluddin ditulis dengan Jalaluddin. Sementara Teungku Iskandar40 menyebutkan informasi Baginda yang Khatib, berbeda, nama Faqih disebutkan fi dengan Jalaluddin bin Muhammad Kamaluddin bin pengarang Safinat al-Hukkam Takhlis al-Khassam. Dikatakan bahwa ia berasal dari daerah Tarusan, Minangkabau. Faqih termasuk dalam salah satu nama ulama Aceh yang merupakan pengarang pada abad 18.

Pendidikan
Mengenai pendidikan yang diperoleh oleh Faqih Jalaluddin, belum ditemukan adanya peneliti yang mengkaji secara dalam mengenai hal ini. Informasi yang dapat diketahui bahwa Faqih Jalaluddin telah belajar kepada Baba Daud serta mendapatkan ijazah, khirqah tarekat Qadiriyah dan Syattariyah dari gurunya tersebut, sebagaimana yang tersebut dalam naskah Syamsu al-Ma’rifat:
39Kitab Jam’u Jawami’ al-Musannafat adalah karya al-Syaikh Ismail bin Abdul Muttalib al-‘Asyi yang berisi kumpulan karyakarya ulama asal Aceh dan dikenal di lingkungan masyarakat dayah Aceh sebagai kitab delapan. Kitab-kitab yang terkait di dalmnya adalah kitab Risalah Hidayatul Awam, Risalah talkhis alFalah, Risalah Dawa’ al-Qulub, Risalah Faraidul Qur’an, Risalah Syifa’ al-Qulub, Risalah I’lam al-Muttaqin, Risalah Kasyf al-Kiram, dan Risalah Mawaizd al-Badi’ah. 40Teuku Iskandar, Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad, Jakarta; LIBRA, 1996.

“…risalah pada menyatakan silsilah tariqat yang amat tinggi martabatnya yaitu thariqat Qādiriy dan Syaţţariy, yaitu maka adalah fakir yang hina Faqih Jalaluddin yang mengambil bai’at dan talqin dan khirqah dan ijazah syeikhnya yang ’arif billah yaitu syeikh Baba Daud ibn Ismail faqih yang ia mengambil syekhnya Amiruddin ’Abdurrauf dan....” Setelah memperolah ilmu pengetahuan dari gurunya Baba Daud, Faqih Jalaluddin kemudian pergi belajar ke tanah Suci Mekkah dan juga India. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi keulamaan di Aceh pada waktu itu masih berpusat pada tanah Suci Mekkah sebagaimana ulama-ulama besar pada masa sebelumnya, sebut saja misalnya Syaikh Abdurrauf Sinkel, Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-Raniry dan juga yang lainnya41. Dapat dikatakan bahwa Faqih Jalaludin juga merupakan seorang ulama besar Aceh sehingga ia dilantik sebagai Qadhi Malikul Adil di Kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Maharaja Lela Ahmad Syah (1139 H- 1147 H/ 1727 M1723 M) dan pada masa Sultan Alauddin Johan Syah (1147 H- 1174 H/ 1735 M- 1760 M) fakta tersebut dapat dilihat dalam kutipan “… pada Hijrah Nabi Wan Mohd. Saghir seribu seratus empat Abdullah dalam naskah Hidayah al-Awwam42, bahwa:

41 Azyumardi Azra, 2005. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII & XVIII. Jakarta:Prenada Media. 42 Kitab Hidayah al-Awwam ini merupakan salah satu dari delapan kitab yang tergabung pada Jam’u Jawami’ al-Musannafat bagian pertama yang ditulis oleh al-Allamah Jalaluddin anak Syaikh ‘Arif bi Allah Syaikh Jalaluddin, halaman. 2-3. Lihat kitab Jam’u Jawami’ al-Musannafat karya Ismail bin ‘Abdul Muttalib,tt. (Medan: Al-Syifa’)

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

puluh, pada lima hari bulan Muharram (5 Muharram 1140 H/ 23 Ogos 1727 M, pen) zaman Paduka Seri Sultan, yang amat besar kerajaannya, lagi yang maha tinggi darajatnya, yaitu Sultan Alauddin Ahmad Syah Johan berdaulat Zhulillah fi al-‘Alam, adamallahu daulatu, Amin, maka tatkala itu meminta kepada Faqir yang hina Khadim al-Ulama (yang berkhidmad pada ulama), Haji Jalaluddin… oleh seorang sahabat raja itu, yang takut akan Allah taala, bahawa kusuratkan baginya suatu risalah yang simpan (maksudnya: risalah yang ringkas, pen). Maka aku namai akan dia Hidayah alAwam… ” Sebagai seorang ulama, Faqih Jalaluddin juga mengarang kitab-kitab keagamaan seperti Fiqh dan Tasawuf. membantu Dalam bidang Baba tafsir Daud Qur’an, ia telah tafsir gurunya menyalin

Tarjuman al-Mustafid dan menyelesaikan tafsir itu sehingga menjadi lebih lengkap dan sempurna, di mana Tarjuman al-Mustafid merupaka salah satu karya Abdurrauf Sinkil yang merupakan tafsir Melayu pertama di dunia Melayu.43 Karya-karyanya Diantara karya-karya yang telah dihasilkan oleh Faqih Jalaluddin ialah dari yang telah disebutkan oleh Wan Mohd Shaghir Abdullah ada sebanyak lima karya, yaitu karya dalam bidang Fiqh sebanyak tiga buah dan karya dalam bidang Tasawuf sebanyak dua buah. Adapun naskah Syamsu al-Ma’rifat tidak disebutkan di dalamnya. Oleh karena itu, dengan adanya penelitian filologi terhadap naskah ini, maka akan menambah
43 Oman Fathurahman, Tarekat Syattariyah di Minangkabau, Jakarta: Prenada Media Group bekerjasama dengan …. PPIM UIN Jakarta dan KITLV, 2008. hlm. 35.

kontribusi bagi penambahan data terhadap karyakarya salah ulama seorang Aceh ulama khususnya yang dan Nusantara pada umumnya, termasuk Faqih Jalaluddin yang merupakan berpengaruh masanya, namun pada masa kini jarang dikenal oleh masyarakat, khususnya bagi masyarakat Aceh sendiri. Hal tersebut dikarenakan sulitnya ditemukan tulisan tentang Faqih Jalaluddin. Adapun informasi-informasi mengenai Faqih Jalaluddin didapatkan dari naskah-naskah kuno yang merupakan hasil karyanya. Adapun karya-karya Faqih Jalaluddin yang dapat diketahui dari tulisan Wan Mohd. Shaghir Abdullah ialah sebagai berikut dan penulis tambahkan dibawahnya naskah Syamsu al-Ma’rifat sebagai daftar baru dari daftar yang telah ada. Hidayah al-Awam (berisi tentang Fiqh, mengenai perintah agama), merupakan karya pertama yang di karang oleh Faqih Jalaluddin. Safinat al-Hukam fi Talkhis al-Khisham (berisi tentang Fiqh, kemungkinan merupakan karyanya yang terbesar di antara karyanya). Hujjah al-Balighah ‘ala Jama’ah al-Mukhasamah (berisi tentang Fiqh). Manzhar al-Ajla ila Martabah al-A’la (berisi tentang Tasawuf). Asrar as-Suluk ila Malail Muluk (berisi tentang Tasawuf). syamsu al- Ma’rifat ila hadharatihi syarifati (berisi tentang Tasawuf).

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Ringkasan Isi Naskah Syamsul ma’rifa Ilâ Hadlratihî al-Syarîfati

Deskripsi Naskah Syamsu al Ma’rifa Naskah ini berjudul Syamsu al-Ma’rifa Jalaluddin. Naskah ini didapatkan dari 2010. Nomor naskah ini tercatat Ilâ

Hadratihî Al-Syarifa, yang dikarang oleh syeikh Faqih Museum Ali Hasyimi di ketapang Banda Aceh pada tanggal 28 April dua katagori yaitu nomor lama dan nomor baru: Nomor lama naskah ini 15/NKT/YPAH/1992, sedangkan nomor baru naskahnya 11E/TS/12/YPAH/2005 nomor baru ini berdasarkan katalog hasil research Tokyo University Of Foreign Studies (TUFS), kerja sama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Nanggroe Aceh Darussalam 2005. Ada perbaikan, pengecekan beberapa karena pada catatan ternyata naskah penting setelah aselinya –sebagai dilakukan —terdapat

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

beberapa kekeliruan dalam catalog tersebut seperti pada naskah No.11A/TS/1/YPAH/2005 atau 15/NKT/YPAH/1992 pada katagori naskah tasauf. Di dalam katalog naskah itu disebutkan bahwa pada nomor naskah 11A berjudul Tibyan fil ma’rifat al adyan, 11B naskah Tibyan fil ma’rifat Al adyan, 11C naskah sulam mustafidin, 11D naskah sulam mustafidin, dan 11E naskah syaamsul ma’rifat ila hadhratihi ash syaarifa. Sementara fakta yang ada bahwa pada naskah nomor 11A berjudul Tibyan fil ma’rifat al adyan, 11B naskah Sulam Mustafidin, 11B naskah sulam mustafidin, 11D Syamsu al- ma’rifat ila hadhratihi alsyaarifa, dan pada naskah bernomor 11E terdapat naskah tentang kejadian manusia. Begitu juga dengan jenis kertasnya yang dijlaskan di buku kertas eropa padahal yang sebanarnya kertas buku tulis biasa dan ada juga perbedaan dengan baris dan jumlah halamannya, kebanyakan tidak sama. Jadi naskah yang dijadikan kajian pada penelitian ini adalah naskah bernomor seri 11 D bukan 11 E. Ukuran naskahnya 20 x 5 cm sedangkan ukuran teksnya 15,5 cm x17,5 cm, yang terdiri 11 halaman dan tiap-tiap halaman 22 baris. Naskah ini ditulis dengan huruf Arab jawi bahasa Arab Melayu, tulisannya masih baik dan jelas, hurufnya kecil-kecil, rapat dan tidak memakai tanda baca atau harakat. Ditulis dengan memakai tinta tradisional hitam merah. sementara rubrikasinya memakai tinta

Terdapat penomoran halaman pada naskah ini yang ditulis dengan pinsil biasa dan juga menggunakan alihan di setiap halaman rekto untuk menentukan halaman berikutnya. Keadaan naskahnya masih baik dan masih jelas dibaca. Naskah ini merupakan kumpulan karangan yang tergabung dengan naskah Tibyan Fil Ma’rifat Al Adyan (11A), Sulam Mustafidin (11E), Sulam Mustafidin (11C), dan tentang kejadian Manusia (11E). Teks naskah ditulis dalam bentuk prosa, dengan tulisan khat Farisi, pada kertas tipis bergaris biasa. Pada naskah ini terdapat beberapa halaman yang ditulis pada pias halaman, terdapat juga “oksordium” atau kata pengantar di awal naskahnya dan “kolofon” bagian akhir naskahnya. Naskah ini tidak ada sampul hanya kulit buku biasa.

Isi Singkat Naskah Dari segi judul naskah ini dapat dimaknai sebagai usaha memebrikan penjelasan kepada persoalan essensi Ilahiyyah yang tersembunyi dari para makhluk Allah Swt. Secara garis besar isi kadungan naskah ini dapat dilihat dalam naskah ini hal-hal terkait dengan masalah tasawuf adalah; Pertama; tentang al-taubat, Dalam konsep ini Syeikh Faqih Jalaluddin mengemukakan; “Firman Allah Ta’ala tûbû ilallahi taubatan nasuha, artinya taubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang sahih. Sabda Nabi şallallahu ‘Alaihi

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Wasallam waman tâba minaz zanbi kaman la zanba lahu44, artinya barang siapa taubat daripada dosa adalah ia seperti orang yang tiada berdosa…” (syamsul, hal.01). Lanjutnya bahwa taubat itu terbagi menjadi dua perkara; “… Maka adalah taubat itu dua perkara. Pertama taubat zahir, kedua taubat batin. Maka perhimpunan kedua taubat itu yaitu taubat qutbil aqtâbi syekh ‘Abdul Qadir Jailaniy45 astaghfirullahal ‘azdim min ismi wamin dzalali wamin wujudi wa min ‘ilmi wamin ‘amali, artinya mohon ampun aku kepada Allah yang amat besar daripada dosa besar dan daripada dosa kecil dan daripada ingat akan diriku dan ilmuku dan ‘amalku…” (Syamsul 01) Dari ungkapan tersebut tersurat dengan jelas bahwa taubat zahir dan juga taubat batin dapat disatukan dalam satu tarikan nafas tanpa dipisahpisahkan antara keduanya, hal tersebut terbukti

44 Orang yang bertaubat setelah tergelincir dalam kesalahan ibarat orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, namun taubat tersebut harus pula diikuti dengan perbuatan kebajikan “Wa atbi’i al-Sayyiata al-hasanata” (maka hendaklah diikuti keburukan dengan kebajikan). Dalam salah satu haditsnya Rasul Allah mengatakan; “Lâ Kabîrata Maal Ishtigfâr Walâ Shaghîrata Maal Asrâr” (tidak dikenal dosa besar jika dibarengi dengan istighfar dan tidak ada namanya dosa kecil bila dilakukan terusmenerus). 45 Ada dua riwayat sehubungan dengan tanggal kelahiran alGhauts al_A'zham Syekh Abdul Qodir al-Jilani. Riwayat pertama yaitu bahwa ia lahir pada 1 Ramadhan 470 H. Riwayat kedua menyatakan Ia lahir pada 2 Ramadhan 470 H. Tampaknya riwayat kedua lebih dipercaya oleh ulama. Silsilah Syekh Abdul Qodir bersumber dari Khalifah Sayyid Ali al-Murtadha r.a, melalui ayahnya sepanjang 14 generasi dan melaui ibunya sepanjang 12 generasi. Syekh Sayyid Abdurrahman Jami r.a, memberikan komentar mengenai asal usul al-Ghauts al-A'zham r.a sebagi berikut : "Ia adalah seorang Sultan yang agung, yang dikenal sebagial-Ghauts al-A'zham. Ia mendapat gelar sayyid dari silsilah kedua orang tuanya, Hasani dari sang ayah dan Husaini dari sang ibu". (Baca Harapandi, 2001. Pemikiran Teologi Sufistik Syaikh Abdul Qadir El-Jaelani, Wahyu Press;Jakarta)

dengan statemen syekh Abdul Qadir al-Jailani di atas. Lebih dari itu hasil yang diharapkan dari aktivitas taubat adalah pemurnian kembali ketauhidan seseorang setelah menghambakan dirinya kepada selain Allah Sang Khaliq. Pernyataan tegas Faqih Jalaluddin dalam potongan teksnya; “…Maka hasillah daripada taubat ini tauhid yang dimaksud pada menjalani jalan kepada Allah. Maka makna tauhid46 itu yaitu Esa Allah aza wajalla dan zatnya dan sifatnya dan pada fa’al-Nya…” (Syamsul, hal. 01) Setelah ungkapan penyesalan dibuktikan

dengan mencerabut diri dari perbuatan maksiat, menyesali semua yang telah terlanjur dilakukan, dan berniat dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan pernah kembali lagi melakukan kemaksiatan dan akhirnya menyerahkan seluruh persoalan kepada Sang Pencipta inilah hakikat taubat yang sebenar-benar taubat {Taubatan Nashuha}. “…Jikalau sekalian perintah dan sekalian ikhtiar melainkan yang sepatutnya kita pada saat kerja dan pada saat ketika hendaklah menyerahkan diri kepada Allah, dan senantiasa hati berhadap kepada-Nya serta memuji Dia dan ‘ibadah akan Dia pada tiap-tiap waktu, demikianlah orang taubat yang dikasihi Allah” (Syamsul, 02)

46Tauhid terbagi menjadi tauhid Nafsiyyah dan juga tauhid Salbiyyah. Tauhid Nafsiyyah adalah sikap seorang hamba yang – hanya—mengakui bahwa hanya Allah-lah yang harus di sembah dan tiada tuhan melainkanNya, Dialah yang Maha Esa Dzat satusatunya dan esensinya tidak dapat ditiru oleh makhlukNya, sementara tauhid Salbiyyah adalah sikap peng-Esaan Allah Swt secara total dalam perkataan maupun perbuatan namun dapat teraplikasikan dalam sikap hambaNya seperti Alah Maha Pengasih, maka seorang hamba harus mengaplikasikan sikap kasih juga terhadap hamba Allah yang lain.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Jadi hakikat al-taubat dalam pandangan syeikh Faqih Jalaluddin merupakan kesadaran sedalamdalamnya terhadap segala ketentuan yang telah digariskan Allah beserta rasulNya dalam berbagai dasar al-quran maupun al-sunnah. Dengan kesadaran bahwa Allah Maha Melihat (Bashirun)47 terhadap seluruh aktivitas yang kita lakukan, maka akan terpelihara dari perbuatan-perbuatan melanggar ketentuan Ilahi. Kesadaran akan kehadiran Allah dalam berbagai locus membuat kita menjadi awas dan selalu berada pada jalur yang telah ditetapkan Allah Swt. Perwujudan dan manifestasi Allah dalam alam

raya ini dalam dunia tasawuf dikenal dengan istilah Wihdat el-Wujud (kesatuan wujud)48. Konsep Wihdatul
47 Bashirun artinya yang melihat, maka mustahil Allah itu buta. Sifat ini telah ditegaskan sendiri oleh Allah dalam al-Qur’an "Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan." (Q.S.AlHujurat : 18). Maka sepatutnyalah bagi setiap mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk senatiasa memperbanyak rasa malu melakukan dosa dan kelalaian kepada Allah Yang Maha Melihat. Penglihatan Allah tentunya sangat berbeda dengan penglihatan manusia atau makhluq lainnya karena Allah bersifat Laitsa Kamitslihi Syaiun (Allah berbeda dengan makhluqNya dari segala segi). 48 Muhiddin Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah Hatimi at-Ta'i (28 Juli 116516 November 1240) atau lebih dikenal sebagai Ibnu Arabi adalah seorang sufi terkenal dalam perkembangan tasawuf di dunia Islam. Ibnu Arabi dilahirkan pada tanggal 28 Juli 1165 di AlAndalus, Spanyol. Pada usianya yang ke 8, bersama keluarganya, ia pindah ke Sevilla. Pada tahun 1198, ia pergi ke Fez, Maroko. Ibnu Arabi sangat dikenal dengan konsep Wihdatul Wujud-nya. Ia mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang wujud kecuali Tuhan. Segala yang ada selain Tuhan adalah penampakan lahiriah dari-Nya. Keberadaan makhluk tergantung pada keberadaan Tuhan, atau berasal dari wujud ilahiah. Manusia yang paling sempurna adalah perwujudan penampakan diri Tuhan yang paling sempurna, menurutnya. Pengaruh Ibnu Arabi dalam bidang tasawuf, khususnya tasawuf filosofis, sangat luar biasa. Gagasan Ibnu Arabi menyebar luas dan memiliki pengikut yang tidak sedikit jumlahnya. Di Indonesia, paham wihdat al-wujud Ibnu arabi berpengaruh besar. Terbukti dengan banyak ulama

Wujud adalah konsep yang dirumuskan oleh Ibnu Arabi, beliau mengemukakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang wujud kecuali Tuhan. Segala yang ada selain Tuhan adalah penampakan lahiriah dari-Nya. Keberadaan makhluk tergantung pada keberadaan Tuhan, atau berasal dari wujud ilahiah. Manusia yang paling sempurna adalah perwujudan penampakan diri Tuhan yang paling sempurna, menurutnya. Ibn Al-‘Arabi adalah pendiri faham Tauhid Wujudi bahkan ia merupakan panutan dalam pemikiran ini. Pemikiran yang selalu menjadi sorotan tajam dari kaum fuqoha. Pemikiran inilah yang menjadi landasan konsep pendidikannya bahkan semua pola pikirnya berporos pada pemahaman ini. Perlu digaris bawahi bahwa Ibn Arabi belum pernah menyebutkan istilah wahdatul wujud dalam kitabnya namun istilah ini dicetuskan berbagai oleh orientalis/ bisa kafirin. Namun dari ajarannya dikatakan bahwa

pemahamannya adalah wahdatul wujud. Dalam menjelaskan konsep wahdatul wujud Ibn Arabi mengungkapkan: “ketahuilah bahwa wujud ini satu namun Dia memiliki penampakan yang disebut dengan alam dan ketersembunyiannya yang dikenal dengan asma (nama-nama), dan memiliki pemisah yang disebut dengan barzakh yang menghimpun dan memisahkan antara batin dan lahir itulah yang dikenal dengan Insan Kamil”. Dalam kalimat lain juga menjelaskan:
Indonesia yang memakai prinsip wihdat al-wujud, diantaranya: Hamzah Fansuri, Syamsudin as-Sumatrani dan Abdus Samad alPalimbani.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

“Ketahuilah bahwa Tuhan segala Tuhan adalah Allah Swt. Sebagai Nama Yang Teragung dan sebagai ta’ayun (pernyataan) yang pertama. Ia merupakan sumber segala nama, dan tujuan terakhir dari segala tujuan, dan arah dari segala keinginan, serta mencakup segala tuntutan, kepadaNya lah isyarat yang difirmankan Allah kepada RasulNya Saw -bahwa kepada Tuhanmulah tujuan terakhir- karena Muhammad adalah mazhar dari pernyataan pertama (ta’ayyun awwal), dan Tuhan yang khusus baginya adalah Ketuhanan Yang Teragung ini. Ketahuilah bahwa segala nama dari nama-nama Allah merupakan gambaran dalam ilmu Allah yang bernama dengan ‘mahiat’ atau ‘ain sabitah’ (esensi yang tetap). Setiap nama juga memiliki gambaran di luar yang diberi nama dengan mazahir (penampakan atau fenomena) dan segala nama tadi merupakan pengatur dari nama mazahir ‘Allah’ (fenomena-fenomena) yang menghimpun ini. segala Sedang nama Haqiqat Muhammadiyah merupakan gambaran dari ketuhanan yang darinya muncul limpahan atas segala yang ada dan Allah Swt sebagai Tuhannya. Haqiqat Muhammadiyah seluruhnya yang mengatur gambaran alam dengan Tuhan yang tampil padanya,

disebut dengan Rab al-arbab (Allah Swt).” Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan Haqiqat Muhammadiyah di sini bukan hanya Nabi Muhammad Akhlaqnya. sebagai Nabi manusianya muhammad namun disebut Haqiqat dengan Muhammadiayah adalah Asma dan Sifat Allah serta Muhammad karena Beliau mampu berakhlaq dengan seluruh akhlaq ketuhanan tersebut.

Selanjutnya Ibn Arabi juga mengatakan: “ketahuilah bahwa yang ada hanya sifat-sifatNya Allah, af’alNya maka semuanya adalah Dia, denganNya, dariNya dan kepadaNya. Kalaulah ia terhijab dari alam ini walaupun sekejap maka binasalah alam ini secara keselurhan, kekalnya alam ini dengan penjagaanNYa dan penglihatanNya kepada alam. Akan tetapi jika sesuatu sangat tampak jelas dengan cahayaNya hingga pemahaman tidak mampu untuk mengetahuinya maka penampakan itulah yang disebut dengan hijab.” Jadi asma dan sifat itulah yang disebut dengan Haqiqat hakikat Muhammadiyah, tersebut. Oleh dan alam itu muncul Ibn dari Arabi sebab

mengungkapkan: “Alam pada hakikatnya adalah satu namun yang hilang dan muncul adalah gambarnya saja”. Maksudnya hakikat alam tadi berasal dari Zat Yang Satu, yang pada dasarnya gambaran alam tadi hilang dan muncul, artinya alam itu pada hakikatnya tiada berupa gambar saja. Dalam hal ini ia menyatakan: “Maha Suci Allah yang menciptakan segala sesuatu Dialah segala sesuatu tadi.” Artinya penampakannya tiada lain Dia juga, yang tampil dariNya adalah Dia juga. Lebih jelasnya Syaikh Abd Ar-Rauf Singkil menjelaskan dalam sebuah karyanya: “wujud alam ini tidak benar-benar sendiri, melainkan terjadi melalui pancaran. Yang dimaksud dengan memancar di sini adalah bagaikan memancarnya pengetahuan dari Allah Ta’ala. Seperti halnya alam ini bukan benar-benar Zat Allah, karena ia merupakan wujud yang baru, alam juga

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

tidak benar-benar lain dariNya. Karena ia bukan wujud kedua yang berdiri sendiri disamping Allah.” Jadi alam bukanlah sebenarnya Allah namun pancarannNya dengan kata lain hijabnya. Hal ini dikuatkan oleh penjelasan Willian dalam salah satu karyanya mengenai Ibn Arabi: “Hanya satu wujud dan seluruh eksistensi tiada lain adalah pancaran dari Wujud Yang Satu.” Kesimpulannya yang tampak itulah makhluk cipatanNya sedang ZatNya tetaplah ghaib. Hal ini dijelaskan oelh Ibn Arabi sebagai berikut: “Allah nyata ditinjau dari penampakanNya pada cipatanNya dan batin dari segi Zatnya.” Untuk lebih jelasnya, Tajalliyat Allah pada lingkatan wujud adalah merupakan penampakan Allah berupa kesempurnaan dan keagungan yang abadi. Zatnya merupakan sumber pancaran yang tak pernah habis keindahan dan keagunganNya. Ia merupakan perbendaharaan yang tersembunyi yang ingin tampil dan dikenal. Allah sebagai keindahan ingin membuka perbendahataan tersembunyi tersebut dengan Tajalliyat (teofani) Haq tentunya yang merupakan penampakan-penampakan dari keagungan, keindahan dan kesempurnaanNya dalam pentas alam yang maha luas. Ibn Arabi berkata: “Alam maujud atau mengada denganNya”. Tajalliyat al-Wujud dengan gambaran global dalam tiga hadirat: Hadirat Zat (Tajalliyat Wujudiya Zatiya) yaitu pernyataan dengan diriNya untuk diriNya dari diriNya. Dalam hal ini Ia terbebas dari segala gambaran dan penampakan. Ini dikenal

dengan Ahadiyat. Pada keadaan ini tampak Zat Allah terbebas dari segala sifat, nama, kualitas, dan gambaran. Ia merupakan Zat Yang Suci yang dikenal dengan rahasia dari segala rahasia, gaib dari segala yang gaib, sebagaimana ia merupakan penampakan Zat, atau cermin yang terpantul darinya hakikat keberadaan yang mutlak. Tajalliyat Wujudiya Sifatiya yang merupakan pernyataan Allah dengan diriNya, untuk diriNya, pada penampakan kesempurnaanNya (asma) dan penampakan sifat-sifatNya yang azali. Keadaan ini dikenal dengan wahdah. Pada hal ini tampak hakikat keberadaan yang mutlah dalam hiasan kesempurnaan ini lah yang dikenal dedngan Haqiqat Muhammadiyah (kebenaran yang terpuji), setelah ia tersembunyi pada rahasia gaib yang mutlak denganjalan faid al-aqdas (atau limpahan yang paling suci karena ia langsung dari Zat Allah). Dalam keadaan ini tampillah al-A’yan asSabitah (esensi-esensi yang tetap) atau ma’lumat Allah. Tajalliyat Wujudiyah Fi’liyah (af’aliyah) yaitu pernyataan Haq dengan diriNya untuk diriNya dalam fenomena esensi-esensi yang luar (A’yan Kharijah) atau hakikat-hakikat alam semesta. Keadaan ini dikenal dengan mutlaq dengan ZatNya, sifatNya dan perbuatanNya dengan jalan limpahan yang suci (alfaid al-muqaddas). Allah pun tampak pada gambaran esensi-esensi luar (A’yan Kharijah), baik yang abstrak maupun yang kongkrit yang merupakan asal dari alam semesta seluruhnya.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Allah Swt merupakan awal dari tajalliyat wujud segala fenomenanya dan dimensinya. Jadi Dia tidak berasal dari ketiadaan dan tidak berakhir kepada ketiadaan pula. Ia merupakan karya absolut yang berada pada lingkatan yang absolut, ia berasal dari yang Haq dengan Haq dan kepada yang Haq, baik dalam tahap Zat, Sifat dan Af’al. semuanya adalah penampakan dari hakikat yang satu. Namun apakah berarti alam adalah Allah dan Allah adalah alam. Bisa dikatakan ‘ya’ atau ‘tidak’, sebagaimana yang beliau ungkapkan dalam salah satu karyanya: “Dalam hal ini ada sebagian golongan sufi yang terpeleset jatuh dalam kekhilafan dari yang sebenarnya, mereka berkata tidak ada kecuali apa yang engkau lihat bahwa alam adalah Allah dan Allah adalah alam tiada lain. Sebabnya kesaksian ini terjadi karena mereka belim benar benar mencapai apa yang dicapai oleh muhaqiqun. Kalau mereka mencapai apa yang dicapai oleh muhaqiqin maka meraka tidak akan berkata demikian dan menetapkan segala hakikat pada tempatnya dan mengetahuinya dengan ilmu dan penyingkapan.” Disamping itu penyatuan antara manusia dan hamba adalah mustahil ataupun Allah bertempat adalah juga mustahil. Hal ini ia jelaskan dalam sebuah kitabnya: “Ittihad adalah mustahil karena dua zat menjadi satu, tidak akan mungkin bertemu antara hamba dan Tuhan pada satu wajah selamanya ditinjau dari ZatNya.” Dari pernyataan ini jelas beliau tidak berpaham panteisme, jadi bagaimana menafsirkan wahdatul

wujud

tersebut?

Sebagaimana Zat

yang

diungkapkan sumber

sebelumnya

bahwa

Allah

adalah

segalanya. Jadi yang disebut eksistensi atau wujud adalah Zat tersebut. Sedangkan keadaan yang dikenal dngan wahdah, Haqiqat tajalliyat Muhammadiyah wjudiyah (A’yan sabitah, sifatiyah) merupakan

penampakan atau bayangan dari Zat Yang Suci yang bernama Allah. Kemudian keadaan yang bernama Wahdaniyat (tajalliyat wujudiyah fi’liyah atau a’yan kharijiyah) adalah bayangan dari wahdah atau Haqiqat Muhammadiyah. Jadi seluruhnya bayangan dari Zat Yang Suci. Lebih jelasnya alam ini (a’yan kharijiyah) penampakan atau bayangan dari Asma Allah yang dikenal dengan Haqiqat Muhammdiyah ataupaun A’yan Sabitah. Sedangkan Asma adalah penampakan dari Zat Yang Maha Suci. Jadi bayangan adalah sesuatu yang pada hakikatnya tiada namun ia ada bergantung kepada Zat Allah, sebagaimana bayangan suatu benda. Penjelasan diatas dikuatkan dengan perkataan Ibn Arabi dalam kitab Futuhat: Jika Engkau nyatakan: “Tiada sesuatupun yang setara denganNya maka hilanglah bayangan sementara bayangan terbentang maka hendaklah engkau memperhatikan lebih teliti.” Dalam kitab Al-Jalalah beliau menjelaskan: “Segala sesuatu memiliki bayangan dan bayangan Allah adalah Arasy. Akan tetapi bukanlah setiap bayangan terbentang. Arasy bagi Tuhan adalah bayangan yang tidak terbentang, apakah engkau tidak memperhatikan bahwa jisim yang memiliki bayangan apabila diliputi oleh cahaya maka

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

bayangannya ada padanya.” Bayangan yang dimaksud di sini adalah alam semesta. Manusia memiliki banyak bayangan jika dia disinari oleh beberapa cahaya yang datang dari berbagai arah, wajahnya akan muncul dalam berbagai cermin yang pada hakikatnya ia adalah satu namun dipatulkan oleh beraam cermin. Begitu pula Allah Esa dari segi ZatNya dan berbilang dari segi penampakanNya dalam gambaran serta bayanganNya dalam cahaya. Jadi jelas bahwa sebenarnya alam ini adalah bayangan yang hakikatnya tiada atau dikenal dengan batil. Ibn Arabi menjelaskan: “sebenar-benar ungkapan yang dikatakan oleh orang Arab bahwa; “segala sesuatu selain Allah adalah batil” karena siapa yang keberadannya tergantung kepada yang lain maka dia adalah tiada.” Ia juga mengungkapkan dalam Risalah al-

Wujudiyah: “Sesungguhnya engkau tidak pernah ada sama sekali dan bukan pula engkau ada dengan dirimu atau ada di dalamNya atau bersamaNya dan bukan pula engkau binasa ataupun ada.” Untuk menjelaskan perkataan ini ia mengutip perkataan Abu Said Al-Kharraj menyatakan: “Aku mengenal Allah dengan menghimpun segala dua hal yang bertentangan.” Artinya Dialah Yang Lahir dan Yang Batin tanpa keadaan yang lain. Dijelaskan juga dalam kitabnya Ar-risalah Al-Wujudiyah: “Dialah Yang Awal tanpa berawal, Yang Akhir tanpa berakhir, Yang Lahir tanpa jelas, Yang Batin tanpa tersembunyi.”

Hal ini jika difahami berarti bahwa manusia tidak memiliki keberadaanyang independen dalam arti kata keberadaannya pada hakikatnya adalah bayangan dari keadaan Allah. Karena pada hakikatnya manusia tiada yang ada Allah. Jadi manusia adalah penampakan, bayangan atau ayat Allah yang pada hakikata adalah tiada atau khayal. Karena suatu yang sifatnya khayal berjumpa dengan khayal seolah kelihatan nyata. Dalam Fusus al-Hikam Ibn Arabi

mengungkapkan: “Ketahuilah bahwa hadirat khayal merupakan hadirat yang menghimpun dan mencakup segala sesuatu dan yang bukan sesuatu.” Jadi jelas bahwa alam ini adalah fana atau khayal dan yang kekal dan tampak adalah ZatNya Yang Suci dengan penampakan-penampakan yang indah dan agung yang mewujudkan kesempurnaanNya yang Allah, tiada kita batas.” Di lain ada bukunya Ibn Arabi maka mengungkapkan: “Tidak ada dalam wujud ini selain walaupun (Maujudun) sesungguhnya keberadaan kita denganNya, barang siapa yang keberadaannya dengan selain Allah maka ia masuk dalam hukum ketiadaan.” Maksudnya ialah bahwa Allah ada dengan

sendiriNya dan tidak mengambil keberadaannya dari yang lain. Sedangkan alam adalah ada karena Allah mengadakannya. Jadi alam adalah keberadaan yang mungkin ada yang pada hakikatnya tiada. Di sini kita harus membedakan antara wujud dan maujud. Wujud

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

merupakan isim masdar yang berarti keadaan dan Maujud merupakan isim maf’ul berarti sesuatu yang mengada karena pengaruh lain. Bisa ditafsirkan bahwa Allah adalah keberadaan itu sendiri atau Zat Yang Maha Ada, sedang maujud adalah sesuatu yang menjadi ada disebabkan hal lain. Maujud merupakan ‘objek’ yang berarti sesuatu yang menerima pengaruh perbuatan yang lain. Jadi sesuatu yang menjadi ada karena adanya keberadaan yang lain bukanlah keberadaan yang sejati namun keberadannya bergantung kepada Wujud Yang Sejati. Keberadaannya disebut dengan khayal, artinya ia ada karena bergantung pada Wujud Sejati. Namun jika sesuatu tidak bergantung kepada Wujud Sejati tentu dia tiada, karena siapa yang akan memberikannya keberadaan, Jadi jelas yang dimaksud dengan Wahdat al-Wujud adalah bahwa wujud yang sejati adalah satu. Bukan berarti alam adalah Allah dan Allah adalah alam. Dalam menerangkan wahdatul wujud Ibnu Arabi kadang mengutip kuplet berikut, sebagaimana yang termaktub dalam kitab al-Alif: Dalam segala sesuatu Dia memiliki ayat49 Menunjukkan kenyataan bahwa Dia adalah Satu. Kesatuan wujud ini juga dapat difahami dari
49 Persoalan ayat Allah dalam pemahaman keagamaan terbagi menjadi dua katagori; pertama ayat-ayat kauliah berupa al-qur’an dan al-sunnah dan kedua; ayat kauniyyah berupa hamparan alam raja ndan segala isinya. Dalam konteks ini maka seorang makhluk yang dianugerahi akal dituntut untuk dapat dengan baik memperhatikan ayat-ayat kauiniyyah tersebut.

sebuah hadis yang sering dikutip Ibn Arabi dalam menerangkan masalah Wahdat al-Wujud yaitu: Kanallahu wala syai’a ma’ahu50 artinya ‘dahulu Allah tiada sesuatu apapun besertaNya’. Disempurnakan dengan perkataan wahuwal aana ‘ala makaana artinya ‘sekarang apapun Ia yang sebagaimana menyertai keadaanNya Allah dahulu’. dan Maksud dari kedua pernyataan ini tidak ada sesuatu selamanya segalaNya pada sisiNya adalah tiada. ‘Tiada Tuhan selain Allah’ artinya segala sesuatu berupa alam yang gaib dan nyata adalah bayangan Allah yang pada hakikatnya tiada. Karena segala sesuatu yang tiada bisa dijadikan Tuhan oleh manusia dan yang pada hakikatnya yang ada hanya Zat Allah Yang Maha Suci yang bernama Allah. Yang dapat disimpulkan dari penjelasan di atas ialah, alam bisa dikatakan Allah dan bisa juga tidak. Dilihat dari keterbatasan alam dan hakikatnya yang merupakan khayal semata maka alam bukanlah Allah. Namun jika dilihat bahwa alam tidak akan muncul dengan sendirinya dan mustahil ada wujid disamping Allah ataupun diataNya atau dibawahNya atau ditengahNya atau didalamNya atau diluarNya maka alam adalah penampakan Allah. Penampakan itu tiada lain allah jua adanya.

50 Dalam redaksi “hadits” yang dijadikan landasan para sufi;” Kuntu Kanza Makhfiyyan fa ahbabtu an-U’raf fa Khalaqtul Khalqa wabihi ‘Arafuni” (dulu kala Aku adalah Permata tersembunyi yang tidak ada seorangpun mengetahuinya, maka Aku ingin dikenal dan Aku ciptakan makhlukKu, melalui dialah Aku kemudian dikenali.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Dibalik itu semua dalam memahami hal ini bukanlah dibuktikan cukup dengan logika namun harus dengan penyaksian sebagaimana

pernyataan Ibn Arabi: “Tauhid adalah penyaksian danbukan pengetahuan, barang siapa menyaksikan maka ia telah bertauhid barang siapa hanya mengetahui ia belum bertauhid.” Jadi beginilah yang dapat difahami dari Wahdat al-Wujud. Permasalahan Tanzih dan Tasybih akan lebih menjelaskan konsep Wahdat Wujud. Jadi hakikat diri tujuan al-taubah adalah ke

mendekatkan

kembali—setelah

terperosok

jurang kesalahan—kepada Allah Swt. Allah dalam alquran menegaskan bahwa manusia diperintahkan untuk kembali kepada Allah Swt dengan sebaik-baik kembali (taubatan Nashuha) “Tûbû Ila Allah Taubatan Nashûha”51. Untuk menjadi hamba yang bertaubat, jika berkaitan dengan haq-haq Allah harus memenuhi tiga persoalan utama sebagaimana dikatakan dalam kitab riyadus shalihin52 (Zakaria, 2000, hal. 33);

‫قال العلماء:التوبة واجبة من كل ذنب فإن كانت المعصية بين العبد وبييين ال ي‬ ‫تعالى ل تتعلق بحق ادمي فلها ثلثة شروط: أن يقلع عين المعصيية وأن ينيدم‬ .‫على فعلها وأن يعزم أن ل يعود إليها أبدا فإن فقد أحد الثلثة لم تصح توبته‬
“Ulama berkata; Taubat itu hukumnya wajib bagi setiap maksiat yang dilakukan, jika maksiat itu
51 Lihat al-Quran Surat al-Tahrim:8, surat An-Nur:3) 52Imam Abi Zakaria, 2000, Riyadlus Shalihin, Beirut; Libanon, 33. Lihat juga Khalid al-Sayyid Rusyah, 2005. Ladzatul Ibadah, Iskandariah: Daar al-Shafa wa al-Marwah. Hal.287-290.

berkaitan dengan haq-haq Allah terdapat tiga persyaratan, pertama; hendaknya mencerabut diri dari maksiat, menyesali semua perbuatan maksiatnya, dan beradzam (berniat) untuk tidak akan kembali lagi melakukan perbuatan dosa yang dilakukan. Jika salah satu dari ketiga persyaratan tersebut maka taubatnya tidak sah (tidak diterima Allah Swt)”. Tapi jika berkaitan dengan haq-haq manusia maka syarat taubat menjadi empat perkara, tiga perkara tersebut di atas ditambah dengan satu persyaratan lainnya yakni mengembalikan semua haqhaq yang telah diambilnya. (Zakaria, 2000, hal.34). Syaikh Khalid al-Sayyid Rusyah dalam bukunya Ladzzatul Ibadah menegaskan 15 langkah untuk bertaubat agar bias menjadi manusia paripurna; Mengingat semua dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan serta mengingat mudlarat yang ditimbulkan dari perbuatan maksiat tersebut Memfokuskan diri dengan ketulusan niat untuk benar-benar kembali hanya kepada Allah semata Hendaklah maupun memulai tidak dan memelihar dengan kesucian senantiasa

dzahir dan batinnya dari segala kotoran terlihat terlihat memohon ampunan Allah dan memperbanyak bacaan istigfar53. Melakukan khalwat dalam dirinya (menyepi) untuk mengingat Allah Swt dan selalu membaca ayat53Rasul Allah bersabda; Wahai sekalian manusia (beriman) bertaubatlah kepada Allah dan bacalah istighfar karena saya sesungguhnya bertaubat kepada Allah dalam satu hari 100 kali.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

ayat azab dan iqab. Selalu menangis karena takut kepada Allah Swt terhadap dosa-dosa yang telah dilakukannya Selalu mengingat berbagai nikmat dan anugerah yang telah diberikan Allah kepadanya dan melihat semua pemberianNya kasih saying Membenci semua dosa dan kesalahan yang dengan mata

terlanjur dilakukan dengan menjauhkan diri dari kelezatan yang diperoleh dari perbuatan maksiat Mengangkat kedua tangannya dalam berdoa

dengan menyerahkan sepenuh hatinya semua perbuatannya diampuni Allah Swt Mengulang-ulangi tempat Melakukan salat setiap dengan waktu dan bersujud doa, dan istighfar setiap waktu dan

kehadiratNya

membaca

berniat untuk tidak akan pernah kembali lagi melakukan kesalahan yang sama Meninggalkan tempat maksiat tersebut dengan berpindah ke lokasi lain (berhijrah dari negeri yang Dzalim)54
54Perbuatan ini pernah dilakukan oleh seorang hamba Allah yang membunuh 100 jiwa tanpa kesalahan namun bertaubat dengan tulus dan pergi meninggalkan tempat tinggalnya (karena daerah yang dia tempati selalu merangsangnya berbuat dzalaim). Saat dia melangkahkan kakinya untuk berhijrah dan belum sampai pada tujuan Allah memanggilnya dan meninggal di tengah perjalanan hijrahnya. Akhirnya Allah memasukan dia ke dalam rahmat dan kasih sayangnya berupa Surga.

Melakukan ketaatan kepada Allah terhadap semua kekeliruan yang telah ditinggalkan pada masa lalunya Memohon kepada Allah untuk ditetapkan dalam keataan kepada Allah Swt Mengulang-ulangi taubatnya dan selalu merasa bahwa taubatnya tidak akan diterima Allah Swt Merasakan kelemahan dan kegelisahan yang

sangat terhadap semua kesalahan yang telah dilakukannya dan merasakan kehinaan yang berlarut-larut saat mengingat dosa-dosanya.55 Kelima belas metode dan langkah bertaubat tersebut jika dilakukan dengan benar, maka dapat dipastikan taubatnya diridlai Allah SWT dan kembali kepada fitrah yang telah di sepakati saat berada di alam arwah, Allah berfirman

‫ألست بربكم قالوا بلى شهدنا‬
“Bukankah Aku ini tuhan kalian, maka jawabnya seluruh makhluq –saat berada di alam arwah— iya Engkau adalah tuhan kami”. Pengakuan terhadap Allah sebagai pencipta inilah kemudian yang menjadikan seluruh makhluk Allah sebagai muslim, walaupun pada akhirnya kondisi lingkungan, pergaulan dan asuhan orang tualah yang menyebabkan mereka –setelah berada di atas dunia— menjadi “melenceng” dari ajaran dan petunjuk Allah
55Lihat juga Khalid al-Sayyid Rusyah, 2005. Ladzatul Ibadah, Iskandariah: Daar al-Shafa wa al-Marwah. Hal.293-294.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

SWT. Terkait dengan konsep inilah maka keyakinan teologis manusia muslim, bahwa seluruh manusia yang terlahir ke atas dunia ini adalah muslim dan jika meninggal saat bayi sebelum baliqh ia akan dimasukkan ke dalam surganya Allah terlepas dari latar belakang agama keluarganya. Hal ini diperkuat oleh hadits Rasul Allah Saw.

‫كل مو لود يولد على الفطرة فأ بواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه‬
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah), mereka orang tuanyalah yang menyebabkan Yahudi, berkeyakinan pada agama

Nashrani dan juga berada dalam agama Majusi”. Dalam hadits tersebut dengan tegas menyebut tiga agama yang ini ada, Islam tidak tersurat di dalamnya, mengindikasikan bahwa Islam

merupakan agama bawaan (agama aseli) agama fitrah (suci). Yang dimaksudkan dengan kata ala al-fitrah itu adalah berada pada kesucian asal yakni pancaran dari Yang Maha Suci, oleh karena itulah ruh yang ada dalam diri setiap jika manusia jasad yang merupakan lambang baik, kesucian yang pada gilirannya akan bersatu dalam kebahagiaan ditempatinya namun jika sebaliknya jasad yang ditempati adalah jasad yang tidak baik maka ruh tersebut akan merasa sangat menderita.

Kedua; mensucikan diri Firman Allah swt “Sesunguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan yang suka menyucikan diri” (Al Baqarah:222). Bersuci atau alThaharah ialah suatu pekerjaan yang dilakukan untuk menghilangkan hadas atau najis yang ada di badan, pakaian atau tempat tinggal. Dalam ajaran Islam bersuci merupakan perbuatan yang menyebabkan diterima atau ditolaknya suatu ibadah. Bersuci dalam pengertian yang lebih luas--meminjam istilah yang digunakan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin56-- dapat dibagi menjadi dua klassifikasi;Thaharah batin) dan maknawiyah hissiyah (menyucikan thaharah

(menyucikan lahir). Thaharah Maknawiyah adalah membersihkan hati dari kesyirikan57 dalam beribadah kepada Allah SWT
56lahir pada tahun 1347H/1928M di Unaizah. Keilmuannya diperoleh melalui kakeknya dari jalur Ibu al’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Sulaiman bin Damigh dan dibawah bimbingan beliau Ibnu Utsaimin berhasil menghafal alquran (30 Juz). Selain kakeknya ia belajar kepada Syaikh Abdurrahman bin Nashir AsSa’di, Syaikh Ali Ash-Shalihi dan Syaikh Muhammad Abdul Aziz bin Muthawwi’ dalam bidang tauhid, fiqih dan bahasa Arab. Kemudian ia masuk ke Ma’had Al-Ilmiyah di Riyadh pada tahun 1373H (dalam usia 26 tahun) dan pada kesempatan inilah Ibnu Utsaimin belajar shahih Bukhari, beberapa risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan beberapa kitab fiqih kepada Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz rahimahullah. Diantara guru beliau yang lain ialah Syaikh Muhammad Al Amin bin Muhammad Al Mukhtar dan Syaikh Abdurahman bin Ali bin ‘Audan. Menyelesaikan studinya pada Fakultas Syariah di Riyadh pada tahun 1344 dalam usia 30 Tahun. 57Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah pada perkara yang merupakan hak istimewa-Nya. Hak istimewa Allah seperti: Ibadah, mencipta, mengatur, memberi manfaat dan

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

dan membersihkannya dari penipuan dan kedengkian kepada predikat para hamba-Nya bagi yang beriman. Itulah sebabnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan najis orang-orang musyrik. “Sesungguhnya kaum musyrikin itu adalah najis. (AtTaubah [9]: 28). Thaharah Maknawiyah memiliki beberapa unsur utama seperti: Thaharah dari dosa besar, yakni syirik, membunuh, sihir, zina, durhaka kepada orang tua, mencuri, menuduh melalaikan berzina, serta tugas, dan dari lari dosa dari kecil medan seperti waktu, pertempuran;

menyia-nyikan

membicarakan dan mendengar aib orang lain, menyakiti hati orang lain.

mudharat, membuat hukum dan syariat dan lain-lainnya. Allah Swt berfirman. Artinya” Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar" [QS.Luqman: 13]. Allah tidak akan mengampuni orang yang berbuat syirik kepadaNya, jika ia meninggal dunia dalam kemusyrikannya. Allah berfirman. Artinya” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar". [QS. An-Nisaa': 48]

Thaharah dari penyakit hati58 seperti riya’59, ‘ujub60, sombong, dengki, khianat, dan sebagainya. Rasulullah SAW; “Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya tetapi karena hatinya ditutup oleh awan ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir ia pun kembali bersinar.”61 (HR.
58 Syeikh Abdul Akhir Hammad Alghunaimi menjelaskan persoalan hati dalam kitab “Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah...". Hati itu dapat hidup dan dapat mati, sehat dan sakit. Dalam hal ini, ia lebih penting dari pada tubuh. Allah berfirman, artinya: "Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya." (Al-An'am : 122). Hati itu mati karena kekufuran, lalu Kami hidupkan kembali dengan keimanan. Hati yang hidup dan sehat, apabila ditawari kebatilan dan hal-hal yang buruk, dengan tabi'at dasarnya ia pasti menghindar, membenci dan tidak akan menolehnya. Lain halnya dengan hati yang mati. Ia tak dapat membedakan yang baik dan yang buruk. 59 Riya’ merupakan sa;ah satu sifat tercela yang berarti syirik kecil (Al-Syirk al-Ashghar), Rasul Allah saw bersabda: Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah syirik yang paling kecil. Mereka bertanya: Apakah itu syirik yang paling kecil ya Rasulullah? Beliau menjawab: Riya! Allah berfirman pada hari kiyamat, ketika memberikan pahala terhadap manusia sesuai perbuatan-perbuatannya: Pergilah kamu sekalian kepada orang-orang yang kamu pamerkan perilaku amal kamu di dunia. Maka nantikanlah apakah kamu menerima balasan dari mereka itu. 60 Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah meringkas defenisi ujub sebagai perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara' dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya. Sementara imam Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: "Iblis jika ia dapat melumpuhkan bani Adam dengan salah satu dari tiga perkara ini: ujub terhadap diri sendiri, menganggap amalnya sudah banyak dan lupa terhadap dosa-dosanya. Dia berkata: "Saya tidak akan mencari cara lain." Semua perkara di atas adalah sumber kebinasaan. Berapa banyak lentera yang padam karena tiupan angin? Berapa banyak ibadah yang rusak karena penyakit ujub?. 61Upaya membersihkan diri dari dosa dan penyakit hati berawal dari lingkup pribadi dengan menerapkan beberapa perintah Allah SWT;Membersihkan hati dengan shalat malam atau

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Bukhari dan Muslim) Thaharah Hissiyah adalah membersihkan badan, pakaian dan tempat dari hadas kecil maupun hadas besar.Thaharah dari najis ada tiga jenis yakni wudhu, mandi, dan pengganti dari keduanya yaitu tayammum. Sementara Syeikh Faqih Jalaluddin membagi bersuci menjadi tiga dimensi utama pertama, suci Zahir yakni suci dari semua hadas kecil maupun besar, suci badan maupun tempat dan pakaian. Kedua; suci batin berupa pensucian batin dari segala yang bersifat al-amrad al-qulub62, juga mensucikan panca indra dari al-muharramat, al-makruhat dan juga dari al-syubhat. Ketiga suci Sirr berupa kesucian yang bertujuan penghambaan secara totalitas manusia terhadap tuhannya, hanya kepada Allahlah semua ibadah kita arahkan “Inna Shalâtî Wa Nusukî Wa mahyayâ Wa mamâtîLillâhi Rabbil al-‘Alamîn”. “….Sabda Nabi şallallāhu ‘alaihi wasallam inna li ma’allahi waqtan la yasa’uni ghairi rabbi, bahwasanya bagiku serta Allah ada waktu yang tiada melalui sir akan daku dalamnya lain daripada Tuhanku…” (Syamsul, hal.02). Penjelasan tersebut dengan tegas dikatakan bahwa sesungguhnya eksistensi Allah Swt selalu berada
qiyamullail (qumillaila illah qaliilaa), Membersikan hati dengan membaca al-Qur`an (wa rattilil qur`aana tartiila), Membersikah hati dengan zikir (wadzkurisma rabbika), Mensucikan diri dengan bertawakal hanya kepada Allah SWT, Mensucikan dengan bersabar terhadap perkataan orang. 62Persoalan hati Imam al-Ghazali membaginya menjadi tiga bagian, pertama qalbun Salim (hati yang bersih, sehat, suci), kedua, Qalbun Marid (hati yang sakit), dan ketiga; Qalbun Mayyit (hati yang mati). Lihat al-Ghazali dalam Tazkiyat al-Nufus. Saudi Arabia:Daar al-Kutub al-Arabiyah.

dalam lubuk hati manusia, qiyaman (berdiri) wa qu’udan (duduk) wa ala Junubihim (dalam keadaan berbaring) hendaknya selalu merasakan keberadaan dalam dirinya. Hadits Rasul Allah Saw; “An Ta’buda Allah Kaannaka Tarahu dan fainlam jika tarahu Allah kamu fainnahu dapat yaraka”63 engkau Engkau melihatNya menyembah seolah-olah tidak

melihatNya maka sesungguhnya Allah melihat kamu. Tentang pembagian suci ini Syeikh Faqih Jalaluddin mengungkapkan; “…bermula suci itu tiga perkara, pertama suci , kedua suci batin, ketiga suci sir. Maka suci itu yaitu bersuci daripada hadats besar dan kecil, dan bersuci daripada sekalian najis pada badan dan tempat dan pakaian. Dan suci batin itu yaitu menyucikan hati daripada ku’eh dan dengki dan ‘adam, bakhil, ‘ujub, ria, sum’ah. Dan menyucikan panca indera yang lima daripada yang haram dan makruh dan syubhat yaitu penglihat pendengar, pencium, perasa, fitnah. Dan bersuci sir daripada ingat akan yang lain daripada Allah. Maka sir itu yaitu suatu yang ditaruhkan Allah ke dalam hati hamba-Nya yang dikasihi-Nya akan Dia, supaya jadilah Ia akan alat hamba menghadap kepada Tuhannya…” (Syamsul, hal.02)
63Hadits rasul tersebut menegaskan tentang konsep dasar dari al-Ihsan, yang jika dilihat maknanya baik secara etimologis, kata ihsân adalah bentuk mashdar dari ahsana-yuhsinu-ihsânan, yang berarti berbuat baik. Dalam terminologi tafsir, para mufassir mengartikan konsep ihsân relatif tidak sama dan tergantung pada konteks ayat yang mereka tafsirkan. Dalam al-Qur’an sendiri, kata ihsân banyak disebut dalam berbagai bentuknya. Kata alihsan dalam al-Qur’an disebut sebanyak 13 kali, kata almuhsinûn-muhsinîn sebanyak 38 kali, kata ahsana sebanyak 9 kali, ahsanû sebanyak 6 kali, dan kata-kata yang seakar dengan hasuna disebut dalam al-Qur’an kurang lebih sebanyak 221 kali. Salah satun contoh ayat al-qur’an adalah surat an-Nahl:90. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Konsep al-Tauhid Konsep yang tauhid, yakni: yang secara literal berarti dan

mengesakan Tuhan. Tauhid memiliki empat makna berbeda pertama, mengimani meyakini keesaan Tuhan, kedua, disiplin kehidupan lahir dan batin berdasarkan kepercayaan tersebut, ketiga, pengalaman dalam persatuan dan penyatuan dengan Tuhan, dan keempat, teosofi atau filosofi tentang kenyataan yang bertolak dari pengalaman kultural. Persoalan tauhid seperti ini dapat dilihat dalam Ibda’ jurnal Studi Islam dan Budaya64 yang ditulis oleh
64 P3M STAIN Purwokerto, Jurnal Ibda` Vol. 3 No. 2 2005 (307-322). Jul-Des

Atabik sebagai hasil penelitian terhadap

Konsep

Tauhid dalam erspektif Syaikh Nafis al-Banjari (Telaah atas Kitab al-Durr al-Nafis karya Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari).

Tauhid al-Af‘al Tauhid al-af’al secara harfiah berarti mengesakan Allah dalam segala perbuatan. Menurut Syaikh Nafis al-Banjari65, segala apapun yang terjadi di alam ini pada hakikatnya adalah af‘al (perbuatan) Allah. Selain itu, ia memandang bahwa apa yang terjadi di alam ini dapat dibedakan ke dalam dua kategori yaitu: a. Baik pada bentuk (rupa) dan hakikat (isi), maksudnya sesuatu itu baik lahir maupun isinya baik, seperti iman dan ta‘at; b. Buruk pada bentuknya (rupa), namun baik pada isi (hakikat), maksudnya sesuatu itu boleh jadi jelek dilihat dari sisi syari‘at, akan tetapi dari sisi hakikat adalah baik, seperti kufur dan maksiat. Mengenai hal ini Syaikh Nafis menyatakan: “suatu perbuatan bahwa itu datang dari Allah, adalah dengan pandangan dan syuhud; melihat dengan mata kepala dan mata hati, dan
65 Muhammad Nafis bin Idris bin Husain al-Banjari, yang lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nafis al-Banjari lahir di Martapura sekitar tahun 1148 H/1735 M. Gelar kehormatan yang disandangkan kepadanya adalah Maulana al-allamah al-fahhamah al-mursyid ila thariq al-salamah, ketika ia belajar di Haramain. Hal itu berarti ia telah sah mengajarkan tarekat kepada orang lain. Setelah mendapatkan pengakuan itu, ia kembali ke Martapura dan menyebarkan Islam khususnya di pedalaman Kalimantan Selatan. Tidak ditemukan catatan mengenai tahun wafatnya, meskipun diinformasikan bahwa ia meninggal dan dimakamkan di satu tempat bernama Kelua, sebuah desa berjarak sekitar 125 km dari kota Banjarmasin.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

hendaklah diyakini oleh hati (pandangan hakikat) bahwa perbuatan itu adalah perbuatan Allah. Oleh karena itu, jika menisbatkan suatu perbuatan bukan sebagai perbuatan Allah, maka hal itu harus dipandang sebagai perbuatan dalam arti majazi, bukan dalam pengertian hakiki. Perbandingan perbuatan manusia dengan perbuatan Allah, adalah laksana wayang yang dimainkan oleh sang Dalang dengan berbagai gerakan dan laku. Perumpamaan itu mengandung maksud bahwa Allah merupakan sumber dari segala perbuatan”. Walaupun segala perbuatan dan kejadian pada hakikatnya dalam adalah perbuatan Allah, tidak hukum berarti Allah manusia bisa terlepas dari kewajiban (gugur taklif) melaksanakan ketentuan (syari‘at). Apabila sekali saja seseorang beriktikad gugur taklif syara‘, maka ia tergolong kafir zindiq. Dengan kata lain, pandangan hakikat tidak boleh merusak pandangan syari‘at. Jika seseorang beriktikad bahwa segala perbuatan adalah perbuatan Allah baik atau jahat–demikian kata Syaikh–maka ia lepas dari syirik khafi dan dari segala hal yang membahayakan aqidah. Akan tetapi, sekali saja seseorang meyakini bahwa dirinya ikut andil dalam suatu perbuatan maka jatuhlah ia ke dalam syirik khafi, meskipun ia terlepas dari syirik jaliy yakni menduakan Tuhan. Akan tetapi, meski lepas dari kategori syirik jaliy, pada intinya tetap dalam kategori syirik samar (khafi), dan ketika itu terjadi maka ia lepas dari predikat sebagai seorang mukmin. Sebaliknya, jika seorang salik meyakini bahwa tiada yang berbuat, tiada yang hidup, tiada

yang maujud di dalam wujud ini selain Allah ta‘ala, maka ketika itu ia tergolong sebagai mukmin, dan jadilah ia sebagai ahli tauhid. Syaikh Nafis juga menjelaskan bahwa segala

perbuatan baik yang terjadi pada diri seseorang maupun di luar dirinya, semua itu tidak terlepas dari perbuatan yang bersifat mubasyarah (langsung) dan perbuatan yang bersifat tawallud (terlahir). Maksud dari istilah mubasyarah menurut Syaikh adalah perbuatan yang beserta dengan qudrat yang baru, seperti gerak pena dalam tangan orang yang menulis, sedangkan pengertian perbuatan dengan tawallud adalah perbuatan yang terjadi dari perbuatan mubasyarah, seperti sebuah batu pada tangan orang yang melempar. Kedua perbuatan itu pada hakikatnya adalah perbuatan Allah, sedangkan perbuatan manusia dipandang sebagai perbuatan majazi. Bila seorang salik akan berlatih dengan pandangan (musyahadah) seperti itu, maka sedikit demi sedikit dengan tidak membaurkan antara pandangan syariat dengan pandangan hakikat, maka ia akan sampai kepada maqam yang disebut tauhid al-af‘al. Maqam inilah yang mula-mula dianugerahkan oleh Allah kepada seorang salik dan kepada orang yang majdzub. Orang yang majdzub adalah orang yang di-amil oleh Allah dengan tiba-tiba serta diberitahu oleh Allah tentang dzat-Nya, sifat-Nya, Asma‘-Nya dan af‘al-Nya tanpa pelatihan dan ijazah dari guru. Yang dimaksud salik –menurut Syaikh Nafis- adalah orang yang bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah dengan

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

riyadlah serta mendapatkan ijazah dari guru. Di samping itu, ia tidak mengingkari atau melanggar dalam mengerjakan perintah agama, aturan, dan perintah gurunya. Adapun seorang yang ‘arif adalah orang yang mengenal Allah dan mengenal hamba-Nya, sementara itu ia dapat membedakan antara Khaliq dengan makhluq, dan ia men-syahadah terhadap semua hal tersebut. Apabila maqam ini dapat dicapai dengan baik, maka ia akan memasuki maqam berikutnya yakni tauhid al-Asma‘.

Tauhid al-Asma‘ Pengertian tauhid Asma (mengesakan Tuhan

dengan asma-Nya) yang dimaksud oleh Syaikh Nafis al-Banjari pada intinya menyatakan bahwa semua asma yang ada di dalam alam ini pada hakikatnya kembali kepada sumbernya yaitu Allah SWT. Oleh karena itu, cara memandang keesaan nama-nama Allah menurut Syaikh Nafis adalah berawal dari pandangan mata, kemudian ditanggapi dengan matahati bahwa segalanya kembali kepada sumbernya. Syaikh Nafis melihat bahwa semua nama yang ada di alam ini tentu diberikan kepada yang diberi nama (wujud musamma). Dalam arti hakiki sudah barang tentu sesuatu yang diadakan itu sesungguhnya tidak ada karena yang ada hanyalah Allah. Karena itu,

segala yang ada karena diadakan, yakni wujud alam ini diadakan pada hakikatnya adalah khayal dan wahm (dugaan belaka), bila dinisbatkan kepada Allah. Dengan demikian, maka kembalilah semua asma kepada wujud yang sebenarnya yaitu Allah, dan wujud Allah itu qa‘im (tetap) pada segala asma. Dengan kata lain, kita katakan dan kita pandang bahwa segala nama apapun kembali kepada asma Allah sebagai sumbernya Pengertian asma Allah pada segala nama apa saja yang ada di alam ini digambarkan oleh Syaikh Nafis seperti sebuah kaca polos yang diwarnai dengan berbagai warna seperti merah, kuning, hijau, dan sebagainya. Kemudian, kaca itu diletakkan di bawah sinar matahari tentu akan terlihat bermacam warna memancar dari kaca itu sebagaimana warna yang ada. Artinya, bermacam-ragam warna yang ada pada sinar itu sesungguhnya hanya satu, yakni pancaran sinar matahari. Adapun cara mengamalkan pandangan tentang tauhid al-Asma bahwa jika kita melihat ada seseorang yang pemurah, kita harus memandang bahwa yang pemurah itu hanyalah Allah. Karena itu, pemurah yang melekat pada diri seseorang itu hanyalah madhar isimNya (penampakan) dari asma Allah, yakni al-karim (Maha Pemurah). Demikian juga jika ada orang yang sabar dari segala kemaksiatan, maka sesungguhnya yang sabar hanyalah Allah ta‘ala, sedangkan yang ada pada hamba atau seseorang itu hanyalah madhar isim-Nya, yakni shaburun. Dengan mengutip ungkapan orang-orang arif,

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Syaikh Nafis menyatakan bahwa bagi Allah itu tidak ada sifat yang berdiri kepada-Nya dan yang bertambah atas-Nya, seperti segala sifat ma‘aniy, melainkan yang ada bagi-Nya hanyalah asma-Nya. Menurut dalil Syaikh, dan sebagian mengenai para hal ini ‘arif tersebut Nafis berargumentasi demikian dengan dalil naqly dan juga aqly, Syaikh mengungkapkan: Tauhid asma ini merupakan maqam kedua dari segala maqam para ‘arifin, dan inilah yang diberikan Allah kepada para salik dan majdzub. Ini merupakan faidah dan tsamrah (buah) dari maqam yang pertama, yakni maqam orang yang senantiasa memandang wahdat al-‘af‘al. Maqam ini juga merupakan jenjang untuk meningkat pada maqam berikutnya yaitu tauhid al-sifat.

Tauhid al-Sifat Tauhid sifat (mengesakan Allah dengan sifat) dalam pandangan Syaikh Nafis tidak lain hanyalah ungkapan tentang fana‘-nya seluruh sifat makhluk termasuk dirinya sendiri di dalam sifat Allah. Menurut Syaikh Nafis, jika seorang arif memandang sifat-sifat Allah, maka sifat-sifat yang ada pada dzat-Nya seperti qudrah, iradah, ilmu, bashar, kalam dan lain-lain pada hakikatnya adalah sifat-sifat Allah semata. Karena itu, sifat yang dimiliki makhluk hanyalah majazi adanya. Jika musyahadah seorang arif lebih mantap, maka dapat dirasakan bahwa sifat-sifat manusia itu fana di

dalam sifat-sifat Allah, dan terasa di dalam dirinya bahwa pendengarannya adalah pendengaran Allah. Dengan kata lain, tidak ada pendengaran kecuali pendengaran Allah, demikian pula dengan sifat-sifat lainnya. Dengan demikian menurut Syaikh Nafis, semua sifat Tuhan itu ber-tajalli dalam sifat-sifat insani, dan itulah yang disebut tajalli sifat sehingga hasil dari syuhud pada akhirnya adalah tidak lagi melihat sifat-sifat manusia, tetapi yang ada hanya Allah-lah yang mempunyai sifat, sedangkan makhluk pada hakikatnya tidak memiliki apa-apa. Apabila kita perhatikan–demikian menurut Syaikh Nafis–maka fana-lah semua sekalian sifat makhluk pada sifat Allah. Tiada orang mendengar, melainkan dengan pendengaran Allah; tiada orang melihat, melainkan dengan penglihatan Allah; tiada orang mengetahui, melainkan dengan pengetahuan Allah; tiada orang yang hidup, melainkan dengan hidup Allah; dan tiada orang berkata, melainkan dengan perkataan Allah. Untuk mencapai tajalli sifat ini haruslah dengan tadrij (bertahap). Jika kita pandang bahwa hanya Dia yang bersifat hayyun, maka fana- lah sifat hayat itu dari diri manusia, demikian juga dengan sifat-sifat lainnya, sampai habis satu demi satu sifat tersebut, dan inilah yang dimaksud dengan tadrij. Jika telah berhasil dicapainya maqam fana ini, maka jadilah si salik baqa‘ bi sifatillah. Dengan kata lain, ketika seorang salik mencapai fana fi sifatillah, maka ketika itu ia telah mencapai baqa bi sifatillah, dan ketika itu

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

dibukakanlah segala rahasia sifat-Nya yang mulia sehingga diperolehlah rasa tamakkun (mantap). Jika yang fase tamakkun untuk ini telah diperoleh dan atau

ditekuninya, maka seorang sufi akan diberi kekuatan bertambah dapat menanggung menerima tajalli dzat. Karena itu, seorang tidak akan bisa mencapai tajalli dzat sebelum ia mencapai tamakkun dan tetap pada tajalli segala sifat. Inilah yang telah dicapai oleh para anbiya dan di bawahnya adalah auliya. Selanjutnya jika maqam ini telah dapat ditempuh, maka baginya gelar resmi dari Allah sebagai khalifatullah, seperti gelar yang diterima Nabi Adam AS. Kemudian, siapapun yang telah mencapai maqam ini akan diberi pengajaran oleh Allah tentang segala asma, yang pada gilirannya akan dikaruniai ilmu laduni. Mereka yang mencapai maqam ini telah mencapai apa yang disebut kasyf, yakni terbukanya segala hakikat sesuatu Allah berkat cahaya dan yang tidak dianugerahkan kepada mereka

terlindung sedikit pun. Selanjutnya mereka yang telah mencapai maqam ini, mereka akan semakin tekun dalam melakukan peribadatan kepada Allah, bukan karena terpaksa dan bukan karena berharap apapun.

Tauhid al-Dzat Tauhid Dzat, menurut Nafis al-Banjari merupakan tingkatan tertinggi dari semua tingkatan tauhid. Inilah puncak pengetahuan makhluk tentang Tuhan sebagai tujuan akhir perjalanan spiritual seorang sufi. Pada

saat

mencapai

tingkatan

ini

seorang

arif

akan

merasakan kelezatan yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata dan suara, dengan huruf ataupun dengan angka. Tidak ada yang dapat mencapai maqam ini kecuali Nabi Muhammad SAW karena tidak ada yang dijadikan oleh Allah dari Dzat-Nya, kecuali Nabi Muhammad SAW. Syaikh mengungkapkan bahwa wujud yang lain selain Allah adalah fana‘ di bawah wujud Allah. Karena itu, tiada yang maujud (yang ada) secara hakiki kecuali wujud Allah. Untuk buih, lebih mempermudah membuat dan laut. memahami konsep tersebut, al-Banjari ombak

perumpamaan

tentang

Ketiganya pada hakikatnya adalah air, atau dengan kata lain ketiga-tiganya adalah kenyataan wujud air. Hanya saja jika air itu bergerak maka dinamakan ombak, dan dari gerakan itu muncullah buih, sedangkan air yang berbatas dan bertepi disebut laut. Dengan demikian jelaslah bahwa pada hakikatnya semua itu adalah air, saat ombak, buih dan laut sirna. Alam semesta ini adalah fana‘ dan pada

hakikatnya tidak ada karena yang ada hanya wujud Allah, dan wujud Allah meliputi segala sesuatu. Oleh karena tidak ada yang maujud pada hakikat kecuali Allah, maka fana‘-lah semua perbuatan makhluk pada perbuatan Allah, fana‘ pula semua asma makhluk pada asma ‘ Allah, fana‘ pula semua sifat makhluk pada sifat Allah, dan akhirnya fana‘-lah semua dzat makhluk pada Dzat Allah. Menurut Nafis al-Banjari pada kondisi ini makhluk tidak ubahnya laksana benang yang

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

melayang di udara, ke mana angin bertiup ke sanalah ia ikut melayang. Oleh karena itu, apabila tajalli dzat ini menimpa pada maka seorang tak hamba pun yang dapat bersifat dikehendakinya, merupakan seorang

menceritakan keadaan yang dialaminya karena hal itu pengalaman perasaan yang sangat individual. Bahkan bisa jadi menurut al-Banjari, mereka yang sampai pada tingkatan ini seolah hampir tidak bisa memegangi ketentuan hukum syari‘at. Dalam pandangan Syeikh Faqih Jalaluddin altauhid diartikan sebagai aktivitas amaliah dalam arti praktek bukan teori. Hal ini ditunjukkan ketika melakukan muwahhid pengklassifikasian tauhid menjadi tiga (pengamal tauhid). Menurutnya tauhid

bagian dan merangkaikannya dengan posisi zikir66 bagi pertama adalah tauhidnya orang awam yakni almubtadi’ (permulaan) tandanya was-was dan zikir berada pada posisi tidak ada yang diembah melainkan Allah semata. Kedua, tauhid muqarrabin, yakni mutawasiţ tandanya hening hati, makna zikir tiada yang kutuntut hanya Allah. Ketiga, tauhid sidiqin, yakni muntahi tandanya tidak ada yang diingat kecuali mengingat Allah semata dan makna zikirnya tiada yang maujud hanya Allah dan fana’lah ia dalam zat tuhannya. Tingkatan ini dianggap sebagai Martabat orang ’arif billah dikenal juga dengan istilah fanā, dan juga jami’ul jami”67.
66 Kata Zikir bukan berarti hanya mengucapkan kalimat “Laa Ilaha Illa Allah” melainkan keyakinan yang ada dalam hati seorang muwahhid bahwa tidak ada yang patut disembah melainkan hanya Allah semata. 67 Terlihat konsep tauhid muqarrabin ini sangat dekat dengan

fanā'ul

Persoalan tersebut dapat dilihat dalam potongan teks berikut; ”....Maka adalah tauhid itu tiga perkara, pertama tauhid awam, yakni mubtadi alamatnya was-was, maka makna zikirnya tiada yang sebenar-benar68 disembah hanya Allah. Kedua tauhid muqarrabin, yakni mutawasiţ alamatnya hening hati, maka makna zikir tiada yang kutuntut hanya Allah. Ketiga tauhid shidiqin, yakni muntahi alamatnya ketiadaan ingat akan yang lain daripada Allah. {Maka} makna zikirnya tiada yang maujud hanya Allah dan fanalah ia dalam zat tuhannya maka tepilah padanya segala alam. Inilah martabat segala ’arif billah dan fanā'ul fanā pun namanya dan jami’ul jami’ pun namanya dan kesudah-sudahan69 jalan pun namanya... ” (Syamsul, hal. 03)

konsep al-ittihad yang dikedepankan oleh Abu yazid al-Bustami. Dari sini mungkin dapt dikatakan bahwa syeikh Faqih Jalaluddin sebagian pemikirannya terpengaruh dengan konsep-konsep tasawuf yang dikembangkan oleh Abu Yazid Al-Bustami dan juga yang laiinya dari tasawuf Falsafi. 68 Teks: sebenar3. 69 Teks: kesudah2an

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Konsep martabat tujuh
Istilah ajaran martabat tujuh, tidak pernah dikenal pada masa Rasulullah, beliau tidak tujuh mengajarkan secara khusus. Ajaran martabat tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Konsep martabat tujuh mencoba mensistematiskan teori tajalli ibn arabi dan al-jilli. karena itu ada beberapa martabat tambahan yang membuat apa yang digagas ibn arabi dan al-jilli menjadi lebih bisa dimengarti. konsep ini muncul ketika mencoba melihat proses terjadinya tajalli dan taraqit dalam proses munculnya insan kamil. dalam teori tajalli, insan kamil muncul sebagai sintesis dari makrokosmos yang permanen dan aktual serta sekaligus sebagai cermin citra tuhan secara paripurna, sedangkan teori taraqit muncul sebagai makhluk yang paling unggul dalam tingkat kesadaran rohani dan pengetahuannya, sehingga ia mencapai peringkat tertinggi di antara makhluk yang ada dalam menapaki maqamat kerohanian. perbedaan tersebut menandai adanya suatu perkembangan pandangan dalam

didalam tasawuf merupakan perkembangan dari ilmu

melihat hubungan antara tuhan dan alam semesta. Bagi ibn arabi tajalli tuhan mengambil dua bentuk: pertama tajalli gaib atau tajalli dzati, yang berbentuk syuhudi tertentu. Proses tajalli, sebenarnya, dimulai dari tajalli zat pada sifat-sifat dan asma, kemudian pada perbuatanperbuatan, sehingga memunculkan alam semesta. akan tetapi, dalam rangka meningkatkan martabat rohani, tajalli tersebut ditempatkan dengan urutan terbalik, dimulai dari tajalli perbuatan-perbuatan dan berakhir pada tajalli zat. pemutarbalikan itu bukan tidak beralasan, tetapi didasarkan atas pandangan bahwa tajalli al-afal yang paling dekat dengan kenyataan empiris, sedangkan tajalli zat merupakan yang paling abstrak dan jauh, dari kenyataan. maka untuk mendekatkan diri haruslah dimulai dari yang terdekat menuju yang jauh dan amat abstrak. Insan kamil bukan semata-mata sebagai sintesis dari tajalli ilahi, tetapi juga merupakan hasil upaya manusia dalam upaya meningkatkan peningkatan martabat martabat kerohaniannya. mengambil penciptaan bentuk potensi; diri dan diri kedua nyata), dalam tajalli yang citra (penampakan secara

penampakan

kerohanian itu, menurut a1-jilli, merupakan proses kembali ke kehadirat ilahi dengan menyusuri tajallitajalli sehingga sampai kepada zat yang mutlak. Dalam proses kembali ke asal ini, sufi harus memulai perjalanannya melalui tajalli perbuatanperbuatan (tajalli al-afal), dengan memandang bahwa

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

kodrat tuhan berlaku atas segala sesuatu. dengan demikian, segala perbuatannya senantiasa terkendali di bawah kodrat i1ahi. setelah itu, ia pun melintasi tajalli nama-nama (tajalli al-asma), dimana ia mendapat sinar dari asma allah. dalam taraf ini sufi memandang zat tuhan sebagai pemilik nama-nama yang hakiki adalah zat yang mahasuci. dengan sufi demikian, satu demi satu dari nama-nama tuhan itu memberikan pengaruh kepadanya. kemudian memasuki tajalli sifat-sifat (tajalli al-shifat), dimana ia diliputi oleh sifat-sifat ilahi. dalam taraf ini sufi merasakan dirinya fana (sirna) di dalam sifat-sifat ilahi, sehingga sifat-sifat dirinya sendiri dirasakannya sudah tidak ada lagi. taraf tertinggi yang dicapai oleh sufi ialah ketika ia berada pada tajalli zat (tajalli al-dzat). pada taraf ini sufi merasa dirinya sirna di dalam zat yang mutlak itu sepenuhnya. sehingga tercapailah peringkat paripurna, bentur tapane70. Selain dua persoalan utama tersebut, disinyalir juga, bahwa muncul dan berkembangnya oleh ajaran Ibn martabat tujuh ditengarai Muhammad

Fadllillah Burhanpuri (w. 1620) dalam kitabnya Al Tuhfah al Mursalah ila Ruhin-Nabi. Dalam kitab ini diterangkan bahwa Dzat Tuhan merupakan Wujud Mutlak, tidak dapat dipersepsikan oleh akal, perasaan, khayal dan indera. Dzâtullah sebagai aspek bathin segala yang maujud (ada),
70Lihat, kalijana dalam konsep tajalli tuhan martabat lima merambah martabat tujuh, http://arkoun.multiply.com/journal/item/47/konsep_tajalli_tuhan_ martabat_lima_merambah_martabat_tujuh. diunduh, tanggal 28 Desember 2010.

karena Tuhan meliputi segala sesuatu (QS.Fushilat:54) dan untuk bisa memahami wujud Tuhan yang sebenarnya secara transenden harus setelah bertajalli sebanyak tujuh martabat. ini menjelaskan manifestasi Tuhan (tajallî) dalam alam semesta melalui 7 tahap emanasi dari wujud mutlak hingga wujud relatif, yaitu ahadiyyah, wahdah, wâhidiyyah, arwâh, mitsâl, jism, dan insân kâmil. Dalam arti tertentu, teori martabat tujuh sesungguhnya mengekspresikan juga faham wahdatul wujud yang dimunculkan Ibnu ‘Arabi. Pola pemikiran tersebut diakomodasi oleh Hamzah Fansuri dan Abdurrauf al-Singkili pada akhirnya dikritik oleh Nuruddin ar-Raniri. Syeikh Fansuri Faqih Jalaluddin Abdurrauf Allah sebagai al-Singkili menciptakan generasi dalam jagad berikutnya juga mengakomodasi pemikiran Hamzah maupun menjelaskan menyebut bagaimana

alam raya ini. Istilah-istilah yang digunakan dalam martabat tujuh agak berbeda dengan istilah popular yang dikemukakan Syeikh Muhammad Ibn Fadllillah Burhanpuri. Perbedaan-perbedaan apapun lingkaran yang menyertai tersebut Allah dapat dilihat sebuah lain seperti, Pertama; Martabat Laa Ta’yin (tidak ada suatu bagaikan dalam kosong), sedangkan istilah

Martabat ini dinamakan martabat Ahadiyyah. Kedua; Martabat Ta’yin Awwal (pada martabat ini Allah sudah mulai berkehendak menjadikan sesuatu bagaikan lingkaran yang baru mempunyai titik kecil), martabat ini juga dikenal dengan istilah martabat Wahdah.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Ketiga; Martabat Ta’yin Tsani (pada martabat ini Allah sudah menentukan kehendakNya dalam menjadikan sesuatu bagaikan lingakaran yang di dalamnya ada “alif”), dengan martabat martabat ini juga dikenal dengan istilah martabat Wahidiyah. Ketiga martabat tersebut disebut Qadim (martabat Ketuhanan). Keempat; Martabat alam arwâh merupakan aspek lahir yang masih dalam bentuk mujarrad dan murni. Kelima; Martabat alam mitsâl, pada martabat ini diibarat sesuatu yang telah tersusun dari bagian-bagian, tetapi masih bersifat halus, tidak dapat dipisah-pisahkan. Keenam Martabat alam ajsam (tubuh) yakni ibarat sesuatu dalam keadaan tersusun secara marteriil telah menerima pemisahan dan dapat dibagi-bagi sudah dapat terukur tebal tipisnya. dan terakhir ketujuh; dalam manusia terkumpul tiga Martabat insân kâmil mencakup segala martabat diatasnya, sehingga martabat yang sifat bathin dan tiga martabat lahir.

Konsep Dzikir

71

Dzikir secarai generic, berasal dari kata dzakara, artinya ingat. Dzikrullah yaitu ingat kepada Allah SWT kapan dan dimanapun. Dalam pengertian yang bersifat umum, dzikir yang dilakukan dalam bentuk ibadah seperti: shalat, zakat, puasa, Haji, dan lain-lain. Sementara pengertian dzikir secara lebih khusus dilakukan secara verbalistik (dengan mulut) atau dengan merasuk kedalam jiwa seperti mengingat, mengenang, merasakan, menghayati (dengan qalbu). Umumnya aktivitas Dzikir dilakukan setelah melaksanakan shalat lima waktu.

‫فبإذا قضببيتم الصببلوة فبباذكروا الب قيامبا وقعبودا وعلبى جنبوبكم فإذااطمبأننتم‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ب‬
71 Didalam kitab Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa: Dzikir atau mengingat Allah ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau mensucikan Allah, memuji dan menyanjung-Nya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan yang telah dimiliki-Nya. Dalam ungkapan lain dzikir adalah seluruh aktivitas batin yang tercermin dari mengingat Allah baik secara sendiri-sendiri ataupun berjamaah, juga aktivitas anggota badan seperti berjuang dan bekerja dengan tujuan dan niat Lillahi Rabbil ‘Alamin adalah bagian dari makna dzikir secara makro dan komprhensif.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

‫فأقيموا الصلوة إن الصلوة كانت على المومنين كتابا موقوتا‬ ْ
Maka apabila kamu selesai mengerjakan shalat maka berdzikirlah kamu kepada Allah di waktu berdiri, duduk dan di waktu berbaring. (QS. An Nisaa’ : 103) Dzikir yang bersifat khusus ini banyak macam dan bentuknya, (Subhanallâh), melafalkan seperti membaca Tahlil mengucapkan Tahmid (Lâ Ilâha Tasbih Illallâh), (Alhamdulillâh),

mengumandangkan Takbir (Allâhu akbar), membaca Tilawatil Qur’an, dan sebagainya. Namun yang paling utama dari semua ucapan tersebut adalah melafalkan secara zahir (nyata) ataupun dalam hati kalimat lâ Ilâha Illallâh. Dari Jabir bin Abdullah, beliau berkata: Saya dengar Rasulullah SAW bersabda : “Dzikir yang paling utama ialah kalimat lâ Ilâha Illallâh“ ( HR. Imam Turmudzi) Rasulullah menegaskan SAW bahwa dalam sebuah haditsnya yang

perumpamaan

orang

berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati (HR.Bukhari)72 Sebagian referensi membagi Dzikir menjadi dua yakni Dzikir Jahri (nyata) dan Dzikir Sirri (rahasia). Hal tersebut dapat dilihat dari firman Allah dalam surat alMulk.

‫وأسروا قولكم اوجهروا به انه عليم بذات الصدور‬
72 Lihat, Salim Bahreisy (terj) 1983, kitab Riadhus Shalihin, Bandung:PT Al-Ma’arif. Jilid.II.Cet.7, halaman.343

Dan rahasiakanlah (sirri) perkataanmu atau nyatakanlah (jahri); sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang bergejolak di dalam dada. (Al Mulk : 13). Dzikir Jahri adalah dzikir yang diucapkan secara verbalistic terhadap lafadz tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir’. Dzikir yang dilaksanakan setelah mengerjakan shalat, untuk memohon perlindungan Allah dari segala gangguan dan serangan syetan yang selalu mengajak ke jalan kesesatan sehingga melanggar perintah Allah. Sumpah Iblis terhadap Allah yang akan mengganggu manusia habis-habisan dapat dilihat dalam surat alA’raf.

‫قال فبما اغويتني لقعدن لهم صراطك المستقيم . ثم ل تينهم مبن بيبن ايبديهم‬ ‫ومن خلفهم وعن أيمانهم وعن شماءلهم ول تجد اكثرهم شكرين‬ ْ
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al A’raaf:16-17) Dzikir Jahr bila dilakukan secara berjamaah, maka akan terdengar suara indah bergemuruh merupakan salah satu bukti dihari kemudian sebagai orang-orang yang mengingat telah Allah dalam berkelompok. dalam Hal tersebut QudsiNya. “Abu Hirairah r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: Allah telah berfirman; Aku selalu mengikuti sangkaan hambaKu, dan Aku selalu ditegaskan Allah hadits

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

menyertainya jika ia berdzikir (ingat) kepadaKu. Jika ia mengingatKu dalam hatinya, Aku ingat padanya dalam hatiKu, dan jika ia Dzikir kepadaKu dalam majelis orang-orang, niscaya Aku ingat dia dalam gerombolan yang lebih baik dari gerombolannya” (HR.Bukhari-Muslim). Dzikir Sirri atau dzikir khafi – dzikir yang

tersembunyi – karena ia diingatkan di dalam hati, tidak menggunakan mulut, melainkan dzawq (perasaan) dan syu`ûr (kesadaran) yang ada di dalam qalbu. Karenanya dzikir ini menjadi tersamar (khafiy) hanya pelaku dan Allah SWT saja yang dapat mengetahuinya. Dengan Dzikir Sirri kita berusaha menghadirkan Allah di dalam hati terus menerus, tanpa batasan ruang dan waktu.

‫واذكر ربك في نفسك تضرعا وخيفببة ودون الجهببر مببن القببول والصببال ول‬ ‫تكن من الغافلين‬
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orangorang yang lalai. (QS. Al A’raaf : 205) Dalam Dzikir Sirri orang mengingat Allah,

merasakan kehadiran Allah, menyadari keberadaan Allah. Di dalam qalbunya tumbuh rasa cinta, rasa rindu kepada Allah, rasa dekat, bersahabat, seakan melihat Allah. Itulah ihsân73, dimana dalam ibadahmu kamu
73 Mengenai konsep Ihsan yang selama ini kita fahami sebatas pada pengertian yang sempit, namun dari pengkajian Husni yang terekam dalam tulisannya berjudul konsep ihsan dalam pemikiran para mufassir mendapatkan konsep ihsan bisa berarti (1) melaksanakan segenap kewajiban, (2) sabar dalam menerima segala perintah dan larangan Allah, (3) taat dan senantiasa menyempurnakan ketaatan, baik kadar maupun caranya, (4) memaafkan, (5) ikhlas, (6) merasakan kehadiran

merasa melihat Allah, atau setidaknya merasa sedang dilihat oleh Allah SWT. Inilah dzikir yang hakiki, sebab hubungan manusia dengan Allah SWT tidak terjadi dengan qalbunya. tubuh jasmaninya melainkan dengan

‫...واعلمو أن ال يحول بين المرء وقلبه وانه اليه تحشرون‬
…Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berhubungan dengan manusia melalui qalbunya…(Al Anfaal : 24) Karena Allah SWT berhubungan (terconected) melalui Qalb (hati) hambaNya –bukan dengan jasadNya--, maka jangan puas hanya dengan dzikir mulut, tembuskan dzikir ke dalam qalbu, getarkan qalbu dengan rasa rindu (Syauq) kepada Allah, getaran yang juga menggoncang sel-sel kelenjar hormon untuk aktif menjaga keseimbangan hormon di dalam tubuh. Hormon adalah pengendali metabolisme tubuh. Dengan dzikir sirri metabolisme akan berjalan lancar alamiah menimbulkan kehangatan dan daya tahan tubuh (immune) terhadap berbagai penyakit. Dengan berzikir seseorang akan selalu berada pada jalur yang telah ditentukan Allah dan rasulNya, karena berzikir hakikatnya adalah memelihara connecsitas kita dengan Sang Pencipta saat apa dan
Allah, (7) penekanan pada aspek esoteris dibandingkan pada dunia eksoteris, (8) ilmu, (9) memegang teguh kebenaran, (10) memiliki pengertian yang baik tentang ajaran-ajaran Allah yang lurus, dan (11) memiliki pemahaman tentang hukum yang layak diterapkan di kalangan masyarakat Islam. Luasnya makna konsep ini memang karena konsep itu diungkapkan oleh al-Qur’an dalam berbagai konteks. Lihat artikel Husni dalam “Tajdid | Jurnal Ilmuilmu Agama Islam dan Kebudayaan” 29 December, 2010.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

kapanpun serta dimana kita berada, Allah SWT selalu mengawasi kita, sekalipun kamu berada dalam batu besar yang tertutup “Walau Kuntum Fi Burujin Musyayyadah”. Kesadaran kita akan pengawasan Allah akan membuat manusia terpelihara dari aktivitas yang dilarang Allah, serta membuat manusia selalu berada pada koridor kebajikan, kemanfaatan, bukan sebaliknya.

‫يا يها الذين امنوا اذكروا ال ذكرا كثيرا. وسبحوه بكرة واصيل‬
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah pada pagi dan sore“ (Al Ahzab: 41-42) Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa setiap kita lupa (lalai) untuk mengingatNya Iapun meminta kita untuk kembali ingat kepadaNya, karena dengan ingat kepada Allah kita akan berada pada jalur keselamatan.

‫...واذكر ربك اذا نسيت وقل عسى ان يهديني ربي لقرب من هذا رشدا‬
” …Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakana semoga Allah memberikan hidayahNya untuk selalu mendekatkan diri kepadaNya ” (Al Kahfi : 24) Ibn ‘Atha’illah mengatakan, bahwa “Qaumun Tasbiqu Anwaruhum azkaruhum, aw Qaumun tasbiqu Azkaruhum La Anwara Anwaruhum wa Qaumun Min Tatasawa ( AlAzkaruhum Wa Anwaruhum Wa Qaumun La Azkara wa Naudzubillahi Dzalika” Hikam:254)74. Artinya;”ada orang yang nur (kecerahan
74 Ibn ‘Atha’illah,tt. Al-Hikam, Daar el-Fikr.

hati) nya mendahului zikirnya, ada orang yang zikirnya mendahului nurnya, ada pula orang yang nurnya berbarengan dengan zikirnya. Dan ada pula orang yang tanpa zikir dan tanpa nur –kita berlindung kepada Allah dari sifat tersebut75. Dari ungkapan tersebut terlihat bahwa manusia –dalam masalah zikir oleh Ibn ‘Athaillah— terbagi menjadi empat katagori. Pertama; kelompok orang yang berzikir setelah digetarkan oleh ilham dan perasaan akan kehadiran Allah. Kedua; kelompok orang yang berzikir untuk membersihkan hati mereka sehingga cahaya dan nikmat Allah turun menghampiri mereka. melakukan bersih). Ketiga; zikir kelompok sebelum kelompok terakhir orang-orang hatinya orang yang yang tercerahkan yang tidak

(berusaha melakukan zikir walaupun hatinya belum Keempat mengindahkan zikir kepada Allah. Kelompok inilah disinggung dalam lanjutan hikmah Ibn ‘Athaillah;’ jangan engkau tinggalkan zikir dikarenakan engkau tidak merasakan kehadiran Allah dalam zikir tersebut, sebab kelalaianmu terhadapNya dengan tidak adanya zikir kepadaNya itu lebih berbahaya daripada kelalaianmu terhadapNya dengan adanya zikir kepadaNya”.76 Zikir adalah sebaik-baik jalan menuju Allah SWT, jadi tidak boleh ditinggalkan walaupun sedang tidak konsentrasi penuh. Melakukan zikir hendaknya dilakukan dengan menghadirkan tuhan dalam hati,
75 Lihat juga, lisma Dyawati Fuaida 2008 (terj), al-Hikam. Jakarta:Serambi, hal.385 76 Lihat Sri Mulyati, Tarekat, hal.77

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

sehingga

mampu

mencapai

zikir

yang

dapat

melupakan segalanya selain Allah. Zikir merupakan salah satu metode yang efektif untuk menjernihkan hati. “Tidaklah tampak zikir dan kecuali bila dari (Alpenyaksian (Musyahadah) perenungan

Tafakkur)” (Hikam; 256) Seperti amaliah lain berzikir pun memiliki metode-metode tertentu agar dapat –cepat—diterima oleh Allah SWT, Ibn ‘Athaillah menegaskan ada tiga metode berzikir. Pertama; Zikir dengan lisan (Zikr aldzahir atau dzikr al-huruf atau dzikr al_jahr). Kedua; zikir dalam hati (dzikr al-qalb atau dzikr al-sirr atau dzikr al-khafi). Ketiga; zikir anggota badan (dzikr a’dha al-abdan atau dzikr al-jawarih)77. Ketiga macam metode zikir tersebut secara bersamaan saling menopang, zikir hati tidak akan tercapai secara maksimal jika belum melalui zikir lisan. Jika seseorang dapat melakukan zikir secara bersamaan lisan dan hati maka sempurnalah hasil suluknya78. Syeikh Faqih Jalaluddin dalam persoalan zikir terbagi menjadi dua bagian. Pertama; Zikir hasanat yaitu zikir yang menghasilkan pahala dan tidak memakai tata aturan maupun metode apapun. Dalam periode ini seorang manusia membaca apapun dari kalimat-kalimat thayyibah yang ada dalam al-qur’an maupun al-sunnah seperti mengucapkan istighfar, tasbi, tahmid dan juga tahlil serta kalimat-kalimat lain
77 Sri Mulyati, Tarekat, hal.77 78 Lihat, al-Qusyairy, 1997. Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf. Surabaya: Risalah Gusti

seperti membaca atau mengamalkan al-asma’ alHusna79. Kedua zikir darajat yaitu zikir yang menghasilkan pahala dan penentuan derajat manusia disisi Allah80, zikir ini memakai tata aturan berupa tata tertib zikir. Hal tersebut dapat dilihat dalam bagian teks naskahnya; ”... adapun zikir itu dua perkara, pertama zikir hasanat namanya yakni zikir [yang] menghasilkan pahala jua [yang] tiada berkehendak kepada adab dan tertib. Kedua zikir darajat namanya yaitu berkehendak ia kepada adab dan tertib...” (Syamsul, hal. 06) Tata tertib zikir yang dimaksud –secara runtut —adalah: Pertama; membaca surat al-Fatihah kepada Nabi dan keluarganya, kemudian al-fatihah kepada alSyaikh (guru/mursyid), alfatihah berikutnya kepada para guru-guru yang telah mengajarkan pengetahuan, beserta kepada kedua orang tua, dan juga al-fatihah untuk kaum muslimin/muslimat. Kedua; membaca istighfar81 secara umum”astaghfirullahal Adzim 10 kali.
79 Rasul Allah dalam sebuah haditsny mengungkapkan bahwa siapapun diantara kita yang membaca al-Asma’ al-Husan (nama-nama baik Allah) sebanyak 99, maka doa yang dia baca dikabulkan Allah Swt. 80 Secara umum derajat manusia disisi Allah dibedakan oleh ketaqwaannya kepada Allah semata, tidak dibedakan dengan pangkat, golongan, jabatan, ras warna kulit, suku bangsa dan sebab-sebab fisik lainnya. Inna Akramakum Inda Allah Atqakum (sesungguhnya orang yang mulia disisiKu adalah mereka yang paling taqwa). Rasul juga menegaskan dalam haditsnya sesungguhnya manusia tidak dilihat dari bentuk tubuh, dan juga tidak dari warna kulitnya namun Allah akan melihat seseorang dari hati dana amaliahnya. 81 Sebagai perbedaan, istighfar yang dibaca oleh Rasul Allah setiap malam ketika ingin tidur sebanyak 100 kali, beliau bersabda;”Inni Laastaghfiru Kulla Lailatin Miatu Marrah” (sesungguhnya aku membaca Istighfar setiap malam sebanyak 100 kali)

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Ketiga; membaca Istighfar khusus seperti diucapkan oleh Syaikh abdul Qadir al-jailani ” astaghfarillaha min ilmi wamin Kelima; zalalli wamin wujud syekh Keenam; wamin ’amali”. sebagai bahwa Keempat; membaca selawat atas nabi SAW 10 kali. Menghadirkan berhasil. (mursyid) meyakini wasilah untuk meminta pertolongan agar semua yang dicita-citakan Syeikh sebagai pengganti Nabi untuk dijadikan wasilah dalam berdoa. Ketujuh; merasukkan lafadz kalimat ”Laa Ilaha Illa Allah” dalam jiwa dan rasakan dalam dada kira dan kanan. Kedelapan;lenyapkan lafadz kalimat ”Laa Ilaha Illa Allah” dan rasakan yang tersisi adalah makna dari kalimat tersebut, sehingga antara nama dan yang diberikan nama menyatu dalam satu kesatuan (al-Ismu wa al-Musamma wahidun). Kesembilan; setelah itu semua terasa, maka tetapkan diri dalam kebersatuan makna kalimat ”Laa Ilaha Illa Allah” hingga memperoleh ma’rifat melalui kalimat tersebut.

Kajian & Analisis

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Konsep al-Taubat

Al-Taubah secara bahasa

berasal dari kata

Tâba, Yatûbu, Taubatan yang berarti kembali dari pengembaraan, perjalanan jauh. Kembali ke asal kejadian. Sedangkan pengertian Taubat secara istilah adalah kembali –setelah banyak melakukan aktivitas yang bertentangan dan melanggar ajaran dan titah Allah SWT—kepada ajaran Tauhid dengan melaksanakan ajaran-ajaran yang telah diperintahkan Tuhan dan menjauhi segala larangan dan pantangan yang telah digariskan dalam al-Quran dan al-sunnah rasulNya. Dasar aktivitas Taubat dalam al-Quran –yang paling Populer—adalah ayat ”Tûbû Ila Allah Taubatan Nashûhâ” (kembalilah kepada Allah dengan sebenarbenar Taubat), sementara dalam al-Sunnah adalah hadits Nabi yang banyak diriwayatkan dalam berbagai persinya;" Bertaubatlah kalian dari segenap dosa dan kesalahan yang telah kalian lakukan karena aku (rasul Allah) bertaubat dan beristigfar seratus kali dalm sehari semalam”. Bertaubat dengan taubat nashûha sebagaimana ditegaskan rasul mempunyai beberapa persyaratan,

pertama; Mencabut diri dari perbuatan dosa, kedua; Meninggalkan dosa dengan sepenuh hati, dan ketiga; berniat untuk tidak akan kembali lagi melakukan dosa dan kesalahan apapun. Jika kesalahan yang dialkukan terkait dengan manusia maka ditambah satu syarat lagi yakni, keempat; Meminta maaf dengan –jika berkaitan dengan harta—mengembalikan hak-hak orang yang telah diambil dan didzaliminya. Rasul Allah SAW menegaskan dalam sabdanya; “AlTâibu Min Az-Zanbi Kaman Lâ Zanba Lahu, Wa Idza Ahabba Allahu Abdan lam Yadhurrahu Zanbun” (orang yang bertaubat dari dosa bagaikan orang yang tidak pernah berdosa dan jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya dosa tidak melekat pada dirinya. Selanjutnya beliau membacakan ayat sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri (QS. AlBaqarah:222). Ketika beliau ditanya, wahai Rasulullah apakah tanda orang yang bertaubat? Beliau menjawab “menyesali kesalahan”. Lanjutnya dalam riwayat Anas bin Malik. Rasulullah SAW bersabda “Tiada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain pemuda yang bertaubat”.82 Salah satu cerita hamba Allah yang telah bertaubat dengan sebenarnya adalah seorang laki-laki yang telah membunuh sampai 100 orang, lalu dengan sepenuh hati ia bertaubat dengan meninggalkan desa
82Periksa, Imam Al-Qusyairy An-Naisabury, 1997. Risalah Qusyairiyyah;Induk Ilmu Tasawuf. Surabaya: Risalah Gusti. Halaman.78-79

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

kelahirannya untuk kembali kepada ajaran Allah dan rasulNya, namun ditengah perjalanan ia pun meninggal. Lalu ia dimasukkan ke dalam rahmat allah SWT berupa Surga. Para Sufi dalam melaksankan al-Taubat membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat berpindah kejenjang berikutnya, karena pada proses ini manusia sangat sulit untuk tidak terjerumus ke lembah kenistaan. Sebagai manusia biasa pergumulan antara nafsu dan akal –yang kadang sangat sering dimenangkan oleh nafsu dan akal menjadi kalah--. Dalam persoalan inilah fungsi taubat selalu dianjurkan, tanpa pernah berputus asa, mengeluh dengan segala kenistaan yang pernah kita lakukan. Kita harus optimis bahwa selama kita sadar akan kelemahan dan kealfaan diri saat itulah kita termasuk dalam hamba Allah yang tercerahkan. Faqih jalaluddin dalam naskah Syamsul Ma’rifa menegaskan bahwa persoalan taubat seorang hamba dari semua kesalahan posisi yang telah dilakukannya dalam mendapatkan yang sangat penting

perjalanan menuju Allah. “…Maka firman Allah Ta’ala innallaha yuhibbul tawwabina wayuhibbul muta¯ahhirin, artinya bahwasanya Allah Ta’ala mengasihi Ia akan segala orang yang taubat dan mengasihi Ia akan segala orang yang suci. Firman Allah Ta’ala tubu ilallahi taubatan na¡uha, artinya taubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang sahih. Sabda Nabi şallallahu ‘Alaihi Wasallamwaman tâba minaz zanbi kama la zanba lahu, artinya barang siapa taubat daripada dosa adalah ia seperti orang yang tiada berdosa. Lagi pada suatu riwayat haditsnya taba minaz zanbi kayaumi

waladat hu ummuhu, artinya barang siapa taubat daripada dosa adalah ia seperti hari yang baru dilahirkan oleh ibunya, akan dia suci daripada dosa…”. Dalam persoalan ini taubat terbagi menjadi dua perkara yakni taubat zahir dari semua perkara dosa dan kealpaan seperti melakukan kesalahan maksiat secara langsung, sedangkan taubat batin adalah menjauhkan diri dari semua sikap hasad, dengki, ujub, dan berbagai penyakit hati lainnya; “…Maka adalah taubat itu dua perkara. Pertama taubat zahir, kedua taubat batin. Maka perhimpunan kedua taubat itu yaitu taubat qu¯bil aq¯abi syekh ‘Abdul Qadir Jailaniy astaghfirullahal ‘adzim min ismi wamin zaki wamin wujudi wa min ‘ilmi wamin ‘amali, artinya mohon ampun aku kepada Allah yang amat besar daripada do{sa} besar dan daripada dosa kecil dan daripada ingat akan diriku dan ilmuku dan ‘amalku. Maka hasillah daripada taubat ini tauhid yang dimaksud pada menjalani jalan kepada Allah. Maka makna tauhid itu yaitu Esa Allah aza wajalla dan zatnya dan sifatnya dan pada fa’al-Nya.Firman Allah Ta’ala qul huwallahu ahad, artinya katakan olehmu ya Muhammad yaitu Allah Ta’ala Esa Ia. Sungguhpun ada kita dengan perbuatan kita tiada disebutkan dari karena wujud kita ini keadaannya seperti wujud bayang-bayang jua adanya. Dengan dalil firman Allah Ta’ala wallahu khalaqakum wama ta’malun, sebermula Allah Ta’ala jua yang yang menjadikan kamu serta perbuatan kamu…” Taubat batin akan menghasilkan kemurnian tauhid kepada Allah tanpa mensekutukannya dengan hal-hal duniawi lainnya, semua persoalan diserahkan hanya kepadaNya. Hal ini dapat dilihat dari ungkapan

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Faqih Jalaluddin dalam naskah Syamsul Ma’rifat; “…Kata ‘arif sabda Nabi şallallāhu ‘alaihi wasallam la tataharraku zarratan illa bi iznillahi tiada bergerak satu zarrah melainkan dengan izin Allah jua. Maka dengan dalil ini nyatalah pada kita Allah Ta’ala Esa Ia dan dalam tangan qudrat-Nya. Jikalau sekalian perintah dan sekalian ikhtiar melainkan yang sepatutnya kita pada saat kerja dan pada saat ketika hendaklah menyerahkan diri kepada Allah, dan senantiasa hati berhadap kepada-Nya serta memuji Dia dan ‘ibadah akan Dia pada tiap-tiap waktu, demikianlah orang taubat yang dikasihi Allah…” Dari ungkapan tersebut jelas bahwa hasil akhir dari pertaubatan manusia adalah menyatu dengan Allah SWT, artinya kita hendaknya merasakan hadirnya Allah dalam setiap langkah dan aktivitas yang kita lakukan, tidak aka nada persoalan sekecil apapun yang luput dari pengetahuan Allah, semua waktu dan peluang yang tersedia hendaknya diisi dengan berbuat kebajikan dan berorientasi pada Allah semata.

bersihan dalam raga dan jiwanya. Maka dalam upaya membangun keseimbangan ini agaknya konseptualisasike ersuci tetapi tidak bersih atau yang lain non-muslim mereka tak suci tetapi bersih. Yang jelas rasul adalah "toko

Kebersihan dalam Islam Dalam kehidupan salah makhluk makhluk pokok kecuali bernyawa dalam sehingga kebersihan memelihara tidak ada untuk merupakan kelangsungan satupun

eksistensinya,

berusaha

membersihkan dirinya, walaupun makhluk tersebut dinilai kotor. Pembersihan diri tersebut, secara fisik misalnya, ada yang menggunakan air, tanah, air dan tanah83. Bagi manusia membersihkan diri tersebut dengan tanah dan air tidak cukup, tetapi ditambah dengan menggunakan dedaunan pewangi, malahan pada zaman modern sekarang menggunakan sabun mandi, bahkan untuk pembersih wajah ada sabun khusus dan lain sebagainya84.
83Air, tanah, tanah bersama air merupakan media pembersihan kotoran/najis secara dzahir. Dari Abu Hurairah, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ِ َ ّ ِ ّ ُ َ ُ ٍ ّ َ َ ْ َ ُ َِ ْ َ ْ َ ُ ْ َ ْ ِ ِ َ ََ َ ِ ْ ُ ِ َ َ ِ َ ِ ُ ُ ُ ‫طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولهن بالتراب‬ “Cara menyucikan bejana di antara kalian apabila dijilat anjing adalah dicuci sebanyak tujuh kali dan awalnya dengan tanah.” (lihat juga dalam kitab Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 3/185, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392) 84 Lihat Prof .Dr. M. Aburrahman MA dalam Islamicnet Articel http://saga-islamicnet.blogspot.com/2010/01/konsepkebersihan-dalam-islam.html. Di copy pada tanggal 30 Desember

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Pada manusia konsep kebersihan, bukan hanya secara fisik (dzahir), tetapi juga psikhis (bathin), sehingga dikenal istilah kebersihan jiwa, kebersihan hati, dan juga kebersihan spiritual. Agama dan ajaran Islam menaruh perhatian amat tinggi pada kebersihan, baik lahiriah fisik maupun batiniyah psikis. Kebersihan lahiriyah itu tidak dapat dipisahkan dengan kebersihan batiniyah. Oleh karena itu, ketika seorang Muslim melaksanakan ibadah tertentu harus membersihkan terlebih dahulu aspek lahiriyahnya. Ajaran Islam yang memiliki aspek akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak ada kaitan dengan seluruh kebersihan ini. Hal ini terdapat dalam tata cara ibadah secara keseluruhan. Orang yang mau shalat misalnya, diwajibkan bersih fisik dan psikhisnya. Secara fisik badan, pakaian, dan tempat salat harus bersih, bahkan suci. Secara psikhis atau akidah harus suci juga dari perbuatan syirik. Manusia harus suci dari al-fahsya85 dan al-munkarat86. Dalam membangun konsep kebersihan, Islam
2010 85 Al-Fahsya’ (‫ ) الفحشاء‬dalam tafsir DEPAG-RI diartikan dengan perbuatan keji. Sementara dalam kamus Al Munawwir, arti AlFahsya’ adalah suatu sikap/amalan yang buruk, jelek, jorok, cabul, kikir, bakhil, kata-kata kotor, kata yang tidak bisa diterima oleh akal sehat, dan kata fail / pelakunya diartikan zina. (lihat Kamus Al Munawwir : hal. 1113) 86 Al-Mungkar (‫ )المنكر‬dalam tafsir DEPAG-RI diartikan sama, ِ َ ُْ yaitu perbuatan mungkar. Abdullah Ar-Rojihi dalam kitabnya Al Qoulul bayyin Al Adhhar fiddakwah menyebutkan bahwa Munkar adalah setiap amalan / tindakan yang dilarang oleh syariat Islam, tercela di dalamnya yang mencakup seluruh kemaksiatan dan bid’ah, yang semua itu diawali oleh adanya kemusyrikan. Dalam ungkapan lain dijelaskan bahwa Munkar adalah kumpulan kejelekan, apa yang diketahui jelek oleh syariat dan akal, kemusyrikan, menyembah patung dan memutus hubungan silaturrahmi.

menetapkan berbagai macam peristilahan tentang kebersihan. nazhafah, perilaku sehingga Umpamanya, dan bersih fitrah, ada tazkiyah, dalam ikhlas, thaharah, hadis thib yang seperti istilah

memerintahkan khitan, sementara dalam membangun al-nafs, karena ketulusan kalbu, bersih dari dosa, tobat, dan lain-lain makna bersih amat holistik menyangkut berbagai persoalan kehidupan, baik dunia dan akhirat. Ada beberapa persoalan tentang kebersihan yang harus difahami diantaranya; Hissiyah dan jasmaniah Bersih secara konkrit adalah kebersihan dari kotoran atau sesuatu yang dinilai kotor. Kotoran yang melekat pada badan, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya yang mengakibatkan seseorang tak nyaman dengan kotoran tersebut. Umpamanya, badan yang terkena tanah atau kotoran tertentu, maka dinilai kotor secara jasmaniah, tidak selamanya tidak suci. Jadi, ada perbedaan antara bersih dan suci. Mungkin ada orang yang tampak bersih, tetapi tak suci. Hissiyah dan maknawiyah Al-Quran dan hadis banyak menggunakan lafal atau kosa-kata thaharah yang mengindikasikan pada kesucian badan dari kotoran atau najis atau sesuatu yang menimbulkan ketidaknyamanan jasmaniah seseorang. Dalam Surat al-Maidah: 6 dan surat al-Nisa: 43, ayat yang mewajibkan wudlu dan atau mandi sebelum shalat, misalnya tampak mengandung dua makna sekaligus, yaitu thaharah

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

secara hissiyah -jasmaniah (konkrit-nyata) karena dibersihkan dengan air dan thaharah maknawiah (abstrak) karena dibersihkan dengan air atau tanah ketika air itu tidak ada. Dikatakan mengandung dua makna sekaligus karena pada ayat itu disebutkan adalah juga makna, dan “Sesungguhnya Allah pengampun

penyayang” pada akhir surat al-Nisa: 43 karena wudu dan mandi juga shalat adalah jalan membersihkan dosa. Kesucian secara rohani karena dia sudah dengan ketaatan, istigfar dan taubat kepada Allah. Pada ibadah-ibadah tersebut. Memang dalam kehidupan keseharian makna suci ini, sering diungkapkan kepada seseorang yang sedang haid atau dalam keadaan junub, misalnya. Orang yang sudah bersih atau suci dari haid, disebut, “Hatta yath-hurna” (al-Baqarah: 222) bila sudah mandi junub, bukan hanya dicuci. Sebagimana disebutkan terdahulu bahwa kebalikan dari thaharah adalah najasah atau najis. Dalam ungkapan lain ada juga istilah danas, kotor Dalam Islam istilah najis terkonsep dalam fuqaha. Mereka menetapkan bab tertentu tentang thaharah dan najis tersebut. Dahulu di kalangan fuqaha, najis itu sendiri ditetapkan sebagai berikut: Najis mughallzhah87 dan mukhaffafah88.

87Dikatakan mughallazhah sesuai dengan artinya berat, karena dalam membersihkannya di samping mengunakan air sebanyak tujuh kali juga ditambahkan dengan tanah. 88Sementara dikatakan Mukhafafah sesuai dengan maknanya ringan, karena najis yang dengan sekali atau dua kali cucian sudah cukup tidak lagi memerlukan tanah sebagai tambahannya.

Maknawiyah Agaknya perlu dielaborasi di sini tentang kesucian secara maknawi yang banyakmenggunakan kata tazkiyah yang makna asalnya berarti berkembang dan berkah. Pada dasarnya kebersihan maknawiyah sudah disinggung di atas, tetapi dalam Islam juga menggunakan istilah tazkiyah dalam arti tazkiyat alnafsi sama dengan thaharat al-nafs dan tazkiyat almali. Tazkiyah wa thaharah al-Nafs Kesucian jiwa adalah kesucian karena ia sebagai orang beriman Al-Quran dan Sunnah atau ajaran Islam itu berfungsi diri. sebagai Maka tazkiyah, muwahhid najis, penyucian (orang sebagai dari yang mana kesesatan maka

bertauhid) adalah orang yang suci juga. Untuk itu, kebalikannya adalah disebut al-Quran bahwa orang musyrik itu najis, sebagaimana diterangkan dalam dalam surat alTaubah: 28 “Innama al-musyrikunan najasun fala yaqraub al-masjidal haram ba’da amihim hadza…” sebaliknya orang beriman adalah suci jiwanya dengan akidah yang benar. Tanah Mekah dan Madinah bgi umat Islam adalah Tanah suci karena tidak boleh diinjak oleh orang kafir. Kesucian jiwa berkaitan juga dengan akhlak mulia dan taubat. Ketika seseorang bertaubat berarti mensucikan dirinya dari segala dosa yang dilakukannya. Penyucian dosa dengan istigfar dan tidak mengulangi lagi perbuatannya. Bagi dosa yang memerlukan hukum pidana Islam, maka dengan

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

melalui proses eksekusi pidana itu. Tazkiyat wa thaharat al-mal Kesucian harta adalah dimensi lain dari dimensi kesucian thuhratan dalam atau Islam, tetapi thaharah. juga di sini tidak selamanya bahwa menggunakan kata tazkiyah karena Namun, sebagaimana dimaklumi zakat disebut zakat karena mensucikan harta. Memang, dalam hal ini belum berimbang antara mensucikan badan atau masalah yang bersifat badaniyah dengan penyucian harta, padahal banyak cara penyucian harta ini, utamanya dengan zakat. Ongkos penyucian badan dan pemeliharaannya bila dihitung perbulan amat mahal. Mulai dari sikat gigi dan odolnya, pakaian, malahan dari kalangan tertentu ada yang sengaja mandi SPA dan Sauna, belum lagi dari kalangan “perempuan” tingkat tertentu, setiap bulan mengeluarkan dana tertentu untuk merawat wajah dan penataan rambutnya89. Untuk penyucian harta adalah dengan mengeluarkan zakat karena zakat itu sendiri artinya suci. Belum lagi dengan melalui sadaqah, infaq, wakaf, misalnya. Saat ini lembaga zakat membantu orangorang kaya menegluarkan zakatnya, sehingga harta yang dimiliki mereka adalah harta yang suci.

‫حذ من اموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها‬
”Ambillah dari harta mereka sadaqah (zakat), 89Lihat Prof .Dr. M. Aburrahman MA dalam Islamicnet Articel http://saga-islamicnet.blogspot.com/2010/01/konsepkebersihan-dalam-islam.html. Di copy pada tanggal 30 Desember 2010

kau sucikan dan bersihkan mereka dengannya” (QS. Al-Taubah:103) Sementara harta yang tidak pernah dizakati hakikatnya adalah harta yang kotor, bahkan termasuk dalam katagori orang-orang yang yaknizun al-zahab wa al-fidhdhah (al-Tubah: 34) sehingga akan membakar dirinya di neraka. Syeikh faqih Jalaluddin, dalam pandangannya tentang kebersihan yang secara tegas dalam naskah Syamsul Ma’rifah memandang sangat perlu bagi setiap manusia yang ingin dekat dan selalu connected dengan Allah, sebab tanpa bersih dan suci jiwa raga mustahil kebersamaan dengan Allah akan terjalin. Hal tersebut dapat dilihat dalam konsep beliau tentang kebersihan. Beliau melihat bahwa manusia harus suci dari tiga hal; “…Syahdan bermula suci itu tiga perkara, pertama suci žahir, kedua suci batin, ketiga suci sir. Maka suci žahir itu yaitu bersuci daripada hadats besar dan kecil, dan bersuci daripada sekalian najis pada badan dan tempat dan pakaian. Dan suci batin itu yaitu menyucikan hati daripada ku’eh dan dengki dan ‘adam, bakhil, ‘ujub, ria, sum’ah. Dan menyucikan panca indera yang lima daripada yang haram dan makruh dan syubhat yaitu penglihat pendengar, pencium, perasa, fitnah. Dan bersuci sir daripada ingat akan yang lain daripada Allah. Maka sir itu yaitu suatu yang ditaruhkan Allah ke dalam hati hamba-Nya yang dikasihi-Nya akan Dia, supaya jadilah Ia akan alat hamba menghadap kepada Tuhannya…” Dalam pemaknaan “pakaian žahir” menurut Syeikh Faqih Jalaluddin adalah dengan mengerjakan lima rukun Islam secara baik dan benar sesuai

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

tuntunan

al-quran

dan

al-Sunnah.

Pengaplikasian

rukun Islam tidak dapat dipisah-pisahkan antara satu rukun dengan rukun yang lain sebab rukun yang satu dengan yang lain saling bertautan, bagaikan sebuah pondasi bangunan, yang harus saling terkait, satu dan lainnya –akan roboh dan rusak—jika yang lainnya tidak berkait. Dalam bahasa al-Qur’an “Kal Bunyanun Marshush”90 (bagaikan sebuah bangunan yang salin bertautan). Khusus menurutnya keadaan dalam sangat pelaksanaan ditekankan, atau ibadah haji bahkan sampai mampu

seseorang –yang tentunya sebelum meninggal dalam mampu dan keluarganya setelah dia meninggal—maka wajib di badalkan91. Hal
90 Lihat al-quran surat al-Shaf/61:4 91Badal haji adalah sebuah istilah yang dikenal dalam fiqih Islam. Bentuknya seseorang adalah melakukan ibadah haji namun pahalanya diniatkan bagi orang lain, baik yang masih hidup namun tidak mampu pergi maupun yang sudah wafat. Para ulama berbeda pandangan diantaranya mengatakan boleh dengan syarat bahwa orang tersebut telah meninggal dunia dan belum melakukan ibadah haji, atau karena sakit berat sehingga tidak memungkinkannya melakukan ibadah haji namun ia kuat secara finansial. Ulama Hanafi mengatakan orang yang sakit atau kondisi badanya tidak memungkinkan melaksanakan ibadah haji namun mempunyai harta atau biaya untuk haji, maka ia wajib membayar orang lain untuk menghajikannya, apalagi bila sakitnya kemungkinan susah disembuhkan, ia wajib meninggalkan wasiat agar dihajikan. Mazhab Maliki mengatakan menghajikan orang yang masih hidup tidak diperbolehkan. Untuk yang telah meninggal sah menghajikannya asalkan ia telah mewasiatkan dengan syarat biaya haji tidak mencapai sepertiga dari harta yang ditinggalkan. Mazhab Syafi'i mengatakan boleh menghajikan orang lain dalam dua kondisi; Pertama : untuk mereka yang tidak mampu melaksanakan ibadah haji karena tua atau sakit sehingga tidak sanggup untuk bisa duduk di atas kendaraan. Orang seperti ini kalau mempunyai harta wajib membiayai haji orang lain, cukup dengan biaya haji meskipun tidak termasuk biaya orang yang ditinggalkan. Kedua orang yang telah meninggal dan belum melaksanakan ibadah haji, Ahli warisnya wajib menghajikannya dengan harta yang ditinggalkan, kalau ada. Ulama syafi'i dan Hanbali melihat bahwa kemampuan

ini diperkuat dengan pernyataan beliau dalam naskah Syamsul Ma’rifah. “…Adanya sebermula pakaian žahir itu yaitu mengerjakan rukun Islam yang lima, yaitu mengucap dua kalimat syahadat92 dan mendirikan sembahyang dan memberi zakat harta dan puasa pada bulan Ramadhan dan naik haji ke Mekah jika kuasa berjalan kepadanya atau diberinya upah akan yang sudah mati…” Persoalan Syahadat merupakan kalimat yang paling penting, karena dengan kalimat inilah kemudian seseorang –dalam agama Islam—menjadi aman darah, kehormatan dan juga harta bendanya. Dengan kalimat inilah generasi terdahulu—as-Sabiqunal Awwalun—rela mati demi menegakkan kalimat ini. Para sahabat Nabi mati-matian memperjuangkan kalimat agung ini, dan dengan kalimat ini seseorang memperoleh ganjaran Surga di akhirat kelak. Kalimat Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat yang terdiri dari 4 kata, yaitu : kata (‫ ,)ل‬kata (‫ ,)إله‬kata (‫)إل‬ َ َِ ِ dan kata (‫ .)اليي‬Adapun secara bahasa kalimat Laa ُ Ilaaha Illallah dapat diuraikan sebagai berikut : Laa (‫ )ل‬adalah nafiyah lil jins (Meniadakan keberadaan
melaksanakan ibadah haji ada dua macam, yaitu kemampuan langsung, seperti yang sehat dan mempunyai harta. Namun ada juga kemampuan yang sifatnya tidak langsung, yaitu mereka yang secara fisik tidak mampu, namun secara finansial mampu. Keduanya wajib melaksanakan ibadah haj 92Lihat Al-Qur’an surat Az-Zukhruf : 86) “Dan sembahansembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa`at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dalam keadaan mereka mengetahui(nya)”. Dan Rasul Allah Saw menyebutkan bahwa “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengatahui bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka akan masuk Surga.” (HSR. Bukhary dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

semua jenis kata benda yang datang setelahnya). Misalnya perkataan orang Arab “Lâ rojula fid dâri” (Tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis penyembahan dan peribadahan yang haq dari siapapun juga kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Ilaha (‫ )إله‬adalah mashdar (kata dasar) yang bermakna َ َِ maf’ul (obyek) sehingga bermakna ma`luh yang artinya adalah ma’bud (yang diibadahi). Karena aliha maknanya adalah ‘abada sehingga makna ma’luh adalah ma’bud. Hal ini sebagaimana dalam bacaan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma terhadap ayat 127 pada surah Al-A’raf : َ َ َ ََِ َ َ َ َ َ ِ ْ َْ ْ ِ ْ ُ ِ ْ ُ ِ ُ َ ْ َ َ َ ْ ُ ُ َ َ َ َ ْ َ ْ ِ ِ ْ َ ْ ِ ُ َ ْ َ َ َ ‫وقال المل من قوم فرعون أتذر موسى وقومه ليفسدوا في الرض ويذرك وإلهتك‬ “ Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun) : Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilahataka (peribadatan kepadamu)?”. Ilahataka yaitu peribadatan kepadamu, karena

Fir’aun itu disembah dan tidak menyembah. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbas memahami bahwa kata Ilahah artinya adalah Ibadah. 3) Illa (‫ )إل‬Pengecualian di sini adalah mengeluarkan ِ kata yang terletak setelah illa dari hukum kata yang telah dinafikan oleh laa. Misalnya dalam contoh di

atas laa rajula fid dari illa Muhammad, yaitu Muhammad (sebagai kata setelah illa) dikeluarkan (dikecualikan) dari hukum sebelum illa yaitu peniadaan semua jenis laki-laki di dalam rumah, sehingga maknanya adalah tidak ada satupun jenis laki-laki di dalam rumah kecuali Muhammad. Jika diterapkan maknanya dalam adalah kalimat bahwa tauhid hanya ini Allah makna yang

diperkecualikan dari seluruh jenis ilah yang telah dinafikan oleh kata laa sebelumnya. 4) Lafadz Allah (‫ )ال‬asal katanya adalah Al-Ilah dibuang ُ hamzahnya untuk mempermudah membacanya, lalu lam yang pertama diidhgamkan (digabungkan) pada lam yang kedua maka menjadilah satu lam yang ditasydid dan lam yang kedua diucapkan tebal sebagaimana pendapat Imam Al-Kisa`i dan Imam AlFarra` dan juga pendapat Imam As-Sibawaih. Adapun maknanya, berkata Al-Imam Ibnu Qoyyim dalam Madarij As-Salikin (1/18): “Nama “Allah” menunjukkan bahwa Dialah yang merupakan ma’luh (yang disembah) ma’bud (yang diibadahi). Seluruh makhluk beribadah kepadanya dengan penuh kecintaan, pengagungan dan ketundukan”. Lafadz jalalah “Allah” adalah nama yang khusus untuk Allah saja, adapun seluruh nama-nama dan sifatsifat Allah yang lainnya kembali kepada lafadz jalalah tersebut. Karena itulah tidak ada satupun dari makhluk-Nya yang dinamakan Allah. Kemudian dari perkara yang paling penting

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

diketahui bahwa Laa ini –sebagaimana yang telah diketahui oleh semua orang yang memiliki ilmu bahasa Arabmembutuhkan isim dan khabar sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Malik dalam Alfiyahnya93 :

‫عمل إن اجعل لل في نكره‬ َ َِ ِ َ ِ ْ َْ ّ ِ َ ََ
“Jadikan amalan Inna (menashab isim dan merafa’ khabar) untuk laa bila isimnya nakirah”. Isim laa adalah kata ilaha, adapun khabarnya, disinilah letak perselisihan manusia dalam penentuannya. Adapun yang dipilih oleh para ulama Salaf secara keseluruhan adalah bahwa khabarnya (dibuang) oleh karena itulah harus menentukan khabarnya untuk memahami maknanya dengan benar. Dan para ulama Salaf sepakat bahwa yang dibuang tersebut adalah kata haqqun atau bihaqqin (yang berhak disembah), dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Luqman ayat 30 :

ُ ْ ِ َ ّ َِ َ ُ َ ّ ََ ُ ِ َ ِ ِ ْ ُ ْ ِ َ ْ ُ ْ َ َ ّ ََ ّ َ َ ُ َ ّ َِ َ َِ ‫ذلك بأن ال هو الحق وأن ما يدعون من دونه الباطل وأن ال هو العلي الكبير‬
“Yang demikian itu karena Allahlah yang haq (untuk disembah) dan apa saja yang mereka sembah selain Allah maka itu adalah sembahan yang batil dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. Dan mirip dengannya dalam surah Al-Hajj ayat 62. Maka dari seluruh penjelasan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa makna Laa ilaaha illallah adalah tidak ada sembahan yang berhak untuk
93 Kitab Alfiyah Ibnu Malik, cukup terkenal dan sangat disegani oleh kalangan santri senior. Berisi kaidah-kaidah lanjutan dan tinggi dalam fan ilmu nahwu dan sharaf. Hafalannya tidak kurang dari 1000 bet.

disembah kecuali Allah. Maka kalimat tauhid ini menunjukkan akan penafian/penolakan/peniadaan semua jenis penyembahan dan peribadahan dari semua selain Allah Ta’ala, apa dan siapapun dia, serta penetapan bahwa penyembahan dan peribadahan dengan seluruh macam bentuknya –baik yang zhohir maupun yang batin- hanya ditujukan kepada Allah semata tidak kepada selainnya. Oleh karena itu semua yang disembah selain Allah Ta’ala memang betul telah disembah, akan tetapi dia disembah dengan kebatilan, kezhaliman, pelampauan batas dan kesewenang-wenangan. Inilah makna yang dipahami oleh orang-orang Arab –yang mukmin yang maupun yang kafirnyatatkala insya telah mereka Allah kami mendengar perkataan laa ilaha illallah sebagaimana akan datang penjelasannya apa yang Ta’ala.Berikut sebagian perkataan para ulama yang menunjukkan paparkan. Al-Wazir menunjukkan (seorangpun) Abul Muzhoffar dalam Al-Ifshoh wajib berhak benarnya

menegaskan bahwa “Lafazh “Allah” sesudah “illa” bahwasanya selain penyembahan yang (diperuntukkan) hanya kepada-Nya, maka tidak ada dari-Nya mendapatkannya (penyembahan itu)”. Dan beliau juga berkata : “Dan termasuk faedah dari hal ini adalah hendaknya mencakup kamu kufur mengetahui kepada bahwa kalimat ini thaghut (semua yang

disembah selain Allah) dan beriman hanya kepada

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tatkala engkau menafikan penyembahan dan menetapkan kewajiban penyembahan itu hanya kepada Allah subhanahu maka berarti kamu telah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah” Sementara Imam Ibnu Rajab : “Al-Ilah adalah yang takut, ditaati berharap dan dan tidak didurhakai karena mengagungkan dan memuliakan-Nya, merasa cinta, bertawakkal kepada-Nya, meminta dan berdo’a pada-Nya. Dan semua ini tidak boleh kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka siapa yang mengikutsertakan makhluk-Nya pada salah satu dari perkara-perkara yang merupakan kekhususan penyembahan (ibadah) ini maka dia telah merusak keikhlasannya dalam kalimat Laa Ilaaha Illallah. Dan padanya terdapat peribadatan kepada makhluk (kesyirikan) yang kadarnya sesuai dengan banyak atau sedikitnya hal-hal tersebut terdapat padanya”. Ungkapan lain juga dikemukakan oleh Imam AlBaqo`iy : “Laa Ilaaha Illallah yaitu peniadaan yang besar dari menjadikan yang diibadahi yang benar selain Raja yang paling mulia karena sesungguhnya ilmu ini, khususnya Laa Ilaahaa Illallah adalah peringatan yang paling besar yang menolong dari keadaan hari kiamat dan sesungguhnya menjadi ilmu jika bemanfaat, dan menjadi bermanfaat jika disertai dengan semata”. ketundukan dan beramal dengan ketentuannya. Kalau tidak maka itu adalah kebodohan

Persoalan

yang

termasuk

dalam

katagori

“pakain žahir” adalah rukun iman94 dan

ketika seseorang mampu teraplikasikan dalam sikap

mengi’tiqadkan (meyakini) dalam hati tentang enam keberagamaan sehari-hari. Hal tersebut dapat dilihat pada teks Syamsul Ma’rifa”; “…Dan mengetahui serta mengi’tiqadkan rukun Iman yang enam, yaitu percaya akan Allah dan percaya akan segala malaikat dan percaya akan segala kitab Allah dan percaya akan segala Rasul Allah dan percaya akan hari kiamat dan percaya akan untung baik dan untung jahat daripada Allah jua. Dan mengi’tiqadkan rukun syahadat yang empat yaitu mengisbatkan zat Allah dan mengisbatkan akan af’il Allah dan mengisbatkan kebenaran. Dan mengerjakan pohon agama yang empat itu yaitu Iman, Islam, Tauhid, Ma’rifat yakni mengetahui sifat Allah yang dua puluh, demikianlah pakaian yang žahir…”

Selain pakain žahir, juga terdapat pakaian batin yang tersurat dalam teks Syamsul Ma’rifah. Pakain
94Konsep Iman dalam kalangan teolog beragam perspektif, bagi al-Muktazilah Iman adalah “Zat” yang jika digunakan untuk kemaksiatan secara terus-menerus, maka imannya akan habis oleh karenanya tidak lagi menjadi orang beriman, namun karena masih melaksanakan amaliah-amaliah al-hasanah maka tidak juga dikatakan kafir (al-Manzilah bayn Manzilatain). Sedangkan konsep al-Iman menurut ahl al-Sunnah wa al-Jamaah adalah “sifat”, jika dipakai secara terus-menerus untuk kemaksiatan iman tersebut tidak habis, namun mengempis dan akhirnya berkurang, jadi iman dapat berkurang (yanqush) dan bertambah (yazid).

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

batin95 yang dimaksudkan adalah pakaian yang terdiri dari persoalan batin seperti taubat, memerangi hawa nafsu, berusaha melakukan kebajikan, takut akan azab Allah dan juga harap akan rahmat Allah, juga melakukan kontemplasi, sabar dari semua bala’ dan bersyukur terhadap semua nikmat Allah, juga berniat dengan penuh keikhlasan. Pernyataan tersebut sesuai dengan ungkapan yang tertuang dalam teks Syamsul Ma’rifa; “…Adapun pakaian yang batin itu yaitu taubat kepada Allah dan berusaha pada sekalian kebajikan dan memerangi hawa nafsu dan takut akan azab Allah, dan harap akan rahmat Allah
95 Kata “pakaian batin” dalam al-Quran dikenal dengan istilah “libasut Taqwa”.Al-Quran surat Al-A'raf (7): 26 menjelaskan dua fungsi pakaian: Wahai putra putri Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian yang menutup auratmu dan juga (pakaian) bulu (untuk menjadi perhiasan), dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Ayat ini setidaknya menjelaskan dua fungsi pakaian, yaitu penutup aurat dan perhiasan. Sebagian ulama bahkan menyatakan bahwa ayat di atas berbicara tentang fungsi ketiga pakaian, yaitu fungsi takwa, dalam arti pakaian dapat menghindarkan seseorang terjerumus ke dalam bencana dan kesulitan, baik bencana duniawi maupun ukhrawi. Syaikh Muhammad Thahir bin 'Asyur menjelaskan jalan pikiran ulama yang berpendapat demikian. Ia menulis dalam tafsirnya tentang ayat tersebut:Libasut taqwa dibaca oleh Imam Nafi' ibnu Amir, Al-Kisa'i, dan Abu Ja'far dengan nashab (dibaca libasa sehingga kedudukannya sebagai objek penderita). Ini berarti sama dengan pakaian-pakaian lain yang diciptakan, dan tentunya pakaian ini tidak berbentuk abstrak, melainkan nyata. Takwa yang dimaksud di sini adalah pemeliharaan, sehingga yang dimaksud dengannya adalah pakaian berupa perisai yang digunakan dalam peperangan untuk memelihara dan menghindarkan pemakainya dari luka dan bencana lain. Ada juga yang membaca libasu at-taqwa, sehingga kata tersebut tidak berkedudukan sebagai objek penderita. Ketika itu, salah satu makna yang dikandungnya adalah adanya pakaian batin yang dapat menghindarkan seseorang dari bencana duniawi dan ukhrawi. (periksa Prof.Dr. M. Quraish Shihab, M.A. Wawasan al-Quran; Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat).

dan pertapa dan sabar akan bala dan syukur akan nikmat dan niat yang baik dan ikhlas, dan benar susah hati dan insaf hati dan mengirangirai amal baik dan jahat pada waktu ashar. Dan tawakkal kepada Allah pada barang kerja dan kasih dan rindu hati kepada Allah, sebab menerima nikmat yang berturut-turut dan ridha akan takdir Allah. Dan berpekerjaan akan kebesaran Allah dan muraqabah, yaitu Allah Ta’ala menilik Ia akan segala perbuatan hambaNya senantiasa dan memberi akan tauhid dengan zikir, jangan lalai hati kepada Allah...” Pakaian ketiga dalam persepktif Syeikh Faqih Jalaluddin adalah ”pakaian sirr” pernyataan tersebut dapat dilihat dalam teks naskah Syamsul Ma’rifa; ”...Ada pun pakaian sir itu, maka yaitu mengekalkan harap kepada Allah pada sekalian waktu dengan mengembalikan amanah kepada yang mempunyai dia. Firman Allah Ta’ala an tuwaddul amanati ila ahliha, artinya kembalikan oleh kamu sekalian amanah itu kepada yang empunya dia. Maka yang dikehendaki dengan amanah itu pada ahli sufi yaitu sifat yang tujuh, hayah, ilmu, qudrah, iradah, sama’, başar, kalam, dan panca indera yang lima penglihat pendengar perasa penyentuh [pencium]...” Dari ungkapan tersebut maka yang diinginkan dengan ”Pakaian Sir” adalah menyerahkan semua harapan (al-raja’) hanya kepada Allah semata dan mengembalikan amanah semua pemberiaanNya secara totalitas berupa seluruh (menyerahkan

pemberian Allah Swt), Dialah yang akan membalas semua perbuatan yang kita lakukan kelak. Amanah dalam kontek sufi –perspektif Syeikh Faqih Jalaluddin—terangkum dalam sifat Allah yang tujuh yakni sifat hayah (hidup), ilmu (Mengetahui),

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

qudrah

(Kuasa),

iradah,

(berkehendak)

sama’

(mendengar), başar (melihat), kalam (berbicara). Sifat hidup ini dapat ditransfer ke dalam diri manusia sebagai makhluk hidup, maka hendaklah menggunakan kehidupannya sebaik mungkin dengan senantiasa mengarahkan aktivitas, aqwal dan hatinya kepada Sang Pencipta Yang Maha Tunggal. Hidup yang dianugerahkan Allah kepada kita sangat pendek dan misteri karena kita tidak akan pernah tahu kapan dan dimana ajal akan menjemput kita. Seorang sahabat Nabi pernah berujar ketika dianugerahi hadiah berupa emas oleh khalifah Umar, ia berkata;”Ya Amirul Mukminin Man Yadminuka An Taisyu Ilaa Ghadan” (Wahai Amirul usia Mukminin kita akan siapakah sampai yang besok dapat pagi?). menjamin

Mendengar pertanyaan ini Sayyidina Umar merasa bahwa kehidupan kita di pentas dunia ini tidaklah bisa diprediksi kapan kita akan meninggal, oleh karena itulah tua. Allah berpikir. Maha Dengan mengetahui, sifat ini memiliki bisa konsekwensi yang sangat kuat bagi manusia yang pengetahuannya Allah mengetahui seluruh aktivitas dzahir batin kita, bahkan lintasan dan denyutan nadi kitapun di ketahuianya. Oleh karena itulah manusia hendaknya selalu waspada dalam menjalankan kehidupannya, dan mengarahkan jiwa raganya untuk mengabdi sepenuhnya hanya kepada Allah Sang Penguasa Alam raya dan isinya. Rasul Allah memerintahkan kita untuk memanfaatkan usia muda sebelum datangnya usia

Allah

Maha

Kuasa

(Qudrah),

sifat

ini

juga

memiliki pemahaman bahwa Allah berkuasa atas segala yang kita tidak mampu melakukannya, bagi Allah tidak ada yang sulit. Oleh karena itulah kita hendaknya sikap yang harus ditumbuhkan adalah merasakan semua problema yang menghampiri Yusra” Sesungguhnya pasti akan diberikan jalan keluar “Inna Maal ‘Usri bersama kesulitan itu ada kemudahan atau jalan keluarnya. Allah Maha Mendengar (Sama’), sifat ini bagi manusia hendaknya menjadi perhatian sehingga tidak serampangan dapat dijadikan mengucapkan renungan dan dan kata-kata pedoman Rasulullah kotor, dalam SAW membuat fitnah dan bergosif, jika sifat Allah ini sudah kehidupan kita maka hidup yang kita jalankan akan mendapatkan sabdanya, ‫إذا كنتم ثلثة فل يتناجى اثنان دون الخر حتى تختلطوا بالناس، من أجل أن ذلك يحزن‬ ِ ْ ُ َ َِ ْ َ ِ ْ َ ْ ِ ِ ّ ِ ْ ُ َِ ْ َ ّ َ ِ َ ْ َ ْ ُ ِ َ ْ َ َ َ َ َ َ ً َ َ َ ْ ُ ْ ُ َ ِ “Jika kalian sedang bertiga, maka janganlah dua orang berbisik tanpa seorang yang lain, sehingga kalian membaur dalam pergaulan dengan manusia, sebab yang demikian itu akan membuatnya sedih.”( Hadits riwayat Al-Bukhari)96 Allah Maha Melihat (bashar), sifat ini mengandung implikasi bagi seluruh manusia agar tidak melakukan perbuatan yang dilarang Allah dan rasulNya. Karena Allah Maha melihat semua aktivitas yang dzahir
96 (lihat Ibnu Hajar Al ‘Asqolani dalam kitab Fathul Bari, 11/83)

ridla

berkah.

menerangkan hukum dan akibat perbuatan ini dalam

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

maupun yang tersembunyi. Allah SWT berfirman;

ُ ِ َ ُ ِ ّ َ ُ َ ‫َ ْ َ َ ِ ْ ِ ِ َ ْء‬ ‫ليس كمثله شي ٌ وهو السميع البصير‬
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syura: 11) PenglihatanNya bisa menembus langit dan bumi tanpa sedikitpun terhalang oleh penghalang batas tempat dan waktu. “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadaNya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al Hadiid 4] Dia bisa melihat semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di langit yang kelam. Tak ada selembar daun pun yang jatuh ke bumi tanpa Allah melihatnya. Tidak pula daun kering atau basah kecuali Allah melihatnya. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam 59] Allah bisa melihat meski itu hanya sebesar dzarrah, tidak ada apapun yang luput dari pengawasan dan penglihatan Allah. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya

jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” [Luqman 16] “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al Hujuraat 18] Selain sifat amanah diekspresikan melalui

pengamalan makna-makna yang terkandung dalam sifat-sifat Allah, juga, terekam dalam lima pancaindra yakni penglihat-an, pendengar-an, perasa, penyentuh, dan pencium. Jika berbagai amanah telah dilaksanakan dan Allah menerima semuanya,

kembalilah seseorang menjadi faqir97 yang hanya 97 Pengertian faqir dalam tasawuf ia diartikan sebagai pribadi yang tidak lagi terpaut pada dunia. Keterpautannya semata-mata ke pada Tuhan. Dua ayat al-Qur`an yang dijadikan rujukan, yaitu Q 2:268 dan Q 35-15. Dalam Q 2:268, Allah berfirman, ”Setan mengancammu dengan ketiadaan milik (alfaqr) dan menyuruhmu melakukan perbuatan keji. Tetapi Allah menjanjikan ampunan dan karunia kepadamu dari-Nya sendiri dan Allah maha luas pengetahuan-Nya.” Dalam Q 35 :15, ”Hai manusia ! Kamulah yang memerlukan (fuqara’) Allah. Sedangkan Allah, Dialah yang maha kaya lagi maha terpuji.” (Yusuf Ali 1983: 109 dan 1157-8). Faqir bukanlah orang miskin dalam artian harfiah. Ibn Abu `Ishaq al-Kalabadhi dalam bukunya al-Ta`arruf li Madzzhabi ahl al-Tashawwuf )abad ke-11 M) mengutip Ibn al-Jalla yang mengatakan, ’Kefaqiran ialah bahwa tiada sesuatu pun yang menjadi milikmu, atau jika memang ada sesuatu, itu tidak boleh menjadi milikmu’. Ini sejalan dengan firman Tuhan, ’Sedangkan mereka lebih mengutamakan kepentingan orang banyak, dibanding semata-mata kepentingan mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesukaran’” (Arberry 1976:118). Ali Uthman al-Hujwiri dalam Kasyf al-Mahjub, mengutip seorang sufi yang mengatakan, ”Laysa al-faqr man khala min alzad, inna-ma al-faqr man khala min al-murad, yakni ’Faqir bukan orang yang tak punya rezeki/penghasilan, melainkan yang pembawaan dirinya hampa dari nafsu rendah’.” Dia juga mengutip Syekh Ruwaym, ”Min na`t al-faqr hifzzhu sirrihi wa syanatu nafsihi wa ada’u fazi dhatihi’, yakni ’Ciri faqir ialah hatinya terlindung dari kepentingan diri, dan jiwanya terjaga dari kecemaran serta tetap melaksanakan kewajiban agama.” (Nicholson 1982:35).

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

berharap akan pertolongan dan bantuan Allah, maka Allah akan datang dengan bantuan berupa keridlaanNya terhadap semua perbuatan hambanNya. Syaikh Faqih Jalaulddin memberikan komentar lebih jauh tentang penggunaan amanah yang membawa kepada kefakiran seseorang. ”Maka tatkala habislah amanah itu kembali kepada yang empunya dia maka jadilah ia fakir sekali-kali, dan patutlah ia menerima sadaqah. Firman Allah Ta’ala innama shaadaqatu lil fuqara'i sesungguhnya segala şadaqah itu milik bagi segala faqir. Hasilnya, setelah sucilah hatinya itu daripada yang lainnya daripada Allah maka patutlah ia menerima beroleh yang ia persalinan daripada Allah kepada hamba-Nya, demikianlah suci yang dikasihi Allah” Dari ungkapan tersebut jelaslah bahwa orang yang benar-benar memanfaatkan dan menggunakan amanah Allah sesuai dengan ketentuanNya akan menjadi fakir dalam arti yang lebih luas yakni segala sesuatu yang ia miliki merupakan –hakikatnya—milik Allah, karena Allahlah yang menjadikan sesuatu itu ada di tangan-tangan yang Dia kehendaki. Kapan Allah berkehendak tidak ada mengambilnya kekuasaan kembali, maka akan untuk dengan diambil tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan manusia sedikitpun menerima menolak kehendak Allah tersebut. Pada posisi ini kita sebagai manusia diharapkan ikhlash segala ketentuan yang telah ditentukan Allah sejak azali. Jika demikian adanya mengapa kita harus

merasa bahwa apa yang kita miliki ini adalah milik kita?, mengapa kita sering merasa bahwa nikmat yang dianugerahkan Allah kepada kita pertanda sayang sementara musibah yang juga dianugerahkan Allah kepada kita sering dianggap sebagai tanda Allah benci (tidak sayang) kepada kita?. Padahal jika dilihat dari aspek lain semua nikmat dan juga musibah datangnya dari Allah, oleh karena itulah kita diminta untuk merasakan dan mensikapi secara bersamaan baik nikmat maupun musibah karena semua itu akan menjadi bukti peringkat keimanan kita.

Ke-Esa-an (al-Tauhid) Dakwah yang dikembangkan rasul Allah selama 13 tahun di Makkah al-Mukarramah dalam rangka menguatkan aqidah umat yang Inti pokoknya adalah meng-Esa-kan Allah Swt dari semua persekutuan baik dengan benda maupun non benda. Al-Quran sebagai kitab suci memfokuskan masalah Aqidah. Sedang inti dari akidah adalah keyakinan bahwa Allah SWT Maha Esa. Tidak ada tuhan dan sekutu bagi-Nya. Allah berfirman : “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan dia.” (Q.S.Al-Ikhlas : 1-4). Iman kepada Allah ialah percaya sepenuhnya, tanpa keraguan sedikit pun, akan adanya Allah SWT Yang

Maha Esa dan Maha Sempurna, baik Zat, sifat maupun

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Af’al-Nya. Dalam mengenal Allah SWT manusia hanya mampu sampai pada batas memgetahui bahwa Zat Tuhan Yang Maha Esa itu ada (wujud)” Tidak lebih dari itu. Untuk lebih lanjut manusia memerlukan wahyu sebagai petunjuk dari Tuhan. Sebab itulah, Tuhan mengutus para Rasul atau Nabi-Nya untuk menjelaskan apa dan bagaimana Tuhan itu dengan petunjuk wahyu. Meskipun demikian, keberadaan, keesaan, Nabi hanya menjelaskan kekuasaan-Nya. Nabi bentuk sifat-sifat Allah yang maha kuasa dengan bukti dan sendiri dalam salah satu hadisnya menyatakan tidak diperkenankan-Nya memikirkan zat Allah, sebab tidak akan mencapai hakikat yang sebenarnya. Seorang mukmin hanya perlu berpikir mengenai apa yang telah diciptakan-Nya dan menghayati sepenuhnya akan keberadaan zat Allah Yang Maha Esa98. Dengan demikian, keimanan seseorang mukmin kepada Allah terhimpun dalam persepsi yang sama. Secara umum Syeikh Faqih Jalaluddin membagi tauhid itu menjadi tiga perkara, hal ini dapat diketahui melalui ungkapan beliau; ”...Maka adalah tauhid itu tiga perkara, pertama tauhid awam, yakni mubtadi alamatnya was-was, maka makna zikirnya tiada yang sebenar-benar disembah hanya Allah. Kedua tauhid muqarrabin, yakni mutawasiţ alamatnya hening hati, maka makna zikir tiada yang kutuntut hanya Allah. Ketiga tauhid shidiqin, yakni muntahi alamatnya ketiadaan ingat akan yang lain daripada Allah. Makna zikirnya tiada yang maujud hanya Allah
98 Sabda Nabi” Tafakkaru fi Khalqi Allah Wala Tafakkaru Fi Dzat Allah” (berpikirlah tentang makhluk ciptaan Allah dan jangan pernah berpikir tentang eksistensi Allah)

dan fanalah ia dalam zat tuhannya maka tepilah padanya segala alam. Inilah martabat segala ’arif billah dan fanā'ul fanā pun namanya dan jami’ul jami’ pun namanya dan kesudah-sudahan jalan pun namanya...” Dari ungkapan tersebut dapat dilihat tiga pilar tauhid berikut tanda-tandanya, pertama tauhid [orang] awam yang ditandai dengan penuh was-was (raguragu) tidak sepenuhnya yakin terhadap Allah Swt, dalam kondisi ini makna zikirnya adalah tiada yang sebenar-benarnya disembah hanya Allah Swt. Dalam konteks ini walaupun tingkatan awam namun fokus zikir yang dilalukan tetap berorientasi hanya kepada Allah karena zikir dengan lafadz apapun apakah Laa Ilaaha Illa Allah, Subhanalla, Alhamdulilla, Allahu Akbar, Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billahil Aliyil ‘Adzim, seluruhnya bermaksud untuk menyatakan bahwa hanya kepada Allahlah semua ibadah kita peruntukkan. Kedua tauhid al-Muqarrabin ditandai dengan keyakinan yang penuh dalam hati, hening dan tenang dalam menghadapi semua ketentuan Allah Swt, dalam posisi ini makna zikirnya adalah tidak ada yang dicari dan diinginkan melainkan Allah semata. Dalam strata ini Syaikh Faqih Jalaluddin menekankan pada tingkatan manusia yang sudah tidak hanya terfokus pada zikir verbalistik namun sudah sampai pada tingkat zikir dengan hati. Ketenangan hati menjadi inti dari zikir pada tingkat ini, hati bergetar dimana dan kapanpun tanpa batas waktu dan tempat, qiyaman wa Quudan Wa alaa Junubihim

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Yatafakkarunallah (berdiri, duduk dan berbaring selalu ingan Allah). Maester Sufi Syaikh Jalaluddin Rumi mengatakan Ingatlah Allah di saat anda berada dalam keramaian, niscaya anda akan menjadi orang yang diingat saat dalam kesepian. Ketiga tauhid shidiqin99 terjadi proses fana100 kepada Allah Ta’ala diiringi dengan baqa’ hanya berada dekat dengan Sang Khaliq, dalam kondisi ini makna zikirnya adalah tidak ada yang maujud melainkan Allah semata (‫ .)ل موجييود إل اليي‬Pada tingkat inilah dikenal Istilah martabat al-’Arif billah, Fana’ul Fana’ dan atau Jami’ul Jami’. Ke-Esa-an dalam Penciptaan Salah satu yang harus diyakini oleh segenap manusia beriman adalah ke-Esa-an Allah dalam mencipta. Tidak ada yang menyekutukannya baik dari makhluk manusia maupun makhluk-makhlukNya yang
99 Kata shidiqin berasal dari kata Shadaqa yang berarti jujur, benar, lurus, jadi orang-orang yang sudah berada pada posisi shidiqin adalah mereka yang sudah seharusnya selalu berada pada jalan lurus jalan yang telah digariskan Allah SWT, tidak lagi berbelok dari jalur yang telah ditentukan tersebut, perkataan dan perbuatannya selalu benar karena kebenaran dapat mengarahkan kepada kejujuran dan kejujuran akan membuat orang memperoleh ganjaran pahala dan surga disisi Allah SWT. 100 Konsep fana’ dalam tasawuf berarti gugurnya sifat-sifat tercela dan baqa’ sebagai lawan katanya berarti muncul dan tetapnya sifat-sifat terpuji. Barang siapa fana dari sifat-sifat tercela maka akan dijumpai dalam dirinya sifat-sifat terpuji. Siapapun yang berusaha melakukan ajaran Allah dan rasulNya, maka dia telah fana’ dari melanggar hukum dan ketentuan Allah. Barang siapa yang fana’ dari kebodohannya, yang kekal adalah ilmunya. Siapa yang fana’ dari syahwatnya, yang kekal adalah kesadarannya, siapa yang fana; dari kesenangannya, yang kekal adalah zuhudnya, siapa yang fana’ dari angan-angannya, yang kekal adalah kehendaknya. Periksa. Imam al-Qusyairy, 1997 dalam Risalatul Qusyairiyyah;Induk Ilmu Tasawuf.Surabaya:Risalah Gusti, hal. 39-40

lain. Ketika Allah menciptakan alam ini –menurut Syeikh Faqih Jalaluddin—melalui tujuh tahapan. Prinsip penciptaan seperti itu juga dikenal dalam konsep Abdus- Shomad al-Falimbâni dengan istilah Martabat tujuh. Ajaran martabat tujuh di susun oleh Muhammad Ibn Fadhilah dalam kitabnya Al Tuhfah al Mursalah ila Ruhin-Nabi. Dalam kitab ini diterangkan bahwa Dzat Tuhan merupakan Wujud Mutlak, tidak dapat dipersepsikan oleh akal, perasaan, khayal dan indera. Dzatullah sebagai aspek bathin segala yang maujud (ada), karena Tuhan meliputi segala sesuatu (Lihat surat Fushilat :54). Ajaran inilah yang kemudian popular dikalangan sufi Jawi terutama oleh Abdus-Shimad al-Palimabni kemudian kaitannya dengan tulisan ini Syaikh Faqih Jalaluddin Al-‘Asyi juga mennegaskannya dalam kitab “Syamsul Ma’rifah”. Dalam ajaran ini mengedepankan bahwa untuk bisa memahami wujud Tuhan yang sebenarnya secara transenden harus setelah bertajalli sebanyak tujuh martabat yakni : Martabat Ahdiah; Martabat Ahadiyat, yaitu martabat la Ta'yun dan ithlaq. Pada tahapan ini inilah martabat belum mengenal individu, yang

tersembunyi (kosong), karena belum ada ide-ide, martabat ini popular dengan sebutan Dzat Mutlak. Hakikat ketuhanan tak seorangpun dapat meraih-Nya, bahkan para nabi dan juga para walipun tidak dapat

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

menjangkauNya. Para malaikat yang berdiri dekat Allah tidak Nya. Sifat-sifat dan nama-nama belum ada, sebuah manifestasi yang jelaspun belum ada. Hanya Dialah yang ada dan nama-Nya ialah " wujud makal" Dzat Yang langgeng, hakikat segala hakikat. AdaNya ialah kekosongan ( kosong tapi ADA). Diantara semua martabat, tidak ada satupun yang melebihi martabat ini semua martabat lainnya berada dibawahnya. Pernyataan terhadap Martabat ini dapat dilihat dalam ungakapan Syaikh Faqih Jalaluddin; ”...Martabat Ahadiah yang dinamakan Martabat La Ta'Yun (Martabat yang tiada Nyata Hakikat Muhammadiah) dan dinamakan juga Zat Al-Mutlak atau Zat Al-Bakhat yaitu memandang dengan hati akan semata-mata Wujud Zat Allah Taala dengan tiada iktibar SifatNya dan AsmaNya dan AfaalNya dengan sekira-kira ghaib segala Alam dan dirinya(hamba) dengan memandang Allah Taala; tiada ingat dalam hatinya' hanya Allah Taala jua. Dan martabat ini adalah Martabat Sifat Nafsiah (istilah Ilmu Usuluddin) kerana martabat Zat pada ulama Tahqiq daripada Ahli Tasauf. Dan tiada sampai kepada darjah martabat ini melainkan sentiasa berbimbang dengan zikir Allah kerana martabat ini Martabat Wahdatul-Wujud (Wujud yang Esa). Kata Sidi Mustaffa Al-Bakri Rahimallahi Taala; "Ketahuilah olehmu bahawasanya jalan yang terlebih hampir makrifat kepada Allah Taala itu ialah Zikrullah; bahawasanya ahli zikir itu Ahli Allah dan dialah orang yang tertentu hampir dan kedudukan yang hampir dan martabat mereka itu ialah mertabat yang dipercayai Allah Taala rahsiaNya dan mencapai mereka itu dengan sebab yang demikian itu akan martabat orang-orang dahulu iaitu mereka yang dapat petunjuk dan jauh dapat meraih hakikat Yang Maha Luhur, tak seorangpun mengetahui atau merasakan hakikat-

daripada jalan murka dan sesat". (Syamsul. Hal.12) Martabat Wahdah; Martabat ta’yun awal ( awal kenyataan). Pada tahap wahdah ini mulailah terlihat konsep individual. Inilah kenyataan Muhammad yang tersembunyi di dalam rahasia Tuhan. Namun tetap pada tahap ini semua kenyataan belum terpisah antara yang satu dengan yang lainnya, karena masih terikat satu sama lain. Antara ide yang satu belum ada perbedaan dengan ide yang lain, karena masih tersembunyi di dalam wahdat. Mereka masih terkumpul di dalam (kenyataan) Muhammad yang merupakan awal pemancaran yang merupakan hakekat sejati. Jadi yang dinamakan wahdah ialah hakikat Muhammad (hakikat Muhammadiyah), semua hakikat masih berkumpul dalam martabat wahdah dan belum terpisah-pisah. Martabat wahdah ini dapat di ibaratkan dengan sebutir biji; batang, cabang-cabang dan daun-daunnya masih tersembunyi di dalam biji itu dan belum terpisah-pisah. Batang, cabang-cabang dan daun-daun melambangkan engkau, aku, mereka, sedangkan bijinya tunggal (wahdat). Pada martabat ini dengan tegas dan jelas diungkap oleh Faqih Jalaluddin; “…Martabat Wahdah yang dinamakan dia martabat Ta'Yun Awal (Nyata Yang Pertama) dan dinamakan juga Syu'un Zaatiah ertinya pekerjaan Zat dan dinamakan juga Hakikat Muhammadiah dan Syuhuudul Wahdah Fil Kasrah. Dan martabat ini adalah keadaan Sifat Maani yang tujuh kerana Sifat Maani itu martabat sifat. Martbat ini adalah ibarat

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

daripada Ilmu Allah Taala dengan ZatNya dan segala SifatNya dan segala yang maujud atas jalan Ijmal iaitu tiada boleh dibezakan setengah dengan setengahnya dan takluk dalam martabat ini takluk Suluhi…” (Syamsul. Hal.13) Martabat Wahdiah; Martabat ini juga disebut dengan faidh almuqaddas (emanasi suci) dan ta’ayyun tsani (entifikasi kedua, atau penampakan diri peringkat kedua). Pada martabat ini Allah Swt bertajali melalui asma dan sifat-Nya dalam kenyataan empiris atau alam kasatmata. Dengan kata lain, melalui firman kun (jadilah), semesta. Dengan demikian alam ini tidak lain adalah kumpulan fenomena empiris yang merupakan lokus atau mazhar tajali al-Haq. Alam yang menjadi wadah manifestasi itu sendiri merupakan wujud atau bentuk yang tidak ada akhirnya. Ia tidak lain laksana ’aradh atau aksiden (sifat yang datang kemudian) dan jauhar (substansi) dalam istilah ilmu kalam. Selama ada substansi, maka aksiden akan tetap ada. Begitu pula dalam tasawuf. Menurut Ibn ’Arabi, selama ada Allah, maka alam akan tetap ada, ia hanya muncul dan tenggelam tanpa akhir. Syaikh Faqih Jalaluddin menegaskan konsepnya dalam kitab Syamsul Ma’rifah; “…Martabat Wahdiah yang dinamakan dia Martabat Ta'yun Saani ertinya nyata yang kedua dan dinamakan juga A'Yan Sabitah dan Hakikat Insaaniah. Dan dalam ini takluk Ilmu dan Iradat maka entitas permanen secara aktual menjelma dalam berbagai citra atau bentuk alam

adalah Takluk Tanjizi Qadim dan Taklum Iradat adalah Taklum Suluhi Qadim. Adapun martabat ini keadaan Sifat Maknuwiyah kerana Sifat Maknuwiyah adalah martabat Asma dan adalah martabat ini ibarat daripada ilmu Allah Taala dengan ZatNya dan sifatnya dan segala makhluk atas jalan perceraian dan perbezaan setengah dengan setengahnya. Maka tiga martabat {Ahdiah, Wahdah dan Wahdiah}ini Qadim lagi Azali kerana ia martabat yang dibangsakan kepada Ketuhanan. Adapun sekelian makhluk wujud di dalam Ilmu Allah jua belum zhohir kepada Wujud Khoriji…” (Syamsul. Hal.14) Martabat Alam Arwah; Martabat Alam Arwah yang dinamakan dia Nur Muhammad SAW. iaitu ibarat daripada keadaan suatu yang seni yang sematamata belum menerima susunan dan belum boleh dibezakan. Martabat Alam Mishal; Martabat Alam Mishal ini ibarat daripada suatu daripada suatu yang seni yang tiada menerima susunan dan tak boleh menceraikan setengah dengan setengahnya dan tiada menerima belah bahagi. Martabat Alam Ijsam; Martabat Alam Ijsam ibarat daripada suatu yang bersusun daripada api, angin, air, tanah dan menerima bercerai setengah dengan setengahnya seperti segala jisim-jisim. Martabat Alam Jamik; Martabat Al-Jamik dan dinamakan dia Martabat Insan. Secara lengkap kutipan tentang beberapa konsep martabat tujuh tersebut diungkapkan oleh Syeikh Faqih Jalaluddin dalam teks naskah Syamsul Ma’rifa menyatakan bahwa martabat-martabat tersebut dengan ungkapan yang berbeda;

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

“…Syahdan, adapun martabat turun-temurun Allah Ta’ala menjadikan sekalian alam tujuh perkara dengan ijmal-Nya. Yakni mukhtasar pertama;martabat la ta’yin namanya, artinya tiada ada didalamnya suatu juapun seperti daerah ini lingkaran saja. Dari karena Allah Ta’ala tatkala itu belum punya lagi ia berkehendak akan menjadikan segala alam martabat ahdiyah pun namanya, artinya Esa sendirinya..” Kedua; martabat ta’yin awal pun namanya, artinya nyata yang pertama seperti daerah ini lingkaran yang ada titik di tengahnya adalah nuqţah di dalamnya. Dari karena tatkala itu sudahlah berkehendak Allah Ta’ala akan menjadikan segala alam tetapi belum punya lagi tertentu yang dikehendakinya martabat wahidah pun namanya, artinya mempunyai Esa, dan hakikat muhammad pun namanya dan martabat sifat Allah pun namanya dan syau'un zan pun namanya,yakni lagi zat. Ketiga; martabat ta’yin tsani namanya, artinya yaitu yang kedua seperti daerah ini lingkaran yang ada alif di dalamnya adalah nuqţah itu sudah jadi alif dari karena tatkala itu telah menentukan Allah Ta’ala akan yang dikehendakinya menjadikan dia seperti langit dengan rupa langitnya dan bumi dengan rupa buminya dan malaikat dengan rupa malaikatnya dan jin dengan rupa jinnya dan manusia dengan rupa manusianya, demikian lagi segala makhluk masing-masing dengan rupanya. Demikianlah dalam ma’lumat Allah Ta’ala. Maka tatkala dikehendaki-Nya menžahir akan dia, maka berfirman Allah kun artinya jadilah engkau, fayakun artinya maka jadilah. Ia seperti rupa yang dalam maklumat itu dan namanya yang dalam ilmu Allah i’yanu £abitah, yakni yang tetap dalam ilmu Allah. Dan namanya yang sekarang ini i’yanu kharijiyah, yakni diluar maklumat Allah. Maka kita ini pun masuk kepada i’yanu kharijiyah jua. Maka sebab itulah dapat dikata kita ini [adalah] bayang-bayang Allah. Maka

martabat ketiga ini martabat wahidiyah pun namanya, yakni di bangsakan kepada Esa dan hakikat adam pun namanya dan martabat asma Allah pun namanya. Keempat martabat ’alam arwah, Kelima martabat alam misal yakni segala rupa makhluk, Keenam martabat ’alam ijsam yakni lembaga adam ’alaihissalam dan segala anak cucunya, dan Ketujuh martabat ’alam insan yakni sudah bersusun nyawa dan badan. Maka martabat yang empat ini mahdits (huduts) yakni baharu yaitu martabat kehambaan karena ia dibawah kalimat kun fayakun.

Silsilah Tariqat Qadiriyah101 Tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syekh 'Abdul Qadir al-Jailani (m. 1166) dari Gilan di Iran, yang
101 Tarekat Qadiriyah adalah salah satu tarekat yang diakui (mu’tbarah) di Indonesia. Tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syekh 'Abdul Qadir al-Jailani (m. 1166) dari Gilan di Iran, yang kemudian bermukim di Baghdad, Irak. Setelah wafatnya, tarekatnya disebarkan oleh putra-putranya. Tarekat Qadiriyah telah menyebar ke banyak tempat, termasuk Suriah, Turki, beberapa bagian Afrika seperti Kamerun, Kongo, Mauritania dan Tanzania, dan di wilayah Kaukasus, Chechnya dan Ferghana di Asia Tengah, serta di tempat- tempat lain.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

kemudian bermukim di Baghdad, Irak. Setelah wafatnya, tarekatnya disebarkan oleh putra-putranya. Tarekat Qadiriyah telah menyebar ke banyak tempat, termasuk Suriah, Turki, beberapa bagian Afrika seperti Kamerun, Kongo, Mauritania dan Tanzania, dan di wilayah Kaukasus, Chechnya dan Ferghana di Asia Tengah, serta di tempat- tempat lain. Ritual dan Wirid Tarekat Qâdîriyah; Selama dalam proses perkembangan dan penyebarannya tarekat ini banyak mengembangkan ritual dan wirid yang akan dijadikan standar bacaan oleh para pengikutnya, terutama ketika menyebar di Turki, Mesir, India, dan Afrika. Ritual dan wirid yang ada sebagian merupakan ritual yang diajarkan oleh alSyaikh Abdul qadir al-Jailânî dan sebagian lagi jelasjelas merupakan penambahan yang dilakukan kemudian. Simbol-simbol kadang diadopsi untuk memberikan penekanan bahwa tarekat ini sangat berbeda dengan tarekat lain baik dari segi keutamaan maupun ritual dan wirid yang dibaca. Qadiriah Turki mengadopsi mawar hijau sebagai simbol mereka.Ketika seorang calon murid akan diterima di tarekat, Syaikh Qadiri menyampirkan pada peci bulunya sebentuk mawar yang terdiri dari delapan belas bagian dengan Segel Sulaiman di tengahnya. Peci ini disebut dengan tâj (mahkota). Lain halnya dengan Tarekat qadiriah Mesir, mereka memunculkan sorban putih dan panji-panji putih. Sejumlah nelayan yang menjadi pengikut tarekat ini membawa jaring-galah beraneka warna tatkala mengikuti prosesi. Sementara di Maroko sejumlah penganut tarekat ini melantunkan Dzikir diiringi instrumen musik. Di Tangier Al-Jazair para anggota Jilâlah menyimpang seekor ayam jantan berbulu putih di zâwiyah, tatkala diambil sumpahnya. Ayam-ayam tersebut disebut muharrar dan tidak boleh

disembelih. Diantara praktek spiritual yang terpenting dalam tarekat Qadiraih ini adalah melantunkan asma Allah berulang-ulang. Dalam aplikasinya terdapat berbagai tingkatan penekanan dan intensitas. Ada zikir yang terdiri atas satu, dua, tiga, dan empat. Zikir dengan satu gerakan dilaksanakan dengan mengulang-ulang asma Allah melalui tarikan napas panjang yang kuat, seakan dihela dari tempat yang tinggi, diikuti penekanan dari jantung dan tenggorokan kemudian dihentikan sehingga nafas kembali normal, hal seperti ini harus diulang secara kontinu dalam waktu yang cukup lama. Zikir dengan dua gerakan dilakukan dengan duduk dalam posisi shalat, kemudian melantunkan asma Allah di dada sebelah kanan, lalu di jantung, dan kesemuanya dilakukan berulang-ulang dengan intensitas tinggi. Hal seperti ini dianggap sangat efektif untuk meninggikan konsentrasi dan menghilangkan rasa gelisah serta pikiran yang kacau. Zikir dengan tiga gerakan dilakukan dengan duduk bersila dan mengulang pembacaan asma Allah di bagian dada sebelah kanan,kemudian disebelah kiri, dan akhirnya di jantung. Kesemuanya ini dilakukan dengan intensitas yang lebih tinggi serta pengulangan yang lebih sering. Sedangkan Zikr dengan empat gerakan dilakukan dengan duduk bersila, dan mengucapkan asma Allah secara berulang-ulang di dada bagian kanan, kemudian bagian kiri, lalu ditarik kearah jantung, dan terakhir dibaca persis di depan dada, cara terakhir dengan empat gerakan ini diharapkan dilakukan lebih kuat dan waktunya lebih lama. Praktek-praktek zikir tersebut dapat dilakukan secara bersama dalam kelompok-kelompok kecil maupun besar dengan suara tinggi maupun rendah,

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

sambil duduk dengan formasi lingkaran setelah melakukan salat pada waktu subuh maupun malam hari. Jika seorang pengikut sanggup melantunkan asma Allah empat ribu kali setiap harinya, dua bulan berturut-turut tanpa terputus, dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan mendapatkan pengalaman spiritual yang menjadi dambaan setiap peserta tarekat. Silsilah tarekat ini sampai ke Indonesia dapat dilihat dalam beberapa referensi diantaranya adalah buku “Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia oleh Sri Mulyati (et.al). “Dalam buku ini pada halaman 27-28 dijelaskan bahwa silsilah pendiri tarekat ini sampai Rasulullah adalah Abu Muhammad ‘Abd al-Qadir Jilani ibn Abi Shalih ibn Musa ibn Janki Dusat (Janka Dusat) ibn Abi Abdillah ibn Yahya al-Zahid ibn Muhammad ibn Dawud ibn Musa ibn Abd Allah al-Mahdi ibn Hasan al-Musanna ibn Hasan al-Sibthi ibn ‘Ali ibn Abi Thalib dan Fatimah al-Zahra ‘al-Batul binti Rasulullah SAW”102. Yang penting untuk dilihat pada tarekat ini adalah bagaimana aliran ini masuk ke Indonesia. Proses masuknya Tarekat Qadiriyah ke Indonesia dikisahkan lewat penyair besar Hamzah Fansuri. Ia mendapatkan Khilafat (ijazah untuk mengajar) ilmu syaikh ‘Abdul Qadir ketika bermukim di Aythia, ibu kota Muangthai (orang Persia dan India menamakannya, dalam bahasa Parsi, Syahr-I Naw, “Kota Baru”). Hal itu dapat dibuktikan adanya bait yang berbunyi: Hamzah min asalnya Fansuri Mendapat wujud di tanah Syahr Nawi
102 Lihat Sri Mulyati (et.al),2006. Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia.Jakarta:Kencana Prenada Grouf. Hala.26.

Beroleh Khilafat yang ‘ali Darpada Abdul Qadir Jilani103 Syeikh Faqih Jalaluddin al-‘Asyi menjelaskan tentang silsilah terkat ini dalam kitab Syamsul Ma’rifah; ”...Inilah kesudah-sudahan risalah pada menyatakan silsilah tariqat yang amat tinggi martabatnya yaitu thariqat Qadiriy dan Syaţţariy, yaitu maka adalah fakir yang hina Faqih Jalaluddin yang mengambil bai’at dan talqin dan khirqah dan ijazah syeikhnya yang ’arif billah yaitu syeikh Baba Daud ibn Ismail faqih yang dan ia mengambil syekhnya Amiruddin ’Abdur rauf. Dan ia mengambil daripada syekhnya Ahmad Qusyasyiy. Dan ia mengambil daripada syekhnya Ahmad Śinnawiy. Dan ia mengambil daripada syekhnya Said (tinggal daripada naskah sebab sudah hilang) ’Alwi. Dan ia mengambil daripada syekhnya Said Muhammad al Ghauś. Dan ia mengambil daripada syekhnya Hajji Huduri. Dan ia mengambil daripada syekhnya Hidayatullah Sarmastu. Dan ia mengambil daripada syekhnya ’Alauddin. Dan ia mengambil daripada syekhnya ’Abdul Wahāb. Dan ia mengambil daripada syekhnya ’Abdur rauf. Dan ia mengambil daripada syekhnya Mahmūd. Dan ia mengambil daripada syekhnya ’Abdul Ghifari. Dan ia mengambil daripada syekhnya Muhammad. Dan ia mengambil daripada syekhnya ’Ali. Dan ia mengambil daripada syekhnya Ja’far. Dan ia mengambil daripada syekhnya ’Abdullah. Dan ia mengambil daripada syekhnya ’Abdul Razāq. Dan ia mengambil daripada syekhnya quţub al aqţāb syekh ’Abdul Qadir Jailāniy. Dan ia mengambil daripada syekhnya Abi Sa’id. Dan ia mengambil daripada syekhnya Abi Hasan. Dan ia mengambil daripada syekhnya Abi Farh. Dan ia mengambil daripada syekhnya Abi Fadhal. Dan ia mengambil daripada syekhnya Abi bakar Syibaliy. Dan ia mengambil daripada syekhnya Junaidi al
103 Dapat dilihat lebih rinci dalam Sri Mulyati (et,al), 2006. Hal.51-52

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Baghdadiy. Dan ia mengambil daripada syekhnya Siriy Siqţiy. Dan ia mengambil daripada syekhnya Ma’ruf Kurkhiy. Dan ia mengambil daripada syekhnya Imam anak Musa ar Rida. Dan ia mengambil daripada syekhnya Musa al Każimi. Dan ia mengambil daripada syekhnya Imam Ja’far Şadiq. Dan ia mengambil daripada syekhnya Imam Bastu. Dan ia mengambil daripada syekhnya Imam Zainal ’Ābidin. Dan ia mengambil daripada ayahnya Husain yang syahid. Dan ia mengambil daripada ayahnya Amirul Mu’minin ’Ali. Dan ia mengambil daripada panghulu sekalian ’alam Muhammad şallallāhu ’alaihi wasallam. (Syamsul, halaman.33) Dari ungkapan tersebut dapat dijelaskan bahwa Syaikh Faqih Jalaluddin termasuk guru dalam tarekat Qadiriyyah dan juga tarekat Syattariyah, karena Rasul ilmu ketersambungan dirinya (Faqih silsilahnya Jalaluddin) sampai kepada yang mengambil

Allah SAW. Secara ringas silsilah tersebut mulai dari (tarekat) dari syeikh Baba Daud ibn Ismail faqih dan Baba Daud mengambil dari Syeknya Amiruddin ’Abdur rauf dan beliau mengambil hirqahnya dari gurunya Ahmad Qusyasyi dan ia juga mengambil dari gurunya Ahmad Sinnawi dan beliau mengambil dari syaikhnya Said Alwi dan beliau mengambil dari syekhnya Said Muhammad al Ghauś, beliau mengambil dari Syehnya Hajji Huduri dan dari syekhnya Hidayatullah Sarmastu, kemudian dari syekhnya ’Ala Uddin dan dari Syeknya ’Abdul Wahāb dan mengambil dari Syekh Abdurrauf dan dari Syeknya Mahmud kemjdian dari Syeikh Abdul Ghifari dan kemudian dari Muhammad kemudian dari ’Ali kemudian dari Syekh Ja’far kemudian dari Syekh Abdullah kemudian dari Syaekh Abdurrazaq kemudian

lanjut ke Abdul Qadir Jailani hingga ke Rasulullah SAW. Silsilah Tariqat syattariyah Tarikat Syattariyah adalah aliran tarikat yang pertama kali muncul di India pada abad ke 15. Tarikat ini dinisbahkan kepada tokoh yang mempopularkan dan berjasa mengembangkannya, iaitu Abdullah asySyattar. Awalnya tarekat ini lebih dikenal di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dengan nama Isyqiyah. Sedangkan di wilayah Turki Usmani, tarekat ini disebut Bistamiyah. Kedua nama ini diturunkan dari nama Abu Yazid al-Isyqi atu biasa dikenali Abu Yazid al-Bistami, yang dianggap sebagai tokoh utamanya. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya Tarikat Syattariyah tidak menganggap dirinya sebagai cabang dari persatuan sufi mana pun. Tarikat ini dianggap sebagai suatu tarikat tersendiri yang memiliki karakteristikkarakteristik tersendiri dalam keyakinan dan amalan. Hanya sedikit yang dapat diketahui mengenai Abdullah asy-Syattar. Ia adalah keturunan Syihabuddin Suhrawardi. Kemungkinan besar dilahirkan di salah satu tempat di sekitar Bukhara. Di sini pula ia ditahbiskan secara rasmi menjadi anggota Tarikat Isyqiyah oleh gurunya, Muhammad Arif. Nisbah asy-Syattar yang berasal dari kata syatara, artinya membelah dua, dan nampaknya yang dibelah dalam hal ini adalah kalimah tauhid yang dihayati di dalam dzikir nafi itsbat, la ilaha (nafi) dan illallah (itsbah), juga nampaknya merupakan

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

pengukuhan dari gurunya atas darjat spiritual yang dicapainya mendapat yang kemudian hak membuatnya kelebihan berhak sebagai limpahan dan

Washitah (Mursyid). Istilah Syattar sendiri, menurut Najmuddin Kubra, adalah tingkat pencapaian spiritual tertinggi setelah Akhyar dan Abrar. Ketiga istilah ini, dalam hirarki yang sama, kemudian juga dipakai di dalam Tarekat Syattariyah ini. Syattar dalam tarekat ini adalah para sufi yang telah mampu meniadakan zat, sifat, dan af’al diri (wujud jiwa raga). Namun kerana kurang terkenalnya dan tidak berkembang Tarekat Isyqiyah ini di tanah kelahirannya, dan bahkan malah semakin pudar akibat perkembangan Tarikat Naqsyabandiyah, Abdullah asySyattar dikirim ke India oleh gurunya tersebut. Permulaannya ia tinggal di Jawnpur, kemudian pindah ke Mondu, sebuah kota muslim di daerah Malwa (Multan). Di India inilah, ia mula terkenal dan berhasil mengembangkan tarikatnya tersebut. Tidak diketahui apakah perubahan nama dari Tarikat Isyqiyah yang dianutnya semula ke Tarikat Syattariyah atas inisiatifnya sendiri yang ingin mendirikan tarekat baru sejak awal kedatangannya di India ataukah atas inisiatif murid-muridnya. Ia tinggal di India sampai akhir hayatnya (1428). Sepeninggalan Syattariyah Abdullah asy-Syattar, Tarikat disebarluaskan oleh murid-muridnya,

terutama Muhammad A’la, berbangsa Bengali, yang dikenal sebagai Qazan Syattari. Dan muridnya yang paling berperanan dalam mengembangkan dan

menjadikan Tarikat Syattariyah sebagai tarikat yang berdiri sendiri adalah Muhammad Ghaus dari Gwalior (w.1562), keturunan keempat dari Abdullah asySyattar. Muhammad Ghaus mendirikan Ghaustiyyah, cabang Syattariyah, yang mempergunakan praktikpraktik yoga. Salah seorang penerusnya Syah Wajihuddin (w.1609), wali besar yang sangat dihormati di Gujarat, adalah seorang penulis buku yang produktif dan pendiri madrasah yang berusia lama. Sampai akhir abad ke-16, tarikat ini telah memiliki pengaruh yang luas di India. Dari wilayah ini Tarekat Syattariyah terus menyebar ke Mekkah, Madinah, dan bahkan sampai ke Nusantara. Tradisi tarikat yang bernafas India ini dibawa ke Tanah Suci oleh seorang tokoh sufi terkemuka, Sibghatullah bin Ruhullah (1606), salah seorang murid Wajihuddin, dan dia mendirikan zawiyah di Madinah. Syeikh ini tidak saja mengajarkan Tarikat Syattariah, tetapi juga sejumlah tarikat lainnya, misalnya Tarekat Naqsyabandiyah. Kemudian Tarikat ini disebarluaskan dan dipopularkan ke dunia berbahasa Arab lainnya oleh murid utamanya, Ahmad Syimnawi (w.1619). Begitu juga oleh salah seorang khalifahnya, yang kemudian tampil memegang pucuk pimpinan tarekat tersebut, seorang guru berasal dari Palestin, Ahmad alQusyasyi (w.1661). Setelah Ahmad al-Qusyasyi meninggal, Ibrahim al Kurani (w. 1689), yang berasal dari Turki, tampil menggantikannya sebagai pimpinan tertinggi dan penganjur Tarikat Syattariyah yang cukup terkenal di

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

wilayah Madinah. Dua orang yang disebut terakhir di atas, Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani, adalah guru kepada Abdul Rauf Singkel yang kemudian berhasil mengembangkan Tarikat Syattariyah di Nusantara. Namun sebelum Abdul Rauf, telah ada seorang tokoh sufi yang dinyatakan bertanggung jawab terhadap ajaran Syattariyah yang berkembang di Nusantara melalui bukunya Tuhfat al-Mursalat ila ar Ruh an-Nabi, sebuah karya yang relatif pendek tentang wahdat alwujud. Ia adalah karya Muhammad bin Fadlullah alBunhanpuri (w. 1620), juga salah seorang murid Wajihuddin. Bukunya, Tuhfat al-Mursalat, yang menguraikan metafizik martabat tujuh ini lebih terkenal di Nusantara seiring karya Ibnu Arabi sendiri. Martin van Bruinessen beranggapan bahwa kemungkinan kerana pelbagai ulasan menarik dari kitab ini yang menyatu dengan Tarikat Syattariyah, sehingga ramai muridmurid asal Nusantara yang berguru kepada alQusyasyi dan Al-Kurani lebih menyukai tarikat ini berbanding tarikat-tarikat lainnya yang diajarkan oleh kedua guru tersebut. Buku ini kemudian dikutip juga oleh Syamsuddin Sumatrani (w. 1630) dalam ulasannya tentang martabat tujuh, meskipun tidak ada petunjuk atau sumber yang menjelaskan mengenai apakah Syamsuddin menganut tarikat ini. Namun yang jelas, tidak lama setelah kematiannya, Tarekat Syattariyah sangat terkenal di kalangan orang-orang Nusantara yang kembali dari Tanah Arab.

Tarikat Syathariyah pertama kali diasaskan oleh Abdullah Syathar (w.1429 M). Tarikat Syaththariyah berkembang luas ke Tanah Suci (Mekah dan Medinah) dibawa oleh Syeikh Ahmad Al-Qusyasi (w.1661/1082) dan Syeikh Ibrahim al-Kurani (w.1689/1101). Dan dua ulama ini diteruskan oleh Syeikh ‘Abd al-Rauf al-Sinkili ke nusantara, kemudian dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhan al-Din ke Minangkabau. Tarikat Syathariyah sesudah Syekh Burhan alDin berkembang pada empat kelompok, iaitu; Pertama. Silsilah yang diterima dari Imam Maulana. Kedua, Silsilah yang dibuat oleh Tuan Kuning Syahril Lutan Tanjung Medan Ulakan. Ketiga, Silsilah yang diterima oleh Tuanku Ali Bakri di Sikabu Ulakan. Keempat; Silsilah oleh Tuanku Kuning Zubir yang ditulis dalam Kitabnya yang berjudul Syifa’ aI-Qulub. Berdasarkan silsilah seperti tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tarikat Syaththariyah di Minangkabau masih terpelihara kukuh. Untuk mendukung keberadaan tarikat, kaum Syathariyah mengasaskan pertubuhan rasmi berupa organisasi sosial keagamaan Jamaah Syathariyah Sumatera Barat, dengan cabang dan ranting-ranting di seluruh alam Minangkabau, bahkan di wilayah berjiran iaitu Riau dan Jambi. Bukti kuat dan kukuhnya keberadaan tarekat Syaththariyah dapat dibuktikan dengan wujudnya kegiatan bersafar ke makam Syekh Burhan al-Din Ulakan. Adapaun berkembang di ajaran tarikat Syaththariyah sama seperti yang yang Minangkabau

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

dikembangkan oleh ‘Abd al-Rauf al-Sinkili. Masalah pokoknya dapat dikelompokkan pada tiga; Bahagian Pertama, Ketuhanan dan hubungannya dengan alam. Faham ketuhanan dalam hubungannya dengan alam ini seolah-olah hampir sama dengan faham Wahdat al- Wujud, dengan pengertian bahawa Tuhan dan alam adalah satu kesatuan atau Tuhan itu immanent dengan alam, bezanya oleh al-Sinkili ini dijelaskannya mengungkapkan dengan Tuhan yang wujud menekankan dengan hakiki alam. hanya pada la Allah, ‘transcendence’nya

sedangkan alam ciptaan-Nya bukan wujud yang hakiki. Bagaimana hubungan Tuhan dengan alam dalam ‘transcendence’nya, al-Sinkili menjelaskan bahwa sebelum Tuhan menciptakan alam raya (al- ‘alam), Dia selalu memikirkan (berta’akul) tentang diri-Nya, yang kemudian mengakibatkan terciptanya Nur Muhammad (cahaya Muhammad). Dari Nur Muhammad itu Tuhan menciptakan pola-pola dasar (al ‘ayan tsabitah), yaitu potensi dari semua alam raya, yang menjadi sumber dari pola dasar luar (al-‘ayan alkharijiyah) yaitu ciptaan dalam bentuk konkritnya. Ajaran tentang ketuhanan al-Sinkili di atas, disadur dan dikembangkan oleh Syekh Burhan al-Din Ulakan seperti yang terdapat dalam kitab Tahqiq. Kajian mengenai ketuhanan yang dimuat dalam kitab Tahqiq dapat disimpulkan pada Iman dan Tauhid. Tauhid dalam pengertian Tauhid syari’at, Tauhid tarekat, dan Tauhid hakikat, iaitu tingkatan penghayatan tauhid yang tinggi.

Bahagian kedua, Insan Kamil atau manusia sempurna. Insan kamil lebih menjurus kepada hakikat manusia yang dan hubungannya dengan yang penciptanya sebenarnya Adam (Tuhannya). Manusia adalah penampakan cinta Tuhan azali kepada esensi-Nya, itu. Oleh dan manusia adalah esensi dari esensi-Nya yang tak mungkin diciptakan disifatkan Tuhan segala kerananya, bentuk dalam sifat rupa-Nya,

mencerminkan

nama-nama-Nya,

sehingga “Ia adalah Dia.” Manusia adalah kutub yang diedari oleh seluruh alam wujud ini sampat akhirnya. Pada setiap zaman ini ia mempunyai nama yang sesuai dengan pakaiannya. Manusia yang merupakan perwujudannya pada zaman itu, itulah yang lahir dalam rupa-rupa para Nabi–dari Nabi Adam as sampat Nabi Muhammad SAW– dan para qutub (wali tertinggi pada satu zaman) yang datang sesudah mereka. Hubungan wujud Tuhan dengan insan kamil bagaikan cermin dengan bayangannya. Pembahasan tentang Insan KamiI ini meliputi tiga masalah pokok: Pertama; Masalah Hati. Kedua Kejadian manusia yang dikenal dengan a’yan kharijiyyah dan a’yan tsabitah. Ketiga; Akhlak, Takhalli, tahalli dan Tajalli. Bahagian ketiga, jalan kepada Tuhan (Tarikat). Dalam hal ini Tarikat Syaththariyah menekankan pada rekonsiliasi syari’at dan tasawuf, iaitu memadukan tauhid dan zikir. Tauhid itu memiliki empat martabat, yaitu tauhid uluhiyah, tauhid sifat, tauhid zat dan tauhid af’al. Segala martabat itu terhimpun dalam kalimah la ilaha ilIa Allah. Oleh karena itu kita

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

hendaklah memesrakan diri dengan La ilaha illa Allah. Begitu juga halnya sebagai dengan jalan zikir untuk yang tentunya diperlukan menemukan

pencerahan intuitif (kasyf) guna bertemu dengan Tuhan. Zikir itu dimaksudkan untuk mendapatkan almawt al-ikhtiyari (kematian sukarela) atau disebut juga al-mawt al-ma’nawi (kematian ideasional) yang merupakan lawan dari al mawat al-tabi’i (kematian alamiah). Namun tentunya perlu diberikan catatan bahwa ma’rifat yang diperoleh seseorang tidaklah boleh menafikan jalan syari’at. (Maknanya kematian sebelum mati-penulis). Abdul Rauf al-Singkili sendiri yang kemudian turut mewarnai sejarah mistik Islam di Indonesia pada abad ke-17 ini, menggunakan kesempatan untuk menuntut ilmu, terutama tasawuf ketika melaksanakan haji pada tahun 1643. Ia menetap di Tanah Arab selama 19 tahun dan berguru kepada berbagai tokoh agama dan ahli tarikat ternama. Sesudah Ahmad Qusyasyi meninggal, ia kembali ke Aceh dan mengembangkan tarikatnya. Kemasyhurannya dengan cepat tersebar ke luar wilayah Aceh, melalui murid-muridnya yang menyebarkan tarikat yang dibawanya. Antara lain, misalnya, di Sumatera Barat dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhanuddin dari Pesantren Ulakan; di Jawa Barat, daerah Kuningan sampai Tasikmalaya, oleh Abdul Muhyi. Dari Jawa Barat, tarikat ini kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sulewasi Selatan Tarikat Syaththariyah disebarkan

oleh salah seorang tokoh Tarikat Syattariyah yang cukup terkenal dan juga murid kepada Ibrahim alKurani iaitu Yusuf Tajul Khalwati (1629-1699). Bila dilihat kepada pengamalan dan caranya, terdapat perbezaan antara pengamalan tariqa ini di kawasan lain dengan apa yang diamalkan di Sulawesi. Martin menyebutkan bahwa sejumlah cabang tarikat ini dapat ditemukan di Jawa dan Sumatera, yang satu dengan lainnya tidak saling berhubungan. Tarikat ini, kata Martin, relatif dapat dengan mudah berpadu dengan berbagai-bagai tradisi setempat; ia menjadi tarikat yang paling “mempribumi” di antara pelbagai tarikat yang ada. Pada sisi lain, melalui Syattariyah-lah pelbagai gagasan metafizik sufi dan pelbagai klasifikasi simbolik yang didasarkan atas ajaran martabat tujuh menjadi bahagian dari kepercayaan popular orang-orang Jawa. Silsilah tarekat ini juga disebutkan oleh Faqih Jalaluddin dalam kitab Syamsul Ma’rifah sebagai kata penutup seperti diungkapkan; “…Adapun peraturan silsilah kita yang dibangsakan kepada thariqat Syaţţariy daripada faqir yang mengarang risalah ini sampai kepada syekh Hidayat Allah Sarmastu bersamaan jua dengan silsilah Qadiriy, maka syekh inilah yang menghimpunkan sekalian thariqat yang amat banyak. Daripada syekh ini pula naik kepada Imam Qadinin Syaţţariy. Dan ia mengambil daripada syekhnya ’Abdullah. Dan mengambil dari pada syekhnya Muhammad ’Arif. Dan ia mengambil daripada syekhnya Muhammad ’Asyiq. Dan ia mengambil daripada syekhnya Khudaquliy. Dan ia mengambil daripada syekhnya Quţub ibnu Hasan. Dan ia mengambil daripada syekhnya Abi al Mużaffar. Dan ia

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

mengambil daripada syekhnya Muhammad Maghribiy. Dan ia mengambil daripada syekhnya bangsa ruhani Abi Yazid al Bisţamiy. Dan ia mengambil daripada syekhnya ruhani Ja’far Şādiq. Dan ia mengambil daripada Imam Muhammad Bāqir. Dan ia mengambil daripada Imam Zainal ’Ābidin. Dan ia mengambil daripada amirul mu’minin Husain. Dan ia mengambil daripada ayahnya pintu ilmu ’Ali al Murtaďa karamallahu wajhahu. Dan ia mengambil daripada Rasulullah rabbil ’alamin şallallahu ’alaihi wasallam, dan ia daripada Allah ’aza wajalla. (Syamsul, hal.34) Lebih lanjut beliau mengungkapkannya; ”...Maka inilah silsilah kita yang dibangsakan kepada thariqat syaţţariy rahimallahu ta’āla ajma’in. Setelah itu, maka ada lagi pula faqir mengambil ilmu ma’rifatullah daripada Nabi Hiďir ’alaihissalām, dan pada khalifah Saidi syekh ’Abdul Qādir Jailāni qudus Allah rūhahu pada halnya muwafaqat dengan ma’rifatullah yang turun-temurun daripada segala ahli silsilah yang tersebut itu. Maka beberapa lagi tinggal silsilah yang bersambut dengan silsilah kita ini, tersebut dalam kitab samaul majid karangan syekh yang quţub, yaitu syekh Ahmad Al Qusyāsyiy rahmatullahu ta’āla. Maka tiadalah faqir sebutkan dalam risalah ini karena mengambil simpan...” (Syamsul,hal.34)

Corak Tasawuf

Syeikh Faqih Jalaluddin Al-’Asyi

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Tasawuf dan berbagai coraknya Tasawuf sebagai mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah. Dalam ungkapan lain beliau juga mengatakan bahwa tasawwuf adalah mengingat Allah secara berjamaah, al-wujd dengan penuh perhatian, dan aktivitas dengan mengikuti al-Quran dan al-Sunnah demikian kata Imam Junaid al-Bagdhadi (w.910). sementara komentar Al-Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili (w.1258) sebagai praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan. lain lagi dengan Sahl Ibn Abdullah alTusturi (w.283) tasawuf baginya adalah orang yang senantiasa membersihkan diri dari kekejian, mengisi

diri dengan al-tafakkur kepada Allah, berhubungan hanya kepadaNya semata, dan di dalam dirinya memandang sama antara emas (barang berharga duniawi) dengan al-Madar (barang yang tidak memiliki nilai jual).104 Dari berbagai ungkapan tersebut terlihat jelas bahwa tasawuf berorientasi pada poros “Batin/hati” yang harus selalu di jaga dan dipelihara agar tidak bergeser kepada hal-hal yang dapat membuat terlena dan lalai dalam berhubungan dengan Khaliqnya. Hasil akhir dari konsep tasawuf adalah menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan secara konsisten. Jadi melihat hasil tersebut sufi adalah orang yang telah dimampukan Allah untuk mensucikan “hati” nya dan menegakkannya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan melangkah pada jalan yang benar sesuai dengan qudwah al-hasanah dari Nabi. Al-Tasawuf sebagai salah satu disiplin ilmu tidak luput dari pro dan kontra. Persoalan pro kontra tersebut berbagai dalam bahwa didasari persoalan –paling tidak—disebabkan adalah oleh diantaranya persoalan pro dan

sudut pandang dan sistem serta materi yang termuat berbagai persoalan Falsafi kesyirikan tasawuf. lebih dan Persolan kontra ini –juga—terjadi karena suatu pandangan al-tasawuf pada mengarah –paling membawa tidak—

menciptakan aqidah yang sesat. Sementara dalam ajaran al-Tasawuf akhlâqî selalu berorientasi pada amaliah al-hasanah dan sesuai dengan ajaran

104 Lihat Fatawi Ibnu Tiamiyah (XI:17)

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Tuhan.Pada hakikatnya antara al-tasawuf Falsafi (Syi’i) dan al-Tasawuf akhlâqî (Sunni) terletak pada teori dan praktek. Al-Tasawuf Falsafî105 sebenarnya lebih berorientasi pada teori-teori yang ada dan menggunakan pendekatan filsafat secara sistematis, radikal dan universal, sementara dalam al-Tasawuf akhlâqî lebih berorientasi pada aplikasi terhadap suatu ajaran, ajaran-ajaran yang teraplikasikanpun lebih mengarah pada akhlaq dan tatacara berinteraksi dengan lingkungan manusia maupun lingkungan alam sekitar. Tasawuf falsafi adalah corak tasawuf yang berupaya mendekatkan diri dengan Tuhan beradasarkan kedekatan personal tanpa jarak pemisah dan pembeda sehingga dapat manunggal dengan Tuhannya baik dalam bentuk al-hulul, al-ittihad, alma’rifat, wihdat al-wujud, al-Mahabbah ataupun bentuk-bentuk lain. Tokoh-tokoh yang terkenal dalam tasawuf falsafi adalah Husain ibnu Manshûr al-Hallâj yang popular dengan konsep al-hulul, Abu Yazid al-Bustami dengan teori Al-Ittihad, fana, dan baqa, Ibnu ‘Arabi dengan konsep Wihdat el-wujudnya, Insan Kamil dikembangkan oleh Al Jilli, dan Wihdatul al-Mutlaqah digagas oleh pemikiran Ibn Sab’in. Sementara tasawuf akhlaqi berpandangan bahwa antara manusia dengan Tuhan masih terdapat
105Filsafat adalah salah satu disiplin ilmu yang berdasar pada konsep pencarian kebenaran dengan menggunakan pemikiran kritis, sistematis, radikal dan universal, pencarian kebenaran sampai pada akar-akarnya.

garis pemisah atau pembeda, karena Tuhan berbeda dengan makluqNya. Kedekatan yang dapat diperoleh oleh manusia dalam kontemplasi sufistiknya hanyalah kedekatan rasa dan batin tidak bisa melampaui batas kemanusiaannya. Dalam bahasa lain bahwa tasawuf akhlaqi lebih menekankan pada penerapan sebuah ajaran yang terkait dengan persoalan etika berhubungan baik dengan Allah sebagai Khâliq maupun antara hamba dengan hamba lainnya yang dalam bahasa al-Quran disebut dengan istilah Hablum mi Allah wa Hablum min al-Nâs. Kelompok yang termasuk dalam bagian ini tercatat beberapa nama seperti Khulafâurrâsyidîn {Abu Bakar al-Siddiq, Umar bin Al-Khattâb, Utsman bin Affân dan ‘Alî bin Abi Thâlib} juga beberapa Sahabat Nabi lainnya seperti Abu Dzar al-Ghifârî, Abu Darda’, Salmân al-Fârisî, Abdullah bin Umar, Abu Ubaidah bin Jarrâh dan Mus’ab bin Umaîr serta beberapa nama lain. Selain nama-nama tersebut tercatat beberapa nama dari kelompok Tabi’in seperti Hasan al-Bashrî, Uwais al-Qarnî, Ibrahim bin Adham, Dzunnun al-Mishri. Dan tokoh Sufi dari kalangan Tabiut tabi’in seperti AlMuhâsibî, Junaid al-Baghdâdî, Imam al-Qusyairî, AlGhazâlî, Abdul Qadir al-Jailânî, Al-Syiblî dan lainnya. Ajaran-ajaran tasawuf Faqih Jalaluddin Beberapa ajaran penting dalam bidang tasawuf baik tersurat maupun tersirat yang dapat diambil dari naskah Syamsu al- Ma’rifat ilâ hadharatihî al- syarifati adalah;

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Konsep al-taubah Secara bahasa kata al-taubah berasal dari kata “tâbâ, yatûbu, taubatan” yang berarti kembali dari pengembaraan, perjalanan jauh. Kembali ke asal kejadian. Sedangkan pengertian al-taubah secara istilah adalah kembali –setelah banyak melakukan aktivitas yang bertentangan dan melanggar ajaran dan titah Allah SWT—kepada ajaran Tauhid dengan melaksanakan ajaran-ajaran yang telah diperintahkan Tuhan dan menjauhi segala larangan dan pantangan yang telah digariskan dalam al-Quran dan al-sunnah rasulNya. Taubat yang dilakukan oleh manusia setelah kekhilafannya dilakukan dengan taubat yang sebenarbenarnya (al-taubat an-Nashuha). Dalam konsep ini Syeikh Faqih Jalaluddin mengemukakan; “Firman Allah Ta’ala tûbû ilallahi106 taubatan nasuha, artinya taubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang sahih. Sabda Nabi şallallahu ‘Alaihi Wasallam waman tâba minaz zanbi kaman la zanba lahu, artinya barang siapa taubat daripada dosa107 adalah ia seperti orang yang tiada berdosa…” (syamsul, hal.01). Lanjutnya bahwa taubat itu terbagi menjadi dua perkara; “… Maka adalah taubat itu dua perkara. Pertama taubat zahir, kedua taubat batin. Maka perhimpunan kedua taubat itu yaitu taubat qutbil aqtabi syekh ‘Abdul Qadir Jailaniy astaghfirullahal ‘azdim min ismi wamin dzalali wamin wujudi wa min ‘ilmi wamin ‘amali 108, artinya mohon ampun
106 Teks: ilallahi,(lam pada kata Allah berbaris fathah pendek) 107 Teks: Desya, dari bahasa Aceh yang artinya dosa. 108 Pada Huruf ‘ terdapat dua baris, yaitu fathah dan dammah.

aku kepada Allah yang amat besar daripada do{sa}109 besar dan daripada dosa kecil dan daripada ingat akan diriku dan ilmuku dan ‘amalku…” (Syamsul 01) Dari ungkapan tersebut tersurat dengan jelas bahwa taubat zahir dan juga taubat batin dapat disatukan dalam satu tarikan nafas tanpa dipisahpisahkan antara keduanya, hal tersebut terbukti dengan statemen syekh Abdul Qadir al-Jailani di atas. Lebih dari itu hasil yang diharapkan dari aktivitas taubat adalah pemurnian kembali ketauhidan seseorang setelah menghambakan dirinya kepada selain Allah Sang Khaliq. Pernyataan tegas Faqih Jalaluddin dalam potongan teksnya; “…Maka hasillah daripada taubat ini tauhid yang dimaksud pada menjalani jalan kepada Allah. Maka makna tauhid itu yaitu Esa Allah aza wajalla dan zatnya dan sifatnya dan pada fa’al-Nya…” (Syamsul, hal. 01) Setelah ungkapan penyesalan dibuktikan

dengan mencerabut diri dari perbuatan maksiat, menyesali semua yang telah terlanjur dilakukan, dan berniat dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan pernah kembali lagi melakukan kemaksiatan dan akhirnya menyerahkan seluruh persoalan kepada Sang Pencipta inilah hakikat taubat yang sebenar-benar taubat. “…Jikalau sekalian perintah dan sekalian ikhtiar melainkan yang sepatutnya kita pada saat kerja dan pada saat ketika hendaklah menyerahkan diri kepada Allah, dan senantiasa hati berhadap kepada-Nya serta memuji Dia dan ‘ibadah akan Dia
109Teks: Desya, dari bahasa Aceh yang artinya dosa.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

pada tiap-tiap waktu, demikianlah orang taubat yang dikasihi Allah” (Syamsul, 02) Jadi hakikat al-taubat dalam pandangan syeikh Faqih Jalaluddin merupakan kesadaran sedalamdalamnya terhadap segala ketentuan yang telah digariskan Allah beserta rasulNya dalam berbagai dasar al-quran maupun al-sunnah. Dengan kesadaran bahwa Allah Maha Melihat (Bashirun) terhadap seluruh aktivitas yang kita lakukan, maka akan terpelihara dari perbuatan-perbuatan melanggar ketentuan Ilahi. Konsep bersuci Firman Allah swt “Sesunguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan yang suka menyucikan diri ” (Al Baqarah:222). Bersuci atau alThaharah ialah suatu pekerjaan yang dilakukan untuk menghilangkan hadas atau najis yang ada di badan, pakaian atau tempat tinggal. Dalam ajaran Islam bersuci merupakan perbuatan yang menyebabkan diterima atau ditolaknya suatu ibadah. Bersuci dalam pengertian yang lebih luas --meminjam istialh yang digunakan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin-- dapat dibagi menjadi dua klassifikasi;Thaharah batin) dan maknawiyah hissiyah (menyucikan thaharah

(menyucikan lahir). Thaharah Maknawiyah; Thaharah maknawiyah adalah membersihkan hati dari kesyirikan dalam beribadah kepada Allah SWT dan membersihkannya dari penipuan dan kedengkian kepada para hambaNya yang beriman. Itulah sebabnya Allah Subhanahu

wa Ta’ala (SWT) memberikan predikat najis bagi orang-orang musyrik. “Sesungguhnya kaum musyrikin itu adalah najis. (At-Taubah [9]: 28). Thaharah Maknawiyah memiliki beberapa unsur utama seperti: Thaharah dari dosa besar, yakni syirik, membunuh, sihir, zina, durhaka kepada orang tua, mencuri, menuduh melalaikan berzina, serta tugas, dan dari lari dosa dari kecil medan seperti waktu, pertempuran;

menyia-nyikan

membicarakan dan mendengar aib orang lain, menyakiti hati orang lain. Thaharah dari penyakit hati seperti riya’, ‘ujub, sombong, dengki, khianat, dan sebagainya. Rasulullah SAW; “Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya tetapi karena hatinya ditutup oleh awan ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir ia pun kembali bersinar.” (HR. Bukhari dan Muslim) Thaharah Hissiyah adalah membersihkan badan, pakaian dan tempat dari hadas kecil maupun hadas besar.Thaharah dari najis ada tiga jenis yakni wudhu, mandi, dan pengganti dari keduanya yaitu tayammum. Sementara Syeikh Faqih Jalaluddin membagi bersuci menjadi tiga dimensi utama pertama, suci Zahir yakni suci dari semua hadas kecil maupun besar, suci badan maupun tempat dan pakaian. Kedua; suci batin berupa pensucian batin dari segala yang bersifat

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

al-amrad al-qulub110, juga mensucikan panca indra dari al-muharramat, al-makruhat dan juga dari al-syubhat. Ketiga suci Sirr berupa kesucian tujuan penghambaan manusia terhadap tuhannya, hanya kepada Allahlah semua ibadah kita arahkan “Inna Shalâtî Wa Nusukî Wa mahyayâ Wa mamâtîLillâhi Rabbil al-‘Alamîn”. “….Sabda Nabi şallallāhu ‘alaihi wasallam inna li ma’allahi waqtan la yasa’uni ghairi rabbi, bahwasanya bagiku serta Allah ada waktu yang tiada melalui sir akan daku dalamnya lain daripada Tuhanku…” (Syamsul, hal.02) Tentang pembagian suci ini Syeikh Faqih Jalaluddin mengungkapkan; “…bermula suci itu tiga perkara, pertama suci , kedua suci batin, ketiga suci sir. Maka suci itu yaitu bersuci daripada hadats besar dan kecil, dan bersuci daripada sekalian najis pada badan dan tempat dan pakaian. Dan suci batin itu yaitu menyucikan hati daripada ku’eh dan dengki dan ‘adam, bakhil, ‘ujub, ria, sum’ah. Dan menyucikan panca indera yang lima daripada yang haram dan makruh dan syubhat yaitu penglihat pendengar, pencium, perasa, fitnah. Dan bersuci sir daripada ingat akan yang lain daripada Allah. Maka sir itu yaitu suatu yang ditaruhkan Allah ke dalam hati hamba-Nya yang dikasihi-Nya akan Dia, supaya jadilah Ia akan alat hamba menghadap kepada Tuhannya…” (Syamsul,hal.02)

110 Persoalan hati Imam al-Ghazali membaginya menjadi tiga bagian, pertama qalbun Salim (hati yang bersih, sehat, suci), kedua, Qalbun Marid (hati yang sakit), dan ketiga; Qalbun Mayyit (hati yang mati). Lihat al-Ghazali dalam Tazkiyat al-Nufus. Saudi Arabia:Daar al-Kutub al-Arabiyah. Hal. 23

Konsep tentang al-Tauhid Konsep tauhid yang dikemukakan oleh Syeikh Faqih Jalaluddin adalah tauhid dalam arti praktek bukan teori. Hal ini ditunjukkan ketika melakukan pengklassifikasian tauhid menjadi tiga bagian dan merangkaikannya muwahhid dengan posisi zikir111 bagi tauhid (pengamal tauhid). Menurutnya

pertama adalah tauhidnya orang awam yakni almubtadi’ (permulaan) tandanya was-was dan zikir berada pada posisi tidak ada yang diembah melainkan Allah semata. Kedua, tauhid muqarrabin, yakni mutawasiţ tandanya hening hati, makna zikir tiada yang kutuntut hanya Allah. Ketiga, tauhid sidiqin, yakni muntahi tandanya tidak ada yang diingat kecuali
111 Kata Zikir bukan berarti hanya mengucapkan kalimat “Laa Ilaha Illa Allah” melainkan keyakinan yang ada dalam hati seorang muwahhid bahwa tidak ada yang patut disembah melainkan hanya Allah semata.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

mengingat Allah semata dan makna zikirnya tiada yang maujud hanya Allah dan fana’lah ia dalam zat tuhannya. Tingkatan ini dianggap sebagai Martabat orang ’arif billah dikenal juga dengan istilah fanā, dan juga jami’ul jami”112. Persoalan tersebut dapat dilihat dalam potongan teks berikut; ”....Maka adalah tauhid itu tiga perkara, pertama tauhid awam, yakni mubtadi alamatnya was-was, maka makna zikirnya tiada yang sebenar-benar disembah hanya Allah. Kedua tauhid muqarrabin, yakni mutawasiţ alamatnya hening hati, maka makna zikir tiada yang kutuntut hanya Allah. Ketiga tauhid shidiqin, yakni muntahi alamatnya ketiadaan ingat akan yang lain daripada Allah. {Maka} makna zikirnya tiada yang maujud hanya Allah dan fanalah ia dalam zat tuhannya maka tepilah padanya segala alam. Inilah martabat segala ’arif billah dan fanā'ul fanā pun namanya dan jami’ul jami’ pun namanya dan kesudah-sudahan jalan pun namanya... ” (Syamsul, hal.03) Konsep martabat tujuh Istilah ajaran martabat tujuh, tidak pernah dikenal pada masa Rasulullah, beliau tidak tujuh mengajarkan secara khusus. Ajaran martabat tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ajaran martabat tujuh di susun oleh Muhammad Ibn Fadllillah Burhanpuri (w. 1620) dalam kitabnya Al
112 Terlihat konsep tauhid muqarrabin ini sangat dekat dengan konsep alittihad yang dikedepankan oleh Abu yazid al-Bustami. Dari sini mungkin dapt dikatakan bahwa syeikh Faqih Jalaluddin sebagian pemikirannya terpengaruh dengan konsep-konsep tasawuf yang dikembangkan oleh Abu Yazid Al-Bustami dan juga yang laiinya dari tasawuf Falsafi.

fanā'ul

didalam tasawuf merupakan perkembangan dari ilmu

Tuhfah al Mursalah ila Ruhin-Nabi. Dalam kitab ini diterangkan bahwa Dzat Tuhan merupakan Wujud Mutlak, tidak dapat dipersepsikan oleh akal, perasaan, khayal dan indera. Dzâtullah segala sesuatu sebagai aspek bathin dan untuk bisa segala yang maujud (ada), karena Tuhan meliputi (QS.Fushilat:54) memahami wujud Tuhan yang sebenarnya secara

transenden harus setelah bertajalli sebanyak tujuh martabat. ini menjelaskan manifestasi Tuhan (tajallî) dalam alam semesta melalui 7 tahap emanasi dari wujud mutlak hingga wujud relatif, yaitu ahadiyyah, wahdah, wâhidiyyah, arwâh, mitsâl, jism, dan insân kâmil. Dalam arti tertentu, teori martabat tujuh sesungguhnya mengekspresikan juga faham wahdatul wujud yang dimunculkan Ibnu ‘Arabi. Pola pemikiran tersebut Abdurrauf Syeikh Fansuri diakomodasi al-Singkili Faqih oleh pada Hamzah akhirnya Fansuri dikritik dan oleh

Nuruddin ar-Raniri. Jalaluddin Abdurrauf Allah sebagai al-Singkili menciptakan generasi dalam jagad berikutnya juga mengakomodasi pemikiran Hamzah maupun menjelaskan menyebut bagaimana

alam raya ini. Istilah-istilah yang digunakan dalam martabat tujuh agak berbeda dengan istilah popular yang dikemukakan Syeikh Muhammad Ibn Fadllillah Burhanpuri. Perbedaan-perbedaan apapun lingkaran yang menyertai tersebut Allah dapat dilihat sebuah lain seperti, Pertama; Martabat Laa Ta’yin (tidak ada suatu bagaikan dalam kosong), sedangkan istilah

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Martabat ini dinamakan martabat Ahadiyyah. Kedua; Martabat Ta’yin Awwal (pada martabat ini Allah sudah mulai berkehendak menjadikan sesuatu bagaikan lingkaran yang baru mempunyai titik kecil), martabat ini juga dikenal dengan istilah martabat Wahdah. Ketiga; Martabat Ta’yin Tsani (pada martabat ini Allah sudah menentukan kehendakNya dalam menjadikan sesuatu bagaikan lingakaran yang di dalamnya ada “alif”), martabat ini juga dikenal dengan istilah dengan martabat Wahidiyah. Ketiga martabat tersebut disebut martabat Qadim (martabat Ketuhanan). Keempat; Martabat alam arwâh merupakan aspek lahir yang masih dalam bentuk mujarrad dan murni. Kelima; Martabat alam mitsâl, pada martabat ini diibarat sesuatu yang telah tersusun dari bagian-bagian, tetapi masih bersifat halus, tidak dapat dipisah-pisahkan. Keenam Martabat alam ajsam (tubuh) yakni ibarat sesuatu dalam keadaan tersusun secara marteriil telah menerima pemisahan dan dapat dibagibagi sudah dapat terukur tebal tipisnya. dan terakhir ketujuh; martabat Martabat insân kâmil mencakup dalam segala manusia diatasnya, sehingga

terkumpul tiga martabat yang sifat bathin dan tiga martabat lahir. Konsep Dzikir Ibn ‘Atha’illah mengatakan, bahwa “Qaumun Tasbiqu Anwaruhum azkaruhum, aw Qaumun tasbiqu Azkaruhum Anwaruhum wa Qaumun Tatasawa

Azkaruhum Wa Anwaruhum Wa Qaumun La Azkara wa La Anwara Naudzubillahi Artinya;”ada Min Dzalika” yang ( Alnur Hikam:254)113. orang

(kecerahan hati) nya mendahului zikirnya, ada orang yang zikirnya mendahului nurnya, ada pula orang yang nurnya berbarengan dengan zikirnya. Dan ada pula orang yang tanpa zikir dan tanpa nur –kita berlindung kepada Allah dari sifat tersebut--114. Dari ungkapan tersebut terlihat bahwa manusia –dalam masalah zikir oleh Ibn ‘Athaillah— terbagi menjadi empat katagori. Pertama; kelompok orang yang berzikir setelah digetarkan oleh ilham dan perasaan akan kehadiran Allah. Kedua; kelompok orang yang berzikir untuk membersihkan hati mereka sehingga cahaya dan nikmat Allah turun menghampiri mereka. melakukan bersih). Ketiga; zikir kelompok sebelum kelompok terakhir orang-orang hatinya orang yang yang tercerahkan yang tidak

(berusaha melakukan zikir walaupun hatinya belum Keempat mengindahkan zikir kepada Allah. Kelompok inilah disinggung dalam lanjutan hikmah Ibn ‘Athaillah;’ jangan engkau tinggalkan zikir dikarenakan engkau tidak merasakan kehadiran Allah dalam zikir tersebut, sebab kelalaianmu terhadapNya dengan tidak adanya zikir kepadaNya itu lebih berbahaya daripada kelalaianmu terhadapNya dengan adanya zikir kepadaNya”.115
113 Ibn ‘Atha’illah,tt. Al-Hikam, Daar el-Fikr. 114 Lihat juga, lisma Dyawati Fuaida 2008 (terj), al-Hikam. Jakarta:Serambi, hal.385 115 Lihat Sri Mulyati, Tarekat, hal.77

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Zikir adalah sebaik-baik jalan menuju Allah SWT, jadi tidak boleh ditinggalkan walaupun sedang tidak konsentrasi penuh. Melakukan zikir hendaknya dilakukan dengan menghadirkan tuhan dalam hati, sehingga mampu mencapai zikir yang dapat melupakan segalanya selain Allah. Zikir merupakan salah satu metode yang efektif untuk menjernihkan hati. “Tidaklah tampak zikir kecuali bila dari penyaksian dan perenungan” (Hikam; 256) Seperti amaliah lain berzikir pun memiliki metode-metode tertentu agar dapat –cepat—diterima oleh Allah SWT, Ibn ‘Athaillah menegaskan ada tiga metode berzikir. Pertama; Zikir dengan lisan (Zikr aldzahir atau dzikr al-huruf atau dzikr al_jahr). Kedua; zikir dalam hati (dzikr al-qalb atau dzikr al-sirr atau dzikr al-khafi). Ketiga; zikir anggota badan (dzikr a’dha al-abdan atau dzikr al-jawarih)116. Ketiga macam metode zikir tersebut secara bersamaan saling menopang, zikir hati tidak akan tercapai secara maksimal jika belum melalui zikir lisan. Jika seseorang dapat melakukan zikir secara bersamaan lisan dan hati maka sempurnalah hasil suluknya117. Syeikh Faqih Jalaluddin dalam persoalan zikir terbagi menjadi dua bagian. Pertama; Zikir hasanat yaitu zikir yang menghasilkan pahala dan tidak memakai tata aturan maupun metode apapun. Kedua zikir darajat yaitu zikir yang menghasilkan pahala dan
116 Sri Mulyati, Tarekat, hal.77 117 Lihat, al-Qusyairy, 1997. Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf. Surabaya: Risalah Gusti

penentuan

derajat manusia

disisi Allah, zikir ini

memakai tata aturan berupa tata tertib zikir. Hal tersebut dapat dilihat dalam bagian teks naskahnya; ”... adapun zikir itu dua perkara, pertama zikir hasanat namanya yakni zikir [yang] menghasilkan pahala jua [yang] tiada berkehendak kepada adab dan tertib. Kedua zikir darajat namanya yaitu berkehendak ia kepada adab dan tertib...” (Syamsul, hal. 06) Tata tertib zikir yang dimaksud –secara runtut —adalah: Pertama; membaca surat al-Fatihah kepada Nabi dan keluarganya, kemudian al-fatihah kepada alSyaikh (guru/mursyid), alfatihah berikutnya kepada para guru-guru yang telah mengajarkan pengetahuan, beserta kepada kedua orang tua, dan juga al-fatihah untuk kaum muslimin/muslimat. Kedua; membaca Adzim istighfar 10 kali. secara Ketiga; umum”astaghfirullahal

membaca Istighfar khusus seperti diucapkan oleh Syaikh abdul Qadir al-jailani ” astaghfarillaha min ilmi wamin zalalli wamin wujud wamin ’amali”. Keempat; membaca selawat atas nabi SAW 10 kali. Kelima;Menghadirkan syekh (mursyid) sebagai wasilah untuk meminta pertolongan agar semua yang dicitacitakan berhasil. Keenam;meyakini bahwa Syeikh sebagai pengganti Nabi untuk dijadikan wasilah dalam berdoa. Ketujuh; merasukkan lafadz kalimat ”Laa Ilaha Illa Allah” dalam jiwa dan rasakan dalam dada kira dan kanan. Kedelapan;lenyapkan lafadz kalimat ”Laa Ilaha Illa Allah” dan rasakan yang tersisi adalah makna dari kalimat tersebut, sehingga antara nama dan yang

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

diberikan nama menyatu dalam satu kesatuan (alIsmu wa al-Musamma wahidun). Kesembilan; setelah itu semua terasa, maka tetapkan diri dalam kebersatuan makna kalimat ”Laa Ilaha Illa Allah” hingga memperoleh ma’rifat melalui kalimat tersebut. Demikian beberapa tata cara melakukan zikir yang diungkapkan oleh Syeikh Faqih Jalaluddin dalam bagian teks naskahnya.

KALIMAT AKHIR

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Kesimpulan
Melihat beberapa konsep dasar ajaran yang dituangkan oleh Syeikh Faqih Jalaluddin, maka corak tasawuf yang dikembangkan dapat diklasifikasi menjadi dua corak; Corak Falsafi (Syi’i), corak ini dapat dilihat dari ajaran-ajaran beliau tentang konsep al-tauhid seperti ungkapan beliau; ”....Maka adalah tauhid itu tiga perkara, pertama tauhid awam, yakni mubtadi alamatnya was-was, maka makna zikirnya tiada yang sebenar-benar disembah hanya Allah. Kedua tauhid muqarrabin, yakni mutawasiţ alamatnya hening hati, maka makna zikir tiada yang kutuntut hanya Allah. Ketiga tauhid ¡idiqin, yakni muntahi alamatnya ketiadaan ingat akan yang lain daripada Allah. {Maka} makna zikirnya tiada yang maujud hanya Allah dan fanalah ia dalam zat tuhannya maka tepilah padanya segala alam. Inilah martabat segala ’arif billah dan fanā'ul fanā pun namanya dan jami’ul jami’ pun namanya dan kesudah-sudahan jalan pun namanya... ” (Syamsul, hal.03) Selain konsep al-tauhid juga dapat dilihat

dalam ajaran beliau tentang martabat tujuh, seperti halnya konsep yang diajarkan oleh Hamzah Fansuri, Abdurrauf al-Singkili dan juga oleh Abdushamad alPalimbani. Ajaran-ajaran tersebut tertuang dalam

naskah Syamsul Ma’rifati Ilaa Hadratihi al-Syarifati sebagai berikut; Pertama; Martabat Laa Ta’yin (tidak ada suatu apapun lingkaran yang menyertai Allah bagaikan dalam sebuah lain kosong), sedangkan istilah

Martabat ini dinamakan martabat Ahadiyyah. Kedua; Martabat Ta’yin Awwal (pada martabat ini Allah sudah mulai berkehendak menjadikan sesuatu bagaikan lingkaran yang baru mempunyai titik kecil), martabat ini juga dikenal dengan istilah martabat Wahdah. Ketiga; Martabat Ta’yin Tsani (pada martabat ini Allah sudah menentukan kehendakNya dalam menjadikan sesuatu bagaikan lingakaran yang di dalamnya ada “alif”), martabat ini juga dikenal dengan istilah martabat Wahidiyah. Ketiga martabat tersebut disebut dengan martabat Qadim (martabat Ketuhanan). Keempat; Martabat alam arwâh merupakan

aspek lahir yang masih dalam bentuk mujarrad dan murni. Kelima; Martabat alam mitsâl, pada martabat ini diibarat sesuatu yang telah tersusun dari bagianbagian, tetapi masih bersifat halus, tidak dapat dipisah- pisahkan. Keenam Martabat alam ajsam (tubuh) yakni ibarat sesuatu dalam keadaan tersusun secara marteriil telah menerima pemisahan dan dapat dibagi-bagi sudah dapat terukur tebal tipisnya. dan terakhir ketujuh; Martabat insân kâmil mencakup segala martabat diatasnya, sehingga dalam manusia terkumpul tiga martabat yang sifat bathin dan tiga martabat lahir.

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Corak Akhlaqi (Sunni), corak seperti ini dapat dilihat dari ajaran-ajaran beliau tentang konsep al-taubah seperti ungkapan beliau; “Firman Allah Ta’ala tûbû ilallahi taubatan nasuha, artinya taubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang sahih. Sabda Nabi şallallahu ‘Alaihi Wasallam waman tâba minaz zanbi kaman la zanba lahu, artinya barang siapa taubat daripada dosa adalah ia seperti orang yang tiada berdosa…” (syamsul, hal.01). Lanjutnya bahwa taubat itu terbagi menjadi dua perkara; “… Maka adalah taubat itu dua perkara. Pertama taubat zahir, kedua taubat batin. Maka perhimpunan kedua taubat itu yaitu taubat qutbil aqtabi syekh ‘Abdul Qadir Jailaniy astaghfirullahal ‘azdim min ismi wamin dzalali wamin wujudi wa min ‘ilmi wamin ‘amali,artinya mohon ampun aku kepada Allah yang amat besar daripada dosa besar dan daripada dosa kecil dan daripada ingat akan diriku dan ilmuku dan ‘amalku…” (Syamsul 01) Dari ungkapan tersebut tersurat dengan jelas bahwa taubat zahir dan juga taubat batin dapat disatukan dalam satu tarikan nafas tanpa dipisahpisahkan antara keduanya, hal tersebut terbukti dengan statemen syekh Abdul Qadir al-Jailani di atas. Lebih dari itu hasil yang diharapkan dari aktivitas taubat adalah pemurnian kembali ketauhidan seseorang setelah menghambakan dirinya kepada selain Allah Sang Khaliq.

“…Maka hasillah daripada taubat ini tauhid yang dimaksud pada menjalani jalan kepada Allah. Maka makna tauhid itu yaitu Esa Allah aza wajalla dan zatnya dan sifatnya dan pada fa’al-Nya…” (Syamsul, hal. 01) Selain persoalan konsep al-taubah juga dapat dilihat dari konsep ini beliau dapat tentang dilihat kebersihan dari sistem (bersuci). Hal

pengklasifikasian bersuci menjadi tiga dimensi utama. Pertama; Suci Zahir yakni suci dari semua hadas kecil maupun besar, suci badan maupun tempat dan pakaian. Kedua; suci batin berupa pensucian batin dari segala yang bersifat indra tujuan al-amrad dari al-qulub, juga almensucikan berupa panca al-muharramat,

makruhat dan juga dari al-syubhat. Ketiga suci Sirr kesucian penghambaan manusia terhadap tuhannya, hanya kepada Allahlah semua ibadah kita arahkan “Inna Shalâtî Wa Nusukî Wa mahyayâ Wa mamâtîLillâhi Rabbil al-‘Alamîn”. “….Sabda Nabi şallallāhu ‘alaihi wasallam inna li ma’allahi waqtan la yasa’uni ghairi rabbi, bahwasanya bagiku serta Allah ada waktu yang tiada melalui sir akan daku dalamnya lain daripada Tuhanku…” (Syamsul, hal.02) Tentang pembagian suci ini Syeikh Faqih Jalaluddin mengungkapkan; “…bermula suci itu tiga perkara, pertama suci , kedua suci batin, ketiga suci sir. Maka suci itu yaitu bersuci daripada hadats besar dan kecil, dan bersuci daripada sekalian najis pada badan dan tempat dan pakaian. Dan suci batin itu yaitu menyucikan hati daripada ku’eh dan

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

dengki dan ‘adam, bakhil, ‘ujub, ria, sum’ah. Dan menyucikan panca indera yang lima daripada yang haram dan makruh dan syubhat yaitu penglihat pendengar, pencium, perasa, fitnah. Dan bersuci sir daripada ingat akan yang lain daripada Allah. Maka sir itu yaitu suatu yang ditaruhkan Allah ke dalam hati hambaNya yang dikasihi-Nya akan Dia, supaya jadilah Ia akan alat hamba menghadap kepada Tuhannya…” (Syamsul,hal.02)

Rekomendasi Dari temuan penelitian tersebut dapat ditarik beberapa point sebagai rekomendasi untuk dapat dijadikan bahan acuan kebijakan terkait teks dengan naskah materi-materi yang tertuang dalam

Syamsul ma’rifati Ila Hadratihi al-Syarifati; Ajaran- ajaran tentang taubat, dan bersuci dapat dijadikan sebagai pengayaan bahan ajar di tingkat Madarasah Aliyah sehingga tidak hanya memahami konsep bersuci secara lahir saja namun lebih kepada makna batin. Ajaran tersebut juga dapat dijadikan bahan acuan bagi para penyuluh diri agama agar dapat materimemperkaya mereka dengan

materi yang bersumber pada naskah. Ajaran-ajaran yang terkait dengan al-tauhid dan martabat tujuh serta konsep-konsep zikir perlu dijadikan bahan pengayaan bagi literature dan buku ajar bagi kalangan akademisi. Perlu dibuat program pelestarian terhadap hasilhasil pemikiran ulama terdahulu dalam bentuk buku- biografi Ulama Nusantara

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

Perlu

dilakukan

pengkajian

secara

kontinu

terhadap berbagai hasil pemikiran ulamaulama terdahulu

Referensi
Abu Bakar Atjeh 1980, tentang nama Aceh dalam Ismail Sunni (Ed) Bunga rampai tentang Aceh, Jakarta:Bhatara Karya Aksara) Abu al-Wafa al-Ghanamy al-Taftazani, 1973, Ibnu Sab’ien wa Falsafatuhu al-Sufiyyah, Berut, Dar elKuttab al-Libnani, cet. I Al-Ghazali,1923. Tazkiyat al-Nufus. Saudi Arabia:Daar al-Kutub al-Arabiyah al-Qusyairy, 1997. Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf. Surabaya: Risalah Gusti Azyumardi Azra, 2005. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII; akar pembaruan Islam Indonesia, edisi Revisi.

Jakarta:Prenada Media Group Denys Lombard , 1967, Le Sultanat d’ Atjeh au temps d’Iskandar Muda (1607-1636), (terj) oleh Winarsih Arifin, 2008. Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta:KPG M. Hasbi Amiruddin, 2006. Aceh dan Serambi Makkah, Banda Aceh: Yayasan Pena Syed Muhammad Naguib al-Attas, A Comentary on he Hujjat al-Shiddiq of Nur al-Din al-Raniry, (Kuala Lumpur:Ministry of Culture, 1986) Sehat Ihsan Shadiqin, 2009. Tasawuf Aceh, Aceh:BP Bandar Sri Mulyani, et.al, 2006.Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia, Jakarta:Prenada Media Group Teuku Iskandar, Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad, Jakarta; LIBRA, 1996. Ismail bin ‘Abdul Muttalib,tt. kitab Jam’u Jawami’ alMusannafat (Medan: Al-Syifa’) Ibn ‘Atha’illah,tt. Al-Hikam, Daar el-Fikr Lisma Oman Dyawati Fuaida 2008 Tarekat Prenada (terj), al-Hikam. di Jakarta:Serambi Fathurahman, Jakarta: Syattariyah Media Minangkabau, 2008 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 1978. Fatawi Ibnu Tiamiyah (XI:17). Riyadl:Maktabah al-Sunnah. Faqih Jalaluddin,tt. Manuscript; Syamsu al-Ma’rifati Ilaa Hadratihi al-Syarifati. ------------------------,tt. Hidayah al-Awam Group

bekerjasama dengan …. PPIM UIN Jakarta dan KITLV,

Corak tasawuf

faqih Jalaluddin

------------------------,tt. Safinat al-Hukam fi Talkhis alKhisham -----------------------,tt. Hujjah al-Balighah ‘ala Jama’ah alMukhasamah -----------------------,tt. Manzhar al-Ajla ila Martabah alA’la ----------------------,tt. Asrar as-Suluk ila Malail Muluk Din Shamsuddin, (makalah)” Hubungan Aceh dengan Semenanjung khususnya di Utara (Prasaran pada dialog Utara VI Malaysia bagian Utara dan Sumatera bagian Utara 23- 29 Desember 1995 di Langsa. Lhoksemawe, Sigli, Banda Aceh

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->