P. 1
Pedoman Supervisi Pbj Diknas_ok

Pedoman Supervisi Pbj Diknas_ok

|Views: 860|Likes:

More info:

Published by: Ferdiie Fristyansjah on Feb 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2012

pdf

text

original

Sections

Kenyataan yang pertama kali harus disadari sebelum
berbicara mengenai pelaksanaan supervisi yang ideal, adalah
bahwa dalam peraturan mengenai kependidikan di Indonesia ini,
tidak dikenal adanya jabatan supervisor. Pasal 39 ayat (1)
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 berbunyi, “Tenaga
kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan,
pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk
menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan”.
Ayat tersebut selanjutnya diberikan penjelasan bahwa
“Tenaga kependidikan meliputi pengelola satuan pendidikan,
penilik, pamong belajar, pengawas, peneliti, pengembang,
pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar.

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

3
2

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

Berdasarkan pada landasan hukum di atas, maka konteks
supervisi pengajaran di Indonesia tercakup dalam konsep
pembinaan dan pengawasan. Sejak 1996 pemerintah melalui
Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawas dan Angka
Kreditnya, telah menetapkan (pejabat) Pengawas sebagai
pelaksana tugas pembinaan/supervisi guru dan sekolah. Teknis
pelaksanaan Keputusan Menpan tersebut dijabarkan dalam
Keputusan Bersama Mendikbud dan Kepala BAKN Nomor
0322/O/1996 dan nomor 38 tahun 1996 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka
Kerditnya. Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan
Pengawas Sekolah adalah ”Pegawai Negeri Sipil” yang diberi
tugas untuk melakukan pengawasan dengan melaksanakan
penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan
administrasi pada satuan pendidikan pra sekolah, dasar, dan
menengah“.

Sebagai tenaga fungsional kependidikan, Jabatan
Pengawas selanjutnya dibuat penjenjangan sebagaimana
jabatan pendidik/guru. Dengan demikian jabatan pengawas
telah diakui secara resmi sebagai jabatan fungsional. Jabatan
tersebut mencerminkan kompetensi dan profesionalitas dalam
pelaksanaan tugas sebagaimana jabatan fungsional lainnya.

b. Pelaksanaan Supervisi oleh Pengawas

Penelitian yang dilakukan oleh Ekosusilo (2003:75)
menunjukkan kenyataan pelaksanaan supervisi oleh pengawas
sungguh bertolak belakang dengan konsep ideal supervisi.
kegiatan supervisi yang dilakukan oleh pengawas, masih jauh

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

3
3

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

dari substansi teori supervisi. Supervisi yang dilakukan oleh
pengawas lebih dekat pada paradigma inspeksi atau
pengawasan. Upaya “membantu guru” dengan terlebih dahulu
menjalin hubungan yang akrab sebagai syarat keberhasilan
supervisi pengajaran, belum dilakukan oleh para pengawas.

c. Pelaksanaan Supervisi oleh Kepala Sekolah

Salah satu tugas pokok kepala sekolah, selain sebagai
administrator adalah juga sebagai supervisor (Mulyasa, 2003).
Tugas ini termasuk dalam kapasitas kepala sekolah sebagai

instructional leader.

Dalam kenyataannya, pelaksanaan supervisi oleh kepala
sekolah, sebagaimana pengawas, juga masih terfokus pada
pengawasan administrasi. Pada umumnya kepala sekolah akan
melakukan supervisi pengajaran pada guru melalui kunjungan
kelas, apabila dia mendapat laporan mengenai kinerja guru yang
kurang baik, atau berbeda dari teman-temannya. Bahkan
seringkali dijumpai, seorang kepala sekolah melakukan supervisi
terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru dengan
cara mengintip dari balik pintu atau jendela, agar tidak
diketahui.

Perilaku kepala sekolah tersebut dipengaruhi oleh nilai-
nilai budaya (Jawa) yaitu pekewuh yang dipersepsikan secara
salah. Dalam pemahaman yang salah tersebut, apabila kepala
sekolah melakukan supervisi kunjungan kelas dan mengamati
PBM yang dilakukan guru, maka ia dianggap tidak percaya pada
kemampuan guru. Hal ini akan menimbulan konflik dalam
hubungan guru dengan kepala sekolah.

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

3
4

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

d. Kendala-kendala Pelaksanaan Supervisi

Kendala pelaksanaan supervisi yang ideal dapat
dikategorikan dalam dua aspek, yaitu struktur dan kultur. Pada
aspek struktur birokrasi pendidikan di Indonesia ditemukan
kendala antara lain sebagai berikut :
Pertama, secara legal yang ada dalam nomenklatur
adalah jabatan pengawas bukan supervisor. Hal ini
mengindikasikan paradigma berpikir tentang pendidikan yang
masih dekat dengan era inspeksi.
Kedua, lingkup tugas jabatan pengawas lebih menekankan
pada pengawasan administrasti yang dilakukan oleh kepala
sekolah dan guru. Asumsi yang digunakan adalah apabila
administrasinya baik, maka pengajaran di sekolah tersebut juga
baik. Inilah asumsi yang keliru.
Ketiga, rasio jumlah pengawas dengan sekolah dan guru
yang harus dibina/diawasi sangat tidak ideal. Di daerah-daerah
luar pula Jawa misalnya, seorang pengawas harus menempuh
puluhan bahkan ratusan kilo meter untuk mencapai sekolah yang
diawasinya; dan

Keempat, persyaratan kompetensi, pola rekrutmen dan
seleksi, serta evaluasi dan promosi terhadap jabatan pengawas
juga belum mencerminkan perhatian yang besar terhadap
pentingnya implementasi supervisi pada ruh pedidikan, yaitu
interaksi belajar mengajar di kelas.
Pada aspek kultural dijumpai kendala antara lain :
Pertama, para pengambil kebijakan tentang pendidikan
belum berpikir tentang pengembangan budaya mutu dalam
pendidikan. Apabila dicermati, maka mutu pendidikan yang
diminta oleh customers sebenarnya justru terletak pada kualitas

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

3
5

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

interaksi belajar mengajar antara siswa dengan guru. Hal ini
belum menjadi komitmen para pengambil kebijakan, juga tentu
saja para leksana di lapangan.
Kedua, nilai budaya interaksi sosial yang kurang positif,
dibawa dalam interaksi fungsional dan professional antara
pengawas, kepala sekolah dan guru. Budaya ewuh-pakewuh,
menjadikan pengawas atau kepala sekolah tidak mau “masuk
terlalu jauh” pada wilayah guru.
Ketiga, budaya paternalistik, menjadikan guru tidak
terbuka dan membangun hubungan professional yang akrab
dengan kepala sekolah dan pengawas. Guru menganggap
mereka sebagai “atasan” sebaliknya pengawas menganggap
kepala sekolah dan guru sebagai “bawahan”. Inilah yang
menjadikan tidak terciptanya rapport atau kedekatan hubungan
yang menjadi syarat pelaksanaan supervisi.

KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan

Demikianlah uraian mengenai supervisi pengajaran, antara
konsep teoritik dan kenyataannya. Pelaksanaan supervisi
pengajaran di lapangan, kenyataannya masih jauh dari konsep
teoritik yang dikembangkan di jurusan/program manajemen
pendidikan. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, diperlukan
sosialisasi dan “tekanan” dari pihak-pihak yang komit terhadap
kualitas pendidikan di Indonesia kepada para pengambil kebijakan
dan pengelola pendidikan. Hal ini secara bersama-sama harus
dilakukan dengan pengembangan budaya mutu dalam pendidikan,
yang intinya terletak pada kualitas proses pembelajaran di dalam
kelas.

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

3
6

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

2. Saran-saran

Berangkat dari kenyataan dan kendala pelaksanaan supervisi
di Indonesia, maka untuk menuju pada supervisi yang ideal
diperlukan langkah-langkah antara lain :
Pertama, menegaskan, dan apabila perlu memisahkan jabatan
supervisor dengan jabatan pengawas dalam struktur birokrasi
pendidikan di Indonesia. Dalam hal ini, terdapat dua pilihan, yaitu
mengarahkan jabatan pengawas agar terartikulasi pada peran dan
tugas sebagai supervisor, atau mengangkat supervisor secara
khusus dan tetap membiarkan jabatan pengawas melaksanakan
fungsi pengawasan.

Kedua, memperbaiki pola pendidikan prajabatan maupun
inservice rekrutmen, seleksi, penugasan, serta penilaian dan
promosi jabatan supervisor/pengawas.
Ketiga, dalam konteks otonomi daerah, jabatan supervisor
dapat diangkat sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.
Keempat, membangun kesadaran budaya mutu dalam
pendidikan bagi pengelola-pengelola pendidikan pada semua
tingkatan.

Kelima, mendorong kepala sekolah berperan sebagai
instructional leader dan mengurangi porsi tugas-tugas
administratif.

Keenam, mengikis pola hubungan yang paternalistik antara
pengawas/kepala sekolah dengan guru dan mengembangkan
hubungan profesional yang akrab dan terbuka untuk meningkatkan
pembelajaran.

TIPE-TIPE SUPERVISI

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

3
7

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

1.Tipe Inspeksi. Tipe seprti ini biasanya terjadi dalam administrasi
dan model kepemimpinan yang otokratis, mengutamakan pada
upaya mencari keslahan orang lain, bertindak sebagai “Inspektur”
yang bertugas mengawasi pekerjaan guru.
2.Tipe laisses Faire. Tipe ini tipe kebalikan dari tipe sebelumnya.
Kalau dalam supervisi inspeksi bawahan diawasi secara ketat dan
harus menurut perintah atasan, pada supervisi Laisses Fraire para
pegawai dibiarkan saja bekerja sekehendaknya tanpa diberi
petunjuk.
3.Tipe Coersive. Tipe ini tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi.
Sifatnya memaksakn kehendaknya. Apa yang diperkiarakannya
sebagai sesuatu yang baik, meskipun tidak cocok dengan kondisi
atau kemempuan pihak yang yang disupervisi tetsp saja
dipaksakan berlakunya
4.Tipe Trainning dan Guidance. Tipe ini dairtikan sebagai
memberikan latihan dsn bimbingan. Hal yang positif dari supervis
ini yaitu giru dan staf tata usaha selalu mendapatkan layihan da
bimbingan dari kepala sekolah.
5.Tipe Demokratis Selain Kepemimpinan yang bersifat demokratis,
tipe ini memerlukan kndisi dan situasi yang khusus. Tangging
jawab bukan hanya seorang pemimpan yang memegangnya, tetepi
didistribusikan atau didelegasikan kepada para anggota atau
warga sekolah sesuai dengan kemampuan da keahlian masing-
masing.

TUJUAN SUPERVISI

1.Meningkatkan mutu kinerja guru
2.Membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa pera
sekolah dalam mencapai tujuan tersebut.

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

3
8

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

3.Membantu guru dalam melihat secar lebih jelas dalam memahami
keadaan dan kebutuhan siswanya.
4.Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru
dalam satu tim yang efektif, bekerja sama secara akrab dan
bersahabat secara saling menghargai satu dengan lainnya.
5.Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya
meningkatkan prestasi belajar siswa.
6.Meningkatkan kualitas pembelajaran guru baik itu dari segi
strategi, keahlian dan alat pengajaran.
7.Menyediakan sebuah sistem yang berupa penggunaan teknologi
yang dapat membantu guru dalam pengajaran.
8.Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala
sekolah untuk reposisi guru.
9.Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berguna dan
terlaksana dengan baik.
10.Meningkatkan keefektifan dan keefisienan sarana dan prasarana
yang untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga
mampu mengoptimalkan keberhasilan siswa.
11.Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam
mendukung terciptanya suasana kerja yang optimal yang
selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar sebagaiman
yang diharapkan.
12.Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta
situsi yang tenang da tentram serta kondusif yang akan
meningkatkan kualitas pembelajaran yang menujukan
keberhasilan lulusan.
Supervisi Pendidikan
BAB I
PENDAHULUAN

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

3
9

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

Setiap aktivitas besar ataupun kecil, yang tercapainya tergantung
kepada beberapa orang. Diperlukan adanya organisasi didalam segala
gerak langkah untuk mengkoordinasikan semua gerak langkah tersebut,
pimpinan sekolah harus berusaha mengetahui keseluruhan situasi
disekolahnya dalam segala bidang. Usaha pimpinan dab guru-guru untuk
mengetahui situasi lingkungan sekolah dalam segala kegiatannya, di
sebut supervise atau pengawasan sekolah.
Istilah supervisi ini kiranya belum begitu lazim dipergunakan dalam
lingkungan persekolahan dan kepegawaian kita disaat-saat sekarang.
Tetapi makin lama makin dikenal dan makin banyak dipergunakan
orang. Namun demikian mengenai arti, fungsi, dan tujuan yang
terkandung didalamnya, masih merupakan tanda tanya, apakah sudah
benar-benar dipahami oleh orang yang mempergunakan istilah itu.
Dalam bukunya " Role Of Supervisor And Curiculum Directors In A
Climate Of Change ". Ceeper menyimpulkan beberapa hal yang memberi
gambaran tentang latar belakang perlunya supervise antara lain. (12 :
12 ) :
1. Bahwa dalam perubahan social dewasa ini perlu diperhatikan dimensi
baru, yaitu perlu perubahan teknologi ruang angkasa.
2. Berkembangnya science dan teknologi yang semakin cepat.
3. Adanya urbanisasi yang semakin meningkat, menyebabkan masalah
baru dalam pendidikan.
4. Adanya tuntutan hak-hak asasi manusia yang juga menyebabkan
problema bagi para pendidik yang memerlukan pemecahan secara
rasional.
5. Akibatnya pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran menyebabkan
adanya :
- Daerah-daerah miskin dan kaya
- Adanya banyak waktu terbuang

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

4
0

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

- Kecenderungan muda-mudi memerlukan pendidikan umum dan
kejuruan untuk dapat bekerja/mencari pekerjaan dalam masyarakat.
6. Suburnya birokrasi dapat menghambat kelancaran dalam bidang
pendidikan.
Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya
pengawasan atau supervise. Pengawasan bertanggung jawab tentang
keefektifan program itu. Oleh karena itu, supervise haruslah meneliti ada
atau tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya
tujuan-tujuan pendidikan.
Dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan di sekolah dan usaha
professional, kelanjutan kunjungan pengontrolan (supervisi) oleh
pengawas utama hendaknya dilaksanakan secara teratur dan
berkesinambungan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN SUPERVISI
Dalam dunia pendidikan kita selalu melihat ada supervise didalamnya,
sebagaimana telah diketahui bahwa tidak ada dua orang yang sama,
apalagi lebih dari dua orang. Maka dapat dimaklumi bahwa rumusan
tentang apa yang dimaksud dengan supervise berbeda-beda.
Menurut P. Adam dan Frank G. Dickey, supervisi adalah suatu program
yang berencana untuk memperbaiki pengajaran ( supervision is a
planed, program for the improvement of instruction ).
Dalam Dictionary of Education, Good Carter memberikan definisi sebagai
berikut: Supervisi adalah segala usaha dari petugas-petugas sekolah
dalam memimpin guru-guru dan petugas pendidikan lainnya dalam
memperbaiki pengajaran, termasuk memperkembangkan pertumbuhan
guru-guru, menyelesaikan dan merevisi tujuan pendidikan, bahan-bahan
pengajaran dan metode mengajar dan penilaian pengajaran.

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

4
1

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

Menurut Boardaman, supervise adalah suatu usaha menstimulir,
mengkoordinir dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru
sekolah, baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih
mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran,
sehingga dengan demikian mereka mampu dan lebih cakap
berpartisipasi dalam masyarakat demokrasi modern.
Mc. Nerney meninjau supervise sebagai suatu proses penilaian
mengatakan: supervise adalah prosedur memberi arah serta
mengadakan penilaian secara kritis terhadap proses pengajaran.
Dalam pelaksanaannya, supervise bukan hanya mengawasi apakah para
guru atau pegawai menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai
dengna intruksi atau ketentuan –ketentuan yang telah digariskan, tetapi
juga berusaha bersama guru-guru, bagaimana cara-cara memperbaiki
proses belajar mengajar. Jadi, dalam kegiatan supervise, guru-guru tidak
dianggap sebagai pelaksana pasif, melainkan diperlakukan sebagai
partner bekerja yang memiliki ide-ide, pendapat-pendapat, pengalaman-
pengalaman yang perlu didengar dan dihargai serta diikutsertakan di
dalam usaha-usaha perbaikan pendidikan.
Sesuai apa yang dikatan Burton dalam bukunya, " Supervision a social
Process ", maka Dia dapat merumuskan supervisi sebagai berikut:
1) Supervisi yang baik mengarahkan perhatiannya kepada dasar-dasar
pendidikan dan cara-cara belajar serta perkembangannya dalam
pencapaian tujuan umum pendidikan.
2) Tujuan supervise adalah perbaikan dan perkembangan proses belajar
mengajar secara total.
3) Fokusnya pada setting for learning, bukan pada seseorang atau
sekelompok orang. Yang sama-sama bertujuan untuk mengembangkan
situasi yang memungkinkan terciptanya kegiatan belajar-mengajar yang
baik.

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

4
2

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

Sesuai dengan rumusan di atas, maka kegiatan atau usaha-usaha yang
dapat dilakukan dalam rangka pelaksanaan supervise dapat disimpulkan
sebagai berikut:
a. Membangkitkan dan merangsang semangat guru-guru dan pegawai
sekolah lainnya dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan
sebaik-baiknya.
b. Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan
termasuk macam-macam media instruksional yang diperlukan bagi
kelancaran jalannya proses belajar mengajar yang baik.
c. Bersama-sama guru-guru, berusaha mngembangkan, mencari dan
menggunakan metode-metode dalam proses belajar mengajar yang
lebih baik.
d. Membina kerja sama yang baik dan harmonis antara guru, murid, dan
pegawai sekolah lainnya.
e. Berusaha mempertinggi mutu dan pengetahuan guru-guru dan
pegawai sekolah, antara lain dengan mengadakan workshop, seminar,
dll.
B. TUJUAN DAN FUNGSI SUPERVISI
Tujuan supervise adalah memperkembangkan situasi belajara dan
mengajar yang lebih baik. Usaha kearah perbaikan belajar dan mengajar
ditujukan kepada pencapaian tujuan akhir dari pendidikan yaitu
pembentukan pribadi anak secara maksimal.
Secara operasional dapat dikemukakan beberpa tujuan konkrit dari
supervise pendidikan antara lain:
a. Membantu guru melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan
b. Membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar siswa
c. Membantu guru dalam memenuhi kebutuhan belajar siswa
d. Membantu guru dalam hal menilai kemajuan siswa dan hasil pekerjaan
guru itu sendiri.

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

4
3

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

e. Membantu guru dalam membina reaksi mental atau moral kerja guru
dalam rangka pertumbuhan pribadi dan jabatan mereka.
Adapun fungsi supervisi dapat dibedakan menjadi dua bagian ynag besar
yaitu :
1. Fungsi utama ialah membantu sekolah yang sekaligus mewakili
pemerintah dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yaitu membantu
perkembangan individu para siswa.
2. Fungsi tambahan ialah membantu sekolah dalam membina guru–guru
agar dapat bekerja dengan baik dan dalam mengadakan kontak dengan
masyarakat dalam rangka menyesuaikan diri dengan tuntutan
masyaarakat serta mempelopori kemajuan masyarakat.
Swearingen memberi 8 fungsi:
1. Mengkoordinasi semua usaha sekolah
2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah
3. Memperluas pengalaman guru-guru
4. Mestimulasi usaha-usaha yang kreatif
5. Memberikan fasilitas dan penilaian yang terus menerus
6. Menganalisa situasi belajar dan mengajar
7. Memberikan pengetahuan dan skiil kepada setiap anggota staf
8. Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan
kemampuan mengajar guru-guru.
Adapun menurut Ngalim Purwanto, fungsi-fingsi supervisi pendidikan
yang sangat penting di ketahui oleh para pimpinan pendidikan termasuk
kepala sekolah, adalah sebagai berikut:
1) Dalam Bidang Kepemimpinan
a. Mengikutsertakan anggota-anggota kelompok dalam berbagai
kegiatan
b. Memberikan bantuan kepada anggota kelompok dalam menghadapi
dan memecahkan persoalan-persoalan.

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

4
4

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

c. Mengikutsertakan semua anggota dalam menetapkan keputusan-
keputusan.
d. Mempertinggi daya kreatif pada anggota kelompok.
2) Dalam Hubungan Kemanusiaan
a. Membantu mengatasi kekurangan ataupun kesulitan yang dihadapi
anggota kelompok.
b. Mengarahkan anggota kelompok kepada sikap-sikap yang demokratis.
c. Memupuk rasa saling menghormati di antara sesama anggota
kelompok dan sesama manusia.
3) Dalam Pembinaan Proses Kelompok
a. Mengenal masing-masing pribadi anggota kelompok, baik kelemahan
maupun kemampuan masing-masing.
b. Menimbulkan dan memelihara sikap saling mempercayai anatara
sesama anggota maupun antara anggota dan pimpinan.
c. Memperbesar rasa tanggung jawab para anggota kelompok.
d. Bertindak bijaksana dalam menyelesaikan pertentangan atau
perselisihan pendapat di antara anggota kelompok.
4) Dalam Bidang Administrasi Personil
a. Memilih personil yang memiliki syarat-syarat dan kecakapan yang
diperlukan untuk suatu pekerjaan.
b. Menempatkan personil pada tempat dan tugas yang sesuai dengan
kecakapan dan kemampuan masing-masing.
c. Mengusahakan susunan kerja yang menyenangkan dan meningkatkan
daya kerja serta hasil maksimal.
5) Dalam Bidang Evaluasi
a. Menguasai dan memahami tujuan-tujuan pendidikan secara khusus
dan terinci.
b. Menguasai dan memilki norma-norma atau ukuran-ukuran yang akan
digunakan sebagai kriterian penilaian.

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

4
5

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

c. Menguasai teknik-teknik pengumpulan data untuk memperoleh data
yang lenkap, benar, dan dapat diolah menurut norma-norma yang ada.
d. Menafsirkan dan menyimpulkan hasil-hasil penilaian sehingga
mendapat gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan untuk
mengadakan perbaikan-perbaikan.
C. SYARAT-SYARAT SUPERVISOR
Sebagai seorang supervisor, yang harus melaksanakan tugas
tanggungjawabnya hendaknya mempunyai persyaratan-persyaratan idiil.
Dilihat dari segi kepribadiannya (personality) syarat-syarat tersebut
adalah sebagi berikut:
1. Ia harus mempunyai perikemanusiaan dan solidaritas yang tinggi,
dapat menilai orang lain secara teliti dari segi kemanusiaannya serta
dapat bergaul dengan baik.
2. Ia harus dapat memelihara dan menghargai dengan sungguh-sungguh
semua kepercayaan yang diberikan oleh orang-orang yang berhubungan
dengannya.
3. Ia harus berjiwa optimis yang berusaha mencari yang baik,
mengharapkan yang baik dan melihat segi-segi yang baik.
4. Hendaknya bersifat adil dan jujur, sehingga tidak dapat dipengaruhi
oleh penyimpangan-penyimpangan manusia.
5. Hendaknya ia cukup tegas dan objektif (tidak memihak), sehingga
guru-guru yang lemah dalam stafnya tidak "hilang dalam bayangan"
orang-orang yang kuat pribadnya.
6. Ia harus berjiwa terbuka dan luas, sehingga lekas dan mudah dapat
memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap prestasi yang baik.
7. Jiwanya yang terbuka tidak boleh menimbulkan prasangka terhadap
seseorang untuk selama-lamanya hanya karena sesuatu kesalahan saja.
8. Ia hendaknya sedemikian jujur, terbuka dan penuh tanggung jawab.
9. Ia harus cukup taktik, sehingga kritiknya tidak menyinggung perasaan

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

4
6

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

orang lain.
10. Sikapnya yang bersimpati terhadap guru-gurunya tidak akan
menimbulkan depresi dan putus asa pada anggota-anggota stafnya.
D. TUGAS-TUGAS SUPERVISOR
Sehubungan dengan fungsi-fungsi supervise yang telah dibahas di atas,
maka pemakala mengemukakan 10 macam tugas supervise pendidikan
dari 26 macam supervisi yang telah dikemukakan oleh Ngalim Purwanto.
1. Menghadiri rapat atau pertemuan organisasi-organisasi profesional.
2. Mendiskusikan tujuan-tujuan dan filsafat pendidikan dengan guru-
guru.
3. Melakukan classroom visitation atau class visit
4. Mengadakan rapat-rapat kelompok untuk membicarakan masalah-
masalah umum.
5. Mengadakan pertemuan-pertemuan individual dengan guru-guru
tentang masalah-masalah yang mereka usulkan.
6. Mnediskusikan metode-metode mengajar dengan guru-guru.
7. Memilih dan menilai buku-buku yang diperlukan bagi murid-murid.
8. Membimbing guru-guru dalam menyusun dan mengembangkan
sumber-sumber atau unit-unit pengajaran.
9. Memberikan saran-saran atau instruksi tentang bagaimana
melaksanakan statu unit pengajaran.
10. Mengorganisasi dan bekerja dengan kelompok guru-guru dalam
program revisi kurikulum.
E. TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI
Banyak ahli menyebut tehnik-tehnik supervise pendidikan secara agak
berbeda berdasarkan titik tolak pandang yang dianutnya. Chart berikut
mencoba membeberkan beberapa tehnik yang dikemukakan para
penulis ada persamaan dan perbedaannya. Adapun tehnik-tehnik
supervisi pendidikan sebagai berikut:

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

4
7

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

A. Tehnik Yang Bersifat Individual
Tehnik yang bersifat individual antara lain:
1. Perkunjungan Kelas ( Classroom Visitation )
a. Pengertian.
Yaitu seorang pembina atau kepala sekolah datang ke kelas dimana guru
sedang mengajar. Ia mengadakan peninjauan terhadap suasana belajar
dikelas itu.
b. Tujuan
Ialah menolong guru-guru dalam hal pemecahan kesulitan-kesulitan
yang mereka hadapi. Dalam perkunjungan kelas yang diutamakan ialah
memepelajari sifat dan kualitas cara belajar anak dan bagaimana guru
membimbing siswa.
c. Fungsi
Sebagai alat untuk memajukan cara mengajar dan cara belajar dan
mengajar yang baru. Perkunjungan juga membantu pertumbuhan
profesional baik guru maupun supervisor karena memberi kesempatan
untuk meneliti prinsip dan hal belajar mengajar.
d. Jenis
1) Perkunjungan tanpa diberitahukan sebelumnya
2) Perkunjungan dengan memberitahukan
3) Perkunjungan atas dasar undangan guru
2. Observasi Kelas
Dalam melaksanakan perkunjungan supervisor mengadakan observasi,
maksudnya meneliti suasana kelas selama pelajaran berlangsung.
a. Jenis Observasi Kelas
- Observasi langsung, yaitu seorang guru yang sedang mengajar
diobservasi langsung oleh supervisor. Ia berada diantara dan bersama-
sama dalam kelas
- Observasi tidak langsung, yaitu orang yang mengobservasi dibatasi

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

4
8

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

oleh ruang kaca dimana siswa tidak mengetahuinya.
b. Tujuan Observasi Kelas
Untuk memperoleh data yang seobjektif mungkin sehingga bahan yang
diperoleh dapat digunakan untuk menganalisa kesulitan-kesuliatan yang
dihadapi guru-guru dalam usaha memperbaiki hal belajar mengajar.
B. Tehnik Yang Bersifat Kelompok
Yang dimaksud dengan teknik-teknik yang bersifat kelompok ialah
teknik-teknik yang digunakan itu dilaksanakan bersama-samaoleh
supervisor dengan sejumlah guru dalam satu kelompok. Teknik-teknik itu
antara lain :
1. Rapat Guru
Rapat guru merupakan salah satu teknik supervisi untuk memperbaiki
situasi belajar dan mengajar.
Macam-macam rapat guru antara lain :
a. Menurut Tingkatannya
1) Staff – Meeting Yaitu rapat guru-guru dalam satu sekolah yang dihadiri
oleh seluruh atau sebagian guru di sekolah tersebut.
2) Rapat guru-guru bersama dengan orang tua murid dan murid-murid/
wakil-wakilnya.
3) Rapat guru es-kota, se-wilayah, se-rayon, dari sekolah yang sejenis
dan setingkat.
4) Rapat guru-guru dari beberapa sekolah yang bertetangga.
5) Rapat kepala-kepala sekolah.
b. Menurut Waktunya
1) Rapat permulaan dan akhir tahun
2) Rapat periodik
3) Rapat-rapat yang bersifat insidental
c. Tujuan-tujuan Umum Rapat Guru
1) Menyatukan pandangan-pandangan guru tentang konsep umum,

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

4
9

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

makna pendidikan dan fungsi sekolah dalam pencapaian tujuan
pendidikan itu dimana mereka bertanggung jawab bersama-sama.
2) Mendorong guru untuk menerima dan melaksanakan tugas-tugasnya
dengan baik dan mendorong pertumbuhan mereka.
3) Menyatukan pendapat tentang metode kerja yang akan membawa
mereka bersama ke arah pencapaian tujuan pengajaran yang maksimal
di sekolah tersebut.
2. Studi Kelompok Antar Guru
Guru-guru dalam mata pelajaran sejenis berkumpul bersama untuk
mempelajari suatu masalah atau sejumlah pelajaran. Pokok bahasan
telah ditentukan dan diperinci dalam garis-garis besar atau dalam
bentuk pertanyaan-pertanyaan pokok yang telah disusun secara teratur.
Untuk mempelajari bahan-bahan dapat dipergunakan bermacam-macam
teknik berkomunikasi. Misalnya seorang yang mengemukakan sesuatu
masalah dan dibahas bersama. Sebaiknya bahan-bahan itu telah
dipelajari lebih dahulu. Untuk dapat memperkaya pembahasan
diperlukan cukup banyak sumber-sumber buku.
BAB III
PENUTUP
Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi belajar mengajar
agar memperoleh kondisi yang lebih baik. Meskipun tujuan akhirnya
tertuju pada hasil belajar siswa, namun yang diutamakan dalam
supervisi adalah bantuan kepada guru.
Supervisi pendidikan berfungsi untuk memperoleh gambaran yang jelas
dan objektif tentang suatu situasi pendidikan, Penilaian (evaluation) ?
lebih menekankan pada aspek daripada negative, Perbaikan
(improvement) ? dapat mengatahui bagaimana situasi
pendidikan/pengajaran pada umumnya dan situasi belajar mengajarnya.,
Pembinaan ? berupa bimbingan (guidance) kea rah pembinaan diri yang

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

5
0

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

disupervisi
Tujuan akhir dari supervisi pendidikan adalah meningkatkan professional
guru dan karyawan sekolah guna menunjang akuntabilitas siswa dalam
belajar, sehingga siswa benar-benar menjadi manusia yang berilmu,
berbudi dan kreatif dalam segala hal sesuai dengan amanah UUD 45.
DAFTAR PUSTAKA
- Daryanto, M., Administrasi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2005.
- Pidarta, Made, Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan,
- Piet, A. Sahertian, Frans Mataheru, Prinsip dan Teknik Supervisi
Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1981.
- Purwanto, Ngalim, Administrasi danSupervisi Pendidikan, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 1987.
- Purwanto, Ngalim, Administrasi Pendidikan, Jakarta: Mutiara Sumber
Widya, 1996.
•click link

•27 clicks

Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul,
anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free
member di Indoskripsi.

Semua Member Special dapat merequest file yang ada di
website ini.

NB: Ada kemungkinan beberapa skripsi belum ada filenya, karena dikirim
oleh member biasa dan masih menunggu konfirmasi dari member yang
bersangkutan.

Top of Form

CARI CONTENT WEB : 00630254746815UTF-8

Bottom of Form

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

P
a
g
e

5
1

INSPEKTORAT JENDERAL

DEPDIKNAS

SUPERVISI PENGADAAN BARANG DAN JASA
DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->